Matahari belum sungguh-sungguh meninggalkan ufuk timur
ketika notifications dari Awan Biru mobile app mulai berderap
di genggaman tangan warga. Getaran halus itu seperti debaran nadi desa,
menandai dimulainya denyut nafas administratif. Di beranda rumah panggung
sederhana yang catnya mulai mengelupas, bekas puluhan tahun terkena panas dan
hujan, Pak Karyo, seorang pekebun karet berusia 60 tahunan, sedang duduk
bersila di lantai kayu sambil menikmati kopi pahit di cangkir keramik lusuh.
Ponselnya, sebuah merek China kelas menengah yang layarnya
retak di pojok kanan, bergetar. Pak Karyo mengerjapkan mata, lalu meraihnya
dengan jempol yang cekatan meski kuku-kukunya masih menyisakan tanah dari
ladang kemarin sore. Matanya yang mulai kabur karena katarak membaca pesan
masuk:
"Pak, surat keterangan usaha bapak untuk pengajuan
kredit sudah jadi. Bisa diambil pagi ini. – Pelayanan Terpadu."
Seulas senyum mengembang di wajah keriputnya,
memperlihatkan gigi yang mulai ompong di beberapa bagian.
"Alhamdulillah... akhire rampung," gumamnya pelan, hampir berbisik
pada diri sendiri.
Istrinya, Bu Karyo, yang sedang sibuk mengipasi bara di
dapur, menoleh. "Lha kok mesam-mesem dewe, Pak? Entuk opo? Undian?"
tanyanya setengah bercanda.
Pak Karyo menoleh, masih dengan senyum mengembang.
"Iki lho, Buk, surat keterangan usaha wis rampung. Wingi aku ngajukno
kredit modal tani neng bank, saiki wis bisa dijupuk. Lewat aplikasi iki,
informasine cepet tenan."
Bu Karyo mendekat, mengusap tangan yang hitam oleh jelaga
ke kain lap. "Oalah, kuwi ta. Lha biyen jarene urusan kaya ngono iku suwe,
mesti antri neng kantor desa nganti berjam-jam?"
Pak Karyo mengangguk, matanya menerawang mengenang masa
lalu. "Iya, Buk. Jaman biyen, urusan kaya ngene iki iso ngentekke setengah
dina. Esuk-esuk kudu wis teka neng kantor desa, antri njukut nomer, terus
ngenteni dipanggil. Kadang nganti jam setengah rolas durung rampung. Yen petuge
lagi repot, ya kudu bali sesuk maneh. Malah yen kurang jelas, kudu bolak-balik
tanya iki-itu."
Ia berhenti sejenak, menyesap kopinya. "Lha nek wes
kesel antri, biasane mampir neng warunge Mbok Yem. Pesen kopi, ngobrol-ngobrol
karo konco liya sing padha antri. Kadang nganti awan, urusane durung rampung.
Dadi ilang setengah dina tenanan."
Bu Karyo tertawa kecil. "Iya, aku ya ngerti. Jaman
semana, nek kowe ngurus surat, mesthi mulih sore. Tak kira antri tenan,
jebulane ngopi neng warung."
Pak Karyo ikut tertawa. "Ya merga ngenteni, Buk. Bosen
neng kantor, mending neng warung. Nek wis wayahe, baru bali neng kantor."
"Lha saiki piye?"
Pak Karyo menunjukkan ponselnya dengan bangga. "Saiki
kabeh wis online, Buk. Ndelok kene: status pengajuan, jeneng petugas sing
ngurus, malah fotone surat sing wis rampung, kabeh katon neng kene. Ora usah
antri, ora usah ngopi neng warung. Mung ngenteni notifikasi kaya mau, terus
dijupuk neng kantor. Cepet, ora repot."
Bu Karyo mendekatkan wajah, mencoba melihat layar ponsel
yang retak itu. "Wah, canggih tenan, Pak. Kowe isa ngono wae?"
Pak Karyo mengangkat alis, sedikit tersinggung. "Lho,
emange aku wong bodho? Aku rak melu sosialisasi digital desa sing diadakno Pak
Kades. Kader-kadere pada sabar ngajari wong tuwa kaya aku. Alon-alon, akhire
isa."
Bu Karyo tersenyum bangga. "Iya, iya, bojoku pinter
kok. Terus kapan dijupuk?"
"Neng kene tulisane 'bisa diambil pagi ini'. Berarti
saiki. Aku arep adus sik, ganti klambi, terus neng kantor desa."
"Ya wis, adus kana. Mengko tak siapke sarapan."
Pak Karyo bangkit, berjalan menuju kamar mandi di belakang
rumah. Namun sebelum masuk, ia berhenti sebentar, memandangi desanya dari
beranda. Sawah-sawah menghijau di kejauhan, dilintasi jalan aspal mulus yang
dulu hanya pengerasan tanah. Di ujung jalan, tampak atap kantor desa yang megah
dengan menara kecil di atasnya, tempat sensor cuaca terpasang.
"Desa maju tenan," gumamnya. "Muga-muga
terus kaya ngene."***
Di ruang kerja Kepala Desa yang terletak di lantai dua
kantor desa, Arjuna Putra Erlangga duduk di kursi kerjanya yang empuk. Usianya
baru 42 tahun, tapi rambutnya sudah mulai beruban di bagian pelipis, tanda
tanggung jawab besar yang dipikulnya. Di hadapannya, secangkir kopi tubruk
mengepulkan asap tipis. Matanya yang tajam menyapu layar monitor berukuran 50
inci yang terpasang di dinding, menampilkan Dashboard Desa dengan serangkaian
data yang bergerak dinamis.
Layar itu terbagi dalam beberapa panel. Panel pertama
menampilkan grafik anggaran realisasi pembangunan jembatan penghubung Dusun
Krajan dan Kedungmiri, proyek strategis yang sudah 80 persen selesai. Panel
kedua menunjukkan tingkat partisipasi warga dalam pelatihan digital marketing
UMKM, dengan angka 78 persen, cukup tinggi untuk ukuran desa. Panel ketiga
adalah laporan harian dari kader kesehatan mengenai stunting, menampilkan data
5 balita yang masih dalam masa pemantauan. Panel keempat, yang paling penting
bagi Arjuna, adalah peta kerawanan bencana yang diperbarui setiap jam dari
stasiun cuaca mini milik desa. Pagi ini, semua indikator cuaca normal.
Pintu ruangan diketuk pelan. "Masuk," sahut
Arjuna tanpa menoleh.
Seorang perempuan muda berusia 28 tahun, Siti, operator
desa yang cekatan, masuk dengan membawa map biru. Rambutnya diikat rapi,
kacamatanya sedikit turun di pangkal hidung. "Pagi, Pak Kades. Laporan
mingguan sudah siap. Saya taruh di meja?"
Arjuna menoleh, tersenyum. "Pagi, Siti. Taruh saja.
Ada yang menarik minggu ini?"
Siti mendekat, membuka map itu. "Cukup banyak, Pak.
Data partisipasi pelatihan UMKM naik 5 persen. Ibu-ibu PKK minta tambahan
kuota, katanya antusiasme tinggi. Terus laporan dari kader kesehatan, balita
stunting berkurang satu, tinggal 4. Yang satu sudah dinyatakan normal setelah
intervensi gizi selama 3 bulan."
Arjuna mengangguk puas. "Bagus. Kerja bagus untuk tim
kesehatan. Beri mereka apresiasi di rapat nanti. UMKM juga, koordinasi dengan
penyelenggara pelatihan, tambah kuota kalau memang peminatnya banyak."
"Siap, Pak. Lalu... ada satu lagi." Siti ragu
sejenak. "Dari tim kebencanaan, laporan rutin uji coba sirine. Semua
berfungsi normal. Tapi mereka mencatat ada keanehan di sensor cuaca kemarin
sore."
Arjuna mengerutkan kening. "Keanehan apa?"
"Tekanan udara turun sedikit di atas rata-rata,
sekitar 2 milibar dalam 2 jam. Tapi tidak signifikan. Kata tim, mungkin hanya
fluktuasi biasa. Mereka tetap pantau."
Arjuna berpikir sejenak. "Baik, terus pantau. Jangan
anggap remeh data sekecil apapun. Lebih baik waspada."
"Siap, Pak. Saya sampaikan."
Siti keluar, menutup pintu pelan. Arjuna kembali menatap
layar monitor, tapi pikirannya terganggu. Penurunan tekanan udara. Fluktuasi
biasa, kata tim. Tapi instingnya mengatakan lain. Ia mewarisi intuisi tajam
dari kakeknya, Si Amat, yang dulu bisa membaca tanda-tanda alam hanya dari
perubahan tingkah laku burung atau semut.***
Sistem itu bernama AMAT. Bukan sekadar singkatan dari
Aplikasi Manajemen Administrasi Terpadu, tapi juga sebuah monumen hidup untuk
kakeknya, Si Amat. Di dinding ruangan, tergantung foto hitam-putih seorang
lelaki tua dengan kumis tipis, duduk di depan komputer jadul, barangkali
komputer pertama di desa itu, sambil tersenyum. Di bawah foto, tertulis:
"Si Amat, Admin Legendaris, Pelopor Digital Desa."
Dulu, di era kepemimpinan kakeknya, Erlangga (ayah Arjuna),
Si Amat adalah admin desa yang legendaris. Dengan komputer jadul berlayar
hitam-putih dan koneksi internet seadanya, bahkan sering putus-nyambung, ia
membangun fondasi data desa pertama. Dengan dua jari, ia mengetik satu per satu
data warga: nama, NIK, alamat, pekerjaan, jumlah anggota keluarga. Ribuan data
ia input dengan sabar, sering hingga larut malam. Lampu minyak tanah menjadi
penerang ketika listrik padam, yang saat itu sering terjadi.
Cerita tentang Si Amat selalu dituturkan ayahnya, Erlangga,
kepada Arjuna kecil. "Bapakmu kuwi, Le, wong aneh," kata Erlangga
dulu. "Wong didhawuhi ngurus administrasi biasa, malah digawe sistem. Wong
diwenehi komputer siji, malah digawe sinau dewe-dewe nganti iso nggawe database.
Wong liya pada ngguyu, diarani edan. Tapi saiki, asile katon. Data desa rapi,
gampang diakses, gampang diurus."
Kini, sistem itu telah berevolusi. Dari sekadar database
sederhana di komputer jadul, menjadi platform terpadu yang mengintegrasikan
semua aspek pemerintahan desa. Dari pencatatan manual, menjadi otomatis dan
real-time. Dari hanya bisa diakses oleh admin, kini bisa diakses oleh warga
melalui ponsel masing-masing.
Takdir sepertinya memang menuliskan garis bahwa keluarga
ini akan terus menjadi nahkoda bagi transformasi Desa Awan Biru. Kakeknya
membangun fondasi. Ayahnya melanjutkan dan mengembangkan. Kini Arjuna yang
membawa desa ini ke level berikutnya: desa digital percontohan.***
Arjuna menarik napas dalam-dalam. Ia menyesap kopinya yang
mulai hangat. Periode keduanya sebagai kepala desa berjalan mulus. Mungkin
terlalu mulus. Program-program berjalan sesuai rel yang telah dirancang dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). Semua bidang bergerak
harmonis bak orkestra yang terlatih.
Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa: Layanan publik kini sepenuhnya terintegrasi. Tak ada
lagi cerita calo surat yang memanfaatkan ketidaktahuan warga. Anggaran desa,
dari dana desa hingga alokasi dana desa, bisa diakses warga hanya dengan beberapa
kali sentuhan di ponsel. Transparansi bukan lagi jargon, tapi realitas
sehari-hari. Setiap rupiah yang masuk dan keluar tercatat, bisa diaudit kapan
saja.
Bidang Pembangunan Desa: Jalan
usaha tani yang dulu becek dan licin saat hujan, kini mulus dengan paving block
berpori yang tetap meresap air. Drainase modern dibangun di sepanjang jalan
utama, mengatasi banjir langganan di musim hujan yang dulu selalu merendam
puluhan rumah. Program bedah rumah bagi warga kurang mampu berjalan setiap
tahun, mengubah rumah-rumah reyot menjadi hunian layak dengan dinding bata dan
atap genteng baru.
Bidang Pembinaan Masyarakat: Posyandu tak hanya untuk balita dan lansia, tapi juga
menjadi pusat literasi digital bagi ibu-ibu PKK. Setiap Kamis, setelah
penimbangan balita, ibu-ibu berkumpul untuk belajar menggunakan ponsel,
mengakses informasi, bahkan membuat konten media sosial. Forum remaja desa,
'Awan Biru Muda', aktif membuat konten kreatif tentang potensi desa yang viral
di media sosial. Video tentang keripik singkong Awan Biru sudah ditonton
ratusan ribu kali di TikTok.
Bidang Pemberdayaan Kemasyarakatan: Koperasi Simpan Pinjam Desa telah bertransformasi
menjadi koperasi digital. Warga bisa menabung, meminjam, bahkan membayar
tagihan melalui aplikasi. UMKM keripik singkong, anyaman bambu, dan madu
klanceng milik warga bisa dipasarkan hingga ke luar pulau melalui platform
e-commerce yang difasilitasi desa. Omzet UMKM naik rata-rata 200 persen dalam
setahun terakhir.
Bidang Penanggulangan Bencana dan Darurat Mendesak Desa: Ini adalah program yang membuat Arjuna paling lega.
Sistem peringatan dini berbasis sirine dan notifikasi ponsel telah terpasang
dan terintegrasi dengan aplikasi kebencanaan tingkat kabupaten. Jalur evakuasi
dibuat dan dirawat, dengan rambu-rambu jelas di setiap sudut desa. Relawan
Siaga Bencana (Retana) rutin berlatih setiap tiga bulan sekali, bukan setahun
sekali seperti di desa lain.***
Pintu ruangan terbuka lagi. Kali ini yang masuk adalah Pak
Carik, sekretaris desa, bernama Sutrisno, 55 tahun, rambutnya sudah memutih di
sana-sini. Ia membawa setumpuk kertas dan secangkir kopi untuk dirinya sendiri.
"Pagi, Pak Kades. Bisa ganggu sebentar?"
tanyanya.
Arjuna mengangguk, menunjuk kursi di hadapannya.
"Silakan, Pak Carik. Ada apa?"
Pak Carik duduk, meletakkan tumpukan kertas di meja.
"Ini, Pak, undangan studi banding. Dari tiga desa sekaligus minggu depan.
Yang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Lampung. Mereka minta jadwal, minta
materi presentasi, minta didampingi keliling desa. Gimana kita atur?"
Arjuna menghela napas, setengah tersenyum. "Wah, ramai
sekali. Minggu lalu juga dari Sumatera, sekarang dari Jawa. Desa kita memang
jadi primadona."
Pak Carik tersenyum bangga. "Lha iya, Pak. Desa Awan
Biru kan juara lomba desa digital tingkat provinsi. Wajar kalau banyak yang
penasaran. Tapi jujur, Pak, saya kadang kewalahan ngatur jadwalnya. Staf kita
juga capek kalau tiap minggu kedatangan tamu."
Arjuna berpikir. "Iya, Pak Carik. Kita harus atur
sistemnya. Jangan sampai pelayanan ke warga terganggu. Saya usul, kita buat tim
khusus penerima tamu studi banding. Mereka yang handle semua, dari penerimaan,
presentasi, sampai pendampingan keliling. Staf lain tetap fokus ke tugas
masing-masing."
"Wah, itu ide bagus, Pak. Tapi kita butuh orang. Siapa
yang mau jadi tim?"
"Rekrut dari pemuda karang taruna yang sudah dilatih.
Mereka kan banyak yang pintar bicara, paham desa, dan hafal aplikasi. Beri
mereka honor secukupnya. Ini juga bagian dari pemberdayaan pemuda."
Pak Carik mengangguk-angguk. "Setuju, Pak. Nanti saya
siapkan konsepnya. Terus, untuk jadwal minggu depan, bagaimana?"
"Terima saja semua. Tapi atur waktunya. Jangan sampai
bentrok. Senin untuk Jawa Barat, Selasa Jawa Tengah, Rabu Lampung. Kamis dan
Jumat kita kosongkan untuk kerja internal. Sabtu-Minggu libur. Setuju?"
"Setuju, Pak. Nanti saya atur."
Pak Carik bangkit, tapi sebelum keluar, ia berhenti.
"Pak Kades, ada yang saya ingin tanyakan."
"Mangga, Pak Carik."
"Bapak kelihatan agak tegang akhir-akhir ini. Ada
masalah? Atau mungkin kelelahan? Jangan dipendam sendiri, Pak. Saya ini sudah
tua, mungkin bisa diajak diskusi."
Arjuna tersenyum. "Terima kasih, Pak Carik. Saya
baik-baik saja. Hanya saja... kadang saya merasa semuanya terlalu sempurna.
Terlalu mulus. Seperti ada yang mengganjal."
Pak Carik mengerutkan kening. "Maksud Bapak?"
"Entahlah, Pak Carik. Mungkin hanya perasaan saya.
Tapi kakek saya dulu sering bilang: keheningan yang terlalu sempurna seringkali
menjadi pertanda badai. Dan sejarah selalu punya cara untuk menguji desa-desa
yang sedang tumbuh terlalu cepat."
Pak Carik diam sejenak, merenungkan kata-kata itu. Lalu ia
berkata, "Pak Kades, saya percaya insting Bapak. Tapi ingat, kita sudah
punya sistem. Kita punya tim. Kita punya persiapan. Apapun yang datang, insya
Allah kita siap."
Arjuna mengangguk. "Terima kasih, Pak Carik. Saya juga
percaya itu. Hanya saja, kadang manusia perlu diingatkan bahwa mereka tidak
sekuat yang mereka kira."
"Betul, Pak. Itulah gunanya bencana: mengingatkan kita
bahwa kita lemah, dan hanya dengan kebersamaan kita bisa kuat."***
Setelah Pak Carik keluar, Arjuna kembali ke layar
monitornya. Ia membuka panel kebencanaan, melihat data sensor cuaca dari tiga
titik di desa. Tekanan udara: normal. Kelembaban: normal. Kecepatan angin:
normal. Suhu: normal. Semua hijau, semua aman.
Tapi di sudut layar, ada grafik kecil yang mulai bergerak
naik-turun tidak stabil. Grafik tekanan udara di ketinggian. Arjuna
membesarkannya. Di sana terlihat, sejak semalam, tekanan udara di ketinggian
5.000 meter turun perlahan tapi konsisten. Sudah turun 3 milibar dalam 12 jam.
Tidak drastis, tapi konsisten.
"Hm..." gumamnya. "Apa ini pertanda?"
Ia meraih ponsel, menghubungi Joko, koordinator Retana.
"Joko, saya Arjuna. Cek data sensor ketinggian. Ada penurunan tekanan
sejak semalam. Pantau terus, lapori kalau ada perubahan signifikan."
"Siap, Pak. Saya juga lihat itu. Tim sedang
analisis. Saya lapor nanti."
"Baik, terima kasih."
Arjuna meletakkan ponsel. Ia memandang ke luar jendela.
Langit cerah, biru bersih dengan sedikit awan putih bergelantungan. Burung-burung
terbang normal. Angin sepoi-sepoi. Tidak ada tanda-tanda bahaya.
Tapi di dadanya, ada debaran tak nyaman. Firasat yang tak
bisa dijelaskan.***
Di luar, di beranda rumahnya, Pak Karyo telah selesai mandi
dan berganti pakaian. Ia mengenakan kemeja lengan panjang lusuh dan sarung, pakaian
resmi ala petani. Istrinya menyodorkan sarapan: nasi pecel dengan lauk tempe
goreng.
"Mangan dhisik, Pak. Baru neng kantor," ujar
istrinya.
Pak Karyo duduk, menyantap sarapan dengan lahap. Sambil
makan, ia kembali membuka ponselnya, membaca pesan dari Pelayanan Terpadu
sekali lagi.
"Buk, ndelok iki, jenenge petugas sing ngurus suratku:
Siti. Ngono jenenge. Dadi aku isa ngerti sapa sing kudu dithank you."
Bu Karyo tersenyum. "Wah, canggih tenan. Jaman biyen
rak ora ngerti sapa sing ngurus, sing penting dadi."
"Iya. Saiki transparan tenan. Kabeh jelas."
Setelah sarapan, Pak Karyo pamit. Ia mengayuh sepeda ontel
tuanya perlahan menyusuri jalan desa yang mulus. Di kiri kanan, sawah-sawah
menghijau. Beberapa petani sudah mulai bekerja. Ia melambai pada mereka,
disambut lambaian balik.
Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Joko yang sedang
nongkrong di posko Retana dekat lapangan. "Pak Karyo, tindak pundi?"
sapa Joko.
"Neng kantor desa, Le. Arep njupuk surat keterangan
usaha. Joko, kok esuk-esuk wis neng posko? Lagi jaga?"
Joko mengangguk. "Iya, Pak. Lagi jaga. Soale semalem
ada data aneh dari sensor cuaca. Pak Kades minta dipantau terus."
Pak Karyo mengerutkan kening. "Data aneh piye?"
"Tekanan udara turun sedikit, Pak. Biasanya nggak
pernah. Tapi masih dalam batas wajar. Mudah-mudahan nggak apa-apa."
Pak Karyo mengangguk, tapi matanya menerawang. "Joko,
aku iki wong tuwa sing wis ngalami akeh perkara. Nek alam wis mulai nglilir,
kudu waspada. Mbiyen sakdurunge ana banjir bandhang, biasane tekanan udara uga
mudhun. Senajan alon-alon."
Joko manggut-manggut. "Iya, Pak. Kita waspada kok. Tim
rutin pantau 24 jam. Kalau ada perubahan signifikan, kita langsung aktifkan
peringatan dini."
"Apik kuwi. Terusna, Le. Aku ndhisik ya."
"Derekaken, Pak. Hati-hati."
Pak Karyo melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, ia
mengamati alam dengan lebih saksama. Burung-burung terbang normal. Tapi ia
perhatikan, semut-semut mulai naik ke pohon, sesuatu yang jarang terjadi di
pagi hari. Biasanya semut naik pohon kalau akan hujan deras. Tapi langit cerah.
Aneh.
Sesampainya di kantor desa, Pak Karyo memarkir sepedanya di
tempat parkir yang sudah disediakan. Ia masuk ke ruang pelayanan. Di sana,
beberapa warga sudah antre dengan tertib. Sebuah mesin antrean tercetak nomor.
Pak Karyo mengambil nomor: 12.
"Mangga, Pak Karyo, lungguh dhisik. Ngenteni
antrean," sapa seorang staf.
"Inggih, Mbak. Maturnuwun."
Pak Karyo duduk di kursi tunggu yang empuk. Di depannya,
televisi layar datar menampilkan informasi seputar pelayanan. Di pojok ruangan,
ada papan pengumuman digital yang menampilkan status pengajuan warga secara
real-time. Pak Karyo melihat namanya sudah muncul di layar: "Karyono –
Selesai – Silakan ambil di loket 2."
Belum genap 5 menit duduk, nomornya dipanggil. "Nomor
12, silakan ke loket 2."
Pak Karyo bangkit, menuju loket 2. Di sana, seorang petugas
muda tersenyum ramah. "Selamat pagi, Pak Karyo. Mau ambil surat keterangan
usaha, ya?"
"Inggih, Mbak."
Petugas itu memeriksa data di komputer, lalu mencetak
selembar surat. "Ini, Pak. Mohon diperiksa kembali, apakah data sudah
benar? Nama, NIK, alamat, jenis usaha."
Pak Karyo membaca dengan saksama. "Wah, bener kabeh,
Mbak. Iki wis pas."
"Kalau sudah benar, mohon tanda tangan di sini sebagai
bukti penerimaan."
Pak Karyo membubuhkan tanda tangan dengan gaya khas petani,
agak kaku, tapi tegas. "Matur nuwun, Mbak. Cepet tenan."
"Sama-sama, Pak. Senang bisa membantu. Ini, Pak, ada
stiker khusus untuk ponsel Bapak. QR code untuk akses langsung ke layanan desa.
Bapak scan nanti, bisa lihat semua informasi."
"Wah, apik iki. Matur nuwun."
Pak Karyo keluar dari kantor dengan hati senang. Di
halaman, ia bertemu dengan Pak Carik yang baru datang.
"Pak Karyo, kok esuk-esuk wis neng kantor? Urus
opo?" sapa Pak Carik.
"Njupuk surat keterangan usaha, Pak Carik. Arep kanggo
ngajukno kredit modal tani. Alhamdulillah, cepet rampung."
Pak Carik tersenyum. "Syukurlah. Nek urusane gampang,
rak warga tambah seneng."
"Inggih, Pak. Saiki desa maju tenan. Kula sing tuwa
kok malah tambah pinter."
Mereka berdua tertawa. Lalu Pak Karyo berpamitan pulang.
Namun sebelum naik sepeda, ia melihat ke langit. Awan putih mulai bergumpal di
ufuk selatan, lebih cepat dari biasanya. Angin bertiup sedikit lebih kencang.
"Pak Carik, niku mendunge katon ora biasa,"
ujarnya.
Pak Carik ikut menengadah. "Iya, ya. Biasane awan kaya
ngono iku sore. Iki isih esuk kok wis katon. Mungkin mung awan biasa."
"Muga-muga, Pak. Kula ndhisik."
Pak Karyo mengayuh sepedanya pulang. Di sepanjang jalan, ia
terus mengamati langit. Awan itu makin membesar, makin gelap. Angin makin
kencang. Daun-daun mulai bergoyang lebih keras.
Sesampainya di rumah, ia berhenti di beranda. Istrinya
keluar. "Lho, kok cepet? Wes rampung?"
"Wis, Buk. Iki surate. Tapi Buk, aku rada sumelang ndelok
langit. Kaya ana sing ora beres."
Bu Karyo menengadah. "Iya, ya. Aneks. Biasane ora kaya
ngene. Mungkin arep udan."
"Muga-muga mung udan biasa."
Tapi di dalam hati, Pak Karyo merasa tidak nyaman. Ia ingat
kata-kata Joko tadi: tekanan udara turun. Ia ingat semut-semut yang naik pohon.
Ia ingat burung-burung yang terbang lebih rendah dari biasanya. Semua tanda
alam yang diajarkan orang tuanya dulu.
"Mbok, aku tilik Joko meneh. Arep tak takoni perkara
iki."
"Lho, lagi wae ketemu, kok bali maneh?"
"Aku ora penak, Buk. Tak tilik wae."
Pak Karyo kembali mengayuh sepedanya, kali ini ke posko
Retana. Joko masih di sana, sedang serius menatap layar komputer.
"Joko!" panggil Pak Karyo dari luar.
Joko menoleh. "Lho, Pak Karyo bali? Ana apa?"
Pak Karyo masuk, napasnya sedikit terengah. "Joko, aku
ndelok langit. Awan ireng nggumpal neng kidul. Angine makin kenceng. Iki
tandha-tandha apa, Le?"
Joko menatap layarnya. Matanya membelalak. "Pak,
tekanan udara turun drastis dalam satu jam terakhir. 3 milibar. Ini... ini
tidak normal."
"Artinya apa, Le?"
Joko menelan ludah. "Artinya... ada potensi badai,
Pak. Badai besar. Saya harus lapor Pak Kades segera."
Ia meraih ponsel, menekan nomor Arjuna. "Pak Kades...
Joko. Ada perkembangan. Tekanan udara turun 3 milibar dalam satu jam. Awan
Cumulonimbus terlihat di selatan. Saya khawatir... ini bukan badai biasa."
Di ujung telepon, Arjuna diam sejenak. Lalu suaranya
terdengar tegas, "Saya ke posko. Aktifkan status siaga darurat desa.
Kumpulkan semua tim. Cepat!"
" Siap, Pak!"
Joko berlari keluar posko, meninggalkan Pak Karyo yang
berdiri terpaku. Pak Karyo menatap langit yang makin gelap. Hatinya berdoa,
berharap ini hanya mimpi buruk.
Tapi alam sudah bicara. Dan desa yang tumbuh di atas awan
digital itu, sebentar lagi akan diuji oleh kekuatan yang jauh lebih besar dari
sekadar data dan algoritma.
Angin tak terlihat itu sudah dalam perjalanan.****
Hari itu adalah Selasa, tanggal 15 Oktober. Udara terasa
ganjil sejak pagi. Panasnya bukan panas biasa yang menyengat, tapi panas yang lembab
dan menekan, seperti selimut basah yang dililitkan terlalu erat ke seluruh
permukaan kulit. Keringat mengucur deras meski tubuh hanya duduk diam di
beranda rumah. Burung-burung pipit yang biasanya riuh rendah di pohon mangga
depan rumah Pak Karyo, tiba-tiba terbang meninggalkan desa dalam kawanan besar,
seperti panik menghindari sesuatu yang tak terlihat.
Angin bertiup tak menentu. Sekejap ia berembus lembut
membelai daun kelapa, membuatnya berbisik pelan. Namun dalam hitungan detik, ia
berputar kencang, memutar debu dan sampah kering di halaman kantor desa hingga
membentuk pusaran kecil yang menari-nari sebentar sebelum lenyap, seperti hantu
kecil yang muncul lalu menghilang tanpa jejak.
Di langit, gumpalan awan putih yang biasanya bergerak
tenang dari selatan ke utara mengikuti irama musim, hari itu seperti berhenti.
Berhenti total. Lalu dalam keheningan yang mencekam, mereka berubah warna
menjadi kelabu gelap dengan kecepatan yang tak wajar. Abu-abu, lalu kelabu tua,
lalu hitam pekat. Awan-awan itu menggumpal, bertumpuk, membumbung tinggi ke
angkasa, dan turun rendah merunduk ke bumi, seolah-olah langit hendak runtuh
menimpa peradaban kecil di bawahnya. Seorang petani yang sedang memanen padi di
sawah berhenti sejenak, menatap langit dengan dahi berkerut. "Wah,
Gusti... ana apa iki?" gumamnya lirih, hatinya diliputi rasa was-was yang
tak bisa dijelaskan.***
Di ruang rapat kantor desa, suasana tegang mulai terasa.
Rapat koordinasi mingguan yang biasanya diisi dengan laporan progres program,
canda tawa, dan gelak gurau antar staf, hari itu berubah fokus total. Suasana
yang biasanya hangat berubah dingin, mencekam. Sebuah layar proyektor
menampilkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang
diteruskan oleh sistem peringatan dini desa. Grafik-grafik berwarna merah dan
kuning bergerak dinamis, menunjukkan anomali cuaca yang mengkhawatirkan.
Kepala Dusun Kedungmiri, yang juga merangkap sebagai
koordinator bidang kedaruratan, berdiri di depan layar. Wajahnya yang biasanya
ceria, kini pucat pasi. Jemarinya yang kasar menunjuk ke sebuah grafik yang
terus merosot tajam seperti jurang.
"Pak Kades, saudara-saudara sekalian... saya mohon
perhatian," ucapnya dengan suara bergetar, mencoba tenang tapi gagal.
"Tekanan udara turun drastis dalam tiga jam terakhir. Biasanya penurunan
seperti ini butuh waktu berhari-hari. Ini... ini penurunan yang sangat ekstrem.
Saya belum pernah melihatnya selama sepuluh tahun terakhir."
Arjuna, yang duduk di ujung meja dengan secangkir kopi di
tangan, mengerutkan kening. "Seberapa drastis, Pak Marwoto?"
Pak Marwoto, Kepala Dusun Kedungmiri itu, menelan ludah.
"Dari 1.013 milibar turun menjadi 1.005 dalam tiga jam. Normalnya,
penurunan satu milibar per jam saja sudah masuk kategori waspada. Ini... ini
delapan milibar dalam tiga jam. Dan belum berhenti."
Suasana ruangan berubah hening. Semua orang saling
berpandangan. Seorang staf perempuan, Siti, operator desa yang cekatan,
menambahkan dengan suara hampir berbisik, "Kelembaban udara juga sangat
tinggi, Pak. 95 persen. Biasanya paling tinggi 80 persen saat mau hujan
deras."
Pak Marwoto kembali menunjuk layar. "Data dari sensor
cuaca kita di puncak bukit menunjukkan kecepatan angin di ketinggian sudah
mencapai 40 knot. Empat puluh knot, Pak Kades. Itu sama dengan 74 kilometer per
jam. Di darat, kecepatan itu sudah bisa merobohkan pohon dan papan
reklame."
Arjuna diam sejenak. Matanya menyipit menatap peta satelit
cuaca yang menunjukkan pusaran tekanan rendah di selatan pulau. Ada gumpalan
merah besar yang bergerak lambat tapi pasti ke arah daratan. Ia meletakkan
cangkir kopinya dengan perlahan, lalu berdiri dari kursi, berjalan mendekati
layar. Setiap langkahnya terasa berat, seperti menapaki lumpur hisap.
"Ini pola yang mirip dengan kejadian lima tahun
lalu," gumamnya pelan, cukup keras didengar semua yang hadir. Matanya tak
lepas dari layar. "Lima tahun lalu, waktu puting beliung menghancurkan
tiga desa di kecamatan sebelah. Polanya sama persis. Tekanan turun drastis,
angin kencang di ketinggian, awan Cumulonimbus menjulang."
Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Pak Marwoto.
"Tapi Pak Marwoto, tadi pagi saya dapat laporan dari kabupaten. Prediksi
mereka bilang ini hanya potensi badai lokal biasa. Hujan angin biasa. Mereka
belum menaikkan status siaga. Apa kita terlalu berlebihan?"
Pak Marwoto menggeleng pelan. Wajahnya menunjukkan
kegelisahan yang dalam. "Pak Kades, dengan segala hormat... saya tinggal
di kaki bukit sudah 50 tahun. Saya tahu tanda-tanda alam. Burung-burung pipit
tadi pagi terbang meninggalkan desa dalam ribuan. Semut-semut naik ke pohon
membawa telurnya. Ini bukan pertanda hujan biasa."
Dari sudut ruangan, seorang pemuda berseragam oranye
Relawan Siaga Bencana (Retana) berdiri. Namanya Joko, usia 25 tahun, lulusan
sekolah menengah kejuruan jurusan teknik yang memiliki hobi mengamati cuaca. Ia
dikenal sebagai salah satu relawan paling tanggap dan berpengalaman membaca
tanda-tanda alam.
"Maaf Pak Kades, saya izin menambahkan," ucap
Joko dengan suara tegas namun hormat. Semua mata tertuju padanya. "Saya
pantau sejak subuh, Pak. Ada pola awan Cumulonimbus yang terbentuk di selatan.
Bukan satu, tapi tiga lapis. Tingginya kalau saya perkirakan bisa mencapai 15
kilometer, bahkan lebih."
Ia mengambil remote dan mengganti tampilan layar dengan
foto-foto yang ia ambil dari puncak bukit pagi tadi. Foto-foto itu menunjukkan
dinding awan raksasa yang menjulang tinggi, putih di puncak, tapi hitam legam
di dasar, seperti gunung terapung yang mengancam.
"Lihat ini, Pak. Bentuknya seperti landasan. Ini yang
disebut awan 'Incus'. Awan Cumulonimbus yang sudah matang sempurna. Itu bukan
awan hujan biasa, Pak. Itu pabrik badai. Di dalamnya ada arus udara naik yang
sangat kuat, putaran, dan potensi angin kencang yang luar biasa. Saya
khawatir... ini bisa jadi puting beliung."
Kata 'puting beliung' menggantung di udara seperti hantu.
Ruangan kembali hening. Seseorang menarik napas panjang.
Pak Carik, sekretaris desa yang sudah berusia 55 tahun dan
berpengalaman, membuka suara. "Joko, apa kau tidak terlalu berlebihan?
BMKG saja belum mengeluarkan peringatan dini. Kita ini desa kecil, kalau kita
mengaktifkan status siaga tanpa perintah dari kabupaten, nanti dianggap sok
tahu. Bisa-bisa kita yang kena tegur."
Joko menggeleng dengan kepala dingin. "Pak Carik, saya
hormat sama pengalaman Bapak. Tapi maaf, data tidak berbohong. Sensor kita
mungkin buatan lokal, tapi akurasinya sudah teruji. Dan yang paling penting,
alam sudah memberi tanda. Saya lebih percaya tanda alam daripada menunggu
perintah dari kabupaten yang jaraknya 50 kilometer dari sini."
Pak Marwoto mengangguk setuju. "Saya setuju dengan
Joko. Pak Kades, saya usul kita aktifkan status siaga desa saja dulu. Tidak
perlu menunggu kabupaten. Kita kumpulkan warga, kita imbau untuk waspada. Yang
muda-muda kita siapkan untuk evakuasi jika diperlukan. Lebih baik bersiap dan
ternyata tidak terjadi apa-apa, daripada tidak bersiap dan terjadi
bencana."
Namun Pak Carik tetap pada pendiriannya. "Tapi Pak
Marwoto, kalau kita aktifkan status siaga, otomatis semua program kerja hari
ini terganggu. Ada sosialisasi posyandu, ada pelatihan UMKM, ada kunjungan dari
Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa. Kalau semua dibatalkan, repot jadinya.
Belum lagi warga bisa panik. Panik itu lebih bahaya dari apapun."
Diskusi berlangsung alot. Dua kubu mulai terbentuk. Kubu
yang ingin segera bertindak berdasarkan data dan tanda alam, dan kubu yang
ingin menunggu arahan resmi dari kabupaten. Suara mulai meninggi.
"Pak Carik, kalau warga panik, kita bisa tenangkan.
Tapi kalau mereka tidak siap dan bencana datang, nyawa taruhannya!" sergah
Joko dengan nada sedikit emosional.
"Kau masih muda, Joko, kurang pengalaman. Aku sudah
puluhan tahun jadi pamong desa. Kepanikan massa itu lebih susah diatasi
daripada bencana alam!" balas Pak Carik tak kalah sengit.
"Tapi Pak Carik—"
"Sudah! Cukup!" Suara Arjuna memotong perdebatan.
Ia berdiri di depan layar, kedua tangannya bertumpu di pinggang. Matanya
menatap semua orang bergantian. Ada kewibawaan yang membuat ruangan langsung
hening.
"Aku dengar semua pendapat kalian. Aku hargai
semua," ucap Arjuna dengan suara berat. "Pak Carik benar, kepanikan
massa itu berbahaya. Tapi Joko juga benar, nyawa warga lebih penting dari
apapun."
Ia berjalan mondar-mandir, berpikir keras. Di kepalanya
berputar ribuan pertimbangan. Di satu sisi ia harus melindungi warganya, di
sisi lain ia harus menjaga hubungan dengan pemerintah kabupaten. Keputusan ini
bisa jadi penentu kariernya, tapi yang lebih penting, bisa jadi penentu nasib
desanya.
"Baiklah, ini keputusanku," ujarnya akhirnya.
"Kita tidak akan mengaktifkan status siaga resmi dulu. Tapi—" ia
mengangkat telunjuk, "kita akan mengaktifkan sistem kewaspadaan internal.
Joko, kamu kumpulkan semua anggota Retana. Siapkan peralatan darurat. Cek
gudang logistik. Pastikan semua dalam kondisi siap. Pak Marwoto, tolong
sampaikan secara lisan ke ketua RT masing-masing untuk waspada, tapi jangan
sebarkan kepanikan. Sampaikan dengan bahasa yang halus, bahasa yang membuat
mereka siap tapi tidak takut. Pak Carik, tolong hubungi kabupaten, minta update
data cuaca setiap jam. Saya mau tahu perkembangan terbaru."
Semua orang mengangguk. Tugas dibagi. Namun di tengah
kesibukan itu, Arjuna merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah getaran halus di
jendela kaca ruangan. Getaran itu menjalar dari bingkai jendela, merambat ke
lantai, naik ke meja, hingga terasa di ujung jari-jarinya.
Ia diam. Semua orang juga diam. Getaran itu semakin kuat,
berubah menjadi dengung rendah, seperti suara mesin raksasa yang hidup dari
perut bumi. Seperti suara ribuan truk melintas di kejauhan. Seperti suara ombak
besar yang menghantam karang.
"Itu... apa itu?" bisik Siti, operator desa,
dengan mata membelalak.
Arjuna tak menjawab. Ia berjalan cepat ke jendela,
membukanya lebar-lebar. Angin panas menyapu wajahnya. Ia melongok ke luar, ke
arah ufuk barat, dan hatinya langsung membeku.
Langit di ufuk barat telah berubah menjadi gelap gulita.
Bukan seperti malam yang tenang dengan bintang-bintang, tapi seperti tirai
hitam pekat yang ditarik dari langit hingga menyentuh pucuk-pucuk pohon kelapa.
Tirai itu bergerak mendekat dengan cepat, seperti dinding kiamat yang melahap
segala sesuatu di depannya. Di dalam kegelapan itu, kilatan-kilatan cahaya
menyambar-nyambar, dan suara gemuruh makin lama makin keras, memekakkan
telinga, mengguncang jendela-jendela.
Seluruh orang di ruang rapat berhamburan ke jendela.
Wajah-wajah mereka pucat pasi. Pak Carik yang tadi ngotot menunggu kabupaten,
kini terpaku dengan mulut terbuka. Joko, anggota Retana, tangannya gemetar
memegang radio komunikasi.
"Itu... itu bukan hujan," bisik seorang staf
perempuan. Suaranya hampir tak terdengar, tertelan gemuruh yang makin mendekat.
"Ya Allah... itu apa?"
"Itu pusaran," jawab Joko lirih, matanya tak
lepas dari langit. "Itu pusaran... puting beliung..."
Seketika, langit memekik.
Bukan metafora. Langit benar-benar memekik. Suara jeritan
angin yang melengking tinggi, seperti suara ribuan wanita menjerit bersamaan,
seperti suara kereta api melaju dengan kecepatan penuh sambil membunyikan
klakson tanpa henti. Suara itu menusuk gendang telinga, membuat kepala serasa
mau pecah.
Angin datang bukan sebagai embusan, tapi sebagai hantaman.
Seperti tinju raksasa tak terlihat yang menghajar desa
dengan kemarahan luar biasa. Atap seng kantor desa terkelupas dalam sekejap,
seperti kertas koran yang diterbangkan anak kecil. Lembaran-lembaran seng
beterbangan di udara, berputar-putar gila, beberapa di antaranya menghantam
dinding dengan suara menggelegar. Di halaman depan, pohon asam berusia puluhan
tahun, pohon yang menjadi saksi bisu sejarah desa, tempat anak-anak bermain dan
warga berteduh, tercabut dari akarnya. Tanah di sekitarnya merekah, akar-akar
besar putus dengan suara mirip daging robek. Pohon itu ambruk perlahan, seperti
raksasa yang tumbang, lalu menghantam pagar sekolah dasar di seberang jalan.
Suara benturannya menggelegar, nyaris menenggelamkan jeritan warga yang mulai
terdengar dari berbagai penjuru.
Di sepanjang jalan desa, kabel listrik berayun liar seperti
tali raksasa yang dimainkan tangan gila. Percikan-percikan api biru menyala-nyala
dari trafo listrik, menerangi langit gelap dengan cahaya yang mengerikan. Lalu
semua padam. Gelap gulita. Desa tenggelam dalam malam di siang bolong.***
Puting beliung telah menghantam Desa Awan Biru.
Dan bukan hanya Awan Biru. Dari data yang kemudian masuk
setelah semuanya reda, pusaran raksasa itu seperti ular naga yang mengamuk,
menari-nari gila di atas peta, menghantam desa-desa tetangga: Desa Sumbermulyo
yang berjarak tiga kilometer, Desa Sidorejo di seberang sungai, dan bahkan
merusak sebagian fasilitas di Kecamatan. Jalurnya tak beraturan, seolah-olah ia
punya nyawa dan kemauan sendiri.
Jeritan memecah deru angin.
Di sebuah rumah panggung di pinggir desa, seorang ibu muda
bernama Wati berlari tunggang langgang menggendong bayinya yang menangis histeris.
Air susu ibunya membanjiri baju, tapi ia tak peduli. Ia hanya tahu satu hal: ia
harus menyelamatkan anaknya. Ia berlari ke kolong tempat tidur, satu-satunya
tempat yang ia anggap paling kokoh. Di sana, dengan badan gemetar, ia memeluk
bayinya erat-erat sambil berdoa dengan lirih, berulang-ulang, tanpa henti.
"Ya Allah... lindungi anakku... Ya Allah... lindungi
anakku... jangan ambil dia... jangan..."
Di luar, atap rumahnya terkoyak sedikit demi sedikit. Suara
paku-paku yang tercabut dari kayu terdengar seperti letupan-letupan kecil.
Genteng beterbangan, hujan masuk membasahi ruang tamu. Sebuah lemari pakaian
roboh dengan suara keras, membuat Wati menjerit dan semakin mengeratkan
pelukannya pada bayinya.
Di sekolah dasar, suasana lebih mengerikan. Anak-anak kelas
3 sedang belajar matematika ketika angin datang. Bu Guru Sari, seorang guru
muda berusia 27 tahun, baru saja selesai menerangkan soal perkalian ketika
jendela-jendela kelas tiba-tiba terbuka lebar serempak, diikuti suara
gedebak-gedebur yang mengerikan.
"Anak-anak! Turun! Semua turun! Merunduk di bawah
meja!" teriak Bu Guru Sari sekuat tenaga, berusaha mengatasi deru angin
yang memekakkan.
Anak-anak berhamburan. Ada yang menangis, ada yang
berteriak memanggil ibu, ada yang hanya bisa terdiam ketakutan di bawah meja.
Salah seorang anak laki-laki, bernama Bejo, berlari ke sudut ruangan, menutup
telinga dengan kedua tangan sambil menggigil hebat. Di benaknya hanya satu
kalimat yang berulang: "Kakang... Aku wedi... Kang..."
Atap sekolah mulai terbuka. Reng-reng kayu patah satu per
satu. Ubin lantai bergetar. Papan tulis roboh dengan suara memekakkan telinga.
"Jangan takut, anak-anak! Ibu di sini! Ibu bersama
kalian!" teriak Bu Guru Sari, meski suaranya nyaris tak terdengar. Ia
berlari dari satu meja ke meja lain, memastikan semua anak terlindungi. Hatinya
berteriak ketakutan, tapi ia tahu ia harus kuat untuk anak-anak ini.
Di sawah, para petani yang sedang memanen padi tak sempat
lari. Seorang petani tua, Mbah Dullah, tersungkur tertimpa dahan patah dari
pohon randu yang roboh. Ia mengerang kesakitan, tulang kakinya terasa patah. Di
sampingnya, temannya, Pak Karyo, berusaha menolong meski badai masih mengamuk.
"Mbah! Mbah Dullah! Kuat, Mbah!" teriak Pak Karyo
sambil berusaha mengangkat dahan yang menimpa kaki Mbah Dullah. Angin kencang
membuat matanya perih, debu dan butiran padi beterbangan menerpa wajahnya
seperti ribuan jarum kecil.
"Karyo... kowe lungaa... selamatkan awakmu dhisik...
aku wis tua..." rintih Mbah Dullah lemah.
"Ora, Mbah! Aku ora bakal ninggal Mbah! Ayo, Mbah, aku
tulungi!"
Di tengah deru angin yang makin dahsyat, Pak Karyo berjuang
mati-matian mengangkat dahan besar itu. Keringat bercucuran, otot-ototnya
menegang, napasnya terengah. Akhirnya, dahan itu berhasil digeser sedikit, cukup
untuk menarik kaki Mbah Dullah keluar. Dengan susah payah, ia memapung Mbah
Dullah merangkak menjauhi pohon menuju gubuk kecil di pinggir sawah. Badai
masih mengamuk di sekitar mereka, tapi setidaknya mereka aman untuk sementara.
Balai pertemuan desa yang baru saja diresmikan sebulan lalu
dengan biaya 200 juta rupiah, tempat pertemuan warga, hajatan, dan rapat-rapat
penting, kini hanya tinggal kenangan. Atapnya roboh total, temboknya
retak-retak seperti kulit kering di musim kemarau. Kursi-kursi plastik yang
baru dibeli beterbangan di halaman, beberapa hancur berkeping-keping. Panggung
pertemuan yang indah dengan ukiran kayu kini ambruk, meninggalkan puing-puing
kayu berserakan.
Rumah-rumah kayu yang tak cukup kuat ambruk seketika.
Seperti kartu yang tersapu tangan tak terlihat, mereka roboh satu per satu,
meninggalkan tumpukan puing dan harta benda yang hancur. Di dalam reruntuhan
itu, foto-foto keluarga, dokumen penting, tabungan dalam kaleng bekas, semua
tercampur aduk dengan tanah dan puing. Seekor anjing melolong histeris di
antara reruntuhan, mencari majikannya yang entah di mana.***
Di ruang server kantor desa yang semi-bawah tanah, alarm
darurat berbunyi meraung-raung. Lampu merah berkedip-kedip liar, bercampur
dengan bunyi peringatan dari layar-layar monitor yang menampilkan kode error
berwarna merah. Sistem AMAT, Aplikasi Manajemen Administrasi Terpadu, jantung
administrasi desa, warisan pemikiran Si Amat, sedang berjuang melawan gangguan
koneksi dan potensi kerusakan hardware.
Server berdengung kencang, kipas pendingin bekerja
mati-matian. Lampu-lampu indikator berkedip tak beraturan. Di layar monitor,
muncul peringatan:
"KONEKSI TERPUTUS... MENCOBA MENGHUBUNGKAN ULANG...
KONEKSI TERPUTUS... TERJADI KERUSAKAN PADA JARINGAN EKSTERNAL... DATA TERSIMPAN
DALAM MEMORY CADANGAN... MENUNGGU KONEKSI PULIH..."
Di sudut ruangan, Siti, operator desa yang tadi ikut rapat,
berlari masuk dengan napas memburu. Rambutnya acak-acakan, bajunya basah oleh
air hujan yang mulai turun deras bercampur angin. Ia melihat layar-layar
monitor yang panik, lalu berteriak,
"Pak Kades! Servernya! Servernya bermasalah! Koneksi
putus total! Data masuk dari lapangan terhenti!"
Arjuna yang berlari di belakangnya, langsung menghampiri
layar utama. Tangannya cekatan menekan beberapa tombol, mencoba mengakses
sistem manual. Wajahnya tegang, otot rahangnya mengeras, tetapi tangannya tetap
stabil.
"Tenang, Siti. Ini sudah kita antisipasi. Aktifkan
mode darurat. Alihkan ke data lokal. Semua yang sudah masuk harus disimpan.
Jangan sampai ada yang hilang!"
"Tapi Pak, kalau listrik padam total, kita cuma punya
baterai cadangan dua jam!" teriak Siti panik.
"Makanya cepat! Dua jam cukup. Hubungi Pak Marwoto,
minta update lewat radio! Jangan lewat internet! Radio masih aman!"
perintah Arjuna.
Siti segera meraih radio komunikasi. "Awan Biru Pusat
memanggil Posko Kedungmiri... Awan Biru Pusat memanggil Posko Kedungmiri... Apa
kabar? Apa kabar? Laporkan status!"
Radio berderai. Suara Pak Marwoto terdengar putus-putus,
bercampur derau dan suara angin. "Posko Kedungmiri menerima...
Astagfirullah... dahsyat, Pak... dahsyat... banyak rumah roboh... pohon tumbang
di mana-mana... warga panik... kami butuh bantuan..."
"Tahan, Pak Marwoto! Kumpulkan warga ke tempat aman!
Jauhi pohon besar dan bangunan rapuh! Kami akan koordinasi dengan BPBD!"
Percakapan radio itu terdengar oleh semua orang di ruang
server. Wajah-wajah mereka pucat. Joko, anggota Retana yang tadi ikut rapat,
mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Sialan... kita sudah diperingatkan...
tapi kenapa... kenapa kabupaten tidak mengeluarkan peringatan lebih awal?"
"Joko, fokus! Ini bukan waktu untuk menyalahkan
siapapun!" potong Arjuna tegas. "Sekarang tugas kita adalah
menyelamatkan warga. Cek gudang logistik! Pastikan semua peralatan darurat
siap! Tim medis harus segera bergerak!"
"Tapi Pak, akses jalan ke Kedungmiri terputus! Pohon
tumbang di mana-mana!" lapor Siti, yang terus memonitor laporan dari
radio.
"Gunakan jalur alternatif lewat sawah. Traktor bisa
dipakai untuk evakuasi. Koordinasi dengan warga yang punya traktor. Jangan
tunggu perintah! Gerak sekarang!" perintah Arjuna dengan suara lantang.
Joko mengangguk cepat, lalu berlari keluar ruangan. Di
ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang. "Pak Kades...
Bapak sendiri? Bapak di sini terus?"
Arjuna menatap Joko. Ada kelelahan di matanya, tapi juga
tekad baja. "Aku di sini. Ini pusat komando. Selama sistem masih bisa
dipantau, aku akan di sini. Kalian di lapangan, aku di sini. Kita bersama-sama,
Joko."
Joko mengangguk, lalu menghilang di balik pintu.***
Arjuna berdiri di ambang pintu kantor yang kusam, sebenarnya
bukan pintu lagi, karena pintu itu sudah terlepas dari engselnya akibat
terjangan angin. Ia berdiri di sana, kedua tangannya mengepal kuat di sisi
tubuh. Wajahnya tegang, otot rahangnya mengeras, tetapi matanya... matanya
berkaca-kaca.
Ia menyaksikan desa yang dibangunnya dengan susah payah
selama dua periode, desa yang menjadi kebanggaannya, yang menjadi model desa
digital se-kabupaten, yang menjadi tujuan studi banding dari berbagai daerah, hancur
dalam hitungan menit. Semua yang ia raih, semua yang ia bangun bersama
warganya, semua yang ia pertahankan mati-matian, kini berubah menjadi
puing-puing berserakan.
Di kejauhan, ia mendengar suara tangis anak-anak, suara
teriakan orang-orang yang kehilangan, suara reruntuhan yang masih berderak
diterpa angin sisa. Hatinya remuk redam. Air mata nyaris tumpah, tapi ia tahan
sekuat tenaga. Ia adalah kepala desa. Ia harus kuat. Ia adalah cucu Si Amat. Ia
harus mewarisi ketangguhan kakeknya yang legendaris itu.
Siti mendekat dari belakang, berdiri di samping Arjuna.
Dengan suara lirih, hampir berbisik, ia berkata, "Pak Kades... ini... ini
bukan salah Bapak. Kita sudah melakukan yang terbaik... kita sudah punya
sistem, kita sudah punya peringatan dini..."
Arjuna menggeleng pelan. "Tapi belum cukup, Siti.
Belum cukup. Sistem secanggih apapun, data seakurat apapun, kalau tidak bisa
membuat kita bertindak lebih cepat, semua tidak ada artinya. Kita masih terpaku
pada birokrasi, masih menunggu perintah dari atas... sementara nyawa warga kita
taruhannya."
"Tapi Pak, BMKG sendiri—"
"BMKG punya data, tapi kita yang ada di sini punya
mata dan telinga," potong Arjuna. "Joko sudah memperingatkan. Pak
Marwoto sudah merasakan tanda-tandanya. Tapi kita masih ragu. Masih berpikir
seratus kali sebelum bertindak. Dan akibatnya..." Ia menunjuk ke luar, ke
pemandangan desa yang hancur. "Akibatnya kita lihat sendiri."
Siti tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa berdiri di
samping Arjuna, menyaksikan bersama pemandangan memilukan itu.
Angin mulai reda. Hujan pun mulai reda. Namun kehancuran
sudah terjadi. Dan di tengah kehancuran itu, Arjuna berbisik pelan, cukup untuk
didengar sendiri, cukup untuk menjadi sumpah di dalam hatinya:
"Ini bukan sekadar badai. Ini prahara. Dan kami...
aku... tidak akan membiarkan prahara ini mengalahkan kita. Kita akan bangkit.
Kita akan bangkit kembali. Demi desa ini. Demi kakekku. Demi warganya. Demi
Awan Biru."
Ia mengepalkan tangannya lebih kuat. Dari matanya, setetes
air mata akhirnya jatuh, air mata kesedihan, penyesalan, dan tekad yang
membara. Tapi ia segera menghapusnya dengan punggung tangan. Tidak ada waktu
untuk menangis. Ada desa yang harus diselamatkan. Ada warga yang harus dibantu.
Ada masa depan yang harus dibangun kembali.
Di belakangnya, radio komunikasi terus berderai dengan
suara-suara panik, laporan, permintaan tolong. Sistem AMAT di ruang server
terus berkedip-kedip, berusaha bertahan. Dan di luar sana, di tengah puing dan
reruntuhan, warga Desa Awan Biru mulai bangkit, mulai saling memanggil, mulai
bahu-membahu membersihkan puing.
Prahara telah datang. Tapi perjuangan sesungguhnya baru
akan dimulai.****
Badai berlalu secepat ia datang. Mungkin hanya 15 menit,
mungkin 20, tak ada yang sempat menghitung waktu dengan akurat ketika maut
berdesir begitu dekat. Namun kerusakan yang ditinggalkannya seperti baru saja
dilalap perang selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Ketika suara angin
mereda, berganti dengan rintik hujan yang mulai mengecil, hanya tersisa erangan
tangis dan suara ranting patah yang berderak setiap kali diinjak.
Desa Awan Biru telah berubah menjadi lanskap puing dan
kepiluan.
Debu beterbangan halus di udara, bercampur aroma tanah
basah yang menyengat, daun-daun tumbuk yang hancur, dan entah dari mana, bau
gas yang menguar Samar-samar, mungkin dari tabung elpiji yang bocor di
reruntuhan dapur warga. Di kejauhan, terdengar suara ayam berkokuk kebingungan,
seperti tak mengerti mengapa kandangnya hancur dan langit tiba-tiba terbuka. Seekor
kucing mengeong-ngeong histeris di atas tumpukan genteng pecah, tubuhnya basah
kuyup, matanya liar mencari tempat berlindung.
Arjuna tak menunggu detik kedua.
Dengan napas memburu, ia berlari kembali ke ruang server.
Kakinya hampir tersandung puing-puing beton yang berserakan di lorong.
Penerangan darurat dari baterai masih menyala—syukurlah—memberi cahaya temaram
kemerahan di ruangan yang pengap. Layar-layar monitor masih hidup, beberapa
menampilkan kode error, beberapa menampilkan data terakhir sebelum koneksi
putus.
Ia meraih radio komunikasi genggam yang tergantung di
dinding. Alat tua berwarna hitam dengan antena panjang itu terasa berat di
tangannya, tapi juga terasa seperti satu-satunya sambungan hidup dengan dunia
luar. Ia menekan tombol PTT (Push To Talk) dengan ibu jari yang sedikit
gemetar, lalu menarik napas dalam-dalam. Suaranya harus tenang. Suaranya harus
berwibawa. Kepanikan tidak boleh menular dari pusat komando.
"Awan Biru Pusat memanggil semua RT. Laporkan status!
Laporkan status!" suaranya terengah, namun ia usahakan tetap berwibawa.
Radio berderai. Derau listrik statis mengisi ruangan. Lalu,
satu per satu, laporan masuk, terputus-putus, bercampur derau dan suara tangis
di latar belakang.
Suara pertama datang dari RT 01. Pak Darmo, ketua RT yang
sudah berusia 60 tahun, seorang pensiunan guru SD. Suaranya bergetar, terdengar
seperti menahan tangis. "*Awan Biru Pusat... RT 01 menerima... Ya Allah,
Pak Kades... parah... parah sekali... rumah rusak berat di mana-mana... pohon
tumbang besar menutup akses jalan ke dusun... saya... saya belum bisa data
semua... masih panik...*"
Arjuna menekan tombol. "Tenang, Pak Darmo. Tarik
napas. Kumpulkan warga ke tempat aman dulu. Halaman rumah Bapak yang luas itu
aman, jauh dari pohon besar. Kumpulkan di sana. Saya akan kirim tim
secepatnya."
"Baik, Pak Kades... saya usahakan..."
Belum sempat Arjuna menjawab, suara lain memotong. RT 03.
Suara Mas Bejo, ketua RT yang muda, berusia 35 tahun, mantan buruh pabrik yang
pulang kampung. Suaranya panik, hampir berteriak.
"RT 03! RT 03! Pak Kades! Tolong! Ada warga
tertimpa reruntuhan! Rumahnya ambruk! Saya dengar teriakan minta tolong dari
dalam tumpukan puing! Kami nggak punya alat berat! Tolong kirim bantuan segera!
Cepat, Pak!"
Arjuna mengepalkan tangan. Ia menekan tombol. "Mas
Bejo, identifikasi lokasi! Pastikan koordinatnya! Jangan coba-coba angkat puing
sendiri kalau tidak yakin strukturnya stabil. Bisa ambruk lagi. Lindungi dulu,
beri semangat korban, tim SAR sedang dalam perjalanan!"
"Siap, Pak Kades! Rumahnya Pak Juminten, di pojok
selatan RT 03! Saya akan tunggu di jalan utama kasih tanda!"
Radio kembali berderai. RT 05. Suara Bu RT, seorang
perempuan tangguh berusia 50 tahun, penjual jamu keliling. Suaranya terdengar
lebih tenang, meski ada getar di ujung kata.
"*RT 05 melaporkan, Pak Kades... Balai Dusun rata
dengan tanah... atapnya ambruk total... semua selamat karena pas lagi nggak
dipakai, Alhamdulillah... tapi warga panik, Pak. Anak-anak pada nangis, orang
tua pada syok. Kami butuh tim kesehatan untuk trauma healing. Dan... dan rumah
Mbah Kasan hampir roboh, temboknya retak besar. Beliau nggak mau keluar, ngotot
mau ngambil surat-surat tanah. Saya nggak bisa memaksa...*"
Arjuna menghela napas. Mbah Kasan. Veteran pejuang
kemerdekaan, usianya 92 tahun. Tentu saja ia tak mau kehilangan surat-surat
tanah yang diperjuangkannya seumur hidup.
"Bu RT, tolong sampaikan ke Mbah Kasan, surat-suratnya
bisa diurus lagi. Pemerintah desa akan bantu. Nyawa beliau lebih berharga dari
selembar kertas. Kalau perlu, bawa secara paksa. Saya tanggung jawab."
"Siap, Pak Kades. Saya coba lagi. Tapi... tolong
cepat kirim bantuan psikologis. Anak-anak saya lihat trauma sekali."
"Siap, Bu RT. Doakan kami."
RT 07. Suara Pak Karyo—petani yang tadi menolong Mbah
Dullah di sawah. Suaranya parau, batuk-batuk, mungkin kemasukan debu.
"Pak Kades... Karyo ini... saya di RT 07. Mbah
Dullah, tetangga saya, kakinya patah tertimpa dahan. Saya sudah bawa ke rumah
saya, sudah saya balut seadanya. Tapi dia kesakitan, Pak. Butuh dokter. Jalannya
masih penuh pohon tumbang. Saya nggak bisa bawa ke puskesmas."
"Mbah Dullah selamat, Pak Karyo?"
"Alhamdulillah selamat, Pak. Tapi sakitnya minta
ampun. Teriak-teriak terus."
"Tahan, Pak Karyo. Tim medis sedang kami arahkan ke
semua titik. Mereka akan ke rumah Bapak begitu akses terbuka. Beri Mbah Dullah
minum, jangan biarkan dehidrasi. Dan terima kasih, Pak Karyo. Terima kasih
banyak sudah menolong."
"Lha iya, Pak Kades, wong tetangga. Mboten pareng
susah."
Arjuna tersenyum tipis di tengah kepanikan. Itulah
warganya. Tetangga adalah keluarga. Susah senang ditanggung bersama.
Radio terus berderai. Laporan demi laporan masuk. RT 02:
kandang ayam warga rubuh, ribuan ayam mati atau hilang. RT 04: warung Mbok Yem
hancur, stok sembako berserakan dijalan, warga berebut mengambil. RT 06: pohon
kelapa tumbang menimpa tiga sepeda motor yang parkir. RT 08: kabel listrik
putus dan masih beraliran listrik, berbahaya jika dilewati.
Siti, operator desa, masuk ke ruangan dengan napas
tersengal. Rambutnya basah, bajunya kotor lumpur. "Pak Kades, saya sudah
coba hubungi kabupaten lewat telepon. Tidak ada sinyal. Mungkin BTS-nya
rusak."
Arjuna mengangguk, matanya tetap fokus pada radio.
"Gunakan satelit portable. Hubungkan ponsel saya. Saya akan aktivasi
status tanggap darurat."
Siti segera meraih tas khusus berisi perangkat satelit
portable, investasi desa yang dulu sempat diperdebatkan banyak orang karena
mahal. Sekarang, perangkat itu menjadi penyelamat. Ia menyambungkan kabel,
menekan beberapa tombol. Lampu indikator menyala hijau.
"Sudah terkoneksi, Pak."
Arjuna meraih ponselnya. Layarnya retak di sudut, tapi
masih menyala. Dengan jari-jari yang sedikit gemetar, ia membuka dashboard
darurat, aplikasi khusus yang terhubung langsung dengan Pusdalops BPBD
Kabupaten Awan Jingga. Ia memilih menu "Aktifkan Status Tanggap Darurat
Desa", lalu mengisi formulir singkat:
Lokasi: Desa Awan Biru, Kecamatan Kabut Merah
Jenis Bencana: Puting Beliung
Waktu Kejadian: Sekitar pukul 14.30 WIB
Korban Jiwa: Belum diketahui (dalam pendataan)
Kerusakan: Masif (rumah, fasilitas umum, akses jalan)
Bantuan yang Dibutuhkan: Tim SAR, medis, logistik, alat berat
Jarinya berhenti sejenak di tombol "KIRIM". Ia
menatap layar. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Desa Awan Biru, status
tanggap darurat diaktifkan. Ini berarti keadaan benar-benar darurat. Ini
berarti desanya resmi berduka. Dengan hati berat, ia menekan tombol itu.
Pesan terkirim. Data masuk ke sistem BPBD Kab. Awan Jingga.
Mohon tunggu konfirmasi.
Arjuna menghela napas panjang. Sekarang, hanya bisa
menunggu.***
Tak lama kemudian, dunia luar bergerak.
Sirine ambulance terdengar sayup-sayup dari kejauhan, suara
yang biasanya menimbulkan rasa cemas, tapi hari itu justru membawa harapan.
Suara itu makin lama makin dekat, berusaha menembus genangan air dan
ranting-ranting patah yang berserakan di jalan. Sesekali terdengar suara
klakson panjang, meminta jalan, meminta prioritas.
Di jalan utama desa, pemandangan kacau balau. Sebuah
ambulance PMI berwarna putih-oranye berusaha maju perlahan. Di depannya, batang
pohon asam besar melintang menutup total akses. Relawan dan warga
bergotong-royong dengan gergaji mesin seadanya, berusaha memotong batang
raksasa itu. Suara gergaji meraung, serbuk kayu beterbangan.
"Sini, sini, angkat! Satu, dua, tiga! Angkat!"
teriak seorang relawan. Bersama-sama, mereka menggeser potongan batang kayu ke
tepi jalan. Ambulance akhirnya bisa lewat, menerobos genangan air dengan
percikan ke kiri-kanan.
Di belakangnya, truk-truk besar BPBD, kendaraan taktis TNI
dam Polres, dan mobil pikap relawan mulai berdatangan. Mereka membawa peralatan
seadanya, dongkrak hidrolik untuk mengangkat reruntuhan berat, gergaji mesin
untuk memotong kayu, tandu untuk mengevakuasi korban, serta puluhan kotak
berisi logistik dan obat-obatan.
Di halaman sekolah dasar yang masih tersisa separuh
atapnya, Tim Kesehatan dari Puskesmas Kecamatan Kabut Merah segera membuka
posko darurat. Dengan alas terpal dan tikar seadanya, mereka mulai merawat
korban luka-luka.
Seorang dokter muda, dr. Dewi, berusia 29 tahun, berteriak
memberi instruksi. "Tandu! Bawa ke sini! Perban! Siapa yang punya perban
lebih? Infus, kita butuh infus!"
Anak-anak dengan luka gores di kaki duduk berjajar,
beberapa menangis, beberapa diam ketakutan. Seorang perawat membersihkan luka
di lutut seorang bocah perempuan yang meringis kesakitan. "Sebentar ya,
dik, sebentar lagi sembuh. Cantik-cantik jangan nangis, nanti nggak
cantik," bujuknya lembut.
Seorang ibu tua, mbok Sarni, duduk terpaku di sudut tenda,
matanya kosong. Ia tak terluka secara fisik, tapi jiwanya sepertinya terluka
parah. Seorang relawan psikososial duduk di sampingnya, mencoba mengajaknya
bicara pelan. "Mbok... Mbok Sarni... Saya Wulan, dari tim psikososial.
Mbok, apa yang bisa saya bantu? Mbok mau cerita?"
Mbok Sarni diam. Matanya tetap kosong. Lalu tiba-tiba, air
matanya mengalir deras. "Omahku... omahku entek, Ndhuk... kabeh entek...
(Rumahku... rumahku habis, Nak... semua habis...)" isaknya pilu.
Wulan meraih tangan keriput itu, menggenggamnya erat.
"Saya turut berduka, Mbok. Tapi Mbok selamat, Mbok masih hidup. Itu yang
penting. Harta bisa dicari lagi, Mbok. Yang penting Mbok sehat, Mbok
kuat."
Mbok Sarni hanya bisa mengangguk pelan, terisak dalam
dekapan Wulan.
Di sudut lain, seorang bapak paruh baya terbaring di atas
tandu. Kakunya patah, tulangnya mencuat di beberapa tempat, pemandangan
mengerikan yang membuat relawan muda mual. Ia adalah Pak Juminten, korban yang
dilaporkan RT 03. Tim SAR berhasil mengangkat reruntuhan yang menimpanya, tapi
lukanya parah. Dokter Dewi segera mendatanginya.
"Pak, Bapak bisa dengar saya? Ini dokter. Bapak harus
tenang. Kami akan beri obat bius sebentar, lalu kami bawa ke rumah sakit. Bapak
selamat, Pak. Bapak selamat."
Pak Juminten mengerang kesakitan, tapi matanya sedikit
tenang mendengar suara dokter. Istrinya, Bu Juminten, menangis histeris di
sampingnya, memegang tangan suaminya. "Mas... Mas, aku di sini... aku
nggak akan ninggal Mas..."
"Bu, ibu harus tenang juga. Ibu bisa ikut ambulance,
dampingi Bapak. Tapi ibu harus tenang, ya? Bapak butuh ibu tenang," ujar
dr. Dewi lembut.
Bu Juminten mengangguk, mencoba mengendalikan tangisnya.***
Pendataan korban dan kerusakan dimulai dengan cepat. Tim
relawan desa, yang telah dilatih Arjuna selama ini, berkat program bidang
penanggulangan bencana, bergerak dengan tablet tahan air di tangan. Mereka
menyebar ke seluruh penjuru desa, memasuki setiap rumah yang tersisa, menanyai
setiap kepala keluarga yang bisa ditemui.
Di RT 02, seorang relawan bernama Rudi, 24 tahun, mantan
anak jalanan yang kini hidupnya berubah setelah dibina desa, mengetuk pintu
sebuah rumah setengah roboh. "Assalamu'alaikum... permisi... ada
orang?"
Dari dalam, suara lemah menjawab. "Wa'alaikumsalam...
masuk, Le, pintunya nggak terkunci."
Rudi masuk dengan hati-hati, menghindari puing-puing yang
berserakan. Di dalam, seorang nenek tua terbaring di dipan, selimutnya basah.
Di sampingnya, seorang anak kecil duduk memeluk lutut, matanya bengkak.
"Nek, saya Rudi dari relawan desa. Saya mau data
keadaan Nek. Nek, apa Nek butuh bantuan? Lukanya di mana?"
Nenek itu menggeleng lemah. "Nggak apa-apa, Le, cuma
lecet sikit. Tapi aku nggak bisa jalan, Le. Kakiku sakit, udah dari sebelum
badai. Anakku lagi di sawah, belum pulang. Aku sama cucuku ini aja."
Rudi mengangguk, mencatat di tabletnya. "Nama Nek?
NIK-nya berapa, Nek? Biar saya input data."
"Wiwin... Wiwin Suparti. NIK... aduh, lupa, Le. Yang
jelas RT 02 RW 01."
"Nggak apa-apa, Nek. Nanti saya cocokkan di data
kependudukan. Nek, kami akan jemput Nek. Nek dan cucu harus ke pengungsian. Di
sini nggak aman. Rumahnya sudah rusak, bisa ambruk lagi kalau hujan."
Cucu nenek itu, seorang anak laki-laki usia 7 tahun,
tiba-tiba bicara. "Mas, aku takut. Waktu angin kenceng, aku lihat genteng
pada terbang. Aku kira malaikat mau jemput aku."
Rudi tersentak. Ia berlutut di depan anak itu, menatap
matanya. "Dik, namamu siapa?"
"Bambang."
"Bambang, dengar ya. Itu bukan malaikat. Itu cuma
angin. Angin sudah pergi. Sekarang kamu aman. Mas Rudi di sini. Nanti banyak
kakak-kakak lain yang bantu. Kamu nggak usah takut, ya?"
Bambang mengangguk, meski matanya masih menyimpan
ketakutan.
"Janji sama Mas Rudi?"
"Janji," bisik Bambang.
"Pintar. Sekarang, tolong jagain Nenek ya. Mas Rudi
mau panggil teman-teman buat jemput Nenek. Sebentar lagi."***
Data demi data mengalir masuk ke server darurat. Melalui
koneksi satelit, data itu langsung terintegrasi ke sistem AMAT yang telah
di-backup di awan. Di kantor BPBD Kabupaten Kabut Awan Jingga, di layar monitor
besar, peta Desa Awan Biru mulai dipenuhi titik-titik merah, setiap titik
mewakili rumah rusak, korban luka, atau kebutuhan mendesak.
Kepala BPBD, Bapak Suroso, seorang pria berusia 55 tahun
dengan kumis tebal, menatap layar dengan serius. "Luar biasa... data dari
desa ini selalu yang tercepat. Mereka sudah punya sistem yang bagus."
"Pak, kita kirim bantuan sesuai data itu?" tanya
stafnya.
"Ya. Jangan asal kirim. Lihat prioritasnya: korban
luka berat dulu, lalu rumah roboh total, lalu akses jalan. Kirim tim sesuai
kebutuhan. Ini contoh bagaimana manajemen bencana seharusnya berjalan."
Di desa, Base camp pengungsian didirikan di lapangan sepak
bola, satu-satunya area luas yang relatif aman dari pohon-pohon besar karena
sudah lama gundul akibat proyek perluasan. Relawan bahu-membahu mendirikan
tenda-tenda besar dari terpal dan bambu. Dalam hitungan jam, barisan tenda
darurat mulai terbentuk, meski masih semrawut.
"Hef, tarik lebih kencang ikatannya! Nanti roboh kena
angin lagi!" teriak seorang koordinator relawan.
"Kiri, kiri sedikit! Ratakan dulu tanahnya biar nggak
becek!"
"Siapa yang bawa lampu? Kita butuh penerangan, nanti
malam gelap!"
Di sudut lain, tenda dapur umum mulai mengepulkan asak.
Ibu-ibu PKK dengan sigap mengorganisir logistik. Ketua PKK, Bu Lurah, istri
Arjuna, seorang perempuan lembut tapi tegas bernama Kirana, berada di garis
depan, memotong sayuran dengan tangan cekatan.
"Ibu-ibu, kita masak untuk 500 orang dulu ya!
Perkiraan sementara pengungsi 300-an, plus relawan! Jangan lupa, menu khusus
untuk balita dan lansia! Yang lunak, yang bergizi!"
"Siap, Bu Kades!" jawab ibu-ibu kompak.
Seorang ibu paruh baya bertanya, "Bu, beras kita
cukup? Stok di sini cuma 50 kilo."
Kirana menghela napas, lalu menjawab tegas. "Cukup
nggak cukup, kita usahakan. Nanti bantuan dari luar datang. Sekarang, kita
maksimalkan yang ada. Mbak Titin, tolong catat stok kita detail. Jangan sampai
kehabisan di tengah jalan."
"Baik, Bu Kades."
Di tengah kesibukan dapur umum, seorang anak kecil
mendekati Kirana. Wajahnya kotor, matanya sayu. "Tante... aku laper."
Kirana menoleh, hatinya luluh. Ia berjongkok, mengusap
rambut anak itu. "Kamu laper, Nak? Sabar ya, sebentar lagi masaknya. Kamu
sama siapa?"
"Sama ibu. Ibu lagi nangis di tenda."
Kirana menelan ludah. "Baik, nanti Tante anterin makan
buat kamu dan ibu. Sekarang kamu tunggu di tenda ya, jangan kemana-mana."
Anak itu mengangguk lalu berlari kecil kembali ke tenda.***
Bantuan mulai berdatangan secara bertahap. Sore harinya,
truk-truk kecil berusaha menyusuri jalan yang mulai dibersihkan dari
puing-puing oleh alat berat yang dikerahkan Dinas Pekerjaan Umum. Suara
buldoser dan backhoe menggema, memindahkan tumpukan kayu dan reruntuhan ke tepi
jalan.
Truk pertama berisi ribuan liter air mineral dalam kemasan.
Truk kedua berisi selimut, tikar, dan perlengkapan tidur. Truk ketiga berisi
obat-obatan dan vitamin. Truk keempat berisi sembako: beras, mie instan, minyak
goreng, gula, teh.
Relawan bergegas membongkar muatan. "Air di sini!
Selimut di sana! Sembako masuk ke tenda logistik!"
"Pak, obat-obatan langsung ke posko kesehatan ya!
Jangan dicampur!"
Seorang relawan muda, mahasiswa yang ikut rombongan dari
kota, berkomentar pada temannya. "Gila, desa ini terorganisir banget.
Biasanya kalau bencana, yang ada malah kacau balau, bantuan numpuk nggak
karuan. Di sini, semua dikelompokkan, didata, baru disalurkan."
Temannya mengangguk. "Iya, kata temenku yang relawan
sering, Desa Awan Biru itu model. Sistemnya canggih. Warga juga pada
sadar."***
Malam turun dengan cepat, seperti tirai hitam yang ditarik
dari langit. Di tenda-tenda pengungsian, lampu-lampu darurat bertenaga baterai
mulai dinyalakan, memberi cahaya temaram yang menari-nari di wajah-wajah lelah.
Suara tangis bercampur doa terdengar samar-samar.
Di sudut tenda, seorang nenek termenung memeluk bantal
satu-satunya yang berhasil ia selamatkan dari reruntuhan rumahnya. Bantal itu
basah, kotor, tapi ia memeluknya erat seperti benda paling berharga di dunia.
Matanya kosong menatap ke luar tenda, ke arah di mana dulu rumahnya berdiri.
Sesekali bibirnya komat-kamit, mungkin berdoa, mungkin menyebut nama-nama yang
telah tiada.
Di sebelahnya, seorang anak kecil bertanya pada ibunya
dengan suara lirih, penuh kecemasan. "Bu, kita tidur di mana besok?"
Sang ibu, seorang perempuan muda dengan wajah letih dan
mata sembab, hanya mampu mengusap rambut anaknya dengan lembut. Air matanya
mengalir pelan, tak tertahan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia tak tahu
apakah besok masih ada tempat bernama rumah untuk mereka.
"Nak... kita tidur di sini dulu ya... besok... besok
Ibu nggak tahu... tapi Ibu janji, kita akan baik-baik saja... Ibu
janji..."
Anak itu memeluk ibunya erat. "Ibu jangan nangis...
Aku takut lihat Ibu nangis..."
"Ibu nggak nangis, Nak... Ibu cuma... kecantikan debu
aja..."
Di tenda lain, sekelompok remaja duduk melingkar. Beberapa
dari mereka kehilangan orang tua, kehilangan saudara, entah di mana sekarang.
Mereka diam, tak ada yang bicara. Hanya sesekali terdengar isak tertahan.
Seorang remaja perempuan, usia 17 tahun, tiba-tiba bicara.
"Teman-teman... kita harus kuat. Kita masih punya satu sama lain."
Yang lain menatapnya. "Tapi rumahku hancur, Ren. Semua
habis."
"Aku tahu. Rumahku juga. Tapi kita masih hidup. Itu
yang penting. Besok kita cari saudara-saudara kita yang hilang. Besok kita
mulai dari nol. Bersama-sama."
Mereka saling berpandangan. Lalu, satu per satu, mereka
mengulurkan tangan, bergandengan, membuat lingkaran kecil di tengah kepiluan.
Tak ada yang bicara, tapi kehangatan mulai merambat di antara mereka.***
Di posko komando, Arjuna belum tidur. Ia duduk di kursi lipat,
menatap peta desa yang dipenuhi tanda-tanda. Siti datang membawa secangkir kopi
hitam.
"Pak Kades, kopi. Bapak belum makan sejak siang."
Arjuna menerima cangkir itu, tapi tak segera meminumnya.
"Terima kasih, Siti. Data terakhir bagaimana?"
Siti membuka tabletnya. "Korban jiwa sementara nol,
Alhamdulillah. Tapi korban luka berat 3 orang, sudah dievakuasi ke rumah sakit
kabupaten. Luka ringan 47 orang, dirawat di posko. Rumah rusak berat 53 unit,
rusak sedang 78 unit, rusak ringan 102 unit. Fasilitas umum: balai desa, balai
dusun, sekolah, dan dua mushola rusak. Masih dalam pendataan ulang."
Arjuna menghela napas berat. Angka-angka itu bukan sekadar
statistik. Di balik setiap angka, ada keluarga, ada mimpi, ada kehidupan yang
hancur. "BPBD janji kirim bantuan material besok. Semoga cukup."
Siti ragu sejenak, lalu berkata. "Pak Kades... ada
yang ingin saya tanyakan."
"Apa, Siti?"
"Bapak... Bapak tidak menyalahkan diri sendiri, kan?
Atas kejadian ini?"
Arjuna diam. Matanya tetap menatap peta. Lalu, perlahan, ia
bicara. "Siti, aku tidak bisa bilang tidak. Aku memang menyalahkan diriku
sendiri. Seharusnya aku lebih tegas. Seharusnya aku tidak ragu. Seharusnya aku
mengaktifkan status siaga lebih awal, meskipun kabupaten belum
menginstruksikan."
"Tapi Pak Kades, keputusan Bapak saat itu—"
"Keputusanku saat itu didasari data yang ada. Tapi
alam berbicara lain. Dan aku terlalu lama mendengar suara birokrasi, tidak
cukup cepat mendengar suara alam. Itu kesalahanku. Dan aku akan
menanggungnya."
Siti tak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa duduk diam
di samping atasannya.
"Tapi Siti," sambung Arjuna, menoleh akhirnya,
menatap Siti dengan mata lelah tapi berbinar. "Sekarang bukan waktu untuk
menyesali kesalahan. Sekarang waktu untuk bangkit. Waktu untuk membuktikan bahwa
desa ini, warganya, kita semua, lebih kuat dari badai mana pun. Itu warisan
kakekku. Dan itu akan terus aku jaga."***
Di tenda pengungsian, seorang bayi menangis. Ibunya,
seorang perempuan muda bernama Dewi, berusaha menenangkan dengan menyusuinya. Tapi
ASI-nya tak keluar, mungkin karena stres, mungkin karena kelelahan. Bayi itu
terus menangis, semakin keras.
Seorang ibu lain, yang duduk di dekatnya, menghampiri.
"Dik, bayi ibu rewel? Mungkin lapar. Saya punya susu formula, stok buat
anak saya. Ini, ambil setengah."
Dewi menatap ibu itu dengan mata berkaca. "Bu, ini...
ini susu Ibu buat anak Ibu sendiri..."
"Iya, nanti juga datang bantuan lagi. Yang penting
bayi ini tenang dulu. Kasihan, udah nangis dari tadi. Sini, saya bantu
buatin."
Dewi menangis. Bukan karena sedih, tapi karena terharu. Di
tengah musibah, kebaikan masih ada. Di tengah kehancuran, solidaritas masih
tumbuh.
"Ibu... terima kasih... terima kasih banyak..."
"Ah, nggak usah sungkan, Dik. Kita kan sama-sama
kesusahan. Malah harus saling bantu. Nama saya Wati. Saya RT 03, rumah saya
juga hancur. Suami saya... belum ketemu sampai sekarang."
Dewi tercekat. Ibu di depannya ini, yang dengan sukarela
memberi susu untuk bayinya, ternyata juga kehilangan suami. Ia meraih tangan
Wati, menggenggamnya erat. "Bu Wati... semoga Pak Suami cepat ketemu...
sehat..."
Wati tersenyum tipis, meski matanya basah. "Aamiin.
Makanya, Dik, kita harus saling bantu. Biar beban terasa ringan."
Di tenda itu, di tengah malam yang gelap dan dingin, di
antara tangis dan doa, benih-benih kebersamaan mulai tumbuh. Warga yang tadinya
mungkin hanya saling sapa di jalan, kini menjadi keluarga. Mereka berbagi
makanan, berbagi selimut, berbagi cerita, berbagi air mata.***
Joko, anggota Retana, duduk bersandar di pohon randu yang masih
berdiri, salah satu dari sedikit yang selamat. Ia kelelahan. Seharian penuh ia
bergerak, membantu evakuasi, memotong pohon tumbang, mengangkat puing. Tubuhnya
remuk, tapi pikirannya masih terjaga. Di tangannya, radio komunikasi masih
menyala.
"Retana 1 untuk semua anggota. Laporkan status
masing-masing."
Satu per satu jawaban masuk.
"Retana 2, di RT 02, evakuasi selesai, semua warga
sudah di pengungsian."
"Retana 3, di RT 03, masih jaga korban luka berat.
Ambulance sudah jemput."
"Retana 4, di posko logistik, bantuan sedang
dibongkar."
Joko menghela napas lega. Semua masih aman. Semua masih
berfungsi. Ia menatap langit malam yang mulai cerah. Bintang-bintang muncul
satu per satu, seolah tak peduli dengan kekacauan di bawah.
"Allah... ini ujian yang berat," bisiknya.
"Tapi kami tidak akan menyerah. Beri kami kekuatan... beri kami
kesabaran... beri kami petunjuk..."
Dari kejauhan, terdengar suara adzan Isya' menggema.
Seorang muadzin, dengan pengeras suara darurat bertenaga baterai, melantunkan
panggilan shalat. Suaranya parau, tapi penuh penghayatan. Di tenda-tenda
pengungsian, warga yang masih kuat mulai berdiri, mengambil air wudhu seadanya
dari botol mineral, lalu shalat berjamaah di tanah lapang.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Takbir itu menggema di malam yang sunyi, seolah menegaskan
bahwa meski desa hancur, meski rumah rata dengan tanah, meski harta benda
lenyap, hubungan manusia dengan Tuhannya tak akan pernah putus. Itulah kekuatan
terbesar yang tak bisa dihancurkan oleh badai mana pun.***
Di posko komando, Arjuna mendengar suara adzan. Ia menutup
matanya sejenak, meresapi setiap kata. Lalu ia berdiri, meraih sajadah kecil
yang selalu ia bawa di tas.
"Siti, aku shalat dulu. Tolong jaga radio. Panggil aku
kalau ada keadaan darurat."
"Siap, Pak Kades."
Arjuna keluar tenda, mencari tempat yang agak lapang. Ia
bentangkan sajadah di atas tanah yang masih basah, lalu berdiri menghadap
kiblat. Di sekelilingnya, desa hancur. Di hadapannya, langit malam bertabur
bintang. Dan di dalam hatinya, hanya satu doa yang dipanjatkan:
"Ya Allah... beri kami kekuatan... beri kami
petunjuk... lindungi wargaku... selamatkan desaku... Awan Biru... desa impian
kakekku... jangan biarkan ia tenggelam dalam prahara..."
Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan butir-butir hujan
sisa yang masih jatuh dari atap tenda. Tapi ia tak peduli. Ia terus shalat,
terus berdoa, terus memohon.
Karena di tengah kehancuran, hanya harapan yang bisa
membuat manusia bertahan. Dan di Desa Awan Biru, harapan itu masih hidup, di
setiap doa, di setiap uluran tangan, di setiap langkah bangkit dari
puing-puing.***
Namun di tengah semua reruntuhan dan kesedihan, satu hal
tetap hidup di Desa Awan Biru: koordinasi. Jalinan komunikasi dan solidaritas
yang telah dibangun selama bertahun-tahun melalui sistem dan latihan bersama,
kini menjadi tali penyelamat yang nyata.
Radio komunikasi terus berbunyi, mengirim dan menerima
pesan. Data terus mengalir, dicatat dan dianalisis. Bantuan terus datang,
disortir dan disalurkan sesuai prioritas. Relawan terus bergerak, tak kenal
lelah. Warga terus bersatu, tak kenal putus asa.
Dan di tengah semua itu, Arjuna berdiri, memimpin,
mengarahkan, menguatkan. Ia adalah kepala desa, ia adalah cucu Si Amat, ia
adalah simbol bahwa desa ini tak akan pernah tumbang oleh badai.
Di tenda pengungsian, seorang anak kecil bertanya pada
ibunya, "Bu, besok kita bangun rumah lagi ya?"
Sang ibu menatap anaknya, lalu mengangguk tegas. "Iya,
Nak. Besok kita bangun lagi. Lebih bagus. Lebih kuat."
Anak itu tersenyum, lalu tertidur dalam dekapan ibunya.
Di luar, makin larut. Tapi di hati warga Awan Biru, fajar
harapan mulai merekah. Perlahan, pasti.****
Malam pertama pascabencana adalah yang terberat.
Bukan hanya karena dingin yang merasuk tulang, atau karena
suara tangis yang masih terdengar sayup dari tenda-tenda pengungsian. Bukan
juga karena rasa lelah yang menggumpal di setiap sendi. Tapi karena beratnya
menyusun kembali kepingan-kepingan kehidupan yang hancur dalam waktu singkat,
seperti menyusun puzzle raksasa yang kepingannya tersebar di tengah badai.
Di posko komando darurat yang didirikan di halaman depan
kantor desa yang atapnya bolong, Arjuna duduk di depan sebuah meja lipat. Meja
itu sebenarnya milik kantor, tapi karena ruangannya rusak, ia memindahkannya ke
luar. Di hadapannya, tiga buah laptop terhubung dengan modem satelit, satu-satunya
jalur komunikasi dengan dunia luar yang masih berfungsi. Kabel-kabel menjalar
ke sana kemari seperti ular kusut, disambung ke baterai cadangan yang terus
bekerja tanpa henti.
Layar-layar itu menampilkan data yang terus diperbarui dari
tim di lapangan. Angka-angka bergerak dinamis, berubah setiap kali laporan baru
masuk. Di sudut kanan atas, sebuah jam digital menunjukkan pukul 02.47. Malam
telah larut, tapi tak ada yang berpikir untuk tidur.
Arjuna menyesap kopi hitam yang sudah dingin. Matanya
merah, kantung mata hitam menggantung jelas. Tangannya sesekali menggeser
mouse, membuka file demi file, memeriksa satu per satu data yang masuk.
Sistem AMAT, Aplikasi Manajemen Administrasi Terpadu, yang
dulu dibangun Si Amat dari nol dengan komputer jadul dan koneksi internet ala
kadarnya, kini telah berevolusi. Di tangan Arjuna dan timnya, sistem itu
menjelma menjadi alat utama manajemen bencana. Bukan hanya untuk mendata, tapi
untuk mengelola bantuan secara tepat sasaran, memastikan tidak ada warga yang
terlewat, memastikan setiap bantuan sampai ke yang berhak.
"Pak Kades, data warga yang mengungsi di tiga titik
sudah masuk semua," lapor Siti, operator desa yang matanya sembab karena
lelah dan mungkin juga menahan tangis. Rambutnya acak-acakan, bajunya masih
sama seperti siang tadi, kotor dan basah. Ia mendekatkan tabletnya ke Arjuna.
"Total sementara 247 jiwa. Rinciannya sudah sesuai NIK dan alamat asal.
Saya sudah cross-check dengan data kependudukan. Semua valid."
Arjuna mengangguk, matanya menyapu layar laptop yang
menampilkan tabel panjang berisi nama, NIK, alamat, dan status pengungsian.
"Data kebutuhan khusus?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari
layar.
Siti menggeser layar tabletnya, membuka file lain.
"Ada 15 balita, usia 0-5 tahun. Dua di antaranya sedang dalam kondisi
kurang sehat, batuk dan pilek, mungkin kedinginan. Tim medis sudah menangani.
Kemudian 8 ibu hamil dan menyusui. Tiga ibu hamil masuk trimester akhir, butuh
pemeriksaan rutin setiap hari. Sisanya ibu menyusui dengan bayi di bawah 6
bulan."
Ia melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Lalu 22
lansia dengan penyakit kronis. Rinciannya: 12 orang hipertensi, 6 orang
diabetes, 3 orang asma, dan 1 orang dengan riwayat stroke ringan. Kebutuhan
mereka sudah kita petakan: susu formula untuk balita yang ibunya tidak bisa
menyusui, popok dewasa untuk lansia yang tidak bisa ke toilet sendiri,
obat-obatan rutin untuk hipertensi, diabetes, dan asma. Semua sudah dicatat di
sistem."
Arjuna menoleh, menatap Siti dengan pandangan campuran
antara lelah dan bangga. "Bagus, Siti. Kerja bagus. Sekarang, kirim data
ini ke dapur umum dan posko kesehatan. Minta mereka menyiapkan paket khusus
sesuai kebutuhan masing-masing kelompok. Jangan sampai balita dapat makan
sembarangan, atau lansia kehabisan obat. Ini prioritas."
"Siap, Pak Kades. Saya akan hubungi koordinator dapur
umum dan dokter jaga sekarang juga."
Siti segera meraih radio komunikasi. "Posko Pusat
untuk Dapur Umum... Posko Pusat untuk Dapur Umum... Laporkan status persediaan
dan kebutuhan."
Radio berderai, lalu suara Bu Kades, istri Arjuna sendiri, terdengar.
"Dapur Umum menerima, Siti. Ini Bu Kades. Stok kita: beras masih cukup
untuk 3 hari, lauk pauk terbatas, sayuran habis. Tapi yang paling kritis, susu
formula untuk balita menipis. Hanya tersisa 5 kaleng. Sementara balita ada 15.
Butuh tambahan segera."
Siti mencatat cepat. "Data kebutuhan khusus dari Pak
Kades: ada 15 balita, Bu. Jadi butuh minimal 15 kaleng untuk stok aman
seminggu. Saya akan koordinasikan dengan tim logistik. Ibu juga perlu
menyiapkan makanan lunak untuk lansia. Ada 22 lansia, beberapa gigi sudah
ompong."
"Siap, Siti. Terima kasih infonya. Kami akan
siapkan bubur untuk mereka. Tolong sampaikan ke Pak Kades, saya... saya bangga sama
beliau. Dan sama kalian semua."
Siti tersenyum tipis, meski matanya mulai basah.
"Sampaikan, Bu. Terima kasih kembali."***
Di sisi lain tenda, suasana tak kalah sibuk. Seorang
anggota Relawan Siaga Bencana (Retana) bernama Heru, 28 tahun, mantan pekerja
bangunan yang kini menjadi relawan tetap desa, sedang duduk bersila di atas
tikar. Di hadapannya, koordinator logistik, Pak RT 02 yang ditunjuk sementara
karena ketua logistik sedang di lapangan, duduk dengan wajah serius.
Heru membacakan data dari tabletnya dengan suara lantang.
"Pak, berdasarkan data penerima bantuan dari dashboard, warga RT 02 yang
rumahnya rusak berat sudah terdata 19 Kepala Keluarga. Rinciannya: 7 KK di RT
02 RW 01, 12 KK di RT 02 RW 02. Mereka butuh prioritas terpal dan material
darurat untuk membuat hunian sementara. Jangan sampai bantuan sembako dobel dan
yang lain kekurangan. Sistem menunjukkan stok terpal kita hanya 50 lembar.
Sementara total kebutuhan sementara dari semua RT untuk terpal mencapai 200
lembar."
Koordinator logistik, Pak RT 02 yang bernama Paidi,
menggaruk kepala yang tidak gatal. "Lha terus piye, Le? Terpal cuma 50,
butuh 200. Wong-wong pada nggak punya atap. Nanti malah pada sakit kena
hujan."
Heru mengangguk serius. "Saya paham, Pak. Tapi kita
harus bijak. Sistem sudah menghitung prioritas. RT 02 dapat jatah 15 terpal
dulu karena jumlah rumah rusak beratnya paling banyak. RT 03 dan 05 juga butuh,
tapi rumahnya masih bisa ditempati sementara. Ini bukan main bagi-bagi, Pak.
Ini manajemen krisis. Harus adil dan terukur."
Paidi menghela napas. "Yo wes, Le. Aku percaya sistem
kalian. Tapi tolong, bantu jelasin ke warga RT 02 yang nggak kebagian.
Wong-wong pada panik, pada takut. Nggak semua ngerti data-data gini."
"Siap, Pak. Saya akan dampingi Bapak saat sosialisasi
besok. Sekarang, kita fokus distribusi dulu. Tolong tandatangani di sini untuk
pengambilan terpal."
Paidi membubuhkan tanda tangan di tablet dengan jari yang
sedikit gemetar. "Mbok ya, Le, sistemmu iki mbok gawe gampang. Wong tuwek
kaya aku repot kalau harus tandatangan di kaca gini."
Heru tersenyum. "Ini tablet, Pak. Bukan kaca. Tapi
nanti kita siapkan versi kertas juga untuk Bapak.***
Beginilah cara Desa Awan Biru bekerja. Bantuan tidak
disalurkan secara serampangan dengan sistem 'kepala dua' atau berdasarkan siapa
yang berteriak paling keras. Bantuan dialirkan berdasarkan data kebutuhan
aktual yang terverifikasi. Sebuah mekanisme yang membuat para relawan dari luar
desa terkagum-kagum.
Di sudut lain tenda, seorang relawan muda dari Palang Merah
Indonesia (PMI) cabang kabupaten, bernama Rina, 23 tahun, sedang mengamati
proses pendataan. Matanya memperhatikan bagaimana setiap bantuan yang datang
dicatat, di-scan barcode-nya, lalu langsung masuk ke sistem. Dari sistem,
bantuan itu otomatis teralokasi ke pos-pos kebutuhan yang sudah dipetakan.
"Mas, ini sistem buatan sendiri?" tanyanya pada
Heru yang sedang lewat.
Heru mengangguk bangga. "Iya, Mbak. Namanya AMAT.
Singkatan dari Aplikasi Manajemen Administrasi Terpadu. Tapi sebenarnya ini
nama kakeknya Pak Kades. Beliau yang dulu merintis pendataan desa secara
manual, lalu berkembang jadi begini."
Rina menggeleng-geleng takjub. "Gila. Saya keliling
banyak lokasi bencana, Mbak, Mas. Biasanya yang ada malah kacau balau. Bantuan
numpuk di satu tempat, sementara tempat lain kekurangan. Warga rebutan, saling
dorong. Di sini... tertib banget. Semua berdasarkan data. Ini keren
banget."
Heru tersenyum lebar. "Itu berkat latihan, Mbak.
Setiap bulan kami simulasi. Pak Kades bilang, bencana itu tidak bisa
diprediksi, tapi kesiapan bisa dilatih. Makanya kami rutin gladi lapangan.
Warga juga diedukasi. Sekarang hasilnya keliatan."
Rina mengangguk-angguk. "Mas, saya boleh minta kontak
person sistem ini? Saya ingin belajar, mungkin bisa diterapkan di tempat
lain."
"Boleh, Mbak. Nanti saya kenalkan dengan Pak Kades
atau Mbak Siti, operator desa. Mereka yang paling paham."***
Keesokan harinya, matahari muncul malu-malu di ufuk timur,
seolah takut melihat kehancuran di bawahnya. Sinar jingga menerangi
puing-puing, menciptakan kontras yang tragis antara keindahan alam dan
kehancuran buatan manusia, atau lebih tepat, ulah alam sendiri.
Arjuna bangun dari tidur singkatnya, mungkin hanya dua jam,
di kursi lipat. Lehernya kaku, punggungnya pegal. Tapi ia tak punya waktu untuk
mengeluh. Segera ia membasuh wajah dengan air mineral dari botol, menggosok
gigi seadanya, lalu berjalan menuju tenda pengungsian.
Hari itu ia tak memakai atribut kebesaran sebagai kepala
desa. Tak ada kemeja putih lengan panjang, tak ada peci hitam, tak ada sepatu
pantofel. Ia hanya mengenakan kemeja lusuh warna biru tua yang lengan bajarnya
digulung hingga siku, celana kain hitam yang sudah belel di bagian lutut, dan
sepatu boot karet yang penuh lumpur. Di pinggang, terselip radio komunikasi dan
ponsel yang layarnya retak.
Ia berjalan menyusuri barisan tenda. Di kiri-kanan, warga
mulai bangun. Beberapa ibu sibuk menyiapkan sarapan sederhana dari dapur umum.
Anak-anak mulai bermain di tanah lapang, seolah lupa pada kejadian kemarin, anak-anak
memang punya kemampuan luar biasa untuk melupakan kesedihan dengan cepat. Orang
tua duduk-duduk di depan tenda, berbincang pelan, sesekali tertawa kecil.
Arjuna tersenyum melihat itu. Di tengah kepiluan, kehidupan
tetap berjalan. Itulah kekuatan manusia.
Ia berhenti di depan sebuah tenda keluarga. Tenda itu agak
terpisah dari yang lain, lebih sederhana, terpalnya kusam dan robek di beberapa
bagian. Di dalam, seorang ibu paruh baya duduk di atas tikar dengan wajah
kusut. Wajahnya pucat, matanya sembab, rambutnya kusut tak tersisir. Dua
anaknya yang masih kecil, laki-laki sekitar 6 tahun, perempuan sekitar 4 tahun,
duduk di sampingnya, diam dengan mata kosong. Mereka tak bermain seperti
anak-anak lain. Mereka hanya diam, sesekali menatap ibu mereka, lalu menunduk
lagi.
Arjuna mengenali ibu itu. Bu Sumi, 52 tahun, janda dengan
dua anak. Rumahnya, sebuah rumah panggung sederhana peninggalan orang tuanya, rata
dengan tanah. Tak ada yang tersisa. Bahkan foto almarhum suaminya pun ikut
lenyap di reruntuhan.
"Ibu Sumi," sapa Arjuna lembut sambil berjongkok
agar sejajar dengan Bu Sumi. Ia berusaha tidak mengejutkan.
Bu Sumi mendongak. Begitu matanya bertemu dengan Arjuna,
air matanya langsung tumpah. Bukan tangis histeris, tapi tangis pilu yang
tertahan lama, akhirnya pecah juga.
"Pak Kades... Pak Kades... rumah kami habis...
semuanya habis..." isaknya terputus-putus. "Bapakku dulu bangun rumah
itu susah payah, Pak. Kayu jati dibeli sedikit-sedikit dari hasil panen.
Dindingnya dari papan pilihan. Lantainya panggung, biar anak-anak main aman. Semua...
semua jadi puing... aku nggak punya apa-apa lagi, Pak..."
Arjuna menunduk sejenak, menahan perih yang menjalari
dadanya. Ia bisa merasakan kepedihan itu. Rumah bukan sekadar bangunan. Rumah
adalah kenangan. Rumah adalah tempat berlindung. Rumah adalah identitas.
Setelah beberapa detik, ia mengangkat kepala. Wajahnya
tenang, tapi matanya berbinar penuh empati. Ia meraih tangan Bu Sumi yang
keriput dan kasar, tangan yang biasa memeras keringat untuk menghidupi
anak-anaknya. Tangannya menggenggam erat, memberikan kehangatan.
"Ibu Sumi, dengarkan saya," ucapnya pelan tapi
tegas. "Ibu, kami akan bangun lagi. Ibu dan anak-anak tidak sendiri.
Pemerintah desa, kabupaten, dan semua relawan di sini akan membantu. Saya
sendiri, sebagai kepala desa, bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan masa
depan Ibu dan anak-anak. Yang penting sekarang Ibu dan anak-anak sehat dulu.
Yang lain menyusul."
Bu Sumi terisak. "Tapi Pak, dari mana mulainya? Kami
nggak punya apa-apa lagi. Nggak punya uang, nggak punya tabungan, nggak punya
saudara di sini. Suamiku sudah lama meninggal, Pak. Aku cuma buruh cuci,
penghasilan nggak seberapa. Gimana caranya aku bangun rumah lagi?"
Arjuna tersenyum. Senyum yang menenangkan. Ia mengeluarkan
ponselnya yang retak, membuka sebuah aplikasi, dashboard warga yang
terintegrasi dengan sistem AMAT. Jarinya menggeser layar, mencari nama Bu Sumi.
"Ini, Bu. Lihat," ia menunjukkan layar ponsel
pada Bu Sumi. "Nama Ibu: Sumiyati binti Martodikromo, NIK
3328115205700002, alamat RT 02 RW 01. Status korban: rumah rusak berat. Data
ini sudah masuk ke sistem pagi tadi, dilaporkan oleh relawan yang mendata
kemarin sore."
Bu Sumi menatap layar itu dengan mata bingung. "Itu...
itu artinya apa, Pak?"
"Itu artinya, Bu, Ibu sudah tercatat secara resmi
sebagai korban bencana yang berhak mendapatkan bantuan. Bantuan itu
macam-macam, Bu. Pertama, Ibu dan anak-anak akan dapat hunian sementara yang
layak, bukan tenda darurat terus, tapi rumah sederhana yang bisa ditempati
selama proses pembangunan rumah permanen."
Ia melanjutkan, menjelaskan dengan sabar. "Kedua, Ibu
dapat paket sembako rutin selama masa tanggap darurat. Ketiga, yang paling
penting, Ibu berhak atas bantuan material bangunan dari program revitalisasi.
Nanti setelah masa darurat selesai, desa akan mengadakan program bedah rumah.
Ibu dapat material seperti semen, pasir, batu bata, kayu, atap, semua untuk
membangun kembali rumah Ibu. Tenaga kerjanya dari gotong royong warga dan
relawan."
Bu Sumi membelalak. "Se... semuanya gratis, Pak? Aku
nggak perlu bayar?"
Arjuna mengangguk tegas. "Gratis, Bu. Itu hak Ibu
sebagai warga yang tertimpa musibah. Tapi Ibu juga harus aktif. Nanti saat
gotong royong, Ibu bisa ikut membantu meski hanya menyediakan air minum atau
masak untuk para relawan. Itu bukan bayaran, itu partisipasi. Yang penting,
kita bangun bersama-sama."
Bu Sumi tertegun. Air matanya masih mengalir, tapi kali ini
berbeda. Ada cahaya kecil di matanya, setitik harapan di tengah keputusasaan.
Anak-anaknya yang tadinya diam, mulai mendekat, menatap ibunya dengan rasa
ingin tahu.
"Terus... terus... aku juga dengar ada bantuan modal
usaha, Pak?" tanya Bu Sumi ragu.
Arjuna tersenyum lebih lebar. "Iya, Bu. Itu program
pemberdayaan. Nanti setelah rumah selesai, ada program kredit usaha mikro tanpa
bunga untuk warga yang kehilangan mata pencaharian. Ibu kan buruh cuci, nanti
bisa dapat bantuan modal untuk membeli peralatan mencuci yang lebih baik, atau
mungkin buka usaha kecil-kecilan. Tapi itu nanti, bertahap. Sekarang fokus dulu
ke tempat tinggal dan kesehatan."
Bu Sumi mengangguk-angguk, berusaha mencerna semua
informasi. Anak laki-lakinya, yang sedari tadi diam, tiba-tiba bicara dengan
suara lirih. "Pak Kades... aku sekolahnya gimana? Buku-buku aku habis.
Seragamku juga kotor semua."
Arjuna menatap anak itu. Hatinya terenyuh. Ia meraih pundak
anak itu. "Kamu kelas berapa, Nak?"
"Kelas 1 SD, Pak."
"Namamu siapa?"
"Joko."
"Joko, dengar ya. Sekolah tetap jalan. Nanti Pak Kades
akan urus buku dan seragam baru buat kamu dan adik kamu. Janji. Tapi Joko harus
janji sama Pak Kades: Joko harus tetap semangat belajar, jangan sedih terus.
Bantu ibu, jaga adik. Oke?"
Joko mengangguk tegas. "Oke, Pak Kades. Aku
janji."
Arjuna mengusap rambut Joko. Lalu ia berdiri, menatap Bu
Sumi sekali lagi. "Bu Sumi, Ibu lihat sendiri kan? Ibu tidak sendiri.
Seluruh desa ini bersama Ibu. Sistem ini bekerja untuk Ibu. Sekarang, Ibu harus
kuat. Untuk Joko, untuk adiknya. Untuk masa depan."
Bu Sumi mengangguk, mengusap air matanya dengan punggung
tangan. "Matur nuwun, Pak Kades... matur nuwun sanget... saya... saya
tidak tahu harus berkata apa..."
"Tidak usah berkata apa-apa, Bu. Cuma satu: jangan
putus asa. Itu saja."***
Mata Bu Sumi berbinar samar, mungkin baru setitik harapan
di tengah keputusasaan. Tapi setitik itu cukup. Cukup untuk membuatnya
tersenyum, untuk pertama kalinya sejak badai datang.
Kata-kata Arjuna bukan omong kosong. Itu adalah jaminan
dari sebuah sistem yang selama ini terbukti bekerja. Sistem yang dibangun dari
nol oleh kakeknya, yang disempurnakan oleh ayahnya, dan kini dijalankan olehnya
dengan sepenuh hati. Sistem yang tak pernah membedakan warga, yang selalu
berdasarkan data dan kebutuhan, yang transparan dan akuntabel.
Revitalisasi hunian tidak dimulai dengan seremonial
peletakan batu pertama yang megah, dihadiri pejabat, dengan gunting pita dan
foto bersama. Tidak. Revitalisasi dimulai dari hal yang lebih mendasar: data
dan kolaborasi.
Pemerintah kabupaten, melalui BPBD dan Dinas Sosial,
mengalokasikan dana tak terduga. Surat keputusan bupati turun dalam waktu 24
jam, sebuah rekor, karena biasanya berhari-hari. Kementerian Sosial mengirimkan
bantuan logistik tambahan dan yang lebih penting, tenaga psikososial untuk
trauma healing. Dunia usaha, melalui program Corporate Social Responsibility
(CSR)-nya, menyumbang material bangunan dalam jumlah besar. Sebuah perusahaan
semen mengirim 500 sak semen. Perusahaan kayu menyumbang ratusan batang kayu
berkualitas. Toko material lokal memberikan diskon besar untuk pembelian
genteng dan paku.
Dan yang paling mengharukan, ribuan relawan dari berbagai
komunitas datang bergiliran. Dari mahasiswa universitas di kota, dari karang
taruna desa tetangga, dari organisasi kepemudaan, bahkan dari komunitas motor
dan mobil. Mereka datang dengan membawa peralatan sendiri, dengan bekal
sendiri, dengan semangat sendiri. Mereka bahu-membahu membersihkan puing,
memilah material yang masih bisa dipakai, dan mendirikan hunian sementara yang
layak.***
Di sore hari yang sama, di RT 02, pemandangan gotong royong
terlihat nyata. Puluhan orang bekerja bersama. Suara palu beradu dengan kayu,
suara gergaji menderu, suara teriakan koordinasi saling bersahutan.
"Kayu lima batang ke sini!"
"Paku masih kurang, ambil di tenda logistik!"
"Atapnya naikkan perlahan! Satu, dua, tiga! Angkat!"
Pak Karyo, petani yang kemarin menolong Mbah Dullah, kini
menjadi salah satu koordinator lapangan. Tubuhnya yang kekar bergerak lincah
memindahkan kayu. Keringat membasahi kaus oblongnya yang lusuh.
"Mas, mas, itu kayu penyangga jangan terlalu ke kanan!
Nanti miring!" teriaknya pada seorang relawan muda.
"Baik, Pak! Digeser sedikit?"
"Iya, sedikit lagi... stop! Pas! Sekarang
kencangkan!"
Di sisi lain, para ibu-ibu sibuk di dapur umum darurat yang
didirikan tak jauh dari lokasi pembangunan. Mereka memasak dalam jumlah besar,
menyiapkan makanan untuk para pekerja. Wajan besar berisi sayur lodeh mengepul,
nasi dalam keranjang bambu berasap tipis.
"Ibu-ibu, jangan lupa bikin es teh yang banyak! Wong-wong
pada haus!" teriak Bu Kades , Kirana, sambil mengaduk sayur di wajan
raksasa.
"Siap, Bu Kades! Gula masih cukup!" jawab seorang
ibu.
Wulan tersenyum. Meski lelah, hatinya bahagia melihat
kebersamaan ini. Inilah desanya. Inilah warganya. Tak pernah lelah untuk saling
membantu.***
Di tengah keramaian itu, Arjuna datang. Ia melepas sepatu
bootnya, lalu langsung ikut mengangkat kayu bersama yang lain. Tak ada yang
protes, tak ada yang heran. Mereka sudah terbiasa melihat kepala desanya
bekerja seperti kuli.
"Pak Kades, ini berat, biar saya saja!" tawar
seorang pemuda.
Arjuna menggeleng. "Ah, kamu kira saya lemah? Saya
dulu juga biasa angkat-angkat kayu waktu bantu kakek di sawah. Sini, bagi
dua."
Mereka mengangkat kayu bersama. Di sela-sela pekerjaan,
Arjuna bicara pada pemuda itu. "Kamu, siapa namanya? Kok saya baru
lihat?"
"Saya Yudi, Pak. Relawan dari Jakarta. Saya ikut
komunitas pecinta alam, kebetulan sedang libur, dengar ada bencana, langsung ke
sini."
Arjuna tersenyum. "Wah, jauh-jauh dari Jakarta. Terima
kasih, Yudi. Terima kasih banyak sudah mau membantu desa kami."
Yudi tersipu. "Sama-sama, Pak. Saya malah belajar
banyak di sini. Sistem penanganan bencananya keren. Relawannya kompak. Warga
juga solid. Ini pengalaman berharga."
"Alhamdulillah kalau begitu. Nanti kalau pulang,
ceritakan ke teman-temanmu. Bahwa di desa kecil ini, ada semangat besar untuk
bangkit dari keterpurukan."
"Siap, Pak. Saya akan ceritakan."***
Di RT 05, pemandangan berbeda namun semangat sama. Di sana,
tim psikososial dari Kementerian Sosial sedang memimpin kegiatan trauma healing
untuk anak-anak. Puluhan anak duduk melingkar di atas tikar, dipandu oleh
kakak-kakak relawan berkaos hijau.
"Anak-anak, siapa yang mau cerita tentang
pengalamannya waktu badai kemarin?" tanya seorang relawan perempuan dengan
ramah.
Anak-anak diam. Beberapa menunduk. Tangan mereka gelisah
memainkan ujung tikar.
"Nggak apa-apa. Tidak usah takut. Di sini kita semua
teman. Kakak juga nggak akan marah. Siapa yang mau cerita?"
Seorang anak laki-laki, kira-kira 9 tahun, mengangkat
tangan ragu-ragu. "Kak... aku... aku mau cerita."
Relawan itu tersenyum. "Silakan, adik. Namanya
siapa?"
"Budi."
"Ceritakan, Budi. Waktu badai kemarin, Budi di
mana?"
Budi menarik napas dalam. Matanya menerawang, seperti
melihat kembali kejadian horor itu. "Aku... aku di rumah sendiri, Kak.
Mama lagi ke warung. Tiba-tiba angin kenceng banget. Aku denger suara kayak...
kayak truk mau nabrak rumah. Aku takut, Kak. Aku lari ke kolong tempat
tidur."
Ia berhenti, suaranya bergetar. "Terus... genteng pada
terbang. Aku lihat langit dari atap yang bolong. Hitam, Kak. Hitam banget. Aku
pikir... aku pikir mau kiamat. Aku teriak-teriak panggil Mama. Tapi Mama nggak
datang."
Beberapa anak mulai terisak mendengar cerita Budi. Relawan
itu mendekat, duduk di samping Budi, merangkul pundaknya. "Lalu bagaimana,
Budi?"
"Terus... tiba-tiba ada tangan yang pegang aku.
Bapak-nya tetangga. Beliau masuk ke rumah lewat pintu belakang, nyariin aku.
Beliau gendong aku, lari ke luar. Waktu di luar, aku lihat... rumah-rumah pada
roboh. Aku takut, Kak. Aku kira Mama mati."
Budi mulai menangis. Relawan itu memeluknya. "Nggak
apa-apa, nggak apa-apa. Budi boleh nangis. Nangis itu menyehatkan."
Setelah beberapa saat, Budi tenang. Ia melanjutkan,
"Tapi Mama selamat, Kak. Mama lari ke rumah tetangga juga. Kita ketemu di
tenda pengungsian. Aku... aku senang Mama selamat. Tapi aku masih takut kalau
inget suara angin itu."
Relawan itu mengangguk. "Budi, perasaan takut itu
wajar. Semua orang yang mengalami kejadian seperti Budi pasti takut. Tapi Budi
harus ingat: badai sudah lewat. Budi selamat. Mama selamat. Sekarang Budi ada
di sini, bersama teman-teman, bersama kakak-kakak yang sayang sama Budi. Nggak
usah takut lagi, ya."
Budi mengangguk, mengusap air matanya dengan lengan baju.
"Ayo, sekarang kita bermain. Siapa yang suka bermain?"
relawan itu mencairkan suasana.
Anak-anak mulai bersemangat. "Saya! Saya!"
"Mari kita bermain 'lingkaran besar'. Semua berdiri,
pegang tangan teman di samping, buat lingkaran besar. Ayo!"
Anak-anak berdiri, saling bergandengan. Lingkaran besar
terbentuk. Mereka mulai berputar, tertawa, bernyanyi. Untuk sesaat, trauma itu
terlupakan. Mereka hanya anak-anak yang sedang bermain.***
Di tenda lain, orang tua juga mendapat pendampingan
psikososial. Seorang psikolog dari Dinas Sosial memimpin diskusi kelompok.
Pesertanya para ibu dan bapak yang kehilangan rumah, kehilangan harta benda,
bahkan ada yang kehilangan anggota keluarga.
"Ibu-ibu, Bapak-bapak, saya paham ini masa yang sangat
berat. Kita semua mengalami hal yang sama. Tapi saya ingin kita ingat satu hal:
kita tidak sendiri. Kita punya satu sama lain. Berbagi cerita bisa meringankan
beban. Siapa yang mau berbagi?"
Seorang ibu paruh baya, Bu Tuminah, 55 tahun, mengangkat
tangan. Matanya sembab, suaranya serak. "Saya... Bu Dokter. Saya
kehilangan suami. Beliau tertimpa tembok rumah, meninggal di tempat. Saya...
saya lihat sendiri mayatnya. Saya sampai sekarang masih nggak bisa tidur.
Setiap pejam mata, wajah suami saya muncul, dengan darah di mana-mana."
Beberapa ibu menangis mendengar cerita itu. Psikolog itu
mendekati Bu Tuminah, meraih tangannya. "Bu Tuminah, saya turut berduka
yang sedalam-dalamnya. Kehilangan orang yang dicintai adalah hal paling
menyakitkan di dunia. Tidak ada kata-kata yang bisa menghilangkan rasa sakit
itu. Tapi Bu Tuminah, suami ibu pasti ingin ibu kuat. Pasti ingin ibu
melanjutkan hidup. Untuk anak-anak, untuk keluarga."
Bu Tuminah terisak. "Saya tahu, Bu Dokter. Tapi
berat... berat banget..."
"Tentu berat. Tapi kami di sini akan mendampingi ibu.
Ibu tidak sendiri. Kami akan bantu ibu melewati masa-masa sulit ini. Sedikit
demi sedikit. Perlahan tapi pasti."
Bu Tuminah mengangguk lemah. Di sekelilingnya, para ibu
lain ikut menangis. Mereka berbagi kesedihan, berbagi pelukan, berbagi
kekuatan.***
Malam kedua pascabencana turun dengan lebih tenang.
Tenda-tenda pengungsian mulai tertata rapi. Dapur umum beroperasi dengan lebih
lancar. Posko kesehatan buka 24 jam dengan tim medis bergantian jaga.
Di posko komando, Arjuna kembali duduk di depan laptopnya.
Data baru terus masuk. Jumlah pengungsi bertambah menjadi 312 jiwa, beberapa
warga yang sempat mengungsi ke tetangga di luar desa akhirnya kembali karena
situasi mulai terkendali. Korban luka berat bertambah satu: seorang anak yang
tertimpa lemari, mengalami pendarahan internal, sudah dievakuasi ke rumah sakit
kabupaten.
Siti datang dengan segelas kopi hangat. "Pak Kades,
kopi baru. Yang tadi sudah dingin."
Arjuna menerima, tersenyum tipis. "Terima kasih, Siti.
Kau juga istirahatlah. Sudah dua hari begadang."
Siti menggeleng. "Saya masih kuat, Pak. Lagipula,
lihat Pak Kades sendiri belum tidur. Saya malu kalau istirahat duluan."
Arjuna tertawa kecil. "Siti, kita ini sama-sama
manusia. Butuh istirahat. Nanti kalau kita sakit, siapa yang ngurus data?"
Siti tersenyum. "Pak Kades, data terbaru dari tim
rekap: total kerugian material sementara diperkirakan mencapai 5,2 miliar
rupiah. Itu baru dari rumah dan fasilitas umum. Belum termasuk sawah, ternak,
dan mata pencaharian warga. Angkanya bisa membengkak."
Arjuna menghela napas. Lima koma dua miliar. Angka yang
sangat besar untuk desa sekecil Awan Biru. Tapi ia tak boleh patah semangat.
"Baik, Siti. Catat detail. Nanti kita ajukan bantuan
ke provinsi dan pusat. Kita juga akan buka posko donasi untuk publik.
Masyarakat luas pasti ingin membantu."
"Siap, Pak. Saya sudah siapkan format
pengajuannya."
Arjuna menatap Siti dengan bangga. "Siti, kau ini luar
biasa. Di tengah krisis, kau masih bisa berpikir jernih. Terima kasih."
Siti tersipu. "Ah, Pak Kades bisa aja. Saya cuma
menjalankan tugas. Lagipula, ini desa saya. Saya juga ingin lihat desa ini
bangkit kembali."
"Kita semua ingin, Siti. Kita semua ingin."***
Di luar, makin larut. Suara jangkrik mengisi keheningan,
bercampur dengan suara obrolan pelan dari tenda-tenda. Beberapa warga masih
terjaga, duduk-duduk di depan tenda sambil minum kopi. Mereka berbincang
tentang rencana ke depan, tentang bagaimana membangun kembali kehidupan.
Di salah satu tenda, Pak Karyo dan beberapa tetangga duduk
melingkar. Mereka membahas rencana gotong royong untuk membangun rumah warga
yang paling parah rusaknya.
"Besok kita mulai dari rumah Mbah Kasan. Beliau sudah
tua, kasihan kalau terlalu lama di tenda," usul Pak Karyo.
"Iya, bener itu. Mbah Kasan prioritas. Terus rumah Bu
Sumi, dia janda dengan anak kecil. Juga prioritas," timpal yang lain.
"Oke, kita urutkan berdasarkan data dari Pak Kades.
Yang paling rentan duluan. Nanti kita atur jadwalnya."
Percakapan itu sederhana, tapi bermakna besar. Di tengah
kehancuran, mereka masih bisa berpikir jernih, masih bisa merencanakan masa
depan, masih bisa saling memprioritaskan yang paling lemah.
Itulah desa Awan Biru. Bukan hanya canggih secara sistem,
tapi juga kaya secara sosial. Bukan hanya maju secara teknologi, tapi juga maju
secara kemanusiaan.***
Keesokan paginya, Arjuna kembali berkeliling. Ia ingin
melihat langsung perkembangan di lapangan. Ia ingin mendengar langsung keluhan
dan harapan warganya. Bukan dari data, tapi dari hati ke hati.
Ia bertemu dengan sekelompok remaja yang sedang
membersihkan puing di bekas balai pertemuan desa. Mereka bekerja dengan
semangat, meski keringat bercucuran.
"Selamat pagi, Mas, Mbak. Semangat sekali," sapa
Arjuna.
Seorang remaja perempuan menoleh. "Pagi, Pak Kades.
Iya, Pak, kami pengen cepet-cepet bersihin. Biar desa cepet pulih."
"Bagus, bagus. Terima kasih ya. Nanti kalau balainya
jadi dibangun ulang, kalian bisa usul fasilitas apa yang kalian mau. Biar
tempat itu benar-benar milik kita semua."
Remaja itu tersenyum lebar. "Beneran, Pak? Boleh
usul?"
"Boleh banget. Nanti ada musyawarah desa khusus untuk
rekonstruksi. Kalian harus datang, sampaikan aspirasi. Ini desa kalian
juga."
"Wah, siap, Pak! Nanti saya ajak teman-teman
semua!"
Arjuna melanjutkan perjalanan. Ia melewati tenda-tenda,
menyapa warga satu per satu. Ada yang sedang memasak, ada yang sedang menjemur
pakaian, ada yang sekadar duduk-duduk. Ia menyapa semua, bertanya kabar,
menawarkan bantuan.
Di depan tenda pengungsian, ia bertemu dengan Bu RT 05, ibu
tangguh yang kemarin melaporkan Mbah Kasan. "Bu RT, gimana kabarnya? Mbah
Kasan bagaimana?"
Bu RT tersenyum lega. "Alhamdulillah, Pak Kades. Mbah
Kasan akhirnya mau keluar setelah saya jelaskan bahwa surat-surat tanahnya
aman, sudah difoto sama relawan, datanya masuk sistem. Beliau sekarang di tenda
lansia, dikasih makan teratur, obatnya juga rutin."
Arjuna tertawa. "Wah, Bu RT ini hebat. Bisa membujuk
Mbah Kasan yang terkenal keras kepala."
Bu RT tertawa. "Ah, Pak Kades. Itu karena saya bilang,
kalau Mbah Kasan nggak mau keluar, Pak Kades sendiri yang akan jemput paksa.
Beliau langsung takut."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang melegakan di tengah
kepiluan.***
Hari-hari berlalu. Perlahan, desa mulai menunjukkan
tanda-tanda kebangkitan. Rumah-rumah darurat mulai berdiri. Dapur umum makin
tertata. Posko kesehatan makin lengkap. Anak-anak mulai sekolah darurat di
tenda-tenda belajar yang didirikan relawan pendidikan, serta TNI dan Polri ikut
terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Arjuna terus bekerja tanpa lelah. Ia ada di mana-mana: di
posko komando, di lokasi pembangunan, di tenda pengungsian, di dapur umum, di
posko kesehatan. Ia tak pernah berhenti bergerak, tak pernah berhenti
memastikan semua berjalan baik, tak lupa Arjuna selalu berkoordinasi dengan
para pihak termasuk Basarnas, Kodim dan Polres . Kabupate Awan Jingga
Suatu sore, saat ia sedang duduk di pinggir lapangan
menikmati kopi, Siti datang menghampiri. Wajahnya berseri.
"Pak Kades, kabar baik! Donasi dari masyarakat luas
sudah masuk hampir 300 juta rupiah dalam tiga hari. Ini di luar bantuan
pemerintah. Uangnya bisa kita gunakan untuk program-program tambahan di luar
yang sudah direncanakan."
Arjuna tersenyum lebar. "Luar biasa. Masyarakat
Indonesia memang luar biasa. Di mana ada bencana, di situ solidaritas
mengalir."
"Iya, Pak. Ini daftar donatur sementara. Ada dari
perorangan, komunitas, perusahaan, bahkan dari anak-anak sekolah yang ngumpulin
uang jajan."
Arjuna membaca daftar itu. Matanya berkaca-baca. Ada donasi
5.000 rupiah dari seorang anak SD di Papua, 10.000 dari seorang ojol di
Jakarta, 50.000 dari pedagang asongan di Bandung. Donasi-donasi kecil yang
berasal dari hati yang besar.
"Siti, kita harus kelola uang ini dengan baik.
Transparan. Setiap rupiah harus dipertanggungjawabkan. Buat laporan keuangan
yang bisa diakses publik. Ini amanah."
"Siap, Pak. Saya sudah siapkan sistemnya. Nanti setiap
akhir pekan kita rilis laporan."
"Bagus."
Arjuna menatap langit sore yang mulai jingga. Awan-awan
tipis bergerak pelan, seolah tak pernah terjadi badai dahsyat beberapa hari
lalu. Tapi di bawahnya, di desa ini, bekas-bekas kehancuran masih jelas
terlihat. Namun di balik bekas-bekas itu, ada tunas-tunas harapan yang mulai
tumbuh.
"Ibu-ibu, anak-anak, warga sekalian... ini baru
awal," gumamnya pelan. "Perjalanan masih panjang. Tapi kita sudah di
jalur yang benar. Kita akan bangkit. Kita pasti bangkit."
Di belakangnya, suara palu dan gergaji masih terdengar.
Suara anak-anak bermain masih riuh. Suara orang dewasa bercakap-cakap masih
hangat. Desa Awan Biru hidup. Meski terluka, ia hidup. Dan ia akan terus hidup,
lebih kuat dari sebelumnya.****
Minggu-minggu pascabencana menjadi ujian sesungguhnya bagi
kepemimpinan Arjuna. Bukan hanya kemampuannya mengelola krisis dalam hitungan
jam atau hari, tapi bagaimana ia menjaga agar roda pemerintahan desa tetap
berputar di lima bidang yang menjadi tanggung jawabnya, di tengah keterbatasan
dan tekanan luar biasa. Bagaimana ia menyeimbangkan antara kebutuhan darurat
dan rencana jangka panjang, antara tangis warga dan tuntutan birokrasi, antara
kehancuran fisik dan semangat yang harus terus dijaga.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, Arjuna
sudah bangun. Ia memulai harinya dengan berjalan kaki mengelilingi tenda-tenda
pengungsian, menyapa warga yang mulai beraktivitas, mendengar keluh kesah yang
mungkin tidak tercatat di data. Bukan sebagai kepala desa yang penuh wibawa,
tapi sebagai tetangga, sebagai saudara, sebagai bagian dari desa ini.
"Pagi, Mbah Kasan. Sudah sarapan?" sapanya pada
seorang kakek tua yang duduk di depan tenda lansia.
Mbah Kasan, veteran pejuang yang dulu ngotot tak mau keluar
dari rumahnya, kini sudah lebih tenang. Ia menatap Arjuna dengan mata sayu.
"Pagi, Le. Durung, iki lagi ngenteni mbak-mbak bagi bubur. Laper, tapi
sabar."
Arjuna tersenyum. "Sabar ya, Mbah. Sebentar lagi pasti
datang. Mbah, obatnya sudah diminum?"
"Wis, Le. Dibagiin sama mantri kemarin. Aku saiki wis
rada waras, Le. Ora mikir omah terus. Sing penting urip."
Arjuna mengangguk lega. Itulah perubahan kecil yang
berarti. Dari ketakutan dan keras kepala, menjadi pasrah dan bersyukur. Dari
trauma, menuju penerimaan.***
1. Penyelenggaraan
Pemerintahan
Kantor desa mungkin rusak. Atapnya bolong, dindingnya
retak, jendelanya pecah. Tapi pelayanan publik tak boleh berhenti. Itu prinsip
pertama yang Arjuna tanamkan pada seluruh perangkat desa.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, dengerin saya," ucap
Arjuna pada rapat darurat perangkat desa yang diadakan di tenda besar keesokan
harinya. Duduk di sekelilingnya: Pak Carik, para Kepala Dusun, staf
administrasi, dan beberapa ketua RT. Wajah-wajah mereka lelah, tapi mata mereka
menunjukkan kesiapan.
"Kita semua tahu kantor kita rusak. Tapi itu bukan
alasan untuk berhenti melayani warga. Justru di saat seperti ini, warga paling
butuh pelayanan. Mereka butuh surat keterangan kehilangan untuk klaim asuransi.
Mereka butuh surat pengantar untuk mengurus bantuan sosial. Mereka butuh data
kependudukan yang valid untuk segala keperluan pascabencana."
Pak Carik, yang sudah berpengalaman puluhan tahun,
mengangkat tangan. "Tapi Pak Kades, dengan segala hormat, bagaimana kita
mau melayani kalau komputer rusak, arsip berantakan, listrik padam? Wong kantor
aja ambruk."
Arjuna mengangguk, memahami kekhawatiran itu. "Betul,
Pak Carik. Tapi kita sudah punya cadangan. Data kita tersimpan di cloud, arsip
digital aman. Komputer kita bisa pakai laptop cadangan yang kita simpan di
rumah masing-masing. Listrik? Kita punya genset dan baterai cadangan. Koneksi
internet? Satelit portable masih berfungsi."
Ia berjalan ke papan tulis putih yang didirikan di samping
tenda, mulai menulis poin-poin. "Mulai besok pagi, kita dirikan Posko
Pelayanan Digital Sementara di halaman depan kantor, di tempat yang aman dari
pohon tumbang. Sediakan tenda besar, minimal tiga laptop, dua printer, dan
koneksi internet satelit. Staf jaga bergiliran seperti biasa. Jam pelayanan
tetap sama: 08.00 sampai 14.00."
Seorang staf perempuan, Siti, bertanya. "Pak Kades,
untuk sementara, prioritas pelayanan apa saja yang kita buka?"
"Prioritas utama: surat keterangan kehilangan dokumen.
Ini penting untuk klaim asuransi dan pengurusan dokumen baru. Kedua, surat
pengantar untuk bantuan sosial. Ketiga, pembaruan data kependudukan bagi warga
yang terdampak. Keempat, konsultasi administrasi untuk warga yang bingung
mengurus ini-itu. Layanan lain menyusul nanti."
"Terus, Pak, bagaimana dengan warga yang nggak bisa
datang karena sakit atau lansia?" tanya staf lain.
Arjuna tersenyum. "Pertanyaan bagus. Kita adakan
layanan jemput bola. Relawan Retana yang sudah terlatih bisa mendatangi warga
yang tidak bisa datang, mendata kebutuhan administrasi mereka, dan menguruskan
surat-surat yang diperlukan. Data tetap masuk lewat tablet, terintegrasi dengan
sistem."
Pak Carik mengangguk, mulai memahami. "Jadi, Pak
Kades, sistem kita tetap jalan, cuma tempatnya pindah sementara?"
"Tepat, Pak Carik. Sistem AMAT adalah jantungnya.
Selama jantungnya masih berdetak, tubuhnya bisa pindah ke mana saja. Yang
penting layanan tetap berjalan, warga tetap terlayani."***
Keesokan harinya, Posko Pelayanan Digital Sementara
berdiri. Tenda besar berwarna biru didirikan di halaman depan kantor desa yang
masih dipenuhi puing. Di dalamnya, tiga meja lipat berjejer rapi, masing-masing
dengan laptop, printer, dan tumpukan kertas. Kabel-kabel menjalar ke genset
yang berdengung pelan di belakang tenda.
Antrean warga mulai terbentuk sejak pukul 07.30. Mereka
datang dengan berbagai keperluan: ada yang kehilangan KTP, ada yang butuh surat
keterangan untuk klaim asuransi rumah, ada yang ingin mengurus kartu keluarga
baru karena dokumennya hancur.
Siti, operator desa yang tangguh, duduk di meja pertama. Di
hadapannya, seorang ibu paruh baya dengan wajah cemas.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa dibantu?" sapa
Siti ramah.
"Selamat pagi, Mbak. Saya... saya mau bikin surat
keterangan kehilangan. KTP saya, KK saya, akte lahir anak-anak, semua hilang.
Rumah saya ambruk, semuanya hancur. Gimana caranya, Mbak? Saya bingung."
Siti mengangguk penuh pengertian. "Tenang, Bu. Bisa
diurus kok. Boleh saya lihat KTP sementara? Atau Bu punya fotokopiannya?"
Ibu itu menggeleng lesu. "Nggak ada, Mbak. Semuanya
habis."
"Baik, Bu. Nama Ibu siapa? NIK-nya ingat?"
"Nama Sri Wahyuni. NIK... 332811... wah, lupa, Mbak.
Tapi saya warga RT 02 RW 01."
Siti mengetik cepat di laptop, membuka database
kependudukan. "Sebentar, Bu, saya cek... Sri Wahyuni, RT 02 RW 01... ada.
NIK-nya 3328115205700003. Betul, Bu?"
Ibu Sri matanya berbinar. "Iya, Mbak! Itu!
Alhamdulillah masih ada datanya."
"Tentu saja, Bu. Data kita aman, tersimpan di cloud.
Sekarang, saya akan cetak surat keterangan kehilangan untuk Ibu. Dengan surat
ini, Ibu bisa mengurus penggantian KTP dan KK di Dukcapil nanti. Juga bisa
untuk klaim asuransi kalau Ibu punya."
Ibu Sri hampir menangis. "Terima kasih, Mbak... terima
kasih banyak. Saya pusing banget mikirin dokumen-dokumen itu. Sekarang
lega."
Siti tersenyum. "Sama-sama, Bu. Itu tugas kami. Ini
suratnya, mohon diperiksa dulu."
Ibu Sri menerima selembar kertas yang masih hangat dari
printer. Matanya membaca, lalu mengangguk. "Sudah benar, Mbak. Terima
kasih lagi."
"Sama-sama, Bu. Hati-hati di jalan. Semoga lekas
pulih."
Di meja sebelah, Pak Carik melayani seorang bapak yang
ingin mengurus surat pengantar untuk bantuan sosial. Prosesnya cepat, data
langsung terverifikasi, surat tercetak dalam hitungan menit.
"Ini, Pak. Surat pengantarnya. Nanti Bapak bawa ke
kantor kecamatan untuk daftar bantuan. Jangan lupa bawa KTP asli kalau sudah
dapat lagi."
"Terima kasih, Pak Carik. Saya kira bakal antri
berhari-hari, ternyata cepet."
Pak Carik tertawa kecil. "Itu berkat sistem Pak Kades,
Pak. Semua data sudah online, tinggal diakses. Makanya kami galakkan
digitalisasi dari dulu."
Di luar, seorang relawan dari luar desa mengamati proses
itu dengan takjub. Ia mendekati salah satu staf. "Mas, ini luar biasa.
Biasanya di lokasi bencana, urusan administrasi jadi kacau. Di sini malah
tertib. Sistemnya apa?"
Staf itu tersenyum bangga. "AMAT, Mas. Aplikasi
Manajemen Administrasi Terpadu. Buatan kakeknya Pak Kades, dikembangkan terus
sampai sekarang."
"Keren banget. Saya boleh minta kontaknya? Mungkin
bisa diterapkan di daerah saya."
"Boleh, Mas. Nanti saya kenalkan dengan Pak
Kades."***
2. Pembangunan Desa
Minggu kedua pascabencana, Arjuna memimpin musyawarah
darurat desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Musyawarah diadakan di
tenda besar yang sama, dihadiri oleh seluruh perangkat desa, BPD, tokoh
masyarakat, dan perwakilan warga. Suasananya serius, karena yang dibahas adalah
masa depan pembangunan desa.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu yang saya hormati," buka
Arjuna, berdiri di depan peserta. "Kita semua tahu, bencana ini memukul kita
keras. Rencana pembangunan jangka menengah yang sudah kita susun bersama harus
kita evaluasi ulang. Dana desa yang sudah dialokasikan, mau tidak mau harus
kita realokasi untuk prioritas baru: rehabilitasi dan rekonstruksi
pascabencana."
Ketua BPD, Bapak Hadi, putra Pak Herman cucu dari pak Didit
di masanya Si Amat yang disegani,
mengangkat tangan. "Pak Kades, saya setuju perlunya realokasi. Tapi kita
harus hati-hati. Jangan sampai program-program strategis yang sudah
direncanakan malah terbengkalai. Bagaimana dengan drainase modern di pinggir
desa yang sudah kita canangkan? Itu juga penting untuk mencegah banjir."
Arjuna mengangguk. "Betul, Pak Hadi. Saya paham
kekhawatiran itu. Tapi mari kita lihat skala prioritasnya. Saat ini, ratusan
warga kehilangan tempat tinggal. Mereka butuh rumah. Mereka butuh hunian
sementara yang layak, lalu rumah permanen. Itu prioritas mutlak. Nyawa dan
tempat tinggal warga adalah yang utama."
Seorang anggota BPD lainnya, Pak Kusno, mewakili generasi
muda, angkat bicara. "Pak Kades, saya setuju prioritas utama adalah rumah
warga. Tapi bagaimana dengan jembatan penghubung Dusun Krajan dan Kedungmiri
yang rusak? Akses logistik ke dua dusun itu putus total. Warga di sana
kesulitan dapat bantuan."
Arjuna tersenyum. "Pak Kusno tepat. Jembatan itu
justru tidak boleh kita tunda. Malah harus kita percepat. Akses logistik adalah
nyawa kedua setelah rumah. Tanpa jembatan, bantuan tidak bisa masuk, warga di
dua dusun akan terus terisolasi. Itu darurat. Jadi, jembatan tetap prioritas,
bahkan kita percepat."
Ia membuka peta desa yang ditempel di papan. "Ini
usulan saya: program drainase modern di pinggir desa kita tunda dulu. Dananya,
sekitar 300 juta, kita alihkan untuk pembelian material bangunan bagi warga
yang rumahnya rusak berat. Sementara, dana untuk jembatan yang sudah
dianggarkan 200 juta, kita tambah 100 juta dari dana cadangan agar
pengerjaannya bisa lebih cepat. Setuju?"
Suasana hening. Semua orang berpikir. Lalu Pak Hadi
mengangguk. "Saya setuju, Pak Kades. Logis. Prioritas jelas. Tapi kita
harus pastikan warga yang rumahnya rusak berat mendapat jatah yang adil. Jangan
sampai ada yang kelebihan, ada yang kekurangan."
"Tentu, Pak Hadi. Itu sudah kita siapkan. Data rumah
rusak berat sudah masuk dari tim pendataan. Ada 53 KK. Mereka akan mendapat
prioritas utama. Material akan dibagikan berdasarkan luasan rumah yang
dibangun, bukan berdasarkan 'kenal' atau 'tidak kenal'. Transparan."
Pak Kusno menambahkan. "Pak Kades, saya usul, selain
material, kita juga siapkan tenaga gotong royong. Warga sendiri yang membangun,
dibantu relawan. Biar lebih cepat dan lebih murah."
"Ide bagus, Pak Kusno. Itu sudah masuk rencana. Kita
akan bentuk tim pembangunan partisipatif. Warga, relawan, dan tukang
profesional serta dari unsur TNI dan Polri bekerja bersama. Target: dalam tiga
bulan, semua rumah darurat selesai. Dalam enam bulan, rumah permanen mulai
berdiri."
Musyawarah berlangsung alot, tapi produktif. Akhirnya,
setelah tiga jam diskusi, semua sepakat. Rencana realokasi anggaran disetujui
bulat. Drainase ditunda, jembatan dipercepat, rumah warga jadi prioritas.
"Terima kasih, Bapak-bapak, Ibu-ibu," ucap Arjuna
menutup rapat. "Keputusan ini berat, tapi ini yang terbaik untuk warga
kita. Sekarang, kita kerja. Kita buktikan bahwa Desa Awan Biru bisa bangkit
dari keterpurukan."
Semua bertepuk tangan. Di antara peserta, ada warga biasa
yang diundang sebagai perwakilan. Seorang ibu tua, Bu Sumi, yang rumahnya
hancur, menangis haru. Ia mendekati Arjuna usai rapat.
"Pak Kades... matur nuwun... matur nuwun sanget...
saya... saya ndak nyangka, bapak-bapak semua repot mikirin omah-omah
kami."
Arjuna meraih tangan Bu Sumi. "Bu Sumi, itu kewajiban
kami. Bapak-bapak di BPD, perangkat desa, semua bekerja untuk warga. Jangan
sungkan-sungkan. Nanti kalau ada kesulitan, bilang saja."
Bu Sumi mengangguk, air matanya tak terbendung. Tapi kali
ini, itu air mata haru, bukan air mata putus asa.***
3. Pembinaan Masyarakat
Di tengah kesibukan membangun fisik, Arjuna tak melupakan
satu hal penting: pembinaan masyarakat, terutama pemulihan psikologis warga.
Trauma healing menjadi program utama di minggu-minggu pertama.
Ia menggandeng psikolog dari Dinas Sosial kabupaten, Ibu
Rina, M.Psi., seorang perempuan muda berusia 35 tahun yang ahli dalam trauma
healing pascabencana. Juga mahasiswa psikologi dari universitas terdekat yang
datang sebagai relawan.
Di lapangan sepak bola yang kini menjadi pusat pengungsian,
didirikan tenda khusus untuk kegiatan anak-anak. Tenda itu dihias dengan
warna-warni, gambar-gambar ceria, dan mainan-mainan sederhana dari bahan bekas.
Anak-anak dipersilakan datang kapan saja untuk bermain, menggambar, bercerita,
atau sekadar duduk diam ditemani kakak-kakak relawan.
"Halo, adik-adik! Siapa yang mau ikut Kakak bermain
hari ini?" sapa seorang mahasiswi psikologi, Dina, 21 tahun, dengan ceria.
Anak-anak berhamburan mendekat. Mereka haus akan keceriaan
di tengah kepiluan.
"Saya, Kak! Saya mau!"
"Saya juga!"
"Ajarin main yang seru, Kak!"
Dina tersenyum. "Hari ini kita akan menggambar. Tema
gambarnya: 'Rumah Impianku'. Adik-adik boleh menggambar rumah seperti apa yang
adik-adik inginkan. Boleh rumah pohon, rumah kue, rumah istana, apa saja. Yang
penting, adik-adik senang."
Kertas dan krayon dibagikan. Anak-anak mulai asyik
menggambar. Ada yang menggambar rumah dengan banyak jendela, ada yang
menggambar rumah dengan taman bunga, ada yang menggambar rumah seperti istana
dengan menara-menara.
Seorang anak laki-laki, Budi, 9 tahun—yang kemarin
bercerita tentang ketakutannya—menggambar sesuatu yang berbeda. Ia menggambar rumah
sederhana, dengan dua orang di dalamnya: seorang ibu dan seorang anak. Di atas
rumah, ia menggambar matahari tersenyum.
Dina mendekat. "Wah, bagus sekali gambar Budi. Ini
siapa, Bud?"
"Ini aku, Kak, sama Mama. Ini rumah kita. Nanti kalau
sudah dibangun lagi, aku mau tinggal sama Mama. Seneng."
Dina tersenyum, hatinya terharu. "Pintar, Bud. Pasti
rumahnya akan bagus, ya. Nanti Budi bantu Mama jaga rumahnya."
Budi mengangguk semangat. "Iya, Kak! Aku janji."***
Untuk anak-anak yang lebih kecil, diadakan kegiatan
mendongeng. Seorang mahasiswa psikologi, Andi, 22 tahun, duduk di tengah
lingkaran anak-anak, membacakan buku cerita bergambar.
"...dan raksasa angin itu marah sekali. Ia mengamuk,
meniup-niup rumah penduduk. Tapi penduduk desa tidak takut. Mereka bersatu,
bergandengan tangan, membuat lingkaran besar. Raksasa angin tidak bisa
memisahkan mereka. Akhirnya, raksasa angin itu lelah dan pergi. Penduduk desa
pun membangun kembali desanya, lebih indah dari sebelumnya."
Anak-anak mendengarkan dengan antusias. Mereka suka cerita
tentang raksasa yang dikalahkan oleh kebersamaan.
"Kak, raksasa angin itu jahat ya?" tanya seorang
anak perempuan.
"Iya, dia jahat. Tapi lihat, penduduk desa bisa
mengalahkannya, kan? Karena mereka bersatu. Kalian juga harus bersatu, ya.
Saling menjaga, saling membantu."
Anak-anak mengangguk kompak.***
Untuk orang dewasa, diadakan pertemuan kelompok yang
dipandu psikolog. Di tenda lain, Ibu Rina memimpin sesi berbagi cerita untuk
para ibu-ibu. Sekitar 15 ibu duduk melingkar, wajah-wajah mereka masih
menyimpan duka.
"Ibu-ibu, saya paham ini masa yang sangat berat. Kita
semua kehilangan sesuatu: rumah, harta benda, bahkan mungkin anggota keluarga.
Tapi saya ingin kita ingat, kita tidak sendirian. Kita punya satu sama lain.
Mari kita berbagi cerita. Siapa yang mau memulai?"
Sejenak hening. Lalu seorang ibu, Bu Tuminah, 55 tahun,
yang kehilangan suami, mulai bicara dengan suara bergetar.
"Saya... Bu Dokter. Suami saya meninggal tertimpa
tembok. Saya lihat sendiri. Saya sampai sekarang belum bisa tidur nyenyak.
Setiap pejam mata, bayangan suami saya muncul. Saya... saya takut."
Beberapa ibu menangis. Ibu Rina mendekati Bu Tuminah, duduk
di sampingnya, meraih tangannya.
"Bu Tuminah, perasaan ibu sangat wajar. Kehilangan
orang yang dicintai secara tiba-tiba dan tragis pasti meninggalkan luka
mendalam. Tapi ibu harus ingat, suami ibu pasti ingin ibu kuat. Untuk
anak-anak, untuk keluarga. Ibu tidak boleh terus-terusan larut dalam kesedihan.
Ibu harus bangkit."
Bu Tuminah terisak. "Tapi caranya gimana, Bu Dokter?
Saya bingung."
"Caranya, sedikit demi sedikit. Pertama, ibu harus
terima perasaan ibu. Nangis itu boleh. Sedih itu boleh. Tapi jangan berlarut.
Kedua, ibu harus sibukkan diri. Ikut kegiatan di sini, bantu-bantu di dapur
umum, temani anak-anak bermain. Kesibukan akan mengalihkan pikiran dari
kesedihan. Ketiga, ibu harus tetap terhubung dengan orang lain. Jangan
mengurung diri. Berbagi cerita dengan teman-teman di sini akan meringankan
beban."
Bu Tuminah mengangguk pelan. "Saya coba, Bu Dokter.
Saya akan coba."
Di sudut tenda, Arjuna duduk diam, mendengarkan semua
percakapan itu. Ia tak ingin dianggap menggurui atau ikut campur. Ia hanya
ingin hadir, menjadi saksi bahwa warga tidak sendiri. Sesekali, ia mengangguk,
tersenyum, atau sekadar menatap penuh empati pada warga yang bercerita.
Seorang ibu yang duduk di dekatnya, Bu RT 05, berbisik pada
temannya. "Pak Kades itu baik ya. Sampai mau-mau nya dengerin curhat
kita."
Temannya mengangguk. "Iya. Beliau nggak cuma ngurus
bangunan, tapi juga hati kita."***
4. Pemberdayaan
Kemasyarakatan
Hilangnya mata pencaharian adalah pukulan telak kedua
setelah kehilangan rumah. Arjuna tahu, jika warga tidak segera punya kegiatan
ekonomi, semangat mereka akan cepat padam. Pikiran kosong adalah sarang setan, pepatah
itu selalu ia ingat. Maka, begitu masa tanggap darurat mulai terkendali, ia
segera menggerakkan program pemberdayaan.
"Joko, tolong kumpulkan data UMKM yang rusak. Semua.
Warung makan, toko kelontong, usaha keripik, anyaman, peternak, petani, semua yang
terdampak," perintah Arjuna pada Joko, koordinator Retana.
"Siap, Pak. Tapi untuk petani, sawahnya banyak yang
rusak terkena puing. Tanamannya hancur. Mereka butuh bantuan benih baru."
"Itu masuk data juga. Nanti kita ajukan ke Dinas
Pertanian."
Dalam dua hari, data terkumpul. Total UMKM yang hancur atau
rusak berat: 37 unit. Petani yang sawahnya rusak: 45 orang. Buruh tani yang
kehilangan pekerjaan: sekitar 60 orang. Angka yang cukup besar untuk desa
sekecil Awan Biru.
Arjuna segera mengadakan rapat dengan pengurus koperasi
digital desa. Koperasi ini adalah salah satu program unggulannya, koperasi
berbasis digital yang memudahkan simpan pinjam dan pengelolaan keuangan warga.
"Pak Kades, modal koperasi kita terbatas," ujar
ketua koperasi, Pak Budi, seorang pensiunan bankir. "Kalau kita cairkan
semua untuk kredit, kas kita bisa jebol."
Arjuna mengangguk. "Saya paham, Pak Budi. Tapi ini
darurat. Kita tidak bisa hanya mengandalkan modal sendiri. Saya sudah hubungi
Dinas Koperasi kabupaten. Mereka punya program kredit usaha ultra-mikro tanpa
bunga untuk korban bencana. Syaratnya: data UMKM yang valid, rekomendasi dari
desa, dan pendampingan usaha. Kita penuhi semua syarat itu."
Pak Budi mengerutkan kening. "Kredit tanpa bunga?
Serius, Pak?"
"Serius. Ini program khusus dari pemerintah.
Anggarannya dari APBN. Kita harus manfaatkan."
"Berapa plafon per UMKM?"
"Maksimal 5 juta per usaha. Lumayan untuk modal awal.
Mereka bisa beli bahan baku, peralatan sederhana, atau modal jualan."
Pak Budi mengangguk-angguk. "Wah, itu bagus, Pak. Tapi
kita juga harus pastikan mereka bisa mengelola dengan baik. Jangan sampai
uangnya habis untuk konsumsi, bukan buat usaha."
"Itu tugas kita, Pak Budi. Kita dampingi. Koperasi
jadi pendamping. Relawan dari mahasiswa ekonomi juga bisa bantu. Kita adakan
pelatihan kilat manajemen usaha sederhana."***
Pelatihan kilat pun digelar. Di tenda serbaguna, puluhan
warga, kebanyakan ibu-ibu, duduk bersila, mendengarkan penjelasan dari
mahasiswa ekonomi tentang cara mengelola keuangan usaha sederhana.
"Ibu-ibu, yang paling penting dalam usaha adalah
memisahkan uang usaha dan uang rumah tangga. Jangan dicampur. Kalau dicampur,
nanti susah ngitung untung ruginya. Jadi, buat dua amplop: satu untuk usaha,
satu untuk kebutuhan rumah. Setiap hari, catat pemasukan dan pengeluaran.
Sederhana saja, pakai buku tulis biasa."
Ibu-ibu mencatat dengan tekun. Beberapa tampak bingung,
tapi tetangganya dengan sabar membantu menjelaskan.
"Miss, kalau saya jualan gorengan, modalnya sedikit,
untungnya juga sedikit. Gimana caranya supaya bisa nabung?" tanya seorang
ibu muda.
Mahasiswi itu tersenyum. "Ibu bisa terapkan sistem
'sisihkan untung'. Misalnya, setiap hari ibu dapat untung 20 ribu, sisihkan 2
ribu untuk tabungan. Kecil, tapi kalau rutin, lama-lama jadi banyak. Itu bisa
jadi modal cadangan kalau lagi sepi."
Ibu itu mengangguk paham. "Oalah, nggeh, Miss. Matur
nuwun."***
Di sisi lain, para ibu-ibu PKK dilatih membuat kue kering
oleh relawan dari industri rumahan. Mereka diajari resep sederhana, teknik
pengemasan yang menarik, dan cara menjual.
"Ibu-ibu, kue kering ini bisa dijual ke posko-posko
relawan. Relawan kan banyak, mereka butuh camilan. Juga ke warga yang masih
punya uang. Pasar tetap ada, asal kita kreatif."
Bu Kades, Kirana, memimpin langsung pelatihan ini. Ia
sendiri turut praktik membuat nastar dan putri salju.
"Ibu-ibu, kita harus semangat. Bencana ini bukan akhir
segalanya. Kita masih bisa produktif. Uang hasil jualan bisa buat tambahan
biaya sehari-hari, atau ditabung buat modal bangun rumah nanti."
Ibu-ibu bersemangat. Tawa mulai terdengar di sela-sela
kesibukan membuat kue. Untuk pertama kalinya sejak bencana, keceriaan kembali
menghiasi wajah mereka.***
Para pemuda tak ketinggalan. Arjuna mengorganisir mereka
menjadi tim pembersih puing yang mendapat upah. Bukan sekadar kerja bakti
gratis, tapi kerja dengan kompensasi. Ini penting agar mereka tetap punya
penghasilan di masa sulit.
"Mas, Mas, kumpul dulu!" teriak Joko pada
sekelompok pemuda. "Pak Kades mau ngomong."
Arjuna berdiri di depan mereka, sekitar 30 pemuda usia
18-30 tahun. Wajah-wajah mereka penuh semangat, meski beberapa tampak lelah.
"Teman-teman, saya butuh bantuan kalian. Kita punya
pekerjaan besar: membersihkan seluruh desa dari puing-puing. Ini bukan kerja
bakti biasa. Ini pekerjaan dengan upah. Setiap hari, kalian akan dicatat
kehadirannya, dan di akhir minggu dapat upah sesuai kontribusi."
Seorang pemuda bertanya, "Pak, upahnya berapa?"
"50 ribu per hari. Lumayan untuk beli rokok atau
jajan," jawab Arjuna, disambut tawa ringan. "Tapi serius, ini uang
dari donasi dan dana desa. Kalian bekerja, kalian dibayar. Yang penting, desa
kita bersih, dan kalian tetap produktif."
"Wah, setuju, Pak! Kapan mulai?"
"Besok pagi. Kita bagi kelompok, masing-masing
dipimpin koordinator dari Retana. Tugasnya: memilah puing, mana yang masih bisa
dipakai, mana yang harus dibuang. Kayu bekas yang bagus dikumpulkan untuk bahan
bangunan darurat. Sampah diangkut ke tempat pembuangan sementara. Gotong
royong, tapi profesional."
Para pemuda bersorak. Mereka punya kegiatan, punya
penghasilan, dan yang terpenting, punya rasa memiliki terhadap proses pemulihan
desa.***
Roda ekonomi desa mulai berputar lagi, walau masih
tersendat. Warung-warung darurat mulai bermunculan di pinggir tenda
pengungsian, menjual kebutuhan pokok sederhana. Ibu-ibu penjual gorengan mulai
berkeliling, menawarkan dagangan ke relawan. Pemuda-pemuda bekerja membersihkan
puing dengan semangat. Petani mulai membersihkan sawah, bersiap menanam
kembali.
Di tenda posko, Arjuna memantau data perkembangan ekonomi.
Siti menunjukkan grafik di laptop.
"Pak Kades, sudah 23 UMKM yang mengajukan kredit
mikro. Sebagian besar ibu-ibu penjual makanan. Juga ada beberapa usaha anyaman
dan kerajinan. Proses pencairan minggu depan."
"Bagus. Pastikan mereka dapat pendampingan rutin.
Jangan sampai uangnya habis tanpa hasil."
"Siap, Pak. Mahasiswa ekonomi sudah siap jadwal
kunjungan."
Arjuna menghela napas lega. Ekonomi adalah nadi desa. Jika
nadi ini mulai berdetak lagi, maka kehidupan akan segera pulih.***
5. Penanggulangan
Darurat dan Mendesak Desa
Ini adalah pelajaran paling berharga dari bencana ini.
Setelah kejadian puting beliung yang dahsyat, Arjuna bersama Retana dan warga,
membentuk sebuah inisiatif baru: Tim Siaga Permanen Berbasis Komunitas.
Rapat pembentukan tim diadakan di balai desa darurat, tenda
besar yang sama. Hadir perwakilan Retana, tokoh pemuda, ketua RT, dan warga
biasa yang peduli.
"Teman-teman, kita semua sudah merasakan sendiri
bagaimana dahsyatnya bencana kemarin. Kita juga sudah merasakan bagaimana
pentingnya kesiapsiagaan. Data dan sistem kita sudah bagus, tapi tanpa kesiapan
di lapangan, semua tidak optimal," buka Arjuna.
Joko, koordinator Retana, mengangguk setuju. "Betul,
Pak. Kita harus lebih siap. Bukan cuma saat bencana datang, tapi juga sebelum
bencana. Mitigasi itu kunci."
"Makanya, saya usulkan pembentukan Tim Siaga Permanen.
Tim ini tak hanya aktif saat bencana, tapi bertugas sepanjang tahun untuk
melakukan mitigasi rutin."
Seorang warga bertanya, "Mitigasi rutin itu apa saja,
Pak?"
Arjuna menjelaskan dengan rinci. "Pertama, memangkas
dahan-dahan pohon yang rapuh. Kita tahu, banyak korban dan kerusakan akibat
pohon tumbang. Itu bisa dicegah dengan perawatan rutin. Kedua, membersihkan
saluran air agar tidak tersumbat saat hujan deras. Ketiga, mengedukasi warga
tentang tanda-tanda bencana. Keempat, memastikan jalur evakuasi selalu bersih
dan jelas. Kelima, menguji sirine peringatan dini secara rutin."
"Wah, itu banyak sekali, Pak. Siapa yang
ngerjain?"
"Tim inilah yang ngerjain. Anggotanya dari relawan,
pemuda, dan warga yang peduli. Kita bagi jadwal, atur tugas. Yang penting,
semua berjalan rutin, bukan insidental."
Joko menambahkan, "Kita juga perlu kerja sama dengan
dinas terkait. Misalnya untuk pemangkasan pohon besar, butuh alat dan tenaga
ahli. Kita bisa minta bantuan Dinas Lingkungan Hidup."
Arjuna mengangguk. "Betul. Ini bukan kerja sendiri.
Kolaborasi dengan pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa lain sangat
penting. Bencana tidak mengenal batas administrasi."
Setelah diskusi panjang, terbentuklah Tim Siaga Permanen
Berbasis Komunitas. Joko ditunjuk sebagai koordinator, dengan anggota 25 orang
dari berbagai dusun. Mereka akan bertugas secara bergiliran, dengan jadwal yang
teratur.***
Program pertama tim ini adalah pemetaan ulang jalur
evakuasi. Dengan bantuan mahasiswa teknik, mereka mengukur lebar jalan,
menandai titik-titik kumpul, dan memasang rambu-rambu evakuasi di setiap sudut
desa.
"Mas, rambunya dipasang yang tinggi, biar keliatan
dari jauh," instruksi Joko pada pemuda yang mengecat papan rambu.
"Siap, Ko. Pakai cat warna-warni biar menarik."
"Yang penting jelas: arah panah, tulisan 'Titik
Kumpul', jarak tempuh. Warga harus mudah membaca."
Di setiap persimpangan, rambu-rambu baru mulai terpasang.
Warna hijau dan putih mencolok, mudah dikenali. Anak-anak kecil pun mulai
hafal: kalau lihat rambu hijau, itu tempat aman.***
Program kedua adalah perawatan pohon rutin. Bekerja sama
dengan Dinas Lingkungan Hidup, tim melakukan identifikasi pohon-pohon berisiko
tinggi: yang sudah tua, rapuh, atau miring. Pohon-pohon itu dipangkas
dahan-dahannya yang berpotensi tumbang. Beberapa pohon yang benar-benar
berisiko ditebang dan diganti dengan pohon baru yang lebih kuat dan berakar
dalam.
"Mbok, pohon randu ini terlalu besar dan rapuh. Lebih
baik ditebang saja, nanti kami tanami pohon baru yang lebih aman," jelas
Joko pada seorang warga yang rumahnya dekat pohon besar.
Warga itu awalnya keberatan. "Lho, kok ditebang, Le?
Itu pohon mbahku dulu yang nanam. Udah puluhan tahun."
Joko sabar menjelaskan. "Mbok, saya paham. Temi nek
mbok itu peninggalan. Tapi demi keamanan, lebih baik diganti. Nanti kami tanam
pohon mangga atau pohon kelapa yang nggak gampang tumbang. Hasilnya bisa Mbok
nikmati juga."
Setelah berpikir, warga itu mengangguk. "Yo wes, Le.
Kowe bener. Sing penting aman."***
Program ketiga adalah edukasi rutin. Setiap minggu, tim
mengadakan pertemuan dengan warga di tingkat RT, memberikan informasi tentang
tanda-tanda bencana dan langkah-langkah yang harus diambil.
"Ibu-ibu, Bapak-bapak, kalau lihat awan hitam pekat
menggumpal seperti kembang kol, itu tandanya awan Cumulonimbus. Itu awan badai.
Kalau sudah begitu, jangan tunggu lama-lama. Segera cari tempat aman. Jangan
berteduh di bawah pohon besar. Cari bangunan kokoh atau segera menuju jalur
evakuasi."
Warga mendengarkan dengan antusias. Mereka baru paham bahwa
bencana bisa dikenali tanda-tandanya.
"Pak, kalau udah denger suara gemuruh kayak truk, itu
apa?" tanya seorang ibu.
"Itu suara angin puting beliung, Bu. Kalau sudah
dengar suara itu, jangan tunggu lihat. Langsung lari ke tempat aman. Suara itu
pertanda angin sudah dekat."
Ibu itu mengangguk paham. "Oalah, ngoten to, Pak.
Sakniki ngertos."***
Program keempat adalah uji sirine rutin. Sebelumnya, sirine
peringatan dini hanya diuji sebulan sekali. Kini, diuji setiap minggu, setiap
hari Sabtu pukul 10.00 pagi. Tujuannya agar warga terbiasa dengan suara sirine
dan tahu membedakan mana suara uji coba, mana suara peringatan darurat.
Tiiiiiiit... tiiiiiiit... tiiiiiiit...
Sirine berbunyi nyaring di seluruh penjuru desa. Anak-anak
yang sedang bermain berhenti, lalu tertawa. "Itu sirine uji coba, Kak!
Kata Pak RT, Sabtu pagi pasti bunyi."
Orang dewasa tersenyum. Kini mereka tak panik lagi
mendengar sirine. Mereka tahu itu hanya uji coba. Tapi jika sirine berbunyi
dengan pola berbeda, panjang, pendek, panjang, itu tandanya darurat. Mereka
sudah hafal.***
Di tengah kesibukan yang melelahkan itu, Arjuna kerap
terlihat melakukan hal-hal kecil yang bermakna besar. Ia tak hanya duduk di
belakang meja memberi perintah, tapi terjun langsung ke lapangan, ikut
merasakan getirnya lumpur dan debu bersama warganya.
Suatu malam, saat sebagian besar warga sudah tidur, Arjuna
masih berada di lokasi pembersihan puing di RT 02. Lampu-lampu darurat
menerangi tumpukan kayu dan reruntuhan. Ia ikut mengangkat kayu bekas rumah
warga bersama para pemuda. Bajunya kotor oleh lumpur, peluhnya bercucuran
membasahi kemeja lusuhnya. Di tangannya, muncul lecet-lecet baru akibat
mengangkat material kasar.
"Heavy, Pak Kades, istirahat dulu. Biar kami
saja," tawar seorang pemuda, Yanto, 20 tahun.
Arjuna menggeleng sambil terus mengangkat kayu. "Ah,
nggak apa-apa. Saya juga butuh olahraga. Daripada duduk diam, mending gerak.
Lagipula, ini desa saya, masa saya cuma lihat saja."
Yanto tersenyum kagum. "Pak Kades ini beda ya. Kepala
desa lain mungkin cukup di kantor, ini malah ikut kuli."
Seorang relawan dari kota, Heru, yang sedang membantu,
mendengar percakapan itu. Ia bergumam pada temannya, "Dia seperti
kakeknya. Tidak banyak bicara. Banyak bekerja. Dia ada di mana-mana."***
Keesokan harinya, pemandangan lain terlihat. Arjuna duduk
di pinggir tenda pengungsian, menggendong seorang balita yang rewel. Balita
itu, anak dari Bu Dewi, ibu muda yang kehilangan suami, menangis terus karena
mungkin sakit perut atau sekadar rewel. Ibunya sibuk mengurus adiknya yang
lebih kecil.
Arjuna menggendongnya dengan sabar, sambil tangan kanannya
sibuk membalas pesan di ponsel. Ia bergoyang-goyang kecil, berusaha menenangkan
si kecil.
"Nggak apa-apa, Nak, nangisnya nanti aja ya. Om Arjuna
lagi sibuk nih, tapi tetap Om gendong. Kamu jangan nangis terus, nanti nggak
ganteng."
Balita itu, mungkin karena merasa nyaman, perlahan berhenti
menangis. Matanya mulai sayu, lalu tertidur di pundak Arjuna.
Seorang ibu tua, Mbah Sarni, yang melihat kejadian itu,
mendekat. "Pak Kades, kok repot-repot ngendong bayi? Mending titip ke
saya."
Arjuna tersenyum. "Nggak apa-apa, Mbah. Lagipula ini
sudah tidur. Kasihan ibunya sibuk. Saya bantu sebentar saja.
Mbah Sarni menggeleng-geleng, kagum. "Kula nderek, Pak
Kades. Kados eyange. Mbah Amat riyen yo kados ngeten. Kerja keras, ora
pilih-pilih."
Arjuna tersenyum mendengar nama kakeknya disebut.
"Mbah saya dulu seperti apa, Mbah?"
Mbah Sarni, yang seumuran dengan Si Amat, tersenyum
mengenang. "Eyangmu kuwi wonge ora akeh omong, Le. Tapi kerjane banyak.
Sabar, telaten. Wong desa pada seneng. Sakniki eyangmu diganti kowe. Padha
persis."
Arjuna terharu. "Matur nuwun, Mbah. Saya hanya
berusaha mengikuti jejak beliau."***
Percakapan itu terekam dalam hati Arjuna. Ia mewarisi itu
dari kisah-kisah tentang Si Amat yang diceritakan ayahnya. Seorang pemimpin
bukan hanya duduk di belakang meja memberi perintah, tapi harus ikut merasakan
getirnya lumpur dan debu bersama rakyatnya. Harus mau menggendong bayi yang
rewel, harus mau mengangkat kayu kotor, harus mau duduk di tanah mendengar
keluh kesah.
Itulah filosofi kepemimpinan yang ia anut. Bukan karena
teori politik atau buku manajemen, tapi karena teladan dari kakeknya, yang
meski hanya seorang admin desa, menjadi legenda karena kerendahan hati dan
kerja kerasnya.***
Minggu-minggu berlalu. Perlahan, desa mulai menunjukkan
wajah barunya. Rumah-rumah darurat mulai rapi berjajar. Dapur umum mulai
berkurang karena warga mulai bisa memasak sendiri. Posko kesehatan mulai sepi
karena warga mulai sehat. Anak-anak mulai sekolah di tenda-tenda belajar.
Namun di balik semua kemajuan fisik itu, ada satu hal yang
paling berharga: semangat warga yang mulai pulih. Mereka tak lagi hanya pasrah,
tapi mulai aktif merencanakan masa depan. Mereka tak lagi hanya menangis, tapi
mulai tersenyum dan bercanda. Mereka tak lagi hanya menunggu bantuan, tapi
mulai bergerak mandiri.
Itulah buah dari kepemimpinan yang hadir di tengah, bukan
di atas. Yang merangkul, bukan memerintah. Yang menjadi bagian dari solusi,
bukan sekadar pemberi arahan.
Arjuna berdiri di pinggir lapangan suatu sore, memandang
desanya yang mulai bangkit. Matahari sore menyinari puing-puing yang mulai
tersusun rapi, menyinari tenda-tenda yang mulai tertata, menyinari wajah-wajah
yang mulai tersenyum.
"Kakek... saya hanya melakukan yang sederhana,"
bisiknya pada foto Si Amat di ponselnya. "Hadir untuk mereka. Tidak lebih.
Tapi ternyata, itu yang mereka butuhkan."
Di kejauhan, anak-anak bermain bola dengan riang. Para ibu
duduk-duduk sambil menjahit atau membuat anyaman. Para pemuda sibuk di lokasi
pembangunan. Desa hidup. Desa bangkit. Dan Arjuna ada di sana, di tengah-tengah
mereka, menjadi bagian dari kebangkitan itu.
Seorang pemimpin sejati tak perlu mencari panggung.
Panggungnya ada di hati rakyatnya.****
Bulan berlalu. Perlahan, seperti air yang mengikis batu,
luka mulai mengering, digantikan oleh tunas-tunas harapan baru. Desa Awan Biru,
yang enam bulan lalu hancur lebur diterjang puting beliung, kini menunjukkan
wajah yang berbeda. Bukan wajah yang sama seperti sebelum bencana, tapi wajah
yang lebih dewasa, lebih tangguh, lebih sadar akan kerentanannya sekaligus
kekuatannya.
Matahari pagi menyinari desa dengan cahaya keemasan. Embun
masih menggantung di ujung-ujung daun yang baru tumbuh. Burung-burung pipit,
yang dulu terbang menghilang sebelum badai, kini kembali berkicau riang di
pohon-pohon baru yang ditanam di sepanjang jalan. Udara segar membawa aroma
tanah basah dan bunga-bunga yang mulai mekar.
Di RT 02, pemandangan yang dulu berupa puing-puing
berserakan, kini telah berubah menjadi deretan rumah-rumah baru yang rapi.
Rumah-rumah itu tidak mewah, tapi kokoh. Dindingnya dari bata merah yang
diplester halus, atapnya dari genteng metal modern yang ringan namun kuat,
pondasinya dicor beton dengan kedalaman ekstra, ciri khas bangunan tahan gempa
dan angin kencang.
Pak Karyo, pekebun karet yang dulu menolong Mbah Dullah,
kini sedang duduk di teras rumah barunya. Ia menikmati kopi pahit sambil
memandangi desa yang bangkit. Matanya menyipit, bukan karena silau, tapi karena
haru.
"Karyo! Mas Karyo!" teriak seseorang dari
kejauhan.
Pak Karyo menoleh. Itu Joko, koordinator Retana, yang kini
juga menjadi ketua tim pembangunan desa. Joko mendekat dengan sepeda motor
bututnya, wajahnya berseri-seri.
"Ada apa, Le Joko? Kok semangat banget
pagi-pagi?" sapa Pak Karyo.
Joko memarkir motor, lalu duduk di samping Pak Karyo tanpa
sungkan. "Pak Karyo, kabar baik! Pembangunan rumah Bu Sumi sudah rampung!
Hari ini serah terima kunci. Pak Kades minta Bapak datang ke acaranya nanti
sore. Sekalian syukuran kecil-kecilan."
Mata Pak Karyo berbinar. "Wah, alhamdulillah! Akhire
Bu Sumi iso ngrasakke omah anyar. Wong wedok iku sabar tenan ngadepi cobaan.
Bojone mati, omah ambruk, anak loro isih cilik-cilik. Tapi ora tau
ngeluh."
Joko mengangguk setuju. "Iya, Pak. Bu Sumi itu contoh
ketangguhan. Beliau juga aktif bantu-bantu di dapur umum selama masa darurat.
Sekarang giliran kita yang bantu beliau."
Pak Karyo tersenyum. "Opo kowe wis ngabari wong-wong
liyane, Le?"
"Wis, Pak. RT 01 sampe 05 semua pada diundang. Nanti
sore jam 3 di rumah Bu Sumi yang baru. Pak Kades juga akan datang. Kata beliau,
ini acara sederhana, tapi penting sebagai simbol bahwa desa kita sudah
bangkit."
"Apik, apik. Aku mesti teko. Saiki aku rewangi nyiapke
opo-opo? Mbok yo gowo jajan pasar?"
Joko tertawa. "Pak Karyo ini, sudah seperti saudara
sendiri sama Bu Sumi. Iya, Pak, bawa jajan pasar boleh. Tapi nanti juga ada
hidangan dari Bu Sumi. Beliau sudah masak sejak kemarin, katanya pengin traktir
tetangga yang sudah membantu."
Pak Karyo mengangguk-angguk. "Ya sudah, nanti aku gowo
gethuk lan pisang goreng. Bu Sumi seneng kuwi."***
Sore harinya, rumah Bu Sumi, yang baru, mulai ramai. Rumah
itu sederhana: ukuran 6x8 meter, dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu
merangkap ruang keluarga, dapur kecil, dan kamar mandi. Dindingnya bata merah
diplester, lantainya keramik putih polos, atapnya genteng metal warna coklat.
Di halaman depan, ada sedikit tanah untuk menanam sayur atau bunga.
Warga berdatangan satu per satu. Ada yang membawa jajan
pasar, ada yang membawa buah-buahan, ada yang membawa nasi kotak. Mereka duduk
di kursi-kursi plastik yang disusun di halaman. Suasana hangat dan akrab,
seperti arisan RT atau kenduri kecil.
Bu Sumi berdiri di depan pintu, menyambut tamu satu per
satu. Wajahnya yang dulu kusut dan murung, kini berseri-seri. Matanya
berkaca-kaca bukan karena sedih, tapi karena haru dan bahagia. Kedua anaknya,
Joko (10 tahun) dan Wati (7 tahun), berdiri di sampingnya, juga tersenyum
lebar.
"Bu Karyo, matur nuwun sanget rawuhe," sapa Bu
Sumi pada istri Pak Karyo yang datang duluan.
"Lho, Bu Sumi, kok malah matur nuwun. Wong aku sing
seneng iso ndelok omah anyarmu. Kudu seneng-seneng, yo, Bu," jawab Bu Karyo
hangat sambil menyerahkan bingkisan.
Bu Sumi menerima, lalu memeluk Bu Karyo. "Iki kabeh
merga bantuan sedulur-sedulur kabeh. Aku mung iso matur nuwun."
Pak Karyo yang datang di belakang istrinya, ikut tersenyum.
"Wis, Bu Sumi, aja nangis. Saiki seneng-seneng. Anak-anak pada
ndelok."
Benar saja, Joko dan Wati sudah berlarian bersama anak-anak
tetangga, bermain di halaman rumah baru mereka. Tawa riang mereka mengisi sore
yang cerah.***
Tak lama kemudian, Arjuna datang. Ia tak datang sendiri. Bersamanya
ada Pak Carik, Bu Kades (Kirana, istrinya), dan beberapa perangkat desa
lainnya. Arjuna mengenakan kemeja batik lengan panjang dan peci hitam, pakaian
resmi yang jarang ia kenakan akhir-akhir ini. Ini tanda bahwa acara ini penting
baginya.
"Pak Kades! Pak Kades datang!" seru seorang anak.
Semua warga menoleh. Arjuna tersenyum lebar, melambaikan
tangan. Ia berjalan menuju Bu Sumi, yang sudah berdiri dengan mata
berkaca-kaca.
"Bu Sumi, selamat ya. Akhirnya rumahnya jadi. Saya
turut berbahagia," ucap Arjuna sambil menjabat tangan Bu Sumi erat.
Bu Sumi mencium tangan Arjuna, lalu menangis haru.
"Pak Kades... matur nuwun sanget... tanpa bapak, tanpa sedulur-sedulur
kabeh, aku ora bakal nduwe omah maneh."
Arjuna meraih pundak Bu Sumi, menenangkannya. "Bu
Sumi, ini bukan karena saya. Ini karena kita semua. Karena gotong royong,
karena kebersamaan. Saya hanya fasilitator. Yang bekerja adalah warga
semua."
Pak Carik menambahkan, "Bu Sumi, Pak Kades itu yang
paling sibuk ngurusin pembangunan ini. Beliau hampir tiap hari ngecek progres,
mastiin material cukup, mastiin tukang kerja bener. Rumah ini juga hasil
keringat beliau."
Bu Sumi makin terharu. "Pak Kades... kula mboten saget
mbales..."
Arjuna menggeleng. "Bu Sumi, tidak usah membalas.
Cukup ibu bahagia, anak-anak ibu bahagia. Itu sudah balasan yang lebih dari
cukup untuk saya. Sekarang, mari kita syukuran bersama."***
Acara syukuran dimulai dengan doa bersama, dipimpin oleh
Pak Modin, tokoh agama desa. Semua warga duduk khusyuk, memanjatkan rasa syukur
ke hadirat Tuhan. Doa itu sederhana, tapi penuh makna.
"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih... panjatkan puji
syukur ke hadirat-Mu, atas limpahan rahmat dan karunia-Mu, sehingga saudari
kami Sumiyati beserta anak-anaknya, kini telah memiliki tempat tinggal yang
layak. Berkahilah rumah ini, jadikanlah tempat yang penuh kedamaian,
kebahagiaan, dan keberkahan. Lindungilah dari segala mara bahaya. Dan teruslah
bimbing kami semua, warga Desa Awan Biru, untuk selalu bersatu, bergotong
royong, dan saling menyayangi. Aamiin."
"Aamiin," jawab semua warga kompak.
Usai doa, Bu Sumi berdiri. Dengan suara bergetar, ia
menyampaikan sambutan singkat. "Bapak-bapak, Ibu-ibu, sedulur-sedulurku
kabeh... Aku mung arep matur nuwun. Matur nuwun sanget. Tanpa bantuan lan
support saka sedulur kabeh, aku ora bakal iso ngadeg maneh."
Ia berhenti sejenak, menahan tangis. "Waktu omahku
ambruk, aku mikir: wis, akhire uripku. Ora duwe omah, ora duwe bojo, anak-anak
isih cilik. Aku mikir arep mlayu ninggal desa iki. Nanging sedulur-sedulur
kabeh ora nglilani. Sedulur-sedulur kabeh ngrangkul aku, ngopeni aku, nulungi
aku. Mbangun omah iki bareng-bareng."
Air matanya akhirnya tumpah. "Matur nuwun, Pak Kades,
sing ora tau bosen ngurusi wong cilik kaya aku. Matur nuwun, Pak Karyo, Bu
Karyo, sing kaya sedulur dhewe. Matur nuwun, kabeh warga, sing wis nyumbang
tenaga, pikiran, lan materi. Aku ora bakal lali kabecikan iki. Muga-muga Gusti
Allah mbales kabecikan sedulur kabeh."
Semua warga terharu. Beberapa ibu ikut menangis. Tapi itu
tangis haru, tangis bahagia. Pak Karyo berdiri, mendekati Bu Sumi, merangkul
pundaknya.
"Wis, Bu Sumi, aja nangis. Saiki seneng-seneng. Iki
wayahe bahagia. Ayo moto bareng."
Warga pun berfoto bersama di depan rumah baru Bu Sumi.
Arjuna di tengah, Bu Sumi di sampingnya, anak-anak Bu Sumi di depan, dan warga
lainnya di kiri kanan. Kamera ponsel berbunyi berkali-kali, mengabadikan momen
bersejarah itu.***
Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan sederhana:
nasi kuning, ayam goreng, sambal goreng kentang, dan kerupuk. Minumnya es teh
manis. Semua dimasak oleh Bu Sumi sendiri, dibantu para tetangga. Warga makan
dengan lahap, sambil bercengkerama.
Di satu sudut, Arjuna duduk bersama Pak Karyo, Joko, dan
beberapa warga. Mereka mengobrol santai.
"Pak Kades, rumah Bu Sumi ini yang ke-53 ya?"
tanya Joko.
Arjuna mengangguk. "Iya, rumah ke-53 dari 53 rumah
rusak berat. Alhamdulillah, semua sudah selesai. Tepat enam bulan setelah
bencana."
Pak Karyo bersiul kagum. "Wah, cepet tenan, Pak. Biasa
mbangun omah iku suwene. Iki kok mung nem bulan."
"Itu karena gotong royong, Pak Karyo. Bukan hanya
tukang yang kerja, tapi warga juga ikut. Relawan dari luar juga banyak.
Material datang tepat waktu. Semua berjalan cepat karena kebersamaan."
Joko menambahkan, "Saya catat, total tenaga kerja yang
terlibat lebih dari 500 orang, termasuk relawan dari luar desa. Kalau
dihitung-hitung, nilai gotong royong ini miliaran rupiah."
Pak Karyo manggut-manggut. "Apik, apik. Dadi eling
jaman biyen, mbangun omah iku kerjabakti bareng. Saiki balik maneh."
Arjuna tersenyum. "Iya, Pak. Gotong royong itu DNA
kita. Yang modern bisa rusak, tapi DNA tidak akan pernah hilang."***
Selesai makan, giliran anak-anak Bu Sumi, Joko dan Wati,
memberikan kejutan. Mereka naik ke teras rumah, lalu Joko berbicara dengan
suara lantang.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu... aku dan adekku mau ngasih
sesuatu buat Pak Kades dan bapak ibu semua."
Joko mengeluarkan selembar kertas besar, seperti poster, yang
digulung. Ia membukanya perlahan. Di atas kertas itu, tergambar sebuah
pemandangan: rumah-rumah yang rapi, matahari tersenyum, dan banyak orang
bergandengan tangan. Di bawah gambar, tertulis dengan huruf anak-anak:
"TERIMA KASIH PAK KADES DAN SELURUH WARGA AWAN BIRU.
KAMI SAYANG SEMUA."
Semua warga tertegun. Lalu, tepuk tangan riuh pecah. Arjuna
berdiri, matanya berkaca-kaca. Ia mendekati Joko dan Wati, lalu memeluk mereka
berdua erat.
"Wah, ini kado yang paling indah. Terima kasih, Joko,
Wati. Kalian anak-anak hebat. Kalian masa depan desa ini. Janji sama Om, ya:
kalian harus sekolah tinggi, jadi orang berguna. Nanti kalau sudah besar,
bangun desa ini lebih baik lagi."
Joko mengangguk tegas. "Siap, Pak Kades! Aku mau jadi
arsitek, biar bisa bikin rumah-rumah bagus kayak gini."
Wati menyambung, "Aku mau jadi dokter, biar bisa
ngobatin orang sakit."
Arjuna tertawa bahagia. "Wah, hebat-hebat. Om tunggu
ya. Om doakan kalian sukses."
Bu Sumi menangis lagi, tapi kali ia tersenyum. Ia memeluk
kedua anaknya, lalu menatap Arjuna. "Pak Kades... sampeyan wis maringi
masa depan kanggo anak-anakku. Matur nuwun."
Arjuna menggeleng. "Bu Sumi, merekalah yang akan
membangun masa depan mereka sendiri. Kita hanya memberi jalan."***
Balai Desa yang Baru
Dua minggu kemudian, giliran balai desa dan kantor desa yang diresmikan. Bangunan ini berbeda dari
yang lama. Arsiteknya, seorang relawan dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)
bernama Andi Wijaya, 38 tahun, merancang bangunan yang tidak hanya indah, tapi
juga tahan bencana.
Balai desa dan kantor ddesa baru berdiri di lokasi yang
sama, di halaman yang dulu dipenuhi puing. Bangunannya dua lantai, dengan
desain modern minimalis namun tetap mempertahankan sentuhan lokal: ukiran kayu
khas desa di beberapa sudut, dan atap limasan yang dimodifikasi. Dindingnya
dari beton bertulang, atapnya dari metal berlapis yang diikat kuat ke struktur
beton dengan baut-baut khusus. Pondasinya dalam, hingga mencapai tanah keras.
Halaman depan diperluas, bukan hanya untuk parkir, tapi
juga dirancang sebagai ruang terbuka hijau. Ada taman dengan rumput dan
pohon-pohon peneduh. Yang menarik, halaman ini juga berfungsi sebagai area
evakuasi sementara jika bencana datang lagi. Rambu-rambu evakuasi terpasang
jelas, dan ada sumur bor cadangan untuk kebutuhan darurat.
Peresmian dilakukan oleh Bupati Awan Jingga sendiri, Bapak
Haryanto, yang datang langsung dari kabupaten. Acara dihadiri oleh camat,
danramil, kapolsek, tokoh masyarakat, dan tentu saja seluruh warga Desa Awan
Biru.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
sapa Bupati Haryanto dari podium sederhana di halaman balai desa.
"Wa'alaikumsalam," jawab warga serempak.
Bupati tersenyum. "Bapak, Ibu, warga Desa Awan Biru
yang saya banggakan. Hari ini adalah hari yang bersejarah. Enam bulan lalu,
desa ini hancur lebur diterjang puting beliung. Saya masih ingat, waktu itu
saya dapat laporan dari BPBD, bahwa Awan Biru adalah salah satu desa terdampak
terparah. Rumah warga rusak, fasilitas umum hancur, bahkan balai desa ini rata
dengan tanah."
Ia berhenti sejenak, memandangi warga dengan penuh haru.
"Tapi lihatlah sekarang. Enam bulan kemudian, desa ini bangkit.
Rumah-rumah warga berdiri kembali, lebih kokoh dari sebelumnya. Balai desa ini
berdiri megah, lebih indah dan lebih kuat. Ini bukan karena saya, bukan karena
pemerintah kabupaten. Ini karena kalian semua. Karena semangat gotong royong,
karena kebersamaan, karena kegigihan warga Awan Biru."
Tepuk tangan riuh menyambut. Bupati melanjutkan, "Saya
ingin memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kepala Desa kalian, Pak
Arjuna Putra Erlangga. Beliau adalah contoh pemimpin yang hadir di tengah
warganya, yang bekerja bukan hanya di belakang meja, tapi di lapangan, di
lumpur, di debu. Beliau mewarisi semangat kakeknya, Si Amat, yang legendaris
itu. Saya bangga punya kepala desa seperti beliau."
Arjuna yang duduk di barisan depan, tersipu. Ia berdiri,
membungkuk hormat pada Bupati, lalu pada warga.
"Pak Arjuna, silakan ke sini," panggil Bupati.
Arjuna maju ke podium. Bupati menyerahkan sebuah plakat
penghargaan. "Ini adalah penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Awan Jingga
untuk Desa Awan Biru sebagai Desa Tangguh Bencana. Semoga menjadi inspirasi
bagi desa-desa lain."
Arjuna menerima plakat itu dengan tangan sedikit gemetar.
Ia lalu berbalik menghadap warga, mengangkat plakat itu tinggi-tinggi. Warga
bersorak, bertepuk tangan meriah. Beberapa meneriakkan yel-yel:
"Hidup Awan Biru! Hidup Pak Kades! Hidup gotong
royong!"
Arjuna tersenyum, lalu memberi sambutan singkat.
"Bapak, Ibu, sedulur-sedulur kabeh... Penghargaan ini bukan untuk saya. Penghargaan
ini untuk kita semua. Untuk setiap warga yang tak kenal lelah bekerja, untuk
setiap relawan yang datang membantu, untuk setiap donatur yang menyumbang. Ini
milik kita bersama."
Ia menunjuk ke arah balai desa yang baru. "Balai desa dan
kantor desa ini bukan sekadar gedung. Ini simbol kebangkitan kita. Ini bukti
bahwa kita tidak pernah menyerah. Bahwa angin bisa merobohkan atap, tapi tidak
bisa merobohkan semangat kita. Bahwa badai bisa menghancurkan rumah, tapi tidak
bisa menghancurkan persaudaraan kita."
Semua warga terharu. Beberapa menangis haru. Arjuna
melanjutkan, "Mari kita jaga balai desa da kantor desa ini bersama-sama.
Gunakan untuk kegiatan yang bermanfaat. Jadikan pusat kebersamaan kita. Dan
yang paling penting, jangan pernah lupakan pelajaran dari bencana ini. Kita
harus selalu siap, selalu waspada, dan selalu bersatu."
Usai sambutan, Bupati dan Arjuna melakukan pemotongan pita
sebagai tanda peresmian. Lalu mereka masuk ke dalam Kantor Desa, diikuti warga.
Di dalam, ruangan-ruangan sudah tertata rapi. Ruang kerja kepala desa, ruang
staf, ruang rapat, ruang arsip, dan ruang serbaguna di lantai dua. Semua
dilengkapi perabot baru, hasil donasi dari berbagai pihak.
Pak Karyo, yang ikut masuk, berdecak kagum. "Wah,
mewah tenan, Pak. Dadi kangen karo Kantor Desa lawas ."
Joko, yang di sampingnya, tertawa. "Lha balai lawas
karo kantor desa wis ambruk, Pak. Iki sing anyar, luwih apik. Kaya desa iki,
bangkit luwih apik."***
Sekolah yang Lebih Kuat
Tak hanya balai desa maupun Kantor Desa, Sekolah Dasar
Negeri Awan Biru juga selesai direnovasi. Bangunannya diperkuat, kelas-kelasnya
diperbaiki, dan yang paling penting, sebuah ruang bawah tanah sederhana
dibangun di bawah lapangan upacara. Ruang itu bisa menampung sekitar 200 anak, cukup
untuk seluruh siswa dan guru. Fungsinya sebagai tempat berlindung jika badai
datang lagi.
Kepala sekolah, Bu Sari, guru muda yang dulu berteriak
menyelamatkan murid-muridnya, kini berdiri dengan bangga di halaman sekolah. Ia
memandangi bangunan yang kokoh, pagar beton yang baru, dan ruang bawah tanah
yang siap digunakan.
"Pak Kades, matur nuwun sanget," ucap Bu Sari
pada Arjuna yang datang meninjau. "Sekolah ini sekarang lebih aman. Saya
bisa tidur lebih nyenyak."
Arjuna tersenyum. "Bu Sari, justru saya yang harus
berterima kasih. Ibu adalah pahlawan bagi anak-anak kita. Waktu badai, ibu
tetap tenang, menyelamatkan mereka. Itu luar biasa."
Bu Sari tersipu. "Ah, Pak Kades, itu sudah kewajiban
saya sebagai guru. Tapi sekarang, dengan ruang bawah tanah ini, saya lebih
siap. Kami sudah latihan simulasi evakuasi rutin, seminggu sekali. Anak-anak
hafal betul prosedurnya."
Seperti disuruh, bel sekolah berbunyi. Anak-anak keluar
dari kelas, lalu dengan tertib berbaris menuju ruang bawah tanah. Tak ada
panik, tak ada teriak. Mereka berjalan cepat tapi tenang, seperti sudah
terbiasa.
"Wah, cepat sekali," komentar Arjuna kagum.
"Itu hasil latihan, Pak. Kami bahkan lomba antar
kelas: siapa tercepat dan terkompak dalam evakuasi. Anak-anak senang, jadi
belajar sambil bermain."
Arjuna mengangguk bangga. "Bu Sari, ibu benar-benar
guru yang luar biasa. Tidak hanya mengajar baca tulis, tapi juga mengajar
kehidupan."***
Sistem Peringatan Dini
yang Canggih
Di bukit kecil sebelah desa, sebuah menara baru berdiri.
Bukan menara telekomunikasi, tapi menara sensor cuaca. Di puncaknya, terpasang
berbagai perangkat canggih: anemometer untuk mengukur kecepatan angin,
barometer untuk tekanan udara, hygrometer untuk kelembaban, dan radar kecil
untuk mendeteksi awan Cumulonimbus.
Semua sensor itu terhubung langsung dengan sistem AMAT di
kanto desa, juga dengan server BMKG di kabupaten dan provinsi. Data diperbarui
setiap menit, dianalisis oleh perangkat lunak yang bisa memberikan prediksi
lebih akurat dan peringatan lebih dini.
Joko, yang kini juga menjadi koordinator tim siaga bencana,
berdiri di samping Arjuna di kaki menara. Mereka menatap bangunan itu dengan
bangga.
"Ini hadiah dari Kementerian, Pak. Setelah kita
dijadikan desa percontohan tangguh bencana," jelas Joko.
Arjuna mengangguk. "Bagus. Ini akan sangat membantu.
Dengan data real-time, kita bisa memberi peringatan lebih awal. Bukan hanya
jam-jaman, tapi mungkin hari-harian."
"Betul, Pak. Sistem ini bisa mendeteksi pola
pembentukan awan badai hingga 6 jam sebelum kejadian. Itu waktu yang cukup
untuk evakuasi."
Arjuna menepuk pundak Joko. "Kamu dan tim hebat.
Menjaga desa ini tidak hanya dengan otot, tapi juga dengan otak dan
teknologi."
Joko tersenyum. "Saya hanya meneruskan apa yang Bapak
ajarkan. Data adalah segalanya. Tapi data tanpa tindakan tidak ada
artinya."
"Ingat itu, Joko. Dan ingat juga, teknologi secanggih
apapun, kalau manusianya tidak peduli, tetap percuma. Yang paling penting
adalah kesadaran warga."
"Betul, Pak. Makanya kami juga rutin sosialisasi,
simulasi, edukasi. Warga sekarang sudah paham. Kalau sirine berbunyi dengan
pola tertentu, mereka langsung tahu itu peringatan, bukan uji coba."***
Kehidupan yang Kembali
Normal
Suasana desa perlahan kembali normal. Bukan normal seperti
sebelum bencana, tapi normal baru yang lebih baik. Warung-warung kopi mulai
buka lagi, menjadi tempat warga bertukar kabar dan cerita. Di warung Mbok Yem,
yang dulu hancur dan kini bangun kembali, para bapak-bapak duduk santai sambil
menyeruput kopi.
"Mas Karyo, piye kabar Kebun Karete?" tanya Pak
RT.
Pak Karyo tersenyum lebar. "Alhamdulillah, apik. Wis
di sadap maneh . Hasile apik, regane apik. Bisa nutupi utang-utang."
"Syukur, syukur. Semangat terus, Mas."
Di ujung desa, para pemuda asyik bermain bola di lapangan
yang dulu menjadi tenda pengungsian. Kini lapangan itu sudah bersih, rumputnya
mulai tumbuh hijau. Mereka berlarian, tertawa, berteriak, seperti tak pernah
ada tragedi.
Di rumah-rumah warga, lampu-lampu menyala stabil di malam
hari. Listrik yang sempat terputus berbulan-bulan, akhirnya pulih sepenuhnya.
Kabel-kabel baru yang lebih kuat dan tahan angin telah dipasang di sepanjang
jalan. Tak ada lagi pemadaman bergilir.
Anak-anak tertawa riang bermain di halaman rumah baru
mereka. Mereka berlarian, bersepeda, main petak umpet. Suara tawa mereka
mengisi sore hari, menjadi musik paling indah bagi para orang tua.
Bu Sumi, dari teras rumahnya, memandangi anak-anak itu.
Joko dan Wati ikut bermain dengan riang. Ia tersenyum, hatinja penuh syukur.
Enam bulan lalu, ia hampir putus asa. Kini, ia punya rumah baru, anak-anaknya
bahagia, dan ia mulai membuka usaha kecil-kecilan: jualan gorengan di depan
rumah.
"Bu Sumi, gorengane limang ewu," teriak seorang
pembeli.
"Iya, Bu, sebentar," jawab Bu Sumi riang. Ia
segera membungkus gorengan, melayani pembeli dengan senyum. Hidup berjalan.
Desa berdenyut. Masa depan terbentang.***
Pelajaran dari Badai
Suatu sore, Arjuna duduk di bangku taman halaman balai
desa. Ia memandangi desanya dengan perasaan campur aduk: bangga, haru, syukur,
juga sedikit sedih. Bangga karena desa bangkit, haru karena kebersamaan warga,
syukur karena semua selamat, sedih karena ada yang tak kembali, beberapa warga
meninggal dalam bencana itu.
Pak Karyo datang, duduk di sampingnya tanpa sungkan.
"Pak Kades, lagi ngopi? Kok nyandak dewe?"
Arjuna tersenyum. "Iya, Pak Karyo. Lagi nikmati sore.
Desanya sudah ramai lagi ya."
Pak Karyo mengangguk. "Iya, Pak. Kaya ora tau kedaden
opo-opo. Wong-wong pada sibuk dewe-dewe. Tapi aku yakin, kabeh pada eling. Ora
bakal lali karo badai sing wis ngajeni urip."
"Mereka tidak lupa, Pak Karyo. Mereka hanya memilih
untuk melanjutkan hidup. Itu lebih baik daripada terus-terusan larut dalam
kesedihan."
Pak Karyo menghela napas. "Pak Kades, aku pengin matur
nuwun. Ora mung kanggo omahku sing dibangun maneh, tapi kanggo kabeh. Kanggo
semangate, kanggo tuladane. Sampeyan wis ngajari kita, bahwa pemimpin iku ora
mung mrentah, tapi uga nglayani."
Arjuna terharu. "Pak Karyo, justru saya yang harus
berterima kasih pada bapak dan semua warga. Tanpa bapak-bapak semua, saya tak
bisa apa-apa. Ini semua karena kita bersama."
Pak Karyo tersenyum. "Pak Kades, aku tuwek iki wis tau
ndelok akeh pemimpin. Tapi pemimpin kaya sampeyan, kaya eyange, kuwi langka.
Sing penting ora goji, sing penting ngayomi. Muga-muga sampeyan tansah
pinaringan sehat lan kuat, terus mimpin desa iki."
"Matur nuwun, Pak Karyo. Doanya saya terima dengan
senang hati."
Mereka diam sejenak, menikmati sore yang tenang. Lalu Pak
Karyo berkata lagi, "Pak Kades, aku kelingan omonge eyangmu biyen. Beliau tau
ngomong: 'Desa iku kaya wong urip, kudu gelem sinau saka pengalaman. Bencana
iku guru sing kejam, tapi uga guru sing jujur. Sing ngajari apa sing lemah, apa
sing kudu dikuatke.'"
Arjuna tersenyum. "Kakek saya bijak sekali.
Kata-katanya selalu relevan. Dan benar, bencana ini mengajarkan kita banyak
hal. Bahwa infrastruktur harus kuat, bahwa sistem peringatan dini harus
canggih, bahwa data harus akurat. Tapi yang paling penting, bahwa kebersamaan
adalah kunci segalanya."
"Iya, Pak. Omah sing kuwat, sistem sing canggih, data
sing akurat, kabeh ora ana gunane yen wong-e pada wegah gotong royong. Sing
nylametke desa iki yaiku gotong royong."
"Betul sekali, Pak Karyo."***
Mentari mulai condong ke barat, melukis langit dengan warna
jingga dan lembayung. Pemandangan yang dulu selalu mengingatkan Arjuna pada
nama desanya, dan pada ketenangan. Kini, pemandangan itu juga mengingatkannya
pada perjuangan, pada air mata, pada kebersamaan, pada kemenangan.
Prahara telah meninggalkan luka yang dalam. Namun seperti
kata pepatah, luka adalah tempat di mana cahaya masuk. Desa Awan Biru tidak
hanya selamat, ia belajar. Ia menjadi lebih kuat, lebih siap, dan lebih sadar
akan kerentanannya. Ia tahu bahwa bencana bisa datang kapan saja. Tapi ia juga
tahu bahwa dengan persiapan, dengan sistem, dengan data, dan yang terpenting,
dengan kebersamaan, ia bisa menghadapi apa pun.
Di ruang server Kantor desa yang baru, foto lama Si Amat
tetap terpajang di dinding. Kakek Arjuna itu tersenyum dalam bingkai, seolah
ikut bangga melihat apa yang telah dicapai desanya. Cucunya, dengan segala
keterbatasan dan kelebihannya, telah membawa warisan itu lebih jauh.
Arjuna masuk ke ruangan itu, berdiri di depan foto
kakeknya. Ia berbisik pelan, seperti biasa, seperti ritual pribadinya.
"Eyang... sistemnya selamat. Warganya juga selamat.
Desanya bangkit. Lebih kuat dari sebelumnya. Ini semua berkat pondasi yang
Eyang bangun dulu. Saya hanya meneruskan. Terima kasih, Eyang. Doakan kami
selalu."
Foto itu diam, tapi Arjuna merasa kakeknya tersenyum lebih
lebar.
Ia keluar ruangan, berjalan menuju halaman. Di sana, warga
mulai berkumpul untuk acara malam Minggu: pasar malam dadakan yang diadakan
karang taruna. Lampu-lampu warna-warni dipasang di tenda-tenda. Aroma jajanan
pasar tercium semerbak. Musik dangdut koplo diputar pelan. Anak-anak berlarian
dengan balon di tangan. Remaja bergaya di pojok-pojok. Orang tua duduk-duduk
ngobrol.
Desa hidup. Desa bahagia. Desa bangkit.
Arjuna tersenyum lebar. Ia melangkah masuk ke keramaian,
menyapa warganya satu per satu, ikut menikmati malam yang indah. Di tengah
gemerlap lampu dan tawa riang, ia merasa: inilah hadiah terindah setelah badai.
Bukan rumah baru, bukan balai megah, bukan sistem canggih. Tapi senyum
warganya. Tawa anak-anaknya. Kebersamaan mereka semua.
Di langit, bintang-bintang mulai bermunculan, seolah ikut
merayakan kebangkitan desa kecil di bawahnya. Desa Awan Biru. Desa yang tak
tumbang oleh angin.***
Enam bulan setelah badai, pada suatu sore yang tenang di
bulan April, Arjuna berdiri sendirian di halaman kantor desa yang baru. Mentari
sore mulai condong ke barat, melukis langit dengan warna jingga dan lembayung
yang indah, warna yang selalu membuat siapa pun yang melihatnya tersentuh.
Pemandangan yang dulu selalu mengingatkannya pada nama desanya, dan pada
ketenangan. Kini, pemandangan itu juga mengingatkannya pada perjuangan panjang,
pada air mata yang tumpah, pada tawa yang kembali merekah, pada kebersamaan
yang tak pernah padam.
Bangunan di belakangnya kini berdiri kokoh, lebih modern
dan lebih tangguh dari sebelumnya. Dinding betonnya dicat putih krem dengan
aksen kayu di beberapa bagian. Atap metalnya berkilau ditimpa sinar sore. Di
halaman depan, taman kecil dengan bunga-bunga warna-warni tertata rapi, ditanam
oleh ibu-ibu PKK sebagai bagian dari program penghijauan. Sebuah papan besar
bertuliskan "Kantor Desa Awan Biru" berdiri di samping pintu masuk,
dengan tambahan tulisan di bawahnya: "Desa Tangguh Bencana, Desa Digital,
Desa Gotong Royong."
Di sekelilingnya, desa telah bangkit. Rumah-rumah warga tertata
rapi di kiri kanan jalan yang kini beraspal mulus. Beberapa rumah masih dalam
tahap akhir penyelesaian, tukang-tukang masih terlihat memasang genteng atau
mengecat dinding, tapi sebagian besar sudah selesai dan dihuni. Di
halaman-halaman rumah, anak-anak bermain sepeda, ibu-ibu menjemur pakaian,
bapak-bapak duduk santai di teras. Kehidupan berjalan normal, seperti tak
pernah terjadi tragedi enam bulan lalu.
Arjuna menarik napas panjang. Ada rasa syukur yang dalam di
hatinya, campur haru dan lelah yang terbayar lunas. Enam bulan yang melelahkan.
Enam bulan yang penuh tantangan. Enam bulan yang mengajarinya arti kepemimpinan
sejati. Kini, berdiri di sini, menyaksikan hasil kerja keras ribuan tangan, ia
merasa damai.
"Pak Kades!"
Suara itu memecah lamunan. Arjuna menoleh. Dari kejauhan,
Pak Karyo datang sambil menuntun sepeda ontel tuanya, sepeda yang nyaris hancur
tertimpa pohon, tapi berhasil diperbaiki. Wajahnya merah oleh sinar sore, tapi
senyumnya lebar. Ia mendekat, lalu berhenti tepat di depan Arjuna.
Diturunkannya sepeda itu, ditopangnya dengan kaki.
"Pak Kades, kula nuwun," sapa Pak Karyo dengan
logat Jawa halus yang khas.
Arjuna tersenyum. "Pak Karyo. Kok baru pulang? Dari
mana?"
Pak Karyo menyandarkan sepedanya ke tiang teras kantor,
lalu berjalan mendekati Arjuna. "Nggih, Pak, nembe wae saka kebun. Nyadap
getah rampung, hasil apik. Alhamdulillah, regane uga apik. Bisa kanggo ndandani
omah sing isih kurang sithik."
"Wah, syukur alhamdulillah, Pak Karyo. Senang denger
berita baik."
Pak Karyo mengangguk. Lalu ia menatap Arjuna dengan
pandangan yang dalam, campuran antara hormat, kagum, dan haru. Beberapa detik
ia diam, seperti merangkai kata. Akhirnya, ia berkata pelan,
"Pak Kades, angin kemarin itu benar-benar menguji kita
ya."
Arjuna mengangguk, tersenyum tipis. Matanya menerawang,
mengenang kembali hari itu. "Iya, Pak Karyo. Ujian yang berat. Mungkin
ujian terberat dalam sejarah desa ini."
Pak Karyo menghela napas. "Kula taksih kelingan, Pak.
Waktu iku, awan-awan, langite peteng ndhedhet. Angine gedhe, kaya butho sing
ngamuk. Kula neng sawah, weruh omah-omah pada ambruk. Kula kaya ora ngandel.
Apa iki nyata utawa ngimpi elek?"
Arjuna mendengarkan dengan saksama. Ia tahu setiap warga
punya cerita traumatisnya masing-masing. Pak Karyo, dengan segala
kesederhanaannya, layak didengar.
"Tapi Pak Karyo selamat. Mbah Dullah juga selamat. Itu
yang penting."
Pak Karyo mengangguk. "Nggih, Pak. Kula nulungi Mbah
Dullah? Mbok menawa mbah Dullah sing nulungi kulo? Dadi kaya timbal balik. Kula
nulungi Mbah Dullah, Mbah Dullah sing maringi kekuatan kanggo kula. Wong tuwa
iku sakti, Pak. Senajan kakine patah, semangate ora patah."
Arjuna tersenyum. "Itulah Mbah Dullah. Veteran
pejuang. Jiwa juangnya tidak pernah padam."
Pak Karyo tertawa kecil. "Nggih, Pak. Saiki Mbah
Dullah wis waras. Isih karo tongkat, tapi wis bisa mlaku-mlaku. Saben sore,
dheg maca koran ing teras omah anyare. Senenge maca berita bab desa iki. Kula
sering mampir, ngrungokke cerita-cerita lawas."
"Wah, Mbah Dullah pasti senang kalau dikunjungi."
"Inggih, Pak. Beliau sering takon: 'Le Karyo, piye
kabare Pak Kades? Apa isih sibuk? Apa wis iso ngaso?' Kula jawab: 'Pak Kades ki
yo ora tau ngaso, Mbah. Kerja terus.' Beliau mesem, ngomong: 'Cucu sing apik.
Kaya mbah e.'"
Arjuna terharu mendengar itu. "Mbah Dullah baik
sekali. Saya hanya melakukan kewajiban."
Pak Karyo menatap Arjuna lagi. Kali ini lebih serius.
"Pak Kades, kula pengin matur nuwun. Saking jero ati."
Arjuna sedikit kaget. "Lho, Pak Karyo, kok malah matur
nuwun? Saya yang harus berterima kasih pada bapak dan semua warga."
Pak Karyo menggeleng. "Pak Kades, rungokno kula riyin.
Kula wong tuwa sing wis ndelok akeh perkara. Kula tau ndelok jaman Mbah Amat,
eyang sampeyan, dadi Admin desa. Kula tau ndelok jaman Bapak sampeyan, Pak
Erlangga, dadi dokter. Lan saiki kula ndelok sampeyan. Ana siji thread sing
nyambung: kepemimpinan sing ngayomi, sing melu krasa susahe wong cilik."
Arjuna diam, terharu.
Pak Karyo melanjutkan, "Waktu badai, kula weruh
sampeyan mlaku-mlaku neng puing-puing. Rambut kusut, klambi kotor, tangan
lecet. Kula weruh sampeyan nulungi wong-wong, ngangkat kayu, nggendong bocah.
Kula weruh sampeyan nangis mbendino, ning ora tau ngeluh. Kula weruh sampeyan
ora tau turu, ora tau mangan tenanan, merga sibuk ngurusi liyan."
Air mata mulai menggenang di sudut mata Pak Karyo.
"Pak Kades, kula wong tuwa, ora pinter ngomong. Tapi kula ngerti siji
perkara: pemimpin kaya sampeyan iku langka. Pemimpin sing gelem ngrungkepi
rakyate, ora mung ndelok saka kajauhan. Pemimpin sing ora mung mrintah, tapi
nglakoni dhisik."
Arjuna meraih tangan Pak Karyo, menggenggamnya erat.
"Pak Karyo... saya hanya melakukan yang seharusnya. Ini desa saya. Ini
warga saya. Bagaimana mungkin saya diam saja melihat mereka susah?"
"Tapi akeh pemimpin sing iso diam, Pak. Akeh sing
milih nyaman neng kantor, mrintah-printah, tapi ora tau melu kringetan.
Sampeyan beda. Sampeyan kaya eyangmu."
Arjuna tersenyum. "Mbah Amat memang panutan
saya."
Pak Karyo mengangguk. "Nah, iku sing kula omongke.
Eyangmu kuwi wonge ora akeh omong, tapi kerjane banyak. Wong desa pada seneng.
Saiki sampeyan ngono. Muga-munga putu mu, buyut mu, terus kaya ngono. Pemimpin
Awan Biru kudu kaya ngono: turun-tumurun."
Arjuna tertawa kecil. "Pak Karyo sudah merencanakan
sampai tujuh turunan?"
Pak Karyo ikut tertawa. "Lha wong saiki wis nemu sing
bener, aja sampeyan owah, Pak. Terusna ngoten."***
Mereka berdua diam sejenak, menikmati sore yang tenang.
Angin sepoi-sepoi membelai wajah, membawa aroma bunga dari taman. Dari
kejauhan, terdengar suara anak-anak bermain bola, diselingi teriakan riang.
Pak Karyo memecah keheningan. "Pak Kades, kula
kepingin takon."
"Mangga, Pak Karyo."
"Menurut sampeyan, opo sing nylametke desa iki? Sistem
canggih? Data akurat? Anggaran gedhe? Utawa opo?"
Arjuna berpikir sejenak. Pertanyaan sederhana tapi dalam.
Ia menatap langit lembayung, lalu menjawab pelan. "Semua itu penting, Pak
Karyo. Sistem canggih membantu kita mendata dan mengelola. Data akurat membantu
kita mengambil keputusan tepat. Anggaran besar membantu kita membangun.
Tapi..."
Ia berhenti, mencari kata yang tepat. "Tapi yang
paling utama, yang paling inti, adalah manusia-manusia di desa ini. Ibu-ibu
yang dengan sigap mendirikan dapur umum. Bapak-bapak yang bahu-membahu
membersihkan puing. Pemuda-pemuda yang rela begadang jaga posko. Anak-anak yang
tetap tersenyum di tengah trauma. Relawan dari luar yang datang tanpa pamrih.
Donatur yang menyumbang tanpa kenal kita."
Ia menatap Pak Karyo. "Kebersamaan, Pak Karyo. Itulah
jawabannya. Bukan sistem canggih, bukan data akurat, bukan anggaran besar.
Semua itu adalah alat. Yang utama adalah manusia-manusia di desa ini yang
saling menguatkan, saling membantu, dan memutuskan untuk bangkit bersama."
Pak Karyo tersenyum puas. "Nah, iku sing kula maksud.
Sampeyan ngerti. Mboten kaya pemimpin liya sing mung ndelok angka-angka."
Lalu Pak Karyo berkata dengan bangga, "Tapi kita
buktikan, ta, Pak? Angin bisa merobohkan atap rumah kita, bisa merobohkan
pohon-pohon besar. Tapi angin tidak bisa merobohkan kebersamaan kita. Itu yang paling
penting."
Kata-kata sederhana itu menyentuh relung hati Arjuna.
Sederhana, tapi sarat makna. Dari seorang petani tua yang mungkin tidak pernah
belajar filsafat, tapi memahami esensi kehidupan lebih dalam dari siapa pun.
Arjuna mengangguk pelan. "Betul, Pak Karyo.
Kebersamaan itu seperti akar pohon beringin. Semakin ditiup angin, semakin kuat
mencengkeram tanah. Kita tidak akan pernah tumbang selama kita bersama."
Pak Karyo menghela napas puas. "Puas rasanya, Pak.
Ndelok desa iki bali kaya biyen, malah luwih apik. Kula ora nyangka iso urip
neng omah anyar kaya iki. Kula mung petani cilik, ora duwe apa-apa. Ning saiki
duwe omah sing luwih apik saka sakdurunge."
Arjuna merangkul bahu Pak Karyo. "Pak Karyo, itu hak
bapak. Bapak adalah warga negara Indonesia yang berhak mendapat kehidupan
layak. Negara hadir untuk itu. Tapi yang lebih penting, bapak adalah bagian
dari desa ini, bagian dari keluarga besar Awan Biru. Keluarga pasti saling
membantu."
Pak Karyo tersenyum haru. "Matur nuwun, Pak Kades.
Matur nuwun sanget."
"Sama-sama, Pak Karyo."***
Pak Karyo kemudian pamit. "Kula rumiyin, Pak. Ajeng
ngaturaken bingkisan cilik kanggo Mbah Dullah. Menawi mboten kula aturaken,
piyambake kersa duka."
"Iya, Pak Karyo. Hati-hati di jalan. Sampaikan salam
saya untuk Mbah Dullah."
"Inggih, Pak. Sampun, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Pak Karyo menaiki sepeda ontelnya, lalu mengayuh pelan
meninggalkan halaman kantor. Arjuna memandangi punggungnya yang mulai
membungkuk, tapi masih penuh semangat. Ia tersenyum. Inilah warganya.
Sederhana, jujur, pekerja keras, dan penuh cinta.***
Setelah Pak Karyo hilang dari pandangan, Arjuna berbalik,
menatap kantor desa yang baru. Bangunan itu berdiri kokoh, lebih modern dan
lebih tangguh. Namun di matanya, bangunan itu bukan sekadar beton dan kaca. Ia
adalah simbol kebangkitan, simbol gotong royong, simbol harapan.
Ia melangkah masuk ke dalam. Ruang pelayanan di lantai
dasar tampak rapi. Beberapa staf masih bekerja di meja masing-masing,
menyelesaikan administrasi sore. Siti, operator desa yang setia, sedang duduk
di depan komputer, mengetik laporan.
"Pak Kades, masih di sini?" sapa Siti ramah.
Arjuna mengangguk. "Iya, Siti. Mau lihat-lihat
sebentar. Kamu belum pulang?"
"Sebentar lagi, Pak. Mau menyelesaikan laporan bulanan
dulu. Lima menit lagi selesai."
"Baik, nggak usah buru-buru. Saya juga mau ke ruang
server dulu."
Arjuna naik ke lantai dua, menuju ruang server. Ruangan itu
bersih dan sejuk, dengan pendingin udara yang menjaga suhu tetap stabil agar
perangkat keras awet. Rak-rak server berjejer rapi, lampu-lampu indikator
berkedip hijau, menandakan semua berfungsi normal. Layar-layar monitor di
dinding menampilkan berbagai data: kependudukan, keuangan, pembangunan,
kesehatan, pendidikan, dan yang terbaru, data kebencanaan dan peringatan dini.
Sistem AMAT, Aplikasi Manajemen Administrasi Terpadu, kini
telah berevolusi menjadi platform super yang mengintegrasikan semua aspek
kehidupan desa. Warisan Si Amat telah berkembang jauh melampaui imajinasi sang
perintis.
Arjuna berhenti sejenak di depan sebuah bingkai foto lama
yang tetap terpajang di dinding, di tempat terhormat. Foto hitam-putih seorang
lelaki tua dengan kumis tipis, duduk di depan komputer jadul, barangkali
komputer pertama di desa itu, sambil tersenyum. Matanya berbinar, seperti orang
yang melihat masa depan. Itulah Si Amat. Kakeknya. Admin legendaris yang
membangun fondasi desa digital dari nol, dengan keterbatasan, dengan
perjuangan, dengan cinta.
Arjuna menatap foto itu lama. Matanya terasa hangat,
dadanya bergetar haru. Ia ingat semua cerita yang dituturkan ayahnya tentang
kakek itu. Tentang bagaimana Si Amat begadang sampai larut malam hanya untuk
memasukkan data warga satu per satu, mengetik dengan dua jari, sabar dan
teliti. Tentang bagaimana ia berkeliling desa dengan sepeda bututnya, mendata
warganya secara manual, lalu mencatatnya dalam buku besar. Tentang bagaimana ia
membangun sistem sederhana yang kemudian menjadi cikal bakal AMAT.
"Kakek... sistemnya selamat," bisik Arjuna pelan,
suaranya bergetar. "Datanya aman. Semua data warga tersimpan rapi,
terintegrasi, bisa diakses kapan saja. Kami bahkan sudah punya server cadangan
di cloud. Lebih canggih dari yang Kakek bayangkan dulu."
Ia berhenti, menarik napas, lalu melanjutkan, "Tapi
yang lebih penting, Kakek... warganya juga selamat. Kami semua selamat. Ada
yang luka, ada yang kehilangan harta benda. Tapi jiwa mereka, semangat mereka,
hanya ada dua yang meninggal. Mereka
semua sehat, mereka semua bangkit, mereka semua tersenyum lagi."
Air mata mulai menggenang di sudut mata Arjuna. "Kakek,
waktu badai datang, saya takut. Saya takut gagal menjaga warisan Kakek. Saya
takut desa ini hancur dan tak bisa bangkit lagi. Tapi lihatlah sekarang, Kakek.
Desa ini berdiri lebih kuat, lebih tangguh. Rumah-rumah warga baru, lebih kokoh
dari sebelumnya. Balai desa baru, lebih megah dari sebelumnya. Sistem
peringatan dini baru, lebih canggih dari sebelumnya."
Ia mengusap matanya dengan punggung tangan. "Tapi yang
paling membanggakan, Kakek, semangat gotong royongnya tetap hidup. Warga saling
membantu, saling menguatkan. Tidak ada yang merasa sendiri. Semua merasa
bersaudara. Itu yang Kakek tanamkan dulu, kan? Bahwa desa ini adalah keluarga.
Bahwa kita harus saling menjaga."
Arjuna tersenyum, meski air matanya terus mengalir.
"Saya hanya meneruskan apa yang Kakek mulai. Saya hanya berusaha menjadi
seperti Kakek: tidak banyak bicara, banyak bekerja. Hadir di tengah warga,
merasakan apa yang mereka rasakan. Itu kunci, Kakek. Itu yang saya pelajari
dari cerita-cerita tentang Pakde."
Ia memandang foto itu sekali lagi. "Terima kasih,
Kakek. Terima kasih untuk fondasinya. Terima kasih untuk warisannya. Terima
kasih untuk inspirasinya. Saya akan terus menjaga desa ini. Saya akan terus
merawat sistem ini. Saya akan terus melayani warga ini. Sampai kapan pun.
Sampai saya tua nanti. Sampai anak saya nanti yang meneruskan."
Foto itu diam. Tapi Arjuna merasa kakeknya tersenyum lebih
lebar. Mungkin itu hanya perasaannya. Mungkin juga benar-benar ada roh yang
menjaga desa ini. Yang jelas, ada kehangatan yang menjalar di dadanya,
keyakinan bahwa ia berada di jalan yang benar.***
Arjuna berpaling dari foto itu, berjalan menuju jendela. Ia
membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin sore masuk. Udara segar memenuhi
ruangan. Ia memandang ke luar, ke langit yang kembali lembayung.
Di luar sana, pemandangan indah terbentang. Sawah-sawah
mulai menguning, siap panen. Rumah-rumah baru berjajar rapi dengan cat
warna-warni. Jalan-jalan beraspal mulus dilalui orang-orang yang pulang kerja.
Anak-anak bermain bola di lapangan. Ibu-ibu duduk-duduk di teras sambil
mengobrol. Warung kopi mulai ramai dikunjungi warga yang ingin bersantai.
Di kejauhan, Arjuna melihat sekelompok anak sekolah
berjalan pulang dengan seragam putih merah. Mereka tertawa, bercanda, sesekali
berlarian. Di antara mereka, Arjuna melihat Joko dan Wati, anak Bu Sumi, yang
ikut bergabung. Mereka terlihat bahagia, seperti tak pernah mengalami trauma
enam bulan lalu.
Arjuna tersenyum. Itulah anak-anak. Mereka adalah masa
depan. Mereka adalah bukti bahwa kehidupan terus berjalan, bahwa harapan tak
pernah padam, bahwa desa ini akan terus hidup, dari generasi ke generasi.
Sama seperti senja yang tak pernah gagal datang setelah
siang bergulir, Desa Awan Biru kini berdiri lebih kuat. Bukan hanya sebagai
desa digital yang menjadi model bagi desa-desa lain di Kabupaten Awan Jingga,
bahkan di provinsi. Bukan hanya sebagai desa tangguh bencana yang sistem
peringatan dininya ditiru oleh daerah lain. Tapi sebagai desa yang telah
belajar dari badai.
Desa yang paham bahwa kemajuan sejati bukan hanya soal
teknologi, bukan hanya soal infrastruktur, bukan hanya soal anggaran besar.
Tapi soal jiwa yang tak tumbang oleh angin. Soal kebersamaan yang tak lekang
oleh waktu. Soal gotong royong yang tak luntur oleh modernitas. Soal
kemanusiaan yang tetap tegak meski segalanya runtuh.
Itulah Desa Awan Biru. Desa yang tumbuh di atas awan
digital, tetapi berakar kuat di bumi kemanusiaan.***
Matahari semakin condong ke barat. Warna jingga berubah
menjadi ungu tua, pertanda malam akan segera tiba. Lampu-lampu jalan mulai
menyala satu per satu, menerangi desa dengan cahaya hangat. Suara azan Maghrib
berkumandang dari masjid desa, mengajak warga untuk bersujud syukur.
Arjuna masih berdiri di jendela, menikmati momen itu.
Istrinya, Kirana, masuk ke ruangan tanpa suara. Ia berdiri di samping Arjuna,
ikut memandang ke luar.
"Mas, sudah Maghrib. Ayo pulang, shalat dulu,"
ajak Kirana lembut.
Arjuna menoleh, tersenyum. "Iya, sebentar. Nikmati
dulu pemandangannya."
Kirana tersenyum. "Indah ya, Mas. Desa kita."
"Sangat indah. Lebih indah dari sebelumnya."
"Mungkin karena kita melewati masa sulit bersama-sama.
Jadi lebih menghargai."
"Betul. Dulu kita ambil semuanya for granted. Sekarang
kita tahu, semua bisa lenyap dalam 15 menit. Makanya kita harus bersyukur
setiap hari."
Kirana mengangguk. Lalu ia bertanya, "Mas, kamu nangis
ya tadi? Matamu merah."
Arjuna tersenyum malu. "Kamu perhatian banget sih. Iya,
tadi ngobrol sama foto Kakek. Sedikit terharu."
Kirana meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat.
"Kakek pasti bangga sama kamu, Mas. Kamu sudah melanjutkan perjuangannya
dengan baik. Lebih dari baik."
Arjuna menghela napas. "Semoga, Lan. Semoga Kakek
melihat dari sana dan tersenyum."
"Pasti."
Mereka berdua diam, menikmati kebersamaan. Lalu Kirana
berkata lagi, "Mas, nanti malam ada acara apa? Kok kelihatannya warga pada
sibuk?"
Arjuna tersenyum. "Oh, itu. Karang taruna ngadain
pasar malam dadakan. Minggu pertama setelah semua rumah selesai dibangun. Kata
mereka, ini syukuran desa. Semua warga diundang."
"Wah, seru dong. Ayo kita ikut."
"Tentu. Nanti habis Isya kita ke sana. Saya lihat
mereka sudah menyiapkan lampu-lampu warna-warni dari pagi."
Kirana bersemangat. "Asyik! Aku beli jajanan ya.
Kangen jajan pasar."
Arjuna tertawa. "Ibu-ibu, sukanya jajan."
"Lha iya, namanya juga perempuan. Ayo, Mas, pulang
dulu. Mandi, shalat, ganti baju, terus ke pasar malam."
"Iya, iya. Ayo."
Mereka berdua meninggalkan ruang server. Sebelum keluar,
Arjuna menoleh sekali lagi ke foto Si Amat. Ia tersenyum, melambaikan tangan
kecil. "Kakek, saya mau ke pasar malam dulu. Nggih, nderek rumiyin."
Foto itu diam. Tapi Arjuna yakin, kakeknya mengangguk.***
Malam turun dengan sempurna. Langit gelap bertabur bintang,
ditemani bulan sabit tipis yang tersenyum malu-malu. Di lapangan desa, pasar
malam dadakan mulai ramai. Lampu-lampu warna-warni dipasang di setiap tenda,
menciptakan suasana meriah. Aroma jajanan tercium semarak: gorengan, bakso,
siomay, cilok, jagung bakar, sate, dan puluhan jenis makanan lainnya. Musik dangdut
koplo diputar dari pengeras suara, tidak terlalu keras, hanya sebagai latar.
Warga berdatangan berbondong-bondong. Mereka datang dengan
pakaian santai, ada yang bawa anak, ada yang bawa pasangan, ada yang datang
sendiri tapi langsung bergabung dengan kelompok. Suasana hangat dan akrab,
seperti keluarga besar yang sedang berkumpul.
Arjuna dan Kirana tiba sekitar pukul 19.30. Mereka langsung
disambut oleh warga.
"Pak Kades! Bu Kades! Mari mampir!" teriak
seorang ibu penjual gorengan.
"Iya, Bu, nanti kita muter dulu," jawab Wulan
riang.
Mereka berjalan menyusuri lapak-lapak. Kirana matanya
langsung tertuju pada lapak jajanan pasar. "Mas, lihat itu, ada getuk! Aku
beli ya?"
Arjuna tertawa. "Belilah, Sayang. Ini waktunya kamu
jajan."
Kirana segera membeli getuk lindri, lalu lupis, lalu
klepon, lalu cenil. Tangannya penuh bungkusan. Arjuna hanya menggeleng-geleng
sambil tersenyum.
Di tengah keramaian, mereka bertemu Bu Sumi dengan kedua
anaknya. Bu Sumi juga ikut berjualan, gorengan buatannya laris manis.
"Bu Sumi, ramai ya dagangannya?" sapa Kirana.
Bu Sumi tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Bu Kades.
Laris manis. Wong-wong pada seneng gorenganku. Ini berkat modal dari
koperasi."
"Syukurlah, Bu. Semoga makin laris."
Joko dan Wati, anak Bu Sumi, berlari mendekat. "Pak
Kades! Bu Kades!" seru mereka kompak.
Arjuna mengusap rambut mereka. "Wah, lagi
seneng-seneng, ya?"
"Iya, Pak! Tadi aku main kelereng, menang terus!"
kata Joko bangga.
"Aku main lompat tali, juga menang!" timpal Wati.
Arjuna tertawa. "Hebat-hebat. Kalau menang terus,
nanti jadi juara ya."
Wati tiba-tiba menarik lengan Arjuna. "Pak Kades, Pak
Kades, lihat itu! Ada panggung! Katanya nanti ada lomba menyanyi. Aku mau ikut,
tapi takut."
Arjuna berjongkok, menyamakan tinggi dengan Wati.
"Kamu takut? Padahal kamu suka nyanyi, kan?"
"Iya, suka. Tapi kalau di depan orang banyak,
grogi."
Arjuna tersenyum. "Wati, denger ya. Keberanian itu
bukan tidak takut. Keberanian itu tetap melakukan meskipun takut. Coba ikut,
nanti Om dukung dari bawah. Oke?"
Wati menatap Arjuna, lalu mengangguk mantap. "Oke, Pak
Kades! Aku ikut!"
Joko ikut semangat. "Aku juga ikut, Pak! Lomba nyanyi
apa?"
"Katanya lomba nyanyi lagu daerah. Kalian bisa,
kan?"
Bersama-sama mereka menjawab, "Bisa!"***
Lomba menyanyi pun dimulai. Panggung sederhana di ujung
lapangan, dengan lampu-lampu darurat sebagai penerangan. Anak-anak naik satu
per satu, menyanyi dengan gaya masing-masing. Ada yang grogi, ada yang percaya
diri, ada yang lupa lirik, ada yang malah nari-nari.
Giliran Wati tiba. Ia naik ke panggung dengan tangan
sedikit gemetar. Mikrofon di tangannya terasa berat. Ia menatap kerumunan,
mencari Arjuna. Di barisan depan, Arjuna melambai, memberi semangat. Ibu Sumi
di sampingnya, berdoa dengan khusyuk.
Wati menarik napas panjang. Lalu ia mulai menyanyi. Lagu
"Gundul-Gundul Pacul", lagu dolanan anak yang sederhana. Suaranya
malu-malu di awal, tapi makin lama makin mantap. Ia bahkan mulai bergoyang
kecil, mengikuti irama.
Gundul-gundul pacul cul, gembelengan...
Nyunggi nyunggi wakul kul, gembelengan...
Wakul ngglimpang segané dadi sak latar...
Wakul ngglimpang segané dadi sak latar...
Penonton bertepuk tangan, ikut bernyanyi. Suasana meriah.
Wati makin percaya diri. Ia menyelesaikan lagu dengan penuh semangat, lalu
membungkuk hormat.
Tepuk tangan riuh rendah. Wati tersenyum lebar, melambai
pada Arjuna. Arjuna mengacungkan dua jempol.
Joko naik berikutnya. Ia menyanyi lagu "Cublak-Cublak
Suweng" dengan gaya kocak. Ia bergerak-gerak lucu, membuat penonton
tertawa. Ia juga mendapat tepuk tangan meriah.
Selesai lomba, dewan juri, terdiri dari guru dan tokoh
masyarakat, mengumumkan pemenang. Wati mendapat juara ketiga, Joko juara
harapan. Mereka melompat kegirangan, berlari memeluk ibu mereka, lalu berlari
memeluk Arjuna.
"Pak Kades! Aku juara! Aku juara!" teriak Wati.
Arjuna menggendongnya, memutar-mutar. "Selamat, Wati!
Om bangga sama kamu!"
Joko juga ikut dipeluk. "Kamu juga hebat, Joko!"
Bu Sumi menangis haru melihat anak-anaknya bahagia. Kirana
memeluknya. "Bu Sumi, ini semua berkat perjuangan ibu juga."
Bu Sumi mengangguk, masih menangis. Tapi itu tangis
bahagia. Tangis syukur. Tangis kemenangan.***
Setelah lomba selesai, warga mulai berkumpul di tengah
lapangan. Api unggun dinyalakan, tradisi lama yang dihidupkan kembali. Warga
duduk melingkar, bernyanyi bersama, bercerita, tertawa. Suasana hangat dan
akrab, seperti pesta keluarga besar.
Arjuna duduk di antara warga. Di sampingnya Pak Karyo, di
depan Bu Sumi, di belakang anak-anak yang masih berlarian. Ia memandangi
wajah-wajah di sekelilingnya. Wajah-wajah yang enam bulan lalu penuh trauma,
kini berseri-seri. Wajah-wajah yang dulu basah oleh air mata, kini basah oleh
keringat kebahagiaan.
Pak Karyo mendekat. "Pak Kades, ini wedang jahe.
Hangat, cocok kanggo ngademke badan."
Arjuna menerima, menyesap pelan. "Wah, enak, Pak.
Terima kasih."
"Pak Kades, kula arep ngomong opo ya. Rasane kaya ora
nyangka. Enem wulan kepungkur, kabeh iki mung puing. Saiki... kaya
ngimpi."
"Bukan mimpi, Pak Karyo. Ini nyata. Ini hasil kerja
keras kita semua."
"Inggih, Pak. Kadang kula mriyak awak dhewe, apa iya
iki nyata. Ndelok omah anyar, ndelok anak-anak pada seneng, ndelok desa ayem
tentrem. Kaya urip maneh."
Arjuna tersenyum. "Kita memang hidup lagi, Pak Karyo.
Setelah mati suri. Setelah hampir menyerah. Tapi kita memilih untuk bangkit.
Itulah manusia. Itulah kita."
Pak Karyo mengangguk mantap. Lalu ia berdiri, berjalan ke
tengah lingkaran. Ia meminta mikrofon.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, sedulur-sedulur kabeh... kula
arep ngomong sethithik," ucapnya dengan suara parau tapi lantang.
Semua warga diam, memperhatikan.
"Kula mung petani biasa. Ora pinter ngomong. Tapi dina
iki, ati kula kebak rasa syukur. Kita wis liwati masa-masa angel. Kita wis
kelangan omah, kelangan bandha, malah ana sedulur sing kelangan nyawa. Ning
kita ora kelangan siji perkara: kebersamaan."
Warga bertepuk tangan. Pak Karyo melanjutkan, "Kita
iso ngadeg maneh merga kita bebarengan. Ora ana sing ninggal liyan. Sing kuwat
nulungi sing ringkih. Sing duwe wektu nyumbang tenaga. Sing duwe materi
nyumbang dhuwit. Iku sing nggawe desa iki urip maneh."
Matanya mencari Arjuna di kerumunan. "Lan kabeh iki
ora lepas saka pemimpin kita, Pak Arjuna. Pak Kades sing wis ngawiti, nuntun,
lan nguwatke kita kabeh. Pak Kades sing ora tau kesel, ora tau ngeluh, tansah
ana neng ngarep. Pak Kades sing neruske perjuangane Mbah Amat, mbah buyute desa
iki."
Semua mata tertuju pada Arjuna. Tepuk tangan makin riuh.
Beberapa warga berteriak, "Hidup Pak Kades! Hidup Awan Biru!"
Arjuna berdiri, tersipu malu. Ia melambaikan tangan,
membungkuk hormat. Tapi hatinya terharu, dadanya penuh.
Pak Karyo melanjutkan, "Mula, sedulur-sedulur... ayo
padha njaga kebersamaan iki. Terusna gotong royong. Terusna rukun. Ojo nganti
pedhot. Awak dhewe iki sedulur, sakturun-turunane. Awan Biru iki omah kita, kanggo
salawase."
Warga bersorak, bertepuk tangan lagi. Lalu spontan, mereka
mulai menyanyi. Lagu "Yamko Rambe Yamko" dari Papua, tapi liriknya
diubah jadi tentang Awan Biru.
Awan Biru desa kami...
Bangkit dari badai...
Bersatu kita teguh...
Bercerai kita runtuh...
Hei... hei... hei...
Mereka menyanyi dengan penuh semangat, bergandengan tangan,
membentuk lingkaran besar di sekitar api unggun. Api menjilat-jilat ke atas,
menerangi wajah-wajah bahagia. Malam itu, desa kecil di lereng bukit itu
menjadi pusat kebahagiaan.***
Arjuna ikut bernyanyi, ikut bergandengan. Di samping
kanannya Kirana, di samping kirinya Pak Karyo. Di seberang, Bu Sumi dengan
anak-anaknya, Mbah Dullah dengan tongkatnya, Bu RT 05 dengan semangatnya, Joko
dengan seragam oranyenya, dan semua warga yang dikenalnya satu per satu.
Ia memandang langit malam. Bintang-bintang berkelip,
seperti ikut merayakan. Bulan sabit tersenyum tipis. Dan di langit selatan,
rasi bintang waluku, tanda musim tanam, mulai terbit.
Ada yang berbisik di hatinya. Mungkin suara kakeknya.
Mungkin suara desa itu sendiri. Yang jelas, pesannya jelas:
Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik, cucuku. Sekarang,
teruslah berjalan. Desa ini akan selalu ada, selama kau dan wargamu bersatu.
Arjuna tersenyum. Air matanya mengalir, tapi ia tak
menyekanya. Biar saja. Ini air mata syukur. Ini air mata kemenangan.
Di tengah nyanyian yang makin semangat, di tengah api
unggun yang makin berkobar, di tengah kebersamaan yang tak terbendung, Arjuna
berbisik pada dirinya sendiri:
Kakek... kami sudah bangkit. Kami sudah pulih. Kami lebih
kuat dari sebelumnya. Dan kami akan terus seperti ini, selama-lamanya. Sampai
anak cucu kami nanti. Sampai Awan Biru menjadi legenda.
Api unggun menyala terang. Nyanyian makin lantang. Tawa
makin riuh. Dan Desa Awan Biru, yang enam bulan lalu hancur lebur, kini berdiri
tegak, tersenyum pada dunia.
Prahara telah lewat. Dan yang tersisa bukan hanya desa yang
bangkit, tapi keluarga yang tak terpisahkan.
Tamat
Sinopsis Penulis
Slamet Riyadi lahir
di Tegorejo pada 30 Oktober 1973. Berprofesi sebagai petani dan pekebun, ia
tumbuh dengan semangat kemandirian, kerja keras, serta kedekatan dengan
kehidupan masyarakat desa. Pengalaman panjangnya dalam dinamika sosial pedesaan
membentuk kepeduliannya terhadap pembangunan berbasis komunitas dan literasi
desa.
Sejak tahun 2023,
Slamet Riyadi aktif menulis artikel desa sebagai bentuk kontribusi nyata dalam
mendokumentasikan kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan sejarah lokal. Ia
dipercaya menjadi Admin Website Desa di beberapa wilayah, yakni Desa Sriwidadi
(Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah), Desa Dabulon
(Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara), serta Desa Sapari
(Kecamatan Muruk Rian, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara).
Melalui perannya
tersebut, ia berkomitmen memperkuat literasi informasi desa, transparansi
pemerintahan, serta publikasi kegiatan pembangunan agar dapat diakses secara
luas oleh masyarakat. Saat ini, Slamet Riyadi mengemban amanah sebagai Kepala
Seksi (Kasi) Pemerintahan Desa Sriwidadi. Dedikasinya dalam administrasi
pemerintahan desa sekaligus dunia kepenulisan menjadikannya figur yang
konsisten mendorong dokumentasi sejarah, tata kelola desa yang akuntabel, serta
penguatan identitas lokal melalui tulisan.







0 komentar:
Posting Komentar