Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid
Novelet Serial Abunawas Edisi I Kecerdikan Akal dan Logika
Episode 3: Jejak Bayangan di Pasar Malam Baghdad
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG: BISIKAN DALAM KERAMAIAN
Pasar malam Baghdad adalah jantung kota yang berdetak
paling keras ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Tidak seperti pasar siang
yang sibuk dengan transaksi cepat dan terburu-buru, pasar malam memiliki
denyutnya sendiri—lebih lambat, lebih menggoda, lebih penuh dengan rahasia yang
tersembunyi di balik cahaya lampu minyak yang berkelap-kelip.
Di sinilah Baghdad menampakkan wajahnya yang paling hidup.
Di sinilah para saudagar dari berbagai penjuru dunia—dari Cina yang jauh hingga
Andalusia yang hijau, dari Hindi yang penuh rempah hingga Romawi yang
dingin—berkumpul untuk menawarkan barang-barang paling langka dan paling indah.
Sutra dari Khurasan yang lembut seperti awan, permata dari Yaman yang bercahaya
seperti matahari kecil, rempah-rempah dari Maluku yang aromanya bisa tercium
hingga seberang sungai, kuda-kuda dari padang rumput utara yang gagah dan
cepat, budak-budak cantik dari negeri-negeri taklukan dengan mata yang sayu dan
senyum yang dipaksakan.
Pasar malam Baghdad adalah lautan manusia yang
bergelombang. Setiap malam, ribuan orang membanjiri lorong-lorong sempit yang
berkelok-kelok di antara ribuan tenda dan kios kayu. Suara tawar-menawar
bercampur dengan suara gelak tawa, suara penyanyi jalanan yang memetik kecapi,
suara penjual kopi yang berteriak menawarkan dagangannya, suara anak-anak yang
berlarian di antara kaki-kaki orang dewasa. Lampu-lampu minyak dari ribuan kios
menciptakan ilusi langit berbintang di permukaan bumi, sementara aroma dupa,
rempah, daging panggang, dan kemenyan bercampur menjadi satu kesatuan yang
memabukkan.
Di sinilah, di tengah lautan manusia yang paling ramai di
seluruh kekhalifahan, kejahatan terjadi. Bukan kejahatan dengan pedang terhunus
atau teriakan peringatan. Bukan perampokan dengan kekerasan atau pembunuhan di
malam buta. Kejahatan yang terjadi di pasar malam Baghdad adalah kejahatan yang
lebih halus, lebih licin, lebih… tak terlihat.
Barang-barang berharga menghilang. Sebuah kalung mutiara
dari telapak tangan seorang saudagar kaya, hilang di sela-sela keramaian.
Sebuah dompet berisi seratus dinar dari saku seorang pejabat yang sedang
berbelanja untuk istrinya, lenyap tanpa ia sadari. Sepotong emas batangan dari
peti seorang pedagang yang sedang sibuk melayani pembeli, raib seolah-olah
ditelan bumi. Sebuah keris pusaka dari pinggang seorang bangsawan, yang sedetik
sebelumnya masih terasa berat di ikat pinggangnya, tiba-tiba tidak ada ketika
tangannya meraba.
Dan yang paling aneh, yang paling membingungkan, yang
paling membuat semua orang gelisah: tidak ada satu pun yang melihat pencurinya.
Bukan karena mereka buta. Bukan karena mereka lalai. Tetapi
karena pencurian itu terjadi begitu mulus, begitu sempurna, begitu… alami.
Seperti air yang mengalir di sungai. Seperti angin yang bertiup di padang
pasir. Seperti bayangan yang bergerak di dinding. Ada, lalu tidak ada. Tanpa
jejak. Tanpa suara. Tanpa bekas.
Para pedagang saling menuduh. Para pembeli saling curiga.
Para penjaga pasar yang ditugaskan Baginda Raja sendiri untuk menjaga keamanan,
berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas, tidak tahu harus berbuat apa. Mereka
telah menangkap beberapa orang yang dicurigai, memeriksa barang-barang mereka,
bahkan menyiksa beberapa untuk mengaku. Tidak ada yang ditemukan. Tidak ada
yang mengaku.
Kabar tentang pencurian misterius di pasar malam menyebar
ke seluruh Baghdad seperti api di padang rumput kering. Bukan hanya karena
nilai barang yang hilang—meskipun itu juga besar—tetapi karena ketakutan yang
menyertainya. Jika pencuri bisa mengambil barang dari tangan seseorang tanpa
orang itu menyadari, lalu siapa yang aman? Jika pencuri bisa beroperasi di
tengah ribuan orang tanpa ada yang melihat, lalu di mana batas antara keramaian
dan kesepian? Jika pencuri ini adalah bayangan, lalu bagaimana cara menangkap
bayangan?
Ketakutan itu akhirnya sampai ke telinga Baginda Raja Harun
Al-Rasyid. Bukan melalui laporan resmi dari para pejabat—mereka masih berusaha
menyelesaikan sendiri sebelum melapor ke istana—tetapi melalui istrinya, Putri
Zubaidah, yang mendengar cerita dari dayang-dayangnya yang pergi ke pasar untuk
membeli wewangian.
Pada suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang di
atas Baghdad, menerangi kubah-kubah emas istana dengan cahaya perak yang
dingin, Baginda Raja Harun Al-Rasyid sedang duduk di ruang pribadinya, ditemani
oleh Jafar dan beberapa orang kepercayaan lainnya. Mereka sedang membahas
laporan dari provinsi utara tentang serangan belalang yang mengancam panen,
ketika pintu terbuka dan Putri Zubaidah masuk dengan langkah tergesa-gesa.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat alis. Zubaidah
jarang datang ke ruang pribadinya pada jam seperti ini, apalagi dengan wajah
yang menunjukkan kegelisahan seperti yang ia lihat sekarang.
"Zubaidah," sapanya, "ada apa? Apakah
sesuatu terjadi?"
Zubaidah duduk di kursi di samping suaminya, menarik napas
panjang sebelum berbicara. "Baginda, pasar malam Baghdad sedang tidak
aman. Barang-barang rakyat hilang tanpa sebab. Para pedagang ketakutan. Mereka
bilang ada pencuri bayangan yang tidak bisa dilihat."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengerutkan kening.
"Pencuri bayangan? Apa itu?"
Zubaidah menggeleng. "Entahlah, Baginda. Tapi
dayang-dayangku takut pergi ke pasar. Mereka lebih memilih menyuruh orang lain
untuk berbelanja. Dan para saudagar, kata mereka, mulai mengurangi dagangan
karena takut kehilangan. Ada yang sudah tidak berani membuka kios lagi. Pasar
malam, yang dulu paling ramai, kini mulai sepi."
Jafar yang mendengar itu segera berdiri. "Baginda, aku
akan perintahkan para penjaga pasar untuk meningkatkan patroli. Aku akan kirim
penyelidik untuk mencari tahu siapa pencuri itu. Ini hanya masalah waktu,
Baginda. Pencuri biasa. Tidak perlu—"
"Duduk, Jafar," potong Harun Al-Rasyid dengan
suara tenang tetapi tegas. Jafar duduk kembali, meskipun kegelisahannya tidak
berkurang.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap istrinya dengan mata
yang lembut. "Zubaidah, ceritakan lebih detail. Apa yang dayang-dayangmu
lihat? Apa yang mereka dengar?"
Zubaidah menghela napas. "Baginda, dayangku yang
paling tua, Ummu Salamah, pergi ke pasar dua malam lalu untuk membeli wewangian
dari Persia yang biasa aku gunakan. Ia bilang, pasar sedang ramai seperti
biasa. Tapi ada sesuatu yang aneh. Ia melihat seorang saudagar menangis di
kiosnya. Sepuluh gulung sutra terbaiknya hilang. Hilang begitu saja. Tidak ada
yang melihat. Tidak ada yang tahu bagaimana. Saudagar itu sudah tiga hari tidak
bisa tidur, katanya. Ia takut kehilangan lebih banyak lagi."
"Sepuluh gulung sutra?" Baginda Raja Harun
Al-Rasyid mengulang, matanya menyipit. "Itu bukan barang kecil. Tidak
mungkin diambil tanpa dilihat."
"Itulah yang aneh, Baginda," kata Zubaidah.
"Ummu Salamah bilang, malam itu sangat ramai. Banyak orang datang dan
pergi. Saudagar itu sibuk melayani. Ketika semua orang pergi, ia baru sadar
bahwa sutranya sudah tidak ada. Ia bertanya kepada tetangga kiosnya, mereka
juga tidak melihat. Ia bertanya kepada penjaga pasar, mereka tidak tahu. Semua
orang sibuk dengan urusannya sendiri. Tidak ada yang memperhatikan."
Bainda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab segera. Ia duduk
di singgasananya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan singgasana dengan irama
yang lambat—tanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras. Jafar yang sudah
mengenalnya sejak kecil, tahu bahwa Baginda Raja sedang mempertimbangkan
sesuatu dengan sangat serius.
"Jafar," panggilnya akhirnya.
"Baginda?"
"Apakah kau mendengar tentang pencurian di pasar malam
sebelum ini?"
Jafar mengangguk, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
"Aku sudah mendengar, Baginda. Beberapa laporan sudah masuk ke kantorku.
Tapi aku pikir itu hanya pencurian biasa. Pencuri pasar. Tidak perlu mengganggu
Baginda. Aku sudah perintahkan para penjaga untuk menyelidiki."
"Dan hasilnya?"
Jafar terdiam sejenak. "Para penjaga belum menemukan
apa-apa, Baginda. Mereka sudah menangkap beberapa orang yang dicurigai,
memeriksa barang-barang mereka, bahkan menyiksa beberapa untuk mengaku. Tidak
ada yang ditemukan. Tidak ada yang mengaku. Para pencuri itu… sepertinya sangat
terlatih. Atau mungkin… tidak ada."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri, berjalan ke jendela
yang menghadap ke arah pasar malam. Di kejauhan, di balik tembok istana, ia
bisa melihat cahaya redup dari pasar malam yang masih menyala meskipun sudah
lewat tengah malam. Biasanya, pada jam seperti ini, pasar masih ramai. Tapi
malam ini, cahayanya lebih sedikit. Lebih redup. Seperti jantung yang berdetak
lebih lambat dari biasanya.
"Pencurian biasa?" gumamnya. "Pencuri biasa
tidak akan meninggalkan jejak yang tidak bisa ditemukan. Pencuri biasa tidak
akan membuat seluruh pasar ketakutan. Pencuri biasa tidak akan… menjadi
bayangan."
Ia berbalik menghadap Jafar. Matanya tajam, seperti elang
yang sedang mengintai mangsa.
"Jafar, ini bukan pencurian biasa. Ini sesuatu yang
lain. Sesuatu yang lebih terorganisir. Lebih terlatih. Lebih… pintar. Dan kita,
Jafar, tidak bisa melawan kepintaran dengan kekuatan. Kita harus melawan
kepintaran dengan… kepintaran yang lain."
Jafar menghela napas. Ia sudah tahu nama itu akan keluar.
Ia sudah merasakannya sejak Zubaidah masuk ke ruangan ini dengan wajah gelisah.
Ia sudah tahu bahwa pada akhirnya, setiap masalah yang tidak bisa dipecahkan
oleh kekuatan dan kekuasaan akan berujung pada satu orang.
"Abu Nawas, Baginda?" katanya, meskipun itu bukan
pertanyaan.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. Senyum yang jarang
ia tunjukkan di depan para pejabat istana, tetapi sering ia tunjukkan ketika
berbicara tentang Abu Nawas.
"Abu Nawas," katanya. "Siapa lagi yang bisa
membaca rahasia di balik keramaian selain orang yang paling paham tentang
keramaian? Siapa lagi yang bisa melihat bayangan di tengah cahaya selain orang
yang paling sering duduk di kegelapan? Siapa lagi yang bisa menangkap pencuri
tanpa pedang selain orang yang senjatanya adalah… tawa?"
Jafar tersenyum tipis, meskipun di dalam hatinya ia sudah
membayangkan kekacauan yang akan terjadi jika Abu Nawas dibawa ke istana di
tengah malam. Ia membayangkan Abu Nawas akan datang dengan mata masih setengah
tertidur, jubah lusuh, rambut acak-acakan, dan langsung meminta kurma sebelum
mendengar apa pun. Ia membayangkan Abu Nawas akan tertawa mendengar cerita
tentang pencuri bayangan, lalu berkata bahwa mungkin pencuri itu adalah jin
atau setan atau hantu, dan satu-satunya cara untuk menangkapnya adalah dengan
mengundang seorang dukun. Ia membayangkan Abu Nawas akan membuat Baginda Raja
tertawa di tengah kekhawatiran, membuat para menteri geli, membuat semua orang
lupa bahwa mereka sedang menghadapi krisis.
Tapi ia juga tahu bahwa di balik semua kekonyolan itu, Abu
Nawas memiliki kemampuan untuk melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Dan
kali ini, Baginda Raja tidak membutuhkan pasukan bersenjata. Baginda Raja
membutuhkan mata yang bisa melihat kebenaran di balik keramaian.
"Baginda," kata Jafar, "apakah aku harus
mengirim utusan untuk memanggilnya? Sekarang? Sudah lewat tengah malam."
"Panggil dia," kata Harun Al-Rasyid tanpa ragu.
"Tapi kali ini, jangan dengan ancaman. Jangan dengan prajurit bersenjata.
Jangan dengan perintah yang membuatnya berpikir bahwa aku akan memenggal kepalanya.
Kirim seseorang yang bisa membujuknya dengan cara yang halus. Kirim seseorang
yang bisa berbicara dengannya dengan akal, bukan dengan kekerasan."
Jafar mengangguk. "Akan kuutus Abdurrahman, sekretaris
pribadiku. Dia kenal Abu Nawas sejak lama. Mereka sering bertukar teka-teki di
kedai-kedai."
"Bagus." Harun Al-Rasyid berjalan ke meja rendah
di samping singgasananya, mengambil sebuah piring perak kecil berisi kurma
Sukkari yang mengilap seperti batu akik, dan sebuah gelas kristal berisi air
tajin yang dinginnya masih terlihat dari embun yang membasahi permukaan gelas.
Ia menyerahkan kedua benda itu kepada Jafar.
"Bawa ini," katanya. "Katakan padanya bahwa
aku ingin meminta bantuannya, bukan memerintahkannya. Katakan padanya bahwa ada
teka-teki di pasar malam yang hanya bisa dipecahkan olehnya. Katakan padanya
bahwa kurma ini dari kebun pribadiku, dan air ini dari sumur dalam yang airnya
hanya untuk keluargaku."
Jafar menerima piring dan gelas itu dengan hati-hati,
seolah-olah benda-benda itu terbuat dari kristal yang paling rapuh.
"Baginda benar-benar mengenal Abu Nawas."
"Untuk membuat Abu Nawas datang di tengah malam,"
kata Harun Al-Rasyid sambil kembali ke singgasananya, "kurma Sukkari dan
air tajin dingin tidak cukup. Kebebasan untuk tertawa sepuasnya di hadapan
raja—itu adalah hadiah yang lebih berharga dari emas. Dan Abu Nawas, Jafar,
adalah satu-satunya orang yang menghargai kebebasan lebih dari emas."
Ia berhenti, dan senyumnya menghilang, digantikan oleh
ekspresi serius yang membuat Jafar langsung menegang.
"Tapi, Jafar, sampaikan juga pesan ini: pasar malam
adalah jantung Baghdad. Jika jantung itu berhenti berdetak, seluruh kota akan
mati. Aku tidak bisa membiarkan rakyatku hidup dalam ketakutan. Aku tidak bisa
membiarkan para pedagang kehilangan mata pencaharian mereka. Aku tidak bisa
membiarkan bayangan-bayangan itu merusak apa yang telah dibangun oleh kakekku,
ayahku, dan aku sendiri. Jadi, beri tahu Abu Nawas: aku tidak hanya memintanya
untuk menemukan pencuri. Aku memintanya untuk mengembalikan kedamaian ke pasar
malam. Aku memintanya untuk… membuat orang-orang tertawa lagi."
Jafar membungkuk dalam-dalam. "Akan kusampaikan,
Baginda. Kata demi kata."
BAB 1: KASUS TANPA WAJAH
Abu Nawas sedang bermimpi tentang kurma.
Bukan mimpi biasa. Dalam mimpinya, ia berjalan di kebun
kurma yang tidak pernah berujung, dengan pohon-pohon kurma yang menjulang
tinggi ke langit, buah-buahnya bergelantungan seperti lampu-lampu emas di malam
hari. Setiap kali ia mengulurkan tangan, kurma itu jatuh tepat ke telapak tangannya,
manis, lembut, sempurna. Ia berjalan di antara pohon-pohon itu dengan tertawa
kecil, memakan kurma satu per satu, menikmati setiap gigitan, setiap kunyahan,
setiap rasa manis yang meleleh di lidahnya.
Ia baru saja akan mengambil kurma yang paling besar, kurma
yang bersinar seperti matahari kecil di hadapannya, ketika seseorang
mengguncang bahunya dengan keras.
"Abu Nawas! Abu Nawas! Bangun!"
Ia membuka matanya dengan malas. Wajah seorang pemuda yang
tidak ia kenal—mungkin utusan dari istana, pikirnya—berada tepat di hadapannya,
hanya sejengkal dari hidungnya. Lampu minyak di samping tempat tidurnya masih
menyala redup, menciptakan lingkaran cahaya kecil di tengah kegelapan kamar
kosnya yang hanya berisi tikar anyaman bambu yang sudah usang, sebuah bantal
kecil dari kapas yang sudah kempes, dan sebuah peti kayu kecil tempat ia
menyimpan barang-barang berharganya—yang isinya tidak lebih dari beberapa helai
pakaian lusuh dan sekantong kurma kering.
"Wahai pemuda," kata Abu Nawas dengan suara
serak, masih setengah tertidur, "apa kau tidak tahu bahwa membangunkan
seseorang di tengah mimpi tentang kurma adalah dosa yang tidak terampuni? Aku
baru saja akan memakan kurma terbesar yang pernah kulihat. Kurma itu sebesar
kepalaku sendiri. Mungkin lebih besar. Dan kau membangunkanku. Sekarang kurma
itu hilang. Kau harus bertanggung jawab. Kau harus memberiku kurma sebagai
gantinya. Kurma Sukkari. Dari kebun Baginda Raja. Bukan yang biasa."
Pemuda itu tersenyum canggung. "Tuan Abu Nawas, aku
utusan dari Wazir Jafar. Baginda Raja memanggil Tuan ke istana. Sekarang.
Dengan hormat."
Abu Nawas mengerjapkan mata. Ia menatap langit-langit
kamarnya yang berlubang di beberapa tempat, di mana cahaya bulan masuk melalui
celah-celah atap anyaman bambu. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara ayam
berkokok. Masih malam. Atau sudah pagi? Ia tidak bisa membedakannya. Yang ia
tahu, jam tidurnya terganggu. Dan jam tidur yang terganggu berarti esok harinya
ia akan mengantuk. Dan mengantuk berarti ia tidak bisa berpikir jernih. Dan
tidak bisa berpikir jernih berarti ia tidak bisa memecahkan teka-teki. Dan
tidak bisa memecahkan teka-teki berarti ia akan kehilangan kepala.
Itu, pikirnya, adalah rangkaian sebab-akibat yang sangat
tidak menguntungkan.
"Jam berapa ini?" tanyanya sambil mengucek mata.
"Lewat tengah malam, Tuan. Wazir Jafar bilang, Baginda
Raja memanggil Tuan dengan hormat. Kata Wazir Jafar, ada teka-teki di pasar
malam yang hanya Tuan yang bisa memecahkan. Kata Wazir Jafar, Baginda Raja
sudah menyiapkan kurma Sukkari dari kebun pribadi dan air tajin dari sumur
dalam. Kata Wazir Jafar, Baginda Raja juga memberi izin untuk Tuan tertawa
sepuasnya di hadapan Baginda tanpa harus khawatir kehilangan kepala."
Abu Nawas tertawa kecil. "Wazir Jafar benar-benar tahu
cara membujukku. Kurma Sukkari, air tajin, dan izin tertawa di hadapan raja.
Tiga hal yang tidak bisa kutolak. Apalagi ditambah dengan teka-teki. Teka-teki,
wahai pemuda, adalah makanan kedua setelah kurma. Bahkan mungkin lebih penting
dari kurma. Karena kurma mengenyangkan perut, tapi teka-teki mengenyangkan
jiwa. Dan jiwa yang lapar, percayalah, lebih menyedihkan daripada perut yang
lapar."
Ia duduk di tempat tidurnya, menguap lebar-lebar, dan
mengucek matanya sekali lagi. Wajahnya kusut, rambutnya acak-acakan, janggutnya
yang tidak pernah ia cukur rapi tumbuh semaunya sendiri. Ia terlihat seperti
orang yang baru bangun dari tidur panjang, yang memang benar terjadi.
"Baiklah," katanya. "Tapi sebelum aku pergi,
beri tahu Wazir Jafar bahwa aku minta satu hal lagi."
"Apa, Tuan?"
"Aku minta… waktu. Waktu untuk mandi. Atau setidaknya
membasuh muka. Karena wajahku sekarang, kalau dilihat Baginda Raja, beliau bisa
mengira aku adalah pencuri yang dicari-cari. Atau lebih buruk lagi, beliau bisa
mengira aku adalah mayat yang berjalan. Dan Baginda Raja, pemuda, tidak suka
melihat mayat berjalan di istananya. Itu mengganggu pemandangan."
Pemuda itu tertawa. "Baik, Tuan. Aku akan sampaikan."
Satu jam kemudian, setelah membasuh muka, merapikan jubah
lusuhnya—usaha yang sia-sia karena jubah itu memang tidak bisa dirapikan—dan
memasukkan beberapa butir kurma kering ke dalam sakunya untuk berjaga-jaga, Abu
Nawas sudah duduk di ruang pertemuan pribadi Baginda Raja.
Ruangan itu tidak seperti ruang singgasana yang megah
dengan tiang-tiang marmer dan langit-langit berukir emas. Ruang pertemuan
pribadi Baginda Raja lebih kecil, lebih intim, dengan dinding yang dilapisi
kain sutra biru tua, lantai marmer hitam yang dipoles hingga mengkilap, dan
jendela-jendela besar yang menghadap ke taman dalam. Di tengah ruangan, sebuah
singgasana kecil dari kayu cendana berukir duduk di atas panggung rendah. Di
sampingnya, sebuah meja rendah dari perak bertatahkan mutiara, di atasnya
terdapat teko kopi dari emas dan cangkir-cangkir kecil dari porselen Cina.
Malam itu, di atas meja itu, tidak ada teko kopi. Yang ada
adalah sepiring perak berisi kurma Sukkari yang mengilap seperti batu akik, dan
sebuah gelas kristal berisi air tajin yang dinginnya masih terlihat dari embun
yang membasahi permukaan gelas. Di sampingnya, sebuah catatan kecil yang
ditulis dengan tangan Jafar: "Untuk Abu Nawas, dengan hormat."
Abu Nawas mengambil catatan itu, membacanya, dan tersenyum.
Ia kemudian mengambil kurma, memasukkannya ke mulut, dan mengunyah dengan
nikmat. Air tajin ia hirup perlahan, menikmati dinginnya yang menyegarkan
tenggorokannya yang masih kering karena baru bangun tidur.
Di hadapannya, Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di
singgasana kecilnya dengan jubah pagi berwarna putih, tanpa mahkota, tanpa
perhiasan. Wajahnya tenang, tetapi matanya—matanya yang hitam pekat itu—menatap
Abu Nawas dengan intensitas yang membuat lelaki kurus itu merasa bahwa Baginda
Raja sedang tidak hanya melihatnya, tetapi membaca pikirannya.
"Abu Nawas," kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid,
"aku tidak akan memanggilmu di tengah malam jika tidak ada yang penting.
Tapi kau tahu itu. Kau tahu bahwa aku hanya memanggilmu di tengah malam jika
ada teka-teki yang tidak bisa dipecahkan oleh siapa pun. Dan kau selalu datang.
Meskipun kau mengeluh tentang mimpi kurmamu yang terganggu. Meskipun kau
meminta waktu untuk membasuh muka. Meskipun kau membawa kurma kering di sakumu
untuk berjaga-jaga. Kau selalu datang."
Abu Nawas menelan kurmanya, tersenyum lebar. "Baginda,
saya tidak keberatan dipanggil di tengah malam. Bahkan saya senang. Karena di
tengah malam, biasanya Baginda Raja lebih murah hati dengan kurmanya. Kurma
siang hari rasanya berbeda. Kurma siang hari terlalu sibuk. Ada urusan
kerajaan, ada laporan dari provinsi, ada tamu asing, ada penyair yang
membacakan syair-syair panjang yang tidak pernah selesai. Kurma siang hari
dimakan dengan terburu-buru, tanpa dinikmati. Tapi kurma malam hari, seperti
ini, lebih tenang, lebih meresap, lebih… filosofis. Saya bisa merasakan setiap
seratnya, setiap butir gulanya, setiap lapisan rasa yang tersembunyi di balik
manisnya. Kurma malam hari, Baginda, adalah kurma yang paling bijaksana."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. "Kau dan
kurmamu, Abu Nawas. Kau bisa membuat kurma terasa seperti nasihat bijak. Kau
bisa membuat kurma terasa seperti puisi. Kau bisa membuat kurma terasa seperti…
teka-teki."
"Kurma adalah teka-teki, Baginda. Kurma tidak pernah
berbohong. Kurma selalu manis jika waktunya tepat. Kurma selalu pahit jika
dipetik terlalu cepat. Seperti kebenaran, Baginda. Seperti keadilan. Seperti…
teka-teki di pasar malam."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas. Ia berdiri,
berjalan ke jendela yang menghadap ke arah pasar malam. Di kejauhan,
lampu-lampu pasar masih menyala, meskipun tidak sebanyak beberapa jam yang
lalu. Suara-suara yang tadinya riuh kini mulai mereda, berganti dengan
bisik-bisik yang lebih pelan, lebih misterius. Sesekali, terdengar teriakan seorang
penjaga yang sedang berpatroli, atau tangisan anak kecil yang tersesat, atau
tawa mabuk dari seseorang yang terlalu banyak minum anggur di kedai dekat
gerbang. Tapi secara keseluruhan, pasar malam mulai sepi. Mulai menarik napas
panjang setelah seharian berdenyut. Mulai bersiap untuk tidur.
"Abu Nawas," katanya, "beberapa pekan
terakhir, pasar malam Baghdad tidak aman. Barang-barang berharga menghilang
dari tangan para pedagang dan pembeli. Hilang begitu saja. Seperti ditelan
bumi. Seperti diambil oleh bayangan. Tidak ada yang melihat pencurinya. Tidak
ada yang bisa menjelaskan bagaimana itu terjadi. Para penjaga pasar sudah
berusaha. Mereka sudah menangkap beberapa orang, memeriksa, bahkan menyiksa.
Tidak ada yang ditemukan. Tidak ada yang mengaku."
Ia berbalik menghadap Abu Nawas, dan untuk pertama kalinya
malam itu, Abu Nawas melihat sesuatu di mata Baginda Raja yang belum pernah ia
lihat sebelumnya: kelelahan. Bukan kelelahan fisik, tetapi kelelahan jiwa.
Kelelahan seorang pemimpin yang tahu bahwa rakyatnya hidup dalam ketakutan,
tetapi tidak tahu bagaimana menghentikan ketakutan itu. Kelelahan seorang raja
yang menyadari bahwa kekuasaannya tidak bisa melindungi rakyatnya dari sesuatu
yang tidak bisa dilihat.
"Aku tidak percaya pada pencuri bayangan," lanjut
Baginda Raja Harun Al-Rasyid. "Aku percaya pada manusia. Manusia yang
licik, yang pintar, yang tahu bagaimana memanfaatkan keramaian untuk menutupi
kejahatan. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa tidak ada satu pun
saksi. Tidak ada satu pun jejak. Tidak ada satu pun petunjuk. Para penjaga
pasarku sudah berpatroli setiap malam. Mereka sudah bertanya kepada setiap
pedagang. Mereka sudah memeriksa setiap sudut pasar. Tidak ada yang mereka
temukan. Dan itu, Abu Nawas, adalah teka-teki yang tidak bisa dipecahkan oleh
kekuatan. Itu adalah teka-teki yang hanya bisa dipecahkan oleh…
kecerdikan."
Ia berjalan mendekati Abu Nawas, berdiri tepat di
hadapannya. Tingginya jauh di atas Abu Nawas yang duduk bersila, sehingga Abu
Nawas harus mendongak untuk menatapnya.
"Abu Nawas, aku tidak akan memerintahkanmu. Aku tidak
akan mengancammu. Aku tidak akan menjanjikan emas atau rumah atau jabatan. Aku
hanya akan… memintamu. Memintamu untuk pergi ke pasar malam. Bukan sebagai
utusan istana. Bukan sebagai penyelidik resmi. Tapi sebagai dirimu sendiri.
Sebagai Abu Nawas yang biasa duduk di kedai pinggiran, makan kurma, tertawa,
bercerita. Sebagai orang yang tidak mencurigakan. Sebagai orang yang… bisa
melihat apa yang tidak dilihat orang lain."
Abu Nawas tidak menjawab segera. Ia mengambil kurma dari
piring perak itu, memutarnya di antara jari-jarinya seperti seorang pesulap
memutar koin. Matanya menerawang ke suatu tempat di kejauhan, melewati
dinding-dinding istana, melewati taman-taman dalam, melewati Sungai Tigris, ke
suatu tempat di mana keramaian dan kesunyian bercampur menjadi satu, di mana
barang-barang berharga bisa lenyap dalam sekejap mata, di mana
bayangan-bayangan bergerak tanpa suara.
"Baginda," katanya akhirnya, suaranya pelan
tetapi jelas, "jadi Baginda ingin saya menjadi… umpan?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat alis.
"Umpan?"
"Ya, Baginda. Umpan untuk memancing pencuri itu keluar
dari persembunyiannya. Karena pencuri yang pintar tidak akan mencuri dari orang
yang waspada. Pencuri yang pintar akan mencuri dari orang yang lengah. Dari
orang yang tidak mencurigakan. Dari orang yang… seperti saya. Seorang
pengunjung biasa, tidak punya banyak barang, tidak punya banyak uang, tidak
penting. Sempurna untuk dijadikan umpan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. "Kau selalu
bisa membaca pikiranku, Abu Nawas. Ya. Aku ingin kau menjadi umpan. Tapi bukan
umpan yang pasif. Umpan yang aktif. Umpan yang… bisa melihat. Umpan yang… bisa
melawan."
Abu Nawas melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan,
lalu berdiri. Ia merapikan jubahnya yang lusuh—usaha yang sia-sia, karena jubah
itu memang tidak bisa dirapikan—dan menatap Baginda Raja dengan mata yang
bersinar.
"Baginda," katanya, "saya akan lakukan. Tapi
saya minta satu syarat."
"Syarat apa?"
"Saya tidak mau dibayar dengan emas. Saya tidak mau
rumah di tepi sungai. Saya tidak mau jabatan. Saya hanya mau… kebebasan.
Kebebasan untuk tertawa di pasar malam. Kebebasan untuk bercerita tentang apa
pun yang saya lihat. Kebebasan untuk… menjadi Abu Nawas. Dan satu lagi."
"Apa?"
"Kurma. Banyak kurma. Kurma Sukkari dari kebun
Baginda. Karena tanpa kurma, otak saya tidak akan bekerja. Dan tanpa otak yang
bekerja, saya tidak akan bisa melihat pencuri bayangan itu."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tertawa. Tawa yang keras, tawa
yang bebas, tawa yang sudah lama tidak terdengar di ruangan ini.
"Kau memang gila, Abu Nawas. Seluruh kekhalifahan aku
tawarkan, dan kau hanya minta kebebasan untuk menjadi dirimu sendiri dan kurma.
Tapi itulah sebabnya aku memanggilmu. Karena kau adalah satu-satunya orang di
Baghdad yang lebih mencintai kebebasan dan kurma daripada emas dan kekuasaan.
Dan orang seperti itu, Abu Nawas, adalah orang yang paling jujur. Orang yang
paling bisa melihat kebenaran. Orang yang paling… tidak bisa dibeli."
Ia menepuk pundak Abu Nawas dengan keras—bukan tepukan yang
menyakitkan, tetapi tepukan yang penuh keakraban.
"Pergilah, Abu Nawas. Temukan pencuri bayangan itu.
Kembalikan kedamaian ke pasar malam Baghdad. Dan jangan lupa…"
"Apa, Baginda?"
"Bawa pulang kurma untukku. Kurma yang kau beli di
pasar malam. Aku ingin tahu apakah kurma pasar malam lebih enak daripada kurma
kebunku."
Abu Nawas tertawa. "Baginda, kurma kebun Baginda tetap
yang terbaik. Tapi saya akan coba mencari yang sebanding. Siapa tahu, di antara
keramaian pasar malam, ada kurma yang lebih manis dari kurma istana. Kurma yang
dijual oleh pedagang jujur yang tidak pernah mencampur dagangannya. Kurma yang
tumbuh di kebun kecil, dirawat dengan tangan sendiri, dipetik dengan doa. Kurma
seperti itu, Baginda, mungkin lebih sederhana, mungkin tidak semengilap kurma
kebun Baginda, tetapi rasanya… rasanya seperti kejujuran. Dan kejujuran,
Baginda, adalah rasa yang paling manis."
BAB 2: PEDAGANG DAN CERITA YANG
JANGGAL
Keesokan malamnya, Abu Nawas berjalan di lorong-lorong
sempit Pasar Malam Baghdad.
Ia tidak menyamar. Ia tidak berganti pakaian. Ia datang
sebagai dirinya sendiri: jubah lusuh yang sama yang sudah ia kenakan
bertahun-tahun, sandal aus yang sudah hampir tidak bersol, sorban yang dililit
dengan malas sehingga beberapa helai rambutnya yang acak-acakan keluar dari
balik kain. Ia tidak membawa dompet besar, tidak memakai perhiasan, tidak
menunjukkan tanda-tanda kekayaan. Ia hanyalah seorang pengunjung biasa, salah
satu dari ribuan orang yang membanjiri pasar malam setiap hari.
Tapi matanya berbeda.
Matanya tidak seperti mata pengunjung biasa yang sibuk
melihat barang-barang yang dipajang, tertarik oleh warna-warni sutra atau
kilauan permata. Matanya bergerak perlahan, tenang, mengamati setiap sudut,
setiap orang, setiap gerakan. Ia memperhatikan cara orang berjalan, cara mereka
berdiri, cara mereka berbicara. Ia memperhatikan pedagang yang sedang
menawarkan dagangannya, pembeli yang sedang menawar harga, anak-anak yang
berlarian di antara kaki orang dewasa. Ia memperhatikan bayangan-bayangan yang
bergerak di dinding-dinding kios, diterangi oleh lampu-lampu minyak yang
berkelap-kelip.
Ia berjalan lambat, seperti orang yang tidak punya tujuan,
sesekali berhenti di sebuah kios untuk melihat-lihat, sesekali membeli kurma
dari pedagang kurma yang duduk di sudut lorong, sesekali duduk di bangku kayu
yang disediakan untuk pengunjung yang lelah. Ia berbicara dengan para pedagang,
bukan dengan nada menyelidik, tetapi dengan nada seorang teman yang sedang
mengobrol santai.
Di sebuah kios rempah-rempah, ia berhenti. Pedagang rempah
itu adalah seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang, wajah keriput yang
menunjukkan usianya yang sudah lanjut, tetapi matanya masih jernih dan
tangannya masih lincah meracik bubuk-bubuk rempah dari berbagai guci tanah liat
yang berjejer rapi di depannya. Aroma safron, jintan, ketumbar, kayu manis,
cengkeh, dan puluhan rempah lainnya bercampur menjadi satu kesatuan yang
memabukkan, menciptakan suasana yang terasa seperti berada di negeri dongeng.
"Tuan," sapa Abu Nawas dengan nada ramah,
"rempah-rempah Tuan wangi sekali. Sampai dari sini saya sudah bisa
menciumnya. Safron, ya? Safron dari Persia? Yang paling mahal?"
Pedagang tua itu tersenyum bangga. "Tuan benar. Safron
dari Persia. Asli dari kota Isfahan. Dipetik dengan tangan, dikeringkan dengan
hati-hati, tidak dicampur apa pun. Yang terbaik di pasar ini, Tuan. Mungkin
yang terbaik di seluruh Baghdad."
"Yang terbaik di seluruh Baghdad?" Abu Nawas
mengangkat alis, mengambil sejumput safron, menghirup aromanya, lalu
menggeleng. "Aroma ini, Tuan, memang wangi. Tapi safron Persia sejati
seharusnya lebih tajam, lebih menusuk, seperti pedang yang baru diasah. Safron
Tuan ini… lembut. Lembut sekali. Seperti… seperti safron yang sudah dicampur.
Mungkin dengan kunyit. Atau dengan bunga kering. Untuk menghemat biaya."
Pedagang itu tersenyum canggung, tidak lagi bangga.
Wajahnya yang tadinya berseri-seri kini sedikit merona, entah karena malu atau
karena ketahuan. "Tuan… Tuan punya hidung yang tajam. Mungkin… mungkin ada
sedikit campuran. Tapi hanya sedikit. Hanya untuk warna. Tidak mempengaruhi
rasa."
Abu Nawas tertawa. "Tuan, jangan khawatir. Saya tidak
akan lapor ke penjaga pasar. Saya hanya pengunjung biasa. Tapi saya ingin bertanya
sesuatu."
"Apa, Tuan?"
"Saya dengar di pasar ini ada pencuri. Pencuri yang
tidak bisa dilihat. Apakah Tuan pernah kehilangan barang?"
Pedagang itu menghela napas panjang. Wajahnya yang tadinya
sedikit malu berubah menjadi muram. Ia menatap sekeliling dengan waspada,
menurunkan suaranya menjadi nyaris berbisik.
"Tuan, saya sendiri belum pernah kehilangan.
Alhamdulillah. Saya menjaga barang-barang saya dengan ketat. Tapi tetangga
saya, pedagang kain di sebelah sana, kehilangan sepuluh gulung sutra minggu
lalu. Sepuluh gulung, Tuan. Sutra dari Khurasan. Yang paling mahal. Hilang
begitu saja. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang tahu bagaimana."
"Bagaimana Tuan tahu itu terjadi?"
"Pedagang itu sendiri yang cerita. Katanya, suatu
malam, pasar sedang ramai-ramainya. Banyak pembeli yang datang. Ia sibuk
melayani. Di depannya, ada seorang pembeli yang sedang menawar lima gulung
sutra untuk pesta pernikahan putrinya. Di sampingnya, ada sekelompok anak muda
yang sedang bercanda. Di belakang, ada seorang wanita tua yang menawar harga
dengan keras. Semua terjadi bersamaan. Ia kewalahan. Ketika semua orang pergi,
ia baru sadar bahwa sepuluh gulung sutra yang paling mahal sudah tidak ada di
tumpukannya."
"Apakah ia melihat sesuatu yang aneh? Orang yang
mencurigakan? Gerakan yang tidak biasa?"
Pedagang itu menggeleng. "Tidak, Tuan. Ia terlalu
sibuk. Ia hanya ingat bahwa malam itu sangat ramai. Lebih ramai dari biasanya.
Banyak orang datang dan pergi. Banyak yang menawar, banyak yang bertanya,
banyak yang hanya melihat-lihat. Ia tidak bisa mengingat satu pun wajah.
Padahal, Tuan, pedagang kain itu terkenal punya ingatan yang kuat. Ia bisa
mengingat wajah setiap pembeli yang pernah datang ke kiosnya. Tapi malam itu…
malam itu, semua wajah seperti kabut. Tidak bisa diingat."
Abu Nawas mengangguk. Ia mengambil safron yang sudah
dicampur itu, meletakkan koin tembaga di atas meja—lebih dari harga yang
seharusnya, karena ia merasa kasihan pada pedagang tua itu—dan berjalan ke kios
pedagang kain di sebelah.
Pedagang kain itu adalah seorang lelaki paruh baya dengan
wajah lelah dan mata yang sayu. Ia duduk di belakang tumpukan kain yang sudah
tidak serapi biasanya. Beberapa gulung kain berserakan di lantai, seolah-olah
ia sudah kehilangan semangat untuk merapikannya. Di matanya, Abu Nawas melihat
ketakutan. Bukan ketakutan akan pencuri, tetapi ketakutan akan kelangsungan
hidupnya. Sepuluh gulung sutra yang hilang adalah modal yang sangat besar
baginya. Mungkin seluruh tabungannya. Mungkin warisan dari orang tuanya.
Mungkin harapan untuk masa depan anak-anaknya.
Abu Nawas mendekat dengan langkah pelan, duduk di bangku
kayu di depan kios itu, dan mengambil sepotong kain dari tumpukan yang
berserakan. Kain itu bagus. Sutra asli dari Khurasan. Lembut, halus, berkilau.
Warna merah tua, seperti darah naga dalam cerita-cerita lama. Kain yang
sempurna untuk jubah kebesaran, atau untuk selendang pengantin, atau untuk
hadiah kepada raja.
"Kain ini bagus, Tuan," kata Abu Nawas dengan
suara lembut. "Sangat bagus. Saya pernah melihat kain seperti ini di
istana. Baginda Raja sendiri yang memakainya. Katanya, hanya ada beberapa
gulung di seluruh kekhalifahan. Langka. Mahal. Sangat berharga."
Pedagang itu mengangkat kepalanya, menatap Abu Nawas dengan
curiga. "Kau siapa? Mata-mata? Utusan dari istana? Atau… pencuri yang
datang untuk melihat-lihat sebelum mengambil?"
Abu Nawas tertawa. "Saya hanya pengunjung, Tuan. Hanya
seorang yang suka mendengar cerita. Dan saya suka cerita tentang hal-hal yang
aneh. Seperti sepuluh gulung sutra yang hilang tanpa jejak. Seperti pencuri
bayangan yang tidak bisa dilihat. Seperti… misteri yang belum
terpecahkan."
Pedagang itu menghela napas. Wajahnya yang tadinya keras
perlahan melunak. Mungkin karena ia sudah terlalu lama menyimpan cerita ini
sendirian, dan butuh seseorang untuk mendengarnya. Mungkin karena ia lelah
memikul beban ini sendirian. Mungkin karena ia merasa bahwa dengan bercerita,
beban itu akan sedikit berkurang.
"Itu malam Jumat, Tuan," katanya, suaranya serak.
"Malam yang paling ramai dalam sepekan. Pasar penuh dengan orang. Saya
sedang melayani seorang pembeli yang membeli lima gulung sutra untuk pesta
pernikahan putrinya. Ia banyak bertanya. Warna apa yang paling cocok untuk
pengantin? Motif apa yang paling disukai keluarga? Berapa harga yang paling murah?
Saya sibuk menjelaskan. Di samping saya, ada pembeli lain yang sedang
melihat-lihat kain. Di depan, ada sekelompok anak muda yang sedang bercanda,
tertawa keras, saling dorong. Di belakang, ada seorang wanita tua yang menawar
harga dengan keras, terus-menerus, tidak berhenti-henti, seperti burung beo
yang tidak bisa diam. Semua terjadi bersamaan. Semua orang bicara. Semua orang
bergerak. Semua orang… sibuk."
Ia mengusap wajahnya dengan tangan yang kasar, tangan yang
sudah puluhan tahun memegang kain sutra, tangan yang sekarang gemetar karena
kehilangan.
"Ketika semua orang pergi, saya baru sadar bahwa
sepuluh gulung sutra yang saya tata rapi di samping kanan saya sudah tidak ada.
Sepuluh gulung, Tuan. Sutra terbaik dari Khurasan. Warna-warna yang paling
indah. Yang saya simpan untuk pembeli-pembeli kaya, untuk pejabat-pejabat
istana, untuk saudagar-saudagar dari negeri seberang. Hilang. Tidak ada yang
melihat. Tidak ada yang tahu. Saya bertanya kepada tetangga kios di sebelah
kiri, ia tidak melihat. Saya bertanya kepada tetangga kios di sebelah kanan, ia
juga tidak melihat. Saya bertanya kepada penjaga pasar yang sedang berpatroli,
mereka tidak tahu. Saya bertanya kepada para pembeli yang masih ada di sekitar,
mereka tidak ingat."
Ia menunduk, air matanya jatuh ke tumpukan kain yang
berserakan.
"Sepuluh gulung, Tuan. Sepuluh gulung. Itu semua
tabungan saya. Itu warisan dari ayah saya. Itu harapan untuk anak-anak saya.
Sekarang… sekarang saya tidak punya apa-apa."
Abu Nawas meletakkan tangannya di pundak pedagang itu,
dengan lembut, seperti seorang teman yang sedang menghibur temannya yang sedang
berduka.
"Tuan," katanya, "apakah Tuan ingat sesuatu
yang aneh malam itu? Sesuatu yang tidak biasa? Suara? Bau? Gerakan? Sesepele
apa pun. Mungkin ada detail kecil yang Tuan anggap tidak penting, tapi
sebenarnya penting."
Pedagang itu berpikir keras. Dahinya berkerut, matanya
terpejam, seperti orang yang sedang menyelam ke dalam ingatan yang paling
dalam.
"Ada… ada satu hal," katanya akhirnya, suaranya
nyaris berbisik. "Tapi mungkin hanya perasaanku. Mungkin hanya karena aku
terlalu sibuk. Atau mungkin… mungkin itu penting."
"Ceritakan, Tuan."
"Malam itu, ada seorang lelaki yang berdiri di sudut
kiosku. Di sebelah kiri, dekat tumpukan kain yang paling mahal. Ia tidak membeli.
Ia tidak menawar. Ia hanya berdiri, melihat-lihat, sesekali menyentuh kain,
sesekali mengangguk, sesekali menggeleng. Saya tidak terlalu memperhatikannya
karena saya sibuk dengan pembeli yang lain. Tapi ketika semua orang pergi,
lelaki itu juga pergi. Dan saya… saya tidak ingat wajahnya. Sama sekali tidak
ingat. Padahal, Tuan, saya bisa mengingat wajah pembeli yang datang ke kios
saya bertahun-tahun yang lalu. Tapi lelaki itu… wajahnya seperti kabut. Tidak
bisa diingat. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang bisa diingat. Seperti…
seperti bayangan."
Abu Nawas mengangguk. "Terima kasih, Tuan. Tuan sudah
sangat membantu. Saya akan coba mencari tahu siapa yang mengambil sutra Tuan.
Tapi Tuan harus janji satu hal."
"Apa?"
"Tuan harus tetap berdagang. Jangan menyerah. Jangan
tutup kios. Jangan biarkan ketakutan mengalahkan Tuan. Karena jika Tuan
menyerah, pencuri itu menang. Dan pencuri itu, Tuan, tidak pantas menang."
Pedagang itu mengangkat kepalanya, menatap Abu Nawas dengan
mata yang berkaca-kaca tetapi mulai bersinar.
"Tuan… Tuan sungguh baik. Tapi Tuan bukan penjaga
pasar. Tuan bukan utusan istana. Tuan hanya… siapa sebenarnya Tuan?"
Abu Nawas tersenyum. "Saya hanya Abu Nawas, Tuan. Abu
Nawas yang suka kurma. Abu Nawas yang suka teka-teki. Abu Nawas yang… ingin
melihat keadilan ditegakkan. Dengan cara saya sendiri. Dengan tawa, bukan
dengan pedang. Dengan cerita, bukan dengan ancaman. Dengan kurma, bukan dengan
emas."
Ia berdiri, merapikan jubahnya, dan berjalan meninggalkan
kios itu. Di pikirannya, kata-kata pedagang kain itu terus bergema: wajahnya
seperti kabut, tidak bisa diingat, seperti bayangan.
Ia berjalan ke kios-kios lain. Sebuah kios perhiasan di
lorong utara, di mana seorang pedagang wanita kehilangan kalung mutiara dari
teluk Oman yang sangat berharga. Ceritanya sama: ramai, sibuk, banyak orang
datang dan pergi, dan ketika keramaian berlalu, kalung itu sudah tidak ada.
Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang ingat.
Ia berjalan ke kios rempah-rempah di lorong timur, di mana
seorang pedagang kehilangan sekantung safron murni seberat satu kilogram.
Ceritanya juga sama: ramai, sibuk, banyak orang, dan ketika ia sadar, safron
itu sudah tidak ada. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang ingat.
Ia berjalan ke kios senjata di lorong barat, di mana seorang
pedagang kehilangan sebuah keris pusaka dari Jawa, bertatahkan emas dan
permata, yang konon memiliki kekuatan magis. Ceritanya lagi-lagi sama: ramai,
sibuk, banyak orang, dan ketika ia sadar, keris itu sudah tidak ada. Tidak ada
yang melihat. Tidak ada yang ingat.
Abu Nawas berjalan di lorong-lorong pasar, pikirannya
bekerja cepat. Ia mengamati tata letak pasar, jarak antar kios, jalur-jalur
sempit yang bisa digunakan untuk melarikan diri, sudut-sudut gelap yang jarang
terkena cahaya lampu. Ia memperhatikan cara orang berjalan, cara mereka
berbelok, cara mereka menghilang di balik kerumunan. Ia memperhatikan bahwa
semua pencurian terjadi di malam Jumat, malam paling ramai. Ia memperhatikan
bahwa semua korban adalah pedagang yang sibuk, yang lengah, yang tidak
memperhatikan sekeliling. Ia memperhatikan bahwa semua pencurian terjadi di
kios-kios yang berada di lokasi strategis—dekat persimpangan lorong, dekat
pintu masuk, dekat tempat-tempat yang mudah untuk melarikan diri.
Dan perlahan, seperti kabut yang mulai menyingkap, sebuah
pola mulai terbentuk di pikirannya.
BAB 3: RAMAI YANG MEMBUTAKAN
Tiga malam berturut-turut Abu Nawas menghabiskan waktunya
di pasar malam. Ia datang sebelum matahari tenggelam, sebelum lampu-lampu
minyak mulai dinyalakan satu per satu, sebelum keramaian mulai membanjiri
lorong-lorong sempit. Ia duduk di sudut-sudut yang berbeda setiap malam,
mengamati, mendengarkan, mencatat dalam pikirannya setiap detail yang mungkin
penting.
Pada malam pertama, ia duduk di kedai kopi di pinggiran
pasar, tempat yang cukup tinggi untuk melihat sebagian besar lorong-lorong
utama. Dari sini, ia bisa melihat arus manusia yang mengalir di pasar, seperti
sungai yang bercabang-cabang, kadang melambat, kadang mempercepat, kadang
berhenti di sebuah kios, kadang berputar di persimpangan. Ia memperhatikan
bahwa ada beberapa titik di pasar yang selalu menjadi titik tersibuk, di mana
orang-orang berkumpul, berdesakan, saling mendorong. Titik-titik itulah,
pikirnya, yang paling mungkin menjadi tempat pencurian.
Pada malam kedua, ia duduk di bangku kayu di depan kios
pedagang kurma yang letaknya strategis, dekat dengan tiga persimpangan lorong.
Dari sini, ia bisa melihat lebih dekat interaksi antara pedagang dan pembeli,
cara mereka menawar, cara mereka bernegosiasi, cara mereka saling percaya atau
saling curiga. Ia memperhatikan bahwa beberapa pembeli memiliki kebiasaan yang
sama: mereka datang ketika kios sedang ramai, mereka bertanya dengan suara
keras, mereka bergerak dengan cepat, dan mereka pergi ketika pedagang sedang
sibuk.
Pada malam ketiga, ia duduk di sudut gelap di dekat pintu
belakang pasar, tempat yang jarang dilalui orang, tetapi strategis untuk
melarikan diri. Dari sini, ia bisa melihat siapa saja yang keluar masuk pasar
melalui pintu belakang, siapa saja yang membawa barang-barang besar, siapa saja
yang terlihat tergesa-gesa. Ia memperhatikan bahwa beberapa orang sering keluar
melalui pintu belakang pada malam Jumat, ketika pasar sedang paling ramai,
dengan membawa karung-karung yang tidak jelas isinya.
Pada malam keempat, ia duduk di kedai kopi yang sama dengan
malam pertama, di tempat yang cukup tinggi untuk melihat seluruh pasar. Di
hadapannya, segelas kopi hitam pahit yang sudah dingin karena ia terlalu sibuk
mengamati untuk meminumnya. Di sampingnya, seorang lelaki tua dengan janggut
putih panjang duduk dengan tenang, menyesap kopinya, sesekali melirik ke arah
Abu Nawas dengan rasa ingin tahu.
Lelaki tua itu adalah pemilik kedai kopi ini. Namanya
Syakir, seorang yang sudah berdagang di pasar ini selama empat puluh tahun,
sejak masa Baginda Raja Al-Mahdi, ayah dari Baginda Raja Harun Al-Rasyid.
Wajahnya keriput, matanya sayu, tetapi pikirannya masih tajam. Ia telah melihat
pasang surut pasar ini selama empat puluh tahun. Ia telah melihat pedagang-pedagang
kaya menjadi miskin, pedagang-pedagang miskin menjadi kaya, pencuri-pencuri
datang dan pergi, penjaga-penjaga berganti-ganti. Ia telah melihat segalanya.
"Tuan," kata Syakir akhirnya, "tiga malam
ini Tuan duduk di sini, tidak membeli apa pun selain segelas kopi yang tidak
Tuan minum, hanya melihat. Apakah Tuan mencari sesuatu? Atau seseorang? Atau…
petunjuk?"
Abu Nawas tersenyum. "Saya mencari sesuatu yang
hilang, Tuan. Sesuatu yang hilang di pasar ini. Tapi saya tidak tahu bentuknya.
Saya tidak tahu warnanya. Saya tidak tahu baunya. Saya hanya tahu bahwa ia ada
di sini. Dan ia akan muncul lagi. Malam ini. Atau besok. Atau lusa. Saya hanya
perlu… menunggu."
Syakir tertawa kecil. "Tuan berbicara seperti seorang
filsuf. Atau seperti seorang peramal. Atau mungkin seperti seorang… penyelidik.
Apakah Tuan utusan dari istana? Utusan dari Baginda Raja? Atau utusan dari
Wazir Jafar?"
"Saya hanya Abu Nawas, Tuan. Abu Nawas yang suka
kurma. Abu Nawas yang suka teka-teki. Abu Nawas yang… diminta Baginda Raja untuk
mencari tahu tentang pencuri bayangan."
Syakir mengangkat alis. "Abu Nawas? Abu Nawas yang
dulu membuat Baginda Raja tertawa dengan cerita tentang keledai yang lebih
pintar dari wazir? Abu Nawas yang dulu hampir kehilangan kepala karena lelucon
tentang selir kesayangan? Abu Nawas yang dulu menemukan mahkota yang hilang di
tiang istana? Abu Nawas yang dulu membuat cermin retak menjadi cermin
kebenaran?"
Abu Nawas tertawa. "Tuan tahu banyak tentang
saya."
"Di pasar ini, Tuan, semua orang tahu semua orang. Dan
semua orang tahu semua cerita. Cerita tentang Abu Nawas adalah cerita yang
paling dicari. Lebih dicari dari sutra Khurasan. Lebih dicari dari safron
Persia. Lebih dicari dari mutiara teluk Oman."
"Tuan terlalu baik."
Syakir menghela napas, menatap keramaian di bawah mereka.
Pasar sedang ramai. Ribuan orang berjalan mondar-mandir, saling berpapasan,
saling mendorong, saling berbicara. Suara tawar-menawar bercampur dengan suara
tawa, suara anak-anak, suara pedagang yang berteriak menawarkan dagangan. Semuanya
bergerak, semuanya hidup, semuanya… sibuk.
"Tuan Abu Nawas," kata Syakir, "apakah Tuan
tahu apa yang membuat pasar ini istimewa? Apa yang membuat pasar ini berbeda
dari pasar-pasar lain di seluruh kekhalifahan?"
"Apa, Tuan?"
"Keramaian, Tuan. Keramaian adalah kekuatan pasar ini.
Keramaian adalah nyawanya. Keramaian adalah jantungnya. Tanpa keramaian, pasar
ini mati. Tapi keramaian juga, Tuan, adalah… kelemahan. Keramaian adalah tirai.
Tirai yang paling tebal, paling sempurna, paling tidak terlihat. Karena orang
tidak pernah curiga pada keramaian. Orang mengira keramaian adalah
perlindungan. Padahal keramaian adalah… kesempatan. Kesempatan bagi yang
pintar. Kesempatan bagi yang licik. Kesempatan bagi yang… tahu bagaimana
memanfaatkan kelengahan."
Abu Nawas menatap Syakir dengan rasa hormat yang baru.
"Tuan bijaksana, Tuan. Empat puluh tahun di pasar mengajarkan Tuan banyak
hal."
"Empat puluh tahun di pasar mengajarkanku satu hal,
Tuan: orang yang terlalu sibuk melihat dunia, sering lupa menjaga miliknya
sendiri. Mereka sibuk menawar harga, sibuk melihat barang, sibuk berbicara
dengan teman, sibuk memperhatikan anak-anak mereka. Mereka lupa bahwa di antara
keramaian, ada tangan-tangan yang bergerak. Tangan-tangan yang cepat.
Tangan-tangan yang terlatih. Tangan-tangan yang… mengambil apa yang bukan hak
mereka."
Abu Nawas mengambil kopinya yang sudah dingin, menyesapnya,
tidak memperdulikan rasa pahit yang sudah terlalu lama mengendap.
"Tuan Syakir," katanya, "apakah Tuan pernah
melihat sesuatu yang aneh beberapa pekan terakhir? Sesuatu yang tidak biasa?
Seseorang yang tidak seperti biasanya? Gerakan yang mencurigakan? Sesepele apa
pun."
Syakir berpikir keras. Matanya yang sayu menyipit,
mengingat kembali setiap detail yang mungkin ia lewatkan.
"Ada… ada satu hal, Tuan. Tapi mungkin hanya
perasaanku. Mungkin hanya karena aku sudah tua dan mulai berhalusinasi. Tapi…
akhir-akhir ini, ada sekelompok anak muda yang sering datang ke pasar. Mereka
datang setiap malam Jumat, ketika pasar sedang paling ramai. Mereka tidak
membeli apa pun. Mereka hanya berjalan-jalan, bercanda, tertawa, sesekali
berhenti di sebuah kios untuk melihat-lihat, lalu berjalan lagi. Mereka
terlihat seperti anak-anak biasa yang sedang bersenang-senang. Tapi…"
"Tapi?"
"Tapi mereka selalu datang ketika pasar sedang paling
ramai. Mereka selalu berjalan di lorong-lorong yang paling padat. Mereka selalu
ada di dekat kios-kios yang kemudian kehilangan barang. Mereka selalu… ada di
mana-mana. Tidak terlihat mencurigakan. Tidak mencolok. Tapi mereka selalu
ada."
"Berapa banyak?"
"Empat atau lima orang. Muda-muda. Paling tua mungkin
dua puluh tahun. Berpakaian biasa. Wajah-wajah yang tidak bisa diingat.
Seperti… seperti bayangan. Mereka datang, mereka berjalan, mereka bercanda,
mereka tertawa, dan ketika keramaian berlalu, mereka sudah tidak ada. Dan
barang-barang… barang-barang sudah hilang."
Abu Nawas tersenyum. "Bayangan. Ya. Seperti
bayangan."
Ia berdiri, membayar kopinya—meskipun kopi itu sudah dingin
dan tidak pernah ia minum habis—dan berjalan menuruni tangga menuju keramaian
pasar. Di pikirannya, sebuah gambaran mulai terbentuk. Bukan gambaran seorang
pencuri bayangan yang misterius. Tapi gambaran yang lebih sederhana, lebih
manusiawi, lebih… licik.
Keramaian adalah tirai, pikirnya. Dan
orang yang terlalu sibuk melihat dunia, sering lupa menjaga miliknya sendiri.
Pencuri itu bukan bayangan. Pencuri itu adalah manusia. Manusia yang pintar.
Manusia yang terlatih. Manusia yang tahu persis kelemahan pasar. Manusia yang…
ada di antara kita.
BAB 4: PERMAINAN TIPU DAYA
Pada malam kelima, Abu Nawas memutuskan untuk tidak lagi
menjadi pengamat.
Ia datang ke pasar dengan pakaian yang berbeda. Jubah baru
yang ia pinjam dari Jafar—dengan janji akan dikembalikan, meskipun Jafar sudah
pasrah bahwa jubah itu akan berakhir dengan noda kurma di mana-mana, seperti
semua jubah yang pernah dipinjam Abu Nawas sebelumnya. Sorban yang dililit
dengan rapi oleh seorang pelayan istana yang kasihan melihat usahanya
sendiri—setelah tiga kali mencoba, pelayan itu akhirnya menyerah dan memanggil
dayang senior yang lebih berpengalaman untuk melilitkan sorban Abu Nawas dengan
benar. Dan di pinggangnya, sebuah dompet yang sengaja ia isi dengan koin-koin
tembaga yang dibungkus kertas sehingga dari kejauhan terlihat seperti koin emas,
mengilap, menggoda, sempurna untuk umpan.
Ia juga membawa sesuatu yang lain: sebuah kotak kayu kecil,
diukir dengan indah, dengan kunci emas kecil yang rumit. Kotak itu adalah
pemberian dari seorang saudagar tua yang pernah ia tolong beberapa tahun lalu—masalah
tentang unta yang hilang dan ditemukan di kandang tetangga, cerita panjang yang
tidak perlu diceritakan di sini. Di dalam kotak itu, Abu Nawas meletakkan…
batu. Batu biasa dari sungai Tigris, yang ia lapisi dengan perak tipis sehingga
berkilau seperti permata di bawah lampu minyak. Batu itu tidak berharga, tetapi
kotaknya yang indah dan kuncinya yang rumit membuat siapa pun yang melihatnya
berpikir bahwa isinya pasti sangat berharga.
Ia berjalan di lorong-lorong pasar dengan langkah seorang saudagar
kaya yang sedang berburu barang antik. Matanya bergerak cepat, melihat ke kiri
dan ke kanan, sesekali berhenti di sebuah kios untuk memeriksa barang dengan
sikap seorang ahli, sesekali menggeleng dan berjalan lagi dengan ekspresi
kecewa, sesekali mengangguk dan bertanya harga dengan nada yang sedikit
sombong, seperti orang yang terbiasa berbelanja tanpa melihat harga.
Ia berbicara dengan para pedagang dengan nada yang ramah
tetapi sedikit terburu-buru, seperti orang yang punya banyak uang tetapi sedikit
waktu.
"Tuan," katanya kepada seorang pedagang perhiasan
di lorong utama, "apakah Tuan memiliki mutiara dari teluk Oman? Yang
warnanya seperti bulan purnama? Yang bentuknya bulat sempurna? Yang tidak ada
cacat sedikit pun? Saya sedang mencari untuk hadiah pernikahan. Hadiah untuk
putri seorang pejabat istana. Jadi harus yang terbaik. Yang paling mahal. Harga
tidak masalah."
Pedagang itu bersemangat. Matanya berbinar, tangannya
bergerak cepat membuka peti-peti kayu di belakang kiosnya. "Ada, Tuan!
Saya punya yang terbaik! Lihat ini…" Ia mengeluarkan sekotak mutiara dari
kayu cendana berukir, membuka tutupnya perlahan-lahan, memperlihatkan deretan
mutiara yang berkilau di bawah lampu minyak. Mutiara-mutiara itu indah, besar,
bulat, berwarna putih susu dengan kilau keperakan yang lembut. Mutiara-mutiara
terbaik yang ia miliki.
Abu Nawas mengambil mutiara itu satu per satu, memeriksanya
dengan saksama, mendekatkannya ke lampu, memutarnya perlahan, melihat pantulan
cahayanya, merasakan beratnya di telapak tangan.
"Bagus," katanya. "Sangat bagus. Tapi…"
ia menggeleng, meletakkan mutiara itu kembali ke dalam kotak, "masih
kurang. Masih kurang sempurna. Mutiara ini bagus untuk orang biasa. Tapi untuk
putri pejabat istana? Untuk hadiah pernikahan yang akan dilihat oleh seluruh
pejabat tinggi? Tidak. Tidak cukup. Maaf, Tuan. Mungkin lain kali."
Pedagang itu tampak kecewa, tetapi ia tidak bisa memaksa.
Abu Nawas berjalan lagi.
Di setiap kios yang ia kunjungi, ia selalu membuka kotak
kayunya, menunjukkan "permata" palsu itu dengan bangga, mengatakan
bahwa ia sedang mencari barang yang sebanding untuk dijodohkan, untuk
dipasangkan, untuk dijadikan satu set yang sempurna. Ia sengaja membuat kotak
itu terbuka cukup lama, cukup lama untuk dilihat oleh orang-orang di sekitarnya.
Cukup lama untuk menarik perhatian. Cukup lama untuk menjadi… umpan.
Dan ia menunggu.
Pada malam keenam, umpan mulai bekerja.
Abu Nawas sedang berdiri di depan kios seorang pedagang
rempah di lorong selatan, membeli sekantung safron dengan harga yang tidak ia
tawar—sesuatu yang sangat tidak biasa baginya, tetapi ia lakukan untuk terlihat
seperti orang kaya yang tidak peduli uang, yang lebih peduli pada kualitas
daripada harga, yang lebih peduli pada kepuasan daripada penghematan. Kotak
kayunya terbuka di tangan kirinya, "permata" palsu di dalamnya
berkilau di bawah lampu minyak, menciptakan pantulan-pantulan kecil di dinding
kios di sekitarnya.
Ia merasakan sesuatu. Bukan suara. Bukan gerakan. Tapi
sesuatu yang lebih halus. Seperti perubahan tekanan udara di sekitarnya.
Seperti bayangan yang bergerak di tepi penglihatannya. Seperti kehadiran yang
tidak terlihat tetapi terasa.
Ia tidak menoleh. Ia terus berbicara dengan pedagang
rempah, menawar harga safron meskipun ia tidak benar-benar ingin membelinya—ia
hanya ingin terlihat seperti pembeli yang serius, yang tidak akan meninggalkan
kios sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Tapi di tepi matanya, ia
melihat sekelompok anak muda berjalan mendekat. Empat orang. Muda-muda. Paling
tua mungkin dua puluh tahun. Berpakaian biasa. Wajah-wajah yang… sulit diingat.
Seperti kabut. Seperti bayangan.
Mereka berjalan santai, bercanda, tertawa, seperti
anak-anak biasa yang sedang bersenang-senang di pasar malam. Salah seorang dari
mereka berhenti di kios di sebelah kiri Abu Nawas, melihat-lihat rempah-rempah
yang dipajang dengan penuh minat, bertanya-tanya tentang harga safron, tentang
asal-usul kayu manis, tentang khasiat cengkeh. Seorang lagi berdiri di belakang
Abu Nawas, seolah-olah sedang menunggu giliran untuk membeli, dengan sabar,
tidak tergesa-gesa, tidak mencurigakan. Dua orang lainnya berjalan perlahan
melewati kios, tidak berhenti, hanya melambat sedikit, cukup untuk
melihat-lihat, cukup untuk mengamati, cukup untuk… mengalihkan perhatian.
Abu Nawas merasakan tangan di pinggangnya. Bukan sentuhan
kasar. Bukan tarikan tiba-tiba. Hanya… kehadiran. Seperti angin yang menyentuh
kulit. Seperti bayangan yang lewat. Seperti sesuatu yang bergerak sangat cepat,
sangat halus, sangat terlatih, sehingga tidak terasa.
Ia meraih dompetnya.
Tangannya yang kurus dan terlatih—terlatih bukan untuk
mencuri, tetapi untuk merasakan, untuk mendeteksi, untuk menangkap—bergerak
lebih cepat dari yang diduga oleh siapa pun yang hanya melihatnya sebagai
pelawak malas yang menghabiskan waktunya dengan makan kurma dan bercerita. Ia
meraih pergelangan tangan yang sedang mencoba membuka ikatan dompetnya,
menggenggamnya dengan kuat, dan menoleh.
Wajah seorang pemuda menatapnya dengan mata terbelalak.
Wajah yang biasa-biasa saja. Tidak tampan, tidak jelek. Rambut hitam, mata
hitam, hidung mancung, bibir tipis. Wajah yang tidak akan diingat siapa pun
jika dilihat sekilas di keramaian. Wajah yang sempurna untuk… menghilang. Wajah
yang sempurna untuk… menjadi bayangan.
"Nak," kata Abu Nawas dengan suara yang tenang,
tidak berteriak, tidak memanggil penjaga, tidak membuat keributan.
"Tangannya jangan di dompet orang lain. Itu tidak sopan. Itu tidak baik.
Itu… melanggar hukum."
Pemuda itu berusaha melepaskan diri, tetapi Abu Nawas
menggenggam erat. Dua temannya yang tadinya bercanda di dekat kios, tiba-tiba
menghilang ke dalam keramaian, seperti kabut tertiup angin. Pemuda yang berdiri
di belakang Abu Nawas juga pergi, berjalan cepat, tidak berlari, tidak panik,
hanya berjalan cepat dengan langkah yang terlatih, menghilang di antara ribuan
orang. Hanya pemuda yang tertangkap itu yang tersisa, dengan wajah yang mulai
memucat, dengan mata yang mulai liar, dengan napas yang mulai memburu.
"Lepaskan!" desis pemuda itu, suaranya serak,
matanya liar. "Lepaskan atau aku—"
"Atau kau apa?" potong Abu Nawas dengan tenang.
"Kau akan memukulku? Kau akan melarikan diri? Kau akan memanggil
teman-temanmu yang sudah kabur? Teman-temanmu yang meninggalkanmu sendirian?
Teman-temanmu yang tidak peduli apakah kau tertangkap atau tidak? Teman-temanmu
yang hanya peduli pada diri mereka sendiri?"
Pemuda itu terdiam. Wajahnya berubah. Dari ketakutan
menjadi kemarahan, dari kemarahan menjadi kesadaran, dari kesadaran menjadi…
kesedihan.
"Mereka… mereka pergi," bisiknya, suaranya nyaris
tidak terdengar. "Mereka meninggalkanku."
"Ya, Nak. Mereka pergi. Mereka meninggalkanmu. Seperti
yang akan selalu dilakukan oleh orang-orang yang tidak benar-benar peduli
padamu. Mereka akan menggunakanmu, memanfaatkanmu, dan ketika kau tertangkap,
mereka akan pergi. Seperti bayangan yang menghilang ketika matahari
terbit."
Pemuda itu menunduk. Bahunya yang masih muda bergetar. Air
matanya jatuh ke tangan Abu Nawas yang masih menggenggam pergelangannya.
"Nak," kata Abu Nawas dengan suara yang tiba-tiba
lembut, "aku tidak akan melaporkanmu. Aku tidak akan memanggil penjaga.
Aku tidak akan membawamu ke istana. Aku hanya ingin kau menjawab satu
pertanyaan."
Pemuda itu mengangkat kepalanya. Matanya merah, basah,
tetapi masih waspada. "Apa?"
"Siapa yang menyuruh kalian?"
Pemuda itu terdiam. Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang
berkaca-kaca, bibirnya gemetar, tangannya yang masih digenggam bergetar hebat.
"Aku… aku tidak tahu namanya," katanya akhirnya,
suaranya parau. "Kami hanya memanggilnya 'Guru'. Dia yang mengajari kami.
Dia yang memberi tahu kami kapan harus datang, di mana harus berdiri, barang
apa yang harus diambil. Kami hanya… mengikuti perintah."
"Di mana kalian biasanya bertemu?"
"Di sebuah gudang tua di pinggiran pasar. Di lorong
timur, dekat gerbang belakang. Setiap malam, setelah pasar tutup. Dia datang,
memberikan instruksi, membagi tugas, memberikan… bagian kami."
Abu Nawas melepaskan genggamannya. Pemuda itu mengusap air
matanya dengan lengan bajunya, gerakan yang kasar, tidak anggun, tetapi terasa
lebih jujur dari semua senyum yang pernah ia tunjukkan di pasar.
"Nak," kata Abu Nawas, "kau bisa pergi. Tapi
ingat: lain kali, pilih jalan yang berbeda. Jalan yang tidak membuatmu menjadi
bayangan. Jalan yang membuatmu bisa melihat matahari tanpa takut. Jalan yang…
membawa pulang, bukan ke penjara."
Pemuda itu menatapnya dengan mata yang tidak bisa lagi
menyembunyikan apa pun. "Kau… kau melepaskanku? Kau tidak akan
menangkapku? Kau tidak akan membawaku ke penjaga?"
"Tidak, Nak. Aku tidak akan menangkapmu. Tapi ingat:
aku tidak akan selalu ada. Lain kali, mungkin orang lain yang menangkapmu. Lain
kali, mungkin penjaga pasar. Lain kali, mungkin Baginda Raja sendiri. Dan
mereka, Nak, tidak akan selembut aku."
Pemuda itu mengangguk. Ia berbalik, berjalan perlahan
meninggalkan Abu Nawas, dengan langkah yang tidak lagi cepat dan lincah seperti
bayangan. Langkahnya berat, seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu
yang tidak pernah ia sadari sebelumnya: kepercayaan pada orang-orang yang
menggunakannya.
Abu Nawas menatap punggungnya yang menghilang di antara
kerumunan. Ia mengambil kurma dari sakunya, memasukkannya ke mulut, dan
mengunyah perlahan.
"Empat orang," gumumnya. "Muda. Terlatih.
Bekerja sama. Bukan pencuri tunggal. Jaringan. Dan di belakang mereka, ada
seorang 'Guru'. Seorang yang mengajari mereka. Seorang yang memanfaatkan
mereka. Seorang yang… harus dihentikan."
Ia memasukkan sisa kurma ke dalam sakunya, merapikan
jubahnya yang lusuh, dan berjalan keluar dari pasar dengan langkah santai. Di
pikirannya, rencana baru mulai terbentuk. Rencana yang lebih besar. Rencana
yang lebih licik. Rencana yang… layak untuk seorang guru.
BAB 5: TAWA DAN KEJANGGALAN
Keesokan paginya, Abu Nawas melaporkan temuannya kepada
Jafar di ruang pribadi Wazir. Jafar mendengarkan dengan saksama, sesekali
mengerutkan kening, sesekali mengangguk, sesekali tertawa kecil mendengar cara
Abu Nawas menceritakan pengalamannya di pasar—dengan gaya khasnya yang penuh
lelucon dan sindiran.
"Jadi," kata Jafar, "kau yakin pencuri itu
bukan satu orang, tapi sekelompok anak muda? Bekerja sama? Di tengah keramaian?
Dengan seorang guru di belakang mereka?"
Abu Nawas mengambil kurma dari piring yang disediakan—kurma
biasa, bukan dari kebun Baginda Raja, tetapi Abu Nawas tidak protes. Kurma
tetaplah kurma. Dan kurma, dalam keadaan apa pun, adalah makanan yang layak
disyukuri.
"Ya, Wazir," katanya sambil mengunyah.
"Mereka berempat, mungkin lebih. Mereka memanfaatkan keramaian. Satu atau
dua orang mengalihkan perhatian—bertanya tentang barang, menawar harga,
bercanda, tertawa, membuat keributan kecil. Satu orang mengambil—dengan gerakan
cepat, terlatih, tidak terasa. Satu orang lagi menutup—berdiri di depan,
menghalangi pandangan, atau berdiri di belakang, siap membantu jika ada yang
melihat. Dan ketika korban sadar, mereka sudah lama menghilang. Seperti
bayangan. Seperti… tidak pernah ada."
"Tapi bagaimana mereka bisa mengambil barang tanpa
korban sadar? Sepuluh gulung sutra, misalnya. Itu bukan barang kecil. Tidak
mungkin diambil diam-diam tanpa dilihat."
Abu Nawas tersenyum. "Wazir, pernahkah Wazir
memperhatikan sesuatu? Ketika pasar sedang ramai, orang terlalu sibuk. Terlalu
sibuk menawar harga, terlalu sibuk melihat barang, terlalu sibuk berbicara
dengan teman, terlalu sibuk memperhatikan anak-anak mereka. Mereka tidak
memperhatikan sekeliling. Dan ketika mereka tidak memperhatikan sekeliling,
sepuluh gulung sutra bisa dipindah dalam hitungan detik jika dilakukan oleh
orang yang terlatih dan bekerja sama. Satu orang menggulung, satu orang
mengambil, satu orang menyembunyikan di dalam karung yang sudah disiapkan.
Semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Sebelum korban sempat menoleh,
barang sudah tidak ada."
Jafar terdiam, mencerna kata-kata Abu Nawas.
"Tapi kita tidak punya bukti," katanya akhirnya.
"Kau hanya melihat satu orang yang mencoba mencuri dompetmu. Itu tidak
cukup untuk menangkap seluruh jaringan. Apalagi gurunya. Kita butuh lebih dari
itu. Kita butuh… barang bukti. Kita butuh… pengakuan. Kita butuh… mereka
tertangkap basah."
"Kita tidak perlu menangkap mereka sekarang, Wazir.
Kita perlu… memancing mereka. Membuat mereka keluar dari persembunyian. Membuat
mereka melakukan kesalahan. Membuat mereka… tidak bisa lagi bersembunyi di
balik keramaian."
"Bagaimana?"
Abu Nawas mendekat, berbisik di telinga Jafar. Wajah Jafar
berubah dari ragu menjadi terkejut, lalu menjadi geli, lalu menjadi kagum.
"Abu Nawas," katanya setelah mendengar rencana
itu, "kau benar-benar gila."
"Wazir, saya sudah dibilang gila sejak lahir. Tapi
kegilaan saya, sejauh ini, selalu membawa hasil. Mahkota yang hilang? Saya
temukan. Cermin yang retak? Saya perbaiki. Pencuri bayangan? Saya tangkap.
Dengan tawa, Wazir. Dengan tawa. Bukan dengan pedang. Bukan dengan kekerasan.
Bukan dengan ancaman. Dengan tawa."
Jafar menggeleng-gelengkan kepala, tetapi ia tersenyum.
"Baiklah. Lakukan. Tapi hati-hati, Abu Nawas. Jika rencanamu gagal, bukan
hanya kau yang akan kehilangan kepala. Aku juga. Karena aku yang
mengizinkanmu."
"Wazir, jangan khawatir. Saya tidak akan gagal. Karena
saya punya senjata paling ampuh di dunia."
"Apa?"
"Kurma, Wazir. Kurma Sukkari. Dan tawa. Dua senjata
yang tidak bisa dikalahkan oleh pedang mana pun."
Pada malam ketujuh, pasar malam Baghdad menyaksikan
pemandangan yang tidak biasa.
Di tengah lorong utama, di tempat yang paling ramai, di
persimpangan empat lorong yang selalu menjadi titik tersibuk pasar, Abu Nawas
mendirikan sebuah panggung kecil. Bukan panggung yang megah—hanya beberapa
papan kayu yang ditata di atas peti-peti kosong, ditutupi dengan kain merah
yang sedikit lusuh, yang ia pinjam dari seorang pedagang kain yang kehilangan
sutranya minggu lalu. Tapi di atas panggung itu, dengan lampu-lampu minyak yang
diletakkan di sekelilingnya, menciptakan lingkaran cahaya yang membuatnya
terlihat seperti seorang pesulap yang baru saja muncul dari dunia lain, Abu
Nawas berdiri dengan penuh semangat, memanggil-manggil orang yang lewat dengan
suara lantang yang bergema di lorong-lorong sempit.
"Wahai para saudagar, para pembeli, para pengunjung
pasar malam! Kemarilah, kemarilah! Saya akan menghibur kalian dengan
cerita-cerita lucu, teka-teki yang menggelitik, dan tawa yang akan membuat
perut kalian sakit karena terlalu banyak tertawa! Gratis! Tidak dipungut biaya!
Yang mau memberi, saya terima dengan senang hati. Yang tidak mau memberi, saya
tetap tersenyum. Karena senyum, wahai saudara-saudara, adalah sedekah yang
paling murah. Dan tawa, wahai saudara-saudara, adalah obat yang paling manis.
Obat untuk segala penyakit. Obat untuk kesedihan. Obat untuk ketakutan. Obat
untuk… pencuri bayangan!"
Orang-orang mulai berkerumun. Mereka penasaran. Seorang
pelawak di pasar malam bukan hal yang aneh—pasar malam selalu memiliki hiburan,
selalu memiliki cerita, selalu memiliki tawa. Tetapi pelawak yang mendirikan
panggung di lorong utama dengan semangat seperti ini, dengan suara yang bergema
seperti genderang perang, dengan mata yang berkilat seperti bintang di
langit—itu adalah tontonan yang tidak boleh dilewatkan.
Apalagi setelah berminggu-minggu pasar diliputi ketakutan,
setelah berminggu-minggu orang-orang berbisik tentang pencuri bayangan, setelah
berminggu-minggu tawa menghilang dari pasar malam. Orang-orang haus akan tawa.
Orang-orang haus akan hiburan. Orang-orang haus akan sesuatu yang bisa membuat
mereka lupa, sejenak, bahwa barang-barang mereka bisa hilang kapan saja.
Orang-orang haus akan… kebahagiaan.
Abu Nawas memulai pertunjukannya dengan cerita tentang
seorang saudagar kaya yang sangat pelit. Ceritanya lucu, penuh dengan lelucon
dan gerakan-gerakan yang menggelikan. Ia menirukan cara saudagar itu menghitung
uang—dengan jari-jari yang gemetar, mata yang menyipit, bibir yang komat-kamit
seperti sedang berdoa. Ia menirukan cara saudagar itu menawar harga—dengan
suara tinggi, napas pendek, tangan yang terus-menerus meraba-raba dompet di
pinggangnya. Ia menirukan cara saudagar itu bersembunyi di balik tumpukan kain
ketika seorang pengemis datang—dengan tubuh yang membungkuk, mata yang melotot,
napas yang ditahan.
Orang-orang tertawa terbahak-bahak. Tawa yang keras, tawa
yang bebas, tawa yang sudah lama tidak terdengar di pasar ini. Tawa yang
membuat perut sakit, mata berair, pipi merah karena terlalu banyak tersenyum.
Kemudian ia bercerita tentang seorang hakim yang sombong.
Tentang seorang kadi yang suka menerima suap. Tentang seorang pejabat yang
takut pada istrinya. Tentang seorang panglima yang lebih takut pada tikus
daripada musuh. Tentang seorang raja yang—ia berhenti sejenak, menatap ke arah
istana di kejauhan, lalu tertawa—yang sangat bijaksana sehingga ia mengizinkan
seorang pelawak untuk tertawa di hadapannya tanpa takut kehilangan kepala.
Setiap cerita disambut dengan tawa yang keras, tepuk tangan
yang riuh, dan kadang-kadang, komentar-komentar dari penonton yang ikut melucu,
yang ikut bercerita, yang ikut tertawa. Suasana pasar berubah. Dari yang
tadinya tegang, waspada, penuh ketakutan, menjadi riuh, gembira, penuh tawa. Orang-orang
lupa sejenak bahwa mereka sedang berada di pasar yang diliputi misteri.
Orang-orang lupa sejenak bahwa barang-barang mereka bisa hilang kapan saja.
Orang-orang lupa sejenak bahwa di antara mereka, mungkin ada bayangan yang
bergerak.
Tapi di sela-sela tawa, di sela-sela cerita, di sela-sela
gerakan-gerakannya yang konyol, Abu Nawas mengamati. Matanya bergerak cepat,
menangkap setiap wajah di kerumunan, setiap gerakan, setiap orang yang datang
dan pergi. Ia melihat seorang lelaki tua yang tertawa terbahak-bahak di barisan
depan. Ia melihat seorang wanita muda yang tersenyum manis di barisan tengah.
Ia melihat sekelompok anak-anak yang berjingkrak-jingkrak kegirangan di barisan
belakang. Ia melihat seorang penjaga pasar yang sedang berpatroli, tertawa
kecil di sela-sela tugasnya.
Dan ia melihat mereka. Empat pemuda yang sama. Berdiri di
sudut-sudut kerumunan, di tempat yang berbeda, tetapi semuanya dalam jarak yang
sama dari panggung. Berpakaian biasa. Wajah-wajah yang tidak akan diingat siapa
pun. Wajah-wajah yang seperti kabut. Mereka tidak tertawa. Mereka tidak
bertepuk tangan. Mereka tidak bergerak. Mereka hanya… berdiri. Mengamati.
Menunggu.
Abu Nawas tersenyum. Ia melanjutkan ceritanya dengan lebih
bersemangat, suaranya naik, gerakannya menjadi lebih besar, lebih liar, lebih
konyol. Ia melompat, ia berputar, ia menirukan suara keledai, suara ayam, suara
kucing yang sedang berkelahi. Orang-orang tertawa semakin keras, semakin bebas,
semakin tidak terkendali.
"Saudara-saudara!" seru Abu Nawas di tengah-tengah
tawa yang memuncak. "Sekarang, saya akan menceritakan sebuah kisah yang
paling lucu. Kisah yang paling istimewa. Kisah yang paling… dekat dengan kita
semua. Kisah tentang seorang pencuri! Pencuri yang sangat pintar! Sangat licik!
Sangat… tidak terlihat!"
Ia melihat keempat pemuda itu menegang. Tangan mereka yang
tadinya tergantung santai di sisi tubuh, kini mengepal. Mata mereka yang
tadinya datar, kini bergerak cepat, saling melirik, saling memberi isyarat.
"Pencuri ini," lanjut Abu Nawas, suaranya menjadi
lebih pelan, lebih misterius, lebih… menusuk, "bekerja di pasar. Di pasar
yang ramai. Ia tidak sendirian. Ia punya teman-teman. Empat orang. Muda-muda.
Wajah biasa. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang mengingat mereka. Mereka
datang ketika pasar sedang paling ramai. Mereka berjalan di lorong-lorong yang
paling padat. Mereka bercanda, mereka tertawa, mereka mengalihkan perhatian.
Dan ketika orang-orang sibuk tertawa, sibuk menawar, sibuk melihat barang…
mereka mengambil. Dengan cepat. Dengan terlatih. Dengan… sempurna."
Beberapa penonton mulai memperhatikan. Ada yang berhenti
tertawa, ada yang mulai melihat ke kiri dan ke kanan, ada yang mulai memeriksa
dompet mereka.
"Pencuri ini," Abu Nawas melanjutkan,
"mengambil barang-barang berharga. Sutra dari Khurasan. Mutiara dari teluk
Oman. Safron dari Persia. Keris pusaka dari Jawa. Semuanya hilang. Tidak ada
yang melihat. Tidak ada yang ingat. Karena ketika orang sibuk tertawa, mereka
lupa menjaga barangnya. Ketika orang sibuk dengan keramaian, mereka lupa bahwa
di antara keramaian, ada bayangan yang bergerak."
Ia tertawa keras. Penonton ikut tertawa, tetapi tawa mereka
tidak lagi bebas. Ada yang tertawa dengan ragu, ada yang tertawa dengan
waspada, ada yang tertawa sambil memeriksa dompet mereka. Dan di antara tawa
itu, beberapa orang menemukan bahwa dompet mereka… lebih ringan.
"Dompetku!" teriak seorang lelaki di barisan
depan, suaranya panik, matanya liar. "Dompetku hilang! Aku baru saja
memeriksanya sebelum pertunjukan! Sekarang sudah tidak ada!"
"Dompetku juga hilang!" teriak seorang wanita di
barisan tengah, suaranya histeris. "Aku baru saja membayar untuk membeli
rempah! Sekarang dompetku kosong!"
"Pisau belatiku!" teriak seorang lelaki tua di
barisan belakang, suaranya gemetar. "Pisau belati pusaka dari Jawa!
Warisan dari kakekku! Hilang!"
Kerumunan mulai panik. Orang-orang saling mendorong, saling
memeriksa, saling menuduh. Ada yang berteriak minta tolong, ada yang menangis,
ada yang marah, ada yang mencoba melarikan diri dari kerumunan yang semakin
kacau.
Di tengah kekacauan itu, keempat pemuda itu berusaha
keluar. Mereka bergerak cepat, lincah, terlatih, mencoba menyelinap di antara
orang-orang yang panik, mencoba mencapai pintu keluar terdekat, mencoba
menghilang seperti yang selalu mereka lakukan. Tapi kerumunan terlalu padat.
Terlalu kacau. Terlalu… tidak terduga. Mereka terjebak. Terjepit di antara
orang-orang yang saling mendorong, tidak bisa bergerak maju, tidak bisa
bergerak mundur, tidak bisa… menghilang.
Abu Nawas berdiri di atas panggung, tersenyum. Ia menunjuk
ke arah mereka.
"Penjaga!" teriaknya dengan suara yang bergema di
atas keramaian. "Tangkap mereka! Mereka adalah pencuri yang selama ini
kita cari! Pencuri bayangan yang meresahkan pasar kita!"
Para penjaga pasar yang sudah disiapkan sejak awal—yang
diam-diam sudah ditempatkan di sekitar panggung sejak pertunjukan
dimulai—bergegas masuk ke kerumunan. Dalam hitungan detik, keempat pemuda itu
sudah ditangkap. Tangan mereka dibelenggu di belakang punggung. Karung-karung
kecil yang mereka bawa—yang selama ini tersembunyi di balik jubah—dibuka.
Isinya: dompet-dompet, uang-uang, pisau belati, dan beberapa barang kecil
lainnya yang baru saja dicuri.
Kerumunan bersorak. Tepuk tangan bergemuruh. Orang-orang
berteriak-teriak kegirangan, melompat-lompat, saling berpelukan. Akhirnya!
Akhirnya pencuri bayangan itu tertangkap! Akhirnya pasar malam aman! Akhirnya
mereka bisa berdagang dengan tenang, berbelanja dengan nyaman, tertawa tanpa
takut!
Tapi Abu Nawas, yang berdiri di atas panggung dengan senyum
misterius, tahu bahwa ini belum selesai. Keempat pemuda itu hanyalah bagian
kecil dari jaringan. Ada yang lebih besar. Ada yang lebih licik. Ada yang… di
balik semua ini. Ada seorang guru. Seorang yang mengajari mereka. Seorang yang
memanfaatkan mereka. Seorang yang… masih berkeliaran di pasar. Masih mengamati.
Masih menunggu. Masih percaya bahwa kalian tidak akan pernah menemukannya.
Ia turun dari panggung, berjalan mendekati para pencuri
yang sudah ditangkap itu. Di antara mereka, ada satu yang berbeda. Bukan yang
paling besar, bukan yang paling kuat, bukan yang paling tua. Tapi matanya
berbeda. Matanya tidak takut. Matanya tidak panik. Matanya… waspada. Seperti
seseorang yang sudah terbiasa dengan bahaya. Seperti seseorang yang sudah dilatih.
Seperti seseorang yang… sudah mempersiapkan diri untuk saat seperti ini.
"Nak," kata Abu Nawas kepadanya, "siapa yang
menyuruh kalian? Siapa gurumu?"
Pemuda itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang
aneh. Senyum yang pahit. Senyum yang mengatakan: Kau tidak akan
mendapat apa-apa dariku. Aku sudah dilatih untuk ini. Aku sudah siap untuk ini.
Aku tidak akan mengkhianati guruku.
Abu Nawas tidak mendesak. Ia hanya menepuk pundak pemuda
itu dengan lembut, seperti seorang ayah yang menepuk pundak anaknya yang nakal.
"Nak," katanya, "kita akan bicara lagi
nanti. Di tempat yang lebih tenang. Di tempat yang lebih… jujur. Di tempat yang
tidak ada keramaian. Di tempat yang tidak ada tawa. Di tempat yang tidak ada…
bayangan."
BAB 6: BAYANGAN TANPA BENTUK
Empat pemuda itu dibawa ke kantor kepala penjaga pasar,
sebuah ruangan sederhana di pinggiran pasar, tidak jauh dari gerbang timur.
Ruangan itu terbuat dari bata merah, dengan lantai tanah yang dipadatkan,
dinding yang diplester kasar, dan langit-langit dari anyaman bambu yang sudah
menghitam karena asap lampu minyak. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu besar
yang penuh dengan coretan-coretan—nama-nama, tanggal-tanggal,
angka-angka—peninggalan para penjaga yang pernah bertugas sebelumnya. Di sudut
ruangan, beberapa kursi kayu yang sudah goyang karena usia.
Abu Nawas ikut bersama mereka, dengan izin khusus dari
Jafar yang sudah mengirim utusan untuk memastikan bahwa Abu Nawas bisa
menginterogasi para pencuri itu tanpa gangguan, tanpa tekanan, tanpa… kekerasan.
Karena Abu Nawas percaya bahwa kekerasan tidak akan menghasilkan kebenaran.
Kekerasan hanya akan menghasilkan ketakutan. Dan ketakutan, pikirnya, adalah
musuh terbesar kejujuran.
Empat pemuda itu duduk di kursi-kursi kayu di hadapan meja,
dengan tangan terbelenggu di belakang punggung. Dua penjaga pasar berdiri di
belakang mereka, siap sedia jika ada yang mencoba melarikan diri. Tapi keempat
pemuda itu tidak mencoba melarikan diri. Mereka duduk dengan pasrah, dengan
wajah-wajah yang berbeda-beda.
Yang pertama—yang paling muda, mungkin baru lima belas
tahun—menangis tersedu-sedu. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang
masih mulus, tanpa janggut. Bahunya yang kurus bergetar hebat, seperti daun
kering yang diterpa angin. Ia menunduk, tidak berani menatap siapa pun, hanya
menatap lantai tanah yang becek di bawah kakinya.
Yang kedua—yang sedikit lebih tua, mungkin tujuh belas
tahun—diam membatu. Wajahnya pucat, matanya kosong, bibirnya tertutup rapat. Ia
tidak menangis, tidak berbicara, tidak bergerak. Ia hanya duduk di kursinya
dengan tubuh kaku, seperti patung. Seperti seseorang yang sudah menyerah pada
takdir. Seperti seseorang yang sudah kehilangan harapan.
Yang ketiga—yang berusia sekitar delapan belas tahun—marah.
Matanya merah, napasnya memburu, tangannya yang terbelenggu berusaha melepaskan
diri, meskipun sia-sia. Ia membentak-bentak, memaki-maki, mengumpat-umpat.
"Lepaskan aku! Aku tidak bersalah! Aku tidak mencuri apa pun! Aku hanya
lewat! Aku tidak tahu apa-apa!" Tapi suaranya bergetar, matanya liar, dan
Abu Nawas tahu bahwa kemarahannya hanyalah topeng untuk menutupi ketakutan yang
sangat besar.
Yang keempat—yang paling tua, mungkin dua puluh tahun—duduk
dengan tenang. Tidak menangis, tidak marah, tidak membatu. Ia duduk dengan
punggung tegak, mata lurus ke depan, wajah tenang. Terlalu tenang. Tenang yang
tidak wajar. Tenang yang terlatih. Tenang yang… sudah dipersiapkan.
Abu Nawas duduk di hadapan mereka, di kursi yang sedikit
lebih tinggi, dengan semangkuk kurma di sampingnya. Ia mengambil satu kurma,
memasukkannya ke mulut, mengunyah perlahan, dan menatap keempat pemuda itu satu
per satu. Matanya bergerak dari yang pertama hingga yang keempat, berhenti
sejenak di setiap wajah, membaca setiap ekspresi, setiap gerakan, setiap detak
jantung yang tersembunyi di balik kulit dan daging.
"Selamat malam, anak-anak," katanya dengan suara
yang ramah, lembut, seperti seorang guru yang sedang berbicara dengan
murid-muridnya di akhir pelajaran. "Saya harap kalian tidak terlalu takut.
Saya bukan algojo. Saya bukan hakim. Saya bukan penjaga pasar. Saya hanya
seorang yang suka teka-teki. Dan kalian, anak-anak, adalah teka-teki yang
paling menarik di pasar ini. Teka-teki tentang bayangan yang bergerak di
keramaian. Teka-teki tentang tangan yang mengambil tanpa terlihat. Teka-teki
tentang… seorang guru."
Keempat pemuda itu tidak menjawab. Tiga dari mereka—yang
menangis, yang membatu, yang marah—tidak berani menatap Abu Nawas. Mereka
menunduk, memalingkan muka, menutup mata. Tapi yang keempat—yang tenang—menatap
Abu Nawas langsung ke matanya. Tanpa rasa takut. Tanpa rasa bersalah. Tanpa…
apa pun. Matanya kosong. Matanya seperti cermin yang tidak memantulkan apa pun.
Matanya seperti… bayangan.
"Nak," Abu Nawas menatap pemuda yang tenang itu,
"kau pasti yang memimpin kelompok ini. Bukan karena kau yang paling kuat.
Bukan karena kau yang paling tua. Bukan karena kau yang paling pintar. Tapi
karena kau yang paling… tidak takut. Orang yang tidak takut di saat seperti ini
biasanya sudah berpengalaman. Atau… sudah dilatih. Dilatih untuk tidak takut.
Dilatih untuk tidak merasa. Dilatih untuk tidak… menjadi manusia."
Pemuda itu tidak menjawab. Tidak berkedip. Tidak bergerak.
Matanya tetap menatap Abu Nawas dengan kosong.
"Kau tidak perlu menjawab sekarang," lanjut Abu
Nawas. "Tapi sebelum kita bicara lebih jauh, saya ingin bercerita. Cerita
tentang seorang anak muda yang sangat pintar. Pintar sekali. Lebih pintar dari
teman-temannya. Lebih pintar dari orang-orang di sekitarnya. Tapi ia
menggunakan kecerdasannya untuk hal yang salah. Ia mencuri. Bukan karena lapar.
Bukan karena miskin. Bukan karena tidak punya pilihan. Tapi karena… ia diajar.
Diajar oleh seseorang. Seseorang yang lebih pintar darinya. Seseorang yang tahu
bagaimana memanfaatkan keramaian. Seseorang yang tahu bagaimana membuat orang
lain melakukan pekerjaan kotornya. Seseorang yang… bersembunyi di balik
murid-muridnya."
Pemuda itu tidak bergerak. Tapi Abu Nawas melihat ada
getaran kecil di jari-jarinya. Getaran yang sangat kecil, hampir tidak
terlihat, tetapi nyata. Getaran yang tidak bisa disembunyikan oleh latihan apa
pun.
"Saya tidak akan menanyakan siapa orang itu
sekarang," kata Abu Nawas. "Saya hanya ingin kalian tahu: kalian
bukan pencuri biasa. Kalian adalah… alat. Alat di tangan seseorang yang lebih
licik. Alat yang bisa dipakai, bisa dibuang, bisa diganti. Dan alat, anak-anak,
tidak punya nama. Tidak punya wajah. Tidak punya… masa depan. Ketika kalian
ditangkap, apakah orang yang menyuruh kalian akan datang menyelamatkan
kalian?"
Ia menatap keempat pemuda itu satu per satu. Yang menangis
semakin keras. Yang membatu mulai gemetar. Yang marah berhenti membentak,
matanya mulai berkaca-kaca. Yang tenang… yang tenang masih diam. Tapi Abu Nawas
melihat ada sesuatu di matanya. Bukan ketakutan. Bukan kemarahan. Tapi…
keraguan. Keraguan yang mulai menggerogoti dinding pertahanan yang selama ini
ia bangun.
"Kita istirahat dulu," kata Abu Nawas sambil
berdiri. "Saya akan kembali besok pagi. Pikirkan tentang apa yang saya
katakan. Tentang menjadi alat. Tentang dibuang. Tentang… kesempatan untuk
memulai lagi. Kesempatan untuk menjadi manusia, bukan bayangan. Kesempatan
untuk melihat matahari tanpa takut."
Ia berjalan keluar, meninggalkan keempat pemuda itu dalam
keheningan. Di luar, angin malam berhembus lembut, membawa aroma rempah-rempah
dari pasar yang mulai sepi. Abu Nawas berdiri di serambi kantor, menatap langit
malam yang dipenuhi bintang-bintang. Di kejauhan, dari arah istana, terdengar
suara lonceng yang menandakan pergantian shift penjaga. Semua tenang. Semua damai.
Tapi di dalam hatinya, ada kegelisahan. Bukan kegelisahan tentang pencuri. Tapi
kegelisahan tentang anak-anak itu. Anak-anak yang masih muda. Anak-anak yang
masih bisa berubah. Anak-anak yang… menjadi korban dari orang yang lebih
pintar.
Di luar, Jafar sudah menunggu dengan wajah cemas. Ia
berdiri di bawah pohon kurma di halaman kecil di depan kantor, dengan jubahnya
yang berkibar-kibar ditiup angin malam. Di tangannya, sebuah lilin kecil yang
cahayanya berkelap-kelip, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding bata
merah.
"Abu Nawas," katanya ketika Abu Nawas keluar,
"mereka tidak mau bicara?"
"Belum, Wazir. Tapi mereka akan bicara. Bukan
sekarang. Nanti. Setelah mereka berpikir. Setelah mereka sadar bahwa mereka
hanyalah korban juga. Korban dari seseorang yang lebih pintar. Korban dari
seseorang yang memanfaatkan kelaparan mereka, ketakutan mereka, keputusasaan
mereka. Korban dari… seorang guru."
"Kau pikir ada dalang di balik semua ini? Bukan hanya
anak-anak itu?"
Abu Nawas mengangguk. "Empat pemuda seusia itu tidak
mungkin merencanakan pencurian sebesar ini sendiri. Mereka butuh latihan. Butuh
koordinasi. Butuh… seorang guru. Seseorang yang tahu persis kelemahan pasar.
Seseorang yang tahu kapan harus mencuri, di mana harus mencuri, bagaimana cara
menghilang. Seseorang yang… sangat mengenal pasar malam Baghdad. Seseorang
yang… mungkin pernah menjadi bagian dari pasar ini. Seorang pedagang yang
bangkrut. Seorang yang kehilangan segalanya. Seorang yang… dendam."
Jafar terdiam. "Kau pikir siapa?"
"Saya tidak tahu, Wazir. Tapi saya yakin, orang itu
masih di pasar. Masih mengamati. Masih menunggu. Masih percaya bahwa kalian
tidak akan pernah menemukannya. Karena ia sudah terlalu lama menjadi bayangan.
Karena ia sudah terlalu lama bersembunyi. Karena ia sudah terlalu lama… tidak
terlihat."
BAB 7: JEBAKAN DI TENGAH KERAMAIN
Pada malam kedelapan, Abu Nawas kembali ke pasar. Kali ini,
ia tidak sendirian. Di belakangnya, tersembunyi di antara kerumunan, ada dua
puluh penjaga pasar yang siap sedia. Mereka tidak berpakaian seragam, tidak
membawa senjata yang terlihat. Mereka menyamar sebagai pembeli biasa, sebagai
pedagang kecil, sebagai pengunjung yang sedang bersantai di kedai kopi, sebagai
anak-anak yang berlarian di antara kaki orang dewasa. Mereka tersebar di
seluruh pasar, di setiap lorong, di setiap sudut, di setiap tempat yang
strategis. Mereka menunggu. Mereka mengamati. Mereka siap bergerak kapan saja.
Abu Nawas juga tidak sendirian dalam arti lain. Di
tangannya, ia membawa sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah ia bawa ke
pasar sebelumnya. Sesuatu yang akan menjadi umpan yang sempurna. Sesuatu yang
tidak akan bisa ditolak oleh pencuri mana pun, sekaya apa pun, sepintar apa
pun, sehebat apa pun.
Sebuah kotak kayu kecil, diukir dengan indah, dengan ukiran
bunga-bunga melati yang rumit, dengan daun-daun yang menjalar di setiap
sisinya, dengan kuncup-kuncup yang hampir mekar. Ukiran itu bukan buatan
sembarang pengukir. Ukiran itu adalah karya Ustadz Mansur, pengukir kayu
terbaik di Baghdad, yang karyanya hanya bisa dipesan oleh keluarga kerajaan dan
saudagar-saudagar terkaya. Di tengah tutup kotak itu, sebuah batu akik merah
sebesar telur burung pipit tertanam, berkilau di bawah cahaya lampu minyak,
seperti mata yang terbuka lebar. Dan di sekeliling batu akik itu, ditatahkan
emas murni membentuk kaligrafi ayat Kursi, ayat yang dipercaya dapat melindungi
pemiliknya dari segala kejahatan.
Di dalam kotak itu, Abu Nawas meletakkan… cermin. Bukan
cermin biasa. Cermin yang ia pinjam dari ruang Al-Mir’ah al-Qadimah. Cermin
yang retak. Cermin yang konon bisa menampakkan kebenaran hati. Cermin yang
menjadi saksi bisu dari pengakuan Umar, Hakim, dan Farhan. Cermin yang
sekarang, dengan retakannya yang membelah permukaan kaca dari atas ke bawah,
menjadi benda paling misterius di seluruh kekhalifahan.
Tentu saja, Abu Nawas tidak percaya pada kekuatan ajaib
cermin itu. Ia tahu bahwa cermin itu hanyalah kaca dan perak. Ia tahu bahwa
retakannya disebabkan oleh goresan kuku Al-Ma’mun. Ia tahu bahwa tidak ada yang
ajaib di dalamnya. Tapi ia juga tahu sesuatu yang lain: bahwa manusia, pada
dasarnya, adalah makhluk yang mudah percaya pada hal-hal ajaib. Manusia, pada
dasarnya, adalah makhluk yang takut pada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.
Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang akan melakukan apa pun untuk
menghindari kebenaran, tetapi juga akan melakukan apa pun untuk melihat
kebenaran.
Dan di pasar malam yang penuh dengan cerita-cerita gaib,
yang penuh dengan legenda tentang jin dan setan, yang penuh dengan bisik-bisik
tentang benda-benda bertuah dan ramalan-ramalan misterius, cermin retak yang
konon bisa menampakkan kebenaran hati adalah umpan yang sempurna. Umpan yang
tidak akan bisa ditolak oleh siapa pun. Umpan yang akan menarik semua orang,
termasuk… seorang guru.
Abu Nawas berjalan ke tengah lorong utama, ke tempat yang
sama di mana ia mendirikan panggung dua malam lalu. Kali ini, ia tidak
mendirikan panggung. Ia hanya berdiri di sana, di persimpangan empat lorong
yang paling ramai, dengan kotak kayu di tangannya. Ia berdiri diam, tidak
bergerak, tidak berbicara. Ia hanya berdiri, dengan kepala sedikit menunduk,
dengan mata setengah terpejam, dengan senyum misterius yang tidak pernah lepas
dari wajahnya.
Orang-orang mulai memperhatikan. Mereka yang lewat berhenti,
menatap dengan penasaran. Mereka bertanya-tanya: siapa orang ini? Apa yang ia
bawa? Mengapa ia berdiri di sini? Mengapa ia diam? Mengapa ia tersenyum?
Kemudian, perlahan-lahan, Abu Nawas membuka kunci emas
kotak itu. Bunyi klik dari kunci yang terbuka terdengar jelas di antara
keramaian, seperti suara bel kecil yang menghentikan semua orang yang
mendengarnya. Ia membuka tutup kotak itu perlahan-lahan, dengan gerakan yang
dramatis, dengan tangan yang sedikit gemetar—gemetar yang dibuat-buat, tetapi
terlihat sangat nyata.
Cermin retak itu bersinar di bawah lampu minyak. Retakannya
menciptakan pantulan-pantulan yang aneh, memecah cahaya menjadi berkas-berkas
yang tidak biasa, menciptakan warna-warna yang tidak pernah terlihat pada
cermin biasa. Kilau perak di balik kaca berpadu dengan emas bingkai,
menciptakan lingkaran cahaya di sekeliling cermin, seperti bulan purnama yang
muncul dari balik awan.
Orang-orang yang lewat mulai berhenti, mulai berkerumun,
mulai mendekat. Mereka menatap cermin itu dengan mata terpesona, dengan napas
tertahan, dengan jantung berdebar kencang. Beberapa dari mereka mengenali
cermin itu. Beberapa dari mereka pernah mendengar cerita tentang cermin itu.
Beberapa dari mereka tahu bahwa cermin itu berasal dari istana. Beberapa dari mereka
tahu bahwa cermin itu retak karena tidak tahan menyimpan kebohongan.
"Wahai saudara-saudara!" seru Abu Nawas, suaranya
bergema di lorong-lorong sempit, menghentikan semua orang yang lewat, menarik
perhatian semua orang yang berada di dekatnya. "Lihatlah! Cermin ajaib
dari istana Baginda Raja! Cermin yang retak karena tidak tahan menyimpan
kebohongan! Cermin yang bisa menampakkan kebenaran hati siapa pun yang
melihatnya!"
Kerumunan semakin besar. Orang-orang datang dari segala
arah, dari lorong utara, dari lorong selatan, dari lorong timur, dari lorong
barat. Mereka berdesakan, saling dorong, saling injak, berusaha mendapatkan
tempat terbaik untuk melihat cermin itu. Pedagang-pedagang meninggalkan kios
mereka, pembeli-pembeli meninggalkan barang yang sedang mereka tawar, anak-anak
berlarian di antara kaki orang dewasa, semua ingin melihat, semua ingin tahu,
semua ingin… membuktikan.
"Siapa pun yang berdiri di hadapan cermin ini,"
lanjut Abu Nawas, suaranya menjadi lebih pelan, lebih misterius, lebih menusuk,
"akan melihat kebenaran hatinya. Jika kau jujur, kau akan melihat wajahmu
sendiri. Jika kau menyembunyikan sesuatu… kau akan melihat bayangan yang tidak
kau kenali. Bayangan yang akan mengejarmu. Bayangan yang tidak bisa kau
hindari. Bayangan yang akan mengikutimu ke mana pun kau pergi, sampai kau
berani menghadapi kebenaran."
Ia mengangkat cermin itu tinggi-tinggi, membiarkan semua
orang melihat retakannya yang misterius, membiarkan semua orang merasakan
kehadirannya yang mencekam, membiarkan semua orang bertanya-tanya: apa yang
akan kulihat jika aku berdiri di hadapannya?
"Malam ini," kata Abu Nawas, suaranya menjadi
lebih keras, lebih tegas, lebih… menantang, "cermin ini akan menampakkan
pencuri yang selama ini meresahkan pasar kita. Pencuri bayangan. Pencuri yang
tidak bisa dilihat. Pencuri yang bersembunyi di balik keramaian. Pencuri yang…
ada di antara kalian."
Kerumunan mulai gelisah. Orang-orang saling berpandangan,
saling curiga, saling menjauh. Mereka yang tadinya berdesakan untuk melihat
cermin, kini mulai mundur, mulai mencari jarak, mulai melindungi diri.
Ketakutan yang selama ini tertidur, bangkit kembali. Kecurigaan yang selama ini
terpendam, muncul ke permukaan. Tanya yang selama ini tidak terjawab, mulai
mencari jawaban.
Di tengah kegelisahan itu, Abu Nawas mengamati. Matanya
bergerak cepat, mencari wajah-wajah yang terlalu tenang, terlalu waspada,
terlalu… tidak terpengaruh. Ia mencari wajah-wajah yang tidak seperti wajah
orang lain. Wajah yang tidak penasaran. Wajah yang tidak takut. Wajah yang
tidak bergerak. Wajah yang… hanya menunggu.
Dan ia melihatnya.
Seorang lelaki berdiri di sudut kerumunan, agak jauh dari
yang lain, di dekat tiang kayu penyangga atap pasar. Ia tidak mendekat seperti
yang lain. Ia tidak berdesakan untuk melihat cermin. Ia tidak bertanya-tanya
tentang keajaiban atau kebenaran. Ia hanya berdiri di sana, dengan tangan
disilangkan di dada, dengan kepala sedikit menunduk, dengan mata yang tidak
tertuju pada cermin, tetapi pada orang-orang di sekitarnya. Matanya bergerak
perlahan, tenang, terlatih, seperti mata seorang ahli strategi yang sedang
menilai medan perang. Matanya tidak penasaran. Matanya tidak takut. Matanya…
terlatih. Seperti mata seseorang yang sudah lama terbiasa mengamati. Seperti
mata seseorang yang sedang menilai apakah ini ancaman atau bukan. Seperti mata
seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk melarikan diri jika diperlukan.
Abu Nawas tersenyum. Ia menurunkan cermin itu, menutup
kotaknya dengan perlahan, mengunci kembali kunci emasnya dengan bunyi klik yang
bergema di keheningan yang tiba-tiba menyelimuti kerumunan. Ia berjalan
perlahan, melewati kerumunan yang membelah di hadapannya seperti Laut Merah
membelah di hadapan Nabi Musa, dan berhenti tepat di hadapan lelaki itu.
"Tuan," katanya dengan suara yang ramah, dengan
senyum yang lebar, dengan mata yang bersinar, "apakah Tuan tidak ingin
melihat cermin ini? Cermin ajaib dari istana Baginda Raja? Cermin yang retak
karena tidak tahan menyimpan kebohongan? Cermin yang bisa menampakkan kebenaran
hati? Apakah Tuan tidak penasaran? Apakah Tuan tidak ingin tahu? Apakah Tuan
tidak… takut?"
Lelaki itu tersenyum. Senyum yang ramah, senyum yang biasa,
senyum yang tidak akan diingat siapa pun jika dilihat sekilas di keramaian.
Senyum yang sempurna untuk… bersembunyi. Senyum yang sempurna untuk… menjadi
bayangan.
"Saya tidak percaya pada cermin ajaib, Tuan,"
katanya, suaranya tenang, datar, tidak bergetar. "Cermin hanya cermin.
Kaca dan perak. Tidak lebih. Tidak ada yang ajaib. Tidak ada yang istimewa.
Hanya benda mati. Hanya pantulan. Hanya… ilusi."
"Tapi cermin ini istimewa, Tuan. Cermin ini retak. Dan
retakannya… retakannya bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat mata biasa.
Retakannya bisa melihat ke dalam hati. Retakannya bisa melihat kebenaran yang
tersembunyi. Retakannya bisa melihat… bayangan."
Lelaki itu tidak berubah ekspresi. Senyumnya tetap. Matanya
tetap tenang. Tapi Abu Nawas melihat ada perubahan kecil di balik ketenangan
itu. Sesuatu yang bergerak di balik matanya. Sesuatu yang gelisah. Sesuatu yang
takut. Sesuatu yang… ingin lari.
"Dan apa yang dilihat retakan itu, Tuan?" tanya
lelaki itu, suaranya masih tenang, tetapi ada nada yang berbeda di dalamnya.
Nada yang tidak bisa disembunyikan oleh latihan apa pun. Nada yang keluar dari
lubuk hati yang paling dalam.
Abu Nawas mendekat, menurunkan suaranya menjadi nyaris
berbisik, hanya cukup untuk didengar oleh lelaki itu. "Retakan itu melihat
tangan-tangan yang bergerak di keramaian. Tangan-tangan yang mengambil
barang-barang yang bukan haknya. Tangan-tangan yang terlatih. Tangan-tangan
yang diajar oleh seseorang yang sangat mengenal pasar ini. Seseorang yang tahu
kapan orang lengah. Seseorang yang tahu di mana harus berdiri. Seseorang yang
tahu bagaimana menghilang. Seseorang yang… dulu pernah menjadi bagian dari
pasar ini. Seorang pedagang. Seorang yang bangkrut. Seorang yang kehilangan
segalanya. Seorang yang… dendam."
Lelaki itu tidak berubah ekspresi. Tidak berkedip. Tidak
bergerak. Tapi Abu Nawas melihat ada getaran di tangannya. Getaran yang sangat
kecil, sangat cepat, hampir tidak terlihat. Getaran yang tidak bisa
disembunyikan oleh latihan apa pun.
"Tuan," kata lelaki itu, "saya tidak tahu
apa yang Tuan bicarakan. Saya hanya pedagang biasa. Saya datang ke pasar untuk
berdagang, seperti biasa. Saya tidak punya waktu untuk cerita-cerita tentang
cermin ajaib dan pencuri bayangan. Saya hanya… berdagang."
"Pedagang?" Abu Nawas mengangkat alis. "Apa
yang Tuan jual?"
"Apa saja. Barang-barang kecil. Yang laku."
"Barang-barang kecil? Seperti apa? Mutiara? Sutra?
Safron? Keris pusaka? Dompet berisi seratus dinar? Sepuluh gulung sutra
Khurasan? Kalung mutiara teluk Oman?"
Lelaki itu tersenyum. Senyum yang masih ramah, tetapi ada
sesuatu di balik senyum itu. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang tajam. Sesuatu yang…
mematikan.
"Tuan punya imajinasi yang kuat. Saya hanya menjual…
kurma."
Abu Nawas tertawa. Tertawa yang keras, tertawa yang bebas,
tertawa yang bergema di lorong-lorong pasar, tertawa yang membuat semua orang
menoleh. "Kurma! Tuan menjual kurma! Kebetulan sekali! Saya penggemar
kurma. Penggemar berat. Saya bisa makan kurma sepanjang hari tanpa bosan. Saya
bisa makan kurma untuk sarapan, untuk makan siang, untuk makan malam. Saya bisa
makan kurma sambil tidur, sambil berjalan, sambil bercerita. Kurma adalah
makanan favorit saya. Kurma adalah teman terbaik saya. Kurma adalah… guru
saya."
Ia mendekat, menatap lelaki itu langsung ke matanya.
"Di mana kios Tuan, Tuan Guru? Saya ingin membeli.
Saya ingin mencoba kurma Tuan. Saya ingin tahu apakah kurma Tuan se-enak kurma
yang pernah saya makan. Kurma Sukkari dari kebun Baginda Raja. Kurma yang
manisnya seperti kejujuran. Kurma yang tidak pernah dicampur, tidak pernah
dikurangi, tidak pernah… dicuri."
Lelaki itu menunjuk ke arah lorong kecil di selatan, ke
arah gerbang belakang pasar, ke arah tempat yang gelap, tempat yang jarang
dilalui orang, tempat yang sempurna untuk bersembunyi. "Di sana, Tuan.
Kios kecil. Tidak seberapa. Tidak layak untuk Tuan yang terbiasa dengan kurma
istana."
"Baiklah, besok saya akan berkunjung. Tuan jangan lupa
menyisakan kurma terbaik untuk saya. Kurma yang paling manis. Kurma yang paling
jujur. Kurma yang… tidak menyembunyikan apa pun."
"Tentu, Tuan. Dengan senang hati."
Lelaki itu berbalik, berjalan perlahan meninggalkan
kerumunan, meninggalkan Abu Nawas, meninggalkan cermin ajaib, meninggalkan
semua orang yang masih terpaku di tempat. Langkahnya tenang, teratur, tidak
tergesa-gesa. Langkah seorang yang tidak ingin menarik perhatian. Langkah
seorang yang sudah terbiasa menghilang. Langkah seorang yang… bayangan.
Abu Nawas menatap punggungnya yang menghilang di antara
kios-kios, di antara lampu-lampu minyak, di antara keramaian yang mulai kembali
normal. Punggung yang biasa. Punggung yang tidak akan diingat siapa pun.
Punggung yang… terlalu sempurna untuk menjadi pedagang kurma biasa.
Ia memanggil seorang penjaga yang menyamar di dekatnya,
seorang lelaki muda dengan jubah petani dan sorotan lusuh.
"Ikuti dia," bisiknya. "Jangan sampai
kehilangan. Tapi jangan terlalu dekat. Orang ini pintar. Dia akan tahu jika dia
diikuti. Dia sudah terbiasa dengan bahaya. Dia sudah terlatih untuk ini. Dia
sudah… menjadi bayangan terlalu lama."
Penjaga itu mengangguk, berjalan perlahan mengikuti lelaki
itu ke lorong selatan, menghilang di antara kerumunan.
BAB 8: KEJENIUSAN YANG TERSEMBUNYI
Keesokan paginya, Abu Nawas kembali ke kantor kepala
penjaga pasar. Empat pemuda itu masih di sana, duduk di kursi yang sama, dengan
tangan masih terbelenggu. Mereka tampak kelelahan, mata merah karena kurang tidur,
wajah pucat karena ketakutan, bibir kering karena kehausan. Mereka belum makan
sejak semalam. Mereka belum minum sejak semalam. Mereka belum tidur sejak
semalam. Mereka hanya duduk di sana, dalam keheningan, dalam ketakutan, dalam
penantian.
Tapi yang keempat—pemuda dengan mata waspada, pemuda yang
paling tua, pemuda yang paling tenang—tampak berbeda. Ada sesuatu di matanya.
Bukan lagi ketenangan palsu yang terlatih. Bukan lagi keberanian yang
dipaksakan. Bukan lagi kesetiaan yang buta. Tapi… keraguan. Keraguan yang sudah
mulai menggerogoti dinding pertahanannya. Keraguan yang sudah mulai membuatnya
bertanya-tanya. Keraguan yang sudah mulai membuka matanya.
Abu Nawas duduk di hadapannya, mengambil kurma dari
sakunya, dan mengunyah perlahan. Ia tidak terburu-buru. Ia tahu bahwa keraguan
membutuhkan waktu untuk tumbuh. Ia tahu bahwa kesadaran membutuhkan waktu untuk
muncul. Ia tahu bahwa kejujuran membutuhkan waktu untuk lahir. Ia hanya perlu…
menunggu.
"Nak," katanya setelah beberapa saat, suaranya
lembut, seperti seorang ayah yang berbicara dengan anaknya, "semalam, saya
melihat seseorang. Seorang lelaki. Paruh baya. Wajah biasa. Tidak ada yang
istimewa. Ia bilang ia pedagang kurma. Ia bilang kiosnya di lorong selatan,
dekat gerbang belakang. Ia bilang ia hanya pedagang biasa. Tapi matanya…
matanya seperti matamu. Terlatih. Waspada. Seperti seseorang yang sudah lama…
mengajarkan sesuatu kepada anak-anak muda. Seperti seseorang yang sudah lama…
menjadi guru."
Pemuda itu tidak menjawab. Tidak bergerak. Tidak berkedip.
Tapi Abu Nawas melihat tangannya gemetar. Gemetar yang tidak bisa
disembunyikan. Gemetar yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Saya tidak tahu siapa orang itu," lanjut Abu
Nawas. "Tapi saya tahu satu hal: ia bukan pedagang kurma. Pedagang kurma
tidak akan berdiri di sudut kerumunan dengan tangan disilangkan, mengamati
cermin ajaib dengan mata seorang ahli strategi. Pedagang kurma tidak akan
menawarkan barang-barang kecil yang laku, tanpa menyebut apa yang sebenarnya ia
jual. Pedagang kurma tidak akan… memiliki murid. Murid yang diajar untuk
mencuri. Murid yang diajar untuk menjadi bayangan. Murid yang… ditinggalkan
ketika tertangkap."
Ia menatap pemuda itu dengan mata yang lembut, mata yang
penuh pengertian, mata yang tidak menghakimi.
"Nak, saya tidak akan menanyakan siapa dia. Saya tidak
akan memaksa kau untuk mengaku. Saya tidak akan menyiksa kau untuk mendapatkan
nama. Tapi saya ingin kau tahu: kau punya kesempatan. Kesempatan untuk tidak
menjadi alat. Kesempatan untuk memulai lagi. Kesempatan untuk menjadi manusia
yang jujur. Kau masih muda. Kau masih bisa memilih. Kau masih bisa…
pulang."
Pemuda itu menunduk. Air matanya jatuh. Jatuh ke
pangkuannya, jatuh ke tangannya yang terbelenggu, jatuh ke lantai tanah yang
becek. Air mata yang tidak bisa ditahan lagi. Air mata yang keluar dari tempat
yang paling dalam. Air mata yang membersihkan. Air mata yang menyembuhkan.
"Tuan," katanya, suaranya parau, terputus-putus,
seperti orang yang sudah lama tidak berbicara, "aku… aku tidak tahu namanya.
Kami hanya memanggilnya 'Guru'. Dia yang mengajari kami. Dia yang memberi tahu
kami kapan harus datang, di mana harus berdiri, barang apa yang harus diambil.
Kami hanya… mengikuti perintah. Kami tidak pernah bertanya. Kami tidak pernah
tahu. Kami hanya… percaya. Percaya bahwa dia akan melindungi kami. Percaya
bahwa dia tidak akan membiarkan kami tertangkap. Percaya bahwa kami adalah…
murid-muridnya."
"Di mana kalian biasanya bertemu?"
"Di sebuah gudang tua di pinggiran pasar. Di lorong
timur, dekat gerbang belakang. Setiap malam, setelah pasar tutup. Dia datang,
memberikan instruksi, membagi tugas, memberikan… bagian kami. Bagian yang cukup
untuk makan. Bagian yang cukup untuk bertahan hidup. Bagian yang cukup untuk…
tidak kelaparan."
Abu Nawas mengangguk. "Terima kasih, Nak. Kau telah
membantu. Kau telah memilih jalan yang benar. Jalan yang jujur. Jalan yang…
membawa pulang."
Ia berdiri, berjalan ke pintu. Di luar, ia memanggil kepala
penjaga pasar, seorang lelaki tegap dengan janggut lebat dan mata yang tajam,
yang sudah dua puluh tahun menjaga pasar malam Baghdad.
"Malam ini," katanya, "kita akan menjemput
seorang 'guru'. Siapkan dua puluh orang. Orang-orang terbaikmu. Orang-orang
yang bisa diam. Orang-orang yang tidak takut. Orang-orang yang… bisa menangkap
bayangan."
Kepala penjaga itu mengangguk. "Sudah siap, Tuan.
Sejak semalam. Sejak Tuan memberi isyarat."
"Jangan ada yang tahu," kata Abu Nawas.
"Rencana ini harus rahasia. Orang ini pintar. Ia sudah terlatih. Ia sudah
menjadi bayangan terlalu lama. Jika ia curiga, ia akan menghilang. Seperti
bayangan yang menghilang ketika matahari terbit. Dan kita tidak akan pernah
menemukannya lagi."
BAB 9: TERUNGKAPNYA RAHASIA
Malam itu, pasar malam Baghdad berdenyut seperti biasa.
Lampu-lampu minyak menyala di ribuan kios, menciptakan ilusi langit berbintang
di permukaan bumi. Pedagang-pedagang berteriak menawarkan dagangan,
pembeli-pembeli menawar harga dengan semangat, anak-anak berlarian di antara
kaki orang dewasa, penyanyi-penyanyi jalanan memetik kecapi, penjual-penjual
kopi menuangkan air panas ke dalam cangkir-cangkir kecil. Semuanya normal.
Semuanya seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa malam ini, sesuatu akan
terjadi. Tidak ada yang tahu bahwa malam ini, bayangan akan ditangkap.
Abu Nawas tidak pergi ke pasar. Ia duduk di Kedai
Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan, dengan mangkuk kurma di
pangkuannya dan segelas air tajin di sampingnya. Di hadapannya, duduk Jafar
yang datang dengan pakaian biasa, berusaha untuk tidak dikenali oleh pengunjung
lain. Jafar gelisah. Matanya terus-menerus menatap pintu, menunggu utusan,
menunggu kabar, menunggu… hasil.
"Abu Nawas," kata Jafar, suaranya tegang,
"kau yakin rencanamu akan berhasil? Orang itu sudah kita awasi sejak
semalam. Sejak kau memberi isyarat di pasar. Dua puluh penjaga terbaik kita
sudah ditempatkan di sekeliling gudang. Mereka tidak bergerak. Mereka tidak
berbicara. Mereka tidak bernapas terlalu keras. Tapi orang itu… orang itu tidak
melakukan apa pun yang mencurigakan. Ia hanya duduk di kiosnya, menjual kurma,
tersenyum ramah kepada setiap pembeli. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang
salah. Tidak ada yang… berbeda."
Abu Nawas tersenyum. Ia mengambil kurma, memutarnya di
antara jari-jarinya, menikmati teksturnya yang lembut, aromanya yang manis,
kehadirannya yang menenangkan.
"Itulah kejeniusannya, Wazir. Ia tidak melakukan apa
pun yang mencurigakan. Ia hanya… menjadi pedagang kurma biasa. Pedagang kurma
yang sempurna. Terlalu sempurna. Tidak ada pedagang kurma yang sesempurna itu.
Pedagang kurma yang baik akan ramai, akan berteriak, akan memanggil pembeli. Ia
tidak akan duduk diam dengan tersenyum ramah. Ia akan bergerak, menata
dagangan, menawar, tertawa, kadang-kadang marah kalau ada yang menawar terlalu
rendah. Ia tidak akan… sempurna."
Jafar mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Wazir, pernahkah Wazir memperhatikan pedagang kurma
di pasar? Mereka tidak diam. Mereka tidak tenang. Mereka tidak… sempurna.
Mereka berteriak, 'Kurma! Kurma! Kurma manis dari Yathrib! Kurma segar dari
kebun langsung!' Mereka memanggil pembeli dengan suara keras, dengan gerakan
lebar, dengan senyum lebar. Mereka tidak hanya duduk diam. Mereka tidak hanya
tersenyum ramah. Mereka tidak hanya… menunggu."
Ia mengambil kurma lain, memasukkannya ke mulut, mengunyah
perlahan.
"Orang yang duduk di kios itu bukan pedagang kurma. Ia
adalah seorang yang menyamar. Dan penyamaran yang sempurna, Wazir, adalah
penyamaran yang tidak mencolok. Terlalu sempurna, dan ia justru mencolok. Bagi
mata yang terlatih. Bagi mata yang… tidak tertipu oleh keramaian."
Jafar menghela napas. "Kau benar. Aku tidak pernah
memikirkannya. Aku terlalu sibuk dengan urusan istana. Terlalu sibuk dengan
laporan dari provinsi. Terlalu sibuk dengan… hal-hal besar. Aku lupa bahwa
kadang-kadang, kebenaran besar tersembunyi di hal-hal kecil. Di pedagang kurma
yang terlalu sempurna. Di anak-anak muda yang terlalu lincah. Di… bayangan yang
terlalu gelap."
Mereka menunggu dalam keheningan. Abu Nawas makan kurma.
Jafar menyesap air tajin yang sudah dingin. Di luar, pasar malam mulai ramai.
Suara tawar-menawar, suara tawa, suara anak-anak berlarian. Semua terdengar
normal. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang…
mencurigakan.
Kemudian, sekitar tengah malam, ketika bulan purnama
bersinar terang di atas Baghdad, ketika pasar mulai sepi, ketika para pedagang
mulai menutup kios satu per satu, ketika lampu-lampu minyak mulai padam satu
per satu, seorang utusan datang. Pemuda itu berlari terengah-engah, wajahnya
berseri-seri, matanya berbinar-binar, napasnya memburu karena berlari dari
pasar ke kedai.
"Tuan Abu Nawas! Wazir!" teriaknya dari pintu,
suaranya memecah keheningan kedai yang mulai sepi. "Kami berhasil! Kami
tangkap dia! Di gudang tua! Ia sedang mengemas barang-barang curian! Semua ada!
Sutra dari Khurasan! Mutiara dari teluk Oman! Safron dari Persia! Keris pusaka
dari Jawa! Semua! Semua yang hilang selama ini! Semua ada di gudang itu!"
Abu Nawas berdiri perlahan. Ia mengambil kurma terakhir di
mangkuk, memasukkannya ke mulut, dan mengunyah dengan tenang. Tidak
terburu-buru. Tidak tergesa-gesa. Tidak panik. Hanya… menikmati. Menikmati
kurma terakhir malam itu. Menikmati rasa manis yang meleleh di lidahnya.
Menikmati kemenangan yang tidak perlu dirayakan dengan teriakan, tetapi cukup
dengan senyum.
"Wazir," katanya, "mari kita sambut 'guru'
itu. Mari kita lihat siapa yang selama ini bersembunyi di balik bayangan. Mari
kita lihat siapa yang mengajari anak-anak mencuri. Mari kita lihat siapa yang…
mengkhianati pasar ini."
Di gudang tua di pinggiran pasar, di lorong timur dekat
gerbang belakang, lampu-lampu minyak dinyalakan satu per satu, menerangi
ruangan yang penuh dengan barang-barang curian. Sutra-sutra dari Khurasan
tergulung rapi di sudut, berwarna-warni seperti pelangi yang jatuh ke bumi. Mutiara-mutiara
dari teluk Oman berserakan di atas meja kayu, berkilau di bawah cahaya lampu,
seperti bintang-bintang yang jatuh dari langit. Safron-safron dari Persia masih
terbungkus dalam kantong-kantong kecil, aromanya yang khas memenuhi ruangan,
bercampur dengan aroma kayu tua dan debu. Keris pusaka dari Jawa tersimpan
dalam sarungnya yang berukir indah, dengan gagang emas dan mata batu akik merah
yang bersinar seperti mata naga.
Dan di tengah ruangan itu, duduk seorang lelaki paruh baya
dengan tangan terikat di belakang punggung. Wajahnya biasa. Tidak tampan, tidak
jelek. Janggut tipis, mata hitam, hidung mancung, bibir tipis. Wajah yang tidak
akan diingat siapa pun jika dilihat sekilas di keramaian. Wajah yang sempurna
untuk… menghilang. Wajah yang sempurna untuk… menjadi bayangan.
Tapi matanya. Matanya tidak biasa. Matanya tenang. Tenang
sekali. Tenang yang tidak wajar. Tenang yang terlatih. Tenang yang sudah
dipersiapkan. Seperti orang yang sudah lama terbiasa dengan bahaya. Seperti
orang yang sudah mempersiapkan diri untuk saat ini. Seperti orang yang sudah…
menerima takdirnya.
Abu Nawas duduk di hadapannya, di atas peti kayu yang
terbalik. Ia mengambil kurma dari sakunya—kurma yang ia simpan sejak pagi untuk
acara-acara khusus seperti ini—dan memasukkannya ke mulut.
"Selamat malam, Tuan Guru," sapanya dengan ramah,
dengan senyum lebar, dengan mata yang bersinar. "Maaf kami mengganggu
pertemuan Tuan. Tapi sepertinya Tuan lupa bahwa gudang ini adalah milik negara.
Bukan milik Tuan. Bukan tempat untuk menyimpan barang-barang yang bukan hak
Tuan. Bukan tempat untuk… bersembunyi."
Lelaki itu tersenyum. Senyum yang sama yang ia tunjukkan di
pasar. Ramah. Biasa. Tidak mencolok. Senyum yang tidak akan diingat siapa pun.
Senyum yang sempurna untuk… bersembunyi.
"Tuan," katanya, suaranya tenang, tidak bergetar,
tidak panik, "saya tidak tahu apa yang Tuan bicarakan. Barang-barang ini
adalah milik saya. Saya seorang pedagang. Saya membeli barang-barang ini dengan
uang saya sendiri. Saya menyimpannya di gudang ini karena saya tidak punya
toko. Saya hanya pedagang kecil. Saya tidak punya kios besar seperti
pedagang-pedagang lain. Saya hanya… bertahan hidup."
"Dengan uang Tuan sendiri?" Abu Nawas mengangkat
alis. "Lalu, di mana bukti pembeliannya? Di mana catatan transaksinya?
Pedagang sejati, Tuan Guru, selalu menyimpan catatan. Agar tidak ketinggalan
untung. Agar tidak salah hitung. Agar tidak… dicurigai. Pedagang sejati, Tuan
Guru, tidak akan menyimpan barang-barang seperti ini di gudang rahasia.
Pedagang sejati akan memajangnya di kios, menawarkannya kepada pembeli,
menjualnya dengan harga yang pantas. Pedagang sejati tidak akan…
bersembunyi."
Lelaki itu tidak menjawab. Senyumnya masih tersungging,
tetapi ada sesuatu di balik senyum itu. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang
tajam. Sesuatu yang… putus asa.
"Tuan," lanjut Abu Nawas, suaranya menjadi lebih
lembut, lebih pengertian, lebih… manusiawi, "saya sudah bicara dengan
murid-murid Tuan. Mereka cerita banyak. Tentang latihan. Tentang instruksi.
Tentang bagaimana Tuan mengajari mereka untuk bergerak di keramaian, untuk
memanfaatkan kelengahan orang, untuk menghilang seperti bayangan. Mereka cerita
tentang Tuan, Tuan Guru. Tentang bagaimana Tuan memberi mereka makan. Tentang
bagaimana Tuan memberi mereka tempat tinggal. Tentang bagaimana Tuan memberi
mereka… harapan. Harapan palsu. Harapan yang tidak akan pernah terwujud.
Harapan yang berakhir di sini. Di gudang ini. Dengan tangan terikat."
Lelaki itu tidak berubah ekspresi. Tidak berkedip. Tidak
bergerak. Tapi Abu Nawas melihat ada getaran di jari-jarinya. Getaran yang
sangat kecil, sangat cepat, hampir tidak terlihat. Getaran yang tidak bisa
disembunyikan oleh latihan apa pun.
"Mereka anak-anak, Tuan Guru," kata Abu Nawas,
suaranya menjadi lebih lembut, lebih dalam, lebih menyentuh. "Mereka masih
muda. Mereka masih bisa berubah. Mereka masih bisa menjadi manusia yang jujur.
Mereka masih bisa… pulang. Tapi Tuan, Tuan sudah tua. Tuan sudah memilih jalan
ini. Tuan sudah terlalu lama menjadi bayangan. Tuan sudah… kehabisan kesempatan."
Lelaki itu menunduk. Untuk pertama kalinya, senyumnya
hilang. Untuk pertama kalinya, ketenangannya retak. Untuk pertama kalinya, ia
terlihat seperti… manusia. Bukan guru. Bukan pencuri. Bukan bayangan. Tapi
manusia. Manusia yang lelah. Manusia yang kehilangan. Manusia yang… menyesal.
"Tuan," katanya, suaranya rendah, parau, seperti
orang yang sudah lama tidak berbicara dari hati, "aku tidak menyesal. Aku
melakukan ini untuk bertahan hidup. Pasar ini kejam. Pedagang-pedagang besar
menghancurkan pedagang kecil seperti aku. Mereka menjual barang dengan harga
lebih murah, lebih murah, lebih murah, sampai kami tidak bisa bersaing. Mereka
mengambil semua keuntungan. Mereka meninggalkan kami untuk mati kelaparan. Aku
hanya… mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakku. Apa yang dicuri
dari aku. Apa yang dirampas dari aku."
"Dengan mencuri?" Abu Nawas menggeleng.
"Dengan mengajari anak-anak mencuri? Dengan menjadikan mereka alat? Dengan
membiarkan mereka tertangkap sementara Tuan bersembunyi? Tuan, Tuan bukan
korban. Tuan adalah… pelaku. Tuan adalah… yang menyebabkan anak-anak itu
menjadi pencuri. Tuan adalah… yang merampas masa depan mereka. Sama seperti
pedagang-pedagang besar merampas masa depan Tuan."
Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, diam, dengan
bahu yang mulai bergetar. Getaran yang tidak bisa disembunyikan lagi. Getaran
yang keluar dari tempat yang paling dalam. Getaran yang… manusiawi.
Abu Nawas berdiri. Ia menatap barang-barang curian di
sekelilingnya—sutra, mutiara, safron, keris. Semuanya adalah hasil jerih payah
orang lain. Semuanya adalah mimpi yang dicuri. Semuanya adalah bukti dari
kejahatan yang tidak bisa dibenarkan oleh alasan apa pun.
"Bawa dia ke istana," katanya kepada para
penjaga. "Baginda Raja yang akan memutuskan. Baginda Raja yang akan
menghakimi. Baginda Raja yang akan… memberi keadilan."
BAB 10: KEADILAN DAN PELAJARAN
Keesokan harinya, di Aula Singgasana Agung, Baginda Raja
Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan jubah kebesaran berwarna hitam
dan mahkota emas di kepalanya. Di hadapannya, berdiri lelaki paruh baya yang
disebut 'Guru', dengan tangan terikat, wajah pucat, dan mata yang tidak lagi
tenang. Di sampingnya, berdiri keempat pemuda yang ditangkap di pasar, juga
dengan tangan terikat, tetapi wajah mereka berbeda. Mereka menangis. Mereka
ketakutan. Mereka… menyesal.
Abu Nawas duduk di sudut aula, di kursi yang disediakan
khusus untuknya—sebuah kehormatan yang jarang diberikan kepada rakyat biasa,
tetapi sudah menjadi kebiasaan sejak ia memecahkan kasus mahkota yang hilang.
Di pangkuannya, semangkuk kurma Sukkari dari kebun pribadi Baginda Raja. Di
tangannya, segelas air tajin dari sumur dalam. Ia makan kurma dengan tenang,
mengamati jalannya persidangan dengan mata yang tajam, dengan telinga yang mendengar
setiap kata, dengan hati yang merasakan setiap getaran.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap lelaki itu lama.
Matanya tidak marah, tetapi juga tidak lembut. Ada kesedihan di sana. Kesedihan
seorang pemimpin yang melihat rakyatnya jatuh ke dalam kejahatan. Kesedihan
seorang raja yang tahu bahwa kemiskinan dan ketidakadilan bisa mengubah manusia
menjadi monster. Kesedihan seorang manusia yang bertanya-tanya: apakah aku bisa
mencegah ini? Apakah aku sudah cukup adil? Apakah aku sudah cukup memperhatikan
rakyatku?
"Namamu?" tanya Baginda Raja, suaranya tenang
tetapi berat.
"Abbas, Baginda," jawab lelaki itu, suaranya
serak.
"Abbas, kau dulu adalah pedagang di pasar ini. Aku
ingat namamu. Aku ingat kau dulu menjual kurma. Kurma dari kebunmu sendiri.
Kurma yang terkenal manis. Kurma yang sering dibeli oleh istriku, Putri
Zubaidah. Apa yang membuatmu beralih menjadi pencuri? Menjadi guru bagi
pencuri-pencuri cilik? Menjadi… bayangan yang meresahkan rakyatku?"
Abbas menunduk. Bahunya yang tadinya tegap, kini merosot.
"Baginda… aku dulu pedagang kecil. Aku menjual kurma. Kurma dari kebunku
sendiri. Kurma yang kutanam dengan tanganku sendiri. Kurma yang kuraikan dengan
doa. Kurma yang… terbaik di pasar. Tapi pedagang-pedagang besar… mereka menjual
kurma yang sama dengan harga lebih murah. Mereka punya modal besar. Mereka bisa
rugi bertahun-tahun untuk menghancurkan pesaing. Aku tidak bisa bersaing. Aku
bangkrut. Aku kehilangan segalanya."
Ia mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak punya pilihan, Baginda. Aku harus bertahan
hidup. Aku mulai mencuri. Awalnya kecil-kecil. Kemudian semakin besar. Aku
belajar. Aku mengamati. Aku tahu persis kelemahan pasar. Aku tahu kapan orang
lengah. Aku tahu bagaimana menghilang di keramaian. Kemudian aku bertemu anak-anak
itu. Mereka miskin. Mereka kelaparan. Mereka tidak punya tempat tinggal. Mereka
tidak punya keluarga. Mereka butuh uang. Mereka butuh perlindungan. Aku
mengajari mereka. Bukan karena aku jahat, Baginda. Tapi karena… aku ingin
mereka bertahan hidup. Seperti aku. Aku ingin mereka tidak mengalami apa yang
aku alami. Aku ingin mereka… punya masa depan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri. Ia berjalan mendekati
Abbas, menatapnya dengan mata yang tidak bisa dihindari. Matanya tajam, tetapi
tidak kejam. Matanya tegas, tetapi tidak tanpa belas kasihan.
"Abbas, aku mengerti penderitaanmu. Aku mengerti bahwa
pasar ini tidak adil. Aku mengerti bahwa pedagang-pedagang besar kadang-kadang
menindas yang kecil. Tapi mencuri bukanlah jawabannya. Mengajari anak-anak mencuri
bukanlah jawabannya. Menjadi bayangan yang meresahkan rakyatku bukanlah
jawabannya. Menjadikan anak-anak itu alat, memanfaatkan keputusasaan mereka,
membiarkan mereka tertangkap sementara kau bersembunyi—itu bukanlah cara
seorang guru. Itu adalah cara seorang… pengecut."
Abbas menunduk. Air matanya jatuh. Jatuh ke lantai marmer
yang putih. Jatuh ke tangannya yang terikat. Jatuh ke… kesadarannya.
"Kau akan dihukum, Abbas," lanjut Harun
Al-Rasyid. "Bukan karena kau miskin. Bukan karena kau putus asa. Bukan
karena kau kehilangan segalanya. Tapi karena kau memilih jalan yang salah.
Karena kau memilih untuk menjadi bayangan, bukan manusia. Karena kau memilih
untuk mencuri, bukan bekerja. Karena kau memilih untuk mengajar kejahatan,
bukan kebaikan."
Ia berjalan kembali ke singgasananya, duduk dengan berat.
"Kau akan dipenjara selama satu tahun. Setelah itu,
kau akan diusir dari Baghdad. Kau tidak boleh kembali. Itu hukumanku."
Abbas menunduk, air matanya jatuh. "Terima kasih,
Baginda. Aku pantas menerimanya. Aku pantas dihukum. Aku pantas… diusir."
Bginda Raja Harun Al-Rasyid menatap keempat pemuda itu.
Mereka gemetar, menangis, berlutut di lantai marmer. Mereka tidak berani
mengangkat kepala. Mereka tidak berani menatap Baginda Raja. Mereka hanya bisa
menunduk, menangis, menyesal.
"Kalian," katanya, suaranya menjadi lebih lembut,
"masih muda. Kalian masih punya kesempatan. Kalian mencuri karena kalian
miskin. Karena kalian kelaparan. Karena kalian tidak punya pilihan. Itu tidak
membenarkan perbuatan kalian. Tapi itu bisa dimengerti."
Ia berjalan mendekati mereka, satu per satu. Ia menatap
mereka dengan mata yang tidak lagi tajam, tetapi lembut. Mata seorang ayah yang
melihat anak-anaknya tersesat, tetapi masih ingin membawa mereka pulang.
"Kalian tidak akan dipenjara. Tapi kalian tidak bisa
kembali ke kehidupan lama. Mulai besok, kalian akan bekerja di pasar. Bukan
sebagai pencuri. Tapi sebagai… penjaga. Penjaga pasar. Kalian akan belajar
bagaimana melindungi, bukan mencuri. Kalian akan belajar bagaimana menjadi
bagian dari masyarakat, bukan musuhnya. Kalian akan belajar bagaimana… menjadi
manusia."
Ia berhenti, menatap mereka satu per satu.
"Jika dalam setahun kalian bisa membuktikan bahwa
kalian telah berubah, kalian akan mendapat pekerjaan tetap. Kalian akan
mendapat gaji yang cukup. Kalian akan mendapat tempat tinggal. Kalian akan
mendapat… masa depan. Jika tidak… kalian tahu konsekuensinya."
Keempat pemuda itu menangis. Mereka menunduk dalam-dalam,
bersyukur, menyesal, berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang
sama. Mereka yang paling muda, yang paling kecil, yang paling ketakutan, berani
mengangkat kepalanya, menatap Baginda Raja dengan mata yang basah tetapi
bersinar.
"Baginda," katanya, suaranya gemetar, "kami…
kami berjanji. Kami tidak akan mencuri lagi. Kami akan bekerja. Kami akan
menjadi penjaga yang baik. Kami akan melindungi pasar ini. Kami akan… menjadi
manusia yang jujur."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. Senyum yang tulus.
Senyum yang jarang ia tunjukkan di depan para pejabat istana. Senyum yang
membuat anak itu berani tersenyum kembali, meskipun air matanya masih mengalir.
"Bagus," katanya. "Itu yang ingin
kudengar."
Setelah persidangan selesai, setelah Abbas dibawa ke
penjara, setelah keempat pemuda itu dibawa ke asrama penjaga pasar untuk
memulai kehidupan baru, Baginda Raja Harun Al-Rasyid memanggil Abu Nawas ke
ruang pribadinya.
"Abu Nawas," katanya, "kau telah melakukan
sesuatu yang luar biasa. Kau telah menemukan pencuri bayangan yang selama ini
meresahkan rakyatku. Kau telah mengembalikan kedamaian ke pasar malam Baghdad.
Kau telah memberi kesempatan kedua kepada anak-anak itu. Kau telah…
mengajarkanku sesuatu."
Abu Nawas duduk di hadapan Baginda Raja, dengan semangkuk
kurma yang sudah hampir habis. "Baginda, saya hanya melakukan apa yang
bisa saya lakukan. Tertawa, bercerita, mengamati. Kebenaran datang dengan
sendirinya. Kejahatan tidak bisa bersembunyi selamanya. Bayangan tidak bisa
lari dari matahari."
"Kau selalu merendah, Abu Nawas. Tapi aku tahu, tanpa
kau, kasus ini mungkin tidak akan pernah terpecahkan. Para penjaga pasar sudah
berusaha berminggu-minggu tanpa hasil. Para penyelidik istana sudah berusaha
mencari petunjuk. Tidak ada yang berhasil. Kau hanya perlu seminggu. Dengan
tawa. Dengan cerita. Dengan cermin palsu. Dengan… kurma."
"Karena saya punya sesuatu yang tidak dimiliki penjaga
pasar, Baginda. Karena saya punya sesuatu yang tidak dimiliki penyelidik
istana."
"Apa?"
Abu Nawas tersenyum. "Waktu, Baginda. Penjaga pasar
terlalu sibuk mengejar pencuri. Penyelidik istana terlalu sibuk mencari
petunjuk. Mereka bergerak cepat, terburu-buru, panik. Mereka lupa bahwa pencuri
bayangan tidak bisa ditangkap dengan kecepatan. Pencuri bayangan hanya bisa
ditangkap dengan… kesabaran. Dengan duduk diam, makan kurma, dan menunggu.
Menunggu sampai mereka membuat kesalahan. Menunggu sampai mereka percaya bahwa
mereka aman. Menunggu sampai mereka… lengah."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tertawa. "Kau benar, Abu
Nawas. Kadang-kadang, yang paling berbahaya bukan pencuri, tapi kelengahan kita
sendiri. Para pedagang terlalu sibuk melayani pembeli hingga lupa menjaga
barangnya. Para penjaga terlalu sibuk mencari pencuri hingga lupa mengamati
pola. Aku terlalu sibuk mengurus istana hingga lupa bahwa pasar malam adalah
jantung Baghdad. Dan pencuri itu… pencuri itu memanfaatkan kelengahan kita
semua."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap ke arah pasar yang
mulai ramai meskipun hari masih siang. Di kejauhan, ia bisa melihat orang-orang
berjalan, pedagang-pedagang membuka kios, anak-anak berlarian, penjaga-penjaga
berpatroli. Semuanya normal. Semuanya seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang
berbeda. Ada kesadaran baru. Ada kewaspadaan baru. Ada… harapan baru.
"Abu Nawas," katanya, "aku akan mengeluarkan
perintah baru. Penjagaan pasar akan diperketat. Pedagang-pedagang besar akan
diawasi agar tidak menindas yang kecil. Anak-anak jalanan akan diberi
pendidikan dan pekerjaan. Tidak ada lagi yang boleh kelaparan di Baghdad. Tidak
ada lagi yang harus mencuri untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi yang harus
menjadi bayangan."
Abu Nawas berdiri, membungkuk dalam-dalam. "Baginda,
itu keputusan yang bijak. Lebih bijak dari semua hukuman yang bisa Baginda
jatuhkan. Karena keadilan sejati bukan hanya menghukum yang bersalah, tapi juga
mencegah yang lain menjadi bersalah. Bukan hanya menangkap bayangan, tapi juga
menyalakan lampu. Bukan hanya menghukum, tapi juga… mengajar."
EPILOG: TAWA DI TENGAH PELAJARAN
Beberapa pekan kemudian, pasar malam Baghdad berdenyut
dengan semangat baru.
Suasana berbeda dari sebelumnya. Bukan karena pencuri
bayangan sudah ditangkap. Bukan karena para penjaga berjalan lebih waspada.
Tapi karena ada sesuatu yang lebih dalam, lebih halus, lebih… manusiawi. Ada
kesadaran baru yang tumbuh di antara para pedagang, para pembeli, para penjaga,
semua orang yang menghabiskan waktu di pasar ini. Kesadaran bahwa keamanan
bukan hanya tanggung jawab penjaga. Kesadaran bahwa kewaspadaan bukan hanya
tentang menjaga barang sendiri. Kesadaran bahwa pasar ini adalah milik bersama,
dan semua orang harus menjaganya.
Para pedagang sekarang lebih saling menjaga. Mereka tidak
lagi hanya sibuk dengan dagangan sendiri. Mereka memperhatikan tetangga kios
mereka, saling mengingatkan jika ada yang mencurigakan, saling membantu jika
ada yang kewalahan. Jika seorang pedagang sedang sibuk melayani pembeli,
pedagang di sebelahnya akan ikut mengawasi barang-barangnya. Jika seorang
pedagang melihat orang yang mencurigakan berjalan di dekat kios tetangganya, ia
akan berteriak memperingatkan. Jika seorang pedagang kehilangan barang,
pedagang-pedagang lain akan ikut mencarinya.
Pedagang-pedagang besar yang dulu sombong dan menindas,
kini lebih sadar bahwa keberlangsungan pasar tergantung pada semua orang, bukan
hanya diri mereka sendiri. Mereka mulai menurunkan harga, mulai memberi
kesempatan kepada pedagang kecil, mulai berbagi keuntungan. Bukan karena takut
dihukum, tetapi karena mereka sadar bahwa pasar yang sehat adalah pasar yang
adil. Pasar yang adil adalah pasar yang aman. Pasar yang aman adalah pasar yang
menguntungkan semua orang.
Para penjaga pasar tidak lagi hanya berpatroli dengan wajah
bengis, dengan tangan di gagang pedang, dengan mata yang selalu curiga. Mereka
tersenyum, menyapa, kadang-kadang duduk di kedai kopi untuk mengamati dari
kejauhan, kadang-kadang berbincang dengan para pedagang, kadang-kadang bermain
dengan anak-anak yang berlarian di lorong-lorong. Mereka belajar bahwa keamanan
tidak hanya datang dari kekuatan, tapi juga dari kehadiran. Kehadiran yang
ramah, yang akrab, yang membuat orang merasa aman. Kehadiran yang membuat
pencuri berpikir dua kali sebelum beraksi.
Anak-anak jalanan yang dulu menjadi pencuri, kini menjadi
pembantu di kios-kios. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung. Mereka
mendapat upah kecil, cukup untuk makan, cukup untuk menyewa kamar kecil di
pinggiran pasar, cukup untuk bermimpi. Mereka tidak lagi menjadi bayangan yang
menghilang di keramaian. Mereka menjadi bagian dari keramaian itu sendiri.
Mereka tersenyum, mereka tertawa, mereka berlari di antara kaki orang dewasa
tanpa rasa takut. Mereka punya masa depan. Mereka punya harapan. Mereka punya…
nama.
Dan di tengah semua itu, Abu Nawas berjalan santai di
lorong-lorong pasar, dengan jubah lusuh yang sama, sandal aus yang sama, senyum
misterius yang sama. Ia tidak membawa dompet besar, tidak memakai perhiasan,
tidak menunjukkan tanda-tanda kekayaan. Ia hanyalah seorang pengunjung biasa,
salah satu dari ribuan orang yang membanjiri pasar malam setiap hari. Tapi
semua orang mengenalnya. Semua orang menyapanya. Semua orang ingin berbicara
dengannya.
Ia berhenti di kios kurma, membeli segenggam, makan satu
per satu sambil berjalan. Ia tersenyum pada para pedagang, melambai pada
anak-anak yang mengenalnya, duduk sebentar di kedai kopi untuk menyesap
secangkir kopi hitam pahit. Ia tidak terburu-buru. Ia tidak punya tujuan. Ia
hanya… menikmati. Menikmati keramaian. Menikmati tawa. Menikmati kehidupan.
"Abu Nawas!" teriak seorang pedagang dari
kejauhan. "Abu Nawas, kemarilah! Aku punya cerita lucu untukmu! Cerita
tentang seorang pencuri yang tertangkap karena cermin ajaib! Cerita tentang
seorang guru yang mengajar murid-muridnya untuk mencuri, tetapi lupa mengajar
mereka untuk… melarikan diri!"
Abu Nawas mendekat, duduk di bangku di depan kios pedagang
itu. Pedagang itu adalah lelaki yang dulu kehilangan sepuluh gulung sutra,
lelaki yang menangis di kiosnya, lelaki yang hampir menyerah pada kehidupan.
Kini, dagangannya kembali ramai, wajahnya kembali ceria, dan matanya kembali
bersinar. Sepuluh gulung sutra yang hilang telah kembali, ditemukan di gudang
Abbas bersama dengan barang-barang curian lainnya. Pedagang itu tidak hanya
mendapat kembali sutranya, tetapi juga mendapat pelajaran berharga tentang
kewaspadaan, tentang persaudaraan, tentang… harapan.
"Cerita tentang pencuri yang tertangkap karena cermin
ajaib?" Abu Nawas tertawa. "Tuan, cermin itu tidak ajaib. Cermin itu
hanya kaca. Tapi kadang-kadang, kaca yang retak justru memantulkan cahaya yang
lebih indah. Kadang-kadang, kebenaran yang tersembunyi justru muncul dari
hal-hal yang rusak. Kadang-kadang, pelajaran terbaik datang dari…
kesalahan."
Pedagang itu mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya
mengerti. "Apa maksudmu, Abu Nawas?"
"Maksudku, Tuan, kebenaran tidak perlu datang dari
benda ajaib. Kebenaran datang dari keberanian untuk melihat. Dan keberanian
untuk melihat, Tuan, adalah hal yang paling langka di dunia ini. Lebih langka
dari mutiara. Lebih berharga dari emas. Lebih indah dari sutra. Karena tanpa
keberanian untuk melihat, mutiara akan tetap tersembunyi di dasar laut. Emas
akan tetap terkubur di dalam tanah. Sutra akan tetap tergulung di gudang. Dan
pencuri… pencuri akan tetap menjadi bayangan."
Pedagang itu tersenyum. "Kau bijak, Abu Nawas. Lebih
bijak dari semua pejabat di istana. Lebih bijak dari semua hakim di Baghdad.
Lebih bijak dari… Baginda Raja sendiri?"
Abu Nawas tertawa keras. "Jangan katakan itu, Tuan.
Baginda Raja bisa mendengar. Dan jika Baginda Raja mendengar, saya bisa
kehilangan kepala. Atau lebih buruk lagi, saya bisa kehilangan jatah kurma
mingguan saya. Dan kehilangan kurma, Tuan, adalah hukuman yang lebih berat
daripada kehilangan kepala. Karena tanpa kurma, otak saya tidak akan bekerja.
Dan tanpa otak, saya tidak akan bisa tertawa. Dan tanpa tawa, Tuan, dunia ini
akan menjadi tempat yang sangat sunyi."
Ia berdiri, merapikan jubahnya, dan berjalan meninggalkan
kios itu. Di belakangnya, pedagang itu tertawa, anak-anak berlarian,
penjaga-penjaga berpatroli, lampu-lampu minyak menyala, pasar malam berdenyut
seperti jantung Baghdad yang paling hidup.
Di kejauhan, dari arah istana, terdengar suara tawa Baginda
Raja Harun Al-Rasyid. Tawa yang bergema di senja Baghdad, tawa yang membawa
kedamaian bagi kota yang selalu haus akan keadilan, tawa yang mengingatkan
semua orang bahwa di tengah kekuasaan yang berat, di tengah intrik yang rumit,
di tengah kebohongan yang bersembunyi di balik senyum, masih ada ruang untuk
tawa. Masih ada ruang untuk kejujuran. Masih ada ruang untuk… harapan.
Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia mengambil
kurma terakhir dari sakunya, melemparkannya ke udara, dan menangkapnya dengan
mulut.
"Baginda Raja tertawa," gumamnya sambil
mengunyah. "Itu berarti istana selamat. Pasar selamat. Baghdad selamat.
Setidaknya untuk hari ini."
Ia berjalan meninggalkan pasar, meninggalkan keramaian,
meninggalkan tawa, meninggalkan pelajaran yang lebih berharga dari semua harta
yang pernah dicuri.
"Besok, mungkin ada teka-teki baru. Mungkin ada
mahkota yang hilang lagi. Mungkin ada cermin yang retak lagi. Mungkin ada
pencuri bayangan yang baru. Tapi hari ini… hari ini, kita tertawa. Hari ini,
kita belajar. Hari ini, kita menjadi lebih baik. Hari ini, kita… pulang."
Ia berjalan di bawah bintang-bintang, di bawah langit malam
Baghdad yang gelap tetapi dipenuhi cahaya, di bawah senyum bulan yang bersinar
terang. Di pundaknya, beban yang ringan. Di hatinya, kedamaian yang dalam. Di
bibirnya, senyum misterius yang selalu menjadi ciri khasnya.
Kadang yang paling berbahaya bukan pencuri, tapi kelengahan
kita sendiri, pikirnya. Dan
kadang, yang paling berharga bukan emas, tapi kesadaran untuk menjaga. Menjaga
diri sendiri. Menjaga sesama. Menjaga… kejujuran.
Ia berjalan santai, tidak terburu-buru, menikmati setiap
langkah, setiap hembusan angin, setiap kilatan bintang di langit. Ia memasukkan
tangan ke dalam saku jubahnya, mencari kurma yang tersisa. Tidak ada. Sudah
habis. Ia tersenyum.
"Besok, aku harus beli kurma lagi. Kurma dari pasar.
Kurma yang lebih manis dari kurma istana. Kurma yang mengingatkanku bahwa
kejujuran adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri. Kurma yang mengingatkanku
bahwa tawa adalah senjata yang paling ampuh. Kurma yang mengingatkanku bahwa…
aku adalah Abu Nawas. Abu Nawas yang suka kurma. Abu Nawas yang suka tertawa.
Abu Nawas yang… mencintai Baghdad."
Ia berjalan di bawah bintang-bintang, meninggalkan pasar
malam Baghdad yang mulai sepi, meninggalkan pelajaran yang akan dikenang lama
setelah ia pulang ke rumahnya yang sederhana, meninggalkan tawa yang akan
bergema di hati setiap orang yang mendengarnya.
Kadang yang paling berbahaya bukan pencuri, tapi kelengahan
kita sendiri.
Kadang yang paling berharga bukan emas, tapi kesadaran
untuk menjaga.
Kadang yang paling indah bukan cermin yang utuh, tapi
retakan yang memantulkan cahaya.
Kadang yang paling bijaksana bukan raja, bukan wazir, bukan
hakim, tapi seorang pelawak yang duduk di kedai pinggiran, makan kurma, dan
tertawa.
Kadang… kadang, kebahagiaan adalah hal yang paling
sederhana. Seperti kurma. Seperti tawa. Seperti… pulang.
TAMAT
Kata Bijak dari Abu Nawas:
"Kejahatan tidak selalu datang dengan kekerasan.
Kadang ia datang dengan kesempatan. Kesempatan di tengah keramaian. Kesempatan
di tengah kelengahan. Kesempatan di tengah ketakutan. Maka, jagalah dirimu.
Jagalah sesamamu. Jagalah kejujuranmu. Karena tidak ada pencuri yang bisa
mencuri apa yang kau jaga dengan kesadaran. Dan tidak ada bayangan yang bisa
bersembunyi dari cahaya kejujuran."
—Abu Nawas, di Pasar Malam Baghdad







0 komentar:
Posting Komentar