Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Selasa, 24 Maret 2026

Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid Episode 3: Jejak Bayangan di Pasar Malam Baghdad

 

 


Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid

Novelet Serial Abunawas Edisi I Kecerdikan Akal dan Logika

Episode 3: Jejak Bayangan di Pasar Malam Baghdad


Oleh: Slamet Riyadi

PROLOG: BISIKAN DALAM KERAMAIAN

Pasar malam Baghdad adalah jantung kota yang berdetak paling keras ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Tidak seperti pasar siang yang sibuk dengan transaksi cepat dan terburu-buru, pasar malam memiliki denyutnya sendiri—lebih lambat, lebih menggoda, lebih penuh dengan rahasia yang tersembunyi di balik cahaya lampu minyak yang berkelap-kelip.

Di sinilah Baghdad menampakkan wajahnya yang paling hidup. Di sinilah para saudagar dari berbagai penjuru dunia—dari Cina yang jauh hingga Andalusia yang hijau, dari Hindi yang penuh rempah hingga Romawi yang dingin—berkumpul untuk menawarkan barang-barang paling langka dan paling indah. Sutra dari Khurasan yang lembut seperti awan, permata dari Yaman yang bercahaya seperti matahari kecil, rempah-rempah dari Maluku yang aromanya bisa tercium hingga seberang sungai, kuda-kuda dari padang rumput utara yang gagah dan cepat, budak-budak cantik dari negeri-negeri taklukan dengan mata yang sayu dan senyum yang dipaksakan.

Pasar malam Baghdad adalah lautan manusia yang bergelombang. Setiap malam, ribuan orang membanjiri lorong-lorong sempit yang berkelok-kelok di antara ribuan tenda dan kios kayu. Suara tawar-menawar bercampur dengan suara gelak tawa, suara penyanyi jalanan yang memetik kecapi, suara penjual kopi yang berteriak menawarkan dagangannya, suara anak-anak yang berlarian di antara kaki-kaki orang dewasa. Lampu-lampu minyak dari ribuan kios menciptakan ilusi langit berbintang di permukaan bumi, sementara aroma dupa, rempah, daging panggang, dan kemenyan bercampur menjadi satu kesatuan yang memabukkan.

Di sinilah, di tengah lautan manusia yang paling ramai di seluruh kekhalifahan, kejahatan terjadi. Bukan kejahatan dengan pedang terhunus atau teriakan peringatan. Bukan perampokan dengan kekerasan atau pembunuhan di malam buta. Kejahatan yang terjadi di pasar malam Baghdad adalah kejahatan yang lebih halus, lebih licin, lebih… tak terlihat.

Barang-barang berharga menghilang. Sebuah kalung mutiara dari telapak tangan seorang saudagar kaya, hilang di sela-sela keramaian. Sebuah dompet berisi seratus dinar dari saku seorang pejabat yang sedang berbelanja untuk istrinya, lenyap tanpa ia sadari. Sepotong emas batangan dari peti seorang pedagang yang sedang sibuk melayani pembeli, raib seolah-olah ditelan bumi. Sebuah keris pusaka dari pinggang seorang bangsawan, yang sedetik sebelumnya masih terasa berat di ikat pinggangnya, tiba-tiba tidak ada ketika tangannya meraba.

Dan yang paling aneh, yang paling membingungkan, yang paling membuat semua orang gelisah: tidak ada satu pun yang melihat pencurinya.

Bukan karena mereka buta. Bukan karena mereka lalai. Tetapi karena pencurian itu terjadi begitu mulus, begitu sempurna, begitu… alami. Seperti air yang mengalir di sungai. Seperti angin yang bertiup di padang pasir. Seperti bayangan yang bergerak di dinding. Ada, lalu tidak ada. Tanpa jejak. Tanpa suara. Tanpa bekas.

Para pedagang saling menuduh. Para pembeli saling curiga. Para penjaga pasar yang ditugaskan Baginda Raja sendiri untuk menjaga keamanan, berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas, tidak tahu harus berbuat apa. Mereka telah menangkap beberapa orang yang dicurigai, memeriksa barang-barang mereka, bahkan menyiksa beberapa untuk mengaku. Tidak ada yang ditemukan. Tidak ada yang mengaku.

Kabar tentang pencurian misterius di pasar malam menyebar ke seluruh Baghdad seperti api di padang rumput kering. Bukan hanya karena nilai barang yang hilang—meskipun itu juga besar—tetapi karena ketakutan yang menyertainya. Jika pencuri bisa mengambil barang dari tangan seseorang tanpa orang itu menyadari, lalu siapa yang aman? Jika pencuri bisa beroperasi di tengah ribuan orang tanpa ada yang melihat, lalu di mana batas antara keramaian dan kesepian? Jika pencuri ini adalah bayangan, lalu bagaimana cara menangkap bayangan?

Ketakutan itu akhirnya sampai ke telinga Baginda Raja Harun Al-Rasyid. Bukan melalui laporan resmi dari para pejabat—mereka masih berusaha menyelesaikan sendiri sebelum melapor ke istana—tetapi melalui istrinya, Putri Zubaidah, yang mendengar cerita dari dayang-dayangnya yang pergi ke pasar untuk membeli wewangian.

Pada suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang di atas Baghdad, menerangi kubah-kubah emas istana dengan cahaya perak yang dingin, Baginda Raja Harun Al-Rasyid sedang duduk di ruang pribadinya, ditemani oleh Jafar dan beberapa orang kepercayaan lainnya. Mereka sedang membahas laporan dari provinsi utara tentang serangan belalang yang mengancam panen, ketika pintu terbuka dan Putri Zubaidah masuk dengan langkah tergesa-gesa.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat alis. Zubaidah jarang datang ke ruang pribadinya pada jam seperti ini, apalagi dengan wajah yang menunjukkan kegelisahan seperti yang ia lihat sekarang.

"Zubaidah," sapanya, "ada apa? Apakah sesuatu terjadi?"

Zubaidah duduk di kursi di samping suaminya, menarik napas panjang sebelum berbicara. "Baginda, pasar malam Baghdad sedang tidak aman. Barang-barang rakyat hilang tanpa sebab. Para pedagang ketakutan. Mereka bilang ada pencuri bayangan yang tidak bisa dilihat."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengerutkan kening. "Pencuri bayangan? Apa itu?"

Zubaidah menggeleng. "Entahlah, Baginda. Tapi dayang-dayangku takut pergi ke pasar. Mereka lebih memilih menyuruh orang lain untuk berbelanja. Dan para saudagar, kata mereka, mulai mengurangi dagangan karena takut kehilangan. Ada yang sudah tidak berani membuka kios lagi. Pasar malam, yang dulu paling ramai, kini mulai sepi."

Jafar yang mendengar itu segera berdiri. "Baginda, aku akan perintahkan para penjaga pasar untuk meningkatkan patroli. Aku akan kirim penyelidik untuk mencari tahu siapa pencuri itu. Ini hanya masalah waktu, Baginda. Pencuri biasa. Tidak perlu—"

"Duduk, Jafar," potong Harun Al-Rasyid dengan suara tenang tetapi tegas. Jafar duduk kembali, meskipun kegelisahannya tidak berkurang.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap istrinya dengan mata yang lembut. "Zubaidah, ceritakan lebih detail. Apa yang dayang-dayangmu lihat? Apa yang mereka dengar?"

Zubaidah menghela napas. "Baginda, dayangku yang paling tua, Ummu Salamah, pergi ke pasar dua malam lalu untuk membeli wewangian dari Persia yang biasa aku gunakan. Ia bilang, pasar sedang ramai seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang aneh. Ia melihat seorang saudagar menangis di kiosnya. Sepuluh gulung sutra terbaiknya hilang. Hilang begitu saja. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang tahu bagaimana. Saudagar itu sudah tiga hari tidak bisa tidur, katanya. Ia takut kehilangan lebih banyak lagi."

"Sepuluh gulung sutra?" Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengulang, matanya menyipit. "Itu bukan barang kecil. Tidak mungkin diambil tanpa dilihat."

"Itulah yang aneh, Baginda," kata Zubaidah. "Ummu Salamah bilang, malam itu sangat ramai. Banyak orang datang dan pergi. Saudagar itu sibuk melayani. Ketika semua orang pergi, ia baru sadar bahwa sutranya sudah tidak ada. Ia bertanya kepada tetangga kiosnya, mereka juga tidak melihat. Ia bertanya kepada penjaga pasar, mereka tidak tahu. Semua orang sibuk dengan urusannya sendiri. Tidak ada yang memperhatikan."

Bainda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab segera. Ia duduk di singgasananya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan singgasana dengan irama yang lambat—tanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras. Jafar yang sudah mengenalnya sejak kecil, tahu bahwa Baginda Raja sedang mempertimbangkan sesuatu dengan sangat serius.

"Jafar," panggilnya akhirnya.

"Baginda?"

"Apakah kau mendengar tentang pencurian di pasar malam sebelum ini?"

Jafar mengangguk, wajahnya menunjukkan kekhawatiran. "Aku sudah mendengar, Baginda. Beberapa laporan sudah masuk ke kantorku. Tapi aku pikir itu hanya pencurian biasa. Pencuri pasar. Tidak perlu mengganggu Baginda. Aku sudah perintahkan para penjaga untuk menyelidiki."

"Dan hasilnya?"

Jafar terdiam sejenak. "Para penjaga belum menemukan apa-apa, Baginda. Mereka sudah menangkap beberapa orang yang dicurigai, memeriksa barang-barang mereka, bahkan menyiksa beberapa untuk mengaku. Tidak ada yang ditemukan. Tidak ada yang mengaku. Para pencuri itu… sepertinya sangat terlatih. Atau mungkin… tidak ada."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri, berjalan ke jendela yang menghadap ke arah pasar malam. Di kejauhan, di balik tembok istana, ia bisa melihat cahaya redup dari pasar malam yang masih menyala meskipun sudah lewat tengah malam. Biasanya, pada jam seperti ini, pasar masih ramai. Tapi malam ini, cahayanya lebih sedikit. Lebih redup. Seperti jantung yang berdetak lebih lambat dari biasanya.

"Pencurian biasa?" gumamnya. "Pencuri biasa tidak akan meninggalkan jejak yang tidak bisa ditemukan. Pencuri biasa tidak akan membuat seluruh pasar ketakutan. Pencuri biasa tidak akan… menjadi bayangan."

Ia berbalik menghadap Jafar. Matanya tajam, seperti elang yang sedang mengintai mangsa.

"Jafar, ini bukan pencurian biasa. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih terorganisir. Lebih terlatih. Lebih… pintar. Dan kita, Jafar, tidak bisa melawan kepintaran dengan kekuatan. Kita harus melawan kepintaran dengan… kepintaran yang lain."

Jafar menghela napas. Ia sudah tahu nama itu akan keluar. Ia sudah merasakannya sejak Zubaidah masuk ke ruangan ini dengan wajah gelisah. Ia sudah tahu bahwa pada akhirnya, setiap masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh kekuatan dan kekuasaan akan berujung pada satu orang.

"Abu Nawas, Baginda?" katanya, meskipun itu bukan pertanyaan.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan di depan para pejabat istana, tetapi sering ia tunjukkan ketika berbicara tentang Abu Nawas.

"Abu Nawas," katanya. "Siapa lagi yang bisa membaca rahasia di balik keramaian selain orang yang paling paham tentang keramaian? Siapa lagi yang bisa melihat bayangan di tengah cahaya selain orang yang paling sering duduk di kegelapan? Siapa lagi yang bisa menangkap pencuri tanpa pedang selain orang yang senjatanya adalah… tawa?"

Jafar tersenyum tipis, meskipun di dalam hatinya ia sudah membayangkan kekacauan yang akan terjadi jika Abu Nawas dibawa ke istana di tengah malam. Ia membayangkan Abu Nawas akan datang dengan mata masih setengah tertidur, jubah lusuh, rambut acak-acakan, dan langsung meminta kurma sebelum mendengar apa pun. Ia membayangkan Abu Nawas akan tertawa mendengar cerita tentang pencuri bayangan, lalu berkata bahwa mungkin pencuri itu adalah jin atau setan atau hantu, dan satu-satunya cara untuk menangkapnya adalah dengan mengundang seorang dukun. Ia membayangkan Abu Nawas akan membuat Baginda Raja tertawa di tengah kekhawatiran, membuat para menteri geli, membuat semua orang lupa bahwa mereka sedang menghadapi krisis.

Tapi ia juga tahu bahwa di balik semua kekonyolan itu, Abu Nawas memiliki kemampuan untuk melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Dan kali ini, Baginda Raja tidak membutuhkan pasukan bersenjata. Baginda Raja membutuhkan mata yang bisa melihat kebenaran di balik keramaian.

"Baginda," kata Jafar, "apakah aku harus mengirim utusan untuk memanggilnya? Sekarang? Sudah lewat tengah malam."

"Panggil dia," kata Harun Al-Rasyid tanpa ragu. "Tapi kali ini, jangan dengan ancaman. Jangan dengan prajurit bersenjata. Jangan dengan perintah yang membuatnya berpikir bahwa aku akan memenggal kepalanya. Kirim seseorang yang bisa membujuknya dengan cara yang halus. Kirim seseorang yang bisa berbicara dengannya dengan akal, bukan dengan kekerasan."

Jafar mengangguk. "Akan kuutus Abdurrahman, sekretaris pribadiku. Dia kenal Abu Nawas sejak lama. Mereka sering bertukar teka-teki di kedai-kedai."

"Bagus." Harun Al-Rasyid berjalan ke meja rendah di samping singgasananya, mengambil sebuah piring perak kecil berisi kurma Sukkari yang mengilap seperti batu akik, dan sebuah gelas kristal berisi air tajin yang dinginnya masih terlihat dari embun yang membasahi permukaan gelas. Ia menyerahkan kedua benda itu kepada Jafar.

"Bawa ini," katanya. "Katakan padanya bahwa aku ingin meminta bantuannya, bukan memerintahkannya. Katakan padanya bahwa ada teka-teki di pasar malam yang hanya bisa dipecahkan olehnya. Katakan padanya bahwa kurma ini dari kebun pribadiku, dan air ini dari sumur dalam yang airnya hanya untuk keluargaku."

Jafar menerima piring dan gelas itu dengan hati-hati, seolah-olah benda-benda itu terbuat dari kristal yang paling rapuh. "Baginda benar-benar mengenal Abu Nawas."

"Untuk membuat Abu Nawas datang di tengah malam," kata Harun Al-Rasyid sambil kembali ke singgasananya, "kurma Sukkari dan air tajin dingin tidak cukup. Kebebasan untuk tertawa sepuasnya di hadapan raja—itu adalah hadiah yang lebih berharga dari emas. Dan Abu Nawas, Jafar, adalah satu-satunya orang yang menghargai kebebasan lebih dari emas."

Ia berhenti, dan senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi serius yang membuat Jafar langsung menegang.

"Tapi, Jafar, sampaikan juga pesan ini: pasar malam adalah jantung Baghdad. Jika jantung itu berhenti berdetak, seluruh kota akan mati. Aku tidak bisa membiarkan rakyatku hidup dalam ketakutan. Aku tidak bisa membiarkan para pedagang kehilangan mata pencaharian mereka. Aku tidak bisa membiarkan bayangan-bayangan itu merusak apa yang telah dibangun oleh kakekku, ayahku, dan aku sendiri. Jadi, beri tahu Abu Nawas: aku tidak hanya memintanya untuk menemukan pencuri. Aku memintanya untuk mengembalikan kedamaian ke pasar malam. Aku memintanya untuk… membuat orang-orang tertawa lagi."

Jafar membungkuk dalam-dalam. "Akan kusampaikan, Baginda. Kata demi kata."


BAB 1: KASUS TANPA WAJAH

Abu Nawas sedang bermimpi tentang kurma.

Bukan mimpi biasa. Dalam mimpinya, ia berjalan di kebun kurma yang tidak pernah berujung, dengan pohon-pohon kurma yang menjulang tinggi ke langit, buah-buahnya bergelantungan seperti lampu-lampu emas di malam hari. Setiap kali ia mengulurkan tangan, kurma itu jatuh tepat ke telapak tangannya, manis, lembut, sempurna. Ia berjalan di antara pohon-pohon itu dengan tertawa kecil, memakan kurma satu per satu, menikmati setiap gigitan, setiap kunyahan, setiap rasa manis yang meleleh di lidahnya.

Ia baru saja akan mengambil kurma yang paling besar, kurma yang bersinar seperti matahari kecil di hadapannya, ketika seseorang mengguncang bahunya dengan keras.

"Abu Nawas! Abu Nawas! Bangun!"

Ia membuka matanya dengan malas. Wajah seorang pemuda yang tidak ia kenal—mungkin utusan dari istana, pikirnya—berada tepat di hadapannya, hanya sejengkal dari hidungnya. Lampu minyak di samping tempat tidurnya masih menyala redup, menciptakan lingkaran cahaya kecil di tengah kegelapan kamar kosnya yang hanya berisi tikar anyaman bambu yang sudah usang, sebuah bantal kecil dari kapas yang sudah kempes, dan sebuah peti kayu kecil tempat ia menyimpan barang-barang berharganya—yang isinya tidak lebih dari beberapa helai pakaian lusuh dan sekantong kurma kering.

"Wahai pemuda," kata Abu Nawas dengan suara serak, masih setengah tertidur, "apa kau tidak tahu bahwa membangunkan seseorang di tengah mimpi tentang kurma adalah dosa yang tidak terampuni? Aku baru saja akan memakan kurma terbesar yang pernah kulihat. Kurma itu sebesar kepalaku sendiri. Mungkin lebih besar. Dan kau membangunkanku. Sekarang kurma itu hilang. Kau harus bertanggung jawab. Kau harus memberiku kurma sebagai gantinya. Kurma Sukkari. Dari kebun Baginda Raja. Bukan yang biasa."

Pemuda itu tersenyum canggung. "Tuan Abu Nawas, aku utusan dari Wazir Jafar. Baginda Raja memanggil Tuan ke istana. Sekarang. Dengan hormat."

Abu Nawas mengerjapkan mata. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berlubang di beberapa tempat, di mana cahaya bulan masuk melalui celah-celah atap anyaman bambu. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara ayam berkokok. Masih malam. Atau sudah pagi? Ia tidak bisa membedakannya. Yang ia tahu, jam tidurnya terganggu. Dan jam tidur yang terganggu berarti esok harinya ia akan mengantuk. Dan mengantuk berarti ia tidak bisa berpikir jernih. Dan tidak bisa berpikir jernih berarti ia tidak bisa memecahkan teka-teki. Dan tidak bisa memecahkan teka-teki berarti ia akan kehilangan kepala.

Itu, pikirnya, adalah rangkaian sebab-akibat yang sangat tidak menguntungkan.

"Jam berapa ini?" tanyanya sambil mengucek mata.

"Lewat tengah malam, Tuan. Wazir Jafar bilang, Baginda Raja memanggil Tuan dengan hormat. Kata Wazir Jafar, ada teka-teki di pasar malam yang hanya Tuan yang bisa memecahkan. Kata Wazir Jafar, Baginda Raja sudah menyiapkan kurma Sukkari dari kebun pribadi dan air tajin dari sumur dalam. Kata Wazir Jafar, Baginda Raja juga memberi izin untuk Tuan tertawa sepuasnya di hadapan Baginda tanpa harus khawatir kehilangan kepala."

Abu Nawas tertawa kecil. "Wazir Jafar benar-benar tahu cara membujukku. Kurma Sukkari, air tajin, dan izin tertawa di hadapan raja. Tiga hal yang tidak bisa kutolak. Apalagi ditambah dengan teka-teki. Teka-teki, wahai pemuda, adalah makanan kedua setelah kurma. Bahkan mungkin lebih penting dari kurma. Karena kurma mengenyangkan perut, tapi teka-teki mengenyangkan jiwa. Dan jiwa yang lapar, percayalah, lebih menyedihkan daripada perut yang lapar."

Ia duduk di tempat tidurnya, menguap lebar-lebar, dan mengucek matanya sekali lagi. Wajahnya kusut, rambutnya acak-acakan, janggutnya yang tidak pernah ia cukur rapi tumbuh semaunya sendiri. Ia terlihat seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang, yang memang benar terjadi.

"Baiklah," katanya. "Tapi sebelum aku pergi, beri tahu Wazir Jafar bahwa aku minta satu hal lagi."

"Apa, Tuan?"

"Aku minta… waktu. Waktu untuk mandi. Atau setidaknya membasuh muka. Karena wajahku sekarang, kalau dilihat Baginda Raja, beliau bisa mengira aku adalah pencuri yang dicari-cari. Atau lebih buruk lagi, beliau bisa mengira aku adalah mayat yang berjalan. Dan Baginda Raja, pemuda, tidak suka melihat mayat berjalan di istananya. Itu mengganggu pemandangan."

Pemuda itu tertawa. "Baik, Tuan. Aku akan sampaikan."


Satu jam kemudian, setelah membasuh muka, merapikan jubah lusuhnya—usaha yang sia-sia karena jubah itu memang tidak bisa dirapikan—dan memasukkan beberapa butir kurma kering ke dalam sakunya untuk berjaga-jaga, Abu Nawas sudah duduk di ruang pertemuan pribadi Baginda Raja.

Ruangan itu tidak seperti ruang singgasana yang megah dengan tiang-tiang marmer dan langit-langit berukir emas. Ruang pertemuan pribadi Baginda Raja lebih kecil, lebih intim, dengan dinding yang dilapisi kain sutra biru tua, lantai marmer hitam yang dipoles hingga mengkilap, dan jendela-jendela besar yang menghadap ke taman dalam. Di tengah ruangan, sebuah singgasana kecil dari kayu cendana berukir duduk di atas panggung rendah. Di sampingnya, sebuah meja rendah dari perak bertatahkan mutiara, di atasnya terdapat teko kopi dari emas dan cangkir-cangkir kecil dari porselen Cina.

Malam itu, di atas meja itu, tidak ada teko kopi. Yang ada adalah sepiring perak berisi kurma Sukkari yang mengilap seperti batu akik, dan sebuah gelas kristal berisi air tajin yang dinginnya masih terlihat dari embun yang membasahi permukaan gelas. Di sampingnya, sebuah catatan kecil yang ditulis dengan tangan Jafar: "Untuk Abu Nawas, dengan hormat."

Abu Nawas mengambil catatan itu, membacanya, dan tersenyum. Ia kemudian mengambil kurma, memasukkannya ke mulut, dan mengunyah dengan nikmat. Air tajin ia hirup perlahan, menikmati dinginnya yang menyegarkan tenggorokannya yang masih kering karena baru bangun tidur.

Di hadapannya, Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasana kecilnya dengan jubah pagi berwarna putih, tanpa mahkota, tanpa perhiasan. Wajahnya tenang, tetapi matanya—matanya yang hitam pekat itu—menatap Abu Nawas dengan intensitas yang membuat lelaki kurus itu merasa bahwa Baginda Raja sedang tidak hanya melihatnya, tetapi membaca pikirannya.

"Abu Nawas," kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid, "aku tidak akan memanggilmu di tengah malam jika tidak ada yang penting. Tapi kau tahu itu. Kau tahu bahwa aku hanya memanggilmu di tengah malam jika ada teka-teki yang tidak bisa dipecahkan oleh siapa pun. Dan kau selalu datang. Meskipun kau mengeluh tentang mimpi kurmamu yang terganggu. Meskipun kau meminta waktu untuk membasuh muka. Meskipun kau membawa kurma kering di sakumu untuk berjaga-jaga. Kau selalu datang."

Abu Nawas menelan kurmanya, tersenyum lebar. "Baginda, saya tidak keberatan dipanggil di tengah malam. Bahkan saya senang. Karena di tengah malam, biasanya Baginda Raja lebih murah hati dengan kurmanya. Kurma siang hari rasanya berbeda. Kurma siang hari terlalu sibuk. Ada urusan kerajaan, ada laporan dari provinsi, ada tamu asing, ada penyair yang membacakan syair-syair panjang yang tidak pernah selesai. Kurma siang hari dimakan dengan terburu-buru, tanpa dinikmati. Tapi kurma malam hari, seperti ini, lebih tenang, lebih meresap, lebih… filosofis. Saya bisa merasakan setiap seratnya, setiap butir gulanya, setiap lapisan rasa yang tersembunyi di balik manisnya. Kurma malam hari, Baginda, adalah kurma yang paling bijaksana."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. "Kau dan kurmamu, Abu Nawas. Kau bisa membuat kurma terasa seperti nasihat bijak. Kau bisa membuat kurma terasa seperti puisi. Kau bisa membuat kurma terasa seperti… teka-teki."

"Kurma adalah teka-teki, Baginda. Kurma tidak pernah berbohong. Kurma selalu manis jika waktunya tepat. Kurma selalu pahit jika dipetik terlalu cepat. Seperti kebenaran, Baginda. Seperti keadilan. Seperti… teka-teki di pasar malam."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas. Ia berdiri, berjalan ke jendela yang menghadap ke arah pasar malam. Di kejauhan, lampu-lampu pasar masih menyala, meskipun tidak sebanyak beberapa jam yang lalu. Suara-suara yang tadinya riuh kini mulai mereda, berganti dengan bisik-bisik yang lebih pelan, lebih misterius. Sesekali, terdengar teriakan seorang penjaga yang sedang berpatroli, atau tangisan anak kecil yang tersesat, atau tawa mabuk dari seseorang yang terlalu banyak minum anggur di kedai dekat gerbang. Tapi secara keseluruhan, pasar malam mulai sepi. Mulai menarik napas panjang setelah seharian berdenyut. Mulai bersiap untuk tidur.

"Abu Nawas," katanya, "beberapa pekan terakhir, pasar malam Baghdad tidak aman. Barang-barang berharga menghilang dari tangan para pedagang dan pembeli. Hilang begitu saja. Seperti ditelan bumi. Seperti diambil oleh bayangan. Tidak ada yang melihat pencurinya. Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana itu terjadi. Para penjaga pasar sudah berusaha. Mereka sudah menangkap beberapa orang, memeriksa, bahkan menyiksa. Tidak ada yang ditemukan. Tidak ada yang mengaku."

Ia berbalik menghadap Abu Nawas, dan untuk pertama kalinya malam itu, Abu Nawas melihat sesuatu di mata Baginda Raja yang belum pernah ia lihat sebelumnya: kelelahan. Bukan kelelahan fisik, tetapi kelelahan jiwa. Kelelahan seorang pemimpin yang tahu bahwa rakyatnya hidup dalam ketakutan, tetapi tidak tahu bagaimana menghentikan ketakutan itu. Kelelahan seorang raja yang menyadari bahwa kekuasaannya tidak bisa melindungi rakyatnya dari sesuatu yang tidak bisa dilihat.

"Aku tidak percaya pada pencuri bayangan," lanjut Baginda Raja Harun Al-Rasyid. "Aku percaya pada manusia. Manusia yang licik, yang pintar, yang tahu bagaimana memanfaatkan keramaian untuk menutupi kejahatan. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa tidak ada satu pun saksi. Tidak ada satu pun jejak. Tidak ada satu pun petunjuk. Para penjaga pasarku sudah berpatroli setiap malam. Mereka sudah bertanya kepada setiap pedagang. Mereka sudah memeriksa setiap sudut pasar. Tidak ada yang mereka temukan. Dan itu, Abu Nawas, adalah teka-teki yang tidak bisa dipecahkan oleh kekuatan. Itu adalah teka-teki yang hanya bisa dipecahkan oleh… kecerdikan."

Ia berjalan mendekati Abu Nawas, berdiri tepat di hadapannya. Tingginya jauh di atas Abu Nawas yang duduk bersila, sehingga Abu Nawas harus mendongak untuk menatapnya.

"Abu Nawas, aku tidak akan memerintahkanmu. Aku tidak akan mengancammu. Aku tidak akan menjanjikan emas atau rumah atau jabatan. Aku hanya akan… memintamu. Memintamu untuk pergi ke pasar malam. Bukan sebagai utusan istana. Bukan sebagai penyelidik resmi. Tapi sebagai dirimu sendiri. Sebagai Abu Nawas yang biasa duduk di kedai pinggiran, makan kurma, tertawa, bercerita. Sebagai orang yang tidak mencurigakan. Sebagai orang yang… bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain."

Abu Nawas tidak menjawab segera. Ia mengambil kurma dari piring perak itu, memutarnya di antara jari-jarinya seperti seorang pesulap memutar koin. Matanya menerawang ke suatu tempat di kejauhan, melewati dinding-dinding istana, melewati taman-taman dalam, melewati Sungai Tigris, ke suatu tempat di mana keramaian dan kesunyian bercampur menjadi satu, di mana barang-barang berharga bisa lenyap dalam sekejap mata, di mana bayangan-bayangan bergerak tanpa suara.

"Baginda," katanya akhirnya, suaranya pelan tetapi jelas, "jadi Baginda ingin saya menjadi… umpan?"

Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat alis. "Umpan?"

"Ya, Baginda. Umpan untuk memancing pencuri itu keluar dari persembunyiannya. Karena pencuri yang pintar tidak akan mencuri dari orang yang waspada. Pencuri yang pintar akan mencuri dari orang yang lengah. Dari orang yang tidak mencurigakan. Dari orang yang… seperti saya. Seorang pengunjung biasa, tidak punya banyak barang, tidak punya banyak uang, tidak penting. Sempurna untuk dijadikan umpan."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. "Kau selalu bisa membaca pikiranku, Abu Nawas. Ya. Aku ingin kau menjadi umpan. Tapi bukan umpan yang pasif. Umpan yang aktif. Umpan yang… bisa melihat. Umpan yang… bisa melawan."

Abu Nawas melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan, lalu berdiri. Ia merapikan jubahnya yang lusuh—usaha yang sia-sia, karena jubah itu memang tidak bisa dirapikan—dan menatap Baginda Raja dengan mata yang bersinar.

"Baginda," katanya, "saya akan lakukan. Tapi saya minta satu syarat."

"Syarat apa?"

"Saya tidak mau dibayar dengan emas. Saya tidak mau rumah di tepi sungai. Saya tidak mau jabatan. Saya hanya mau… kebebasan. Kebebasan untuk tertawa di pasar malam. Kebebasan untuk bercerita tentang apa pun yang saya lihat. Kebebasan untuk… menjadi Abu Nawas. Dan satu lagi."

"Apa?"

"Kurma. Banyak kurma. Kurma Sukkari dari kebun Baginda. Karena tanpa kurma, otak saya tidak akan bekerja. Dan tanpa otak yang bekerja, saya tidak akan bisa melihat pencuri bayangan itu."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tertawa. Tawa yang keras, tawa yang bebas, tawa yang sudah lama tidak terdengar di ruangan ini.

"Kau memang gila, Abu Nawas. Seluruh kekhalifahan aku tawarkan, dan kau hanya minta kebebasan untuk menjadi dirimu sendiri dan kurma. Tapi itulah sebabnya aku memanggilmu. Karena kau adalah satu-satunya orang di Baghdad yang lebih mencintai kebebasan dan kurma daripada emas dan kekuasaan. Dan orang seperti itu, Abu Nawas, adalah orang yang paling jujur. Orang yang paling bisa melihat kebenaran. Orang yang paling… tidak bisa dibeli."

Ia menepuk pundak Abu Nawas dengan keras—bukan tepukan yang menyakitkan, tetapi tepukan yang penuh keakraban.

"Pergilah, Abu Nawas. Temukan pencuri bayangan itu. Kembalikan kedamaian ke pasar malam Baghdad. Dan jangan lupa…"

"Apa, Baginda?"

"Bawa pulang kurma untukku. Kurma yang kau beli di pasar malam. Aku ingin tahu apakah kurma pasar malam lebih enak daripada kurma kebunku."

Abu Nawas tertawa. "Baginda, kurma kebun Baginda tetap yang terbaik. Tapi saya akan coba mencari yang sebanding. Siapa tahu, di antara keramaian pasar malam, ada kurma yang lebih manis dari kurma istana. Kurma yang dijual oleh pedagang jujur yang tidak pernah mencampur dagangannya. Kurma yang tumbuh di kebun kecil, dirawat dengan tangan sendiri, dipetik dengan doa. Kurma seperti itu, Baginda, mungkin lebih sederhana, mungkin tidak semengilap kurma kebun Baginda, tetapi rasanya… rasanya seperti kejujuran. Dan kejujuran, Baginda, adalah rasa yang paling manis."


BAB 2: PEDAGANG DAN CERITA YANG JANGGAL

Keesokan malamnya, Abu Nawas berjalan di lorong-lorong sempit Pasar Malam Baghdad.

Ia tidak menyamar. Ia tidak berganti pakaian. Ia datang sebagai dirinya sendiri: jubah lusuh yang sama yang sudah ia kenakan bertahun-tahun, sandal aus yang sudah hampir tidak bersol, sorban yang dililit dengan malas sehingga beberapa helai rambutnya yang acak-acakan keluar dari balik kain. Ia tidak membawa dompet besar, tidak memakai perhiasan, tidak menunjukkan tanda-tanda kekayaan. Ia hanyalah seorang pengunjung biasa, salah satu dari ribuan orang yang membanjiri pasar malam setiap hari.

Tapi matanya berbeda.

Matanya tidak seperti mata pengunjung biasa yang sibuk melihat barang-barang yang dipajang, tertarik oleh warna-warni sutra atau kilauan permata. Matanya bergerak perlahan, tenang, mengamati setiap sudut, setiap orang, setiap gerakan. Ia memperhatikan cara orang berjalan, cara mereka berdiri, cara mereka berbicara. Ia memperhatikan pedagang yang sedang menawarkan dagangannya, pembeli yang sedang menawar harga, anak-anak yang berlarian di antara kaki orang dewasa. Ia memperhatikan bayangan-bayangan yang bergerak di dinding-dinding kios, diterangi oleh lampu-lampu minyak yang berkelap-kelip.

Ia berjalan lambat, seperti orang yang tidak punya tujuan, sesekali berhenti di sebuah kios untuk melihat-lihat, sesekali membeli kurma dari pedagang kurma yang duduk di sudut lorong, sesekali duduk di bangku kayu yang disediakan untuk pengunjung yang lelah. Ia berbicara dengan para pedagang, bukan dengan nada menyelidik, tetapi dengan nada seorang teman yang sedang mengobrol santai.

Di sebuah kios rempah-rempah, ia berhenti. Pedagang rempah itu adalah seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang, wajah keriput yang menunjukkan usianya yang sudah lanjut, tetapi matanya masih jernih dan tangannya masih lincah meracik bubuk-bubuk rempah dari berbagai guci tanah liat yang berjejer rapi di depannya. Aroma safron, jintan, ketumbar, kayu manis, cengkeh, dan puluhan rempah lainnya bercampur menjadi satu kesatuan yang memabukkan, menciptakan suasana yang terasa seperti berada di negeri dongeng.

"Tuan," sapa Abu Nawas dengan nada ramah, "rempah-rempah Tuan wangi sekali. Sampai dari sini saya sudah bisa menciumnya. Safron, ya? Safron dari Persia? Yang paling mahal?"

Pedagang tua itu tersenyum bangga. "Tuan benar. Safron dari Persia. Asli dari kota Isfahan. Dipetik dengan tangan, dikeringkan dengan hati-hati, tidak dicampur apa pun. Yang terbaik di pasar ini, Tuan. Mungkin yang terbaik di seluruh Baghdad."

"Yang terbaik di seluruh Baghdad?" Abu Nawas mengangkat alis, mengambil sejumput safron, menghirup aromanya, lalu menggeleng. "Aroma ini, Tuan, memang wangi. Tapi safron Persia sejati seharusnya lebih tajam, lebih menusuk, seperti pedang yang baru diasah. Safron Tuan ini… lembut. Lembut sekali. Seperti… seperti safron yang sudah dicampur. Mungkin dengan kunyit. Atau dengan bunga kering. Untuk menghemat biaya."

Pedagang itu tersenyum canggung, tidak lagi bangga. Wajahnya yang tadinya berseri-seri kini sedikit merona, entah karena malu atau karena ketahuan. "Tuan… Tuan punya hidung yang tajam. Mungkin… mungkin ada sedikit campuran. Tapi hanya sedikit. Hanya untuk warna. Tidak mempengaruhi rasa."

Abu Nawas tertawa. "Tuan, jangan khawatir. Saya tidak akan lapor ke penjaga pasar. Saya hanya pengunjung biasa. Tapi saya ingin bertanya sesuatu."

"Apa, Tuan?"

"Saya dengar di pasar ini ada pencuri. Pencuri yang tidak bisa dilihat. Apakah Tuan pernah kehilangan barang?"

Pedagang itu menghela napas panjang. Wajahnya yang tadinya sedikit malu berubah menjadi muram. Ia menatap sekeliling dengan waspada, menurunkan suaranya menjadi nyaris berbisik.

"Tuan, saya sendiri belum pernah kehilangan. Alhamdulillah. Saya menjaga barang-barang saya dengan ketat. Tapi tetangga saya, pedagang kain di sebelah sana, kehilangan sepuluh gulung sutra minggu lalu. Sepuluh gulung, Tuan. Sutra dari Khurasan. Yang paling mahal. Hilang begitu saja. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang tahu bagaimana."

"Bagaimana Tuan tahu itu terjadi?"

"Pedagang itu sendiri yang cerita. Katanya, suatu malam, pasar sedang ramai-ramainya. Banyak pembeli yang datang. Ia sibuk melayani. Di depannya, ada seorang pembeli yang sedang menawar lima gulung sutra untuk pesta pernikahan putrinya. Di sampingnya, ada sekelompok anak muda yang sedang bercanda. Di belakang, ada seorang wanita tua yang menawar harga dengan keras. Semua terjadi bersamaan. Ia kewalahan. Ketika semua orang pergi, ia baru sadar bahwa sepuluh gulung sutra yang paling mahal sudah tidak ada di tumpukannya."

"Apakah ia melihat sesuatu yang aneh? Orang yang mencurigakan? Gerakan yang tidak biasa?"

Pedagang itu menggeleng. "Tidak, Tuan. Ia terlalu sibuk. Ia hanya ingat bahwa malam itu sangat ramai. Lebih ramai dari biasanya. Banyak orang datang dan pergi. Banyak yang menawar, banyak yang bertanya, banyak yang hanya melihat-lihat. Ia tidak bisa mengingat satu pun wajah. Padahal, Tuan, pedagang kain itu terkenal punya ingatan yang kuat. Ia bisa mengingat wajah setiap pembeli yang pernah datang ke kiosnya. Tapi malam itu… malam itu, semua wajah seperti kabut. Tidak bisa diingat."

Abu Nawas mengangguk. Ia mengambil safron yang sudah dicampur itu, meletakkan koin tembaga di atas meja—lebih dari harga yang seharusnya, karena ia merasa kasihan pada pedagang tua itu—dan berjalan ke kios pedagang kain di sebelah.


Pedagang kain itu adalah seorang lelaki paruh baya dengan wajah lelah dan mata yang sayu. Ia duduk di belakang tumpukan kain yang sudah tidak serapi biasanya. Beberapa gulung kain berserakan di lantai, seolah-olah ia sudah kehilangan semangat untuk merapikannya. Di matanya, Abu Nawas melihat ketakutan. Bukan ketakutan akan pencuri, tetapi ketakutan akan kelangsungan hidupnya. Sepuluh gulung sutra yang hilang adalah modal yang sangat besar baginya. Mungkin seluruh tabungannya. Mungkin warisan dari orang tuanya. Mungkin harapan untuk masa depan anak-anaknya.

Abu Nawas mendekat dengan langkah pelan, duduk di bangku kayu di depan kios itu, dan mengambil sepotong kain dari tumpukan yang berserakan. Kain itu bagus. Sutra asli dari Khurasan. Lembut, halus, berkilau. Warna merah tua, seperti darah naga dalam cerita-cerita lama. Kain yang sempurna untuk jubah kebesaran, atau untuk selendang pengantin, atau untuk hadiah kepada raja.

"Kain ini bagus, Tuan," kata Abu Nawas dengan suara lembut. "Sangat bagus. Saya pernah melihat kain seperti ini di istana. Baginda Raja sendiri yang memakainya. Katanya, hanya ada beberapa gulung di seluruh kekhalifahan. Langka. Mahal. Sangat berharga."

Pedagang itu mengangkat kepalanya, menatap Abu Nawas dengan curiga. "Kau siapa? Mata-mata? Utusan dari istana? Atau… pencuri yang datang untuk melihat-lihat sebelum mengambil?"

Abu Nawas tertawa. "Saya hanya pengunjung, Tuan. Hanya seorang yang suka mendengar cerita. Dan saya suka cerita tentang hal-hal yang aneh. Seperti sepuluh gulung sutra yang hilang tanpa jejak. Seperti pencuri bayangan yang tidak bisa dilihat. Seperti… misteri yang belum terpecahkan."

Pedagang itu menghela napas. Wajahnya yang tadinya keras perlahan melunak. Mungkin karena ia sudah terlalu lama menyimpan cerita ini sendirian, dan butuh seseorang untuk mendengarnya. Mungkin karena ia lelah memikul beban ini sendirian. Mungkin karena ia merasa bahwa dengan bercerita, beban itu akan sedikit berkurang.

"Itu malam Jumat, Tuan," katanya, suaranya serak. "Malam yang paling ramai dalam sepekan. Pasar penuh dengan orang. Saya sedang melayani seorang pembeli yang membeli lima gulung sutra untuk pesta pernikahan putrinya. Ia banyak bertanya. Warna apa yang paling cocok untuk pengantin? Motif apa yang paling disukai keluarga? Berapa harga yang paling murah? Saya sibuk menjelaskan. Di samping saya, ada pembeli lain yang sedang melihat-lihat kain. Di depan, ada sekelompok anak muda yang sedang bercanda, tertawa keras, saling dorong. Di belakang, ada seorang wanita tua yang menawar harga dengan keras, terus-menerus, tidak berhenti-henti, seperti burung beo yang tidak bisa diam. Semua terjadi bersamaan. Semua orang bicara. Semua orang bergerak. Semua orang… sibuk."

Ia mengusap wajahnya dengan tangan yang kasar, tangan yang sudah puluhan tahun memegang kain sutra, tangan yang sekarang gemetar karena kehilangan.

"Ketika semua orang pergi, saya baru sadar bahwa sepuluh gulung sutra yang saya tata rapi di samping kanan saya sudah tidak ada. Sepuluh gulung, Tuan. Sutra terbaik dari Khurasan. Warna-warna yang paling indah. Yang saya simpan untuk pembeli-pembeli kaya, untuk pejabat-pejabat istana, untuk saudagar-saudagar dari negeri seberang. Hilang. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang tahu. Saya bertanya kepada tetangga kios di sebelah kiri, ia tidak melihat. Saya bertanya kepada tetangga kios di sebelah kanan, ia juga tidak melihat. Saya bertanya kepada penjaga pasar yang sedang berpatroli, mereka tidak tahu. Saya bertanya kepada para pembeli yang masih ada di sekitar, mereka tidak ingat."

Ia menunduk, air matanya jatuh ke tumpukan kain yang berserakan.

"Sepuluh gulung, Tuan. Sepuluh gulung. Itu semua tabungan saya. Itu warisan dari ayah saya. Itu harapan untuk anak-anak saya. Sekarang… sekarang saya tidak punya apa-apa."

Abu Nawas meletakkan tangannya di pundak pedagang itu, dengan lembut, seperti seorang teman yang sedang menghibur temannya yang sedang berduka.

"Tuan," katanya, "apakah Tuan ingat sesuatu yang aneh malam itu? Sesuatu yang tidak biasa? Suara? Bau? Gerakan? Sesepele apa pun. Mungkin ada detail kecil yang Tuan anggap tidak penting, tapi sebenarnya penting."

Pedagang itu berpikir keras. Dahinya berkerut, matanya terpejam, seperti orang yang sedang menyelam ke dalam ingatan yang paling dalam.

"Ada… ada satu hal," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Tapi mungkin hanya perasaanku. Mungkin hanya karena aku terlalu sibuk. Atau mungkin… mungkin itu penting."

"Ceritakan, Tuan."

"Malam itu, ada seorang lelaki yang berdiri di sudut kiosku. Di sebelah kiri, dekat tumpukan kain yang paling mahal. Ia tidak membeli. Ia tidak menawar. Ia hanya berdiri, melihat-lihat, sesekali menyentuh kain, sesekali mengangguk, sesekali menggeleng. Saya tidak terlalu memperhatikannya karena saya sibuk dengan pembeli yang lain. Tapi ketika semua orang pergi, lelaki itu juga pergi. Dan saya… saya tidak ingat wajahnya. Sama sekali tidak ingat. Padahal, Tuan, saya bisa mengingat wajah pembeli yang datang ke kios saya bertahun-tahun yang lalu. Tapi lelaki itu… wajahnya seperti kabut. Tidak bisa diingat. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang bisa diingat. Seperti… seperti bayangan."

Abu Nawas mengangguk. "Terima kasih, Tuan. Tuan sudah sangat membantu. Saya akan coba mencari tahu siapa yang mengambil sutra Tuan. Tapi Tuan harus janji satu hal."

"Apa?"

"Tuan harus tetap berdagang. Jangan menyerah. Jangan tutup kios. Jangan biarkan ketakutan mengalahkan Tuan. Karena jika Tuan menyerah, pencuri itu menang. Dan pencuri itu, Tuan, tidak pantas menang."

Pedagang itu mengangkat kepalanya, menatap Abu Nawas dengan mata yang berkaca-kaca tetapi mulai bersinar.

"Tuan… Tuan sungguh baik. Tapi Tuan bukan penjaga pasar. Tuan bukan utusan istana. Tuan hanya… siapa sebenarnya Tuan?"

Abu Nawas tersenyum. "Saya hanya Abu Nawas, Tuan. Abu Nawas yang suka kurma. Abu Nawas yang suka teka-teki. Abu Nawas yang… ingin melihat keadilan ditegakkan. Dengan cara saya sendiri. Dengan tawa, bukan dengan pedang. Dengan cerita, bukan dengan ancaman. Dengan kurma, bukan dengan emas."

Ia berdiri, merapikan jubahnya, dan berjalan meninggalkan kios itu. Di pikirannya, kata-kata pedagang kain itu terus bergema: wajahnya seperti kabut, tidak bisa diingat, seperti bayangan.


Ia berjalan ke kios-kios lain. Sebuah kios perhiasan di lorong utara, di mana seorang pedagang wanita kehilangan kalung mutiara dari teluk Oman yang sangat berharga. Ceritanya sama: ramai, sibuk, banyak orang datang dan pergi, dan ketika keramaian berlalu, kalung itu sudah tidak ada. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang ingat.

Ia berjalan ke kios rempah-rempah di lorong timur, di mana seorang pedagang kehilangan sekantung safron murni seberat satu kilogram. Ceritanya juga sama: ramai, sibuk, banyak orang, dan ketika ia sadar, safron itu sudah tidak ada. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang ingat.

Ia berjalan ke kios senjata di lorong barat, di mana seorang pedagang kehilangan sebuah keris pusaka dari Jawa, bertatahkan emas dan permata, yang konon memiliki kekuatan magis. Ceritanya lagi-lagi sama: ramai, sibuk, banyak orang, dan ketika ia sadar, keris itu sudah tidak ada. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang ingat.

Abu Nawas berjalan di lorong-lorong pasar, pikirannya bekerja cepat. Ia mengamati tata letak pasar, jarak antar kios, jalur-jalur sempit yang bisa digunakan untuk melarikan diri, sudut-sudut gelap yang jarang terkena cahaya lampu. Ia memperhatikan cara orang berjalan, cara mereka berbelok, cara mereka menghilang di balik kerumunan. Ia memperhatikan bahwa semua pencurian terjadi di malam Jumat, malam paling ramai. Ia memperhatikan bahwa semua korban adalah pedagang yang sibuk, yang lengah, yang tidak memperhatikan sekeliling. Ia memperhatikan bahwa semua pencurian terjadi di kios-kios yang berada di lokasi strategis—dekat persimpangan lorong, dekat pintu masuk, dekat tempat-tempat yang mudah untuk melarikan diri.

Dan perlahan, seperti kabut yang mulai menyingkap, sebuah pola mulai terbentuk di pikirannya.


BAB 3: RAMAI YANG MEMBUTAKAN

Tiga malam berturut-turut Abu Nawas menghabiskan waktunya di pasar malam. Ia datang sebelum matahari tenggelam, sebelum lampu-lampu minyak mulai dinyalakan satu per satu, sebelum keramaian mulai membanjiri lorong-lorong sempit. Ia duduk di sudut-sudut yang berbeda setiap malam, mengamati, mendengarkan, mencatat dalam pikirannya setiap detail yang mungkin penting.

Pada malam pertama, ia duduk di kedai kopi di pinggiran pasar, tempat yang cukup tinggi untuk melihat sebagian besar lorong-lorong utama. Dari sini, ia bisa melihat arus manusia yang mengalir di pasar, seperti sungai yang bercabang-cabang, kadang melambat, kadang mempercepat, kadang berhenti di sebuah kios, kadang berputar di persimpangan. Ia memperhatikan bahwa ada beberapa titik di pasar yang selalu menjadi titik tersibuk, di mana orang-orang berkumpul, berdesakan, saling mendorong. Titik-titik itulah, pikirnya, yang paling mungkin menjadi tempat pencurian.

Pada malam kedua, ia duduk di bangku kayu di depan kios pedagang kurma yang letaknya strategis, dekat dengan tiga persimpangan lorong. Dari sini, ia bisa melihat lebih dekat interaksi antara pedagang dan pembeli, cara mereka menawar, cara mereka bernegosiasi, cara mereka saling percaya atau saling curiga. Ia memperhatikan bahwa beberapa pembeli memiliki kebiasaan yang sama: mereka datang ketika kios sedang ramai, mereka bertanya dengan suara keras, mereka bergerak dengan cepat, dan mereka pergi ketika pedagang sedang sibuk.

Pada malam ketiga, ia duduk di sudut gelap di dekat pintu belakang pasar, tempat yang jarang dilalui orang, tetapi strategis untuk melarikan diri. Dari sini, ia bisa melihat siapa saja yang keluar masuk pasar melalui pintu belakang, siapa saja yang membawa barang-barang besar, siapa saja yang terlihat tergesa-gesa. Ia memperhatikan bahwa beberapa orang sering keluar melalui pintu belakang pada malam Jumat, ketika pasar sedang paling ramai, dengan membawa karung-karung yang tidak jelas isinya.

Pada malam keempat, ia duduk di kedai kopi yang sama dengan malam pertama, di tempat yang cukup tinggi untuk melihat seluruh pasar. Di hadapannya, segelas kopi hitam pahit yang sudah dingin karena ia terlalu sibuk mengamati untuk meminumnya. Di sampingnya, seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang duduk dengan tenang, menyesap kopinya, sesekali melirik ke arah Abu Nawas dengan rasa ingin tahu.

Lelaki tua itu adalah pemilik kedai kopi ini. Namanya Syakir, seorang yang sudah berdagang di pasar ini selama empat puluh tahun, sejak masa Baginda Raja Al-Mahdi, ayah dari Baginda Raja Harun Al-Rasyid. Wajahnya keriput, matanya sayu, tetapi pikirannya masih tajam. Ia telah melihat pasang surut pasar ini selama empat puluh tahun. Ia telah melihat pedagang-pedagang kaya menjadi miskin, pedagang-pedagang miskin menjadi kaya, pencuri-pencuri datang dan pergi, penjaga-penjaga berganti-ganti. Ia telah melihat segalanya.

"Tuan," kata Syakir akhirnya, "tiga malam ini Tuan duduk di sini, tidak membeli apa pun selain segelas kopi yang tidak Tuan minum, hanya melihat. Apakah Tuan mencari sesuatu? Atau seseorang? Atau… petunjuk?"

Abu Nawas tersenyum. "Saya mencari sesuatu yang hilang, Tuan. Sesuatu yang hilang di pasar ini. Tapi saya tidak tahu bentuknya. Saya tidak tahu warnanya. Saya tidak tahu baunya. Saya hanya tahu bahwa ia ada di sini. Dan ia akan muncul lagi. Malam ini. Atau besok. Atau lusa. Saya hanya perlu… menunggu."

Syakir tertawa kecil. "Tuan berbicara seperti seorang filsuf. Atau seperti seorang peramal. Atau mungkin seperti seorang… penyelidik. Apakah Tuan utusan dari istana? Utusan dari Baginda Raja? Atau utusan dari Wazir Jafar?"

"Saya hanya Abu Nawas, Tuan. Abu Nawas yang suka kurma. Abu Nawas yang suka teka-teki. Abu Nawas yang… diminta Baginda Raja untuk mencari tahu tentang pencuri bayangan."

Syakir mengangkat alis. "Abu Nawas? Abu Nawas yang dulu membuat Baginda Raja tertawa dengan cerita tentang keledai yang lebih pintar dari wazir? Abu Nawas yang dulu hampir kehilangan kepala karena lelucon tentang selir kesayangan? Abu Nawas yang dulu menemukan mahkota yang hilang di tiang istana? Abu Nawas yang dulu membuat cermin retak menjadi cermin kebenaran?"

Abu Nawas tertawa. "Tuan tahu banyak tentang saya."

"Di pasar ini, Tuan, semua orang tahu semua orang. Dan semua orang tahu semua cerita. Cerita tentang Abu Nawas adalah cerita yang paling dicari. Lebih dicari dari sutra Khurasan. Lebih dicari dari safron Persia. Lebih dicari dari mutiara teluk Oman."

"Tuan terlalu baik."

Syakir menghela napas, menatap keramaian di bawah mereka. Pasar sedang ramai. Ribuan orang berjalan mondar-mandir, saling berpapasan, saling mendorong, saling berbicara. Suara tawar-menawar bercampur dengan suara tawa, suara anak-anak, suara pedagang yang berteriak menawarkan dagangan. Semuanya bergerak, semuanya hidup, semuanya… sibuk.

"Tuan Abu Nawas," kata Syakir, "apakah Tuan tahu apa yang membuat pasar ini istimewa? Apa yang membuat pasar ini berbeda dari pasar-pasar lain di seluruh kekhalifahan?"

"Apa, Tuan?"

"Keramaian, Tuan. Keramaian adalah kekuatan pasar ini. Keramaian adalah nyawanya. Keramaian adalah jantungnya. Tanpa keramaian, pasar ini mati. Tapi keramaian juga, Tuan, adalah… kelemahan. Keramaian adalah tirai. Tirai yang paling tebal, paling sempurna, paling tidak terlihat. Karena orang tidak pernah curiga pada keramaian. Orang mengira keramaian adalah perlindungan. Padahal keramaian adalah… kesempatan. Kesempatan bagi yang pintar. Kesempatan bagi yang licik. Kesempatan bagi yang… tahu bagaimana memanfaatkan kelengahan."

Abu Nawas menatap Syakir dengan rasa hormat yang baru. "Tuan bijaksana, Tuan. Empat puluh tahun di pasar mengajarkan Tuan banyak hal."

"Empat puluh tahun di pasar mengajarkanku satu hal, Tuan: orang yang terlalu sibuk melihat dunia, sering lupa menjaga miliknya sendiri. Mereka sibuk menawar harga, sibuk melihat barang, sibuk berbicara dengan teman, sibuk memperhatikan anak-anak mereka. Mereka lupa bahwa di antara keramaian, ada tangan-tangan yang bergerak. Tangan-tangan yang cepat. Tangan-tangan yang terlatih. Tangan-tangan yang… mengambil apa yang bukan hak mereka."

Abu Nawas mengambil kopinya yang sudah dingin, menyesapnya, tidak memperdulikan rasa pahit yang sudah terlalu lama mengendap.

"Tuan Syakir," katanya, "apakah Tuan pernah melihat sesuatu yang aneh beberapa pekan terakhir? Sesuatu yang tidak biasa? Seseorang yang tidak seperti biasanya? Gerakan yang mencurigakan? Sesepele apa pun."

Syakir berpikir keras. Matanya yang sayu menyipit, mengingat kembali setiap detail yang mungkin ia lewatkan.

"Ada… ada satu hal, Tuan. Tapi mungkin hanya perasaanku. Mungkin hanya karena aku sudah tua dan mulai berhalusinasi. Tapi… akhir-akhir ini, ada sekelompok anak muda yang sering datang ke pasar. Mereka datang setiap malam Jumat, ketika pasar sedang paling ramai. Mereka tidak membeli apa pun. Mereka hanya berjalan-jalan, bercanda, tertawa, sesekali berhenti di sebuah kios untuk melihat-lihat, lalu berjalan lagi. Mereka terlihat seperti anak-anak biasa yang sedang bersenang-senang. Tapi…"

"Tapi?"

"Tapi mereka selalu datang ketika pasar sedang paling ramai. Mereka selalu berjalan di lorong-lorong yang paling padat. Mereka selalu ada di dekat kios-kios yang kemudian kehilangan barang. Mereka selalu… ada di mana-mana. Tidak terlihat mencurigakan. Tidak mencolok. Tapi mereka selalu ada."

"Berapa banyak?"

"Empat atau lima orang. Muda-muda. Paling tua mungkin dua puluh tahun. Berpakaian biasa. Wajah-wajah yang tidak bisa diingat. Seperti… seperti bayangan. Mereka datang, mereka berjalan, mereka bercanda, mereka tertawa, dan ketika keramaian berlalu, mereka sudah tidak ada. Dan barang-barang… barang-barang sudah hilang."

Abu Nawas tersenyum. "Bayangan. Ya. Seperti bayangan."

Ia berdiri, membayar kopinya—meskipun kopi itu sudah dingin dan tidak pernah ia minum habis—dan berjalan menuruni tangga menuju keramaian pasar. Di pikirannya, sebuah gambaran mulai terbentuk. Bukan gambaran seorang pencuri bayangan yang misterius. Tapi gambaran yang lebih sederhana, lebih manusiawi, lebih… licik.

Keramaian adalah tirai, pikirnya. Dan orang yang terlalu sibuk melihat dunia, sering lupa menjaga miliknya sendiri. Pencuri itu bukan bayangan. Pencuri itu adalah manusia. Manusia yang pintar. Manusia yang terlatih. Manusia yang tahu persis kelemahan pasar. Manusia yang… ada di antara kita.


BAB 4: PERMAINAN TIPU DAYA

Pada malam kelima, Abu Nawas memutuskan untuk tidak lagi menjadi pengamat.

Ia datang ke pasar dengan pakaian yang berbeda. Jubah baru yang ia pinjam dari Jafar—dengan janji akan dikembalikan, meskipun Jafar sudah pasrah bahwa jubah itu akan berakhir dengan noda kurma di mana-mana, seperti semua jubah yang pernah dipinjam Abu Nawas sebelumnya. Sorban yang dililit dengan rapi oleh seorang pelayan istana yang kasihan melihat usahanya sendiri—setelah tiga kali mencoba, pelayan itu akhirnya menyerah dan memanggil dayang senior yang lebih berpengalaman untuk melilitkan sorban Abu Nawas dengan benar. Dan di pinggangnya, sebuah dompet yang sengaja ia isi dengan koin-koin tembaga yang dibungkus kertas sehingga dari kejauhan terlihat seperti koin emas, mengilap, menggoda, sempurna untuk umpan.

Ia juga membawa sesuatu yang lain: sebuah kotak kayu kecil, diukir dengan indah, dengan kunci emas kecil yang rumit. Kotak itu adalah pemberian dari seorang saudagar tua yang pernah ia tolong beberapa tahun lalu—masalah tentang unta yang hilang dan ditemukan di kandang tetangga, cerita panjang yang tidak perlu diceritakan di sini. Di dalam kotak itu, Abu Nawas meletakkan… batu. Batu biasa dari sungai Tigris, yang ia lapisi dengan perak tipis sehingga berkilau seperti permata di bawah lampu minyak. Batu itu tidak berharga, tetapi kotaknya yang indah dan kuncinya yang rumit membuat siapa pun yang melihatnya berpikir bahwa isinya pasti sangat berharga.

Ia berjalan di lorong-lorong pasar dengan langkah seorang saudagar kaya yang sedang berburu barang antik. Matanya bergerak cepat, melihat ke kiri dan ke kanan, sesekali berhenti di sebuah kios untuk memeriksa barang dengan sikap seorang ahli, sesekali menggeleng dan berjalan lagi dengan ekspresi kecewa, sesekali mengangguk dan bertanya harga dengan nada yang sedikit sombong, seperti orang yang terbiasa berbelanja tanpa melihat harga.

Ia berbicara dengan para pedagang dengan nada yang ramah tetapi sedikit terburu-buru, seperti orang yang punya banyak uang tetapi sedikit waktu.

"Tuan," katanya kepada seorang pedagang perhiasan di lorong utama, "apakah Tuan memiliki mutiara dari teluk Oman? Yang warnanya seperti bulan purnama? Yang bentuknya bulat sempurna? Yang tidak ada cacat sedikit pun? Saya sedang mencari untuk hadiah pernikahan. Hadiah untuk putri seorang pejabat istana. Jadi harus yang terbaik. Yang paling mahal. Harga tidak masalah."

Pedagang itu bersemangat. Matanya berbinar, tangannya bergerak cepat membuka peti-peti kayu di belakang kiosnya. "Ada, Tuan! Saya punya yang terbaik! Lihat ini…" Ia mengeluarkan sekotak mutiara dari kayu cendana berukir, membuka tutupnya perlahan-lahan, memperlihatkan deretan mutiara yang berkilau di bawah lampu minyak. Mutiara-mutiara itu indah, besar, bulat, berwarna putih susu dengan kilau keperakan yang lembut. Mutiara-mutiara terbaik yang ia miliki.

Abu Nawas mengambil mutiara itu satu per satu, memeriksanya dengan saksama, mendekatkannya ke lampu, memutarnya perlahan, melihat pantulan cahayanya, merasakan beratnya di telapak tangan.

"Bagus," katanya. "Sangat bagus. Tapi…" ia menggeleng, meletakkan mutiara itu kembali ke dalam kotak, "masih kurang. Masih kurang sempurna. Mutiara ini bagus untuk orang biasa. Tapi untuk putri pejabat istana? Untuk hadiah pernikahan yang akan dilihat oleh seluruh pejabat tinggi? Tidak. Tidak cukup. Maaf, Tuan. Mungkin lain kali."

Pedagang itu tampak kecewa, tetapi ia tidak bisa memaksa. Abu Nawas berjalan lagi.

Di setiap kios yang ia kunjungi, ia selalu membuka kotak kayunya, menunjukkan "permata" palsu itu dengan bangga, mengatakan bahwa ia sedang mencari barang yang sebanding untuk dijodohkan, untuk dipasangkan, untuk dijadikan satu set yang sempurna. Ia sengaja membuat kotak itu terbuka cukup lama, cukup lama untuk dilihat oleh orang-orang di sekitarnya. Cukup lama untuk menarik perhatian. Cukup lama untuk menjadi… umpan.

Dan ia menunggu.

Pada malam keenam, umpan mulai bekerja.

Abu Nawas sedang berdiri di depan kios seorang pedagang rempah di lorong selatan, membeli sekantung safron dengan harga yang tidak ia tawar—sesuatu yang sangat tidak biasa baginya, tetapi ia lakukan untuk terlihat seperti orang kaya yang tidak peduli uang, yang lebih peduli pada kualitas daripada harga, yang lebih peduli pada kepuasan daripada penghematan. Kotak kayunya terbuka di tangan kirinya, "permata" palsu di dalamnya berkilau di bawah lampu minyak, menciptakan pantulan-pantulan kecil di dinding kios di sekitarnya.

Ia merasakan sesuatu. Bukan suara. Bukan gerakan. Tapi sesuatu yang lebih halus. Seperti perubahan tekanan udara di sekitarnya. Seperti bayangan yang bergerak di tepi penglihatannya. Seperti kehadiran yang tidak terlihat tetapi terasa.

Ia tidak menoleh. Ia terus berbicara dengan pedagang rempah, menawar harga safron meskipun ia tidak benar-benar ingin membelinya—ia hanya ingin terlihat seperti pembeli yang serius, yang tidak akan meninggalkan kios sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Tapi di tepi matanya, ia melihat sekelompok anak muda berjalan mendekat. Empat orang. Muda-muda. Paling tua mungkin dua puluh tahun. Berpakaian biasa. Wajah-wajah yang… sulit diingat. Seperti kabut. Seperti bayangan.

Mereka berjalan santai, bercanda, tertawa, seperti anak-anak biasa yang sedang bersenang-senang di pasar malam. Salah seorang dari mereka berhenti di kios di sebelah kiri Abu Nawas, melihat-lihat rempah-rempah yang dipajang dengan penuh minat, bertanya-tanya tentang harga safron, tentang asal-usul kayu manis, tentang khasiat cengkeh. Seorang lagi berdiri di belakang Abu Nawas, seolah-olah sedang menunggu giliran untuk membeli, dengan sabar, tidak tergesa-gesa, tidak mencurigakan. Dua orang lainnya berjalan perlahan melewati kios, tidak berhenti, hanya melambat sedikit, cukup untuk melihat-lihat, cukup untuk mengamati, cukup untuk… mengalihkan perhatian.

Abu Nawas merasakan tangan di pinggangnya. Bukan sentuhan kasar. Bukan tarikan tiba-tiba. Hanya… kehadiran. Seperti angin yang menyentuh kulit. Seperti bayangan yang lewat. Seperti sesuatu yang bergerak sangat cepat, sangat halus, sangat terlatih, sehingga tidak terasa.

Ia meraih dompetnya.

Tangannya yang kurus dan terlatih—terlatih bukan untuk mencuri, tetapi untuk merasakan, untuk mendeteksi, untuk menangkap—bergerak lebih cepat dari yang diduga oleh siapa pun yang hanya melihatnya sebagai pelawak malas yang menghabiskan waktunya dengan makan kurma dan bercerita. Ia meraih pergelangan tangan yang sedang mencoba membuka ikatan dompetnya, menggenggamnya dengan kuat, dan menoleh.

Wajah seorang pemuda menatapnya dengan mata terbelalak. Wajah yang biasa-biasa saja. Tidak tampan, tidak jelek. Rambut hitam, mata hitam, hidung mancung, bibir tipis. Wajah yang tidak akan diingat siapa pun jika dilihat sekilas di keramaian. Wajah yang sempurna untuk… menghilang. Wajah yang sempurna untuk… menjadi bayangan.

"Nak," kata Abu Nawas dengan suara yang tenang, tidak berteriak, tidak memanggil penjaga, tidak membuat keributan. "Tangannya jangan di dompet orang lain. Itu tidak sopan. Itu tidak baik. Itu… melanggar hukum."

Pemuda itu berusaha melepaskan diri, tetapi Abu Nawas menggenggam erat. Dua temannya yang tadinya bercanda di dekat kios, tiba-tiba menghilang ke dalam keramaian, seperti kabut tertiup angin. Pemuda yang berdiri di belakang Abu Nawas juga pergi, berjalan cepat, tidak berlari, tidak panik, hanya berjalan cepat dengan langkah yang terlatih, menghilang di antara ribuan orang. Hanya pemuda yang tertangkap itu yang tersisa, dengan wajah yang mulai memucat, dengan mata yang mulai liar, dengan napas yang mulai memburu.

"Lepaskan!" desis pemuda itu, suaranya serak, matanya liar. "Lepaskan atau aku—"

"Atau kau apa?" potong Abu Nawas dengan tenang. "Kau akan memukulku? Kau akan melarikan diri? Kau akan memanggil teman-temanmu yang sudah kabur? Teman-temanmu yang meninggalkanmu sendirian? Teman-temanmu yang tidak peduli apakah kau tertangkap atau tidak? Teman-temanmu yang hanya peduli pada diri mereka sendiri?"

Pemuda itu terdiam. Wajahnya berubah. Dari ketakutan menjadi kemarahan, dari kemarahan menjadi kesadaran, dari kesadaran menjadi… kesedihan.

"Mereka… mereka pergi," bisiknya, suaranya nyaris tidak terdengar. "Mereka meninggalkanku."

"Ya, Nak. Mereka pergi. Mereka meninggalkanmu. Seperti yang akan selalu dilakukan oleh orang-orang yang tidak benar-benar peduli padamu. Mereka akan menggunakanmu, memanfaatkanmu, dan ketika kau tertangkap, mereka akan pergi. Seperti bayangan yang menghilang ketika matahari terbit."

Pemuda itu menunduk. Bahunya yang masih muda bergetar. Air matanya jatuh ke tangan Abu Nawas yang masih menggenggam pergelangannya.

"Nak," kata Abu Nawas dengan suara yang tiba-tiba lembut, "aku tidak akan melaporkanmu. Aku tidak akan memanggil penjaga. Aku tidak akan membawamu ke istana. Aku hanya ingin kau menjawab satu pertanyaan."

Pemuda itu mengangkat kepalanya. Matanya merah, basah, tetapi masih waspada. "Apa?"

"Siapa yang menyuruh kalian?"

Pemuda itu terdiam. Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang berkaca-kaca, bibirnya gemetar, tangannya yang masih digenggam bergetar hebat.

"Aku… aku tidak tahu namanya," katanya akhirnya, suaranya parau. "Kami hanya memanggilnya 'Guru'. Dia yang mengajari kami. Dia yang memberi tahu kami kapan harus datang, di mana harus berdiri, barang apa yang harus diambil. Kami hanya… mengikuti perintah."

"Di mana kalian biasanya bertemu?"

"Di sebuah gudang tua di pinggiran pasar. Di lorong timur, dekat gerbang belakang. Setiap malam, setelah pasar tutup. Dia datang, memberikan instruksi, membagi tugas, memberikan… bagian kami."

Abu Nawas melepaskan genggamannya. Pemuda itu mengusap air matanya dengan lengan bajunya, gerakan yang kasar, tidak anggun, tetapi terasa lebih jujur dari semua senyum yang pernah ia tunjukkan di pasar.

"Nak," kata Abu Nawas, "kau bisa pergi. Tapi ingat: lain kali, pilih jalan yang berbeda. Jalan yang tidak membuatmu menjadi bayangan. Jalan yang membuatmu bisa melihat matahari tanpa takut. Jalan yang… membawa pulang, bukan ke penjara."

Pemuda itu menatapnya dengan mata yang tidak bisa lagi menyembunyikan apa pun. "Kau… kau melepaskanku? Kau tidak akan menangkapku? Kau tidak akan membawaku ke penjaga?"

"Tidak, Nak. Aku tidak akan menangkapmu. Tapi ingat: aku tidak akan selalu ada. Lain kali, mungkin orang lain yang menangkapmu. Lain kali, mungkin penjaga pasar. Lain kali, mungkin Baginda Raja sendiri. Dan mereka, Nak, tidak akan selembut aku."

Pemuda itu mengangguk. Ia berbalik, berjalan perlahan meninggalkan Abu Nawas, dengan langkah yang tidak lagi cepat dan lincah seperti bayangan. Langkahnya berat, seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya: kepercayaan pada orang-orang yang menggunakannya.

Abu Nawas menatap punggungnya yang menghilang di antara kerumunan. Ia mengambil kurma dari sakunya, memasukkannya ke mulut, dan mengunyah perlahan.

"Empat orang," gumumnya. "Muda. Terlatih. Bekerja sama. Bukan pencuri tunggal. Jaringan. Dan di belakang mereka, ada seorang 'Guru'. Seorang yang mengajari mereka. Seorang yang memanfaatkan mereka. Seorang yang… harus dihentikan."

Ia memasukkan sisa kurma ke dalam sakunya, merapikan jubahnya yang lusuh, dan berjalan keluar dari pasar dengan langkah santai. Di pikirannya, rencana baru mulai terbentuk. Rencana yang lebih besar. Rencana yang lebih licik. Rencana yang… layak untuk seorang guru.


BAB 5: TAWA DAN KEJANGGALAN

Keesokan paginya, Abu Nawas melaporkan temuannya kepada Jafar di ruang pribadi Wazir. Jafar mendengarkan dengan saksama, sesekali mengerutkan kening, sesekali mengangguk, sesekali tertawa kecil mendengar cara Abu Nawas menceritakan pengalamannya di pasar—dengan gaya khasnya yang penuh lelucon dan sindiran.

"Jadi," kata Jafar, "kau yakin pencuri itu bukan satu orang, tapi sekelompok anak muda? Bekerja sama? Di tengah keramaian? Dengan seorang guru di belakang mereka?"

Abu Nawas mengambil kurma dari piring yang disediakan—kurma biasa, bukan dari kebun Baginda Raja, tetapi Abu Nawas tidak protes. Kurma tetaplah kurma. Dan kurma, dalam keadaan apa pun, adalah makanan yang layak disyukuri.

"Ya, Wazir," katanya sambil mengunyah. "Mereka berempat, mungkin lebih. Mereka memanfaatkan keramaian. Satu atau dua orang mengalihkan perhatian—bertanya tentang barang, menawar harga, bercanda, tertawa, membuat keributan kecil. Satu orang mengambil—dengan gerakan cepat, terlatih, tidak terasa. Satu orang lagi menutup—berdiri di depan, menghalangi pandangan, atau berdiri di belakang, siap membantu jika ada yang melihat. Dan ketika korban sadar, mereka sudah lama menghilang. Seperti bayangan. Seperti… tidak pernah ada."

"Tapi bagaimana mereka bisa mengambil barang tanpa korban sadar? Sepuluh gulung sutra, misalnya. Itu bukan barang kecil. Tidak mungkin diambil diam-diam tanpa dilihat."

Abu Nawas tersenyum. "Wazir, pernahkah Wazir memperhatikan sesuatu? Ketika pasar sedang ramai, orang terlalu sibuk. Terlalu sibuk menawar harga, terlalu sibuk melihat barang, terlalu sibuk berbicara dengan teman, terlalu sibuk memperhatikan anak-anak mereka. Mereka tidak memperhatikan sekeliling. Dan ketika mereka tidak memperhatikan sekeliling, sepuluh gulung sutra bisa dipindah dalam hitungan detik jika dilakukan oleh orang yang terlatih dan bekerja sama. Satu orang menggulung, satu orang mengambil, satu orang menyembunyikan di dalam karung yang sudah disiapkan. Semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Sebelum korban sempat menoleh, barang sudah tidak ada."

Jafar terdiam, mencerna kata-kata Abu Nawas.

"Tapi kita tidak punya bukti," katanya akhirnya. "Kau hanya melihat satu orang yang mencoba mencuri dompetmu. Itu tidak cukup untuk menangkap seluruh jaringan. Apalagi gurunya. Kita butuh lebih dari itu. Kita butuh… barang bukti. Kita butuh… pengakuan. Kita butuh… mereka tertangkap basah."

"Kita tidak perlu menangkap mereka sekarang, Wazir. Kita perlu… memancing mereka. Membuat mereka keluar dari persembunyian. Membuat mereka melakukan kesalahan. Membuat mereka… tidak bisa lagi bersembunyi di balik keramaian."

"Bagaimana?"

Abu Nawas mendekat, berbisik di telinga Jafar. Wajah Jafar berubah dari ragu menjadi terkejut, lalu menjadi geli, lalu menjadi kagum.

"Abu Nawas," katanya setelah mendengar rencana itu, "kau benar-benar gila."

"Wazir, saya sudah dibilang gila sejak lahir. Tapi kegilaan saya, sejauh ini, selalu membawa hasil. Mahkota yang hilang? Saya temukan. Cermin yang retak? Saya perbaiki. Pencuri bayangan? Saya tangkap. Dengan tawa, Wazir. Dengan tawa. Bukan dengan pedang. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan ancaman. Dengan tawa."

Jafar menggeleng-gelengkan kepala, tetapi ia tersenyum. "Baiklah. Lakukan. Tapi hati-hati, Abu Nawas. Jika rencanamu gagal, bukan hanya kau yang akan kehilangan kepala. Aku juga. Karena aku yang mengizinkanmu."

"Wazir, jangan khawatir. Saya tidak akan gagal. Karena saya punya senjata paling ampuh di dunia."

"Apa?"

"Kurma, Wazir. Kurma Sukkari. Dan tawa. Dua senjata yang tidak bisa dikalahkan oleh pedang mana pun."


Pada malam ketujuh, pasar malam Baghdad menyaksikan pemandangan yang tidak biasa.

Di tengah lorong utama, di tempat yang paling ramai, di persimpangan empat lorong yang selalu menjadi titik tersibuk pasar, Abu Nawas mendirikan sebuah panggung kecil. Bukan panggung yang megah—hanya beberapa papan kayu yang ditata di atas peti-peti kosong, ditutupi dengan kain merah yang sedikit lusuh, yang ia pinjam dari seorang pedagang kain yang kehilangan sutranya minggu lalu. Tapi di atas panggung itu, dengan lampu-lampu minyak yang diletakkan di sekelilingnya, menciptakan lingkaran cahaya yang membuatnya terlihat seperti seorang pesulap yang baru saja muncul dari dunia lain, Abu Nawas berdiri dengan penuh semangat, memanggil-manggil orang yang lewat dengan suara lantang yang bergema di lorong-lorong sempit.

"Wahai para saudagar, para pembeli, para pengunjung pasar malam! Kemarilah, kemarilah! Saya akan menghibur kalian dengan cerita-cerita lucu, teka-teki yang menggelitik, dan tawa yang akan membuat perut kalian sakit karena terlalu banyak tertawa! Gratis! Tidak dipungut biaya! Yang mau memberi, saya terima dengan senang hati. Yang tidak mau memberi, saya tetap tersenyum. Karena senyum, wahai saudara-saudara, adalah sedekah yang paling murah. Dan tawa, wahai saudara-saudara, adalah obat yang paling manis. Obat untuk segala penyakit. Obat untuk kesedihan. Obat untuk ketakutan. Obat untuk… pencuri bayangan!"

Orang-orang mulai berkerumun. Mereka penasaran. Seorang pelawak di pasar malam bukan hal yang aneh—pasar malam selalu memiliki hiburan, selalu memiliki cerita, selalu memiliki tawa. Tetapi pelawak yang mendirikan panggung di lorong utama dengan semangat seperti ini, dengan suara yang bergema seperti genderang perang, dengan mata yang berkilat seperti bintang di langit—itu adalah tontonan yang tidak boleh dilewatkan.

Apalagi setelah berminggu-minggu pasar diliputi ketakutan, setelah berminggu-minggu orang-orang berbisik tentang pencuri bayangan, setelah berminggu-minggu tawa menghilang dari pasar malam. Orang-orang haus akan tawa. Orang-orang haus akan hiburan. Orang-orang haus akan sesuatu yang bisa membuat mereka lupa, sejenak, bahwa barang-barang mereka bisa hilang kapan saja. Orang-orang haus akan… kebahagiaan.

Abu Nawas memulai pertunjukannya dengan cerita tentang seorang saudagar kaya yang sangat pelit. Ceritanya lucu, penuh dengan lelucon dan gerakan-gerakan yang menggelikan. Ia menirukan cara saudagar itu menghitung uang—dengan jari-jari yang gemetar, mata yang menyipit, bibir yang komat-kamit seperti sedang berdoa. Ia menirukan cara saudagar itu menawar harga—dengan suara tinggi, napas pendek, tangan yang terus-menerus meraba-raba dompet di pinggangnya. Ia menirukan cara saudagar itu bersembunyi di balik tumpukan kain ketika seorang pengemis datang—dengan tubuh yang membungkuk, mata yang melotot, napas yang ditahan.

Orang-orang tertawa terbahak-bahak. Tawa yang keras, tawa yang bebas, tawa yang sudah lama tidak terdengar di pasar ini. Tawa yang membuat perut sakit, mata berair, pipi merah karena terlalu banyak tersenyum.

Kemudian ia bercerita tentang seorang hakim yang sombong. Tentang seorang kadi yang suka menerima suap. Tentang seorang pejabat yang takut pada istrinya. Tentang seorang panglima yang lebih takut pada tikus daripada musuh. Tentang seorang raja yang—ia berhenti sejenak, menatap ke arah istana di kejauhan, lalu tertawa—yang sangat bijaksana sehingga ia mengizinkan seorang pelawak untuk tertawa di hadapannya tanpa takut kehilangan kepala.

Setiap cerita disambut dengan tawa yang keras, tepuk tangan yang riuh, dan kadang-kadang, komentar-komentar dari penonton yang ikut melucu, yang ikut bercerita, yang ikut tertawa. Suasana pasar berubah. Dari yang tadinya tegang, waspada, penuh ketakutan, menjadi riuh, gembira, penuh tawa. Orang-orang lupa sejenak bahwa mereka sedang berada di pasar yang diliputi misteri. Orang-orang lupa sejenak bahwa barang-barang mereka bisa hilang kapan saja. Orang-orang lupa sejenak bahwa di antara mereka, mungkin ada bayangan yang bergerak.

Tapi di sela-sela tawa, di sela-sela cerita, di sela-sela gerakan-gerakannya yang konyol, Abu Nawas mengamati. Matanya bergerak cepat, menangkap setiap wajah di kerumunan, setiap gerakan, setiap orang yang datang dan pergi. Ia melihat seorang lelaki tua yang tertawa terbahak-bahak di barisan depan. Ia melihat seorang wanita muda yang tersenyum manis di barisan tengah. Ia melihat sekelompok anak-anak yang berjingkrak-jingkrak kegirangan di barisan belakang. Ia melihat seorang penjaga pasar yang sedang berpatroli, tertawa kecil di sela-sela tugasnya.

Dan ia melihat mereka. Empat pemuda yang sama. Berdiri di sudut-sudut kerumunan, di tempat yang berbeda, tetapi semuanya dalam jarak yang sama dari panggung. Berpakaian biasa. Wajah-wajah yang tidak akan diingat siapa pun. Wajah-wajah yang seperti kabut. Mereka tidak tertawa. Mereka tidak bertepuk tangan. Mereka tidak bergerak. Mereka hanya… berdiri. Mengamati. Menunggu.

Abu Nawas tersenyum. Ia melanjutkan ceritanya dengan lebih bersemangat, suaranya naik, gerakannya menjadi lebih besar, lebih liar, lebih konyol. Ia melompat, ia berputar, ia menirukan suara keledai, suara ayam, suara kucing yang sedang berkelahi. Orang-orang tertawa semakin keras, semakin bebas, semakin tidak terkendali.

"Saudara-saudara!" seru Abu Nawas di tengah-tengah tawa yang memuncak. "Sekarang, saya akan menceritakan sebuah kisah yang paling lucu. Kisah yang paling istimewa. Kisah yang paling… dekat dengan kita semua. Kisah tentang seorang pencuri! Pencuri yang sangat pintar! Sangat licik! Sangat… tidak terlihat!"

Ia melihat keempat pemuda itu menegang. Tangan mereka yang tadinya tergantung santai di sisi tubuh, kini mengepal. Mata mereka yang tadinya datar, kini bergerak cepat, saling melirik, saling memberi isyarat.

"Pencuri ini," lanjut Abu Nawas, suaranya menjadi lebih pelan, lebih misterius, lebih… menusuk, "bekerja di pasar. Di pasar yang ramai. Ia tidak sendirian. Ia punya teman-teman. Empat orang. Muda-muda. Wajah biasa. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang mengingat mereka. Mereka datang ketika pasar sedang paling ramai. Mereka berjalan di lorong-lorong yang paling padat. Mereka bercanda, mereka tertawa, mereka mengalihkan perhatian. Dan ketika orang-orang sibuk tertawa, sibuk menawar, sibuk melihat barang… mereka mengambil. Dengan cepat. Dengan terlatih. Dengan… sempurna."

Beberapa penonton mulai memperhatikan. Ada yang berhenti tertawa, ada yang mulai melihat ke kiri dan ke kanan, ada yang mulai memeriksa dompet mereka.

"Pencuri ini," Abu Nawas melanjutkan, "mengambil barang-barang berharga. Sutra dari Khurasan. Mutiara dari teluk Oman. Safron dari Persia. Keris pusaka dari Jawa. Semuanya hilang. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang ingat. Karena ketika orang sibuk tertawa, mereka lupa menjaga barangnya. Ketika orang sibuk dengan keramaian, mereka lupa bahwa di antara keramaian, ada bayangan yang bergerak."

Ia tertawa keras. Penonton ikut tertawa, tetapi tawa mereka tidak lagi bebas. Ada yang tertawa dengan ragu, ada yang tertawa dengan waspada, ada yang tertawa sambil memeriksa dompet mereka. Dan di antara tawa itu, beberapa orang menemukan bahwa dompet mereka… lebih ringan.

"Dompetku!" teriak seorang lelaki di barisan depan, suaranya panik, matanya liar. "Dompetku hilang! Aku baru saja memeriksanya sebelum pertunjukan! Sekarang sudah tidak ada!"

"Dompetku juga hilang!" teriak seorang wanita di barisan tengah, suaranya histeris. "Aku baru saja membayar untuk membeli rempah! Sekarang dompetku kosong!"

"Pisau belatiku!" teriak seorang lelaki tua di barisan belakang, suaranya gemetar. "Pisau belati pusaka dari Jawa! Warisan dari kakekku! Hilang!"

Kerumunan mulai panik. Orang-orang saling mendorong, saling memeriksa, saling menuduh. Ada yang berteriak minta tolong, ada yang menangis, ada yang marah, ada yang mencoba melarikan diri dari kerumunan yang semakin kacau.

Di tengah kekacauan itu, keempat pemuda itu berusaha keluar. Mereka bergerak cepat, lincah, terlatih, mencoba menyelinap di antara orang-orang yang panik, mencoba mencapai pintu keluar terdekat, mencoba menghilang seperti yang selalu mereka lakukan. Tapi kerumunan terlalu padat. Terlalu kacau. Terlalu… tidak terduga. Mereka terjebak. Terjepit di antara orang-orang yang saling mendorong, tidak bisa bergerak maju, tidak bisa bergerak mundur, tidak bisa… menghilang.

Abu Nawas berdiri di atas panggung, tersenyum. Ia menunjuk ke arah mereka.

"Penjaga!" teriaknya dengan suara yang bergema di atas keramaian. "Tangkap mereka! Mereka adalah pencuri yang selama ini kita cari! Pencuri bayangan yang meresahkan pasar kita!"

Para penjaga pasar yang sudah disiapkan sejak awal—yang diam-diam sudah ditempatkan di sekitar panggung sejak pertunjukan dimulai—bergegas masuk ke kerumunan. Dalam hitungan detik, keempat pemuda itu sudah ditangkap. Tangan mereka dibelenggu di belakang punggung. Karung-karung kecil yang mereka bawa—yang selama ini tersembunyi di balik jubah—dibuka. Isinya: dompet-dompet, uang-uang, pisau belati, dan beberapa barang kecil lainnya yang baru saja dicuri.

Kerumunan bersorak. Tepuk tangan bergemuruh. Orang-orang berteriak-teriak kegirangan, melompat-lompat, saling berpelukan. Akhirnya! Akhirnya pencuri bayangan itu tertangkap! Akhirnya pasar malam aman! Akhirnya mereka bisa berdagang dengan tenang, berbelanja dengan nyaman, tertawa tanpa takut!

Tapi Abu Nawas, yang berdiri di atas panggung dengan senyum misterius, tahu bahwa ini belum selesai. Keempat pemuda itu hanyalah bagian kecil dari jaringan. Ada yang lebih besar. Ada yang lebih licik. Ada yang… di balik semua ini. Ada seorang guru. Seorang yang mengajari mereka. Seorang yang memanfaatkan mereka. Seorang yang… masih berkeliaran di pasar. Masih mengamati. Masih menunggu. Masih percaya bahwa kalian tidak akan pernah menemukannya.

Ia turun dari panggung, berjalan mendekati para pencuri yang sudah ditangkap itu. Di antara mereka, ada satu yang berbeda. Bukan yang paling besar, bukan yang paling kuat, bukan yang paling tua. Tapi matanya berbeda. Matanya tidak takut. Matanya tidak panik. Matanya… waspada. Seperti seseorang yang sudah terbiasa dengan bahaya. Seperti seseorang yang sudah dilatih. Seperti seseorang yang… sudah mempersiapkan diri untuk saat seperti ini.

"Nak," kata Abu Nawas kepadanya, "siapa yang menyuruh kalian? Siapa gurumu?"

Pemuda itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang pahit. Senyum yang mengatakan: Kau tidak akan mendapat apa-apa dariku. Aku sudah dilatih untuk ini. Aku sudah siap untuk ini. Aku tidak akan mengkhianati guruku.

Abu Nawas tidak mendesak. Ia hanya menepuk pundak pemuda itu dengan lembut, seperti seorang ayah yang menepuk pundak anaknya yang nakal.

"Nak," katanya, "kita akan bicara lagi nanti. Di tempat yang lebih tenang. Di tempat yang lebih… jujur. Di tempat yang tidak ada keramaian. Di tempat yang tidak ada tawa. Di tempat yang tidak ada… bayangan."


BAB 6: BAYANGAN TANPA BENTUK

Empat pemuda itu dibawa ke kantor kepala penjaga pasar, sebuah ruangan sederhana di pinggiran pasar, tidak jauh dari gerbang timur. Ruangan itu terbuat dari bata merah, dengan lantai tanah yang dipadatkan, dinding yang diplester kasar, dan langit-langit dari anyaman bambu yang sudah menghitam karena asap lampu minyak. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu besar yang penuh dengan coretan-coretan—nama-nama, tanggal-tanggal, angka-angka—peninggalan para penjaga yang pernah bertugas sebelumnya. Di sudut ruangan, beberapa kursi kayu yang sudah goyang karena usia.

Abu Nawas ikut bersama mereka, dengan izin khusus dari Jafar yang sudah mengirim utusan untuk memastikan bahwa Abu Nawas bisa menginterogasi para pencuri itu tanpa gangguan, tanpa tekanan, tanpa… kekerasan. Karena Abu Nawas percaya bahwa kekerasan tidak akan menghasilkan kebenaran. Kekerasan hanya akan menghasilkan ketakutan. Dan ketakutan, pikirnya, adalah musuh terbesar kejujuran.

Empat pemuda itu duduk di kursi-kursi kayu di hadapan meja, dengan tangan terbelenggu di belakang punggung. Dua penjaga pasar berdiri di belakang mereka, siap sedia jika ada yang mencoba melarikan diri. Tapi keempat pemuda itu tidak mencoba melarikan diri. Mereka duduk dengan pasrah, dengan wajah-wajah yang berbeda-beda.

Yang pertama—yang paling muda, mungkin baru lima belas tahun—menangis tersedu-sedu. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang masih mulus, tanpa janggut. Bahunya yang kurus bergetar hebat, seperti daun kering yang diterpa angin. Ia menunduk, tidak berani menatap siapa pun, hanya menatap lantai tanah yang becek di bawah kakinya.

Yang kedua—yang sedikit lebih tua, mungkin tujuh belas tahun—diam membatu. Wajahnya pucat, matanya kosong, bibirnya tertutup rapat. Ia tidak menangis, tidak berbicara, tidak bergerak. Ia hanya duduk di kursinya dengan tubuh kaku, seperti patung. Seperti seseorang yang sudah menyerah pada takdir. Seperti seseorang yang sudah kehilangan harapan.

Yang ketiga—yang berusia sekitar delapan belas tahun—marah. Matanya merah, napasnya memburu, tangannya yang terbelenggu berusaha melepaskan diri, meskipun sia-sia. Ia membentak-bentak, memaki-maki, mengumpat-umpat. "Lepaskan aku! Aku tidak bersalah! Aku tidak mencuri apa pun! Aku hanya lewat! Aku tidak tahu apa-apa!" Tapi suaranya bergetar, matanya liar, dan Abu Nawas tahu bahwa kemarahannya hanyalah topeng untuk menutupi ketakutan yang sangat besar.

Yang keempat—yang paling tua, mungkin dua puluh tahun—duduk dengan tenang. Tidak menangis, tidak marah, tidak membatu. Ia duduk dengan punggung tegak, mata lurus ke depan, wajah tenang. Terlalu tenang. Tenang yang tidak wajar. Tenang yang terlatih. Tenang yang… sudah dipersiapkan.

Abu Nawas duduk di hadapan mereka, di kursi yang sedikit lebih tinggi, dengan semangkuk kurma di sampingnya. Ia mengambil satu kurma, memasukkannya ke mulut, mengunyah perlahan, dan menatap keempat pemuda itu satu per satu. Matanya bergerak dari yang pertama hingga yang keempat, berhenti sejenak di setiap wajah, membaca setiap ekspresi, setiap gerakan, setiap detak jantung yang tersembunyi di balik kulit dan daging.

"Selamat malam, anak-anak," katanya dengan suara yang ramah, lembut, seperti seorang guru yang sedang berbicara dengan murid-muridnya di akhir pelajaran. "Saya harap kalian tidak terlalu takut. Saya bukan algojo. Saya bukan hakim. Saya bukan penjaga pasar. Saya hanya seorang yang suka teka-teki. Dan kalian, anak-anak, adalah teka-teki yang paling menarik di pasar ini. Teka-teki tentang bayangan yang bergerak di keramaian. Teka-teki tentang tangan yang mengambil tanpa terlihat. Teka-teki tentang… seorang guru."

Keempat pemuda itu tidak menjawab. Tiga dari mereka—yang menangis, yang membatu, yang marah—tidak berani menatap Abu Nawas. Mereka menunduk, memalingkan muka, menutup mata. Tapi yang keempat—yang tenang—menatap Abu Nawas langsung ke matanya. Tanpa rasa takut. Tanpa rasa bersalah. Tanpa… apa pun. Matanya kosong. Matanya seperti cermin yang tidak memantulkan apa pun. Matanya seperti… bayangan.

"Nak," Abu Nawas menatap pemuda yang tenang itu, "kau pasti yang memimpin kelompok ini. Bukan karena kau yang paling kuat. Bukan karena kau yang paling tua. Bukan karena kau yang paling pintar. Tapi karena kau yang paling… tidak takut. Orang yang tidak takut di saat seperti ini biasanya sudah berpengalaman. Atau… sudah dilatih. Dilatih untuk tidak takut. Dilatih untuk tidak merasa. Dilatih untuk tidak… menjadi manusia."

Pemuda itu tidak menjawab. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Matanya tetap menatap Abu Nawas dengan kosong.

"Kau tidak perlu menjawab sekarang," lanjut Abu Nawas. "Tapi sebelum kita bicara lebih jauh, saya ingin bercerita. Cerita tentang seorang anak muda yang sangat pintar. Pintar sekali. Lebih pintar dari teman-temannya. Lebih pintar dari orang-orang di sekitarnya. Tapi ia menggunakan kecerdasannya untuk hal yang salah. Ia mencuri. Bukan karena lapar. Bukan karena miskin. Bukan karena tidak punya pilihan. Tapi karena… ia diajar. Diajar oleh seseorang. Seseorang yang lebih pintar darinya. Seseorang yang tahu bagaimana memanfaatkan keramaian. Seseorang yang tahu bagaimana membuat orang lain melakukan pekerjaan kotornya. Seseorang yang… bersembunyi di balik murid-muridnya."

Pemuda itu tidak bergerak. Tapi Abu Nawas melihat ada getaran kecil di jari-jarinya. Getaran yang sangat kecil, hampir tidak terlihat, tetapi nyata. Getaran yang tidak bisa disembunyikan oleh latihan apa pun.

"Saya tidak akan menanyakan siapa orang itu sekarang," kata Abu Nawas. "Saya hanya ingin kalian tahu: kalian bukan pencuri biasa. Kalian adalah… alat. Alat di tangan seseorang yang lebih licik. Alat yang bisa dipakai, bisa dibuang, bisa diganti. Dan alat, anak-anak, tidak punya nama. Tidak punya wajah. Tidak punya… masa depan. Ketika kalian ditangkap, apakah orang yang menyuruh kalian akan datang menyelamatkan kalian?"

Ia menatap keempat pemuda itu satu per satu. Yang menangis semakin keras. Yang membatu mulai gemetar. Yang marah berhenti membentak, matanya mulai berkaca-kaca. Yang tenang… yang tenang masih diam. Tapi Abu Nawas melihat ada sesuatu di matanya. Bukan ketakutan. Bukan kemarahan. Tapi… keraguan. Keraguan yang mulai menggerogoti dinding pertahanan yang selama ini ia bangun.

"Kita istirahat dulu," kata Abu Nawas sambil berdiri. "Saya akan kembali besok pagi. Pikirkan tentang apa yang saya katakan. Tentang menjadi alat. Tentang dibuang. Tentang… kesempatan untuk memulai lagi. Kesempatan untuk menjadi manusia, bukan bayangan. Kesempatan untuk melihat matahari tanpa takut."

Ia berjalan keluar, meninggalkan keempat pemuda itu dalam keheningan. Di luar, angin malam berhembus lembut, membawa aroma rempah-rempah dari pasar yang mulai sepi. Abu Nawas berdiri di serambi kantor, menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Di kejauhan, dari arah istana, terdengar suara lonceng yang menandakan pergantian shift penjaga. Semua tenang. Semua damai. Tapi di dalam hatinya, ada kegelisahan. Bukan kegelisahan tentang pencuri. Tapi kegelisahan tentang anak-anak itu. Anak-anak yang masih muda. Anak-anak yang masih bisa berubah. Anak-anak yang… menjadi korban dari orang yang lebih pintar.


Di luar, Jafar sudah menunggu dengan wajah cemas. Ia berdiri di bawah pohon kurma di halaman kecil di depan kantor, dengan jubahnya yang berkibar-kibar ditiup angin malam. Di tangannya, sebuah lilin kecil yang cahayanya berkelap-kelip, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding bata merah.

"Abu Nawas," katanya ketika Abu Nawas keluar, "mereka tidak mau bicara?"

"Belum, Wazir. Tapi mereka akan bicara. Bukan sekarang. Nanti. Setelah mereka berpikir. Setelah mereka sadar bahwa mereka hanyalah korban juga. Korban dari seseorang yang lebih pintar. Korban dari seseorang yang memanfaatkan kelaparan mereka, ketakutan mereka, keputusasaan mereka. Korban dari… seorang guru."

"Kau pikir ada dalang di balik semua ini? Bukan hanya anak-anak itu?"

Abu Nawas mengangguk. "Empat pemuda seusia itu tidak mungkin merencanakan pencurian sebesar ini sendiri. Mereka butuh latihan. Butuh koordinasi. Butuh… seorang guru. Seseorang yang tahu persis kelemahan pasar. Seseorang yang tahu kapan harus mencuri, di mana harus mencuri, bagaimana cara menghilang. Seseorang yang… sangat mengenal pasar malam Baghdad. Seseorang yang… mungkin pernah menjadi bagian dari pasar ini. Seorang pedagang yang bangkrut. Seorang yang kehilangan segalanya. Seorang yang… dendam."

Jafar terdiam. "Kau pikir siapa?"

"Saya tidak tahu, Wazir. Tapi saya yakin, orang itu masih di pasar. Masih mengamati. Masih menunggu. Masih percaya bahwa kalian tidak akan pernah menemukannya. Karena ia sudah terlalu lama menjadi bayangan. Karena ia sudah terlalu lama bersembunyi. Karena ia sudah terlalu lama… tidak terlihat."


BAB 7: JEBAKAN DI TENGAH KERAMAIN

Pada malam kedelapan, Abu Nawas kembali ke pasar. Kali ini, ia tidak sendirian. Di belakangnya, tersembunyi di antara kerumunan, ada dua puluh penjaga pasar yang siap sedia. Mereka tidak berpakaian seragam, tidak membawa senjata yang terlihat. Mereka menyamar sebagai pembeli biasa, sebagai pedagang kecil, sebagai pengunjung yang sedang bersantai di kedai kopi, sebagai anak-anak yang berlarian di antara kaki orang dewasa. Mereka tersebar di seluruh pasar, di setiap lorong, di setiap sudut, di setiap tempat yang strategis. Mereka menunggu. Mereka mengamati. Mereka siap bergerak kapan saja.

Abu Nawas juga tidak sendirian dalam arti lain. Di tangannya, ia membawa sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah ia bawa ke pasar sebelumnya. Sesuatu yang akan menjadi umpan yang sempurna. Sesuatu yang tidak akan bisa ditolak oleh pencuri mana pun, sekaya apa pun, sepintar apa pun, sehebat apa pun.

Sebuah kotak kayu kecil, diukir dengan indah, dengan ukiran bunga-bunga melati yang rumit, dengan daun-daun yang menjalar di setiap sisinya, dengan kuncup-kuncup yang hampir mekar. Ukiran itu bukan buatan sembarang pengukir. Ukiran itu adalah karya Ustadz Mansur, pengukir kayu terbaik di Baghdad, yang karyanya hanya bisa dipesan oleh keluarga kerajaan dan saudagar-saudagar terkaya. Di tengah tutup kotak itu, sebuah batu akik merah sebesar telur burung pipit tertanam, berkilau di bawah cahaya lampu minyak, seperti mata yang terbuka lebar. Dan di sekeliling batu akik itu, ditatahkan emas murni membentuk kaligrafi ayat Kursi, ayat yang dipercaya dapat melindungi pemiliknya dari segala kejahatan.

Di dalam kotak itu, Abu Nawas meletakkan… cermin. Bukan cermin biasa. Cermin yang ia pinjam dari ruang Al-Mir’ah al-Qadimah. Cermin yang retak. Cermin yang konon bisa menampakkan kebenaran hati. Cermin yang menjadi saksi bisu dari pengakuan Umar, Hakim, dan Farhan. Cermin yang sekarang, dengan retakannya yang membelah permukaan kaca dari atas ke bawah, menjadi benda paling misterius di seluruh kekhalifahan.

Tentu saja, Abu Nawas tidak percaya pada kekuatan ajaib cermin itu. Ia tahu bahwa cermin itu hanyalah kaca dan perak. Ia tahu bahwa retakannya disebabkan oleh goresan kuku Al-Ma’mun. Ia tahu bahwa tidak ada yang ajaib di dalamnya. Tapi ia juga tahu sesuatu yang lain: bahwa manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang mudah percaya pada hal-hal ajaib. Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang takut pada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang akan melakukan apa pun untuk menghindari kebenaran, tetapi juga akan melakukan apa pun untuk melihat kebenaran.

Dan di pasar malam yang penuh dengan cerita-cerita gaib, yang penuh dengan legenda tentang jin dan setan, yang penuh dengan bisik-bisik tentang benda-benda bertuah dan ramalan-ramalan misterius, cermin retak yang konon bisa menampakkan kebenaran hati adalah umpan yang sempurna. Umpan yang tidak akan bisa ditolak oleh siapa pun. Umpan yang akan menarik semua orang, termasuk… seorang guru.

Abu Nawas berjalan ke tengah lorong utama, ke tempat yang sama di mana ia mendirikan panggung dua malam lalu. Kali ini, ia tidak mendirikan panggung. Ia hanya berdiri di sana, di persimpangan empat lorong yang paling ramai, dengan kotak kayu di tangannya. Ia berdiri diam, tidak bergerak, tidak berbicara. Ia hanya berdiri, dengan kepala sedikit menunduk, dengan mata setengah terpejam, dengan senyum misterius yang tidak pernah lepas dari wajahnya.

Orang-orang mulai memperhatikan. Mereka yang lewat berhenti, menatap dengan penasaran. Mereka bertanya-tanya: siapa orang ini? Apa yang ia bawa? Mengapa ia berdiri di sini? Mengapa ia diam? Mengapa ia tersenyum?

Kemudian, perlahan-lahan, Abu Nawas membuka kunci emas kotak itu. Bunyi klik dari kunci yang terbuka terdengar jelas di antara keramaian, seperti suara bel kecil yang menghentikan semua orang yang mendengarnya. Ia membuka tutup kotak itu perlahan-lahan, dengan gerakan yang dramatis, dengan tangan yang sedikit gemetar—gemetar yang dibuat-buat, tetapi terlihat sangat nyata.

Cermin retak itu bersinar di bawah lampu minyak. Retakannya menciptakan pantulan-pantulan yang aneh, memecah cahaya menjadi berkas-berkas yang tidak biasa, menciptakan warna-warna yang tidak pernah terlihat pada cermin biasa. Kilau perak di balik kaca berpadu dengan emas bingkai, menciptakan lingkaran cahaya di sekeliling cermin, seperti bulan purnama yang muncul dari balik awan.

Orang-orang yang lewat mulai berhenti, mulai berkerumun, mulai mendekat. Mereka menatap cermin itu dengan mata terpesona, dengan napas tertahan, dengan jantung berdebar kencang. Beberapa dari mereka mengenali cermin itu. Beberapa dari mereka pernah mendengar cerita tentang cermin itu. Beberapa dari mereka tahu bahwa cermin itu berasal dari istana. Beberapa dari mereka tahu bahwa cermin itu retak karena tidak tahan menyimpan kebohongan.

"Wahai saudara-saudara!" seru Abu Nawas, suaranya bergema di lorong-lorong sempit, menghentikan semua orang yang lewat, menarik perhatian semua orang yang berada di dekatnya. "Lihatlah! Cermin ajaib dari istana Baginda Raja! Cermin yang retak karena tidak tahan menyimpan kebohongan! Cermin yang bisa menampakkan kebenaran hati siapa pun yang melihatnya!"

Kerumunan semakin besar. Orang-orang datang dari segala arah, dari lorong utara, dari lorong selatan, dari lorong timur, dari lorong barat. Mereka berdesakan, saling dorong, saling injak, berusaha mendapatkan tempat terbaik untuk melihat cermin itu. Pedagang-pedagang meninggalkan kios mereka, pembeli-pembeli meninggalkan barang yang sedang mereka tawar, anak-anak berlarian di antara kaki orang dewasa, semua ingin melihat, semua ingin tahu, semua ingin… membuktikan.

"Siapa pun yang berdiri di hadapan cermin ini," lanjut Abu Nawas, suaranya menjadi lebih pelan, lebih misterius, lebih menusuk, "akan melihat kebenaran hatinya. Jika kau jujur, kau akan melihat wajahmu sendiri. Jika kau menyembunyikan sesuatu… kau akan melihat bayangan yang tidak kau kenali. Bayangan yang akan mengejarmu. Bayangan yang tidak bisa kau hindari. Bayangan yang akan mengikutimu ke mana pun kau pergi, sampai kau berani menghadapi kebenaran."

Ia mengangkat cermin itu tinggi-tinggi, membiarkan semua orang melihat retakannya yang misterius, membiarkan semua orang merasakan kehadirannya yang mencekam, membiarkan semua orang bertanya-tanya: apa yang akan kulihat jika aku berdiri di hadapannya?

"Malam ini," kata Abu Nawas, suaranya menjadi lebih keras, lebih tegas, lebih… menantang, "cermin ini akan menampakkan pencuri yang selama ini meresahkan pasar kita. Pencuri bayangan. Pencuri yang tidak bisa dilihat. Pencuri yang bersembunyi di balik keramaian. Pencuri yang… ada di antara kalian."

Kerumunan mulai gelisah. Orang-orang saling berpandangan, saling curiga, saling menjauh. Mereka yang tadinya berdesakan untuk melihat cermin, kini mulai mundur, mulai mencari jarak, mulai melindungi diri. Ketakutan yang selama ini tertidur, bangkit kembali. Kecurigaan yang selama ini terpendam, muncul ke permukaan. Tanya yang selama ini tidak terjawab, mulai mencari jawaban.

Di tengah kegelisahan itu, Abu Nawas mengamati. Matanya bergerak cepat, mencari wajah-wajah yang terlalu tenang, terlalu waspada, terlalu… tidak terpengaruh. Ia mencari wajah-wajah yang tidak seperti wajah orang lain. Wajah yang tidak penasaran. Wajah yang tidak takut. Wajah yang tidak bergerak. Wajah yang… hanya menunggu.

Dan ia melihatnya.

Seorang lelaki berdiri di sudut kerumunan, agak jauh dari yang lain, di dekat tiang kayu penyangga atap pasar. Ia tidak mendekat seperti yang lain. Ia tidak berdesakan untuk melihat cermin. Ia tidak bertanya-tanya tentang keajaiban atau kebenaran. Ia hanya berdiri di sana, dengan tangan disilangkan di dada, dengan kepala sedikit menunduk, dengan mata yang tidak tertuju pada cermin, tetapi pada orang-orang di sekitarnya. Matanya bergerak perlahan, tenang, terlatih, seperti mata seorang ahli strategi yang sedang menilai medan perang. Matanya tidak penasaran. Matanya tidak takut. Matanya… terlatih. Seperti mata seseorang yang sudah lama terbiasa mengamati. Seperti mata seseorang yang sedang menilai apakah ini ancaman atau bukan. Seperti mata seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk melarikan diri jika diperlukan.

Abu Nawas tersenyum. Ia menurunkan cermin itu, menutup kotaknya dengan perlahan, mengunci kembali kunci emasnya dengan bunyi klik yang bergema di keheningan yang tiba-tiba menyelimuti kerumunan. Ia berjalan perlahan, melewati kerumunan yang membelah di hadapannya seperti Laut Merah membelah di hadapan Nabi Musa, dan berhenti tepat di hadapan lelaki itu.

"Tuan," katanya dengan suara yang ramah, dengan senyum yang lebar, dengan mata yang bersinar, "apakah Tuan tidak ingin melihat cermin ini? Cermin ajaib dari istana Baginda Raja? Cermin yang retak karena tidak tahan menyimpan kebohongan? Cermin yang bisa menampakkan kebenaran hati? Apakah Tuan tidak penasaran? Apakah Tuan tidak ingin tahu? Apakah Tuan tidak… takut?"

Lelaki itu tersenyum. Senyum yang ramah, senyum yang biasa, senyum yang tidak akan diingat siapa pun jika dilihat sekilas di keramaian. Senyum yang sempurna untuk… bersembunyi. Senyum yang sempurna untuk… menjadi bayangan.

"Saya tidak percaya pada cermin ajaib, Tuan," katanya, suaranya tenang, datar, tidak bergetar. "Cermin hanya cermin. Kaca dan perak. Tidak lebih. Tidak ada yang ajaib. Tidak ada yang istimewa. Hanya benda mati. Hanya pantulan. Hanya… ilusi."

"Tapi cermin ini istimewa, Tuan. Cermin ini retak. Dan retakannya… retakannya bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat mata biasa. Retakannya bisa melihat ke dalam hati. Retakannya bisa melihat kebenaran yang tersembunyi. Retakannya bisa melihat… bayangan."

Lelaki itu tidak berubah ekspresi. Senyumnya tetap. Matanya tetap tenang. Tapi Abu Nawas melihat ada perubahan kecil di balik ketenangan itu. Sesuatu yang bergerak di balik matanya. Sesuatu yang gelisah. Sesuatu yang takut. Sesuatu yang… ingin lari.

"Dan apa yang dilihat retakan itu, Tuan?" tanya lelaki itu, suaranya masih tenang, tetapi ada nada yang berbeda di dalamnya. Nada yang tidak bisa disembunyikan oleh latihan apa pun. Nada yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam.

Abu Nawas mendekat, menurunkan suaranya menjadi nyaris berbisik, hanya cukup untuk didengar oleh lelaki itu. "Retakan itu melihat tangan-tangan yang bergerak di keramaian. Tangan-tangan yang mengambil barang-barang yang bukan haknya. Tangan-tangan yang terlatih. Tangan-tangan yang diajar oleh seseorang yang sangat mengenal pasar ini. Seseorang yang tahu kapan orang lengah. Seseorang yang tahu di mana harus berdiri. Seseorang yang tahu bagaimana menghilang. Seseorang yang… dulu pernah menjadi bagian dari pasar ini. Seorang pedagang. Seorang yang bangkrut. Seorang yang kehilangan segalanya. Seorang yang… dendam."

Lelaki itu tidak berubah ekspresi. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Tapi Abu Nawas melihat ada getaran di tangannya. Getaran yang sangat kecil, sangat cepat, hampir tidak terlihat. Getaran yang tidak bisa disembunyikan oleh latihan apa pun.

"Tuan," kata lelaki itu, "saya tidak tahu apa yang Tuan bicarakan. Saya hanya pedagang biasa. Saya datang ke pasar untuk berdagang, seperti biasa. Saya tidak punya waktu untuk cerita-cerita tentang cermin ajaib dan pencuri bayangan. Saya hanya… berdagang."

"Pedagang?" Abu Nawas mengangkat alis. "Apa yang Tuan jual?"

"Apa saja. Barang-barang kecil. Yang laku."

"Barang-barang kecil? Seperti apa? Mutiara? Sutra? Safron? Keris pusaka? Dompet berisi seratus dinar? Sepuluh gulung sutra Khurasan? Kalung mutiara teluk Oman?"

Lelaki itu tersenyum. Senyum yang masih ramah, tetapi ada sesuatu di balik senyum itu. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang tajam. Sesuatu yang… mematikan.

"Tuan punya imajinasi yang kuat. Saya hanya menjual… kurma."

Abu Nawas tertawa. Tertawa yang keras, tertawa yang bebas, tertawa yang bergema di lorong-lorong pasar, tertawa yang membuat semua orang menoleh. "Kurma! Tuan menjual kurma! Kebetulan sekali! Saya penggemar kurma. Penggemar berat. Saya bisa makan kurma sepanjang hari tanpa bosan. Saya bisa makan kurma untuk sarapan, untuk makan siang, untuk makan malam. Saya bisa makan kurma sambil tidur, sambil berjalan, sambil bercerita. Kurma adalah makanan favorit saya. Kurma adalah teman terbaik saya. Kurma adalah… guru saya."

Ia mendekat, menatap lelaki itu langsung ke matanya.

"Di mana kios Tuan, Tuan Guru? Saya ingin membeli. Saya ingin mencoba kurma Tuan. Saya ingin tahu apakah kurma Tuan se-enak kurma yang pernah saya makan. Kurma Sukkari dari kebun Baginda Raja. Kurma yang manisnya seperti kejujuran. Kurma yang tidak pernah dicampur, tidak pernah dikurangi, tidak pernah… dicuri."

Lelaki itu menunjuk ke arah lorong kecil di selatan, ke arah gerbang belakang pasar, ke arah tempat yang gelap, tempat yang jarang dilalui orang, tempat yang sempurna untuk bersembunyi. "Di sana, Tuan. Kios kecil. Tidak seberapa. Tidak layak untuk Tuan yang terbiasa dengan kurma istana."

"Baiklah, besok saya akan berkunjung. Tuan jangan lupa menyisakan kurma terbaik untuk saya. Kurma yang paling manis. Kurma yang paling jujur. Kurma yang… tidak menyembunyikan apa pun."

"Tentu, Tuan. Dengan senang hati."

Lelaki itu berbalik, berjalan perlahan meninggalkan kerumunan, meninggalkan Abu Nawas, meninggalkan cermin ajaib, meninggalkan semua orang yang masih terpaku di tempat. Langkahnya tenang, teratur, tidak tergesa-gesa. Langkah seorang yang tidak ingin menarik perhatian. Langkah seorang yang sudah terbiasa menghilang. Langkah seorang yang… bayangan.

Abu Nawas menatap punggungnya yang menghilang di antara kios-kios, di antara lampu-lampu minyak, di antara keramaian yang mulai kembali normal. Punggung yang biasa. Punggung yang tidak akan diingat siapa pun. Punggung yang… terlalu sempurna untuk menjadi pedagang kurma biasa.

Ia memanggil seorang penjaga yang menyamar di dekatnya, seorang lelaki muda dengan jubah petani dan sorotan lusuh.

"Ikuti dia," bisiknya. "Jangan sampai kehilangan. Tapi jangan terlalu dekat. Orang ini pintar. Dia akan tahu jika dia diikuti. Dia sudah terbiasa dengan bahaya. Dia sudah terlatih untuk ini. Dia sudah… menjadi bayangan terlalu lama."

Penjaga itu mengangguk, berjalan perlahan mengikuti lelaki itu ke lorong selatan, menghilang di antara kerumunan.


BAB 8: KEJENIUSAN YANG TERSEMBUNYI

Keesokan paginya, Abu Nawas kembali ke kantor kepala penjaga pasar. Empat pemuda itu masih di sana, duduk di kursi yang sama, dengan tangan masih terbelenggu. Mereka tampak kelelahan, mata merah karena kurang tidur, wajah pucat karena ketakutan, bibir kering karena kehausan. Mereka belum makan sejak semalam. Mereka belum minum sejak semalam. Mereka belum tidur sejak semalam. Mereka hanya duduk di sana, dalam keheningan, dalam ketakutan, dalam penantian.

Tapi yang keempat—pemuda dengan mata waspada, pemuda yang paling tua, pemuda yang paling tenang—tampak berbeda. Ada sesuatu di matanya. Bukan lagi ketenangan palsu yang terlatih. Bukan lagi keberanian yang dipaksakan. Bukan lagi kesetiaan yang buta. Tapi… keraguan. Keraguan yang sudah mulai menggerogoti dinding pertahanannya. Keraguan yang sudah mulai membuatnya bertanya-tanya. Keraguan yang sudah mulai membuka matanya.

Abu Nawas duduk di hadapannya, mengambil kurma dari sakunya, dan mengunyah perlahan. Ia tidak terburu-buru. Ia tahu bahwa keraguan membutuhkan waktu untuk tumbuh. Ia tahu bahwa kesadaran membutuhkan waktu untuk muncul. Ia tahu bahwa kejujuran membutuhkan waktu untuk lahir. Ia hanya perlu… menunggu.

"Nak," katanya setelah beberapa saat, suaranya lembut, seperti seorang ayah yang berbicara dengan anaknya, "semalam, saya melihat seseorang. Seorang lelaki. Paruh baya. Wajah biasa. Tidak ada yang istimewa. Ia bilang ia pedagang kurma. Ia bilang kiosnya di lorong selatan, dekat gerbang belakang. Ia bilang ia hanya pedagang biasa. Tapi matanya… matanya seperti matamu. Terlatih. Waspada. Seperti seseorang yang sudah lama… mengajarkan sesuatu kepada anak-anak muda. Seperti seseorang yang sudah lama… menjadi guru."

Pemuda itu tidak menjawab. Tidak bergerak. Tidak berkedip. Tapi Abu Nawas melihat tangannya gemetar. Gemetar yang tidak bisa disembunyikan. Gemetar yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

"Saya tidak tahu siapa orang itu," lanjut Abu Nawas. "Tapi saya tahu satu hal: ia bukan pedagang kurma. Pedagang kurma tidak akan berdiri di sudut kerumunan dengan tangan disilangkan, mengamati cermin ajaib dengan mata seorang ahli strategi. Pedagang kurma tidak akan menawarkan barang-barang kecil yang laku, tanpa menyebut apa yang sebenarnya ia jual. Pedagang kurma tidak akan… memiliki murid. Murid yang diajar untuk mencuri. Murid yang diajar untuk menjadi bayangan. Murid yang… ditinggalkan ketika tertangkap."

Ia menatap pemuda itu dengan mata yang lembut, mata yang penuh pengertian, mata yang tidak menghakimi.

"Nak, saya tidak akan menanyakan siapa dia. Saya tidak akan memaksa kau untuk mengaku. Saya tidak akan menyiksa kau untuk mendapatkan nama. Tapi saya ingin kau tahu: kau punya kesempatan. Kesempatan untuk tidak menjadi alat. Kesempatan untuk memulai lagi. Kesempatan untuk menjadi manusia yang jujur. Kau masih muda. Kau masih bisa memilih. Kau masih bisa… pulang."

Pemuda itu menunduk. Air matanya jatuh. Jatuh ke pangkuannya, jatuh ke tangannya yang terbelenggu, jatuh ke lantai tanah yang becek. Air mata yang tidak bisa ditahan lagi. Air mata yang keluar dari tempat yang paling dalam. Air mata yang membersihkan. Air mata yang menyembuhkan.

"Tuan," katanya, suaranya parau, terputus-putus, seperti orang yang sudah lama tidak berbicara, "aku… aku tidak tahu namanya. Kami hanya memanggilnya 'Guru'. Dia yang mengajari kami. Dia yang memberi tahu kami kapan harus datang, di mana harus berdiri, barang apa yang harus diambil. Kami hanya… mengikuti perintah. Kami tidak pernah bertanya. Kami tidak pernah tahu. Kami hanya… percaya. Percaya bahwa dia akan melindungi kami. Percaya bahwa dia tidak akan membiarkan kami tertangkap. Percaya bahwa kami adalah… murid-muridnya."

"Di mana kalian biasanya bertemu?"

"Di sebuah gudang tua di pinggiran pasar. Di lorong timur, dekat gerbang belakang. Setiap malam, setelah pasar tutup. Dia datang, memberikan instruksi, membagi tugas, memberikan… bagian kami. Bagian yang cukup untuk makan. Bagian yang cukup untuk bertahan hidup. Bagian yang cukup untuk… tidak kelaparan."

Abu Nawas mengangguk. "Terima kasih, Nak. Kau telah membantu. Kau telah memilih jalan yang benar. Jalan yang jujur. Jalan yang… membawa pulang."

Ia berdiri, berjalan ke pintu. Di luar, ia memanggil kepala penjaga pasar, seorang lelaki tegap dengan janggut lebat dan mata yang tajam, yang sudah dua puluh tahun menjaga pasar malam Baghdad.

"Malam ini," katanya, "kita akan menjemput seorang 'guru'. Siapkan dua puluh orang. Orang-orang terbaikmu. Orang-orang yang bisa diam. Orang-orang yang tidak takut. Orang-orang yang… bisa menangkap bayangan."

Kepala penjaga itu mengangguk. "Sudah siap, Tuan. Sejak semalam. Sejak Tuan memberi isyarat."

"Jangan ada yang tahu," kata Abu Nawas. "Rencana ini harus rahasia. Orang ini pintar. Ia sudah terlatih. Ia sudah menjadi bayangan terlalu lama. Jika ia curiga, ia akan menghilang. Seperti bayangan yang menghilang ketika matahari terbit. Dan kita tidak akan pernah menemukannya lagi."


BAB 9: TERUNGKAPNYA RAHASIA

Malam itu, pasar malam Baghdad berdenyut seperti biasa. Lampu-lampu minyak menyala di ribuan kios, menciptakan ilusi langit berbintang di permukaan bumi. Pedagang-pedagang berteriak menawarkan dagangan, pembeli-pembeli menawar harga dengan semangat, anak-anak berlarian di antara kaki orang dewasa, penyanyi-penyanyi jalanan memetik kecapi, penjual-penjual kopi menuangkan air panas ke dalam cangkir-cangkir kecil. Semuanya normal. Semuanya seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa malam ini, sesuatu akan terjadi. Tidak ada yang tahu bahwa malam ini, bayangan akan ditangkap.

Abu Nawas tidak pergi ke pasar. Ia duduk di Kedai Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan, dengan mangkuk kurma di pangkuannya dan segelas air tajin di sampingnya. Di hadapannya, duduk Jafar yang datang dengan pakaian biasa, berusaha untuk tidak dikenali oleh pengunjung lain. Jafar gelisah. Matanya terus-menerus menatap pintu, menunggu utusan, menunggu kabar, menunggu… hasil.

"Abu Nawas," kata Jafar, suaranya tegang, "kau yakin rencanamu akan berhasil? Orang itu sudah kita awasi sejak semalam. Sejak kau memberi isyarat di pasar. Dua puluh penjaga terbaik kita sudah ditempatkan di sekeliling gudang. Mereka tidak bergerak. Mereka tidak berbicara. Mereka tidak bernapas terlalu keras. Tapi orang itu… orang itu tidak melakukan apa pun yang mencurigakan. Ia hanya duduk di kiosnya, menjual kurma, tersenyum ramah kepada setiap pembeli. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang… berbeda."

Abu Nawas tersenyum. Ia mengambil kurma, memutarnya di antara jari-jarinya, menikmati teksturnya yang lembut, aromanya yang manis, kehadirannya yang menenangkan.

"Itulah kejeniusannya, Wazir. Ia tidak melakukan apa pun yang mencurigakan. Ia hanya… menjadi pedagang kurma biasa. Pedagang kurma yang sempurna. Terlalu sempurna. Tidak ada pedagang kurma yang sesempurna itu. Pedagang kurma yang baik akan ramai, akan berteriak, akan memanggil pembeli. Ia tidak akan duduk diam dengan tersenyum ramah. Ia akan bergerak, menata dagangan, menawar, tertawa, kadang-kadang marah kalau ada yang menawar terlalu rendah. Ia tidak akan… sempurna."

Jafar mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Wazir, pernahkah Wazir memperhatikan pedagang kurma di pasar? Mereka tidak diam. Mereka tidak tenang. Mereka tidak… sempurna. Mereka berteriak, 'Kurma! Kurma! Kurma manis dari Yathrib! Kurma segar dari kebun langsung!' Mereka memanggil pembeli dengan suara keras, dengan gerakan lebar, dengan senyum lebar. Mereka tidak hanya duduk diam. Mereka tidak hanya tersenyum ramah. Mereka tidak hanya… menunggu."

Ia mengambil kurma lain, memasukkannya ke mulut, mengunyah perlahan.

"Orang yang duduk di kios itu bukan pedagang kurma. Ia adalah seorang yang menyamar. Dan penyamaran yang sempurna, Wazir, adalah penyamaran yang tidak mencolok. Terlalu sempurna, dan ia justru mencolok. Bagi mata yang terlatih. Bagi mata yang… tidak tertipu oleh keramaian."

Jafar menghela napas. "Kau benar. Aku tidak pernah memikirkannya. Aku terlalu sibuk dengan urusan istana. Terlalu sibuk dengan laporan dari provinsi. Terlalu sibuk dengan… hal-hal besar. Aku lupa bahwa kadang-kadang, kebenaran besar tersembunyi di hal-hal kecil. Di pedagang kurma yang terlalu sempurna. Di anak-anak muda yang terlalu lincah. Di… bayangan yang terlalu gelap."

Mereka menunggu dalam keheningan. Abu Nawas makan kurma. Jafar menyesap air tajin yang sudah dingin. Di luar, pasar malam mulai ramai. Suara tawar-menawar, suara tawa, suara anak-anak berlarian. Semua terdengar normal. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang… mencurigakan.

Kemudian, sekitar tengah malam, ketika bulan purnama bersinar terang di atas Baghdad, ketika pasar mulai sepi, ketika para pedagang mulai menutup kios satu per satu, ketika lampu-lampu minyak mulai padam satu per satu, seorang utusan datang. Pemuda itu berlari terengah-engah, wajahnya berseri-seri, matanya berbinar-binar, napasnya memburu karena berlari dari pasar ke kedai.

"Tuan Abu Nawas! Wazir!" teriaknya dari pintu, suaranya memecah keheningan kedai yang mulai sepi. "Kami berhasil! Kami tangkap dia! Di gudang tua! Ia sedang mengemas barang-barang curian! Semua ada! Sutra dari Khurasan! Mutiara dari teluk Oman! Safron dari Persia! Keris pusaka dari Jawa! Semua! Semua yang hilang selama ini! Semua ada di gudang itu!"

Abu Nawas berdiri perlahan. Ia mengambil kurma terakhir di mangkuk, memasukkannya ke mulut, dan mengunyah dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak tergesa-gesa. Tidak panik. Hanya… menikmati. Menikmati kurma terakhir malam itu. Menikmati rasa manis yang meleleh di lidahnya. Menikmati kemenangan yang tidak perlu dirayakan dengan teriakan, tetapi cukup dengan senyum.

"Wazir," katanya, "mari kita sambut 'guru' itu. Mari kita lihat siapa yang selama ini bersembunyi di balik bayangan. Mari kita lihat siapa yang mengajari anak-anak mencuri. Mari kita lihat siapa yang… mengkhianati pasar ini."


Di gudang tua di pinggiran pasar, di lorong timur dekat gerbang belakang, lampu-lampu minyak dinyalakan satu per satu, menerangi ruangan yang penuh dengan barang-barang curian. Sutra-sutra dari Khurasan tergulung rapi di sudut, berwarna-warni seperti pelangi yang jatuh ke bumi. Mutiara-mutiara dari teluk Oman berserakan di atas meja kayu, berkilau di bawah cahaya lampu, seperti bintang-bintang yang jatuh dari langit. Safron-safron dari Persia masih terbungkus dalam kantong-kantong kecil, aromanya yang khas memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma kayu tua dan debu. Keris pusaka dari Jawa tersimpan dalam sarungnya yang berukir indah, dengan gagang emas dan mata batu akik merah yang bersinar seperti mata naga.

Dan di tengah ruangan itu, duduk seorang lelaki paruh baya dengan tangan terikat di belakang punggung. Wajahnya biasa. Tidak tampan, tidak jelek. Janggut tipis, mata hitam, hidung mancung, bibir tipis. Wajah yang tidak akan diingat siapa pun jika dilihat sekilas di keramaian. Wajah yang sempurna untuk… menghilang. Wajah yang sempurna untuk… menjadi bayangan.

Tapi matanya. Matanya tidak biasa. Matanya tenang. Tenang sekali. Tenang yang tidak wajar. Tenang yang terlatih. Tenang yang sudah dipersiapkan. Seperti orang yang sudah lama terbiasa dengan bahaya. Seperti orang yang sudah mempersiapkan diri untuk saat ini. Seperti orang yang sudah… menerima takdirnya.

Abu Nawas duduk di hadapannya, di atas peti kayu yang terbalik. Ia mengambil kurma dari sakunya—kurma yang ia simpan sejak pagi untuk acara-acara khusus seperti ini—dan memasukkannya ke mulut.

"Selamat malam, Tuan Guru," sapanya dengan ramah, dengan senyum lebar, dengan mata yang bersinar. "Maaf kami mengganggu pertemuan Tuan. Tapi sepertinya Tuan lupa bahwa gudang ini adalah milik negara. Bukan milik Tuan. Bukan tempat untuk menyimpan barang-barang yang bukan hak Tuan. Bukan tempat untuk… bersembunyi."

Lelaki itu tersenyum. Senyum yang sama yang ia tunjukkan di pasar. Ramah. Biasa. Tidak mencolok. Senyum yang tidak akan diingat siapa pun. Senyum yang sempurna untuk… bersembunyi.

"Tuan," katanya, suaranya tenang, tidak bergetar, tidak panik, "saya tidak tahu apa yang Tuan bicarakan. Barang-barang ini adalah milik saya. Saya seorang pedagang. Saya membeli barang-barang ini dengan uang saya sendiri. Saya menyimpannya di gudang ini karena saya tidak punya toko. Saya hanya pedagang kecil. Saya tidak punya kios besar seperti pedagang-pedagang lain. Saya hanya… bertahan hidup."

"Dengan uang Tuan sendiri?" Abu Nawas mengangkat alis. "Lalu, di mana bukti pembeliannya? Di mana catatan transaksinya? Pedagang sejati, Tuan Guru, selalu menyimpan catatan. Agar tidak ketinggalan untung. Agar tidak salah hitung. Agar tidak… dicurigai. Pedagang sejati, Tuan Guru, tidak akan menyimpan barang-barang seperti ini di gudang rahasia. Pedagang sejati akan memajangnya di kios, menawarkannya kepada pembeli, menjualnya dengan harga yang pantas. Pedagang sejati tidak akan… bersembunyi."

Lelaki itu tidak menjawab. Senyumnya masih tersungging, tetapi ada sesuatu di balik senyum itu. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang tajam. Sesuatu yang… putus asa.

"Tuan," lanjut Abu Nawas, suaranya menjadi lebih lembut, lebih pengertian, lebih… manusiawi, "saya sudah bicara dengan murid-murid Tuan. Mereka cerita banyak. Tentang latihan. Tentang instruksi. Tentang bagaimana Tuan mengajari mereka untuk bergerak di keramaian, untuk memanfaatkan kelengahan orang, untuk menghilang seperti bayangan. Mereka cerita tentang Tuan, Tuan Guru. Tentang bagaimana Tuan memberi mereka makan. Tentang bagaimana Tuan memberi mereka tempat tinggal. Tentang bagaimana Tuan memberi mereka… harapan. Harapan palsu. Harapan yang tidak akan pernah terwujud. Harapan yang berakhir di sini. Di gudang ini. Dengan tangan terikat."

Lelaki itu tidak berubah ekspresi. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Tapi Abu Nawas melihat ada getaran di jari-jarinya. Getaran yang sangat kecil, sangat cepat, hampir tidak terlihat. Getaran yang tidak bisa disembunyikan oleh latihan apa pun.

"Mereka anak-anak, Tuan Guru," kata Abu Nawas, suaranya menjadi lebih lembut, lebih dalam, lebih menyentuh. "Mereka masih muda. Mereka masih bisa berubah. Mereka masih bisa menjadi manusia yang jujur. Mereka masih bisa… pulang. Tapi Tuan, Tuan sudah tua. Tuan sudah memilih jalan ini. Tuan sudah terlalu lama menjadi bayangan. Tuan sudah… kehabisan kesempatan."

Lelaki itu menunduk. Untuk pertama kalinya, senyumnya hilang. Untuk pertama kalinya, ketenangannya retak. Untuk pertama kalinya, ia terlihat seperti… manusia. Bukan guru. Bukan pencuri. Bukan bayangan. Tapi manusia. Manusia yang lelah. Manusia yang kehilangan. Manusia yang… menyesal.

"Tuan," katanya, suaranya rendah, parau, seperti orang yang sudah lama tidak berbicara dari hati, "aku tidak menyesal. Aku melakukan ini untuk bertahan hidup. Pasar ini kejam. Pedagang-pedagang besar menghancurkan pedagang kecil seperti aku. Mereka menjual barang dengan harga lebih murah, lebih murah, lebih murah, sampai kami tidak bisa bersaing. Mereka mengambil semua keuntungan. Mereka meninggalkan kami untuk mati kelaparan. Aku hanya… mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakku. Apa yang dicuri dari aku. Apa yang dirampas dari aku."

"Dengan mencuri?" Abu Nawas menggeleng. "Dengan mengajari anak-anak mencuri? Dengan menjadikan mereka alat? Dengan membiarkan mereka tertangkap sementara Tuan bersembunyi? Tuan, Tuan bukan korban. Tuan adalah… pelaku. Tuan adalah… yang menyebabkan anak-anak itu menjadi pencuri. Tuan adalah… yang merampas masa depan mereka. Sama seperti pedagang-pedagang besar merampas masa depan Tuan."

Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, diam, dengan bahu yang mulai bergetar. Getaran yang tidak bisa disembunyikan lagi. Getaran yang keluar dari tempat yang paling dalam. Getaran yang… manusiawi.

Abu Nawas berdiri. Ia menatap barang-barang curian di sekelilingnya—sutra, mutiara, safron, keris. Semuanya adalah hasil jerih payah orang lain. Semuanya adalah mimpi yang dicuri. Semuanya adalah bukti dari kejahatan yang tidak bisa dibenarkan oleh alasan apa pun.

"Bawa dia ke istana," katanya kepada para penjaga. "Baginda Raja yang akan memutuskan. Baginda Raja yang akan menghakimi. Baginda Raja yang akan… memberi keadilan."


BAB 10: KEADILAN DAN PELAJARAN

Keesokan harinya, di Aula Singgasana Agung, Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan jubah kebesaran berwarna hitam dan mahkota emas di kepalanya. Di hadapannya, berdiri lelaki paruh baya yang disebut 'Guru', dengan tangan terikat, wajah pucat, dan mata yang tidak lagi tenang. Di sampingnya, berdiri keempat pemuda yang ditangkap di pasar, juga dengan tangan terikat, tetapi wajah mereka berbeda. Mereka menangis. Mereka ketakutan. Mereka… menyesal.

Abu Nawas duduk di sudut aula, di kursi yang disediakan khusus untuknya—sebuah kehormatan yang jarang diberikan kepada rakyat biasa, tetapi sudah menjadi kebiasaan sejak ia memecahkan kasus mahkota yang hilang. Di pangkuannya, semangkuk kurma Sukkari dari kebun pribadi Baginda Raja. Di tangannya, segelas air tajin dari sumur dalam. Ia makan kurma dengan tenang, mengamati jalannya persidangan dengan mata yang tajam, dengan telinga yang mendengar setiap kata, dengan hati yang merasakan setiap getaran.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap lelaki itu lama. Matanya tidak marah, tetapi juga tidak lembut. Ada kesedihan di sana. Kesedihan seorang pemimpin yang melihat rakyatnya jatuh ke dalam kejahatan. Kesedihan seorang raja yang tahu bahwa kemiskinan dan ketidakadilan bisa mengubah manusia menjadi monster. Kesedihan seorang manusia yang bertanya-tanya: apakah aku bisa mencegah ini? Apakah aku sudah cukup adil? Apakah aku sudah cukup memperhatikan rakyatku?

"Namamu?" tanya Baginda Raja, suaranya tenang tetapi berat.

"Abbas, Baginda," jawab lelaki itu, suaranya serak.

"Abbas, kau dulu adalah pedagang di pasar ini. Aku ingat namamu. Aku ingat kau dulu menjual kurma. Kurma dari kebunmu sendiri. Kurma yang terkenal manis. Kurma yang sering dibeli oleh istriku, Putri Zubaidah. Apa yang membuatmu beralih menjadi pencuri? Menjadi guru bagi pencuri-pencuri cilik? Menjadi… bayangan yang meresahkan rakyatku?"

Abbas menunduk. Bahunya yang tadinya tegap, kini merosot. "Baginda… aku dulu pedagang kecil. Aku menjual kurma. Kurma dari kebunku sendiri. Kurma yang kutanam dengan tanganku sendiri. Kurma yang kuraikan dengan doa. Kurma yang… terbaik di pasar. Tapi pedagang-pedagang besar… mereka menjual kurma yang sama dengan harga lebih murah. Mereka punya modal besar. Mereka bisa rugi bertahun-tahun untuk menghancurkan pesaing. Aku tidak bisa bersaing. Aku bangkrut. Aku kehilangan segalanya."

Ia mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca.

"Aku tidak punya pilihan, Baginda. Aku harus bertahan hidup. Aku mulai mencuri. Awalnya kecil-kecil. Kemudian semakin besar. Aku belajar. Aku mengamati. Aku tahu persis kelemahan pasar. Aku tahu kapan orang lengah. Aku tahu bagaimana menghilang di keramaian. Kemudian aku bertemu anak-anak itu. Mereka miskin. Mereka kelaparan. Mereka tidak punya tempat tinggal. Mereka tidak punya keluarga. Mereka butuh uang. Mereka butuh perlindungan. Aku mengajari mereka. Bukan karena aku jahat, Baginda. Tapi karena… aku ingin mereka bertahan hidup. Seperti aku. Aku ingin mereka tidak mengalami apa yang aku alami. Aku ingin mereka… punya masa depan."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri. Ia berjalan mendekati Abbas, menatapnya dengan mata yang tidak bisa dihindari. Matanya tajam, tetapi tidak kejam. Matanya tegas, tetapi tidak tanpa belas kasihan.

"Abbas, aku mengerti penderitaanmu. Aku mengerti bahwa pasar ini tidak adil. Aku mengerti bahwa pedagang-pedagang besar kadang-kadang menindas yang kecil. Tapi mencuri bukanlah jawabannya. Mengajari anak-anak mencuri bukanlah jawabannya. Menjadi bayangan yang meresahkan rakyatku bukanlah jawabannya. Menjadikan anak-anak itu alat, memanfaatkan keputusasaan mereka, membiarkan mereka tertangkap sementara kau bersembunyi—itu bukanlah cara seorang guru. Itu adalah cara seorang… pengecut."

Abbas menunduk. Air matanya jatuh. Jatuh ke lantai marmer yang putih. Jatuh ke tangannya yang terikat. Jatuh ke… kesadarannya.

"Kau akan dihukum, Abbas," lanjut Harun Al-Rasyid. "Bukan karena kau miskin. Bukan karena kau putus asa. Bukan karena kau kehilangan segalanya. Tapi karena kau memilih jalan yang salah. Karena kau memilih untuk menjadi bayangan, bukan manusia. Karena kau memilih untuk mencuri, bukan bekerja. Karena kau memilih untuk mengajar kejahatan, bukan kebaikan."

Ia berjalan kembali ke singgasananya, duduk dengan berat.

"Kau akan dipenjara selama satu tahun. Setelah itu, kau akan diusir dari Baghdad. Kau tidak boleh kembali. Itu hukumanku."

Abbas menunduk, air matanya jatuh. "Terima kasih, Baginda. Aku pantas menerimanya. Aku pantas dihukum. Aku pantas… diusir."

Bginda Raja Harun Al-Rasyid menatap keempat pemuda itu. Mereka gemetar, menangis, berlutut di lantai marmer. Mereka tidak berani mengangkat kepala. Mereka tidak berani menatap Baginda Raja. Mereka hanya bisa menunduk, menangis, menyesal.

"Kalian," katanya, suaranya menjadi lebih lembut, "masih muda. Kalian masih punya kesempatan. Kalian mencuri karena kalian miskin. Karena kalian kelaparan. Karena kalian tidak punya pilihan. Itu tidak membenarkan perbuatan kalian. Tapi itu bisa dimengerti."

Ia berjalan mendekati mereka, satu per satu. Ia menatap mereka dengan mata yang tidak lagi tajam, tetapi lembut. Mata seorang ayah yang melihat anak-anaknya tersesat, tetapi masih ingin membawa mereka pulang.

"Kalian tidak akan dipenjara. Tapi kalian tidak bisa kembali ke kehidupan lama. Mulai besok, kalian akan bekerja di pasar. Bukan sebagai pencuri. Tapi sebagai… penjaga. Penjaga pasar. Kalian akan belajar bagaimana melindungi, bukan mencuri. Kalian akan belajar bagaimana menjadi bagian dari masyarakat, bukan musuhnya. Kalian akan belajar bagaimana… menjadi manusia."

Ia berhenti, menatap mereka satu per satu.

"Jika dalam setahun kalian bisa membuktikan bahwa kalian telah berubah, kalian akan mendapat pekerjaan tetap. Kalian akan mendapat gaji yang cukup. Kalian akan mendapat tempat tinggal. Kalian akan mendapat… masa depan. Jika tidak… kalian tahu konsekuensinya."

Keempat pemuda itu menangis. Mereka menunduk dalam-dalam, bersyukur, menyesal, berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mereka yang paling muda, yang paling kecil, yang paling ketakutan, berani mengangkat kepalanya, menatap Baginda Raja dengan mata yang basah tetapi bersinar.

"Baginda," katanya, suaranya gemetar, "kami… kami berjanji. Kami tidak akan mencuri lagi. Kami akan bekerja. Kami akan menjadi penjaga yang baik. Kami akan melindungi pasar ini. Kami akan… menjadi manusia yang jujur."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang jarang ia tunjukkan di depan para pejabat istana. Senyum yang membuat anak itu berani tersenyum kembali, meskipun air matanya masih mengalir.

"Bagus," katanya. "Itu yang ingin kudengar."


Setelah persidangan selesai, setelah Abbas dibawa ke penjara, setelah keempat pemuda itu dibawa ke asrama penjaga pasar untuk memulai kehidupan baru, Baginda Raja Harun Al-Rasyid memanggil Abu Nawas ke ruang pribadinya.

"Abu Nawas," katanya, "kau telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Kau telah menemukan pencuri bayangan yang selama ini meresahkan rakyatku. Kau telah mengembalikan kedamaian ke pasar malam Baghdad. Kau telah memberi kesempatan kedua kepada anak-anak itu. Kau telah… mengajarkanku sesuatu."

Abu Nawas duduk di hadapan Baginda Raja, dengan semangkuk kurma yang sudah hampir habis. "Baginda, saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan. Tertawa, bercerita, mengamati. Kebenaran datang dengan sendirinya. Kejahatan tidak bisa bersembunyi selamanya. Bayangan tidak bisa lari dari matahari."

"Kau selalu merendah, Abu Nawas. Tapi aku tahu, tanpa kau, kasus ini mungkin tidak akan pernah terpecahkan. Para penjaga pasar sudah berusaha berminggu-minggu tanpa hasil. Para penyelidik istana sudah berusaha mencari petunjuk. Tidak ada yang berhasil. Kau hanya perlu seminggu. Dengan tawa. Dengan cerita. Dengan cermin palsu. Dengan… kurma."

"Karena saya punya sesuatu yang tidak dimiliki penjaga pasar, Baginda. Karena saya punya sesuatu yang tidak dimiliki penyelidik istana."

"Apa?"

Abu Nawas tersenyum. "Waktu, Baginda. Penjaga pasar terlalu sibuk mengejar pencuri. Penyelidik istana terlalu sibuk mencari petunjuk. Mereka bergerak cepat, terburu-buru, panik. Mereka lupa bahwa pencuri bayangan tidak bisa ditangkap dengan kecepatan. Pencuri bayangan hanya bisa ditangkap dengan… kesabaran. Dengan duduk diam, makan kurma, dan menunggu. Menunggu sampai mereka membuat kesalahan. Menunggu sampai mereka percaya bahwa mereka aman. Menunggu sampai mereka… lengah."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tertawa. "Kau benar, Abu Nawas. Kadang-kadang, yang paling berbahaya bukan pencuri, tapi kelengahan kita sendiri. Para pedagang terlalu sibuk melayani pembeli hingga lupa menjaga barangnya. Para penjaga terlalu sibuk mencari pencuri hingga lupa mengamati pola. Aku terlalu sibuk mengurus istana hingga lupa bahwa pasar malam adalah jantung Baghdad. Dan pencuri itu… pencuri itu memanfaatkan kelengahan kita semua."

Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap ke arah pasar yang mulai ramai meskipun hari masih siang. Di kejauhan, ia bisa melihat orang-orang berjalan, pedagang-pedagang membuka kios, anak-anak berlarian, penjaga-penjaga berpatroli. Semuanya normal. Semuanya seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada kesadaran baru. Ada kewaspadaan baru. Ada… harapan baru.

"Abu Nawas," katanya, "aku akan mengeluarkan perintah baru. Penjagaan pasar akan diperketat. Pedagang-pedagang besar akan diawasi agar tidak menindas yang kecil. Anak-anak jalanan akan diberi pendidikan dan pekerjaan. Tidak ada lagi yang boleh kelaparan di Baghdad. Tidak ada lagi yang harus mencuri untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi yang harus menjadi bayangan."

Abu Nawas berdiri, membungkuk dalam-dalam. "Baginda, itu keputusan yang bijak. Lebih bijak dari semua hukuman yang bisa Baginda jatuhkan. Karena keadilan sejati bukan hanya menghukum yang bersalah, tapi juga mencegah yang lain menjadi bersalah. Bukan hanya menangkap bayangan, tapi juga menyalakan lampu. Bukan hanya menghukum, tapi juga… mengajar."


EPILOG: TAWA DI TENGAH PELAJARAN

Beberapa pekan kemudian, pasar malam Baghdad berdenyut dengan semangat baru.

Suasana berbeda dari sebelumnya. Bukan karena pencuri bayangan sudah ditangkap. Bukan karena para penjaga berjalan lebih waspada. Tapi karena ada sesuatu yang lebih dalam, lebih halus, lebih… manusiawi. Ada kesadaran baru yang tumbuh di antara para pedagang, para pembeli, para penjaga, semua orang yang menghabiskan waktu di pasar ini. Kesadaran bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab penjaga. Kesadaran bahwa kewaspadaan bukan hanya tentang menjaga barang sendiri. Kesadaran bahwa pasar ini adalah milik bersama, dan semua orang harus menjaganya.

Para pedagang sekarang lebih saling menjaga. Mereka tidak lagi hanya sibuk dengan dagangan sendiri. Mereka memperhatikan tetangga kios mereka, saling mengingatkan jika ada yang mencurigakan, saling membantu jika ada yang kewalahan. Jika seorang pedagang sedang sibuk melayani pembeli, pedagang di sebelahnya akan ikut mengawasi barang-barangnya. Jika seorang pedagang melihat orang yang mencurigakan berjalan di dekat kios tetangganya, ia akan berteriak memperingatkan. Jika seorang pedagang kehilangan barang, pedagang-pedagang lain akan ikut mencarinya.

Pedagang-pedagang besar yang dulu sombong dan menindas, kini lebih sadar bahwa keberlangsungan pasar tergantung pada semua orang, bukan hanya diri mereka sendiri. Mereka mulai menurunkan harga, mulai memberi kesempatan kepada pedagang kecil, mulai berbagi keuntungan. Bukan karena takut dihukum, tetapi karena mereka sadar bahwa pasar yang sehat adalah pasar yang adil. Pasar yang adil adalah pasar yang aman. Pasar yang aman adalah pasar yang menguntungkan semua orang.

Para penjaga pasar tidak lagi hanya berpatroli dengan wajah bengis, dengan tangan di gagang pedang, dengan mata yang selalu curiga. Mereka tersenyum, menyapa, kadang-kadang duduk di kedai kopi untuk mengamati dari kejauhan, kadang-kadang berbincang dengan para pedagang, kadang-kadang bermain dengan anak-anak yang berlarian di lorong-lorong. Mereka belajar bahwa keamanan tidak hanya datang dari kekuatan, tapi juga dari kehadiran. Kehadiran yang ramah, yang akrab, yang membuat orang merasa aman. Kehadiran yang membuat pencuri berpikir dua kali sebelum beraksi.

Anak-anak jalanan yang dulu menjadi pencuri, kini menjadi pembantu di kios-kios. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung. Mereka mendapat upah kecil, cukup untuk makan, cukup untuk menyewa kamar kecil di pinggiran pasar, cukup untuk bermimpi. Mereka tidak lagi menjadi bayangan yang menghilang di keramaian. Mereka menjadi bagian dari keramaian itu sendiri. Mereka tersenyum, mereka tertawa, mereka berlari di antara kaki orang dewasa tanpa rasa takut. Mereka punya masa depan. Mereka punya harapan. Mereka punya… nama.

Dan di tengah semua itu, Abu Nawas berjalan santai di lorong-lorong pasar, dengan jubah lusuh yang sama, sandal aus yang sama, senyum misterius yang sama. Ia tidak membawa dompet besar, tidak memakai perhiasan, tidak menunjukkan tanda-tanda kekayaan. Ia hanyalah seorang pengunjung biasa, salah satu dari ribuan orang yang membanjiri pasar malam setiap hari. Tapi semua orang mengenalnya. Semua orang menyapanya. Semua orang ingin berbicara dengannya.

Ia berhenti di kios kurma, membeli segenggam, makan satu per satu sambil berjalan. Ia tersenyum pada para pedagang, melambai pada anak-anak yang mengenalnya, duduk sebentar di kedai kopi untuk menyesap secangkir kopi hitam pahit. Ia tidak terburu-buru. Ia tidak punya tujuan. Ia hanya… menikmati. Menikmati keramaian. Menikmati tawa. Menikmati kehidupan.

"Abu Nawas!" teriak seorang pedagang dari kejauhan. "Abu Nawas, kemarilah! Aku punya cerita lucu untukmu! Cerita tentang seorang pencuri yang tertangkap karena cermin ajaib! Cerita tentang seorang guru yang mengajar murid-muridnya untuk mencuri, tetapi lupa mengajar mereka untuk… melarikan diri!"

Abu Nawas mendekat, duduk di bangku di depan kios pedagang itu. Pedagang itu adalah lelaki yang dulu kehilangan sepuluh gulung sutra, lelaki yang menangis di kiosnya, lelaki yang hampir menyerah pada kehidupan. Kini, dagangannya kembali ramai, wajahnya kembali ceria, dan matanya kembali bersinar. Sepuluh gulung sutra yang hilang telah kembali, ditemukan di gudang Abbas bersama dengan barang-barang curian lainnya. Pedagang itu tidak hanya mendapat kembali sutranya, tetapi juga mendapat pelajaran berharga tentang kewaspadaan, tentang persaudaraan, tentang… harapan.

"Cerita tentang pencuri yang tertangkap karena cermin ajaib?" Abu Nawas tertawa. "Tuan, cermin itu tidak ajaib. Cermin itu hanya kaca. Tapi kadang-kadang, kaca yang retak justru memantulkan cahaya yang lebih indah. Kadang-kadang, kebenaran yang tersembunyi justru muncul dari hal-hal yang rusak. Kadang-kadang, pelajaran terbaik datang dari… kesalahan."

Pedagang itu mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya mengerti. "Apa maksudmu, Abu Nawas?"

"Maksudku, Tuan, kebenaran tidak perlu datang dari benda ajaib. Kebenaran datang dari keberanian untuk melihat. Dan keberanian untuk melihat, Tuan, adalah hal yang paling langka di dunia ini. Lebih langka dari mutiara. Lebih berharga dari emas. Lebih indah dari sutra. Karena tanpa keberanian untuk melihat, mutiara akan tetap tersembunyi di dasar laut. Emas akan tetap terkubur di dalam tanah. Sutra akan tetap tergulung di gudang. Dan pencuri… pencuri akan tetap menjadi bayangan."

Pedagang itu tersenyum. "Kau bijak, Abu Nawas. Lebih bijak dari semua pejabat di istana. Lebih bijak dari semua hakim di Baghdad. Lebih bijak dari… Baginda Raja sendiri?"

Abu Nawas tertawa keras. "Jangan katakan itu, Tuan. Baginda Raja bisa mendengar. Dan jika Baginda Raja mendengar, saya bisa kehilangan kepala. Atau lebih buruk lagi, saya bisa kehilangan jatah kurma mingguan saya. Dan kehilangan kurma, Tuan, adalah hukuman yang lebih berat daripada kehilangan kepala. Karena tanpa kurma, otak saya tidak akan bekerja. Dan tanpa otak, saya tidak akan bisa tertawa. Dan tanpa tawa, Tuan, dunia ini akan menjadi tempat yang sangat sunyi."

Ia berdiri, merapikan jubahnya, dan berjalan meninggalkan kios itu. Di belakangnya, pedagang itu tertawa, anak-anak berlarian, penjaga-penjaga berpatroli, lampu-lampu minyak menyala, pasar malam berdenyut seperti jantung Baghdad yang paling hidup.


Di kejauhan, dari arah istana, terdengar suara tawa Baginda Raja Harun Al-Rasyid. Tawa yang bergema di senja Baghdad, tawa yang membawa kedamaian bagi kota yang selalu haus akan keadilan, tawa yang mengingatkan semua orang bahwa di tengah kekuasaan yang berat, di tengah intrik yang rumit, di tengah kebohongan yang bersembunyi di balik senyum, masih ada ruang untuk tawa. Masih ada ruang untuk kejujuran. Masih ada ruang untuk… harapan.

Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia mengambil kurma terakhir dari sakunya, melemparkannya ke udara, dan menangkapnya dengan mulut.

"Baginda Raja tertawa," gumamnya sambil mengunyah. "Itu berarti istana selamat. Pasar selamat. Baghdad selamat. Setidaknya untuk hari ini."

Ia berjalan meninggalkan pasar, meninggalkan keramaian, meninggalkan tawa, meninggalkan pelajaran yang lebih berharga dari semua harta yang pernah dicuri.

"Besok, mungkin ada teka-teki baru. Mungkin ada mahkota yang hilang lagi. Mungkin ada cermin yang retak lagi. Mungkin ada pencuri bayangan yang baru. Tapi hari ini… hari ini, kita tertawa. Hari ini, kita belajar. Hari ini, kita menjadi lebih baik. Hari ini, kita… pulang."

Ia berjalan di bawah bintang-bintang, di bawah langit malam Baghdad yang gelap tetapi dipenuhi cahaya, di bawah senyum bulan yang bersinar terang. Di pundaknya, beban yang ringan. Di hatinya, kedamaian yang dalam. Di bibirnya, senyum misterius yang selalu menjadi ciri khasnya.

Kadang yang paling berbahaya bukan pencuri, tapi kelengahan kita sendiri, pikirnya. Dan kadang, yang paling berharga bukan emas, tapi kesadaran untuk menjaga. Menjaga diri sendiri. Menjaga sesama. Menjaga… kejujuran.

Ia berjalan santai, tidak terburu-buru, menikmati setiap langkah, setiap hembusan angin, setiap kilatan bintang di langit. Ia memasukkan tangan ke dalam saku jubahnya, mencari kurma yang tersisa. Tidak ada. Sudah habis. Ia tersenyum.

"Besok, aku harus beli kurma lagi. Kurma dari pasar. Kurma yang lebih manis dari kurma istana. Kurma yang mengingatkanku bahwa kejujuran adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri. Kurma yang mengingatkanku bahwa tawa adalah senjata yang paling ampuh. Kurma yang mengingatkanku bahwa… aku adalah Abu Nawas. Abu Nawas yang suka kurma. Abu Nawas yang suka tertawa. Abu Nawas yang… mencintai Baghdad."

Ia berjalan di bawah bintang-bintang, meninggalkan pasar malam Baghdad yang mulai sepi, meninggalkan pelajaran yang akan dikenang lama setelah ia pulang ke rumahnya yang sederhana, meninggalkan tawa yang akan bergema di hati setiap orang yang mendengarnya.

Kadang yang paling berbahaya bukan pencuri, tapi kelengahan kita sendiri.

Kadang yang paling berharga bukan emas, tapi kesadaran untuk menjaga.

Kadang yang paling indah bukan cermin yang utuh, tapi retakan yang memantulkan cahaya.

Kadang yang paling bijaksana bukan raja, bukan wazir, bukan hakim, tapi seorang pelawak yang duduk di kedai pinggiran, makan kurma, dan tertawa.

Kadang… kadang, kebahagiaan adalah hal yang paling sederhana. Seperti kurma. Seperti tawa. Seperti… pulang.

TAMAT


Kata Bijak dari Abu Nawas:

"Kejahatan tidak selalu datang dengan kekerasan. Kadang ia datang dengan kesempatan. Kesempatan di tengah keramaian. Kesempatan di tengah kelengahan. Kesempatan di tengah ketakutan. Maka, jagalah dirimu. Jagalah sesamamu. Jagalah kejujuranmu. Karena tidak ada pencuri yang bisa mencuri apa yang kau jaga dengan kesadaran. Dan tidak ada bayangan yang bisa bersembunyi dari cahaya kejujuran."

—Abu Nawas, di Pasar Malam Baghdad

 

0 komentar:

Posting Komentar