Joran Bambu di Kanal Sunyi
Di ujung joran bambu, ada
kesabaran yang mengajari manusia arti pulang
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Pagi itu, kabut tipis bergelayut di atas permukaan kanal
panjang yang membelah ribuan pohon kelapa sawit Desa Awan Biru. Airnya hitam
legam, tenang seperti cermin retak yang disambung kembali oleh lumut. Bau tanah
basah bercampur aroma buah sawit masak yang berguguran di tepian. Kanal itu
bukan buatan tangan manusia biasa; ia adalah parit raksasa peninggalan
perkebunan zaman Belanda, yang kini menjadi urat nadi kehidupan warga—tempat
mandi, mencuci, dan yang paling penting, sumber ikan.
Di tepi kanan, di atas papan kayu lapuk yang disangga
batang pinang, Junai sudah duduk bersila sejak pukul setengah enam. Joran
bambunya tertancap rapi, senar menjuntai ke air yang diam. Sebuah ember kecil
di sampingnya masih kosong, tetapi sudut bibirnya tersenyum tipis. Ia tidak
tergesa. Ia tidak gelisah. Pagi bagi Junai bukanlah tentang hasil, melainkan
tentang ketenangan yang hanya bisa ditemukan di tepi air yang sunyi.
Satu per satu, warga mulai berdatangan. Dengan joran
sederhana, umpan racikan sendiri, dan cerita yang tak pernah habis, mereka
bukan sekadar memancing ikan—mereka memancing harapan. Harapan akan rezeki,
harapan akan ketenangan, harapan bahwa di tengah kerasnya kehidupan di desa
perkebunan sawit, masih ada ruang untuk sekadar duduk diam dan menunggu.
Namun, kanal itu tak selalu ramah. Kadang ia pelit, kadang
ia murka. Dan di sanalah, kehidupan diuji: antara sabar, emosi, persahabatan,
dan ketamakan. Kanal adalah cermin kecil dari dunia yang lebih besar—di mana
air yang tenang bisa menyimpan bahaya di dasar, di mana riak kecil bisa menjadi
gelombang besar, dan di mana setiap orang pada akhirnya harus memilih: menjadi
bagian dari alam, atau melawannya sampai hancur.
BAB 1: Panggilan Pagi di
Ujung Kanal
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika langit di timur
mulai memerah, menyapu embun yang masih bergelayut di dedaunan sawit. Desa Awan
Biru masih setengah tidur. Rumah-rumah papan dengan dinding seng bergeming,
lampu kuning menyala di beberapa dapur, asap mengepul dari cerobong darurat
tempat para ibu memanaskan air untuk kopi dan teh.
Namun di pertigaan jalan setapak yang menghubungkan
perkampungan dengan kanal, keramaian sudah mulai terasa sejak pukul lima pagi.
Warung kopi milik Ujang—bangunan sederhana dari anyaman bambu dengan atap seng
bergelombang—menjadi titik kumpul alami para pemancing sebelum mereka berangkat
ke tepi air.
Ujang sendiri sudah sibuk sejak pukul empat. Tangannya yang
kekar dan kasar karena bertahun-tahun menggoreng dan menimba air, kini sedang
meracik kopi tubruk dalam ceret besar. Kopi hitam pekat campur gula aren—itu
andalannya. Wanginya menusuk hidung, membangunkan siapa pun yang masih
mengantuk.
“Pagi, Mang Ujang! Kopinya jadi belum?” Suara parau datang
dari arah timur. Itu Pak Jajang, sesepuh pemancing desa yang sudah dikenal
sejak puluhan tahun lalu. Rambutnya putih semua, kulitnya keriput seperti buah
sawit kering, tetapi matanya masih tajam membaca arus. Topi caping anyaman
bambu selalu menempel di kepalanya, bahkan saat tidur sekalipun—begitu kata
istrinya.
“Baru jadi, Pak Jajang. Saya tuang dulu,” jawab Ujang
sambil menuangkan kopi panas ke dalam gelas plastik tebal yang sudah terisi
setengah gula aren. “Pagi ini dingin sekali. Cocok buat minum kopi hangat
sambil nunggu ikan.”
“Ikan?” Pak Jajang tertawa kecil, duduk di bangku kayu
panjang di depan warung. “Kopi ini lebih pasti datangnya daripada ikan, Ujang.
Ikan kadang datang kadang tidak. Kopimu selalu ada setiap pagi.”
“Makanya jangan terlalu berharap pada ikan, Pak.
Berharaplah pada kopi,” Ujang menyahut sambil ikut tertawa.
Satu per satu pemuda desa mulai berdatangan. Dadang—pemuda
berbadan kurus dengan jaket lusuh dan rambut yang selalu acak-acakan—menyandarkan
sepeda motor bebeknya di depan warung. Ia baru berusia dua puluh tiga tahun,
tetapi sudah menjadi pemancing yang cukup disegani di kalangan seusianya. Joran
bambu panjang tergantung di punggungnya, ember plastik biru menggantung di
setang motor.
“Pagi semua!” Dadang duduk di samping Pak Jajang. “Mang
Ujang, kopi satu. Tambah gula, ya. Manis biar semangat.”
“Pemuda jaman sekarang, manis-manis terus,” celetuk Pak
Jajang sambil menggeleng. “Dulu saya mancing pakai kopi pahit aja semangat.
Sekarang ikan juga jangan dikasih umpan manis-manis terus. Nanti kena
diabetes.”
Dadang tertawa. “Ikan juga bisa kena diabetes, Pak?”
“Bisa saja. Kalau dikasih umpan kimia terus, iya,” Pak
Jajang menyahut dengan nada yang tiba-tiba berubah sedikit serius. “Tapi kan kalian
anak muda sekarang pakenya umpan alami, ya?”
“Alami, Pak. Saya pakai cacing tanah. Kadang kalau lagi
rajin, cari anak kodok di sawah,” Dadang meyakinkan.
“Anak kodok? Bagus itu,” Pak Jajang mengangguk. “Ikan gabus
doyan. Tapi harus tahu cara pasangnya. Kalau asal tusuk, mati nanti umpan, ikan
juga ogah nyambar.”
Dari dalam warung, Ujang ikut nimbrung. “Pak Jajang ini
memang ahlinya. Dulu saya pernah lihat beliau pasang anak kodok hidup-hidup di
kail, dilempar ke dekat akar sawit, kurang dari lima menit langsung disambar
gabus sebesar paha.”
“Halah, Ujang, jangan dibesar-besarkan,” Pak Jajang
tersenyum malu-malu. “Itu cuma keberuntungan. Memancing itu tujuh puluh persen
sabar, dua puluh persen ilmu, sepuluh persen keberuntungan.”
“Lima belas persen umpan,” Dadang menambahkan.
“Bukan umpan, Dadang. Umpan itu alat. Yang penting adalah
memahami ikan. Kalau kau tahu ikan sedang apa, di mana mereka berada, makanan
alami mereka apa, kau bisa pakai umpan apa saja asalkan sesuai,” Pak Jajang
menjelaskan dengan sabar.
Asep dan Toha datang hampir bersamaan. Asep—pemuda berbadan
tambun dengan kumis tipis yang baru mulai tumbuh—adalah anak tengah dari tiga
bersaudara yang kesehariannya membantu orang tuanya di kebun sawit. Toha—pemuda
paling muda di antara mereka, baru lulus SMA, rambutnya selalu disisir rapi
meski hanya akan pergi ke kanal—adalah pemancing baru yang masih belajar.
“Asep, bawa umpan apa?” tanya Dadang begitu kedua temannya
duduk.
“Cacing dan pelet. Toha bawa anak kodok katanya. Dapat dari
belakang rumah, banyak kecebong kemarin,” jawab Asep sambil mengeluarkan
kantong plastik hitam berisi tanah basah.
Toha mengangguk semangat. “Saya lihat di YouTube, mancing
gabus pakai anak kodok itu jitu. Jadi saya coba.”
Pak Jajang tersenyum melihat semangat anak muda itu.
“YouTube boleh nonton, Toha. Tapi jangan lupa, kanal kita ini beda dengan kanal
di YouTube. Airnya beda, ikannya beda, kebiasaan makannya juga beda. Yang
paling bagus ya belajar langsung dari alam.”
“Itu benar, Pak,” sahut suara dari balik warung. Semua
menoleh.
Itu Junai. Pemuda berusia dua puluh enam tahun itu muncul
dari arah utara dengan langkah santai. Joran bambu di tangan kanan, ember kecil
di tangan kiri, dan senyum tipis yang sudah menjadi ciri khasnya. Junai bukan
tipe pemuda yang banyak bicara, tetapi setiap kali ia membuka suara,
kata-katanya selalu berbobot. Di desa itu, ia dikenal sebagai pemancing paling
sabar dan paling paham tentang kanal.
“Pagi, Jun!” sapa Dadang. “Kopi dulu, nggak? Mang Ujang
baru selesai bikin.”
“Saya minum air putih saja. Nanti kalau sudah dapat ikan
baru kopi,” Junai menjawab sambil duduk di bangku kosong.
“Junai ini memang beda,” Ujang berkomentar sambil
membawakan segelas air putih untuk Junai. “Dia kalau mancing serius banget.
Nggak mau minum kopi katanya biar tangan nggak gemetar.”
“Bukan gitu, Mang,” Junai tersenyum. “Cuma saya lebih suka
perut kosong waktu mancing. Biar saya merasa sama seperti ikan yang juga lapar.
Jadi saya lebih bisa memprediksi gerakan mereka.”
Semua tertawa. Tapi Pak Jajang tidak tertawa. Ia memandang
Junai dengan mata bangga. “Itu namanya ilmu, anak-anak. Memancing bukan cuma
fisik, tapi juga menyatukan diri dengan alam. Junai ini sudah paham itu sejak
kecil.”
Suasana di warung Ujang semakin ramai. Beberapa pemuda lain
ikut bergabung: ada Jarot, pemancing yang selalu gagal dapat ikan besar tetapi
paling ramah; ada Dulah, pemuda yang lebih suka memancing malam daripada siang;
ada juga Aceng, yang terkenal sebagai tukang ngibul alias melebih-lebihkan
hasil pancingannya.
“Musim timur begini, musim susah, ya?” Dadang membuka topik
yang selalu hangat di kalangan pemancing.
“Bukan susah, Dadang. Berubah,” Pak Jajang mengoreksi.
“Musim timur, angin dari timur, udara lebih dingin, air kanal juga dingin.
Ikan-ikan di dasar, mereka males gerak. Metabolisme mereka melambat. Jadi
mereka makan lebih sedikit.”
“Terus gimana dong caranya?” tanya Asep.
“Kita harus tahu di mana mereka. Ikan-ikan di musim timur
suka berkumpul di tempat yang airnya lebih hangat sedikit. Biasanya di dekat
permukaan yang terkena sinar matahari langsung, atau di dekat akar-akar sawit
yang menahan panas. Juga di tikungan-tikungan yang arusnya tidak terlalu
deras.”
“Kalau musim barat?” Toha bertanya penasaran.
“Musim barat? Angin dari barat, biasanya bawa hujan. Air
kanal naik, arus deras, banyak makanan terbawa dari hulu. Ikan jadi aktif. Itu
musim panen,” Pak Jajang menjelaskan. “Tapi hati-hati, musim barat juga musim
banjir. Jangan memancing di tempat yang terlalu curam kalau air naik.”
“Berarti musim timur begini lebih baik nggak usah mancing?”
Dadang bertanya lagi.
“Bukan nggak usah. Tapi harus lebih pintar. Kau harus tahu
spot yang tepat, umpan yang tepat, waktu yang tepat. Kalau musim barat, ikan
bisa dapat di mana saja. Musim timur, kau harus cari mereka di tempat-tempat
tertentu.”
Junai yang dari tadi diam, akhirnya ikut bicara. “Musim
timur begini, yang paling aktif adalah ikan gabus. Mereka tahan dengan air
dingin. Dan mereka suka mangsa yang bergerak. Jadi umpan anak kodok atau cacing
yang masih hidup lebih efektif daripada pelet atau umpan fermentasi.”
“Jadi spot-nya di mana?” Asep menyelidik.
“Dua spot utama: di dekat akar sawit yang menjuntai ke air,
dan di tikungan dekat pohon karet tua yang rindang. Akar sawit untuk gabus,
tikungan untuk nila dan mas yang masih aktif di siang hari.”
Pak Jajang mengangguk setuju. “Junai benar. Saya tadi pagi
lihat dari rumah, air di tikungan itu beriak kecil. Ada ikan mas yang mulai
naik ke permukaan cari udara. Mereka akan makan kalau dikasih umpan fermentasi
yang baunya kuat.”
“Wah, Pak Jajang sudah punya spot rahasia rupanya,” Dadang
menyindir ramah.
“Bukan rahasia. Kanal ini milik bersama. Siapa pun boleh
memancing di mana pun. Tapi kalau kalian malas belajar membaca tanda-tanda
alam, ya jangan harap dapat ikan,” Pak Jajang menimpali.
“Gimana kalau hari
ini kita mancing bareng?” Dadang mengajak tiba-tiba. “Saya sudah bosan mancing
sendiri. Sekalian belajar dari Pak Jajang dan Junai.”
“Saya ikut!” Asep langsung mengangkat tangan.
“Saya juga!” Toha tak mau ketinggalan.
Dulah yang dari tadi diam ikut mengangguk. “Saya juga. Tapi
saya lebih suka mancing malam. Kalau siang panas.”
“Malam nanti juga bisa. Kita bikin dua sesi: siang sama
malam,” Dadang menyusun rencana. “Yang penting kita cari spot yang cocok. Kita
bagi tim.”
Ujang yang mendengar itu dari dalam warung, ikut bersuara.
“Kalau kalian mancing malam, hati-hati di dekat jembatan. Kadang ada ular air.
Juga jangan terlalu ke selatan, dekat perkebunan inti, katanya banyak orang
kota yang mancing pakai setrum.”
“Setrum?” Asep mengernyit. “Ilegal itu.”
“Ilegal memang. Tapi masih ada saja yang berani,” Ujang
menghela napas. “Mereka lebih milih cara cepat. Nggak peduli lingkungan.”
“Kita nggak boleh kayak gitu,” Junai berkata tegas. “Kalau
kita mau mancing, kita harus jaga kanal. Pakai cara yang benar. Ikan kecil
dilepas, sampah dibawa pulang, nggak pakai umpan kimia atau setrum.”
“Setuju!” seru Dadang.
Mereka mulai mendiskusikan spot-spot yang akan dituju.
Junai mengambil sepotong arang bekas bakaran di warung Ujang, lalu menggambar
di tanah. Peta sederhana kanal Desa Awan Biru terbentuk.
“Ini kanal utama,” Junai mulai menjelaskan sambil
menggambar garis panjang berkelok. “Dari utara ke selatan, panjang sekitar dua
kilometer. Ini titik kita sekarang, dekat jembatan. Ini tikungan ke timur, dekat
pohon karet tua. Ini akar sawit yang menjuntai, di selatan jembatan sekitar
tiga ratus meter. Dan ini pintu air, paling selatan, dekat perbatasan
perkebunan.”
Semua pemuda mengerumuni gambar di tanah.
“Di tikungan dekat pohon karet,” Junai melanjutkan, “airnya
lebih dalam, arus lambat, dasarnya berbatu. Cocok buat ikan mas dan nila. Umpan
fermentasi atau pelet yang direndam bagus di sini. Tapi harus lempar agak ke
tengah, jangan terlalu dekat tepi.”
“Di akar sawit yang menjuntai,” Pak Jajang ikut menjelaskan,
“itu surganya gabus. Akar-akar itu tempat mereka bersembunyi. Kalau kau lempar
umpan hidup—cacing atau anak kodok—di dekat situ, mereka akan nyambar. Tapi
kail harus kuat, gabus suka tarik keras dan sembunyi ke akar.”
“Kalau di bawah jembatan?” Dadang bertanya.
“Bawah jembatan,” Junai menjawab, “air paling dalam, arus
lambat, dan teduh. Cocok buat ikan besar yang suka tempat tenang. Tapi karena
dalam, kau butuh pemberat yang cukup. Umpan apa saja bisa, asalkan jatuhnya
tepat di dasar.”
“Kalau di pintu air?” Toha bertanya.
“Pintu air,” Junai menghela napas, “itu spot paling sulit.
Dasarnya berlumpur, arus nggak menentu karena kadang dibuka sama pengelola
perkebunan. Biasanya banyak ikan lele di sana. Umpan cacing atau kecebong. Tapi
hati-hati, kail sering nyangkut di akar atau sampah yang nyangkut di pintu
air.”
“Jadi spot paling aman untuk pemula?” Asep bertanya.
“Tikungan dekat pohon karet,” Junai dan Pak Jajang menjawab
bersamaan.
Mereka saling pandang dan tertawa.
“Tikungan itu paling mudah,” Junai menjelaskan. “Arusnya
nggak terlalu deras, airnya nggak terlalu dalam, dan ikannya banyak. Cocok buat
yang masih belajar.”
“Oke, saya ambil spot tikungan!” Asep langsung mengklaim.
“Saya ambil akar sawit,” kata Dadang. “Saya mau coba
mancing gabus pakai anak kodok.”
“Saya ikut Pak Jajang di bawah jembatan,” Toha memilih.
“Saya ke pintu air nanti malam,” Dulah mengatur rencana.
Junai tersenyum melihat semangat mereka. “Saya di tempat
biasa. Di dekat akar sawit juga, tapi agak ke selatan sedikit. Kalian nanti
kalau ada yang butuh bantuan, teriak aja.”
Matahari mulai naik di ufuk timur. Kabut tipis yang tadinya
menggantung di atas perkebunan mulai lenyap, digantikan sinar keemasan yang
menembus celah-celah daun sawit. Suara burung-burung mulai riuh, bersahutan
dari satu pohon ke pohon lain.
Mereka beranjak dari warung Ujang. Dadang membayar kopinya
dengan uang receh, Asep dan Toha ikut membayar, tetapi Ujang menolak uang dari
Pak Jajang dan Junai.
“Untuk Bapak dan Junai gratis. Kalian sudah cukup banyak
ngasih ilmu ke anak-anak muda ini,” kata Ujang.
“Ilmu itu gratis, Ujang. Jangan dibayar,” Pak Jajang
tersenyum. “Tapi kopinya tetap enak. Makasih.”
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di antara pelepah
sawit yang bergesekan. Embun masih menggantung di ujung daun, menetes ke pundak
dan leher. Di depan mereka, kanal panjang membentang seperti ular hitam yang
sedang istirahat.
Sesampainya di tepi kanal, pemandangan yang biasa sudah
terlihat. Rini—satu-satunya pemancing perempuan di desa itu—sudah duduk di
tempatnya dekat jembatan. Ia berkerudung, memakai sepatu bot karet, dan membawa
ember kecil yang selalu bersih. Rini dikenal teliti: umpannya selalu diukur,
kedalaman kail selalu disesuaikan, dan ia tak pernah bergantung pada
keberuntungan.
“Pagi, Rini!” sapa Junai.
“Pagi, Jun. Pagi, Pak Jajang. Pagi semua,” Rini membalas
dengan senyum. “Wah, ramai sekali hari ini. Ada acara apa?”
“Latihan mancing bareng, Rin,” Dadang menyahut. “Kita mau
belajar spot-spot bagus. Junai dan Pak Jajang jadi gurunya.”
“Bagus itu,” Rini mengangguk. “Saya boleh ikut belajar
juga, kan?”
“Tentu saja,” Junai tersenyum. “Kamu malah bisa jadi guru
juga. Pengalamanmu banyak.”
Mereka mulai menyebar di tepi kanal. Dadang mengambil
posisi di dekat akar sawit yang menjuntai—spot favoritnya untuk mengejar gabus.
Asep dan Toha pergi ke tikungan dekat pohon karet tua. Dulah memilih tempat
teduh di bawah jembatan untuk bersiap mancing malam nanti. Pak Jajang duduk di
spot lamanya di bawah jembatan, sementara Junai memilih tempat di antara akar
sawit dan tikungan—posisi yang memungkinkannya memantau pergerakan ikan di
kedua spot.
Rini memilih tempat tidak jauh dari Junai, di dekat
perbatasan antara tikungan dan akar sawit.
“Jun, kamu pakai umpan apa hari ini?” tanya Rini sambil
merapikan peralatannya.
“Cacing dan anak kodok,” Junai membuka toples plastik kecil
berisi tanah basah dan beberapa ekor anak kodok yang masih kecil—seukuran ruas
jari, berwarna kecoklatan, gesit melompat-lompat. “Gabus lagi aktif di pagi
hari. Nanti siang baru ganti umpan fermentasi buat nila dan mas.”
“Saya pakai cacing saja. Saya coba spot dekat akar sawit,
tapi agak ke tengah. Katanya ada ikan mas juga di sana.”
“Iya, kadang ikan mas suka makan cacing juga kalau lagi
lapar. Coba aja.”
Junai memasang umpan dengan gerakan yang lambat dan penuh
perhatian. Ia mengambil satu ekor anak kodok dari toples, memegangnya dengan
lembut di antara jari telunjuk dan jempol. Dengan kail ukuran sedang—nomor
enam, sedikit lebih besar dari yang biasa dipakai untuk cacing—ia menusuk
bagian punggung anak kodok itu, tepat di bawah kulit, tidak terlalu dalam agar
kodok tetap hidup dan bergerak.
“Lihat, Rini,” Junai menunjukkan cara pasangnya. “Jangan
tusuk terlalu dalam nanti mati. Jangan terlalu dangkal nanti lepas. Tusuk di
punggung, biar kakinya bebas bergerak. Di air, anak kodok akan berenang-renang,
gerakannya bikin gabus kalap.”
Rini memperhatikan dengan saksama. “Kenapa gabus suka anak
kodok?”
“Karena itu makanan alami mereka. Di sawah-sawah de sini,
gabus memangsa anak kodok, kecebong, dan ikan-ikan kecil. Jadi ketika mereka
melihat anak kodok bergerak-gerak di permukaan, naluri mereka langsung aktif.”
“Tapi kenapa tidak pakai umpan hidup lainnya? Seperti ikan
kecil?”
“Bisa juga. Tapi anak kodok lebih tahan hidup di kail. Ikan
kecil kalau ditusuk cepat mati. Anak kodok bisa bertahan berjam-jam, apalagi
kalau pasangnya benar.”
Junai melempar umpannya ke dekat akar sawit yang menjuntai.
Anak kodok itu mendarat di permukaan air dengan percikan kecil, lalu mulai
berenang dengan gerakan-gerakan pendek. Kakinya yang masih bebas mengayuh air,
sesekali menyelam sebentar lalu muncul lagi. Pelampung kecil dari gabus bekas
sandal jepit mengapung tenang beberapa sentimeter di belakangnya.
“Sekarang tinggal tunggu,” kata Junai sambil membasuh
tangannya di air kanal.
“Berapa lama biasanya?”
“Tergantung. Kadang lima menit, kadang sejam. Yang penting
jangan buru-buru narik. Biarkan anak kodok berenang bebas. Kalau gabus melihat,
dia akan mendekat perlahan. Kadang dia hanya mengintip dulu. Kalau merasa aman,
baru dia nyambar.”
Junai mengambil toples lain—ini berisi umpan fermentasi
berwarna kecoklatan yang baunya menusuk. Ia menyiapkan joran keduanya, yang
lebih pendek dengan kail lebih kecil, untuk menargetkan ikan mas dan nila di
tikungan.
“Kamu pakai dua joran?” tanya Rini.
“Iya. Satu untuk gabus dengan anak kodok, satu untuk nila
dan mas dengan umpan fermentasi. Tapi harus tetap waspada. Kalau dua-duanya
digigit bersamaan, bisa repot.”
“Pernah mengalami?”
“Pernah. Dua minggu lalu, joran kiri disambar gabus besar,
joran kanan juga digigit nila. Saya harus milih. Saya lepas yang nila, ambil
yang gabus. Hasilnya? Gabus lepas, nila juga kabur. Dua-duanya nggak dapat.”
Rini tertawa. “Jadi lebih baik satu fokus?”
“Tergantung. Kalau kamu sudah terbiasa, bisa handle dua. Tapi
saya masih belajar.”
Mereka tertawa bersama. Suasana pagi itu hangat meski udara
masih dingin.
Dari arah selatan, suara sepeda motor terdengar mendekat.
Bukan satu, tapi dua. Junai menoleh. Dua motor matic berwarna hitam berhenti di
pinggir jalan setapak, sekitar lima puluh meter dari posisi mereka.
Dua orang turun. Mereka bukan warga desa—itu jelas dari
pakaiannya. Sepatu lapangan yang masih bersih, topi pet yang terlalu rapi untuk
ukuran petani sawit, dan jaket parasut yang tidak cocok dengan udara pagi yang
lembap. Yang satu berkumis tebal, tubuhnya kekar, matanya menyipit seperti
sedang menilai sesuatu. Yang lain berkacamata hitam meski matahari belum terik,
dan membawa tas ransel besar berwarna abu-abu.
Mereka membuka bagasi motor, mengeluarkan peralatan: joran
carbon fiber berwarna hitam dengan rol yang terlihat mahal, tas pendingin besar
berwarna biru, dan sebuah kotak kayu kecil yang diletakkan dengan hati-hati di
samping.
“Itu orang kota,” bisik Rini.
“Saya tahu,” Junai menjawap tanpa mengalihkan pandangan.
“Mereka sering datang?”
“Dua minggu sekali, kata Pak Jajang. Mereka nyewa kolam
pemancingan biasanya, tapi akhir-akhir ini mulai main ke kanal bebas.”
“Ada yang aneh dari mereka?”
Junai mengamati lebih jauh. Kedua orang itu tidak langsung
memancing. Mereka berjalan menyusuri tepi kanal, sesekali berhenti, melihat ke
air, lalu berbisik. Kumis tebal mengambil sesuatu dari kotak kayu—botol plastik
kecil berisi cairan bening—dan meneteskan beberapa tetes ke air.
“Rini, lihat itu.”
Rini menyipitkan mata. “Apa yang mereka teteskan?”
“Tidak tahu. Tapi saya tidak suka.”
Dari kejauhan, Pak Jajang juga memperhatikan. Ia berdiri
dari posisinya di bawah jembatan, memanggil Junai dengan isyarat tangan.
Junai menghampiri. “Ada apa, Pak?”
“Lihat mereka,” Pak Jajang menunjuk ke arah dua orang kota
itu. “Mereka pakai umpan kimia. Saya sudah lihat beberapa kali. Mereka
meneteskan perasa buatan ke air, atau kadang bahan perangsang. Ikan jadi kalap,
makan apa saja.”
“Berbahaya?”
“Sangat. Air bisa tercemar. Ikan yang kenyang umpan kimia
kalau dimakan manusia bisa berbahaya. Apalagi kalau mereka pakai formalin atau
pewarna tekstil.”
“Kita harus lapor?”
“Lapor ke siapa? Pak RT? Dia cuma bilang 'belum ada bukti'.
Kantor perkebunan? Mereka mungkin malah dilindungi karena mereka tamu dari
kota.”
Junai mengepalkan tangannya. “Jadi kita hanya diam?”
“Bukan diam. Kita awasi. Kita kumpulkan bukti. Dan yang
paling penting, kita jangan ikut-ikutan. Biarkan mereka merusak diri sendiri.
Warga yang paham, yang akan selamat.”
Pak Jajang kembali duduk, mengambil jorannya, dan melempar
umpan dengan gerakan yang tenang. Tapi matanya tetap sesekali melirik ke arah
selatan.
Junai kembali ke posisinya. Anak kodok yang tadi dilempar
masih bergerak-gerak di permukaan, tapi belum ada tanda-tanda serangan. Ia
memeriksa joran kedua yang terpasang di tikungan—pelampungnya masih diam, umpan
fermentasi belum disentuh.
Rini mendapat tarikan pertama. Pelampungnya bergerak
naik-turun dengan cepat—tanda ikan kecil yang sedang menggigit-gigit umpan
tanpa benar-benar menelan.
“Jangan narik dulu, Rin,” Junai mengingatkan. “Biarkan dia
makan dulu. Nanti kalau pelampung tenggelam dan bergerak ke samping, baru
tarik.”
Rini menahan tangannya. Pelampung terus bergerak naik-turun
selama hampir satu menit, lalu tiba-tiba tenggelam dan bergerak ke arah timur
dengan cepat.
“Sekarang!” teriak Junai.
Rini menarik jorannya dengan gerakan yang agak kaku—ia
masih belajar. Ada perlawanan, tapi tidak terlalu kuat. Ikan yang muncul di
ujung kail adalah nila berukuran sedang, sekitar setengah kilogram.
“Dapat!” Rini tersenyum lebar. Ia menurunkan ikan itu ke
ember dengan hati-hati.
“Bagus,” Junai memuji. “Itu cara yang benar. Sabar
menunggu, baru tarik.”
“Terima kasih, Jun.”
Tidak lama setelah itu, joran Junai yang terpasang di akar
sawit bergerak. Pelampung dari gabus itu tidak langsung tenggelam, tapi
bergoyang-goyang kecil—tanda ada sesuatu di bawah air yang sedang mengamati
anak kodok.
Junai membiarkan. Ia tahu gabus adalah ikan yang cerdik.
Mereka tidak langsung menyerang mangsa. Mereka mendekat perlahan, mengamati,
kadang hanya menyentuh dengan hidung atau ekor untuk memastikan tidak ada
bahaya.
Pelampung bergoyang lagi. Lalu—srek!
Tarikan keras. Pelampung tenggelam tiba-tiba, senar
menegang, joran Junai melengkung hampir setengah lingkaran.
Junai tidak terburu-buru. Ia membiarkan senar tegang,
memberi sedikit kendor—hanya sedikit—lalu menarik perlahan. Ikan di ujung kail
melawan, berputar-putar, mencoba mencari akar sawit untuk bersembunyi. Tapi
Junai sudah mengantisipasi. Ia mengarahkan tarikannya ke tengah kanal,
menjauhkan ikan dari akar-akar yang bisa memotong senar.
Tarikan demi tarikan, Junai menguras energi ikan. Setelah
beberapa menit, seekor ikan gabus besar—panjangnya hampir setengah meter,
tubuhnya loreng hitam kehijauan, matanya bulat tajam—muncul ke permukaan.
“Wah!” teriak Dadang dari kejauhan. “Junai dapat gabus
besar!”
Pak Jajang tersenyum dari bawah jembatan. Asep dan Toha
berhenti memancing untuk melihat. Rini mengeluarkan ponselnya, memotret Junai
yang sedang mengangkat gabus ke tepi.
“Berapa, Jun?” tanya Dadang yang berlari mendekat.
Junai menimbang ikan itu di tangannya. “Sekitar dua kilo
lebih.”
“Gila! Pakai anak kodok?”
“Iya. Seperti yang saya bilang, gabus suka mangsa
bergerak.”
Junai memasukkan gabus itu ke ember besar yang sudah
disiapkan. Ikan itu masih menggelepar kuat, ekornya memercikkan air ke
mana-mana.
“Junai, ajarin aku,” pinta Dadang. “Aku sudah dua jam di
sini, belum dapat apa-apa. Pakai anak kodok juga.”
Junai menghampiri spot Dadang. Ia memeriksa posisi
Dadang—terlalu dekat dengan akar sawit yang lebat, dan umpan anak kodoknya
terpasang terlalu dalam sehingga kodok itu sudah mati dan tidak bergerak.
“Ini masalahnya, Dadang. Posisi kau terlalu dekat akar.
Kalau gabus nyambar, dia bisa langsung masuk ke akar dan kailmu nyangkut. Coba
mundur dua meter ke tengah, lempar lebih ke arah air terbuka.”
“Terus umpan?”
“Umpanmu mati. Ganti yang masih hidup. Tusuk di punggung,
dangkal saja. Biarkan dia bergerak.”
Dadang mengikuti saran Junai. Ia mengganti anak kodok
dengan yang baru, memundurkan posisinya, dan melempar ke arah yang ditunjukkan.
“Sekarang tunggu. Jangan buru-buru narik. Biarkan kodok
berenang.”
Tidak sampai lima belas menit, pelampung Dadang bergerak.
Tarikan tidak sekeras yang tadi, tapi cukup kuat. Dadang menarik dengan
sabar—kali ini ia tidak terburu-buru. Seekor gabus berukuran sekitar satu
kilogram muncul.
“Dapat! Dapat!” Dadang melompat kegirangan.
Asep dan Toha dari kejauhan ikut bersorak.
Menjelang pukul sepuluh, matahari mulai meninggi. Udara
yang tadinya dingin berganti hangat, bahkan sedikit gerah di beberapa titik
yang tidak teduh. Satu per satu pemancing mulai pulang.
Asep dan Toha tidak mendapatkan ikan besar, tapi
masing-masing membawa dua ekor nila ukuran sedang. Mereka tetap senang—bagi
mereka, pengalaman hari ini lebih berharga daripada hasil.
Pak Jajang mendapat tiga ekor ikan mas. Rini menambah
koleksinya menjadi dua ekor nila. Dadang membawa pulang gabus satu kilo itu
dengan bangga. Junai membawa gabus dua kilo lebih dan satu ekor nila yang
didapat dari joran keduanya.
Yang paling menarik perhatian adalah dua orang kota itu.
Ketika mereka pulang, tas pendingin mereka menggembung—tanda banyak ikan.
Mereka melintas di belakang rombongan Junai tanpa menyapa, hanya saling berbisik.
Kumis tebal sempat melirik ke arah umpan fermentasi Junai dan terkekeh.
“Umpan kampungan,” bisiknya cukup keras.
Dadang mendengar itu dan hampir melabrak, tapi Junai
menahannya. “Biarkan. Yang penting kita tahu kita sudah benar.”
Mereka berkumpul kembali di warung Ujang. Ujang sudah
menyiapkan gorengan dan teh manis untuk semua.
“Ceritakan, bagaimana hari ini?” tanya Ujang sambil
menyajikan pisang goreng.
Satu per satu mereka bercerita. Dadang dengan penuh
semangat menceritakan bagaimana Junai mengajarinya memasang anak kodok yang
benar. Asep dan Toha bercerita tentang perjuangan mereka di tikungan. Rini
bercerita tentang nila pertamanya yang didapat dengan kesabaran.
Pak Jajang mendengarkan sambil tersenyum. “Kalian semua
sudah belajar hari ini. Dan itu lebih penting daripada berapa banyak ikan yang
kalian bawa pulang.”
“Tapi Pak,” Dadang bertanya, “dua orang kota itu dapat
banyak sekali. Tas mereka penuh. Apakah mereka pakai umpan kimia?”
Pak Jajang menghela napas. “Mungkin. Saya lihat mereka
meneteskan sesuatu ke air. Itu bukan cara yang baik, Dadang. Mereka mungkin
pulang dengan banyak ikan hari ini, tapi besok, lusa, kanal ini bisa rusak.
Ikan-ikan akan mati atau pergi. Dan kita semua yang rugi.”
“Kenapa mereka tega?” tanya Toha polos.
“Karena mereka tidak tinggal di sini, Nak. Bagi mereka,
kanal ini hanya tempat mengambil ikan. Bukan rumah. Bukan kehidupan,” Pak
Jajang menjawab dengan nada yang sedikit sedih.
Junai yang dari tadi diam, akhirnya bicara. “Kita tidak
bisa menghentikan mereka dengan paksa. Tapi kita bisa menjaga kanal ini dengan
cara kita. Dan kita bisa mengajarkan anak-anak kita, adik-adik kita,
teman-teman kita, untuk tidak mengikuti cara mereka. Kanal ini akan tetap ada
untuk kita kalau kita menjaganya.”
“Setuju,” Ujang mengangkat gelas tehnya. “Untuk kanal
kita.”
“Untuk kanal kita!” seru yang lain.
Mereka menenggak teh bersama. Matahari terus naik,
menerangi desa Awan Biru dengan cahaya yang hangat. Di kejauhan, kanal mengalir
tenang—menyimpan rahasia, menunggu waktu.
BAB 2: Racikan Umpan dan
Rahasia Lama
Pukul empat sore, matahari mulai miring ke barat. Sinar
keemasan menembus celah-celah dinding bambu rumah Junai, menciptakan pola-pola
cahaya yang bergoyang di lantai tanah yang dipadatkan. Rumah Junai memang
sederhana—dinding anyaman bambu, atap rumbia yang sudah mulai rapuh di beberapa
bagian, dan beranda kecil yang menghadap ke timur. Tapi bagi warga Desa Awan
Biru, rumah ini sering menjadi tempat berkumpul yang hangat. Bukan karena
kemewahannya, tapi karena ketulusan penghuninya.
Junai baru saja selesai membersihkan peralatan mancingnya
ketika suara sepeda motor tua milik Pak Jajang terdengar dari kejauhan.
Mesinnya menggerung-gerung seperti orang batuk, disertai suara knalpot yang
bolong di beberapa bagian.
“Junai! Junai!” suara parau Pak Jajang terdengar sebelum
motornya benar-benar berhenti.
Junai keluar dari dapur, tangannya masih basah bekas
mencuci beras. “Ada apa, Pak? Kok ramai?”
Pak Jajang turun dari motornya dengan hati-hati. Usianya
memang sudah tidak muda lagi—tujuh puluh dua tahun, kata orang—tapi semangatnya
masih seperti anak muda. Ia membawa nampan besar di tangannya, ditutup kain
putih bersulam bunga yang dibuat istrinya. “Bawa singkong rebus sama teh pahit.
Buat teman ngobrol.”
“Wah, repot-repot, Pak,” Junai mengambil nampan itu.
“Padahal saya cuma masak nasi sama sayur.”
“Nggak repot. Istri saya lagi banyak rebus singkong.
Katanya mau dijual, tapi saya ambil dulu buat kita-kita. Biar nanti diganti
sama ikan,” Pak Jajang tersenyum nakal.
Belum sempat Junai menjawab, suara motor lain terdengar.
Kali ini lebih halus—motor matic biru milik Rini. Ia turun dengan membawa tas
ransel kecil dan sebuah buku catatan yang selalu menjadi teman setianya.
“Pagi—eh, sore, Jun. Saya bawa buku catatan. Semalam saya
baru selesai menggambar beberapa jenis ikan yang pernah saya lihat di kanal.
Saya mau minta pendapat Pak Jajang dan Junai,” kata Rini sambil membuka tasnya.
“Masuk dulu, Rin. Masih ada yang belum datang,” Junai
mempersilakan.
“Siapa lagi?”
“Dadang, Asep, Toha. Mereka bilang mau belajar bikin umpan.
Katanya dari tadi pagi masih penasaran.”
Rini tersenyum. “Wah, semangat mereka luar biasa. Biasanya
anak-anak muda sekarang lebih suka main ponsel daripada belajar meracik umpan.”
“Itu karena mereka lihat hasilnya tadi pagi. Junai dapat
gabus dua kilo lebih, Dadang dapat satu kilo, saya dapat tiga ekor mas. Itu
lebih membujuk daripada seribu kata-kata,” Pak Jajang menimpali sambil duduk di
kursi bambu kesayangan Junai.
Tak lama kemudian, Ujang datang. Ia tidak membawa motor,
tapi berjalan kaki dari warungnya yang hanya berjarak dua rumah dari Junai. Di
tangannya, ia membawa bungkusan kertas minyak berisi pisang goreng dan ubi
goreng. Wangi gorengan itu langsung menyebar ke seluruh pekarangan.
“Mang Ujang, banyak amat bawaannya?” Junai terkejut.
“Buat banyak orang, banyak juga bawaannya. Saya tahu
anak-anak muda itu pasti lahap. Lagipula, ini sekalian promosi. Siapa tahu
mereka mau beli gorengan di warung saya besok,” Ujang mengedipkan mata.
Junai tertawa. “Mereka pasti beli, Mang. Apalagi kalau
dapat ikan besar, pasti mampir ke warung dulu sebelum pulang.”
“Nah, itu dia. Saya investasi dulu sekarang, biar besok
untung,” Ujang bercanda.
Dadang, Asep, dan Toha datang hampir bersamaan. Dadang
masih dengan jaket lusuhnya, Asep dengan kumis tipis yang mulai tumbuh, dan
Toha dengan rambut yang tetap rapi meski seharian di kanal. Mereka bertiga
tampak masih bersemangat membicarakan pengalaman mancing pagi tadi.
“Jun! Tadi saya coba hitung, gabus saya itu satu kilo dua
ratus!” Dadang langsung bercerita begitu masuk pekarangan.
“Kurang timbang, Dadang,” Asep menyela. “Kayaknya cuma satu
kilo. Saya lihat dari kejauhan.”
“Satu kilo dua! Saya timbang pake timbangan ikan punya ibu
saya!”
“Timbangan buat ikan asin itu, Dadang. Udah pasti miring,”
Toha menambahkan sambil tertawa.
Mereka bertiga masuk ke beranda, duduk bersila di atas
tikar pandan yang sudah agak usang. Rini sudah membuka buku catatannya, Pak
Jajang meregangkan kakinya, Ujang meletakkan gorengan di tengah, dan Junai
mengambil baskom besar dari dapur.
“Junai, ajarin kami
bikin umpan,” pinta Asep begitu semua duduk rapi. Matanya berbinar penuh harap.
“Iya, Jun. Saya tadi pakai pelet biasa, zonk. Dapat cuma
dua ekor kecil. Padahal saya sudah pakai pelet mahal dari toko kota,” keluh
Dadang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Junai tersenyum. Ia mengambil baskom besar dari
dapur—baskom aluminium yang sudah penyok di beberapa sisi, warisan dari ibunya
yang sudah meninggal dua tahun lalu. Ia meletakkannya di tengah-tengah mereka,
lalu berjalan ke dapur dan mengeluarkan bahan-bahan satu per satu: karung kecil
berisi dedak halus, setengah butir kelapa yang sudah diparut, terasi yang sudah
disangrai hingga kering dan dihaluskan, serta sebuah toples plastik berisi
cairan kecoklatan yang baunya langsung menyebar ke seluruh ruangan begitu
tutupnya dibuka.
“Aduh, baunya!” Toha memegang hidung, tapi tetap tersenyum.
“Wanginya... khas,” kata Asep sambil sedikit meringis,
berusaha diplomatis.
Dadang mencium lebih dalam. “Ini kayak bau tape, tapi lebih
tajam. Dan ada bau terasi juga.”
“Itu dia,” Junai mengangguk bangga. “Ini umpan fermentasi.
Bahan dasarnya sederhana: dedak, ampas kelapa, sedikit terasi, dan air rendaman
nasi basi. Didiamkan tiga hari dalam toples tertutup. Bau? Menyengat. Tapi ikan
mas dan nila di kanal kita suka.”
“Tiga hari?” Toha mengernyit. “Lama juga.”
“Itu minimal. Kadang saya fermentasi seminggu kalau mau
baunya lebih kuat. Tapi hati-hati, kalau terlalu lama bisa terlalu asam dan
ikan malah ogah. Kuncinya pas—tiga sampai lima hari paling aman,” Junai
menjelaskan sambil menuangkan dedak ke dalam baskom.
Pak Jajang yang dari tadi memperhatikan, ikut bersuara.
“Junai ini murid terbaik saya. Dulu saya ajarin racikan umpan fermentasi waktu
dia masih SMA. Sekarang dia sudah lebih jago dari saya. Bahkan kadang saya
minta racikannya kalau mau mancing di tikungan.”
“Ah, Pak Jajang melebih-lebihkan,” Junai tersenyum malu,
tangannya terus mengaduk adonan.
“Bukan melebih-lebihkan. Memang. Tapi Jun, kau ingat dulu
pertama kali saya ajarin fermentasi? Kau malah muntah-muntah karena baunya,”
Pak Jajang tertawa mengenang.
“Iya, Pak. Saya ingat. Waktu itu saya pikir umpan yang baik
harus wangi. Ternyata salah besar. Ikan mas dan nila di kanal kita doyan bau
menyengat.”
“Kenapa bisa begitu, Jun?” tanya Rini penasaran. Pena di
tangannya sudah siap mencatat.
“Karena di kanal kita, sumber makanan alami ikan-ikan itu
banyak dari fermentasi buah sawit yang jatuh ke air. Buah sawit yang masak dan
jatuh ke kanal akan membusuk, difermentasi oleh air dan bakteri alami. Baunya
mirip dengan umpan fermentasi ini. Jadi ikan-ikan sudah terbiasa. Ketika mereka
mencium bau ini, otak mereka langsung bilang: 'ini makanan.'”
“Pintar,” Ujang mengacungkan jempol. “Jadi kuncinya bukan
bau wangi, tapi bau yang familiar.”
“Tepat sekali, Mang Ujang,” Junai mengangguk.
Dadang yang dari tadi memperhatikan, tiba-tiba bertanya,
“Kalau cacing tanah kenapa ampuh? Bau cacing kan nggak kayak gitu.”
Pak Jajang yang menjawab. “Cacing tanah adalah makanan
alami hampir semua ikan air tawar. Di alam, cacing terbawa arus hujan ke kanal,
ikan sudah tahu itu sumber protein. Jadi meski baunya nggak kayak fermentasi,
ikan tetap doyan karena naluri mereka.”
“Terus anak kodok?” Toha bertanya.
“Anak kodok,” Junai menyambung, “itu makanan favorit gabus.
Di sawah-sawah sekitar desa kita, gabus memangsa anak kodok dan kecebong. Jadi
ketika mereka melihat anak kodok bergerak-gerak di permukaan air, naluri
berburu mereka langsung aktif. Apalagi kalau anak kodok itu masih hidup dan
bergerak—itu seperti bendera merah bagi banteng.”
“Jadi setiap umpan punya fungsi dan target ikan yang
berbeda?” Rini mencatat cepat.
“Iya,” Junai mengangguk. “Memancing itu seperti berobat ke
dokter. Kau tidak bisa kasih obat yang sama untuk semua penyakit. Kalau mau
ikan mas, pakai umpan fermentasi. Kalau mau gabus, pakai anak kodok atau
cacing. Kalau mau lele, pakai cacing atau kecebong di dasar. Kalau mau nila,
jangkrik atau pelet yang agak keras.”
“Nah, itu tepat,” Pak Jajang menambahkan. “Setiap umpan
punya fungsi. Cacing tanah cocok untuk ikan yang makan di dasar, seperti lele
dan gabus. Anak kodok cocok untuk gabus yang suka mangsa bergerak di permukaan.
Jangkrik cocok untuk ikan nila yang suka serangga jatuh. Dan umpan fermentasi
cocok untuk ikan mas yang doyan bau-bauan.”
“Tapi ada yang bilang, umpan yang paling ampuh adalah umpan
yang bisa memancing semua jenis ikan,” celetuk Asep.
Semua terdiam sejenak. Pak Jajang menggeleng pelan. “Itu
mitos, Asep. Tidak ada umpan yang bisa memancing semua ikan. Kalau ada yang
mengaku begitu, biasanya itu umpan kimia. Dan itu bukan memancing—itu
meracuni.”
Rini yang dari tadi mencatat, mengangkat pena lagi. “Pak
Jajang, bagaimana dengan umpan kimia yang dipakai orang kota itu? Saya pernah
baca di internet, ada umpan yang dicampur perasa buatan sampai ikan jadi kalap.
Apakah itu benar-benar ampuh?”
Suasana berubah. Pak Jajang yang tadinya tersenyum, kini
wajahnya sedikit mengeras. Ia meneguk teh pahitnya perlahan, seperti sedang
mengumpulkan kata-kata.
“Umpan kimia,” Pak Jajang memulai dengan suara yang lebih
rendah dari biasanya, “itu racikannya pakai perasa buatan—vanili, durian,
kadang ada yang pakai essence pandan. Tapi yang paling bahaya adalah yang pakai
bahan perangsang. Bukan perasa biasa, tapi perangsang—bahan kimia yang merangsang
sistem saraf ikan. Ikan jadi kalap, kehilangan rasa takut, makan apa saja yang
ada di depan matanya.”
“Kalau begitu, kenapa tidak dipakai saja?” tanya Dadang
dengan nada polos, tapi segera menyesal setelah melihat tatapan sinis dari
Rini.
“Kau tahu, Dadang,” Pak Jajang melanjutkan, “saya pernah
lihat langsung dampaknya. Sekitar lima belas tahun lalu, ada pemancing dari
kota yang pakai umpan kimia di kanal ini. Dalam waktu dua jam, mereka dapat
puluhan ikan—besar semua. Warga desa pada iri. Ada yang ikut-ikutan beli umpan
kimia. Tapi dalam seminggu, apa yang terjadi?”
Semua diam menunggu.
“Ikan-ikan kecil mati. Telur-telur ikan di akar-akar sawit
hancur. Air kanal berubah warna jadi kehijauan, berminyak. Dan selama tiga
bulan setelah itu, tidak ada satu pun ikan yang bisa ditangkap. Kanal mati.
Benar-benar mati. Warga yang menggantungkan hidup dari ikan—baik untuk makan
maupun dijual—terpaksa beli ikan dari luar. Harga naik, anak-anak kekurangan
gizi.”
“Astaga,” Ujang menghela napas. “Saya baru dengar cerita
itu.”
“Karena waktu itu kau masih kecil, Ujang. Mungkin kau
ingat, dulu pernah ada masa ikan susah didapat. Itu penyebabnya.”
“Saya ingat,” Ujang mengangguk. “Waktu itu ibu saya sampai
beli ikan asin dari luar desa karena ikan segar nggak ada.”
“Nah, itu,” Pak Jajang menunjuk ke arah Ujang. “Jadi kalau
ada yang bilang umpan kimia itu ampuh, ya benar. Ampuh untuk merusak. Ampuh
untuk keuntungan sesaat. Tapi setelah itu, semua rugi.”
“Tapi katanya ada yang pakai perasa alami, Pak,” Dadang
masih mencoba membela. “Ekstrak rumput laut, fermentasi ikan, itu kan alami.”
Junai yang dari tadi diam, akhirnya bicara. “Dadang, perasa
alami dan perasa kimia itu beda. Tapi masalahnya, di pasaran sekarang susah
dibedakan. Banyak yang jualan umpan dengan label 'alami' tapi isinya campuran
bahan kimia. Dan satu lagi—meskipun perasanya alami, kalau penggunaannya
berlebihan, tetap bisa mengganggu ekosistem. Apa pun yang berlebihan itu tidak
baik.”
“Tapi kan kita butuh hasil, Jun,” Dadang sedikit
bersikeras. “Kita mancing kan cari ikan. Kalau bisa lebih cepat dan lebih
banyak, kenapa tidak?”
Rini yang tadinya diam, kini ikut angkat bicara. Suaranya
tegas, tapi tidak meninggi. “Dadang, coba pikir. Kalau hari ini kita dapat
seratus ekor ikan pakai umpan kimia, tapi besok kanal ini mati dan tidak ada
ikan lagi selama satu tahun, itu untung atau rugi? Seratus ekor hari ini, atau
ribuan ekor selama satu tahun ke depan?”
Dadang terdiam.
“Dan belum lagi,” Rini melanjutkan, “ikan yang kena umpan
kimia itu kalau dimakan manusia, kandungan kimianya bisa masuk ke tubuh kita.
Belum ada penelitian yang cukup tentang efek jangka panjangnya. Tapi yang
jelas, tidak ada yang mau makan ikan yang sudah terkontaminasi bahan kimia,
kan?”
Asep yang dari tadi hanya mendengarkan, akhirnya buka
suara. “Saya setuju sama Rini. Lebih baik sedikit tapi aman, daripada banyak
tapi nggak jelas. Lagipula, buat apa banyak-banyak kalau cuma buat makan
sendiri? Ikan segar beberapa ekor sudah cukup buat seminggu.”
“Nah, itu dia,” Ujang menimpali. “Orang desa kita itu
konsumsi ikannya nggak sebanyak itu. Kecuali kalau mau dijual. Tapi kalau
dijual, nanti ikannya ke kota, yang makan orang kota, dan mereka nggak tahu
ikannya dari umpan kimia. Itu sama saja dengan menipu.”
Pak Jajang mengangguk. “Ujang benar. Kita hidup di desa ini
dengan prinsip kejujuran. Hasil bumi kita—sawit, ikan, sayuran—kalau dijual ke
orang lain, harus jujur asalnya. Jangan sampai orang kota makan ikan dari kanal
kita dan kena penyakit karena kita pakai umpan kimia. Itu dosa.”
Suasana hening sejenak. Hanya suara jangkrik di kebun
belakang yang mulai terdengar, tanda senja semakin dekat.
“Maaf,” Dadang akhirnya berkata dengan suara rendah. “Saya
cuma kepikiran tadi. Saya nggak akan pakai umpan kimia. Saya janji.”
Junai tersenyum. “Tidak perlu minta maaf, Dadang.
Pertanyaanmu bagus. Dengan bertanya, kita jadi paham. Lebih baik bertanya
sekarang daripada nyoba sendiri dan menyesal kemudian.”
Toha yang sejak tadi diam, tiba-tiba bertanya dengan suara
pelan, hampir berbisik. “Mang Ujang, Darto katanya pakai umpan kimia juga? Saya
dengar dari teman, Darto sering beli umpan di kota. Bukan pelet biasa, tapi
yang dalam kemasan tertutup, nggak ada labelnya.”
Semua terdiam. Nama Darto memang selalu menjadi topik
sensitif di kalangan pemancing Desa Awan Biru. Darto adalah pemancing paling
ambisius, paling kompetitif, dan paling gampang emosi. Ia selalu ingin menjadi
yang terbaik, paling banyak, paling besar. Dan ia tidak segan-segan menggunakan
cara-cara yang dipertanyakan untuk mencapai itu.
Ujang menghela napas panjang. “Saya nggak mau bilang iya
atau tidak. Tapi yang jelas, Darto sering beli umpan dari toko di kota. Saya
pernah lihat dia bawa pulang botol plastik warna biru, isinya cairan. Saya
tanya itu apa, dia bilang 'perasa ikan'. Saya tanya perasa apa, dia cuma
senyum.”
“Perasa ikan?” Pak Jajang mengernyit. “Perasa ikan yang
dijual bebas biasanya aman kalau memang ekstrak alami. Tapi kalau botolnya
nggak ada label, itu tanda bahaya. Umpan ilegal biasanya dijual tanpa label,
tanpa izin edar.”
“Darto pernah cerita sama saya,” Dadang ikut berbisik.
“Katanya dia punya umpan rahasia yang bikin ikan kalap. Dalam setengah jam bisa
dapat puluhan. Tapi dia nggak mau kasih tahu bahannya. Katanya rahasia dagang.”
“Rahasia dagang?” Rini mendengus. “Memancing itu bukan bisnis,
Dadang. Memancing adalah cara kita berinteraksi dengan alam. Kalau pakai cara
curang, namanya bukan memancing, namanya menipu.”
“Darto itu orangnya ambisius, Rin,” Pak Jajang menjelaskan
dengan nada yang lebih bijak. “Ia selalu ingin menang, ingin paling banyak.
Tapi ambisi yang tidak terkendali bisa merusak. Bukan hanya merusak dirinya
sendiri, tapi juga merusak orang lain. Kanal ini, ikan-ikan ini, mereka tidak
peduli siapa yang paling banyak. Mereka hanya ingin hidup. Tapi Darto
sepertinya lupa itu.”
“Darto pernah menangis waktu kecil,” Ujang tiba-tiba
mengenang. “Waktu itu ada lomba mancing anak-anak se-desa. Darto kalah telak
dari Junai. Padahal Darto sudah pakai joran baru dari ayahnya, umpan pabrikan,
semua serba mahal. Junai cuma pakai joran bambu pemberian Pak Jajang dan umpan
cacing tanah. Darto nangis seharian. Sejak itu, dia seperti punya dendam. Dia
ingin buktikan kalau dia bisa lebih baik dari Junai.”
Junai yang disebut-sebut hanya tersenyum tipis. “Saya tidak
pernah merasa bersaing dengan Darto. Saya hanya memancing untuk diri saya
sendiri. Kalau Darto ingin jadi yang terbaik, biarkan. Tapi jangan sampai
merusak kanal.”
“Darto itu sebenarnya baik, Jun,” Dadang membela. “Cuma
kadang terlalu ambisius. Mungkin karena tekanan dari orang tuanya juga. Ayah
Darto dulu pemancing handal, terkenal se-desa. Tapi sekarang sudah tua dan
sakit-sakitan. Darto mungkin ingin membanggakan ayahnya.”
“Membanggakan orang tua itu baik,” kata Pak Jajang. “Tapi
caranya harus benar. Membanggakan dengan cara merusak—itu bukan kebanggaan, itu
aib.”
“Kita nggak usah bicara soal Darto dulu,” Junai mencairkan
suasana. “Sekarang, siapa yang mau belajar meracik umpan fermentasi? Saya belum
selesai mengaduk ini.”
Semua pemuda itu mengacungkan tangan. Bahkan Dadang yang
tadi sempat mempertanyakan umpan kimia, ikut mengangkat tangannya
tinggi-tinggi.
Junai melanjutkan demonstrasinya. Adonan dedak dan ampas
kelapa sudah tercampur rata. Ia mengambil terasi yang sudah disangrai dan
dihaluskan, lalu menaburkannya sedikit demi sedikit ke dalam baskom sambil
terus mengaduk.
“Terasi ini fungsinya bukan hanya untuk bau, tapi juga
untuk rasa. Ikan mas dan nila punya indera perasa yang sensitif. Mereka bisa
membedakan mana makanan yang asin, manis, asam, dan gurih. Terasi memberikan
rasa gurih yang mereka suka.”
“Tapi bukannya terasi asin?” tanya Toha.
“Iya, asin. Tapi ikan air tawar tetap butuh garam dalam
jumlah kecil. Garam membantu keseimbangan elektrolit mereka. Yang berlebihan
itu yang berbahaya. Jadi jangan terlalu banyak terasinya. Cukup sejumput untuk
satu baskom.”
Junai mengambil toples berisi cairan kecoklatan—air
rendaman nasi basi yang sudah difermentasi tiga hari.
“Ini kuncinya. Air rendaman nasi basi. Nasi yang dibiarkan
basi selama tiga hari akan menghasilkan bakteri baik yang membantu fermentasi.
Campurkan ini sedikit demi sedikit ke adonan. Jangan terlalu basah, jangan
terlalu kering. Konsistensinya harus seperti pasir basah—bisa dikepal tapi
mudah hancur.”
Ia menuangkan cairan itu perlahan sambil terus mengaduk
dengan tangan kanannya. Tangan kirinya sesekali meremas adonan untuk mengecek
kekentalan.
“Nah, kira-kira begini,” Junai menunjukkan adonan yang
sudah jadi. “Sekarang, kalian coba.”
Satu per satu para pemuda itu maju. Dadang menjadi yang
pertama. Ia menuangkan dedak ke baskom kecil yang disediakan Junai, lalu
menambahkan ampas kelapa.
“Perbandingannya berapa, Jun?” tanya Dadang.
“Dua banding satu. Dua bagian dedak, satu bagian ampas
kelapa. Kalau mau lebih lengket, bisa tambah sedikit tapioka. Tapi saya tidak
pernah pakai tapioka karena bisa bikin air cepat keruh.”
Dadang mengaduk adonannya dengan semangat. Tangannya yang
kekar karena biasa bekerja di kebun, mengaduk dengan gerakan melingkar yang
cepat.
“Pelan-pelan, Dadang,” Junai tertawa. “Nanti terasinya
kemana-mana. Ini bukan aduk semen.”
Asep dan Toha ikut mencoba. Asep lebih berhati-hati,
sementara Toha terlalu bersemangat hingga adonannya terlalu basah karena
kebanyakan air rendaman nasi.
“Toha, itu kebanyakan air,” Junai memperbaiki. “Tambahkan
dedak lagi sedikit.”
“Maaf, Jun. Saya kira makin basah makin bagus.”
“Tidak. Kalau terlalu basah, umpan akan hancur begitu kena
air. Tidak akan bertahan di kail. Kalau terlalu kering, dia akan keras dan
tidak mengeluarkan bau. Kuncinya pas.”
Rini yang dari tadi hanya memperhatikan, akhirnya ikut
mencoba. Dengan teliti, ia mengukur dedak dan ampas kelapa, menaburkan terasi
sejumput, lalu menambahkan air rendaman nasi setetes demi setetes. Tangannya
yang mungil mengaduk dengan sabar.
“Wah, Rini ini malah paling bagus,” puji Pak Jajang.
“Lihat, konsistensinya pas. Bukan soal kekuatan, tapi soal ketelitian.”
Rini tersenyum malu. “Saya cuma ikutin instruksi Junai
saja.”
“Nah, sekarang setelah adonan jadi, apa yang harus
dilakukan?” tanya Junai kepada semua.
“Difermentasi?” Dadang menjawab.
“Iya. Masukkan ke dalam wadah tertutup. Toples plastik atau
stoples kaca. Tutup rapat. Simpan di tempat yang sejuk, tidak terkena sinar
matahari langsung. Tiga hari. Jangan dibuka-buka selama tiga hari. Kalau
dibuka, udara masuk, fermentasinya bisa gagal.”
“Tiga hari? Lama amat,” keluh Asep lagi.
Junai tersenyum. “Memancing itu mengajarkan kesabaran,
Asep. Dari racik umpan saja kita sudah dilatih sabar. Kalau tidak sabar, ya
beli pelet instan di warung. Tapi hasilnya ya standar. Tidak akan seampuh umpan
fermentasi yang dibuat sendiri.”
“Junai benar,” Pak Jajang menambahkan. “Saya sudah puluhan
tahun memancing. Saya sudah coba semua jenis umpan—pelet pabrikan mahal, umpan
kimia, umpan hidup, umpan fermentasi. Yang paling konsisten hasilnya adalah umpan
fermentasi buatan sendiri. Ikan mas dan nila di kanal kita sudah hafal bau ini.
Begitu mereka mencium, mereka datang. Bukan karena lapar, tapi karena
penasaran. Bau fermentasi itu seperti panggilan bagi mereka.”
“Kenapa tidak semua pemancing pakai umpan fermentasi kalau
begitu?” tanya Toha.
“Karena malas, Toha,” Ujang menjawab sambil tertawa.
“Mereka malas nunggu tiga hari. Mereka maunya instan. Beli di toko, langsung
pakai. Hasilnya? Ya seperti yang kalian lihat—Dadang tadi pagi cuma dapat dua
ekor kecil pakai pelet mahal, sementara Junai dapat gabus dua kilo lebih pakai
anak kodok dan umpan fermentasi.”
Dadang tersenyum masam. “Iya, saya mengaku kalah. Tapi
mulai sekarang saya akan bikin umpan fermentasi sendiri.”
“Bagus,” Junai mengacungkan jempol. “Nanti kalau sudah
jadi, saya kasih tahu cara penggunaannya. Tidak semua spot cocok untuk umpan
fermentasi. Di tikungan yang arusnya deras, umpan ini cepat hanyut. Lebih cocok
di spot yang airnya tenang, seperti di bawah jembatan atau di teluk kecil.”
Pak Jajang yang dari tadi hanya memperhatikan, tiba-tiba
berdiri dan berjalan ke arah jendela. Matanya menatap ke kejauhan, ke arah
kanal yang mulai gelap diterpa senja.
“Kalian tahu,” Pak Jajang memulai dengan suara yang dalam,
“umpan fermentasi ini bukan hanya soal menangkap ikan. Ini soal menjaga
hubungan dengan kanal. Dulu, kakek saya mengajarkan cara ini kepada ayah saya.
Ayah saya mengajarkan kepada saya. Dan saya mengajarkan kepada Junai. Ini bukan
sekadar racikan—ini adalah warisan.”
“Warisan?” Dadang mengernyit.
“Iya. Warisan leluhur. Dulu, sebelum ada perkebunan sawit,
sebelum ada pupuk kimia dan pestisida, kanal ini adalah sungai kecil yang
jernih. Airnya bisa diminum. Ikan-ikan berenang bebas tanpa takut. Kakek saya
memancing dengan umpan sederhana—cacing, jangkrik, dan fermentasi sederhana
dari singkong atau nasi. Beliau tidak pernah mengambil ikan lebih dari yang
dibutuhkan. Ikan besar diambil, ikan kecil dilepas. Itu aturannya.”
“Kenapa harus dilepas?” tanya Toha.
“Karena ikan kecil adalah masa depan. Kalau kita ambil ikan
kecil, tidak akan ada ikan besar di kemudian hari. Dulu orang tua kita paham
itu. Mereka tidak serakah. Mereka mengambil secukupnya, meninggalkan cukup
untuk alam.”
“Sekarang?” Rini bertanya, meski sepertinya sudah tahu
jawabannya.
“Sekarang,” Pak Jajang menghela napas, “banyak yang lupa.
Mereka lihat ikan, langsung ambil. Kecil diambil, besar diambil, bahkan
telur-telur ikan pun diambil. Mereka pakai setrum, pakai racun, pakai jaring
halus. Semua ikan, dari yang paling kecil sampai paling besar, habis. Dan
ketika ikan habis, mereka cari tempat lain. Tidak pernah merasa bersalah.”
“Darto termasuk yang begitu?” Dadang bertanya hati-hati.
Pak Jajang tidak menjawab langsung. Ia kembali duduk,
mengambil singkong rebus, dan mengunyahnya perlahan. Setelah beberapa saat, ia
berkata, “Darto masih bisa berubah. Selama dia masih memancing di kanal ini,
selama dia masih bergaul dengan kita, masih ada harapan. Tapi kalau dia terus
bergaul dengan orang-orang kota yang hanya peduli hasil, suatu hari dia akan
kehilangan arah.”
Junai yang mendengar itu, menambahkan, “Darto sebenarnya
tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tapi keinginannya untuk diakui sering
mengalahkan akalnya. Kita sebagai teman harus mengingatkan, bukan menghakimi.”
“Setuju,” Ujang mengangguk. “Kita ingatkan dengan cara
baik-baik. Tapi kalau sudah keterlaluan, ya harus ditegur.”
Junai menyelesaikan adonan umpan fermentasinya,
memasukkannya ke dalam tiga toples plastik. Satu untuk persediaannya sendiri,
satu untuk Pak Jajang, dan satu lagi untuk dibagikan ke Dadang, Asep, dan Toha
nanti setelah jadi.
“Nanti malam, kita coba mancing malam,” ajak Junai
tiba-tiba. “Ikan gabus aktif di malam hari. Kita pakai anak kodok. Siapa yang
mau ikut?”
“Saya!” seru Dadang, Asep, dan Toha serempak.
“Saya juga ikut,” kata Rini. “Tapi saya pakai cacing saja.
Saya ingin coba spot dekat pintu air. Kata orang, lele banyak di sana
malam-malam.”
“Bagus. Nanti kita kumpul di sini jam tujuh. Bawa senter
dan perlengkapan masing-masing. Jangan lupa bawa air minum,” Junai mengatur.
“Saya bawa gorengan lagi,” Ujang menawarkan. “Buat
camilan.”
“Mang Ujang, nanti saja kalau sudah dapat ikan baru
traktir. Sekarang biar kami yang bawa,” kata Dadang.
“Ah, biar saya. Ini sekalian promosi,” Ujang tertawa.
Pak Jajang berdiri, membetulkan capingnya yang semiring.
“Saya tidak ikut malam-malam. Badan sudah tua, takut masuk angin. Tapi kalian
hati-hati. Jangan ke tempat yang terlalu dalam. Air malam hari lebih dingin dan
arusnya kadang berubah. Dan ingat, bawa senter cadangan.”
“Iya, Pak.”
“Satu lagi,” Pak Jajang berhenti di pintu pagar. “Hati-hati
dengan dua orang kota itu. Saya lihat mereka tadi siang masih di kanal selatan.
Siapa tahu mereka mancing malam juga. Kalau mereka pakai umpan kimia atau
setrum, jangan coba-coba melawan. Lebih baik lapor ke saya atau ke Pak RT.”
“Kita hanya akan mancing, Pak. Tidak cari masalah,” Junai
meyakinkan.
“Bagus. Saya pulang dulu. Istri sudah menunggu.” Pak Jajang
melambaikan tangan dan berjalan perlahan menuju motornya.
Setelah Pak Jajang pulang, suasana di rumah Junai masih
hangat. Ujang membantu Rini membersihkan peralatan yang berserakan, sementara
Dadang, Asep, dan Toha masih asyik membahas strategi mancing malam.
“Dadang, kau pakai anak kodok atau cacing?” tanya Asep.
“Anak kodok. Saya mau ulang sukses pagi tadi. Tapi saya
coba spot yang berbeda. Mungkin di dekat jembatan. Katanya gabus besar sering
lewat sana malam-malam.”
“Aku pakai jangkrik,” Asep memutuskan. “Aku coba nila. Nila
aktif malam hari juga, katanya.”
“Nila aktif kalau bulan terang,” Junai mengoreksi. “Nanti
malam bulan separuh, tidak terlalu terang. Lebih baik pakai umpan fermentasi
atau pelet. Tapi karena umpan fermentasi kalian belum jadi, pakai pelet saja
dulu.”
“Toha pakai apa?” Dadang bertanya.
Toha berpikir sejenak. “Aku ikut Junai. Pakai anak kodok.
Aku mau belajar langsung dari ahlinya.”
“Junai, ajarin aku cara baca arus malam hari,” pinta Toha.
Junai mengangguk. “Malam hari, arus biasanya lebih lambat
karena tidak ada angin. Tapi kadang, kalau hujan di hulu, arus bisa tiba-tiba
deras. Cara membacanya: lihat permukaan air. Kalau ada riak-riak kecil yang
bergerak teratur, itu arus normal. Kalau permukaan air tampak seperti kaca, itu
arus sangat lambat—biasanya ikan banyak di dasar. Kalau ada pusaran-pusaran
kecil, hati-hati, arus bawah bisa kuat.”
“Bagaimana dengan suara?” tanya Rini.
“Suara sangat penting di malam hari. Ikan yang melompat,
suara air yang berdecak, itu tanda ikan sedang aktif. Kalau sunyi senyap tanpa
suara apa pun, biasanya ikan sedang tidak aktif. Mungkin karena air dingin atau
sedang ada predator besar.”
“Predator besar?” Asep mengernyit.
“Bisa ular air, atau bisa juga ikan gabus raksasa. Gabus
besar kadang memangsa ikan-ikan kecil. Kalau ada gabus besar di suatu spot,
ikan-ikan lain akan menjauh.”
“Pernah lihat gabus raksasa?” Dadang bertanya dengan mata
berbinar.
Junai tersenyum. “Pernah. Sekali. Waktu itu saya masih SMA.
Saya mancing malam sendirian di dekat akar sawit. Tiba-tiba ada percikan besar
di depan saya. Saya kira orang jatuh. Ternyata gabus sebesar paha orang dewasa
melompat ke permukaan. Dia mengejar anak kodok yang lewat. Saya coba lempar
umpan, tapi dia tidak tertarik. Mungkin karena kenyang.”
“Gabus sebesar paha? Nggak percaya,” Asep tertawa.
“Tanya Pak Jajang. Beliau juga lihat,” Junai meyakinkan.
“Saya percaya,” Dadang mengangguk. “Dulu kakek saya pernah
dapat gabus tujuh kilo. Katanya sampai dua hari dimakan sekeluarga.”
Mereka tertawa. Matahari sudah benar-benar tenggelam.
Langit barat masih menyisakan warna jingga, tapi di timur, gelap sudah mulai
merayap.
“Saya pulang dulu,” Ujang pamit. “Nanti jam tujuh saya ke
sini lagi bawa gorengan.”
“Nggak usah, Mang,” Junai menolak. “Nanti kalian yang beli
di warung kalau sudah pulang.”
“Ah, biar saya. Anggap saja ucapan terima kasih karena
sudah diajarin ilmu memancing,” Ujang tetap ngotot.
“Kalau begitu, saya bikin teh,” kata Junai. “Nanti kita
minum teh hangat sambil mancing.”
“Setuju!” seru Dadang.
Mereka berpisah untuk sementara. Junai membersihkan
rumahnya, menyiapkan termos besar berisi teh manis hangat, dan memeriksa
perlengkapan mancingnya: joran bambu, kail cadangan, senar, pelampung, dan
toples berisi anak kodok yang masih gesit melompat-lompat.
Rini masih tinggal sebentar untuk membantu Junai
membereskan. Di dapur kecil, mereka bicara berdua.
“Jun, kamu nggak khawatir dengan Darto?” tanya Rini sambil
mengelap piring.
“Khawatir? Sedikit. Tapi bukan karena Darto-nya. Saya
khawatir kalau dia pakai umpan kimia, kanal kita bisa rusak lagi. Tapi Darto
sendiri, saya yakin dia orang baik. Cuma tersesat.”
“Kamu selalu melihat sisi baik orang, Jun. Itu yang saya
kagumi dari kamu.”
Junai tersenyum. “Tidak selalu. Dulu saya juga pernah
salah. Waktu kecil, saya pernah ambil ikan kecil-kecil, tidak saya lepas. Pak
Jajang marah sekali. Beliau bilang, 'Junai, kalau kau ambil ikan kecil, kau
sedang mencuri masa depan.' Sejak itu saya tidak pernah ambil ikan kecil lagi.”
“Pak Jajang memang guru yang baik.”
“Iya. Dan kanal ini adalah sekolah terbaik.”
Mereka bersiap untuk malam. Jam menunjukkan pukul setengah
tujuh. Di luar, bulan separuh mulai muncul di antara awan tipis. Suara jangkrik
dan katak mulai riuh, menyambut malam yang akan segera tiba.
Di kejauhan, dari arah selatan, terdengar suara sepeda
motor yang berhenti di tepi kanal. Dua orang kota itu rupanya benar-benar akan
mancing malam.
Dan Darto, yang tidak diundang ke pertemuan sore itu,
sedang duduk di beranda rumahnya, memandangi botol plastik biru di tangannya
dengan tatapan kosong.
Malam akan menjadi saksi.
BAB 3: Kanal yang Berubah Warna
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika Junai
keluar dari rumahnya. Bulan separuh sudah naik cukup tinggi di langit timur,
menyisakan bayangan-bayangan panjang dari pohon-pohon sawit yang bergoyang
perlahan ditiup angin malam. Udara terasa lebih dingin dari biasanya—bukan
dingin biasa yang menyegarkan, tapi dingin yang menusuk, seperti ada firasat
buruk yang menggantung di udara.
Junai membawa perlengkapannya: joran bambu kesayangan,
toples berisi anak kodok yang masih gesit melompat-lompat, sebuah ember kecil,
dan termos besar berisi teh manis hangat yang baru saja diseduhnya. Rencananya,
malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan—mengajari Dadang, Asep, dan Toha
cara membaca arus malam, sambil menikmati dinginnya udara di tepi kanal.
Dadang sudah menunggu di depan pagar rumah Junai. Jaket
lusuhnya dikenakan terbalik, senter genggam di tangan kanan, joran di tangan
kiri. Wajahnya bersemangat.
“Jun! Aku sudah siap. Bawa anak kodok sepuluh ekor,” Dadang
menunjukkan toples plastiknya.
“Bagus. Tapi jangan boros. Satu ekor bisa dipakai
berkali-kali kalau tidak dimakan ikan. Anak kodok masih hidup, bisa dipakai
lagi besok.”
“Iya, aku tahu. Nanti kalau masih sisa, aku taruh di
terarium kecil.”
Asep dan Toha menyusul tidak lama kemudian. Asep membawa joran
yang lebih pendek—pilihan yang tepat untuk mancing di tikungan yang agak
sempit. Toha membawa perlengkapan lengkap: joran, senter besar, umpan cacing
dan jangkrik, bahkan kursi lipat kecil yang membuat Dadang tertawa.
“Toha, ini mancing, bukan piknik,” Dadang menyindir.
“Biar nyaman, Bang. Kalau nunggu ikan lama, enakan duduk,”
Toha membela diri.
“Duduk di tanah juga nyaman. Dari kecil saya mancing duduk
di tanah, nggak pernah pake kursi.”
“Ya udah, biar aku aja yang pake kursi. Nanti kalian pada
iri,” Toha tertawa.
Rini datang dari arah utara. Ia berjalan cepat, kerudungnya
tertiup angin. Di tangannya, selain joran dan ember, ia membawa sebuah botol
plastik kosong dan buku catatan kecil yang selalu menjadi teman setianya.
“Rini, kamu bawa botol kosong buat apa?” tanya Asep heran.
“Buat sampel air,” jawab Rini sambil mengatur napas. “Saya
ingin meneliti kondisi air kanal malam ini. Saya sudah seminggu tidak mengambil
sampel. Biasanya saya ambil setiap tiga hari sekali.”
“Teliti banget sih,” Asep geleng-geleng kepala.
“Memang harus teliti. Kanal ini bukan hanya tempat mancing,
tapi juga sumber air untuk kebun sawit warga sekitar. Kalau airnya tercemar,
dampaknya ke mana-mana,” Rini menjelaskan.
Junai mengamati Rini dengan tatapan bangga. “Rini benar.
Kita harus peduli dengan kondisi kanal. Bukan hanya ikannya, tapi airnya juga.
Kalau airnya rusak, ikannya juga akan rusak.”
Ujang datang dari arah warungnya. Ia membawa bungkusan
besar berisi pisang goreng dan ubi goreng, plus satu termos kecil berisi kopi
hitam pekat.
“Mang Ujang, tadi sudah bilang nggak usah bawa-bawa,” Junai
menghela napas.
“Biarin, Jun. Ini buat camilan. Mancing malam kan lama.
Kalau lapar nanti nggak fokus,” Ujang tersenyum lebar.
Mereka berjalan berombongan menuju kanal. Sepanjang jalan setapak
di antara pelepah sawit, mereka bercerita tentang pengalaman mancing
masing-masing. Dadang bercerita tentang gabus yang hampir didapat minggu lalu
tapi lepas karena senar putus. Asep bercerita tentang nila dua kilo yang pernah
didapat ayahnya dulu. Toha lebih banyak mendengarkan sambil sesekali bertanya.
Suasana hangat dan penuh tawa.
Tapi ketika mereka sampai di tepi kanal, tawa itu berhenti
seketika.
Dadang yang paling depan tiba-tiba berhenti. Senter di
tangannya menyorot ke arah permukaan air, dan ia langsung membeku seperti
patung.
“Ada apa, Dadang?” tanya Asep dari belakang.
Dadang tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah air dengan
senternya.
Asep maju, lalu ikut membeku.
Junai yang melihat itu, segera menyusul ke depan.
Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya—bukan karena lelah berjalan, tapi
karena instingnya mengatakan ada sesuatu yang sangat salah.
Dan benar.
Air kanal yang biasanya hitam legam tapi bening—yang biasa
mereka lihat setiap hari—kini tampak keruh kehijauan. Warna itu tidak alami. Di
siang hari mungkin akan terlihat seperti air comberan, tapi di malam hari,
dengan bantuan senter, warnanya seperti minyak tanah yang tercampur pewarna
hijau tua.
Di permukaan, terdapat lapisan tipis yang berkilau. Setiap
kali senter menyorot, lapisan itu memantulkan cahaya dengan warna-warni pelangi
palsu—merah, jingga, biru, hijau—seperti tumpahan bensin di aspal basah.
Dan baunya. Bau yang dulu selalu mereka kenali sebagai bau
tanah basah campur dedaunan dan buah sawit masak, kini berganti dengan bau
anyir yang menusuk hidung. Bau itu seperti campuran deterjen, amonia, dan
sesuatu yang mengingatkan Junai pada toples umpan kimia yang pernah dilihatnya
di toko kota beberapa tahun lalu.
“Apa ini?” Dadang akhirnya bersuara. Suaranya bergetar,
bukan karena takut, tapi karena marah yang tertahan. Ia berlutut di tepi kanal,
mencelupkan tangannya ke air, lalu menggosokkan jari-jarinya ke telapak tangan.
“Airnya licin. Kayak ada sabun. Banyak sabun.”
Rini segera maju. Ia membuka botol plastik kosong yang
dibawanya, mencelupkannya ke air, dan mengisi penuh. Botol itu ia tutup rapat,
lalu menulis label dengan spidol kecil: “Kanal utama, titik dekat jembatan,
pukul 19.30.”
“Ini bukan sabun,” kata Junai dengan suara dingin. Ia
berlutut di tepi kanal, mencium airnya langsung dari permukaan, lalu
memicingkan mata. Wajahnya berubah tegang. “Ini sisa umpan kimia. Atau lebih
parah lagi... racun.”
“Racun?” Asep mengulang kata itu dengan suara setengah
berbisik, seperti tidak percaya.
“Racun,” Junai mengulang tegas. “Saya pernah lihat kejadian
seperti ini dulu, waktu saya masih kecil. Pak Jajang cerita. Air berubah warna,
ada lapisan minyak di permukaan, bau anyir. Itu tanda-tanda ada yang menebar
racun atau umpan kimia berlebihan.”
Rini mengangkat botol sampelnya, memandanginya di bawah
cahaya senter. Air di dalam botol itu berwarna hijau keruh, dan di
permukaannya, bahkan di dalam botol sekalipun, terbentuk lapisan tipis yang
berkilau.
“Saya akan cek besok pagi di laboratorium sederhana yang
saya buat di rumah,” kata Rini. “Tapi dari baunya saja, saya sudah bisa tebak.
Ini bukan hanya perasa ikan. Ada kandungan deterjen—mungkin surfaktan—dan dari
bau anyirnya, kemungkinan besar ada amonia atau senyawa nitrogen lainnya.
Fosfat juga pasti tinggi.”
“Fosfat? Surfaktan? Maksudnya apa, Rin?” tanya Toha
bingung.
“Fosfat adalah pupuk. Kalau terlalu banyak di air, dia
memicu ledakan alga—ganggang—yang menutupi permukaan air, menyerap oksigen, dan
ikan mati kehabisan napas. Surfaktan adalah bahan aktif di deterjen. Dia
membuat air menjadi licin dan mengurangi tegangan permukaan, jadi ikan susah
bernapas. Amonia... itu racun langsung untuk sistem saraf ikan.”
Toha memucat mendengar penjelasan itu. “Jadi ikannya bisa
mati?”
“Bisa. Kalau kadarnya tinggi, dalam hitungan jam. Kalau kadarnya
sedang, dalam hitungan hari. Ikan akan keluar dari air, melompat-lompat seperti
kejang, lalu mati.”
Dadang yang dari tadi diam, tiba-tiba membanting toples
anak kodoknya ke tanah. Toples plastik itu pecah, anak-anak kodok berhamburan
ke mana-mana, melompat ketakutan ke arah semak-semak.
“Sial!” bentak Dadang. Matanya merah menahan marah. “Siapa
yang berani? Siapa yang tega? Kanal ini tempat kita mancing sejak kecil! Tempat
kita belajar! Tempat kita... tempat ayah saya dulu mengajari saya memancing!”
Asep menarik lengan Dadang. “Tenang, Dadang. Jangan emosi.”
“Tenang? Kau lihat ini, Asep! Airnya rusak! Ikan-ikan bisa
mati! Anak kodokku saja sampai lari semua!”
“Kita semua marah, Dadang,” Junai berkata dengan suara yang
tetap tenang, meskipun matanya menunjukkan kemarahan yang sama. “Tapi marah
tidak akan memperbaiki kanal. Kita harus mencari tahu siapa yang melakukan
ini.”
Di tengah ketegangan itu, sesosok bayangan muncul dari
balik rumpun bambu di tepi kanal. Senter Dadang langsung menyorot ke arah bayangan
itu, dan mereka melihat Pak Jajang—topi capingnya masih melekat di kepala,
joran di tangan kanan, senter tua di tangan kiri.
“Pak Jajang?” Dadang terkejut. “Bapak bilang tadi tidak
ikut mancing malam.”
“Saya memang tidak ikut mancing,” Pak Jajang menjawab
dengan suara yang berat. Ia berjalan mendekat, langkahnya perlahan tapi pasti.
Matanya yang tajam langsung tertuju ke permukaan air kanal. “Tapi saya tidak
bisa tidur. Ada firasat. Saya sudah tua, anak-anak. Firasat orang tua biasanya
benar.”
Pak Jajang berlutut di tepi kanal—gerakan yang cukup sulit
untuk usianya, tapi ia melakukannya dengan tekad. Ia mencelupkan jarinya, lalu
menggosokkan ke telapak tangan. Ia mencium baunya. Ia bahkan menjilat ujung
jarinya sedikit—gerakan yang membuat semua orang terkejut.
“Pak! Jangan!” teriak Rini.
Pak Jajang meludah ke samping. “Racun. Bukan umpan kimia
biasa. Ini racun. Ada kandungan karbamat atau organofosfat. Saya pernah
merasakan ini dulu, waktu ada pemancing dari luar pakai racun untuk membunuh
ikan di kanal.”
“Karbamat? Organofosfat?” Toha mengulang kata-kata yang
tidak ia mengerti.
“Pestisida, Nak,” Pak Jajang menjelaskan dengan suara yang
dingin. “Pestisida yang biasa dipakai di perkebunan sawit. Kalau masuk ke air,
dia membunuh ikan dalam hitungan jam. Ikan akan naik ke permukaan,
kejang-kejang, lalu mati. Setelah itu, orang tinggal memungutnya dengan
jaring.”
“Astagfirullah...” Ujang menggeleng-geleng kepala.
Pak Jajang berdiri dengan susah payah. Junai segera
membantu menopang lengannya.
“Terima kasih, Jun. Saya sudah tidak sekokoh dulu,” Pak
Jajang tersenyum pahit.
“Pak, Bapak yakin ini racun pestisida?” tanya Junai.
“Yakin. Saya sudah dua kali mengalami kejadian seperti ini.
Pertama tiga puluh tahun lalu, waktu saya masih muda. Kedua lima belas tahun lalu,
waktu saya ceritakan kemarin. Polanya sama persis. Air berubah warna,
berminyak, bau anyir. Dan setelah itu, ikan-ikan mati bergelimpangan.”
“Kenapa bisa ada pestisida di kanal?” tanya Asep.
“Bisa dari dua sumber,” Pak Jajang menjelaskan. “Pertama,
dari perkebunan sawit itu sendiri. Petani kadang menyemprot pestisida terlalu
dekat dengan kanal, atau air hujan mengalirkan sisa pestisida ke kanal. Tapi
itu biasanya kadarnya kecil, tidak langsung terlihat dampaknya. Kedua, dari
orang yang sengaja menebarkan pestisida ke kanal untuk membunuh ikan. Itu yang
lebih berbahaya.”
“Sengaja?” Dadang tidak percaya. “Ada orang sengaja
meracuni kanal?”
“Ada, Dadang. Mereka tidak mau repot memancing dengan
joran. Mereka mau hasil instan. Tebar racun, tunggu sebentar, ikan naik ke
permukaan, tinggal dipungut. Dalam satu malam, bisa dapat ratusan kilo.”
“Ratusan kilo?” Asep terbelalak.
“Iya. Ikan mati semua—besar, kecil, bahkan benih-benih
ikan. Semua mati. Dan setelah itu, kanal mati. Tidak ada ikan lagi selama
berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.”
Suasana hening. Angin malam bertiup lebih kencang, membawa
bau anyir dari kanal ke arah mereka. Beberapa dari mereka memegang hidung.
“Siapa yang berani?” Toha mengepalkan tangan. Tangannya
yang masih muda dan kurus itu gemetar karena marah.
Pak Jajang menyipitkan matanya ke arah selatan—ke arah
hilir kanal, di mana batas desa bertemu dengan perkebunan inti milik perusahaan
besar.
“Dua orang kota itu,” kata Pak Jajang dengan suara yang
dalam. Matanya tidak berkedip, terus menatap ke arah selatan. “Saya lihat
mereka tadi sore masih di ujung kanal, dekat pintu air. Saya lihat mereka
membawa botol-botol plastik. Bukan satu atau dua, tapi sekantong plastik besar.
Mereka juga membawa jaring—jaring besar, bukan joran.”
“Kita lapor polisi!” usul Asep.
“Lapor polisi?” Dadang mendengus sinis. “Polisi mana yang
mau datang ke desa kecil begini di malam hari? Lagipula, apa buktinya? Kita
cuma curiga. Mereka orang kota, mungkin punya kenalan di perkebunan atau di
kantor desa. Laporan kita bisa saja diabaikan.”
“Tapi kita tidak bisa diam!” Asep bersikeras.
“Bukan diam,” Junai memotong. Ia berdiri, memandang kanal
yang tercemar, lalu ke arah rumah-rumah warga yang mulai gelap. Matanya
berhenti di satu rumah—rumah Darto, yang terletak tidak jauh dari tepi kanal,
sekitar seratus meter ke arah barat. Lampu di rumah itu masih menyala.
“Sebelum kita menuduh orang kota,” Junai berkata dengan
suara yang pelan tapi tegas, “kita harus tahu dulu apakah ada orang desa kita
yang terlibat.”
Mereka saling pandang. Nama Darto melintas di benak semua
orang. Dadang menunduk. Asep menggigit bibirnya. Toha memandang ke arah rumah
Darto.
“Saya lihat Darto tadi siang ke arah selatan,” kata Rini
pelan. Suaranya hampir berbisik, seperti takut didengar orang lain. “Saya kira
dia mau memancing. Tapi dia tidak membawa joran. Hanya ransel besar. Ransel
yang biasanya dia pakai waktu pergi ke kota.”
“Jam berapa?” tanya Junai.
“Sekitar jam tiga. Saya baru pulang dari rumah teman di
ujung desa. Saya lihat Darto berjalan cepat ke arah selatan, menuju pintu air.
Saya panggil, tapi dia tidak menjawab. Seperti sengaja tidak mendengar.”
“Darto bisa saja ke selatan untuk mancing,” Dadang mencoba
membela. “Mungkin dia cuma mau cari spot baru.”
“Tanpa joran?” Rini menatap Dadang tajam.
Dadang terdiam.
“Darto memang ambisius,” Ujang angkat bicara. Suaranya
berat, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang tidak enak. “Dia
selalu ingin jadi yang terbaik. Tapi saya tidak yakin dia setega itu. Dia masih
anak desa kita. Dia tahu kanal ini penting buat kita.”
“Kadang ambisi membuat orang buta, Ujang,” Pak Jajang
berkata pelan. “Saya sudah melihat banyak orang berubah karena ambisi. Mereka
lupa mana yang benar dan mana yang salah. Mereka hanya melihat tujuan, tidak
melihat jalan yang mereka lewati.”
“Kita cari tahu dulu,” Junai memutuskan. “Jangan menuduh
tanpa bukti. Nanti kalau salah, kita yang jadi fitnah. Tapi kita juga tidak
bisa tutup mata. Besok pagi, kita selidiki. Kita lihat siapa yang paling
diuntungkan dari kejadian ini. Siapa yang tiba-tiba punya banyak ikan. Siapa
yang pulang dengan tas penuh.”
“Dan Darto?” tanya Toha.
“Kita ajak bicara baik-baik. Tanya dengan sopan. Kalau dia
tidak bersalah, dia akan bisa menjelaskan. Kalau dia bersalah...” Junai
berhenti sejenak. “Kita hadapi nanti.”
Mereka memutuskan untuk tidak jadi mancing malam itu. Tidak
ada gunanya melempar umpan ke air yang sudah tercemar. Ikan-ikan pasti sudah
menjauh ke hulu atau ke hilir—atau mungkin sudah mati di dasar.
Dadang mengumpulkan sisa anak kodok yang masih tersisa.
Dari sepuluh ekor, hanya tiga yang masih bisa diselamatkan. Sisanya lari ke
semak-semak atau mati terinjak.
“Aku pusing,” kata Dadang tiba-tiba. “Bukan karena baunya.
Tapi karena... aku nggak percaya. Kanal ini tempat kita mancing sejak kecil. Tempat
aku belajar dari ayahku. Tempat aku pertama kali dapat ikan. Dan sekarang...
lihat ini.”
Ia duduk di tanah, memegangi kepalanya. Asep duduk di
sampingnya, menepuk pundaknya.
“Kita semua marah, Dadang,” kata Asep. “Tapi jangan larut.
Kita harus berpikir jernih.”
“Aku nggak marah, Asep. Aku sedih. Sangat sedih. Rasanya
seperti... ada yang merusak rumah kita. Rumah yang kita jaga selama ini.”
Ujang yang mendengar itu, ikut duduk di samping Dadang.
“Dengar, Nak. Rumah itu tidak hanya bangunan. Rumah itu juga tempat,
lingkungan, alam tempat kita hidup. Kalau ada yang merusak, kita perbaiki. Itu
yang selalu diajarkan orang tua kita. Jangan cuma menangis, tapi bertindak.”
“Betul,” Rini menambahkan. “Saya sudah mengambil sampel
air. Besok pagi saya akan cek di laboratorium sederhana. Saya juga akan
foto-foto kondisi kanal sekarang. Kita kumpulkan bukti. Kalau perlu, kita
laporkan ke dinas lingkungan hidup kabupaten.”
“Dinas lingkungan?” Dadang mengangkat wajahnya. “Mereka mau
datang ke desa kecil begini?”
“Kalau kita punya bukti yang kuat, mereka akan datang. Saya
punya kenalan di dinas lingkungan. Teman kuliah dulu. Dia sering turun ke
desa-desa untuk menangani kasus pencemaran air.”
“Benarkah?” Dadang sedikit bersemangat.
“Benar. Tapi kita harus punya bukti yang tidak
terbantahkan. Sampel air, foto, saksi mata. Kalau perlu, rekam testimoni warga
yang melihat kejadian.”
Pak Jajang mengangguk. “Rini pintar. Dia sekolah tinggi,
jadi tahu cara-cara melawan. Kita yang tua-tua ini cuma bisa lihat dan
merasakan, tapi tidak tahu prosedur. Jadi kita serahkan bukti-bukti pada Rini.”
“Tapi kita harus cari tahu dulu siapa pelakunya,” kata
Junai. “Kalau kita lapor tanpa tahu siapa pelakunya, susah. Kita perlu nama.
Kita perlu bukti yang mengarah ke seseorang.”
“Darto,” Dadang berkata pelan. “Kita harus tanya Darto.”
“Kita ajak bicara baik-baik, Dadang. Jangan main hakim
sendiri,” Junai mengingatkan.
“Aku tahu. Aku tidak akan marah-marah. Tapi kalau ternyata
dia yang melakukan...” Dadang tidak melanjutkan kalimatnya.
Mereka berjalan pulang dengan langkah berat. Sepanjang
jalan, tidak ada yang bicara. Suara jangkrik dan katak yang tadi riuh, kini
terdengar seperti ratapan. Angin malam yang sejuk terasa dingin menusuk tulang.
Ujang membagikan pisang goreng yang tadinya untuk camilan
mancing malam. Masing-masing mengambil satu, tapi tidak ada yang berselera.
Pisang goreng yang biasanya renyah dan manis, terasa hambar di mulut.
“Mang Ujang,” Toha tiba-tiba bicara, “menurut Mang, Darto
mampu melakukan ini?”
Ujang menghela napas panjang. Dia tidak langsung menjawab.
Matanya menatap ke arah rumah Darto yang mulai gelap—lampu di rumah itu baru
saja padam.
“Darto anak yang baik,” Ujang akhirnya berkata. “Saya kenal
dia sejak kecil. Dia anak yang patuh pada orang tua. Tapi dia juga anak yang
keras kepala. Kalau sudah punya keinginan, sulit dihalangi. Dulu waktu kecil,
dia pernah mengejar ayam tetangga sampai tiga jam karena ayam itu memakan umpan
mancingnya. Bukan karena dia marah, tapi karena dia merasa harga dirinya
terusik.”
“Maksudnya?” tanya Asep.
“Darto itu orangnya kompetitif. Dia tidak tahan kalah.
Ketika Junai selalu menang mancing, Darto merasa harga dirinya terinjak. Dia
akan melakukan apa saja untuk membuktikan bahwa dia juga bisa. Dan kalau sudah
begitu... kadang batas antara benar dan salah jadi kabur.”
“Jadi Mang Ujang percaya Darto terlibat?” tanya Rini.
“Saya tidak bilang percaya. Saya bilang, kalau pun Darto
terlibat, itu bukan karena dia jahat. Tapi karena dia tersesat. Karena
ambisinya membutakan dia.”
Pak Jajang yang berjalan paling belakang, ikut bersuara.
“Ujang benar. Kita tidak boleh menghakimi Darto sebelum tahu pasti. Tapi kita
juga tidak boleh menutup mata. Besok pagi, kita akan cari tahu. Kita lihat
siapa yang paling diuntungkan. Kita lihat siapa yang tiba-tiba punya banyak
ikan. Kita lihat siapa yang pulang dengan tas penuh.”
“Dan kalau Darto yang melakukannya?” tanya Toha.
Pak Jajang berhenti berjalan. Ia menatap Toha dengan mata
yang dalam—mata yang telah melihat banyak hal selama tujuh puluh dua tahun
hidupnya.
“Kalau Darto yang melakukannya, kita hadapi sebagai
keluarga. Bukan sebagai musuh. Kita ingatkan, kita tegur, kita bimbing kembali
ke jalan yang benar. Tapi kalau dia tetap ngotot...” Pak Jajang menghela napas.
“Kita lindungi kanal ini dengan cara apa pun.”
Sampai di depan rumah Junai, mereka berpamitan satu per
satu. Dadang masih tampak gelisah, Asep mencoba menenangkan, Toha diam seribu
bahasa. Rini membawa botol sampel air dengan hati-hati, seperti membawa barang
yang sangat berharga.
“Rini,” Junai memanggil sebelum Rini berjalan pulang.
“Sampel airnya tolong dijaga baik-baik. Itu bukti utama kita.”
“Aku akan simpan di lemari es. Besok pagi langsung aku
cek,” Rini berjanji.
“Terima kasih, Rin.”
“Jun,” Rini menatap Junai dengan mata yang sendu. “Kamu
pikir Darto benar-benar melakukannya?”
Junai tidak menjawab segera. Ia memandang ke arah rumah
Darto yang gelap gulita. Hanya sesekali ada kilatan cahaya dari dalam—mungkin
televisi, atau ponsel.
“Saya tidak tahu, Rin. Tapi saya tahu satu hal: malam ini,
ada yang tidak beres. Bukan hanya di kanal, tapi juga di hati seseorang. Kita
harus menemukan siapa orang itu, dan membantunya sebelum semuanya hancur.”
Rini mengangguk, lalu berjalan pulang.
Pak Jajang adalah yang terakhir pamit. Junai membantu
menuntunnya sampai ke motor tua yang terparkir di depan pagar.
“Jun,” Pak Jajang berkata pelan. “Kau ingat dulu saya
ajarkan cara membaca arus?”
“Ingat, Pak. Arus yang tenang belum tentu aman. Kadang di
bawah ketenangan, ada bahaya besar.”
“Itu berlaku juga untuk manusia, Jun. Darto selama ini
tenang-tenang saja. Tapi siapa tahu, di dalam dirinya ada arus yang membawanya
ke tempat yang salah. Kita harus tarik dia sebelum tenggelam.”
“Saya akan coba, Pak.”
“Saya tahu kau bisa.” Pak Jajang menepuk pundak Junai. “Kau
selalu punya cara untuk membuat orang tenang. Pakai itu untuk Darto.”
Pak Jajang menyalakan motornya. Mesin tua itu
menggerung-gerung sebentar, lalu akhirnya menyala. Ia melambai, lalu perlahan
menghilang di tikungan jalan.
Junai berdiri di depan pagar rumahnya, memandang ke arah
kanal yang tidak terlihat dari sini. Angin malam membawa bau anyir yang
samar—sisa dari pencemaran yang mungkin akan membawa malapetaka besar.
Ia masuk ke rumah, menyalakan lampu minyak tanah, dan duduk
di beranda. Termos teh yang tadi disiapkan untuk mancing malam, masih penuh. Ia
menuang segelas untuk dirinya sendiri, tapi tidak diminum. Teh itu dibiarkan
hangat di tangannya, sebagai pengingat bahwa malam ini ada rencana yang gagal,
ada harapan yang rusak.
Junai teringat pada Darto. Mereka dulu berteman akrab
ketika kecil. Sering bermain bersama di tepi kanal, mencari kecebong, mengejar
capung, belajar memancing dari Pak Jajang. Darto selalu lebih cepat marah,
lebih mudah frustasi, lebih gampang menyerah. Tapi ia juga anak yang baik—sering
berbagi umpan, tidak pernah pelit, selalu bersedia membantu.
Lalu apa yang berubah?
Junai tidak tahu. Tapi ia tahu satu hal: besok pagi, ia
akan mencari tahu.
Di kejauhan, dari arah selatan, terdengar suara sepeda
motor. Bukan satu, tapi dua. Suara itu berhenti di dekat pintu air—tempat yang
sama dengan yang disebut Pak Jajang tadi. Setelah beberapa menit, suara itu
menghilang, digantikan oleh keheningan yang mencekam.
Junai memejamkan mata. Besok akan menjadi hari yang
panjang.
Junai tidak bisa tidur semalaman. Ia berbaring di dipan
bambunya, mata terbuka, mendengarkan suara jangkrik yang lambat laun berhenti
satu per satu seiring datangnya fajar. Ketika ayam jago mulai berkokok, ia
sudah bangun dan duduk di beranda, memandang ke arah timur yang mulai memerah.
Pukul setengah enam, ia sudah berada di tepi kanal.
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas air—seperti
biasa. Tapi ada yang berbeda. Kabut itu tidak segar dan putih seperti biasanya.
Kabut itu keabu-abuan, seperti campuran asap dan uap air. Dan baunya... bau
anyir itu masih ada, meski tidak sekuat semalam.
Junai berjalan menyusuri tepi kanal ke arah selatan. Setiap
beberapa puluh meter, ia berhenti, melihat ke air, mencium udara. Warnanya
masih keruh kehijauan. Lapisan minyak di permukaan masih ada, meski sudah tidak
selebar semalam. Di beberapa tempat, ia melihat gelembung-gelembung kecil naik
dari dasar—tanda ada reaksi kimia yang masih berlangsung.
Di dekat pintu air, ia menemukan sesuatu.
Sisa-sisa botol plastik. Beberapa botol air mineral ukuran
1,5 liter, sudah disobek labelnya. Dua kantong plastik hitam, robek, berisi
sisa-sisa bubuk putih yang tidak dikenal. Dan yang paling mencurigakan: sebuah
jeriken plastik biru berukuran 5 liter, setengah kosong, dengan tutup yang
sudah terbuka.
Junai tidak menyentuh apapun. Ia mengambil ponselnya—ponsel
jadul dengan kamera seadanya—dan memotret semuanya dari beberapa sudut. Jeriken
biru itu ia foto bolak-balik, termasuk bagian bawah yang mungkin masih ada
bekas sidik jari.
Ia juga menemukan jejak sepatu di tanah berlumpur. Jejak
itu besar, dengan pola tapak yang khas—sepatu lapangan dengan sol kasar. Bukan
sepatu yang biasa dipakai warga desa. Warga desa biasanya memakai sandal jepit
atau sepatu karet.
“Orang kota,” gumam Junai.
Tapi di samping jejak sepatu besar itu, ada jejak lain.
Lebih kecil, lebih dangkal. Jejak sandal jepit. Dan di sampingnya, bekas roda
gerobak—atau mungkin gerobak dorong yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil
panen ikan.
Junai memotret jejak itu juga.
Ia berdiri, memandang ke arah desa. Dari sini, ia bisa
melihat rumah-rumah warga, termasuk rumah Darto yang terletak di ujung barat,
agak terpisah dari yang lain.
“Darto,” bisiknya. “Apa yang kau lakukan?”
Suara sepeda motor matic terdengar dari kejauhan. Rini
datang dengan helm yang selalu ia pakai meski jarak dari rumahnya ke kanal
hanya lima menit. Ia membawa tas ransel besar berisi peralatan: botol sampel
kosong, alat pengukur pH sederhana, termometer, dan buku catatan.
“Jun! Kamu sudah di sini dari tadi?” Rini terkejut melihat
Junai sudah berada di dekat pintu air.
“Dari subuh. Saya tidak bisa tidur.”
Rini memarkir motornya, lalu berjalan mendekat. Ia melihat
botol-botol dan jeriken biru yang difoto Junai. Matanya melebar.
“Ini... ini barang bukti,” katanya.
“Iya. Saya sudah foto semua. Jangan sentuh dulu. Nanti
kalau perlu, kita laporkan ke polisi atau dinas lingkungan, mereka mungkin mau
ambil sidik jari.”
Rini mengeluarkan sarung tangan karet dari tasnya—ia selalu
membawa itu untuk mengambil sampel air. Dengan hati-hati, ia memungut jeriken
biru itu, memeriksa bagian bawah dan tutupnya.
“Masih ada sisa cairan di dalam,” katanya. “Bau amonia
sangat kuat. Ini pestisida, Jun. Saya hampir yakin.”
“Organofosfat?”
“Mungkin. Atau karbamat. Keduanya sama-sama mematikan bagi
ikan. Dalam dosis kecil saja bisa memicu kematian massal.”
Rini mengambil sampel cairan dari jeriken itu dengan pipet
kecil yang ia bawa, memasukkannya ke botol sampel khusus, lalu memberi label:
“Pintu air, jeriken biru, sisa cairan, 06.15.”
“Rini,” Junai memanggil. “Lihat ini.”
Ia menunjukkan jejak sandal jepit di samping jejak sepatu
besar.
“Jejak sandal jepit,” Rini mengamati. “Ukurannya tidak
terlalu besar. Mungkin laki-laki, tapi tidak sebesar jejak sepatu itu. Dan
ini...” ia menunjuk bekas roda, “gerobak dorong. Biasanya dipakai untuk
mengangkut ikan dalam jumlah banyak.”
“Siapa yang pakai gerobak dorong di desa ini?” tanya Junai.
Mereka berpikir. Gerobak dorong biasanya dipakai oleh
petani sawit untuk mengangkut buah panen. Atau... oleh Darto. Darto memiliki
gerobak dorong kecil yang biasa ia gunakan untuk mengangkut peralatan
memancingnya ketika ia ingin pindah ke spot yang jauh.
“Kita tidak bisa langsung menyimpulkan,” Junai akhirnya
berkata. “Tapi ini semakin mengarah ke... seseorang.”
“Kita harus tanya Darto,” Rini tegas. “Tapi bukan dengan
emosi. Kita tanya baik-baik. Kalau dia tidak bersalah, dia akan bisa
menjelaskan.”
“Setuju. Tapi tidak sekarang. Kita kumpulkan bukti dulu.
Nanti siang, setelah semua orang bangun, kita ajak bicara.”
Pukul tujuh pagi, warga desa mulai berdatangan ke
kanal—seperti biasa setiap pagi. Tapi hari ini, mereka tidak datang dengan
semangat seperti biasanya. Mereka datang dengan wajah-wajah cemas, karena kabar
tentang pencemaran kanal sudah menyebar dari mulut ke mulut.
Jarot—pemancing yang selalu gagal dapat ikan besar tapi
paling ramah—datang dengan wajah pucat. “Benarkah? Kanal kena racun?”
Junai mengangguk. “Iya, Jarot. Lihat sendiri.”
Jarot melihat air yang keruh kehijauan, mencium bau anyir,
dan langsung membuang muka. “Ini kejam. Siapa yang tega?”
“Kita belum tahu. Tapi kita akan cari tahu.”
Dulah—pemuda yang lebih suka mancing malam—datang dengan
wajah kusam, tanda ia baru bangun. Begitu melihat kondisi kanal, ia langsung
membanting jorannya ke tanah.
“Sial! Semalam saya mau mancing di sini, tapi saya urungkan
karena kehujanan. Kalau saya datang, mungkin saya lihat siapa pelakunya!”
“Kamu tidur jam berapa semalam, Dulah?” tanya Junai.
“Jam sembilan. Tadi malam hujan gerimis sekitar jam
delapan, jadi saya batal mancing.”
“Hujan jam delapan?” Junai mengernyit. “Saya tidak ingat
ada hujan semalam.”
“Iya, cuma gerimis sebentar. Mungkin cuma di daerah
selatan. Di sini tidak hujan?”
Junai menggeleng. Ia menatap ke arah selatan. Jika hujan
hanya di selatan, itu berarti... pelaku mungkin memanfaatkan hujan untuk
menutupi jejak mereka.
Aceng—pemancing yang terkenal sebagai tukang ngibul—datang
dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. “Saya dengar dari Mang Ujang,
kanal diracun. Saya nggak percaya. Tapi setelah lihat sendiri...” Ia
menggeleng-geleng kepala. “Ini pertama kali dalam sepuluh tahun terakhir.”
“Dulu pernah kejadian seperti ini, kata Pak Jajang,” kata
Junai.
“Iya, dulu waktu saya masih kecil. Kanal mati tiga tahun.
Baru pulih perlahan-lahan. Sekarang kejadian lagi,” Aceng mengenang.
Satu per satu warga berkumpul di tepi kanal. Ada yang
marah, ada yang sedih, ada yang frustasi. Suasana memanas. Beberapa warga mulai
saling tuduh.
“Pasti orang kota itu!” teriak seorang warga bernama Karto,
petani sawit yang rumahnya paling dekat dengan kanal. “Mereka sering datang
bawa botol-botol aneh. Saya lihat sendiri!”
“Bisa juga warga sini!” sahut warga lain. “Mungkin ada yang
iri karena tidak dapat ikan, lalu pakai cara instan!”
“Jangan asal tuduh!” yang lain membela.
Junai berdiri di tengah, mencoba menenangkan. “Warga
sekalian, saya mengerti kemarahan Bapak-Ibu. Saya juga marah. Tapi marah-marah
tidak akan menemukan pelaku. Mari kita kumpulkan bukti dulu. Rini sudah
mengambil sampel air. Saya sudah foto barang bukti di pintu air. Kita lapor ke
dinas lingkungan. Tapi kita juga harus menjaga keamanan desa kita. Jangan
sampai kita saling tuduh dan berkelahi.”
“Junai benar,” Pak Jajang datang dari arah desa. Ia
berjalan perlahan, dituntun oleh istrinya, Bu Lastri, yang jarang ikut ke kanal.
“Saya sudah mengalami kejadian ini dua kali. Kalau kita saling tuduh, kita yang
rugi. Pelaku malah senang karena kita sibuk berkelahi.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya Karto.
“Kita jaga kanal. Kita buat jadwal ronda malam. Kita pantau
siapa saja yang datang ke kanal di luar jam biasa. Kita catat. Dan kita
kumpulkan bukti.”
“Setuju!” seru beberapa warga.
“Tapi kita juga harus mencari tahu siapa pelakunya,” kata
Dadang yang datang bersama Asep dan Toha. Wajahnya masih merah menahan marah.
“Saya tidak akan diam kalau kanal kita dirusak.”
“Kita cari tahu, Dadang. Tapi dengan cara yang benar,”
Junai menegaskan.
Di tengah keramaian itu, Darto muncul dari arah barat. Ia
berjalan santai, joran di tangan kanan, ember di tangan kiri. Wajahnya datar, tidak
menunjukkan ekspresi apa pun. Seperti tidak terjadi apa-apa.
“Pagi,” sapa Darto singkat ketika melewati kerumunan.
Beberapa warga menatapnya dengan tatapan curiga. Dadang
hampir melangkah maju, tapi Asep menahannya.
“Darto,” panggil Junai.
Darto berhenti. Ia menoleh, matanya bertemu dengan mata
Junai. Untuk beberapa detik, mereka saling menatap. Junai melihat ada sesuatu
di mata Darto—bukan rasa bersalah, tapi lebih seperti kelelahan. Kelelahan
orang yang membawa beban berat.
“Ada apa, Jun?” tanya Darto datar.
“Kamu lihat kanal? Sudah tercemar.”
Darto memandang ke arah air. Wajahnya masih datar. “Iya.
Saya lihat tadi pagi dari rumah. Airnya berubah.”
“Kamu tahu siapa yang melakukan?”
Darto tidak menjawab segera. Ia menunduk, memandangi ember
kosong di tangannya. Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajah.
“Tidak tahu,” jawabnya.
Dadang yang mendengar itu, tidak bisa menahan diri. “Tidak
tahu? Tadi siang kamu ke selatan, Rini lihat! Kamu bawa ransel besar! Tanpa
joran! Kamu ke sana ngapain?”
Darto menoleh ke arah Dadang. Matanya sedikit menyipit.
“Urusan saya.”
“Urusan kamu? Kanal ini urusan kita semua, Darto!” Dadang
melangkah maju. Asep dan Toha ikut maju, siap menahan jika Dadang meluap.
“Dadang, tenang,” Junai berdiri di antara Dadang dan Darto.
“Kita tanya baik-baik.”
Ia menatap Darto. “Darto, kemarin siang kamu ke selatan.
Rini lihat kamu bawa ransel besar. Kamu tidak membawa joran. Lalu malam hari,
kanal tercemar. Dan pagi ini, di pintu air, ada jeriken bekas pestisida dan
jejak sandal jepit. Ukurannya mirip dengan sepatu yang kamu pakai.”
Darto menunduk, melihat sandal jepit yang ia pakai. Ia
tidak menjawab.
“Darto, saya tidak menuduh,” Junai melanjutkan. “Saya hanya
ingin tahu. Kalau kamu tidak bersalah, jelaskan. Kita akan percaya. Tapi kalau
kamu menyembunyikan sesuatu... itu akan semakin berat.”
Darto mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca. Ia memandang
Junai, lalu ke Dadang yang masih marah, ke Rini yang menatapnya dengan
prihatin, ke Pak Jajang yang diam tapi matanya tajam.
“Saya... saya tidak melakukan itu,” kata Darto akhirnya.
Suaranya bergetar. “Saya ke selatan kemarin... untuk bertemu dengan mereka. Dua
orang kota itu.”
Semua terdiam.
“Saya ingin beli umpan dari mereka. Umpan kimia. Mereka
bilang ampuh. Saya... saya ingin menang. Saya ingin buktikan kalau saya bisa
dapat lebih banyak dari Junai.”
“Darto...” Junai menghela napas.
“Tapi saya tidak jadi beli!” Darto cepat-cepat menambahkan.
“Saya lihat umpan mereka. Baunya... tidak alami. Sangat kimia. Saya ingat kata
Pak Jajang, umpan kimia bisa merusak kanal. Saya... saya urungkan niat. Saya
pulang tanpa membeli apa-apa.”
“Tapi kenapa kamu tidak bilang dari tadi?” tanya Rini.
“Karena saya malu!” Darto hampir berteriak. “Saya malu
kalau kalian tahu saya mau beli umpan kimia. Saya malu kalau kalian tahu saya
selama ini iri pada Junai. Saya malu kalau kalian tahu saya... saya kalah.”
Dadang yang tadinya marah, kini sedikit melunak. Ia tidak
menyangka Darto sejujur itu mengaku.
“Darto, kalau kamu tidak membeli umpan itu, lalu siapa yang
meracuni kanal?” tanya Junai.
Darto menghela napas panjang. “Mereka. Dua orang kota itu.
Mereka bilang, malam ini mereka akan 'panen besar'. Saya tidak tahu maksudnya.
Tapi setelah lihat kanal pagi ini... saya baru paham.”
“Kamu tahu mereka di mana?” tanya Pak Jajang tiba-tiba.
Darto mengangguk. “Mereka menginap di losmen dekat pasar.
Tapi tadi malam, setelah kejadian, saya dengar mereka sudah pulang ke kota.
Mereka membawa banyak ikan. Tas pendingin mereka penuh. Mungkin ratusan kilo.”
“Ratusan kilo?” Karto terbelalak.
“Iya. Mereka pakai jaring besar. Ikan-ikan mati naik ke
permukaan, mereka tinggal serok. Dalam waktu satu jam, mereka dapat banyak
sekali.”
“Kenapa kamu tidak melapor?” tanya Dadang.
“Karena saya takut,” Darto menjawab jujur. “Saya takut
kalau saya lapor, saya juga ikut terseret. Saya sempat bertemu mereka. Saya
sempat tawar-menawar harga umpan. Itu sudah cukup untuk membuat saya
tersangka.”
“Tapi kamu tidak membeli,” kata Junai.
“Tapi tidak ada yang tahu selain saya dan mereka. Dan
mereka tidak akan mengaku. Mereka akan bilang saya yang meracuni. Saya yang
beli pestisida. Saya yang punya jeriken biru itu.”
“Jeriken biru itu punya mereka?” tanya Rini.
Darto mengangguk. “Mereka bawa dua jeriken. Satu mereka
pakai semalam. Satu lagi mungkin masih mereka bawa pulang.”
Suasana hening. Warga saling berpandangan.
Junai akhirnya berkata, “Darto, terima kasih sudah jujur.
Kamu melakukan kesalahan dengan berniat beli umpan kimia. Tapi kamu juga
melakukan hal yang benar dengan membatalkannya. Dan sekarang kamu sudah memberitahu
kami siapa pelakunya. Itu keberanian.”
“Tapi saya tidak punya bukti,” kata Darto lesu.
“Kamu adalah saksi. Itu sudah cukup untuk memulai,” kata
Rini. “Kita punya sampel air, jeriken bekas, jejak sepatu, dan kamu sebagai
saksi yang melihat mereka membawa pestisida. Itu cukup untuk laporan ke
polisi.”
“Apakah polisi akan percaya pada saya?” Darto ragu.
“Kita akan percaya pada kamu,” kata Junai. “Dan kita akan
mendampingi kamu.”
Pak Jajang mengangguk. “Darto, anak muda. Kesalahan bukan
akhir dari segalanya. Yang penting adalah kau mau memperbaiki. Hari ini kau
sudah menunjukkan keberanian. Itu lebih berharga daripada seribu ekor ikan.”
Darto menunduk. Air matanya jatuh ke tanah.
Dadang yang sedari tadi diam, akhirnya mendekati Darto. Ia
menepuk pundak Darto dengan kasar—khas Dadang.
“Hei, jangan nangis. Nanti kelihatan cengeng,” kata Dadang,
meskipun matanya sendiri mulai berkaca-kaca.
Darto tersenyum pahit. “Maafkan saya, semua. Saya hampir
melakukan kesalahan besar.”
“Kamu sudah melakukan yang benar sekarang,” kata Junai.
“Itu yang penting.”
Mereka berkumpul di warung Ujang untuk mendiskusikan
langkah selanjutnya. Ujang menyediakan kopi dan teh untuk semua, meskipun
suasana tidak senyaman biasanya.
Rini membuka laporan singkat. “Berdasarkan sampel air yang
saya ambil semalam dan pagi ini, kadar amonia dan fosfat sangat tinggi. Juga
ada residu pestisida golongan organofosfat. Ini jelas pencemaran berat yang
disengaja.”
“Kita harus lapor ke polisi,” kata Pak Jajang.
“Tapi Darto takut,” kata Asep.
“Darto akan kita dampingi,” Junai menegaskan. “Kita semua
akan pergi ke kantor polisi bersama. Kalau perlu, kita bawa bukti-bukti dan
saksi.”
“Saya juga punya foto-foto,” kata Junai. “Saya foto
jeriken, botol-botol, dan jejak sepatu.”
“Saya punya sampel air yang sudah dilabel,” tambah Rini.
“Saya bisa jadi saksi,” kata Darto, meskipun suaranya masih
gemetar. “Saya lihat mereka membawa jeriken biru itu. Saya dengar mereka bilang
mau 'panen besar' malam itu.”
“Bagus. Itu cukup,” kata Rini.
“Tapi kita harus cepat,” Ujang mengingatkan. “Mereka sudah
pulang ke kota. Kalau kita lambat, bukti-bukti bisa hilang. Mereka bisa
menghilangkan jejak.”
“Hari ini juga kita ke polisi,” kata Junai.
Mereka bersepakat. Setelah sarapan sederhana di warung
Ujang, rombongan kecil—Junai, Rini, Darto, dan Pak Jajang—bersiap berangkat ke
kantor polisi kecamatan. Dadang, Asep, Toha, dan Ujang akan menjaga desa dan
memantau kanal.
Sebelum berangkat, Junai berjalan ke tepi kanal sekali
lagi. Airnya masih keruh, masih berbau anyir. Tapi di kejauhan, di permukaan
air, ia melihat sesuatu—riak kecil, sangat kecil, hampir tidak terlihat.
Mungkin seekor ikan kecil yang selamat, berenang mencari udara bersih.
“Kanal ini masih hidup,” bisik Junai pada dirinya sendiri.
“Dan kita akan membuatnya hidup kembali.”
Ia berbalik, bergabung dengan rombongan yang sudah
menunggu. Hari itu, mereka akan memulai perjalanan panjang—bukan hanya untuk
mencari keadilan, tapi juga untuk menyelamatkan kanal yang telah menjadi bagian
dari jiwa mereka.
BAB 4: Titik Emas dan
Titik Kosong
Tiga hari telah berlalu sejak malam ketika kanal ditemukan
tercemar. Tiga hari yang terasa seperti tiga bulan bagi warga Desa Awan Biru.
Tiga hari yang penuh dengan kecemasan, frustasi, dan harapan yang perlahan
mulai luntur.
Setelah laporan ke polisi kecamatan, petugas datang untuk
mengambil sampel air dan barang bukti. Mereka berjanji akan memproses laporan
tersebut dan memanggil dua orang kota yang diduga sebagai pelaku. Tapi tiga
hari berlalu, belum ada kabar. Polisi mengatakan bahwa penyelidikan masih
berlangsung, bahwa mereka masih menunggu hasil uji laboratorium, bahwa proses
membutuhkan waktu.
Sementara itu, kanal tetap tercemar.
Airnya masih keruh kehijauan, meskipun lapisan minyak di
permukaan sudah mulai berkurang karena aliran air dari hulu. Tapi warna keruh
itu masih ada, dan bau anyir masih tercium, terutama di pagi hari ketika udara
masih dingin. Ikan-ikan yang dulu sering terlihat melompat di permukaan atau
berenang di dekat akar-akar sawit, kini menghilang. Kanal terasa sunyi. Sunyi
yang tidak biasa—bukan sunyi karena ketenangan, tapi sunyi karena kematian.
Junai datang ke kanal setiap pagi, seperti biasa. Ia tidak
pernah absen, bahkan ketika hujan gerimis sekalipun. Tiga titik sudah ia coba
dalam tiga hari: hari pertama di bawah jembatan—spot yang biasanya menjadi
langganan ikan mas besar; hari kedua di tikungan dekat pohon karet tua—spot
favorit para pemancing nila; hari ketiga di muara kecil tempat air sawit
mengalir—spot yang menurut Pak Jajang kadang menjadi tempat berkumpulnya
ikan-ikan kecil setelah hujan.
Hasilnya nihil. Nol. Tidak ada satu pun ikan yang
menggigit.
Bukan karena umpannya salah. Junai sudah mencoba semua
jenis umpan yang ia miliki: anak kodok untuk gabus, cacing untuk lele dan
gabus, umpan fermentasi untuk mas dan nila, bahkan pelet pabrikan yang biasa
dipakai Dadang. Pelampungnya mengapung tenang berjam-jam tanpa gerakan.
Sesekali ada goyangan kecil—mungkin ikan kecil yang lewat, atau mungkin hanya
daun yang tersangkut. Tapi tidak pernah ada tarikan yang sungguhan.
Junai tidak gelisah. Ia tahu, setelah pencemaran seperti
ini, ikan-ikan butuh waktu untuk kembali. Beberapa mungkin mati, beberapa
mungkin pergi ke hulu atau ke hilir mencari air yang lebih bersih. Tapi ia
yakin, tidak semuanya mati. Ada yang bertahan, bersembunyi di tempat-tempat
yang tidak terduga, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.
Pak Jajang juga datang setiap pagi, meskipun fisiknya tidak
memungkinkan untuk duduk berjam-jam seperti dulu. Ia lebih banyak berdiri,
berjalan perlahan di tepi kanal, mengamati air, sesekali membungkuk untuk
melihat ke dalam. Matanya yang tajam—meski usianya sudah tujuh puluh dua
tahun—masih mampu membaca tanda-tanda yang tidak terlihat oleh orang lain.
“Air mulai jernih di sini,” kata Pak Jajang suatu pagi
sambil menunjuk ke arah selatan, di dekat pintu air. “Lihat, di dekat eceng
gondok, airnya lebih terang. Ikan-ikan kecil mulai berani muncul.”
Junai menghampiri, melihat ke arah yang ditunjuk. Benar. Di
sela-sela eceng gondok yang lebat, airnya memang lebih jernih dibandingkan
bagian lain kanal. Ia bahkan bisa melihat dasar yang berlumpur, dengan beberapa
ekor ikan kecil—mungkin wader atau sepat—berenang cepat menghindari
bayangannya.
“Mereka bersembunyi di eceng gondok,” kata Junai.
“Iya. Eceng gondok itu pelindung alami. Akarnya yang lebat
menjadi tempat persembunyian ikan-ikan kecil. Juga menjadi sumber
makanan—banyak serangga kecil dan jentik-jentik yang hidup di antara
akar-akarnya.”
“Tapi eceng gondok juga bisa menutupi permukaan, mengurangi
oksigen di air,” Junai menambahkan.
“Benar. Itu kalau terlalu lebat. Tapi di sini, kepadatannya
pas. Tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit. Ini titik yang menarik, Jun.
Selama bertahun-tahun, tidak ada yang memancing di sini. Semua pemancing
menghindari tempat ini karena airnya dangkal dan banyak eceng gondok. Tapi
justru di situlah ikan-ikan kecil berlindung.”
Junai merenung. Pak Jajang benar. Selama ini,
mereka—termasuk Junai sendiri—selalu mencari titik-titik yang dianggap “emas”:
di bawah jembatan yang dalam dan teduh, di tikungan yang arusnya stabil, di
dekat akar sawit yang menjuntai. Mereka mengabaikan titik-titik yang dianggap
“kosong”—tempat yang dangkal, penuh eceng gondok, atau arusnya terlalu lambat.
Padahal, di saat-saat krisis seperti ini, ikan-ikan tidak mencari tempat yang
ideal. Mereka mencari tempat yang aman.
Pagi keempat, Junai mengambil keputusan.
“Hari ini saya coba di titik kosong,” kata Junai pada Pak
Jajang ketika mereka bertemu di tepi kanal. Langit masih gelap, matahari belum
terbit, hanya ada semburat jingga tipis di ufuk timur.
Pak Jajang yang sedang duduk di bangku kayu kecil yang
dibawanya, mengernyit. “Titik kosong? Maksudmu di dekat pintu air yang dangkal
itu?”
“Iya. Di mana banyak eceng gondok.”
“Tidak ada ikan di sana, Jun. Sudah saya buktikan puluhan
kali. Dulu waktu saya masih muda, saya coba mancing di sana seminggu penuh.
Hasilnya cuma beberapa ekor ikan kecil yang tidak layak konsumsi. Percuma.”
“Saya tahu, Pak. Tapi saya punya firasat.”
“Firasat?” Pak Jajang tersenyum tipis. “Kau bukan
perempuan, Jun. Masa percaya firasat?”
Junai tersenyum balik. “Pak Jajang sendiri yang bilang,
firasat orang tua biasanya benar. Saya masih muda, tapi kadang firasat juga
datang.”
“Firasat apa?”
“Bahwa setelah pencemaran seperti ini, ikan-ikan akan
mencari tempat yang paling aman. Bukan yang paling dalam atau paling banyak
makanan, tapi yang paling tenang. Tempat yang tidak diganggu manusia. Titik
kosong itu dangkal, arusnya lambat, dan ada banyak eceng gondok. Mungkin mereka
bersembunyi di sana.”
Pak Jajang mengernyit, berpikir sejenak. Matanya yang tua
dan berpengalaman itu memandang ke arah selatan, ke tempat di mana eceng gondok
tumbuh subur menutupi permukaan kanal.
“Kau tahu, Jun,” Pak Jajang akhirnya berkata, “dulu kakek
saya pernah bilang: 'Ikan itu seperti manusia. Mereka tidak suka keramaian.
Mereka tidak suka kebisingan. Mereka suka tempat yang tenang, di mana mereka
bisa berpikir dan berkembang biak dengan damai.' Titik kosong itu memang tidak
pernah ramai pemancing. Mungkin ikan-ikan sudah terbiasa di sana.”
“Itulah yang saya pikirkan, Pak.”
“Baik,” Pak Jajang berdiri, membetulkan capingnya yang
semiring. “Saya ikut. Saya penasaran. Sudah lama saya tidak mancing di titik
kosong. Mungkin lima belas tahun yang lalu terakhir kali saya coba. Waktu itu
saya dapat beberapa ekor sepat dan wader, tapi saya lepas semua.”
“Kenapa dilepas, Pak?”
“Karena mereka masih kecil. Dan karena saya tidak butuh
ikan saat itu. Saya hanya ingin duduk di tepi air, mendengarkan suara alam, dan
melupakan sejenak sakit pinggang saya.”
Junai tertawa kecil. “Saya juga begitu, Pak. Kadang mancing
bukan karena butuh ikan. Tapi karena butuh ketenangan.”
“Kau sudah paham, Jun. Itu yang membedakan kau dengan
pemancing lain. Mereka memancing karena ingin hasil. Kau memancing karena ingin
proses.”
Mereka berdua berjalan ke selatan, meninggalkan spot-spot
yang biasa dipakai pemancing lain. Dadang yang sedang duduk di bawah jembatan
melihat mereka berjalan dan bertanya, “Jun, Pak Jajang, mau ke mana?”
“Ke titik kosong,” jawab Junai.
“Titik kosong? Di pintu air? Tidak ada ikan di sana!”
Dadang berteriak.
“Kita lihat nanti,” Junai melambai.
Dadang menggeleng-geleng kepala, tidak percaya. Tapi ia
tidak mengikuti. Ia lebih percaya pada spot di bawah jembatan yang sudah
terbukti menghasilkan ikan-ikan besar, meskipun selama tiga hari terakhir spot
itu tidak menghasilkan apa-apa.
Titik kosong itu letaknya sekitar seratus meter di selatan
jembatan. Di sinilah kanal melebar—hampir dua kali lipat lebar biasanya—dan
menjadi lebih dangkal. Kedalaman air di sini hanya sekitar setengah meter di
musim kemarau, dan mungkin satu meter di musim hujan. Karena dangkal, sinar
matahari bisa menembus hingga ke dasar, menciptakan lingkungan yang hangat dan
terang.
Tapi yang paling mencolok dari titik ini adalah eceng
gondok. Tanaman air dengan daun bundar berwarna hijau tua dan bunga berwarna
ungu itu tumbuh subur di sini, menutupi hampir separuh permukaan air.
Akar-akarnya yang lebat menjuntai ke dalam air, menciptakan hutan kecil di
bawah permukaan—tempat yang sempurna bagi ikan-ikan kecil untuk bersembunyi
dari predator.
Junai memilih tempat di tepi barat, di mana ada celah alami
di antara rumpun eceng gondok. Di celah itu, air tampak lebih jernih
dibandingkan titik-titik lain di kanal. Ia bisa melihat dasar yang berlumpur,
dengan beberapa ekor ikan kecil—mungkin wader atau sepat—berenang cepat
menghindari bayangannya.
Pak Jajang memilih tempat tidak jauh dari Junai, lebih
dekat ke akar-akar sawit yang menjuntai dari tepi seberang. Akar-akar itu berwarna
coklat kemerahan, bergelantungan seperti rambut raksasa, dan ujung-ujungnya
terendam air. Di antara akar-akar itulah biasanya ikan gabus dan lele
bersembunyi.
Junai mengeluarkan toples plastik berisi anak kodok. Dari
sepuluh ekor yang ia bawa, delapan masih hidup dan gesit melompat-lompat. Dua
ekor sudah mati karena terlalu lama di dalam toples—ia akan membuangnya nanti,
atau mungkin memberikannya pada Dadang untuk umpan lele.
Ia memilih satu anak kodok yang masih sangat aktif. Dengan
gerakan lambat dan penuh perhatian, ia memegang kodok itu di antara jari
telunjuk dan jempol. Kodok itu melompat-lompat kecil, mencoba melepaskan diri,
tapi Junai memegangnya dengan lembut, tidak terlalu keras untuk melukai, tapi
cukup kuat untuk mengontrol.
Dengan kail ukuran enam—sedang, tidak terlalu besar untuk
kodok kecil, tidak terlalu kecil untuk gabus—ia menusuk bagian punggung kodok
itu. Tusukan yang dangkal, tepat di bawah kulit, tidak menyentuh tulang
belakang atau organ vital. Kodok itu menggelepar sebentar, lalu diam—bukan
mati, tapi beradaptasi dengan rasa sakit yang minimal.
“Lihat, Pak,” Junai menunjukkan kepada Pak Jajang. “Tusuk
di punggung, dangkal. Biarkan kakinya bebas bergerak. Di air, dia akan berenang
seperti biasa.”
“Bagus,” Pak Jajang mengangguk. “Dulu saya pasang di mulut,
tapi kodoknya cepat mati. Cara kamu lebih baik.”
Junai melempar umpannya ke celah eceng gondok. Anak kodok
itu mendarat di permukaan air dengan percikan kecil, lalu mulai berenang dengan
gerakan-gerakan pendek. Kakinya yang masih bebas mengayuh air, sesekali
menyelam sebentar lalu muncul lagi. Pelampung kecil dari gabus bekas sandal
jepit mengapung tenang beberapa sentimeter di belakangnya.
Pak Jajang memilih umpan cacing. Ia mengeluarkan kaleng
bekas susu berisi tanah basah dan puluhan cacing tanah yang gemuk-gemuk. Dengan
jari-jari yang sudah keriput dan sedikit kaku karena usia, ia memilih tiga ekor
cacing, merangkainya di kail dengan cara yang unik—cacing pertama ditusuk di
kepala, cacing kedua di tengah, cacing ketiga di ekor, sehingga ketiganya
bergerak-gerak seperti ular kecil di ujung kail.
“Ini rahasia lama, Jun,” kata Pak Jajang sambil menunjukkan
rangkaian cacingnya. “Tiga cacing sekaligus. Bau lebih kuat, gerakan lebih
menarik. Ikan lele dan gabus suka.”
“Saya belum pernah coba tiga cacing sekaligus,” Junai
mengaku.
“Coba nanti. Tapi hati-hati, kalau kailnya terlalu kecil,
cacing bisa lepas. Pakai kail nomor empat atau lima.”
Pak Jajang melempar umpannya ke dekat akar sawit yang
menjuntai. Rangkaian cacing itu jatuh ke air dengan percikan kecil, lalu
perlahan tenggelam ke dasar. Pelampung Pak Jajang—dari potongan gabus yang
lebih besar—mengapung tenang di permukaan.
Mereka menunggu.
Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit. Tidak ada gerakan.
Pelampung Junai mengapung tenang, anak kodoknya sudah berenang ke sela-sela
eceng gondok, kadang muncul kadang tenggelam. Pelampung Pak Jajang juga diam,
rangkaian cacingnya mungkin sudah sampai di dasar, menunggu seekor lele atau
gabus yang lapar.
Pak Jajang mengeluarkan rokok dari saku bajunya—rokok krebu
dengan tembakau lokal yang ia gulung sendiri. Ia menyalakannya dengan korek api
gas, menarik asap dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Asap rokok
bercampur dengan kabut pagi, menciptakan kabut tipis yang bergoyang di atas
air.
“Jun,” Pak Jajang memanggil pelan.
“Iya, Pak?”
“Kau tahu kenapa tempat ini disebut titik kosong?”
“Karena tidak pernah ada ikan besar di sini. Hanya
ikan-ikan kecil yang tidak layak konsumsi.”
“Itu yang orang bilang. Tapi menurut saya, bukan karena
tidak ada ikan besar. Tapi karena tidak ada pemancing yang sabar menunggu di
sini. Semua orang ingin instan. Mereka pergi ke titik emas, melempar umpan,
berharap dalam lima menit dapat ikan. Kalau tidak dapat, mereka pindah. Tidak
ada yang mau bertahan di titik kosong.”
“Jadi titik kosong itu sebenarnya bukan kosong?”
“Tidak ada titik yang benar-benar kosong, Jun. Selama ada
air, selama ada kehidupan, pasti ada ikan. Mungkin tidak banyak. Mungkin tidak
besar. Tapi mereka ada. Mereka bersembunyi, menunggu waktu yang tepat. Dan
mereka akan muncul ketika mereka merasa aman.”
Junai merenung. “Sama seperti manusia, Pak. Kita juga punya
titik kosong dalam hidup kita. Titik di mana kita merasa tidak berarti, tidak
dianggap, tidak berguna. Tapi sebenarnya di titik itulah kita belajar menjadi
kuat. Di titik itulah kita menemukan siapa diri kita sebenarnya.”
Pak Jajang menatap Junai dengan mata bangga. “Kau tidak
hanya pintar memancing, Jun. Kau juga pintar membaca kehidupan. Itu yang
membuatmu berbeda.”
“Saya belajar dari Bapak, Pak. Dan dari kanal ini.”
Mereka terdiam lagi. Suara burung-burung mulai terdengar
dari kejauhan, menyambut matahari yang perlahan naik. Angin pagi bertiup
lembut, membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit—bau yang sudah sangat
familiar bagi mereka.
Tiba-tiba, pelampung Junai bergerak.
Bukan tarikan kuat, tapi goyangan kecil naik-turun. Gerakan
yang tidak biasa—tidak seperti ikan besar yang langsung menenggelamkan
pelampung, tapi juga tidak seperti ikan kecil yang menggigit-gigit tanpa
sungguh-sungguh. Ini adalah gerakan yang hati-hati, seperti ikan yang sedang
mengamati umpan sebelum memutuskan untuk memakannya.
Junai tidak bergerak. Ia membiarkan tangannya tetap santai
di joran, matanya fokus pada pelampung yang terus bergoyang.
“Jangan buru-buru,” bisik Pak Jajang dari samping.
“Saya tahu, Pak.”
Pelampung bergoyang lagi. Kali ini lebih kuat.
Kemudian—srek! Pelampung tenggelam tiba-tiba, senar menegang, joran Junai
melengkung hampir setengah lingkaran.
Tapi Junai tidak langsung menarik. Ia membiarkan ikan itu
berenang dulu, membiarkannya memakan umpan dengan nyaman. Ia memberi sedikit
kendor pada senar, membiarkan ikan bergerak ke arah eceng gondok. Kemudian,
ketika ia merasa ikan sudah cukup dalam, ia menarik perlahan.
Tarikan pertama. Ikan itu melawan, berputar-putar, mencoba
mencari akar eceng gondok untuk bersembunyi. Tapi Junai sudah mengantisipasi.
Ia mengarahkan tarikannya ke tengah kanal, menjauhkan ikan dari akar-akar yang
bisa memotong senar.
Tarikan kedua. Ikan itu semakin kuat, tapi Junai tidak
terburu-buru. Ia membiarkan ikan berenang sampai energinya terkuras, lalu
menarik lagi. Proses ini diulang beberapa kali—tarik, kendor, tarik,
kendor—seperti tarian lambat antara pemancing dan ikan.
Setelah beberapa menit, seekor ikan gabus kecil muncul di
permukaan. Panjangnya hanya sekitar dua puluh sentimeter, seukuran telapak
tangan orang dewasa. Tubuhnya loreng hitam kehijauan, matanya bulat tajam,
mulutnya yang lebar menganga karena kail masih tertancap di punggung.
Junai mengangkat ikan itu ke tepi dengan hati-hati. Ia
menggunakan kain basah untuk memegang ikan—agar tidak merusak lapisan lendir
pelindung tubuhnya—lalu dengan alat pelepasan kail yang selalu ia bawa, ia
melepaskan kail dari punggung gabus kecil itu.
“Kecil,” kata Pak Jajang. “Lepas?”
“Lepas,” Junai mengangguk. “Masih kecil. Biar besar dulu.”
Ia menurunkan gabus itu ke air perlahan, membiarkannya
berenang kembali ke celah eceng gondok. Ikan itu sempat berhenti sebentar,
seperti berterima kasih, lalu menghilang di antara akar-akar eceng gondok.
“Kenapa dilepas?” tanya Pak Jajang, meskipun ia sudah tahu
jawabannya.
“Masih kecil, Pak. Belum layak konsumsi. Kalau saya bawa
pulang, dagingnya sedikit, tulangnya banyak. Lebih baik saya lepas, biar dia
tumbuh besar. Nanti kalau sudah besar, baru saya tangkap lagi. Atau mungkin
anak-anak saya nanti yang menangkap.”
Pak Jajang tersenyum lebar. Senyum yang jarang muncul dari
wajah keriputnya. “Itulah bedanya kau dengan pemancing lain, Jun. Bukan hanya
soal mendapat, tapi soal menjaga. Banyak pemancing yang kalau dapat ikan—besar
atau kecil—langsung dibawa pulang. Mereka tidak berpikir tentang masa depan.
Mereka hanya berpikir tentang perut mereka saat ini.”
“Ikan kecil adalah masa depan, Pak. Saya belajar itu dari
Bapak.”
“Dan kau sudah mengamalkannya dengan baik.”
Tidak lama setelah Junai melepas gabus kecilnya, pelampung
Pak Jajang bergerak. Tidak seperti pelampung Junai yang bergoyang-goyang lama,
pelampung Pak Jajang langsung tenggelam tiba-tiba—tarikan kuat yang membuat
joran bambu tua itu melengkung hampir membentuk huruf U.
“Wah!” Pak Jajang spontan berseru. Tangannya yang keriput
dan sedikit gemetar karena usia, tiba-tiba bergerak lincah. Ia membiarkan ikan
itu berenang dulu, memberi kendor pada senar, lalu menarik perlahan.
Ikan itu melawan keras. Dari tarikannya, Junai bisa menebak
bahwa ini bukan ikan kecil. Mungkin ikan mas berukuran sedang, atau mungkin
gabus yang lebih besar dari yang ia dapat tadi.
“Kuat sekali, Pak!” Junai berseru.
“Iya. Ini pasti ikan mas. Lihat, dia muter-muter, bukan
lari ke akar. Ikan mas biasanya begitu.”
Pak Jajang terus bermain dengan ikan itu. Tarik, kendor,
tarik, kendor. Tangannya yang tua bergerak dengan ritme yang teratur—pengalaman
puluhan tahun memancing tidak bisa dipalsukan. Meskipun fisiknya tidak lagi sekuat
dulu, teknik dan kesabarannya masih sempurna.
Setelah beberapa menit, seekor ikan mas berukuran sedang
muncul di permukaan. Warnanya keperakan dengan sisik-sisik besar yang berkilau
di bawah sinar matahari pagi. Beratnya mungkin sekitar satu kilogram—cukup
untuk dimakan sekeluarga.
Pak Jajang mengangkat ikan itu ke tepi dengan gerakan yang
hati-hati. Ia tidak menggunakan kain basah seperti Junai, karena ikan mas
memiliki sisik yang lebih keras dan tidak terlalu rentan terhadap kerusakan. Ia
melepaskan kail dari mulut ikan dengan jari-jarinya yang cekatan, lalu
memasukkannya ke dalam ember berisi air bersih yang sudah ia siapkan.
“Dapat satu,” kata Pak Jajang dengan senyum puas. “Cukup
buat makan siang nanti. Istri saya sudah lama minta ikan mas. Katanya mau
dimasak pepes.”
“Wah, ibu pasti senang, Pak.”
“Iya. Mudah-mudahan cukup satu. Kalau kurang, nanti beli
tahu tempe di warung Ujang.”
Junai tertawa. Pak Jajang memang selalu sederhana dalam
segala hal. Tidak pernah serakah, tidak pernah ambisius. Ia mengambil
secukupnya, meninggalkan cukup untuk alam.
Junai memasang umpan lagi. Kali ini ia memilih anak kodok
yang lebih besar—sedikit lebih besar dari yang tadi, tapi masih dalam ukuran
yang wajar untuk gabus ukuran sedang. Ia melempar ke celah eceng gondok yang
sama, di mana tadi ia melepas gabus kecil.
“Kenapa di tempat yang sama?” tanya Pak Jajang.
“Ikan gabus teritorial, Pak. Mereka punya daerah kekuasaan
sendiri. Tadi saya lepas gabus kecil di sini, mungkin ada gabus yang lebih
besar di daerah ini juga. Atau mungkin gabus tadi kembali lagi karena dia
merasa aman di sini.”
“Pintar. Kau belajar dari mana itu?”
“Dari Bapak. Waktu kecil, Bapak pernah cerita tentang gabus
yang selalu kembali ke tempat yang sama meskipun sudah ditangkap. Mereka punya
ingatan yang bagus tentang daerah kekuasaannya.”
“Benar. Saya pernah dapat gabus yang sama dua kali dalam
seminggu. Dia kembali ke spot yang sama, pakai umpan yang sama. Kali kedua saya
lepas, karena saya kasihan.”
Junai tersenyum. Ia membayangkan Pak Jajang muda, duduk di
tepi kanal yang sama, melepas ikan gabus yang sama dua kali. Itulah pelajaran
yang tidak bisa didapat dari buku atau YouTube—hanya dari pengalaman dan
kedekatan dengan alam.
Tidak sampai lima belas menit, pelampung Junai bergerak
lagi. Pola yang sama: goyangan kecil, lalu tenggelam. Junai melakukan teknik
yang sama: biarkan, kendor, tarik perlahan. Kali ini ikannya sedikit lebih
besar dari yang pertama, tapi masih dalam ukuran kecil—sekitar dua puluh lima
sentimeter.
Ia melepas kail, memandang ikan itu sebentar, lalu
melepaskannya kembali ke air.
“Lagi dilepas?” tanya Pak Jajang.
“Masih kecil, Pak. Mungkin baru berusia beberapa bulan.”
“Bagus. Itu namanya investasi.”
Junai memasang umpan lagi. Anak kodok ketiga. Kali ini ia
memilih kodok yang paling kecil—hampir seukuran ruas jari kelingking. Ia
melempar ke celah eceng gondok yang sama.
Kali ini lebih cepat. Hanya sekitar lima menit, pelampung
bergerak. Tarikannya lebih kuat dari yang pertama, tapi masih terasa seperti
ikan kecil.
Tapi ketika Junai menarik, ia merasakan sesuatu yang
berbeda. Ikan ini tidak melawan dengan cara berputar-putar seperti gabus. Ikan
ini melawan dengan cara menyelam ke dasar, mencoba membenamkan diri di lumpur.
“Lele,” kata Pak Jajang dari samping. “Itu pasti lele.
Mereka suka menyelam ke dasar kalau kena kail.”
Junai menarik perlahan, memberi sedikit kendor, lalu
menarik lagi. Ikan itu terus menyelam, tapi Junai lebih sabar. Ia membiarkan
ikan itu lelah sendiri, lalu perlahan-lahan mengangkatnya ke permukaan.
Lele berukuran sekitar tiga puluh sentimeter muncul.
Tubuhnya licin kehitaman, dengan kumis panjang di sekitar mulutnya. Junai
mengangkatnya ke tepi dengan hati-hati—lele memiliki duri tajam di siripnya
yang bisa melukai tangan.
“Ini ukuran bagus,” kata Pak Jajang. “Layak bawa pulang.”
Junai mempertimbangkan. Lele ini memang cukup besar—mungkin
setengah kilogram. Cukup untuk dimakan, meskipun tidak terlalu banyak
dagingnya.
“Saya lepas,” kata Junai akhirnya.
“Lagi?” Pak Jajang terkejut. “Ini sudah cukup besar, Jun.
Tidak usah dilepas.”
“Saya tidak butuh ikan hari ini, Pak. Ibu saya sedang tidak
di rumah, pergi ke saudara di kota. Saya makan di warung Ujang saja. Lagipula,
lele ini mungkin baru satu-satunya yang selamat di daerah ini. Biar dia
berkembang biak dulu.”
Pak Jajang menggeleng-geleng kepala, tapi senyumnya tidak
hilang. “Kau ini, Jun. Pemancing paling aneh yang pernah saya temui. Dapat ikan
dilepas terus.”
“Bukan aneh, Pak. Saya hanya berpikir jangka panjang. Kalau
saya ambil semua ikan kecil, nanti tidak ada ikan besar. Kalau saya ambil semua
lele, nanti tidak ada anak lele. Lebih baik saya simpan di kanal, biar dia
tumbuh, biar dia punya anak, biar anak-anaknya nanti bisa saya tangkap.”
“Atau orang lain yang menangkap,” Pak Jajang menambahkan.
“Itu juga tidak masalah, Pak. Yang penting kanal ini tetap
hidup. Yang penting ikan-ikan tetap ada.”
Junai melepaskan lele itu ke air. Ikan itu berenang cepat
ke dasar, menghilang di antara lumpur dan akar eceng gondok.
Kabar bahwa Junai mendapatkan ikan di titik kosong menyebar
cepat di kalangan pemancing Desa Awan Biru. Dalam hitungan jam, berita itu
sudah sampai ke telinga hampir semua orang yang rutin memancing di kanal.
Dadang yang mendengar dari Asep langsung tidak percaya.
“Titik kosong? Di pintu air? Tidak mungkin. Di sana tidak ada ikan. Saya sudah
coba berkali-kali.”
“Tapi kata Pak Jajang, Junai dapat tiga ekor,” Asep
meyakinkan. “Dua gabus kecil dan satu lele. Dilepas semua katanya.”
“Dilepas? Gila dia. Dapat ikan dilepas,” Dadang
geleng-geleng.
“Ya biar kecil katanya. Masih belum layak konsumsi.”
“Tapi setidaknya dia dapat. Saya di bawah jembatan tiga
hari nol besar. Padahal spot ini biasanya paling bagus.”
“Itu karena kanal masih tercemar, Dadang. Ikan-ikan pada
kabur. Mungkin mereka bersembunyi di titik kosong karena di sana lebih tenang.”
Dadang berpikir sejenak. “Kalau begitu, besok saya coba di
titik kosong.”
“Saya juga,” Asep bersemangat. “Toha juga mau.”
Darto yang sedang duduk tidak jauh dari mereka, mendengar
percakapan itu. Ia tidak ikut berkomentar, tapi wajahnya berubah. Selama tiga
hari, ia juga tidak mendapatkan ikan satu pun—meskipun ia sudah mencoba di
berbagai spot, termasuk spot yang biasanya ia klaim sebagai miliknya di bawah
jembatan.
“Darto, mau ikut ke titik kosong besok?” Dadang menawarkan.
Darto tidak menjawab. Ia hanya mendengus, lalu berdiri dan
pergi ke arah lain.
“Dia kenapa sih?” Asep heran.
“Mungkin masih malu-malu,” Dadang menebak. “Soal kemarin,
kan, dia hampir beli umpan kimia. Mungkin dia merasa tidak enak sama Junai dan
Pak Jajang.”
“Tapi kan sudah selesai. Dia sudah minta maaf. Junai sudah
memaafkan.”
“Memaafkan itu gampang, Asep. Tapi melupakan itu susah.
Darto mungkin masih belum bisa melupakan rasa malunya.”
Keesokan paginya, titik kosong yang biasanya sepi mendadak
ramai. Dadang, Asep, dan Toha datang lebih pagi dari biasanya. Mereka membawa
peralatan lengkap: joran, ember, umpan, bahkan kursi lipat untuk Toha.
Junai sudah lebih dulu tiba. Ia duduk di tempat yang sama
seperti kemarin—di tepi barat, di celah eceng gondok yang terbuka. Pak Jajang
tidak datang pagi itu; istrinya sedang sakit, dan ia harus menemani ke
puskesmas.
“Jun! Kami ikut mancing di sini!” Dadang berseru semangat.
“Silakan. Tapi jangan terlalu berisik. Ikan di sini masih
pemalu. Mereka baru mulai berani muncul setelah pencemaran,” Junai
mengingatkan.
“Iya, iya. Saya tahu.”
Dadang memilih tempat tidak jauh dari Junai, di tepi yang
sama. Asep memilih tempat di seberang, di mana eceng gondok tidak terlalu
lebat. Toha memilih tempat di tengah—sebenarnya tidak ada tempat di tengah
karena kanal tidak selebar itu, tapi ia berhasil menemukan gundukan tanah kecil
yang menjorok ke air.
Mereka memasang umpan dan melempar ke air. Dadang memilih
anak kodok—ia ingin mencoba keberuntungan seperti Junai. Asep memilih umpan
fermentasi yang baru saja jadi—racikan dari Junai tiga hari lalu. Toha memilih
jangkrik—umpan andalannya untuk nila.
Tidak sampai setengah jam, Dadang mendapat tarikan. Ia
menarik dengan semangat, tapi yang muncul hanya ikan gabus kecil seukuran jari.
Ia melepasnya dengan kecewa.
“Kecil amat,” gerutunya.
“Lepas aja. Nanti besar lagi,” kata Junai.
“Iya, aku lepas. Tapi kok bisa sih kamu kemarin dapat tiga
ekor? Aku cuma dapat yang kecil begini.”
“Kesabaran, Dadang. Dan juga pemilihan spot yang tepat.
Kamu terlalu dekat dengan eceng gondok. Coba mundur sedikit, lempar ke celah
yang lebih terbuka.”
Dadang mengikuti saran Junai. Ia memundurkan posisinya
sekitar satu meter, lalu melempar ke celah eceng gondok yang lebih lebar.
Sementara itu, Asep mendapat ikan nila kecil. Ia juga
melepasnya karena belum layak konsumsi. Toha belum mendapat apa-apa.
Di tengah kesibukan mereka, Darto datang.
Ia berjalan perlahan dari arah desa, joran di tangan kanan,
ember di tangan kiri. Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia
tidak menyapa siapa pun, langsung duduk di tempat yang agak jauh dari
kerumunan—di dekat akar sawit yang menjuntai, tempat Pak Jajang biasa duduk
kemarin.
Junai melihat Darto dari kejauhan. Ia ingin menyapa, tapi
memilih tidak. Mungkin Darto butuh waktu sendiri.
Darto memasang umpan—cacing tanah, dari kaleng bekas susu
yang ia bawa. Ia melempar ke dekat akar sawit, lalu duduk diam. Jorannya ia
tancapkan di tanah, tidak dipegang.
Beberapa menit berlalu. Pelampung Darto tidak bergerak.
Dadang yang melihat itu, berbisik pada Junai, “Darto kok di
situ? Di sana nggak ada ikan. Tempat Pak Jajang kemarin dapat ikan mas, itu
mungkin kebetulan.”
“Biarkan dia memilih tempatnya sendiri, Dadang. Mungkin dia
punya alasan.”
“Atau mungkin dia hanya mau menyendiri.”
“Itu juga boleh.”
Darto terus duduk diam. Matanya tidak fokus pada pelampung,
tapi ke arah air yang keruh. Pikirannya tampak jauh.
Setelah sekitar setengah jam, Darto mengganti umpan. Ia
mengeluarkan toples plastik berisi anak kodok—sesuatu yang jarang ia lakukan,
karena biasanya ia lebih suka pelet pabrikan atau cacing. Ia memasang anak
kodok itu dengan cara yang kurang tepat—tusukan terlalu dalam, di bagian perut,
membuat kodok itu mati seketika.
Junai melihat itu dari kejauhan. Ia ingin menegur, tapi
Dadang lebih dulu bersuara.
“Darto, itu kodoknya mati. Nggak bakal dimakan gabus kalau
mati. Mereka suka yang bergerak.”
Darto menoleh, wajahnya sedikit merah. “Saya tahu cara
pasang kodok. Nggak perlu diajarin.”
“Tapi itu mati, To. Coba tusuk di punggung, dangkal aja.”
“Urusan saya!” Darto membentak.
Dadang mengangkat tangan, menyerah. “Ya sudah, terserah.”
Darto melempar umpannya dengan gerakan kasar. Anak kodok
yang sudah mati itu jatuh di tengah-tengah rumpun eceng gondok yang paling
rapat—bukan di celah, tapi tepat di tengah, di mana akar-akar eceng gondok
paling lebat.
“Darto, jangan di sana,” Junai akhirnya bersuara. “Di
tengah eceng gondok, kailmu akan tersangkut. Lempar di celah-celahnya, di mana
ada rongga.”
Darto menoleh ke arah Junai. Matanya tajam, seperti sedang
menahan amarah. “Kau pikir kau paling pintar, Jun? Semua orang bilang kau
pemancing terbaik. Tapi lihat, selama tiga hari ini kau dapat berapa? Ikan
kecil yang kau lepas semua. Itu bukan hasil. Itu cuma... cuma buang-buang
waktu.”
“Hasil bukan segalanya, Darto,” Junai menjawab dengan
tenang.
“Bagi saya hasil adalah segalanya!” Darto meninggikan
suara. “Saya mancing untuk membawa pulang ikan, bukan untuk duduk-duduk di tepi
air sambil bermeditasi!”
“Darto, tenang,” Asep mencoba menengahi.
“Kalian semua selalu membela Junai! Selalu bilang Junai
yang paling benar, Junai yang paling sabar, Junai yang paling paham kanal! Tapi
lihat, apa yang berubah? Kanal tetap tercemar! Ikan tetap tidak ada! Dan kalian
masih duduk di sini, memancing dengan cara lama yang tidak menghasilkan
apa-apa!”
“Darto!” Pak Jajang tiba-tiba muncul dari balik rumpun
bambu. Ia datang dengan napas tersengal, mungkin karena berjalan cepat dari
rumahnya. “Kau jangan kasar sama teman-temanmu.”
Darto menunduk, tapi ia tidak minta maaf.
Pak Jajang mendekat. “Kau marah karena tidak dapat ikan.
Saya mengerti. Tapi melampiaskan kemarahan pada Junai, pada Dadang, pada Asep,
itu tidak menyelesaikan masalah.”
“Saya hanya... saya hanya ingin sesuatu berubah,” kata
Darto dengan suara yang sedikit pecah.
“Maka mulailah dari dirimu sendiri,” kata Pak Jajang.
“Bukan dengan marah-marah. Bukan dengan menyalahkan orang lain. Tapi dengan
belajar, dengan memahami, dengan bersabar.”
Darto tidak menjawab. Ia menarik jorannya dengan kasar, dan
pada saat itu, kailnya yang tersangkut di eceng gondok tidak bisa ditarik. Ia
menarik lebih keras, tapi senarnya malah putus.
“Sialan!” Darto membanting joran yang sudah putus senarnya
ke tanah. “Ini senar mahal! Baru saja saya beli di kota! Seratus ribu!”
Rini yang ikut memancing di dekat situ, tertawa kecil.
“Sudah dibilang jangan di tengah.”
Darto menoleh ke arah Rini. Matanya merah. “Kau diam!
Perempuan jangan ikut campur urusan mancing! Ini urusan laki-laki!”
Semua terdiam. Udara mendadak tegang.
“Darto!” Pak Jajang menegur dengan suara keras—sesuatu yang
jarang dilakukan Pak Jajang. “Kau jangan keterlaluan! Rini hanya mengingatkan!
Ini kanal milik bersama, bukan milik laki-laki saja! Rini punya hak yang sama
untuk memancing dan berpendapat!”
Darto menunduk, menyadari kesalahannya. “Maaf,” gumamnya
pelan.
“Bukan saya yang perlu dimintai maaf,” kata Pak Jajang.
Darto menoleh ke arah Rini. “Rini... maaf. Saya emosi.”
Rini menghela napas. “Tidak apa, Darto. Tapi lain kali,
jangan kasar. Kita semua di sini sedang berusaha. Bukan hanya kamu yang
frustasi.”
“Saya tahu. Maaf.”
Pak Jajang duduk di samping Darto. Dengan suara yang lebih
lembut, ia berkata, “Darto, kau tahu kenapa Junai dan saya memilih titik
kosong? Bukan karena kami tidak tahu titik emas. Tapi karena kami tahu, setelah
pencemaran seperti ini, ikan-ikan akan mencari tempat yang aman. Tempat yang
tidak ramai. Tempat yang tenang. Titik kosong itu sebenarnya tidak kosong. Ia
hanya menunggu orang yang sabar.”
“Tapi saya tidak sabar, Pak,” Darto mengakui. “Saya tidak
seperti Junai. Saya tidak bisa duduk berjam-jam tanpa hasil. Saya ingin... saya
ingin sesuatu terjadi. Saya ingin bukti bahwa usaha saya tidak sia-sia.”
“Dan itu tidak salah, Darto. Ambisi itu baik. Tapi ambisi
harus dikendalikan. Kalau tidak, ia akan menghancurkanmu. Dan menghancurkan
orang-orang di sekitarmu.”
Darto terdiam. Ia memandang ke arah Junai yang sejak tadi
tidak ikut ribut. Junai masih duduk tenang di tempatnya, jorannya tertancap,
pelampung mengapung. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun—tidak marah,
tidak kesal, tidak merasa menang.
“Darto,” Junai memanggil tanpa menoleh. “Kemari. Aku punya
anak kodok lebih. Coba pasang yang benar.”
Darto ragu sejenak, lalu berdiri dan berjalan mendekati
Junai.
Junai memberikan seekor anak kodok yang masih hidup dan
gesit. “Pasang di punggung. Tusuk dangkal, jangan sampai tembus. Biarkan
kakinya bergerak.”
Darto mengambil kodok itu dengan hati-hati. Tangannya yang
besar dan agak kaku berusaha meniru cara Junai. Ia menusuk punggung kodok
itu—tidak terlalu dalam, tapi juga tidak terlalu dangkal. Kodok itu menggelepar
sebentar, lalu diam.
“Coba lempar ke celah eceng gondok yang sama dengan
punyaku. Di sana ada rongga. Jangan ke tengah.”
Darto melempar. Anak kodok itu mendarat di celah eceng
gondok, tepat di samping umpan Junai. Ia mulai berenang-renang kecil, kakinya
bergerak aktif.
“Sekarang tunggu,” kata Junai. “Jangan buru-buru narik.
Biarkan kodok berenang. Kalau ada gabus, dia akan mendekat, mengamati, baru
menyambar. Bersabarlah.”
Darto duduk di samping Junai. Untuk pertama kalinya pagi
itu, ia diam. Ia menatap pelampungnya yang mengapung tenang.
Tidak sampai lima belas menit, pelampung Darto bergerak.
Goyangan kecil naik-turun, lalu tiba-tiba tenggelam.
“Tarik!” teriak Dadang dari kejauhan.
Tapi Darto tidak buru-buru. Ia meniru Junai—membiarkan ikan
itu berenang dulu, memberi sedikit kendor, lalu menarik perlahan.
Seekor ikan gabus berukuran sekitar tiga puluh sentimeter
muncul. Tidak besar, tapi lebih besar dari yang didapat Junai kemarin.
Darto mengangkatnya ke tepi. Tangannya gemetar—bukan karena
gugup, tapi karena campuran antara bahagia dan terharu.
“Saya dapat,” katanya lirih. “Saya dapat ikan.”
“Bagus, Darto,” Junai tersenyum. “Itu cara yang benar.”
Darto memandang ikan di tangannya. Ia memikirkan apakah
akan membawanya pulang atau melepasnya.
“Lepas,” kata Junai tiba-tiba. “Masih kecil. Biar besar
dulu.”
Darto menatap Junai. Untuk beberapa detik, mereka
bertatapan. Lalu Darto mengangguk. Ia menurunkan ikan itu ke air perlahan,
membiarkannya berenang kembali ke celah eceng gondok.
“Kenapa dilepas?” tanya Dadang heran. “Itu ukuran lumayan.”
“Kata Junai masih kecil,” jawab Darto sederhana.
“Tapi kamu biasanya... kan suka bawa pulang semua ikan.”
“Saya belajar,” kata Darto sambil memandang Junai. “Saya ingin
belajar.”
Pak Jajang yang melihat itu, tersenyum. “Itu dia, Darto.
Itu yang namanya perubahan. Tidak perlu besar-besaran. Cukup mulai dari hal
kecil. Dari melepas ikan yang masih kecil. Dari belajar memahami kanal.”
Ujang datang dari arah warungnya dengan nampan besar berisi
pisang goreng dan ubi rebus. Ia berjalan perlahan, menghindari akar-akar sawit
yang melintang di jalan setapak.
“Mari, mari. Saya bawa pisang goreng dan ubi rebus. Makan
dulu. Ikan juga butuh waktu untuk lapar,” seru Ujang sambil meletakkan nampan
di atas tikar plastik yang dibentangkan Asep.
Mereka berhenti memancing sejenak, berkumpul di sekitar
tikar. Dadang mengambil pisang goreng dua biji sekaligus, Asep memilih ubi
rebus, Toha mengambil pisang goreng satu dan ubi satu.
“Mang Ujang, gorengannya enak sekali pagi ini,” puji Dadang
dengan mulut penuh.
“Terima kasih. Resep istri saya,” Ujang tersenyum. “Tadi
pagi dia bangun lebih awal untuk menggoreng ini. Katanya, biar anak-anak muda
semangat mancing.”
“Tolong sampaikan terima kasih pada Bu Ujang, Mang,” kata
Junai.
“Iya, nanti saya sampaikan.”
Mereka makan bersama. Suasana yang tadinya tegang karena
pertengkaran Darto dan Rini, perlahan mencair. Ujang memang punya bakat untuk
mencairkan suasana—mungkin karena ia adalah pedagang, terbiasa berurusan dengan
berbagai macam orang.
“Ujang,” Pak Jajang memanggil sambil mengunyah ubi rebus.
“Kau masih ingat dulu, sebelum ada perkebunan sawit besar-besaran, kanal ini
seperti apa?”
Ujang berhenti mengunyah. Matanya menerawang jauh, ke masa
lalu yang mungkin dua puluh tahun yang lalu. “Dulu... dulu airnya jernih, Pak.
Bening. Saya masih kecil waktu itu, sering ikut ayah saya mancing. Ayah saya
bilang, air kanal ini dulu bisa diminum. Orang-orang mandi di sini, mencuci
pakaian, bahkan ada yang mengambil air untuk masak.”
“Bisa diminum?” Toha tidak percaya.
“Iya, Nak. Dulu. Sekitar dua puluh tahun yang lalu. Sebelum
perkebunan sawit menggunakan pupuk kimia dan pestisida dalam jumlah besar. Dulu
petani sawit masih pakai pupuk kandang, pestisida alami. Air hujan yang
mengalir ke kanal tidak berbahaya.”
“Apa yang membuat berubah?” tanya Rini. Ia sudah membuka
buku catatannya.
“Perkebunan sawit mulai menggunakan pupuk kimia dan
pestisida dalam jumlah besar. Mungkin sekitar lima belas tahun yang lalu. Saya
ingat, waktu itu tiba-tiba air kanal berubah warna. Tidak sekotor sekarang,
tapi mulai keruh. Ikan-ikan mulai berkurang. Dulu kanal ini surga memancing.
Ikan gabus bisa sebesar paha orang dewasa. Ikan mas merah berenang-berenang di
permukaan, seperti tidak takut pada manusia. Kami anak-anak dulu sering
berenang di sini, airnya segar, tidak seperti sekarang.”
“Seberapa besar gabus dulu, Mang?” Dadang bertanya dengan
mata berbinar.
“Besar. Saya pernah lihat tetangga saya, Pak Darmo, dapat
gabus sepanjang lengan orang dewasa. Mungkin satu meter lebih. Beratnya sampai
lima kilo. Dia bawa pulang pakai gerobak.”
“Lima kilo?” Dadang terbelalak.
“Iya. Dulu memang banyak ikan besar. Tapi itu juga karena
belum banyak pemancing. Dulu orang desa memancing hanya untuk kebutuhan
sehari-hari. Tidak untuk dijual. Mereka mengambil secukupnya, melepas yang
kecil. Itu sebabnya ikan-ikan bisa tumbuh besar.”
“Sekarang?” Toha bertanya.
“Sekarang... semua ingin banyak, ingin cepat. Pakai umpan
kimia, pakai setrum, pakai jaring halus. Ikan kecil diambil, ikan besar
diambil, telur-telur ikan pun diambil. Tidak ada yang tersisa untuk berkembang
biak. Belum lagi pencemaran dari pupuk dan pestisida perkebunan. Kanal jadi
tertekan dari berbagai sisi.”
Darto yang mendengar kata “setrum” tiba-tiba menegang. Ia
memandang ke arah lain, menghindari tatapan orang-orang di sekitarnya.
Junai menangkap itu. “Darto, kau pernah lihat orang pakai
setrum di kanal ini?”
Darto tidak menjawab segera. Ia memandang ke arah air, ke
arah eceng gondok, ke arah langit—ke mana saja kecuali ke arah Junai.
“Darto?” Junai memanggil lagi.
“Saya... tidak pernah,” jawab Darto cepat. Terlalu cepat.
“Kau yakin? Karena kalau ada yang pakai setrum, itu ilegal.
Ikan mati semua, bahkan yang kecil-kecil. Telur-telur ikan di akar-akar sawit
juga hancur. Setrum itu lebih kejam dari racun, karena tidak hanya membunuh,
tapi juga melumpuhkan sistem saraf ikan. Mereka mati dalam kesakitan.”
“Saya bilang tidak pernah!” Darto berdiri, membawa jorannya
pindah ke lokasi lain—lebih jauh dari kerumunan, di dekat akar sawit yang
menjuntai di seberang.
Rini menatap Junai dengan makna. “Darto menyembunyikan
sesuatu.”
“Saya tahu,” Junai menghela napas. “Tapi kita tidak bisa
memaksanya. Dia akan bicara kalau sudah siap.”
“Tapi kalau dia terlibat dalam penggunaan setrum, itu
serius, Jun. Setrum itu mematikan bagi ekosistem.”
“Saya tahu, Rin. Tapi kita tidak punya bukti. Hanya
kecurigaan. Dan Darto sudah mulai berubah. Tadi dia melepas ikannya. Itu
kemajuan.”
“Mudah-mudahan cukup,” Rini masih ragu.
“Biarkan dulu,” kata Junai. “Sekarang fokus kita pada
kanal. Kita harus mencari cara agar ikan bisa kembali. Kalau kita saling
curiga, tidak ada yang selesai.”
Ujang melanjutkan ceritanya. “Dulu, sekitar dua puluh tahun
lalu, kanal ini adalah surga memancing. Bukan hanya karena ikannya banyak, tapi
juga karena airnya bersih. Kami anak-anak sering berenang di sini. Airnya
jernih, kita bisa lihat ikan-ikan berenang di bawah. Kadang kita kejar-kejaran
ikan, tapi tidak pernah kita tangkap karena tidak punya alat.”
“Berenang di kanal?” Toha terkejut. “Bukannya kanal itu
dalam?”
“Tidak sedalam sekarang. Dulu sebelum ada pengerukan, kanal
ini hanya sedalam satu meter di musim kemarau. Mungkin satu setengah meter di
musim hujan. Aman untuk anak-anak. Tapi sekarang... setelah bertahun-tahun
sedimentasi dan pengerukan, kedalamannya bisa sampai dua meter di beberapa
titik. Berbahaya untuk berenang.”
“Dan ikannya,” Asep menambahkan, “dulu ikan mas merah
berenang-renang di permukaan. Saya pernah lihat foto lama di rumah kakek saya.
Ikan mas sebesar paha orang dewasa.”
“Iya. Ikan mas dulu memang besar-besar. Mungkin karena
makanan alami masih banyak. Buah sawit yang jatuh ke kanal difermentasi secara
alami, jadi makanan bagi ikan-ikan kecil. Ikan-ikan kecil jadi makanan bagi
ikan besar. Rantai makanan berjalan dengan baik.”
“Sekarang?” tanya Dadang.
“Sekarang... rantai makanan itu rusak. Ikan kecil mati
karena pencemaran. Ikan besar mati karena tidak ada makanan atau karena
ditangkap dengan cara-cara ilegal. Kanal jadi tidak seimbang.”
Junai yang mendengar itu, mengangguk. “Itu sebabnya kita
harus menjaga. Bukan hanya dengan tidak merusak, tapi juga dengan memperbaiki.
Membersihkan kanal, menanam bibit ikan, membuat kawasan konservasi. Itu yang
akan kita lakukan setelah kanal pulih.”
“Kapan pulihnya?” Dadang bertanya dengan nada frustasi.
“Tidak tahu. Bisa minggu, bisa bulan. Tapi kita harus mulai
dari sekarang. Dari hal-hal kecil. Seperti yang kita lakukan hari ini. Mancing
di titik kosong, melepas ikan kecil. Itu adalah awal dari pemulihan.”
Matahari semakin tinggi. Mereka melanjutkan memancing
hingga siang. Dadang mendapat dua ekor gabus kecil, dilepas semua. Asep
mendapat seekor nila kecil, juga dilepas. Toha masih nihil. Darto, setelah
pindah ke seberang, mendapat seekor lele kecil yang juga ia lepas.
Junai mendapat tiga ekor lagi—dua gabus kecil dan satu nila
kecil. Semua dilepas.
Mereka pulang dengan ember kosong. Tapi hati mereka tidak
kosong. Ada pelajaran yang didapat, ada hubungan yang mulai pulih, dan ada
harapan yang mulai tumbuh.
BAB 5: Hari Tanpa Hasil
Hari kelima setelah pencemaran. Matahari terbit seperti
biasa di ufuk timur, menyapu kabut tipis yang menggantung di atas perkebunan
sawit. Burung-burung berkicau, ayam-ayam berkokok, dan kehidupan desa berjalan
seperti biasanya. Tapi di tepi kanal, suasana berbeda. Ada sesuatu yang berat
menggantung di udara—lebih berat dari kabut pagi, lebih dingin dari embun yang
menetes dari daun-daun sawit.
Junai tiba di tepi kanal pukul setengah enam, seperti
biasa. Ia sudah menyiapkan umpan fermentasi baru semalam, berharap hari ini
akan berbeda. Tapi ketika ia melihat air kanal yang masih keruh kehijauan,
ketika ia mencium bau anyir yang masih tertinggal, harapan itu perlahan luntur.
Ia memilih spot di tikungan dekat pohon karet tua—spot yang
kemarin sempat memberikan beberapa ekor ikan kecil. Ia memasang umpan
fermentasi di joran pertama, anak kodok di joran kedua. Ia melempar dengan
hati-hati, memastikan umpan jatuh di tempat yang tepat.
Pelampung mengapung. Air diam. Tidak ada gerakan.
Satu jam berlalu. Dua jam. Tidak ada tanda-tanda ikan.
Pelampung Junai mengapung tenang seperti mati. Anak kodok yang tadinya
berenang-renang kini sudah lelah, hanya mengapung di permukaan dengan sesekali
gerakan kecil.
Junai tidak bergerak. Ia duduk diam, memandang air, mencoba
membaca tanda-tanda yang mungkin luput. Tapi tidak ada. Air itu seperti kosong.
Mati.
Pak Jajang datang sekitar pukul tujuh. Ia berjalan
perlahan, dituntun oleh tongkat bambu yang baru saja dibuatkan oleh menantunya.
Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya—mungkin karena semalam ia tidak bisa
tidur memikirkan kanal.
“Jun, sudah dapat?” tanya Pak Jajang meskipun sudah tahu
jawabannya.
“Belum, Pak. Sama sekali belum. Seperti tidak ada yang
hidup di sini.”
Pak Jajang duduk di samping Junai, meletakkan jorannya di
tanah. Matanya yang tua dan berpengalaman itu menyapu permukaan air, mencari
sesuatu—riak kecil, gelembung, apa pun yang menandakan kehidupan. Tidak ada.
“Ini hari kelima, Jun. Biasanya, setelah pencemaran seperti
ini, ikan-ikan mulai muncul di hari ketiga atau keempat. Tapi ini hari kelima,
dan belum ada tanda-tanda.”
“Mungkin pencemarannya lebih parah dari yang kita kira,
Pak.”
“Mungkin. Atau mungkin... ikannya sudah mati semua.”
Junai menoleh ke arah Pak Jajang. Untuk pertama kalinya, ia
mendengar nada putus asa dari suara lelaki tua itu. Pak Jajang yang selalu
tegar, selalu optimis, selalu punya solusi—kali ini tampak lelah. Lelah karena
usia, lelah karena melihat kanal yang dicintainya hancur di depan mata.
“Belum semuanya mati, Pak. Kemarin kita dapat beberapa ekor
di titik kosong.”
“Itu kemarin. Hari ini? Coba lempar ke titik kosong, lihat
apakah masih ada.”
Junai berdiri. Ia berjalan ke selatan, ke titik kosong yang
kemarin memberikan harapan. Pak Jajang mengikutinya perlahan.
Di titik kosong, pemandangan yang sama. Air masih keruh,
eceng gondok masih lebat, tapi tidak ada tanda-tanda ikan. Junai melempar umpan
anak kodok ke celah yang sama seperti kemarin. Ia menunggu.
Sepuluh menit. Dua puluh. Tiga puluh. Tidak ada gerakan.
Junai menarik umpan. Anak kodok itu masih hidup, tapi sudah
lesu. Ia mengganti dengan yang baru, melempar lagi. Menunggu lagi.
Satu jam. Tidak ada.
Ia mencoba di tiga titik berbeda di area titik kosong.
Hasilnya sama: nihil. Nol. Kosong.
Pak Jajang yang memperhatikan dari kejauhan, hanya bisa
menghela napas. “Mereka pergi, Jun. Atau mungkin mati.”
Junai tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tepi kanal,
memandang air yang keruh, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa
tidak berdaya.
Pukul delapan pagi, Dadang, Asep, dan Toha datang. Wajah
mereka sudah tampak lesu sebelum mulai memancing. Tiga hari tanpa hasil telah
menguras semangat mereka.
Dadang langsung mengambil posisi di bawah jembatan—spot
yang dulu selalu memberikan ikan, tapi selama tiga hari terakhir kosong
melompong. Asep memilih di tikungan dekat pohon karet. Toha mencoba di dekat
pintu air.
Ujang datang membawa gorengan, tapi kali ini tidak ada yang
bersemangat menyambutnya. Rini datang dengan buku catatan, tapi matanya
sembab—mungkin semalam ia menangis melihat data sampel air yang semakin buruk.
Darto datang paling belakang. Ia tidak menyapa siapa pun,
langsung duduk di spot yang agak terpisah, di dekat akar sawit yang menjuntai
di seberang. Wajahnya datar, tidak bisa dibaca.
Pukul sembilan. Belum ada yang dapat ikan.
Pukul sepuluh. Masih belum.
Pukul sebelas. Tidak ada satu pun pelampung yang bergerak.
Dadang yang biasanya paling sabar di antara pemuda—setelah
Junai, tentu saja—mulai gelisah. Ia mengganti umpan, mengganti spot, mengganti
kail, mengganti segala sesuatu yang bisa diganti. Tapi hasilnya tetap sama:
tidak ada.
“Sial!” Dadang membanting jorannya ke tanah. “Ini hari
kelima! Hari kelima saya tidak dapat ikan! Padahal saya sudah coba semua spot,
semua umpan, semua trik!”
Asep yang mendengar itu, ikut kesal. “Kamu baru lima hari?
Saya sudah seminggu! Sejak sebelum pencemaran, saya sudah tidak dapat ikan
besar!”
“Tapi kamu masih dapat ikan kecil, Asep. Saya nihil! Nol!
Tidak ada sama sekali!” Dadang berteriak.
“Tenang, Dadang,” Junai mencoba menenangkan dari kejauhan.
“Tenang? Kau suruh aku tenang? Sementara adikku sakit, Jun!
Adikku demam tiga hari, nggak mau makan. Dokter bilang harus makan makanan
bergizi, terutama ikan. Tapi ikan mana? Kanal kosong! Pasar juga jarang jual
ikan segar karena semua nelayan juga kena dampak pencemaran!”
Dadang duduk di tanah, memegangi kepalanya. Bahunya
bergetar. Untuk pertama kalinya, pemuda yang selalu ceria dan penuh semangat
itu menangis.
Asep mendekat, duduk di samping Dadang. “Maaf, Dadang. Aku
nggak tahu adikmu sakit.”
“Sudah tiga hari, Asep. Tiga hari. Aku sudah beli ikan asin
di warung, tapi adikku nggak suka. Dia cuma mau ikan segar. Ikan gabus
kesukaannya. Tapi aku nggak bisa kasih.”
Junai mendengar itu. Ia menutup matanya sebentar, merasakan
beban yang sama di dadanya. Ia juga punya tanggungan—ibunya yang sudah tua,
yang setiap hari meminta ikan segar untuk lauk. Selama lima hari ini, ia
terpaksa membeli ikan dari pasar kecamatan yang harganya melambung tinggi
karena kelangkaan.
“Ini semua karena ulah pemancing yang tidak bertanggung
jawab!” Dadang tiba-tiba berdiri, matanya merah menahan marah dan tangis.
“Mereka yang pakai umpan kimia, yang pakai setrum, yang buang racun ke kanal!
Mereka yang bikin kanal ini rusak! Mereka yang bikin adikku susah makan!”
“Jangan menyalahkan orang begitu saja,” sahut Darto dari
kejauhan. Suaranya sinis, dingin. “Kanal ini sudah rusak sejak lama karena
pupuk kimia dari perkebunan. Kita yang memancing hanya korban. Korban dari
sistem yang lebih besar.”
“Korban?” Dadang menoleh ke arah Darto. Matanya menyala.
“Kau bicara korban? Kau sendiri yang kemarin beli umpan kimia dari orang kota!
Kau sendiri yang hampir meracuni kanal dengan barang-barang haram itu!”
Asep ikut angkat suara. “Benar, Darto! Kemarin Junai dan
Pak Jajang sudah membelamu, bilang kamu sudah sadar, bilang kamu sudah berubah.
Tapi lihat! Sekarang kanal makin parah! Mungkin kamu diam-diam masih pakai
umpan kimia!”
Darto berdiri. Wajahnya merah padam. “Apa katamu? Umpan
kimia? Saya beli pelet biasa dari toko pakan ternak. Itu legal! Itu dijual
bebas di toko!”
“Legal? Pelet yang dicampur perasa sintetis itu tetap
berbahaya, Darto!” Rini maju selangkah. Sejak tadi ia diam, tapi kini suaranya
tegas. Buku catatannya terbuka di tangannya, menunjukkan data yang sudah ia
kumpulkan. “Saya sudah cek sampel air di laboratorium sederhana setiap hari.
Kadar fosfat dan nitrogen meningkat drastis sejak seminggu yang lalu. Fosfat
dan nitrogen itu berasal dari pupuk kimia—dan dari umpan kimia yang mengandung
perangsang sintetis. Kadarnya sudah di atas ambang batas normal. Ini memicu
ledakan alga, alga menutupi permukaan air, oksigen berkurang, dan ikan mati
perlahan karena tidak bisa bernapas.”
“Jadi saya yang salah? Saya cuma satu orang! Satu orang
dengan satu botol umpan yang bahkan tidak saya pakai!” Darto membela diri.
“Kau bukan satu-satunya, Darto,” Pak Jajang berdiri dari
tempatnya. Suaranya dingin, tajam seperti pisau. Matanya yang tua menatap Darto
tanpa berkedip. “Tapi kau adalah salah satu yang ikut memperparah. Dan saya
tahu, kau juga mengambil sesuatu dari dua orang kota itu di hulu kanal beberapa
hari lalu. Bukan hanya satu botol perangsang yang kamu tunjukkan kemarin. Ada
sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berbahaya.”
Wajah Darto memucat. Pucat seperti kapur. Tangannya yang
memegang joran mulai gemetar.
“Bapak... bagaimana bisa... bagaimana Bapak tahu?”
“Saya sudah tua, Darto. Tapi mata saya masih tajam. Lebih
tajam daripada mata kalian semua yang masih muda. Saya lihat kau pergi ke hulu
pada hari kejadian. Saya lihat kau bertemu dengan dua orang kota itu. Saya
lihat kau menerima sesuatu dari mereka—bukan satu botol, tapi dua. Satu botol
biru yang kamu tunjukkan kemarin, dan satu botol lain yang kamu sembunyikan.
Saya tidak tahu itu apa, tapi saya yakin itu bukan sesuatu yang baik. Saya juga
lihat kau membawa pulang tas penuh ikan malam itu—ikan yang tidak mungkin kau
dapat dengan joran dalam waktu singkat.”
Semua mata tertuju pada Darto. Dadang, Asep, Toha, Rini,
Ujang, bahkan Junai—semua menatap Darto dengan ekspresi yang berbeda-beda: ada
yang marah, ada yang kecewa, ada yang tidak percaya.
Darto terdiam. Dadanya naik turun. Tangannya yang gemetar
kini mengepal erat, memegang joran seperti orang yang akan terjatuh jika
melepaskannya.
“Darto,” Junai akhirnya bersuara. Suaranya tenang, tapi ada
nada sakit di dalamnya—sakit karena dikhianati oleh teman sendiri. “Apa yang
Pak Jajang katakan itu benar? Kamu menerima sesuatu dari mereka? Kamu membawa
pulang ikan malam itu?”
Darto tidak menjawab. Ia menunduk, memandang tanah di bawah
kakinya. Bahunya bergetar.
“Darto, jawab!” bentak Dadang.
“Sudah, Dadang. Jangan bentak,” Junai menahan.
“Jangan bentak? Dia sudah berbohong kepada kita semua, Jun!
Dia bilang dia tidak jadi membeli umpan kimia, tapi ternyata dia menerima
sesuatu dari orang kota itu! Dia bilang dia pulang tanpa membawa apa-apa, tapi
ternyata dia membawa pulang ikan!”
“Kita dengar dulu penjelasannya,” Junai tetap tenang.
Darto mengangkat wajah. Matanya merah, basah. “Saya... saya
tidak bermaksud berbohong. Saya malu. Saya sangat malu.”
“Ceritakan,” kata Junai.
Darto menarik napas panjang. Tangannya masih gemetar. “Hari
itu... hari ketika kanal ditemukan tercemar. Saya ke selatan bukan hanya untuk
beli umpan. Saya juga... saya juga diminta tolong oleh mereka. Dua orang kota
itu. Mereka bilang, mereka butuh bantuan untuk mengangkut ikan. Ikan yang
mereka dapat dari... dari racun yang mereka tebar.”
Semua terdengar suara tertahan dari Dadang. Asep memegang
Dadang agar tidak meledak.
“Mereka janji akan bagi hasil. Setengah untuk saya. Saya...
saya pikir, ini kesempatan saya. Kesempatan untuk akhirnya punya banyak ikan.
Untuk membuktikan pada kalian semua—terutama pada Junai—bahwa saya juga bisa.
Saya juga bisa pulang dengan ember penuh.”
“Darto...” Junai menghela napas.
“Saya tahu itu salah. Saya tahu sejak awal itu salah. Tapi
saya pikir, sekali saja. Sekali saja saya menang. Sekali saja saya pulang
dengan ikan banyak. Saya sudah lelah selalu kalah. Saya sudah lelah selalu
menjadi yang kedua setelah Junai.”
“Ini bukan kompetisi, Darto,” kata Pak Jajang dengan suara
yang lebih lembut.
“Bagi saya ini kompetisi, Pak! Bagi saya, setiap kali
memancing adalah kesempatan untuk membuktikan diri. Ayah saya dulu pemancing
terbaik di desa ini. Setiap orang mengenalnya. Tapi sekarang... sekarang dia
hanya terbaring di tempat tidur, sakit-sakitan, tidak bisa memancing lagi. Dan
saya... saya tidak pernah bisa menjadi seperti dia. Saya tidak pernah bisa
memancing sebaik dia. Dan Junai... Junai yang bukan anak kandungnya, lebih bisa
memancing daripada saya.”
Semua terdiam. Kilas balik itu mengubah segalanya.
Pak Jajang yang selama ini dikenal sebagai sesepuh
pemancing desa, ternyata juga adalah ayah tiri dari Darto. Junai adalah anak
angkatnya—dibawa pulang dari panti asuhan ketika masih kecil, diajari
memancing, diasuh seperti anak sendiri.
“Darto,” Pak Jajang memanggil dengan suara yang berat.
“Selama ini kau menyimpan rasa itu? Rasa cemburu pada Junai?”
Darto tidak menjawab, tapi air matanya jatuh.
“Darto, dengarkan saya. Junai bukan penggantimu. Junai
adalah saudaramu. Saya tidak pernah mencintainya lebih dari aku mencintaimu.
Tapi dia butuh perhatian lebih karena dia tidak punya siapa-siapa. Kau punya
ibu, punya keluarga besar. Junai hanya punya saya.”
“Saya tahu, Pak. Saya tahu itu. Tapi tetap saja... setiap
kali orang membandingkan, setiap kali orang bilang Junai lebih baik, itu sakit.
Sangat sakit.”
Junai yang mendengar itu, berjalan mendekati Darto. Ia
berdiri di hadapan Darto, menatap matanya yang merah.
“Darto, kau tahu kenapa aku bisa memancing lebih baik?
Bukan karena aku lebih pintar. Bukan karena aku lebih berbakat. Tapi karena aku
tidak punya beban. Aku memancing bukan untuk membuktikan apa pun pada siapa
pun. Aku memancing karena aku senang. Karena kanal ini memberiku ketenangan.
Tapi kau... kau memancing dengan beban. Beban untuk membuktikan diri, beban
untuk menjadi yang terbaik, beban untuk menyamai ayahmu. Itu yang membuatmu
tidak pernah bisa memancing dengan tenang.”
Darto menatap Junai. “Jadi salahku? Salah karena aku ingin
membanggakan ayahku?”
“Tidak salah. Tapi caramu salah. Ayahmu tidak akan bangga
melihat kau menerima hasil curian dari peracuni kanal. Ayahmu tidak akan bangga
melihat kau membawa pulang ikan dari racun yang membunuh ribuan ikan lain.”
Darto menunduk. Tangannya yang gemetar kini menggenggam
ranselnya.
“Dan itu bukan satu-satunya, kan?” Junai bertanya pelan.
“Kau masih menyembunyikan sesuatu.”
Darto mengangkat wajah. Matanya kosong, seperti orang yang
sudah kehilangan segalanya.
“Setrum,” katanya lirih.
Semua terdengar desis napas tertahan.
“Saya juga beli setrum dari mereka. Setrum ikan. Mereka
bilang alat itu tidak membunuh, hanya membuat ikan pingsan. Saya pikir, kalau
saya punya setrum, saya bisa dapat ikan sebanyak mungkin. Saya bisa jual, bisa
kasih ke adik Dadang yang sakit, bisa kasih ke ibu-ibu yang butuh ikan. Saya
pikir saya akan menjadi pahlawan.”
“Darto...” Ujang menggeleng-geleng kepala.
“Tapi ternyata tidak semudah itu. Setrum itu membunuh,
Darto. Ikan mati, bukan pingsan. Ikan kecil mati, telur-telur ikan di akar
sawit hancur, ekosistem rusak. Setrum itu kejam,” kata Rini.
“Saya tahu. Saya tahu sekarang. Tapi waktu itu... waktu itu
saya pikir, ini jalan pintas. Saya sudah lelah dengan jalan panjang yang tidak
pernah membawa saya ke mana-mana.”
“Darto,” Pak Jajang memanggil. “Kau masih punya setrum
itu?”
Darto mengangguk. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan sebuah
alat kecil berwarna hitam—seperti stun gun yang dimodifikasi, dengan dua
elektroda di ujungnya dan baterai besar di bagian tengah.
“Ini. Saya belum pernah menggunakannya. Saya takut. Setiap
kali saya mau pakai, tangan saya gemetar. Saya pikir, ini tidak benar. Ini
bukan memancing. Ini... ini pembunuhan.”
Dadang yang tadinya marah, kini hanya bisa diam. Ia melihat
Darto yang gemetar memegang alat setrum itu, dan untuk pertama kalinya, ia
melihat Darto bukan sebagai musuh, tapi sebagai saudara yang tersesat.
“Kenapa kau tidak bilang dari awal?” tanya Dadang.
“Karena saya takut. Takut kalian akan membenci saya. Takut
Pak Jajang akan kecewa. Takut Junai akan menganggap saya sampah.”
“Kami tidak akan membenci,” kata Junai. “Tapi kami kecewa.
Bukan karena kau beli setrum, tapi karena kau tidak percaya pada kami. Kau
pilih jalan sendiri, tanpa memberi kami kesempatan untuk membantu.”
“Saya malu,” Darto berkata dengan suara pecah. “Saya sangat
malu.”
Dadang yang sedari tadi diam, tiba-tiba melangkah maju.
Asep mencoba menahannya, tapi Dadang mendorong tangan Asep.
“Dadang, jangan!” Asep memperingatkan.
“Tenang, Asep. Aku tidak akan memukulnya.”
Dadang berdiri di depan Darto. Ia memandang Darto dengan
mata yang masih merah, tapi tidak lagi dengan amarah. Ada kelelahan di sana,
ada kekecewaan, tapi juga ada sesuatu yang lain—mungkin empati.
“Darto, kau tahu kenapa aku marah? Bukan karena kanal
tercemar. Bukan karena aku tidak dapat ikan. Tapi karena adikku sakit, dan aku
tidak bisa memberinya ikan. Dan kau, dengan setrum itu, dengan umpan kimia itu,
kau membuat semuanya lebih sulit. Ikan-ikan mati, kanal rusak, dan orang-orang
seperti aku—yang hanya ingin memberi makan adik yang sakit—tidak punya
apa-apa.”
“Maafkan saya, Dadang,” Darto berkata dengan suara nyaris
tak terdengar.
“Tidak, Darto. Kau jangan minta maaf padaku. Kau harus
minta maaf pada kanal ini. Pada ikan-ikan yang mati. Pada Pak Jajang yang sudah
membesarkanmu. Pada Junai yang selalu menganggapmu saudara.”
Darto menunduk dalam-dalam. Air matanya jatuh ke tanah.
Pak Jajang melangkah maju. Dengan tangan yang gemetar
karena usia, ia mengambil alat setrum dari tangan Darto. Alat itu berat,
dingin, dan terasa jahat di genggamannya.
“Ini,” kata Pak Jajang, “akan saya serahkan pada polisi.
Atau saya hancurkan sendiri. Terserah kau.”
“Hancurkan saja, Pak. Saya tidak mau lagi melihatnya.”
Pak Jajang mengangguk. Ia menyerahkan alat itu pada Junai.
“Jun, hancurkan. Jangan sampai ada yang bisa memakainya lagi.”
Junai mengambil alat itu. Ia melihatnya sebentar—bayangan
betapa banyak ikan yang bisa mati dalam hitungan menit dengan benda kecil ini.
Lalu dengan kedua tangannya, ia membantingnya ke batu besar di tepi kanal.
Sekali, dua kali, tiga kali. Plastiknya pecah, komponen dalamnya hancur,
baterainya terlepas. Junai mengambil baterai itu dan melemparkannya jauh ke
dalam semak—tidak ke kanal, karena baterai juga beracun.
“Sudah,” kata Junai. “Tidak ada lagi setrum di desa ini.”
Darto masih berdiri di tempatnya, tidak bergerak. Air
matanya sudah berhenti, tapi wajahnya masih pucat.
“Junai,” Darto memanggil dengan suara parau. “Kenapa kau
selalu tenang? Kenapa kau tidak pernah marah? Bahkan sekarang, setelah tahu aku
membeli setrum, setelah tahu aku menerima ikan dari peracuni kanal, kau masih
bisa berdiri di sana dengan wajah tenang itu. Apakah kau tidak marah? Apakah
kau tidak kecewa? Apakah kau tidak merasa dikhianati?”
Semua mata tertuju pada Junai. Ini adalah ujian
baginya—momen yang akan menentukan bagaimana Darto dan yang lain melihatnya ke
depan.
Junai berdiri di hadapan Darto. Wajahnya tidak marah, tapi
juga tidak tersenyum. Ada ketenangan di sana, tapi juga ada kesedihan yang
dalam.
“Darto, aku marah,” kata Junai akhirnya. “Aku sangat marah.
Bukan karena kau beli setrum. Bukan karena kau menerima ikan dari mereka. Tapi
karena kau tidak percaya padaku. Karena kau memilih jalan yang salah tanpa
pernah datang padaku dan berkata, 'Jun, aku butuh bantuan.' Selama ini kau
melihatku sebagai saingan, padahal aku selalu melihatmu sebagai saudara.”
Darto menunduk.
“Kau tahu, Darto,” Junai melanjutkan, “setiap pagi ketika
aku memancing, aku selalu melihatmu dari kejauhan. Aku melihat bagaimana kau
mengganti umpan berkali-kali, bagaimana kau berpindah spot, bagaimana kau
menarik joran dengan kasar ketika ikan tidak juga datang. Dan aku selalu ingin
mendekat, menawarkan bantuan. Tapi aku tahu, kau akan menganggapnya sebagai
bentuk kesombongan. Seperti aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih baik. Padahal
aku hanya ingin membantu.”
“Aku... aku memang akan berpikir begitu,” Darto mengakui.
“Setiap kali kau mendekat, aku pikir kau mau pamer. Aku pikir kau mau bilang,
'Lihat, aku lebih pintar darimu.'”
“Itu karena kau terlalu banyak mendengarkan bisikan hatimu
sendiri, Darto. Bukan mendengarkan apa yang sebenarnya aku katakan.”
Darto mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Junai.
“Dan sekarang? Setelah semua ini? Setelah aku berbohong, setelah aku membeli
setrum, setelah aku menerima ikan dari racun? Apa kau masih mau menganggapku
saudara?”
Junai tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju,
membuka tangannya, dan memeluk Darto.
Darto kaku pada awalnya. Tidak terbiasa dengan sentuhan.
Tapi kemudian, perlahan, tubuhnya meleleh. Ia menangis. Bukan tangis isak
tangis yang tertahan, tapi tangis keras yang keluar dari dadanya—tangis seorang
laki-laki yang selama bertahun-tahun menahan beban sendirian.
“Sudah, To. Sudah,” Junai berkata pelan. “Kita perbaiki ini
bersama. Kanal ini, desa ini, hubungan kita. Kita perbaiki bersama.”
Pak Jajang yang melihat itu, meneteskan air mata. Ia tidak
menyangka hari ini akan berakhir seperti ini. Ia mengira akan ada perkelahian,
akan ada pertengkaran, akan ada perpecahan. Tapi Junai—anak angkatnya yang
selalu tenang itu—memilih jalan yang berbeda. Jalan yang mempertemukan, bukan
memecahbelah.
Dadang yang tadinya masih menyimpan amarah, kini ikut
terharu. Ia mendekati Darto dan Junai, ikut melingkarkan tangannya. Asep dan
Toha ikut. Rini menangis di samping Ujang. Ujang hanya bisa mengusap matanya
dengan lengan bajunya.
Setelah suasana mereda, mereka duduk kembali di tepi kanal.
Pak Jajang memimpin mereka duduk melingkar di tikar plastik yang dibentangkan
Ujang.
“Duduklah, anak-anak. Saya akan bercerita,” kata Pak Jajang
dengan suara yang berat tapi hangat.
Mereka duduk. Ujang membagikan gorengan yang tadinya hampir
tidak disentuh. Kali ini, mereka makan dengan perlahan, mendengarkan.
“Dulu, sekitar tiga puluh tahun yang lalu,” Pak Jajang
memulai, “saya adalah pemancing terbaik di desa ini. Bukan karena saya pintar,
tapi karena saya punya waktu. Saya tidak punya kebun sawit seperti kalian,
tidak punya warung seperti Ujang. Saya hanya punya kanal ini dan joran bambu
pemberian ayah saya. Setiap hari saya di sini, dari pagi sampai sore. Saya
belajar membaca arus, belajar membaca cuaca, belajar membaca perilaku ikan.”
“Kemudian saya menikah. Istri saya—ibunya Darto—seorang
perempuan yang baik. Kami punya Darto. Saya sangat bahagia. Tapi kebahagiaan
itu tidak berlangsung lama. Istri saya meninggal ketika Darto masih kecil. Saya
tidak tahu harus berbuat apa. Saya tidak bisa mengasuh anak sambil memancing
seharian.”
“Lalu saya bertemu dengan Junai. Waktu itu dia masih kecil,
tinggal di panti asuhan di kecamatan. Saya melihat dia duduk di tepi sungai,
memandang air, seperti sedang memancing tapi tanpa joran. Saya bertanya, 'Nak,
kau sedang apa?' Dia menjawab, 'Saya sedang menunggu ikan.' Saya bilang, 'Kau
tidak punya joran, bagaimana kau bisa dapat ikan?' Dia menjawab, 'Saya tidak
perlu joran. Saya hanya ingin melihat mereka berenang.'”
“Saat itu juga saya tahu, anak ini istimewa. Saya
membawanya pulang, saya adopsi, saya besarkan bersama Darto. Saya pikir, Darto
akan senang punya saudara. Tapi ternyata tidak. Darto melihat Junai sebagai
ancaman. Sebagai saingan. Sebagai perebut kasih sayang.”
Darto menunduk. “Maaf, Pak.”
“Tidak perlu minta maaf, Nak. Saya mengerti. Sebagai anak
kecil, kau merasa kehilangan. Kau pikir Junai mengambil tempatmu. Padahal
tidak. Junai hanya menambah. Menambah cinta, menambah kebersamaan, menambah
tawa di rumah kita.”
“Tapi saya tidak pernah bisa menerimanya, Pak. Sampai
sekarang.”
“Dan itu tidak apa-apa, Darto. Menerima seseorang butuh
waktu. Tapi jangan biarkan kebencian itu menghancurkanmu. Lihatlah Junai. Dia
tidak pernah membencimu. Bahkan ketika kau memperlakukannya dengan dingin,
ketika kau menyindirnya, ketika kau menganggapnya saingan—dia tidak pernah
marah. Dia hanya menunggu. Menunggu kau siap.”
Junai tersenyum tipis. “Kita bersaudara, To. Saudara tidak
harus selalu sepakat. Tapi saudara harus selalu ada untuk satu sama lain.”
Darto mengangkat wajah. Matanya masih merah, tapi ada
kelegaan di sana. Beban yang selama bertahun-tahun ia pikul, perlahan mulai
terangkat.
“Saya akan memperbaiki semuanya,” kata Darto dengan suara
yang lebih mantap. “Kanal ini, hubungan kita, semuanya. Saya akan bantu
bersihkan kanal. Saya akan bantu tanam bibit ikan. Saya akan pastikan tidak ada
lagi setrum atau umpan kimia di desa ini.”
“Kita akan lakukan bersama,” kata Junai.
“Bersama,” Dadang mengangguk.
“Bersama,” Asep dan Toha serempak.
“Bersama,” Rini dan Ujang ikut.
Pak Jajang tersenyum. Senyum yang sudah lama tidak muncul
di wajah keriputnya. “Lihat, Darto. Lihat. Ini yang namanya keluarga. Bukan
yang harus selalu sempurna. Tapi yang selalu ada saat kau jatuh.”
Matahari sudah tinggi ketika mereka memutuskan untuk
pulang. Tidak ada satu pun ikan yang didapat hari itu. Ember mereka kosong,
seperti beberapa hari sebelumnya.
Tapi hati mereka tidak kosong.
Dadang yang tadinya marah dan frustasi, kini berjalan
berdampingan dengan Darto. Mereka bicara tentang adik Dadang yang sakit—Darto
berjanji akan membantu mencari ikan di pasar kecamatan besok pagi. Dadang
menolak, tapi Darto bersikeras.
Asep dan Toha berjalan di belakang, membahas rencana kerja
bakti membersihkan kanal akhir pekan ini. Rini sudah mencatat jadwal dan tugas
masing-masing. Ujang menawarkan warungnya sebagai posko.
Junai berjalan paling belakang bersama Pak Jajang. Pak
Jajang berjalan perlahan, dituntun oleh tongkat bambunya. Sesekali ia berhenti
untuk mengatur napas.
“Jun,” panggil Pak Jajang.
“Iya, Pak.”
“Kau tahu, hari ini aku sangat bangga padamu. Bukan karena
kau bisa memancing, tapi karena kau bisa menjaga persaudaraan. Itu lebih sulit
daripada menangkap ikan. Dan kau melakukannya dengan sempurna.”
Junai tersenyum. “Saya hanya melakukan apa yang diajarkan
Bapak. Bahwa memancing bukan soal hasil. Tapi soal memahami. Memahami ikan,
memahami kanal, dan memahami orang-orang di sekitar kita.”
“Kau sudah lebih dari yang saya ajarkan, Jun. Kau sudah
menjadi guru bagi kami semua.”
“Saya hanya murid, Pak. Murid dari kanal ini. Dan kanal ini
masih mengajarkan banyak hal.”
Mereka berjalan dalam diam. Angin sore mulai bertiup,
membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit. Di kejauhan, kanal mengalir
tenang—masih keruh, masih tercemar, tapi masih hidup. Masih memberi harapan.
Junai menoleh sekali lagi ke arah kanal. Di permukaan air
yang keruh, ia melihat riak kecil—sangat kecil, hampir tidak terlihat. Mungkin
seekor ikan kecil yang selamat, atau mungkin hanya daun yang jatuh. Tapi ia
memilih untuk percaya bahwa itu adalah tanda kehidupan. Tanda bahwa kanal ini
belum menyerah. Dan mereka juga tidak akan menyerah.
BAB 6: Hujan, Arus
Deras, dan Keberuntungan
Malam itu, langit Desa Awan Biru berubah.
Awalnya hanya gerimis tipis yang mulai turun sekitar pukul
delapan. Junai yang sedang duduk di beranda mendengar suara rintik air di atap
rumbia rumahnya. Ia menengadah, merasakan tetesan air yang dingin di wajahnya.
Angin mulai bertiup, membawa bau tanah basah yang selalu ia sukai—bau yang
mengingatkannya pada masa kecil, ketika hujan selalu berarti kesuburan dan
kehidupan.
“Akhirnya,” gumamnya pelan. “Sudah lima hari tidak hujan.
Kanal butuh air baru.”
Ia tidak masuk ke rumah. Ia tetap duduk di beranda,
membiarkan gerimis membasahi bajunya. Ibunya yang sudah tua memanggil dari
dalam, menyuruhnya masuk agar tidak masuk angin. Tapi Junai hanya tersenyum dan
berkata, “Sebentar lagi, Bu. Saya mau lihat hujan.”
Gerimis berubah menjadi hujan sedang setengah jam kemudian.
Air mulai mengalir deras di selokan-selokan kecil di pinggir jalan, membawa
daun-daun kering dan sampah-sampah ringan menuju kanal. Suara air jatuh di atap
rumbia berubah dari rintik-rintik halus menjadi gemuruh yang menenangkan.
Junai memejamkan mata, mendengarkan. Baginya, suara hujan
adalah simfoni alam yang paling indah. Setiap tetes memiliki ritmenya sendiri,
dan ketika jutaan tetes jatuh bersamaan, mereka menciptakan harmoni yang tidak
bisa ditiru oleh alat musik apa pun.
Tapi kemudian, sekitar pukul sembilan, hujan berubah
menjadi deras. Sangat deras.
Angin kencang bertiup dari arah barat, membengkokkan
pelepah-pelepah sawit seperti tangan-tangan yang melambai panik. Petir
menyambar-nyambar di kejauhan, sesekali di dekat desa, menerangi langit dengan
kilatan putih kebiruan yang menyilaukan. Guruh menggelegar, mengguncang bumi,
membuat jendela-jendela kayu bergetar.
Junai berdiri. Hujan deras seperti ini tidak biasa.
Biasanya, hujan di Desa Awan Biru turun dengan lembut, memberkati kebun-kebun
sawit dengan air yang dibutuhkan. Tapi malam ini, hujan turun dengan
kemarahan—seperti langit sedang melampiaskan sesuatu, seperti alam sedang marah
atas apa yang terjadi pada kanal.
“Junai! Masuk! Kau akan sakit!” ibunya berteriak dari
dalam, suaranya nyaris tak terdengar di tengah gemuruh hujan.
“Iya, Bu!” Junai masuk ke rumah, tapi ia tidak bisa tidur.
Ia duduk di dekat jendela, membuka sedikit celah, dan memandang ke luar.
Air sudah menggenang di halaman. Selokan-selokan tidak
mampu menampung debit air yang begitu besar. Air mengalir dari perkebunan sawit
di hulu, membawa tanah, daun, buah sawit yang jatuh, dan—yang paling
penting—mengencerkan racun yang selama lima hari terakhir mencemari kanal.
“Ini berkah,” bisik Junai pada dirinya sendiri. “Hujan
adalah berkah.”
Tapi di sudut hatinya, ia juga khawatir. Hujan deras
seperti ini bisa menyebabkan banjir di daerah hilir. Bisa juga menyebabkan
tanah longsor di tebing-tebing kanal yang curam. Dan yang paling ia
khawatirkan: jika hujan terlalu deras, arus kanal bisa menjadi sangat kuat,
membawa ikan-ikan yang baru saja mulai pulih ke hilir, atau bahkan
menenggelamkan pemancing yang tidak waspada.
Ia memutuskan untuk tidak memikirkan hal-hal buruk. Ia
memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi di kepalanya, ia membayangkan pagi esok.
Ia membayangkan kanal yang pulih, air yang jernih, dan ikan-ikan yang kembali.
Di rumah lain di Desa Awan Biru, penghuninya juga terjaga.
Pak Jajang duduk di kursi goyangnya di teras rumah,
ditemani istrinya, Bu Lastri. Ia tidak bisa tidur. Bukan karena hujan terlalu
deras—ia sudah biasa dengan hujan selama tujuh puluh dua tahun hidupnya. Tapi
ada kegelisahan di hatinya, firasat yang tidak bisa ia jelaskan.
“Pak, masuklah. Nanti masuk angin,” Bu Lastri memanggil
dari dalam.
“Sebentar lagi, Bu. Saya mau lihat hujan.”
Bu Lastri menghela napas. Ia sudah mengenal suaminya selama
lebih dari empat puluh tahun. Ketika Pak Jajang sudah mengambil keputusan,
tidak ada yang bisa mengubahnya.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Bu Lastri, ikut duduk di
samping suaminya.
“Kanal, Bu. Kanal.”
“Kanal? Hujan begini malah bagus untuk kanal. Airnya akan
bersih.”
“Iya. Tapi saya khawatir dengan Darto.”
Bu Lastri diam. Nama Darto selalu menjadi topik yang
sensitif di rumah mereka. Darto adalah anak kandung Pak Jajang dari istri
pertama yang sudah meninggal. Junai adalah anak angkat yang dibawa pulang dari
panti asuhan. Selama bertahun-tahun, Darto merasa tersaingi, merasa kehilangan
kasih sayang, meskipun Pak Jajang selalu berusaha membagi perhatian dengan
adil.
“Darto anak yang baik,” Bu Lastri akhirnya berkata. “Dia
hanya butuh waktu.”
“Waktu? Sudah bertahun-tahun, Bu. Dia masih belum bisa
menerima Junai sebagai saudara.”
“Mungkin kali ini berbeda. Kemarin, setelah kejadian di
kanal, dia menangis. Dia memeluk Junai. Mungkin itu awal dari perubahan.”
“Saya harap begitu,” Pak Jajang menghela napas. “Tapi saya
masih khawatir. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Sesuatu yang lebih dari
sekadar umpan kimia.”
Bu Lastri menatap suaminya. “Kau pikir dia masih menyimpan
setrum?”
Pak Jajang tidak menjawab. Ia hanya memandang hujan yang
semakin deras, dan berdoa dalam hatinya agar Darto tidak melakukan kesalahan
yang tidak bisa diperbaiki.
Di rumahnya yang sederhana di ujung barat desa, Darto juga
terjaga.
Ia duduk di kamarnya, memandang ransel yang tergeletak di
sudut ruangan. Di dalam ransel itu, tersembunyi di balik lapisan jaket tua, ada
sebuah benda yang selama seminggu terakhir menjadi beban di hatinya.
Setrum ikan.
Ia membeli alat itu dari dua orang kota, beberapa hari
sebelum kanal ditemukan tercemar. Harganya tidak murah—lima ratus ribu rupiah,
hampir sepertiga dari uang tabungannya. Tapi ia pikir itu sepadan. Dengan
setrum, ia bisa mendapatkan ikan sebanyak mungkin. Ia bisa menjualnya, bisa
memberi ke tetangga, bisa membuktikan pada semua orang bahwa ia juga bisa.
Tapi sejak membelinya, ia belum pernah menggunakannya.
Setiap kali ia membawa setrum itu ke kanal, tangannya gemetar. Ada suara di
dalam kepalanya yang terus berbisik, “Ini salah. Ini curang. Ini bukan
memancing.”
Kemarin, ketika ia melihat Junai melepas ikan-ikan kecil,
ketika ia mendengar Pak Jajang bercerita tentang masa lalu kanal, ketika ia
dipeluk oleh Junai dan menangis seperti anak kecil—sesuatu berubah dalam
dirinya. Ia sadar bahwa apa yang selama ini ia kejar—pengakuan, kemenangan,
bukti bahwa ia lebih baik dari Junai—adalah hal yang kosong. Tidak ada artinya.
Tapi setrum itu masih ada. Masih tersembunyi di ranselnya.
Masih menunggu.
Darto membuka ransel, mengeluarkan alat itu. Ia
memandanginya di bawah cahaya lampu minyak. Benda hitam dengan dua elektroda di
ujungnya, baterai besar di bagian tengah, dan tombol merah yang jika ditekan
akan mengirimkan aliran listrik ke air, melumpuhkan segala yang ada di
sekitarnya.
“Apa yang harus saya lakukan?” bisiknya pada diri sendiri.
Hujan di luar semakin deras. Petir menyambar, menerangi
kamarnya dengan kilatan putih. Untuk sesaat, Darto melihat bayangannya sendiri
di jendela—wajah lelah, mata sembab, bibir bergetar.
Ia tidak mengenali dirinya sendiri.
“Tidak,” katanya tegas. “Saya tidak akan menggunakannya.
Saya tidak akan menjadi seperti mereka.”
Ia memasukkan kembali setrum itu ke ransel, tapi kali ini
ia tidak menyembunyikannya. Ia meletakkan ransel di samping tempat tidurnya,
sebagai pengingat bahwa besok pagi, ia akan melakukan sesuatu yang benar.
Junai bangun sebelum matahari terbit. Hujan sudah berhenti
sekitar pukul tiga pagi, meninggalkan udara yang segar dan dingin. Ketika ia
membuka pintu rumahnya, ia langsung merasakan perbedaan.
Udara tidak lagi bau anyir seperti beberapa hari terakhir.
Bau itu hilang, digantikan oleh bau tanah basah yang segar, bau dedaunan yang
baru dicuci hujan, dan sedikit aroma manis dari buah sawit yang jatuh.
Ia berjalan cepat menuju kanal. Di sepanjang jalan setapak,
ia melihat genangan air di mana-mana. Daun-daun sawit bergelantungan basah,
meneteskan air ke pundaknya. Burung-burung mulai berkicau, menyambut pagi
dengan semangat baru.
Ketika ia sampai di tepi kanal, ia tertegun.
Kanal berubah total.
Air yang selama lima hari terakhir keruh kehijauan dan
berminyak, kini berwarna kecoklatan alami—warna tanah dan dedaunan yang terbawa
arus. Tidak ada lagi lapisan minyak di permukaan, tidak ada lagi bau anyir yang
menusuk. Air mengalir deras dari hulu ke hilir, membawa ranting-ranting kering,
daun-daun, dan buah sawit yang jatuh. Arusnya kuat, tapi itu adalah arus yang
sehat—arus yang membawa oksigen, yang mengaduk dasar kanal, yang merangsang ikan
untuk aktif.
Ketinggian air naik hampir setengah meter. Tepi-tepi kanal
yang biasanya kering kini terendam, menciptakan area-area baru yang
dangkal—tempat yang sempurna bagi ikan-ikan kecil untuk mencari makan.
Junai berlutut di tepi kanal, mencelupkan tangannya ke air.
Airnya dingin, segar, dan—yang paling penting—tidak licin. Tidak ada residu
kimia yang terasa di kulitnya. Ia menciduk sedikit air dengan telapak
tangannya, menciumnya. Bau tanah, bau dedaunan, bau kehidupan.
“Hujan datang tepat waktu,” bisiknya.
Ia tidak langsung memancing. Ia duduk di tempat biasanya,
memandang kanal yang mengalir deras, menikmati pemandangan yang sudah lama
tidak ia lihat. Burung-burung beterbangan di atas air, sesekali menyambar
serangga yang terbang rendah. Di kejauhan, ia melihat riak-riak kecil di
permukaan—tanda ikan-ikan mulai muncul.
“Hari ini kita panen,” katanya pada dirinya sendiri.
Sekitar pukul setengah tujuh, satu per satu warga mulai
berdatangan. Ujang yang pertama—ia bahkan tidak sempat membuka warungnya,
langsung bergegas ke kanal setelah melihat perubahan air dari kejauhan.
“Jun! Airnya bersih! Kanal pulih!” teriak Ujang dari
kejauhan, suaranya penuh semangat.
“Belum pulih sepenuhnya, Mang. Tapi ini awal yang baik.”
“Hari ini kita panen!” Ujang berseru, meletakkan nampan
gorengannya di atas batu besar. “Saya sudah bilang ke istri, saya tidak buka
warung dulu. Saya mau mancing!”
Pak Jajang datang bersama Rini. Pak Jajang berjalan lebih
cepat dari biasanya, tanpa tongkat. Matanya berbinar melihat kanal yang
mengalir deras.
“Lihat itu, Jun!” Pak Jajang menunjuk ke arah selatan, di
mana air berputar-putar membentuk pusaran kecil. “Pusaran itu tanda ikan besar
sedang mencari makan di dasar. Mereka terbawa arus dari hulu.”
“Saya lihat, Pak. Saya sudah memilih spot di tikungan. Arus
di sana melambat, banyak dedaunan terperangkap. Ikan pasti berkumpul di sana.”
“Bagus. Saya di bawah jembatan. Air dalam, arus lambat,
cocok untuk ikan mas.”
Rini memilih spot di dekat pintu air. “Saya ingin coba di
sana. Katanya lele banyak setelah hujan besar.”
Dadang, Asep, dan Toha datang bersama. Mereka berlari-lari
kecil, tidak sabar untuk mulai memancing.
“Jun! Lihat airnya! Bersih!” Dadang berseru.
“Iya. Tapi arusnya deras. Hati-hati, jangan terlalu dekat
dengan tepi yang curam.”
“Saya tahu! Saya sudah siap!” Dadang menunjukkan toples
berisi anak kodok yang ia kumpulkan semalam. “Saya mau coba spot di akar sawit.
Pakai anak kodok seperti yang kau ajarin.”
Asep memilih spot di tikungan dekat pohon karet. Toha
mengikuti Junai, ingin belajar membaca arus.
Mereka semua tersebar di tepi kanal, memasang umpan,
melempar dengan hati-hati. Suasana pagi itu berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Tidak ada lagi keputusasaan, tidak ada lagi kemarahan. Yang ada adalah
harapan—harapan yang lahir dari hujan semalam, dari air yang mengalir deras,
dari kehidupan yang mulai kembali.
Junai memilih titik di tikungan kanal, di mana arus yang
tadinya deras tiba-tiba melambat karena bentuk kanal yang berkelok. Di sini,
dedaunan kering dan buah sawit yang terbawa arus dari hulu terperangkap,
menciptakan tumpukan bahan organik yang kaya akan makanan bagi ikan.
Ia memasang umpan fermentasi di joran pertamanya—umpan yang
sudah ia fermentasi selama lima hari, baunya sangat kuat, hampir menyengat. Ia
melemparnya tepat di pusaran air, di mana arus berputar perlahan membawa umpan
ke dasar.
Joran keduanya ia pasang dengan anak kodok, dilempar ke
dekat akar-akar sawit yang menjuntai di tepi seberang. Di air deras seperti
ini, ikan gabus akan mencari mangsa yang bergerak, dan anak kodok adalah
pilihan yang sempurna.
Ia duduk, menunggu.
Tidak sampai lima menit, pelampung joran pertama bergerak.
Bukan goyangan kecil—tarikan kuat yang langsung menenggelamkan pelampung ke
dalam air. Joran Junai melengkung hampir setengah lingkaran.
“Wah!” seru Toha dari samping.
Junai tidak terburu-buru. Ia membiarkan ikan itu berenang
dulu, merasakan kekuatan tarikannya. Ikan ini besar—mungkin ikan mas, dari cara
ia melawan, berputar-putar di tempat, tidak lari ke akar-akar seperti gabus.
Ia memberi sedikit kendor, membiarkan ikan menguras
energinya sendiri. Kemudian, ketika tarikan mulai melemah, ia menarik perlahan.
Ikan itu melawan lagi, tapi lebih lemah. Tarik, kendor, tarik, kendor.
Setelah beberapa menit, seekor ikan mas besar muncul di
permukaan. Warnanya kemerahan keemasan, sisik-sisiknya berkilau di bawah sinar
matahari pagi. Beratnya sekitar dua kilogram—mungkin lebih.
Junai mengangkatnya ke tepi dengan hati-hati, menggunakan
kain basah untuk memegang ikan agar tidak merusak lapisan lendirnya. Ia
melepaskan kail dengan alat khusus, lalu memasukkan ikan itu ke dalam ember
berisi air bersih.
“Junai dapat ikan mas besar!” teriak Toha dengan semangat.
Dadang yang mendengar dari kejauhan, langsung berteriak
balik, “Bagus, Jun! Saya juga mau!”
Tidak lama setelah itu, Rini berteriak dari spot-nya di
dekat pintu air. “Dapat! Dapat tiga ekor nila!” Ia mengangkat embernya,
menunjukkan tiga ekor nila ukuran sedang yang masih menggelepar.
Pak Jajang dari bawah jembatan juga mendapat ikan—seekor gabus
berukuran cukup besar, hampir satu kilogram. Ujang mendapat dua ekor nila dan
satu ekor mas kecil.
Suasana riuh. Untuk pertama kalinya dalam lima hari, tepi
kanal dipenuhi dengan teriakan kegirangan, tawa, dan semangat.
Di tengah keramaian itu, Darto duduk sendirian di spot-nya
yang agak terpisah, di dekat akar sawit yang menjuntai di seberang. Sejak tiba,
ia belum melempar umpan. Ia hanya duduk, memandang ransel yang tergeletak di
sampingnya.
Di dalam ransel itu, setrum masih tersembunyi.
Ia datang pagi ini dengan niat untuk menyerahkan setrum itu
pada Junai atau Pak Jajang. Tapi ketika ia melihat kanal yang pulih, ketika ia
melihat teman-temannya bersemangat memancing, ketika ia mendengar teriakan
kegirangan Junai mendapat ikan mas besar—sesuatu mengganjal di hatinya.
“Mereka dapat ikan,” pikirnya. “Mereka semua dapat ikan.
Tapi saya? Saya belum pernah mendapat ikan besar sejak... sejak kapan?”
Ia ingat, terakhir kali ia mendapat ikan besar adalah enam
bulan lalu. Itu pun hanya kebetulan—seekor gabus yang tersangkut di kailnya
ketika ia sedang tidak fokus. Sejak itu, ia selalu pulang dengan ember kosong
atau hanya ikan-ikan kecil yang tidak layak konsumsi.
Sementara Junai, setiap minggu selalu membawa pulang ikan.
Kadang mas, kadang gabus, kadang nila. Ikan-ikan besar yang membuat iri semua
pemancing.
“Kenapa dia selalu berhasil?” gumam Darto. “Apa yang dia
punya yang tidak saya punya?”
Ia membuka ranselnya, mengintip ke dalam. Setrum itu masih
di sana, tersembunyi di balik jaket tua. Gelap, dingin, menunggu.
“Sekali saja,” bisiknya. “Sekali saja saya menggunakan ini,
saya bisa dapat ikan sebanyak mereka. Bahkan lebih. Saya bisa buktikan bahwa
saya juga bisa.”
Tangannya meraih setrum itu. Benda hitam itu terasa berat
di genggamannya. Jari telunjuknya menyentuh tombol merah.
“Darto!”
Ia tersentak. Suara Junai dari kejauhan.
Darto cepat-cepat memasukkan setrum itu kembali ke ransel,
menutup ransel, dan berpura-pura sedang merapikan peralatan.
Junai menghampiri. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi
matanya—matanya yang tajam itu—memandang ransel Darto sebentar sebelum beralih
ke Darto.
“Kau pakai umpan apa?” tanya Junai.
“Umpan biasa. Pelet yang biasa saya pakai,” jawab Darto
cepat. Terlalu cepat.
Junai tidak langsung merespons. Ia memandang ke arah air,
lalu ke arah ransel Darto, lalu kembali ke Darto.
“Di air deras seperti ini, pelet akan cepat hanyut. Ikan
tidak punya waktu untuk mencium baunya. Coba pakai umpan yang bergerak—anak
kodok atau cacing. Ikan gabus suka mangsa yang bergerak di permukaan.”
“Saya tidak punya anak kodok.”
Junai mengeluarkan toples kecil dari kantongnya. “Ambil.
Saya punya lebih.”
Darto menerima toples itu dengan ragu. Ia membuka tutupnya,
melihat anak-anak kodok kecil yang gesit melompat-lompat.
“Pasang di punggung,” Junai mengajari. “Tusuk dangkal,
jangan tembus. Biarkan kakinya bergerak bebas. Kalau kau tusuk terlalu dalam,
dia akan mati dan tidak menarik bagi gabus.”
Darto mengambil satu anak kodok. Tangannya gemetar. Ia
berusaha menusuk di punggung seperti yang diajarkan, tapi tusukannya terlalu
dalam. Anak kodok itu menggelepar sebentar, lalu mati.
“Coba lagi,” kata Junai sabar.
Darto mengambil anak kodok kedua. Kali ini lebih hati-hati.
Tusukan di punggung, dangkal. Anak kodok itu menggelepar, tapi masih hidup.
Kakinya bergerak-gerak.
“Bagus. Sekarang lempar ke dekat akar sawit yang menjuntai.
Di sana arusnya tidak terlalu deras. Biarkan kodok berenang.”
Darto melempar. Anak kodok itu mendarat di permukaan air
dengan percikan kecil, lalu mulai berenang dengan gerakan-gerakan pendek.
Pelampung dari gabus mengapung di belakangnya.
“Sekarang tunggu,” kata Junai. “Jangan buru-buru narik.
Biarkan kodok berenang. Kalau ada gabus, dia akan mendekat, mengamati, baru
menyambar. Bersabarlah.”
Junai kembali ke spot-nya, meninggalkan Darto sendirian.
Darto menatap pelampungnya yang mengapung tenang.
Pikirannya berkecamuk. Setrum itu masih di ranselnya. Hanya sejauh lengan. Satu
tekanan tombol, dan ikan-ikan di sekitarnya akan lumpuh, mengapung ke
permukaan, tinggal dipungut.
“Sekali saja,” bisik suara di kepalanya. “Sekali saja.
Tidak ada yang tahu.”
Tapi suara lain—suara Junai, suara Pak Jajang, suara
ayahnya—berbisik lebih keras. “Ini salah. Ini curang. Ini bukan memancing.”
Pelampungnya bergerak.
Darto tersentak dari lamunannya. Pelampung bergoyang-goyang
kecil—tanda ada ikan yang sedang mengamati umpan.
Ia memegang joran. Tangannya masih gemetar.
Pelampung bergerak lagi. Kali ini lebih kuat.
“Tenang,” katanya pada diri sendiri. “Tenang. Jangan
buru-buru.”
Pelampung tenggelam tiba-tiba. Tarikan kuat membuat
jorannya melengkung.
Darto menarik. Terlalu cepat. Ikan itu melompat, berhasil
melepaskan diri, dan jatuh kembali ke air. Kailnya kosong. Anak kodoknya
hilang.
“Sial!” Darto membentak, membanting jorannya ke tanah.
Dari kejauhan, Junai melihat. Ia tidak langsung mendekat.
Ia memberi Darto waktu.
Darto duduk di tanah, memegangi kepalanya. Ia hampir
menangis. Bukan karena kehilangan ikan, tapi karena frustasi pada dirinya
sendiri.
“Kenapa saya selalu gagal?” bisiknya. “Kenapa saya tidak
bisa seperti Junai? Kenapa saya selalu terburu-buru? Kenapa saya tidak punya
kesabaran?”
Ia membuka ranselnya. Setrum itu ada di sana, mengintip
dari balik jaket.
“Tidak,” katanya tegas. “Saya tidak akan menggunakan ini.
Saya tidak akan menjadi pengecut.”
Ia menutup ransel, berdiri, mengambil jorannya, dan
memasang umpan lagi. Kali ini ia memilih anak kodok yang paling kecil, paling
gesit. Ia pasang di punggung dengan hati-hati, memastikan tusukannya dangkal.
Ia melempar ke tempat yang sama. Anak kodok itu berenang dengan
lincah, kakinya bergerak-gerak.
Darto duduk, memegang joran dengan kedua tangan. Ia
memejamkan mata sebentar, menarik napas dalam-dalam.
“Sabar,” katanya pada diri sendiri. “Sabar. Jangan
terburu-buru.”
Ia membuka mata. Pelampung mengapung tenang. Air mengalir
deras di sekitarnya, tapi di dekat akar sawit, arusnya lebih lambat. Anak
kodoknya berenang ke sana kemari, sesekali menyelam sebentar lalu muncul lagi.
Semua inderanya ia fokuskan pada pelampung itu. Ia tidak
memikirkan setrum. Ia tidak memikirkan Junai. Ia tidak memikirkan ayahnya. Ia
hanya memikirkan anak kodok yang berenang, dan ikan gabus yang mungkin sedang
mengintai dari balik akar.
Pelampung bergerak. Goyangan kecil.
Darto tidak bergerak. Ia menahan napas.
Pelampung bergoyang lagi. Lebih kuat.
Masih belum bergerak.
Tiba-tiba, pelampung tenggelam dengan tarikan yang sangat
kuat. Joran Darto melengkung hampir membentuk huruf U. Senar menegang, air
memercik ke mana-mana.
Darto tidak menarik. Ia ingat pesan Junai: biarkan dia
berenang dulu. Beri sedikit kendor.
Ia memberi kendor. Ikan itu melesat ke kanan, hampir
mencapai akar-akar sawit. Darto mengencangkan senar, menarik perlahan, membawa
ikan itu kembali ke tengah.
Ikan itu melawan, berputar-putar, mencoba membebaskan diri.
Tapi Darto tidak terburu-buru. Ia membiarkan ikan itu menguras energinya
sendiri. Tarik, kendor, tarik, kendor.
Setelah beberapa menit, seekor ikan gabus besar muncul di
permukaan. Tubuhnya loreng hitam kehijauan, panjang hampir setengah meter,
berat mungkin satu setengah kilogram atau lebih. Matanya bulat tajam, mulutnya
yang lebar menganga karena kail masih tertancap di punggung.
Darto mengangkatnya ke tepi dengan hati-hati. Tangannya
gemetar—bukan karena gugup, tapi karena bahagia yang luar biasa.
“Saya dapat!” teriak Darto, suaranya pecah karena emosi.
“Saya dapat ikan besar!”
Semua menoleh. Dadang, Asep, Toha, Rini, Ujang, Pak
Jajang—semua melihat Darto yang berdiri di tepi kanal dengan ikan gabus besar
di tangannya.
“Bagus, Darto!” teriak Dadang.
“Hebat!” Asep berseru.
“Itu gabus besar!” Toha takjub.
Pak Jajang tersenyum. Senyum yang lebar, penuh kebanggaan.
Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya berkaca-kaca.
Junai yang melihat dari kejauhan, hanya tersenyum tipis. Ia
mengacungkan jempol pada Darto.
Darto menurunkan gabus itu ke ember dengan hati-hati. Ia
duduk di tanah, mengatur napas. Tangannya masih gemetar, tapi hatinya tenang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa puas dengan dirinya sendiri.
Bukan karena ia mendapat ikan besar, tapi karena ia mendapatkannya dengan cara
yang benar—dengan kesabaran, dengan teknik yang tepat, tanpa curang, tanpa
setrum.
Setelah suasana sedikit mereda, Darto berdiri. Ia mengambil
ranselnya yang tergeletak di samping, membuka ritsletingnya. Semua mata tertuju
padanya.
Ia mengeluarkan setrum itu.
Benda hitam dengan dua elektroda di ujungnya, baterai besar
di tengah, tombol merah di gagangnya. Di bawah sinar matahari pagi, alat itu
tampak lebih mengerikan daripada di malam hari.
“Junai,” Darto memanggil dengan suara yang berat tapi
mantap. “Sebenarnya kemarin saya tidak hanya mengambil botol perangsang dari
mereka. Saya juga... saya juga membeli ini. Setrum ikan. Mereka menjualnya
murah. Lima ratus ribu. Saya pikir, dengan ini, saya bisa dapat ikan sebanyak
mungkin. Saya bisa buktikan pada semua orang bahwa saya juga bisa.”
Semua terdiam. Dadang yang tadinya tersenyum, kini wajahnya
berubah tegang. Rini menutup mulutnya dengan tangan. Ujang menggeleng-geleng
kepala.
“Saya ingin menggunakannya hari ini,” Darto melanjutkan.
“Tadi pagi, ketika saya melihat kalian semua dapat ikan, ketika saya sendiri
gagal dapat ikan, saya hampir menekan tombol ini. Saya pikir, sekali saja.
Sekali saja saya curang. Tidak ada yang tahu.”
Ia berhenti, menelan ludah.
“Tapi saya tidak jadi. Saya tidak jadi menggunakannya.
Bukan karena takut ketahuan. Tapi karena... karena saya sadar. Ini bukan
memancing. Ini bukan cara yang diajarkan ayah saya. Ini bukan cara yang
diajarkan Pak Jajang. Ini bukan cara yang dilakukan Junai. Ini... ini adalah
pembunuhan.”
Darto memandang setrum di tangannya. Benda itu terasa
berat—lebih berat dari yang seharusnya.
“Saya minta maaf. Saya minta maaf pada kalian semua. Pada
Pak Jajang, pada Junai, pada Dadang, pada semua warga desa yang ikut menjaga
kanal ini. Saya hampir melakukan kesalahan besar. Tapi saya tidak jadi. Dan
saya bersyukur saya tidak jadi.”
Ia menyerahkan setrum itu pada Junai.
Junai menerimanya dengan hati-hati. Ia memandang benda itu
sebentar—membayangkan betapa banyak ikan yang bisa mati dalam hitungan menit dengan
alat ini. Betapa banyak telur ikan di akar-akar sawit yang hancur. Betapa
banyak kehidupan yang bisa musnah.
“Terima kasih, Darto,” kata Junai. “Terima kasih karena kau
memilih untuk tidak menggunakannya. Terima kasih karena kau percaya pada kami.”
Pak Jajang melangkah maju. Dengan tangan yang gemetar, ia
mengambil setrum dari Junai. Ia memandangnya, lalu memandang Darto.
“Kau selamat, Darto,” kata Pak Jajang dengan suara yang
berat. “Kau selamat dari kesalahan besar. Kalau kau menggunakan ini, ikan-ikan
kecil akan mati, telur-telur ikan akan hancur, dan kanal ini akan mati
bertahun-tahun. Tapi kau tidak jadi menggunakannya. Kau memilih untuk sabar.
Kau memilih untuk belajar. Kau memilih untuk menjadi pemancing sejati.”
“Saya malu, Pak,” kata Darto, air matanya jatuh.
“Tidak perlu malu, Nak. Yang penting kau sadar sebelum
terlambat. Yang penting kau memilih jalan yang benar ketika kau masih punya
pilihan.”
Pak Jajang menyerahkan setrum itu pada Junai. “Hancurkan.”
Junai mengambil setrum itu. Ia berjalan ke batu besar di
tepi kanal—batu yang sama yang kemarin ia gunakan untuk menghancurkan setrum
pertama. Dengan kedua tangannya, ia membanting alat itu ke batu.
Sekali. Plastiknya retak.
Dua kali. Komponen dalamnya hancur, kabel-kabel kecil
putus.
Tiga kali. Baterainya terlepas, berguling ke tanah.
Junai mengambil baterai itu—baterai besar berwarna
hitam—dan melemparkannya jauh ke dalam semak, jauh dari kanal. Baterai
mengandung bahan kimia berbahaya yang tidak boleh mencemari air.
Ia memungut sisa-sisa setrum yang hancur—plastik pecah,
kabel-kabel, logam-logam kecil—dan memasukkannya ke kantong plastik yang
dibawanya. Sampah elektronik harus dibuang dengan benar, tidak ke kanal.
“Sudah,” kata Junai. “Tidak ada lagi setrum di kanal ini.”
Matahari mulai meninggi ketika mereka memutuskan untuk
pulang. Hari itu, semua pulang dengan ember penuh.
Junai membawa pulang ikan mas dua kilogram yang ia dapat di
pagi hari, ditambah dua ekor nila ukuran sedang yang ia dapat setelah membantu
Darto.
Pak Jajang membawa pulang seekor gabus hampir satu kilogram
dan dua ekor mas ukuran sedang.
Rini membawa pulang tiga ekor nila dan satu ekor lele.
Ujang membawa pulang dua ekor nila dan satu ekor mas kecil.
Dadang akhirnya mendapat seekor gabus ukuran sedang setelah
berpindah spot tiga kali. Asep mendapat dua ekor nila. Toha mendapat seekor
gabus kecil yang ia lepas karena masih belum layak konsumsi.
Dan Darto—Darto yang pagi ini hampir menekan tombol
setrum—pulang dengan seekor gabus besar satu setengah kilogram di embernya.
Ikan pertama yang ia dapat dengan cara yang benar, dengan kesabaran, dengan
teknik yang diajarkan Junai.
Mereka berjalan pulang bersama menyusuri jalan setapak di
antara pelepah sawit. Embun pagi sudah mengering, digantikan sinar matahari
yang hangat. Burung-burung berkicau riang, seolah ikut merayakan hari yang
baik.
“Darto,” Dadang memanggil dari depan. “Besok kau mau
mancing lagi?”
“Mau,” jawab Darto. “Saya mau coba spot di tikungan. Kata
Junai, banyak ikan mas di sana setelah hujan.”
“Aku ikut,” kata Dadang. “Kita berdua saja. Biar tidak
ramai.”
“Boleh.”
Junai yang berjalan di belakang bersama Pak Jajang,
tersenyum mendengar percakapan itu. Ada kehangatan yang sudah lama tidak ia
rasakan—kehangatan persahabatan yang sempat retak, kini mulai pulih.
“Jun,” Pak Jajang memanggil pelan.
“Iya, Pak.”
“Kau tahu, hari ini aku tidak hanya bangga pada Darto. Aku
juga bangga padamu. Kau bisa membuatnya sadar tanpa perlu marah, tanpa perlu
memaksa. Kau hanya memberi contoh, memberi kesempatan, dan percaya bahwa dia
akan memilih jalan yang benar.”
“Saya hanya melakukan apa yang diajarkan Bapak, Pak. Bahwa
memancing bukan soal siapa yang paling banyak mendapat ikan. Tapi soal siapa
yang paling sabar, siapa yang paling memahami, siapa yang paling bisa menjaga.”
“Kau sudah lebih dari yang saya ajarkan, Jun. Kau sudah
menjadi guru bagi kami semua.”
“Saya hanya murid, Pak. Murid dari kanal ini. Dan kanal ini
masih mengajarkan banyak hal.”
Mereka berjalan dalam diam. Di kejauhan, kanal mengalir
deras membawa air bersih dari hulu. Airnya masih kecoklatan karena tanah dan
dedaunan, tapi itu adalah warna kehidupan—bukan warna kematian seperti beberapa
hari yang lalu.
Junai menoleh sekali lagi ke arah kanal. Di permukaan air,
ia melihat riak-riak kecil—bukan riak dari arus, tapi riak dari ikan-ikan yang
melompat, menikmati pagi yang segar setelah hujan deras semalam.
“Kanal ini masih hidup,” bisiknya. “Dan kita akan
menjaganya.”
BAB 7: Konflik di Tepi
Air
Kanal tak lagi sunyi keesokan harinya. Bukan karena ramai
pemancing yang duduk tenang dengan joran di tangan, menikmati pagi yang sejuk.
Bukan karena tawa dan canda seperti beberapa hari lalu ketika hujan baru saja
reda dan ikan-ikan mulai kembali. Pagi itu, kanal ramai dengan suara yang
berbeda—suara keras, suara marah, suara perdebatan yang menggema di antara
pepohonan sawit dan memecah ketenangan desa yang biasanya damai.
Kabar tentang setrum ikan dan umpan kimia telah menyebar
dari mulut ke mulut sejak kemarin sore. Dari warung Ujang, kabar itu merambat
ke rumah-rumah warga, ke kebun-kebun sawit, ke pengajian ibu-ibu, bahkan ke
lapangan voli tempat anak-anak muda biasa bermain. Setiap orang punya versi
cerita sendiri-sendiri. Ada yang bilang Darto sudah menggunakan setrum dan
membunuh ratusan ikan. Ada yang bilang Darto adalah dalang di balik pencemaran
kanal seminggu lalu. Ada juga yang bilang Darto bekerja sama dengan orang kota
untuk meracuni kanal demi keuntungan pribadi.
Kabar burung memang selalu lebih cepat terbang dari
kebenaran.
Junai tiba di tepi kanal pukul setengah enam, seperti
biasa. Ia bermaksud memanfaatkan pagi yang segar setelah hujan semalam—waktu
terbaik untuk memancing, ketika ikan-ikan masih aktif mencari makan setelah
arus deras membawa makanan baru. Ia membawa dua joran, toples berisi anak
kodok, dan umpan fermentasi yang sudah ia siapkan semalam.
Tapi ketika ia sampai, kanal sudah ramai. Bukan dengan
pemancing, tapi dengan warga yang berdiri berkelompok-kelompok di tepi jalan
setapak, berbicara dengan suara yang semakin lama semakin keras. Beberapa dari
mereka membawa cangkul dan sabit—bukan untuk membersihkan kanal, tapi entah
untuk apa. Ada juga yang membawa pentungan kayu, sesuatu yang jarang terlihat
di desa yang damai ini.
“Junai! Junai datang!” seseorang berteriak ketika melihat
Junai muncul dari balik rumpun bambu.
Seketika, semua mata tertuju padanya. Ada sekitar tiga
puluh orang di tepi kanal pagi itu—lebih banyak dari biasanya. Junai mengenali
sebagian besar wajah: Karto, petani sawit yang rumahnya paling dekat dengan
kanal; Pak RT, yang jarang ikut urusan kanal; beberapa ibu-ibu dari pengajian
yang biasanya tidak pernah terlihat di tepi air; bahkan anak-anak kecil yang
seharusnya sudah berangkat sekolah, tampak berkeliaran di antara kerumunan.
“Junai, mana Darto?” teriak Karto dari kerumunan. Wajahnya merah
padam, matanya melotot. Di tangannya, ia memegang cangkul—bukan untuk bertani,
tapi untuk... Junai tidak mau berpikir.
“Darto belum datang,” jawab Junai tenang. Ia meletakkan
joran dan embernya di tempat biasanya, di dekat tikungan kanal. “Ada apa, Pak
Karto? Ramai sekali pagi ini.”
“Ada apa? Kau tanya ada apa?” Karto melangkah maju, hampir
menerobos. “Kami dengar Darto punya setrum! Setrum ikan! Dia mau meracuni kanal
kita! Dia sudah hampir menggunakannya kemarin!”
“Dia tidak jadi menggunakannya, Pak,” Junai membela. “Dia
menyerahkan setrumnya. Kami sudah hancurkan kemarin.”
“Tidak jadi? Tapi dia punya niat! Dia sudah membelinya! Itu
sudah cukup!” Karto tidak bergeming.
Warga lain ikut bersuara. Seorang laki-laki paruh baya
dengan kumis tebal—namanya Sarip, petani sawit yang juga sering memancing di
kanal—meneriakkan, “Darto harus dihukum! Kalau tidak, nanti orang lain
ikut-ikutan! Kanal kita bisa rusak total!”
“Benar!” sahut warga lain. “Kita harus beri pelajaran!”
“Jangan cuma Darto! Dua orang kota itu juga harus kita
cari!” yang lain menambahkan.
Suasana semakin memanas. Beberapa warga mulai mengacungkan
pentungan dan cangkul mereka. Anak-anak kecil mulai menangis ketakutan. Ibu-ibu
berusaha menenangkan, tapi suara mereka tenggelam oleh teriakan-teriakan yang
semakin keras.
Junai berdiri di tengah, mencoba menenangkan. “Warga
sekalian, saya mengerti kemarahan Bapak-Ibu. Saya juga marah. Tapi mari kita
selesaikan dengan kepala dingin. Jangan pakai kekerasan. Itu tidak akan
menyelesaikan masalah.”
“Jangan sok jadi hakim, Junai!” potong Karto, menuding jari
ke arah Junai. “Kau bukan kepala desa, bukan polisi. Kau hanya pemancing biasa.
Sama seperti kami. Apa kau punya kuasa untuk membela Darto? Apa kau yang akan
bertanggung jawab kalau nanti kanal diracuni lagi?”
Junai menarik napas panjang. Ia tahu Karto sedang emosi.
Rumah Karto memang paling dekat dengan kanal—hanya beberapa puluh meter dari
tepi air. Jika kanal tercemar, Karto dan keluarganya yang paling merasakan
dampaknya. Bau anyir masuk ke rumah, air sumur terasa aneh, dan ikan-ikan yang
biasa menjadi lauk keluarga menghilang.
“Pak Karto, saya tidak punya kuasa apa pun. Saya hanya
warga biasa. Tapi saya tinggal di sini, dan saya juga ingin kanal ini aman.
Saya juga ingin anak-anak kita bisa memancing di sini tanpa takut. Tapi memukul
Darto, mengusir Darto, itu tidak akan membuat kanal lebih aman. Yang membuat
kanal aman adalah kesadaran kita semua untuk menjaga.”
“Kesadaran?” Karto mendengus sinis. “Kau pikir Darto punya
kesadaran? Dia yang membeli setrum dari orang kota! Dia yang mau meracuni kanal
kita! Dan kau bilang dia sadar?”
“Dia sadar, Pak. Dia menyerahkan setrumnya sendiri. Tanpa
dipaksa. Tanpa diminta. Dia datang kepada saya, kepada Pak Jajang, dan
menyerahkan setrum itu. Dia mengakui kesalahannya. Itu namanya kesadaran.”
“Sadar setelah ketahuan!” teriak Sarip dari kerumunan.
“Kalau tidak ketahuan, mana mau dia menyerahkan!”
“Dia tidak ketahuan, Pak Sarip,” Junai membela. “Tidak ada
yang tahu Darto punya setrum. Dia bisa saja menggunakannya tanpa ada yang tahu.
Tapi dia memilih untuk tidak menggunakannya. Dia memilih untuk menyerahkan. Itu
bukan karena ketahuan. Itu karena hatinya berubah.”
Suasana hening sejenak. Beberapa warga saling berpandangan,
ada yang mulai ragu dengan kemarahan mereka.
Darto datang dari arah barat sekitar pukul tujuh. Ia
berjalan sendiri, joran di tangan kanan, ember kosong di tangan kiri. Wajahnya
pucat—lebih pucat dari biasanya. Matanya sembab, sepertinya semalaman ia tidak
bisa tidur.
Ketika ia melihat kerumunan warga di tepi kanal, langkahnya
terhenti. Ia melihat cangkul dan pentungan. Ia melihat wajah-wajah marah
menatapnya. Ia melihat Karto yang melotot, Sarip yang mengepalkan tangan, dan
Pak RT yang berdiri di pinggir dengan tangan di dada.
Darto menunduk. Ia tahu hari ini akan berat. Ia sudah
mempersiapkan dirinya sejak semalam. Tapi melihat langsung kemarahan warga—yang
dulu tersenyum padanya, yang dulu memanggilnya dengan ramah, yang dulu menerima
ikan darinya ketika ia kebanjiran hasil tangkapan—rasanya seperti ditusuk
ribuan jarum.
“Itu dia! Darto!” teriak seseorang.
Seketika, semua mata beralih ke Darto. Beberapa warga mulai
bergerak mendekat. Dadang yang baru datang bersama Asep dan Toha, langsung
berlari menghadang.
“Jangan! Jangan dulu!” Dadang membentangkan tangan,
menghalangi warga yang hendak mendekati Darto. “Kita bicara baik-baik!”
“Dadang, kau jangan melindungi dia!” Karto berteriak. “Dia
sudah hampir merusak kanal kita! Dia hampir membunuh ikan-ikan kita!”
“Tapi dia tidak jadi, Pak!” Dadang membela. “Dia
menyerahkan setrumnya! Dia mengaku!”
“Mengaku setelah ketahuan!” Sarip ikut berteriak.
“Dia tidak ketahuan, Pak! Tidak ada yang tahu dia punya
setrum! Dia sendiri yang mengaku!” Dadang berusaha menjelaskan.
Tapi warga tidak mudah tenang. Mereka sudah datang dengan
amarah yang menggebu-gebu. Mereka butuh seseorang untuk disalahkan. Mereka
butuh kepastian bahwa kejadian ini tidak akan terulang. Dan Darto, dengan
setrum yang hampir ia gunakan, menjadi sasaran yang sempurna.
Darto berdiri di tempatnya, tidak bergerak. Dadang dan Asep
berdiri di depannya, menghalangi warga yang semakin mendekat. Toha berdiri di
samping, siap membantu jika diperlukan.
Junai berjalan mendekati Darto. “Kau datang,” katanya
pelan.
“Saya harus datang,” jawab Darto dengan suara lirih. “Saya
tidak bisa lari dari kesalahan saya.”
“Kau tidak sendirian. Kami di sini.”
Darto menatap Junai. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih.”
“Darto harus dihukum!” teriak Karto lagi. “Kalau tidak,
nanti orang lain ikut-ikutan beli setrum! Kanal kita bisa rusak total!”
“Hukum apa yang kau mau, Pak Karto?” tanya Junai dengan
suara lantang. “Kau mau pukul dia? Kau mau usir dia dari desa? Apa itu akan
membuat kanal lebih baik?”
“Setidaknya dia jera!”
“Jera karena dipukul? Atau jera karena sadar?” Junai tidak
menyerah. “Pak Karto, saya tidak membela Darto karena saya sayang dia. Saya
membela Darto karena saya tahu, hukuman fisik tidak akan menyelesaikan masalah.
Dulu, tiga puluh tahun lalu, ada pemancing yang pakai bom ikan. Warga marah,
mereka pukul pemancing itu sampai babak belur. Pemancing itu lari dari desa.
Tapi kanal tetap mati. Ikan tetap tidak ada. Siapa yang untung? Tidak ada.”
Pak Jajang yang sejak tadi berdiri di pinggir, mendengar
nama dirinya disebut. Ia melangkah maju, dituntun oleh Rini yang membantu
memegang lengannya.
“Junai benar,” kata Pak Jajang dengan suara parau namun
berwibawa. Suaranya tidak keras, tapi jelas terdengar di tengah keramaian.
“Saya yang mengalaminya sendiri. Waktu itu, kami pikir memukul pemancing itu
adalah solusi. Tapi ternyata tidak. Dia lari, kanal tetap mati, dan kami
kehilangan salah satu warga desa. Tidak ada yang menang.”
Pak Jajang berhenti sejenak, menatap satu per satu warga
yang hadir. Matanya yang tua dan berpengalaman itu menyapu wajah Karto, Sarip,
Pak RT, dan yang lainnya.
“Setelah itu, kami belajar. Hukuman fisik tidak
menyelesaikan masalah. Yang menyelesaikan masalah adalah kesadaran. Kami
mengajak pemancing itu kembali, membersihkan kanal bersama, menanam bibit ikan
bersama. Butuh waktu bertahun-tahun, tapi akhirnya kanal pulih. Dan pemancing
itu sekarang menjadi salah satu penjaga kanal terbaik.”
“Itu dulu, Pak!” Karto tidak menyerah. “Sekarang beda!
Sekarang kanal sudah tercemar sekali! Kalau dibiarkan, bisa mati total!”
“Kanal tidak akan mati, Karto,” Pak Jajang menjawab dengan
tenang. “Air mengalir. Kehidupan selalu mencari jalan. Yang kita butuhkan bukan
hukuman, tapi kesadaran. Dan Darto sudah menunjukkan kesadaran itu. Ia
menyerahkan setrumnya sendiri. Ia mengakui kesalahannya. Itu lebih berharga daripada
seribu kali hukuman.”
“Tapi dia harus bertanggung jawab!” Karto masih bersikeras.
“Dan dia akan bertanggung jawab,” Pak Jajang mengangguk.
“Bukan dengan dipukul, bukan dengan diusir. Tapi dengan bekerja. Membersihkan
kanal, menanam bibit ikan, mengajak warga lain untuk tidak menggunakan setrum
atau umpan kimia. Itu tanggung jawab yang lebih berarti.”
Rini yang sejak tadi membantu Pak Jajang, melangkah maju.
Di tangannya, ia membawa buku catatan yang selalu menjadi teman setianya. Buku
itu penuh dengan data, grafik, dan gambar-gambar ikan yang ia gambar dengan
teliti.
“Warga sekalian,” Rini memulai dengan suara yang tenang
tapi tegas. “Saya Rini. Saya tidak sering ikut dalam urusan desa, tapi saya
tinggal di sini dan saya peduli pada kanal ini. Selama seminggu terakhir, saya
mengambil sampel air setiap hari. Saya mencatat perubahan warna, bau, kadar
amonia, fosfat, dan pH. Saya juga memotret setiap perubahan yang terjadi.”
Ia membuka buku catatannya, menunjukkan halaman-halaman
yang penuh dengan data. Beberapa warga mendekat, penasaran.
“Ini data sebelum pencemaran. Kadar amonia normal, fosfat
normal, pH netral. Ini data setelah pencemaran. Kadar amonia naik tiga kali
lipat, fosfat naik lima kali lipat, pH menjadi asam. Ini data setelah hujan
kemarin. Kadar amonia turun drastis, fosfat mulai turun, pH kembali normal.
Kanal mulai pulih.”
“Apa maksudnya, Rin?” tanya seorang ibu dari kerumunan.
“Maksudnya, kanal ini masih bisa pulih. Tapi butuh waktu
dan butuh kerja sama kita semua. Bukan hanya Darto. Bukan hanya Junai. Tapi
kita semua.”
Rini menutup bukunya, menatap warga satu per satu.
“Saya setuju dengan Pak Jajang. Hukuman fisik bukan solusi.
Tapi kita juga tidak bisa membiarkan begitu saja. Saya mengusulkan, Darto harus
ikut serta dalam kerja bakti membersihkan kanal. Bukan hanya sekali, tapi
rutin. Sampai kanal benar-benar pulih. Darto juga harus membantu sosialisasi
tentang bahaya setrum dan umpan kimia kepada warga lainnya. Dan yang paling
penting, kita semua harus ikut menjaga. Tidak hanya menyalahkan satu orang.”
“Saya setuju,” kata Junai cepat.
“Saya juga setuju,” Dadang mengangkat tangan.
“Saya setuju,” Asep dan Toha serempak.
Pak RT yang dari tadi diam, akhirnya bersuara. “Saya juga
setuju. Tapi usul Rini harus disetujui semua warga. Kalau ada yang keberatan,
silakan bicara.”
Suasana hening. Beberapa warga masih tampak ragu. Karto
masih memasang wajah keras. Sarip masih melipat tangan di dada.
“Saya keberatan,” kata Karto akhirnya. “Darto harus dihukum
lebih dari itu. Dia sudah hampir merusak kanal. Dia sudah membeli setrum dari
orang kota. Itu bukan kesalahan kecil.”
“Apa yang kau mau, Pak Karto?” tanya Junai sabar.
“Dia harus mengganti rugi. Ikan-ikan yang mati karena
pencemaran, itu tanggung jawabnya.”
“Pak Karto,” Rini memotong dengan sopan, “pencemaran
kemarin dilakukan oleh dua orang kota itu, bukan Darto. Darto memang membeli
setrum dari mereka, tapi dia tidak menggunakannya. Dan dia sudah menyerahkan
setrum itu. Pencemaran kemarin adalah ulah orang kota yang menebar racun. Darto
tidak terlibat dalam itu.”
“Tapi dia tahu! Dia tahu mereka akan meracuni! Dan dia diam
saja!”
Darto yang sejak tadi berdiri diam, akhirnya angkat bicara.
Suaranya lirih, hampir tidak terdengar.
“Pak Karto... saya minta maaf. Saya memang tahu mereka akan
melakukan sesuatu. Tapi saya tidak tahu mereka akan meracuni. Saya pikir mereka
hanya akan memancing dengan umpan kimia biasa. Saya tidak tahu mereka akan
menebar racun. Saya... saya bodoh. Saya seharusnya curiga. Tapi saya tidak.”
“Kau dengar sendiri! Dia mengaku tahu!” Karto menunjuk ke
arah Darto.
“Dia tahu mereka akan melakukan sesuatu, tapi tidak tahu
itu racun,” Junai membela. “Itu berbeda, Pak Karto.”
“Tidak berbeda! Sama saja!”
“Pak Karto,” Pak Jajang memotong dengan suara yang lebih
tegas. “Saya tahu kau marah. Saya tahu kau kecewa. Tapi mari kita lihat fakta.
Darto memang bersalah karena membeli setrum. Tapi dia tidak menggunakannya. Dia
tidak meracuni kanal. Dia tidak terlibat dalam pencemaran. Dia adalah korban
dari godaan—godaan untuk mengambil jalan pintas. Dan dia sudah sadar. Dia sudah
menyerahkan setrumnya. Apa lagi yang kau mau?”
Karto tidak menjawab. Ia menggertakkan gigi, tapi tidak
bisa membantah.
“Pak Karto,” Junai mendekati Karto. Suaranya pelan, hanya
cukup didengar oleh Karto dan beberapa orang di sekitarnya. “Saya mengerti
kekhawatiran Bapak. Rumah Bapak paling dekat dengan kanal. Bapak yang paling
merasakan dampaknya kalau kanal rusak. Tapi percayalah, menghukum Darto tidak
akan membuat kanal lebih baik. Yang membuat kanal lebih baik adalah kita semua bekerja
sama. Darto sudah siap bekerja. Bapak juga, kan?”
Karto memandang Junai. Matanya masih marah, tapi ada
keraguan di sana. “Apa jaminan dia tidak akan mengulangi?”
“Saya yang menjamin,” kata Junai tegas.
“Saya juga menjamin,” Pak Jajang menambahkan.
“Saya juga,” Dadang ikut.
“Saya juga,” Rini, Asep, Toha, dan Ujang bersamaan.
Karto memandang mereka satu per satu. Ia melihat
kesungguhan di mata mereka. Ia melihat bahwa Darto tidak sendirian. Bahwa
seluruh kelompok pemancing desa berdiri di belakang Darto—bukan untuk membela
kesalahannya, tapi untuk membantunya memperbaiki diri.
“Baiklah,” kata Karto akhirnya, menghela napas panjang.
“Saya setuju. Tapi Darto harus kerja bakti. Dan saya ingin melihat sendiri dia
membersihkan kanal. Tidak boleh bolong.”
“Saya tidak akan bolong, Pak,” Darto berjanji dengan suara
yang bergetar tapi mantap.
Namun, konflik belum sepenuhnya reda. Dari kerumunan,
seorang perempuan setengah baya melangkah maju. Itu Bu Lastri, istri Pak
Jajang. Ia biasanya tidak ikut dalam urusan kanal, tapi pagi ini ia
datang—mungkin karena mendengar bahwa Darto, anak tiri yang selama ini menjauh,
sedang dalam masalah besar.
“Saya ingin bicara,” kata Bu Lastri dengan suara yang
tenang tapi tegas.
Semua warga menghormatinya. Bu Lastri adalah salah satu
sesepuh desa, istri dari Pak Jajang yang dihormati, dan ibu tiri dari Darto.
“Bu Lastri, silakan,” Pak RT mempersilakan.
Bu Lastri berdiri di hadapan warga. Matanya yang sudah tua
menatap Darto yang berdiri di antara Junai dan Dadang.
“Darto,” panggil Bu Lastri.
Darto menunduk. “Ibu.”
“Kau tahu, selama bertahun-tahun, saya melihat kau tumbuh
menjadi pemuda yang keras kepala. Kau selalu ingin menang. Kau selalu ingin
menjadi yang terbaik. Kau iri pada Junai karena dia lebih pintar memancing. Kau
marah pada ayahmu karena dia membawa pulang anak orang. Kau lari dari rumah
setiap kali ada pertengkaran kecil. Saya tahu semua itu.”
Darto tidak menjawab. Air matanya jatuh.
“Tapi saya juga tahu, Darto, bahwa kau anak yang baik. Di
balik kekerasan kepalamu, kau punya hati yang lembut. Kau pernah diam-diam
memberi ikan pada tetangga yang sedang sakit. Kau pernah membantu Ibu Sumi
memperbaiki atap rumahnya tanpa diminta. Kau pernah menangis ketika melihat
anak ayam kehujanan. Saya lihat semua itu.”
Bu Lastri berhenti sejenak, menarik napas.
“Kesalahan yang kau lakukan—membeli setrum, hampir
menggunakannya—itu adalah kesalahan besar. Tapi kau sudah sadar. Kau sudah
menyerahkan setrum itu. Kau sudah meminta maaf. Itu yang membuat saya bangga.
Bukan karena kau tidak pernah salah, tapi karena kau berani mengakui kesalahan
dan memperbaikinya.”
Darto mengangkat wajah. Matanya basah. “Bu... saya minta
maaf. Selama ini saya selalu menjauh. Saya selalu merasa Bu membenci saya. Saya
pikir Bu lebih sayang Junai.”
Bu Lastri tersenyum tipis. “Darto, saya tidak membenci
siapa pun. Saya hanya ibu yang berusaha membesarkan dua anak laki-laki dengan
cara yang berbeda. Junai butuh kasih sayang lebih karena dia tidak punya
siapa-siapa. Tapi kau... kau butuh ruang. Kau butuh kebebasan. Kau butuh diakui
sebagai diri sendiri, bukan sebagai anak Pak Jajang atau saudara Junai. Dan
saya memberikan itu. Mungkin terlalu banyak ruang sehingga kau merasa saya
tidak peduli. Maafkan saya.”
Darto tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia berlutut di
hadapan Bu Lastri, mencium tangan ibu tirinya itu. “Maafkan saya, Bu. Maafkan
saya selama ini.”
Bu Lastri mengusap kepala Darto. “Sudah, Nak. Tidak perlu
menangis. Laki-laki jangan cengeng.”
Beberapa ibu-ibu yang melihat adegan itu ikut menangis. Pak
RT mengusap matanya dengan lengan bajunya. Karto yang tadinya masih memasang
wajah keras, kini tampak melunak.
Pak RT melangkah ke tengah, mengambil alih situasi. Sebagai
Keta RT di desa—meskipun desa Awan Biru hanya dusun kecil di bawah kecamatan
Kabut Merah—ia memiliki wewenang untuk mengambil keputusan.
“Warga sekalian,” Pak RT memulai dengan suara yang lantang.
“Saya sudah mendengar semua pendapat. Ada yang ingin Darto dihukum. Ada yang
ingin Darto dimaafkan. Ada yang mengusulkan kerja bakti. Saya akan mengambil keputusan.”
Semua warga diam, mendengarkan.
“Pertama, tentang Darto. Darto telah mengakui kesalahannya.
Dia membeli setrum ikan, tapi tidak menggunakannya. Dia menyerahkan setrum itu
dan meminta maaf. Itu adalah langkah yang benar. Karena itu, saya memutuskan
tidak ada hukuman fisik atau pengusiran dari desa.”
Karto tampak hendak protes, tapi Pak RT mengangkat tangan,
memintanya bersabar.
“Kedua, Darto harus bertanggung jawab. Dia harus ikut serta
dalam kerja bakti membersihkan kanal setiap hari Minggu selama tiga bulan ke
depan. Dia juga harus membantu sosialisasi tentang bahaya setrum dan umpan
kimia kepada warga. Jika dalam tiga bulan dia tidak mematuhi, maka akan ada
sanksi lebih lanjut.”
Darto mengangguk. “Saya siap, Pak RT.”
“Ketiga, tentang dua orang kota yang meracuni kanal.
Laporan sudah kami sampaikan ke polisi kecamatan. Kami akan terus
menindaklanjuti. Jangan main hakim sendiri. Serahkan pada pihak berwajib.”
“Keempat, tentang kanal. Mulai minggu depan, kita adakan
kerja bakti rutin setiap hari Minggu. Membersihkan sampah, menanam bibit ikan,
dan membuat kawasan konservasi. Semua warga diharapkan ikut. Tidak terkecuali.”
Pak RT berhenti, menatap warga satu per satu. “Ada yang
keberatan dengan keputusan ini?”
Suasana hening. Karto masih tampak tidak puas, tapi ia
tidak bersuara. Sarip yang tadinya ikut marah, kini hanya mengangguk-angguk.
“Kalau tidak ada yang keberatan, keputusan ini berlaku,”
Pak RT menutup.
Warga mulai bubar satu per satu. Karto pergi dengan wajah
masih cemberut, tapi tanpa membawa cangkulnya. Sarip ikut pergi, diikuti oleh
beberapa warga lain. Ibu-ibu kembali ke rumah masing-masing, membawa cerita
yang akan mereka sebarkan di pengajian nanti. Anak-anak kecil berlarian kembali
ke sekolah, meskipun sudah terlambat.
Tinggallah kelompok pemancing—Junai, Darto, Dadang, Asep,
Toha, Rini, Ujang, dan Pak Jajang bersama Bu Lastri—di tepi kanal yang mulai
sunyi.
Darto duduk di tanah, memegangi kepalanya. Badannya masih
gemetar, bekas tangisan masih terlihat di wajahnya.
Junai duduk di sampingnya, tidak bicara. Ia hanya
meletakkan tangan di pundak Darto, memberi kehangatan yang tidak perlu
diungkapkan dengan kata-kata.
“Jun,” Darto memanggil lirih.
“Iya.”
“Apakah mereka akan memaafkanku? Apakah warga desa akan
melupakan ini?”
Junai tidak menjawab segera. Ia memandang ke arah kanal
yang mengalir tenang, lalu ke arah warga yang perlahan meninggalkan tepi air.
“Waktu yang akan menjawab, To. Yang penting kau sudah
melakukan yang benar. Kau sudah mengaku. Kau sudah meminta maaf. Kau sudah siap
bertanggung jawab. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Tapi mereka masih marah. Pak Karto masih marah.”
“Pak Karto marah karena dia takut. Takut kanal ini rusak,
takut anaknya tidak bisa memancing lagi, takut masa depan desa ini hancur.
Bukan karena dia benci padamu. Ketakutan itu akan hilang kalau dia melihat
kanal pulih. Dan dia akan melihat itu. Karena kita akan memulihkannya.”
Darto mengangkat wajah. Matanya masih merah, tapi ada tekad
baru di sana. “Kau percaya kita bisa?”
“Kita sudah mulai. Kemarin kanal pulih setelah hujan. Hari
ini kita dapat ikan. Besok akan lebih baik. Lusa akan lebih baik lagi. Tapi
butuh kerja keras. Bukan hanya aku, bukan hanya kamu, tapi kita semua.”
“Aku akan bekerja, Jun. Aku janji.”
“Aku tahu.”
Pak Jajang mendekat, dibantu oleh Bu Lastri. Ia duduk di
samping Darto, meletakkan tangannya yang keriput di atas kepala Darto.
“Nak,” kata Pak Jajang dengan suara yang lembut, “saya
bangga padamu. Bukan karena kau tidak pernah salah. Tapi karena kau berani
mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Itu yang membuat seorang laki-laki
menjadi dewasa.”
“Maafkan saya, Pak. Selama ini saya selalu membuat Bapak
kecewa.”
“Kau tidak pernah membuatku kecewa, Darto. Yang membuatku
kecewa adalah ketika kau menjauh, ketika kau tidak percaya bahwa kami
menyayangimu. Tapi itu sudah berlalu. Sekarang kita mulai baru. Bersama.”
Darto menangis lagi. Kali ini ia tidak menahannya. Ia
memeluk ayahnya, membiarkan air matanya jatuh ke bahu Pak Jajang. Pak Jajang
membelai rambut Darto, seperti yang dulu ia lakukan ketika Darto masih kecil,
sebelum Junai datang, sebelum segalanya berubah.
Bu Lastri menangis di samping. Rini ikut menangis. Ujang
mengusap matanya dengan lengan bajunya. Dadang, Asep, dan Toha berdiri di
kejauhan, memberikan ruang untuk keluarga kecil itu.
Junai berdiri, berjalan ke tepi kanal. Ia memandang air
yang mengalir deras, membawa daun-daun kering ke hilir. Di permukaan, ia
melihat riak-riak kecil—tanda kehidupan yang terus berjalan.
Ia teringat pada kata-kata Pak Jajang beberapa hari lalu:
“Kanal ini seperti kehidupan. Kadang tenang, kadang deras. Kadang memberi,
kadang mengambil. Tapi ia tidak pernah berhenti mengalir.”
Hari ini, ia melihat Darto yang sempat tersesat, kini
kembali ke jalan yang benar. Ia melihat warga yang sempat terpecah, kini
kembali bersatu. Ia melihat kanal yang sempat mati, kini mulai hidup kembali.
Semua butuh proses. Semua butuh waktu. Tapi selama mereka
bersama, selama mereka tidak menyerah, tidak ada yang tidak mungkin.
“Jun,” Darto memanggil dari belakang.
Junai menoleh. Darto berdiri di sampingnya, wajahnya masih
basah, tapi matanya sudah lebih tenang.
“Ayo mancing,” kata Darto. “Hari ini aku ingin belajar dari
kau. Tentang anak kodok, tentang membaca arus, tentang semua yang belum aku
pahami.”
Junai tersenyum. “Kau sudah paham banyak, To. Kemarin kau
dapat gabus besar sendiri.”
“Itu keberuntungan. Aku ingin paham, bukan hanya
beruntung.”
“Baik. Aku akan ajari. Tapi kau harus sabar. Tidak ada ilmu
yang bisa dikuasai dalam sehari.”
“Aku akan sabar. Aku janji.”
Mereka mengambil joran masing-masing, berjalan ke spot yang
biasa dipakai Junai di tikungan kanal. Dadang, Asep, dan Toha menyusul. Rini
memilih spot di dekat pintu air. Ujang membuka nampan gorengannya yang sedari
tadi belum sempat disantap.
Pak Jajang dan Bu Lastri duduk di bawah pohon karet tua,
memandang anak-anak muda itu dengan senyum bangga.
“Lihat mereka, Pak,” kata Bu Lastri. “Mereka masih muda,
masih banyak belajar. Tapi mereka punya semangat. Mereka punya persaudaraan.
Itu yang membuat desa ini kuat.”
“Iya, Bu. Dan Darto... Darto akhirnya pulang.”
Bu Lastri menggenggam tangan suaminya. “Dia tidak pernah
pergi, Pak. Dia hanya tersesat. Dan hari ini, dia menemukan jalannya kembali.”
Di tepi kanal, Junai mengajarkan Darto cara membaca arus.
“Lihat, To. Air yang berputar-putar di tikungan itu namanya pusaran. Di pusaran
itu, makanan berkumpul. Ikan-ikan akan datang ke sini untuk makan.”
“Jadi kita harus lempar umpan ke pusaran?”
“Bukan ke pusaran yang terlalu kuat. Di tepi pusaran, di
mana arus sedikit melambat. Di sana ikan-ikan yang lebih kecil menunggu makanan
yang terlempar dari pusaran. Dan ikan-ikan besar menunggu di bawahnya, memangsa
ikan-ikan kecil.”
“Seperti kehidupan,” Darto berkata tiba-tiba.
Junai menoleh, tersenyum. “Iya. Seperti kehidupan. Ada yang
di pusaran, ada yang di tepi. Semua punya tempatnya masing-masing.”
Darto memasang anak kodok di kailnya—perlahan, hati-hati,
tusukan dangkal di punggung. Ia melempar ke tepi pusaran, di mana arus sedikit
melambat.
“Bagus,” kata Junai. “Sekarang tunggu. Jangan buru-buru
narik. Biarkan kodok berenang. Biarkan ikan yang memutuskan.”
Mereka menunggu dalam diam. Dadang dan Asep di kejauhan
sudah mulai mendapat tarikan. Rini berteriak kegirangan dapat nila besar. Ujang
membagikan pisang goreng ke sana kemari.
Pelampung Darto bergerak. Goyangan kecil naik-turun.
Darto tidak bergerak. Ia menahan napas.
Pelampung bergoyang lagi. Lebih kuat.
Masih tidak bergerak.
Pelampung tenggelam tiba-tiba. Darto menarik perlahan,
memberi kendor, lalu menarik lagi. Seekor ikan gabus ukuran sedang muncul di
permukaan.
Darto mengangkatnya, melepas kail dengan hati-hati. Ia
memandang ikan itu sebentar—masih kecil, mungkin baru setengah kilogram.
“Lepas?” tanyanya pada Junai.
“Lepas. Masih kecil. Biar besar dulu.”
Darto menurunkan ikan itu ke air, membiarkannya berenang
kembali ke pusaran. Ikan itu sempat berhenti sebentar, seperti berterima kasih,
lalu menghilang di antara akar-akar eceng gondok.
“Kenapa kau lepas?” tanya Dadang dari kejauhan. “Itu ukuran
lumayan.”
“Kata Junai masih kecil,” jawab Darto sederhana.
Dadang tertawa. “Darto, kau berubah.”
“Iya. Aku berubah.”
Darto memandang Junai, lalu ke arah Pak Jajang dan Bu
Lastri yang duduk di bawah pohon karet. Ia tersenyum—senyum yang tulus, senyum
yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.
“Aku berubah,” ulangnya, kali pada dirinya sendiri.
BAB 8: Kanal yang Sepi
Dua minggu telah berlalu sejak hujan deras yang membawa
kehidupan kembali ke kanal. Dua minggu sejak Darto menyerahkan setrumnya dan
konflik di tepi air mereda. Dua minggu sejak mereka berjanji untuk memperbaiki
bersama.
Tapi janji tidak selalu mudah diwujudkan.
Pagi itu, Junai tiba di tepi kanal seperti biasa, pukul
setengah enam. Kabut tipis masih menggantung di atas air, seperti selimut yang
menutupi kesunyian. Udara dingin menusuk kulit, tapi Junai sudah terbiasa. Yang
tidak biasa adalah keheningan yang menyelimuti kanal.
Dulu, di pagi hari seperti ini, tepi kanal sudah ramai
dengan pemancing yang datang lebih awal. Ada yang duduk di bawah jembatan, ada
yang di tikungan dekat pohon karet, ada yang di akar sawit yang menjuntai.
Suara joran yang terlempar, percikan air, tawa dan canda, kadang teriakan
kegirangan ketika seseorang mendapat ikan besar—semua itu adalah simfoni pagi
yang sudah menjadi bagian dari kehidupan desa.
Sekarang, simfoni itu telah menjadi sunyi.
Junai duduk di tempat biasanya, di tikungan kanal dekat
pohon karet tua. Ia memasang umpan fermentasi di joran pertama, anak kodok di
joran kedua. Ia melempar dengan hati-hati, memastikan umpan jatuh di tempat
yang tepat.
Pelampung mengapung. Air diam. Tidak ada gerakan.
Satu jam berlalu. Dua jam. Tidak ada tanda-tanda ikan.
Pelampung Junai mengapung tenang seperti mati. Anak kodok yang tadinya
berenang-renang kini sudah lelah, hanya mengapung di permukaan dengan sesekali
gerakan kecil.
Junai tidak bergerak. Ia duduk diam, memandang air, mencoba
membaca tanda-tanda yang mungkin luput. Tapi tidak ada. Air itu seperti kosong.
Sunyi.
Ia teringat pada dua minggu lalu, ketika hujan baru saja
reda dan ikan-ikan muncul dengan semangatnya. Ia mendapat ikan mas besar dua
kilogram. Darto mendapat gabus satu setengah kilogram. Semua pulang dengan
ember penuh. Ada tawa, ada kebahagiaan, ada harapan bahwa kanal telah pulih.
Tapi harapan itu ternyata hanya sesaat.
Setelah seminggu, ikan-ikan mulai berkurang. Setelah
sepuluh hari, hanya ikan-ikan kecil yang tersisa. Dan sekarang, di hari keempat
belas, bahkan ikan-ikan kecil itu pun sulit ditemukan.
Rini datang sekitar pukul tujuh. Ia berjalan dari arah desa
dengan tas ransel di punggung dan buku catatan di tangan. Langkahnya tidak
secepat dulu. Matanya terlihat lelah—mungkin karena begadang semalam
menganalisis sampel air, atau mungkin karena kenyataan yang semakin berat.
“Jun, sudah dapat?” tanya Rini meskipun sudah tahu
jawabannya.
“Belum. Sama sekali belum,” Junai menjawab tanpa menoleh.
Matanya tetap tertuju pada pelampung yang mengapung tenang. “Ini hari ketiga
saya tidak dapat ikan. Bahkan ikan kecil pun tidak.”
Rini duduk di samping Junai, meletakkan tasnya di tanah. Ia
membuka buku catatan, menunjukkan halaman-halaman yang penuh dengan data dan
grafik.
“Saya sedang mendata populasi ikan yang tersisa,” kata Rini
dengan suara yang berat. “Hasilnya mengecewakan. Dari sepuluh titik yang saya
amati, hanya dua titik yang masih ada tanda-tanda ikan. Itu pun jenis ikan
kecil seperti wader dan sepat. Ikan mas, nila, gabus, lele—hampir tidak
terdeteksi.”
“Dua titik? Di mana?”
“Satu di hulu, dekat sumber mata air. Satu di hilir, dekat
pintu air. Di tengah, hampir kosong.”
Junai menghela napas. “Jadi ikan-ikan yang kemarin muncul
setelah hujan, mereka hanya lewat? Tidak menetap?”
“Mungkin. Hujan membawa mereka dari hulu, tapi ketika air
mulai surut dan polusi masih ada, mereka kembali ke hulu atau hilir. Mereka
tidak betah di sini.”
“Apakah kanal ini akan mati?” tanya Junai. Suaranya tidak
bergetar, tapi ada nada yang dalam—nada yang menunjukkan bahwa ia sudah
memikirkan pertanyaan itu berulang kali, dan setiap kali jawabannya semakin
berat.
Rini tidak menjawab segera. Ia memandang kanal yang
mengalir pelan, berwarna kecoklatan keruh, dengan sampah-sampah plastik
tersangkut di akar-akar eceng gondok. Angin pagi bertiup membawa bau tanah
basah, tapi juga bau samar dari pestisida yang masih terbawa aliran air dari
perkebunan.
“Jika tidak ada tindakan, mungkin iya,” kata Rini akhirnya,
suaranya lirih. “Sumber pencemaran dari perkebunan masih terus mengalir.
Pestisida dan pupuk kimia masuk ke kanal setiap kali hujan. Dulu kadarnya
kecil, ikan masih bisa bertahan. Tapi setelah bertahun-tahun, sedimentasi racun
di dasar kanal semakin tebal. Belum lagi sampah plastik dari warga yang masih
buang ke sini. Ada yang sengaja, ada yang tidak sengaja terbawa angin atau air
hujan. Semua itu menumpuk, meracuni perlahan.”
“Jadi kita tidak bisa hanya mengandalkan hujan untuk
membersihkan?”
“Hujan membantu mengencerkan, tapi tidak membersihkan
sedimentasi di dasar. Racun yang sudah mengendap di lumpur akan terus ada
selama bertahun-tahun. Ikan-ikan bisa kembali, tapi mereka akan terpapar racun
setiap kali menggali lumpur untuk mencari makan. Itu sebabnya populasi ikan
terus menurun.”
Junai memejamkan mata. Ia membayangkan dasar kanal yang
selama bertahun-tahun menjadi tempat berpijak, tempat ikan-ikan kecil
berlindung, tempat telur-telur ikan menempel. Kini dasarnya dipenuhi racun yang
tak terlihat, membunuh perlahan tanpa ada yang menyadari.
“Kita harus melakukan sesuatu,” kata Junai dengan suara
yang lebih mantap. Bukan lagi pertanyaan, tapi pernyataan.
“Aku sudah bicara dengan Pak RT dan perwakilan perkebunan,”
kata Rini. “Mereka berjanji akan mengurangi penggunaan pestisida di dekat
kanal. Mereka bilang akan membuat buffer zone—area penyangga antara kebun sawit
dan kanal—supaya air hujan tidak langsung masuk ke kanal. Tapi itu baru janji.
Belum ada tindakan nyata.”
“Janji tanpa tindakan hanya angin lalu.”
“Iya. Dan kita tidak bisa memaksa mereka. Perusahaan
perkebunan besar punya kekuatan. Kita hanya warga desa kecil.”
Pak Jajang datang sekitar pukul delapan. Ia berjalan
perlahan, dituntun oleh tongkat bambu yang dibuatkan oleh menantunya.
Langkahnya lebih lambat dari biasanya, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya yang
sudah keriput kini tampak lebih pucat, matanya lebih cekung. Seminggu terakhir,
kesehatannya memang menurun. Dokter di puskesmas mengatakan itu karena usianya yang
sudah lanjut, tapi Junai tahu ada yang lain. Pak Jajang sedih. Sedih melihat
kanal yang ia cintai selama puluhan tahun kini sekarat.
“Jun,” panggil Pak Jajang dengan suara parau. “Sudah
dapat?”
“Belum, Pak. Belum ada yang menggigit.”
Pak Jajang duduk di kursi lipat kecil yang dibawa Rini. Ia
mengatur napas sebentar, lalu memandang ke arah kanal. Matanya yang tajam—meski
usianya sudah tujuh puluh dua—masih mampu membaca tanda-tanda yang tidak
terlihat oleh orang lain.
“Airnya keruh, tapi bukan keruh alami,” kata Pak Jajang.
“Ini keruh karena sedimentasi kimia. Lihat, warnanya kehijauan, bukan
kecoklatan seperti setelah hujan. Itu tanda ada pupuk kimia yang larut.”
“Rini bilang, pestisida dan pupuk dari perkebunan masih
masuk setiap hujan.”
“Iya. Dan itu sudah terjadi bertahun-tahun. Dulu, sebelum
perkebunan besar, kanal ini jernih. Airnya bisa diminum. Ikan-ikan berenang
bebas. Sekarang... lihat sendiri.”
Pak Jajang menghela napas panjang. Napas yang berat,
seperti menghela seluruh beban hidupnya.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan mereka,” kata Pak
Jajang tiba-tiba. Matanya menatap Junai dan Rini bergantian. “Perusahaan
perkebunan punya kepentingan sendiri. Mereka peduli pada produksi sawit, bukan
pada kanal. Kita harus memulai dari diri sendiri.”
“Apa maksud Bapak?” tanya Rini.
“Kita bersihkan kanal. Dari hulu ke hilir. Ajak semua
warga. Kalau perlu, kita buat jadwal rutin setiap minggu. Bukan hanya
sekali-sekali, tapi terus-menerus. Kita juga bisa menanam bibit ikan. Dulu,
sebelum ada perkebunan besar, warga desa selalu menjaga kanal. Setiap minggu
mereka bersih-bersih, tidak ada yang buang sampah ke kanal. Sekarang, kita
terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Sawit, warung, kerja di kota. Kanal
jadi terlantar.”
“Bapak benar,” Junai mengangguk. “Tapi bagaimana caranya
mengajak warga yang sudah kehilangan harapan? Banyak yang bilang, 'Buat apa
bersih-bersih kalau besok kotor lagi?' Atau 'Kanal sudah rusak, tidak akan
pulih.'”
Pak Jajang tersenyum tipis. Senyum yang sudah lama tidak
muncul di wajahnya. “Kau tahu, Jun, dulu waktu saya masih muda, kanal ini
pernah mati. Ikan-ikan mati semua karena bom ikan yang dipakai pemancing dari
luar. Warga putus asa. Ada yang bilang, kanal sudah selesai, tidak akan pulih.
Tapi kakek saya tidak menyerah. Setiap hari ia membersihkan kanal, sendirian.
Orang-orang bilang ia gila. Tapi setelah beberapa bulan, ikan-ikan mulai
kembali. Perlahan. Setahun kemudian, kanal pulih sepenuhnya. Dan orang-orang
yang dulu bilang ia gila, ikut membersihkan.”
“Jadi kita harus mulai dari yang kecil,” kata Rini.
“Tunjukkan bahwa kanal ini masih bisa pulih. Ajak tokoh masyarakat, pengajian
ibu-ibu, anak-anak muda. Buat kegiatan yang menarik, seperti lomba
bersih-bersih, atau edukasi tentang ikan. Buat mereka melihat bahwa perubahan
itu mungkin.”
“Rini pintar,” Pak Jajang mengangguk bangga. “Kau sekolah
tinggi, jadi tahu cara mengajak orang. Saya dulu hanya bisa membersihkan
sendiri, tanpa ajak-ajak. Butuh waktu lama. Tapi dengan cara Rini, mungkin
lebih cepat.”
“Saya setuju,” kata Junai. “Tapi kita tidak bisa sendirian.
Kita butuh dukungan warga. Dan untuk itu, kita harus datangi mereka satu per
satu. Jelaskan. Ajak. Meyakinkan.”
“Kita lakukan,” kata Rini bersemangat. “Hari ini juga kita
mulai.”
Hari-hari berikutnya, Junai, Rini, dan Pak Jajang—meskipun
Pak Jajang hanya bisa ikut di awal karena kesehatannya—mendatangi rumah-rumah
warga satu per satu. Tidak hanya pemancing, tapi semua warga: petani sawit,
ibu-ibu rumah tangga, pedagang, anak-anak muda, bahkan para lansia yang sudah
tidak bisa keluar rumah.
Rumah pertama yang mereka datangi adalah milik Karto.
Karto adalah petani sawit yang rumahnya paling dekat dengan
kanal. Dialah yang paling vokal dalam konflik di tepi air dua minggu lalu.
Dialah yang membawa cangkul dan ingin Darto dihukum. Junai tahu Karto bukan
orang jahat. Ia hanya marah karena takut. Takut kanal rusak, takut anaknya
tidak bisa memancing lagi, takut masa depan desanya hancur.
“Pak Karto,” Junai memanggil dari pagar.
Karto sedang duduk di beranda, minum kopi pahit sambil
membaca koran bekas yang dibungkus plastik. Ia menoleh, wajahnya sedikit kaget
melihat Junai dan Rini.
“Junai? Rini? Ada apa?”
“Kami ingin bicara, Pak. Tentang kanal.”
Karto menghela napas. Wajahnya berubah masam. “Kanal?
Sudahlah, Jun. Kanal sudah rusak. Tidak ada gunanya dibicarakan lagi.”
“Kanal belum rusak total, Pak. Masih bisa pulih. Tapi butuh
kerja sama kita semua.”
“Kerja sama?” Karto mendengus. “Dengar, Jun. Saya sudah
hidup di desa ini lebih lama dari kau. Saya sudah melihat kanal ini
baik-buruknya. Sekarang, kanal ini sudah parah. Tidak ada ikan. Airnya keruh.
Bau. Apa yang mau dipulihkan?”
“Itu sebabnya kami datang, Pak,” Rini memotong dengan
sopan. “Kami ingin mengajak Bapak dan warga lain untuk membersihkan kanal.
Membuang sampah, menanam bibit ikan, membuat kawasan konservasi. Kalau kita
lakukan bersama, kanal bisa pulih.”
Karto tertawa kecil. Tawa yang pahit. “Kanal pulih? Dengan
siapa? Dengan Darto yang kemarin hampir pakai setrum? Dengan anak-anak muda
yang lebih suka main ponsel daripada membersihkan sampah? Buang-buang waktu,
Rin. Kanal sudah rusak. Lebih baik kita cari ikan di sungai lain. Di sungai
Ciputri, katanya masih banyak ikan.”
“Sungai Ciputri jauh, Pak. Dua jam naik motor. Dan itu
bukan milik kita. Kalau kita rusak kanal di sini, kita kehilangan sumber daya
yang dekat dengan rumah,” Junai menjelaskan.
“Kanal ini milik kita, Pak Karto,” Rini menambahkan. “Tanah
di tepi kanal ini milik desa. Ikan-ikan di sini adalah ikan kita. Kalau kita
tidak menjaga, siapa lagi? Perusahaan perkebunan? Mereka hanya peduli pada
sawit mereka. Warga kota yang datang memancing? Mereka hanya mengambil, tidak
pernah memberi.”
Karto terdiam. Ia memandang Junai, lalu ke Rini, lalu ke
arah kanal yang tidak terlihat dari rumahnya karena tertutup rumpun bambu.
“Saya sudah tua, Jun. Saya tidak punya tenaga untuk
bersih-bersih kanal. Lagipula, buat apa? Besok pasti kotor lagi. Ada yang buang
sampah, ada yang buang racun. Percuma.”
“Tidak percuma, Pak,” Junai berkata dengan suara yang
lembut tapi tegas. “Setiap sampah yang kita ambil, setiap botol plastik yang
kita pungut, itu mengurangi beban kanal. Mungkin tidak langsung terlihat
hasilnya. Tapi percayalah, ikan-ikan akan kembali. Mereka butuh rumah yang
bersih.”
“Ikan butuh rumah, Pak. Sama seperti kita,” Rini
menambahkan. “Bayangkan kalau rumah Bapak kotor, penuh sampah, bau. Bapak pasti
tidak betah. Ikan juga begitu.”
Karto tidak menjawab. Ia menyesap kopinya, matanya
menerawang ke kejauhan.
“Saya pikir dulu, Pak,” katanya akhirnya. “Saya beri tahu
nanti kalau sudah putuskan.”
Junai dan Rini pamit. Mereka tidak memaksa. Mereka tahu
perubahan tidak terjadi dalam sehari.
Selanjutnya mereka mendatangi rumah Sarip. Sarip adalah
petani sawit yang ikut marah-marah dua minggu lalu. Ia dikenal sebagai orang
yang keras kepala, sulit diajak kerja sama.
“Sarip, kami ingin bicara tentang kanal,” Junai membuka
percakapan.
Sarip yang sedang memperbaiki pagar bambu di depan
rumahnya, hanya melirik sekilas. “Kanal? Apa lagi? Sudahlah, Jun. Saya sudah
lelah dengan urusan kanal. Biarkan saja. Kalau mau mati, ya mati.”
“Kanal belum mati, Sarip. Masih bisa pulih.”
“Pulih?” Sarip tertawa sinis. “Dengar, Jun. Saya sudah lima
tahun tinggal di sini. Setiap tahun kanal ini makin parah. Dulu masih ada ikan
gabus sebesar lengan. Sekarang, ikan kecil pun susah. Itu bukan karena kurang
bersih. Itu karena racun dari perkebunan. Dan kau pikir dengan bersih-bersih
sampah, racun itu hilang?”
“Tidak hilang seketika, Sarip. Tapi kalau kita tidak
membersihkan sampah, racun akan semakin menumpuk. Sampah plastik menyerap
racun, lalu racun itu masuk ke tubuh ikan. Ikan yang kita makan, racunnya masuk
ke tubuh kita.”
Sarip berhenti memalu. Ia menatap Junai dengan ekspresi
berbeda—bukan sinis, tapi penasaran.
“Kau tahu itu dari mana?”
“Rini yang kasih tahu. Dia mengambil sampel air setiap
minggu, menganalisis di laboratorium sederhana. Data-nya jelas. Kandungan racun
naik setiap kali hujan, dan sampah plastik memperparah.”
Sarip memandang Rini. “Benar itu, Rin?”
“Benar, Pak Sarip. Saya punya datanya. Kalau Bapak mau
lihat, saya tunjukkan.”
Sarip berpikir sejenak. “Baik. Nanti saya lihat. Tapi
jangan harap saya ikut bersih-bersih. Saya sibuk dengan kebun.”
“Tidak apa, Pak. Yang penting Bapak tahu. Dan kalau Bapak
punya waktu, kami akan senang kalau Bapak ikut.”
Mereka melanjutkan ke rumah-rumah lainnya. Ada yang
menyambut antusias, ada yang acuh, ada yang sinis. Tapi Junai dan Rini tidak
menyerah. Mereka datang ke setiap rumah, menjelaskan dengan sabar, mendengarkan
keluhan, dan menawarkan solusi.
Tidak semua warga sulit diajak. Beberapa justru sangat
antusias.
Ujang, pemilik warung kopi, setuju langsung. “Saya ikut!
Bahkan saya bisa sediakan makanan untuk kerja bakti. Gorengan, kopi, teh. Biar
warga semangat.”
“Mang Ujang, jangan repot-repot,” Junai menolak.
“Bukan repot. Ini tanggung jawab saya juga. Warung saya
dekat kanal. Kalau kanal kotor, tamu juga malas datang. Jadi bersih-bersih
kanal sama saja dengan bersih-bersih warung.”
Junai tersenyum. “Terima kasih, Mang.”
Dadang, Asep, dan Toha yang diajak bergabung, langsung
bersemangat. Mereka bahkan menawarkan diri untuk mengajak pemuda-pemuda lain.
“Aku ajak Dulah, Aceng, Jarot, semua!” kata Dadang. “Kita
buat tim khusus pemuda. Yang kuat-kuat, biar bisa angkat sampah besar.”
“Jangan lupa bawa cangkul dan sabit, tapi hati-hati jangan
sampai merusak akar sawit,” Junai mengingatkan.
“Iya, Jun. Saya sudah belajar dari Darto kemarin,” Asep
tertawa.
Toha yang paling muda, menawarkan ide. “Jun, bagaimana
kalau kita buat lomba? Lomba siapa yang paling banyak mengumpulkan sampah
plastik. Hadiahnya... umpan fermentasi buatan Junai!”
Semua tertawa. “Ide bagus, Toha!” Dadang mengacungkan
jempol.
Darto adalah yang paling bersemangat. Mungkin karena rasa
bersalahnya yang masih tersisa, atau mungkin karena ia benar-benar ingin
berubah. Ia datang paling pagi saat rapat persiapan, membawa catatan kecil
berisi ide-idenya.
“Jun, saya usul kita buat jadwal rutin. Bukan hanya
sekali-sekali. Setiap hari Minggu, kita kumpul di kanal. Pagi bersih-bersih,
siang mancing. Kalau dapat ikan, kita masak bersama.”
“Wah, ide bagus, To!” Dadang memuji.
“Tapi kita harus pastikan yang ikut banyak,” Darto
menambahkan. “Saya usul kita bagi tugas. Ada yang membersihkan sampah plastik,
ada yang memotong eceng gondok yang terlalu lebat, ada yang memperbaiki tepian
yang longsor, ada yang menanam bibit ikan.”
Rini mencatat semua usulan. “Darto, kau hebat. Ide-idenya
bagus.”
Darto tersenyum malu. Ini pertama kalinya ia mendapat
pujian dari Rini—perempuan yang dulu sering ia hina karena berani memancing di
kanal.
“Saya belajar dari Junai,” kata Darto sederhana.
Kejutan datang dari kelompok pengajian ibu-ibu. Ketika
Junai dan Rini datang ke rumah Bu Haji Aminah—ketua pengajian yang
disegani—mereka tidak menyangka akan disambut dengan antusiasme.
“Kami sudah dengar tentang rencana kalian,” kata Bu Haji
Aminah sambil menyuguhkan teh manis dan kue talam. “Dari Bu Lastri. Beliau
cerita di pengajian kemarin.”
“Bu Lastri?” Junai terkejut. Ia tidak tahu ibu tirinya
Darto itu ikut menyebarkan berita.
“Iya. Bu Lastri bilang, kanal sedang sekarat. Dan kita
semua punya tanggung jawab untuk menyelamatkannya. Bukan hanya para pemancing,
tapi semua warga. Termasuk ibu-ibu.”
Rini tersenyum lebar. “Bu Haji, apakah ibu-ibu bersedia
ikut?”
“Tentu. Kami tidak bisa membersihkan sampah besar atau
menebang eceng gondok. Tapi kami bisa membersihkan tepian dari sampah-sampah
kecil. Botol plastik, bungkus makanan, puntung rokok. Itu juga penting, kan?”
“Sangat penting, Bu,” Rini mengangguk. “Sampah-sampah kecil
itu yang paling banyak mencemari. Mereka terbawa arus, menyumbat aliran, dan
menyerap racun.”
“Bagus. Saya akan mengajak ibu-ibu pengajian. Sekitar dua
puluh orang. Kami siap membantu.”
Junai hampir tidak percaya. Dua puluh ibu-ibu! Itu lebih
dari separuh warga yang hadir dalam konflik dua minggu lalu.
“Bu Haji, terima kasih banyak,” kata Junai dengan suara
yang sedikit bergetar karena terharu.
“Jangan berterima kasih, Nak. Ini desa kita. Kanal ini adalah
warisan untuk anak cucu kita. Kalau kita biarkan rusak, anak-anak kita yang
akan menanggung akibatnya. Saya sudah tua. Mungkin tidak akan menikmati kanal
yang pulih. Tapi cucu-cucu saya, mereka berhak menikmati air bersih dan ikan
segar.”
Hari Minggu pagi itu, langit cerah. Matahari belum terlalu
tinggi, sinarnya masih hangat, tidak menyengat. Angin bertiup lembut dari arah
timur, membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit.
Junai tiba di tepi kanal pukul setengah tujuh. Ia sudah menyiapkan
peralatan: cangkul, sabit, karung plastik, sarung tangan karet. Tapi ketika ia
sampai, ia terkejut.
Sudah ada yang menunggu.
Darto sudah di sana sejak pukul enam. Ia membawa cangkul,
sabit, dan tiga karung plastik besar. Dadang, Asep, dan Toha datang tidak lama
setelahnya. Ujang datang dengan nampan besar berisi gorengan dan termos berisi
kopi dan teh.
Pukul tujuh, rombongan mulai berdatangan. Rini datang
bersama Pak Jajang—meskipun Pak Jajang hanya bisa duduk di kursi lipat dan
memberi arahan. Bu Haji Aminah datang dengan rombongan ibu-ibu pengajian,
sekitar lima belas orang. Mereka membawa sapu, pengki, dan karung plastik untuk
memungut sampah kecil.
Pak RT datang dengan beberapa perangkat desa. Ia membawa
spanduk besar bertuliskan: “Bersihkan Kanal, Selamatkan Desa.”
Bahkan Karto datang. Junai tidak menyangka. Karto yang dua
hari lalu masih ragu-ragu, datang dengan cangkul dan karung plastik. Ia tidak
bicara banyak, hanya mengangguk pada Junai dan langsung bergabung dengan
kelompok yang membersihkan semak belukar di tepi kanal.
Sarip juga datang, meskipun dengan wajah masih masam. Ia
bergabung dengan kelompok pemuda, membantu mengangkat sampah-sampah besar yang
tersangkut di akar-akar pohon.
Total, sekitar tiga puluh warga hadir dalam kerja bakti
pertama itu. Jumlah yang luar biasa, melebihi ekspektasi Junai.
“Warga sekalian!” Pak RT berseru, berdiri di atas batu
besar agar terlihat semua orang. “Terima kasih sudah hadir pagi ini. Ini adalah
awal dari perjalanan panjang kita untuk menyelamatkan kanal. Bukan hanya hari
ini, tapi setiap hari Minggu ke depan. Saya minta kita semua bekerja dengan
aman, jangan sampai ada yang cedera. Dan ingat, jangan merusak akar sawit atau
tumbuhan air yang menjadi tempat tinggal ikan.”
Rini mengambil alih untuk edukasi singkat. Dengan
mikroportable yang dipinjam dari kantor desa, ia menjelaskan tentang ekosistem
kanal.
“Warga sekalian, kanal yang sehat adalah kanal yang
memiliki aliran air lancar, tidak tercemar, dan memiliki tempat berlindung bagi
ikan. Akar sawit, batu-batu, dan tumbuhan air seperti eceng gondok—dalam jumlah
yang tepat—adalah rumah bagi ikan. Jangan kita rusak. Sampah plastik adalah
musuh utama. Plastik tidak bisa terurai. Ia akan tetap ada di dasar kanal
selama puluhan tahun, menyerap racun, dan meracuni ikan yang memakan plankton
di sekitarnya.”
“Lalu bagaimana dengan eceng gondok yang terlalu lebat?”
tanya seorang warga.
“Eceng gondok yang terlalu lebat harus dikurangi. Tapi
jangan dibuang ke tepi, nanti akarnya mati dan membusuk, malah menambah beban
polusi. Lebih baik kita keringkan dan jadikan pupuk kompos. Saya sudah
menyiapkan tempat pengomposan di belakang rumah Pak RT.”
“Pintar!” Pak RT tersenyum bangga.
Mereka mulai bekerja. Junai memimpin kelompok pemuda yang
membersihkan sampah-sampah besar: ban bekas, ember plastik, potongan kayu, dan
bahkan sebuah kursi plastik yang patah. Dadang dan Asep mengangkat
karung-karung sampah ke pinggir jalan, siap diangkut dengan gerobak milik desa.
Darto memimpin kelompok yang membersihkan semak belukar di
tepi kanal. Ia bekerja dengan tekun, memotong rumput-rumput liar yang
menghalangi aliran air, tapi hati-hati tidak merusak akar sawit yang menjuntai
ke air.
“Ingat, jangan potong akar sawit!” Darto mengingatkan
teman-temannya. “Itu tempat tinggal ikan. Kalau akarnya rusak, ikan tidak punya
rumah.”
“Wah, Darto sekarang jadi ahli,” Asep menyindir ramah.
“Dia belajar dari Junai,” Dadang tertawa.
Rini memimpin kelompok ibu-ibu yang membersihkan
sampah-sampah kecil di tepian. Mereka memungut botol plastik, bungkus makanan,
puntung rokok, dan potongan-potongan styrofoam yang tersangkut di rerumputan.
“Bu, ini sampahnya banyak sekali,” kata Rini pada Bu Haji
Aminah.
“Iya, Rin. Ini yang kita lihat di tepi. Belum yang di dalam
air. Sampah ini sudah menumpuk bertahun-tahun. Karena tidak pernah ada yang
membersihkan.”
“Mulai sekarang kita bersihkan rutin. Semoga setelah ini
warga juga lebih sadar untuk tidak buang sampah ke kanal.”
“Mudah-mudahan, Rin. Mudah-mudahan.”
Anak-anak kecil ikut membantu dengan semangat. Mereka membuat
lomba siapa yang paling banyak mengumpulkan botol plastik. Hadiahnya? Umpan
fermentasi buatan Junai yang sudah terkenal ampuh.
“Aku dapat sepuluh botol!” teriak seorang anak laki-laki.
“Aku dua belas!” sahut anak lain.
“Dua puluh!” anak yang lebih besar menyombong.
“Jangan curang, ya! Botolnya harus dari kanal, bukan dari
rumah!” Toha mengawasi.
Matahari semakin tinggi. Panas mulai terasa. Tapi tak
seorang pun mengeluh. Mereka bekerja dengan semangat yang luar biasa—mungkin
karena sudah lama tidak ada kegiatan bersama seperti ini, atau mungkin karena
mereka mulai menyadari pentingnya kanal bagi kehidupan desa.
Menjelang pukul sepuluh, Pak RT memerintahkan istirahat.
Ujang membagikan gorengan dan minuman. Mereka duduk di tikar plastik yang
dibentangkan di bawah pohon karet tua, bernaung dari terik matahari.
“Bagus, bagus,” Pak RT memuji. “Saya lihat semangat semua.
Hari ini kita sudah membersihkan hampir seratus meter tepian kanal. Sampah yang
terkumpul... Rini, sudah ditimbang?”
“Sudah, Pak. Sekitar dua ratus kilogram sampah plastik dan
sampah lainnya. Belum termasuk sampah besar seperti ban dan kursi.”
“Dua ratus kilo?” Pak RT terkejut. “Baru seratus meter?”
“Iya, Pak. Sampah sudah menumpuk bertahun-tahun. Kita perlu
beberapa kali kerja bakti untuk membersihkan seluruh kanal yang panjangnya dua
kilometer.”
“Tidak apa. Yang penting kita mulai. Nanti kita buat jadwal
rutin. Setiap hari Minggu, sampai kanal bersih.”
Karto yang duduk tidak jauh dari Junai, tiba-tiba bicara.
“Jun, saya mau minta maaf.”
Junai menoleh. “Minta maaf untuk apa, Pak Karto?”
“Kemarin... saya terlalu keras. Saya marah-marah, mau pukul
Darto, bilang kanal sudah rusak tidak bisa pulih. Tapi setelah lihat hari
ini... saya salah. Kanal masih bisa pulih. Tapi butuh kerja keras. Dan kalau
kita tidak mulai, tidak akan ada yang memulai.”
“Tidak perlu minta maaf, Pak. Kemarahan Bapak wajar. Bapak
yang paling merasakan dampak pencemaran karena rumah Bapak paling dekat dengan
kanal.”
“Iya. Tapi saya tidak boleh melampiaskan kemarahan pada
Darto. Dia sudah sadar. Dia sudah berubah. Saya lihat hari ini dia bekerja
paling keras.”
Darto yang sedang duduk di samping Junai, tersenyum malu.
“Saya hanya membayar utang, Pak. Utang saya pada kanal.”
“Utang sudah lunas, To,” kata Karto. “Sekarang kita mulai
baru. Bersama.”
Darto mengangguk, matanya berkaca-kaca.
Pak Jajang yang dari tadi hanya memperhatikan, ikut bicara.
“Lihat, anak-anak. Lihat. Inilah yang saya tunggu. Bukan kanal yang bersih.
Tapi persaudaraan yang pulih. Kanal ini dulu adalah tempat kita berkumpul,
tempat kita berbagi cerita, tempat kita belajar tentang kehidupan. Bukan hanya
tentang ikan. Tapi tentang bagaimana menjadi manusia.”
“Benar, Pak,” Bu Haji Aminah menambahkan. “Kanal ini milik
kita semua. Bukan hanya pemancing. Bukan hanya petani. Tapi semua warga. Dan
kita harus menjaganya bersama.”
Mereka beristirahat hingga pukul sebelas. Kemudian bekerja
lagi hingga pukul satu siang, ketika panas sudah tidak tertahankan. Pak RT
memerintahkan untuk pulang dan melanjutkan minggu depan.
Sebelum pulang, Rini mengumumkan hasil kerja bakti: sampah
plastik terkumpul tiga ratus kilogram, sampah besar seperti ban dan kursi ada
dua truk gerobak, eceng gondok yang dipotong cukup untuk membuat kompos sebesar
satu meter kubik.
“Ini baru awal,” kata Rini. “Minggu depan kita lanjutkan.
Dan yang lebih penting, kita harus menjaga agar sampah tidak kembali. Mulai
hari ini, saya minta semua warga tidak membuang sampah ke kanal. Kalau ada yang
melihat, tegur dengan baik.”
“Setuju!” seru warga serempak.
Matahari mulai condong ke barat ketika Junai kembali ke
kanal sendirian. Kerja bakti sudah selesai, warga sudah pulang ke rumah
masing-masing. Tapi Junai merasa perlu duduk sebentar di tepi air, merenungkan
apa yang telah mereka lakukan dan apa yang masih harus dilakukan.
Kanal yang tadinya dipenuhi sampah di tepiannya, kini
terlihat lebih bersih. Masih ada sampah-sampah yang terbawa arus dari hulu,
tapi setidaknya area yang sudah dibersihkan terlihat rapi. Air masih keruh,
tapi tidak sekeruh beberapa hari lalu. Mungkin karena sedimentasi yang
terganggu saat pembersihan, atau mungkin karena harapan yang mulai tumbuh
membuat segalanya terlihat lebih baik.
“Jun.”
Junai menoleh. Darto berdiri di sampingnya, membawa dua
gelas teh hangat dalam termos.
“Kopi dari Ujang. Katanya buat kita berdua,” Darto
memberikan satu gelas pada Junai.
“Terima kasih.”
Mereka duduk berdampingan di tepi kanal, menikmati teh
hangat sambil memandang air yang mengalir pelan.
“Jun, kau pikir kanal ini akan pulih?” tanya Darto.
“Aku yakin.”
“Kenapa kau begitu yakin? Lihat, airnya masih keruh. Ikan
masih belum ada. Sampah masih banyak. Mungkin butuh waktu lama.”
Junai tidak menjawab segera. Ia memandang ke arah barat, di
mana matahari perlahan tenggelam, meninggalkan warna jingga keemasan di langit.
“Kau lihat senja itu, To? Setiap hari matahari terbenam.
Tapi setiap pagi ia terbit lagi. Kanal ini sama. Mungkin hari ini ia terlihat
mati. Tapi besok, lusa, atau beberapa bulan lagi, ia akan hidup kembali. Selama
kita terus menjaganya.”
Darto memandang Junai. “Kau selalu punya cara untuk membuat
segalanya terasa mungkin.”
“Bukan aku. Kanal ini yang mengajarkanku. Bahwa kehidupan
tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tidur, menunggu waktu yang tepat untuk
bangun.”
Mereka diam. Angin sore bertiup lembut, membawa bau tanah
basah dan dedaunan sawit. Di kejauhan, burung-burung beterbangan pulang ke
sarang.
“Darto,” Junai memanggil.
“Iya.”
“Aku bangga padamu. Hari ini kau bekerja paling keras. Dan
kau tidak mengeluh.”
Darto tersenyum. “Aku hanya membayar utang. Tapi rasanya...
enak. Bukan karena utangnya lunas. Tapi karena aku merasa berguna. Aku merasa
bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri.”
“Itu yang namanya keluarga, To. Bukan hanya yang tinggal
serumah. Tapi semua yang peduli pada tempat ini, pada kanal ini, pada desa
ini.”
Darto mengangguk. “Aku ingin terus seperti ini. Bekerja,
menjaga, dan... belajar dari kau.”
“Kita belajar bersama.”
Mereka menghabiskan teh mereka dalam diam. Senja perlahan
berubah menjadi malam. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit
timur. Suara jangkrik mulai terdengar dari balik semak-semak.
“Ayo pulang,” kata Junai berdiri. “Besok kita cari bibit
ikan. Kata Rini, ada pembibitan ikan di kecamatan yang bisa memberi bantuan.”
“Aku ikut.”
Mereka berjalan pulang bersama menyusuri jalan setapak di
antara pelepah sawit. Di belakang mereka, kanal mengalir tenang—masih keruh,
masih sunyi, tapi tidak lagi terlupakan.
BAB 9: Memulihkan
Harapan
Minggu pagi itu, langit Desa Awan Biru cerah tanpa awan.
Matahari baru saja terbit di ufuk timur, menyapu embun yang masih bergelayut di
dedaunan sawit. Udara segar dan dingin menusuk kulit, tapi semangat warga sudah
membara sejak subuh.
Junai tiba di tepi kanal pukul setengah enam. Ia sudah
menyiapkan segala sesuatunya semalam: karung plastik, sarung tangan karet,
cangkul, sabit, dan sepatu bot karet. Tapi ketika ia sampai, ternyata ia bukan
yang pertama.
Darto sudah di sana sejak pukul lima. Ia duduk di tepi
kanal, memandang air yang masih keruh, tapi matanya tidak lagi gelisah seperti
beberapa minggu lalu. Ada ketenangan di sana—ketenangan yang lahir dari
keputusan untuk berubah.
“Darto, kau sudah dari tadi?” tanya Junai.
“Dari subuh. Saya tidak bisa tidur. Pikirannya kemana-mana.
Akhirnya saya memutuskan ke sini dulu, sebelum yang lain datang.”
“Memikirkan apa?”
Darto tersenyum tipis. “Memikirkan betapa bodohnya saya
dulu. Hampir merusak kanal ini dengan setrum. Padahal... lihat. Kanal ini butuh
kita. Bukan untuk diambil, tapi untuk dijaga.”
Junai duduk di samping Darto. “Kita semua pernah bodoh, To.
Yang penting bukan tidak pernah salah, tapi berani memperbaiki.”
“Kau tidak pernah bodoh, Jun. Kau selalu benar.”
“Aku juga pernah salah. Waktu kecil, aku pernah mengambil
ikan-ikan kecil dari kanal, kubawa pulang, kulepas di ember. Pak Jajang marah
sekali. Beliau bilang, 'Junai, kau sedang mencuri masa depan.' Sejak itu aku
tidak pernah ambil ikan kecil lagi.”
“Pak Jajang memang guru yang baik.”
“Iya. Dan kanal ini adalah sekolah terbaik.”
Mereka terdiam. Angin pagi bertiup lembut, membawa bau
tanah basah dan dedaunan sawit. Di kejauhan, burung-burung mulai berkicau,
menyambut hari yang baru.
Pukul tujuh, warga mulai berdatangan. Dadang, Asep, dan
Toha datang bersama, membawa cangkul dan karung plastik. Rini datang dengan
buku catatan dan alat pengambil sampel air. Ujang datang dengan nampan besar
berisi gorengan dan dua termos berisi kopi dan teh.
Pak RT datang dengan beberapa perangkat desa, membawa
spanduk besar bertuliskan: “Bersihkan Kanal, Selamatkan Desa — Kerja Bakti
Minggu Pertama.”
Bahkan Bu Haji Aminah datang dengan rombongan ibu-ibu
pengajian, sekitar dua puluh orang. Mereka membawa sapu, pengki, dan karung
plastik kecil untuk memungut sampah-sampah di tepian.
Karto datang. Sarip datang. Warga-warga yang minggu lalu
masih ragu-ragu, kini hadir dengan semangat yang baru.
“Warga sekalian!” Pak RT berseru, berdiri di atas batu
besar. “Terima kasih sudah hadir. Ini adalah kerja bakti pertama kita. Target
hari ini: membersihkan sampah di sepanjang seratus meter tepian kanal, dari
jembatan sampai tikungan pohon karet. Kita bagi dalam kelompok-kelompok kecil.
Kelompok satu dipimpin Junai, membersihkan sampah besar. Kelompok dua dipimpin
Darto, membersihkan semak belukar. Kelompok tiga dipimpin Rini, membersihkan
sampah kecil di tepian. Kelompok empat dipimpin Bu Haji Aminah, membersihkan
area sekitar jembatan. Sisanya membantu sesuai arahan.”
Mereka mulai bekerja. Junai memimpin kelompok pemuda yang
membersihkan sampah-sampah besar: ban bekas, ember plastik, potongan kayu, dan
bahkan sebuah kursi plastik yang patah. Dadang dan Asep mengangkat
karung-karung sampah ke pinggir jalan, siap diangkut dengan gerobak milik desa.
“Jun, ini ban bekasnya banyak sekali,” kata Dadang sambil
mengangkat sebuah ban truk yang sudah setengah terkubur di lumpur.
“Itu sudah bertahun-tahun di sana. Mungkin ada yang buang
waktu masih muda,” Junai menjawab sambil membersihkan lumpur dari ban itu.
“Kasihan kanal. Selama ini dia menanggung sampah kita tanpa
pernah mengeluh.”
“Kanal tidak bisa mengeluh, Dadang. Tapi dia menunjukkan
dengan caranya sendiri. Airnya keruh, ikannya mati, baunya busuk. Itu
keluhannya.”
“Sekarang kita dengar keluhannya. Dan kita jawab dengan
kerja bakti.”
Mereka tertawa. Tawa yang melegakan, tawa yang sudah lama
tidak terdengar di tepi kanal.
Darto memimpin kelompok yang membersihkan semak belukar di
tepi kanal. Ia bekerja dengan tekun, memotong rumput-rumput liar yang
menghalangi aliran air, tapi hati-hati tidak merusak akar sawit yang menjuntai
ke air.
“Ingat, jangan potong akar sawit!” Darto mengingatkan
teman-temannya. “Itu tempat tinggal ikan. Kalau akarnya rusak, ikan tidak punya
rumah. Mereka akan pergi.”
“Wah, Darto sekarang jadi konservasionis,” Asep menyindir
ramah.
“Saya belajar dari Junai. Dan dari Rini. Dan dari Pak
Jajang. Dan dari kanal ini sendiri.”
“Bagus, To. Kita semua belajar.”
Rini memimpin kelompok ibu-ibu yang membersihkan
sampah-sampah kecil di tepian. Mereka memungut botol plastik, bungkus makanan,
puntung rokok, dan potongan-potongan styrofoam yang tersangkut di rerumputan.
“Bu, ini sampahnya banyak sekali,” kata Rini pada Bu Haji
Aminah.
“Iya, Rin. Ini yang kita lihat di tepi. Belum yang di dalam
air. Sampah ini sudah menumpuk bertahun-tahun. Karena tidak pernah ada yang
membersihkan.”
“Mulai sekarang kita bersihkan rutin. Semoga setelah ini
warga juga lebih sadar untuk tidak buang sampah ke kanal.”
“Mudah-mudahan, Rin. Mudah-mudahan. Tapi tidak cukup hanya
bersih-bersih. Kita juga harus kasih edukasi. Anak-anak muda sekarang banyak
yang tidak tahu dampak sampah plastik. Mereka buang saja sembarangan.”
“Itu sebabnya saya minta Bu Haji membantu mengajak ibu-ibu.
Ibu-ibu yang paling berperan dalam mendidik anak-anak.”
“Benar, Rin. Saya akan bicarakan ini di pengajian. Setiap
minggu kita sisipkan edukasi tentang lingkungan. Tidak hanya tentang kanal,
tapi juga tentang sampah, tentang kebersihan, tentang menjaga alam.”
Anak-anak kecil ikut membantu dengan semangat. Mereka
membuat lomba siapa yang paling banyak mengumpulkan botol plastik. Hadiahnya?
Umpan fermentasi buatan Junai yang sudah terkenal ampuh, dan gorengan gratis
dari warung Ujang selama sebulan.
“Aku dapat dua belas botol!” teriak seorang anak laki-laki
bernama Budi.
“Aku lima belas!” sahut anak lain, Ucok.
“Aku dua puluh lima!” anak yang lebih besar, Dani,
menyombong.
“Dani curang! Botolnya dari rumah, bukan dari kanal!” Budi
protes.
“Bukan! Aku ambil dari semak-semak dekat jembatan!”
“Sudah, jangan bertengkar,” Toha menengahi. “Kita hitung
bersama. Yang penting semuanya sudah membantu. Nanti hadiahnya dibagi rata.”
Anak-anak itu bersorak.
Minggu kedua, mereka fokus pada eceng gondok. Tanaman air
dengan daun bundar berwarna hijau tua dan bunga berwarna ungu itu tumbuh subur
di kanal, menutupi hampir separuh permukaan air. Akar-akarnya yang lebat
menjuntai ke dalam air, menciptakan hutan kecil di bawah permukaan—tempat yang
sempurna bagi ikan-ikan kecil untuk bersembunyi. Tapi jika terlalu lebat, eceng
gondok bisa menutupi permukaan, mengurangi oksigen di air, dan menghambat
aliran.
“Eceng gondok ini baik dan jahat sekaligus,” Rini
menjelaskan kepada warga yang berkumpul di tepi kanal. “Dalam jumlah yang
tepat, ia menjadi tempat berlindung ikan-ikan kecil. Akarnya menjadi tempat
menempel telur-telur ikan. Daunnya menjadi sumber makanan bagi beberapa jenis
ikan. Tapi kalau terlalu lebat, ia menutupi permukaan, sinar matahari tidak
masuk, oksigen berkurang, dan ikan-ikan di bawahnya mati lemas.”
“Jadi kita harus memotong semuanya?” tanya seorang warga.
“Tidak semuanya. Kita sisakan sekitar tiga puluh persen.
Cukup untuk tempat berlindung ikan, tapi tidak sampai menutupi permukaan.”
“Bagaimana cara mengukurnya?”
“Mata dan pengalaman,” Pak Jajang menjawab dari kursi
lipatnya. “Saya sudah puluhan tahun melihat kanal ini. Saya tahu mana yang
terlalu lebat dan mana yang pas. Percayalah pada saya.”
Mereka tertawa. Pak Jajang memang sudah seperti peta hidup
kanal. Tidak ada yang lebih tahu tentang kanal selain dia.
Mereka mulai bekerja. Darto memimpin kelompok yang masuk ke
air untuk memotong eceng gondok dari akarnya. Mereka menggunakan sabit panjang
dan cangkul, berhati-hati agar tidak merusak akar sawit yang juga menjadi
tempat tinggal ikan.
“Hati-hati, airnya dingin!” Darto mengingatkan.
“Kau sendiri yang paling depan, To. Kau tidak dingin?”
tanya Dadang.
“Dingin. Tapi ini bagus. Membuat saya sadar bahwa saya
masih hidup. Masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.”
Dadang menepuk pundak Darto. “Kau sudah berubah, To. Aku
bangga padamu.”
“Jangan bikin saya nangis, Dadang. Nanti air kanal jadi
asin.”
Mereka tertawa. Tawa yang hangat di tengah air yang dingin.
Eceng gondok yang dipotong diangkut ke tepi, lalu
dikeringkan. Rini sudah menyiapkan tempat pengomposan di belakang rumah Pak RT.
Eceng gondok yang sudah kering akan dicampur dengan tanah dan sampah organik
lainnya, menjadi pupuk kompos yang bisa digunakan untuk kebun warga.
“Jadi sampah ini tidak sia-sia,” kata Bu Haji Aminah sambil
membantu mengangkut eceng gondok ke gerobak. “Bisa jadi pupuk. Lumayan untuk
kebun sayur saya.”
“Benar, Bu. Semua bisa bermanfaat kalau kita kelola dengan
baik,” Rini tersenyum.
Minggu ketiga, mereka membuat lubang biopori di tepi kanal.
Rini mengajarkan cara membuatnya: lubang sedalam satu meter, diameter sepuluh
sentimeter, diisi dengan sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan.
Lubang biopori berfungsi untuk menyerap air hujan, mencegah genangan, dan menyaring
air sebelum masuk ke kanal.
“Lubang biopori ini seperti ginjal bagi tanah,” Rini
menjelaskan. “Dia menyaring air, menyerap polutan, dan mengembalikan air bersih
ke dalam tanah. Kalau kita membuat banyak lubang biopori di tepi kanal, air
hujan yang masuk ke kanal akan lebih bersih.”
“Berapa banyak yang harus kita buat?” tanya Pak RT.
“Idealnya, setiap rumah yang dekat kanal membuat satu atau
dua lubang biopori. Tapi kita mulai dulu dari area yang paling rawan banjir dan
paling banyak sampah.”
Mereka membuat lima puluh lubang biopori di sepanjang tepi
kanal. Darto yang paling bersemangat—ia membuat sepuluh lubang sendirian,
tangannya lecet karena menggali tanah yang keras.
“Darto, istirahatlah,” kata Junai. “Kau sudah membuat
sepuluh. Itu lebih dari cukup.”
“Saya kuat, Jun. Ini ringan dibandingkan rasa bersalah yang
saya pikul.”
Junai memandang Darto. “To, kau tidak perlu terus-menerus
membayar utang. Cukup kau berubah. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Aku tahu, Jun. Tapi aku ingin melakukan lebih. Bukan karena
utang. Tapi karena aku peduli. Aku baru menyadari, setelah sekian lama, bahwa
kanal ini adalah bagian dari diriku. Aku tidak bisa membiarkannya rusak.”
Junai tersenyum. “Kalau itu alasannya, teruskan. Tapi
ingat, jangan sampai kau kelelahan. Kita masih butuh kau untuk jangka panjang.”
“Aku akan jaga diri. Janji.”
Pada minggu keempat, Rini menerima kabar baik. Pak Budi
dari dinas perikanan setempat bersedia datang ke desa untuk melihat langsung
kondisi kanal dan memberikan bantuan bibit ikan.
Pak Budi datang dengan mobil dinasnya pada hari Jumat pagi.
Ia seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan kacamata bundar. Ia sudah dua
puluh tahun bekerja di dinas perikanan, dan sudah puluhan kali turun ke desa-desa
untuk memberikan bantuan bibit ikan.
Rini menjemputnya di kantor desa, lalu mengajaknya ke tepi
kanal. Junai, Darto, Pak Jajang, dan Pak RT sudah menunggu.
“Selamat pagi, Pak Budi,” sapa Pak RT. “Terima kasih sudah
bersedia datang ke desa kami.”
“Selamat pagi, Pak RT. Senang bisa datang. Rini sudah
bercerita banyak tentang usaha warga membersihkan kanal. Saya sangat terkesan.”
Mereka berjalan menyusuri tepi kanal. Pak Budi mengamati
air, melihat warna, mencium bau, dan sesekali mencelupkan tangannya.
“Airnya sudah cukup jernih,” kata Pak Budi. “Tidak seperti
yang Rini ceritakan dulu. Waktu pencemaran, katanya airnya keruh kehijauan dan
berminyak. Sekarang sudah jauh lebih baik.”
“Itu hasil kerja bakti warga selama tiga minggu, Pak,” kata
Junai. “Kami membersihkan sampah, menebang eceng gondok yang terlalu lebat, dan
membuat lubang biopori di tepi kanal.”
“Bagus, bagus. Saya lihat semangat warga sangat luar biasa.
Tapi saya harus jujur, kanal ini masih dalam masa pemulihan. Populasi ikan
masih sangat rendah. Saya cek tadi, hanya ada beberapa jenis ikan kecil seperti
wader dan sepat. Ikan konsumsi seperti nila, mas, gabus, hampir tidak ada.”
“Itu sebabnya kami minta bantuan bibit ikan, Pak,” kata
Rini. “Warga sudah siap menebar bibit dan menjaganya.”
Pak Budi mengangguk. “Dinas perikanan bisa memberikan
bantuan bibit ikan nila dan mas. Masing-masing seribu ekor. Bibitnya sudah
berukuran sekitar lima sentimeter, cukup besar untuk bertahan di alam. Tapi ada
syaratnya.”
“Syarat apa, Pak?” tanya Pak RT.
Pak Budi berdiri di tepi kanal, memandang warga yang mulai
berdatangan. Mereka tahu ada tamu dari dinas perikanan, dan mereka penasaran.
“Syarat pertama,” Pak Budi memulai dengan suara yang tegas,
“warga harus berkomitmen menjaga kanal. Tidak boleh ada lagi pencemaran. Tidak
boleh ada yang membuang sampah ke kanal. Tidak boleh ada yang menggunakan
pestisida atau pupuk kimia di dekat kanal tanpa pengolahan yang benar.”
“Kami siap, Pak,” kata Pak RT. “Kami sudah mulai kesadaran
itu. Kerja bakti rutin setiap minggu, dan warga sudah mulai paham pentingnya
menjaga kanal.”
“Syarat kedua,” Pak Budi melanjutkan, “tidak boleh ada
penangkapan ikan dengan cara ilegal. Tidak boleh ada setrum, tidak boleh ada
racun, tidak boleh ada jaring yang terlalu halus. Hanya pancing, dan hanya ikan
yang sudah layak konsumsi yang boleh diambil. Ikan kecil harus dilepas.”
“Itu sudah menjadi kebiasaan kami, Pak,” kata Junai.
“Setiap kali dapat ikan kecil, kami lepas. Itu diajarkan Pak Jajang sejak kami
masih kecil.”
Pak Jajang yang duduk di kursi lipat, tersenyum bangga.
“Syarat ketiga,” Pak Budi melanjutkan, “harus ada kawasan
konservasi. Area di mana ikan tidak boleh ditangkap sama sekali, agar bisa
berkembang biak dengan aman. Minimal dua ratus meter persegi. Di sana, tidak
boleh ada aktivitas memancing selama minimal enam bulan. Setelah populasi ikan
pulih, kawasan konservasi bisa diperkecil atau dipindahkan, tapi harus selalu
ada.”
Warga saling berpandangan. Kawasan konservasi berarti
mereka harus rela kehilangan area memancing selama enam bulan.
“Apakah itu berarti kita tidak boleh memancing di sebagian
kanal?” tanya seorang warga.
“Iya. Tapi itu untuk jangka panjang. Ikan-ikan di kawasan
konservasi akan berkembang biak, anak-anak ikan akan menyebar ke seluruh kanal.
Dalam enam bulan, populasi ikan di seluruh kanal akan meningkat. Jadi pada
akhirnya, semua warga diuntungkan.”
“Kami setuju,” kata Junai tanpa ragu.
“Saya juga setuju,” Darto mengangkat tangan.
“Setuju!” Dadang, Asep, Toha, dan pemuda lainnya serempak.
Pak RT mengangguk. “Kami setuju, Pak Budi. Kawasan
konservasi akan kami tetapkan di hulu kanal, sekitar dua ratus meter dari
sumber mata air. Di sana airnya paling bersih dan paling sedikit aktivitas
warga. Cocok untuk tempat berkembang biak ikan.”
Pak Budi tersenyum. “Bagus. Kalau begitu, minggu depan saya
akan kirim bibit ikannya. Seribu nila, seribu mas. Tolong disiapkan wadah
sementara untuk aklimatisasi. Bibit ikan tidak bisa langsung ditebar ke kanal.
Harus disesuaikan dulu dengan suhu air.”
“Kami siap, Pak,” kata Rini. “Saya sudah menyiapkan kolam
terpal di belakang rumah Pak RT untuk aklimatisasi.”
“Rini ini pintar,” Pak Budi memuji. “Anak perikanan, ya?”
“Iya, Pak. Saya lulusan perikanan dari universitas di
kota.”
“Bagus. Desa ini beruntung punya anak muda seperti Rini.
Dan seperti kalian semua.” Pak Budi memandang Junai, Darto, Dadang, dan pemuda
lainnya. “Semangat kalian luar biasa. Saya sudah dua puluh tahun keliling desa,
jarang melihat warga yang sekompak ini menjaga lingkungan.”
“Kami belajar dari kesalahan, Pak,” kata Darto tiba-tiba.
“Saya sendiri dulu hampir menggunakan setrum untuk menangkap ikan. Tapi saya
sadar, itu bukan jalan yang benar.”
Pak Budi menatap Darto dengan mata yang tajam tapi tidak
menghakimi. “Kau jujur, Nak. Itu bagus. Kesalahan bukan akhir dari segalanya.
Yang penting kau mau berubah dan memperbaiki. Desa ini butuh orang-orang
seperti kau.”
Darto tersenyum malu. Ini pertama kalinya ia mendapat
pujian dari orang luar.
Seminggu kemudian, mobil dinas perikanan datang ke Desa Awan
Biru. Pak Budi datang dengan dua orang stafnya, membawa dua kantong plastik
besar berisi bibit ikan nila dan mas. Masing-masing seribu ekor, total dua ribu
ekor ikan kecil yang berenang lincah di dalam air dalam kantong plastik.
Warga sudah berkumpul di tepi kanal. Lebih dari lima puluh
orang hadir—rekor tertinggi sejak kerja bakti dimulai. Mereka membawa ember,
baskom, dan wadah-wadah lain untuk membantu proses penebaran.
“Warga sekalian,” Pak Budi berseru, berdiri di atas batu
besar. “Hari ini kita akan menebar dua ribu bibit ikan nila dan mas ke kanal.
Bibit ini sudah berukuran sekitar lima sentimeter, cukup besar untuk bertahan
di alam. Tapi mereka masih rentan. Mereka butuh perlindungan. Mereka butuh air
bersih. Mereka butuh tempat berlindung. Dan mereka butuh kita untuk tidak
menangkap mereka sampai mereka besar.”
“Kami akan menjaganya, Pak!” seru warga.
“Kawasan konservasi sudah ditentukan di hulu kanal. Di
sana, tidak boleh ada aktivitas memancing selama enam bulan. Siapa yang akan
menjaga kawasan konservasi?”
“Saya!” Darto mengangkat tangan. “Saya yang akan menjaga.
Setiap pagi dan sore, saya akan datang ke kawasan konservasi, memastikan tidak
ada yang memancing atau membuang sampah.”
Pak Budi tersenyum. “Bagus. Siapa lagi?”
“Saya juga,” Dadang mengangkat tangan.
“Saya!” Asep dan Toha serempak.
“Saya!” beberapa pemuda lain ikut.
“Bagus. Semakin banyak penjaga, semakin aman ikan-ikan
kita.”
Penebaran dimulai. Rini memimpin proses
aklimatisasi—membiarkan kantong plastik berisi bibit ikan mengapung di air
kanal selama tiga puluh menit, agar suhu air di dalam kantong menyesuaikan
dengan suhu air kanal. Setelah itu, mereka perlahan membuka kantong dan
membiarkan ikan-ikan kecil itu berenang keluar dengan sendirinya.
“Lihat! Mereka berenang!” teriak seorang anak kecil.
Puluhan, ratusan ikan kecil berenang keluar dari kantong
plastik, menyebar ke segala arah. Ada yang langsung bersembunyi di akar-akar
eceng gondok, ada yang berenang ke tengah, ada yang menyelam ke dasar.
“Mereka mencari tempat aman,” kata Pak Jajang dari kursi
lipatnya. “Itu naluri mereka. Mereka akan mencari tempat yang paling aman untuk
berlindung, paling banyak makanan untuk tumbuh. Dan di situlah tugas
kita—menyediakan tempat yang aman bagi mereka.”
“Kita sudah siapkan kawasan konservasi, Pak,” kata Junai.
“Di hulu, airnya paling bersih, arusnya paling tenang, dan banyak akar sawit
untuk berlindung.”
“Bagus. Tapi jangan lupa, kawasan konservasi bukan hanya
area yang tidak boleh dipancing. Itu adalah rumah bagi mereka. Kita harus
menjaga kebersihannya, menjaga kualitas airnya, dan memastikan tidak ada yang
mengganggu.”
Darto yang mendengar itu, langsung bersemangat. “Saya akan
jaga, Pak. Saya janji.”
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Darto sudah berada di
kawasan konservasi. Ia berjalan menyusuri tepi kanal dari rumahnya di ujung
barat desa, melewati jembatan, melewati tikungan dekat pohon karet, hingga
sampai di hulu kanal—sekitar dua kilometer perjalanan. Ia membawa senter, buku
catatan kecil, dan sesekali membawa kantong plastik untuk memungut sampah yang
mungkin terbawa arus.
Setiap sore, setelah matahari mulai condong ke barat, ia
kembali lagi. Ia duduk di tepi kawasan konservasi, memandang air yang tenang,
sesekali melihat ikan-ikan kecil yang berenang di dekat permukaan.
“Darto, kau di sini terus?” tanya Junai suatu sore ketika
ia datang untuk memeriksa kondisi air.
“Iya. Aku ingin memastikan tidak ada yang mengganggu.
Ikan-ikan ini masih kecil. Mereka butuh perlindungan.”
“Kau tidak capek?”
“Capek? Tidak. Ini bukan beban. Ini... menyenangkan.
Melihat mereka berenang bebas, tumbuh besar. Rasanya seperti... seperti
memiliki adik baru.”
Junai tersenyum. “Dulu kau tidak pernah merasa seperti
itu.”
“Dulu aku sibuk membandingkan diriku dengan orang lain.
Dengan ayahku, dengan Pak Jajang, denganmu. Aku selalu merasa kurang.
Sekarang... aku tidak membandingkan lagi. Aku hanya melakukan apa yang bisa aku
lakukan. Dan itu cukup.”
“Kau berubah, To. Aku bangga padamu.”
Darto menatap Junai. “Kau tahu, Jun. Aku dulu iri padamu.
Bukan hanya karena kau lebih pintar memancing. Tapi karena kau selalu tenang.
Kau tidak pernah marah, tidak pernah frustasi, tidak pernah putus asa. Aku
pikir itu karena kau lebih baik dariku. Tapi sekarang aku tahu, itu karena kau
punya sesuatu yang tidak aku miliki dulu.”
“Apa?”
“Kesadaran bahwa hidup bukan tentang menang atau kalah.
Tentang menjadi yang terbaik atau tidak. Tapi tentang melakukan yang terbaik
dengan apa yang kita punya. Dan menerima bahwa itu sudah cukup.”
Junai tidak menjawab. Ia hanya menepuk pundak Darto, dan
mereka duduk berdampingan di tepi kawasan konservasi, memandang ikan-ikan kecil
yang berenang bebas di air yang mulai jernih.
Suatu hari, ketika Darto sedang melakukan patroli sore, ia
melihat seorang anak laki-laki duduk di tepi kawasan konservasi dengan joran di
tangan. Anak itu baru berusia sekitar sepuluh tahun, anak dari tetangga
sebelah.
“Hei, Nak. Kau tidak boleh memancing di sini,” kata Darto
mendekat.
Anak itu menoleh, wajahnya sedikit ketakutan. “Maaf, Mas
Darto. Aku hanya mau coba-coba. Aku tidak tahu kalau tidak boleh.”
Darto duduk di samping anak itu. “Kamu tahu kenapa tidak
boleh?”
“Karena ini kawasan konservasi. Katanya ikan-ikan kecil
dilindungi di sini.”
“Benar. Ikan-ikan yang ditebar dua minggu lalu masih kecil.
Mereka butuh waktu untuk tumbuh. Kalau kamu pancing sekarang, mereka akan
sakit, bahkan mati. Nanti kalau sudah besar, kamu bisa memancing di luar
kawasan konservasi. Dijamin dapat banyak.”
“Benarkah, Mas?”
“Benar. Aku janji. Tapi sekarang, bantu aku menjaga, ya.
Kalau kamu lihat ada yang memancing di sini, bilang sama aku atau sama Pak
Junai.”
Anak itu mengangguk semangat. “Saya bantu, Mas. Saya jaga.”
“Bagus. Sekarang pulang dulu. Nanti malam udaranya dingin.
Bisa masuk angin.”
Anak itu berlari pulang, meninggalkan Darto yang tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar
dari dirinya sendiri—bukan sebagai pesaing, bukan sebagai orang yang ingin
menang, tapi sebagai penjaga.
Ujang, yang warungnya menjadi tempat berkumpul warga, mulai
memasang poster-poster tentang menjaga lingkungan. Poster itu dibuat oleh Rini,
dicetak di kota dengan biaya patungan warga.
Poster pertama bertuliskan: “Jangan Buang Sampah ke
Kanal. Sampahmu Kembali ke Tubuhmu.” Di bawahnya ada gambar ikan yang
memakan plastik, lalu ikan itu dimakan manusia.
Poster kedua: “Setrum Membunuh. Bukan Hanya Ikan,
Tapi Masa Depan Anak Cucu.” Gambar anak kecil menangis di tepi kanal
yang kosong.
Poster ketiga: “Kanal Bersih, Desa Sehat. Kerja
Bakti Setiap Minggu, Ayo Ikut!”
Poster keempat: “Kawasan Konservasi: Rumah
Ikan-Ikan Kecil. Jangan Ganggu!”
“Mang Ujang, warung Bapak jadi pusat informasi lingkungan,”
kata Junai suatu pagi ketika mampir untuk membeli kopi.
“Iya. Biar warga yang mampir baca. Siapa tahu sadar.
Lagipula, ini bagus untuk warung saya juga. Kalau kanal bersih, banyak
pemancing datang. Pemancing haus, beli minum. Pemancing lapar, beli gorengan.
Lumayan.”
Junai tertawa. “Mang Ujang, tetap saja Bapak pedagang
sejati. Semua bisa jadi peluang.”
“Ya iyalah. Hidup harus cerdik, Jun. Tapi cerdik yang baik.
Tidak merugikan orang lain. Tidak merusak lingkungan.”
Ujang juga menyediakan tempat sampah daur ulang di depan
warungnya. Dua tempat sampah besar: satu untuk plastik, satu untuk non-plastik.
Setiap minggu, sampah plastik yang terkumpul diangkut ke bank sampah di
kecamatan.
“Ini ide Rini,” kata Ujang. “Katanya, sampah plastik bisa
dijual. Lumayan untuk kas desa.”
“Ide bagus,” Junai mengangguk. “Selain bersih, dapat uang
juga.”
“Iya. Tapi yang lebih penting, warga jadi sadar. Mulai
memilah sampah. Tidak buang sembarangan. Itu yang paling berharga.”
Pak Jajang, meski fisiknya mulai lemah, tetap ikut dalam
setiap diskusi. Ia tidak lagi bisa berjalan jauh, tidak lagi bisa duduk
berjam-jam di tepi kanal. Tapi setiap kali ada pertemuan warga, ia hadir. Duduk
di kursi lipat yang dibawa Rini, ditemani Bu Lastri, memberikan nasihat-nasihat
yang selalu bijak.
“Kanal ini seperti pembuluh darah desa,” kata Pak Jajang
dalam pertemuan warga minggu kelima. “Kalau kotor, seluruh tubuh desa akan
sakit. Demam, pusing, tidak bisa bergerak. Tapi kalau bersih, desa akan sehat.
Warga kuat, anak-anak tumbuh dengan baik, masa depan cerah.”
“Tapi Pak, butuh waktu lama untuk membersihkan kanal,” kata
seorang warga.
“Memang. Tidak ada yang instan dalam hidup ini. Yang instan
biasanya cepat rusak. Lihat umpan kimia. Instan, tapi merusak. Lihat setrum.
Instan, tapi membunuh. Yang benar butuh waktu. Tapi hasilnya bertahan lama.”
“Berapa lama, Pak?”
“Saya tidak tahu. Bisa enam bulan, bisa satu tahun. Tapi
yang penting kita mulai. Yang penting kita tidak menyerah. Kanal ini tidak akan
mengecewakan kita. Dia akan membalas setiap kebaikan yang kita berikan.”
Pak Jajang berhenti sejenak, matanya menerawang ke
kejauhan.
“Dulu, ketika saya masih muda, kanal ini mati. Tidak ada
ikan, airnya hitam, baunya busuk. Warga putus asa. Tapi kakek saya tidak
menyerah. Setiap hari ia membersihkan kanal, sendirian. Orang-orang bilang ia
gila. Tapi setelah beberapa bulan, ikan mulai kembali. Setahun kemudian, kanal
pulih. Dan orang-orang yang dulu bilang ia gila, ikut membersihkan. Sekarang,
kita adalah generasi penerus. Jangan biarkan kanal ini mati di tangan kita.”
Anak-anak muda yang awalnya hanya ikut-ikutan karena diajak
Dadang atau Darto, kini mulai antusias dengan inisiatif mereka sendiri. Mereka
membuat grup WhatsApp bernama “Sahabat Kanal Awan Biru”.
Di grup itu, mereka saling melaporkan kondisi kanal setiap
hari.
“Pagi ini air jernih, tidak ada sampah baru,” tulis Dadang.
“Di kawasan konservasi aman. Ikan-ikan kecil kelihatan
berenang-renang,” tulis Darto dengan foto ikan-ikan nila kecil yang berenang di
dekat permukaan.
“Ada yang buang sampah plastik di dekat jembatan. Saya
sudah tegur,” tulis Asep.
“Bagus, Asep. Kalau perlu foto dan kirim ke grup, biar jadi
pelajaran,” balas Rini.
Mereka juga menggunakan grup untuk mengatur jadwal ronda
malam. Setiap malam, dua orang pemuda bergiliran berjalan menyusuri tepi kanal,
memastikan tidak ada yang mencuri ikan atau membuang sampah di malam hari.
“Malam ini giliran saya dan Toha,” tulis Dadang.
“Hati-hati, Dadang. Bawa senter cadangan,” balas Junai.
“Siap, Jun.”
Minggu keenam, ketika mereka sedang melakukan kerja bakti
rutin, seorang bocah laki-laki bernama Budi tiba-tiba berteriak dari tepi
kanal.
“Lihat! Ada anak ikan! Banyak!”
Semua berkerumun. Di tepi kanal yang dangkal, dekat
akar-akar eceng gondok yang sengaja disisakan, puluhan anak ikan nila berenang
dalam kelompok kecil. Ukurannya sekitar dua sentimeter—jauh lebih kecil dari
bibit yang ditebar sebulan lalu.
“Itu bukan bibit yang kita tebar,” kata Rini dengan mata
berbinar. “Itu anak ikan yang baru menetas. Ikan-ikan kita berkembang biak!”
“Mereka berkembang biak!” teriak Dadang kegirangan.
“Di kawasan konservasi!” Darto berdiri di tepi kawasan
konservasi, melambaikan tangan. “Di sini juga banyak! Ratusan! Mungkin ribuan!”
Junai berlutut di tepi kanal, memasukkan tangannya ke air.
Airnya lebih dingin dari biasanya, lebih bersih. Ia bisa melihat dasar yang
berlumpur, dengan anak-anak ikan kecil berenang di antara akar-akar eceng
gondok. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan air mengalir di sela-sela
jarinya, merasakan kehidupan yang mulai kembali.
Ia mengucap syukur dalam hati. Bukan hanya karena ikan-ikan
kembali, tapi karena semua yang telah terjadi—kesalahan, kemarahan, kekecewaan,
pengampunan, kerja keras—semua mengarah ke momen ini. Momen di mana kehidupan
menang.
“Kanal ini masih mau memberi kesempatan,” katanya lirih,
matanya berkaca-kaca.
Pak Jajang yang berdiri di sampingnya, dituntun oleh Bu
Lastri, menepuk pundak Junai. Tangannya yang keriput dan gemetar itu terasa
hangat di pundak Junai.
“Bukan kanal yang memberi kesempatan, Jun,” kata Pak Jajang
dengan suara yang lembut. “Kita yang memberinya kesempatan. Dan ia membalasnya.
Ia selalu membalas kebaikan, selama kita memberi dengan tulus.”
“Kita berhasil, Pak,” kata Junai, air matanya jatuh.
“Belum sepenuhnya, Jun. Masih panjang perjalanan. Tapi kita
sudah di jalan yang benar. Dan itu yang terpenting.”
Darto berlari dari kawasan konservasi, wajahnya
berseri-seri. “Jun! Pak Jajang! Lihat! Foto ini!” Ia menunjukkan ponselnya,
berisi foto ribuan anak ikan kecil berenang di air yang jernih.
“Ini yang kita tunggu, To,” kata Junai. “Ini awal dari
segalanya.”
“Aku tidak menyangka,” kata Darto, suaranya bergetar. “Aku
pikir butuh bertahun-tahun. Tapi hanya sebulan, mereka sudah berkembang biak.”
“Ikan cepat berkembang biak kalau lingkungannya aman,” Rini
menjelaskan. “Tapi kita harus tetap menjaga. Jangan sampai ada yang memancing
di kawasan konservasi. Jangan sampai ada sampah baru. Jangan sampai ada
pencemaran.”
“Kita akan jaga, Rin,” kata Darto dengan tekad yang bulat.
“Aku janji.”
Mereka berdiri bersama di tepi kanal—Junai, Darto, Rini,
Dadang, Asep, Toha, Ujang, Pak Jajang, Bu Lastri, Pak RT, Bu Haji Aminah,
Karto, Sarip, dan puluhan warga lainnya. Mereka memandang air yang mulai
jernih, ikan-ikan kecil yang berenang bebas, dan masa depan yang mulai
terlihat.
Matahari sore memancarkan sinar keemasan, menciptakan
riak-riak cahaya di permukaan air. Di kejauhan, burung-burung beterbangan
pulang ke sarang, menyambut senja yang akan segera tiba.
“Ini baru awal,” kata Junai pada dirinya sendiri. “Tapi ini
awal yang indah.”
BAB 10: Riak Kehidupan
yang Baru
Tiga bulan telah berlalu sejak kerja bakti pertama. Tiga
bulan sejak mereka membersihkan sampah, menebang eceng gondok, membuat lubang
biopori, menebar bibit ikan, dan menetapkan kawasan konservasi. Tiga bulan yang
terasa seperti tiga tahun—penuh dengan keringat, air mata, tawa, dan
kebersamaan.
Pagi itu, Junai bangun sebelum azan subuh. Ia tidak butuh
alarm. Tubuhnya sudah seperti jam biologis yang terkoneksi dengan kanal.
Perlahan ia bangkit dari dipan bambunya, melipat sarung yang menjadi
selimutnya, lalu berjalan ke belakang rumah untuk mengambil ember hitam dan
joran kesayangannya—sebatang bambu betung yang telah dihaluskan dengan pecahan
kaca, diberi karet ban dalam bekas sebagai pengganti rol.
Ibunya yang sudah tua terbangun oleh suara langkah kaki
Junai. “Jun, kau mau ke kanal?”
“Iya, Bu. Sebentar lagi subuh. Ikan sedang aktif.”
“Hati-hati, Nak. Jangan terlalu lama. Nanti sarapan dulu
sebelum berangkat.”
“Iya, Bu. Nanti saya makan dulu.”
Ia menciduk nasi hangat dari dandang, melahapnya dengan
cepat bersama sepotong tempe goreng dan sambal terasi. Setelah itu, ia berjalan
menuju kanal. Embun masih menggantung di dedaunan sawit, menetes ke pundaknya
dingin. Langit timur mulai memerah, tanda matahari akan segera terbit.
Ketika Junai tiba di tepi kanal, ia tertegun sejenak.
Tiga bulan yang lalu, tempat ini dipenuhi sampah. Airnya
keruh kehijauan, berminyak, dan bau anyir menyengat. Sekarang, semuanya
berubah. Air kanal jernih kehijauan—bukan hijau karena polusi, tapi hijau
karena alga dan tumbuhan air yang sehat. Alirannya lancar, tidak tersumbat
sampah atau eceng gondok yang terlalu lebat. Di beberapa titik, ia bisa melihat
ikan-ikan berenang bebas di dekat permukaan. Rumput-rumput air tumbuh di tepi,
menjadi tempat berlindung bagi benih-benih ikan.
Junai duduk di tempat lamanya—di papan kayu lapuk yang
disangga batang pinang. Papan itu dulu hampir roboh, tapi Darto dan Dadang
telah memperbaikinya dua bulan lalu. Kini papan itu kokoh, diberi tambahan
sandaran kecil dari bambu.
Ia memasang umpan fermentasi di joran pertama, anak kodok
di joran kedua. Dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan, ia melempar umpan
ke titik yang ia yakini akan didatangi ikan—di tikungan kanal, di mana arus
sedikit melambat dan banyak dedaunan terperangkap.
Pelampung mengapung. Air beriak lembut.
Tidak sampai sepuluh menit, pelampung joran pertama
bergerak. Tarikan kuat, langsung menenggelamkan pelampung. Junai menarik dengan
sabar, membiarkan ikan itu berenang dulu sampai energinya terkuras. Setelah
beberapa menit, seekor ikan nila berukuran sedang muncul di permukaan. Ia
melepaskan kail dengan hati-hati, memasukkannya ke ember.
“Satu,” gumamnya.
Ia memasang umpan lagi. Joran kedua masih diam, anak
kodoknya berenang-renang di dekat akar sawit yang menjuntai.
Pukul setengah tujuh, warga mulai berdatangan. Suasana di
tepi kanal pagi itu ramai seperti dulu, tapi berbeda. Dulu, di pagi hari
seperti ini, tepi kanal dipenuhi oleh pemancing yang duduk sendiri-sendiri,
saling bersaing diam-diam, sesekali melirik ke ember tetangga untuk
membandingkan hasil. Sekarang, yang terlihat adalah senyuman, canda tawa, dan
sesekali teriak kegirangan saat ada yang dapat ikan besar—bukan karena ingin
menang, tapi karena kebahagiaan sederhana yang ingin dibagikan.
Dadang datang bersama Asep dan Toha. Mereka berjalan
bergandengan—bukan karena mesra, tapi karena jalan setapak yang sempit di
antara pelepah sawit.
“Jun! Sudah dapat?” tanya Dadang dari kejauhan.
“Satu ekor nila. Masih kecil. Kau?”
“Belum. Baru mau mulai. Aku coba spot di akar sawit.
Katanya Darto kemarin dapat gabus besar di sana.”
“Pakai anak kodok, Dadang. Di akar sawit, gabus suka mangsa
yang bergerak.”
“Iya, aku tahu. Sudah bawa sepuluh ekor.”
Asep memilih spot di tikungan dekat pohon karet. Toha
mengikuti Junai, ingin belajar membaca arus seperti yang diajarkan Junai
beberapa minggu lalu.
Rini datang dengan buku catatan dan kamera. Ia tidak
langsung memancing. Ia berjalan menyusuri tepi kanal, mengambil foto di
beberapa titik, mencatat kondisi air, dan sesekali membungkuk untuk melihat
ikan-ikan kecil yang berenang di dekat tepi.
“Rini, tidak mancing?” tanya Junai.
“Nanti. Aku mau dokumentasi dulu. Ini untuk laporan ke
dinas perikanan. Mereka minta update kondisi kanal setiap bulan.”
“Bagaimana hasilnya?”
Rini membuka buku catatannya, menunjukkan grafik dan data
yang rapi. “Kualitas air sudah kembali normal. Kadar amonia turun drastis,
fosfat juga. pH netral. Populasi ikan meningkat tiga kali lipat dari bulan
lalu. Kawasan konservasi berhasil. Ikan-ikan berkembang biak dengan baik.”
Junai tersenyum. “Kita berhasil, Rin.”
“Belum sepenuhnya, Jun. Tapi kita sudah di jalan yang
benar.”
Darto datang sekitar pukul tujuh. Ia berjalan dari arah
barat, dari rumahnya yang berada di ujung desa. Langkahnya tidak lagi
terburu-buru seperti dulu. Ada ketenangan di sana—ketenangan yang lahir dari
kedamaian batin.
Ia membawa joran yang sama, tapi perlengkapannya berbeda.
Tidak ada lagi ransel besar berisi umpan kimia atau setrum. Yang ia bawa hanya
toples kecil berisi anak kodok, kaleng bekas berisi cacing tanah, dan sebuah
ember kecil yang sudah penyok di beberapa sisi.
“Pagi, Jun! Pagi, semua!” sapa Darto dengan semangat.
“Pagi, To! Siap mancing?” balas Junai.
“Siap! Aku mau coba spot di akar sawit. Kemarin aku lihat
banyak gabus di sana.”
“Pakai anak kodok?”
“Iya. Seperti yang kau ajarin.”
Darto berjalan ke spot-nya—di dekat akar sawit yang
menjuntai, sekitar lima puluh meter dari posisi Junai. Di sanalah dulu ia
hampir menggunakan setrum. Di sanalah ia hampir menghancurkan masa depannya
sendiri. Kini, ia duduk di tempat yang sama, tapi dengan hati yang berbeda.
Ia memasang anak kodok di kailnya—perlahan, hati-hati, tusukan
dangkal di punggung. Kodok itu menggelepar sebentar, lalu diam. Ia melempar ke
celah antara akar sawit, di mana ada rongga air yang terbuka. Pelampung dari
gabus bekas sandal jepit mengapung tenang.
Ia menunggu.
Tidak sampai lima belas menit, pelampungnya bergerak.
Goyangan kecil naik-turun—tanda ada ikan yang sedang mengamati umpan. Darto
tidak bergerak. Ia menahan napas.
Pelampung bergoyang lagi. Lebih kuat.
Masih tidak bergerak.
Tiba-tiba, pelampung tenggelam dengan tarikan yang sangat
kuat. Joran Darto melengkung hampir membentuk huruf U. Senar menegang, air
memercik ke mana-mana.
Darto tidak menarik. Ia ingat pesan Junai: biarkan dia
berenang dulu. Beri sedikit kendor.
Ia memberi kendor. Ikan itu melesat ke kanan, hampir
mencapai akar-akar sawit. Darto mengencangkan senar, menarik perlahan, membawa
ikan itu kembali ke tengah.
Ikan itu melawan, berputar-putar, mencoba membebaskan diri.
Tapi Darto tidak terburu-buru. Ia membiarkan ikan itu menguras energinya
sendiri. Tarik, kendor, tarik, kendor.
Setelah beberapa menit, seekor ikan gabus besar muncul di
permukaan. Tubuhnya loreng hitam kehijauan, panjang hampir setengah meter,
berat mungkin sekitar dua kilogram. Matanya bulat tajam, mulutnya yang lebar
menganga karena kail masih tertancap di punggung.
Darto mengangkatnya ke tepi dengan hati-hati. Tangannya
gemetar—bukan karena gugup, tapi karena kebahagiaan yang luar biasa.
“Junai! Lihat ini!” teriak Darto dari kejauhan, mengangkat
gabusnya tinggi-tinggi.
Semua menoleh. Dadang, Asep, Toha, Rini, Ujang, bahkan Pak
Jajang yang baru saja datang—semua melihat Darto yang berdiri di tepi kanal
dengan ikan gabus besar di tangannya.
“Wah, Darto! Besar sekali!” teriak Dadang.
“Gabus dua kilo lebih!” Asep berseru.
“Hebat, To!” Toha takjub.
Rini berlari mendekat, mengambil foto Darto dengan ikan
gabusnya. “Ini untuk dokumentasi, To. Biar masuk laporan ke dinas perikanan.”
Darto tersipu malu. “Jangan difoto, Rin. Malu.”
“Kenapa malu? Ini prestasi. Dapat gabus besar pakai anak
kodok, tanpa setrum, tanpa racun. Itu yang harus didokumentasikan.”
Junai menghampiri, tersenyum bangga. “Bagus, Darto! Pakai
umpan apa?”
“Anak kodok! Seperti yang kau ajarin!” Darto masih belum
bisa menutup senyumnya. “Lepas atau bawa pulang?”
“Terserah. Tapi kalau bawa pulang, ingat, ikan yang lebih
kecil harus dilepas.”
“Iya, saya tahu! Kemarin saya dapat dua ekor gabus kecil,
saya lepas semua.”
“Bagus. Itu namanya pemancing sejati.”
Darto memandang ikan di tangannya. Ia memikirkan apakah
akan membawanya pulang atau melepasnya. Ikan ini cukup besar—cukup untuk
dimakan sekeluarga. Tapi ia juga ingat bahwa di kawasan konservasi, ada ribuan
ikan kecil yang sedang tumbuh. Ikan ini mungkin salah satu dari mereka yang
dulu ditebar, yang kini sudah besar.
“Aku bawa pulang,” putusnya akhirnya. “Ibu minta ikan gabus
untuk acara keluarga nanti. Tapi aku janji, aku tidak akan ambil yang
kecil-kecil.”
“Bagus, To.”
Darto memasukkan gabus itu ke ember dengan hati-hati. Ia
memandang ikan itu sebentar, mengucap terima kasih dalam hati, lalu menutup
ember.
Rini tidak hanya memotret Darto. Ia berkeliling di tepi
kanal, mengambil foto di setiap titik yang pernah ia dokumentasikan tiga bulan
lalu. Di titik yang dulu penuh sampah plastik, kini tumbuh rumput-rumput air.
Di titik yang dulu airnya keruh kehijauan, kini airnya jernih, dan ia bisa
melihat ikan-ikan kecil berenang di dasar.
Ia juga mengambil sampel air di lima titik berbeda. Airnya
jernih, tidak berbau, dan ketika ia mencelupkan strip uji pH, warnanya
menunjukkan angka netral—7, normal.
“Rini, kamu tidak mancing?” tanya Ujang yang lewat membawa
nampan gorengan.
“Nanti, Mang. Aku mau selesaikan dokumentasi dulu. Ini
untuk laporan.”
“Rajin sekali. Pantas saja desa ini maju karena ada anak
muda seperti kamu.”
Rini tersenyum. “Bukan saya saja, Mang. Semua warga
berperan. Tanpa kerja bakti, tanpa kesadaran bersama, kanal tidak akan pulih.”
“Benar. Tapi kamu yang memulai. Kamu yang mengambil sampel
air, kamu yang menghubungi dinas perikanan, kamu yang membuat poster-poster.
Itu tidak semua orang bisa lakukan.”
“Saya hanya melakukan apa yang saya bisa, Mang. Saya
belajar perikanan di kota, jadi saya punya ilmu. Tapi ilmu tanpa aksi tidak ada
artinya. Dan aksi tanpa kebersamaan tidak akan bertahan.”
Ujang mengangguk. “Kau bijak, Rin. Seperti Junai. Kalian
berdua ini seperti guru bagi kami semua.”
“Ah, Mang Ujang melebih-lebihkan.”
Setelah selesai mendokumentasi, Rini akhirnya memancing. Ia
memilih spot di dekat pintu air—tempat yang dulu ia hindari karena airnya keruh
dan banyak sampah. Sekarang, air di sana jernih, dan ia bisa melihat ikan-ikan
nila berenang di dekat permukaan.
Ia memasang umpan cacing—umpan andalannya untuk ikan nila.
Dengan gerakan yang teliti, ia melempar ke celah antara eceng gondok yang
sengaja disisakan sebagai tempat berlindung ikan.
Tidak sampai dua puluh menit, pelampungnya bergerak.
Tarikan kuat, tapi tidak terlalu berat. Rini menarik dengan sabar, dan seekor
ikan nila berukuran sedang muncul di permukaan.
Ia memotret ikan itu terlebih dahulu—untuk dokumentasi—sebelum
memasukkannya ke ember. “Satu,” catatnya di buku.
Dalam dua jam, ia mendapat tiga ekor nila. Semua ukuran
sedang, cukup untuk dimakan. Ia tidak mengambil yang kecil. Ia tahu, ikan-ikan
kecil adalah masa depan.
Pak Jajang datang sekitar pukul delapan. Ia tidak lagi
berjalan sendiri. Bu Lastri, istrinya, menemaninya dengan sabar, sesekali
memegang tangannya ketika jalan setapak terasa licin. Pak Jajang sudah tidak
memakai tongkat lagi—dokternya bilang itu baik untuk keseimbangan—tapi
langkahnya masih lambat, matanya masih waspada.
Ia tidak membawa joran. Hari ini ia tidak memancing. Ia
hanya ingin duduk di tepi kanal, seperti dulu ketika ia masih muda, menikmati
pagi yang sejuk, memandang air yang mengalir, dan mengingat-ingat masa lalu.
Ujang membawakan kursi lipat untuk Pak Jajang. “Silakan
duduk, Pak. Saya bawa kopi.”
“Terima kasih, Ujang. Kau baik sekali.”
“Ah, biasa saja, Pak. Bapak sudah banyak berjasa untuk desa
ini. Sudah sepantasnya kami yang melayani.”
Pak Jajang duduk di kursi lipat, meletakkan kedua tangannya
di pangkuan. Matanya yang tua dan keriput itu menyapu tepi kanal, melihat
anak-anak muda yang sedang asyik memancing, ibu-ibu yang duduk di tikar plastik
sambil mengupas singkong, anak-anak kecil yang berlarian mengejar capung.
“Lihat mereka, Bu,” kata Pak Jajang pada Bu Lastri yang
duduk di sampingnya. “Lihat mereka. Hidup lagi. Kanal ini hidup lagi.”
“Iya, Pak. Berkat usaha mereka. Berkat usaha anak-anak
muda.”
“Bukan hanya mereka. Kita semua. Tapi memang, Junai, Darto,
Rini, Dadang, mereka yang paling bersemangat. Mereka yang tidak menyerah ketika
yang lain putus asa.”
Junai yang sedang duduk tidak jauh dari Pak Jajang,
mendengar pujian itu. Ia tersenyum malu, lalu mendekat.
“Pak Jajang, Bapak tidak memancing hari ini?” tanyanya.
“Tidak, Jun. Hari ini saya hanya ingin melihat. Melihat
kanal yang sudah pulih, melihat kalian semua bahagia. Itu sudah lebih dari
cukup.”
Junai duduk di samping Pak Jajang. Mereka berdua memandang
kanal yang mengalir tenang. Airnya jernih kehijauan, dengan ikan-ikan kecil
berenang di dekat permukaan. Di kejauhan, Darto sedang tertawa dengan Dadang,
menunjukkan gabus besar yang ia dapat.
“Pak,” Junai memanggil pelan.
“Iya, Jun.”
“Apakah Bapak ingat dulu, ketika pertama kali Bapak
mengajari saya memancing?”
Pak Jajang tersenyum. Matanya menerawang ke masa lalu, tiga
puluh tahun yang lalu, ketika ia membawa pulang seorang anak laki-laki kecil
dari panti asuhan.
“Ingat. Waktu itu kau masih kecil, kurus, matanya besar.
Kau duduk di tepi kanal, memandang air, seperti sedang menunggu sesuatu. Saya
tanya, 'Nak, kau sedang apa?' Kau jawab, 'Saya sedang menunggu ikan.' Saya
bilang, 'Kau tidak punya joran, bagaimana kau bisa dapat ikan?' Kau jawab,
'Saya tidak perlu joran. Saya hanya ingin melihat mereka berenang.'”
Junai tersenyum mendengar cerita itu. “Saya masih ingat,
Pak. Waktu itu air kanal masih jernih. Saya bisa melihat ikan-ikan berenang di
dasar. Saya terpesona.”
“Dan saya terpesona padamu, Jun. Sejak saat itu saya tahu,
kau anak yang istimewa. Kau tidak memancing untuk menangkap. Kau memancing
untuk memahami.”
“Saya belajar dari Bapak, Pak. Bapak mengajari saya bahwa
memancing bukan soal hasil. Tapi soal proses. Soal kesabaran. Soal menjaga.”
Pak Jajang mengangguk. “Kanal ini seperti melihat anak yang
tumbuh dewasa, Jun. Dulu saya lihat ia masih kecil, jernih, penuh kehidupan.
Lalu ia remaja, kotor, rusak, penuh masalah. Sekarang... ia dewasa. Bijak.
Seimbang. Mampu menjaga dirinya sendiri. Tapi tetap butuh perhatian. Tidak
boleh ditinggal.”
“Seperti anak, Pak. Tidak boleh ditinggal.”
“Iya. Seperti anak. Dan kita adalah orang tuanya. Kita yang
menjaganya, merawatnya, membesarkannya. Dan sekarang, ia membalas kita dengan
kehidupan.”
Junai memandang kanal yang beriak lembut. “Kanal ini
mengajarkan kita banyak hal, Pak. Bukan hanya tentang memancing.”
“Apa yang paling kau pelajari, Jun?”
Junai tidak menjawab segera. Ia memandang ke arah barat, di
mana matahari perlahan naik, menciptakan pantulan keemasan di permukaan air. Ia
memandang Darto yang sedang tertawa dengan Dadang. Ia memandang Rini yang asyik
mencatat di buku kecilnya. Ia memandang anak-anak kecil yang berlarian mengejar
capung. Ia memandang Ujang yang membagikan gorengan ke sana kemari.
“Bahwa kehidupan ini seperti air,” kata Junai akhirnya.
“Kalau kita biarkan mengalir alami, ia akan jernih. Tapi kalau kita terus
mengaduk-aduk dengan ambisi, keserakahan, dan tipu daya, ia akan keruh. Dan
ketika keruh, kita tidak bisa melihat apa pun—termasuk diri kita sendiri.”
Pak Jajang mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca. “Kau
sudah menjadi guru, Jun. Tanpa pernah merasa menjadi guru. Itulah tanda
kebijaksanaan sejati.”
“Saya hanya murid, Pak. Murid dari kanal ini. Dan kanal ini
masih mengajarkan banyak hal.”
Mereka diam. Angin pagi bertiup lembut, membawa bau tanah
basah dan dedaunan sawit. Di kejauhan, burung-burung beterbangan dari satu
pohon ke pohon lain, menyambut hari yang cerah.
Ujang datang membawa nampan besar berisi pisang goreng, ubi
rebus, dan singkong goreng. Dua termos besar berisi kopi hitam pekat dan teh
manis hangat. Ia meletakkan nampan di atas tikar plastik yang dibentangkan Asep
di bawah pohon karet tua.
“Mari, mari! Kita rayakan kanal yang sudah sehat. Hari ini
saya traktir semua!” seru Ujang dengan semangat.
“Mang Ujang, ini banyak sekali!” Dadang terkejut.
“Banyak orang, banyak juga gorengannya. Ini sekalian
promosi. Siapa tahu kalian mau beli gorengan di warung saya nanti.”
“Mang Ujang, tetap saja Bapak pedagang sejati,” Junai
tertawa.
“Ya iyalah. Hidup harus cerdik, Jun. Tapi cerdik yang baik.
Tidak merugikan orang lain.”
Mereka duduk melingkar di tikar plastik. Darto, Rini,
Dadang, Asep, Toha, Pak Jajang, Bu Lastri, Junai, dan beberapa warga lainnya.
Mereka tertawa, bercerita, dan sesekali melirik ke arah kanal yang kini hidup
kembali.
“Darto, ceritakan bagaimana kau dapat gabus sebesar itu!”
pinta Dadang.
Darto tersenyum malu. Ia menceritakan bagaimana ia memasang
anak kodok, bagaimana ia menunggu dengan sabar, bagaimana ia membiarkan ikan
itu berenang dulu sebelum menarik.
“Aku ingat dulu, waktu pertama kali Junai mengajari aku
pasang anak kodok, aku selalu gagal. Kodoknya mati, atau lepas, atau kena tusuk
terlalu dalam. Tapi aku tidak menyerah. Setiap hari aku coba. Sampai akhirnya
bisa.”
“Itu namanya belajar, To,” kata Junai. “Tidak ada yang
langsung bisa. Semua butuh proses.”
“Kau juga pernah gagal, Jun?” tanya Toha penasaran.
“Pernah. Sering. Bahkan sekarang masih sering gagal.
Kemarin aku dapat ikan kecil semua. Hari ini baru dapat tiga ekor nila. Itu
bukan keberhasilan besar.”
“Tapi kau selalu tenang, Jun. Tidak pernah frustasi,” kata
Dadang.
“Frustasi itu ada, Dadang. Tapi aku belajar untuk tidak
melampiaskannya. Aku belajar dari kanal. Air yang tenang mengalir lebih jauh
daripada air yang deras dan bergolak.”
Pak Jajang yang mendengar itu, mengangguk bangga. “Junai
benar. Kesabaran adalah kunci. Bukan hanya dalam memancing, tapi dalam hidup.
Orang yang sabar akan mencapai tujuannya, meskipun lambat. Orang yang
terburu-buru sering tersesat di jalan.”
Darto menunduk mendengar itu. Ia teringat pada masa
lalunya, ketika ia selalu terburu-buru ingin menjadi yang terbaik, ingin
menang, ingin diakui. Ia hampir tersesat. Tapi sekarang, ia telah menemukan
jalannya kembali.
Di tengah keramaian, dua orang lelaki muncul dari arah
selatan. Mereka berjalan kaki menyusuri tepi kanal, membawa joran sederhana dan
ember kecil. Wajah mereka familiar—kumis tebal dan kacamata hitam. Dua orang
kota yang dulu pernah mencemari kanal.
Semua warga menoleh. Suasana berubah tegang. Dadang
berdiri, tangannya mengepal. Asep dan Toha ikut berdiri, bersiap.
“Mereka lagi,” bisik Dadang dengan suara dingin. “Mau apa
mereka?”
“Tenang, Dadang,” Junai menahan. “Lihat dulu.”
Kumis tebal dan rekannya berjalan mendekat. Wajah mereka
tidak lagi angkuh seperti dulu. Kumis tebal itu bahkan terlihat sedikit
malu—pipinya memerah, matanya tidak berani menatap langsung ke arah warga.
Mereka berhenti di depan Darto. Darto berdiri, memandang
mereka dengan tatapan tajam.
“Ada apa?” tanya Darto dingin.
Kumis tebal itu menarik napas panjang. “Kami... kami minta
maaf. Atas kejadian dulu. Kami tahu kesalahan kami. Kami sudah tidak melakukan
itu lagi. Kami ingin... kami ingin memancing di sini. Dengan cara yang benar.
Boleh?”
Darto tidak menjawab. Ia memandang mereka, mengingat
kembali hari-hari ketika ia hampir terjerumus ke dalam jalan yang sama—jalan
pintas, jalan curang, jalan yang merusak.
“Kenapa kalian mau minta izin sekarang?” tanya Darto. “Dulu
kalian tidak pernah minta izin.”
“Kami... kami dengar kanal ini sudah pulih. Kami dengar
warga bekerja keras membersihkannya. Kami malu. Kami merasa ikut bertanggung
jawab atas kerusakan dulu. Jadi kami ingin... ingin memulai lagi. Dengan cara
yang benar.”
Darto menatap mereka lama. Ia teringat pada Junai, yang
dulu menerimanya kembali meskipun ia hampir menggunakan setrum. Ia teringat
pada Pak Jajang, yang berkata bahwa memberi kesempatan kedua adalah bagian dari
menjadi manusia.
“Silakan,” kata Darto akhirnya. “Tapi ingat, di kanal ini
kami punya aturan. Tidak ada umpan kimia. Tidak ada setrum. Ikan kecil harus
dilepas. Dan kalian tidak boleh memancing di kawasan konservasi.”
Kumis tebal itu mengangguk cepat. “Kami paham. Kami janji.
Terima kasih.”
Mereka berjalan ke spot yang agak jauh dari kerumunan, di
bawah jembatan. Mereka memasang umpan—cacing tanah, dari kaleng bekas yang
mereka bawa—dan melempar dengan hati-hati.
Darto menghampiri Junai dan berbisik, “Dua orang itu minta
izin memancing. Saya beri izin.”
“Bagus. Itu namanya memberi kesempatan kedua,” Junai
tersenyum.
Darto tersenyum lebar. “Saya belajar itu darimu, Jun. Dan
dari Pak Jajang. Dan dari kanal ini. Bahwa setiap orang berhak mendapat
kesempatan kedua. Selama ia mau berubah.”
“Kau sudah berubah, To. Dan itu yang terpenting.”
Matahari mulai condong ke barat ketika mereka memutuskan
untuk pulang. Hari itu, semua pulang dengan ember yang lumayan berisi.
Junai membawa pulang tiga ekor nila ukuran sedang. Darto
membawa pulang gabus dua kilogram yang menjadi kebanggaannya. Rini membawa
pulang tiga ekor nila dan satu ekor lele. Dadang mendapat dua ekor nila dan
satu ekor gabus kecil yang ia lepas. Asep mendapat dua ekor nila. Toha mendapat
seekor nila ukuran sedang—pertama kalinya ia pulang dengan ikan yang layak
konsumsi.
Pak Jajang tidak memancing, tapi ia pulang dengan hati yang
penuh. Ia melihat kanal yang pulih, melihat anak-anak muda yang bahagia,
melihat persaudaraan yang kembali terjalin. Itu sudah lebih dari cukup.
Mereka berjalan pulang bersama menyusuri jalan setapak di
antara pelepah sawit. Sinar matahari sore menembus celah-celah daun,
menciptakan pola-pola cahaya di tanah. Burung-burung beterbangan pulang ke
sarang, menyambut senja yang akan segera tiba.
“Jun,” Darto memanggil dari belakang.
“Iya.”
“Kau tahu, aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Dulu aku pikir, memancing itu tentang menang. Tentang
siapa yang paling banyak, siapa yang paling besar. Tapi sekarang aku sadar, itu
bukan tentang menang. Itu tentang... tentang menjadi bagian. Bagian dari alam,
bagian dari desa, bagian dari keluarga.”
Junai tersenyum. “Itu pelajaran yang butuh waktu lama untuk
dipelajari. Tapi kau sudah sampai di sana, To.”
“Karena kau, Jun. Dan Pak Jajang. Dan kanal ini.”
Mereka berjalan dalam diam. Di kejauhan, kanal mengalir
tenang, membawa cerita hari ini dan menyimpan cerita untuk esok.
EPILOG
Senja kembali turun di atas kanal yang kini tak lagi sunyi.
Langit jingga bercampur ungu, memantul di permukaan air
yang beriak lembut. Awan-awan tipis berwarna kemerahan, seperti sapuan kuas
raksasa di langit yang luas. Burung-burung beterbangan melintas, sesekali
menyambar serangga yang terbang rendah di atas air. Suara jangkrik mulai
terdengar dari balik semak-semak, menyambut malam yang akan segera tiba.
Riak air kecil terlihat di mana-mana—di sela-sela eceng
gondok yang sengaja disisakan, di dekat akar-akar sawit yang menjuntai, di
tikungan kanal yang airnya berputar perlahan. Tanda kehidupan telah kembali.
Bukan hanya ikan, tapi juga serangga air, kecebong, dan anak-anak kodok yang
melompat-lompat di tepian. Seluruh ekosistem mulai pulih.
Tawa warga pun kembali terdengar, menyatu dengan suara
alam—gemericik air, desiran daun sawit, dan suara burung yang pulang ke sarang.
Kelompok ibu-ibu masih duduk di tikar plastik, mengupas singkong sambil
bercerita. Anak-anak kecil masih berlarian mengejar kunang-kunang yang mulai
bermunculan. Pemuda-pemuda masih asyik membersihkan joran mereka, bersiap untuk
pulang.
Junai duduk di tempat yang sama seperti dulu—di papan kayu
lapuk yang disangga batang pinang, di tikungan kanal dekat pohon karet tua.
Jorannya sudah dilipat, tertancap di tanah di sampingnya. Embernya sudah berisi
empat ekor ikan—ukuran sedang, cukup untuk makan malam bersama ibunya.
Tapi hatinya tidak sedang memikirkan ikan.
Ia memandang ke arah barat, di mana matahari perlahan
tenggelam di balik bukit-bukit yang menjulang. Sinar jingga keemasan memancar,
menciptakan bayangan panjang di permukaan air. Angin sore bertiup lembut,
membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit—bau yang sudah sangat familiar, bau
yang selalu membuatnya tenang.
Pak Jajang sudah pulang lebih awal, karena badannya mulai
lelah. Bu Lastri menuntunnya perlahan, sesekali berhenti untuk mengatur napas.
Sebelum pergi, Pak Jajang sempat menepuk pundak Junai dan berkata, “Jagalah
kanal ini, Jun. Seperti kau menjaga dirimu sendiri.”
Rini masih asyik mencatat di buku kecilnya, menuliskan data
terakhir sebelum pulang. Ia duduk di bawah pohon karet, dengan penerangan
senter kecil yang digantung di dahan. Sesekali ia melihat ke arah kanal,
tersenyum, lalu menulis lagi.
Darto sedang mengajari anak-anak desa cara meracik umpan
dari dedak dan ampas kelapa, serta cara memasang anak kodok yang benar. Ia
duduk di tengah-tengah anak-anak itu, sabar menjelaskan, sesekali tertawa
ketika salah satu dari mereka bertanya hal yang konyol.
“Mas Darto, kenapa ikan gabus suka anak kodok?” tanya
seorang anak laki-laki.
“Karena itu makanan alami mereka, Nak. Di sawah-sawah,
gabus memangsa anak kodok dan kecebong. Jadi ketika mereka melihat anak kodok
bergerak-gerak di permukaan air, naluri mereka langsung aktif.”
“Kalau pakai cacing?”
“Cacing juga bisa. Tapi lebih cocok untuk lele dan gabus
yang makan di dasar. Kalau mau gabus yang suka berburu di permukaan, pakai anak
kodok lebih jitu.”
“Mas Darto, ajarin aku pasang anak kodok!”
“Nanti, nanti. Sekarang kalian pulang dulu. Nanti malam
gelap, bisa tersesat. Besok pagi kita lanjut.”
Anak-anak itu berlarian pulang, masih dengan semangat yang
membara.
Ujang membawa gorengan dan teh hangat, berkeliling
membagikan pada semua orang yang masih tersisa. Ia sudah tiga kali bolak-balik
dari warungnya ke tepi kanal, tapi tidak pernah mengeluh.
“Jun, ini untukmu,” kata Ujang sambil memberikan segelas
teh manis hangat. Gorengan pisang dan ubi rebus diletakkan di samping Junai.
“Terima kasih, Mang.”
“Kau tidak sedih? Hari ini dapat empat ekor. Lumayan
banyak.”
Junai tersenyum. “Bukan banyak sedikitnya, Mang. Yang
penting, kanal ini masih hidup. Dan kita masih bisa duduk di sini,
bersama-sama.”
Ujang mengangguk. “Kau benar. Dulu sempat saya pikir kanal
ini akan mati. Airnya keruh, ikannya tidak ada, baunya busuk. Warga pada putus
asa. Tapi kalian—kau, Rini, Pak Jajang—tidak menyerah. Dan lihat sekarang.
Kanal hidup lagi. Desa hidup lagi.”
“Kita semua, Mang. Termasuk kamu. Termasuk Darto. Termasuk
anak-anak yang ikut bersih-bersih. Semua punya peran. Tanpa Mang Ujang yang
menyediakan gorengan dan kopi, mungkin warga tidak se-semangat ini.”
Ujang tertawa. “Jadi gorengan saya berperan besar?”
“Sangat besar, Mang. Perut kenyang, semangat bertambah.”
Mereka tertawa bersama.
Di kejauhan, Darto tertawa keras karena seorang bocah—Budi
namanya—berhasil mendapatkan ikan pertama kalinya dalam hidup. Seekor gabus kecil,
hanya sepanjang jari, menyambar anak kodok yang dipasang dengan bantuan Darto.
Bocah itu berlari ke arah ibunya, Bu Haji Aminah, yang
sedang duduk di tikar plastik bersama ibu-ibu lainnya. Ia menunjukkan ikan yang
masih menggelepar di tangannya, matanya berbinar-binar.
“Bu! Bu! Lihat! Saya dapat ikan pakai anak kodok! Mas Darto
yang ajarin!”
Bu Haji Aminah tersenyum, mengelus kepala anaknya. “Pintar,
Nak. Tapi ingat, kalau masih kecil dilepas ya. Biar besar dulu, nanti bisa
ditangkap lagi.”
“Iya, Bu!”
Bocah itu berlari kembali ke tepi kanal, melepaskan ikan
kecilnya dengan hati-hati. Ia mencelupkan tangannya ke air, membiarkan ikan itu
berenang perlahan keluar dari genggamannya. Ikan itu berhenti sebentar, seperti
berterima kasih, lalu menghilang di antara akar-akar eceng gondok.
Bocah itu tersenyum puas, lalu bergabung dengan
teman-temannya yang sedang belajar memancing dari Darto.
Junai menyesap tehnya. Hangat. Pahit manis. Seperti
kehidupan.
Ia memandang kanal sekali lagi. Airnya beriak kecil, membentuk
pola-pola yang tak pernah sama. Di setiap riak itu, ia melihat wajah-wajah: Pak
Jajang yang bijak, Rini yang teliti, Ujang yang ramah, Darto yang berubah,
Dadang yang bersemangat, Asep dan Toha yang setia, dan semua warga yang
perlahan sadar bahwa menjaga alam adalah menjaga diri sendiri.
Ia teringat pada percakapannya dengan Pak Jajang pagi tadi.
“Apa yang paling kau pelajari, Jun?” Dan jawabannya: “Bahwa kehidupan ini
seperti air. Kalau kita biarkan mengalir alami, ia akan jernih. Tapi kalau kita
terus mengaduk-aduk dengan ambisi, keserakahan, dan tipu daya, ia akan keruh.
Dan ketika keruh, kita tidak bisa melihat apa pun—termasuk diri kita sendiri.”
Ia tahu, memancing bukan soal siapa yang paling banyak
mendapat ikan.
Melainkan siapa yang paling mampu memahami waktu, alam, dan
dirinya sendiri.
Dan kanal itu… akan selalu menjadi guru yang tak pernah
berbicara, namun selalu memberi makna.
Senja berganti malam. Lampu-lampu mulai menyala di
rumah-rumah warga—kuning hangat dari lampu minyak tanah, putih terang dari
lampu listrik yang sudah masuk ke desa sejak lima tahun lalu. Asap mengepul
dari cerobong dapur, tanda ibu-ibu sedang memasak untuk makan malam. Bau
masakan—ikan bakar, sayur asem, dan sambal terasi—tercium samar di udara malam
yang dingin.
Junai melipat jorannya, membawa ember kecil, dan berjalan
pulang. Langkahnya pelan, tidak tergesa. Ia tidak ingin terburu-buru. Malam ini
terlalu indah untuk dilewatkan dengan terburu.
Di belakangnya, kanal terus mengalir—tenang, dalam, tak pernah
berhenti. Suaranya gemericik lembut, seperti bisikan yang hanya bisa didengar
oleh mereka yang mau mendengarkan.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak di antara pelepah
sawit. Di kejauhan, ia melihat Darto yang masih duduk di tepi kanal, sendirian,
memandang air yang beriak.
“To, belum pulang?” teriak Junai.
“Sebentar lagi, Jun. Aku mau lihat bintang dulu.”
Junai berbalik, berjalan mendekati Darto. Ia duduk di
sampingnya.
“Bintang apa yang kau lihat?”
“Semua. Langit malam ini cerah. Tidak ada awan. Bintang-bintang
terlihat semua.”
Mereka memandang langit. Ribuan bintang bertaburan di
langit gelap, seperti berlian yang ditebarkan di atas kain hitam. Bulan sabit
tipis menggantung di ufuk barat, nyaris tak terlihat.
“Darto,” Junai memanggil.
“Iya.”
“Kau tahu, dulu, ketika kita masih kecil, kita sering duduk
di sini, memandang bintang, sambil menunggu Pak Jajang selesai memancing. Kau
ingat?”
Darto tersenyum. “Ingat. Waktu itu kita masih berteman
baik. Belum ada iri, belum ada cemburu. Kita hanya dua anak kecil yang suka
mancing dan suka bintang.”
“Apa yang membuat kita berubah?”
Darto tidak menjawab segera. Ia memandang bintang, lalu ke
arah kanal, lalu ke arah Junai.
“Aku yang berubah, Jun. Aku yang membiarkan iri dan cemburu
tumbuh di hatiku. Aku melihat kau lebih pintar memancing, lebih disayang Pak
Jajang, lebih dihormati warga. Aku merasa tersisih. Padahal... tidak ada yang
menyisihkan aku. Aku sendiri yang menyisihkan diriku.”
“Kau tidak sendiri, To. Dulu aku juga merasa asing. Aku
anak panti, tidak punya keluarga. Ketika Pak Jajang membawaku ke desa ini, aku
merasa tidak pantas. Tapi Pak Jajang, Bu Lastri, dan kau—kalian menerimaku. Itu
yang membuat aku betah.”
“Aku tidak menerimamu, Jun. Aku malah membencimu. Maafkan
aku.”
“Sudah lama aku maafkan, To. Sejak kau menyerahkan setrum
itu. Sejak kau menangis di depan semua orang. Sejak itu, aku tahu kau sudah
berubah.”
Darto menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuan.
“Aku beruntung punya kakak sepertimu, Jun. Meskipun aku
dulu tidak mengakuinya.”
Junai menepuk pundak Darto. “Kita bersaudara, To. Bukan
karena darah. Tapi karena kita melalui semua ini bersama. Pencemaran, konflik,
kerja bakti, penebaran bibit, dan sekarang... kanal yang pulih. Itu lebih dari
sekadar darah.”
Mereka diam. Angin malam bertiup lembut, membawa bau tanah
basah dan dedaunan sawit. Di kejauhan, kanal mengalir tenang, suaranya seperti
lagu pengantar tidur.
“Ayo pulang,” kata Junai berdiri. “Besok kita mancing lagi.
Aku mau ajarin kau teknik baru. Membaca arus bawah. Kata Pak Jajang, itu kunci
untuk dapat ikan mas besar.”
Darto berdiri, tersenyum. “Aku tunggu.”
Mereka berjalan pulang bersama, menyusuri jalan setapak
yang gelap, diterangi oleh bintang-bintang di langit. Di belakang mereka, kanal
terus mengalir—membawa cerita hari ini, dan menyimpan cerita untuk esok.
Riak di permukaan air itu... riak kehidupan yang baru.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar