Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Jumat, 27 Maret 2026

Joran Bambu di Kanal Sunyi

 


Joran Bambu di Kanal Sunyi

Di ujung joran bambu, ada kesabaran yang mengajari manusia arti pulang

 

Oleh: Slamet Riyadi

PROLOG

Pagi itu, kabut tipis bergelayut di atas permukaan kanal panjang yang membelah ribuan pohon kelapa sawit Desa Awan Biru. Airnya hitam legam, tenang seperti cermin retak yang disambung kembali oleh lumut. Bau tanah basah bercampur aroma buah sawit masak yang berguguran di tepian. Kanal itu bukan buatan tangan manusia biasa; ia adalah parit raksasa peninggalan perkebunan zaman Belanda, yang kini menjadi urat nadi kehidupan warga—tempat mandi, mencuci, dan yang paling penting, sumber ikan.

Di tepi kanan, di atas papan kayu lapuk yang disangga batang pinang, Junai sudah duduk bersila sejak pukul setengah enam. Joran bambunya tertancap rapi, senar menjuntai ke air yang diam. Sebuah ember kecil di sampingnya masih kosong, tetapi sudut bibirnya tersenyum tipis. Ia tidak tergesa. Ia tidak gelisah. Pagi bagi Junai bukanlah tentang hasil, melainkan tentang ketenangan yang hanya bisa ditemukan di tepi air yang sunyi.

Satu per satu, warga mulai berdatangan. Dengan joran sederhana, umpan racikan sendiri, dan cerita yang tak pernah habis, mereka bukan sekadar memancing ikan—mereka memancing harapan. Harapan akan rezeki, harapan akan ketenangan, harapan bahwa di tengah kerasnya kehidupan di desa perkebunan sawit, masih ada ruang untuk sekadar duduk diam dan menunggu.

Namun, kanal itu tak selalu ramah. Kadang ia pelit, kadang ia murka. Dan di sanalah, kehidupan diuji: antara sabar, emosi, persahabatan, dan ketamakan. Kanal adalah cermin kecil dari dunia yang lebih besar—di mana air yang tenang bisa menyimpan bahaya di dasar, di mana riak kecil bisa menjadi gelombang besar, dan di mana setiap orang pada akhirnya harus memilih: menjadi bagian dari alam, atau melawannya sampai hancur.


BAB 1: Panggilan Pagi di Ujung Kanal

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika langit di timur mulai memerah, menyapu embun yang masih bergelayut di dedaunan sawit. Desa Awan Biru masih setengah tidur. Rumah-rumah papan dengan dinding seng bergeming, lampu kuning menyala di beberapa dapur, asap mengepul dari cerobong darurat tempat para ibu memanaskan air untuk kopi dan teh.

Namun di pertigaan jalan setapak yang menghubungkan perkampungan dengan kanal, keramaian sudah mulai terasa sejak pukul lima pagi. Warung kopi milik Ujang—bangunan sederhana dari anyaman bambu dengan atap seng bergelombang—menjadi titik kumpul alami para pemancing sebelum mereka berangkat ke tepi air.

Ujang sendiri sudah sibuk sejak pukul empat. Tangannya yang kekar dan kasar karena bertahun-tahun menggoreng dan menimba air, kini sedang meracik kopi tubruk dalam ceret besar. Kopi hitam pekat campur gula aren—itu andalannya. Wanginya menusuk hidung, membangunkan siapa pun yang masih mengantuk.

“Pagi, Mang Ujang! Kopinya jadi belum?” Suara parau datang dari arah timur. Itu Pak Jajang, sesepuh pemancing desa yang sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu. Rambutnya putih semua, kulitnya keriput seperti buah sawit kering, tetapi matanya masih tajam membaca arus. Topi caping anyaman bambu selalu menempel di kepalanya, bahkan saat tidur sekalipun—begitu kata istrinya.

“Baru jadi, Pak Jajang. Saya tuang dulu,” jawab Ujang sambil menuangkan kopi panas ke dalam gelas plastik tebal yang sudah terisi setengah gula aren. “Pagi ini dingin sekali. Cocok buat minum kopi hangat sambil nunggu ikan.”

“Ikan?” Pak Jajang tertawa kecil, duduk di bangku kayu panjang di depan warung. “Kopi ini lebih pasti datangnya daripada ikan, Ujang. Ikan kadang datang kadang tidak. Kopimu selalu ada setiap pagi.”

“Makanya jangan terlalu berharap pada ikan, Pak. Berharaplah pada kopi,” Ujang menyahut sambil ikut tertawa.

Satu per satu pemuda desa mulai berdatangan. Dadang—pemuda berbadan kurus dengan jaket lusuh dan rambut yang selalu acak-acakan—menyandarkan sepeda motor bebeknya di depan warung. Ia baru berusia dua puluh tiga tahun, tetapi sudah menjadi pemancing yang cukup disegani di kalangan seusianya. Joran bambu panjang tergantung di punggungnya, ember plastik biru menggantung di setang motor.

“Pagi semua!” Dadang duduk di samping Pak Jajang. “Mang Ujang, kopi satu. Tambah gula, ya. Manis biar semangat.”

“Pemuda jaman sekarang, manis-manis terus,” celetuk Pak Jajang sambil menggeleng. “Dulu saya mancing pakai kopi pahit aja semangat. Sekarang ikan juga jangan dikasih umpan manis-manis terus. Nanti kena diabetes.”

Dadang tertawa. “Ikan juga bisa kena diabetes, Pak?”

“Bisa saja. Kalau dikasih umpan kimia terus, iya,” Pak Jajang menyahut dengan nada yang tiba-tiba berubah sedikit serius. “Tapi kan kalian anak muda sekarang pakenya umpan alami, ya?”

“Alami, Pak. Saya pakai cacing tanah. Kadang kalau lagi rajin, cari anak kodok di sawah,” Dadang meyakinkan.

“Anak kodok? Bagus itu,” Pak Jajang mengangguk. “Ikan gabus doyan. Tapi harus tahu cara pasangnya. Kalau asal tusuk, mati nanti umpan, ikan juga ogah nyambar.”

Dari dalam warung, Ujang ikut nimbrung. “Pak Jajang ini memang ahlinya. Dulu saya pernah lihat beliau pasang anak kodok hidup-hidup di kail, dilempar ke dekat akar sawit, kurang dari lima menit langsung disambar gabus sebesar paha.”

“Halah, Ujang, jangan dibesar-besarkan,” Pak Jajang tersenyum malu-malu. “Itu cuma keberuntungan. Memancing itu tujuh puluh persen sabar, dua puluh persen ilmu, sepuluh persen keberuntungan.”

“Lima belas persen umpan,” Dadang menambahkan.

“Bukan umpan, Dadang. Umpan itu alat. Yang penting adalah memahami ikan. Kalau kau tahu ikan sedang apa, di mana mereka berada, makanan alami mereka apa, kau bisa pakai umpan apa saja asalkan sesuai,” Pak Jajang menjelaskan dengan sabar.

Asep dan Toha datang hampir bersamaan. Asep—pemuda berbadan tambun dengan kumis tipis yang baru mulai tumbuh—adalah anak tengah dari tiga bersaudara yang kesehariannya membantu orang tuanya di kebun sawit. Toha—pemuda paling muda di antara mereka, baru lulus SMA, rambutnya selalu disisir rapi meski hanya akan pergi ke kanal—adalah pemancing baru yang masih belajar.

“Asep, bawa umpan apa?” tanya Dadang begitu kedua temannya duduk.

“Cacing dan pelet. Toha bawa anak kodok katanya. Dapat dari belakang rumah, banyak kecebong kemarin,” jawab Asep sambil mengeluarkan kantong plastik hitam berisi tanah basah.

Toha mengangguk semangat. “Saya lihat di YouTube, mancing gabus pakai anak kodok itu jitu. Jadi saya coba.”

Pak Jajang tersenyum melihat semangat anak muda itu. “YouTube boleh nonton, Toha. Tapi jangan lupa, kanal kita ini beda dengan kanal di YouTube. Airnya beda, ikannya beda, kebiasaan makannya juga beda. Yang paling bagus ya belajar langsung dari alam.”

“Itu benar, Pak,” sahut suara dari balik warung. Semua menoleh.

Itu Junai. Pemuda berusia dua puluh enam tahun itu muncul dari arah utara dengan langkah santai. Joran bambu di tangan kanan, ember kecil di tangan kiri, dan senyum tipis yang sudah menjadi ciri khasnya. Junai bukan tipe pemuda yang banyak bicara, tetapi setiap kali ia membuka suara, kata-katanya selalu berbobot. Di desa itu, ia dikenal sebagai pemancing paling sabar dan paling paham tentang kanal.

“Pagi, Jun!” sapa Dadang. “Kopi dulu, nggak? Mang Ujang baru selesai bikin.”

“Saya minum air putih saja. Nanti kalau sudah dapat ikan baru kopi,” Junai menjawab sambil duduk di bangku kosong.

“Junai ini memang beda,” Ujang berkomentar sambil membawakan segelas air putih untuk Junai. “Dia kalau mancing serius banget. Nggak mau minum kopi katanya biar tangan nggak gemetar.”

“Bukan gitu, Mang,” Junai tersenyum. “Cuma saya lebih suka perut kosong waktu mancing. Biar saya merasa sama seperti ikan yang juga lapar. Jadi saya lebih bisa memprediksi gerakan mereka.”

Semua tertawa. Tapi Pak Jajang tidak tertawa. Ia memandang Junai dengan mata bangga. “Itu namanya ilmu, anak-anak. Memancing bukan cuma fisik, tapi juga menyatukan diri dengan alam. Junai ini sudah paham itu sejak kecil.”

Suasana di warung Ujang semakin ramai. Beberapa pemuda lain ikut bergabung: ada Jarot, pemancing yang selalu gagal dapat ikan besar tetapi paling ramah; ada Dulah, pemuda yang lebih suka memancing malam daripada siang; ada juga Aceng, yang terkenal sebagai tukang ngibul alias melebih-lebihkan hasil pancingannya.

“Musim timur begini, musim susah, ya?” Dadang membuka topik yang selalu hangat di kalangan pemancing.

“Bukan susah, Dadang. Berubah,” Pak Jajang mengoreksi. “Musim timur, angin dari timur, udara lebih dingin, air kanal juga dingin. Ikan-ikan di dasar, mereka males gerak. Metabolisme mereka melambat. Jadi mereka makan lebih sedikit.”

“Terus gimana dong caranya?” tanya Asep.

“Kita harus tahu di mana mereka. Ikan-ikan di musim timur suka berkumpul di tempat yang airnya lebih hangat sedikit. Biasanya di dekat permukaan yang terkena sinar matahari langsung, atau di dekat akar-akar sawit yang menahan panas. Juga di tikungan-tikungan yang arusnya tidak terlalu deras.”

“Kalau musim barat?” Toha bertanya penasaran.

“Musim barat? Angin dari barat, biasanya bawa hujan. Air kanal naik, arus deras, banyak makanan terbawa dari hulu. Ikan jadi aktif. Itu musim panen,” Pak Jajang menjelaskan. “Tapi hati-hati, musim barat juga musim banjir. Jangan memancing di tempat yang terlalu curam kalau air naik.”

“Berarti musim timur begini lebih baik nggak usah mancing?” Dadang bertanya lagi.

“Bukan nggak usah. Tapi harus lebih pintar. Kau harus tahu spot yang tepat, umpan yang tepat, waktu yang tepat. Kalau musim barat, ikan bisa dapat di mana saja. Musim timur, kau harus cari mereka di tempat-tempat tertentu.”

Junai yang dari tadi diam, akhirnya ikut bicara. “Musim timur begini, yang paling aktif adalah ikan gabus. Mereka tahan dengan air dingin. Dan mereka suka mangsa yang bergerak. Jadi umpan anak kodok atau cacing yang masih hidup lebih efektif daripada pelet atau umpan fermentasi.”

“Jadi spot-nya di mana?” Asep menyelidik.

“Dua spot utama: di dekat akar sawit yang menjuntai ke air, dan di tikungan dekat pohon karet tua yang rindang. Akar sawit untuk gabus, tikungan untuk nila dan mas yang masih aktif di siang hari.”

Pak Jajang mengangguk setuju. “Junai benar. Saya tadi pagi lihat dari rumah, air di tikungan itu beriak kecil. Ada ikan mas yang mulai naik ke permukaan cari udara. Mereka akan makan kalau dikasih umpan fermentasi yang baunya kuat.”

“Wah, Pak Jajang sudah punya spot rahasia rupanya,” Dadang menyindir ramah.

“Bukan rahasia. Kanal ini milik bersama. Siapa pun boleh memancing di mana pun. Tapi kalau kalian malas belajar membaca tanda-tanda alam, ya jangan harap dapat ikan,” Pak Jajang menimpali.

 “Gimana kalau hari ini kita mancing bareng?” Dadang mengajak tiba-tiba. “Saya sudah bosan mancing sendiri. Sekalian belajar dari Pak Jajang dan Junai.”

“Saya ikut!” Asep langsung mengangkat tangan.

“Saya juga!” Toha tak mau ketinggalan.

Dulah yang dari tadi diam ikut mengangguk. “Saya juga. Tapi saya lebih suka mancing malam. Kalau siang panas.”

“Malam nanti juga bisa. Kita bikin dua sesi: siang sama malam,” Dadang menyusun rencana. “Yang penting kita cari spot yang cocok. Kita bagi tim.”

Ujang yang mendengar itu dari dalam warung, ikut bersuara. “Kalau kalian mancing malam, hati-hati di dekat jembatan. Kadang ada ular air. Juga jangan terlalu ke selatan, dekat perkebunan inti, katanya banyak orang kota yang mancing pakai setrum.”

“Setrum?” Asep mengernyit. “Ilegal itu.”

“Ilegal memang. Tapi masih ada saja yang berani,” Ujang menghela napas. “Mereka lebih milih cara cepat. Nggak peduli lingkungan.”

“Kita nggak boleh kayak gitu,” Junai berkata tegas. “Kalau kita mau mancing, kita harus jaga kanal. Pakai cara yang benar. Ikan kecil dilepas, sampah dibawa pulang, nggak pakai umpan kimia atau setrum.”

“Setuju!” seru Dadang.

Mereka mulai mendiskusikan spot-spot yang akan dituju. Junai mengambil sepotong arang bekas bakaran di warung Ujang, lalu menggambar di tanah. Peta sederhana kanal Desa Awan Biru terbentuk.

“Ini kanal utama,” Junai mulai menjelaskan sambil menggambar garis panjang berkelok. “Dari utara ke selatan, panjang sekitar dua kilometer. Ini titik kita sekarang, dekat jembatan. Ini tikungan ke timur, dekat pohon karet tua. Ini akar sawit yang menjuntai, di selatan jembatan sekitar tiga ratus meter. Dan ini pintu air, paling selatan, dekat perbatasan perkebunan.”

Semua pemuda mengerumuni gambar di tanah.

“Di tikungan dekat pohon karet,” Junai melanjutkan, “airnya lebih dalam, arus lambat, dasarnya berbatu. Cocok buat ikan mas dan nila. Umpan fermentasi atau pelet yang direndam bagus di sini. Tapi harus lempar agak ke tengah, jangan terlalu dekat tepi.”

“Di akar sawit yang menjuntai,” Pak Jajang ikut menjelaskan, “itu surganya gabus. Akar-akar itu tempat mereka bersembunyi. Kalau kau lempar umpan hidup—cacing atau anak kodok—di dekat situ, mereka akan nyambar. Tapi kail harus kuat, gabus suka tarik keras dan sembunyi ke akar.”

“Kalau di bawah jembatan?” Dadang bertanya.

“Bawah jembatan,” Junai menjawab, “air paling dalam, arus lambat, dan teduh. Cocok buat ikan besar yang suka tempat tenang. Tapi karena dalam, kau butuh pemberat yang cukup. Umpan apa saja bisa, asalkan jatuhnya tepat di dasar.”

“Kalau di pintu air?” Toha bertanya.

“Pintu air,” Junai menghela napas, “itu spot paling sulit. Dasarnya berlumpur, arus nggak menentu karena kadang dibuka sama pengelola perkebunan. Biasanya banyak ikan lele di sana. Umpan cacing atau kecebong. Tapi hati-hati, kail sering nyangkut di akar atau sampah yang nyangkut di pintu air.”

“Jadi spot paling aman untuk pemula?” Asep bertanya.

“Tikungan dekat pohon karet,” Junai dan Pak Jajang menjawab bersamaan.

Mereka saling pandang dan tertawa.

“Tikungan itu paling mudah,” Junai menjelaskan. “Arusnya nggak terlalu deras, airnya nggak terlalu dalam, dan ikannya banyak. Cocok buat yang masih belajar.”

“Oke, saya ambil spot tikungan!” Asep langsung mengklaim.

“Saya ambil akar sawit,” kata Dadang. “Saya mau coba mancing gabus pakai anak kodok.”

“Saya ikut Pak Jajang di bawah jembatan,” Toha memilih.

“Saya ke pintu air nanti malam,” Dulah mengatur rencana.

Junai tersenyum melihat semangat mereka. “Saya di tempat biasa. Di dekat akar sawit juga, tapi agak ke selatan sedikit. Kalian nanti kalau ada yang butuh bantuan, teriak aja.”

Matahari mulai naik di ufuk timur. Kabut tipis yang tadinya menggantung di atas perkebunan mulai lenyap, digantikan sinar keemasan yang menembus celah-celah daun sawit. Suara burung-burung mulai riuh, bersahutan dari satu pohon ke pohon lain.

Mereka beranjak dari warung Ujang. Dadang membayar kopinya dengan uang receh, Asep dan Toha ikut membayar, tetapi Ujang menolak uang dari Pak Jajang dan Junai.

“Untuk Bapak dan Junai gratis. Kalian sudah cukup banyak ngasih ilmu ke anak-anak muda ini,” kata Ujang.

“Ilmu itu gratis, Ujang. Jangan dibayar,” Pak Jajang tersenyum. “Tapi kopinya tetap enak. Makasih.”

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di antara pelepah sawit yang bergesekan. Embun masih menggantung di ujung daun, menetes ke pundak dan leher. Di depan mereka, kanal panjang membentang seperti ular hitam yang sedang istirahat.

Sesampainya di tepi kanal, pemandangan yang biasa sudah terlihat. Rini—satu-satunya pemancing perempuan di desa itu—sudah duduk di tempatnya dekat jembatan. Ia berkerudung, memakai sepatu bot karet, dan membawa ember kecil yang selalu bersih. Rini dikenal teliti: umpannya selalu diukur, kedalaman kail selalu disesuaikan, dan ia tak pernah bergantung pada keberuntungan.

“Pagi, Rini!” sapa Junai.

“Pagi, Jun. Pagi, Pak Jajang. Pagi semua,” Rini membalas dengan senyum. “Wah, ramai sekali hari ini. Ada acara apa?”

“Latihan mancing bareng, Rin,” Dadang menyahut. “Kita mau belajar spot-spot bagus. Junai dan Pak Jajang jadi gurunya.”

“Bagus itu,” Rini mengangguk. “Saya boleh ikut belajar juga, kan?”

“Tentu saja,” Junai tersenyum. “Kamu malah bisa jadi guru juga. Pengalamanmu banyak.”

Mereka mulai menyebar di tepi kanal. Dadang mengambil posisi di dekat akar sawit yang menjuntai—spot favoritnya untuk mengejar gabus. Asep dan Toha pergi ke tikungan dekat pohon karet tua. Dulah memilih tempat teduh di bawah jembatan untuk bersiap mancing malam nanti. Pak Jajang duduk di spot lamanya di bawah jembatan, sementara Junai memilih tempat di antara akar sawit dan tikungan—posisi yang memungkinkannya memantau pergerakan ikan di kedua spot.

Rini memilih tempat tidak jauh dari Junai, di dekat perbatasan antara tikungan dan akar sawit.

“Jun, kamu pakai umpan apa hari ini?” tanya Rini sambil merapikan peralatannya.

“Cacing dan anak kodok,” Junai membuka toples plastik kecil berisi tanah basah dan beberapa ekor anak kodok yang masih kecil—seukuran ruas jari, berwarna kecoklatan, gesit melompat-lompat. “Gabus lagi aktif di pagi hari. Nanti siang baru ganti umpan fermentasi buat nila dan mas.”

“Saya pakai cacing saja. Saya coba spot dekat akar sawit, tapi agak ke tengah. Katanya ada ikan mas juga di sana.”

“Iya, kadang ikan mas suka makan cacing juga kalau lagi lapar. Coba aja.”

Junai memasang umpan dengan gerakan yang lambat dan penuh perhatian. Ia mengambil satu ekor anak kodok dari toples, memegangnya dengan lembut di antara jari telunjuk dan jempol. Dengan kail ukuran sedang—nomor enam, sedikit lebih besar dari yang biasa dipakai untuk cacing—ia menusuk bagian punggung anak kodok itu, tepat di bawah kulit, tidak terlalu dalam agar kodok tetap hidup dan bergerak.

“Lihat, Rini,” Junai menunjukkan cara pasangnya. “Jangan tusuk terlalu dalam nanti mati. Jangan terlalu dangkal nanti lepas. Tusuk di punggung, biar kakinya bebas bergerak. Di air, anak kodok akan berenang-renang, gerakannya bikin gabus kalap.”

Rini memperhatikan dengan saksama. “Kenapa gabus suka anak kodok?”

“Karena itu makanan alami mereka. Di sawah-sawah de sini, gabus memangsa anak kodok, kecebong, dan ikan-ikan kecil. Jadi ketika mereka melihat anak kodok bergerak-gerak di permukaan, naluri mereka langsung aktif.”

“Tapi kenapa tidak pakai umpan hidup lainnya? Seperti ikan kecil?”

“Bisa juga. Tapi anak kodok lebih tahan hidup di kail. Ikan kecil kalau ditusuk cepat mati. Anak kodok bisa bertahan berjam-jam, apalagi kalau pasangnya benar.”

Junai melempar umpannya ke dekat akar sawit yang menjuntai. Anak kodok itu mendarat di permukaan air dengan percikan kecil, lalu mulai berenang dengan gerakan-gerakan pendek. Kakinya yang masih bebas mengayuh air, sesekali menyelam sebentar lalu muncul lagi. Pelampung kecil dari gabus bekas sandal jepit mengapung tenang beberapa sentimeter di belakangnya.

“Sekarang tinggal tunggu,” kata Junai sambil membasuh tangannya di air kanal.

“Berapa lama biasanya?”

“Tergantung. Kadang lima menit, kadang sejam. Yang penting jangan buru-buru narik. Biarkan anak kodok berenang bebas. Kalau gabus melihat, dia akan mendekat perlahan. Kadang dia hanya mengintip dulu. Kalau merasa aman, baru dia nyambar.”

Junai mengambil toples lain—ini berisi umpan fermentasi berwarna kecoklatan yang baunya menusuk. Ia menyiapkan joran keduanya, yang lebih pendek dengan kail lebih kecil, untuk menargetkan ikan mas dan nila di tikungan.

“Kamu pakai dua joran?” tanya Rini.

“Iya. Satu untuk gabus dengan anak kodok, satu untuk nila dan mas dengan umpan fermentasi. Tapi harus tetap waspada. Kalau dua-duanya digigit bersamaan, bisa repot.”

“Pernah mengalami?”

“Pernah. Dua minggu lalu, joran kiri disambar gabus besar, joran kanan juga digigit nila. Saya harus milih. Saya lepas yang nila, ambil yang gabus. Hasilnya? Gabus lepas, nila juga kabur. Dua-duanya nggak dapat.”

Rini tertawa. “Jadi lebih baik satu fokus?”

“Tergantung. Kalau kamu sudah terbiasa, bisa handle dua. Tapi saya masih belajar.”

Mereka tertawa bersama. Suasana pagi itu hangat meski udara masih dingin.

Dari arah selatan, suara sepeda motor terdengar mendekat. Bukan satu, tapi dua. Junai menoleh. Dua motor matic berwarna hitam berhenti di pinggir jalan setapak, sekitar lima puluh meter dari posisi mereka.

Dua orang turun. Mereka bukan warga desa—itu jelas dari pakaiannya. Sepatu lapangan yang masih bersih, topi pet yang terlalu rapi untuk ukuran petani sawit, dan jaket parasut yang tidak cocok dengan udara pagi yang lembap. Yang satu berkumis tebal, tubuhnya kekar, matanya menyipit seperti sedang menilai sesuatu. Yang lain berkacamata hitam meski matahari belum terik, dan membawa tas ransel besar berwarna abu-abu.

Mereka membuka bagasi motor, mengeluarkan peralatan: joran carbon fiber berwarna hitam dengan rol yang terlihat mahal, tas pendingin besar berwarna biru, dan sebuah kotak kayu kecil yang diletakkan dengan hati-hati di samping.

“Itu orang kota,” bisik Rini.

“Saya tahu,” Junai menjawap tanpa mengalihkan pandangan.

“Mereka sering datang?”

“Dua minggu sekali, kata Pak Jajang. Mereka nyewa kolam pemancingan biasanya, tapi akhir-akhir ini mulai main ke kanal bebas.”

“Ada yang aneh dari mereka?”

Junai mengamati lebih jauh. Kedua orang itu tidak langsung memancing. Mereka berjalan menyusuri tepi kanal, sesekali berhenti, melihat ke air, lalu berbisik. Kumis tebal mengambil sesuatu dari kotak kayu—botol plastik kecil berisi cairan bening—dan meneteskan beberapa tetes ke air.

“Rini, lihat itu.”

Rini menyipitkan mata. “Apa yang mereka teteskan?”

“Tidak tahu. Tapi saya tidak suka.”

Dari kejauhan, Pak Jajang juga memperhatikan. Ia berdiri dari posisinya di bawah jembatan, memanggil Junai dengan isyarat tangan.

Junai menghampiri. “Ada apa, Pak?”

“Lihat mereka,” Pak Jajang menunjuk ke arah dua orang kota itu. “Mereka pakai umpan kimia. Saya sudah lihat beberapa kali. Mereka meneteskan perasa buatan ke air, atau kadang bahan perangsang. Ikan jadi kalap, makan apa saja.”

“Berbahaya?”

“Sangat. Air bisa tercemar. Ikan yang kenyang umpan kimia kalau dimakan manusia bisa berbahaya. Apalagi kalau mereka pakai formalin atau pewarna tekstil.”

“Kita harus lapor?”

“Lapor ke siapa? Pak RT? Dia cuma bilang 'belum ada bukti'. Kantor perkebunan? Mereka mungkin malah dilindungi karena mereka tamu dari kota.”

Junai mengepalkan tangannya. “Jadi kita hanya diam?”

“Bukan diam. Kita awasi. Kita kumpulkan bukti. Dan yang paling penting, kita jangan ikut-ikutan. Biarkan mereka merusak diri sendiri. Warga yang paham, yang akan selamat.”

Pak Jajang kembali duduk, mengambil jorannya, dan melempar umpan dengan gerakan yang tenang. Tapi matanya tetap sesekali melirik ke arah selatan.

Junai kembali ke posisinya. Anak kodok yang tadi dilempar masih bergerak-gerak di permukaan, tapi belum ada tanda-tanda serangan. Ia memeriksa joran kedua yang terpasang di tikungan—pelampungnya masih diam, umpan fermentasi belum disentuh.

Rini mendapat tarikan pertama. Pelampungnya bergerak naik-turun dengan cepat—tanda ikan kecil yang sedang menggigit-gigit umpan tanpa benar-benar menelan.

“Jangan narik dulu, Rin,” Junai mengingatkan. “Biarkan dia makan dulu. Nanti kalau pelampung tenggelam dan bergerak ke samping, baru tarik.”

Rini menahan tangannya. Pelampung terus bergerak naik-turun selama hampir satu menit, lalu tiba-tiba tenggelam dan bergerak ke arah timur dengan cepat.

“Sekarang!” teriak Junai.

Rini menarik jorannya dengan gerakan yang agak kaku—ia masih belajar. Ada perlawanan, tapi tidak terlalu kuat. Ikan yang muncul di ujung kail adalah nila berukuran sedang, sekitar setengah kilogram.

“Dapat!” Rini tersenyum lebar. Ia menurunkan ikan itu ke ember dengan hati-hati.

“Bagus,” Junai memuji. “Itu cara yang benar. Sabar menunggu, baru tarik.”

“Terima kasih, Jun.”

Tidak lama setelah itu, joran Junai yang terpasang di akar sawit bergerak. Pelampung dari gabus itu tidak langsung tenggelam, tapi bergoyang-goyang kecil—tanda ada sesuatu di bawah air yang sedang mengamati anak kodok.

Junai membiarkan. Ia tahu gabus adalah ikan yang cerdik. Mereka tidak langsung menyerang mangsa. Mereka mendekat perlahan, mengamati, kadang hanya menyentuh dengan hidung atau ekor untuk memastikan tidak ada bahaya.

Pelampung bergoyang lagi. Lalu—srek!

Tarikan keras. Pelampung tenggelam tiba-tiba, senar menegang, joran Junai melengkung hampir setengah lingkaran.

Junai tidak terburu-buru. Ia membiarkan senar tegang, memberi sedikit kendor—hanya sedikit—lalu menarik perlahan. Ikan di ujung kail melawan, berputar-putar, mencoba mencari akar sawit untuk bersembunyi. Tapi Junai sudah mengantisipasi. Ia mengarahkan tarikannya ke tengah kanal, menjauhkan ikan dari akar-akar yang bisa memotong senar.

Tarikan demi tarikan, Junai menguras energi ikan. Setelah beberapa menit, seekor ikan gabus besar—panjangnya hampir setengah meter, tubuhnya loreng hitam kehijauan, matanya bulat tajam—muncul ke permukaan.

“Wah!” teriak Dadang dari kejauhan. “Junai dapat gabus besar!”

Pak Jajang tersenyum dari bawah jembatan. Asep dan Toha berhenti memancing untuk melihat. Rini mengeluarkan ponselnya, memotret Junai yang sedang mengangkat gabus ke tepi.

“Berapa, Jun?” tanya Dadang yang berlari mendekat.

Junai menimbang ikan itu di tangannya. “Sekitar dua kilo lebih.”

“Gila! Pakai anak kodok?”

“Iya. Seperti yang saya bilang, gabus suka mangsa bergerak.”

Junai memasukkan gabus itu ke ember besar yang sudah disiapkan. Ikan itu masih menggelepar kuat, ekornya memercikkan air ke mana-mana.

“Junai, ajarin aku,” pinta Dadang. “Aku sudah dua jam di sini, belum dapat apa-apa. Pakai anak kodok juga.”

Junai menghampiri spot Dadang. Ia memeriksa posisi Dadang—terlalu dekat dengan akar sawit yang lebat, dan umpan anak kodoknya terpasang terlalu dalam sehingga kodok itu sudah mati dan tidak bergerak.

“Ini masalahnya, Dadang. Posisi kau terlalu dekat akar. Kalau gabus nyambar, dia bisa langsung masuk ke akar dan kailmu nyangkut. Coba mundur dua meter ke tengah, lempar lebih ke arah air terbuka.”

“Terus umpan?”

“Umpanmu mati. Ganti yang masih hidup. Tusuk di punggung, dangkal saja. Biarkan dia bergerak.”

Dadang mengikuti saran Junai. Ia mengganti anak kodok dengan yang baru, memundurkan posisinya, dan melempar ke arah yang ditunjukkan.

“Sekarang tunggu. Jangan buru-buru narik. Biarkan kodok berenang.”

Tidak sampai lima belas menit, pelampung Dadang bergerak. Tarikan tidak sekeras yang tadi, tapi cukup kuat. Dadang menarik dengan sabar—kali ini ia tidak terburu-buru. Seekor gabus berukuran sekitar satu kilogram muncul.

“Dapat! Dapat!” Dadang melompat kegirangan.

Asep dan Toha dari kejauhan ikut bersorak.

Menjelang pukul sepuluh, matahari mulai meninggi. Udara yang tadinya dingin berganti hangat, bahkan sedikit gerah di beberapa titik yang tidak teduh. Satu per satu pemancing mulai pulang.

Asep dan Toha tidak mendapatkan ikan besar, tapi masing-masing membawa dua ekor nila ukuran sedang. Mereka tetap senang—bagi mereka, pengalaman hari ini lebih berharga daripada hasil.

Pak Jajang mendapat tiga ekor ikan mas. Rini menambah koleksinya menjadi dua ekor nila. Dadang membawa pulang gabus satu kilo itu dengan bangga. Junai membawa gabus dua kilo lebih dan satu ekor nila yang didapat dari joran keduanya.

Yang paling menarik perhatian adalah dua orang kota itu. Ketika mereka pulang, tas pendingin mereka menggembung—tanda banyak ikan. Mereka melintas di belakang rombongan Junai tanpa menyapa, hanya saling berbisik. Kumis tebal sempat melirik ke arah umpan fermentasi Junai dan terkekeh.

“Umpan kampungan,” bisiknya cukup keras.

Dadang mendengar itu dan hampir melabrak, tapi Junai menahannya. “Biarkan. Yang penting kita tahu kita sudah benar.”

Mereka berkumpul kembali di warung Ujang. Ujang sudah menyiapkan gorengan dan teh manis untuk semua.

“Ceritakan, bagaimana hari ini?” tanya Ujang sambil menyajikan pisang goreng.

Satu per satu mereka bercerita. Dadang dengan penuh semangat menceritakan bagaimana Junai mengajarinya memasang anak kodok yang benar. Asep dan Toha bercerita tentang perjuangan mereka di tikungan. Rini bercerita tentang nila pertamanya yang didapat dengan kesabaran.

Pak Jajang mendengarkan sambil tersenyum. “Kalian semua sudah belajar hari ini. Dan itu lebih penting daripada berapa banyak ikan yang kalian bawa pulang.”

“Tapi Pak,” Dadang bertanya, “dua orang kota itu dapat banyak sekali. Tas mereka penuh. Apakah mereka pakai umpan kimia?”

Pak Jajang menghela napas. “Mungkin. Saya lihat mereka meneteskan sesuatu ke air. Itu bukan cara yang baik, Dadang. Mereka mungkin pulang dengan banyak ikan hari ini, tapi besok, lusa, kanal ini bisa rusak. Ikan-ikan akan mati atau pergi. Dan kita semua yang rugi.”

“Kenapa mereka tega?” tanya Toha polos.

“Karena mereka tidak tinggal di sini, Nak. Bagi mereka, kanal ini hanya tempat mengambil ikan. Bukan rumah. Bukan kehidupan,” Pak Jajang menjawab dengan nada yang sedikit sedih.

Junai yang dari tadi diam, akhirnya bicara. “Kita tidak bisa menghentikan mereka dengan paksa. Tapi kita bisa menjaga kanal ini dengan cara kita. Dan kita bisa mengajarkan anak-anak kita, adik-adik kita, teman-teman kita, untuk tidak mengikuti cara mereka. Kanal ini akan tetap ada untuk kita kalau kita menjaganya.”

“Setuju,” Ujang mengangkat gelas tehnya. “Untuk kanal kita.”

“Untuk kanal kita!” seru yang lain.

Mereka menenggak teh bersama. Matahari terus naik, menerangi desa Awan Biru dengan cahaya yang hangat. Di kejauhan, kanal mengalir tenang—menyimpan rahasia, menunggu waktu.


BAB 2: Racikan Umpan dan Rahasia Lama

Pukul empat sore, matahari mulai miring ke barat. Sinar keemasan menembus celah-celah dinding bambu rumah Junai, menciptakan pola-pola cahaya yang bergoyang di lantai tanah yang dipadatkan. Rumah Junai memang sederhana—dinding anyaman bambu, atap rumbia yang sudah mulai rapuh di beberapa bagian, dan beranda kecil yang menghadap ke timur. Tapi bagi warga Desa Awan Biru, rumah ini sering menjadi tempat berkumpul yang hangat. Bukan karena kemewahannya, tapi karena ketulusan penghuninya.

Junai baru saja selesai membersihkan peralatan mancingnya ketika suara sepeda motor tua milik Pak Jajang terdengar dari kejauhan. Mesinnya menggerung-gerung seperti orang batuk, disertai suara knalpot yang bolong di beberapa bagian.

“Junai! Junai!” suara parau Pak Jajang terdengar sebelum motornya benar-benar berhenti.

Junai keluar dari dapur, tangannya masih basah bekas mencuci beras. “Ada apa, Pak? Kok ramai?”

Pak Jajang turun dari motornya dengan hati-hati. Usianya memang sudah tidak muda lagi—tujuh puluh dua tahun, kata orang—tapi semangatnya masih seperti anak muda. Ia membawa nampan besar di tangannya, ditutup kain putih bersulam bunga yang dibuat istrinya. “Bawa singkong rebus sama teh pahit. Buat teman ngobrol.”

“Wah, repot-repot, Pak,” Junai mengambil nampan itu. “Padahal saya cuma masak nasi sama sayur.”

“Nggak repot. Istri saya lagi banyak rebus singkong. Katanya mau dijual, tapi saya ambil dulu buat kita-kita. Biar nanti diganti sama ikan,” Pak Jajang tersenyum nakal.

Belum sempat Junai menjawab, suara motor lain terdengar. Kali ini lebih halus—motor matic biru milik Rini. Ia turun dengan membawa tas ransel kecil dan sebuah buku catatan yang selalu menjadi teman setianya.

“Pagi—eh, sore, Jun. Saya bawa buku catatan. Semalam saya baru selesai menggambar beberapa jenis ikan yang pernah saya lihat di kanal. Saya mau minta pendapat Pak Jajang dan Junai,” kata Rini sambil membuka tasnya.

“Masuk dulu, Rin. Masih ada yang belum datang,” Junai mempersilakan.

“Siapa lagi?”

“Dadang, Asep, Toha. Mereka bilang mau belajar bikin umpan. Katanya dari tadi pagi masih penasaran.”

Rini tersenyum. “Wah, semangat mereka luar biasa. Biasanya anak-anak muda sekarang lebih suka main ponsel daripada belajar meracik umpan.”

“Itu karena mereka lihat hasilnya tadi pagi. Junai dapat gabus dua kilo lebih, Dadang dapat satu kilo, saya dapat tiga ekor mas. Itu lebih membujuk daripada seribu kata-kata,” Pak Jajang menimpali sambil duduk di kursi bambu kesayangan Junai.

Tak lama kemudian, Ujang datang. Ia tidak membawa motor, tapi berjalan kaki dari warungnya yang hanya berjarak dua rumah dari Junai. Di tangannya, ia membawa bungkusan kertas minyak berisi pisang goreng dan ubi goreng. Wangi gorengan itu langsung menyebar ke seluruh pekarangan.

“Mang Ujang, banyak amat bawaannya?” Junai terkejut.

“Buat banyak orang, banyak juga bawaannya. Saya tahu anak-anak muda itu pasti lahap. Lagipula, ini sekalian promosi. Siapa tahu mereka mau beli gorengan di warung saya besok,” Ujang mengedipkan mata.

Junai tertawa. “Mereka pasti beli, Mang. Apalagi kalau dapat ikan besar, pasti mampir ke warung dulu sebelum pulang.”

“Nah, itu dia. Saya investasi dulu sekarang, biar besok untung,” Ujang bercanda.

Dadang, Asep, dan Toha datang hampir bersamaan. Dadang masih dengan jaket lusuhnya, Asep dengan kumis tipis yang mulai tumbuh, dan Toha dengan rambut yang tetap rapi meski seharian di kanal. Mereka bertiga tampak masih bersemangat membicarakan pengalaman mancing pagi tadi.

“Jun! Tadi saya coba hitung, gabus saya itu satu kilo dua ratus!” Dadang langsung bercerita begitu masuk pekarangan.

“Kurang timbang, Dadang,” Asep menyela. “Kayaknya cuma satu kilo. Saya lihat dari kejauhan.”

“Satu kilo dua! Saya timbang pake timbangan ikan punya ibu saya!”

“Timbangan buat ikan asin itu, Dadang. Udah pasti miring,” Toha menambahkan sambil tertawa.

Mereka bertiga masuk ke beranda, duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah agak usang. Rini sudah membuka buku catatannya, Pak Jajang meregangkan kakinya, Ujang meletakkan gorengan di tengah, dan Junai mengambil baskom besar dari dapur.

 “Junai, ajarin kami bikin umpan,” pinta Asep begitu semua duduk rapi. Matanya berbinar penuh harap.

“Iya, Jun. Saya tadi pakai pelet biasa, zonk. Dapat cuma dua ekor kecil. Padahal saya sudah pakai pelet mahal dari toko kota,” keluh Dadang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Junai tersenyum. Ia mengambil baskom besar dari dapur—baskom aluminium yang sudah penyok di beberapa sisi, warisan dari ibunya yang sudah meninggal dua tahun lalu. Ia meletakkannya di tengah-tengah mereka, lalu berjalan ke dapur dan mengeluarkan bahan-bahan satu per satu: karung kecil berisi dedak halus, setengah butir kelapa yang sudah diparut, terasi yang sudah disangrai hingga kering dan dihaluskan, serta sebuah toples plastik berisi cairan kecoklatan yang baunya langsung menyebar ke seluruh ruangan begitu tutupnya dibuka.

“Aduh, baunya!” Toha memegang hidung, tapi tetap tersenyum.

“Wanginya... khas,” kata Asep sambil sedikit meringis, berusaha diplomatis.

Dadang mencium lebih dalam. “Ini kayak bau tape, tapi lebih tajam. Dan ada bau terasi juga.”

“Itu dia,” Junai mengangguk bangga. “Ini umpan fermentasi. Bahan dasarnya sederhana: dedak, ampas kelapa, sedikit terasi, dan air rendaman nasi basi. Didiamkan tiga hari dalam toples tertutup. Bau? Menyengat. Tapi ikan mas dan nila di kanal kita suka.”

“Tiga hari?” Toha mengernyit. “Lama juga.”

“Itu minimal. Kadang saya fermentasi seminggu kalau mau baunya lebih kuat. Tapi hati-hati, kalau terlalu lama bisa terlalu asam dan ikan malah ogah. Kuncinya pas—tiga sampai lima hari paling aman,” Junai menjelaskan sambil menuangkan dedak ke dalam baskom.

Pak Jajang yang dari tadi memperhatikan, ikut bersuara. “Junai ini murid terbaik saya. Dulu saya ajarin racikan umpan fermentasi waktu dia masih SMA. Sekarang dia sudah lebih jago dari saya. Bahkan kadang saya minta racikannya kalau mau mancing di tikungan.”

“Ah, Pak Jajang melebih-lebihkan,” Junai tersenyum malu, tangannya terus mengaduk adonan.

“Bukan melebih-lebihkan. Memang. Tapi Jun, kau ingat dulu pertama kali saya ajarin fermentasi? Kau malah muntah-muntah karena baunya,” Pak Jajang tertawa mengenang.

“Iya, Pak. Saya ingat. Waktu itu saya pikir umpan yang baik harus wangi. Ternyata salah besar. Ikan mas dan nila di kanal kita doyan bau menyengat.”

“Kenapa bisa begitu, Jun?” tanya Rini penasaran. Pena di tangannya sudah siap mencatat.

“Karena di kanal kita, sumber makanan alami ikan-ikan itu banyak dari fermentasi buah sawit yang jatuh ke air. Buah sawit yang masak dan jatuh ke kanal akan membusuk, difermentasi oleh air dan bakteri alami. Baunya mirip dengan umpan fermentasi ini. Jadi ikan-ikan sudah terbiasa. Ketika mereka mencium bau ini, otak mereka langsung bilang: 'ini makanan.'”

“Pintar,” Ujang mengacungkan jempol. “Jadi kuncinya bukan bau wangi, tapi bau yang familiar.”

“Tepat sekali, Mang Ujang,” Junai mengangguk.

Dadang yang dari tadi memperhatikan, tiba-tiba bertanya, “Kalau cacing tanah kenapa ampuh? Bau cacing kan nggak kayak gitu.”

Pak Jajang yang menjawab. “Cacing tanah adalah makanan alami hampir semua ikan air tawar. Di alam, cacing terbawa arus hujan ke kanal, ikan sudah tahu itu sumber protein. Jadi meski baunya nggak kayak fermentasi, ikan tetap doyan karena naluri mereka.”

“Terus anak kodok?” Toha bertanya.

“Anak kodok,” Junai menyambung, “itu makanan favorit gabus. Di sawah-sawah sekitar desa kita, gabus memangsa anak kodok dan kecebong. Jadi ketika mereka melihat anak kodok bergerak-gerak di permukaan air, naluri berburu mereka langsung aktif. Apalagi kalau anak kodok itu masih hidup dan bergerak—itu seperti bendera merah bagi banteng.”

“Jadi setiap umpan punya fungsi dan target ikan yang berbeda?” Rini mencatat cepat.

“Iya,” Junai mengangguk. “Memancing itu seperti berobat ke dokter. Kau tidak bisa kasih obat yang sama untuk semua penyakit. Kalau mau ikan mas, pakai umpan fermentasi. Kalau mau gabus, pakai anak kodok atau cacing. Kalau mau lele, pakai cacing atau kecebong di dasar. Kalau mau nila, jangkrik atau pelet yang agak keras.”

“Nah, itu tepat,” Pak Jajang menambahkan. “Setiap umpan punya fungsi. Cacing tanah cocok untuk ikan yang makan di dasar, seperti lele dan gabus. Anak kodok cocok untuk gabus yang suka mangsa bergerak di permukaan. Jangkrik cocok untuk ikan nila yang suka serangga jatuh. Dan umpan fermentasi cocok untuk ikan mas yang doyan bau-bauan.”

“Tapi ada yang bilang, umpan yang paling ampuh adalah umpan yang bisa memancing semua jenis ikan,” celetuk Asep.

Semua terdiam sejenak. Pak Jajang menggeleng pelan. “Itu mitos, Asep. Tidak ada umpan yang bisa memancing semua ikan. Kalau ada yang mengaku begitu, biasanya itu umpan kimia. Dan itu bukan memancing—itu meracuni.”

Rini yang dari tadi mencatat, mengangkat pena lagi. “Pak Jajang, bagaimana dengan umpan kimia yang dipakai orang kota itu? Saya pernah baca di internet, ada umpan yang dicampur perasa buatan sampai ikan jadi kalap. Apakah itu benar-benar ampuh?”

Suasana berubah. Pak Jajang yang tadinya tersenyum, kini wajahnya sedikit mengeras. Ia meneguk teh pahitnya perlahan, seperti sedang mengumpulkan kata-kata.

“Umpan kimia,” Pak Jajang memulai dengan suara yang lebih rendah dari biasanya, “itu racikannya pakai perasa buatan—vanili, durian, kadang ada yang pakai essence pandan. Tapi yang paling bahaya adalah yang pakai bahan perangsang. Bukan perasa biasa, tapi perangsang—bahan kimia yang merangsang sistem saraf ikan. Ikan jadi kalap, kehilangan rasa takut, makan apa saja yang ada di depan matanya.”

“Kalau begitu, kenapa tidak dipakai saja?” tanya Dadang dengan nada polos, tapi segera menyesal setelah melihat tatapan sinis dari Rini.

“Kau tahu, Dadang,” Pak Jajang melanjutkan, “saya pernah lihat langsung dampaknya. Sekitar lima belas tahun lalu, ada pemancing dari kota yang pakai umpan kimia di kanal ini. Dalam waktu dua jam, mereka dapat puluhan ikan—besar semua. Warga desa pada iri. Ada yang ikut-ikutan beli umpan kimia. Tapi dalam seminggu, apa yang terjadi?”

Semua diam menunggu.

“Ikan-ikan kecil mati. Telur-telur ikan di akar-akar sawit hancur. Air kanal berubah warna jadi kehijauan, berminyak. Dan selama tiga bulan setelah itu, tidak ada satu pun ikan yang bisa ditangkap. Kanal mati. Benar-benar mati. Warga yang menggantungkan hidup dari ikan—baik untuk makan maupun dijual—terpaksa beli ikan dari luar. Harga naik, anak-anak kekurangan gizi.”

“Astaga,” Ujang menghela napas. “Saya baru dengar cerita itu.”

“Karena waktu itu kau masih kecil, Ujang. Mungkin kau ingat, dulu pernah ada masa ikan susah didapat. Itu penyebabnya.”

“Saya ingat,” Ujang mengangguk. “Waktu itu ibu saya sampai beli ikan asin dari luar desa karena ikan segar nggak ada.”

“Nah, itu,” Pak Jajang menunjuk ke arah Ujang. “Jadi kalau ada yang bilang umpan kimia itu ampuh, ya benar. Ampuh untuk merusak. Ampuh untuk keuntungan sesaat. Tapi setelah itu, semua rugi.”

“Tapi katanya ada yang pakai perasa alami, Pak,” Dadang masih mencoba membela. “Ekstrak rumput laut, fermentasi ikan, itu kan alami.”

Junai yang dari tadi diam, akhirnya bicara. “Dadang, perasa alami dan perasa kimia itu beda. Tapi masalahnya, di pasaran sekarang susah dibedakan. Banyak yang jualan umpan dengan label 'alami' tapi isinya campuran bahan kimia. Dan satu lagi—meskipun perasanya alami, kalau penggunaannya berlebihan, tetap bisa mengganggu ekosistem. Apa pun yang berlebihan itu tidak baik.”

“Tapi kan kita butuh hasil, Jun,” Dadang sedikit bersikeras. “Kita mancing kan cari ikan. Kalau bisa lebih cepat dan lebih banyak, kenapa tidak?”

Rini yang tadinya diam, kini ikut angkat bicara. Suaranya tegas, tapi tidak meninggi. “Dadang, coba pikir. Kalau hari ini kita dapat seratus ekor ikan pakai umpan kimia, tapi besok kanal ini mati dan tidak ada ikan lagi selama satu tahun, itu untung atau rugi? Seratus ekor hari ini, atau ribuan ekor selama satu tahun ke depan?”

Dadang terdiam.

“Dan belum lagi,” Rini melanjutkan, “ikan yang kena umpan kimia itu kalau dimakan manusia, kandungan kimianya bisa masuk ke tubuh kita. Belum ada penelitian yang cukup tentang efek jangka panjangnya. Tapi yang jelas, tidak ada yang mau makan ikan yang sudah terkontaminasi bahan kimia, kan?”

Asep yang dari tadi hanya mendengarkan, akhirnya buka suara. “Saya setuju sama Rini. Lebih baik sedikit tapi aman, daripada banyak tapi nggak jelas. Lagipula, buat apa banyak-banyak kalau cuma buat makan sendiri? Ikan segar beberapa ekor sudah cukup buat seminggu.”

“Nah, itu dia,” Ujang menimpali. “Orang desa kita itu konsumsi ikannya nggak sebanyak itu. Kecuali kalau mau dijual. Tapi kalau dijual, nanti ikannya ke kota, yang makan orang kota, dan mereka nggak tahu ikannya dari umpan kimia. Itu sama saja dengan menipu.”

Pak Jajang mengangguk. “Ujang benar. Kita hidup di desa ini dengan prinsip kejujuran. Hasil bumi kita—sawit, ikan, sayuran—kalau dijual ke orang lain, harus jujur asalnya. Jangan sampai orang kota makan ikan dari kanal kita dan kena penyakit karena kita pakai umpan kimia. Itu dosa.”

Suasana hening sejenak. Hanya suara jangkrik di kebun belakang yang mulai terdengar, tanda senja semakin dekat.

“Maaf,” Dadang akhirnya berkata dengan suara rendah. “Saya cuma kepikiran tadi. Saya nggak akan pakai umpan kimia. Saya janji.”

Junai tersenyum. “Tidak perlu minta maaf, Dadang. Pertanyaanmu bagus. Dengan bertanya, kita jadi paham. Lebih baik bertanya sekarang daripada nyoba sendiri dan menyesal kemudian.”

Toha yang sejak tadi diam, tiba-tiba bertanya dengan suara pelan, hampir berbisik. “Mang Ujang, Darto katanya pakai umpan kimia juga? Saya dengar dari teman, Darto sering beli umpan di kota. Bukan pelet biasa, tapi yang dalam kemasan tertutup, nggak ada labelnya.”

Semua terdiam. Nama Darto memang selalu menjadi topik sensitif di kalangan pemancing Desa Awan Biru. Darto adalah pemancing paling ambisius, paling kompetitif, dan paling gampang emosi. Ia selalu ingin menjadi yang terbaik, paling banyak, paling besar. Dan ia tidak segan-segan menggunakan cara-cara yang dipertanyakan untuk mencapai itu.

Ujang menghela napas panjang. “Saya nggak mau bilang iya atau tidak. Tapi yang jelas, Darto sering beli umpan dari toko di kota. Saya pernah lihat dia bawa pulang botol plastik warna biru, isinya cairan. Saya tanya itu apa, dia bilang 'perasa ikan'. Saya tanya perasa apa, dia cuma senyum.”

“Perasa ikan?” Pak Jajang mengernyit. “Perasa ikan yang dijual bebas biasanya aman kalau memang ekstrak alami. Tapi kalau botolnya nggak ada label, itu tanda bahaya. Umpan ilegal biasanya dijual tanpa label, tanpa izin edar.”

“Darto pernah cerita sama saya,” Dadang ikut berbisik. “Katanya dia punya umpan rahasia yang bikin ikan kalap. Dalam setengah jam bisa dapat puluhan. Tapi dia nggak mau kasih tahu bahannya. Katanya rahasia dagang.”

“Rahasia dagang?” Rini mendengus. “Memancing itu bukan bisnis, Dadang. Memancing adalah cara kita berinteraksi dengan alam. Kalau pakai cara curang, namanya bukan memancing, namanya menipu.”

“Darto itu orangnya ambisius, Rin,” Pak Jajang menjelaskan dengan nada yang lebih bijak. “Ia selalu ingin menang, ingin paling banyak. Tapi ambisi yang tidak terkendali bisa merusak. Bukan hanya merusak dirinya sendiri, tapi juga merusak orang lain. Kanal ini, ikan-ikan ini, mereka tidak peduli siapa yang paling banyak. Mereka hanya ingin hidup. Tapi Darto sepertinya lupa itu.”

“Darto pernah menangis waktu kecil,” Ujang tiba-tiba mengenang. “Waktu itu ada lomba mancing anak-anak se-desa. Darto kalah telak dari Junai. Padahal Darto sudah pakai joran baru dari ayahnya, umpan pabrikan, semua serba mahal. Junai cuma pakai joran bambu pemberian Pak Jajang dan umpan cacing tanah. Darto nangis seharian. Sejak itu, dia seperti punya dendam. Dia ingin buktikan kalau dia bisa lebih baik dari Junai.”

Junai yang disebut-sebut hanya tersenyum tipis. “Saya tidak pernah merasa bersaing dengan Darto. Saya hanya memancing untuk diri saya sendiri. Kalau Darto ingin jadi yang terbaik, biarkan. Tapi jangan sampai merusak kanal.”

“Darto itu sebenarnya baik, Jun,” Dadang membela. “Cuma kadang terlalu ambisius. Mungkin karena tekanan dari orang tuanya juga. Ayah Darto dulu pemancing handal, terkenal se-desa. Tapi sekarang sudah tua dan sakit-sakitan. Darto mungkin ingin membanggakan ayahnya.”

“Membanggakan orang tua itu baik,” kata Pak Jajang. “Tapi caranya harus benar. Membanggakan dengan cara merusak—itu bukan kebanggaan, itu aib.”

“Kita nggak usah bicara soal Darto dulu,” Junai mencairkan suasana. “Sekarang, siapa yang mau belajar meracik umpan fermentasi? Saya belum selesai mengaduk ini.”

Semua pemuda itu mengacungkan tangan. Bahkan Dadang yang tadi sempat mempertanyakan umpan kimia, ikut mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Junai melanjutkan demonstrasinya. Adonan dedak dan ampas kelapa sudah tercampur rata. Ia mengambil terasi yang sudah disangrai dan dihaluskan, lalu menaburkannya sedikit demi sedikit ke dalam baskom sambil terus mengaduk.

“Terasi ini fungsinya bukan hanya untuk bau, tapi juga untuk rasa. Ikan mas dan nila punya indera perasa yang sensitif. Mereka bisa membedakan mana makanan yang asin, manis, asam, dan gurih. Terasi memberikan rasa gurih yang mereka suka.”

“Tapi bukannya terasi asin?” tanya Toha.

“Iya, asin. Tapi ikan air tawar tetap butuh garam dalam jumlah kecil. Garam membantu keseimbangan elektrolit mereka. Yang berlebihan itu yang berbahaya. Jadi jangan terlalu banyak terasinya. Cukup sejumput untuk satu baskom.”

Junai mengambil toples berisi cairan kecoklatan—air rendaman nasi basi yang sudah difermentasi tiga hari.

“Ini kuncinya. Air rendaman nasi basi. Nasi yang dibiarkan basi selama tiga hari akan menghasilkan bakteri baik yang membantu fermentasi. Campurkan ini sedikit demi sedikit ke adonan. Jangan terlalu basah, jangan terlalu kering. Konsistensinya harus seperti pasir basah—bisa dikepal tapi mudah hancur.”

Ia menuangkan cairan itu perlahan sambil terus mengaduk dengan tangan kanannya. Tangan kirinya sesekali meremas adonan untuk mengecek kekentalan.

“Nah, kira-kira begini,” Junai menunjukkan adonan yang sudah jadi. “Sekarang, kalian coba.”

Satu per satu para pemuda itu maju. Dadang menjadi yang pertama. Ia menuangkan dedak ke baskom kecil yang disediakan Junai, lalu menambahkan ampas kelapa.

“Perbandingannya berapa, Jun?” tanya Dadang.

“Dua banding satu. Dua bagian dedak, satu bagian ampas kelapa. Kalau mau lebih lengket, bisa tambah sedikit tapioka. Tapi saya tidak pernah pakai tapioka karena bisa bikin air cepat keruh.”

Dadang mengaduk adonannya dengan semangat. Tangannya yang kekar karena biasa bekerja di kebun, mengaduk dengan gerakan melingkar yang cepat.

“Pelan-pelan, Dadang,” Junai tertawa. “Nanti terasinya kemana-mana. Ini bukan aduk semen.”

Asep dan Toha ikut mencoba. Asep lebih berhati-hati, sementara Toha terlalu bersemangat hingga adonannya terlalu basah karena kebanyakan air rendaman nasi.

“Toha, itu kebanyakan air,” Junai memperbaiki. “Tambahkan dedak lagi sedikit.”

“Maaf, Jun. Saya kira makin basah makin bagus.”

“Tidak. Kalau terlalu basah, umpan akan hancur begitu kena air. Tidak akan bertahan di kail. Kalau terlalu kering, dia akan keras dan tidak mengeluarkan bau. Kuncinya pas.”

Rini yang dari tadi hanya memperhatikan, akhirnya ikut mencoba. Dengan teliti, ia mengukur dedak dan ampas kelapa, menaburkan terasi sejumput, lalu menambahkan air rendaman nasi setetes demi setetes. Tangannya yang mungil mengaduk dengan sabar.

“Wah, Rini ini malah paling bagus,” puji Pak Jajang. “Lihat, konsistensinya pas. Bukan soal kekuatan, tapi soal ketelitian.”

Rini tersenyum malu. “Saya cuma ikutin instruksi Junai saja.”

“Nah, sekarang setelah adonan jadi, apa yang harus dilakukan?” tanya Junai kepada semua.

“Difermentasi?” Dadang menjawab.

“Iya. Masukkan ke dalam wadah tertutup. Toples plastik atau stoples kaca. Tutup rapat. Simpan di tempat yang sejuk, tidak terkena sinar matahari langsung. Tiga hari. Jangan dibuka-buka selama tiga hari. Kalau dibuka, udara masuk, fermentasinya bisa gagal.”

“Tiga hari? Lama amat,” keluh Asep lagi.

Junai tersenyum. “Memancing itu mengajarkan kesabaran, Asep. Dari racik umpan saja kita sudah dilatih sabar. Kalau tidak sabar, ya beli pelet instan di warung. Tapi hasilnya ya standar. Tidak akan seampuh umpan fermentasi yang dibuat sendiri.”

“Junai benar,” Pak Jajang menambahkan. “Saya sudah puluhan tahun memancing. Saya sudah coba semua jenis umpan—pelet pabrikan mahal, umpan kimia, umpan hidup, umpan fermentasi. Yang paling konsisten hasilnya adalah umpan fermentasi buatan sendiri. Ikan mas dan nila di kanal kita sudah hafal bau ini. Begitu mereka mencium, mereka datang. Bukan karena lapar, tapi karena penasaran. Bau fermentasi itu seperti panggilan bagi mereka.”

“Kenapa tidak semua pemancing pakai umpan fermentasi kalau begitu?” tanya Toha.

“Karena malas, Toha,” Ujang menjawab sambil tertawa. “Mereka malas nunggu tiga hari. Mereka maunya instan. Beli di toko, langsung pakai. Hasilnya? Ya seperti yang kalian lihat—Dadang tadi pagi cuma dapat dua ekor kecil pakai pelet mahal, sementara Junai dapat gabus dua kilo lebih pakai anak kodok dan umpan fermentasi.”

Dadang tersenyum masam. “Iya, saya mengaku kalah. Tapi mulai sekarang saya akan bikin umpan fermentasi sendiri.”

“Bagus,” Junai mengacungkan jempol. “Nanti kalau sudah jadi, saya kasih tahu cara penggunaannya. Tidak semua spot cocok untuk umpan fermentasi. Di tikungan yang arusnya deras, umpan ini cepat hanyut. Lebih cocok di spot yang airnya tenang, seperti di bawah jembatan atau di teluk kecil.”

Pak Jajang yang dari tadi hanya memperhatikan, tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah jendela. Matanya menatap ke kejauhan, ke arah kanal yang mulai gelap diterpa senja.

“Kalian tahu,” Pak Jajang memulai dengan suara yang dalam, “umpan fermentasi ini bukan hanya soal menangkap ikan. Ini soal menjaga hubungan dengan kanal. Dulu, kakek saya mengajarkan cara ini kepada ayah saya. Ayah saya mengajarkan kepada saya. Dan saya mengajarkan kepada Junai. Ini bukan sekadar racikan—ini adalah warisan.”

“Warisan?” Dadang mengernyit.

“Iya. Warisan leluhur. Dulu, sebelum ada perkebunan sawit, sebelum ada pupuk kimia dan pestisida, kanal ini adalah sungai kecil yang jernih. Airnya bisa diminum. Ikan-ikan berenang bebas tanpa takut. Kakek saya memancing dengan umpan sederhana—cacing, jangkrik, dan fermentasi sederhana dari singkong atau nasi. Beliau tidak pernah mengambil ikan lebih dari yang dibutuhkan. Ikan besar diambil, ikan kecil dilepas. Itu aturannya.”

“Kenapa harus dilepas?” tanya Toha.

“Karena ikan kecil adalah masa depan. Kalau kita ambil ikan kecil, tidak akan ada ikan besar di kemudian hari. Dulu orang tua kita paham itu. Mereka tidak serakah. Mereka mengambil secukupnya, meninggalkan cukup untuk alam.”

“Sekarang?” Rini bertanya, meski sepertinya sudah tahu jawabannya.

“Sekarang,” Pak Jajang menghela napas, “banyak yang lupa. Mereka lihat ikan, langsung ambil. Kecil diambil, besar diambil, bahkan telur-telur ikan pun diambil. Mereka pakai setrum, pakai racun, pakai jaring halus. Semua ikan, dari yang paling kecil sampai paling besar, habis. Dan ketika ikan habis, mereka cari tempat lain. Tidak pernah merasa bersalah.”

“Darto termasuk yang begitu?” Dadang bertanya hati-hati.

Pak Jajang tidak menjawab langsung. Ia kembali duduk, mengambil singkong rebus, dan mengunyahnya perlahan. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Darto masih bisa berubah. Selama dia masih memancing di kanal ini, selama dia masih bergaul dengan kita, masih ada harapan. Tapi kalau dia terus bergaul dengan orang-orang kota yang hanya peduli hasil, suatu hari dia akan kehilangan arah.”

Junai yang mendengar itu, menambahkan, “Darto sebenarnya tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tapi keinginannya untuk diakui sering mengalahkan akalnya. Kita sebagai teman harus mengingatkan, bukan menghakimi.”

“Setuju,” Ujang mengangguk. “Kita ingatkan dengan cara baik-baik. Tapi kalau sudah keterlaluan, ya harus ditegur.”

Junai menyelesaikan adonan umpan fermentasinya, memasukkannya ke dalam tiga toples plastik. Satu untuk persediaannya sendiri, satu untuk Pak Jajang, dan satu lagi untuk dibagikan ke Dadang, Asep, dan Toha nanti setelah jadi.

“Nanti malam, kita coba mancing malam,” ajak Junai tiba-tiba. “Ikan gabus aktif di malam hari. Kita pakai anak kodok. Siapa yang mau ikut?”

“Saya!” seru Dadang, Asep, dan Toha serempak.

“Saya juga ikut,” kata Rini. “Tapi saya pakai cacing saja. Saya ingin coba spot dekat pintu air. Kata orang, lele banyak di sana malam-malam.”

“Bagus. Nanti kita kumpul di sini jam tujuh. Bawa senter dan perlengkapan masing-masing. Jangan lupa bawa air minum,” Junai mengatur.

“Saya bawa gorengan lagi,” Ujang menawarkan. “Buat camilan.”

“Mang Ujang, nanti saja kalau sudah dapat ikan baru traktir. Sekarang biar kami yang bawa,” kata Dadang.

“Ah, biar saya. Ini sekalian promosi,” Ujang tertawa.

Pak Jajang berdiri, membetulkan capingnya yang semiring. “Saya tidak ikut malam-malam. Badan sudah tua, takut masuk angin. Tapi kalian hati-hati. Jangan ke tempat yang terlalu dalam. Air malam hari lebih dingin dan arusnya kadang berubah. Dan ingat, bawa senter cadangan.”

“Iya, Pak.”

“Satu lagi,” Pak Jajang berhenti di pintu pagar. “Hati-hati dengan dua orang kota itu. Saya lihat mereka tadi siang masih di kanal selatan. Siapa tahu mereka mancing malam juga. Kalau mereka pakai umpan kimia atau setrum, jangan coba-coba melawan. Lebih baik lapor ke saya atau ke Pak RT.”

“Kita hanya akan mancing, Pak. Tidak cari masalah,” Junai meyakinkan.

“Bagus. Saya pulang dulu. Istri sudah menunggu.” Pak Jajang melambaikan tangan dan berjalan perlahan menuju motornya.

Setelah Pak Jajang pulang, suasana di rumah Junai masih hangat. Ujang membantu Rini membersihkan peralatan yang berserakan, sementara Dadang, Asep, dan Toha masih asyik membahas strategi mancing malam.

“Dadang, kau pakai anak kodok atau cacing?” tanya Asep.

“Anak kodok. Saya mau ulang sukses pagi tadi. Tapi saya coba spot yang berbeda. Mungkin di dekat jembatan. Katanya gabus besar sering lewat sana malam-malam.”

“Aku pakai jangkrik,” Asep memutuskan. “Aku coba nila. Nila aktif malam hari juga, katanya.”

“Nila aktif kalau bulan terang,” Junai mengoreksi. “Nanti malam bulan separuh, tidak terlalu terang. Lebih baik pakai umpan fermentasi atau pelet. Tapi karena umpan fermentasi kalian belum jadi, pakai pelet saja dulu.”

“Toha pakai apa?” Dadang bertanya.

Toha berpikir sejenak. “Aku ikut Junai. Pakai anak kodok. Aku mau belajar langsung dari ahlinya.”

“Junai, ajarin aku cara baca arus malam hari,” pinta Toha.

Junai mengangguk. “Malam hari, arus biasanya lebih lambat karena tidak ada angin. Tapi kadang, kalau hujan di hulu, arus bisa tiba-tiba deras. Cara membacanya: lihat permukaan air. Kalau ada riak-riak kecil yang bergerak teratur, itu arus normal. Kalau permukaan air tampak seperti kaca, itu arus sangat lambat—biasanya ikan banyak di dasar. Kalau ada pusaran-pusaran kecil, hati-hati, arus bawah bisa kuat.”

“Bagaimana dengan suara?” tanya Rini.

“Suara sangat penting di malam hari. Ikan yang melompat, suara air yang berdecak, itu tanda ikan sedang aktif. Kalau sunyi senyap tanpa suara apa pun, biasanya ikan sedang tidak aktif. Mungkin karena air dingin atau sedang ada predator besar.”

“Predator besar?” Asep mengernyit.

“Bisa ular air, atau bisa juga ikan gabus raksasa. Gabus besar kadang memangsa ikan-ikan kecil. Kalau ada gabus besar di suatu spot, ikan-ikan lain akan menjauh.”

“Pernah lihat gabus raksasa?” Dadang bertanya dengan mata berbinar.

Junai tersenyum. “Pernah. Sekali. Waktu itu saya masih SMA. Saya mancing malam sendirian di dekat akar sawit. Tiba-tiba ada percikan besar di depan saya. Saya kira orang jatuh. Ternyata gabus sebesar paha orang dewasa melompat ke permukaan. Dia mengejar anak kodok yang lewat. Saya coba lempar umpan, tapi dia tidak tertarik. Mungkin karena kenyang.”

“Gabus sebesar paha? Nggak percaya,” Asep tertawa.

“Tanya Pak Jajang. Beliau juga lihat,” Junai meyakinkan.

“Saya percaya,” Dadang mengangguk. “Dulu kakek saya pernah dapat gabus tujuh kilo. Katanya sampai dua hari dimakan sekeluarga.”

Mereka tertawa. Matahari sudah benar-benar tenggelam. Langit barat masih menyisakan warna jingga, tapi di timur, gelap sudah mulai merayap.

“Saya pulang dulu,” Ujang pamit. “Nanti jam tujuh saya ke sini lagi bawa gorengan.”

“Nggak usah, Mang,” Junai menolak. “Nanti kalian yang beli di warung kalau sudah pulang.”

“Ah, biar saya. Anggap saja ucapan terima kasih karena sudah diajarin ilmu memancing,” Ujang tetap ngotot.

“Kalau begitu, saya bikin teh,” kata Junai. “Nanti kita minum teh hangat sambil mancing.”

“Setuju!” seru Dadang.

Mereka berpisah untuk sementara. Junai membersihkan rumahnya, menyiapkan termos besar berisi teh manis hangat, dan memeriksa perlengkapan mancingnya: joran bambu, kail cadangan, senar, pelampung, dan toples berisi anak kodok yang masih gesit melompat-lompat.

Rini masih tinggal sebentar untuk membantu Junai membereskan. Di dapur kecil, mereka bicara berdua.

“Jun, kamu nggak khawatir dengan Darto?” tanya Rini sambil mengelap piring.

“Khawatir? Sedikit. Tapi bukan karena Darto-nya. Saya khawatir kalau dia pakai umpan kimia, kanal kita bisa rusak lagi. Tapi Darto sendiri, saya yakin dia orang baik. Cuma tersesat.”

“Kamu selalu melihat sisi baik orang, Jun. Itu yang saya kagumi dari kamu.”

Junai tersenyum. “Tidak selalu. Dulu saya juga pernah salah. Waktu kecil, saya pernah ambil ikan kecil-kecil, tidak saya lepas. Pak Jajang marah sekali. Beliau bilang, 'Junai, kalau kau ambil ikan kecil, kau sedang mencuri masa depan.' Sejak itu saya tidak pernah ambil ikan kecil lagi.”

“Pak Jajang memang guru yang baik.”

“Iya. Dan kanal ini adalah sekolah terbaik.”

Mereka bersiap untuk malam. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Di luar, bulan separuh mulai muncul di antara awan tipis. Suara jangkrik dan katak mulai riuh, menyambut malam yang akan segera tiba.

Di kejauhan, dari arah selatan, terdengar suara sepeda motor yang berhenti di tepi kanal. Dua orang kota itu rupanya benar-benar akan mancing malam.

Dan Darto, yang tidak diundang ke pertemuan sore itu, sedang duduk di beranda rumahnya, memandangi botol plastik biru di tangannya dengan tatapan kosong.

Malam akan menjadi saksi.


BAB 3: Kanal yang Berubah Warna

Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika Junai keluar dari rumahnya. Bulan separuh sudah naik cukup tinggi di langit timur, menyisakan bayangan-bayangan panjang dari pohon-pohon sawit yang bergoyang perlahan ditiup angin malam. Udara terasa lebih dingin dari biasanya—bukan dingin biasa yang menyegarkan, tapi dingin yang menusuk, seperti ada firasat buruk yang menggantung di udara.

Junai membawa perlengkapannya: joran bambu kesayangan, toples berisi anak kodok yang masih gesit melompat-lompat, sebuah ember kecil, dan termos besar berisi teh manis hangat yang baru saja diseduhnya. Rencananya, malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan—mengajari Dadang, Asep, dan Toha cara membaca arus malam, sambil menikmati dinginnya udara di tepi kanal.

Dadang sudah menunggu di depan pagar rumah Junai. Jaket lusuhnya dikenakan terbalik, senter genggam di tangan kanan, joran di tangan kiri. Wajahnya bersemangat.

“Jun! Aku sudah siap. Bawa anak kodok sepuluh ekor,” Dadang menunjukkan toples plastiknya.

“Bagus. Tapi jangan boros. Satu ekor bisa dipakai berkali-kali kalau tidak dimakan ikan. Anak kodok masih hidup, bisa dipakai lagi besok.”

“Iya, aku tahu. Nanti kalau masih sisa, aku taruh di terarium kecil.”

Asep dan Toha menyusul tidak lama kemudian. Asep membawa joran yang lebih pendek—pilihan yang tepat untuk mancing di tikungan yang agak sempit. Toha membawa perlengkapan lengkap: joran, senter besar, umpan cacing dan jangkrik, bahkan kursi lipat kecil yang membuat Dadang tertawa.

“Toha, ini mancing, bukan piknik,” Dadang menyindir.

“Biar nyaman, Bang. Kalau nunggu ikan lama, enakan duduk,” Toha membela diri.

“Duduk di tanah juga nyaman. Dari kecil saya mancing duduk di tanah, nggak pernah pake kursi.”

“Ya udah, biar aku aja yang pake kursi. Nanti kalian pada iri,” Toha tertawa.

Rini datang dari arah utara. Ia berjalan cepat, kerudungnya tertiup angin. Di tangannya, selain joran dan ember, ia membawa sebuah botol plastik kosong dan buku catatan kecil yang selalu menjadi teman setianya.

“Rini, kamu bawa botol kosong buat apa?” tanya Asep heran.

“Buat sampel air,” jawab Rini sambil mengatur napas. “Saya ingin meneliti kondisi air kanal malam ini. Saya sudah seminggu tidak mengambil sampel. Biasanya saya ambil setiap tiga hari sekali.”

“Teliti banget sih,” Asep geleng-geleng kepala.

“Memang harus teliti. Kanal ini bukan hanya tempat mancing, tapi juga sumber air untuk kebun sawit warga sekitar. Kalau airnya tercemar, dampaknya ke mana-mana,” Rini menjelaskan.

Junai mengamati Rini dengan tatapan bangga. “Rini benar. Kita harus peduli dengan kondisi kanal. Bukan hanya ikannya, tapi airnya juga. Kalau airnya rusak, ikannya juga akan rusak.”

Ujang datang dari arah warungnya. Ia membawa bungkusan besar berisi pisang goreng dan ubi goreng, plus satu termos kecil berisi kopi hitam pekat.

“Mang Ujang, tadi sudah bilang nggak usah bawa-bawa,” Junai menghela napas.

“Biarin, Jun. Ini buat camilan. Mancing malam kan lama. Kalau lapar nanti nggak fokus,” Ujang tersenyum lebar.

Mereka berjalan berombongan menuju kanal. Sepanjang jalan setapak di antara pelepah sawit, mereka bercerita tentang pengalaman mancing masing-masing. Dadang bercerita tentang gabus yang hampir didapat minggu lalu tapi lepas karena senar putus. Asep bercerita tentang nila dua kilo yang pernah didapat ayahnya dulu. Toha lebih banyak mendengarkan sambil sesekali bertanya.

Suasana hangat dan penuh tawa.

Tapi ketika mereka sampai di tepi kanal, tawa itu berhenti seketika.

Dadang yang paling depan tiba-tiba berhenti. Senter di tangannya menyorot ke arah permukaan air, dan ia langsung membeku seperti patung.

“Ada apa, Dadang?” tanya Asep dari belakang.

Dadang tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah air dengan senternya.

Asep maju, lalu ikut membeku.

Junai yang melihat itu, segera menyusul ke depan. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya—bukan karena lelah berjalan, tapi karena instingnya mengatakan ada sesuatu yang sangat salah.

Dan benar.

Air kanal yang biasanya hitam legam tapi bening—yang biasa mereka lihat setiap hari—kini tampak keruh kehijauan. Warna itu tidak alami. Di siang hari mungkin akan terlihat seperti air comberan, tapi di malam hari, dengan bantuan senter, warnanya seperti minyak tanah yang tercampur pewarna hijau tua.

Di permukaan, terdapat lapisan tipis yang berkilau. Setiap kali senter menyorot, lapisan itu memantulkan cahaya dengan warna-warni pelangi palsu—merah, jingga, biru, hijau—seperti tumpahan bensin di aspal basah.

Dan baunya. Bau yang dulu selalu mereka kenali sebagai bau tanah basah campur dedaunan dan buah sawit masak, kini berganti dengan bau anyir yang menusuk hidung. Bau itu seperti campuran deterjen, amonia, dan sesuatu yang mengingatkan Junai pada toples umpan kimia yang pernah dilihatnya di toko kota beberapa tahun lalu.

“Apa ini?” Dadang akhirnya bersuara. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena marah yang tertahan. Ia berlutut di tepi kanal, mencelupkan tangannya ke air, lalu menggosokkan jari-jarinya ke telapak tangan. “Airnya licin. Kayak ada sabun. Banyak sabun.”

Rini segera maju. Ia membuka botol plastik kosong yang dibawanya, mencelupkannya ke air, dan mengisi penuh. Botol itu ia tutup rapat, lalu menulis label dengan spidol kecil: “Kanal utama, titik dekat jembatan, pukul 19.30.”

“Ini bukan sabun,” kata Junai dengan suara dingin. Ia berlutut di tepi kanal, mencium airnya langsung dari permukaan, lalu memicingkan mata. Wajahnya berubah tegang. “Ini sisa umpan kimia. Atau lebih parah lagi... racun.”

“Racun?” Asep mengulang kata itu dengan suara setengah berbisik, seperti tidak percaya.

“Racun,” Junai mengulang tegas. “Saya pernah lihat kejadian seperti ini dulu, waktu saya masih kecil. Pak Jajang cerita. Air berubah warna, ada lapisan minyak di permukaan, bau anyir. Itu tanda-tanda ada yang menebar racun atau umpan kimia berlebihan.”

Rini mengangkat botol sampelnya, memandanginya di bawah cahaya senter. Air di dalam botol itu berwarna hijau keruh, dan di permukaannya, bahkan di dalam botol sekalipun, terbentuk lapisan tipis yang berkilau.

“Saya akan cek besok pagi di laboratorium sederhana yang saya buat di rumah,” kata Rini. “Tapi dari baunya saja, saya sudah bisa tebak. Ini bukan hanya perasa ikan. Ada kandungan deterjen—mungkin surfaktan—dan dari bau anyirnya, kemungkinan besar ada amonia atau senyawa nitrogen lainnya. Fosfat juga pasti tinggi.”

“Fosfat? Surfaktan? Maksudnya apa, Rin?” tanya Toha bingung.

“Fosfat adalah pupuk. Kalau terlalu banyak di air, dia memicu ledakan alga—ganggang—yang menutupi permukaan air, menyerap oksigen, dan ikan mati kehabisan napas. Surfaktan adalah bahan aktif di deterjen. Dia membuat air menjadi licin dan mengurangi tegangan permukaan, jadi ikan susah bernapas. Amonia... itu racun langsung untuk sistem saraf ikan.”

Toha memucat mendengar penjelasan itu. “Jadi ikannya bisa mati?”

“Bisa. Kalau kadarnya tinggi, dalam hitungan jam. Kalau kadarnya sedang, dalam hitungan hari. Ikan akan keluar dari air, melompat-lompat seperti kejang, lalu mati.”

Dadang yang dari tadi diam, tiba-tiba membanting toples anak kodoknya ke tanah. Toples plastik itu pecah, anak-anak kodok berhamburan ke mana-mana, melompat ketakutan ke arah semak-semak.

“Sial!” bentak Dadang. Matanya merah menahan marah. “Siapa yang berani? Siapa yang tega? Kanal ini tempat kita mancing sejak kecil! Tempat kita belajar! Tempat kita... tempat ayah saya dulu mengajari saya memancing!”

Asep menarik lengan Dadang. “Tenang, Dadang. Jangan emosi.”

“Tenang? Kau lihat ini, Asep! Airnya rusak! Ikan-ikan bisa mati! Anak kodokku saja sampai lari semua!”

“Kita semua marah, Dadang,” Junai berkata dengan suara yang tetap tenang, meskipun matanya menunjukkan kemarahan yang sama. “Tapi marah tidak akan memperbaiki kanal. Kita harus mencari tahu siapa yang melakukan ini.”

Di tengah ketegangan itu, sesosok bayangan muncul dari balik rumpun bambu di tepi kanal. Senter Dadang langsung menyorot ke arah bayangan itu, dan mereka melihat Pak Jajang—topi capingnya masih melekat di kepala, joran di tangan kanan, senter tua di tangan kiri.

“Pak Jajang?” Dadang terkejut. “Bapak bilang tadi tidak ikut mancing malam.”

“Saya memang tidak ikut mancing,” Pak Jajang menjawab dengan suara yang berat. Ia berjalan mendekat, langkahnya perlahan tapi pasti. Matanya yang tajam langsung tertuju ke permukaan air kanal. “Tapi saya tidak bisa tidur. Ada firasat. Saya sudah tua, anak-anak. Firasat orang tua biasanya benar.”

Pak Jajang berlutut di tepi kanal—gerakan yang cukup sulit untuk usianya, tapi ia melakukannya dengan tekad. Ia mencelupkan jarinya, lalu menggosokkan ke telapak tangan. Ia mencium baunya. Ia bahkan menjilat ujung jarinya sedikit—gerakan yang membuat semua orang terkejut.

“Pak! Jangan!” teriak Rini.

Pak Jajang meludah ke samping. “Racun. Bukan umpan kimia biasa. Ini racun. Ada kandungan karbamat atau organofosfat. Saya pernah merasakan ini dulu, waktu ada pemancing dari luar pakai racun untuk membunuh ikan di kanal.”

“Karbamat? Organofosfat?” Toha mengulang kata-kata yang tidak ia mengerti.

“Pestisida, Nak,” Pak Jajang menjelaskan dengan suara yang dingin. “Pestisida yang biasa dipakai di perkebunan sawit. Kalau masuk ke air, dia membunuh ikan dalam hitungan jam. Ikan akan naik ke permukaan, kejang-kejang, lalu mati. Setelah itu, orang tinggal memungutnya dengan jaring.”

“Astagfirullah...” Ujang menggeleng-geleng kepala.

Pak Jajang berdiri dengan susah payah. Junai segera membantu menopang lengannya.

“Terima kasih, Jun. Saya sudah tidak sekokoh dulu,” Pak Jajang tersenyum pahit.

“Pak, Bapak yakin ini racun pestisida?” tanya Junai.

“Yakin. Saya sudah dua kali mengalami kejadian seperti ini. Pertama tiga puluh tahun lalu, waktu saya masih muda. Kedua lima belas tahun lalu, waktu saya ceritakan kemarin. Polanya sama persis. Air berubah warna, berminyak, bau anyir. Dan setelah itu, ikan-ikan mati bergelimpangan.”

“Kenapa bisa ada pestisida di kanal?” tanya Asep.

“Bisa dari dua sumber,” Pak Jajang menjelaskan. “Pertama, dari perkebunan sawit itu sendiri. Petani kadang menyemprot pestisida terlalu dekat dengan kanal, atau air hujan mengalirkan sisa pestisida ke kanal. Tapi itu biasanya kadarnya kecil, tidak langsung terlihat dampaknya. Kedua, dari orang yang sengaja menebarkan pestisida ke kanal untuk membunuh ikan. Itu yang lebih berbahaya.”

“Sengaja?” Dadang tidak percaya. “Ada orang sengaja meracuni kanal?”

“Ada, Dadang. Mereka tidak mau repot memancing dengan joran. Mereka mau hasil instan. Tebar racun, tunggu sebentar, ikan naik ke permukaan, tinggal dipungut. Dalam satu malam, bisa dapat ratusan kilo.”

“Ratusan kilo?” Asep terbelalak.

“Iya. Ikan mati semua—besar, kecil, bahkan benih-benih ikan. Semua mati. Dan setelah itu, kanal mati. Tidak ada ikan lagi selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.”

Suasana hening. Angin malam bertiup lebih kencang, membawa bau anyir dari kanal ke arah mereka. Beberapa dari mereka memegang hidung.

“Siapa yang berani?” Toha mengepalkan tangan. Tangannya yang masih muda dan kurus itu gemetar karena marah.

Pak Jajang menyipitkan matanya ke arah selatan—ke arah hilir kanal, di mana batas desa bertemu dengan perkebunan inti milik perusahaan besar.

“Dua orang kota itu,” kata Pak Jajang dengan suara yang dalam. Matanya tidak berkedip, terus menatap ke arah selatan. “Saya lihat mereka tadi sore masih di ujung kanal, dekat pintu air. Saya lihat mereka membawa botol-botol plastik. Bukan satu atau dua, tapi sekantong plastik besar. Mereka juga membawa jaring—jaring besar, bukan joran.”

“Kita lapor polisi!” usul Asep.

“Lapor polisi?” Dadang mendengus sinis. “Polisi mana yang mau datang ke desa kecil begini di malam hari? Lagipula, apa buktinya? Kita cuma curiga. Mereka orang kota, mungkin punya kenalan di perkebunan atau di kantor desa. Laporan kita bisa saja diabaikan.”

“Tapi kita tidak bisa diam!” Asep bersikeras.

“Bukan diam,” Junai memotong. Ia berdiri, memandang kanal yang tercemar, lalu ke arah rumah-rumah warga yang mulai gelap. Matanya berhenti di satu rumah—rumah Darto, yang terletak tidak jauh dari tepi kanal, sekitar seratus meter ke arah barat. Lampu di rumah itu masih menyala.

“Sebelum kita menuduh orang kota,” Junai berkata dengan suara yang pelan tapi tegas, “kita harus tahu dulu apakah ada orang desa kita yang terlibat.”

Mereka saling pandang. Nama Darto melintas di benak semua orang. Dadang menunduk. Asep menggigit bibirnya. Toha memandang ke arah rumah Darto.

“Saya lihat Darto tadi siang ke arah selatan,” kata Rini pelan. Suaranya hampir berbisik, seperti takut didengar orang lain. “Saya kira dia mau memancing. Tapi dia tidak membawa joran. Hanya ransel besar. Ransel yang biasanya dia pakai waktu pergi ke kota.”

“Jam berapa?” tanya Junai.

“Sekitar jam tiga. Saya baru pulang dari rumah teman di ujung desa. Saya lihat Darto berjalan cepat ke arah selatan, menuju pintu air. Saya panggil, tapi dia tidak menjawab. Seperti sengaja tidak mendengar.”

“Darto bisa saja ke selatan untuk mancing,” Dadang mencoba membela. “Mungkin dia cuma mau cari spot baru.”

“Tanpa joran?” Rini menatap Dadang tajam.

Dadang terdiam.

“Darto memang ambisius,” Ujang angkat bicara. Suaranya berat, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang tidak enak. “Dia selalu ingin jadi yang terbaik. Tapi saya tidak yakin dia setega itu. Dia masih anak desa kita. Dia tahu kanal ini penting buat kita.”

“Kadang ambisi membuat orang buta, Ujang,” Pak Jajang berkata pelan. “Saya sudah melihat banyak orang berubah karena ambisi. Mereka lupa mana yang benar dan mana yang salah. Mereka hanya melihat tujuan, tidak melihat jalan yang mereka lewati.”

“Kita cari tahu dulu,” Junai memutuskan. “Jangan menuduh tanpa bukti. Nanti kalau salah, kita yang jadi fitnah. Tapi kita juga tidak bisa tutup mata. Besok pagi, kita selidiki. Kita lihat siapa yang paling diuntungkan dari kejadian ini. Siapa yang tiba-tiba punya banyak ikan. Siapa yang pulang dengan tas penuh.”

“Dan Darto?” tanya Toha.

“Kita ajak bicara baik-baik. Tanya dengan sopan. Kalau dia tidak bersalah, dia akan bisa menjelaskan. Kalau dia bersalah...” Junai berhenti sejenak. “Kita hadapi nanti.”

Mereka memutuskan untuk tidak jadi mancing malam itu. Tidak ada gunanya melempar umpan ke air yang sudah tercemar. Ikan-ikan pasti sudah menjauh ke hulu atau ke hilir—atau mungkin sudah mati di dasar.

Dadang mengumpulkan sisa anak kodok yang masih tersisa. Dari sepuluh ekor, hanya tiga yang masih bisa diselamatkan. Sisanya lari ke semak-semak atau mati terinjak.

“Aku pusing,” kata Dadang tiba-tiba. “Bukan karena baunya. Tapi karena... aku nggak percaya. Kanal ini tempat kita mancing sejak kecil. Tempat aku belajar dari ayahku. Tempat aku pertama kali dapat ikan. Dan sekarang... lihat ini.”

Ia duduk di tanah, memegangi kepalanya. Asep duduk di sampingnya, menepuk pundaknya.

“Kita semua marah, Dadang,” kata Asep. “Tapi jangan larut. Kita harus berpikir jernih.”

“Aku nggak marah, Asep. Aku sedih. Sangat sedih. Rasanya seperti... ada yang merusak rumah kita. Rumah yang kita jaga selama ini.”

Ujang yang mendengar itu, ikut duduk di samping Dadang. “Dengar, Nak. Rumah itu tidak hanya bangunan. Rumah itu juga tempat, lingkungan, alam tempat kita hidup. Kalau ada yang merusak, kita perbaiki. Itu yang selalu diajarkan orang tua kita. Jangan cuma menangis, tapi bertindak.”

“Betul,” Rini menambahkan. “Saya sudah mengambil sampel air. Besok pagi saya akan cek di laboratorium sederhana. Saya juga akan foto-foto kondisi kanal sekarang. Kita kumpulkan bukti. Kalau perlu, kita laporkan ke dinas lingkungan hidup kabupaten.”

“Dinas lingkungan?” Dadang mengangkat wajahnya. “Mereka mau datang ke desa kecil begini?”

“Kalau kita punya bukti yang kuat, mereka akan datang. Saya punya kenalan di dinas lingkungan. Teman kuliah dulu. Dia sering turun ke desa-desa untuk menangani kasus pencemaran air.”

“Benarkah?” Dadang sedikit bersemangat.

“Benar. Tapi kita harus punya bukti yang tidak terbantahkan. Sampel air, foto, saksi mata. Kalau perlu, rekam testimoni warga yang melihat kejadian.”

Pak Jajang mengangguk. “Rini pintar. Dia sekolah tinggi, jadi tahu cara-cara melawan. Kita yang tua-tua ini cuma bisa lihat dan merasakan, tapi tidak tahu prosedur. Jadi kita serahkan bukti-bukti pada Rini.”

“Tapi kita harus cari tahu dulu siapa pelakunya,” kata Junai. “Kalau kita lapor tanpa tahu siapa pelakunya, susah. Kita perlu nama. Kita perlu bukti yang mengarah ke seseorang.”

“Darto,” Dadang berkata pelan. “Kita harus tanya Darto.”

“Kita ajak bicara baik-baik, Dadang. Jangan main hakim sendiri,” Junai mengingatkan.

“Aku tahu. Aku tidak akan marah-marah. Tapi kalau ternyata dia yang melakukan...” Dadang tidak melanjutkan kalimatnya.

Mereka berjalan pulang dengan langkah berat. Sepanjang jalan, tidak ada yang bicara. Suara jangkrik dan katak yang tadi riuh, kini terdengar seperti ratapan. Angin malam yang sejuk terasa dingin menusuk tulang.

Ujang membagikan pisang goreng yang tadinya untuk camilan mancing malam. Masing-masing mengambil satu, tapi tidak ada yang berselera. Pisang goreng yang biasanya renyah dan manis, terasa hambar di mulut.

“Mang Ujang,” Toha tiba-tiba bicara, “menurut Mang, Darto mampu melakukan ini?”

Ujang menghela napas panjang. Dia tidak langsung menjawab. Matanya menatap ke arah rumah Darto yang mulai gelap—lampu di rumah itu baru saja padam.

“Darto anak yang baik,” Ujang akhirnya berkata. “Saya kenal dia sejak kecil. Dia anak yang patuh pada orang tua. Tapi dia juga anak yang keras kepala. Kalau sudah punya keinginan, sulit dihalangi. Dulu waktu kecil, dia pernah mengejar ayam tetangga sampai tiga jam karena ayam itu memakan umpan mancingnya. Bukan karena dia marah, tapi karena dia merasa harga dirinya terusik.”

“Maksudnya?” tanya Asep.

“Darto itu orangnya kompetitif. Dia tidak tahan kalah. Ketika Junai selalu menang mancing, Darto merasa harga dirinya terinjak. Dia akan melakukan apa saja untuk membuktikan bahwa dia juga bisa. Dan kalau sudah begitu... kadang batas antara benar dan salah jadi kabur.”

“Jadi Mang Ujang percaya Darto terlibat?” tanya Rini.

“Saya tidak bilang percaya. Saya bilang, kalau pun Darto terlibat, itu bukan karena dia jahat. Tapi karena dia tersesat. Karena ambisinya membutakan dia.”

Pak Jajang yang berjalan paling belakang, ikut bersuara. “Ujang benar. Kita tidak boleh menghakimi Darto sebelum tahu pasti. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata. Besok pagi, kita akan cari tahu. Kita lihat siapa yang paling diuntungkan. Kita lihat siapa yang tiba-tiba punya banyak ikan. Kita lihat siapa yang pulang dengan tas penuh.”

“Dan kalau Darto yang melakukannya?” tanya Toha.

Pak Jajang berhenti berjalan. Ia menatap Toha dengan mata yang dalam—mata yang telah melihat banyak hal selama tujuh puluh dua tahun hidupnya.

“Kalau Darto yang melakukannya, kita hadapi sebagai keluarga. Bukan sebagai musuh. Kita ingatkan, kita tegur, kita bimbing kembali ke jalan yang benar. Tapi kalau dia tetap ngotot...” Pak Jajang menghela napas. “Kita lindungi kanal ini dengan cara apa pun.”

Sampai di depan rumah Junai, mereka berpamitan satu per satu. Dadang masih tampak gelisah, Asep mencoba menenangkan, Toha diam seribu bahasa. Rini membawa botol sampel air dengan hati-hati, seperti membawa barang yang sangat berharga.

“Rini,” Junai memanggil sebelum Rini berjalan pulang. “Sampel airnya tolong dijaga baik-baik. Itu bukti utama kita.”

“Aku akan simpan di lemari es. Besok pagi langsung aku cek,” Rini berjanji.

“Terima kasih, Rin.”

“Jun,” Rini menatap Junai dengan mata yang sendu. “Kamu pikir Darto benar-benar melakukannya?”

Junai tidak menjawab segera. Ia memandang ke arah rumah Darto yang gelap gulita. Hanya sesekali ada kilatan cahaya dari dalam—mungkin televisi, atau ponsel.

“Saya tidak tahu, Rin. Tapi saya tahu satu hal: malam ini, ada yang tidak beres. Bukan hanya di kanal, tapi juga di hati seseorang. Kita harus menemukan siapa orang itu, dan membantunya sebelum semuanya hancur.”

Rini mengangguk, lalu berjalan pulang.

Pak Jajang adalah yang terakhir pamit. Junai membantu menuntunnya sampai ke motor tua yang terparkir di depan pagar.

“Jun,” Pak Jajang berkata pelan. “Kau ingat dulu saya ajarkan cara membaca arus?”

“Ingat, Pak. Arus yang tenang belum tentu aman. Kadang di bawah ketenangan, ada bahaya besar.”

“Itu berlaku juga untuk manusia, Jun. Darto selama ini tenang-tenang saja. Tapi siapa tahu, di dalam dirinya ada arus yang membawanya ke tempat yang salah. Kita harus tarik dia sebelum tenggelam.”

“Saya akan coba, Pak.”

“Saya tahu kau bisa.” Pak Jajang menepuk pundak Junai. “Kau selalu punya cara untuk membuat orang tenang. Pakai itu untuk Darto.”

Pak Jajang menyalakan motornya. Mesin tua itu menggerung-gerung sebentar, lalu akhirnya menyala. Ia melambai, lalu perlahan menghilang di tikungan jalan.

Junai berdiri di depan pagar rumahnya, memandang ke arah kanal yang tidak terlihat dari sini. Angin malam membawa bau anyir yang samar—sisa dari pencemaran yang mungkin akan membawa malapetaka besar.

Ia masuk ke rumah, menyalakan lampu minyak tanah, dan duduk di beranda. Termos teh yang tadi disiapkan untuk mancing malam, masih penuh. Ia menuang segelas untuk dirinya sendiri, tapi tidak diminum. Teh itu dibiarkan hangat di tangannya, sebagai pengingat bahwa malam ini ada rencana yang gagal, ada harapan yang rusak.

Junai teringat pada Darto. Mereka dulu berteman akrab ketika kecil. Sering bermain bersama di tepi kanal, mencari kecebong, mengejar capung, belajar memancing dari Pak Jajang. Darto selalu lebih cepat marah, lebih mudah frustasi, lebih gampang menyerah. Tapi ia juga anak yang baik—sering berbagi umpan, tidak pernah pelit, selalu bersedia membantu.

Lalu apa yang berubah?

Junai tidak tahu. Tapi ia tahu satu hal: besok pagi, ia akan mencari tahu.

Di kejauhan, dari arah selatan, terdengar suara sepeda motor. Bukan satu, tapi dua. Suara itu berhenti di dekat pintu air—tempat yang sama dengan yang disebut Pak Jajang tadi. Setelah beberapa menit, suara itu menghilang, digantikan oleh keheningan yang mencekam.

Junai memejamkan mata. Besok akan menjadi hari yang panjang.

Junai tidak bisa tidur semalaman. Ia berbaring di dipan bambunya, mata terbuka, mendengarkan suara jangkrik yang lambat laun berhenti satu per satu seiring datangnya fajar. Ketika ayam jago mulai berkokok, ia sudah bangun dan duduk di beranda, memandang ke arah timur yang mulai memerah.

Pukul setengah enam, ia sudah berada di tepi kanal.

Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas air—seperti biasa. Tapi ada yang berbeda. Kabut itu tidak segar dan putih seperti biasanya. Kabut itu keabu-abuan, seperti campuran asap dan uap air. Dan baunya... bau anyir itu masih ada, meski tidak sekuat semalam.

Junai berjalan menyusuri tepi kanal ke arah selatan. Setiap beberapa puluh meter, ia berhenti, melihat ke air, mencium udara. Warnanya masih keruh kehijauan. Lapisan minyak di permukaan masih ada, meski sudah tidak selebar semalam. Di beberapa tempat, ia melihat gelembung-gelembung kecil naik dari dasar—tanda ada reaksi kimia yang masih berlangsung.

Di dekat pintu air, ia menemukan sesuatu.

Sisa-sisa botol plastik. Beberapa botol air mineral ukuran 1,5 liter, sudah disobek labelnya. Dua kantong plastik hitam, robek, berisi sisa-sisa bubuk putih yang tidak dikenal. Dan yang paling mencurigakan: sebuah jeriken plastik biru berukuran 5 liter, setengah kosong, dengan tutup yang sudah terbuka.

Junai tidak menyentuh apapun. Ia mengambil ponselnya—ponsel jadul dengan kamera seadanya—dan memotret semuanya dari beberapa sudut. Jeriken biru itu ia foto bolak-balik, termasuk bagian bawah yang mungkin masih ada bekas sidik jari.

Ia juga menemukan jejak sepatu di tanah berlumpur. Jejak itu besar, dengan pola tapak yang khas—sepatu lapangan dengan sol kasar. Bukan sepatu yang biasa dipakai warga desa. Warga desa biasanya memakai sandal jepit atau sepatu karet.

“Orang kota,” gumam Junai.

Tapi di samping jejak sepatu besar itu, ada jejak lain. Lebih kecil, lebih dangkal. Jejak sandal jepit. Dan di sampingnya, bekas roda gerobak—atau mungkin gerobak dorong yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil panen ikan.

Junai memotret jejak itu juga.

Ia berdiri, memandang ke arah desa. Dari sini, ia bisa melihat rumah-rumah warga, termasuk rumah Darto yang terletak di ujung barat, agak terpisah dari yang lain.

“Darto,” bisiknya. “Apa yang kau lakukan?”

Suara sepeda motor matic terdengar dari kejauhan. Rini datang dengan helm yang selalu ia pakai meski jarak dari rumahnya ke kanal hanya lima menit. Ia membawa tas ransel besar berisi peralatan: botol sampel kosong, alat pengukur pH sederhana, termometer, dan buku catatan.

“Jun! Kamu sudah di sini dari tadi?” Rini terkejut melihat Junai sudah berada di dekat pintu air.

“Dari subuh. Saya tidak bisa tidur.”

Rini memarkir motornya, lalu berjalan mendekat. Ia melihat botol-botol dan jeriken biru yang difoto Junai. Matanya melebar.

“Ini... ini barang bukti,” katanya.

“Iya. Saya sudah foto semua. Jangan sentuh dulu. Nanti kalau perlu, kita laporkan ke polisi atau dinas lingkungan, mereka mungkin mau ambil sidik jari.”

Rini mengeluarkan sarung tangan karet dari tasnya—ia selalu membawa itu untuk mengambil sampel air. Dengan hati-hati, ia memungut jeriken biru itu, memeriksa bagian bawah dan tutupnya.

“Masih ada sisa cairan di dalam,” katanya. “Bau amonia sangat kuat. Ini pestisida, Jun. Saya hampir yakin.”

“Organofosfat?”

“Mungkin. Atau karbamat. Keduanya sama-sama mematikan bagi ikan. Dalam dosis kecil saja bisa memicu kematian massal.”

Rini mengambil sampel cairan dari jeriken itu dengan pipet kecil yang ia bawa, memasukkannya ke botol sampel khusus, lalu memberi label: “Pintu air, jeriken biru, sisa cairan, 06.15.”

“Rini,” Junai memanggil. “Lihat ini.”

Ia menunjukkan jejak sandal jepit di samping jejak sepatu besar.

“Jejak sandal jepit,” Rini mengamati. “Ukurannya tidak terlalu besar. Mungkin laki-laki, tapi tidak sebesar jejak sepatu itu. Dan ini...” ia menunjuk bekas roda, “gerobak dorong. Biasanya dipakai untuk mengangkut ikan dalam jumlah banyak.”

“Siapa yang pakai gerobak dorong di desa ini?” tanya Junai.

Mereka berpikir. Gerobak dorong biasanya dipakai oleh petani sawit untuk mengangkut buah panen. Atau... oleh Darto. Darto memiliki gerobak dorong kecil yang biasa ia gunakan untuk mengangkut peralatan memancingnya ketika ia ingin pindah ke spot yang jauh.

“Kita tidak bisa langsung menyimpulkan,” Junai akhirnya berkata. “Tapi ini semakin mengarah ke... seseorang.”

“Kita harus tanya Darto,” Rini tegas. “Tapi bukan dengan emosi. Kita tanya baik-baik. Kalau dia tidak bersalah, dia akan bisa menjelaskan.”

“Setuju. Tapi tidak sekarang. Kita kumpulkan bukti dulu. Nanti siang, setelah semua orang bangun, kita ajak bicara.”

Pukul tujuh pagi, warga desa mulai berdatangan ke kanal—seperti biasa setiap pagi. Tapi hari ini, mereka tidak datang dengan semangat seperti biasanya. Mereka datang dengan wajah-wajah cemas, karena kabar tentang pencemaran kanal sudah menyebar dari mulut ke mulut.

Jarot—pemancing yang selalu gagal dapat ikan besar tapi paling ramah—datang dengan wajah pucat. “Benarkah? Kanal kena racun?”

Junai mengangguk. “Iya, Jarot. Lihat sendiri.”

Jarot melihat air yang keruh kehijauan, mencium bau anyir, dan langsung membuang muka. “Ini kejam. Siapa yang tega?”

“Kita belum tahu. Tapi kita akan cari tahu.”

Dulah—pemuda yang lebih suka mancing malam—datang dengan wajah kusam, tanda ia baru bangun. Begitu melihat kondisi kanal, ia langsung membanting jorannya ke tanah.

“Sial! Semalam saya mau mancing di sini, tapi saya urungkan karena kehujanan. Kalau saya datang, mungkin saya lihat siapa pelakunya!”

“Kamu tidur jam berapa semalam, Dulah?” tanya Junai.

“Jam sembilan. Tadi malam hujan gerimis sekitar jam delapan, jadi saya batal mancing.”

“Hujan jam delapan?” Junai mengernyit. “Saya tidak ingat ada hujan semalam.”

“Iya, cuma gerimis sebentar. Mungkin cuma di daerah selatan. Di sini tidak hujan?”

Junai menggeleng. Ia menatap ke arah selatan. Jika hujan hanya di selatan, itu berarti... pelaku mungkin memanfaatkan hujan untuk menutupi jejak mereka.

Aceng—pemancing yang terkenal sebagai tukang ngibul—datang dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. “Saya dengar dari Mang Ujang, kanal diracun. Saya nggak percaya. Tapi setelah lihat sendiri...” Ia menggeleng-geleng kepala. “Ini pertama kali dalam sepuluh tahun terakhir.”

“Dulu pernah kejadian seperti ini, kata Pak Jajang,” kata Junai.

“Iya, dulu waktu saya masih kecil. Kanal mati tiga tahun. Baru pulih perlahan-lahan. Sekarang kejadian lagi,” Aceng mengenang.

Satu per satu warga berkumpul di tepi kanal. Ada yang marah, ada yang sedih, ada yang frustasi. Suasana memanas. Beberapa warga mulai saling tuduh.

“Pasti orang kota itu!” teriak seorang warga bernama Karto, petani sawit yang rumahnya paling dekat dengan kanal. “Mereka sering datang bawa botol-botol aneh. Saya lihat sendiri!”

“Bisa juga warga sini!” sahut warga lain. “Mungkin ada yang iri karena tidak dapat ikan, lalu pakai cara instan!”

“Jangan asal tuduh!” yang lain membela.

Junai berdiri di tengah, mencoba menenangkan. “Warga sekalian, saya mengerti kemarahan Bapak-Ibu. Saya juga marah. Tapi marah-marah tidak akan menemukan pelaku. Mari kita kumpulkan bukti dulu. Rini sudah mengambil sampel air. Saya sudah foto barang bukti di pintu air. Kita lapor ke dinas lingkungan. Tapi kita juga harus menjaga keamanan desa kita. Jangan sampai kita saling tuduh dan berkelahi.”

“Junai benar,” Pak Jajang datang dari arah desa. Ia berjalan perlahan, dituntun oleh istrinya, Bu Lastri, yang jarang ikut ke kanal. “Saya sudah mengalami kejadian ini dua kali. Kalau kita saling tuduh, kita yang rugi. Pelaku malah senang karena kita sibuk berkelahi.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya Karto.

“Kita jaga kanal. Kita buat jadwal ronda malam. Kita pantau siapa saja yang datang ke kanal di luar jam biasa. Kita catat. Dan kita kumpulkan bukti.”

“Setuju!” seru beberapa warga.

“Tapi kita juga harus mencari tahu siapa pelakunya,” kata Dadang yang datang bersama Asep dan Toha. Wajahnya masih merah menahan marah. “Saya tidak akan diam kalau kanal kita dirusak.”

“Kita cari tahu, Dadang. Tapi dengan cara yang benar,” Junai menegaskan.

Di tengah keramaian itu, Darto muncul dari arah barat. Ia berjalan santai, joran di tangan kanan, ember di tangan kiri. Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Seperti tidak terjadi apa-apa.

“Pagi,” sapa Darto singkat ketika melewati kerumunan.

Beberapa warga menatapnya dengan tatapan curiga. Dadang hampir melangkah maju, tapi Asep menahannya.

“Darto,” panggil Junai.

Darto berhenti. Ia menoleh, matanya bertemu dengan mata Junai. Untuk beberapa detik, mereka saling menatap. Junai melihat ada sesuatu di mata Darto—bukan rasa bersalah, tapi lebih seperti kelelahan. Kelelahan orang yang membawa beban berat.

“Ada apa, Jun?” tanya Darto datar.

“Kamu lihat kanal? Sudah tercemar.”

Darto memandang ke arah air. Wajahnya masih datar. “Iya. Saya lihat tadi pagi dari rumah. Airnya berubah.”

“Kamu tahu siapa yang melakukan?”

Darto tidak menjawab segera. Ia menunduk, memandangi ember kosong di tangannya. Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajah.

“Tidak tahu,” jawabnya.

Dadang yang mendengar itu, tidak bisa menahan diri. “Tidak tahu? Tadi siang kamu ke selatan, Rini lihat! Kamu bawa ransel besar! Tanpa joran! Kamu ke sana ngapain?”

Darto menoleh ke arah Dadang. Matanya sedikit menyipit. “Urusan saya.”

“Urusan kamu? Kanal ini urusan kita semua, Darto!” Dadang melangkah maju. Asep dan Toha ikut maju, siap menahan jika Dadang meluap.

“Dadang, tenang,” Junai berdiri di antara Dadang dan Darto. “Kita tanya baik-baik.”

Ia menatap Darto. “Darto, kemarin siang kamu ke selatan. Rini lihat kamu bawa ransel besar. Kamu tidak membawa joran. Lalu malam hari, kanal tercemar. Dan pagi ini, di pintu air, ada jeriken bekas pestisida dan jejak sandal jepit. Ukurannya mirip dengan sepatu yang kamu pakai.”

Darto menunduk, melihat sandal jepit yang ia pakai. Ia tidak menjawab.

“Darto, saya tidak menuduh,” Junai melanjutkan. “Saya hanya ingin tahu. Kalau kamu tidak bersalah, jelaskan. Kita akan percaya. Tapi kalau kamu menyembunyikan sesuatu... itu akan semakin berat.”

Darto mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca. Ia memandang Junai, lalu ke Dadang yang masih marah, ke Rini yang menatapnya dengan prihatin, ke Pak Jajang yang diam tapi matanya tajam.

“Saya... saya tidak melakukan itu,” kata Darto akhirnya. Suaranya bergetar. “Saya ke selatan kemarin... untuk bertemu dengan mereka. Dua orang kota itu.”

Semua terdiam.

“Saya ingin beli umpan dari mereka. Umpan kimia. Mereka bilang ampuh. Saya... saya ingin menang. Saya ingin buktikan kalau saya bisa dapat lebih banyak dari Junai.”

“Darto...” Junai menghela napas.

“Tapi saya tidak jadi beli!” Darto cepat-cepat menambahkan. “Saya lihat umpan mereka. Baunya... tidak alami. Sangat kimia. Saya ingat kata Pak Jajang, umpan kimia bisa merusak kanal. Saya... saya urungkan niat. Saya pulang tanpa membeli apa-apa.”

“Tapi kenapa kamu tidak bilang dari tadi?” tanya Rini.

“Karena saya malu!” Darto hampir berteriak. “Saya malu kalau kalian tahu saya mau beli umpan kimia. Saya malu kalau kalian tahu saya selama ini iri pada Junai. Saya malu kalau kalian tahu saya... saya kalah.”

Dadang yang tadinya marah, kini sedikit melunak. Ia tidak menyangka Darto sejujur itu mengaku.

“Darto, kalau kamu tidak membeli umpan itu, lalu siapa yang meracuni kanal?” tanya Junai.

Darto menghela napas panjang. “Mereka. Dua orang kota itu. Mereka bilang, malam ini mereka akan 'panen besar'. Saya tidak tahu maksudnya. Tapi setelah lihat kanal pagi ini... saya baru paham.”

“Kamu tahu mereka di mana?” tanya Pak Jajang tiba-tiba.

Darto mengangguk. “Mereka menginap di losmen dekat pasar. Tapi tadi malam, setelah kejadian, saya dengar mereka sudah pulang ke kota. Mereka membawa banyak ikan. Tas pendingin mereka penuh. Mungkin ratusan kilo.”

“Ratusan kilo?” Karto terbelalak.

“Iya. Mereka pakai jaring besar. Ikan-ikan mati naik ke permukaan, mereka tinggal serok. Dalam waktu satu jam, mereka dapat banyak sekali.”

“Kenapa kamu tidak melapor?” tanya Dadang.

“Karena saya takut,” Darto menjawab jujur. “Saya takut kalau saya lapor, saya juga ikut terseret. Saya sempat bertemu mereka. Saya sempat tawar-menawar harga umpan. Itu sudah cukup untuk membuat saya tersangka.”

“Tapi kamu tidak membeli,” kata Junai.

“Tapi tidak ada yang tahu selain saya dan mereka. Dan mereka tidak akan mengaku. Mereka akan bilang saya yang meracuni. Saya yang beli pestisida. Saya yang punya jeriken biru itu.”

“Jeriken biru itu punya mereka?” tanya Rini.

Darto mengangguk. “Mereka bawa dua jeriken. Satu mereka pakai semalam. Satu lagi mungkin masih mereka bawa pulang.”

Suasana hening. Warga saling berpandangan.

Junai akhirnya berkata, “Darto, terima kasih sudah jujur. Kamu melakukan kesalahan dengan berniat beli umpan kimia. Tapi kamu juga melakukan hal yang benar dengan membatalkannya. Dan sekarang kamu sudah memberitahu kami siapa pelakunya. Itu keberanian.”

“Tapi saya tidak punya bukti,” kata Darto lesu.

“Kamu adalah saksi. Itu sudah cukup untuk memulai,” kata Rini. “Kita punya sampel air, jeriken bekas, jejak sepatu, dan kamu sebagai saksi yang melihat mereka membawa pestisida. Itu cukup untuk laporan ke polisi.”

“Apakah polisi akan percaya pada saya?” Darto ragu.

“Kita akan percaya pada kamu,” kata Junai. “Dan kita akan mendampingi kamu.”

Pak Jajang mengangguk. “Darto, anak muda. Kesalahan bukan akhir dari segalanya. Yang penting adalah kau mau memperbaiki. Hari ini kau sudah menunjukkan keberanian. Itu lebih berharga daripada seribu ekor ikan.”

Darto menunduk. Air matanya jatuh ke tanah.

Dadang yang sedari tadi diam, akhirnya mendekati Darto. Ia menepuk pundak Darto dengan kasar—khas Dadang.

“Hei, jangan nangis. Nanti kelihatan cengeng,” kata Dadang, meskipun matanya sendiri mulai berkaca-kaca.

Darto tersenyum pahit. “Maafkan saya, semua. Saya hampir melakukan kesalahan besar.”

“Kamu sudah melakukan yang benar sekarang,” kata Junai. “Itu yang penting.”

Mereka berkumpul di warung Ujang untuk mendiskusikan langkah selanjutnya. Ujang menyediakan kopi dan teh untuk semua, meskipun suasana tidak senyaman biasanya.

Rini membuka laporan singkat. “Berdasarkan sampel air yang saya ambil semalam dan pagi ini, kadar amonia dan fosfat sangat tinggi. Juga ada residu pestisida golongan organofosfat. Ini jelas pencemaran berat yang disengaja.”

“Kita harus lapor ke polisi,” kata Pak Jajang.

“Tapi Darto takut,” kata Asep.

“Darto akan kita dampingi,” Junai menegaskan. “Kita semua akan pergi ke kantor polisi bersama. Kalau perlu, kita bawa bukti-bukti dan saksi.”

“Saya juga punya foto-foto,” kata Junai. “Saya foto jeriken, botol-botol, dan jejak sepatu.”

“Saya punya sampel air yang sudah dilabel,” tambah Rini.

“Saya bisa jadi saksi,” kata Darto, meskipun suaranya masih gemetar. “Saya lihat mereka membawa jeriken biru itu. Saya dengar mereka bilang mau 'panen besar' malam itu.”

“Bagus. Itu cukup,” kata Rini.

“Tapi kita harus cepat,” Ujang mengingatkan. “Mereka sudah pulang ke kota. Kalau kita lambat, bukti-bukti bisa hilang. Mereka bisa menghilangkan jejak.”

“Hari ini juga kita ke polisi,” kata Junai.

Mereka bersepakat. Setelah sarapan sederhana di warung Ujang, rombongan kecil—Junai, Rini, Darto, dan Pak Jajang—bersiap berangkat ke kantor polisi kecamatan. Dadang, Asep, Toha, dan Ujang akan menjaga desa dan memantau kanal.

Sebelum berangkat, Junai berjalan ke tepi kanal sekali lagi. Airnya masih keruh, masih berbau anyir. Tapi di kejauhan, di permukaan air, ia melihat sesuatu—riak kecil, sangat kecil, hampir tidak terlihat. Mungkin seekor ikan kecil yang selamat, berenang mencari udara bersih.

“Kanal ini masih hidup,” bisik Junai pada dirinya sendiri. “Dan kita akan membuatnya hidup kembali.”

Ia berbalik, bergabung dengan rombongan yang sudah menunggu. Hari itu, mereka akan memulai perjalanan panjang—bukan hanya untuk mencari keadilan, tapi juga untuk menyelamatkan kanal yang telah menjadi bagian dari jiwa mereka.


BAB 4: Titik Emas dan Titik Kosong

Tiga hari telah berlalu sejak malam ketika kanal ditemukan tercemar. Tiga hari yang terasa seperti tiga bulan bagi warga Desa Awan Biru. Tiga hari yang penuh dengan kecemasan, frustasi, dan harapan yang perlahan mulai luntur.

Setelah laporan ke polisi kecamatan, petugas datang untuk mengambil sampel air dan barang bukti. Mereka berjanji akan memproses laporan tersebut dan memanggil dua orang kota yang diduga sebagai pelaku. Tapi tiga hari berlalu, belum ada kabar. Polisi mengatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung, bahwa mereka masih menunggu hasil uji laboratorium, bahwa proses membutuhkan waktu.

Sementara itu, kanal tetap tercemar.

Airnya masih keruh kehijauan, meskipun lapisan minyak di permukaan sudah mulai berkurang karena aliran air dari hulu. Tapi warna keruh itu masih ada, dan bau anyir masih tercium, terutama di pagi hari ketika udara masih dingin. Ikan-ikan yang dulu sering terlihat melompat di permukaan atau berenang di dekat akar-akar sawit, kini menghilang. Kanal terasa sunyi. Sunyi yang tidak biasa—bukan sunyi karena ketenangan, tapi sunyi karena kematian.

Junai datang ke kanal setiap pagi, seperti biasa. Ia tidak pernah absen, bahkan ketika hujan gerimis sekalipun. Tiga titik sudah ia coba dalam tiga hari: hari pertama di bawah jembatan—spot yang biasanya menjadi langganan ikan mas besar; hari kedua di tikungan dekat pohon karet tua—spot favorit para pemancing nila; hari ketiga di muara kecil tempat air sawit mengalir—spot yang menurut Pak Jajang kadang menjadi tempat berkumpulnya ikan-ikan kecil setelah hujan.

Hasilnya nihil. Nol. Tidak ada satu pun ikan yang menggigit.

Bukan karena umpannya salah. Junai sudah mencoba semua jenis umpan yang ia miliki: anak kodok untuk gabus, cacing untuk lele dan gabus, umpan fermentasi untuk mas dan nila, bahkan pelet pabrikan yang biasa dipakai Dadang. Pelampungnya mengapung tenang berjam-jam tanpa gerakan. Sesekali ada goyangan kecil—mungkin ikan kecil yang lewat, atau mungkin hanya daun yang tersangkut. Tapi tidak pernah ada tarikan yang sungguhan.

Junai tidak gelisah. Ia tahu, setelah pencemaran seperti ini, ikan-ikan butuh waktu untuk kembali. Beberapa mungkin mati, beberapa mungkin pergi ke hulu atau ke hilir mencari air yang lebih bersih. Tapi ia yakin, tidak semuanya mati. Ada yang bertahan, bersembunyi di tempat-tempat yang tidak terduga, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.

Pak Jajang juga datang setiap pagi, meskipun fisiknya tidak memungkinkan untuk duduk berjam-jam seperti dulu. Ia lebih banyak berdiri, berjalan perlahan di tepi kanal, mengamati air, sesekali membungkuk untuk melihat ke dalam. Matanya yang tajam—meski usianya sudah tujuh puluh dua tahun—masih mampu membaca tanda-tanda yang tidak terlihat oleh orang lain.

“Air mulai jernih di sini,” kata Pak Jajang suatu pagi sambil menunjuk ke arah selatan, di dekat pintu air. “Lihat, di dekat eceng gondok, airnya lebih terang. Ikan-ikan kecil mulai berani muncul.”

Junai menghampiri, melihat ke arah yang ditunjuk. Benar. Di sela-sela eceng gondok yang lebat, airnya memang lebih jernih dibandingkan bagian lain kanal. Ia bahkan bisa melihat dasar yang berlumpur, dengan beberapa ekor ikan kecil—mungkin wader atau sepat—berenang cepat menghindari bayangannya.

“Mereka bersembunyi di eceng gondok,” kata Junai.

“Iya. Eceng gondok itu pelindung alami. Akarnya yang lebat menjadi tempat persembunyian ikan-ikan kecil. Juga menjadi sumber makanan—banyak serangga kecil dan jentik-jentik yang hidup di antara akar-akarnya.”

“Tapi eceng gondok juga bisa menutupi permukaan, mengurangi oksigen di air,” Junai menambahkan.

“Benar. Itu kalau terlalu lebat. Tapi di sini, kepadatannya pas. Tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit. Ini titik yang menarik, Jun. Selama bertahun-tahun, tidak ada yang memancing di sini. Semua pemancing menghindari tempat ini karena airnya dangkal dan banyak eceng gondok. Tapi justru di situlah ikan-ikan kecil berlindung.”

Junai merenung. Pak Jajang benar. Selama ini, mereka—termasuk Junai sendiri—selalu mencari titik-titik yang dianggap “emas”: di bawah jembatan yang dalam dan teduh, di tikungan yang arusnya stabil, di dekat akar sawit yang menjuntai. Mereka mengabaikan titik-titik yang dianggap “kosong”—tempat yang dangkal, penuh eceng gondok, atau arusnya terlalu lambat. Padahal, di saat-saat krisis seperti ini, ikan-ikan tidak mencari tempat yang ideal. Mereka mencari tempat yang aman.

Pagi keempat, Junai mengambil keputusan.

“Hari ini saya coba di titik kosong,” kata Junai pada Pak Jajang ketika mereka bertemu di tepi kanal. Langit masih gelap, matahari belum terbit, hanya ada semburat jingga tipis di ufuk timur.

Pak Jajang yang sedang duduk di bangku kayu kecil yang dibawanya, mengernyit. “Titik kosong? Maksudmu di dekat pintu air yang dangkal itu?”

“Iya. Di mana banyak eceng gondok.”

“Tidak ada ikan di sana, Jun. Sudah saya buktikan puluhan kali. Dulu waktu saya masih muda, saya coba mancing di sana seminggu penuh. Hasilnya cuma beberapa ekor ikan kecil yang tidak layak konsumsi. Percuma.”

“Saya tahu, Pak. Tapi saya punya firasat.”

“Firasat?” Pak Jajang tersenyum tipis. “Kau bukan perempuan, Jun. Masa percaya firasat?”

Junai tersenyum balik. “Pak Jajang sendiri yang bilang, firasat orang tua biasanya benar. Saya masih muda, tapi kadang firasat juga datang.”

“Firasat apa?”

“Bahwa setelah pencemaran seperti ini, ikan-ikan akan mencari tempat yang paling aman. Bukan yang paling dalam atau paling banyak makanan, tapi yang paling tenang. Tempat yang tidak diganggu manusia. Titik kosong itu dangkal, arusnya lambat, dan ada banyak eceng gondok. Mungkin mereka bersembunyi di sana.”

Pak Jajang mengernyit, berpikir sejenak. Matanya yang tua dan berpengalaman itu memandang ke arah selatan, ke tempat di mana eceng gondok tumbuh subur menutupi permukaan kanal.

“Kau tahu, Jun,” Pak Jajang akhirnya berkata, “dulu kakek saya pernah bilang: 'Ikan itu seperti manusia. Mereka tidak suka keramaian. Mereka tidak suka kebisingan. Mereka suka tempat yang tenang, di mana mereka bisa berpikir dan berkembang biak dengan damai.' Titik kosong itu memang tidak pernah ramai pemancing. Mungkin ikan-ikan sudah terbiasa di sana.”

“Itulah yang saya pikirkan, Pak.”

“Baik,” Pak Jajang berdiri, membetulkan capingnya yang semiring. “Saya ikut. Saya penasaran. Sudah lama saya tidak mancing di titik kosong. Mungkin lima belas tahun yang lalu terakhir kali saya coba. Waktu itu saya dapat beberapa ekor sepat dan wader, tapi saya lepas semua.”

“Kenapa dilepas, Pak?”

“Karena mereka masih kecil. Dan karena saya tidak butuh ikan saat itu. Saya hanya ingin duduk di tepi air, mendengarkan suara alam, dan melupakan sejenak sakit pinggang saya.”

Junai tertawa kecil. “Saya juga begitu, Pak. Kadang mancing bukan karena butuh ikan. Tapi karena butuh ketenangan.”

“Kau sudah paham, Jun. Itu yang membedakan kau dengan pemancing lain. Mereka memancing karena ingin hasil. Kau memancing karena ingin proses.”

Mereka berdua berjalan ke selatan, meninggalkan spot-spot yang biasa dipakai pemancing lain. Dadang yang sedang duduk di bawah jembatan melihat mereka berjalan dan bertanya, “Jun, Pak Jajang, mau ke mana?”

“Ke titik kosong,” jawab Junai.

“Titik kosong? Di pintu air? Tidak ada ikan di sana!” Dadang berteriak.

“Kita lihat nanti,” Junai melambai.

Dadang menggeleng-geleng kepala, tidak percaya. Tapi ia tidak mengikuti. Ia lebih percaya pada spot di bawah jembatan yang sudah terbukti menghasilkan ikan-ikan besar, meskipun selama tiga hari terakhir spot itu tidak menghasilkan apa-apa.

Titik kosong itu letaknya sekitar seratus meter di selatan jembatan. Di sinilah kanal melebar—hampir dua kali lipat lebar biasanya—dan menjadi lebih dangkal. Kedalaman air di sini hanya sekitar setengah meter di musim kemarau, dan mungkin satu meter di musim hujan. Karena dangkal, sinar matahari bisa menembus hingga ke dasar, menciptakan lingkungan yang hangat dan terang.

Tapi yang paling mencolok dari titik ini adalah eceng gondok. Tanaman air dengan daun bundar berwarna hijau tua dan bunga berwarna ungu itu tumbuh subur di sini, menutupi hampir separuh permukaan air. Akar-akarnya yang lebat menjuntai ke dalam air, menciptakan hutan kecil di bawah permukaan—tempat yang sempurna bagi ikan-ikan kecil untuk bersembunyi dari predator.

Junai memilih tempat di tepi barat, di mana ada celah alami di antara rumpun eceng gondok. Di celah itu, air tampak lebih jernih dibandingkan titik-titik lain di kanal. Ia bisa melihat dasar yang berlumpur, dengan beberapa ekor ikan kecil—mungkin wader atau sepat—berenang cepat menghindari bayangannya.

Pak Jajang memilih tempat tidak jauh dari Junai, lebih dekat ke akar-akar sawit yang menjuntai dari tepi seberang. Akar-akar itu berwarna coklat kemerahan, bergelantungan seperti rambut raksasa, dan ujung-ujungnya terendam air. Di antara akar-akar itulah biasanya ikan gabus dan lele bersembunyi.

Junai mengeluarkan toples plastik berisi anak kodok. Dari sepuluh ekor yang ia bawa, delapan masih hidup dan gesit melompat-lompat. Dua ekor sudah mati karena terlalu lama di dalam toples—ia akan membuangnya nanti, atau mungkin memberikannya pada Dadang untuk umpan lele.

Ia memilih satu anak kodok yang masih sangat aktif. Dengan gerakan lambat dan penuh perhatian, ia memegang kodok itu di antara jari telunjuk dan jempol. Kodok itu melompat-lompat kecil, mencoba melepaskan diri, tapi Junai memegangnya dengan lembut, tidak terlalu keras untuk melukai, tapi cukup kuat untuk mengontrol.

Dengan kail ukuran enam—sedang, tidak terlalu besar untuk kodok kecil, tidak terlalu kecil untuk gabus—ia menusuk bagian punggung kodok itu. Tusukan yang dangkal, tepat di bawah kulit, tidak menyentuh tulang belakang atau organ vital. Kodok itu menggelepar sebentar, lalu diam—bukan mati, tapi beradaptasi dengan rasa sakit yang minimal.

“Lihat, Pak,” Junai menunjukkan kepada Pak Jajang. “Tusuk di punggung, dangkal. Biarkan kakinya bebas bergerak. Di air, dia akan berenang seperti biasa.”

“Bagus,” Pak Jajang mengangguk. “Dulu saya pasang di mulut, tapi kodoknya cepat mati. Cara kamu lebih baik.”

Junai melempar umpannya ke celah eceng gondok. Anak kodok itu mendarat di permukaan air dengan percikan kecil, lalu mulai berenang dengan gerakan-gerakan pendek. Kakinya yang masih bebas mengayuh air, sesekali menyelam sebentar lalu muncul lagi. Pelampung kecil dari gabus bekas sandal jepit mengapung tenang beberapa sentimeter di belakangnya.

Pak Jajang memilih umpan cacing. Ia mengeluarkan kaleng bekas susu berisi tanah basah dan puluhan cacing tanah yang gemuk-gemuk. Dengan jari-jari yang sudah keriput dan sedikit kaku karena usia, ia memilih tiga ekor cacing, merangkainya di kail dengan cara yang unik—cacing pertama ditusuk di kepala, cacing kedua di tengah, cacing ketiga di ekor, sehingga ketiganya bergerak-gerak seperti ular kecil di ujung kail.

“Ini rahasia lama, Jun,” kata Pak Jajang sambil menunjukkan rangkaian cacingnya. “Tiga cacing sekaligus. Bau lebih kuat, gerakan lebih menarik. Ikan lele dan gabus suka.”

“Saya belum pernah coba tiga cacing sekaligus,” Junai mengaku.

“Coba nanti. Tapi hati-hati, kalau kailnya terlalu kecil, cacing bisa lepas. Pakai kail nomor empat atau lima.”

Pak Jajang melempar umpannya ke dekat akar sawit yang menjuntai. Rangkaian cacing itu jatuh ke air dengan percikan kecil, lalu perlahan tenggelam ke dasar. Pelampung Pak Jajang—dari potongan gabus yang lebih besar—mengapung tenang di permukaan.

Mereka menunggu.

Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit. Tidak ada gerakan. Pelampung Junai mengapung tenang, anak kodoknya sudah berenang ke sela-sela eceng gondok, kadang muncul kadang tenggelam. Pelampung Pak Jajang juga diam, rangkaian cacingnya mungkin sudah sampai di dasar, menunggu seekor lele atau gabus yang lapar.

Pak Jajang mengeluarkan rokok dari saku bajunya—rokok krebu dengan tembakau lokal yang ia gulung sendiri. Ia menyalakannya dengan korek api gas, menarik asap dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Asap rokok bercampur dengan kabut pagi, menciptakan kabut tipis yang bergoyang di atas air.

“Jun,” Pak Jajang memanggil pelan.

“Iya, Pak?”

“Kau tahu kenapa tempat ini disebut titik kosong?”

“Karena tidak pernah ada ikan besar di sini. Hanya ikan-ikan kecil yang tidak layak konsumsi.”

“Itu yang orang bilang. Tapi menurut saya, bukan karena tidak ada ikan besar. Tapi karena tidak ada pemancing yang sabar menunggu di sini. Semua orang ingin instan. Mereka pergi ke titik emas, melempar umpan, berharap dalam lima menit dapat ikan. Kalau tidak dapat, mereka pindah. Tidak ada yang mau bertahan di titik kosong.”

“Jadi titik kosong itu sebenarnya bukan kosong?”

“Tidak ada titik yang benar-benar kosong, Jun. Selama ada air, selama ada kehidupan, pasti ada ikan. Mungkin tidak banyak. Mungkin tidak besar. Tapi mereka ada. Mereka bersembunyi, menunggu waktu yang tepat. Dan mereka akan muncul ketika mereka merasa aman.”

Junai merenung. “Sama seperti manusia, Pak. Kita juga punya titik kosong dalam hidup kita. Titik di mana kita merasa tidak berarti, tidak dianggap, tidak berguna. Tapi sebenarnya di titik itulah kita belajar menjadi kuat. Di titik itulah kita menemukan siapa diri kita sebenarnya.”

Pak Jajang menatap Junai dengan mata bangga. “Kau tidak hanya pintar memancing, Jun. Kau juga pintar membaca kehidupan. Itu yang membuatmu berbeda.”

“Saya belajar dari Bapak, Pak. Dan dari kanal ini.”

Mereka terdiam lagi. Suara burung-burung mulai terdengar dari kejauhan, menyambut matahari yang perlahan naik. Angin pagi bertiup lembut, membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit—bau yang sudah sangat familiar bagi mereka.

Tiba-tiba, pelampung Junai bergerak.

Bukan tarikan kuat, tapi goyangan kecil naik-turun. Gerakan yang tidak biasa—tidak seperti ikan besar yang langsung menenggelamkan pelampung, tapi juga tidak seperti ikan kecil yang menggigit-gigit tanpa sungguh-sungguh. Ini adalah gerakan yang hati-hati, seperti ikan yang sedang mengamati umpan sebelum memutuskan untuk memakannya.

Junai tidak bergerak. Ia membiarkan tangannya tetap santai di joran, matanya fokus pada pelampung yang terus bergoyang.

“Jangan buru-buru,” bisik Pak Jajang dari samping.

“Saya tahu, Pak.”

Pelampung bergoyang lagi. Kali ini lebih kuat. Kemudian—srek! Pelampung tenggelam tiba-tiba, senar menegang, joran Junai melengkung hampir setengah lingkaran.

Tapi Junai tidak langsung menarik. Ia membiarkan ikan itu berenang dulu, membiarkannya memakan umpan dengan nyaman. Ia memberi sedikit kendor pada senar, membiarkan ikan bergerak ke arah eceng gondok. Kemudian, ketika ia merasa ikan sudah cukup dalam, ia menarik perlahan.

Tarikan pertama. Ikan itu melawan, berputar-putar, mencoba mencari akar eceng gondok untuk bersembunyi. Tapi Junai sudah mengantisipasi. Ia mengarahkan tarikannya ke tengah kanal, menjauhkan ikan dari akar-akar yang bisa memotong senar.

Tarikan kedua. Ikan itu semakin kuat, tapi Junai tidak terburu-buru. Ia membiarkan ikan berenang sampai energinya terkuras, lalu menarik lagi. Proses ini diulang beberapa kali—tarik, kendor, tarik, kendor—seperti tarian lambat antara pemancing dan ikan.

Setelah beberapa menit, seekor ikan gabus kecil muncul di permukaan. Panjangnya hanya sekitar dua puluh sentimeter, seukuran telapak tangan orang dewasa. Tubuhnya loreng hitam kehijauan, matanya bulat tajam, mulutnya yang lebar menganga karena kail masih tertancap di punggung.

Junai mengangkat ikan itu ke tepi dengan hati-hati. Ia menggunakan kain basah untuk memegang ikan—agar tidak merusak lapisan lendir pelindung tubuhnya—lalu dengan alat pelepasan kail yang selalu ia bawa, ia melepaskan kail dari punggung gabus kecil itu.

“Kecil,” kata Pak Jajang. “Lepas?”

“Lepas,” Junai mengangguk. “Masih kecil. Biar besar dulu.”

Ia menurunkan gabus itu ke air perlahan, membiarkannya berenang kembali ke celah eceng gondok. Ikan itu sempat berhenti sebentar, seperti berterima kasih, lalu menghilang di antara akar-akar eceng gondok.

“Kenapa dilepas?” tanya Pak Jajang, meskipun ia sudah tahu jawabannya.

“Masih kecil, Pak. Belum layak konsumsi. Kalau saya bawa pulang, dagingnya sedikit, tulangnya banyak. Lebih baik saya lepas, biar dia tumbuh besar. Nanti kalau sudah besar, baru saya tangkap lagi. Atau mungkin anak-anak saya nanti yang menangkap.”

Pak Jajang tersenyum lebar. Senyum yang jarang muncul dari wajah keriputnya. “Itulah bedanya kau dengan pemancing lain, Jun. Bukan hanya soal mendapat, tapi soal menjaga. Banyak pemancing yang kalau dapat ikan—besar atau kecil—langsung dibawa pulang. Mereka tidak berpikir tentang masa depan. Mereka hanya berpikir tentang perut mereka saat ini.”

“Ikan kecil adalah masa depan, Pak. Saya belajar itu dari Bapak.”

“Dan kau sudah mengamalkannya dengan baik.”

Tidak lama setelah Junai melepas gabus kecilnya, pelampung Pak Jajang bergerak. Tidak seperti pelampung Junai yang bergoyang-goyang lama, pelampung Pak Jajang langsung tenggelam tiba-tiba—tarikan kuat yang membuat joran bambu tua itu melengkung hampir membentuk huruf U.

“Wah!” Pak Jajang spontan berseru. Tangannya yang keriput dan sedikit gemetar karena usia, tiba-tiba bergerak lincah. Ia membiarkan ikan itu berenang dulu, memberi kendor pada senar, lalu menarik perlahan.

Ikan itu melawan keras. Dari tarikannya, Junai bisa menebak bahwa ini bukan ikan kecil. Mungkin ikan mas berukuran sedang, atau mungkin gabus yang lebih besar dari yang ia dapat tadi.

“Kuat sekali, Pak!” Junai berseru.

“Iya. Ini pasti ikan mas. Lihat, dia muter-muter, bukan lari ke akar. Ikan mas biasanya begitu.”

Pak Jajang terus bermain dengan ikan itu. Tarik, kendor, tarik, kendor. Tangannya yang tua bergerak dengan ritme yang teratur—pengalaman puluhan tahun memancing tidak bisa dipalsukan. Meskipun fisiknya tidak lagi sekuat dulu, teknik dan kesabarannya masih sempurna.

Setelah beberapa menit, seekor ikan mas berukuran sedang muncul di permukaan. Warnanya keperakan dengan sisik-sisik besar yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Beratnya mungkin sekitar satu kilogram—cukup untuk dimakan sekeluarga.

Pak Jajang mengangkat ikan itu ke tepi dengan gerakan yang hati-hati. Ia tidak menggunakan kain basah seperti Junai, karena ikan mas memiliki sisik yang lebih keras dan tidak terlalu rentan terhadap kerusakan. Ia melepaskan kail dari mulut ikan dengan jari-jarinya yang cekatan, lalu memasukkannya ke dalam ember berisi air bersih yang sudah ia siapkan.

“Dapat satu,” kata Pak Jajang dengan senyum puas. “Cukup buat makan siang nanti. Istri saya sudah lama minta ikan mas. Katanya mau dimasak pepes.”

“Wah, ibu pasti senang, Pak.”

“Iya. Mudah-mudahan cukup satu. Kalau kurang, nanti beli tahu tempe di warung Ujang.”

Junai tertawa. Pak Jajang memang selalu sederhana dalam segala hal. Tidak pernah serakah, tidak pernah ambisius. Ia mengambil secukupnya, meninggalkan cukup untuk alam.

Junai memasang umpan lagi. Kali ini ia memilih anak kodok yang lebih besar—sedikit lebih besar dari yang tadi, tapi masih dalam ukuran yang wajar untuk gabus ukuran sedang. Ia melempar ke celah eceng gondok yang sama, di mana tadi ia melepas gabus kecil.

“Kenapa di tempat yang sama?” tanya Pak Jajang.

“Ikan gabus teritorial, Pak. Mereka punya daerah kekuasaan sendiri. Tadi saya lepas gabus kecil di sini, mungkin ada gabus yang lebih besar di daerah ini juga. Atau mungkin gabus tadi kembali lagi karena dia merasa aman di sini.”

“Pintar. Kau belajar dari mana itu?”

“Dari Bapak. Waktu kecil, Bapak pernah cerita tentang gabus yang selalu kembali ke tempat yang sama meskipun sudah ditangkap. Mereka punya ingatan yang bagus tentang daerah kekuasaannya.”

“Benar. Saya pernah dapat gabus yang sama dua kali dalam seminggu. Dia kembali ke spot yang sama, pakai umpan yang sama. Kali kedua saya lepas, karena saya kasihan.”

Junai tersenyum. Ia membayangkan Pak Jajang muda, duduk di tepi kanal yang sama, melepas ikan gabus yang sama dua kali. Itulah pelajaran yang tidak bisa didapat dari buku atau YouTube—hanya dari pengalaman dan kedekatan dengan alam.

Tidak sampai lima belas menit, pelampung Junai bergerak lagi. Pola yang sama: goyangan kecil, lalu tenggelam. Junai melakukan teknik yang sama: biarkan, kendor, tarik perlahan. Kali ini ikannya sedikit lebih besar dari yang pertama, tapi masih dalam ukuran kecil—sekitar dua puluh lima sentimeter.

Ia melepas kail, memandang ikan itu sebentar, lalu melepaskannya kembali ke air.

“Lagi dilepas?” tanya Pak Jajang.

“Masih kecil, Pak. Mungkin baru berusia beberapa bulan.”

“Bagus. Itu namanya investasi.”

Junai memasang umpan lagi. Anak kodok ketiga. Kali ini ia memilih kodok yang paling kecil—hampir seukuran ruas jari kelingking. Ia melempar ke celah eceng gondok yang sama.

Kali ini lebih cepat. Hanya sekitar lima menit, pelampung bergerak. Tarikannya lebih kuat dari yang pertama, tapi masih terasa seperti ikan kecil.

Tapi ketika Junai menarik, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ikan ini tidak melawan dengan cara berputar-putar seperti gabus. Ikan ini melawan dengan cara menyelam ke dasar, mencoba membenamkan diri di lumpur.

“Lele,” kata Pak Jajang dari samping. “Itu pasti lele. Mereka suka menyelam ke dasar kalau kena kail.”

Junai menarik perlahan, memberi sedikit kendor, lalu menarik lagi. Ikan itu terus menyelam, tapi Junai lebih sabar. Ia membiarkan ikan itu lelah sendiri, lalu perlahan-lahan mengangkatnya ke permukaan.

Lele berukuran sekitar tiga puluh sentimeter muncul. Tubuhnya licin kehitaman, dengan kumis panjang di sekitar mulutnya. Junai mengangkatnya ke tepi dengan hati-hati—lele memiliki duri tajam di siripnya yang bisa melukai tangan.

“Ini ukuran bagus,” kata Pak Jajang. “Layak bawa pulang.”

Junai mempertimbangkan. Lele ini memang cukup besar—mungkin setengah kilogram. Cukup untuk dimakan, meskipun tidak terlalu banyak dagingnya.

“Saya lepas,” kata Junai akhirnya.

“Lagi?” Pak Jajang terkejut. “Ini sudah cukup besar, Jun. Tidak usah dilepas.”

“Saya tidak butuh ikan hari ini, Pak. Ibu saya sedang tidak di rumah, pergi ke saudara di kota. Saya makan di warung Ujang saja. Lagipula, lele ini mungkin baru satu-satunya yang selamat di daerah ini. Biar dia berkembang biak dulu.”

Pak Jajang menggeleng-geleng kepala, tapi senyumnya tidak hilang. “Kau ini, Jun. Pemancing paling aneh yang pernah saya temui. Dapat ikan dilepas terus.”

“Bukan aneh, Pak. Saya hanya berpikir jangka panjang. Kalau saya ambil semua ikan kecil, nanti tidak ada ikan besar. Kalau saya ambil semua lele, nanti tidak ada anak lele. Lebih baik saya simpan di kanal, biar dia tumbuh, biar dia punya anak, biar anak-anaknya nanti bisa saya tangkap.”

“Atau orang lain yang menangkap,” Pak Jajang menambahkan.

“Itu juga tidak masalah, Pak. Yang penting kanal ini tetap hidup. Yang penting ikan-ikan tetap ada.”

Junai melepaskan lele itu ke air. Ikan itu berenang cepat ke dasar, menghilang di antara lumpur dan akar eceng gondok.

Kabar bahwa Junai mendapatkan ikan di titik kosong menyebar cepat di kalangan pemancing Desa Awan Biru. Dalam hitungan jam, berita itu sudah sampai ke telinga hampir semua orang yang rutin memancing di kanal.

Dadang yang mendengar dari Asep langsung tidak percaya. “Titik kosong? Di pintu air? Tidak mungkin. Di sana tidak ada ikan. Saya sudah coba berkali-kali.”

“Tapi kata Pak Jajang, Junai dapat tiga ekor,” Asep meyakinkan. “Dua gabus kecil dan satu lele. Dilepas semua katanya.”

“Dilepas? Gila dia. Dapat ikan dilepas,” Dadang geleng-geleng.

“Ya biar kecil katanya. Masih belum layak konsumsi.”

“Tapi setidaknya dia dapat. Saya di bawah jembatan tiga hari nol besar. Padahal spot ini biasanya paling bagus.”

“Itu karena kanal masih tercemar, Dadang. Ikan-ikan pada kabur. Mungkin mereka bersembunyi di titik kosong karena di sana lebih tenang.”

Dadang berpikir sejenak. “Kalau begitu, besok saya coba di titik kosong.”

“Saya juga,” Asep bersemangat. “Toha juga mau.”

Darto yang sedang duduk tidak jauh dari mereka, mendengar percakapan itu. Ia tidak ikut berkomentar, tapi wajahnya berubah. Selama tiga hari, ia juga tidak mendapatkan ikan satu pun—meskipun ia sudah mencoba di berbagai spot, termasuk spot yang biasanya ia klaim sebagai miliknya di bawah jembatan.

“Darto, mau ikut ke titik kosong besok?” Dadang menawarkan.

Darto tidak menjawab. Ia hanya mendengus, lalu berdiri dan pergi ke arah lain.

“Dia kenapa sih?” Asep heran.

“Mungkin masih malu-malu,” Dadang menebak. “Soal kemarin, kan, dia hampir beli umpan kimia. Mungkin dia merasa tidak enak sama Junai dan Pak Jajang.”

“Tapi kan sudah selesai. Dia sudah minta maaf. Junai sudah memaafkan.”

“Memaafkan itu gampang, Asep. Tapi melupakan itu susah. Darto mungkin masih belum bisa melupakan rasa malunya.”

Keesokan paginya, titik kosong yang biasanya sepi mendadak ramai. Dadang, Asep, dan Toha datang lebih pagi dari biasanya. Mereka membawa peralatan lengkap: joran, ember, umpan, bahkan kursi lipat untuk Toha.

Junai sudah lebih dulu tiba. Ia duduk di tempat yang sama seperti kemarin—di tepi barat, di celah eceng gondok yang terbuka. Pak Jajang tidak datang pagi itu; istrinya sedang sakit, dan ia harus menemani ke puskesmas.

“Jun! Kami ikut mancing di sini!” Dadang berseru semangat.

“Silakan. Tapi jangan terlalu berisik. Ikan di sini masih pemalu. Mereka baru mulai berani muncul setelah pencemaran,” Junai mengingatkan.

“Iya, iya. Saya tahu.”

Dadang memilih tempat tidak jauh dari Junai, di tepi yang sama. Asep memilih tempat di seberang, di mana eceng gondok tidak terlalu lebat. Toha memilih tempat di tengah—sebenarnya tidak ada tempat di tengah karena kanal tidak selebar itu, tapi ia berhasil menemukan gundukan tanah kecil yang menjorok ke air.

Mereka memasang umpan dan melempar ke air. Dadang memilih anak kodok—ia ingin mencoba keberuntungan seperti Junai. Asep memilih umpan fermentasi yang baru saja jadi—racikan dari Junai tiga hari lalu. Toha memilih jangkrik—umpan andalannya untuk nila.

Tidak sampai setengah jam, Dadang mendapat tarikan. Ia menarik dengan semangat, tapi yang muncul hanya ikan gabus kecil seukuran jari. Ia melepasnya dengan kecewa.

“Kecil amat,” gerutunya.

“Lepas aja. Nanti besar lagi,” kata Junai.

“Iya, aku lepas. Tapi kok bisa sih kamu kemarin dapat tiga ekor? Aku cuma dapat yang kecil begini.”

“Kesabaran, Dadang. Dan juga pemilihan spot yang tepat. Kamu terlalu dekat dengan eceng gondok. Coba mundur sedikit, lempar ke celah yang lebih terbuka.”

Dadang mengikuti saran Junai. Ia memundurkan posisinya sekitar satu meter, lalu melempar ke celah eceng gondok yang lebih lebar.

Sementara itu, Asep mendapat ikan nila kecil. Ia juga melepasnya karena belum layak konsumsi. Toha belum mendapat apa-apa.

Di tengah kesibukan mereka, Darto datang.

Ia berjalan perlahan dari arah desa, joran di tangan kanan, ember di tangan kiri. Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia tidak menyapa siapa pun, langsung duduk di tempat yang agak jauh dari kerumunan—di dekat akar sawit yang menjuntai, tempat Pak Jajang biasa duduk kemarin.

Junai melihat Darto dari kejauhan. Ia ingin menyapa, tapi memilih tidak. Mungkin Darto butuh waktu sendiri.

Darto memasang umpan—cacing tanah, dari kaleng bekas susu yang ia bawa. Ia melempar ke dekat akar sawit, lalu duduk diam. Jorannya ia tancapkan di tanah, tidak dipegang.

Beberapa menit berlalu. Pelampung Darto tidak bergerak.

Dadang yang melihat itu, berbisik pada Junai, “Darto kok di situ? Di sana nggak ada ikan. Tempat Pak Jajang kemarin dapat ikan mas, itu mungkin kebetulan.”

“Biarkan dia memilih tempatnya sendiri, Dadang. Mungkin dia punya alasan.”

“Atau mungkin dia hanya mau menyendiri.”

“Itu juga boleh.”

Darto terus duduk diam. Matanya tidak fokus pada pelampung, tapi ke arah air yang keruh. Pikirannya tampak jauh.

Setelah sekitar setengah jam, Darto mengganti umpan. Ia mengeluarkan toples plastik berisi anak kodok—sesuatu yang jarang ia lakukan, karena biasanya ia lebih suka pelet pabrikan atau cacing. Ia memasang anak kodok itu dengan cara yang kurang tepat—tusukan terlalu dalam, di bagian perut, membuat kodok itu mati seketika.

Junai melihat itu dari kejauhan. Ia ingin menegur, tapi Dadang lebih dulu bersuara.

“Darto, itu kodoknya mati. Nggak bakal dimakan gabus kalau mati. Mereka suka yang bergerak.”

Darto menoleh, wajahnya sedikit merah. “Saya tahu cara pasang kodok. Nggak perlu diajarin.”

“Tapi itu mati, To. Coba tusuk di punggung, dangkal aja.”

“Urusan saya!” Darto membentak.

Dadang mengangkat tangan, menyerah. “Ya sudah, terserah.”

Darto melempar umpannya dengan gerakan kasar. Anak kodok yang sudah mati itu jatuh di tengah-tengah rumpun eceng gondok yang paling rapat—bukan di celah, tapi tepat di tengah, di mana akar-akar eceng gondok paling lebat.

“Darto, jangan di sana,” Junai akhirnya bersuara. “Di tengah eceng gondok, kailmu akan tersangkut. Lempar di celah-celahnya, di mana ada rongga.”

Darto menoleh ke arah Junai. Matanya tajam, seperti sedang menahan amarah. “Kau pikir kau paling pintar, Jun? Semua orang bilang kau pemancing terbaik. Tapi lihat, selama tiga hari ini kau dapat berapa? Ikan kecil yang kau lepas semua. Itu bukan hasil. Itu cuma... cuma buang-buang waktu.”

“Hasil bukan segalanya, Darto,” Junai menjawab dengan tenang.

“Bagi saya hasil adalah segalanya!” Darto meninggikan suara. “Saya mancing untuk membawa pulang ikan, bukan untuk duduk-duduk di tepi air sambil bermeditasi!”

“Darto, tenang,” Asep mencoba menengahi.

“Kalian semua selalu membela Junai! Selalu bilang Junai yang paling benar, Junai yang paling sabar, Junai yang paling paham kanal! Tapi lihat, apa yang berubah? Kanal tetap tercemar! Ikan tetap tidak ada! Dan kalian masih duduk di sini, memancing dengan cara lama yang tidak menghasilkan apa-apa!”

“Darto!” Pak Jajang tiba-tiba muncul dari balik rumpun bambu. Ia datang dengan napas tersengal, mungkin karena berjalan cepat dari rumahnya. “Kau jangan kasar sama teman-temanmu.”

Darto menunduk, tapi ia tidak minta maaf.

Pak Jajang mendekat. “Kau marah karena tidak dapat ikan. Saya mengerti. Tapi melampiaskan kemarahan pada Junai, pada Dadang, pada Asep, itu tidak menyelesaikan masalah.”

“Saya hanya... saya hanya ingin sesuatu berubah,” kata Darto dengan suara yang sedikit pecah.

“Maka mulailah dari dirimu sendiri,” kata Pak Jajang. “Bukan dengan marah-marah. Bukan dengan menyalahkan orang lain. Tapi dengan belajar, dengan memahami, dengan bersabar.”

Darto tidak menjawab. Ia menarik jorannya dengan kasar, dan pada saat itu, kailnya yang tersangkut di eceng gondok tidak bisa ditarik. Ia menarik lebih keras, tapi senarnya malah putus.

“Sialan!” Darto membanting joran yang sudah putus senarnya ke tanah. “Ini senar mahal! Baru saja saya beli di kota! Seratus ribu!”

Rini yang ikut memancing di dekat situ, tertawa kecil. “Sudah dibilang jangan di tengah.”

Darto menoleh ke arah Rini. Matanya merah. “Kau diam! Perempuan jangan ikut campur urusan mancing! Ini urusan laki-laki!”

Semua terdiam. Udara mendadak tegang.

“Darto!” Pak Jajang menegur dengan suara keras—sesuatu yang jarang dilakukan Pak Jajang. “Kau jangan keterlaluan! Rini hanya mengingatkan! Ini kanal milik bersama, bukan milik laki-laki saja! Rini punya hak yang sama untuk memancing dan berpendapat!”

Darto menunduk, menyadari kesalahannya. “Maaf,” gumamnya pelan.

“Bukan saya yang perlu dimintai maaf,” kata Pak Jajang.

Darto menoleh ke arah Rini. “Rini... maaf. Saya emosi.”

Rini menghela napas. “Tidak apa, Darto. Tapi lain kali, jangan kasar. Kita semua di sini sedang berusaha. Bukan hanya kamu yang frustasi.”

“Saya tahu. Maaf.”

Pak Jajang duduk di samping Darto. Dengan suara yang lebih lembut, ia berkata, “Darto, kau tahu kenapa Junai dan saya memilih titik kosong? Bukan karena kami tidak tahu titik emas. Tapi karena kami tahu, setelah pencemaran seperti ini, ikan-ikan akan mencari tempat yang aman. Tempat yang tidak ramai. Tempat yang tenang. Titik kosong itu sebenarnya tidak kosong. Ia hanya menunggu orang yang sabar.”

“Tapi saya tidak sabar, Pak,” Darto mengakui. “Saya tidak seperti Junai. Saya tidak bisa duduk berjam-jam tanpa hasil. Saya ingin... saya ingin sesuatu terjadi. Saya ingin bukti bahwa usaha saya tidak sia-sia.”

“Dan itu tidak salah, Darto. Ambisi itu baik. Tapi ambisi harus dikendalikan. Kalau tidak, ia akan menghancurkanmu. Dan menghancurkan orang-orang di sekitarmu.”

Darto terdiam. Ia memandang ke arah Junai yang sejak tadi tidak ikut ribut. Junai masih duduk tenang di tempatnya, jorannya tertancap, pelampung mengapung. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun—tidak marah, tidak kesal, tidak merasa menang.

“Darto,” Junai memanggil tanpa menoleh. “Kemari. Aku punya anak kodok lebih. Coba pasang yang benar.”

Darto ragu sejenak, lalu berdiri dan berjalan mendekati Junai.

Junai memberikan seekor anak kodok yang masih hidup dan gesit. “Pasang di punggung. Tusuk dangkal, jangan sampai tembus. Biarkan kakinya bergerak.”

Darto mengambil kodok itu dengan hati-hati. Tangannya yang besar dan agak kaku berusaha meniru cara Junai. Ia menusuk punggung kodok itu—tidak terlalu dalam, tapi juga tidak terlalu dangkal. Kodok itu menggelepar sebentar, lalu diam.

“Coba lempar ke celah eceng gondok yang sama dengan punyaku. Di sana ada rongga. Jangan ke tengah.”

Darto melempar. Anak kodok itu mendarat di celah eceng gondok, tepat di samping umpan Junai. Ia mulai berenang-renang kecil, kakinya bergerak aktif.

“Sekarang tunggu,” kata Junai. “Jangan buru-buru narik. Biarkan kodok berenang. Kalau ada gabus, dia akan mendekat, mengamati, baru menyambar. Bersabarlah.”

Darto duduk di samping Junai. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia diam. Ia menatap pelampungnya yang mengapung tenang.

Tidak sampai lima belas menit, pelampung Darto bergerak. Goyangan kecil naik-turun, lalu tiba-tiba tenggelam.

“Tarik!” teriak Dadang dari kejauhan.

Tapi Darto tidak buru-buru. Ia meniru Junai—membiarkan ikan itu berenang dulu, memberi sedikit kendor, lalu menarik perlahan.

Seekor ikan gabus berukuran sekitar tiga puluh sentimeter muncul. Tidak besar, tapi lebih besar dari yang didapat Junai kemarin.

Darto mengangkatnya ke tepi. Tangannya gemetar—bukan karena gugup, tapi karena campuran antara bahagia dan terharu.

“Saya dapat,” katanya lirih. “Saya dapat ikan.”

“Bagus, Darto,” Junai tersenyum. “Itu cara yang benar.”

Darto memandang ikan di tangannya. Ia memikirkan apakah akan membawanya pulang atau melepasnya.

“Lepas,” kata Junai tiba-tiba. “Masih kecil. Biar besar dulu.”

Darto menatap Junai. Untuk beberapa detik, mereka bertatapan. Lalu Darto mengangguk. Ia menurunkan ikan itu ke air perlahan, membiarkannya berenang kembali ke celah eceng gondok.

“Kenapa dilepas?” tanya Dadang heran. “Itu ukuran lumayan.”

“Kata Junai masih kecil,” jawab Darto sederhana.

“Tapi kamu biasanya... kan suka bawa pulang semua ikan.”

“Saya belajar,” kata Darto sambil memandang Junai. “Saya ingin belajar.”

Pak Jajang yang melihat itu, tersenyum. “Itu dia, Darto. Itu yang namanya perubahan. Tidak perlu besar-besaran. Cukup mulai dari hal kecil. Dari melepas ikan yang masih kecil. Dari belajar memahami kanal.”

Ujang datang dari arah warungnya dengan nampan besar berisi pisang goreng dan ubi rebus. Ia berjalan perlahan, menghindari akar-akar sawit yang melintang di jalan setapak.

“Mari, mari. Saya bawa pisang goreng dan ubi rebus. Makan dulu. Ikan juga butuh waktu untuk lapar,” seru Ujang sambil meletakkan nampan di atas tikar plastik yang dibentangkan Asep.

Mereka berhenti memancing sejenak, berkumpul di sekitar tikar. Dadang mengambil pisang goreng dua biji sekaligus, Asep memilih ubi rebus, Toha mengambil pisang goreng satu dan ubi satu.

“Mang Ujang, gorengannya enak sekali pagi ini,” puji Dadang dengan mulut penuh.

“Terima kasih. Resep istri saya,” Ujang tersenyum. “Tadi pagi dia bangun lebih awal untuk menggoreng ini. Katanya, biar anak-anak muda semangat mancing.”

“Tolong sampaikan terima kasih pada Bu Ujang, Mang,” kata Junai.

“Iya, nanti saya sampaikan.”

Mereka makan bersama. Suasana yang tadinya tegang karena pertengkaran Darto dan Rini, perlahan mencair. Ujang memang punya bakat untuk mencairkan suasana—mungkin karena ia adalah pedagang, terbiasa berurusan dengan berbagai macam orang.

“Ujang,” Pak Jajang memanggil sambil mengunyah ubi rebus. “Kau masih ingat dulu, sebelum ada perkebunan sawit besar-besaran, kanal ini seperti apa?”

Ujang berhenti mengunyah. Matanya menerawang jauh, ke masa lalu yang mungkin dua puluh tahun yang lalu. “Dulu... dulu airnya jernih, Pak. Bening. Saya masih kecil waktu itu, sering ikut ayah saya mancing. Ayah saya bilang, air kanal ini dulu bisa diminum. Orang-orang mandi di sini, mencuci pakaian, bahkan ada yang mengambil air untuk masak.”

“Bisa diminum?” Toha tidak percaya.

“Iya, Nak. Dulu. Sekitar dua puluh tahun yang lalu. Sebelum perkebunan sawit menggunakan pupuk kimia dan pestisida dalam jumlah besar. Dulu petani sawit masih pakai pupuk kandang, pestisida alami. Air hujan yang mengalir ke kanal tidak berbahaya.”

“Apa yang membuat berubah?” tanya Rini. Ia sudah membuka buku catatannya.

“Perkebunan sawit mulai menggunakan pupuk kimia dan pestisida dalam jumlah besar. Mungkin sekitar lima belas tahun yang lalu. Saya ingat, waktu itu tiba-tiba air kanal berubah warna. Tidak sekotor sekarang, tapi mulai keruh. Ikan-ikan mulai berkurang. Dulu kanal ini surga memancing. Ikan gabus bisa sebesar paha orang dewasa. Ikan mas merah berenang-berenang di permukaan, seperti tidak takut pada manusia. Kami anak-anak dulu sering berenang di sini, airnya segar, tidak seperti sekarang.”

“Seberapa besar gabus dulu, Mang?” Dadang bertanya dengan mata berbinar.

“Besar. Saya pernah lihat tetangga saya, Pak Darmo, dapat gabus sepanjang lengan orang dewasa. Mungkin satu meter lebih. Beratnya sampai lima kilo. Dia bawa pulang pakai gerobak.”

“Lima kilo?” Dadang terbelalak.

“Iya. Dulu memang banyak ikan besar. Tapi itu juga karena belum banyak pemancing. Dulu orang desa memancing hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak untuk dijual. Mereka mengambil secukupnya, melepas yang kecil. Itu sebabnya ikan-ikan bisa tumbuh besar.”

“Sekarang?” Toha bertanya.

“Sekarang... semua ingin banyak, ingin cepat. Pakai umpan kimia, pakai setrum, pakai jaring halus. Ikan kecil diambil, ikan besar diambil, telur-telur ikan pun diambil. Tidak ada yang tersisa untuk berkembang biak. Belum lagi pencemaran dari pupuk dan pestisida perkebunan. Kanal jadi tertekan dari berbagai sisi.”

Darto yang mendengar kata “setrum” tiba-tiba menegang. Ia memandang ke arah lain, menghindari tatapan orang-orang di sekitarnya.

Junai menangkap itu. “Darto, kau pernah lihat orang pakai setrum di kanal ini?”

Darto tidak menjawab segera. Ia memandang ke arah air, ke arah eceng gondok, ke arah langit—ke mana saja kecuali ke arah Junai.

“Darto?” Junai memanggil lagi.

“Saya... tidak pernah,” jawab Darto cepat. Terlalu cepat.

“Kau yakin? Karena kalau ada yang pakai setrum, itu ilegal. Ikan mati semua, bahkan yang kecil-kecil. Telur-telur ikan di akar-akar sawit juga hancur. Setrum itu lebih kejam dari racun, karena tidak hanya membunuh, tapi juga melumpuhkan sistem saraf ikan. Mereka mati dalam kesakitan.”

“Saya bilang tidak pernah!” Darto berdiri, membawa jorannya pindah ke lokasi lain—lebih jauh dari kerumunan, di dekat akar sawit yang menjuntai di seberang.

Rini menatap Junai dengan makna. “Darto menyembunyikan sesuatu.”

“Saya tahu,” Junai menghela napas. “Tapi kita tidak bisa memaksanya. Dia akan bicara kalau sudah siap.”

“Tapi kalau dia terlibat dalam penggunaan setrum, itu serius, Jun. Setrum itu mematikan bagi ekosistem.”

“Saya tahu, Rin. Tapi kita tidak punya bukti. Hanya kecurigaan. Dan Darto sudah mulai berubah. Tadi dia melepas ikannya. Itu kemajuan.”

“Mudah-mudahan cukup,” Rini masih ragu.

“Biarkan dulu,” kata Junai. “Sekarang fokus kita pada kanal. Kita harus mencari cara agar ikan bisa kembali. Kalau kita saling curiga, tidak ada yang selesai.”

Ujang melanjutkan ceritanya. “Dulu, sekitar dua puluh tahun lalu, kanal ini adalah surga memancing. Bukan hanya karena ikannya banyak, tapi juga karena airnya bersih. Kami anak-anak sering berenang di sini. Airnya jernih, kita bisa lihat ikan-ikan berenang di bawah. Kadang kita kejar-kejaran ikan, tapi tidak pernah kita tangkap karena tidak punya alat.”

“Berenang di kanal?” Toha terkejut. “Bukannya kanal itu dalam?”

“Tidak sedalam sekarang. Dulu sebelum ada pengerukan, kanal ini hanya sedalam satu meter di musim kemarau. Mungkin satu setengah meter di musim hujan. Aman untuk anak-anak. Tapi sekarang... setelah bertahun-tahun sedimentasi dan pengerukan, kedalamannya bisa sampai dua meter di beberapa titik. Berbahaya untuk berenang.”

“Dan ikannya,” Asep menambahkan, “dulu ikan mas merah berenang-renang di permukaan. Saya pernah lihat foto lama di rumah kakek saya. Ikan mas sebesar paha orang dewasa.”

“Iya. Ikan mas dulu memang besar-besar. Mungkin karena makanan alami masih banyak. Buah sawit yang jatuh ke kanal difermentasi secara alami, jadi makanan bagi ikan-ikan kecil. Ikan-ikan kecil jadi makanan bagi ikan besar. Rantai makanan berjalan dengan baik.”

“Sekarang?” tanya Dadang.

“Sekarang... rantai makanan itu rusak. Ikan kecil mati karena pencemaran. Ikan besar mati karena tidak ada makanan atau karena ditangkap dengan cara-cara ilegal. Kanal jadi tidak seimbang.”

Junai yang mendengar itu, mengangguk. “Itu sebabnya kita harus menjaga. Bukan hanya dengan tidak merusak, tapi juga dengan memperbaiki. Membersihkan kanal, menanam bibit ikan, membuat kawasan konservasi. Itu yang akan kita lakukan setelah kanal pulih.”

“Kapan pulihnya?” Dadang bertanya dengan nada frustasi.

“Tidak tahu. Bisa minggu, bisa bulan. Tapi kita harus mulai dari sekarang. Dari hal-hal kecil. Seperti yang kita lakukan hari ini. Mancing di titik kosong, melepas ikan kecil. Itu adalah awal dari pemulihan.”

Matahari semakin tinggi. Mereka melanjutkan memancing hingga siang. Dadang mendapat dua ekor gabus kecil, dilepas semua. Asep mendapat seekor nila kecil, juga dilepas. Toha masih nihil. Darto, setelah pindah ke seberang, mendapat seekor lele kecil yang juga ia lepas.

Junai mendapat tiga ekor lagi—dua gabus kecil dan satu nila kecil. Semua dilepas.

Mereka pulang dengan ember kosong. Tapi hati mereka tidak kosong. Ada pelajaran yang didapat, ada hubungan yang mulai pulih, dan ada harapan yang mulai tumbuh.


BAB 5: Hari Tanpa Hasil

Hari kelima setelah pencemaran. Matahari terbit seperti biasa di ufuk timur, menyapu kabut tipis yang menggantung di atas perkebunan sawit. Burung-burung berkicau, ayam-ayam berkokok, dan kehidupan desa berjalan seperti biasanya. Tapi di tepi kanal, suasana berbeda. Ada sesuatu yang berat menggantung di udara—lebih berat dari kabut pagi, lebih dingin dari embun yang menetes dari daun-daun sawit.

Junai tiba di tepi kanal pukul setengah enam, seperti biasa. Ia sudah menyiapkan umpan fermentasi baru semalam, berharap hari ini akan berbeda. Tapi ketika ia melihat air kanal yang masih keruh kehijauan, ketika ia mencium bau anyir yang masih tertinggal, harapan itu perlahan luntur.

Ia memilih spot di tikungan dekat pohon karet tua—spot yang kemarin sempat memberikan beberapa ekor ikan kecil. Ia memasang umpan fermentasi di joran pertama, anak kodok di joran kedua. Ia melempar dengan hati-hati, memastikan umpan jatuh di tempat yang tepat.

Pelampung mengapung. Air diam. Tidak ada gerakan.

Satu jam berlalu. Dua jam. Tidak ada tanda-tanda ikan. Pelampung Junai mengapung tenang seperti mati. Anak kodok yang tadinya berenang-renang kini sudah lelah, hanya mengapung di permukaan dengan sesekali gerakan kecil.

Junai tidak bergerak. Ia duduk diam, memandang air, mencoba membaca tanda-tanda yang mungkin luput. Tapi tidak ada. Air itu seperti kosong. Mati.

Pak Jajang datang sekitar pukul tujuh. Ia berjalan perlahan, dituntun oleh tongkat bambu yang baru saja dibuatkan oleh menantunya. Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya—mungkin karena semalam ia tidak bisa tidur memikirkan kanal.

“Jun, sudah dapat?” tanya Pak Jajang meskipun sudah tahu jawabannya.

“Belum, Pak. Sama sekali belum. Seperti tidak ada yang hidup di sini.”

Pak Jajang duduk di samping Junai, meletakkan jorannya di tanah. Matanya yang tua dan berpengalaman itu menyapu permukaan air, mencari sesuatu—riak kecil, gelembung, apa pun yang menandakan kehidupan. Tidak ada.

“Ini hari kelima, Jun. Biasanya, setelah pencemaran seperti ini, ikan-ikan mulai muncul di hari ketiga atau keempat. Tapi ini hari kelima, dan belum ada tanda-tanda.”

“Mungkin pencemarannya lebih parah dari yang kita kira, Pak.”

“Mungkin. Atau mungkin... ikannya sudah mati semua.”

Junai menoleh ke arah Pak Jajang. Untuk pertama kalinya, ia mendengar nada putus asa dari suara lelaki tua itu. Pak Jajang yang selalu tegar, selalu optimis, selalu punya solusi—kali ini tampak lelah. Lelah karena usia, lelah karena melihat kanal yang dicintainya hancur di depan mata.

“Belum semuanya mati, Pak. Kemarin kita dapat beberapa ekor di titik kosong.”

“Itu kemarin. Hari ini? Coba lempar ke titik kosong, lihat apakah masih ada.”

Junai berdiri. Ia berjalan ke selatan, ke titik kosong yang kemarin memberikan harapan. Pak Jajang mengikutinya perlahan.

Di titik kosong, pemandangan yang sama. Air masih keruh, eceng gondok masih lebat, tapi tidak ada tanda-tanda ikan. Junai melempar umpan anak kodok ke celah yang sama seperti kemarin. Ia menunggu.

Sepuluh menit. Dua puluh. Tiga puluh. Tidak ada gerakan.

Junai menarik umpan. Anak kodok itu masih hidup, tapi sudah lesu. Ia mengganti dengan yang baru, melempar lagi. Menunggu lagi.

Satu jam. Tidak ada.

Ia mencoba di tiga titik berbeda di area titik kosong. Hasilnya sama: nihil. Nol. Kosong.

Pak Jajang yang memperhatikan dari kejauhan, hanya bisa menghela napas. “Mereka pergi, Jun. Atau mungkin mati.”

Junai tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tepi kanal, memandang air yang keruh, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tidak berdaya.

Pukul delapan pagi, Dadang, Asep, dan Toha datang. Wajah mereka sudah tampak lesu sebelum mulai memancing. Tiga hari tanpa hasil telah menguras semangat mereka.

Dadang langsung mengambil posisi di bawah jembatan—spot yang dulu selalu memberikan ikan, tapi selama tiga hari terakhir kosong melompong. Asep memilih di tikungan dekat pohon karet. Toha mencoba di dekat pintu air.

Ujang datang membawa gorengan, tapi kali ini tidak ada yang bersemangat menyambutnya. Rini datang dengan buku catatan, tapi matanya sembab—mungkin semalam ia menangis melihat data sampel air yang semakin buruk.

Darto datang paling belakang. Ia tidak menyapa siapa pun, langsung duduk di spot yang agak terpisah, di dekat akar sawit yang menjuntai di seberang. Wajahnya datar, tidak bisa dibaca.

Pukul sembilan. Belum ada yang dapat ikan.

Pukul sepuluh. Masih belum.

Pukul sebelas. Tidak ada satu pun pelampung yang bergerak.

Dadang yang biasanya paling sabar di antara pemuda—setelah Junai, tentu saja—mulai gelisah. Ia mengganti umpan, mengganti spot, mengganti kail, mengganti segala sesuatu yang bisa diganti. Tapi hasilnya tetap sama: tidak ada.

“Sial!” Dadang membanting jorannya ke tanah. “Ini hari kelima! Hari kelima saya tidak dapat ikan! Padahal saya sudah coba semua spot, semua umpan, semua trik!”

Asep yang mendengar itu, ikut kesal. “Kamu baru lima hari? Saya sudah seminggu! Sejak sebelum pencemaran, saya sudah tidak dapat ikan besar!”

“Tapi kamu masih dapat ikan kecil, Asep. Saya nihil! Nol! Tidak ada sama sekali!” Dadang berteriak.

“Tenang, Dadang,” Junai mencoba menenangkan dari kejauhan.

“Tenang? Kau suruh aku tenang? Sementara adikku sakit, Jun! Adikku demam tiga hari, nggak mau makan. Dokter bilang harus makan makanan bergizi, terutama ikan. Tapi ikan mana? Kanal kosong! Pasar juga jarang jual ikan segar karena semua nelayan juga kena dampak pencemaran!”

Dadang duduk di tanah, memegangi kepalanya. Bahunya bergetar. Untuk pertama kalinya, pemuda yang selalu ceria dan penuh semangat itu menangis.

Asep mendekat, duduk di samping Dadang. “Maaf, Dadang. Aku nggak tahu adikmu sakit.”

“Sudah tiga hari, Asep. Tiga hari. Aku sudah beli ikan asin di warung, tapi adikku nggak suka. Dia cuma mau ikan segar. Ikan gabus kesukaannya. Tapi aku nggak bisa kasih.”

Junai mendengar itu. Ia menutup matanya sebentar, merasakan beban yang sama di dadanya. Ia juga punya tanggungan—ibunya yang sudah tua, yang setiap hari meminta ikan segar untuk lauk. Selama lima hari ini, ia terpaksa membeli ikan dari pasar kecamatan yang harganya melambung tinggi karena kelangkaan.

“Ini semua karena ulah pemancing yang tidak bertanggung jawab!” Dadang tiba-tiba berdiri, matanya merah menahan marah dan tangis. “Mereka yang pakai umpan kimia, yang pakai setrum, yang buang racun ke kanal! Mereka yang bikin kanal ini rusak! Mereka yang bikin adikku susah makan!”

“Jangan menyalahkan orang begitu saja,” sahut Darto dari kejauhan. Suaranya sinis, dingin. “Kanal ini sudah rusak sejak lama karena pupuk kimia dari perkebunan. Kita yang memancing hanya korban. Korban dari sistem yang lebih besar.”

“Korban?” Dadang menoleh ke arah Darto. Matanya menyala. “Kau bicara korban? Kau sendiri yang kemarin beli umpan kimia dari orang kota! Kau sendiri yang hampir meracuni kanal dengan barang-barang haram itu!”

Asep ikut angkat suara. “Benar, Darto! Kemarin Junai dan Pak Jajang sudah membelamu, bilang kamu sudah sadar, bilang kamu sudah berubah. Tapi lihat! Sekarang kanal makin parah! Mungkin kamu diam-diam masih pakai umpan kimia!”

Darto berdiri. Wajahnya merah padam. “Apa katamu? Umpan kimia? Saya beli pelet biasa dari toko pakan ternak. Itu legal! Itu dijual bebas di toko!”

“Legal? Pelet yang dicampur perasa sintetis itu tetap berbahaya, Darto!” Rini maju selangkah. Sejak tadi ia diam, tapi kini suaranya tegas. Buku catatannya terbuka di tangannya, menunjukkan data yang sudah ia kumpulkan. “Saya sudah cek sampel air di laboratorium sederhana setiap hari. Kadar fosfat dan nitrogen meningkat drastis sejak seminggu yang lalu. Fosfat dan nitrogen itu berasal dari pupuk kimia—dan dari umpan kimia yang mengandung perangsang sintetis. Kadarnya sudah di atas ambang batas normal. Ini memicu ledakan alga, alga menutupi permukaan air, oksigen berkurang, dan ikan mati perlahan karena tidak bisa bernapas.”

“Jadi saya yang salah? Saya cuma satu orang! Satu orang dengan satu botol umpan yang bahkan tidak saya pakai!” Darto membela diri.

“Kau bukan satu-satunya, Darto,” Pak Jajang berdiri dari tempatnya. Suaranya dingin, tajam seperti pisau. Matanya yang tua menatap Darto tanpa berkedip. “Tapi kau adalah salah satu yang ikut memperparah. Dan saya tahu, kau juga mengambil sesuatu dari dua orang kota itu di hulu kanal beberapa hari lalu. Bukan hanya satu botol perangsang yang kamu tunjukkan kemarin. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berbahaya.”

Wajah Darto memucat. Pucat seperti kapur. Tangannya yang memegang joran mulai gemetar.

“Bapak... bagaimana bisa... bagaimana Bapak tahu?”

“Saya sudah tua, Darto. Tapi mata saya masih tajam. Lebih tajam daripada mata kalian semua yang masih muda. Saya lihat kau pergi ke hulu pada hari kejadian. Saya lihat kau bertemu dengan dua orang kota itu. Saya lihat kau menerima sesuatu dari mereka—bukan satu botol, tapi dua. Satu botol biru yang kamu tunjukkan kemarin, dan satu botol lain yang kamu sembunyikan. Saya tidak tahu itu apa, tapi saya yakin itu bukan sesuatu yang baik. Saya juga lihat kau membawa pulang tas penuh ikan malam itu—ikan yang tidak mungkin kau dapat dengan joran dalam waktu singkat.”

Semua mata tertuju pada Darto. Dadang, Asep, Toha, Rini, Ujang, bahkan Junai—semua menatap Darto dengan ekspresi yang berbeda-beda: ada yang marah, ada yang kecewa, ada yang tidak percaya.

Darto terdiam. Dadanya naik turun. Tangannya yang gemetar kini mengepal erat, memegang joran seperti orang yang akan terjatuh jika melepaskannya.

“Darto,” Junai akhirnya bersuara. Suaranya tenang, tapi ada nada sakit di dalamnya—sakit karena dikhianati oleh teman sendiri. “Apa yang Pak Jajang katakan itu benar? Kamu menerima sesuatu dari mereka? Kamu membawa pulang ikan malam itu?”

Darto tidak menjawab. Ia menunduk, memandang tanah di bawah kakinya. Bahunya bergetar.

“Darto, jawab!” bentak Dadang.

“Sudah, Dadang. Jangan bentak,” Junai menahan.

“Jangan bentak? Dia sudah berbohong kepada kita semua, Jun! Dia bilang dia tidak jadi membeli umpan kimia, tapi ternyata dia menerima sesuatu dari orang kota itu! Dia bilang dia pulang tanpa membawa apa-apa, tapi ternyata dia membawa pulang ikan!”

“Kita dengar dulu penjelasannya,” Junai tetap tenang.

Darto mengangkat wajah. Matanya merah, basah. “Saya... saya tidak bermaksud berbohong. Saya malu. Saya sangat malu.”

“Ceritakan,” kata Junai.

Darto menarik napas panjang. Tangannya masih gemetar. “Hari itu... hari ketika kanal ditemukan tercemar. Saya ke selatan bukan hanya untuk beli umpan. Saya juga... saya juga diminta tolong oleh mereka. Dua orang kota itu. Mereka bilang, mereka butuh bantuan untuk mengangkut ikan. Ikan yang mereka dapat dari... dari racun yang mereka tebar.”

Semua terdengar suara tertahan dari Dadang. Asep memegang Dadang agar tidak meledak.

“Mereka janji akan bagi hasil. Setengah untuk saya. Saya... saya pikir, ini kesempatan saya. Kesempatan untuk akhirnya punya banyak ikan. Untuk membuktikan pada kalian semua—terutama pada Junai—bahwa saya juga bisa. Saya juga bisa pulang dengan ember penuh.”

“Darto...” Junai menghela napas.

“Saya tahu itu salah. Saya tahu sejak awal itu salah. Tapi saya pikir, sekali saja. Sekali saja saya menang. Sekali saja saya pulang dengan ikan banyak. Saya sudah lelah selalu kalah. Saya sudah lelah selalu menjadi yang kedua setelah Junai.”

“Ini bukan kompetisi, Darto,” kata Pak Jajang dengan suara yang lebih lembut.

“Bagi saya ini kompetisi, Pak! Bagi saya, setiap kali memancing adalah kesempatan untuk membuktikan diri. Ayah saya dulu pemancing terbaik di desa ini. Setiap orang mengenalnya. Tapi sekarang... sekarang dia hanya terbaring di tempat tidur, sakit-sakitan, tidak bisa memancing lagi. Dan saya... saya tidak pernah bisa menjadi seperti dia. Saya tidak pernah bisa memancing sebaik dia. Dan Junai... Junai yang bukan anak kandungnya, lebih bisa memancing daripada saya.”

Semua terdiam. Kilas balik itu mengubah segalanya.

Pak Jajang yang selama ini dikenal sebagai sesepuh pemancing desa, ternyata juga adalah ayah tiri dari Darto. Junai adalah anak angkatnya—dibawa pulang dari panti asuhan ketika masih kecil, diajari memancing, diasuh seperti anak sendiri.

“Darto,” Pak Jajang memanggil dengan suara yang berat. “Selama ini kau menyimpan rasa itu? Rasa cemburu pada Junai?”

Darto tidak menjawab, tapi air matanya jatuh.

“Darto, dengarkan saya. Junai bukan penggantimu. Junai adalah saudaramu. Saya tidak pernah mencintainya lebih dari aku mencintaimu. Tapi dia butuh perhatian lebih karena dia tidak punya siapa-siapa. Kau punya ibu, punya keluarga besar. Junai hanya punya saya.”

“Saya tahu, Pak. Saya tahu itu. Tapi tetap saja... setiap kali orang membandingkan, setiap kali orang bilang Junai lebih baik, itu sakit. Sangat sakit.”

Junai yang mendengar itu, berjalan mendekati Darto. Ia berdiri di hadapan Darto, menatap matanya yang merah.

“Darto, kau tahu kenapa aku bisa memancing lebih baik? Bukan karena aku lebih pintar. Bukan karena aku lebih berbakat. Tapi karena aku tidak punya beban. Aku memancing bukan untuk membuktikan apa pun pada siapa pun. Aku memancing karena aku senang. Karena kanal ini memberiku ketenangan. Tapi kau... kau memancing dengan beban. Beban untuk membuktikan diri, beban untuk menjadi yang terbaik, beban untuk menyamai ayahmu. Itu yang membuatmu tidak pernah bisa memancing dengan tenang.”

Darto menatap Junai. “Jadi salahku? Salah karena aku ingin membanggakan ayahku?”

“Tidak salah. Tapi caramu salah. Ayahmu tidak akan bangga melihat kau menerima hasil curian dari peracuni kanal. Ayahmu tidak akan bangga melihat kau membawa pulang ikan dari racun yang membunuh ribuan ikan lain.”

Darto menunduk. Tangannya yang gemetar kini menggenggam ranselnya.

“Dan itu bukan satu-satunya, kan?” Junai bertanya pelan. “Kau masih menyembunyikan sesuatu.”

Darto mengangkat wajah. Matanya kosong, seperti orang yang sudah kehilangan segalanya.

“Setrum,” katanya lirih.

Semua terdengar desis napas tertahan.

“Saya juga beli setrum dari mereka. Setrum ikan. Mereka bilang alat itu tidak membunuh, hanya membuat ikan pingsan. Saya pikir, kalau saya punya setrum, saya bisa dapat ikan sebanyak mungkin. Saya bisa jual, bisa kasih ke adik Dadang yang sakit, bisa kasih ke ibu-ibu yang butuh ikan. Saya pikir saya akan menjadi pahlawan.”

“Darto...” Ujang menggeleng-geleng kepala.

“Tapi ternyata tidak semudah itu. Setrum itu membunuh, Darto. Ikan mati, bukan pingsan. Ikan kecil mati, telur-telur ikan di akar sawit hancur, ekosistem rusak. Setrum itu kejam,” kata Rini.

“Saya tahu. Saya tahu sekarang. Tapi waktu itu... waktu itu saya pikir, ini jalan pintas. Saya sudah lelah dengan jalan panjang yang tidak pernah membawa saya ke mana-mana.”

“Darto,” Pak Jajang memanggil. “Kau masih punya setrum itu?”

Darto mengangguk. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan sebuah alat kecil berwarna hitam—seperti stun gun yang dimodifikasi, dengan dua elektroda di ujungnya dan baterai besar di bagian tengah.

“Ini. Saya belum pernah menggunakannya. Saya takut. Setiap kali saya mau pakai, tangan saya gemetar. Saya pikir, ini tidak benar. Ini bukan memancing. Ini... ini pembunuhan.”

Dadang yang tadinya marah, kini hanya bisa diam. Ia melihat Darto yang gemetar memegang alat setrum itu, dan untuk pertama kalinya, ia melihat Darto bukan sebagai musuh, tapi sebagai saudara yang tersesat.

“Kenapa kau tidak bilang dari awal?” tanya Dadang.

“Karena saya takut. Takut kalian akan membenci saya. Takut Pak Jajang akan kecewa. Takut Junai akan menganggap saya sampah.”

“Kami tidak akan membenci,” kata Junai. “Tapi kami kecewa. Bukan karena kau beli setrum, tapi karena kau tidak percaya pada kami. Kau pilih jalan sendiri, tanpa memberi kami kesempatan untuk membantu.”

“Saya malu,” Darto berkata dengan suara pecah. “Saya sangat malu.”

Dadang yang sedari tadi diam, tiba-tiba melangkah maju. Asep mencoba menahannya, tapi Dadang mendorong tangan Asep.

“Dadang, jangan!” Asep memperingatkan.

“Tenang, Asep. Aku tidak akan memukulnya.”

Dadang berdiri di depan Darto. Ia memandang Darto dengan mata yang masih merah, tapi tidak lagi dengan amarah. Ada kelelahan di sana, ada kekecewaan, tapi juga ada sesuatu yang lain—mungkin empati.

“Darto, kau tahu kenapa aku marah? Bukan karena kanal tercemar. Bukan karena aku tidak dapat ikan. Tapi karena adikku sakit, dan aku tidak bisa memberinya ikan. Dan kau, dengan setrum itu, dengan umpan kimia itu, kau membuat semuanya lebih sulit. Ikan-ikan mati, kanal rusak, dan orang-orang seperti aku—yang hanya ingin memberi makan adik yang sakit—tidak punya apa-apa.”

“Maafkan saya, Dadang,” Darto berkata dengan suara nyaris tak terdengar.

“Tidak, Darto. Kau jangan minta maaf padaku. Kau harus minta maaf pada kanal ini. Pada ikan-ikan yang mati. Pada Pak Jajang yang sudah membesarkanmu. Pada Junai yang selalu menganggapmu saudara.”

Darto menunduk dalam-dalam. Air matanya jatuh ke tanah.

Pak Jajang melangkah maju. Dengan tangan yang gemetar karena usia, ia mengambil alat setrum dari tangan Darto. Alat itu berat, dingin, dan terasa jahat di genggamannya.

“Ini,” kata Pak Jajang, “akan saya serahkan pada polisi. Atau saya hancurkan sendiri. Terserah kau.”

“Hancurkan saja, Pak. Saya tidak mau lagi melihatnya.”

Pak Jajang mengangguk. Ia menyerahkan alat itu pada Junai. “Jun, hancurkan. Jangan sampai ada yang bisa memakainya lagi.”

Junai mengambil alat itu. Ia melihatnya sebentar—bayangan betapa banyak ikan yang bisa mati dalam hitungan menit dengan benda kecil ini. Lalu dengan kedua tangannya, ia membantingnya ke batu besar di tepi kanal. Sekali, dua kali, tiga kali. Plastiknya pecah, komponen dalamnya hancur, baterainya terlepas. Junai mengambil baterai itu dan melemparkannya jauh ke dalam semak—tidak ke kanal, karena baterai juga beracun.

“Sudah,” kata Junai. “Tidak ada lagi setrum di desa ini.”

Darto masih berdiri di tempatnya, tidak bergerak. Air matanya sudah berhenti, tapi wajahnya masih pucat.

“Junai,” Darto memanggil dengan suara parau. “Kenapa kau selalu tenang? Kenapa kau tidak pernah marah? Bahkan sekarang, setelah tahu aku membeli setrum, setelah tahu aku menerima ikan dari peracuni kanal, kau masih bisa berdiri di sana dengan wajah tenang itu. Apakah kau tidak marah? Apakah kau tidak kecewa? Apakah kau tidak merasa dikhianati?”

Semua mata tertuju pada Junai. Ini adalah ujian baginya—momen yang akan menentukan bagaimana Darto dan yang lain melihatnya ke depan.

Junai berdiri di hadapan Darto. Wajahnya tidak marah, tapi juga tidak tersenyum. Ada ketenangan di sana, tapi juga ada kesedihan yang dalam.

“Darto, aku marah,” kata Junai akhirnya. “Aku sangat marah. Bukan karena kau beli setrum. Bukan karena kau menerima ikan dari mereka. Tapi karena kau tidak percaya padaku. Karena kau memilih jalan yang salah tanpa pernah datang padaku dan berkata, 'Jun, aku butuh bantuan.' Selama ini kau melihatku sebagai saingan, padahal aku selalu melihatmu sebagai saudara.”

Darto menunduk.

“Kau tahu, Darto,” Junai melanjutkan, “setiap pagi ketika aku memancing, aku selalu melihatmu dari kejauhan. Aku melihat bagaimana kau mengganti umpan berkali-kali, bagaimana kau berpindah spot, bagaimana kau menarik joran dengan kasar ketika ikan tidak juga datang. Dan aku selalu ingin mendekat, menawarkan bantuan. Tapi aku tahu, kau akan menganggapnya sebagai bentuk kesombongan. Seperti aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih baik. Padahal aku hanya ingin membantu.”

“Aku... aku memang akan berpikir begitu,” Darto mengakui. “Setiap kali kau mendekat, aku pikir kau mau pamer. Aku pikir kau mau bilang, 'Lihat, aku lebih pintar darimu.'”

“Itu karena kau terlalu banyak mendengarkan bisikan hatimu sendiri, Darto. Bukan mendengarkan apa yang sebenarnya aku katakan.”

Darto mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Junai. “Dan sekarang? Setelah semua ini? Setelah aku berbohong, setelah aku membeli setrum, setelah aku menerima ikan dari racun? Apa kau masih mau menganggapku saudara?”

Junai tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, membuka tangannya, dan memeluk Darto.

Darto kaku pada awalnya. Tidak terbiasa dengan sentuhan. Tapi kemudian, perlahan, tubuhnya meleleh. Ia menangis. Bukan tangis isak tangis yang tertahan, tapi tangis keras yang keluar dari dadanya—tangis seorang laki-laki yang selama bertahun-tahun menahan beban sendirian.

“Sudah, To. Sudah,” Junai berkata pelan. “Kita perbaiki ini bersama. Kanal ini, desa ini, hubungan kita. Kita perbaiki bersama.”

Pak Jajang yang melihat itu, meneteskan air mata. Ia tidak menyangka hari ini akan berakhir seperti ini. Ia mengira akan ada perkelahian, akan ada pertengkaran, akan ada perpecahan. Tapi Junai—anak angkatnya yang selalu tenang itu—memilih jalan yang berbeda. Jalan yang mempertemukan, bukan memecahbelah.

Dadang yang tadinya masih menyimpan amarah, kini ikut terharu. Ia mendekati Darto dan Junai, ikut melingkarkan tangannya. Asep dan Toha ikut. Rini menangis di samping Ujang. Ujang hanya bisa mengusap matanya dengan lengan bajunya.

Setelah suasana mereda, mereka duduk kembali di tepi kanal. Pak Jajang memimpin mereka duduk melingkar di tikar plastik yang dibentangkan Ujang.

“Duduklah, anak-anak. Saya akan bercerita,” kata Pak Jajang dengan suara yang berat tapi hangat.

Mereka duduk. Ujang membagikan gorengan yang tadinya hampir tidak disentuh. Kali ini, mereka makan dengan perlahan, mendengarkan.

“Dulu, sekitar tiga puluh tahun yang lalu,” Pak Jajang memulai, “saya adalah pemancing terbaik di desa ini. Bukan karena saya pintar, tapi karena saya punya waktu. Saya tidak punya kebun sawit seperti kalian, tidak punya warung seperti Ujang. Saya hanya punya kanal ini dan joran bambu pemberian ayah saya. Setiap hari saya di sini, dari pagi sampai sore. Saya belajar membaca arus, belajar membaca cuaca, belajar membaca perilaku ikan.”

“Kemudian saya menikah. Istri saya—ibunya Darto—seorang perempuan yang baik. Kami punya Darto. Saya sangat bahagia. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Istri saya meninggal ketika Darto masih kecil. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya tidak bisa mengasuh anak sambil memancing seharian.”

“Lalu saya bertemu dengan Junai. Waktu itu dia masih kecil, tinggal di panti asuhan di kecamatan. Saya melihat dia duduk di tepi sungai, memandang air, seperti sedang memancing tapi tanpa joran. Saya bertanya, 'Nak, kau sedang apa?' Dia menjawab, 'Saya sedang menunggu ikan.' Saya bilang, 'Kau tidak punya joran, bagaimana kau bisa dapat ikan?' Dia menjawab, 'Saya tidak perlu joran. Saya hanya ingin melihat mereka berenang.'”

“Saat itu juga saya tahu, anak ini istimewa. Saya membawanya pulang, saya adopsi, saya besarkan bersama Darto. Saya pikir, Darto akan senang punya saudara. Tapi ternyata tidak. Darto melihat Junai sebagai ancaman. Sebagai saingan. Sebagai perebut kasih sayang.”

Darto menunduk. “Maaf, Pak.”

“Tidak perlu minta maaf, Nak. Saya mengerti. Sebagai anak kecil, kau merasa kehilangan. Kau pikir Junai mengambil tempatmu. Padahal tidak. Junai hanya menambah. Menambah cinta, menambah kebersamaan, menambah tawa di rumah kita.”

“Tapi saya tidak pernah bisa menerimanya, Pak. Sampai sekarang.”

“Dan itu tidak apa-apa, Darto. Menerima seseorang butuh waktu. Tapi jangan biarkan kebencian itu menghancurkanmu. Lihatlah Junai. Dia tidak pernah membencimu. Bahkan ketika kau memperlakukannya dengan dingin, ketika kau menyindirnya, ketika kau menganggapnya saingan—dia tidak pernah marah. Dia hanya menunggu. Menunggu kau siap.”

Junai tersenyum tipis. “Kita bersaudara, To. Saudara tidak harus selalu sepakat. Tapi saudara harus selalu ada untuk satu sama lain.”

Darto mengangkat wajah. Matanya masih merah, tapi ada kelegaan di sana. Beban yang selama bertahun-tahun ia pikul, perlahan mulai terangkat.

“Saya akan memperbaiki semuanya,” kata Darto dengan suara yang lebih mantap. “Kanal ini, hubungan kita, semuanya. Saya akan bantu bersihkan kanal. Saya akan bantu tanam bibit ikan. Saya akan pastikan tidak ada lagi setrum atau umpan kimia di desa ini.”

“Kita akan lakukan bersama,” kata Junai.

“Bersama,” Dadang mengangguk.

“Bersama,” Asep dan Toha serempak.

“Bersama,” Rini dan Ujang ikut.

Pak Jajang tersenyum. Senyum yang sudah lama tidak muncul di wajah keriputnya. “Lihat, Darto. Lihat. Ini yang namanya keluarga. Bukan yang harus selalu sempurna. Tapi yang selalu ada saat kau jatuh.”

Matahari sudah tinggi ketika mereka memutuskan untuk pulang. Tidak ada satu pun ikan yang didapat hari itu. Ember mereka kosong, seperti beberapa hari sebelumnya.

Tapi hati mereka tidak kosong.

Dadang yang tadinya marah dan frustasi, kini berjalan berdampingan dengan Darto. Mereka bicara tentang adik Dadang yang sakit—Darto berjanji akan membantu mencari ikan di pasar kecamatan besok pagi. Dadang menolak, tapi Darto bersikeras.

Asep dan Toha berjalan di belakang, membahas rencana kerja bakti membersihkan kanal akhir pekan ini. Rini sudah mencatat jadwal dan tugas masing-masing. Ujang menawarkan warungnya sebagai posko.

Junai berjalan paling belakang bersama Pak Jajang. Pak Jajang berjalan perlahan, dituntun oleh tongkat bambunya. Sesekali ia berhenti untuk mengatur napas.

“Jun,” panggil Pak Jajang.

“Iya, Pak.”

“Kau tahu, hari ini aku sangat bangga padamu. Bukan karena kau bisa memancing, tapi karena kau bisa menjaga persaudaraan. Itu lebih sulit daripada menangkap ikan. Dan kau melakukannya dengan sempurna.”

Junai tersenyum. “Saya hanya melakukan apa yang diajarkan Bapak. Bahwa memancing bukan soal hasil. Tapi soal memahami. Memahami ikan, memahami kanal, dan memahami orang-orang di sekitar kita.”

“Kau sudah lebih dari yang saya ajarkan, Jun. Kau sudah menjadi guru bagi kami semua.”

“Saya hanya murid, Pak. Murid dari kanal ini. Dan kanal ini masih mengajarkan banyak hal.”

Mereka berjalan dalam diam. Angin sore mulai bertiup, membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit. Di kejauhan, kanal mengalir tenang—masih keruh, masih tercemar, tapi masih hidup. Masih memberi harapan.

Junai menoleh sekali lagi ke arah kanal. Di permukaan air yang keruh, ia melihat riak kecil—sangat kecil, hampir tidak terlihat. Mungkin seekor ikan kecil yang selamat, atau mungkin hanya daun yang jatuh. Tapi ia memilih untuk percaya bahwa itu adalah tanda kehidupan. Tanda bahwa kanal ini belum menyerah. Dan mereka juga tidak akan menyerah.


BAB 6: Hujan, Arus Deras, dan Keberuntungan

Malam itu, langit Desa Awan Biru berubah.

Awalnya hanya gerimis tipis yang mulai turun sekitar pukul delapan. Junai yang sedang duduk di beranda mendengar suara rintik air di atap rumbia rumahnya. Ia menengadah, merasakan tetesan air yang dingin di wajahnya. Angin mulai bertiup, membawa bau tanah basah yang selalu ia sukai—bau yang mengingatkannya pada masa kecil, ketika hujan selalu berarti kesuburan dan kehidupan.

“Akhirnya,” gumamnya pelan. “Sudah lima hari tidak hujan. Kanal butuh air baru.”

Ia tidak masuk ke rumah. Ia tetap duduk di beranda, membiarkan gerimis membasahi bajunya. Ibunya yang sudah tua memanggil dari dalam, menyuruhnya masuk agar tidak masuk angin. Tapi Junai hanya tersenyum dan berkata, “Sebentar lagi, Bu. Saya mau lihat hujan.”

Gerimis berubah menjadi hujan sedang setengah jam kemudian. Air mulai mengalir deras di selokan-selokan kecil di pinggir jalan, membawa daun-daun kering dan sampah-sampah ringan menuju kanal. Suara air jatuh di atap rumbia berubah dari rintik-rintik halus menjadi gemuruh yang menenangkan.

Junai memejamkan mata, mendengarkan. Baginya, suara hujan adalah simfoni alam yang paling indah. Setiap tetes memiliki ritmenya sendiri, dan ketika jutaan tetes jatuh bersamaan, mereka menciptakan harmoni yang tidak bisa ditiru oleh alat musik apa pun.

Tapi kemudian, sekitar pukul sembilan, hujan berubah menjadi deras. Sangat deras.

Angin kencang bertiup dari arah barat, membengkokkan pelepah-pelepah sawit seperti tangan-tangan yang melambai panik. Petir menyambar-nyambar di kejauhan, sesekali di dekat desa, menerangi langit dengan kilatan putih kebiruan yang menyilaukan. Guruh menggelegar, mengguncang bumi, membuat jendela-jendela kayu bergetar.

Junai berdiri. Hujan deras seperti ini tidak biasa. Biasanya, hujan di Desa Awan Biru turun dengan lembut, memberkati kebun-kebun sawit dengan air yang dibutuhkan. Tapi malam ini, hujan turun dengan kemarahan—seperti langit sedang melampiaskan sesuatu, seperti alam sedang marah atas apa yang terjadi pada kanal.

“Junai! Masuk! Kau akan sakit!” ibunya berteriak dari dalam, suaranya nyaris tak terdengar di tengah gemuruh hujan.

“Iya, Bu!” Junai masuk ke rumah, tapi ia tidak bisa tidur. Ia duduk di dekat jendela, membuka sedikit celah, dan memandang ke luar.

Air sudah menggenang di halaman. Selokan-selokan tidak mampu menampung debit air yang begitu besar. Air mengalir dari perkebunan sawit di hulu, membawa tanah, daun, buah sawit yang jatuh, dan—yang paling penting—mengencerkan racun yang selama lima hari terakhir mencemari kanal.

“Ini berkah,” bisik Junai pada dirinya sendiri. “Hujan adalah berkah.”

Tapi di sudut hatinya, ia juga khawatir. Hujan deras seperti ini bisa menyebabkan banjir di daerah hilir. Bisa juga menyebabkan tanah longsor di tebing-tebing kanal yang curam. Dan yang paling ia khawatirkan: jika hujan terlalu deras, arus kanal bisa menjadi sangat kuat, membawa ikan-ikan yang baru saja mulai pulih ke hilir, atau bahkan menenggelamkan pemancing yang tidak waspada.

Ia memutuskan untuk tidak memikirkan hal-hal buruk. Ia memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi di kepalanya, ia membayangkan pagi esok. Ia membayangkan kanal yang pulih, air yang jernih, dan ikan-ikan yang kembali.

Di rumah lain di Desa Awan Biru, penghuninya juga terjaga.

Pak Jajang duduk di kursi goyangnya di teras rumah, ditemani istrinya, Bu Lastri. Ia tidak bisa tidur. Bukan karena hujan terlalu deras—ia sudah biasa dengan hujan selama tujuh puluh dua tahun hidupnya. Tapi ada kegelisahan di hatinya, firasat yang tidak bisa ia jelaskan.

“Pak, masuklah. Nanti masuk angin,” Bu Lastri memanggil dari dalam.

“Sebentar lagi, Bu. Saya mau lihat hujan.”

Bu Lastri menghela napas. Ia sudah mengenal suaminya selama lebih dari empat puluh tahun. Ketika Pak Jajang sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa mengubahnya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Bu Lastri, ikut duduk di samping suaminya.

“Kanal, Bu. Kanal.”

“Kanal? Hujan begini malah bagus untuk kanal. Airnya akan bersih.”

“Iya. Tapi saya khawatir dengan Darto.”

Bu Lastri diam. Nama Darto selalu menjadi topik yang sensitif di rumah mereka. Darto adalah anak kandung Pak Jajang dari istri pertama yang sudah meninggal. Junai adalah anak angkat yang dibawa pulang dari panti asuhan. Selama bertahun-tahun, Darto merasa tersaingi, merasa kehilangan kasih sayang, meskipun Pak Jajang selalu berusaha membagi perhatian dengan adil.

“Darto anak yang baik,” Bu Lastri akhirnya berkata. “Dia hanya butuh waktu.”

“Waktu? Sudah bertahun-tahun, Bu. Dia masih belum bisa menerima Junai sebagai saudara.”

“Mungkin kali ini berbeda. Kemarin, setelah kejadian di kanal, dia menangis. Dia memeluk Junai. Mungkin itu awal dari perubahan.”

“Saya harap begitu,” Pak Jajang menghela napas. “Tapi saya masih khawatir. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Sesuatu yang lebih dari sekadar umpan kimia.”

Bu Lastri menatap suaminya. “Kau pikir dia masih menyimpan setrum?”

Pak Jajang tidak menjawab. Ia hanya memandang hujan yang semakin deras, dan berdoa dalam hatinya agar Darto tidak melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.

Di rumahnya yang sederhana di ujung barat desa, Darto juga terjaga.

Ia duduk di kamarnya, memandang ransel yang tergeletak di sudut ruangan. Di dalam ransel itu, tersembunyi di balik lapisan jaket tua, ada sebuah benda yang selama seminggu terakhir menjadi beban di hatinya.

Setrum ikan.

Ia membeli alat itu dari dua orang kota, beberapa hari sebelum kanal ditemukan tercemar. Harganya tidak murah—lima ratus ribu rupiah, hampir sepertiga dari uang tabungannya. Tapi ia pikir itu sepadan. Dengan setrum, ia bisa mendapatkan ikan sebanyak mungkin. Ia bisa menjualnya, bisa memberi ke tetangga, bisa membuktikan pada semua orang bahwa ia juga bisa.

Tapi sejak membelinya, ia belum pernah menggunakannya. Setiap kali ia membawa setrum itu ke kanal, tangannya gemetar. Ada suara di dalam kepalanya yang terus berbisik, “Ini salah. Ini curang. Ini bukan memancing.”

Kemarin, ketika ia melihat Junai melepas ikan-ikan kecil, ketika ia mendengar Pak Jajang bercerita tentang masa lalu kanal, ketika ia dipeluk oleh Junai dan menangis seperti anak kecil—sesuatu berubah dalam dirinya. Ia sadar bahwa apa yang selama ini ia kejar—pengakuan, kemenangan, bukti bahwa ia lebih baik dari Junai—adalah hal yang kosong. Tidak ada artinya.

Tapi setrum itu masih ada. Masih tersembunyi di ranselnya. Masih menunggu.

Darto membuka ransel, mengeluarkan alat itu. Ia memandanginya di bawah cahaya lampu minyak. Benda hitam dengan dua elektroda di ujungnya, baterai besar di bagian tengah, dan tombol merah yang jika ditekan akan mengirimkan aliran listrik ke air, melumpuhkan segala yang ada di sekitarnya.

“Apa yang harus saya lakukan?” bisiknya pada diri sendiri.

Hujan di luar semakin deras. Petir menyambar, menerangi kamarnya dengan kilatan putih. Untuk sesaat, Darto melihat bayangannya sendiri di jendela—wajah lelah, mata sembab, bibir bergetar.

Ia tidak mengenali dirinya sendiri.

“Tidak,” katanya tegas. “Saya tidak akan menggunakannya. Saya tidak akan menjadi seperti mereka.”

Ia memasukkan kembali setrum itu ke ransel, tapi kali ini ia tidak menyembunyikannya. Ia meletakkan ransel di samping tempat tidurnya, sebagai pengingat bahwa besok pagi, ia akan melakukan sesuatu yang benar.

Junai bangun sebelum matahari terbit. Hujan sudah berhenti sekitar pukul tiga pagi, meninggalkan udara yang segar dan dingin. Ketika ia membuka pintu rumahnya, ia langsung merasakan perbedaan.

Udara tidak lagi bau anyir seperti beberapa hari terakhir. Bau itu hilang, digantikan oleh bau tanah basah yang segar, bau dedaunan yang baru dicuci hujan, dan sedikit aroma manis dari buah sawit yang jatuh.

Ia berjalan cepat menuju kanal. Di sepanjang jalan setapak, ia melihat genangan air di mana-mana. Daun-daun sawit bergelantungan basah, meneteskan air ke pundaknya. Burung-burung mulai berkicau, menyambut pagi dengan semangat baru.

Ketika ia sampai di tepi kanal, ia tertegun.

Kanal berubah total.

Air yang selama lima hari terakhir keruh kehijauan dan berminyak, kini berwarna kecoklatan alami—warna tanah dan dedaunan yang terbawa arus. Tidak ada lagi lapisan minyak di permukaan, tidak ada lagi bau anyir yang menusuk. Air mengalir deras dari hulu ke hilir, membawa ranting-ranting kering, daun-daun, dan buah sawit yang jatuh. Arusnya kuat, tapi itu adalah arus yang sehat—arus yang membawa oksigen, yang mengaduk dasar kanal, yang merangsang ikan untuk aktif.

Ketinggian air naik hampir setengah meter. Tepi-tepi kanal yang biasanya kering kini terendam, menciptakan area-area baru yang dangkal—tempat yang sempurna bagi ikan-ikan kecil untuk mencari makan.

Junai berlutut di tepi kanal, mencelupkan tangannya ke air. Airnya dingin, segar, dan—yang paling penting—tidak licin. Tidak ada residu kimia yang terasa di kulitnya. Ia menciduk sedikit air dengan telapak tangannya, menciumnya. Bau tanah, bau dedaunan, bau kehidupan.

“Hujan datang tepat waktu,” bisiknya.

Ia tidak langsung memancing. Ia duduk di tempat biasanya, memandang kanal yang mengalir deras, menikmati pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat. Burung-burung beterbangan di atas air, sesekali menyambar serangga yang terbang rendah. Di kejauhan, ia melihat riak-riak kecil di permukaan—tanda ikan-ikan mulai muncul.

“Hari ini kita panen,” katanya pada dirinya sendiri.

Sekitar pukul setengah tujuh, satu per satu warga mulai berdatangan. Ujang yang pertama—ia bahkan tidak sempat membuka warungnya, langsung bergegas ke kanal setelah melihat perubahan air dari kejauhan.

“Jun! Airnya bersih! Kanal pulih!” teriak Ujang dari kejauhan, suaranya penuh semangat.

“Belum pulih sepenuhnya, Mang. Tapi ini awal yang baik.”

“Hari ini kita panen!” Ujang berseru, meletakkan nampan gorengannya di atas batu besar. “Saya sudah bilang ke istri, saya tidak buka warung dulu. Saya mau mancing!”

Pak Jajang datang bersama Rini. Pak Jajang berjalan lebih cepat dari biasanya, tanpa tongkat. Matanya berbinar melihat kanal yang mengalir deras.

“Lihat itu, Jun!” Pak Jajang menunjuk ke arah selatan, di mana air berputar-putar membentuk pusaran kecil. “Pusaran itu tanda ikan besar sedang mencari makan di dasar. Mereka terbawa arus dari hulu.”

“Saya lihat, Pak. Saya sudah memilih spot di tikungan. Arus di sana melambat, banyak dedaunan terperangkap. Ikan pasti berkumpul di sana.”

“Bagus. Saya di bawah jembatan. Air dalam, arus lambat, cocok untuk ikan mas.”

Rini memilih spot di dekat pintu air. “Saya ingin coba di sana. Katanya lele banyak setelah hujan besar.”

Dadang, Asep, dan Toha datang bersama. Mereka berlari-lari kecil, tidak sabar untuk mulai memancing.

“Jun! Lihat airnya! Bersih!” Dadang berseru.

“Iya. Tapi arusnya deras. Hati-hati, jangan terlalu dekat dengan tepi yang curam.”

“Saya tahu! Saya sudah siap!” Dadang menunjukkan toples berisi anak kodok yang ia kumpulkan semalam. “Saya mau coba spot di akar sawit. Pakai anak kodok seperti yang kau ajarin.”

Asep memilih spot di tikungan dekat pohon karet. Toha mengikuti Junai, ingin belajar membaca arus.

Mereka semua tersebar di tepi kanal, memasang umpan, melempar dengan hati-hati. Suasana pagi itu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi keputusasaan, tidak ada lagi kemarahan. Yang ada adalah harapan—harapan yang lahir dari hujan semalam, dari air yang mengalir deras, dari kehidupan yang mulai kembali.

Junai memilih titik di tikungan kanal, di mana arus yang tadinya deras tiba-tiba melambat karena bentuk kanal yang berkelok. Di sini, dedaunan kering dan buah sawit yang terbawa arus dari hulu terperangkap, menciptakan tumpukan bahan organik yang kaya akan makanan bagi ikan.

Ia memasang umpan fermentasi di joran pertamanya—umpan yang sudah ia fermentasi selama lima hari, baunya sangat kuat, hampir menyengat. Ia melemparnya tepat di pusaran air, di mana arus berputar perlahan membawa umpan ke dasar.

Joran keduanya ia pasang dengan anak kodok, dilempar ke dekat akar-akar sawit yang menjuntai di tepi seberang. Di air deras seperti ini, ikan gabus akan mencari mangsa yang bergerak, dan anak kodok adalah pilihan yang sempurna.

Ia duduk, menunggu.

Tidak sampai lima menit, pelampung joran pertama bergerak. Bukan goyangan kecil—tarikan kuat yang langsung menenggelamkan pelampung ke dalam air. Joran Junai melengkung hampir setengah lingkaran.

“Wah!” seru Toha dari samping.

Junai tidak terburu-buru. Ia membiarkan ikan itu berenang dulu, merasakan kekuatan tarikannya. Ikan ini besar—mungkin ikan mas, dari cara ia melawan, berputar-putar di tempat, tidak lari ke akar-akar seperti gabus.

Ia memberi sedikit kendor, membiarkan ikan menguras energinya sendiri. Kemudian, ketika tarikan mulai melemah, ia menarik perlahan. Ikan itu melawan lagi, tapi lebih lemah. Tarik, kendor, tarik, kendor.

Setelah beberapa menit, seekor ikan mas besar muncul di permukaan. Warnanya kemerahan keemasan, sisik-sisiknya berkilau di bawah sinar matahari pagi. Beratnya sekitar dua kilogram—mungkin lebih.

Junai mengangkatnya ke tepi dengan hati-hati, menggunakan kain basah untuk memegang ikan agar tidak merusak lapisan lendirnya. Ia melepaskan kail dengan alat khusus, lalu memasukkan ikan itu ke dalam ember berisi air bersih.

“Junai dapat ikan mas besar!” teriak Toha dengan semangat.

Dadang yang mendengar dari kejauhan, langsung berteriak balik, “Bagus, Jun! Saya juga mau!”

Tidak lama setelah itu, Rini berteriak dari spot-nya di dekat pintu air. “Dapat! Dapat tiga ekor nila!” Ia mengangkat embernya, menunjukkan tiga ekor nila ukuran sedang yang masih menggelepar.

Pak Jajang dari bawah jembatan juga mendapat ikan—seekor gabus berukuran cukup besar, hampir satu kilogram. Ujang mendapat dua ekor nila dan satu ekor mas kecil.

Suasana riuh. Untuk pertama kalinya dalam lima hari, tepi kanal dipenuhi dengan teriakan kegirangan, tawa, dan semangat.

Di tengah keramaian itu, Darto duduk sendirian di spot-nya yang agak terpisah, di dekat akar sawit yang menjuntai di seberang. Sejak tiba, ia belum melempar umpan. Ia hanya duduk, memandang ransel yang tergeletak di sampingnya.

Di dalam ransel itu, setrum masih tersembunyi.

Ia datang pagi ini dengan niat untuk menyerahkan setrum itu pada Junai atau Pak Jajang. Tapi ketika ia melihat kanal yang pulih, ketika ia melihat teman-temannya bersemangat memancing, ketika ia mendengar teriakan kegirangan Junai mendapat ikan mas besar—sesuatu mengganjal di hatinya.

“Mereka dapat ikan,” pikirnya. “Mereka semua dapat ikan. Tapi saya? Saya belum pernah mendapat ikan besar sejak... sejak kapan?”

Ia ingat, terakhir kali ia mendapat ikan besar adalah enam bulan lalu. Itu pun hanya kebetulan—seekor gabus yang tersangkut di kailnya ketika ia sedang tidak fokus. Sejak itu, ia selalu pulang dengan ember kosong atau hanya ikan-ikan kecil yang tidak layak konsumsi.

Sementara Junai, setiap minggu selalu membawa pulang ikan. Kadang mas, kadang gabus, kadang nila. Ikan-ikan besar yang membuat iri semua pemancing.

“Kenapa dia selalu berhasil?” gumam Darto. “Apa yang dia punya yang tidak saya punya?”

Ia membuka ranselnya, mengintip ke dalam. Setrum itu masih di sana, tersembunyi di balik jaket tua. Gelap, dingin, menunggu.

“Sekali saja,” bisiknya. “Sekali saja saya menggunakan ini, saya bisa dapat ikan sebanyak mereka. Bahkan lebih. Saya bisa buktikan bahwa saya juga bisa.”

Tangannya meraih setrum itu. Benda hitam itu terasa berat di genggamannya. Jari telunjuknya menyentuh tombol merah.

“Darto!”

Ia tersentak. Suara Junai dari kejauhan.

Darto cepat-cepat memasukkan setrum itu kembali ke ransel, menutup ransel, dan berpura-pura sedang merapikan peralatan.

Junai menghampiri. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi matanya—matanya yang tajam itu—memandang ransel Darto sebentar sebelum beralih ke Darto.

“Kau pakai umpan apa?” tanya Junai.

“Umpan biasa. Pelet yang biasa saya pakai,” jawab Darto cepat. Terlalu cepat.

Junai tidak langsung merespons. Ia memandang ke arah air, lalu ke arah ransel Darto, lalu kembali ke Darto.

“Di air deras seperti ini, pelet akan cepat hanyut. Ikan tidak punya waktu untuk mencium baunya. Coba pakai umpan yang bergerak—anak kodok atau cacing. Ikan gabus suka mangsa yang bergerak di permukaan.”

“Saya tidak punya anak kodok.”

Junai mengeluarkan toples kecil dari kantongnya. “Ambil. Saya punya lebih.”

Darto menerima toples itu dengan ragu. Ia membuka tutupnya, melihat anak-anak kodok kecil yang gesit melompat-lompat.

“Pasang di punggung,” Junai mengajari. “Tusuk dangkal, jangan tembus. Biarkan kakinya bergerak bebas. Kalau kau tusuk terlalu dalam, dia akan mati dan tidak menarik bagi gabus.”

Darto mengambil satu anak kodok. Tangannya gemetar. Ia berusaha menusuk di punggung seperti yang diajarkan, tapi tusukannya terlalu dalam. Anak kodok itu menggelepar sebentar, lalu mati.

“Coba lagi,” kata Junai sabar.

Darto mengambil anak kodok kedua. Kali ini lebih hati-hati. Tusukan di punggung, dangkal. Anak kodok itu menggelepar, tapi masih hidup. Kakinya bergerak-gerak.

“Bagus. Sekarang lempar ke dekat akar sawit yang menjuntai. Di sana arusnya tidak terlalu deras. Biarkan kodok berenang.”

Darto melempar. Anak kodok itu mendarat di permukaan air dengan percikan kecil, lalu mulai berenang dengan gerakan-gerakan pendek. Pelampung dari gabus mengapung di belakangnya.

“Sekarang tunggu,” kata Junai. “Jangan buru-buru narik. Biarkan kodok berenang. Kalau ada gabus, dia akan mendekat, mengamati, baru menyambar. Bersabarlah.”

Junai kembali ke spot-nya, meninggalkan Darto sendirian.

Darto menatap pelampungnya yang mengapung tenang. Pikirannya berkecamuk. Setrum itu masih di ranselnya. Hanya sejauh lengan. Satu tekanan tombol, dan ikan-ikan di sekitarnya akan lumpuh, mengapung ke permukaan, tinggal dipungut.

“Sekali saja,” bisik suara di kepalanya. “Sekali saja. Tidak ada yang tahu.”

Tapi suara lain—suara Junai, suara Pak Jajang, suara ayahnya—berbisik lebih keras. “Ini salah. Ini curang. Ini bukan memancing.”

Pelampungnya bergerak.

Darto tersentak dari lamunannya. Pelampung bergoyang-goyang kecil—tanda ada ikan yang sedang mengamati umpan.

Ia memegang joran. Tangannya masih gemetar.

Pelampung bergerak lagi. Kali ini lebih kuat.

“Tenang,” katanya pada diri sendiri. “Tenang. Jangan buru-buru.”

Pelampung tenggelam tiba-tiba. Tarikan kuat membuat jorannya melengkung.

Darto menarik. Terlalu cepat. Ikan itu melompat, berhasil melepaskan diri, dan jatuh kembali ke air. Kailnya kosong. Anak kodoknya hilang.

“Sial!” Darto membentak, membanting jorannya ke tanah.

Dari kejauhan, Junai melihat. Ia tidak langsung mendekat. Ia memberi Darto waktu.

Darto duduk di tanah, memegangi kepalanya. Ia hampir menangis. Bukan karena kehilangan ikan, tapi karena frustasi pada dirinya sendiri.

“Kenapa saya selalu gagal?” bisiknya. “Kenapa saya tidak bisa seperti Junai? Kenapa saya selalu terburu-buru? Kenapa saya tidak punya kesabaran?”

Ia membuka ranselnya. Setrum itu ada di sana, mengintip dari balik jaket.

“Tidak,” katanya tegas. “Saya tidak akan menggunakan ini. Saya tidak akan menjadi pengecut.”

Ia menutup ransel, berdiri, mengambil jorannya, dan memasang umpan lagi. Kali ini ia memilih anak kodok yang paling kecil, paling gesit. Ia pasang di punggung dengan hati-hati, memastikan tusukannya dangkal.

Ia melempar ke tempat yang sama. Anak kodok itu berenang dengan lincah, kakinya bergerak-gerak.

Darto duduk, memegang joran dengan kedua tangan. Ia memejamkan mata sebentar, menarik napas dalam-dalam.

“Sabar,” katanya pada diri sendiri. “Sabar. Jangan terburu-buru.”

Ia membuka mata. Pelampung mengapung tenang. Air mengalir deras di sekitarnya, tapi di dekat akar sawit, arusnya lebih lambat. Anak kodoknya berenang ke sana kemari, sesekali menyelam sebentar lalu muncul lagi.

Semua inderanya ia fokuskan pada pelampung itu. Ia tidak memikirkan setrum. Ia tidak memikirkan Junai. Ia tidak memikirkan ayahnya. Ia hanya memikirkan anak kodok yang berenang, dan ikan gabus yang mungkin sedang mengintai dari balik akar.

Pelampung bergerak. Goyangan kecil.

Darto tidak bergerak. Ia menahan napas.

Pelampung bergoyang lagi. Lebih kuat.

Masih belum bergerak.

Tiba-tiba, pelampung tenggelam dengan tarikan yang sangat kuat. Joran Darto melengkung hampir membentuk huruf U. Senar menegang, air memercik ke mana-mana.

Darto tidak menarik. Ia ingat pesan Junai: biarkan dia berenang dulu. Beri sedikit kendor.

Ia memberi kendor. Ikan itu melesat ke kanan, hampir mencapai akar-akar sawit. Darto mengencangkan senar, menarik perlahan, membawa ikan itu kembali ke tengah.

Ikan itu melawan, berputar-putar, mencoba membebaskan diri. Tapi Darto tidak terburu-buru. Ia membiarkan ikan itu menguras energinya sendiri. Tarik, kendor, tarik, kendor.

Setelah beberapa menit, seekor ikan gabus besar muncul di permukaan. Tubuhnya loreng hitam kehijauan, panjang hampir setengah meter, berat mungkin satu setengah kilogram atau lebih. Matanya bulat tajam, mulutnya yang lebar menganga karena kail masih tertancap di punggung.

Darto mengangkatnya ke tepi dengan hati-hati. Tangannya gemetar—bukan karena gugup, tapi karena bahagia yang luar biasa.

“Saya dapat!” teriak Darto, suaranya pecah karena emosi. “Saya dapat ikan besar!”

Semua menoleh. Dadang, Asep, Toha, Rini, Ujang, Pak Jajang—semua melihat Darto yang berdiri di tepi kanal dengan ikan gabus besar di tangannya.

“Bagus, Darto!” teriak Dadang.

“Hebat!” Asep berseru.

“Itu gabus besar!” Toha takjub.

Pak Jajang tersenyum. Senyum yang lebar, penuh kebanggaan. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya berkaca-kaca.

Junai yang melihat dari kejauhan, hanya tersenyum tipis. Ia mengacungkan jempol pada Darto.

Darto menurunkan gabus itu ke ember dengan hati-hati. Ia duduk di tanah, mengatur napas. Tangannya masih gemetar, tapi hatinya tenang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa puas dengan dirinya sendiri. Bukan karena ia mendapat ikan besar, tapi karena ia mendapatkannya dengan cara yang benar—dengan kesabaran, dengan teknik yang tepat, tanpa curang, tanpa setrum.

Setelah suasana sedikit mereda, Darto berdiri. Ia mengambil ranselnya yang tergeletak di samping, membuka ritsletingnya. Semua mata tertuju padanya.

Ia mengeluarkan setrum itu.

Benda hitam dengan dua elektroda di ujungnya, baterai besar di tengah, tombol merah di gagangnya. Di bawah sinar matahari pagi, alat itu tampak lebih mengerikan daripada di malam hari.

“Junai,” Darto memanggil dengan suara yang berat tapi mantap. “Sebenarnya kemarin saya tidak hanya mengambil botol perangsang dari mereka. Saya juga... saya juga membeli ini. Setrum ikan. Mereka menjualnya murah. Lima ratus ribu. Saya pikir, dengan ini, saya bisa dapat ikan sebanyak mungkin. Saya bisa buktikan pada semua orang bahwa saya juga bisa.”

Semua terdiam. Dadang yang tadinya tersenyum, kini wajahnya berubah tegang. Rini menutup mulutnya dengan tangan. Ujang menggeleng-geleng kepala.

“Saya ingin menggunakannya hari ini,” Darto melanjutkan. “Tadi pagi, ketika saya melihat kalian semua dapat ikan, ketika saya sendiri gagal dapat ikan, saya hampir menekan tombol ini. Saya pikir, sekali saja. Sekali saja saya curang. Tidak ada yang tahu.”

Ia berhenti, menelan ludah.

“Tapi saya tidak jadi. Saya tidak jadi menggunakannya. Bukan karena takut ketahuan. Tapi karena... karena saya sadar. Ini bukan memancing. Ini bukan cara yang diajarkan ayah saya. Ini bukan cara yang diajarkan Pak Jajang. Ini bukan cara yang dilakukan Junai. Ini... ini adalah pembunuhan.”

Darto memandang setrum di tangannya. Benda itu terasa berat—lebih berat dari yang seharusnya.

“Saya minta maaf. Saya minta maaf pada kalian semua. Pada Pak Jajang, pada Junai, pada Dadang, pada semua warga desa yang ikut menjaga kanal ini. Saya hampir melakukan kesalahan besar. Tapi saya tidak jadi. Dan saya bersyukur saya tidak jadi.”

Ia menyerahkan setrum itu pada Junai.

Junai menerimanya dengan hati-hati. Ia memandang benda itu sebentar—membayangkan betapa banyak ikan yang bisa mati dalam hitungan menit dengan alat ini. Betapa banyak telur ikan di akar-akar sawit yang hancur. Betapa banyak kehidupan yang bisa musnah.

“Terima kasih, Darto,” kata Junai. “Terima kasih karena kau memilih untuk tidak menggunakannya. Terima kasih karena kau percaya pada kami.”

Pak Jajang melangkah maju. Dengan tangan yang gemetar, ia mengambil setrum dari Junai. Ia memandangnya, lalu memandang Darto.

“Kau selamat, Darto,” kata Pak Jajang dengan suara yang berat. “Kau selamat dari kesalahan besar. Kalau kau menggunakan ini, ikan-ikan kecil akan mati, telur-telur ikan akan hancur, dan kanal ini akan mati bertahun-tahun. Tapi kau tidak jadi menggunakannya. Kau memilih untuk sabar. Kau memilih untuk belajar. Kau memilih untuk menjadi pemancing sejati.”

“Saya malu, Pak,” kata Darto, air matanya jatuh.

“Tidak perlu malu, Nak. Yang penting kau sadar sebelum terlambat. Yang penting kau memilih jalan yang benar ketika kau masih punya pilihan.”

Pak Jajang menyerahkan setrum itu pada Junai. “Hancurkan.”

Junai mengambil setrum itu. Ia berjalan ke batu besar di tepi kanal—batu yang sama yang kemarin ia gunakan untuk menghancurkan setrum pertama. Dengan kedua tangannya, ia membanting alat itu ke batu.

Sekali. Plastiknya retak.

Dua kali. Komponen dalamnya hancur, kabel-kabel kecil putus.

Tiga kali. Baterainya terlepas, berguling ke tanah.

Junai mengambil baterai itu—baterai besar berwarna hitam—dan melemparkannya jauh ke dalam semak, jauh dari kanal. Baterai mengandung bahan kimia berbahaya yang tidak boleh mencemari air.

Ia memungut sisa-sisa setrum yang hancur—plastik pecah, kabel-kabel, logam-logam kecil—dan memasukkannya ke kantong plastik yang dibawanya. Sampah elektronik harus dibuang dengan benar, tidak ke kanal.

“Sudah,” kata Junai. “Tidak ada lagi setrum di kanal ini.”

Matahari mulai meninggi ketika mereka memutuskan untuk pulang. Hari itu, semua pulang dengan ember penuh.

Junai membawa pulang ikan mas dua kilogram yang ia dapat di pagi hari, ditambah dua ekor nila ukuran sedang yang ia dapat setelah membantu Darto.

Pak Jajang membawa pulang seekor gabus hampir satu kilogram dan dua ekor mas ukuran sedang.

Rini membawa pulang tiga ekor nila dan satu ekor lele.

Ujang membawa pulang dua ekor nila dan satu ekor mas kecil.

Dadang akhirnya mendapat seekor gabus ukuran sedang setelah berpindah spot tiga kali. Asep mendapat dua ekor nila. Toha mendapat seekor gabus kecil yang ia lepas karena masih belum layak konsumsi.

Dan Darto—Darto yang pagi ini hampir menekan tombol setrum—pulang dengan seekor gabus besar satu setengah kilogram di embernya. Ikan pertama yang ia dapat dengan cara yang benar, dengan kesabaran, dengan teknik yang diajarkan Junai.

Mereka berjalan pulang bersama menyusuri jalan setapak di antara pelepah sawit. Embun pagi sudah mengering, digantikan sinar matahari yang hangat. Burung-burung berkicau riang, seolah ikut merayakan hari yang baik.

“Darto,” Dadang memanggil dari depan. “Besok kau mau mancing lagi?”

“Mau,” jawab Darto. “Saya mau coba spot di tikungan. Kata Junai, banyak ikan mas di sana setelah hujan.”

“Aku ikut,” kata Dadang. “Kita berdua saja. Biar tidak ramai.”

“Boleh.”

Junai yang berjalan di belakang bersama Pak Jajang, tersenyum mendengar percakapan itu. Ada kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan—kehangatan persahabatan yang sempat retak, kini mulai pulih.

“Jun,” Pak Jajang memanggil pelan.

“Iya, Pak.”

“Kau tahu, hari ini aku tidak hanya bangga pada Darto. Aku juga bangga padamu. Kau bisa membuatnya sadar tanpa perlu marah, tanpa perlu memaksa. Kau hanya memberi contoh, memberi kesempatan, dan percaya bahwa dia akan memilih jalan yang benar.”

“Saya hanya melakukan apa yang diajarkan Bapak, Pak. Bahwa memancing bukan soal siapa yang paling banyak mendapat ikan. Tapi soal siapa yang paling sabar, siapa yang paling memahami, siapa yang paling bisa menjaga.”

“Kau sudah lebih dari yang saya ajarkan, Jun. Kau sudah menjadi guru bagi kami semua.”

“Saya hanya murid, Pak. Murid dari kanal ini. Dan kanal ini masih mengajarkan banyak hal.”

Mereka berjalan dalam diam. Di kejauhan, kanal mengalir deras membawa air bersih dari hulu. Airnya masih kecoklatan karena tanah dan dedaunan, tapi itu adalah warna kehidupan—bukan warna kematian seperti beberapa hari yang lalu.

Junai menoleh sekali lagi ke arah kanal. Di permukaan air, ia melihat riak-riak kecil—bukan riak dari arus, tapi riak dari ikan-ikan yang melompat, menikmati pagi yang segar setelah hujan deras semalam.

“Kanal ini masih hidup,” bisiknya. “Dan kita akan menjaganya.”


 

BAB 7: Konflik di Tepi Air

Kanal tak lagi sunyi keesokan harinya. Bukan karena ramai pemancing yang duduk tenang dengan joran di tangan, menikmati pagi yang sejuk. Bukan karena tawa dan canda seperti beberapa hari lalu ketika hujan baru saja reda dan ikan-ikan mulai kembali. Pagi itu, kanal ramai dengan suara yang berbeda—suara keras, suara marah, suara perdebatan yang menggema di antara pepohonan sawit dan memecah ketenangan desa yang biasanya damai.

Kabar tentang setrum ikan dan umpan kimia telah menyebar dari mulut ke mulut sejak kemarin sore. Dari warung Ujang, kabar itu merambat ke rumah-rumah warga, ke kebun-kebun sawit, ke pengajian ibu-ibu, bahkan ke lapangan voli tempat anak-anak muda biasa bermain. Setiap orang punya versi cerita sendiri-sendiri. Ada yang bilang Darto sudah menggunakan setrum dan membunuh ratusan ikan. Ada yang bilang Darto adalah dalang di balik pencemaran kanal seminggu lalu. Ada juga yang bilang Darto bekerja sama dengan orang kota untuk meracuni kanal demi keuntungan pribadi.

Kabar burung memang selalu lebih cepat terbang dari kebenaran.

Junai tiba di tepi kanal pukul setengah enam, seperti biasa. Ia bermaksud memanfaatkan pagi yang segar setelah hujan semalam—waktu terbaik untuk memancing, ketika ikan-ikan masih aktif mencari makan setelah arus deras membawa makanan baru. Ia membawa dua joran, toples berisi anak kodok, dan umpan fermentasi yang sudah ia siapkan semalam.

Tapi ketika ia sampai, kanal sudah ramai. Bukan dengan pemancing, tapi dengan warga yang berdiri berkelompok-kelompok di tepi jalan setapak, berbicara dengan suara yang semakin lama semakin keras. Beberapa dari mereka membawa cangkul dan sabit—bukan untuk membersihkan kanal, tapi entah untuk apa. Ada juga yang membawa pentungan kayu, sesuatu yang jarang terlihat di desa yang damai ini.

“Junai! Junai datang!” seseorang berteriak ketika melihat Junai muncul dari balik rumpun bambu.

Seketika, semua mata tertuju padanya. Ada sekitar tiga puluh orang di tepi kanal pagi itu—lebih banyak dari biasanya. Junai mengenali sebagian besar wajah: Karto, petani sawit yang rumahnya paling dekat dengan kanal; Pak RT, yang jarang ikut urusan kanal; beberapa ibu-ibu dari pengajian yang biasanya tidak pernah terlihat di tepi air; bahkan anak-anak kecil yang seharusnya sudah berangkat sekolah, tampak berkeliaran di antara kerumunan.

“Junai, mana Darto?” teriak Karto dari kerumunan. Wajahnya merah padam, matanya melotot. Di tangannya, ia memegang cangkul—bukan untuk bertani, tapi untuk... Junai tidak mau berpikir.

“Darto belum datang,” jawab Junai tenang. Ia meletakkan joran dan embernya di tempat biasanya, di dekat tikungan kanal. “Ada apa, Pak Karto? Ramai sekali pagi ini.”

“Ada apa? Kau tanya ada apa?” Karto melangkah maju, hampir menerobos. “Kami dengar Darto punya setrum! Setrum ikan! Dia mau meracuni kanal kita! Dia sudah hampir menggunakannya kemarin!”

“Dia tidak jadi menggunakannya, Pak,” Junai membela. “Dia menyerahkan setrumnya. Kami sudah hancurkan kemarin.”

“Tidak jadi? Tapi dia punya niat! Dia sudah membelinya! Itu sudah cukup!” Karto tidak bergeming.

Warga lain ikut bersuara. Seorang laki-laki paruh baya dengan kumis tebal—namanya Sarip, petani sawit yang juga sering memancing di kanal—meneriakkan, “Darto harus dihukum! Kalau tidak, nanti orang lain ikut-ikutan! Kanal kita bisa rusak total!”

“Benar!” sahut warga lain. “Kita harus beri pelajaran!”

“Jangan cuma Darto! Dua orang kota itu juga harus kita cari!” yang lain menambahkan.

Suasana semakin memanas. Beberapa warga mulai mengacungkan pentungan dan cangkul mereka. Anak-anak kecil mulai menangis ketakutan. Ibu-ibu berusaha menenangkan, tapi suara mereka tenggelam oleh teriakan-teriakan yang semakin keras.

Junai berdiri di tengah, mencoba menenangkan. “Warga sekalian, saya mengerti kemarahan Bapak-Ibu. Saya juga marah. Tapi mari kita selesaikan dengan kepala dingin. Jangan pakai kekerasan. Itu tidak akan menyelesaikan masalah.”

“Jangan sok jadi hakim, Junai!” potong Karto, menuding jari ke arah Junai. “Kau bukan kepala desa, bukan polisi. Kau hanya pemancing biasa. Sama seperti kami. Apa kau punya kuasa untuk membela Darto? Apa kau yang akan bertanggung jawab kalau nanti kanal diracuni lagi?”

Junai menarik napas panjang. Ia tahu Karto sedang emosi. Rumah Karto memang paling dekat dengan kanal—hanya beberapa puluh meter dari tepi air. Jika kanal tercemar, Karto dan keluarganya yang paling merasakan dampaknya. Bau anyir masuk ke rumah, air sumur terasa aneh, dan ikan-ikan yang biasa menjadi lauk keluarga menghilang.

“Pak Karto, saya tidak punya kuasa apa pun. Saya hanya warga biasa. Tapi saya tinggal di sini, dan saya juga ingin kanal ini aman. Saya juga ingin anak-anak kita bisa memancing di sini tanpa takut. Tapi memukul Darto, mengusir Darto, itu tidak akan membuat kanal lebih aman. Yang membuat kanal aman adalah kesadaran kita semua untuk menjaga.”

“Kesadaran?” Karto mendengus sinis. “Kau pikir Darto punya kesadaran? Dia yang membeli setrum dari orang kota! Dia yang mau meracuni kanal kita! Dan kau bilang dia sadar?”

“Dia sadar, Pak. Dia menyerahkan setrumnya sendiri. Tanpa dipaksa. Tanpa diminta. Dia datang kepada saya, kepada Pak Jajang, dan menyerahkan setrum itu. Dia mengakui kesalahannya. Itu namanya kesadaran.”

“Sadar setelah ketahuan!” teriak Sarip dari kerumunan. “Kalau tidak ketahuan, mana mau dia menyerahkan!”

“Dia tidak ketahuan, Pak Sarip,” Junai membela. “Tidak ada yang tahu Darto punya setrum. Dia bisa saja menggunakannya tanpa ada yang tahu. Tapi dia memilih untuk tidak menggunakannya. Dia memilih untuk menyerahkan. Itu bukan karena ketahuan. Itu karena hatinya berubah.”

Suasana hening sejenak. Beberapa warga saling berpandangan, ada yang mulai ragu dengan kemarahan mereka.

Darto datang dari arah barat sekitar pukul tujuh. Ia berjalan sendiri, joran di tangan kanan, ember kosong di tangan kiri. Wajahnya pucat—lebih pucat dari biasanya. Matanya sembab, sepertinya semalaman ia tidak bisa tidur.

Ketika ia melihat kerumunan warga di tepi kanal, langkahnya terhenti. Ia melihat cangkul dan pentungan. Ia melihat wajah-wajah marah menatapnya. Ia melihat Karto yang melotot, Sarip yang mengepalkan tangan, dan Pak RT yang berdiri di pinggir dengan tangan di dada.

Darto menunduk. Ia tahu hari ini akan berat. Ia sudah mempersiapkan dirinya sejak semalam. Tapi melihat langsung kemarahan warga—yang dulu tersenyum padanya, yang dulu memanggilnya dengan ramah, yang dulu menerima ikan darinya ketika ia kebanjiran hasil tangkapan—rasanya seperti ditusuk ribuan jarum.

“Itu dia! Darto!” teriak seseorang.

Seketika, semua mata beralih ke Darto. Beberapa warga mulai bergerak mendekat. Dadang yang baru datang bersama Asep dan Toha, langsung berlari menghadang.

“Jangan! Jangan dulu!” Dadang membentangkan tangan, menghalangi warga yang hendak mendekati Darto. “Kita bicara baik-baik!”

“Dadang, kau jangan melindungi dia!” Karto berteriak. “Dia sudah hampir merusak kanal kita! Dia hampir membunuh ikan-ikan kita!”

“Tapi dia tidak jadi, Pak!” Dadang membela. “Dia menyerahkan setrumnya! Dia mengaku!”

“Mengaku setelah ketahuan!” Sarip ikut berteriak.

“Dia tidak ketahuan, Pak! Tidak ada yang tahu dia punya setrum! Dia sendiri yang mengaku!” Dadang berusaha menjelaskan.

Tapi warga tidak mudah tenang. Mereka sudah datang dengan amarah yang menggebu-gebu. Mereka butuh seseorang untuk disalahkan. Mereka butuh kepastian bahwa kejadian ini tidak akan terulang. Dan Darto, dengan setrum yang hampir ia gunakan, menjadi sasaran yang sempurna.

Darto berdiri di tempatnya, tidak bergerak. Dadang dan Asep berdiri di depannya, menghalangi warga yang semakin mendekat. Toha berdiri di samping, siap membantu jika diperlukan.

Junai berjalan mendekati Darto. “Kau datang,” katanya pelan.

“Saya harus datang,” jawab Darto dengan suara lirih. “Saya tidak bisa lari dari kesalahan saya.”

“Kau tidak sendirian. Kami di sini.”

Darto menatap Junai. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih.”

“Darto harus dihukum!” teriak Karto lagi. “Kalau tidak, nanti orang lain ikut-ikutan beli setrum! Kanal kita bisa rusak total!”

“Hukum apa yang kau mau, Pak Karto?” tanya Junai dengan suara lantang. “Kau mau pukul dia? Kau mau usir dia dari desa? Apa itu akan membuat kanal lebih baik?”

“Setidaknya dia jera!”

“Jera karena dipukul? Atau jera karena sadar?” Junai tidak menyerah. “Pak Karto, saya tidak membela Darto karena saya sayang dia. Saya membela Darto karena saya tahu, hukuman fisik tidak akan menyelesaikan masalah. Dulu, tiga puluh tahun lalu, ada pemancing yang pakai bom ikan. Warga marah, mereka pukul pemancing itu sampai babak belur. Pemancing itu lari dari desa. Tapi kanal tetap mati. Ikan tetap tidak ada. Siapa yang untung? Tidak ada.”

Pak Jajang yang sejak tadi berdiri di pinggir, mendengar nama dirinya disebut. Ia melangkah maju, dituntun oleh Rini yang membantu memegang lengannya.

“Junai benar,” kata Pak Jajang dengan suara parau namun berwibawa. Suaranya tidak keras, tapi jelas terdengar di tengah keramaian. “Saya yang mengalaminya sendiri. Waktu itu, kami pikir memukul pemancing itu adalah solusi. Tapi ternyata tidak. Dia lari, kanal tetap mati, dan kami kehilangan salah satu warga desa. Tidak ada yang menang.”

Pak Jajang berhenti sejenak, menatap satu per satu warga yang hadir. Matanya yang tua dan berpengalaman itu menyapu wajah Karto, Sarip, Pak RT, dan yang lainnya.

“Setelah itu, kami belajar. Hukuman fisik tidak menyelesaikan masalah. Yang menyelesaikan masalah adalah kesadaran. Kami mengajak pemancing itu kembali, membersihkan kanal bersama, menanam bibit ikan bersama. Butuh waktu bertahun-tahun, tapi akhirnya kanal pulih. Dan pemancing itu sekarang menjadi salah satu penjaga kanal terbaik.”

“Itu dulu, Pak!” Karto tidak menyerah. “Sekarang beda! Sekarang kanal sudah tercemar sekali! Kalau dibiarkan, bisa mati total!”

“Kanal tidak akan mati, Karto,” Pak Jajang menjawab dengan tenang. “Air mengalir. Kehidupan selalu mencari jalan. Yang kita butuhkan bukan hukuman, tapi kesadaran. Dan Darto sudah menunjukkan kesadaran itu. Ia menyerahkan setrumnya sendiri. Ia mengakui kesalahannya. Itu lebih berharga daripada seribu kali hukuman.”

“Tapi dia harus bertanggung jawab!” Karto masih bersikeras.

“Dan dia akan bertanggung jawab,” Pak Jajang mengangguk. “Bukan dengan dipukul, bukan dengan diusir. Tapi dengan bekerja. Membersihkan kanal, menanam bibit ikan, mengajak warga lain untuk tidak menggunakan setrum atau umpan kimia. Itu tanggung jawab yang lebih berarti.”

Rini yang sejak tadi membantu Pak Jajang, melangkah maju. Di tangannya, ia membawa buku catatan yang selalu menjadi teman setianya. Buku itu penuh dengan data, grafik, dan gambar-gambar ikan yang ia gambar dengan teliti.

“Warga sekalian,” Rini memulai dengan suara yang tenang tapi tegas. “Saya Rini. Saya tidak sering ikut dalam urusan desa, tapi saya tinggal di sini dan saya peduli pada kanal ini. Selama seminggu terakhir, saya mengambil sampel air setiap hari. Saya mencatat perubahan warna, bau, kadar amonia, fosfat, dan pH. Saya juga memotret setiap perubahan yang terjadi.”

Ia membuka buku catatannya, menunjukkan halaman-halaman yang penuh dengan data. Beberapa warga mendekat, penasaran.

“Ini data sebelum pencemaran. Kadar amonia normal, fosfat normal, pH netral. Ini data setelah pencemaran. Kadar amonia naik tiga kali lipat, fosfat naik lima kali lipat, pH menjadi asam. Ini data setelah hujan kemarin. Kadar amonia turun drastis, fosfat mulai turun, pH kembali normal. Kanal mulai pulih.”

“Apa maksudnya, Rin?” tanya seorang ibu dari kerumunan.

“Maksudnya, kanal ini masih bisa pulih. Tapi butuh waktu dan butuh kerja sama kita semua. Bukan hanya Darto. Bukan hanya Junai. Tapi kita semua.”

Rini menutup bukunya, menatap warga satu per satu.

“Saya setuju dengan Pak Jajang. Hukuman fisik bukan solusi. Tapi kita juga tidak bisa membiarkan begitu saja. Saya mengusulkan, Darto harus ikut serta dalam kerja bakti membersihkan kanal. Bukan hanya sekali, tapi rutin. Sampai kanal benar-benar pulih. Darto juga harus membantu sosialisasi tentang bahaya setrum dan umpan kimia kepada warga lainnya. Dan yang paling penting, kita semua harus ikut menjaga. Tidak hanya menyalahkan satu orang.”

“Saya setuju,” kata Junai cepat.

“Saya juga setuju,” Dadang mengangkat tangan.

“Saya setuju,” Asep dan Toha serempak.

Pak RT yang dari tadi diam, akhirnya bersuara. “Saya juga setuju. Tapi usul Rini harus disetujui semua warga. Kalau ada yang keberatan, silakan bicara.”

Suasana hening. Beberapa warga masih tampak ragu. Karto masih memasang wajah keras. Sarip masih melipat tangan di dada.

“Saya keberatan,” kata Karto akhirnya. “Darto harus dihukum lebih dari itu. Dia sudah hampir merusak kanal. Dia sudah membeli setrum dari orang kota. Itu bukan kesalahan kecil.”

“Apa yang kau mau, Pak Karto?” tanya Junai sabar.

“Dia harus mengganti rugi. Ikan-ikan yang mati karena pencemaran, itu tanggung jawabnya.”

“Pak Karto,” Rini memotong dengan sopan, “pencemaran kemarin dilakukan oleh dua orang kota itu, bukan Darto. Darto memang membeli setrum dari mereka, tapi dia tidak menggunakannya. Dan dia sudah menyerahkan setrum itu. Pencemaran kemarin adalah ulah orang kota yang menebar racun. Darto tidak terlibat dalam itu.”

“Tapi dia tahu! Dia tahu mereka akan meracuni! Dan dia diam saja!”

Darto yang sejak tadi berdiri diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya lirih, hampir tidak terdengar.

“Pak Karto... saya minta maaf. Saya memang tahu mereka akan melakukan sesuatu. Tapi saya tidak tahu mereka akan meracuni. Saya pikir mereka hanya akan memancing dengan umpan kimia biasa. Saya tidak tahu mereka akan menebar racun. Saya... saya bodoh. Saya seharusnya curiga. Tapi saya tidak.”

“Kau dengar sendiri! Dia mengaku tahu!” Karto menunjuk ke arah Darto.

“Dia tahu mereka akan melakukan sesuatu, tapi tidak tahu itu racun,” Junai membela. “Itu berbeda, Pak Karto.”

“Tidak berbeda! Sama saja!”

“Pak Karto,” Pak Jajang memotong dengan suara yang lebih tegas. “Saya tahu kau marah. Saya tahu kau kecewa. Tapi mari kita lihat fakta. Darto memang bersalah karena membeli setrum. Tapi dia tidak menggunakannya. Dia tidak meracuni kanal. Dia tidak terlibat dalam pencemaran. Dia adalah korban dari godaan—godaan untuk mengambil jalan pintas. Dan dia sudah sadar. Dia sudah menyerahkan setrumnya. Apa lagi yang kau mau?”

Karto tidak menjawab. Ia menggertakkan gigi, tapi tidak bisa membantah.

“Pak Karto,” Junai mendekati Karto. Suaranya pelan, hanya cukup didengar oleh Karto dan beberapa orang di sekitarnya. “Saya mengerti kekhawatiran Bapak. Rumah Bapak paling dekat dengan kanal. Bapak yang paling merasakan dampaknya kalau kanal rusak. Tapi percayalah, menghukum Darto tidak akan membuat kanal lebih baik. Yang membuat kanal lebih baik adalah kita semua bekerja sama. Darto sudah siap bekerja. Bapak juga, kan?”

Karto memandang Junai. Matanya masih marah, tapi ada keraguan di sana. “Apa jaminan dia tidak akan mengulangi?”

“Saya yang menjamin,” kata Junai tegas.

“Saya juga menjamin,” Pak Jajang menambahkan.

“Saya juga,” Dadang ikut.

“Saya juga,” Rini, Asep, Toha, dan Ujang bersamaan.

Karto memandang mereka satu per satu. Ia melihat kesungguhan di mata mereka. Ia melihat bahwa Darto tidak sendirian. Bahwa seluruh kelompok pemancing desa berdiri di belakang Darto—bukan untuk membela kesalahannya, tapi untuk membantunya memperbaiki diri.

“Baiklah,” kata Karto akhirnya, menghela napas panjang. “Saya setuju. Tapi Darto harus kerja bakti. Dan saya ingin melihat sendiri dia membersihkan kanal. Tidak boleh bolong.”

“Saya tidak akan bolong, Pak,” Darto berjanji dengan suara yang bergetar tapi mantap.

Namun, konflik belum sepenuhnya reda. Dari kerumunan, seorang perempuan setengah baya melangkah maju. Itu Bu Lastri, istri Pak Jajang. Ia biasanya tidak ikut dalam urusan kanal, tapi pagi ini ia datang—mungkin karena mendengar bahwa Darto, anak tiri yang selama ini menjauh, sedang dalam masalah besar.

“Saya ingin bicara,” kata Bu Lastri dengan suara yang tenang tapi tegas.

Semua warga menghormatinya. Bu Lastri adalah salah satu sesepuh desa, istri dari Pak Jajang yang dihormati, dan ibu tiri dari Darto.

“Bu Lastri, silakan,” Pak RT mempersilakan.

Bu Lastri berdiri di hadapan warga. Matanya yang sudah tua menatap Darto yang berdiri di antara Junai dan Dadang.

“Darto,” panggil Bu Lastri.

Darto menunduk. “Ibu.”

“Kau tahu, selama bertahun-tahun, saya melihat kau tumbuh menjadi pemuda yang keras kepala. Kau selalu ingin menang. Kau selalu ingin menjadi yang terbaik. Kau iri pada Junai karena dia lebih pintar memancing. Kau marah pada ayahmu karena dia membawa pulang anak orang. Kau lari dari rumah setiap kali ada pertengkaran kecil. Saya tahu semua itu.”

Darto tidak menjawab. Air matanya jatuh.

“Tapi saya juga tahu, Darto, bahwa kau anak yang baik. Di balik kekerasan kepalamu, kau punya hati yang lembut. Kau pernah diam-diam memberi ikan pada tetangga yang sedang sakit. Kau pernah membantu Ibu Sumi memperbaiki atap rumahnya tanpa diminta. Kau pernah menangis ketika melihat anak ayam kehujanan. Saya lihat semua itu.”

Bu Lastri berhenti sejenak, menarik napas.

“Kesalahan yang kau lakukan—membeli setrum, hampir menggunakannya—itu adalah kesalahan besar. Tapi kau sudah sadar. Kau sudah menyerahkan setrum itu. Kau sudah meminta maaf. Itu yang membuat saya bangga. Bukan karena kau tidak pernah salah, tapi karena kau berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.”

Darto mengangkat wajah. Matanya basah. “Bu... saya minta maaf. Selama ini saya selalu menjauh. Saya selalu merasa Bu membenci saya. Saya pikir Bu lebih sayang Junai.”

Bu Lastri tersenyum tipis. “Darto, saya tidak membenci siapa pun. Saya hanya ibu yang berusaha membesarkan dua anak laki-laki dengan cara yang berbeda. Junai butuh kasih sayang lebih karena dia tidak punya siapa-siapa. Tapi kau... kau butuh ruang. Kau butuh kebebasan. Kau butuh diakui sebagai diri sendiri, bukan sebagai anak Pak Jajang atau saudara Junai. Dan saya memberikan itu. Mungkin terlalu banyak ruang sehingga kau merasa saya tidak peduli. Maafkan saya.”

Darto tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia berlutut di hadapan Bu Lastri, mencium tangan ibu tirinya itu. “Maafkan saya, Bu. Maafkan saya selama ini.”

Bu Lastri mengusap kepala Darto. “Sudah, Nak. Tidak perlu menangis. Laki-laki jangan cengeng.”

Beberapa ibu-ibu yang melihat adegan itu ikut menangis. Pak RT mengusap matanya dengan lengan bajunya. Karto yang tadinya masih memasang wajah keras, kini tampak melunak.

Pak RT melangkah ke tengah, mengambil alih situasi. Sebagai Keta RT di desa—meskipun desa Awan Biru hanya dusun kecil di bawah kecamatan Kabut Merah—ia memiliki wewenang untuk mengambil keputusan.

“Warga sekalian,” Pak RT memulai dengan suara yang lantang. “Saya sudah mendengar semua pendapat. Ada yang ingin Darto dihukum. Ada yang ingin Darto dimaafkan. Ada yang mengusulkan kerja bakti. Saya akan mengambil keputusan.”

Semua warga diam, mendengarkan.

“Pertama, tentang Darto. Darto telah mengakui kesalahannya. Dia membeli setrum ikan, tapi tidak menggunakannya. Dia menyerahkan setrum itu dan meminta maaf. Itu adalah langkah yang benar. Karena itu, saya memutuskan tidak ada hukuman fisik atau pengusiran dari desa.”

Karto tampak hendak protes, tapi Pak RT mengangkat tangan, memintanya bersabar.

“Kedua, Darto harus bertanggung jawab. Dia harus ikut serta dalam kerja bakti membersihkan kanal setiap hari Minggu selama tiga bulan ke depan. Dia juga harus membantu sosialisasi tentang bahaya setrum dan umpan kimia kepada warga. Jika dalam tiga bulan dia tidak mematuhi, maka akan ada sanksi lebih lanjut.”

Darto mengangguk. “Saya siap, Pak RT.”

“Ketiga, tentang dua orang kota yang meracuni kanal. Laporan sudah kami sampaikan ke polisi kecamatan. Kami akan terus menindaklanjuti. Jangan main hakim sendiri. Serahkan pada pihak berwajib.”

“Keempat, tentang kanal. Mulai minggu depan, kita adakan kerja bakti rutin setiap hari Minggu. Membersihkan sampah, menanam bibit ikan, dan membuat kawasan konservasi. Semua warga diharapkan ikut. Tidak terkecuali.”

Pak RT berhenti, menatap warga satu per satu. “Ada yang keberatan dengan keputusan ini?”

Suasana hening. Karto masih tampak tidak puas, tapi ia tidak bersuara. Sarip yang tadinya ikut marah, kini hanya mengangguk-angguk.

“Kalau tidak ada yang keberatan, keputusan ini berlaku,” Pak RT menutup.

Warga mulai bubar satu per satu. Karto pergi dengan wajah masih cemberut, tapi tanpa membawa cangkulnya. Sarip ikut pergi, diikuti oleh beberapa warga lain. Ibu-ibu kembali ke rumah masing-masing, membawa cerita yang akan mereka sebarkan di pengajian nanti. Anak-anak kecil berlarian kembali ke sekolah, meskipun sudah terlambat.

Tinggallah kelompok pemancing—Junai, Darto, Dadang, Asep, Toha, Rini, Ujang, dan Pak Jajang bersama Bu Lastri—di tepi kanal yang mulai sunyi.

Darto duduk di tanah, memegangi kepalanya. Badannya masih gemetar, bekas tangisan masih terlihat di wajahnya.

Junai duduk di sampingnya, tidak bicara. Ia hanya meletakkan tangan di pundak Darto, memberi kehangatan yang tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata.

“Jun,” Darto memanggil lirih.

“Iya.”

“Apakah mereka akan memaafkanku? Apakah warga desa akan melupakan ini?”

Junai tidak menjawab segera. Ia memandang ke arah kanal yang mengalir tenang, lalu ke arah warga yang perlahan meninggalkan tepi air.

“Waktu yang akan menjawab, To. Yang penting kau sudah melakukan yang benar. Kau sudah mengaku. Kau sudah meminta maaf. Kau sudah siap bertanggung jawab. Itu sudah lebih dari cukup.”

“Tapi mereka masih marah. Pak Karto masih marah.”

“Pak Karto marah karena dia takut. Takut kanal ini rusak, takut anaknya tidak bisa memancing lagi, takut masa depan desa ini hancur. Bukan karena dia benci padamu. Ketakutan itu akan hilang kalau dia melihat kanal pulih. Dan dia akan melihat itu. Karena kita akan memulihkannya.”

Darto mengangkat wajah. Matanya masih merah, tapi ada tekad baru di sana. “Kau percaya kita bisa?”

“Kita sudah mulai. Kemarin kanal pulih setelah hujan. Hari ini kita dapat ikan. Besok akan lebih baik. Lusa akan lebih baik lagi. Tapi butuh kerja keras. Bukan hanya aku, bukan hanya kamu, tapi kita semua.”

“Aku akan bekerja, Jun. Aku janji.”

“Aku tahu.”

Pak Jajang mendekat, dibantu oleh Bu Lastri. Ia duduk di samping Darto, meletakkan tangannya yang keriput di atas kepala Darto.

“Nak,” kata Pak Jajang dengan suara yang lembut, “saya bangga padamu. Bukan karena kau tidak pernah salah. Tapi karena kau berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Itu yang membuat seorang laki-laki menjadi dewasa.”

“Maafkan saya, Pak. Selama ini saya selalu membuat Bapak kecewa.”

“Kau tidak pernah membuatku kecewa, Darto. Yang membuatku kecewa adalah ketika kau menjauh, ketika kau tidak percaya bahwa kami menyayangimu. Tapi itu sudah berlalu. Sekarang kita mulai baru. Bersama.”

Darto menangis lagi. Kali ini ia tidak menahannya. Ia memeluk ayahnya, membiarkan air matanya jatuh ke bahu Pak Jajang. Pak Jajang membelai rambut Darto, seperti yang dulu ia lakukan ketika Darto masih kecil, sebelum Junai datang, sebelum segalanya berubah.

Bu Lastri menangis di samping. Rini ikut menangis. Ujang mengusap matanya dengan lengan bajunya. Dadang, Asep, dan Toha berdiri di kejauhan, memberikan ruang untuk keluarga kecil itu.

Junai berdiri, berjalan ke tepi kanal. Ia memandang air yang mengalir deras, membawa daun-daun kering ke hilir. Di permukaan, ia melihat riak-riak kecil—tanda kehidupan yang terus berjalan.

Ia teringat pada kata-kata Pak Jajang beberapa hari lalu: “Kanal ini seperti kehidupan. Kadang tenang, kadang deras. Kadang memberi, kadang mengambil. Tapi ia tidak pernah berhenti mengalir.”

Hari ini, ia melihat Darto yang sempat tersesat, kini kembali ke jalan yang benar. Ia melihat warga yang sempat terpecah, kini kembali bersatu. Ia melihat kanal yang sempat mati, kini mulai hidup kembali.

Semua butuh proses. Semua butuh waktu. Tapi selama mereka bersama, selama mereka tidak menyerah, tidak ada yang tidak mungkin.

“Jun,” Darto memanggil dari belakang.

Junai menoleh. Darto berdiri di sampingnya, wajahnya masih basah, tapi matanya sudah lebih tenang.

“Ayo mancing,” kata Darto. “Hari ini aku ingin belajar dari kau. Tentang anak kodok, tentang membaca arus, tentang semua yang belum aku pahami.”

Junai tersenyum. “Kau sudah paham banyak, To. Kemarin kau dapat gabus besar sendiri.”

“Itu keberuntungan. Aku ingin paham, bukan hanya beruntung.”

“Baik. Aku akan ajari. Tapi kau harus sabar. Tidak ada ilmu yang bisa dikuasai dalam sehari.”

“Aku akan sabar. Aku janji.”

Mereka mengambil joran masing-masing, berjalan ke spot yang biasa dipakai Junai di tikungan kanal. Dadang, Asep, dan Toha menyusul. Rini memilih spot di dekat pintu air. Ujang membuka nampan gorengannya yang sedari tadi belum sempat disantap.

Pak Jajang dan Bu Lastri duduk di bawah pohon karet tua, memandang anak-anak muda itu dengan senyum bangga.

“Lihat mereka, Pak,” kata Bu Lastri. “Mereka masih muda, masih banyak belajar. Tapi mereka punya semangat. Mereka punya persaudaraan. Itu yang membuat desa ini kuat.”

“Iya, Bu. Dan Darto... Darto akhirnya pulang.”

Bu Lastri menggenggam tangan suaminya. “Dia tidak pernah pergi, Pak. Dia hanya tersesat. Dan hari ini, dia menemukan jalannya kembali.”

Di tepi kanal, Junai mengajarkan Darto cara membaca arus. “Lihat, To. Air yang berputar-putar di tikungan itu namanya pusaran. Di pusaran itu, makanan berkumpul. Ikan-ikan akan datang ke sini untuk makan.”

“Jadi kita harus lempar umpan ke pusaran?”

“Bukan ke pusaran yang terlalu kuat. Di tepi pusaran, di mana arus sedikit melambat. Di sana ikan-ikan yang lebih kecil menunggu makanan yang terlempar dari pusaran. Dan ikan-ikan besar menunggu di bawahnya, memangsa ikan-ikan kecil.”

“Seperti kehidupan,” Darto berkata tiba-tiba.

Junai menoleh, tersenyum. “Iya. Seperti kehidupan. Ada yang di pusaran, ada yang di tepi. Semua punya tempatnya masing-masing.”

Darto memasang anak kodok di kailnya—perlahan, hati-hati, tusukan dangkal di punggung. Ia melempar ke tepi pusaran, di mana arus sedikit melambat.

“Bagus,” kata Junai. “Sekarang tunggu. Jangan buru-buru narik. Biarkan kodok berenang. Biarkan ikan yang memutuskan.”

Mereka menunggu dalam diam. Dadang dan Asep di kejauhan sudah mulai mendapat tarikan. Rini berteriak kegirangan dapat nila besar. Ujang membagikan pisang goreng ke sana kemari.

Pelampung Darto bergerak. Goyangan kecil naik-turun.

Darto tidak bergerak. Ia menahan napas.

Pelampung bergoyang lagi. Lebih kuat.

Masih tidak bergerak.

Pelampung tenggelam tiba-tiba. Darto menarik perlahan, memberi kendor, lalu menarik lagi. Seekor ikan gabus ukuran sedang muncul di permukaan.

Darto mengangkatnya, melepas kail dengan hati-hati. Ia memandang ikan itu sebentar—masih kecil, mungkin baru setengah kilogram.

“Lepas?” tanyanya pada Junai.

“Lepas. Masih kecil. Biar besar dulu.”

Darto menurunkan ikan itu ke air, membiarkannya berenang kembali ke pusaran. Ikan itu sempat berhenti sebentar, seperti berterima kasih, lalu menghilang di antara akar-akar eceng gondok.

“Kenapa kau lepas?” tanya Dadang dari kejauhan. “Itu ukuran lumayan.”

“Kata Junai masih kecil,” jawab Darto sederhana.

Dadang tertawa. “Darto, kau berubah.”

“Iya. Aku berubah.”

Darto memandang Junai, lalu ke arah Pak Jajang dan Bu Lastri yang duduk di bawah pohon karet. Ia tersenyum—senyum yang tulus, senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.

“Aku berubah,” ulangnya, kali pada dirinya sendiri.


BAB 8: Kanal yang Sepi

Dua minggu telah berlalu sejak hujan deras yang membawa kehidupan kembali ke kanal. Dua minggu sejak Darto menyerahkan setrumnya dan konflik di tepi air mereda. Dua minggu sejak mereka berjanji untuk memperbaiki bersama.

Tapi janji tidak selalu mudah diwujudkan.

Pagi itu, Junai tiba di tepi kanal seperti biasa, pukul setengah enam. Kabut tipis masih menggantung di atas air, seperti selimut yang menutupi kesunyian. Udara dingin menusuk kulit, tapi Junai sudah terbiasa. Yang tidak biasa adalah keheningan yang menyelimuti kanal.

Dulu, di pagi hari seperti ini, tepi kanal sudah ramai dengan pemancing yang datang lebih awal. Ada yang duduk di bawah jembatan, ada yang di tikungan dekat pohon karet, ada yang di akar sawit yang menjuntai. Suara joran yang terlempar, percikan air, tawa dan canda, kadang teriakan kegirangan ketika seseorang mendapat ikan besar—semua itu adalah simfoni pagi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan desa.

Sekarang, simfoni itu telah menjadi sunyi.

Junai duduk di tempat biasanya, di tikungan kanal dekat pohon karet tua. Ia memasang umpan fermentasi di joran pertama, anak kodok di joran kedua. Ia melempar dengan hati-hati, memastikan umpan jatuh di tempat yang tepat.

Pelampung mengapung. Air diam. Tidak ada gerakan.

Satu jam berlalu. Dua jam. Tidak ada tanda-tanda ikan. Pelampung Junai mengapung tenang seperti mati. Anak kodok yang tadinya berenang-renang kini sudah lelah, hanya mengapung di permukaan dengan sesekali gerakan kecil.

Junai tidak bergerak. Ia duduk diam, memandang air, mencoba membaca tanda-tanda yang mungkin luput. Tapi tidak ada. Air itu seperti kosong. Sunyi.

Ia teringat pada dua minggu lalu, ketika hujan baru saja reda dan ikan-ikan muncul dengan semangatnya. Ia mendapat ikan mas besar dua kilogram. Darto mendapat gabus satu setengah kilogram. Semua pulang dengan ember penuh. Ada tawa, ada kebahagiaan, ada harapan bahwa kanal telah pulih.

Tapi harapan itu ternyata hanya sesaat.

Setelah seminggu, ikan-ikan mulai berkurang. Setelah sepuluh hari, hanya ikan-ikan kecil yang tersisa. Dan sekarang, di hari keempat belas, bahkan ikan-ikan kecil itu pun sulit ditemukan.

Rini datang sekitar pukul tujuh. Ia berjalan dari arah desa dengan tas ransel di punggung dan buku catatan di tangan. Langkahnya tidak secepat dulu. Matanya terlihat lelah—mungkin karena begadang semalam menganalisis sampel air, atau mungkin karena kenyataan yang semakin berat.

“Jun, sudah dapat?” tanya Rini meskipun sudah tahu jawabannya.

“Belum. Sama sekali belum,” Junai menjawab tanpa menoleh. Matanya tetap tertuju pada pelampung yang mengapung tenang. “Ini hari ketiga saya tidak dapat ikan. Bahkan ikan kecil pun tidak.”

Rini duduk di samping Junai, meletakkan tasnya di tanah. Ia membuka buku catatan, menunjukkan halaman-halaman yang penuh dengan data dan grafik.

“Saya sedang mendata populasi ikan yang tersisa,” kata Rini dengan suara yang berat. “Hasilnya mengecewakan. Dari sepuluh titik yang saya amati, hanya dua titik yang masih ada tanda-tanda ikan. Itu pun jenis ikan kecil seperti wader dan sepat. Ikan mas, nila, gabus, lele—hampir tidak terdeteksi.”

“Dua titik? Di mana?”

“Satu di hulu, dekat sumber mata air. Satu di hilir, dekat pintu air. Di tengah, hampir kosong.”

Junai menghela napas. “Jadi ikan-ikan yang kemarin muncul setelah hujan, mereka hanya lewat? Tidak menetap?”

“Mungkin. Hujan membawa mereka dari hulu, tapi ketika air mulai surut dan polusi masih ada, mereka kembali ke hulu atau hilir. Mereka tidak betah di sini.”

“Apakah kanal ini akan mati?” tanya Junai. Suaranya tidak bergetar, tapi ada nada yang dalam—nada yang menunjukkan bahwa ia sudah memikirkan pertanyaan itu berulang kali, dan setiap kali jawabannya semakin berat.

Rini tidak menjawab segera. Ia memandang kanal yang mengalir pelan, berwarna kecoklatan keruh, dengan sampah-sampah plastik tersangkut di akar-akar eceng gondok. Angin pagi bertiup membawa bau tanah basah, tapi juga bau samar dari pestisida yang masih terbawa aliran air dari perkebunan.

“Jika tidak ada tindakan, mungkin iya,” kata Rini akhirnya, suaranya lirih. “Sumber pencemaran dari perkebunan masih terus mengalir. Pestisida dan pupuk kimia masuk ke kanal setiap kali hujan. Dulu kadarnya kecil, ikan masih bisa bertahan. Tapi setelah bertahun-tahun, sedimentasi racun di dasar kanal semakin tebal. Belum lagi sampah plastik dari warga yang masih buang ke sini. Ada yang sengaja, ada yang tidak sengaja terbawa angin atau air hujan. Semua itu menumpuk, meracuni perlahan.”

“Jadi kita tidak bisa hanya mengandalkan hujan untuk membersihkan?”

“Hujan membantu mengencerkan, tapi tidak membersihkan sedimentasi di dasar. Racun yang sudah mengendap di lumpur akan terus ada selama bertahun-tahun. Ikan-ikan bisa kembali, tapi mereka akan terpapar racun setiap kali menggali lumpur untuk mencari makan. Itu sebabnya populasi ikan terus menurun.”

Junai memejamkan mata. Ia membayangkan dasar kanal yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berpijak, tempat ikan-ikan kecil berlindung, tempat telur-telur ikan menempel. Kini dasarnya dipenuhi racun yang tak terlihat, membunuh perlahan tanpa ada yang menyadari.

“Kita harus melakukan sesuatu,” kata Junai dengan suara yang lebih mantap. Bukan lagi pertanyaan, tapi pernyataan.

“Aku sudah bicara dengan Pak RT dan perwakilan perkebunan,” kata Rini. “Mereka berjanji akan mengurangi penggunaan pestisida di dekat kanal. Mereka bilang akan membuat buffer zone—area penyangga antara kebun sawit dan kanal—supaya air hujan tidak langsung masuk ke kanal. Tapi itu baru janji. Belum ada tindakan nyata.”

“Janji tanpa tindakan hanya angin lalu.”

“Iya. Dan kita tidak bisa memaksa mereka. Perusahaan perkebunan besar punya kekuatan. Kita hanya warga desa kecil.”

Pak Jajang datang sekitar pukul delapan. Ia berjalan perlahan, dituntun oleh tongkat bambu yang dibuatkan oleh menantunya. Langkahnya lebih lambat dari biasanya, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya yang sudah keriput kini tampak lebih pucat, matanya lebih cekung. Seminggu terakhir, kesehatannya memang menurun. Dokter di puskesmas mengatakan itu karena usianya yang sudah lanjut, tapi Junai tahu ada yang lain. Pak Jajang sedih. Sedih melihat kanal yang ia cintai selama puluhan tahun kini sekarat.

“Jun,” panggil Pak Jajang dengan suara parau. “Sudah dapat?”

“Belum, Pak. Belum ada yang menggigit.”

Pak Jajang duduk di kursi lipat kecil yang dibawa Rini. Ia mengatur napas sebentar, lalu memandang ke arah kanal. Matanya yang tajam—meski usianya sudah tujuh puluh dua—masih mampu membaca tanda-tanda yang tidak terlihat oleh orang lain.

“Airnya keruh, tapi bukan keruh alami,” kata Pak Jajang. “Ini keruh karena sedimentasi kimia. Lihat, warnanya kehijauan, bukan kecoklatan seperti setelah hujan. Itu tanda ada pupuk kimia yang larut.”

“Rini bilang, pestisida dan pupuk dari perkebunan masih masuk setiap hujan.”

“Iya. Dan itu sudah terjadi bertahun-tahun. Dulu, sebelum perkebunan besar, kanal ini jernih. Airnya bisa diminum. Ikan-ikan berenang bebas. Sekarang... lihat sendiri.”

Pak Jajang menghela napas panjang. Napas yang berat, seperti menghela seluruh beban hidupnya.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan mereka,” kata Pak Jajang tiba-tiba. Matanya menatap Junai dan Rini bergantian. “Perusahaan perkebunan punya kepentingan sendiri. Mereka peduli pada produksi sawit, bukan pada kanal. Kita harus memulai dari diri sendiri.”

“Apa maksud Bapak?” tanya Rini.

“Kita bersihkan kanal. Dari hulu ke hilir. Ajak semua warga. Kalau perlu, kita buat jadwal rutin setiap minggu. Bukan hanya sekali-sekali, tapi terus-menerus. Kita juga bisa menanam bibit ikan. Dulu, sebelum ada perkebunan besar, warga desa selalu menjaga kanal. Setiap minggu mereka bersih-bersih, tidak ada yang buang sampah ke kanal. Sekarang, kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Sawit, warung, kerja di kota. Kanal jadi terlantar.”

“Bapak benar,” Junai mengangguk. “Tapi bagaimana caranya mengajak warga yang sudah kehilangan harapan? Banyak yang bilang, 'Buat apa bersih-bersih kalau besok kotor lagi?' Atau 'Kanal sudah rusak, tidak akan pulih.'”

Pak Jajang tersenyum tipis. Senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya. “Kau tahu, Jun, dulu waktu saya masih muda, kanal ini pernah mati. Ikan-ikan mati semua karena bom ikan yang dipakai pemancing dari luar. Warga putus asa. Ada yang bilang, kanal sudah selesai, tidak akan pulih. Tapi kakek saya tidak menyerah. Setiap hari ia membersihkan kanal, sendirian. Orang-orang bilang ia gila. Tapi setelah beberapa bulan, ikan-ikan mulai kembali. Perlahan. Setahun kemudian, kanal pulih sepenuhnya. Dan orang-orang yang dulu bilang ia gila, ikut membersihkan.”

“Jadi kita harus mulai dari yang kecil,” kata Rini. “Tunjukkan bahwa kanal ini masih bisa pulih. Ajak tokoh masyarakat, pengajian ibu-ibu, anak-anak muda. Buat kegiatan yang menarik, seperti lomba bersih-bersih, atau edukasi tentang ikan. Buat mereka melihat bahwa perubahan itu mungkin.”

“Rini pintar,” Pak Jajang mengangguk bangga. “Kau sekolah tinggi, jadi tahu cara mengajak orang. Saya dulu hanya bisa membersihkan sendiri, tanpa ajak-ajak. Butuh waktu lama. Tapi dengan cara Rini, mungkin lebih cepat.”

“Saya setuju,” kata Junai. “Tapi kita tidak bisa sendirian. Kita butuh dukungan warga. Dan untuk itu, kita harus datangi mereka satu per satu. Jelaskan. Ajak. Meyakinkan.”

“Kita lakukan,” kata Rini bersemangat. “Hari ini juga kita mulai.”

Hari-hari berikutnya, Junai, Rini, dan Pak Jajang—meskipun Pak Jajang hanya bisa ikut di awal karena kesehatannya—mendatangi rumah-rumah warga satu per satu. Tidak hanya pemancing, tapi semua warga: petani sawit, ibu-ibu rumah tangga, pedagang, anak-anak muda, bahkan para lansia yang sudah tidak bisa keluar rumah.

Rumah pertama yang mereka datangi adalah milik Karto.

Karto adalah petani sawit yang rumahnya paling dekat dengan kanal. Dialah yang paling vokal dalam konflik di tepi air dua minggu lalu. Dialah yang membawa cangkul dan ingin Darto dihukum. Junai tahu Karto bukan orang jahat. Ia hanya marah karena takut. Takut kanal rusak, takut anaknya tidak bisa memancing lagi, takut masa depan desanya hancur.

“Pak Karto,” Junai memanggil dari pagar.

Karto sedang duduk di beranda, minum kopi pahit sambil membaca koran bekas yang dibungkus plastik. Ia menoleh, wajahnya sedikit kaget melihat Junai dan Rini.

“Junai? Rini? Ada apa?”

“Kami ingin bicara, Pak. Tentang kanal.”

Karto menghela napas. Wajahnya berubah masam. “Kanal? Sudahlah, Jun. Kanal sudah rusak. Tidak ada gunanya dibicarakan lagi.”

“Kanal belum rusak total, Pak. Masih bisa pulih. Tapi butuh kerja sama kita semua.”

“Kerja sama?” Karto mendengus. “Dengar, Jun. Saya sudah hidup di desa ini lebih lama dari kau. Saya sudah melihat kanal ini baik-buruknya. Sekarang, kanal ini sudah parah. Tidak ada ikan. Airnya keruh. Bau. Apa yang mau dipulihkan?”

“Itu sebabnya kami datang, Pak,” Rini memotong dengan sopan. “Kami ingin mengajak Bapak dan warga lain untuk membersihkan kanal. Membuang sampah, menanam bibit ikan, membuat kawasan konservasi. Kalau kita lakukan bersama, kanal bisa pulih.”

Karto tertawa kecil. Tawa yang pahit. “Kanal pulih? Dengan siapa? Dengan Darto yang kemarin hampir pakai setrum? Dengan anak-anak muda yang lebih suka main ponsel daripada membersihkan sampah? Buang-buang waktu, Rin. Kanal sudah rusak. Lebih baik kita cari ikan di sungai lain. Di sungai Ciputri, katanya masih banyak ikan.”

“Sungai Ciputri jauh, Pak. Dua jam naik motor. Dan itu bukan milik kita. Kalau kita rusak kanal di sini, kita kehilangan sumber daya yang dekat dengan rumah,” Junai menjelaskan.

“Kanal ini milik kita, Pak Karto,” Rini menambahkan. “Tanah di tepi kanal ini milik desa. Ikan-ikan di sini adalah ikan kita. Kalau kita tidak menjaga, siapa lagi? Perusahaan perkebunan? Mereka hanya peduli pada sawit mereka. Warga kota yang datang memancing? Mereka hanya mengambil, tidak pernah memberi.”

Karto terdiam. Ia memandang Junai, lalu ke Rini, lalu ke arah kanal yang tidak terlihat dari rumahnya karena tertutup rumpun bambu.

“Saya sudah tua, Jun. Saya tidak punya tenaga untuk bersih-bersih kanal. Lagipula, buat apa? Besok pasti kotor lagi. Ada yang buang sampah, ada yang buang racun. Percuma.”

“Tidak percuma, Pak,” Junai berkata dengan suara yang lembut tapi tegas. “Setiap sampah yang kita ambil, setiap botol plastik yang kita pungut, itu mengurangi beban kanal. Mungkin tidak langsung terlihat hasilnya. Tapi percayalah, ikan-ikan akan kembali. Mereka butuh rumah yang bersih.”

“Ikan butuh rumah, Pak. Sama seperti kita,” Rini menambahkan. “Bayangkan kalau rumah Bapak kotor, penuh sampah, bau. Bapak pasti tidak betah. Ikan juga begitu.”

Karto tidak menjawab. Ia menyesap kopinya, matanya menerawang ke kejauhan.

“Saya pikir dulu, Pak,” katanya akhirnya. “Saya beri tahu nanti kalau sudah putuskan.”

Junai dan Rini pamit. Mereka tidak memaksa. Mereka tahu perubahan tidak terjadi dalam sehari.

Selanjutnya mereka mendatangi rumah Sarip. Sarip adalah petani sawit yang ikut marah-marah dua minggu lalu. Ia dikenal sebagai orang yang keras kepala, sulit diajak kerja sama.

“Sarip, kami ingin bicara tentang kanal,” Junai membuka percakapan.

Sarip yang sedang memperbaiki pagar bambu di depan rumahnya, hanya melirik sekilas. “Kanal? Apa lagi? Sudahlah, Jun. Saya sudah lelah dengan urusan kanal. Biarkan saja. Kalau mau mati, ya mati.”

“Kanal belum mati, Sarip. Masih bisa pulih.”

“Pulih?” Sarip tertawa sinis. “Dengar, Jun. Saya sudah lima tahun tinggal di sini. Setiap tahun kanal ini makin parah. Dulu masih ada ikan gabus sebesar lengan. Sekarang, ikan kecil pun susah. Itu bukan karena kurang bersih. Itu karena racun dari perkebunan. Dan kau pikir dengan bersih-bersih sampah, racun itu hilang?”

“Tidak hilang seketika, Sarip. Tapi kalau kita tidak membersihkan sampah, racun akan semakin menumpuk. Sampah plastik menyerap racun, lalu racun itu masuk ke tubuh ikan. Ikan yang kita makan, racunnya masuk ke tubuh kita.”

Sarip berhenti memalu. Ia menatap Junai dengan ekspresi berbeda—bukan sinis, tapi penasaran.

“Kau tahu itu dari mana?”

“Rini yang kasih tahu. Dia mengambil sampel air setiap minggu, menganalisis di laboratorium sederhana. Data-nya jelas. Kandungan racun naik setiap kali hujan, dan sampah plastik memperparah.”

Sarip memandang Rini. “Benar itu, Rin?”

“Benar, Pak Sarip. Saya punya datanya. Kalau Bapak mau lihat, saya tunjukkan.”

Sarip berpikir sejenak. “Baik. Nanti saya lihat. Tapi jangan harap saya ikut bersih-bersih. Saya sibuk dengan kebun.”

“Tidak apa, Pak. Yang penting Bapak tahu. Dan kalau Bapak punya waktu, kami akan senang kalau Bapak ikut.”

Mereka melanjutkan ke rumah-rumah lainnya. Ada yang menyambut antusias, ada yang acuh, ada yang sinis. Tapi Junai dan Rini tidak menyerah. Mereka datang ke setiap rumah, menjelaskan dengan sabar, mendengarkan keluhan, dan menawarkan solusi.

Tidak semua warga sulit diajak. Beberapa justru sangat antusias.

Ujang, pemilik warung kopi, setuju langsung. “Saya ikut! Bahkan saya bisa sediakan makanan untuk kerja bakti. Gorengan, kopi, teh. Biar warga semangat.”

“Mang Ujang, jangan repot-repot,” Junai menolak.

“Bukan repot. Ini tanggung jawab saya juga. Warung saya dekat kanal. Kalau kanal kotor, tamu juga malas datang. Jadi bersih-bersih kanal sama saja dengan bersih-bersih warung.”

Junai tersenyum. “Terima kasih, Mang.”

Dadang, Asep, dan Toha yang diajak bergabung, langsung bersemangat. Mereka bahkan menawarkan diri untuk mengajak pemuda-pemuda lain.

“Aku ajak Dulah, Aceng, Jarot, semua!” kata Dadang. “Kita buat tim khusus pemuda. Yang kuat-kuat, biar bisa angkat sampah besar.”

“Jangan lupa bawa cangkul dan sabit, tapi hati-hati jangan sampai merusak akar sawit,” Junai mengingatkan.

“Iya, Jun. Saya sudah belajar dari Darto kemarin,” Asep tertawa.

Toha yang paling muda, menawarkan ide. “Jun, bagaimana kalau kita buat lomba? Lomba siapa yang paling banyak mengumpulkan sampah plastik. Hadiahnya... umpan fermentasi buatan Junai!”

Semua tertawa. “Ide bagus, Toha!” Dadang mengacungkan jempol.

Darto adalah yang paling bersemangat. Mungkin karena rasa bersalahnya yang masih tersisa, atau mungkin karena ia benar-benar ingin berubah. Ia datang paling pagi saat rapat persiapan, membawa catatan kecil berisi ide-idenya.

“Jun, saya usul kita buat jadwal rutin. Bukan hanya sekali-sekali. Setiap hari Minggu, kita kumpul di kanal. Pagi bersih-bersih, siang mancing. Kalau dapat ikan, kita masak bersama.”

“Wah, ide bagus, To!” Dadang memuji.

“Tapi kita harus pastikan yang ikut banyak,” Darto menambahkan. “Saya usul kita bagi tugas. Ada yang membersihkan sampah plastik, ada yang memotong eceng gondok yang terlalu lebat, ada yang memperbaiki tepian yang longsor, ada yang menanam bibit ikan.”

Rini mencatat semua usulan. “Darto, kau hebat. Ide-idenya bagus.”

Darto tersenyum malu. Ini pertama kalinya ia mendapat pujian dari Rini—perempuan yang dulu sering ia hina karena berani memancing di kanal.

“Saya belajar dari Junai,” kata Darto sederhana.

Kejutan datang dari kelompok pengajian ibu-ibu. Ketika Junai dan Rini datang ke rumah Bu Haji Aminah—ketua pengajian yang disegani—mereka tidak menyangka akan disambut dengan antusiasme.

“Kami sudah dengar tentang rencana kalian,” kata Bu Haji Aminah sambil menyuguhkan teh manis dan kue talam. “Dari Bu Lastri. Beliau cerita di pengajian kemarin.”

“Bu Lastri?” Junai terkejut. Ia tidak tahu ibu tirinya Darto itu ikut menyebarkan berita.

“Iya. Bu Lastri bilang, kanal sedang sekarat. Dan kita semua punya tanggung jawab untuk menyelamatkannya. Bukan hanya para pemancing, tapi semua warga. Termasuk ibu-ibu.”

Rini tersenyum lebar. “Bu Haji, apakah ibu-ibu bersedia ikut?”

“Tentu. Kami tidak bisa membersihkan sampah besar atau menebang eceng gondok. Tapi kami bisa membersihkan tepian dari sampah-sampah kecil. Botol plastik, bungkus makanan, puntung rokok. Itu juga penting, kan?”

“Sangat penting, Bu,” Rini mengangguk. “Sampah-sampah kecil itu yang paling banyak mencemari. Mereka terbawa arus, menyumbat aliran, dan menyerap racun.”

“Bagus. Saya akan mengajak ibu-ibu pengajian. Sekitar dua puluh orang. Kami siap membantu.”

Junai hampir tidak percaya. Dua puluh ibu-ibu! Itu lebih dari separuh warga yang hadir dalam konflik dua minggu lalu.

“Bu Haji, terima kasih banyak,” kata Junai dengan suara yang sedikit bergetar karena terharu.

“Jangan berterima kasih, Nak. Ini desa kita. Kanal ini adalah warisan untuk anak cucu kita. Kalau kita biarkan rusak, anak-anak kita yang akan menanggung akibatnya. Saya sudah tua. Mungkin tidak akan menikmati kanal yang pulih. Tapi cucu-cucu saya, mereka berhak menikmati air bersih dan ikan segar.”

Hari Minggu pagi itu, langit cerah. Matahari belum terlalu tinggi, sinarnya masih hangat, tidak menyengat. Angin bertiup lembut dari arah timur, membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit.

Junai tiba di tepi kanal pukul setengah tujuh. Ia sudah menyiapkan peralatan: cangkul, sabit, karung plastik, sarung tangan karet. Tapi ketika ia sampai, ia terkejut.

Sudah ada yang menunggu.

Darto sudah di sana sejak pukul enam. Ia membawa cangkul, sabit, dan tiga karung plastik besar. Dadang, Asep, dan Toha datang tidak lama setelahnya. Ujang datang dengan nampan besar berisi gorengan dan termos berisi kopi dan teh.

Pukul tujuh, rombongan mulai berdatangan. Rini datang bersama Pak Jajang—meskipun Pak Jajang hanya bisa duduk di kursi lipat dan memberi arahan. Bu Haji Aminah datang dengan rombongan ibu-ibu pengajian, sekitar lima belas orang. Mereka membawa sapu, pengki, dan karung plastik untuk memungut sampah kecil.

Pak RT datang dengan beberapa perangkat desa. Ia membawa spanduk besar bertuliskan: “Bersihkan Kanal, Selamatkan Desa.”

Bahkan Karto datang. Junai tidak menyangka. Karto yang dua hari lalu masih ragu-ragu, datang dengan cangkul dan karung plastik. Ia tidak bicara banyak, hanya mengangguk pada Junai dan langsung bergabung dengan kelompok yang membersihkan semak belukar di tepi kanal.

Sarip juga datang, meskipun dengan wajah masih masam. Ia bergabung dengan kelompok pemuda, membantu mengangkat sampah-sampah besar yang tersangkut di akar-akar pohon.

Total, sekitar tiga puluh warga hadir dalam kerja bakti pertama itu. Jumlah yang luar biasa, melebihi ekspektasi Junai.

“Warga sekalian!” Pak RT berseru, berdiri di atas batu besar agar terlihat semua orang. “Terima kasih sudah hadir pagi ini. Ini adalah awal dari perjalanan panjang kita untuk menyelamatkan kanal. Bukan hanya hari ini, tapi setiap hari Minggu ke depan. Saya minta kita semua bekerja dengan aman, jangan sampai ada yang cedera. Dan ingat, jangan merusak akar sawit atau tumbuhan air yang menjadi tempat tinggal ikan.”

Rini mengambil alih untuk edukasi singkat. Dengan mikroportable yang dipinjam dari kantor desa, ia menjelaskan tentang ekosistem kanal.

“Warga sekalian, kanal yang sehat adalah kanal yang memiliki aliran air lancar, tidak tercemar, dan memiliki tempat berlindung bagi ikan. Akar sawit, batu-batu, dan tumbuhan air seperti eceng gondok—dalam jumlah yang tepat—adalah rumah bagi ikan. Jangan kita rusak. Sampah plastik adalah musuh utama. Plastik tidak bisa terurai. Ia akan tetap ada di dasar kanal selama puluhan tahun, menyerap racun, dan meracuni ikan yang memakan plankton di sekitarnya.”

“Lalu bagaimana dengan eceng gondok yang terlalu lebat?” tanya seorang warga.

“Eceng gondok yang terlalu lebat harus dikurangi. Tapi jangan dibuang ke tepi, nanti akarnya mati dan membusuk, malah menambah beban polusi. Lebih baik kita keringkan dan jadikan pupuk kompos. Saya sudah menyiapkan tempat pengomposan di belakang rumah Pak RT.”

“Pintar!” Pak RT tersenyum bangga.

Mereka mulai bekerja. Junai memimpin kelompok pemuda yang membersihkan sampah-sampah besar: ban bekas, ember plastik, potongan kayu, dan bahkan sebuah kursi plastik yang patah. Dadang dan Asep mengangkat karung-karung sampah ke pinggir jalan, siap diangkut dengan gerobak milik desa.

Darto memimpin kelompok yang membersihkan semak belukar di tepi kanal. Ia bekerja dengan tekun, memotong rumput-rumput liar yang menghalangi aliran air, tapi hati-hati tidak merusak akar sawit yang menjuntai ke air.

“Ingat, jangan potong akar sawit!” Darto mengingatkan teman-temannya. “Itu tempat tinggal ikan. Kalau akarnya rusak, ikan tidak punya rumah.”

“Wah, Darto sekarang jadi ahli,” Asep menyindir ramah.

“Dia belajar dari Junai,” Dadang tertawa.

Rini memimpin kelompok ibu-ibu yang membersihkan sampah-sampah kecil di tepian. Mereka memungut botol plastik, bungkus makanan, puntung rokok, dan potongan-potongan styrofoam yang tersangkut di rerumputan.

“Bu, ini sampahnya banyak sekali,” kata Rini pada Bu Haji Aminah.

“Iya, Rin. Ini yang kita lihat di tepi. Belum yang di dalam air. Sampah ini sudah menumpuk bertahun-tahun. Karena tidak pernah ada yang membersihkan.”

“Mulai sekarang kita bersihkan rutin. Semoga setelah ini warga juga lebih sadar untuk tidak buang sampah ke kanal.”

“Mudah-mudahan, Rin. Mudah-mudahan.”

Anak-anak kecil ikut membantu dengan semangat. Mereka membuat lomba siapa yang paling banyak mengumpulkan botol plastik. Hadiahnya? Umpan fermentasi buatan Junai yang sudah terkenal ampuh.

“Aku dapat sepuluh botol!” teriak seorang anak laki-laki.

“Aku dua belas!” sahut anak lain.

“Dua puluh!” anak yang lebih besar menyombong.

“Jangan curang, ya! Botolnya harus dari kanal, bukan dari rumah!” Toha mengawasi.

Matahari semakin tinggi. Panas mulai terasa. Tapi tak seorang pun mengeluh. Mereka bekerja dengan semangat yang luar biasa—mungkin karena sudah lama tidak ada kegiatan bersama seperti ini, atau mungkin karena mereka mulai menyadari pentingnya kanal bagi kehidupan desa.

Menjelang pukul sepuluh, Pak RT memerintahkan istirahat. Ujang membagikan gorengan dan minuman. Mereka duduk di tikar plastik yang dibentangkan di bawah pohon karet tua, bernaung dari terik matahari.

“Bagus, bagus,” Pak RT memuji. “Saya lihat semangat semua. Hari ini kita sudah membersihkan hampir seratus meter tepian kanal. Sampah yang terkumpul... Rini, sudah ditimbang?”

“Sudah, Pak. Sekitar dua ratus kilogram sampah plastik dan sampah lainnya. Belum termasuk sampah besar seperti ban dan kursi.”

“Dua ratus kilo?” Pak RT terkejut. “Baru seratus meter?”

“Iya, Pak. Sampah sudah menumpuk bertahun-tahun. Kita perlu beberapa kali kerja bakti untuk membersihkan seluruh kanal yang panjangnya dua kilometer.”

“Tidak apa. Yang penting kita mulai. Nanti kita buat jadwal rutin. Setiap hari Minggu, sampai kanal bersih.”

Karto yang duduk tidak jauh dari Junai, tiba-tiba bicara. “Jun, saya mau minta maaf.”

Junai menoleh. “Minta maaf untuk apa, Pak Karto?”

“Kemarin... saya terlalu keras. Saya marah-marah, mau pukul Darto, bilang kanal sudah rusak tidak bisa pulih. Tapi setelah lihat hari ini... saya salah. Kanal masih bisa pulih. Tapi butuh kerja keras. Dan kalau kita tidak mulai, tidak akan ada yang memulai.”

“Tidak perlu minta maaf, Pak. Kemarahan Bapak wajar. Bapak yang paling merasakan dampak pencemaran karena rumah Bapak paling dekat dengan kanal.”

“Iya. Tapi saya tidak boleh melampiaskan kemarahan pada Darto. Dia sudah sadar. Dia sudah berubah. Saya lihat hari ini dia bekerja paling keras.”

Darto yang sedang duduk di samping Junai, tersenyum malu. “Saya hanya membayar utang, Pak. Utang saya pada kanal.”

“Utang sudah lunas, To,” kata Karto. “Sekarang kita mulai baru. Bersama.”

Darto mengangguk, matanya berkaca-kaca.

Pak Jajang yang dari tadi hanya memperhatikan, ikut bicara. “Lihat, anak-anak. Lihat. Inilah yang saya tunggu. Bukan kanal yang bersih. Tapi persaudaraan yang pulih. Kanal ini dulu adalah tempat kita berkumpul, tempat kita berbagi cerita, tempat kita belajar tentang kehidupan. Bukan hanya tentang ikan. Tapi tentang bagaimana menjadi manusia.”

“Benar, Pak,” Bu Haji Aminah menambahkan. “Kanal ini milik kita semua. Bukan hanya pemancing. Bukan hanya petani. Tapi semua warga. Dan kita harus menjaganya bersama.”

Mereka beristirahat hingga pukul sebelas. Kemudian bekerja lagi hingga pukul satu siang, ketika panas sudah tidak tertahankan. Pak RT memerintahkan untuk pulang dan melanjutkan minggu depan.

Sebelum pulang, Rini mengumumkan hasil kerja bakti: sampah plastik terkumpul tiga ratus kilogram, sampah besar seperti ban dan kursi ada dua truk gerobak, eceng gondok yang dipotong cukup untuk membuat kompos sebesar satu meter kubik.

“Ini baru awal,” kata Rini. “Minggu depan kita lanjutkan. Dan yang lebih penting, kita harus menjaga agar sampah tidak kembali. Mulai hari ini, saya minta semua warga tidak membuang sampah ke kanal. Kalau ada yang melihat, tegur dengan baik.”

“Setuju!” seru warga serempak.

Matahari mulai condong ke barat ketika Junai kembali ke kanal sendirian. Kerja bakti sudah selesai, warga sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi Junai merasa perlu duduk sebentar di tepi air, merenungkan apa yang telah mereka lakukan dan apa yang masih harus dilakukan.

Kanal yang tadinya dipenuhi sampah di tepiannya, kini terlihat lebih bersih. Masih ada sampah-sampah yang terbawa arus dari hulu, tapi setidaknya area yang sudah dibersihkan terlihat rapi. Air masih keruh, tapi tidak sekeruh beberapa hari lalu. Mungkin karena sedimentasi yang terganggu saat pembersihan, atau mungkin karena harapan yang mulai tumbuh membuat segalanya terlihat lebih baik.

“Jun.”

Junai menoleh. Darto berdiri di sampingnya, membawa dua gelas teh hangat dalam termos.

“Kopi dari Ujang. Katanya buat kita berdua,” Darto memberikan satu gelas pada Junai.

“Terima kasih.”

Mereka duduk berdampingan di tepi kanal, menikmati teh hangat sambil memandang air yang mengalir pelan.

“Jun, kau pikir kanal ini akan pulih?” tanya Darto.

“Aku yakin.”

“Kenapa kau begitu yakin? Lihat, airnya masih keruh. Ikan masih belum ada. Sampah masih banyak. Mungkin butuh waktu lama.”

Junai tidak menjawab segera. Ia memandang ke arah barat, di mana matahari perlahan tenggelam, meninggalkan warna jingga keemasan di langit.

“Kau lihat senja itu, To? Setiap hari matahari terbenam. Tapi setiap pagi ia terbit lagi. Kanal ini sama. Mungkin hari ini ia terlihat mati. Tapi besok, lusa, atau beberapa bulan lagi, ia akan hidup kembali. Selama kita terus menjaganya.”

Darto memandang Junai. “Kau selalu punya cara untuk membuat segalanya terasa mungkin.”

“Bukan aku. Kanal ini yang mengajarkanku. Bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tidur, menunggu waktu yang tepat untuk bangun.”

Mereka diam. Angin sore bertiup lembut, membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit. Di kejauhan, burung-burung beterbangan pulang ke sarang.

“Darto,” Junai memanggil.

“Iya.”

“Aku bangga padamu. Hari ini kau bekerja paling keras. Dan kau tidak mengeluh.”

Darto tersenyum. “Aku hanya membayar utang. Tapi rasanya... enak. Bukan karena utangnya lunas. Tapi karena aku merasa berguna. Aku merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri.”

“Itu yang namanya keluarga, To. Bukan hanya yang tinggal serumah. Tapi semua yang peduli pada tempat ini, pada kanal ini, pada desa ini.”

Darto mengangguk. “Aku ingin terus seperti ini. Bekerja, menjaga, dan... belajar dari kau.”

“Kita belajar bersama.”

Mereka menghabiskan teh mereka dalam diam. Senja perlahan berubah menjadi malam. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit timur. Suara jangkrik mulai terdengar dari balik semak-semak.

“Ayo pulang,” kata Junai berdiri. “Besok kita cari bibit ikan. Kata Rini, ada pembibitan ikan di kecamatan yang bisa memberi bantuan.”

“Aku ikut.”

Mereka berjalan pulang bersama menyusuri jalan setapak di antara pelepah sawit. Di belakang mereka, kanal mengalir tenang—masih keruh, masih sunyi, tapi tidak lagi terlupakan.


BAB 9: Memulihkan Harapan

Minggu pagi itu, langit Desa Awan Biru cerah tanpa awan. Matahari baru saja terbit di ufuk timur, menyapu embun yang masih bergelayut di dedaunan sawit. Udara segar dan dingin menusuk kulit, tapi semangat warga sudah membara sejak subuh.

Junai tiba di tepi kanal pukul setengah enam. Ia sudah menyiapkan segala sesuatunya semalam: karung plastik, sarung tangan karet, cangkul, sabit, dan sepatu bot karet. Tapi ketika ia sampai, ternyata ia bukan yang pertama.

Darto sudah di sana sejak pukul lima. Ia duduk di tepi kanal, memandang air yang masih keruh, tapi matanya tidak lagi gelisah seperti beberapa minggu lalu. Ada ketenangan di sana—ketenangan yang lahir dari keputusan untuk berubah.

“Darto, kau sudah dari tadi?” tanya Junai.

“Dari subuh. Saya tidak bisa tidur. Pikirannya kemana-mana. Akhirnya saya memutuskan ke sini dulu, sebelum yang lain datang.”

“Memikirkan apa?”

Darto tersenyum tipis. “Memikirkan betapa bodohnya saya dulu. Hampir merusak kanal ini dengan setrum. Padahal... lihat. Kanal ini butuh kita. Bukan untuk diambil, tapi untuk dijaga.”

Junai duduk di samping Darto. “Kita semua pernah bodoh, To. Yang penting bukan tidak pernah salah, tapi berani memperbaiki.”

“Kau tidak pernah bodoh, Jun. Kau selalu benar.”

“Aku juga pernah salah. Waktu kecil, aku pernah mengambil ikan-ikan kecil dari kanal, kubawa pulang, kulepas di ember. Pak Jajang marah sekali. Beliau bilang, 'Junai, kau sedang mencuri masa depan.' Sejak itu aku tidak pernah ambil ikan kecil lagi.”

“Pak Jajang memang guru yang baik.”

“Iya. Dan kanal ini adalah sekolah terbaik.”

Mereka terdiam. Angin pagi bertiup lembut, membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit. Di kejauhan, burung-burung mulai berkicau, menyambut hari yang baru.

Pukul tujuh, warga mulai berdatangan. Dadang, Asep, dan Toha datang bersama, membawa cangkul dan karung plastik. Rini datang dengan buku catatan dan alat pengambil sampel air. Ujang datang dengan nampan besar berisi gorengan dan dua termos berisi kopi dan teh.

Pak RT datang dengan beberapa perangkat desa, membawa spanduk besar bertuliskan: “Bersihkan Kanal, Selamatkan Desa — Kerja Bakti Minggu Pertama.”

Bahkan Bu Haji Aminah datang dengan rombongan ibu-ibu pengajian, sekitar dua puluh orang. Mereka membawa sapu, pengki, dan karung plastik kecil untuk memungut sampah-sampah di tepian.

Karto datang. Sarip datang. Warga-warga yang minggu lalu masih ragu-ragu, kini hadir dengan semangat yang baru.

“Warga sekalian!” Pak RT berseru, berdiri di atas batu besar. “Terima kasih sudah hadir. Ini adalah kerja bakti pertama kita. Target hari ini: membersihkan sampah di sepanjang seratus meter tepian kanal, dari jembatan sampai tikungan pohon karet. Kita bagi dalam kelompok-kelompok kecil. Kelompok satu dipimpin Junai, membersihkan sampah besar. Kelompok dua dipimpin Darto, membersihkan semak belukar. Kelompok tiga dipimpin Rini, membersihkan sampah kecil di tepian. Kelompok empat dipimpin Bu Haji Aminah, membersihkan area sekitar jembatan. Sisanya membantu sesuai arahan.”

Mereka mulai bekerja. Junai memimpin kelompok pemuda yang membersihkan sampah-sampah besar: ban bekas, ember plastik, potongan kayu, dan bahkan sebuah kursi plastik yang patah. Dadang dan Asep mengangkat karung-karung sampah ke pinggir jalan, siap diangkut dengan gerobak milik desa.

“Jun, ini ban bekasnya banyak sekali,” kata Dadang sambil mengangkat sebuah ban truk yang sudah setengah terkubur di lumpur.

“Itu sudah bertahun-tahun di sana. Mungkin ada yang buang waktu masih muda,” Junai menjawab sambil membersihkan lumpur dari ban itu.

“Kasihan kanal. Selama ini dia menanggung sampah kita tanpa pernah mengeluh.”

“Kanal tidak bisa mengeluh, Dadang. Tapi dia menunjukkan dengan caranya sendiri. Airnya keruh, ikannya mati, baunya busuk. Itu keluhannya.”

“Sekarang kita dengar keluhannya. Dan kita jawab dengan kerja bakti.”

Mereka tertawa. Tawa yang melegakan, tawa yang sudah lama tidak terdengar di tepi kanal.

Darto memimpin kelompok yang membersihkan semak belukar di tepi kanal. Ia bekerja dengan tekun, memotong rumput-rumput liar yang menghalangi aliran air, tapi hati-hati tidak merusak akar sawit yang menjuntai ke air.

“Ingat, jangan potong akar sawit!” Darto mengingatkan teman-temannya. “Itu tempat tinggal ikan. Kalau akarnya rusak, ikan tidak punya rumah. Mereka akan pergi.”

“Wah, Darto sekarang jadi konservasionis,” Asep menyindir ramah.

“Saya belajar dari Junai. Dan dari Rini. Dan dari Pak Jajang. Dan dari kanal ini sendiri.”

“Bagus, To. Kita semua belajar.”

Rini memimpin kelompok ibu-ibu yang membersihkan sampah-sampah kecil di tepian. Mereka memungut botol plastik, bungkus makanan, puntung rokok, dan potongan-potongan styrofoam yang tersangkut di rerumputan.

“Bu, ini sampahnya banyak sekali,” kata Rini pada Bu Haji Aminah.

“Iya, Rin. Ini yang kita lihat di tepi. Belum yang di dalam air. Sampah ini sudah menumpuk bertahun-tahun. Karena tidak pernah ada yang membersihkan.”

“Mulai sekarang kita bersihkan rutin. Semoga setelah ini warga juga lebih sadar untuk tidak buang sampah ke kanal.”

“Mudah-mudahan, Rin. Mudah-mudahan. Tapi tidak cukup hanya bersih-bersih. Kita juga harus kasih edukasi. Anak-anak muda sekarang banyak yang tidak tahu dampak sampah plastik. Mereka buang saja sembarangan.”

“Itu sebabnya saya minta Bu Haji membantu mengajak ibu-ibu. Ibu-ibu yang paling berperan dalam mendidik anak-anak.”

“Benar, Rin. Saya akan bicarakan ini di pengajian. Setiap minggu kita sisipkan edukasi tentang lingkungan. Tidak hanya tentang kanal, tapi juga tentang sampah, tentang kebersihan, tentang menjaga alam.”

Anak-anak kecil ikut membantu dengan semangat. Mereka membuat lomba siapa yang paling banyak mengumpulkan botol plastik. Hadiahnya? Umpan fermentasi buatan Junai yang sudah terkenal ampuh, dan gorengan gratis dari warung Ujang selama sebulan.

“Aku dapat dua belas botol!” teriak seorang anak laki-laki bernama Budi.

“Aku lima belas!” sahut anak lain, Ucok.

“Aku dua puluh lima!” anak yang lebih besar, Dani, menyombong.

“Dani curang! Botolnya dari rumah, bukan dari kanal!” Budi protes.

“Bukan! Aku ambil dari semak-semak dekat jembatan!”

“Sudah, jangan bertengkar,” Toha menengahi. “Kita hitung bersama. Yang penting semuanya sudah membantu. Nanti hadiahnya dibagi rata.”

Anak-anak itu bersorak.

Minggu kedua, mereka fokus pada eceng gondok. Tanaman air dengan daun bundar berwarna hijau tua dan bunga berwarna ungu itu tumbuh subur di kanal, menutupi hampir separuh permukaan air. Akar-akarnya yang lebat menjuntai ke dalam air, menciptakan hutan kecil di bawah permukaan—tempat yang sempurna bagi ikan-ikan kecil untuk bersembunyi. Tapi jika terlalu lebat, eceng gondok bisa menutupi permukaan, mengurangi oksigen di air, dan menghambat aliran.

“Eceng gondok ini baik dan jahat sekaligus,” Rini menjelaskan kepada warga yang berkumpul di tepi kanal. “Dalam jumlah yang tepat, ia menjadi tempat berlindung ikan-ikan kecil. Akarnya menjadi tempat menempel telur-telur ikan. Daunnya menjadi sumber makanan bagi beberapa jenis ikan. Tapi kalau terlalu lebat, ia menutupi permukaan, sinar matahari tidak masuk, oksigen berkurang, dan ikan-ikan di bawahnya mati lemas.”

“Jadi kita harus memotong semuanya?” tanya seorang warga.

“Tidak semuanya. Kita sisakan sekitar tiga puluh persen. Cukup untuk tempat berlindung ikan, tapi tidak sampai menutupi permukaan.”

“Bagaimana cara mengukurnya?”

“Mata dan pengalaman,” Pak Jajang menjawab dari kursi lipatnya. “Saya sudah puluhan tahun melihat kanal ini. Saya tahu mana yang terlalu lebat dan mana yang pas. Percayalah pada saya.”

Mereka tertawa. Pak Jajang memang sudah seperti peta hidup kanal. Tidak ada yang lebih tahu tentang kanal selain dia.

Mereka mulai bekerja. Darto memimpin kelompok yang masuk ke air untuk memotong eceng gondok dari akarnya. Mereka menggunakan sabit panjang dan cangkul, berhati-hati agar tidak merusak akar sawit yang juga menjadi tempat tinggal ikan.

“Hati-hati, airnya dingin!” Darto mengingatkan.

“Kau sendiri yang paling depan, To. Kau tidak dingin?” tanya Dadang.

“Dingin. Tapi ini bagus. Membuat saya sadar bahwa saya masih hidup. Masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.”

Dadang menepuk pundak Darto. “Kau sudah berubah, To. Aku bangga padamu.”

“Jangan bikin saya nangis, Dadang. Nanti air kanal jadi asin.”

Mereka tertawa. Tawa yang hangat di tengah air yang dingin.

Eceng gondok yang dipotong diangkut ke tepi, lalu dikeringkan. Rini sudah menyiapkan tempat pengomposan di belakang rumah Pak RT. Eceng gondok yang sudah kering akan dicampur dengan tanah dan sampah organik lainnya, menjadi pupuk kompos yang bisa digunakan untuk kebun warga.

“Jadi sampah ini tidak sia-sia,” kata Bu Haji Aminah sambil membantu mengangkut eceng gondok ke gerobak. “Bisa jadi pupuk. Lumayan untuk kebun sayur saya.”

“Benar, Bu. Semua bisa bermanfaat kalau kita kelola dengan baik,” Rini tersenyum.

Minggu ketiga, mereka membuat lubang biopori di tepi kanal. Rini mengajarkan cara membuatnya: lubang sedalam satu meter, diameter sepuluh sentimeter, diisi dengan sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan. Lubang biopori berfungsi untuk menyerap air hujan, mencegah genangan, dan menyaring air sebelum masuk ke kanal.

“Lubang biopori ini seperti ginjal bagi tanah,” Rini menjelaskan. “Dia menyaring air, menyerap polutan, dan mengembalikan air bersih ke dalam tanah. Kalau kita membuat banyak lubang biopori di tepi kanal, air hujan yang masuk ke kanal akan lebih bersih.”

“Berapa banyak yang harus kita buat?” tanya Pak RT.

“Idealnya, setiap rumah yang dekat kanal membuat satu atau dua lubang biopori. Tapi kita mulai dulu dari area yang paling rawan banjir dan paling banyak sampah.”

Mereka membuat lima puluh lubang biopori di sepanjang tepi kanal. Darto yang paling bersemangat—ia membuat sepuluh lubang sendirian, tangannya lecet karena menggali tanah yang keras.

“Darto, istirahatlah,” kata Junai. “Kau sudah membuat sepuluh. Itu lebih dari cukup.”

“Saya kuat, Jun. Ini ringan dibandingkan rasa bersalah yang saya pikul.”

Junai memandang Darto. “To, kau tidak perlu terus-menerus membayar utang. Cukup kau berubah. Itu sudah lebih dari cukup.”

“Aku tahu, Jun. Tapi aku ingin melakukan lebih. Bukan karena utang. Tapi karena aku peduli. Aku baru menyadari, setelah sekian lama, bahwa kanal ini adalah bagian dari diriku. Aku tidak bisa membiarkannya rusak.”

Junai tersenyum. “Kalau itu alasannya, teruskan. Tapi ingat, jangan sampai kau kelelahan. Kita masih butuh kau untuk jangka panjang.”

“Aku akan jaga diri. Janji.”

Pada minggu keempat, Rini menerima kabar baik. Pak Budi dari dinas perikanan setempat bersedia datang ke desa untuk melihat langsung kondisi kanal dan memberikan bantuan bibit ikan.

Pak Budi datang dengan mobil dinasnya pada hari Jumat pagi. Ia seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan kacamata bundar. Ia sudah dua puluh tahun bekerja di dinas perikanan, dan sudah puluhan kali turun ke desa-desa untuk memberikan bantuan bibit ikan.

Rini menjemputnya di kantor desa, lalu mengajaknya ke tepi kanal. Junai, Darto, Pak Jajang, dan Pak RT sudah menunggu.

“Selamat pagi, Pak Budi,” sapa Pak RT. “Terima kasih sudah bersedia datang ke desa kami.”

“Selamat pagi, Pak RT. Senang bisa datang. Rini sudah bercerita banyak tentang usaha warga membersihkan kanal. Saya sangat terkesan.”

Mereka berjalan menyusuri tepi kanal. Pak Budi mengamati air, melihat warna, mencium bau, dan sesekali mencelupkan tangannya.

“Airnya sudah cukup jernih,” kata Pak Budi. “Tidak seperti yang Rini ceritakan dulu. Waktu pencemaran, katanya airnya keruh kehijauan dan berminyak. Sekarang sudah jauh lebih baik.”

“Itu hasil kerja bakti warga selama tiga minggu, Pak,” kata Junai. “Kami membersihkan sampah, menebang eceng gondok yang terlalu lebat, dan membuat lubang biopori di tepi kanal.”

“Bagus, bagus. Saya lihat semangat warga sangat luar biasa. Tapi saya harus jujur, kanal ini masih dalam masa pemulihan. Populasi ikan masih sangat rendah. Saya cek tadi, hanya ada beberapa jenis ikan kecil seperti wader dan sepat. Ikan konsumsi seperti nila, mas, gabus, hampir tidak ada.”

“Itu sebabnya kami minta bantuan bibit ikan, Pak,” kata Rini. “Warga sudah siap menebar bibit dan menjaganya.”

Pak Budi mengangguk. “Dinas perikanan bisa memberikan bantuan bibit ikan nila dan mas. Masing-masing seribu ekor. Bibitnya sudah berukuran sekitar lima sentimeter, cukup besar untuk bertahan di alam. Tapi ada syaratnya.”

“Syarat apa, Pak?” tanya Pak RT.

Pak Budi berdiri di tepi kanal, memandang warga yang mulai berdatangan. Mereka tahu ada tamu dari dinas perikanan, dan mereka penasaran.

“Syarat pertama,” Pak Budi memulai dengan suara yang tegas, “warga harus berkomitmen menjaga kanal. Tidak boleh ada lagi pencemaran. Tidak boleh ada yang membuang sampah ke kanal. Tidak boleh ada yang menggunakan pestisida atau pupuk kimia di dekat kanal tanpa pengolahan yang benar.”

“Kami siap, Pak,” kata Pak RT. “Kami sudah mulai kesadaran itu. Kerja bakti rutin setiap minggu, dan warga sudah mulai paham pentingnya menjaga kanal.”

“Syarat kedua,” Pak Budi melanjutkan, “tidak boleh ada penangkapan ikan dengan cara ilegal. Tidak boleh ada setrum, tidak boleh ada racun, tidak boleh ada jaring yang terlalu halus. Hanya pancing, dan hanya ikan yang sudah layak konsumsi yang boleh diambil. Ikan kecil harus dilepas.”

“Itu sudah menjadi kebiasaan kami, Pak,” kata Junai. “Setiap kali dapat ikan kecil, kami lepas. Itu diajarkan Pak Jajang sejak kami masih kecil.”

Pak Jajang yang duduk di kursi lipat, tersenyum bangga.

“Syarat ketiga,” Pak Budi melanjutkan, “harus ada kawasan konservasi. Area di mana ikan tidak boleh ditangkap sama sekali, agar bisa berkembang biak dengan aman. Minimal dua ratus meter persegi. Di sana, tidak boleh ada aktivitas memancing selama minimal enam bulan. Setelah populasi ikan pulih, kawasan konservasi bisa diperkecil atau dipindahkan, tapi harus selalu ada.”

Warga saling berpandangan. Kawasan konservasi berarti mereka harus rela kehilangan area memancing selama enam bulan.

“Apakah itu berarti kita tidak boleh memancing di sebagian kanal?” tanya seorang warga.

“Iya. Tapi itu untuk jangka panjang. Ikan-ikan di kawasan konservasi akan berkembang biak, anak-anak ikan akan menyebar ke seluruh kanal. Dalam enam bulan, populasi ikan di seluruh kanal akan meningkat. Jadi pada akhirnya, semua warga diuntungkan.”

“Kami setuju,” kata Junai tanpa ragu.

“Saya juga setuju,” Darto mengangkat tangan.

“Setuju!” Dadang, Asep, Toha, dan pemuda lainnya serempak.

Pak RT mengangguk. “Kami setuju, Pak Budi. Kawasan konservasi akan kami tetapkan di hulu kanal, sekitar dua ratus meter dari sumber mata air. Di sana airnya paling bersih dan paling sedikit aktivitas warga. Cocok untuk tempat berkembang biak ikan.”

Pak Budi tersenyum. “Bagus. Kalau begitu, minggu depan saya akan kirim bibit ikannya. Seribu nila, seribu mas. Tolong disiapkan wadah sementara untuk aklimatisasi. Bibit ikan tidak bisa langsung ditebar ke kanal. Harus disesuaikan dulu dengan suhu air.”

“Kami siap, Pak,” kata Rini. “Saya sudah menyiapkan kolam terpal di belakang rumah Pak RT untuk aklimatisasi.”

“Rini ini pintar,” Pak Budi memuji. “Anak perikanan, ya?”

“Iya, Pak. Saya lulusan perikanan dari universitas di kota.”

“Bagus. Desa ini beruntung punya anak muda seperti Rini. Dan seperti kalian semua.” Pak Budi memandang Junai, Darto, Dadang, dan pemuda lainnya. “Semangat kalian luar biasa. Saya sudah dua puluh tahun keliling desa, jarang melihat warga yang sekompak ini menjaga lingkungan.”

“Kami belajar dari kesalahan, Pak,” kata Darto tiba-tiba. “Saya sendiri dulu hampir menggunakan setrum untuk menangkap ikan. Tapi saya sadar, itu bukan jalan yang benar.”

Pak Budi menatap Darto dengan mata yang tajam tapi tidak menghakimi. “Kau jujur, Nak. Itu bagus. Kesalahan bukan akhir dari segalanya. Yang penting kau mau berubah dan memperbaiki. Desa ini butuh orang-orang seperti kau.”

Darto tersenyum malu. Ini pertama kalinya ia mendapat pujian dari orang luar.

Seminggu kemudian, mobil dinas perikanan datang ke Desa Awan Biru. Pak Budi datang dengan dua orang stafnya, membawa dua kantong plastik besar berisi bibit ikan nila dan mas. Masing-masing seribu ekor, total dua ribu ekor ikan kecil yang berenang lincah di dalam air dalam kantong plastik.

Warga sudah berkumpul di tepi kanal. Lebih dari lima puluh orang hadir—rekor tertinggi sejak kerja bakti dimulai. Mereka membawa ember, baskom, dan wadah-wadah lain untuk membantu proses penebaran.

“Warga sekalian,” Pak Budi berseru, berdiri di atas batu besar. “Hari ini kita akan menebar dua ribu bibit ikan nila dan mas ke kanal. Bibit ini sudah berukuran sekitar lima sentimeter, cukup besar untuk bertahan di alam. Tapi mereka masih rentan. Mereka butuh perlindungan. Mereka butuh air bersih. Mereka butuh tempat berlindung. Dan mereka butuh kita untuk tidak menangkap mereka sampai mereka besar.”

“Kami akan menjaganya, Pak!” seru warga.

“Kawasan konservasi sudah ditentukan di hulu kanal. Di sana, tidak boleh ada aktivitas memancing selama enam bulan. Siapa yang akan menjaga kawasan konservasi?”

“Saya!” Darto mengangkat tangan. “Saya yang akan menjaga. Setiap pagi dan sore, saya akan datang ke kawasan konservasi, memastikan tidak ada yang memancing atau membuang sampah.”

Pak Budi tersenyum. “Bagus. Siapa lagi?”

“Saya juga,” Dadang mengangkat tangan.

“Saya!” Asep dan Toha serempak.

“Saya!” beberapa pemuda lain ikut.

“Bagus. Semakin banyak penjaga, semakin aman ikan-ikan kita.”

Penebaran dimulai. Rini memimpin proses aklimatisasi—membiarkan kantong plastik berisi bibit ikan mengapung di air kanal selama tiga puluh menit, agar suhu air di dalam kantong menyesuaikan dengan suhu air kanal. Setelah itu, mereka perlahan membuka kantong dan membiarkan ikan-ikan kecil itu berenang keluar dengan sendirinya.

“Lihat! Mereka berenang!” teriak seorang anak kecil.

Puluhan, ratusan ikan kecil berenang keluar dari kantong plastik, menyebar ke segala arah. Ada yang langsung bersembunyi di akar-akar eceng gondok, ada yang berenang ke tengah, ada yang menyelam ke dasar.

“Mereka mencari tempat aman,” kata Pak Jajang dari kursi lipatnya. “Itu naluri mereka. Mereka akan mencari tempat yang paling aman untuk berlindung, paling banyak makanan untuk tumbuh. Dan di situlah tugas kita—menyediakan tempat yang aman bagi mereka.”

“Kita sudah siapkan kawasan konservasi, Pak,” kata Junai. “Di hulu, airnya paling bersih, arusnya paling tenang, dan banyak akar sawit untuk berlindung.”

“Bagus. Tapi jangan lupa, kawasan konservasi bukan hanya area yang tidak boleh dipancing. Itu adalah rumah bagi mereka. Kita harus menjaga kebersihannya, menjaga kualitas airnya, dan memastikan tidak ada yang mengganggu.”

Darto yang mendengar itu, langsung bersemangat. “Saya akan jaga, Pak. Saya janji.”

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Darto sudah berada di kawasan konservasi. Ia berjalan menyusuri tepi kanal dari rumahnya di ujung barat desa, melewati jembatan, melewati tikungan dekat pohon karet, hingga sampai di hulu kanal—sekitar dua kilometer perjalanan. Ia membawa senter, buku catatan kecil, dan sesekali membawa kantong plastik untuk memungut sampah yang mungkin terbawa arus.

Setiap sore, setelah matahari mulai condong ke barat, ia kembali lagi. Ia duduk di tepi kawasan konservasi, memandang air yang tenang, sesekali melihat ikan-ikan kecil yang berenang di dekat permukaan.

“Darto, kau di sini terus?” tanya Junai suatu sore ketika ia datang untuk memeriksa kondisi air.

“Iya. Aku ingin memastikan tidak ada yang mengganggu. Ikan-ikan ini masih kecil. Mereka butuh perlindungan.”

“Kau tidak capek?”

“Capek? Tidak. Ini bukan beban. Ini... menyenangkan. Melihat mereka berenang bebas, tumbuh besar. Rasanya seperti... seperti memiliki adik baru.”

Junai tersenyum. “Dulu kau tidak pernah merasa seperti itu.”

“Dulu aku sibuk membandingkan diriku dengan orang lain. Dengan ayahku, dengan Pak Jajang, denganmu. Aku selalu merasa kurang. Sekarang... aku tidak membandingkan lagi. Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan. Dan itu cukup.”

“Kau berubah, To. Aku bangga padamu.”

Darto menatap Junai. “Kau tahu, Jun. Aku dulu iri padamu. Bukan hanya karena kau lebih pintar memancing. Tapi karena kau selalu tenang. Kau tidak pernah marah, tidak pernah frustasi, tidak pernah putus asa. Aku pikir itu karena kau lebih baik dariku. Tapi sekarang aku tahu, itu karena kau punya sesuatu yang tidak aku miliki dulu.”

“Apa?”

“Kesadaran bahwa hidup bukan tentang menang atau kalah. Tentang menjadi yang terbaik atau tidak. Tapi tentang melakukan yang terbaik dengan apa yang kita punya. Dan menerima bahwa itu sudah cukup.”

Junai tidak menjawab. Ia hanya menepuk pundak Darto, dan mereka duduk berdampingan di tepi kawasan konservasi, memandang ikan-ikan kecil yang berenang bebas di air yang mulai jernih.

Suatu hari, ketika Darto sedang melakukan patroli sore, ia melihat seorang anak laki-laki duduk di tepi kawasan konservasi dengan joran di tangan. Anak itu baru berusia sekitar sepuluh tahun, anak dari tetangga sebelah.

“Hei, Nak. Kau tidak boleh memancing di sini,” kata Darto mendekat.

Anak itu menoleh, wajahnya sedikit ketakutan. “Maaf, Mas Darto. Aku hanya mau coba-coba. Aku tidak tahu kalau tidak boleh.”

Darto duduk di samping anak itu. “Kamu tahu kenapa tidak boleh?”

“Karena ini kawasan konservasi. Katanya ikan-ikan kecil dilindungi di sini.”

“Benar. Ikan-ikan yang ditebar dua minggu lalu masih kecil. Mereka butuh waktu untuk tumbuh. Kalau kamu pancing sekarang, mereka akan sakit, bahkan mati. Nanti kalau sudah besar, kamu bisa memancing di luar kawasan konservasi. Dijamin dapat banyak.”

“Benarkah, Mas?”

“Benar. Aku janji. Tapi sekarang, bantu aku menjaga, ya. Kalau kamu lihat ada yang memancing di sini, bilang sama aku atau sama Pak Junai.”

Anak itu mengangguk semangat. “Saya bantu, Mas. Saya jaga.”

“Bagus. Sekarang pulang dulu. Nanti malam udaranya dingin. Bisa masuk angin.”

Anak itu berlari pulang, meninggalkan Darto yang tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri—bukan sebagai pesaing, bukan sebagai orang yang ingin menang, tapi sebagai penjaga.

Ujang, yang warungnya menjadi tempat berkumpul warga, mulai memasang poster-poster tentang menjaga lingkungan. Poster itu dibuat oleh Rini, dicetak di kota dengan biaya patungan warga.

Poster pertama bertuliskan: “Jangan Buang Sampah ke Kanal. Sampahmu Kembali ke Tubuhmu.” Di bawahnya ada gambar ikan yang memakan plastik, lalu ikan itu dimakan manusia.

Poster kedua: “Setrum Membunuh. Bukan Hanya Ikan, Tapi Masa Depan Anak Cucu.” Gambar anak kecil menangis di tepi kanal yang kosong.

Poster ketiga: “Kanal Bersih, Desa Sehat. Kerja Bakti Setiap Minggu, Ayo Ikut!”

Poster keempat: “Kawasan Konservasi: Rumah Ikan-Ikan Kecil. Jangan Ganggu!”

“Mang Ujang, warung Bapak jadi pusat informasi lingkungan,” kata Junai suatu pagi ketika mampir untuk membeli kopi.

“Iya. Biar warga yang mampir baca. Siapa tahu sadar. Lagipula, ini bagus untuk warung saya juga. Kalau kanal bersih, banyak pemancing datang. Pemancing haus, beli minum. Pemancing lapar, beli gorengan. Lumayan.”

Junai tertawa. “Mang Ujang, tetap saja Bapak pedagang sejati. Semua bisa jadi peluang.”

“Ya iyalah. Hidup harus cerdik, Jun. Tapi cerdik yang baik. Tidak merugikan orang lain. Tidak merusak lingkungan.”

Ujang juga menyediakan tempat sampah daur ulang di depan warungnya. Dua tempat sampah besar: satu untuk plastik, satu untuk non-plastik. Setiap minggu, sampah plastik yang terkumpul diangkut ke bank sampah di kecamatan.

“Ini ide Rini,” kata Ujang. “Katanya, sampah plastik bisa dijual. Lumayan untuk kas desa.”

“Ide bagus,” Junai mengangguk. “Selain bersih, dapat uang juga.”

“Iya. Tapi yang lebih penting, warga jadi sadar. Mulai memilah sampah. Tidak buang sembarangan. Itu yang paling berharga.”

Pak Jajang, meski fisiknya mulai lemah, tetap ikut dalam setiap diskusi. Ia tidak lagi bisa berjalan jauh, tidak lagi bisa duduk berjam-jam di tepi kanal. Tapi setiap kali ada pertemuan warga, ia hadir. Duduk di kursi lipat yang dibawa Rini, ditemani Bu Lastri, memberikan nasihat-nasihat yang selalu bijak.

“Kanal ini seperti pembuluh darah desa,” kata Pak Jajang dalam pertemuan warga minggu kelima. “Kalau kotor, seluruh tubuh desa akan sakit. Demam, pusing, tidak bisa bergerak. Tapi kalau bersih, desa akan sehat. Warga kuat, anak-anak tumbuh dengan baik, masa depan cerah.”

“Tapi Pak, butuh waktu lama untuk membersihkan kanal,” kata seorang warga.

“Memang. Tidak ada yang instan dalam hidup ini. Yang instan biasanya cepat rusak. Lihat umpan kimia. Instan, tapi merusak. Lihat setrum. Instan, tapi membunuh. Yang benar butuh waktu. Tapi hasilnya bertahan lama.”

“Berapa lama, Pak?”

“Saya tidak tahu. Bisa enam bulan, bisa satu tahun. Tapi yang penting kita mulai. Yang penting kita tidak menyerah. Kanal ini tidak akan mengecewakan kita. Dia akan membalas setiap kebaikan yang kita berikan.”

Pak Jajang berhenti sejenak, matanya menerawang ke kejauhan.

“Dulu, ketika saya masih muda, kanal ini mati. Tidak ada ikan, airnya hitam, baunya busuk. Warga putus asa. Tapi kakek saya tidak menyerah. Setiap hari ia membersihkan kanal, sendirian. Orang-orang bilang ia gila. Tapi setelah beberapa bulan, ikan mulai kembali. Setahun kemudian, kanal pulih. Dan orang-orang yang dulu bilang ia gila, ikut membersihkan. Sekarang, kita adalah generasi penerus. Jangan biarkan kanal ini mati di tangan kita.”

Anak-anak muda yang awalnya hanya ikut-ikutan karena diajak Dadang atau Darto, kini mulai antusias dengan inisiatif mereka sendiri. Mereka membuat grup WhatsApp bernama “Sahabat Kanal Awan Biru”.

Di grup itu, mereka saling melaporkan kondisi kanal setiap hari.

“Pagi ini air jernih, tidak ada sampah baru,” tulis Dadang.

“Di kawasan konservasi aman. Ikan-ikan kecil kelihatan berenang-renang,” tulis Darto dengan foto ikan-ikan nila kecil yang berenang di dekat permukaan.

“Ada yang buang sampah plastik di dekat jembatan. Saya sudah tegur,” tulis Asep.

“Bagus, Asep. Kalau perlu foto dan kirim ke grup, biar jadi pelajaran,” balas Rini.

Mereka juga menggunakan grup untuk mengatur jadwal ronda malam. Setiap malam, dua orang pemuda bergiliran berjalan menyusuri tepi kanal, memastikan tidak ada yang mencuri ikan atau membuang sampah di malam hari.

“Malam ini giliran saya dan Toha,” tulis Dadang.

“Hati-hati, Dadang. Bawa senter cadangan,” balas Junai.

“Siap, Jun.”

Minggu keenam, ketika mereka sedang melakukan kerja bakti rutin, seorang bocah laki-laki bernama Budi tiba-tiba berteriak dari tepi kanal.

“Lihat! Ada anak ikan! Banyak!”

Semua berkerumun. Di tepi kanal yang dangkal, dekat akar-akar eceng gondok yang sengaja disisakan, puluhan anak ikan nila berenang dalam kelompok kecil. Ukurannya sekitar dua sentimeter—jauh lebih kecil dari bibit yang ditebar sebulan lalu.

“Itu bukan bibit yang kita tebar,” kata Rini dengan mata berbinar. “Itu anak ikan yang baru menetas. Ikan-ikan kita berkembang biak!”

“Mereka berkembang biak!” teriak Dadang kegirangan.

“Di kawasan konservasi!” Darto berdiri di tepi kawasan konservasi, melambaikan tangan. “Di sini juga banyak! Ratusan! Mungkin ribuan!”

Junai berlutut di tepi kanal, memasukkan tangannya ke air. Airnya lebih dingin dari biasanya, lebih bersih. Ia bisa melihat dasar yang berlumpur, dengan anak-anak ikan kecil berenang di antara akar-akar eceng gondok. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan air mengalir di sela-sela jarinya, merasakan kehidupan yang mulai kembali.

Ia mengucap syukur dalam hati. Bukan hanya karena ikan-ikan kembali, tapi karena semua yang telah terjadi—kesalahan, kemarahan, kekecewaan, pengampunan, kerja keras—semua mengarah ke momen ini. Momen di mana kehidupan menang.

“Kanal ini masih mau memberi kesempatan,” katanya lirih, matanya berkaca-kaca.

Pak Jajang yang berdiri di sampingnya, dituntun oleh Bu Lastri, menepuk pundak Junai. Tangannya yang keriput dan gemetar itu terasa hangat di pundak Junai.

“Bukan kanal yang memberi kesempatan, Jun,” kata Pak Jajang dengan suara yang lembut. “Kita yang memberinya kesempatan. Dan ia membalasnya. Ia selalu membalas kebaikan, selama kita memberi dengan tulus.”

“Kita berhasil, Pak,” kata Junai, air matanya jatuh.

“Belum sepenuhnya, Jun. Masih panjang perjalanan. Tapi kita sudah di jalan yang benar. Dan itu yang terpenting.”

Darto berlari dari kawasan konservasi, wajahnya berseri-seri. “Jun! Pak Jajang! Lihat! Foto ini!” Ia menunjukkan ponselnya, berisi foto ribuan anak ikan kecil berenang di air yang jernih.

“Ini yang kita tunggu, To,” kata Junai. “Ini awal dari segalanya.”

“Aku tidak menyangka,” kata Darto, suaranya bergetar. “Aku pikir butuh bertahun-tahun. Tapi hanya sebulan, mereka sudah berkembang biak.”

“Ikan cepat berkembang biak kalau lingkungannya aman,” Rini menjelaskan. “Tapi kita harus tetap menjaga. Jangan sampai ada yang memancing di kawasan konservasi. Jangan sampai ada sampah baru. Jangan sampai ada pencemaran.”

“Kita akan jaga, Rin,” kata Darto dengan tekad yang bulat. “Aku janji.”

Mereka berdiri bersama di tepi kanal—Junai, Darto, Rini, Dadang, Asep, Toha, Ujang, Pak Jajang, Bu Lastri, Pak RT, Bu Haji Aminah, Karto, Sarip, dan puluhan warga lainnya. Mereka memandang air yang mulai jernih, ikan-ikan kecil yang berenang bebas, dan masa depan yang mulai terlihat.

Matahari sore memancarkan sinar keemasan, menciptakan riak-riak cahaya di permukaan air. Di kejauhan, burung-burung beterbangan pulang ke sarang, menyambut senja yang akan segera tiba.

“Ini baru awal,” kata Junai pada dirinya sendiri. “Tapi ini awal yang indah.”


BAB 10: Riak Kehidupan yang Baru

Tiga bulan telah berlalu sejak kerja bakti pertama. Tiga bulan sejak mereka membersihkan sampah, menebang eceng gondok, membuat lubang biopori, menebar bibit ikan, dan menetapkan kawasan konservasi. Tiga bulan yang terasa seperti tiga tahun—penuh dengan keringat, air mata, tawa, dan kebersamaan.

Pagi itu, Junai bangun sebelum azan subuh. Ia tidak butuh alarm. Tubuhnya sudah seperti jam biologis yang terkoneksi dengan kanal. Perlahan ia bangkit dari dipan bambunya, melipat sarung yang menjadi selimutnya, lalu berjalan ke belakang rumah untuk mengambil ember hitam dan joran kesayangannya—sebatang bambu betung yang telah dihaluskan dengan pecahan kaca, diberi karet ban dalam bekas sebagai pengganti rol.

Ibunya yang sudah tua terbangun oleh suara langkah kaki Junai. “Jun, kau mau ke kanal?”

“Iya, Bu. Sebentar lagi subuh. Ikan sedang aktif.”

“Hati-hati, Nak. Jangan terlalu lama. Nanti sarapan dulu sebelum berangkat.”

“Iya, Bu. Nanti saya makan dulu.”

Ia menciduk nasi hangat dari dandang, melahapnya dengan cepat bersama sepotong tempe goreng dan sambal terasi. Setelah itu, ia berjalan menuju kanal. Embun masih menggantung di dedaunan sawit, menetes ke pundaknya dingin. Langit timur mulai memerah, tanda matahari akan segera terbit.

Ketika Junai tiba di tepi kanal, ia tertegun sejenak.

Tiga bulan yang lalu, tempat ini dipenuhi sampah. Airnya keruh kehijauan, berminyak, dan bau anyir menyengat. Sekarang, semuanya berubah. Air kanal jernih kehijauan—bukan hijau karena polusi, tapi hijau karena alga dan tumbuhan air yang sehat. Alirannya lancar, tidak tersumbat sampah atau eceng gondok yang terlalu lebat. Di beberapa titik, ia bisa melihat ikan-ikan berenang bebas di dekat permukaan. Rumput-rumput air tumbuh di tepi, menjadi tempat berlindung bagi benih-benih ikan.

Junai duduk di tempat lamanya—di papan kayu lapuk yang disangga batang pinang. Papan itu dulu hampir roboh, tapi Darto dan Dadang telah memperbaikinya dua bulan lalu. Kini papan itu kokoh, diberi tambahan sandaran kecil dari bambu.

Ia memasang umpan fermentasi di joran pertama, anak kodok di joran kedua. Dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan, ia melempar umpan ke titik yang ia yakini akan didatangi ikan—di tikungan kanal, di mana arus sedikit melambat dan banyak dedaunan terperangkap.

Pelampung mengapung. Air beriak lembut.

Tidak sampai sepuluh menit, pelampung joran pertama bergerak. Tarikan kuat, langsung menenggelamkan pelampung. Junai menarik dengan sabar, membiarkan ikan itu berenang dulu sampai energinya terkuras. Setelah beberapa menit, seekor ikan nila berukuran sedang muncul di permukaan. Ia melepaskan kail dengan hati-hati, memasukkannya ke ember.

“Satu,” gumamnya.

Ia memasang umpan lagi. Joran kedua masih diam, anak kodoknya berenang-renang di dekat akar sawit yang menjuntai.

Pukul setengah tujuh, warga mulai berdatangan. Suasana di tepi kanal pagi itu ramai seperti dulu, tapi berbeda. Dulu, di pagi hari seperti ini, tepi kanal dipenuhi oleh pemancing yang duduk sendiri-sendiri, saling bersaing diam-diam, sesekali melirik ke ember tetangga untuk membandingkan hasil. Sekarang, yang terlihat adalah senyuman, canda tawa, dan sesekali teriak kegirangan saat ada yang dapat ikan besar—bukan karena ingin menang, tapi karena kebahagiaan sederhana yang ingin dibagikan.

Dadang datang bersama Asep dan Toha. Mereka berjalan bergandengan—bukan karena mesra, tapi karena jalan setapak yang sempit di antara pelepah sawit.

“Jun! Sudah dapat?” tanya Dadang dari kejauhan.

“Satu ekor nila. Masih kecil. Kau?”

“Belum. Baru mau mulai. Aku coba spot di akar sawit. Katanya Darto kemarin dapat gabus besar di sana.”

“Pakai anak kodok, Dadang. Di akar sawit, gabus suka mangsa yang bergerak.”

“Iya, aku tahu. Sudah bawa sepuluh ekor.”

Asep memilih spot di tikungan dekat pohon karet. Toha mengikuti Junai, ingin belajar membaca arus seperti yang diajarkan Junai beberapa minggu lalu.

Rini datang dengan buku catatan dan kamera. Ia tidak langsung memancing. Ia berjalan menyusuri tepi kanal, mengambil foto di beberapa titik, mencatat kondisi air, dan sesekali membungkuk untuk melihat ikan-ikan kecil yang berenang di dekat tepi.

“Rini, tidak mancing?” tanya Junai.

“Nanti. Aku mau dokumentasi dulu. Ini untuk laporan ke dinas perikanan. Mereka minta update kondisi kanal setiap bulan.”

“Bagaimana hasilnya?”

Rini membuka buku catatannya, menunjukkan grafik dan data yang rapi. “Kualitas air sudah kembali normal. Kadar amonia turun drastis, fosfat juga. pH netral. Populasi ikan meningkat tiga kali lipat dari bulan lalu. Kawasan konservasi berhasil. Ikan-ikan berkembang biak dengan baik.”

Junai tersenyum. “Kita berhasil, Rin.”

“Belum sepenuhnya, Jun. Tapi kita sudah di jalan yang benar.”

Darto datang sekitar pukul tujuh. Ia berjalan dari arah barat, dari rumahnya yang berada di ujung desa. Langkahnya tidak lagi terburu-buru seperti dulu. Ada ketenangan di sana—ketenangan yang lahir dari kedamaian batin.

Ia membawa joran yang sama, tapi perlengkapannya berbeda. Tidak ada lagi ransel besar berisi umpan kimia atau setrum. Yang ia bawa hanya toples kecil berisi anak kodok, kaleng bekas berisi cacing tanah, dan sebuah ember kecil yang sudah penyok di beberapa sisi.

“Pagi, Jun! Pagi, semua!” sapa Darto dengan semangat.

“Pagi, To! Siap mancing?” balas Junai.

“Siap! Aku mau coba spot di akar sawit. Kemarin aku lihat banyak gabus di sana.”

“Pakai anak kodok?”

“Iya. Seperti yang kau ajarin.”

Darto berjalan ke spot-nya—di dekat akar sawit yang menjuntai, sekitar lima puluh meter dari posisi Junai. Di sanalah dulu ia hampir menggunakan setrum. Di sanalah ia hampir menghancurkan masa depannya sendiri. Kini, ia duduk di tempat yang sama, tapi dengan hati yang berbeda.

Ia memasang anak kodok di kailnya—perlahan, hati-hati, tusukan dangkal di punggung. Kodok itu menggelepar sebentar, lalu diam. Ia melempar ke celah antara akar sawit, di mana ada rongga air yang terbuka. Pelampung dari gabus bekas sandal jepit mengapung tenang.

Ia menunggu.

Tidak sampai lima belas menit, pelampungnya bergerak. Goyangan kecil naik-turun—tanda ada ikan yang sedang mengamati umpan. Darto tidak bergerak. Ia menahan napas.

Pelampung bergoyang lagi. Lebih kuat.

Masih tidak bergerak.

Tiba-tiba, pelampung tenggelam dengan tarikan yang sangat kuat. Joran Darto melengkung hampir membentuk huruf U. Senar menegang, air memercik ke mana-mana.

Darto tidak menarik. Ia ingat pesan Junai: biarkan dia berenang dulu. Beri sedikit kendor.

Ia memberi kendor. Ikan itu melesat ke kanan, hampir mencapai akar-akar sawit. Darto mengencangkan senar, menarik perlahan, membawa ikan itu kembali ke tengah.

Ikan itu melawan, berputar-putar, mencoba membebaskan diri. Tapi Darto tidak terburu-buru. Ia membiarkan ikan itu menguras energinya sendiri. Tarik, kendor, tarik, kendor.

Setelah beberapa menit, seekor ikan gabus besar muncul di permukaan. Tubuhnya loreng hitam kehijauan, panjang hampir setengah meter, berat mungkin sekitar dua kilogram. Matanya bulat tajam, mulutnya yang lebar menganga karena kail masih tertancap di punggung.

Darto mengangkatnya ke tepi dengan hati-hati. Tangannya gemetar—bukan karena gugup, tapi karena kebahagiaan yang luar biasa.

“Junai! Lihat ini!” teriak Darto dari kejauhan, mengangkat gabusnya tinggi-tinggi.

Semua menoleh. Dadang, Asep, Toha, Rini, Ujang, bahkan Pak Jajang yang baru saja datang—semua melihat Darto yang berdiri di tepi kanal dengan ikan gabus besar di tangannya.

“Wah, Darto! Besar sekali!” teriak Dadang.

“Gabus dua kilo lebih!” Asep berseru.

“Hebat, To!” Toha takjub.

Rini berlari mendekat, mengambil foto Darto dengan ikan gabusnya. “Ini untuk dokumentasi, To. Biar masuk laporan ke dinas perikanan.”

Darto tersipu malu. “Jangan difoto, Rin. Malu.”

“Kenapa malu? Ini prestasi. Dapat gabus besar pakai anak kodok, tanpa setrum, tanpa racun. Itu yang harus didokumentasikan.”

Junai menghampiri, tersenyum bangga. “Bagus, Darto! Pakai umpan apa?”

“Anak kodok! Seperti yang kau ajarin!” Darto masih belum bisa menutup senyumnya. “Lepas atau bawa pulang?”

“Terserah. Tapi kalau bawa pulang, ingat, ikan yang lebih kecil harus dilepas.”

“Iya, saya tahu! Kemarin saya dapat dua ekor gabus kecil, saya lepas semua.”

“Bagus. Itu namanya pemancing sejati.”

Darto memandang ikan di tangannya. Ia memikirkan apakah akan membawanya pulang atau melepasnya. Ikan ini cukup besar—cukup untuk dimakan sekeluarga. Tapi ia juga ingat bahwa di kawasan konservasi, ada ribuan ikan kecil yang sedang tumbuh. Ikan ini mungkin salah satu dari mereka yang dulu ditebar, yang kini sudah besar.

“Aku bawa pulang,” putusnya akhirnya. “Ibu minta ikan gabus untuk acara keluarga nanti. Tapi aku janji, aku tidak akan ambil yang kecil-kecil.”

“Bagus, To.”

Darto memasukkan gabus itu ke ember dengan hati-hati. Ia memandang ikan itu sebentar, mengucap terima kasih dalam hati, lalu menutup ember.

Rini tidak hanya memotret Darto. Ia berkeliling di tepi kanal, mengambil foto di setiap titik yang pernah ia dokumentasikan tiga bulan lalu. Di titik yang dulu penuh sampah plastik, kini tumbuh rumput-rumput air. Di titik yang dulu airnya keruh kehijauan, kini airnya jernih, dan ia bisa melihat ikan-ikan kecil berenang di dasar.

Ia juga mengambil sampel air di lima titik berbeda. Airnya jernih, tidak berbau, dan ketika ia mencelupkan strip uji pH, warnanya menunjukkan angka netral—7, normal.

“Rini, kamu tidak mancing?” tanya Ujang yang lewat membawa nampan gorengan.

“Nanti, Mang. Aku mau selesaikan dokumentasi dulu. Ini untuk laporan.”

“Rajin sekali. Pantas saja desa ini maju karena ada anak muda seperti kamu.”

Rini tersenyum. “Bukan saya saja, Mang. Semua warga berperan. Tanpa kerja bakti, tanpa kesadaran bersama, kanal tidak akan pulih.”

“Benar. Tapi kamu yang memulai. Kamu yang mengambil sampel air, kamu yang menghubungi dinas perikanan, kamu yang membuat poster-poster. Itu tidak semua orang bisa lakukan.”

“Saya hanya melakukan apa yang saya bisa, Mang. Saya belajar perikanan di kota, jadi saya punya ilmu. Tapi ilmu tanpa aksi tidak ada artinya. Dan aksi tanpa kebersamaan tidak akan bertahan.”

Ujang mengangguk. “Kau bijak, Rin. Seperti Junai. Kalian berdua ini seperti guru bagi kami semua.”

“Ah, Mang Ujang melebih-lebihkan.”

Setelah selesai mendokumentasi, Rini akhirnya memancing. Ia memilih spot di dekat pintu air—tempat yang dulu ia hindari karena airnya keruh dan banyak sampah. Sekarang, air di sana jernih, dan ia bisa melihat ikan-ikan nila berenang di dekat permukaan.

Ia memasang umpan cacing—umpan andalannya untuk ikan nila. Dengan gerakan yang teliti, ia melempar ke celah antara eceng gondok yang sengaja disisakan sebagai tempat berlindung ikan.

Tidak sampai dua puluh menit, pelampungnya bergerak. Tarikan kuat, tapi tidak terlalu berat. Rini menarik dengan sabar, dan seekor ikan nila berukuran sedang muncul di permukaan.

Ia memotret ikan itu terlebih dahulu—untuk dokumentasi—sebelum memasukkannya ke ember. “Satu,” catatnya di buku.

Dalam dua jam, ia mendapat tiga ekor nila. Semua ukuran sedang, cukup untuk dimakan. Ia tidak mengambil yang kecil. Ia tahu, ikan-ikan kecil adalah masa depan.

Pak Jajang datang sekitar pukul delapan. Ia tidak lagi berjalan sendiri. Bu Lastri, istrinya, menemaninya dengan sabar, sesekali memegang tangannya ketika jalan setapak terasa licin. Pak Jajang sudah tidak memakai tongkat lagi—dokternya bilang itu baik untuk keseimbangan—tapi langkahnya masih lambat, matanya masih waspada.

Ia tidak membawa joran. Hari ini ia tidak memancing. Ia hanya ingin duduk di tepi kanal, seperti dulu ketika ia masih muda, menikmati pagi yang sejuk, memandang air yang mengalir, dan mengingat-ingat masa lalu.

Ujang membawakan kursi lipat untuk Pak Jajang. “Silakan duduk, Pak. Saya bawa kopi.”

“Terima kasih, Ujang. Kau baik sekali.”

“Ah, biasa saja, Pak. Bapak sudah banyak berjasa untuk desa ini. Sudah sepantasnya kami yang melayani.”

Pak Jajang duduk di kursi lipat, meletakkan kedua tangannya di pangkuan. Matanya yang tua dan keriput itu menyapu tepi kanal, melihat anak-anak muda yang sedang asyik memancing, ibu-ibu yang duduk di tikar plastik sambil mengupas singkong, anak-anak kecil yang berlarian mengejar capung.

“Lihat mereka, Bu,” kata Pak Jajang pada Bu Lastri yang duduk di sampingnya. “Lihat mereka. Hidup lagi. Kanal ini hidup lagi.”

“Iya, Pak. Berkat usaha mereka. Berkat usaha anak-anak muda.”

“Bukan hanya mereka. Kita semua. Tapi memang, Junai, Darto, Rini, Dadang, mereka yang paling bersemangat. Mereka yang tidak menyerah ketika yang lain putus asa.”

Junai yang sedang duduk tidak jauh dari Pak Jajang, mendengar pujian itu. Ia tersenyum malu, lalu mendekat.

“Pak Jajang, Bapak tidak memancing hari ini?” tanyanya.

“Tidak, Jun. Hari ini saya hanya ingin melihat. Melihat kanal yang sudah pulih, melihat kalian semua bahagia. Itu sudah lebih dari cukup.”

Junai duduk di samping Pak Jajang. Mereka berdua memandang kanal yang mengalir tenang. Airnya jernih kehijauan, dengan ikan-ikan kecil berenang di dekat permukaan. Di kejauhan, Darto sedang tertawa dengan Dadang, menunjukkan gabus besar yang ia dapat.

“Pak,” Junai memanggil pelan.

“Iya, Jun.”

“Apakah Bapak ingat dulu, ketika pertama kali Bapak mengajari saya memancing?”

Pak Jajang tersenyum. Matanya menerawang ke masa lalu, tiga puluh tahun yang lalu, ketika ia membawa pulang seorang anak laki-laki kecil dari panti asuhan.

“Ingat. Waktu itu kau masih kecil, kurus, matanya besar. Kau duduk di tepi kanal, memandang air, seperti sedang menunggu sesuatu. Saya tanya, 'Nak, kau sedang apa?' Kau jawab, 'Saya sedang menunggu ikan.' Saya bilang, 'Kau tidak punya joran, bagaimana kau bisa dapat ikan?' Kau jawab, 'Saya tidak perlu joran. Saya hanya ingin melihat mereka berenang.'”

Junai tersenyum mendengar cerita itu. “Saya masih ingat, Pak. Waktu itu air kanal masih jernih. Saya bisa melihat ikan-ikan berenang di dasar. Saya terpesona.”

“Dan saya terpesona padamu, Jun. Sejak saat itu saya tahu, kau anak yang istimewa. Kau tidak memancing untuk menangkap. Kau memancing untuk memahami.”

“Saya belajar dari Bapak, Pak. Bapak mengajari saya bahwa memancing bukan soal hasil. Tapi soal proses. Soal kesabaran. Soal menjaga.”

Pak Jajang mengangguk. “Kanal ini seperti melihat anak yang tumbuh dewasa, Jun. Dulu saya lihat ia masih kecil, jernih, penuh kehidupan. Lalu ia remaja, kotor, rusak, penuh masalah. Sekarang... ia dewasa. Bijak. Seimbang. Mampu menjaga dirinya sendiri. Tapi tetap butuh perhatian. Tidak boleh ditinggal.”

“Seperti anak, Pak. Tidak boleh ditinggal.”

“Iya. Seperti anak. Dan kita adalah orang tuanya. Kita yang menjaganya, merawatnya, membesarkannya. Dan sekarang, ia membalas kita dengan kehidupan.”

Junai memandang kanal yang beriak lembut. “Kanal ini mengajarkan kita banyak hal, Pak. Bukan hanya tentang memancing.”

“Apa yang paling kau pelajari, Jun?”

Junai tidak menjawab segera. Ia memandang ke arah barat, di mana matahari perlahan naik, menciptakan pantulan keemasan di permukaan air. Ia memandang Darto yang sedang tertawa dengan Dadang. Ia memandang Rini yang asyik mencatat di buku kecilnya. Ia memandang anak-anak kecil yang berlarian mengejar capung. Ia memandang Ujang yang membagikan gorengan ke sana kemari.

“Bahwa kehidupan ini seperti air,” kata Junai akhirnya. “Kalau kita biarkan mengalir alami, ia akan jernih. Tapi kalau kita terus mengaduk-aduk dengan ambisi, keserakahan, dan tipu daya, ia akan keruh. Dan ketika keruh, kita tidak bisa melihat apa pun—termasuk diri kita sendiri.”

Pak Jajang mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca. “Kau sudah menjadi guru, Jun. Tanpa pernah merasa menjadi guru. Itulah tanda kebijaksanaan sejati.”

“Saya hanya murid, Pak. Murid dari kanal ini. Dan kanal ini masih mengajarkan banyak hal.”

Mereka diam. Angin pagi bertiup lembut, membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit. Di kejauhan, burung-burung beterbangan dari satu pohon ke pohon lain, menyambut hari yang cerah.

Ujang datang membawa nampan besar berisi pisang goreng, ubi rebus, dan singkong goreng. Dua termos besar berisi kopi hitam pekat dan teh manis hangat. Ia meletakkan nampan di atas tikar plastik yang dibentangkan Asep di bawah pohon karet tua.

“Mari, mari! Kita rayakan kanal yang sudah sehat. Hari ini saya traktir semua!” seru Ujang dengan semangat.

“Mang Ujang, ini banyak sekali!” Dadang terkejut.

“Banyak orang, banyak juga gorengannya. Ini sekalian promosi. Siapa tahu kalian mau beli gorengan di warung saya nanti.”

“Mang Ujang, tetap saja Bapak pedagang sejati,” Junai tertawa.

“Ya iyalah. Hidup harus cerdik, Jun. Tapi cerdik yang baik. Tidak merugikan orang lain.”

Mereka duduk melingkar di tikar plastik. Darto, Rini, Dadang, Asep, Toha, Pak Jajang, Bu Lastri, Junai, dan beberapa warga lainnya. Mereka tertawa, bercerita, dan sesekali melirik ke arah kanal yang kini hidup kembali.

“Darto, ceritakan bagaimana kau dapat gabus sebesar itu!” pinta Dadang.

Darto tersenyum malu. Ia menceritakan bagaimana ia memasang anak kodok, bagaimana ia menunggu dengan sabar, bagaimana ia membiarkan ikan itu berenang dulu sebelum menarik.

“Aku ingat dulu, waktu pertama kali Junai mengajari aku pasang anak kodok, aku selalu gagal. Kodoknya mati, atau lepas, atau kena tusuk terlalu dalam. Tapi aku tidak menyerah. Setiap hari aku coba. Sampai akhirnya bisa.”

“Itu namanya belajar, To,” kata Junai. “Tidak ada yang langsung bisa. Semua butuh proses.”

“Kau juga pernah gagal, Jun?” tanya Toha penasaran.

“Pernah. Sering. Bahkan sekarang masih sering gagal. Kemarin aku dapat ikan kecil semua. Hari ini baru dapat tiga ekor nila. Itu bukan keberhasilan besar.”

“Tapi kau selalu tenang, Jun. Tidak pernah frustasi,” kata Dadang.

“Frustasi itu ada, Dadang. Tapi aku belajar untuk tidak melampiaskannya. Aku belajar dari kanal. Air yang tenang mengalir lebih jauh daripada air yang deras dan bergolak.”

Pak Jajang yang mendengar itu, mengangguk bangga. “Junai benar. Kesabaran adalah kunci. Bukan hanya dalam memancing, tapi dalam hidup. Orang yang sabar akan mencapai tujuannya, meskipun lambat. Orang yang terburu-buru sering tersesat di jalan.”

Darto menunduk mendengar itu. Ia teringat pada masa lalunya, ketika ia selalu terburu-buru ingin menjadi yang terbaik, ingin menang, ingin diakui. Ia hampir tersesat. Tapi sekarang, ia telah menemukan jalannya kembali.

Di tengah keramaian, dua orang lelaki muncul dari arah selatan. Mereka berjalan kaki menyusuri tepi kanal, membawa joran sederhana dan ember kecil. Wajah mereka familiar—kumis tebal dan kacamata hitam. Dua orang kota yang dulu pernah mencemari kanal.

Semua warga menoleh. Suasana berubah tegang. Dadang berdiri, tangannya mengepal. Asep dan Toha ikut berdiri, bersiap.

“Mereka lagi,” bisik Dadang dengan suara dingin. “Mau apa mereka?”

“Tenang, Dadang,” Junai menahan. “Lihat dulu.”

Kumis tebal dan rekannya berjalan mendekat. Wajah mereka tidak lagi angkuh seperti dulu. Kumis tebal itu bahkan terlihat sedikit malu—pipinya memerah, matanya tidak berani menatap langsung ke arah warga.

Mereka berhenti di depan Darto. Darto berdiri, memandang mereka dengan tatapan tajam.

“Ada apa?” tanya Darto dingin.

Kumis tebal itu menarik napas panjang. “Kami... kami minta maaf. Atas kejadian dulu. Kami tahu kesalahan kami. Kami sudah tidak melakukan itu lagi. Kami ingin... kami ingin memancing di sini. Dengan cara yang benar. Boleh?”

Darto tidak menjawab. Ia memandang mereka, mengingat kembali hari-hari ketika ia hampir terjerumus ke dalam jalan yang sama—jalan pintas, jalan curang, jalan yang merusak.

“Kenapa kalian mau minta izin sekarang?” tanya Darto. “Dulu kalian tidak pernah minta izin.”

“Kami... kami dengar kanal ini sudah pulih. Kami dengar warga bekerja keras membersihkannya. Kami malu. Kami merasa ikut bertanggung jawab atas kerusakan dulu. Jadi kami ingin... ingin memulai lagi. Dengan cara yang benar.”

Darto menatap mereka lama. Ia teringat pada Junai, yang dulu menerimanya kembali meskipun ia hampir menggunakan setrum. Ia teringat pada Pak Jajang, yang berkata bahwa memberi kesempatan kedua adalah bagian dari menjadi manusia.

“Silakan,” kata Darto akhirnya. “Tapi ingat, di kanal ini kami punya aturan. Tidak ada umpan kimia. Tidak ada setrum. Ikan kecil harus dilepas. Dan kalian tidak boleh memancing di kawasan konservasi.”

Kumis tebal itu mengangguk cepat. “Kami paham. Kami janji. Terima kasih.”

Mereka berjalan ke spot yang agak jauh dari kerumunan, di bawah jembatan. Mereka memasang umpan—cacing tanah, dari kaleng bekas yang mereka bawa—dan melempar dengan hati-hati.

Darto menghampiri Junai dan berbisik, “Dua orang itu minta izin memancing. Saya beri izin.”

“Bagus. Itu namanya memberi kesempatan kedua,” Junai tersenyum.

Darto tersenyum lebar. “Saya belajar itu darimu, Jun. Dan dari Pak Jajang. Dan dari kanal ini. Bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Selama ia mau berubah.”

“Kau sudah berubah, To. Dan itu yang terpenting.”

Matahari mulai condong ke barat ketika mereka memutuskan untuk pulang. Hari itu, semua pulang dengan ember yang lumayan berisi.

Junai membawa pulang tiga ekor nila ukuran sedang. Darto membawa pulang gabus dua kilogram yang menjadi kebanggaannya. Rini membawa pulang tiga ekor nila dan satu ekor lele. Dadang mendapat dua ekor nila dan satu ekor gabus kecil yang ia lepas. Asep mendapat dua ekor nila. Toha mendapat seekor nila ukuran sedang—pertama kalinya ia pulang dengan ikan yang layak konsumsi.

Pak Jajang tidak memancing, tapi ia pulang dengan hati yang penuh. Ia melihat kanal yang pulih, melihat anak-anak muda yang bahagia, melihat persaudaraan yang kembali terjalin. Itu sudah lebih dari cukup.

Mereka berjalan pulang bersama menyusuri jalan setapak di antara pelepah sawit. Sinar matahari sore menembus celah-celah daun, menciptakan pola-pola cahaya di tanah. Burung-burung beterbangan pulang ke sarang, menyambut senja yang akan segera tiba.

“Jun,” Darto memanggil dari belakang.

“Iya.”

“Kau tahu, aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

“Dulu aku pikir, memancing itu tentang menang. Tentang siapa yang paling banyak, siapa yang paling besar. Tapi sekarang aku sadar, itu bukan tentang menang. Itu tentang... tentang menjadi bagian. Bagian dari alam, bagian dari desa, bagian dari keluarga.”

Junai tersenyum. “Itu pelajaran yang butuh waktu lama untuk dipelajari. Tapi kau sudah sampai di sana, To.”

“Karena kau, Jun. Dan Pak Jajang. Dan kanal ini.”

Mereka berjalan dalam diam. Di kejauhan, kanal mengalir tenang, membawa cerita hari ini dan menyimpan cerita untuk esok.


EPILOG

Senja kembali turun di atas kanal yang kini tak lagi sunyi.

Langit jingga bercampur ungu, memantul di permukaan air yang beriak lembut. Awan-awan tipis berwarna kemerahan, seperti sapuan kuas raksasa di langit yang luas. Burung-burung beterbangan melintas, sesekali menyambar serangga yang terbang rendah di atas air. Suara jangkrik mulai terdengar dari balik semak-semak, menyambut malam yang akan segera tiba.

Riak air kecil terlihat di mana-mana—di sela-sela eceng gondok yang sengaja disisakan, di dekat akar-akar sawit yang menjuntai, di tikungan kanal yang airnya berputar perlahan. Tanda kehidupan telah kembali. Bukan hanya ikan, tapi juga serangga air, kecebong, dan anak-anak kodok yang melompat-lompat di tepian. Seluruh ekosistem mulai pulih.

Tawa warga pun kembali terdengar, menyatu dengan suara alam—gemericik air, desiran daun sawit, dan suara burung yang pulang ke sarang. Kelompok ibu-ibu masih duduk di tikar plastik, mengupas singkong sambil bercerita. Anak-anak kecil masih berlarian mengejar kunang-kunang yang mulai bermunculan. Pemuda-pemuda masih asyik membersihkan joran mereka, bersiap untuk pulang.

Junai duduk di tempat yang sama seperti dulu—di papan kayu lapuk yang disangga batang pinang, di tikungan kanal dekat pohon karet tua. Jorannya sudah dilipat, tertancap di tanah di sampingnya. Embernya sudah berisi empat ekor ikan—ukuran sedang, cukup untuk makan malam bersama ibunya.

Tapi hatinya tidak sedang memikirkan ikan.

Ia memandang ke arah barat, di mana matahari perlahan tenggelam di balik bukit-bukit yang menjulang. Sinar jingga keemasan memancar, menciptakan bayangan panjang di permukaan air. Angin sore bertiup lembut, membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit—bau yang sudah sangat familiar, bau yang selalu membuatnya tenang.

Pak Jajang sudah pulang lebih awal, karena badannya mulai lelah. Bu Lastri menuntunnya perlahan, sesekali berhenti untuk mengatur napas. Sebelum pergi, Pak Jajang sempat menepuk pundak Junai dan berkata, “Jagalah kanal ini, Jun. Seperti kau menjaga dirimu sendiri.”

Rini masih asyik mencatat di buku kecilnya, menuliskan data terakhir sebelum pulang. Ia duduk di bawah pohon karet, dengan penerangan senter kecil yang digantung di dahan. Sesekali ia melihat ke arah kanal, tersenyum, lalu menulis lagi.

Darto sedang mengajari anak-anak desa cara meracik umpan dari dedak dan ampas kelapa, serta cara memasang anak kodok yang benar. Ia duduk di tengah-tengah anak-anak itu, sabar menjelaskan, sesekali tertawa ketika salah satu dari mereka bertanya hal yang konyol.

“Mas Darto, kenapa ikan gabus suka anak kodok?” tanya seorang anak laki-laki.

“Karena itu makanan alami mereka, Nak. Di sawah-sawah, gabus memangsa anak kodok dan kecebong. Jadi ketika mereka melihat anak kodok bergerak-gerak di permukaan air, naluri mereka langsung aktif.”

“Kalau pakai cacing?”

“Cacing juga bisa. Tapi lebih cocok untuk lele dan gabus yang makan di dasar. Kalau mau gabus yang suka berburu di permukaan, pakai anak kodok lebih jitu.”

“Mas Darto, ajarin aku pasang anak kodok!”

“Nanti, nanti. Sekarang kalian pulang dulu. Nanti malam gelap, bisa tersesat. Besok pagi kita lanjut.”

Anak-anak itu berlarian pulang, masih dengan semangat yang membara.

Ujang membawa gorengan dan teh hangat, berkeliling membagikan pada semua orang yang masih tersisa. Ia sudah tiga kali bolak-balik dari warungnya ke tepi kanal, tapi tidak pernah mengeluh.

“Jun, ini untukmu,” kata Ujang sambil memberikan segelas teh manis hangat. Gorengan pisang dan ubi rebus diletakkan di samping Junai.

“Terima kasih, Mang.”

“Kau tidak sedih? Hari ini dapat empat ekor. Lumayan banyak.”

Junai tersenyum. “Bukan banyak sedikitnya, Mang. Yang penting, kanal ini masih hidup. Dan kita masih bisa duduk di sini, bersama-sama.”

Ujang mengangguk. “Kau benar. Dulu sempat saya pikir kanal ini akan mati. Airnya keruh, ikannya tidak ada, baunya busuk. Warga pada putus asa. Tapi kalian—kau, Rini, Pak Jajang—tidak menyerah. Dan lihat sekarang. Kanal hidup lagi. Desa hidup lagi.”

“Kita semua, Mang. Termasuk kamu. Termasuk Darto. Termasuk anak-anak yang ikut bersih-bersih. Semua punya peran. Tanpa Mang Ujang yang menyediakan gorengan dan kopi, mungkin warga tidak se-semangat ini.”

Ujang tertawa. “Jadi gorengan saya berperan besar?”

“Sangat besar, Mang. Perut kenyang, semangat bertambah.”

Mereka tertawa bersama.

Di kejauhan, Darto tertawa keras karena seorang bocah—Budi namanya—berhasil mendapatkan ikan pertama kalinya dalam hidup. Seekor gabus kecil, hanya sepanjang jari, menyambar anak kodok yang dipasang dengan bantuan Darto.

Bocah itu berlari ke arah ibunya, Bu Haji Aminah, yang sedang duduk di tikar plastik bersama ibu-ibu lainnya. Ia menunjukkan ikan yang masih menggelepar di tangannya, matanya berbinar-binar.

“Bu! Bu! Lihat! Saya dapat ikan pakai anak kodok! Mas Darto yang ajarin!”

Bu Haji Aminah tersenyum, mengelus kepala anaknya. “Pintar, Nak. Tapi ingat, kalau masih kecil dilepas ya. Biar besar dulu, nanti bisa ditangkap lagi.”

“Iya, Bu!”

Bocah itu berlari kembali ke tepi kanal, melepaskan ikan kecilnya dengan hati-hati. Ia mencelupkan tangannya ke air, membiarkan ikan itu berenang perlahan keluar dari genggamannya. Ikan itu berhenti sebentar, seperti berterima kasih, lalu menghilang di antara akar-akar eceng gondok.

Bocah itu tersenyum puas, lalu bergabung dengan teman-temannya yang sedang belajar memancing dari Darto.

Junai menyesap tehnya. Hangat. Pahit manis. Seperti kehidupan.

Ia memandang kanal sekali lagi. Airnya beriak kecil, membentuk pola-pola yang tak pernah sama. Di setiap riak itu, ia melihat wajah-wajah: Pak Jajang yang bijak, Rini yang teliti, Ujang yang ramah, Darto yang berubah, Dadang yang bersemangat, Asep dan Toha yang setia, dan semua warga yang perlahan sadar bahwa menjaga alam adalah menjaga diri sendiri.

Ia teringat pada percakapannya dengan Pak Jajang pagi tadi. “Apa yang paling kau pelajari, Jun?” Dan jawabannya: “Bahwa kehidupan ini seperti air. Kalau kita biarkan mengalir alami, ia akan jernih. Tapi kalau kita terus mengaduk-aduk dengan ambisi, keserakahan, dan tipu daya, ia akan keruh. Dan ketika keruh, kita tidak bisa melihat apa pun—termasuk diri kita sendiri.”

Ia tahu, memancing bukan soal siapa yang paling banyak mendapat ikan.

Melainkan siapa yang paling mampu memahami waktu, alam, dan dirinya sendiri.

Dan kanal itu… akan selalu menjadi guru yang tak pernah berbicara, namun selalu memberi makna.

Senja berganti malam. Lampu-lampu mulai menyala di rumah-rumah warga—kuning hangat dari lampu minyak tanah, putih terang dari lampu listrik yang sudah masuk ke desa sejak lima tahun lalu. Asap mengepul dari cerobong dapur, tanda ibu-ibu sedang memasak untuk makan malam. Bau masakan—ikan bakar, sayur asem, dan sambal terasi—tercium samar di udara malam yang dingin.

Junai melipat jorannya, membawa ember kecil, dan berjalan pulang. Langkahnya pelan, tidak tergesa. Ia tidak ingin terburu-buru. Malam ini terlalu indah untuk dilewatkan dengan terburu.

Di belakangnya, kanal terus mengalir—tenang, dalam, tak pernah berhenti. Suaranya gemericik lembut, seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang mau mendengarkan.

Ia berjalan menyusuri jalan setapak di antara pelepah sawit. Di kejauhan, ia melihat Darto yang masih duduk di tepi kanal, sendirian, memandang air yang beriak.

“To, belum pulang?” teriak Junai.

“Sebentar lagi, Jun. Aku mau lihat bintang dulu.”

Junai berbalik, berjalan mendekati Darto. Ia duduk di sampingnya.

“Bintang apa yang kau lihat?”

“Semua. Langit malam ini cerah. Tidak ada awan. Bintang-bintang terlihat semua.”

Mereka memandang langit. Ribuan bintang bertaburan di langit gelap, seperti berlian yang ditebarkan di atas kain hitam. Bulan sabit tipis menggantung di ufuk barat, nyaris tak terlihat.

“Darto,” Junai memanggil.

“Iya.”

“Kau tahu, dulu, ketika kita masih kecil, kita sering duduk di sini, memandang bintang, sambil menunggu Pak Jajang selesai memancing. Kau ingat?”

Darto tersenyum. “Ingat. Waktu itu kita masih berteman baik. Belum ada iri, belum ada cemburu. Kita hanya dua anak kecil yang suka mancing dan suka bintang.”

“Apa yang membuat kita berubah?”

Darto tidak menjawab segera. Ia memandang bintang, lalu ke arah kanal, lalu ke arah Junai.

“Aku yang berubah, Jun. Aku yang membiarkan iri dan cemburu tumbuh di hatiku. Aku melihat kau lebih pintar memancing, lebih disayang Pak Jajang, lebih dihormati warga. Aku merasa tersisih. Padahal... tidak ada yang menyisihkan aku. Aku sendiri yang menyisihkan diriku.”

“Kau tidak sendiri, To. Dulu aku juga merasa asing. Aku anak panti, tidak punya keluarga. Ketika Pak Jajang membawaku ke desa ini, aku merasa tidak pantas. Tapi Pak Jajang, Bu Lastri, dan kau—kalian menerimaku. Itu yang membuat aku betah.”

“Aku tidak menerimamu, Jun. Aku malah membencimu. Maafkan aku.”

“Sudah lama aku maafkan, To. Sejak kau menyerahkan setrum itu. Sejak kau menangis di depan semua orang. Sejak itu, aku tahu kau sudah berubah.”

Darto menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuan.

“Aku beruntung punya kakak sepertimu, Jun. Meskipun aku dulu tidak mengakuinya.”

Junai menepuk pundak Darto. “Kita bersaudara, To. Bukan karena darah. Tapi karena kita melalui semua ini bersama. Pencemaran, konflik, kerja bakti, penebaran bibit, dan sekarang... kanal yang pulih. Itu lebih dari sekadar darah.”

Mereka diam. Angin malam bertiup lembut, membawa bau tanah basah dan dedaunan sawit. Di kejauhan, kanal mengalir tenang, suaranya seperti lagu pengantar tidur.

“Ayo pulang,” kata Junai berdiri. “Besok kita mancing lagi. Aku mau ajarin kau teknik baru. Membaca arus bawah. Kata Pak Jajang, itu kunci untuk dapat ikan mas besar.”

Darto berdiri, tersenyum. “Aku tunggu.”

Mereka berjalan pulang bersama, menyusuri jalan setapak yang gelap, diterangi oleh bintang-bintang di langit. Di belakang mereka, kanal terus mengalir—membawa cerita hari ini, dan menyimpan cerita untuk esok.

Riak di permukaan air itu... riak kehidupan yang baru.

TAMAT

 

0 komentar:

Posting Komentar