Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid
Novelet Serial Abunawas Edisi I: Kecerdikan Akal dan Logika
Episode 9: Tafsir Mimpi Sang Khalifah: Antara Takdir dan
Tafsir Manusia
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG: MIMPI YANG MENGGUNCANG ISTANA
Di tengah keheningan malam yang menyelimuti istana Baghdad,
ketika bulan purnama bersinar terang di atas kubah-kubah emas, ketika angin
malam berhembus lembut membawa aroma bunga melati dari taman dalam, ketika para
penjaga istana mulai mengantuk di pos-pos mereka setelah seharian berjaga,
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin
membasahi seluruh tubuhnya. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya memburu
seperti orang yang baru saja berlari mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa ia
kejar, matanya terbuka lebar di kegelapan kamar pribadinya, menatap
langit-langit yang dihiasi ukiran kaligrafi emas yang kini tampak asing,
seperti ia baru pertama kali melihatnya.
Ia tidak bisa bergerak. Tidak bisa berteriak. Tidak bisa
memanggil pengawal. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidurnya yang luas,
dengan selimut sutra yang basah oleh keringat, dengan jantung yang berdetak
seperti genderang perang, dengan pikiran yang berputar-putar mengulang setiap
adegan dari mimpi yang baru saja ia alami. Mimpi yang terasa begitu nyata.
Mimpi yang terasa begitu dekat. Mimpi yang terasa begitu… menakutkan.
Dalam mimpinya, ia duduk di singgasananya yang megah, di
Aula Singgasana Agung yang diterangi oleh ribuan lampu minyak, dikelilingi oleh
semua orang yang ia kasihi—istrinya Zubaidah yang cantik dan anggun, putra
mahkotanya Al-Amin yang masih muda dan penuh semangat, putranya yang bijaksana
Al-Ma'mun yang selalu membuatnya bangga, para menterinya yang setia, para
penasihatnya yang cerdas, para komandan militernya yang gagah berani. Semua
orang yang berarti dalam hidupnya ada di sana. Semua orang yang ia percaya ada
di sana. Semua orang yang ia cintai ada di sana.
Kemudian, satu per satu, gigi-giginya tanggal.
Bukan gigi sungguhan. Bukan gigi di mulutnya yang terasa
sakit dan lepas. Tapi gigi dalam mimpi itu, gigi yang melambangkan sesuatu yang
lebih dalam, sesuatu yang lebih menakutkan, sesuatu yang lebih… personal. Gigi
pertama tanggal, dan ia melihat seorang kerabatnya jatuh. Gigi kedua tanggal,
dan ia melihat seorang temannya pergi. Gigi ketiga tanggal, dan ia melihat
seorang menterinya berpaling. Gigi demi gigi tanggal, dan satu per satu
orang-orang di sekelilingnya menghilang, meninggalkannya, mati, pergi, tidak
kembali.
Ia berteriak. Ia berusaha menahan gigi-gigi itu agar tidak
tanggal. Ia berusaha meraih orang-orang yang menghilang. Ia berusaha berteriak
memanggil mereka. Tapi tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang bisa ia tahan.
Tidak ada yang bisa ia selamatkan.
Dan pada akhirnya, ketika gigi terakhir tanggal, ketika
semua yang ia cintai telah pergi, ketika ia sendirian di singgasana yang kini
terasa kosong dan dingin, ia terbangun. Terbangun dengan keringat dingin.
Terbangun dengan jantung berdebar. Terbangun dengan ketakutan yang tidak bisa
ia jelaskan dengan kata-kata.
Ia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit yang
kini mulai diterangi oleh cahaya bulan yang masuk melalui jendela-jendela
tinggi. Di luar, ia bisa mendengar suara jangkrik yang terus bersahutan, suara
angin yang berhembus lembut, suara air mancur yang mengalir tenang di taman
dalam. Semua terdengar normal. Semua terasa normal. Tapi di dalam dirinya,
tidak ada yang normal. Yang ada hanyalah kegelisahan. Yang ada hanyalah
ketakutan. Yang ada hanyalah… pertanyaan.
Apa arti mimpi ini? Mengapa aku bermimpi seperti ini?
Apakah ini pertanda? Apakah ini peringatan? Apakah ini… takdir?
Ia duduk di tempat tidurnya, mengusap keringat di dahinya
dengan tangan yang masih gemetar. Ia mencoba menenangkan dirinya, mencoba
meyakinkan dirinya bahwa ini hanya mimpi, bahwa mimpi tidak selalu berarti,
bahwa ia tidak perlu takut pada bayangan di malam hari. Tapi semakin ia mencoba
tenang, semakin gelisah ia. Semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas mimpi
itu terbayang. Semakin ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini tidak penting,
semakin ia merasa bahwa ini sangat penting.
Keesokan paginya, ketika matahari baru saja terbit di ufuk
timur, menyinari istana dengan cahaya keemasan yang lembut, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid sudah duduk di singgasananya dengan jubah kebesaran berwarna hitam,
dengan mahkota emas di kepalanya, dengan wajah yang pucat, dengan mata yang
sayu, dengan hati yang gelisah. Ia tidak tidur lagi setelah terbangun. Ia hanya
duduk di singgasananya sepanjang sisa malam, menatap kegelapan, menatap
bayangan, menatap… ketakutannya sendiri.
Jafar, yang masuk ke ruang singgasana untuk melaporkan
urusan pagi, terkejut melihat kondisi Baginda Raja. Biasanya, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid adalah sosok yang tegap, yang penuh wibawa, yang matanya tajam
seperti elang. Tapi pagi itu, ia terlihat lelah. Terlihat rapuh. Terlihat…
takut.
"Baginda," kata Jafar, suaranya penuh
kekhawatiran, "apa yang terjadi? Apakah Baginda sakit? Apakah ada sesuatu
yang mengganggu Baginda? Apakah…"
"Jafar," potong Harun Al-Rasyid, suaranya serak,
lemah, seperti orang yang baru saja sembuh dari penyakit berat, "semalam
aku bermimpi. Mimpi yang aneh. Mimpi yang menakutkan. Mimpi yang… tidak bisa
aku lupakan."
Jafar mendekat, duduk di kursi di hadapan singgasana, menatap
Baginda Raja dengan penuh perhatian. "Mimpi apa, Baginda? Ceritakan.
Mungkin aku bisa membantu. Mungkin tidak seburuk yang Baginda kira."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas panjang.
"Aku bermimpi duduk di singgasana ini, dikelilingi oleh semua orang yang
aku kasihi. Isteriku, anak-anakku, para menteriku, para penasihatku, para
komandanku. Semua orang yang berarti dalam hidupku ada di sana. Kemudian, satu
per satu, gigiku tanggal. Dan setiap kali gigi tanggal, satu orang di
sekelilingku menghilang. Pergi. Meninggal. Tidak kembali. Pada akhirnya, ketika
gigi terakhir tanggal, aku sendirian. Sendirian di singgasana ini. Sendirian di
istana yang sunyi. Sendirian di dunia yang kosong."
Air matanya mengalir. Ia tidak berusaha menyembunyikannya.
"Jafar, aku takut. Aku takut bahwa mimpi ini adalah
pertanda. Aku takut bahwa semua yang aku cintai akan meninggalkanku. Aku takut
bahwa aku akan sendirian. Aku takut… bahwa ini adalah takdir."
Jafar terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia juga
takut. Ia juga gelisah. Ia juga… tidak bisa menjelaskan.
"Baginda," katanya akhirnya, "mari kita
panggil para ahli tafsir mimpi. Mereka lebih tahu. Mereka bisa membantu. Mereka
bisa… memberikan penjelasan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Panggil
mereka. Panggil semua ahli tafsir mimpi di istana. Panggil para ahli
supranatural. Panggil semua yang mungkin bisa menjelaskan. Aku harus tahu. Aku
harus mengerti. Aku harus… siap. Siap menghadapi apa pun yang akan
terjadi."
BAB 1: TAFSIR YANG MENAKUTKAN
Para ahli tafsir mimpi datang dengan cepat. Mereka adalah
orang-orang yang telah mengabdikan hidup mereka untuk memahami bahasa mimpi,
untuk membaca tanda-tanda yang dikirim oleh alam gaib, untuk menerjemahkan
simbol-simbol misterius yang muncul di alam bawah sadar manusia. Mereka telah
menafsirkan ribuan mimpi—mimpi tentang kemenangan dan kekalahan, tentang
kelahiran dan kematian, tentang kekayaan dan kemiskinan, tentang kebahagiaan
dan kesedihan. Tapi tidak pernah, dalam karier mereka, mereka diminta
menafsirkan mimpi yang begitu mengerikan. Tidak pernah, dalam hidup mereka,
mereka dihadapkan pada mimpi yang begitu… pribadi.
Mereka berkumpul di Aula Singgasana Agung, duduk dalam
lingkaran di hadapan Baginda Raja, dengan kitab-kitab tebal di pangkuan mereka,
dengan wajah-wajah yang serius, dengan pikiran yang bekerja keras. Mereka
adalah Imam Marzuki, ketua para ahli tafsir mimpi, seorang lelaki tua dengan
janggut putih panjang yang sudah menghabiskan lima puluh tahun hidupnya untuk
mempelajari mimpi; Syekh Abdul Qadir Jabal, yang juga ahli supranatural, yang
terkenal dengan kemampuannya berkomunikasi dengan makhluk halus; dan beberapa
orang lainnya yang juga dihormati karena pengetahuan mereka tentang dunia gaib.
Bainda Raja Harun Al-Rasyid menceritakan mimpinya sekali
lagi. Dengan suara yang masih serak, dengan mata yang masih sayu, dengan hati
yang masih gelisah, ia menceritakan setiap detail, setiap adegan, setiap
sensasi yang ia rasakan. Ia menceritakan bagaimana ia duduk di singgasana,
bagaimana orang-orang yang ia cintai berkumpul di sekelilingnya, bagaimana
gigi-giginya tanggal satu per satu, bagaimana orang-orang itu menghilang,
bagaimana ia akhirnya sendirian.
Ketika ia selesai, ruangan itu sunyi. Sunyi yang begitu
dalam hingga suara napas orang-orang terdengar seperti angin. Sunyi yang begitu
berat hingga beberapa ahli tafsir mulai gemetar. Sunyi yang begitu mencekam
hingga tidak ada yang berani bersuara.
Imam Marzuki adalah orang pertama yang berbicara. Suaranya
rendah, berat, seperti guntur di kejauhan yang tidak pernah benar-benar datang,
tetapi selalu ada di sana, mengingatkan.
"Baginda," katanya, "kami telah mendengar.
Kami telah merenung. Kami telah memeriksa kitab-kitab tafsir. Dan kami… kami
sampai pada kesimpulan. Mimpi Baginda adalah mimpi yang sangat jelas. Sangat
tegas. Sangat… tidak bisa ditafsirkan lain."
Ia berhenti, menghela napas panjang, mengusap wajahnya
dengan tangan yang gemetar.
"Baginda, dalam kitab-kitab tafsir disebutkan bahwa
gigi melambangkan kerabat. Gigi depan melambangkan anak. Gigi geraham
melambangkan orang tua. Gigi taring melambangkan saudara. Dan ketika gigi-gigi
itu tanggal dalam mimpi, itu berarti… itu berarti bahwa kerabat yang
bersangkutan akan meninggal. Satu per satu. Sesuai dengan urutan gigi yang
tanggal."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid memucat. Wajahnya yang sudah
pucat menjadi semakin pucat, seperti kapur, seperti mayat, seperti orang yang
baru saja mendengar vonis mati.
"Syekh," katanya, suaranya nyaris berbisik,
"apa maksudmu? Apa maksudmu bahwa kerabatku akan meninggal? Siapa? Kapan?
Bagaimana? Apakah tidak ada cara untuk menghindarinya? Apakah tidak ada…"
"Baginda," potong Imam Marzuki, suaranya masih
rendah, masih berat, tetapi ada nada belas kasihan di dalamnya, "tafsir
ini tidak bisa dihindari. Ini adalah makna yang paling jelas. Ini adalah makna
yang tercatat dalam semua kitab. Ini adalah makna yang telah digunakan oleh
para ahli tafsir selama berabad-abad. Mimpi Baginda… mimpi Baginda adalah
peringatan. Peringatan bahwa Baginda akan kehilangan orang-orang yang Baginda
cintai. Satu per satu. Sampai akhirnya… Baginda sendirian."
Air mata Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengalir deras. Ia
tidak bisa menahannya. Ia tidak mau menahannya. Ia membiarkan air mata itu
mengalir, membiarkannya menjadi saksi dari ketakutannya, dari kesedihannya,
dari… keputusasaannya.
"Syekh," katanya, suaranya terputus-putus,
"apakah tidak ada tafsir lain? Apakah tidak ada cara lain untuk membaca
mimpi ini? Apakah tidak ada… harapan?"
Imam Marzuki menggeleng. "Baginda, kami telah
memeriksa semua kitab. Kami telah membandingkan semua tafsir. Tidak ada tafsir
lain. Mimpi ini hanya memiliki satu makna. Satu makna yang tidak bisa ditawar.
Satu makna yang… harus Baginda terima."
Syekh Abdul Jabal, yang sejak tadi diam mendengarkan,
akhirnya bersuara. Suaranya juga rendah, juga berat, tetapi ada nada yang
berbeda di dalamnya. Nada yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Nada
yang… meragukan.
"Baginda," katanya, "aku juga telah
memeriksa. Aku juga telah berdoa. Aku juga telah meminta petunjuk. Dan aku… aku
tidak sepenuhnya setuju dengan Imam Marzuki."
Imam Marzuki menoleh, matanya tajam. "Apa maksudmu?
Apakah kau meragukan kitab-kitab tafsir? Apakah kau meragukan para ahli yang
telah menggunakan tafsir ini selama berabad-abad? Apakah kau meragukan…"
"Imam," potong Syekh Abdul Jabal dengan suara
yang masih tenang, "aku tidak meragukan kitab-kitab. Aku tidak meragukan
para ahli. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan petunjuk yang aku terima. Dalam
doaku, aku merasakan… ada yang berbeda. Ada yang tidak sesuai. Ada yang… tidak
tepat."
Ia berbalik menghadap Baginda Raja Harun Al-Rasyid.
"Baginda, dalam mimpimu, gigi-gigi itu tanggal satu
per satu. Tapi apakah Baginda ingat apakah gigi itu tanggal dengan sakit?
Apakah Baginda ingat apakah ada darah? Apakah Baginda ingat apakah setelah
tanggal, tumbuh gigi baru?"
Bainda Raja Harun Al-Rasyid mengerutkan kening. Ia berusaha
mengingat. Ia berusaha menangkap detail-detail yang mungkin terlewat.
"Aku… aku tidak ingat sakit. Aku tidak ingat darah.
Dan tidak ada gigi baru yang tumbuh. Hanya… tanggal. Lalu hilang. Lalu aku
sendirian."
Syekh Abdul Jabal mengangguk. "Itu penting, Baginda.
Itu sangat penting. Dalam kitab-kitab tafsir, jika gigi tanggal dengan sakit
dan berdarah, itu berarti kematian yang menyakitkan. Jika gigi tanggal tanpa
sakit, itu berarti… perpisahan yang damai. Jika tumbuh gigi baru, itu berarti
ada pengganti. Tapi dalam mimpi Baginda, tidak ada sakit, tidak ada darah,
tidak ada gigi baru. Hanya… kepergian. Hanya… kesunyian."
Ia berhenti, menghela napas.
"Baginda, tafsirku berbeda. Mimpi ini bukan tentang
kematian. Mimpi ini tentang… umur panjang. Mimpi ini tentang… Baginda akan
hidup lebih lama dari semua kerabat Baginda. Baginda akan melihat mereka pergi
satu per satu, bukan karena kematian yang tragis, tapi karena… Baginda yang
akan hidup lebih lama. Baginda yang akan… ditinggalkan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia tidak tahu harus
percaya pada siapa. Imam Marzuki mengatakan satu hal. Syekh Abdul Jabal
mengatakan hal lain. Keduanya ahli. Keduanya berpengalaman. Keduanya…
meyakinkan.
"Syekh," katanya, "siapa yang benar? Siapa
yang harus aku percayai? Siapa yang…"
"Baginda," potong Imam Marzuki, suaranya tegas,
"jangan dengarkan dia. Dia hanya memberikan harapan palsu. Dia hanya
menenangkan Baginda dengan omong kosong. Mimpi ini jelas. Mimpi ini tegas.
Mimpi ini… tidak bisa ditafsirkan lain."
"Baginda," Syekh Abdul Jabal juga tidak mau
kalah, "aku tidak memberikan harapan palsu. Aku hanya memberikan tafsir
yang berbeda. Aku hanya membaca mimpi Baginda dengan cara yang berbeda. Dan aku
yakin, tafsirku juga benar. Tafsirku juga berdasarkan kitab. Tafsirku
juga…"
Perdebatan antara kedua ahli tafsir itu berlangsung
berjam-jam. Mereka mengutip kitab-kitab, mereka mengemukakan argumen, mereka
saling menyerang, mereka saling membela. Dan di tengah semua itu, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid duduk di singgasananya, dengan wajah yang semakin pucat, dengan hati
yang semakin gelisah, dengan pikiran yang semakin kacau.
Ia tidak tahu siapa yang benar. Ia tidak tahu siapa yang
harus ia percayai. Ia tidak tahu… apa yang harus ia lakukan.
BAB 2: PERDEBATAN PARA AHLI
Hari-hari setelah pertemuan pertama dengan para ahli tafsir
mimpi, suasana istana berubah. Tidak ada lagi tawa di koridor-koridor. Tidak
ada lagi canda di dapur-dapur. Tidak ada lagi syair yang dibacakan di
taman-taman. Yang ada hanyalah bisik-bisik, tatapan khawatir, langkah
tergesa-gesa, pintu yang terkunci rapat, dan hati yang dipenuhi ketakutan.
Kabar tentang mimpi Baginda Raja dan tafsir-tafsir yang
menakutkan itu menyebar dengan cepat. Dalam hitungan jam, semua orang di istana
sudah mendengar. Para penjaga berbisik di barak-barak mereka, saling bertukar
cerita, saling menguatkan ketakutan, saling meyakinkan bahwa malapetaka akan
datang. Para pelayan berbisik di dapur-dapur, saling bertanya, saling menebak,
saling berdoa agar mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Para dayang berbisik di
kamar-kamar mereka, saling memeluk, saling menangis, saling membayangkan
bagaimana jadinya jika orang-orang yang mereka cintai pergi.
Dan yang paling terpengaruh adalah para pejabat istana.
Mereka yang tadinya sibuk dengan urusan negara, kini sibuk dengan ketakutan
mereka sendiri. Mereka yang tadinya percaya diri, kini ragu. Mereka yang
tadinya optimis, kini pesimis. Mereka yang tadinya bersahabat, kini saling
curiga. Siapa yang akan menjadi korban pertama? Siapa yang akan pergi? Siapa
yang akan ditinggalkan?
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak bisa tidur. Setiap
malam, ia terbangun dari tidurnya, berkeringat dingin, dengan jantung berdebar,
dengan mimpi yang sama terbayang di matanya. Gigi-gigi yang tanggal.
Orang-orang yang pergi. Kesunyian yang mencekam. Ia mencoba melupakan. Ia
mencoba mengabaikan. Tapi tidak bisa. Mimpi itu terus menghantuinya. Ketakutan
itu terus menggerogotinya. Kecemasan itu terus… meracuni pikirannya.
Ia memanggil para ahli tafsir lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap kali, mereka datang dengan kitab-kitab tebal, dengan wajah-wajah serius,
dengan tafsir-tafsir yang berbeda. Imam Marzuki tetap pada pendiriannya: mimpi
itu pertanda kematian. Syekh Abdul Jabal tetap pada pendiriannya: mimpi itu
pertanda umur panjang. Ahli-ahli lain juga ikut bersuara, memberikan
tafsir-tafsir yang tidak kalah menakutkan, yang tidak kalah membingungkan.
Seorang ahli tafsir bernama Syekh Ibrahim al-Mishri, yang
terkenal dengan kemampuannya membaca mimpi dari sudut pandang spiritual, angkat
bicara. "Baginda, dalam tradisi sufi, gigi melambangkan kebijaksanaan.
Gigi yang tanggal berarti kebijaksanaan yang hilang. Mimpi Baginda adalah
peringatan bahwa Baginda akan kehilangan kebijaksanaan. Bahwa Baginda akan
membuat keputusan-keputusan yang salah. Bahwa Baginda akan… menyesal."
Seorang ahli tafsir lain, seorang lelaki muda bernama Syekh
Hasan al-Basri, yang terkenal dengan pendekatan psikologisnya, angkat bicara.
"Baginda, dalam ilmu jiwa, mimpi tentang gigi yang tanggal melambangkan
ketakutan akan kehilangan. Bukan kehilangan orang lain, tapi kehilangan diri
sendiri. Kehilangan kekuasaan. Kehilangan kehormatan. Kehilangan… jati diri.
Mimpi Baginda adalah cerminan dari ketakutan Baginda sendiri. Bukan pertanda
dari luar."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mendengarkan semuanya, dengan
wajah yang semakin pucat, dengan hati yang semakin gelisah, dengan pikiran yang
semakin kacau. Setiap ahli memberikan tafsir yang berbeda. Setiap tafsir sama
meyakinkannya. Setiap tafsir sama menakutkannya. Dan ia tidak tahu mana yang
benar. Ia tidak tahu mana yang harus ia percayai. Ia tidak tahu… apa yang harus
ia lakukan.
"Jafar," katanya pada suatu sore, ketika ia dan
Jafar duduk sendirian di ruang pribadinya, suaranya lemah, letih, seperti orang
yang sudah lama tidak tidur, "aku tidak tahu lagi. Aku tidak tahu siapa
yang benar. Aku tidak tahu apa yang harus aku percayai. Aku tidak tahu… apakah
aku harus mempersiapkan diri untuk kematian orang-orang yang aku cintai, atau
untuk hidup lebih lama dari mereka, atau untuk kehilangan kebijaksanaan, atau
untuk kehilangan jati diriku. Aku hanya tahu bahwa aku takut. Aku sangat
takut."
Jafar menggenggam tangan Baginda Raja. Tangannya yang
biasanya dingin, kini hangat. Tangannya yang biasanya tegap, kini lembut.
"Baginda," katanya, "aku tidak bisa
menafsirkan mimpi. Aku tidak tahu mana yang benar. Tapi aku tahu satu hal:
ketakutan tidak akan membantu. Ketakutan hanya akan membuat Baginda semakin
lemah. Ketakutan hanya akan membuat Baginda semakin sulit berpikir jernih.
Ketakutan hanya akan… menghancurkan Baginda."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas. "Kau
benar, Jafar. Ketakutan tidak akan membantu. Tapi aku tidak bisa
menghentikannya. Aku tidak bisa… tidak takut."
"Baginda," kata Jafar, "mungkin sudah
waktunya memanggil seseorang. Seseorang yang tidak pernah takut pada apa pun.
Seseorang yang tidak pernah percaya pada tafsir yang menakutkan. Seseorang yang
bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Seseorang yang… Abu
Nawas."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. Senyum yang tipis,
senyum yang hampir tidak terlihat, tetapi Jafar mengenalinya. Senyum itu adalah
senyum yang sama yang selalu muncul ketika Baginda Raja memikirkan seseorang.
"Abu Nawas," katanya. "Panggil dia, Jafar.
Panggil dia sekarang. Katakan padanya bahwa ada mimpi yang perlu ditafsirkan.
Katakan padanya bahwa ada ketakutan yang perlu dihilangkan. Katakan padanya
bahwa ada… harapan yang perlu ditemukan."
BAB 3: KETAKUTAN YANG MENYEBAR
Sementara utusan dikirim untuk menjemput Abu Nawas,
ketakutan di istana terus menyebar seperti api di padang rumput kering. Para
pejabat yang tadinya hanya berbisik-bisik, kini mulai berbicara dengan suara
keras, saling menuduh, saling menyalahkan, saling mencari siapa yang akan
menjadi korban pertama.
Seorang pejabat bernama Ubaidillah bin Abdurrahman, yang
selama ini dikenal sebagai orang yang paling tenang di istana, tiba-tiba
menjadi sangat emosional. Ia menangis di ruang pertemuan, memeluk semua
temannya, meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Ia yakin
bahwa ia akan menjadi korban pertama. Ia yakin bahwa mimpi itu akan menjadi kenyataan.
Ia yakin bahwa ia tidak akan hidup lama lagi.
Seorang komandan militer bernama Panglima Syahid al-Farisi,
yang dikenal sebagai pahlawan perang yang tidak pernah takut pada apa pun,
tiba-tiba menjadi sangat cemas. Ia memeriksa semua pasukannya, memeriksa semua
persenjataan, memeriksa semua benteng. Ia yakin bahwa mimpi itu adalah pertanda
perang. Ia yakin bahwa musuh akan menyerang. Ia yakin bahwa ia harus bersiap.
Seorang dayang tua bernama Ummu Salamah, yang telah
melayani keluarga kerajaan selama tiga puluh tahun, tiba-tiba menjadi sangat
religius. Ia berdoa sepanjang hari, membaca Al-Qur'an tanpa henti, bersedekah
kepada semua orang miskin yang ia temui. Ia yakin bahwa mimpi itu adalah
peringatan dari Allah. Ia yakin bahwa ia harus bertobat. Ia yakin bahwa ia
harus… siap mati.
Dan di tengah semua kekacauan itu, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid duduk di singgasananya, dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun,
dengan mata yang tidak berkedip, dengan pikiran yang berputar-putar. Ia telah
mendengar semua ketakutan. Ia telah melihat semua kepanikan. Ia telah
menyaksikan bagaimana sebuah mimpi, sebuah tafsir, sebuah ketakutan, telah
mengubah orang-orang yang ia percaya menjadi bayangan dari diri mereka sendiri.
Dan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Ia telah memerintahkan para ahli tafsir untuk tidak
menyebarkan tafsir mereka. Tapi sudah terlambat. Kabar sudah menyebar.
Ketakutan sudah mengakar. Kepanikan sudah meluas.
Ia telah memerintahkan para penjaga untuk meningkatkan
keamanan. Tapi tidak ada ancaman dari luar. Ancaman datang dari dalam. Ancaman
datang dari… ketakutan itu sendiri.
Ia telah memerintahkan para pejabat untuk tetap bekerja
seperti biasa. Tapi mereka tidak bisa. Pikiran mereka terganggu. Hati mereka
gelisah. Jiwa mereka… hancur.
Dan di tengah semua itu, ia menunggu. Menunggu satu-satunya
orang yang bisa membawa kedamaian kembali ke istananya. Menunggu satu-satunya
orang yang tidak pernah takut pada apa pun. Menunggu satu-satunya orang yang
bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Menunggu… Abu Nawas.
BAB 4: LOGIKA MULAI TERPINGGIRKAN
Abu Nawas datang ke istana pada sore hari, ketika matahari
mulai condong ke barat, ketika cahaya keemasan menyinari kubah-kubah emas,
ketika bayangan-bayangan mulai memanjang di halaman-halaman istana. Ia datang
dengan jubah lusuh yang sama, sandal aus yang sama, sorban yang dililit dengan
malas yang sama, dan senyum misterius yang sama. Di tangannya, sekantong kecil
kurma—kurma Sukkari yang ia beli di pasar dengan uang terakhir yang ia miliki,
karena jatah mingguan dari istana baru akan diberikan besok, dan ia tidak bisa
menunggu, karena ia sudah mendengar tentang mimpi yang mengguncang istana dan
ia tahu bahwa untuk menghadapi mimpi seperti ini, ia membutuhkan kurma. Banyak
kurma.
Jafar menyambutnya di gerbang istana dengan wajah yang
masih pucat, dengan mata yang masih sayu, dengan suara yang masih serak karena
terlalu banyak berbicara dalam pertemuan-pertemuan yang tidak menghasilkan
apa-apa.
"Abu Nawas," katanya, "terima kasih sudah
datang. Baginda Raja sudah menunggu sejak pagi. Ia tidak bisa tidur semalaman.
Ia terus memikirkan mimpi itu. Ia terus memikirkan tafsir-tafsir yang diberikan
oleh para ahli. Ia terus memikirkan… apakah ia akan kehilangan semua yang ia
cintai."
Abu Nawas mengambil kurma dari kantongnya, memasukkannya ke
mulut, mengunyah perlahan.
"Wazir," katanya, "Baginda Raja tidak perlu
takut kehilangan. Baginda Raja hanya perlu… memahami. Memahami bahwa mimpi
hanyalah bayangan. Memahami bahwa tafsir hanyalah pendapat. Memahami bahwa… manusialah
yang memberi arti. Bukan mimpi. Bukan takdir. Tapi… manusia."
Jafar tidak mengerti. Ia hanya menggelengkan kepala,
berjalan di samping Abu Nawas menuju ruang pertemuan pribadi Baginda Raja.
Di ruang pertemuan pribadi, Baginda Raja Harun Al-Rasyid
duduk di singgasananya dengan jubah pagi berwarna putih, tanpa mahkota, tanpa
perhiasan, hanya dengan sorban sederhana yang melilit kepalanya. Di sampingnya,
duduk para ahli tafsir mimpi yang telah memberikan pendapat mereka. Di
hadapannya, berdiri para penasihat istana yang juga ikut gelisah. Suasana
ruangan itu tegang, seperti sebelum badai, seperti sebelum pertempuran, seperti
sebelum… kebenaran diungkap.
Abu Nawas masuk dengan langkah santai, duduk bersila di
lantai marmer di hadapan Baginda Raja, mengambil kurma dari kantongnya, dan
memasukkannya ke mulut dengan nikmat.
"Baginda," katanya, "saya dengar ada mimpi.
Mimpi tentang gigi yang tanggal. Mimpi tentang orang-orang yang pergi. Mimpi
tentang kesunyian. Mimpi yang membuat seluruh istana panik. Mimpi yang membuat
para ahli tafsir berdebat. Mimpi yang… menakutkan."
Bainda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Benar, Abu
Nawas. Mimpi itu sudah mengganggu pikiranku selama berhari-hari. Para ahli
tafsir sudah memberikan pendapat mereka. Imam Syafii mengatakan bahwa mimpi itu
pertanda kematian kerabatku. Syekh Abdul Jabal mengatakan bahwa mimpi itu
pertanda umur panjangku. Yang lain mengatakan bahwa mimpi itu pertanda
kehilangan kebijaksanaan, atau kehilangan jati diri. Aku tidak tahu siapa yang
benar. Aku tidak tahu apa yang harus aku percayai. Aku hanya tahu bahwa aku
takut. Aku sangat takut."
Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara
jari-jarinya dengan gerakan yang lambat, penuh pertimbangan, seperti seorang
filsuf yang sedang merenungkan makna kehidupan.
"Baginda," katanya, "sebelum saya mencoba
menafsirkan, izinkan saya bertanya. Bukan tentang mimpi. Tapi tentang…
ketakutan. Tentang… tafsir. Tentang… Baginda sendiri."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, apakah Baginda percaya bahwa mimpi bisa
meramalkan masa depan? Apakah Baginda percaya bahwa gigi yang tanggal dalam
mimpi bisa berarti kematian? Apakah Baginda percaya bahwa manusia bisa membaca
takdir dari bayangan-bayangan di malam hari?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia belum pernah
berpikir seperti itu. Ia mengira mimpi adalah pesan. Ia mengira tafsir adalah
ilmu. Ia mengira para ahli tahu apa yang mereka lakukan. Tapi sekarang, setelah
Abu Nawas bertanya, ia mulai melihat sesuatu yang berbeda.
"Abu Nawas," katanya, "aku… aku tidak tahu.
Aku tidak tahu apakah mimpi bisa meramalkan masa depan. Aku tidak tahu apakah
gigi yang tanggal berarti kematian. Aku hanya tahu bahwa para ahli mengatakan
demikian. Aku hanya tahu bahwa kitab-kitab mengatakan demikian. Aku hanya tahu
bahwa… aku takut."
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, itulah masalahnya.
Baginda takut bukan karena mimpi. Baginda takut karena… tafsir. Baginda takut
bukan karena gigi yang tanggal. Baginda takut karena… apa yang dikatakan para
ahli. Baginda takut bukan karena masa depan. Baginda takut karena… ketakutan
itu sendiri."
Ia berdiri, berjalan mendekati Imam Marzuki, berdiri tepat
di hadapannya, menatap matanya dengan tajam.
"Imam Marzuki," katanya, "Imam mengatakan
bahwa mimpi ini pertanda kematian kerabat Baginda. Apakah Imam yakin? Apakah
Imam tidak mungkin salah? Apakah kitab-kitab yang Imam gunakan tidak mungkin
keliru? Apakah para ahli yang menggunakan tafsir ini selama berabad-abad tidak
mungkin… salah tafsir?"
Imam Marzuki tersentak. Wajahnya yang tadinya tenang, kini
merah padam. "Abu Nawas! Kau tidak boleh meragukan kitab-kitab tafsir! Kau
tidak boleh meragukan para ahli yang telah menggunakan tafsir ini selama
berabad-abad! Kau tidak boleh…"
"Imam," potong Abu Nawas dengan suara yang masih
tenang, "saya tidak meragukan kitab. Saya tidak meragukan para ahli. Saya
hanya… bertanya. Bertanya apakah Imam yakin. Bertanya apakah Imam tidak mungkin
salah. Bertanya apakah… ada kemungkinan lain."
Imam Marzuki tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam, dengan
mulut terbuka, dengan mata terbelalak, dengan tangan gemetar.
Abu Nawas berjalan mendekati Syekh Abdul Jabal. "Syekh
Abdul Jabal, Syekh mengatakan bahwa mimpi ini pertanda umur panjang Baginda.
Apakah Syekh yakin? Apakah Syekh tidak mungkin salah? Apakah petunjuk yang
Syekh terima dalam doa tidak mungkin… keliru?"
Syekh Abdul Jabal juga terdiam. Ia juga tidak bisa
menjawab.
Abu Nawas berjalan mendekati ahli-ahli tafsir lainnya, satu
per satu, bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Apakah Tuan yakin? Apakah
Tuan tidak mungkin salah? Apakah ada kemungkinan lain?"
Tidak ada yang bisa menjawab. Mereka semua terdiam, dengan
wajah yang pucat, dengan hati yang gelisah, dengan keyakinan yang mulai goyah.
Abu Nawas berjalan kembali ke tengah ruangan, berputar
menghadap semua orang yang hadir.
"Para hadirin yang mulia," katanya, "kita
telah mendengar. Para ahli tafsir sendiri tidak bisa menjamin bahwa tafsir
mereka benar. Mereka sendiri mengakui bahwa mereka bisa salah. Mereka sendiri
tidak yakin. Tapi meskipun demikian, kita panik. Meskipun demikian, kita takut.
Meskipun demikian, kita membiarkan ketakutan menguasai istana. Apakah itu yang
disebut kebijaksanaan? Apakah itu yang disebut keimanan? Apakah itu yang
disebut… akal sehat?"
Aula sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara napas
orang-orang terdengar seperti angin. Sunyi yang begitu berat hingga beberapa
orang mulai menangis. Sunyi yang begitu mencekam hingga tidak ada yang berani
bersuara.
"Para hadirin," lanjut Abu Nawas, suaranya
menjadi lebih pelan, lebih dalam, lebih menyentuh, "saya tidak mengatakan
bahwa mimpi tidak penting. Saya tidak mengatakan bahwa tafsir tidak berguna.
Saya hanya mengatakan bahwa sebelum kita takut, kita harus berpikir. Sebelum
kita panik, kita harus merenung. Sebelum kita menerima tafsir, kita harus…
mempertanyakan. Karena tidak semua tafsir itu benar. Kadang, hanya ketakutan
yang membesarkannya. Kadang, hanya kepanikan yang mempercayainya. Kadang,
hanya… manusia yang salah baca."
BAB 5: KEPUTUSAN YANG BERAT
Setelah Abu Nawas berbicara, suasana ruangan berubah. Tidak
langsung tenang. Tidak langsung damai. Tapi ada sedikit cahaya di tengah
kegelapan. Ada sedikit harapan di tengah kepanikan. Ada sedikit… keraguan di
tengah keyakinan.
Para ahli tafsir mulai mempertanyakan diri mereka sendiri.
Apakah mereka benar? Apakah mereka yakin? Apakah mereka tidak mungkin salah?
Mereka mulai membuka kitab-kitab mereka lagi, mulai memeriksa kembali, mulai
mencari kemungkinan-kemungkinan lain. Tapi semakin mereka mencari, semakin mereka
bingung. Kitab-kitab memberikan banyak kemungkinan. Setiap gigi memiliki makna
yang berbeda. Setiap posisi memiliki tafsir yang berbeda. Setiap konteks
memiliki arti yang berbeda. Tidak ada satu pun tafsir yang pasti.
Imam Marzuki, yang selama lima puluh tahun menjadi ahli
tafsir terkemuka, untuk pertama kalinya dalam hidupnya merasa ragu. Ia
memeriksa kitab-kitabnya berulang kali, mencari referensi yang bisa menguatkan
tafsirnya. Ia menemukan banyak tafsir yang mendukung pendapatnya. Tapi ia juga
menemukan tafsir yang mendukung pendapat Syekh Abdul Jabal. Dan ia juga
menemukan tafsir yang mendukung pendapat Syekh Ibrahim dan Syekh Hasan. Semua
tafsir ada dalam kitab. Semua tafsir memiliki dasar. Semua tafsir bisa
dibenarkan.
"Abu Nawas," katanya, suaranya rendah, penuh
keraguan, "aku… aku tidak tahu lagi. Kitab-kitab memberikan banyak
kemungkinan. Semua tafsir yang aku berikan ada dalam kitab. Tapi juga tafsir
yang diberikan oleh Syekh Abdul Jabal ada dalam kitab. Juga tafsir yang
diberikan oleh Syekh Ibrahim dan Syekh Hasan. Semua ada. Semua benar. Semua…
bisa dipilih."
Abu Nawas tersenyum. "Imam, itulah yang ingin
kukatakan. Tafsir tidak hitam putih. Mimpi tidak memiliki satu makna. Mimpi
adalah… teka-teki. Teka-teki yang bisa dijawab dengan banyak cara. Dan cara
kita menjawab, Imam, tergantung pada… kita. Pada sudut pandang kita. Pada
keyakinan kita. Pada… apa yang kita pilih untuk dilihat."
Ia berjalan mendekati singgasana, berdiri di hadapan Baginda
Raja Harun Al-Rasyid.
"Baginda," katanya, "mimpi Baginda bisa
ditafsirkan sebagai kematian. Bisa ditafsirkan sebagai umur panjang. Bisa
ditafsirkan sebagai kehilangan kebijaksanaan. Bisa ditafsirkan sebagai
kehilangan jati diri. Semua tafsir itu ada dalam kitab. Semua tafsir itu bisa
dibenarkan. Tapi tafsir mana yang akan Baginda pilih? Tafsir yang membuat
Baginda takut? Atau tafsir yang membuat Baginda tenang? Tafsir yang membuat
Baginda putus asa? Atau tafsir yang membuat Baginda bersyukur? Tafsir yang
menghancurkan istana? Atau tafsir yang… menyatukannya?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia belum pernah
berpikir seperti itu. Ia mengira tafsir adalah kebenaran yang tidak bisa
dipilih. Ia mengira mimpi adalah pesan yang tidak bisa ditawar. Tapi sekarang,
setelah Abu Nawas bertanya, ia mulai melihat sesuatu yang berbeda.
"Abu Nawas," katanya, "apakah kau mengatakan
bahwa aku bisa memilih? Apakah kau mengatakan bahwa aku bisa memilih tafsir
yang membuatku tenang? Apakah kau mengatakan bahwa aku tidak harus menerima
tafsir yang menakutkan? Apakah kau mengatakan bahwa… aku bebas?"
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, Baginda selalu bebas.
Baginda bebas memilih tafsir. Baginda bebas memilih makna. Baginda bebas
memilih… bagaimana Baginda akan menyikapi mimpi ini. Tapi ingat, Baginda,
kebebasan bukan berarti kebenaran. Kebebasan adalah… pilihan. Pilihan untuk
melihat sisi terang atau sisi gelap. Pilihan untuk berharap atau putus asa.
Pilihan untuk… hidup atau mati dalam ketakutan."
BAB 6: ABU NAWAS DIPANGGIL TERLAMBAT
Malam itu, setelah semua ahli tafsir pulang, setelah para
pejabat kembali ke rumah mereka, setelah istana sunyi, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid memanggil Abu Nawas ke ruang pribadinya. Bukan untuk meminta tafsir.
Bukan untuk meminta solusi. Tapi untuk… berbicara. Untuk… bertanya. Untuk…
mengerti.
"Abu Nawas," katanya ketika Abu Nawas duduk
bersila di lantai marmer di hadapannya, "aku sudah berpikir. Aku sudah
merenung. Aku sudah mencoba memahami. Tapi aku tidak menemukan jawaban. Mimpi
itu masih menghantuiku. Ketakutan itu masih menggangguku. Kecemasan itu masih…
meracuni pikiranku. Aku tidak tahu tafsir mana yang harus aku pilih. Aku tidak
tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu… siapa yang harus aku
percayai."
Abu Nawas mengambil kurma dari sakunya—kurma yang ia pinjam
dari dapur istana karena jatah mingguannya baru akan diberikan besok, tetapi ia
sudah terbiasa, ia sudah terbiasa meminjam, meminta, atau kadang-kadang…
mengambil tanpa izin, tetapi tidak pernah dengan niat jahat, hanya dengan niat…
bertahan hidup—dan memutarnya di antara jari-jarinya.
"Baginda," katanya, "Baginda tidak perlu
memilih tafsir. Baginda tidak perlu tahu mana yang benar. Baginda hanya perlu…
memahami. Memahami bahwa mimpi hanyalah bayangan. Memahami bahwa tafsir
hanyalah pendapat. Memahami bahwa… yang paling penting bukanlah apa yang
dikatakan oleh mimpi, tetapi apa yang Baginda lakukan setelahnya."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, Baginda pernah mendengar cerita tentang
seorang raja yang bermimpi buruk? Ia bermimpi bahwa semua giginya tanggal. Ia
memanggil para ahli tafsir. Mereka memberikan tafsir yang menakutkan. Raja itu
menjadi sangat takut. Ia tidak bisa tidur. Ia tidak bisa makan. Ia tidak bisa
memerintah. Ia hanya duduk di singgasananya, menunggu kematian. Dan pada
akhirnya, ia mati. Bukan karena mimpi. Bukan karena takdir. Tapi karena…
ketakutannya sendiri. Ketakutannya yang membuatnya lemah. Ketakutannya yang
membuatnya sakit. Ketakutannya yang… membunuhnya."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia merenungkan cerita
Abu Nawas. Seorang raja yang mati karena ketakutannya sendiri. Bukan karena
mimpi. Bukan karena takdir. Tapi karena… dirinya sendiri.
"Abu Nawas," katanya, "apakah kau mengatakan
bahwa aku akan mati jika aku terus takut? Apakah kau mengatakan bahwa mimpi ini
akan menjadi kenyataan jika aku membiarkan ketakutan menguasai diriku? Apakah
kau mengatakan bahwa… aku adalah musuh terbesarku sendiri?"
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, saya tidak mengatakan
apa-apa. Saya hanya… bercerita. Cerita tentang seorang raja. Cerita tentang
ketakutan. Cerita tentang… pilihan. Pilihan untuk takut atau berani. Pilihan
untuk percaya atau berpikir. Pilihan untuk… mati atau hidup."
Harun Al-Rasyid mengangguk perlahan. "Kau benar, Abu
Nawas. Aku punya pilihan. Aku bisa memilih untuk takut. Aku bisa memilih untuk
percaya pada tafsir yang menakutkan. Aku bisa memilih untuk duduk di singgasana
ini dan menunggu kematian. Aku bisa memilih untuk… mati. Tapi aku juga bisa
memilih untuk berani. Aku bisa memilih untuk tidak percaya pada tafsir yang menakutkan.
Aku bisa memilih untuk hidup. Aku bisa memilih untuk… memerintah. Aku bisa
memilih untuk… menjadi raja."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap langit malam yang
dipenuhi bintang-bintang.
"Abu Nawas," katanya, "aku sudah memilih.
Aku akan berani. Aku akan hidup. Aku akan memerintah. Aku akan menjadi raja.
Aku tidak akan membiarkan mimpi menghancurkanku. Aku tidak akan membiarkan
tafsir menguasai diriku. Aku tidak akan membiarkan ketakutan… meracuni
pikiranku. Tapi aku butuh bantuanmu. Aku butuh kau untuk membantuku menemukan
tafsir yang menenangkan. Aku butuh kau untuk membantuku… melihat sisi terang
dari mimpi ini."
Abu Nawas berdiri, membungkuk dalam-dalam. "Baginda,
saya akan membantu. Tapi saya butuh satu hal."
"Apa?"
"Izin untuk berbicara. Bukan dengan kitab. Bukan
dengan tafsir. Tapi dengan… akal sehat. Dengan logika sederhana. Dengan…
kurma."
BAB 7: PERDEBATAN BESAR DIMULAI
Keesokan paginya, Abu Nawas memanggil semua ahli tafsir
mimpi ke Aula Singgasana Agung. Ia juga memanggil semua pejabat istana, semua
penasihat, semua komandan militer, semua orang yang selama ini terlibat dalam
kepanikan. Ia ingin berbicara. Ia ingin berdebat. Ia ingin… membuktikan
sesuatu.
Aula Singgasana Agung pagi itu penuh sesak. Tidak ada kursi
yang kosong. Tidak ada sudut yang luput. Semua orang ingin mendengar. Semua
orang ingin tahu. Semua orang ingin… melihat bagaimana seorang pelawak akan
menafsirkan mimpi sang Khalifah.
Abu Nawas berdiri di tengah aula, dengan jubah lusuh yang
sama, dengan sandal aus yang sama, dengan sorban yang dililit dengan malas yang
sama, dan senyum misterius yang sama. Di tangannya, sekantong kurma—kurma yang
ia pinjam dari dapur istana, karena jatah mingguannya sudah habis, dan ia belum
sempat meminta tambahan.
"Para hadirin yang mulia," katanya, suaranya
lantang, bergema di aula yang sunyi, "saya tidak akan membacakan kitab.
Saya tidak akan mengutip para ahli. Saya tidak akan memberikan tafsir yang
rumit. Hari ini, saya hanya akan… bertanya. Bertanya kepada para ahli tafsir
yang bijaksana. Bertanya kepada Imam Marzuki, Syekh Abdul Jabal, Syekh Ibrahim,
Syekh Hasan, dan semua yang hadir di sini. Pertanyaan yang sederhana.
Pertanyaan yang mendasar. Pertanyaan yang… belum pernah dijawab."
Ia berjalan mendekati Imam Marzuki, berdiri tepat di hadapannya,
menatap matanya dengan tajam.
"Imam," katanya, "apakah mimpi itu berbicara
tentang kematian? Atau tentang umur panjang? Apakah gigi yang tanggal berarti
orang-orang yang pergi? Atau berarti Baginda yang akan tetap tinggal? Apakah
kesunyian di akhir mimpi adalah akhir dari segalanya? Atau awal dari… kehidupan
baru?"
Imam Marzuki terdiam. Ia tidak pernah ditanya seperti ini.
Selama lima puluh tahun, tidak ada yang pernah menanyakan hal seperti ini.
Semua orang menerima tafsirnya. Semua orang percaya. Semua orang… tidak
berpikir.
"Abu Nawas," katanya akhirnya, suaranya tidak
lagi seyakin dulu, "mimpi… mimpi bisa ditafsirkan dengan dua cara. Gigi
yang tanggal bisa berarti kehilangan. Bisa juga berarti… kelebihan. Kehilangan
orang-orang yang dicintai. Atau… kelebihan umur untuk sang raja. Keduanya ada
dalam kitab. Keduanya bisa dibenarkan."
Abu Nawas tersenyum. "Imam, jika keduanya bisa
dibenarkan, mengapa Imam memilih tafsir yang menakutkan? Mengapa Imam tidak
memilih tafsir yang menenangkan? Mengapa Imam memilih untuk membuat Baginda
takut? Mengapa Imam tidak memilih untuk… membuat Baginda tenang?"
Imam Marzuki tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam, dengan
mulut terbuka, dengan mata terbelalak, dengan tangan gemetar.
Abu Nawas berjalan mendekati Syekh Abdul Jabal. "Syekh
Abdul Jabal, Syekh memilih tafsir yang menenangkan. Syekh mengatakan bahwa
mimpi ini pertanda umur panjang Baginda. Tapi apakah Syekh yakin? Apakah Syekh
tidak hanya… memilih tafsir yang membuat Baginda senang? Apakah Syekh tidak
hanya… memberikan harapan palsu?"
Syekh Abdul Jabal juga terdiam. Ia juga tidak bisa
menjawab.
Abu Nawas berjalan mendekati Syekh Ibrahim dan Syekh Hasan,
bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Apakah Tuan memilih tafsir yang
menakutkan? Atau yang menenangkan? Apakah Tuan memilih berdasarkan kitab? Atau
berdasarkan… keinginan? Apakah Tuan memilih kebenaran? Atau… kenyamanan?"
Tidak ada yang bisa menjawab. Mereka semua terdiam, dengan
wajah yang pucat, dengan hati yang gelisah, dengan keyakinan yang mulai goyah.
Abu Nawas berjalan kembali ke tengah aula, berputar
menghadap semua orang yang hadir.
"Para hadirin," katanya, "kita telah
mendengar. Para ahli tafsir sendiri tidak bisa memastikan tafsir mana yang
benar. Mereka sendiri mengakui bahwa mimpi bisa ditafsirkan dengan banyak cara.
Mereka sendiri tidak tahu mana yang lebih tepat. Tapi meskipun demikian, mereka
memberikan tafsir. Mereka memberikan pendapat. Mereka memberikan…
ketakutan."
Ia mengambil kurma dari kantongnya, memutarnya di antara
jari-jarinya.
"Maka, saya akan memberikan tafsir. Bukan tafsir yang
rumit. Bukan tafsir yang berdasarkan kitab. Tapi tafsir yang sederhana. Tafsir
yang logis. Tafsir yang… menenangkan."
Aula sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara napas
orang-orang terdengar seperti angin. Sunyi yang begitu berat hingga beberapa
orang mulai gemetar. Sunyi yang begitu mencekam hingga tidak ada yang berani
bernapas.
BAB 8: MEMBALIK SUDUT PANDANG
Abu Nawas berdiri di tengah aula, dengan senyum yang lebih
lebar, dengan mata yang lebih bersinar, dengan keyakinan yang lebih kuat. Ia
tidak terburu-buru. Ia tidak tergesa-gesa. Ia hanya berdiri, menikmati
keheningan, menikmati perhatian, menikmati… momen.
"Para hadirin," katanya, "mimpi Baginda
adalah mimpi tentang gigi yang tanggal. Gigi yang tanggal satu per satu.
Orang-orang yang pergi satu per satu. Kesunyian di akhir mimpi. Tafsir yang
menakutkan mengatakan: Baginda akan kehilangan semua kerabatnya. Tafsir yang
menenangkan mengatakan: Baginda akan hidup lebih lama dari semua kerabatnya."
Ia berjalan mendekati singgasana, berdiri tepat di hadapan Baginda
Raja Harun Al-Rasyid.
"Baginda," katanya, "apakah Baginda lebih
suka kehilangan kerabat? Atau hidup lebih lama dari mereka? Apakah Baginda
lebih suka kesedihan? Atau kesyukuran? Apakah Baginda lebih suka ketakutan?
Atau… ketenangan?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya
menatap Abu Nawas dengan mata yang penuh harap.
"Baginda," lanjut Abu Nawas, "makna mimpi
tidak berubah. Gigi tanggal. Orang-orang pergi. Baginda sendirian. Tapi cara
kita melihat makna itu, Baginda, bisa berbeda. Sangat berbeda. Kita bisa
melihatnya sebagai kehilangan. Kita bisa melihatnya sebagai… pemberian. Kita
bisa melihatnya sebagai kesedihan. Kita bisa melihatnya sebagai… kesyukuran.
Kita bisa melihatnya sebagai ketakutan. Kita bisa melihatnya sebagai…
ketenangan."
Ia mengambil kurma dari kantongnya, memutarnya di antara
jari-jarinya.
"Baginda, Baginda pernah mendengar cerita tentang dua
orang yang melihat awan? Yang pertama melihat awan dan berkata, 'Awan gelap.
Akan turun hujan. Aku akan basah. Aku akan sakit.' Yang kedua melihat awan yang
sama dan berkata, 'Awan gelap. Akan turun hujan. Tanaman akan tumbuh. Panen
akan melimpah.' Awan yang sama. Hujan yang sama. Tapi dua perasaan yang
berbeda. Dua makna yang berbeda. Dua… pilihan yang berbeda."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, mimpi Baginda adalah awan gelap yang sama.
Kita bisa melihatnya sebagai malapetaka. Kita bisa melihatnya sebagai… berkah.
Kita bisa melihatnya sebagai akhir. Kita bisa melihatnya sebagai… awal. Kita
bisa melihatnya sebagai… Baginda memilih."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk perlahan. "Kau
benar, Abu Nawas. Aku bisa memilih. Aku bisa memilih untuk takut. Aku bisa
memilih untuk tenang. Aku bisa memilih untuk melihat mimpi ini sebagai
malapetaka. Aku bisa memilih untuk melihatnya sebagai… berkah. Aku bisa memilih
untuk… menjadi raja yang takut. Atau raja yang… bersyukur."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap langit Baghdad
yang cerah.
"Abu Nawas," katanya, "aku memilih. Aku
memilih untuk melihat mimpi ini sebagai berkah. Aku memilih untuk bersyukur.
Aku memilih untuk tenang. Aku memilih untuk… hidup. Bukan dalam ketakutan. Tapi
dalam… kesyukuran. Bukan dalam kesedihan. Tapi dalam… kebahagiaan. Bukan dalam
keputusasaan. Tapi dalam… harapan."
Ia berbalik menghadap semua orang yang hadir.
"Para hadirin," katanya, "mulai hari ini,
kita akan melihat mimpi ini sebagai berkah. Kita akan bersyukur. Kita akan
tenang. Kita akan hidup. Kita tidak akan takut. Kita tidak akan panik. Kita
tidak akan… menghancurkan diri kita sendiri dengan ketakutan. Kita akan…
bersyukur. Bersyukur bahwa aku masih hidup. Bersyukur bahwa kita masih bersama.
Bersyukur bahwa… kita masih punya waktu. Waktu untuk bersama. Waktu untuk bahagia.
Waktu untuk… hidup."
BAB 9: TAFSIR YANG MENYEJUKKAN
Setelah Baginda Raja berbicara, suasana aula berubah. Tidak
ada lagi ketegangan. Tidak ada lagi permusuhan. Tidak ada lagi keinginan untuk
menang. Yang ada hanyalah… keheningan. Keheningan yang damai. Keheningan yang
merenung. Keheningan yang… menyadarkan.
Imam Marzuki berjalan mendekati Abu Nawas. Ia berdiri di
hadapannya, menatap matanya, dan tersenyum. Senyum yang lembut. Senyum yang
tulus. Senyum yang… mengakui.
"Abu Nawas," katanya, "aku belajar banyak
hari ini. Aku belajar bahwa kebenaran tidak selalu hitam putih. Aku belajar
bahwa tafsir tidak selalu tunggal. Aku belajar bahwa… kadang-kadang, yang lebih
penting bukanlah apa yang dikatakan kitab, tetapi bagaimana kita
menyampaikannya. Aku belajar bahwa… kebenaran bisa menyakitkan atau
menenangkan, tergantung bagaimana ia disampaikan."
Abu Nawas tersenyum. "Imam, Imam tidak perlu belajar
dari saya. Imam sudah bijaksana. Imam sudah berpengalaman. Imam sudah… mengabdi
selama lima puluh tahun. Tapi mungkin, Imam lupa satu hal. Lupa bahwa
kadang-kadang, yang paling dibutuhkan manusia bukanlah kebenaran yang keras.
Tapi… kebenaran yang menenangkan. Bukan fakta yang menyakitkan. Tapi… harapan
yang menyembuhkan. Bukan tafsir yang menakutkan. Tapi… kata-kata yang membawa
kedamaian."
Syekh Abdul Jabal juga mendekat. "Abu Nawas, aku juga
belajar. Aku belajar bahwa memberikan harapan tidak cukup. Harapan harus
didasarkan pada kebijaksanaan. Bukan hanya pada keinginan untuk menenangkan.
Bukan hanya pada keinginan untuk membuat orang senang. Tapi pada… pemahaman.
Pemahaman bahwa setiap kata yang kita ucapkan, setiap tafsir yang kita berikan,
memiliki dampak. Dampak yang bisa menyembuhkan. Atau… melukai."
Abu Nawas mengangguk. "Syekh benar. Setiap kata adalah
pedang. Bisa memotong. Bisa menyembuhkan. Bisa melukai. Bisa… mengikat. Maka,
gunakanlah kata-kata dengan bijak. Gunakan tafsir dengan hati-hati. Gunakan
ilmu dengan… tanggung jawab."
BAB 10: KEBIJAKSANAAN SANG KHALIFAH
Setelah semua orang pulang, setelah aula kembali sunyi,
setelah hanya Baginda Raja Harun Al-Rasyid dan Abu Nawas yang tersisa, Baginda
Raja memanggil Abu Nawas untuk duduk di sampingnya. Bukan sebagai raja dan
rakyat. Tapi sebagai dua manusia yang saling memahami.
"Abu Nawas," katanya, "kau telah
menyelamatkanku. Bukan dari mimpi. Tapi dari ketakutanku sendiri. Bukan dari
tafsir. Tapi dari keputusasaanku sendiri. Bukan dari takdir. Tapi dari… diriku
sendiri."
Abu Nawas mengambil kurma dari sakunya—kurma terakhir yang
ia miliki—dan memutarnya di antara jari-jarinya.
"Baginda," katanya, "saya tidak
menyelamatkan siapa pun. Baginda menyelamatkan diri Baginda sendiri. Baginda
yang memilih untuk tidak takut. Baginda yang memilih untuk bersyukur. Baginda
yang memilih untuk… hidup. Saya hanya… mengingatkan. Mengingatkan bahwa
ketakutan adalah pilihan. Bahwa tafsir adalah pilihan. Bahwa… makna adalah
pilihan."
Bagnda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. "Kau benar, Abu
Nawas. Makna adalah pilihan. Dan aku memilih makna yang menenangkan. Aku
memilih untuk melihat mimpi ini sebagai berkah. Aku memilih untuk bersyukur.
Aku memilih untuk… hidup. Bukan dalam ketakutan. Tapi dalam… kedamaian. Bukan
dalam kesedihan. Tapi dalam… kebahagiaan. Bukan dalam keputusasaan. Tapi dalam…
harapan."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap langit Baghdad
yang mulai gelap.
"Abu Nawas," katanya, "aku akan mengumumkan
kepada seluruh istana. Aku akan mengatakan bahwa mimpi ini adalah berkah. Aku
akan mengatakan bahwa aku bersyukur. Aku akan mengatakan bahwa kita harus hidup
dalam kedamaian. Bukan dalam ketakutan. Bukan dalam kepanikan. Bukan dalam…
kehancuran."
Abu Nawas berdiri, membungkuk dalam-dalam. "Baginda,
itu keputusan yang bijaksana. Lebih bijaksana dari semua tafsir yang pernah
diberikan. Lebih bijaksana dari semua kitab yang pernah ditulis. Lebih
bijaksana dari… mimpi apa pun."
EPILOG: MAKNA DI BALIK MIMPI
Beberapa hari kemudian, setelah istana kembali tenang,
setelah para pejabat kembali bekerja, setelah ketakutan yang menyelimuti selama
berminggu-minggu akhirnya lenyap, Abu Nawas duduk di Kedai Al-Farabi, di tempat
favoritnya di sudut ruangan.
Di depannya, segelas air tajin dingin yang masih segar,
semangkok kurma Sukkari yang mengilap seperti batu akik—jatah mingguan yang
baru saja ia ambil dari istana pagi ini—dan sebotol kecil anggur yang ia
sembunyikan di balik jubahnya, meskipun ia sudah berjanji pada Jafar untuk
tidak minum anggur di tempat umum. Janji, pikirnya, adalah sesuatu yang mulia.
Tapi anggur, pikirnya, juga sesuatu yang mulia. Dan terkadang, dua hal yang
mulia bisa berdampingan dengan damai, asalkan tidak ada yang tahu.
Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir
Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk
tidak dikenali oleh pengunjung lain—meskipun semua orang di kedai itu sudah
tahu bahwa lelaki tampan dengan jubah sederhana itu adalah Wazir terkuat di
kekhalifahan. Jafar tampak lebih santai dari biasanya, lebih tenang, lebih…
bahagia. Mungkin karena mimpi itu sudah tidak lagi menakutkan. Mungkin karena
istana kembali tenang. Mungkin karena Baginda Raja tertawa lagi. Mungkin
karena… ia juga belajar sesuatu dari perkara ini.
Di samping Jafar, duduk Imam Marzuki dan Syekh Abdul Jabal,
yang kini sudah kembali bersahabat, yang kini sudah tidak lagi berdebat, yang
kini sudah… belajar. Mereka datang ke kedai ini atas undangan Abu Nawas, untuk
belajar, untuk merenung, untuk… tertawa.
"Abu Nawas," kata Jafar sambil menyesap air tajin
yang ia pesan agar tidak mencolok—meskipun air tajin di kedai ini tidak pernah
seenak air tajin di istana, tetapi ia tidak keberatan, karena suasana di sini
lebih santai, lebih bebas, lebih… manusiawi, "aku masih penasaran dengan
satu hal. Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sejak perkara mimpi itu
selesai."
Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan
mengunyah dengan malas. "Apa, Wazirku yang mulia? Apakah tentang mimpi?
Tentang gigi? Tentang tafsir? Tentang pilihan makna? Tentang Baginda Raja yang
akhirnya memilih untuk tidak takut? Karena itu, Wazir, adalah pemandangan yang
tidak akan pernah kau lupakan, bukan? Seorang raja yang hampir hancur oleh
ketakutannya sendiri. Seorang raja yang belajar bahwa mimpi hanyalah bayangan.
Seorang raja yang… menjadi lebih bijaksana."
Imam Marzuki tersenyum. "Abu Nawas, kau benar. Aku
belajar banyak dari perkara ini. Aku belajar bahwa kebenaran tidak selalu hitam
putih. Aku belajar bahwa tafsir tidak selalu tunggal. Aku belajar bahwa…
kadang-kadang, yang lebih penting bukanlah apa yang dikatakan kitab, tetapi
bagaimana kita menyampaikannya. Aku belajar bahwa… kebenaran bisa menyakitkan
atau menenangkan, tergantung bagaimana ia disampaikan."
Syekh Abdul Jabal mengangguk. "Aku juga belajar, Abu
Nawas. Aku belajar bahwa memberikan harapan tidak cukup. Harapan harus
didasarkan pada kebijaksanaan. Bukan hanya pada keinginan untuk menenangkan.
Tapi pada… pemahaman. Pemahaman bahwa setiap kata yang kita ucapkan memiliki
dampak. Dampak yang bisa menyembuhkan. Atau… melukai."
Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara
jari-jarinya dengan gerakan yang lambat, penuh pertimbangan, seperti seorang
filsuf yang sedang merenungkan makna kehidupan.
"Imam, Syekh," katanya, "kalian telah
belajar. Kalian telah memahami. Tapi ingatlah, belajar tidak berhenti di sini.
Memahami tidak berakhir di sini. Kehidupan, Imam, Syekh, adalah perjalanan
panjang yang penuh dengan mimpi-mimpi yang perlu ditafsirkan. Penuh dengan tanda-tanda
yang perlu dibaca. Penuh dengan makna-makna yang perlu dipilih. Dan
kebijaksanaan, Imam, Syekh, bukanlah tentang memberikan tafsir yang benar.
Kebijaksanaan adalah tentang… memberikan tafsir yang menyembuhkan. Yang
menenangkan. Yang… membawa kedamaian."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Seperti mimpi Baginda, Imam, Syekh. Mimpi itu bisa
ditafsirkan sebagai malapetaka. Bisa ditafsirkan sebagai berkah. Keduanya
benar. Keduanya ada dalam kitab. Tapi pilihan ada di tangan kita. Pilihan untuk
menyampaikan mana yang akan membawa kebaikan. Pilihan untuk menjadi… alat
ketakutan. Atau alat… kedamaian."
Jafar mengangkat mangkuk air tajinnya. "Untuk
kedamaian, Abu Nawas. Untuk kebijaksanaan. Untuk… pilihan yang benar."
Abu Nawas mengangkat mangkuk air tajinnya—setelah dengan
cepat menyembunyikan botol anggur di balik jubahnya, karena ia tidak ingin Imam
Marzuki dan Syekh Abdul Jabal melihat bahwa ia hampir melanggar janji, karena
mereka adalah orang-orang yang baru belajar, dan orang yang baru belajar
biasanya mudah terkejut melihat seorang pelawak minum anggur di pagi hari.
"Untuk kedamaian, Wazir. Dan untuk kurma Sukkari yang
manisnya pas."
Di luar kedai, matahari mulai terbenam di ufuk barat,
mencelupkan Sungai Tigris dalam warna jingga dan emas. Di kejauhan, dari arah
istana, terdengar suara tawa Baginda Raja Harun Al-Rasyid—tawa yang bergema di
senja Baghdad, tawa yang membawa kedamaian bagi kota yang selalu haus akan
keadilan, tawa yang mengingatkan semua orang bahwa di tengah kekuasaan yang
berat, di tengah intrik yang rumit, di tengah kebohongan yang bersembunyi di
balik senyum, masih ada ruang untuk tawa. Masih ada ruang untuk pemahaman.
Masih ada ruang untuk… kebijaksanaan.
Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap air
tajinnya, mengambil kurma terakhir di mangkuk, melemparkannya ke udara, dan
menangkapnya dengan mulut.
"Mimpi hanyalah bayangan," gumamnya sambil
mengunyah, "manusialah yang memberi arti. Bayangan bisa menakutkan. Bisa
menenangkan. Bisa menghancurkan. Bisa… menyembuhkan. Tergantung pada manusia
yang melihatnya. Tergantung pada manusia yang menafsirkannya. Tergantung pada
manusia yang… memilih maknanya. Maka, wahai saudara-saudaraku, pilihlah makna
yang membawa kedamaian. Pilihlah tafsir yang menyembuhkan. Pilihlah kata-kata
yang… menenangkan. Karena mimpi, wahai saudara-saudaraku, hanyalah bayangan.
Tapi kata-kata kita, tafsir kita, pilihan kita… itulah yang nyata. Itulah yang
membentuk kehidupan. Itulah yang… menentukan segalanya."
Ia memanggil pelayan kedai untuk yang ketiga kalinya malam
itu.
"Nak, tambah kurma satu mangkuk. Dan air tajin satu
gelas. Saya sedang merenungkan sesuatu yang sangat berat: apakah lebih baik
menjadi bayangan yang menakutkan atau cahaya yang menenangkan? Apakah lebih
baik menjadi mimpi yang mengganggu atau tafsir yang menyembuhkan? Apakah lebih
baik menjadi ketakutan atau… kedamaian? Ini teka-teki yang tidak kalah
pentingnya dari mimpi sang Khalifah. Dan saya, Nak, tidak akan bisa tidur
sebelum teka-teki ini terjawab."
Pelayan itu tertawa, bergegas mengambil pesanan.
Dan di luar, di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema,
mengingatkan semua orang bahwa mimpi hanyalah bayangan, manusialah yang memberi
arti. Bahwa kebenaran bisa menyakitkan atau menenangkan, tergantung bagaimana ia
disampaikan. Bahwa kebijaksanaan bukan hanya pada isi kata, tetapi pada cara
menyampaikannya. Bahwa… Abu Nawas, pelawak dari pinggiran Baghdad, adalah guru
terbaik yang pernah dimiliki istana ini.
TAMAT
Kata Bijak Abu
Nawas:
"Mimpi hanyalah bayangan, manusialah yang memberi
arti. Bayangan bisa menakutkan. Bisa menenangkan. Bisa menghancurkan. Bisa
menyembuhkan. Tergantung pada manusia yang melihatnya. Tergantung pada manusia
yang menafsirkannya. Tergantung pada manusia yang memilih maknanya. Maka,
pilihlah makna yang membawa kedamaian. Pilihlah tafsir yang menyembuhkan.
Pilihlah kata-kata yang menenangkan. Karena mimpi hanyalah bayangan. Tapi
kata-kata kita, tafsir kita, pilihan kita… itulah yang nyata. Itulah yang
membentuk kehidupan. Itulah yang menentukan segalanya."
—Abu Nawas, di Kedai Al-Farabi, pinggiran Baghdad







0 komentar:
Posting Komentar