Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Kamis, 26 Maret 2026

Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid Episode 10: Hukuman Tanpa Tanah: Ujian Akal di Gerbang Baghdad

 


Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid

Novelet Serial Abunawas Edisi I: Kecerdikan Akal dan Logika

Episode 10: Hukuman Tanpa Tanah: Ujian Akal di Gerbang Baghdad


Oleh: Slamet Riyadi

PROLOG: UJIAN YANG TERSEMBUNYI

Di tengah kemegahan istana Baghdad yang telah menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa—mulai dari mahkota yang hilang yang ditemukan di balik tiang rahasia, cermin yang retak karena goresan kuku seorang pangeran yang gelisah, pencuri bayangan yang beroperasi di keramaian pasar malam, surat kosong dari negeri timur yang berisi keheningan yang penuh makna, suara gaib di balik singgasana yang ternyata hanya bisikan manusia yang dendam, ramalan yang mengguncang istana yang akhirnya terbukti hanya tipuan, perdebatan telur dan ayam yang hampir memecah belah para pejabat, hingga mimpi sang Khalifah tentang gigi yang tanggal yang akhirnya ditafsirkan dengan cara yang menenangkan—kini tiba saatnya bagi Baginda Raja Harun Al-Rasyid untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Bukan karena ada ancaman dari luar yang mengintai di balik tembok kota. Bukan karena ada konspirasi di dalam yang menggerogoti fondasi kekuasaannya. Bukan karena ada masalah yang perlu dipecahkan yang tidak bisa dipecahkan oleh siapa pun selain Abu Nawas. Tapi karena… rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu yang telah lama bersemayam di hatinya sejak pertama kali ia mendengar nama Abu Nawas disebut oleh Jafar sebagai solusi untuk mahkota yang hilang. Rasa ingin tahu yang terus tumbuh setiap kali ia menyaksikan Abu Nawas memecahkan teka-teki yang tak terpecahkan oleh para ahli istana. Rasa ingin tahu yang semakin kuat setiap kali ia mendengar tawa Abu Nawas bergema di ruang singgasananya yang megah, mengusir keseriusan yang membosankan, membawa angin segar ke istana yang kadang terasa pengap oleh intrik dan kekuasaan.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid, Amirul Mukminin, Pemimpin Orang-Orang Beriman, yang telah memerintah kekhalifahan terbesar di dunia selama bertahun-tahun, yang telah duduk di singgasana yang diwariskan oleh kakeknya dan ayahnya, yang telah menghadapi berbagai macam musuh—dari pemberontak di daerah terpencil yang memberontak karena kelaparan hingga pasukan Romawi yang perkasa yang datang dengan ribuan tentara dan gajah perang. Ia telah menghadapi berbagai macam intrik—dari konspirasi para pejabat yang ingin merebut kekuasaan dengan meracuni makanannya hingga rencana pembunuhan yang dirancang dengan rumit oleh tangan-tangan tak terlihat yang menyusup ke istana. Ia telah menghadapi berbagai macam teka-teki—dari yang paling sederhana seperti sengketa dua orang yang mengklaim kantong emas yang sama hingga yang paling membingungkan seperti surat kosong yang datang dari negeri seberang dengan upacara kebesaran yang tidak sebanding dengan isinya.

Tapi tidak ada yang pernah membuatnya begitu penasaran seperti Abu Nawas. Tidak ada yang pernah membuatnya begitu ingin… menguji. Tidak ada yang pernah membuatnya begitu ingin… melihat sejauh mana batas kecerdikan seorang pelawak dari pinggiran Baghdad yang jubahnya lusuh dan sandalnya aus, yang lebih suka duduk di kedai minum air tajin dari pada di istana, yang lebih suka makan kurma daripada emas, yang lebih suka tertawa dari pada berkuasa.

Suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang di atas kubah-kubah emas istana, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergoyang-goyang di halaman-halaman marmer, ketika angin malam berhembus lembut membawa aroma bunga melati dari taman dalam yang ditanam oleh Putri Zubaidah sendiri, ketika suara air mancur yang mengalir tenang menjadi satu-satunya iringan bagi malam yang sunyi, ketika para penjaga istana mulai mengantuk di pos-pos mereka setelah seharian berjaga, Baginda Raja Harun Al-Rasyid memanggil para pejabat tertinggi istana ke ruang pribadinya. Bukan untuk membahas urusan negara yang menumpuk di meja kerjanya. Bukan untuk menerima laporan dari provinsi yang sudah berhari-hari tidak ia baca. Bukan untuk mendengarkan keluhan para menteri tentang anggaran yang tidak mencukupi atau tentang konflik perbatasan yang belum terselesaikan. Tapi untuk… merancang. Merancang sebuah ujian. Sebuah ujian yang akan menguji batas kecerdikan Abu Nawas. Sebuah ujian yang tampaknya mustahil bagi akal sehat. Sebuah ujian yang akan menjadi legenda, yang akan diceritakan dari mulut ke mulut, yang akan dikenang lama setelah mereka semua tiada, yang akan menjadi salah satu dari sekian banyak kisah tentang kecerdikan Abu Nawas yang tidak pernah mati.

"Jafar," kata Baginda Raja, suaranya tenang tetapi ada kilatan di matanya, kilatan yang hanya muncul ketika ia sedang merencanakan sesuatu yang besar, sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang akan membuat sejarah. Ia duduk di singgasananya dengan jubah malam berwarna putih, tanpa mahkota, tanpa perhiasan, hanya dengan sorban sederhana yang melilit kepalanya. "Aku sudah lama memikirkan sesuatu. Sesuatu yang ingin aku lakukan. Sesuatu yang ingin aku uji. Sesuatu yang ingin aku… lihat."

Jafar, yang berdiri di samping singgasana dengan setangkai kertas di tangannya—kertas-kertas yang berisi laporan dari berbagai provinsi yang tidak sempat ia baca karena panggilan mendadak ini, kertas-kertas yang seharusnya sudah ia sampaikan sejak siang tetapi tertunda karena Baginda Raja memintanya untuk mengumpulkan semua pejabat penting—mengangkat alisnya dengan rasa ingin tahu yang bercampur kekhawatiran. "Apa yang Baginda pikirkan? Apakah ada ancaman baru dari negeri seberang? Apakah ada konspirasi di dalam istana yang harus kita—"

"Bukan ancaman, Jafar," potong Baginda Raja Harun Al-Rasyid dengan senyum tipis yang tidak bisa dibaca, senyum yang membuat Jafar merasa bahwa Baginda Raja sedang menyimpan sesuatu yang sangat menarik. "Bukan konspirasi. Tapi… ujian. Ujian untuk Abu Nawas."

Nama itu langsung membuat suasana ruangan berubah. Jafar tersenyum, setengah geli setengah khawatir, karena ia tahu bahwa setiap kali Abu Nawas disebut dalam pertemuan seperti ini, selalu ada sesuatu yang besar yang akan terjadi. Imam Marzuki, ketua majelis penasihat, yang juga hadir dalam pertemuan malam itu, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara kasihan pada Abu Nawas dan penasaran pada apa yang akan dilakukan Baginda Raja. Syekh Abdul Jabal, ketua para ahli supranatural, yang juga diundang, mendengus kecil dengan senyum sombong yang tidak bisa ia sembunyikan, karena ia merasa bahwa kali ini Abu Nawas akan kalah, karena tidak ada yang bisa mengalahkan takdir. Para pejabat lain yang hadir—sekitar dua puluh orang dari berbagai departemen, dari keuangan hingga militer, dari kesultanan hingga peradilan—saling berpandangan, ada yang tersenyum karena mengingat lawakan-lawakan Abu Nawas, ada yang gelisah karena takut jika Abu Nawas gagal maka kecerdikan yang selama ini menjadi andalan istana akan hilang, ada yang penasaran karena ingin melihat bagaimana Abu Nawas akan menghadapi ujian ini, ada yang… takut. Takut pada apa yang akan dilakukan oleh Baginda Raja. Takut pada apa yang akan dilakukan oleh Abu Nawas. Takut pada… akibat dari ujian ini yang mungkin akan mengubah keseimbangan kekuasaan di istana.

"Baginda," kata Imam Marzuki, suaranya hati-hati, seperti seorang yang berjalan di atas telur di pasar yang ramai, seperti seorang yang mencoba menyeimbangkan antara keinginan Baginda Raja dan keselamatan Abu Nawas, "apakah tidak lebih baik kita membiarkan Abu Nawas menjadi Abu Nawas? Apakah perlu mengujinya? Apakah perlu…"

"Imam," potong Bagina Raja Harun Al-Rasyid dengan suara yang masih tenang tetapi tegas, suara yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun di ruangan itu, "aku tidak akan menguji Abu Nawas untuk menjatuhkannya. Aku akan menguji Abu Nawas untuk… melihat. Melihat sejauh mana kecerdikannya. Melihat bagaimana ia berpikir ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak biasa. Melihat bagaimana ia merespon tantangan yang tampak mustahil. Melihat… apa yang akan ia lakukan ketika dihadapkan pada sesuatu yang sengaja dirancang untuk membatasinya."

Ia berdiri dari singgasananya dengan gerakan yang lambat, penuh wibawa, seperti seorang raja yang sedang mempersiapkan diri untuk memberikan pidato yang akan menentukan nasib banyak orang. Ia berjalan ke jendela yang menghadap ke timur, di mana bulan purnama bersinar terang, menerangi taman dalam yang sunyi, menciptakan bayangan-bayangan pohon palem yang bergoyang-goyang di dinding-dinding marmer.

"Kita telah melihatnya memecahkan berbagai teka-teki. Mahkota yang hilang, yang tidak bisa ditemukan oleh seratus tentara, ia temukan di balik tiang yang tidak pernah dilihat orang. Cermin yang retak, yang membuat seluruh istana panik, ia perbaiki dengan cermin palsu dan tawa. Pencuri bayangan di pasar malam, yang tidak bisa ditangkap oleh para penjaga, ia tangkap dengan cerita dan lelucon. Surat kosong dari negeri timur, yang tidak bisa dibaca oleh para ahli bahasa, ia baca dengan keheningan dan kurma. Suara gaib di balik singgasana, yang membuat para ahli supranatural gemetar, ia temukan sebagai manusia yang bersembunyi. Ramalan yang mengguncang istana, yang membuat para pejabat saling curiga, ia bantah dengan akal sehat dan keberanian. Perdebatan telur dan ayam, yang hampir memecah belah istana, ia selesaikan dengan pemahaman bahwa jawaban tidak selalu penting. Mimpi sang Khalifah tentang gigi yang tanggal, yang membuatku takut kehilangan semua yang kucintai, ia terjemahkan sebagai berkah umur panjang."

Ia berbalik menghadap semua orang yang hadir, matanya bersinar-sinar seperti bintang di langit malam.

"Tapi kita belum pernah melihatnya… diuji. Diuji dengan sesuatu yang sengaja dirancang untuk membatasinya. Diuji dengan sesuatu yang tampak mustahil. Diuji dengan… batas. Batas yang tidak bisa dilanggar. Batas yang tidak bisa dihindari. Batas yang… hanya bisa diatasi dengan akal. Akal yang tidak pernah berhenti bekerja. Akal yang tidak pernah takut. Akal yang… Abu Nawas."

Para pejabat saling berpandangan dengan wajah yang berubah-ubah. Mereka tidak tahu apa yang akan keluar dari mulut Baginda Raja. Mereka tidak tahu hukuman apa yang akan dirancang. Mereka hanya tahu bahwa ini akan menjadi sesuatu yang tidak akan pernah mereka lupakan, sesuatu yang akan mereka ceritakan kepada anak cucu mereka, sesuatu yang akan menjadi bagian dari legenda Abu Nawas yang tidak pernah mati.

"Baginda," kata Syekh Abdul Jabal, suaranya penuh rasa ingin tahu yang tidak bisa disembunyikan, tetapi juga penuh keyakinan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan takdir, "hukuman apa yang Baginda maksud? Apakah hukuman yang bersifat supranatural, yang hanya bisa dipecahkan dengan bantuan makhluk halus yang tidak semua orang bisa berkomunikasi dengannya? Apakah hukuman yang membutuhkan ilmu gaib yang hanya kami kuasai? Apakah hukuman yang…"

"Bukan, Syekh," potong Baginda Raja Harun Al-Rasyid dengan senyum yang semakin lebar, senyum yang membuat Syekh Abdul Jabal merasa bahwa Baginda Raja sedang menyimpan sesuatu yang akan membuatnya terdiam, "hukuman ini sangat sederhana. Sangat mudah dipahami. Sangat… jelas. Abu Nawas akan dihukum karena suatu kesalahan kecil yang akan kita besarkan. Ia harus meninggalkan Baghdad. Ia tidak boleh kembali kecuali… tanpa menyentuh tanah. Dan ia tidak boleh menunggang hewan ternak apa pun dalam perjalanan kembali."

Ruangan itu sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara napas orang-orang terdengar seperti angin yang berhembus di padang pasir yang luas. Sunyi yang begitu berat hingga beberapa pejabat yang duduk di kursi kayu mulai gemetar, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Sunyi yang begitu mencekam hingga tidak ada yang berani bersuara, tidak ada yang berani bernapas terlalu keras, tidak ada yang berani bergerak.

"Baginda," kata Jafar akhirnya, suaranya nyaris berbisik, seperti orang yang takut suaranya sendiri akan membangunkan sesuatu yang seharusnya tidak dibangunkan, "apakah Baginda serius? Hukuman itu… hukuman itu mustahil. Tidak ada manusia yang bisa kembali ke Baghdad tanpa menyentuh tanah. Tidak ada manusia yang bisa bepergian tanpa menunggang hewan atau menyentuh tanah. Hukuman itu… hukuman itu adalah akhir. Akhir bagi Abu Nawas. Akhir bagi kecerdikan yang selama ini—"

"Jafar," potong Baginda Raja Harun Al-Rasyid dengan suara yang masih tenang, tetapi ada nada yang tidak biasa di dalamnya, nada yang membuat Jafar langsung menutup mulutnya, "aku tidak mengatakan bahwa hukuman ini harus dipenuhi. Aku hanya ingin melihat. Aku hanya ingin tahu. Apakah Abu Nawas, dengan segala kecerdikannya, akan menemukan jalan? Apakah ia akan menerima kekalahannya dan pergi tanpa pernah kembali? Apakah ia akan… mengelak dengan alasan yang tidak masuk akal? Atau apakah ia akan… menemukan cara? Cara yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun. Cara yang akan membuat kita semua tercengang. Cara yang… Abu Nawas."

Ia kembali ke singgasananya, duduk dengan sikap seorang raja yang telah memutuskan, yang tidak akan mengubah keputusannya meskipun semua orang di ruangan itu memohon padanya.

"Besok pagi, kita akan panggil Abu Nawas. Kita akan jatuhkan hukuman. Dan kita akan lihat. Kita akan lihat apa yang akan ia lakukan. Kita akan lihat apakah ia akan menangis atau tertawa. Kita akan lihat apakah ia akan marah atau tenang. Kita akan lihat apakah ia akan menerima atau melawan. Kita akan lihat apakah kecerdikannya cukup untuk mengalahkan batas yang tampak mustahil. Kita akan lihat… siapa yang lebih pintar. Kita, yang merancang hukuman dengan segala kesombongan kita. Atau dia, yang harus menghadapinya dengan segala keterbatasannya."

Ia menatap semua orang yang hadir satu per satu, matanya tajam seperti elang yang sedang mengintai mangsa.

"Dan ingat, ini adalah rahasia. Tidak ada yang boleh tahu bahwa ini adalah ujian. Abu Nawas harus berpikir bahwa ini adalah hukuman nyata. Ia harus merasakan ketakutan. Ia harus merasakan tekanan. Ia harus merasakan… batas. Karena hanya dengan merasakan batas, ia akan menunjukkan kecerdikan sejatinya. Hanya dengan dihadapkan pada yang mustahil, ia akan menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi akal yang tidak pernah berhenti bekerja."

Para pejabat mengangguk, meskipun hati mereka masih dipenuhi keraguan. Mereka tidak tahu apakah Abu Nawas akan berhasil. Mereka tidak tahu apakah Baginda Raja tidak akan menyesal. Mereka tidak tahu apakah ini adalah awal dari legenda baru atau akhir dari legenda lama. Tapi mereka tahu satu hal: besok pagi, segalanya akan berubah.


BAB 1: HUKUMAN YANG MUSTAHIL

Keesokan paginya, ketika matahari baru saja terbit di ufuk timur, menyinari istana Baghdad dengan cahaya keemasan yang lembut yang menembus kabut pagi yang tipis, ketika burung-burung mulai berkicau di taman dalam yang hijau, ketika para penjaga istana baru saja mengganti shift malam dengan shift pagi dengan upacara pergantian yang sudah menjadi rutinitas bertahun-tahun, Abu Nawas dipanggil ke Aula Singgasana Agung. Utusan yang diutus Jafar menemukannya di Kedai Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan, sedang menikmati semangkuk bubur kacang hijau hangat dengan madu dan susu kambing, ditemani segelas air tajin dingin dan segenggam kurma Sukkari yang ia beli semalam dengan uang terakhir yang ia miliki.

"Tuan Abu Nawas," kata utusan itu, seorang pemuda bernama Abdullah yang sudah beberapa kali diutus menjemputnya, dengan suara yang berusaha tenang tetapi tidak bisa menyembunyikan kegelisahan, "Baginda Raja memanggil Tuan ke istana. Sekarang. Dengan segera. Ini penting. Sangat penting."

Abu Nawas mengangkat kepalanya dari mangkuk buburnya, mengunyah perlahan kurma yang baru saja ia masukkan ke mulut, menikmati manisnya yang meleleh di lidahnya, dan tersenyum dengan senyum misterius yang membuat Abdullah tidak pernah tahu apakah Abu Nawas sedang bercanda atau serius.

"Nak Abdullah," katanya, "panggilan pagi-pagi begini biasanya berarti ada masalah. Apakah mahkota hilang lagi? Apakah cermin retak lagi? Apakah ada pencuri bayangan di pasar malam? Apakah ada surat kosong dari negeri timur? Apakah ada suara gaib di balik singgasana? Apakah ada ramalan yang mengguncang istana? Apakah ada perdebatan telur dan ayam? Apakah Baginda bermimpi tentang gigi yang tanggal lagi? Atau… apakah ini sesuatu yang baru? Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya? Sesuatu yang akan menjadi legenda?"

Abdullah menggeleng, tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya seorang utusan. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di istana. Ia hanya tahu bahwa Wazir Jafar memintanya untuk menjemput Abu Nawas dengan cepat, tanpa penjelasan, tanpa alasan, hanya dengan perintah: bawa Abu Nawas ke istana, sekarang.

"Tuan," katanya, "aku tidak tahu. Aku hanya disuruh menjemput Tuan. Wazir Jafar bilang, ini penting. Sangat penting. Tidak bisa ditunda. Tidak bisa diabaikan. Tidak bisa…"

"Baiklah, baiklah," potong Abu Nawas dengan tertawa kecil, berdiri dari bangkunya, merapikan jubahnya yang lusuh—usaha yang sia-sia, karena jubah itu memang tidak bisa dirapikan, sudah terlalu lama tidak dicuci dan terlalu sering digunakan untuk membungkus kurma—dan memasukkan sisa kurma ke dalam kantongnya untuk berjaga-jaga, karena ia tidak tahu berapa lama ia akan berada di istana dan ia tidak bisa berpikir tanpa kurma. "Ayo, Nak. Kita tidak boleh membuat Baginda Raja menunggu. Baginda Raja yang menunggu adalah Baginda Raja yang marah. Dan Baginda Raja yang marah, Nak, tidak suka melihat pelawak yang datang terlambat dengan jubah lusuh dan bau bubur kacang hijau. Tapi untungnya, Baginda Raja sudah terbiasa dengan baunya. Sudah bertahun-tahun. Mungkin sudah kecanduan."


Aula Singgasana Agung pagi itu berbeda dari biasanya. Biasanya, aula ini dipenuhi dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan pola-pola cahaya keemasan di lantai marmer putih yang mengilap, menciptakan suasana yang megah tetapi hangat. Tapi pagi itu, aula itu terasa gelap, meskipun matahari sudah terbit. Mungkin karena tirai-tirai sutra tebal yang biasanya dibuka, kali ini ditutup rapat. Mungkin karena lampu-lampu minyak yang biasanya menyala terang, kali ini hanya beberapa yang dinyalakan. Mungkin karena suasana yang sengaja diciptakan untuk menekan, untuk menakut-nakuti, untuk… menguji.

Tidak ada kursi yang kosong. Tidak ada sudut yang luput. Semua pejabat hadir, dari yang tertinggi hingga yang terendah, dari yang paling berpengaruh hingga yang paling tidak berarti. Mereka duduk di kursi-kursi yang telah disusun rapi di kiri dan kanan aula, dengan wajah-wajah yang berbeda-beda. Ada yang tersenyum sinis, yakin bahwa Abu Nawas akan kalah. Ada yang gelisah, khawatir bahwa Abu Nawas tidak akan bisa kembali. Ada yang penasaran, ingin melihat bagaimana Abu Nawas akan menghadapi hukuman yang mustahil ini. Ada yang kasihan, merasa bahwa Baginda Raja terlalu kejam pada seorang pelawak yang hanya suka kurma dan air tajin. Ada yang… takut. Takut bahwa jika Abu Nawas bisa dikalahkan dengan cara seperti ini, maka siapa pun bisa dikalahkan.

Para penasihat hadir dengan jubah-jubah kebesaran mereka, duduk di barisan depan dengan wajah-wajah yang serius. Imam Marzuki, ketua majelis penasihat, duduk di kursi paling depan dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang tidak berkedip, dengan pikiran yang bekerja keras. Ia tidak tahu apakah ia harus membela Abu Nawas atau diam. Ia tidak tahu apakah ini benar-benar hukuman atau hanya ujian. Ia tidak tahu apakah Abu Nawas akan selamat atau tidak. Yang ia tahu hanyalah bahwa hari ini, sejarah akan dibuat.

Para komandan militer hadir dengan seragam kebesaran mereka, duduk di barisan kanan dengan wajah-wajah yang tegas. Panglima Syahid al-Farisi, yang telah memenangkan banyak pertempuran untuk kekhalifahan, duduk di kursi paling depan dengan tangan disilangkan di dada, dengan mata yang tajam, dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Ia tidak mengerti mengapa seorang pelawak harus dihukum seberat ini. Tapi ia juga tidak berani mempertanyakannya.

Para ahli supranatural hadir dengan jubah-jubah hitam mereka, duduk di barisan belakang dengan wajah-wajah yang penuh keyakinan. Syekh Abdul Jabal duduk di tengah-tengah mereka, dengan senyum sombong yang tidak bisa ia sembunyikan, dengan mata yang berbinar-binar, dengan keyakinan bahwa tidak ada yang bisa melawan takdir. Ia telah menunggu hari ini. Ia telah menunggu saat ketika Abu Nawas, pelawak yang sombong, akhirnya akan dikalahkan. Ia telah menunggu saat ketika logika sederhana yang selalu dibanggakan Abu Nawas akan hancur oleh takdir yang tidak bisa dilawan.

Dan di tengah aula, di lantai marmer putih yang dingin, Abu Nawas berlutut dengan tenang. Tidak gemetar. Tidak takut. Tidak panik. Ia hanya duduk bersila di lantai marmer, dengan jubah lusuhnya, dengan sandal ausnya, dengan sorban yang dililit dengan malasnya, dengan kurma di tangannya—kurma yang ia ambil dari kantongnya sebelum masuk, karena ia tahu bahwa untuk menghadapi apa pun, ia membutuhkan kurma. Ia makan kurma satu per satu, perlahan, menikmati setiap gigitan, setiap kunyahan, setiap rasa manis yang meleleh di lidahnya, membuat semua orang yang menatapnya hampir tidak sabar, hampir marah, hampir… kagum.

"Abu Nawas," kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid, suaranya bergema di aula yang sunyi, suara yang tidak perlu berteriak untuk didengar, suara yang memiliki kekuatan untuk membuat semua orang di ruangan itu menegang, "aku memanggilmu bukan untuk meminta bantuan. Bukan untuk memecahkan teka-teki. Bukan untuk membuatku tertawa. Tapi untuk… menjatuhkan hukuman."

Aula bergemuruh. Para pejabat saling berpandangan, berbisik-bisik, bertanya-tanya apa yang telah dilakukan Abu Nawas. Ada yang tersenyum sinis, ada yang gelisah, ada yang penasaran, ada yang… kasihan. Kasihan pada seorang pelawak yang selama ini menjadi andalan istana, yang selama ini membuat mereka tertawa, yang selama ini memecahkan masalah-masalah mereka, kini harus menerima hukuman yang tidak jelas.

Abu Nawas sendiri tidak bereaksi. Ia tidak terkejut. Tidak marah. Tidak takut. Ia hanya duduk bersila di lantai marmer, dengan kurma di tangannya, dengan senyum di bibirnya, dengan mata yang tenang. Seolah-olah ia sudah menduga ini. Seolah-olah ia sudah tahu bahwa suatu hari, ujian akan datang. Seolah-olah ia sudah siap.

"Baginda," katanya, suaranya tenang, tidak terpengaruh oleh suasana tegang di sekelilingnya, suara yang sama ketika ia sedang bercerita di kedai pinggiran tentang keledai yang lebih pintar dari menteri, "hukuman apa yang pantas untuk seorang pelawak yang hanya suka kurma dan air tajin? Apakah saya dihukum karena terlalu banyak tertawa sehingga mengganggu ketenangan istana? Apakah karena terlalu banyak membuat Baginda tertawa sehingga Baginda lupa dengan urusan kerajaan? Apakah karena terlalu banyak memakan kurma sehingga persediaan kurma istana berkurang? Apakah karena…"

"Abu Nawas," potong Baginda Raja Harun Al-Rasyid, suaranya masih tenang tetapi ada nada yang tidak biasa di dalamnya, nada yang membuat semua orang di ruangan itu menegang, nada yang mengatakan bahwa kali ini, Baginda Raja tidak sedang bercanda, "kau dituduh melakukan kesalahan. Kesalahan kecil. Tapi kesalahan yang tidak bisa ditoleransi. Kesalahan yang… harus dihukum. Sebagai pelajaran. Sebagai peringatan. Sebagai… keadilan."

Ia mengangguk kepada Jafar. Jafar, yang berdiri di samping singgasana dengan gulungan kertas di tangannya, dengan wajah yang pucat pasi seperti mayat, dengan tangan yang gemetar hebat, membuka gulungan itu dengan susah payah, membaca dengan suara lantang yang bergema di aula.

"Abu Nawas bin Yahya, berdasarkan pengaduan yang diterima dari beberapa pejabat istana dan telah diverifikasi oleh majelis penasihat, dinyatakan bersalah atas pelanggaran: telah menghina pejabat istana dengan sindiran yang tidak pantas dalam sebuah pertemuan tidak resmi di kedai kopi dekat pasar. Sindiran tersebut dinilai merendahkan martabat pejabat yang bersangkutan dan mengganggu ketertiban hubungan antar pejabat istana. Sebagai hukuman, terhitung mulai hari ini, Abu Nawas harus meninggalkan kota Baghdad. Ia tidak boleh kembali ke kota ini kecuali… tanpa menyentuh tanah. Dan ia tidak boleh menunggang hewan ternak apa pun dalam perjalanan kembali. Termasuk kuda, keledai, unta, sapi, dan semua jenis hewan ternak yang biasa ditunggangi manusia."

Aula sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara tetesan air dari air mancur di taman dalam terdengar jelas, seperti ketukan jarum jam yang mengukur detik-detik yang terasa seperti tahun. Sunyi yang begitu berat hingga beberapa pejabat yang duduk di kursi kayu mulai gemetar, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Sunyi yang begitu mencekam hingga tidak ada yang berani bersuara, tidak ada yang berani bernapas terlalu keras, tidak ada yang berani bergerak, takut bahwa suara sekecil apa pun akan memicu sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.

Abu Nawas tidak bereaksi. Ia tidak terkejut. Tidak marah. Tidak takut. Ia hanya mengambil kurma dari kantongnya, memasukkannya ke mulut, mengunyah perlahan, menikmati setiap detiknya, membuat semua orang yang menatapnya hampir tidak sabar, hampir marah, hampir… kagum. Setelah menelan kurma, ia menghela napas panjang, seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang sudah diduganya sejak lama.

"Baginda," katanya, suaranya tenang, tidak terpengaruh oleh suasana tegang di sekelilingnya, "saya menerima hukuman ini. Saya akan meninggalkan Baghdad. Saya tidak akan kembali sampai saya bisa kembali tanpa menyentuh tanah. Dan saya tidak akan menunggang hewan ternak. Tapi saya ingin bertanya satu hal. Satu hal yang kecil. Satu hal yang mungkin tidak penting. Tapi saya tetap ingin bertanya, karena saya adalah Abu Nawas, dan Abu Nawas tidak pernah berhenti bertanya."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk, meskipun matanya tidak bisa disembunyikan lagi. Ada kekhawatiran di sana. Ada keraguan. Ada… rasa bersalah. "Tanyalah."

"Baginda, apakah saya boleh… menggunakan akal? Apakah saya boleh… berpikir? Apakah saya boleh… mencari cara? Atau Baginda menginginkan saya hanya menerima hukuman ini dan pergi tanpa pernah kembali, seperti yang diharapkan oleh Syekh Abdul Jabal dan para ahli supranatural yang sudah lama menunggu kejatuhan saya?"

Syekh Abdul Jabal tersentak. Wajahnya merah padam. Ia ingin membantah, tetapi tidak berani di hadapan Baginda Raja. Ia hanya bisa duduk di tempatnya, dengan tangan mengepal, dengan napas memburu, dengan hati yang terbakar amarah.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap Abu Nawas lama. Matanya tidak bisa dibaca. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang tipis, senyum yang hampir tidak terlihat, tetapi Abu Nawas mengenalinya. Senyum itu adalah senyum yang sama yang selalu ia tunjukkan ketika Abu Nawas melakukan sesuatu yang tidak terduga. Senyum yang mengatakan: Aku tahu kau akan bertanya seperti itu. Aku tahu kau tidak akan pernah menyerah. Aku tahu kau akan menemukan jalan. Dan aku menunggu untuk melihatnya.

"Abu Nawas," katanya, "aku tidak akan melarangmu berpikir. Aku tidak akan melarangmu mencari cara. Aku hanya akan… melihat. Melihat apa yang akan kau lakukan. Melihat apakah kau bisa. Melihat… apakah kecerdikanmu cukup untuk mengalahkan batas yang tampak mustahil. Melihat apakah kau, Abu Nawas, benar-benar sebagus yang orang-orang katakan. Melihat apakah kau, Abu Nawas, layak menjadi legenda."

Abu Nawas berdiri perlahan, merapikan jubahnya yang lusuh—usaha yang sia-sia, karena jubah itu memang tidak bisa dirapikan—dan membungkuk dalam-dalam, lebih dalam dari biasanya, lebih dalam dari yang pernah ia lakukan di hadapan Baginda Raja.

"Baginda," katanya, "saya akan pergi sekarang. Saya akan meninggalkan Baghdad. Dan suatu hari, saya akan kembali. Saya akan kembali tanpa menyentuh tanah. Saya akan kembali tanpa menunggang hewan. Dan saya akan kembali dengan… senyum. Senyum yang sama seperti sekarang. Senyum yang tidak pernah pudar. Senyum yang tidak pernah takut. Senyum yang… Abu Nawas."

Ia berbalik, berjalan keluar dari aula dengan langkah santai, dengan jubah yang berkibar-kibar, dengan kurma di tangannya, dengan senyum di bibirnya. Para pejabat yang berdiri di koridor menyingkir, memberi jalan, dengan mata yang terbelalak, dengan mulut yang terbuka, dengan hati yang tidak percaya. Mereka tidak percaya bahwa Abu Nawas menerima hukuman itu dengan tenang. Mereka tidak percaya bahwa ia tidak memprotes. Mereka tidak percaya bahwa ia tidak menangis. Mereka tidak percaya bahwa ia… tersenyum. Tersenyum seperti orang yang baru saja mendapat kabar baik. Tersenyum seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu. Tersenyum seperti orang yang tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

Di pintu gerbang istana, Abu Nawas berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang, menatap istana yang megah itu, menatap menara-menara yang menjulang tinggi, menatap kubah-kubah emas yang bersinar di bawah sinar matahari pagi. Ia tersenyum. Kemudian ia berjalan keluar, meninggalkan istana, meninggalkan Baghdad, meninggalkan semua yang ia kenal, menuju ke sesuatu yang tidak diketahui, menuju ke sesuatu yang belum terpikirkan, menuju ke… petualangan yang akan menjadi legenda.


BAB 2: PERDEBATAN PARA AHLI

Setelah Abu Nawas pergi, setelah langkah kakinya yang santai tidak lagi terdengar di koridor marmer yang panjang, setelah pintu gerbang istana tertutup di belakangnya, suasana istana berubah. Tidak ada lagi tawa di koridor-koridor yang biasanya bergema dengan candaan para pejabat. Tidak ada lagi canda di dapur-dapur yang biasanya ramai dengan obrolan ringan. Tidak ada lagi syair yang dibacakan di taman-taman yang biasanya menjadi tempat para penyair berkumpul. Yang ada hanyalah bisik-bisik di setiap sudut, di setiap ruangan, di setiap hati. Bisik-bisik yang penuh pertanyaan, penuh keraguan, penuh ketakutan. Apakah Abu Nawas akan kembali? Bagaimana ia bisa kembali tanpa menyentuh tanah? Bagaimana ia bisa kembali tanpa menunggang hewan? Apakah ini akhir dari Abu Nawas? Apakah ini akhir dari kecerdikan yang selama ini menjadi legenda di istana? Apakah ini akhir dari tawa yang selama ini menjadi penghibur di tengah keseriusan kekuasaan?

Para pejabat tidak bisa bekerja. Mereka berkumpul di ruang pertemuan, di perpustakaan, di koridor-koridor, bahkan di dapur-dapur, berdebat, bertengkar, saling berargumen dengan suara yang semakin keras, semakin emosional, semakin tidak terkendali. Mereka yang dulu bersahabat, kini berhadapan sebagai lawan. Mereka yang dulu sependapat, kini berseberangan. Mereka yang dulu saling percaya, kini saling curiga.

Kubu yang percaya Abu Nawas akan gagal semakin kuat. Mereka dipimpin oleh Syekh Abdul Jabal dan para ahli supranatural, yang dengan penuh keyakinan mengutip berbagai alasan: hukuman itu mustahil, tidak ada manusia yang bisa terbang seperti burung, tidak ada manusia yang bisa berjalan di atas air seperti nabi, tidak ada manusia yang bisa menghilang dan muncul kembali seperti jin. Mereka mengatakan bahwa Abu Nawas telah menerima kekalahannya dengan tenang, bahwa ia pergi tanpa protes karena ia tahu tidak ada jalan keluar, bahwa ia tidak akan pernah kembali, bahwa ini adalah akhir dari legenda yang selama ini mereka dengarkan dengan setengah percaya.

"Lihatlah!" seru Syekh Abdul Jabal di ruang pertemuan utama, di hadapan para pejabat yang berkumpul, suaranya bergema di antara dinding-dinding batu yang tinggi, matanya bersinar-sinar seperti bintang di langit malam, tangannya menunjuk ke arah gerbang kota yang jauh, ke arah di mana Abu Nawas telah pergi. "Abu Nawas telah pergi. Ia pergi dengan tenang. Ia pergi tanpa protes. Ia pergi tanpa rencana. Ia tahu bahwa tidak ada jalan. Ia tahu bahwa tidak ada cara. Ia tahu bahwa hukuman itu mustahil. Dan ia menerimanya. Ia menerima kekalahannya. Dan kita harus menerima bahwa… Abu Nawas telah kalah. Kalah oleh takdir. Kalah oleh batas. Kalah oleh… kenyataan."

Seorang pejabat muda bernama Amr bin Hisham, yang terkenal sebagai penggemar ilmu pengetahuan dan pengagum Abu Nawas, berdiri dengan wajah merah padam karena emosi, dengan mata menyala-nyala seperti bara api, dengan tangan mengepal di samping tubuhnya yang kurus. Ia adalah salah satu dari sedikit pejabat yang percaya bahwa Abu Nawas akan kembali, bahwa Abu Nawas tidak akan menyerah, bahwa Abu Nawas akan menemukan jalan.

"Syekh!" serunya, suaranya nyaris berteriak, memotong pidato Syekh Abdul Jabal yang sedang melambung. "Kau tidak tahu! Kau tidak tahu apa yang akan dilakukan Abu Nawas! Kau tidak tahu sejauh mana kecerdikannya! Kau tidak tahu bahwa ia tidak pernah menyerah! Ia tidak pernah! Tidak pernah! Selama ini, setiap kali kita mengira ia kalah, ia justru menang. Setiap kali kita mengira ia tidak bisa, ia justru membuktikan sebaliknya. Setiap kali kita mengira ia akan diam, ia justru tertawa. Dan kali ini, ia juga akan kembali! Ia akan kembali dengan cara yang tidak pernah kita duga! Ia akan kembali dengan cara yang akan membuat kita semua terdiam! Ia akan kembali dengan cara yang akan membuat Syekh… menelan lidah sendiri!"

Syekh Abdul Jabal mendengus. Wajahnya yang tadinya merah karena semangat, kini merah karena amarah. Ia tidak terbiasa ditantang oleh pejabat muda seperti Amr bin Hisham. Ia tidak terbiasa pendapatnya diragukan. Ia tidak terbiasa otoritasnya digoyahkan.

"Amr," katanya, suaranya merendahkan, penuh dengan nada yang membuat Amr merasa kecil, merasa bodoh, merasa naif, "kau masih muda. Kau masih naif. Kau masih percaya pada dongeng. Kau masih percaya bahwa seorang pelawak bisa mengalahkan takdir. Tapi dunia ini, Amr, bukan dongeng. Dunia ini adalah kenyataan. Dan kenyataan mengatakan: tidak ada manusia yang bisa kembali ke kota tanpa menyentuh tanah. Tidak ada manusia yang bisa bepergian tanpa menunggang hewan. Itu adalah batas. Batas yang tidak bisa dilanggar. Batas yang tidak bisa dihindari. Batas yang… hanya bisa diterima. Dan Abu Nawas, Amr, telah menerimanya. Ia pergi dengan tenang. Ia pergi tanpa rencana. Ia pergi… selamanya."

Amr bin Hisham tidak bisa menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, dengan tangan yang masih mengepal, dengan mata yang masih menyala, dengan bibir yang gemetar. Ia ingin membantah. Ia ingin berteriak. Ia ingin mengatakan bahwa Syekh Abdul Jabal salah. Tapi kata-kata tidak keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa berdiri, dengan hati yang hancur, dengan harapan yang hampir padam, dengan keyakinan yang mulai goyah.

Di sudut ruangan, Imam Marzuki duduk dengan tenang. Ia tidak ikut berdebat. Ia tidak ikut bertengkar. Ia hanya duduk, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang terpejam, dengan pikiran yang bekerja keras. Ia telah mendengar semua argumen. Ia telah mendengar semua keyakinan. Ia telah mendengar semua keraguan. Dan ia tahu satu hal: jangan pernah meremehkan Abu Nawas. Jangan pernah meremehkan orang yang tidak pernah takut. Jangan pernah meremehkan orang yang selalu tersenyum dalam kesulitan. Jangan pernah meremehkan orang yang… tidak pernah menyerah.

Ia membuka matanya, menatap Syekh Abdul Jabal dengan mata yang tenang, dengan suara yang rendah tetapi bergema di ruangan yang mulai sunyi karena semua orang menoleh ke arahnya.

"Syekh," katanya, "aku tidak tahu apakah Abu Nawas akan kembali atau tidak. Aku tidak tahu apakah ia akan menemukan jalan atau tidak. Aku tidak tahu apakah kecerdikannya cukup untuk mengalahkan batas atau tidak. Tapi aku tahu satu hal: jangan pernah meremehkan orang yang tidak pernah takut. Jangan pernah meremehkan orang yang selalu tersenyum dalam kesulitan. Jangan pernah meremehkan orang yang tidak pernah menyerah. Karena orang seperti itu, Syekh, adalah orang yang paling berbahaya. Bukan karena ia punya kekuatan. Bukan karena ia punya kekuasaan. Bukan karena ia punya ilmu gaib. Tapi karena ia tidak pernah berhenti. Ia tidak pernah berhenti berpikir. Ia tidak pernah berhenti mencari. Ia tidak pernah berhenti… mencoba. Dan orang yang tidak pernah berhenti, Syekh, pada akhirnya akan menemukan jalan. Selalu. Untuk siapa pun yang tidak pernah berhenti."

Syekh Abdul Jabal mendengus lagi, tetapi kali ini dengusannya tidak sekeras sebelumnya. Ada keraguan di matanya. Ada kegelisahan di hatinya. Ada… ketakutan kecil yang tidak bisa ia akui.

"Imam," katanya, suaranya masih berusaha tegas, "kau terlalu percaya pada pelawak itu. Kau terlalu terpesona oleh lawakan-lawakannya. Kau terlalu terpengaruh oleh kecerdikannya. Tapi kali ini, Imam, kau akan melihat. Kau akan melihat bahwa tidak ada yang bisa melawan takdir. Tidak ada yang bisa melawan batas. Tidak ada yang bisa… kembali tanpa menyentuh tanah."

Imam Marzuki tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang sama yang ia lihat di wajah Abu Nawas ketika ia meninggalkan istana. Senyum yang mengatakan: Aku tahu sesuatu yang tidak kau ketahui. Aku akan kembali. Dan kau akan melihat.


BAB 3: KETENANGAN YANG MENCURIGAKAN

Hari-hari berlalu. Matahari terbit dan terbenam. Bulan purnama datang dan pergi. Musim berganti dari panas ke dingin, dari kering ke basah. Tapi Abu Nawas tidak terlihat di Baghdad. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi. Tidak ada yang tahu apa yang ia lakukan. Tidak ada yang tahu apakah ia merencanakan sesuatu atau hanya… menerima nasib.

Minggu pertama berlalu. Abu Nawas tidak kembali.
Minggu kedua berlalu. Abu Nawas tidak kembali.
Minggu ketiga berlalu. Abu Nawas masih tidak kembali.
Minggu keempat berlalu. Abu Nawas… menghilang.

Para pejabat yang tadinya masih berharap, kini mulai putus asa. Mereka yang tadinya percaya pada Abu Nawas, kini mulai ragu. Mereka yang tadinya yakin Abu Nawas akan kembali, kini mulai menerima bahwa ia tidak akan pernah kembali. Mereka yang tadinya tertawa mendengar cerita-cerita Abu Nawas, kini hanya bisa diam. Mereka yang tadinya tersenyum mendengar nama Abu Nawas, kini hanya bisa menghela napas.

Syekh Abdul Jabal dan para ahli supranatural semakin percaya diri. Mereka berkeliling istana, memberikan ceramah di ruang pertemuan, di perpustakaan, di koridor-koridor, bahkan di dapur-dapur, tentang takdir, tentang batas, tentang ketidakmampuan manusia melawan hukum alam. Mereka mengatakan bahwa Abu Nawas telah kalah, bahwa ia telah menerima kekalahannya, bahwa ia tidak akan pernah kembali. Mereka mengatakan bahwa ini adalah bukti bahwa tidak ada yang bisa melawan takdir. Bahwa tidak ada yang bisa melawan batas. Bahwa tidak ada yang bisa… menjadi Abu Nawas.

"Lihatlah!" seru Syekh Abdul Jabal di ruang pertemuan utama, di hadapan para pejabat yang berkumpul dengan wajah-wajah yang mulai putus asa, suaranya bergema, matanya bersinar, tangannya menunjuk ke arah gerbang kota yang jauh. "Sudah berminggu-minggu Abu Nawas pergi. Tidak ada kabar. Tidak ada tanda-tanda. Tidak ada utusan. Tidak ada surat. Tidak ada… apa pun. Ia tidak akan kembali. Ia tidak bisa kembali. Hukuman itu mustahil. Dan ia tahu itu. Ia pergi dengan tenang karena ia tahu tidak ada jalan keluar. Ia menerima kekalahannya. Dan kita harus menerima bahwa… Abu Nawas telah kalah. Abu Nawas tidak akan pernah kembali. Abu Nawas telah pergi selamanya. Dan Baghdad, wahai saudara-saudaraku, harus belajar hidup tanpa tawa. Harus belajar hidup tanpa kecerdikan. Harus belajar hidup tanpa… Abu Nawas."

Amr bin Hisham, yang sejak malam pertama tidak bisa tidur memikirkan Abu Nawas, berdiri dengan tubuh yang semakin kurus karena kurang makan, dengan mata yang semakin cekung karena kurang tidur, dengan suara yang serak karena terlalu banyak berdebat.

"Syekh," katanya, suaranya lemah tetapi masih berusaha tegas, "aku tidak percaya. Aku tidak percaya Abu Nawas telah kalah. Aku tidak percaya ia tidak akan kembali. Aku tidak percaya ia telah menyerah. Ia pasti merencanakan sesuatu. Ia pasti akan kembali. Ia pasti…"

"Amr," potong Syekh Abdul Jabal dengan suara yang merendahkan, dengan senyum yang penuh kemenangan, dengan mata yang penuh belas kasihan palsu, "sudahlah. Terimalah kenyataan. Abu Nawas telah pergi. Ia tidak akan kembali. Dan kau, Amr, harus move on. Harus melanjutkan hidup. Harus… melupakan."

Amr bin Hisham tidak bisa menjawab. Ia hanya duduk kembali, dengan wajah yang pucat, dengan hati yang hancur, dengan harapan yang hampir padam. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang kurus, jatuh ke jubahnya yang kusut, jatuh ke lantai marmer yang dingin. Ia menangis. Menangis untuk Abu Nawas. Menangis untuk kecerdikan yang hilang. Menangis untuk tawa yang tidak akan pernah terdengar lagi. Menangis untuk… Baghdad yang sunyi.


BAB 4: ISTANA MENUNGGU KEGAGALAN

Di ruang pribadinya, Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun, dengan mata yang tidak berkedip, dengan pikiran yang berputar-putar tanpa henti. Ia mulai ragu. Apakah ia telah menjatuhkan hukuman yang terlalu berat? Apakah ia telah mengusir Abu Nawas selamanya? Apakah ia telah kehilangan sahabat yang paling berharga? Apakah ia telah membuat kesalahan yang tidak bisa diperbaiki? Apakah ia telah… menghancurkan sesuatu yang tidak bisa digantikan?

"Jafar," katanya pada suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, ketika cahaya keemasan masuk melalui jendela-jendela, menciptakan pola-pola cahaya di lantai marmer yang kini terasa dingin dan kosong, ketika ia dan Jafar duduk sendirian di ruang pribadinya tanpa ada pejabat lain, tanpa ada pelayan, tanpa ada siapa pun, suaranya rendah, penuh keraguan, penuh penyesalan, "apakah aku salah? Apakah aku terlalu keras pada Abu Nawas? Apakah aku terlalu percaya diri? Apakah aku terlalu… ingin menguji? Apakah aku lupa bahwa Abu Nawas bukanlah mainan yang bisa diuji sesuka hati? Apakah aku lupa bahwa ia adalah manusia yang juga punya keterbatasan? Apakah aku lupa bahwa ia juga bisa… gagal? Apakah aku… kehilangan dia selamanya?"

Jafar menggenggam tangan Baginda Raja. Tangannya hangat, lembut, menenangkan. Tangannya yang biasanya dingin karena memegang kertas-kertas laporan, kini hangat karena memegang tangan sahabatnya yang sedang gelisah.

"Baginda," katanya, suaranya tenang, penuh keyakinan, penuh harapan, "Baginda tidak salah. Baginda tidak terlalu keras. Baginda tidak terlalu percaya diri. Baginda hanya… penasaran. Penasaran seperti manusia biasa. Penasaran seperti semua orang yang pernah melihat keajaiban. Dan Abu Nawas, Baginda, adalah keajaiban. Keajaiban yang tidak pernah berhenti membuat kita penasaran. Keajaiban yang tidak pernah berhenti membuat kita takjub. Keajaiban yang tidak pernah berhenti membuat kita… tertawa. Dan keajaiban, Baginda, tidak akan pernah berhenti. Keajaiban akan selalu ada. Keajaiban akan selalu kembali. Dan kali ini, Abu Nawas akan kembali. Aku yakin. Aku percaya. Aku… menunggu."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum tipis. Senyum yang hampir tidak terlihat, tetapi Jafar mengenalinya. Senyum itu adalah senyum yang sama yang selalu ia tunjukkan ketika ia memikirkan Abu Nawas.

"Kau benar, Jafar. Abu Nawas adalah keajaiban. Dan keajaiban, Jafar, tidak akan pernah berhenti. Keajaiban akan selalu ada. Keajaiban akan selalu kembali. Dan kali ini, ia akan kembali. Aku yakin. Aku percaya. Aku… menunggu. Menunggu dengan sabar. Menunggu dengan keyakinan. Menunggu dengan… harapan."


BAB 5: LOGIKA VS KEYAKINAN

Di tengah keputusasaan yang mulai menyelimuti istana, Imam Marzuki berdiri. Ia adalah orang yang paling senior, yang paling dihormati, yang paling tidak bisa dibantah. Ia telah melihat banyak hal selama lima puluh tahun mengabdi di istana. Ia telah menyaksikan pasang surut kekuasaan, naik turunnya pejabat, datang perginya para ahli. Ia telah menyaksikan raja berganti, menteri berganti, kebijakan berganti. Tapi tidak ada yang pernah membuatnya begitu penasaran seperti Abu Nawas. Tidak ada yang pernah membuatnya begitu ingin… melihat. Tidak ada yang pernah membuatnya begitu ingin… belajar.

"Syekh," katanya, suaranya tenang tetapi bergema di ruang pertemuan yang penuh sesak dengan pejabat yang ingin mendengar, "aku tidak tahu apakah Abu Nawas akan kembali atau tidak. Aku tidak tahu apakah ia akan menemukan jalan atau tidak. Tapi aku tahu satu hal: jangan pernah meremehkan kekuatan akal. Jangan pernah meremehkan kekuatan logika. Jangan pernah meremehkan kekuatan… seseorang yang tidak pernah takut."

Ia berjalan mendekati Syekh Abdul Jabal, berdiri tepat di hadapannya, menatap matanya dengan mata yang tenang tetapi tajam.

"Syekh, Syekh mengatakan bahwa tidak ada manusia yang bisa kembali ke kota tanpa menyentuh tanah. Tapi apakah Syekh pernah bertanya: apa itu tanah? Apakah tanah hanya bumi? Apakah tanah hanya permukaan? Apakah tanah hanya… yang kita injak? Atau apakah ada definisi lain? Definisi yang lebih luas? Definisi yang… bisa ditafsirkan? Apakah tanah bisa berupa pasir? Apakah tanah bisa berupa debu? Apakah tanah bisa berupa lumpur? Apakah tanah bisa berupa… sesuatu yang tidak kita pijak? Apakah…"

"Imam!" potong Syekh Abdul Jabal, suaranya meninggi, wajahnya merah padam, tangannya mengepal, "Kau tidak boleh meragukan definisi yang jelas! Tanah adalah tanah! Bumi adalah bumi! Permukaan adalah permukaan! Tidak ada tafsir lain! Tidak ada…"

"Syekh," potong Imam Marzuki dengan suara yang masih tenang, tidak terpengaruh oleh amarah Syekh Abdul Jabal, "aku tidak meragukan. Aku hanya… bertanya. Bertanya apakah Syekh yakin. Bertanya apakah Syekh tidak mungkin salah. Bertanya apakah… ada kemungkinan lain. Kemungkinan yang tidak terpikirkan. Kemungkinan yang tidak terlihat. Kemungkinan yang… Abu Nawas."

Syekh Abdul Jabal tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam, dengan mulut terbuka, dengan mata terbelalak, dengan tangan gemetar. Ia tidak pernah ditanya seperti ini. Ia tidak pernah diragukan seperti ini. Ia tidak pernah dihadapkan pada kemungkinan bahwa ia bisa salah.

Imam Marzuki berbalik menghadap semua orang yang hadir. Matanya menatap satu per satu wajah para pejabat, para penasihat, para komandan, para ahli supranatural.

"Para hadirin," katanya, suaranya bergema di ruangan yang sunyi, "kita telah mendengar. Para ahli supranatural mengatakan bahwa tidak ada jalan. Para pejabat mengatakan bahwa Abu Nawas telah kalah. Tapi aku tidak percaya. Aku tidak percaya bahwa seorang yang tidak pernah takut akan menyerah. Aku tidak percaya bahwa seorang yang selalu tersenyum akan putus asa. Aku tidak percaya bahwa seorang yang selalu menemukan jalan akan… tersesat selamanya."

Ia berjalan ke jendela, menatap langit Baghdad yang cerah, menatap gerbang kota yang jauh, menatap ke arah di mana Abu Nawas telah pergi.

"Aku tidak tahu kapan. Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku yakin. Abu Nawas akan kembali. Ia akan kembali dengan cara yang tidak pernah kita duga. Ia akan kembali dengan cara yang akan membuat kita semua terdiam. Ia akan kembali dengan cara yang akan membuat kita semua… tertawa. Dan kita akan belajar. Belajar bahwa batas itu tidak untuk menghentikan akal. Tapi untuk… mengujinya. Belajar bahwa peraturan yang kaku akan kalah oleh pikiran yang lentur. Belajar bahwa… tidak ada yang mustahil bagi mereka yang tidak pernah berhenti berpikir."

Syekh Abdul Jabal tidak bisa menjawab. Ia hanya duduk kembali, dengan wajah pucat, dengan tangan yang tidak lagi gemetar karena marah, tetapi gemetar karena… malu. Malu karena ia terlalu sombong. Malu karena ia terlalu percaya diri. Malu karena ia terlalu… yakin bahwa ia benar.


BAB 6: KEGELISAHAN BAGINDA

Malam-malam Baginda Raja Harun Al-Rasyid semakin gelisah. Ia tidak bisa tidur. Ia hanya bisa duduk di singgasananya, menatap kegelapan yang menyelimuti istana, menatap pintu gerbang istana yang tertutup rapat, menatap bintang-bintang yang bersinar di langit malam, menatap… harapan yang semakin menipis. Ia mulai bertanya-tanya: apakah ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Apakah ia telah mengusir Abu Nawas selamanya? Apakah ia telah kehilangan sahabat yang paling berharga? Apakah ia telah menghancurkan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki? Apakah ia telah… merusak keajaiban?

"Jafar," katanya pada suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang di atas kubah-kubah emas, ketika angin malam berhembus lembut membawa aroma bunga melati dari taman dalam, ketika suara air mancur yang mengalir tenang menjadi satu-satunya iringan bagi malam yang sunyi, ketika istana sunyi seperti kuburan, "apakah aku terlalu sombong? Apakah aku terlalu percaya diri? Apakah aku terlalu… ingin menguji? Apakah aku lupa bahwa Abu Nawas bukanlah mainan yang bisa diuji sesuka hati? Apakah aku lupa bahwa ia adalah manusia yang juga punya keterbatasan? Apakah aku lupa bahwa ia juga bisa… gagal? Apakah aku… kehilangan dia selamanya?"

Jafar menggenggam tangan Baginda Raja. Tangannya hangat, lembut, menenangkan. Tangannya yang biasanya dingin karena memegang kertas-kertas laporan, kini hangat karena memegang tangan sahabatnya yang sedang gelisah.

"Baginda," katanya, suaranya tenang, penuh keyakinan, penuh harapan, "Baginda tidak sombong. Baginda tidak percaya diri. Baginda hanya… penasaran. Penasaran seperti manusia biasa. Penasaran seperti semua orang yang pernah melihat keajaiban. Dan Abu Nawas, Baginda, adalah keajaiban. Keajaiban yang tidak pernah berhenti membuat kita penasaran. Keajaiban yang tidak pernah berhenti membuat kita takjub. Keajaiban yang tidak pernah berhenti membuat kita… tertawa. Dan keajaiban, Baginda, tidak akan pernah berhenti. Keajaiban akan selalu ada. Keajaiban akan selalu kembali. Dan kali ini, Abu Nawas akan kembali. Aku yakin. Aku percaya. Aku… menunggu."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum tipis. Senyum yang hampir tidak terlihat, tetapi Jafar mengenalinya. Senyum itu adalah senyum yang sama yang selalu ia tunjukkan ketika ia memikirkan Abu Nawas.

"Kau benar, Jafar. Abu Nawas adalah keajaiban. Dan keajaiban, Jafar, tidak akan pernah berhenti. Keajaiban akan selalu ada. Keajaiban akan selalu kembali. Dan kali ini, ia akan kembali. Aku yakin. Aku percaya. Aku… menunggu. Menunggu dengan sabar. Menunggu dengan keyakinan. Menunggu dengan… harapan. Harapan bahwa suatu pagi, ketika matahari terbit, aku akan mendengar tawanya. Harapan bahwa suatu pagi, ketika aku membuka mata, aku akan melihat senyumnya. Harapan bahwa suatu pagi, ketika aku duduk di singgasana ini, ia akan masuk dengan jubah lusuhnya, dengan sandal ausnya, dengan kurma di tangannya, dan berkata: 'Baginda, aku kembali. Aku kembali tanpa menyentuh tanah. Aku kembali tanpa menunggang hewan. Aku kembali dengan cara yang paling Abu Nawas.'"


BAB 7: KEJUTAN DI GERBANG BAGHDAD

Pada pagi hari yang cerah, ketika matahari baru saja terbit di ufuk timur, menyinari tembok-tembok Baghdad yang kokoh dengan cahaya keemasan yang lembut, ketika kabut pagi yang tipis mulai menghilang, ketika para pedagang mulai membuka kios mereka di pasar yang mulai ramai, ketika anak-anak mulai berlarian di lorong-lorong sempit dengan tawa riang, ketika para penjaga gerbang kota baru saja mengganti shift malam dengan shift pagi dengan upacara sederhana yang sudah menjadi rutinitas bertahun-tahun, sebuah keramaian terjadi di gerbang utama Baghdad. Keramaian yang membuat semua orang berhenti, menoleh, mendekat, berdesakan, ingin melihat, ingin tahu, ingin… percaya pada mata mereka sendiri.

Di gerbang kota, seekor keledai tua berjalan perlahan, dengan langkah yang gontai, dengan kepala yang menunduk, dengan telinga yang terkulai, dengan ekor yang bergoyang-goyang pelan. Keledai itu adalah keledai biasa, keledai yang sering terlihat di pasar mengangkut sayuran atau buah-buahan, keledai yang tidak pernah dianggap istimewa oleh siapa pun, keledai yang hanya digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan kasar yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Tapi ada yang aneh dengan keledai itu. Ada yang berbeda. Ada yang… tidak biasa.

Di bawah perut keledai itu, bergelantungan seorang lelaki. Lelaki dengan jubah lusuh yang sudah pudar warnanya, dengan sandal aus yang sudah hampir tidak bersol, dengan sorban yang dililit dengan malas sehingga beberapa helai rambutnya yang acak-acakan keluar dari balik kain, dengan senyum misterius yang tidak pernah lepas dari wajahnya meskipun ia bergelantungan di bawah perut keledai dengan posisi yang tidak nyaman. Lelaki itu bergelantungan menggunakan kain tebal yang diikatkan kuat di perut keledai, kedua tangannya menggenggam erat kain itu, kedua kakinya menjuntai di udara, tidak menyentuh tanah, tidak menyentuh apa pun, hanya bergoyang-goyang pelan mengikuti langkah keledai yang gontai. Ia tidak menunggang keledai. Ia tidak duduk di punggung keledai. Ia tidak memangku keledai. Ia bergelantungan. Seperti buah yang bergantung di pohon kurma yang tinggi. Seperti lampu yang bergantung di langit-langit istana. Seperti… Abu Nawas.

"Abu Nawas!" teriak seorang pedagang sayuran yang sedang membuka kiosnya di dekat gerbang, matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar, tangannya yang memegang timbangan hampir terjatuh. "Abu Nawas! Abu Nawas kembali! Abu Nawas kembali dengan keledai! Abu Nawas… bergelantungan di bawah perut keledai!"

Teriakannya menggema di gerbang kota, menarik perhatian semua orang yang ada di sekitar. Para pedagang yang sedang menata dagangan mereka berhenti, menoleh, dan berlari mendekat. Para pembeli yang sedang menawar harga melupakan barang yang ingin mereka beli dan ikut berlari. Para anak-anak yang sedang bermain di lorong-lorong sempit berhenti berlarian, mata mereka berbinar-binar, dan mereka berlari secepat mungkin menuju gerbang. Para penjaga gerbang yang sedang duduk santai setelah shift malam yang melelahkan, berdiri dengan cepat, mata mereka terbelalak, dan mereka ikut berdesakan ingin melihat.

Keramaian semakin besar. Orang-orang berkerumun di gerbang kota, berdesakan, saling dorong, saling injak, ingin melihat, ingin memastikan, ingin… tertawa. Karena pemandangan itu, sungguh, adalah pemandangan yang paling lucu yang pernah mereka lihat dalam hidup mereka. Seorang lelaki bergelantungan di bawah perut keledai, dengan jubah yang berkibar-kibar ditiup angin pagi, dengan senyum yang lebar seperti bulan purnama, dengan mata yang berbinar-binar seperti bintang di langit malam, seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet, seperti pesulap yang sedang melakukan trik paling mustahil, seperti… Abu Nawas.

"Abu Nawas!" teriak seorang anak kecil yang berlari di samping keledai, matanya berbinar-binar, tangannya bertepuk riang, suaranya lantang bergema di antara kerumunan. "Abu Nawas, kau kembali! Kau kembali tanpa menyentuh tanah! Lihat, kakinya tidak menyentuh tanah! Kakinya menjuntai di udara! Kau kembali tanpa menunggang keledai! Kau tidak duduk di punggungnya! Kau tidak memangku! Kau bergelantungan! Kau bergelantungan seperti buah kurma di pohon! Kau kembali dengan cara yang paling lucu! Cara yang paling Abu Nawas!"

Abu Nawas tertawa. Tertawa yang keras, tertawa yang bebas, tertawa yang bergema di gerbang kota, tertawa yang membuat semua orang ikut tertawa, tertawa yang membuat dinding-dinding tembok kota bergetar, tertawa yang membuat burung-burung yang bertengger di atap-atap rumah terbang berhamburan.

"Nak," katanya di sela tawa, suaranya lantang, bergema, penuh kegembiraan, "aku tidak menyentuh tanah, kan? Kakiku menjuntai. Tidak ada yang menyentuh tanah. Tidak ada yang menginjak tanah. Tidak ada yang bersentuhan dengan tanah. Aku tidak menunggang keledai, kan? Aku tidak duduk di punggungnya. Aku tidak memangku. Aku tidak mengendarainya. Aku hanya… bergelantungan. Seperti buah. Seperti lampu. Seperti… Abu Nawas. Apakah itu melanggar aturan? Apakah itu menyentuh tanah? Apakah itu menunggang hewan? Tidak, Nak. Tidak. Aku menaati aturan. Aku menaati perintah Baginda Raja. Aku menaati… hukuman."

Keramaian di gerbang kota semakin besar. Kabar tentang kembalinya Abu Nawas dengan cara yang tidak biasa menyebar dengan cepat, seperti api di padang rumput kering, seperti air bah yang meluap dari sungai, seperti kabar tentang keajaiban yang tidak pernah berhenti membuat orang takjub. Dalam hitungan menit, semua orang di Baghdad sudah mendengar. Para pedagang di pasar yang paling jauh meninggalkan kios mereka, berlari menuju gerbang. Para pembeli yang sedang asyik menawar harga melupakan barang yang sudah hampir mereka beli, dan ikut berlari. Para anak-anak yang sedang bermain di pinggiran kota berlari sekencang mungkin, ingin melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Para wanita yang sedang memasak di dapur mereka keluar rumah, berlari dengan kain daster masih menempel di tubuh mereka. Para lelaki tua yang sedang duduk santai di kedai-kedai kopi berdiri, berjalan secepat mungkin, ingin menyaksikan keajaiban yang akan diceritakan kepada anak cucu mereka.

Semua ingin melihat. Semua ingin tahu. Semua ingin… tertawa. Tertawa pada keledai yang berjalan dengan tenang, pada lelaki yang bergelantungan di bawah perutnya, pada pemandangan yang paling lucu, paling ajaib, paling Abu Nawas yang pernah mereka saksikan.

Dan di tengah keramaian itu, Abu Nawas bergelantungan di bawah perut keledai, dengan senyum yang lebar seperti bulan purnama, dengan mata yang berbinar-binar seperti bintang di langit malam, dengan suara yang lantang bergema di antara tembok-tembok kota.

"Wahai penduduk Baghdad!" serunya, suaranya bergema, penuh kegembiraan, penuh kemenangan. "Aku kembali! Aku kembali tanpa menyentuh tanah! Aku kembali tanpa menunggang hewan! Aku kembali dengan cara yang paling Abu Nawas! Sekarang, tolong, bawa aku ke istana! Aku ingin bertemu Baginda Raja! Aku ingin menunjukkan bahwa aku telah memenuhi hukuman! Aku ingin melihat wajah Syekh Abdul Jabal yang pasti pucat pasi! Aku ingin… tertawa bersama Baginda! Tertawa sepuas-puasnya! Tertawa sampai perut sakit! Tertawa sampai air mata keluar! Tertawa sampai… tidak ada yang bisa tertawa lagi!"

Kerumunan itu bergerak, mengiringi keledai yang berjalan perlahan menuju istana. Orang-orang berdesakan di belakang, di samping, di depan, ingin ikut, ingin melihat, ingin menjadi bagian dari sejarah. Anak-anak berlarian di antara kaki-kaki orang dewasa, tertawa, berteriak, melompat-lompat kegirangan. Para pedagang meninggalkan kios mereka tanpa rasa khawatir, karena hari ini adalah hari yang istimewa. Para penjaga gerbang yang seharusnya tetap di pos mereka, ikut berjalan, tidak bisa menahan diri. Dan di tengah-tengah semua itu, Abu Nawas bergelantungan di bawah perut keledai, dengan senyum yang tidak pernah pudar, dengan tawa yang tidak pernah berhenti, dengan kemenangan yang tidak bisa direbut oleh siapa pun.


BAB 8: PERDEBATAN BESAR DI ISTANA

Kabar tentang kembalinya Abu Nawas dengan cara yang tidak biasa sampai ke istana lebih cepat dari yang dibayangkan. Seorang penjaga gerbang istana yang kebetulan sedang bertugas di gerbang utama ketika kerumunan mulai mendekat, melihat dari kejauhan rombongan besar orang-orang yang berjalan menuju istana, dengan seorang lelaki bergelantungan di bawah perut keledai di tengah-tengah mereka. Ia berlari ke dalam dengan wajah terbelalak, dengan napas terengah-engah, dengan suara yang nyaris tidak bisa keluar karena terlalu terkejut.

"Baginda! Baginda!" teriak penjaga itu, jatuh tersungkur di hadapan singgasana, suaranya memecah keheningan aula yang sedang sunyi karena semua orang sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. "Abu Nawas! Abu Nawas kembali! Abu Nawas kembali dengan… dengan cara yang aneh! Dengan cara yang tidak pernah kita duga! Dengan cara yang… membuat semua orang tertawa! Ia bergelantungan! Bergelantungan di bawah perut keledai! Kakinya tidak menyentuh tanah! Ia tidak menunggang keledai! Ia hanya… bergelantungan!"

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri dari singgasananya dengan gerakan yang cepat, tidak seperti biasanya yang lambat dan penuh wibawa. Matanya bersinar, senyumnya mengembang, hatinya berdebar seperti genderang perang. Ia sudah lama menunggu hari ini. Ia sudah lama menunggu kabar ini. Ia sudah lama menunggu… Abu Nawas.

"Apa yang kau lihat? Ceritakan! Jangan diam! Jangan tergesa-gesa! Ceritakan dengan jelas! Ceritakan setiap detail! Aku ingin tahu semuanya! Aku ingin membayangkannya! Aku ingin… tertawa!"

Penjaga itu menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, mengumpulkan kata-kata yang berserakan di pikirannya.

"Baginda, Abu Nawas datang dengan seekor keledai. Keledai tua, biasa saja, bukan keledai istimewa. Tapi ia tidak menunggang keledai. Ia tidak duduk di punggung keledai. Ia tidak memangku keledai. Ia bergelantungan. Bergelantungan di bawah perut keledai dengan kain tebal yang diikatkan di perut keledai. Kedua kakinya menjuntai, tidak menyentuh tanah, tidak menyentuh apa pun. Kedua tangannya menggenggam kain. Ia bergoyang-goyang pelan mengikuti langkah keledai. Ia tidak menunggang hewan. Ia tidak menyentuh tanah. Ia… bergelantungan! Seperti buah di pohon! Seperti lampu di langit-langit! Seperti… Abu Nawas!"

Aula bergemuruh. Para pejabat berdiri dari kursi mereka, saling berpandangan, saling bertanya, saling berdebat. Ada yang tertawa terbahak-bahak, tidak bisa menahan diri. Ada yang terkejut, mulut terbuka lebar, tidak percaya. Ada yang marah, karena merasa dipermainkan. Ada yang kagum, karena tidak menyangka Abu Nawas bisa secerdas itu.

"Mustahil!" seru Syekh Abdul Jabal, suaranya memecah keramaian, wajahnya merah padam, tangannya mengepal, matanya menyala-nyala seperti bara api. "Itu tetap menggunakan hewan! Itu tetap bersentuhan dengan hewan! Itu tetap…"

"Syekh," potong Amr bin Hisham, yang sejak tadi menahan tawa, kini tidak bisa menahan lagi, suaranya pecah di sela-sela tawa, "Abu Nawas tidak menunggang hewan. Ia bergelantungan. Ada perbedaan besar antara menunggang dan bergelantungan. Menunggang berarti duduk di atas. Bergelantungan berarti… bergantung. Tidak ada yang melanggar aturan. Tidak ada yang…"

"Kau tidak mengerti!" potong Syekh Abdul Jabal, suaranya nyaris berteriak, tangannya menunjuk ke arah Amr, matanya melotot. "Aturan itu jelas! Aturan itu tegas! Aturan itu…"

"Syekh," potong Imam Marzuki, yang sejak tadi duduk dengan tenang, dengan senyum tipis, dengan mata yang berbinar-binar, suaranya tenang tetapi bergema di ruangan yang mulai sunyi karena semua orang menoleh ke arahnya, "aturan itu memang jelas. Aturan itu memang tegas. Tapi aturan itu tidak mengatakan bahwa Abu Nawas tidak boleh bergelantungan di bawah hewan. Aturan itu hanya mengatakan: tidak boleh menunggang hewan ternak. Dan Abu Nawas tidak menunggang. Ia bergelantungan. Itu adalah tafsir. Itu adalah logika. Itu adalah… kecerdikan. Kecerdikan yang tidak bisa kalah oleh aturan yang kaku. Kecerdikan yang tidak bisa ditaklukkan oleh takdir. Kecerdikan yang… Abu Nawas."

Syekh Abdul Jabal tidak bisa menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, dengan mulut terbuka, dengan mata terbelalak, dengan tangan gemetar, dengan harga diri yang hancur berkeping-keping. Ia telah kalah. Kalah oleh seorang pelawak. Kalah oleh logika sederhana. Kalah oleh… akal sehat.

Di tengah perdebatan yang semakin memanas, Abu Nawas masuk ke Aula Singgasana Agung. Ia masih bergelantungan di bawah perut keledai, dengan jubah yang berkibar-kibar, dengan senyum yang lebar, dengan mata yang berbinar-binar. Keledai itu berjalan perlahan, tenang, tidak terganggu oleh keramaian di sekelilingnya, seolah-olah ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Di belakangnya, kerumunan orang-orang Baghdad yang mengiringinya berdesakan di pintu, ingin melihat, ingin mendengar, ingin… tertawa.

"Baginda!" seru Abu Nawas dari bawah perut keledai, suaranya bergema di aula yang sunyi, bergema di antara tiang-tiang marmer yang tinggi, bergema di langit-langit yang dihiasi ukiran kaligrafi emas. "Aku kembali! Aku kembali tanpa menyentuh tanah! Aku kembali tanpa menunggang hewan! Aku kembali dengan cara yang paling Abu Nawas! Apakah aku telah memenuhi hukuman? Apakah aku boleh kembali ke Baghdad? Apakah aku boleh duduk di kedai Al-Farabi lagi? Apakah aku boleh makan kurma Sukkari lagi? Apakah aku boleh… tertawa bersama Baginda?"

Aula sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara napas keledai terdengar jelas. Sunyi yang begitu berat hingga beberapa pejabat yang tadinya tertawa, kini berhenti, menahan napas. Sunyi yang begitu mencekam hingga tidak ada yang berani bersuara, tidak ada yang berani bergerak, tidak ada yang berani… bernapas.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri dari singgasananya. Ia berjalan mendekati Abu Nawas, berjalan mendekati keledai yang masih setia berdiri dengan tenang di tengah aula yang megah, berjalan mendekati pemandangan yang paling lucu yang pernah ia lihat dalam hidupnya. Ia berjalan perlahan, langkah demi langkah, dengan mata yang tidak berkedip, dengan senyum yang mulai mengembang, dengan hati yang berdebar. Ia menatap Abu Nawas yang bergelantungan di bawah perut keledai, dengan jubah yang berkibar, dengan senyum yang lebar, dengan mata yang berbinar. Ia menatap lama. Kemudian ia tertawa.

Tertawa yang keras, tertawa yang bebas, tertawa yang bergema di seluruh aula, tertawa yang membuat semua orang ikut tertawa, tertawa yang membuat dinding-dinding marmer bergetar, tertawa yang membuat langit-langit yang tinggi bergema, tertawa yang membuat… Syekh Abdul Jabal menunduk. Menunduk dalam-dalam, tidak berani mengangkat kepala, tidak berani menatap siapa pun, tidak berani… mengakui bahwa ia telah kalah.

"Abu Nawas," kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid di sela tawa, suaranya nyaris tidak terdengar karena terlalu banyak tertawa, "kau… kau benar-benar gila! Kau benar-benar tidak bisa ditebak! Kau benar-benar… Abu Nawas! Hanya kau yang bisa berpikir seperti ini! Hanya kau yang bisa melakukan ini! Hanya kau yang bisa… bergelantungan di bawah perut keledai untuk memenuhi hukuman yang mustahil!"


BAB 9: LOGIKA YANG TAK TERBANTAHKAN

Setelah tawa mereda, setelah semua orang kembali duduk di kursi mereka dengan napas yang masih terengah-engah karena terlalu banyak tertawa, setelah keledai dibawa ke halaman istana untuk diberi makan dan minum—karena Abu Nawas memintanya dengan tegas, dengan alasan bahwa keledai itu telah bekerja keras membawanya pulang sejauh bermil-mil dan tidak boleh diabaikan begitu saja, dan karena Abu Nawas adalah Abu Nawas, tidak ada yang berani menolak—Abu Nawas berdiri di tengah aula, dengan jubah lusuh yang sama, dengan sandal aus yang sama, dengan senyum misterius yang sama, dan dengan sekantong kurma yang baru saja ia ambil dari dapur istana karena jatah mingguannya baru akan diberikan besok, dan ia tidak bisa menunggu, karena setelah perjalanan panjang, ia membutuhkan kurma untuk mengembalikan tenaganya.

"Baginda," katanya, suaranya tenang, tidak terpengaruh oleh kegemparan yang baru saja terjadi, "aku telah memenuhi hukuman. Aku tidak menyentuh tanah. Aku tidak menunggang hewan. Aku kembali ke Baghdad dengan selamat. Apakah ada yang ingin memprotes? Apakah ada yang ingin membantah? Apakah ada yang ingin… berdebat? Apakah Syekh Abdul Jabal masih ingin mengatakan bahwa ini mustahil? Apakah para ahli supranatural masih ingin mengatakan bahwa tidak ada manusia yang bisa melawan takdir? Apakah mereka masih ingin…"

Syekh Abdul Jabal berdiri. Wajahnya masih merah, matanya masih menyala, tangannya masih gemetar. Ia tidak bisa menerima kekalahan. Ia tidak bisa menerima bahwa seorang pelawak, seorang pemakan kurma dari pinggiran Baghdad, telah mengalahkannya. Ia tidak bisa menerima bahwa logika sederhana telah mengalahkan ilmu gaib yang ia pelajari selama puluhan tahun.

"Abu Nawas!" serunya, suaranya meninggi, tangannya menunjuk ke arah Abu Nawas, matanya melotot. "Kau menggunakan keledai! Kau bersentuhan dengan keledai! Itu sama saja dengan menunggang! Itu…"

"Syekh," potong Abu Nawas dengan suara yang tenang, tidak terpengaruh oleh amarah Syekh Abdul Jabal, "apakah Syekh pernah melihat orang menunggang keledai dengan bergelantungan di bawah perutnya? Apakah Syekh pernah melihat seorang pengendara duduk di bawah hewan yang ditungganginya? Apakah Syekh pernah melihat…"

"Jangan main-main dengan kata-kata!" potong Syekh Abdul Jabal, suaranya nyaris berteriak, wajahnya merah padam, tangannya mengepal. "Kau tahu maksud aturan itu! Kau tahu bahwa kau tidak boleh menggunakan hewan sama sekali! Kau tahu bahwa…"

"Syekh," potong Abu Nawas lagi, suaranya masih tenang, tidak terpengaruh oleh amarah yang meluap-luap, "aturan itu tidak mengatakan bahwa aku tidak boleh menggunakan hewan. Aturan itu mengatakan: tidak boleh menunggang hewan ternak. Dan aku tidak menunggang. Aku bergelantungan. Itu adalah fakta. Itu adalah kenyataan. Itu adalah… kebenaran. Kebenaran yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Kebenaran yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Kebenaran yang… ada di depan mata Syekh."

Ia mengambil kurma dari kantongnya, memutarnya di antara jari-jarinya dengan gerakan yang lambat, penuh pertimbangan, seperti seorang filsuf yang sedang merenungkan makna kehidupan.

"Syekh, Syekh adalah ahli supranatural. Syekh terbiasa menafsirkan mimpi, membaca bintang, menebar pasir. Syekh terbiasa melihat makna di balik makna, simbol di balik simbol, rahasia di balik rahasia. Syekh terbiasa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Tapi apakah Syekh lupa bahwa aturan juga perlu ditafsirkan? Apakah Syekh lupa bahwa kata-kata juga memiliki makna? Apakah Syekh lupa bahwa… tidak semua yang tidak dilarang itu terlarang? Apakah Syekh lupa bahwa ada celah di setiap aturan? Celah yang bisa dimasuki oleh akal. Celah yang bisa dimanfaatkan oleh kecerdikan. Celah yang… Abu Nawas."

Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan, menikmati setiap detiknya, membuat Syekh Abdul Qadir yang sudah tidak sabar semakin tidak sabar.

"Syekh, aturan itu jelas. Aturan itu mengatakan: tidak boleh menyentuh tanah. Aku tidak menyentuh tanah. Aturan itu mengatakan: tidak boleh menunggang hewan ternak. Aku tidak menunggang hewan ternak. Aku menaati aturan. Aku menaati perintah. Aku menaati… Baginda Raja. Bukan tafsir Syekh. Bukan keyakinan Syekh. Bukan… takdir yang Syekh bicarakan. Tapi aturan. Aturan yang tertulis. Aturan yang diucapkan. Aturan yang… harus ditaati."

Syekh Abdul Jabal tidak bisa menjawab. Ia hanya duduk kembali, dengan wajah pucat, dengan tangan yang tidak lagi gemetar karena marah, tetapi gemetar karena… malu. Malu karena ia terlalu sombong. Malu karena ia terlalu percaya diri. Malu karena ia terlalu yakin bahwa ia benar. Malu karena ia lupa bahwa aturan bisa ditafsirkan. Malu karena ia lupa bahwa logika bisa mengalahkan keyakinan buta. Malu karena ia lupa bahwa… Abu Nawas selalu menemukan jalan.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri. Ia berjalan mendekati Abu Nawas, berdiri tepat di hadapannya, menatap matanya dengan mata yang berbinar, dengan senyum yang lebar, dengan hati yang penuh kekaguman.

"Abu Nawas," katanya, "kau telah memenuhi hukuman. Kau telah kembali ke Baghdad. Kau telah kembali tanpa menyentuh tanah. Kau telah kembali tanpa menunggang hewan. Kau telah… menang. Menang melawan aturan yang kaku. Menang melawan takdir yang dianggap mustahil. Menang melawan… semua yang meragukanmu."

Ia menepuk pundak Abu Nawas dengan lembut, dengan penuh kebanggaan, dengan penuh kasih sayang.

"Abu Nawas, kau telah mengajarkanku sesuatu yang tidak diajarkan oleh para ahli supranatural, para pejabat, atau para ilmuwan. Kau mengajarkanku bahwa batas itu tidak untuk menghentikan akal, tetapi untuk mengujinya. Kau mengajarkanku bahwa peraturan yang kaku akan kalah oleh pikiran yang lentur. Kau mengajarkanku bahwa… kecerdikan bukan melanggar aturan, tetapi memahami celah di dalamnya. Kau mengajarkanku bahwa… tidak ada yang mustahil bagi mereka yang tidak pernah berhenti berpikir."


BAB 10: PENGAKUAN BAGINDA

Aula Singgasana Agung sore itu berubah menjadi lautan tawa. Para pejabat yang tadinya serius, kini tertawa terbahak-bahak, tidak bisa menahan diri. Para ahli supranatural yang tadinya sombong, kini terdiam, menunduk, tidak berani mengangkat kepala. Para penjaga yang tadinya tegang, kini tersenyum, lega, bahagia. Dan di tengah semua tawa itu, Abu Nawas berdiri dengan jubah lusuh, dengan senyum misterius, dengan kurma di tangannya.

"Baginda," katanya, "aku tidak menang. Aku hanya… tidak kalah. Aku hanya… menemukan jalan. Aku hanya… berpikir. Berpikir bahwa batas itu tidak untuk menghentikan akal, tetapi untuk mengujinya. Berpikir bahwa peraturan yang kaku akan kalah oleh pikiran yang lentur. Berpikir bahwa… selalu ada jalan. Selalu. Untuk siapa pun yang mau… berpikir. Untuk siapa pun yang mau… mencari. Untuk siapun yang mau… tidak takut pada batas."

Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Kau benar, Abu Nawas. Selalu ada jalan. Untuk siapa pun yang mau berpikir. Dan kau, Abu Nawas, adalah orang yang paling mau berpikir. Orang yang paling berani. Orang yang paling… tidak takut pada batas. Orang yang paling… Abu Nawas."

Ia berbalik menghadap semua orang yang hadir, matanya menatap satu per satu wajah para pejabat, para penasihat, para komandan, para ahli supranatural.

"Para hadirin," katanya, suaranya bergema di aula yang mulai sunyi karena semua orang menahan tawa untuk mendengarkan, "mulai hari ini, aku mengakui bahwa Abu Nawas telah memenuhi hukuman. Ia telah kembali ke Baghdad. Ia telah kembali tanpa menyentuh tanah. Ia telah kembali tanpa menunggang hewan. Ia telah… membuktikan bahwa kecerdikan bisa mengalahkan batas. Bahwa logika bisa mengalahkan takdir. Bahwa… akal sehat adalah pelindung terbaik. Bahwa… tidak ada yang mustahil bagi mereka yang tidak pernah berhenti berpikir."

Para pejabat bertepuk tangan. Tepuk tangan yang keras, tepuk tangan yang riuh, tepuk tangan yang bergema di seluruh aula, tepuk tangan yang membuat dinding-dinding marmer bergetar, tepuk tangan yang membuat langit-langit yang tinggi bergema.

Syekh Abdul Jabal dan para ahli supranatural tidak bertepuk tangan. Mereka hanya duduk di tempat mereka, dengan wajah pucat, dengan hati yang malu, dengan keyakinan yang hancur berkeping-keping. Mereka telah kalah. Kalah oleh seorang pelawak. Kalah oleh logika sederhana. Kalah oleh… akal sehat. Kalah oleh seorang yang tidak pernah takut pada batas. Kalah oleh seorang yang tidak pernah berhenti berpikir. Kalah oleh… Abu Nawas.

Imam Marzuki berjalan mendekati Abu Nawas, berdiri di hadapannya, menatap matanya dengan mata yang penuh hormat, dengan senyum yang tulus, dengan hati yang kagum.

"Abu Nawas," katanya, "kau telah mengajarkanku sesuatu yang tidak pernah aku pelajari dalam lima puluh tahun mengabdi di istana. Kau mengajarkanku bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari kitab. Kau mengajarkanku bahwa kebenaran tidak selalu datang dari para ahli. Kau mengajarkanku bahwa… kadang-kadang, seorang pelawak bisa menjadi guru terbaik. Kadang-kadang, tawa bisa menjadi senjata paling ampuh. Kadang-kadang, akal sehat bisa mengalahkan semua ilmu gaib di dunia ini."

Abu Nawas tersenyum. "Imam, Imam terlalu baik. Saya hanya seorang yang suka kurma. Saya hanya seorang yang suka berpikir. Saya hanya seorang yang… tidak takut pada batas. Karena batas, Imam, tidak untuk dihormati. Batas adalah untuk… diuji. Untuk dilampaui. Untuk… ditertawakan. Dan ketika kita tertawa pada batas, Imam, batas itu akan runtuh dengan sendirinya. Ketika kita tidak takut pada aturan, Imam, aturan itu akan membuka jalannya sendiri. Ketika kita tidak pernah berhenti berpikir, Imam, tidak ada yang mustahil."


EPILOG: TAWA DAN PELAJARAN

Beberapa hari kemudian, setelah istana kembali tenang, setelah para pejabat kembali bekerja dengan semangat baru, setelah Syekh Abdul Jabal dan para ahli supranatural pulang ke rumah mereka dengan ekor di antara kaki—seperti yang dikatakan oleh Abu Nawas, dengan senyum yang lebar, dengan tawa yang tidak bisa ditahan—Abu Nawas duduk di Kedai Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan.

Di depannya, segelas air tajin dingin yang masih segar, semangkok kurma Sukkari yang mengilap seperti batu akik—jatah mingguan yang baru saja ia ambil dari istana pagi ini—dan sebotol kecil anggur yang ia sembunyikan di balik jubahnya, meskipun ia sudah berjanji pada Jafar untuk tidak minum anggur di tempat umum. Janji, pikirnya, adalah sesuatu yang mulia. Tapi anggur, pikirnya, juga sesuatu yang mulia. Dan terkadang, dua hal yang mulia bisa berdampingan dengan damai, asalkan tidak ada yang tahu.

Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk tidak dikenali oleh pengunjung lain—meskipun semua orang di kedai itu sudah tahu bahwa lelaki tampan dengan jubah sederhana itu adalah Wazir terkuat di kekhalifahan. Jafar tampak lebih santai dari biasanya, lebih tenang, lebih… bahagia. Mungkin karena Abu Nawas telah kembali. Mungkin karena istana kembali tenang. Mungkin karena Baginda Raja tertawa lagi. Mungkin karena… ia juga belajar sesuatu dari perkara ini.

Di samping Jafar, duduk Amr bin Hisham dan beberapa pejabat muda lainnya yang ingin belajar dari Abu Nawas, yang ingin mendengar cerita-ceritanya, yang ingin… tertawa. Mereka datang ke kedai ini atas undangan Abu Nawas, untuk belajar, untuk merenung, untuk… tertawa. Tertawa pada batas yang mereka kira mustahil. Tertawa pada aturan yang mereka kira tidak bisa dilanggar. Tertawa pada ketakutan yang selama ini menguasai mereka.

"Abu Nawas," kata Jafar sambil menyesap air tajin yang ia pesan agar tidak mencolok—meskipun air tajin di kedai ini tidak pernah seenak air tajin di istana, tetapi ia tidak keberatan, karena suasana di sini lebih santai, lebih bebas, lebih… manusiawi, "aku masih penasaran dengan satu hal. Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sejak perkara hukuman itu selesai."

Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan mengunyah dengan malas, menikmati setiap detiknya. "Apa, Wazirku yang mulia? Apakah tentang keledai? Tentang kain? Tentang bergelantungan? Tentang para ahli supranatural yang pulang dengan ekor di antara kaki? Tentang Baginda Raja yang tertawa sampai perutnya sakit? Karena itu, Wazir, adalah pemandangan yang tidak akan pernah kau lupakan, bukan? Para ahli supranatural yang selama ini sombong, akhirnya terdiam. Para pejabat yang selama ini ragu, akhirnya tertawa. Baginda Raja yang selama ini gelisah, akhirnya… lega. Lega karena Abu Nawas kembali. Lega karena kecerdikan masih hidup. Lega karena… tawa masih ada di istana."

Amr bin Hisham tertawa. "Abu Nawas, kau benar. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari ketika kau bergelantungan di bawah perut keledai, dengan jubah yang berkibar, dengan senyum yang lebar, dengan mata yang berbinar. Hari ketika para ahli supranatural tidak bisa berkata-kata. Hari ketika Baginda Raja tertawa sepuas-puasnya. Hari ketika… aku belajar bahwa batas itu tidak untuk menghentikan akal, tetapi untuk mengujinya. Hari ketika aku belajar bahwa… tidak ada yang mustahil bagi mereka yang tidak pernah berhenti berpikir."

Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara jari-jarinya dengan gerakan yang lambat, penuh pertimbangan, seperti seorang filsuf yang sedang merenungkan makna kehidupan.

"Tuan Amr," katanya, "Tuan masih muda. Tuan masih punya banyak waktu untuk belajar. Tuan masih punya banyak kesempatan untuk tumbuh. Tapi ingatlah, belajar tidak berhenti di sini. Memahami tidak berakhir di sini. Kehidupan, Tuan, adalah perjalanan panjang yang penuh dengan batas-batas yang perlu diuji. Penuh dengan aturan-aturan yang perlu ditafsirkan. Penuh dengan jalan-jalan yang perlu ditemukan. Dan kebijaksanaan, Tuan, bukanlah tentang mengikuti aturan. Kebijaksanaan adalah tentang… memahami aturan. Menemukan celahnya. Menggunakannya. Dan… tertawa. Tertawa pada batas. Tertawa pada aturan. Tertawa pada… diri sendiri."

Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan, menikmati setiap gigitan, setiap kunyahan, setiap rasa manis yang meleleh di lidahnya.

"Seperti hukuman itu, Tuan. Hukuman itu tampak mustahil. Tampak tidak bisa dilanggar. Tampak tidak bisa dipenuhi. Tampak seperti akhir dari segalanya. Tapi dengan berpikir, dengan mencari, dengan… tidak takut, kita bisa menemukan jalan. Selalu ada jalan. Untuk siapa pun yang mau… berpikir. Untuk siapa pun yang mau… mencoba. Untuk siapa pun yang mau… tidak takut pada batas. Untuk siapa pun yang mau… menjadi Abu Nawas."

Jafar mengangkat mangkuk air tajinnya, matanya berbinar, senyumnya lebar. "Untuk akal, Abu Nawas. Untuk keberanian. Untuk… tidak takut pada batas. Untuk… Abu Nawas."

Abu Nawas mengangkat mangkuk air tajinnya—setelah dengan cepat menyembunyikan botol anggur di balik jubahnya, karena ia tidak ingin Amr dan para pejabat muda melihat bahwa ia hampir melanggar janji, karena mereka adalah orang-orang yang baru belajar, dan orang yang baru belajar biasanya mudah terkejut melihat seorang pelawak minum anggur di pagi hari.

"Untuk akal, Wazir. Dan untuk kurma Sukkari yang manisnya pas. Untuk keledai yang setia membawaku pulang. Untuk kain yang tidak putus di tengah jalan. Untuk Baginda Raja yang tertawa. Untuk Syekh Abdul Jabal yang pulang dengan ekor di antara kaki. Untuk… Baghdad. Baghdad yang selalu punya cerita. Baghdad yang selalu punya tawa. Baghdad yang selalu punya… Abu Nawas."


Di luar kedai, matahari mulai terbenam di ufuk barat, mencelupkan Sungai Tigris dalam warna jingga dan emas, menciptakan pantulan yang berkilau seperti emas cair di permukaan air yang tenang. Di kejauhan, dari arah istana, terdengar suara tawa Baginda Raja Harun Al-Rasyid—tawa yang bergema di senja Baghdad, tawa yang membawa kedamaian bagi kota yang selalu haus akan keadilan, tawa yang mengingatkan semua orang bahwa di tengah kekuasaan yang berat, di tengah intrik yang rumit, di tengah kebohongan yang bersembunyi di balik senyum, masih ada ruang untuk tawa. Masih ada ruang untuk akal. Masih ada ruang untuk kebebasan. Kebebasan untuk berpikir. Kebebasan untuk mencari. Kebebasan untuk… tidak takut pada batas. Kebebasan untuk… menjadi Abu Nawas.

Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap air tajinnya, mengambil kurma terakhir di mangkuk, melemparkannya ke udara, dan menangkapnya dengan mulut.

"Batas itu," gumamnya sambil mengunyah, "tidak untuk menghentikan akal, tetapi untuk mengujinya. Karena batas, wahai saudara-saudaraku, adalah tantangan. Tantangan untuk berpikir. Tantangan untuk mencari. Tantangan untuk menemukan jalan. Jalan yang tidak pernah dilihat orang lain. Jalan yang tidak pernah dilalui orang lain. Jalan yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang… tidak takut. Tidak takut pada batas. Tidak takut pada aturan. Tidak takut pada… diri sendiri. Tidak takut pada… mereka yang mengatakan bahwa tidak mungkin."

Ia memanggil pelayan kedai untuk yang ketiga kalinya malam itu.

"Nak, tambah kurma satu mangkuk. Dan air tajin satu gelas. Saya sedang merenungkan sesuatu yang sangat berat: apakah batas itu untuk dihormati atau diuji? Apakah aturan itu untuk diikuti atau ditafsirkan? Apakah keledai itu lebih pintar dari para ahli supranatural? Apakah Syekh Abdul Jabal sudah pulang ke rumahnya? Apakah ia masih merah padam wajahnya? Apakah ia sudah belajar untuk tidak sombong? Ini teka-teki yang tidak kalah pentingnya dari hukuman tanpa tanah. Dan saya, Nak, tidak akan bisa tidur sebelum teka-teki ini terjawab."

Pelayan itu tertawa, bergegas mengambil pesanan.

Dan di luar, di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema, mengingatkan semua orang bahwa batas itu tidak untuk menghentikan akal, tetapi untuk mengujinya. Bahwa peraturan yang kaku akan kalah oleh pikiran yang lentur. Bahwa kecerdikan bukan melanggar aturan, tetapi memahami celah di dalamnya. Bahwa tidak ada yang mustahil bagi mereka yang tidak pernah berhenti berpikir. Bahwa… Abu Nawas, pelawak dari pinggiran Baghdad, adalah guru terbaik yang pernah dimiliki istana ini. Guru yang mengajarkan dengan tawa. Guru yang mengajarkan dengan kurma. Guru yang mengajarkan dengan… bergelantungan di bawah perut keledai.

TAMAT

Kata Bijak  Abu Nawas:

"Batas itu tidak untuk menghentikan akal, tetapi untuk mengujinya. Karena batas adalah tantangan. Tantangan untuk berpikir. Tantangan untuk mencari. Tantangan untuk menemukan jalan. Jalan yang tidak pernah dilihat orang lain. Jalan yang tidak pernah dilalui orang lain. Jalan yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tidak takut. Tidak takut pada batas. Tidak takut pada aturan. Tidak takut pada diri sendiri. Maka, hadapilah batas dengan akal. Ujilah dengan keberanian. Dan tertawalah pada mereka yang mengatakan bahwa tidak mungkin. Karena tidak mungkin, wahai saudara-saudaraku, hanyalah kata yang belum menemukan caranya. Dan caranya, wahai saudara-saudaraku, adalah… berpikir. Berpikir tanpa henti. Berpikir tanpa takut. Berpikir tanpa… batas."

— Abu Nawas, di Kedai Al-Farabi, pinggiran Baghdad

 

0 komentar:

Posting Komentar