Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid
Novelet Serial Abunawas Edisi I: Kecerdikan Akal dan Logika
Episode 7: Ramalan Bayangan yang Mengguncang Istana Baghdad
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG: RAMALAN YANG MENAKUTKAN
Di tengah keheningan malam yang menyelimuti istana Baghdad,
ketika bulan purnama bersinar terang di atas kubah-kubah emas, ketika angin
malam berhembus lembut membawa aroma bunga melati dari taman dalam, ketika para
penjaga istana mulai mengantuk di pos-pos mereka setelah seharian berjaga,
sebuah kabar mengejutkan mulai menyebar dari satu telinga ke telinga lain, dari
satu ruangan ke ruangan lain, dari satu hati ke hati lain. Kabar yang tidak
hanya membuat bulu kuduk berdiri, tetapi juga mengguncang fondasi kekuasaan
yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Kabar yang datang bukan dari medan
perang, bukan dari utusan asing, bukan dari pemberontak di daerah terpencil,
tetapi dari dalam istana sendiri. Dari seorang peramal istana. Seorang lelaki
tua yang selama ini dihormati karena kemampuannya melihat masa depan, membaca
tanda-tanda di langit, menafsirkan mimpi-mimpi, dan berkomunikasi dengan dunia
gaib.
Ramalan itu sederhana. Hanya satu kalimat. Tapi kalimat
itu, bagi yang mendengarnya, lebih berat dari seribu pedang yang terhunus,
lebih tajam dari seribu pisau yang diasah, lebih mematikan dari seribu racun
yang dicampur.
"Baginda Raja Harun Al-Rasyid akan kehilangan tahta
dalam waktu dekat."
Tidak ada yang tahu persis bagaimana ramalan itu pertama
kali keluar. Ada yang mengatakan bahwa peramal itu mendapat ilham dalam
mimpinya, ketika roh-roh leluhur datang berkunjung dan berbisik di telinganya.
Ada yang mengatakan bahwa ia membaca pola bintang-bintang di langit malam, dan
konstelasi tertentu menunjukkan bahwa takhta kekhalifahan akan berguncang. Ada
yang mengatakan bahwa ia melihat bayangan di dalam cermin air, bayangan yang
tidak memiliki bentuk tetapi berbicara dengan suara yang tidak berasal dari
dunia ini. Ada yang mengatakan bahwa ia hanya… meramalkan. Seperti yang selalu
ia lakukan. Tapi kali ini, ramalannya tidak seperti biasanya. Kali ini,
ramalannya mengenai sang raja. Kali ini, ramalannya mengancam stabilitas
kekhalifahan. Kali ini, ramalannya… terlalu dekat dengan ketakutan terdalam
setiap manusia: kehilangan kekuasaan, kehilangan kehormatan, kehilangan
segalanya.
Kabar itu menyebar dengan kecepatan yang luar biasa. Dalam
hitungan jam, semua orang di istana sudah mendengar. Para penjaga berbisik di
barak-barak mereka, saling bertukar cerita, saling menguatkan ketakutan, saling
meyakinkan bahwa ramalan itu pasti benar karena peramal itu tidak pernah salah.
Para pelayan berbisik di dapur-dapur, saling bertanya, saling menebak, saling
berdoa agar ramalan itu tidak menjadi kenyataan. Para dayang berbisik di
kamar-kamar mereka, saling memeluk, saling menangis, saling membayangkan
bagaimana jadinya jika Baginda Raja jatuh. Para pejabat istana berbisik di
koridor-koridor marmer, saling curiga, saling menuduh, saling bertanya-tanya
siapa yang akan menggantikan Baginda Raja, siapa yang akan mengambil alih
kekuasaan, siapa yang akan menjadi… ancaman.
Dan di tengah semua bisik-bisik itu, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid duduk di singgasananya pada siang hari, dengan wajah yang tidak
menunjukkan apa pun, dengan mata yang tajam, dengan pikiran yang bekerja keras.
Ia tidak percaya pada ramalan. Ia adalah raja yang rasional, yang telah
memerintah selama bertahun-tahun, yang telah menghadapi berbagai macam ancaman,
yang telah melihat berbagai macam kebohongan. Tapi ramalan ini… ramalan ini
membuatnya ragu. Bukan karena ia percaya pada kekuatan gaib. Tapi karena ia
tahu bahwa ketakutan adalah senjata yang paling ampuh. Dan seseorang, di suatu
tempat, sedang menggunakan senjata itu. Untuk tujuan yang tidak jelas. Untuk
kepentingan yang tidak diketahui. Untuk… menjatuhkannya.
Ia telah memerintahkan para penasihatnya untuk menyelidiki
asal-usul ramalan itu. Mereka tidak menemukan apa pun. Peramal itu hanya
mengatakan bahwa ia mendapat ilham. Tidak ada bukti. Tidak ada saksi. Tidak ada
yang bisa diverifikasi. Hanya… keyakinan. Keyakinan yang semakin hari semakin
kuat, semakin hari semakin luas, semakin hari semakin… merusak.
Ia telah memerintahkan para ahli supranatural untuk
menafsirkan ramalan itu. Mereka datang dengan berbagai teori. Ada yang
mengatakan bahwa ini adalah peringatan dari leluhur yang tidak puas. Ada yang
mengatakan bahwa ini adalah ujian dari makhluk halus yang menjaga istana. Ada
yang mengatakan bahwa ini adalah kutukan dari musuh yang tidak terlihat. Ada
yang mengatakan bahwa ini adalah… takdir. Takdir yang tidak bisa dihindari.
Takdir yang harus diterima. Takdir yang… menakutkan.
Ia telah memerintahkan para pejabatnya untuk meningkatkan
keamanan. Mereka menambah penjaga di setiap pintu, di setiap koridor, di setiap
sudut istana. Mereka memeriksa setiap orang yang masuk dan keluar. Mereka
menggeledah kamar-kamar para pejabat yang dicurigai. Mereka menangkap beberapa
orang yang dianggap "berpotensi" menjadi ancaman. Tapi tidak ada yang
ditemukan. Tidak ada senjata. Tidak ada surat. Tidak ada rencana. Tidak ada…
apa-apa. Hanya ketakutan. Ketakutan yang semakin besar, semakin dalam, semakin…
menghancurkan.
Dan setiap hari, ramalan itu terus menjadi perbincangan.
Setiap hari, ketakutan itu terus menyebar. Setiap hari, istana semakin kacau.
Sampai akhirnya, pada suatu pagi, ketika matahari baru saja terbit di ufuk
timur, menyinari istana dengan cahaya keemasan yang lembut, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid memanggil Jafar ke ruang pribadinya.
"Jafar," katanya, suaranya tenang tetapi ada nada
yang tidak biasa di dalamnya, nada yang sudah sangat dikenali oleh Jafar—nada
yang berarti bahwa Baginda Raja sedang memikirkan seseorang yang sama dengan
yang selalu ia pikirkan ketika menghadapi masalah yang tidak bisa dipecahkan
oleh kekuasaan, oleh kekuatan, oleh ketakutan. Nada yang berarti bahwa sudah
waktunya untuk memanggil orang yang tidak pernah takut pada apa pun, yang tidak
pernah percaya pada ramalan, yang tidak pernah goyah oleh ketakutan.
"Baginda?" Jafar mendekat, setengah tahu apa yang
akan keluar dari mulut Baginda Raja, setengah berharap bahwa kali ini mungkin
berbeda, mungkin Baginda Raja akan memanggil seorang ahli strategi, atau
seorang jenderal, atau seorang… pembunuh bayaran yang bisa menghabisi siapa pun
yang menjadi ancaman.
"Panggil Abu Nawas," kata Harun Al-Rasyid.
Jafar menghela napas. Tidak berbeda. Tidak pernah berbeda.
Setiap kali ada masalah yang tidak bisa dipecahkan, selalu Abu Nawas. Mahkota
hilang? Abu Nawas. Cermin retak? Abu Nawas. Pencuri bayangan? Abu Nawas. Surat
kosong? Abu Nawas. Suara gaib? Abu Nawas. Dan sekarang, ramalan yang
mengguncang istana? Abu Nawas lagi.
"Baginda," katanya, mencoba untuk terlihat tidak
terlalu putus asa, "apakah tidak ada ahli supranatural lain yang
bisa—"
"Jafar," potong Harun Al-Rasyid dengan suara yang
masih tenang tetapi tidak bisa dibantah, "kita sudah memiliki ahli
supranatural terbaik. Mereka sudah meramal. Mereka sudah menafsir. Mereka sudah
berdebat. Tidak ada yang berhasil. Ketakutan semakin besar. Istana semakin
kacau. Kita butuh sesuatu yang tidak dimiliki oleh para ahli
supranatural."
"Apa, Baginda?"
"Akal sehat. Logika. Keberanian untuk tidak takut. Dan
yang paling penting, Jafar, kemampuan untuk melihat bahwa kadang-kadang, yang
paling berbahaya bukan ramalan itu sendiri, tetapi kepercayaan buta
terhadapnya. Kemampuan untuk melihat bahwa ketakutan adalah senjata, dan
seseorang sedang menggunakan senjata itu untuk menjatuhkanku. Kemampuan untuk…
menemukan siapa yang di balik semua ini."
Jafar tidak bisa membantah. Ia hanya bisa mengangguk, membungkuk,
dan berjalan keluar untuk mengirim utusan ke kedai-kedai di pinggiran Baghdad,
ke tempat-tempat di mana Abu Nawas biasanya bersembunyi dari urusan dunia, ke
tempat-tempat di mana seorang pelawak yang bijaksana sedang menikmati kurma dan
air tajin sambil menunggu panggilan berikutnya—karena ia sudah tahu bahwa
panggilan itu akan datang. Ia selalu tahu.
BAB 1: ISTANA DALAM BAYANG-BAYANG KETAKUTAN
Tiga hari setelah ramalan itu pertama kali terdengar,
suasana istana berubah total. Tidak ada lagi tawa di koridor-koridor. Tidak ada
lagi canda di dapur-dapur. Tidak ada lagi syair yang dibacakan di taman-taman.
Yang ada hanyalah bisik-bisik, tatapan curiga, langkah tergesa-gesa, pintu yang
terkunci rapat, dan hati yang dipenuhi ketakutan.
Para pejabat yang biasanya duduk bersama di ruang pertemuan
untuk membahas urusan negara, kini duduk berjauhan, saling menjaga jarak,
saling mengamati, saling bertanya-tanya siapa di antara mereka yang akan
menjadi pengkhianat. Mereka yang biasanya bersahabat, kini menjadi lawan.
Mereka yang biasanya saling percaya, kini saling curiga. Mereka yang biasanya
tersenyum, kini hanya bisa menunduk.
Seorang pejabat bernama Ubaidillah bin Abdurrahman, yang
menjabat sebagai sekretaris pribadi Baginda Raja, tiba-tiba menjadi pusat kecurigaan
karena ia sering terlihat berbicara dengan peramal itu. Ia dipanggil oleh
kepala keamanan istana, diinterogasi selama berjam-jam, ditanya tentang setiap
kata yang pernah ia ucapkan, setiap langkah yang pernah ia ambil, setiap orang
yang pernah ia temui. Ia keluar dari ruang interogasi dengan wajah pucat,
dengan tangan gemetar, dengan hati yang hancur—bukan karena ia bersalah, tetapi
karena ia merasa tidak dipercaya.
Seorang komandan militer bernama Panglima Syahid al-Farisi,
yang dikenal sebagai pahlawan perang yang telah mengalahkan banyak musuh
kekhalifahan, tiba-tiba dicopot dari jabatannya tanpa alasan yang jelas. Hanya
karena ia memiliki hubungan keluarga dengan seorang pejabat yang dianggap
"berpotensi" menjadi ancaman. Ia tidak bisa membantah. Ia tidak bisa
membela diri. Ia hanya bisa menerima, dengan diam, dengan pasrah, dengan hati
yang terluka.
Seorang dayang tua bernama Ummu Salamah, yang telah
melayani keluarga kerajaan selama tiga puluh tahun, tiba-tiba diusir dari
istana tanpa pesangon, tanpa alasan, tanpa kesempatan untuk berpamitan. Hanya
karena ia pernah meramal masa depan dengan membaca butir-butir pasir—sebuah
kebiasaan yang selama tiga puluh tahun tidak pernah dianggap serius, tetapi
sekarang dianggap sebagai bukti bahwa ia terlibat dalam konspirasi untuk
menjatuhkan Baginda Raja.
Dan di tengah semua kekacauan itu, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid duduk di singgasananya, dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun,
dengan mata yang tidak berkedip, dengan pikiran yang berputar-putar. Ia telah
memerintahkan semua tindakan itu. Ia telah menyetujui semua penangkapan itu. Ia
telah membiarkan semua ketidakadilan itu. Bukan karena ia percaya pada ramalan.
Tapi karena… ia takut. Takut bahwa ramalan itu mungkin benar. Takut bahwa di
antara orang-orang yang ia percaya, ada yang akan mengkhianatinya. Takut bahwa
ia akan kehilangan segalanya.
Dan ketakutannya itu, ia sadari, adalah senjata yang paling
ampuh. Senjata yang digunakan oleh seseorang, di suatu tempat, untuk
menjatuhkannya. Tanpa pedang. Tanpa tentara. Tanpa perang. Hanya dengan…
ramalan. Hanya dengan… ketakutan.
BAB 2: PARA AHLI SUPRANATURAL BERDEBAT
Pada hari keempat setelah ramalan itu, Harun Al-Rasyid
memanggil semua ahli supranatural istana ke Aula Singgasana Agung. Ia ingin
mendengar pendapat mereka. Ia ingin tahu apa yang mereka lihat. Ia ingin tahu
apa yang mereka rasakan. Ia ingin tahu… apakah ramalan itu benar.
Aula Singgasana Agung pagi itu terasa berbeda. Lampu-lampu
minyak yang biasanya menyala terang, kali ini diredupkan. Dupa-dupa yang
biasanya digunakan untuk wewangian, kali ini dibakar lebih banyak, menciptakan
kabut tipis yang memenuhi ruangan, membuat segalanya terlihat kabur, seperti
mimpi, seperti dunia lain. Di tengah ruangan, berdiri para ahli supranatural
dalam lingkaran, dengan jubah-jubah hitam mereka, dengan simbol-simbol
misterius yang digambar di lantai dengan kapur, dengan mangkuk-mangkuk berisi
air mawar dan garam dan kemenyan.
Syekh Abdul Jabal, ketua para ahli supranatural, berdiri di
tengah lingkaran, dengan mata terpejam, dengan tangan terangkat ke langit,
dengan bibir yang komat-kamit membaca doa-doa yang tidak bisa didengar oleh
orang awam. Ia adalah orang yang sama yang tiga puluh tahun lalu meramalkan
kelahiran putra mahkota. Ia adalah orang yang sama yang dua puluh tahun lalu
meramalkan kemenangan dalam perang melawan Romawi. Ia adalah orang yang sama
yang sepuluh tahun lalu meramalkan bencana banjir yang melanda Basra. Dan
ramalannya, selama ini, selalu benar. Atau setidaknya, selalu dianggap benar.
Tidak ada yang pernah membuktikan sebaliknya.
"Syekh," kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid,
suaranya tenang tetapi berat, "aku memanggil kalian untuk mendengar. Untuk
mendengar apa yang kalian lihat. Untuk mendengar apa yang kalian rasakan. Untuk
mendengar… kebenaran. Apakah ramalan itu benar? Apakah aku akan kehilangan
tahta? Apakah ini takdir yang tidak bisa dihindari? Apakah ini… akhir dari
kekuasaanku?"
Syekh Abdul Jabal membuka matanya. Matanya sayu, seperti
orang yang baru saja melakukan perjalanan jauh, seperti orang yang baru saja
kembali dari dunia lain.
"Baginda," katanya, suaranya rendah, berat,
seperti guntur di kejauhan, "kami telah melakukan kontak. Kami telah
membaca bintang-bintang. Kami telah menafsirkan mimpi-mimpi. Kami telah
berkomunikasi dengan dunia gaib. Dan kami… kami sampai pada kesimpulan yang
sama. Ramalan itu… benar."
Ia berhenti, menghela napas panjang, mengusap wajahnya
dengan tangan yang gemetar.
"Baginda, bintang-bintang menunjukkan perubahan besar.
Konstelasi yang mengelilingi singgasana Baginda mulai bergeser. Ada kegelapan
yang menyelimuti cahaya kekhalifahan. Ada bayangan yang bergerak mendekat. Ada…
kekuatan yang tidak terlihat sedang menggerakkan sesuatu. Sesuatu yang akan
mengubah segalanya."
Seorang ahli supranatural lain, seorang lelaki muda bernama
Syekh Hasan al-Basri, yang terkenal dengan kemampuannya membaca mimpi, angkat
bicara. "Baginda, aku juga bermimpi. Mimpi yang sama, tiga malam
berturut-turut. Dalam mimpiku, aku melihat singgasana Baginda kosong. Mahkota
tergeletak di lantai. Dan di sekeliling singgasana, bayangan-bayangan hitam
berbisik-bisik. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bisikkan, tetapi aku
merasakan… ketakutan. Ketakutan yang begitu dalam. Ketakutan yang begitu
dingin. Ketakutan yang… mematikan."
Seorang ahli supranatural lain lagi, seorang lelaki tua
bernama Syekh Ibrahim al-Mishri, yang terkenal dengan kemampuannya membaca pola
pasir, juga angkat bicara. "Baginda, aku juga melakukan ramalan. Aku
menebar pasir di atas papan kayu. Aku membaca pola yang terbentuk. Dan pola
itu… pola itu menunjukkan keretakan. Keretakan di fondasi kekuasaan. Keretakan
yang tidak bisa diperbaiki. Keretakan yang akan menyebabkan… kehancuran."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya duduk
di singgasananya, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang tidak berkedip,
dengan pikiran yang berputar-putar. Semua ahli supranatural mengatakan hal yang
sama. Semua ramalan menunjukkan hal yang sama. Semua tanda mengarah ke hal yang
sama. Apakah ini benar? Apakah ini takdir? Apakah ini… akhir dari segalanya?
"Syekh," katanya, suaranya masih tenang tetapi
ada nada yang tidak biasa di dalamnya, nada yang tidak pernah ia tunjukkan
kepada siapa pun, bahkan kepada Jafar yang telah menjadi sahabatnya sejak
kecil, "apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan untuk
menghindari ramalan ini? Apa yang harus aku lakukan untuk melindungi tahtaku?
Apa yang harus aku lakukan untuk… selamat?"
Syekh Abdul Jabal menghela napas. "Baginda, ramalan
tidak bisa dihindari. Takdir tidak bisa dilawan. Apa yang tertulis di Lauh
Mahfuzh, akan terjadi. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Tidak ada doa. Tidak
ada ritual. Tidak ada pengorbanan. Yang bisa kita lakukan hanyalah… menerima.
Mempersiapkan diri. Dan… berdoa. Berdoa agar apa pun yang terjadi, Baginda
diberi kekuatan untuk menghadapinya."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya duduk
di singgasananya, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang menerawang ke
suatu tempat di kejauhan, ke suatu tempat yang tidak bisa dilihat oleh siapa
pun. Menerima? Mempersiapkan diri? Berdoa? Apakah itu yang harus ia lakukan?
Apakah itu yang bisa ia lakukan? Apakah tidak ada cara untuk melawan? Apakah
tidak ada cara untuk… membuktikan bahwa ramalan itu salah?
Ia tidak tahu. Ia tidak tahu apa yang harus ia percayai. Ia
tidak tahu apakah ia harus mengikuti nasihat para ahli supranatural atau tetap
pada akal sehatnya. Ia tidak tahu apakah ia harus menerima takdir atau
melawannya. Ia bimbang. Ia ragu. Ia… takut. Bukan takut pada ramalan. Tapi takut
pada… ketidakpastian.
BAB 3: KEPUTUSAN YANG TERGESA
Pada hari kelima, ketakutan yang menyelimuti istana
mencapai puncaknya. Para pejabat yang tadinya hanya berbisik-bisik, kini mulai
berbicara dengan suara keras, saling menuduh, saling menyalahkan, saling
mencari kambing hitam. Sebuah pertemuan darurat diadakan di Aula Singgasana
Agung, dihadiri oleh semua pejabat tinggi istana, semua komandan militer, semua
penasihat kerajaan.
Suasana di ruangan itu panas. Bukan panas karena suhu,
tetapi panas karena emosi, karena ketakutan, karena kepanikan. Para pejabat
berdiri dari kursi mereka, berteriak, saling memotong, saling membantah, tidak
ada yang mau mendengar, tidak ada yang mau berpikir jernih, semua hanya ingin…
bertindak. Bertindak cepat. Bertindak tegas. Bertindak… tanpa berpikir.
"Baginda!" seru seorang pejabat bernama Umar
al-Basri dengan suara yang tinggi, dengan mata yang liar, dengan tangan yang
mengepal, "kita harus bertindak! Kita tidak bisa hanya duduk diam menunggu
ramalan itu menjadi kenyataan! Kita harus menangkap semua orang yang berpotensi
menjadi ancaman! Kita harus membersihkan istana dari pengkhianat! Kita
harus…"
"Tuan Umar," potong seorang pejabat lain, seorang
lelaki bernama Zaid bin Tsabit al-Ansari, yang dikenal sebagai orang yang paling
tenang di antara para pejabat, tetapi kali ini ia juga tidak bisa tenang,
"siapa yang harus kita tangkap? Siapa yang berpotensi menjadi ancaman?
Apakah Tuan punya nama? Apakah Tuan punya bukti? Apakah Tuan punya…"
"Siapa pun!" potong Umar, suaranya semakin
tinggi, semakin emosional, semakin tidak terkendali. "Siapa pun yang
mencurigakan! Siapa pun yang sering berbicara dengan peramal itu! Siapa pun
yang memiliki hubungan dengan musuh! Siapa pun yang… tidak setia!"
"Tuan Umar," kata pejabat lain, seorang lelaki
bernama Abdullah bin Ali al-Hashimi, yang merupakan kerabat jauh keluarga
kerajaan, "dengan cara seperti itu, setengah istana akan kita tangkap!
Setengah pejabat akan kita penjara! Setengah orang yang tidak bersalah akan
kita siksa! Apakah itu yang Tuan inginkan? Apakah itu yang akan menyelamatkan
Baginda Raja? Apakah itu yang akan…"
"Lebih baik menangkap orang yang tidak bersalah
daripada membiarkan pengkhianat berkeliaran!" potong Umar, suaranya nyaris
berteriak. "Lebih baik salah tangkap daripada terlambat! Lebih baik…"
"Tuan Umar!" potong Jafar, yang sejak tadi diam
mendengarkan, akhirnya tidak bisa menahan diri. Ia berdiri dari tempat
duduknya, menatap Umar dengan mata yang tajam, dengan suara yang dingin, dengan
kewibawaan seorang wazir yang tidak bisa dibantah. "Tuan berbicara tentang
menangkap orang yang tidak bersalah seolah-olah itu adalah hal yang sepele.
Tuan berbicara tentang menyiksa orang yang tidak bersalah seolah-olah itu
adalah hal yang biasa. Tuan lupa, Umar, bahwa keadilan adalah fondasi
kekuasaan. Tanpa keadilan, Baginda Raja tidak akan berbeda dengan tiran. Tanpa
keadilan, istana ini tidak akan berbeda dengan penjara. Tanpa keadilan, kita
semua… tidak lebih dari penjahat."
Umar terdiam. Ia duduk kembali di kursinya, dengan wajah
merah, dengan napas memburu, dengan tangan yang masih gemetar. Ia tidak bisa
menjawab. Ia tidak bisa membantah. Ia hanya bisa… diam.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid, yang sejak tadi duduk di
singgasananya dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun, akhirnya bersuara.
Suaranya tenang, tetapi berat, seperti guntur di kejauhan yang tidak pernah
benar-benar datang, tetapi selalu ada di sana, mengingatkan.
"Jafar," katanya, "apa yang kau sarankan?
Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus menunggu? Apakah kita harus
diam? Apakah kita harus… menerima ramalan itu?"
Jafar menghela napas. "Baginda, aku tidak tahu. Aku
tidak tahu apakah ramalan itu benar atau salah. Aku tidak tahu apakah kita
harus menunggu atau bertindak. Tapi aku tahu satu hal: bertindak tanpa berpikir,
menangkap tanpa bukti, menghukum tanpa pengadilan, itu bukanlah solusi. Itu
adalah… kepanikan. Dan kepanikan, Baginda, tidak akan menyelamatkan tahta.
Kepanikan hanya akan… menghancurkan."
Bahinda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya duduk
di singgasananya, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang menerawang ke
suatu tempat di kejauhan, ke suatu tempat yang tidak bisa dilihat oleh siapa
pun. Jafar benar. Bertindak tanpa berpikir adalah kepanikan. Menangkap tanpa
bukti adalah ketidakadilan. Menghukum tanpa pengadilan adalah… tirani. Dan ia
tidak ingin menjadi tiran. Ia tidak ingin menjadi seperti raja-raja yang ia
kalahkan. Ia tidak ingin kehilangan dirinya sendiri karena ketakutan.
Tapi ia juga tidak bisa hanya diam. Ia juga tidak bisa hanya
menunggu. Ia juga tidak bisa hanya… menerima.
"Jafar," katanya, "panggil Abu Nawas.
Sekarang. Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Aku tidak bisa membiarkan
ketakutan ini terus meracuni istanaku. Aku tidak bisa membiarkan ramalan ini
terus mengguncang kekuasaanku. Aku butuh… jawaban. Aku butuh… kebenaran. Aku
butuh… Abu Nawas."
BAB 4: LOGIKA YANG TERPINGGIRKAN
Abu Nawas datang ke istana pada sore hari, ketika matahari
mulai condong ke barat, ketika cahaya keemasan menyinari kubah-kubah emas,
ketika bayangan-bayangan mulai memanjang di halaman-halaman istana. Ia datang
dengan jubah lusuh yang sama, sandal aus yang sama, sorban yang dililit dengan
malas yang sama, dan senyum misterius yang sama. Di tangannya, sekantong kecil
kurma—kurma Sukkari yang ia beli di pasar dengan uang terakhir yang ia miliki,
karena jatah mingguan dari istana baru akan diberikan besok, dan ia tidak bisa
menunggu, karena ia sudah mendengar tentang ramalan yang mengguncang istana dan
ia tahu bahwa untuk menghadapi ramalan, ia membutuhkan kurma. Banyak kurma.
Jafar menyambutnya di gerbang istana dengan wajah yang
masih pucat, dengan mata yang masih sayu, dengan suara yang masih serak karena
terlalu banyak berbicara dalam pertemuan-pertemuan yang tidak menghasilkan
apa-apa.
"Abu Nawas," katanya, "terima kasih sudah
datang. Baginda Raja sudah menunggu sejak siang. Ia tidak bisa tidur semalaman.
Ia terus memikirkan ramalan itu. Ia terus memikirkan apa yang dikatakan oleh
para ahli supranatural. Ia terus memikirkan… apakah ia harus percaya pada
takdir atau tetap pada akal sehat."
Abu Nawas mengambil kurma dari kantongnya, memasukkannya ke
mulut, mengunyah perlahan.
"Wazir," katanya, "Baginda Raja tidak perlu
memilih antara percaya pada takdir atau tetap pada akal sehat. Baginda Raja hanya
perlu… mengerti. Mengerti bahwa ramalan tidak pernah menjatuhkan manusia,
tetapi keyakinan buta terhadapnya yang melakukannya. Mengerti bahwa ketakutan
adalah senjata, dan seseorang sedang menggunakan senjata itu untuk menjatuhkan
Baginda. Mengerti bahwa… masa depan bukan untuk diramalkan, tapi untuk
dipikirkan dan diperjuangkan."
Jafar tidak mengerti. Ia hanya menggelengkan kepala,
berjalan di samping Abu Nawas menuju ruang pertemuan pribadi Baginda Raja.
Di ruang pertemuan pribadi, Baginda Raja Harun Al-Rasyid
duduk di singgasananya dengan jubah pagi berwarna putih, tanpa mahkota, tanpa
perhiasan, hanya dengan sorban sederhana yang melilit kepalanya. Di sampingnya,
duduk para ahli supranatural yang dipanggil untuk memberikan laporan. Di
hadapannya, berdiri para penasihat istana yang juga diundang untuk
mendengarkan. Suasana ruangan itu tegang, seperti sebelum badai, seperti
sebelum pertempuran, seperti sebelum… kebenaran diungkap.
Abu Nawas masuk dengan langkah santai, duduk bersila di
lantai marmer di hadapan Baginda Raja, mengambil kurma dari kantongnya, dan
memasukkannya ke mulut dengan nikmat.
"Baginda," katanya, "saya dengar ada
ramalan. Ramalan yang mengatakan bahwa Baginda akan kehilangan tahta. Ramalan
yang membuat seluruh istana panik. Ramalan yang membuat para ahli supranatural
berdebat. Ramalan yang membuat para pejabat saling mencurigai. Ramalan yang…
menakutkan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Benar, Abu
Nawas. Ramalan itu sudah menyebar ke seluruh istana. Para ahli supranatural sudah
memeriksanya. Mereka mengatakan bahwa bintang-bintang menunjukkan perubahan
besar. Mereka mengatakan bahwa mimpi-mimpi menunjukkan singgasana kosong.
Mereka mengatakan bahwa pola pasir menunjukkan keretakan di fondasi kekuasaan.
Mereka mengatakan bahwa… ramalan itu benar."
Abu Nawas tertawa. Tertawa yang keras, tertawa yang bebas,
tertawa yang bergema di ruangan yang tegang itu, membuat semua orang menoleh,
membuat semua orang terkejut, membuat semua orang… tidak nyaman.
"Ramalan yang benar?" katanya di sela tawa.
"Baginda, bagaimana kita tahu bahwa ramalan itu benar? Apakah
bintang-bintang sudah pernah meramalkan masa depan dengan tepat? Apakah
mimpi-mimpi sudah pernah menjadi kenyataan? Apakah pola pasir sudah pernah
membuktikan sesuatu? Apakah para ahli supranatural ini, dengan segala keahlian
mereka, sudah pernah meramalkan sesuatu yang benar-benar terjadi?"
Syekh Abdul Jabal tersentak. Wajahnya yang tadinya tenang,
kini merah padam. "Abu Nawas! Kau tidak boleh meremehkan ilmu
supranatural! Kau tidak boleh menertawakan apa yang tidak kau mengerti! Kau
tidak boleh…"
"Syekh," potong Abu Nawas dengan suara yang masih
tenang, tidak terpengaruh oleh amarah Syekh Abdul Jabal, "saya tidak
meremehkan. Saya tidak menertawakan. Saya hanya… bertanya. Bertanya dengan
logika. Bertanya dengan akal sehat. Bertanya dengan… kurma."
Ia mengambil kurma lain, memutarnya di antara jari-jarinya.
"Syekh, Syekh bilang bintang-bintang menunjukkan
perubahan besar. Pertanyaan saya: apakah bintang-bintang itu pernah menunjukkan
sesuatu yang tidak terjadi? Apakah bintang-bintang itu pernah salah? Apakah
bintang-bintang itu bisa diandalkan? Atau apakah kita hanya melihat apa yang
ingin kita lihat? Apakah kita hanya menafsirkan apa yang ingin kita tafsirkan?
Apakah kita hanya… membenarkan ketakutan kita?"
Syekh Abdul Jabal tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam,
dengan mulut terbuka, dengan mata terbelalak, dengan tangan gemetar.
"Dan Syekh Hasan," lanjut Abu Nawas, menatap ahli
supranatural yang muda itu, "Syekh bilang bermimpi melihat singgasana
kosong. Pertanyaan saya: apakah mimpi Syekh pernah menjadi kenyataan? Apakah
semua mimpi Syekh selama ini terbukti benar? Apakah Syekh pernah bermimpi
sesuatu yang tidak terjadi? Atau apakah Syekh hanya… mengingat mimpi yang
menjadi kenyataan, dan melupakan yang tidak?"
Syekh Hasan tidak bisa menjawab. Ia hanya menunduk, dengan
wajah pucat, dengan tangan gemetar.
"Dan Syekh Ibrahim," lanjut Abu Nawas, menatap
ahli supranatural yang tua itu, "Syekh bilang pola pasir menunjukkan
keretakan. Pertanyaan saya: apakah pasir itu pernah berbohong? Apakah pasir itu
pernah menipu? Apakah pasir itu bisa dipercaya? Atau apakah kita hanya… melihat
apa yang ingin kita lihat? Apakah kita hanya… membaca apa yang ingin kita baca?
Apakah kita hanya… menciptakan keretakan dalam pikiran kita sendiri?"
Syekh Ibrahim tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam, dengan
mulut terbuka, dengan mata terbelalak, dengan tangan gemetar.
"Syekh-syekh yang mulia," kata Abu Nawas,
suaranya menjadi lebih tajam, lebih menusuk, seperti pisau yang baru diasah,
"saya tidak mengatakan bahwa kalian salah. Saya tidak mengatakan bahwa
ilmu kalian palsu. Saya hanya mengatakan bahwa sebelum kita percaya pada
ramalan, kita harus memeriksa dulu. Sebelum kita panik, kita harus berpikir
dulu. Sebelum kita menangkap orang-orang yang tidak bersalah, kita harus
mencari tahu dulu. Karena tidak semua ramalan itu benar. Kadang, hanya
ketakutan yang membesarkannya. Kadang, hanya kepanikan yang mempercayainya.
Kadang, hanya… orang yang berkepentingan yang menciptakannya."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid, yang sejak tadi diam
mendengarkan, akhirnya bersuara. Suaranya tenang, tetapi ada nada kekaguman di
dalamnya.
"Abu Nawas, apa yang kau sarankan? Apa yang harus kita
lakukan? Apakah kita harus mengabaikan ramalan itu? Apakah kita harus
menganggapnya hanya omong kosong? Apakah kita harus…"
"Baginda," potong Abu Nawas, "saya tidak
mengatakan mengabaikan. Saya tidak mengatakan menganggapnya omong kosong. Saya
hanya mengatakan… periksa. Periksa dari mana ramalan itu berasal. Periksa siapa
yang paling diuntungkan jika istana panik. Periksa siapa yang paling
diuntungkan jika Baginda takut. Periksa… kebenaran di balik ramalan."
BAB 5: KEGAGALAN MENEMUKAN JAWABAN
Hari-hari berikutnya, setelah kedatangan Abu Nawas, suasana
istana mulai berubah. Tidak langsung tenang. Tidak langsung damai. Tapi ada
sedikit cahaya di tengah kegelapan. Ada sedikit harapan di tengah kepanikan.
Ada sedikit… akal sehat di tengah ketakutan.
Abu Nawas tidak langsung memecahkan masalah. Ia tidak langsung
mengungkap kebenaran. Ia tidak langsung menangkap dalang di balik ramalan. Ia
melakukan sesuatu yang lebih sederhana. Sesuatu yang lebih mendasar. Sesuatu
yang tidak pernah terpikirkan oleh para ahli supranatural, oleh para pejabat,
oleh para penasihat, oleh Baginda Raja sendiri.
Ia bertanya.
Ia bertanya kepada peramal itu. "Dari mana Tuan
mendapat ramalan itu? Apakah Tuan benar-benar mendapat ilham? Atau ada yang
menyuruh Tuan? Atau Tuan hanya… salah? Salah menafsirkan bintang? Salah membaca
mimpi? Salah… melihat masa depan?"
Peramal itu tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam, dengan
mata yang kosong, dengan pikiran yang bingung, dengan hati yang gelisah.
Ia bertanya kepada para ahli supranatural. "Apakah
Syekh-syekh benar-benar melihat apa yang Syekh-syekh katakan? Atau Syekh-syekh
hanya… ikut-ikutan? Ikut takut. Ikut panik. Ikut… percaya? Apakah Syekh-syekh
memeriksa sendiri? Apakah Syekh-syekh mencari tahu sendiri? Apakah Syekh-syekh…
berpikir sendiri?"
Para ahli supranatural tidak bisa menjawab. Mereka hanya
terdiam, dengan wajah yang pucat, dengan hati yang gelisah, dengan keyakinan
yang mulai goyah.
Ia bertanya kepada para pejabat. "Apakah Tuan-tuan
punya bukti? Apakah Tuan-tuan punya nama? Apakah Tuan-tuan punya alasan untuk
mencurigai orang-orang yang Tuan-tuan tangkap? Atau Tuan-tuan hanya… takut?
Takut pada sesuatu yang belum tentu ada. Takut pada sesuatu yang belum tentu
terjadi. Takut pada… bayangan yang diciptakan oleh pikiran sendiri?"
Para pejabat tidak bisa menjawab. Mereka hanya terdiam,
dengan wajah yang merah, dengan hati yang malu, dengan kesadaran yang mulai
muncul.
Dan setiap hari, Abu Nawas terus bertanya. Tidak dengan
suara keras. Tidak dengan emosi. Tapi dengan tenang. Dengan sabar. Dengan…
logika. Dan setiap hari, ketakutan itu mulai berkurang. Kepanikan mulai mereda.
Kecurigaan mulai pudar. Dan istana mulai… tenang.
Tapi meskipun ketakutan mulai berkurang, ramalan itu belum
terbukti salah. Belum ada yang bisa membuktikan bahwa bintang-bintang tidak
menunjukkan perubahan besar. Belum ada yang bisa membuktikan bahwa mimpi-mimpi
tidak menunjukkan singgasana kosong. Belum ada yang bisa membuktikan bahwa pola
pasir tidak menunjukkan keretakan. Belum ada yang bisa membuktikan bahwa
ramalan itu… salah.
Dan tanpa bukti, ketakutan tidak akan pernah benar-benar
lenyap. Tanpa kebenaran, istana tidak akan pernah benar-benar damai. Tanpa
jawaban, Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak akan pernah benar-benar tenang.
BAB 6: ABU NAWAS DIPANGGIL TERLAMBAT
Pada hari ketujuh setelah Abu Nawas datang, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid memanggilnya ke ruang pribadi. Bukan untuk meminta laporan. Bukan
untuk meminta solusi. Tapi untuk… berbicara. Untuk… bertanya. Untuk… mengerti.
"Abu Nawas," katanya ketika Abu Nawas duduk
bersila di lantai marmer di hadapannya, "aku sudah berpikir. Aku sudah
merenung. Aku sudah mencoba mencari jawaban. Tapi aku tidak menemukannya.
Ramalan itu masih menghantuiku. Ketakutan itu masih menggangguku. Kecemasan itu
masih… meracuni pikiranku. Aku tidak tahu apa yang harus aku percayai. Aku
tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu… siapa yang harus aku
percayai."
Abu Nawas mengambil kurma dari sakunya—kurma yang ia pinjam
dari dapur istana karena jatah mingguannya baru akan diberikan besok, tetapi ia
sudah terbiasa, ia sudah terbiasa meminjam, meminta, atau kadang-kadang…
mengambil tanpa izin, tetapi tidak pernah dengan niat jahat, hanya dengan niat…
bertahan hidup—dan memutarnya di antara jari-jarinya.
"Baginda," katanya, "Baginda tidak perlu
tahu siapa yang harus Baginda percayai. Baginda tidak perlu tahu apa yang harus
Baginda lakukan. Baginda hanya perlu tahu satu hal: bahwa ketakutan adalah
senjata. Dan seseorang, di suatu tempat, sedang menggunakan senjata itu untuk
menjatuhkan Baginda."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, Baginda pernah mendengar cerita tentang
seorang raja yang diramalkan akan jatuh? Ia sangat takut. Ia menangkap semua
orang yang dicurigai. Ia menghukum semua orang yang dianggap ancaman. Ia
mengasingkan semua orang yang tidak setuju. Dan semakin ia takut, semakin ia
bertindak. Semakin ia bertindak, semakin banyak musuh yang ia ciptakan. Semakin
banyak musuh yang ia ciptakan, semakin besar kemungkinan ia jatuh. Dan pada
akhirnya, ia jatuh. Bukan karena ramalan. Tapi karena… ketakutannya sendiri.
Ketakutannya yang membuatnya buta. Ketakutannya yang membuatnya kejam.
Ketakutannya yang membuatnya… hancur."
Bainda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia merenungkan cerita
Abu Nawas. Seorang raja yang jatuh karena ketakutannya sendiri. Bukan karena
ramalan. Bukan karena musuh. Bukan karena takdir. Tapi karena… dirinya sendiri.
"Abu Nawas," katanya, "apakah kau mengatakan
bahwa aku akan jatuh jika aku terus takut? Apakah kau mengatakan bahwa ramalan
itu akan menjadi kenyataan jika aku membiarkan ketakutan menguasai diriku?
Apakah kau mengatakan bahwa… aku adalah musuh terbesarku sendiri?"
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, saya tidak mengatakan
apa-apa. Saya hanya… bercerita. Cerita tentang seorang raja. Cerita tentang
ketakutan. Cerita tentang… pilihan. Pilihan untuk takut atau berani. Pilihan
untuk percaya atau berpikir. Pilihan untuk… jatuh atau berdiri tegak."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk perlahan. "Kau
benar, Abu Nawas. Aku punya pilihan. Aku bisa memilih untuk takut. Aku bisa memilih
untuk percaya pada ramalan. Aku bisa memilih untuk menangkap orang-orang yang
tidak bersalah. Aku bisa memilih untuk menjadi raja yang kejam. Aku bisa
memilih untuk… jatuh. Tapi aku juga bisa memilih untuk berani. Aku bisa memilih
untuk berpikir. Aku bisa memilih untuk mencari kebenaran. Aku bisa memilih
untuk menjadi raja yang bijaksana. Aku bisa memilih untuk… berdiri tegak."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap langit Baghdad
yang cerah.
"Abu Nawas," katanya, "aku sudah memilih.
Aku akan berani. Aku akan berpikir. Aku akan mencari kebenaran. Aku akan…
berdiri tegak. Tapi aku butuh bantuanmu. Aku butuh kau untuk membantuku
menemukan kebenaran. Aku butuh kau untuk membantuku membuktikan bahwa ramalan
itu salah. Aku butuh kau untuk membantuku… menjatuhkan ketakutan."
Abu Nawas berdiri, membungkuk dalam-dalam. "Baginda,
saya akan membantu. Tapi saya butuh satu hal."
"Apa?"
"Izin untuk bertanya. Bertanya kepada siapa pun.
Tentang apa pun. Kapan pun. Di mana pun. Tanpa batas. Tanpa larangan. Tanpa… ketakutan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. "Kau punya
izin itu, Abu Nawas. Bertanyalah. Cari tahu. Temukan kebenaran. Dan bawalah…
kedamaian kembali ke istanaku."
BAB 7: PERDEBATAN BESAR DIMULAI
Keesokan paginya, Abu Nawas memanggil semua ahli supranatural
ke Aula Singgasana Agung. Ia juga memanggil semua pejabat istana, semua
penasihat, semua komandan militer, semua orang yang selama ini terlibat dalam
kepanikan. Ia ingin berbicara. Ia ingin berdebat. Ia ingin… membuktikan
sesuatu.
Aula Singgasana Agung pagi itu penuh sesak. Tidak ada kursi
yang kosong. Tidak ada sudut yang luput. Semua orang ingin mendengar. Semua
orang ingin tahu. Semua orang ingin… melihat bagaimana seorang pelawak akan
melawan para ahli supranatural.
Abu Nawas berdiri di tengah aula, dengan jubah lusuh yang
sama, dengan sandal aus yang sama, dengan sorban yang dililit dengan malas yang
sama, dan senyum misterius yang sama. Di tangannya, sekantong kurma—kurma yang
ia pinjam dari dapur istana, karena jatah mingguannya sudah habis tiga hari
lalu, dan ia belum sempat meminta tambahan.
"Para hadirin yang mulia," katanya, suaranya
lantang, bergema di aula yang sunyi, "saya tidak akan bercerita. Saya
tidak akan melucu. Saya tidak akan membuat kalian tertawa. Hari ini, saya hanya
akan… bertanya. Bertanya kepada para ahli supranatural yang bijaksana. Bertanya
kepada Syekh Abdul Jabal, Syekh Hasan, Syekh Ibrahim, dan semua yang hadir di
sini. Pertanyaan yang sederhana. Pertanyaan yang mendasar. Pertanyaan yang…
belum pernah dijawab."
Ia berjalan mendekati Syekh Abdul Jabal, berdiri tepat di
hadapannya, menatap matanya dengan tajam.
"Syekh," katanya, "apakah ramalan itu pasti
terjadi? Atau hanya kemungkinan? Apakah bintang-bintang menunjukkan sesuatu
yang tidak bisa diubah? Atau hanya menunjukkan kemungkinan yang bisa dihindari?
Apakah takdir itu sudah ditetapkan? Atau masih bisa dilawan?"
Syekh Abdul Jabal terdiam. Ia tidak pernah ditanya seperti
ini. Selama tiga puluh tahun, tidak ada yang pernah menanyakan hal seperti ini.
Semua orang percaya. Semua orang menerima. Semua orang… tidak berpikir.
"Abu Nawas," katanya akhirnya, suaranya tidak
lagi seyakin dulu, "ramalan… ramalan adalah… kemungkinan. Bukan kepastian.
Bintang-bintang menunjukkan kecenderungan, bukan takdir. Apa yang kita lihat
adalah… potensi. Potensi yang bisa berubah. Potensi yang bisa… dihindari."
Abu Nawas tersenyum. "Syekh, jika ramalan hanya
kemungkinan, mengapa kita panik? Mengapa kita menangkap orang-orang yang tidak
bersalah? Mengapa kita menghukum orang-orang yang dicurigai? Mengapa kita
membiarkan ketakutan menguasai istana? Apakah kita panik karena kemungkinan?
Apakah kita menangkap orang karena kemungkinan? Apakah kita menghukum orang
karena… kemungkinan?"
Syekh Abdul Jabal tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam, dengan
mulut terbuka, dengan mata terbelalak, dengan tangan gemetar.
Abu Nawas berjalan mendekati Syekh Hasan. "Syekh
Hasan, Syekh bermimpi melihat singgasana kosong. Apakah mimpi Syekh itu pasti
terjadi? Atau hanya… bunga tidur? Apakah semua mimpi Syekh selama ini menjadi
kenyataan? Atau hanya… beberapa? Apakah Syekh pernah bermimpi sesuatu yang
tidak terjadi? Apakah Syekh pernah… salah?"
Syekh Hasan menunduk. "Aku… aku pernah. Aku pernah
bermimpi sesuatu yang tidak terjadi. Aku pernah… salah."
Abu Nawas mengangguk. "Syekh, jika Syekh pernah salah,
mengapa Syekh begitu yakin kali ini? Mengapa Syekh tidak memeriksa dulu?
Mengapa Syekh tidak mencari tahu dulu? Mengapa Syekh langsung… percaya? Apakah
karena ketakutan? Apakah karena kepanikan? Apakah karena… semua orang juga
percaya?"
Syekh Hasan tidak bisa menjawab. Ia hanya menunduk, dengan
wajah pucat, dengan hati malu, dengan kesadaran yang mulai muncul.
Abu Nawas berjalan mendekati Syekh Ibrahim. "Syekh
Ibrahim, Syekh membaca pola pasir. Apakah pola pasir itu pernah berbohong?
Apakah pasir itu pernah menipu? Apakah Syekh pernah salah membaca? Apakah Syekh
pernah… keliru?"
Syekh Ibrahim menghela napas. "Aku… aku pernah. Aku
pernah salah membaca. Aku pernah keliru. Pasir tidak berbohong, tapi aku… aku
bisa salah. Aku bisa keliru. Aku bisa… membaca apa yang ingin aku baca."
Abu Nawas tersenyum. "Syekh, jika Syekh bisa salah,
mengapa Syekh tidak memeriksa ulang? Mengapa Syekh tidak mencari konfirmasi?
Mengapa Syekh tidak… ragu? Apakah karena Syekh takut dianggap tidak ahli?
Apakah karena Syekh takut kehilangan kepercayaan? Apakah karena Syekh takut…
tidak dihormati?"
Syekh Ibrahim tidak bisa menjawab. Ia hanya menunduk,
dengan wajah pucat, dengan hati malu, dengan kesadaran yang mulai muncul.
Abu Nawas berjalan kembali ke tengah aula, berputar
menghadap semua hadirin.
"Para hadirin yang mulia," katanya, "kita
telah mendengar. Para ahli supranatural sendiri mengakui bahwa ramalan hanyalah
kemungkinan. Para ahli supranatural sendiri mengakui bahwa mereka bisa salah.
Para ahli supranatural sendiri mengakui bahwa mereka tidak pasti. Tapi meskipun
demikian, kita panik. Meskipun demikian, kita takut. Meskipun demikian, kita
menangkap orang-orang yang tidak bersalah. Meskipun demikian, kita menghukum
orang-orang yang dicurigai. Meskipun demikian, kita membiarkan ketakutan
menguasai istana. Apakah itu yang disebut kebijaksanaan? Apakah itu yang
disebut keadilan? Apakah itu yang disebut… akal sehat?"
Aula sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara napas
orang-orang terdengar seperti angin. Sunyi yang begitu berat hingga beberapa
orang mulai menangis. Sunyi yang begitu mencekam hingga tidak ada yang berani
bersuara.
"Para hadirin," lanjut Abu Nawas, suaranya
menjadi lebih pelan, lebih dalam, lebih menyentuh, "saya tidak mengatakan
bahwa ramalan itu salah. Saya tidak mengatakan bahwa para ahli supranatural itu
bodoh. Saya hanya mengatakan bahwa sebelum kita percaya, kita harus berpikir.
Sebelum kita takut, kita harus mencari tahu. Sebelum kita bertindak, kita
harus… memeriksa. Karena tidak semua ramalan itu benar. Kadang, hanya ketakutan
yang membesarkannya. Kadang, hanya kepanikan yang mempercayainya. Kadang,
hanya… orang yang berkepentingan yang menciptakannya."
BAB 8: MEMBALIK LOGIKA RAMALAN
Setelah perdebatan dengan para ahli supranatural, setelah
para ahli supranatural mengakui bahwa mereka bisa salah, setelah kesadaran
mulai muncul di benak semua orang, Abu Nawas berdiri di tengah aula, dengan
senyum yang lebih lebar, dengan mata yang lebih bersinar, dengan keyakinan yang
lebih kuat.
"Para hadirin," katanya, "saya punya satu
pertanyaan lagi. Satu pertanyaan yang mungkin akan mengubah cara kita melihat
ramalan ini. Satu pertanyaan yang mungkin akan… membebaskan kita dari
ketakutan."
Ia berjalan mendekati singgasana, berdiri tepat di hadapan
Harun Al-Rasyid.
"Baginda," katanya, "jika semua orang
percaya bahwa Baginda akan jatuh, bukankah justru ketakutan itu yang bisa
menjatuhkan Baginda? Jika semua orang percaya bahwa Baginda akan dikhianati,
bukankah justru kecurigaan itu yang akan membuat orang benar-benar mengkhianati
Baginda? Jika semua orang percaya bahwa istana ini akan hancur, bukankah justru
kepanikan itu yang akan menghancurkannya?"
Aula sunyi. Sunyi yang lebih dalam dari sebelumnya. Sunyi
yang membuat semua orang berpikir. Sunyi yang membuat semua orang… sadar.
"Baginda," lanjut Abu Nawas, "ramalan ini,
jika dipercaya, akan menjadi kenyataan. Bukan karena takdir. Bukan karena
bintang. Bukan karena mimpi. Bukan karena pasir. Tapi karena… manusia. Karena
manusia yang takut akan menciptakan musuh dari teman. Karena manusia yang
curiga akan menciptakan pengkhianat dari orang yang setia. Karena manusia yang
panik akan menciptakan kekacauan dari kedamaian. Ramalan ini, Baginda, adalah
senjata. Senjata yang digunakan oleh seseorang yang ingin melihat Baginda
jatuh. Senjata yang digunakan oleh seseorang yang ingin melihat istana ini
hancur. Senjata yang digunakan oleh seseorang yang… ingin mengambil alih
kekuasaan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia menatap Abu Nawas
dengan mata yang berubah. Bukan lagi kebingungan. Bukan lagi ketakutan. Tapi…
pemahaman. Pemahaman yang datang terlambat, tetapi datang juga.
"Abu Nawas," katanya, "apakah kau mengatakan
bahwa seseorang sengaja menciptakan ramalan ini? Seseorang yang ingin menjatuhkanku?
Seseorang yang ingin mengambil alih kekuasaan? Seseorang yang… ada di istana
ini?"
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, saya tidak tahu. Saya
hanya… berpikir. Berpikir bahwa tidak ada yang kebetulan. Berpikir bahwa tidak
ada yang terjadi tanpa sebab. Berpikir bahwa ramalan ini terlalu tepat. Terlalu
menakutkan. Terlalu… menguntungkan bagi seseorang."
Ia berjalan mendekati para pejabat yang duduk di barisan
depan.
"Para tuan," katanya, "siapa yang paling
diuntungkan jika Baginda Raja takut? Siapa yang paling diuntungkan jika istana
kacau? Siapa yang paling diuntungkan jika para pejabat saling curiga? Siapa
yang paling diuntungkan jika para komandan dicopot dari jabatannya? Siapa yang
paling diuntungkan jika orang-orang yang setia dijauhkan dari Baginda? Siapa
yang paling diuntungkan jika… Baginda Raja jatuh?"
Para pejabat saling berpandangan. Mereka tidak berani
menjawab. Mereka tidak berani menuduh. Mereka tidak berani… berpikir.
"Tidak ada yang mau menjawab?" tanya Abu Nawas.
"Baiklah. Saya akan menjawab. Orang yang paling diuntungkan adalah… orang
yang akan menggantikan Baginda Raja. Orang yang akan duduk di singgasana ini.
Orang yang akan memakai mahkota ini. Orang yang akan… memerintah."
Aula bergemuruh. Para pejabat mulai berbisik-bisik, saling
menuduh, saling menyalahkan, saling mencari siapa yang paling mungkin menjadi
pengganti Baginda Raja.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri dari singgasananya. Ia
berjalan mendekati Abu Nawas, berdiri di sampingnya, menatap semua orang yang
hadir dengan mata yang tajam.
"Abu Nawas," katanya, "siapa? Siapa yang di
balik semua ini? Siapa yang menciptakan ramalan ini? Siapa yang ingin
menjatuhkanku? Siapa yang… ingin mengambil tahtaku?"
Abu Nawas menghela napas. "Baginda, saya tidak tahu.
Tapi saya tahu cara mengetahuinya. Dengan menguji ramalan. Dengan membuktikan
bahwa ramalan itu salah. Dengan… tidak takut."
BAB 9: MENGUJI KEBENARAN RAMALAN
Abu Nawas mengusulkan sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang
tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun. Sesuatu yang… logis.
"Baginda," katanya, "ramalan mengatakan
bahwa Baginda akan kehilangan tahta. Mari kita uji. Mari kita lihat apakah
ramalan itu akan menjadi kenyataan jika kita tidak takut. Mari kita lihat
apakah ketakutan itu benar-benar senjata yang bisa menjatuhkan Baginda. Mari
kita… tidak takut."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengerutkan kening.
"Tidak takut? Bagaimana caranya tidak takut? Ramalan itu sudah menyebar.
Ketakutan sudah mengakar. Kecurigaan sudah meracuni pikiran semua orang.
Bagaimana caranya… tidak takut?"
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, dengan melakukan
hal-hal yang biasa. Dengan tidak mengubah apa pun. Dengan tetap percaya pada
orang-orang yang selama ini setia. Dengan tidak menangkap orang-orang yang
tidak bersalah. Dengan tidak menghukum orang-orang yang dicurigai. Dengan…
hidup normal. Seperti sebelum ramalan itu ada."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Hidup normal. Seperti
sebelum ramalan. Tidak takut. Tidak curiga. Tidak panik. Apakah itu mungkin?
Apakah itu bisa dilakukan? Apakah itu… cukup?
"Baginda," lanjut Abu Nawas, "jika ramalan
itu benar, ia akan terjadi apa pun yang kita lakukan. Jika takdir sudah
ditetapkan, tidak ada yang bisa mengubahnya. Tidak ada ketakutan. Tidak ada
kepanikan. Tidak ada penangkapan. Tidak ada hukuman. Tidak ada… apa pun.
Ramalan akan terjadi dengan sendirinya. Tapi jika ramalan itu salah, jika ia
hanya… tipuan, jika ia hanya… senjata untuk menciptakan ketakutan, maka dengan
tidak takut, kita akan membuktikan bahwa ia salah. Dengan tidak panik, kita
akan menunjukkan bahwa ia tidak punya kekuatan. Dengan tidak percaya, kita
akan… membungkamnya."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Kau benar,
Abu Nawas. Jika ramalan itu benar, ia akan terjadi. Tidak perlu kita takut.
Tidak perlu kita panik. Tidak perlu kita menangkap orang-orang yang tidak
bersalah. Jika ramalan itu salah, maka ketakutan kita selama ini adalah… bodoh.
Bodoh karena percaya pada sesuatu yang tidak pasti. Bodoh karena membiarkan
ketakutan menguasai diri. Bodoh karena… hampir menghancurkan istana ini."
Ia berbalik menghadap semua orang yang hadir.
"Para hadirin," katanya, "mulai hari ini,
kita tidak akan takut. Mulai hari ini, kita tidak akan panik. Mulai hari ini,
kita tidak akan menangkap orang tanpa bukti. Mulai hari ini, kita tidak akan
menghukum orang tanpa pengadilan. Mulai hari ini, kita akan… hidup normal.
Seperti sebelum ramalan itu ada. Dan kita akan lihat. Kita akan lihat apakah
ramalan itu benar. Kita akan lihat apakah takdir itu nyata. Kita akan lihat
apakah… ketakutan itu berguna."
BAB 10: KEBENARAN YANG TERUNGKAP
Hari-hari berlalu. Istana kembali normal. Tidak ada lagi
penangkapan tanpa bukti. Tidak ada lagi penghukuman tanpa pengadilan. Tidak ada
lagi kecurigaan yang memecah belah. Para pejabat kembali bekerja seperti biasa.
Para komandan kembali bertugas seperti biasa. Para penjaga kembali berjaga
seperti biasa. Para dayang kembali melayani seperti biasa. Semua kembali…
normal.
Dan ramalan itu? Ramalan itu tidak terjadi. Tahta tidak
hilang. Baginda Raja tidak jatuh. Kekuasaan tidak berpindah. Istana tidak
hancur. Semua tetap… seperti biasa.
Tapi di balik semua itu, di balik ketenangan yang kembali,
di balik kedamaian yang pulih, Abu Nawas tidak berhenti mencari. Ia terus
bertanya. Terus mencari. Terus menyelidiki. Siapa yang di balik ramalan itu?
Siapa yang menciptakan ketakutan? Siapa yang ingin menjatuhkan Baginda Raja?
Dan pada suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang
di atas kubah-kubah emas, ketika angin malam berhembus lembut membawa aroma
bunga melati dari taman dalam, ketika istana sunyi, Abu Nawas menemukan
jawabannya.
Seorang pejabat. Seorang pejabat yang selama ini sangat
dekat dengan Baginda Raja. Seorang pejabat yang selama ini sangat dipercaya.
Seorang pejabat yang… selama ini tidak pernah dicurigai.
Ia adalah orang yang menyuruh peramal itu. Ia adalah orang
yang menyebarkan ramalan itu. Ia adalah orang yang menciptakan ketakutan. Ia
adalah orang yang ingin melihat istana kacau. Ia adalah orang yang ingin
melihat Baginda Raja jatuh. Ia adalah orang yang… ingin mengambil alih
kekuasaan.
Motifnya sederhana. Dendam. Dendam karena ia merasa tidak
dihargai. Dendam karena ia merasa tidak diberi posisi yang pantas. Dendam
karena ia merasa lebih berhak atas tahta. Dendam karena ia… iri.
Abu Nawas membawa bukti-bukti itu ke hadapan Baginda Raja.
Surat-surat yang ia temukan. Kesaksian-kesaksian yang ia kumpulkan.
Pengakuan-pengakuan yang ia peroleh. Semua mengarah pada satu orang.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid membaca semuanya. Diam. Tidak
marah. Tidak kecewa. Hanya… sedih. Sedih karena orang yang ia percaya telah
mengkhianatinya. Sedih karena ketakutan yang ia rasakan selama ini ternyata
berasal dari orang yang paling dekat. Sedih karena… ia hampir menjadi tiran
karena ketakutannya.
"Abu Nawas," katanya, suaranya rendah, "apa
yang harus aku lakukan? Haruskah aku menghukumnya? Haruskah aku
memenjarakannya? Haruskah aku… membunuhnya?"
Abu Nawas mengambil kurma dari sakunya—kurma yang ia pinjam
dari dapur istana, karena jatah mingguannya sudah habis, dan ia belum sempat
meminta tambahan—dan memutarnya di antara jari-jarinya.
"Baginda," katanya, "Baginda bisa menghukum.
Baginda bisa memenjarakan. Baginda bisa membunuh. Tapi apakah itu akan
mengembalikan ketenangan? Apakah itu akan menghapus ketakutan? Apakah itu akan…
menyembuhkan luka?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam.
"Baginda," lanjut Abu Nawas, "yang paling
penting bukanlah hukuman. Yang paling penting adalah… pelajaran. Pelajaran
bahwa ketakutan adalah senjata. Pelajaran bahwa ramalan tidak akan terjadi jika
kita tidak takut. Pelajaran bahwa… musuh terbesar kita bukanlah orang lain,
tapi ketakutan kita sendiri."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, Baginda bisa menghukum pejabat itu. Tapi
yang lebih penting, Baginda harus mengajarkan kepada semua orang bahwa tidak
ada yang perlu ditakuti dari ramalan. Bahwa masa depan bukan untuk diramalkan,
tapi untuk dipikirkan dan diperjuangkan. Bahwa kebijaksanaan sejati adalah
menjaga keseimbangan antara keyakinan dan akal. Bahwa… akal sehat adalah
pelindung terbaik."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Kau benar,
Abu Nawas. Aku akan menghukum pejabat itu. Tapi tidak dengan kekerasan. Tidak
dengan kekejaman. Tapi dengan… keadilan. Dan aku akan mengajarkan kepada semua
orang bahwa ramalan tidak pernah menjatuhkan manusia, tetapi keyakinan buta
terhadapnya yang melakukannya. Bahwa ketakutan adalah musuh terbesar kita.
Bahwa… akal sehat adalah senjata paling ampuh."
EPILOG: ISTANA KEMBALI TENANG
Beberapa hari kemudian, setelah pejabat yang menjadi dalang
di balik ramalan itu diadili dan dihukum dengan adil, setelah kebenaran
terungkap, setelah ketakutan lenyap, setelah istana kembali tenang, Abu Nawas
duduk di Kedai Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan.
Di depannya, segelas air tajin dingin yang masih segar,
semangkok kurma Sukkari yang mengilap seperti batu akik—jatah mingguan yang
baru saja ia ambil dari istana pagi ini—dan sebotol kecil anggur yang ia
sembunyikan di balik jubahnya, meskipun ia sudah berjanji pada Jafar untuk
tidak minum anggur di tempat umum. Janji, pikirnya, adalah sesuatu yang mulia.
Tapi anggur, pikirnya, juga sesuatu yang mulia. Dan terkadang, dua hal yang
mulia bisa berdampingan dengan damai, asalkan tidak ada yang tahu.
Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir
Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk
tidak dikenali oleh pengunjung lain—meskipun semua orang di kedai itu sudah
tahu bahwa lelaki tampan dengan jubah sederhana itu adalah Wazir terkuat di
kekhalifahan. Jafar tampak lebih santai dari biasanya, lebih tenang, lebih…
bahagia. Mungkin karena ramalan itu sudah terbukti salah. Mungkin karena istana
kembali tenang. Mungkin karena Baginda Raja tertawa lagi. Mungkin karena… ia
juga belajar sesuatu dari perkara ini.
"Abu Nawas," kata Jafar sambil menyesap air tajin
yang ia pesan agar tidak mencolok—meskipun air tajin di kedai ini tidak pernah
seenak air tajin di istana, tetapi ia tidak keberatan, karena suasana di sini
lebih santai, lebih bebas, lebih… manusiawi, "aku masih penasaran dengan
satu hal. Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sejak perkara ramalan itu
selesai."
Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan
mengunyah dengan malas. "Apa, Wazirku yang mulia? Apakah tentang ramalan?
Tentang bintang? Tentang mimpi? Tentang pasir? Tentang pejabat yang ternyata
menjadi dalang di balik semua ini? Tentang Baginda Raja yang akhirnya sadar
bahwa ketakutan adalah musuh terbesar? Karena itu, Wazir, adalah pemandangan
yang tidak akan pernah kau lupakan, bukan? Seorang raja yang hampir jatuh
karena ketakutannya sendiri. Seorang raja yang belajar bahwa ramalan tidak akan
terjadi jika ia tidak takut. Seorang raja yang… menjadi lebih bijaksana."
Jafar tersenyum. "Kau benar, Abu Nawas. Aku tidak akan
pernah melupakan itu. Tapi bukan itu yang ingin aku tanyakan. Aku ingin
bertanya tentang… kau. Bagaimana kau bisa begitu tenang? Bagaimana kau bisa
begitu yakin? Bagaimana kau bisa begitu… tidak takut? Apakah kau tidak pernah
takut? Apakah kau tidak pernah ragu? Apakah kau tidak pernah… cemas?"
Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara
jari-jarinya dengan gerakan yang lambat, penuh pertimbangan, seperti seorang
filsuf yang sedang merenungkan makna kehidupan.
"Wazir," katanya, "saya takut. Saya juga
ragu. Saya juga cemas. Saya juga manusia. Tapi saya belajar satu hal: ketakutan
tidak akan pernah membantu. Keraguan tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
Kecemasan tidak akan pernah membawa kebaikan. Yang membantu adalah… berpikir.
Yang menyelesaikan masalah adalah… mencari tahu. Yang membawa kebaikan adalah…
bertindak. Bukan dengan kepanikan. Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan… akal
sehat."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Wazir, Wazir tahu apa yang dikatakan oleh orang-orang
bijak tentang masa depan? Mereka mengatakan bahwa masa depan bukan untuk
diramalkan, tapi untuk dipikirkan dan diperjuangkan. Karena ramalan, Wazir,
hanyalah kemungkinan. Bukan kepastian. Dan kemungkinan, Wazir, bisa diubah.
Bisa dihindari. Bisa… dilawan. Dengan berpikir. Dengan bertindak. Dengan… tidak
takut."
Jafar mengangguk. "Kau benar, Abu Nawas. Masa depan
bukan untuk diramalkan. Tapi untuk dipikirkan dan diperjuangkan. Dan ketakutan,
Abu Nawas, adalah musuh terbesar kita. Bukan ramalan. Bukan bintang. Bukan
mimpi. Bukan pasir. Tapi… ketakutan itu sendiri."
Abu Nawas tersenyum. "Wazir, Wazir mulai bijaksana.
Mungkin karena sering duduk di kedai ini. Mungkin karena sering minum air tajin
yang tidak seenak air tajin istana. Mungkin karena… sering mendengarkan
cerita-cerita saya."
Jafar tertawa. "Mungkin, Abu Nawas. Mungkin."
Di luar kedai, matahari mulai terbenam di ufuk barat,
mencelupkan Sungai Tigris dalam warna jingga dan emas. Di kejauhan, dari arah
istana, terdengar suara tawa Baginda Raja Harun Al-Rasyid—tawa yang bergema di
senja Baghdad, tawa yang membawa kedamaian bagi kota yang selalu haus akan
keadilan, tawa yang mengingatkan semua orang bahwa di tengah kekuasaan yang
berat, di tengah intrik yang rumit, di tengah kebohongan yang bersembunyi di
balik senyum, masih ada ruang untuk tawa. Masih ada ruang untuk akal sehat.
Masih ada ruang untuk… ketenangan.
Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap
air tajinnya, mengambil kurma terakhir di mangkuk, melemparkannya ke udara, dan
menangkapnya dengan mulut.
"Ramalan," gumamnya sambil mengunyah, "tidak
pernah menjatuhkan manusia, tetapi keyakinan buta terhadapnya yang
melakukannya. Karena ramalan, wahai saudara-saudaraku, hanyalah kemungkinan.
Bukan kepastian. Dan kemungkinan, bisa diubah. Bisa dihindari. Bisa dilawan.
Dengan berpikir. Dengan bertindak. Dengan… tidak takut. Maka, hadapilah masa
depan dengan akal sehat. Perjuangkanlah dengan keberanian. Dan jangan biarkan
ketakutan menguasaimu. Karena ketakutan, wahai saudara-saudaraku, adalah musuh
terbesar. Lebih besar dari ramalan. Lebih besar dari bintang. Lebih besar dari
mimpi. Lebih besar dari… apa pun."
Ia memanggil pelayan kedai untuk yang ketiga kalinya malam
itu.
"Nak, tambah kurma satu mangkuk. Dan air tajin satu
gelas. Saya sedang merenungkan sesuatu yang sangat berat: apakah masa depan
lebih baik diramalkan atau diperjuangkan? Apakah ketakutan lebih berbahaya dari
musuh yang nyata? Apakah akal sehat lebih ampuh dari ramalan? Ini teka-teki
yang tidak kalah pentingnya dari ramalan yang mengguncang istana. Dan saya,
Nak, tidak akan bisa tidur sebelum teka-teki ini terjawab."
Pelayan itu tertawa, bergegas mengambil pesanan.
Dan di luar, di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema,
mengingatkan semua orang bahwa masa depan bukan untuk diramalkan, tapi untuk
dipikirkan dan diperjuangkan. Bahwa ketakutan adalah musuh terbesar. Bahwa akal
sehat adalah pelindung terbaik. Bahwa kebijaksanaan sejati adalah menjaga
keseimbangan antara keyakinan dan akal. Bahwa… Abu Nawas, pelawak dari
pinggiran Baghdad, adalah guru terbaik yang pernah dimiliki istana ini.
TAMAT
Kata Bijak Abu
Nawas:
"Ramalan tidak pernah menjatuhkan manusia, tetapi
keyakinan buta terhadapnya yang melakukannya. Karena ramalan hanyalah
kemungkinan, bukan kepastian. Dan kemungkinan, bisa diubah. Bisa dihindari.
Bisa dilawan. Dengan berpikir. Dengan bertindak. Dengan tidak takut. Maka,
hadapilah masa depan dengan akal sehat. Perjuangkanlah dengan keberanian. Dan
jangan biarkan ketakutan menguasaimu. Karena ketakutan, wahai
saudara-saudaraku, adalah musuh terbesar. Lebih besar dari ramalan. Lebih besar
dari bintang. Lebih besar dari mimpi. Lebih besar dari apa pun. Maka, lawanlah
ketakutan dengan akal sehat. Lawanlah dengan keberanian. Lawanlah dengan…
tawa."
—Abu Nawas, di Kedai Al-Farabi, pinggiran Baghdad







0 komentar:
Posting Komentar