Balada Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid
Novelet Serial Abunawas Edisi I: Kecerdikan Akal dan Logika
Episode 6: Misteri Suara Gaib di Balik Singgasana
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG: BISIKAN DARI DUNIA TAK TERLIHAT
Di tengah keheningan malam yang menyelimuti istana Baghdad,
ketika bulan purnama bersinar terang di atas kubah-kubah emas, ketika angin
malam berhembus lembut membawa aroma bunga melati dari taman dalam, ketika para
penjaga istana mulai mengantuk di pos-pos mereka setelah seharian berjaga,
sebuah peristiwa aneh terjadi. Peristiwa yang tidak hanya membuat bulu kuduk
para penjaga merinding, tetapi juga mengguncang keyakinan para pejabat istana,
para ahli supranatural, dan bahkan Baginda Raja Harun Al-Rasyid sendiri.
Peristiwa itu berawal dari ruang singgasana—ruangan paling
megah di seluruh kekhalifahan, tempat di mana raja duduk di singgasananya yang
tinggi, tempat di mana keputusan-keputusan terpenting diambil, tempat di mana
para utusan asing diterima dengan upacara kebesaran, tempat di mana sejarah
Baghdad ditulis. Ruangan yang pada siang hari dipenuhi cahaya matahari yang
masuk melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan pola-pola cahaya keemasan di
lantai marmer putih. Ruangan yang pada malam hari sunyi, gelap, hanya diterangi
oleh lampu-lampu minyak yang tersisa, menciptakan bayangan-bayangan panjang
yang bergoyang-goyang di dinding.
Pada suatu malam, ketika para penjaga yang bertugas di
koridor dekat ruang singgasana sedang berbisik-bisik untuk mengusir kantuk,
mereka mendengar sesuatu. Bukan suara langkah kaki. Bukan suara pintu terbuka.
Bukan suara angin yang masuk melalui celah-celah jendela. Tapi suara yang lebih
aneh. Suara yang lebih misterius. Suara yang… tidak berasal dari dunia ini.
Sebuah bisikan.
Bisikan yang pelan, yang sayu, yang memanggil-manggil nama
Baginda Raja dengan nada yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bisikan
yang datang dari ruang singgasana yang kosong, dari balik tirai sutra yang
tidak bergerak, dari balik singgasana yang megah. Bisikan yang terdengar jelas
di keheningan malam, tetapi tidak bisa dipastikan dari arah mana asalnya.
Bisikan yang membuat para penjaga berdiri tegak, memegang gagang pedang mereka
dengan tangan gemetar, saling berpandangan dengan mata terbelalak, tidak berani
bergerak, tidak berani bernapas, tidak berani… percaya pada telinga mereka
sendiri.
Malam pertama, mereka mengira itu hanya imajinasi. Malam
kedua, mereka mulai gelisah. Malam ketiga, mereka tidak bisa lagi menyangkal.
Suara itu ada. Suara itu nyata. Suara itu datang setiap malam, pada jam yang
sama, dari tempat yang sama, dengan nada yang sama. Bisikan yang memanggil nama
Baginda Raja. Bisikan yang tidak bisa dijelaskan. Bisikan yang… menakutkan.
Kabar tentang suara misterius di ruang singgasana menyebar
di istana seperti api di padang rumput kering. Para penjaga berbisik di
barak-barak mereka, saling bertukar cerita, saling menguatkan ketakutan, saling
meyakinkan bahwa apa yang mereka dengar bukanlah halusinasi. Para pelayan
berbisik di dapur-dapur, saling bertanya, saling menebak, saling berdoa agar
suara itu tidak datang ke kamar mereka. Para dayang berbisik di kamar-kamar
mereka, saling memeluk, saling menangis, saling memohon perlindungan dari
makhluk-makhluk gaib yang konon menghuni istana tua itu.
Dan di tengah semua kegelisahan itu, Harun Al-Rasyid duduk
di singgasananya pada siang hari, dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun,
dengan mata yang tajam, dengan pikiran yang bekerja keras. Ia tidak percaya
pada hantu. Ia tidak percaya pada bisikan gaib. Ia adalah raja yang rasional,
yang telah memerintah selama bertahun-tahun, yang telah menghadapi berbagai
macam ancaman, yang telah melihat berbagai macam kebohongan. Tapi suara ini…
suara ini membuatnya ragu. Bukan karena ia percaya pada hal-hal gaib. Tapi
karena ia tidak bisa menemukan penjelasan lain.
Ia telah memerintahkan para penjaga untuk memeriksa ruang
singgasana setiap malam. Mereka tidak menemukan apa pun. Ia telah memerintahkan
para insinyur istana untuk memeriksa celah-celah dinding, atap, lantai. Mereka
tidak menemukan apa pun. Ia telah memerintahkan para penasihatnya untuk
menyelidiki kemungkinan adanya manusia yang bersembunyi di balik tirai. Mereka
tidak menemukan apa pun. Ruang singgasana kosong. Sunyi. Sepi. Tidak ada yang
aneh. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang… bisa dijelaskan.
Dan setiap malam, ketika bulan purnama bersinar di atas
kubah-kubah emas, ketika angin malam berhembus lembut, ketika istana sunyi,
suara itu datang lagi. Bisikan yang memanggil namanya. Bisikan yang tidak bisa
ia abaikan. Bisikan yang membuatnya… takut. Bukan takut pada hantu. Tapi takut
pada sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Sesuatu yang… berada di luar jangkauan akalnya.
Maka, pada suatu pagi, ketika matahari baru saja terbit di
ufuk timur, menyinari istana dengan cahaya keemasan yang lembut, Baginda Raja Harun
Al-Rasyid memanggil para ahli supranatural istana. Para lelaki yang mengaku
bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib. Para lelaki yang mengaku bisa mengusir
roh-roh jahat. Para lelaki yang mengaku bisa membaca tanda-tanda dari dunia
lain.
Mereka datang dengan pakaian kebesaran mereka, dengan
jubah-jubah hitam yang dihiasi simbol-simbol misterius, dengan sorban-sorban
yang dililit dengan cara khusus, dengan kalung-kalung dari tulang dan batu
akik, dengan tongkat-tongkat dari kayu tertentu yang konon memiliki kekuatan
magis. Mereka datang dengan penuh keyakinan, dengan penuh kepercayaan diri,
dengan penuh… kesombongan.
"Maha Guru," kata Harun Al-Rasyid kepada ketua
mereka, seorang lelaki tua bernama Syekh Abdul Jabal yang terkenal dengan
kemampuannya mengusir jin, "aku ingin kau memeriksa ruang singgasana. Aku
ingin kau mencari tahu apa yang menyebabkan suara aneh itu. Aku ingin kau…
mengusirnya. Jika memang itu makhluk gaib."
Syekh Abdul Jabal mengangguk dengan penuh wibawa.
"Baginda, kami akan memeriksa. Kami akan membaca. Kami akan berdoa. Kami
akan mengusir. Jika itu makhluk gaib, ia tidak akan berani muncul lagi setelah
kami turun. Jika itu jin, kami akan mengikatnya dengan doa-doa yang diajarkan
oleh para nabi. Jika itu roh penasaran, kami akan menenangkannya dengan
ayat-ayat suci. Tidak ada makhluk gaib yang bisa melawan kami, Baginda. Kami
telah puluhan tahun bergelut dengan dunia tak terlihat. Kami tahu cara mereka,
kebiasaan mereka, kelemahan mereka. Biarkan kami yang menangani ini."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. Ia tidak
sepenuhnya percaya, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Para penjaga tidak bisa
menemukan apa pun. Para insinyur tidak bisa menemukan apa pun. Para
penasihatnya tidak bisa memberikan penjelasan. Mungkin… mungkin ini memang
urusan gaib. Mungkin… mungkin selama ini ia terlalu rasional. Mungkin… mungkin
ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Tapi di sudut pikirannya, ada nama yang terus muncul. Nama
yang selalu muncul setiap kali ia menghadapi masalah yang tidak bisa
dipecahkan. Nama yang membuatnya tersenyum meskipun situasi sedang genting.
Nama yang… Abu Nawas.
Ia belum memanggilnya. Ia ingin memberikan kesempatan
kepada para ahli supranatural. Ia ingin melihat apakah mereka bisa
menyelesaikan masalah ini. Ia ingin membuktikan bahwa tidak semua masalah harus
diselesaikan oleh seorang pelawak dari pinggiran Baghdad.
Tapi di hatinya, ia sudah tahu. Ia sudah tahu bahwa pada
akhirnya, ia akan memanggil Abu Nawas. Ia sudah tahu bahwa pada akhirnya,
seorang pelawak dengan jubah lusuh dan senyum misterius akan datang, makan
kurma, tertawa, dan memecahkan teka-teki yang tidak bisa dipecahkan oleh para
ahli. Ia sudah tahu bahwa pada akhirnya, kebenaran tidak akan datang dari dunia
gaib, tetapi dari… akal sehat.
BAB 1: ISTANA DALAM KETAKUTAN
Tiga malam setelah para ahli supranatural memulai ritual
mereka, suasana istana tidak kunjung membaik. Bahkan, ketakutan yang
menyelimuti istana semakin pekat, semakin berat, semakin… mencekam.
Para penjaga yang bertugas di koridor dekat ruang
singgasana bergantian jatuh sakit. Bukan sakit biasa. Bukan karena demam atau
flu. Tapi sakit yang aneh. Sakit yang tidak bisa dijelaskan oleh tabib istana.
Mata mereka sayu, wajah mereka pucat, tubuh mereka lemas, dan ketika ditanya
apa yang mereka lihat atau dengar, mereka hanya bisa menggigil, menangis, atau
diam membatu.
"Jaga, apa yang kau lihat?" tanya komandan
penjaga kepada seorang prajurit muda yang ditemukan pingsan di koridor dekat
ruang singgasana pada malam ketiga. Prajurit itu baru dua bulan bertugas di
istana, masih muda, masih penuh semangat, masih belum terkontaminasi oleh
ketakutan-ketakutan lama yang biasa menghantui para penjaga senior. Tapi malam itu,
wajahnya pucat seperti kapur, matanya terbuka lebar tetapi kosong, mulutnya
terbuka tetapi tidak bisa mengeluarkan suara.
"Jaga!" bentak komandan itu, mengguncang bahunya
dengan keras. "Jaga, jawab! Apa yang kau lihat? Apa yang kau dengar? Apa
yang membuatmu pingsan?"
Prajurit muda itu akhirnya berbicara. Suaranya serak,
terputus-putus, seperti orang yang baru saja bangun dari mimpi buruk yang
sangat mengerikan.
"Komandan… aku… aku melihat bayangan. Bayangan di
dinding. Bayangan yang tidak memiliki tubuh. Bayangan yang bergerak sendiri.
Bayangan yang… memanggil-manggil nama Baginda Raja. Aku mendengarnya, Komandan.
Aku mendengar bisikan itu. Jelas sekali. Seperti… seperti suara orang yang
sedang menangis. Seperti… seperti suara orang yang sedang merindukan. Seperti…
seperti suara dari… kubur."
Komandan itu tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa berdiri di
sana, dengan tangan yang masih menggenggam bahu prajurit muda itu, dengan
jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya, dengan pikiran yang
berputar-putar tanpa menemukan ujung. Ia tidak percaya pada hantu. Ia adalah
prajurit yang telah bertempur di medan perang, yang telah melihat darah dan
kematian, yang tidak takut pada apa pun. Tapi suara ini… suara ini membuatnya
ragu.
Keesokan harinya, ia melapor kepada Jafar. Jafar
mendengarkan dengan saksama, dengan wajah yang semakin pucat, dengan tangan
yang semakin gemetar, dengan hati yang semakin berat. Ia kemudian melapor
kepada Baginda Raja.
"Baginda," katanya, suaranya rendah, nyaris
berbisik, "para penjaga semakin ketakutan. Ada yang jatuh sakit. Ada yang
mengundurkan diri. Ada yang meminta dipindahkan ke pos lain. Mereka semua
mengatakan hal yang sama. Mereka mendengar bisikan. Mereka melihat bayangan.
Mereka… takut."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab segera. Ia
duduk di singgasananya dengan jubah putih sederhana, tanpa mahkota, tanpa
perhiasan, hanya dengan sorban yang dililit rapi. Matanya menatap ke depan, ke
arah ruang singgasana yang kosong, ke arah tempat di mana suara itu didengar
setiap malam. Pikirannya berputar-putar, mencari jawaban, mencari penjelasan,
mencari… kebenaran.
"Jafar," katanya akhirnya, "apa kata para
ahli supranatural? Apa yang mereka temukan? Apa yang mereka lakukan? Apakah
ritual mereka berhasil? Apakah suara itu berhenti?"
Jafar menggeleng. "Belum, Baginda. Syekh Abdul Jabal
mengatakan bahwa makhluk itu sangat kuat. Sangat keras kepala. Sangat… sulit
diusir. Ia meminta waktu lebih lama. Ia meminta izin untuk melakukan ritual
yang lebih besar. Ia meminta… bantuan."
"Bantuan apa?"
"Bantuan dari para ahli dari berbagai penjuru
kekhalifahan. Dari Basra, dari Kufah, dari Damaskus, dari Mesir. Ia mengatakan
bahwa makhluk ini bukan makhluk biasa. Makhluk ini adalah… jin istana. Jin yang
sudah menghuni istana ini sejak zaman kakek Baginda. Jin yang marah karena…
karena sesuatu. Jin yang… memanggil-manggil Baginda."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya duduk
di singgasananya, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang menerawang ke
suatu tempat di kejauhan, ke suatu waktu di masa lalu yang tidak akan kembali.
"Jin istana?" ulangnya, suaranya rendah, hampir
tidak terdengar. "Jin yang marah? Jin yang memanggil-manggil namaku?
Apakah kau percaya itu, Jafar? Apakah kau percaya bahwa istana ini dihuni oleh
jin yang marah? Apakah kau percaya bahwa suara yang didengar para penjaga
adalah suara jin? Apakah kau percaya bahwa kita tidak bisa mengusirnya dengan
akal sehat, tetapi harus dengan doa-doa dan ritual-ritual?"
Jafar terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia adalah
seorang Barmakid yang terdidik dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Ia telah
membaca buku-buku dari Yunani tentang logika dan alam semesta. Ia telah belajar
dari para ilmuwan di Baitul Hikmah tentang sebab dan akibat. Ia tidak percaya
pada jin istana. Ia tidak percaya pada suara gaib. Tapi ia juga tidak bisa
menjelaskan apa yang terjadi. Ia juga tidak bisa memberikan jawaban. Ia juga
tidak bisa… menenangkan ketakutan.
"Baginda," katanya akhirnya, "aku tidak
tahu. Aku tidak tahu apakah itu jin atau bukan. Aku tidak tahu apakah itu
makhluk gaib atau ulah manusia. Aku hanya tahu bahwa para penjaga ketakutan.
Aku hanya tahu bahwa istana ini tidak tenang. Aku hanya tahu bahwa… kita butuh
bantuan. Bantuan dari seseorang yang tidak takut pada hal-hal gaib. Bantuan
dari seseorang yang bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Bantuan
dari seseorang yang… tidak percaya pada hantu."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. Senyum yang tipis,
senyum yang hampir tidak terlihat, tetapi Jafar mengenalinya. Senyum itu adalah
senyum yang sama yang selalu muncul ketika Baginda Raja memikirkan seseorang.
"Abu Nawas," kata mereka bersamaan.
Harun Al-Rasyid tertawa. "Kau membaca pikiranku,
Jafar. Ya. Panggil Abu Nawas. Panggil dia sekarang. Katakan padanya bahwa ada
hantu di istana. Katakan padanya bahwa para ahli supranatural tidak bisa
mengusirnya. Katakan padanya bahwa aku… butuh bantuannya. Bukan sebagai raja.
Tapi sebagai manusia. Manusia yang tidak mengerti mengapa suara-suara aneh itu
muncul. Manusia yang tidak bisa tidur karena bisikan-bisikan itu. Manusia yang…
takut."
Jafar mengangguk. "Akan kukirim utusan, Baginda."
"Jangan dengan utusan biasa," kata Harun
Al-Rasyid. "Kau sendiri yang pergi, Jafar. Kau sendiri yang menjemputnya.
Katakan padanya bahwa ada kurma Sukkari dari kebunku menunggunya. Katakan
padanya bahwa ada air tajin dari sumur dalam. Katakan padanya bahwa ada
teka-teki yang hanya bisa dipecahkan olehnya. Teka-teki tentang suara yang
tidak berasal dari manusia. Teka-teki tentang bayangan yang tidak memiliki
tubuh. Teka-teki tentang… ketakutan."
BAB 2: PARA AHLI SUPRANATURAL BERBICARA
Keesokan paginya, sebelum Abu Nawas tiba, Harun Al-Rasyid
memutuskan untuk mendengarkan sekali lagi para ahli supranatural. Ia ingin tahu
apa yang mereka temukan. Ia ingin tahu apa yang mereka rencanakan. Ia ingin
tahu apakah mereka benar-benar memiliki kemampuan atau hanya… pembohong.
Aula Singgasana Agung pagi itu terasa berbeda. Lampu-lampu
minyak yang biasanya menyala terang, kali ini diredupkan. Dupa-dupa yang biasanya
digunakan untuk wewangian, kali ini dibakar lebih banyak, menciptakan kabut
tipis yang memenuhi ruangan, membuat segalanya terlihat kabur, seperti mimpi,
seperti dunia lain. Di tengah ruangan, di hadapan singgasana, duduk para ahli
supranatural dalam lingkaran, dengan jubah-jubah hitam mereka, dengan
simbol-simbol misterius yang digambar di lantai dengan kapur, dengan
mangkuk-mangkuk berisi air mawar dan garam dan kemenyan.
Syekh Abdul Jabal duduk di tengah lingkaran, dengan mata
terpejam, dengan tangan terangkat ke langit, dengan bibir yang komat-kamit
membaca doa-doa yang tidak bisa didengar oleh orang awam. Di sekelilingnya,
murid-muridnya duduk dengan posisi yang sama, dengan mata yang sama terpejam,
dengan bibir yang sama komat-kamit, dengan tubuh yang sama bergoyang-goyang
mengikuti irama doa yang tidak terdengar.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya,
menunggu, dengan sabar, dengan mata yang tajam, dengan pikiran yang bekerja
keras. Ia tidak percaya pada ritual-ritual ini. Tapi ia ingin mendengar apa
yang akan mereka katakan. Ia ingin tahu apakah mereka akan memberikan jawaban
yang masuk akal. Ia ingin tahu apakah mereka akan… berbohong.
Setelah beberapa saat, Syekh Abdul Jabal membuka matanya.
Matanya sayu, seperti orang yang baru saja melakukan perjalanan jauh, seperti
orang yang baru saja kembali dari dunia lain.
"Baginda," katanya, suaranya rendah, berat,
seperti guntur di kejauhan, "kami telah melakukan kontak. Kami telah
berbicara dengan makhluk itu. Kami telah mencoba mengusirnya. Tapi…"
Ia berhenti, menghela napas panjang, mengusap wajahnya
dengan tangan yang gemetar.
"Tapi, Baginda, makhluk ini sangat kuat. Sangat keras
kepala. Sangat… sulit diusir. Ini bukan jin biasa. Ini adalah… jin istana. Jin
yang sudah menghuni istana ini sejak zaman kakek Baginda. Jin yang ditugaskan
untuk menjaga istana ini. Jin yang… marah."
Baginda RajaHarun Al-Rasyid mengerutkan kening.
"Marah? Marah tentang apa? Apa yang membuatnya marah?"
Syekh Abdul Jabal menunduk, seolah-olah sedang mendengarkan
sesuatu yang tidak bisa didengar oleh orang lain. "Ia mengatakan… ia
mengatakan bahwa Baginda telah melupakan tradisi. Ia mengatakan bahwa Baginda
tidak lagi menghormati leluhur. Ia mengatakan bahwa Baginda… tidak lagi
mendengarkan bisikan-bisikan dari dunia lain."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya duduk
di singgasananya, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang tidak berkedip,
dengan pikiran yang berputar-putar. Tradisi? Leluhur? Bisikan dari dunia lain?
Ia tidak pernah percaya pada hal-hal seperti itu. Ia tidak pernah melakukan
ritual-ritual yang dilakukan oleh kakeknya. Ia tidak pernah memelihara jin-jin
istana seperti yang dilakukan oleh ayahnya. Ia adalah raja modern, raja yang
percaya pada ilmu pengetahuan, raja yang membangun Baitul Hikmah, raja yang
menerjemahkan buku-buku dari Yunani. Apakah itu yang membuat jin itu marah?
Apakah itu yang menyebabkan suara-suara aneh itu? Apakah itu… kesalahannya?
"Syekh," katanya, suaranya tenang tetapi ada nada
yang tidak biasa di dalamnya, "apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus
aku lakukan untuk menenangkan jin itu? Apa yang harus aku lakukan agar
suara-suara itu berhenti? Apa yang harus aku lakukan agar istana ini kembali
tenang?"
Syekh Abdul Jabal mengangkat kepalanya. Matanya bersinar, seperti
orang yang melihat cahaya di ujung terowongan.
"Baginda, kami harus melakukan ritual besar. Ritual
yang belum pernah dilakukan selama puluhan tahun. Kami harus memanggil para
ahli dari seluruh kekhalifahan. Dari Basra, dari Kufah, dari Damaskus, dari
Mesir. Kami harus mengumpulkan mereka di istana ini. Kami harus melakukan
ritual selama tujuh malam tujuh hari. Kami harus membaca doa-doa khusus. Kami
harus mengorbankan…"
"Syekh," potong Baginda Raja Harun Al-Rasyid,
suaranya masih tenang, "aku tidak bertanya tentang ritual. Aku tidak
bertanya tentang pengorbanan. Aku tidak bertanya tentang ahli-ahli dari
berbagai penjuru. Aku bertanya tentang… apa yang harus aku lakukan. Aku.
Sebagai raja. Sebagai manusia. Sebagai… Harun. Apa yang harus aku lakukan untuk
menenangkan jin itu?"
Syekh Abdul Jabal terdiam. Ia menatap Baginda Raja dengan
mata yang berubah. Bukan lagi keyakinan. Bukan lagi kepercayaan diri. Tapi…
keraguan. Keraguan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Baginda," katanya akhirnya, suaranya lebih rendah,
lebih lembut, "jin itu… jin itu hanya ingin didengar. Hanya ingin
diperhatikan. Hanya ingin… dihormati. Jika Baginda mau, Baginda bisa datang ke
ruang singgasana pada malam hari. Sendirian. Tanpa pengawal. Tanpa senjata.
Tanpa… ketakutan. Duduk di singgasana. Diam. Mendengarkan. Dan jin itu… jin itu
akan berbicara. Jin itu akan menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Dan
setelah itu… setelah itu, mungkin ia akan pergi. Mungkin ia akan tenang.
Mungkin ia akan… berhenti."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya duduk
di singgasananya, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang menerawang ke
suatu tempat di kejauhan, ke suatu tempat yang tidak bisa dilihat oleh siapa
pun. Duduk di ruang singgasana pada malam hari. Sendirian. Tanpa pengawal.
Tanpa senjata. Tanpa ketakutan. Mendengarkan bisikan dari dunia lain. Apakah
itu yang harus ia lakukan? Apakah itu yang diinginkan oleh jin itu? Apakah itu…
jawabannya?
Ia tidak tahu. Ia tidak tahu apa yang harus ia percayai. Ia
tidak tahu apakah ia harus mengikuti nasihat para ahli supranatural atau
mengandalkan akal sehatnya. Ia tidak tahu apakah ia harus percaya pada hal-hal
gaib atau tetap pada logika. Ia bimbang. Ia ragu. Ia… takut. Bukan takut pada
jin. Tapi takut pada… ketidakpastian.
"Syekh," katanya, "aku akan pikirkan. Aku
akan putuskan. Sekarang, kau boleh pergi. Kau boleh istirahat. Kau boleh…
berdoa."
BAB 3: PERDEBATAN PERTAMA
Abu Nawas datang ke istana pada sore hari, ketika matahari
mulai condong ke barat, ketika cahaya keemasan menyinari kubah-kubah emas,
ketika bayangan-bayangan mulai memanjang di halaman-halaman istana. Ia datang
dengan jubah lusuh yang sama, sandal aus yang sama, sorban yang dililit dengan
malas yang sama, dan senyum misterius yang sama. Di tangannya, sekantong kecil
kurma—kurma Sukkari yang ia beli di pasar dengan uang terakhir yang ia miliki,
karena jatah mingguan dari istana baru akan diberikan besok, dan ia tidak bisa
menunggu, karena ia sudah mendengar tentang suara-suara aneh di istana dan ia
tahu bahwa untuk menghadapi hal-hal aneh, ia membutuhkan kurma. Banyak kurma.
Jafar menyambutnya di gerbang istana dengan wajah yang
masih pucat, dengan mata yang masih sayu, dengan suara yang masih serak karena
terlalu banyak berbicara dengan para ahli supranatural yang tidak menghasilkan
apa-apa.
"Abu Nawas," katanya, "terima kasih sudah
datang. Baginda Raja sudah menunggu sejak siang. Ia tidak bisa tidur semalaman.
Ia terus memikirkan suara-suara itu. Ia terus memikirkan apa yang dikatakan
oleh para ahli supranatural. Ia terus memikirkan… apakah ia harus percaya pada
hal-hal gaib atau tetap pada logika."
Abu Nawas mengambil kurma dari kantongnya, memasukkannya ke
mulut, mengunyah perlahan.
"Wazir," katanya, "Baginda Raja tidak perlu
memilih antara percaya pada hal-hal gaib atau tetap pada logika. Baginda Raja
hanya perlu… mengerti. Mengerti bahwa ketakutan sering kali lebih cepat datang
daripada kebenaran. Mengerti bahwa hal-hal yang tidak bisa dijelaskan sering
kali memiliki penjelasan yang sangat sederhana. Mengerti bahwa… tidak semua
yang tak terlihat itu gaib. Kadang, hanya belum dipahami."
Jafar tidak mengerti. Ia hanya menggelengkan kepala,
berjalan di samping Abu Nawas menuju ruang pertemuan pribadi Baginda Raja.
Di ruang pertemuan pribadi, Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk
di singgasananya dengan jubah pagi berwarna putih, tanpa mahkota, tanpa
perhiasan, hanya dengan sorban sederhana yang melilit kepalanya. Di sampingnya,
duduk para ahli supranatural yang dipanggil untuk memberikan laporan. Di
hadapannya, berdiri para penasihat istana yang juga diundang untuk
mendengarkan. Suasana ruangan itu tegang, seperti sebelum badai, seperti
sebelum pertempuran, seperti sebelum… kebenaran diungkap.
Abu Nawas masuk dengan langkah santai, duduk bersila di
lantai marmer di hadapan Baginda Raja, mengambil kurma dari kantongnya, dan
memasukkannya ke mulut dengan nikmat.
"Baginda," katanya, "saya dengar ada
suara-suara aneh di istana. Saya dengar ada bisikan-bisikan yang memanggil nama
Baginda. Saya dengar ada bayangan-bayangan yang tidak memiliki tubuh. Saya
dengar ada… hantu."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Benar, Abu
Nawas. Para penjaga mendengarnya setiap malam. Para ahli supranatural sudah
memeriksanya. Mereka mengatakan bahwa itu adalah jin istana. Jin yang sudah
menghuni istana ini sejak zaman kakekku. Jin yang marah karena aku melupakan
tradisi. Jin yang… memanggil-manggil aku."
Abu Nawas tertawa. Tertawa yang keras, tertawa yang bebas,
tertawa yang bergema di ruangan yang tegang itu, membuat semua orang menoleh,
membuat semua orang terkejut, membuat semua orang… tidak nyaman.
"Jin istana?" katanya di sela tawa. "Jin
yang marah? Jin yang memanggil-manggil Baginda? Syekh, apakah Syekh benar-benar
percaya bahwa jin akan repot-repot memanggil-manggil nama Baginda? Apakah jin
tidak punya pekerjaan lain? Apakah jin tidak punya urusan lain? Apakah jin
hanya duduk di balik singgasana setiap malam, menunggu, berbisik,
memanggil-manggil nama Baginda?"
Syekh Abdul Jabal tersentak. Wajahnya yang tadinya tenang,
kini merah padam. "Abu Nawas! Kau tidak boleh meremehkan hal-hal gaib! Kau
tidak boleh menertawakan apa yang tidak kau mengerti! Kau tidak boleh…"
"Syekh," potong Abu Nawas dengan suara yang masih
tenang, tidak terpengaruh oleh amarah Syekh Abdul Jabal, "saya tidak
meremehkan. Saya tidak menertawakan. Saya hanya… bertanya. Bertanya dengan
logika. Bertanya dengan akal sehat. Bertanya dengan… kurma."
Ia mengambil kurma lain, memutarnya di antara jari-jarinya.
"Syekh, Syekh bilang ini jin istana. Jin yang sudah
menghuni istana ini sejak zaman kakek Baginda. Jin yang marah karena Baginda
melupakan tradisi. Pertanyaan saya: mengapa jin itu baru marah sekarang?
Mengapa tidak dulu? Mengapa tidak ketika kakek Baginda masih hidup? Mengapa
tidak ketika ayah Baginda masih berkuasa? Mengapa baru sekarang? Apakah jin itu
baru sadar bahwa Baginda melupakan tradisi? Apakah jin itu baru bangun tidur
setelah puluhan tahun?"
Syekh Abdul Jabal tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam,
dengan mulut terbuka, dengan mata terbelalak, dengan tangan gemetar.
"Dan satu pertanyaan lagi, Syekh," lanjut Abu
Nawas, suaranya menjadi lebih tajam, lebih menusuk, seperti pisau yang baru
diasah. "Syekh bilang jin itu memanggil-manggil nama Baginda. Mengapa
hanya memanggil nama Baginda? Mengapa tidak memanggil nama Wazir Jafar? Mengapa
tidak memanggil nama para penasihat? Mengapa tidak memanggil nama para penjaga?
Apakah jin itu hanya mengenal Baginda? Apakah jin itu tidak kenal orang lain?
Apakah jin itu… hanya ingin perhatian?"
Syekh Abdul Jabal masih terdiam. Murid-muridnya juga
terdiam. Para penasihat istana juga terdiam. Semua orang terdiam. Hanya Abu
Nawas yang masih berbicara, dengan suara yang tenang, dengan senyum yang
misterius, dengan kurma di tangannya.
"Syekh," katanya, "saya tidak mengatakan
bahwa Syekh salah. Saya tidak mengatakan bahwa ini bukan jin. Saya hanya
mengatakan bahwa sebelum kita memanggil ahli-ahli dari Basra, dari Kufah, dari
Damaskus, dari Mesir, sebelum kita melakukan ritual tujuh malam tujuh hari,
sebelum kita mengorbankan apa pun… alangkah baiknya jika kita memeriksa dulu.
Memeriksa dengan akal sehat. Memeriksa dengan logika. Memeriksa dengan…
kurma."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan,
menikmati setiap detiknya, membuat semua orang yang menatapnya hampir tidak
sabar.
"Karena, Syekh, tidak semua yang tak terlihat itu
gaib. Kadang, hanya belum dipahami. Kadang, hanya belum dicari. Kadang, hanya
belum… ditemukan."
Bainda Raja Harun Al-Rasyid, yang sejak tadi diam
mendengarkan, akhirnya bersuara. Suaranya tenang, tetapi ada nada kekaguman di
dalamnya.
"Abu Nawas, apa yang kau sarankan? Apa yang harus kita
lakukan? Apakah kita harus mengabaikan suara-suara itu? Apakah kita harus
menganggapnya hanya angin? Apakah kita harus…"
"Baginda," potong Abu Nawas, "saya tidak
mengatakan mengabaikan. Saya tidak mengatakan menganggapnya angin. Saya hanya
mengatakan… periksa. Periksa dengan teliti. Periksa dengan sabar. Periksa
dengan… akal sehat. Izinkan saya bermalam di ruang singgasana. Izinkan saya
mendengar sendiri suara-suara itu. Izinkan saya… bertemu dengan jin istana
itu."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terkejut. "Kau ingin
bermalam di ruang singgasana? Sendirian? Tanpa pengawal? Tanpa senjata? Tanpa…
doa?"
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, saya tidak butuh pengawal.
Saya tidak butuh senjata. Saya tidak butuh doa. Saya hanya butuh… kurma. Banyak
kurma. Dan air tajin. Dan… ketenangan. Ketenangan untuk mendengar. Ketenangan
untuk mengamati. Ketenangan untuk… mengerti."
BAB 4: UJIAN MALAM PERTAMA
Malam itu, ketika bulan purnama bersinar terang di atas
kubah-kubah emas, ketika angin malam berhembus lembut membawa aroma bunga
melati dari taman dalam, ketika para penjaga istana mulai berbisik-bisik di
koridor-koridor, Abu Nawas masuk ke ruang singgasana. Sendirian. Tanpa
pengawal. Tanpa senjata. Tanpa doa. Hanya dengan sekantong kurma di sakunya dan
segelas air tajin di tangannya—air tajin yang ia minta dari dapur istana,
dengan alasan bahwa untuk menghadapi hantu, ia perlu tenggorokan yang basah.
Ia duduk di lantai marmer di hadapan singgasana, bersandar
pada tiang marmer yang dingin, meletakkan air tajin di sampingnya, dan mulai
makan kurma satu per satu, perlahan, menikmati setiap gigitan, setiap kunyahan,
setiap rasa manis yang meleleh di lidahnya.
Ia tidak takut. Ia tidak gemetar. Ia tidak berdoa. Ia hanya
duduk, dengan mata terbuka, dengan telinga yang mendengar, dengan pikiran yang
tenang.
Di luar ruang singgasana, di koridor-koridor, para penjaga
berbisik-bisik. Mereka penasaran. Mereka takut. Mereka ingin tahu apa yang akan
terjadi. Akankah Abu Nawas mendengar suara itu? Akankah Abu Nawas melihat
bayangan itu? Akankah Abu Nawas… bertemu dengan jin istana?
Jafar berdiri di ujung koridor, dengan jantung berdebar,
dengan tangan gemetar, dengan doa terucap dalam hati. Ia tidak percaya pada
jin. Tapi ia takut pada yang tidak diketahui. Ia takut pada yang tidak bisa
dijelaskan. Ia takut pada… suara-suara aneh yang tidak bisa ia pahami.
Syekh Abdul Jabal dan murid-muridnya juga berdiri di
koridor lain, dengan jubah-jubah hitam mereka, dengan doa-doa yang terus
terucap, dengan keyakinan yang mulai goyah. Mereka ingin melihat apakah jin itu
akan muncul. Mereka ingin melihat apakah Abu Nawas akan selamat. Mereka ingin
melihat… siapa yang benar.
Jam berganti jam. Malam semakin larut. Keheningan semakin
dalam. Abu Nawas masih duduk di ruang singgasana, masih makan kurma, masih
minum air tajin, masih… menunggu.
Kemudian, sekitar tengah malam, ketika bulan tepat berada
di atas kubah utama istana, ketika sinar bulan masuk melalui jendela-jendela
tinggi, menciptakan pola-pola cahaya perak di lantai marmer, ketika
bayangan-bayangan tiang-tiang marmer memanjang seperti jari-jari raksasa yang
merayap di dinding, suara itu datang.
Bisikan. Pelan. Sayu. Misterius.
"Harun… Harun… Harun Al-Rasyid…"
Abu Nawas tidak bergerak. Tidak terkejut. Tidak gemetar. Ia
hanya mendengar. Dengan telinga yang terbuka. Dengan pikiran yang tenang.
Dengan hati yang… tidak takut.
Suara itu datang lagi. Lebih jelas. Lebih dekat. Lebih…
nyata.
"Harun… Harun… Mengapa kau melupakanku? Mengapa kau
tidak mendengarkanku? Mengapa kau… meninggalkanku?"
Abu Nawas tersenyum. Ia mengambil kurma, memasukkannya ke
mulut, mengunyah perlahan. Kemudian ia berbicara. Bukan berbisik. Bukan
berteriak. Tapi berbicara dengan suara normal, seperti sedang berbicara dengan
teman lama di kedai kopi.
"Hai," katanya, "siapa kau? Kau jin? Kau
hantu? Kau roh penasaran? Atau kau hanya… angin? Angin yang masuk melalui celah
dinding? Angin yang berbisik-bisik tanpa makna? Angin yang… menakut-nakuti
orang yang tidak mengerti?"
Suara itu berhenti. Ruang singgasana sunyi. Sunyi yang
begitu dalam hingga suara napas Abu Nawas terdengar jelas. Kemudian suara itu
datang lagi. Lebih keras. Lebih marah. Lebih… mengancam.
"Aku bukan angin! Aku bukan angin! Aku adalah… penjaga
istana! Aku adalah… jin yang ditugaskan untuk menjaga kakek Baginda! Aku
adalah… yang berhak dihormati!"
Abu Nawas tertawa. Tertawa yang keras, tertawa yang bebas,
tertawa yang bergema di ruang singgasana yang megah itu, membuat para penjaga
di koridor gemetar, membuat Jafar hampir pingsan, membuat Syekh Abdul Jabal dan
murid-muridnya saling berpandangan dengan mata terbelalak.
"Jin yang ditugaskan menjaga kakek Baginda?" kata
Abu Nawas di sela tawa. "Jin yang berhak dihormati? Kalau kau jin,
tunjukkan dirimu! Jangan hanya berbisik-bisik dari balik tirai! Jangan hanya
menakut-nakuti orang yang tidak bersalah! Jangan hanya… bersembunyi!"
Suara itu tidak menjawab. Ruang singgasana sunyi lagi.
Sunyi yang lebih dalam, lebih mencekam, lebih… menakutkan. Tapi Abu Nawas tidak
takut. Ia hanya duduk, dengan kurma di tangannya, dengan air tajin di
sampingnya, dengan senyum di bibirnya.
"Kau tidak mau keluar?" katanya. "Baiklah.
Aku akan mencarimu. Aku akan menemukan dari mana suaramu berasal. Aku akan…
membongkar persembunyianmu."
Ia berdiri, berjalan perlahan mengelilingi ruang
singgasana, dengan langkah yang tenang, dengan mata yang tajam, dengan telinga
yang mendengar setiap suara, setiap desiran, setiap gerakan. Ia berjalan ke
arah singgasana, ke arah tempat suara itu berasal. Ia berjalan ke balik tirai
sutra, ke arah dinding belakang. Ia berjalan ke sudut-sudut ruangan, ke
tempat-tempat yang gelap, ke tempat-tempat yang jarang terjamah.
Dan di balik singgasana, di balik tirai sutra tebal yang
tidak pernah dibuka, di balik dinding marmer yang tebal, ia menemukan sesuatu.
Bukan jin. Bukan hantu. Bukan roh penasaran. Tapi… celah. Celah kecil di
dinding, setebal jari tangan, yang menghubungkan ruang singgasana dengan ruang
di belakangnya. Celah yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun. Celah yang
menjadi jalan bagi suara-suara aneh itu. Celah yang… menjadi sumber ketakutan.
Ia mendekatkan telinganya ke celah itu. Di seberang, ia
mendengar suara. Suara orang yang bernapas. Suara orang yang bergerak. Suara
orang yang… bersembunyi.
Ia tersenyum. Ia mengambil kurma, melemparkannya ke mulut,
dan mengunyah dengan nikmat.
"Kutemukan kau," gumamnya. "Besok, kau akan
kutemukan. Besok, kebenaran akan terungkap. Besok, istana akan tenang
lagi."
BAB 5: SUARA YANG MENGGEMA
Keesokan paginya, ketika matahari baru saja terbit di ufuk
timur, menyinari istana Baghdad dengan cahaya keemasan yang lembut, Abu Nawas
keluar dari ruang singgasana dengan langkah santai, dengan senyum misterius,
dengan kurma di tangannya. Ia tidak terlihat takut. Ia tidak terlihat lelah. Ia
tidak terlihat seperti orang yang baru saja bermalam di ruangan yang dihantui.
Ia terlihat seperti orang yang baru saja menyelesaikan teka-teki yang paling
rumit.
Para penjaga yang berjaga di koridor sepanjang malam, yang
mendengar suara-suara aneh itu, yang mendengar tawa Abu Nawas di tengah malam,
yang mendengar bisikan-bisikan yang memanggil-manggil nama Baginda Raja,
berlari menghampirinya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Tuan Abu Nawas!" seru seorang penjaga muda.
"Tuan mendengar suara itu? Tuan melihat jin itu? Tuan selamat? Tuan…"
Abu Nawas mengangkat tangannya, menghentikan banjir
pertanyaan. "Nak, saya mendengar suara itu. Saya mendengar bisikan itu.
Saya mendengar panggilan itu. Dan saya… selamat. Jin itu tidak memakan saya.
Jin itu tidak menculik saya. Jin itu tidak… melakukan apa pun. Karena, Nak, jin
itu… bukan jin."
Para penjaga saling berpandangan dengan mata terbelalak.
"Bukan jin? Lalu apa, Tuan? Suara itu sangat jelas. Sangat nyata. Sangat…
menakutkan."
Abu Nawas tersenyum. "Suara itu nyata, Nak. Tapi bukan
dari jin. Suara itu dari… manusia. Manusia yang bersembunyi di balik dinding.
Manusia yang sengaja menakut-nakuti. Manusia yang… punya tujuan."
Kabar tentang penemuan Abu Nawas menyebar di istana seperti
api di padang rumput kering. Para pejabat, para penjaga, para pelayan, para
dayang, semua berlarian ke ruang singgasana, ingin melihat sendiri apa yang
ditemukan Abu Nawas. Mereka ingin tahu apakah benar suara-suara aneh itu berasal
dari manusia, bukan dari jin. Mereka ingin tahu apakah ketakutan mereka selama
ini hanyalah… tipuan.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid datang dengan jubah kebesaran,
dengan mahkota di kepalanya, dengan wajah yang tegang. Ia berjalan ke balik
singgasana, ke balik tirai sutra yang tidak pernah dibuka, ke balik dinding
marmer yang tebal. Abu Nawas berdiri di sampingnya, menunjuk ke celah kecil di
dinding, celah yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun, celah yang menjadi
jalan bagi suara-suara aneh itu.
"Baginda," katanya, "di balik dinding ini,
ada ruang kosong. Ruang yang tidak pernah digunakan. Ruang yang terlupakan.
Ruang yang… menjadi persembunyian. Dan di ruang itu, ada seseorang. Seseorang
yang setiap malam datang, menempelkan mulutnya ke celah ini, dan berbisik.
Berbisik memanggil nama Baginda. Berbisik menakut-nakuti. Berbisik… menciptakan
ketakutan."
Bagnda Raja Harun Al-Rasyid menatap celah itu dengan mata
yang tajam. "Kau yakin, Abu Nawas? Kau yakin ada manusia di balik dinding
ini? Kau yakin suara-suara itu berasal dari manusia, bukan dari… makhluk
gaib?"
Abu Nawas mengambil kurma dari sakunya, memasukkannya ke
mulut, mengunyah perlahan. "Baginda, saya tidak yakin. Saya hanya…
menduga. Tapi untuk membuktikan dugaan saya, kita harus membuka dinding ini.
Kita harus melihat sendiri apa yang ada di baliknya. Kita harus… menemukan
kebenaran."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Buka dinding
ini. Sekarang. Aku ingin tahu. Aku ingin melihat. Aku ingin… mengerti."
Para pekerja istana dipanggil. Mereka membawa palu dan
pahat, mulai membuka dinding marmer yang tebal itu perlahan-lahan, dengan
hati-hati, dengan penuh antisipasi. Suara palu memukul marmer bergema di ruang
singgasana yang megah itu, membuat semua orang yang hadir menahan napas, membuat
semua orang yang hadir berdoa dalam hati, membuat semua orang yang hadir…
takut. Takut pada apa yang akan mereka temukan. Takut pada kebenaran. Takut
pada… kenyataan.
Setelah beberapa saat, dinding itu terbuka. Di baliknya,
ada ruang kosong. Ruang kecil, sempit, gelap, hanya cukup untuk satu orang. Dan
di ruang itu, duduk seorang lelaki. Lelaki dengan pakaian sederhana, dengan
wajah pucat, dengan mata terbelalak, dengan tangan gemetar. Lelaki yang tidak
bisa lari, tidak bisa sembunyi, tidak bisa… berbohong lagi.
Para penjaga bergegas menangkapnya, menariknya keluar dari
persembunyiannya, membawanya ke hadapan Baginda Raja. Lelaki itu berlutut di
lantai marmer, dengan tubuh gemetar, dengan air mata mengalir, dengan suara
yang tidak bisa keluar dari tenggorokannya.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatapnya lama. Matanya tidak
marah. Matanya tidak kejam. Matanya… sedih. Sedih karena selama ini ia takut
pada hal yang tidak perlu. Sedih karena selama ini ia membiarkan ketakutan
menguasai istananya. Sedih karena selama ini ia lupa bahwa akal sehat adalah
pelindung terbaik.
"Siapa namamu?" tanyanya, suaranya tenang tetapi
berat.
"Khalid, Baginda," jawab lelaki itu, suaranya
serak, terputus-putus.
"Khalid, apa yang kau lakukan? Mengapa kau bersembunyi
di balik dinding? Mengapa kau berbisik-bisik memanggil namaku? Mengapa kau
menakut-nakuti istana ini? Apa tujuannya? Apa yang kau inginkan?"
Khalid menunduk. Air matanya jatuh ke lantai marmer yang
dingin.
"Baginda," katanya, suaranya nyaris berbisik,
"aku… aku mantan penjaga istana. Aku dipecat tiga bulan lalu. Dipecat
karena… karena aku dituduh mencuri. Padahal aku tidak mencuri. Aku tidak pernah
mencuri. Aku hanya… berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Aku
dipecat tanpa pengadilan. Aku dipecat tanpa bukti. Aku dipecat… tanpa
keadilan."
Ia mengangkat kepalanya, matanya merah, basah, tetapi ada
api di sana. Api kemarahan. Api keputusasaan. Api… dendam.
"Aku ingin balas dendam, Baginda. Aku ingin membuat
istana ini takut. Aku ingin membuat Baginda takut. Aku ingin… semua orang
merasakan apa yang aku rasakan. Ketakutan. Ketidakpastian. Ketidakadilan. Aku
tahu tentang celah di dinding ini. Aku tahu tentang ruang kosong di balik
singgasana. Aku tahu bahwa suara akan bergema melalui celah itu. Aku tahu bahwa
orang akan takut pada hal-hal yang tidak mereka mengerti. Aku hanya… ingin
balas dendam."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya
berdiri di hadapan Khalid, dengan tangan di samping, dengan mata yang tidak
berkedip, dengan pikiran yang berputar-putar. Balas dendam. Ketakutan.
Ketidakadilan. Ia dipecat tanpa pengadilan. Ia dipecat tanpa bukti. Ia dipecat…
tanpa keadilan.
Ia menoleh ke arah Jafar. "Jafar, periksa. Apakah
benar Khalid dipecat tanpa pengadilan? Apakah benar ia dituduh mencuri tanpa
bukti? Apakah benar… ada ketidakadilan di istanaku?"
Jafar menunduk. "Baginda, aku akan periksa. Aku akan
selidiki. Aku akan… berikan laporan."
"Lakukan sekarang," kata Harun Al-Rasyid.
"Aku tidak ingin ada lagi ketidakadilan di istanaku. Aku tidak ingin ada lagi
orang yang dipecat tanpa pengadilan. Aku tidak ingin ada lagi orang yang dendam
karena… diperlakukan tidak adil."
BAB 6: PERDEBATAN MEMANAS
Setelah Khalid dibawa ke tempat yang lebih aman untuk
diinterogasi lebih lanjut, suasana di ruang singgasana berubah. Para ahli
supranatural yang tadinya penuh keyakinan, kini terdiam. Wajah mereka pucat,
tangan mereka gemetar, mata mereka tidak berani menatap Baginda Raja. Syekh
Abdul Jabal sendiri, yang tiga puluh tahun dianggap sebagai ahli supranatural
terbaik di kekhalifahan, berdiri di sudut ruangan dengan kepala menunduk,
dengan bahu yang merosot, dengan harga diri yang hancur.
Abu Nawas tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya duduk di
lantai marmer, dengan kurma di tangannya, dengan air tajin di sampingnya, dengan
senyum misterius di bibirnya. Ia tidak perlu mengatakan apa-apa. Kebenaran
sudah berbicara sendiri. Suara-suara aneh itu bukan dari jin. Bayangan-bayangan
misterius itu bukan dari makhluk gaib. Semuanya adalah ulah manusia. Manusia
yang dendam. Manusia yang putus asa. Manusia yang… tidak diperlakukan adil.
Tapi Syekh Abdul Jabal tidak bisa menerima kekalahan begitu
saja. Ia tidak bisa menerima bahwa selama ini ia telah salah. Ia tidak bisa
menerima bahwa ritual-ritualnya, doa-doanya, keyakinannya, semuanya tidak
berguna. Ia tidak bisa menerima bahwa seorang pelawak, seorang pemakan kurma
dari pinggiran Baghdad, telah membuktikan bahwa ia salah.
"Abu Nawas," katanya, suaranya masih berusaha
tegas, meskipun gemetar, "ini belum membuktikan apa-apa. Ya, kau menemukan
seorang manusia di balik dinding. Ya, kau menemukan celah yang menjadi jalan
suara. Tapi itu tidak berarti bahwa tidak ada makhluk gaib. Itu tidak berarti
bahwa jin istana tidak ada. Itu tidak berarti bahwa…"
"Syekh," potong Abu Nawas dengan suara yang masih
tenang, tidak terpengaruh oleh nada tajam Syekh Abdul Jabal, "saya tidak
mengatakan bahwa jin istana tidak ada. Saya tidak mengatakan bahwa makhluk gaib
tidak ada. Saya hanya mengatakan bahwa dalam kasus ini, dalam kasus suara-suara
aneh di ruang singgasana ini, penyebabnya adalah manusia. Manusia yang
bersembunyi di balik dinding. Manusia yang berbisik-bisik melalui celah.
Manusia yang… menciptakan ketakutan."
Ia mengambil kurma, memutarnya di antara jari-jarinya.
"Syekh, Syekh bilang ini jin istana. Syekh bilang jin
itu marah. Syekh bilang jin itu memanggil-manggil Baginda. Tapi setelah kita
buka dinding ini, setelah kita temukan manusia ini, di mana jinnya? Di mana jin
yang marah? Di mana jin yang memanggil-manggil? Apakah jin itu kabur? Apakah
jin itu menghilang? Apakah jin itu… takut pada palu dan pahat?"
Syekh Abdul Jabal tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam,
dengan mulut terbuka, dengan mata terbelalak, dengan tangan gemetar.
"Syekh," lanjut Abu Nawas, suaranya menjadi lebih
tajam, lebih menusuk, seperti pisau yang baru diasah, "Syekh bilang ini
jin yang sudah menghuni istana sejak zaman kakek Baginda. Jin yang ditugaskan
menjaga istana. Jin yang marah karena Baginda melupakan tradisi. Tapi kalau jin
itu sudah menghuni istana sejak zaman kakek Baginda, mengapa ia baru muncul
sekarang? Mengapa ia tidak muncul ketika kakek Baginda masih hidup? Mengapa ia
tidak muncul ketika ayah Baginda masih berkuasa? Mengapa ia baru muncul setelah
ada manusia yang bersembunyi di balik dinding? Apakah jin itu… ikut-ikutan?
Apakah jin itu… tidak punya inisiatif sendiri? Apakah jin itu… hanya muncul
ketika ada manusia yang menciptakan suara?"
Syekh Abdul Jabal masih terdiam. Murid-muridnya juga
terdiam. Para penasihat istana juga terdiam. Semua orang terdiam. Hanya Abu
Nawas yang masih berbicara, dengan suara yang tenang, dengan senyum yang
misterius, dengan kurma di tangannya.
"Syekh," katanya, "saya tidak mengatakan
bahwa Syekh jahat. Saya tidak mengatakan bahwa Syekh pembohong. Saya hanya
mengatakan bahwa Syekh… terlalu cepat percaya. Terlalu cepat menyimpulkan.
Terlalu cepat… menyerah pada ketakutan. Padahal, Syekh, tidak semua yang tak
terlihat itu gaib. Kadang, hanya belum dipahami. Kadang, hanya belum dicari.
Kadang, hanya belum… ditemukan."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan,
menikmati setiap detiknya, membuat semua orang yang menatapnya hampir tidak
sabar.
"Syekh, Syekh adalah ahli supranatural. Syekh sudah
puluhan tahun bergelut dengan dunia tak terlihat. Tapi izinkan saya bertanya:
apakah Syekh pernah, dalam puluhan tahun itu, menemukan bukti yang benar-benar
meyakinkan tentang keberadaan makhluk gaib? Apakah Syekh pernah, dalam puluhan
tahun itu, melihat sendiri jin yang Syekh klaim bisa diusir? Apakah Syekh
pernah, dalam puluhan tahun itu, membedakan antara suara jin dan suara manusia
yang bersembunyi di balik dinding?"
Syekh Abdul Jabal tidak menjawab. Ia hanya menunduk, dengan
air mata yang mulai mengalir di pipinya yang keriput.
"Abu Nawas," katanya akhirnya, suaranya parau,
"aku… aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah yang kulihat selama ini adalah
jin atau hanya… ilusi. Aku tidak tahu apakah yang kudengar selama ini adalah
suara gaib atau hanya… angin. Aku tidak tahu apakah selama ini aku… membodohi
diriku sendiri. Tapi aku tahu satu hal: kau, Abu Nawas, telah membukakan
mataku. Kau telah mengajarkanku bahwa sebelum percaya pada hal-hal gaib, kita
harus memeriksa dulu hal-hal yang nyata. Kau telah mengajarkanku bahwa
ketakutan sering kali lebih cepat datang daripada kebenaran. Kau telah
mengajarkanku bahwa… akal sehat adalah pelindung terbaik."
Abu Nawas tersenyum. "Syekh, saya tidak mengajarkan
apa pun. Saya hanya… mengingatkan. Mengingatkan bahwa kadang-kadang, jawaban
yang paling sederhana adalah jawaban yang paling benar. Mengingatkan bahwa
kadang-kadang, apa yang terlihat di permukaan adalah apa yang sebenarnya ada.
Mengingatkan bahwa kadang-kadang, ketakutan adalah musuh terbesar kita. Bukan
jin. Bukan hantu. Bukan roh penasaran. Tapi… ketakutan itu sendiri."
BAB 7: LOGIKA YANG DIUJI
Setelah perdebatan sengit dengan para ahli supranatural,
setelah kebenaran tentang suara-suara aneh mulai terungkap, Baginda Harun
Al-Rasyid mengajak Abu Nawas ke ruang pribadinya. Ia ingin tahu lebih banyak.
Ia ingin mengerti bagaimana Abu Nawas bisa berpikir seperti itu. Ia ingin
belajar bagaimana membedakan antara yang nyata dan yang hanya… ketakutan.
Ruangan pribadi Baginda Raja sore itu terasa lebih terang
dari biasanya. Mungkin karena matahari sore yang masuk melalui jendela-jendela
besar menciptakan cahaya keemasan yang hangat. Mungkin karena beban yang selama
ini menghimpit dadanya mulai terangkat. Mungkin karena… ia mulai mengerti.
"Abu Nawas," katanya ketika Abu Nawas duduk
bersila di lantai marmer di hadapannya, "aku ingin tahu. Bagaimana kau
bisa begitu yakin bahwa suara-suara itu bukan dari makhluk gaib? Bagaimana kau
bisa begitu tenang ketika semua orang ketakutan? Bagaimana kau bisa begitu…
tidak takut?"
Abu Nawas mengambil kurma dari sakunya—kurma yang ia pinjam
dari dapur istana karena jatah mingguannya baru akan diberikan besok, tetapi ia
sudah terbiasa, ia sudah terbiasa meminjam, meminta, atau kadang-kadang…
mengambil tanpa izin, tetapi tidak pernah dengan niat jahat, hanya dengan niat…
bertahan hidup—dan memutarnya di antara jari-jarinya.
"Baginda," katanya, "saya tidak yakin. Saya
tidak tahu apakah suara-suara itu dari makhluk gaib atau bukan. Tapi saya tahu
satu hal: sebelum saya percaya pada hal-hal gaib, saya harus memeriksa dulu
hal-hal yang nyata. Saya harus mencari tahu apakah ada penjelasan lain. Saya
harus… menggunakan akal sehat saya."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, Baginda tahu apa yang dikatakan oleh
orang-orang bijak tentang ketakutan? Mereka mengatakan bahwa ketakutan adalah
bayangan yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Ketika kita takut pada
sesuatu, kita menciptakan bayangan itu dalam pikiran kita. Bayangan yang
semakin besar, semakin gelap, semakin menakutkan, semakin… tidak nyata. Dan
semakin kita takut, semakin besar bayangan itu. Sampai akhirnya, kita tidak
bisa membedakan antara bayangan dan kenyataan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Kau benar,
Abu Nawas. Selama ini, aku takut. Aku takut pada suara-suara yang tidak aku
mengerti. Aku takut pada bisikan-bisikan yang tidak bisa aku jelaskan. Aku
takut pada… sesuatu yang mungkin tidak ada. Dan ketakutanku itu membuatku buta.
Buta pada kebenaran. Buta pada akal sehat. Buta pada… hal-hal sederhana."
Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara
jari-jarinya.
"Baginda, Baginda pernah mendengar cerita tentang
seorang lelaki yang takut pada bayangannya sendiri? Ia berjalan di malam hari,
lampu di belakangnya, bayangannya di depan. Ia melihat bayangan itu, besar,
gelap, menakutkan. Ia berlari. Bayangan itu juga berlari. Ia berteriak.
Bayangan itu juga berteriak. Ia semakin takut. Bayangan itu semakin besar. Ia
lari semakin cepat. Bayangan itu semakin dekat. Sampai akhirnya, ia jatuh,
lelah, putus asa. Dan ketika ia jatuh, lampu di belakangnya ikut jatuh. Dan
bayangan itu… lenyap. Lenyap karena sumber cahayanya sudah tidak ada. Lenyap
karena… yang ia takuti selama ini hanyalah dirinya sendiri."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam. Ia merenungkan cerita
Abu Nawas. Bayangan yang diciptakan oleh pikiran sendiri. Ketakutan yang muncul
dari ketidaktahuan. Kecemasan yang lahir dari… keraguan.
"Abu Nawas," katanya, "apakah kau pikir para
ahli supranatural itu jahat? Apakah kau pikir mereka sengaja menakut-nakuti?
Apakah kau pikir mereka… pembohong?"
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, saya tidak tahu apakah
mereka jahat atau tidak. Saya tidak tahu apakah mereka sengaja menakut-nakuti
atau hanya… salah. Tapi saya tahu satu hal: mereka terlalu cepat percaya.
Mereka terlalu cepat menyimpulkan. Mereka terlalu cepat… menyerah pada ketakutan.
Dan ketika seseorang terlalu cepat percaya pada hal-hal gaib, ia lupa mencari
penjelasan yang lebih sederhana. Ia lupa bahwa kadang-kadang, jawaban yang
paling sederhana adalah jawaban yang paling benar. Ia lupa bahwa… tidak semua
yang tak terlihat itu gaib."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, Baginda tahu apa yang dikatakan oleh
orang-orang bijak tentang logika? Mereka mengatakan bahwa logika adalah alat
untuk membedakan antara yang nyata dan yang hanya… tampak nyata. Logika adalah
alat untuk memisahkan antara kebenaran dan kebohongan. Logika adalah alat
untuk… melihat apa yang tidak terlihat oleh mata biasa."
BAB 8: JEBAKAN CERDIK
Setelah percakapan dengan Baginda Raja, Abu Nawas meminta
izin untuk memasang jebakan di ruang singgasana. Bukan jebakan untuk menangkap
jin. Bukan jebakan untuk menangkap hantu. Tapi jebakan sederhana. Jebakan yang
akan membuktikan bahwa suara-suara aneh itu berasal dari manusia, bukan dari
makhluk gaib.
Ia meminta beberapa helai benang tipis, hampir tidak
terlihat, dan beberapa lonceng kecil yang biasa digunakan untuk menghias leher
unta. Ia memasang benang-benang itu di depan celah dinding yang ditemukannya,
membentangkannya dari satu sisi ke sisi lain, setinggi lutut, sehingga siapa
pun yang berjalan di balik dinding pasti akan menyentuhnya. Dan di ujung benang,
ia mengikat lonceng-lonceng kecil itu, sehingga jika benang tersentuh, lonceng
akan berbunyi.
Ia juga meminta segenggam tepung, yang ia taburkan di
lantai di depan celah dinding, sehingga jika ada yang berjalan di sana, jejak
kaki akan tertinggal. Ia juga meminta beberapa penjaga untuk bersembunyi di
koridor-koridor terdekat, siap untuk menangkap siapa pun yang akan keluar dari
persembunyiannya setelah suara-suara itu muncul.
Setelah semuanya siap, Abu Nawas duduk kembali di lantai
marmer, dengan kurma di tangannya, dengan air tajin di sampingnya, dengan
senyum di bibirnya. Ia menunggu. Menunggu malam. Menunggu suara. Menunggu…
kebenaran.
Malam itu, seperti biasa, suara itu datang. Bisikan. Pelan.
Sayu. Misterius.
"Harun… Harun… Harun Al-Rasyid…"
Tapi kali ini, setelah suara itu muncul, terdengar bunyi
lain. Bunyi lonceng kecil. Bunyi yang samar, tetapi jelas di keheningan malam.
Bunyi yang mengatakan: ada yang bergerak. Ada yang berjalan. Ada yang…
tersentuh.
Abu Nawas tersenyum. Ia tidak bergerak. Ia hanya duduk,
mendengar, menunggu.
Kemudian, setelah beberapa saat, terdengar suara langkah
kaki. Langkah kaki yang cepat, tergesa-gesa, panik. Langkah kaki seseorang yang
tahu bahwa ia telah terdeteksi. Langkah kaki seseorang yang mencoba melarikan
diri.
Para penjaga yang bersembunyi di koridor-koridor terdekat
mendengar suara itu. Mereka berlari ke arah suara, ke arah ruang di balik
dinding, ke arah pintu rahasia yang selama ini tidak diketahui. Mereka
menemukan seorang lelaki sedang berlari, dengan wajah panik, dengan tangan
gemetar, dengan pakaian yang penuh tepung.
Mereka menangkapnya. Lelaki yang sama. Khalid. Mantan
penjaga istana yang dipecat tiga bulan lalu. Lelaki yang bersembunyi di balik
dinding. Lelaki yang berbisik-bisik memanggil nama Baginda Raja. Lelaki yang…
menciptakan ketakutan.
BAB 9: KEBENARAN TERUNGKAP
Keesokan paginya, di Aula Singgasana Agung, Khalid
dihadapkan kembali ke hadapan Baginda Raja. Kali ini, ia tidak bisa lagi
berbohong. Ia tidak bisa lagi bersembunyi. Ia tidak bisa lagi… menciptakan
ketakutan.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan
jubah kebesaran berwarna hitam, dengan mahkota emas di kepalanya, dengan wajah
yang tenang tetapi berat. Di hadapannya, Khalid berlutut dengan tangan terikat,
dengan wajah pucat, dengan mata yang tidak berani menatap Baginda Raja.
"Khalid," kata Harun Al-Rasyid, suaranya tenang
tetapi berat, "kau sudah tertangkap. Kau sudah terbukti. Kau sudah tidak
bisa lagi menyangkal. Sekarang, katakan. Katakan semuanya. Katakan mengapa kau
melakukan ini. Katakan apa yang kau inginkan. Katakan… kebenaran."
Khalid menunduk. Air matanya jatuh ke lantai marmer yang
dingin.
"Baginda," katanya, suaranya serak,
terputus-putus, "aku… aku sudah mengatakan semuanya. Aku mantan penjaga
istana. Aku dipecat tiga bulan lalu. Dipecat karena dituduh mencuri. Padahal
aku tidak mencuri. Aku tidak pernah mencuri. Aku hanya… berada di tempat yang
salah pada waktu yang salah."
Ia mengangkat kepalanya, matanya merah, basah, tetapi ada
api di sana. Api kemarahan. Api keputusasaan. Api… kebenaran.
"Baginda, aku dipecat tanpa pengadilan. Aku dipecat
tanpa bukti. Aku dipecat tanpa kesempatan untuk membela diri. Aku hanya…
diusir. Seperti sampah. Seperti tidak pernah ada. Aku kehilangan pekerjaan. Aku
kehilangan kehormatan. Aku kehilangan… segalanya."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak menjawab. Ia hanya duduk
di singgasananya, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang tidak berkedip,
dengan pikiran yang berputar-putar.
"Baginda," lanjut Khalid, suaranya semakin keras,
semakin emosional, semakin… putus asa, "aku tidak ingin balas dendam. Aku
hanya ingin… didengar. Aku hanya ingin… keadilan. Aku hanya ingin… orang-orang
tahu bahwa aku tidak bersalah. Tapi tidak ada yang mau mendengar. Tidak ada
yang mau percaya. Tidak ada yang mau… membantu. Maka aku memutuskan untuk
membuat mereka mendengar. Dengan cara apa pun. Dengan cara yang akan membuat
mereka takut. Dengan cara yang akan membuat mereka… tidak bisa mengabaikanku
lagi."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas. Ia menatap
Khalid dengan mata yang tidak lagi marah, tidak lagi kejam, tetapi… sedih.
Sedih karena ada ketidakadilan di istananya. Sedih karena ada orang yang
dipecat tanpa pengadilan. Sedih karena ada orang yang dendam karena…
diperlakukan tidak adil.
"Khalid," katanya, "aku akan memeriksa
perkara ini. Aku akan menyelidiki apakah kau benar-benar bersalah atau tidak.
Jika kau benar-benar tidak bersalah, aku akan mengembalikan kehormatanmu. Aku
akan memberimu pekerjaan kembali. Aku akan… memperbaiki kesalahan. Tapi jika
kau bersalah, jika kau benar-benar mencuri, maka kau akan dihukum. Bukan karena
kau menakut-nakuti istana. Tapi karena kau… mencuri."
Khalid menunduk. Air matanya mengalir deras.
"Baginda," katanya, "aku bersedia menerima
apa pun keputusan Baginda. Aku hanya ingin… keadilan. Aku hanya ingin…
didengar. Aku hanya ingin… menjadi manusia lagi."
Setelah Khalid dibawa pergi, Baginda Raja Harun Al-Rasyid
memanggil Jafar.
"Jafar," katanya, "selidiki. Selidiki apakah
Khalid benar-benar mencuri. Selidiki apakah ada bukti. Selidiki apakah
pengadilan yang memecatnya adil. Selidiki… kebenaran."
Jafar mengangguk. "Akan kulakukan, Baginda."
"Dan satu lagi, Jafar," lanjut Harun Al-Rasyid.
"Panggil para ahli supranatural. Panggil Syekh Abdul Jabal. Aku ingin
berbicara dengan mereka. Aku ingin… memberi mereka pelajaran."
Para ahli supranatural datang dengan wajah pucat, dengan
tangan gemetar, dengan hati yang penuh ketakutan. Mereka sudah mendengar
tentang penemuan Abu Nawas. Mereka sudah tahu bahwa mereka salah. Mereka sudah
tahu bahwa selama ini mereka telah… membodohi diri sendiri.
Syekh Abdul Jabal berdiri di hadapan Baginda Raja dengan
kepala menunduk, dengan bahu yang merosot, dengan harga diri yang hancur.
"Syekh," kata Harun Al-Rasyid, suaranya tenang
tetapi berat, "kau telah tiga puluh tahun menjadi ahli supranatural di
istanaku. Kau telah tiga puluh tahun membantu aku dan ayahku. Kau telah tiga
puluh tahun dihormati oleh semua orang. Tapi kali ini, kau salah. Kau salah
karena terlalu cepat percaya pada hal-hal gaib. Kau salah karena tidak mencari
penjelasan yang lebih sederhana. Kau salah karena… membiarkan ketakutan
menguasaimu."
Syekh Abdul Jabal menunduk lebih dalam. "Baginda, aku…
aku minta maaf. Aku… aku salah. Aku…"
"Syekh," potong Harun Al-Rasyid, "aku tidak
akan menghukummu. Aku tidak akan memecatmu. Aku hanya akan… memintamu untuk
belajar. Belajar dari Abu Nawas. Belajar bahwa tidak semua yang tak terlihat
itu gaib. Belajar bahwa kadang-kadang, jawaban yang paling sederhana adalah
jawaban yang paling benar. Belajar bahwa… akal sehat adalah pelindung
terbaik."
Syekh Abdul Jabal mengangkat kepalanya. Matanya basah,
tetapi ada cahaya di sana. Cahaya harapan. Cahaya… pembelajaran.
"Baginda," katanya, "aku akan belajar. Aku
akan belajar dari Abu Nawas. Aku akan belajar untuk tidak terlalu cepat percaya
pada hal-hal gaib. Aku akan belajar untuk mencari penjelasan yang lebih
sederhana. Aku akan belajar untuk… menggunakan akal sehat."
BAB 10: KEMENANGAN AKAL SEHAT
Setelah semua selesai, setelah Khalid dibawa ke tempat yang
aman untuk menunggu penyelidikan, setelah para ahli supranatural menerima
peringatan mereka, setelah ketakutan yang menyelimuti istana selama
berminggu-minggu akhirnya lenyap, Baginda Raja Harun Al-Rasyid memanggil Abu
Nawas ke ruang pribadinya.
Ia ingin berbicara. Ia ingin belajar. Ia ingin… berterima
kasih.
"Abu Nawas," katanya ketika Abu Nawas duduk
bersila di lantai marmer di hadapannya, "kau telah melakukan sesuatu yang
luar biasa. Kau telah membuka mata kami. Kau telah membuka mata para ahli
supranatural. Kau telah membuka mataku. Kau telah mengajarkanku bahwa ketakutan
sering kali lebih cepat datang daripada kebenaran. Kau telah mengajarkanku
bahwa tidak semua yang tak terlihat itu gaib. Kau telah mengajarkanku bahwa…
akal sehat adalah pelindung terbaik."
Abu Nawas mengambil kurma dari sakunya—kurma yang ia pinjam
dari dapur istana karena jatah mingguannya baru akan diberikan besok, tetapi ia
sudah terbiasa, ia sudah terbiasa meminjam, meminta, atau kadang-kadang…
mengambil tanpa izin, tetapi tidak pernah dengan niat jahat, hanya dengan niat…
bertahan hidup—dan memutarnya di antara jari-jarinya.
"Baginda," katanya, "saya tidak melakukan
apa-apa. Saya hanya… menggunakan akal sehat. Saya hanya… tidak takut. Saya
hanya… percaya bahwa selalu ada penjelasan untuk segala sesuatu. Dan penjelasan
itu, Baginda, sering kali lebih sederhana daripada yang kita kira."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Baginda, Baginda tahu apa yang dikatakan oleh
orang-orang bijak tentang ketakutan? Mereka mengatakan bahwa ketakutan adalah
bayangan yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Ketika kita takut pada
sesuatu, kita menciptakan bayangan itu dalam pikiran kita. Bayangan yang
semakin besar, semakin gelap, semakin menakutkan, semakin… tidak nyata. Dan
semakin kita takut, semakin besar bayangan itu. Sampai akhirnya, kita tidak
bisa membedakan antara bayangan dan kenyataan."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Kau benar,
Abu Nawas. Selama ini, aku takut. Aku takut pada suara-suara yang tidak aku
mengerti. Aku takut pada bisikan-bisikan yang tidak bisa aku jelaskan. Aku
takut pada… sesuatu yang mungkin tidak ada. Dan ketakutanku itu membuatku buta.
Buta pada kebenaran. Buta pada akal sehat. Buta pada… hal-hal sederhana."
Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara
jari-jarinya.
"Baginda, Baginda pernah mendengar cerita tentang
seorang lelaki yang takut pada bayangannya sendiri? Ia berjalan di malam hari,
lampu di belakangnya, bayangannya di depan. Ia melihat bayangan itu, besar,
gelap, menakutkan. Ia berlari. Bayangan itu juga berlari. Ia berteriak.
Bayangan itu juga berteriak. Ia semakin takut. Bayangan itu semakin besar. Ia
lari semakin cepat. Bayangan itu semakin dekat. Sampai akhirnya, ia jatuh,
lelah, putus asa. Dan ketika ia jatuh, lampu di belakangnya ikut jatuh. Dan
bayangan itu… lenyap. Lenyap karena sumber cahayanya sudah tidak ada. Lenyap
karena… yang ia takuti selama ini hanyalah dirinya sendiri."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. "Kau benar,
Abu Nawas. Yang kutakuti selama ini bukan suara-suara aneh itu. Yang kutakuti
adalah… ketidaktahuanku sendiri. Yang kutakuti adalah… ketidakmampuanku untuk
menjelaskan. Yang kutakuti adalah… rasa takut itu sendiri."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap langit Baghdad
yang cerah.
"Abu Nawas," katanya, "kau telah
mengajarkanku sesuatu yang tidak diajarkan oleh para penasihat, para
cendekiawan, atau para ahli supranatural. Kau mengajarkanku bahwa ketakutan
adalah musuh terbesar kita. Bukan jin. Bukan hantu. Bukan roh penasaran. Tapi…
ketakutan itu sendiri. Kau mengajarkanku bahwa akal sehat adalah pelindung
terbaik. Bukan doa. Bukan ritual. Bukan mantra. Tapi… akal sehat."
Abu Nawas berdiri, membungkuk dalam-dalam.
"Baginda, saya hanya seorang pelawak yang suka kurma.
Saya tidak mengajarkan apa pun. Saya hanya… mengingatkan. Mengingatkan bahwa
kadang-kadang, yang paling menakutkan bukan makhluk gaib, tapi pikiran kita
sendiri saat dikuasai rasa takut. Mengingatkan bahwa kadang-kadang, yang paling
berbahaya bukan suara-suara aneh, tapi keputusan kita untuk tidak mencari tahu.
Mengingatkan bahwa kadang-kadang, yang paling merusak bukan kebohongan orang
lain, tapi ketakutan kita sendiri."
EPILOG: TAWA DI BALIK KETAKUTAN
Beberapa hari kemudian, ketika kabar tentang penemuan Abu
Nawas sudah tersebar di seluruh istana, ketika ketakutan yang menyelimuti
selama berminggu-minggu akhirnya lenyap, ketika para penjaga kembali berjaga
dengan tenang, ketika para pelayan kembali bekerja dengan senyum, ketika para
dayang kembali bercanda di kamar-kamar mereka, Abu Nawas duduk di Kedai
Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan.
Di depannya, segelas air tajin dingin yang masih segar,
semangkok kurma Sukkari yang mengilap seperti batu akik—jatah mingguan yang
baru saja ia ambil dari istana pagi ini—dan sebotol kecil anggur yang ia
sembunyikan di balik jubahnya, meskipun ia sudah berjanji pada Jafar untuk
tidak minum anggur di tempat umum. Janji, pikirnya, adalah sesuatu yang mulia.
Tapi anggur, pikirnya, juga sesuatu yang mulia. Dan terkadang, dua hal yang
mulia bisa berdampingan dengan damai, asalkan tidak ada yang tahu.
Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir
Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk
tidak dikenali oleh pengunjung lain—meskipun semua orang di kedai itu sudah
tahu bahwa lelaki tampan dengan jubah sederhana itu adalah Wazir terkuat di
kekhalifahan. Jafar tampak lebih santai dari biasanya, lebih tenang, lebih…
bahagia. Mungkin karena ketakutan di istana sudah lenyap. Mungkin karena
Baginda Raja tertawa lagi. Mungkin karena… ia juga belajar sesuatu dari perkara
ini.
Di samping Jafar, duduk Syekh Abdul Jabal, ketua para ahli
supranatural istana, dengan jubah sederhana berwarna abu-abu, dengan sorban
yang dililit sederhana, dengan wajah yang tenang. Ia tidak lagi terlihat muram
seperti beberapa pekan lalu. Matanya tidak lagi penuh keraguan. Tangannya tidak
lagi gemetar. Ia duduk di bangku kayu Kedai Al-Farabi dengan nyaman, seolah-olah
ia sudah biasa duduk di tempat seperti ini, meskipun sebenarnya ini adalah
pertama kalinya ia mengunjungi kedai pinggiran.
"Abu Nawas," kata Jafar sambil menyesap air tajin
yang ia pesan agar tidak mencolok—meskipun air tajin di kedai ini tidak pernah
seenak air tajin di istana, tetapi ia tidak keberatan, karena suasana di sini
lebih santai, lebih bebas, lebih… manusiawi, "aku masih penasaran dengan
satu hal. Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sejak perkara suara-suara aneh
itu selesai."
Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan
mengunyah dengan malas. "Apa, Wazirku yang mulia? Apakah tentang jin?
Tentang hantu? Tentang suara-suara aneh? Tentang Khalid yang bersembunyi di
balik dinding? Tentang Syekh Abdul Jabal yang sekarang duduk di kedai ini minum
air tajin? Karena itu, Wazir, adalah pemandangan yang tidak akan pernah kau
lupakan, bukan? Seorang ahli supranatural, yang puluhan tahun mengusir jin,
sekarang duduk di kedai pinggiran, belajar dari seorang pelawak. Itu, Wazir,
adalah kebijaksanaan yang tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah hukum. Itu
adalah kerendahan hati yang tidak pernah diajarkan di istana-istana megah. Itu
adalah… akal sehat yang hanya bisa dipelajari di kedai pinggiran."
Syekh Abdul Jabal tersenyum. "Abu Nawas, kau benar.
Aku sudah puluhan tahun menjadi ahli supranatural. Aku sudah mengusir ribuan
jin. Aku sudah membaca ribuan doa. Aku sudah melakukan ribuan ritual. Tapi
tidak pernah, tidak sekali pun, aku berpikir untuk memeriksa dulu apakah
suara-suara aneh itu berasal dari manusia atau bukan. Aku terlalu cepat percaya
pada hal-hal gaib. Aku terlalu cepat menyimpulkan. Aku terlalu cepat… menyerah
pada ketakutan. Dan hari ini, aku belajar sesuatu. Aku belajar bahwa tidak
semua yang tak terlihat itu gaib. Aku belajar bahwa kadang-kadang, jawaban yang
paling sederhana adalah jawaban yang paling benar. Aku belajar bahwa… akal
sehat adalah pelindung terbaik."
Abu Nawas tertawa. "Syekh, Syekh terlalu baik. Saya
bukan guru. Saya hanya seorang yang suka duduk di kedai ini, makan kurma, minum
air tajin, dan tertawa. Tapi jika ada yang bisa Syekh pelajari dari saya,
biarlah itu: bahwa yang paling menakutkan bukan makhluk gaib, tapi pikiran kita
sendiri saat dikuasai rasa takut. Bahwa yang paling berbahaya bukan suara-suara
aneh, tapi keputusan kita untuk tidak mencari tahu. Bahwa yang paling merusak
bukan kebohongan orang lain, tapi ketakutan kita sendiri."
Jafar mengangkat mangkuk air tajinnya. "Untuk akal
sehat, Abu Nawas. Untuk keberanian mencari tahu. Untuk… ketenangan."
Abu Nawas mengangkat mangkuk air tajinnya—setelah dengan
cepat menyembunyikan botol anggur di balik jubahnya, karena ia tidak ingin
Syekh Abdul Jabal melihat bahwa ia hampir melanggar janji, karena Syekh Abdul
Jabal adalah orang yang sangat serius, dan orang yang sangat serius biasanya
tidak mengerti mengapa seseorang perlu minum anggur di pagi hari.
"Untuk akal sehat, Wazir. Dan untuk kurma Sukkari yang
manisnya pas."
Mereka menyesap minuman mereka bersama, menikmati
keheningan sore yang mulai merambat masuk melalui jendela-jendela kedai yang
terbuka. Di luar, matahari mulai terbenam di ufuk barat, mencelupkan langit
dalam warna jingga, merah, dan ungu, seperti lukisan raksasa yang tidak pernah
selesai. Burung-burung mulai kembali ke sarang mereka, anak-anak mulai pulang
ke rumah mereka, pedagang-pedagang mulai menutup kios mereka. Baghdad mulai
bersiap untuk malam.
"Abu Nawas," kata Syekh Abdul Jabal setelah
beberapa saat, suaranya rendah, penuh perenungan, "aku masih memikirkan
perkara suara-suara aneh itu. Aku masih memikirkan bagaimana kau bisa begitu
tenang ketika semua orang ketakutan. Aku masih memikirkan bagaimana kau bisa
begitu yakin bahwa ada penjelasan sederhana. Dan aku sampai pada satu
kesimpulan."
"Apa, Syekh?" tanya Abu Nawas sambil mengambil kurma.
"Bahwa kecerdikanmu bukan pada jawaban rumit, tetapi
pada ketenangan dalam menghadapi ketakutan. Bahwa kebijaksanaanmu bukan pada
doa-doa panjang, tetapi pada akal sehat yang jernih. Bahwa… kau, Abu Nawas,
adalah orang yang paling tenang di istana ini, tetapi juga yang paling berani.
Orang yang paling banyak tertawa, tetapi juga yang paling banyak berpikir.
Orang yang paling tidak dianggap, tetapi juga yang paling… bijaksana."
Abu Nawas tersenyum. "Syekh, Syekh terlalu baik. Saya
hanya seorang pelawak yang suka kurma. Tapi jika ada yang bisa Syekh pelajari
dari saya, biarlah ini: yang paling menakutkan bukan makhluk gaib, tapi pikiran
kita sendiri saat dikuasai rasa takut. Yang paling berbahaya bukan suara-suara
aneh, tapi keputusan kita untuk tidak mencari tahu. Yang paling merusak bukan
kebohongan orang lain, tapi ketakutan kita sendiri. Dan untuk mengatasi
ketakutan itu, Syekh, kita tidak perlu doa-doa panjang. Kita tidak perlu
ritual-ritual rumit. Kita tidak perlu ahli-ahli dari berbagai penjuru. Kita
hanya perlu… akal sehat. Akal sehat yang jernih. Akal sehat yang berani. Akal
sehat yang… tidak takut."
Syekh Abdul Jabal mengangguk. Ia berdiri, merapikan
jubahnya, dan berjalan keluar dari kedai dengan langkah yang ringan, dengan
hati yang tenang, dengan pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.
Di luar kedai, matahari telah sepenuhnya terbenam,
meninggalkan langit yang mulai dipenuhi bintang-bintang. Bintang-bintang yang
bersinar terang, seolah-olah ikut tersenyum melihat dunia di bawahnya. Di kejauhan,
dari arah istana, terdengar suara tawa Baginda Raja Harun Al-Rasyid—tawa yang
bergema di senja Baghdad, tawa yang membawa kedamaian bagi kota yang selalu
haus akan keadilan, tawa yang mengingatkan semua orang bahwa di tengah
kekuasaan yang berat, di tengah intrik yang rumit, di tengah kebohongan yang
bersembunyi di balik senyum, masih ada ruang untuk tawa. Masih ada ruang untuk
akal sehat. Masih ada ruang untuk… ketenangan.
Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap
air tajinnya, mengambil kurma terakhir di mangkuk, melemparkannya ke udara, dan
menangkapnya dengan mulut.
"Yang paling menakutkan," gumamnya sambil
mengunyah, "bukan makhluk gaib, tapi pikiran kita sendiri saat dikuasai
rasa takut. Karena pikiran yang takut, wahai saudara-saudaraku, akan
menciptakan bayangan. Bayangan yang semakin besar, semakin gelap, semakin
menakutkan, semakin… tidak nyata. Dan semakin kita takut, semakin besar
bayangan itu. Sampai akhirnya, kita tidak bisa membedakan antara bayangan dan
kenyataan. Sampai akhirnya, kita lupa bahwa yang kita takuti selama ini
hanyalah… diri kita sendiri."
Ia memanggil pelayan kedai untuk yang ketiga kalinya malam
itu.
"Nak, tambah kurma satu mangkuk. Dan air tajin satu
gelas. Saya sedang merenungkan sesuatu yang sangat berat: apakah yang lebih
menakutkan, jin yang tidak pernah kita lihat atau pikiran kita sendiri yang
menciptakan ketakutan? Apakah yang lebih berbahaya, suara-suara aneh di malam
hari atau keputusan kita untuk tidak mencari tahu? Apakah yang lebih merusak, kebohongan
orang lain atau ketakutan kita sendiri? Ini teka-teki yang tidak kalah
pentingnya dari suara gaib di istana. Dan saya, Nak, tidak akan bisa tidur
sebelum teka-teki ini terjawab."
Pelayan itu tertawa, bergegas mengambil pesanan.
Dan di luar, di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema,
mengingatkan semua orang bahwa yang paling menakutkan bukan makhluk gaib, tapi
pikiran kita sendiri saat dikuasai rasa takut. Bahwa yang paling berbahaya
bukan suara-suara aneh, tapi keputusan kita untuk tidak mencari tahu. Bahwa
yang paling merusak bukan kebohongan orang lain, tapi ketakutan kita sendiri.
Bahwa akal sehat adalah pelindung terbaik. Bahwa ketenangan adalah senjata
paling ampuh. Bahwa tawa adalah obat paling mujarab. Bahwa… Abu Nawas, pelawak
dari pinggiran Baghdad, adalah guru terbaik yang pernah dimiliki istana ini.
TAMAT
Kata Bijak dari Abu Nawas:
"Yang paling menakutkan bukan makhluk gaib, tapi
pikiran kita sendiri saat dikuasai rasa takut. Karena pikiran yang takut akan
menciptakan bayangan. Bayangan yang semakin besar, semakin gelap, semakin
menakutkan, semakin tidak nyata. Dan semakin kita takut, semakin besar bayangan
itu. Sampai akhirnya, kita tidak bisa membedakan antara bayangan dan kenyataan.
Maka, wahai saudara-saudaraku, hadapilah ketakutanmu. Cari tahu kebenarannya.
Gunakan akal sehatmu. Karena tidak semua yang tak terlihat itu gaib. Kadang,
hanya belum dipahami. Kadang, hanya belum dicari. Kadang, hanya belum…
ditemukan."
—Abu Nawas, di Kedai Al-Farabi, pinggiran Baghdad







0 komentar:
Posting Komentar