Kabut tipis menggantung di atas
sawah Desa Awan Biru seperti selendang sutra raksasa yang sengaja direntangkan
Tuhan untuk menunda datangnya terik. Ia turun perlahan sejak subuh, merayap
dari pucuk-pucuk pohon kelapa, lalu menyebar rata di atas hamparan padi yang
mulai menguning. Butir-butir air kecil menempel di setiap helai daun, membuat
sawah itu tampak seperti permadani hijau yang dihiasi ribuan mutiara. Di
kejauhan, garis-garis kabut masih terlihat bergulung pelan, seolah enggan
beranjak meskipun matahari sudah mulai mengintip dari balik bukit.
Kadang kabut itu bergerak,
berubah bentuk, menciptakan ilusi bahwa sawah adalah lautan tenang dengan ombak
yang membeku. Di sela-selanya, sesekali terlihat punggung kerbau yang sedang
merumput, muncul dan tenggelam seperti pulau-pulau kecil di lautan putih.
Udara masih
lembap, dinginnya menusuk sampai ke tulang meskipun hanya melalui celah-celah
pakaian. Bau tanah basah memenuhi setiap sudut desa, aroma khas yang lahir dari
percampuran embun, humus, dan sisa-sisa jerami yang membusuk setelah panen
lalu. Aroma ini begitu kuat di pagi hari, seakan-akan bumi sedang menghela
napas panjang setelah semalaman beristirahat.
Dari dapur-dapur
warga, mulai mengepul asap tipis bercampur wangi kayu bakar yang terbakar
lambat. Wanginya khas, berbeda dengan gas atau minyak tanah, lebih tua, lebih
hangat, seperti wewangian yang membawa ingatan pada masa kecil. Bau kayu bakar
itu merayap pelan, bercampur dengan kabut dan udara lembap, menciptakan
atmosfer yang tidak bisa ditemukan di kota mana pun: atmosfer desa yang baru
bangun, dengan segala kesederhanaan dan kehangatannya yang khas.
Di kantor desa, satu-satunya suara yang hidup hanyalah dengung kipas CPU.
Nggggggg…
Amat menatap casing komputer tua itu.
“Ini komputer apa lagi zikir pagi?” gumamnya.
Ia menekan tombol keyboard pelan.
Layar login muncul.
Username: admin
Password: ********
Enter. Loading. Loading dan Loading lagi.
Amat bersandar, menatap lingkaran kecil yang berputar.
“Kalau hidup bisa di-loading begini, mungkin saya sudah sukses duluan…”
Lulu masuk membawa map.
“Mas Amat ngomong sendiri lagi?”
“Saya sedang komunikasi dengan server, Lu.”
“Dijawab?”
“Dijawab… dengan diam. Server itu tipe yang tidak banyak janji.”
Lulu terkekeh.
“Mas itu tiap pagi doanya bukan sehat ya?”
“Doa saya lengkap. Sehat, rezeki lancar, dan sinyal stabil.”
“Kalau salah satu dikabulkan?”
“Minimal sinyal dulu. Soalnya kalau sehat tapi tidak bisa upload laporan,
saya tetap dianggap sakit.”
Loading berhenti. Dashboard terbuka.
Amat langsung sigap.
“Cepat sebelum dia berubah pikiran.”
Ia mengunggah berita gotong royong.
Progress bar naik… turun… naik lagi.
“Ya Allah… ini sinyal kenapa kayak perasaan remaja. Naik turun tanpa
kepastian.”
Tiba-tiba. Lampu mati. Semua gelap. CPU berhenti. Kipas diam.
Lulu terdiam. “Mas…”
“Iya?”
“Ini bukan LDR lagi.”
“Ini hubungan diputus sepihak.”
Amat menatap layar hitam lama sekali.
“Digitalisasi memang butuh cahaya… minimal cahaya PLN.”
Di luar, kabut mulai terangkat. Di dalam, perjuangan baru saja mulai.***
Pak Iwan datang dengan langkah santai.
Memakai kemeja batik dan rapi, wajahnya
setengah tersenyum melihat kantor yang setengah mati.
“Mat, desa digital kok listriknya tradisional?”
Amat berdiri. “Ini ujian, Pak.”
“Ujian apa?”
“Ujian iman dan UPS.” Pak Iwan tertawa.
Ia duduk, memandang Amat lebih serius. “Mat, jujur saja. Kamu yakin ini
perlu?”
“Yakin, Pak.”
“Kenapa?”
Amat duduk lebih tegak.“Karena dunia berubah. Anak muda
cari informasi bukan ke balai desa, tapi ke Google.”
“Google itu warga kita?”
“Belum, Pak. Tapi lebih sering dikunjungi.”
Pak Iwan tersenyum kecil. “Kalau nanti orang protes,
bilang anggaran dipakai buat internet bukan buat jalan?”
“Kita jelaskan. Jalan penting. Tapi informasi juga jalan.”
“Jalan apa?”
“Jalan menuju kepercayaan.” Pak Iwan terdiam.
Suasana berubah lebih dalam. “Kalau kamu yakin ini masa depan desa… saya
ikut kamu.”
Amat tak langsung menjawab. Ia hanya menunduk sebentar.
“Dukungan Bapak itu sinyal paling kuat yang saya punya.”
Pak Iwan tertawa kecil. “Jangan bikin saya jadi provider.”***
Ruang rapat siang itu panas. Kipas angin berputar seperti ikut gelisah.
Yuni membuka laptop. “Mas Amat, ini biaya hosting naik?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena desa kita sudah naik kelas.”
Lulu melirik. “Naik kelas atau naik tagihan?”
Didit yang sedari tadi diam ikut berbicara. “Transparansi
itu bagus, Mat. Tapi jangan sampai transparan hanya di berita, anggaran gelap.”
Amat membuka file Excel. Scroll. Zoom. Semua menatap layar.
Yuni menunjuk angka. “Ini kenapa jadi sepuluh juta?” Sunyi.
Amat memperbesar sel. “Oh…”
“Oh itu apa?”
“Itu nolnya kebanyakan.”
Lulu menepuk meja pelan. “Mas, nol kecil tapi dampaknya besar.”
Amat mengusap wajahnya. “Ternyata dalam hidup, yang kecil sering
diremehkan. Termasuk nol.”
Didit tersenyum tipis. “Makanya dicek sebelum diunggah.”
“Baik, Pak. Saya akui. Excel lebih galak dari warga.” Suasana mencair.
Tapi sejak hari itu, Didit rajin
mengecek setiap file sebelum dipublikasikan. Transparansi mulai punya
pengawas.***
Amat bangga sore itu. Berita bantuan
pupuk sudah naik. Judulnya tegas. Fotonya jelas. Satu jam kemudian, warung
ramai.
Santoso masuk ke kantor tanpa salam. “Mat! Kita mau buka gudang baru?”
“Kenapa, Pak?”
“Lima ribu kilo pupuk! Desa kita mau ekspor?”
Amat membeku. Ia membuka website. 5000 kg. Padahal 500. “Itu typo, Pak…”
“Typo itu penyakit baru?”
“Salah ketik.”
“Kalau salah ketik bisa bikin orang salah paham, berarti berbahaya.”
Lulu berbisik: “Mas, cepat koreksi sebelum ada yang bawa karung.” Amat
buru-buru memperbaiki.
Beberapa menit kemudian berita sudah benar.
Santoso menggeleng. “Mat, kamu ini bikin jantung warga olahraga.”
“Minimal sehat, Pak.”
Malamnya di warung: “Admin desa
kebanyakan nol.” Amat tersenyum pahit. Ia sadar satu hal: Internet mempercepat
kabar. Kesalahan juga.***
Warung itu kecil tapi penuh wibawa. Meja
kayu panjang. Kursi plastik. Televisi tabung menyala tanpa suara. Santoso
membuka diskusi. “Saya tidak anti teknologi.”
Anto menyeruput kopi. “Biasanya kalau Pak Santoso mulai begitu, ada
tapinya.”
“Tapi… jangan sampai teknologi bikin kita lupa ngobrol.”
Anto menoleh ke Amat yang baru duduk. “Mat,
kalau semua data online, kita ini masih perlu rapat tidak?”
“Perlu.”
“Kenapa?”
“Karena rapat itu tempat salah paham diselesaikan sebelum jadi
broadcast.”
Santoso tersenyum. “Bagus. Jawaban aman.”
Anto melanjutkan: “Kalau anggaran bisa dilihat semua orang, berarti kita
juga bisa komentar?”
“Boleh.”
“Kalau komentar pedas?”
“Asal jangan pakai capslock.” Tawa pecah.
Santoso mendekat sedikit. “Mat, transparansi itu bagus.
Tapi ingat… warga itu bukan cuma pembaca. Mereka penilai.”
“Makanya saya sering duduk di sini, Pak.”
“Kenapa?”
“Supaya dinilai langsung, bukan lewat gosip.” Warung mendadak hening
sejenak.
Anto berkata pelan: “Desa kita mungkin belum punya gedung tinggi. Tapi
kalau niatnya tinggi, cukup.”
Santoso mengangguk. “Website boleh digital. Tapi legitimasi tetap lahir
dari meja warung.”
Amat tersenyum. Ia menatap cangkir kopi di depannya. “Baiklah.
Kalau begitu, warung ini saya anggap server utama.”
“Server apa?”
“Server kepercayaan.” Tawa pecah lagi.
Langit sore berubah jingga. Dan di
antara kopi, gorengan, serta kritik yang dibungkus humor, demokrasi desa
bertumbuh pelan. Website boleh online. Tapi rasa percaya… tetap harus di-update
lewat tatap muka.***
Pagi itu kantor desa terlalu tenang.
Tidak ada listrik padam. Tidak ada sinyal hilang. Justru itu yang membuat Amat
curiga. Didit datang dengan langkah mantap. Di tangannya ada setumpuk kertas
print-out website desa. Beberapa halaman penuh stabilo kuning, merah, bahkan
ada sticky note kecil menempel seperti luka bekas operasi.
Amat menatap dari jauh. “Wah… ini bukan tamu. Ini audit berjalan.”
Didit duduk tanpa banyak basa-basi. Kertas ditaruh rapi. Kacamata
dibetulkan pelan. “Mat.”
“Siap, Pak. Mau kopi dulu atau langsung sidang?”
“Transparansi itu bukan cuma upload foto rapat.”
Amat tersenyum tipis. “Kalau saya upload foto Bapak lagi ngopi biar warga
tahu BPD kerja, boleh?”
Didit tidak tertawa. Hanya mengangkat alis tipis. “Kalau itu bikin warga
tahu saya kerja, boleh.”
Lulu yang duduk di pojok pura-pura mengetik sangat serius, padahal
telinganya fokus penuh.
Didit membuka halaman pertama. “Ini laporan kegiatan pembangunan talud.”
“Iya, Pak.”
“Kenapa rincian belanjanya cuma ditulis ‘material dan tenaga kerja’?”
“Supaya sederhana, Pak.”
“Sederhana boleh. Tapi jangan disederhanakan sampai warga tidak
mengerti.”
Amat menyandarkan badan. “Kalau terlalu detail, nanti warga pusing baca.”
“Kalau tidak detail, nanti warga pusing curiga.” Kalimat itu jatuh pelan
tapi berat.
Amat menatap Didit lebih serius. “Bapak takut apa?”
“Bukan takut. Mencegah. Desa itu tidak hancur karena
uangnya hilang. Tapi karena kepercayaannya hilang.” Sunyi sejenak.
Amat menghela napas. “Jadi menurut Bapak saya kurang transparan?”
“Menurut saya kamu niatnya baik. Tapi sistem yang baik tidak boleh
bergantung pada niat saja.”
“Lalu?”
“Bikin standar. SOP digital. Format laporan tetap. Rincian jelas. Jangan
tergantung mood admin.”
Lulu menyenggol pelan. “Mas, itu sindiran halus.”
Amat tersenyum kecil. “Baiklah, Pak. Daripada saya
salah ketik lagi, lebih baik kita salahkan SOP bersama.”
Didit akhirnya tersenyum tipis. “Bagus. Jadi kalau salah, kita salah
kolektif.”
Mereka duduk berjam-jam. Menyusun format laporan:
- Tanggal
kegiatan
- Volume
pekerjaan
- Rincian biaya
satuan
- Foto sebelum
dan sesudah
- Nama pelaksana
Didit sesekali mengoreksi. “Font jangan terlalu kecil.”
“Kenapa, Pak?”
“Biar warga tidak merasa kita sengaja menyembunyikan.”
Amat tertawa kecil. “BPD itu ternyata tidak pernah lupa password ya,
Pak.”
“Password apa?”
“Password kepercayaan.”
Didit berhenti menulis sebentar. “Kepercayaan
itu bukan login sekali seumur hidup, Mat. Itu harus diperbarui.” Hari itu tidak
ada debat keras. Tidak ada nada tinggi. Hanya dua orang dewasa yang sadar bahwa
desa tidak boleh dibangun dengan ego. Sejak hari itu, Didit bukan sekadar
pengawas. Ia menjadi penjaga akal sehat sistem. Dan Amat belajar satu hal
besar: Transparansi bukan soal teknologi. Tapi soal keberanian menjelaskan.***
Kantor desa mendadak ramai. Sugeng
masuk dengan map biru, wajahnya campur antara bangga dan khawatir. “Pak Amat,
mau nambah anggota keluarga. Anak saya lahir minggu lalu.”
Amat berdiri cepat. “Alhamdulillah! Laki-laki atau perempuan?”
“Perempuan, Pak. Sehat. Cuma… jangan sampai hilang di sistem ya.”
Amat tertawa kecil. “Tenang, Pak. Negara ini luas, tapi server kita masih
muat.”
Ia membuka sistem kependudukan.
Klik. Loading. Klik lagi. Error. Connection Timeout.
Sugeng langsung menatap layar dengan wajah pucat. “Pak…
jangan-jangan anak saya belum diterima negara?”
“Diterima kok, Pak. Ini cuma internetnya yang belum ikhlas.”
Coba lagi. Error lagi.
Lulu berbisik. “Mas, restart saja.”
Amat menelepon Bambang. “Bang, sistem error.”
“Error apa?”
“Kalau saya tahu, saya tidak telepon kamu.”
“Screenshot kirim.”
“Bang, ini bukan waktu estetik.”
Bambang memberi instruksi cepat. Amat mengikuti. Keringat muncul di
pelipis. Sugeng berdiri gelisah.
“Pak… nanti kalau belum masuk sistem, berarti belum sah?”
“Sah, Pak. Negara tidak pakai WiFi untuk menentukan sah atau tidak.”
Akhirnya halaman terbuka. Data
dimasukkan pelan. Nama bayi diketik hati-hati. Tanggal lahir dicek tiga kali.
“Ejaan namanya benar ya, Pak?”
“Benar. Jangan sampai salah huruf, nanti anak saya protes waktu besar.”
Amat tersenyum. “Kalau salah, nanti kita bilang itu typo sejarah.”
Semua tertawa kecil. Tombol simpan ditekan. Berhasil. Sugeng
menarik napas panjang. “Alhamdulillah… sekarang anak saya resmi?”
“Resmi. Negara sudah tahu dia ada.” Printer berbunyi. Lalu macet.
Amat menutup mata. “Teknologi itu seperti bayi, Pak. Kalau tidak dirawat,
suka ngambek.”
Setelah diperbaiki, dokumen tercetak. Sugeng memegangnya seperti memegang
ijazah masa depan.
“Terima kasih, Pak Amat.”
Amat tersenyum lelah. Setiap klik bukan cuma data. Tapi pengakuan bahwa
seseorang lahir dan diakui.
Dan itu bukan perkara kecil.***
Mobil putih itu berhenti perlahan di
depan kantor Desa Awan Biru, menimbulkan kepulan debu tipis yang berputar pelan
di udara sore. Mesin dimatikan. Suasana kembali sunyi, hanya terdengar desir
angin yang menggerakkan daun-daun karet di kejauhan dan suara anak-anak yang
masih bermain di lapangan kecil dekat balai desa.
Pintu mobil terbuka.
Seorang lelaki berusia awal tiga
puluhan turun dengan langkah terukur. Kemeja birunya rapi, lengan digulung
setengah, sepatu hitamnya masih tampak bersih, terlalu bersih untuk ukuran
jalan desa yang separuhnya berbatu dan berdebu. Di tangannya tergenggam sebuah
map tebal berisi berkas-berkas, sudutnya sedikit tertekuk karena terlalu penuh.
Di balik kacamatanya, sorot matanya menyapu sekeliling dengan campuran rasa
ingin tahu dan kewaspadaan.
“Selamat siang. Saya dr. Erlangga,”
ucapnya, suaranya tenang namun terdengar resmi.
“Saya ingin mengajukan penelitian kesehatan berbasis data digital desa.”
Kalimat itu meluncur seperti sesuatu
yang biasa ia ucapkan di ruang seminar atau forum akademik. Namun di hadapannya
kini bukan ruang berpendingin udara, melainkan teras kantor desa dengan kursi
plastik berderet, papan informasi yang tulisannya mulai pudar, dan aroma kopi
yang baru saja diseduh dari dapur belakang.
Amat, yang sejak tadi berdiri di
ambang pintu, menatapnya lama.
Bukan tatapan menolak, bukan pula
menerima. Lebih seperti menimbang. Wajahnya yang legam terbakar matahari
menyimpan pengalaman bertahun-tahun hidup di desa yang perlahan berubah, tapi
tak pernah benar-benar tersentuh istilah-istilah besar seperti “data digital”
dan “riset berbasis sistem”.
Angin sore kembali berembus, membawa
bau tanah yang hangat. Seekor ayam melintas santai di halaman, seolah tak
peduli bahwa percakapan kecil itu mungkin akan menjadi awal perubahan besar.
Erlangga merapikan posisi map di
tangannya. Di dalamnya ada proposal, grafik, rencana integrasi data posyandu,
hingga konsep aplikasi sederhana untuk pencatatan kesehatan warga. Ia datang
dengan gagasan tentang transformasi, tentang efisiensi, tentang masa depan yang
terukur lewat angka-angka.
Namun di hadapannya berdiri Amat, yang
selama ini mengukur kesehatan desa bukan lewat grafik, melainkan dari berapa
banyak ibu yang datang ke posyandu, berapa anak yang masih mau tertawa di
halaman, dan seberapa sering warga saling menengok saat ada yang sakit.
Desa Awan Biru sore itu tidak berubah.
Langit tetap lembayung, burung-burung tetap kembali ke sarang.
Tetapi sejak mobil putih itu berhenti
dan seorang dokter muda turun dengan map tebal di tangannya, ada sesuatu yang
terasa berbeda, seolah desa kecil itu sedang bersiap membuka halaman baru dalam
kisahnya. Si Amat buru-buru mempersilahkan tamunya masuk ke kantor desa .
“Mas ini dokter apa dosen killer?”
Erlangga berkedip. “Maaf?”
“Serius sekali. Di sini kalau terlalu serius nanti dikira mau sidang
skripsi.” Lulu terkekeh.
Erlangga mencoba tersenyum. “Saya ingin integrasikan data posyandu dengan
sistem desa.”
“Supaya?”
“Supaya kebijakan berbasis data. Ibu
hamil berisiko bisa dipantau. Balita stunting bisa dideteksi lebih awal.”
Amat mulai tertarik. “Berarti nanti kita bisa tahu masalah sebelum jadi
masalah besar?”
“Itu tujuannya.”
Amat menyilangkan tangan. “Data boleh. Tapi satu syarat.”
“Apa?”
“Jangan terlalu tegang. Di sini penyakitnya bukan cuma hipertensi. Tapi
juga gosip.”
Erlangga akhirnya tertawa kecil.
Suasana mencair. Diskusi jadi hangat. Dan tanpa disadari, benih cerita lain
mulai tumbuh.***
Posyandu pagi itu ramai. Tangis bayi.
Tawa ibu-ibu. Aroma minyak telon. Anita menimbang bayi dengan cekatan. Erlangga
mencatat. Sesekali tatapan mereka bertemu. Singkat. Tapi cukup lama. Amat
berdiri di sudut ruangan, pura-pura memotret.
“Wah ini penelitian kok meneliti anak saya juga?” Anita menoleh.
“Bapak ini…”
Erlangga tersenyum canggung. Amat
menatap lebih lama. Sebagai admin, ia bangga data makin rapi. Sebagai ayah, ia
mulai waspada. Sore itu ia berkata pada Rania:
“Sepertinya ada yang bukan cuma integrasi data.”
Rania tersenyum. “Data apa perasaan?”
Amat menghela napas. “Dua-duanya.”***
Malam turun pelan. Rania menyeduh teh. Amat duduk lesu.
“Orang bilang saya salah ketik, salah anggaran, salah upload… rasanya
semua salah.”
Rania duduk lebih dekat. “Kamu kerja untuk desa, bukan untuk pujian.”
“Tapi minimal jangan dihina juga.”
“Kalau semua orang senang sama kamu, berarti kamu tidak pernah ambil
keputusan.”
Amat terdiam. Rania menatapnya lembut.“Kamu tahu kenapa saya tetap dukung
kamu?”
“Karena kamu kasihan?”
“Karena kamu keras kepala. Tapi keras kepala untuk hal yang baik.”
Amat tersenyum kecil. “Kadang saya takut gagal.”
“Gagal itu wajar. Yang tidak wajar itu berhenti.”
“Kalau suatu hari saya lelah?”
“Istirahat. Tapi jangan menyerah.”
Angin malam masuk pelan. Untuk pertama
kalinya hari itu, Amat merasa ringan. Di kantor ia admin yang sering salah
ketik. Di warung ia bahan candaan. Di rumah ia suami yang dipercaya. Dan di
situlah kekuatannya bertumbuh, bukan dari server, bukan dari sistem, tapi dari
seseorang yang percaya padanya
tanpa perlu login terlebih dahulu.***
Jam dinding berbunyi pelan. 11.47. WIB
Ruangan kantor desa terasa seperti ruang ujian nasional. Didit berdiri di
belakang Amat. Yuni memegang map seakan-akan itu jimat keberuntungan. Lulu
memegang ponsel, siap mendokumentasikan “momen bersejarah”. Amat menarik napas.
“Baiklah… demi Desa Awan Biru yang
tercinta.” Klik. Loading. Lingkaran kecil berputar. Berputar. Berputar.
Tiba-tiba layar membeku. Tulisan muncul kecil tapi kejam: Server Not Found
Sunyi.
Didit: “Mas… itu apa?”
Amat menatap layar lama sekali. “Ini bukan error… ini sabotase alam
semesta.”
Lulu mendekat, setengah panik. “Mas kenapa? Kenapa layarnya diam?”
“Karena dia sedang merenung.”
“Merenung apa?”
“Merenung kenapa harus bekerja di desa kecil dengan tekanan besar.”
Didit menekan meja. “Mas serius. Jam dua batas akhir.”
Amat bangkit berdiri. “Tenang. Server
hanya butuh motivasi.” Ia tekan refresh. Tidak bergerak. Ia tekan lagi. Tetap
sama. Bambang ditelepon.
“Bang, server mati.”
“Pakde, kemungkinan overload.”
“Overload apaan? Ini desa, bukan kota.”
“Traffic bisa datang dari mana saja.”
“Yang datang cuma laporan bulanan dan doa warga.”
“Pakde, saya remote dulu.”
Beberapa detik terasa seperti lima belas menit. Yuni hampir menangis.
“Kalau terlambat kirim, teguran turun.”
Didit menatap jam. 11.58. Amat berdiri tegak. “Baik. Kita pakai rencana
cadangan. Email manual.”
“Manual?” Lulu bertanya.
“Iya. Kita kirim langsung file PDF ke kabupaten.”
“Tapi sistem?”
“Sistem boleh jatuh. Kita tidak.”
Semua bergerak. File dikirim. Loading
email. Terkirim. Jam 12.13. Sunyi berubah menjadi napas panjang kolektif.
Didit duduk. “Inilah kenapa sistem harus kuat.” Amat tersenyum lelah. “Dan
orangnya juga.”***
Pada suatu hari Bidan Desa Amelia datang dengan wajah
pucat. “Mas Amat… data ibu hamil belum lengkap.”
Amat membuka dashboard kesehatan. Kolom kosong seperti lubang kecil di
dada.
“Ini kenapa belum masuk?”
“Kadernya belum kirim. Ada yang lupa. Ada yang sakit.”
“Besok kunjungan dinas?”
“Iya.”
Amelia menunduk. “Kalau dinas tanya, saya jawab apa?”
“Jawab saja jujur.”
“Nanti saya dimarahi.”
“Kalau bohong nanti dimarahi dua kali.” Amelia hampir menangis.
“Mas, kadang saya capek. Data tidak pernah selesai.”
Amat duduk di sebelahnya. “Kamu tahu kenapa kamu capek?”
“Kenapa?”
“Karena kamu peduli. Kalau tidak
peduli, kamu sudah pulang dari tadi.” Mereka lembur. Satu nama. Satu NIK. Satu
alamat.
Amelia mengetik pelan. “Mas… teknologi ini bagus. Tapi orang-orangnya
masih manusia.”
Amat tersenyum kecil. “Justru itu.
Digitalisasi itu bukan mengubah manusia jadi mesin. Tapi membantu manusia jadi
lebih rapi.” Jam 22.17. Data selesai. Amelia berdiri. “Terima kasih, Mas.”
Amat mengangguk. “Besok kalau
dimarahi, saya ikut dimarahi.” Amelia tersenyum. “Itu namanya solidaritas.”***
Forum desa malam itu penuh. Endang berdiri tanpa mikrofon. “Saya mau
bicara.” Suasana berubah.
“Website bagus. Transparansi bagus. Tapi jangan cuma upload yang
manis-manis.” Beberapa staf gelisah.
“Kalau ada proyek molor, tulis juga.”
Didit mengangkat tangan. “Mbak Endang, kami tidak pernah menutupi.”
“Saya tahu. Tapi kadang terlalu halus. Seperti laporan rasa brosur.”
Santoso berdiri. “Saya tidak setuju… tapi saya mendukung.” Semua menoleh.
Amat: “Pak, itu maksudnya bagaimana?”
Santoso: “Saya tidak setuju nada
suaranya. Tapi saya mendukung pesannya.” Ruangan hampir panas. Amat berdiri. “Kita
bukan robot. Kita juga punya kendala. Baik. Mulai bulan depan kita tambahkan
kolom ‘kendala dan solusi’.” Sunyi. Lalu tepuk tangan kecil. Endang duduk
kembali.
“Terima kasih. Saya bukan ingin
menyerang. Saya cuma ingin percaya lebih dalam.” Amat mengangguk pelan. “Dan
kepercayaan itu memang harus diuji.”***
Sore itu warung Pak RT 02 Pak Karyo tidak
terlalu ramai. Hanya ada suara sendok beradu dengan gelas dan radio tua yang
suaranya kadang hilang timbul. Anto duduk bersandar, memperhatikan halaman
kantor desa dari kejauhan. Arjuna terlihat membantu memindahkan kursi rapat,
sambil sesekali tertawa dengan pemuda lain. Anto menyeruput kopi, lalu berkata
pelan pada Amat,
“Anak muda yang sering bantu kamu itu, Arjuna… suatu hari jadi pemimpin.”
Amat tertawa spontan. “Dia masih sering lupa taruh helm, Pak. Pemimpin
kok ceroboh.”
Anto tidak ikut tertawa. “Helm bisa dicari. Keberanian dan kepedulian itu
yang jarang.”
Amat terdiam sejenak. Ia menoleh ke
arah Arjuna, yang kini sedang membantu seorang ibu mengangkat galon air tanpa
diminta. Anto tersenyum tipis. Senyum yang seperti menyimpan sesuatu lebih jauh
dari sekadar tebakan. Beberapa bulan kemudian, suasana berubah. Bambang,
keponakan Pak Iwan yang baru pulang dari kota, mulai sering datang ke kantor
desa. Laptopnya lebih tipis, bahasanya lebih cepat. Suatu siang, ia menatap
layar sistem administrasi desa dan berdecak kecil.
“Pakde, sistem ini sudah ketinggalan.” Ruangan mendadak sunyi.
Pak Iwan mengangkat alis. “Ketinggalan apa?”
“Zaman.” Bambang tidak bermaksud
meremehkan. Nada bicaranya biasa saja. Tapi kata itu terasa seperti batu kecil
yang dilempar pelan, tetap menimbulkan riak. Amat yang duduk di depan komputer
sedikit menegang.
“Ketinggalan di mana?” tanyanya tenang.
“Interface-nya lama. Keamanannya
standar. Integrasinya belum jalan. Data belum realtime.” Beberapa istilah itu
membuat staf lain saling pandang.
Amat mengangguk pelan.
“Masih jalan, kan?”
“Jalan, iya. Tapi kalau cuma ‘jalan’, kita bakal tertinggal.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari
yang terlihat. Malamnya, Amat pulang lebih lambat dari biasa. Ia membuka
kembali sistem yang dulu ia banggakan. Ia ingat bagaimana ia begadang
membangunnya. Ia ingat pertama kali website desa tayang dan warga bertepuk
tangan.
Sekarang… disebut ketinggalan zaman. Ada rasa tidak nyaman. Sedikit
tersaingi. Sedikit terancam.
“Anak kota memang selalu merasa lebih cepat,” gumamnya pelan.
Namun keesokan harinya, ketika Bambang
datang lagi membawa beberapa usulan pembaruan, Amat tidak memotong. Ia
mendengarkan.
“Kalau kita upgrade database, bisa lebih aman.”
“Kalau kita buat dashboard baru, lebih enak dibaca.”
“Kalau kita buka akses publik
sebagian, transparansi naik.” Amat menyilangkan tangan, berpikir. Egonya ingin
berkata, “Dulu kamu belum tentu bisa bikin ini.” Tapi ia menahan.
Sebaliknya, ia berkata pelan, “Kalau
mau diperbarui, kita kerjakan bareng. Jangan cuma bilang ketinggalan.”
Bambang tersenyum. “Itu yang saya harapkan, Pak.”
Sejak hari itu, suasana kantor sedikit
berubah. Arjuna semakin aktif di lapangan. Bambang semakin vokal soal sistem. Dan
Amat mulai belajar satu hal baru: Bahwa mempertahankan bukan berarti menolak
perubahan. Dan menjadi lebih tua bukan berarti harus paling benar.
Sore hari, ia kembali duduk di teras
kantor.Ia melihat Arjuna berbicara penuh semangat pada warga.
Ia melihat Bambang mengetik cepat di ruang dalam.Tiba-tiba ia teringat
kata-kata Anto.
“Suatu hari jadi pemimpin.”
Amat tersenyum kecil. Mungkin
kepemimpinan memang tidak lahir dari kesempurnaan. Bukan dari orang yang tak
pernah lupa menaruh helm. Tapi dari mereka yang berani bergerak,dan dari mereka
yang cukup dewasa untuk memberi ruang.
Dan untuk pertama kalinya, Amat tidak merasa tersaingi. Ia merasa… sedang
digantikan secara perlahan. Dan itu tidak lagi menakutkan.***
Suatu pagi yang biasanya berjalan
tenang, suasana Kantor Desa Awan Biru mendadak berubah ketika sepucuk surat tugas
resmi berkop Inspektorat Kabupaten tiba di meja sekretariat. Amplopnya,
berstempel, dan bertanda tangan pejabat berwenang. Saat dibuka dan dibacakan,
seluruh perangkat desa terdiam. Surat itu berisi pemberitahuan pelaksanaan
audit reguler terhadap pengelolaan keuangan dan administrasi desa tahun anggaran
berjalan. Bukan karena merasa bersalah, tetapi karena kata “audit” selalu
menghadirkan ketegangan tersendiri, mengingat tanggung jawab besar yang melekat
pada setiap rupiah Dana Desa, Alokasi Dana Desa, hingga program pemberdayaan
masyarakat yang telah dijalankan. Beberapa perangkat desa saling pandang; ada
yang langsung membuka kembali map laporan, ada pula yang refleks mengecek
berkas SPJ yang tersusun di lemari arsip.
Namun di balik keterkejutan itu, audit
dari Inspektorat sesungguhnya memiliki maksud dan tujuan yang konstruktif.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan internal pemerintah
daerah untuk memastikan pengelolaan keuangan desa berjalan sesuai regulasi,
transparan, akuntabel, serta tepat sasaran. Audit juga bertujuan mengidentifikasi
potensi kekeliruan administrasi sejak dini, memberikan rekomendasi perbaikan
tata kelola, serta memperkuat sistem pengendalian internal desa agar lebih
tertib dan profesional. Bagi Desa Awan Biru, momentum ini bukan sekadar
pemeriksaan, melainkan kesempatan untuk membuktikan integritas pemerintahan
desa sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat secara
berkelanjutan.
Yuni: “Mas… ini resmi.”
Lulu pucat. “Kalau ada yang kurang?”
Didit tenang. “Kalau kita jujur, tidak perlu takut.”
Amat menarik napas. “Baik. Kita buka semua.”
Audit berjalan. Petugas bertanya detail. “Kenapa proyek ini mundur tiga
hari?”
Amat menjawab tenang. “Hujan, Pak. Tapi laporan kami perbarui.”
“Kenapa pengeluaran ini berbeda?”
“Karena harga bahan naik.”
Petugas mengangguk. Di akhir audit: “Sistem kalian rapi.”
Yuni hampir menangis lega. Didit tersenyum tipis. “Matang bukan berarti
sempurna. Tapi konsisten.”
Amat sadar… Sistemnya bukan lagi eksperimen. Sudah jadi fondasi.***
Kantor desa malam itu lengang, hanya
suara kipas angin tua yang berputar lambat dan sesekali berderit pelan. Lampu
monitor di atas meja kerja menjadi satu-satunya cahaya yang benar-benar hidup,
memantulkan wajah Amat yang tampak lebih letih dari biasanya. Bayangan dirinya
di layar terlihat samar, di antara jendela aplikasi laporan keuangan, tabel
data warga, dan grafik perkembangan program desa digital yang belum sepenuhnya
sempurna. Di luar, angin malam menyentuh dedaunan, menciptakan bunyi gemerisik
yang seperti bisikan panjang dari masa lalu.
“Dulu saya semangat karena ingin
membuktikan,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada bayangannya
sendiri. Ia tertawa kecil, bukan karena lucu, melainkan karena menyadari betapa
besar ambisi yang dulu ia bawa. “Membuktikan bahwa desa bisa digital.” Napasnya
terhembus panjang. Ia teringat rapat-rapat awal yang penuh skeptisisme,
jaringan internet yang putus-nyambung, dan cibiran halus yang menyebutnya
terlalu muluk. Namun di antara keraguan itu, ada keyakinan yang tak pernah
benar-benar padam, bahwa desa bukan tempat yang tertinggal, melainkan tempat
yang hanya menunggu kesempatan untuk melangkah sejajar.
“Sekarang saya
semangat karena takut mengecewakan.” Angin malam masuk lewat jendela. Ia
memegang mouse.
Tangannya tak secepat dulu. “Waktu… kamu lari lebih cepat dari loading
website.”
Ia bersandar.
“Kalau suatu hari saya tidak duduk di sini lagi…” Sunyi. Ia tersenyum
kecil.
“Semoga sistem ini sudah cukup kuat berdiri tanpa saya.”***
Malam itu langit Desa Awan Biru
bersih, seolah sengaja memberi ruang bagi bintang-bintang untuk menyaksikan
sesuatu yang penting. Erlangga berdiri beberapa detik di depan rumah panggung
milik Si Amat. Lampu teras yang kekuningan memantulkan bayangannya di papan
kayu yang mulai mengilap dimakan usia. Tangannya membawa bingkisan sederhana, bukan
soal isi, tapi soal niat yang dibawanya.
Ia menarik napas panjang.
Bukan napas seorang dokter muda yang
gugup menghadapi pasien, melainkan napas seorang lelaki yang hendak meminta
masa depan.
Sejak pertama kali terlibat dalam
kegiatan Posyandu “Melati Sehat,” ia tak pernah menyangka bahwa langkah-langkah
kecilnya di halaman balai desa akan membawanya ke halaman rumah ini. Anita, dengan
senyumnya yang selalu lebih dulu datang sebelum sapaan, perlahan tumbuh dalam
hatinya. Kedekatan mereka bukan ledakan besar, melainkan nyala kecil yang
konsisten: obrolan tentang anak-anak balita, tentang ibu hamil yang perlu
perhatian, tentang desa yang ingin mereka lihat lebih sehat dan lebih maju.
Dan Anita menerimanya. Bukan sekadar menerima
bunga atau pesan singkat, tapi menerima kesungguhan.
Erlangga tahu itu dari caranya
mendengarkan. Dari caranya tidak pernah menertawakan mimpi-mimpinya. Dari
caranya berkata pelan, “Aku percaya kamu bisa.”
Keyakinan itulah yang malam ini ia
bawa sebagai modal paling berharga.
Pintu diketuknya perlahan.
Di dalam, terdengar suara langkah dan
batuk kecil khas Si Amat. Lelaki yang pernah ia kagumi karena semangatnya
membangun desa lewat digitalisasi itu kini menjadi sosok yang harus ia
yakinkan. Erlangga tidak merasa takut, hanya merasa perlu pantas.
Ketika pintu terbuka, cahaya dari
dalam rumah menyinari wajahnya yang tegas namun teduh.
“Assalamu’alaikum, Pak Amat. Saya
datang… ingin bersilaturahmi. Sekaligus menyampaikan maksud baik.”
Di balik ketenangannya, jantungnya
berdetak lebih cepat dari biasanya. Tapi bukan ragu yang menguasainya, melainkan
harap. Harap bahwa malam ini bukan sekadar kunjungan, melainkan awal dari bab
baru.
Di sudut ruangan, Anita berdiri dengan
wajah yang tak bisa sepenuhnya menyembunyikan degup yang sama. Tatapan mereka
bertemu sesaat. Tidak perlu banyak kata.
Erlangga tahu, ia datang bukan
sendirian.
Ia datang membawa restu dari
keyakinan, dari usaha yang tak pernah main-main, dan dari cinta yang sudah
saling diikrarkan diam-diam.
Malam itu, angin berembus pelan.
Seolah desa ikut menunggu jawaban.
Erlangga menmberanikan diri berkata. “Pak… saya ingin melamar Anita.”
Amat menatapnya lama. “Kamu bisa jaga anak saya?”
“Saya dokter, Pak.”
“Saya tanya jaga hati, bukan tensi.”
Anita menahan senyum. Erlangga menatap mantap.
“Saya mungkin tidak sempurna. Tapi saya serius.”
“Serius itu bagus. Tapi rumah tangga bukan ruang praktik.”
“Kalau ada masalah?”
“Bicarakan. Jangan didiagnosis sendiri.”
Anita menggenggam tangan ayahnya. “Pak…”
Amat menatap mata anaknya. Ada keyakinan. Ada cinta.
“Tapi satu syarat.”
“Apa, Pak?”
“Jangan terlalu serius terus. Nanti rumah tangga seperti ruang praktik.”
Dengan mata yang sempat
berkaca-kaca namun suara tetap mantap, Si Amat akhirnya tersenyum lebar dan menepuk
bahu Erlangga, sebuah tepukan yang lebih bermakna daripada seribu kalimat
panjang. “Kalau niatmu baik dan kau sungguh ingin menjaga Anita, saya restui,”
ucapnya pelan namun tegas, membuat udara di ruang tamu terasa hangat sekaligus
ringan.
Anita menunduk haru, sementara Erlangga
merasakan beban di dadanya luruh seketika, berganti syukur yang tak terucap.
Malam itu bukan lagi sekadar malam kunjungan, melainkan malam di mana dua
keluarga mulai merajut masa depan bersama, di bawah cahaya lampu sederhana dan
doa-doa yang diam-diam dipanjatkan agar cinta mereka tumbuh kokoh, setia, dan
penuh keberkahan..***
Suatu ketika di pagi yang cerah di kantor desa Awan
Biru Bambang datang dengan laptop baru. “Pakde, sistem harus cloud.”
“Cloud itu awan kan? Desa kita Awan Biru. Jangan sampai hujan.”
“Pakde terlalu manual.”
“Kamu terlalu cepat.”
“Kalau tidak cepat, kita tertinggal.”
“Kalau terlalu cepat, orang lain jatuh.” Sunyi.
Akhirnya Bambang duduk. “Baik. Saya ajari Pakde cloud.” Amat tersenyum.
“Saya ajari kamu sabar.”
Mereka saling menatap. Bukan saingan. Tapi jembatan generasi.***
Balai desa hari itu lebih ramai dari
biasanya. Bukan karena ada bantuan langsung tunai. Bukan juga karena pembagian
sembako. Tapi karena satu kata yang terdengar asing di telinga sebagian besar
petani: Online. Spanduk kecil tergantung di depan ruangan: “Sosialisasi
RDKK Online – Menuju Pertanian Modern.” Beberapa bapak-bapak membaca tulisan
itu sambil menyipitkan mata. “R-D-K-K itu apa lagi?” “Katanya daftar pupuk.” “Lha
pupuk kok pakai huruf?”
Amat berdiri di depan, membawa laptop
yang sudah tersambung ke proyektor. Layarnya menampilkan halaman login yang
terlihat sederhana… tapi bagi sebagian orang, tampak seperti pintu masuk ke
dunia lain. Pak Tarmo mengangkat tangan duluan.
“Mat, sebelum mulai… ini pupuknya tetap pupuk kan? Bukan jadi digital
juga?”
Tawa kecil terdengar. Amat tersenyum sabar. “Pupuknya tetap pupuk, Pak.
Yang digital itu datanya.”
“Lho, kalau datanya dipupuk, tanamnya di mana?”
Gelak tawa makin pecah. Amat menarik napas panjang, lalu menjelaskan
pelan-pelan.
“Jadi begini. Sekarang pembelian pupuk
subsidi harus terdaftar di sistem RDKK online. Bapak-bapak harus punya akun.”
“Akun itu apa?” tanya Pak Wiryo dari belakang.
“Itu… seperti kartu masuk.”
“Kartu kok nggak kelihatan?”
“Karena di internet, Pak.”
Pak Wiryo mengangguk pelan. Tidak
paham, tapi tidak mau terlihat tidak paham. Lalu pertanyaan yang
ditunggu-tunggu muncul. “Password pupuk itu apa?” Ruangan langsung hening. Amat
mencoba tetap tenang.
“Password itu kata sandi untuk masuk sistem.”
Pak Tarmo menyela, wajahnya serius. “Kalau lupa?”
“Bisa di-reset.”
“Reset itu apa?”
“Diganti baru.”
“Kalau pupuknya yang reset?”
Ruangan langsung meledak tawa. Pak Tarmo tertawa paling keras, bangga
dengan pertanyaannya sendiri.
Amat ikut tertawa. “Kalau pupuknya reset, itu bukan reset, Pak. Itu gagal
panen.”
“Oh… berarti jangan sampai reset ya.”
“Betul, Pak. Jangan sampai reset.”
Lalu sesi praktik dimulai. Satu per
satu petani diminta mencoba login lewat ponsel masing-masing. Masalah pertama
muncul dalam tiga menit.
“Mat, sinyalnya huruf E terus ini.”
“Itu bukan huruf E, Pak. Itu Edge.”
“Edge itu pupuk jenis apa?”
“Bukan pupuk, Pak. Itu sinyalnya lemah.”
Pak Tarmo mendekatkan ponsel ke jendela. “Kalau saya angkat tinggi-tinggi
bisa jadi 4G nggak?”
“Kalau Bapak naik ke atap mungkin bisa.”
Beberapa pemuda tertawa sambil membantu memasukkan NIK dan tanggal lahir.
Masalah kedua muncul.
“Mat, ini kok katanya password salah?”
“Bapak tadi bikin password apa?” Pak Wiryo terlihat ragu.
“Ya… password.”
“Isinya apa, Pak?”
“Ya password.”
Amat memejamkan mata sebentar. “Pak…
passwordnya jangan kata ‘password’.” Ruangan kembali pecah tawa.
“Astaghfirullah… pantas saja gampang ditebak,” gumam Pak Wiryo.
Proses berjalan lambat. Satu akun bisa
makan waktu lima belas menit. Ada yang salah ketik NIK. Ada yang lupa tanggal
lahir sendiri. Ada yang bingung membedakan angka nol dan huruf O. Di sudut
ruangan, Pak Tarmo mengeluh pelan.
“Dulu ambil pupuk tinggal bawa KTP. Sekarang harus bawa charger.”
Amat mendekat. “Ini supaya data Bapak aman dan tepat sasaran.”
“Kalau data saya lari ke mana, Mat?”
“Data tidak punya kaki, Pak.”
“Internet punya.”
Amat tertawa kecil. Ia sadar,
sosialisasi ini bukan cuma soal sistem, tapi soal perubahan cara berpikir. Setelah
hampir dua jam, akhirnya sebagian besar petani berhasil terdaftar. Ketika satu
notifikasi muncul bertuliskan: “Pendaftaran Berhasil.”
Pak Tarmo berdiri seperti baru memenangkan lomba. “Berarti pupuk saya
resmi digital sekarang?”
“Datanya yang digital, Pak.”
“Ah, yang penting pupuknya tetap bisa ditabur.”
Menjelang akhir acara, suasana mulai lebih santai. Pak Wiryo menepuk bahu
Amat. “Mat.”
“Iya, Pak?”
“Kita ini petani. Biasa tanam padi, bukan tanam password.”
Amat tersenyum. “Tapi sekarang Bapak sudah bisa tanam dua-duanya.”
Pak Wiryo terkekeh. “Kalau begitu nanti panennya dobel ya?”
“Kalau sinyalnya kuat, Pak.” Tawa kembali memenuhi ruangan.
Hari itu memang tidak langsung
sempurna. Masih ada yang harus dibantu lagi minggu depan. Masih ada yang lupa
password sebelum sampai rumah. Tapi satu hal berubah: Ketika pulang, beberapa
petani tidak lagi berkata, “Ah, ribet.” Mereka berkata, “Besok saya coba lagi.”
Dan bagi Amat, itu sudah cukup.
Karena perubahan di desa tidak pernah
datang dengan suara keras. Ia datang pelan. Kadang dengan kebingungan. Kadang
dengan tawa. Tapi tetap berjalan.***
Sore itu langit tidak terlalu cerah,
tidak juga mendung. Angin bergerak pelan, membawa bau tanah dan suara anak-anak
yang berlari di kejauhan. Pak Iwan duduk di teras kantor desa seperti biasa.
Tangannya menggenggam gelas kopi yang sudah hampir dingin. Ia tidak membuka
ponsel. Tidak memanggil staf. Hanya duduk.
Amat keluar membawa map laporan, lalu
berhenti ketika melihat pimpinannya diam lebih lama dari biasanya. “Pak, kopi sudah
dingin.”
Pak Iwan tersenyum tipis. “Biar saja. Dingin itu pengingat.”
“Pengingat apa?”
“Bahwa semua yang panas… suatu saat mendingin.”
Amat tidak langsung duduk. Ia berdiri
sebentar, seperti mencoba menebak arah pembicaraan. Akhirnya ia duduk di sampingnya.
Pak Iwan memandang halaman kantor. Dulu tanah itu kosong.Sekarang ada taman kecil. Ada papan informasi digital. Ada bangku
kayu. Ada papan nama yang lebih kokoh.
“Mat…” suara Pak Iwan lebih pelan dari biasanya, “tidak selamanya kita di
sini.”
Amat menoleh cepat. “Pak jangan bicara begitu.”
“Kenapa? Itu kenyataan.”
“Kenyataan tidak harus diucapkan keras-keras.”
Pak Iwan tertawa kecil. “Kamu ini. Sejak kapan takut pada kenyataan?”
Amat menarik napas. “Bukan takut, Pak. Hanya… belum siap.”
Pak Iwan mengangguk pelan. “Dulu waktu saya pertama kali jadi kepala
desa, kantor ini atapnya bocor. Ingat?”
“Ingat, Pak. Kita pakai ember di tengah ruangan.”
“Kamu yang paling cerewet waktu itu.”
“Saya cuma bilang kalau embernya kurang besar.”
Mereka tertawa kecil. Lalu hening lagi. Pak Iwan menatap jauh ke sawah
yang mulai menguning.
“Sekarang lihat. Administrasi rapi.
Data online. Orang luar datang belajar ke sini. Anak muda mau terlibat.”
Amat tersenyum tipis. “Karena Bapak memberi ruang.”
Pak Iwan menggeleng. “Karena kamu berani mencoba.”
Amat langsung menolak. “Tanpa dukungan Bapak, sistem itu tidak pernah
hidup.”
Pak Iwan menoleh, menatapnya lama. “Mat, kamu tahu kenapa saya tenang?”
“Kenapa, Pak?”
“Karena desa ini sudah lebih kuat dari satu orang.”
Angin sore menyentuh pelan. “Pemimpin
itu datang dan pergi,” lanjut Pak Iwan.
“Desa harus tetap jalan.”
Amat menatap halaman kantor. Ia
melihat Lulu sedang mengajari ibu-ibu mengisi formulir online. Didit berbicara
serius dengan dua pemuda. Bambang berdiri dengan laptop terbuka. Dulu halaman
itu sepi. Sekarang hidup.
“Pak…” suara Amat lebih dalam. “Kalau Bapak tidak di sini lagi… saya
harus bagaimana?”
Pak Iwan tersenyum.
“Kamu tidak harus menggantikan saya.”
“Lalu?”
“Kamu cukup jadi kamu. Itu sudah cukup.”
Sunyi. Amat merasakan sesuatu yang berat di dadanya. “Pak, tiga periode
itu lama.”
“Lama sekali.”
“Rasanya seperti… Bapak memang bagian dari kantor ini.”
Pak Iwan tertawa pelan. “Jangan
begitu. Nanti kalau saya pergi, kantor ikut menangis.” Amat tersenyum tipis,
tapi matanya mulai basah. Pak Iwan melanjutkan:
“Yang berbahaya bukan ketika pemimpin pergi. Yang berbahaya ketika sistem
tidak siap ditinggal.”
Amat menatapnya. “Sistem sudah siap, Pak.”
“Orangnya?” Pertanyaan itu menggantung.
Amat terdiam cukup lama. “Apa saya terlihat belum siap?” tanyanya pelan.
“Kamu siap bekerja,” jawab Pak Iwan. “Tapi kamu belum siap kehilangan.”
Kalimat itu menampar lembut. Amat menunduk.
“Pak…”
“Iya?”
“Kalau suatu hari saya juga harus duduk seperti ini… dan bilang kalimat
yang sama ke orang lain…”
Pak Iwan tersenyum lebih hangat. “Itu artinya kamu sudah jadi pemimpin.”
Mereka duduk lama tanpa bicara.
Anak-anak berlari di halaman. Suara tawa kecil terdengar. Matahari mulai turun
pelan. Pak Iwan berdiri perlahan. “Mat.”
“Iya, Pak.”
“Jangan pernah bangga pada jabatan.
Banggalah kalau orang masih mau duduk di sebelahmu tanpa takut.”
Amat ikut berdiri. “Saya akan ingat itu.”
Pak Iwan menepuk bahunya. “Dan satu lagi.”
“Apa, Pak?”
“Kalau nanti saya sudah tidak di sini… jangan ubah semuanya sekaligus.
Biarkan desa bernafas.”
Amat tersenyum. “Siap, Pak.”
Mereka masuk ke dalam kantor. Teras
kembali sepi. Tapi sore itu, untuk pertama kalinya, Amat benar-benar merasa
waktu berjalan lebih cepat dari loading website. Dan ia sadar… Suatu hari
nanti, kursi di teras itu mungkin akan ia duduki sendiri. Dengan kopi yang juga
akan mendingin pelan.***
Pagi itu langit Desa Awan Biru tidak
mendung, tapi rasanya seperti ada awan tipis menggantung rendah. Bukan awan
hujan, awan perpisahan.
Halaman kantor desa sudah dirapikan.
Kursi plastik berjajar. Spanduk sederhana terbentang: “Terima Kasih atas
Pengabdian Tiga Periode.” Tidak ada panggung megah. Tidak ada pengeras
suara berlebihan. Hanya mikrofon yang kadang mendengung seperti ikut terharu.
Pak Iwan berdiri di depan, mengenakan kemeja putih yang
sudah sering dipakai dalam momen penting. Wajahnya lebih tenang dari biasanya. Amat
berdiri di sampingnya. Tangannya memegang map sambutan, tapi pikirannya entah
di mana. Pak Iwan memulai dengan suara yang tidak terlalu keras, tapi cukup
untuk membuat semua orang diam.
“Saudara-saudara… tiga periode itu
bukan waktu yang sebentar. Rambut saya saja sudah ikut menyusut mengikuti
anggaran,” katanya ringan. Beberapa warga tertawa kecil.
“Tapi saya ingin jujur. Saya bukan
pemimpin sempurna. Saya pernah salah tanda tangan, pernah salah dengar laporan,
pernah salah percaya juga.” Didit mengangguk pelan. Lulu menatap ke bawah. Pak
Iwan melanjutkan, lebih pelan.
“Tapi satu hal yang selalu saya jaga… saya tidak ingin mengkhianati
kepercayaan.”
Sunyi. Amat menelan ludah. Pak Iwan menoleh ke arahnya.
“Mat, kamu ingat waktu pertama kali kita bikin website desa?”
Amat tersenyum tipis. “Ingat, Pak.
Servernya lebih sering tidur daripada kita.” Warga kembali tertawa kecil.
“Waktu itu banyak yang bilang kita sok
modern,” lanjut Pak Iwan. “Banyak yang bilang desa tidak butuh itu. Tapi kamu
tetap jalan.”
Amat menggeleng pelan. “Saya cuma ikut perintah, Pak.”
Pak Iwan mengangkat alis. “Jangan
rendah hati berlebihan. Kamu bukan cuma ikut. Kamu percaya.” Hening lagi. “Sekarang
saya tanya,” Pak Iwan memandangnya dalam-dalam, “kalau suatu hari desa ini
dipimpin orang lain, kamu masih mau kerja sepenuh ini?”
Amat terdiam. Pertanyaan itu bukan
formalitas. Itu ujian. “Pak…” suaranya pelan, “saya dulu semangat karena ingin
membuktikan. Sekarang saya semangat karena takut mengecewakan.”
Pak Iwan tersenyum, tapi matanya mulai basah. “Itu artinya kamu sudah
dewasa.”
Angin sore bergerak pelan, mengibaskan ujung spanduk. Pak Iwan menghadap
warga lagi.
“Pemimpin itu datang dan pergi. Desa
harus tetap jalan. Sistem boleh berubah. Teknologi boleh naik versi. Tapi niat
jangan pernah downgrade.” Tepuk tangan terdengar. Tidak riuh. Tapi tulus.
Setelah sambutan selesai, warga satu
per satu menyalami. Ada yang memeluk. Ada yang hanya mengangguk. Ada yang diam
karena tidak tahu harus berkata apa. Ketika halaman mulai sepi, tinggal mereka
berdua. Pak Iwan mendekat ke meja kerja yang sudah ditempati bertahun-tahun.
“Mat.”
“Iya, Pak.”
“Meja ini dulu kosong. Ingat?”
“Ingat. Komputernya masih tabung. Kalau dinyalakan bunyinya kayak
traktor.”
Pak Iwan tertawa pelan. “Kamu tahu kenapa saya tenang hari ini?” Amat
menggeleng.
“Karena saya tidak meninggalkan desa dalam keadaan gelap.”
Amat mencoba bercanda untuk menahan
haru. “Tenang saja, Pak. Kalau listrik mati, kita masih punya genset. Kalau
internet mati, kita masih punya kertas.”
Pak Iwan menepuk bahunya. “Dan kalau kamu lelah?” Amat terdiam. Pak Iwan
menatapnya lebih serius.
“Mat… kamu bukan mesin. Jangan tunggu rusak baru berhenti.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari audit kabupaten mana pun.
“Saya cuma takut kalau saya berhenti, semuanya ikut berhenti,” jawab Amat
lirih.
“Itu pikiran orang yang merasa dirinya
pusat sistem,” kata Pak Iwan lembut. “Padahal sistem yang baik tidak bergantung
pada satu orang.”
Amat menghela napas panjang. “Pak…
jujur saja… saya mulai lambat. Kadang klik dua kali. Kadang lupa password
sendiri.”
Pak Iwan tersenyum. “Password bisa
di-reset. Tapi niat yang hilang sulit dikembalikan. Selama niatmu masih hidup,
desa ini aman.”
Sunyi turun perlahan bersama senja. Warna
jingga memantul di layar monitor kantor yang belum dimatikan. Wajah Amat
terpantul di sana, bukan lagi admin muda penuh api, tapi pria dengan garis
halus di sekitar mata.
“Pak…” suaranya hampir berbisik, “apa Bapak tidak takut setelah ini?”
Pak Iwan melihat halaman desa yang kini
lebih hidup daripada dulu. “Takut itu wajar. Tapi lebih menakutkan kalau kita
bertahan terlalu lama hanya karena tidak siap melepas.” Amat menunduk.
Pak Iwan memeluknya. Bukan pelukan formal. Bukan
pelukan seremonial. Pelukan seorang mentor pada orang yang dulu ia percaya, dan
kini harus ia lepaskan untuk tumbuh.
“Jaga desa ini.”
“Siap, Pak… selama sinyal tidak hilang.”
Pak Iwan tertawa di antara mata yang mulai berkaca-kaca.
“Kalau sinyal hilang, kamu cari tempat lebih tinggi.”
“Kalau tetap tidak ada?”
“Berarti waktunya kamu dengar suara hati, bukan notifikasi.”
Keduanya terdiam. Langkah kaki Pak
Iwan menjauh perlahan dari kantor desa. Tidak ada musik. Tidak ada slow motion.
Hanya suara sandal menyentuh tanah dan daun kering terseret angin. Amat berdiri
lebih lama setelah semua pulang. Ia menyentuh meja kerjanya. Permukaannya sudah
penuh goresan kecil. Bekas mouse yang terlalu sering digeser. Bekas gelas kopi
yang lupa diberi tatakan. Bekas tahun-tahun yang tidak terasa lewat.
Ia duduk. Menatap layar. Kursor
berkedip. Seperti waktu. Ia tersenyum tipis. “Dulu saya takut server jatuh,”
gumamnya pelan. “Sekarang saya lebih takut kalau saya yang jatuh duluan.”
Angin malam masuk dari jendela yang
sedikit terbuka. Di luar, desa tetap hidup. Lampu rumah menyala satu per satu.
Suara motor lewat. Tawa anak-anak. Amat menarik napas panjang. Ia sadar… Ia
bukan lagi admin muda penuh semangat yang ingin membuktikan diri. Rambutnya
mulai beruban. Tangannya tak secepat dulu.
Matanya kadang harus mendekat ke
layar. Dan waktu… Mulai berjalan lebih cepat dari loading website. Tapi untuk
pertama kalinya, ia tidak ingin menghentikannya. Ia hanya ingin memastikan, siapa
pun yang datang setelah ini, tidak perlu
memulai dari nol. Monitor dimatikan. Ruangan gelap. Namun fondasi yang mereka
bangun… tidak ikut padam. Amat masih berdiri di ruangan gelap itu ketika suara
batuk kecil terdengar dari belakang.
“Kalau fondasinya tidak padam, listriknya kenapa dimatikan semua, Mat?”
Amat menoleh cepat. Pak Iwan belum
benar-benar pergi. Ia berdiri di ambang pintu, seperti orang yang lupa sesuatu,
atau sengaja kembali.
“Pak? Saya kira sudah di rumah.”
“Sudah jalan tiga langkah. Lalu kepikiran… kamu pasti masih merenung
sendirian.”
Amat tersenyum kecut. “Pak ini sudah hafal pola pikir saya ya.”
“Pemimpin tiga periode itu bukan cuma hafal RPJMDes. Hafal wajah orang
juga.”
Pak Iwan masuk lagi. Lampu tidak dinyalakan. Hanya cahaya sisa senja yang
menyelinap lewat jendela.
“Mat,” katanya pelan, “kamu takut apa sebenarnya?”
Amat terdiam cukup lama sampai terdengar suara jangkrik dari luar.
“Saya takut jadi usang, Pak.”
“Usang?”
“Iya. Teknologi berubah. Anak-anak
muda lebih cepat. Saya kadang butuh waktu lebih lama untuk paham. Saya takut
suatu hari orang bilang, ‘Sudah waktunya Pak Amat diganti.’”
Pak Iwan tidak langsung menjawab. Ia
duduk pelan di kursi tamu. “Kamu tahu kenapa pohon tua tetap berdiri meski ada
tunas baru?” Amat menggeleng. “Karena akarnya dalam.” Sunyi.
“Anak muda itu cepat tumbuh. Tapi
belum tentu tahan badai. Kamu sudah melewati badai server jatuh, audit, protes
warga, sampai printer macet pas deadline.”
Amat tersenyum tipis. “Printer itu musuh abadi saya, Pak.”
“Nah. Itu pengalaman. Jangan remehkan.”
Amat mengusap wajahnya.
“Tapi Pak… kadang saya merasa dihargai
hanya kalau sistem berjalan lancar. Begitu ada error, semua lihat saya.”
Pak Iwan terkekeh pelan. “Itu artinya kamu dianggap penting.”
“Rasanya lebih seperti kambing hitam.”
“Kambing hitam pun tetap kambing yang diperhatikan,” jawab Pak Iwan
ringan.
Amat tertawa, tapi matanya tetap berat.
“Pak, jujur saja… saya takut kehilangan arah setelah Bapak tidak di
sini.”
“Kenapa?”
“Karena selama ini kalau saya ragu, saya tinggal masuk ruangan Bapak dan
bilang, ‘Pak, ini gimana?’”
Pak Iwan mengangguk pelan.
“Dan sekarang kamu harus bertanya pada diri sendiri.”
“Itu lebih menakutkan.”
Pak Iwan berdiri, berjalan mendekati
meja kerja Amat. “Mat, dengar baik-baik. Kepemimpinan itu bukan soal siapa
duduk di kursi ini. Tapi siapa yang tetap bekerja meski kursinya berganti.”
Amat menatap meja itu lagi. “Kalau nanti pemimpin baru tidak suka cara saya?”
“Ya kamu evaluasi.”
“Kalau tetap tidak cocok?”
“Ya kamu bicara.”
“Kalau tetap tidak didengar?”
Pak Iwan tersenyum. “Kamu ini kenapa sudah latihan konflik padahal belum
terjadi?”
Amat menarik napas. “Karena saya tidak pandai pura-pura baik-baik saja.”
“Itu bagus. Tapi jangan juga pandai menyimpulkan sebelum waktunya.” Hening
lagi.
Pak Iwan tiba-tiba bertanya, “Kamu pernah marah sama saya?”
Amat terkejut. “Sering, Pak.”
“Lho?”
“Waktu Bapak memaksa website tetap
jalan padahal server belum siap. Waktu Bapak menyuruh saya jelaskan laporan di
forum padahal saya belum tidur.”
Pak Iwan tertawa kecil. “Tapi kamu tetap jalan.”
“Iya. Karena saya tahu Bapak tidak pernah suruh saya untuk kepentingan
pribadi.”
Pak Iwan mengangguk. “Nanti kalau
pemimpin baru menyuruhmu, ukur dulu niatnya. Kalau untuk desa, bantu. Kalau
untuk ego, ingatkan.”
Amat terdiam. “Pak… bagaimana kalau suatu hari saya
sendiri yang mulai kehilangan niat?” Pertanyaan itu lebih sunyi daripada yang
lain.
Pak Iwan menatapnya lama. “Kalau kamu sampai bertanya seperti itu, artinya
niatmu masih hidup.”
Angin malam masuk lebih kencang. Spanduk
di luar terdengar berdesir. “Mat,” suara Pak Iwan kini lebih lembut, hampir
seperti seorang ayah, “kamu tidak harus selalu jadi yang paling kuat.”
“Kalau saya lemah?”
“Datang ke rumah. Kita ngopi.”
Amat tertawa kecil. “Bapak ini pensiun atau buka layanan konsultasi?”
“Gratis. Tapi kopi kamu yang bayar.”
Mereka tertawa bersama. Lalu Pak Iwan kembali serius.
“Saya tidak khawatir tentang desa ini.”
“Kenapa, Pak?”
“Karena orang-orangnya belajar. Bukan cuma mengerjakan.” Amat menelan
ludah.
“Termasuk kamu.”
Beberapa detik hanya ada suara napas dan jangkrik.
“Pak,” Amat berkata pelan, “kalau waktu bisa diulang, Bapak mau tetap
jadi kepala desa?”
Pak Iwan berpikir cukup lama.
“Mau.”
“Kenapa?”
“Karena saya belajar lebih banyak dari kegagalan di sini darip ada dari
keberhasilan.”
Amat tersenyum. “Saya juga begitu, Pak.”
“Berarti kamu sudah siap.”
“Siap apa?”
“Siap tidak bergantung pada saya lagi.”
Kalimat itu membuat dada Amat terasa penuh.
“Pak… terima kasih sudah percaya pada saya waktu orang lain ragu.”
Pak Iwan menggeleng pelan. “Saya
percaya bukan karena kamu tidak pernah salah. Tapi karena setiap salah, kamu
tidak lari.” Sunyi panjang. Akhirnya Pak Iwan melangkah ke pintu.
Kali ini tidak berhenti. Sebelum benar-benar keluar, ia berkata tanpa
menoleh, “Mat.”
“Iya, Pak?”
“Jangan ukur dirimu dari kecepatan loading. Ukur dari ketahanan saat
buffering.”
Amat tertawa pelan, menahan air mata yang hampir jatuh. “Siap, Pak.”
Langkah kaki itu menjauh. Tidak
kembali lagi. Ruangan benar-benar sunyi. Amat duduk perlahan. Menyalakan
monitor sekali lagi. Layar menyala. Kursor berkedip. Ia membuka folder lama: “Arsip
Tahun Pertama.” Melihat file-file dengan nama aneh, typo di sana-sini, format
yang berantakan.
Ia tersenyum. “Kalau dulu bisa belajar dari nol,” gumamnya, “harusnya
sekarang tidak takut mulai lagi.”
Ia membuka dokumen baru. Mengetik pelan: “Catatan untuk Pemimpin
Berikutnya.”
Jari-jarinya memang tidak secepat dulu. Tapi setiap ketukan lebih matang.
Di luar, Desa Awan Biru tetap hidup. Motor
lewat. Anak-anak tertawa. Lampu rumah menyala seperti titik-titik harapan
kecil. Dan di dalam kantor yang kini sunyi itu, seorang admin yang mulai
beruban
tidak lagi takut pada pergantian. Karena ia sadar, yang membuat desa berjalan
bukan satu orang. Melainkan orang-orang yang mau tetap bertahan meski
bayangannya sudah tidak sebesar dulu.***
Pagi itu Desa Awan Biru terasa sedikit
berbeda. Arjuna turun dari motor dengan kemeja biru muda yang masih terlalu
licin untuk ukuran desa. Rambutnya tersisir rapi. Sepatunya bersih.
Terlalu bersih. Lima menit kemudian; “Kunci
motor saya mana?” Ia menepuk-nepuk saku. Memeriksa tas. Melihat jok motor. Ternyata
masih menggantung di motor.
Amat yang berdiri di teras kantor desa
hanya menggeleng. “Visi misi hafal sampai titik koma. Kunci motor lupa sampai
titik koma juga.” Arjuna tertawa kecil, sedikit malu, tapi tidak kehilangan
semangat.
Di ruang rapat kecil kantor desa, ia
berdiri di depan papan tulis. “Saya ingin desa ini sehat secara data dan sehat
secara warga. Bukan cuma sehat laporan.”
Didit mengangkat alis. “Sehat secara data itu bagaimana?”
“Data valid, transparan, bisa diakses.
Tidak ada angka yang sekadar cantik di proposal.” Amat menyilangkan tangan. “Yang
penting jangan sehat di proposal saja. Nanti di lapangan malah batuk-batuk.” Beberapa
staf tersenyum. Beberapa masih menatap skeptis.
Di luar kantor desa, suara-suara mulai muncul.
“Anak kemarin sore mau jadi kades?”
“Pengalaman apa dia?”
“Terlalu percaya diri.” Tapi ada
juga yang berbisik:
“Setidaknya dia berani.”
Konflik belum meledak. Tapi bara kecil sudah mulai menyala.***
Warung Pak RT 02 sore itu lebih ramai
dari biasanya. Bau kopi hitam bercampur dengan suara sendok beradu gelas. Santoso
duduk paling depan, seperti biasa. Ia membuka percakapan dengan kalimat
khasnya: “Saya netral… tapi menurut saya…” Semua langsung tersenyum.
“Itu bukan netral, Pak,” celetuk Lulu yang kebetulan lewat membeli es
teh.
Santoso melanjutkan tanpa peduli. “Anak
muda bagus. Tapi memimpin itu bukan lomba lari. Ini maraton.”
Anto, sopir truk yang baru datang dari
luar kota, menyandarkan tubuhnya. “Saya sudah bilang dari dulu. Arjuna itu
garis tangannya lurus kayak jalan tol.”
Amat yang kebetulan duduk di pojok, mengangkat wajahnya. “Desa kita belum
ada tol, To.”
“Ya makanya! Biar dia yang bikin jalannya lurus dulu.” Tawa pecah.
Tapi di antara gelak itu, percakapan mulai
terbelah. Kelompok pendukung mulai duduk berdekatan.
Kelompok ragu mulai berbisik sendiri. Tak ada teriakan. Tak ada saling tunjuk. Hanya
kopi yang mulai terasa lebih pahit dari biasanya.***
Bambang datang membawa drone. Amat
Junior membawa kamera. Arjuna berdiri di tengah sawah dengan gaya terlalu
formal untuk latar belakang kerbau yang lewat.
“Ambil angle dari atas. Biar sinematik,” kata Bambang.
Drone naik. Lalu terlalu rendah. Hampir menyentuh kepala Pak RT yang
sedang lewat.
“Ini kampanye atau serangan udara?” teriak Pak RT.
Rekaman diulang.
Arjuna mulai bicara penuh semangat: “Desa Awan Biru harus menjadi desa
percontohan”
Suara ayam berkokok panjang, tepat menutup kata “percontohan.”
Semua terdiam.
Amat menatap layar preview. “Ini kampanye atau konten hiburan?”
Video itu akhirnya diunggah.
Komentar berdatangan: “Kades rasa
YouTuber.” “Ayamnya lebih percaya diri dari calon kades.” Arjuna tertawa
membaca komentar itu. Tapi malamnya, saat sendirian, ia menarik napas panjang. “Apa
saya terlalu memaksa jadi modern?” gumamnya pelan. Tekanan mulai terasa. Bukan
hanya ingin menang. Tapi ingin dipercaya.***
Malam hari di rumah, lampu ruang tamu
redup. Rania menyeduh teh hangat. Amat duduk diam, lebih lama dari biasanya.
“Kamu kenapa?” tanya Rania lembut.
“Pak Iwan itu seperti keluarga. Tapi desa juga butuh anak muda.”
Rania duduk di sampingnya. “Kamu takut kehilangan masa lalu?”
Amat menghela napas. “Saya takut kalau
yang baru salah langkah. Tapi saya juga tahu, saya tidak bisa selamanya berdiri
di depan.”
Rania tersenyum tipis, “Kamu tidak harus memilih masa lalu atau masa
depan. Kamu bisa jadi jembatan.”
Kalimat itu membuat Amat terdiam cukup lama.
Akhirnya ia berkata pelan: “Baiklah. Saya netral. Tapi kalau dia butuh,
saya tetap di belakangnya.”
Malam itu, keputusan kecil diambil. Keputusan yang akan menentukan arah
generasi kedua.***
Halaman Balai Desa Awan Biru pagi itu tampak berbeda dari
biasanya. Jika hari-hari biasa hanya dipenuhi sepeda motor warga yang mengurus
administrasi, kini tenda-tenda putih berdiri rapi, kursi plastik disusun
berbaris menghadap meja panitia, dan bendera merah putih kecil terpasang di
beberapa sudut halaman. Spanduk bertuliskan “Pemilihan Kepala Desa Awan Biru”
membentang di depan gedung kantor desa, sedikit berkibar tertiup angin yang
membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam.
Warga mulai berdatangan sejak matahari
masih malu-malu muncul di ufuk timur. Ibu-ibu mengenakan pakaian terbaik
mereka, sebagian membawa anak kecil yang sesekali berlarian di sela antrean.
Para bapak berdiri bergerombol, berdiskusi pelan tentang calon pilihan mereka,
nada suara ditahan namun penuh semangat. Di sudut lain, panitia sibuk
memastikan daftar hadir, kotak suara, serta bilik pencoblosan tertata sesuai
aturan. Wajah-wajah tegang bercampur harap tampak jelas, bukan karena konflik,
melainkan karena setiap orang merasa hari itu adalah momen penting bagi arah
desa ke depan.
Suara pengeras suara sesekali
terdengar, memanggil nomor antrean atau mengingatkan warga untuk menjaga
ketertiban. Aparat keamanan desa berjaga dengan sikap ramah namun waspada,
memastikan suasana tetap kondusif. Di bawah rindang pohon ketapang yang berdiri
di tepi halaman, beberapa tokoh masyarakat berbincang pelan, sesekali
mengangguk serius seolah menimbang masa depan yang akan dipilih hanya dengan
satu tanda di kertas suara.
Menjelang siang, suasana makin hidup.
Debu tipis terangkat dari langkah kaki yang hilir mudik, suara tawa anak-anak
bercampur dengan gumam diskusi orang dewasa. Ada getar demokrasi yang terasa
nyata, bukan sekadar prosedur, melainkan perayaan partisipasi. Desa Awan Biru
seolah berdiri di persimpangan harapan, menunggu siapa yang akan dipercaya
memimpin langkah berikutnya.
Absensi online sudah disiapkan. Tablet berdiri di meja masuk.
Lulu menjelaskan pada seorang warga. “Tinggal klik nama, Pak.”
“Kalau saya klik salah, suara saya pindah ke orang lain?”
“Tidak begitu, Pak…”
Beberapa warga tetap memilih daftar manual.
“Kalau online nanti suara saya buffering.” Antrean panjang, tapi tertib.
Sejak pagi, suasana pencoblosan di
halaman Kantor Desa Awan Biru berjalan tertib namun penuh getar. Warga datang
bergelombang, ada yang percaya diri melangkah ke bilik suara, ada pula yang
tampak ragu sejenak sebelum mencoblos, seolah sadar bahwa satu lubang kecil di
kertas itu membawa arah lima tahun ke depan. Panitia memanggil nama sesuai
daftar hadir, tinta ungu menandai jari sebagai saksi partisipasi. Di dalam
bilik, hanya terdengar gesekan kertas dan detak jantung masing-masing pemilih.
Di luar, bisik-bisik pelan beredar, tetapi tak ada provokasi, tak ada riuh yang
berlebihan. Desa seperti sepakat menjaga martabatnya sendiri.
Menjelang siang, kotak suara disegel
di hadapan saksi dari masing-masing calon, disaksikan tokoh masyarakat dan
aparat desa. Semua mata memperhatikan setiap gerakan tangan panitia. Ketika
penghitungan dimulai, satu per satu kertas suara dibuka, diperlihatkan ke
hadapan publik, lalu disebutkan dengan suara lantang. “Sah… Arjuna.” Coretan
angka di papan tulis bertambah satu. “Sah… nomor dua.” Garis lain muncul di
kolom sebelah. Ritmenya lambat tapi pasti, sebut, tunjukkan, catat.
Semakin mendekati akhir, selisih suara
makin menipis. Beberapa warga tanpa sadar menghitung ulang di kepala mereka.
Ada yang menahan napas setiap kali nama Arjuna disebut, ada pula yang menghela
kecewa saat suara berpindah ke kolom lawan. Saksi-saksi memperhatikan dengan
tatapan tajam, memastikan tak ada kertas terlewat atau tertukar. Panitia
beberapa kali menghentikan hitungan untuk menenangkan suara yang mulai
berdesis, lalu melanjutkan dengan lebih hati-hati.
Ketika lembar terakhir dibuka, suasana
benar-benar hening. Bahkan anak-anak yang tadi berlarian kini duduk di pangkuan
orang tua, seperti ikut merasakan kesakralan momen itu. Angka akhir ditulis
perlahan di papan rekapitulasi. Selisihnya hanya beberapa suara.
Ketua panitia berdiri, membacakan hasil
resmi dengan suara tegas namun terukur. “Berdasarkan hasil penghitungan dan
rekapitulasi suara… Arjuna dinyatakan memperoleh suara terbanyak.” Tak ada
ledakan sorak. Hanya tepuk tangan singkat—lebih sebagai penghormatan pada
proses daripada euforia kemenangan.
Di ruang penghitungan suara yang mulai
lengang, Arjuna duduk sebentar menatap kertas hasil rekapitulasi yang baru saja
ditandatangani saksi-saksi. Angka-angka itu terasa lebih berat dari yang ia
bayangkan.
“Tipis sekali…” gumamnya.
Amat menepuk bahunya, tepukan yang
bukan sekadar ucapan selamat. “Kemenangan tipis itu pengingat. Kamu dipilih,
tapi juga diawasi.”
Arjuna mengangguk pelan. Ia tahu,
selisih kecil itu bukan sekadar statistik—itu pesan. Bahwa separuh desa
berharap padanya, dan separuh lainnya menunggu pembuktian. Napas panjang
dilepaskannya, bukan karena lega semata, melainkan karena ia sadar: hari itu
bukan akhir dari kompetisi, melainkan awal dari tanggung jawab yang jauh lebih
besar.***
Aula Kantor Desa Awan Biru pagi itu
tidak dihias berlebihan. Hanya ada meja panjang berbalut kain putih, bendera
merah putih di sisi kanan kiri, serta papan nama sederhana yang menandai acara
Serah Terima Jabatan Kepala Desa. Kursi-kursi plastik terisi oleh perangkat
desa, tokoh masyarakat, ibu-ibu PKK, dan beberapa pemuda yang dulu sibuk
menjadi tim sukses, kini duduk berdampingan tanpa atribut apa pun. Suasananya
khidmat, tapi tidak kaku. Ada rasa haru yang mengalir pelan di antara
dinding-dinding yang telah menyaksikan banyak rapat, banyak perdebatan, dan
banyak keputusan penting.
Pak Iwan berdiri di depan mikrofon.
Kemeja putihnya rapi, tapi garis di wajahnya tak bisa menyembunyikan pengalaman
lima tahun memimpin. Ia memandang ruangan itu lama, seolah sedang mengucapkan
selamat tinggal pada sebuah perjalanan yang tak singkat.
“Saudara-saudara,” suaranya tenang,
“menjadi pemimpin itu seperti menanam pohon. Kamu gali tanahnya, kamu rawat
tiap hari, kamu lindungi dari hama. Tapi bisa jadi, yang menikmati buahnya
bukan kamu.”
Beberapa warga mengangguk pelan.
Ia menoleh ke Arjuna yang berdiri di
sampingnya. “Jangan jadi pemimpin yang sibuk difoto, tapi lupa menyapa. Jangan
terlalu sering lihat kamera sampai lupa melihat mata wargamu sendiri.”
Suasana hening, tapi bukan hening
kosong, hening yang penuh makna.
Arjuna menunduk hormat. “Saya akan
banyak belajar, Pak. Saya sadar, kemenangan kemarin bukan garis akhir, tapi
garis mulai.”
Pak Iwan tersenyum tipis. “Bagus kalau
kamu sadar itu. Desa ini bukan panggung. Ini rumah. Dan rumah butuh orang yang
mau mendengar, bukan hanya berbicara.”
Ia melangkah mendekat, suaranya
sedikit lebih pelan namun jelas terdengar. “Belajarlah dari semua orang. Bahkan
dari yang tidak memilihmu. Mereka bukan musuhmu. Mereka adalah pengingatmu.”
Arjuna menarik napas dalam. “Saya
ingin merangkul semuanya, Pak. Saya tidak ingin ada yang merasa ditinggalkan.”
Pak Iwan menepuk bahunya. “Merangkul
itu mudah diucapkan. Sulit dijalankan. Nanti kamu akan tahu—ada kritik yang
menyakitkan, ada tuntutan yang melelahkan. Jangan cepat tersinggung. Jangan
cepat membalas.”
Arjuna mengangguk mantap. “Kalau suatu
saat saya salah langkah, saya harap Bapak tetap mau menegur saya.”
“Tentu,” jawab Pak Iwan ringan.
“Karena setelah jabatan ini saya lepaskan, yang tersisa adalah tanggung jawab
sebagai warga desa.”
Di sudut ruangan, Amat berdiri
bersandar pada tiang kayu aula. Ia tidak ikut berbicara, tidak pula maju ke
depan. Namun matanya tak lepas dari Arjuna. Senyum tipis terlukis di wajahnya, bangga
melihat anak muda yang dulu sering ia ajak diskusi kini berdiri sebagai
pemimpin. Tapi di balik senyum itu ada cemas: apakah Arjuna akan kuat
menghadapi tekanan? Apakah ia akan tetap rendah hati?
Harap pun menyusup pelan. Harap bahwa
desa ini benar-benar bergerak maju, bukan hanya berganti nama di papan jabatan.
Ketika berita acara ditandatangani dan
tepuk tangan sederhana mengisi ruangan, tidak ada gemuruh besar. Hanya rasa
lega dan kesadaran sunyi bahwa satu bab telah ditutup, dan bab baru resmi
dimulai.***
Belum genap lima hari Arjuna menjabat
Kepala Desa, meja kerjanya sudah dipenuhi map berwarna-warni. Telepon berdering
hampir tanpa jeda. Grup WhatsApp perangkat desa ramai dengan foto drainase
tersumbat, tangkapan layar data UMKM yang belum sinkron, hingga pesan dari
kecamatan yang mengingatkan laporan bulanan yang tertunda.
Siang itu, Arjuna terduduk di
kursinya. Jasnya tergantung di sandaran, lengan kemeja digulung sampai siku.
“Kenapa semua masalah masuk ke saya?”
keluhnya setengah berbisik, setengah putus asa. “Padahal ini masalah lama,
bukan saya yang bikin.”
Amat yang duduk di kursi seberang
hanya tersenyum tenang. “Karena sekarang namamu di papan depan.”
Arjuna mengangkat wajahnya. “Ternyata
berat, ya.”
“Memang,” jawab Amat santai. “Jabatan
itu bukan kursi empuk. Itu kursi panas. Makin tinggi sandarannya, makin terasa
panasnya.”
Arjuna tertawa kecil, meski matanya
terlihat letih. “Saya kira yang sulit itu kampanye. Ternyata yang sulit itu
setelah menang.”
“Ya jelas,” Amat menimpali. “Waktu
kampanye, orang dengar kamu. Sekarang kamu yang harus dengar orang. Bedanya
jauh.”
Arjuna terdiam sejenak. “Tadi pagi ada
warga marah soal drainase. Katanya sudah tiga kali lapor sejak zaman Pak Iwan.
Saya cuma bisa bilang akan ditindaklanjuti.”
“Dan itu jawaban yang benar,” kata
Amat. “Pemimpin bukan pesulap. Tapi jangan cuma ditindaklanjuti, pastikan
ditindak.”
Arjuna mengangguk, lalu menoleh ke
layar komputernya. “Data UMKM ini juga belum update dua tahun. Kabupaten minta
rekap terbaru minggu ini.”
“Berarti kamu mulai dari situ.
Satu-satu. Jangan mau ditarik ke semua arah sekaligus. Nanti kamu robek.”
Arjuna menghela napas panjang. “Pak
Amat dulu waktu jadi admin desa, pernah ngerasa begini juga?”
Amat tersenyum tipis. “Dulu saya cuma
pusing kalau server down. Kamu sekarang pusing kalau warga down.”
Arjuna tak bisa menahan tawa. “Bedanya
tipis tapi dampaknya besar.”
Sore harinya, website desa resmi
diperbarui. Tampilan lebih modern. Dashboard lebih kompleks, grafik dan
indikator berjejer rapi. Arjuna terlihat bangga memperlihatkannya pada Amat.
“Sekarang semua terintegrasi, Pak.
Data kependudukan, UMKM, laporan kegiatan. Tinggal klik.”
Amat mendekat ke layar, menyipitkan
mata. “Bagus ini… canggih sekali.”
Ia mencoba login. Salah klik.
Tiba-tiba layar kembali ke halaman awal.
“Loh, kok saya keluar?”
Bambang yang sejak tadi berdiri di
belakang mereka menahan tawa. “Pakde itu tombol keluar.”
Amat mengerutkan kening. “Oh… pantes
saya merasa keluar dari sistem kehidupan.”
Ruangan pecah oleh tawa. Arjuna sampai
bersandar di kursinya.
“Pak Amat masih jago, kok,” hibur
Arjuna.
“Jago nostalgia mungkin,” balas Amat
ringan. “Sekarang tombolnya makin banyak. Dulu hidup cuma ‘simpan’ atau
‘batal’. Sekarang ada ‘sinkronisasi’, ‘integrasi’, ‘validasi’… makin tua makin
banyak istilah.”
Bambang menyahut, “Nanti saya ajari
pelan-pelan, Pakde.”
Amat mengangguk, tapi senyumnya kali
ini lebih tipis. Ia menatap layar sedikit lebih lama dari biasanya. Huruf-huruf
kecil terasa seperti berlari, tidak lagi setia diam di tempatnya. Tangannya
sempat ragu sebelum menggerakkan mouse.
Arjuna memperhatikan. “Pak, capek?”
“Sedikit,” jawab Amat jujur. “Mungkin
mata saya yang mulai protes. Atau kepala saya yang ketinggalan versi.”
Arjuna berdiri dan menepuk bahunya.
“Saya masih butuh Bapak.”
Amat menoleh, menatap Arjuna dengan
campuran bangga dan sesuatu yang sulit dijelaskan. “Dan saya masih di sini.
Hanya saja… mungkin nanti saya tidak lagi yang paling cepat.”
“Tidak harus paling cepat,” sahut
Arjuna lembut. “Yang penting paling paham.”
Amat tersenyum. “Jangan terlalu
percaya saya. Kamu sekarang pemimpinnya. Kamu yang harus paling siap.”
Di luar ruangan, suara warga kembali
terdengar memanggil nama Kepala Desa. Arjuna menarik napas dan berdiri tegak.
“Satu-satu,” bisiknya pada dirinya
sendiri.
Amat memperhatikannya melangkah
keluar. Di balik tawa kecil dan candaan soal tombol keluar tadi, ia sadar, waktu
memang berjalan pelan, tapi pasti. Dan mungkin, tanpa terasa, ia sedang belajar
satu hal baru: bukan lagi tentang memimpin sistem, melainkan tentang merelakan
peran bergeser dengan tenang.***
Pagi itu aula desa terasa lebih ramai
dari biasanya. Di depan meja registrasi, sebuah standing banner dengan kotak
hitam-putih terpampang besar: ABSENSI QR CODE – SILAKAN PINDAI DI SINI.
Yuni berdiri di depan dengan ponsel di
tangan, wajahnya penuh semangat seperti guru yang hendak memperkenalkan
pelajaran baru.
“Bapak-Ibu, sekarang kita pakai sistem
absensi digital. Jadi tidak tanda tangan lagi. Cukup arahkan kamera ke kode
ini, nanti otomatis tercatat.”
Beberapa perangkat desa saling
pandang. Ada yang mengangguk mantap, ada yang tampak ragu-ragu memegang ponsel
seperti sedang memegang benda asing.
Seorang bapak maju paling depan. Ia
membuka ponsel dengan percaya diri, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu tersenyum
lebar ke layar.
Klik.
“Sudah saya foto.”
Yuni terdiam sepersekian detik. “Itu
bukan dipindai, Pak. Itu selfie.”
“Oh…” bapak itu menatap hasil fotonya
sendiri. “Saya kira biar rapatnya kenal wajah saya dulu.”
Tawa meledak di ruangan. Bahkan Arjuna
yang berdiri di belakang tak bisa menahan senyum.
Yuni berusaha menahan tawa sambil
menjelaskan lagi. “Bukan difoto, Pak. Buka kamera, arahkan ke kode ini, nanti
muncul link. Diklik link-nya.”
Bapak itu mencoba lagi. Kali ini benar
membuka kamera belakang. Namun setelah kode muncul di layar, ia malah memencet
tombol zoom.
“Kok makin kotak-kotak, ya?”
“Itu diperbesar, Pak, bukan dipindai,”
sahut Bambang dari belakang.
Seorang ibu lain ikut mencoba. Ia
berhasil memunculkan link, tapi ragu menekannya. “Ini aman, kan? Bukan pinjaman
online?”
Ruangan kembali riuh.
Yuni tertawa kecil. “Aman, Bu. Ini
link resmi desa. Kalau tiba-tiba ada yang nawarin cicilan motor, baru kita
panik.”
Arjuna maju sedikit mendekat. “Santai
saja, pelan-pelan. Kita belajar sama-sama.”
Seorang perangkat desa yang lebih muda
akhirnya membantu bapak tadi. “Pak, lihat ini. Arahkan… ya… tunggu sampai
muncul tulisan… nah, klik.”
Beberapa detik kemudian terdengar
bunyi notifikasi.
“Absensi berhasil.”
Bapak itu tersenyum bangga. “Oh, jadi
bukan difoto ya. Pantas tadi tidak ada tulisan hadir.”
“Kalau selfie sih yang hadir cuma
wajah Bapak,” celetuk Bambang.
Tawa kembali pecah.
Namun di sela kelucuan itu, ada
wajah-wajah yang masih terlihat tegang. Jempol yang kaku, mata yang menyipit
membaca layar kecil, bisik-bisik pelan bertanya pada yang lebih muda.
Arjuna memperhatikan semuanya. Ia
melihat semangat Yuni yang ingin sistem lebih rapi. Ia melihat perangkat desa
yang ingin mengikuti zaman, meski langkahnya tertatih. Ia juga melihat rasa
sungkan untuk mengakui tidak paham.
Yuni menutup penjelasan dengan suara
lembut. “Tidak apa-apa kalau salah. Yang penting mau coba.”
Arjuna mengangguk pelan, lalu berkata,
“Kita tidak mengejar cepatnya teknologi. Kita mengejar kebersamaan kita
memahaminya.”
Seorang bapak di belakang menyahut,
“Kalau begitu jangan cepat-cepat ganti lagi ya, Pak. Kami baru hafal yang ini.”
Semua kembali tertawa, kali ini lebih
ringan.
Digitalisasi berjalan. Adaptasi
tertatih. Di sudut ruangan, beberapa orang masih mencoba memindai ulang karena
takut datanya belum masuk. Yuni sabar membimbing satu per satu.
Arjuna berdiri memperhatikan,
tangannya terlipat di dada. Ia mulai paham sesuatu yang tidak diajarkan di buku
kepemimpinan atau pelatihan digital.
Teknologi bisa diperbarui dalam
hitungan menit. Sistem bisa di-upgrade dalam satu malam.
Tapi manusia, dengan kebiasaan, rasa
takut, dan cara belajarnya sendiri, membutuhkan waktu.
Dan sebagai pemimpin, tugasnya bukan
hanya membawa perubahan. Melainkan memastikan tak ada yang tertinggal saat
perubahan itu berjalan.
Sore itu matahari tenggelam lebih
pelan dari biasanya. Amat duduk di bangku kayu depan kantor desa. Nafasnya
sedikit berat. Tangannya bertumpu pada lutut.
Arjuna mendekat. “Pakde,
istirahatlah.”
“Istirahat itu nanti saja kalau
website sudah tidak butuh saya.”
“Website tidak pernah butuh orang
tertentu. Desa yang butuh orang baik.” Amat tersenyum kecil.
“Kamu mulai pintar bicara.”
“Saya belajar dari yang tua.” Angin
senja menyentuh pelan.
Amat memandang langit yang berubah jingga. “Juna…
suatu hari kamu akan berdiri sendirian di depan. Tanpa saya.”
Arjuna menelan ludah. “Kalau hari itu
datang, saya harap saya sudah cukup kuat.”
Amat berdiri perlahan. “Kuat itu bukan
tidak lelah. Kuat itu tetap jalan meski lelah.”
Matahari benar-benar tenggelam. Lembayung
tersisa tipis di langit. Dan untuk pertama kalinya, Arjuna melihat… Pakde yang
selalu tampak kokoh itu mulai terlihat manusia. Lebih rapuh. Lebih pelan. Tapi
tetap tegak.***
Balai desa penuh. Proyektor menyala
terlalu terang sampai Kirana harus mengecilkan kecerahannya dua kali. Slide
pertama muncul:UMKM Awan Biru Go Marketplace
Kirana menarik napas. “Ibu-ibu… hari
ini kita belajar jualan bukan cuma ke tetangga, tapi ke seluruh Indonesia.”
Bu Sarmi langsung mengangkat tangan. “Kalau sampai Papua juga?”
“Bisa, Bu. Asal ongkirnya kuat.” Tawa kecil pecah.
Kirana menunjuk layar. “Kalau ada chat seperti ini… ‘Ready kak? ‘… itu
artinya pembeli tertarik.”
Bu Yati menyipitkan mata. “Kalau emotnya tiga senyum gimana? ”
“Itu artinya dia sangat tertarik. Atau sangat ingin diskon.”
“Kalau dia kirim ‘hihi’?”
“Itu biasanya mau nawar, Bu.”
Bu Sarmi berbisik ke sebelahnya, “Sama kayak bapak-bapak di pasar ya…”
Kirana tersenyum. “Sekarang kita coba balas. Tulis: ‘Siap kak, ready
ya.’”
Bu Yati membaca keras-keras sambil mengetik pelan: “Siap kak, ready
yaaaa…”
“Jangan kebanyakan ‘a’, Bu. Nanti dikira terlalu semangat.”
“Semangat kan bagus.”
“Bagus. Tapi profesional juga penting.”
Bu Lilis mengangkat tangan lagi. “Kalau namanya Bang Rizky, saya panggil
apa?”
“Panggil ‘Kak’ saja aman.”
“Kalau dia lebih muda?”
“Marketplace itu tidak kenal umur, Bu. Semua jadi ‘Kak’.”
Tiba-tiba Bu Sarmi panik. “Loh kok dia cuma kirim titik?”
Kirana menahan tawa. “Itu pembeli misterius, Bu. Biasanya dia lagi
mikir.”
“Kalau dia mikir lama?”
“Jangan dimarahin. Biarkan saja. Pembeli itu seperti jodoh. Kadang
datangnya lambat.” Semua tertawa.
Seminggu kemudian, notifikasi berbunyi terus.
Bu Yati hampir menangis. “Bu Kirana! Ini ada pesanan dari Medan!”
“Bu Lilis! Ini Surabaya!”
“Bu Sarmi! Ini luar Jawa!” Balai desa riuh.
Bu Sarmi berseru: “Ternyata jualan online itu tidak semenakutkan mantu
baru!” Semua tertawa panjang.
Kirana tersenyum. Di balik layar kecil
ponsel, desa itu perlahan naik kelas. Video sudah viral. Judulnya terlalu
jujur: Rapat Desa Episode 12: Ketika Pak RT Salah Baca Anggaran
Arjuna memanggil Amat Junior. “Duduk.”
Amat Junior duduk santai.
“Pak, views-nya sudah 8 ribu.”
“Saya tidak bicara soal views.”
“Kalau soal like?”
“Bukan itu juga.”
Arjuna menatapnya serius. “Ini bisa bikin citra desa jelek.”
Amat Junior mengangkat bahu. “Atau bikin desa terlihat manusia.”
“Rapat itu serius.”
“Serius tidak harus kaku, Pak.”
“Kalau warga cuma lihat lucunya?”
“Kalau kita transparan, orang percaya. Kalau kita terlalu rapi, orang
curiga.” Arjuna terdiam.
“Generasimu ini… hidupnya di kamera.”
“Dan generasi Bapak hidupnya di proposal.” Sunyi sesaat.
Arjuna hampir tersenyum. “Kamu tahu batasnya?”
“Tahu. Saya potong bagian Pak RT salah baca nol.”
“Itu yang paling lucu.”
“Justru itu.”
Arjuna akhirnya tertawa kecil. “Baik. Tapi ingat. Humor jangan sampai melukai.”
Amat Junior berdiri. “Pak… desa yang bisa menertawakan dirinya sendiri
biasanya lebih kuat.”
Arjuna memandangnya lama. “Kamu ini bikin saya tua lebih cepat.”
“Bukan, Pak. Saya bikin Bapak upgrade.”
Broadcast masuk pagi-pagi. “Diduga ada penyelewengan dana wisata…”
Arjuna pucat. “Kenapa orang lebih percaya pesan berantai daripada
klarifikasi resmi?”
Amat duduk tenang. “Karena broadcast tidak perlu berpikir.”
“Saya sudah transparan.”
“Transparansi itu seperti kaca, Juna. Orang tetap bisa bilang retak.”
“Saya capek.”
“Capek itu normal.”
“Kadang saya ingin mundur saja.”
“Kalau kamu mundur setiap ada kabar burung, desa ini akan dipimpin
burung.”
Arjuna tertawa kecil meski matanya lelah. “Pakde bisa saja.”
“Dengar. Memimpin itu bukan soal dipercaya semua orang. Tapi tetap benar
meski diragukan.”
“Bagaimana kalau saya benar tapi tetap dibenci?”
“Berarti kamu sudah dewasa.” Sunyi.
“Pakde tidak pernah takut difitnah?”
“Takut. Tapi lebih takut kalau saya berhenti peduli.”
Arjuna menghela napas panjang. “Baik. Kita jawab dengan data.”
“Dan dengan sabar.”
Kursi kosong. Monitor menyala. Cursor berkedip.
Arjuna duduk di kursi itu pelan. “Pakde biasanya marah kalau saya salah
buka file.”
Di rumah. Amat terlihat lebih kurus. “Pakde…”
“Kamu bolos?”
“Izin resmi.”
“Website?”
“Hidup.”
“Server?”
“Aman.”
“Backup?”
“Dua lapis.”
Amat tersenyum tipis. “Bagus.”
Arjuna duduk lebih dekat.
“Pakde… kantor sepi tanpa Bapak.”
“Komputer tetap hidup kan?”
“Hidup.”
“Berarti desa juga.”
“Pakde jangan bicara seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Seperti orang yang bersiap pergi.” Amat menatapnya lembut.
“Juna… suatu hari kamu akan berdiri tanpa saya.”
“Saya belum siap.”
“Kesiapan itu mitos.”
“Pakde jangan buat saya makin takut.” Amat tersenyum kecil.
“Takut itu tanda kamu peduli.”
“Kalau Bapak tidak ada…”
“Jangan jaga sistemnya saja.”
“Apa lagi?”
“Jaga hatinya.” Sunyi panjang.***
Senja masuk perlahan lewat jendela
kamar yang separuh terbuka. Cahaya jingga memantul di dinding kayu, menyentuh
rak buku tua yang penuh arsip desa, map-map berdebu, dan satu foto lama ketika
Amat masih berdiri tegap di depan kantor desa dengan laptop di tangan. Angin
sore menggerakkan tirai tipis, menghadirkan aroma tanah dan daun yang baru saja
disiram hujan siang tadi.
Di ranjang sederhana itu, Amat
terbaring lebih kurus dari biasanya. Wajahnya tenang, tapi garis-garis usia
terlihat lebih dalam. Rania duduk di sisi kiri, menggenggam tangannya dengan
kedua telapak kecilnya, seolah takut waktu akan menariknya pergi terlalu cepat.
Di sisi lain, Arjuna berdiri diam—tidak lagi sebagai Kepala Desa, tidak lagi
sebagai pemimpin—melainkan sebagai murid yang sedang menunggu kata-kata
terakhir gurunya.
Amat membuka mata pelan. Pandangannya
sempat kosong, lalu menemukan wajah yang paling dikenalnya.
“Nia…” suaranya lirih, hampir seperti
bisikan angin.
“Iya…” jawab Rania cepat, menunduk
mendekat agar bisa mendengar lebih jelas.
“Kopi jangan terlalu manis.”
Rania tertawa kecil di sela air mata
yang jatuh tanpa izin. “Kamu ini… bahkan sekarang masih sempat mengatur gula.”
Amat tersenyum tipis. “Manis itu
cukup… di hidup. Jangan di gula.”
Rania menggenggam tangannya lebih
erat. “Iya… nanti tak kurangi.”
Beberapa detik hening. Lalu Amat
memalingkan wajahnya pelan ke arah Arjuna.
“Juna…”
“Iya, Pakde.” Arjuna melangkah lebih
dekat, suaranya bergetar meski berusaha tegar.
“Website… masih hidup?”
Arjuna menelan ludah sebelum menjawab.
“Hidup. Stabil. Servernya aman.”
“Backup?”
“Sudah rutin.”
“Cloud?”
“Sudah, Pakde. Semua tersimpan.”
Sudut bibir Amat terangkat. “Berarti…
Awan Biru benar-benar di awan.”
Arjuna tersenyum getir. “Iya… sesuai
nama yang Pakde pilih dulu.”
Amat menghela napas pelan. “Bagus.
Jangan sampai hilang. Data itu… ingatan desa.”
Arjuna mengangguk. “Tidak akan
hilang.”
Beberapa saat kemudian, Arjuna berkata
pelan, “Pakde…”
“Hm…”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?” suara Amat makin tipis,
tapi masih jelas.
“Sudah mengajari saya cara memimpin
tanpa berteriak. Cara menegur tanpa mempermalukan. Cara sabar ketika semua
ingin cepat.”
Amat tersenyum kecil, matanya setengah
terpejam. “Jangan jadi pemimpin yang sibuk terlihat pintar… Jadilah yang sibuk
mendengar.”
Arjuna menunduk. “Saya masih sering
salah.”
“Bagus,” jawab Amat lirih. “Artinya
kamu masih belajar.”
Napasnya mulai lebih pelan, lebih
jarang. Rania merasakan perubahan itu. Ia mendekat, dahinya hampir menyentuh
tangan Amat.
“Kalau lelah…” Amat melanjutkan dengan
sisa tenaga yang ada, “… duduk. Tapi jangan berhenti.”
Rania berbisik di sela tangisnya,
“Kami tidak akan berhenti.”
Sunyi masuk pelan. Tidak ada mesin
berbunyi. Tidak ada drama. Hanya suara angin sore dan detak jam dinding yang
terdengar lebih jelas dari biasanya.
Amat menarik satu napas panjang. Lalu
satu lagi, lebih pelan.
Dan kemudian… tenang.
Rania merasakan genggaman itu
mengendur. “Mat…” suaranya bergetar. “Mat…”
Tak ada jawaban. Hanya wajah yang
damai, seolah ia tertidur setelah menyelesaikan tugas panjang.
Arjuna menunduk dalam, menahan air
mata yang akhirnya jatuh juga. Ia menyentuh bahu Amat pelan. “Pakde… websitenya
hidup. Desa ini juga.”
Rania mengusap pipi Amat dengan
lembut. “Terima kasih sudah tinggal lama,” bisiknya. “Terima kasih sudah
menanam banyak pohon.”
Di luar, langit berubah dari jingga
menjadi ungu gelap. Beberapa lampu rumah mulai menyala satu per satu. Desa Awan
Biru berjalan seperti biasa, anak-anak masih bermain, suara motor melintas,
azan magrib berkumandang dari kejauhan.
Senja turun seperti biasa.
Namun di satu rumah sederhana itu,
seorang lelaki yang pernah bermimpi mendigitalkan desa telah berpulang dengan
tenang—meninggalkan bukan hanya sistem dan server yang stabil, tetapi juga
jejak nilai yang tak akan pernah logout dari kehidupan mereka.***
Balai desa sore itu penuh. Kursi-kursi
tersusun rapat, bahkan beberapa warga berdiri di dekat pintu. Di dinding depan,
foto Amat dengan senyum tipisnya dipasang berdampingan dengan bendera merah
putih. Tidak ada karangan bunga berlebihan, hanya satu papan kecil bertuliskan:
Terima kasih atas Pengabdianmu.
Arjuna berdiri di depan. Tangannya
memegang spidol, tapi suaranya lebih berat dari biasanya.
“Saya tidak akan pidato panjang.”
“Syukurlah,” bisik Anto dari barisan
tengah.
Tawa kecil menyebar, tipis tapi
menghangatkan suasana.
Arjuna tersenyum sebentar, lalu
melanjutkan, “Kita lanjutkan bukan karena proyek. Bukan karena target
kabupaten. Tapi karena beliau percaya pada kita.”
Ia menoleh ke papan tulis dan menulis
dengan huruf besar: SISTEM AMAT
Beberapa orang saling pandang.
“Aplikasi Manajemen Administrasi
Terpadu,” ucap Arjuna pelan.
Ruangan mendadak sunyi.
Bambang menunduk, jemarinya saling menggenggam.
Amat Junior—yang duduk di samping ibunya—menggigit bibir, berusaha menahan
emosi yang sejak tadi mengambang di pelupuk mata.
Bu Yati mengangkat tangan pelan.
“Kenapa namanya itu, Juna?”
Arjuna menarik napas. “Karena beliau
mengajari kita bahwa teknologi tanpa hati tidak ada artinya. Website bukan soal
tampilan. Data bukan sekadar angka. Semua itu tentang pelayanan.”
Pak Rudi dari belakang bersuara, “Saya
masih ingat waktu server desa sempat mati semalaman. Beliau tidak pulang. Tidur
di kursi kantor. Katanya, ‘Kalau warga butuh surat subuh-subuh, sistem harus
hidup.’”
Beberapa orang mengangguk pelan.
Bambang akhirnya angkat bicara,
suaranya bergetar. “Pakde Amat itu yang pertama ngajari saya bedanya ‘logout’
sama ‘keluar paksa’. Waktu saya salah klik, beliau cuma bilang, ‘Sistem bisa
diperbaiki. Orang juga.’”
Tawa kecil terdengar, bercampur isak
yang ditahan.
Seseorang dari pojok ruangan berbisik
pelan, “Dia pasti salah klik dulu sebelum bangga.”
Tawa kali ini lebih panjang, tapi
mata-mata yang berkaca-kaca tak bisa disembunyikan.
Arjuna menatap foto Amat di dinding.
“Beliau mengelola website desa ini sampai akhir hayatnya. Bahkan dua hari
sebelum sakitnya memburuk, beliau masih tanya ke saya, ‘Backup sudah?’”
Rania yang duduk di barisan depan menunduk,
tersenyum tipis dalam haru.
“Beliau tidak pernah minta dihargai,”
lanjut Arjuna. “Tidak pernah minta namanya ditaruh di halaman depan. Tapi hari
ini, kita beri penghormatan bukan karena beliau ingin dikenang. Melainkan
karena kita tidak ingin lupa.”
Pak Hasan, tokoh masyarakat yang
paling senior, berdiri perlahan. “Dulu saya tidak paham kenapa desa perlu
website. Saya pikir cuma gaya-gayaan. Tapi waktu cucu saya daftar sekolah dan
datanya sudah terdaftar rapi, saya sadar… kerja beliau bukan main-main.”
Arjuna mengangguk hormat. “Beliau
membangun fondasi. Kita tinggal melanjutkan.”
Amat Junior tiba-tiba berdiri.
Suaranya pelan tapi jelas. “Ayah pernah bilang… kalau suatu hari dia tidak ada,
jangan matikan servernya. Katanya, itu seperti mematikan lampu rumah.”
Ruangan kembali hening.
Arjuna berjalan mendekat, menepuk bahu
anak itu dengan lembut. “Servernya hidup. Dan akan terus hidup.”
Ia kembali menghadap semua yang hadir.
“Mulai bulan ini, Sistem AMAT akan kita kembangkan. Bukan hanya administrasi
surat, tapi juga data UMKM, bantuan sosial, dan arsip kegiatan desa. Kita buat
transparan. Kita buat mudah diakses.”
Anto mengangkat tangan. “Kalau ada
yang belum bisa pakai?”
“Kita ajari,” jawab Arjuna tegas.
“Seperti beliau mengajari kita. Pelan. Tanpa marah.”
Bu Yati tersenyum. “Berarti
rapat-rapat kita nanti tetap pakai QR code?”
“Pakai,” sahut Bambang cepat. “Tapi
jangan selfie lagi, Pak Rudi.”
Gelak tawa kembali memenuhi ruangan.
Arjuna menatap sekali lagi foto di
dinding. “Pakde pernah bilang, ‘Jangan jadi pemimpin yang sibuk terlihat
pintar. Jadilah yang sibuk mendengar.’ Saya ingin kita semua jadi seperti itu, mendengar
kebutuhan desa ini.”
Ia meletakkan spidol, suaranya mantap.
“Kita jaga ini bersama.”
Di dinding, foto Amat seakan tersenyum
lebih lebar dalam cahaya lampu balai desa. Dan di ruangan penuh itu, tak ada yang
merasa kehilangan sendirian, karena warisan yang ditinggalkan bukan hanya
sistem digital, melainkan semangat untuk melayani dengan hati.****
Anak-anak berlari melintasi lapangan
desa yang kini rumputnya terawat rapi. Tawa mereka memantul sampai ke dinding
kantor desa yang telah dicat ulang dengan warna biru muda. Joko kecil berteriak
keras, “Titik! Tangkap aku!” lalu berbelok tajam di dekat tiang bendera yang
berdiri kokoh.
Arjuna berdiri tak jauh dari sana,
tangan bersedekap, memandangi langit yang perlahan berubah warna. Di
belakangnya, gedung kantor desa tampak berbeda dari beberapa tahun lalu, lebih
tertata, lebih hidup. Papan informasi digital terpasang di teras. Jadwal
pelayanan terpampang jelas. Laporan keuangan bisa diakses warga lewat layar
sentuh di ruang tunggu.
Amat Junior mendekat, membawa tablet
kecil di tangannya.
“Kadang saya masih ingin kirim file ke
Pakde,” katanya pelan.
Arjuna tersenyum tanpa menoleh. “Kirim
saja. Siapa tahu dia jadi admin di sana.”
“Kalau begitu… kira-kira dia masih
salah klik?”
“Pasti,” jawab Arjuna cepat. “Dan
mungkin masih menyalahkan mouse-nya.”
Tawa kecil mereka menyatu dengan suara
anak-anak.
Dari warung di seberang jalan
terdengar celetukan, “Kalau Amat masih ada, pasti dia logout dulu sebelum
masuk!”
Gelak tawa kembali pecah. Humor
tentangnya tak pernah hilang, dan justru itulah tanda bahwa ia tetap hidup
dalam ingatan mereka.
Angin sore lewat pelan, membawa aroma
gorengan dan kopi dari warung Bu Yati yang kini sudah menerima pembayaran
digital. UMKM desa terdata rapi dalam Sistem AMAT. Produk keripik pisang dan
anyaman bambu kini dipasarkan sampai luar kabupaten lewat katalog daring desa.
Drainase yang dulu dikeluhkan telah dibenahi. Lampu jalan tenaga surya berdiri
di beberapa titik. Anak-anak belajar komputer setiap Sabtu sore di ruang server
yang dulu hanya berisi satu meja dan satu CPU tua.
Di bawah kepemimpinan Arjuna, Desa
Awan Biru tidak melesat dengan gegap gempita. Ia tumbuh seperti pohon yang
akarnya dirawat baik-baik, perlahan, tapi pasti. Transparansi anggaran membuat
warga lebih percaya. Musyawarah desa makin terbuka. Kritik tak lagi dianggap
ancaman, melainkan bahan perbaikan.
Arjuna menatap foto di ruang server, foto
Amat yang tetap dipasang di atas rak utama, tepat di samping modem dan router
yang berkedip pelan.
“Pakde… website hidup,” gumamnya.
Sunyi lembut menjawab.
“Desa juga.”
Langit berubah dari jingga ke ungu.
Lembayung senja membentang seperti sapuan kuas yang tenang di cakrawala. Warna
itu tidak menyala terang seperti siang, tidak pula gelap seperti malam. Ia
berada di antara—sebuah peralihan yang damai.
Arjuna teringat satu kalimat yang
pernah diucapkan Amat: “Yang penting bukan jadi cahaya paling terang. Tapi
jadi cahaya yang tetap ada ketika terang mulai pergi.”
Kini ia mengerti.
Lembayung senja bukan tentang akhir
hari. Ia tentang warisan cahaya yang tidak pernah benar-benar hilang—hanya
berubah bentuk. Seperti Amat, yang tak lagi duduk di depan layar, tapi
nilai-nilainya tetap menyala di setiap keputusan, di setiap pembaruan sistem,
di setiap rapat yang memilih mendengar daripada berteriak.
Tidak ada ledakan. Tidak ada hujan
dramatis.
Hanya nilai yang terus diwariskan.
Humor tetap hidup.
Website tetap menyala.
Dan Desa Awan Biru terus berjalan, lebih maju, lebih sejahtera, lebih percaya
pada dirinya sendiri.
Seperti senja, yang selalu kembali,
meski matahari berganti.
Dan di antara cahaya yang perlahan
redup itu, nama Si Amat tak pernah benar-benar tenggelam, ia menjelma akar,
yang diam-diam menahan pohon tetap tegak menghadapi musim apa pun.
Tamat.







0 komentar:
Posting Komentar