Balada Abunawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasid
Novelet Serial Abunawas Edisi I Kecerdikan Akal dan Logika
Episode 1 : Teka-Teki di Balik Mahkota Raja
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG: BISIKAN DI BALIK DINDING ISTANA
Malam itu, Baghdad menyimpan napasnya. Kota yang biasanya
berdenyut dengan ribuan lampu minyak yang berkelap-kelip seperti bintang jatuh,
suara para pedagang yang masih berseru, dan alunan musik dari kedai-kedai wine
di sepanjang Sungai Tigris, kini sunyi. Sebuah keheningan yang mencekik
menyelimuti kompleks istana Baginda Raja Harun Al-Rasyid, keheningan yang
bahkan lebih berat daripada badai pasir paling ganas yang pernah melanda gurun
di luar tembok kota Bagdad.
Di dalam ruang singgasana yang megah, dengan tiang-tiang
marmer putih yang menjulang tinggi dan langit-langit berukir kaligrafi emas
yang memantulkan cahaya ribuan lilin, Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak sedang
bersantai di atas bantal-bantal sutra kesayangannya. Ia berdiri tegak di
hadapan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu terbaik mirip dengan kayu jati
hitam berukir warna emas, pintu yang dikenal sebagai Khizanat al-Khassa,
ruang penyimpanan paling rahasia dan paling aman di seluruh kekhalifahan. Tidak
ada jendela. Tidak ada celah. Hanya pintu itu, dengan tujuh gembok perak
raksasa yang masing-masing memiliki kunci unik, dipegang oleh tujuh penjaga
pilihan yang sumpahnya lebih kuat dari pedang.
Pintu itu terbuka lebar.
Di dalam, di atas alas marmer putih yang diukir dengan
ayat-ayat suci, seharusnya terletak Mahkota Emas Al-Ma’mun, warisan dari
kakeknya, berhiaskan rubi terbesar dari Yaman sebesar telur merpati dan zamrud
dari lembah Indus yang konon bercahaya dalam gelap. Kini, di atas bantal
beludru merah yang telah berdebu tipis itu, hanya ada kekosongan yang
menyedihkan. Kekosongan yang terasa lebih berat dari seribu pasukan musuh yang
mengepung gerbang.
“Tidak ada,” suara Wazir Jafar bin Yahya Barmakid pecah di
belakang Baginda Raja Harun Al-Rasid. Suaranya nyaris berbisik, seperti orang
yang takut suaranya sendiri akan membangunkan monster. Wajahnya yang biasanya
tenang dan tampan, wajah yang membuat para penyair di istana berlomba-lomba
menulis syair pujian, kini pucat pasi seperti lilin yang hampir habis terbakar.
“Baginda… mahkota… tidak ada.” Kata Wazir Jafar bin Yahya
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak berteriak. Tidak
membanting tinjunya ke dinding. Tidak mencabut pedangnya yang terselip di ikat
pinggang. Itulah yang paling menakutkan bagi semua orang yang hadir di ruangan
itu. Diamnya Baginda Raja Harun Al-Rasid adalah seperti langit mau npecah sebelum badai dating dan senyap, kelam, dan
penuh dengan kekuatan yang tak terucapkan.
Matanya yang hitam pekat menyipit perlahan. Pandangannya
tidak tertuju pada kekosongan di atas bantal beludru merah itu, tetapi
perlahan-lahan beralih ke setiap wajah yang hadir di ruangan sempit di depan
pintu itu: Jafar, Wazir sekaligus sahabat kecilnya yang kini gemetar halus;
Panglima Pasukan Elit Hafshiyah, seorang lelaki kekar dengan janggut lebat yang
biasa tidak mengenal takut, kini berlutut dengan keringat dingin membasahi
jubah kebesarannya; dan ketujuh penjaga kunci yang tubuh mereka gemetar hebat,
beberapa di antaranya sudah tak mampu menahan air mata.
“Mahkota Emas Al-Ma’mun,” ucap Baginda Raja Harun Al-Rasyid
akhirnya. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun bergema di ruangan itu
seperti guntur di kejauhan yang perlahan mendekat. “Warisan dari kakekku,
Baginda Raja Al-Mansur. Berhiaskan rubi terbesar dari Yaman yang konon warnanya
adalah darah naga purba. Zamrud dari lembah Indus yang dipercaya dapat
menerawang masa depan. Semua itu…” Ia berhenti sejenak, dan ketika ia
melanjutkan, suaranya terasa lebih dingin dari air sumur di malam hari.
“…hilang. Dari ruangan tanpa jendela, tanpa pintu lain, tanpa bekas kerusakan.
Seolah-olah mahkota itu tumbuh sayap dan terbang keluar melewati dinding
setebal dua hasta.”
Ia menoleh perlahan kepada Jafar, dan meskipun tatapannya
tidak berubah, Jafar merasakannya seperti sembilu menembus dadanya.
“Apakah ini sihir, Wazirku?” tanya Baginda Raja dengan nada
yang anehnya tenang. “Atau apakah istanaku yang megah ini, yang dijaga oleh
ribuan pasukan terbaik di tiga benua, ternyata dihuni oleh hantu pencuri yang
lebih licin dari ular padang pasir?”
Jafar menelan ludah dengan susah paya. Tenggorokannya
terasa kering meskipun baru saja ia meminum seteguk air mawar dari cangkir
emasnya sebelum memasuki ruangan ini. “Baginda, kami telah memerintahkan pada
seluruh perajurit istana untuk meyelidiki dan kami akan memeriksa setiap sudut
untuk mencari petunjuk”
“Memeriksa?” potong Baginda Raja, dan kali ini alisnya
benar-benar terangkat. Bukan karena marah, tetapi karena sesuatu yang lebih
mengerikan: rasa ingin tahu yang dingin. “Malam ini juga, Wazirku. Bukan besok.
Bukan lusa. Malam ini. Seluruh istana akan digeledah. Setiap kamar, setiap
lemari, setiap lipatan kain, setiap celah di dinding, setiap sumur tua di
taman. Buka semua peti, buka semua lemari, buka bahkan kubangan kuda jika
perlu. Aku ingin mahkotaku kembali sebelum fajar menyingsing, atau kalian semua
akan menjawabnya dengan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kata-kata.”
Namun fajar pun tiba, dan mahkota itu tetap lenyap.
Matahari terbit di ufuk timur Baghdad dengan sinarnya yang
keemasan, menyinari kubah-kubah istana yang dilapisi emas, menciptakan kilauan
yang biasanya membuat siapa pun yang melihatnya terkesima. Namun pagi itu,
tidak ada seorang pun di kompleks istana yang memiliki waktu untuk terkesima.
Penggeledahan massal yang melibatkan seratus pasukan elit Elit Hafshiyah telah
berlangsung sepanjang malam. Rumah-rumah para pejabat tinggi digeledah.
Barak-barak tentara dibongkar. Kamar-kamar para dayang, yang biasanya merupakan
tempat paling pribadi dan sakral di istana, dibuka paksa dan seluruh isinya
diperiksa satu per satu. Bahkan kamar pribadi Putri Zubaidah, istri tercinta
Baginda Raja, tidak luput dari pemeriksaan, sebuah tindakan yang belum pernah
terjadi sepanjang sejarah kekhalifahan.
Tidak ada yang ditemukan. Mahkota itu lenyap tanpa jejak,
seperti air yang meresap ke dalam pasir.
Di tengah hiruk-pikuk kekacauan yang masih berlangsung, dengan
teriakan para komandan, tangis para dayang yang kamarnya diobrak-abrik, dan
suara bantingan pintu yang bergema di setiap sudut istana, Jafar berdiri di
serambi pribadi Baginda Raja, di koridor khusus yang hanya boleh dimasuki oleh
keluarga kerajaan dan pejabat tertinggi. Angin pagi yang sejuk berhembus dari
taman dalam, membawa aroma bunga melati dan air mancur, tetapi Jafar tidak
merasakan apa-apa selain beban yang terasa seperti gunung di pundaknya.
Ia menatap langit yang mulai terang, menghitung dalam hati
berapa lama lagi ia dan para pejabat lain bisa bertahan. Jika dalam hari ini
mahkota tidak ditemukan, ia tahu apa yang akan terjadi. Baginda Raja Harun
Al-Rasyid adalah pemimpin yang adil, tetapi keadilannya bisa menjadi sangat
berat ketika menyangkut simbol kekuasaan. Ia ingat kisah lima tahun lalu,
ketika seorang penjaga gerbang ketahuan tidur saat bertugas, penjaga itu
dihukum cambuk seratus kali di depan umum, dan seluruh keluarganya diusir dari
Baghdad. Dan itu hanya karena kelalaian, bukan pencurian harta kerajaan.
Jafar menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu kamar
pribadi Baginda Raja dengan tiga ketukan pelan.
“Masuk,” suara Harun Al-Rasyid terdengar dari dalam.
Suaranya datar, tetapi Jafar mengenal sahabatnya itu cukup baik untuk mendengar
nada kelelahan yang mendalam di balik ketenangan itu.
Jafar membuka pintu dan masuk. Baginda Raja sedang duduk di
singgasana kecilnya yang terbuat dari kayu cendana, di hadapan meja rendah yang
penuh dengan gulungan laporan. Wajahnya tampak lelah, dengan lingkaran hitam di
bawah mata yang biasanya tajam. Di tangannya, ia memegang selembar kertas
laporan terakhir dari kepala penggeledahan.
“Baginda,” Jafar memulai dengan hati-hati, memilih setiap
kata seperti seorang pedagang yang memilih permata paling berharga di pasar.
“Kami telah memeriksa semua penjaga, semua pelayan, semua dayang, bahkan semua
juru masak dan tukang kebun. Tidak ada yang ditemukan. Rumah mereka digeledah,
pakaian mereka diperiksa, bahkan... maafkan saya, Baginda... bahkan tubuh
mereka diperiksa untuk memastikan tidak ada yang menyembunyikan mahkota di
dalam pakaian mereka.”
Harun Al-Rasyid meletakkan gulungan laporan itu di atas
meja dengan gerakan yang sangat perlahan. Matanya menatap Jafar, dan untuk
pertama kalinya pagi itu, Jafar melihat sesuatu yang jarang ia lihat di mata
sahabatnya: kebingungan. Keraguan.
“Jafar,” panggil Baginda Raja dengan nama kecil Wazirnya,
tanpa gelar, sebuah keintiman yang hanya muncul di saat-saat paling pribadi.
“Aku sudah memerintahkan penggeledahan terbesar dalam sejarah kekhalifahan. Aku
sudah memerintahkan penyiksaan terhadap orang-orang yang mungkin tidak
bersalah. Aku sudah membuat istanaku sendiri menjadi neraka bagi semua
penghuninya. Dan semua itu tidak membuahkan apa-apa.” Ia menghela napas
panjang, suaranya tiba-tiba terdengar rapuh. “Apakah aku sudah kehilangan akal
sehatku, Jafar? Apakah aku menjadi raja yang paranoid yang melihat pencuri di
setiap bayangan?”
Jafar segera berlutut, hati kecilnya teriris mendengar nada
suara sahabatnya itu. “Baginda, Baginda tidak kehilangan akal sehat. Mahkota
itu benar-benar hilang. Kami semua melihat sendiri kekosongan di ruang
penyimpanan. Ini bukan khayalan.”
“Maka siapa yang melakukannya?” Harun Al-Rasyid menatap
Jafar dengan mata yang tiba-tiba menyala lagi, api kemarahan dan kebingungan
menyatu di dalamnya. “Siapa yang bisa masuk ke ruangan tanpa jendela, membuka
tujuh gembok tanpa kunci, mengambil mahkota, dan keluar tanpa meninggalkan jejak,
tanpa membangunkan satu pun penjaga, tanpa meninggalkan satu pun petunjuk?
Apakah pencuri ini memiliki sayap seperti burung? Atau apakah ia adalah jin
yang bisa menembus dinding?”
Jafar terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian yang tersisa
di dalam dirinya. Ia tahu, jika ia salah, nyawanya sendiri yang akan menjadi
taruhan. Namun, ia juga tahu, sebagai Wazir dan sebagai sahabat, ia harus
mengatakan apa yang ada di pikirannya.
“Baginda,” katanya perlahan, “kekuatan kita dalam mencari
benda ternyata tidak sebanding dengan kecerdikan pelaku. Para tentara kita
hebat dalam pertempuran, para pengawal kita setia dalam menjaga, tetapi mereka
semua berpikir dengan cara yang sama: cara seorang prajurit. Mereka mencari
barang dengan membongkar tempat-tempat yang mungkin untuk menyembunyikan
barang. Namun, untuk menemukan sesuatu yang disembunyikan oleh akal yang sangat
licin, kita harus menggunakan… akal yang tak biasa. Akal yang tidak terikat
oleh aturan istana. Akal yang bisa melihat kebohongan di balik kesaksian yang
paling meyakinkan.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap Wazirnya dengan alis
terangkat. Ada kilatan penasaran di matanya, tetapi juga ada keraguan. “Kau
punya nama, Jafar. Aku mengenalmu sejak kita kecil. Ketika kau berbicara
seperti ini, kau selalu punya nama.”
Jafar menghela napas panjang, terasa seperti menghela
seluruh beban kekhalifahan ke dalam dadanya. “Abu Nawas, Baginda.”
Nama itu menggantung di udara di antara mereka seperti
pedang yang tergantung dengan seutas rambut. Abu Nawas. Penyair jalanan.
Pelawak istana kadang-kadang. Pemabuk yang sering tertangkap basah minum anggur
di bulan Ramadhan. Orang yang pernah membuat Baginda Raja tertawa
terpingkal-pingkal dengan cerita tentang keledainya yang lebih pintar dari
seorang wazir. Juga orang yang pernah hampir kehilangan kepalanya karena
lelucon yang terlalu berani tentang selir kesayangan.
Harun Al-Rasyid terdiam lama. Matanya menerawang ke suatu
tempat di kejauhan, mungkin mengingat kembali semua pertemuan-pertemuan
sebelumnya dengan Abu Nawas, semua tawa yang pernah tercipta, semua kekesalan
yang pernah ia rasakan karena kelicikan lelaki itu.
“Abu Nawas,” ulangnya perlahan, seperti mencicipi rasa nama
itu di lidahnya. “Orang gila yang pernah kusuruh menggembalakan kambing di
halaman istana sebagai hukuman karena telah memakan kurma persembahan dari
Basra, dan malah menjual semua kambing itu lalu membagi uangnya kepada para
pengemis di depan gerbang istana.”
Jafar nyaris tersenyum mengenang kejadian itu, tetapi
segera menahannya. “Itu dia, Baginda.”
“Orang yang pernah kusuruh menjadi hakim untuk kasih
perselisihan antara dua saudagar, dan dia memutuskan bahwa unta yang
diperebutkan harus dipotong menjadi dua dan dibagi sama rata, hanya untuk
membuat kedua saudagar itu sadar bahwa mereka lebih baik berdamai daripada
kehilangan unta mereka sama sekali.”
“Itu dia, Baginda,” Jafar mengangguk, sedikit lebih berani
sekarang karena melihat tidak ada kemarahan di wajah Baginda Raja.
“Orang yang…,” Baginda Raja Harun Al-Rasyid berhenti, dan
untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibirnya terangkat dalam senyum tipis
yang nyaris tak terlihat. “…yang membuatku tertawa di saat-saat paling berat
dalam kekuasaanku.”
Jafar melihat celah itu dan segera menyelip. “Justru karena
itu, Baginda. Orang yang bisa membuat Baginda tertawa di saat berat biasanya
adalah orang yang bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Orang
yang tidak takut pada kekuasaan karena ia terlalu sibuk dengan kebodohannya
sendiri, atau kebijaksanaannya yang tersamar. Bukankah Baginda sendiri yang
pernah berkata bahwa orang paling berani di istana bukanlah panglima perang,
tetapi pelawak yang bisa menertawakan raja?”
Harun Al-Rasyid menatap Jafar lama. Senyum tipis itu
menghilang, digantikan oleh ekspresi serius seorang raja yang sedang mengambil
keputusan yang dapat mengubah segalanya.
“Kau benar, Jafar,” katanya akhirnya. “Panggil dia. Tapi
jangan dengan cara biasa. Jangan dengan pasukan bersenjata yang akan membuatnya
berpikir bahwa aku akan memenggal kepalanya. Kirim seseorang yang… yang bisa
membujuknya dengan cara yang halus. Kau tahu bagaimana Abu Nawas itu. Jika kau
mengirim tentara dengan pedang terhunus, dia akan bersikap seperti orang bodoh
yang tidak tahu apa-apa. Kirim seseorang yang bisa berbicara dengannya dengan
akal, bukan dengan kekerasan.”
Jafar mengangguk. “Baik, Baginda. Aku akan mengutus…
Abdurrahman, sekretaris pribadiku. Dia kenal Abu Nawas sejak lama. Mereka
sering bertukar teka-teki di kedai-kedai.”
“Bagus.” Harun Al-Rasyid berdiri dari singgasananya,
berjalan ke jendela yang menghadap ke timur, di mana matahari pagi mulai
meninggi di balik menara-menara istana. “Tapi katakan padanya, Jafar. Katakan
padanya dengan jelas: jika dia menemukan mahkotaku, dia akan mendapat segunung
emas. Aku akan memberinya rumah di tepi Sungai Tigris dengan taman yang lebih
indah dari taman istana. Aku akan memberinya posisi di istana jika dia mau. Aku
akan mengabulkan tiga permintaannya, apa pun itu, selama masih dalam batas akal
sehat.”
Ia berbalik menghadap Jafar, dan kini matanya kembali tajam,
seperti pisau yang baru diasah.
“Tetapi jika dia gagal… jika dia membuang-buang waktuku
dengan lawakan-lawakannya yang tidak berguna saat mahkotaku masih hilang… maka
dia akan menjadi pelipur lara terakhirku sebelum aku memenggal satu per satu
orang-orang di ruangan ini. Karena aku tidak bisa memenggal bayangan, Jafar.
Aku hanya bisa memenggal manusia. Dan jika mahkota itu tidak kembali, maka
setidaknya darah akan mengalir. Itu satu-satunya cara untuk mengembalikan
kehormatan istanaku yang telah dinodai.”
Jafar menunduk dalam-dalam, merasakan dingin merambat di
tulang punggungnya. “Akan kusampaikan, Baginda. Kata demi kata.”
“Pergilah,” titah Harun Al-Rasyid. “Dan Jafar…”
“Ya, Baginda?”
“Semoga Allah memberimu petunjuk. Karena saat ini, kita semua
berjalan dalam kegelapan.”
BAB 1: UNDANGAN YANG MENGANDUNG
ANCAMAN
Abu Nawas sedang menikmati malamnya yang paling membosankan
dalam sebulan terakhir di sebuah kedai kecil di pinggiran Baghdad, tidak jauh
dari Gerbang Khurasan. Kedai itu bernama Kedai Al-Farabi, tempat persinggahan
para pedagang kecil, kuli angkut, dan para pemimpi yang tidak punya tempat lain
untuk bermimpi. Tempatnya sederhana: dinding bata merah yang sudah retak-retak,
lantai tanah yang sedikit becek karena air minuman yang tumpah, dan
langit-langit dari anyaman bambu yang sudah menghitam karena asap lampu minyak.
Abu Nawas duduk di sudut favoritnya, bersandar pada dinding
yang hangat karena terpaan sinar matahari seharian, ditemani segelas air tajin
dingin dan semangkok kurma jenis Sukkari yang manisnya pas. Biasanya, ia akan
ditemani oleh segelas anggur, tetapi hari itu ia sedang berpuasa akal, begitu
katanya. Atau mungkin ia sedang tidak punya uang untuk membeli anggur. Dua hal
itu seringkali sulit dibedakan pada diri Abu Nawas.
Ia mendengarkan dengan setengah telinga pada celoteh para
pengunjung lain yang berkumpul di meja panjang di tengah kedai. Biasanya,
celoteh itu membosankan, tentang harga kurma yang naik, tentang unta yang
hilang, tentang istri yang cerewet. Tapi malam ini, topiknya berbeda.
“Saudara-saudara, aku dengar dari sepupuku yang bekerja di
dapur istana,” seorang lelaki gendut dengan sorban biru tua, yang dikenal
sebagai penjual minyak wangi di pasar Al-Rahba, berbicara dengan suara setengah
berbisik namun tetap terdengar oleh seluruh kedai. “Mereka menggerebek
rumah-rumah para pejabat. Bukan hanya di dalam istana, tapi sampai ke
rumah-rumah saudagar besar di sisi timur sungai. Pasukan bersenjata lengkap,
masuk tengah malam, membongkar semua peti, membuka semua lemari, bahkan
membangunkan anak-anak kecil dari tidur mereka.”
Seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang yang duduk
di sampingnya bersiul kecil. “Luar biasa. Terakhir kali ada penggeledahan
sebesar ini adalah ketika persekongkolan melawan Baginda Raja Harun Al-Rasyid
ditemukan sepuluh tahun lalu. Waktu itu mereka menggerebek rumah-rumah para
bangsawan Barmakid. Sekarang, siapa yang mereka gerebek?”
“Itulah yang aneh,” penjual minyak wangi itu melanjutkan,
matanya berbinar karena menjadi pusat perhatian. “Mereka menggerebek semua
orang. Pejabat, saudagar, bahkan rumah-rumah biasa di sekitar istana. Ada yang
hilang, kata orang. Sesuatu yang sangat berharga. Tapi apa? Tidak ada yang tahu
pasti. Ada yang bilang itu permata. Ada yang bilang itu pedang pusaka. Ada yang
bilang itu… mahkota.”
Kata ‘mahkota’ membuat semua orang di kedai itu membeku
sejenak. Kemudian mereka serempak menoleh ke arah Abu Nawas, seolah-olah lelaki
yang sedang mengunyah kurma dengan malas itu memiliki hubungan khusus dengan
kata tersebut.
Abu Nawas, tanpa mengangkat wajah, mengambil sebuah kurma
dari mangkoknya, melemparkannya ke udara, dan menangkapnya dengan mulut. Ia
mengunyah perlahan, matanya tetap terpejam.
“Abu Nawas,” panggil penjual minyak wangi itu, “kamu kan
sering dipanggil ke istana. Apa kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?”
Abu Nawas membuka satu matanya. “Apa aku terlihat seperti
orang yang tahu sesuatu tentang istana?”
Semua orang di kedai itu tertawa. Penampilan Abu Nawas
memang tidak menunjukkan hubungan apa pun dengan kemewahan istana. Jubahnya
yang lusuh berlumuran noda kurma dan saus dari kedai-kedai lain, sandalnya yang
sudah aus hingga hampir tidak bersol, dan rambutnya yang acak-acakan tanpa
sorban membuatnya terlihat lebih mirip pengemis dari pada tamu istana.
“Tapi kamu sering dipanggil,” desak penjual minyak wangi
itu. “Kata orang, kamu satu-satunya orang yang bisa membuat Baginda Raja
tertawa di saat semua pejabat istana gemetar ketakutan.”
Abu Nawas menghela napas dramatis. “Wahai saudaraku,
membuat Baginda Raja tertawa itu mudah. Cukup ceritakan tentang seekor keledai
yang lebih pintar dari seorang wazir. Tapi mengetahui rahasia istana? Itu
adalah urusan yang berbeda. Rahasia istana seperti pasir di gurun, semakin
banyak kamu pegang, semakin banyak yang lolos di sela-sela jarimu.”
“Tapi kamu pasti mendengar sesuatu,” seorang pemuda kurus
dari meja sebelah ikut menyela. “Kamu kan punya teman-teman di istana. Tukang
kebun, juru masak, para penjaga gerbang.”
Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara jari-jarinya
seperti seorang pesulap memutar koin. “Teman-temanku di istana, wahai anak
muda, sama seperti aku: mereka hanya tahu apa yang mereka lihat dengan mata
kepala sendiri. Dan apa yang mereka lihat? Seorang tukang kebun melihat bunga
dan rumput. Seorang juru masak melihat daging dan bumbu. Seorang penjaga
gerbang melihat siapa yang masuk dan keluar. Tapi apakah mereka melihat mahkota
yang hilang? Tidak. Mahkota itu tidak tumbuh di kebun, tidak ada di dalam
panci, dan tidak bisa keluar lewat gerbang tanpa diketahui seratus penjaga.
Jadi…”
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya dan mengunyah dengan
senyum misterius.
“Jadi, kamu tahu sesuatu!” penjual minyak wangi itu
menunjuk dengan jari gemuknya.
“Aku tidak tahu apa-apa,” kata Abu Nawas. “Dan justru
karena tidak tahu apa-apa, aku bisa tidur nyenyak malam ini. Cobalah untuk
tidak tahu apa-apa, saudaraku. Itu adalah kebahagiaan yang jarang ditemukan di
Baghdad.”
Ia menutup matanya kembali, berpura-pura tertidur, sambil
sebenarnya pikirannya bekerja lebih cepat dari sungai Tigris saat banjir. Mahkota
hilang. Penggeledahan besar-besaran. Tidak ada jejak. Ini bukan pencurian
biasa. Pencuri ini bukan hanya berani, tapi juga sangat cerdik. Mungkin juga…
sangat dekat dengan pusat kekuasaan.
Pikirannya terputus ketika tiba-tiba bayangan-bayangan
gelap muncul di ambang pintu kedai. Bukan satu atau dua, tetapi lima bayangan
besar dengan postur tegap yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa
membawa senjata.
Seorang lelaki dengan jubah hitam panjang dan sorban perak,
tanda pengawal pribadi Baginda Raja, melangkah masuk ke kedai. Wajahnya keras
seperti batu karang yang telah dihantam badai bertahun-tahun, dengan bekas luka
tipis di pipi kirinya yang memberinya aura mengerikan. Di belakangnya, empat
prajurit lain berdiri di pintu dengan tangan di atas gagang pedang, mata mereka
mengawasi setiap gerakan di dalam kedai.
Seluruh pengunjung kedai membeku. Beberapa dari mereka yang
duduk di dekat pintu sudah mulai bergeser perlahan, siap untuk melarikan diri
jika keadaan menjadi buruk. Penjual minyak wangi itu tampak seperti akan
pingsan, wajahnya berubah pucat seperti kapur.
Namun Abu Nawas tetap duduk tenang di sudutnya, matanya
masih terpejam, seolah-olah tidak merasakan kehadiran para prajurit itu. Ia
mengambil kurma terakhir di mangkuknya, melemparkannya ke mulut, dan mengunyah
dengan santai.
Prajurit dengan jubah hitam itu berjalan ke tengah kedai,
matanya menyapu ruangan dan akhirnya berhenti pada sosok Abu Nawas yang malas
di sudut. Ia mendekat, langkahnya berat dan terukur, dan berdiri tepat di
hadapan Abu Nawas.
“Abu Nawas,” suaranya dalam dan bergema, seperti guntur
yang mengguncang langit. “Engkau diperintahkan untuk mengikuti kami ke istana.
Sekarang.”
Kedai itu sunyi senyap. Bahkan suara tikus yang biasanya
berlarian di atap bambu seolah-olah ikut berhenti. Semua mata tertuju pada Abu
Nawas, menunggu reaksinya. Apakah dia akan ketakutan? Apakah dia akan berlari?
Apakah dia akan memohon ampun?
Abu Nawas membuka matanya perlahan. Ia menatap prajurit itu
dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum lebar, senyum yang sama
yang biasa ia gunakan ketika hendak melontarkan lelucon di hadapan Baginda
Raja.
“Tuan Prajurit,” katanya dengan nada ramah seperti sedang
berbicara dengan tetangga lama, “sebelum aku mengikuti Tuan ke istana, izinkan
aku bertanya satu hal kecil. Hanya satu. Tidak lebih.”
Prajurit itu mengerutkan kening. Biasanya, ketika ia datang
menjemput seseorang dengan perintah dari istana, orang itu akan gemetar atau
setidaknya menunjukkan rasa takut. Abu Nawas tidak menunjukkan keduanya.
“Apa?” tanyanya singkat.
Abu Nawas berdiri perlahan, merapikan jubah lusuhnya dengan
gerakan yang hampir anggun, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga prajurit itu.
Seluruh kedai menahan napas.
“Apakah panggilan ini,” bisik Abu Nawas dengan nada yang
sangat konspiratif, seperti seorang komplotan yang membagi rahasia terbesar,
“menggunakan pedang sebagai alas duduk? Atau bantal sutra?”
Prajurit itu mundur selangkah, wajahnya menunjukkan
kebingungan yang tulus. “Maksudmu?”
“Maksudku,” Abu Nawas mengangkat suaranya sedikit agar
semua orang di kedai bisa mendengar, “apakah aku akan dipenggal atau dijamu?
Karena dua kali dalam hidupku aku dipanggil ke istana pada malam hari seperti
ini, dan dua kali itu nasibku sangat berbeda. Pertama, aku hampir kehilangan
kepalaku karena lelucon tentang selir kesayangan Baginda Raja yang terlalu
mirip dengan keledai. Kedua, aku mendapat hadiah seribu dinar dari Baginda Raja
sendiri karena berhasil menebak di mana Baginda menyembunyikan pedang pusakanya,
di kolam ikan, siapa sangka? Jadi, Tuan Prajurit yang gagah perkasa, mana yang
satu ini? Kepala atau emas?”
Seorang prajurit muda di belakang yang masih hijau dan
belum terlalu terlatih menahan ekspresi wajahnya, nyaris tersenyum, tetapi
segera menahannya ketika komandannya menatap tajam ke arahnya.
Prajurit dengan jubah hitam itu menghela napas panjang,
seolah-olah kesabarannya sedang diuji oleh Tuhan sendiri. “Abu Nawas, aku tidak
tahu apa yang akan terjadi padamu di istana. Aku hanya diperintahkan untuk
membawamu. Sekarang, berhenti bicara dan ikuti kami, atau aku akan menyuruh
anak buahku untuk mengikat tangan dan kakimu dan menyeretmu seperti karung
beras.”
“Ah, Tuan Prajurit,” Abu Nawas tertawa kecil, sama sekali
tidak terintimidasi, “tidak perlu kasar. Aku akan ikut dengan sukarela. Tapi
izinkan aku mengambil kurma-kurma ini. Siapa tahu perjalanan ke istana panjang
dan aku lapar.”
Ia mengambil mangkuk kurma yang sudah hampir kosong itu dan
memasukkan tiga kurma terakhir ke dalam saku jubahnya. Kemudian, dengan langkah
santai seperti orang yang sedang berjalan-jalan di pasar, ia melangkah menuju
pintu kedai.
Sebelum keluar, ia berbalik sejenak ke arah para pengunjung
kedai yang masih membeku ketakutan. Ia tersenyum lebar dan berkata, “Doakan aku,
saudara-saudara. Jika aku tidak kembali dalam tiga hari, bagikan kurma-kurma
yang tersisa di mangkukku kepada orang miskin.”
Ia tertawa sendiri, lalu berjalan keluar diikuti oleh
kelima prajurit itu, meninggalkan kedai yang masih sunyi dan para pengunjung
yang saling berpandangan dengan ekspresi campuran antara takut dan kagum.
Sepanjang perjalanan menuju istana, Abu Nawas tidak
berhenti bicara.
Mereka melewati jalanan Baghdad yang sunyi di tengah malam,
hanya diterangi oleh lampu-lampu minyak yang tersisa di depan toko-toko yang
sudah tutup. Abu Nawas berjalan di tengah-tengah para prajurit, dan meskipun
secara teknis ia adalah tawanan yang sedang digiring, ia berjalan dengan
langkah enteng seolah-olah ia adalah seorang bangsawan yang sedang diantar oleh
pengawal kehormatan.
“Tuan Prajurit,” katanya sambil melangkah, “boleh aku tahu
namamu? Karena jika kita harus bepergian bersama, setidaknya aku bisa
memanggilmu dengan nama yang layak.”
Prajurit itu mendengus. “Namaku Khalid.”
“Khalid,” ulang Abu Nawas, mencicipi nama itu. “Nama yang
bagus. Nama pahlawan. Apakah kau tahu, Khalid, bahwa ada seorang panglima besar
di masa lalu bernama Khalid bin Walid? Pedang Allah yang tak terkalahkan.
Apakah kau memiliki hubungan keluarga dengannya?”
“Tidak,” jawab Khalid singkat.
“Ah, sayang sekali. Tapi bukan berarti kau tidak bisa
menjadi pahlawan juga. Siapa tahu, dengan mengantarku ke istana malam ini, kau
sedang menulis namamu dalam lembaran sejarah Baghdad. Bukankah itu
membanggakan?”
Khalid tidak menjawab. Ia terus berjalan dengan wajah yang
tidak berubah.
Abu Nawas tidak menyerah. “Khalid, bagaimana cuaca di
istana akhir-akhir ini? Apakah masih sejuk seperti biasanya? Atau apakah ada
angin panas yang bertiup dari padang pasir? Biasanya kalau Baginda Raja sedang
marah, angin dari selatan bertiup lebih kencang. Tapi malam ini anginnya
tenang. Apakah itu pertanda baik?”
“Aku tidak tahu,” kata Khalid.
“Atau mungkin Baginda Raja sedang tidak marah, tapi sedang
bingung? Itu lebih berbahaya, sebenarnya. Orang marah biasanya bisa diredakan
dengan lelucon yang bagus. Tapi orang bingung… ah, orang bingung itu seperti
orang yang tersesat di padang pasir. Dia akan menerima bantuan dari siapa pun,
tetapi dia juga bisa membunuh siapa pun yang dianggapnya sebagai fatamorgana.”
Khalid berhenti berjalan. Ia menatap Abu Nawas dengan mata
yang tajam. “Apakah kau selalu sebanyak ini bicaranya?”
Abu Nawas tersenyum lebar. “Tidak. Kadang-kadang aku lebih
banyak bicara dari ini. Tergantung pada apakah lawan bicaraku menarik atau
tidak.”
“Dan aku?”
“Kau,” Abu Nawas menepuk pundak Khalid dengan akrab, sebuah
gerakan yang membuat prajurit-prajurit lain menarik napas terkejut, tidak ada
orang biasa yang berani menyentuh seorang komandan pengawal pribadi dengan cara
seperti itu. “Kau adalah pendengar yang luar biasa. Diam, tetapi penuh
perhatian. Itu adalah kualitas yang langka di Baghdad. Kebanyakan orang di sini
hanya ingin mendengar suara mereka sendiri.”
Khalid menggelengkan kepala, setengah kesal setengah
terhibur. “Ayo teruskan perjalanan. Baginda Raja tidak suka menunggu.”
“Setuju,” kata Abu Nawas, melangkah lagi. “Baginda Raja
tidak suka menunggu. Tapi dia suka teka-teki. Apakah kau tahu, Khalid, bahwa
Baginda Raja pernah menunggu selama tiga jam hanya untuk mendengar jawaban dari
sebuah teka-teki yang kuberikan? Tiga jam! Sementara para menteri dan wazir
duduk di sekelilingnya, semua kelaparan, semua haus, tapi tidak ada yang berani
bergerak karena Baginda Raja sedang asyik memikirkan teka-teki. Akhirnya,
setelah tiga jam, Baginda Raja berkata, ‘Abu Nawas, aku menyerah. Apa
jawabannya?’ Dan aku berkata, ‘Baginda, teka-teki itu tidak punya jawaban. Aku
hanya ingin melihat apakah Baginda bisa duduk diam selama tiga jam tanpa
marah-marah.’”
Khalid hampir tersenyum, tetapi berhasil menahannya. “Itu
bisa membuatmu kehilangan kepalamu.”
“Tapi aku tidak kehilangan kepalaku,” kata Abu Nawas dengan
bangga. “Karena Baginda Raja tertawa. Dan ketika Baginda Raja tertawa, dia
menjadi lebih manusiawi. Dan ketika dia menjadi lebih manusiawi, dia menjadi
lebih bijaksana. Dan ketika dia lebih bijaksana, dia tahu bahwa memenggal
kepala orang yang membuatnya tertawa adalah pemborosan yang sangat besar.”
Mereka akhirnya tiba di gerbang istana. Abu Nawas yang
sudah sering bolak-balik ke istana tetap terkesima setiap kali melihatnya,
meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya. Gerbang utama terbuat dari kayu kelas
satu sejenis kayu jati berlapis emas, setinggi tiga kali lipat tinggi manusia
biasa, diukir dengan ayat-ayat dari Al-Qur’an dan kaligrafi indah yang memuji
kebesaran Allah dan kekuasaan Baginda Raja. Di kedua sisi gerbang, dua patung
singa dari marmer putih duduk dengan anggun, mata mereka yang terbuat dari batu
obsidian tampak mengawasi setiap orang yang masuk.
Namun malam itu, suasana di dalam tembok istana sangat
berbeda dari biasanya. Abu Nawas merasakannya begitu kakinya melangkah melewati
gerbang. Ketegangan begitu kental hingga bisa dipotong dengan pisau. Udara
terasa lebih berat, seolah-olah seluruh kompleks istana sedang menahan napas.
Para pelayan berlarian dengan wajah panik dan mata sayu
karena kurang tidur. Di setiap koridor, terdengar bisik-bisik yang langsung
berhenti ketika seseorang lewat. Para pejabat berjalan cepat dengan kepala
menunduk, menghindari kontak mata dengan siapa pun. Bahkan para penjaga, yang
biasanya berdiri tegap dengan kepala tegak, kini tampak gelisah, tangan mereka
selalu dekat pada gagang pedang, mata mereka bergerak cepat mengamati setiap
sudut.
Tidak ada tawa. Tidak ada musik. Tidak ada penyair yang
membaca syair-syair cinta di taman dalam. Istana yang biasanya gemerlap dengan
lampu-lampu warna-warni dan wewangian dari dupa mahal, kini terasa seperti
sebuah benteng yang terkepung oleh musuh tak terlihat. Sebuah benteng yang di
dalamnya semua orang saling curiga, saling takut, saling mengira bahwa tetangga
mereka mungkin adalah pencuri yang dicari-cari.
Abu Nawas digiring melewati koridor panjang yang dipenuhi
dengan permadani Persia berwarna merah tua, melewati taman dalam dengan air
mancur marmer yang biasanya mengalirkan air mawar sepanjang hari, kini airnya
mati, kolamnya tenang seperti cermin yang menatap kosong ke langit malam.
Mereka melewati perpustakaan besar dengan ribuan manuskrip yang dijaga ketat,
melewati ruang pertemuan para menteri yang biasanya ramai dengan debat, kini
sunyi seperti masjid di tengah malam.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan yang jarang
dimasuki oleh orang kebanyakan: ruang pertemuan pribadi Baginda Raja Harun
Al-Rasyid. Ruangan ini berbeda dari ruang singgasana besar yang megah dan penuh
ornamen. Ruang ini lebih kecil, lebih intim, dengan dinding-dinding yang
dilapisi kain sutra biru tua dan lantai dari marmer hitam yang dipoles hingga
mengkilap. Di tengah ruangan, sebuah singgasana kecil dari kayu cendana berukir
duduk di atas panggung rendah. Di sampingnya, sebuah meja rendah dari perak
bertatahkan mutiara, di atasnya terdapat teko kopi dari emas dan
cangkir-cangkir kecil dari porselen Cina.
Di ruangan itu, sudah menunggu tiga orang.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya, tidak
dengan jubah kebesaran yang biasa ia kenakan di hadapan umum, tetapi dengan
jubah sederhana berwarna hitam dengan sulaman perak tipis di ujung lengan.
Namun kesederhanaan itu tidak mengurangi kewibawaannya sedikit pun. Wajahnya
yang tampan dengan janggut rapi yang mulai ditumbuhi uban di beberapa bagian,
matanya yang hitam pekat, dan sikap duduknya yang tegak namun santai, semua itu
memancarkan aura kekuasaan yang tidak perlu dihiasi dengan emas dan permata.
Di sebelah kanan singgasana, berdiri Wazir Jafar bin Yahya
Barmakid, dengan pakaian kebesarannya yang sempurna: jubah sutra hijau dengan
ikat pinggang emas, sorban tinggi yang menunjukkan pangkatnya, dan wajah yang
meskipun tampak lelah, tetap berusaha menunjukkan ketenangan. Matanya menatap Abu
Nawas dengan ekspresi yang sulit diartikan, antara harapan, kekhawatiran, dan
rasa bersalah karena telah menyeret orang ini ke dalam masalah besar.
Di sudut ruangan, hampir tersembunyi di balik tirai sutra
biru, duduk seorang lelaki tua berjubah hitam dengan sorban yang sama hitamnya.
Wajahnya keriput seperti kulit buah delima yang sudah terlalu lama disimpan,
dengan mata yang sipit dan tajam seperti burung elang yang sedang mengintai
mangsa. Ini adalah Abu Ishaq, kepala peramal istana, seorang yang konon dapat
melihat masa depan dari lembaran-lembaran timah yang dipanaskan dan pola-pola
pasir yang ditebarkan. Abu Nawas tidak pernah terlalu suka pada lelaki ini. Ada
sesuatu di matanya yang membuat Abu Nawas merasa bahwa lelaki ini lebih suka
pada kegelapan daripada pada cahaya.
“Abu Nawas,” sapa Baginda Raja Harun Al-Rasid dengan nada
datar yang tidak menunjukkan apa pun. Tidak ada kemarahan, tidak ada
kegembiraan, hanya sebuah pernyataan kehadiran yang dingin. “Aku dengar kau
sedang menikmati ketenanganmu di kedai minuman di pinggiran Baghdad. Kedai
Al-Farabi, bukan? Tempat favoritmu ketika kau sedang tidak punya uang.”
Abu Nawas menjatuhkan diri dalam sujud yang agak
berlebihan, dengan dahi menyentuh lantai marmer yang dingin, lalu duduk bersila
tanpa menunggu perintah, sebuah keberanian yang hanya ia miliki dan yang sudah
menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun.
“Baginda Raja, Amirul Mukminin, Pemimpin Orang-Orang
Beriman, semoga Allah memanjangkan umur Baginda dan melimpahkan rahmat-Nya
kepada seluruh keluarga kerajaan,” ia memulai dengan nada yang sangat formal,
sangat hormat, namun dengan kilatan di matanya yang menunjukkan bahwa ia sedang
menyiapkan sesuatu. “Ketenangan hanyalah sebuah ilusi bagi mereka yang sedang
lapar. Dan saya, Baginda, sedang dalam kondisi yang sangat ideal untuk
menikmati ilusi tersebut ketika para prajurit yang gagah perkasa ini datang
menjemput saya dengan sedikit terburu-buru. Tadi saya baru saja menyelesaikan
kurma keempat saya, kurma Sukkari, Baginda, yang manisnya pas, tidak terlalu
membuat enek, jadi boleh dibilang saya sedang berada di puncak kebahagiaan
duniawi.”
Jafar menutup matanya sejenak, bibirnya bergerak tanpa
suara, mungkin sedang berdoa agar Abu Nawas tidak mengatakan sesuatu yang
terlalu bodoh. Ya Allah, lindungilah dia dari amarah Baginda Raja.
Lindungi juga kepalaku yang mungkin akan ikut terpenggal jika dia membuat
Baginda marah.
Harun Al-Rasyid, alih-alih marah, justru menyandarkan
tubuhnya ke belakang di singgasana cendananya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan
singgasana dengan irama yang lambat dan teratur.
“Selera humormu masih utuh,” komentarnya, dan untuk sesaat,
sudut bibirnya terangkat dalam senyum tipis yang cepat menghilang. “Bagus.
Karena aku tidak membutuhkan seorang pelawak yang ketakutan. Pelawak yang
ketakutan hanya akan membuat lelucon yang membosankan.”
“Baginda,” Abu Nawas membungkuk hormat lagi, “saya tidak
pernah takut. Saya hanya kadang-kadang bijaksana untuk mundur. Ada perbedaan
besar antara ketakutan dan kebijaksanaan, meskipun kadang-kadang keduanya
terlihat sama bagi orang yang tidak terbiasa melihat dari dekat.”
“Kali ini,” Baginga Raja Harun Al-Rasyid membungkuk ke
depan, sikap santainya tiba-tiba berubah menjadi intensitas yang tajam. Matanya
yang hitam pekat menatap Abu Nawas dengan kekuatan yang bisa membuat menteri
paling berani pun gemetar. “Kali ini, kau tidak boleh mundur. Tidak ada tempat
untuk mundur. Tidak ada tempat untuk bijaksana. Yang ada hanya menemukan atau…
kehilangan.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara ketukan jari Baginda Raja di lengan
singgasana yang tiba-tiba berhenti.
“Mahkotaku hilang,” lanjut Harun Al-Rasyid, dan kini
suaranya turun menjadi bisikan yang justru lebih menakutkan daripada teriakan.
“Mahkota Emas Al-Ma’mun, warisan dari kakekku, lambang kekuasaan kekhalifahan
yang telah melewati tiga generasi. Hilang. Malam lusa, tepat dua hari yang
lalu, dari ruang penyimpanan paling aman di seluruh kekhalifahan. Ruangan tanpa
jendela, dengan dinding setebal dua hasta dari batu granit yang diimpor dari
Mesir. Pintu kayu kelas satu mirip kayu jati yang dilapisi besi, dengan tujuh
gembok perak yang masing-masing memiliki kunci unik yang dipegang oleh tujuh
penjaga berbeda yang tidak pernah bertemu satu sama lain di luar tugas. Tidak
ada bekas kerusakan. Tidak ada jejak. Tidak ada satu pun penjaga yang mendengar
atau melihat sesuatu yang aneh.”
Ia berdiri dari singgasananya, berjalan perlahan
mengelilingi ruangan, suaranya bergema di antara dinding-dinding sutra biru.
“Kami sudah menggeledah seluruh istana,” lanjutnya, “setiap
kamar, setiap lemari, setiap sudut. Kami sudah menggeledah rumah-rumah para
pejabat, para komandan, para menteri. Kami sudah memeriksa semua pelayan, semua
dayang, semua penjaga, bahkan para juru masak dan tukang kebun. Kami sudah
menyiksa mereka yang dianggap paling mungkin mengetahui sesuatu. Tidak ada yang
ditemukan. Mahkota itu seolah-olah ditelan oleh bumi. Atau…”
Ia berbalik menghadap Abu Nawas, dan sekarang ada sesuatu
yang berbeda di matanya. Bukan kemarahan. Bukan kebingungan. Tapi rasa ingin
tahu yang mendalam.
“…Atau, seperti yang dikatakan oleh peramal istanaku,
mahkota itu mungkin sudah tidak berada di Baghdad lagi. Mungkin sudah dibawa ke
kota lain, bahkan ke negeri lain, untuk dijual kepada musuh-musuhku.”
Ia menunjuk ke arah lelaki tua berjubah hitam di sudut
ruangan. Abu Ishaq mengangguk pelan, matanya yang sipit menatap Abu Nawas
dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Abu Ishaq telah melakukan ramalan dengan pasir dan timah
panas,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid. “Dia bilang, mahkota itu sudah
melewati sungai. Mungkin sudah sampai di Basra, atau bahkan lebih jauh, ke
negeri-negeri Hindi. Aku tidak percaya. Aku rasa pencurinya masih di sini,
bersembunyi di balik tembok-tembok ini, mungkin di antara orang-orang yang
kukira paling setia kepadaku.”
Abu Nawas melirik sekilas ke arah Abu Ishaq. Peramal tua
itu tidak mengalihkan pandangannya, tetapi ada sedikit gerakan di sudut
bibirnya yang mungkin adalah senyum atau mungkin hanya kedutan karena usia. Abu
Nawas memutuskan untuk tidak memusingkannya untuk saat ini.
“Jadi Baginda membutuhkan saya untuk mencari mahkota?”
tanya Abu Nawas, mencoba mengkonfirmasi apa yang sudah ia duga sejak prajurit
Khalid menjemputnya. “Bukankah itu tugas para menteri dan tentara Baginda?
Mereka memiliki seribu cara untuk mencari barang. Saya hanya memiliki satu
cara: duduk, berpikir, dan makan kurma. Agak tidak sebanding, menurut saya.”
Jafar yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya
sedikit serak karena kelelahan dan kekhawatiran. “Abu Nawas, kami sudah
menggunakan semua cara yang kami miliki. Seribu cara sudah kami coba. Tidak ada
yang berhasil. Kami butuh cara yang ke seribu satu. Kami butuh seseorang yang
bisa… berpikir seperti pencuri. Seseorang yang tidak terikat oleh aturan
istana, oleh protokol, oleh rasa hormat yang berlebihan pada kekuasaan.
Seseorang yang bisa melihat kebohongan di balik kesaksian yang paling
sempurna.”
Ia berhenti, menatap Abu Nawas dengan tatapan yang lebih
jujur daripada yang biasa ia tunjukkan di depan pejabat lain.
“Kami butuh seseorang yang tidak takut pada siapa pun.
Bahkan pada Baginda Raja sekalipun.”
Abu Nawas mengangguk-angguk perlahan, tangannya mengelus
dagu yang sudah sedikit berjanggut. “Ah,” katanya dengan nada mengerti, “jadi
Baginda butuh orang gila untuk mencari orang gila lainnya. Karena hanya orang
gila yang berani mencuri mahkota dari istana yang dijaga ribuan tentara. Dan
hanya orang gila lain yang bisa menangkapnya. Tepat sekali. Sempurna. Saya
setuju.”
Kali ini Baginda Raja Harun Al-Rasyid benar-benar
tersenyum. Senyum yang kecil dan cepat, tetapi nyata. “Kau memang gila, Abu
Nawas. Itu sebabnya kau bisa membuatku tertawa ketika semua orang di istana ini
hanya bisa membuatku pusing.”
Ia kembali duduk di singgasananya, dan senyum itu
menghilang, digantikan oleh ekspresi serius seorang raja yang sedang memberikan
perintah.
“Ada syaratnya, Abu Nawas. Jika kau berhasil menemukan
mahkotaku dan mengembalikannya ke tanganku dalam keadaan utuh, kau akan
mendapat sepuluh kantong emas, masing-masing berisi seratus dinar. Kau juga
akan mendapat sebuah rumah di tepi Sungai Tigris, dengan taman yang lebih indah
dari taman manapun di Baghdad kecuali taman istanaku sendiri. Dan kau akan
mendapat posisi sebagai penasihat istana dengan gaji yang membuat para
menteriku iri.”
Ia berhenti, membiarkan tawaran itu menggantung di udara.
Abu Nawas tidak bereaksi, hanya menunggu dengan sabar, karena ia tahu belum
selesai.
“Tapi jika kau gagal,” lanjut Baginda Raja Harun Al-Rasyid,
dan kini suaranya turun menjadi nada yang sangat pelan, sangat berbahaya. “Jika
kau membuang-buang waktuku dengan lawakan-lawakanmu yang tidak berguna, jika
kau membuatku berharap lalu mengecewakanku, jika dalam tiga hari mahkotaku
belum kembali…” Ia berdiri lagi, berjalan mendekati Abu Nawas, dan berdiri
tepat di hadapannya. Tinggi badannya jauh di atas Abu Nawas yang duduk bersila,
sehingga Abu Nawas harus mendongak untuk menatapnya. “Maka aku akan menjadikan
kepalamu hiasan di gerbang istana. Bersama dengan kepala semua orang yang gagal
membantuku.”
Ia menepuk pundak Abu Nawas dengan keras, bukan tepukan
ramah, tetapi tepukan yang terasa seperti peringatan.
“Apakah kau mengerti, Abu Nawas?”
Abu Nawas tidak bergerak. Tidak gemetar. Tidak memucat. Ia
menatap mata Baginda Raja dengan tenang, dan untuk sesaat, ada keheningan yang
aneh di antara mereka. Seperti dua pemain catur yang sedang mengukur kekuatan
lawan.
Kemudian Abu Nawas tersenyum. Bukan senyum lawakan, tetapi
senyum yang tenang, nyaris bijaksana.
“Baginda,” katanya dengan suara yang juga tenang, “saya
mengerti sepenuhnya. Tapi sebelum saya memulai, boleh saya minta syarat lain?
Bukan emas, bukan rumah, bukan posisi.”
Jafar yang mendengar itu langsung panik. “Abu Nawas! Jangan
lancang! Baginda Raja sudah menawarkan—”
Namun Harun Al-Rasyid mengangkat tangannya, membungkam
Wazirnya seketika. Ia menatap Abu Nawas dengan rasa ingin tahu yang baru.
“Syarat apa?”
Abu Nawas berdiri perlahan, merapikan jubahnya, lalu
berdiri tegak di hadapan Baginda Raja. Tingginya sebatas dada Baginda Raja,
tetapi posturnya tidak menunjukkan rasa rendah diri sedikit pun.
“Baginda,” katanya, “saya ingin tiga permintaan. Tapi bukan
emas, bukan rumah, bukan posisi. Saya belum tahu apa permintaannya. Nanti saya
sampaikan jika waktunya tiba. Saya janji, tidak akan memberatkan Baginda.
Mungkin hanya meminta Baginda untuk… tertawa. Atau memaafkan seseorang. Atau
hal-hal kecil lain yang tidak akan mengurangi kekayaan kekhalifahan.”
Harun Al-Rasyid menatap Abu Nawas lama. Matanya menyipit,
mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik wajah cerdik itu.
“Kau tahu, Abu Nawas,” katanya akhirnya, “hampir tidak ada
orang yang berani mengajukan syarat kepadaku. Para menteriku bahkan tidak
berani meminta kenaikan gaji. Para panglimaku tidak berani meminta tambahan
pasukan. Dan kau, seorang gelandangan yang jubahnya penuh noda kurma, berani
memintaku untuk berhutang tiga permintaan yang belum kau tentukan.”
Abu Nawas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dengan senyum
misteriusnya yang khas.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas, tetapi di
matanya ada kilatan kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. “Kau
memang gila, Abu Nawas. Aku setuju. Tiga permintaan. Selama tidak bertentangan
dengan syariat dan tidak mengancam kekuasaan kekhalifahan. Sekarang…”
Ia berbalik dan kembali ke singgasananya, duduk dengan
sikap seorang raja yang telah selesai memberi perintah.
“…mulailah bekerja. Kau punya waktu tiga hari. Wazir Jafar
akan menemanimu dan memberimu akses ke semua yang kau butuhkan. Kau bisa
berbicara dengan siapa pun, pergi ke mana pun di kompleks istana ini, memeriksa
apa pun yang kau anggap perlu. Tidak ada yang boleh menghalangimu.”
Ia menatap Abu Nawas sekali lagi, dan kali ini matanya
tidak lagi main-main.
“Tiga hari, Abu Nawas. Ingat itu.”
Abu Nawas membungkuk dalam-dalam, dengan hormat yang tulus
untuk pertama kalinya malam itu.
“Baginda,” katanya, “saya akan mulai dari tempat yang
paling mungkin untuk menemukan petunjuk pertama.”
“Tempat apa?”
Abu Nawas mengangkat wajahnya, dan senyumnya kembali, senyum
lebar yang biasa ia gunakan sebelum melontarkan lelucon.
“Perut saya, Baginda. Saya belum makan malam dengan layak
sejak kemarin siang. Izin saya untuk memeriksa dapur istana terlebih dahulu.
Siapa tahu, di antara panci-panci dan wajan-wajan itu, tersembunyi petunjuk
tentang siapa yang suka memasak di tengah malam.”
Jafar menghela napas panjang, melepaskan semua ketegangan
yang ia tahan selama ini. Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap Abu Nawas dengan
ekspresi antara geli dan putus asa.
“Pergilah,” katanya. “Makanlah sepuasnya. Tapi ingat, Abu
Nawas. Perutmu bukan satu-satunya yang harus kau isi dalam tiga hari ini.
Otakmu juga. Atau…”
Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya.
“…kau akan kehilangan keduanya.”
BAB 2: MAHKOTA YANG LENYAP
Ditemani oleh Jafar yang setengah kesal karena harus
menemani seorang gelandangan ke dapur istana pada tengah malam, Abu Nawas
memulai penyelidikannya dengan cara yang paling tidak biasa. Alih-alih meminta
untuk melihat ruang penyimpanan yang kosong, yang menurutnya akan tetap kosong
meskipun dilihat seratus kali, ia meminta semangkuk besar bubur kacang hijau,
sepuluh keping roti hangat dengan mentega madu, semangkuk buah ara segar, dan
seteko susu kambing hangat.
“Kau benar-benar akan makan?” desis Jafar, duduk di bangku
kayu panjang di dapur istana yang luas. Dapur itu adalah ruangan besar dengan
langit-langit tinggi, dipenuhi dengan tungku-tungku bata, panci-panci tembaga
yang berjejer rapi, dan meja-meja marmer panjang untuk memotong daging dan
sayuran. Di malam hari, dapur ini sunyi, hanya diterangi oleh beberapa lampu
minyak yang tersisa, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang
bergoyang-goyang di dinding.
Para juru masak dan asisten dapur yang masih tersisa di tempat
mereka, beberapa sedang membersihkan peralatan, beberapa sedang bersiap untuk
persiapan sahur Baginda Raja, berbisik-bisik di kejauhan, tidak percaya bahwa
seorang Wazir sekaliber Jafar Barmakid, keturunan dari keluarga Barmakid yang
paling berpengaruh di kekhalifahan, sedang duduk di bangku kayu dapur, menemani
seorang yang mereka kenal sebagai tukang lawak jalanan yang kadang-kadang
diundang ke istana untuk menghibur Baginda Raja.
“Wazirku yang mulia,” Abu Nawas menyuap bubur kacang
hijaunya dengan lahap, sesekali mencelupkan roti ke dalamnya, “otak yang lapar
tidak akan pernah bisa berpikir jernih. Seorang filsuf Yunani yang namanya
tidak bisa saya sebutkan karena saya lupa, pernah berkata bahwa perut adalah
akar dari semua pemikiran. Jika akarnya kosong, pohonnya akan layu. Jadi
biarkan saya mengisi akar ini, maka ia akan menjadi pohon yang rindang yang
memberikan keteduhan bagi seluruh istana.”
Jafar mendesah, mengusap wajahnya yang lelah. “Baiklah.
Makanlah. Tapi setelah ini, kau harus serius, Abu Nawas. Kita berhadapan dengan
sesuatu yang sangat berbahaya. Mahkota itu bukan hanya benda berharga. Itu
adalah simbol kekuasaan. Lambang kekhalifahan. Jika berita ini tersebar ke
luar, jika musuh-musuh kita di Basra, di Damaskus, di Romawi mengetahui bahwa
Mahkota Emas Al-Ma’mun hilang dari istana yang dijaga ribuan tentara, mereka
akan berpikir bahwa kekhalifahan sedang lemah. Bahwa Baginda Raja Harun
Al-Rasyid tidak mampu melindungi hartanya sendiri. Dan itu… itu bisa memicu
perang, Abu Nawas. Perang yang akan menewaskan ribuan orang.”
Abu Nawas berhenti mengunyah. Ia menatap Jafar dengan
serius untuk pertama kalinya malam itu.
“Wazir,” katanya, “ceritakan padaku secara detail. Jangan
yang resmi. Jangan yang sudah dirapikan untuk laporan kepada Baginda Raja.
Ceritakan seperti kau bercerita pada teman lama di kedai wine. Ceritakan semua
yang kau ingat, semua yang kau rasakan, bahkan hal-hal kecil yang mungkin kau
anggap tidak penting. Karena seringkali, petunjuk terbesar tersembunyi di
detail terkecil.”
Jafar terdiam. Sebagai seorang Barmakid yang terdidik dalam
etiket istana sejak kecil, ide untuk bercerita ‘seperti di kedai wine’ terasa
tidak pantas. Namun ia melihat mata Abu Nawas. Mata itu tidak lagi main-main.
Tidak ada kilatan lelucon di sana. Yang ada adalah kecerdikan yang tajam,
seperti pisau yang diasah dengan sangat halus, siap untuk memotong
lapisan-lapisan kebohongan yang mungkin membungkus kebenaran.
Jafar menghela napas panjang, lalu mulai bercerita.
“Tiga malam yang lalu. Tepatnya, malam Selasa setelah salat
Isya. Penjagaan istana diperketat karena ada laporan dari mata-mata kita di
utara bahwa beberapa suku di perbatasan sedang bergerak mencurigakan. Baginda
Raja memerintahkan siaga penuh. Semua penjaga ditempatkan di pos-pos strategis.
Termasuk ketujuh penjaga kunci Khizanat al-Khassa.”
Ia berhenti, mengingat-ngingat detail.
“Ketujuh penjaga itu… aku hafal nama mereka karena sudah
berkali-kali aku memeriksa mereka. Mahmud, yang tertua, sudah lima belas tahun
menjaga. Fadil, anak muda dari keluarga prajurit turun-temurun. Usman, yang
dikenal paling disiplin. Najib, yang suka bercerita. Rashid, yang pendiam.
Zayd, yang paling muda dan paling bersemangat. Dan Hisham… Hisham yang paling
kurus dan paling sering sakit-sakitan. Mereka semua berada di pos
masing-masing, di koridor yang mengelilingi ruang penyimpanan. Setiap penjaga
memegang satu kunci, disimpan di ikat pinggang mereka dalam sarung kulit, tidak
pernah lepas. Mereka tidak tahu posisi satu sama lain. Mereka tidak pernah
bertemu selama jam tugas, kecuali saat pergantian shift.”
“Siapa yang berwenang mengumpulkan ketujuh kunci?” tanya
Abu Nawas sambil memotong buah ara menjadi dua dan memasukkannya ke mulut.
“Hanya dua orang. Aku, sebagai Wazir, atau Baginda Raja
sendiri. Tidak ada orang lain. Bahkan Putri Zubaidah sekalipun tidak memiliki
wewenang untuk itu. Prosedurnya sudah ditetapkan sejak masa Baginda Raja
Al-Mansur: jika ruang penyimpanan harus dibuka, Baginda Raja atau Wazir harus
hadir langsung, memanggil ketujuh penjaga satu per satu, dan menyaksikan mereka
membuka gembok secara bersamaan. Tidak pernah ada satu orang pun yang memegang
lebih dari satu kunci dalam waktu yang bersamaan.”
“Malam itu, apakah ada perintah pembukaan?”
Jafar menggeleng tegas. “Tidak. Tidak ada perintah dari Baginda
Raja, tidak ada perintah dariku. Semua berjalan normal hingga keesokan
paginya.”
“Ceritakan pagi itu.”
Jafar menutup matanya, mengingat kembali dengan jelas
setiap detail dari pagi yang mengerikan itu.
“Pagi harinya, sekitar pukul delapan, Mahmud, penjaga
pertama, melakukan rutinitas pengecekan seperti biasa. Dia berjalan menyusuri
koridor menuju pintu Khizanat al-Khassa, dan dari kejauhan, dia sudah melihat
sesuatu yang aneh. Pintu itu… terbuka. Tidak sepenuhnya terbuka lebar, tetapi
tidak tertutup rapat seperti seharusnya. Ada celah selebar satu jari di antara
daun pintu dan kusennya.”
Ia membuka matanya, dan Abu Nawas bisa melihat ketakutan
yang masih tersisa di sana.
“Mahmud berlari mendekat. Dia memeriksa gemboknya, gembok
nomor satu, yang kuncinya dia pegang, dan dia melihat bahwa gembok itu sudah
terbuka. Bukan dirusak, bukan dipaksa. Terbuka dengan kunci yang tepat. Dia
kemudian memeriksa gembok-gembok lainnya. Semuanya terbuka. Ketujuh-tujuhnya.
Pintu itu bisa didorong dengan mudah.”
“Dan di dalam?”
“Dan di dalam,” suara Jafar nyaris berbisik sekarang,
“bantal beludru merah itu kosong. Mahkota Emas Al-Ma’mun, dengan rubi sebesar
telur merpati dan zamrud yang bercahaya dalam gelap, tidak ada. Hanya ada
bekas, bekas di beludru itu menunjukkan bahwa mahkota baru saja diambil.
Mungkin hanya beberapa jam sebelumnya. Masih hangat, kata Mahmud. Bantalnya
masih terasa hangat karena baru saja ditinggalkan.”
Abu Nawas meletakkan pisau buah aranya. “Siapa yang pertama
kali memeriksa gembok-gembok itu? Apakah ahli pandai besi istana sudah
memeriksanya?”
“Sudah. Kami memanggil Ustadz Karim, pandai besi istana
yang paling ahli. Dia memeriksa ketujuh gembok itu selama dua jam.
Kesimpulannya: tidak ada kerusakan. Tidak ada goresan alat. Tidak ada bekas
paksa. Gembok-gembok itu dibuka dengan kunci yang tepat. Kunci asli, bukan
duplikat.”
“Apakah mungkin membuat duplikat tanpa sepengetahuan
penjaga?”
Jafar menggeleng. “Tidak mungkin. Setiap kunci dibuat oleh
pandai besi istana dengan logam khusus yang campurannya dirahasiakan. Untuk
membuat duplikat, seseorang harus memiliki kunci asli sebagai contoh setidaknya
selama satu hari penuh. Dan tidak ada satu pun penjaga yang melepaskan kunci
mereka dari ikat pinggang mereka. Mereka tidur dengan kunci itu. Mereka mandi dengan
kunci itu. Mereka bahkan ke kamar kecil dengan kunci itu. Kunci itu adalah
bagian dari tubuh mereka.”
Abu Nawas berdiri, meninggalkan makanannya yang tersisa.
Gerakannya yang biasanya malas tiba-tiba menjadi cepat dan terarah.
“Bawa saya ke pintu itu,” katanya.
Khizanat al-Khassa berada di jantung kompleks istana,
dikelilingi oleh koridor-koridor berlapis marmer yang hanya bisa diakses oleh
pejabat tertinggi kekhalifahan. Abu Nawas berjalan di samping Jafar, matanya
tidak berhenti bergerak, mengamati setiap detail: ketebalan dinding yang
terlihat dari kedalaman relung obor, letak setiap obor yang menerangi koridor,
bayangan yang dihasilkan oleh cahaya lampu, sudut-sudut yang gelap, bahkan ubin
lantai yang terlihat agak longgar di beberapa tempat.
“Koridor ini,” tanya Abu Nawas sambil berjalan, “apakah
selalu dijaga sepanjang waktu?”
“Dijaga, tetapi tidak selalu oleh penjaga yang sama. Ada
tiga shift: pagi, sore, malam. Yang malam adalah yang paling ketat karena
dianggap paling rawan.”
“Apakah ada shift yang kosong? Waktu di mana tidak ada
penjaga sama sekali?”
“Tidak pernah. Selalu ada setidaknya satu penjaga di setiap
pos. Itu sudah diatur.”
Mereka tiba di depan pintu kualitas nomor saru sejenis kayu
jati besar itu. Abu Nawas berhenti, berdiri diam selama beberapa saat, hanya
menatap pintu itu. Kayu sejenis kayu jati hitam dengan ukiran kaligrafi emas
yang rumit, bertuliskan ayat Kursi dan nama-nama Allah yang Maha Melindungi.
Tujuh lubang gembok terpasang rapi di sisi kanan pintu, masing-masing dengan ukiran
yang berbeda untuk membedakannya. Tidak ada goresan. Tidak ada bekas alat
pengungkit. Tidak ada tanda-tanda bahwa pintu ini pernah dibuka paksa.
Abu Nawas membungkuk, menyentuh lantai marmer di depan
pintu. Ia mengusap permukaannya dengan jari, lalu mendekatkan jari itu ke
hidungnya.
“Debu,” katanya. “Tipis, tapi ada. Lantai ini biasanya
disapu kapan?”
“Setiap pagi, sebelum jam delapan. Oleh petugas kebersihan
istana.”
“Maka, jika ada yang berdiri di sini setelah penyapuan
terakhir, seharusnya ada jejak. Jejak telapak kaki. Jejak debu yang terganggu.
Tapi tidak ada. Lantai ini bersih. Tidak ada bekas telapak kaki selain milik
kita dan milik Mahmud ketika dia menemukan pintu terbuka.”
Ia berdiri, menatap pintu itu dengan mata menyipit.
“Pencuri ini tidak hanya cerdik, Wazir. Dia juga sangat
hati-hati. Dia tahu persis kapan lantai disapu. Dia tahu persis kapan penjaga
berganti. Dia tahu persis di mana harus berdiri agar tidak meninggalkan jejak.
Dia… dia sangat mengenal istana ini.”
Ia berbalik menghadap Jafar.
“Katakan padaku, Wazir. Siapa saja yang memiliki akses ke
koridor ini tanpa menimbulkan kecurigaan?”
Jafar berpikir sejenak. “Pejabat tinggi kekhalifahan. Para
komandan militer. Keluarga Baginda Raja. Pelayan-pelayan senior yang sudah
bekerja di sini lebih dari sepuluh tahun. Dan… para penjaga itu sendiri, tentu
saja.”
“Keluarga Baginda Raja?” Abu Nawas mengangkat alis.
Jafar ragu. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sudah memikirkan
kemungkinan ini tetapi tidak berani mengatakannya dengan lantang. “Ya. Tapi
mustahil mereka—”
“Wazir,” potong Abu Nawas dengan suara yang tiba-tiba
tegas, “dalam penyelidikan seperti ini, tidak ada yang mustahil. Pencuri yang
bisa masuk ke ruangan tanpa jendela, membuka tujuh gembok tanpa kunci, dan
keluar tanpa jejak, orang seperti itu tidak terikat oleh ‘mustahil’ seperti
kita. Dia hidup di dunia di mana segala sesuatu mungkin terjadi, asalkan
akalnya cukup tajam.”
Ia berjalan mengelilingi pintu, memeriksa dinding di kedua
sisinya.
“Mulailah dengan membiarkan saya berbicara dengan ketujuh
penjaga itu. Satu per satu. Tanpa kehadiran pejabat lain. Hanya aku, mereka,
dan kau, Wazir, jika kau mau. Tapi kau harus diam. Biarkan aku yang bertanya.”
Jafar mengangguk, meskipun dengan sedikit keraguan. “Baik.
Mereka sedang ditahan di ruangan berbeda. Kami tidak mengizinkan mereka bertemu
satu sama lain sejak pagi kejadian. Aku akan mengatur pertemuan.”
Abu Nawas tersenyum. “Bagus. Sementara itu, Wazir…”
“Ya?”
“Ada satu hal lagi. Apakah mungkin seseorang bisa masuk ke
Khizanat al-Khassa melalui cara lain? Lubang rahasia? Terowongan bawah tanah?”
Jafar menggeleng tegas. “Tidak. Dindingnya diperiksa oleh
ahli bangunan istana setelah kejadian. Tidak ada lubang, tidak ada retakan,
tidak ada terowongan. Satu-satunya jalan masuk adalah pintu ini. Tidak ada yang
lain.”
Abu Nawas mengangguk, matanya kembali menatap pintu itu
dengan penuh makna.
“Kalau begitu, Wazir, pencuri ini bukan manusia biasa.
Atau…” ia tersenyum tipis, “…dia adalah manusia biasa dengan akal yang luar
biasa biasa. Dan akal seperti itu, Wazir, biasanya dimiliki oleh orang yang sangat
dekat dengan kekuasaan.”
BAB 3: PARA PENJAGA DAN CERITA YANG
TAK SAMA
Ketujuh penjaga itu ditempatkan di ruangan yang berbeda di
sayap barat istana, masing-masing dijaga oleh dua orang prajurit bersenjata
lengkap. Mereka tidak diizinkan berbicara satu sama lain, tidak diizinkan
menerima tamu, tidak diizinkan membaca surat atau menerima berita dari luar.
Mereka hidup dalam isolasi total sejak pagi setelah kejadian, hanya ditemani
oleh ketakutan mereka sendiri dan pertanyaan-pertanyaan yang sama yang diajukan
berulang-ulang oleh para interogator.
Abu Nawas meminta untuk dipertemukan dengan mereka satu per
satu di sebuah ruangan kecil yang disediakan khusus. Ruangan itu sederhana:
dinding bata putih, lantai marmer, satu meja kayu, dan dua kursi. Jafar duduk
di sudut ruangan, jauh dari meja, berusaha untuk tidak mengganggu. Seorang juru
tulis duduk di sudut lain, siap mencatat setiap kata yang diucapkan, tetapi Abu
Nawas memintanya untuk pergi.
“Tidak perlu catatan,” katanya. “Yang penting bukan apa
yang mereka katakan, tapi bagaimana mereka mengatakannya. Dan catatan tidak
bisa menangkap itu.”
Penjaga pertama yang dipanggil adalah Mahmud. Lelaki tua
berusia lima puluh tahun dengan wajah penuh kerutan, janggut yang sudah
memutih, dan mata yang sayu karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis. Ia
masuk dengan langkah gemetar, duduk di kursi di hadapan Abu Nawas dengan tangan
yang masih bergetar hebat. Bau keringat ketakutan menyengat dari tubuhnya.
“Mahmud,” Abu Nawas memulai dengan suara yang sangat
lembut, sangat berbeda dari nada lawakannya yang biasa. Suaranya terdengar
seperti seorang ayah yang sedang menenangkan anaknya yang ketakutan. “Aku bukan
algojo. Aku bukan interogator. Aku bukan hakim. Aku hanya seorang yang diminta
oleh Baginda Raja untuk membantu mencari mahkotanya. Dan untuk bisa membantu,
aku perlu mendengar ceritamu. Ceritakan malam itu darimu. Dari awal hingga
akhir. Jangan sembunyikan apa pun. Jangan tambahi apa pun. Ceritakan apa yang
kau lihat, dengar, rasakan, dan cium.”
Mahmud menghela napas panjang yang terputus-putus,
seolah-olah setiap helaan napas membutuhkan seluruh kekuatannya.
“Tuan…,” suaranya serak, pecah di beberapa tempat. “Aku
sudah mengatakan semuanya pada Wazir Jafar. Aku sudah mengatakan semuanya pada
para interogator. Aku sudah mengatakan semuanya pada Panglima. Aku tidak tahu
apa-apa. Aku bersumpah demi Allah, aku tidak tahu apa-apa.”
“Aku percaya kau tidak tahu apa-apa, Mahmud,” kata Abu
Nawas dengan tenang. “Tapi mungkin kau melihat sesuatu tanpa menyadari bahwa
itu penting. Atau mendengar sesuatu yang kau anggap biasa tapi sebenarnya tidak
biasa. Jadi ceritakan padaku. Seperti kau bercerita pada anak cucumu tentang
masa mudamu.”
Mahmud menunduk, air matanya mulai menetes. Butuh beberapa
saat baginya untuk menenangkan diri. Akhirnya, ia mulai bercerita.
“Aku… aku berada di pos jagaku, di koridor selatan, sejak
Maghrib hingga Subuh. Itu shift-ku. Aku tidak meninggalkan pos kecuali untuk…
untuk buang air. Itu pun hanya setengah jam, setelah Isya, ketika penjaga
cadangan datang menggantikanku.”
“Siapa penjaga cadanganmu?”
“Karim. Namanya Karim. Dia anak muda, baru dua tahun
bertugas. Tapi dia orang baik, Tuan. Rajin. Tidak pernah telat.”
“Baik. Ceritakan tentang malam itu. Apa yang kau lihat?”
Mahmud mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“Koridor itu gelap, Tuan. Hanya diterangi obor di dinding setiap sepuluh
langkah. Biasanya, aku bisa melihat ujung koridor dari posku. Tapi malam itu…
malam itu ada kabut tipis. Kabut dari sungai, mungkin. Jadi jarak pandangku
terbatas. Aku hanya bisa melihat sekitar dua puluh langkah ke depan.
Selebihnya, kabut.”
“Apakah kau mendengar sesuatu?”
“Tidak. Sepi sekali malam itu. Biasanya, kadang-kadang ada
suara langkah kaki dari koridor lain, atau suara pintu dibuka, atau suara
dayang-dayang yang masih terjaga. Tapi malam itu… sunyi. Sunyi sekali. Seperti
seluruh istana sedang tidur.”
“Apakah kau melihat bayangan? Gerakan? Sesuatu yang
bergerak di kabut?”
Mahmud berpikir sejenak. “Tidak, Tuan. Tidak ada yang
bergerak. Hanya kabut yang bergerak perlahan, seperti asap.”
Abu Nawas mencatat sesuatu di telapak tangannya dengan
jari, kebiasaan anehnya yang sudah terkenal. “Mahmud, kau sudah menjaga pintu
ini selama lima belas tahun. Selama lima belas tahun itu, apakah pernah ada
kejadian aneh? Sekecil apa pun. Sesuatu yang membuatmu merasa tidak biasa.”
Mahmud terdiam sejenak. Matanya menerawang, mengingat
kembali. Kemudian, perlahan, wajahnya berubah.
“Tuan… ada satu hal. Tapi ini mungkin hanya kekhawatiran
orang tua. Mungkin tidak penting.”
“Ceritakan.”
“Sekitar sebulan yang lalu… mungkin lebih, aku tidak ingat
persis. Suatu malam, ketika aku memeriksa gembokku seperti biasa sebelum mulai
bertugas, aku merasakan… gembok itu terasa longgar. Seperti baru saja dibuka.
Aku kunci ulang, dan terasa normal lagi. Aku pikir itu hanya karena tanganku
dingin, atau karena udaranya yang lembab.”
“Apakah kau melaporkan ini?”
Mahmud menggeleng pelan. “Aku takut, Tuan. Penjaga yang
melaporkan hal-hal aneh yang tidak bisa dibuktikan sering dianggap tidak waras.
Atau dicurigai. Aku sudah tua, Tuan. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ini.
Ini satu-satunya yang kumiliki untuk menghidupi anak-anakku.”
Abu Nawas mengangguk pelan. “Siapa lagi yang memiliki akses
ke kuncimu selain dirimu?”
“Tidak ada, Tuan. Aku yang menyimpannya. Diikat di ikat
pinggangku, di dalam sarung kulit yang kujahit sendiri. Tidak pernah lepas dari
tubuhku. Bahkan ketika aku mandi, kunci itu tetap di ikat pinggangku, dan ikat
pinggangku tetap kupakai. Aku tidak pernah melepasnya.”
Setelah Mahmud keluar, Abu Nawas memanggil penjaga kedua,
Fadil. Fadil adalah anak muda berusia dua puluh lima tahun, dengan tubuh kekar
dan wajah yang masih menunjukkan keberanian meskipun matanya merah karena kurang
tidur. Ia duduk di kursi dengan punggung tegak, berusaha menunjukkan bahwa ia
tidak takut.
“Fadil,” Abu Nawas menyapanya. “Ceritakan malam itu
darimu.”
Fadil menarik napas dalam-dalam. “Saya di pos koridor
timur, Tuan. Dari Maghrib hingga Subuh. Sama seperti Mahmud, saya hanya
meninggalkan pos untuk buang air setelah Isya, digantikan oleh penjaga
cadangan.”
“Siapa penjaga cadanganmu?”
“Samir.”
“Apakah kau melihat sesuatu yang aneh malam itu?”
Fadil menggeleng. “Tidak, Tuan. Semua normal.”
“Bagaimana dengan obor di koridormu? Menyala terang atau
redup?”
Fadil mengerutkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan
itu. “Obor… menyala seperti biasa, Tuan. Tidak terlalu terang, tidak terlalu
redup.”
“Apakah ada angin malam itu?”
“Angin? Tidak, Tuan. Tenang.”
“Apakah kau mendengar langkah kaki? Suara apa pun?”
“Tidak, Tuan. Sunyi.”
Abu Nawas mengangguk. “Terima kasih, Fadil. Kau boleh
kembali.”
Penjaga ketiga, Usman, adalah lelaki paruh baya dengan
wajah keras yang menunjukkan disiplin militer yang kuat. Ia duduk dengan sikap
sempurna, tangan di pangkuan, mata lurus ke depan.
“Usman,” Abu Nawas memulai. “Ceritakan malam itu.”
“Saya di pos koridor barat, Tuan. Shift Maghrib hingga
Subuh. Saya tidak meninggalkan pos sama sekali malam itu.”
Abu Nawas mengangkat alis. “Tidak buang air? Tidak makan?”
“Saya sudah buang air sebelum Maghrib, Tuan. Dan saya makan
bekal yang saya bawa di pos. Saya tidak perlu digantikan.”
“Apakah itu biasa? Tidak digantikan?”
“Saya lebih suka begitu, Tuan. Saya tidak percaya pada
penjaga cadangan. Mereka sering lalai.”
Abu Nawas tersenyum tipis. “Bagaimana dengan obor di
koridormu?”
“Menyala terang, Tuan. Tidak ada masalah.”
“Apakah kau mendengar sesuatu malam itu? Suara langkah?
Suara pintu?”
Usman berpikir sejenak. “Sekitar tengah malam, saya
mendengar sesuatu. Langkah kaki. Dari kejauhan, mungkin dari koridor selatan.
Tapi hanya beberapa langkah, lalu berhenti. Mungkin hanya Mahmud yang sedang
berjalan.”
“Apakah kau periksa?”
“Tidak, Tuan. Bukan tugas saya. Saya hanya bertanggung jawab
atas koridor barat.”
Penjaga keempat, Najib, adalah lelaki gemuk dengan wajah
bulat dan sifat ramah yang biasanya suka bercerita. Malam itu, wajah bulatnya
tampak kusut karena kelelahan dan ketakutan.
“Najib,” Abu Nawas menyapanya dengan nada yang lebih
santai. “Katakan, malam itu kau di pos mana?”
“Koridor utara, Tuan. Dekat taman dalam. Posisi yang paling
sejuk karena angin dari taman.”
“Apakah kau meninggalkan pos?”
“Ya, Tuan. Untuk buang air setelah Isya. Digantikan oleh
Karim, msama seperti Mahmud.”
“Apakah kau melihat atau mendengar sesuatu yang aneh?”
Najib menggeleng. “Tidak, Tuan. Sepi sekali. Biasanya, dari
posku, aku bisa mendengar suara air mancur di taman. Tapi malam itu, air
mancurnya mati. Mungkin karena perintah penghematan air.”
“Apakah kau mendengar langkah kaki?”
“Tidak, Tuan.”
“Apakah kau melihat bayangan? Gerakan?”
Najib berpikir. “Tidak, Tuan. Hanya kabut tipis dari sungai
yang masuk ke koridor. Tapi itu biasa.”
Penjaga kelima, Rashid, adalah lelaki pendiam yang hampir
tidak pernah berbicara lebih dari beberapa kata. Ia duduk di kursi dengan
kepala menunduk, hanya menjawab pertanyaan dengan ya atau tidak.
“Rashid,” Abu Nawas memulai dengan sabar. “Kau di pos
mana?”
“Koridor timur laut, Tuan.”
“Apakah kau melihat sesuatu yang aneh?”
“Tidak.”
“Mendengar sesuatu?”
“Tidak.”
“Apakah kau meninggalkan pos?”
“Tidak.”
“Apakah kau melihat bayangan?”
Rashid berhenti sejenak. “Saya… saya melihat bayangan,
Tuan.”
Abu Nawas menajamkan matanya. “Bayangan seperti apa?”
“Di ujung koridor timur, sekitar tengah malam. Bayangan
seseorang. Tapi ketika saya periksa, tidak ada siapa-siapa.”
“Apakah kau melaporkan ini?”
“Tidak, Tuan. Saya pikir itu hanya karena cahaya obor yang
bergoyang.”
Penjaga keenam, Zayd, adalah yang termuda, baru berusia dua
puluh tahun. Ia masih segar dan bersemangat, meskipun matanya menunjukkan
kelelahan.
“Zayd,” Abu Nawas menyapanya. “Kau di pos mana?”
“Koridor selatan-barat, Tuan. Dekat pintu belakang istana.”
“Apakah kau melihat atau mendengar sesuatu?”
Zayd menggeleng. “Tidak, Tuan. Sunyi. Tapi…”
“Tapi?”
“Saya merasa ada yang berbeda malam itu. Biasanya, di
posku, saya bisa mendengar suara kuda-kuda di kandang dari kejauhan. Tapi malam
itu, kuda-kuda itu diam. Tidak ada suara sama sekali. Seperti mereka juga
sedang mendengarkan sesuatu.”
Penjaga ketujuh, Hisham, adalah pemuda kurus dengan wajah
pucat dan mata yang sayu. Ia masuk ke ruangan dengan langkah lemas, dan ketika
duduk, tubuhnya tampak menggigil meskipun ruangan tidak dingin.
“Hisham,” Abu Nawas memanggilnya dengan suara lembut. “Kau
terlihat sakit.”
Hisham mengangguk pelan. “Saya sakit kepala malam itu,
Tuan. Sangat sakit. Saya minta digantikan oleh penjaga cadangan sekitar pukul
sepuluh, dan saya tidur di barak.”
“Siapa yang menggantikanmu?”
“Samir, Tuan. Samir yang baik. Dia setuju menggantikanku
meskipun itu bukan shift-nya.”
“Apakah kau ingat apa pun tentang malam itu? Sebelum kau
pergi ke barak?”
Hisham menggeleng. “Tidak, Tuan. Kepalaku terasa seperti
dipukul. Aku hanya ingin tidur. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku sampai di
barak.”
Abu Nawas menatap Hisham dengan saksama. “Hisham, apakah
kau meminum atau memakan sesuatu sebelum bertugas malam itu?”
Hisham berpikir. “Saya… saya minum segelas susu, Tuan. Dari
dapur. Sebelum Maghrib. Biasanya saya tidak minum susu, tapi malam itu saya
merasa haus.”
“Siapa yang memberimu susu?”
“Seorang pelayan dapur. Saya tidak tahu namanya. Wajahnya…
saya tidak ingat.”
Abu Nawas mengangguk pelan. “Terima kasih, Hisham. Kau boleh
kembali.”
Setelah ketujuh penjaga keluar, ruangan itu sunyi. Jafar
yang dari tadi duduk diam di sudut, akhirnya mendekati Abu Nawas yang sedang
duduk dengan mata terpejam, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang
lambat.
“Ada yang kau dapatkan?” tanya Jafar, tidak bisa menahan
rasa penasarannya.
Abu Nawas membuka matanya. Matanya jernih, fokus, semua
sisa-sisa kelalaiannya yang biasa telah lenyap.
“Wazir,” katanya, “aku punya beberapa kejanggalan.”
“Apa?”
“Pertama, obor. Mahmud bilang obor di koridornya menyala
terang. Fadil bilang obor di koridornya biasa saja. Usman bilang terang. Najib
tidak komentar. Tapi mereka semua di koridor yang berdekatan. Seharusnya,
intensitas cahaya obor relatif sama di seluruh koridor, karena obor-obor itu
dinyalakan dan diisi minyak pada waktu yang sama oleh petugas yang sama. Tapi
kenapa ada yang bilang terang dan ada yang bilang biasa saja?”
Jafar mengerutkan kening. “Mungkin perbedaan persepsi?”
“Mungkin. Tapi perbedaan persepsi adalah petunjuk. Orang
yang sedang cemas cenderung melihat cahaya lebih redup. Orang yang tenang
melihatnya terang. Jadi, dari perbedaan itu, aku bisa menebak siapa yang cemas
dan siapa yang tenang malam itu.”
“Lalu?”
“Kedua, suara langkah kaki. Usman mendengar langkah kaki di
koridor selatan sekitar tengah malam. Mahmud, yang berada di koridor selatan,
tidak mendengar apa-apa. Siapa yang benar? Jika Usman mendengar langkah kaki,
seharusnya Mahmud juga mendengar, karena pos mereka berdekatan. Tapi Mahmud
tidak mendengar. Berarti, langkah kaki itu sangat pelan, atau hanya didengar oleh
Usman karena telinganya lebih tajam. Atau… Usman mendengar sesuatu yang
sebenarnya tidak ada.”
“Atau?”
“Atau, Usman berbohong.”
Jafar tersentak. “Usman? Dia penjaga paling disiplin! Tidak
mungkin!”
“Wazir,” Abu Nawas tersenyum tipis, “dalam kasus ini, semua
orang mungkin. Termasuk penjaga paling disiplin sekalipun.”
“Apa lagi?”
“Ketiga, Rashid melihat bayangan di koridor timur. Tapi
Fadil, yang berjaga di koridor timur, tidak melihat apa pun. Apakah Rashid
salah lihat? Atau Fadil yang tidak jeli? Atau bayangan itu memang hanya
terlihat dari sudut tertentu?”
“Keempat,” lanjut Abu Nawas sebelum Jafar menjawab,
“kuda-kuda. Zayd bilang kuda-kuda di kandang diam malam itu. Padahal biasanya,
kuda-kuda kadang bersuara. Apakah ada yang menenangkan kuda-kuda itu? Atau
apakah mereka juga merasakan sesuatu yang aneh?”
“Kelima,” suara Abu Nawas menjadi lebih pelan, lebih
serius. “Hisham. Dia minum susu sebelum bertugas, lalu sakit kepala hebat dan
tidak ingat apa-apa. Apakah susu itu dicampur sesuatu? Siapa yang memberinya
susu? Dan mengapa dia yang sakit, padahal penjaga lain tidak?”
Jafar terdiam, mencoba mencerna semua informasi yang baru
saja didengarnya.
“Dan yang terakhir,” kata Abu Nawas sambil berdiri, “yang
paling penting. Ada aroma melati di barak Hisham.”
Jafar mengerutkan kening. “Melati? Di barak penjaga?”
“Ya. Samar, tapi ada. Di bantal Hisham. Apakah penjaga
laki-laki biasanya menggunakan wewangian melati?”
“Tidak. Tidak pernah.”
“Maka, ada wanita yang masuk ke barak Hisham malam itu.
Atau… Hisham sendiri yang menggunakan wewangian itu, yang menurutmu tidak
mungkin. Atau… seseorang meninggalkannya sebagai jejak.”
Abu Nawas berjalan ke pintu, lalu berbalik menghadap Jafar.
“Wazir, aku ingin memeriksa barak Hisham. Dan aku ingin
berbicara dengan Samir, penjaga cadangan yang menggantikan Hisham, Fadil, dan
Mahmud malam itu. Tapi sebelum itu…”
“Sebelum itu?”
“Bawa aku ke ruang perbendaharaan. Aku ingin melihat
sendiri di mana mahkota itu disimpan. Bukan hanya pintunya, tapi bagian
dalamnya. Aku ingin melihat bantal beludru merah yang kosong itu.”
BAB 4: JEJAK YANG TAK TERLIHAT
Barak para penjaga istana adalah bangunan sederhana namun
terawat di sayap utara kompleks, dekat dengan kandang kuda dan gudang senjata.
Bangunan itu terbuat dari bata merah dengan atap dari kayu kelas satu sejenis
kayu jati, terdiri dari satu ruang panjang yang berisi dua puluh ranjang kayu
berjajar rapi di kedua sisi dinding. Setiap ranjang dilengkapi dengan kasur
tipis, selimut wol, dan sebuah peti kecil di kaki ranjang untuk menyimpan
barang-barang pribadi.
Abu Nawas berjalan melewati deretan ranjang itu, diikuti
oleh Jafar yang mulai kehilangan kesabaran. Matanya bergerak cepat, mengamati
setiap detail: lipatan selimut, posisi bantal, barang-barang yang tertinggal di
atas peti, bahkan noda-noda di dinding.
“Kita sudah kehilangan satu hari, Abu Nawas,” desis Jafar,
suaranya mengandung kekhawatiran yang sulit disembunyikan. “Baginda Raja mulai
bertanya-tanya apa yang kau lakukan selain berjalan-jalan di istana dan makan
di dapur. Aku sudah berusaha menenangkannya, tapi kau tahu sendiri bagaimana
Baginda Raja jika sudah tidak sabar.”
Abu Nawas tidak menjawab. Ia berhenti di depan ranjang yang
bertuliskan nama Hisham di papan kayu kecil di kepalanya. Ia
membungkuk, memeriksa selimut yang dilipat tidak rapi, berbeda dengan selimut
penjaga lain yang dilipat dengan rapi sesuai aturan militer.
“Hisham,” gumam Abu Nawas, “tergesa-gesa saat meninggalkan
ranjangnya. Tidak seperti penjaga lain yang melipat selimut sebelum berangkat
tugas. Ada sesuatu yang membuatnya terburu-buru.”
Ia menyentuh bantal—bantal tipis berisi kapas yang sudah
kusam karena usia. Ia mendekatkan bantal itu ke hidungnya, menarik napas
dalam-dalam.
“Melati,” katanya. “Masih ada. Samar, tapi tidak salah. Ini
bukan aroma dari sabun mandi atau minyak rambut biasa. Ini adalah wewangian
mahal yang biasanya digunakan oleh… wanita istana.”
Jafar mendekat, mengendus dengan ragu. “Aku tidak mencium
apa-apa.”
“Karena hidungmu tidak terlatih, Wazir,” kata Abu Nawas
sambil meletakkan bantal itu kembali. “Hidungku terlatih untuk mencium aroma
makanan dari jarak seratus langkah. Percayalah, ini melati.”
Ia membungkuk lagi, memeriksa lantai di bawah ranjang. Debu
tipis menutupi lantai tanah liat yang dipadatkan. Di sana, di sudut dekat kaki
ranjang, ia melihat sesuatu.
Ia menyentuhnya dengan jari, lalu mengangkatnya ke depan
mata. Sehelai rambut panjang, berwarna hitam keperakan, hampir sepanjang satu
hasta.
“Rambut wanita,” katanya. “Panjang, terawat, mungkin milik
wanita muda. Bukan rambut Hisham yang pendek dan kasar.”
Jafar memucat. “Abu Nawas… kau tidak sedang menuduh bahwa
ada wanita yang masuk ke barak penjaga, kan? Itu pelanggaran berat. Bisa
dihukum mati.”
“Aku tidak menuduh apa pun, Wazir. Aku hanya menemukan
fakta. Rambut wanita. Aroma melati. Hisham yang sakit kepala setelah minum susu
dan tidak ingat apa-apa. Hisham yang meninggalkan ranjangnya dalam keadaan
tidak rapi. Semua ini adalah fakta. Dan fakta, Wazir, tidak pernah berbohong.”
Ia berdiri, memasukkan rambut itu ke dalam saku jubahnya.
“Sekarang, panggil Samir. Tapi jangan di ruang interogasi.
Ajak dia berjalan-jalan di taman. Aku akan berbicara dengannya di sana, di
tempat yang lebih santai. Orang lebih mudah berbicara ketika mereka merasa
tidak sedang diinterogasi.”
Taman dalam istana Baghdad adalah salah satu keajaiban
dunia pada masanya. Terletak di tengah kompleks istana, taman ini membentang
seluas dua hektar, dengan puluhan jenis pohon dari berbagai penjuru
kekhalifahan: palem dari Hijaz, cemara dari Syam, melati dari Persia, dan
bunga-bunga langka dari Hind. Di tengah taman, sebuah kolam besar berbentuk
segi delapan terbuat dari marmer putih, dengan air mancur yang menyemburkan air
mawar setiap pagi dan sore. Jalur-jalur setapak dari batu sungai berkelok-kelok
di antara pepohonan, diterangi oleh lentera-lentera kaca yang menggantung di dahan-dahan.
Namun malam itu, air mancur tidak menyala. Kolamnya tenang
seperti cermin, memantulkan cahaya bulan yang bersinar di atas Baghdad.
Keheningan menyelimuti taman, hanya sesekali terputus oleh suara jangkrik dari
semak-semak.
Abu Nawas duduk di bangku batu di tepi kolam, melepas
sandalnya yang sudah aus, dan mencelupkan kakinya ke dalam air kolam yang
dingin. Ia bersandar dengan santai, matanya terpejam, menikmati ketenangan
malam. Jafar berdiri di kejauhan, di bawah pohon palem, mengawasi dari jarak
yang cukup untuk mendengar tetapi tidak mengganggu.
Samir, penjaga cadangan yang dimaksud, adalah seorang
pemuda berusia dua puluh tahun dengan tubuh ramping, wajah yang masih
menunjukkan sisa-sisa masa remaja, dan mata yang waspada. Ia berjalan mendekati
bangku itu dengan langkah hati-hati, seolah-olah setiap langkahnya diawasi oleh
seribu mata.
Ia duduk di bangku yang sama, agak jauh dari Abu Nawas, dan
menatap kolam yang tenang di hadapannya.
“Samir,” Abu Nawas menyapanya tanpa membuka mata. “Terima
kasih telah bersedia berbicara denganku. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat
untuk berjalan-jalan di taman.”
Samir mengangguk pelan. “Saya dengar Tuan sedang membantu
Baginda Raja mencari mahkota yang hilang.”
“Ya. Dan aku butuh bantuanmu.”
“Bantuan saya?” Samir tampak terkejut. “Saya hanya penjaga
cadangan, Tuan. Saya tidak tahu apa-apa tentang mahkota itu.”
Abu Nawas membuka matanya, menatap Samir dengan tatapan
yang lembut tetapi tajam.
“Samir, kau menggantikan tiga orang malam itu: Mahmud,
Fadil, dan Hisham. Kau adalah satu-satunya orang yang berada di tiga pos
berbeda dalam satu malam. Jika ada sesuatu yang terjadi malam itu, kemungkinan
besar kaulah yang melihat atau mendengarnya.”
Samir menunduk, tangannya menggenggam erat di pangkuan.
“Samir,” suara Abu Nawas menjadi lebih lembut, “aku tidak
akan melaporkan apa pun yang kau katakan kepada siapa pun tanpa izinmu. Aku
hanya ingin tahu kebenaran. Karena hanya dengan kebenaran, mahkota itu bisa
kembali dan kalian semua—para penjaga—bisa terbebas dari kecurigaan.”
Samir mengangkat wajahnya. Matanya merah, menunjukkan bahwa
ia mungkin juga tidak bisa tidur sejak kejadian itu.
“Tuan… saya… saya melihat sesuatu malam itu.”
“Ceritakan.”
Samir menarik napas panjang. “Saya menggantikan Mahmud
sekitar pukul sembilan malam. Dia pergi buang air. Saya berdiri di pos koridor
selatan selama setengah jam, sampai dia kembali. Tidak ada yang aneh. Kemudian,
sekitar pukul sepuluh, saya dipanggil untuk menggantikan Hisham. Dia sakit
kepala, katanya. Saya pergi ke posnya di koridor barat daya. Saya berdiri di
sana sampai sekitar pukul dua belas. Di situlah…”
Ia berhenti, menelan ludah.
“Di situlah saya melihat bayangan, Tuan.”
“Bayangan seperti apa?”
“Bayangan seseorang. Di dinding dekat pintu Khizanat
al-Khassa. Bayangan itu… besar. Lebih besar dari manusia biasa. Mungkin karena
cahaya obor yang membuatnya memanjang. Tapi bentuknya jelas: seseorang dengan…
sesuatu di kepalanya. Seperti mahkota.”
Abu Nawas duduk tegak, semua kelalaiannya lenyap seketika.
“Kau melihat bayangan dengan bentuk mahkota?”
“Saya… saya tidak yakin, Tuan. Mungkin hanya imajinasi
saya. Tapi bayangan itu bergerak. Perlahan. Seperti sedang berjalan menyusuri
dinding.”
“Apakah kau periksa?”
“Saya… saya pergi ke arah bayangan itu. Tapi ketika saya
sampai di sana, tidak ada siapa-siapa. Bayangan itu hilang. Dinding itu kosong.
Saya periksa sekeliling, tidak ada yang aneh.”
“Apakah kau melaporkan ini?”
Samir menggeleng pelan. “Saya takut, Tuan. Saya hanya
penjaga cadangan. Jika saya melaporkan bahwa saya melihat bayangan tanpa
melihat orangnya, saya akan dianggap gila. Atau lebih buruk, dicurigai.”
Abu Nawas mengangguk pelan. Ia mengangkat kakinya dari air
kolam, mengeringkannya dengan ujung jubahnya.
“Samir,” katanya sambil berdiri, “terima kasih. Kau telah
banyak membantu.”
Samir berdiri, tampak lega tetapi masih cemas. “Tuan…
apakah saya akan dihukum karena tidak melapor?”
Abu Nawas menepuk pundaknya dengan ramah. “Tidak, Samir.
Kau tidak melakukan kesalahan. Kau hanya manusia yang ketakutan, seperti kita
semua. Sekarang, kembalilah ke barak dan istirahatlah. Jangan ceritakan
percakapan kita ini kepada siapa pun.”
Samir mengangguk, lalu berjalan cepat meninggalkan taman,
meninggalkan Abu Nawas dan Jafar yang mendekat dari kejauhan.
“Bayangan dengan mahkota,” kata Jafar dengan suara tidak
percaya. “Itu tidak masuk akal. Mungkin hanya tipuan cahaya.”
“Atau,” kata Abu Nawas sambil memandang ke arah kolam yang
tenang, “itu adalah petunjuk, Wazir. Petunjuk yang paling penting.”
Ia berbalik menghadap Jafar, dan untuk pertama kalinya,
senyumnya kembali—senyum lebar yang biasa ia gunakan sebelum melontarkan sebuah
ide gila.
“Wazir, tolong sampaikan pada Baginda Raja: aku ingin
mengadakan perjamuan besar besok malam.”
Jafar terbelalak. “Perjamuan? Di saat seperti ini? Abu
Nawas, kau kehilangan akal!”
“Justru karena aku menemukan akalku, Wazir. Perjamuan itu
adalah kunci untuk membuka semua teka-teki ini. Undang semua pejabat istana,
para komandan, para menteri, keluarga Baginda Raja, dan semua orang yang
memiliki akses ke koridor dalam. Jangan lupa undang juga Abu Ishaq, sang
peramal.”
“Tapi untuk apa?”
Abu Nawas tersenyum misterius, senyum yang membuat Jafar
merasa bahwa lelaki di hadapannya ini menyimpan rahasia yang jauh lebih besar
dari yang terlihat.
“Di pesta itulah, Wazir, mahkota akan berbicara.”
BAB 5: PERJAMUAN PENUH TIPU DAYA
Malam berikutnya, Aula Singgasana Agung Istana Baghdad
berubah menjadi lautan cahaya yang mempesona. Ribuan lampu minyak dari emas dan
perak digantung di langit-langit yang tinggi, menciptakan ilusi langit malam
yang dipenuhi bintang. Dinding-dinding marmer yang biasanya putih bersih kini
ditutupi dengan permadani sutra dari Persia, berwarna merah, biru, dan emas,
dengan sulaman benang perak yang berkilauan setiap kali terkena cahaya lampu.
Meja-meja panjang dari kayu cendana berukir diatur
membentuk huruf U di sekeliling ruangan, meninggalkan ruang kosong yang luas di
tengah untuk pertunjukan dan hiburan. Di atas meja-meja itu, hidangan-hidangan
terbaik kekhalifahan disajikan di piring-piring porselen dari Cina dan
mangkuk-mangkuk perak dari Andalusia. Ada domba panggang utuh yang dimasak
dengan madu dan rempah-rempah, beraroma jintan dan kayu manis yang memenuhi
ruangan. Ada nasi bercampur saffron dan almond, berwarna kuning keemasan
seperti butiran-butiran emas. Ada ikan-ikan segar dari Sungai Tigris, digoreng
dengan minyak zaitun dan disajikan dengan saus delima yang asam manis. Ada
puluhan jenis manisan: baklava dengan lapisan madu dan kacang pistachio, halwa
dari tepung dan gula mawar, kurma yang diisi dengan krim almond, dan
buah-buahan segar dari seluruh penjuru kekhalifahan: anggur dari Syam, delima
dari Persia, apel dari Armenia, dan buah ara dari Yaman.
Di tengah aula, sebuah air mancur marmer menyemburkan air
mawar yang harumnya bercampur dengan aroma dupa dari pembakar-pembakar emas
yang ditempatkan di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang memabukkan
bagi indra.
Semua undangan hadir, mengenakan pakaian terbaik mereka.
Para pejabat tinggi kekhalifahan duduk di sisi kanan singgasana, dengan
jubah-jubah sutra berwarna-warni yang menunjukkan pangkat dan kekayaan mereka.
Di barisan depan, duduk Wazir Jafar dengan jubah hijau zamrud yang disulam
emas, sorban tingginya yang khas, dan wajah yang meskipun berusaha tenang, tetap
menunjukkan kegelisahan.
Para komandan militer duduk di sisi kiri singgasana, dengan
jubah-jubah militer berwarna hitam atau biru tua, dada mereka dihiasi dengan
medali-medali emas dan perak. Panglima Elit Hafshiyah, seorang lelaki kekar
dengan janggut lebat yang sudah memutih di beberapa bagian, duduk di ujung
barisan dengan tangan disilangkan di dada, matanya terus mengawasi setiap orang
yang masuk.
Di barisan depan, tepat di sebelah kanan singgasana, duduk
keluarga Baginda Raja Harun Al-Rasid. Putri Zubaidah, istri tercinta Harun
Al-Rasyid, hadir dengan kemegahan yang tak tertandingi. Jubahnya dari sutra
hitam dengan sulaman benang emas yang membentuk pola bunga-bunga melati,
kerudungnya dari kain tule tipis yang dihiasi mutiara-mutiara kecil, dan di lehernya,
sebuah kalung zamrud yang konon nilainya setara dengan pajak satu provinsi
selama setahun. Wajahnya yang cantik dengan fitur halus khas keturunan Arab dan
Persia, tampak dingin dan anggun, tetapi matanya yang hitam pekat bergerak
cepat mengamati setiap orang di ruangan.
Di sampingnya duduk putra mahkota Al-Amin, pemuda berusia
dua puluh tiga tahun dengan wajah tampan yang sedikit terlalu manis, jubah
sutra biru muda yang disulam perak, dan ekspresi bosan yang tidak pernah lepas
dari wajahnya. Ia memainkan jari-jarinya di atas meja, sesekali melirik ke arah
piring-piring makanan dengan lebih banyak minat daripada ke arah orang-orang di
sekitarnya.
Di sisi lain Putri Zubaidah, duduk pangeran kedua
Al-Ma’mun. Berbeda dengan kakaknya, Al-Ma’mun adalah pemuda berusia dua puluh
tahun dengan wajah yang lebih serius, matanya yang dalam dan tajam menunjukkan
kecerdasan yang melampaui usianya. Ia tidak menunjukkan kebosanan. Sebaliknya,
matanya bergerak perlahan, tenang, mengamati setiap orang di ruangan itu dengan
saksama, seolah-olah sedang membaca pikiran mereka dari ekspresi wajah dan
gerakan tubuh mereka. Ia mengenakan jubah sederhana berwarna abu-abu, tanpa
perhiasan berlebihan, sebuah pernyataan diam-diam tentang seleranya yang
berbeda dari keluarganya.
Ada pula para dayang senior, para penasihat istana, para
ulama terkemuka, dan tokoh-tokoh masyarakat Baghdad yang diundang khusus:
seorang saudagar karpet kaya yang dikenal sebagai dermawan kota, seorang kadi
terkenal yang bijaksana, dan seorang penyair populer yang syair-syairnya
dinyanyikan di seluruh Baghdad.
Namun yang paling mencuri perhatian adalah meja panjang di
sudut aula, dekat dengan pintu masuk, tempat Abu Nawas duduk dengan santainya.
Ia mengenakan jubah baru pemberian Jafar—sutra hijau muda dengan sedikit
sulaman perak di ujung lengan—yang sedikit terlalu besar untuk tubuhnya yang
kurus, sehingga membuatnya terlihat seperti anak kecil yang memakai baju
ayahnya. Sorban yang dipakainya juga terlalu besar, terus menerus melorot ke
depan menutupi matanya, sehingga ia harus sesekali mendorongnya ke belakang
dengan gerakan yang menggelikan.
Ia duduk dengan kaki bersila di atas bantal sutra,
piringnya sudah penuh dengan tumpukan makanan yang hampir tidak mungkin
dihabiskan oleh manusia normal. Di depannya, ada setidaknya sepuluh jenis
hidangan yang sudah ia cicipi, dengan komentar-komentar keras yang bisa
didengar oleh siapa pun yang cukup dekat.
“Domba ini,” katanya kepada pelayan yang melayani mejanya,
“dimasak dengan madu yang terlalu banyak. Madu harusnya hanya sentuhan, bukan
banjir. Siapa juru masaknya? Suruh dia belajar dari ibuku—almarhumah—yang
membuat domba panggang dengan madu yang pas di lidah.”
Pelayan itu tersenyum canggung, tidak tahu harus menjawab
apa.
“Dan nasi saffron ini,” lanjut Abu Nawas, mengunyah dengan
keras, “saffronnya terlalu sedikit. Warnanya pucat seperti wajah menteri yang
ketahuan korupsi. Siapa yang mengawasi dapur? Suruh mereka menambah saffron dua
kali lipat besok.”
Jafar yang mendengar dari kejauhan menutup wajahnya dengan
telapak tangan. Ya Allah, selamatkan aku dari orang gila ini.
Beberapa tamu di meja dekat Abu Nawas mulai tertawa geli
mendengar komentar-komentarnya yang berani. Yang lain merasa terganggu,
menganggapnya tidak sopan. Tapi Abu Nawas tidak peduli. Ia terus makan dengan
lahap, sesekali melambai kepada orang-orang yang dikenalnya, tertawa keras pada
leluconnya sendiri, dan secara umum berperilaku seperti seorang yang sama
sekali tidak menyadari bahwa ia berada di acara paling penting di istana
setelah terjadinya bencana terbesar.
Setelah hidangan utama selesai dan buah-buahan serta
manisan mulai dihidangkan, suasana aula mulai sedikit mereda. Para tamu sudah
mulai kenyang, mulai santai, mulai berbisik-bisik satu sama lain tentang
berbagai hal—tentang kabar dari provinsi lain, tentang harga-harga di pasar,
tentang gosip-gosip terbaru di istana.
Namun ketegangan yang mendasari tetap ada, seperti arus di
bawah permukaan sungai yang tenang. Setiap orang tahu bahwa perjamuan ini bukan
perjamuan biasa. Perjamuan ini diadakan oleh Abu Nawas, atas izin Baginda Raja,
di tengah-tengah krisis terbesar yang pernah melanda istana. Dan setiap orang
bertanya-tanya: apa yang akan dilakukan orang gila itu?
Baginda Raja Harun Al-Rasyid, yang selama makan hampir
tidak menyentuh makanannya, duduk di singgasananya yang tinggi di ujung
ruangan. Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam dengan sulaman emas yang
membentuk ayat-ayat suci, dan di kepalanya—karena mahkota asli masih belum
ditemukan—dikenakan mahkota sementara dari emas dan safir. Mahkota itu indah,
tetapi tidak semegah yang asli, dan semua orang di ruangan itu tahu
perbedaannya.
Baginda Raja mengangkat tangannya.
Seluruh aula hening seketika. Bahkan Abu Nawas berhenti
mengunyah.
“Para hadirin yang terhormat,” suara Baginda Raja bergema
di ruangan besar itu, tidak perlu berteriak, karena keheningan begitu sempurna
sehingga bisikan pun akan terdengar. “Kita berkumpul di sini malam ini bukan
hanya untuk berpesta. Seperti yang kalian semua ketahui, kekhalifahan kita sedang
diuji. Sebuah benda yang sangat berharga—lambang kekuasaan dan kebesaran
kekhalifahan—telah hilang dari istana ini. Hilang tanpa jejak, tanpa bekas,
tanpa petunjuk yang jelas. Dan hari ini, seorang yang terkenal dengan
kecerdikannya, seorang yang sering membuat kita tertawa dengan
lawakan-lawakannya yang konyol, telah meminta untuk berbicara di hadapan kalian
semua. Ia mengklaim bahwa ia memiliki cara untuk menemukan mahkota yang
hilang.”
Ia menoleh ke arah sudut ruangan.
“Abu Nawas.”
Semua mata beralih ke arah Abu Nawas, yang sedang menyendok
puding susu ke dalam mulutnya dengan konsentrasi tinggi.
Abu Nawas meneguk pudingnya, lalu berdiri dengan gerakan
malas yang tiba-tiba menjadi anggun. Ia mendorong sorban yang melorot ke
belakang, merapikan jubah besarnya, dan berjalan ke tengah aula dengan langkah
seorang pemain sandiwara yang percaya diri.
Di tengah aula, ia berhenti, berputar perlahan untuk
menatap semua hadirin. Ratusan pasang mata tertuju padanya. Ada yang sinis, ada
yang penasaran, ada yang gelisah, ada yang jengkel. Abu Nawas tersenyum lebar,
senyum yang sama yang biasa ia gunakan di pasar sebelum memulai sebuah cerita.
“Baginda Raja Harun Al-Rasid, Amirul Mukminin, semoga Allah
memanjangkan umur Baginda dan melimpahkan rahmat-Nya kepada seluruh keluarga
kerajaan,” ia memulai dengan suara yang lantang dan jelas, sangat berbeda dari
nada lawakannya yang biasa. “Para wazir, para menteri, para panglima, para
ulama, para bangsawan, dan semua hadirin yang mulia.”
Ia berjalan mondar-mandir di tengah aula, jubah besarnya
berkibar setiap kali ia berputar.
“Saya bukan detektif. Saya bukan hakim. Saya bukan ahli
sihir yang bisa melihat masa depan. Saya hanyalah seorang pecinta kurma,
pecinta teka-teki, dan—saya akui—kadang-kadang pecinta anggur, meskipun malam
ini saya tidak meminumnya karena saya sedang berpuasa akal. Tapi malam ini,
Baginda Raja telah memercayakan saya sebuah tugas yang sangat berat: menemukan
mahkota yang hilang.”
Ia berhenti di tengah aula, menghadap langsung ke arah
singgasana.
“Saya sudah berbicara dengan para penjaga. Saya sudah
memeriksa pintu yang terkunci. Saya sudah menghirup wewangian di barak-barak
penjaga. Saya sudah merasakan air kolam di taman dalam. Dan saya sampai pada
satu kesimpulan…”
Ia berputar lagi, kali ini menghadap ke arah tamu undangan.
Suaranya turun menjadi nada yang lebih pelan, lebih misterius.
“…pencuri mahkota ini bukanlah seorang penyusup. Bukan
pencuri biasa yang masuk dari luar tembok istana. Bukan pula seorang ahli sihir
yang bisa menembus dinding. Pencuri ini adalah salah satu dari kita. Ia ada di
ruangan ini. Saat ini. Di antara kita semua.”
Aula langsung riuh. Para tamu saling berpandangan dengan
wajah tegang. Ada yang mulai berbisik-bisik dengan tetangganya, ada yang
menunjuk-nunjuk dengan curiga ke arah orang lain, ada yang mencoba tersenyum
untuk menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah tetapi senyum mereka kaku dan
tidak alami.
Jafar berdiri dari tempat duduknya, wajahnya memucat. “Abu
Nawas! Hati-hati dengan tuduhanmu! Ini bukan lelucon pasar!”
“Ini bukan tuduhan, Wazirku yang mulia,” kata Abu Nawas
dengan tenang. “Ini adalah observasi. Saya tidak menyebut nama. Saya tidak
menunjuk orang. Saya hanya mengatakan bahwa pencuri itu ada di ruangan ini. Dan
saya yakin, pencuri itu tahu bahwa saya tahu.”
Suasana menjadi semakin tegang. Putri Zubaidah menegang di
tempat duduknya, jari-jarinya yang bertatahkan cincin berlian menggenggam erat
lengan singgasananya. Al-Amin, putra mahkota, berhenti memainkan jarinya dan
menatap Abu Nawas dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara penasaran dan
waspada. Al-Ma’mun tetap tenang, matanya tidak berubah, terus mengamati dengan
saksama.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid, yang sejak tadi diam,
akhirnya bersuara. Suaranya dingin, terkendali. “Abu Nawas, kau mengundang kami
semua ke sini untuk mendengar tuduhan tanpa bukti?”
“Bukan tuduhan, Baginda,” Abu Nawas membungkuk hormat.
“Saya mengundang semua hadirin ke sini untuk… bermain.”
“Bermain?” Baginda Raja mengangkat alis.
“Ya, Baginda. Saya percaya bahwa pencuri itu adalah seorang
yang cerdik, yang menyukai teka-teki, yang merasa tertantang oleh kecerdasan.
Dan orang seperti itu, Baginda, tidak akan bisa menolak sebuah permainan.
Sebuah permainan teka-teki.”
Ia berjalan ke tengah aula lagi, dan kini semua mata
tertuju padanya dengan intensitas yang luar biasa.
“Dengarkan teka-teki pertama saya, para hadirin yang mulia:
‘Aku adalah bayangan yang tak punya tubuh.
Aku bisa masuk tanpa membuka pintu.
Aku bisa mengambil tanpa menyentuh.
Aku bisa menghilang tanpa jejak.
Siapakah aku?’”
Aula hening sejenak, lalu riuh dengan berbagai jawaban. Ada
yang menjawab “angin”, ada yang menjawab “mimpi”, ada yang menjawab “kematian”,
ada yang menjawab “waktu”. Baginda Raja sendiri tampak berpikir keras, alisnya
berkerut.
Abu Nawas menggeleng. “Bukan. Bukan itu jawabannya. Biarlah
teka-teki ini menggantung di udara. Saya akan memberikan petunjuk lain. Saya
akan menceritakan sebuah mimpi.”
Ia duduk bersila di tengah aula, dengan gaya seperti
seorang pendongeng di pasar malam, membuat beberapa tamu yang sudah terbiasa
dengan lawakannya tersenyum. Namun ada juga yang tegang, tidak yakin apa yang
akan keluar dari mulut orang gila itu.
“Tadi malam, saya bermimpi,” katanya dengan suara yang
dalam dan misterius. “Dalam mimpi itu, saya melihat sebuah istana yang megah,
dengan tiang-tiang marmer putih dan kubah-kubah emas. Di dalam istana itu, ada
tujuh pintu besar, masing-masing dijaga oleh seorang penjaga yang memegang
kunci emas. Tapi di antara ketujuh pintu itu, ada satu lorong gelap yang tidak
dijaga. Di ujung lorong itu, saya melihat bayangan seseorang. Bayangan itu
besar, lebih besar dari manusia biasa, dan di kepalanya, ada sesuatu yang
bercahaya.”
Ia berhenti, membiarkan kata-katanya meresap.
“Saya mendekati bayangan itu, dan bayangan itu berkata,
‘Kau tidak akan pernah menemukan mahkotaku selama kau mencari benda. Carilah
aku di tempat yang paling tidak mungkin kau cari. Carilah aku di tempat yang
paling gelap namun paling terang bercahaya.’ Lalu bayangan itu tertawa, dan
saya terbangun.”
Aula sunyi. Beberapa tamu tampak merinding mendengar cerita
itu.
Abu Nawas berdiri lagi, dan kini matanya berkilat.
“Mimpi ini mungkin hanya omong kosong seorang pemabuk yang
kurang tidur. Tapi siapa tahu? Mungkin mimpi ini adalah petunjuk. Mungkin mimpi
ini adalah ilham. Karena itu, saya mohon izin kepada Baginda Raja untuk
melakukan sesuatu yang mungkin terasa aneh.”
Harun Al-Rasyid menatap Abu Nawas dengan mata yang sulit
dibaca. “Lakukan.”
“Saya ingin semua lampu di aula ini dipadamkan.”
Jafar kembali berdiri. “Apa?! Ini tidak masuk akal!
Bagaimana kita bisa—”
“Biarkan,” titah Baginda Raja, suaranya tidak meninggi
tetapi tidak bisa dibantah. “Lakukan.”
Para pelayan mulai memadamkan lampu minyak satu per satu,
dari yang terjauh hingga yang terdekat. Aula yang tadinya terang benderang
perlahan tenggelam dalam kegelapan. Para tamu mulai gelisah, ada yang meraih
tangan tetangganya, ada yang bergeser di tempat duduknya.
Ketika hanya tersisa beberapa obor di dinding yang masih
menyala, memberikan cahaya remang-remang yang menciptakan bayangan panjang di
setiap sudut, Abu Nawas berkata dengan suara yang bergema di ruangan yang
gelap:
“Sekarang, perhatikan bayangan kalian masing-masing.
Lihatlah ke dinding. Apakah ada bayangan yang tidak memiliki pemilik?”
Keheningan yang mencekam menyelimuti aula. Para tamu
menatap dinding-dinding di sekeliling mereka, melihat bayangan mereka sendiri
bergoyang-goyang karena cahaya obor yang berkedip.
Tiba-tiba, seseorang berteriak.
“Lihat! Di sana! Bayangan itu!”
Semua mata menoleh ke arah dinding timur aula. Di sana, di
antara bayangan-bayangan para tamu yang duduk di meja, ada satu bayangan yang
berdiri sendiri. Bayangan seorang manusia dengan postur tegak, dan di
kepalanya, ada bentuk yang jelas—sebuah mahkota.
Tapi ketika para pelayan segera menyalakan kembali
lampu-lampu, tidak ada siapa pun yang berdiri di tempat di mana bayangan itu
muncul. Dinding itu kosong. Tidak ada seorang pun.
Aula menjadi kacau. Para tamu berdiri dari tempat duduk
mereka, saling bertanya, saling menuduh, saling panik. Suara-suara bercampur
menjadi hiruk-pikuk yang tidak terkendali.
Di tengah kekacauan itu, Abu Nawas berdiri diam di tengah
aula, matanya tertuju pada satu orang.
Orang itu tidak panik. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Ia
hanya duduk diam di tempatnya, dengan senyum tipis di bibirnya, seolah-olah ia
sudah menunggu ini sejak lama.
Pangeran Al-Ma’mun.
Abu Nawas tersenyum. Perlahan, ia berjalan mendekati arah
tempat Al-Ma’mun duduk, dan berhenti beberapa langkah di depannya.
“Yang Mulia Pangeran,” katanya dengan suara yang cukup
keras untuk didengar oleh mereka yang berada di sekitarnya, namun tidak cukup
untuk menguasai hiruk-pikuk yang masih berlangsung. “Apakah Yang Mulia
menikmati permainan ini?”
Al-Ma’mun menatap Abu Nawas dengan tenang. Matanya tidak menunjukkan
ketakutan, tidak menunjukkan kemarahan, hanya ketenangan yang mendalam.
“Abu Nawas,” katanya dengan suara yang lembut namun jelas,
“apakah kau menuduhku?”
“Saya tidak menuduh, Yang Mulia,” kata Abu Nawas dengan
hormat. “Saya hanya mengajak Yang Mulia untuk membantu saya memecahkan
teka-teki terakhir.”
“Teka-teki apa?”
Abu Nawas mendekat, menunduk sedikit, dan berbisik dengan
suara yang hanya bisa didengar oleh Al-Ma’mun dan beberapa orang di sekitarnya.
“Teka-teki tentang bayangan yang tak punya tubuh.”
BAB 6: TAWA DI BALIK KETEGANGAN
Baginda Harun Al-Rasid Harun Al-Rasyid, yang dari
singgasananya mengamati seluruh kejadian dengan mata yang semakin tajam,
akhirnya berdiri. Ketika Baginda Raja berdiri, seluruh aula yang kacau itu
langsung sunyi, seperti ombak yang tiba-tiba berhenti di tengah lautan.
“Abu Nawas,” suara Baginda Raja dingin, tidak meninggi
tetapi memotong udara seperti pedang, “apa yang baru saja terjadi? Bayangan
tanpa tubuh? Ini sulap? Atau ini bagian dari penyelidikanmu?”
Abu Nawas berbalik menghadap Baginda Raja, meninggalkan
Al-Ma’mun yang masih duduk tenang di tempatnya. Ia berjalan ke tengah aula,
lalu berlutut dengan hormat.
“Baginda, yang baru saja terjadi bukanlah sulap. Itu adalah
eksperimen kecil. Saya ingin melihat bagaimana setiap orang bereaksi terhadap
kejadian yang tidak biasa. Karena dalam ketakutan, kebenaran seringkali muncul
dengan sendirinya.”
“Dan apa yang kau temukan?”
Abu Nawas berdiri, menatap langsung ke mata Baginda Raja.
“Baginda, sebelum saya menjawab, izinkan saya bertanya satu
hal kepada Baginda.”
Harun Al-Rasyid mengangkat alis, tetapi mengangguk.
“Tanya.”
“Apakah Baginda percaya bahwa mahkota yang hilang dapat
ditemukan kembali?”
“Itu sebabnya kau di sini, Abu Nawas.”
“Bagus. Maka Baginda harus bersabar. Karena kebenaran,
seperti kurma yang matang, tidak bisa dipetik sebelum waktunya. Jika dipaksa,
ia akan hancur di tangan.”
Baginda Raja menatap Abu Nawas lama. Ada kilatan kemarahan
di matanya, tetapi juga ada rasa ingin tahu yang sulit dipadamkan.
“Kau bermain dengan kesabaranku, Abu Nawas.”
“Bukan bermain, Baginda. Saya sedang belajar. Saya sedang
mempelajari setiap orang di ruangan ini. Gerakan mereka, ekspresi mereka,
reaksi mereka terhadap ketakutan. Dan saya sudah mulai melihat pola.”
“Pola apa?”
Abu Nawas tersenyum, tetapi kali ini senyumnya tidak
main-main. Ada sesuatu yang serius di balik bibir yang tersenyum itu.
“Baginda, izinkan saya untuk melanjutkan permainan ini.
Saya janji, sebelum malam ini berakhir, mahkota Baginda akan kembali ke tempatnya.”
Harun Al-Rasyid terdiam sejenak. Seluruh aula menahan
napas.
“Kau punya waktu hingga fajar, Abu Nawas,” katanya
akhirnya. “Jika hingga fajar mahkotaku belum kembali, kau tahu konsekuensinya.”
“Saya tahu, Baginda.”
Abu Nawas berdiri, berbalik menghadap para tamu yang masih
dalam keadaan tegang.
“Para hadirin yang mulia,” katanya dengan suara yang
kembali ceria, seperti seorang penghibur panggung yang sedang memulai
pertunjukan. “Saya minta maaf telah mengganggu perjamuan malam ini dengan
teka-teki dan mimpi yang membingungkan. Sebagai gantinya, izinkan saya
menghibur kalian dengan sebuah cerita. Cerita tentang seorang raja, seorang
wazir, dan seekor keledai yang lebih pintar dari keduanya.”
Beberapa tamu tertawa gugup. Yang lain masih tegang, tidak
yakin apakah ini saat yang tepat untuk tertawa.
Abu Nawas mulai bercerita dengan penuh semangat,
menggunakan tangan dan wajahnya untuk meniru berbagai karakter. Ia bercerita
tentang seorang raja yang sombong yang mengira dirinya paling pintar di dunia,
sampai suatu hari ia bertemu dengan seekor keledai yang bisa berbicara dan
mengajarinya bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari singgasana.
Ceritanya lucu, penuh dengan lelucon cerdas dan sindiran
halus yang membuat beberapa tamu tertawa terbahak-bahak, sementara yang
lain—terutama para pejabat tinggi—tersenyum canggung, tidak yakin apakah mereka
sedang diejek atau tidak.
Di tengah ceritanya, Abu Nawas dengan cerdik menyisipkan
pertanyaan-pertanyaan seolah-olah sebagai bagian dari cerita, tetapi sebenarnya
ditujukan kepada orang-orang tertentu di ruangan itu.
“Dalam cerita ini, wahai hadirin,” katanya sambil berjalan
mendekati meja para komandan militer, “raja itu bertanya kepada keledai, ‘Hai
keledai, bagaimana caramu bisa berbicara?’ Dan keledai itu menjawab, ‘Wahai
raja, saya bisa berbicara karena saya tidak pernah takut pada siapa pun. Dan
karena tidak takut, saya bisa melihat kebenaran dengan jelas. Contohnya, saya
bisa melihat bahwa di antara para menterimu, ada yang menyembunyikan sesuatu di
balik jubahnya.’”
Ia berhenti di depan seorang komandan, tertawa, lalu
berjalan menjauh. Komandan itu menghela napas lega.
Ia berjalan mendekati meja para dayang senior, di mana
beberapa wanita tua dengan wajah-wajah keriput namun masih anggun duduk dengan
postur sempurna.
“Dalam cerita ini, lanjut Abu Nawas, “keledai itu berkata
kepada raja, ‘Wahai raja, tahukah engkau bahwa di istanamu, ada seorang dayang
yang memiliki wewangian melati yang sangat harum? Wewangian itu konon hanya
digunakan oleh wanita-wanita yang memiliki rahasia cinta yang tersembunyi.’”
Ia tertawa, lalu berjalan menjauh. Seorang dayang senior di
ujung meja memucat, tangannya meremas saputangan dengan kuat.
Abu Nawas berjalan mendekati meja keluarga Baginda Raja. Ia
berhenti di depan Putri Zubaidah, membungkuk hormat.
“Yang Mulia Putri,” katanya dengan suara yang tiba-tiba
lembut, “apakah Yang Mulia menikmati cerita saya?”
Zubaidah menatapnya dengan mata dingin. “Ceritamu
menghibur, Abu Nawas. Tapi aku lebih suka jika kau segera menemukan mahkota
daripada membuang-buang waktu dengan cerita keledai.”
“Yang Mulia benar,” Abu Nawas tersenyum. “Tapi
kadang-kadang, untuk menemukan mahkota, kita harus mendengarkan terlebih dahulu
cerita-cerita kecil. Karena di dalam cerita kecil, sering tersembunyi kebenaran
besar.”
Ia melangkah ke samping, berdiri di depan Pangeran Al-Amin.
Putra mahkota itu menatapnya dengan ekspresi setengah bosan setengah penasaran.
“Yang Mulia Putra Mahkota,” sapa Abu Nawas. “Apakah Yang
Mulia memiliki teka-teki favorit?”
Al-Amin mengangkat bahu. “Aku tidak suka teka-teki. Terlalu
banyak berpikir.”
“Ah, kata-kata yang bijaksana, Yang Mulia. Terkadang,
terlalu banyak berpikir justru membuat kita kehilangan hal-hal sederhana di
depan mata.”
Ia melangkah lagi, dan kini ia berdiri tepat di hadapan
Pangeran Al-Ma’mun.
Al-Ma’mun menatapnya dengan tenang. Tidak ada ekspresi
ketakutan, tidak ada kemarahan, hanya ketenangan yang mendalam.
“Yang Mulia Pangeran Al-Ma’mun,” kata Abu Nawas dengan
suara yang lebih pelan, nyaris berbisik, tetapi masih terdengar oleh
orang-orang di sekitarnya. “Dalam cerita saya tadi, keledai itu berkata bahwa
kebenaran sering muncul ketika seseorang tidak takut. Apakah Yang Mulia setuju
dengan pernyataan itu?”
Al-Ma’mun tersenyum tipis. “Aku setuju, Abu Nawas. Tapi
kebenaran juga bisa muncul dari keberanian untuk mengakui kesalahan.”
Abu Nawas mengangguk perlahan. “Kata-kata yang bijaksana,
Yang Mulia. Lebih bijaksana dari usia Yang Mulia.”
Ia berbalik dan kembali ke tengah aula. Di sana, ia berdiri
diam sejenak, matanya terpejam, seolah-olah sedang mengumpulkan pikirannya.
Kemudian ia membuka matanya, dan senyumnya yang
biasa—senyum lebar, ceroboh, penuh lelucon—kembali ke wajahnya.
“Baginda Raja, para hadirin,” katanya dengan suara lantang.
“Saya sudah selesai dengan cerita saya. Sekarang, izinkan saya untuk mengajukan
satu permintaan terakhir.”
“Permintaan apa?” tanya Baginda Raja Harun Al-Rasyid.
“Saya ingin semua orang yang hadir di sini untuk menuliskan
di selembar kertas, secara rahasia, nama orang yang mereka curigai sebagai
pencuri mahkota. Kertas itu akan dikumpulkan, dan saya akan membacanya di depan
semua orang.”
Aula kembali riuh. Beberapa tamu keberatan, merasa ini
adalah cara yang tidak adil untuk menuduh orang.
Namun Baginda Raja Harun Al-Rasyid, dengan rasa ingin tahu
yang semakin besar, mengangguk. “Lakukan.”
Kertas-kertas kecil dibagikan, dan para tamu mulai menulis.
Ada yang menulis dengan cepat, ada yang berpikir lama, ada yang menulis lalu
mencoretnya dan menulis ulang.
Setelah semua kertas terkumpul, Abu Nawas mengambil
tumpukan kertas itu, berdiri di tengah aula, dan mulai membacanya satu per
satu.
“Mahmud, penjaga,” ia membaca. “Fadil, penjaga. Usman,
penjaga. Hisham, penjaga. Samir, penjaga cadangan. Seorang dayang yang tidak
disebut namanya. Seorang komandan yang tidak disebut namanya. Seorang menteri
yang tidak disebut namanya.”
Ia terus membaca, dan setiap nama yang disebut membuat
orang yang bersangkutan tegang.
Kemudian ia berhenti pada satu kertas.
Ia menatap kertas itu lama. Aula sunyi.
“Dan di sini,” katanya perlahan, “ada satu nama yang muncul
paling sering. Tiga belas kali, dari seratus dua puluh kertas yang terkumpul.”
Ia mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.
“Pangeran Al-Ma’mun.”
Aula bergemuruh. Semua mata tertuju pada pangeran muda yang
duduk tenang di tempatnya.
Al-Ma’mun tidak bergerak. Tidak berubah warna. Ia hanya
menatap Abu Nawas dengan mata yang jernih.
“Abu Nawas,” katanya, “apakah kau percaya pada tuduhan dari
kertas-kertas itu?”
Abu Nawas meletakkan tumpukan kertas itu di lantai. “Saya
tidak percaya pada tuduhan, Yang Mulia. Saya percaya pada bukti.”
“Maka tunjukkan buktimu.”
“Dengan senang hati, Yang Mulia.”
BAB 7: MIMPI ATAU PETUNJUK?
Abu Nawas berjalan mendekati Al-Ma’mun, dan untuk pertama
kalinya malam itu, semua orang bisa melihat bahwa ia tidak lagi bercanda.
Wajahnya serius, matanya tajam, semua sisa-sisa kelalaiannya telah lenyap.
“Yang Mulia Pangeran Al-Ma’mun,” katanya dengan suara yang
tenang namun tegas, “sebelum saya menunjukkan bukti, izinkan saya bertanya kepada
Yang Mulia: apakah Yang Mulia mengenal seorang dayang bernama Laila?”
Nama itu seperti petir di siang bolong. Beberapa dayang
senior saling berpandangan. Seorang dayang muda di barisan belakang memucat dan
nyaris pingsan.
Al-Ma’mun tidak berubah ekspresi. “Laila adalah dayang
pribadiku. Ada apa dengan Laila?”
“Laila,” Abu Nawas berjalan mondar-mandir, “adalah seorang
dayang yang dikenal karena wewangian melatinya yang khas. Wewangian yang sama
yang saya cium di bantal Hisham, penjaga yang sakit kepala malam kejadian dan
tidak ingat apa-apa.”
Aula berbisik-bisik. Al-Ma’mun menegang untuk pertama
kalinya.
“Apakah kau menuduh Laila?”
“Saya tidak menuduh Laila, Yang Mulia. Saya menuduh bahwa
Laila mengetahui sesuatu tentang malam itu. Dan melalui Laila, saya bisa sampai
pada kebenaran.”
Ia berbalik menghadap Baginda Raja.
“Baginda, izinkan saya untuk memanggil Laila ke sini.”
Harun Al-Rasyid mengangguk. “Panggil.”
Beberapa saat kemudian, seorang dayang muda masuk ke aula.
Ia berjalan dengan langkah gemetar, wajahnya pucat pasi, dan ketika ia melihat
Al-Ma’mun, matanya langsung berkaca-kaca.
“Laila,” Abu Nawas menyapanya dengan lembut. “Kau tidak
perlu takut. Aku hanya ingin bertanya satu hal. Malam ketika mahkota hilang,
apakah kau pergi ke barak penjaga?”
Laila membeku. Air matanya mulai menetes. Ia menoleh ke
arah Al-Ma’mun, seolah-olah memohon pertolongan.
Al-Ma’mun berdiri. “Abu Nawas, ini sudah cukup. Laila tidak
ada hubungannya dengan ini.”
“Kalau begitu, Yang Mulia,” Abu Nawas berbalik menghadap
Al-Ma’mun, “mungkin Yang Mulia sendiri yang mau menjelaskan?”
Aula sunyi. Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri dari
singgasananya.
“Al-Ma’mun,” suaranya dingin, “anakku, apa yang terjadi?”
Al-Ma’mun menatap ayahnya. Untuk pertama kalinya malam itu,
ekspresi tenangnya retak. Ada sesuatu di matanya—bukan ketakutan, tetapi
kemarahan yang terkendali, dan kesedihan yang mendalam.
“Ayahanda,” katanya, “sebelum aku menjawab, izinkan aku
bertanya pada Abu Nawas satu hal.”
Ia menatap Abu Nawas.
“Abu Nawas, kau mengatakan bahwa kau bermimpi tentang
bayangan dengan mahkota. Apakah itu benar-benar mimpi? Atau… itu hanya
jebakan?”
Abu Nawas tersenyum. “Yang Mulia, saya tidak pernah
bermimpi tentang bayangan. Saya tidak pernah mendapat ilham. Saya hanya
berbohong.”
Aula bergemuruh. Bahkan Harun Al-Rasyid tampak terkejut.
“Kau berbohong?” ulang Al-Ma’mun.
“Ya, Yang Mulia. Saya berbohong tentang mimpi itu. Saya
berbohong tentang bayangan tanpa tubuh. Saya bahkan menyuruh seorang pelayan
untuk menciptakan bayangan palsu di dinding dengan obor yang digerakkan dari
balik tirai. Semua itu adalah jebakan.”
“Untuk apa?”
“Untuk melihat reaksi semua orang. Untuk melihat siapa yang
paling gelisah, siapa yang paling tenang, siapa yang paling ingin tahu, dan
siapa yang…” ia berhenti, menatap langsung ke mata Al-Ma’mun, “…siapa yang
sudah tahu jawaban dari teka-teki itu sebelum saya selesai mengucapkannya.”
Al-Ma’mun terdiam.
“Yang Mulia,” lanjut Abu Nawas, “ketika saya mengucapkan
teka-teki tentang bayangan yang tak punya tubuh, semua orang di ruangan ini
berpikir keras. Semua orang kecuali Yang Mulia. Yang Mulia sudah tahu
jawabannya sejak awal. Dan Yang Mulia tahu jawabannya karena… Yang Mulia adalah
orang yang menciptakan teka-teki itu sendiri.”
Al-Ma’mun menunduk. Untuk pertama kalinya, pundaknya yang
tegap itu tampak merosot.
“Bagaimana kau tahu?” tanyanya, suaranya nyaris berbisik.
“Karena hanya orang yang tahu persis bagaimana mahkota itu
diambil yang bisa langsung memahami teka-teki tentang bayangan. Hanya orang
yang tahu bahwa mahkota itu diambil tanpa meninggalkan jejak, tanpa membuka
pintu, tanpa menyentuh apa pun—seolah-olah diambil oleh bayangan.”
Abu Nawas berjalan mendekati Al-Ma’mun.
“Dan hanya orang yang sangat mengenal istana ini, yang tahu
persis di mana letak panel rahasia di balik tiang aula ini, yang bisa
menyembunyikan sesuatu di tempat yang paling tidak mungkin dicari.”
Ia menoleh ke arah tiang marmer besar di sisi timur
aula—tiang yang sama yang menjadi tempat bayangan palsu muncul tadi malam.
“Di dalam tiang itu, Yang Mulia, ada ruang kosong. Dibuat
oleh arsitek istana zaman dulu sebagai tempat penyimpanan darurat. Hanya
sedikit orang yang mengetahuinya. Keluarga Baginda Raja adalah salah satunya.”
Ia berjalan ke tiang itu, menyentuh ukiran di bagian
bawahnya. Terdengar bunyi klik, dan sebuah panel kecil terbuka.
Dari dalam panel itu, Abu Nawas mengeluarkan Mahkota Emas
Al-Ma’mun.
Rubi sebesar telur merpati itu memancarkan cahaya merah
seperti api yang membara di bawah lampu-lampu aula. Zamrud dari lembah Indus
bercahaya hijau dalam gelap, menciptakan aura mistis di sekeliling mahkota itu.
Emasnya yang berkilau memantulkan cahaya ribuan lampu, menciptakan lingkaran
cahaya yang membuat semua orang yang melihatnya terkesima.
Abu Nawas membawa mahkota itu ke hadapan Baginda Raja,
berlutut, dan menyerahkannya dengan kedua tangan.
“Baginda, Mahkota Emas Al-Ma’mun kembali ke tangan yang
sah.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengambil mahkota itu. Ia
menatapnya lama, seolah-olah memastikan bahwa ini bukan ilusi. Kemudian ia
meletakkannya di pangkuannya dan menatap putranya.
Al-Ma’mun telah berlutut. Di sampingnya, Laila menangis
tersedu-sedu.
“Ayahanda,” kata Al-Ma’mun, suaranya bergetar tetapi tidak
pecah, “aku yang mengambil mahkota itu.”
BAB 8: BAYANGAN YANG MULAI TERUNGKAP
Aula yang tadinya riuh menjadi sunyi senyap. Sunyi yang
begitu dalam hingga suara tetesan air dari air mancur di tengah ruangan
terdengar jelas seperti dentuman.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan
mahkota di pangkuannya. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tidak menunjukkan
kekecewaan. Yang ada adalah kehampaan—seorang ayah yang baru saja mengetahui
bahwa anaknya sendiri telah mengkhianati kepercayaannya.
“Al-Ma’mun,” katanya, suaranya rendah dan berat, “anakku.
Putra kedua dari darah dagingku. Yang kupersiapkan sejak kecil untuk menjadi
pemimpin, untuk memahami ilmu pemerintahan, untuk belajar keadilan dari para
hakim terbaik di kekhalifahan. Dan kau… kau mencuri mahkota ayahmu sendiri.”
Al-Ma’mun mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca,
tetapi tidak ada air mata yang jatuh.
“Ayahanda,” katanya, “aku tidak mencuri mahkota untuk
menjualnya. Aku tidak mencurinya untuk kekayaan. Aku… aku meminjamnya. Untuk
menyampaikan pesan.”
“Pesan?” Harun Al-Rasyid berdiri, mahkota di tangannya.
“Pesan apa yang bisa disampaikan dengan mencuri lambang kekuasaan ayahmu?
Dengan membuat seluruh istana panik? Dengan membuat para penjaga yang tidak
bersalah disiksa? Dengan membuat ibumu ketakutan, membuat saudara-saudaramu
curiga satu sama lain?”
“Pesan bahwa kekuasaan tidak terletak pada emas dan
permata, Ayahanda!” suara Al-Ma’mun tiba-tiba membesar, menggema di aula yang
sunyi. “Pesan bahwa seorang pemimpin tidak diukur dari mahkotanya, tetapi dari
keadilannya! Ayahanda terlalu sibuk dengan kemewahan istana, terlalu asyik
dengan puisi dan anggur, sementara rakyat di luar sana kelaparan!”
Ia berdiri, meskipun berlutut lebih pantas untuk seorang
yang sedang mengaku salah. Tapi Al-Ma’mun berdiri, dan ketika ia berdiri, semua
orang melihat bahwa pemuda kurus dengan jubah abu-abu itu tiba-tiba memiliki
kewibawaan yang tidak kalah dengan ayahnya.
“Ayahanda tahu,” lanjutnya, suaranya bergetar tetapi kuat,
“bahwa tahun ini, panen di provinsi utara gagal karena serangan belalang?
Ribuan petani kehilangan mata pencaharian mereka. Anak-anak mereka kelaparan.
Tapi apa yang Ayahanda lakukan? Ayahanda mengadakan pesta tujuh hari tujuh
malam untuk menyambut kedutaan dari Romawi. Mahkota yang Ayahanda kenakan itu,
dengan rubi dan zamrudnya, nilainya bisa memberi makan seluruh Baghdad selama
setahun penuh!”
Baginda Harun Al-Rasyid terdiam. Wajahnya yang tadinya
marah perlahan berubah. Ada kesedihan di matanya, tetapi juga ada… rasa hormat
yang baru.
“Dan kau,” katanya perlahan, “memilih cara ini untuk
menyampaikan pesanmu? Dengan mencuri? Dengan berbohong? Dengan membuat
kekacauan?”
“Aku sudah mencoba cara lain, Ayahanda!” suara Al-Ma’mun
meninggi lagi. “Aku sudah menulis surat. Aku sudah meminta diadakan pertemuan
dengan para menteri. Aku sudah berbicara langsung dengan Ayahanda di majelis.
Tapi Ayahanda selalu sibuk. Selalu ada pesta, selalu ada kedutaan, selalu ada
urusan yang lebih penting daripada keluhan anak Ayahanda sendiri.”
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
“Maka aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak
bisa diabaikan. Sesuatu yang akan memaksa Ayahanda untuk berhenti sejenak dari
semua kemewahan itu dan… melihat.”
“Dan kau berhasil,” suara Baginda Raja Harun Al-Rasyid kini
lebih tenang, tetapi masih mengandung nada yang sulit diartikan. “Aku berhenti.
Aku melihat. Sekarang, katakan padaku, di mana mahkotamu sekarang?”
Al-Ma’mun menunduk. “Di dalam tiang, Ayahanda. Abu Nawas
sudah menemukannya.”
“Bukan itu maksudku,” Harun Al-Rasyid berjalan mendekati
putranya. “Mahkota kekuasaan. Bukan benda emas ini. Mahkota kepemimpinan.
Apakah kau merasa pantas memakainya? Dengan cara yang kau lakukan ini?”
Al-Ma’mun mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata
ayahnya.
“Ayahanda, aku tidak tahu apakah aku pantas. Tapi aku tahu
bahwa aku mencintai rakyat negeri ini. Aku tahu bahwa aku tidak tahan melihat
mereka menderita sementara kita berpesta di sini. Jika itu membuatku tidak
pantas, maka aku rela tidak pernah memakai mahkota apa pun.”
Aula sunyi. Kata-kata Al-Ma’mun menggantung di udara, berat
dan penuh makna.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap putranya lama.
Kemudian, perlahan, ia tersenyum. Senyum yang tulus, senyum seorang ayah yang
bangga pada anaknya meskipun anak itu telah membuat kesalahan.
“Kau pantas, anakku,” katanya, suaranya lembut. “Kau lebih
pantas daripada yang kau kira.”
Ia meletakkan mahkota di atas meja di samping
singgasananya, lalu duduk kembali.
“Sekarang,” katanya, “ceritakan semuanya. Dari awal.
Bagaimana kau melakukannya. Bagaimana kau bisa masuk ke ruang penyimpanan tanpa
kunci. Bagaimana kau bisa membuka tujuh gembok tanpa merusaknya. Bagaimana kau
bisa keluar tanpa meninggalkan jejak. Ceritakan semuanya.”
Al-Ma’mun menghela napas panjang. Ia menatap ayahnya, lalu
menatap Abu Nawas yang sejak tadi berdiri di samping, diam, hanya mengamati.
“Ayahanda,” ia memulai, “aku sudah mempersiapkan ini sejak
berbulan-bulan lalu. Mungkin sejak setahun yang lalu, ketika aku melihat
sendiri kondisi petani-petani di utara ketika aku diutus Ayahanda untuk
memeriksa pertahanan perbatasan.”
Matanya menerawang, mengingat kembali.
“Aku melihat ladang-ladang yang hangus, anak-anak dengan
perut buncit karena kelaparan, ibu-ibu yang menangis karena tidak bisa memberi
makan bayinya. Dan ketika aku kembali ke istana, aku melihat Ayahanda
mengadakan pesta dengan hidangan yang bahkan tidak tersentuh. Aku melihat para
menteri berebut posisi dan kekayaan. Aku melihat kemewahan yang berlebihan,
sementara di luar tembok ini, rakyat negeri ini sedang sekarat.”
Suaranya bergetar, tetapi ia melanjutkan.
“Aku mulai mempelajari istana. Setiap sudut, setiap lorong,
setiap kebiasaan penjaga. Aku menghabiskan berbulan-bulan hanya untuk
mengamati. Aku tahu kapan penjaga berganti, kapan mereka pergi buang air, kapan
mereka paling lengah. Aku tahu di mana letak panel-panel rahasia yang dibuat
oleh arsitek zaman dulu—pengetahuan yang diwariskan dari kakekku, Baginda Raja
Al-Mansur, hanya kepada keluarga kerajaan.”
“Aku juga mempelajari gembok-gembok itu. Ayahanda mungkin
tidak tahu, tapi sejak kecil aku memiliki ketertarikan pada mekanika. Aku
menghabiskan waktu berjam-jam di bengkel pandai besi istana, belajar bagaimana
gembok bekerja, bagaimana kunci bekerja. Aku membuat alat-alat kecil yang bisa
membuka gembok tanpa kunci asli—bukan dengan merusaknya, tapi dengan memahami
mekanisme di dalamnya.”
Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah alat kecil dari
logam, berbentuk rumit dengan ujung-ujung yang melengkung.
“Dengan alat ini, aku bisa membuka ketujuh gembok dalam
waktu kurang dari sepuluh menit. Aku sudah berlatih berulang kali di
gembok-gembok yang sama yang aku minta dibuatkan oleh seorang pandai besi yang
tidak tahu untuk apa gembok itu.”
Harun Al-Rasyid menggelengkan kepala, setengah kagum
setengah tidak percaya. “Jadi kau sudah merencanakan ini sejak lama.”
“Ya, Ayahanda. Tapi aku tidak sendiri.”
Ia menoleh ke arah Laila yang masih berlutut di sampingnya,
menangis.
“Laila membantuku. Dia yang mendekati Hisham, penjaga yang
paling lemah. Dia yang memberinya susu yang sudah dicampur ramuan tidur malam
itu, sehingga Hisham sakit kepala dan harus digantikan. Dia yang memastikan
bahwa penjaga cadangan yang menggantikan Hisham adalah Samir—seorang pemuda
yang sedang jatuh cinta padanya dan akan melakukan apa pun yang dimintanya.”
Ia berbalik menghadap ayahnya.
“Samir tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya
disuruh oleh Laila untuk ‘tidak terlalu memperhatikan’ malam itu. Samir pikir
Laila sedang menyiapkan kejutan untukku—mungkin hadiah ulang tahun atau
sesuatu. Dia tidak tahu bahwa mahkota sedang diambil.”
“Lalu bagaimana kau masuk?”
“Malam itu, setelah semua penjaga digantikan oleh Samir,
aku keluar dari kamarku. Aku tahu persis jalur-jalur yang tidak terjaga,
panel-panel rahasia yang bisa aku lewati. Aku mencapai Khizanat al-Khassa dalam
waktu sepuluh menit tanpa bertemu satu penjaga pun. Aku membuka ketujuh gembok
dengan alatku, mengambil mahkota, lalu menyimpannya di dalam tiang rahasia di
aula ini. Kemudian aku kembali ke kamarku melalui jalur yang sama.”
“Tapi bagaimana dengan bayangan yang dilihat Samir?”
Al-Ma’mun tersenyum tipis. “Itulah bagian yang paling tidak
aku rencanakan. Aku tidak tahu bahwa Samir akan melihat bayanganku. Mungkin
karena aku bergerak di lorong yang gelap, cahaya obor dari kejauhan menciptakan
bayangan panjang di dinding. Samir melihatnya, dan dia mengira itu adalah
sesuatu yang supernatural.”
Ia menoleh ke arah Abu Nawas.
“Tapi ternyata, bayangan itu menjadi petunjuk bagi Abu
Nawas untuk menemukanku.”
Abu Nawas, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. “Yang
Mulia, bayangan itu bukan petunjuk utama. Petunjuk utama adalah wewangian
melati di bantal Hisham. Dari situlah semuanya bermula.”
Ia berjalan mendekat.
“Wewangian melati yang mahal, yang hanya digunakan oleh
wanita-wanita istana. Hisham yang sakit setelah minum susu. Samir yang melihat
bayangan tetapi tidak melapor. Semua itu menciptakan pola yang mengarah pada
satu orang: seseorang yang memiliki akses ke wewangian mahal, seseorang yang
bisa memerintahkan dayang untuk melakukan sesuatu, seseorang yang mengetahui
panel-panel rahasia istana, seseorang yang memiliki motif kuat untuk mengkritik
kemewahan Baginda Raja.”
Ia berhenti di hadapan Al-Ma’mun.
“Dan hanya ada satu orang yang memenuhi semua kriteria itu,
Yang Mulia. Yang Mulia sendiri.”
BAB 9: PENGADILAN TANPA HAKIM
Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan
tangan disilangkan di dada. Wajahnya adalah campuran antara kemarahan,
kekecewaan, dan kebanggaan yang sulit dipisahkan.
“Al-Ma’mun,” katanya, “apa yang kau lakukan adalah
kejahatan. Mencuri harta kerajaan, membuat kekacauan di istana, menyebabkan
orang-orang tak bersalah disiksa—semua itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.”
“Aku tahu, Ayahanda.”
“Tapi,” lanjut Baginda Raja Harun Al-Rasyid, “aku juga
mengakui bahwa pesanmu benar. Aku terlalu sibuk dengan kemewahan. Aku terlalu
jauh dari rakyat. Aku telah melupakan bahwa mahkota ini bukan hanya simbol
kekuasaan, tetapi juga amanah.”
Ia berdiri, mengambil mahkota dari meja, dan memegangnya di
tangannya.
“Karena itu, aku tidak akan menghukummu dengan penjara atau
cambuk. Hukumanmu akan lebih berat dari itu.”
Al-Ma’mun menegang. “Apa hukuman Ayahanda?”
Harun Al-Rasyid berjalan mendekati putranya.
“Mulai besok, kau akan menjadi pengawas pasar Baghdad. Kau
akan tinggal di antara rakyat, bukan di istana. Kau akan mendengar keluhan
mereka setiap hari, kau akan melihat penderitaan mereka dengan matamu sendiri,
kau akan membawa laporan langsung kepadaku setiap pekan. Dan selama setahun
penuh, kau tidak boleh memakai pakaian sutra, tidak boleh makan makanan istana,
tidak boleh tidur di tempat tidur yang empuk. Kau akan hidup seperti rakyat
biasa.”
Ia berhenti, menatap mata putranya.
“Jika dalam setahun kau bisa membuktikan bahwa kau
benar-benar peduli pada rakyat—bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan
tindakan—maka mungkin suatu hari nanti mahkota ini akan menjadi milikmu. Tapi
jika kau gagal, jika kau kembali ke kemewahan, maka kau akan kehilangan hak
warismu selamanya.”
Al-Ma’mun terdiam sejenak. Kemudian matanya berkaca-kaca,
dan untuk pertama kalinya, air matanya jatuh.
Ia berlutut, menunduk dalam-dalam.
“Ayahanda… terima kasih. Aku tidak pantas menerima kebaikan
Ayahanda.”
“Kau tidak menerima kebaikan, anakku,” suara Harun
Al-Rasyid lembut. “Kau menerima kesempatan. Gunakanlah sebaik-baiknya.”
Di tengah keheningan yang haru itu, suara tawa tiba-tiba
pecah.
Semua orang menoleh ke sumbernya: Abu Nawas.
Ia tertawa terbahak-bahak, menepuk-nepuk perutnya, sampai
air matanya keluar bercampur dengan sisa-sisa manisan yang masih menempel di
janggutnya.
“Maaf, maaf, Baginda, Yang Mulia Pangeran,” katanya di sela
tawa, mencoba mengatur napas. “Saya tidak bisa menahan diri. Ini… ini
benar-benar luar biasa. Sungguh, ini adalah drama terbaik yang pernah saya
saksikan sepanjang hidup saya. Lebih baik dari sandiwara yang dimainkan oleh
para pemain dari Hindi kemarin. Lebih baik dari cerita-cerita Seribu Satu Malam
yang diceritakan dayang-dayang di pasar.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengerutkan kening, tetapi
sudut bibirnya sudah mulai terangkat. “Kau tertawa? Di saat seperti ini?”
“Justru karena ini saat yang tepat untuk tertawa, Baginda!”
Abu Nawas menghapus air matanya dengan lengan jubahnya yang kebesaran.
“Lihatlah! Mahkota kembali ke tangan yang sah. Kebenaran terungkap tanpa ada
yang terluka parah. Seorang ayah memaafkan anaknya dan bahkan memberinya tugas
yang lebih mulia. Rakyat Baghdad akan mendapat perhatian lebih dari seorang
pangeran yang peduli. Dan saya…” ia menepuk dadanya, “saya selamat dari ancaman
pemenggalan kepala. Apakah ini bukan alasan untuk tertawa?”
Ia berjalan ke tengah aula, berputar menghadap semua tamu
yang masih terpaku di tempat duduk mereka.
“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang terhormat, marilah kita
tertawa! Tertawa karena kegelisahan kita telah berakhir. Tertawa karena
ketakutan kita ternyata tidak perlu. Tertawa karena kita semua selamat dari
badai yang tidak pernah benar-benar terjadi!”
Beberapa tamu mulai tersenyum. Yang lain mulai tertawa
kecil. Dan ketika Abu Nawas mulai menirukan ekspresi wajah para penjaga yang
ketakutan ketika diinterogasi, tawa mulai pecah di sana-sini.
Dalam hitungan detik, seluruh aula bergemuruh dengan tawa.
Para pejabat yang tadinya tegang kini tertawa terbahak-bahak. Para komandan
militer yang tadinya serius kini menepuk-nepuk meja sambil tertawa. Putri
Zubaidah, yang sejak tadi diam dengan wajah dingin, akhirnya tersenyum—senyum
yang membuatnya kembali terlihat seperti wanita cantik yang pernah dinikahi Baginda
Raja Harun Al-Rasyid dua puluh tahun lalu.
Al-Amin, putra mahkota, tertawa paling keras. Mungkin
karena lega bahwa bukan dia yang menjadi tersangka. Mungkin karena senang
melihat adiknya mendapat hukuman yang mendidik. Mungkin hanya karena Abu Nawas
memang lucu.
Al-Ma’mun sendiri, yang masih berlutut dengan air mata di
pipinya, akhirnya tersenyum. Ia menatap Abu Nawas dengan rasa hormat yang
mendalam.
Dan Harun Al-Rasyid, Baginda Raja dari Kekhalifahan
Abbasiyah, Pemimpin Orang-Orang Beriman, Amirul Mukminin, tertawa.
Ia tertawa dengan suara yang keras dan bebas, tawa yang
menggema di seluruh aula, tawa yang sudah lama tidak pernah terdengar di istana
ini. Tawa seorang raja yang menyadari bahwa kekuasaan tidak harus selalu kaku
dan serius. Tawa seorang ayah yang bangga pada anaknya. Tawa seorang manusia
yang, untuk sesaat, melupakan beban kekhalifahan dan hanya menikmati
kebahagiaan sederhana.
BAB 10: KEJENIUSAN YANG MENGGUNCANG
ISTANA
Setelah tawa mereda dan suasana mulai kembali tenang, Baginda
Raja Harun Al-Rasyid berdiri dan mengangkat tangannya. Aula kembali hening.
“Abu Nawas,” katanya, “kau telah memenuhi janjimu. Mahkota
kembali. Kebenaran terungkap. Kau berhak atas tiga permintaan yang telah aku
janjikan.”
Abu Nawas, yang masih terengah-engah karena tertawa,
berjalan ke tengah aula dan berlutut.
“Baginda,” katanya, “permintaan pertama: bebaskan semua penjaga
yang telah disiksa. Mereka tidak bersalah. Mereka hanya korban dari keadaan.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. “Terkabul. Mereka
akan dibebaskan besok pagi, dan setiap dari mereka akan mendapat kompensasi
seratus dinar karena penderitaan yang mereka alami.”
“Permintaan kedua, Baginda,” lanjut Abu Nawas, “maafkan
Laila. Dia hanya menjalankan perintah tuannya. Dia tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi.”
Al-Ma’mun menoleh ke arah Abu Nawas dengan mata terbelalak.
Ia tidak menyangka Abu Nawas akan meminta ampun untuk Laila.
Harun Al-Rasyid menatap Laila yang masih berlutut dengan
wajah pucat. “Laila, kau tahu bahwa apa yang kau lakukan adalah pelanggaran
berat?”
Laila mengangguk, air matanya tak berhenti mengalir. “Saya
tahu, Baginda. Saya bersedia menerima hukuman apa pun.”
“Tapi,” Baginda Raja Harun Al-Rasyid melanjutkan, “Abu
Nawas memintakan ampun untukmu. Dan karena dia telah berjasa besar malam ini,
aku akan mengabulkannya. Kau tidak akan dihukum. Tapi kau tidak boleh lagi
bekerja di istana. Kau akan kembali ke kampung halamanmu, dan hidupmu akan
diawasi. Jika kau melakukan kesalahan lagi, tidak akan ada ampunan kedua.”
Laila menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Baginda. Terima
kasih, Abu Nawas.”
“Permintaan ketiga,” Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap
Abu Nawas dengan senyum tipis. “Apa permintaan terakhirmu? Rumah? Emas? Posisi?
Katakan, apa pun akan aku berikan.”
Abu Nawas berdiri, merapikan jubahnya, dan tersenyum
lebar—senyum yang sama yang biasa ia gunakan di pasar sebelum memulai sebuah
lelucon.
“Baginda,” katanya, “permintaan ketiga saya adalah: Baginda
harus tertawa setiap hari. Setidaknya sekali sehari. Tertawa yang
sungguh-sungguh, bukan tertawa karena lawakan murahan, bukan tertawa karena
terpaksa. Tertawa karena Baginda menyadari bahwa kekuasaan tidak harus selalu
kaku dan serius. Tertawa karena Baginda adalah manusia, dan manusia diciptakan
dengan hati yang bisa merasakan sukacita.”
Aula hening sejenak. Kemudian Bagunda Raja Harun Al-Rasyid
tertawa lagi—tertawa yang lebih keras dari sebelumnya.
“Kau benar-benar gila, Abu Nawas!” serunya di antara tawa.
“Seluruh kekhalifahan aku tawarkan, dan kau meminta aku untuk tertawa!”
“Karena tawa, Baginda,” Abu Nawas menjawab dengan suara
yang tiba-tiba menjadi serius, “lebih berharga dari emas. Emas bisa dicuri,
bisa habis, bisa membuat orang tamak. Tapi tawa, Baginda, tawa adalah harta
yang tidak pernah habis, tidak bisa dicuri, dan membuat orang yang memilikinya
menjadi lebih manusiawi.”
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berhenti tertawa. Ia menatap
Abu Nawas dengan tatapan yang berbeda—bukan tatapan raja kepada rakyatnya,
tetapi tatapan seorang manusia kepada manusia lain yang ia hormati.
“Kau benar, Abu Nawas. Aku berjanji: setiap hari, aku akan
tertawa. Dan setiap kali aku tertawa, aku akan mengingatmu.”
Ia menoleh ke arah para pelayan.
“Bawakan pakaian kebesaran untuk Abu Nawas. Dan siapkan
kuda terbaikku. Besok pagi, aku sendiri yang akan mengantarnya pulang ke
rumahnya. Bukan sebagai raja kepada rakyatnya, tetapi sebagai teman kepada temannya.”
EPILOG: TAWA YANG MENYELAMATKAN KEADILAN
Tiga bulan kemudian, Baghdad seperti biasa ramai dengan
aktivitasnya. Pedagang-pedagang dari berbagai negeri memadati pasar-pasar,
menawarkan barang-barang dari Hind, Cina, Romawi, dan Afrika. Kapal-kapal berlabuh
di pelabuhan Tigris, membawa rempah-rempah, sutra, dan permata. Para ilmuwan
berkumpul di Baitul Hikmah, menerjemahkan buku-buku dari Yunani dan Persia.
Penyair-penyair berlomba menciptakan syair-syair terindah untuk dibacakan di
istana.
Namun ada yang berbeda di Baghdad.
Di pasar-pasar kota, seorang pemuda kurus dengan jubah
sederhana dari katun kasar sering terlihat duduk di antara para pedagang dan
pembeli. Ia mendengarkan keluhan mereka, mencatat harga-harga barang,
kadang-kadang ikut membantu memikul dagangan yang berat. Tidak ada yang
menyangka bahwa pemuda itu adalah Pangeran Al-Ma’mun, putra kedua Baginda Raja
Harun Al-Rasyid.
Dalam tiga bulan sebagai pengawas pasar, Al-Ma’mun telah
berhasil menurunkan harga gandum dengan memberantas penimbunan, membuka dapur
umum untuk orang miskin, dan membangun sumur-sumur baru di daerah kumuh.
Namanya mulai dikenal rakyat kecil bukan sebagai pangeran, tetapi sebagai
‘Al-Ma’mun yang baik hati’.
Laila, dayang yang diampuni Abu Nawas, telah kembali ke
kampung halamannya di Basra. Di sana, ia membuka toko kecil wewangian dengan
modal dari Al-Ma’mun, dan dengan cepat menjadi terkenal karena keahliannya
meracik minyak melati yang harumnya khas. Setiap bulan, ia mengirimkan satu
botol wewangian ke istana untuk Putri Zubaidah, dan satu botol lagi ke kedai
tempat Abu Nawas biasa nongkrong.
Para penjaga yang disiksa telah dibebaskan dan mendapat
kompensasi. Mahmud, penjaga tertua, pensiun dengan hormat dan membuka kedai
kopi kecil di dekat Gerbang Khurasan. Setiap sore, ia bercerita kepada para
pelanggannya tentang pengalamannya, dan setiap cerita selalu diakhiri dengan,
“Dan Abu Nawas menyelamatkan kami semua. Orang gila yang lebih bijaksana dari
semua wazir.”
Samir, penjaga cadangan yang melihat bayangan, dipromosikan
menjadi penjaga tetap setelah melalui pelatihan ulang. Ia tidak pernah lagi
melihat bayangan tanpa tubuh, tetapi setiap kali ia berjaga malam di koridor,
ia selalu tersenyum mengingat malam itu—malam ketika ia nyaris kehilangan akal
karena sebuah bayangan, padahal sebenarnya yang hilang adalah mahkota.
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan
cahaya keemasan menyinari Sungai Tigris, Abu Nawas duduk di kedai
kesayangannya, Kedai Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan. Di
depannya, segelas air tajin dingin, semangkok kurma Sukkari, dan—kali
ini—sebotol kecil anggur yang ia sembunyikan di balik jubahnya.
Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir
Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk
tidak dikenali oleh pengunjung lain.
“Abu Nawas,” kata Jafar sambil menyesap air tajin yang ia
pesan agar tidak mencolok, “aku masih penasaran dengan satu hal.”
Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan
mengunyah dengan malas. “Apa, Wazirku yang mulia?”
“Bagaimana kau benar-benar tahu itu Al-Ma’mun? Bukan hanya
karena motif dan pengetahuannya tentang istana. Ada petunjuk lain yang tidak
kau ceritakan di pesta. Aku sudah memikirkannya berulang kali, dan aku yakin
ada sesuatu yang kau sembunyikan.”
Abu Nawas tersenyum misterius. Ia mengambil sebuah kurma
lagi, memutarnya di antara jari-jarinya seperti pesulap memutar koin.
“Wazir,” katanya, “apa kau tahu mengapa aku sangat yakin
bahwa pencurinya adalah seseorang yang sangat dekat dengan Baginda Raja?”
“Karena pencuri itu tahu panel rahasia di tiang?”
“Bukan hanya itu. Karena pencuri itu tidak meninggalkan
jejak. Tidak ada bekas alat pengungkit, tidak ada kerusakan, tidak ada sidik
jari, tidak ada apa pun. Hanya… bayangan. Itu adalah pekerjaan yang sangat
rapi, sangat bersih, sangat sempurna. Dan orang yang bisa melakukan pekerjaan
sebersih itu biasanya adalah orang yang… tidak terbiasa meninggalkan jejak.
Orang yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan kerapian. Bukan pencuri
profesional yang biasa bekerja dalam kekacauan.”
Jafar mengangguk perlahan.
“Tapi petunjuk yang paling penting,” lanjut Abu Nawas,
“adalah ini: pencuri itu tidak membawa mahkota ke luar istana. Ia
menyembunyikannya di dalam istana. Di tempat yang aman, dekat dengan tempat asalnya.
Itu bukan tindakan seorang pencuri yang ingin menjual barang curian. Itu adalah
tindakan seseorang yang… masih ingin dekat dengan barang itu. Seseorang yang
belum siap berpisah sepenuhnya. Seseorang yang memiliki ikatan emosional dengan
mahkota itu.”
Ia melemparkan kurma ke mulutnya.
“Dan hanya keluarga Baginda Raja yang memiliki ikatan
emosional dengan mahkota itu. Para penjaga, para menteri, para komandan—mereka
hanya melihat mahkota sebagai benda berharga. Tapi keluarga Baginda Raja
melihatnya sebagai warisan. Sebagai simbol. Sebagai sesuatu yang… personal.”
“Lalu mengapa Al-Ma’mun?” tanya Jafar. “Mengapa bukan
Al-Amin? Atau Putri Zubaidah? Atau bahkan Baginda Raja sendiri?”
Abu Nawas tertawa kecil. “Wazir, Al-Amin terlalu malas
untuk merencanakan sesuatu serumit ini. Putri Zubaidah terlalu pintar untuk
melakukan hal yang berisiko seperti ini. Dan Baginda Raja… Baginda Raja tidak
akan mencuri mahkotanya sendiri, kecuali jika ia ingin menguji kesetiaan para
pejabatnya—dan itu terlalu berbahaya bahkan untuk Baginda Raja.”
“Jadi?”
“Jadi, hanya Al-Ma’mun. Pangeran yang idealis, yang sering
mengkritik kemewahan istana, yang memiliki kecerdasan untuk merencanakan, dan
yang memiliki keberanian untuk melakukannya. Dan yang paling penting,” Abu
Nawas menyesap anggurnya dengan nikmat, “Al-Ma’mun adalah satu-satunya orang di
istana yang tidak akan menyimpan mahkota itu untuk dirinya sendiri. Ia
mengambilnya untuk menyampaikan pesan. Dan pesan itu, Wazir, adalah pesan yang
benar. Cara yang salah, tapi pesan yang benar.”
Jafar menatap Abu Nawas dengan rasa hormat yang baru. “Kau
lebih bijaksana dari yang kau tunjukkan, Abu Nawas. Semua orang mengira kau
hanya pelawak. Tapi sebenarnya…”
“Sebenarnya aku hanyalah pelawak yang suka makan kurma,”
potong Abu Nawas cepat, tersenyum lebar. “Jangan beri tahu siapa pun tentang
kebijaksanaanku, Wazir. Reputasi saya sebagai pemabuk bodoh sangat berharga.
Tanpa itu, orang-orang akan mengharapkan terlalu banyak dariku. Mereka akan
memintaku menyelesaikan semua masalah mereka. Mereka akan membuatku menjadi
hakim, menjadi penasihat, menjadi pemecah masalah. Dan itu, Wazir, adalah
hukuman yang lebih berat daripada dipenggal kepalanya.”
Jafar tertawa. “Kau benar-benar gila, Abu Nawas.”
“Orang gila yang membuat Baginda Raja tertawa setiap hari,”
kata Abu Nawas dengan bangga. “Kemarin, Baginda Raja mengirim utusan khusus
untuk menceritakan sebuah lelucon yang baru saja didengarnya dari seorang
pedagang di pasar. Katanya, ia tertawa begitu keras sampai air matanya keluar
dan mahkota sementaranya jatuh ke lantai.”
Jafar menggeleng-gelengkan kepala. “Baginda Raja sekarang
berbeda. Lebih santai. Lebih sering turun ke pasar. Lebih sering mendengarkan
keluhan rakyat. Al-Ma’mun membawa laporan setiap pekan, dan Baginda Raja selalu
membacanya dengan saksama. Pekan lalu, ia memerintahkan pembangunan
lumbung-lumbung baru di provinsi utara untuk mengantisipasi gagal panen.”
“Itu adalah buah dari mahkota yang hilang, Wazir,” kata Abu
Nawas. “Kadang-kadang, sesuatu harus hilang dulu agar kita menyadari nilainya
yang sebenarnya. Mahkota itu hilang, dan Baginda Raja menyadari bahwa
kekuasaannya tidak terletak pada emas dan permata, tetapi pada keadilan dan
perhatiannya kepada rakyat. Al-Ma’mun mengambil mahkota, tetapi pada akhirnya,
ia memberikan sesuatu yang lebih berharga kepada ayahnya: kesadaran.”
Jafar mengangkat mangkuk air tajinnya. “Untuk Baghdad, Abu
Nawas. Semoga kota ini selalu memiliki lebih banyak teka-teki daripada masalah.
Dan semoga selalu ada orang gila seperti kau untuk memecahkannya.”
Abu Nawas mengangkat mangkuk air tajinnya—setelah dengan
cepat menyembunyikan botol anggur di balik jubahnya.
“Untuk Baghdad, Wazir. Dan untuk kurma Sukkari yang
manisnya pas.”
Di luar kedai, matahari mulai terbenam di ufuk barat,
mencelupkan Sungai Tigris dalam warna jingga dan emas. Di kejauhan, dari arah
istana, terdengar suara tawa yang bergema—tawa Baginda Raja Harun Al-Rasyid
yang sedang mendengarkan cerita lucu dari seorang pedagang kurma yang diundang
khusus ke istana.
Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap
air tajinnya, lalu mengambil kurma terakhir di mangkuk.
“Satu teka-teki terpecahkan,” gumamnya pada dirinya
sendiri. “Tapi masih banyak teka-teki lain yang menunggu. Tentang manusia,
tentang kekuasaan, tentang kebenaran yang tersembunyi di balik bayangan.”
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan,
dan menatap langit senja yang mulai dipenuhi bintang-bintang pertama.
“Dan selama masih ada kurma Sukkari, selama masih ada air
tajin dingin, selama masih ada Baginda Raja yang mau tertawa, dan selama masih
ada Wazir Jafar yang mau menemani seorang gila di kedai ini…” ia tersenyum
lebar, “…Baghdad akan baik-baik saja.”
Di meja sebelah, seorang penjual minyak wangi yang gemuk
sedang bercerita tentang keanehan di pasar, tentang seorang pangeran yang
menyamar sebagai rakyat biasa, tentang seorang wazir yang diam-diam minum air
tajin di kedai, dan tentang seorang pelawak yang mungkin adalah orang paling
bijaksana di seluruh kekhalifahan.
Tapi itu, pikir Abu Nawas sambil memejamkan matanya, adalah
teka-teki untuk lain hari.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar