Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Senin, 23 Maret 2026

Balada Abunawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasid Episode 1: Teka-Teki di Balik Mahkota Raja

 

 


 

Balada Abunawas dan Baginda Raja Harun Al-Rasid

Novelet Serial Abunawas Edisi I Kecerdikan Akal dan Logika

Episode 1 : Teka-Teki di Balik Mahkota Raja


Oleh: Slamet Riyadi

PROLOG: BISIKAN DI BALIK DINDING ISTANA

Malam itu, Baghdad menyimpan napasnya. Kota yang biasanya berdenyut dengan ribuan lampu minyak yang berkelap-kelip seperti bintang jatuh, suara para pedagang yang masih berseru, dan alunan musik dari kedai-kedai wine di sepanjang Sungai Tigris, kini sunyi. Sebuah keheningan yang mencekik menyelimuti kompleks istana Baginda Raja Harun Al-Rasyid, keheningan yang bahkan lebih berat daripada badai pasir paling ganas yang pernah melanda gurun di luar tembok kota Bagdad.

Di dalam ruang singgasana yang megah, dengan tiang-tiang marmer putih yang menjulang tinggi dan langit-langit berukir kaligrafi emas yang memantulkan cahaya ribuan lilin, Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak sedang bersantai di atas bantal-bantal sutra kesayangannya. Ia berdiri tegak di hadapan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu terbaik mirip dengan kayu jati hitam berukir warna emas, pintu yang dikenal sebagai Khizanat al-Khassa, ruang penyimpanan paling rahasia dan paling aman di seluruh kekhalifahan. Tidak ada jendela. Tidak ada celah. Hanya pintu itu, dengan tujuh gembok perak raksasa yang masing-masing memiliki kunci unik, dipegang oleh tujuh penjaga pilihan yang sumpahnya lebih kuat dari pedang.

Pintu itu terbuka lebar.

Di dalam, di atas alas marmer putih yang diukir dengan ayat-ayat suci, seharusnya terletak Mahkota Emas Al-Ma’mun, warisan dari kakeknya, berhiaskan rubi terbesar dari Yaman sebesar telur merpati dan zamrud dari lembah Indus yang konon bercahaya dalam gelap. Kini, di atas bantal beludru merah yang telah berdebu tipis itu, hanya ada kekosongan yang menyedihkan. Kekosongan yang terasa lebih berat dari seribu pasukan musuh yang mengepung gerbang.

“Tidak ada,” suara Wazir Jafar bin Yahya Barmakid pecah di belakang Baginda Raja Harun Al-Rasid. Suaranya nyaris berbisik, seperti orang yang takut suaranya sendiri akan membangunkan monster. Wajahnya yang biasanya tenang dan tampan, wajah yang membuat para penyair di istana berlomba-lomba menulis syair pujian, kini pucat pasi seperti lilin yang hampir habis terbakar. “Baginda… mahkota… tidak ada.” Kata Wazir Jafar bin Yahya

Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak berteriak. Tidak membanting tinjunya ke dinding. Tidak mencabut pedangnya yang terselip di ikat pinggang. Itulah yang paling menakutkan bagi semua orang yang hadir di ruangan itu. Diamnya Baginda Raja Harun Al-Rasid adalah seperti langit mau npecah  sebelum badai dating dan senyap, kelam, dan penuh dengan kekuatan yang tak terucapkan.

Matanya yang hitam pekat menyipit perlahan. Pandangannya tidak tertuju pada kekosongan di atas bantal beludru merah itu, tetapi perlahan-lahan beralih ke setiap wajah yang hadir di ruangan sempit di depan pintu itu: Jafar, Wazir sekaligus sahabat kecilnya yang kini gemetar halus; Panglima Pasukan Elit Hafshiyah, seorang lelaki kekar dengan janggut lebat yang biasa tidak mengenal takut, kini berlutut dengan keringat dingin membasahi jubah kebesarannya; dan ketujuh penjaga kunci yang tubuh mereka gemetar hebat, beberapa di antaranya sudah tak mampu menahan air mata.

“Mahkota Emas Al-Ma’mun,” ucap Baginda Raja Harun Al-Rasyid akhirnya. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun bergema di ruangan itu seperti guntur di kejauhan yang perlahan mendekat. “Warisan dari kakekku, Baginda Raja Al-Mansur. Berhiaskan rubi terbesar dari Yaman yang konon warnanya adalah darah naga purba. Zamrud dari lembah Indus yang dipercaya dapat menerawang masa depan. Semua itu…” Ia berhenti sejenak, dan ketika ia melanjutkan, suaranya terasa lebih dingin dari air sumur di malam hari. “…hilang. Dari ruangan tanpa jendela, tanpa pintu lain, tanpa bekas kerusakan. Seolah-olah mahkota itu tumbuh sayap dan terbang keluar melewati dinding setebal dua hasta.”

Ia menoleh perlahan kepada Jafar, dan meskipun tatapannya tidak berubah, Jafar merasakannya seperti sembilu menembus dadanya.

“Apakah ini sihir, Wazirku?” tanya Baginda Raja dengan nada yang anehnya tenang. “Atau apakah istanaku yang megah ini, yang dijaga oleh ribuan pasukan terbaik di tiga benua, ternyata dihuni oleh hantu pencuri yang lebih licin dari ular padang pasir?”

Jafar menelan ludah dengan susah paya. Tenggorokannya terasa kering meskipun baru saja ia meminum seteguk air mawar dari cangkir emasnya sebelum memasuki ruangan ini. “Baginda, kami telah memerintahkan pada seluruh perajurit istana untuk meyelidiki dan kami akan memeriksa setiap sudut untuk mencari petunjuk”

“Memeriksa?” potong Baginda Raja, dan kali ini alisnya benar-benar terangkat. Bukan karena marah, tetapi karena sesuatu yang lebih mengerikan: rasa ingin tahu yang dingin. “Malam ini juga, Wazirku. Bukan besok. Bukan lusa. Malam ini. Seluruh istana akan digeledah. Setiap kamar, setiap lemari, setiap lipatan kain, setiap celah di dinding, setiap sumur tua di taman. Buka semua peti, buka semua lemari, buka bahkan kubangan kuda jika perlu. Aku ingin mahkotaku kembali sebelum fajar menyingsing, atau kalian semua akan menjawabnya dengan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kata-kata.”


Namun fajar pun tiba, dan mahkota itu tetap lenyap.

Matahari terbit di ufuk timur Baghdad dengan sinarnya yang keemasan, menyinari kubah-kubah istana yang dilapisi emas, menciptakan kilauan yang biasanya membuat siapa pun yang melihatnya terkesima. Namun pagi itu, tidak ada seorang pun di kompleks istana yang memiliki waktu untuk terkesima. Penggeledahan massal yang melibatkan seratus pasukan elit Elit Hafshiyah telah berlangsung sepanjang malam. Rumah-rumah para pejabat tinggi digeledah. Barak-barak tentara dibongkar. Kamar-kamar para dayang, yang biasanya merupakan tempat paling pribadi dan sakral di istana, dibuka paksa dan seluruh isinya diperiksa satu per satu. Bahkan kamar pribadi Putri Zubaidah, istri tercinta Baginda Raja, tidak luput dari pemeriksaan, sebuah tindakan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah kekhalifahan.

Tidak ada yang ditemukan. Mahkota itu lenyap tanpa jejak, seperti air yang meresap ke dalam pasir.

Di tengah hiruk-pikuk kekacauan yang masih berlangsung, dengan teriakan para komandan, tangis para dayang yang kamarnya diobrak-abrik, dan suara bantingan pintu yang bergema di setiap sudut istana, Jafar berdiri di serambi pribadi Baginda Raja, di koridor khusus yang hanya boleh dimasuki oleh keluarga kerajaan dan pejabat tertinggi. Angin pagi yang sejuk berhembus dari taman dalam, membawa aroma bunga melati dan air mancur, tetapi Jafar tidak merasakan apa-apa selain beban yang terasa seperti gunung di pundaknya.

Ia menatap langit yang mulai terang, menghitung dalam hati berapa lama lagi ia dan para pejabat lain bisa bertahan. Jika dalam hari ini mahkota tidak ditemukan, ia tahu apa yang akan terjadi. Baginda Raja Harun Al-Rasyid adalah pemimpin yang adil, tetapi keadilannya bisa menjadi sangat berat ketika menyangkut simbol kekuasaan. Ia ingat kisah lima tahun lalu, ketika seorang penjaga gerbang ketahuan tidur saat bertugas, penjaga itu dihukum cambuk seratus kali di depan umum, dan seluruh keluarganya diusir dari Baghdad. Dan itu hanya karena kelalaian, bukan pencurian harta kerajaan.

Jafar menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu kamar pribadi Baginda Raja dengan tiga ketukan pelan.

“Masuk,” suara Harun Al-Rasyid terdengar dari dalam. Suaranya datar, tetapi Jafar mengenal sahabatnya itu cukup baik untuk mendengar nada kelelahan yang mendalam di balik ketenangan itu.

Jafar membuka pintu dan masuk. Baginda Raja sedang duduk di singgasana kecilnya yang terbuat dari kayu cendana, di hadapan meja rendah yang penuh dengan gulungan laporan. Wajahnya tampak lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang biasanya tajam. Di tangannya, ia memegang selembar kertas laporan terakhir dari kepala penggeledahan.

“Baginda,” Jafar memulai dengan hati-hati, memilih setiap kata seperti seorang pedagang yang memilih permata paling berharga di pasar. “Kami telah memeriksa semua penjaga, semua pelayan, semua dayang, bahkan semua juru masak dan tukang kebun. Tidak ada yang ditemukan. Rumah mereka digeledah, pakaian mereka diperiksa, bahkan... maafkan saya, Baginda... bahkan tubuh mereka diperiksa untuk memastikan tidak ada yang menyembunyikan mahkota di dalam pakaian mereka.”

Harun Al-Rasyid meletakkan gulungan laporan itu di atas meja dengan gerakan yang sangat perlahan. Matanya menatap Jafar, dan untuk pertama kalinya pagi itu, Jafar melihat sesuatu yang jarang ia lihat di mata sahabatnya: kebingungan. Keraguan.

“Jafar,” panggil Baginda Raja dengan nama kecil Wazirnya, tanpa gelar, sebuah keintiman yang hanya muncul di saat-saat paling pribadi. “Aku sudah memerintahkan penggeledahan terbesar dalam sejarah kekhalifahan. Aku sudah memerintahkan penyiksaan terhadap orang-orang yang mungkin tidak bersalah. Aku sudah membuat istanaku sendiri menjadi neraka bagi semua penghuninya. Dan semua itu tidak membuahkan apa-apa.” Ia menghela napas panjang, suaranya tiba-tiba terdengar rapuh. “Apakah aku sudah kehilangan akal sehatku, Jafar? Apakah aku menjadi raja yang paranoid yang melihat pencuri di setiap bayangan?”

Jafar segera berlutut, hati kecilnya teriris mendengar nada suara sahabatnya itu. “Baginda, Baginda tidak kehilangan akal sehat. Mahkota itu benar-benar hilang. Kami semua melihat sendiri kekosongan di ruang penyimpanan. Ini bukan khayalan.”

“Maka siapa yang melakukannya?” Harun Al-Rasyid menatap Jafar dengan mata yang tiba-tiba menyala lagi, api kemarahan dan kebingungan menyatu di dalamnya. “Siapa yang bisa masuk ke ruangan tanpa jendela, membuka tujuh gembok tanpa kunci, mengambil mahkota, dan keluar tanpa meninggalkan jejak, tanpa membangunkan satu pun penjaga, tanpa meninggalkan satu pun petunjuk? Apakah pencuri ini memiliki sayap seperti burung? Atau apakah ia adalah jin yang bisa menembus dinding?”

Jafar terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam dirinya. Ia tahu, jika ia salah, nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhan. Namun, ia juga tahu, sebagai Wazir dan sebagai sahabat, ia harus mengatakan apa yang ada di pikirannya.

“Baginda,” katanya perlahan, “kekuatan kita dalam mencari benda ternyata tidak sebanding dengan kecerdikan pelaku. Para tentara kita hebat dalam pertempuran, para pengawal kita setia dalam menjaga, tetapi mereka semua berpikir dengan cara yang sama: cara seorang prajurit. Mereka mencari barang dengan membongkar tempat-tempat yang mungkin untuk menyembunyikan barang. Namun, untuk menemukan sesuatu yang disembunyikan oleh akal yang sangat licin, kita harus menggunakan… akal yang tak biasa. Akal yang tidak terikat oleh aturan istana. Akal yang bisa melihat kebohongan di balik kesaksian yang paling meyakinkan.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap Wazirnya dengan alis terangkat. Ada kilatan penasaran di matanya, tetapi juga ada keraguan. “Kau punya nama, Jafar. Aku mengenalmu sejak kita kecil. Ketika kau berbicara seperti ini, kau selalu punya nama.”

Jafar menghela napas panjang, terasa seperti menghela seluruh beban kekhalifahan ke dalam dadanya. “Abu Nawas, Baginda.”

Nama itu menggantung di udara di antara mereka seperti pedang yang tergantung dengan seutas rambut. Abu Nawas. Penyair jalanan. Pelawak istana kadang-kadang. Pemabuk yang sering tertangkap basah minum anggur di bulan Ramadhan. Orang yang pernah membuat Baginda Raja tertawa terpingkal-pingkal dengan cerita tentang keledainya yang lebih pintar dari seorang wazir. Juga orang yang pernah hampir kehilangan kepalanya karena lelucon yang terlalu berani tentang selir kesayangan.

Harun Al-Rasyid terdiam lama. Matanya menerawang ke suatu tempat di kejauhan, mungkin mengingat kembali semua pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan Abu Nawas, semua tawa yang pernah tercipta, semua kekesalan yang pernah ia rasakan karena kelicikan lelaki itu.

“Abu Nawas,” ulangnya perlahan, seperti mencicipi rasa nama itu di lidahnya. “Orang gila yang pernah kusuruh menggembalakan kambing di halaman istana sebagai hukuman karena telah memakan kurma persembahan dari Basra, dan malah menjual semua kambing itu lalu membagi uangnya kepada para pengemis di depan gerbang istana.”

Jafar nyaris tersenyum mengenang kejadian itu, tetapi segera menahannya. “Itu dia, Baginda.”

“Orang yang pernah kusuruh menjadi hakim untuk kasih perselisihan antara dua saudagar, dan dia memutuskan bahwa unta yang diperebutkan harus dipotong menjadi dua dan dibagi sama rata, hanya untuk membuat kedua saudagar itu sadar bahwa mereka lebih baik berdamai daripada kehilangan unta mereka sama sekali.”

“Itu dia, Baginda,” Jafar mengangguk, sedikit lebih berani sekarang karena melihat tidak ada kemarahan di wajah Baginda Raja.

“Orang yang…,” Baginda Raja Harun Al-Rasyid berhenti, dan untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibirnya terangkat dalam senyum tipis yang nyaris tak terlihat. “…yang membuatku tertawa di saat-saat paling berat dalam kekuasaanku.”

Jafar melihat celah itu dan segera menyelip. “Justru karena itu, Baginda. Orang yang bisa membuat Baginda tertawa di saat berat biasanya adalah orang yang bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Orang yang tidak takut pada kekuasaan karena ia terlalu sibuk dengan kebodohannya sendiri, atau kebijaksanaannya yang tersamar. Bukankah Baginda sendiri yang pernah berkata bahwa orang paling berani di istana bukanlah panglima perang, tetapi pelawak yang bisa menertawakan raja?”

Harun Al-Rasyid menatap Jafar lama. Senyum tipis itu menghilang, digantikan oleh ekspresi serius seorang raja yang sedang mengambil keputusan yang dapat mengubah segalanya.

“Kau benar, Jafar,” katanya akhirnya. “Panggil dia. Tapi jangan dengan cara biasa. Jangan dengan pasukan bersenjata yang akan membuatnya berpikir bahwa aku akan memenggal kepalanya. Kirim seseorang yang… yang bisa membujuknya dengan cara yang halus. Kau tahu bagaimana Abu Nawas itu. Jika kau mengirim tentara dengan pedang terhunus, dia akan bersikap seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Kirim seseorang yang bisa berbicara dengannya dengan akal, bukan dengan kekerasan.”

Jafar mengangguk. “Baik, Baginda. Aku akan mengutus… Abdurrahman, sekretaris pribadiku. Dia kenal Abu Nawas sejak lama. Mereka sering bertukar teka-teki di kedai-kedai.”

“Bagus.” Harun Al-Rasyid berdiri dari singgasananya, berjalan ke jendela yang menghadap ke timur, di mana matahari pagi mulai meninggi di balik menara-menara istana. “Tapi katakan padanya, Jafar. Katakan padanya dengan jelas: jika dia menemukan mahkotaku, dia akan mendapat segunung emas. Aku akan memberinya rumah di tepi Sungai Tigris dengan taman yang lebih indah dari taman istana. Aku akan memberinya posisi di istana jika dia mau. Aku akan mengabulkan tiga permintaannya, apa pun itu, selama masih dalam batas akal sehat.”

Ia berbalik menghadap Jafar, dan kini matanya kembali tajam, seperti pisau yang baru diasah.

“Tetapi jika dia gagal… jika dia membuang-buang waktuku dengan lawakan-lawakannya yang tidak berguna saat mahkotaku masih hilang… maka dia akan menjadi pelipur lara terakhirku sebelum aku memenggal satu per satu orang-orang di ruangan ini. Karena aku tidak bisa memenggal bayangan, Jafar. Aku hanya bisa memenggal manusia. Dan jika mahkota itu tidak kembali, maka setidaknya darah akan mengalir. Itu satu-satunya cara untuk mengembalikan kehormatan istanaku yang telah dinodai.”

Jafar menunduk dalam-dalam, merasakan dingin merambat di tulang punggungnya. “Akan kusampaikan, Baginda. Kata demi kata.”

“Pergilah,” titah Harun Al-Rasyid. “Dan Jafar…”

“Ya, Baginda?”

“Semoga Allah memberimu petunjuk. Karena saat ini, kita semua berjalan dalam kegelapan.”


BAB 1: UNDANGAN YANG MENGANDUNG ANCAMAN

Abu Nawas sedang menikmati malamnya yang paling membosankan dalam sebulan terakhir di sebuah kedai kecil di pinggiran Baghdad, tidak jauh dari Gerbang Khurasan. Kedai itu bernama Kedai Al-Farabi, tempat persinggahan para pedagang kecil, kuli angkut, dan para pemimpi yang tidak punya tempat lain untuk bermimpi. Tempatnya sederhana: dinding bata merah yang sudah retak-retak, lantai tanah yang sedikit becek karena air minuman yang tumpah, dan langit-langit dari anyaman bambu yang sudah menghitam karena asap lampu minyak.

Abu Nawas duduk di sudut favoritnya, bersandar pada dinding yang hangat karena terpaan sinar matahari seharian, ditemani segelas air tajin dingin dan semangkok kurma jenis Sukkari yang manisnya pas. Biasanya, ia akan ditemani oleh segelas anggur, tetapi hari itu ia sedang berpuasa akal, begitu katanya. Atau mungkin ia sedang tidak punya uang untuk membeli anggur. Dua hal itu seringkali sulit dibedakan pada diri Abu Nawas.

Ia mendengarkan dengan setengah telinga pada celoteh para pengunjung lain yang berkumpul di meja panjang di tengah kedai. Biasanya, celoteh itu membosankan, tentang harga kurma yang naik, tentang unta yang hilang, tentang istri yang cerewet. Tapi malam ini, topiknya berbeda.

“Saudara-saudara, aku dengar dari sepupuku yang bekerja di dapur istana,” seorang lelaki gendut dengan sorban biru tua, yang dikenal sebagai penjual minyak wangi di pasar Al-Rahba, berbicara dengan suara setengah berbisik namun tetap terdengar oleh seluruh kedai. “Mereka menggerebek rumah-rumah para pejabat. Bukan hanya di dalam istana, tapi sampai ke rumah-rumah saudagar besar di sisi timur sungai. Pasukan bersenjata lengkap, masuk tengah malam, membongkar semua peti, membuka semua lemari, bahkan membangunkan anak-anak kecil dari tidur mereka.”

Seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang yang duduk di sampingnya bersiul kecil. “Luar biasa. Terakhir kali ada penggeledahan sebesar ini adalah ketika persekongkolan melawan Baginda Raja Harun Al-Rasyid ditemukan sepuluh tahun lalu. Waktu itu mereka menggerebek rumah-rumah para bangsawan Barmakid. Sekarang, siapa yang mereka gerebek?”

“Itulah yang aneh,” penjual minyak wangi itu melanjutkan, matanya berbinar karena menjadi pusat perhatian. “Mereka menggerebek semua orang. Pejabat, saudagar, bahkan rumah-rumah biasa di sekitar istana. Ada yang hilang, kata orang. Sesuatu yang sangat berharga. Tapi apa? Tidak ada yang tahu pasti. Ada yang bilang itu permata. Ada yang bilang itu pedang pusaka. Ada yang bilang itu… mahkota.”

Kata ‘mahkota’ membuat semua orang di kedai itu membeku sejenak. Kemudian mereka serempak menoleh ke arah Abu Nawas, seolah-olah lelaki yang sedang mengunyah kurma dengan malas itu memiliki hubungan khusus dengan kata tersebut.

Abu Nawas, tanpa mengangkat wajah, mengambil sebuah kurma dari mangkoknya, melemparkannya ke udara, dan menangkapnya dengan mulut. Ia mengunyah perlahan, matanya tetap terpejam.

“Abu Nawas,” panggil penjual minyak wangi itu, “kamu kan sering dipanggil ke istana. Apa kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?”

Abu Nawas membuka satu matanya. “Apa aku terlihat seperti orang yang tahu sesuatu tentang istana?”

Semua orang di kedai itu tertawa. Penampilan Abu Nawas memang tidak menunjukkan hubungan apa pun dengan kemewahan istana. Jubahnya yang lusuh berlumuran noda kurma dan saus dari kedai-kedai lain, sandalnya yang sudah aus hingga hampir tidak bersol, dan rambutnya yang acak-acakan tanpa sorban membuatnya terlihat lebih mirip pengemis dari pada tamu istana.

“Tapi kamu sering dipanggil,” desak penjual minyak wangi itu. “Kata orang, kamu satu-satunya orang yang bisa membuat Baginda Raja tertawa di saat semua pejabat istana gemetar ketakutan.”

Abu Nawas menghela napas dramatis. “Wahai saudaraku, membuat Baginda Raja tertawa itu mudah. Cukup ceritakan tentang seekor keledai yang lebih pintar dari seorang wazir. Tapi mengetahui rahasia istana? Itu adalah urusan yang berbeda. Rahasia istana seperti pasir di gurun, semakin banyak kamu pegang, semakin banyak yang lolos di sela-sela jarimu.”

“Tapi kamu pasti mendengar sesuatu,” seorang pemuda kurus dari meja sebelah ikut menyela. “Kamu kan punya teman-teman di istana. Tukang kebun, juru masak, para penjaga gerbang.”

Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara jari-jarinya seperti seorang pesulap memutar koin. “Teman-temanku di istana, wahai anak muda, sama seperti aku: mereka hanya tahu apa yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri. Dan apa yang mereka lihat? Seorang tukang kebun melihat bunga dan rumput. Seorang juru masak melihat daging dan bumbu. Seorang penjaga gerbang melihat siapa yang masuk dan keluar. Tapi apakah mereka melihat mahkota yang hilang? Tidak. Mahkota itu tidak tumbuh di kebun, tidak ada di dalam panci, dan tidak bisa keluar lewat gerbang tanpa diketahui seratus penjaga. Jadi…”

Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya dan mengunyah dengan senyum misterius.

“Jadi, kamu tahu sesuatu!” penjual minyak wangi itu menunjuk dengan jari gemuknya.

“Aku tidak tahu apa-apa,” kata Abu Nawas. “Dan justru karena tidak tahu apa-apa, aku bisa tidur nyenyak malam ini. Cobalah untuk tidak tahu apa-apa, saudaraku. Itu adalah kebahagiaan yang jarang ditemukan di Baghdad.”

Ia menutup matanya kembali, berpura-pura tertidur, sambil sebenarnya pikirannya bekerja lebih cepat dari sungai Tigris saat banjir. Mahkota hilang. Penggeledahan besar-besaran. Tidak ada jejak. Ini bukan pencurian biasa. Pencuri ini bukan hanya berani, tapi juga sangat cerdik. Mungkin juga… sangat dekat dengan pusat kekuasaan.

Pikirannya terputus ketika tiba-tiba bayangan-bayangan gelap muncul di ambang pintu kedai. Bukan satu atau dua, tetapi lima bayangan besar dengan postur tegap yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa membawa senjata.

Seorang lelaki dengan jubah hitam panjang dan sorban perak, tanda pengawal pribadi Baginda Raja, melangkah masuk ke kedai. Wajahnya keras seperti batu karang yang telah dihantam badai bertahun-tahun, dengan bekas luka tipis di pipi kirinya yang memberinya aura mengerikan. Di belakangnya, empat prajurit lain berdiri di pintu dengan tangan di atas gagang pedang, mata mereka mengawasi setiap gerakan di dalam kedai.

Seluruh pengunjung kedai membeku. Beberapa dari mereka yang duduk di dekat pintu sudah mulai bergeser perlahan, siap untuk melarikan diri jika keadaan menjadi buruk. Penjual minyak wangi itu tampak seperti akan pingsan, wajahnya berubah pucat seperti kapur.

Namun Abu Nawas tetap duduk tenang di sudutnya, matanya masih terpejam, seolah-olah tidak merasakan kehadiran para prajurit itu. Ia mengambil kurma terakhir di mangkuknya, melemparkannya ke mulut, dan mengunyah dengan santai.

Prajurit dengan jubah hitam itu berjalan ke tengah kedai, matanya menyapu ruangan dan akhirnya berhenti pada sosok Abu Nawas yang malas di sudut. Ia mendekat, langkahnya berat dan terukur, dan berdiri tepat di hadapan Abu Nawas.

“Abu Nawas,” suaranya dalam dan bergema, seperti guntur yang mengguncang langit. “Engkau diperintahkan untuk mengikuti kami ke istana. Sekarang.”

Kedai itu sunyi senyap. Bahkan suara tikus yang biasanya berlarian di atap bambu seolah-olah ikut berhenti. Semua mata tertuju pada Abu Nawas, menunggu reaksinya. Apakah dia akan ketakutan? Apakah dia akan berlari? Apakah dia akan memohon ampun?

Abu Nawas membuka matanya perlahan. Ia menatap prajurit itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum lebar, senyum yang sama yang biasa ia gunakan ketika hendak melontarkan lelucon di hadapan Baginda Raja.

“Tuan Prajurit,” katanya dengan nada ramah seperti sedang berbicara dengan tetangga lama, “sebelum aku mengikuti Tuan ke istana, izinkan aku bertanya satu hal kecil. Hanya satu. Tidak lebih.”

Prajurit itu mengerutkan kening. Biasanya, ketika ia datang menjemput seseorang dengan perintah dari istana, orang itu akan gemetar atau setidaknya menunjukkan rasa takut. Abu Nawas tidak menunjukkan keduanya.

“Apa?” tanyanya singkat.

Abu Nawas berdiri perlahan, merapikan jubah lusuhnya dengan gerakan yang hampir anggun, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga prajurit itu. Seluruh kedai menahan napas.

“Apakah panggilan ini,” bisik Abu Nawas dengan nada yang sangat konspiratif, seperti seorang komplotan yang membagi rahasia terbesar, “menggunakan pedang sebagai alas duduk? Atau bantal sutra?”

Prajurit itu mundur selangkah, wajahnya menunjukkan kebingungan yang tulus. “Maksudmu?”

“Maksudku,” Abu Nawas mengangkat suaranya sedikit agar semua orang di kedai bisa mendengar, “apakah aku akan dipenggal atau dijamu? Karena dua kali dalam hidupku aku dipanggil ke istana pada malam hari seperti ini, dan dua kali itu nasibku sangat berbeda. Pertama, aku hampir kehilangan kepalaku karena lelucon tentang selir kesayangan Baginda Raja yang terlalu mirip dengan keledai. Kedua, aku mendapat hadiah seribu dinar dari Baginda Raja sendiri karena berhasil menebak di mana Baginda menyembunyikan pedang pusakanya, di kolam ikan, siapa sangka? Jadi, Tuan Prajurit yang gagah perkasa, mana yang satu ini? Kepala atau emas?”

Seorang prajurit muda di belakang yang masih hijau dan belum terlalu terlatih menahan ekspresi wajahnya, nyaris tersenyum, tetapi segera menahannya ketika komandannya menatap tajam ke arahnya.

Prajurit dengan jubah hitam itu menghela napas panjang, seolah-olah kesabarannya sedang diuji oleh Tuhan sendiri. “Abu Nawas, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu di istana. Aku hanya diperintahkan untuk membawamu. Sekarang, berhenti bicara dan ikuti kami, atau aku akan menyuruh anak buahku untuk mengikat tangan dan kakimu dan menyeretmu seperti karung beras.”

“Ah, Tuan Prajurit,” Abu Nawas tertawa kecil, sama sekali tidak terintimidasi, “tidak perlu kasar. Aku akan ikut dengan sukarela. Tapi izinkan aku mengambil kurma-kurma ini. Siapa tahu perjalanan ke istana panjang dan aku lapar.”

Ia mengambil mangkuk kurma yang sudah hampir kosong itu dan memasukkan tiga kurma terakhir ke dalam saku jubahnya. Kemudian, dengan langkah santai seperti orang yang sedang berjalan-jalan di pasar, ia melangkah menuju pintu kedai.

Sebelum keluar, ia berbalik sejenak ke arah para pengunjung kedai yang masih membeku ketakutan. Ia tersenyum lebar dan berkata, “Doakan aku, saudara-saudara. Jika aku tidak kembali dalam tiga hari, bagikan kurma-kurma yang tersisa di mangkukku kepada orang miskin.”

Ia tertawa sendiri, lalu berjalan keluar diikuti oleh kelima prajurit itu, meninggalkan kedai yang masih sunyi dan para pengunjung yang saling berpandangan dengan ekspresi campuran antara takut dan kagum.


Sepanjang perjalanan menuju istana, Abu Nawas tidak berhenti bicara.

Mereka melewati jalanan Baghdad yang sunyi di tengah malam, hanya diterangi oleh lampu-lampu minyak yang tersisa di depan toko-toko yang sudah tutup. Abu Nawas berjalan di tengah-tengah para prajurit, dan meskipun secara teknis ia adalah tawanan yang sedang digiring, ia berjalan dengan langkah enteng seolah-olah ia adalah seorang bangsawan yang sedang diantar oleh pengawal kehormatan.

“Tuan Prajurit,” katanya sambil melangkah, “boleh aku tahu namamu? Karena jika kita harus bepergian bersama, setidaknya aku bisa memanggilmu dengan nama yang layak.”

Prajurit itu mendengus. “Namaku Khalid.”

“Khalid,” ulang Abu Nawas, mencicipi nama itu. “Nama yang bagus. Nama pahlawan. Apakah kau tahu, Khalid, bahwa ada seorang panglima besar di masa lalu bernama Khalid bin Walid? Pedang Allah yang tak terkalahkan. Apakah kau memiliki hubungan keluarga dengannya?”

“Tidak,” jawab Khalid singkat.

“Ah, sayang sekali. Tapi bukan berarti kau tidak bisa menjadi pahlawan juga. Siapa tahu, dengan mengantarku ke istana malam ini, kau sedang menulis namamu dalam lembaran sejarah Baghdad. Bukankah itu membanggakan?”

Khalid tidak menjawab. Ia terus berjalan dengan wajah yang tidak berubah.

Abu Nawas tidak menyerah. “Khalid, bagaimana cuaca di istana akhir-akhir ini? Apakah masih sejuk seperti biasanya? Atau apakah ada angin panas yang bertiup dari padang pasir? Biasanya kalau Baginda Raja sedang marah, angin dari selatan bertiup lebih kencang. Tapi malam ini anginnya tenang. Apakah itu pertanda baik?”

“Aku tidak tahu,” kata Khalid.

“Atau mungkin Baginda Raja sedang tidak marah, tapi sedang bingung? Itu lebih berbahaya, sebenarnya. Orang marah biasanya bisa diredakan dengan lelucon yang bagus. Tapi orang bingung… ah, orang bingung itu seperti orang yang tersesat di padang pasir. Dia akan menerima bantuan dari siapa pun, tetapi dia juga bisa membunuh siapa pun yang dianggapnya sebagai fatamorgana.”

Khalid berhenti berjalan. Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang tajam. “Apakah kau selalu sebanyak ini bicaranya?”

Abu Nawas tersenyum lebar. “Tidak. Kadang-kadang aku lebih banyak bicara dari ini. Tergantung pada apakah lawan bicaraku menarik atau tidak.”

“Dan aku?”

“Kau,” Abu Nawas menepuk pundak Khalid dengan akrab, sebuah gerakan yang membuat prajurit-prajurit lain menarik napas terkejut, tidak ada orang biasa yang berani menyentuh seorang komandan pengawal pribadi dengan cara seperti itu. “Kau adalah pendengar yang luar biasa. Diam, tetapi penuh perhatian. Itu adalah kualitas yang langka di Baghdad. Kebanyakan orang di sini hanya ingin mendengar suara mereka sendiri.”

Khalid menggelengkan kepala, setengah kesal setengah terhibur. “Ayo teruskan perjalanan. Baginda Raja tidak suka menunggu.”

“Setuju,” kata Abu Nawas, melangkah lagi. “Baginda Raja tidak suka menunggu. Tapi dia suka teka-teki. Apakah kau tahu, Khalid, bahwa Baginda Raja pernah menunggu selama tiga jam hanya untuk mendengar jawaban dari sebuah teka-teki yang kuberikan? Tiga jam! Sementara para menteri dan wazir duduk di sekelilingnya, semua kelaparan, semua haus, tapi tidak ada yang berani bergerak karena Baginda Raja sedang asyik memikirkan teka-teki. Akhirnya, setelah tiga jam, Baginda Raja berkata, ‘Abu Nawas, aku menyerah. Apa jawabannya?’ Dan aku berkata, ‘Baginda, teka-teki itu tidak punya jawaban. Aku hanya ingin melihat apakah Baginda bisa duduk diam selama tiga jam tanpa marah-marah.’”

Khalid hampir tersenyum, tetapi berhasil menahannya. “Itu bisa membuatmu kehilangan kepalamu.”

“Tapi aku tidak kehilangan kepalaku,” kata Abu Nawas dengan bangga. “Karena Baginda Raja tertawa. Dan ketika Baginda Raja tertawa, dia menjadi lebih manusiawi. Dan ketika dia menjadi lebih manusiawi, dia menjadi lebih bijaksana. Dan ketika dia lebih bijaksana, dia tahu bahwa memenggal kepala orang yang membuatnya tertawa adalah pemborosan yang sangat besar.”


Mereka akhirnya tiba di gerbang istana. Abu Nawas yang sudah sering bolak-balik ke istana tetap terkesima setiap kali melihatnya, meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya. Gerbang utama terbuat dari kayu kelas satu sejenis kayu jati berlapis emas, setinggi tiga kali lipat tinggi manusia biasa, diukir dengan ayat-ayat dari Al-Qur’an dan kaligrafi indah yang memuji kebesaran Allah dan kekuasaan Baginda Raja. Di kedua sisi gerbang, dua patung singa dari marmer putih duduk dengan anggun, mata mereka yang terbuat dari batu obsidian tampak mengawasi setiap orang yang masuk.

Namun malam itu, suasana di dalam tembok istana sangat berbeda dari biasanya. Abu Nawas merasakannya begitu kakinya melangkah melewati gerbang. Ketegangan begitu kental hingga bisa dipotong dengan pisau. Udara terasa lebih berat, seolah-olah seluruh kompleks istana sedang menahan napas.

Para pelayan berlarian dengan wajah panik dan mata sayu karena kurang tidur. Di setiap koridor, terdengar bisik-bisik yang langsung berhenti ketika seseorang lewat. Para pejabat berjalan cepat dengan kepala menunduk, menghindari kontak mata dengan siapa pun. Bahkan para penjaga, yang biasanya berdiri tegap dengan kepala tegak, kini tampak gelisah, tangan mereka selalu dekat pada gagang pedang, mata mereka bergerak cepat mengamati setiap sudut.

Tidak ada tawa. Tidak ada musik. Tidak ada penyair yang membaca syair-syair cinta di taman dalam. Istana yang biasanya gemerlap dengan lampu-lampu warna-warni dan wewangian dari dupa mahal, kini terasa seperti sebuah benteng yang terkepung oleh musuh tak terlihat. Sebuah benteng yang di dalamnya semua orang saling curiga, saling takut, saling mengira bahwa tetangga mereka mungkin adalah pencuri yang dicari-cari.

Abu Nawas digiring melewati koridor panjang yang dipenuhi dengan permadani Persia berwarna merah tua, melewati taman dalam dengan air mancur marmer yang biasanya mengalirkan air mawar sepanjang hari, kini airnya mati, kolamnya tenang seperti cermin yang menatap kosong ke langit malam. Mereka melewati perpustakaan besar dengan ribuan manuskrip yang dijaga ketat, melewati ruang pertemuan para menteri yang biasanya ramai dengan debat, kini sunyi seperti masjid di tengah malam.

Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan yang jarang dimasuki oleh orang kebanyakan: ruang pertemuan pribadi Baginda Raja Harun Al-Rasyid. Ruangan ini berbeda dari ruang singgasana besar yang megah dan penuh ornamen. Ruang ini lebih kecil, lebih intim, dengan dinding-dinding yang dilapisi kain sutra biru tua dan lantai dari marmer hitam yang dipoles hingga mengkilap. Di tengah ruangan, sebuah singgasana kecil dari kayu cendana berukir duduk di atas panggung rendah. Di sampingnya, sebuah meja rendah dari perak bertatahkan mutiara, di atasnya terdapat teko kopi dari emas dan cangkir-cangkir kecil dari porselen Cina.

Di ruangan itu, sudah menunggu tiga orang.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya, tidak dengan jubah kebesaran yang biasa ia kenakan di hadapan umum, tetapi dengan jubah sederhana berwarna hitam dengan sulaman perak tipis di ujung lengan. Namun kesederhanaan itu tidak mengurangi kewibawaannya sedikit pun. Wajahnya yang tampan dengan janggut rapi yang mulai ditumbuhi uban di beberapa bagian, matanya yang hitam pekat, dan sikap duduknya yang tegak namun santai, semua itu memancarkan aura kekuasaan yang tidak perlu dihiasi dengan emas dan permata.

Di sebelah kanan singgasana, berdiri Wazir Jafar bin Yahya Barmakid, dengan pakaian kebesarannya yang sempurna: jubah sutra hijau dengan ikat pinggang emas, sorban tinggi yang menunjukkan pangkatnya, dan wajah yang meskipun tampak lelah, tetap berusaha menunjukkan ketenangan. Matanya menatap Abu Nawas dengan ekspresi yang sulit diartikan, antara harapan, kekhawatiran, dan rasa bersalah karena telah menyeret orang ini ke dalam masalah besar.

Di sudut ruangan, hampir tersembunyi di balik tirai sutra biru, duduk seorang lelaki tua berjubah hitam dengan sorban yang sama hitamnya. Wajahnya keriput seperti kulit buah delima yang sudah terlalu lama disimpan, dengan mata yang sipit dan tajam seperti burung elang yang sedang mengintai mangsa. Ini adalah Abu Ishaq, kepala peramal istana, seorang yang konon dapat melihat masa depan dari lembaran-lembaran timah yang dipanaskan dan pola-pola pasir yang ditebarkan. Abu Nawas tidak pernah terlalu suka pada lelaki ini. Ada sesuatu di matanya yang membuat Abu Nawas merasa bahwa lelaki ini lebih suka pada kegelapan daripada pada cahaya.

“Abu Nawas,” sapa Baginda Raja Harun Al-Rasid dengan nada datar yang tidak menunjukkan apa pun. Tidak ada kemarahan, tidak ada kegembiraan, hanya sebuah pernyataan kehadiran yang dingin. “Aku dengar kau sedang menikmati ketenanganmu di kedai minuman di pinggiran Baghdad. Kedai Al-Farabi, bukan? Tempat favoritmu ketika kau sedang tidak punya uang.”

Abu Nawas menjatuhkan diri dalam sujud yang agak berlebihan, dengan dahi menyentuh lantai marmer yang dingin, lalu duduk bersila tanpa menunggu perintah, sebuah keberanian yang hanya ia miliki dan yang sudah menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun.

“Baginda Raja, Amirul Mukminin, Pemimpin Orang-Orang Beriman, semoga Allah memanjangkan umur Baginda dan melimpahkan rahmat-Nya kepada seluruh keluarga kerajaan,” ia memulai dengan nada yang sangat formal, sangat hormat, namun dengan kilatan di matanya yang menunjukkan bahwa ia sedang menyiapkan sesuatu. “Ketenangan hanyalah sebuah ilusi bagi mereka yang sedang lapar. Dan saya, Baginda, sedang dalam kondisi yang sangat ideal untuk menikmati ilusi tersebut ketika para prajurit yang gagah perkasa ini datang menjemput saya dengan sedikit terburu-buru. Tadi saya baru saja menyelesaikan kurma keempat saya, kurma Sukkari, Baginda, yang manisnya pas, tidak terlalu membuat enek, jadi boleh dibilang saya sedang berada di puncak kebahagiaan duniawi.”

Jafar menutup matanya sejenak, bibirnya bergerak tanpa suara, mungkin sedang berdoa agar Abu Nawas tidak mengatakan sesuatu yang terlalu bodoh. Ya Allah, lindungilah dia dari amarah Baginda Raja. Lindungi juga kepalaku yang mungkin akan ikut terpenggal jika dia membuat Baginda marah.

Harun Al-Rasyid, alih-alih marah, justru menyandarkan tubuhnya ke belakang di singgasana cendananya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan singgasana dengan irama yang lambat dan teratur.

“Selera humormu masih utuh,” komentarnya, dan untuk sesaat, sudut bibirnya terangkat dalam senyum tipis yang cepat menghilang. “Bagus. Karena aku tidak membutuhkan seorang pelawak yang ketakutan. Pelawak yang ketakutan hanya akan membuat lelucon yang membosankan.”

“Baginda,” Abu Nawas membungkuk hormat lagi, “saya tidak pernah takut. Saya hanya kadang-kadang bijaksana untuk mundur. Ada perbedaan besar antara ketakutan dan kebijaksanaan, meskipun kadang-kadang keduanya terlihat sama bagi orang yang tidak terbiasa melihat dari dekat.”

“Kali ini,” Baginga Raja Harun Al-Rasyid membungkuk ke depan, sikap santainya tiba-tiba berubah menjadi intensitas yang tajam. Matanya yang hitam pekat menatap Abu Nawas dengan kekuatan yang bisa membuat menteri paling berani pun gemetar. “Kali ini, kau tidak boleh mundur. Tidak ada tempat untuk mundur. Tidak ada tempat untuk bijaksana. Yang ada hanya menemukan atau… kehilangan.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara ketukan jari Baginda Raja di lengan singgasana yang tiba-tiba berhenti.

“Mahkotaku hilang,” lanjut Harun Al-Rasyid, dan kini suaranya turun menjadi bisikan yang justru lebih menakutkan daripada teriakan. “Mahkota Emas Al-Ma’mun, warisan dari kakekku, lambang kekuasaan kekhalifahan yang telah melewati tiga generasi. Hilang. Malam lusa, tepat dua hari yang lalu, dari ruang penyimpanan paling aman di seluruh kekhalifahan. Ruangan tanpa jendela, dengan dinding setebal dua hasta dari batu granit yang diimpor dari Mesir. Pintu kayu kelas satu mirip kayu jati yang dilapisi besi, dengan tujuh gembok perak yang masing-masing memiliki kunci unik yang dipegang oleh tujuh penjaga berbeda yang tidak pernah bertemu satu sama lain di luar tugas. Tidak ada bekas kerusakan. Tidak ada jejak. Tidak ada satu pun penjaga yang mendengar atau melihat sesuatu yang aneh.”

Ia berdiri dari singgasananya, berjalan perlahan mengelilingi ruangan, suaranya bergema di antara dinding-dinding sutra biru.

“Kami sudah menggeledah seluruh istana,” lanjutnya, “setiap kamar, setiap lemari, setiap sudut. Kami sudah menggeledah rumah-rumah para pejabat, para komandan, para menteri. Kami sudah memeriksa semua pelayan, semua dayang, semua penjaga, bahkan para juru masak dan tukang kebun. Kami sudah menyiksa mereka yang dianggap paling mungkin mengetahui sesuatu. Tidak ada yang ditemukan. Mahkota itu seolah-olah ditelan oleh bumi. Atau…”

Ia berbalik menghadap Abu Nawas, dan sekarang ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan kemarahan. Bukan kebingungan. Tapi rasa ingin tahu yang mendalam.

“…Atau, seperti yang dikatakan oleh peramal istanaku, mahkota itu mungkin sudah tidak berada di Baghdad lagi. Mungkin sudah dibawa ke kota lain, bahkan ke negeri lain, untuk dijual kepada musuh-musuhku.”

Ia menunjuk ke arah lelaki tua berjubah hitam di sudut ruangan. Abu Ishaq mengangguk pelan, matanya yang sipit menatap Abu Nawas dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Abu Ishaq telah melakukan ramalan dengan pasir dan timah panas,” kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid. “Dia bilang, mahkota itu sudah melewati sungai. Mungkin sudah sampai di Basra, atau bahkan lebih jauh, ke negeri-negeri Hindi. Aku tidak percaya. Aku rasa pencurinya masih di sini, bersembunyi di balik tembok-tembok ini, mungkin di antara orang-orang yang kukira paling setia kepadaku.”

Abu Nawas melirik sekilas ke arah Abu Ishaq. Peramal tua itu tidak mengalihkan pandangannya, tetapi ada sedikit gerakan di sudut bibirnya yang mungkin adalah senyum atau mungkin hanya kedutan karena usia. Abu Nawas memutuskan untuk tidak memusingkannya untuk saat ini.

“Jadi Baginda membutuhkan saya untuk mencari mahkota?” tanya Abu Nawas, mencoba mengkonfirmasi apa yang sudah ia duga sejak prajurit Khalid menjemputnya. “Bukankah itu tugas para menteri dan tentara Baginda? Mereka memiliki seribu cara untuk mencari barang. Saya hanya memiliki satu cara: duduk, berpikir, dan makan kurma. Agak tidak sebanding, menurut saya.”

Jafar yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya sedikit serak karena kelelahan dan kekhawatiran. “Abu Nawas, kami sudah menggunakan semua cara yang kami miliki. Seribu cara sudah kami coba. Tidak ada yang berhasil. Kami butuh cara yang ke seribu satu. Kami butuh seseorang yang bisa… berpikir seperti pencuri. Seseorang yang tidak terikat oleh aturan istana, oleh protokol, oleh rasa hormat yang berlebihan pada kekuasaan. Seseorang yang bisa melihat kebohongan di balik kesaksian yang paling sempurna.”

Ia berhenti, menatap Abu Nawas dengan tatapan yang lebih jujur daripada yang biasa ia tunjukkan di depan pejabat lain.

“Kami butuh seseorang yang tidak takut pada siapa pun. Bahkan pada Baginda Raja sekalipun.”

Abu Nawas mengangguk-angguk perlahan, tangannya mengelus dagu yang sudah sedikit berjanggut. “Ah,” katanya dengan nada mengerti, “jadi Baginda butuh orang gila untuk mencari orang gila lainnya. Karena hanya orang gila yang berani mencuri mahkota dari istana yang dijaga ribuan tentara. Dan hanya orang gila lain yang bisa menangkapnya. Tepat sekali. Sempurna. Saya setuju.”

Kali ini Baginda Raja Harun Al-Rasyid benar-benar tersenyum. Senyum yang kecil dan cepat, tetapi nyata. “Kau memang gila, Abu Nawas. Itu sebabnya kau bisa membuatku tertawa ketika semua orang di istana ini hanya bisa membuatku pusing.”

Ia kembali duduk di singgasananya, dan senyum itu menghilang, digantikan oleh ekspresi serius seorang raja yang sedang memberikan perintah.

“Ada syaratnya, Abu Nawas. Jika kau berhasil menemukan mahkotaku dan mengembalikannya ke tanganku dalam keadaan utuh, kau akan mendapat sepuluh kantong emas, masing-masing berisi seratus dinar. Kau juga akan mendapat sebuah rumah di tepi Sungai Tigris, dengan taman yang lebih indah dari taman manapun di Baghdad kecuali taman istanaku sendiri. Dan kau akan mendapat posisi sebagai penasihat istana dengan gaji yang membuat para menteriku iri.”

Ia berhenti, membiarkan tawaran itu menggantung di udara. Abu Nawas tidak bereaksi, hanya menunggu dengan sabar, karena ia tahu belum selesai.

“Tapi jika kau gagal,” lanjut Baginda Raja Harun Al-Rasyid, dan kini suaranya turun menjadi nada yang sangat pelan, sangat berbahaya. “Jika kau membuang-buang waktuku dengan lawakan-lawakanmu yang tidak berguna, jika kau membuatku berharap lalu mengecewakanku, jika dalam tiga hari mahkotaku belum kembali…” Ia berdiri lagi, berjalan mendekati Abu Nawas, dan berdiri tepat di hadapannya. Tinggi badannya jauh di atas Abu Nawas yang duduk bersila, sehingga Abu Nawas harus mendongak untuk menatapnya. “Maka aku akan menjadikan kepalamu hiasan di gerbang istana. Bersama dengan kepala semua orang yang gagal membantuku.”

Ia menepuk pundak Abu Nawas dengan keras, bukan tepukan ramah, tetapi tepukan yang terasa seperti peringatan.

“Apakah kau mengerti, Abu Nawas?”

Abu Nawas tidak bergerak. Tidak gemetar. Tidak memucat. Ia menatap mata Baginda Raja dengan tenang, dan untuk sesaat, ada keheningan yang aneh di antara mereka. Seperti dua pemain catur yang sedang mengukur kekuatan lawan.

Kemudian Abu Nawas tersenyum. Bukan senyum lawakan, tetapi senyum yang tenang, nyaris bijaksana.

“Baginda,” katanya dengan suara yang juga tenang, “saya mengerti sepenuhnya. Tapi sebelum saya memulai, boleh saya minta syarat lain? Bukan emas, bukan rumah, bukan posisi.”

Jafar yang mendengar itu langsung panik. “Abu Nawas! Jangan lancang! Baginda Raja sudah menawarkan—”

Namun Harun Al-Rasyid mengangkat tangannya, membungkam Wazirnya seketika. Ia menatap Abu Nawas dengan rasa ingin tahu yang baru.

“Syarat apa?”

Abu Nawas berdiri perlahan, merapikan jubahnya, lalu berdiri tegak di hadapan Baginda Raja. Tingginya sebatas dada Baginda Raja, tetapi posturnya tidak menunjukkan rasa rendah diri sedikit pun.

“Baginda,” katanya, “saya ingin tiga permintaan. Tapi bukan emas, bukan rumah, bukan posisi. Saya belum tahu apa permintaannya. Nanti saya sampaikan jika waktunya tiba. Saya janji, tidak akan memberatkan Baginda. Mungkin hanya meminta Baginda untuk… tertawa. Atau memaafkan seseorang. Atau hal-hal kecil lain yang tidak akan mengurangi kekayaan kekhalifahan.”

Harun Al-Rasyid menatap Abu Nawas lama. Matanya menyipit, mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik wajah cerdik itu.

“Kau tahu, Abu Nawas,” katanya akhirnya, “hampir tidak ada orang yang berani mengajukan syarat kepadaku. Para menteriku bahkan tidak berani meminta kenaikan gaji. Para panglimaku tidak berani meminta tambahan pasukan. Dan kau, seorang gelandangan yang jubahnya penuh noda kurma, berani memintaku untuk berhutang tiga permintaan yang belum kau tentukan.”

Abu Nawas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dengan senyum misteriusnya yang khas.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid menghela napas, tetapi di matanya ada kilatan kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. “Kau memang gila, Abu Nawas. Aku setuju. Tiga permintaan. Selama tidak bertentangan dengan syariat dan tidak mengancam kekuasaan kekhalifahan. Sekarang…”

Ia berbalik dan kembali ke singgasananya, duduk dengan sikap seorang raja yang telah selesai memberi perintah.

“…mulailah bekerja. Kau punya waktu tiga hari. Wazir Jafar akan menemanimu dan memberimu akses ke semua yang kau butuhkan. Kau bisa berbicara dengan siapa pun, pergi ke mana pun di kompleks istana ini, memeriksa apa pun yang kau anggap perlu. Tidak ada yang boleh menghalangimu.”

Ia menatap Abu Nawas sekali lagi, dan kali ini matanya tidak lagi main-main.

“Tiga hari, Abu Nawas. Ingat itu.”

Abu Nawas membungkuk dalam-dalam, dengan hormat yang tulus untuk pertama kalinya malam itu.

“Baginda,” katanya, “saya akan mulai dari tempat yang paling mungkin untuk menemukan petunjuk pertama.”

“Tempat apa?”

Abu Nawas mengangkat wajahnya, dan senyumnya kembali, senyum lebar yang biasa ia gunakan sebelum melontarkan lelucon.

“Perut saya, Baginda. Saya belum makan malam dengan layak sejak kemarin siang. Izin saya untuk memeriksa dapur istana terlebih dahulu. Siapa tahu, di antara panci-panci dan wajan-wajan itu, tersembunyi petunjuk tentang siapa yang suka memasak di tengah malam.”

Jafar menghela napas panjang, melepaskan semua ketegangan yang ia tahan selama ini. Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap Abu Nawas dengan ekspresi antara geli dan putus asa.

“Pergilah,” katanya. “Makanlah sepuasnya. Tapi ingat, Abu Nawas. Perutmu bukan satu-satunya yang harus kau isi dalam tiga hari ini. Otakmu juga. Atau…”

Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya.

“…kau akan kehilangan keduanya.”


BAB 2: MAHKOTA YANG LENYAP

Ditemani oleh Jafar yang setengah kesal karena harus menemani seorang gelandangan ke dapur istana pada tengah malam, Abu Nawas memulai penyelidikannya dengan cara yang paling tidak biasa. Alih-alih meminta untuk melihat ruang penyimpanan yang kosong, yang menurutnya akan tetap kosong meskipun dilihat seratus kali, ia meminta semangkuk besar bubur kacang hijau, sepuluh keping roti hangat dengan mentega madu, semangkuk buah ara segar, dan seteko susu kambing hangat.

“Kau benar-benar akan makan?” desis Jafar, duduk di bangku kayu panjang di dapur istana yang luas. Dapur itu adalah ruangan besar dengan langit-langit tinggi, dipenuhi dengan tungku-tungku bata, panci-panci tembaga yang berjejer rapi, dan meja-meja marmer panjang untuk memotong daging dan sayuran. Di malam hari, dapur ini sunyi, hanya diterangi oleh beberapa lampu minyak yang tersisa, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergoyang-goyang di dinding.

Para juru masak dan asisten dapur yang masih tersisa di tempat mereka, beberapa sedang membersihkan peralatan, beberapa sedang bersiap untuk persiapan sahur Baginda Raja, berbisik-bisik di kejauhan, tidak percaya bahwa seorang Wazir sekaliber Jafar Barmakid, keturunan dari keluarga Barmakid yang paling berpengaruh di kekhalifahan, sedang duduk di bangku kayu dapur, menemani seorang yang mereka kenal sebagai tukang lawak jalanan yang kadang-kadang diundang ke istana untuk menghibur Baginda Raja.

“Wazirku yang mulia,” Abu Nawas menyuap bubur kacang hijaunya dengan lahap, sesekali mencelupkan roti ke dalamnya, “otak yang lapar tidak akan pernah bisa berpikir jernih. Seorang filsuf Yunani yang namanya tidak bisa saya sebutkan karena saya lupa, pernah berkata bahwa perut adalah akar dari semua pemikiran. Jika akarnya kosong, pohonnya akan layu. Jadi biarkan saya mengisi akar ini, maka ia akan menjadi pohon yang rindang yang memberikan keteduhan bagi seluruh istana.”

Jafar mendesah, mengusap wajahnya yang lelah. “Baiklah. Makanlah. Tapi setelah ini, kau harus serius, Abu Nawas. Kita berhadapan dengan sesuatu yang sangat berbahaya. Mahkota itu bukan hanya benda berharga. Itu adalah simbol kekuasaan. Lambang kekhalifahan. Jika berita ini tersebar ke luar, jika musuh-musuh kita di Basra, di Damaskus, di Romawi mengetahui bahwa Mahkota Emas Al-Ma’mun hilang dari istana yang dijaga ribuan tentara, mereka akan berpikir bahwa kekhalifahan sedang lemah. Bahwa Baginda Raja Harun Al-Rasyid tidak mampu melindungi hartanya sendiri. Dan itu… itu bisa memicu perang, Abu Nawas. Perang yang akan menewaskan ribuan orang.”

Abu Nawas berhenti mengunyah. Ia menatap Jafar dengan serius untuk pertama kalinya malam itu.

“Wazir,” katanya, “ceritakan padaku secara detail. Jangan yang resmi. Jangan yang sudah dirapikan untuk laporan kepada Baginda Raja. Ceritakan seperti kau bercerita pada teman lama di kedai wine. Ceritakan semua yang kau ingat, semua yang kau rasakan, bahkan hal-hal kecil yang mungkin kau anggap tidak penting. Karena seringkali, petunjuk terbesar tersembunyi di detail terkecil.”

Jafar terdiam. Sebagai seorang Barmakid yang terdidik dalam etiket istana sejak kecil, ide untuk bercerita ‘seperti di kedai wine’ terasa tidak pantas. Namun ia melihat mata Abu Nawas. Mata itu tidak lagi main-main. Tidak ada kilatan lelucon di sana. Yang ada adalah kecerdikan yang tajam, seperti pisau yang diasah dengan sangat halus, siap untuk memotong lapisan-lapisan kebohongan yang mungkin membungkus kebenaran.

Jafar menghela napas panjang, lalu mulai bercerita.

“Tiga malam yang lalu. Tepatnya, malam Selasa setelah salat Isya. Penjagaan istana diperketat karena ada laporan dari mata-mata kita di utara bahwa beberapa suku di perbatasan sedang bergerak mencurigakan. Baginda Raja memerintahkan siaga penuh. Semua penjaga ditempatkan di pos-pos strategis. Termasuk ketujuh penjaga kunci Khizanat al-Khassa.”

Ia berhenti, mengingat-ngingat detail.

“Ketujuh penjaga itu… aku hafal nama mereka karena sudah berkali-kali aku memeriksa mereka. Mahmud, yang tertua, sudah lima belas tahun menjaga. Fadil, anak muda dari keluarga prajurit turun-temurun. Usman, yang dikenal paling disiplin. Najib, yang suka bercerita. Rashid, yang pendiam. Zayd, yang paling muda dan paling bersemangat. Dan Hisham… Hisham yang paling kurus dan paling sering sakit-sakitan. Mereka semua berada di pos masing-masing, di koridor yang mengelilingi ruang penyimpanan. Setiap penjaga memegang satu kunci, disimpan di ikat pinggang mereka dalam sarung kulit, tidak pernah lepas. Mereka tidak tahu posisi satu sama lain. Mereka tidak pernah bertemu selama jam tugas, kecuali saat pergantian shift.”

“Siapa yang berwenang mengumpulkan ketujuh kunci?” tanya Abu Nawas sambil memotong buah ara menjadi dua dan memasukkannya ke mulut.

“Hanya dua orang. Aku, sebagai Wazir, atau Baginda Raja sendiri. Tidak ada orang lain. Bahkan Putri Zubaidah sekalipun tidak memiliki wewenang untuk itu. Prosedurnya sudah ditetapkan sejak masa Baginda Raja Al-Mansur: jika ruang penyimpanan harus dibuka, Baginda Raja atau Wazir harus hadir langsung, memanggil ketujuh penjaga satu per satu, dan menyaksikan mereka membuka gembok secara bersamaan. Tidak pernah ada satu orang pun yang memegang lebih dari satu kunci dalam waktu yang bersamaan.”

“Malam itu, apakah ada perintah pembukaan?”

Jafar menggeleng tegas. “Tidak. Tidak ada perintah dari Baginda Raja, tidak ada perintah dariku. Semua berjalan normal hingga keesokan paginya.”

“Ceritakan pagi itu.”

Jafar menutup matanya, mengingat kembali dengan jelas setiap detail dari pagi yang mengerikan itu.

“Pagi harinya, sekitar pukul delapan, Mahmud, penjaga pertama, melakukan rutinitas pengecekan seperti biasa. Dia berjalan menyusuri koridor menuju pintu Khizanat al-Khassa, dan dari kejauhan, dia sudah melihat sesuatu yang aneh. Pintu itu… terbuka. Tidak sepenuhnya terbuka lebar, tetapi tidak tertutup rapat seperti seharusnya. Ada celah selebar satu jari di antara daun pintu dan kusennya.”

Ia membuka matanya, dan Abu Nawas bisa melihat ketakutan yang masih tersisa di sana.

“Mahmud berlari mendekat. Dia memeriksa gemboknya, gembok nomor satu, yang kuncinya dia pegang, dan dia melihat bahwa gembok itu sudah terbuka. Bukan dirusak, bukan dipaksa. Terbuka dengan kunci yang tepat. Dia kemudian memeriksa gembok-gembok lainnya. Semuanya terbuka. Ketujuh-tujuhnya. Pintu itu bisa didorong dengan mudah.”

“Dan di dalam?”

“Dan di dalam,” suara Jafar nyaris berbisik sekarang, “bantal beludru merah itu kosong. Mahkota Emas Al-Ma’mun, dengan rubi sebesar telur merpati dan zamrud yang bercahaya dalam gelap, tidak ada. Hanya ada bekas, bekas di beludru itu menunjukkan bahwa mahkota baru saja diambil. Mungkin hanya beberapa jam sebelumnya. Masih hangat, kata Mahmud. Bantalnya masih terasa hangat karena baru saja ditinggalkan.”

Abu Nawas meletakkan pisau buah aranya. “Siapa yang pertama kali memeriksa gembok-gembok itu? Apakah ahli pandai besi istana sudah memeriksanya?”

“Sudah. Kami memanggil Ustadz Karim, pandai besi istana yang paling ahli. Dia memeriksa ketujuh gembok itu selama dua jam. Kesimpulannya: tidak ada kerusakan. Tidak ada goresan alat. Tidak ada bekas paksa. Gembok-gembok itu dibuka dengan kunci yang tepat. Kunci asli, bukan duplikat.”

“Apakah mungkin membuat duplikat tanpa sepengetahuan penjaga?”

Jafar menggeleng. “Tidak mungkin. Setiap kunci dibuat oleh pandai besi istana dengan logam khusus yang campurannya dirahasiakan. Untuk membuat duplikat, seseorang harus memiliki kunci asli sebagai contoh setidaknya selama satu hari penuh. Dan tidak ada satu pun penjaga yang melepaskan kunci mereka dari ikat pinggang mereka. Mereka tidur dengan kunci itu. Mereka mandi dengan kunci itu. Mereka bahkan ke kamar kecil dengan kunci itu. Kunci itu adalah bagian dari tubuh mereka.”

Abu Nawas berdiri, meninggalkan makanannya yang tersisa. Gerakannya yang biasanya malas tiba-tiba menjadi cepat dan terarah.

“Bawa saya ke pintu itu,” katanya.


Khizanat al-Khassa berada di jantung kompleks istana, dikelilingi oleh koridor-koridor berlapis marmer yang hanya bisa diakses oleh pejabat tertinggi kekhalifahan. Abu Nawas berjalan di samping Jafar, matanya tidak berhenti bergerak, mengamati setiap detail: ketebalan dinding yang terlihat dari kedalaman relung obor, letak setiap obor yang menerangi koridor, bayangan yang dihasilkan oleh cahaya lampu, sudut-sudut yang gelap, bahkan ubin lantai yang terlihat agak longgar di beberapa tempat.

“Koridor ini,” tanya Abu Nawas sambil berjalan, “apakah selalu dijaga sepanjang waktu?”

“Dijaga, tetapi tidak selalu oleh penjaga yang sama. Ada tiga shift: pagi, sore, malam. Yang malam adalah yang paling ketat karena dianggap paling rawan.”

“Apakah ada shift yang kosong? Waktu di mana tidak ada penjaga sama sekali?”

“Tidak pernah. Selalu ada setidaknya satu penjaga di setiap pos. Itu sudah diatur.”

Mereka tiba di depan pintu kualitas nomor saru sejenis kayu jati besar itu. Abu Nawas berhenti, berdiri diam selama beberapa saat, hanya menatap pintu itu. Kayu sejenis kayu jati hitam dengan ukiran kaligrafi emas yang rumit, bertuliskan ayat Kursi dan nama-nama Allah yang Maha Melindungi. Tujuh lubang gembok terpasang rapi di sisi kanan pintu, masing-masing dengan ukiran yang berbeda untuk membedakannya. Tidak ada goresan. Tidak ada bekas alat pengungkit. Tidak ada tanda-tanda bahwa pintu ini pernah dibuka paksa.

Abu Nawas membungkuk, menyentuh lantai marmer di depan pintu. Ia mengusap permukaannya dengan jari, lalu mendekatkan jari itu ke hidungnya.

“Debu,” katanya. “Tipis, tapi ada. Lantai ini biasanya disapu kapan?”

“Setiap pagi, sebelum jam delapan. Oleh petugas kebersihan istana.”

“Maka, jika ada yang berdiri di sini setelah penyapuan terakhir, seharusnya ada jejak. Jejak telapak kaki. Jejak debu yang terganggu. Tapi tidak ada. Lantai ini bersih. Tidak ada bekas telapak kaki selain milik kita dan milik Mahmud ketika dia menemukan pintu terbuka.”

Ia berdiri, menatap pintu itu dengan mata menyipit.

“Pencuri ini tidak hanya cerdik, Wazir. Dia juga sangat hati-hati. Dia tahu persis kapan lantai disapu. Dia tahu persis kapan penjaga berganti. Dia tahu persis di mana harus berdiri agar tidak meninggalkan jejak. Dia… dia sangat mengenal istana ini.”

Ia berbalik menghadap Jafar.

“Katakan padaku, Wazir. Siapa saja yang memiliki akses ke koridor ini tanpa menimbulkan kecurigaan?”

Jafar berpikir sejenak. “Pejabat tinggi kekhalifahan. Para komandan militer. Keluarga Baginda Raja. Pelayan-pelayan senior yang sudah bekerja di sini lebih dari sepuluh tahun. Dan… para penjaga itu sendiri, tentu saja.”

“Keluarga Baginda Raja?” Abu Nawas mengangkat alis.

Jafar ragu. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sudah memikirkan kemungkinan ini tetapi tidak berani mengatakannya dengan lantang. “Ya. Tapi mustahil mereka—”

“Wazir,” potong Abu Nawas dengan suara yang tiba-tiba tegas, “dalam penyelidikan seperti ini, tidak ada yang mustahil. Pencuri yang bisa masuk ke ruangan tanpa jendela, membuka tujuh gembok tanpa kunci, dan keluar tanpa jejak, orang seperti itu tidak terikat oleh ‘mustahil’ seperti kita. Dia hidup di dunia di mana segala sesuatu mungkin terjadi, asalkan akalnya cukup tajam.”

Ia berjalan mengelilingi pintu, memeriksa dinding di kedua sisinya.

“Mulailah dengan membiarkan saya berbicara dengan ketujuh penjaga itu. Satu per satu. Tanpa kehadiran pejabat lain. Hanya aku, mereka, dan kau, Wazir, jika kau mau. Tapi kau harus diam. Biarkan aku yang bertanya.”

Jafar mengangguk, meskipun dengan sedikit keraguan. “Baik. Mereka sedang ditahan di ruangan berbeda. Kami tidak mengizinkan mereka bertemu satu sama lain sejak pagi kejadian. Aku akan mengatur pertemuan.”

Abu Nawas tersenyum. “Bagus. Sementara itu, Wazir…”

“Ya?”

“Ada satu hal lagi. Apakah mungkin seseorang bisa masuk ke Khizanat al-Khassa melalui cara lain? Lubang rahasia? Terowongan bawah tanah?”

Jafar menggeleng tegas. “Tidak. Dindingnya diperiksa oleh ahli bangunan istana setelah kejadian. Tidak ada lubang, tidak ada retakan, tidak ada terowongan. Satu-satunya jalan masuk adalah pintu ini. Tidak ada yang lain.”

Abu Nawas mengangguk, matanya kembali menatap pintu itu dengan penuh makna.

“Kalau begitu, Wazir, pencuri ini bukan manusia biasa. Atau…” ia tersenyum tipis, “…dia adalah manusia biasa dengan akal yang luar biasa biasa. Dan akal seperti itu, Wazir, biasanya dimiliki oleh orang yang sangat dekat dengan kekuasaan.”


BAB 3: PARA PENJAGA DAN CERITA YANG TAK SAMA

Ketujuh penjaga itu ditempatkan di ruangan yang berbeda di sayap barat istana, masing-masing dijaga oleh dua orang prajurit bersenjata lengkap. Mereka tidak diizinkan berbicara satu sama lain, tidak diizinkan menerima tamu, tidak diizinkan membaca surat atau menerima berita dari luar. Mereka hidup dalam isolasi total sejak pagi setelah kejadian, hanya ditemani oleh ketakutan mereka sendiri dan pertanyaan-pertanyaan yang sama yang diajukan berulang-ulang oleh para interogator.

Abu Nawas meminta untuk dipertemukan dengan mereka satu per satu di sebuah ruangan kecil yang disediakan khusus. Ruangan itu sederhana: dinding bata putih, lantai marmer, satu meja kayu, dan dua kursi. Jafar duduk di sudut ruangan, jauh dari meja, berusaha untuk tidak mengganggu. Seorang juru tulis duduk di sudut lain, siap mencatat setiap kata yang diucapkan, tetapi Abu Nawas memintanya untuk pergi.

“Tidak perlu catatan,” katanya. “Yang penting bukan apa yang mereka katakan, tapi bagaimana mereka mengatakannya. Dan catatan tidak bisa menangkap itu.”

Penjaga pertama yang dipanggil adalah Mahmud. Lelaki tua berusia lima puluh tahun dengan wajah penuh kerutan, janggut yang sudah memutih, dan mata yang sayu karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis. Ia masuk dengan langkah gemetar, duduk di kursi di hadapan Abu Nawas dengan tangan yang masih bergetar hebat. Bau keringat ketakutan menyengat dari tubuhnya.

“Mahmud,” Abu Nawas memulai dengan suara yang sangat lembut, sangat berbeda dari nada lawakannya yang biasa. Suaranya terdengar seperti seorang ayah yang sedang menenangkan anaknya yang ketakutan. “Aku bukan algojo. Aku bukan interogator. Aku bukan hakim. Aku hanya seorang yang diminta oleh Baginda Raja untuk membantu mencari mahkotanya. Dan untuk bisa membantu, aku perlu mendengar ceritamu. Ceritakan malam itu darimu. Dari awal hingga akhir. Jangan sembunyikan apa pun. Jangan tambahi apa pun. Ceritakan apa yang kau lihat, dengar, rasakan, dan cium.”

Mahmud menghela napas panjang yang terputus-putus, seolah-olah setiap helaan napas membutuhkan seluruh kekuatannya.

“Tuan…,” suaranya serak, pecah di beberapa tempat. “Aku sudah mengatakan semuanya pada Wazir Jafar. Aku sudah mengatakan semuanya pada para interogator. Aku sudah mengatakan semuanya pada Panglima. Aku tidak tahu apa-apa. Aku bersumpah demi Allah, aku tidak tahu apa-apa.”

“Aku percaya kau tidak tahu apa-apa, Mahmud,” kata Abu Nawas dengan tenang. “Tapi mungkin kau melihat sesuatu tanpa menyadari bahwa itu penting. Atau mendengar sesuatu yang kau anggap biasa tapi sebenarnya tidak biasa. Jadi ceritakan padaku. Seperti kau bercerita pada anak cucumu tentang masa mudamu.”

Mahmud menunduk, air matanya mulai menetes. Butuh beberapa saat baginya untuk menenangkan diri. Akhirnya, ia mulai bercerita.

“Aku… aku berada di pos jagaku, di koridor selatan, sejak Maghrib hingga Subuh. Itu shift-ku. Aku tidak meninggalkan pos kecuali untuk… untuk buang air. Itu pun hanya setengah jam, setelah Isya, ketika penjaga cadangan datang menggantikanku.”

“Siapa penjaga cadanganmu?”

“Karim. Namanya Karim. Dia anak muda, baru dua tahun bertugas. Tapi dia orang baik, Tuan. Rajin. Tidak pernah telat.”

“Baik. Ceritakan tentang malam itu. Apa yang kau lihat?”

Mahmud mengusap air matanya dengan punggung tangan. “Koridor itu gelap, Tuan. Hanya diterangi obor di dinding setiap sepuluh langkah. Biasanya, aku bisa melihat ujung koridor dari posku. Tapi malam itu… malam itu ada kabut tipis. Kabut dari sungai, mungkin. Jadi jarak pandangku terbatas. Aku hanya bisa melihat sekitar dua puluh langkah ke depan. Selebihnya, kabut.”

“Apakah kau mendengar sesuatu?”

“Tidak. Sepi sekali malam itu. Biasanya, kadang-kadang ada suara langkah kaki dari koridor lain, atau suara pintu dibuka, atau suara dayang-dayang yang masih terjaga. Tapi malam itu… sunyi. Sunyi sekali. Seperti seluruh istana sedang tidur.”

“Apakah kau melihat bayangan? Gerakan? Sesuatu yang bergerak di kabut?”

Mahmud berpikir sejenak. “Tidak, Tuan. Tidak ada yang bergerak. Hanya kabut yang bergerak perlahan, seperti asap.”

Abu Nawas mencatat sesuatu di telapak tangannya dengan jari, kebiasaan anehnya yang sudah terkenal. “Mahmud, kau sudah menjaga pintu ini selama lima belas tahun. Selama lima belas tahun itu, apakah pernah ada kejadian aneh? Sekecil apa pun. Sesuatu yang membuatmu merasa tidak biasa.”

Mahmud terdiam sejenak. Matanya menerawang, mengingat kembali. Kemudian, perlahan, wajahnya berubah.

“Tuan… ada satu hal. Tapi ini mungkin hanya kekhawatiran orang tua. Mungkin tidak penting.”

“Ceritakan.”

“Sekitar sebulan yang lalu… mungkin lebih, aku tidak ingat persis. Suatu malam, ketika aku memeriksa gembokku seperti biasa sebelum mulai bertugas, aku merasakan… gembok itu terasa longgar. Seperti baru saja dibuka. Aku kunci ulang, dan terasa normal lagi. Aku pikir itu hanya karena tanganku dingin, atau karena udaranya yang lembab.”

“Apakah kau melaporkan ini?”

Mahmud menggeleng pelan. “Aku takut, Tuan. Penjaga yang melaporkan hal-hal aneh yang tidak bisa dibuktikan sering dianggap tidak waras. Atau dicurigai. Aku sudah tua, Tuan. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ini. Ini satu-satunya yang kumiliki untuk menghidupi anak-anakku.”

Abu Nawas mengangguk pelan. “Siapa lagi yang memiliki akses ke kuncimu selain dirimu?”

“Tidak ada, Tuan. Aku yang menyimpannya. Diikat di ikat pinggangku, di dalam sarung kulit yang kujahit sendiri. Tidak pernah lepas dari tubuhku. Bahkan ketika aku mandi, kunci itu tetap di ikat pinggangku, dan ikat pinggangku tetap kupakai. Aku tidak pernah melepasnya.”


Setelah Mahmud keluar, Abu Nawas memanggil penjaga kedua, Fadil. Fadil adalah anak muda berusia dua puluh lima tahun, dengan tubuh kekar dan wajah yang masih menunjukkan keberanian meskipun matanya merah karena kurang tidur. Ia duduk di kursi dengan punggung tegak, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak takut.

“Fadil,” Abu Nawas menyapanya. “Ceritakan malam itu darimu.”

Fadil menarik napas dalam-dalam. “Saya di pos koridor timur, Tuan. Dari Maghrib hingga Subuh. Sama seperti Mahmud, saya hanya meninggalkan pos untuk buang air setelah Isya, digantikan oleh penjaga cadangan.”

“Siapa penjaga cadanganmu?”

“Samir.”

“Apakah kau melihat sesuatu yang aneh malam itu?”

Fadil menggeleng. “Tidak, Tuan. Semua normal.”

“Bagaimana dengan obor di koridormu? Menyala terang atau redup?”

Fadil mengerutkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan itu. “Obor… menyala seperti biasa, Tuan. Tidak terlalu terang, tidak terlalu redup.”

“Apakah ada angin malam itu?”

“Angin? Tidak, Tuan. Tenang.”

“Apakah kau mendengar langkah kaki? Suara apa pun?”

“Tidak, Tuan. Sunyi.”

Abu Nawas mengangguk. “Terima kasih, Fadil. Kau boleh kembali.”


Penjaga ketiga, Usman, adalah lelaki paruh baya dengan wajah keras yang menunjukkan disiplin militer yang kuat. Ia duduk dengan sikap sempurna, tangan di pangkuan, mata lurus ke depan.

“Usman,” Abu Nawas memulai. “Ceritakan malam itu.”

“Saya di pos koridor barat, Tuan. Shift Maghrib hingga Subuh. Saya tidak meninggalkan pos sama sekali malam itu.”

Abu Nawas mengangkat alis. “Tidak buang air? Tidak makan?”

“Saya sudah buang air sebelum Maghrib, Tuan. Dan saya makan bekal yang saya bawa di pos. Saya tidak perlu digantikan.”

“Apakah itu biasa? Tidak digantikan?”

“Saya lebih suka begitu, Tuan. Saya tidak percaya pada penjaga cadangan. Mereka sering lalai.”

Abu Nawas tersenyum tipis. “Bagaimana dengan obor di koridormu?”

“Menyala terang, Tuan. Tidak ada masalah.”

“Apakah kau mendengar sesuatu malam itu? Suara langkah? Suara pintu?”

Usman berpikir sejenak. “Sekitar tengah malam, saya mendengar sesuatu. Langkah kaki. Dari kejauhan, mungkin dari koridor selatan. Tapi hanya beberapa langkah, lalu berhenti. Mungkin hanya Mahmud yang sedang berjalan.”

“Apakah kau periksa?”

“Tidak, Tuan. Bukan tugas saya. Saya hanya bertanggung jawab atas koridor barat.”


Penjaga keempat, Najib, adalah lelaki gemuk dengan wajah bulat dan sifat ramah yang biasanya suka bercerita. Malam itu, wajah bulatnya tampak kusut karena kelelahan dan ketakutan.

“Najib,” Abu Nawas menyapanya dengan nada yang lebih santai. “Katakan, malam itu kau di pos mana?”

“Koridor utara, Tuan. Dekat taman dalam. Posisi yang paling sejuk karena angin dari taman.”

“Apakah kau meninggalkan pos?”

“Ya, Tuan. Untuk buang air setelah Isya. Digantikan oleh Karim, msama seperti Mahmud.”

“Apakah kau melihat atau mendengar sesuatu yang aneh?”

Najib menggeleng. “Tidak, Tuan. Sepi sekali. Biasanya, dari posku, aku bisa mendengar suara air mancur di taman. Tapi malam itu, air mancurnya mati. Mungkin karena perintah penghematan air.”

“Apakah kau mendengar langkah kaki?”

“Tidak, Tuan.”

“Apakah kau melihat bayangan? Gerakan?”

Najib berpikir. “Tidak, Tuan. Hanya kabut tipis dari sungai yang masuk ke koridor. Tapi itu biasa.”


Penjaga kelima, Rashid, adalah lelaki pendiam yang hampir tidak pernah berbicara lebih dari beberapa kata. Ia duduk di kursi dengan kepala menunduk, hanya menjawab pertanyaan dengan ya atau tidak.

“Rashid,” Abu Nawas memulai dengan sabar. “Kau di pos mana?”

“Koridor timur laut, Tuan.”

“Apakah kau melihat sesuatu yang aneh?”

“Tidak.”

“Mendengar sesuatu?”

“Tidak.”

“Apakah kau meninggalkan pos?”

“Tidak.”

“Apakah kau melihat bayangan?”

Rashid berhenti sejenak. “Saya… saya melihat bayangan, Tuan.”

Abu Nawas menajamkan matanya. “Bayangan seperti apa?”

“Di ujung koridor timur, sekitar tengah malam. Bayangan seseorang. Tapi ketika saya periksa, tidak ada siapa-siapa.”

“Apakah kau melaporkan ini?”

“Tidak, Tuan. Saya pikir itu hanya karena cahaya obor yang bergoyang.”


Penjaga keenam, Zayd, adalah yang termuda, baru berusia dua puluh tahun. Ia masih segar dan bersemangat, meskipun matanya menunjukkan kelelahan.

“Zayd,” Abu Nawas menyapanya. “Kau di pos mana?”

“Koridor selatan-barat, Tuan. Dekat pintu belakang istana.”

“Apakah kau melihat atau mendengar sesuatu?”

Zayd menggeleng. “Tidak, Tuan. Sunyi. Tapi…”

“Tapi?”

“Saya merasa ada yang berbeda malam itu. Biasanya, di posku, saya bisa mendengar suara kuda-kuda di kandang dari kejauhan. Tapi malam itu, kuda-kuda itu diam. Tidak ada suara sama sekali. Seperti mereka juga sedang mendengarkan sesuatu.”


Penjaga ketujuh, Hisham, adalah pemuda kurus dengan wajah pucat dan mata yang sayu. Ia masuk ke ruangan dengan langkah lemas, dan ketika duduk, tubuhnya tampak menggigil meskipun ruangan tidak dingin.

“Hisham,” Abu Nawas memanggilnya dengan suara lembut. “Kau terlihat sakit.”

Hisham mengangguk pelan. “Saya sakit kepala malam itu, Tuan. Sangat sakit. Saya minta digantikan oleh penjaga cadangan sekitar pukul sepuluh, dan saya tidur di barak.”

“Siapa yang menggantikanmu?”

“Samir, Tuan. Samir yang baik. Dia setuju menggantikanku meskipun itu bukan shift-nya.”

“Apakah kau ingat apa pun tentang malam itu? Sebelum kau pergi ke barak?”

Hisham menggeleng. “Tidak, Tuan. Kepalaku terasa seperti dipukul. Aku hanya ingin tidur. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku sampai di barak.”

Abu Nawas menatap Hisham dengan saksama. “Hisham, apakah kau meminum atau memakan sesuatu sebelum bertugas malam itu?”

Hisham berpikir. “Saya… saya minum segelas susu, Tuan. Dari dapur. Sebelum Maghrib. Biasanya saya tidak minum susu, tapi malam itu saya merasa haus.”

“Siapa yang memberimu susu?”

“Seorang pelayan dapur. Saya tidak tahu namanya. Wajahnya… saya tidak ingat.”

Abu Nawas mengangguk pelan. “Terima kasih, Hisham. Kau boleh kembali.”


Setelah ketujuh penjaga keluar, ruangan itu sunyi. Jafar yang dari tadi duduk diam di sudut, akhirnya mendekati Abu Nawas yang sedang duduk dengan mata terpejam, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang lambat.

“Ada yang kau dapatkan?” tanya Jafar, tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Abu Nawas membuka matanya. Matanya jernih, fokus, semua sisa-sisa kelalaiannya yang biasa telah lenyap.

“Wazir,” katanya, “aku punya beberapa kejanggalan.”

“Apa?”

“Pertama, obor. Mahmud bilang obor di koridornya menyala terang. Fadil bilang obor di koridornya biasa saja. Usman bilang terang. Najib tidak komentar. Tapi mereka semua di koridor yang berdekatan. Seharusnya, intensitas cahaya obor relatif sama di seluruh koridor, karena obor-obor itu dinyalakan dan diisi minyak pada waktu yang sama oleh petugas yang sama. Tapi kenapa ada yang bilang terang dan ada yang bilang biasa saja?”

Jafar mengerutkan kening. “Mungkin perbedaan persepsi?”

“Mungkin. Tapi perbedaan persepsi adalah petunjuk. Orang yang sedang cemas cenderung melihat cahaya lebih redup. Orang yang tenang melihatnya terang. Jadi, dari perbedaan itu, aku bisa menebak siapa yang cemas dan siapa yang tenang malam itu.”

“Lalu?”

“Kedua, suara langkah kaki. Usman mendengar langkah kaki di koridor selatan sekitar tengah malam. Mahmud, yang berada di koridor selatan, tidak mendengar apa-apa. Siapa yang benar? Jika Usman mendengar langkah kaki, seharusnya Mahmud juga mendengar, karena pos mereka berdekatan. Tapi Mahmud tidak mendengar. Berarti, langkah kaki itu sangat pelan, atau hanya didengar oleh Usman karena telinganya lebih tajam. Atau… Usman mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada.”

“Atau?”

“Atau, Usman berbohong.”

Jafar tersentak. “Usman? Dia penjaga paling disiplin! Tidak mungkin!”

“Wazir,” Abu Nawas tersenyum tipis, “dalam kasus ini, semua orang mungkin. Termasuk penjaga paling disiplin sekalipun.”

“Apa lagi?”

“Ketiga, Rashid melihat bayangan di koridor timur. Tapi Fadil, yang berjaga di koridor timur, tidak melihat apa pun. Apakah Rashid salah lihat? Atau Fadil yang tidak jeli? Atau bayangan itu memang hanya terlihat dari sudut tertentu?”

“Keempat,” lanjut Abu Nawas sebelum Jafar menjawab, “kuda-kuda. Zayd bilang kuda-kuda di kandang diam malam itu. Padahal biasanya, kuda-kuda kadang bersuara. Apakah ada yang menenangkan kuda-kuda itu? Atau apakah mereka juga merasakan sesuatu yang aneh?”

“Kelima,” suara Abu Nawas menjadi lebih pelan, lebih serius. “Hisham. Dia minum susu sebelum bertugas, lalu sakit kepala hebat dan tidak ingat apa-apa. Apakah susu itu dicampur sesuatu? Siapa yang memberinya susu? Dan mengapa dia yang sakit, padahal penjaga lain tidak?”

Jafar terdiam, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja didengarnya.

“Dan yang terakhir,” kata Abu Nawas sambil berdiri, “yang paling penting. Ada aroma melati di barak Hisham.”

Jafar mengerutkan kening. “Melati? Di barak penjaga?”

“Ya. Samar, tapi ada. Di bantal Hisham. Apakah penjaga laki-laki biasanya menggunakan wewangian melati?”

“Tidak. Tidak pernah.”

“Maka, ada wanita yang masuk ke barak Hisham malam itu. Atau… Hisham sendiri yang menggunakan wewangian itu, yang menurutmu tidak mungkin. Atau… seseorang meninggalkannya sebagai jejak.”

Abu Nawas berjalan ke pintu, lalu berbalik menghadap Jafar.

“Wazir, aku ingin memeriksa barak Hisham. Dan aku ingin berbicara dengan Samir, penjaga cadangan yang menggantikan Hisham, Fadil, dan Mahmud malam itu. Tapi sebelum itu…”

“Sebelum itu?”

“Bawa aku ke ruang perbendaharaan. Aku ingin melihat sendiri di mana mahkota itu disimpan. Bukan hanya pintunya, tapi bagian dalamnya. Aku ingin melihat bantal beludru merah yang kosong itu.”


BAB 4: JEJAK YANG TAK TERLIHAT

Barak para penjaga istana adalah bangunan sederhana namun terawat di sayap utara kompleks, dekat dengan kandang kuda dan gudang senjata. Bangunan itu terbuat dari bata merah dengan atap dari kayu kelas satu sejenis kayu jati, terdiri dari satu ruang panjang yang berisi dua puluh ranjang kayu berjajar rapi di kedua sisi dinding. Setiap ranjang dilengkapi dengan kasur tipis, selimut wol, dan sebuah peti kecil di kaki ranjang untuk menyimpan barang-barang pribadi.

Abu Nawas berjalan melewati deretan ranjang itu, diikuti oleh Jafar yang mulai kehilangan kesabaran. Matanya bergerak cepat, mengamati setiap detail: lipatan selimut, posisi bantal, barang-barang yang tertinggal di atas peti, bahkan noda-noda di dinding.

“Kita sudah kehilangan satu hari, Abu Nawas,” desis Jafar, suaranya mengandung kekhawatiran yang sulit disembunyikan. “Baginda Raja mulai bertanya-tanya apa yang kau lakukan selain berjalan-jalan di istana dan makan di dapur. Aku sudah berusaha menenangkannya, tapi kau tahu sendiri bagaimana Baginda Raja jika sudah tidak sabar.”

Abu Nawas tidak menjawab. Ia berhenti di depan ranjang yang bertuliskan nama Hisham di papan kayu kecil di kepalanya. Ia membungkuk, memeriksa selimut yang dilipat tidak rapi, berbeda dengan selimut penjaga lain yang dilipat dengan rapi sesuai aturan militer.

“Hisham,” gumam Abu Nawas, “tergesa-gesa saat meninggalkan ranjangnya. Tidak seperti penjaga lain yang melipat selimut sebelum berangkat tugas. Ada sesuatu yang membuatnya terburu-buru.”

Ia menyentuh bantal—bantal tipis berisi kapas yang sudah kusam karena usia. Ia mendekatkan bantal itu ke hidungnya, menarik napas dalam-dalam.

“Melati,” katanya. “Masih ada. Samar, tapi tidak salah. Ini bukan aroma dari sabun mandi atau minyak rambut biasa. Ini adalah wewangian mahal yang biasanya digunakan oleh… wanita istana.”

Jafar mendekat, mengendus dengan ragu. “Aku tidak mencium apa-apa.”

“Karena hidungmu tidak terlatih, Wazir,” kata Abu Nawas sambil meletakkan bantal itu kembali. “Hidungku terlatih untuk mencium aroma makanan dari jarak seratus langkah. Percayalah, ini melati.”

Ia membungkuk lagi, memeriksa lantai di bawah ranjang. Debu tipis menutupi lantai tanah liat yang dipadatkan. Di sana, di sudut dekat kaki ranjang, ia melihat sesuatu.

Ia menyentuhnya dengan jari, lalu mengangkatnya ke depan mata. Sehelai rambut panjang, berwarna hitam keperakan, hampir sepanjang satu hasta.

“Rambut wanita,” katanya. “Panjang, terawat, mungkin milik wanita muda. Bukan rambut Hisham yang pendek dan kasar.”

Jafar memucat. “Abu Nawas… kau tidak sedang menuduh bahwa ada wanita yang masuk ke barak penjaga, kan? Itu pelanggaran berat. Bisa dihukum mati.”

“Aku tidak menuduh apa pun, Wazir. Aku hanya menemukan fakta. Rambut wanita. Aroma melati. Hisham yang sakit kepala setelah minum susu dan tidak ingat apa-apa. Hisham yang meninggalkan ranjangnya dalam keadaan tidak rapi. Semua ini adalah fakta. Dan fakta, Wazir, tidak pernah berbohong.”

Ia berdiri, memasukkan rambut itu ke dalam saku jubahnya.

“Sekarang, panggil Samir. Tapi jangan di ruang interogasi. Ajak dia berjalan-jalan di taman. Aku akan berbicara dengannya di sana, di tempat yang lebih santai. Orang lebih mudah berbicara ketika mereka merasa tidak sedang diinterogasi.”


Taman dalam istana Baghdad adalah salah satu keajaiban dunia pada masanya. Terletak di tengah kompleks istana, taman ini membentang seluas dua hektar, dengan puluhan jenis pohon dari berbagai penjuru kekhalifahan: palem dari Hijaz, cemara dari Syam, melati dari Persia, dan bunga-bunga langka dari Hind. Di tengah taman, sebuah kolam besar berbentuk segi delapan terbuat dari marmer putih, dengan air mancur yang menyemburkan air mawar setiap pagi dan sore. Jalur-jalur setapak dari batu sungai berkelok-kelok di antara pepohonan, diterangi oleh lentera-lentera kaca yang menggantung di dahan-dahan.

Namun malam itu, air mancur tidak menyala. Kolamnya tenang seperti cermin, memantulkan cahaya bulan yang bersinar di atas Baghdad. Keheningan menyelimuti taman, hanya sesekali terputus oleh suara jangkrik dari semak-semak.

Abu Nawas duduk di bangku batu di tepi kolam, melepas sandalnya yang sudah aus, dan mencelupkan kakinya ke dalam air kolam yang dingin. Ia bersandar dengan santai, matanya terpejam, menikmati ketenangan malam. Jafar berdiri di kejauhan, di bawah pohon palem, mengawasi dari jarak yang cukup untuk mendengar tetapi tidak mengganggu.

Samir, penjaga cadangan yang dimaksud, adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun dengan tubuh ramping, wajah yang masih menunjukkan sisa-sisa masa remaja, dan mata yang waspada. Ia berjalan mendekati bangku itu dengan langkah hati-hati, seolah-olah setiap langkahnya diawasi oleh seribu mata.

Ia duduk di bangku yang sama, agak jauh dari Abu Nawas, dan menatap kolam yang tenang di hadapannya.

“Samir,” Abu Nawas menyapanya tanpa membuka mata. “Terima kasih telah bersedia berbicara denganku. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk berjalan-jalan di taman.”

Samir mengangguk pelan. “Saya dengar Tuan sedang membantu Baginda Raja mencari mahkota yang hilang.”

“Ya. Dan aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan saya?” Samir tampak terkejut. “Saya hanya penjaga cadangan, Tuan. Saya tidak tahu apa-apa tentang mahkota itu.”

Abu Nawas membuka matanya, menatap Samir dengan tatapan yang lembut tetapi tajam.

“Samir, kau menggantikan tiga orang malam itu: Mahmud, Fadil, dan Hisham. Kau adalah satu-satunya orang yang berada di tiga pos berbeda dalam satu malam. Jika ada sesuatu yang terjadi malam itu, kemungkinan besar kaulah yang melihat atau mendengarnya.”

Samir menunduk, tangannya menggenggam erat di pangkuan.

“Samir,” suara Abu Nawas menjadi lebih lembut, “aku tidak akan melaporkan apa pun yang kau katakan kepada siapa pun tanpa izinmu. Aku hanya ingin tahu kebenaran. Karena hanya dengan kebenaran, mahkota itu bisa kembali dan kalian semua—para penjaga—bisa terbebas dari kecurigaan.”

Samir mengangkat wajahnya. Matanya merah, menunjukkan bahwa ia mungkin juga tidak bisa tidur sejak kejadian itu.

“Tuan… saya… saya melihat sesuatu malam itu.”

“Ceritakan.”

Samir menarik napas panjang. “Saya menggantikan Mahmud sekitar pukul sembilan malam. Dia pergi buang air. Saya berdiri di pos koridor selatan selama setengah jam, sampai dia kembali. Tidak ada yang aneh. Kemudian, sekitar pukul sepuluh, saya dipanggil untuk menggantikan Hisham. Dia sakit kepala, katanya. Saya pergi ke posnya di koridor barat daya. Saya berdiri di sana sampai sekitar pukul dua belas. Di situlah…”

Ia berhenti, menelan ludah.

“Di situlah saya melihat bayangan, Tuan.”

“Bayangan seperti apa?”

“Bayangan seseorang. Di dinding dekat pintu Khizanat al-Khassa. Bayangan itu… besar. Lebih besar dari manusia biasa. Mungkin karena cahaya obor yang membuatnya memanjang. Tapi bentuknya jelas: seseorang dengan… sesuatu di kepalanya. Seperti mahkota.”

Abu Nawas duduk tegak, semua kelalaiannya lenyap seketika. “Kau melihat bayangan dengan bentuk mahkota?”

“Saya… saya tidak yakin, Tuan. Mungkin hanya imajinasi saya. Tapi bayangan itu bergerak. Perlahan. Seperti sedang berjalan menyusuri dinding.”

“Apakah kau periksa?”

“Saya… saya pergi ke arah bayangan itu. Tapi ketika saya sampai di sana, tidak ada siapa-siapa. Bayangan itu hilang. Dinding itu kosong. Saya periksa sekeliling, tidak ada yang aneh.”

“Apakah kau melaporkan ini?”

Samir menggeleng pelan. “Saya takut, Tuan. Saya hanya penjaga cadangan. Jika saya melaporkan bahwa saya melihat bayangan tanpa melihat orangnya, saya akan dianggap gila. Atau lebih buruk, dicurigai.”

Abu Nawas mengangguk pelan. Ia mengangkat kakinya dari air kolam, mengeringkannya dengan ujung jubahnya.

“Samir,” katanya sambil berdiri, “terima kasih. Kau telah banyak membantu.”

Samir berdiri, tampak lega tetapi masih cemas. “Tuan… apakah saya akan dihukum karena tidak melapor?”

Abu Nawas menepuk pundaknya dengan ramah. “Tidak, Samir. Kau tidak melakukan kesalahan. Kau hanya manusia yang ketakutan, seperti kita semua. Sekarang, kembalilah ke barak dan istirahatlah. Jangan ceritakan percakapan kita ini kepada siapa pun.”

Samir mengangguk, lalu berjalan cepat meninggalkan taman, meninggalkan Abu Nawas dan Jafar yang mendekat dari kejauhan.

“Bayangan dengan mahkota,” kata Jafar dengan suara tidak percaya. “Itu tidak masuk akal. Mungkin hanya tipuan cahaya.”

“Atau,” kata Abu Nawas sambil memandang ke arah kolam yang tenang, “itu adalah petunjuk, Wazir. Petunjuk yang paling penting.”

Ia berbalik menghadap Jafar, dan untuk pertama kalinya, senyumnya kembali—senyum lebar yang biasa ia gunakan sebelum melontarkan sebuah ide gila.

“Wazir, tolong sampaikan pada Baginda Raja: aku ingin mengadakan perjamuan besar besok malam.”

Jafar terbelalak. “Perjamuan? Di saat seperti ini? Abu Nawas, kau kehilangan akal!”

“Justru karena aku menemukan akalku, Wazir. Perjamuan itu adalah kunci untuk membuka semua teka-teki ini. Undang semua pejabat istana, para komandan, para menteri, keluarga Baginda Raja, dan semua orang yang memiliki akses ke koridor dalam. Jangan lupa undang juga Abu Ishaq, sang peramal.”

“Tapi untuk apa?”

Abu Nawas tersenyum misterius, senyum yang membuat Jafar merasa bahwa lelaki di hadapannya ini menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dari yang terlihat.

“Di pesta itulah, Wazir, mahkota akan berbicara.”


BAB 5: PERJAMUAN PENUH TIPU DAYA

Malam berikutnya, Aula Singgasana Agung Istana Baghdad berubah menjadi lautan cahaya yang mempesona. Ribuan lampu minyak dari emas dan perak digantung di langit-langit yang tinggi, menciptakan ilusi langit malam yang dipenuhi bintang. Dinding-dinding marmer yang biasanya putih bersih kini ditutupi dengan permadani sutra dari Persia, berwarna merah, biru, dan emas, dengan sulaman benang perak yang berkilauan setiap kali terkena cahaya lampu.

Meja-meja panjang dari kayu cendana berukir diatur membentuk huruf U di sekeliling ruangan, meninggalkan ruang kosong yang luas di tengah untuk pertunjukan dan hiburan. Di atas meja-meja itu, hidangan-hidangan terbaik kekhalifahan disajikan di piring-piring porselen dari Cina dan mangkuk-mangkuk perak dari Andalusia. Ada domba panggang utuh yang dimasak dengan madu dan rempah-rempah, beraroma jintan dan kayu manis yang memenuhi ruangan. Ada nasi bercampur saffron dan almond, berwarna kuning keemasan seperti butiran-butiran emas. Ada ikan-ikan segar dari Sungai Tigris, digoreng dengan minyak zaitun dan disajikan dengan saus delima yang asam manis. Ada puluhan jenis manisan: baklava dengan lapisan madu dan kacang pistachio, halwa dari tepung dan gula mawar, kurma yang diisi dengan krim almond, dan buah-buahan segar dari seluruh penjuru kekhalifahan: anggur dari Syam, delima dari Persia, apel dari Armenia, dan buah ara dari Yaman.

Di tengah aula, sebuah air mancur marmer menyemburkan air mawar yang harumnya bercampur dengan aroma dupa dari pembakar-pembakar emas yang ditempatkan di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang memabukkan bagi indra.

Semua undangan hadir, mengenakan pakaian terbaik mereka. Para pejabat tinggi kekhalifahan duduk di sisi kanan singgasana, dengan jubah-jubah sutra berwarna-warni yang menunjukkan pangkat dan kekayaan mereka. Di barisan depan, duduk Wazir Jafar dengan jubah hijau zamrud yang disulam emas, sorban tingginya yang khas, dan wajah yang meskipun berusaha tenang, tetap menunjukkan kegelisahan.

Para komandan militer duduk di sisi kiri singgasana, dengan jubah-jubah militer berwarna hitam atau biru tua, dada mereka dihiasi dengan medali-medali emas dan perak. Panglima Elit Hafshiyah, seorang lelaki kekar dengan janggut lebat yang sudah memutih di beberapa bagian, duduk di ujung barisan dengan tangan disilangkan di dada, matanya terus mengawasi setiap orang yang masuk.

Di barisan depan, tepat di sebelah kanan singgasana, duduk keluarga Baginda Raja Harun Al-Rasid. Putri Zubaidah, istri tercinta Harun Al-Rasyid, hadir dengan kemegahan yang tak tertandingi. Jubahnya dari sutra hitam dengan sulaman benang emas yang membentuk pola bunga-bunga melati, kerudungnya dari kain tule tipis yang dihiasi mutiara-mutiara kecil, dan di lehernya, sebuah kalung zamrud yang konon nilainya setara dengan pajak satu provinsi selama setahun. Wajahnya yang cantik dengan fitur halus khas keturunan Arab dan Persia, tampak dingin dan anggun, tetapi matanya yang hitam pekat bergerak cepat mengamati setiap orang di ruangan.

Di sampingnya duduk putra mahkota Al-Amin, pemuda berusia dua puluh tiga tahun dengan wajah tampan yang sedikit terlalu manis, jubah sutra biru muda yang disulam perak, dan ekspresi bosan yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Ia memainkan jari-jarinya di atas meja, sesekali melirik ke arah piring-piring makanan dengan lebih banyak minat daripada ke arah orang-orang di sekitarnya.

Di sisi lain Putri Zubaidah, duduk pangeran kedua Al-Ma’mun. Berbeda dengan kakaknya, Al-Ma’mun adalah pemuda berusia dua puluh tahun dengan wajah yang lebih serius, matanya yang dalam dan tajam menunjukkan kecerdasan yang melampaui usianya. Ia tidak menunjukkan kebosanan. Sebaliknya, matanya bergerak perlahan, tenang, mengamati setiap orang di ruangan itu dengan saksama, seolah-olah sedang membaca pikiran mereka dari ekspresi wajah dan gerakan tubuh mereka. Ia mengenakan jubah sederhana berwarna abu-abu, tanpa perhiasan berlebihan, sebuah pernyataan diam-diam tentang seleranya yang berbeda dari keluarganya.

Ada pula para dayang senior, para penasihat istana, para ulama terkemuka, dan tokoh-tokoh masyarakat Baghdad yang diundang khusus: seorang saudagar karpet kaya yang dikenal sebagai dermawan kota, seorang kadi terkenal yang bijaksana, dan seorang penyair populer yang syair-syairnya dinyanyikan di seluruh Baghdad.

Namun yang paling mencuri perhatian adalah meja panjang di sudut aula, dekat dengan pintu masuk, tempat Abu Nawas duduk dengan santainya. Ia mengenakan jubah baru pemberian Jafar—sutra hijau muda dengan sedikit sulaman perak di ujung lengan—yang sedikit terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus, sehingga membuatnya terlihat seperti anak kecil yang memakai baju ayahnya. Sorban yang dipakainya juga terlalu besar, terus menerus melorot ke depan menutupi matanya, sehingga ia harus sesekali mendorongnya ke belakang dengan gerakan yang menggelikan.

Ia duduk dengan kaki bersila di atas bantal sutra, piringnya sudah penuh dengan tumpukan makanan yang hampir tidak mungkin dihabiskan oleh manusia normal. Di depannya, ada setidaknya sepuluh jenis hidangan yang sudah ia cicipi, dengan komentar-komentar keras yang bisa didengar oleh siapa pun yang cukup dekat.

“Domba ini,” katanya kepada pelayan yang melayani mejanya, “dimasak dengan madu yang terlalu banyak. Madu harusnya hanya sentuhan, bukan banjir. Siapa juru masaknya? Suruh dia belajar dari ibuku—almarhumah—yang membuat domba panggang dengan madu yang pas di lidah.”

Pelayan itu tersenyum canggung, tidak tahu harus menjawab apa.

“Dan nasi saffron ini,” lanjut Abu Nawas, mengunyah dengan keras, “saffronnya terlalu sedikit. Warnanya pucat seperti wajah menteri yang ketahuan korupsi. Siapa yang mengawasi dapur? Suruh mereka menambah saffron dua kali lipat besok.”

Jafar yang mendengar dari kejauhan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ya Allah, selamatkan aku dari orang gila ini.

Beberapa tamu di meja dekat Abu Nawas mulai tertawa geli mendengar komentar-komentarnya yang berani. Yang lain merasa terganggu, menganggapnya tidak sopan. Tapi Abu Nawas tidak peduli. Ia terus makan dengan lahap, sesekali melambai kepada orang-orang yang dikenalnya, tertawa keras pada leluconnya sendiri, dan secara umum berperilaku seperti seorang yang sama sekali tidak menyadari bahwa ia berada di acara paling penting di istana setelah terjadinya bencana terbesar.


Setelah hidangan utama selesai dan buah-buahan serta manisan mulai dihidangkan, suasana aula mulai sedikit mereda. Para tamu sudah mulai kenyang, mulai santai, mulai berbisik-bisik satu sama lain tentang berbagai hal—tentang kabar dari provinsi lain, tentang harga-harga di pasar, tentang gosip-gosip terbaru di istana.

Namun ketegangan yang mendasari tetap ada, seperti arus di bawah permukaan sungai yang tenang. Setiap orang tahu bahwa perjamuan ini bukan perjamuan biasa. Perjamuan ini diadakan oleh Abu Nawas, atas izin Baginda Raja, di tengah-tengah krisis terbesar yang pernah melanda istana. Dan setiap orang bertanya-tanya: apa yang akan dilakukan orang gila itu?

Baginda Raja Harun Al-Rasyid, yang selama makan hampir tidak menyentuh makanannya, duduk di singgasananya yang tinggi di ujung ruangan. Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam dengan sulaman emas yang membentuk ayat-ayat suci, dan di kepalanya—karena mahkota asli masih belum ditemukan—dikenakan mahkota sementara dari emas dan safir. Mahkota itu indah, tetapi tidak semegah yang asli, dan semua orang di ruangan itu tahu perbedaannya.

Baginda Raja mengangkat tangannya.

Seluruh aula hening seketika. Bahkan Abu Nawas berhenti mengunyah.

“Para hadirin yang terhormat,” suara Baginda Raja bergema di ruangan besar itu, tidak perlu berteriak, karena keheningan begitu sempurna sehingga bisikan pun akan terdengar. “Kita berkumpul di sini malam ini bukan hanya untuk berpesta. Seperti yang kalian semua ketahui, kekhalifahan kita sedang diuji. Sebuah benda yang sangat berharga—lambang kekuasaan dan kebesaran kekhalifahan—telah hilang dari istana ini. Hilang tanpa jejak, tanpa bekas, tanpa petunjuk yang jelas. Dan hari ini, seorang yang terkenal dengan kecerdikannya, seorang yang sering membuat kita tertawa dengan lawakan-lawakannya yang konyol, telah meminta untuk berbicara di hadapan kalian semua. Ia mengklaim bahwa ia memiliki cara untuk menemukan mahkota yang hilang.”

Ia menoleh ke arah sudut ruangan.

“Abu Nawas.”

Semua mata beralih ke arah Abu Nawas, yang sedang menyendok puding susu ke dalam mulutnya dengan konsentrasi tinggi.

Abu Nawas meneguk pudingnya, lalu berdiri dengan gerakan malas yang tiba-tiba menjadi anggun. Ia mendorong sorban yang melorot ke belakang, merapikan jubah besarnya, dan berjalan ke tengah aula dengan langkah seorang pemain sandiwara yang percaya diri.

Di tengah aula, ia berhenti, berputar perlahan untuk menatap semua hadirin. Ratusan pasang mata tertuju padanya. Ada yang sinis, ada yang penasaran, ada yang gelisah, ada yang jengkel. Abu Nawas tersenyum lebar, senyum yang sama yang biasa ia gunakan di pasar sebelum memulai sebuah cerita.

“Baginda Raja Harun Al-Rasid, Amirul Mukminin, semoga Allah memanjangkan umur Baginda dan melimpahkan rahmat-Nya kepada seluruh keluarga kerajaan,” ia memulai dengan suara yang lantang dan jelas, sangat berbeda dari nada lawakannya yang biasa. “Para wazir, para menteri, para panglima, para ulama, para bangsawan, dan semua hadirin yang mulia.”

Ia berjalan mondar-mandir di tengah aula, jubah besarnya berkibar setiap kali ia berputar.

“Saya bukan detektif. Saya bukan hakim. Saya bukan ahli sihir yang bisa melihat masa depan. Saya hanyalah seorang pecinta kurma, pecinta teka-teki, dan—saya akui—kadang-kadang pecinta anggur, meskipun malam ini saya tidak meminumnya karena saya sedang berpuasa akal. Tapi malam ini, Baginda Raja telah memercayakan saya sebuah tugas yang sangat berat: menemukan mahkota yang hilang.”

Ia berhenti di tengah aula, menghadap langsung ke arah singgasana.

“Saya sudah berbicara dengan para penjaga. Saya sudah memeriksa pintu yang terkunci. Saya sudah menghirup wewangian di barak-barak penjaga. Saya sudah merasakan air kolam di taman dalam. Dan saya sampai pada satu kesimpulan…”

Ia berputar lagi, kali ini menghadap ke arah tamu undangan. Suaranya turun menjadi nada yang lebih pelan, lebih misterius.

“…pencuri mahkota ini bukanlah seorang penyusup. Bukan pencuri biasa yang masuk dari luar tembok istana. Bukan pula seorang ahli sihir yang bisa menembus dinding. Pencuri ini adalah salah satu dari kita. Ia ada di ruangan ini. Saat ini. Di antara kita semua.”

Aula langsung riuh. Para tamu saling berpandangan dengan wajah tegang. Ada yang mulai berbisik-bisik dengan tetangganya, ada yang menunjuk-nunjuk dengan curiga ke arah orang lain, ada yang mencoba tersenyum untuk menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah tetapi senyum mereka kaku dan tidak alami.

Jafar berdiri dari tempat duduknya, wajahnya memucat. “Abu Nawas! Hati-hati dengan tuduhanmu! Ini bukan lelucon pasar!”

“Ini bukan tuduhan, Wazirku yang mulia,” kata Abu Nawas dengan tenang. “Ini adalah observasi. Saya tidak menyebut nama. Saya tidak menunjuk orang. Saya hanya mengatakan bahwa pencuri itu ada di ruangan ini. Dan saya yakin, pencuri itu tahu bahwa saya tahu.”

Suasana menjadi semakin tegang. Putri Zubaidah menegang di tempat duduknya, jari-jarinya yang bertatahkan cincin berlian menggenggam erat lengan singgasananya. Al-Amin, putra mahkota, berhenti memainkan jarinya dan menatap Abu Nawas dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara penasaran dan waspada. Al-Ma’mun tetap tenang, matanya tidak berubah, terus mengamati dengan saksama.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya dingin, terkendali. “Abu Nawas, kau mengundang kami semua ke sini untuk mendengar tuduhan tanpa bukti?”

“Bukan tuduhan, Baginda,” Abu Nawas membungkuk hormat. “Saya mengundang semua hadirin ke sini untuk… bermain.”

“Bermain?” Baginda Raja mengangkat alis.

“Ya, Baginda. Saya percaya bahwa pencuri itu adalah seorang yang cerdik, yang menyukai teka-teki, yang merasa tertantang oleh kecerdasan. Dan orang seperti itu, Baginda, tidak akan bisa menolak sebuah permainan. Sebuah permainan teka-teki.”

Ia berjalan ke tengah aula lagi, dan kini semua mata tertuju padanya dengan intensitas yang luar biasa.

“Dengarkan teka-teki pertama saya, para hadirin yang mulia:

‘Aku adalah bayangan yang tak punya tubuh.
Aku bisa masuk tanpa membuka pintu.
Aku bisa mengambil tanpa menyentuh.
Aku bisa menghilang tanpa jejak.
Siapakah aku?’

Aula hening sejenak, lalu riuh dengan berbagai jawaban. Ada yang menjawab “angin”, ada yang menjawab “mimpi”, ada yang menjawab “kematian”, ada yang menjawab “waktu”. Baginda Raja sendiri tampak berpikir keras, alisnya berkerut.

Abu Nawas menggeleng. “Bukan. Bukan itu jawabannya. Biarlah teka-teki ini menggantung di udara. Saya akan memberikan petunjuk lain. Saya akan menceritakan sebuah mimpi.”

Ia duduk bersila di tengah aula, dengan gaya seperti seorang pendongeng di pasar malam, membuat beberapa tamu yang sudah terbiasa dengan lawakannya tersenyum. Namun ada juga yang tegang, tidak yakin apa yang akan keluar dari mulut orang gila itu.

“Tadi malam, saya bermimpi,” katanya dengan suara yang dalam dan misterius. “Dalam mimpi itu, saya melihat sebuah istana yang megah, dengan tiang-tiang marmer putih dan kubah-kubah emas. Di dalam istana itu, ada tujuh pintu besar, masing-masing dijaga oleh seorang penjaga yang memegang kunci emas. Tapi di antara ketujuh pintu itu, ada satu lorong gelap yang tidak dijaga. Di ujung lorong itu, saya melihat bayangan seseorang. Bayangan itu besar, lebih besar dari manusia biasa, dan di kepalanya, ada sesuatu yang bercahaya.”

Ia berhenti, membiarkan kata-katanya meresap.

“Saya mendekati bayangan itu, dan bayangan itu berkata, ‘Kau tidak akan pernah menemukan mahkotaku selama kau mencari benda. Carilah aku di tempat yang paling tidak mungkin kau cari. Carilah aku di tempat yang paling gelap namun paling terang bercahaya.’ Lalu bayangan itu tertawa, dan saya terbangun.”

Aula sunyi. Beberapa tamu tampak merinding mendengar cerita itu.

Abu Nawas berdiri lagi, dan kini matanya berkilat.

“Mimpi ini mungkin hanya omong kosong seorang pemabuk yang kurang tidur. Tapi siapa tahu? Mungkin mimpi ini adalah petunjuk. Mungkin mimpi ini adalah ilham. Karena itu, saya mohon izin kepada Baginda Raja untuk melakukan sesuatu yang mungkin terasa aneh.”

Harun Al-Rasyid menatap Abu Nawas dengan mata yang sulit dibaca. “Lakukan.”

“Saya ingin semua lampu di aula ini dipadamkan.”

Jafar kembali berdiri. “Apa?! Ini tidak masuk akal! Bagaimana kita bisa—”

“Biarkan,” titah Baginda Raja, suaranya tidak meninggi tetapi tidak bisa dibantah. “Lakukan.”

Para pelayan mulai memadamkan lampu minyak satu per satu, dari yang terjauh hingga yang terdekat. Aula yang tadinya terang benderang perlahan tenggelam dalam kegelapan. Para tamu mulai gelisah, ada yang meraih tangan tetangganya, ada yang bergeser di tempat duduknya.

Ketika hanya tersisa beberapa obor di dinding yang masih menyala, memberikan cahaya remang-remang yang menciptakan bayangan panjang di setiap sudut, Abu Nawas berkata dengan suara yang bergema di ruangan yang gelap:

“Sekarang, perhatikan bayangan kalian masing-masing. Lihatlah ke dinding. Apakah ada bayangan yang tidak memiliki pemilik?”

Keheningan yang mencekam menyelimuti aula. Para tamu menatap dinding-dinding di sekeliling mereka, melihat bayangan mereka sendiri bergoyang-goyang karena cahaya obor yang berkedip.

Tiba-tiba, seseorang berteriak.

“Lihat! Di sana! Bayangan itu!”

Semua mata menoleh ke arah dinding timur aula. Di sana, di antara bayangan-bayangan para tamu yang duduk di meja, ada satu bayangan yang berdiri sendiri. Bayangan seorang manusia dengan postur tegak, dan di kepalanya, ada bentuk yang jelas—sebuah mahkota.

Tapi ketika para pelayan segera menyalakan kembali lampu-lampu, tidak ada siapa pun yang berdiri di tempat di mana bayangan itu muncul. Dinding itu kosong. Tidak ada seorang pun.

Aula menjadi kacau. Para tamu berdiri dari tempat duduk mereka, saling bertanya, saling menuduh, saling panik. Suara-suara bercampur menjadi hiruk-pikuk yang tidak terkendali.

Di tengah kekacauan itu, Abu Nawas berdiri diam di tengah aula, matanya tertuju pada satu orang.

Orang itu tidak panik. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Ia hanya duduk diam di tempatnya, dengan senyum tipis di bibirnya, seolah-olah ia sudah menunggu ini sejak lama.

Pangeran Al-Ma’mun.

Abu Nawas tersenyum. Perlahan, ia berjalan mendekati arah tempat Al-Ma’mun duduk, dan berhenti beberapa langkah di depannya.

“Yang Mulia Pangeran,” katanya dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh mereka yang berada di sekitarnya, namun tidak cukup untuk menguasai hiruk-pikuk yang masih berlangsung. “Apakah Yang Mulia menikmati permainan ini?”

Al-Ma’mun menatap Abu Nawas dengan tenang. Matanya tidak menunjukkan ketakutan, tidak menunjukkan kemarahan, hanya ketenangan yang mendalam.

“Abu Nawas,” katanya dengan suara yang lembut namun jelas, “apakah kau menuduhku?”

“Saya tidak menuduh, Yang Mulia,” kata Abu Nawas dengan hormat. “Saya hanya mengajak Yang Mulia untuk membantu saya memecahkan teka-teki terakhir.”

“Teka-teki apa?”

Abu Nawas mendekat, menunduk sedikit, dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Al-Ma’mun dan beberapa orang di sekitarnya.

“Teka-teki tentang bayangan yang tak punya tubuh.”


BAB 6: TAWA DI BALIK KETEGANGAN

Baginda Harun Al-Rasid Harun Al-Rasyid, yang dari singgasananya mengamati seluruh kejadian dengan mata yang semakin tajam, akhirnya berdiri. Ketika Baginda Raja berdiri, seluruh aula yang kacau itu langsung sunyi, seperti ombak yang tiba-tiba berhenti di tengah lautan.

“Abu Nawas,” suara Baginda Raja dingin, tidak meninggi tetapi memotong udara seperti pedang, “apa yang baru saja terjadi? Bayangan tanpa tubuh? Ini sulap? Atau ini bagian dari penyelidikanmu?”

Abu Nawas berbalik menghadap Baginda Raja, meninggalkan Al-Ma’mun yang masih duduk tenang di tempatnya. Ia berjalan ke tengah aula, lalu berlutut dengan hormat.

“Baginda, yang baru saja terjadi bukanlah sulap. Itu adalah eksperimen kecil. Saya ingin melihat bagaimana setiap orang bereaksi terhadap kejadian yang tidak biasa. Karena dalam ketakutan, kebenaran seringkali muncul dengan sendirinya.”

“Dan apa yang kau temukan?”

Abu Nawas berdiri, menatap langsung ke mata Baginda Raja.

“Baginda, sebelum saya menjawab, izinkan saya bertanya satu hal kepada Baginda.”

Harun Al-Rasyid mengangkat alis, tetapi mengangguk. “Tanya.”

“Apakah Baginda percaya bahwa mahkota yang hilang dapat ditemukan kembali?”

“Itu sebabnya kau di sini, Abu Nawas.”

“Bagus. Maka Baginda harus bersabar. Karena kebenaran, seperti kurma yang matang, tidak bisa dipetik sebelum waktunya. Jika dipaksa, ia akan hancur di tangan.”

Baginda Raja menatap Abu Nawas lama. Ada kilatan kemarahan di matanya, tetapi juga ada rasa ingin tahu yang sulit dipadamkan.

“Kau bermain dengan kesabaranku, Abu Nawas.”

“Bukan bermain, Baginda. Saya sedang belajar. Saya sedang mempelajari setiap orang di ruangan ini. Gerakan mereka, ekspresi mereka, reaksi mereka terhadap ketakutan. Dan saya sudah mulai melihat pola.”

“Pola apa?”

Abu Nawas tersenyum, tetapi kali ini senyumnya tidak main-main. Ada sesuatu yang serius di balik bibir yang tersenyum itu.

“Baginda, izinkan saya untuk melanjutkan permainan ini. Saya janji, sebelum malam ini berakhir, mahkota Baginda akan kembali ke tempatnya.”

Harun Al-Rasyid terdiam sejenak. Seluruh aula menahan napas.

“Kau punya waktu hingga fajar, Abu Nawas,” katanya akhirnya. “Jika hingga fajar mahkotaku belum kembali, kau tahu konsekuensinya.”

“Saya tahu, Baginda.”


Abu Nawas berdiri, berbalik menghadap para tamu yang masih dalam keadaan tegang.

“Para hadirin yang mulia,” katanya dengan suara yang kembali ceria, seperti seorang penghibur panggung yang sedang memulai pertunjukan. “Saya minta maaf telah mengganggu perjamuan malam ini dengan teka-teki dan mimpi yang membingungkan. Sebagai gantinya, izinkan saya menghibur kalian dengan sebuah cerita. Cerita tentang seorang raja, seorang wazir, dan seekor keledai yang lebih pintar dari keduanya.”

Beberapa tamu tertawa gugup. Yang lain masih tegang, tidak yakin apakah ini saat yang tepat untuk tertawa.

Abu Nawas mulai bercerita dengan penuh semangat, menggunakan tangan dan wajahnya untuk meniru berbagai karakter. Ia bercerita tentang seorang raja yang sombong yang mengira dirinya paling pintar di dunia, sampai suatu hari ia bertemu dengan seekor keledai yang bisa berbicara dan mengajarinya bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari singgasana.

Ceritanya lucu, penuh dengan lelucon cerdas dan sindiran halus yang membuat beberapa tamu tertawa terbahak-bahak, sementara yang lain—terutama para pejabat tinggi—tersenyum canggung, tidak yakin apakah mereka sedang diejek atau tidak.

Di tengah ceritanya, Abu Nawas dengan cerdik menyisipkan pertanyaan-pertanyaan seolah-olah sebagai bagian dari cerita, tetapi sebenarnya ditujukan kepada orang-orang tertentu di ruangan itu.

“Dalam cerita ini, wahai hadirin,” katanya sambil berjalan mendekati meja para komandan militer, “raja itu bertanya kepada keledai, ‘Hai keledai, bagaimana caramu bisa berbicara?’ Dan keledai itu menjawab, ‘Wahai raja, saya bisa berbicara karena saya tidak pernah takut pada siapa pun. Dan karena tidak takut, saya bisa melihat kebenaran dengan jelas. Contohnya, saya bisa melihat bahwa di antara para menterimu, ada yang menyembunyikan sesuatu di balik jubahnya.’”

Ia berhenti di depan seorang komandan, tertawa, lalu berjalan menjauh. Komandan itu menghela napas lega.

Ia berjalan mendekati meja para dayang senior, di mana beberapa wanita tua dengan wajah-wajah keriput namun masih anggun duduk dengan postur sempurna.

“Dalam cerita ini, lanjut Abu Nawas, “keledai itu berkata kepada raja, ‘Wahai raja, tahukah engkau bahwa di istanamu, ada seorang dayang yang memiliki wewangian melati yang sangat harum? Wewangian itu konon hanya digunakan oleh wanita-wanita yang memiliki rahasia cinta yang tersembunyi.’”

Ia tertawa, lalu berjalan menjauh. Seorang dayang senior di ujung meja memucat, tangannya meremas saputangan dengan kuat.

Abu Nawas berjalan mendekati meja keluarga Baginda Raja. Ia berhenti di depan Putri Zubaidah, membungkuk hormat.

“Yang Mulia Putri,” katanya dengan suara yang tiba-tiba lembut, “apakah Yang Mulia menikmati cerita saya?”

Zubaidah menatapnya dengan mata dingin. “Ceritamu menghibur, Abu Nawas. Tapi aku lebih suka jika kau segera menemukan mahkota daripada membuang-buang waktu dengan cerita keledai.”

“Yang Mulia benar,” Abu Nawas tersenyum. “Tapi kadang-kadang, untuk menemukan mahkota, kita harus mendengarkan terlebih dahulu cerita-cerita kecil. Karena di dalam cerita kecil, sering tersembunyi kebenaran besar.”

Ia melangkah ke samping, berdiri di depan Pangeran Al-Amin. Putra mahkota itu menatapnya dengan ekspresi setengah bosan setengah penasaran.

“Yang Mulia Putra Mahkota,” sapa Abu Nawas. “Apakah Yang Mulia memiliki teka-teki favorit?”

Al-Amin mengangkat bahu. “Aku tidak suka teka-teki. Terlalu banyak berpikir.”

“Ah, kata-kata yang bijaksana, Yang Mulia. Terkadang, terlalu banyak berpikir justru membuat kita kehilangan hal-hal sederhana di depan mata.”

Ia melangkah lagi, dan kini ia berdiri tepat di hadapan Pangeran Al-Ma’mun.

Al-Ma’mun menatapnya dengan tenang. Tidak ada ekspresi ketakutan, tidak ada kemarahan, hanya ketenangan yang mendalam.

“Yang Mulia Pangeran Al-Ma’mun,” kata Abu Nawas dengan suara yang lebih pelan, nyaris berbisik, tetapi masih terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. “Dalam cerita saya tadi, keledai itu berkata bahwa kebenaran sering muncul ketika seseorang tidak takut. Apakah Yang Mulia setuju dengan pernyataan itu?”

Al-Ma’mun tersenyum tipis. “Aku setuju, Abu Nawas. Tapi kebenaran juga bisa muncul dari keberanian untuk mengakui kesalahan.”

Abu Nawas mengangguk perlahan. “Kata-kata yang bijaksana, Yang Mulia. Lebih bijaksana dari usia Yang Mulia.”

Ia berbalik dan kembali ke tengah aula. Di sana, ia berdiri diam sejenak, matanya terpejam, seolah-olah sedang mengumpulkan pikirannya.

Kemudian ia membuka matanya, dan senyumnya yang biasa—senyum lebar, ceroboh, penuh lelucon—kembali ke wajahnya.

“Baginda Raja, para hadirin,” katanya dengan suara lantang. “Saya sudah selesai dengan cerita saya. Sekarang, izinkan saya untuk mengajukan satu permintaan terakhir.”

“Permintaan apa?” tanya Baginda Raja Harun Al-Rasyid.

“Saya ingin semua orang yang hadir di sini untuk menuliskan di selembar kertas, secara rahasia, nama orang yang mereka curigai sebagai pencuri mahkota. Kertas itu akan dikumpulkan, dan saya akan membacanya di depan semua orang.”

Aula kembali riuh. Beberapa tamu keberatan, merasa ini adalah cara yang tidak adil untuk menuduh orang.

Namun Baginda Raja Harun Al-Rasyid, dengan rasa ingin tahu yang semakin besar, mengangguk. “Lakukan.”

Kertas-kertas kecil dibagikan, dan para tamu mulai menulis. Ada yang menulis dengan cepat, ada yang berpikir lama, ada yang menulis lalu mencoretnya dan menulis ulang.

Setelah semua kertas terkumpul, Abu Nawas mengambil tumpukan kertas itu, berdiri di tengah aula, dan mulai membacanya satu per satu.

“Mahmud, penjaga,” ia membaca. “Fadil, penjaga. Usman, penjaga. Hisham, penjaga. Samir, penjaga cadangan. Seorang dayang yang tidak disebut namanya. Seorang komandan yang tidak disebut namanya. Seorang menteri yang tidak disebut namanya.”

Ia terus membaca, dan setiap nama yang disebut membuat orang yang bersangkutan tegang.

Kemudian ia berhenti pada satu kertas.

Ia menatap kertas itu lama. Aula sunyi.

“Dan di sini,” katanya perlahan, “ada satu nama yang muncul paling sering. Tiga belas kali, dari seratus dua puluh kertas yang terkumpul.”

Ia mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.

“Pangeran Al-Ma’mun.”

Aula bergemuruh. Semua mata tertuju pada pangeran muda yang duduk tenang di tempatnya.

Al-Ma’mun tidak bergerak. Tidak berubah warna. Ia hanya menatap Abu Nawas dengan mata yang jernih.

“Abu Nawas,” katanya, “apakah kau percaya pada tuduhan dari kertas-kertas itu?”

Abu Nawas meletakkan tumpukan kertas itu di lantai. “Saya tidak percaya pada tuduhan, Yang Mulia. Saya percaya pada bukti.”

“Maka tunjukkan buktimu.”

“Dengan senang hati, Yang Mulia.”


BAB 7: MIMPI ATAU PETUNJUK?

Abu Nawas berjalan mendekati Al-Ma’mun, dan untuk pertama kalinya malam itu, semua orang bisa melihat bahwa ia tidak lagi bercanda. Wajahnya serius, matanya tajam, semua sisa-sisa kelalaiannya telah lenyap.

“Yang Mulia Pangeran Al-Ma’mun,” katanya dengan suara yang tenang namun tegas, “sebelum saya menunjukkan bukti, izinkan saya bertanya kepada Yang Mulia: apakah Yang Mulia mengenal seorang dayang bernama Laila?”

Nama itu seperti petir di siang bolong. Beberapa dayang senior saling berpandangan. Seorang dayang muda di barisan belakang memucat dan nyaris pingsan.

Al-Ma’mun tidak berubah ekspresi. “Laila adalah dayang pribadiku. Ada apa dengan Laila?”

“Laila,” Abu Nawas berjalan mondar-mandir, “adalah seorang dayang yang dikenal karena wewangian melatinya yang khas. Wewangian yang sama yang saya cium di bantal Hisham, penjaga yang sakit kepala malam kejadian dan tidak ingat apa-apa.”

Aula berbisik-bisik. Al-Ma’mun menegang untuk pertama kalinya.

“Apakah kau menuduh Laila?”

“Saya tidak menuduh Laila, Yang Mulia. Saya menuduh bahwa Laila mengetahui sesuatu tentang malam itu. Dan melalui Laila, saya bisa sampai pada kebenaran.”

Ia berbalik menghadap Baginda Raja.

“Baginda, izinkan saya untuk memanggil Laila ke sini.”

Harun Al-Rasyid mengangguk. “Panggil.”

Beberapa saat kemudian, seorang dayang muda masuk ke aula. Ia berjalan dengan langkah gemetar, wajahnya pucat pasi, dan ketika ia melihat Al-Ma’mun, matanya langsung berkaca-kaca.

“Laila,” Abu Nawas menyapanya dengan lembut. “Kau tidak perlu takut. Aku hanya ingin bertanya satu hal. Malam ketika mahkota hilang, apakah kau pergi ke barak penjaga?”

Laila membeku. Air matanya mulai menetes. Ia menoleh ke arah Al-Ma’mun, seolah-olah memohon pertolongan.

Al-Ma’mun berdiri. “Abu Nawas, ini sudah cukup. Laila tidak ada hubungannya dengan ini.”

“Kalau begitu, Yang Mulia,” Abu Nawas berbalik menghadap Al-Ma’mun, “mungkin Yang Mulia sendiri yang mau menjelaskan?”

Aula sunyi. Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri dari singgasananya.

“Al-Ma’mun,” suaranya dingin, “anakku, apa yang terjadi?”

Al-Ma’mun menatap ayahnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi tenangnya retak. Ada sesuatu di matanya—bukan ketakutan, tetapi kemarahan yang terkendali, dan kesedihan yang mendalam.

“Ayahanda,” katanya, “sebelum aku menjawab, izinkan aku bertanya pada Abu Nawas satu hal.”

Ia menatap Abu Nawas.

“Abu Nawas, kau mengatakan bahwa kau bermimpi tentang bayangan dengan mahkota. Apakah itu benar-benar mimpi? Atau… itu hanya jebakan?”

Abu Nawas tersenyum. “Yang Mulia, saya tidak pernah bermimpi tentang bayangan. Saya tidak pernah mendapat ilham. Saya hanya berbohong.”

Aula bergemuruh. Bahkan Harun Al-Rasyid tampak terkejut.

“Kau berbohong?” ulang Al-Ma’mun.

“Ya, Yang Mulia. Saya berbohong tentang mimpi itu. Saya berbohong tentang bayangan tanpa tubuh. Saya bahkan menyuruh seorang pelayan untuk menciptakan bayangan palsu di dinding dengan obor yang digerakkan dari balik tirai. Semua itu adalah jebakan.”

“Untuk apa?”

“Untuk melihat reaksi semua orang. Untuk melihat siapa yang paling gelisah, siapa yang paling tenang, siapa yang paling ingin tahu, dan siapa yang…” ia berhenti, menatap langsung ke mata Al-Ma’mun, “…siapa yang sudah tahu jawaban dari teka-teki itu sebelum saya selesai mengucapkannya.”

Al-Ma’mun terdiam.

“Yang Mulia,” lanjut Abu Nawas, “ketika saya mengucapkan teka-teki tentang bayangan yang tak punya tubuh, semua orang di ruangan ini berpikir keras. Semua orang kecuali Yang Mulia. Yang Mulia sudah tahu jawabannya sejak awal. Dan Yang Mulia tahu jawabannya karena… Yang Mulia adalah orang yang menciptakan teka-teki itu sendiri.”

Al-Ma’mun menunduk. Untuk pertama kalinya, pundaknya yang tegap itu tampak merosot.

“Bagaimana kau tahu?” tanyanya, suaranya nyaris berbisik.

“Karena hanya orang yang tahu persis bagaimana mahkota itu diambil yang bisa langsung memahami teka-teki tentang bayangan. Hanya orang yang tahu bahwa mahkota itu diambil tanpa meninggalkan jejak, tanpa membuka pintu, tanpa menyentuh apa pun—seolah-olah diambil oleh bayangan.”

Abu Nawas berjalan mendekati Al-Ma’mun.

“Dan hanya orang yang sangat mengenal istana ini, yang tahu persis di mana letak panel rahasia di balik tiang aula ini, yang bisa menyembunyikan sesuatu di tempat yang paling tidak mungkin dicari.”

Ia menoleh ke arah tiang marmer besar di sisi timur aula—tiang yang sama yang menjadi tempat bayangan palsu muncul tadi malam.

“Di dalam tiang itu, Yang Mulia, ada ruang kosong. Dibuat oleh arsitek istana zaman dulu sebagai tempat penyimpanan darurat. Hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Keluarga Baginda Raja adalah salah satunya.”

Ia berjalan ke tiang itu, menyentuh ukiran di bagian bawahnya. Terdengar bunyi klik, dan sebuah panel kecil terbuka.

Dari dalam panel itu, Abu Nawas mengeluarkan Mahkota Emas Al-Ma’mun.

Rubi sebesar telur merpati itu memancarkan cahaya merah seperti api yang membara di bawah lampu-lampu aula. Zamrud dari lembah Indus bercahaya hijau dalam gelap, menciptakan aura mistis di sekeliling mahkota itu. Emasnya yang berkilau memantulkan cahaya ribuan lampu, menciptakan lingkaran cahaya yang membuat semua orang yang melihatnya terkesima.

Abu Nawas membawa mahkota itu ke hadapan Baginda Raja, berlutut, dan menyerahkannya dengan kedua tangan.

“Baginda, Mahkota Emas Al-Ma’mun kembali ke tangan yang sah.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengambil mahkota itu. Ia menatapnya lama, seolah-olah memastikan bahwa ini bukan ilusi. Kemudian ia meletakkannya di pangkuannya dan menatap putranya.

Al-Ma’mun telah berlutut. Di sampingnya, Laila menangis tersedu-sedu.

“Ayahanda,” kata Al-Ma’mun, suaranya bergetar tetapi tidak pecah, “aku yang mengambil mahkota itu.”


BAB 8: BAYANGAN YANG MULAI TERUNGKAP

Aula yang tadinya riuh menjadi sunyi senyap. Sunyi yang begitu dalam hingga suara tetesan air dari air mancur di tengah ruangan terdengar jelas seperti dentuman.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan mahkota di pangkuannya. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tidak menunjukkan kekecewaan. Yang ada adalah kehampaan—seorang ayah yang baru saja mengetahui bahwa anaknya sendiri telah mengkhianati kepercayaannya.

“Al-Ma’mun,” katanya, suaranya rendah dan berat, “anakku. Putra kedua dari darah dagingku. Yang kupersiapkan sejak kecil untuk menjadi pemimpin, untuk memahami ilmu pemerintahan, untuk belajar keadilan dari para hakim terbaik di kekhalifahan. Dan kau… kau mencuri mahkota ayahmu sendiri.”

Al-Ma’mun mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca, tetapi tidak ada air mata yang jatuh.

“Ayahanda,” katanya, “aku tidak mencuri mahkota untuk menjualnya. Aku tidak mencurinya untuk kekayaan. Aku… aku meminjamnya. Untuk menyampaikan pesan.”

“Pesan?” Harun Al-Rasyid berdiri, mahkota di tangannya. “Pesan apa yang bisa disampaikan dengan mencuri lambang kekuasaan ayahmu? Dengan membuat seluruh istana panik? Dengan membuat para penjaga yang tidak bersalah disiksa? Dengan membuat ibumu ketakutan, membuat saudara-saudaramu curiga satu sama lain?”

“Pesan bahwa kekuasaan tidak terletak pada emas dan permata, Ayahanda!” suara Al-Ma’mun tiba-tiba membesar, menggema di aula yang sunyi. “Pesan bahwa seorang pemimpin tidak diukur dari mahkotanya, tetapi dari keadilannya! Ayahanda terlalu sibuk dengan kemewahan istana, terlalu asyik dengan puisi dan anggur, sementara rakyat di luar sana kelaparan!”

Ia berdiri, meskipun berlutut lebih pantas untuk seorang yang sedang mengaku salah. Tapi Al-Ma’mun berdiri, dan ketika ia berdiri, semua orang melihat bahwa pemuda kurus dengan jubah abu-abu itu tiba-tiba memiliki kewibawaan yang tidak kalah dengan ayahnya.

“Ayahanda tahu,” lanjutnya, suaranya bergetar tetapi kuat, “bahwa tahun ini, panen di provinsi utara gagal karena serangan belalang? Ribuan petani kehilangan mata pencaharian mereka. Anak-anak mereka kelaparan. Tapi apa yang Ayahanda lakukan? Ayahanda mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam untuk menyambut kedutaan dari Romawi. Mahkota yang Ayahanda kenakan itu, dengan rubi dan zamrudnya, nilainya bisa memberi makan seluruh Baghdad selama setahun penuh!”

Baginda Harun Al-Rasyid terdiam. Wajahnya yang tadinya marah perlahan berubah. Ada kesedihan di matanya, tetapi juga ada… rasa hormat yang baru.

“Dan kau,” katanya perlahan, “memilih cara ini untuk menyampaikan pesanmu? Dengan mencuri? Dengan berbohong? Dengan membuat kekacauan?”

“Aku sudah mencoba cara lain, Ayahanda!” suara Al-Ma’mun meninggi lagi. “Aku sudah menulis surat. Aku sudah meminta diadakan pertemuan dengan para menteri. Aku sudah berbicara langsung dengan Ayahanda di majelis. Tapi Ayahanda selalu sibuk. Selalu ada pesta, selalu ada kedutaan, selalu ada urusan yang lebih penting daripada keluhan anak Ayahanda sendiri.”

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.

“Maka aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Sesuatu yang akan memaksa Ayahanda untuk berhenti sejenak dari semua kemewahan itu dan… melihat.”

“Dan kau berhasil,” suara Baginda Raja Harun Al-Rasyid kini lebih tenang, tetapi masih mengandung nada yang sulit diartikan. “Aku berhenti. Aku melihat. Sekarang, katakan padaku, di mana mahkotamu sekarang?”

Al-Ma’mun menunduk. “Di dalam tiang, Ayahanda. Abu Nawas sudah menemukannya.”

“Bukan itu maksudku,” Harun Al-Rasyid berjalan mendekati putranya. “Mahkota kekuasaan. Bukan benda emas ini. Mahkota kepemimpinan. Apakah kau merasa pantas memakainya? Dengan cara yang kau lakukan ini?”

Al-Ma’mun mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata ayahnya.

“Ayahanda, aku tidak tahu apakah aku pantas. Tapi aku tahu bahwa aku mencintai rakyat negeri ini. Aku tahu bahwa aku tidak tahan melihat mereka menderita sementara kita berpesta di sini. Jika itu membuatku tidak pantas, maka aku rela tidak pernah memakai mahkota apa pun.”

Aula sunyi. Kata-kata Al-Ma’mun menggantung di udara, berat dan penuh makna.

Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap putranya lama. Kemudian, perlahan, ia tersenyum. Senyum yang tulus, senyum seorang ayah yang bangga pada anaknya meskipun anak itu telah membuat kesalahan.

“Kau pantas, anakku,” katanya, suaranya lembut. “Kau lebih pantas daripada yang kau kira.”

Ia meletakkan mahkota di atas meja di samping singgasananya, lalu duduk kembali.

“Sekarang,” katanya, “ceritakan semuanya. Dari awal. Bagaimana kau melakukannya. Bagaimana kau bisa masuk ke ruang penyimpanan tanpa kunci. Bagaimana kau bisa membuka tujuh gembok tanpa merusaknya. Bagaimana kau bisa keluar tanpa meninggalkan jejak. Ceritakan semuanya.”


Al-Ma’mun menghela napas panjang. Ia menatap ayahnya, lalu menatap Abu Nawas yang sejak tadi berdiri di samping, diam, hanya mengamati.

“Ayahanda,” ia memulai, “aku sudah mempersiapkan ini sejak berbulan-bulan lalu. Mungkin sejak setahun yang lalu, ketika aku melihat sendiri kondisi petani-petani di utara ketika aku diutus Ayahanda untuk memeriksa pertahanan perbatasan.”

Matanya menerawang, mengingat kembali.

“Aku melihat ladang-ladang yang hangus, anak-anak dengan perut buncit karena kelaparan, ibu-ibu yang menangis karena tidak bisa memberi makan bayinya. Dan ketika aku kembali ke istana, aku melihat Ayahanda mengadakan pesta dengan hidangan yang bahkan tidak tersentuh. Aku melihat para menteri berebut posisi dan kekayaan. Aku melihat kemewahan yang berlebihan, sementara di luar tembok ini, rakyat negeri ini sedang sekarat.”

Suaranya bergetar, tetapi ia melanjutkan.

“Aku mulai mempelajari istana. Setiap sudut, setiap lorong, setiap kebiasaan penjaga. Aku menghabiskan berbulan-bulan hanya untuk mengamati. Aku tahu kapan penjaga berganti, kapan mereka pergi buang air, kapan mereka paling lengah. Aku tahu di mana letak panel-panel rahasia yang dibuat oleh arsitek zaman dulu—pengetahuan yang diwariskan dari kakekku, Baginda Raja Al-Mansur, hanya kepada keluarga kerajaan.”

“Aku juga mempelajari gembok-gembok itu. Ayahanda mungkin tidak tahu, tapi sejak kecil aku memiliki ketertarikan pada mekanika. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di bengkel pandai besi istana, belajar bagaimana gembok bekerja, bagaimana kunci bekerja. Aku membuat alat-alat kecil yang bisa membuka gembok tanpa kunci asli—bukan dengan merusaknya, tapi dengan memahami mekanisme di dalamnya.”

Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah alat kecil dari logam, berbentuk rumit dengan ujung-ujung yang melengkung.

“Dengan alat ini, aku bisa membuka ketujuh gembok dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Aku sudah berlatih berulang kali di gembok-gembok yang sama yang aku minta dibuatkan oleh seorang pandai besi yang tidak tahu untuk apa gembok itu.”

Harun Al-Rasyid menggelengkan kepala, setengah kagum setengah tidak percaya. “Jadi kau sudah merencanakan ini sejak lama.”

“Ya, Ayahanda. Tapi aku tidak sendiri.”

Ia menoleh ke arah Laila yang masih berlutut di sampingnya, menangis.

“Laila membantuku. Dia yang mendekati Hisham, penjaga yang paling lemah. Dia yang memberinya susu yang sudah dicampur ramuan tidur malam itu, sehingga Hisham sakit kepala dan harus digantikan. Dia yang memastikan bahwa penjaga cadangan yang menggantikan Hisham adalah Samir—seorang pemuda yang sedang jatuh cinta padanya dan akan melakukan apa pun yang dimintanya.”

Ia berbalik menghadap ayahnya.

“Samir tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya disuruh oleh Laila untuk ‘tidak terlalu memperhatikan’ malam itu. Samir pikir Laila sedang menyiapkan kejutan untukku—mungkin hadiah ulang tahun atau sesuatu. Dia tidak tahu bahwa mahkota sedang diambil.”

“Lalu bagaimana kau masuk?”

“Malam itu, setelah semua penjaga digantikan oleh Samir, aku keluar dari kamarku. Aku tahu persis jalur-jalur yang tidak terjaga, panel-panel rahasia yang bisa aku lewati. Aku mencapai Khizanat al-Khassa dalam waktu sepuluh menit tanpa bertemu satu penjaga pun. Aku membuka ketujuh gembok dengan alatku, mengambil mahkota, lalu menyimpannya di dalam tiang rahasia di aula ini. Kemudian aku kembali ke kamarku melalui jalur yang sama.”

“Tapi bagaimana dengan bayangan yang dilihat Samir?”

Al-Ma’mun tersenyum tipis. “Itulah bagian yang paling tidak aku rencanakan. Aku tidak tahu bahwa Samir akan melihat bayanganku. Mungkin karena aku bergerak di lorong yang gelap, cahaya obor dari kejauhan menciptakan bayangan panjang di dinding. Samir melihatnya, dan dia mengira itu adalah sesuatu yang supernatural.”

Ia menoleh ke arah Abu Nawas.

“Tapi ternyata, bayangan itu menjadi petunjuk bagi Abu Nawas untuk menemukanku.”

Abu Nawas, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. “Yang Mulia, bayangan itu bukan petunjuk utama. Petunjuk utama adalah wewangian melati di bantal Hisham. Dari situlah semuanya bermula.”

Ia berjalan mendekat.

“Wewangian melati yang mahal, yang hanya digunakan oleh wanita-wanita istana. Hisham yang sakit setelah minum susu. Samir yang melihat bayangan tetapi tidak melapor. Semua itu menciptakan pola yang mengarah pada satu orang: seseorang yang memiliki akses ke wewangian mahal, seseorang yang bisa memerintahkan dayang untuk melakukan sesuatu, seseorang yang mengetahui panel-panel rahasia istana, seseorang yang memiliki motif kuat untuk mengkritik kemewahan Baginda Raja.”

Ia berhenti di hadapan Al-Ma’mun.

“Dan hanya ada satu orang yang memenuhi semua kriteria itu, Yang Mulia. Yang Mulia sendiri.”


BAB 9: PENGADILAN TANPA HAKIM

Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di singgasananya dengan tangan disilangkan di dada. Wajahnya adalah campuran antara kemarahan, kekecewaan, dan kebanggaan yang sulit dipisahkan.

“Al-Ma’mun,” katanya, “apa yang kau lakukan adalah kejahatan. Mencuri harta kerajaan, membuat kekacauan di istana, menyebabkan orang-orang tak bersalah disiksa—semua itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.”

“Aku tahu, Ayahanda.”

“Tapi,” lanjut Baginda Raja Harun Al-Rasyid, “aku juga mengakui bahwa pesanmu benar. Aku terlalu sibuk dengan kemewahan. Aku terlalu jauh dari rakyat. Aku telah melupakan bahwa mahkota ini bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga amanah.”

Ia berdiri, mengambil mahkota dari meja, dan memegangnya di tangannya.

“Karena itu, aku tidak akan menghukummu dengan penjara atau cambuk. Hukumanmu akan lebih berat dari itu.”

Al-Ma’mun menegang. “Apa hukuman Ayahanda?”

Harun Al-Rasyid berjalan mendekati putranya.

“Mulai besok, kau akan menjadi pengawas pasar Baghdad. Kau akan tinggal di antara rakyat, bukan di istana. Kau akan mendengar keluhan mereka setiap hari, kau akan melihat penderitaan mereka dengan matamu sendiri, kau akan membawa laporan langsung kepadaku setiap pekan. Dan selama setahun penuh, kau tidak boleh memakai pakaian sutra, tidak boleh makan makanan istana, tidak boleh tidur di tempat tidur yang empuk. Kau akan hidup seperti rakyat biasa.”

Ia berhenti, menatap mata putranya.

“Jika dalam setahun kau bisa membuktikan bahwa kau benar-benar peduli pada rakyat—bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan—maka mungkin suatu hari nanti mahkota ini akan menjadi milikmu. Tapi jika kau gagal, jika kau kembali ke kemewahan, maka kau akan kehilangan hak warismu selamanya.”

Al-Ma’mun terdiam sejenak. Kemudian matanya berkaca-kaca, dan untuk pertama kalinya, air matanya jatuh.

Ia berlutut, menunduk dalam-dalam.

“Ayahanda… terima kasih. Aku tidak pantas menerima kebaikan Ayahanda.”

“Kau tidak menerima kebaikan, anakku,” suara Harun Al-Rasyid lembut. “Kau menerima kesempatan. Gunakanlah sebaik-baiknya.”


Di tengah keheningan yang haru itu, suara tawa tiba-tiba pecah.

Semua orang menoleh ke sumbernya: Abu Nawas.

Ia tertawa terbahak-bahak, menepuk-nepuk perutnya, sampai air matanya keluar bercampur dengan sisa-sisa manisan yang masih menempel di janggutnya.

“Maaf, maaf, Baginda, Yang Mulia Pangeran,” katanya di sela tawa, mencoba mengatur napas. “Saya tidak bisa menahan diri. Ini… ini benar-benar luar biasa. Sungguh, ini adalah drama terbaik yang pernah saya saksikan sepanjang hidup saya. Lebih baik dari sandiwara yang dimainkan oleh para pemain dari Hindi kemarin. Lebih baik dari cerita-cerita Seribu Satu Malam yang diceritakan dayang-dayang di pasar.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengerutkan kening, tetapi sudut bibirnya sudah mulai terangkat. “Kau tertawa? Di saat seperti ini?”

“Justru karena ini saat yang tepat untuk tertawa, Baginda!” Abu Nawas menghapus air matanya dengan lengan jubahnya yang kebesaran. “Lihatlah! Mahkota kembali ke tangan yang sah. Kebenaran terungkap tanpa ada yang terluka parah. Seorang ayah memaafkan anaknya dan bahkan memberinya tugas yang lebih mulia. Rakyat Baghdad akan mendapat perhatian lebih dari seorang pangeran yang peduli. Dan saya…” ia menepuk dadanya, “saya selamat dari ancaman pemenggalan kepala. Apakah ini bukan alasan untuk tertawa?”

Ia berjalan ke tengah aula, berputar menghadap semua tamu yang masih terpaku di tempat duduk mereka.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang terhormat, marilah kita tertawa! Tertawa karena kegelisahan kita telah berakhir. Tertawa karena ketakutan kita ternyata tidak perlu. Tertawa karena kita semua selamat dari badai yang tidak pernah benar-benar terjadi!”

Beberapa tamu mulai tersenyum. Yang lain mulai tertawa kecil. Dan ketika Abu Nawas mulai menirukan ekspresi wajah para penjaga yang ketakutan ketika diinterogasi, tawa mulai pecah di sana-sini.

Dalam hitungan detik, seluruh aula bergemuruh dengan tawa. Para pejabat yang tadinya tegang kini tertawa terbahak-bahak. Para komandan militer yang tadinya serius kini menepuk-nepuk meja sambil tertawa. Putri Zubaidah, yang sejak tadi diam dengan wajah dingin, akhirnya tersenyum—senyum yang membuatnya kembali terlihat seperti wanita cantik yang pernah dinikahi Baginda Raja Harun Al-Rasyid dua puluh tahun lalu.

Al-Amin, putra mahkota, tertawa paling keras. Mungkin karena lega bahwa bukan dia yang menjadi tersangka. Mungkin karena senang melihat adiknya mendapat hukuman yang mendidik. Mungkin hanya karena Abu Nawas memang lucu.

Al-Ma’mun sendiri, yang masih berlutut dengan air mata di pipinya, akhirnya tersenyum. Ia menatap Abu Nawas dengan rasa hormat yang mendalam.

Dan Harun Al-Rasyid, Baginda Raja dari Kekhalifahan Abbasiyah, Pemimpin Orang-Orang Beriman, Amirul Mukminin, tertawa.

Ia tertawa dengan suara yang keras dan bebas, tawa yang menggema di seluruh aula, tawa yang sudah lama tidak pernah terdengar di istana ini. Tawa seorang raja yang menyadari bahwa kekuasaan tidak harus selalu kaku dan serius. Tawa seorang ayah yang bangga pada anaknya. Tawa seorang manusia yang, untuk sesaat, melupakan beban kekhalifahan dan hanya menikmati kebahagiaan sederhana.


BAB 10: KEJENIUSAN YANG MENGGUNCANG ISTANA

Setelah tawa mereda dan suasana mulai kembali tenang, Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri dan mengangkat tangannya. Aula kembali hening.

“Abu Nawas,” katanya, “kau telah memenuhi janjimu. Mahkota kembali. Kebenaran terungkap. Kau berhak atas tiga permintaan yang telah aku janjikan.”

Abu Nawas, yang masih terengah-engah karena tertawa, berjalan ke tengah aula dan berlutut.

“Baginda,” katanya, “permintaan pertama: bebaskan semua penjaga yang telah disiksa. Mereka tidak bersalah. Mereka hanya korban dari keadaan.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. “Terkabul. Mereka akan dibebaskan besok pagi, dan setiap dari mereka akan mendapat kompensasi seratus dinar karena penderitaan yang mereka alami.”

“Permintaan kedua, Baginda,” lanjut Abu Nawas, “maafkan Laila. Dia hanya menjalankan perintah tuannya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Al-Ma’mun menoleh ke arah Abu Nawas dengan mata terbelalak. Ia tidak menyangka Abu Nawas akan meminta ampun untuk Laila.

Harun Al-Rasyid menatap Laila yang masih berlutut dengan wajah pucat. “Laila, kau tahu bahwa apa yang kau lakukan adalah pelanggaran berat?”

Laila mengangguk, air matanya tak berhenti mengalir. “Saya tahu, Baginda. Saya bersedia menerima hukuman apa pun.”

“Tapi,” Baginda Raja Harun Al-Rasyid melanjutkan, “Abu Nawas memintakan ampun untukmu. Dan karena dia telah berjasa besar malam ini, aku akan mengabulkannya. Kau tidak akan dihukum. Tapi kau tidak boleh lagi bekerja di istana. Kau akan kembali ke kampung halamanmu, dan hidupmu akan diawasi. Jika kau melakukan kesalahan lagi, tidak akan ada ampunan kedua.”

Laila menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Baginda. Terima kasih, Abu Nawas.”

“Permintaan ketiga,” Baginda Raja Harun Al-Rasyid menatap Abu Nawas dengan senyum tipis. “Apa permintaan terakhirmu? Rumah? Emas? Posisi? Katakan, apa pun akan aku berikan.”

Abu Nawas berdiri, merapikan jubahnya, dan tersenyum lebar—senyum yang sama yang biasa ia gunakan di pasar sebelum memulai sebuah lelucon.

“Baginda,” katanya, “permintaan ketiga saya adalah: Baginda harus tertawa setiap hari. Setidaknya sekali sehari. Tertawa yang sungguh-sungguh, bukan tertawa karena lawakan murahan, bukan tertawa karena terpaksa. Tertawa karena Baginda menyadari bahwa kekuasaan tidak harus selalu kaku dan serius. Tertawa karena Baginda adalah manusia, dan manusia diciptakan dengan hati yang bisa merasakan sukacita.”

Aula hening sejenak. Kemudian Bagunda Raja Harun Al-Rasyid tertawa lagi—tertawa yang lebih keras dari sebelumnya.

“Kau benar-benar gila, Abu Nawas!” serunya di antara tawa. “Seluruh kekhalifahan aku tawarkan, dan kau meminta aku untuk tertawa!”

“Karena tawa, Baginda,” Abu Nawas menjawab dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius, “lebih berharga dari emas. Emas bisa dicuri, bisa habis, bisa membuat orang tamak. Tapi tawa, Baginda, tawa adalah harta yang tidak pernah habis, tidak bisa dicuri, dan membuat orang yang memilikinya menjadi lebih manusiawi.”

Baginda Raja Harun Al-Rasyid berhenti tertawa. Ia menatap Abu Nawas dengan tatapan yang berbeda—bukan tatapan raja kepada rakyatnya, tetapi tatapan seorang manusia kepada manusia lain yang ia hormati.

“Kau benar, Abu Nawas. Aku berjanji: setiap hari, aku akan tertawa. Dan setiap kali aku tertawa, aku akan mengingatmu.”

Ia menoleh ke arah para pelayan.

“Bawakan pakaian kebesaran untuk Abu Nawas. Dan siapkan kuda terbaikku. Besok pagi, aku sendiri yang akan mengantarnya pulang ke rumahnya. Bukan sebagai raja kepada rakyatnya, tetapi sebagai teman kepada temannya.”


EPILOG: TAWA YANG MENYELAMATKAN KEADILAN

Tiga bulan kemudian, Baghdad seperti biasa ramai dengan aktivitasnya. Pedagang-pedagang dari berbagai negeri memadati pasar-pasar, menawarkan barang-barang dari Hind, Cina, Romawi, dan Afrika. Kapal-kapal berlabuh di pelabuhan Tigris, membawa rempah-rempah, sutra, dan permata. Para ilmuwan berkumpul di Baitul Hikmah, menerjemahkan buku-buku dari Yunani dan Persia. Penyair-penyair berlomba menciptakan syair-syair terindah untuk dibacakan di istana.

Namun ada yang berbeda di Baghdad.

Di pasar-pasar kota, seorang pemuda kurus dengan jubah sederhana dari katun kasar sering terlihat duduk di antara para pedagang dan pembeli. Ia mendengarkan keluhan mereka, mencatat harga-harga barang, kadang-kadang ikut membantu memikul dagangan yang berat. Tidak ada yang menyangka bahwa pemuda itu adalah Pangeran Al-Ma’mun, putra kedua Baginda Raja Harun Al-Rasyid.

Dalam tiga bulan sebagai pengawas pasar, Al-Ma’mun telah berhasil menurunkan harga gandum dengan memberantas penimbunan, membuka dapur umum untuk orang miskin, dan membangun sumur-sumur baru di daerah kumuh. Namanya mulai dikenal rakyat kecil bukan sebagai pangeran, tetapi sebagai ‘Al-Ma’mun yang baik hati’.

Laila, dayang yang diampuni Abu Nawas, telah kembali ke kampung halamannya di Basra. Di sana, ia membuka toko kecil wewangian dengan modal dari Al-Ma’mun, dan dengan cepat menjadi terkenal karena keahliannya meracik minyak melati yang harumnya khas. Setiap bulan, ia mengirimkan satu botol wewangian ke istana untuk Putri Zubaidah, dan satu botol lagi ke kedai tempat Abu Nawas biasa nongkrong.

Para penjaga yang disiksa telah dibebaskan dan mendapat kompensasi. Mahmud, penjaga tertua, pensiun dengan hormat dan membuka kedai kopi kecil di dekat Gerbang Khurasan. Setiap sore, ia bercerita kepada para pelanggannya tentang pengalamannya, dan setiap cerita selalu diakhiri dengan, “Dan Abu Nawas menyelamatkan kami semua. Orang gila yang lebih bijaksana dari semua wazir.”

Samir, penjaga cadangan yang melihat bayangan, dipromosikan menjadi penjaga tetap setelah melalui pelatihan ulang. Ia tidak pernah lagi melihat bayangan tanpa tubuh, tetapi setiap kali ia berjaga malam di koridor, ia selalu tersenyum mengingat malam itu—malam ketika ia nyaris kehilangan akal karena sebuah bayangan, padahal sebenarnya yang hilang adalah mahkota.


Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahaya keemasan menyinari Sungai Tigris, Abu Nawas duduk di kedai kesayangannya, Kedai Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan. Di depannya, segelas air tajin dingin, semangkok kurma Sukkari, dan—kali ini—sebotol kecil anggur yang ia sembunyikan di balik jubahnya.

Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk tidak dikenali oleh pengunjung lain.

“Abu Nawas,” kata Jafar sambil menyesap air tajin yang ia pesan agar tidak mencolok, “aku masih penasaran dengan satu hal.”

Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan mengunyah dengan malas. “Apa, Wazirku yang mulia?”

“Bagaimana kau benar-benar tahu itu Al-Ma’mun? Bukan hanya karena motif dan pengetahuannya tentang istana. Ada petunjuk lain yang tidak kau ceritakan di pesta. Aku sudah memikirkannya berulang kali, dan aku yakin ada sesuatu yang kau sembunyikan.”

Abu Nawas tersenyum misterius. Ia mengambil sebuah kurma lagi, memutarnya di antara jari-jarinya seperti pesulap memutar koin.

“Wazir,” katanya, “apa kau tahu mengapa aku sangat yakin bahwa pencurinya adalah seseorang yang sangat dekat dengan Baginda Raja?”

“Karena pencuri itu tahu panel rahasia di tiang?”

“Bukan hanya itu. Karena pencuri itu tidak meninggalkan jejak. Tidak ada bekas alat pengungkit, tidak ada kerusakan, tidak ada sidik jari, tidak ada apa pun. Hanya… bayangan. Itu adalah pekerjaan yang sangat rapi, sangat bersih, sangat sempurna. Dan orang yang bisa melakukan pekerjaan sebersih itu biasanya adalah orang yang… tidak terbiasa meninggalkan jejak. Orang yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan kerapian. Bukan pencuri profesional yang biasa bekerja dalam kekacauan.”

Jafar mengangguk perlahan.

“Tapi petunjuk yang paling penting,” lanjut Abu Nawas, “adalah ini: pencuri itu tidak membawa mahkota ke luar istana. Ia menyembunyikannya di dalam istana. Di tempat yang aman, dekat dengan tempat asalnya. Itu bukan tindakan seorang pencuri yang ingin menjual barang curian. Itu adalah tindakan seseorang yang… masih ingin dekat dengan barang itu. Seseorang yang belum siap berpisah sepenuhnya. Seseorang yang memiliki ikatan emosional dengan mahkota itu.”

Ia melemparkan kurma ke mulutnya.

“Dan hanya keluarga Baginda Raja yang memiliki ikatan emosional dengan mahkota itu. Para penjaga, para menteri, para komandan—mereka hanya melihat mahkota sebagai benda berharga. Tapi keluarga Baginda Raja melihatnya sebagai warisan. Sebagai simbol. Sebagai sesuatu yang… personal.”

“Lalu mengapa Al-Ma’mun?” tanya Jafar. “Mengapa bukan Al-Amin? Atau Putri Zubaidah? Atau bahkan Baginda Raja sendiri?”

Abu Nawas tertawa kecil. “Wazir, Al-Amin terlalu malas untuk merencanakan sesuatu serumit ini. Putri Zubaidah terlalu pintar untuk melakukan hal yang berisiko seperti ini. Dan Baginda Raja… Baginda Raja tidak akan mencuri mahkotanya sendiri, kecuali jika ia ingin menguji kesetiaan para pejabatnya—dan itu terlalu berbahaya bahkan untuk Baginda Raja.”

“Jadi?”

“Jadi, hanya Al-Ma’mun. Pangeran yang idealis, yang sering mengkritik kemewahan istana, yang memiliki kecerdasan untuk merencanakan, dan yang memiliki keberanian untuk melakukannya. Dan yang paling penting,” Abu Nawas menyesap anggurnya dengan nikmat, “Al-Ma’mun adalah satu-satunya orang di istana yang tidak akan menyimpan mahkota itu untuk dirinya sendiri. Ia mengambilnya untuk menyampaikan pesan. Dan pesan itu, Wazir, adalah pesan yang benar. Cara yang salah, tapi pesan yang benar.”

Jafar menatap Abu Nawas dengan rasa hormat yang baru. “Kau lebih bijaksana dari yang kau tunjukkan, Abu Nawas. Semua orang mengira kau hanya pelawak. Tapi sebenarnya…”

“Sebenarnya aku hanyalah pelawak yang suka makan kurma,” potong Abu Nawas cepat, tersenyum lebar. “Jangan beri tahu siapa pun tentang kebijaksanaanku, Wazir. Reputasi saya sebagai pemabuk bodoh sangat berharga. Tanpa itu, orang-orang akan mengharapkan terlalu banyak dariku. Mereka akan memintaku menyelesaikan semua masalah mereka. Mereka akan membuatku menjadi hakim, menjadi penasihat, menjadi pemecah masalah. Dan itu, Wazir, adalah hukuman yang lebih berat daripada dipenggal kepalanya.”

Jafar tertawa. “Kau benar-benar gila, Abu Nawas.”

“Orang gila yang membuat Baginda Raja tertawa setiap hari,” kata Abu Nawas dengan bangga. “Kemarin, Baginda Raja mengirim utusan khusus untuk menceritakan sebuah lelucon yang baru saja didengarnya dari seorang pedagang di pasar. Katanya, ia tertawa begitu keras sampai air matanya keluar dan mahkota sementaranya jatuh ke lantai.”

Jafar menggeleng-gelengkan kepala. “Baginda Raja sekarang berbeda. Lebih santai. Lebih sering turun ke pasar. Lebih sering mendengarkan keluhan rakyat. Al-Ma’mun membawa laporan setiap pekan, dan Baginda Raja selalu membacanya dengan saksama. Pekan lalu, ia memerintahkan pembangunan lumbung-lumbung baru di provinsi utara untuk mengantisipasi gagal panen.”

“Itu adalah buah dari mahkota yang hilang, Wazir,” kata Abu Nawas. “Kadang-kadang, sesuatu harus hilang dulu agar kita menyadari nilainya yang sebenarnya. Mahkota itu hilang, dan Baginda Raja menyadari bahwa kekuasaannya tidak terletak pada emas dan permata, tetapi pada keadilan dan perhatiannya kepada rakyat. Al-Ma’mun mengambil mahkota, tetapi pada akhirnya, ia memberikan sesuatu yang lebih berharga kepada ayahnya: kesadaran.”

Jafar mengangkat mangkuk air tajinnya. “Untuk Baghdad, Abu Nawas. Semoga kota ini selalu memiliki lebih banyak teka-teki daripada masalah. Dan semoga selalu ada orang gila seperti kau untuk memecahkannya.”

Abu Nawas mengangkat mangkuk air tajinnya—setelah dengan cepat menyembunyikan botol anggur di balik jubahnya.

“Untuk Baghdad, Wazir. Dan untuk kurma Sukkari yang manisnya pas.”


Di luar kedai, matahari mulai terbenam di ufuk barat, mencelupkan Sungai Tigris dalam warna jingga dan emas. Di kejauhan, dari arah istana, terdengar suara tawa yang bergema—tawa Baginda Raja Harun Al-Rasyid yang sedang mendengarkan cerita lucu dari seorang pedagang kurma yang diundang khusus ke istana.

Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap air tajinnya, lalu mengambil kurma terakhir di mangkuk.

“Satu teka-teki terpecahkan,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Tapi masih banyak teka-teki lain yang menunggu. Tentang manusia, tentang kekuasaan, tentang kebenaran yang tersembunyi di balik bayangan.”

Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan, dan menatap langit senja yang mulai dipenuhi bintang-bintang pertama.

“Dan selama masih ada kurma Sukkari, selama masih ada air tajin dingin, selama masih ada Baginda Raja yang mau tertawa, dan selama masih ada Wazir Jafar yang mau menemani seorang gila di kedai ini…” ia tersenyum lebar, “…Baghdad akan baik-baik saja.”

Di meja sebelah, seorang penjual minyak wangi yang gemuk sedang bercerita tentang keanehan di pasar, tentang seorang pangeran yang menyamar sebagai rakyat biasa, tentang seorang wazir yang diam-diam minum air tajin di kedai, dan tentang seorang pelawak yang mungkin adalah orang paling bijaksana di seluruh kekhalifahan.

Tapi itu, pikir Abu Nawas sambil memejamkan matanya, adalah teka-teki untuk lain hari.

TAMAT

 

0 komentar:

Posting Komentar