Pujaan Hati Dari
Dusun Kersan:
Kasih Tak Sampai
Roman Remaja tentang Cinta Pertama,
Takdir, dan Keikhlasan yang Menembus Waktu
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi yang
terinspirasi oleh kehidupan masyarakat pedesaan Jawa pada akhir dekade 1990-an,
ketika surat menjadi jembatan perasaan, jalan desa menjadi saksi perjumpaan,
dan cinta tumbuh tanpa bantuan layar telepon genggam maupun media sosial.
Latar tempat, suasana sosial, budaya,
serta sebagian nama lokasi dalam novel ini diangkat untuk memperkuat nuansa
cerita. Seluruh tokoh, dialog, konflik, dan sebagian besar peristiwa merupakan
hasil pengembangan artistik yang bertujuan menyampaikan nilai-nilai
kemanusiaan, persahabatan, pengorbanan, penghormatan kepada orang tua, dan kedewasaan
dalam memaknai cinta.
Apabila terdapat kemiripan nama,
tempat, ataupun peristiwa dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata
merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan individu
tertentu.
Novel ini tidak sedang mengajarkan bahwa
semua cinta harus dimiliki. Sebaliknya, ia mengajak pembaca memahami bahwa
cinta pertama sering kali menjadi guru kehidupan yang paling setia. Ia mungkin
tidak berakhir di pelaminan, tetapi tetap hidup sebagai kenangan yang membentuk
kedewasaan seseorang.
Kepada setiap pembaca yang pernah
mengenal cinta pertama, pernah kehilangan tanpa sempat mengucapkan selamat
tinggal, atau pernah menyimpan rindu yang tak pernah menemukan alamat pulang, kisah
ini dipersembahkan.
PROLOG
Hujan pertama di penghujung tahun
kembali turun membasahi Desa Tegorejo.
Butir-butir air menimpa jalan yang
dahulu hanya berupa tanah berbatu, lalu mengalir perlahan menuju parit kecil di
sisi jalan yang menghubungkan Dusun Cegunan dengan Dusun Kersan. Jalan itu kini
telah beraspal hitam dan halus, dilalui kendaraan yang jauh lebih ramai
daripada tiga puluh tahun silam. Namun bagi seseorang, jalan itu tetap
menyimpan wajah yang sama, wajah masa muda yang tidak pernah benar-benar pergi.
Di tikungan dekat pohon randu tua yang
masih berdiri kokoh, angin membawa aroma tanah basah yang begitu akrab. Di
kejauhan, suara azan Magrib dari mushala kecil mengalun lembut, persis seperti
yang dahulu selalu mengakhiri sore-sore panjang penuh harapan.
Tidak banyak yang berubah.
Rumah-rumah memang telah berganti
tembok. Sawah-sawah sebagian telah menjadi bangunan. Anak-anak yang dahulu
berlari tanpa alas kaki kini telah mengantar anak mereka sendiri ke sekolah.
Tetapi kenangan...
Ia tidak pernah mengenal usia.
Ia tinggal diam di tempat yang sama,
menunggu seseorang kembali mengingatnya.
Tiga puluh tahun lalu, di jalan
sederhana itulah, seorang pemuda berseragam putih abu-abu hampir setiap sore
berdiri tanpa banyak bicara. Ia tidak datang untuk mencari keramaian. Tidak
pula untuk sekadar bertamu.
Ia hanya ingin melihat seorang gadis
pulang sekolah.
Sesederhana itu.
Pemuda itu bernama Redi.
Siswa kelas III A1 SMA Negeri 1
Pegandon.
Pendiam.
Rajin membaca.
Lebih sering menyembunyikan
perasaannya daripada mengucapkannya.
Sementara gadis yang selalu
dinantikannya bernama Ariyani.
Siswi kelas III SMP Negeri 1 Pegandon.
Ramah kepada siapa saja.
Murah senyum dam manja.
Dan tanpa pernah disadarinya,
senyumnya menjadi alasan seseorang rela melewati jalan yang sama hampir setiap
hari.
Tidak ada janji di antara mereka.
Tidak ada kata cinta yang benar-benar terucap.
Tidak pernah ada sepasang kekasih yang
berjalan bergandengan tangan.
Yang ada hanyalah
percakapan-percakapan sederhana di teras rumah Bu Ros, tawa kecil selepas
belajar, tatapan yang sering kali disalahartikan, serta harapan-harapan yang
tumbuh diam-diam di dalam hati seorang remaja.
Namun, cinta pertama memang sering
datang tanpa mengerti cara pulang.
Ia tumbuh di antara kesederhanaan.
Lalu perlahan-lahan diuji oleh restu
orang tua, bisik-bisik tetangga, kecemburuan, persahabatan yang retak, dan keputusan-keputusan
yang diambil ketika usia masih terlalu muda untuk memahami arti kehilangan.
Ada air mata yang disembunyikan.
Ada surat yang tidak pernah dibaca.
Ada permintaan maaf yang terlambat
disampaikan.
Ada seseorang yang memilih pergi jauh
karena merasa tak lagi memiliki alasan untuk tetap tinggal.
Perjalanan itu membawanya menyeberangi
lautan menuju Kalimantan.
Sementara seseorang yang ditinggalkan
hanya mampu memandangi jalan desa hingga bayangan terakhir itu benar-benar
menghilang.
Mereka tidak pernah tahu bahwa
perpisahan hari itu akan berlangsung selama tiga puluh tahun.
Waktu terus berjalan.
Musim berganti.
Anak-anak tumbuh menjadi orang tua.
Surat-surat berubah menjadi pesan
singkat.
Pertemuan berganti layar telepon.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah
mampu dikalahkan oleh waktu.
Kenangan.
Karena cinta pertama bukan selalu
tentang memiliki.
Kadang ia hanya ditakdirkan menjadi
cerita yang terus hidup di dalam hati diam, sederhana, tetapi tak pernah
benar-benar berakhir.
Dan kisah itu...
bermula dari sebuah jalan Raya yang
membelah Dusun Cegunan dan Dusun Kersan.
BAB I
Jalan
yang Mempertemukan Dua Dusun
Pagi di Desa Tegorejo selalu dimulai dengan bunyi kentongan
ronda yang dipukul perlahan sebagai penanda waktu Subuh telah berlalu. Tidak lama
kemudian, satu per satu pintu rumah mulai terbuka. Asap putih mengepul dari
dapur-dapur sederhana. Aroma nasi yang baru matang bercampur dengan wangi kayu
bakar memenuhi udara yang masih dingin.
Di depan rumah, para bapak mempersiapkan cangkul dan sabit
sebelum berangkat ke sawah. Sebagian lainya menunggu Bis jemputan menuju pabrik
Kayu Lapis Indonesia di Kaliwungu. Anak-anak kecil berlarian dengan seragam
merah putih, sementara para remaja mulai menyiapkan buku-buku pelajaran mereka.
Begitulah kehidupan berjalan setiap hari.
Tenang.
Nyaris tanpa kejutan.
Namun, di balik ketenangan itulah takdir sering bekerja
dengan cara yang paling sederhana.
Di Dusun Cegunan
Halaman rumah masih basah oleh embun ketika Redi sudah
duduk di bangku bambu dekat sumur. Di tangannya terbuka sebuah buku fisika, tetapi
matanya tidak bergerak. Ia mendengar suara ayam berkokok, langkah ibunya di
dapur, dan di kejauhan, lolongan anjing yang saling bersahutan.
Ia menutup buku itu. Lalu membukanya lagi.
"Kamu dari tadi membaca halaman yang sama," kata
ibunya sambil meletakkan segelas teh di sampingnya.
Redi tersenyum kecil. "Halamannya sulit, Bu."
Ibunya tidak bertanya lebih lanjut. Tapi Redi tahu, ibunya
memperhatikan bahwa sudut matanya merah, bukan karena kurang tidur, tetapi karena
semalam ia menangis membaca novel yang baru saja selesai.
"Novel apa yang kamu baca kemarin?" tanya ibunya
sambil mengambil ember.
Redi mengangkat bahu. "Cuma novel biasa, Bu."
"Tapi kamu nangis?"
"Sedikit."
Ibunya tersenyum. "Kamu itu, Red. Kalau baca buku,
masuk sampai ke hati."
Redi tidak menjawab. Ia membuka kembali buku fisika di
tangannya, tetapi kata-kata ibunya masih terngiang. Masuk sampai ke
hati. Ia tidak tahu apakah itu kelebihan atau kelemahan.
Setelah membantu ibunya mengambil air dari sumur, menyapu
halaman, dan memberi makan ayam-ayam peliharaan ayahnya, barulah ia mandi dan
mengenakan seragam putih abu-abu yang selalu disetrika rapi oleh ibunya pada
malam sebelumnya.
Di atas meja kayu dekat ruang tamu, beberapa buku Fisika,
Matematika, dan sebuah novel karya sastrawan Indonesia Mira. W dan Predy. S, tertata
rapi. Buku-buku itu adalah teman setianya. Ketika teman-temannya lebih memilih
bermain sepak bola atau berkumpul di gardu ronda, Redi lebih senang
menghabiskan sore bersama mereka.
Tapi pagi itu, sebelum berangkat sekolah, ia melakukan
sesuatu yang jarang ia lakukan.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang menggantung di
dinding kamarnya. Menatap wajahnya sendiri. Rambutnya yang sedikit panjang.
Matanya yang sayu. Bekas air mata semalam sudah tidak terlihat, tetapi ia masih
bisa merasakannya di sudut matanya.
"Apa sih, Di..." gumamnya pelan. "Menangis
karena novel."
Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Tapi diam-diam, ia menyukai perasaan itu. Perasaan ketika
sebuah cerita mampu menyentuh sesuatu di dalam dirinya yang bahkan ia sendiri
tidak sepenuhnya mengerti.
Di Rumah Bu Ros
Berbeda dengan Redi, kehidupan di rumah Bu Ros selalu
terasa lebih ramai.
Pagi-pagi sekali, suara sapu lidi telah terdengar dari
halaman rumah. Bu Ros sedang menyapu dedaunan mangga yang gugur semalam. Setiap
kali sapunya bergerak, debu-debu kecil beterbangan di bawah sinar matahari pagi
yang mulai menyusup.
"Ari... ayo bangun. Nanti terlambat sekolah."
Suara itu terdengar lembut, tetapi cukup tegas.
"Nggeh, Bu..."
Dari dalam kamar terdengar jawaban pelan, diikuti suara
langkah kaki yang masih mengantuk.
Beberapa menit kemudian, Ariyani keluar mengenakan seragam
putih biru yang masih terlihat baru. Rambut panjangnya dikepang dua oleh
ibunya, rapi, sederhana, tanpa aksesori berlebihan. Di dadanya terpasang
lambang SMP Negeri 1 Pegandon yang dijahit rapi.
"Jangan lupa sarapan."
"Iya, Bu."
Di meja makan hanya tersedia nasi hangat, tempe goreng,
sambal terasi, dan sayur bening bayam. Sederhana. Namun selalu terasa nikmat
karena dimasak dengan kasih sayang.
Ariyani makan perlahan. Matanya sesekali menatap ibunya
yang sedang merapikan dapur.
"Bu..."
"Iya?"
"Ari nanti kalau sudah lulus SMA... boleh kuliah di
luar kota?"
Bu Ros berhenti membersihkan meja. Ia menatap putrinya
cukup lama.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
Ariyani mengangkat bahu. "Ari cuma mikir. Kalau nanti
Ari kuliah di Semarang atau Jogja... Ibu sendiri di sini."
Bu Ros tersenyum. Tapi matanya terlihat sedikit
berkaca-kaca.
"Kalau itu yang terbaik untukmu, Ibu tidak akan
menghalangi."
"Tapi Ari nggak mau ninggalin Ibu."
"Suatu saat kamu harus pergi, Nduk." Bu Ros duduk
di samping putrinya. Mengusap rambut Ariyani yang masih lembap setelah keramas.
"Ibu tidak akan selamanya di sini. Kamu harus bisa hidup mandiri."
Ariyani menggigit bibirnya. "Tapi..."
"Belajar yang rajin dulu," potong ibunya dengan
lembut. "Urusan kuliah nanti. Sekarang fokus sekolah."
Ariyani mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ia menyimpan
pertanyaan yang sama. Apa aku benar-benar tega meninggalkan Ibu?
Bu Ros memandang putrinya beberapa saat. "Ari..."
"Iya?"
"Belajar yang rajin. Ibu ingin kamu sekolah setinggi
mungkin."
Ariyani mengangguk pelan. "Iya, Bu."
Di dalam hatinya, ia menyimpan mimpi yang sama. Ia ingin
melanjutkan sekolah ke SMA, kemudian kuliah, sesuatu yang pada masa itu masih
menjadi impian besar bagi banyak anak desa. Tapi di samping mimpi itu, ada
keinginan lain yang sama besarnya: ia tidak ingin membuat ibunya
kesepian.
Di Jalan
Tegorejo–Pegandon
Setelah matahari mulai meninggi, jalan Raya
Tegorejo–Pegandon berubah menjadi lautan sepeda.
Suara bel sepeda bersahut-sahutan. Gelak tawa remaja
memenuhi sepanjang jalan. Sebagian mengenakan seragam putih biru. Sebagian lagi
putih abu-abu. Di antara mereka ada yang berboncengan, ada pula yang sengaja
mengayuh pelan agar bisa berbincang lebih lama.
Di sisi jalan, para pedagang kecil mulai membuka lapak.
Warung Bu Parti menjadi tempat favorit para pelajar membeli gorengan dan es
lilin sebelum bel sekolah berbunyi.
Redi termasuk salah satu yang mengayuh pelan. Bukan karena
ia ingin berbincang, ia sendirian. Tapi karena pagi itu, untuk alasan yang
tidak ia mengerti, ia ingin menikmati perjalanan lebih lama.
Di depannya, sekelompok siswi SMP berjalan beriringan
sambil tertawa. Salah satu dari mereka, gadis dengan rambut dikepang dua, tertawa
kecil mendengar sesuatu yang dikatakan temannya.
Redi tidak sengaja menahan napas.
Bukan karena gadis itu cantik, meski ia memang cantik
dengan cara yang sederhana. Tapi karena cara ia tertawa. Tidak berlebihan.
Tidak dipaksakan. Seolah dunia ini masih cukup ringan untuk ditertawakan.
Redi memperlambat kayuhan sepedanya. Matanya mengikuti
gadis itu, hanya beberapa detik, cukup untuk melihat bagaimana ia berjalan,
bagaimana ia menanggapi teman-temannya, bagaimana ia tersenyum.
Lalu gadis itu menoleh.
Mata mereka bertemu.
Redi buru-buru menunduk. Wajahnya terasa panas. Ia mengayuh
lebih cepat, terlalu cepat, hingga hampir menabrak seorang bapak yang sedang
menyeberang.
"Maaf, Pak!" teriaknya sambil membelok.
Bapak itu hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Hati-hati, Nak."
Redi tidak berhenti. Ia terus mengayuh, jantungnya berdebar
tidak karuan.
Di belakangnya, gadis dengan rambut dikepang dua itu
bertanya kepada temannya, "Kenapa itu?"
"Siapa?"
"Yang tadi."
"Anak SMA mungkin."
Gadis itu mengangkat bahu. Ia tidak terlalu memikirkannya.
Hanya sesaat, ia melihat seorang pemuda dengan mata yang terlihat... sedih?
Atau mungkin ia salah lihat.
Lalu ia melanjutkan langkahnya bersama teman-temannya,
melupakan wajah itu seketika.
Di Dekat Perempatan Desa
Redi akhirnya berhenti di dekat pertigaan desa, di mana
seorang lelaki tua meniup peluit untuk membantu anak-anak menyeberang. Ia
menurunkan satu kaki dari pedal, membiarkan sepedanya berhenti sebentar.
Napasnya masih tersengal. Bukan karena kelelahan.
"Apa-apaan tadi..." gumamnya.
Ia menoleh ke belakang. Jalan itu masih dipenuhi pelajar.
Tapi gadis dengan rambut dikepang dua sudah tidak terlihat.
Redi tidak tahu mengapa ia melakukan itu. Mengapa ia
menatap terlalu lama. Mengapa ia tiba-tiba gugup ketika gadis itu menoleh.
Ia belum pernah mengalami perasaan seperti ini sebelumnya.
"Kamu kenapa sih, Di..." bisiknya pada diri
sendiri.
Ia menggelengkan kepala, lalu mengayuh kembali menuju SMA
Negeri 1 Pegandon. Tapi sepanjang perjalanan, satu hal terus berputar di
kepalanya: wajah gadis yang tertawa di bawah sinar matahari pagi.
Pemandangan di Jalan Raya Tegorejo–Pegandon berlangsung
hampir setiap hari. Begitu biasa. Namun kelak akan menjadi kenangan yang paling
mahal.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa dua anak muda
dari dua dusun berbeda itu sedang berjalan menuju masa depan yang sama sekali
tidak pernah mereka bayangkan.
Redi masih sibuk mengejar cita-citanya sebagai siswa kelas
tiga SMA.
Ariyani masih menikmati masa-masa terakhirnya sebagai siswi
SMP.
Keduanya belum saling mengenal. Belum pernah berbicara.
Belum pernah saling menyapa.
Namun takdir diam-diam sedang memperpendek jarak di antara
mereka.
Seperti dua garis yang tampak sejajar. Perlahan. Tanpa disadari.
Sedang menuju satu titik pertemuan.
Dan titik itu...
Tidak akan dimulai dari ruang kelas. Bukan pula di halaman
sekolah. Melainkan dari sebuah rumah sederhana di Dusun Kersan, tempat
secangkir teh hangat, senyum seorang ibu, dan keramahan seorang gadis kelak
mengubah arah perjalanan hidup seorang pemuda dari Dusun Cegunan.
Babak itu belum dimulai.
Tetapi takdir telah menyiapkan panggungnya.
BAB II
Gadis Berseragam Putih Biru
Mentari pagi baru saja mengintip dari
balik pepohonan ketika ayam jantan mulai berkokok bersahutan. Embun masih menggantung
di pucuk-pucuk daun pepohonan yang membentang di sepanjang jalan Desa Tegorejo.
Udara pagi yang sejuk mengalir pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga
melati dari halaman-halaman rumah warga.
Hari itu tampak sama seperti hari-hari
sebelumnya.
Namun, tanpa disadari siapa pun, hari
itu menjadi awal dari sebuah kisah yang kelak akan dikenang sepanjang hidup.
Di rumah sederhana milik Bu Ros,
aktivitas pagi telah dimulai sejak azan Subuh berkumandang.
Lampu neon di dapur baru saja
dipadamkan setelah Bu Ros selesai memasak nasi dan menyiapkan bekal sekolah.
"Ari... sarapannya jangan sampai
habis tidak dimakan," ucap Bu Ros sambil menyendok sayur bening ke dalam
mangkuk.
"Iya, Bu."
Ariyani duduk rapi di meja makan.
Rambut hitamnya yang panjang dikepang dua oleh ibunya. Seragam putih biru yang
dikenakannya tampak bersih dan licin. Di dadanya terpasang lambang SMP Negeri 1
Pegandon yang dijahit rapi.
Ia selalu berusaha tampil sederhana.
Tidak pernah mengenakan aksesori
berlebihan.
Tidak pernah berdandan.
Baginya, sekolah adalah tempat
belajar, bukan tempat mencari perhatian.
Namun justru kesederhanaan itulah yang
membuat banyak orang memperhatikannya.
Senyumnya selalu tulus.
Tatapannya teduh.
Dan tutur katanya lembut kepada siapa
saja.
Bu Ros sering berpesan,
"Perempuan itu bukan dinilai dari
cantiknya wajah, Ari. Tetapi dari bagaimana ia menjaga sikap dan
kehormatannya."
Kalimat itu tertanam kuat di hati
Ariyani.
Ia tumbuh menjadi gadis yang santun, kadang
sedikit manja, suka menghormati orang yang lebih tua, dan tidak pernah
memilih-milih teman.
Perjalanan menuju SMP Negeri 1
Pegandon ditempuh sekitar sepuluh menit dengan sepeda.
Setiap pagi, Ariyani berangkat bersama
dua sahabatnya.
Lilis.
Dan Sumarni.
Ketiganya hampir tidak pernah
terlambat.
Sepanjang perjalanan, suara tawa
mereka sering memecah kesunyian jalan desa.
"Ari... nanti pelajaran
Matematika sudah belajar belum?" tanya Lilis sambil mengayuh sepedanya.
"Sudah sedikit."
"Sedikit itu berapa?"
Ariyani tersenyum kecil.
"Cuma lima kali baca."
Lilis langsung tertawa.
"Itu namanya banyak, bukan
sedikit."
Mereka bertiga kembali tertawa.
Persahabatan mereka sederhana.
Tidak dipenuhi gengsi.
Tidak pula diwarnai persaingan.
Mereka saling membantu ketika ada
pelajaran yang sulit dan saling menghibur ketika salah satu sedang bersedih.
SMP Negeri 1 Pegandon mulai ramai
ketika bel pertama belum juga berbunyi.
Sepeda para siswa berjajar rapi di
tempat parkir.
Di halaman sekolah, beberapa siswa
sedang mengikuti latihan upacara.
Sebagian lagi duduk di bawah pohon
ketapang sambil menghafal pelajaran.
Ariyani berjalan menuju kelas III.
Di sepanjang koridor, beberapa teman
laki-laki menyapanya.
"Selamat pagi, Ari."
"Pagi."
Jawabannya selalu singkat, disertai
senyum yang ramah.
Ia tidak pernah membedakan siapa pun.
Karena itulah banyak guru menyukainya.
Bahkan Ibu Ratna, guru Bahasa
Indonesia, sering menjadikan Ariyani sebagai contoh bagi siswa lain.
"Bukan hanya nilainya yang
baik," kata beliau suatu hari.
"Tetapi sikapnya juga patut
diteladani."
Ucapan itu membuat Ariyani hanya
menundukkan kepala karena malu.
Ia memang tidak pernah menyukai
pujian.
Meski dikenal banyak teman, Ariyani
bukan gadis yang gemar menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Beberapa kali ada siswa yang mencoba
mengirimkan surat melalui teman sekelasnya.
Ada pula yang sengaja meminjam buku
hanya untuk mencari alasan berbicara dengannya.
Namun semua itu ia tanggapi dengan
sopan.
Tanpa mempermalukan siapa pun.
Baginya, cinta bukanlah sesuatu yang perlu
diburu pada usia sekolah.
Ia masih ingin membahagiakan ibunya.
Masih ingin melanjutkan pendidikan.
Dan masih ingin menikmati masa remaja
tanpa beban.
Bu Ros selalu mengingatkannya,
"Kalau jodoh memang milikmu, dia
tidak akan ke mana. Tapi kalau sekolahmu gagal karena sibuk memikirkan pacaran,
penyesalannya bisa seumur hidup."
Nasihat itu menjadi pegangan hidup
Ariyani.
Sore hari sepulang sekolah, Ariyani
hampir selalu membantu ibunya.
Kadang menyiram bunga.
Kadang menyapu halaman.
Kadang mengupas singkong yang akan
dijadikan keripik.
Rumah Bu Ros memang tidak pernah sepi.
Tetangga sering datang sekadar
berbincang.
Anak-anak kecil bermain di halaman.
Saudara-saudara silih berganti
bertamu.
Keramahan keluarga itu membuat rumah
mereka menjadi salah satu tempat yang paling nyaman di Dusun Kersan.
Tidak sedikit pemuda desa yang sengaja
melewati jalan depan rumah itu.
Entah benar-benar memiliki keperluan.
Entah hanya berharap dapat melihat
Ariyani sedang menyiram bunga.
Namun Ariyani tidak pernah menyadari
hal itu.
Ia menjalani hari-harinya seperti
biasa.
Sederhana.
Tulus.
Tanpa pernah berpikir bahwa ada
seseorang yang kelak rela menempuh berbagai cara hanya untuk bisa mengenalnya.
Di tempat yang berbeda, beberapa ratus
meter dari Dusun Kersan, seorang siswa SMA bernama Redi sedang sibuk
menyelesaikan tugas Fisika di perpustakaan sekolah.
Ia sama sekali belum mengenal gadis
bernama Ariyani.
Belum pernah melihat senyumnya.
Belum pernah mendengar suaranya.
Takdir seolah masih menyimpan rapat
kisah mereka.
Seperti seorang penulis yang belum
ingin membuka halaman berikutnya.
Namun roda waktu terus berputar.
Dan setiap putarannya perlahan
memperpendek jarak di antara dua anak muda yang belum mengetahui bahwa nama
mereka suatu hari akan saling memenuhi ruang ingatan.
Karena sebelum cinta menemukan
jalannya...
Takdir selalu lebih dahulu
memperkenalkan arah.
Dan arah itu kini mulai mengarah pada
satu pertemuan yang sederhana, tetapi akan mengubah kehidupan keduanya untuk
selama-lamanya.
BAB III
Kakak
Kelas yang Pendiam
Pagi di SMA Negeri 1 Pegandon selalu dimulai dengan
hiruk-pikuk para siswa yang memadati halaman sekolah. Deretan sepeda memenuhi
tempat parkir, sementara beberapa sepeda motor milik guru berjejer rapi di sisi
kantor. Bel pertama belum berbunyi, tetapi suara tawa, sapaan, dan candaan
telah memenuhi udara.
Di antara keramaian itu, seorang pemuda datang mengayuh
sepeda dengan kecepatan sedang. Seragam putih abu-abunya tampak bersih dan
tersetrika rapi. Tas kain berwarna hitam tersampir di bahu kirinya. Di dalam
keranjang sepeda, tersusun beberapa buku pelajaran yang telah diberi sampul
cokelat.
Pemuda itu adalah Redi. Siswa kelas III A1, jurusan Fisika.
Ia datang lebih awal hampir setiap hari. Bukan karena takut
terlambat. Melainkan karena ia lebih menyukai suasana sekolah sebelum dipenuhi
keramaian. Baginya, pagi adalah waktu terbaik untuk membaca.
Di Lorong Sekolah
Namun pagi itu, sebelum ia sempat mencapai perpustakaan,
sesuatu terjadi.
Di lorong menuju ruang guru, seorang siswa kelas X berlari
tergesa-gesa. Tangannya penuh buku. Matanya tidak melihat ke depan.
"Wah!"
Brak!
Buku-buku itu berhamburan ke lantai. Siswa itu hampir
terjatuh, tetapi Redi cepat-cepat menahan bahunya.
"Maaf... Maaf, Mas!" siswa itu hampir menangis.
"Saya nggak lihat—"
"Tenang," potong Redi. Suaranya tidak meninggi.
"Kamu nggak kenapa-kenapa?"
Siswa itu menggeleng cepat. "Nggak, Mas. Tapi buku
saya—"
Redi sudah membungkuk. Tangannya bergerak cepat
mengumpulkan buku-buku yang berserakan. Ada buku Matematika, Bahasa Indonesia,
dan sebuah buku gambar yang halamannya mulai terlepas.
"Ini," kata Redi sambil menyerahkan tumpukan buku
itu. "Hati-hati lain kali. Jalannya nggak cuma buat kamu."
Siswa itu menerima bukunya dengan tangan gemetar.
"Maaf, Mas... makasih..."
"Ya sudah. Pergi."
Siswa itu berlari kecil, masih menoleh beberapa kali untuk
memastikan Redi tidak marah.
Redi hanya tersenyum kecil. Lalu ia membetulkan letak
tasnya dan melanjutkan langkah.
Dari balik tiang, Samid yang melihat kejadian itu mendekat
dengan langkah santai.
"Elu tuh, Di."
Redi menoleh. "Apa?"
"Orang lain yang nabrak, elu yang minta maaf."
Redi mengangkat bahu. "Dia udah panik."
"Ya udah." Samid menggaruk kepalanya. "Tapi
kalo gue jadi elu, gue minta dia beliin es lilin dulu."
Redi terkekeh. "Dasar."
"Gue serius." Samid berjalan di sampingnya.
"Elu tuh terlalu baik. Nanti dimanfaatin orang."
"Dimanfaatin kayak gimana?"
"Kayak gini." Samid mengambil buku yang baru saja
dipungut Redi, tanpa izin. "Ini buku Fisika elu, kan? Kenapa elu yang
pungut? Dia yang nabrak."
Redi merebut kembali bukunya dengan pelan. "Dia udah
minta maaf."
"Ya udah." Samid tertawa. "Tapi kalo gue
jadi elu, gue bakal—"
"Bakal apa?"
"Bakal minta dia jadi anak buah gue."
Redi menggeleng. "Kamu tuh..."
"Apa?"
"Nggak pernah serius."
Samid mengangkat bahu. "Hidup tuh nggak harus serius
terus, Di. Kadang kita perlu—"
"Tertawa?"
"Ya."
Mereka berjalan berdampingan menuju kelas. Samid masih
tertawa. Redi hanya tersenyum kecil.
Di Kelas III A1
Di kelas, Redi dikenal sebagai siswa yang tenang. Bukan
ketua kelas. Bukan pula siswa yang paling sering berbicara. Namun ketika guru
memberikan soal Fisika yang sulit, hampir semua kepala akan menoleh kepadanya.
"Di, nomor tiga bagaimana?"
"Di, rumus yang kemarin bagaimana?"
"Di, pinjam catatanmu, ya."
Permintaan seperti itu hampir setiap hari ia dengar. Dan
hampir tidak pernah ia tolak.
Tapi ada satu permintaan yang berbeda pagi itu.
Seorang teman sekelas bernama Rudi mendekati mejanya.
"Di, gue mau minta tolong."
Redi mengangkat wajah dari bukunya. "Apa?"
"Nanti ulangan Fisika... gue nggak ngerti sama
sekali." Rudi menggaruk kepalanya. "Bisa ngajarin gue nggak? Bentar
aja."
Redi memandang Rudi. Ia tahu Rudi tidak pernah serius
belajar. Tapi ia juga melihat ada sesuatu di mata Rudi, bukan malas, tapi mungkin...
takut.
"Kapan?" tanya Redi.
"Besok pagi? Sebelum bel."
Redi mengangguk. "Boleh. Bawa buku kamu."
Rudi tersenyum lega. "Makasih, Di. Elu tuh..." Ia
berhenti. "Elu tuh orang baik."
Redi hanya tersenyum tipis. "Jangan lupa bawa
buku."
Saat Jam Istirahat
Jam istirahat tiba. Halaman sekolah kembali ramai. Beberapa
siswa bermain voli. Sebagian mengobrol di bawah pohon mahoni. Di kantin, aroma
bakso, gorengan, dan es sirup memenuhi udara.
Samid duduk di samping Redi sambil menyeruput es teh. Di
hadapan mereka, semangkuk bakso masih mengepul.
"Di."
"Hm?"
"Kamu pernah kepikiran setelah lulus mau ke
mana?"
Redi terdiam beberapa saat. "Aku ingin merantau."
"Ke mana?"
"Belum tahu."
Samid menurunkan gelasnya. "Meninggalkan
Tegorejo?"
"Iya."
Samid memandang sahabatnya cukup lama. "Lho,
kenapa?"
Redi tersenyum tipis. "Aku ingin melihat dunia yang
lebih luas."
Samid tidak langsung menjawab. Ia menatap langit, biru,
tanpa awan. "Gue sih... nggak tahu. Mungkin gue bakal stay di sini. Bantu
bapak."
Redi menoleh. "Bapak mu?"
"Iya." Samid memainkan sedotan di gelasnya.
"Bapak ku sudah nggak bisa kerja berat. aku harus bantu."
Redi terdiam. "Lo nggak pernah cerita."
"Buat apa?"
"Biar gue tahu."
Samid tertawa, tapi tawanya tidak seceria biasanya.
"Elu tahu sekarang. Ya udah."
Mereka makan bakso dalam diam. Tapi ada sesuatu yang
berubah di antara mereka, sesuatu yang tidak perlu diucapkan.
Di Belakang Sekolah
Setelah istirahat, Redi mencari Samid. Ia tidak melihatnya
di kantin, tidak juga di lapangan basket.
Akhirnya, ia menemukannya di belakang sekolah, di bawah
pohon trembesi.
Samid duduk sendirian. Matanya merah.
"Mid..."
Samid menoleh cepat. Matanya terkejut, seperti anak kecil
yang ketahuan mencuri.
"Lo ngapain di sini?"
Redi duduk di sampingnya. "Gue yang nanya. Lo
ngapain?"
"Nggak apa-apa."
"Lo nangis?"
"Bohong." Samid mengusap matanya dengan kasar.
"Gue cuma kena debu."
Redi tidak memaksa. Ia hanya duduk di sana, diam, menunggu.
Beberapa menit kemudian, Samid berbicara dengan suara
serak.
"Bokap gue... tadi malam dirawat di rumah sakit."
Redi menoleh. "Kenapa?"
"Jantungnya." Samid menggigit bibirnya.
"Dokter bilang... nggak boleh kerja berat lagi."
Redi tidak mengatakan "sabar" atau
"ikhlas." Ia hanya meletakkan tangannya di bahu Samid.
"Gue bakal bantu lo."
Samid menatapnya. "Bantu gimana?"
"Tugas-tugas lo. Gue kerjain."
"Gue nggak minta—"
"Lo nggak minta, tapi gue tawarin."
Samid menatap Redi cukup lama. Matanya mulai berkaca lagi,
tapi kali ini ia tidak mengusapnya.
"Makasih, Di."
"Ya udah."
Mereka duduk di bawah pohon trembesi. Angin berembus pelan.
Di kejauhan, bel istirahat berbunyi, menandakan waktu yang terus berjalan.
Samid tidak pernah menceritakan momen itu kepada siapa pun.
Tapi sejak hari itu, ia tahu—Redi bukan sekadar teman. Redi
adalah saudara yang tidak pernah ia minta, tetapi selalu ia butuhkan.
Jam Pelajaran Fisika
Jam pelajaran pertama dimulai. Pak Harjono, guru Fisika
yang terkenal disiplin, memasuki kelas sambil membawa setumpuk buku.
"Selamat pagi."
"Pagi, Pak."
Beliau menulis beberapa persamaan di papan tulis. Sebagian
siswa mulai mengernyitkan dahi. Sementara Redi justru tampak antusias.
Tangannya bergerak cepat mencatat setiap penjelasan.
"Redi," panggil Pak Harjono tiba-tiba.
Redi mengangkat wajah. "Iya, Pak?"
"Coba jelaskan penyelesaian soal nomor dua."
Redi berdiri. Ia melihat papan tulis, melihat persamaan
yang rumit, lalu mulai menjelaskan dengan tenang.
Pak Harjono mengangguk puas. "Bagus, Redi. Tetap
rendah hati. Kepintaran akan lebih berarti kalau disertai sikap yang
baik."
Redi duduk kembali. Kalimat itu kembali disimpannya dalam
hati.
Di sampingnya, Samid menulis sesuatu di selembar kertas,
lalu menyodorkannya.
"Lo tuh kaya anak emas."
Redi membaca, lalu tersenyum kecil. Ia menulis balasan:
"Lo tuh kaya anak hilang."
Samid membacanya, lalu terkekeh pelan—cukup untuk membuat
Pak Harjono menoleh.
"Samid?"
"Iya, Pak?"
"Ada yang lucu?"
"Nggak, Pak."
"Kalau begitu perhatikan papan tulis."
Samid mengangguk. Tapi di bawah meja, ia menendang kaki
Redi pelan. Redi hanya tersenyum tanpa menoleh.
Menjelang Pulang Sekolah
Menjelang pulang, langit Pegandon mulai diselimuti awan
putih. Siswa-siswa berhamburan keluar kelas. Sepeda-sepeda kembali memenuhi
jalan desa.
Redi dan Samid berjalan ke tempat parkir bersama.
"Di."
"Iya?"
"Besok lo beneran mau ngajarin Rudi?"
"Iya."
"Elu tuh..." Samid menggeleng. "Baik
banget."
Redi mengangkat bahu. "Dia minta tolong."
"Ya udah. Tapi kalo dia minta uang, jangan
dikasih."
Redi tertawa. "Dia nggak minta uang."
"Belum."
Mereka tertawa bersama.
Di kejauhan, jalan yang sama juga sedang dilalui oleh para
siswa SMP Negeri 1 Pegandon. Dua arus pelajar dari dua sekolah berbeda bergerak
menuju rumah masing-masing.
Mereka belum saling mengenal. Belum pernah saling menyapa.
Namun jarak di antara keduanya kini semakin dekat.
Sementara itu, di Dusun Kersan, Bu Ros menerima kabar bahwa
beberapa kerabat dari Dusun Cegunan akan berkunjung ke rumahnya pada akhir
pekan untuk urusan keluarga.
Tidak ada yang menganggap kabar itu istimewa. Bagi warga
desa, saling berkunjung adalah hal biasa. Namun tanpa disadari siapa pun,
kunjungan sederhana itulah yang akan menjadi pintu pertama bagi pertemuan Redi
dan Ariyani.
Pertemuan yang akan mengubah jalan hidup mereka.
Dan kisah itu... baru akan dimulai.
Di Rumah Samid, Malam
Hari
Di sebuah rumah sederhana di Dusun Cegunan, Samid duduk di
samping tempat tidur ayahnya.
Ayahnya terbaring lemah. Alat-alat medis sederhana
terpasang di tangannya. Ibunya sedang mencuci piring di dapur, berusaha menahan
tangis.
"Pak..." Samid memegang tangan ayahnya.
Ayahnya membuka mata—perlahan, berat. "Mid..."
"Iya, Pak."
"Jangan khawatirkan Bapak."
Samid menggigit bibirnya. "Tapi, Pak..."
"Kamu harus sekolah." Ayahnya menggenggam
tangannya lemah. "Jangan... jangan berhenti."
Samid menunduk. Matanya panas. "Pak..."
"Janji."
Samid mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ia bertanya: Bagaimana
aku bisa terus sekolah kalau Bapak seperti ini?
Ia tidak mengatakan itu. Ia hanya memegang tangan ayahnya
lebih erat.
"Janji, Pak," bisiknya.
BAB IV
Pertemuan Pertama
Sepanjang perjalanan pulang menuju
Dusun Cegunan, Redi lebih banyak diam.
Angin sore yang berembus menerpa
wajahnya sama sekali tidak mampu mengusir bayangan gadis yang baru saja
dikenalnya.
Ayahnya beberapa kali mengajak
berbincang mengenai hasil panen, harga gabah, hingga rencana gotong royong
membersihkan saluran irigasi minggu depan.
Redi menjawab seperlunya.
Pikirannya masih tertinggal di rumah
sederhana yang dinaungi pohon mangga itu.
Di benaknya berulang-ulang terbayang
senyum tipis seorang gadis yang bahkan belum lima belas menit dikenalnya.
Entah mengapa, ada sesuatu yang
berbeda.
Bukan karena kecantikannya.
Melainkan karena ketenangan yang
dipancarkan dari sikapnya.
Ia belum pernah menemukan gadis
seusianya yang berbicara selembut itu.
Sesampainya di rumah, ibu Redi segera
menyambut mereka.
"Gimana? Sudah ketemu Bu
Ros?"
"Sudah."
"Sehat?"
"Alhamdulillah sehat."
Ibunya kemudian memandang Redi yang
sejak tadi hanya meletakkan sandal, lalu duduk di teras tanpa banyak bicara.
"Kamu kok diam saja?"
"Nggak apa-apa, Bu."
"Capek?"
"Iya... mungkin."
Padahal bukan tubuhnya yang lelah.
Melainkan pikirannya yang sedang
dipenuhi wajah seseorang yang baru pertama kali ia lihat.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak
lama, Redi membuka buku Fisika tanpa benar-benar membacanya.
Tatapannya berhenti pada satu halaman,
tetapi pikirannya terus kembali ke rumah Bu Ros.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa sejak
tadi buku yang dibukanya terbalik.
Ia tersenyum kecil sendiri.
Lalu buru-buru menutup buku itu karena
merasa aneh dengan dirinya sendiri.
"Ada apa denganku?"
Pertanyaan itu hanya dijawab oleh
kesunyian malam.
Sementara itu, di Dusun Kersan,
Ariyani sedang membantu Bu Ros merapikan gelas-gelas bekas tamu.
"Nak."
"Iya, Bu?"
"Tadi itu anaknya Pak
Sastro."
"Oh..."
"Namanya Redi."
"Iya, Bu."
"Gimana menurutmu?"
Ariyani mengangkat bahu sambil
tersenyum.
"Baik."
"Cuma baik?"
"Iya."
"Anaknya sopan, ya."
"Iya."
Jawaban Ariyani singkat.
Baginya, Redi memang meninggalkan
kesan sebagai pemuda yang santun dan pendiam.
Tidak lebih.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa
di hati pemuda itu mulai tumbuh benih-benih rasa yang suatu hari akan mengubah
arah hidup mereka berdua.
Bahkan malam itu, setelah selesai
belajar, Ariyani sudah melupakan pertemuan singkat tersebut.
Ia lebih sibuk mempersiapkan ulangan
Matematika yang akan dilaksanakan hari Senin.
Hari-hari berikutnya kembali berjalan
seperti biasa.
Redi kembali bersekolah.
Ariyani pun demikian.
Mereka berada di sekolah yang berbeda.
Berangkat pada jam yang hampir
bersamaan.
Melewati jalan yang sama.
Namun belum pernah kembali bertemu.
Sesekali Redi tanpa sadar memperlambat
kayuhan sepedanya ketika melewati pertigaan pertemuan antaraa jalan Raya
Tegorejo Pegandon denga jalan Randu Gembyang.
Entah berharap apa.
Mungkin hanya berharap takdir kembali
mempertemukan mereka.
Namun jalan desa tetap lengang.
Yang melintas hanyalah para petani,
ibu-ibu yang hendak ke pasar, dan anak-anak kecil yang bermain di tepi jalan.
Redi tersenyum getir.
"Mungkin memang belum
waktunya."
Beberapa hari kemudian, ayah Redi
kembali menerima undangan menghadiri selamatan kecil di rumah Bu Ros.
Kali ini beliau berhalangan hadir
karena harus mengikuti rapat kelompok tani.
"Di."
"Iya, Pak."
"Kalau tidak keberatan, tolong
wakili Bapak datang ke rumah Bu Ros nanti malam."
"Saya... sendiri?"
"Iya."
"Sekalian sampaikan titipan beras
ini."
Redi terdiam beberapa saat.
Entah mengapa, jantungnya berdetak
sedikit lebih cepat.
Ia sendiri tidak mengerti mengapa
undangan sederhana itu membuatnya merasa begitu bersemangat.
Padahal sebelumnya, bertamu ke rumah
siapa pun adalah hal yang biasa baginya.
Kini...
rumah Bu Ros terasa memiliki alasan
yang berbeda untuk dikunjungi.
Tanpa ia sadari, langkah kecil itu
sedang membawa dirinya semakin dekat kepada kisah yang kelak menjadi cinta
pertamanya.
Sebuah cinta yang akan membuatnya
mengenal bahagia, cemburu, kecewa, kehilangan, dan arti mengikhlaskan.
Perjalanan itu baru saja dimulai.
BAB V
Sore
di Teras Rumah Bu Ros
Senja selalu memiliki cara yang berbeda untuk menyapa Desa
Tegorejo.
Cahaya matahari perlahan merunduk di balik pepohonan.
Burung-burung pipit berterbangan pulang menuju sarangnya, sementara angin sore
menggoyangkan pucuk-pucuk bambu yang berjajar di sepanjang jalan menuju Dusun
Kersan.
Di kejauhan, suara anak-anak mengaji mulai terdengar dari
langgar kecil. Aroma singkong rebus dan kopi hitam mengepul dari dapur-dapur
warga, menandakan hari perlahan berganti malam.
Sore itu, Redi mengayuh sepedanya menuju rumah Bu Ros.
Di keranjang depan sepedanya terdapat satu karung kecil
berisi beras titipan dari ayahnya, dibungkus rapi dengan kain goni.
Semakin dekat ke Dusun Kersan, entah mengapa kayuhan
sepedanya justru semakin pelan.
Bukan karena lelah.
Melainkan karena ada rasa yang belum pernah ia kenal
sebelumnya.
Rasa gugup.
Di Depan Rumah Bu Ros
Sesampainya di depan rumah, Redi menghentikan sepedanya.
Halaman rumah Bu Ros tampak lebih ramai daripada biasanya. Beberapa tetangga
baru saja berpamitan setelah menghadiri selamatan kecil.
Redi merapikan bajunya, menarik ujung kemejanya, memastikan
tidak ada kerutan. Lalu ia merapikan rambutnya dengan jari-jari yang sedikit
gemetar.
"Kenapa sih..." gumamnya pelan. "Kayak mau
lamaran aja."
Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. Tapi tawanya tidak
menghilangkan kegugupan itu.
Ia menarik napas panjang, lalu mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam..."
Suara Bu Ros terdengar dari dalam rumah. "Eh, Mas
Redi... monggo masuk."
Redi tersenyum sopan. "Saya disuruh Bapak mengantarkan
titipan beras ini, Bu."
"Ya Allah... merepotkan saja."
"Tidak, Bu. Bapak hanya menitip salam."
Bu Ros menerima titipan itu dengan penuh rasa terima kasih.
"Kamu sudah makan belum?"
"Sudah, Bu."
"Kalau begitu duduk dulu. Ari... ada tamu."
Suara langkah kaki terdengar dari arah dapur.
Beberapa detik kemudian, Ariyani muncul membawa teko berisi
teh hangat.
Ia mengenakan baju sederhana berwarna merah muda dengan
kerudung tipis yang baru dikenakannya sepulang mengaji. Rambutnya masih sedikit
basah di ujung-ujungnya.
Ketika melihat Redi duduk di ruang tamu, ia sedikit
terkejut, seperti tidak menyangka akan melihatnya di sana.
"Assalamu'alaikum, Mas."
"Wa'alaikumussalam."
Suara Redi terdengar lebih pelan daripada biasanya.
Untuk pertama kalinya, mereka kembali bertemu tanpa
didampingi banyak orang.
Namun tetap saja, keduanya masih sama-sama canggung.
Di Teras Rumah
Bu Ros kemudian meminta izin masuk ke dapur karena harus
menyiapkan hidangan untuk beberapa tamu yang masih berada di belakang rumah.
"Nak, temani Mas Redi sebentar, ya."
"Iya, Bu."
Kini hanya tersisa mereka berdua di teras rumah. Angin sore
berembus pelan. Suasana hening beberapa saat.
Redi mencoba memecah keheningan.
"Sekolahnya bagaimana?"
"Alhamdulillah... baik."
"Sebentar lagi ujian, ya?"
"Iya."
"Semoga lulus dengan nilai bagus."
"Terima kasih, Mas."
Percakapan itu sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana.
Namun bagi Redi, setiap jawaban Ariyani terdengar begitu menenangkan. Tidak
dibuat-buat. Tidak berlebihan. Sama seperti gadis itu sendiri.
Tapi ada sesuatu yang berbeda pagi itu. Saat Ariyani
menuangkan teh ke dalam gelas, tangannya sedikit gemetar. Tehnya tumpah, hanya
setetes, di atas meja kayu.
"Aduh..." Ariyani buru-buru mengambil lap.
"Maaf, Mas."
Redi menggeleng. "Nggak apa-apa."
Tapi ia memperhatikan. Ia memperhatikan bagaimana Ariyani
mengusap tumpahan itu dengan cepat, bagaimana ia tidak berani menatap Redi
selama beberapa detik.
"Ari..." Redi memanggil pelan.
"Iya?"
"Kamu... gugup?"
Ariyani mengangkat wajahnya. Matanya sedikit membulat.
"Nggak... nggak kok."
Tapi senyumnya terlalu cepat. Terlalu dipaksakan.
Redi tidak bertanya lebih lanjut. Tapi di dalam hatinya,
ada sesuatu yang bergetar—bukan karena ia membuat Ariyani gugup, tetapi karena
ia menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam kegugupan itu.
Percakapan Mengalir
Beberapa menit kemudian, pembicaraan mulai mengalir lebih
santai. Ariyani bercerita bahwa ia menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Ia
senang membaca cerpen yang dimuat di majalah remaja. Kadang-kadang ia mencoba
menulis puisi di buku tulisnya, meski tidak pernah diperlihatkan kepada siapa
pun.
Redi tersenyum. "Aku juga suka membaca."
"Iya?"
"Iya. Tapi lebih sering membaca novel."
"Novel apa?"
"Banyak."
"Roman juga?"
"Kadang."
Ariyani tersenyum kecil. "Kalau aku belum pernah
selesai membaca novel."
"Kenapa?"
"Kalau ceritanya sedih, aku cepat menangis."
Jawaban itu membuat Redi ikut tersenyum. "Berarti
jangan baca yang sedih."
"Nanti malah penasaran."
Keduanya tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya, suasana canggung mulai mencair.
Lalu Ariyani bertanya dengan nada yang lebih serius,
"Mas Redi... pernah nggak sih, baca cerita terus nggak bisa tidur?"
Redi mengangguk. "Sering."
"Kenapa?"
"Karena ceritanya... terasa nyata." Ia menatap
Ariyani. "Kayak kamu lagi hidup di dalam cerita itu."
Ariyani terdiam. Ia memainkan ujung kerudungnya. "Aku
juga sering gitu."
"Kamu?"
"Iya." Ia tersenyum tipis. "Tapi bukan
karena novel. Karena..." Ia berhenti. "Nggak apa-apa."
"Karena apa?"
Ariyani menggeleng. "Nggak penting."
Tapi Redi melihat ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang
tidak ia mengerti. Sesuatu yang membuatnya ingin bertanya lebih lanjut, mtapi
ia memilih diam.
"Ari... boleh aku
bertanya?"
Beberapa saat kemudian, Redi memberanikan diri.
"Ari..."
"Iya, Mas?"
"Kamu... pernah nggak sih, merasa..." Ia
berhenti. Mencari kata yang tepat. "...kamu pengen ngomong sesuatu, tapi
nggak bisa?"
Ariyani menatapnya. "Maksud Mas?"
Redi menghela napas. "Kayak... ada yang pengen kamu
katakan, tapi kamu nggak tahu caranya."
Ariyani terdiam cukup lama. Lalu ia berkata pelan,
"Sering."
"Kapan?"
"Sekarang."
Redi terkejut. "Sekarang?"
Ariyani menggigit bibirnya. "Ari..." Ia menunduk.
"Ari nggak tahu kenapa, tapi... setiap kali Mas Redi datang, Ari
merasa..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Merasa apa?" tanya Redi, terlalu cepat, terlalu
penuh harap.
Ariyani mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata
Redi.
"Merasa..." Ia tersenyum. "Merasa ada yang
ngerti."
Redi tidak bisa bernapas.
"Ngerti apa?"
"Ngerti perasaan Ari." Ariyani memainkan ujung
meja. "Mas Redi selalu dengerin. Nggak pernah potong. Nggak pernah bilang
'ah, kamu masih kecil.' Mas Redi selalu... ada."
Redi menelan ludah. Jantungnya berdebar sangat keras.
"Ari..."
"Iya?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena..." Redi tersenyum. "...karena kamu
bilang gitu."
Mereka saling memandang. Tidak ada yang berbicara.
Tapi di antara mereka, ada sesuatu yang mulai berubah, sesuatu
yang tidak berani mereka beri nama.
Sore Semakin Larut
Langit berubah jingga keemasan. Beberapa anak kecil
berlarian melewati depan rumah sambil bermain layang-layang. Sesekali mereka
melirik ke arah teras rumah Bu Ros. Di kampung kecil seperti Dusun Kersan, tamu
muda yang datang berulang kali tentu mudah menarik perhatian.
Namun Redi tidak memedulikannya. Ia terlalu menikmati
percakapan sore itu. Meski hanya tentang sekolah. Tentang buku. Tentang
cita-cita. Tentang kehidupan sederhana di desa.
Bagi Redi, waktu seolah berjalan terlalu cepat.
"Mas Redi nanti setelah lulus mau kuliah?" tanya
Ariyani.
Redi menggeleng pelan. "Aku belum tahu."
"Kenapa?"
"Mungkin bekerja dulu."
"Di mana?"
"Kalau ada kesempatan... ingin merantau."
"Jauh?"
"Mungkin."
Ariyani terdiam. Entah mengapa, kata merantau terdengar
begitu jauh baginya. Ia belum pernah membayangkan ada seseorang yang rela meninggalkan
kampung halaman.
"Kalau Mas pergi..." Ariyani menatapnya.
"...nanti pulangnya kapan?"
Redi tersenyum kecil. "Belum tahu."
Jawaban itu terdengar ringan. Namun tanpa mereka sadari,
percakapan sederhana tersebut kelak menjadi kenyataan yang menghadirkan
perpisahan panjang.
Dari Balik Jendela
Dari balik jendela, Bu Ros memperhatikan keduanya.
Ia tersenyum tipis. Menurutnya, Redi adalah pemuda yang
sopan. Cara berbicaranya santun. Tatapannya penuh hormat.
Namun sebagai seorang ibu, ia tetap menyimpan kewaspadaan.
Ariyani masih duduk di bangku SMP. Ia tidak ingin putrinya
terlalu dekat dengan urusan cinta di usia yang masih sangat muda. Baginya,
pendidikan harus tetap menjadi prioritas. Perasaan remaja boleh datang kapan
saja. Tetapi masa depan anaknya tidak boleh dipertaruhkan.
Tapi sore itu, Bu Ros melihat sesuatu yang belum pernah ia
lihat sebelumnya.
Ia melihat cara Ariyani menatap Redi, bukan tatapan biasa,
tapi tatapan yang penuh kepercayaan.
Ia melihat cara Redi mendengarkan Ariyani, bukan sekadar
sopan, tapi sungguh-sungguh hadir.
Dan untuk pertama kalinya, Bu Ros bertanya pada dirinya
sendiri: Apakah aku salah jika aku membiarkan ini terjadi?
Pemikiran itu mulai tumbuh diam-diam di hati Bu Ros. Kelak,
keyakinan itulah yang akan menjadi salah satu ujian terbesar dalam kisah Redi
dan Ariyani.
Menjelang Azan Magrib
Menjelang azan Magrib berkumandang, Redi berpamitan.
"Terima kasih, Bu."
"Hati-hati di jalan, Mas."
"Iya."
Sebelum menaiki sepedanya, Redi menoleh sejenak.
Ariyani masih berdiri di teras rumah sambil tersenyum
sopan. Tidak ada lambaian tangan. Tidak ada janji untuk bertemu lagi.
Hanya sebuah senyum sederhana yang entah mengapa mampu
menemani perjalanan Redi hingga tiba di rumah.
Tapi sebelum ia pergi, Ariyani berkata, hampir berbisik,
"Mas..."
Redi berhenti. "Iya?"
"Ari..." Ariyani menunduk. "Ari seneng Mas
datang."
Redi tidak bisa menjawab. Ia hanya tersenyum, senyum yang
terlalu lebar, terlalu bahagia.
"Besok," katanya akhirnya. "Besok aku datang
lagi."
Ariyani mengangguk.
Dan Redi mengayuh sepedanya meninggalkan Dusun Kersan
dengan perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Malam Itu
Malam itu, sebelum tidur, Redi membuka buku catatan kosong
yang biasa digunakannya untuk menulis rumus-rumus Fisika.
Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak menuliskan angka
maupun persamaan.
Di sudut halaman paling belakang, ia menulis:
"Hari ini aku kembali bertemu gadis dari Dusun
Kersan."
Ia berhenti. Pulpennya menggantung di atas kertas.
Lalu ia melanjutkan:
"Dia bilang dia seneng aku datang."
"Dan aku..."
Pulpennya berhenti lagi. Ia tidak bisa menyelesaikan
kalimat itu.
Karena jika ia menyelesaikannya, ia harus mengakui sesuatu
yang belum ia mengerti sepenuhnya.
Ia menutup buku itu perlahan. Belum ada yang disebut cinta.
Belum ada pengakuan. Belum ada harapan yang berani diucapkan.
Tetapi sebuah benih telah jatuh di dalam hati. Dan benih
itu sedang mulai tumbuh tanpa pernah meminta izin kepada pemiliknya.
Di Rumah Bu Ros, Malam
Itu
Ariyani tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit
kamar yang gelap.
Di kepalanya, satu kalimat terus berputar: "Besok
aku datang lagi."
Ia tersenyum di kegelapan.
"Kenapa sih..." bisiknya.
Ia menutup matanya. Tapi senyum itu tetap ada.
"Besok," pikirnya. "Besok Mas Redi datang
lagi."
Dan untuk pertama kalinya, Ariyani merasa hari-harinya
memiliki sesuatu yang dinantikan.
BAB VI
Sahabat
Bernama Samid
Pagi di SMA Negeri 1 Pegandon selalu diawali dengan
kesibukan yang sama. Bel berbunyi tepat pukul tujuh. Para siswa berbaris di
depan kelas masing-masing sebelum guru piket memulai pemeriksaan kerapian
seragam. Suara sapu yang membersihkan halaman masih terdengar bersahutan dengan
gelak tawa siswa yang datang tergesa-gesa.
Di sudut halaman sekolah, Redi memarkir sepedanya seperti
biasa. Ia mengangkat tasnya, lalu berjalan menuju kelas III A1.
Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Senyum tipis yang
beberapa hari terakhir mulai menghiasi wajahnya tidak luput dari perhatian
seseorang.
"Hei...!"
Sebuah tepukan mendarat pelan di bahu Redi.
Ia menoleh. "Samid."
"Sejak kapan kamu senyum-senyum sendiri?"
Redi menggeleng sambil tersenyum kecil. "Memangnya
kenapa?"
"Nggak biasanya."
"Perasaan biasa saja."
Samid mempersempit matanya. "Justru karena kamu
terlalu biasa, aku jadi curiga."
Redi hanya tertawa pelan. Persahabatan mereka memang sudah
berlangsung sejak awal masuk SMA. Samid adalah satu dari sedikit orang yang
mampu membaca perubahan sekecil apa pun pada diri Redi.
Di Kelas, Sebelum Bel
Mereka berjalan menuju kelas. Di lorong, Samid masih tidak
melepaskan topik itu.
"Serius, Di. Elu tuh beda."
"Beda gimana?"
"Kayak..." Samid menggaruk kepalanya, mencari
kata. "Kayak orang yang baru menang lotre."
Redi tertawa. "Lotre apaan."
"Ya elu tahu maksud gue." Samid mendekatkan
wajahnya. "Ada cewek, ya?"
Redi tidak menjawab. Tapi wajahnya memerah—sedikit, tapi
cukup untuk dilihat Samid.
"Wah..." Samid bersiul pelan. "Berarti
beneran."
"Lo jangan—"
"Tenang." Samid menepuk bahunya. "Gue nggak
bakal ngomong ke siapa-siapa."
Redi menatapnya. "Janji?"
"Janji." Samid mengangkat tangan kanannya.
"Sumpah sahabat."
Redi tersenyum lega. "Makasih, Mid."
"Tapi..." Samid tersenyum nakal. "Lo harus
cerita ke gue."
"Cerita apa?"
"Semua." Samid mengedipkan mata. "Gue mau
tahu cewek kayak apa yang bisa bikin Redi si kutu buku jadi kayak gini."
Redi menggeleng sambil tertawa. "Dasar lo."
Sisi Lain Samid
Berbeda dengan Redi yang pendiam dan lebih suka menyimpan
perasaan sendiri, Samid tumbuh sebagai pemuda yang mudah bergaul. Tubuhnya
lebih tegap. Kulitnya sedikit lebih gelap karena hampir setiap sore bermain
sepak bola di lapangan desa. Ia pandai bercanda. Pandai berbicara. Dan hampir
selalu menjadi pusat perhatian ketika berkumpul bersama teman-temannya.
Jika Redi dikenal karena prestasi akademiknya, maka Samid
dikenal karena kemampuannya bergaul dengan siapa saja. Guru mengenalnya. Adik
kelas mengenalnya. Bahkan pedagang kantin pun hafal kebiasaannya membeli dua
gorengan setiap jam istirahat.
Meski memiliki sifat yang sangat berbeda, keduanya justru
saling melengkapi. Samid sering berkata, "Kalau aku terlalu banyak bicara,
kamu yang mikir." Redi selalu menjawab sambil tertawa, "Kalau begitu
kita sama-sama lengkap."
Persahabatan mereka dikenal hampir semua siswa. Ke mana pun
salah satunya pergi, biasanya yang lain tidak jauh darinya.
Tapi apa yang tidak diketahui banyak orang adalah sisi lain
Samid—sisi yang hanya ia tunjukkan kepada Redi.
Di Belakang Sekolah,
Saat Istirahat
Jam istirahat tiba. Samid tidak terlihat di kantin. Redi
mencarinya dan menemukannya di belakang sekolah, di bawah pohon trembesi.
Samid duduk sendirian. Di tangannya, selembar kertas.
"Mid."
Samid menoleh. Ia memasukkan kertas itu ke saku dengan
cepat.
"Apa itu?" tanya Redi sambil duduk di sampingnya.
"Bukan apa-apa."
"Lo bohong."
Samid terdiam. Lalu ia mengeluarkan kertas itu, perlahan,
enggan.
"Ini..." Samid menggigit bibirnya. "Ini
surat dari rumah sakit."
Redi membacanya. Tagihan. Angka yang tidak kecil.
"Mid..."
"Gue nggak tahu gimana, Di." Suara Samid
bergetar. "Bokap masih dirawat. Nyokap udah jual hampir semua.
Gue..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Redi memegang bahunya. "Gue bisa bantu."
"Bantu gimana?"
"Gue punya tabungan—"
"Nggak." Samid memotongnya. "Gue nggak mau
ambil uang lo."
"Bukan ngasih. Gue pinjamin."
Samid menatapnya. "Lo..."
"Kita sahabat, Mid." Redi tersenyum. "Lo
pernah bantuin gue waktu gue nggak bisa ngerjain soal Fisika."
"Itu beda."
"Nggak beda." Redi memasukkan tangan ke sakunya.
"Beda cuma angkanya."
Samid tidak bisa menahan air matanya. Ia mengusapnya cepat,
tapi Redi sudah melihat.
"Makasih, Di," bisiknya.
"Ya udah." Redi berdiri. "Ayo ke kantin. Gue
traktir."
Samid tertawa—tawa yang masih basah oleh air mata.
"Elu tuh..."
"Apa?"
"Nggak bisa ngasih semangat tanpa ngajak makan."
Redi tertawa. "Ya udah. Besok aja."
Mereka berjalan berdampingan menuju kantin. Tapi di dalam
hati Samid, ada rasa syukur yang tidak pernah ia ucapkan dengan kata-kata.
Di Kantin
Di bawah pohon ketapang yang rindang, keduanya duduk
menikmati semangkuk bakso dan segelas es teh. Suasana kantin cukup ramai. Para
siswa saling bercanda. Beberapa siswi tampak sibuk menghafal pelajaran.
Di sela-sela keramaian itu, Samid tiba-tiba bertanya,
"Di."
"Iya?"
"Kamu akhir-akhir ini sering ke Dusun Kersan,
ya?"
Redi sedikit terkejut. "Dari mana kamu tahu?"
Samid tersenyum lebar. "Di kampung ini, kabar lebih
cepat sampai daripada angin."
Redi hanya tersenyum tipis. "Cuma mengantar titipan
Bapak."
"Cuma?"
"Iya."
Samid mengaduk kuah baksonya perlahan. "Lalu..."
Ia sengaja menggantung kalimatnya.
"Lalu apa?"
"Katanya di sana ada gadis cantik."
Redi hampir tersedak air teh yang diminumnya. "Siapa
bilang?"
"Banyak."
"Orang kampung memang suka membesar-besarkan
cerita."
Samid tertawa. "Berarti memang ada."
Redi tidak menjawab. Diamnya justru menjadi jawaban yang
paling jelas. Samid mulai memperhatikan perubahan ekspresi sahabatnya. Ia belum
pernah melihat Redi semalu itu.
"Di..."
"Iya?"
"Cerita dong."
Redi menghela napas. "Dia... beda."
"Beda gimana?"
"Lo tahu, Mid..." Redi menatap langit. "Gue
pernah baca buku yang bilang, 'kadang seseorang masuk ke hidupmu tanpa kamu
sadari.'"
Samid mengangguk pelan.
"Ya, gue nggak sadar." Redi tersenyum.
"Sampe suatu hari gue sadar... gue udah kepikiran dia terus."
Samid tidak menjawab. Ia menatap sahabatnya—melihat senyum
yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Gue belum pernah lihat dia sebahagia ini, pikir Samid. Dia benar-benar jatuh cinta.
Sepulang Sekolah
Sepulang sekolah, Samid mengayuh sepedanya berdampingan
dengan Redi. Mereka melewati jalan yang membelah Desa Tegorejo.
Sesampainya di pertigaan menuju Dusun Kersan, Samid
menghentikan sepedanya.
"Di."
"Apa?"
"Itu jalan menuju rumah Bu Ros, kan?"
"Iya."
"Kamu hafal sekarang?"
Redi tersenyum malu. "Sedikit."
Samid tertawa keras. "Wah... ternyata benar."
"Benar apa?"
"Kamu sedang menyukai seseorang."
Redi tidak membantah. Ia hanya memandang jalan kecil yang
membelok ke arah Dusun Kersan. Entah mengapa, setiap kali melihat jalan itu,
hatinya selalu terasa lebih hangat.
Samid memperhatikan tatapan itu. Dalam hati ia mulai
penasaran. Siapa sebenarnya gadis yang mampu membuat sahabatnya berubah seperti
ini?
Di Warung Bu Parti,
Beberapa Hari Kemudian
Samid sedang membeli es cendol di warung Bu Parti ketika
seorang pemuda mendekatinya.
"Mid... lo Samid, kan?"
Samid menoleh. "Ya. Siapa?"
"Joko." Pemuda itu mengulurkan tangan. "Gue
temennya Rudi."
"Oh... iya, iya." Samid menjabat tangannya.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa." Joko membeli es cendol juga.
"Lo kenal Ariyani?"
Samid menghentikan sedotannya. "Ariyani?"
"Iya. Anak Bu Ros dari Kersan."
"Kenapa?"
Joko mengangkat bahu. "Dia temen gue dari SMP. Cuma
nanya."
Samid terdiam sejenak. "Gue... belum kenal."
"Wah, rugi lo." Joko tertawa. "Dia tuh baik.
Cantik. Ramah. Nggak pernah macam-macam."
Samid mengangguk pelan. "Gue dengar."
"Lo kenal?"
"Temen gue yang kenal." Samid menatap Joko.
"Redi."
"Oh, yang SMA itu?"
"Iya."
Joko mengangguk-angguk. "Oh... sering ke rumah Bu Ros,
ya?"
Samid tidak menjawab. Ia menyeruput es cendolnya, tapi
rasanya tiba-tiba hambar.
Kenapa ya... pikirnya. Kenapa
gue merasa aneh?
Sore Itu, Samid
Sendirian
Sore harinya, Samid duduk di pinggir sawah. Di depannya,
jalan menuju Dusun Kersan membentang.
Ia tahu Redi ada di sana.
Tahu Redi mungkin sedang berbincang dengan Ariyani.
Tahu Redi mungkin sedang tersenyum—senyum yang belum pernah
ia lihat sebelumnya.
Samid membayangkan wajah Ariyani. Wajah yang belum pernah
ia lihat secara langsung—hanya dari cerita orang.
Kenapa gue kepikiran dia?
Ia memegang kepalanya sendiri.
Lo kenapa sih, Mid?
Ia tahu jawabannya. Tapi ia tidak mau mengakuinya.
Karena jika ia mengakuinya, itu berarti ia telah
mengkhianati sahabatnya.
Di Rumah Samid, Malam
Itu
Samid tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit
kamar yang gelap. Di samping tempat tidurnya, ayahnya terbaring lemah—sudah
pulang dari rumah sakit, tapi masih dalam masa pemulihan.
"Mid..." suara ayahnya pelan.
Samid menoleh. "Iya, Pak?"
"Kamu belum tidur?"
"Belum."
Ayahnya membuka mata. "Ada yang kamu pikirkan?"
Samid terdiam. Lalu ia berkata, "Pak... pernah nggak
sih, Bapak ngerasa... bingung?"
"Bingung gimana?"
"Kayak..." Samid mencari kata. "Kayak lo
pengen sesuatu, tapi lo nggak boleh."
Ayahnya tersenyum lemah. "Sering."
"Terus Bapak gimana?"
Ayahnya menggenggam tangan Samid. "Kadang... yang kita
pengen, belum tentu baik buat kita. Dan yang baik buat kita, belum tentu kita
pengen."
Samid menatap ayahnya.
"Kamu masih muda, Mid." Ayahnya menutup mata.
"Nanti kamu paham."
Samid tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, ia bertanya: Apakah
yang aku pengen sekarang baik buat aku?
Ia tidak tahu.
Di Ujung Jalan
Tegorejo–Pegandon
Keesokan harinya, Samid berdiri di ujung Jalan
Tegorejo–Pegandon. Tatapannya mengarah ke jalan yang menuju Dusun Kersan.
Ia tersenyum tipis.
"Kalau memang dia istimewa..." gumamnya pelan,
"...aku juga ingin mengenalnya."
Kalimat itu diucapkan tanpa niat buruk. Belum ada rasa iri.
Belum ada persaingan. Belum ada pengkhianatan. Yang ada hanyalah rasa penasaran
seorang sahabat.
Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berubah.
Dia sahabat gue, pikirnya. Gue
nggak boleh macam-macam.
Tapi pikiran itu tidak cukup untuk menghentikan perasaan
yang mulai tumbuh.
Di Rumah Redi, Malam Itu
Redi duduk di teras rumah sambil membaca sebuah novel.
Namun setiap beberapa menit, pandangannya justru mengarah ke jalan desa. Ia
teringat percakapannya dengan Ariyani beberapa hari lalu. Tentang buku. Tentang
sekolah. Tentang cita-cita. Tentang merantau.
Ia tersenyum sendiri.
Ibunya yang sedang menyiram bunga memperhatikan putranya
dari kejauhan.
"Mas."
"Iya, Bu?"
"Akhir-akhir ini kok sering melamun?"
Redi tersentak kecil. "Nggak kok, Bu."
Ibunya hanya tersenyum. Sebagai seorang ibu, ia tahu.
Anaknya sedang memasuki usia ketika hati mulai mengenal seseorang. Namun ia
memilih diam. Karena ia percaya, setiap anak memiliki caranya sendiri untuk
belajar memahami perasaan.
Di Tempat yang Sama,
Malam Itu
Redi tidak tahu bahwa di tempat lain, sahabatnya sedang
berjuang melawan perasaan yang sama.
Samid tidak tahu bahwa perasaannya akan menjadi awal dari
sebuah konflik yang kelak menguji persahabatan mereka.
Dan Ariyani tidak tahu bahwa dua orang pemuda dari dua
dusun yang berbeda sedang mulai memikirkan namanya pada waktu yang sama.
Takdir sedang memulai badai dengan embusan angin yang paling
lembut. Dan tanpa disadari oleh Redi maupun Samid, langkah mereka kini perlahan
mulai mengarah pada satu titik yang sama.
Seorang gadis sederhana bernama Ariyani. Gadis yang kelak
akan menguji arti persahabatan, kesetiaan, dan kedewasaan mereka.
BAB VII
Surat yang Tak Pernah Dibaca
Musim penghujan mulai menyelimuti Desa
Tegorejo.
Hampir setiap sore langit berubah
kelabu. Awan-awan hitam bergantung rendah di atas hamparan sawah, lalu
menumpahkan hujan yang membuat jalan-jalan desa berubah menjadi basah dan
licin. Bau tanah yang tersiram air memenuhi udara, menghadirkan ketenangan yang
selalu dirindukan banyak orang.
Bagi sebagian warga, hujan adalah
pertanda musim tanam akan segera dimulai.
Namun bagi Redi, hujan justru
menghadirkan alasan untuk lebih banyak diam.
Sejak beberapa kali berkunjung ke
rumah Bu Ros, ada satu nama yang diam-diam memenuhi pikirannya.
Ariyani.
Nama itu sederhana.
Tetapi setiap kali terlintas di
benaknya, selalu ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
Suatu sore, setelah membantu ayahnya
menyimpan hasil panen di lumbung, Redi masuk ke kamarnya.
Ia membuka laci meja belajar.
Di dalamnya tersimpan sebuah buku
tulis bergaris yang selama ini digunakan untuk mencatat berbagai pemikiran dan
kutipan-kutipan yang disukainya.
Hari itu, untuk pertama kalinya, ia
mengambil selembar kertas putih.
Tangannya memegang pulpen cukup lama.
Namun tak satu pun kata berhasil
ditulis.
Ia menghela napas.
"Kenapa sulit sekali..."
Padahal di kepalanya, begitu banyak
kalimat yang ingin diucapkan.
Tentang kekagumannya.
Tentang rasa nyaman ketika berbincang
di teras rumah Bu Ros.
Tentang senyum sederhana yang selalu
hadir dalam ingatannya.
Tetapi ketika pulpen menyentuh kertas,
semuanya menghilang.
Setelah beberapa menit berpikir,
akhirnya ia mulai menulis.
Tulisan tangannya rapi.
Perlahan.
Penuh kehati-hatian.
Assalamu'alaikum,
Ariyani.
Mungkin surat ini membuatmu terkejut.
Aku sendiri tidak pernah membayangkan
akan menulis surat seperti ini.
Aku hanya ingin mengucapkan terima
kasih karena setiap kali bertemu, kamu selalu menyambutku dengan ramah.
Entah sejak kapan, aku merasa senang
berbincang denganmu.
Aku juga tidak tahu apakah perasaan
ini salah atau tidak.
Kalau suatu hari nanti surat ini
membuatmu tidak nyaman, anggap saja aku hanya seorang kakak yang terlalu banyak
mengagumimu.
Semoga kamu selalu sehat dan berhasil
meraih cita-citamu.
Wassalamu'alaikum.
Redi membaca kembali surat itu.
Tidak ada kata cinta.
Tidak ada kalimat aku menyukaimu.
Ia sengaja memilih kata-kata yang
sederhana.
Karena ia tidak ingin membebani
Ariyani.
Ia hanya ingin jujur kepada dirinya
sendiri.
Malam itu hujan turun cukup deras.
Redi memasukkan surat tersebut ke
dalam sebuah amplop berwarna cokelat muda.
Di bagian depan, ia hanya menuliskan
satu nama.
Ariyani.
Tanpa alamat.
Tanpa nama dusun.
Sebab ia tahu persis ke mana surat itu
seharusnya sampai.
Namun ketika amplop itu telah selesai
ditutup, keberaniannya justru menghilang.
Bagaimana jika Ariyani tersinggung?
Bagaimana jika Bu Ros yang lebih dulu
membacanya?
Bagaimana jika keluarganya salah
paham?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat
tangannya kembali ragu.
Akhirnya surat itu disimpan di
sela-sela buku novel yang ada di meja belajarnya.
"Besok saja..."
gumamnya pelan.
Hari-hari berikutnya, kesempatan demi
kesempatan sebenarnya datang.
Redi beberapa kali berkunjung ke rumah
Bu Ros.
Kadang mengantar titipan ayahnya.
Kadang sekadar bersilaturahmi.
Surat itu selalu dibawanya di dalam
tas.
Tetapi setiap kali melihat Ariyani
tersenyum ramah sambil mempersilakan masuk, keberaniannya kembali menguap.
Ia merasa hubungan mereka masih
terlalu indah untuk dirusak oleh pengakuan yang mungkin datang terlalu cepat.
Maka surat itu tetap tersimpan.
Belum berpindah tangan.
Sementara itu, Samid mulai sering
memperhatikan perubahan sahabatnya.
Suatu siang sepulang sekolah, mereka
berteduh di sebuah gardu kecil karena hujan turun tiba-tiba.
"Di."
"Hm?"
"Kamu bawa apa di tas?"
"Buku."
"Banyak amat."
"Biasa."
Samid yang penasaran membuka sedikit
bagian atas tas Redi.
Di antara buku-buku pelajaran, matanya
menangkap sebuah amplop cokelat.
"Apa ini?"
Redi dengan cepat mengambilnya.
"Bukan apa-apa."
Samid tersenyum nakal.
"Surat?"
Redi hanya tersenyum kaku.
"Untuk siapa?"
"Nggak penting."
"Wah..."
Samid tertawa kecil.
"Berarti benar."
"Benar apa?"
"Kamu sedang jatuh cinta."
Redi tidak lagi menyangkal.
Ia hanya menatap hujan yang turun
semakin deras.
Kadang-kadang, diam memang lebih jujur
daripada seribu penjelasan.
Sejak hari itu, rasa penasaran Samid
semakin besar.
Ia mulai bertanya kepada beberapa
teman yang berasal dari Dusun Kersan.
Ia juga mulai mencari tahu lebih
banyak tentang Ariyani.
Semakin banyak cerita yang
didengarnya, semakin besar pula keinginannya untuk mengenal gadis itu.
"Katanya anaknya Bu Ros memang
baik."
"Iya."
"Pintar juga."
"Iya."
"Nggak pernah macam-macam."
"Iya."
Setiap jawaban yang didengarnya justru
membuat rasa ingin tahunya semakin bertambah.
Tanpa ia sadari, langkahnya perlahan
mulai memasuki wilayah yang sama dengan langkah Redi.
Di rumah Bu Ros, Ariyani sama sekali
tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ia tetap menjalani hari-harinya
seperti biasa.
Belajar.
Membantu ibunya.
Mengaji setiap sore.
Sesekali bercanda dengan
sahabat-sahabatnya.
Nama Redi memang sesekali terlintas di
benaknya.
Sebagai seorang kakak yang sopan dan
baik hati.
Tidak lebih.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa di
dalam sebuah amplop berwarna cokelat, ada selembar kertas yang berisi perasaan
tulus seorang pemuda.
Perasaan yang belum pernah sampai
kepadanya.
Malam itu, Redi kembali membuka laci
mejanya.
Amplop cokelat itu masih utuh.
Belum kusut.
Belum terbuka.
Ia memegangnya cukup lama.
Lalu mengembalikannya ke tempat
semula.
"Belum saatnya..."
bisiknya.
Di luar rumah, hujan masih turun
membasahi Desa Tegorejo.
Tak ada seorang pun yang tahu bahwa
selembar surat yang tak pernah diberikan itu kelak akan menjadi salah satu
penyesalan terbesar dalam hidup Redi.
Karena kadang-kadang...
bukan penolakan yang paling
menyakitkan.
Melainkan kata-kata yang tidak pernah
sempat disampaikan.
BAB VIII
Kakak
Angkat
Awal tahun ajaran baru mulai terasa di Kecamatan Pegandon.
Siswa-siswa SMP yang baru dinyatakan lulus sibuk mempersiapkan diri melanjutkan
pendidikan. Sebagian memilih membantu orang tua di sawah, sebagian lagi bersiap
mendaftar ke SMA. Di Desa Tegorejo, pembicaraan tentang sekolah menjadi topik
yang sering terdengar di beranda rumah maupun di warung-warung kecil.
Sementara itu, Redi telah memasuki masa-masa akhir sebagai
siswa SMA. Ujian kelulusan tinggal menghitung minggu.
Di tengah kesibukan belajar, ia masih sesekali menyempatkan
diri berkunjung ke rumah Bu Ros, tentu dengan alasan yang tetap sopan:
mengantar titipan orang tua, bersilaturahmi, atau sekadar memenuhi undangan
keluarga.
Tanpa disadari, kehadirannya mulai dianggap sebagai sesuatu
yang biasa oleh keluarga Bu Ros.
Dan justru dari kebiasaan itulah, sebuah kalimat sederhana
akan mengubah arah perasaan seorang pemuda.
Sore Itu
Langit Dusun Kersan tampak cerah setelah semalaman diguyur
hujan. Halaman rumah Bu Ros masih basah. Beberapa pot bunga melati dan mawar
tampak segar, sementara daun-daun mangga memantulkan cahaya matahari yang mulai
condong ke barat.
Redi datang membawa beberapa buku pelajaran. "Ada buku
Fisika dan Matematika untuk anak tetangga yang mau masuk SMA," katanya
kepada Bu Ros.
"Wah, terima kasih, Mas Redi. Kebetulan Ari juga
sedang belajar. Masuk saja."
Di ruang tamu, Ariyani sedang duduk di lantai beralaskan
tikar pandan. Di hadapannya terbuka buku Bahasa Indonesia dan beberapa lembar
soal latihan. Ketika melihat Redi masuk, ia tersenyum ramah.
"Assalamu'alaikum, Mas."
"Wa'alaikumussalam."
"Silakan duduk."
Redi duduk tidak jauh darinya. Jarak mereka tetap terjaga.
Sebagaimana adat kesopanan yang dijunjung tinggi oleh keluarga di desa.
Namun sore itu, ada sesuatu yang berbeda. Redi datang
dengan perasaan yang tidak biasa. Selama perjalanan dari Dusun Cegunan, ia
terus memegang saku bajunya.
Di dalamnya, ada sebuah surat.
Surat yang telah ia tulis ulang tiga kali.
Di Dalam Saku
Redi duduk di ruang tamu. Ariyani berbicara tentang
sekolah, tentang ujian, tentang gurunya yang galak. Redi mendengarkan atau
setidaknya berusaha mendengarkan.
Tangannya masih di saku.
Surat itu terasa semakin berat.
Berikan sekarang, pikirnya. Sekarang
atau tidak sama sekali.
Tapi setiap kali ia hendak mengeluarkan tangannya, sesuatu
menghentikannya.
Bagaimana kalau dia marah?
Bagaimana kalau dia tidak mau menerimanya?
Bagaimana kalau ini mengubah segalanya?
"Mas Redi?"
Redi tersentak. "Iya?"
"Ari tadi nanya, Mas dengar?"
"Maaf... aku..."
Ariyani tersenyum. "Nggak apa-apa. Ari tanya, Mas Redi
sekarang sibuk belajar ujian, ya?"
"Iya. Tinggal beberapa minggu lagi."
"Semoga lulus dengan nilai terbaik."
"Aamiin."
"Lalu nanti mau kuliah?"
Redi tersenyum kecil. "Masih belum tahu."
"Aku doakan semoga cita-citanya tercapai."
Ucapan itu terdengar tulus. Tidak dibuat-buat. Membuat hati
Redi kembali dipenuhi harapan yang selama ini ia simpan diam-diam.
Tapi di dalam sakunya, surat itu tetap ada. Masih utuh.
Masih belum diberikan.
Kenapa gue nggak berani? tanyanya
pada dirinya sendiri. Kenapa gue takut?
Ia tidak menemukan jawabannya.
Di Teras, Beberapa Saat
Kemudian
Bu Ros keluar sebentar untuk menjemur pakaian. Tinggallah
Redi dan Ariyani di ruang tamu.
"Ini..." Redi mengeluarkan sebuah buku dari
tasnya. "Buku puisi. Aku bawa buat kamu."
Ariyani menerimanya dengan mata berbinar. "Beneran,
Mas?"
"Iya. Kamu kan suka menulis puisi. Mungkin ini bisa
jadi inspirasi."
Ariyani membuka halaman pertama. Matanya bergerak cepat
membaca satu puisi pendek. Lalu ia tersenyum.
"Makasih, Mas." Ia menatap Redi. "Mas selalu
ingat apa yang Ari bilang."
Redi tersenyum. Tapi di dalam hatinya, ia berkata: Aku
ingat semua yang kamu katakan, Ari. Semua.
"Ari..." Redi memanggil pelan.
"Iya?"
"Ada sesuatu yang..."
Ia berhenti.
"Ada apa, Mas?"
Redi menggigit bibirnya. Tangannya bergerak ke saku.
"Aku..."
Tapi saat itu, Bu Ros kembali masuk. "Wah, Mas Redi
masih di sini? Silakan, jangan buru-buru."
Redi menarik tangannya kembali. "Iya, Bu. Terima
kasih."
Ariyani tidak melihat gerakan itu. Ia terlalu asyik dengan
buku puisi di tangannya.
Tapi Redi merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak
ia mengerti.
Kenapa gue nggak jadi ngasih?
Ia tidak tahu bahwa momen itu adalah kesempatan yang tidak
akan pernah datang lagi.
Kenduri Keluarga
Beberapa hari kemudian, keluarga Bu Ros mengadakan kenduri
kecil sebagai ungkapan syukur atas kelulusan salah seorang anggota keluarga.
Rumah mereka kembali dipenuhi tamu. Tetangga berdatangan membawa senyum dan
doa.
Redi hadir bersama ayah dan ibunya. Ia membantu mengangkat
kursi, menata tikar, bahkan ikut menyuguhkan minuman kepada para tamu. Sikapnya
yang ringan tangan membuat banyak orang memujinya.
"Anaknya Pak Sastro itu sopan sekali."
"Iya, rajin membantu."
"Cocok jadi contoh anak muda."
Ucapan-ucapan itu terdengar hingga ke telinga Bu Ros. Ia
memang mengakui bahwa Redi adalah pemuda yang baik. Namun sebagai seorang ibu,
ia tetap memegang satu prinsip. Ariyani masih terlalu muda untuk memikirkan
hubungan asmara.
Tapi sore itu, Redi tidak memikirkan pujian. Ia memikirkan
satu hal: surat di sakunya.
Ia sudah memutuskan. Hari ini, ia akan memberikannya. Di
antara keramaian ini, di saat semua orang sibuk, ia akan menarik Ariyani
sebentar dan memberikan surat itu.
Menjelang Sore
Para tamu mulai berpamitan. Redi masih membantu membereskan
beberapa kursi di teras. Ariyani datang membawa segelas teh hangat.
"Mas, istirahat dulu."
"Terima kasih."
Mereka duduk di bangku kayu yang menghadap halaman. Angin
sore bertiup lembut. Suasana terasa tenang.
Redi memegang sakunya. Surat itu masih ada. Masih utuh.
Ini saatnya, pikirnya. Sekarang.
Ia menarik napas panjang. Membuka mulutnya.
"Ari..."
"Mas Redi..." Ariyani berbicara bersamaan.
"Kamu duluan," kata Redi.
Ariyani tersenyum. "Boleh nggak Ari minta satu
hal?"
Redi mengangguk. "Boleh."
Ariyani tersenyum. "Mulai sekarang..."
Ia berhenti sejenak.
"...Ari ingin menganggap Mas Redi sebagai kakak
angkat."
Redi terdiam.
Seakan-akan waktu berhenti bergerak.
"Ari nggak punya kakak laki-laki yang sering
mengingatkan belajar. Mas selalu baik sama Ari. Selalu memberi semangat.
Rasanya nyaman kalau punya kakak seperti Mas."
Kalimat itu diucapkan dengan polos. Dengan ketulusan
seorang gadis remaja. Tanpa sedikit pun niat menyakiti.
Redi tidak bergerak. Tangannya yang sedang memegang saku
perlahan lemas.
Kakak angkat.
Ia mendengar kata-kata itu berulang kali di kepalanya.
Kakak angkat.
Surat di sakunya terasa begitu berat. Begitu sia-sia.
Kakak angkat.
Redi menatap Ariyani. Mata gadis itu jernih. Tidak ada
kecurigaan. Tidak ada kesadaran bahwa ada sesuatu yang lain.
Ia ingin berkata, "Aku tidak ingin menjadi
kakakmu."
Ia ingin mengeluarkan surat itu dan menunjukkan semuanya.
Tapi ia melihat mata Ariyani. Polos. Tulus.
Dan ia tidak bisa.
"Kalau itu yang membuatmu senang..." suaranya
hampir tidak terdengar. "...aku tidak keberatan."
Ariyani tersenyum lega. "Terima kasih, Mas."
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa senyum itu sedang
menjadi awal dari luka yang akan dibawa Redi bertahun-tahun lamanya.
Di dalam saku Redi, surat yang sudah ia tulis tiga kali itu
perlahan menjadi kusut karena digenggam terlalu erat.
Di Pematang Sawah
Sepulang dari rumah Bu Ros, Redi mengayuh sepedanya tanpa
arah yang jelas. Bukannya langsung pulang ke Dusun Cegunan, ia justru berhenti
di sebuah pematang sawah yang menghadap matahari terbenam.
Langit berwarna jingga. Burung-burung kembali ke sarang.
Suara kodok mulai terdengar dari saluran irigasi.
Ia duduk di atas batu besar. Lama. Sangat lama.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
"...aku ingin menganggap Mas Redi sebagai kakak
angkat."
Ia mengeluarkan surat dari sakunya—kusut, karena digenggam
terlalu erat.
Perlahan ia membukanya. Membaca setiap kata yang pernah ia
tulis dengan penuh harap.
"Assalamu'alaikum, Ariyani..."
"Mungkin surat ini membuatmu terkejut..."
"Aku sendiri tidak pernah membayangkan akan menulis
surat seperti ini..."
Redi meremas surat itu. Hampir merobeknya.
Tapi tangannya berhenti.
"Kenapa..." bisiknya. "Kenapa harus
sekarang?"
Ia tidak menangis. Tapi matanya terasa panas.
Ia melipat surat itu kembali, dengan hati-hati, seolah
surat itu adalah sesuatu yang masih bisa ia selamatkan.
"Kakak angkat," ulangnya. Lalu ia tertawa kecil.
Tertawa yang pahit.
Di kejauhan, matahari terbenam perlahan. Menelan warna jingga
menjadi kelabu.
Redi memasukkan surat itu ke dalam tasnya.
Ia tidak pernah tahu bahwa surat itu akan tetap bersamanya
selama tiga puluh tahun.
Di Rumah Bu Ros, Malam
Itu
Ariyani sedang bercerita kepada ibunya.
"Bu, mulai sekarang Mas Redi jadi kakak
angkatku."
Bu Ros menatap putrinya beberapa saat. "Kalau memang
hanya sebagai kakak, Ibu tidak keberatan."
"Iya, Bu."
"Tapi ingat, Ari."
"Iya?"
"Jaga batas. Kamu masih sekolah."
Ariyani mengangguk. Ia tidak pernah berpikir lebih jauh.
Baginya, memiliki seorang kakak angkat yang baik adalah sebuah kebahagiaan.
Tapi Bu Ros memperhatikan sesuatu. Ada senyum di wajah
Ariyani yang tidak biasa. Senyum yang terlalu cerah untuk sekadar "kakak
angkat."
"Ari..." Bu Ros memanggil pelan.
"Iya, Bu?"
"Kamu suka sama Mas Redi?"
Ariyani terkejut. "Suka gimana, Bu?"
"Sebagai apa?"
Ariyani terdiam. Ia memikirkan pertanyaan itu.
"Sebagai..." Ia mengerutkan kening. "Sebagai
kakak."
"Kakak?"
"Iya, Bu."
Bu Ros tidak bertanya lebih lanjut. Tapi di dalam hatinya,
ada kegelisahan yang mulai tumbuh.
Semoga saja hanya itu, pikirnya. Semoga
saja.
Di Kamar Redi, Malam Itu
Redi membuka amplop cokelat yang selama ini disimpannya. Ia
membaca surat yang pernah ditulisnya. Setiap kalimat terasa berbeda. Lebih
berat. Lebih sunyi.
Perlahan ia melipat kembali surat itu. Bukan untuk
diberikan. Tetapi untuk disimpan lebih dalam. Di dalam laci meja. Dan di dalam
hatinya.
Ia tidak menangis. Tapi matanya terasa panas.
"Kenapa gue nggak ngasih dari dulu?" bisiknya.
"Kenapa gue nunggu?"
Ia tidak menemukan jawabannya.
Tapi di dalam hatinya, ia tahu: karena gue takut.
Dan ketakutan gue menghancurkan semuanya.
Di Kejauhan
Sementara itu, di tempat lain, seseorang bernama Samid
sedang berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang gelap.
Ia memikirkan Redi.
Memikirkan Ariyani.
Memikirkan perasaan yang tidak seharusnya ia miliki.
"Lo kenapa sih, Mid..." gumamnya.
Ia menutup mata. Tapi wajah Ariyani tetap ada di sana.
Dan untuk pertama kalinya, Samid menyadari bahwa ia telah
memasuki wilayah yang berbahaya—wilayah yang akan menguji persahabatan yang
telah ia bangun selama bertahun-tahun.
BAB IX
Cemburu
yang Tak Beralasan
Sejak sore ketika Ariyani menyebutnya sebagai kakak angkat,
ada sesuatu yang berubah dalam diri Redi.
Perubahan itu tidak terlihat oleh orang lain. Ia masih
datang ke sekolah seperti biasa. Masih menjawab pertanyaan guru dengan tenang.
Masih membantu teman-temannya mengerjakan soal-soal Fisika. Masih tersenyum
ketika bertemu tetangga.
Namun di balik ketenangannya, ada pergulatan batin yang
tidak pernah benar-benar selesai. Ia mulai memahami bahwa perasaan tidak bisa
dipaksa. Tetapi memahami bukan berarti mampu menerima.
Dan di tengah pergulatan itu, ada satu hal yang mulai
tumbuh tanpa ia sadari: cemburu.
Cemburu yang tidak beralasan. Cemburu yang tidak pantas.
Cemburu yang bahkan tidak ia akui pada dirinya sendiri.
Di Rumah Bu Ros, Sore
Itu
Hari-hari berlalu. Redi masih beberapa kali berkunjung ke
rumah Bu Ros. Kini alasannya semakin sederhana. Kadang mengembalikan buku yang
dipinjamkan kepada Ariyani. Kadang membawa majalah bekas yang berisi cerita
pendek dan artikel pendidikan. Kadang hanya mampir sepulang sekolah karena
kebetulan melewati Dusun Kersan.
Keluarga Bu Ros menyambutnya dengan ramah seperti biasa. Bu
Ros memanggilnya dengan sebutan "Mas Redi." Anak-anak kecil di
sekitar rumah bahkan mulai mengenalnya. Bagi mereka, Redi adalah pemuda santun
yang sering membawa buku.
Tidak ada yang melihat sesuatu yang aneh. Hanya Redi
sendiri yang mulai menyadari bahwa hatinya semakin sulit dikendalikan.
Namun sore itu, ketika Redi tiba di rumah Bu Ros, ia
mendapati beberapa teman sekolah Ariyani sedang belajar kelompok di ruang tamu.
Ada Lilis. Ada Sumarni. Dan dua siswa laki-laki yang sedang membantu
mengerjakan soal Matematika.
Melihat tamu datang, Ariyani segera berdiri. "Mas
Redi... silakan masuk."
Redi mengangguk sambil tersenyum. Namun entah mengapa,
ketika melihat Ariyani tertawa bersama teman-temannya, dadanya terasa sesak.
Ia duduk di teras sambil membuka majalah yang dibawanya.
Padahal tak satu halaman pun benar-benar ia baca.
Di Teras, Redi Mengamati
Dari ruang tamu terdengar gelak tawa. Sesekali Ariyani
menjelaskan sesuatu kepada teman-temannya. Suara itu terdengar biasa. Sangat
biasa. Tetapi di telinga Redi, setiap tawa terasa seperti mengingatkannya bahwa
ia tidak memiliki hak apa pun atas gadis itu.
Di dalam hatinya, Redi mulai membandingkan.
Kenapa dia tertawa seperti itu?
Kenapa dia menatap temannya seperti itu?
Apakah dia juga tersenyum seperti itu kepadaku?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul tanpa diundang.
Dan kemudian, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya
terasa lebih sesak.
Salah satu siswa laki-laki itu menepuk bahu Ariyani, ramah,
santai, seperti teman biasa. Tapi di mata Redi, tepukan itu terasa seperti
sesuatu yang lain. Sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi.
Redi menggigit bibirnya. Tangannya, yang sedang memegang
majalah, mulai menggenggam lebih erat. Halaman majalah itu mulai kusut tanpa ia
sadari.
Jangan sentuh dia.
Pikiran itu muncul begitu saja.
Dan Redi terkejut dengan pikirannya sendiri.
Apa-apaan ini, pikirnya. Apa-apaan
yang gue pikirkan?
Ia mencoba menenangkan dirinya. Tapi matanya tetap
mengikuti tangan siswa itu—tangan yang masih berada di bahu Ariyani.
"Apa Kamu
Cemburu?"
Beberapa saat kemudian, salah seorang teman laki-laki
Ariyani berpamitan.
"Terima kasih ya, Ari."
"Iya, sama-sama."
"Nanti kalau ada soal lagi, aku ke sini."
"Boleh."
Percakapan itu berlangsung singkat. Tidak ada yang
istimewa.
Namun Redi tanpa sadar memperhatikan semuanya. Ketika teman
itu tersenyum, Redi ikut melihat. Ketika Ariyani mengantar sampai teras, Redi
ikut memandang. Dan ketika mereka saling melambaikan tangan sebagai teman
sekolah, hati Redi dipenuhi pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ada.
Redi menatap siswa itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Siapa dia?
Berapa sering dia ke sini?
Kenapa Ariyani tersenyum padanya seperti itu?
Ia tidak menyadari bahwa tatapannya terlalu tajam, cukup
tajam untuk membuat siswa itu menoleh balik.
"Ada apa, Mas?" tanya siswa itu dengan ramah.
Redi tersentak. "Nggak... nggak apa-apa."
Ia buru-buru menunduk ke majalahnya. Tapi wajahnya terasa
panas.
Siswa itu hanya mengangkat bahu, lalu melanjutkan
langkahnya.
Tapi Redi masih memandangnya hingga hilang di tikungan
jalan.
"Mas Redi, Kamu
Kenapa?"
Ariyani kembali ke teras. Ia melihat Redi masih duduk di
sana—dengan majalah yang sama, di halaman yang sama.
"Mas Redi..."
Redi mengangkat wajahnya. "Iya?"
"Kamu dari tadi baca halaman yang sama."
Redi melihat majalahnya. Halaman itu masih sama. Tidak
berubah.
"Oh..." ia tersenyum canggung. "Aku...
mikir."
"Mikir apa?"
Redi tidak menjawab. Tapi matanya—masih sedikit
tajam—menatap Ariyani.
"Itu tadi... siapa?"
"Siapa?" Ariyani tampak bingung.
"Yang tadi. Teman kamu."
"Oh..." Ariyani tersenyum. "Itu Rudi. Temen
sekelas."
"Deket?"
Ariyani mengerutkan kening. "Deket gimana, Mas?"
Redi menyadari nada suaranya terlalu tajam. Ia mencoba
memperbaikinya. "Maksudku... kalian sering belajar bareng?"
"Kadang." Ariyani mengangkat bahu. "Rudi
pinter Matematika. Jadi Ari sering tanya."
Redi mengangguk—terlalu cepat, terlalu kaku.
"Mas Redi..." Ariyani menatapnya. "Kamu
kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Tapi..."
"Aku cuma..." Redi menghela napas. "Aku
cuma... nggak apa-apa."
Ariyani tidak percaya. Tapi ia tidak memaksa.
"Kalau Mas nggak mau cerita, ya udah."
Ia masuk ke dalam rumah.
Redi duduk sendirian di teras. Majalah di tangannya kini
benar-benar kusut.
Apa yang gue lakukan? pikirnya. Apa
yang gue lakukan?
Di Bawah Pohon Randu
Sepulang dari rumah Bu Ros, Redi tidak langsung pulang. Ia
berhenti di bawah pohon randu tua di tepi Jalan Tegorejo–Pegandon. Angin sore
menggoyangkan dedaunan. Beberapa lembar daun kering jatuh perlahan ke tanah.
Redi menatap jalan yang mulai lengang. Lalu tersenyum
pahit.
"Aku ini sebenarnya kenapa?"
Ia menggeleng pelan.
Bukankah sejak awal Ariyani tidak pernah memberikan
harapan? Bukankah gadis itu sudah menganggapnya sebagai kakak angkat? Lalu
mengapa ia merasa tidak nyaman melihat Ariyani bercakap-cakap dengan teman
laki-lakinya sendiri?
Ia sadar. Perasaan itu tidak adil. Tidak masuk akal. Dan
tidak pantas.
Tapi cinta pertama sering kali tidak mengenal logika. Ia
datang bersama rasa ingin memiliki, bahkan ketika belum ada ikatan apa pun.
Redi membanting kepalanya ke batang pohon—pelan, tapi cukup
keras untuk membuatnya sadar.
"Lo idiot, Di," bisiknya. "Lo idiot."
Di Kantin Sekolah,
Beberapa Hari Kemudian
Redi dan Samid duduk di kantin. Redi sejak tadi diam. Samid
memperhatikannya.
"Di."
"Hm?"
"Lo kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Bohong." Samid menyeruput es tehnya. "Lo
dari kemarin kayak orang kehilangan dompet."
Redi tersenyum tipis. "Nggak."
"Cerita."
Redi terdiam. Lalu ia berkata dengan suara pelan,
"Mid... lo pernah ngerasa... cemburu?"
"Cemburu?"
"Iya."
"Kepada siapa?"
Redi menghela napas. "Nggak penting."
Samid menatapnya. Lalu ia mengerti.
"Ini tentang Ariyani, ya?"
Redi tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.
Samid menunduk ke gelasnya. Ada sesuatu di dadanya yang
terasa aneh—campuran antara simpati dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak
ia ingin akui.
"Lo..." Samid mencari kata. "Lo suka
dia."
Redi mengangkat kepalanya. "Iya."
"Terus?"
"Terus apa?"
"Lo udah bilang ke dia?"
Redi menggeleng.
"Kenapa?"
"Karena..." Redi menatap langit. "Karena dia
bilang dia anggap gue kakak angkat."
Samid terdiam.
"Dan sekarang gue cemburu," lanjut Redi.
"Cemburu sama temennya. Cemburu sama orang yang nggak gue kenal. Cemburu
sama bayangan."
Ia tertawa pahit.
"Gue sadar. Gue tahu itu nggak beralasan. Tapi gue
nggak bisa berhenti."
Samid tidak menjawab. Ia hanya menatap sahabatnya, melihat
luka yang tidak bisa ia sembuhkan.
Dan di dalam hatinya, ia berkata: Gue juga cemburu,
Di. Gue juga.
Tapi ia tidak mengucapkannya.
Di Teras Rumah Redi,
Malam Itu
Malam harinya, Redi kembali membuka buku catatan
pribadinya. Di halaman yang masih kosong, ia menulis beberapa kalimat.
Hari ini aku sadar, rasa cemburu bisa datang bahkan kepada
seseorang yang belum pernah menjadi milik kita.
Aku tidak marah kepada Ari.
Aku hanya sedang marah kepada diriku sendiri.
Mengapa aku berharap terlalu jauh, padahal sejak awal ia
tidak pernah menjanjikan apa-apa?
Ia berhenti menulis. Pulpennya menggantung di atas kertas.
Lalu ia melanjutkan:
Tapi kenapa rasanya masih sakit?
Kenapa aku masih berharap?
Dan kenapa aku tidak bisa berhenti?
Setelah selesai menulis, ia menutup buku itu perlahan. Ia
merasa sedikit lega. Menulis selalu menjadi caranya berbicara kepada diri
sendiri.
Tapi malam itu, menulis tidak cukup. Luka itu masih ada.
Masih terbuka. Masih berdarah.
Di Sisi Lain
Di sisi lain, Ariyani sama sekali tidak mengetahui
pergulatan yang sedang dialami Redi. Baginya, Redi tetaplah kakak angkat yang
baik. Yang sesekali meminjamkan buku. Yang selalu bertanya tentang sekolah.
Yang tidak pernah berbicara kasar. Yang selalu menghormati ibunya.
Ia memperlakukan Redi sebagaimana ia memperlakukan kakak
laki-laki yang tidak pernah dimilikinya. Tidak lebih. Tidak kurang.
Tapi malam itu, ketika ia hendak tidur, ia teringat
sesuatu.
"Itu tadi... siapa?"
Ia mengingat nada suara Redi—tajam, hampir marah.
Ia mengingat tatapan Redi—sesuatu yang belum pernah ia
lihat sebelumnya.
"Kenapa Mas Redi kayak gitu?" bisiknya pada diri
sendiri.
Ia tidak menemukan jawabannya. Tapi ada sesuatu di dadanya
yang terasa aneh.
Mungkin aku terlalu sibuk dengan teman-temanku, pikirnya. Mungkin Mas Redi merasa diabaikan.
Ia memutuskan, besok ia akan berbicara lebih lama dengan
Redi. Sebagai adik, ia harus memastikan kakak angkatnya tidak merasa diabaikan.
Ia tidak tahu bahwa apa yang ia rencanakan justru akan
membuat segalanya lebih rumit.
Di Warung Kopi
Sementara itu, di sebuah warung kopi dekat pertigaan desa,
Samid tanpa sengaja kembali mendengar beberapa pemuda membicarakan Ariyani.
"Anaknya Bu Ros itu memang beda."
"Iya."
"Kalau senyum, adem."
Samid hanya tersenyum sambil menyeruput kopi. Ia mulai
mengingat wajah gadis yang pernah dilihatnya dari kejauhan dan yang sekarang
mulai ia pikirkan lebih sering daripada yang seharusnya.
Rasa penasaran yang dulu hanya sebesar titik kini perlahan
berubah menjadi keinginan untuk benar-benar mengenalnya.
Gue harus berhenti, pikirnya. Gue
harus.
Tapi ia tidak berhenti.
Ia membayangkan Ariyani. Membayangkan senyumnya.
Membayangkan suaranya.
Dan untuk pertama kalinya, Samid mengakui pada dirinya
sendiri: Aku ingin mengenalnya. Bukan sebagai teman Redi. Tapi
sebagai...
Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.
Karena jika ia menyelesaikannya, ia harus mengakui bahwa ia
telah mengkhianati sahabatnya.
Malam Itu, Dua Orang
yang Sama-sama Berjuang
Redi masih duduk di mejanya. Buku catatan pribadi terbuka
di hadapannya. Ia tidak menulis lagi. Ia hanya menatap kata-kata yang telah ia
tulis.
Kenapa aku tidak bisa berhenti?
Samid masih duduk di warung kopi. Kopinya sudah dingin.
Tapi ia tidak pergi.
Gue harus berhenti.
Dua orang sahabat, sama-sama berjuang melawan perasaan yang
tidak mereka inginkan.
Redi melawan cemburu yang tidak beralasan.
Samid melawan keinginan yang tidak seharusnya ia miliki.
Dan keduanya tidak saling mengetahui.
BAB X
Gosip
Dusun Kersan
Desa Tegorejo adalah desa yang hidup dengan nilai-nilai
kekeluargaan. Di sana, hampir setiap orang mengenal satu sama lain. Anak siapa,
cucu siapa, rumahnya di mana, bahkan kebiasaan sehari-harinya, semuanya mudah
diketahui oleh warga.
Di satu sisi, kehidupan seperti itu menghadirkan rasa aman
dan kebersamaan. Namun di sisi lain, tidak ada rahasia yang mampu bertahan
lama. Sebuah kabar yang berawal dari obrolan di teras rumah bisa menjadi
pembicaraan satu dusun hanya dalam hitungan hari.
Begitulah kehidupan di Dusun Kersan.
Di Warung Bu Parti, Pagi
Hari
Sejak Redi beberapa kali datang ke rumah Bu Ros, sebagian
warga mulai mengenali wajah pemuda dari Dusun Cegunan itu. Awalnya, tidak ada
yang menganggapnya aneh. Mereka mengetahui bahwa keluarga Redi memang memiliki
hubungan baik dengan keluarga Bu Ros. Silaturahmi antarkeluarga adalah hal yang
lumrah.
Namun, semakin sering Redi terlihat datang, semakin banyak
pula mata yang mulai memperhatikan.
Suatu pagi di warung Bu Parti, beberapa ibu sedang membeli
sayur. Sambil menunggu giliran, percakapan mengalir begitu saja.
"Bu Ros akhir-akhir ini sering kedatangan tamu muda,
ya?" Ibu Karso membuka percakapan sambil memilih cabai.
"Iya... anaknya Pak Sastro dari Cegunan," sahut
Ibu Tarmin.
"Oh... yang tinggi itu?"
"Iya."
"Baik sih anaknya."
"Baik memang."
Ibu Karso tersenyum tipis. "Tapi sering juga
datangnya."
Yang lain mengangguk pelan. "Namanya juga anak
muda."
Ibu Parti yang sedang menimbang bawang ikut menyela.
"Anaknya sopan sih. Tapi ya itu..."
"Apa?" Ibu Tarmin mendekat.
"Ibu-ibu..." Ibu Parti menurunkan suaranya.
"Katanya Ariyani masih SMP."
Mereka saling pandang.
"Ya Allah..." Ibu Karso menggeleng. "Masih
kecil, Bu."
"Makanya, jangan biarkan anak-anak terlalu
bebas."
"Masa iya sih?"
"Tanya aja sama Bu Ros."
Percakapan itu sebenarnya tidak bermaksud buruk. Hanya
obrolan ringan yang biasa terjadi di desa. Namun dari obrolan-obrolan kecil
seperti itulah, gosip mulai menemukan jalannya.
Ariyani Mendengar
Ariyani sedang membeli gula di warung Bu Parti. Ia berdiri
di balik dinding tipis yang memisahkan ruang depan dengan ruang belakang.
Dan ia mendengar semuanya.
"Anaknya Bu Ros itu..."
"...masih SMP, lho..."
"...sering didatangi anak SMA..."
Tangannya, yang sedang meraih uang receh, membeku.
Ia tidak bergerak. Tidak bernapas.
"Bu Ros akhir-akhir ini sering kedatangan tamu muda,
ya?"
"Katanya sering sekali."
"Anak SMA."
"Masih SMP, lho..."
Ariyani merasakan dadanya terasa sesak. Bukan karena malu, tapi
karena ia tidak pernah menyangka bahwa percakapan sederhana di teras rumahnya
bisa menjadi bahan pembicaraan orang lain.
"Mbak, gulanya?"
Ariyani tersentak. Bu Parti menatapnya dari balik meja.
"Oh... iya, Bu." Ariyani membayar dengan
tergesa-gesa. "Ini uangnya."
Bu Parti menerima uang itu. Lalu menatap Ariyani dengan
tatapan yang tidak bisa ia baca—campuran antara kasihan dan peringatan.
"Mbak Ari..." Bu Parti menurunkan suaranya.
"Kamu dengar tadi?"
Ariyani tidak menjawab.
"Ibu cuma mau bilang..." Bu Parti menggenggam
tangannya pelan. "Kamu masih sekolah. Jaga diri."
Ariyani mengangguk. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Sepanjang jalan pulang, ia tidak bisa menghilangkan rasa
tidak nyaman di dadanya.
"Kenapa mereka bicara begitu?" pikirnya.
"Kami cuma ngobrol."
Tapi ia tahu—di kampung seperti Tegorejo, "cuma
ngobrol" tidak pernah cukup.
Di Gardu Ronda, Sore
Hari
Di sore hari, ketika beberapa bapak sedang duduk di gardu
ronda, pembicaraan serupa kembali muncul.
"Itu anak SMA yang sering ke rumah Bu Ros?" Pak
Dullah memulai sambil menghisap rokoknya.
"Iya," jawab Pak Karto.
"Rajin juga."
"Mungkin ada urusan."
"Atau ada yang ditunggu?"
Mereka tertawa kecil. Tidak ada niat menghina. Hanya
candaan khas orang kampung.
"Tapi serius, ya," Pak Dullah melanjutkan.
"Anak-anak sekarang beda."
"Beda gimana?"
"Zaman kita dulu, kalau mau deket sama cewek, ya harus
serius. Lamaran. Nikah." Pak Dullah menggeleng. "Sekarang? Cuma
main-main."
Pak Karto mengangguk. "Makanya Bu Ros jaga
ketat."
"Pantasan."
"Tapi anaknya baik, sih. Yang dari Cegunan itu."
"Ya, tapi..."
Mereka menggeleng-gelengkan kepala.
Tidak ada yang berniat jahat. Tapi candaan yang terus
diulang perlahan berubah menjadi dugaan. Dan dugaan yang terlalu sering
diucapkan sering kali dianggap sebagai kebenaran.
Redi Tidak Tahu
Sementara itu, Redi sama sekali tidak menyadari bahwa
namanya mulai menjadi bahan pembicaraan. Ia tetap datang sebagaimana biasanya.
Kadang membawa buku. Kadang mengembalikan majalah. Kadang membantu memperbaiki
pagar rumah Bu Ros yang mulai lapuk.
Baginya, semua itu adalah bentuk penghormatan kepada
keluarga yang telah menerimanya dengan baik. Ia tidak pernah berpikir bahwa
kehadirannya dapat menimbulkan penilaian lain.
Suatu sore, ketika Redi sedang membantu memperbaiki gagang
pintu yang longgar, seorang tetangga Bu Ros melintas di depan rumah.
"Mas Redi..."
"Iya, Pak."
"Rajin sekali ke sini."
Redi tersenyum sopan. "Kebetulan diminta membantu
sedikit."
"Oh..." Bapak itu mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau memang berjodoh, ya mudah-mudahan lancar."
Redi terdiam sejenak. Belum sempat ia menjawab, bapak itu
sudah melanjutkan langkahnya.
Ucapan sederhana itu terus terngiang di telinganya. Ia baru
menyadari bahwa orang-orang mulai memiliki penilaian sendiri terhadap
hubungannya dengan Ariyani.
Berjodoh, pikirnya. Apa
yang dia maksud?
Ia menggeleng. Lalu melanjutkan pekerjaannya.
Tapi kata itu tidak mau pergi dari kepalanya.
Berjodoh.
Bu Ros Mendengar
Di dalam rumah, Bu Ros juga mulai merasakan perubahan
suasana. Beberapa tetangga yang datang bertamu sesekali melontarkan pertanyaan
dengan nada bercanda.
"Bu, itu calon menantu, ya?"
Bu Ros hanya tersenyum. "Ah... anak-anak masih
sekolah."
"Katanya sering datang."
"Namanya juga silaturahmi."
Meski menjawab dengan tenang, hati Bu Ros mulai dipenuhi
kegelisahan.
Suatu sore, setelah seorang tetangga pergi, Bu Ros duduk di
kursi bambu di teras. Ia memandang jalan yang sepi.
Tangannya menggenggam ujung kain—terlalu erat.
Ia mengenal Redi sebagai anak yang baik. Sopan. Rajin.
Berpendidikan. Tidak pernah bertindak kurang ajar.
Namun ia juga memahami betul bagaimana masyarakat desa
memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan yang masih sama-sama muda.
Nama baik seorang gadis sangat mudah menjadi bahan pembicaraan.
Dan sebagai seorang ibu, ia merasa bertanggung jawab
menjaga kehormatan putrinya.
Tapi kenapa rasanya berat? pikirnya. Kenapa rasanya seperti aku akan
menyakiti seseorang?
Ia menutup mata. Membayangkan wajah Redi, pemuda yang
selalu mengucapkan salam sebelum masuk, yang selalu mencium tangannya, yang
tidak pernah meninggikan suara.
Anak baik, pikirnya. Dia
anak baik.
Tapi ia juga membayangkan putrinya. Ariyani yang masih SMP.
Ariyani yang masih terlalu muda.
Maaf, Mas Redi, bisiknya
dalam hati. Ibu harus menjaga Ari.
Ariyani dan Bu Ros,
Malam Itu
Malam itu, setelah seluruh pekerjaan rumah selesai, Bu Ros
memanggil Ariyani.
"Nduk."
"Iya, Bu?"
"Kamu senang berteman dengan Mas Redi?"
Ariyani terkejut dengan pertanyaan itu. "Senang,
Bu."
"Masnya baik."
"Iya."
"Tapi mulai sekarang..."
Bu Ros berhenti sejenak.
"...kalau ada tamu laki-laki, usahakan jangan terlalu
lama mengobrol berdua."
Ariyani tampak bingung. "Kenapa, Bu?"
"Orang kampung mulai banyak bicara."
Ariyani menundukkan kepala. Ia ingat percakapan di warung
Bu Parti. Ia ingat suara-suara itu.
"Maaf, Bu."
"Kamu tidak salah."
Bu Ros mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Tapi perempuan harus pandai menjaga dirinya."
Ariyani tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, ada
pertanyaan yang tidak ia ucapkan: Tapi Bu, kenapa orang-orang bicara?
Kami cuma berteman.
Bu Ros seolah membaca pikirannya.
"Ari..."
"Iya, Bu?"
"Kadang..." Bu Ros menghela napas. "Kadang
di kampung seperti ini, apa yang kita lakukan tidak sepenting apa yang orang
pikirkan tentang kita."
Ariyani mengangkat kepalanya. "Ari ngerti, Bu."
"Kamu tidak salah. Tapi dunia tidak selalu adil untuk
perempuan."
Ariyani memeluk ibunya. "Ari sayang Ibu."
Bu Ros memeluk putrinya erat. "Ibu juga sayang
kamu."
Tapi di dalam pelukan itu, Ariyani masih memikirkan
Redi. Bagaimana kalau Mas Redi tahu? Bagaimana kalau Mas Redi mendengar
semua ini?
Redi Datang Lagi
Beberapa hari kemudian, ketika Redi kembali datang, suasana
terasa sedikit berbeda. Bu Ros tetap menyambutnya dengan ramah. Namun kali ini
ia lebih sering ikut duduk menemani pembicaraan.
Jika sebelumnya Ariyani dan Redi dapat berbincang cukup
lama tentang sekolah atau buku-buku bacaan, kini percakapan mereka menjadi
lebih singkat.
"Ari, tolong ambilkan teh," kata Bu Ros.
"Iya, Bu."
Atau,
"Ari, bantu Ibu di dapur sebentar."
"Iya, Bu."
Redi mulai merasakan ada yang berubah. Bu Ros tidak pernah
kasar. Tidak pernah menyuruhnya pergi. Tapi ada jarak yang perlahan muncul, seperti
tembok tak kasatmata yang mulai dibangun di antara mereka.
Redi tidak mengetahui penyebabnya. Ia hanya mengira Bu Ros
sedang sibuk.
Padahal sesungguhnya, seorang ibu sedang berusaha
melindungi putrinya dari penilaian masyarakat.
Samid Mendengar
Di sisi lain, Samid mulai mendengar gosip yang sama. Saat
sedang membeli es cendol di dekat pasar Pegandon, seseorang berkata kepadanya,
"Itu temanmu, Redi, katanya sering main ke rumah Bu
Ros."
Samid mengangguk pelan. "Oh ya?"
"Iya."
"Anaknya Bu Ros memang baik."
"Iya."
Samid tidak banyak menanggapi. Namun sejak hari itu, rasa
ingin tahunya berubah menjadi keinginan untuk melihat sendiri seperti apa gadis
yang menjadi pusat perhatian itu.
Ia belum menyadari bahwa langkahnya mulai mengikuti jejak
Redi. Dan tanpa sengaja, ia sedang memasuki kisah yang sama.
Kenapa gue kepikiran terus? pikirnya. Kenapa gue nggak bisa berhenti?
Ia tidak menemukan jawabannya.
Redi Pulang dengan
Perasaan Berat
Sore itu, Redi pulang dengan perasaan yang sulit
dijelaskan. Di sepanjang Jalan Tegorejo–Pegandon, pikirannya dipenuhi
pertanyaan.
Mengapa suasana di rumah Bu Ros terasa berbeda?
Mengapa Ariyani tampak lebih banyak diam?
Mengapa Bu Ros kini selalu menemani setiap percakapan
mereka?
Ia belum menemukan jawabannya.
Tapi di dalam hatinya, ada firasat yang tidak ia mengerti.
Ada sesuatu, pikirnya. Ada
sesuatu yang berubah.
Ia menghentikan sepedanya di bawah pohon randu tua. Memandang
jalan menuju Dusun Kersan.
Kenapa, Bu Ros? tanyanya
dalam hati. Kenapa semuanya terasa berbeda?
Ia tidak mendengar jawaban.
Tapi jauh di dalam hati seorang ibu, keputusan telah mulai
tumbuh. Keputusan yang kelak akan menjadi tembok pertama antara Redi dan
Ariyani.
Sebab cinta remaja tidak hanya diuji oleh perasaan. Tetapi
juga oleh adat, kehormatan keluarga, dan pandangan masyarakat yang hidup dalam
lingkungan kecil.
Dan badai itu... baru saja mulai berembus.
BAB XI
Ketegasan
Bu Ros
Langit Dusun Kersan pagi itu tampak cerah. Sinar matahari
menyusup di sela-sela dedaunan mangga yang menaungi halaman rumah Bu Ros.
Burung-burung gereja beterbangan dari atap rumah ke pagar bambu, sementara
suara ibu-ibu yang sedang menjemur padi terdengar dari kejauhan.
Namun, di balik ketenangan pagi itu, hati Bu Ros tidak
sedang setenang cuaca.
Beberapa hari terakhir, ucapan para tetangga terus
terngiang di benaknya.
"Anaknya Pak Sastro sering sekali ke sini."
"Katanya dekat dengan Ari."
"Masih sekolah, lho..."
Sebagai seorang ibu, Bu Ros tahu sebagian besar warga tidak
berniat jahat. Mereka hanya berbicara. Tetapi ia juga memahami satu kenyataan
yang telah lama hidup di lingkungan pedesaan. Sekali nama seorang gadis menjadi
bahan pembicaraan, tidak mudah mengembalikan semuanya seperti semula.
Dan ia tidak ingin putrinya mengalami itu.
Pagi Itu, Sebelum Redi
Datang
Bu Ros duduk di kursi bambu di teras. Sebuah cangkir kopi
sudah dingin di hadapannya—tanda bahwa ia sudah duduk di sana cukup lama.
Di tangannya, selembar kertas. Daftar belanja yang
seharusnya ia bawa ke pasar. Tapi ia tidak pergi. Matanya kosong, memandang
jalan yang masih sepi.
"Ari..." panggilnya pelan.
Ariyani muncul dari dalam rumah. "Iya, Bu?"
"Kamu... tadi malam tidur nyenyak?"
Ariyani mengangguk. "Iya, Bu. Kenapa?"
Bu Ros tersenyum tipis. "Nggak apa-apa. Ibu cuma
tanya."
Tapi Ariyani melihat ada sesuatu di mata ibunya. Sesuatu
yang tidak biasa. Sesuatu yang membuatnya bertanya, "Bu, ada apa?"
Bu Ros menggeleng. "Nanti sore. Ibu akan bicara."
Sore Itu, Redi Datang
Sore itu, Redi kembali datang membawa sebuah buku novel dan
beberapa majalah pendidikan. Di halaman rumah, Ariyani sedang menyapu daun-daun
mangga yang gugur. Melihat Redi datang, ia tersenyum seperti biasa.
"Assalamu'alaikum, Mas."
"Wa'alaikumussalam."
"Ayo masuk."
Belum sempat mereka melangkah ke ruang tamu, Bu Ros telah
keluar dari dalam rumah. Wajahnya tersenyum—tapi senyum yang berbeda. Senyum
yang lebih berat.
"Mas Redi..."
"Iya, Bu."
"Mari duduk sebentar."
Nada suara Bu Ros tetap lembut. Namun entah mengapa, Redi
merasakan ada sesuatu yang berbeda.
Mereka duduk di ruang tamu. Ariyani hendak mengambilkan
minuman. Namun Bu Ros berkata pelan, "Nduk, tolong bantu Ibu di dapur
dulu."
"Iya, Bu."
Ariyani melangkah ke dapur. Tapi sebelum masuk, ia menoleh.
Melihat ibunya dan Redi duduk berhadapan. Hatinya berdebar tidak karuan.
Ada apa? pikirnya. Ada
apa yang akan Ibu katakan?
Di Ruang Tamu
Kini tinggal Bu Ros dan Redi. Suasana mendadak sunyi. Hanya
terdengar suara kipas angin tua yang berputar perlahan.
Bu Ros memandang Redi dengan sorot mata penuh kasih—tapi
juga penuh beban.
"Mas Redi..."
"Iya, Bu."
"Ibu ingin bicara sebagai orang tua."
Redi mengangguk hormat. "Silakan, Bu."
Bu Ros menarik napas panjang. Ia menggenggam tangannya sendiri—erat,
seperti sedang menahan sesuatu.
"Ibu tahu kamu anak baik."
Redi hanya diam.
"Ibu juga tahu kamu tidak pernah punya niat buruk
kepada keluarga kami."
"Terima kasih, Bu."
"Tapi..."
Kalimat itu berhenti sejenak. Bu Ros menunduk. Ia tidak
bisa menatap mata Redi.
"Ibu juga harus menjaga Ari."
Redi mulai memahami arah pembicaraan itu. Dadanya terasa
sesak. Tapi ia tetap diam.
"Ibu mendengar orang-orang kampung mulai banyak
berbicara."
Ia menundukkan kepala. "Mereka salah paham."
"Ibu tahu." Bu Ros menghela napas. "Tapi
kadang, niat baik kita tidak cukup untuk menghentikan lidah orang."
Redi tidak menjawab.
"Karena itu..." Bu Ros melanjutkan dengan suara
yang tetap lembut, tapi bergetar, "...kalau tidak ada keperluan penting,
sebaiknya Mas jangan terlalu sering datang ke rumah."
Ruangan itu seolah menjadi semakin sunyi.
Redi menatap lantai. Ia tidak marah. Tidak tersinggung. Ia
justru memahami kegelisahan seorang ibu.
Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang pecah.
Jangan terlalu sering datang.
Kata-kata itu terasa seperti pukulan.
"Maaf kalau selama ini saya membuat Bu merasa tidak
enak."
Buru-buru Bu Ros menggeleng. "Bukan begitu."
"Ibu hanya ingin menjaga nama baik Ari."
"Saya mengerti."
"Dan menjaga nama baikmu juga."
Kalimat terakhir itu membuat Redi mengangkat wajahnya. Bu
Ros tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca.
"Ibu tidak ingin orang-orang membicarakan kalian.
Masih panjang perjalanan hidup kalian. Fokuslah belajar. Kejarlah
cita-cita."
Bu Ros berhenti. Suaranya hampir berbisik.
"Kalau memang Allah menakdirkan sesuatu yang baik,
waktunya akan datang sendiri."
Setiap kalimat itu diucapkan tanpa nada menghakimi. Tidak
ada bentakan. Tidak ada larangan yang kasar. Hanya nasihat seorang ibu yang
sedang berusaha melindungi dua anak muda.
Redi menatap Bu Ros. Untuk pertama kalinya, ia melihat
sesuatu di mata perempuan itu—bukan hanya ketegasan, tetapi juga... kesedihan.
"Bu Ros..." Redi memanggil pelan.
"Iya?"
"Saya..." Ia berhenti. "Saya menghormati
keputusan Ibu."
Bu Ros mengangguk pelan. "Terima kasih, Mas."
Di Balik Pintu Dapur
Ariyani berdiri di balik pintu dapur. Tangannya yang sedang
mencuci gelas berhenti. Ia mendengar semuanya.
"...kalau tidak ada keperluan penting, sebaiknya Mas
jangan terlalu sering datang ke rumah."
Ia tidak pernah menyangka ibunya akan mengatakan hal
tersebut kepada Redi. Dadanya terasa sesak. Bukan karena ia mencintai Redi, ia
bahkan tidak mengerti apa itu cinta. Melainkan karena ia merasa telah membuat
seseorang yang baik menjadi tidak nyaman.
Ia ingin keluar. Ingin menjelaskan bahwa Redi tidak pernah
berbuat macam-macam. Ingin mengatakan bahwa mereka hanya berteman.
Tapi kakinya tidak bergerak.
Ia mendengar Redi berkata, "Saya menghormati keputusan
Ibu."
Suara itu tenang. Tapi Ariyani bisa merasakan—ada sesuatu
yang hancur di dalamnya.
Ia menutup matanya. Air mata perlahan jatuh ke dalam baskom
cucian.
Maaf, Mas, pikirnya. Maaf.
Di Teras, Redi
Berpamitan
Redi berdiri perlahan. "Terima kasih, Bu."
"Maaf kalau saya merepotkan."
"Kamu tidak pernah merepotkan." Bu Ros ikut
berdiri. "Ibu hanya menjalankan kewajiban sebagai orang tua."
Redi tersenyum. Senyum yang kali ini terasa jauh lebih
berat.
"Saya mengerti."
Sebelum melangkah keluar, ia menoleh ke arah dapur. Sekilas
matanya bertemu dengan mata Ariyani—yang tanpa sadar telah membuka pintu
sedikit.
Tak ada kata yang terucap. Hanya tatapan singkat yang
dipenuhi kebingungan.
Ariyani ingin mengatakan sesuatu. Namun bibirnya tak mampu
bergerak.
Redi hanya menganggukkan kepala pelan—seperti memberi tahu
bahwa ia tidak marah, bahwa ia mengerti.
Lalu ia berpamitan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Di Jalan, Redi Sendiri
Sepanjang perjalanan pulang menuju Dusun Cegunan, langit
yang semula cerah perlahan berubah mendung. Angin bertiup lebih kencang.
Daun-daun jati berjatuhan ke jalan.
Redi mengayuh sepedanya tanpa tujuan yang jelas.
Sesampainya di tikungan Jalan Tegorejo–Pegandon, ia menghentikan sepedanya.
Ia menoleh ke arah jalan yang menuju Dusun Kersan.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Ariyani, ia merasa benar-benar
menjadi orang asing.
Bukan karena Bu Ros membencinya. Justru sebaliknya. Ia
merasakan kasih sayang dalam setiap nasihat yang disampaikan. Namun kasih
sayang itu sekaligus menjadi batas yang tidak boleh ia langkahi.
Ia mengeluarkan amplop cokelat dari dalam tas. Amplop yang
berisi surat untuk Ariyani.
Lama ia memandangnya.
Surat ini, pikirnya. Surat
yang tidak pernah kuberikan.
Ia membuka amplop itu. Membaca kembali kata-kata yang telah
ia tulis berbulan-bulan lalu. Kata-kata yang sekarang terasa begitu jauh.
Begitu mustahil.
Kemudian ia memasukkannya kembali.
"Belum waktunya..." bisiknya lirih.
Padahal jauh di dalam hatinya, ia mulai menyadari bahwa
mungkin... waktu itu tidak akan pernah datang.
Di Rumah Bu Ros, Setelah
Redi Pergi
Bu Ros masih duduk di ruang tamu. Tangannya memegang ujung
kain yang digunakan untuk menyeka meja, meski meja itu sudah bersih.
Ariyani keluar dari dapur. Matanya merah.
"Bu..."
Bu Ros menoleh. "Nduk..."
"Kenapa Bu ngomong begitu ke Mas Redi?"
Bu Ros menatap putrinya. "Ibu hanya..."
"Tapi Mas Redi nggak pernah berbuat apa-apa, Bu."
"Ibu tahu."
"Terus kenapa?"
Bu Ros bangkit. Ia mendekati putrinya, ingin memeluknya.
Tapi Ariyani mundur selangkah.
"Kenapa, Bu?"
Bu Ros menahan napas. "Karena Ibu takut."
Ariyani terdiam.
"Ibu takut kamu terlalu cepat dewasa. Ibu takut kamu
melupakan sekolah. Ibu takut..." Bu Ros menggigit bibirnya.
"...orang-orang menyakiti kamu dengan kata-kata mereka."
"Tapi Mas Redi—"
"Mas Redi anak baik." Bu Ros memotongnya.
"Ibu tahu. Tapi kadang, anak baik pun tidak bisa melindungi kita dari
lidah orang."
Ariyani tidak menjawab. Ia hanya menatap ibunya—dan untuk
pertama kalinya, ia melihat bahwa ibunya juga takut.
Bukan hanya tegas. Tapi takut.
"Ibu..." Ariyani memeluk ibunya. "Ari nggak
akan ninggalin sekolah."
Bu Ros memeluk putrinya erat. "Ibu tahu. Ibu
cuma..."
"Ari tahu, Bu."
Tapi di dalam pelukan itu, Ariyani masih mendengar suara
Redi yang berkata, "Saya menghormati keputusan Ibu."
Dan untuk pertama kalinya, Ariyani bertanya pada dirinya
sendiri: Kenapa rasanya seperti aku kehilangan sesuatu?
Di Dusun Cegunan, Malam
Itu
Malam itu, hujan turun perlahan membasahi Desa Tegorejo. Di
rumah Bu Ros, Ariyani duduk di dekat jendela. Ia memandang tetesan air yang
jatuh dari ujung genting. Dalam hatinya muncul perasaan bersalah yang tidak
dapat dijelaskan.
Sementara di Dusun Cegunan, Redi membuka buku catatan
pribadinya. Di halaman yang masih kosong, ia menulis satu kalimat.
"Hari ini aku belajar bahwa mencintai seseorang juga
berarti menghormati orang yang paling menyayanginya."
Ia menutup buku itu. Lalu memadamkan lampu kamarnya.
Di luar, hujan masih turun. Dan bersama hujan itu, harapan
Redi mulai memudar sedikit demi sedikit.
Di Tempat Lain
Namun ia belum mengetahui bahwa ujian terbesar belum datang.
Karena di balik semua ini, seorang sahabat bernama Samid
mulai melangkah semakin dekat ke rumah yang kini justru harus dijauhi oleh
Redi.
Samid sedang berbaring di tempat tidurnya. Di tangannya,
selembar kertas—alamat rumah Bu Ros yang ia dapatkan dari Joko.
Ia menatap alamat itu cukup lama.
Gue nggak boleh, pikirnya. Gue
nggak boleh.
Tapi tangannya masih memegang kertas itu.
Tapi Redi sekarang dijauhkan, bisik suara lain di kepalanya. Dia nggak bisa
ke sana. Tapi gue...
Ia menggigit bibirnya.
Gue bisa.
Ia meremas kertas itu—hampir merobeknya.
Tapi ia tidak merobeknya.
Takdir sedang menyusun babak baru. Babak yang akan dipenuhi
air mata, kesalahpahaman, dan luka yang jauh lebih dalam daripada penolakan.
Dan di balik semua itu, Redi dan Ariyani sama-sama tidak
tahu bahwa seseorang yang mereka percaya sedang berjalan menuju arah yang sama.
BAB XII
Tangis di Bawah Pohon Mangga
Hari-hari setelah percakapan antara Bu
Ros dan Redi berjalan dengan cara yang berbeda.
Bukan karena ada pertengkaran.
Bukan pula karena ada kebencian.
Justru karena semua orang berusaha
menjaga perasaan satu sama lain.
Redi menepati janjinya.
Ia tidak lagi sering datang ke rumah
Bu Ros.
Jika sebelumnya dalam seminggu ia bisa
dua atau tiga kali berkunjung dengan berbagai alasan, kini ia memilih menahan
langkahnya.
Sesekali ia hanya melewati Jalan
Tegorejo–Pegandon, memandang sejenak jalan kecil menuju Dusun Kersan, lalu
kembali mengayuh sepedanya tanpa singgah.
Keputusan itu terasa benar.
Namun tidak pernah terasa mudah.
Perubahan itu menjadi hal pertama yang
disadari Ariyani.
Awalnya ia mengira Redi sedang sibuk
mempersiapkan ujian kelulusan SMA.
Kemudian seminggu berlalu.
Lalu dua minggu.
Nama Redi tak lagi terdengar di teras
rumah.
Tak ada lagi buku-buku yang
dipinjamkan.
Tak ada lagi obrolan ringan tentang
sekolah.
Tak ada lagi sapaan,
"Assalamu'alaikum, Bu."
Rumah yang biasanya sesekali didatangi
pemuda pendiam dari Dusun Cegunan itu kini kembali lengang.
Suatu sore, ketika membantu ibunya
melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran, Ariyani akhirnya memberanikan
diri bertanya.
"Bu..."
"Iya, Nduk?"
"Mas Redi kok sudah lama tidak ke
sini?"
Tangan Bu Ros berhenti sejenak.
Ia menatap putrinya dengan lembut.
"Mungkin sedang sibuk."
"Hanya itu?"
Bu Ros tersenyum tipis.
"Ibu juga sudah menyampaikan
kepadanya agar jangan terlalu sering datang."
Ariyani menundukkan kepala.
"Oh..."
Hanya satu kata itu yang keluar.
Namun di dalam dadanya, ada sesuatu
yang perlahan terasa kosong.
Sore harinya, Ariyani duduk sendirian
di bawah pohon mangga yang tumbuh di sudut halaman rumah.
Pohon itu sudah ada sejak ia masih
kecil.
Di bawah naungannya, ia sering bermain
bersama saudara-saudaranya.
Sering belajar.
Sering membaca buku.
Dan beberapa kali berbincang dengan
Redi.
Angin sore berembus pelan.
Daun-daun mangga bergesekan,
mengeluarkan suara lirih yang menenangkan.
Namun hari itu, suara itu justru
terdengar seperti bisikan kenangan.
Ariyani memandangi bangku kayu tempat
Redi biasa duduk.
Bangku itu kosong.
Entah mengapa, ia merasa rindu pada
suasana yang dulu dianggap biasa.
Bukan rindu sebagai seorang kekasih.
Melainkan kerinduan akan kehadiran
seseorang yang selalu membawa ketenangan.
Seseorang yang tidak pernah memaksa.
Tidak pernah berkata kasar.
Tidak pernah membuatnya takut.
Yang selalu mendengarkan ketika ia
bercerita tentang sekolah.
Yang selalu menyemangatinya agar terus
belajar.
Yang selalu menghormati ibunya.
Tanpa sadar, matanya mulai
berkaca-kaca.
"Ari..."
Suara Lilis membuyarkan lamunannya.
"Kamu sendirian?"
"Iya."
Lilis duduk di sampingnya.
"Kenapa melamun?"
"Nggak apa-apa."
"Kamu bohong."
Ariyani tersenyum tipis.
Lilis sudah terlalu lama menjadi
sahabatnya.
Sulit menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mas Redi sudah lama nggak
datang."
Lilis mengangguk pelan.
"Aku juga heran."
"Rumah jadi sepi."
"Padahal dulu sering ada yang
ngajak ngobrol."
Ariyani menarik napas panjang.
"Aku merasa bersalah."
"Lho, kenapa?"
"Mungkin karena aku bilang dia
kakak angkat."
Lilis menggeleng.
"Itu bukan salahmu."
"Aku nggak pernah bermaksud
menyakiti siapa pun."
"Aku tahu."
"Tapi sekarang rasanya
berbeda."
Lilis menggenggam tangan sahabatnya.
"Kadang seseorang baru terasa
berarti ketika dia mulai menjauh."
Kalimat sederhana itu membuat Ariyani
semakin terdiam.
Menjelang Magrib, Lilis berpamitan.
Ariyani masih duduk di bawah pohon
mangga.
Langit mulai berubah jingga.
Dari kejauhan terdengar azan
berkumandang.
Tiba-tiba air mata yang sejak tadi
ditahannya jatuh perlahan.
Bukan tangis yang keras.
Hanya tetesan-tetesan kecil yang
mengalir tanpa suara.
Ia sendiri tidak benar-benar mengerti
mengapa ia menangis.
Bukankah sejak awal ia memang hanya
menganggap Redi sebagai kakak?
Lalu mengapa kehilangan kehadirannya
terasa begitu menyakitkan?
Apakah karena ia telah terbiasa?
Apakah karena ia merasa bersalah?
Ataukah...
ada perasaan lain yang belum sempat ia
kenali?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di
dalam kepalanya.
Namun tidak satu pun mampu dijawab.
Dari balik jendela, Bu Ros
memperhatikan putrinya.
Sebagai seorang ibu, ia memahami bahwa
Ariyani sedang bersedih.
Ia keluar rumah, lalu duduk di samping
putrinya.
"Nduk."
Ariyani buru-buru mengusap air
matanya.
"Iya, Bu."
"Kamu menangis?"
Ariyani menggeleng.
"Nggak."
Bu Ros tersenyum penuh kasih.
"Sejak kecil kamu tidak pernah
pandai menyembunyikan air mata."
Kalimat itu membuat Ariyani kembali
menundukkan kepala.
"Aku cuma merasa..."
"Sepi?"
Ariyani mengangguk pelan.
Bu Ros mengusap rambut putrinya.
"Ibu tidak membenci Mas
Redi."
"Aku tahu."
"Ibu juga tahu dia anak
baik."
"Iya."
"Tapi sekarang tugasmu belajar."
"Nanti setelah dewasa, kamu akan
mengerti kenapa Ibu melakukan semua ini."
Ariyani memeluk ibunya.
Tangisnya pecah di bahu perempuan yang
paling dicintainya itu.
Bu Ros tidak ikut menangis.
Namun matanya mulai basah.
Ia tahu, keputusan yang diambilnya melukai
hati putrinya.
Tetapi ia lebih takut jika membiarkan
putrinya terluka oleh keadaan yang lebih besar.
Di Dusun Cegunan, pada sore yang sama,
Redi duduk sendirian di teras rumah.
Di tangannya terbuka sebuah novel.
Namun sejak tadi ia belum membalik
satu halaman pun.
Tatapannya kosong.
Sesekali ia memandang langit yang
mulai memerah.
Entah mengapa, sore itu ia merasa
sangat ingin pergi ke Dusun Kersan.
Sekadar memastikan Ariyani baik-baik
saja.
Sekadar melihat pohon mangga di
halaman rumah Bu Ros.
Sekadar mengucapkan salam.
Namun ia teringat janjinya kepada Bu
Ros.
Ia mengurungkan niatnya.
Tanpa ia ketahui, pada saat yang sama,
beberapa kilometer dari tempatnya duduk, seorang gadis sedang menangis di bawah
pohon mangga karena merasakan kehilangan yang belum mampu ia pahami.
Takdir mempermainkan waktu dengan cara
yang begitu halus.
Keduanya sama-sama merasakan sepi.
Keduanya sama-sama menyimpan rindu.
Namun keduanya memilih diam.
Karena masing-masing percaya bahwa
diam adalah bentuk penghormatan kepada orang yang mereka sayangi.
Padahal...
sering kali, diam justru menjadi awal
dari kesalahpahaman yang panjang.
Dan di balik kesunyian itu, seseorang
bernama Samid mulai melihat kesempatan yang tidak pernah ia duga
sebelumnya.
Kesempatan yang kelak akan mengubah
persahabatan menjadi luka.
BAB XIII
Pengkhianatan
Samid
Di setiap kisah persahabatan, selalu ada masa ketika
kepercayaan diuji. Bukan karena musuh datang dari luar. Melainkan karena hati
manusia mulai dipengaruhi oleh keinginan yang sama.
Begitulah yang perlahan terjadi pada Redi dan Samid.
Mereka masih duduk sebangku di kelas III A1 SMA Negeri 1
Pegandon. Masih belajar bersama. Masih pulang beriringan dengan sepeda yang
sama-sama mulai berkarat dimakan usia. Masih saling bercanda ketika jam
istirahat.
Dari luar, tak ada yang berubah.
Namun di dalam hati Samid, benih yang dulu hanya berupa
rasa penasaran kini telah tumbuh menjadi ketertarikan. Dan ketertarikan itu
diam-diam mengarah kepada orang yang sama.
Ariyani.
Di Warung, Samid Bertemu
Joko
Semuanya bermula ketika Samid bertemu dengan Joko, teman
lamanya yang tinggal di Dusun Kersan. Sore itu mereka berpapasan di sebuah
warung dekat Pasar Pegandon. Setelah berbincang tentang sekolah dan rencana
kelulusan, pembicaraan beralih kepada kehidupan kampung.
"Mid, kamu kenal Ariyani?"
Samid berpura-pura berpikir. "Anaknya Bu Ros?"
"Iya."
"Katanya baik."
"Bukan cuma baik." Joko tertawa kecil. "Di
dusun sini banyak yang suka."
"Serius?"
"Iya. Tapi orangnya nggak pernah macam-macam."
Samid mengangguk pelan. "Kalau begitu, suatu saat aku
ingin berkenalan."
Joko tersenyum. "Gampang."
Ucapan itu terdengar ringan. Namun sejak hari itu, Samid
mulai lebih sering mencari kesempatan melewati Dusun Kersan. Awalnya hanya
ingin memastikan seperti apa gadis yang selama ini membuat Redi berubah.
Tetapi ketika akhirnya ia melihat Ariyani dari kejauhan
sedang membantu Bu Ros menyapu halaman, ia memahami mengapa sahabatnya jatuh
hati. Ada kelembutan dalam caranya berbicara. Ada kesederhanaan dalam caranya
berpakaian. Dan ada keteduhan yang tidak mudah ditemukan pada gadis seusianya.
"Jadi... itu Ariyani."
Samid bergumam pelan.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan debar yang tidak pernah
ia rasakan sebelumnya.
Di Pinggir Sawah, Samid
Berjuang
Samid duduk di pinggir sawah. Di depannya, jalan menuju
Dusun Kersan membentang. Ia tahu Redi ada di sana sore itu. Tahu Redi mungkin
sedang berbincang dengan Ariyani. Tahu Redi mungkin sedang tersenyum.
Ia menutup matanya.
Gue nggak boleh, pikirnya. Gue
nggak boleh.
Tapi ketika ia membuka mata, jalan menuju Dusun Kersan
masih ada di sana. Masih menggoda. Masih mengundang.
"Kenapa sih lo susah banget, Mid..." gumamnya.
Ia membayangkan wajah Redi. Redi yang selalu membantunya
mengerjakan tugas. Redi yang diam-diam memberinya uang jajan ketika ayahnya
sakit. Redi yang tidak pernah menceritakan kebaikannya kepada siapa pun.
Lalu ia membayangkan wajah Ariyani. Senyumnya. Matanya.
Suaranya.
"Sial..." Samid membanting tubuhnya ke rumput.
"Gue nggak bisa..."
Tapi ia tahu—ia sudah bisa. Ia sudah jatuh. Dan ia tidak
bisa berhenti.
Di Perpustakaan, Samid
Bertemu Lilis
Beberapa hari kemudian, kesempatan yang tidak pernah diduga
datang. Di perpustakaan sekolah, Samid bertemu dengan Lilis, sahabat dekat
Ariyani. Mereka sempat berbincang tentang buku dan kegiatan sekolah.
Di sela-sela percakapan, Samid bertanya seolah tanpa maksud
apa-apa.
"Lilis..."
"Iya?"
"Ariyani sekarang masih sering didatangi Redi?"
Lilis menggeleng. "Nggak. Sudah lama."
"Kenapa?"
Lilis menjawab polos. "Katanya sekarang Mas Redi sudah
jarang ke rumah."
Jawaban itu membuat Samid terdiam.
Berarti mereka sedang berjauhan...
Pikiran itu muncul begitu saja.
Dan sejak saat itu, sesuatu dalam dirinya berubah.
"Lilis..." Samid memanggil lagi.
"Iya?"
"Kalau..." Ia berhenti. "Kalau aku minta
tolong dikenalin ke Ariyani, bisa?"
Lilis menatapnya. "Kamu kenal Redi, kan?"
"Iya. Temen sekelas."
"Terus kenapa nggak minta Redi yang—"
"Redi lagi sibuk." Samid memotongnya terlalu
cepat. "Aku... aku nggak mau ganggu dia."
Lilis mengangguk pelan. "Ya udah. Nanti aku kasih tahu
Ari."
"Makasih, Lil."
Tapi setelah Lilis pergi, Samid menutup matanya. Dadanya
terasa sesak.
Gue baru aja bohong, pikirnya. Gue
baru aja bohong ke Lilis. Gue baru aja bohong ke Redi.
Tapi ia tidak berhenti.
Di Depan Rumah Bu Ros,
Samid dan Ariyani
Suatu sore, Samid sengaja melewati rumah Bu Ros. Ia
berpura-pura mencari alamat seseorang. Ketika Ariyani sedang menyiram bunga,
Samid berhenti.
"Permisi..."
Ariyani menoleh. "Iya?"
"Maaf, saya mau tanya." Samid tersenyum, senyum
yang ia latih di depan cermin pagi itu. "Rumahnya Pak Karto di mana,
ya?"
"Oh, di ujung jalan itu, Mas. Belok kiri."
"Makasih."
Ariyani tersenyum ramah. "Sama-sama."
Samid tidak pergi. Ia masih berdiri di tempatnya.
"Kamu..." Ia mencari kata. "Kamu Ariyani,
kan?"
Ariyani sedikit terkejut. "Iya. Kenapa?"
"Aku Samid. Temennya Redi."
Ariyani mengernyitkan kening. "Oh... Mas Redi?"
"Iya." Samid mengangguk. "Dia sering cerita
tentang kamu."
Ariyani tersenyum, tapi senyum yang berbeda. Senyum yang
sedikit canggung. "Mas Redi cerita apa?"
"Banyak." Samid tertawa kecil. "Katanya kamu
baik. Rajin. Pintar."
Ariyani menunduk. "Mas Redi lebay."
"Enggak. Dia serius."
Mereka terdiam beberapa saat.
"Ari..." Samid memanggil.
"Iya?"
"Kalau..." Ia berhenti. "Kalau aku boleh
main ke sini lagi, nggak?"
Ariyani mengangkat bahu. "Boleh. Tapi..." Ia
tersenyum tipis. "Jangan sering-sering. Ibu Ari suka khawatir."
Samid mengangguk. "Iya. Aku ngerti."
Ia berbalik. Tapi di dalam hatinya, ada kemenangan kecil
yang tidak ia akui.
Gue udah kenal dia, pikirnya. Gue
udah kenal dia.
Di Gardu Ronda, Samid
Membiarkan Gosip
Rahasia itu belum cukup. Suatu malam, ketika beberapa
pemuda berkumpul di gardu ronda, seseorang bertanya, "Redi masih sering ke
rumah Bu Ros?"
Samid yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum tipis.
"Lagi sibuk sekarang."
"Lho, kirain sudah dekat."
Samid mengangkat bahu. "Belum tentu juga.
Lagipula..." Ia berhenti sejenak. "...setahuku Ariyani memang
menganggap Redi cuma kakak."
Kalimat itu sebenarnya benar. Namun cara Samid
mengucapkannya membuat orang-orang mulai memiliki tafsir lain. Seolah-olah Redi
selama ini mengejar seseorang yang tidak pernah menginginkannya.
Obrolan itu kemudian menyebar. Dari gardu ronda ke warung
kopi. Dari warung kopi ke halaman rumah warga. Hingga akhirnya kembali
terdengar di telinga sebagian masyarakat Dusun Kersan.
Samid tidak pernah secara langsung memfitnah. Namun ia juga
tidak berusaha menghentikan cerita yang mulai berkembang. Ia membiarkan keadaan
berbicara untuknya.
Dan di situlah pengkhianatan pertama dimulai.
Bukan dengan kebohongan besar. Melainkan dengan membiarkan
kesalahpahaman tumbuh.
Malam Itu, Samid dan
Ayahnya
Samid duduk di samping tempat tidur ayahnya. Ayahnya
terbaring lemah, tetapi matanya terbuka.
"Mid..."
"Iya, Pak?"
"Kamu... ada yang kamu pikirkan?"
Samid terdiam. Lalu ia berkata, "Pak... gue
bingung."
"Bingung tentang apa?"
Samid menggigit bibirnya. "Gue... gue suka sama cewek.
Tapi cewek itu... disukai sama sahabat gue."
Ayahnya menatapnya cukup lama. "Dan sahabatmu itu
lebih dulu?"
"Iya."
Ayahnya menghela napas. "Mid... Bapak pernah bilang,
kadang yang kita pengen belum tentu baik buat kita."
"Tapi, Pak—"
"Dan kadang..." Ayahnya menggenggam tangannya.
"...yang kita lakukan untuk mendapatkan apa yang kita pengen, bisa
menghancurkan sesuatu yang lebih berharga."
Samid menunduk. "Gue tahu, Pak."
"Tapi kamu tetap melakukannya?"
Samid tidak menjawab.
Ayahnya menutup mata. "Kamu masih muda, Mid. Kamu akan
belajar dari kesalahanmu."
Samid memegang tangan ayahnya. "Maaf, Pak."
Ayahnya tidak menjawab. Tapi genggamannya menguat—seperti
memberi tahu bahwa ia masih mencintai anaknya, meskipun ia tidak setuju dengan
pilihannya.
Di Sekolah, Redi
Bertanya
Beberapa hari kemudian, Redi bertemu Samid di sekolah.
"Mid."
"Iya?"
"Kamu akhir-akhir ini sering ke Kersan?"
Samid sedikit terkejut. "Siapa bilang?"
"Joko."
"Oh..." Samid tertawa kecil. "Cuma
lewat."
"Kenapa nggak cerita?"
"Nggak penting."
Redi mengangguk pelan. Ia mempercayai sahabatnya sepenuh
hati. Tidak sedikit pun ia menaruh curiga. Justru ia merasa senang jika Samid
memiliki banyak teman.
"Mid..." Redi memanggil.
"Iya?"
"Lo tahu..." Redi tersenyum. "Gue seneng lo
punya teman baru."
Samid tidak bisa menatap matanya. "Makasih, Di."
"Tapi..."
"Apa?"
Redi menggeleng. "Nggak apa-apa. Gue cuma... ya
udah."
Mereka berjalan berdampingan menuju kelas. Tapi di dalam
hati Samid, ada sesuatu yang hancur.
Dia percaya sama gue, pikirnya. Dia
percaya.
Dan gue baru saja mengkhianatinya.
Di Rumah Samid, Malam
Itu
Malam itu, Samid duduk sendirian di beranda rumahnya. Angin
bertiup pelan. Ia memandang langit yang dipenuhi bintang.
Dalam hatinya muncul rasa bersalah. "Apa yang
kulakukan ini benar?"
Namun suara lain segera menjawab. "Aku juga berhak
mencintai siapa pun."
Dua suara itu saling bertarung. Antara hati seorang
sahabat. Dan hati seorang laki-laki yang mulai jatuh cinta.
Samid menutup matanya.
Redi, pikirnya. Maaf.
Ia membuka matanya. Dan untuk pertama kalinya, ia mengakui
pada dirinya sendiri: Aku sudah memilih. Dan aku tidak akan berhenti.
Sayangnya... malam itu Samid memilih mendengarkan suara
yang kedua. Dan sejak pilihan itu diambil, persahabatan yang telah mereka
bangun selama bertahun-tahun mulai berjalan menuju keretakan.
Karena pengkhianatan terbesar sering kali tidak lahir dari
kebencian. Melainkan dari keinginan memiliki sesuatu yang dicintai oleh orang
yang paling kita percaya.
BAB XIV
Pertengkaran
Dua Sahabat
Pagi itu, udara di Desa Tegorejo terasa lebih dingin dari
biasanya. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah ketika Redi
mengayuh sepedanya menuju SMA Negeri 1 Pegandon. Di sepanjang Jalan
Tegorejo–Pegandon, ia melewati pohon randu tua yang selama ini menjadi saksi
perjalanan hidupnya.
Namun pagi itu, pikirannya tidak setenang biasanya.
Beberapa hari terakhir, ada banyak kabar yang membuatnya
gelisah. Ia mendengar dari Joko bahwa Samid beberapa kali terlihat berada di
Dusun Kersan. Awalnya Redi tidak mempermasalahkan hal itu. Bukankah Samid bebas
berteman dengan siapa saja? Bukankah Ariyani juga bukan miliknya?
Namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Mengapa
sahabatnya tidak pernah bercerita? Selama bertahun-tahun mereka tidak pernah
menyimpan rahasia. Kini, untuk pertama kalinya, ada jarak yang mulai terasa.
Di Kelas, Sebelum Bel
Bel pertama baru saja berbunyi ketika Redi memasuki ruang
kelas III A1. Samid sudah duduk di bangkunya. Seperti biasa, ia menyapa lebih
dulu.
"Pagi, Di."
"Pagi."
Jawaban Redi terdengar datar. Samid memperhatikannya.
"Kamu sakit?"
"Nggak."
"Terus kenapa murung?"
"Nanti saja."
Samid mengangguk. Ia tahu Redi bukan tipe orang yang mudah
berbicara ketika pikirannya sedang penuh.
Tapi Samid juga tahu ada yang salah. Ia bisa
merasakannya—ketegangan yang tidak biasa di udara di antara mereka.
Dia tahu, pikir
Samid. Dia pasti sudah tahu.
Tapi ia tidak berani bertanya.
Sepanjang Pelajaran
Sepanjang pelajaran berlangsung, keduanya hampir tidak
berbincang. Pak Harjono menjelaskan materi gelombang elektromagnetik di papan
tulis. Sebagian siswa sibuk mencatat. Sebagian lagi mulai mengantuk.
Namun Redi sama sekali tidak mendengar penjelasan gurunya.
Pikirannya terus berputar.
Kenapa Samid tidak jujur?
Kenapa dia memilih diam?
Kenapa dia—
"Redi!"
Redi tersentak. Pak Harjono menatapnya.
"Kamu mendengar pertanyaan saya?"
Redi menggeleng. "Maaf, Pak. Saya... kurang
fokus."
Pak Harjono menghela napas. "Fokus, Nak. Ujian sudah
dekat."
"Iya, Pak."
Redi menunduk ke bukunya. Tapi matanya tidak membaca.
Matanya hanya menatap kata-kata yang tidak ia lihat.
Di sampingnya, Samid menggigit bibirnya.
Ini salah gue, pikirnya. Ini
semua salah gue.
Di Lapangan Belakang
Sekolah
Saat jam istirahat tiba, Redi mengajak Samid keluar menuju
lapangan belakang sekolah. Di sana hanya ada beberapa pohon trembesi dan bangku
semen yang biasa digunakan siswa untuk belajar kelompok. Suasananya cukup sepi.
Redi berdiri sambil memandang lapangan. "Mid."
"Iya."
"Aku mau tanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Kamu akhir-akhir ini sering ke Dusun Kersan?"
Samid terdiam beberapa detik. "Lumayan."
"Kenapa nggak pernah cerita?"
Samid tersenyum tipis. "Cuma lewat."
Redi menggeleng pelan. "Jangan bohong."
Samid mulai menarik napas panjang. "Aku memang
beberapa kali ke sana."
"Untuk apa?"
"Bertemu teman."
"Teman siapa?"
"Joko."
"Hanya itu?"
Samid menatap Redi. Tatapan keduanya mulai berubah.
"Apa maksudmu?"
Redi menjawab dengan suara pelan—tapi tajam, "Aku cuma
ingin mendengar kejujuranmu."
Keheningan yang
Berbicara
Beberapa saat suasana menjadi sunyi. Angin berembus pelan
menggoyangkan dedaunan trembesi. Samid menunduk. Ia memainkan ujung
bajunya—gestur yang Redi kenal sebagai tanda ia gugup.
Dia gugup, pikir
Redi. Kenapa dia gugup?
Akhirnya Samid berkata, "Baik. Aku memang pernah
bertemu Ariyani."
Redi terdiam. Dadanya seolah dipukul sesuatu yang tidak
terlihat.
"Kamu sengaja?"
"Iya."
"Kenapa?"
Samid menatap sahabatnya dengan tenang—terlalu tenang.
"Karena aku juga ingin mengenalnya."
Kalimat itu sederhana. Namun terasa begitu tajam.
Redi menghela napas panjang. "Kamu tahu aku
menyukainya."
"Tahu."
"Lalu kenapa?"
Samid menjawab tanpa menundukkan pandangan. "Karena
kamu juga belum memilikinya."
Kalimat itu membuat Redi membeku. Untuk pertama kalinya
sejak mereka bersahabat, ia merasa begitu asing dengan orang yang berdiri di
hadapannya.
Suara Mulai Meninggi
"Apa selama ini persahabatan kita cuma sampai di
situ?" tanya Redi—suaranya bergetar.
Samid menggeleng. "Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
"Aku nggak pernah berniat merebut siapa pun."
"Tapi kamu menyembunyikan semuanya."
"Aku takut kamu marah."
"Berarti kamu sadar yang kamu lakukan salah."
Samid mulai kehilangan kesabaran. "Kenapa salah?
Ariyani bukan milikmu!"
Kalimat itu menghantam Redi lebih keras daripada apa pun.
Ia tahu kalimat itu benar. Sangat benar. Tetapi kebenaran yang diucapkan tanpa
empati sering kali lebih menyakitkan daripada kebohongan.
Redi memalingkan wajah. "Yang membuatku kecewa bukan
karena kamu menyukai Ari."
"Lalu?"
"Karena kamu memilih diam. Kamu sahabatku. Kalau sejak
awal kamu jujur, mungkin aku tidak akan merasa dikhianati."
Samid ikut terdiam. Ia baru menyadari bahwa luka yang
ditimbulkannya bukan karena perasaan kepada Ariyani. Melainkan karena kejujuran
yang telah ia sembunyikan.
Namun egonya telah terlanjur berbicara.
"Aku juga punya hak mencintai seseorang."
"Aku tidak pernah melarang."
"Terus kenapa kamu marah?"
"Aku marah karena kamu bukan lagi Samid yang selama
ini kukenal!"
Perdebatan Memuncak
Perdebatan mulai meninggi. Beberapa siswa yang melintas
berhenti memperhatikan. Redi tidak peduli. Samid tidak peduli.
"Sudahlah, Di. Aku nggak mau bertengkar."
"Tapi kamu yang memulainya."
"Aku?"
"Iya. Kamu datang diam-diam ke Dusun Kersan. Kamu
membiarkan orang-orang bicara macam-macam. Kamu bahkan tidak pernah berkata
apa-apa kepadaku."
Samid mulai meninggikan suara. "KALAU MEMANG ARIYANI
MENCINTAIMU, KENAPA DIA TIDAK MEMILIHMU?!"
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Redi tidak menjawab. Bukan karena tidak mampu. Tetapi
karena kalimat itu memang menyentuh luka yang paling dalam. Luka yang selama
ini ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
Samid sendiri seketika menyesal telah mengucapkannya. Ia
melihat wajah Redi berubah—dari marah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang
lebih menyakitkan.
Luka, pikir Samid. Gue
baru saja melukainya.
"Di..." Samid mencoba meraih bahu Redi.
Redi menepis tangannya. "Jangan sentuh aku."
"Di—"
"Aku bilang jangan sentuh aku!"
Redi Pergi
Tanpa berkata apa-apa lagi, Redi berbalik. Ia melangkah
meninggalkan lapangan.
"Di!" Samid memanggil.
Redi tidak berhenti.
"REDI!"
Tetap tidak ada jawaban. Langkahnya terus menjauh.
Samid berdiri di tempatnya, menatap punggung sahabatnya
yang semakin menjauh. Ia tidak mengejar. Ia tidak berteriak lagi.
Ia hanya berdiri di sana, dengan perasaan yang tidak bisa
ia jelaskan.
Gue baru saja kehilangan dia, pikirnya. Gue baru saja kehilangan sahabat
gue.
Ia menunduk. Tangannya menggenggam erat—marah pada dirinya
sendiri.
Kenapa gue ngomong gitu?
Kenapa gue nggak bisa diam?
Kenapa gue—
Ia tidak menyelesaikan pikirannya. Karena jawabannya
terlalu menyakitkan: karena gue egois.
Sore itu, dua sahabat yang selama bertahun-tahun selalu
pulang bersama akhirnya pulang melalui jalan yang berbeda. Redi mengayuh
sepedanya sendirian menuju Dusun Cegunan. Samid memilih mengambil jalan memutar
melewati arah Pasar Pegandon.
Jarak yang sebelumnya hanya beberapa meter kini terasa
sejauh dua dunia.
Di Rumah, Malam Itu
Di rumahnya, Samid tidak bisa diam. Ia mondar-mandir di
kamarnya. Memegang kepalanya sendiri.
"Bego," bisiknya. "Lo bego, Mid."
Ia membayangkan wajah Redi, wajah yang berubah dari marah
menjadi terluka.
"Jangan sentuh aku."
Samid membanting tubuhnya ke kasur. Ia menutup matanya.
Tapi wajah Redi tetap ada di sana.
Gue udah hancurin semuanya, pikirnya. Gue udah hancurin semuanya.
Di Rumah Redi, Malam Itu
Redi membuka buku catatan pribadinya. Dengan tangan yang
sedikit gemetar, ia menulis:
"Hari ini aku kehilangan dua hal sekaligus.
Harapan untuk memiliki perempuan yang kucintai.
Dan kepercayaan kepada sahabat yang selama ini kuanggap
saudara."
Ia berhenti menulis. Pulpennya menggantung di atas kertas.
Lalu ia melanjutkan:
"Dan yang paling menyakitkan adalah...
aku masih tidak bisa membenci Samid.
Aku masih ingat saat dia menangis di belakang sekolah
karena ayahnya sakit.
Aku masih ingat saat dia bilang 'makasih, Di' setelah aku
pinjamin uang.
Dia bukan orang jahat.
Dia hanya...
Dia hanya memilih jalan yang salah.
Dan aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya."
Ia menutup buku itu. Memadamkan lampu.
Tapi ia tidak bisa tidur.
Di Rumah Samid, Malam
Itu
Di rumahnya, Samid juga tidak dapat tidur. Ucapan yang
terlontar siang tadi terus menghantuinya.
"Kalau memang Ariyani mencintaimu, kenapa dia tidak
memilihmu?"
Ia sadar, ia telah melukai Redi. Bukan hanya dengan pergi
ke Dusun Kersan—tetapi dengan kata-kata itu. Kata-kata yang tidak bisa ia tarik
kembali.
Namun di sisi lain, ia juga tidak mampu mengingkari
perasaannya kepada Ariyani.
Tapi apa gunanya? pikirnya. Apa
gunanya gue suka dia kalau gue kehilangan sahabat gue?
Ia tidak menemukan jawabannya.
Di Sekolah, Keesokan
Harinya
Keesokan harinya, suasana kelas III A1 berubah. Redi duduk
di bangku paling depan. Samid memilih duduk bersama teman lain.
Tidak ada lagi candaan saat jam istirahat. Tidak ada lagi
belajar bersama. Guru-guru mulai menyadari perubahan itu.
Pak Harjono bahkan sempat bertanya, "Kalian berdua
sedang bertengkar?"
Keduanya menjawab hampir bersamaan. "Tidak, Pak."
Jawaban yang sama. Tetapi dengan hati yang sangat berbeda.
Redi menatap papan tulis tanpa melihat. Samid menatap buku
tanpa membaca.
Mereka berdua berada di ruangan yang sama. Tapi jarak di
antara mereka tidak pernah sejauh ini.
Di Tempat Lain
Sementara itu, di Dusun Kersan, Ariyani sama sekali tidak
mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia tetap menjalani kehidupannya seperti
biasa. Ia tidak tahu bahwa tanpa disengaja, namanya telah menjadi penyebab
retaknya persahabatan dua orang pemuda yang sama-sama dikenalnya sebagai orang
baik.
Di bawah pohon mangga halaman rumahnya, angin sore kembali
bertiup pelan. Seolah alam pun ikut menyimpan rahasia yang belum waktunya
diungkapkan.
BAB XV
Hari
Kelulusan
Bulan Mei 1996 datang bersama langit yang lebih cerah.
Musim hujan perlahan meninggalkan Desa Tegorejo. Sawah-sawah yang beberapa
bulan lalu dipenuhi genangan air kini berubah menjadi hamparan padi yang mulai
menguning. Angin yang bertiup dari arah Pegandon membawa aroma jerami yang
mengering, bercampur dengan harum bunga kenanga di halaman rumah-rumah
penduduk.
Di SMA Negeri 1 Pegandon, suasana sekolah jauh berbeda dari
biasanya. Hari itu bukan lagi tentang rumus-rumus Fisika, persamaan matematika,
atau hafalan sejarah. Hari itu adalah hari yang telah dinanti sekaligus
ditakuti oleh seluruh siswa kelas III. Hari pengumuman kelulusan.
Di Halaman Sekolah
Sejak pagi, halaman sekolah dipenuhi siswa berseragam putih
abu-abu. Sebagian datang bersama orang tua. Sebagian lagi datang berkelompok
bersama sahabat. Ada yang tersenyum. Ada pula yang terlihat gelisah.
Di antara kerumunan itu, Redi berdiri sendirian di dekat
pohon mahoni. Tangannya menggenggam map biru yang sudah mulai kusam. Tatapannya
sesekali mengarah ke ruang guru.
Beberapa meter darinya, Samid juga berdiri.
Keduanya saling melihat. Namun tak satu pun melangkah lebih
dulu. Sejak pertengkaran beberapa minggu lalu, hubungan mereka tidak pernah
benar-benar pulih. Mereka masih saling menyapa jika bertemu. Tetapi hanya
sebatas sopan santun. Tidak ada lagi canda. Tidak ada lagi cerita tentang
cita-cita. Tidak ada lagi perjalanan pulang bersama.
Persahabatan yang dulu begitu erat kini menyisakan jarak
yang sulit dijelaskan.
Redi menatap Samid—lama, seperti ingin mengatakan sesuatu.
Tapi ia tidak bisa. Kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.
Samid juga menatap Redi. Ia melihat sahabatnya berdiri
sendirian. Tanpa siapa pun.
Gue seharusnya di sana, pikir
Samid. Gue seharusnya berdiri di samping dia.
Tapi kakinya tidak bergerak.
Di Dalam Aula
Bel sekolah berbunyi. Seluruh siswa berkumpul di aula.
Kepala sekolah memberikan sambutan singkat.
"Anak-anakku... Hari ini bukan akhir perjalanan kalian.
Kelulusan hanyalah gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Kejarlah
cita-cita setinggi mungkin. Jangan pernah melupakan almamater ini."
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Kemudian satu per satu nama siswa dipanggil untuk menerima
surat keterangan kelulusan.
Ketika nama Redi disebut, ia melangkah dengan tenang.
"Redi Suryanto." Ia menerima map kelulusannya. Menyalami kepala
sekolah dan wali kelas.
"Selamat."
"Terima kasih, Pak."
Redi kembali ke tempat duduknya. Ia tidak tersenyum. Tidak
terlihat bahagia. Ia hanya duduk di sana—dengan map di tangannya, dan perasaan
hampa di dadanya.
Tak lama kemudian, nama Samid juga dipanggil. "Samid
Prakoso." Ia maju dan menerima map yang sama.
Ketika kembali ke tempat duduk, tanpa sengaja pandangan
mereka bertemu. Keduanya hanya menganggukkan kepala pelan. Tak ada senyum. Tak
ada kata-kata.
Namun di dalam hati masing-masing, tersimpan kenangan
bertahun-tahun yang tidak mungkin dihapus begitu saja.
Selamat, Di, pikir
Samid. Gue bangga sama lo.
Selamat, Mid, pikir
Redi. Gue...
Ia tidak menyelesaikan pikirannya. Karena ia tidak tahu apa
yang harus ia katakan.
Di Luar Aula, Setelah
Upacara
Para siswa berhamburan keluar aula. Suasana campur aduk—ada
yang menangis bahagia, ada yang tertawa, ada yang saling berpelukan.
Redi berjalan keluar sendirian. Ia menuju tempat parkir
sepeda. Di tengah jalan, seseorang memanggilnya.
"Di!"
Redi berhenti. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
Samid mendekat. Jarak mereka hanya beberapa meter.
"Di..." Samid menghela napas. "Gue..."
"Kenapa?" suara Redi datar.
Samid menggigit bibirnya. "Gue... mau ngucapin
selamat."
Redi menatapnya. "Ya. Selamat juga."
Mereka berdiri di sana—berhadapan, tetapi terpisah oleh
sesuatu yang tidak terlihat.
"Di..." Samid mencoba lagi. "Gue minta maaf."
Redi tidak menjawab.
"Gue tahu gue salah," lanjut Samid. "Gue
tahu gue udah nyakitin lo. Tapi gue—"
"Mid." Redi memotongnya. "Ini bukan
tempatnya."
Samid terdiam.
"Besok," kata Redi pelan. "Besok kita
bicara."
Samid mengangguk. "Ya. Besok."
Redi berbalik dan melanjutkan langkahnya. Samid berdiri di
tempatnya, menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh.
Besok, pikir Samid. Besok
gue akan minta maaf dengan benar.
Tapi besok tidak pernah datang. Karena kehidupan memiliki
cara sendiri untuk mengubah segalanya.
Di SMP Negeri 1 Pegandon
Di SMP Negeri 1 Pegandon, suasana serupa juga berlangsung.
Hari itu Ariyani menerima pengumuman kelulusannya. Ia dinyatakan lulus dengan
nilai yang membanggakan.
Bu Ros memeluk putrinya dengan penuh haru.
"Alhamdulillah."
"Terima kasih, Bu." Ariyani memeluk ibunya erat.
"Ayahmu pasti bangga."
Ariyani tersenyum. Namun di balik kebahagiaan itu, ada satu
hal yang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.
"Mas Redi hari ini juga pasti lulus."
Entah mengapa, ia berharap dapat mengucapkan selamat.
Sekadar sebagai seorang adik kepada kakak angkatnya. Tetapi ia tidak tahu
bagaimana caranya. Sudah terlalu lama mereka tidak bertemu.
"Bu..." Ariyani memanggil pelan.
"Iya?"
"Ari... Ari pengen ketemu Mas Redi."
Bu Ros menatap putrinya. "Kenapa?"
"Ari pengen ngucapin selamat."
Bu Ros terdiam sejenak. Lalu ia mengangguk. "Nanti
sore, kalau kita lewat jalan desa, mungkin kita bertemu."
Ariyani tersenyum. "Makasih, Bu."
Sore Itu, di Tikungan
Jalan
Sore harinya, Desa Tegorejo dipenuhi suasana syukur.
Beberapa keluarga mengadakan kenduri kecil. Anak-anak bermain petasan kertas.
Remaja-remaja berkumpul di lapangan desa sambil membicarakan rencana masa
depan.
Redi berjalan sendirian melewati jalan desa. Ia membawa map
kelulusannya di dalam tas.
Sesampainya di tikungan Jalan Tegorejo–Pegandon, langkahnya
terhenti.
Dari kejauhan, ia melihat Ariyani berjalan bersama Bu Ros.
Mereka baru pulang dari rumah saudara yang mengadakan syukuran kecil. Jarak
mereka sekitar lima puluh meter. Cukup dekat untuk saling mengenali. Namun
cukup jauh untuk menyembunyikan kegugupan.
Ariyani adalah orang pertama yang tersenyum. "Mas
Redi!"
Redi menoleh. "Ari..."
Ia mendekat beberapa langkah.
"Selamat ya, Mas." Ariyani tersenyum lebar.
"Katanya hari ini lulus."
Redi tersenyum—untuk pertama kalinya hari itu. "Terima
kasih. Kamu juga selamat."
"Iya." Ariyani mengangguk. "Aku lulus."
Mereka tertawa kecil. Untuk sesaat, suasana terasa kembali
seperti dulu. Hangat. Sederhana. Seolah tidak pernah ada jarak di antara
mereka.
"Mas..." Ariyani memanggil pelan.
"Iya?"
"Ari..." Ia berhenti. "Ari kangen ngobrol
sama Mas."
Redi terdiam. Dadanya terasa sesak.
"Aku juga," katanya akhirnya. "Aku juga
kangen."
Mereka saling memandang. Tidak ada yang berbicara. Tapi ada
sesuatu di antara mereka—sesuatu yang tidak berani mereka beri nama.
Bu Ros Tersenyum
Bu Ros yang berdiri di samping Ariyani ikut tersenyum.
"Selamat ya, Mas Redi."
"Terima kasih, Bu."
"Mudah-mudahan sukses."
"Aamiin."
Bu Ros mengangguk. "Lanjutkan sekolah kalau ada rezeki.
Kalau belum, bekerja juga tidak apa-apa. Yang penting tetap menjadi anak
baik."
Ucapan itu terasa tulus. Tidak ada lagi ketegangan seperti
beberapa minggu sebelumnya.
Redi mencium tangan Bu Ros dengan hormat. "Terima
kasih atas nasihat Ibu selama ini."
Bu Ros mengusap bahunya pelan. "Hati-hati
melangkah."
"Iya, Bu."
Perpisahan yang Tak
Terucap
Tak lama kemudian, mereka berpamitan.
"Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam."
Redi kembali berjalan menuju Dusun Cegunan. Sementara
Ariyani dan Bu Ros melanjutkan perjalanan ke Dusun Kersan.
Beberapa kali Ariyani menoleh ke belakang. Ia melihat sosok
Redi semakin jauh.
"Mas..." bisiknya pelan.
Ia tidak tahu mengapa, tetapi ada firasat yang sulit
dijelaskan. Seolah-olah pertemuan singkat sore itu sedang menutup sebuah babak
kehidupan.
"Bu..." Ariyani memanggil ibunya.
"Iya?"
"Ari..." Ia berhenti. "Ari ngerasa... Mas
Redi kayak mau pergi."
Bu Ros menatap putrinya. "Kok bisa?"
"Ari nggak tahu." Ariyani menggeleng. "Tapi
Ari ngerasa gitu."
Bu Ros menggenggam tangan putrinya. "Kalau memang dia
pergi, itu mungkin sudah jalannya."
Ariyani tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu
yang terasa kosong.
Malam Itu, di Rumah Redi
Malam harinya, Redi duduk di teras rumah. Di hadapannya
tergeletak map kelulusan.
Ayahnya duduk di sampingnya sambil menikmati secangkir
kopi.
"Di."
"Iya, Pak."
"Sudah lulus."
"Iya."
"Apa rencanamu sekarang?"
Redi terdiam cukup lama. Ia memandang langit malam yang
dipenuhi bintang.
"Aku ingin merantau."
Ayahnya menoleh. "Ke mana?"
"Kalimantan."
Jawaban itu membuat suasana menjadi sunyi. Ayahnya tidak
langsung bertanya lebih jauh. Ia mengenal putranya. Jika Redi sudah mengambil
keputusan, pasti ada alasan yang telah dipikirkan matang-matang.
"Kenapa Kalimantan?" tanya ayahnya akhirnya.
Redi tersenyum tipis. "Aku ingin melihat dunia yang
lebih luas, Pak."
Ayahnya mengangguk pelan. "Ada alasan lain?"
Redi tidak menjawab.
Ayahnya menatapnya cukup lama. Lalu berkata, "Kamu
boleh pergi, Di. Tapi jangan lupa, rumah ini selalu terbuka untukmu."
Redi menunduk. Matanya terasa panas. "Iya, Pak."
Ayahnya tidak bertanya lebih lanjut. Tapi di dalam hatinya,
ia tahu—putranya pergi bukan hanya untuk mengejar masa depan. Ada sesuatu yang
lain. Sesuatu yang tidak ia ceritakan.
Di Rumah Bu Ros, Malam Itu
Di rumah Bu Ros, Ariyani membuka buku kenangan sekolahnya.
Di salah satu halaman kosong, tanpa sadar ia menulis sebuah kalimat.
"Selamat menempuh jalan baru, Mas Redi. Semoga
cita-citamu tercapai."
Kalimat itu tidak pernah diberikan kepada siapa pun. Ia
hanya menutup buku itu, lalu menyimpannya di dalam lemari.
Di luar rumah, malam semakin larut. Suara jangkrik memenuhi
kesunyian.
Ariyani memandang langit dari jendela kamarnya.
"Mas Redi..." bisiknya. "Ari
nggak tahu kenapa, tapi Ari ngerasa kayak kehilangan sesuatu."
Ia tidak tahu bahwa pada malam yang sama, di Dusun Cegunan,
Redi juga sedang memandang langit yang sama.
BAB XVI
Harapan yang Mulai Pudar
Kelulusan telah mengubah banyak hal.
Seragam putih abu-abu yang selama tiga
tahun menjadi bagian dari kehidupan Redi kini tergantung rapi di dalam lemari.
Buku-buku Fisika yang dahulu selalu memenuhi meja belajar mulai tersusun dalam
kardus, menunggu entah akan digunakan kembali atau disimpan sebagai kenangan.
Begitu pula di rumah Bu Ros.
Seragam putih biru milik Ariyani telah
dilipat dengan rapi.
Ia kini bersiap memasuki jenjang SMA.
Keduanya sama-sama melangkah ke babak
kehidupan yang baru.
Namun langkah mereka tidak lagi berada
di jalan yang sama.
Hari-hari di Desa Tegorejo kembali
berjalan seperti biasa.
Pagi hari diisi suara ayam berkokok
dan para petani yang berangkat ke sawah.
Siang hari dipenuhi anak-anak yang
bermain layang-layang di lapangan desa.
Sore hari, warga duduk di beranda
rumah sambil menikmati angin yang bertiup dari arah Pegandon.
Tetapi bagi Redi, setiap sudut desa
kini terasa berbeda.
Jalan menuju Dusun Kersan masih sama.
Pohon randu tua masih berdiri kokoh.
Mushala kecil masih mengumandangkan
azan setiap waktu.
Yang berubah hanyalah keberaniannya
untuk melangkah.
Ia tidak lagi singgah ke rumah Bu Ros.
Bahkan melewati jalan menuju Dusun
Kersan pun kini ia lakukan dengan hati-hati.
Seolah ada batas yang tak kasatmata
yang terus mengingatkannya pada nasihat seorang ibu.
Suatu sore, Redi berhenti di atas
jembatan kecil yang menghubungkan pematang sawah.
Air irigasi mengalir pelan di
bawahnya.
Ia memandang pantulan langit di
permukaan air.
Lalu mengeluarkan amplop cokelat yang
selama ini selalu dibawanya.
Surat itu.
Surat yang tidak pernah diberikan
kepada Ariyani.
Sudah berkali-kali ia berniat
membuangnya.
Namun setiap kali tangannya hendak
merobek kertas itu, ia selalu mengurungkan niat.
Bukan karena masih berharap.
Melainkan karena surat itu telah
berubah menjadi saksi kejujuran pertama dalam hidupnya.
Ia membuka amplop itu.
Membaca setiap kalimat yang pernah
ditulis dengan tangan gemetar beberapa bulan lalu.
Kini semua kalimat itu terasa begitu
jauh.
Begitu mustahil.
Begitu sunyi.
Perlahan ia melipat kembali surat itu.
"Biarlah tetap menjadi
rahasia."
bisiknya.
Di rumah Bu Ros, Ariyani juga mulai
merasakan perubahan.
Sejak Redi tidak lagi datang, halaman
rumah terasa lebih sepi.
Bangku kayu di teras yang dahulu
sering ditempati untuk berbincang kini lebih sering kosong.
Sesekali ketika menyapu halaman,
matanya tanpa sadar mengarah ke jalan desa.
Barangkali ada seseorang yang datang
mengucapkan salam seperti dulu.
Namun jalan itu selalu lengang.
Yang datang hanyalah para tetangga
atau anak-anak kecil yang bermain.
Suatu malam, ketika sedang belajar di
ruang tamu, Bu Ros memperhatikan putrinya beberapa kali melamun.
"Nduk."
"Iya, Bu?"
"Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Belajarnya kok dari tadi satu
halaman belum selesai."
Ariyani tersenyum malu.
"Mungkin capek."
Bu Ros tidak melanjutkan
pertanyaannya.
Sebagai seorang ibu, ia tahu.
Anaknya sedang merindukan sesuatu.
Tetapi ia memilih membiarkan waktu
yang menjawab semuanya.
Sementara itu, hubungan Redi dan Samid
belum juga membaik.
Mereka memang masih saling menyapa
ketika bertemu di pasar atau di jalan desa.
Namun percakapan mereka tidak pernah
lebih dari beberapa kalimat.
"Ke mana?"
"Ke sawah."
"Oh."
"Hati-hati."
"Iya."
Lalu masing-masing melanjutkan
langkah.
Keakraban yang dahulu begitu alami
kini berubah menjadi kesopanan yang canggung.
Di dalam hati Redi masih tersisa luka.
Sedangkan Samid masih dibayangi rasa
bersalah yang belum sempat diungkapkan.
Tidak ada yang berani memulai.
Dan semakin lama mereka diam, semakin
jauh pula jarak yang terbentuk.
Suatu sore, Redi membantu ayahnya
memperbaiki pagar bambu di belakang rumah.
Di sela-sela pekerjaan itu, ayahnya
bertanya,
"Di."
"Iya, Pak."
"Kamu akhir-akhir ini sering
melamun."
Redi tersenyum tipis.
"Mungkin lagi banyak
pikiran."
"Pikiran apa?"
"Tentang masa depan."
Ayahnya mengangguk pelan.
"Itu memang harus
dipikirkan."
"Laki-laki harus punya
tujuan."
"Kamu ingin merantau, kan?"
"Iya."
"Kalau memang itu keputusanmu,
Bapak akan mendukung."
Redi menghentikan pekerjaannya.
"Benarkah, Pak?"
Ayahnya tersenyum.
"Selama niatmu baik."
"Jangan pergi untuk lari dari
masalah."
"Tapi pergilah untuk mengejar
masa depan."
Kalimat itu menancap dalam di hati
Redi.
Ia menundukkan kepala.
Seandainya ayahnya tahu bahwa di balik
keinginan merantau itu ada hati yang sedang patah, mungkin percakapan itu akan
menjadi jauh lebih panjang.
Namun Redi memilih menyimpan semuanya
sendiri.
Di sisi lain, Ariyani mulai
mempersiapkan diri masuk SMA.
Suatu hari ia membuka lemari buku
untuk mencari map ijazah.
Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah
buku kecil tempat ia pernah menulis ucapan selamat untuk Redi.
Ia membukanya perlahan.
Kalimat itu masih ada.
"Selamat
menempuh jalan baru, Mas Redi. Semoga cita-citamu tercapai."
Ia membaca ulang beberapa kali.
Kemudian menutup buku itu sambil
tersenyum tipis.
"Semoga Mas benar-benar
berhasil."
gumamnya.
Ia tidak menyadari bahwa doa sederhana
itu kelak benar-benar menjadi kenyataan.
Hanya saja...
keberhasilan itu harus dibayar dengan
sebuah perpisahan yang sangat panjang.
Menjelang akhir bulan, Redi menerima
kabar dari pamannya yang telah lebih dahulu merantau ke Kalimantan Tengah.
Di dalam surat itu tertulis bahwa di Desa
Sriwidadi, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, masih terbuka kesempatan
untuk bekerja sambil melanjutkan kehidupan baru.
Redi membaca surat itu berulang kali.
Dadanya berdebar.
Mungkin inilah jawaban yang selama ini
ia tunggu.
Sebuah jalan untuk memulai hidup dari
awal.
Jauh dari kenangan yang terus
menghantuinya.
Namun di balik keputusan itu, ada satu
hal yang masih mengikat langkahnya.
Ia belum pernah benar-benar berpamitan
kepada Ariyani.
Bukan sebagai seorang lelaki yang
mencintainya.
Melainkan sebagai seorang kakak angkat
yang pernah menjadi bagian dari hari-harinya.
Ia ingin mengucapkan selamat tinggal.
Sekali saja.
Tanpa berharap apa pun.
Tanpa meminta balasan apa pun.
Hanya agar tidak ada penyesalan.
Namun ia belum mengetahui bahwa takdir
telah menyiapkan perpisahan yang begitu singkat, begitu sunyi, dan begitu
menyakitkan.
Perpisahan yang hanya akan berlangsung
dalam hitungan detik.
Tetapi akan dikenang selama tiga puluh
tahun.
BAB XVII
Malam
yang Penuh Air Mata
Malam di Desa Tegorejo selalu memiliki caranya sendiri
untuk menghadirkan ketenangan. Ketika matahari tenggelam di balik hamparan
sawah, suara azan Isya berkumandang dari mushala kecil di Dusun Kersan.
Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Jalan Tegorejo–Pegandon yang
siang hari ramai dilalui sepeda dan sepeda motor kini berubah lengang.
Hanya sesekali terdengar suara jangkrik, lolongan anjing
dari kejauhan, dan desir angin yang menggerakkan dedaunan pohon randu tua.
Namun malam itu, ketenangan alam tidak mampu menenangkan
hati seorang pemuda bernama Redi.
Di Kamar Redi, Malam Itu
Di kamarnya yang sederhana di Dusun Cegunan, sebuah koper
tua berwarna cokelat telah tergeletak di sudut ruangan. Belum banyak isinya.
Beberapa potong pakaian. Ijazah SMA yang baru diterima. Foto keluarga. Dan
beberapa buku yang selalu menemaninya selama belajar di SMA Negeri 1 Pegandon.
Di atas meja belajar, sebuah lampu minyak masih menyala. Di
sampingnya terdapat sebuah amplop cokelat yang mulai kusut karena terlalu
sering dibuka dan ditutup.
Surat itu.
Surat yang sejak berbulan-bulan lalu tidak pernah berhasil
menemukan alamat yang sesungguhnya.
Redi duduk di kursinya. Tangannya perlahan mengambil amplop
itu. Malam terasa begitu sunyi hingga suara detak jam dinding terdengar jelas.
Ia membuka lipatan surat yang mulai menguning. Tulisan
tangannya masih rapi. Setiap kalimat masih sama seperti pertama kali ditulis.
Belum pernah berubah. Belum pernah dibaca oleh orang yang dituju.
Dengan suara yang mulai bergetar, ia membaca isi surat itu
seorang diri.
"Assalamu'alaikum, Ari..."
Suaranya berhenti. Ia menutup mata sejenak.
"Mungkin surat ini tidak akan pernah kuberikan
kepadamu..."
Napasnya mulai tidak teratur.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena tanpa
sadar kamu pernah membuat hari-hariku menjadi lebih indah..."
Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Tapi ia terus
membaca.
"Aku tidak pernah marah ketika kamu menganggapku hanya
sebagai kakak..."
Ia menggigit bibirnya. Kata-kata itu terasa seperti pisau.
"Yang sulit kuterima hanyalah kenyataan bahwa aku
berharap terlalu jauh..."
Sekarang ia tidak bisa lagi menahan. Air mata jatuh—pertama
setetes, lalu mengalir tanpa henti.
"Maaf kalau kehadiranku pernah membuatmu tidak
nyaman..."
Tangannya gemetar memegang kertas itu.
"Kalau suatu hari nanti aku benar-benar pergi jauh,
jangan pernah merasa bersalah..."
Ia berhenti. Tidak bisa melanjutkan.
"Tetaplah menjadi Ariyani yang sederhana, baik hati,
dan selalu menghormati ibumu..."
Redi menutup matanya rapat-rapat. Air mata mengalir deras.
"Semoga kamu menemukan seseorang yang benar-benar
mampu membahagiakanmu..."
Kalimat terakhir:
"Salam... Redi."
Redi Menangis
Kalimat terakhir selesai dibaca. Ruangan kembali sunyi.
Hanya terdengar suara isaknya yang tertahan.
Redi memejamkan mata. Dadanya terasa sesak—seperti ada
sesuatu yang ingin keluar tetapi tidak bisa.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Ariyani, ia
mengizinkan dirinya menangis.
Bukan tangis yang keras. Bukan tangis yang histeris. Tapi
tangis yang sunyi—air mata yang mengalir perlahan tanpa suara, jatuh satu per
satu ke atas kertas surat yang sudah menguning.
Ia memeluk surat itu—seolah surat itu bisa menggantikan
orang yang tidak pernah membacanya.
"Ari..." bisiknya. Suaranya pecah. "Aku...
aku sayang kamu."
Kata-kata itu akhirnya terucap. Untuk pertama kalinya.
Tapi tidak ada yang mendengar.
Hanya dinding kamar. Hanya lampu neon yang redup. Hanya
surat yang basah oleh air matanya.
"Aku sayang kamu," ulangnya, lebih pelan, lebih
putus asa. "Tapi aku nggak pernah bisa ngomong."
Ia menekan surat itu ke dadanya.
"Dan sekarang aku pergi."
Di Ruang Tengah
Di ruang tengah, ibunya melihat cahaya lampu kamar masih
menyala. Ia mendengar sesuatu—isak tangis yang tertahan. Perlahan ia mengetuk
pintu.
"Di..."
Redi buru-buru mengusap matanya. Suaranya masih serak.
"Iya, Bu."
"Boleh Ibu masuk?"
"Iya."
Ibunya membuka pintu pelan. Ia melihat surat yang masih
berada di atas meja—basah di beberapa bagian. Ia melihat mata merah putranya.
Ia melihat dada Redi yang masih naik turun.
Namun ia tidak bertanya. Sebagai seorang ibu, ia memahami
bahwa ada kesedihan yang tidak selalu harus dijelaskan.
"Kamu belum tidur?" tanyanya lembut.
"Belum."
"Lagi mikir?"
Redi tersenyum tipis—tapi senyum yang pahit.
"Iya."
Ibunya duduk di sampingnya. "Katanya mau
merantau."
"Iya, Bu."
"Sudah mantap?"
Redi mengangguk. "Insya Allah."
Ibunya menggenggam tangan putranya. "Kalau memang itu
jalan hidupmu, pergilah. Tapi jangan pernah melupakan rumah."
Kalimat sederhana itu membuat mata Redi kembali
berkaca-kaca.
"Iya, Bu."
"Dan satu lagi."
"Apa?"
Ibunya menatapnya—lama, dalam. "Jangan membawa luka
terlalu lama."
Redi terdiam. Ia merasa ibunya seakan mengetahui isi
hatinya. Namun perempuan itu tidak pernah menyebut satu nama pun. Tidak
menyebut Ariyani. Tidak bertanya tentang surat di atas meja.
Ia hanya memeluk putranya dengan penuh kasih.
Pelukan yang membuat pertahanan hati Redi runtuh.
Air matanya kembali jatuh—kali ini di bahu ibunya.
"Bu..." isaknya.
"Ibu tahu," bisik ibunya. "Ibu tahu."
Ia tidak mengatakan apa yang ia ketahui. Tapi Redi tidak
perlu bertanya. Pelukan itu sudah cukup.
Di Rumah Bu Ros, Malam
Itu
Di waktu yang hampir bersamaan, di rumah Bu Ros, Ariyani
juga belum dapat memejamkan mata. Entah mengapa, malam itu ia merasa
gelisah—seperti ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang tidak ia mengerti.
Ia membuka jendela kamarnya. Langit tampak cerah.
Bintang-bintang bertaburan. Angin malam membawa aroma bunga melati dari halaman
rumah.
Namun hatinya justru terasa semakin sepi.
Ia mengambil buku harian kecil yang selama ini disimpan di
dalam lemari. Sudah lama ia tidak menulis. Malam itu, untuk pertama kalinya
setelah sekian bulan, ia membuka halaman baru.
Dengan pena berwarna biru, ia menuliskan beberapa kalimat.
"Malam ini aku tiba-tiba teringat Mas Redi."
Ia berhenti. Menatap kata-kata itu.
"Aku tidak tahu mengapa."
"Rumah terasa berbeda sejak Mas tidak pernah datang
lagi."
Ia menggigit bibirnya. Ada sesuatu di dadanya yang tidak ia
mengerti.
"Semoga Mas baik-baik saja."
"Semoga cita-citanya tercapai."
"Dan semoga suatu hari nanti kami masih bisa bertemu
sebagai saudara."
Ia menatap tulisan itu cukup lama. Lalu menutup buku
hariannya.
Tapi di dalam hatinya, ada pertanyaan yang tidak ia
tuliskan:
"Kenapa rasanya seperti aku kehilangan sesuatu yang
bahkan aku tidak pernah miliki?"
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pada malam yang sama,
beberapa kilometer dari rumahnya, Redi sedang membaca surat perpisahan yang
ditulis khusus untuk dirinya.
Takdir mempermainkan keduanya dengan cara yang begitu
halus. Mereka saling mendoakan. Namun tidak saling mengetahui.
Menjelang Tengah Malam
Menjelang tengah malam, hujan turun perlahan. Tetes demi
tetes membasahi genting rumah. Suara hujan mengisi kesunyian Desa Tegorejo.
Redi masih duduk di depan meja belajarnya. Surat itu masih
ada di tangannya. Kertasnya basah, kusut, tetapi masih utuh.
Ia mengambil korek api. Sesaat ia memandang surat itu.
Terlintas keinginan untuk membakarnya. Mengakhiri semuanya malam ini juga.
Tangannya menggenggam korek api itu, erat, gemetar.
Bakar, pikirnya. Bakar
semuanya. Lupakan.
Tapi beberapa detik kemudian ia memadamkan korek api itu.
"Tidak..."
Suaranya lirih, hampir berbisik.
"Biarlah surat ini tetap hidup."
Ia menatap surat itu—basah oleh air matanya, tetapi masih
terbaca.
"Biarlah surat ini menjadi saksi bahwa aku pernah
mencintai seseorang dengan tulus."
Ia melipat surat itu kembali—dengan hati-hati, seperti
melipat sesuatu yang berharga. Memasukkannya ke dalam amplop. Lalu
menyelipkannya di antara halaman sebuah novel tua.
Novel itu kemudian disimpan di dalam koper, di antara
pakaian dan buku-buku lainnya.
Tanpa disadari, surat itu akan ikut menempuh perjalanan
ribuan kilometer menuju Kalimantan. Menjadi kenangan yang terus dibawanya
selama puluhan tahun.
Hujan Semakin Deras
Di luar rumah, hujan semakin deras. Jalan Tegorejo–Pegandon
mulai basah. Lampu-lampu rumah satu per satu dipadamkan. Seluruh desa tertidur.
Namun tidak dengan hati Redi. Dan tidak pula dengan hati
Ariyani.
Redi berbaring di tempat tidurnya—masih dengan mata
terbuka. Di sampingnya, koper tua telah siap. Surat itu tersimpan di dalamnya.
Ia memandang langit-langit kamar yang gelap.
Besok, pikirnya. Besok
aku pergi.
Ia menutup matanya. Tapi air mata masih mengalir.
Selamat tinggal, Ari.
Di Rumah Bu Ros
Ariyani juga masih terjaga. Ia berbaring di tempat
tidurnya, memandang jendela yang terbuka. Hujan turun di luar—tapi ia tidak
mendengarnya.
Yang ia dengar hanyalah suara hatinya sendiri.
"Mas Redi..."
Ia tidak tahu mengapa ia memikirkan Redi malam itu. Tidak
tahu mengapa ada rasa gelisah yang tidak bisa ia jelaskan.
Tapi ada firasat—firasat yang membuat dadanya terasa sesak.
Besok, pikirnya. Besok
aku akan mencari tahu.
Ia tidak tahu bahwa besok, ketika ia mencari, Redi sudah
tidak ada.
Dua Langit yang Sama
Malam itu, dua anak muda yang dipisahkan oleh jarak yang
sebenarnya sangat dekat, sama-sama memandang langit yang sama. Sama-sama
menyimpan doa. Sama-sama berharap yang terbaik bagi satu sama lain.
Tanpa pernah mengetahui bahwa waktu mereka di desa itu
tinggal menghitung hari.
Karena sebentar lagi, sebuah tikungan jalan akan menjadi
saksi pertemuan terakhir. Pertemuan yang tidak akan pernah mereka sadari
sebagai sebuah perpisahan.
Perpisahan yang akan membekas hingga tiga puluh tahun
kemudian.
BAB XVIII
Tikungan
Jalan Tegorejo
Pagi itu, matahari baru saja naik di ufuk timur ketika Desa
Tegorejo mulai menggeliat. Kabut tipis masih menyelimuti hamparan sawah yang
membentang di antara Dusun Cegunan dan Dusun Kersan. Embun masih menggantung di
ujung daun padi, memantulkan cahaya keemasan yang menenangkan mata. Dari
kejauhan terdengar suara mesin penggiling padi bercampur kokok ayam dan sapaan
para petani yang hendak menuju ladang.
Jalan Tegorejo–Pegandon, jalan yang selama bertahun-tahun
menjadi saksi langkah Redi dan Ariyani, tampak lengang.
Tak seorang pun mengetahui bahwa hari itu akan menjadi
salah satu hari yang paling menentukan dalam hidup mereka.
Pagi Itu, di Rumah Redi
Sejak memutuskan untuk merantau ke Kalimantan Tengah, Redi
mulai sibuk mengurus berbagai keperluan. Ia membantu ayahnya di sawah pada pagi
hari. Siangnya mengurus surat-surat yang diperlukan. Malamnya mempersiapkan
barang-barang yang akan dibawa.
Semua berjalan seperti biasa.
Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Ia
belum pernah benar-benar berpamitan kepada Ariyani. Bukan untuk menyatakan
cinta. Bukan pula untuk meminta balasan. Ia hanya ingin mengucapkan terima
kasih. Terima kasih karena pernah menjadi bagian terindah dari masa mudanya.
Terima kasih karena tanpa disadari telah mengajarkannya arti mencintai dengan
tulus.
Pagi itu, sebelum matahari benar-benar meninggi, Redi
berdiri di depan cermin kamarnya. Ia memandang wajahnya sendiri, wajah yang
akan segera meninggalkan desa ini.
"Kamu yakin?" tanyanya pada bayangannya sendiri.
Bayangan itu tidak menjawab.
Tapi Redi sudah tahu jawabannya.
Ia menghela napas. Lalu keluar dari kamar.
Di Tikungan Jalan
Redi sengaja memilih jalan memutar melewati tikungan menuju
Dusun Kersan. Ia tidak berniat datang ke rumah Bu Ros. Ia menghormati nasihat
yang pernah diberikan. Namun ia berharap, barangkali takdir masih mengizinkan
mereka bertemu sekali lagi. Hanya sekali. Tanpa direncanakan. Tanpa melanggar
batas.
Sepeda ontelnya melaju perlahan. Angin pagi berembus sejuk.
Di tikungan dekat pohon randu tua, ia menghentikan kayuhan.
Ia tidak tahu mengapa ia berhenti di sana. Mungkin karena pohon itu sudah
menjadi saksi terlalu banyak kenangan.
Dari arah berlawanan tampak seorang gadis berjalan sambil
membawa tas kain berisi beberapa buku. Seragam putih biru telah berganti dengan
pakaian sederhana berwarna biru muda. Namun langkah itu masih sangat
dikenalnya.
Ariyani.
Redi merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tidak
menyangka akan benar-benar bertemu. Tapi di dalam hatinya, ada rasa syukur yang
tidak bisa ia jelaskan.
Ariyani juga melihat sosok yang berdiri di tepi jalan.
"Mas Redi?"
Sapanya sambil tersenyum.
Redi membalas senyum itu. "Ari..."
Beberapa detik mereka hanya saling memandang. Tidak ada
kecanggungan. Tidak ada kemarahan. Yang ada hanyalah keheningan yang dipenuhi
begitu banyak kata yang tak pernah terucapkan.
Percakapan di Pinggir
Jalan
"Kamu mau ke mana?" tanya Redi lebih dulu.
"Ke rumah Bulik. Bantu-bantu sedikit."
"Oh..."
"Mas sendiri?"
"Baru dari balai desa. Mengurus beberapa surat."
Ariyani mengangguk. "Katanya Mas mau merantau?"
Redi sedikit terkejut. "Kamu sudah dengar?"
"Iya. Dari Bu Lilis."
Redi tersenyum tipis. "Iya. Insya Allah."
"Kapan berangkat?"
"Mungkin minggu depan."
Jawaban itu membuat senyum Ariyani perlahan memudar.
"Minggu depan?"
"Iya."
“Kemana ?”
"Kalimantan."
Ariyani menunduk. "Jauh sekali."
Ariyani menatap jalan di depannya, tapi matanya kosong. Ia
tidak benar-benar melihat jalan itu. Ia sedang mencoba mencerna kenyataan bahwa
seseorang yang selama ini selalu ada di sekitar kehidupannya akan segera pergi.
Dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu yang lama.
Ariyani Mulai Merasakan
Sesuatu
"Mas..." suara Ariyani pelan.
"Iya?"
"Di sana nanti..." Ia berhenti. Mencari kata.
"Jaga diri baik-baik."
Redi mengangguk. "Kamu juga. Rajin belajar. Biar nanti
jadi orang sukses."
Ariyani tersenyum kecil. Tapi senyumnya tidak sampai ke
mata. "Aamiin."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Angin bertiup
perlahan. Daun-daun randu berguguran ke jalan.
Ariyani memainkan ujung bajunya—sebuah gestur yang
menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.
"Mas..." panggilnya lagi.
"Iya?"
Ariyani mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata
Redi. "Ari..." Ia berhenti. "Ari mau tanya."
"Tanya apa?"
"Ari..." Ariyani menggigit bibirnya. "Kenapa
Mas tiba-tiba menjauh?"
Pertanyaan itu membuat Redi terdiam.
"Ari nggak ngerti." Suara Ariyani mulai bergetar.
"Dulu Mas sering ke rumah. Terus tiba-tiba Mas nggak pernah datang lagi.
Ari..." Ia menunduk. "Ari nggak tahu apa yang salah."
Redi merasakan dadanya terasa sesak. Ia ingin menjawab.
Ingin menjelaskan. Tapi kata-kata itu terlalu berat.
"Ari..." suaranya serak. "Kamu nggak
salah."
"Terus kenapa?"
Redi menghela napas panjang. "Aku... aku menghormati
keputusan Ibu."
Ariyani menatapnya. "Ibu?"
"Iya." Redi tersenyum tipis. "Ibu bilang,
orang-orang kampung mulai banyak bicara. Dan aku... aku nggak mau bikin kamu
susah."
Ariyani terdiam. Ia mengingat percakapan dengan ibunya.
Percakapan yang membuatnya menangis di dapur.
"Mas..." suaranya hampir berbisik. "Ari
minta maaf."
"Untuk apa?"
"Karena..." Ariyani menunduk. "Karena Ari
nggak tahu. Karena Ari nggak ngerti. Karena Ari..." Ia menggigit bibirnya.
"...Ari terlalu polos."
Redi menggeleng. "Kamu nggak perlu minta maaf."
Tapi Ariyani masih menunduk. "Mas..."
"Iya?"
"Ari..." Ia berhenti. "Ari ngerasa
bersalah."
"Kenapa?"
"Karena..." Ariyani mengangkat kepalanya. Matanya
berkaca-kaca. "Karena Ari ngerasa Mas pergi karena Ari."
Redi tidak bisa menjawab. Karena itu sebagian benar. Tapi
ia tidak mau Ariyani menanggung beban itu.
"Bukan," katanya akhirnya. "Bukan karena
kamu."
"Terus kenapa?"
Redi tersenyum. Senyum yang pahit. "Karena aku harus
pergi."
Redi Mengucapkan Terima
Kasih
Redi memandang wajah Ariyani beberapa saat—lama, seperti
ingin mengabadikan setiap detail. Dalam hati ia berkata, "Mungkin
ini terakhir kalinya aku melihatmu sedekat ini."
Namun kalimat itu hanya bergema di dalam dada. Ia memilih
diam.
Akhirnya Redi berkata pelan, "Ari..."
"Iya?"
"Terima kasih."
Ariyani tampak bingung. "Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Redi, di
dalamnya tersimpan seluruh isi hatinya. Terima kasih atas senyuman. Terima
kasih atas persahabatan. Terima kasih atas kenangan. Terima kasih karena telah
mengajarkannya arti menerima kenyataan.
Ariyani tidak memahami sepenuhnya makna ucapan itu. Tapi
ada sesuatu di mata Redi yang membuatnya tidak bisa bertanya lebih lanjut.
Ia hanya tersenyum. "Sama-sama, Mas. Lancar ya
merantaunya. Semoga sukses."
"Aamiin."
Mereka saling memandang—sekali lagi, lebih lama dari yang
seharusnya.
Perpisahan
Dari kejauhan terdengar suara Bu Ros memanggil.
"Ari...!" "Iya, Bu...!" "Ayo cepat."
Ariyani menoleh ke arah rumah bibinya yang tak jauh dari
situ. Ia kembali memandang Redi.
"Aku duluan ya, Mas."
"Iya."
"Hati-hati."
"Mas juga."
Ariyani melangkah perlahan. Setiap langkah terasa berat.
Beberapa meter kemudian, tanpa sadar ia menoleh ke
belakang.
Redi masih berdiri di tempatnya. Masih memandangnya.
Mereka kembali saling tersenyum.
Lalu Ariyani melanjutkan langkahnya. Hingga akhirnya
menghilang di balik tikungan jalan.
Redi Sendiri
Redi tetap berdiri. Matanya masih memandang jalan yang kini
telah kosong. Angin pagi berembus—tapi kali ini terasa dingin.
Ia menarik napas panjang. Dadanya terasa ringan sekaligus
sesak. Ringan karena akhirnya sempat mengucapkan selamat tinggal. Sesak karena
ia sadar, kemungkinan besar itulah pertemuan terakhir mereka.
"Ia menangis," bisiknya. "Ari
menangis."
Ia melihat air mata yang jatuh di pipi Ariyani saat gadis
itu menoleh ke belakang. Air mata yang Ariyani coba sembunyikan dengan senyum.
Redi mengusap matanya sendiri, yang juga mulai basah.
"Selamat tinggal, Ari."
Ia mengayuh kembali sepedanya menuju Dusun Cegunan. Tidak
sekali pun ia menoleh. Bukan karena tidak ingin. Melainkan karena ia takut jika
menoleh, ia tidak akan mampu melanjutkan langkahnya.
Di Rumah Bibi
Ketika sampai di rumah bibinya, Ariyani masih tampak
melamun. Buliknya tersenyum melihat keponakannya.
"Ketemu siapa tadi?"
"Mas Redi."
"Oh... katanya mau merantau."
"Iya."
"Kasihan juga. Anaknya baik."
Ariyani hanya mengangguk pelan. Ia membantu menyiapkan
makanan. Namun pikirannya masih tertinggal di tikungan jalan itu.
"Terima kasih untuk semuanya."
Ia mengingat kalimat itu. Mengingat mata Redi. Mengingat
senyum yang pahit.
Ada firasat yang sulit dijelaskan. Seolah pertemuan singkat
tadi bukanlah pertemuan biasa. Melainkan sebuah perpisahan yang diam-diam sedang
ditulis oleh takdir.
"Mas..." bisiknya
pelan, "Ari nggak tahu kenapa, tapi Ari ngerasa kayak kehilangan
sesuatu."
Sore Itu
Sore harinya, hujan gerimis turun membasahi Jalan
Tegorejo–Pegandon. Jejak roda sepeda Redi perlahan menghilang diterpa air hujan.
Tak ada yang tersisa. Kecuali kenangan.
Kenangan tentang dua anak muda yang dipertemukan oleh
sebuah jalan desa. Dipisahkan oleh waktu. Dan dibiarkan tumbuh dewasa dengan
membawa cerita masing-masing.
Tikungan jalan itu akan tetap ada. Pohon randu tua akan
terus berdiri. Namun mulai hari itu, jalan tersebut tidak lagi menjadi tempat
menunggu. Karena orang yang selama ini diam-diam menunggu... telah memutuskan
untuk pergi.
Dan takdir telah menyiapkan babak berikutnya. Babak tentang
keberangkatan. Babak yang akan mengubah seluruh arah kehidupan Redi untuk
selamanya.
BAB XIX
Perpisahan
Fajar belum benar-benar merekah ketika
rumah sederhana keluarga Redi di Jl. Randu Gembyang, Dusun Cegunan mulai
dipenuhi kesibukan.
Lampu ruang tengah masih menyala redup.
Di atas meja kayu, sebuah tas ransel
tua, koper berwarna cokelat, dan beberapa bungkusan bekal telah tersusun rapi.
Hari itu akhirnya tiba.
Hari yang selama beberapa minggu
terakhir hanya menjadi pembicaraan keluarga.
Hari ketika Redi akan meninggalkan
tanah kelahirannya.
Meninggalkan Desa Tegorejo.
Meninggalkan Kecamatan Pegandon.
Meninggalkan Kabupaten Kendal.
Dan membawa seluruh mimpinya menuju
tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Desa Sriwidadi,
Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
Ibunya sejak subuh telah sibuk di
dapur.
Ia menyiapkan nasi, ayam goreng, tempe
bacem, sambal, dan beberapa potong telur rebus sebagai bekal perjalanan.
Sesekali perempuan itu mengusap ujung
matanya dengan ujung selendang.
Ia berusaha agar putranya tidak
melihat air mata yang mulai jatuh.
Sebagai seorang ibu, ia bangga.
Namun sebagai seorang ibu pula, ia
sulit menerima kenyataan bahwa anak laki-lakinya akan pergi begitu jauh.
Ayah Redi lebih banyak diam.
Beliau hanya duduk di kursi bambu sambil
mengisap rokok kretek yang sejak tadi hampir habis terbakar.
Sesekali matanya memandang ke halaman
rumah.
Tidak banyak kata yang keluar.
Namun diamnya seorang ayah sering kali
jauh lebih berat daripada tangis seorang ibu.
Redi keluar dari kamarnya.
Ia mengenakan kemeja lengan panjang
berwarna krem, celana hitam, dan sepatu yang mulai kusam.
Di tangannya terdapat sebuah koper
tua.
Sementara di dalam tas ranselnya
tersimpan beberapa buku kesayangan, ijazah SMA, pakaian, serta sebuah novel tua
yang di dalamnya tersembunyi surat untuk Ariyani.
Surat yang tidak pernah diberikan.
Dan mungkin tidak akan pernah
diberikan.
Ia menatap seluruh isi rumah.
Dinding papan.
Jendela kayu.
Jam dinding tua.
Foto keluarga.
Semuanya telah menjadi bagian dari
masa kecilnya.
Hari itu ia harus meninggalkan
semuanya.
"Pak..."
Redi mendekati ayahnya.
Mohon doa restu."
Ayahnya berdiri.
Lalu memeluk putranya erat.
Pelukan yang jarang sekali dilakukan.
"Jadilah laki-laki yang
bertanggung jawab."
"Iya, Pak."
"Jangan takut bekerja
keras."
"Iya."
"Dan..."
Ayahnya berhenti sejenak.
"...jangan pernah melupakan
asalmu."
Redi mengangguk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia kemudian mencium tangan ayahnya.
Dilanjutkan mencium tangan ibunya.
Ibunya tak lagi mampu menahan air
mata.
"Kalau capek..."
"Kalau sakit..."
"Pulanglah."
kata ibunya sambil terisak.
Redi memeluk perempuan yang telah
membesarkannya itu.
"Insyaallah, Bu."
"Doakan Redi berhasil."
"Aamiin."
Tak lama kemudian terdengar suara
klakson sepeda motor dari depan rumah.
"Tin... tin..."
Itu adalah Wahyu, teman masa
kecil Redi.
Pemuda yang sejak kecil selalu menjadi
sahabat sepermainannya.
Hari itu, Wahyu mendapat tugas
mengantar Redi menuju terminal di Kendal, sebelum melanjutkan perjalanan
panjang menuju Kalimantan.
"Di..."
"Sudah siap?"
"Iya."
"Ayo."
Redi mengangguk.
Ia mengangkat koper ke belakang sepeda
motor.
Sebelum naik, ia menoleh sekali lagi
ke arah rumahnya.
Rumah yang mungkin tidak akan
dilihatnya lagi dalam waktu yang sangat lama.
Di waktu yang hampir bersamaan, di Dusun
Kersan, Ariyani sedang membantu Bu Ros menyapu halaman.
Pagi itu terasa seperti pagi-pagi
biasanya.
Tidak ada firasat apa pun.
Tidak ada kabar.
Tidak ada pesan.
Ia hanya menjalani rutinitas
sebagaimana mestinya.
Hingga tiba-tiba Lilis datang terburu-buru.
"Ari..."
"Iya?"
"Kamu sudah dengar?"
"Dengar apa?"
"Mas Redi hari ini berangkat ke
Kalimantan."
Sapu di tangan Ariyani terlepas.
"Apa?"
"Serius?"
"Iya."
"Katanya berangkat pagi."
Ariyani memandang ke arah Jalan
Tegorejo–Pegandon.
Dadanya tiba-tiba berdegup sangat
kencang.
"Kenapa tidak bilang?"
gumamnya lirih.
Lilis hanya menggeleng.
"Aku juga baru tahu."
Tanpa sadar, langkah Ariyani
membawanya menuju jalan depan rumah.
Ia berdiri di pinggir jalan.
Matanya memandang ke arah Dusun
Cegunan.
Seolah berharap seseorang akan muncul
dari kejauhan.
Namun jalan itu masih kosong.
Angin pagi bertiup perlahan.
Daun-daun pohon randu berguguran.
Suasana begitu hening.
Beberapa menit kemudian...
Dari kejauhan terdengar suara sepeda
motor.
"Brmmm..."
Sebuah sepeda motor melaju pelan dari
arah Dusun Cegunan menuju jalan utama.
Di atasnya duduk dua orang pemuda.
Yang mengemudi adalah Wahyu.
Yang duduk di belakang...
Redi.
Ariyani mengenali sosok itu seketika.
"Mas Redi..."
ucapnya hampir tanpa suara.
Sepeda motor semakin mendekat.
Redi yang sejak tadi memandang lurus
ke depan, tiba-tiba melihat sosok Ariyani berdiri di tepi jalan.
Waktu seolah berhenti.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak lebih dari beberapa detik.
Namun detik-detik itu terasa sepanjang
kehidupan.
Redi ingin meminta Wahyu menghentikan
motor.
Ingin turun.
Ingin berpamitan dengan baik.
Namun ia mengurungkan niat.
Ia takut perpisahan akan menjadi
semakin berat.
Ia hanya mengangkat tangan perlahan.
Isyarat sederhana.
Ariyani membalas lambaian itu.
Senyumnya berusaha tetap terlihat.
Namun kedua matanya mulai dipenuhi air
mata.
Sepeda motor terus melaju.
Semakin jauh.
Semakin kecil.
Hingga akhirnya menghilang di balik
tikungan Jalan Tegorejo–Pegandon.
Ariyani masih berdiri.
Tidak bergerak.
Air matanya jatuh perlahan.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar
menyadari bahwa seseorang yang selama ini dianggap sebagai kakak angkat telah
benar-benar pergi.
Pergi tanpa kepastian kapan akan
kembali.
Pergi tanpa sempat mengucapkan selamat
tinggal.
Pergi membawa sebagian kenangan masa
remajanya.
Bu Ros yang sejak tadi memperhatikan
dari halaman rumah mendekati putrinya.
"Nduk..."
Ariyani memeluk ibunya.
Tangis yang selama ini dipendam
akhirnya pecah.
"Aku belum sempat bilang
hati-hati, Bu..."
ucapnya terbata-bata.
Bu Ros memeluk putrinya erat.
"Kalau memang berjodoh sebagai
saudara..."
"Suatu hari nanti kalian pasti
bertemu lagi."
Kalimat itu diucapkan untuk
menenangkan.
Tanpa pernah membayangkan bahwa
pertemuan itu benar-benar akan terjadi.
Namun bukan setahun.
Bukan lima tahun.
Melainkan...
tiga puluh tahun kemudian.
Di atas sepeda motor, Redi masih terus
memandang ke depan.
Angin pagi menerpa wajahnya.
Ia tidak lagi menoleh ke belakang.
Bukan karena ia telah melupakan
Ariyani.
Melainkan karena ia takut, sekali saja
ia menoleh, ia akan meminta Wahyu memutar balik motornya.
Di dalam tas ranselnya, novel tua yang
menyimpan surat itu bergoyang mengikuti laju kendaraan.
Surat itu tetap diam.
Seperti pemiliknya.
Menyimpan cinta yang tidak pernah
meminta balasan.
Pagi itu, Jalan Tegorejo–Pegandon
menjadi saksi sebuah perpisahan.
Tanpa pelukan.
Tanpa janji.
Tanpa kata "aku
mencintaimu."
Hanya sebuah lambaian tangan.
Tatapan mata.
Dan air mata yang jatuh dalam diam.
Tak seorang pun menyadari bahwa itulah
pertemuan terakhir Redi dan Ariyani pada masa muda mereka.
Takdir telah membawa keduanya ke jalan
kehidupan yang berbeda.
Satu menuju Kalimantan.
Satu tetap tinggal di tanah Jawa.
Namun jauh di dalam hati mereka, Dusun
Kersan, Dusun Cegunan, dan Jalan Tegorejo–Pegandon akan selalu menjadi alamat
yang tidak pernah bisa dihapus oleh waktu.
BAB XX
Motor yang Membawa Kepergian
Mentari pagi semakin meninggi ketika
sepeda motor yang dikendarai Wahyu melaju meninggalkan Desa Tegorejo.
Suara mesinnya perlahan menghilang di
sepanjang Jalan Tegorejo–Pegandon.
Di belakangnya, rumah-rumah penduduk,
pepohonan rindang, mushala kecil, dan jalan-jalan yang selama ini menjadi
bagian dari kehidupan Redi semakin lama semakin jauh.
Tak ada lagi yang bisa ia lakukan
selain memandang lurus ke depan.
Sementara di belakangnya...
Sebuah masa muda perlahan berubah
menjadi kenangan.
Wahyu sesekali menoleh melalui kaca
spion.
"Di..."
"Iya?"
"Masih kepikiran?"
Redi hanya tersenyum tipis.
"Sedikit."
"Kalau memang berat..."
"...belum terlambat buat kembali."
Redi menggeleng pelan.
"Bukan jalannya lagi."
"Kalau aku pulang
sekarang..."
"...aku hanya akan mengulang luka
yang sama."
Wahyu memahami maksud sahabatnya.
Sejak awal ia mengetahui bagaimana
perasaan Redi kepada Ariyani.
Ia juga mengetahui bagaimana Bu Ros
dengan halus menjaga putrinya agar tidak terjerumus dalam kisah cinta remaja
yang terlalu dini.
Tidak ada yang benar-benar salah.
Semuanya hanya berada pada waktu yang
belum tepat.
Motor terus melaju melewati
jalan-jalan menuju pusat Kecamatan Pegandon.
Sesekali mereka berpapasan dengan truk
pengangkut hasil bumi, sepeda ontel para petani, dan angkutan pedesaan yang
membawa penumpang menuju pasar.
Redi memperhatikan setiap sudut
perjalanan.
Warung tempat ia sering membeli es
lilin.
Lapangan tempat ia bermain sepak bola
ketika kecil.
Bangunan sekolah dasar yang pernah
menjadi tempatnya belajar membaca dan menulis.
Semuanya seperti sedang berpamitan.
Dalam hati ia berkata,
"Terima kasih
telah menjadi bagian dari hidupku."
Tak lama kemudian mereka melewati
gerbang SMA Negeri 1 Pegandon.
Redi meminta Wahyu memperlambat laju
motor.
"Yu..."
"Sebentar."
Motor berhenti di tepi jalan.
Redi turun perlahan.
Ia berdiri memandang halaman sekolah
yang masih sepi karena kegiatan belajar telah usai beberapa minggu sebelumnya.
Di balik pagar besi itu tersimpan
begitu banyak kenangan.
Hari pertama mengenakan seragam putih
abu-abu.
Pelajaran Fisika yang menjadi mata
pelajaran favoritnya.
Tawa bersama teman-teman.
Persahabatan dengan Samid.
Dan tentu saja...
alasan yang membuatnya sering melewati
Jalan Tegorejo menuju Dusun Kersan.
Ia tersenyum kecil.
"Terima kasih..."
gumamnya pelan.
Bukan kepada gedung sekolah.
Melainkan kepada masa muda yang pernah
membentuk dirinya.
Perjalanan kembali dilanjutkan.
Beberapa kilometer kemudian mereka
memasuki pusat Kota Kendal.
Suasana jauh lebih ramai.
Bus antarkota hilir mudik.
Pedagang kaki lima mulai membuka
dagangan.
Suara klakson kendaraan saling
bersahutan.
Redi yang selama ini terbiasa dengan
suasana desa hanya memandang semua itu dengan tenang.
Sebuah perjalanan baru benar-benar
dimulai.
Sesampainya di terminal, Wahyu
membantu menurunkan koper.
Bus menuju Semarang sudah bersiap
berangkat.
Dari Semarang, Redi akan melanjutkan
perjalanan panjang menuju Kalimantan melalui jalur laut.
Perjalanan yang akan memakan waktu
berhari-hari.
Wahyu menepuk bahu sahabatnya.
"Di..."
"Kalau sudah sukses..."
"...jangan lupa pulang."
Redi tersenyum.
"Insyaallah."
"Dan satu lagi."
"Apa?"
"Kalau nanti ketemu orang baik di
sana..."
"...bukalah lembaran baru."
Redi memahami maksud ucapan itu.
Ia hanya mengangguk.
Sebelum naik ke bus, Redi membuka
tasnya.
Tangannya mengambil novel tua yang
selalu dibawanya.
Ia membuka halaman tengah.
Di sanalah amplop cokelat itu masih
tersimpan.
Masih utuh.
Masih rapi.
Ia memandangnya beberapa saat.
Lalu kembali menyimpannya.
"Tidak..."
"Surat ini bukan untuk
dikirim."
"Biarlah menjadi saksi bahwa aku
pernah mencintai seseorang dengan segenap hati."
Bus mulai menyalakan mesin.
Kondektur memanggil para penumpang.
"Semarang... Semarang..."
Redi menarik napas panjang.
Ia menyalami Wahyu.
"Titip salam buat
teman-teman."
"Pasti."
"Jaga Bapak sama Ibu kalau aku
belum sempat pulang."
"Tenang."
"Semuanya akan baik-baik
saja."
Mereka berpelukan singkat.
Pelukan dua sahabat yang memahami
bahwa setelah hari itu, pertemuan mereka tidak akan lagi sesering dahulu.
Di saat yang hampir bersamaan, di
Dusun Kersan, Ariyani masih belum bisa menghilangkan bayangan sepeda motor yang
membawa Redi pergi.
Setiap kali terdengar suara motor
melintas di depan rumah, tanpa sadar ia menoleh.
Meski ia tahu...
orang yang ditunggunya telah berada
sangat jauh.
Sore harinya, ia duduk sendirian di
teras rumah.
Bangku kayu tempat Redi dahulu sering
berbincang dengannya masih berada di tempat yang sama.
Ia mengusap permukaannya perlahan.
Lalu tersenyum getir.
"Selamat jalan, Mas..."
bisiknya pelan.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan
kehilangan yang begitu dalam.
Bukan kehilangan seorang kekasih.
Karena memang mereka tidak pernah
menjadi sepasang kekasih.
Tetapi kehilangan seseorang yang
selama ini diam-diam telah menjadi bagian dari hari-harinya.
Seseorang yang selalu hadir dengan
perhatian, kesabaran, dan ketulusan.
Kini semuanya tinggal kenangan.
Beberapa hari kemudian, sebuah kabar mulai
beredar di Desa Tegorejo.
"Redi sudah sampai
Semarang."
"Katanya nanti lanjut naik
kapal."
"Merantau ke Kalimantan."
Warga membicarakannya sebagai hal
biasa.
Bagi mereka, merantau adalah bagian
dari kehidupan.
Namun bagi Ariyani, setiap kabar
tentang Redi selalu membawa rasa haru yang sulit dijelaskan.
Ia tidak pernah bertanya kepada siapa
pun.
Tidak pernah meminta alamat.
Tidak pernah mengirim surat.
Ia hanya menyimpan doa.
Semoga pemuda yang pernah menjadi
kakak angkatnya itu selalu berada dalam lindungan Tuhan.
Sementara itu, di atas kapal yang
mulai meninggalkan Pulau Jawa, Redi berdiri di buritan.
Angin laut berembus kencang.
Perlahan garis pantai semakin
mengecil.
Pulau Jawa mulai menghilang di balik
cakrawala.
Redi memejamkan mata.
Di dalam benaknya kembali muncul satu
per satu wajah orang-orang yang ia tinggalkan.
Ayah.
Ibu.
Wahyu.
Samid.
Bu Ros.
Dan wajah terakhir...
Ariyani yang berdiri di tepi Jalan
Tegorejo–Pegandon sambil melambaikan tangan dengan mata yang basah.
Air mata Redi kembali jatuh.
Namun kali ini ia tidak mengusapnya.
Ia membiarkan angin laut membawa semua
kesedihan itu pergi.
Karena mulai hari itu, ia berjanji
kepada dirinya sendiri.
Ia tidak akan lagi hidup untuk
mengejar cinta yang tidak mungkin dimiliki.
Ia akan hidup untuk mengejar masa
depan.
Membahagiakan orang tuanya.
Membuktikan bahwa kepergiannya
bukanlah pelarian.
Melainkan sebuah perjuangan.
Perjuangan yang kelak akan
mengantarkannya ke sebuah desa bernama Sriwidadi.
Desa yang tanpa ia sadari akan menjadi
rumah keduanya.
Tempat ia membangun kehidupan baru.
Tempat ia belajar mengikhlaskan masa
lalu.
Dan tempat ia akan menyimpan kenangan
tentang seorang gadis dari Dusun Kersan selama tiga puluh tahun.
BAB XXI
Desa Sriwidadi
Perjalanan panjang itu akhirnya
berakhir.
Setelah menempuh perjalanan darat,
laut, dan sungai selama beberapa hari, Redi untuk pertama kalinya menginjakkan
kaki di tanah Kalimantan Tengah.
Udara yang menyambutnya terasa
berbeda.
Lebih lembap.
Lebih hangat.
Di hadapannya membentang hamparan
hutan tropis yang masih hijau, sungai-sungai besar yang menjadi urat nadi
kehidupan masyarakat, serta langit yang tampak begitu luas seolah tanpa batas.
Ia menarik napas panjang.
Dalam hati ia berbisik,
"Inilah tempat
aku memulai hidup yang baru."
Dari pelabuhan, Redi melanjutkan
perjalanan menuju Kabupaten Kapuas.
Perjalanan masih cukup panjang.
Jalan yang dilalui tidak seramai Pulau
Jawa.
Di beberapa tempat, hamparan hutan
bergantian dengan permukiman penduduk.
Sesekali kendaraan berhenti untuk
memberi jalan kepada truk pengangkut kayu atau hasil perkebunan.
Semakin jauh perjalanan berlangsung,
semakin ia menyadari bahwa dirinya benar-benar telah meninggalkan kehidupan
lamanya.
Tidak ada lagi Jalan
Tegorejo–Pegandon.
Tidak ada lagi pohon randu tua.
Tidak ada lagi Dusun Kersan.
Yang ada hanyalah harapan baru.
Sore hari, kendaraan yang
ditumpanginya memasuki wilayah Kecamatan Mantangai.
Pamannya yang telah lebih dahulu
menetap di sana menyambutnya dengan senyum hangat.
"Capek, Di?"
"Sedikit, Pakde."
"Selamat datang di
Kalimantan."
"Terima kasih."
Mereka berjabat tangan erat.
Bagi Redi, kehadiran pamannya menjadi
penghibur pertama di tanah rantau.
Ia tidak merasa benar-benar sendirian.
Beberapa waktu kemudian, mereka tiba
di sebuah desa yang masih asri.
Di kiri dan kanan jalan tumbuh
pepohonan besar yang menaungi permukiman warga.
Rumah-rumah panggung berdiri berjajar
dengan halaman yang cukup luas.
Anak-anak berlarian tanpa alas kaki.
Suara ayam, burung, dan tawa warga
terdengar bersahut-sahutan.
"Ini..."
kata pamannya sambil menunjuk ke
depan.
"...Desa Sriwidadi."
Redi memandang sekeliling.
Entah mengapa, ada perasaan damai yang
sulit dijelaskan.
Desa itu memang berbeda dengan
Tegorejo.
Namun kehangatan warganya
mengingatkannya pada kampung halaman.
Malam pertama di Sriwidadi terasa
sangat panjang.
Redi tidur di rumah pamannya.
Suara jangkrik masih terdengar seperti
di Jawa.
Namun kini bercampur dengan suara alam
yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Sesekali terdengar suara burung malam
dari arah hutan.
Kadang suara katak bersahutan dari
rawa.
Ia memandang langit dari jendela.
Bintang-bintang tampak lebih terang.
Namun sejauh apa pun ia memandang,
yang muncul di benaknya tetaplah wajah seorang gadis dari Dusun Kersan.
"Ari..."
bisiknya pelan.
Kemudian ia menutup mata.
Mencoba meyakinkan dirinya bahwa mulai
malam itu, ia harus belajar melepaskan semua kenangan.
Hari-hari berikutnya diisi dengan
kesibukan.
Pamannya memperkenalkan Redi kepada
warga desa.
Ia belajar mengenal kehidupan
masyarakat yang sangat berbeda dengan kampung halamannya.
Di Jawa, ia terbiasa melihat jalan
desa yang padat oleh lalu-lalang warga.
Di Sriwidadi, kehidupan terasa lebih
tenang.
Semangat gotong royong begitu kuat.
Setiap warga saling mengenal.
Saling membantu.
Saling menjaga.
Hal itu membuat Redi perlahan merasa
diterima.
Suatu sore, Kepala Desa datang
berkunjung ke rumah pamannya.
Setelah berbincang cukup lama, beliau
berkata,
"Kalau memang mau menetap di
sini..."
"...kami selalu membutuhkan anak
muda yang rajin belajar dan mau bekerja."
Redi menjawab dengan sopan.
"Saya masih banyak belajar,
Pak."
"Tidak apa-apa."
"Yang penting niatmu baik."
Kalimat itu menjadi penyemangat baru
baginya.
Untuk pertama kalinya sejak
meninggalkan Tegorejo, ia mulai melihat masa depan dengan lebih jelas.
Malam itu, Redi membuka koper tuanya.
Ia menata pakaian ke dalam lemari
kecil.
Kemudian tangannya kembali menemukan
novel tua yang selalu dibawanya.
Ia membuka halaman tempat amplop
cokelat itu disimpan.
Surat untuk Ariyani masih utuh.
Ia membacanya sekali lagi.
Namun kali ini tidak ada air mata.
Hanya sebuah senyum kecil yang penuh
keikhlasan.
"Terima kasih..."
gumamnya.
"Luka ini telah mengantarkanku
sampai ke sini."
Perlahan ia menutup kembali novel itu.
Lalu meletakkannya di sudut lemari.
Seolah sedang menyimpan satu bab
kehidupan yang telah selesai.
Sementara itu, ratusan kilometer
jauhnya, di Dusun Kersan, kehidupan juga terus berjalan.
Ariyani mulai memasuki masa SMA.
Ia sibuk dengan pelajaran baru.
Teman-teman baru.
Lingkungan baru.
Namun ada satu kebiasaan yang tidak
pernah berubah.
Setiap kali melewati Jalan
Tegorejo–Pegandon, pandangannya selalu tertuju ke tikungan tempat ia terakhir
kali bertemu Redi.
Tikungan itu kini tampak biasa.
Tak ada lagi pemuda yang berdiri
sambil menuntun sepeda.
Tak ada lagi sapaan sederhana.
Semuanya telah menjadi bagian dari
masa lalu.
Suatu malam, Bu Ros duduk di samping
putrinya.
"Nduk."
"Iya, Bu."
"Kamu sudah mulai betah di
SMA?"
"Alhamdulillah."
Bu Ros tersenyum.
"Lupakan yang sudah
berlalu."
"Fokuslah belajar."
"Masih banyak masa depan yang
harus kamu kejar."
Ariyani mengangguk.
"Iya, Bu."
Ia tidak membantah.
Karena ia tahu ibunya benar.
Tetapi hati manusia tidak bisa
diperintah secepat pikiran.
Ada kenangan yang membutuhkan waktu
sangat lama untuk benar-benar menjadi masa lalu.
Di Sriwidadi, Redi mulai menjalani
rutinitas baru.
Pagi membantu pekerjaan pamannya.
Siang belajar mengenal lingkungan.
Malam membaca buku dan menulis catatan
kecil tentang kehidupan di tanah rantau.
Tanpa ia sadari, hari demi hari mulai
mengikis kesedihan yang selama ini memenuhi hatinya.
Bukan karena ia telah melupakan
Ariyani.
Melainkan karena kehidupan memaksanya
untuk terus berjalan.
Ia mulai memahami bahwa merantau bukan
sekadar berpindah tempat.
Tetapi juga belajar berdamai dengan
diri sendiri.
Belajar menerima bahwa tidak semua doa
harus dikabulkan sesuai keinginan.
Kadang Tuhan menutup satu pintu.
Agar seseorang berani membuka pintu
yang lain.
Dan pintu itu kini telah terbuka di
sebuah desa bernama Sriwidadi.
Desa yang kelak akan menjadi saksi
perjalanan panjang pengabdian, keluarga, dan kedewasaan Redi.
Sementara di sudut lain Pulau Jawa,
seorang gadis bernama Ariyani masih menyimpan doa yang sama.
Tanpa mengetahui bahwa doa-doanya
diam-diam ikut mengiringi setiap langkah Redi di tanah Kalimantan.
BAB XXII
Surat
yang Tak Pernah Terkirim
Waktu terus berjalan.
Musim demi musim silih berganti di Desa Sriwidadi. Hujan
turun membasahi jalan-jalan desa. Kemudian berganti kemarau yang menghadirkan
langit biru tanpa batas. Perlahan, kehidupan Redi mulai menemukan iramanya
sendiri. Ia bekerja dengan tekun, membantu pamannya, bergaul dengan masyarakat,
dan belajar mengenal karakter kehidupan di tanah Kalimantan.
Kesibukan itu membuat luka di hatinya tidak lagi terasa
setajam dahulu.
Namun...
Ada satu benda yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Sebuah amplop cokelat yang tersimpan rapi di dalam novel tua.
Malam Itu, di Sriwidadi
Suatu malam, listrik desa sempat padam. Langit Sriwidadi
dipenuhi cahaya bulan dan ribuan bintang. Redi duduk sendirian di beranda rumah
panggung. Di hadapannya secangkir kopi hitam mulai mendingin.
Suasana begitu tenang. Hanya suara jangkrik, desir angin
dari pepohonan, dan sesekali suara burung malam yang terdengar dari kejauhan.
Entah mengapa, malam itu pikirannya kembali melayang ke
Desa Tegorejo. Ke sebuah jalan kecil yang menghubungkan Dusun Cegunan dan Dusun
Kersan. Ke pohon randu tua. Ke bangku kayu di teras rumah Bu Ros. Dan... Ke
seorang gadis yang selalu memanggilnya dengan sebutan sederhana. "Mas
Redi."
Redi menyesap kopinya—yang sudah dingin. Ia tidak peduli.
"Ari..." bisiknya pelan.
Nama itu keluar dengan sendirinya. Tanpa ia rencanakan.
Ia tersenyum—senyum yang pahit, yang sudah terlalu sering
ia kenakan di wajahnya selama berbulan-bulan di perantauan.
Di Kamar, Menjelang
Tengah Malam
Perlahan ia masuk ke kamar. Membuka lemari. Mengambil novel
tua yang telah menemaninya sejak meninggalkan Jawa.
Di antara halaman tengahnya masih terselip amplop berwarna
cokelat. Warnanya mulai pudar. Sudut-sudutnya mulai kusut dimakan usia. Namun
tulisan di bagian depannya masih terlihat jelas.
Untuk Ariyani
Tulisan tangan itu seakan membawa Redi kembali ke masa
beberapa bulan sebelum keberangkatannya. Masa ketika ia masih percaya bahwa keberanian
akan mampu mengubah takdir.
Redi duduk di tepi tempat tidurnya. Lampu minyak yang redup
menerangi ruangan. Dengan perlahan, ia membuka amplop itu—seperti membuka luka
lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Ia membaca surat itu. Satu per satu. Perlahan. Seperti
sedang membaca sesuatu yang suci.
"Assalamu'alaikum, Ari..."
"Mungkin surat ini tidak akan pernah kuberikan
kepadamu..."
Ia berhenti. Matanya menatap jauh ke dinding.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena tanpa
sadar kamu pernah membuat hari-hariku menjadi lebih indah..."
"Seandainya..." gumamnya pelan. "Seandainya
dulu aku memberikannya."
Ia melanjutkan membaca.
"Aku tidak pernah marah ketika kamu menganggapku hanya
sebagai kakak..."
Ia menghela napas panjang.
"Yang sulit kuterima hanyalah kenyataan bahwa aku
berharap terlalu jauh..."
"Kenapa ya..." Redi berbicara pada surat
itu—seolah surat itu bisa menjawab. "Kenapa gue nggak ngasih ini?"
Ia menatap surat itu—kertas yang mulai menguning, tulisan
yang mulai pudar.
"Gue penakut," katanya pada dirinya sendiri.
"Gue cuma... penakut."
Redi Mempertanyakan
Keputusannya
Ia menutup mata. Membayangkan apa yang terjadi jika ia
memberikannya.
Ariyani akan membaca surat itu. Ariyani akan tahu.
Dan mungkin—mungkin—ia akan tersenyum. Atau mungkin ia akan
menolaknya. Tapi setidaknya, ia akan TAHU.
"Gue nggak pernah kasih dia kesempatan untuk
memilih," bisiknya. "Gue milih buat dia."
Ia membuka matanya.
"Dan sekarang..." Ia menatap surat itu.
"...sekarang semuanya sudah terlambat."
Air mata tidak jatuh. Tapi ada penyesalan yang tidak akan
pernah hilang.
"Iya," katanya pelan. "Gue nggak ngasih
surat ini. Dan gue nggak tahu kenapa."
Ia tertawa—tawa yang pahit.
"Gue tulis surat ini berbulan-bulan. Tiga kali gue
tulis ulang. Dan gue nggak pernah ngasih."
Ia menekan surat itu ke dadanya.
"Ari..." bisiknya. "Maaf. Maaf karena gue
penakut. Maaf karena gue milih buat kamu."
Ia menutup mata. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk di
sana—dengan surat di tangannya, dan penyesalan di hatinya.
"Kenapa Gue Nggak
Ngasih?"
Redi membuka matanya. Ia menatap surat itu lagi.
"Gue kepikiran," katanya pelan. "Gue
kepikiran tentang apa yang bakal terjadi."
Ia berbicara pada dirinya sendiri—pada surat itu, pada
bayangan Ariyani yang tidak ada di sana.
"Kalo gue kasih surat ini, apa yang terjadi? Mungkin
dia bakal bingung. Mungkin dia bakal nggak tahu harus ngomong apa.
Mungkin..." Ia berhenti. "...mungkin dia bakal nolak."
Ia menggigit bibirnya.
"Dan gue nggak siap nolak. Gue nggak siap denger dia
bilang 'Maaf, Mas. Ari cuma bisa anggap Mas sebagai kakak.'"
Ia menunduk.
"Jadi gue milih diam. Gue milih nggak ngasih. Gue
milih..." Suaranya serak. "...gue milih lari."
Ia terdiam. Hanya suara jangkrik yang memenuhi keheningan.
"Dan sekarang gue di sini," lanjutnya. "Di
Kalimantan. Jauh dari Tegorejo. Jauh dari Ari. Dan gue masih bawa surat
ini."
Ia tertawa—tawa yang lebih pahit dari sebelumnya.
"Gue bawa surat ini ke mana-mana. Kayak... kayak gue
masih berharap."
Ia menatap surat itu.
"Padahal gue tahu. Gue tahu udah nggak ada
harapan."
Surat Itu Tetap Hidup
Redi melipat surat itu kembali—perlahan, hati-hati, seperti
melipat sesuatu yang berharga. Memasukkannya ke dalam amplop. Lalu
menyelipkannya kembali di antara halaman novel tua.
Ia tidak membakarnya. Tidak merobeknya.
"Biarlah surat ini tetap hidup," bisiknya.
"Biar menjadi saksi bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan
tulus."
Ia memegang novel itu—erat, seperti memegang kenangan yang
tidak ingin ia lepaskan.
"Maaf, Ari," katanya pelan. "Maaf karena gue
nggak pernah cukup berani."
Ia meletakkan novel itu di atas meja. Lalu berbaring di
tempat tidurnya.
Di luar, angin Kalimantan berembus—membawa aroma hutan dan
sungai yang asing.
Tapi di dalam hatinya, Redi masih berada di Tegorejo. Masih
di tikungan jalan itu. Masih melihat Ariyani tersenyum—untuk terakhir kalinya.
Pagi Itu
Keesokan paginya, Redi terbangun dengan mata yang sedikit
sembab. Ia tidak menangis semalam—tapi tidurnya tidak nyenyak.
Ia melihat novel tua itu masih di atas meja. Amplop cokelat
masih terselip di dalamnya.
Ia mengambil novel itu. Membukanya. Melihat surat itu untuk
sekilas.
Lalu ia menutupnya kembali.
"Sudah," katanya pelan. "Sudah cukup."
Ia meletakkan novel itu di lemari—bukan di sudut yang
tersembunyi, tetapi di tempat yang bisa ia lihat setiap hari.
Karena surat itu bukan lagi beban.
Ia adalah bagian dari dirinya.
Bagian yang akan selalu ia bawa—di dalam hati, meskipun
tidak pernah ia buka lagi.
BAB XXIII
Ariyani Menjadi Dewasa
Waktu adalah guru yang paling sabar.
Ia tidak pernah berbicara.
Tidak pernah memaksa.
Namun perlahan-lahan mengubah setiap
orang yang disentuhnya.
Begitu pula dengan Ariyani.
Setelah kepergian Redi ke Kalimantan,
hari-harinya kembali dipenuhi rutinitas sebagai siswi SMA. Seragam putih
abu-abu menggantikan seragam putih biru yang dahulu sering dikenakan ketika
pulang melewati Jalan Tegorejo–Pegandon.
Kini langkahnya terasa lebih dewasa.
Lebih tenang.
Namun sesekali, ketika melewati
tikungan pohon randu yang menghubungkan Dusun Kersan dan Dusun Cegunan, matanya
masih berhenti beberapa detik.
Bukan karena berharap.
Melainkan karena di tempat itulah
sebuah bab kehidupan pernah berakhir.
Di sekolah, Ariyani dikenal sebagai
siswi yang ramah.
Ia tidak pernah menjadi murid yang
paling menonjol.
Tetapi hampir semua guru mengenalnya
sebagai anak yang sopan, rajin, dan mudah bergaul.
Teman-temannya sering berkata,
"Ari itu kalau senyum bikin orang
nyaman."
Ia hanya tertawa kecil.
Sifatnya yang sederhana tidak pernah
berubah.
Ia masih senang membantu teman yang
kesulitan belajar.
Masih menghormati guru.
Dan sepulang sekolah, tetap membantu
Bu Ros mengurus pekerjaan rumah.
Suatu sore, ketika sedang menyapu
halaman, Bu Ros duduk di kursi bambu sambil memperhatikan putrinya.
"Nduk..."
"Iya, Bu?"
"Kamu sudah besar."
Ariyani tersenyum.
"Belum kok, Bu."
Bu Ros ikut tersenyum.
"Dulu masih suka minta diantar ke
sekolah."
"Sekarang sudah SMA."
"Waktu cepat sekali."
Ariyani berhenti menyapu.
Ia duduk di samping ibunya.
"Iya, Bu."
Bu Ros memegang tangan putrinya.
"Ibu cuma ingin kamu sekolah yang
rajin."
"Jangan buru-buru memikirkan yang
lain."
"Perempuan itu bukan hanya harus
cantik."
"Tapi juga harus punya ilmu dan
akhlak."
Ariyani mengangguk.
Nasihat itu telah berkali-kali ia
dengar sejak kecil.
Namun setiap kali Bu Ros mengucapkannya,
selalu terasa seperti doa.
Beberapa tahun berlalu.
Ariyani berhasil menyelesaikan
pendidikan SMA.
Ia kemudian mengikuti pelatihan
keterampilan sambil membantu usaha keluarga.
Kehidupannya berjalan sederhana.
Sesekali ia mengikuti kegiatan PKK di lingkungan
dusun.
Ikut gotong royong.
Mengajar mengaji anak-anak di mushala.
Dan tetap menjadi anak yang selalu
menemani Bu Ros.
Warga Dusun Kersan mengenalnya sebagai
gadis yang semakin dewasa.
Banyak pemuda mulai datang dengan
berbagai alasan.
Ada yang meminta dikenalkan.
Ada yang datang melalui keluarga.
Ada pula yang terang-terangan
menyatakan niat untuk melamar.
Namun Ariyani tidak pernah
terburu-buru.
Bukan karena masih menunggu seseorang.
Melainkan karena ia ingin memastikan
bahwa laki-laki yang kelak menjadi pendamping hidupnya benar-benar mampu
menghormati keluarganya.
Suatu malam, Bu Ros kembali berbicara.
"Nduk."
"Iya, Bu."
"Tadi siang Pak Lurah
mampir."
"Oh ya?"
"Beliau menyampaikan kalau ada
keluarga dari desa sebelah yang ingin bersilaturahmi."
Ariyani memahami maksud ibunya.
Ia hanya tersenyum tipis.
"Kalau menurut Ibu
bagaimana?"
Bu Ros tidak langsung menjawab.
"Ibu tidak akan memilihkan
jodohmu."
"Tapi Ibu ingin kamu memilih
laki-laki yang bertanggung jawab."
"Yang mencintai
keluarganya."
"Yang pekerja keras."
"Dan yang menghormatimu."
Ariyani menggenggam tangan ibunya.
"Doakan Ari, Bu."
"Ibu selalu mendoakan."
Beberapa bulan kemudian, melalui
proses perkenalan yang baik dan restu keluarga, Ariyani dipertemukan dengan
seorang pemuda yang sederhana dan santun.
Ia bukan orang yang pandai merangkai
kata-kata.
Namun dikenal sebagai pribadi yang
jujur, pekerja keras, dan bertanggung jawab.
Hubungan mereka tumbuh perlahan.
Tidak meledak seperti kisah cinta
remaja.
Tetapi dibangun di atas saling menghormati
dan saling mengenal.
Ketika keluarga kedua belah pihak
sepakat, proses lamaran pun dilaksanakan secara sederhana.
Malam sebelum hari lamaran, Ariyani
membuka lemari kayunya.
Di sudut paling bawah masih tersimpan
sebuah buku harian.
Ia membukanya perlahan.
Di salah satu halaman terdapat tulisan
yang pernah dibuat bertahun-tahun lalu.
"Semoga Mas
Redi selalu baik-baik saja."
Ariyani membaca kalimat itu cukup
lama.
Kemudian tersenyum.
Tidak ada lagi air mata.
Tidak ada lagi penyesalan.
Yang ada hanyalah rasa syukur.
Ia menutup buku itu dengan hati-hati.
Lalu menyimpannya kembali.
"Terima kasih, Mas..."
bisiknya lirih.
"Semoga Mas juga menemukan
kebahagiaan."
Kalimat itu bukan lagi ucapan seorang
gadis yang kehilangan.
Melainkan doa tulus dari seseorang
yang telah berdamai dengan masa lalunya.
Hari pernikahan akhirnya tiba.
Rumah Bu Ros dipenuhi keluarga,
tetangga, dan kerabat.
Tenda sederhana berdiri di halaman.
Suara rebana mengiringi kedatangan
para tamu.
Bu Ros berkali-kali mengusap air mata haru.
Putri semata wayangnya kini telah
menjadi seorang istri.
Di tengah kebahagiaan itu, tidak
seorang pun menyadari bahwa ribuan kilometer jauhnya, di Desa Sriwidadi, Redi
juga sedang memulai babak baru dalam kehidupannya.
Dua anak muda yang dahulu dipertemukan
oleh Jalan Tegorejo–Pegandon kini benar-benar menempuh jalan hidup
masing-masing.
Takdir tidak mempertemukan mereka
sebagai pasangan.
Namun takdir juga tidak menghapus
kenangan yang pernah mereka bagi.
Kenangan itu tetap hidup.
Bukan untuk disesali.
Melainkan untuk dikenang sebagai
bagian dari proses menjadi dewasa.
Karena cinta pertama tidak selalu
berakhir di pelaminan.
Kadang ia hanya menjadi pelajaran
paling indah tentang keikhlasan.
Dan tanpa mereka sadari, perjalanan
hidup masing-masing baru saja memasuki babak yang lebih matang.
Babak tentang keluarga, tanggung
jawab, pengabdian, dan waktu yang terus bergerak tanpa pernah menoleh ke
belakang.
BAB XXIV
Dua Jalan Kehidupan
Tahun-tahun berlalu begitu cepat.
Kalender demi kalender berganti.
Anak-anak yang dahulu berlarian di
Jalan Tegorejo–Pegandon kini tumbuh menjadi orang dewasa.
Pepohonan di Dusun Kersan semakin
rindang.
Rumah-rumah warga mulai mengalami
perubahan.
Sebagian telah berdinding tembok.
Sebagian masih mempertahankan rumah
sederhana yang penuh kenangan.
Sementara ribuan kilometer di sebelah
utara Pulau Jawa, Desa Sriwidadi juga perlahan berkembang.
Jalan-jalan desa mulai lebih baik.
Permukiman bertambah.
Masyarakat terus membangun kehidupan
dengan semangat gotong royong.
Di dua tempat yang berjauhan itu, dua
kehidupan berjalan pada jalurnya masing-masing.
Tanpa pernah bersinggungan lagi.
Di Desa Sriwidadi, Redi mulai
menemukan tempatnya.
Berkat ketekunan, kejujuran, dan
kemauan belajar, ia dipercaya membantu berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Ia dikenal sebagai pribadi yang tidak
banyak bicara, tetapi selalu dapat diandalkan.
Bila ada kerja bakti, ia datang paling
awal.
Bila ada warga yang membutuhkan
bantuan, ia berusaha hadir.
Ia mulai memahami bahwa pengabdian
kepada masyarakat mampu mengobati luka yang dahulu pernah menguasai hatinya.
Luka itu memang tidak hilang.
Tetapi berubah menjadi kekuatan.
Suatu sore, pamannya berkata,
"Di."
"Iya, Pakde."
"Kamu sudah lama di sini."
"Iya."
"Sudah saatnya kamu memikirkan
masa depan."
Redi tersenyum.
"Maksud Pakde?"
Pakdenya tersenyum bijak.
"Masa depan bukan hanya
pekerjaan."
"Tapi juga keluarga."
Redi terdiam.
Ia memahami arah pembicaraan itu.
Namun hatinya masih memerlukan waktu.
Beberapa bulan kemudian, melalui
perkenalan yang dikenalkan oleh keluarga dan tokoh masyarakat, Redi bertemu
dengan seorang perempuan yang sederhana.
Perempuan itu tidak banyak bicara.
Namun memiliki sifat penyabar, santun,
dan rajin membantu orang tua.
Perkenalan mereka berlangsung dengan
cara yang wajar.
Tidak terburu-buru.
Tidak dipenuhi janji-janji indah.
Mereka lebih banyak saling mengenal
melalui keluarga.
Semakin lama, Redi menyadari bahwa
perempuan itu menerima dirinya apa adanya.
Bukan karena masa lalunya.
Bukan karena cita-citanya.
Tetapi karena kejujurannya.
Untuk pertama kalinya sejak
meninggalkan Jawa, Redi membuka kembali pintu hatinya.
Bukan untuk menggantikan kenangan.
Melainkan untuk membangun masa depan.
Pernikahan mereka berlangsung
sederhana.
Tidak mewah.
Namun penuh kehangatan.
Warga Desa Sriwidadi bergotong royong
membantu seluruh persiapan.
Ada yang memasak.
Ada yang mendirikan tenda.
Ada yang mengatur tempat tamu.
Suasana kekeluargaan begitu terasa.
Di malam hari setelah akad nikah, Redi
duduk sendirian di beranda rumah.
Angin bertiup pelan.
Ia memandang langit Kalimantan yang
penuh bintang.
Lalu berbisik dalam hati,
"Ari... semoga
kamu juga bahagia."
Kalimat itu bukan lagi ungkapan
seorang lelaki yang terluka.
Tetapi doa tulus untuk seseorang yang
pernah menjadi bagian penting dari masa mudanya.
Sesaat kemudian ia masuk ke rumah.
Menatap istrinya yang sedang membantu
membereskan perlengkapan tamu.
Ia tersenyum.
Kini ia tahu.
Kehidupan harus terus berjalan.
Di sisi lain, di Dusun Kersan, Ariyani
juga mulai menjalani kehidupan rumah tangga.
Suaminya dikenal sebagai pribadi yang
bertanggung jawab.
Mereka membangun keluarga dengan
kesederhanaan.
Hari-hari dipenuhi pekerjaan, mengurus
rumah, membantu orang tua, dan kemudian membesarkan anak-anak.
Bu Ros yang kini mulai menua sering
tersenyum melihat cucu-cucunya bermain di halaman.
Baginya, kebahagiaan seorang ibu
bukanlah melihat anaknya hidup mewah.
Melainkan melihat anaknya hidup rukun
dan dihormati keluarganya.
Suatu sore, ketika menemani Bu Ros
duduk di teras, Ariyani memandang Jalan Tegorejo–Pegandon.
Jalan itu kini mulai lebih ramai
dibandingkan masa remajanya.
Beberapa sepeda motor lalu-lalang.
Mobil bak terbuka sesekali melintas.
Namun satu hal tidak berubah.
Pohon randu tua di tikungan itu masih
berdiri.
Bu Ros memperhatikan arah pandangan
putrinya.
"Kamu ingat sesuatu?"
tanya Bu Ros lembut.
Ariyani tersenyum.
"Hanya ingat masa sekolah,
Bu."
Bu Ros ikut tersenyum.
"Masa muda memang selalu indah
kalau dikenang."
Ariyani mengangguk.
"Iya."
"Tapi sekarang Ari sudah
bahagia."
Jawaban itu membuat Bu Ros menggenggam
tangan putrinya.
"Itulah yang paling Ibu
syukuri."
Sementara itu, di Sriwidadi, kehidupan
Redi juga semakin lengkap.
Tahun demi tahun berlalu.
Rumah sederhana yang dahulu hanya
ditempati berdua kini mulai dipenuhi tawa anak-anak.
Suara tangis bayi.
Langkah-langkah kecil yang berlari di
halaman.
Kesibukan sebagai seorang ayah membuat
waktu terasa berjalan sangat cepat.
Setiap pulang bekerja, anak-anak
menyambutnya di depan rumah.
"Pak..."
teriak mereka sambil berlari memeluknya.
Momen-momen itu perlahan menyembuhkan
seluruh luka masa mudanya.
Ia menyadari bahwa Tuhan tidak pernah
mengambil sesuatu tanpa menggantikannya dengan cara yang lebih baik.
Sesekali, ketika malam tiba dan
seluruh keluarga telah tertidur, Redi membuka lemari kayu di kamarnya.
Di sudut paling atas masih tersimpan
novel tua yang telah menemaninya sejak meninggalkan Jawa.
Ia tidak lagi sering membuka surat
itu.
Bahkan kadang bertahun-tahun surat itu
tetap tersimpan tanpa disentuh.
Namun ia tidak pernah membuangnya.
Bukan karena masih berharap.
Melainkan karena surat itu adalah
bagian dari sejarah hidupnya.
Sebuah pengingat bahwa dirinya pernah
menjadi seorang remaja yang mencintai dengan begitu tulus.
Dan karena pengalaman itulah, ia
belajar menjadi suami dan ayah yang lebih bijaksana.
Di Jawa dan di Kalimantan, kehidupan
terus mengalir.
Redi dan Ariyani sama-sama membangun
keluarga.
Sama-sama membesarkan anak-anak.
Sama-sama menjalani suka dan duka
kehidupan.
Mereka tidak lagi saling mengetahui kabar.
Tidak saling berkirim surat.
Tidak saling mencari.
Seolah waktu telah menutup seluruh
jalan yang dahulu pernah menghubungkan mereka.
Namun sesungguhnya...
takdir belum selesai menulis kisah
mereka.
Di suatu masa yang belum mereka
ketahui, dunia akan berubah.
Jarak ribuan kilometer tidak lagi
menjadi penghalang.
Sebuah teknologi bernama media
sosial akan mempertemukan kembali dua nama yang telah lama hilang dari
kehidupan masing-masing.
Tetapi sebelum hari itu tiba, masih
ada satu hal yang tetap hidup di dalam hati mereka.
Kenangan.
Kenangan yang tidak pernah meminta
untuk dimiliki kembali.
Hanya meminta untuk tetap dikenang
dengan penuh rasa syukur.
BAB XXV
Kenangan yang Tak Pernah Mati
Ada yang perlahan memudar dimakan
usia.
Ada pula yang justru semakin jelas
ketika waktu terus berjalan.
Bagi Redi dan Ariyani, kenangan adalah
bagian dari yang kedua.
Ia tidak lagi terasa menyakitkan.
Tidak pula mengusik kehidupan yang
telah mereka bangun bersama keluarga masing-masing.
Namun kenangan itu tetap hidup.
Tenang.
Diam.
Dan sesekali datang tanpa diundang.
Hampir dua puluh lima tahun telah
berlalu sejak Redi meninggalkan Desa Tegorejo.
Kini rambutnya mulai dipenuhi uban
halus.
Wajahnya terlihat lebih matang.
Sorot matanya masih teduh seperti
dulu, tetapi kini memancarkan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup.
Di Desa Sriwidadi, masyarakat
mengenalnya sebagai sosok yang tekun mengabdi.
Hari-harinya dipenuhi pekerjaan,
kegiatan sosial, dan kebersamaan dengan keluarga.
Anak-anaknya telah tumbuh besar.
Sebagian mulai melanjutkan pendidikan.
Sebagian telah bekerja.
Rumah yang dahulu sederhana kini telah
beberapa kali direnovasi.
Namun di ruang kerjanya, sebuah lemari
kayu tua masih berdiri kokoh.
Di dalamnya tersimpan sebuah novel
tua.
Dan di dalam novel itu...
masih terselip sebuah amplop cokelat
yang mulai rapuh dimakan usia.
Suatu malam turun hujan.
Rintiknya membasahi halaman rumah.
Suara hujan yang mengenai atap seng
menghadirkan irama yang begitu akrab di telinga Redi.
Ia mematikan televisi.
Lalu duduk sendirian di ruang tamu.
Entah mengapa, hujan selalu mampu
membawanya kembali ke masa remaja.
Ke Jalan Tegorejo–Pegandon.
Ke bangku kayu di teras rumah Bu Ros.
Ke suara seorang gadis yang berkata,
"Mas
Redi..."
Ia tersenyum kecil.
Kini, setiap kali mengingat nama itu,
yang hadir bukan lagi rasa kehilangan.
Melainkan rasa syukur.
Syukur karena pernah mengenal
seseorang yang telah mengajarinya arti ketulusan.
Sementara itu, di Dusun Kersan,
Ariyani juga telah memasuki usia yang matang.
Anak-anaknya mulai beranjak dewasa.
Sebagian telah merantau.
Sebagian masih tinggal bersama
keluarga.
Bu Ros kini telah semakin renta.
Langkahnya tidak lagi sekuat dahulu.
Namun senyumnya masih sama hangatnya.
Setiap sore, Ariyani selalu
menyempatkan diri duduk menemani ibunya di teras rumah.
Dari tempat itu, Jalan
Tegorejo–Pegandon masih terlihat jelas.
Kini jalan itu telah jauh berbeda.
Aspal hitam membentang rapi.
Sepeda motor lebih banyak daripada
sepeda ontel.
Mobil sesekali melintas.
Lampu penerangan jalan mulai dipasang.
Dusun Kersan perlahan berkembang
mengikuti zaman.
Namun bagi Ariyani, ada satu hal yang
tidak pernah berubah.
Tikungan di dekat pohon randu.
Tempat terakhir ia melihat Redi
sebelum pemuda itu benar-benar pergi meninggalkan kampung halaman.
"Bu..."
"Iya, Nduk?"
"Kira-kira..."
"Mas Redi sekarang bagaimana
ya?"
Bu Ros memandang wajah putrinya.
Lalu tersenyum lembut.
"Ibu tidak tahu."
"Tapi Ibu yakin..."
"Anak itu pasti menjadi orang
baik."
Ariyani mengangguk pelan.
"Ari juga percaya."
Itulah percakapan pertama mereka
tentang Redi setelah bertahun-tahun.
Tidak ada penyesalan.
Tidak ada rasa bersalah.
Hanya sebuah doa yang tetap hidup.
Beberapa bulan kemudian, kabar duka
datang.
Bu Ros jatuh sakit.
Usia memang tidak dapat dilawan.
Ariyani bersama seluruh keluarga
merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Suatu malam, ketika hanya mereka
berdua di dalam kamar, Bu Ros menggenggam tangan putrinya.
"Nduk..."
"Iya, Bu."
"Ibu ingin bilang sesuatu."
"Apa, Bu?"
Bu Ros menarik napas perlahan.
"Dulu..."
"Ibu pernah melarang Mas Redi
terlalu sering datang."
Ariyani terdiam.
"Ibu tahu."
"Ibu hanya ingin menjaga
kamu."
"Ari mengerti."
"Dan Ari tidak pernah menyalahkan
Ibu."
Air mata Bu Ros perlahan jatuh.
"Ibu hanya takut..."
"...kalian terlalu muda untuk
memikul sesuatu yang belum waktunya."
Ariyani memeluk ibunya.
"Terima kasih, Bu."
"Karena Ibu selalu menjaga
Ari."
Bu Ros tersenyum lega.
Percakapan malam itu menjadi salah
satu kenangan terakhir yang paling berharga bagi Ariyani.
Di Sriwidadi, pada malam yang sama,
Redi sedang membereskan lemari bukunya.
Novel tua itu kembali jatuh ke lantai.
Amplop cokelat yang terselip di
dalamnya ikut terjatuh.
Ia memungutnya perlahan.
Lalu membaca kembali tulisan di bagian
depan.
Untuk Ariyani.
Redi menghela napas panjang.
Kemudian tersenyum.
"Surat ini memang tidak pernah
ditakdirkan sampai."
Ia memasukkan kembali amplop itu.
Lalu berkata pelan,
"Semoga kamu bahagia, Ari."
Tidak ada lagi air mata.
Tidak ada lagi penyesalan.
Yang tersisa hanyalah penghormatan
terhadap masa lalu.
Hari-hari terus berlalu.
Teknologi mulai berkembang.
Telepon rumah yang dahulu menjadi
barang mewah perlahan tergantikan oleh telepon genggam.
Internet mulai dikenal masyarakat.
Anak-anak muda berbicara tentang dunia
yang dapat terhubung hanya melalui layar kecil di tangan mereka.
Namun Redi dan Ariyani masih menjalani
kehidupan sebagaimana biasanya.
Mereka belum terlalu akrab dengan
perubahan itu.
Mereka masih lebih nyaman berbincang
langsung daripada melalui layar.
Mereka tidak pernah membayangkan bahwa
kemajuan teknologi itulah yang suatu hari nanti akan mempertemukan mereka
kembali.
Menjelang akhir babak kehidupan dewasa
mereka, takdir mulai menyusun jalannya sendiri.
Seorang teman lama akan mengunggah
foto reuni sekolah.
Nama-nama lama akan kembali disebut.
Percakapan tentang masa SMA akan
bermunculan.
Dan sebuah pencarian sederhana di
media sosial akan membuka pintu yang telah tertutup selama tiga puluh tahun.
Tanpa disadari oleh keduanya, waktu
sedang bersiap mempertemukan kembali dua hati yang dahulu dipisahkan oleh
jarak.
Bukan untuk mengulang cinta.
Bukan untuk mengubah takdir.
Melainkan untuk menyempurnakan sebuah
kisah yang selama puluhan tahun belum pernah benar-benar memiliki penutup.
Karena sesungguhnya...
kenangan memang tidak pernah mati.
Ia hanya menunggu waktu yang tepat
untuk kembali menyapa.
BAB XXVI
Tiga Puluh Tahun Kemudian
Waktu tidak pernah berhenti.
Ia terus melangkah, meninggalkan jejak
pada setiap wajah, setiap rumah, setiap jalan, dan setiap kenangan.
Tiga puluh tahun telah berlalu sejak
pagi ketika sebuah sepeda motor meninggalkan Dusun Cegunan menuju terminal,
membawa seorang pemuda bernama Redi pergi merantau ke Kalimantan.
Tiga puluh tahun pula sejak seorang
gadis bernama Ariyani berdiri di tepi Jalan Tegorejo–Pegandon, melambaikan
tangan dengan mata yang dipenuhi air mata, tanpa pernah menyangka bahwa
lambaian sederhana itu menjadi salam perpisahan yang berlangsung selama tiga
dekade.
Kini...
Mereka bukan lagi remaja.
Bukan lagi dua anak muda yang masih
bingung memahami arti cinta.
Mereka telah menjadi orang tua.
Menjadi ayah dan ibu.
Menjadi pribadi yang ditempa oleh
waktu, pekerjaan, keluarga, kehilangan, dan pengabdian.
Di Desa Sriwidadi, kehidupan Redi
telah berubah jauh.
Rambut hitamnya kini hampir seluruhnya
berubah menjadi putih keperakan.
Garis-garis halus di wajahnya menjadi
saksi perjalanan panjang yang telah ia lalui.
Anak-anaknya telah dewasa.
Sebagian telah berkeluarga.
Rumah yang dahulu sederhana kini
dipenuhi suara cucu-cucu yang berlarian setiap kali akhir pekan tiba.
Suatu sore, setelah menyelesaikan
pekerjaannya, Redi duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi.
Di sampingnya tergeletak sebuah
telepon pintar.
Benda yang dahulu hanya ia lihat di
televisi, kini telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Awalnya ia menggunakan telepon itu
hanya untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya.
Kemudian belajar menggunakan aplikasi
perpesanan.
Belajar membaca berita.
Hingga akhirnya mengenal sesuatu yang
disebut media sosial.
Baginya, dunia terasa sangat berbeda.
Orang-orang yang dahulu terpisah
ribuan kilometer kini dapat saling menyapa hanya melalui sebuah layar.
Sementara itu, di Dusun Kersan, Desa
Tegorejo, kehidupan Ariyani juga memasuki babak yang tenang.
Rumah Bu Ros kini telah berubah.
Setelah kepergian Bu Ros beberapa
tahun sebelumnya, rumah itu tetap dipertahankan oleh keluarga sebagai tempat
berkumpul.
Beberapa bagian telah direnovasi.
Namun teras depan dan halaman kecilnya
tetap dipertahankan seperti dahulu.
Di situlah begitu banyak kenangan masa
remaja pernah tumbuh.
Ariyani kini lebih banyak menghabiskan
waktu bersama keluarga.
Anak-anaknya telah mandiri.
Sesekali cucu-cucunya datang memenuhi
rumah dengan tawa yang menghangatkan suasana.
Bila sore tiba, ia masih sering duduk
di kursi kayu di teras.
Memandang Jalan Tegorejo–Pegandon yang
kini telah beraspal mulus.
Lalu lintas lebih ramai dibandingkan
tiga puluh tahun silam.
Anak-anak sekolah tidak lagi banyak
bersepeda.
Mereka lebih sering diantar
menggunakan sepeda motor.
Zaman telah berubah.
Namun setiap kali angin sore berembus
dari arah Dusun Cegunan, hati Ariyani masih sesekali dibawa kembali kepada masa
remajanya.
Di sebuah grup media sosial alumni SMA
Negeri 1 Pegandon, percakapan mulai ramai.
Seseorang mengunggah foto reuni
sekolah.
Foto-foto lama yang telah menguning
mulai dibagikan kembali.
Nama-nama teman sekelas satu per satu
disebut.
Ada yang telah menjadi guru.
Ada yang menjadi pegawai.
Ada yang menjadi pengusaha.
Ada pula yang telah berpulang.
Redi, yang baru beberapa bulan bergabung
ke grup itu atas ajakan Wahyu, hanya menjadi pembaca.
Sesekali ia tersenyum melihat
wajah-wajah yang dahulu memenuhi ruang kelas III A1.
Wajah-wajah yang kini berubah oleh
usia.
Di antara ratusan komentar itu,
tiba-tiba muncul satu nama yang membuat jemarinya berhenti menggulir layar.
Ariyani.
Bukan komentar.
Bukan unggahan.
Hanya sebuah nama yang disebut oleh
salah seorang teman.
"Ada yang masih
ingat Ariyani dari SMP Pegandon? Katanya sekarang masih tinggal di Dusun
Kersan."
Jantung Redi berdegup lebih cepat.
Sudah sangat lama ia tidak mendengar
nama itu.
Ia memandangi layar teleponnya cukup
lama.
Ada keraguan.
Ada rasa ingin tahu.
Namun ada pula perasaan takut membuka
kembali lembaran yang telah lama ia simpan.
Malam itu ia tidak dapat segera tidur.
Sesudah salat Isya, ia kembali membuka
telepon pintarnya.
Dengan perlahan ia mengetik sebuah
nama pada kolom pencarian.
Ariyani.
Puluhan nama muncul.
Bukan hanya satu.
Ia mencoba menambahkan kata Tegorejo.
Hasilnya mulai menyempit.
Kemudian ia menambahkan Pegandon.
Beberapa akun kembali muncul.
Salah satunya menggunakan foto seorang
perempuan berkerudung yang sedang tersenyum bersama anak-anak dan cucunya.
Wajah itu telah berubah dimakan usia.
Namun mata itu...
Senyum itu...
Entah mengapa terasa sangat akrab.
Redi memperbesar foto profil tersebut.
Tangannya sedikit bergetar.
"Apakah ini benar Ari?"
gumamnya pelan.
Ia belum berani memastikan.
Pada waktu yang hampir bersamaan, di
Dusun Kersan, Ariyani sedang diajari cucunya menggunakan media sosial.
"Nenek..."
"Kalau ada teman lama, tinggal
cari namanya."
"Oh begitu?"
"Iya."
"Mudah sekali sekarang."
Ariyani hanya tersenyum.
"Kalau zaman Nenek dulu..."
"...mengirim surat saja bisa
menunggu berminggu-minggu."
Cucunya tertawa.
"Sekarang tinggal pencet."
Percakapan sederhana itu membuat
Ariyani tiba-tiba teringat kepada seseorang yang dahulu pernah menulis surat.
Surat yang tidak pernah ia baca.
Karena memang surat itu tidak pernah
sampai kepadanya.
Ia tidak tahu mengapa ingatan itu
muncul.
Mungkin karena usia.
Mungkin karena waktu memang memiliki
caranya sendiri untuk menghidupkan kembali kenangan yang telah lama tertidur.
Di Sriwidadi, Redi masih memandangi
layar teleponnya.
Tombol "Tambah Teman"
berada tepat di depan matanya.
Jarak antara ujung jarinya dan tombol
itu tidak lebih dari beberapa sentimeter.
Namun baginya...
Jarak itu terasa lebih jauh daripada
perjalanan dari Jawa menuju Kalimantan tiga puluh tahun yang lalu.
Ia menarik napas panjang.
Lalu mematikan layar telepon.
"Belum..."
bisiknya.
"Aku harus benar-benar
yakin."
Ia tidak ingin mengganggu kehidupan
siapa pun.
Tidak ingin membuka luka lama.
Tidak ingin membuat kesalahpahaman.
Namun jauh di dalam hatinya, sebuah
harapan kecil mulai tumbuh.
Bukan harapan untuk mengulang masa
lalu.
Melainkan harapan untuk mengetahui
satu hal yang selama tiga puluh tahun tidak pernah ia ketahui.
Apakah Ariyani
benar-benar hidup bahagia?
Pertanyaan sederhana itu terus
berputar di dalam benaknya.
Sementara takdir, diam-diam, sedang
tersenyum.
Karena waktu pertemuan mereka
kembali...
tinggal selangkah lagi.
BAB XXVII
Sebuah Permintaan Pertemanan
Malam di Desa Sriwidadi terasa begitu
tenang.
Gerimis tipis membasahi halaman rumah.
Di kejauhan terdengar suara jangkrik
bersahutan, sementara lampu-lampu rumah warga mulai satu per satu dipadamkan.
Di teras rumahnya, Redi masih duduk
sendiri.
Secangkir kopi di atas meja telah lama
dingin.
Namun pikirannya masih tertuju pada
layar telepon genggam yang berada di hadapannya.
Foto profil itu masih terbuka.
Seorang perempuan berkerudung lembut
sedang tersenyum bersama anak-anak dan cucu-cucunya.
Nama yang tertulis di bawahnya membuat
dada Redi kembali berdebar.
Ariyani.
Nama yang selama tiga puluh tahun
hanya hidup di dalam ingatan.
Nama yang pernah mengisi seluruh ruang
masa mudanya.
Nama yang selama ini hanya ia sebut
dalam doa-doa yang tak pernah diketahui siapa pun.
Redi kembali memperbesar foto itu.
Usia memang telah mengubah wajahnya.
Garis-garis halus mulai tampak di
sekitar mata.
Senyumnya lebih teduh.
Sorot matanya lebih dewasa.
Namun Redi masih mengenali mata itu.
Mata yang dahulu selalu menatapnya
dengan tulus.
Mata yang pernah berkaca-kaca ketika
melihatnya pergi meninggalkan Dusun Kersan.
"Benarkah ini kamu, Ari..."
gumamnya pelan.
Ia meletakkan telepon genggam.
Kemudian bangkit menuju kamar.
Di sudut lemari kayu, novel tua itu
masih tersimpan rapi.
Ia membukanya perlahan.
Amplop cokelat itu kembali terlihat.
Tulisan tangan yang mulai memudar
masih dapat dibaca.
Untuk Ariyani.
Redi tersenyum.
"Ternyata..."
"...aku benar-benar tidak pernah
melupakan namamu."
Namun kali ini ia tidak membuka surat
itu.
Ia hanya memandanginya beberapa saat.
Lalu menutup kembali novel tersebut.
Surat itu telah selesai menjalankan
tugasnya.
Kini bukan lagi saatnya membaca masa
lalu.
Melainkan menghadapi kenyataan hari
ini.
Di ruang tengah, istrinya melihat Redi
masih terjaga.
"Belum tidur, Pak?"
"Belum."
"Lagi baca apa?"
Redi tersenyum sambil mengangkat
telepon genggamnya.
"Lagi lihat teman-teman
lama."
"Oh..."
"Reuni sekolah?"
"Iya."
Istrinya tersenyum.
"Kalau sudah seusia kita..."
"...teman sekolah memang rasanya
seperti keluarga."
Redi mengangguk.
Ucapan sederhana itu justru membuat
hatinya semakin tenang.
Ia sadar, kehidupan yang dimilikinya
sekarang adalah anugerah yang harus dijaga.
Apa pun yang akan dilakukannya malam
itu, tidak boleh melukai kepercayaan keluarganya maupun keluarga Ariyani.
Di Dusun Kersan, malam juga telah
larut.
Ariyani baru saja selesai berbincang
dengan anak sulungnya melalui panggilan video.
Setelah telepon ditutup, ia membuka
media sosial.
Masih canggung.
Masih sesekali bertanya kepada
cucunya.
"Nek, kalau ada orang yang ingin
berteman, nanti muncul di mana?"
"Di sini, Nek."
"Oh..."
"Mudah juga ya."
Cucunya tertawa kecil.
"Iya."
"Dulu zaman Nenek susah."
"Kalau sekarang semua serba
cepat."
Ariyani hanya tersenyum.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa
teknologi yang dianggap rumit itu sebentar lagi akan menghadirkan seseorang
dari masa lalunya.
Di Sriwidadi, Redi kembali membuka
aplikasi media sosial.
Jemarinya bergerak perlahan.
Ia membuka kembali akun Ariyani.
Beberapa foto keluarga terpampang di
sana.
Foto bersama anak-anak.
Foto bersama cucu.
Foto saat menghadiri acara keluarga.
Semuanya memancarkan kebahagiaan.
Redi tersenyum lega.
"Alhamdulillah..."
"...ternyata kamu benar-benar
bahagia."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tidak ada lagi rasa ingin memiliki.
Yang ada hanyalah rasa syukur.
Namun satu pertanyaan terus
mengganggunya.
"Haruskah aku
menyapa?"
Ia menatap tombol biru bertuliskan:
Tambah Teman
Jari telunjuknya berhenti beberapa
sentimeter di atas layar.
Ia kembali menariknya.
Lalu berhenti lagi.
Begitu berkali-kali.
Bahkan perjalanan menuju Kalimantan
tiga puluh tahun silam tidak pernah membuatnya segugup malam itu.
Tiba-tiba teleponnya bergetar.
Pesan dari Wahyu masuk.
"Di... itu
benar Ariyani. Aku ketemu waktu reuni warga Tegorejo tahun lalu. Orangnya masih
ramah seperti dulu."
Redi membaca pesan itu berulang kali.
Dadanya terasa hangat.
Kini ia tidak lagi ragu mengenai
identitas perempuan dalam foto tersebut.
Yang masih tersisa hanyalah
keberanian.
Ia memejamkan mata sejenak.
Dalam hati ia berdoa.
"Ya Allah...
bila pertemuan ini hanya akan membawa kebaikan, mudahkanlah. Tetapi bila justru
akan membuka luka lama, maka cukupkanlah kenangan ini sebagai penghibur masa
tua kami."
Doa itu membuat hatinya menjadi lebih
tenang.
Ia membuka mata.
Lalu mengusap layar teleponnya
perlahan.
Jarinya akhirnya menyentuh tombol itu.
Permintaan
pertemanan terkirim.
Sederhana.
Hanya satu sentuhan.
Namun sentuhan kecil itu telah
menembus jarak lebih dari seribu kilometer.
Menembus waktu tiga puluh tahun.
Menembus puluhan musim hujan dan
kemarau yang pernah memisahkan dua insan.
Redi meletakkan telepon genggamnya di
atas meja.
Ia tidak lagi menunggu.
Tidak ingin memaksa.
Bila permintaan itu diterima, ia akan
bersyukur.
Bila ditolak, ia pun akan tetap
bersyukur.
Karena setidaknya ia telah menutup
satu pintu keraguan yang selama ini tersimpan di dalam hatinya.
Di Dusun Kersan, keesokan paginya,
ketika Ariyani selesai menyapu halaman rumah, telepon genggamnya berbunyi
pelan.
Ting...
Sebuah notifikasi muncul di layar.
"Anda menerima
satu permintaan pertemanan."
Ariyani mengusap tangannya yang masih
sedikit basah.
Kemudian mengambil telepon itu.
Ia membuka notifikasi tersebut.
Sesaat kemudian...
Napasnya tertahan.
Matanya membesar.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Di layar teleponnya tertulis sebuah
nama yang selama tiga puluh tahun hanya hidup sebagai kenangan.
Redi.
Pemuda dari Dusun Cegunan.
Pemuda yang dahulu selalu berdiri di
depan rumah Bu Ros.
Pemuda yang pergi tanpa sempat
benar-benar berpamitan.
Dan kini...
Kembali hadir.
Bukan mengetuk pintu rumahnya.
Melainkan mengetuk pintu kenangan yang
telah lama tertutup oleh waktu.
Ariyani memegang telepon genggam itu
dengan kedua tangan.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia berbisik lirih,
"Mas Redi..."
Tiga puluh tahun ternyata tidak mampu
menghapus sebuah nama.
Ia hanya membuatnya semakin berarti.
Revisi Adegan BAB XXVIII
Pagi itu, matahari baru saja menyinari
halaman rumah Ariyani di Jl. KH. Ahmad Noer Fathoni, Dusun Kersan.
...
Ia memperbesar foto profil laki-laki
berambut yang mulai memutih itu.
Meski usia telah mengubah wajahnya,
Ariyani langsung mengenalinya.
Sorot mata itu.
Senyum itu.
Cara berdiri dalam foto itu.
Semuanya masih mengingatkannya kepada
seorang pemuda berseragam putih abu-abu yang dahulu sering datang ke rumah Bu
Ros.
Tanpa sadar, air matanya menetes.
Bukan karena sedih.
Bukan pula karena menyesal.
Melainkan karena takdir ternyata masih
menyimpan sebuah perjumpaan yang tidak pernah ia bayangkan.
"Nduk..."
suara anak bungsunya terdengar dari
ruang tengah.
"Iya?"
"Ibu lihat apa?"
Ariyani segera mengusap air matanya.
"Hanya melihat teman lama."
"Teman sekolah?"
Ariyani tersenyum.
"Bukan."
"...teman masa muda."
Anaknya tersenyum kecil.
"Wah... pasti sudah lama sekali
ya, Bu?"
Ariyani mengangguk pelan.
"Hampir tiga puluh tahun kami
tidak pernah saling mengetahui kabar."
Tak lama kemudian anak sulungnya yang
sedang libur kuliah keluar dari kamar.
"Ibu..."
"Nanti sore saya kembali ke
kampus."
"Iya, Nak."
Percakapan sederhana itu kembali
mengingatkan Ariyani bahwa hidupnya kini telah memiliki tanggung jawab yang
jauh lebih besar daripada sekadar mengenang masa lalu.
Di Desa Sriwidadi, telepon genggam
Redi bergetar.
Permintaan Anda
telah diterima.
Redi memandang layar cukup lama.
Senyum kecil menghiasi wajahnya.
Di ruang tamu terdengar suara istrinya
sedang berbincang melalui telepon dengan anak sulung mereka.
"Bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah sehat."
"Semoga kalian segera diberi
momongan."
Redi tersenyum mendengar percakapan
itu.
Anak sulungnya memang telah menikah
beberapa waktu lalu.
Namun hingga kini pasangan muda itu
masih menanti kehadiran buah hati.
Ia memanjatkan doa dalam hati agar mereka
segera dikaruniai keturunan.
Kemudian pandangannya kembali tertuju
pada layar telepon genggam.
Hari itu, Tuhan juga menghadiahkan
kabar yang selama tiga puluh tahun hanya hidup sebagai doa.
Sebuah kabar dari seseorang yang
pernah mengisi masa mudanya.
Namun kini...
ia hadir hanya sebagai sahabat lama
yang ingin memastikan bahwa masing-masing telah hidup dengan baik.
BAB XXIX
Semua
yang Tak Pernah Terucap
Malam itu, langit di atas Desa Sriwidadi dipenuhi bintang.
Udara terasa sejuk setelah hujan yang turun sejak menjelang Magrib. Redi duduk
sendirian di ruang kerjanya. Di atas meja hanya ada secangkir teh hangat dan
telepon genggam yang sejak sore tak pernah jauh dari genggamannya.
Di layar masih terbuka percakapan dengan Ariyani.
Percakapan pertama mereka setelah tiga puluh tahun. Singkat. Sederhana. Namun
cukup membuat hati keduanya bergetar oleh kenangan.
Di Sriwidadi, Redi
Menunggu
Redi menatap layar teleponnya. Percakapan dengan Ariyani
masih terbuka. Ia sudah membaca setiap kata berkali-kali.
"Tidak mengganggu, Mas. Justru Ari bersyukur akhirnya
mengetahui kabar Mas Redi."
Ia tersenyum. Tapi tangannya masih gemetar.
"Tiga puluh tahun," bisiknya. "Tiga puluh
tahun."
Ia menyesap tehnya—yang sudah dingin. Tidak peduli.
"Bagaimana kabar keluarga?" tulisnya.
Ia menekan kirim. Lalu menunggu.
Di Dusun Kersan, Ariyani
Membaca
Di Dusun Kersan, Ariyani juga belum beranjak tidur.
Suaminya telah lebih dahulu beristirahat. Anak-anaknya sibuk dengan urusan
masing-masing. Rumah mulai sunyi.
Ia membuka kembali percakapan itu. Membaca salam dari Redi
untuk yang kesekian kalinya. Ia tersenyum kecil. Bukan karena kembali jatuh
cinta. Melainkan karena akhirnya sebuah tanda tanya yang tersimpan selama
puluhan tahun mulai menemukan jawabannya.
Teleponnya bergetar. Pesan baru.
"Alhamdulillah. Anak sulung saya sudah menikah. Kami
masih menunggu kabar baik, semoga Allah segera mengaruniakan mereka buah hati.
Anak-anak yang lain juga sudah mulai mandiri."
Ariyani tersenyum membaca balasan itu.
"Semoga segera diberi momongan, Mas. Aamiin."
"Aamiin. Terima kasih, Ari."
Percakapan itu terasa hangat. Tidak ada lagi jarak ribuan
kilometer. Yang ada hanyalah dua keluarga yang saling mendoakan.
Pertanyaan yang
Menggantung
Setelah beberapa saat, Redi mengetik kembali. Jemarinya
berhenti cukup lama sebelum menekan tombol kirim.
"Ari... bolehkah saya bertanya satu hal?"
Beberapa detik kemudian. "Silakan, Mas."
Redi menarik napas panjang. Lalu menulis.
"Dulu... apakah kamu marah karena saya pergi tanpa
benar-benar berpamitan?"
Pesan itu terkirim.
Di Dusun Kersan, Ariyani memandang layar cukup lama.
Matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengingat pagi ketika melihat Redi dibonceng
sepeda motor menuju jalan raya. Lambaian tangan itu. Tatapan mata itu. Masih
jelas di dalam ingatannya.
Beberapa menit kemudian ia membalas.
"Jujur, waktu itu Ari sedih."
"Bukan karena Mas pergi."
"Tetapi karena Ari tidak pernah tahu mengapa Mas
benar-benar menghilang."
Redi Menjelaskan
Redi membaca perlahan. Dadanya terasa sesak. Ia mengetik
dengan hati-hati—setiap kata dipilih dengan cermat.
"Saya memilih pergi karena ingin belajar menerima
kenyataan."
"Saya tidak ingin Bu Ros merasa saya tidak menghormati
nasihat beliau."
"Dan saya juga tidak ingin membuatmu berada dalam
posisi yang sulit."
Ariyani menutup matanya sejenak. Air mata perlahan jatuh.
Selama bertahun-tahun ia mengira Redi pergi karena kecewa
kepadanya. Ternyata... Pemuda itu pergi justru karena menghormati keluarganya.
"Mas..." tulisnya. "Terima
kasih karena waktu itu sudah menghormati Ibu."
"Ibu sebenarnya tidak pernah membenci Mas."
"Beliau hanya ingin menjaga Ari yang masih terlalu
muda."
Redi tersenyum haru. Ia merasa seolah beban yang dipikulnya
selama tiga puluh tahun perlahan terangkat.
Mengenang Samid
Percakapan berlanjut. Mereka mengenang masa sekolah.
Tentang SMA Negeri 1 Pegandon. Tentang SMP Negeri 1 Pegandon. Tentang guru-guru
yang dahulu mereka hormati. Tentang Jalan Tegorejo–Pegandon. Tentang pohon
randu tua yang menjadi saksi bisu masa remaja mereka.
Sesekali mereka tertawa. Sesekali mereka terdiam. Kenangan
yang dahulu terasa pahit kini berubah menjadi cerita yang menghangatkan hati.
Lalu nama itu muncul. Samid.
Redi yang memulai. "Apakah kamu masih ingat
Samid?"
Balasan datang cepat. "Masih. Beberapa tahun
yang lalu kami bertemu di sebuah acara warga. Ia sempat bercerita banyak."
Redi tersenyum kecil. "Ia juga pernah
menghubungi saya. Ia meminta maaf atas semua sikapnya ketika kami masih
remaja."
Ariyani menjawab. "Begitulah masa muda, Mas.
Kadang kita sama-sama belum dewasa."
Redi mengangguk sendiri di depan layar. Benar. Tidak ada
lagi yang pantas dipersalahkan. Samid. Bu Ros. Ariyani. Bahkan dirinya sendiri.
Semua hanya sedang belajar menjadi dewasa.
Surat Itu
Beberapa menit kemudian, Redi memberanikan diri membuka satu
rahasia yang selama tiga puluh tahun hanya ia simpan sendiri.
"Ari..."
"Sebenarnya ada sesuatu yang belum pernah kamu
ketahui."
"Apa itu, Mas?"
Redi bangkit dari kursinya. Menuju lemari kayu. Mengambil
novel tua yang telah menemaninya sejak meninggalkan Jawa. Ia membuka halaman
tengahnya. Amplop cokelat itu masih ada.
Ia memotretnya. Lalu mengirimkan foto tersebut.
Beberapa detik kemudian. Pesan masuk dari Ariyani.
"Itu apa, Mas?"
Redi menjawab.
"Surat yang saya tulis untukmu."
"Tetapi tidak pernah saya berikan."
Reaksi Ariyani
Di Dusun Kersan, Ariyani memandangi foto itu cukup lama.
Tangannya gemetar. Air matanya kembali mengalir.
Amplop cokelat. Tulisan tangan yang masih terbaca. "Untuk
Ariyani."
Surat itu. Surat yang selama tiga puluh tahun tidak pernah
ia ketahui keberadaannya.
"Mengapa tidak diberikan?" tulisnya—tangannya masih gemetar.
Redi membalas.
"Karena saya sadar..."
"Perasaan tidak boleh dipaksakan."
"Dan sejak kamu mengatakan bahwa kamu menganggap saya
sebagai kakak, saya memilih menghormati kejujuranmu."
Ariyani menutup matanya. Air mata mengalir deras.
Ia membayangkan Redi—pemuda yang selalu datang dengan buku,
yang selalu tersenyum, yang selalu menghormati ibunya. Pemuda yang menyimpan
surat itu selama tiga puluh tahun. Tanpa pernah mengeluh. Tanpa pernah memaksa.
Ia mengetik—dengan tangan yang masih gemetar.
"Mas..."
"Ari tidak pernah tahu."
"Ari tidak pernah tahu Mas menyimpan perasaan
itu."
"Kalau Ari tahu..."
Ia berhenti. Tidak bisa melanjutkan.
"Kalau Ari
Tahu..."
Redi menahan napas. Ia menatap layar—menunggu.
Beberapa saat kemudian, pesan dari Ariyani masuk.
"Mas..."
"Kalau Ari tahu..."
"Ari tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Mungkin Ari akan bingung."
"Mungkin Ari akan menangis."
"Tapi Ari..."
Ia berhenti lagi. Lalu melanjutkan.
"Ari tidak akan pernah membenci Mas."
Redi memejamkan mata. Air mata jatuh.
"Ari..." tulisnya. "Terima
kasih."
"Terima kasih karena akhirnya aku tahu bahwa cintaku
tidak sia-sia."
Penutupan yang Indah
Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Percakapan
mulai melambat. Sebelum menutup telepon genggamnya, Ariyani menulis satu
kalimat.
"Mas..."
"Kalau dulu kita dipisahkan oleh waktu..."
"Hari ini waktu pula yang mempertemukan kita
kembali."
Redi membalas.
"Iya, Ari."
"Tetapi kali ini bukan untuk mengulang masa
lalu."
"Melainkan untuk mengucapkan terima kasih kepada masa
lalu."
Di dua tempat yang berbeda, mereka sama-sama tersenyum.
Tidak ada lagi pertanyaan yang menggantung. Tidak ada lagi
prasangka. Tidak ada lagi luka yang belum sembuh. Yang tersisa hanyalah rasa
syukur.
Karena akhirnya... semua yang selama ini tak pernah terucap
telah menemukan kata-katanya. Dan kini, mereka siap menutup kisah itu dengan
cara yang paling indah. Bukan sebagai sepasang kekasih. Melainkan sebagai dua
sahabat lama yang saling menghormati, saling mendoakan, dan sama-sama
mengikhlaskan.
Setelah Percakapan
Berakhir
Redi menutup teleponnya. Ia masih duduk di ruang kerjanya.
Teh di hadapannya benar-benar dingin.
Ia memandang langit malam melalui jendela. Bintang-bintang
masih bertaburan.
"Ari..." bisiknya. "Terima kasih."
Ia tersenyum. Senyum yang berbeda dari senyum-senyum
sebelumnya. Senyum yang ringan. Senyum yang lega.
Di Dusun Kersan, Ariyani juga masih duduk. Teleponnya sudah
dimatikan. Tapi ia masih memandang layar yang gelap.
Ia mengusap air matanya—yang kini mulai kering.
"Mas Redi..." bisiknya. "Terima kasih."
Ia tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang lega.
BAB XXX
Kasih
Tak Sampai
Pagi itu, matahari perlahan muncul dari ufuk timur.
Cahayanya menyentuh atap-atap rumah di Dusun Kersan, lalu menerobos pepohonan
yang berdiri di sepanjang Jalan Tegorejo–Pegandon.
Pada saat yang hampir bersamaan, sinarnya juga menyapa Desa
Sriwidadi di Kalimantan Tengah.
Dua tempat yang dipisahkan oleh ribuan kilometer. Namun
pagi itu, keduanya terasa begitu dekat. Bukan karena jarak. Melainkan karena
sebuah percakapan yang telah menuntaskan tiga puluh tahun penantian.
Beberapa Hari Kemudian
Beberapa hari setelah percakapan panjang itu, Redi dan
Ariyani masih sesekali saling berkirim pesan. Bukan setiap hari. Bukan pula
sepanjang waktu. Mereka sama-sama memahami bahwa kehidupan masing-masing telah
memiliki keluarga yang harus dijaga.
Percakapan mereka sederhana. Menanyakan kesehatan. Mengirim
ucapan pada hari-hari besar. Sesekali saling mengirim foto suasana kampung
halaman. Tidak lebih.
Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat persahabatan
mereka terasa tulus.
Suatu sore, Redi mengirimkan sebuah foto. Foto Jalan
Tegorejo–Pegandon yang diperolehnya dari seorang teman lama saat pulang ke
Jawa.
Di bawah foto itu ia menulis, "Jalan ini masih
menjadi saksi perjalanan hidup kita."
Beberapa menit kemudian Ariyani membalas. "Jalannya
sudah berubah, Mas. Aspalnya lebih halus. Rumah-rumah juga semakin banyak.
Tetapi setiap melewatinya, Ari masih teringat masa sekolah."
Redi tersenyum. Ia membayangkan jalan yang dahulu setiap
sore dilaluinya dengan sepeda. Jalan yang pernah dipenuhi harapan. Jalan yang
akhirnya juga mengantarnya menuju perpisahan.
Malam Itu, di Sriwidadi
Pada suatu malam yang tenang, Redi kembali membuka lemari
kayu di ruang kerjanya. Novel tua itu masih tersimpan rapi.
Ia mengeluarkan amplop cokelat yang telah menguning.
Perlahan ia membuka lipatannya. Untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun,
ia membaca kembali isi surat yang pernah ditulis oleh seorang remaja berusia
delapan belas tahun.
Tulisan tangannya masih tampak jelas. Isinya sederhana.
Tentang kekaguman. Tentang harapan. Tentang impian seorang anak muda yang jatuh
cinta untuk pertama kalinya.
Redi tersenyum.
Kemudian melipat kembali surat itu. Tidak ada lagi alasan
untuk menyimpannya sebagai luka. Surat itu kini telah berubah menjadi bagian
dari sejarah hidupnya.
Ia memasukkannya kembali ke dalam novel. Lalu menutup
lemari perlahan.
"Terima kasih..." bisiknya. "Berkat surat
yang tidak pernah terkirim itu, aku belajar bahwa mencintai tidak selalu
berarti memiliki."
Ia menatap lemari itu—di mana surat itu sekarang tersimpan.
"Dan aku belajar," lanjutnya pelan, "bahwa
keikhlasan bukanlah tentang melupakan. Tapi tentang menerima bahwa beberapa
cerita tidak perlu memiliki akhir yang kita inginkan untuk tetap indah."
Ia berdiri. Berjalan ke jendela. Memandang langit malam
yang dipenuhi bintang.
"Ari..." bisiknya. "Aku ikhlas."
Kata-kata itu keluar dengan tenang. Tanpa beban. Tanpa air
mata.
Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, Redi
benar-benar mengucapkannya dan merasakannya.
Malam Itu, di Dusun
Kersan
Di Dusun Kersan, pada malam yang sama, Ariyani sedang
merapikan lemari pakaian peninggalan Bu Ros. Di sela-sela lipatan kain batik,
ia menemukan sebuah saputangan putih yang dahulu sering dipakai ibunya.
Saputangan itu mengingatkannya pada begitu banyak nasihat
yang pernah ia terima. Tentang menjaga kehormatan. Tentang memilih waktu yang tepat.
Tentang arti kesabaran.
Ia duduk di tepi ranjang. Memandang foto Bu Ros yang
tergantung di dinding.
"Ibu..." ucapnya lirih. "Terima kasih."
Ia berhenti. Air mata mulai menggenang.
"Dulu Ari sempat mengira Ibu terlalu keras. Sekarang
Ari mengerti. Semua yang Ibu lakukan adalah bentuk kasih sayang."
Ia memegang saputangan itu—mengusap permukaannya yang
lembut.
"Ibu..." lanjutnya. "Ari baru sadar
sekarang. Mas Redi... dia mencintai Ari. Dan Ari... Ari tidak pernah
tahu."
Air matanya jatuh perlahan.
"Tapi Ari tidak menyesal, Bu. Karena Mas Redi
mengajarkan Ari tentang ketulusan. Tentang bagaimana mencintai dengan cara yang
baik. Tentang bagaimana pergi tanpa meninggalkan luka."
Ia tersenyum—meskipun air mata masih mengalir.
"Ari beruntung, Bu. Karena Ari pernah dikasihi oleh
seseorang sebaik Mas Redi."
Ia menatap foto ibunya—seolah ibunya bisa mendengar.
"Terima kasih, Bu. Karena Ibu sudah menjaga Ari.
Karena Ibu sudah mengajarkan Ari tentang batas. Dan karena Ibu..." Ia
berhenti. "...karena Ibu tidak pernah membenci Mas Redi, meskipun Ibu
harus menjauhkannya."
Air matanya jatuh—bukan air mata penyesalan. Melainkan air
mata seorang anak yang akhirnya memahami cinta seorang ibu, dan seorang
perempuan yang akhirnya memahami cinta seorang pemuda.
Pesan Terakhir
Malam itu, sebuah pesan kembali masuk ke telepon genggam
Ariyani. Dari Redi.
"Ari, bolehkah saya menyampaikan satu kalimat terakhir
tentang masa lalu kita?"
Ariyani membaca pelan. Lalu membalas. "Silakan,
Mas."
Beberapa saat kemudian, jawaban Redi muncul.
"Dulu aku pernah kecewa karena merasa cintaku bertepuk
sebelah tangan. Tetapi sekarang aku sadar... Yang gagal bukan cintaku. Yang
berbeda hanyalah tujuan kita. Kamu tidak pernah salah karena jujur sejak awal.
Dan aku tidak menyesal pernah mencintaimu."
Ariyani memejamkan mata. Air mata kembali mengalir.
Ia kemudian mengetik dengan perlahan—setiap kata dipilih
dengan hati-hati.
"Mas..."
"Terima kasih karena akhirnya mengerti perasaan
Ari."
"Sejak dulu Ari memang hanya mampu memandang Mas
sebagai seorang kakak."
"Bukan karena Mas kurang baik."
"Tetapi karena hati tidak pernah bisa dipaksa."
"Dan sampai hari ini, Ari tetap menghormati ketulusan
Mas."
Ia berhenti. Lalu melanjutkan.
"Mas..."
"Ari tidak tahu apakah Ari pernah mencintai Mas."
"Tapi Ari tahu..."
"Ari merindukan Mas."
"Bukan sebagai kekasih."
"Tapi sebagai seseorang yang pernah membuat hari-hari
Ari terasa lebih hangat."
Redi Membaca
Redi membaca setiap kata. Perlahan. Berulang kali.
"Ari merindukan Mas. Bukan sebagai kekasih. Tapi sebagai
seseorang yang pernah membuat hari-hari Ari terasa lebih hangat."
Ia menutup mata. Dadanya terasa hangat—bukan sesak, tetapi
hangat.
"Terima kasih, Ari," tulisnya. "Kata-kata itu... cukup."
"Cukup untuk membuat tiga puluh tahun ini terasa
berarti."
Beberapa saat kemudian, Ariyani membalas.
"Mas..."
"Kalau suatu hari nanti kita bertemu..."
"Ari ingin berjabat tangan dengan Mas."
"Sebagai dua sahabat lama yang sudah sama-sama
tua."
"Dan Ari ingin tersenyum."
"Senyum yang sama seperti dulu."
Redi tersenyum—air mata jatuh, tetapi ia tersenyum.
"Aku akan tersenyum juga, Ari."
"Dan kita akan tertawa."
"Tertawa tentang masa muda kita."
"Tentang surat yang tidak pernah terkirim."
"Tentang semua yang tidak pernah terucap."
"Dan tentang bagaimana kita akhirnya memahami
semuanya."
Penutupan
Beberapa saat kemudian, Redi kembali membalas.
"Terima kasih, Ari."
"Hari ini aku benar-benar bisa mengikhlaskan
semuanya."
"Semoga Allah selalu menjaga keluargamu."
Tak lama kemudian Ariyani menjawab.
"Aamiin."
"Semoga Allah juga menjaga keluarga Mas Redi."
"Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari
perjalanan hidup Ari."
Percakapan itu berakhir tanpa kesedihan. Tanpa penyesalan.
Tanpa harapan yang berlebihan. Hanya ada doa yang saling mengiringi.
Malam Semakin Larut
Malam semakin larut. Di Desa Sriwidadi, Redi menatap langit
dari teras rumah. Di Dusun Kersan, Ariyani juga memandang langit yang sama dari
halaman rumahnya.
Bintang-bintang bertebaran. Angin malam bertiup lembut.
Mereka memang tidak lagi berada di jalan yang sama. Namun
mereka pernah berjalan pada waktu yang sama. Dan itu telah cukup.
Redi menutup teleponnya. Ia memandang langit—dan untuk
pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, ia tidak merasakan sesak di dadanya.
"Ari..." bisiknya. "Terima kasih. Untuk
semuanya."
Di tempat lain, Ariyani juga menutup teleponnya. Ia
memandang langit yang sama.
"Mas Redi..." bisiknya. "Terima kasih.
Karena telah mencintai Ari dengan cara yang baik."
Refleksi
Karena tidak semua kisah cinta diciptakan untuk berakhir di
pelaminan. Ada kisah yang ditakdirkan menjadi pelajaran. Ada yang menjadi
penguat langkah. Ada yang menjadi alasan seseorang tumbuh lebih dewasa.
Begitu pula kisah Redi dan Ariyani.
Kasih mereka memang tak sampai menjadi pasangan hidup.
Namun kasih itu tidak pernah berubah menjadi kebencian. Tidak pula menjadi
penyesalan. Kasih itu tumbuh menjadi penghormatan. Menjadi persahabatan.
Menjadi doa yang tulus dari kejauhan.
Dan pada akhirnya, keduanya menyadari bahwa cinta pertama
bukanlah tentang siapa yang berhasil dimiliki. Melainkan tentang siapa yang
mengajarkan kita arti mencintai dengan tulus, menghormati pilihan, menerima
takdir, dan mengikhlaskan dengan lapang hati.
Di sanalah mereka menemukan jawaban yang selama ini dicari.
Bahwa kasih yang tak sampai bukanlah kisah tentang kegagalan. Melainkan kisah
tentang dua insan yang dipertemukan untuk saling mendewasakan, kemudian
dipisahkan agar masing-masing dapat menemukan jalan hidupnya sendiri.
Dan ketika waktu mempertemukan mereka kembali tiga puluh
tahun kemudian, tidak ada lagi yang perlu dipersoalkan. Yang tersisa hanyalah
rasa syukur. Karena mereka pernah saling mengenal. Pernah saling menjaga.
Pernah saling mendoakan.
Dan akan terus saling mendoakan hingga akhir perjalanan
hidup.
Begitulah takdir menulis kisah mereka. Sederhana. Sunyi.
Namun abadi.
EPILOG
Musim penghujan kembali menyelimuti Desa Tegorejo.
Gerimis tipis turun membasahi Jalan Tegorejo–Pegandon yang
kini telah beraspal hitam dan jauh lebih lebar dibandingkan tiga puluh tahun silam.
Di kanan-kirinya berdiri rumah-rumah yang lebih kokoh. Anak-anak sekolah
berlalu-lalang dengan sepeda motor. Suasana desa telah berubah mengikuti
perkembangan zaman.
Namun bagi sebagian orang, ada kenangan yang tidak pernah
ikut berubah.
Ribuan kilometer dari sana, di Desa Sriwidadi, Redi menutup
layar komputer kerjanya. Rambutnya mulai dipenuhi uban. Kerutan tipis menghiasi
wajahnya. Namun senyumnya tetap sama seperti dahulu. Tenang. Teduh.
Di ruang keluarga, istrinya sedang menyiapkan minuman hangat.
Anak sulungnya yang telah berumah tangga datang berkunjung bersama istrinya.
Mereka masih menanti anugerah seorang anak.
Redi memandang mereka dengan penuh kasih. Dalam hati ia
berdoa, "Ya Allah, bahagiakanlah anak-anakku sebagaimana Engkau telah
membahagiakan hidupku."
Ia menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam
bentuk yang pernah kita impikan saat muda. Kadang ia hadir dalam bentuk yang
sama sekali berbeda. Dan justru itulah yang terbaik.
Di Dusun Kersan, Ariyani baru saja mengantar anak sulungnya
kembali ke kampus. Rumah kembali lengang. Ia duduk di teras, tempat yang dahulu
menjadi saksi begitu banyak cerita masa remajanya.
Di atas meja kecil terletak telepon genggam. Sesekali ia
membuka percakapannya dengan Redi. Bukan untuk bernostalgia berlebihan.
Melainkan karena percakapan itu selalu mengingatkannya bahwa setiap luka, jika
diterima dengan ikhlas, pada akhirnya akan berubah menjadi pelajaran hidup.
Hubungan mereka kini sederhana. Sesekali saling mengucapkan
selamat Hari Raya. Sesekali saling bertanya kabar. Kadang saling mengirim foto
suasana desa.
Redi pernah mengirimkan foto Sungai Kapuas yang membelah
Kalimantan.
Ariyani membalas dengan foto Jalan Tegorejo–Pegandon pada
sore hari. Di bawah foto itu ia menulis, "Jalannya sudah berubah,
Mas."
Redi membalas, "Jalannya berubah, tetapi
kenangannya tetap tinggal di sana."
Ariyani hanya membalas dengan sebuah emoji senyum. Karena
ia tahu, tidak semua kenangan harus dijelaskan dengan kata-kata.
Suatu hari, sebuah pesan masuk ke telepon Redi. Pengirimnya
adalah Samid.
"Di, kalau suatu saat pulang ke Tegorejo, kabari
aku."
Redi tersenyum. Hubungan mereka yang dahulu retak kini
telah lama pulih. Beberapa tahun sebelumnya, Samid telah meminta maaf dengan
tulus. Redi menerimanya tanpa menyimpan dendam.
Mereka sama-sama menyadari bahwa manusia sering kali
melakukan kesalahan ketika masih muda. Yang terpenting bukanlah kesalahannya,
melainkan keberanian untuk memperbaikinya.
Pada suatu kesempatan, Redi akhirnya pulang ke Tegorejo
untuk menghadiri acara keluarga. Kabar kepulangannya diketahui oleh Samid.
Mereka bertemu di sebuah warung kopi sederhana di dekat jalan utama desa.
Rambut mereka sama-sama mulai memutih. Tawa mereka tidak lagi sekeras masa
muda.
Namun persahabatan itu kembali terasa hangat.
Samid menatap Redi cukup lama. "Di... terima
kasih. Karena kamu sudah memaafkanku."
Redi tersenyum. "Kita semua pernah muda, Mid.
Kita semua pernah salah."
Samid mengangguk. Lalu mereka tertawa kecil mengenang
berbagai kenakalan masa sekolah. Tak ada lagi persaingan. Tak ada lagi
kecemburuan. Yang tersisa hanyalah cerita.
Sebelum kembali ke Kalimantan, Redi menyempatkan diri
melewati Jalan Tegorejo–Pegandon.
Ia tidak berhenti. Hanya memperlambat laju kendaraannya.
Matanya menyapu setiap sudut jalan itu.
Di kejauhan tampak rumah Bu Ros yang kini telah ditempati
keluarga Ariyani. Halamannya masih bersih. Teras rumahnya masih menghadap ke
jalan.
Sejenak Redi memejamkan mata. Di dalam benaknya, ia seperti
melihat kembali dua remaja yang sedang tertawa di teras rumah. Seorang pemuda
berseragam putih abu-abu. Dan seorang gadis berseragam putih biru.
Namun ketika ia membuka mata, yang ada hanyalah jalan yang
dipenuhi kendaraan dan kehidupan yang terus berjalan.
Ia tersenyum. Kemudian melanjutkan perjalanan. Tanpa perlu
singgah.
Karena yang ingin ia kunjungi bukan rumah itu. Melainkan
kenangan yang telah lama berdamai di dalam hatinya.
Beberapa hari kemudian, sebuah pesan masuk ke telepon
Ariyani.
Redi: "Ari,
kemarin saya sempat melewati Jalan Tegorejo–Pegandon."
Ariyani: "Bagaimana
rasanya, Mas?"
Redi mengetik perlahan.
Redi: "Seperti
bertemu dengan diri sendiri yang berusia delapan belas tahun."
Ariyani tersenyum. Lalu membalas.
Ariyani: "Kalau
Ari melewati jalan itu, yang Ari lihat adalah seorang kakak yang dulu begitu
baik."
Redi membaca kalimat itu sambil tersenyum. Kali ini, kata
"kakak" tidak lagi terasa menyakitkan. Justru menjadi penghormatan
yang paling indah.
Karena akhirnya ia memahami bahwa ketulusan tidak selalu
dibalas dengan cinta. Kadang ia dibalas dengan penghargaan yang bertahan seumur
hidup.
Malam itu, mereka mengakhiri percakapan dengan doa.
"Semoga Allah menjaga keluarga kita."
"Semoga anak-anak kita menjadi anak yang saleh dan salehah."
"Semoga persahabatan ini tetap menjadi silaturahmi yang membawa
kebaikan."
Tidak ada janji untuk sering bertemu. Tidak ada rencana
mengulang masa lalu. Mereka memahami bahwa setiap kisah memiliki tempatnya
sendiri.
Dan kisah mereka telah selesai ditulis dengan cara yang
paling baik.
Di atas langit Jawa dan Kalimantan, bulan bersinar dengan
cahaya yang sama. Menghubungkan dua tempat yang dahulu dipisahkan oleh jarak.
Menghubungkan dua hati yang dahulu dipisahkan oleh waktu.
Kini mereka tidak lagi saling mencari. Karena mereka telah
saling menemukan. Bukan sebagai sepasang kekasih. Melainkan sebagai dua manusia
yang pernah bertumbuh bersama dalam kenangan.
Redi akhirnya mengerti bahwa cinta pertamanya tidak pernah
gagal. Ia hanya berubah bentuk. Dari keinginan untuk memiliki, menjadi
keikhlasan untuk mendoakan.
Dan Ariyani akhirnya memahami bahwa seorang pemuda yang
dahulu sering datang ke rumahnya bukan sekadar remaja yang sedang jatuh cinta.
Ia adalah seseorang yang telah mengajarkan, melalui sikapnya, bahwa cinta
sejati selalu berjalan berdampingan dengan rasa hormat.
Waktu terus bergerak. Musim terus berganti. Generasi baru
akan lahir. Anak-anak mereka akan menulis kisahnya sendiri.
Sementara kisah Redi dan Ariyani akan tetap tinggal sebagai
sepotong cerita sederhana dari sebuah desa kecil bernama Tegorejo. Cerita
tentang dua remaja yang dipertemukan oleh sebuah jalan, dipisahkan oleh
keadaan, dipertemukan kembali oleh waktu, lalu saling melepaskan dengan penuh
keikhlasan.
Karena pada akhirnya, cinta pertama tidak selalu menjadi
akhir perjalanan. Tetapi hampir selalu menjadi awal seseorang belajar mencintai
kehidupan.
SELESAI
"Untuk setiap
hati yang pernah patah karena cinta pertama...
Jangan membenci
kenangannya.
Sebab mungkin, di
sanalah Tuhan sedang mengajarkan cara mencintai yang paling dewasa: merelakan
tanpa kehilangan rasa hormat, mendoakan tanpa berharap memiliki, dan mengenang
tanpa ingin kembali."
— Slamet Riyadi







0 komentar:
Posting Komentar