PACARKU TENGIL
Tentang seorang gadis
yang tidak jatuh cinta pada kesempurnaan, melainkan pada kekacauan yang
perlahan ia arahkan menjadi harapan.
Oleh: Slamet Riyadi
Disclaimer
Novel ini adalah karya fiksi yang
lahir dari potret kehidupan sosial masyarakat modern, terutama dinamika remaja
dalam lingkungan yang penuh penilaian, konflik, candaan, serta perjuangan
mencari penerimaan.
Seluruh tokoh, tempat, peristiwa, dan
dialog dalam cerita disusun untuk kepentingan dramatik dan pembelajaran moral.
Jika terdapat kesamaan nama, karakter, ataupun kejadian dengan kehidupan nyata,
hal tersebut merupakan kebetulan semata.
Novel ini memuat:
- drama sosial masyarakat,
- konflik remaja,
- percintaan,
- persahabatan,
- kritik sosial,
- dan proses pendewasaan karakter.
Pembaca diharapkan mampu mengambil
sisi positif dari perjalanan tokoh-tokohnya: bahwa manusia tidak selalu harus
diubah untuk menjadi baik—kadang mereka hanya perlu dipahami dan diarahkan.
PROLOG
“Anak Tengil Itu Bernama Wawan”
Di kampung itu, suara Wawan lebih
terkenal daripada suara toa musala.
Bukan karena prestasi.
Bukan juga karena ketampanan.
Melainkan karena mulutnya yang seperti petasan tahun
baru:
meledak tanpa aba-aba.
“Wan, jangan bikin masalah terus bisa nggak sih?”
“Masalah itu bukan gue yang bikin, Pak… gue cuma nemuin.”
Begitulah dirinya.
Jika ada ibu-ibu bertengkar soal gosip, Wawan ikut
menyulut sambil tertawa.
Jika ada ronda malam terlalu sepi, Wawan datang membawa candaan yang membuat
orang emosi sekaligus terhibur.
Jika ada pemuda sok jagoan di kampung sebelah, Wawan orang pertama yang maju…
sambil tetap sempat meledek lawannya.
Orang-orang menyebutnya:
si tengil,
si pembuat ribut,
si biang kerok.
Dan anehnya… mereka tidak sepenuhnya
salah.
Namun tidak ada yang benar-benar tahu:
Wawan selalu diam-diam membantu orang-orang yang bahkan membencinya.
Ia memperbaiki motor tetangga tanpa dibayar.
Mengantar anak kecil ke puskesmas saat tengah malam.
Menjadi tameng sahabat-sahabatnya ketika masalah datang.
Ia hanya tidak pandai menjadi baik
dengan cara yang normal.
Bagi sebagian orang, Wawan adalah
masalah.
Tetapi bagi Wiwin…
Wawan adalah manusia pertama yang membuatnya merasa
hidup tidak membosankan.
Pertemuan mereka dimulai dari hal sederhana:
motor mogok,
hujan sore,
dan seorang pemuda tengil yang bukannya membantu lebih dulu, malah tertawa
sambil berkata—
“Kalau motornya mogok jangan diajak
galau, Mbak. Dia nggak ngerti perasaan.”
Wiwin kesal.
Sangat kesal.
Namun ia tidak tahu…
kalimat menyebalkan itu akan menjadi
awal dari hubungan paling rumit dalam hidupnya.
Sebab mencintai Wawan bukan hanya soal
bertahan menghadapi ketengilannya.
Tetapi juga belajar:
bagaimana mengubah kekacauan menjadi kekuatan,
bagaimana mengarahkan api tanpa memadamkannya,
dan bagaimana tetap tinggal… ketika seluruh dunia memilih pergi.
KATA PENGANTAR PENULIS
Wawan lahir dari potongan
kehidupan yang sering kita temui: pemuda yang dianggap nakal, remaja yang
mulutnya terlalu tajam, anak kampung yang sering disalahpahami. Namun diam-diam,
ia adalah orang pertama yang hadir saat lingkungan membutuhkan bantuan.
Novel ini lahir dari pengamatan
bahwa "tengil" bukan semata-mata kenakalan. Kadang, itu adalah cara
seseorang bertahan dari luka, kesepian, dan kerasnya penilaian sosial.
Dan di balik semua itu, hadir
Wiwin, gadis yang tidak datang untuk mengubah Wawan menjadi orang lain. Ia
datang untuk mengarahkan keberanian dan ketengilan itu menjadi sesuatu yang
berguna.
Ini bukan kisah cinta sempurna.
Ini tentang menerima kekurangan, bertahan dalam hubungan, dan belajar bahwa
cinta bukan selalu mencari yang terbaik… melainkan menemukan seseorang yang
tetap memilih tinggal meski mengetahui buruknya kita.
Selamat membaca petualangan
paling berisik namun paling hangat dari kampung kecil ini.
***Slamet
Riyadi***
BAB I
Anak
Tengil Gang Sebelah
Sore di kampung itu selalu punya suara sendiri.
Suara ibu-ibu memanggil anak mandi.
Suara pedagang cilok yang rodanya berbunyi miring.
Suara televisi dari rumah-rumah petak yang saling bertabrakan.
Dan yang paling khas—
suara Wawan.
“Heh, Pak RT! Itu spanduk tujuh belasan dari tahun kemarin
masih dipasang? Mau dipelihara sampai punya cucu?”
Beberapa bapak yang sedang duduk di pos ronda langsung
menahan tawa.
Sementara Pak RT Burhan memelotot tajam sambil melipat koran.
“Kamu kalau ngomong nggak usah nyolot bisa nggak, Wan?”
Wawan duduk selonjoran di bangku bambu pos ronda sambil
menyeruput kopi sachet dingin milik entah siapa.
“Loh, saya kan peduli estetika kampung, Pak. Masa gang kita
temanya ‘kemerdekaan abadi’?”
“Mulut kamu itu ya…”
“Kenapa? Ganteng?”
“Kurang ajar!”
Tawa pecah.
Wawan ikut tertawa paling keras, seolah dirinya sendiri bukan sumber keributan.
Begitulah hampir setiap hari.
Kalau kampung terlalu tenang, Wawan seperti punya kewajiban moral untuk membuat
suasana hidup kembali.
Kadang lewat candaan.
Kadang lewat komentar pedas.
Kadang juga lewat tingkah yang membuat orang ingin menjitak kepalanya.
Dan meski banyak yang mengeluh tentang dirinya…
anehnya, semua orang tetap mencari Wawan saat ada masalah.
“Wan, pompa air rumah gue mati.”
“Wan, bantu angkat lemari.”
“Wan, anterin anak gue ke bengkel.”
“Wan, pinjem obeng.”
Seolah kampung itu diam-diam sudah terbiasa dengan
keberadaannya.
Wawan sebenarnya bukan pemuda buruk rupa.
Tubuhnya tinggi kurus, rambut sedikit berantakan, mata tajam, dan senyum miring
yang lebih sering muncul saat ia sedang mengerjai orang.
Usianya baru dua puluh tahun.
Tapi kelakuannya kadang seperti bocah SMP yang baru belajar meledek orang.
Kadang juga seperti orang dewasa yang terlalu cepat memahami kerasnya hidup.
Ia tinggal berdua dengan ibunya di rumah kecil ujung gang.
Ayahnya sudah lama pergi entah ke mana.
Dan sejak kecil, Wawan tumbuh bersama suara pertengkaran, sindiran tetangga,
dan hidup yang memaksanya belajar bertahan lebih cepat dari anak seusianya.
Mungkin itu sebabnya mulutnya selalu lebih cepat bergerak
daripada perasaannya.
“Wan! Itu motor siapa diparkir sembarangan?!”
Suara Pak RT kembali terdengar.
Wawan menoleh santai.
“Oh itu motor Bang Deni.”
“Ganggu jalan!”
“Biarin aja, Pak. Siapa tahu motornya lagi nyari jati
diri.”
“WAWAN!”
Lagi-lagi pos ronda pecah oleh tawa.
Pak RT sampai geleng-geleng kepala sendiri.
“Heran saya sama kamu. Tiap ngomong pasti bikin darah
tinggi.”
Wawan tersenyum kecil.
“Daripada bikin warga ngantuk, Pak.”
Namun sore itu, sesuatu yang berbeda datang ke gang kecil
mereka.
Sebuah mobil pick-up berhenti di depan rumah kosong milik
Bu Ratna yang sudah lama ditinggal anaknya merantau.
Beberapa warga langsung mulai melirik.
Ibu-ibu keluar lebih cepat daripada suara notifikasi grup WhatsApp.
“Katanya yang pindah janda muda.”
“Eh bukan, katanya anaknya masih sekolah.”
“Orangnya dari kota katanya.”
Wawan yang sedang duduk di pos ronda ikut menoleh sekilas.
Lalu kembali santai memainkan sedotan kopinya.
“Satu… dua… tiga…”
“Apa?” tanya Rendi bingung.
“Paling bentar lagi ibu-ibu udah tahu golongan darah
penghuni baru.”
Benar saja.
Belum sampai lima menit, Bu Yati sudah berjalan cepat mendekati mobil sambil
pura-pura membantu.
Wawan langsung bersiul kecil.
“Intel kampung mulai bekerja.”
Rendi tertawa.
“Lu jahat banget.”
“Bukan jahat. Observasi sosial.”
Di tengah kesibukan menurunkan barang, seorang gadis turun
dari mobil.
Langkahnya pelan.
Memakai hoodie abu-abu sederhana.
Rambutnya dikuncir asal.
Wajahnya tidak terlalu banyak ekspresi.
Namun entah kenapa…
gang itu seperti sedikit lebih diam beberapa detik.
Wawan memperhatikan sekilas.
“Tumben,” gumamnya.
“Apa?”
“Cantik tapi mukanya kayak abis dimarahin dunia.”
Rendi memukul lengan Wawan pelan.
“Mulai lagi.”
“Apaan? Gue cuma mengamati.”
Gadis itu mengangkat kardus kecil sambil melihat sekitar
dengan canggung.
Tatapannya sempat bertemu dengan Wawan.
Dan seperti biasa—
Wawan malah menyeringai jahil.
Bukannya membantu…
ia justru berkata cukup keras:
“Hati-hati, Mbak. Gang sini rawan. Banyak cowok ganteng
pengangguran.”
Beberapa bapak langsung tertawa kecil.
Rendi menutup wajahnya sendiri.
“Anjir, Wan…”
Gadis itu mengernyit kesal.
Namun sebelum sempat membalas, kardus di tangannya hampir
jatuh.
Refleks, Wawan langsung berdiri menangkapnya.
Gerakannya cepat.
Natural.
Seolah tubuhnya lebih jujur daripada mulutnya.
“Makanya,” katanya santai sambil menyerahkan kembali kardus
itu,
“kalau capek jangan sok kuat.”
Gadis itu menatap Wawan beberapa detik.
Kesal.
Bingung.
Tapi juga sedikit heran.
Karena baru kali ini ia bertemu orang yang bisa terdengar menyebalkan…
sekaligus membantu dalam waktu bersamaan.
Saat kardus itu berpindah tangan, sesuatu jatuh dari
lipatan kardus.
Sebuah foto usang.
Seorang laki-laki berdiri di depan rumah tua, tersenyum dengan tangan di bahu
seorang gadis kecil yang mengenakan seragam SD.
Gadis itu, Wiwin, refleks membungkuk mengambilnya lebih
cepat dari biasanya.
Tangannya sedikit gemetar.
Wawan yang melihatnya langsung diam.
Tidak bercanda.
Tidak mengejek.
Ia hanya memperhatikan cara Wiwin menyelipkan foto itu ke
saku hoodie-nya dengan hati-hati, seolah benda itu lebih rapuh daripada kardus
yang nyaris jatuh tadi.
Untuk beberapa detik, Wawan tidak berbicara.
Dan bagi seseorang seperti dirinya, itu aneh.
“Barang berharga?” tanyanya, nadanya lebih pelan dari
biasanya.
Wiwin tidak menjawab.
Hanya tersenyum kecil yang terasa dipaksakan.
Wawan tidak memaksa.
Ia hanya berdiri di tempatnya, memperhatikan Wiwin yang mulai menata ulang barang-barangnya.
Ada sesuatu di mata gadis itu.
Bukan sekadar kesal karena ejekannya tadi.
Ada luka.
Yang disimpan rapi di balik senyum sopan.
Dan Wawan—yang sejak kecil belajar membaca luka orang lain
karena ia sendiri punya banyak luka—langsung bisa merasakannya.
“Nama gue Wawan,” katanya, lebih lembut dari biasanya.
Gadis itu menoleh sebentar, ragu.
“…Wiwin.”
Wawan mengangguk kecil.
“Wiwin.”
Ia tidak mengejek nama itu.
Tidak membuat candaan seperti biasanya.
Hanya mengulanginya pelan, seperti sedang mengingat sesuatu yang penting.
Wiwin menatapnya heran.
Laki-laki ini aneh.
Detik lalu masih tengil, detik ini tiba-tiba terlihat… teduh.
Rendi yang dari kejauhan memperhatikan langsung mengernyit.
Belum pernah ia melihat Wawan seperti itu.
“Wan!” panggilnya.
Wawan tidak menggubris.
Matanya masih pada Wiwin.
“Mbak,” katanya pelan, “foto itu… hati-hati simpan. Soalnya
barang kayak gitu nggak bisa diganti.”
Wiwin terkejut kecil.
Bukan karena isi kalimatnya.
Tapi karena cara bicaranya.
Lembut. Tanpa basa-basi. Tanpa topeng tengil yang ia kenakan sejak pertama kali
membuka mulut.
“Makasih,” jawab Wiwin akhirnya, lebih tulus dari
sebelumnya.
Wawan hanya mengangguk.
Lalu seperti sadar sudah terlalu lama tidak bercanda, ia menggaruk kepalanya
sendiri dan kembali ke mode biasanya.
“Yaudah. Selamat tinggal di kampung ribut ini, Mbak Wiwin.
Semoga betah.”
Ia berbalik, berjalan ke arah Rendi yang masih menatapnya
curiga.
“Apa?” bentak Wawan.
“Lu kenapa tiba-tiba jadi baik?”
“Emang gue jahat?”
“Ya.”
“Ya sudah.” Wawan memasukkan tangan ke saku celana. “Orang
baik kadang butuh libur.”
Wiwin memperhatikan sosok Wawan yang berjalan menjauh.
Laki-laki tengil yang pertama kali ia temui di kampung ini.
Menyebalkan.
Tapi entah kenapa…
ketika ia memegang foto di sakunya, ia ingat cara Wawan berkata: barang
kayak gitu nggak bisa diganti.
Seperti ia tahu.
Seperti ia juga pernah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan.
Dan sore itu…
tak ada satu pun orang di gang kecil tersebut yang sadar—
bahwa pertemuan singkat di depan rumah kontrakan itu akan menjadi awal dari
kekacauan, pertengkaran, tawa, dan cinta paling ribut yang pernah tumbuh di
lingkungan mereka.
BAB II
Wiwin yang Baru Pindah
Pagi pertama Wiwin di kampung itu
dimulai dengan suara orang bertengkar.
Bukan pertengkaran besar.
Hanya suara ibu-ibu yang saling sindir
soal jemuran terkena tetesan air cucian.
Namun bagi Wiwin yang sebelumnya
tinggal di kompleks perumahan tenang di kota kecil sebelah, suasana itu terasa
asing.
Di sini semuanya terdengar dekat.
Suara televisi tetangga.
Suara anak kecil menangis.
Suara motor lewat gang sempit.
Bahkan suara sendok jatuh pun bisa
jadi bahan pembicaraan warga.
Wiwin duduk di teras rumah kontrakan
sambil menghela napas pelan.
Ibunya masih sibuk membereskan barang
di dalam rumah.
“Win, nanti tolong beli gas ya.”
“Iya, Bu.”
“Sekalian cari warung dekat sini.”
Wiwin mengangguk.
Meski baru sehari pindah, ia tahu
mereka harus mulai beradaptasi cepat.
Lingkungan baru berarti kehidupan
baru.
Dan jujur saja…
Wiwin belum yakin akan cocok tinggal
di tempat seramai ini.
Ia berjalan keluar gang sekitar pukul
sembilan pagi dengan motor matic tuanya.
Cuaca cukup panas.
Beberapa ibu-ibu yang sedang menyapu
langsung memperhatikannya diam-diam.
Ada yang tersenyum ramah.
Ada juga yang jelas sedang menilai dari ujung kepala sampai kaki.
Wiwin hanya membalas dengan senyum
kecil sopan.
Belum sampai ujung gang—
motor Wiwin tiba-tiba brebet.
“Eh… eh…”
Mesin mati.
Wiwin mencoba menyalakan lagi.
Gagal.
Sekali lagi.
Tetap gagal.
“Ya Allah… jangan sekarang dong…”
Ia mulai panik kecil.
Gang sempit itu cukup ramai dilalui orang.
Dan posisi motornya pas menghalangi jalan.
Beberapa warga mulai melirik.
Seorang bapak pengantar galon sampai
harus memiringkan motornya untuk lewat.
“Maaf, Pak…”
Wiwin makin gugup.
Keringat mulai muncul di dahinya.
Dan tepat ketika ia sedang berusaha
mendorong motornya ke pinggir—
suara yang kemarin ia dengar kembali
muncul.
“Wah.”
Wiwin menoleh.
Wawan berdiri beberapa meter darinya
sambil membawa plastik es teh.
“Baru sehari pindah udah bikin kemacetan
nasional.”
Wiwin langsung menghela napas panjang.
“Bisa nggak sih ngomongnya normal?”
Wawan mendekat santai.
“Bisa. Tapi hidup udah terlalu
serius.”
“Kalau mau ngeledek doang mending
pergi.”
“Lah siapa bilang gue mau ngeledek?”
“Terus?”
Wawan menunjuk motornya.
“Itu motor ngambek karena dibawa orang
panikan.”
Wiwin memejam mata sebentar.
Sabar, Wiwin… sabar…
Namun bukannya pergi, Wawan malah
jongkok memeriksa bagian bawah motor.
Tangannya bergerak cepat dan terbiasa.
“Kapan terakhir servis?”
Wiwin sedikit bingung dengan perubahan
sikapnya yang mendadak serius.
“Dua bulan lalu mungkin…”
“‘Mungkin’ itu jawaban favorit orang
yang motornya mau pensiun.”
Wiwin mendelik.
“Masih sempat becanda ya?”
“Kalau gue serius terus nanti dikira
debt collector.”
Wawan memutar sesuatu di dekat mesin.
Lalu menyalakan motor sekali.
“Coba sekarang.”
Wiwin menekan starter.
Motor menyala.
Matanya sedikit membesar.
“Loh… bisa?”
Wawan berdiri sambil membersihkan
tangannya.
“Bensinnya hampir habis.”
Wiwin terdiam.
“...Hah?”
“Selamat. Paniknya mahal banget buat
ukuran bensin kosong.”
Beberapa bapak yang lewat langsung
tertawa kecil.
Wajah Wiwin merah menahan malu.
Dan Wawan…
tertawa paling keras.
“Lucu banget sumpah. Gue kira motornya
rusak parah.”
Wiwin langsung turun dari motor.
“Kamu tuh nyebelin ya.”
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian!”
“Tapi gue terima.”
Wiwin benar-benar baru pertama kali
bertemu manusia seperti ini.
Mulutnya tidak bisa diam.
Ekspresinya seenaknya sendiri.
Tapi anehnya…
ia tetap membantu.
“Nama lengkap?”
Wiwin mengernyit.
“Buat apa?”
“Biar kalau jadi buronan gampang
nyarinya.”
“Kamu selalu ngomong aneh gini?”
“Kadang lebih parah.”
Wiwin memutar mata malas.
“Wiwin Aulia.”
“Hmm.”
“Apa?”
“Cocok.”
“Apanya yang cocok?”
“Namanya kayak orang sabar.”
Wiwin hampir tertawa kecil, tapi
ditahan.
“Dan kamu nggak cocok dipanggil
Wawan.”
“Kenapa?”
“Lebih cocok dipanggil masalah.”
Wawan terdiam dua detik.
Lalu tertawa keras.
“Wah, bisa juga ternyata.”
Untuk pertama kalinya sejak pindah ke
kampung itu—
Wiwin merasa sedikit lebih nyaman.
Meski sumber kenyamanannya adalah
laki-laki paling tengil yang pernah ia temui.
Sore harinya, Wiwin kembali mendengar
nama Wawan disebut di mana-mana.
“Si Wawan tuh sebenarnya baik…”
“Cuma mulutnya amit-amit.”
“Kalau nggak ada dia gang jadi sepi.”
“Tapi bikin emosi juga.”
Wiwin diam mendengarkan ibu-ibu
warung.
Aneh.
Orang-orang seperti membenci Wawan…
tapi juga terbiasa membutuhkannya.
Seperti suara berisik kipas tua di
rumah.
Mengganggu.
Namun terasa aneh jika tiba-tiba
hilang.
Malamnya, saat Wiwin sedang duduk di
teras sambil memainkan ponsel—
suara gitar terdengar dari pos ronda
ujung gang.
Disusul tawa beberapa pemuda.
Lalu suara Wawan yang paling dominan.
“Nyanyi lu fals banget, Rend!”
“Daripada lu nyanyi kayak ayam keselek
cabe!”
Wiwin tanpa sadar tersenyum kecil.
Ia tidak tahu kenapa.
Padahal baru sehari mengenal pemuda
itu.
Namun Wawan seperti punya kemampuan
aneh:
membuat orang kesal…
lalu perlahan membuat mereka terbiasa dengan kehadirannya.
Dan tanpa Wiwin sadari—
itulah awal masalahnya.
BAB III
Mulut
Pedas, Hati Emas
Sudah hampir satu minggu Wiwin tinggal di gang itu.
Dan selama satu minggu itu pula, ia mulai memahami satu hal penting:
mustahil tinggal di lingkungan tersebut tanpa mendengar
nama Wawan minimal lima kali sehari.
Kadang karena keributan.
Kadang karena candaan.
Kadang karena orang-orang mengeluh soal dirinya.
Namun anehnya, semakin sering mendengar cerita tentang
Wawan, semakin Wiwin merasa laki-laki itu sulit dipahami.
“Dia tuh kalau ngomong suka nggak mikir.”
“Tapi kemarin bantu Pak Darto masuk rumah sakit.”
“Nyebelin banget anaknya.”
“Eh tapi pas banjir dia yang paling sibuk nolongin warga.”
Semua komentar tentang Wawan selalu bertabrakan.
Seolah kampung itu sendiri bingung harus membencinya atau menyayanginya.
Sore itu Wiwin pergi membeli gorengan di ujung jalan.
Langit mendung tipis.
Udara mulai dingin setelah panas seharian.
Di depan gerobak gorengan, seorang nenek tua tampak
kesulitan mengangkat tabung gas kecil.
Beberapa orang lewat begitu saja.
Wiwin sebenarnya ingin membantu, tapi langkahnya terhenti
ketika melihat seseorang lebih dulu mendekat.
Wawan.
“Mak, tabungnya jangan diangkat sendiri. Emang cucunya ke
mana?”
Nenek itu tersenyum lelah.
“Lagi kerja, Wan.”
“Kerja mulu. Nanti kalau neneknya hilang baru panik.”
Mulutnya tetap terdengar menyebalkan seperti biasa.
Namun tangannya dengan sigap mengangkat tabung gas itu tanpa diminta.
Wiwin memperhatikan diam-diam dari kejauhan.
“Taruh mana?”
“Di belakang aja, Nak.”
Wawan berjalan masuk ke rumah kecil di samping gerobak.
Tak lama kemudian ia keluar lagi sambil membawa kursi plastik rusak.
“Ini kursinya udah miring begini masih dipake?”
“Masih kuat kok.”
“Yang ngomong kuat biasanya tinggal nunggu roboh.”
Wawan jongkok begitu saja.
Membetulkan kaki kursi menggunakan tali plastik dan potongan kayu kecil yang
entah ia ambil dari mana.
Gerakannya cepat. Terbiasa.
“Udah. Minimal kalau jatuh nanti jatuhnya elegan.”
Nenek itu tertawa kecil.
“Mulut kamu nggak berubah ya.”
“Kalau berubah nanti ibu-ibu kehilangan hiburan.”
Wiwin menatap semua itu tanpa sadar.
Dan untuk pertama kalinya—
ia melihat Wawan yang berbeda.
Tidak sedang meledek orang di pos ronda.
Tidak sedang membuat keributan.
Tidak sedang tertawa keras.
Melainkan seseorang yang membantu tanpa banyak bicara soal
kebaikan dirinya sendiri.
Malam harinya, Wiwin tidak bisa tidur.
Bukan karena ribut.
Bukan karena suasana baru.
Tapi karena ia terus memikirkan Wawan.
Ia duduk di teras rumah kontrakan sambil memegang ponsel,
membuka-buka media sosial tanpa tujuan.
Hingga tanpa sengaja, jarinya berhenti pada sebuah unggahan lama di grup
warga—foto kegiatan kerja bakti tiga bulan lalu.
Di sudut foto, terlihat Wawan sedang menggotong karung
pasir sendirian.
Sementara yang lain hanya berdiri melihat.
Wiwin memperbesar foto itu.
Wajah Wawan serius.
Tidak bercanda.
Tidak menyeringai.
Ada kelelahan di matanya.
Tapi bukan kelelahan karena fisik semata.
“Orang kayak gue biasanya cuma dibenci di mulut. Tapi
dicari pas keadaan susah.”
Kalimat Wawan sore itu kembali terngiang.
Wiwin mematikan layar ponsel.
Lalu menatap langit malam yang gelap.
Ia tidak tahu kenapa, tapi dadanya terasa aneh.
Seperti ada sesuatu yang ingin ia pahami lebih dalam tentang laki-laki tengil
itu.
Keesokan paginya, Wiwin sengaja berjalan melewati bengkel
kecil tempat Wawan biasa nongkrong.
Bukan karena sengaja mencari.
Tapi kakinya seperti sudah hapal jalan.
Namun yang ia temukan bukanlah Wawan yang sedang bercanda.
Ia melihat Wawan duduk sendirian di bangku kayu dekat
bengkel.
Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Wawan tidak sedang bercanda.
Tidak sedang meledek siapa pun.
Ia hanya duduk, menatap jalanan sepi, dengan secangkir kopi di tangan.
Dan untuk pertama kalinya—
Wiwin melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Wawan terlihat lelah.
Bukan lelah fisik.
Tapi lelah yang dalam.
Lelah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Lelah yang selama ini ia tutupi dengan tawa dan keributan.
Wiwin hampir mendekat.
Namun langkahnya terhenti.
Karena ia sadar:
mungkin tidak semua kesedihan harus dihibur.
Mungkin tidak semua orang butuh ditemani saat sedang rapuh.
Mungkin Wawan adalah tipe orang yang lebih suka
menyembunyikan lukanya di balik senggakan pagi yang sepi.
Wiwin memilih untuk tidak mengganggu.
Ia hanya memperhatikan dari kejauhan, hingga Wawan meneguk habis kopinya,
berdiri, dan kembali mengenakan topeng tengilnya saat seorang bapak lewat
sambil menyapa.
“Wan, pagi-pagi udah di sini?”
“Lapor Pak. Saya kan satpam kampung, jagain biar nggak ada
yang jualan petasan ilegal.”
Bapak itu tertawa.
Wawan tertawa.
Tapi Wiwin tahu—
tawa itu berbeda dengan tawa tulus yang ia dengar saat Wawan membantu nenek tua
kemarin.
Dan tanpa sadar, Wiwin mulai menyadari satu hal:
mungkin ketengilan Wawan bukan karena ia suka membuat
masalah.
Mungkin ketengilan Wawan adalah caranya berkata:
“Aku baik-baik saja. Jangan lihat terlalu dalam.”
Siangnya, Wiwin bertemu Wawan di depan warung.
“Kamu dari mana pagi-pagi?” tanyanya hati-hati.
Wawan mengernyit.
“Jam segitu lu udah bangun?”
“Kebetulan.”
“Aneh. Biasanya anak kos tidurnya kayak batu bata.”
Wiwin tersenyum kecil.
Ia ingin bertanya lebih dalam.
Ingin bertanya apakah Wawan baik-baik saja.
Tapi ia tahan.
“Nggak apa-apa. Cuma penasaran aja,” katanya akhirnya.
Wawan menatapnya sebentar.
Seperti bisa membaca ada sesuatu yang tidak Wiwin katakan.
“Penasaran sama gue?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Terserah.”
Wawan tertawa kecil.
Tapi kali ini, Wiwin memperhatikan—tawanya tidak sekeras biasanya.
Dan malam itu, setelah semua orang pulang dan pos ronda
mulai sepi—
Wiwin duduk di kamar kontrakannya sambil menulis di buku
catatan kecil:
“Wawan ternyata bukan hanya suara. Dia juga diam. Dan
diamnya lebih berisik daripada ocehannya.”
Ia mematikan lampu.
Tapi pikirannya tetap menyala.
Karena perlahan—
tanpa drama, tanpa kejutan besar—
Wiwin mulai jatuh pada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan pada ketengilan Wawan.
Tapi pada keheningan yang ia sembunyikan di balik semua itu.
BAB IV
Raja Komentar Kampung
Kalau ada satu hal yang tidak pernah
berubah dari Wawan, itu adalah mulutnya.
Pagi komentar.
Siang komentar.
Malam tetap komentar.
Seolah otaknya memiliki mesin otomatis
yang selalu aktif untuk mengomentari apa pun yang bergerak di depannya.
Dan pagi itu, korbannya adalah ronda
malam warga.
“Pak… serius nanya.”
Pak RT Burhan yang sedang menyapu
depan pos ronda mendengus malas.
“Apa lagi?”
“Ronda semalam itu jagain kampung atau
lomba ngorok?”
Beberapa bapak yang baru pulang beli
kopi langsung tertawa pecah.
Pak RT melotot.
“Kamu ikut ronda nggak?”
“Ikut.”
“Terus?”
“Makanya saya tahu kualitas tidurnya.”
“Dasar anak tengil.”
Wawan malah duduk santai di pagar pos
ronda.
“Pak RT kalau tidur mulutnya kebuka
dikit. Mirip ikan lele lagi mikir.”
“WAN!”
Tawa kembali meledak.
Bahkan Pak RT sendiri akhirnya ikut
menahan senyum kesal.
Bagi warga kampung, Wawan memang sudah
seperti siaran radio berjalan.
Ia tahu semua kejadian.
Dan lebih parahnya lagi—
ia selalu punya komentar tentang
semuanya.
Tentang tukang parkir liar.
Tentang bapak-bapak yang rajin ceramah tapi suka utang warung.
Tentang anak muda yang sok kaya di media sosial padahal bensin motor masih
ngutang.
Tak ada yang aman dari mulut Wawan.
Namun anehnya…
banyak perkataannya justru benar.
Itulah yang membuat orang semakin
kesal.
Wiwin mulai menyadari bahwa ketengilan
Wawan bukan sekadar bercanda.
Kadang, komentar-komentarnya seperti
sindiran untuk hal-hal yang sebenarnya memang salah di lingkungan itu.
Hanya saja…
caranya selalu membuat orang naik
darah duluan.
Siang itu, Wiwin sedang membeli es di
warung ketika keributan kecil terjadi di depan gang.
Seorang bapak marah-marah karena
sampah menumpuk di selokan.
“Ini siapa yang buang sampah
sembarangan?!”
Warga mulai saling tuduh.
Suasana memanas cepat.
Dan seperti biasa—
Wawan muncul.
Dengan santainya ia melihat tumpukan
sampah itu lalu berkata:
“Kalau sampah bisa ngomong, mungkin
dia juga bingung kenapa dibuang sama orang yang rumahnya paling dekat.”
Semua langsung diam.
Salah satu warga langsung tersinggung.
“Maksud kamu apa?”
Wawan menunjuk pelan ke rumah dekat
selokan.
“Kemarin saya lihat plastik yang sama
numpuk di situ.”
“Jangan nuduh!”
“Nggak nuduh. Observasi.”
“Mulut kamu tuh ya!”
Wiwin yang melihat dari kejauhan cuma
bisa menarik napas.
Cara bicara Wawan memang seperti korek
api dilempar ke bensin.
Namun beberapa menit kemudian—
warga benar-benar mulai membersihkan
selokan bersama-sama.
Keributan reda.
Dan entah bagaimana…
masalah selesai.
Wiwin mulai sadar:
Wawan memang sering membuat suasana
panas.
Tapi anehnya, setelah keributan itu
lewat, orang-orang justru bergerak melakukan sesuatu.
“Kenapa sih kamu nggak bisa ngomong
baik-baik?” tanya Wiwin sore harinya.
Mereka sedang duduk di warung kopi
kecil dekat lapangan.
Wawan menyeruput kopi sachetnya
santai.
“Karena kalau baik-baik biasanya orang
pura-pura nggak dengar.”
“Tapi kamu bikin orang emosi.”
“Emosi itu tanda masih hidup.”
Wiwin memijat pelipis.
“Kamu capek nggak sih jadi nyebelin
terus?”
Wawan berpikir sebentar.
Lalu menjawab santai—
“Lebih capek jadi orang yang harus
pura-pura sopan sama semua orang.”
Jawaban itu membuat Wiwin diam.
Karena di balik nada bercandanya—
ada sesuatu yang terdengar sangat
jujur.
Malamnya, grup WhatsApp warga kembali
ramai.
Topiknya?
Tentu saja Wawan.
“Anak muda sekarang nggak punya sopan santun.”
“Tapi memang soal sampah itu benar.”
“Cara ngomongnya aja yang bikin darah tinggi.”
Wiwin membaca semuanya sambil
tersenyum kecil.
Ia mulai mengerti kenapa Wawan disebut
“pisau bermata dua” oleh warga.
Di satu sisi, mulutnya bisa melukai
siapa saja.
Namun di sisi lain…
ia sering menjadi satu-satunya orang
yang berani mengatakan hal yang sebenarnya dipikirkan banyak orang.
Keesokan harinya, Wawan kembali
membuat keributan kecil.
Kali ini di warung makan.
“Bang, nasinya dikit amat.”
“Tadi nambah dua kali.”
“Lah itu buat menutupi trauma hidup.”
“Bayar dulu traumanya!”
Wiwin yang kebetulan lewat langsung
menahan tawa.
Pemilik warung sampai geleng-geleng
kepala.
“Ada aja mulut lu, Wan.”
“Kalau saya diem nanti warung ini
kehilangan pelanggan setia.”
“Pelanggan paling banyak ngutang iya!”
“Ekonomi sedang sulit, Bang.”
Suasana warung pecah oleh tawa.
Dan lagi-lagi Wiwin melihat sesuatu:
Wawan memang ribut.
Menyebalkan.
Tengil.
Namun setiap tempat yang ia datangi
selalu terasa hidup.
Seolah ia membawa energi aneh yang
membuat orang kesal… sekaligus tidak bisa benar-benar membencinya.
Saat berjalan pulang bersama Wiwin
sore itu, Wawan tiba-tiba berkata:
“Lu tahu kenapa warga sini masih tahan
sama gue?”
“Karena kasihan?”
“Kurang ajar.”
Wiwin tertawa kecil.
“Terus kenapa?”
Wawan memasukkan tangan ke saku
celana.
Karena untuk pertama kalinya, suaranya
terdengar sedikit lebih pelan.
“Karena kalau ada orang ribut, gue
yang maju duluan.”
Wiwin menoleh.
Dan Wawan melanjutkan sambil tersenyum
tipis—
“Orang kayak gue biasanya cuma dibenci
di mulut. Tapi dicari pas keadaan susah.”
Kalimat itu sederhana.
Namun untuk pertama kalinya—
Wiwin mulai memahami sisi lain dari
ketengilan Wawan.
Ia bukan sekadar anak tengil yang suka
bikin keributan.
Kadang…
ia hanya terlalu berani untuk diam.
BAB V
Pertemanan yang Aneh
Hubungan Wiwin dan Wawan berkembang
dengan cara yang aneh.
Bukan karena mereka sering romantis.
Bukan juga karena sering menghabiskan waktu berdua seperti pasangan remaja pada
umumnya.
Justru sebagian besar waktu mereka
diisi oleh:
- saling mengejek,
- adu mulut,
- dan Wiwin yang hampir kehilangan
kesabaran setiap lima menit sekali.
Namun anehnya…
mereka semakin dekat.
“Wiwin!”
Suara Dina terdengar keras dari depan
kelas bimbingan belajar sore itu.
Wiwin menoleh.
Dina langsung duduk di sebelahnya
sambil memasang wajah serius.
“Gue mau nanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kamu beneran temenan sama Wawan?”
Wiwin mengernyit.
“Emang kenapa?”
“Kenapa?!” Dina membelalakkan mata.
“Itu manusia bikin emosi nasional tiap hari!”
Wiwin tertawa kecil.
“Dia nggak seburuk itu.”
“Karena kamu belum jadi korban.”
Wiwin hampir menjawab, namun teringat
motor mogoknya dulu.
Lalu teringat Wawan yang
menertawakannya hampir lima menit penuh.
“…Sebenernya gue udah jadi korban
sih.”
“Nah kan!”
“Tapi ya…” Wiwin menahan senyum kecil,
“dia lucu.”
Dina langsung menatapnya seolah baru
mendengar pengakuan paling aneh sedunia.
“Wiwin… kamu butuh pertolongan.”
Sementara itu di pos ronda, Wawan juga
sedang jadi bahan pembicaraan teman-temannya.
“Lu serius deket sama anak baru itu?”
tanya Rendi sambil menyeruput kopi.
Wawan santai memainkan korek api.
“Siapa?”
“Jangan pura-pura bego.”
“Oh Wiwin?”
“Tumben dia masih tahan ngobrol sama
lu.”
Wawan nyengir kecil.
“Berarti mentalnya kuat.”
“Biasanya cewek-cewek kabur kalau lu
mulai buka mulut.”
“Berarti Wiwin spesial.”
“Anjir…”
Wawan tertawa kecil.
Namun jauh di dalam dirinya, ia
sebenarnya juga heran.
Karena Wiwin berbeda dari orang-orang
lain.
Biasanya orang hanya punya dua reaksi
terhadap Wawan:
- ikut tertawa,
- atau langsung kesal.
Namun Wiwin…
kadang marah,
kadang tertawa,
kadang diam memperhatikan dirinya seperti sedang mencoba memahami sesuatu.
Dan itu membuat Wawan sedikit tidak
nyaman.
Karena belum pernah ada orang yang
benar-benar mencoba memahami dirinya sebelumnya.
Sore itu hujan turun cukup deras.
Wiwin terjebak di halte kecil dekat
jalan utama sepulang les.
Ia memeluk tasnya sambil menghela
napas panjang.
Motor tuanya kembali bermasalah.
“Kayaknya motormu emang nggak suka
hujan.”
Wiwin menoleh malas.
“Tentu aja kamu.”
Wawan berdiri sambil membawa jas hujan
setengah basah.
“Kenapa diem aja di sini?”
“Motorku mati lagi.”
“Kasihan amat hidup lu.”
“Kalau cuma mau ngejek, pergi sana.”
“Lah gue bantuin.”
Tanpa menunggu jawaban, Wawan langsung
jongkok memeriksa motor.
Air hujan mengenai rambutnya.
Tangannya mulai kotor oli.
Namun seperti biasa, mulutnya tetap
bekerja.
“Ini motor kalau dijual paling laku
buat pajangan museum.”
Wiwin melipat tangan.
“Dan kamu kalau dijual paling ditolak
pasar.”
“Pedih.”
Beberapa menit kemudian motor menyala
kembali.
Wiwin menatap kagum kecil.
“Kamu belajar bengkel di mana sih?”
“Hidup.”
“Hah?”
“Orang miskin belajar semuanya
sendiri.”
Jawaban itu membuat Wiwin diam
sejenak.
Karena lagi-lagi…
Wawan bercanda sambil menyelipkan
sesuatu yang terdengar terlalu nyata.
Hujan belum reda.
Akhirnya mereka duduk di warung kecil
pinggir jalan sambil menunggu cuaca membaik.
Pemilik warung memberi mereka teh
panas.
“Tumben adem lu hari ini,” kata Wiwin.
“Lagi hemat energi buat nyebelin orang
besok.”
Wiwin terkekeh kecil.
Suasana menjadi lebih tenang dari
biasanya.
Hanya suara hujan dan motor lewat.
Lalu tiba-tiba Wawan bertanya:
“Lu kenapa pindah ke sini?”
Wiwin sedikit terdiam.
“Karena ibu harus pindah kerja.”
“Bapak?”
Pertanyaan itu membuat Wiwin menunduk sebentar.
“Udah nggak ada.”
Wawan langsung diam.
Tidak bercanda.
Tidak mengejek.
Hanya diam beberapa detik sebelum
berkata pelan—
“Oh.”
Wiwin menatapnya heran.
Tumben sekali Wawan tidak mencoba
mencairkan suasana dengan candaan receh.
Dan untuk pertama kalinya—
Wiwin sadar bahwa Wawan sebenarnya
tahu kapan harus berhenti bercanda.
Hanya saja… ia jarang menunjukkannya.
“Kalau kamu?” tanya Wiwin pelan.
“Ayah gue juga nggak ada.”
“Maaf…”
“Ngapain minta maaf? Lu yang ngilangin
bukan.”
Wiwin refleks mendelik.
“Nah kan mulai lagi.”
Wawan tertawa kecil.
Namun kali ini tawanya terdengar lebih
ringan.
Tidak dibuat-buat.
Tidak terlalu berisik.
Dan entah kenapa—
untuk pertama kalinya mereka
benar-benar berbicara sebagai dua orang yang sama-sama pernah kehilangan sesuatu
dalam hidup.
Saat hujan mulai reda, mereka berjalan
keluar warung bersama.
Motor Wiwin kembali menyala.
Wawan menepuk jok motornya.
“Hebat juga nih motor. Mental
survivor.”
“Kayak pemiliknya.”
“Enggak. Pemiliknya lebih mirip orang
yang nyasar.”
Wiwin memukul lengan Wawan pelan.
Dan Wawan tertawa puas seperti baru
memenangkan pertandingan besar.
Namun tanpa mereka sadari—
beberapa ibu-ibu yang berteduh di
depan toko seberang sejak tadi memperhatikan mereka.
“Kayaknya si Wawan mulai deket sama
anak baru.”
“Kasihan juga anaknya.”
“Iya… mudah-mudahan nggak nangis tiap
hari.”
Mereka tertawa kecil.
Karena bagi warga kampung itu—
berteman dengan Wawan saja sudah
melelahkan.
Apalagi jatuh cinta.
BAB VI
Tengil
di Sekolah, Tengil di Jalanan
Hubungan Wiwin dan Wawan mulai menjadi bahan pembicaraan
warga.
Bukan hubungan pacaran.
Belum.
Namun di kampung kecil seperti itu, dua orang yang sering
terlihat ngobrol saja sudah cukup untuk melahirkan seribu asumsi.
“Wiwin sekarang sering sama Wawan ya?”
“Anak baik-baik kok deket sama si tengil.”
“Hati-hati nanti ketularan mulutnya.”
Wiwin sebenarnya mendengar komentar-komentar itu.
Namun ia memilih diam.
Karena semakin lama mengenal Wawan, semakin ia sadar—
orang-orang hanya mengenal keributannya.
Bukan alasannya.
Sore itu Wiwin baru pulang les ketika suara ribut terdengar
dari lapangan dekat sekolah SMA negeri di ujung jalan.
Beberapa siswa bergerombol.
Suara teriakan saling sahut.
Dan seperti dugaan Wiwin—
Wawan ada di tengah keributan itu.
“Kalau ngomong jangan sok jago, Bro!”
Seorang pemuda bertubuh besar mendorong bahu Wawan.
Namun Wawan malah tertawa kecil.
“Lah gue emang nggak sok. Emang lebih jago.”
“LU—”
Situasi hampir berubah jadi perkelahian.
Rendi dan beberapa teman langsung menahan mereka.
Wiwin buru-buru mendekat.
“Ada apa ini?!”
Rendi menghela napas capek.
“Anak sekolah sebelah nyenggol anak sini.”
“Dan si Wawan?”
“Biasalah. Bukannya nenangin malah nambah bensin.”
Wawan langsung protes.
“Eh gue tadi damai kok.”
“Damai dari mana?!” bentak Rendi.
“Lu bilang mukanya mirip sandal kebakar!”
“Kan emang mirip.”
“WAN!”
Wiwin sampai memijat pelipis.
Kadang ia benar-benar bingung bagaimana manusia bisa tetap hidup dengan mulut
seperti Wawan.
Pemuda bertubuh besar tadi masih emosi.
“Temen lu tuh nggak punya sopan santun!”
Wawan maju sedikit.
“Kalau sopan santun dipakai buat nindas orang, mending gue kurang ajar
sekalian.”
Suasana langsung hening beberapa detik.
Wiwin menatap Wawan.
Nada bercandanya hilang.
Tatapannya serius.
Dan baru saat itulah Wiwin tahu penyebab keributan
sebenarnya.
Ternyata salah satu anak kampung mereka dipalak uang jajan oleh senior sekolah
sebelah.
Wawan yang tahu hal itu langsung datang membela.
Sayangnya—
cara membelanya tetap saja seperti orang mencari musuh.
“Lu tuh kenapa nggak bisa ngomong biasa aja sih?” omel
Wiwin setelah keributan mulai reda.
Mereka berjalan pulang bersama sementara langit mulai gelap.
“Karena orang kayak tadi nggak ngerti bahasa baik-baik.”
“Tapi kamu hampir berantem!”
“Kalau gue diem, anak-anak sini bakal terus dipalak.”
Wiwin terdiam.
Lagi-lagi…
Wawan selalu seperti itu.
Mulutnya membuat masalah.
Namun alasan di baliknya sering kali justru karena ia tidak tahan melihat orang
lain ditindas.
Mereka berjalan dalam diam beberapa saat.
Hanya suara sandal jepit dan motor sesekali lewat.
Lalu Wiwin bertanya pelan:
“Wan… kamu dari kecil udah kayak gini?”
Wawan tidak langsung menjawab.
Ia menatap jalanan di depannya.
“Gimana?”
“Berisik. Ngomongnya keras. Kayak nggak punya rasa takut.”
Wawan tertawa kecil.
Tapi tawanya hambar.
“Dulu nggak.”
Wiwin menoleh.
“Maksudnya?”
Wawan berhenti berjalan.
Ia menunjuk sebuah bangku panjang di depan rumah kosong.
“Duduk dulu. Gue cerita dikit.”
Wiwin duduk di sampingnya, penasaran.
Wawan mengambil napas panjang—sesuatu yang jarang ia
lakukan.
Lalu mulai bicara, perlahan.
“Dulu gue kecil… pendiem, Win.”
Wiwin terkejut.
Wawan pendiam?
Mustahil.
“Sekecil apa?”
“SD kelas empat. Gue nggak pernah ngomong banyak. Nilai
bagus. Guru sayang. Dijadiin contoh.”
Wawan tersenyum kecil, tapi senyumnya pahit.
“Masalahnya… anak-anak lain sebel.”
Wiwin mulai merasa ada yang tidak enak.
“Mereka ledekin gue.”
“Apa?”
“Sok pintar. Sok suci. Anak emak.”
Wawan menunduk.
“Gue diemin. Karena emak bilang, kalau diem, orang capek sendiri.”
“Tapi?”
Wawan tertawa kecil hambar.
“Tapi mereka nggak capek. Malah tambah senang.”
“Suatu hari… gue pulang sekolah, tas gue dibuang ke
selokan.”
Suara Wawan mulai rendah.
“Buku-buku gue basah semua. Gue nangis. Sampai rumah, emak nanya kenapa. Gue
cerita.”
“Terus?”
“Emak nangis.”
Wawan menghela napas.
“Bukan karena marah. Tapi karena nggak bisa ngapa-ngapain.”
Wiwin langsung terdiam.
“Sejak hari itu, gue janji sama diri sendiri.”
Wawan mengepalkan tangannya pelan.
“Nggak bakal ada yang bisa injek gue lagi. Nggak bakal ada yang berani ledekin
gue. Kalau perlu, gue yang lebih keras dulu.”
Ia menoleh ke Wiwin.
“Jadilah… gue sekarang.”
Wiwin tidak tahu harus berkata apa.
Dadanya terasa sesak.
Karena ia baru sadar—
di balik semua ketengilan Wawan, ada anak kecil yang dulu hanya ingin
dilindungi.
Tapi karena tidak ada yang melindungi, ia memilih menjadi pelindung bagi
dirinya sendiri.
Dengan cara yang paling berisik.
“Kenapa kamu cerita ini ke aku?” tanya Wiwin pelan.
Wawan diam sebentar.
Lalu tersenyum kecil—bukan senyum miringnya yang biasa, tapi senyum yang lebih…
jujur.
“Soalnya elu orang pertama yang nanya alasannya, bukan cuma
protes sama caranya.”
Suasana menjadi hening.
Tapi hening yang berbeda.
Bukan hening yang canggung atau menyakitkan.
Tapi hening dua orang yang mulai saling memahami.
“Makanya sekarang,” Wawan berdiri, mengacak rambutnya
sendiri, “kalau gue ribut, ya itu cara gue. Mau terima, mau nggak, terserah.”
Wiwin ikut berdiri.
“Tapi kadang kamu kelewatan.”
“Iya. Gue tahu.”
Wawan menatapnya.
“Gue lagi belajar.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa, Wiwin percaya.
Namun masalah belum selesai.
Malam harinya Pak RT datang ke rumah Wawan setelah mendapat laporan keributan
dari warga.
“WAN!”
Wawan yang sedang rebahan di pos ronda langsung duduk
malas.
“Apa lagi, Pak?”
“Kamu bikin ribut lagi di sekolah orang?”
“Bukan bikin ribut. Edukasi sosial.”
“Jangan ngeles!”
Beberapa warga mulai berkumpul.
Pak RT terlihat benar-benar kesal.
“Kamu itu tiap minggu pasti ada masalah!”
Wawan berdiri pelan.
“Pak… kalau anak kampung kita dipalak terus harus diapain?”
“Ya lapor baik-baik!”
“Udah.”
“Terus?”
“Nggak digubris.”
Pak RT terdiam sesaat.
Namun gengsinya masih tinggi.
“Bukan berarti kamu boleh bikin keributan.”
Wawan menatap Pak RT cukup lama.
Lalu berkata dengan suara yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya—tidak keras,
tidak menantang, hanya… lelah.
“Pak, saya tahu cara saya salah.”
Suasana langsung hening.
“Tapi saya nggak tahu cara lain yang lebih cepat.”
“Anak-anak itu dipalak tiap minggu. Laporan nggak digubris. Guru tutup mata.”
“Kalau bukan saya yang ribut… siapa lagi?”
Pak RT tidak menjawab.
Warga saling pandang.
Dan untuk pertama kalinya—
tidak ada yang membantah Wawan.
Setelah warga mulai bubar, Wiwin mendekati Wawan yang
kembali duduk sendirian di pos ronda.
“Kamu capek nggak sih?” tanya Wiwin pelan.
“Capek apa?”
“Selalu jadi orang yang disalahin.”
Wawan tertawa kecil.
“Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Kalau gue salah beneran ya capek.”
“Kalau nggak?”
Wawan menatap jalanan gang yang mulai sepi.
Lalu berkata pelan—
“Ya udah biasa.”
Jawaban itu terdengar ringan.
Namun Wiwin bisa merasakan sesuatu di baliknya.
Sesuatu yang lelah.
Sesuatu yang terlalu sering dianggap masalah… sampai akhirnya terbiasa tidak
dipahami.
“Wan,” panggil Wiwin pelan.
“Hm?”
“Kamu tahu nggak kenapa orang-orang masih tahan sama kamu?”
“Karena gue ganteng?”
Wiwin langsung tertawa kecil.
“Bukan.”
“Terus?”
“Karena meski mulutmu nyebelin…”
Wiwin menatapnya beberapa detik.
“…kamu selalu ada kalau orang lain butuh bantuan.”
Untuk pertama kalinya malam itu—
Wawan tidak langsung membalas dengan candaan.
Ia hanya diam sebentar.
Lalu tersenyum kecil sambil menunduk.
Dan entah kenapa—
itu adalah senyum paling jujur yang pernah Wiwin lihat darinya.
BAB VII
Luka
yang Tidak Terlihat
Malam di gang itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Selalu ada suara televisi dari rumah warga.
Suara motor lewat.
Atau suara orang bercakap di pos ronda sampai larut.
Namun malam itu berbeda.
Pos ronda terasa lebih sepi dari biasanya.
Karena Wawan sedang diam.
Dan bagi orang-orang yang mengenalnya, itu pertanda aneh.
“Lu sakit?”
Rendi duduk di sampingnya sambil membawa dua kopi sachet.
Wawan tetap menatap jalan kosong di depan gang.
“Enggak.”
“Diputusin?”
“Belum jadian.”
“Terus kenapa murung?”
Wawan mengambil kopi itu pelan.
“Capek aja.”
Rendi melirik sahabatnya beberapa detik.
Sudah bertahun-tahun berteman, ia tahu satu hal:
Wawan jarang bicara serius kalau tidak benar-benar lelah.
“Orang-orang mulai ngomongin Wiwin,” kata Rendi pelan.
Wawan tertawa hambar.
“Biasa.”
“Tapi sekarang beda.”
“Namanya warga. Kalau nggak gosip nanti sakit.”
Rendi menghela napas.
“Lu takut nyeret dia ke masalah ya?”
Wawan diam.
Dan diamnya kali ini sudah cukup menjadi jawaban.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Hanya suara jangkrik dari ujung gang.
Lalu Wawan tiba-tiba berkata, tanpa menoleh pada Rendi:
“Lu tahu kenapa gue males jadi orang terlalu sopan?”
Rendi mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena orang baik sering disuruh ngalah.”
Wawan menendang batu kecil di jalan.
“Sementara orang kurang ajar bebas nginjek orang lain.”
Nada suaranya tidak bercanda kali ini.
Ada kepahitan yang jarang ia tunjukkan.
Rendi tidak langsung menjawab.
Ia hanya menyeruput kopinya pelan.
“Makanya lu milih jadi tengil?”
“Bukan milih.”
Wawan tertawa kecil pahit.
“Gue jadi begini karena terpaksa.”
Sementara itu di rumah kontrakan kecilnya, Wiwin sedang
membantu ibunya melipat pakaian.
Namun pikirannya masih tertinggal pada Wawan.
Pada caranya membela orang.
Pada caranya bicara.
Dan pada wajahnya tadi malam ketika untuk pertama kali terlihat benar-benar
lelah.
“Win.”
“Iya, Bu?”
“Kamu sering sama anak namanya Wawan ya?”
Wiwin sedikit terdiam.
“Kadang…”
Ibunya melipat baju perlahan.
“Hati-hati berteman.”
“Iya.”
“Ibu dengar anaknya suka bikin masalah.”
Wiwin ingin membantah.
Namun anehnya ia juga tahu—
ucapan itu tidak sepenuhnya salah.
Masalahnya hanya satu:
tak ada yang pernah mencoba mencari tahu kenapa Wawan selalu
berada di tengah masalah.
Keesokan sore, Wiwin menemukan jawabannya secara tidak
sengaja.
Ia datang ke rumah Mang Ucup untuk mengantar pesanan
makanan ibunya.
Rumah kecil itu berada dekat rumah Wawan.
Saat sedang berbincang, Mang Ucup tiba-tiba berkata:
“Si tengil itu sebenarnya kasihan.”
Wiwin menoleh.
“Maksud Mang?”
Mang Ucup menghembuskan asap rokok pelan.
“Wawan dari kecil udah kebiasa hidup keras.”
Wiwin mulai diam mendengarkan.
“Ayahnya dulu suka mabuk.”
“Sering ribut sama ibunya.”
“Kalau marah, satu kampung dengar.”
Wiwin terkejut kecil.
Mang Ucup melanjutkan:
“Wawan kecil dulu pendiam.”
“Pendiam?”
“Iya. Jauh beda sama sekarang.”
Wiwin sulit membayangkannya.
Anak seperti Wawan… pendiam?
“Terus kenapa jadi begini?”
Mang Ucup tersenyum tipis pahit.
“Karena anak kecil yang terlalu sering disakitin biasanya belajar dua hal.”
“Apa?”
“Jadi terlalu diam…”
Mang Ucup mematikan rokoknya pelan.
“…atau terlalu berisik supaya nggak kelihatan rapuh.”
Wiwin langsung terdiam.
Ia teringat cerita Wawan kemarin sore.
Tentang tas yang dibuang ke selokan.
Tentang ibunya yang menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa.
“Mang,” kata Wiwin pelan, “Wawan pernah cerita… waktu SD,
tasnya dibuang ke selokan.”
Mang Ucup manggut-manggut.
“Iya. Saya ingat.”
“Waktu itu saya yang bantu ambilin buku-bukunya.”
“Wawan nangis?”
Mang Ucup tersenyum kecil.
“Nggak. Waktu itu dia sudah bertekad nggak bakal nangis lagi di depan orang.”
“Tapi matanya…”
Mang Ucup menunjuk matanya sendiri.
“…merah sampai seminggu.”
Wiwin menggigit bibirnya.
Dadanya terasa sesak lagi.
“Makanya sekarang dia begitu,” lanjut Mang Ucup.
“Banyak omong. Keras. Suka nyolot.”
“Biar orang nggak berani macam-macam sama dia.”
“Tapi…” Wiwin mencoba mencari kata-kata, “caranya sering
nyakitin orang lain.”
Mang Ucup mengangguk.
“Iya. Itu kelemahannya.”
“Dia belajar bertahan, tapi nggak pernah diajarin cara bertahan
yang nggak ninggalin luka buat orang lain.”
Wiwin pulang dengan pikiran yang kacau.
Bukan karena bingung.
Tapi karena terlalu banyak hal yang mulai ia pahami tentang Wawan sekaligus.
Ia ingat kata-kata Wawan malam itu di pos ronda:
“Kalau gue diem terus, orang malah lupa cara ketawa.”
Dulu Wiwin mengira itu hanya candaan.
Sekarang ia tahu—
itu adalah senjata sekaligus tameng.
Sore itu Wiwin melihat Wawan sedang memperbaiki sepeda anak
kecil di depan rumahnya.
Seperti biasa, mulutnya tetap bekerja.
“Lu kalau ngerem jangan pake kaki, Bambang. Ini sepeda
bukan Flintstones.”
Anak kecil itu tertawa.
Wiwin berdiri memperhatikan beberapa saat.
Dan entah kenapa…
ia tidak lagi hanya melihat seorang pemuda tengil.
Ia mulai melihat seseorang yang sejak lama belajar
menyembunyikan luka dengan keributan.
“Kenapa lihat-lihat?”
Suara Wawan membuat Wiwin tersadar.
“Enggak.”
“Bohong. Tatapan lu kayak debt collector.”
Wiwin berjalan mendekat pelan.
“Wan…”
“Hm?”
“Kamu dulu pendiam ya?”
Tangan Wawan langsung berhenti bergerak.
Tatapannya berubah sedikit.
“Siapa yang bilang?”
“Mang Ucup.”
Wawan tertawa kecil hambar.
“Wah. Bocoran sejarah.”
Wiwin duduk di sampingnya.
“Wan… kamu pernah bilang, kalau kamu diem, orang lupa cara ketawa.”
Wawan mengernyit.
“Gue bilang?”
“Iya. Pas awal-awal kita kenal.”
Wawan diam sebentar.
Lalu tersenyum kecil—bukan senyum tengilnya, tapi senyum yang lebih… sunyi.
“Gue masih inget.”
“Itu cuma candaan atau serius?”
Wawan menatap sepeda yang hampir selesai ia perbaiki.
Lalu menjawab pelan—
“Dulu gue pikir kalau gue nggak bikin ribut, dunia bakal
terlalu sepi buat gue.”
Wiwin langsung terdiam.
“Tapi sekarang?”
Wawan tertawa kecil.
“Sekarang gue sadar… yang butuh keributan bukan dunia.”
“Terus?”
“Gue sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi menusuk.
Karena Wiwin mulai mengerti:
Wawan tidak pernah menjadi tengil karena ingin merusak.
Ia menjadi tengil karena takut jika terlalu diam, ia akan sendirian dengan
pikirannya sendiri.
“Makanya kamu suka bercanda terus?” tanya Wiwin lirih.
Wawan nyengir kecil, kembali ke mode biasanya.
“Kalau gue bikin orang ketawa duluan, mereka nggak sempat lihat gue jelek.”
Wiwin tidak tahu harus menjawab apa.
Karena tiba-tiba semua hal tentang Wawan terasa masuk akal:
· mulutnya yang terlalu aktif,
· tingkahnya yang selalu cari perhatian,
· keberaniannya melawan siapa pun,
· dan caranya menertawakan diri sendiri sebelum orang lain
melakukannya.
Anak kecil tadi akhirnya pulang dengan sepeda yang sudah
diperbaiki.
“Bang Wawan baik banget!”
Wawan langsung melotot bercanda.
“Ssst! Jangan rusak reputasi abang.”
Anak itu tertawa lalu pergi.
Wiwin tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya—
ia melihat dengan jelas bahwa ketengilan Wawan bukan sepenuhnya keburukan.
Kadang…
itu hanya topeng.
Topeng berisik yang dipakai seseorang agar dunia tidak
melihat betapa lelah dan rapuh dirinya sebenarnya.
Saat matahari mulai tenggelam, Wiwin berdiri hendak pulang.
Namun sebelum pergi, ia berkata pelan:
“Wan.”
“Hm?”
“Kamu nggak harus selalu bikin orang ketawa supaya dianggap
berharga.”
Wawan terdiam.
Wiwin melanjutkan—
“Kadang… cukup jadi diri sendiri aja.”
Beberapa detik suasana menjadi hening.
Lalu seperti biasa—
Wawan kembali tersenyum miring.
“Masalahnya…”
Ia menatap Wiwin sambil tertawa kecil.
“…gue sendiri juga nggak tahu diri gue yang mana.”
BAB VIII
Wiwin
Mulai Mengerti
Sejak percakapan sore itu, ada sesuatu yang berubah dalam
cara Wiwin memandang Wawan.
Ia masih tengil.
Masih suka bicara sembarangan.
Masih bisa membuat orang emosi dalam hitungan detik.
Namun sekarang Wiwin mulai melihat celah-celah kecil yang
sebelumnya tertutup oleh keributan mulutnya.
Dan semakin ia mengenal Wawan…
semakin ia sadar bahwa anak itu sebenarnya lebih peka daripada yang orang kira.
Hanya saja, ia menyembunyikannya dengan terlalu banyak
tawa.
“WOI WAWAN!”
Suara Pak RT terdengar dari ujung gang pagi itu.
Wawan yang sedang rebahan di atas motor langsung menjawab malas:
“Kalau manggil jangan kayak nagih utang, Pak.”
“Ini siapa yang nulis di papan ronda ‘Yang jomblo wajib
ronda dua kali’?!”
Beberapa bapak langsung menahan tawa.
Dan tentu saja—
pelakunya tidak perlu ditebak.
Wawan malah tertawa puas.
“Biar semangat ronda, Pak.”
“APUS SEKARANG!”
“Siap komandan jones.”
Pak RT sampai hampir melempar sandal.
Wiwin yang kebetulan lewat hanya bisa menggeleng sambil menahan senyum.
Biasanya ia akan langsung kesal.
Namun sekarang…
ia mulai memahami pola Wawan.
Ia membuat suasana ramai agar semua orang tertawa.
Meski setelah itu dirinya sendiri yang dimarahi.
“Lu jangan ketawa. Itu anak makin menjadi,” omel Pak RT
saat melihat Wiwin tersenyum.
“Maaf, Pak…”
“Heran saya. Kok kamu bisa tahan temenan sama dia?”
Wiwin melirik Wawan yang masih tertawa dikejar sapu lidi.
Lalu menjawab pelan—
“Karena sebenarnya dia nggak jahat, Pak.”
Pak RT mendengus.
“Mulutnya itu lho.”
Wiwin tersenyum kecil.
“Iya… tapi hatinya nggak seburuk omongannya.”
Pak RT tidak menjawab.
Namun diam-diam ia mulai memikirkan ucapan Wiwin.
Sore itu Wiwin dan Wawan pergi membeli cat untuk kegiatan
kerja bakti kampung.
Awalnya sederhana.
Sampai akhirnya berubah ricuh karena Wawan.
“Toko ini panas banget.”
“Namanya juga toko bangunan,” kata Wiwin.
“Iya tapi kipasnya muter doang, nggak niat ngasih angin.”
Penjaga toko langsung melirik kesal.
Wiwin buru-buru menyikut lengan Wawan.
“Bisa diem nggak?”
“Lah gue jujur.”
“Kejujuran kamu tuh bentuknya musibah.”
Wawan tertawa keras.
Namun beberapa menit kemudian, saat melihat seorang kuli
bangunan kesulitan mengangkat semen, Wawan langsung membantu tanpa diminta.
“Pak sini saya bantu.”
“Tapi berat, Wan.”
“Tenang Pak. Beban hidup saya lebih berat.”
Wiwin spontan tertawa kecil.
Dan lagi-lagi…
Wawan membantu orang sambil tetap bercanda.
Seolah ia tidak tahu cara bersikap tulus tanpa dibungkus ketengilan.
Saat perjalanan pulang, mereka berhenti di jembatan kecil
dekat sungai.
Angin sore terasa cukup tenang.
Untuk pertama kalinya hari itu, Wawan diam cukup lama.
“Lu capek?” tanya Wiwin.
“Enggak.”
“Tumben nggak ngomong.”
“Lagi hemat ocehan.”
Wiwin duduk di pagar pembatas jembatan.
Ia melihat Wawan berdiri di sampingnya, tangannya di saku celana, mata menatap
aliran sungai.
“Wan.”
“Hm?”
“Pernah nggak sih kamu pengen jadi orang biasa aja?”
Wawan mengernyit.
“Maksudnya?”
“Yang nggak selalu bikin keributan.”
Wawan tidak langsung menjawab.
Ia menunduk, mengambil batu kecil dari saku, lalu
melemparkannya ke sungai.
Batu itu memantul sekali—pluk—lalu tenggelam.
“Pernah.”
“Terus?”
“Gagal.”
“Kenapa?”
Wawan tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia memegang kepalanya.
Bukan sekali.
Tapi dua kali.
Seperti sedang mencoba menekan sesuatu di dalam sana.
Tangannya sedikit gemetar.
Hanya sedikit.
Tapi Wiwin melihatnya.
“Wan?” panggil Wiwin pelan, mulai khawatir.
Wawan menarik napas panjang—dalam sekali, seperti orang
yang baru saja sadar dari tenggelam.
Lalu ia berkata, suaranya serak:
“Karena kalau gue terlalu diem…”
Ia menunjuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuk.
“…kepala gue jadi berisik sendiri.”
Wiwin langsung terdiam.
Ia tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya.
Tapi melihat cara Wawan memegang kepalanya tadi—
seperti sedang melawan sesuatu yang tidak terlihat—
ia tahu itu nyata.
Bukan hanya kata-kata.
Bukan hanya gaya bicara.
Itu adalah perang yang Wawan lawan setiap hari sendirian.
“Lu nggak pernah cerita ini ke siapa-siapa?” tanya Wiwin
pelan.
“Nggak.”
“Kenapa?”
Wawan tertawa kecil hambar.
“Orang udah cukup muak sama gue yang versi berisik.”
“Apalagi kalau tahu gue juga berantakan di dalam.”
Untuk pertama kalinya, Wiwin tidak mencoba menasihati.
Ia tidak bilang Wawan harus berubah.
Tidak bilang ia harus lebih sopan.
Wiwin hanya duduk di sampingnya.
Diam.
Mendengarkan.
Dan anehnya—
itulah yang paling dibutuhkan Wawan sejak lama.
“Lu aneh ya,” kata Wawan tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Biasanya orang kalau udah tahu sifat gue langsung
menjauh.”
Wiwin tersenyum kecil.
“Mungkin mereka capek.”
“Nah kan.”
“Tapi aku mulai ngerti.”
Wawan menoleh.
“Ngerti apa?”
“Kamu tuh bukan suka bikin masalah.”
“Lah terus?”
“Kamu cuma nggak tahu cara menyampaikan perhatian dengan
normal.”
Wawan langsung tertawa keras.
“Anjir. Itu kalimat paling sopan buat nyebut gue rusak.”
Wiwin ikut tertawa kecil.
Namun kali ini tawanya berbeda.
Lebih hangat.
Lebih dekat.
Dan di dalam hatinya, Wiwin sadar—
ia tidak sedang berbicara dengan anak tengil yang suka cari masalah.
Ia sedang berbicara dengan seseorang yang sejak kecil tidak
pernah diajari cara mencintai dengan tenang.
Karena ia sendiri tidak pernah menerima cinta yang tenang.
Langit mulai berubah jingga.
Suara motor dan anak-anak bermain terdengar dari kejauhan.
Dan untuk beberapa saat—
mereka hanya duduk berdua menikmati sore tanpa banyak keributan.
Sampai akhirnya Wawan kembali membuka mulut.
“Wiwin.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari gue bikin masalah gede…”
Wiwin menoleh pelan.
“…lu bakal ikut marah juga?”
Wiwin diam beberapa detik.
Angin sore membawa rambutnya sedikit terbang.
Lalu ia menjawab jujur—
“Kalau kamu salah, iya.”
Wawan tersenyum kecil.
“Tapi?”
“Tapi aku nggak akan langsung ninggalin kamu.”
Untuk pertama kalinya—
Wawan benar-benar kehilangan jawaban.
Tidak ada candaan.
Tidak ada ejekan.
Tidak ada balasan tengil.
Hanya tatapan diam yang terlalu lama.
Seperti baru kali itu ada seseorang yang berkata akan tetap tinggal…
bahkan setelah melihat buruknya dirinya.
“Kenapa?” bisik Wawan, nyaris tidak terdengar.
Wiwin menatapnya.
“Karena semua orang berhak punya rumah pulang.”
“Bukan rumah yang bagus. Tapi rumah yang mau menerima.”
Wawan menunduk.
Tangannya yang tadi gemetar kini diam di pangkuannya.
“Rumah gue berisik banget.”
“Iya.”
Wiwin tersenyum tipis.
“Tapi hangat.”
Dan tanpa mereka sadari—
sejak sore itu, sesuatu mulai tumbuh perlahan di antara mereka.
Bukan sekadar pertemanan aneh.
Bukan sekadar saling mengerti.
Melainkan rasa nyaman yang diam-diam mulai berubah menjadi kebutuhan.
Kebutuhan untuk saling ada.
Tanpa topeng.
Tanpa keributan yang dipaksakan.
BAB IX
Saat
Kampung Mulai Memanas
Kampung itu tidak pernah benar-benar tenang.
Namun minggu itu suasananya berbeda.
Obrolan warga mulai berubah lebih panas dari biasanya.
Bukan lagi soal jemuran, utang warung, atau gosip ibu-ibu.
Melainkan soal anak-anak muda gang mereka yang dianggap mulai
"kelewatan".
Dan seperti biasa—
nama pertama yang disebut selalu Wawan.
“Kalau ada keributan pasti ada dia.”
“Anak-anak sekarang jadi ikut-ikutan tengil.”
“Dulu kampung kita nggak seribut ini.”
Komentar seperti itu mulai terdengar di mana-mana.
Di warung.
Di grup WhatsApp warga.
Bahkan di pengajian ibu-ibu.
Wiwin yang mulai akrab dengan lingkungan itu perlahan bisa
merasakan perubahan suasana.
Tatapan orang-orang terhadap Wawan mulai berbeda.
Bukan sekadar kesal.
Melainkan mulai benar-benar menyalahkan.
Sementara itu Wawan sendiri masih terlihat santai seperti
biasa.
Pagi itu ia duduk di pos ronda sambil memainkan gitar tua.
Rendi datang membawa wajah kusut.
“Wan.”
“Hm?”
“Lu lihat grup warga?”
“Kalau gue baca semua omelan warga bisa ubanan muda.”
“Serius ini.”
Rendi menunjukkan layar ponselnya.
Seseorang mengirim video keributan antar pemuda beberapa hari lalu.
Dan tentu saja—
yang paling jelas terlihat adalah Wawan.
Padahal ia datang untuk membela anak kampung mereka.
Namun video yang beredar dipotong sedemikian rupa hingga terlihat seperti Wawan
sedang memprovokasi perkelahian.
“Wah,” gumam Wawan santai.
“Editingnya bagus juga.”
“LU MASIH BISA BECANDA?!”
Wawan tertawa kecil.
“Kalau gue marah nanti makin viral.”
Namun meski wajahnya santai, Rendi tahu sahabatnya sedang
kesal.
Sangat kesal.
Karena satu hal yang paling dibenci Wawan adalah dituduh tanpa diberi
kesempatan menjelaskan.
Siang harinya suasana kampung mulai benar-benar memanas.
Beberapa bapak berkumpul di pos ronda membicarakan soal
keamanan lingkungan.
Nada bicara mereka tinggi.
“Anak-anak sekarang kurang diajarin sopan santun.”
“Tongkrongan dibubarin aja.”
“Kalau perlu jam malam!”
Dan lagi-lagi—
Wawan dijadikan contoh utama.
Wiwin yang lewat sepulang belanja mendengar semuanya.
Ia melihat Wawan berdiri tidak jauh dari situ sambil memasukkan tangan ke saku
celana.
Diam.
Tidak biasanya.
Wiwin memperhatikan Wawan dari kejauhan.
Ia melihat jari-jari Wawan di dalam saku celana itu
bergerak gelisah.
Mengepal.
Membuka.
Mengepal lagi.
Seperti sedang menghitung.
Seperti sedang menahan sesuatu yang ingin meledak.
Wawan menggigit bibir bawahnya—sesuatu yang belum pernah
Wiwin lihat sebelumnya.
Matanya tidak berkedip, menatap para bapak yang terus menghakiminya.
Dan Wiwin tahu:
di dalam dada Wawan, sedang terjadi perang.
Satu.
Wawan menarik napas pendek.
Dua.
Tangannya mengepal lebih keras di dalam saku.
Tiga.
Ia membayangkan dirinya melangkah maju, membantah semua tuduhan itu, membuat
para bapak itu diam sekaligus malu.
Empat.
Lalu ia membayangkan Wiwin.
Bukan Wiwin yang marah.
Tapi Wiwin yang menangis malam itu di lapangan.
Lima.
Wawan menghembuskan napas panjang.
Perlahan.
Sakit.
Tangannya di dalam saku akhirnya rileks.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Salah satu bapak tiba-tiba berkata cukup keras:
“Kalau si Wawan nggak ada mungkin anak-anak lain nggak bakal ikut liar.”
Suasana langsung hening.
Rendi menegang.
Wiwin refleks menoleh ke arah Wawan.
Dan seperti yang ia khawatirkan—
mata Wawan berubah dingin.
Ia berjalan mendekat perlahan.
Langkah Wawan terhenti dua meter dari kerumunan.
Dilihatnya Pak RT yang sedang duduk dengan wajah lelah.
Dilihatnya para bapak yang matanya sudah penuh tuduhan.
Dilihatnya Wiwin di kejauhan—yang matanya berkata: "Jangan."
Wawan mengepangkan tangan di dada.
Bukan postur menantang.
Tapi postur menahan.
Ia menggigit bibir bawahnya lagi.
Bukan sekarang, katanya
dalam hati.
Bukan dengan cara ini.
“Pak…”
Nada suaranya rendah.
Tidak setinggi biasanya.
Tidak penuh ledekan.
“Tolong bedain mana anak liar sama anak yang berani
ngomong.”
“Lihat tuh! Cara ngomongnya aja nggak sopan!”
“Karena dari dulu orang yang ngomong sopan sering nggak
didengar.”
“Jangan ngelawan orang tua!”
“Kalau orang tuanya salah gimana?”
“WAN!” bentak Pak
RT.
Wawan langsung terdiam.
Bukan karena kalah.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia memilih untuk diam.
Wiwin yang melihat dari kejauhan langsung terkejut.
Itu belum pernah terjadi.
Wawan tidak pernah diam saat sedang panas.
Rendi juga melongo.
“Wan…?” bisiknya.
Wawan mengepalkan tangan.
Lalu melepaskannya perlahan.
“Iya Pak,” katanya pelan.
“Saya dengar.”
Suasana langsung berubah.
Semua bapak yang tadinya siap beradu mulut kini kebingungan.
Wawan yang tiba-tiba… menyerah?
Pak RT mengernyit, tidak percaya.
“Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Wawan tersenyum kecil—tapi senyumnya hambar.
“Saya capek berantem terus.”
Kerumunan terdiam.
Wiwin menarik napas yang sedari tadi ia tahan.
Ia melihat Wawan berdiri di tengah kerumunan, tanpa topeng
tengilnya, tanpa senjata mulutnya.
Untuk pertama kalinya—
ia melihat Wawan memilih mundur.
Bukan karena kalah.
Tapi karena ia sedang belajar memilih pertempuran mana yang layak diikuti.
Dan Wiwin tahu, di balik diamnya Wawan saat ini, ada
perjuangan yang tidak dilihat siapa pun.
Setelah warga mulai bubar, Wiwin mendekati Wawan yang
kembali duduk sendirian di pos ronda.
“Kamu tadi nahan diri,” kata Wiwin pelan.
Wawan tidak menjawab.
“Aku lihat tangan kamu di saku.”
Wawan tertawa kecil hambar.
“Lagi ngitung.”
“Ngitung apa?”
“Sampai lima.”
Ia menatap telapak tangannya sendiri.
“Biar nggak meledak.”
Wiwin terdiam.
Lalu duduk di sampingnya.
“Kamu capek nggak sih?” tanyanya.
“Capek apa?”
“Selalu jadi orang yang disalahin.”
Wawan menghela napas.
“Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Kalau gue salah beneran ya capek.”
“Kalau nggak?”
Wawan menatap jalanan gang yang mulai sepi.
Lalu berkata pelan—
“Ya udah biasa.”
Jawaban itu terdengar ringan.
Namun Wiwin bisa merasakan sesuatu di baliknya.
Sesuatu yang lelah.
Sesuatu yang terlalu sering dianggap masalah… sampai akhirnya terbiasa tidak
dipahami.
“Wan,” panggil Wiwin
pelan.
“Hm?”
“Kamu tahu nggak kenapa aku masih di sini?”
Wawan menoleh. Tatapannya bertanya.
“Karena aku tahu perang yang kamu lawan nggak kelihatan.”
Wiwin menunjuk kepalanya sendiri, meniru gestur Wawan di jembatan tempo hari.
“Dan kamu nggak harus menang sendirian.”
Wawan langsung diam.
Bukan diam karena tidak tahu jawaban.
Tapi diam karena terlalu banyak yang ingin ia katakan, tapi tidak tahu harus
mulai dari mana.
“Tadi kenapa kamu diem?” tanya Wiwin akhirnya.
Wawan menunduk.
Memainkan jari-jarinya yang kini sudah tidak gemetar.
“Gue inget kata lu.”
“Kata apa?”
“‘Aku nggak akan langsung ninggalin kamu.’”
Wawan tertawa kecil.
“Gue nggak mau lu ninggalin.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi Wiwin merasakan beratnya.
Wawan—anak tengil yang tidak pernah takut pada siapa pun—
ternyata sangat takut kehilangan satu orang.
“Wan.”
“Hm?”
“Kamu nggak sendirian sekarang.”
Wawan mengangkat wajahnya.
Menatap Wiwin cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya hari itu—
ia benar-benar tersenyum.
Bukan senyum miring.
Bukan senyum untuk menutupi sesuatu.
Hanya senyum kecil yang jujur.
BAB X
Gadis yang Tidak Pergi
Sejak keributan di pos ronda malam
itu, suasana kampung terasa canggung.
Beberapa warga mulai terang-terangan menghindari
tongkrongan anak muda.
Ibu-ibu kembali aktif bergosip setiap sore.
Dan grup WhatsApp warga berubah seperti ruang sidang tanpa hakim.
Topiknya masih sama:
Wawan.
“Mulutnya terlalu kasar.”
“Kalau dibiarkan nanti anak-anak lain ikut rusak.”
“Kasihan ibunya.”
Wiwin membaca semuanya tanpa ikut berkomentar.
Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman.
Karena semakin banyak orang membicarakan Wawan, semakin
ia sadar bahwa tidak ada satu pun yang benar-benar mencoba mendengarkan sisi
Wawan.
Mereka hanya melihat ledakannya.
Bukan tekanan yang membuatnya meledak.
Dan sejak malam itu pula—
Wawan mulai jarang terlihat.
Pos ronda lebih sepi.
Warung kopi lebih tenang.
Bahkan anak-anak kecil mulai bertanya:
“Bang Wawan ke mana?”
Namun tentu saja tak ada yang mau mengaku kehilangan.
Karena orang-orang lebih mudah mengeluh tentang
keberadaan seseorang daripada mengakui bahwa mereka mulai terbiasa dengannya.
“Lu kontak Wawan nggak?” tanya Rendi pada Wiwin sore
itu.
Wiwin menggeleng.
“Biasanya nongkrong di mana?”
“Kadang di bengkel ujung jalan. Kadang di lapangan
belakang.”
“Dia marah ya?”
Rendi tertawa kecil hambar.
“Wawan tuh kalau sakit hati malah jadi lebih bercanda.”
“Sekarang?”
“Sekarang dia diem.”
Jawaban itu justru terdengar lebih mengkhawatirkan.
Menjelang magrib, Wiwin akhirnya menemukan Wawan di
lapangan belakang sekolah lama.
Ia duduk sendiri di tribun kecil yang mulai berkarat.
Headset tergantung di lehernya.
Tangannya memainkan batu kecil tanpa arah.
Dan untuk pertama kalinya—
Wawan terlihat benar-benar sendirian.
“Kamu ngilang.”
Wawan menoleh pelan.
“Oh.”
“Oh doang?”
“Lu nyariin gue?”
“Kalau enggak ngapain ke sini?”
Wawan tersenyum tipis.
Namun senyumnya terasa lelah.
Wiwin duduk di sampingnya tanpa banyak bicara.
Angin sore berembus pelan membawa suara anak-anak
bermain jauh di ujung lapangan.
Beberapa menit mereka hanya diam.
Aneh.
Karena biasanya bersama Wawan, suasana tidak pernah
bisa tenang lebih dari tiga menit.
Namun kali ini…
yang paling berisik justru pikirannya sendiri.
“Lu tahu nggak,” kata Wawan tiba-tiba,
“kadang gue mikir mungkin warga bener.”
Wiwin menoleh.
“Maksudnya?”
“Mungkin gue emang bikin lingkungan jadi ribut.”
Wiwin langsung menggeleng kecil.
“Kamu bikin lingkungan jadi hidup.”
“Bedanya tipis.”
“Tapi beda.”
Wawan tertawa pelan.
Tawa kecil yang terdengar lebih pahit daripada lucu.
“Dari dulu tuh…”
Wawan menunduk sambil memainkan batu di tangannya,
“gue selalu jadi orang yang gampang disalahin.”
Wiwin diam mendengarkan.
“Kalau ada ribut, nama gue duluan.”
“Kalau ada masalah, gue juga.”
“Kadang gue belum tahu apa-apa, tapi orang udah yakin pasti gue pelakunya.”
Nada suaranya santai.
Namun Wiwin bisa mendengar kelelahan yang selama ini
disembunyikan Wawan di balik candaan.
“Kenapa nggak coba berubah?” tanya Wiwin pelan.
Wawan tersenyum kecil.
“Pernah.”
“Terus?”
“Capek.”
“Hah?”
“Jadi orang yang terlalu hati-hati bikin gue ngerasa
bukan diri sendiri.”
Wiwin menatapnya lama.
Dan ia mulai memahami sesuatu yang lebih dalam:
Wawan bukan tidak ingin berubah.
Ia hanya takut kehilangan dirinya sendiri jika harus
menjadi orang yang disukai semua orang.
“Wiwin.”
“Hm?”
“Kenapa sih lu masih mau temenan sama gue?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun ada sesuatu dalam tatapan Wawan yang membuat
Wiwin sadar—
ia benar-benar ingin tahu jawabannya.
“Karena kamu nggak jahat.”
“Semua penjahat juga bilang gitu.”
Wiwin tersenyum kecil.
“Kamu tuh ribut.”
“Valid.”
“Tengil.”
“Fakta.”
“Menyebalkan.”
“Diterima.”
“Tapi…”
Wiwin menatap langsung ke arah Wawan.
“…kamu selalu peduli sama orang lain, bahkan waktu
mereka nggak peduli sama kamu.”
Wawan langsung terdiam.
Dan seperti biasa—
saat ia tidak punya candaan untuk membalas, matanya
justru terlihat paling jujur.
“Aneh ya,” gumam Wawan pelan.
“Apa?”
“Orang lain capek ngadepin gue…”
Ia tertawa kecil sambil menunduk.
“…tapi lu malah tetap tinggal.”
Wiwin tersenyum tipis.
“Karena aku tahu kamu sebenarnya nggak sekuat mulutmu.”
Wawan spontan tertawa.
“Wah dibongkar.”
“Tapi juga nggak selemah yang orang kira.”
Kalimat itu membuat suasana kembali hening.
Namun kali ini heningnya terasa hangat.
Langit mulai gelap perlahan.
Lampu lapangan satu per satu menyala redup.
Dan di tengah sore yang hampir malam itu—
untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Wawan merasa ada seseorang yang tidak datang untuk
menghakiminya…
tidak datang untuk mengubahnya sepenuhnya…
melainkan hanya ingin memahami dirinya.
Dan bagi seseorang seperti Wawan—
itu jauh lebih menakutkan daripada dimarahi seluruh
kampung.
BAB XI
Antara Cinta dan Kesal
Sejak sore di lapangan itu, hubungan
Wiwin dan Wawan berubah menjadi semakin dekat.
Bukan dekat seperti pasangan.
Belum.
Namun mereka mulai terbiasa mencari
satu sama lain.
Kalau Wawan tidak muncul di pos ronda,
Wiwin akan bertanya diam-diam pada Rendi.
Kalau Wiwin telat pulang les, Wawan akan pura-pura lewat depan gang sambil
bilang—
“Gue cuma ngecek keamanan lingkungan.”
Padahal semua orang tahu siapa yang
sebenarnya ia cek.
Dan seperti biasa…
kedekatan mereka tetap dipenuhi
pertengkaran kecil.
“WAN!”
“Apa lagi?”
“Itu sandal siapa kamu gantung di
kabel?!”
Wawan tertawa keras sambil duduk
santai di pagar.
“Sandal Bang Deni.”
“Kenapa?!”
“Dia taruhan Mobile Legends kalah.”
“Terus sandal orang digantung?!”
“Biar jadi pelajaran hidup.”
Wiwin memukul lengan Wawan dengan
kesal.
“Kamu tuh nggak bisa hidup tenang ya?”
“Bisa.”
“Bohong.”
“Bisa kalau tidur.”
Wiwin sampai menutup wajahnya sendiri
sambil tertawa gemas.
Dan Wawan…
diam-diam menikmati setiap ekspresi
kesal Wiwin lebih dari yang ia akui.
Namun semakin sering bersama, semakin
Wiwin sadar satu hal:
menghadapi Wawan itu melelahkan.
Kadang ia bisa sangat perhatian.
Kadang juga tiba-tiba menyebalkan tanpa alasan.
Hari ini membantu orang sampai kehujanan.
Besok malah bikin keributan di warung cuma karena nasi goreng terlalu pedas.
Seperti hidup bersama petasan berjalan.
Tidak pernah tahu kapan akan meledak.
Sore itu mereka pergi membeli minuman dingin setelah
kerja bakti kampung.
Wawan berjalan di samping Wiwin sambil membawa dua es
teh.
“Lu tahu nggak kenapa anak-anak kecil suka sama gue?”
“Karena mental mereka belum stabil?”
“Karena gue menyenangkan.”
“Menyusahkan iya.”
“Wiwin…”
“Apa?”
“Lu tuh kalau nyindir mulai mirip gue.”
Wawan tertawa puas.
Dan anehnya—
Wiwin mulai sadar bahwa dirinya perlahan ikut terbiasa
dengan gaya bicara Wawan.
Namun beberapa langkah kemudian, dua gadis remaja lewat
sambil berbisik cukup keras.
“Itu Wawan ya?”
“Ih amit-amit. Gue nggak kuat kalau punya pacar kayak dia.”
“Mulutnya nyebelin banget.”
Mereka tertawa kecil lalu pergi.
Wiwin refleks melirik Wawan.
Biasanya ia akan langsung membalas.
Namun kali ini Wawan hanya tersenyum kecil sambil
menyeruput es tehnya.
“Tumben diem,” kata Wiwin.
“Capek.”
“Kamu sakit hati?”
Wawan mengangkat bahu santai.
“Udah biasa dibilang red flag berjalan.”
Wiwin langsung menahan tawa.
“Orang-orang emang pada nggak salah sih.”
“Nah kan.”
“Tapi…”
Wiwin terdiam sebentar.
“…mereka juga nggak kenal kamu sepenuhnya.”
Wawan menoleh.
Tatapannya berubah sedikit lebih serius.
“Wiwin.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari ada orang nanya kenapa lu bisa tahan
sama gue…”
Wawan menyeringai kecil.
“…jawab aja lu korban manipulasi.”
Wiwin spontan tertawa keras.
“Gila.”
“Biar dramatis.”
Namun beberapa detik kemudian, tawa mereka perlahan
reda.
Dan suasana tiba-tiba terasa lebih tenang.
Lebih dekat.
“Aku juga heran sih,” kata Wiwin pelan.
“Heran apa?”
“Kok aku masih betah temenan sama kamu.”
“Karena gue ganteng.”
“Karena aku kasihan.”
“PEDIH.”
Wiwin tertawa lagi.
Namun kali ini tawanya pelan.
Hangat.
Dan untuk pertama kalinya—
ia mulai sadar bahwa kebiasaan mencari Wawan, menunggu
candaan recehnya, bahkan kesal karena ulahnya…
sudah menjadi bagian dari hari-harinya.
Malam itu, setelah Wiwin pulang, Wawan duduk sendiri di
pos ronda bersama Rendi.
Rendi memperhatikan sahabatnya beberapa saat sebelum
berkata:
“Lu suka ya sama Wiwin?”
Wawan hampir tersedak kopi.
“Najis.”
“Jawab.”
Wawan diam sebentar.
Lalu tertawa kecil.
“Orang kayak gue nggak cocok pacaran.”
“Kenapa?”
“Nanti ceweknya cepat tua.”
Rendi menggeleng.
“Serius, Wan.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Wawan
tidak langsung bercanda.
Ia menatap jalan gang yang mulai sepi.
“Wiwin terlalu baik.”
“Terus?”
“Orang baik biasanya capek kalau
lama-lama sama gue.”
Kalimat itu terdengar ringan.
Namun Rendi tahu—
Wawan benar-benar takut.
Takut jika suatu hari Wiwin juga akan
pergi seperti banyak orang lain yang akhirnya menyerah menghadapi dirinya.
Sementara itu di rumahnya, Wiwin
sedang menatap layar ponsel.
Ada pesan dari Wawan.
Wawan:
Motor lu besok isi bensin. Jangan bikin drama mogok lagi.
Wiwin tersenyum kecil.
Lalu membalas:
Wiwin:
Kamu tuh perhatian apa nyebelin sih sebenarnya?
Tak lama kemudian balasan masuk.
Wawan:
Dua-duanya biar lengkap.
Wiwin tertawa kecil sendiri.
Dan tanpa sadar—
dadanya terasa hangat.
Karena untuk pertama kalinya dalam
hidupnya,
ada seseorang yang membuatnya kesal hampir setiap hari…
namun justru menjadi orang yang paling sering membuatnya tersenyum.
BAB XII
Tengil
yang Menolong
Beberapa hari setelah kerja bakti kampung, suasana
lingkungan kembali terlihat normal.
Ibu-ibu mulai sibuk dengan urusan masing-masing.
Anak-anak kembali bermain bola di gang sempit.
Dan bapak-bapak kembali memenuhi pos ronda setiap malam.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena pagi itu, suara ribut kembali terdengar dari rumah Pak Hendra.
“UANG SAYA HILANG!”
Warga langsung berdatangan.
Pak Hendra terlihat panik sambil memegang beberapa lembar kertas koperasi
simpan pinjam warga.
“Tabungan saya nggak bisa diambil!”
“Katanya dana lagi diputar dulu!”
Beberapa ibu-ibu mulai ikut panik.
Ternyata bukan hanya Pak Hendra.
Ada beberapa warga lain yang juga kesulitan mengambil uang mereka dari koperasi
kampung yang selama ini dianggap aman.
Dan seperti biasa—
di tengah kerumunan yang mulai panas itu, muncul satu suara paling nyaring.
“Wah.”
Wawan muncul sambil membawa roti.
“Mau arisan apa mau kena tipu rame-rame nih?”
“WAN, jangan bercanda!” bentak salah satu ibu.
Namun Wawan malah mendekat ke meja koperasi sambil membaca
beberapa buku catatan.
Tatapannya berubah serius.
“Ini yang pegang uang siapa?”
“Pak Rudi,” jawab seseorang.
“Mana orangnya?”
“Katanya lagi keluar kota.”
Wawan langsung tertawa pendek.
“Wah keren. Duit warga ikut healing.”
“WAN!”
Namun kali ini beberapa warga mulai terlihat khawatir.
Karena semakin diperiksa—
catatan koperasi itu memang berantakan.
Ada angka yang tidak cocok.
Ada dana yang hilang.
Dan banyak transaksi tanpa tanda tangan jelas.
Wiwin yang baru datang langsung mendekati Wawan.
“Ada apa?”
“Drama ekonomi lokal.”
“Serius.”
Wawan menyerahkan buku catatan itu pada Wiwin.
“Nih lihat.”
Wiwin membaca cepat.
Dan wajahnya perlahan berubah.
“Ini… kacau banget.”
“Nah.”
“Jangan-jangan…”
“Yup.”
Wawan menyeringai kecil.
“Kayaknya warga kita lagi ikut program investasi bodong edisi RT.”
Wiwin langsung menyikut lengannya.
“Jangan ngomong gitu depan orang-orang!”
“Lah kenyataannya begitu.”
Kerumunan mulai semakin gaduh.
Beberapa warga mulai saling menyalahkan.
Ada yang menyebut pengurus koperasi tidak becus.
Ada juga yang mulai curiga uang sengaja dibawa kabur.
Dan di tengah suasana panas itu—
Wawan justru terlihat paling tenang.
Ia membuka satu per satu catatan sambil sesekali mengomentari dengan mulut
khasnya.
“Ini tulisan angka apa resep dokter?”
“Yang bikin laporan kayaknya habis pusing nyusun kebohongan.”
“Kalau korupsi jangan sambil ngantuk dong.”
Beberapa warga kesal mendengar komentarnya.
Namun diam-diam…
mereka juga mulai sadar bahwa Wawan menemukan banyak kejanggalan yang
sebelumnya tidak diperhatikan siapa pun.
“Pak RT,” kata Wawan tiba-tiba.
Pak RT Burhan mendekat dengan wajah tegang.
“Apa?”
“Kalau saya boleh jujur…”
“Jangan mulai nyolot.”
“Ini bukan salah ngitung.”
Warga mulai diam.
Wawan menatap buku catatan itu sambil berkata pelan—
“Ini ada yang mainin uang.”
Suasana langsung hening.
Pak Rudi akhirnya berhasil ditemukan dua hari kemudian.
Di rumah kontrakannya di ujung kampung sebelah.
Wajahnya pucat.
Matanya sembab.
Warga yang datang langsung memojokkannya.
“Pak Rudi! Mana uang kami?!”
“Kami percaya sama bapak!”
“Anjing banget!”
Suasana mulai panas lagi.
Beberapa pemuda sudah melotot menahan amarah.
Pak Rudi tidak bisa berkata apa-apa.
Ia hanya menunduk.
Di belakangnya, seorang perempuan muda berdiri sambil memangku anak balita.
Wajahnya pucat, matanya basah.
Itu istri Pak Rudi.
“Maaf… maaf…” bisik istri Pak Rudi, suaranya pecah.
“Suami saya… dia terdesak…”
“Terdesak?! Uang kami habis!”
Di tengah kerumunan yang hampir kehilangan kendali, Wawan
melangkah maju.
Semua orang langsung menoleh.
“Udah.”
Suaranya tidak keras.
Tapi entah kenapa, semua orang diam.
“Marahnya boleh. Ngambil uangnya juga boleh.”
Wawan menatap para warga satu per satu.
“Tapi jangan bawa-bawa anak sama istrinya.”
“Dia juga korban, Wan?” sahut seseorang sinis.
“Bukan.”
Wawan menggeleng.
“Dia juga korban.” Ia menunjuk istri Pak Rudi.
“Orang ini nggak tahu apa-apa. Anak ini nggak tahu apa-apa.”
“Mereka juga ketipu sama suaminya sendiri.”
Suasana hening.
Wawan mendekati istri Pak Rudi.
Perempuan itu gemetar.
“Bu,” kata Wawan pelan—nada yang tidak pernah ia gunakan di
depan umum.
“Saya nggak bisa berjanji semua warga akan baik sama keluarga Bapak.”
“Tapi saya janji, kalau ada yang ganggu anak atau ibu…”
Ia menoleh ke kerumunan.
“…saya sendiri yang urus.”
Istri Pak Rudi hanya bisa menangis.
Seorang bapak berseru, “Wan, masa lu bela penipu?!”
Wawan berbalik.
“Saya nggak bela penipu.”
“Pak Rudi salah. Besar salahnya. Wajar kalau warga marah.”
Ia menunjuk anak kecil yang masih tidur di pangkuan ibunya.
“Tapi anak itu nggak salah.”
Tidak ada yang menjawab.
Beberapa hari kemudian, Pak Rudi resmi diproses secara
hukum.
Uang warga tidak sepenuhnya kembali.
Hanya sebagian kecil yang berhasil diselamatkan.
Warga masih sering membicarakannya di warung.
Tapi tidak lagi dengan amarah yang sama.
Yang lebih banyak dibicarakan justru Wawan.
“Waktu itu dia yang bongkar kasus.”
“Dan dia yang nahan warga biar nggak main hakim sendiri.”
“Iya, gara-gara dia, keluarga Pak Rudi nggak digusur
warga.”
“Tapi mulutnya tetep nyebelin.”
“Ya itu mah udah bawaan.”
Wiwin mendengar semua itu tanpa berkomentar.
Ia hanya tersenyum kecil.
Karena ia melihat sendiri—
Wawan berdiri di depan kerumunan yang marah, melindungi perempuan dan anak
kecil yang bahkan bukan siapa-siapa baginya.
Dan Wawan melakukannya sambil tetap berkata, “Saya
nggak bela penipu. Tapi anak itu nggak salah.”
Itu bukan ketengilan.
Itu keberanian.
“Lu sebenarnya
pinter ya,” kata Wiwin saat mereka berjalan pulang beberapa saat setelah
keributan mereda.
Wawan langsung menyeringai.
“Baru sadar?”
“Maksudku… serius.”
“Gue serius juga kalau soal duit.”
Wiwin tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian ia berkata pelan—
“Kalau cara ngomong kamu lebih baik, orang pasti lebih
gampang percaya.”
Wawan memasukkan tangan ke saku celana.
“Kalau gue terlalu halus, orang nggak bakal panik.”
“Tapi kamu bikin suasana makin ribut.”
“Kadang orang baru bergerak kalau udah ribut.”
Wiwin menghela napas kecil.
Dan lagi-lagi—
ia sadar bahwa Wawan memang seperti pisau bermata dua.
Mulutnya bisa melukai suasana.
Namun keberanian dan kecerdasannya juga sering menjadi hal pertama yang
menyelamatkan orang lain.
“Tadi kenapa kamu bela istri Pak Rudi?” tanya Wiwin
tiba-tiba.
Wawan diam sebentar.
“Karena gue tahu rasanya.”
Wiwin menoleh.
“Tahu rasa apa?”
“Diliatin sebelah mata karena kesalahan orang tua.”
Wiwin langsung terdiam.
Ia teringat cerita Wawan tentang SD.
Tentang tas yang dibuang ke selokan.
Tentang ibunya yang menangis.
Wawan tidak pernah benar-benar lepas dari masa lalunya.
Ia hanya belajar mengubah rasa sakit itu menjadi ketengilan.
Dan kadang—di saat yang tidak terduga—ketengilan itu berubah menjadi keberanian
untuk melindungi orang yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri.
Saat mereka hampir sampai di gang, beberapa ibu-ibu yang
tadi panik langsung menghampiri.
“Wan… makasih ya tadi.”
“Iya, untung kamu ngecek buku itu.”
Wawan langsung salah tingkah sendiri.
“Yaelah santai aja Bu, saya cuma nggak mau ibu-ibu kehilangan bahan arisan.”
Mereka tertawa kecil.
Dan Wiwin yang melihat semuanya hanya tersenyum diam-diam.
Karena semakin hari—
ia mulai mengerti sesuatu yang tidak dilihat banyak orang:
Wawan memang berisik.
Namun di balik semua ketengilannya,
ia selalu punya keberanian untuk peduli saat orang lain memilih diam.\
BAB XIII
"Jangan
Pacaran Sama Wawan!"
Sejak kasus koperasi warga terbongkar, nama Wawan kembali
ramai dibicarakan di kampung.
Bedanya, kali ini komentar warga terpecah dua.
Sebagian mulai mengakui kalau Wawan memang cerdas.
Namun sebagian lain tetap merasa anak itu membawa terlalu banyak keributan.
“Kalau nggak ada Wawan mungkin duit warga nggak balik.”
“Iya, tapi cara ngomongnya bikin darah tinggi.”
“Anak itu mulutnya kayak knalpot bocor.”
Dan di tengah semua pembicaraan itu—
Wiwin mulai ikut terseret.
Pagi itu, saat Wiwin membeli sayur di warung, Bu Yati
tiba-tiba mendekat sambil berbisik:
“Wiwin…”
“Iya, Bu?”
“Kamu jangan terlalu dekat sama Wawan ya.”
Wiwin sedikit terdiam.
“Kenapa memang?”
Bu Yati menghela napas panjang seperti hendak membahas
bencana nasional.
“Anaknya baik sih… kadang.”
“Kadang?”
“Iya. Tapi hidup sama orang kayak dia capek.”
Beberapa ibu lain langsung ikut menyahut.
“Mulutnya nggak ada rem.”
“Kalau jadi pacarnya bisa cepat stres.”
“Belum lagi suka cari masalah.”
Wiwin tersenyum tipis sopan.
Namun dalam hati ia mulai merasa aneh.
Kenapa semua orang begitu yakin bahwa Wawan hanya akan membawa masalah?
Wiwin hendak pergi ketika seorang ibu yang sejak tadi duduk
di pojok warung tiba-tiba berkata:
“Bu Yati… saya kok kurang setuju.”
Semua langsung menoleh.
Itu Bu Lina—ibunya anak kecil yang sering dibantu Wawan.
“Lho, Lina, masa kamu bela anak itu?”
Bu Lina meletakkan gelasnya pelan.
“Saya nggak bilang Wawan nggak nyebelin.”
“Dia nyebelin. Banget malah.”
“Tapi…”
Ia menatap Wiwin.
“Waktu anak saya demam tinggi tengah malam, yang anter ke puskesmas siapa?”
“Waktu suami saya pergi tugas, yang bantu angkat tabung gas siapa?”
“Waktu saya hampir kena tipu penjual barang keliling, yang teriak dari
jauh ‘Bu Lina jangan percaya! Itu barang palsu!’ siapa?”
Warung mendadak sunyi.
Bu Lina melanjutkan:
“Wawan.”
“Dengan mulut nyebelinnya itu.”
“Tapi dia datang.”
Beberapa ibu mulai saling pandang.
Bu Yati sendiri tampak sedikit gugup.
“Ya… tapi kan…”
“Saya tahu,” potong Bu Lina.
“Cara ngomongnya bikin emosi. Saya juga sering kesal.”
“Tapi kalau anak saya kenapa-kenapa, nama pertama yang saya panggil ya Wawan.”
“Bukan yang lain.”
Wiwin menatap Bu Lina dengan mata sedikit berbinar.
Ini pertama kalinya ada warga lain yang membela Wawan di depan umum.
“Bu Lina,” kata Wiwin pelan, “makasih.”
Bu Lina tersenyum kecil.
“Saya cuma bilang apa adanya.”
“Si tengil itu memang menyebalkan. Tapi dia bukan sampah kampung.”
“Dia cuma… belum nemu cara yang benar buat jadi baik.”
Wiwin pulang dengan perasaan campur aduk.
Ia senang ada yang membela Wawan.
Tapi ia juga lelah karena perdebatan seperti ini akan terus berulang.
Sementara itu di pos ronda, Wawan justru sedang jadi bahan
ledekan teman-temannya.
“Wah si tengil sekarang terkenal.”
“Pahlawan koperasi.”
“Besok nyaleg aja, Wan.”
Wawan melempar bantal kecil ke arah mereka.
“Nyaleg apaan. Gue aja belum punya motor sehat.”
Rendi tertawa kecil lalu duduk di sampingnya.
“Lu sadar nggak?”
“Apaan?”
“Sekarang warga lebih ribut soal Wiwin daripada soal
koperasi.”
Wawan langsung mengernyit.
“Kenapa Wiwin?”
“Karena semua orang mikir kalian jadian.”
Wawan spontan hampir tersedak kopi.
“Najis.”
“Jawab yang jujur.”
Wawan diam beberapa detik.
Lalu menjawab sambil pura-pura santai—
“Wiwin terlalu normal buat gue.”
“Artinya?”
“Orang kayak dia harusnya dapet cowok mapan. Sopan. Wangi
parfumnya mahal.”
Rendi tertawa.
“Dan lu?”
“Gue bau bensin.”
Malam itu, setelah Rendi pulang, Wawan tidak langsung
tidur.
Ia duduk di teras rumahnya.
Lampu kamar ibunya sudah padam.
Hanya suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong dari kejauhan.
Wawan menatap ponselnya.
Layar menyala.
Foto Wiwin—foto lama yang diunggah Dina di media sosial, di-screenshot Wawan
tanpa sepengetahuan siapa pun.
Ia menghela napas.
“Orang kayak dia harusnya dapet cowok mapan. Sopan.”
Kalimatnya sendiri terngiang di kepalanya.
“Gue ngapain ya,” gumamnya pelan.
“Orang kayak gue…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Tapi di dalam dadanya, sudah jelas.
Tidak pantas.
Sore itu Wiwin datang ke pos ronda membawa dua minuman
dingin.
“Ini.”
Wawan menerima satu gelas sambil mengernyit.
“Tumben baik.”
“Takut kamu mati dehidrasi karena kebanyakan ngomong.”
“Wah romantis.”
Wiwin duduk di sampingnya sambil menghela napas.
Beberapa detik mereka diam.
Lalu Wiwin berkata pelan—
“Tadi ibu-ibu ngomongin kamu lagi.”
“Wajar. Gue konten harian warga.”
“Kali ini soal aku.”
Wawan langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Mereka bilang jangan pacaran sama kamu.”
Sunyi.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu—
“Pintar juga ibu-ibunya.”
Wiwin langsung mendelik.
“Kamu serius?”
“Lah emang salah.”
“Wan!”
Wawan tertawa kecil, tapi tawanya terasa dipaksakan.
“Wiwin…”
Ia menatap gelas plastik di tangannya.
“Orang-orang tuh nggak salah.”
“Aku nggak peduli.”
“Tapi harusnya peduli.”
Wiwin mulai kesal.
“Nih ya, aku capek dengar semua orang ngomong seolah kamu cuma pembawa
masalah.”
“Karena emang gue sering bikin masalah.”
“Tapi kamu juga sering nolong orang!”
“Dan bikin ribut setelahnya.”
“Setidaknya kamu peduli!”
Suara Wiwin sedikit meninggi.
“Kamu tahu nggak, tadi pagi di warung, Bu Yati dan yang lain pada bilang jangan
dekat-dekat kamu.”
Wawan diam.
“Tapi tahu nggak? Bu Lina membela kamu.”
Wawan mengernyit.
“Bu Lina?”
“Iya. Ibunya anak kecil yang sering kamu bantu.”
Wiwin menatap Wawan.
“Dia bilang, kalau anaknya sakit tengah malam, yang pertama dia panggil ya
kamu.”
Wawan terdiam.
“Dia bilang kamu menyebalkan. Tapi kamu bukan sampah
kampung.”
Wiwin menggenggam gelas minumnya erat.
“Kamu dengar? Bukan sampah kampung.”
Wawan tidak menjawab.
Matanya berkaca-kaca sedikit.
Hanya sedikit.
Tapi Wiwin melihatnya.
“Kenapa sih kamu gampang banget nyerah sama omongan orang?”
lanjut Wiwin.
Wawan tertawa kecil hambar.
“Bukan nyerah.”
“Terus?”
“Realistis.”
Wiwin menatapnya tajam.
“Realistis apa? Kamu pikir kamu nggak pantas?”
Wawan membeku.
“Gue tahu diri, Win.”
“Tahu diri apa?!”
“Orang kayak gue…”
“Orang kayak kamu gimana?!”
Wawan terdiam.
Ia tidak pernah melihat Wiwin se emosi ini.
Bukan marah padanya.
Tapi marah untuk nya.
“Kamu pikir aku nggak tahu?”
Wiwin suaranya mulai bergetar.
“Kamu pikir aku nggak lihat bagaimana kamu menjaga jarak sendiri?”
“Kamu pikir aku nggak sadar kamu selalu bilang ‘Wiwin terlalu normal buat gue’
sebagai alasan?”
Wawan tidak bisa berkata apa-apa.
“Aku tahu kamu takut, Wan.”
Wiwin menatapnya lurus.
“Takut ditinggalin. Takut nggak cukup baik. Takut suatu hari aku sadar dan
pergi.”
Wawan mengepalkan tangan di pangkuannya.
“Tapi kamu nggak pernah tanya pendapat aku.”
Wiwin menunjuk dadanya sendiri.
“Apa aku merasa kamu nggak pantas?”
Sunyi.
Hanya suara angin sore yang bertiup pelan.
“Kalau menurut aku…”
Wiwin menggenggam tangannya sendiri agar tidak gemetar.
“Kamu lebih dari cukup.”
“Kamu cuma terlalu sibuk membenci diri sendiri sampai nggak lihat itu.”
Wawan menunduk.
Dagu hampir menyentuh dada.
Tangannya di pangkuan menggenggam erat.
“Wiwin…”
Suaranya parau.
“Apa?”
“Jangan bikin gue nangis di depan umum. Nanti image gue
rusak.”
Wiwin hampir tertawa.
Tapi air matanya sendiri sudah di ujung mata.
“Kamu nggak usah nangis.”
Ia tersenyum tipis.
“Cuma jangan pikir kamu nggak pantas. Karena aku yang berhak jawab itu.”
Angin sore bertiup pelan melewati gang kecil itu.
Suara anak-anak bermain terdengar samar dari kejauhan.
Wawan akhirnya mengangkat wajahnya.
Matanya merah.
Tapi ia tersenyum—senyum yang berbeda dari biasanya.
Tidak miring.
Tidak untuk menutupi sesuatu.
Hanya senyum seseorang yang untuk pertama kalinya
merasa dilihat.
“Wiwin.”
“Hm?”
“Makasih.”
“Makasih apa?”
“Udah marah-marahin gue padahal gue belum jadi pacar.”
Wiwin tertawa kecil.
“Kalau udah jadi pacar nanti gue marah lebih keras.”
“Bahaya.”
“Tapi kamu sukai.”
Wawan tertawa.
Tawa asli.
Bukan tawa untuk mengalihkan.
Bukan tawa untuk menutupi luka.
Dan sore itu—
untuk pertama kalinya sejak semua omongan warga tentang "jangan pacaran
sama Wawan" mulai terdengar—
Wiwin tidak merasa takut.
Karena ia sudah tahu apa yang ia perjuangkan.
Dan Wawan?
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian melawan seluruh dunia.
BAB XIV
Pisau
Bermata Dua
Kampung itu kembali ramai.
Namun kali ini bukan karena gosip biasa.
Melainkan karena sebuah video.
Video berdurasi kurang dari dua menit yang beredar cepat di
grup WhatsApp warga dan media sosial anak-anak muda sekitar.
Isinya sederhana:
Wawan sedang berteriak di tengah keributan antar pemuda kampung.
Namun seperti sebelumnya, video itu dipotong.
Tidak ada bagian saat Wawan melerai.
Tidak ada bagian saat ia membela anak kecil yang diganggu.
Yang terlihat hanya:
· mulutnya yang nyolot,
· nada bicaranya yang keras,
· dan suasana ricuh di sekelilingnya.
Dalam hitungan jam—
komentar mulai bermunculan.
“Tuh kan, bikin masalah lagi.”
“Anak kayak gitu harus ditertibkan.”
“Pantes aja warga capek.”
Dan lagi-lagi…
Wawan menjadi pusat ledakan.
“WAN!”
Rendi masuk ke bengkel kecil tempat Wawan sedang membantu
memperbaiki motor.
“Apalagi?”
“Video lu viral lagi.”
Wawan tetap fokus memasang baut.
“Minimal gue terkenal.”
“LU DITUDUH PROVOKATOR!”
“Nggak pertama kali.”
Rendi menghela napas frustrasi.
Kadang ia bingung bagaimana Wawan bisa terlihat begitu santai di saat hidupnya
sendiri sedang berantakan.
Namun sebenarnya—
Wawan tidak sesantai itu.
Ia hanya terlalu terbiasa menyembunyikan rasa lelahnya
dengan candaan.
Setelah Rendi pergi, Wawan duduk di bangku kayu dekat
bengkel.
Ia membuka ponselnya.
Membaca satu per satu komentar.
“Anak tengil.”
“Bikin kampung malu.”
“Harus ditindak tegas.”
Tangannya mengepal.
Bukan karena marah pada komentar-komentar itu.
Tapi karena ia tahu—
tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Wiwin mendengar kabar itu dari Dina.
“Win, lihat grup! Video Wawan viral lagi!”
Wiwin langsung membuka ponselnya.
Wajahnya berubah pucat saat membaca komentar-komentar jahat.
“Ini nggak benar,” gumamnya.
“Waktu itu dia yang melerai. Bukan memprovokasi.”
“Ya tapi video yang beredar beda,” kata Dina.
“Orang cuma lihat apa yang mereka lihat.”
Wiwin langsung berdiri.
“Wawan mana?”
“Katanya di bengkel Bang Ucok.”
Wiwin buru-buru keluar rumah.
Ia harus menemui Wawan sebelum sesuatu terjadi.
Karena ia tahu—
ketika Wawan sudah terpojok dan marah,
kadang ia tidak bisa mengendalikan mulutnya sendiri.
Namun Wiwin terlambat.
Sore harinya, suasana kampung mulai benar-benar panas.
Beberapa pemuda dari gang sebelah datang mencari anak-anak
kampung mereka.
Teriakan mulai terdengar.
Motor-motor memenuhi ujung jalan.
Wiwin yang baru sampai di gang langsung tercekat.
“Ada apa?!”
“Katanya anak gang sebelah tersinggung gara-gara video
itu!” jawab Dina panik.
“Wawan mana?!”
“Dari tadi belum kelihatan!”
Jantung Wiwin berdegup kencang.
Ia tahu satu hal:
Wawan mungkin tengil.
Tapi kalau sudah menyangkut harga diri teman-temannya, ia tidak akan mundur.
Dan tepat ketika ia hendak mencari ke arah bengkel—
“WOI!”
Suara itu terdengar dari ujung gang.
Wiwin menoleh.
Wawan muncul sambil berjalan santai.
Tangan masuk saku celana.
Wajah datar.
Seolah tidak ada puluhan orang sedang mencarinya.
“Wan! Jangan!” teriak Wiwin.
Namun Wawan sudah terlalu dekat dengan kerumunan.
“Yang nyari gue rame-rame ternyata.”
“LU NGEJEK?!”
“Enggak. Observasi.”
Dan Wiwin tahu—
ini baru awal.
BAB
XV
Saat
Kampung Berdarah
“WAN, DIEM!” bentak Rendi panik.
Namun terlambat.
Suasana langsung memanas lagi.
Beberapa pemuda maju hendak menyerang.
Warga mulai berteriak panik.
Ibu-ibu menarik anak-anak masuk rumah.
Dan seperti biasa—
mulut Wawan kembali menjadi korek api yang dilempar ke bensin.
“Lu tuh kalau ngomong bisa nggak sih nggak bikin orang
emosi?!” bentak Wiwin yang akhirnya berhasil mendekat.
Wawan menoleh.
Dan hanya karena melihat Wiwin—
raut wajahnya sedikit berubah.
Namun egonya tetap lebih cepat daripada logikanya.
“Lah mereka juga nyarinya ribut.”
“Bukan berarti kamu harus nyiram bensin!”
“Gue nggak takut.”
“Aku tahu!”
Wiwin menatapnya kesal sekaligus khawatir.
“Masalahnya bukan kamu takut atau nggak…”
Suaranya mulai bergetar.
“…tapi kamu tuh selalu nyakitin diri sendiri pakai cara begini.”
Kalimat itu membuat Wawan terdiam sepersekian detik.
Dan di tengah keributan yang makin kacau—
untuk pertama kalinya hari itu, ia terlihat goyah.
Namun suasana telanjur panas.
Salah satu pemuda mendorong bahu Wawan keras.
Wawan mundur satu langkah, tapi tidak membalas.
“Berani nyolot-nyolot, tapi diem aja sekarang?!” ejek
pemuda itu.
Rendi dan beberapa warga langsung menahan.
“Udah! Jangan ribut!”
Teriakan mulai bercampur.
Motor jatuh.
Orang-orang saling dorong.
Kekacauan benar-benar pecah.
Di tengah situasi itu—
Wawan melihat sekelompok anak kecil yang sedang bermain di dekat lapangan.
Mereka ketakutan. Beberapa sudah mulai menangis.
Wawan tidak berpikir dua kali.
Ia berjalan cepat ke arah anak-anak itu.
Bahu didorong. Dielakkan.
Lagi. Dielakkan lagi.
“WOI!” teriak salah satu pemuda. “LU MAU KE MANA?!”
Wawan tidak menggubris.
Ia terus berjalan sampai akhirnya berdiri di depan anak-anak kecil itu.
“Masuk ke belakang,” perintahnya pelan.
Anak-anak itu langsung berlindung di belakang tubuh Wawan
yang tinggi kurus.
“Udah cukup!” bentaknya keras ke arah kerumunan.
Suasana sedikit hening.
“Kalau mau ribut sama gue aja.”
“Jangan bawa-bawa anak kecil.”
“WAN JANGAN SOK PAHLAWAN!”
“Daripada sok rame.”
“LU—”
Seorang pemuda maju hendak menyerang Wawan dari samping.
Namun sebelum sempat—
“CUKUP!”
TAMBAHAN ADEGAN (POLISI DATANG):
Suara pluit polisi terdengar dari kejauhan.
Dua unit patroli masuk ke gang kecil itu.
“Semua diam! Jangan ada yang bergerak!”
Perlahan, kerumunan mulai bubar.
Pemuda-pemuda dari gang sebelah mundur satu per satu.
Motor-motor dinyalakan dan pergi.
Warga masih bergerombol di pinggir jalan, berbisik-bisik.
Wawan masih berdiri di tempatnya.
Di belakangnya, anak-anak kecil itu masih bersembunyi.
Salah satu dari mereka—Bambang, anak yang sepedanya pernah
ia perbaiki—menarik ujung baju Wawan.
“Bang… Abang nggak apa-apa?”
Wawan menunduk.
Lalu tersenyum kecil.
“Aman, Bang. Abang kan kebal.”
Bambang tertawa kecil meski matanya masih basah.
Malamnya kampung terasa muram.
Tidak ada suara gitar di pos ronda.
Tidak ada candaan Wawan.
Tidak ada tawa anak-anak muda.
Yang ada hanya bisik-bisik warga tentang kejadian sore
tadi.
Dan lagi-lagi—
semua mengarah pada satu nama.
Wiwin duduk sendirian di teras rumah sambil memikirkan
semua yang terjadi.
Dadanya campur aduk.
Kesal. Takut. Lelah.
Namun di saat yang sama…
ia juga sadar sesuatu:
ketengilan Wawan memang seperti pisau bermata dua.
Sedikit salah arah—
bisa melukai siapa saja, termasuk dirinya sendiri.
Namun di tengah kekacauan tadi,
Wiwin juga melihat sisi lain yang tidak dilihat banyak orang:
di saat semua orang panik dan mundur,
Wawan justru berdiri paling depan melindungi anak-anak kecil yang tidak
bersalah.
Dan itulah yang membuat Wiwin semakin takut.
Karena semakin ia mengenal Wawan—
semakin sulit baginya untuk pergi.
Di ujung gang yang lain, Wawan duduk di depan rumahnya.
Bambang dan dua anak kecil lain masih setia menemani.
Mereka duduk di teras, tidak mau pulang sebelum Wawan benar-benar baik-baik
saja.
“Bang,” kata Bambang pelan.
“Hm?”
“Kenapa orang-orang marah sama Abang?”
Wawan diam sebentar.
Lalu menghela napas.
“Karena Abang suka ribut, Bang.”
“Tapi Abang baik.”
Wawan tersenyum kecil.
Ia mengacak rambut Bambang.
“Ya sudah. Tidur. Besar nanti jangan jadi kayak Abang.”
“Jadi kayak gimana?”
“Yang ribut terus.”
Bambang menggeleng.
“Aku mau jadi kayak Abang. Yang berani.”
Wawan tidak menjawab.
Hanya tersenyum—tapi senyum yang berbeda dari biasanya.
Bukan untuk bercanda.
Bukan untuk menutupi luka.
Hanya senyum kecil yang lelah.
BAB XVI
Wiwin Melawan Semua Orang
Setelah keributan malam itu, kampung berubah seperti
bara yang belum benar-benar padam.
Di luar terlihat tenang.
Namun sedikit saja tersulut, semuanya bisa meledak lagi.
Orang-orang mulai membatasi anak-anak mereka bermain
malam.
Tongkrongan pemuda dibubarkan lebih cepat.
Dan tentu saja—
nama Wawan kembali menjadi pusat pembicaraan.
“Anak itu bikin lingkungan nggak aman.”
“Kalau terus dibiarkan nanti tambah rusak.”
“Kasihan Wiwin kalau sampai dekat serius sama dia.”
Kalimat terakhir itulah yang paling sering didengar
Wiwin.
Dan semakin sering ia mendengarnya…
semakin tumbuh rasa kesal dalam dirinya.
Sore itu, beberapa ibu sedang berkumpul di depan warung
ketika Wiwin lewat.
“Wiwin sini dulu.”
Wiwin berhenti sopan.
“Iya, Bu?”
Bu Yati menatapnya dengan wajah penuh nasihat khas
ibu-ibu kampung.
“Kamu anak baik.”
Wiwin mulai merasa arah pembicaraan ini tidak akan
menyenangkan.
“Jangan salah pilih teman.”
“Wawan sebenarnya nggak jahat, Bu.”
“Iya, tapi capek.”
Ibu lain langsung menyambung:
“Laki-laki itu kalau kebanyakan masalah nanti nyeret
hidup pasangan.”
“Belum lagi emosinya.”
“Mulutnya juga…”
Wiwin mengepalkan tangan pelan.
Ia berusaha tetap sopan.
Namun entah kenapa—
hari itu ia mulai lelah mendengar semua orang menilai
Wawan hanya dari keributannya.
“Kalau boleh jujur…” kata Wiwin pelan.
Beberapa ibu langsung diam mendengarkan.
“…Wawan memang sering bikin ribut.”
“Nah kan.”
“Tapi waktu ada masalah, dia juga yang paling depan
bantu orang.”
Suasana sedikit hening.
Wiwin melanjutkan—
“Waktu koperasi bermasalah siapa yang berani bongkar?”
“Waktu anak-anak dipalak siapa yang bela?”
“Waktu warga butuh bantuan malam-malam siapa yang datang duluan?”
Ibu-ibu mulai saling pandang.
Karena mereka tahu—
semua itu benar.
“Masalahnya cara ngomongnya, Win,”
kata Bu Yati pelan.
Wiwin tersenyum kecil.
“Iya.”
“Terus kamu masih tahan?”
Wiwin terdiam sebentar.
Lalu menjawab jujur—
“Karena saya tahu dia sebenarnya nggak
seburuk yang orang kira.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak
lebih sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
Wiwin sadar bahwa dirinya benar-benar
sedang membela Wawan. Bukan sekadar sebagai teman.
Melainkan sebagai seseorang yang mulai
berarti baginya.
Sementara itu, Wawan sama sekali tidak
tahu percakapan itu terjadi.
Ia sedang duduk sendirian di bengkel
kecil dekat jalan raya sambil membantu pemilik bengkel memperbaiki motor.
Tangannya sibuk bekerja.
Namun pikirannya jelas tidak tenang.
“Lu lagi mikir Wiwin ya?”
Wawan mendelik ke arah Bang Ucok,
pemilik bengkel.
“Apaan sih.”
“Kelihatan dari muka.”
“Gue emang ganteng.”
“Bukan. Kusut.”
Wawan tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian ia
kembali diam.
Bang Ucok akhirnya duduk di
sampingnya.
“Takut nyakitin dia?”
Tangan Wawan berhenti bergerak.
Dan kali ini—
ia tidak langsung bercanda.
“Orang kayak gue tuh ribet, Bang.”
“Semua orang juga ribet.”
“Tapi gue beda.”
“Bedanya?”
Wawan menunduk pelan.
“Gue tuh gampang bikin orang capek.”
Suara itu rendah.
Hampir seperti pengakuan yang selama
ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Malam harinya, Wiwin akhirnya bertemu
Wawan di ujung gang.
Wawan terlihat lelah.
Kaosnya kotor oli.
Rambutnya berantakan.
Namun begitu melihat Wiwin, ia tetap
menyeringai kecil.
“Wah, calon korban datang.”
Wiwin langsung memukul lengannya
pelan.
“Bisa nggak sih sehari aja nggak
ngomong aneh?”
“Kalau gue normal nanti lu kangen.”
Wiwin menghela napas panjang.
Biasanya ia akan ikut bercanda.
Namun malam itu ia langsung berkata
serius—
“Wan.”
“Hm?”
“Aku tadi diminta jauhin kamu.”
Senyum Wawan perlahan memudar.
“Oh.”
“Cuma ‘oh’?”
“Mau jawab apa?”
Wiwin menatapnya tajam.
“Kamu tuh kenapa gampang banget nerima
kalau orang ninggalin kamu?”
Wawan tertawa kecil hambar.
“Karena udah biasa.”
Jawaban itu membuat dada Wiwin terasa
sesak.
Karena cara Wawan mengucapkannya
terdengar terlalu terbiasa.
Terlalu pasrah.
“Aku capek tahu nggak?” kata Wiwin
tiba-tiba.
Wawan mengernyit.
“Capek apa?”
“Capek lihat kamu terus nganggep
dirimu masalah.”
Wawan terdiam.
Wiwin melanjutkan dengan suara sedikit
bergetar—
“Iya, kamu tengil.”
“Iya, kamu bikin emosi.”
“Iya, kadang kamu nyusahin.”
Wawan menunduk kecil sambil tertawa
pelan.
“Nah kan lengkap.”
“Tapi kamu juga peduli sama orang lain
lebih dari kebanyakan orang.”
Sunyi.
“Aku nggak ngerti kenapa semua orang cuma
lihat ributnya…”
Wiwin menggenggam ujung jaketnya erat.
“…padahal kamu selalu ada waktu orang
lain butuh.”
Wawan perlahan mengangkat wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
tatapannya terlihat benar-benar goyah.
“Wiwin…”
Suaranya jauh lebih pelan dari
biasanya.
“Apa?”
“Lu tahu nggak…”
Ia tertawa kecil, tapi kali ini
terdengar getir.
“…kalau orang terlalu lama dianggap
buruk, lama-lama dia ikut percaya.”
Kalimat itu menghantam Wiwin tanpa
suara.
Karena tiba-tiba ia sadar:
di balik semua ketengilan Wawan,
ada seseorang yang diam-diam sudah terlalu lama merasa dirinya tidak layak
dipertahankan.
Wiwin melangkah sedikit lebih dekat.
Lalu berkata pelan—
“Kalau semua orang pergi…”
Wawan menatapnya diam.
“…aku belum tentu ikut pergi.”
Dan malam itu—
untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Wawan merasa lebih takut kehilangan seseorang…
daripada takut dimusuhi seluruh kampung.
BAB XVII
Saat Wiwin Menjadi Rumah
Sejak malam itu, ada sesuatu yang
berubah di dalam diri Wawan.
Bukan berubah menjadi lebih kalem.
Itu mustahil.
Ia masih suka membuat orang emosi sebelum sarapan.
Masih hobi bicara tanpa rem.
Dan masih bisa mengubah suasana damai menjadi ricuh hanya dengan satu kalimat.
Namun sekarang—
ia mulai memikirkan satu hal sebelum
bertindak:
“Kalau Wiwin lihat
ini, dia bakal kecewa nggak ya?”
Dan bagi seseorang seperti Wawan, itu
sudah perubahan besar.
“WAN!”
“Apalagi?!”
“Itu tulisan di tembok siapa yang
bikin?!”
Wawan menoleh santai ke arah tulisan
besar dekat pos ronda:
“DILARANG GIBAH
KECUALI PENTING.”
Beberapa bapak langsung menahan tawa.
Pak RT memegang sapu lidi dengan wajah
merah.
“APUS!”
“Pak itu kritik sosial.”
“ITU VANDALISME!”
Wiwin yang baru datang langsung
memijat pelipis.
Namun anehnya…
hari itu Wawan tidak membalas panjang
seperti biasanya.
Ia hanya tertawa kecil lalu mengambil
ember dan mulai membersihkan tembok sendiri.
Semua orang langsung heran.
Termasuk Wiwin.
“Tumben nurut,” bisik Rendi.
Wawan menyenggol bahunya pelan.
“Lagi males debat.”
“ATAU karena Wiwin lihat?”
Wawan langsung melempar kain lap ke
arah Rendi.
Namun wajahnya sedikit salah tingkah.
Dan itu cukup menjadi jawaban.
Wiwin memperhatikan semuanya
diam-diam.
Ia mulai sadar—
Wawan memang sulit diubah dengan
omelan.
Namun ketika ia merasa dihargai…
ia perlahan mulai belajar mengendalikan
dirinya sendiri.
Bukan karena takut.
Melainkan karena tidak ingin
mengecewakan.
Sore itu hujan turun cukup deras.
Listrik di beberapa rumah padam.
Anak-anak mulai takut karena gang
menjadi gelap.
Dan seperti biasa—
di saat warga masih sibuk mengeluh,
Wawan sudah mondar-mandir membawa
kabel dan senter.
“Pak colokannya jangan dipaksa! Itu
listrik bukan mantan!”
“Bang Wawan aku takut gelap…”
“Tenang. Abang juga takut tagihan
listrik.”
Anak-anak tertawa kecil.
Meski mulutnya tetap ngawur, tangannya
terus membantu dari rumah ke rumah.
Membantu memperbaiki sambungan listrik.
Mengangkat barang yang kehujanan.
Bahkan membantu nenek tua menutup atap bocor.
Wiwin yang melihat itu dari bawah
teras hanya tersenyum kecil.
Karena inilah sisi Wawan yang jarang
dilihat orang saat sedang marah padanya:
ia selalu bergerak paling dulu saat
ada yang membutuhkan bantuan.
“Wan!” panggil Wiwin saat Wawan lewat
membawa tangga.
“Apa?”
“Kamu dari tadi belum istirahat.”
“Nanti aja.”
“Kamu hujan-hujanan terus.”
“Kalau gue sakit nanti warga damai.”
Wiwin langsung menarik lengan
jaketnya.
“Masuk dulu.”
Wawan sedikit terkejut.
“Kok galak?”
“Masuk.”
Nada suara Wiwin tidak keras.
Namun entah kenapa—
Wawan selalu sulit membantah kalau
Wiwin sudah bicara serius.
Akhirnya mereka duduk di teras rumah
Wiwin sambil menunggu hujan reda.
Ibunya Wiwin bahkan memberi mereka teh
panas.
“Makasih, Tante.”
“Tumben sopan,” goda Wiwin.
“Kalau sama calon mertua harus sopan.”
“WAWAN!”
Ibunya Wiwin sampai tertawa kecil
mendengar itu.
Dan anehnya—
Wawan terlihat nyaman.
Sangat nyaman.
Seolah rumah kecil sederhana itu
memberikan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan:
kehangatan tanpa tuntutan.
Setelah ibunya masuk ke dapur, suasana
menjadi lebih tenang.
Hujan masih turun di luar.
Suara air terdengar lembut di atap
seng.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama—
Wawan terlihat benar-benar rileks.
“Wan.”
“Hm?”
“Kamu capek ya?”
Wawan tertawa kecil.
“Pertanyaan lu makin kayak ibu-ibu.”
“Jawab.”
Ia diam beberapa detik.
Lalu bersandar pelan di kursi kayu.
“Kadang.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Buat apa?”
Wiwin menatapnya lurus.
“Biar nggak dipikul sendirian.”
Kalimat itu membuat Wawan langsung
diam.
Lagi-lagi.
Karena Wiwin selalu punya cara
sederhana untuk mengatakan sesuatu yang sulit dijelaskan orang lain.
“Lu aneh tahu nggak,” gumam Wawan.
“Kenapa?”
“Biasanya orang kalau lihat gue capek
malah nyuruh gue berubah.”
“Kalau aku?”
“Lu malah duduk nemenin.”
Wiwin tersenyum kecil.
“Karena orang capek nggak selalu butuh
ceramah.”
Wawan menunduk sambil tertawa pelan.
Namun kali ini—
tawanya terdengar hangat.
Bukan untuk menutupi luka.
Bukan untuk mengalihkan rasa sakit.
Melainkan tawa seseorang yang mulai
merasa aman.
Dan tanpa mereka sadari—
malam hujan itu menjadi titik penting
dalam hubungan mereka.
Karena untuk pertama kalinya dalam
hidupnya,
Wawan menemukan sesuatu yang belum
pernah ia miliki sebelumnya:
seseorang yang tidak berusaha memadamkan sifat liarnya…
melainkan membantu mengarahkannya agar tidak melukai dirinya sendiri.
Dan bagi Wiwin—
ia mulai sadar bahwa mencintai Wawan
bukan tentang mengubah siapa dirinya.
Melainkan belajar menjadi tempat
pulang bagi seseorang yang terlalu lama hidup sambil berisik menutupi kesepian.
BAB XVIII
Tengil yang Mulai Dewasa
Wawan mulai belajar bahwa benar saja
tidak cukup; cara menyampaikan juga penting.
Dan bagi seseorang seperti Wawan—
itu jauh lebih sulit daripada sekadar
melawan orang.
Karena selama ini ia terbiasa hidup dengan satu cara:
bicara dulu, pikir belakangan.
Sejak kecil, Wawan selalu percaya bahwa kejujuran harus
disampaikan apa adanya.
Kalau salah, ya salah.
Kalau menyebalkan, ya bilang menyebalkan.
Kalau ada yang munafik, ya dibongkar sekalian.
Masalahnya—
tidak semua orang siap menerima
kebenaran dengan cara sekeras itu.
Dan selama bertahun-tahun, Wawan tidak
pernah peduli.
Sampai akhirnya ia mengenal Wiwin.
Bersama Wiwin, untuk pertama kalinya
Wawan mulai melihat sesuatu yang berbeda:
kadang orang bukan marah karena isi
ucapan kita salah.
Mereka marah karena merasa
direndahkan.
Dan itu perlahan mulai mengganggu
pikirannya.
Pagi itu suasana kampung sedang ramai
karena persiapan lomba tujuh belasan.
Anak-anak muda diminta membantu
membersihkan lapangan RT.
Beberapa bekerja serius.
Sebagian lagi malah sibuk bercanda.
Dan seperti biasa—
Wawan menjadi orang paling berisik di
lokasi.
“WOI! Yang nyapu jangan kayak lagi
cari wangsit!”
“Rendi, lu kerja apa cosplay jadi
pengawas proyek?”
“Yang duduk doang nanti konsumsi saya
downgrade jadi kerupuk!”
Semua orang tertawa.
Namun salah satu pemuda bernama Aris
terlihat mulai kesal.
“Lu ngomong mulu dari tadi.”
“Lah gue bantu kerja juga.”
“Iya tapi mulut lu bikin males!”
Suasana mendadak sedikit canggung.
Beberapa orang mulai diam.
Dan biasanya—
di situ Wawan akan langsung membalas
lebih pedas.
Namun kali ini berbeda.
Ia terdiam beberapa detik.
Lalu tanpa diduga berkata:
“Yaudah. Maaf.”
Semua orang langsung menoleh.
Termasuk Wiwin yang sedang membagikan
minuman.
Karena itu mungkin pertama kalinya
dalam sejarah kampung—
Wawan meminta maaf sebelum ribut besar
terjadi.
“Eh gue bukan ngajak berantem,” kata
Aris langsung kikuk.
“Gue juga nggak ngajak.”
Wawan mengambil sapu lalu mulai
membersihkan daun-daun sendiri.
Suasana perlahan kembali normal.
Namun Wiwin memperhatikan semuanya
diam-diam.
Dan di wajah Wawan—
ia melihat sesuatu yang jarang
terlihat:
usaha menahan diri.
Sore harinya, Wiwin duduk bersama
Wawan di pos ronda.
“Tumben tadi nggak lanjut ribut.”
Wawan menyandarkan badan sambil
menghela napas.
“Cape.”
“Cape ribut?”
“Cape disalahpahami terus.”
Wiwin terdiam.
Karena kalimat itu terdengar jauh
lebih jujur daripada biasanya.
“Lu tahu nggak,” lanjut Wawan pelan.
“Kadang gue ngerasa…”
Ia memutar botol minuman di tangannya.
“…gue ngomong bener, tapi semua orang
malah fokus marah sama cara gue ngomong.”
Wiwin tersenyum kecil.
“Nah.”
“Nah apanya?”
“Itu berarti kamu mulai ngerti.”
Wawan mendelik.
“Ngerti kalau warga sini sensitif?”
Wiwin tertawa kecil.
“Bukan.”
Ia menatap Wawan lebih lembut.
“Ngerti kalau menyampaikan sesuatu
juga butuh hati.”
Sunyi beberapa detik.
Wawan sebenarnya benci mengakui kalau
Wiwin benar.
Namun akhir-akhir ini, semakin sering
ia memikirkannya.
Karena ia mulai sadar:
setiap kali ia bicara terlalu kasar,
orang langsung menutup telinga.
Padahal mungkin isi ucapannya penting.
Dan itu membuat semua niat baiknya
sering berubah jadi keributan.
Malam harinya, kesempatan itu datang
lebih cepat dari yang ia kira.
Beberapa anak kecil bermain petasan
dekat rumah Pak Darto yang penuh kayu bekas.
Situasinya berbahaya.
Dan refleks lama Wawan langsung
muncul.
“WOI! KALIAN MAU BAKAR KAMPUNG?!”
Anak-anak langsung ketakutan.
Salah satu bahkan hampir menangis.
Wiwin yang kebetulan lewat langsung
menatap Wawan.
Tatapan itu sederhana.
Namun cukup membuat Wawan sadar.
Ia menarik napas panjang.
Lalu jongkok di depan anak-anak kecil
itu.
“Eh…”
Nada suaranya mulai lebih pelan.
“Kalian tahu nggak kalau dekat kayu
gampang kebakar?”
Anak-anak mulai diam mendengarkan.
“Kalau nanti apinya nyebar…”
Wawan menunjuk rumah-rumah sekitar.
“…yang repot bukan cuma kalian. Semua
warga juga.”
Salah satu anak menunduk.
“Maaf Bang…”
“Nah gitu. Mainnya di lapangan aja.
Biar kalau meledak minimal nggak bikin emak-emak pingsan.”
Anak-anak langsung tertawa kecil.
Dan mereka benar-benar pindah tanpa
menangis atau ketakutan.
Wiwin memperhatikan itu sambil
tersenyum tipis.
Karena untuk pertama kalinya—
Wawan berhasil membuat orang
mendengarkan tanpa harus melukai dulu.
“Gimana?” tanya Wiwin saat mereka
berjalan pulang.
“Apa?”
“Lebih susah mana? Berantem atau nahan
mulut?”
Wawan langsung tertawa pendek.
“Nahan mulut.”
“Kenapa?”
“Karena kalau berantem tinggal maju.”
“Kalau nahan mulut?”
Wawan mengacak rambutnya frustrasi.
“Itu jihad pribadi.”
Wiwin sampai tertawa keras.
Namun beberapa detik kemudian ia
berkata pelan—
“Kamu tahu nggak kenapa orang mulai
dengerin kamu sekarang?”
“Karena gue viral?”
“Karena mereka mulai ngerti kalau kamu
sebenarnya peduli.”
Wawan terdiam.
Angin malam bertiup pelan melewati
gang kecil itu.
Dan untuk pertama kalinya—
ia mulai memahami bahwa menjadi dewasa
bukan berarti kehilangan sifat tengilnya.
Melainkan belajar kapan ketengilan itu
harus dipakai…
dan kapan harus ditahan agar tidak
melukai orang lain.
BAB XIX
Sahabat
atau Musuh
Persahabatan Wawan mulai retak sejak teman-temannya merasa
Wawan berubah karena Wiwin.
Awalnya hanya bercandaan kecil.
Namun seperti retakan pada kaca—
semakin lama, semakin jelas terlihat.
“Woi, sekarang si Wawan sopan.”
“Bahaya. Dunia mau kiamat.”
“Besok-besok dia pakai parfum.”
Tongkrongan pos ronda malam itu dipenuhi tawa.
Biasanya Wawan akan langsung membalas paling keras.
Namun malam itu ia hanya menyeringai kecil sambil memainkan gelas kopi di
tangannya.
Dan justru sikap diam itulah yang membuat teman-temannya semakin merasa aneh.
“Serius lu sekarang beda,” kata Rendi sambil menatapnya.
“Beda gimana?”
“Lebih banyak mikir.”
“Wah hinaan baru ya.”
“Bukan.”
Rendi tertawa kecil lalu melanjutkan:
“Dulu kalau ada orang ngomong dikit langsung lu ledakin.”
“Sekarang?”
“Sekarang lu nahan.”
Wawan mengangkat bahu santai.
“Cape ribut terus.”
Beberapa teman saling pandang.
Dan tanpa sadar—
kalimat sederhana itu mulai menciptakan jarak.
Karena bagi mereka, Wawan bukan sekadar teman.
Ia adalah pusat tongkrongan.
Sumber keributan.
Sumber tawa.
Orang pertama yang selalu paling berani saat mereka takut.
Dan sekarang—
mereka mulai merasa kehilangan sosok itu sedikit demi sedikit.
“Ini gara-gara Wiwin ya?” celetuk Damar tiba-tiba.
Suasana langsung sedikit hening.
Wawan mendelik.
“Apaan?”
“Lu jadi nggak asik.”
“Lah?”
“Dulu kalau ada masalah langsung gas.”
“Sekarang mikir.”
Wawan tertawa pendek.
“Emang salah?”
“Nggak salah…”
Damar menyandarkan badan sambil menghela napas.
“…cuma beda aja.”
Kalimat itu terdengar ringan.
Namun entah kenapa—
Wawan mulai merasa tidak nyaman.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar:
perubahannya mulai membuat orang-orang terdekatnya merasa asing.
Malam berikutnya masalah mulai benar-benar muncul.
Sekelompok anak kampung sebelah datang sambil membawa motor
bising dan suara keras.
Mereka sengaja memancing keributan di dekat tongkrongan.
Dulu—
Wawan pasti sudah paling depan.
Namun kali ini ia hanya berkata santai:
“Udah biarin aja.”
Semua langsung menoleh.
“Biarin?”
“Ngapain ribut nggak penting.”
Rendi mengernyit.
“Itu anak-anak nantangin kita.”
“Terus?”
“Biasanya lu paling semangat.”
Wawan menghela napas.
“Capek kalau tiap malam ribut terus.”
Damar langsung berdiri.
“Nah kan.”
“Nah kenapa?”
“Lu berubah.”
Wawan mulai kesal.
“Orang nggak mau ribut kok salah?”
“Karena ini bukan lu.”
Suasana mendadak panas.
“Terus maunya apa?” tanya Wawan.
“Balik kayak dulu.”
“Dulu apaan?”
“Yang nggak takut sama siapa pun.”
Wawan tertawa kecil hambar.
“Berani sama goblok beda tipis, Mar.”
Kalimat itu membuat beberapa teman langsung diam.
Karena mereka tahu—
itu bukan jawaban Wawan yang biasanya.
“Lu sekarang terlalu banyak dengerin Wiwin,” kata Damar
tajam.
Dan itulah kalimat pertama yang benar-benar menusuk ego
Wawan.
“Apa hubungannya sama Wiwin?”
“Ya ada.”
“Dia bikin lu berubah.”
“Dia bikin lu jadi takut.”
“Dia bikin tongkrongan kita beda.”
Suasana mulai memanas.
Rendi mencoba menenangkan.
“Udah lah santai aja—”
Namun Damar sudah terlalu kesal.
“Dulu kalau ada apa-apa lu paling depan.”
“Sekarang mikir citra.”
Wawan berdiri perlahan.
Tatapannya mulai berubah dingin.
“Jaga omongan lu.”
“Kenapa? Tersinggung?”
Damar tertawa kecil sinis.
“Lu sekarang lebih sibuk jadi cowok baik daripada jadi temen.”
Kalimat itu menghantam tepat di kepala Wawan.
Karena jauh di dalam dirinya—
ia memang mulai takut kehilangan Wiwin.
Dan tanpa sadar, ia mulai berubah.
Namun masalahnya—
Wawan sendiri belum benar-benar mengerti:
apakah ia sedang menjadi lebih dewasa…
atau justru sedang kehilangan dirinya sendiri?
“Kalau menurut lu jadi dewasa itu salah…”
Suara Wawan mulai rendah.
“…berarti kita emang beda cara mikir sekarang.”
“NAH. Denger tuh.”
Damar menunjuk Wawan sambil tertawa hambar.
“Si tengil sekarang sok bijak.”
Wawan mengepalkan tangan pelan.
Biasanya—
situasi seperti ini pasti berakhir dengan keributan besar.
Namun kali ini ia hanya menatap teman-temannya lama.
Lalu mengambil jaketnya.
“Mau ke mana?” tanya Rendi cepat.
“Pulang.”
“Wan—”
Wawan tersenyum kecil hambar.
“Ternyata berubah sedikit aja bisa bikin orang ngerasa kehilangan ya.”
Dan tanpa menunggu jawaban—
ia berjalan meninggalkan pos ronda.
Malam itu untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun—
pos ronda terasa sepi tanpa suara Wawan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada candaan ngawur.
Tidak ada keributan.
Dan anehnya…
semua orang justru merasa kehilangan suasana itu.
Sementara di ujung gang, Wawan berjalan sendirian menuju
rumah Wiwin.
Kepalanya penuh.
Dadanya sesak.
Karena ternyata menjadi dewasa tidak sesederhana yang ia
kira.
Kadang—
saat seseorang mulai berubah menjadi lebih baik,
orang-orang di sekitarnya justru takut kehilangan versi lama dirinya.
Dan untuk pertama kalinya,
Wawan mulai merasa terjebak di antara dua dunia:
menjadi dirinya yang lama…
atau menjadi seseorang yang mulai dipahami oleh Wiwin.
BAB XX
Drama
Cinta Anak Gang
Hubungan Wiwin dan Wawan mulai diuji rasa cemburu, ego, dan
komentar warga.
Dan seperti biasa—
kampung kecil tidak pernah memberi ruang tenang bagi dua orang yang sedang
saling menyukai diam-diam.
Semua diperhatikan.
Semua dibahas.
Bahkan cara mereka saling menatap saja bisa jadi bahan gosip satu RT.
“Wiwin sekarang sering sama Wawan terus ya.”
“Iya. Heran juga dia tahan.”
“Yang satu kalem, yang satu kayak petasan kena setrum.”
“Cocok sih… rame.”
“ATAU malah bahaya.”
Ibu-ibu tertawa kecil di depan warung.
Sementara beberapa bapak di pos ronda punya komentar lain.
“Kalau si tengil nikah nanti istrinya harus tahan mental.”
“Kasihan Wiwin.”
“Tapi sejak dekat sama Wiwin, Wawan agak mendingan.”
Kalimat terakhir itu mulai sering terdengar.
Dan entah kenapa—
Wawan justru tidak nyaman mendengarnya.
Karena semakin banyak orang berkata dirinya berubah karena
Wiwin…
semakin muncul ketakutan kecil dalam dirinya:
“Kalau suatu hari Wiwin pergi… apa gue bakal balik jadi
berantakan lagi?”
Namun tentu saja—
Wawan terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Sore itu Wiwin sedang membantu Dina menjaga toko fotokopi
dekat sekolah.
Tempat itu cukup ramai karena banyak anak muda datang mencetak tugas.
Dan masalah mulai muncul ketika seorang mahasiswa bernama
Farid datang lagi.
Farid memang ramah.
Sopan.
Dan mudah akrab dengan siapa saja.
Termasuk Wiwin.
Namun ada satu sifat kecil yang mulai terlihat jika
seseorang cukup lama bersamanya:
ia sedikit narsis.
Bukan narsis yang jahat.
Tapi ia suka memotret diri sendiri dan mengunggahnya ke media sosial dengan
caption panjang yang sok filosofis.
Ia juga suka pamer pencapaian kecilnya.
“Wiwin, ini hasil desain lombanya bagus ya,” kata Farid
sambil menunjukkan layar laptopnya.
Wiwin mencondongkan tubuh, melihat.
“Serius? Keren, Farid.”
“Iya. Emang basic gue desain. Dulu juara satu lomba
se-kabupaten, tapi nggak pernah gue ceritain sih, nggak mau sombong.”
Dina yang mendengar dari belakang hanya melirik dengan
tatapan serius?
Farid tersenyum lebar.
“Tapi kalau ini dipakai buat banner tujuh belasan, kayaknya nama gue harus
dicantumin ya. Biar warga tahu.”
Wiwin sedikit mengernyit, tapi tetap tersenyum sopan.
“Iya… nanti kita bicarakan sama panitia.”
“Udah gue bicarakan. Pak RT setuju.”
Dari kejauhan, sesosok bayangan muncul.
Wawan datang membawa dua gelas es teh.
Ia melihat Wiwin dan Farid tertawa bersama di depan laptop.
Wajahnya langsung berubah datar.
Bukan marah.
Justru terlalu tenang.
Dan itu lebih berbahaya.
“Ooo…”
Wiwin langsung menoleh.
“Kamu dari mana?”
“Nganter es teh.”
Wawan menyerahkan minuman dengan santai.
Namun matanya sempat melirik Farid beberapa detik terlalu lama.
“Eh Wan,” sapa Farid ramah.
Wawan tersenyum kecil tipis.
“Masih hidup ternyata.”
Farid tertawa canggung—tidak sadar itu bukan candaan biasa.
Sedangkan Wiwin langsung tahu:
bahaya mulai datang.
“Aku tadi minta Farid bantu desain banner lomba.”
“Bagus.”
“Dia ngerti komputer.”
“Wah keren.”
Nada suara Wawan terlalu ringan.
Farid menyelak dengan nada bangga:
“Iya, dulu gue pernah juara desain se-kabupaten. Nggak pernah gue ceritain sih,
tapi ya lumayan lah.”
Wawan mengerjap.
Menatap Farid sebentar.
Lalu tersenyum—tapi senyum yang berbeda.
“Juara se-kabupaten?”
“Iya.”
“Terus kenapa desain banner kampung masih minta pendapat orang?”
Suasana mendadak hening.
Farid tersinggung.
“Maksud lo?”
“Maksud gue,” Wawan menyandarkan badan ke meja, “kalau lo
beneran jago, ya tunjukin aja. Nggak usah banyak gaya.”
“Gue nggak banyak gaya.”
“Iya, lo cuma minta nama lo dicantumin di banner, bilang
‘biar warga tahu,’ terus sekarang cerita juara se-kabupaten.”
Wawan mengangkat bahu.
“Itu sih namanya gaya.”
Wiwin menutup wajahnya dengan tangan.
“WAN!”
Farid mulai terlihat tidak nyaman.
“Gue cuma—”
“Santai,” potong Wawan dengan nada yang sama sekali tidak
menenangkan.
“Gue cuma bercanda.”
“Tapi banner kampung itu punya warga, bukan panggung lo.”
Farid terdiam.
Untuk pertama kalinya, senyum ramahnya memudar.
“Gue nggak bermaksud begitu.”
“Iya. Gue tahu.”
Wawan mengambil es tehnya, menyeruput pelan.
“Makanya gue kasih tahu sebelum lo makin keterusan.”
Wiwin yang tadinya bersiap marah pada Wawan kini hanya bisa
diam.
Karena—meski cara Wawan kasar—apa yang ia katakan tidak sepenuhnya salah.
Farid akhirnya berdiri.
“Gue duluan.”
“Eh, Farid—” Wiwin mencoba menahan.
“Nggak apa-apa.”
Farid tersenyum, tapi senyumnya dipaksakan.
“Tengil itu benar ya katamu.”
Farid pergi.
Setelah Farid pergi, Wiwin langsung menatap Wawan kesal.
“Kamu tuh kenapa sih?”
“Apa?”
“Nyindir orang terus. Dia cuma mau bantu!”
“Bantu atau cari panggung?”
“Farid nggak seburuk itu!”
“Gue juga nggak bilang dia buruk.”
Wawan menatap Wiwin.
“Gue cuma bilang dia suka pamer. Itu fakta. Lo lihat sendiri.”
Wiwin menghela napas panjang.
“Tapi kamu nggak harus jadi eksekutor.”
“Lah kalau bukan gue siapa lagi? Lo?”
Suasana mendadak panas.
“Kalau kamu nggak suka aku ngobrol sama orang lain bilang
aja.”
“Nggak ada yang ngelarang.”
“Tapi kamu bikin suasana nggak nyaman!”
Wawan tertawa pendek.
“Lah emang cowok itu nyaman? Lo lihat dia tadi, minta nama dicantumin segala.”
“WAN!”
Suasana mendadak hening.
Beberapa detik mereka saling diam.
Dan untuk pertama kalinya sejak dekat dengan Wiwin—
Wawan mulai merasa takut pada sesuatu yang tidak bisa ia lawan dengan
keberanian atau mulut tengilnya sendiri:
rasa cemburu.
“Aku capek kalau setiap ada cowok ngobrol sama aku kamu
langsung berubah begini.”
Wawan langsung membalas cepat:
“Ya gue cuma nggak mau ada orang sok sempurna dekat-dekat lu.”
“Nggak semua orang saingan kamu!”
“Nggak semua orang tulus juga. Lo yakin Farid tulus? Atau
dia cuma suka sama lo karena lo baik dan mau dengerin omongannya?”
Wiwin terdiam.
Sebenarnya, Wiwin juga merasa sedikit aneh dengan cara
Farid meminta namanya dicantumkan di banner.
Tapi ia tidak mau mengakuinya di depan Wawan.
“Itu urusan beda,” katanya akhirnya, meski sedikit ragu.
“Beda apanya?”
“Kamu cemburu buta.”
“Gue cemburu, iya. Buta? Nggak.”
Wawan menatap Wiwin.
“Gue lihat dia dari awal, Win. Gaya dia. Cara dia bicara. Itu bukan orang
tulus.”
Wiwin memegang dahinya frustrasi.
“Kamu tahu nggak masalah kamu apa?” tanyanya.
“Apa?”
“Kamu selalu takut kalah sebelum berjuang.”
Kalimat itu langsung membuat Wawan diam.
Karena tepat sasaran.
Jauh di dalam dirinya—
Wawan memang takut.
Takut tidak cukup baik.
Takut kalah dari laki-laki yang lebih sopan, lebih mapan, lebih diterima warga.
Sementara dirinya?
Hanya anak gang tengil yang terlalu sering bikin masalah.
“Lu pikir gue nggak sadar warga ngomong apa?”
Suara Wawan mulai rendah.
“Mereka bilang lu terlalu baik buat gue.”
Wiwin langsung terdiam.
“Dan yang paling nyebelin…”
Wawan tertawa kecil hambar.
“…gue takut mereka benar.”
Kalimat itu membuat semua amarah Wiwin perlahan runtuh.
Karena akhirnya ia mengerti:
di balik semua sikap tengil dan nyinyir Wawan,
sebenarnya ada rasa rendah diri yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.
“Wan…”
Wiwin mendekat pelan.
“Kamu tahu kenapa aku masih di sini?”
Wawan tidak menjawab.
“Karena di antara semua orang yang kelihatannya baik…”
Wiwin menatapnya lurus.
“…kamu satu-satunya yang selalu paling peduli sama orang lain.”
“Farid mungkin baik dan sopan. Tapi dia lebih peduli sama namanya tercantum di
banner daripada isi bannernya.”
“Kamu? Kamu nggak pernah minta dicantumin nama lo di mana pun. Tapi lo tetap
bantu.”
Sunyi.
Hanya suara kipas toko yang berputar pelan.
“Kamu memang nyebelin.”
“Kamu keras kepala.”
“Dan mulutmu kadang pengen aku lempar ke sungai.”
Wawan tertawa kecil tanpa sadar.
“Tapi…”
Wiwin tersenyum tipis.
“…aku lebih takut kehilangan orang yang tulus daripada kehilangan orang yang
sempurna.”
Dan untuk pertama kalinya hari itu—
Wawan benar-benar tidak bisa membalas dengan candaan.
Karena dadanya terasa terlalu penuh.
Namun drama mereka ternyata belum selesai.
Karena di luar toko, dua ibu-ibu baru saja lewat sambil
berbisik kecil:
“Itu tuh Wiwin.”
“Masih aja tahan sama si tengil.”
Dan seperti pisau kecil yang dilempar diam-diam—
kalimat itu kembali menusuk ego Wawan.
Wiwin mendengar bisikan itu.
Biasanya ia diam.
Biasanya ia memilih tidak peduli.
Tapi hari ini—
setelah pertengkaran dengan Wawan, setelah Farid pergi, setelah semua drama—
Wiwin berjalan keluar toko.
“Bu Yati,” panggilnya pelan.
Dua ibu itu berhenti, sedikit terkejut.
“Iya, Win?”
Wiwin tersenyum.
Bukan senyum sopan seperti biasanya.
Tapi senyum yang lebih… tegas.
“Saya tahu Ibu nggak suka sama Wawan. Tapi Ibu juga nggak
kenal dia sepenuhnya.”
“Dia memang tengil. Tapi dia nggak pernah minta imbalan.”
“Dia memang ribut. Tapi dia yang pertama datang kalau ada yang butuh bantuan.”
“Dan yang paling penting…”
Wiwin menatap Bu Yati lurus.
“Saya yang memilih dia. Bukan dia yang memaksa saya.”
Bu Yati terdiam.
Ibu satunya hanya bisa menghela napas.
Wiwin berbalik, masuk kembali ke toko.
Wawan yang mendengar semuanya dari dalam hanya bisa diam.
Matanya sedikit merah.
Tapi ia tersenyum—senyum kecil yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Dengerin orang ngomongin gue lagi?” candanya pelan,
berusaha mencairkan suasana.
“Biarin.”
Wiwin duduk di sampingnya.
“Mereka nggak bayar tagihan listrik gue.”
Wawan tertawa kecil.
Dan sore itu—
untuk pertama kalinya, Wawan tidak merasa sendirian.
BAB XXI
Saat Wiwin Menangis
Untuk pertama kalinya Wiwin terluka
oleh ucapan Wawan yang terlalu kasar saat emosi.
Dan yang paling menyakitkan—
bukan karena Wiwin tidak memahami
sifat Wawan.
Melainkan karena kali ini, ucapan itu
datang dari orang yang selama ini paling ia bela.
Setelah pertengkaran kecil di toko fotokopi, hubungan
mereka mulai terasa sedikit berbeda.
Masih dekat.
Masih saling mencari.
Namun ada jarak kecil yang mulai tumbuh diam-diam.
Wawan jadi lebih sensitif.
Sedikit-sedikit tersinggung.
Sedikit-sedikit bercanda sinis.
Sementara Wiwin mulai lelah menghadapi
emosinya yang naik turun seperti petasan.
Namun seperti biasa—
tidak ada yang benar-benar selesai di
antara mereka.
Karena setiap kali mencoba menjauh,
mereka justru saling mencari lagi.
Sore itu kampung sedang sibuk
mempersiapkan malam pentas tujuh belasan.
Lampu warna-warni mulai dipasang.
Anak-anak kecil latihan nyanyi.
Ibu-ibu sibuk membawa konsumsi.
Dan Wawan tentu saja menjadi pusat
keributan.
“WOI! Kabel jangan disilang kayak mie
instan!”
“Yang latihan nyanyi nadanya jangan
nyiksa kemerdekaan!”
“Pak RT kalau pidato nanti jangan
sampai warga tidur massal!”
Semua orang tertawa.
Suasana ramai seperti biasa.
Namun Wiwin memperhatikan dari jauh
sambil tersenyum tipis.
Karena meski sering bikin emosi—
Wawan selalu berhasil membuat suasana
hidup.
Masalah mulai muncul ketika Farid
datang membantu lagi membawa perlengkapan sound system.
Pak RT langsung senang.
“Nah ini anak muda lengkap.”
“Bisa komputer, bisa sound.”
“Kalem lagi.”
Beberapa warga mengangguk setuju.
Dan tanpa sadar—
mata mereka membandingkan Farid dengan
Wawan.
Wawan mendengar semuanya.
Dan seperti bara kecil yang terus
dikipas—
rasa rendah dirinya mulai naik lagi.
“Wiwin, tolong pegang kabelnya
bentar,” kata Farid.
“Ya.”
Wiwin membantu tanpa berpikir
macam-macam.
Namun dari kejauhan, Wawan mulai
terlihat berbeda.
Ia tetap bercanda.
Tetap tertawa.
Tapi senyumnya terasa dipaksa.
Rendi yang berdiri di dekatnya
langsung sadar.
“Wan.”
“Apa?”
“Jangan mulai.”
“Mulai apaan?”
“Lu kalau cemburu mukanya kayak mau
nyalon jadi villain.”
Wawan tertawa pendek.
Namun matanya tetap mengarah ke Wiwin
dan Farid.
Puncaknya terjadi saat gladi acara
hampir selesai.
Wiwin sedang berdiri bersama Farid
mengecek pengeras suara ketika tiba-tiba listrik mati.
Suasana langsung ribut.
Anak-anak berteriak.
Ibu-ibu panik.
Dan dalam keributan itu, Farid refleks
memegang tangan Wiwin agar tidak tersandung kabel.
Hanya beberapa detik.
Namun cukup dilihat oleh Wawan.
Entah kenapa—
sesuatu di dalam dadanya langsung
meledak.
“Wah cepat juga ya.”
Suara Wawan terdengar keras di tengah
keramaian.
Semua orang langsung menoleh.
Wiwin langsung tahu:
bahaya.
“Wan, ini tadi—”
“Iya gue lihat.”
Nada suaranya dingin.
“Pegangan tangan biar sound system lancar
ya?”
“WAN!”
Farid langsung mundur.
“Eh jangan salah paham dulu—”
“Gue nggak ngomong sama lu.”
Suasana mendadak tegang.
Beberapa warga mulai saling berbisik.
Dan itu membuat Wiwin semakin malu.
“Kamu kenapa sih?!” bisik Wiwin
menahan emosi.
“Kenapa? Gue ganggu?”
“Kamu bikin malu semua orang!”
“Oh jadi sekarang gue yang
malu-maluin?”
Wiwin mulai kehilangan kesabaran.
“Dia tadi cuma bantu aku!”
“Bantu atau modus?”
“CUKUP WAN!”
Suara Wiwin akhirnya meninggi.
Dan itu membuat semua orang diam.
Namun Wawan yang sudah terbakar emosi
justru semakin kehilangan kendali.
“Yaudah sekalian aja sama cowok sopan
begitu!”
Kalimat itu meluncur cepat.
Tajam.
Kasarnya bukan main.
Dan detik setelah mengucapkannya—
Wawan langsung sadar ia sudah terlalu
jauh.
Wiwin membeku.
Matanya langsung berkaca-kaca.
Bukan karena marah.
Tapi karena terluka.
Selama ini—
sekeras apa pun Wawan bicara ke orang lain,
ia selalu menjaga Wiwin.
Namun malam itu untuk pertama kalinya,
semua emosi dan rasa takut Wawan
justru melukai orang yang paling ia sayangi.
“Jadi selama ini kamu pikir aku
murahan?”
Suara Wiwin pelan.
Namun justru itu yang membuat dada
Wawan terasa hancur.
“Enggak… gue nggak maksud—”
“Tapi itu yang keluar dari mulut
kamu.”
Wawan langsung panik.
“Wiwin dengar dulu—”
Namun Wiwin mundur pelan.
Air matanya akhirnya jatuh.
Dan suasana yang tadinya ramai
mendadak terasa sangat sunyi.
Bukan hanya Wawan yang terpukul.
Seluruh warga yang melihat mulai
sadar:
untuk pertama kalinya, ketengilan
Wawan benar-benar melukai Wiwin.
“Aku capek selalu ngerti kamu…”
Wiwin mengusap air matanya cepat.
“…sementara kamu nggak pernah belajar
ngerti perasaan aku.”
Kalimat itu menusuk lebih keras
daripada bentakan apa pun.
Karena Wawan tahu—
selama ini Wiwin selalu menjadi orang
yang paling sabar menghadapi dirinya.
Namun malam itu—
kesabaran itu akhirnya pecah.
Wiwin pergi meninggalkan lapangan.
Dan Wawan refleks ingin mengejar.
Namun langkahnya terhenti.
Karena untuk pertama kalinya—
ia merasa sangat malu pada dirinya
sendiri.
Rendi mendekat pelan.
“Wan…”
Wawan menunduk sambil meremas
rambutnya frustrasi.
“Gue goblok ya…”
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua orang tahu:
masalah terbesar Wawan bukan hatinya.
Melainkan mulutnya yang selalu lebih
cepat daripada pikirannya saat emosi.
Malam itu pentas kampung tetap
berjalan.
Lampu tetap menyala.
Musik tetap terdengar.
Warga tetap tertawa.
Namun bagi Wawan—
semuanya terasa kosong.
Karena di antara keramaian itu,
untuk pertama kalinya ia melihat Wiwin
menangis karena dirinya.
Dan tidak ada satu candaan pun di
dunia yang bisa memperbaiki rasa bersalah itu.
BAB XX II
Jarak yang Dibuat Wiwin
Setelah malam ketika Wiwin menangis,
hubungan mereka tidak langsung hancur.
Namun justru itu yang membuat semuanya
terasa lebih menyakitkan.
Karena Wiwin tidak marah besar. Tidak
membentak. Tidak memutuskan hubungan dengan dramatis.
Ia hanya mulai menjaga jarak.
Dan bagi Wawan—
jarak kecil dari Wiwin terasa jauh
lebih menakutkan daripada pertengkaran apa pun.
Pagi itu seperti biasa Wawan nongkrong
di bengkel Bang Ucok.
Biasanya sekitar jam sembilan, Wiwin
akan lewat sambil membeli sarapan di ujung gang.
Biasanya juga Wawan akan mulai ribut.
“WOI! Jangan jalan sambil ngantuk
nanti nyemplung got!”
“Atau jangan-jangan emang otaknya
masih loading?”
Lalu Wiwin akan membalas sambil
tertawa.
Namun pagi itu berbeda.
Wiwin tetap lewat. Tetap melihat ke
arah bengkel. Tetap tersenyum kecil.
Namun hanya itu.
Tidak berhenti. Tidak membalas
candaan. Tidak memberi ruang bagi Wawan untuk mendekat.
Dan anehnya—
itu jauh lebih menyakitkan.
“Dia marah banget ya,” gumam Wawan
pelan.
Bang Ucok yang sedang mengganti oli
langsung melirik.
“Ya bagus.”
“Bagus dari mana?”
“Berarti dia masih peduli.”
Wawan menghela napas panjang.
“Kalau dia teriak-teriak gue malah
lebih tenang.”
“Lah kenapa?”
“Kalau orang masih marah berarti masih
mau berantem.”
Ia menunduk pelan.
“Kalau mulai diam… biasanya udah
capek.”
Bang Ucok tidak menjawab.
Karena kali ini Wawan benar-benar
terlihat kehilangan arah.
Beberapa hari berikutnya Wawan mulai mencoba
mendekati Wiwin.
Namun semua terasa canggung.
Saat Wiwin membantu ibunya di warung,
Wawan datang membeli minum.
“Es teh satu.”
Wiwin membuatkan tanpa banyak bicara.
“Murah amat pelayanannya, nggak ada
bonus senyum?”
Wiwin hanya tersenyum tipis.
“Total lima ribu.”
Dan selesai.
Tidak ada obrolan panjang. Tidak ada
candaan balasan.
Wawan pulang membawa es teh dengan
dada terasa lebih berat daripada biasanya.
Malamnya di pos ronda, suasana terasa
aneh.
Rendi memperhatikan Wawan yang terus
melihat layar ponselnya.
“Chat aja.”
“Takut.”
“Tumben.”
“Biasanya gue takut ditagih utang
doang.”
Rendi tertawa kecil.
“Ya terus?”
Wawan mengusap wajahnya kasar.
“Gue nggak tahu harus ngomong apa.”
“Ngomong yang jujur.”
Wawan langsung mendelik.
“Kalau gue jujur nanti kepanjangan.”
“Daripada lu bercanda terus sampai
orang capek.”
Kalimat itu langsung membuat Wawan
diam.
Karena itulah masalah sebenarnya.
Selama ini Wawan terlalu sering
menutupi rasa pedulinya dengan bercanda.
Dan saat emosinya meledak—
kata-katanya justru berubah jadi
senjata.
Akhirnya malam itu Wawan memberanikan
diri mengirim pesan.
Maaf ya.
Lama.
Tidak dibalas.
Lima menit. Sepuluh menit. Hampir satu
jam.
Sampai akhirnya layar ponselnya
menyala.
Aku nggak marah.
Wawan langsung tersenyum kecil.
Namun pesan berikutnya langsung
menghantam dadanya.
Aku cuma lagi capek.
Untuk pertama kalinya—
Wawan sadar bahwa meminta maaf
ternyata tidak selalu langsung memperbaiki keadaan.
Ada luka yang tidak selesai hanya
dengan satu kalimat.
Ada kepercayaan yang perlu dibangun
ulang perlahan.
Dan mungkin selama ini—
Wiwin terlalu sering mengalah demi
dirinya.
Sejak malam itu Wawan mulai berubah
dengan cara kecil.
Bukan perubahan besar yang dramatis.
Namun hal-hal sederhana yang mulai
diperhatikan banyak orang.
Ia mulai berpikir beberapa detik lebih
lama sebelum bicara. Ia mulai berhenti memotong omongan orang. Ia mulai belajar
meminta maaf tanpa bercanda.
Meski tetap saja…
kadang gagal.
Suatu sore saat anak-anak muda
nongkrong di pos ronda, Damar tiba-tiba tersinggung oleh candaan Wawan.
Biasanya Wawan akan langsung membalas
lebih keras.
Namun kali ini ia berhenti.
Menarik napas.
Lalu berkata:
“Yaudah. Maaf. Kebablasan.”
Pos ronda langsung hening.
Rendi bahkan sampai menatap Wawan
curiga.
“Lu asli Wawan kan?”
“Kurang ajar.”
Semua tertawa kecil.
Namun jauh di dalam dirinya—
Wawan sedang belajar sesuatu yang
sangat sulit:
bahwa menjadi dewasa kadang berarti
menahan ego sendiri.
Dan semua itu ia lakukan karena satu
orang.
Wiwin.
BAB XX III
Lelaki yang Belajar Menunggu
Hari-hari berlalu.
Dan Wiwin masih belum benar-benar
kembali seperti dulu.
Ia mulai bicara lebih banyak lagi
dengan Wawan. Namun masih menjaga batas.
Kadang mereka bercanda. Kadang
mengobrol sebentar. Namun selalu ada jarak kecil yang terasa.
Dan Wawan tahu—
jarak itu ada karena dirinya sendiri.
Dulu Wawan selalu berpikir kalau cinta
cukup diperjuangkan dengan keberanian.
Kalau suka ya kejar. Kalau marah ya
bujuk. Kalau ribut ya baikan.
Namun sekarang ia mulai sadar:
memperbaiki hati seseorang ternyata
butuh kesabaran.
Sore itu kampung sedang ramai karena
persiapan kerja bakti.
Warga berkumpul di lapangan kecil.
Anak-anak muda sibuk mengangkat kursi. Ibu-ibu membersihkan area pos ronda.
Dan tentu saja—
Wawan tetap menjadi pusat keributan.
“WOI! Yang kerja jangan cuma modal
niat, angkat kursinya!”
“Lu nyapu apa lagi ngelus jalan?”
“Pak RT jangan nyuruh doang, perut
Bapak lebih kerja daripada tangan!”
Tawa kembali terdengar.
Namun di sela semua keributan itu—
mata Wawan beberapa kali diam-diam
mencari Wiwin.
Dan setiap kali menemukan gadis itu
sedang membantu ibu-ibu di ujung lapangan,
raut wajahnya selalu sedikit berubah.
Lebih lembut.
“Lu tuh hopeless romantis juga
ternyata,” ejek Rendi.
“Apaan.”
“Tatapan lu beda kalau lihat Wiwin.”
“Fitnah.”
“Lu lagi belajar jadi manusia ya
sekarang?”
Wawan langsung melempar lap ke arah
Rendi.
Namun setelah semua candaan itu
hilang,
ia berkata pelan:
“Gue takut kehilangan dia, Ren.”
Rendi langsung diam.
Karena kalimat itu terdengar sangat
jujur.
Malam harinya hujan turun
rintik-rintik.
Wiwin masih membantu membereskan kursi
di balai warga saat listrik tiba-tiba mati.
Beberapa ibu langsung panik kecil.
“Eh gelap!”
“Anak-anak di mana?”
Suasana mulai ribut.
Dan di tengah keadaan gelap itu,
suara Wawan terdengar paling dulu.
“Tenang! Yang panik nanti saya cas
pakai aki motor!”
Beberapa orang langsung tertawa.
Senter ponsel mulai menyala satu per
satu.
Dan seperti biasa—
Wawan bergerak ke sana kemari membantu
keadaan sambil terus bercanda agar suasana tidak tegang.
Ia memastikan anak-anak aman. Membantu
Pak RT mengecek listrik. Bahkan mengantar beberapa ibu pulang karena jalan
terlalu gelap.
Wiwin memperhatikan semuanya
diam-diam.
Dan untuk pertama kalinya setelah
sekian lama—
ia melihat perubahan Wawan bukan sebagai
usaha sesaat.
Melainkan sesuatu yang benar-benar
sedang ia perjuangkan.
Setelah listrik kembali menyala,
suasana mulai tenang.
Wiwin duduk sebentar di depan balai
warga sambil menghela napas lelah.
Tak lama kemudian Wawan datang membawa
dua gelas teh hangat.
“Damai offering.”
Wiwin tertawa kecil.
“Kamu nggak capek bantuin semua
orang?”
“Capek.”
“Terus kenapa masih ribut terus?”
Wawan duduk di sampingnya.
Lalu menjawab pelan:
“Karena kalau gue diem… orang malah
makin panik.”
Wiwin menatapnya cukup lama.
Dan malam itu,
ia mulai sadar:
ketengilan Wawan memang tidak akan
pernah hilang.
Namun sekarang—
Wawan mulai belajar memakai semua itu
untuk menjaga orang lain.
“Aku belum sepenuhnya maafin kamu,”
kata Wiwin tiba-tiba.
Wawan mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
“Aku masih sakit hati.”
“Valid.”
“Tapi…”
Wiwin menatap laki-laki di sampingnya.
“…aku lihat kamu berusaha.”
Untuk pertama kalinya sejak
pertengkaran mereka,
Wawan merasa dadanya sedikit lebih
ringan.
Bukan karena semuanya selesai.
Namun karena akhirnya ia tahu:
Wiwin belum menyerah sepenuhnya.
Dan kali ini—
Wawan siap belajar menunggu.
BAB XXIV
Wawan yang Kehilangan Arah
Setelah malam ketika Wiwin menangis, hidup Wawan
mendadak terasa kosong.
Pos ronda tetap ramai.
Warung tetap buka.
Anak-anak gang tetap bercanda seperti biasa.
Namun semuanya terasa berbeda karena satu hal:
Wiwin mulai menjauh.
Tidak benar-benar menghilang.
Tidak membenci.
Namun cukup jauh untuk membuat Wawan sadar bahwa kali
ini ia benar-benar keterlaluan.
Biasanya setiap pagi Wiwin akan lewat depan bengkel
Bang Ucok sambil menyapa.
Sekarang?
Hanya senyum kecil dari kejauhan.
Tanpa berhenti.
Tanpa bercanda.
Tanpa menunggu Wawan mulai ribut seperti biasanya.
Dan anehnya—
justru diam Wiwin itulah yang paling menghancurkan
Wawan.
“Lu udah kayak motor kehabisan oli,” kata Bang Ucok
suatu pagi.
Wawan sedang membongkar karburator sambil melamun.
“Apaan.”
“Seret.”
“Bengkel apa konsultasi jiwa.”
Bang Ucok tertawa kecil.
“Tuh kan. Biasanya mulut lu lebih liar.”
Wawan diam.
Lalu perlahan berkata pelan—
“Kalau orang yang paling ngerti kita
mulai capek…”
Ia menunduk.
“…berarti kita emang separah itu ya?”
Bang Ucok tidak langsung menjawab.
Karena kali ini Wawan tidak sedang
bercanda.
Malam-malam Wawan mulai berbeda.
Ia masih nongkrong.
Masih duduk di pos ronda.
Namun sekarang lebih banyak diam.
Dan itu membuat semua orang tidak
nyaman.
“Wan, lu sakit?” tanya Rendi.
“Kenapa?”
“Lu diem.”
“Emang nggak boleh?”
“Boleh sih…”
Rendi tertawa kecil hambar.
“…tapi serem.”
Semua orang mulai sadar:
Wiwin bukan mengubah Wawan menjadi
pendiam.
Wiwin selama ini hanya menjadi rem
yang menjaga Wawan tetap waras.
Dan saat rem itu menjauh—
Wawan seperti kehilangan arah.
Suatu malam hujan turun cukup deras.
Wawan duduk sendirian di pos ronda
sambil melihat jalanan basah.
Biasanya saat seperti itu Wiwin akan
datang membawa teh hangat atau sekadar mengomel karena Wawan kehujanan.
Namun malam itu kosong.
Hanya suara hujan dan pikirannya
sendiri.
“Lu nyesel?”
Suara Rendi tiba-tiba muncul dari
belakang.
Wawan tidak menoleh.
“Ngapain lu belum tidur?”
“Lu juga.”
Rendi duduk di sebelahnya sambil
membawa kopi sachet panas.
Beberapa detik mereka hanya mendengar
suara hujan.
“Gue nggak ngerti cara ngomong yang
benar, Ren.”
Suara Wawan terdengar pelan.
“Selama ini kalau gue peduli sama
orang…”
Ia tertawa kecil hambar.
“…yang keluar malah marah.”
Rendi diam mendengarkan.
“Dan sekarang gue malah nyakitin orang
yang paling sabar sama gue.”
Hujan turun makin deras.
Pos ronda terasa dingin.
Namun mungkin untuk pertama kalinya—
Wawan benar-benar membuka dirinya
tanpa bercanda.
“Lu tahu nggak kenapa Wiwin masih
bertahan selama ini?” tanya Rendi.
“Karena dia sabar.”
“Bukan cuma itu.”
Rendi menoleh pelan.
“Karena dia tahu hati lu nggak sejahat
mulut lu.”
Wawan langsung tertawa kecil pahit.
“Masalahnya orang tetap sakit karena
mulut gue.”
Kalimat itu membuat suasana kembali
sunyi.
Dan malam itu—
untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Wawan mulai takut pada dirinya
sendiri.
Karena ia akhirnya sadar:
ketengilan tanpa kendali bukan cuma
bikin orang kesal.
Kadang…
bisa melukai orang yang paling ia
sayangi.
BAB XXV
Kampung dalam Kekacauan
Saat hubungan Wawan dan Wiwin sedang
renggang, kampung mereka justru terkena masalah lebih besar.
Semuanya bermula dari media sosial.
Seseorang menyebarkan postingan anonim
tentang dugaan penyelewengan dana lomba tujuh belasan.
Awalnya hanya status biasa.
Namun dalam hitungan jam, grup warga
berubah kacau.
“Katanya uang konsumsi hilang.”
“Ada yang korupsi.”
“Panitia nggak becus.”
“Pak RT makan uang warga!”
Fitnah menyebar cepat.
Lebih cepat daripada klarifikasi.
Dan seperti kebanyakan keributan zaman
sekarang—
semua orang lebih suka marah dulu
sebelum mencari kebenaran.
Warga mulai saling curiga.
Ibu-ibu saling sindir.
Pemuda saling tuduh.
Bahkan grup WhatsApp RT hampir setiap malam penuh pertengkaran.
Situasi makin panas ketika ada video
potongan yang memperlihatkan Pak RT membawa amplop uang.
Padahal video itu dipotong tanpa
konteks.
Namun warga telanjur percaya.
“Ini pasti ada yang main uang!”
“Kampung kita dipermalukan!”
“Panitia harus dibubarkan!”
Suasana lingkungan berubah tegang.
Dan ironisnya—
orang-orang yang biasanya paling ribut
sekarang justru bingung harus percaya siapa.
Pak RT mulai jarang keluar rumah.
Istrinya menangis karena merasa
suaminya dipermalukan.
Panitia acara mulai saling tuduh.
Bahkan beberapa warga mulai membawa
masalah itu ke media sosial pribadi mereka.
Semakin besar.
Semakin liar.
Dan semakin sulit dikendalikan.
Sementara itu, Wawan hanya memperhatikan
semuanya diam-diam.
Untuk pertama kalinya—
ia tidak langsung ikut berteriak.
Karena sekarang ia tahu:
keributan tanpa arah bisa
menghancurkan banyak orang.
“Lu nggak mau ikut komen di grup?”
tanya Damar.
“Buat apa?”
“Biasanya lu paling depan.”
Wawan menyandarkan badan ke kursi pos
ronda.
“Masalahnya sekarang semua orang
pengen jadi pahlawan.”
“Terus?”
“Padahal belum ada yang tahu siapa
penjahatnya.”
Damar terdiam.
Karena meski terdengar santai—
ucapan Wawan kali ini terasa jauh
lebih dewasa daripada biasanya.
Dan jauh di dalam pikirannya—
Wawan mulai curiga:
keributan ini terlalu rapi untuk
sekadar gosip warga biasa.
BAB XXVI
Tengil Menjadi Senjata
Saat semua orang sibuk saling menyalahkan, Wawan justru
mulai memperhatikan sesuatu yang janggal.
Postingan anonim itu terlalu rapi.
Terlalu terarah.
Seolah memang sengaja dibuat untuk memecah warga.
“Ini bukan warga kita,” gumam Wawan.
“Yakin?” tanya Rendi.
“Bahasa statusnya sok formal. Warga sini kalau marah
pasti typo.”
Rendi sampai tertawa.
Namun untuk pertama kalinya—
ketengilan Wawan mulai dipakai untuk berpikir lebih
tajam.
Wawan mulai menyelidiki sendiri.
Ia mendatangi warung.
Mendengar gosip ibu-ibu.
Memeriksa video yang tersebar.
Dan perlahan—
ia menemukan kejanggalan.
Video amplop itu ternyata diambil saat
Pak RT membayar uang sound system.
Namun dipotong agar terlihat
mencurigakan.
“Berarti ada yang sengaja bikin
ribut.”
“Siapa?”
Wawan menyeringai kecil.
“Nah itu kerjaan gue sekarang.”
Dengan cara khasnya, Wawan mulai memainkan keadaan.
Ia sengaja bercanda di grup warga.
Mancing pelaku ikut komentar.
Membuat suasana lebih cair agar orang mulai berpikir jernih.
“Kalau mau korupsi jangan dana tujuh
belasan lah, kecil amat.”
“Minimal maling proyek negara
sekalian.”
Beberapa warga mulai tertawa.
Dan perlahan—
emosi warga mulai turun.
Namun tentu saja tidak semua orang
suka.
“Wawan jangan bercanda terus! Ini
masalah serius!”
Wawan langsung membalas cepat:
“Makanya jangan serius terus sampai
lupa mikir.”
Grup kembali hening.
Dan anehnya—
setelah itu beberapa warga mulai
benar-benar membaca ulang bukti yang tersebar.
Wawan lalu meminta video asli dari
tukang sound.
Dan di situlah semuanya mulai terbuka.
Video ternyata dipotong.
Narasi sengaja dibelokkan.
Dan akun anonim itu ternyata sering muncul di postingan salah satu mantan
panitia lomba.
“Ketemu.”
“Siapa?” tanya Rendi cepat.
Wawan menyeringai kecil.
“Orang sakit hati yang terlalu banyak
kuota.”
Akhirnya identitas penyebar fitnah
berhasil diketahui:
mantan panitia yang kecewa karena
tahun ini tidak dipilih lagi mengurus acara kampung.
Ia sengaja memancing warga agar saling
curiga.
Dan hampir berhasil.
Saat semua fakta dibuka di balai
warga, suasana langsung ricuh.
Pelaku panik.
Warga marah.
Pak RT akhirnya bisa menjelaskan semuanya.
Dan di tengah semua kekacauan itu—
Wawan justru berdiri santai sambil
melipat tangan.
Pak RT menatapnya lama.
“Kalau bukan karena kamu…”
Wawan langsung memotong cepat:
“Jangan bikin saya terharu Pak, nanti
image tengil saya rusak.”
Balai warga langsung pecah oleh tawa
kecil.
Dan untuk pertama kalinya—
orang-orang mulai sadar bahwa sifat
tengil Wawan ternyata bisa menjadi senjata yang menyelamatkan keadaan.
BAB XXVII
Pahlawan yang Tidak Disukai
Saat kebenaran akhirnya terungkap, kampung
perlahan mulai tenang kembali.
Grup warga yang sebelumnya penuh
makian berubah jadi penuh permintaan maaf.
Pak RT kembali keluar rumah tanpa wajah murung.
Ibu-ibu berhenti saling sindir di warung.
Dan anak-anak muda mulai kembali nongkrong tanpa saling curiga.
Namun seperti biasa—
kedamaian di kampung itu tidak pernah datang tanpa
komentar.
“Ya untung si tengil itu gerak.”
“Mulutnya nyebelin, tapi otaknya jalan.”
“Kalau ngomong bikin emosi sih…”
“Tapi kemarin kalau nggak ada dia bisa panjang urusannya.”
Kalimat seperti itu mulai sering terdengar.
Separuh pujian.
Separuh keluhan.
Dan entah kenapa—
itu sangat cocok untuk Wawan.
Pagi itu Wawan sedang duduk di bengkel Bang Ucok sambil
membersihkan busi motor ketika Pak RT datang.
“Wan.”
“Hadir. Mau lapor pajak?”
Pak RT langsung tertawa kecil.
“Mulut lu nggak bisa normal ya?”
“Kalau normal nanti saya nggak khas.”
Bang Ucok sampai geleng-geleng kepala.
Pak RT lalu duduk di kursi kayu dekat
bengkel.
Wajahnya terlihat lebih ringan
dibanding beberapa hari lalu.
“Saya mau bilang makasih.”
Wawan langsung salah tingkah.
“Jangan serius-serius Pak, saya alergi
suasana haru.”
“Kalau bukan karena kamu…”
Pak RT menghela napas pelan.
“…warga mungkin udah pecah.”
Wawan diam sebentar.
Lalu tertawa kecil hambar.
“Yang nyelametin bukan saya.”
“Terus?”
“Warga sini sebenarnya masih peduli
satu sama lain.”
Ia menyandarkan badan sambil memutar
obeng di tangannya.
“Mereka cuma keburu emosi.”
Bang Ucok dan Pak RT saling pandang.
Karena untuk ukuran Wawan—
itu kalimat yang terlalu dewasa.
Namun tentu saja—
tidak semua warga mendadak menyukai
dirinya.
Siang harinya saat Wawan lewat depan
warung, dua ibu-ibu langsung berbisik.
“Itu tuh si Wawan.”
“Yang kemarin ribut di grup?”
“Iya.”
“Untung juga sih dia turun tangan.”
“Tapi mulutnya amit-amit.”
Wawan langsung berhenti melangkah.
Lalu menoleh santai.
“Bu, mulut saya emang nyebelin…”
Ia menunjuk dadanya sendiri.
“…tapi masih halal didengar.”
Warung langsung pecah oleh tawa.
Dua ibu-ibu itu bahkan sampai malu
sendiri.
Itulah Wawan.
Bahkan saat disindir pun, ia tetap
bisa membuat suasana berubah jadi lucu.
Namun sekarang ada yang berbeda:
ia tidak lagi tersulut hanya karena
omongan orang.
Dulu, sedikit saja disindir, Wawan
pasti langsung menyerang balik sampai suasana panas.
Sekarang?
Ia mulai tahu mana yang perlu
ditanggapi…
dan mana yang cukup dijadikan
bercandaan.
“Lu berubah ya,” kata Rendi malam itu
di pos ronda.
“Karena ganteng?”
“Bukan.”
“Kurang ajar.”
Rendi tertawa kecil lalu menatapnya
lebih serius.
“Dulu lu ribut karena pengen menang.”
“Sekarang?”
“Lu ribut biar masalah selesai.”
Wawan terdiam beberapa detik.
Lalu menatap langit malam sambil
tersenyum kecil.
“Mungkin gue capek jadi orang yang
cuma bikin keruh.”
Suasana pos ronda mendadak lebih
tenang.
Anak-anak muda yang mendengar ikut
diam.
Karena tidak ada yang menyangka
kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut Wawan.
Namun tentu saja—
momen haru tidak pernah bertahan lama
bersamanya.
“Eh tapi jangan salah.”
Semua langsung menoleh.
“Saya tetap tengil ya. Jangan berharap
saya berubah jadi ustaz.”
Pos ronda langsung pecah tertawa.
Rendi bahkan hampir tersedak kopi.
Dan malam itu—
untuk pertama kalinya Wawan merasa
damai dengan dirinya sendiri.
Ia tidak harus menjadi orang sempurna
supaya berguna.
Tidak harus disukai semua orang supaya
berarti.
Karena mungkin…
beberapa orang memang ditakdirkan
untuk dicintai dengan cara yang berisik.
BAB XXVIII
Wiwin Kembali
Wiwin diam-diam memperhatikan semua
perubahan itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak
pertengkaran mereka—
ia melihat sesuatu yang berbeda pada
Wawan.
Ia masih tengil.
Masih suka bercanda kelewatan.
Masih ribut di mana-mana.
Namun sekarang—
ia mulai tahu kapan harus berhenti.
Sore itu langit kampung terlihat mendung tipis.
Pos ronda cukup ramai.
Anak-anak muda sedang bermain kartu.
Pak RT sibuk membahas acara warga.
Dan seperti biasa—
pusat keributan tetap Wawan.
“WOI! Yang kalah kartu jangan nuduh
mistis!”
“Pak RT jangan pura-pura sibuk, saya
tahu Bapak lagi nguping.”
“Rendi muka lu cocok jadi saksi
kriminal.”
Semua tertawa riuh.
Dan di tengah keramaian itu—
langkah Wiwin muncul dari ujung gang.
Wawan yang melihatnya langsung diam
sepersekian detik.
Salah tingkah.
Hal yang sangat jarang terjadi.
“Tumben,” katanya cepat untuk menutupi
gugup.
“Iya.”
“Nyasar?”
Wiwin tersenyum kecil.
Dan senyum itu saja sudah cukup
membuat dada Wawan terasa kacau.
“Duduk sini,” kata Rendi sambil
menggeser kursi.
Wiwin duduk pelan.
Sementara Wawan mendadak jadi lebih
banyak salah tingkah daripada ngoceh.
Dan itu membuat semua orang di pos
ronda menahan tawa.
“Aku dengar kamu yang nyelesaiin
masalah grup warga,” kata Wiwin akhirnya.
“Sedikit.”
“Biasanya kamu ikut bikin ribut.”
“Sekarang masih…”
Wawan tertawa kecil sambil menggaruk
kepala.
“…cuma lebih terarah.”
Wiwin akhirnya ikut tertawa.
Dan suara tawa itu terasa seperti
sesuatu yang sudah lama hilang.
Beberapa detik suasana menjadi lebih
hangat.
Tidak canggung seperti sebelumnya.
Tidak lagi penuh luka.
Namun masih menyisakan hati-hati kecil
di antara mereka.
“Aku juga dengar kamu sekarang suka
mikir dulu sebelum ngomong.”
Wawan langsung mendelik.
“Itu fitnah.”
Wiwin tertawa lebih keras.
“Berarti belum sembuh total ya?”
“Mustahil sembuh. Saya penyakit
masyarakat.”
“Valid.”
Pos ronda kembali pecah oleh tawa.
Namun di balik semua candaan itu—
Wiwin mulai melihat sesuatu yang
selama ini ia tunggu:
Wawan tidak lagi melawan perubahan
dalam dirinya sendiri.
Ia mulai belajar tumbuh…
tanpa kehilangan jati dirinya.
Matahari mulai turun perlahan.
Suasana gang berubah jingga.
Dan untuk pertama kalinya setelah
sekian lama—
Wawan kembali merasa tenang saat Wiwin
ada di dekatnya.
Bukan karena semua masalah mereka
selesai.
Namun karena akhirnya mereka sama-sama
mulai memahami:
cinta bukan tentang mengubah seseorang
menjadi sempurna.
Melainkan tentang tetap tinggal…
saat proses berubah itu terasa paling
sulit.
BAB XXIX
Cinta yang Tidak Sempurna
Wiwin akhirnya sadar satu hal penting:
mencintai Wawan berarti menerima hidup
yang tidak akan pernah benar-benar tenang.
Karena Wawan bukan tipe laki-laki yang
bisa diam melihat masalah.
Dan mulutnya—
akan selalu lebih cepat daripada
situasi.
Kadang sebelum orang lain selesai
berpikir, Wawan sudah selesai berkomentar.
Kadang sebelum masalah membesar, Wawan
sudah ikut masuk ke tengah keributan.
Dan anehnya—
meski sering bikin emosi,
ia juga selalu menjadi orang pertama
yang peduli.
Namun sekarang Wiwin tidak lagi ingin
mengubah Wawan sepenuhnya.
Ia hanya ingin membantu Wawan belajar
mengendalikan arah dirinya.
Karena ia mulai memahami sesuatu:
ketengilan Wawan bukan musuh.
Yang berbahaya hanyalah saat
ketengilan itu kehilangan arah.
Malam itu kampung cukup sepi.
Hujan baru saja reda.
Jalanan masih basah dan udara terasa
dingin.
Wiwin dan Wawan duduk berdua di pos
ronda sambil membagi kopi sachet dan gorengan sisa warung.
Pemandangan sederhana.
Namun justru malam-malam seperti itu
yang paling mereka sukai.
“Eh.”
“Hm?”
“Kamu sadar nggak sekarang warga kalau
ada masalah nyarinya kamu?”
Wawan langsung menghela napas
dramatis.
“Iya. Karier saya berkembang.”
“Dari?”
“Dari biang kerok menjadi customer
service emosi warga.”
Wiwin langsung tertawa kecil.
Beberapa detik mereka diam menikmati
suasana.
Lalu Wiwin menatap Wawan pelan.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Hidup sama kamu tuh capek.”
Wawan langsung mengangguk tanpa
membela diri.
“Valid.”
“Kadang bikin malu.”
“Sering malah.”
“Kadang bikin emosi.”
“Setiap hari.”
Wiwin tertawa kecil sambil menggeleng.
Namun matanya perlahan berubah lebih
lembut.
“Tapi anehnya…”
Ia menatap Wawan lebih dalam.
“…aku nggak mau nyerah.”
Kalimat itu membuat Wawan diam.
Benar-benar diam.
Tidak ada balasan tengil.
Tidak ada candaan cepat.
Tidak ada komentar absurd seperti biasanya.
Hanya tatapan yang perlahan berubah lebih dalam.
Karena untuk pertama kalinya—
Wawan merasa ada seseorang yang benar-benar memilih
dirinya secara utuh.
Bukan versi sempurnanya.
Bukan versi tenangnya.
Bukan versi yang sudah rapi untuk diterima dunia.
Melainkan seluruh kekacauannya juga.
“Kenapa?” tanya Wawan pelan.
“Hm?”
“Kenapa masih mau bertahan?”
Wiwin tersenyum kecil.
Lalu menjawab tanpa ragu—
“Karena aku tahu kamu nggak jahat.”
Angin malam berhembus pelan.
Suasana gang terasa tenang.
Dan entah kenapa—
kalimat sederhana itu terasa lebih
besar daripada ribuan kata romantis.
“Kamu cuma terlalu berisik saat peduli
sama sesuatu.”
Wawan tertawa kecil hambar.
“Definisi paling sopan buat tengil.”
“Aku serius.”
Wiwin menatapnya lurus.
“Orang lain mungkin cuma lihat mulut
kamu.”
“Tapi aku lihat…”
Ia menunjuk dada Wawan pelan.
“…isi sini.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Wawan merasa benar-benar dipahami.
Selama ini semua orang selalu meminta
dirinya berubah.
Jangan terlalu ribut.
Jangan terlalu ikut campur.
Jangan terlalu banyak bicara.
Namun Wiwin berbeda.
Ia tidak pernah meminta Wawan menjadi
orang lain.
Ia hanya ingin Wawan belajar agar
ketengilannya tidak melukai orang.
Dan mungkin—
itulah bentuk cinta paling dewasa.
Bukan memaksa seseorang berubah total.
Melainkan membantu seseorang tetap
menjadi dirinya sendiri dengan cara yang lebih baik.
“Win.”
“Hm?”
“Kalau nanti gue bikin kesel lagi
gimana?”
Wiwin langsung tertawa kecil.
“‘Kalau’?”
“Yaudah. Pas.”
Mereka tertawa bersama.
“Tapi serius,” lanjut Wawan lebih
pelan.
“Aku bakal marah.”
“Terus?”
“Aku bakal ngomel.”
“Terus?”
Wiwin tersenyum kecil.
“…habis itu kita belajar lagi.”
Wawan menatapnya cukup lama.
Karena selama hidupnya—
ia terbiasa ditinggalkan saat mulai
merepotkan.
Namun Wiwin justru memilih bertahan
sambil mengajaknya tumbuh bersama.
Dan malam itu—
di bawah lampu pos ronda yang redup
dan suara jangkrik dari ujung gang—
Wawan akhirnya mengerti satu hal
penting:
cinta bukan tentang menemukan
seseorang yang sempurna.
Melainkan menemukan seseorang yang
tetap mau tinggal…
bahkan setelah melihat seluruh
kekacauan dalam diri kita.
“Eh Wiwin.”
“Apa lagi?”
“Makasih ya.”
Wiwin tersenyum kecil.
“Tumben serius.”
“Lagi error.”
“Semoga jangan sembuh.”
Wawan langsung tertawa keras.
Dan suara tawanya malam itu terdengar
berbeda.
Bukan lagi tawa untuk menutupi luka.
Melainkan tawa seseorang yang akhirnya
merasa diterima sepenuhnya.
BAB XXX
Aset Berharga Kampung
Sejak masalah fitnah warga berhasil
diselesaikan, suasana kampung mulai berubah pelan-pelan.
Dan perubahan paling besar justru
terjadi pada cara orang memandang Wawan.
Dulu, setiap ada keributan, nama
pertama yang disebut pasti dirinya.
“Pasti Wawan.”
“Si tengil bikin masalah lagi.”
“Kalau dia lewat pasti ada ribut.”
Namun sekarang—
setiap ada masalah, orang-orang justru mulai mencari
Wawan lebih dulu.
“Mana si Wawan?”
“Coba panggil dia.”
“Kalau dia turun biasanya suasana cair.”
Kalimat-kalimat seperti itu mulai terdengar biasa.
Dan ironisnya—
Wawan sendiri masih belum terbiasa mendengarnya.
Suatu sore, dua ibu-ibu hampir berkelahi gara-gara
masalah jemuran.
Masalah kecil.
Namun karena sama-sama keras kepala, seluruh gang ikut
panas.
“Itu jemuran saya duluan!”
“Lah tali ini depan rumah saya!”
“Jangan mentang-mentang suaminya
hansip!”
Suasana mulai ramai.
Anak-anak berhenti bermain.
Bapak-bapak pura-pura menyapu sambil nonton.
Dan tentu saja—
Wawan datang sambil membawa es teh.
“Wah mantap.”
Dua ibu itu langsung menoleh.
“Ini rebutan jemuran apa audisi UFC?”
“WAN JANGAN IKUT CAMPUR!”
“Lah saya netral Bu.”
Ia menyeruput es tehnya santai.
“Menurut saya solusi terbaik ya jemur
aja sekalian yang ributnya.”
Beberapa warga langsung tertawa.
Suasana yang tadinya panas mulai retak
oleh tawa kecil.
Wawan lalu mendekat sambil menunjuk
tali jemuran.
“Udah gini aja.”
“Apa?”
“Bu RT pakai pagi. Bu Lina siang.”
“Lah—”
“Atau kalau mau lebih adil, bajunya
digunting setengah-setengah.”
“WAN!”
Semua orang tertawa lebih keras.
Dan anehnya—
dua ibu yang tadi hampir
jambak-jambakan akhirnya ikut tertawa juga.
Masalah selesai.
Tanpa teriak.
Tanpa drama panjang.
Wiwin yang melihat dari warung hanya
tersenyum kecil.
Karena inilah yang sejak awal ia lihat
dalam diri Wawan:
ia punya kemampuan aneh untuk
mencairkan suasana.
Bukan karena ia paling bijak.
Bukan karena paling pintar.
Namun karena ia tahu cara membuat
orang berhenti tenggelam dalam emosi mereka sendiri.
Malam harinya pos ronda kembali ramai.
Anak-anak muda berkumpul.
Bapak-bapak bermain catur.
Ibu-ibu masih sibuk membahas drama jemuran.
Dan pusat semua keramaian itu tetap
satu orang:
Wawan.
“Wan, coba ngomong sama anak-anak gang
belakang tuh,” kata Pak RT.
“Kenapa lagi?”
“Mereka mulai balapan motor lagi.”
Wawan menghela napas panjang.
“Kerjaan saya makin mirip satpol PP.”
Namun malam itu ia tetap mendatangi
anak-anak muda tersebut.
“WOI!”
Anak-anak langsung diam.
“Kalau mau balapan jangan di gang
orang!”
“Bang cuma bentar!”
“Bentar kata kalian tuh sampai
malaikat aspal resign!”
Mereka langsung tertawa.
Namun setelah bercanda beberapa menit,
nada suara Wawan mulai berubah lebih serius.
“Denger ya.”
Anak-anak mulai diam.
“Lu mau gaya silakan.”
“Tapi kalau sampai ada emak-emak jatuh
gara-gara kalian…”
Ia menunjuk jalan sempit di gang itu.
“…gue sendiri yang tendang motor lu.”
Tidak ada bentakan berlebihan.
Tidak ada ancaman liar.
Namun cukup tegas untuk membuat mereka
mengerti.
Dan lagi-lagi—
Wawan berhasil meredam masalah tanpa
membuat keadaan meledak.
“Lu sekarang beda ya,” kata Rendi saat
mereka pulang.
“Ganteng?”
“Bukan.”
“Kurang ajar.”
Rendi tertawa kecil lalu menepuk
pundaknya.
“Dulu lu bikin ribut.”
“Sekarang?”
“Lu malah jadi penahan ribut.”
Wawan terdiam beberapa detik.
Karena jauh di dalam dirinya—
ia tidak pernah membayangkan akan
sampai di titik ini.
Dulu ia pikir sifat tengilnya adalah
kutukan.
Sesuatu yang membuat orang menjauh.
Namun sekarang ia mulai sadar:
yang salah bukan sifatnya.
Melainkan arah penggunaannya.
Dan semua itu terjadi karena satu
orang:
Wiwin.
Orang pertama yang tidak mencoba
mematikan sifat tengilnya.
Melainkan mengajarinya cara
menggunakan ketengilan itu untuk sesuatu yang berguna.
Malam semakin larut.
Lampu gang mulai redup.
Namun pos ronda masih dipenuhi tawa.
Dan di tengah semua keramaian itu, Pak
RT tiba-tiba berkata sambil tertawa kecil:
“Kalau dipikir-pikir…”
Semua menoleh.
“…si tengil ini sekarang malah jadi
aset kampung.”
Semua orang langsung tertawa.
Termasuk Wawan.
Namun kali ini—
untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
ia tertawa tanpa merasa sedang
ditertawakan.
BAB XXXI
Yang
Paling Kuat
Sejak dianggap menjadi “aset kampung”, hidup Wawan mulai
berubah perlahan.
Bukan jadi lebih tenang.
Karena itu mustahil.
Mulutnya tetap berisik.
Candanya tetap kelewatan.
Dan komentarnya masih sering membuat orang geleng-geleng kepala.
Namun sekarang—
orang mulai memahami satu hal:
di balik semua ketengilannya, Wawan selalu peduli.
Dan orang yang paling memahami perubahan itu tentu saja
Wiwin.
Wiwin melihat semuanya sejak awal.
Dari Wawan si biang kerok gang…
hingga Wawan yang sekarang mulai menjadi tempat warga mencari bantuan saat
suasana memanas.
Sore itu hujan turun gerimis kecil.
Pos ronda cukup sepi.
Hanya ada suara radio tua dan aroma kopi sachet murahan.
Wawan duduk di kursi kayu sambil membantu Pak RT
memperbaiki data iuran warga.
Pemandangan yang dulu hampir mustahil terjadi.
“Nama Pak Hadi belum masuk.”
“Karena dia bayarnya pakai janji.”
Pak RT tertawa kecil.
“Nulis yang sopan sedikit bisa nggak?”
“Kalau saya sopan nanti warga curiga.”
Wiwin yang baru datang langsung tersenyum kecil melihat
itu.
Dan entah kenapa—
dadanya terasa hangat.
Karena laki-laki yang dulu paling sulit diatur itu sekarang
mulai bisa diandalkan banyak orang.
“Wiwin!” panggil Pak RT.
“Iya Pak?”
“Tolong sadar ya…”
Pak RT menunjuk Wawan sambil tertawa.
“…anak ini sekarang makin susah dibalikin ke mode normal.”
Wiwin tertawa kecil.
“Udah telat Pak.”
“NAH KAN!” sahut Wawan cepat.
Setelah Pak RT pulang, suasana pos ronda menjadi lebih
tenang.
Hanya tinggal mereka berdua.
Angin sore bertiup pelan melewati gang kecil yang mulai basah karena hujan.
Dan untuk beberapa saat—
Wawan unusually diam.
“Kamu kenapa?” tanya Wiwin.
“Lagi mikir.”
Wiwin langsung mengernyit.
“Bahaya.”
“Kurang ajar.”
Namun kali ini Wawan tidak benar-benar membalas.
Ia hanya menatap jalanan depan pos ronda cukup lama.
“Win.”
“Hm?”
“Lu tahu nggak…”
Ia tertawa kecil hambar.
“…gue dulu paling males sama orang yang sok ngatur hidup gue.”
Wiwin diam mendengarkan.
“Semua orang maunya gue berubah.”
“Jangan ribut.”
“Jangan tengil.”
“Jangan ngomong kasar.”
Ia menghela napas pelan.
“Lama-lama gue mikir…”
Tatapannya turun ke lantai kayu pos ronda.
“…mungkin emang gue seburuk itu.”
Wiwin perlahan menatapnya lebih lembut.
Karena ia tahu—
kalimat itu bukan candaan.
Itu luka lama.
“Tapi terus lu datang.”
Wawan tersenyum kecil.
“Dan anehnya…”
Ia menoleh ke arah Wiwin.
“…lu nggak pernah nyuruh gue jadi orang lain.”
Sunyi beberapa detik.
Hanya suara gerimis kecil di atap seng.
“Lu cuma marah kalau gue nyakitin orang.”
“Ya iyalah.”
“Lu nggak pernah nyuruh gue berhenti jadi tengil.”
Wiwin tersenyum tipis.
“Karena kalau semua sisi tengil kamu hilang…”
Ia menatap Wawan lurus.
“…kamu bukan Wawan lagi.”
Kalimat sederhana itu langsung menghantam dada Wawan lebih
keras daripada omelan apa pun.
Karena selama ini—
tidak ada orang yang benar-benar menerima dirinya tanpa syarat seperti itu.
Semua orang ingin versi yang lebih rapi.
Lebih tenang.
Lebih mudah diterima.
Namun Wiwin berbeda.
Ia menerima seluruh kebisingan dalam diri Wawan…
lalu perlahan membantu mengarahkannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Wawan merasa sangat kecil di hadapan seseorang.
Bukan karena kalah.
Namun karena terlalu dicintai.
“Wiwin.”
“Hm?”
Kalimat berikutnya terasa berat keluar dari mulut Wawan.
Karena seseorang seperti dirinya tidak terbiasa bicara serius terlalu lama.
Namun kali ini ia memaksa dirinya sendiri.
“Makasih ya.”
Wiwin tersenyum kecil.
“Tumben nggak pakai bercanda.”
“Lagi error.”
Mereka tertawa pelan.
Namun mata Wawan mulai berubah lebih dalam.
“Kalau bukan karena lu…”
Ia menggeleng kecil sambil tertawa hambar.
“…gue mungkin masih jadi orang yang ribut cuma buat nutupin rasa kosong.”
Wiwin langsung diam.
Karena itu mungkin pengakuan paling jujur yang pernah keluar dari Wawan.
“Sekarang gue ngerti satu hal.”
“Apa?”
“Kadang orang tengil kayak gue…”
Ia tersenyum kecil.
“…cuma butuh satu orang yang nggak ikut nyerah buat bisa berubah arah.”
Dan tanpa sadar—
untuk pertama kalinya Wawan benar-benar bertekuk lutut.
Bukan dengan drama besar.
Bukan dengan kata-kata puitis berlebihan.
Melainkan dengan keberanian mengakui bahwa ada seseorang yang berhasil
menyentuh bagian dirinya yang selama ini tidak pernah bisa dijangkau siapa pun.
Wiwin menahan senyum kecil sambil menatapnya lama.
Lalu berkata pelan—
“Berarti sekarang kamu tahu ya…”
“Apa?”
“Siapa yang paling kuat di hubungan ini.”
Wawan langsung mendelik.
“Wah mulai sombong.”
“Fakta.”
“Enggak.”
“Terus?”
Wawan tertawa kecil.
Lalu menatap Wiwin dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Lebih tenang.
Lebih tulus.
“Yang paling kuat itu…”
Ia menggeleng kecil sambil tersenyum.
“…orang yang tahan punya pacar tengil kayak gue.”
Hubungan Wiwin dan Wawan akhirnya sampai pada titik yang
lebih dewasa.
Bukan hubungan yang penuh janji manis.
Bukan hubungan yang selalu tenang.
Dan jelas bukan kisah cinta sempurna seperti di film-film.
Karena kenyataannya—
mencintai Wawan tetap melelahkan.
Kadang mulutnya masih kebablasan.
Kadang emosinya masih naik mendadak.
Kadang ia tetap bertindak tanpa berpikir panjang.
Dan Wiwin?
Masih sering mengelus dada menghadapi tingkahnya.
Namun sekarang ada satu perbedaan besar:
Wawan mulai mau mendengarkan.
Sore itu kampung kembali ramai.
Anak-anak muda sedang mempersiapkan acara nonton bareng pertandingan sepak bola
antar kampung.
Dan seperti biasa—
keributan kecil muncul bahkan sebelum acara dimulai.
“Layarnya kurang ke kiri!”
“Soundnya pecah!”
“Yang nyolok kabel siapa?!”
Suasana mulai panas.
Dan tentu saja—
semua mata langsung mencari satu orang.
“Mana Wawan?!”
“Panggil si tengil!”
“Kalau dia datang biasanya malah tambah ribut,” sahut seseorang.
“Justru jadi jalan.”
Beberapa menit kemudian Wawan datang sambil membawa kipas
angin rusak di pundaknya.
“Wah mantap.”
Ia melihat kerumunan lalu menggeleng.
“Belum mulai bola, yang mau tanding malah panitianya.”
Semua langsung ribut membalas.
Namun anehnya—
suasana mulai mencair.
“Lu sini deh Wan,” kata Pak RT.
“Kenapa lagi Pak?”
“Bantu atur.”
“Jabatan saya sekarang banyak ya.”
Warga tertawa.
Dan seperti biasa, Wawan mulai bergerak ke sana kemari sambil ngoceh tanpa
henti.
“Yang pendek jangan berdiri depan layar, kasihan yang
hidupnya sudah pendek harapannya.”
“Sound jangan full mentang-mentang kuping gratis.”
“Anak kecil jangan lari depan proyektor! Kepala lu nanti jadi VAR.”
Tawa mulai terdengar di mana-mana.
Dan konflik kecil yang tadi hampir meledak perlahan hilang begitu saja.
Wiwin memperhatikan semuanya dari samping warung.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
Karena sekarang ia benar-benar melihat perubahan besar
dalam diri Wawan.
Dulu Wawan ribut untuk melampiaskan emosi.
Sekarang? Ia ribut untuk menjaga suasana tetap hidup.
Namun malam itu satu kejadian kecil kembali menguji mereka.
Saat acara hampir dimulai, salah satu pemuda baru bercanda
pada Wiwin terlalu dekat.
Tidak berlebihan.
Namun cukup membuat Wawan refleks cemburu.
Dan seperti biasa—
mulutnya langsung bergerak lebih cepat.
“Bang, nonton bola aja nggak usah sekalian audisi jadi
gangguan hubungan orang.”
Suasana langsung hening sepersekian detik.
Wiwin langsung menoleh cepat.
Beberapa orang mulai saling pandang.
Dan Wawan sendiri langsung sadar:
ia hampir mengulang kesalahan lama.
Namun kali ini berbeda.
Sebelum suasana membesar, Wawan menarik napas panjang.
Lalu mengacak rambutnya sendiri frustrasi.
“Maaf.”
Semua langsung bengong.
Termasuk Wiwin.
“Refleks.”
Ia menunjuk kepalanya sendiri.
“Mesin rusuh saya kadang nyala sendiri.”
Kerumunan langsung tertawa.
Suasana kembali cair.
Dan Wiwin hanya bisa memandangnya diam-diam.
Karena permintaan maaf sederhana itu terasa jauh lebih besar daripada ribuan
janji manis.
Setelah acara selesai, mereka duduk berdua di pinggir lapangan
kecil.
Suara warga masih terdengar samar dari kejauhan.
Lampu proyektor mulai dimatikan satu per satu.
“Kamu sadar nggak?” tanya Wiwin pelan.
“Apa?”
“Kamu tadi nahan diri.”
Wawan tertawa kecil.
“Setengah mati.”
“Aku tahu.”
Sunyi beberapa detik.
“Dulu gue pikir kalau berubah berarti kalah,” gumam Wawan.
“Sekarang?”
“Sekarang gue ngerti…”
Ia menatap Wiwin pelan.
“…ngalah demi orang yang kita sayang ternyata bukan kelemahan.”
Wiwin tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya—
ia merasa hubungan mereka benar-benar tumbuh.
Bukan karena Wawan berubah menjadi sempurna.
Melainkan karena mereka sama-sama belajar bertahan menghadapi kekurangan satu
sama lain.
“Kamu tahu nggak hubungan kita tuh aneh,” kata Wiwin.
“Karena pacarnya ganteng?”
“Karena ribut.”
“Valid.”
Wiwin tertawa kecil lalu melanjutkan:
“Tapi aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Kita nggak pernah benar-benar mencoba mengubah satu sama
lain.”
Wawan mengangguk pelan.
Karena memang itu yang membuat mereka tetap bertahan sampai sejauh ini.
Wiwin tidak pernah memaksa Wawan menjadi laki-laki tenang
yang bukan dirinya.
Dan Wawan perlahan belajar bahwa mencintai seseorang berarti memastikan sifat
buruknya tidak melukai orang itu.
“Win.”
“Hm?”
“Kalau nanti gue kambuh tengilnya…”
Wiwin langsung memotong cepat:
“Bukan kalau.”
“Kurang ajar.”
“Tapi sekarang bedanya…”
Ia menatap Wawan lembut.
“…kamu udah tahu arah pulangnya.”
Wawan terdiam cukup lama.
Lalu akhirnya tertawa kecil sambil menggeleng.
Karena mungkin benar.
Ia tetap tengil.
Tetap ribut.
Tetap sulit diam.
Namun sekarang—
ia punya seseorang yang membuat semua kebisingan dalam hidupnya terasa lebih
terarah.
“Eh Win.”
“Apa lagi?”
“Makasih ya. Udah mau jadi pelabuhan buat kapal rusak kayak
gue.”
Wiwin tersenyum.
“Kapal rusak masih bisa diperbaiki.”
“Kalau kapal tengil?”
“Itu mah harus tahan badai seumur hidup.”
Wawan tertawa keras.
Dan Wiwin ikut tertawa.
Karena pada akhirnya, mereka tidak pernah berusaha menjadi
sempurna untuk satu sama lain.
Mereka hanya belajar bahwa cinta bukan tentang menemukan
seseorang yang tanpa cacat.
Melainkan menemukan seseorang yang tetap mau tinggal…
meski sudah melihat seluruh kekacauan dalam diri kita.
BAB XXXII
Pacarku Tengil
Waktu berjalan pelan di kampung kecil
itu.
Namun satu hal tidak pernah berubah:
suara Wawan tetap paling mudah
terdengar dibanding suara siapa pun.
“WOI! Motor lu suaranya kayak kaleng
disiksa!”
“Pak RT jangan senyum doang, iurannya
belum lunas!”
“Yang pacaran jangan nutup jalan,
negara ini udah sempit!”
Tawa langsung pecah di sepanjang gang.
Anak-anak kecil berlari sambil menirukan gaya bicara
Wawan.
Ibu-ibu menggeleng sambil tertawa.
Bapak-bapak di pos ronda pura-pura kesal meski diam-diam menikmati suasana.
Dan di tengah semua keributan itu—
Wiwin hanya duduk sambil tersenyum
kecil.
Karena sekarang ia sadar:
kampung mereka memang tidak akan
pernah benar-benar tenang selama ada Wawan.
Namun justru karena itu—
kampung itu terasa hidup.
Dulu warga mengenal Wawan sebagai
biang kerok.
Anak tengil yang terlalu banyak bicara.
Terlalu ikut campur urusan orang.
Terlalu berisik untuk dianggap serius.
Namun hidup memang aneh.
Karena perlahan—
orang-orang mulai sadar bahwa yang
paling sering ribut itu juga orang yang paling cepat peduli.
Saat ada warga sakit, Wawan yang
paling ribut menggalang bantuan.
Saat anak-anak muda mulai salah arah,
Wawan yang paling keras menarik mereka kembali.
Saat suasana kampung mulai panas
karena masalah kecil—
Wawan selalu muncul dengan candaan
absurd yang entah bagaimana bisa membuat orang berhenti marah.
Ia tetap tengil.
Sangat tengil malah.
Namun sekarang—
ketengilannya punya arah.
Sore itu warga berkumpul di lapangan
kecil kampung untuk persiapan acara akhir tahun.
Suasana ramai seperti biasa.
Dan pusat keramaian tentu saja satu
orang.
“WOI! Kursinya jangan ditumpuk kayak
dosa masa lalu!”
“Yang masang lampu jangan sambil
galau!”
“Pak Hadi jangan ngilang pas disuruh
kerja! Saya hafal pola Bapak!”
Semua orang tertawa.
Pak Hadi bahkan sampai menunjuk Wawan
sambil geleng-geleng kepala.
“Mulut lu nggak ada rem ya.”
“Kalau saya diem nanti kampung kita
sepi Pak.”
“Bener juga sih.”
Dan kalimat itu bukan lagi candaan
semata.
Karena sekarang semua orang tahu:
tanpa Wawan, suasana memang terasa
berbeda.
Wiwin berjalan mendekati keramaian
sambil membawa minuman.
Beberapa ibu langsung menggoda.
“Tu pacarnya si tengil datang.”
“Wiwin sabar banget ya.”
“Kalau saya mah udah pusing.”
Wiwin hanya tertawa kecil.
Karena dulu mungkin ia juga akan
bingung menjelaskan kenapa dirinya bertahan.
Namun sekarang—
ia sudah tahu jawabannya.
Bukan karena Wawan sempurna.
Jauh sekali.
Kadang menyebalkan.
Kadang egois.
Kadang mulutnya masih ingin dilempar ke sungai.
Namun di balik semua itu—
Wawan selalu punya hati yang bergerak
lebih cepat daripada orang lain.
Dan tidak semua orang punya keberanian
untuk peduli sekeras itu.
“Win!”
Wawan memanggil dari kejauhan.
“Apa?”
“Liat tuh Pak RT nyuruh kerja tapi
ngumpet makan gorengan!”
“WAN!” teriak Pak RT sambil tertawa.
Keramaian kembali pecah.
Dan Wiwin hanya menggeleng sambil
tersenyum kecil.
Lalu tanpa sadar, ia memperhatikan
Wawan lebih lama.
Laki-laki tengil yang dulu dijauhi
warga itu sekarang berdiri di tengah banyak orang yang diam-diam
membutuhkannya.
Bukan karena ia paling pintar.
Bukan karena paling sukses.
Namun karena keberadaannya membuat
lingkungan terasa lebih hangat.
Wawan mungkin tidak pernah menjadi
lelaki tenang.
Ia tidak pandai bicara romantis terlalu lama.
Tidak pandai bersikap rapi setiap waktu.
Dan jelas bukan tipe pria sempurna yang disukai semua orang.
Namun justru karena itulah—
ia terasa nyata.
“Ngapain ngeliatin gue begitu?” tanya
Wawan mendadak.
“Lagi mikir.”
“Mikir apa?”
Wiwin tersenyum kecil.
“Mikir ternyata punya pacar tengil
capek juga.”
“Nah kan.”
“Tapi…”
Ia menatap Wawan pelan.
“…seru.”
Wawan langsung tertawa keras.
“Berarti lu udah ketularan rusak.”
“Mungkin.”
Matahari mulai turun perlahan.
Anak-anak kecil masih bermain di ujung gang.
Lampu-lampu mulai menyala satu per satu.
Dan di tengah suara warga yang ramai
bercampur tawa—
Wiwin akhirnya benar-benar memahami
sesuatu:
beberapa orang memang tidak dilahirkan
untuk menjadi tenang.
Mereka dilahirkan untuk menjadi gaduh…
agar dunia tidak terasa terlalu dingin
bagi orang lain.
Dan Wawan—
dengan seluruh ketengilan, keributan,
dan kekacauannya—
adalah salah satu orang itu.
Karena pada akhirnya,
yang membuat seseorang berharga bukan
seberapa sempurna dirinya.
Melainkan seberapa besar hatinya tetap
peduli…
meski dunia berkali-kali salah
memahami caranya mencintai kehidupan.
EPILOG
Sore itu langit kampung terlihat
jingga.
Anak-anak kecil masih berlarian di jalan sempit sambil
bermain bola plastik.
Ibu-ibu sibuk membereskan jemuran.
Bapak-bapak mulai memenuhi pos ronda membawa kopi dan cerita masing-masing.
Dan seperti biasa—
pusat keramaian tetap satu orang.
“WOI! Yang bawa motor pelan dikit! Ini
gang, bukan sirkuit MotoGP gagal!”
“Pak RT jangan ketawa doang, perut
Bapak udah duluan sampai pos ronda!”
“Anak kecil jangan main bola dekat
kaca! Emak kalian nanti nyalahinnya ke saya lagi!”
Semua orang tertawa.
Sudah terbiasa.
“Bang…”
Seorang anak kecil mendekat sambil
polos bertanya:
“Mulut Abang nggak capek apa?”
Pos ronda langsung pecah oleh tawa.
Dan Wawan hanya menyeringai santai
sambil menyeruput kopi.
“Kalau gue diem…”
Ia melirik seluruh gang kecil yang
ramai itu.
“…kampung ini malah sepi.”
Wiwin yang duduk di sampingnya hanya
tersenyum kecil.
Tidak menyangkal.
Karena ia tahu—
kalimat itu benar.
Dulu ia juga pernah lelah menghadapi
Wawan.
Pernah menangis.
Pernah marah.
Pernah ingin menyerah.
Namun semakin lama ia mengenal Wawan,
semakin ia memahami satu hal:
ketengilan Wawan bukan lahir dari
kebencian.
Melainkan dari kepedulian yang terlalu
besar dan terlalu berisik.
Wawan memang bukan laki-laki paling
tenang di dunia.
Namun saat ada orang kesusahan, ia paling depan.
Saat suasana mulai dingin, ia paling ribut menghidupkan keadaan.
Dan saat semua orang memilih diam—
ia selalu cukup berani untuk bicara.
Mungkin karena itulah,
meski banyak orang kesal padanya,
lebih banyak lagi yang diam-diam
merasa kehilangan jika Wawan tidak ada.
Angin sore bertiup pelan melewati gang
kecil itu.
Wawan masih bercanda.
Warga masih tertawa.
Dan hidup terus berjalan dengan segala keributannya.
Sementara Wiwin menatap laki-laki di
sampingnya sambil tersenyum kecil dalam hati.
Karena sejak mengenal Wawan, ia
belajar satu hal penting:
beberapa orang memang tidak dilahirkan
untuk menjadi tenang.
Mereka dilahirkan untuk menjadi gaduh…
agar dunia tidak terlalu dingin bagi
orang lain.
Dan kadang—
di balik orang paling tengil,
tersimpan hati paling tulus yang
pernah kita temui.
BONUS CHAPTER
Setelah Semua Keributan
Beberapa bulan setelah semua drama itu berlalu, hidup di
kampung kembali berjalan seperti biasa.
Atau lebih tepatnya—
berjalan biasa versi kampung yang memiliki Wawan.
Artinya:
tetap ribut.
Pagi hari sudah terdengar suara Wawan dari ujung gang.
“WOI! Siapa yang parkir motor nutup selokan?!”
“Kalau banjir jangan salahin pemerintah terus!”
“Gunakan otak sedikit, itu gratis!”
Beberapa warga langsung keluar rumah sambil tertawa.
“Pagi-pagi udah ngoceh.”
“Kalau dia diem malah takut saya.”
Dan memang benar.
Kini warga justru khawatir kalau Wawan terlalu diam.
Karena biasanya itu pertanda ada sesuatu yang salah.
Wiwin sendiri mulai terbiasa hidup di tengah kekacauan
kecil itu.
Ia mulai hafal:
kalau Wawan tiba-tiba terlalu tenang, berarti ada masalah yang sedang
dipikirkan.
Kalau Wawan terlalu banyak bercanda, berarti sedang menutupi rasa lelah.
Dan kalau Wawan mulai ngoceh ke semua orang tanpa jeda—
itu tandanya suasana hatinya sedang sangat baik.
Saat Wawan sedang duduk di pos ronda sambil menyeruput
kopi, seorang anak kecil laki-laki berlari mendekat dari ujung gang.
Bambang.
Anak kecil yang dulu sepedanya pernah diperbaiki Wawan.
Yang dulu juga bersembunyi di belakang Wawan saat keributan besar.
“Bang Wawan!”
Wawan menoleh malas.
“Apa, Bang? Pagi-pagi udah heboh.”
Bambang menghentakkan kaki di depan Wawan.
Lalu—dengan percaya diri—ia menyeringai miring.
Persis seperti Wawan.
“Gue sekarang jago bercanda kayak Abang!”
Pos ronda langsung pecah tertawa.
Beberapa bapak sampai geleng-geleng kepala.
Wawan menatap Bambang beberapa detik.
Lalu tertawa—bukan tawa sinis, tapi tawa yang hangat.
Wawan lalu jongkok, sejajar dengan Bambang.
“Denger ya, Bang.”
Bambang mengangguk polos.
“Jadi kayak gue boleh.”
Wawan menunjuk mulutnya sendiri.
“Bercandanya, nyolotnya, semua boleh.”
“Tapi jangan jadi tengilnya aja.”
Bambang mengernyit.
“Kenapa?”
Wawan tersenyum kecil.
“Karena jadi tengil itu capek, Bang.”
“Abang aja butuh bertahun-tahun buat belajar pakainya.”
Wiwin yang mendengar dari kejauhan hanya tersenyum.
Ia ingat pertama kali ia melihat Wawan—tengil, kasar, dan
semua orang kesal.
Dan sekarang, laki-laki yang sama sedang mengajari anak kecil untuk tidak menjadi
seperti dirinya dulu.
Circle.
Lingkaran yang indah.
“Tapi Abang sekarang baik,” kata Bambang polos.
Wawan mengacak rambut Bambang.
“Ya. Tapi butuh waktu lama.”
“Lo harus lebih cepet dari Abang.”
“Janji!”
Bambang berlari pergi sambil tertawa.
Dari kejauhan, ia berteriak:
“BESOK GUE BIKIN CANDIAN KE PAK RT!”
Wawan menghela napas.
“Anak sialan.”
Wiwin terkekeh.
“Dia niru kamu.”
“Gue lihat.”
“Kamu bangga?”
Wawan diam sebentar.
Lalu tersenyum kecil—senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Sedikit.”
Sore itu Wiwin sedang membantu ibunya di warung ketika
terdengar keributan kecil depan gang.
Dua pemuda hampir berkelahi gara-gara motor tersenggol.
Nada suara mulai tinggi.
Orang-orang mulai mendekat.
Dan seperti biasa—
muncul suara yang sudah sangat dikenal seluruh warga.
“WOI!”
Semua langsung menoleh.
Wawan datang sambil membawa kantong gorengan.
“Motor doang disentuh dikit kayak harga dirinya jatuh.”
“Lu diem Wan!” bentak salah satu pemuda.
“Lah saya belum mulai pidato.”
Beberapa orang mulai tertawa kecil.
Suasana yang tadi panas mulai sedikit longgar.
Wawan lalu berdiri di tengah mereka.
“Nih ya…”
Ia menunjuk motor yang lecet kecil.
“Ini lecetnya segini.”
Lalu menunjuk kepala salah satu pemuda.
“Ego lu segede galaksi.”
Kerumunan langsung pecah tertawa.
Bahkan dua pemuda yang tadi emosi mulai menahan senyum.
“Udah salaman.”
“Ogah.”
“Kalau nggak salaman saya upload muka kalian ke grup warga
captionnya:
‘Dua lelaki dewasa bertengkar karena baret lebih kecil dari bulu ketek.’”
“WAN ANJING!”
Semua orang tertawa lebih keras.
Dan akhirnya dua pemuda itu benar-benar berdamai.
Wiwin yang melihat dari jauh hanya menggeleng sambil
tersenyum kecil.
Karena meski metode Wawan sering absurd—
hasilnya hampir selalu berhasil.
Malam harinya mereka duduk berdua di pos ronda.
Gang mulai sepi.
Hanya suara jangkrik dan televisi warga yang samar terdengar dari kejauhan.
“Kamu sadar nggak?”
“Apa?”
“Kamu sekarang kayak satpam emosi warga.”
Wawan tertawa keras.
“Profesi yang tidak pernah saya cita-citakan.”
“Tapi kamu suka.”
“Sedikit.”
Wiwin menatapnya lama.
Lalu berkata pelan—
“Dulu aku takut sifat tengil kamu bakal menghancurkan diri
kamu sendiri.”
“Sekarang?”
Wiwin tersenyum kecil.
“Sekarang aku sadar…”
Ia melihat suasana gang yang mulai tenang malam itu.
“…kadang kampung memang butuh satu orang berisik supaya semua orang nggak sibuk
marah sendirian.”
Wawan terdiam beberapa detik.
Lalu tertawa kecil sambil menggeleng.
“Lu tahu nggak hal paling aneh?”
“Apa?”
“Dulu gue pikir semua orang pengen gue berubah total.”
“Terus?”
“Ternyata…”
Ia menatap Wiwin pelan.
“…yang mereka butuhin cuma gue belajar pakai hati.”
Wiwin tersenyum hangat.
Karena itulah perjalanan terbesar Wawan selama ini.
Bukan menjadi orang lain.
Melainkan tetap menjadi dirinya sendiri tanpa melukai orang-orang yang ia
sayangi.
Angin malam berhembus pelan.
Lampu pos ronda berkedip kecil.
Dan seperti biasa—
mulut Wawan tetap tidak bisa diam terlalu lama.
“Eh Win.”
“Hm?”
“Kalau nanti kita tua…”
“Apa?”
“Kayaknya gue tetap bakal tengil.”
Wiwin tertawa kecil.
“Kayaknya?”
“Valid. Pasti.”
“Terus aku?”
Wawan tersenyum jahil.
“Lu tetap jadi orang yang paling sabar sedunia.”
Wiwin langsung menyenggol lengannya pelan.
Dari kejauhan, terdengar suara kecil—Bambang yang belum
tidur, berteriak dari teras rumahnya:
“BANG WAWAN! BESOK AJARIN GUE BIKIN PANTAUN!”
Wawan menghela napas panjang.
Wiwin tertawa.
“Dia nggak akan berhenti, ya?”
“Kayaknya gue udah ciptain monster baru.”
“Monster yang baik.”
Wawan diam sebentar.
Lalu tersenyum—bukan senyum miring, bukan senyum untuk menutupi luka.
Tapi senyum seseorang yang untuk pertama kalinya merasa cukup.
“Ya. Monster yang baik.”
Dan malam itu—
di tengah kampung kecil yang tidak pernah benar-benar sepi—
dua orang itu akhirnya mengerti satu hal sederhana:
cinta bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna.
Melainkan menemukan seseorang yang tetap mau tinggal…
meski sudah melihat seluruh kekacauan dalam diri kita.
Dan kadang—
dari kekacauan itu, lahir sesuatu yang indah.
Seperti Bambang yang meniru Wawan.
Seperti Wawan yang belajar menjadi lebih baik.
Seperti kampung yang perlahan menerima ketengilan sebagai bagian dari diri
mereka.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar