TRILOGI ROMAN EPIK
JEJAK WAKTU
JILID KETIGA
Jejak Waktu, Senja yang Memulangkan
"Kadang, pulang bukan
berarti kembali ke tempat kita dilahirkan. Pulang adalah kembali ke orang yang
membuat kita merasa hidup."
Oleh: Slamet Riyadi
Prolog
Jalan Pulang yang Terlambat
Tahun 2008. Dunia telah banyak berubah sejak Danang
terakhir kali menginjakkan kaki di desa kelahirannya. Tiga puluh tahun telah
berlalu. Tiga puluh tahun sejak ia meninggalkan Kirana di stasiun Purwokerto.
Tiga puluh tahun sejak Arman mengkhianatinya. Tiga puluh tahun sejak Surya
merencanakan kehancurannya. Tiga puluh tahun sejak ia berjanji pada dirinya
sendiri bahwa ia tidak akan pernah kembali.
Tiga puluh tahun yang terasa seperti sekejap mata di
ingatan, tetapi terasa sangat lama di tulang dan sendi yang mulai rapuh. Tiga
puluh tahun yang mengajarkannya bahwa waktu tidak pernah berhenti untuk siapa
pun, bahwa hidup terus berjalan meskipun hati hancur, bahwa luka tidak pernah
benar-benar sembuh, hanya tertimbun oleh lapisan-lapisan waktu yang terus
menumpuk.
Sekarang, di usia lima puluh tahun, Danang Wiratama berdiri
di pelataran stasiun Purwokerto yang telah berubah total. Stasiun kayu tua yang
dulu ia kenal, dengan bangunan bergaya kolonial Belanda yang megah tetapi
usang, kini telah digantikan oleh bangunan modern berlantai dua dengan dinding
kaca dan atap baja ringan. Lampu-lampu neon terang menyala di mana-mana,
menggantikan lampu minyak dan lilin yang dulu menerangi kegelapan malam.
Papan-papan elektronik digital berkedip-kedip menampilkan jadwal kedatangan dan
keberangkatan kereta, dengan huruf-huruf hijau terang yang terlihat jelas
meskipun dari kejauhan.
"Kereta api Argo Lawu jurusan Jakarta Gambir akan
segera tiba di jalur 2. Diharapkan para penumpang untuk bersiap di peron yang
telah ditentukan," suara perempuan dari pengeras suara menggema di seluruh
area stasiun, terdengar jelas, tidak lagi parau seperti dulu ketika pengeras
suara masih menggunakan pita kaset dan amplifier tabung yang sering mati.
Danang menghela napas. Ia membawa koper baru, bukan koper
tua milik Sastrowiryo yang sudah hancur dimakan usia dan perjalanan. Koper
warna hitam dengan roda di bagian bawah, canggih, modern, sangat berbeda dengan
koper kulit sintetis coklat tua dengan gesper kuningan berkarat yang dulu ia
bawa ke mana-mana. Koper itu sudah ia buang sepuluh tahun lalu, ketika ia
memutuskan untuk memulai hidup baru di Jakarta, menjadi orang baru, melupakan
masa lalu.
Rambutnya telah memutih di pelipis, dan uban-uban itu kini
menyebar ke seluruh kepalanya seperti salju yang turun di musim dingin yang
panjang. Putih yang tidak bisa lagi disembunyikan dengan minyak rambut atau
pewarna. Putih yang datang sebagai pengingat bahwa waktu tidak pernah berhenti
untuk siapa pun, bahwa setiap hari yang lewat meninggalkan jejaknya di tubuh
kita, tidak peduli seberapa keras kita berusaha melupakannya.
Wajahnya dipenuhi kerutan, kerutan yang seperti peta yang
mencatat setiap tahun yang telah ia lalui, setiap suka dan duka yang ia alami,
setiap luka yang ia simpan. Kerutan di keningnya dalam, bekas dari terlalu
banyak berpikir, terlalu banyak khawatir, terlalu banyak menahan amarah.
Kerutan di sekitar matanya halus, bekas dari terlalu banyak menahan air mata,
terlalu banyak tersenyum padahal hancur. Kerutan di pipinya kasar, bekas dari
terlalu banyak bekerja di bawah terik matahari, terlalu banyak menghirup debu
dan asap.
Bahunya tidak lagi setegak dulu. Pekerjaan kasar selama
bertahun-tahun, mengangkat kertas dan mesin cetak, membongkar muat barang di
dermaga-dermaga kecil, membangun rumah-rumah sebagai kuli bangunan, semuanya
telah membungkukkan sedikit punggungnya. Ia masih bisa berdiri tegak jika
berusaha, tetapi usahanya itu semakin melelahkan setiap tahun. Tulang-tulangnya
terasa sakit setiap pagi ketika ia bangun, persendiannya kaku, lututnya
berderit ketika ia berjalan.
Tapi matanya masih sama. Masih gelap. Masih dalam. Masih
seperti lubang sumur tua yang tidak pernah mencapai dasar. Hanya saja, kini ada
lebih banyak kesedihan di sana. Lebih banyak penyesalan. Lebih banyak
kelelahan. Lebih banyak kerinduan pada seseorang yang mungkin sudah tidak ingat
lagi padanya.
"Pak, Bapak mau naik taksi?" seorang lelaki muda
dengan jaket biru dan kartu nama menggantung di leher, menghampirinya. Wajahnya
cerah, penuh semangat, seperti orang yang masih percaya bahwa dunia ini baik.
"Aku antar ke mana saja. Murah. Pakai argo. Tidak pakai tawar-menawar.
Terjamin aman."
Danang tersenyum tipis. "Ke desa Kapuas, Nak.
Bisa?"
"Bisa, Pak. Jauh memang. Tapi saya tahu jalannya.
Sering antar orang ke sana. Rumah dinas camat, ya? Atau ke rumah kepala
desa?"
"Ke rumah lama. Rumah panggung di tepi sungai. Tapi
saya tidak tahu apakah masih berdiri."
Lelaki muda itu mengangguk. "Saya coba cari, Pak.
Kalau tidak ada, saya antar ke rumah kepala desa. Beliau pasti tahu."
"Baik. Terima kasih."
Mobil taksi yang ditumpangi Danang adalah mobil Avanza
hitam tahun 2005, masih bagus, masih mulus, AC-nya dingin, joknya empuk. Sangat
berbeda dengan bus-bus tua yang dulu ia tumpangi ketika pertama kali merantau
ke kota. Bus yang lantainya bolong, joknya sobek, AC-nya tidak ada, mesinnya
sering mogok di tengah jalan.
Danang duduk di kursi belakang, memandang ke luar jendela,
melihat pemandangan yang berubah dengan cepat. Jalanan yang dulu masih tanah
dan kerikil, kini sudah beraspal hitam mulus. Rumah-rumah panggung yang dulu
berdiri di pinggir jalan, kini sudah digantikan oleh bangunan-bangunan semen
bertingkat. Toko-toko modern dengan papan nama berwarna-warni menjamur di
mana-mana, menjual segala macam kebutuhan, dari sembako hingga pulsa listrik
dan pulsa telepon seluler.
Di pinggir jalan, anak-anak muda dengan pakaian modern,
celana jins ketat, kaus oblong dengan tulisan-tulisan Inggris yang tidak mereka
mengerti, rambut dicat merah atau pirang, berdiri sambil memegang telepon
seluler, berbicara dengan suara keras, tertawa dengan riang. Di saku mereka,
ponsel-ponsel canggih dengan kamera dan layar warna, yang dulu tidak pernah
terbayangkan oleh Danang ketika ia masih muda.
Tower-tower telepon seluler berdiri tinggi di mana-mana,
seperti pohon-pohon besi raksasa yang tumbuh di tengah sawah dan kebun.
Kabel-kabel fiber optik membentang di atas jalanan, menghubungkan desa-desa
terpencil dengan dunia luar. Internet, kata orang, telah masuk ke desa. Anak-anak
muda sekarang bisa mengakses informasi dari seluruh dunia hanya dengan
menyentuh layar kaca di tangan mereka.
Dunia telah berubah.
Danang merasa asing.
Ia merasa seperti orang yang bangun dari koma panjang,
setelah tiga puluh tahun tertidur, dan mendapati bahwa semua yang ia kenal
telah berubah, telah hilang, telah mati.
"Ini sudah masuk desa, Pak," kata sopir taksi,
Budi namanya, lelaki muda berusia sekitar tiga puluh tahun, dengan wajah cerah
dan ramah. "Jalanannya sudah bagus, ya, Pak? Dulu kan masih tanah. Waktu
saya kecil, sering main ke sini. Lumpur di mana-mana. Hujan sedikit banjir.
Sekarang sudah aspal. Bagus."
"Iya. Sudah bagus," jawab Danang datar.
"Bapak dulu tinggal di sini? Lama tidak pulang, ya?
Wajah Bapak masih saya kenali. Mirip dengan foto-foto lama yang saya lihat di
rumah kepala desa. Dulu Bapak terkenal, ya? Cerita orang-orang, Bapak berani
melawan Surya, anak saudagar beras. Berani menampar dia di halaman
sekolah."
Danang terkejut. "Kau tahu tentang itu?"
"Semua orang di desa ini tahu, Pak. Cerita itu sudah
menjadi legenda. Diceritakan turun-temurun dari orang tua ke anak, dari anak ke
cucu. Bahwa dulu ada anak muda pemberani dari keluarga miskin yang berani
melawan anak saudagar kaya. Dan anak muda itu bernama Danang Wiratama."
Danang tersenyum pahit. "Legenda yang aneh. Aku tidak
merasa pemberani. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."
"Tapi Bapak berhasil, Pak. Surya sekarang bangkrut.
Bisnisnya hancur. Restorannya tutup. Rumahnya disita bank. Ia sekarang tinggal
di gubuk reot di pinggir sungai, persis di seberang rumah Bapak dulu. Katanya,
ia setiap hari minum tuak dan menangis-nangis sendiri, menyesali semua
perbuatannya."
Danang terdiam.
Ia tidak tahu.
Ia tidak pernah tahu.
Ia tidak pernah kembali.
Ia tidak pernah bertanya.
Ia tidak pernah peduli.
"Kirana? Apa kau tahu tentang Kirana?" tanya
Danang, suaranya bergetar.
Budi menghela napas. "Kirana Prameswari, Pak?
Perempuan yang dulu Bapak cintai? Yang Bapak kejar sampai ke kota? Yang
surat-suratnya ditahan oleh Arman?"
Danang terkejut lagi. "Kau tahu tentang itu
juga?"
"Semua orang tahu, Pak. Itu juga cerita yang terkenal.
Arman sekarang sakit-sakitan. Kena stroke. Lumpuh setengah badan. Tidak bisa
bicara. Ia tinggal sendiri di rumahnya yang reot, dirawat oleh keponakannya
yang kadang datang seminggu sekali. Katanya, ia sering nangis sambil
menyebut-nyebut nama Bapak dan nama Kirana. Menyesal. Tapi sudah
terlambat."
"Dan Kirana?"
Budi tersenyum. "Kirana masih di sini, Pak. Ia tidak
pernah pergi. Setelah kepergian Bapak dari kota, ia kembali ke desa. Ia menikah
dengan lelaki pilihan ibunya, seorang pegawai bank. Tapi pernikahannya tidak
bahagia. Suaminya meninggal lima tahun lalu, kecelakaan di tempat kerja.
Sekarang ia tinggal sendiri di rumah tua di ujung kebun rambutan. Kadang
anaknya yang perempuan datang menjenguk, tapi tidak sering. Kebanyakan ia
sendiri."
Danang menunduk.
Air matanya jatuh.
"Bawa aku ke sana, Budi. Ke rumah Kirana."
"Baik, Pak."
Bab 1
Perempuan
di Beranda Senja
Mobil berhenti di depan sebuah rumah kayu sederhana di
ujung kebun rambutan. Rumah itu tidak besar, tidak kecil, sederhana, seperti
kebanyakan rumah di desa. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang dicat putih,
catnya sudah mengelupas di beberapa tempat, tetapi masih terawat. Atapnya dari
seng gelombang, berwarna merah marun, dengan tambalan terpal di beberapa tempat
yang bocor. Halamannya ditumbuhi rumput yang tidak terlalu panjang, beberapa
pot bunga diletakkan di beranda, bunga melati, bunga mawar, bunga kamboja, yang
wanginya semerbak di sore hari.
Di halaman, seorang perempuan sedang duduk di kursi rotan
yang sudah tua, kursi yang sandarannya longgar, yang bantalnya pipis, yang
kakinya ditopang dengan potongan kayu agar tidak goyang. Ia memegang sebuah
buku di tangannya, buku novel tebal dengan sampul yang sudah lusuh. Di meja di
sampingnya, segelas teh hangat masih mengepulkan uap, dan sebuah radio tua
merek National, yang sama persis dengan radio di toko buku dulu, menyanyikan
lagu-lagu lawas dari tahun delapan puluhan.
"Chrisye," bisik Danang. "Lagu 'Anak
Sekolah'."
Perempuan itu menoleh.
Rambutnya sebagian memutih. Tidak seluruhnya, tetapi cukup
banyak untuk terlihat jelas di antara hitam yang tersisa. Putih itu
terkonsentrasi di pelipis dan di bagian depan kepalanya, seperti salju yang turun
di puncak gunung. Rambut yang dulu panjang dan hitam dan tergerai indah di
punggungnya, kini lebih pendek, hanya sebahu, diikat sederhana di belakang
dengan karet gelang hitam, tidak lagi merah.
Tubuhnya lebih kurus dari yang ia ingat. Dulu, ketika ia
masih muda, Kirana memiliki tubuh yang berisi, tidak gemuk tetapi tidak kurus,
dengan lekuk-lekuk yang membuat setiap pemuda di desa itu menoleh. Kini,
bahunya yang dulu tegap dan percaya diri, terlihat sedikit membungkuk, seperti
sedang memikul beban yang terlalu berat sendirian. Lengannya yang dulu lentik
dan mulus, kini keriput, dengan urat-urat biru yang terlihat di bawah kulit
tipis yang mulai mengendur.
Wajahnya diselimuti usia. Garis-garis halus di sekitar mata
dan mulut, yang dulu hanya muncul ketika ia tersenyum lebar, kini telah menjadi
kerutan permanen. Kulit di pipinya mulai kendur, tidak lagi kencang seperti
dulu. Ada bintik-bintik hitam kecil di pipi dan dahinya, tanda bahwa matahari
telah terlalu sering menyentuh kulitnya tanpa perlindungan.
Namun di balik semua itu, di balik kerutan dan kulit kendur
dan rambut memutih, masih ada sisa-sisa kecantikan yang tidak bisa dihilangkan
oleh waktu. Seperti bunga yang masih mekar meskipun kelopaknya mulai layu.
Seperti senja yang masih indah meskipun matahari hampir tenggelam.
Dan ketika perempuan itu menoleh, ketika matanya yang sayu
karena usia dan mungkin karena terlalu banyak menangis dalam diam, menangkap
sosok yang berdiri di depan pagar rumahnya, Danang tahu.
Beberapa orang tidak pernah benar-benar berubah di mata
hati seseorang. Wajah boleh berkerut. Rambut boleh memutih. Tubuh boleh
menyusut. Suara boleh menjadi parau. Tetapi mata tidak pernah berubah. Mata
tetap sama. Mata adalah jendela jiwa, kata orang. Dan jendela jiwa Kirana masih
sama seperti dulu, ketika ia masih kecil dan mengangkat jari kelingkingnya di
tepi sungai, ketika ia masih muda dan tersenyum di toko buku kecil di pinggir
kota.
Mata itu. Mata yang sama. Mata yang dulu membuat Danang
jatuh cinta pada pandangan pertama, meskipun saat itu ia tidak tahu apa
namanya. Mata yang dulu menjadi rumah baginya ketika seluruh dunia terasa asing
dan dingin. Mata yang dulu menangis ketika mereka berpisah, dan yang sekarang
mungkin akan menangis lagi karena mereka bertemu.
"Danang?" suara Kirana pelan, hampir tidak
percaya, seperti orang yang sedang bermimpi, seperti orang yang tidak yakin
apakah yang ia lihat nyata atau hanya khayalan.
Danang tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tetapi tidak
ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa kering, seperti ada yang
mengganjal di sana, seperti ada duri yang tidak bisa ditelan, tidak bisa
dimuntahkan. Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang diletakkan di
atasnya, seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya.
"Danang Wiratama," ulang Kirana, suaranya lebih
jelas sekarang, lebih yakin, tetapi masih bergetar. "Kau... kau
kembali?"
Danang mengangguk. Air matanya jatuh. "Aku kembali,
Kirana. Maaf... maaf aku terlambat."
Kirana berdiri. Tubuhnya yang tua bergerak dengan perlahan,
dengan hati-hati, seperti orang yang sudah hafal betapa rapuhnya
tulang-tulangnya. Lututnya berbunyi ketika ia berdiri. Tangannya yang keriput
dan gemetar memegang pagar kayu di depannya, mencari pegangan agar tidak jatuh.
"Kau terlambat sekali, Danang," katanya, suaranya
bergetar, air matanya jatuh. "Tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun kau
pergi. Tiga puluh tahun aku menunggu. Tiga puluh tahun aku berharap. Tiga puluh
tahun aku... aku..."
Ia tidak melanjutkan. Tangisnya pecah. Ia menangis di
hadapan Danang. Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Menangis
bukan karena ia lemah. Menangis karena ia rindu. Menangis karena ia kehilangan.
Menangis karena ia tidak tahu bahwa Danang akan kembali, bahwa Danang masih
hidup, bahwa Danang masih mengingatnya.
Danang membuka pagar. Ia berjalan mendekati Kirana.
Langkahnya pelan, berat, seperti orang yang kelelahan, seperti orang yang baru
saja selesai berperang melawan musuh yang tidak terlihat.
Ia berhenti di depan Kirana. Hanya satu lengan jaraknya. Ia
bisa melihat setiap kerutan di wajah Kirana, setiap uban di rambutnya, setiap
bintik hitam di kulitnya. Ia bisa melihat bahwa Kirana telah menua. Bahwa
Kirana telah menderita. Bahwa Kirana telah sendirian.
"Kirana," bisiknya, suaranya pelan, lembut, penuh
dengan penyesalan. "Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak pernah kembali.
Maafkan aku karena tidak pernah mencari tahu kebenaran. Maafkan aku karena
membiarkan kau menunggu. Maafkan aku karena..."
"Sudah, Danang. Tidak usah. Yang penting kau kembali.
Yang penting kau di sini. Yang penting..."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan lagi.
Seperti takut ini hanya mimpi.
Danang membalas pelukan itu.
Tangannya yang tua dan keriput, yang kasar karena kerja
keras, yang gemetar karena usia, melingkar di pinggang Kirana yang kurus.
Ia memejamkan mata.
Ia ingin waktu berhenti.
Ia ingin momen ini berlangsung selamanya.
Ia ingin Kirana tetap dalam pelukannya.
Ia ingin kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.
"Kirana, aku tidak akan pergi lagi," bisiknya di
telinga Kirana. "Aku janji. Aku akan tinggal di sini. Bersamamu. Sampai
mati."
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian
di dunia.
Senyum yang telah ia simpan di memorinya selama tiga puluh
tahun, seperti foto yang ia simpan di dompet, seperti pita biru yang ia simpan
di kotak kayu.
"Jangan janji dulu, Danang," katanya. "Kita
sudah tua. Kita tidak tahu berapa lama lagi kita hidup. Yang penting, hari ini,
di sini, kita bersama. Itu sudah cukup."
Danang mengangguk.
Ia melepaskan pelukannya.
Ia memandang Kirana.
Matanya yang basah, yang merah, yang penuh dengan
kebahagiaan dan kesedihan pada saat yang bersamaan.
"Kirana, aku membawa sesuatu untukmu."
Ia merogoh sakunya.
Mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.
Kotak yang sama.
Kotak yang ia buat sendiri dari potongan kayu bekas peti
kemasan.
Kotak yang ia amplas sampai halus, yang ia poles dengan
minyak kelapa agar mengkilap.
Kotak yang ia simpan di dasar kopernya selama tiga puluh
tahun.
Kotak yang tidak pernah ia buka, karena ia takut, takut
bahwa jika ia membuka kotak itu, ia akan hancur, ia akan teringat pada Kirana,
ia akan menangis.
Kirana menerima kotak itu. Tangannya gemetar. Ia membukanya
perlahan. Jari-jarinya yang keriput dan kaku membuka tutup kotak dengan
hati-hati, seperti sedang membuka peti harta karun yang terkubur selama
berabad-abad, seperti sedang membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar
sembuh.
Di dalam kotak itu, pita rambut biru.
Warnanya hampir putih.
Biru langit yang dulu cerah dan segar, kini telah memudar
menjadi putih keabu-abuan, seperti langit sebelum hujan, seperti langit yang
sedang murung. Kainnya rapuh, tipis seperti sayap capung, hampir hancur, hampir
tidak berbentuk. Tali karetnya sudah putus, sudah diganti dengan benang jahit
biasa yang warnanya tidak sama.
Tapi kenangannya masih utuh.
Masih segar.
Masih tajam.
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menahan lagi.
Air matanya jatuh.
Membasahi pipinya.
Membasahi kebaya putihnya.
Membasahi pita biru yang sudah hampir hancur.
"Kau masih menyimpannya, Danang?" bisiknya,
suaranya pecah, tangisnya keluar.
"Selamanya, Kirana. Aku akan menyimpannya
selamanya."
Mereka berpelukan lagi.
Berpelukan di beranda rumah tua.
Berpelukan di sore yang mulai gelap.
Berpelukan di bawah langit yang mulai berwarna jingga.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun terpisah.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun menunggu.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun menderita.
"Kirana, aku tidak akan pergi lagi," bisik
Danang.
"Aku tahu, Danang. Aku tahu."
Bab 2
Teh
Hangat dan Kenangan Dingin
Kirana mengajaknya masuk. Tidak dengan kata-kata, hanya
dengan anggukan kecil dan gerakan tangan yang mengarah ke dalam rumah. Sebuah
isyarat sederhana yang sudah cukup bagi Danang untuk mengerti. Setelah tiga
puluh tahun, setelah ribuan malam sendirian, setelah lautan air mata yang tak
terhitung, ia masih bisa membaca bahasa tubuh Kirana seperti membaca buku yang
sudah ia hafal di luar kepala.
Rumah itu sangat sederhana. Satu ruang tamu yang juga
berfungsi sebagai ruang keluarga, satu kamar tidur yang pintunya tertutup
rapat, satu dapur mungil di belakang yang terlihat dari ruang tamu melalui
sebuah jendela kecil tanpa kaca, hanya lubang persegi di dinding kayu yang
ditutup kain tipis. Tidak ada kemewahan. Tidak ada lampu gantung kristal
seperti di rumah ibunya dulu. Tidak ada sofa beludru merah atau meja kayu jati
dengan ukiran halus. Tidak ada pembantu rumah tangga yang berlalu-lalang dengan
wajah cemberut.
Hanya kesederhanaan yang jujur. Kesederhanaan yang tidak
perlu berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Kesederhanaan yang
mengatakan bahwa orang yang tinggal di sini tidak lagi peduli pada penampilan,
pada apa kata orang, pada status dan gengsi. Kesederhanaan yang mengatakan
bahwa ia telah melepaskan semua itu, bahwa ia telah menemukan bahwa kebahagiaan
tidak terletak pada barang-barang mewah, tetapi pada kedamaian hati.
Wangi melati dari pot bunga di jendela memenuhi seluruh
ruangan. Wangi yang lembut, menenangkan, seperti pelukan dari masa lalu yang
sudah lama tidak ia rasakan. Wangi yang mengingatkannya pada hari-hari ketika
ia masih kecil, ketika ibunya masih menanam melati di halaman rumah, ketika ia
masih percaya bahwa hidup itu sederhana dan bahagia itu mudah ditemukan. Wangi
yang sama yang dulu ia hirup setiap kali ia memasuki toko buku di Jalan
Veteran, ketika Kirana masih muda dan tersenyum padanya dengan lesung pipit di
pipi kiri.
Lemari kayu jati tua berdiri di sudut ruangan, dengan
ukiran sederhana yang sudah hampir hilang karena usia dan terlalu sering dilap.
Ukiran bunga melati, sama seperti wangi yang memenuhi ruangan. Mungkin Kirana
memang menyukai melati. Mungkin melati adalah bunga yang paling ia cintai.
Mungkin melati adalah bunga yang dulu sering ia petik ketika masih kecil,
ketika ia datang menemui Danang di tepi sungai dengan bunga liar di tangannya.
Foto-foto lama tergantung di dinding dengan paku yang sudah
berkarat. Foto hitam putih yang menguning karena usia, foto berwarna yang
warnanya sudah memudar menjadi merah muda dan biru pudar. Wajah-wajah yang
sudah tidak ia kenali. Mungkin orang tua Kirana. Mungkin saudara-saudaranya.
Mungkin teman-teman lamanya yang sudah meninggal atau pindah ke kota lain.
Di sudut ruangan, di atas meja kecil dari kayu mahoni yang
sudah aus, ada radio tua. Bukan radio tabung seperti dulu, tetapi radio
transistor merek National yang lebih modern, dengan kenop-kenop plastik putih
yang sudah menguning karena usia. Radio itu masih menyala, masih menyanyikan
lagu-lagu lawas dari tahun delapan puluhan, suaranya jernih, tidak lagi parau
seperti dulu. Mungkin Kirana sudah mengganti spekernya, atau mungkin teknisi di
desa itu sudah pandai memperbaiki radio tua.
"Danang, duduklah. Jangan hanya berdiri di sana
seperti patung. Kau membuat aku gugup." Kirana menunjuk ke arah kursi
rotan di samping jendela, kursi yang sama yang tadi ia duduki di beranda.
"Kursinya memang sudah tua. Sandarannya longgar. Bantalnya pipis. Tapi
masih nyaman. Aku sudah terbiasa."
Danang duduk di kursi rotan itu. Kursi itu berderit pelan
di bawah berat badannya, seperti sedang mengeluh karena tidak terbiasa menahan
beban seberat ini. Bantal duduknya yang pipis membuat ia duduk lebih rendah
dari yang ia inginkan, tetapi ia tidak peduli. Ia sudah terlalu tua untuk
peduli pada kenyamanan. Yang ia pedulikan hanyalah Kirana. Yang ia pedulikan
hanyalah berada di dekat Kirana. Yang ia pedulikan hanyalah menghabiskan sisa
hidupnya di samping Kirana.
"Rumahmu masih suka sunyi, Kirana," katanya.
Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan, berhenti di setiap detail kecil,
mencoba memahami kehidupan seperti apa yang telah dijalani Kirana selama tiga
puluh tahun tanpa dirinya. "Seperti dulu. Seperti rumah ibumu. Besar, tapi
sunyi. Indah, tapi dingin."
Kirana tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi secerah
dulu, tetapi tetap memiliki kehangatan yang sama. Senyum yang mengatakan bahwa
ia telah berdamai dengan kesunyian, bahwa ia telah belajar bahwa kesunyian
tidak selalu buruk, bahwa kesunyian bisa menjadi teman jika kita mau
menerimanya.
"Sunyi ternyata ikut menua, Danang," katanya
sambil berjalan ke dapur, mengambil termos tua dari rak kayu di samping pintu.
Termos warna hijau army dengan bintik-bintik karat di beberapa tempat, termos
yang sudah berusia setidaknya dua puluh tahun, tetapi masih berfungsi dengan
baik. "Dulu sunyi terasa menyakitkan. Sunyi membuatku ingin berteriak.
Sunyi membuatku ingin lari ke mana saja, asal tidak sendirian. Tapi sekarang,
sunyi terasa seperti teman lama yang tidak perlu banyak bicara. Sunyi terasa
seperti selimut hangat di malam yang dingin. Sunyi terasa seperti..."
"Seperti aku?" potong Danang, setengah bercanda,
setengah serius.
Kirana tertawa. Tawa kecil yang terdengar seperti gemericik
air di sungai, seperti suara daun-daun yang bergesekan ditiup angin. "Kau
masih suka bergurau, Danang. Tiga puluh tahun tidak mengubahmu."
"Tiga puluh tahun mengubah segalanya, Kirana. Rambutku
memutih. Punggungku membungkuk. Lututku sakit setiap pagi. Aku tidak bisa makan
pedas seperti dulu. Aku tidak bisa begadang seperti dulu. Aku tidak
bisa..."
"Tapi hatimu tidak berubah, Danang. Aku bisa
melihatnya dari matamu. Matamu masih sama seperti dulu. Masih gelap. Masih
dalam. Masih menyimpan kesedihan yang tidak pernah selesai. Masih... masih
mencintaiku."
Danang terdiam.
Ia tidak bisa membantah.
Karena itu benar.
Ia tidak pernah berhenti mencintai Kirana.
Tidak selama tiga puluh tahun.
Tidak selama ia bekerja di percetakan.
Tidak selama ia menjadi kuli bangunan di Jakarta.
Tidak selama ia tidur di emperan toko ketika kehabisan
uang.
Tidak selama ia sakit dan tidak punya siapa-siapa yang
merawatnya.
Tidak selama ia sendirian di malam hari, memandang
langit-langit yang retak, memegang pita biru di tangannya, dan berbisik,
"Kirana, aku merindukanmu."
"Kau benar, Kirana," katanya akhirnya, suaranya
pelan, lembut, penuh dengan penyesalan. "Hatiku tidak berubah. Aku masih
mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Bahkan ketika aku mencoba
melupakanmu. Bahkan ketika aku mencoba mencintai perempuan lain. Bahkan ketika
aku menikah. Bahkan ketika aku memiliki anak. Hatiku tetap milikmu.
Selamanya."
Kirana menuangkan teh hangat dari termos tua ke dalam dua
cangkir keramik. Cangkir yang sudah retak di pinggirnya, dengan pola bunga yang
sudah hampir hilang karena sering dicuci. Cangkir yang mungkin sudah berusia
puluhan tahun, yang mungkin merupakan warisan dari ibunya, atau dari neneknya,
atau dari seseorang yang tidak pernah ia kenal.
Cangkir pertama berwarna putih dengan pinggiran biru, pola bunga
mawar merah yang sudah pudar. Cangkir kedua berwarna krem dengan pinggiran
emas, pola bunga melati putih yang masih terlihat jelas, mungkin karena lebih
sering digunakan, mungkin karena lebih dicintai.
"Untukmu, Danang. Teh jahe dengan madu. Hangat. Manis.
Seperti yang kau suka." Kirana menyerahkan cangkir yang berwarna krem
dengan pinggiran emas, cangkir dengan pola bunga melati putih.
Danang terkejut. "Kau masih ingat? Bahwa aku suka teh
jahe dengan madu?"
"Kau lupa, Danang? Aku perempuan yang selalu
membawakanmu pisang goreng di tepi sungai. Aku perempuan yang selalu
membawakanmu obat ketika ibumu sakit. Aku perempuan yang selalu membuatkanmu
teh jahe dengan madu ketika kau demam. Aku tidak mungkin lupa. Tidak akan
pernah."
Tangannya nyaris bersentuhan ketika Kirana menyerahkan
cangkir itu. Jari-jari Kirana yang keriput dan sedikit bengkok karena rematik,
menyentuh ujung jari Danang yang kasar dan kapalan. Sentuhan kecil. Hanya
sepersekian detik. Tetapi cukup untuk membuat listrik mengalir di antara mereka,
seperti ketika mereka masih muda dan pertama kali menyadari bahwa mereka saling
mencintai.
Keduanya sama-sama berhenti sesaat. Mata mereka bertemu.
Jari-jari mereka masih berdekatan, hampir menyentuh, tetapi tidak. Ada jarak
yang disengaja, jarak yang lahir dari ketidakpastian, dari rasa takut, dari
pertanyaan apakah mereka masih berhak untuk saling menyentuh setelah semua yang
terjadi, setelah tiga puluh tahun terpisah, setelah tiga puluh tahun luka yang
tidak pernah sembuh.
"Kirana," panggil Danang pelan.
"Ya?"
"Apa kau masih... apa kau masih mengingat hari itu?
Hari ketika aku datang ke rumahmu di tengah hujan? Hari ketika kau membanting
pintu di depanku? Hari ketika kau mengatakan bahwa kita hanya kenangan?"
Kirana menunduk.
Tangannya yang memegang cangkir teh mulai gemetar.
Teh di dalam cangkir itu bergoyang kecil, hampir tumpah,
tetapi ia pegang erat-erat.
"Aku mengingatnya, Danang. Setiap hari. Setiap malam.
Setiap kali hujan turun. Aku mengingat bagaimana kau berdiri di depan pintu,
basah kuyup, menggigil kedinginan. Aku mengingat bagaimana kau mengetuk pintu
berulang-ulang, memanggil namaku, memintaku untuk mendengarkan. Aku mengingat
bagaimana aku menangis di kamar, memegang surat itu, meyakini bahwa kau yang
menulisnya. Aku mengingat bagaimana aku membiarkan kau pergi, membiarkan kau
basah di tengah hujan, membiarkan kau... membiarkan kau hancur."
"Aku tidak menyalahkanmu, Kirana. Surat itu sangat
meyakinkan. Tulisannya persis seperti tulisanku. Aku sendiri hampir percaya
bahwa aku yang menulisnya, padahal aku tahu aku tidak pernah."
"Tapi kau tahu siapa yang menulisnya, Danang. Kau
sudah tahu sejak lama. Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau tidak membela
diri? Kenapa kau..."
"Karena aku tidak punya bukti, Kirana. Aku hanya
curiga. Aku hanya merasa. Tapi curiga dan perasaan tidak cukup untuk meyakinkan
seseorang yang sudah terluka. Aku butuh bukti. Dan aku butuh waktu tiga puluh
tahun untuk mendapatkannya."
Kirana mengangkat kepalanya. Matanya membesar. "Kau
punya bukti? Setelah tiga puluh tahun?"
Danang mengangguk. Ia meletakkan cangkir tehnya di meja,
merogoh saku jaketnya yang sudah lusuh, mengeluarkan sebuah amplop coklat tua.
Amplop yang sama. Amplop yang dulu ia temukan di kamar Arman, setelah Arman
meninggal karena stroke dua tahun lalu. Amplop yang berisi surat-surat palsu,
surat-surat yang ditulis Arman untuk menghancurkan cintanya.
"Ini, Kirana. Aku menemukannya di kamar Arman setelah
ia meninggal. Keponakannya yang membersihkan rumah, menemukan amplop ini di
bawah kasur, lalu memberikannya padaku. Katanya, 'Om Arman selalu memegang
amplop ini sebelum tidur. Kadang ia menangis sambil memeluknya. Mungkin ini
penting untuk Bapak.'"
Kirana mengambil amplop itu. Tangannya gemetar hebat. Ia
membukanya perlahan, mengeluarkan isinya. Puluhan surat. Surat-surat palsu.
Surat-surat yang ditulis Arman dengan meniru tulisan Danang. Surat-surat yang
dikirimkan padanya setiap minggu selama berbulan-bulan, sebelum surat terakhir
yang menghancurkan segalanya.
"Tuhan..." bisik Kirana, suaranya pecah, air
matanya jatuh. "Ini... ini semua surat-surat itu? Semuanya?"
"Semuanya, Kirana. Arman menyimpannya. Sebagai
kenang-kenangan, mungkin. Atau sebagai pengingat akan dosanya. Atau sebagai
sesuatu yang ia tidak bisa buang meskipun ia tahu itu salah. Aku tidak tahu.
Yang aku tahu, ia menyesal. Ia menyesal setiap hari. Ia menyesal sampai
mati."
"Aku tidak percaya... selama ini... selama tiga puluh
tahun... aku menyalahkanmu... aku membencimu... aku mengutukmu... padahal kau
tidak bersalah... padahal kau..."
Kirana tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di hadapan Danang.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis bukan karena ia lemah.
Menangis karena ia tahu bahwa ia telah salah.
Menangis karena ia tahu bahwa ia telah membuang tiga puluh
tahun kebahagiaannya karena surat palsu.
Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak bisa mengembalikan
waktu.
"Maafkan aku, Danang," bisiknya di antara isak
tangisnya. "Maafkan aku karena tidak pernah mendengarkanmu. Maafkan aku
karena membanting pintu di depanmu. Maafkan aku karena membiarkan kau pergi.
Maafkan aku karena..."
"Tidak usah, Kirana," potong Danang, suaranya
lembut, penuh dengan pengertian. "Aku juga salah. Aku seharusnya tidak
pergi. Aku seharusnya tidak menyerah. Aku seharusnya berjuang lebih keras. Aku
seharusnya..."
"Kita berdua salah, Danang. Kita berdua bodoh. Kita
berdua membiarkan orang lain menghancurkan kebahagiaan kita."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara radio tua yang terdengar.
Radio yang masih menyanyikan lagu-lagu lawas.
Lagu tentang cinta yang hilang.
Lagu tentang waktu yang tidak bisa kembali.
Lagu tentang penyesalan yang tidak pernah berakhir.
"Kirana," panggil Danang setelah beberapa lama.
"Ya?"
"Apa kau masih... apa kau masih mau menerimaku?
Setelah semua yang terjadi? Setelah tiga puluh tahun? Setelah aku pergi?
Setelah aku menikah? Setelah aku memiliki anak? Setelah aku..."
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian
di dunia.
Senyum yang telah ia simpan di memorinya selama tiga puluh
tahun.
"Kau masih bertanya, Danang? Setelah kau datang
kembali? Setelah kau membawa pita biru itu? Setelah kau membawa bukti bahwa kau
tidak bersalah? Apa kau pikir aku akan mengusirmu?"
"Aku tidak tahu, Kirana. Aku takut. Aku takut kau akan
mengatakan bahwa sudah terlambat. Aku takut kau akan mengatakan bahwa kau sudah
tidak mencintaiku lagi. Aku takut..."
"Sudahlah, Danang. Jangan banyak bicara. Minum tehmu.
Nanti dingin."
Danang tersenyum.
Ia mengambil cangkir tehnya.
Menyesap perlahan.
Teh jahe dengan madu.
Hangat.
Manis.
Seperti pelukan Kirana.
Seperti rumah.
Seperti pulang.
Bab 3
Luka
yang Tidak Pernah Mati
Menjelang malam, ketika langit di luar jendela sudah
berwarna gelap pekat dan bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit
yang bersih tanpa polusi, mereka memutuskan untuk duduk di beranda lagi. Lampu
minyak sudah tidak ada. Yang ada adalah lampu listrik 15 watt yang dipasang di
teras, dengan bohlam bulat yang sudah menguning karena usia, memberikan cahaya
yang redup tetapi cukup untuk menerangi wajah mereka berdua.
Kirana menyalakan sebuah lentera kecil di atas meja kayu di
antara mereka. Lentera dari bambu dan kertas minyak, buatan tangan pengrajin
lokal, dengan lilin di dalamnya yang menyala terang, bergoyang-goyang setiap
kali angin malam berhembus. "Ini lebih romantis, Danang. Lampu listrik
terlalu terang. Terlalu dingin. Lentera ini... hangat. Seperti kita dulu."
Danang tersenyum. "Kau masih suka hal-hal romantis, Kirana.
Tidak berubah."
"Kita tidak berubah, Danang. Hanya tubuh kita yang
menua. Hati kita masih sama. Masih muda. Masih berdebar ketika melihat orang
yang kita cintai. Masih sakit ketika ditinggalkan. Masih berharap ketika
sendirian."
Jangkrik mulai bernyanyi di semak-semak di sekitar rumah.
Suara mereka bersahutan, menciptakan irama yang tenang, yang sudah tidak
berubah selama ribuan tahun, sejak manusia pertama kali mendengar suara
jangkrik di malam hari. Suara yang mengingatkan Danang pada masa kecilnya, pada
malam-malam ketika ia tidur di tikar pandan, mendengar suara yang sama, dan
merasa bahwa dunia ini luas dan penuh misteri.
Sesekali terdengar suara katak dari rawa di kejauhan, suara
yang lebih berat, seperti bass dalam orkestra alam. Kadang terdengar suara
burung hantu dari pohon waru di tepi sungai, suara yang misterius, yang membuat
orang yang mendengarnya merinding, yang konon pertanda akan ada kematian atau
kelahiran atau sesuatu yang besar akan terjadi.
Sungai di kejauhan memantulkan cahaya bulan yang hampir
purnama, hanya sedikit yang kurang, memancarkan cahaya keperakan yang lembut di
permukaan air yang tenang. Airnya tidak lagi keruh seperti dulu, mungkin karena
tidak ada lagi pabrik atau tambang di hulu, atau mungkin karena desa ini sudah tidak
sepadat dulu. Banyak anak muda yang pergi merantau ke kota, meninggalkan desa
ini sunyi, hanya orang-orang tua yang tinggal.
Angin malam berhembus pelan, membawa dingin yang menusuk
tulang. Danang menggigil sedikit, tetapi tidak mau masuk. Ia tidak mau
melewatkan satu menit pun dari pertemuan ini. Ia tidak tahu kapan ia akan bisa
duduk seperti ini lagi dengan Kirana. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia akan
hidup. Ia tidak tahu apakah besok pagi ia masih bisa bangun dan melihat wajah
Kirana.
"Danang, kau kedinginan," kata Kirana, melihat
tubuh Danang yang menggigil. "Masuklah. Aku ambilkan selimut."
"Tidak usah, Kirana. Aku tidak dingin. Aku hanya...
aku hanya..."
"Kau hanya apa?"
"Aku hanya takut. Takut jika aku masuk ke dalam, jika
aku meninggalkan beranda ini, jika aku memejamkan mata, kau akan menghilang.
Seperti dulu. Seperti di stasiun. Seperti di toko buku. Seperti di rumahmu. Kau
akan pergi, dan aku tidak akan pernah melihatmu lagi."
Kirana meraih tangan Danang.
Tangannya yang keriput dan sedikit bengkok karena rematik,
menggenggam tangan Danang yang kasar dan kapalan.
"Aku tidak akan pergi, Danang. Aku sudah terlalu tua
untuk pergi. Aku sudah terlalu lelah untuk lari. Aku sudah terlalu capek untuk
memulai hidup baru di tempat lain. Ini rumahku. Ini desaku. Ini tempat aku
dilahirkan, dibesarkan, menikah, menjadi janda, dan akan mati. Aku tidak akan
ke mana-mana."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua terdiam.
Mata mereka bertemu.
Mata yang tua.
Mata yang lelah.
Mata yang penuh dengan luka.
Tapi juga mata yang penuh dengan cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun.
Cinta yang sekarang, di senja hidup mereka, akhirnya
bersatu lagi.
"Kirana," panggil Danang setelah beberapa lama.
"Ya?"
"Aku ingin bercerita tentang sesuatu. Tentang tiga
puluh tahun yang hilang. Tentang apa yang terjadi padaku setelah aku
meninggalkan kota. Tentang apa yang aku alami. Tentang apa yang aku rasakan.
Tentang..."
"Tentang pernikahanmu? Tentang anakmu? Tentang
istrimu?"
Danang terkejut. "Kau tahu?"
"Aku tahu, Danang. Aku selalu tahu. Aku memiliki
informan di Jakarta. Teman lama yang bekerja di perusahaan yang sama dengan
istrimu. Dia memberi tahu aku tentang pernikahanmu, tentang kelahiran anakmu,
tentang perceraianmu, tentang... tentang semuanya."
"Kenapa kau tidak menghubungiku? Kenapa kau tidak
menulis surat? Kenapa kau..."
"Karena kau sudah menikah, Danang. Kau sudah memiliki
istri. Kau sudah memiliki anak. Kau sudah memiliki kehidupan baru. Aku tidak
ingin mengganggu. Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga. Aku tidak
ingin..."
"Tapi aku tidak pernah bahagia, Kirana. Aku menikah
karena aku sendirian. Aku menikah karena aku butuh teman. Aku menikah karena
aku butuh seseorang yang mengingatkanku bahwa aku masih hidup. Aku tidak pernah
mencintai istriku. Aku mencintaimu. Hanya kau. Selamanya."
Kirana menunduk.
Air matanya jatuh.
"Maafkan aku, Danang. Aku juga menikah. Aku juga
memiliki suami. Aku juga memiliki anak. Aku juga... aku juga tidak pernah
bahagia. Aku menikah karena ibuku memaksaku. Aku menikah karena aku putus asa.
Aku menikah karena aku berpikir kau tidak akan pernah kembali. Aku menikah
karena..."
"Karena kau mengira aku yang menulis surat itu. Karena
kau mengira aku yang meninggalkanmu. Karena kau mengira aku yang tidak menginginkanmu."
Kirana mengangguk.
"Ya. Karena itu. Aku membencimu, Danang. Selama
bertahun-tahun, aku membencimu. Aku mengutukmu setiap malam. Aku berdoa agar
kau menderita seperti aku menderita. Aku berdoa agar kau merasakan apa yang aku
rasakan. Aku berdoa agar kau..."
"Tapi sekarang?"
Kirana mengangkat kepalanya.
Matanya bertemu dengan mata Danang.
"Aku tidak membencimu lagi, Danang. Aku tidak bisa.
Aku sudah terlalu tua untuk membenci. Aku sudah terlalu lelah untuk marah. Aku
sudah terlalu capek untuk menyimpan dendam. Yang tersisa hanyalah... hanyalah
cinta. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang bertahan selama tiga puluh
tahun. Cinta yang sekarang, di senja hidup kita, akhirnya kita akui."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di beranda rumah tua.
Berpelukan di bawah cahaya lentera yang redup.
Berpelukan di bawah langit yang penuh bintang.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun saling membenci.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun saling merindukan.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun saling mencintai dalam
diam.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki.
Langkah kaki yang berat.
Langkah kaki yang tidak stabil.
Langkah kaki yang disertai dengan suara tongkat yang
mengetuk-ngetuk tanah.
Kirana melepaskan pelukannya.
Ia memandang ke arah suara.
Matanya menyipit.
"Siapa itu?" bisiknya.
Danang juga memandang ke arah yang sama.
Di kegelapan malam, di bawah cahaya bulan yang redup,
seorang lelaki tua muncul.
Tubuhnya kurus, hampir seperti kerangka.
Wajahnya penuh kerutan.
Rambutnya putih semua, tidak ada yang hitam.
Matanya cekung, sayu, seperti orang yang sudah kehilangan
semangat hidup.
Ia berjalan dengan susah payah, ditopang oleh tongkat kayu
yang sudah halus karena sering dipegang.
Setiap langkah terasa berat, seperti sedang berjalan di
lumpur yang dalam.
Setiap napas terdengar tersengal-sengal, seperti orang yang
sedang sakit parah.
"Surya?" bisik Danang, tidak percaya.
Lelaki itu berhenti di depan pagar.
Ia memandang Danang dan Kirana.
Matanya yang cekung dan sayu, tiba-tiba berkaca-kaca.
"Danang... Kirana... maafkan aku... maafkan
aku..." suaranya parau, hampir tidak terdengar, seperti suara yang keluar
dari dasar sumur yang paling dalam.
"Surya, apa yang kau lakukan di sini? Sudah malam. Kau
harus istirahat. Tubuhmu tidak kuat." Kirana berdiri, berjalan mendekati
pagar, membukanya.
Surya masuk dengan susah payah.
Ia berdiri di halaman, di depan Danang.
Tubuhnya gemetar.
Tangannya yang memegang tongkat gemetar.
Bibirnya gemetar.
"Aku tidak bisa tidur, Kirana. Aku tidak bisa tidur
selama bertahun-tahun. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat Danang. Aku
melihat kau. Aku melihat Arman. Aku melihat apa yang telah aku lakukan. Aku
melihat kehancuran yang aku sebabkan. Aku tidak bisa..."
"Sudah, Surya. Duduklah. Kau tidak kuat berdiri."
Danang berdiri, menyerahkan kursinya pada Surya.
Surya duduk dengan susah payah.
Ia memandang Danang.
Matanya berkaca-kaca.
"Danang, aku datang ke sini malam ini karena aku tidak
tahu apakah aku masih punya waktu besok. Dokter bilang, jantungku lemah. Aku
bisa mati kapan saja. Aku tidak ingin mati tanpa meminta maaf padamu. Aku tidak
ingin mati tanpa mengakui semua kesalahanku. Aku tidak ingin..."
"Kau tidak perlu meminta maaf, Surya. Itu sudah lama.
Aku sudah memaafkanmu."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri, Danang. Aku
belum bisa tidur nyenyak sejak kebakaran itu. Aku belum bisa tersenyum tulus
sejak aku menuduhmu. Aku belum bisa..."
"Itu bukan salahmu, Surya. Kau hanya anak kecil. Kau
hanya mengikuti apa kata ayahmu. Kau hanya..."
"Tapi aku yang menginjak perahu daunmu. Aku yang
memanggilmu anak haram. Aku yang menyuruh ayahku menuduhmu. Aku yang menyuruh
Mandor Jalil membakar gudang. Aku yang..."
Danang terkejut.
"Apa? Kau yang menyuruh Mandor Jalil membakar
gudang?"
Surya menunduk.
Air matanya jatuh.
"Ya. Aku yang menyuruhnya. Aku ingin kau diusir dari
desa. Aku ingin kau menderita. Aku ingin kau kehilangan segalanya. Aku tidak
tahu bahwa api akan membesar. Aku tidak tahu bahwa gudang akan hangus. Aku
tidak tahu bahwa ayahku akan bangkrut. Aku tidak tahu..."
"Kau hanya anak kecil, Surya. Kau tidak tahu apa yang
kau lakukan."
"Tapi aku sudah dewasa sekarang, Danang. Aku tahu apa
yang aku lakukan. Dan aku menyesal. Aku sangat menyesal. Setiap hari. Setiap
malam. Selama tiga puluh tahun."
Kirana yang mendengar percakapan itu, diam-diam menangis.
Ia tidak tahu.
Ia tidak pernah tahu.
Ia tidak pernah tahu bahwa Surya yang berada di balik semua
ini.
Ia tidak pernah tahu bahwa kebakaran itu direncanakan.
Ia tidak pernah tahu bahwa tuduhan itu adalah kebohongan.
Ia tidak pernah tahu bahwa Danang tidak bersalah.
"Kenapa kau tidak pernah bilang, Surya?"
tanyanya, suaranya bergetar.
"Karena aku takut, Kirana. Aku takut pada ayahku. Aku
takut pada Mandor Jalil. Aku takut pada seluruh desa. Aku takut pada... pada
diriku sendiri."
"Tapi sekarang?"
"Sekarang aku tidak takut lagi. Aku sudah tua. Aku
sudah sakit. Aku sudah tidak punya apa-apa. Yang tersisa hanyalah penyesalan.
Dan aku tidak ingin membawa penyesalan ini ke liang kubur."
Surya berdiri.
Ia berjalan mendekati Danang.
Ia berlutut di depannya.
"Maafkan aku, Danang. Maafkan aku untuk semuanya.
Untuk perahu daun. Untuk kata-kata 'anak haram'. Untuk tuduhan. Untuk
kebakaran. Untuk... untuk semua."
Danang memegang pundak Surya.
Ia menatap mata lelaki tua itu.
Mata yang penuh dengan penyesalan.
Mata yang penuh dengan air mata.
Mata yang penuh dengan permohonan maaf.
"Aku memaafkanmu, Surya. Aku sudah memaafkanmu sejak
lama. Sejak aku meninggalkan desa ini. Sejak aku memutuskan untuk memulai hidup
baru. Aku tidak ingin membawa kebencian. Aku tidak ingin membawa dendam. Aku
hanya ingin... aku hanya ingin damai."
Surya menangis.
Ia menangis di hadapan Danang.
Menangis seperti anak kecil.
Menangis karena ia merasa lega.
Menangis karena ia merasa diampuni.
Menangis karena ia tidak sendirian.
"Terima kasih, Danang. Terima kasih. Aku tidak akan
melupakan kebaikanmu. Aku akan berdoa untukmu setiap hari. Aku akan..."
"Sudah, Surya. Pulanglah. Istirahat. Kau perlu
tidur."
Surya mengangguk.
Ia berdiri dengan susah payah.
Kirana membantunya berjalan ke pagar.
"Surya, kau tidak sendiri. Aku dan Danang akan
menjagamu. Kita tetangga. Kita harus saling membantu."
Surya tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
"Terima kasih, Kirana. Terima kasih, Danang. Kalian
baik. Kalian terlalu baik untuk orang seperti aku."
Ia pergi.
Berjalan perlahan.
Menghilang di balik kegelapan malam.
Di balik pohon-pohon rambutan.
Di balik suara jangkrik dan katak.
Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan di beranda.
"Danang," panggil Kirana setelah Surya pergi.
"Ya?"
"Apa kau benar-benar memaafkannya? Setelah semua yang
ia lakukan? Setelah semua penderitaan yang ia sebabkan?"
Danang menghela napas.
"Aku memaafkannya, Kirana. Bukan karena ia pantas
dimaafkan. Tapi karena aku butuh kedamaian. Aku tidak ingin membawa amarah
sampai mati. Aku tidak ingin..."
"Kau baik, Danang. Kau terlalu baik untuk dunia
ini."
"Aku tidak baik, Kirana. Aku hanya lelah. Lelah marah.
Lelah benci. Lelah dendam. Lelah... lelah menjadi korban."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
"Kita semua lelah, Danang. Tapi kita masih di sini.
Kita masih hidup. Kita masih punya satu sama lain. Itu yang terpenting."
"Iya, Kirana. Itu yang terpenting."
Mereka berpelukan di beranda rumah tua.
Berpelukan di bawah cahaya lentera yang redup.
Berpelukan di bawah langit yang penuh bintang.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun terpisah.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun menderita.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun menunggu.
Dan untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa semua
penderitaan itu sepadan.
Karena pada akhirnya, mereka bertemu lagi.
Karena pada akhirnya, mereka bersama lagi.
Karena pada akhirnya, cinta mereka menang.
Bab 4
Surat
yang Tidak Pernah Sampai
Sebelum Danang pulang ke rumah lamanya malam itu, ketika
bintang-bintang sudah semakin banyak di langit dan udara semakin dingin menusuk
tulang, ketika jangkrik mulai mengubah irama nyanyian mereka menjadi lebih
pelan seolah tahu bahwa malam akan segera berakhir, Kirana masuk ke kamarnya.
Ia pergi dengan langkah pelan, tertatih-tatih karena lututnya yang sakit,
meninggalkan Danang sendirian di beranda.
Danang mendengar suara pintu kamar yang dibuka dengan bunyi
derit kayu yang sudah tua, suara langkah kaki yang bergerak di dalam ruangan
yang sempit, suara lemari kayu jati yang dibuka dengan bunyi engsel yang
berkarat, suara sesuatu yang diambil dari dalam lemari, lalu suara langkah kaki
yang kembali dengan berat karena membawa sesuatu.
Kirana keluar dari kamar dengan membawa sebuah kotak kayu
besar. Kotak itu tidak sederhana seperti kotak tempat Danang menyimpan pita
biru. Kotak ini besar, seukuran koper kecil, terbuat dari kayu mahoni dengan
ukiran bunga melati yang rumit di seluruh permukaannya. Ukiran yang membutuhkan
waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan oleh pengrajin yang sabar dan teliti.
Ukiran yang sudah aus karena sering disentuh, karena sering dibuka dan ditutup,
karena sering dielus-elus oleh jari-jari yang rindu.
Gembok kuningan kecil menggantung di depan, tetapi tidak
terkunci. Mungkin sudah lama tidak dikunci. Mungkin tidak ada lagi yang perlu
disembunyikan. Mungkin semua rahasia sudah terlalu berat untuk disimpan
sendirian.
Ia meletakkan kotak itu di meja di antara mereka. Meja kayu
kecil yang kakinya tidak rata, yang sudah berusia puluhan tahun, yang
permukaannya penuh dengan goresan dan noda lilin. Tangannya gemetar ketika
meletakkan kotak itu, seperti sedang meletakkan sesuatu yang sangat berharga,
seperti sedang membuka bagian paling pribadi dari hidupnya, seperti sedang
mengakui semua yang selama ini ia sembunyikan.
"Aku menyimpan ini, Danang," katanya. Suaranya
pelan, hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari alam lain, seperti suara
dari dunia yang berbeda.
Danang menatap kotak itu. Dadanya terasa sesak. Ia sudah
bisa menebak apa isinya. Ia sudah tahu sejak Kirana masuk ke kamar dan
mengambil kotak itu. Ia sudah tahu sejak Kirana mengatakan "Aku menyimpan
ini". Tapi ia tidak mau percaya. Ia takut. Takut bahwa jika tebakannya
benar, ia akan hancur. Takut bahwa jika tebakannya salah, ia akan kecewa.
"Apa itu, Kirana?" tanyanya, suaranya bergetar.
Kirana tidak menjawab. Ia hanya membuka kotak itu perlahan.
Jari-jarinya yang keriput dan sedikit bengkok karena rematik, membuka tutup
kotak dengan hati-hati, seperti sedang membuka peti mati yang terkubur selama
berabad-abad, seperti sedang membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar
sembuh.
Di dalam kotak itu, ratusan surat.
Bukan puluhan.
Ratusan.
Kertas-kertas yang sudah menguning karena usia, rapuh di
tepi-tepinya, hampir hancur jika disentuh terlalu keras. Beberapa surat dilipat
dengan rapi, berbentuk persegi panjang sempurna, dengan tepi yang lurus dan
sudut yang tajam. Beberapa lain terlihat kusut, seperti pernah diremas dalam
emosi, seperti pernah dibasahi air mata, kemudian diluruskan kembali dan
disimpan dengan hati-hati.
Beberapa surat masih dalam amplop coklat, dengan tulisan
alamat yang sudah pudar, dengan perangko yang sudah tidak berwarna. Beberapa
surat sudah lepas dari amplopnya, hanya kertas yang terlipat, dengan tulisan
tangan yang masih jelas meskipun kertasnya sudah tua.
Tulisan tangan Kirana.
Rapi.
Lembut.
Penuh hati-hati.
Setiap huruf dibentuk dengan teliti, dengan
lengkungan-lengkungan kecil di ujung huruf yang membuat tulisannya terlihat
feminin dan elegan. Setiap kata ditulis dengan tekanan yang sama, tidak ada
yang terlalu tebal, tidak ada yang terlalu tipis. Setiap kalimat disusun dengan
struktur yang sempurna, seperti seorang sastrawan yang sedang menulis puisi.
Dan di atas semua surat itu, di atas tumpukan kertas yang
menguning, tergeletak sebuah pita rambut.
Pita merah.
Pita yang sama.
Pita yang dulu ia kenakan di rambutnya ketika masih kecil,
ketika ia berlari di tepi sungai dengan bunga liar di tangan, ketika ia pertama
kali bertemu Danang.
Pita yang warna merahnya telah memudar menjadi merah muda
pucat, seperti warna langit di pagi hari sebelum matahari terbit, seperti warna
bunga yang mulai layu.
Pita yang kainnya mulai rapuh, tipis seperti sayap capung,
dengan serat-serat yang mulai terlepas di beberapa tempat.
Pita yang menjadi saksi bisu semua surat yang tidak pernah
sampai.
Danang menatap Kirana.
Matanya basah.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tetapi belum
jatuh.
Ia tidak ingin menangis.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan
menangis di depan Kirana.
Ia sudah berjanji bahwa ia akan kuat, bahwa ia tidak akan
menunjukkan kelemahan, bahwa ia akan menjadi sandaran bagi Kirana di usia tua
mereka.
Tapi air mata itu tetap menggenang.
Tetap mendesak keluar.
"Apa ini, Kirana?" tanyanya, suaranya serak,
hampir patah di tengah kalimat.
Kirana menunduk. Tangannya yang berada di pangkuan
menggenggam erat ujung kebayanya, memilin-milin kain itu dengan gerakan yang
sama persis dengan kebiasaan Danang ketika kecil. Gerakan yang diturunkan dari
ibu ke anak, dari Kirana ke Danang, tanpa ada yang mengajarkan, tanpa ada yang
menyadari.
"Surat-surat yang kutulis untukmu, Danang,"
bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar, seperti bisikan angin malam yang
berhembus di antara dedaunan. "Setiap minggu. Selama bertahun-tahun.
Setelah aku pindah ke kota. Setelah kita berpisah di desa. Setelah... setelah
surat palsu itu."
Danang membeku.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu.
Tangannya yang hendak meraih surat di kotak, berhenti di
udara, tidak bergerak, seperti patung, seperti orang yang sedang membeku.
Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang
diletakkan di atasnya, seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya.
Napasnya terasa berat, seperti orang yang baru saja berlari
jauh, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan emosi yang
meledak-ledak.
"Aku tidak pernah menerima satu pun, Kirana,"
katanya, suaranya serak, hampir patah di tengah kalimat. "Tidak satu pun.
Aku tidak tahu. Aku tidak pernah tahu. Aku pikir... aku pikir kau sudah
melupakanku. Aku pikir kau sudah bahagia dengan hidupmu yang baru. Aku pikir
kau sudah..."
"Aku tahu, Danang. Aku tahu sekarang. Arman sudah
cerita. Beberapa hari setelah kau pergi dari kota, dia datang menemuiku. Dia
mengaku semuanya. Dia mengaku bahwa dia yang menahan surat-suratku. Dia mengaku
bahwa dia yang memalsukan tulisanku. Dia mengaku bahwa dia yang... bahwa dia
yang mencintaiku."
Danang terdiam.
Pikirannya berputar, mencoba memproses semua informasi yang
baru saja ia dengar.
Arman.
Sahabatnya.
Orang yang ia percayai selama bertahun-tahun.
Orang yang tinggal sekamar dengannya.
Orang yang makan bersamanya setiap hari.
Orang yang tertawa bersama dengannya.
Orang yang ia anggap seperti kakak.
Orang yang ia cintai seperti saudara.
Orang yang sama yang menahan surat-surat Kirana.
Orang yang sama yang memalsukan tulisannya.
Orang yang sama yang menghancurkan cintanya.
Orang yang sama yang mencuri tiga puluh tahun
kebahagiaannya.
Ia memegang surat paling atas.
Tangannya gemetar hebat.
Kertas tua itu terasa sangat rapuh di tangannya, seperti
sayap kupu-kupu yang bisa hancur jika tidak hati-hati, seperti daun kering di
musim kemarau yang hancur hanya dengan disentuh.
"Kenapa kau simpan semua ini, Kirana?" tanyanya.
Suaranya tidak lebih dari bisikan, seperti suara yang keluar dari mimpi,
seperti suara dari dunia yang berbeda. "Kenapa tidak kau buang? Kenapa
tidak kau bakar? Kenapa tidak kau..."
Kirana memandangnya dengan mata yang lelah.
Mata yang sudah terlalu banyak menangis.
Mata yang sudah terlalu banyak kehilangan.
Mata yang sudah terlalu lama sendirian.
Mata yang sudah terlalu lama berharap pada sesuatu yang
tidak pernah datang.
Mata yang sekarang, di senja hidupnya, akhirnya bertemu
dengan mata Danang.
"Karena sebagian cinta tidak pernah benar-benar
selesai, Danang," bisiknya, suaranya penuh dengan kesedihan yang mendalam,
dengan penyesalan yang tidak pernah berakhir, dengan kerinduan yang tidak
pernah terobati. "Cinta itu hanya berubah menjadi sesuatu yang tidak tahu
harus pergi ke mana. Cinta itu hanya berubah menjadi surat-surat yang tidak
pernah sampai. Cinta itu hanya berubah menjadi air mata yang tidak pernah
kering. Cinta itu hanya berubah menjadi kenangan yang tidak pernah pudar."
Ia berhenti.
Menarik napas panjang.
Napas yang terasa seperti mengeluarkan seluruh isi dadanya
sekaligus.
"Aku tidak bisa membuangnya, Danang. Aku tidak bisa
melupakannya. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa surat-surat ini tidak pernah
ada. Mereka adalah satu-satunya bukti bahwa aku pernah mencintai seseorang
dengan segenap hatiku. Bahwa aku pernah menunggu. Bahwa aku pernah berharap.
Bahwa aku pernah hidup."
Danang tidak mampu bicara.
Ia hanya menatap kotak besar itu.
Ratusan surat.
Ratusan minggu.
Ratusan bulan.
Ratusan harapan.
Ratusan mimpi.
Ratusan kesempatan yang hilang karena seorang sahabat yang
iri.
Ratusan malam yang seharusnya bisa mereka habiskan bersama,
tetapi berakhir dengan air mata di bantal masing-masing.
Ratusan pagi yang seharusnya bisa mereka mulai dengan
senyuman, tetapi berakhir dengan kepahitan di hati masing-masing.
Ratusan kenangan yang seharusnya bisa mereka ciptakan
bersama, tetapi berakhir dengan kekosongan di jiwa masing-masing.
"Kirana," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Apa kau... apa kau masih ingat isi surat-surat ini?
Apa kau masih ingat apa yang kau tulis?"
Kirana tersenyum pahit. "Aku ingat semuanya, Danang.
Setiap kata. Setiap kalimat. Setiap tanda baca. Aku bisa membacakan semuanya
untukmu sekarang, jika kau mau. Dari surat pertama sampai surat terakhir. Dari
hari pertama aku di kota sampai hari terakhir aku menulis."
"Bacakan satu saja, Kirana. Satu surat. Yang paling
kau ingat."
Kirana mengangguk.
Ia mengambil surat paling atas.
Surat pertama.
Surat yang ditulisnya ketika ia baru tiba di kota, ketika
ia masih berusia empat belas tahun, ketika ia masih percaya bahwa Danang akan
segera menyusul, ketika ia masih berharap bahwa mereka akan bersama lagi.
Ia membuka lipatan surat itu dengan hati-hati.
Jari-jarinya yang gemetar meratakan kertas yang sudah kusut
karena terlipat terlalu lama.
Matanya yang sudah kabur karena usia, menyipit membaca
tulisan tangannya sendiri yang sudah setengah luntur.
Lalu dengan suara yang lembut, yang bergetar, yang seperti
angin malam yang berhembus di antara dedaunan, ia mulai membaca.
"Danang, surat pertama untukmu. Aku baru sampai di
kota. Rumah baruku besar, lebih besar dari rumah kita di desa. Tapi aku merasa
lebih sempit. Lebih sepi. Lebih dingin. Aku rindu sungai. Aku rindu pohon waru.
Aku rindu suara jangkrik di malam hari. Aku rindu... aku rindu kamu."
Kirana berhenti.
Air matanya jatuh.
Setetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Jatuh ke kertas yang sudah menguning, membuat tinta sedikit
luntur, tetapi kata-katanya masih terbaca.
"Aku menunggumu di kota, Danang. Sampai musim hujan
ketiga. Sampai aku lulus sekolah. Sampai aku dewasa. Kalau kau datang, aku
masih di tempat yang sama. Rumah dinas di Jalan Merdeka. Nomor empat puluh dua.
Kalau kau tidak datang... kalau kau tidak datang, aku akan mengerti. Tapi
tolong beri kabar, Danang. Apa pun. Sepatah kata saja. Selembar surat saja.
Sebuah kabar bahwa kau masih hidup. Sebuah kabar bahwa kau baik-baik saja.
Sebuah kabar bahwa kau... bahwa kau masih mengingatku."
Kirana tidak bisa melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Surat itu jatuh dari tangannya, jatuh ke lantai kayu yang
berderit, jatuh di antara kursi dan meja.
Danang memungutnya.
Ia membaca surat itu.
Membacanya berulang-ulang.
Air matanya jatuh.
Membasahi kertas yang sudah menguning.
Membasahi tinta yang sudah mulai luntur.
Membasahi kata-kata yang penuh dengan harapan.
"Kirana," bisiknya, suaranya pecah, tangisnya
keluar. "Aku tidak pernah menerima surat ini. Aku tidak pernah tahu. Aku
pikir... aku pikir kau sudah melupakanku. Aku pikir kau sudah bahagia dengan
hidupmu yang baru. Aku pikir kau sudah..."
"Aku tidak pernah melupakanmu, Danang. Tidak sehari
pun. Tidak semenit pun. Tidak sedetik pun. Kau selalu ada di pikiranku. Kau
selalu ada di mimpiku. Kau selalu ada di hatiku. Selamanya."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di ruang tamu yang sederhana.
Berpelukan di bawah cahaya lentera yang redup.
Berpelukan di antara ratusan surat yang tidak pernah
sampai.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun saling merindukan.
Berpelukan setelah tiga puluh tahun saling mencintai dalam
diam.
"Kirana, aku ingin membaca semua suratmu. Semua. Dari
pertama sampai terakhir. Dari awal sampai akhir. Dari harapan sampai
keputusasaan. Dari cinta sampai kebencian. Dari rindu sampai lupa. Aku ingin
tahu semuanya. Aku ingin merasakan semuanya. Aku ingin..."
"Kau bisa, Danang. Surat-surat ini milikmu. Aku
menyimpannya untukmu. Aku menulisnya untukmu. Aku berharap suatu hari nanti kau
akan membacanya. Dan sekarang, hari itu datang. Tiga puluh tahun terlambat. Tapi
datang."
Danang mengangguk.
Ia mengambil surat berikutnya.
Tangannya masih gemetar.
Matanya masih basah.
Tapi ia tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya.
Senyum yang mengatakan bahwa ia bersyukur.
Bersyukur bahwa Kirana masih menyimpan surat-surat ini.
Bersyukur bahwa Kirana masih mencintainya.
Bersyukur bahwa mereka masih diberi kesempatan untuk
bersama.
"Kirana, aku akan membaca semua suratmu. Malam ini.
Besok. Lusa. Sampai habis. Sampai aku hafal setiap kata. Sampai aku tahu setiap
perasaanmu. Sampai aku..."
"Jangan baca semuanya malam ini, Danang. Nanti kau
tidak bisa tidur. Nanti kau sakit. Nanti kau..."
"Aku tidak peduli, Kirana. Aku sudah tiga puluh tahun
tidak bisa tidur. Aku sudah tiga puluh tahun sakit. Aku sudah tiga puluh
tahun... tiga puluh tahun menunggu surat-surat ini."
Kirana tersenyum.
Senyum yang lembut.
Senyum yang penuh dengan cinta.
Senyum yang membuat Danang lupa pada semua penderitaan yang
telah ia alami.
"Baiklah, Danang. Tapi jangan terlalu larut. Aku akan
menemanimu. Aku akan membuatkan teh. Aku akan..."
"Kau tidak usah melakukan apa-apa, Kirana. Cukup kau
di sini. Di sampingku. Itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup."
Mereka duduk berdampingan.
Di ruang tamu yang sederhana.
Di bawah cahaya lentera yang redup.
Di antara ratusan surat yang tidak pernah sampai.
Membaca bersama.
Menangis bersama.
Tersenyum bersama.
Mengingat masa lalu bersama.
Merencanakan masa depan bersama.
Dan untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun, mereka
merasa bahwa semua penderitaan itu sepadan.
Karena pada akhirnya, mereka bertemu lagi.
Karena pada akhirnya, mereka bersama lagi.
Karena pada akhirnya, cinta mereka menang.
Bab 5
Nama
yang Kembali Datang
Keesokan paginya, Danang pergi ke pasar desa. Langit masih
gelap ketika ia berjalan keluar dari rumah lamanya, dengan tongkat di tangan,
dengan langkah pelan karena lututnya yang sakit. Kabut tipis masih menutupi
desa, membuat semuanya terlihat seperti mimpi, seperti lukisan cat air yang
indah tetapi tidak nyata. Embun masih membasahi rumput di pinggir jalan,
membuat sepatunya basah, membuat kakinya terasa dingin.
Ia tidak punya keperluan khusus. Ia hanya ingin melihat
desa yang sudah berubah. Ia hanya ingin merasakan kembali keramaian yang dulu
menjadi bagian dari kehidupannya. Ia hanya ingin mengingat bahwa ia pernah
menjadi bagian dari tempat ini, meskipun tempat ini mungkin sudah melupakannya.
Ia hanya ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak takut, bahwa ia
tidak lagi lari, bahwa ia sudah siap menghadapi masa lalu.
Pasar desa masih sama seperti tiga puluh tahun lalu.
Letaknya masih di tempat yang sama, di lapangan terbuka di tengah desa, di
bawah pohon beringin besar yang sudah berusia ratusan tahun. Bangunannya masih
sama, hanya tenda-tenda plastik dan meja-meja kayu yang disusun berjajar, tanpa
dinding, tanpa atap permanen. Lantainya masih tanah, becek, berlumpur,
bercampur dengan sampah-sampah sayuran dan kulit buah dan kotoran ayam.
Tapi ada yang berubah. Pedagangnya berbeda. Wajah-wajah
baru. Wajah-wajah muda. Wajah-wajah yang tidak mengenalnya. Wajah-wajah yang
tidak tahu siapa Danang Wiratama, tidak tahu tentang kebakaran gudang, tidak
tahu tentang tuduhan, tidak tahu tentang aib keluarganya.
"Sayur! Sayur segar! Bayam! Kangkung! Sawi! Wortel!
Tomat! Cabai! Bawang! Baru datang dari kebun! Masih basah! Masih
berembun!" teriak seorang perempuan muda dengan keranjang besar di
kepalanya, suaranya lantang, bersemangat, seperti burung yang sedang berkicau
di pagi hari.
"Ikan! Ikan segar! Baru dari sungai! Masih hidup!
Masih loncat-loncat!" teriak seorang lelaki tua dengan kulit hitam legam
karena terik matahari, dengan tangan yang kasar dan kapalan karena menarik jala
setiap hari, dengan bau amis yang menyengat dari meja kayunya yang penuh dengan
ikan-ikan berbagai ukuran.
"Tahu! Tempe! Kedelai asli! Bukan kedelai impor! Enak!
Murah! Sehat!" teriak seorang ibu-ibu dengan celemek kotor dan rambut yang
diikat dengan kain batik, tangannya lincah membungkus tahu dan tempe dengan
daun pisang, mengikatnya dengan lidi yang sudah disiapkan.
"Jamu! Jamu kunyit asem! Jamu beras kencur! Jamu
sinom! Jamu kudu laos! Sehat! Awet muda! Tidak bikin enek!" teriak seorang
perempuan tua dengan kebaya lusuh dan kain batik yang sudah pudar, dengan
lesung dan alu di tangannya, menumbuk rempah-rempah dengan irama yang teratur,
seperti musik, seperti doa.
Danang berjalan pelan di antara kerumunan. Ia melewati
pedagang sayur, pedagang ikan, pedagang tahu tempe, pedagang jamu, pedagang
daging, pedagang ayam, pedagang kelapa, pedagang gula, pedagang garam, pedagang
beras, pedagang minyak, pedagang sabun, pedagang sampo, pedagang rokok,
pedagang kopi, pedagang teh, pedagang gorengan, pedagang es, pedagang kue,
pedagang roti, pedagang mainan anak-anak.
Semuanya ramai.
Semuanya sibuk.
Semuanya hidup.
Tidak ada yang memperhatikannya.
Tidak ada yang mengenalnya.
Tidak ada yang tahu bahwa ia adalah Danang Wiratama, anak
haram dari keluarga bermasalah, yang dulu dituduh membakar gudang beras
keluarga Surya, yang dulu lari dari desa karena tidak kuat menanggung malu.
Ia merasa lega.
Ia merasa bebas.
Ia merasa seperti orang baru.
"Pak! Pak! Beli gorengan, Pak! Pisang goreng! Tahu
isi! Tempe goreng! Mendoan! Singkong goreng! Ubi goreng! Enak, Pak! Masih
hangat!" seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun, dengan
pakaian lusuh dan rambut kusut, menarik ujung bajunya.
Danang tersenyum. "Berapa, Nak?"
"Pisang goreng seribu, Pak. Tahu isi lima ratus. Tempe
goreng lima ratus. Mendoan lima ratus. Singkong goreng lima ratus. Ubi goreng
lima ratus. Mau yang mana, Pak?"
"Beli semua. Masing-masing sepuluh. Bungkus."
Mata anak itu membesar. "Semua, Pak? Masing-masing
sepuluh?"
"Iya. Aku punya banyak teman di rumah. Mereka suka
gorengan."
Anak itu tersenyum lebar. Giginya yang masih lengkap dan
putih bersih terlihat, dua gigi seri atasnya yang sedikit maju ke depan,
seperti kelinci. "Baik, Pak! Tunggu sebentar! Aku bungkus dulu!"
Danang memandang anak itu. Ia teringat pada Kirana. Kirana
ketika masih kecil, ketika ia berjualan bunga liar di tepi sungai, ketika ia
tersenyum dengan lesung pipit di pipi kirinya, ketika ia mengatakan "Kau
kelihatan seperti orang yang butuh sesuatu yang cantik dalam hidupmu."
"Nak, siapa namamu?" tanya Danang.
"Budi, Pak. Budi Santoso."
"Budi Santoso. Nama yang bagus. Kau anak siapa?"
"Anak Pak RT, Pak. Pak RT Santoso. Bapak ketua RT
tiga. Rumahnya di belakang masjid. Yang cat hijau. Gampang kok, Pak. Nanti
kalau Bapak tersesat, tanya saja rumah Pak RT Santoso. Semua orang tahu."
"Santoso? Apa dia anaknya Mbah Joyo?"
Anak itu mengangguk cepat. "Iya, Pak. Mbah Joyo kakek
saya. Sudah meninggal dua puluh tahun lalu. Waktu saya belum lahir. Tapi ibu
saya sering cerita tentang beliau. Katanya, Mbah Joyo sakti. Bisa lihat masa
depan. Bisa lihat takdir. Bisa..."
"Bisa apa?"
"Bisa lihat bahwa Bapak akan kembali ke desa ini.
Bahwa Bapak akan bertemu dengan Kirana. Bahwa Bapak akan..."
Danang terkejut. "Kau tahu siapa aku?"
Budi tersenyum. "Semua orang tahu, Pak. Wajah Bapak
sudah berubah. Rambut Bapak sudah memutih. Tapi mata Bapak tidak berubah. Masih
sama seperti foto yang disimpan ibu saya. Foto Bapak waktu masih muda, berdiri
di samping Mbah Joyo di bawah pohon waru. Ibu saya sering menunjukkan foto itu.
Katanya, 'Lihat, Budi, ini Danang Wiratama. Pahlawan desa kita. Laki-laki yang
berani melawan Surya, anak saudagar kaya. Laki-laki yang tidak takut pada siapa
pun. Laki-laki yang...'"
Danang tertawa. Tertawa untuk pertama kalinya setelah
sekian lama. Tertawa karena ia tidak tahu bahwa ia dianggap pahlawan. Tertawa
karena ia tidak pernah merasa pahlawan. Tertawa karena ia hanya seorang
pengecut yang lari dari masalah.
"Pahlawan, Budi? Aku bukan pahlawan. Aku
hanya..."
"Bapak pahlawan, Pak. Ibu saya bilang begitu. Mbah
Joyo juga bilang begitu. Bahwa suatu hari nanti, Bapak akan kembali. Bahwa
Bapak akan menyelamatkan desa ini. Bahwa Bapak akan..."
"Menyelamatkan desa dari apa?"
"Dari Surya, Pak. Surya sekarang bangkrut. Bisnisnya
hancur. Restorannya tutup. Rumahnya disita bank. Tapi ia masih punya pengaruh.
Ia masih punya preman-preman yang siap membantunya. Ia masih bisa berbuat
jahat. Ia masih bisa..."
Danang mengernyit. "Surya? Masih bisa berbuat jahat?
Ia sudah tua. Ia sudah sakit. Ia sudah tidak punya apa-apa."
"Tapi ia masih punya dendam, Pak. Dendam pada Bapak.
Dendam pada Kirana. Dendam pada semua orang yang pernah melawannya. Ia tidak
akan berhenti. Ia tidak akan menyerah. Ia akan terus berusaha menghancurkan
Bapak, sampai mati."
Danang terdiam.
Ia memikirkan kata-kata Budi.
Apakah Surya masih menyimpan dendam?
Apakah Surya masih berusaha menghancurkannya?
Apakah pertemuan semalam hanyalah tipu muslihat?
Apakah Surya masih sama seperti dulu?
"Budi, tolong sampaikan pada ibumu bahwa Danang
Wiratama mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena masih mengingatnya. Terima
kasih karena masih menganggapnya pahlawan. Terima kasih karena..."
"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan. Tapi sekarang,
gorengannya dulu, Pak. Sudah saya bungkus. Ini, Pak. Tiga puluh lima ribu
rupiah."
Danang mengambil uang dari sakunya. Uang lima puluh ribuan.
"Ini, Budi. Kembaliannya untuk kau. Beli mainan. Atau buku. Atau
jajan."
Budi tersenyum lebar. "Terima kasih, Pak! Bapak baik
sekali! Bapak memang pahlawan!"
Anak itu berlari kecil, meninggalkan Danang yang berdiri di
tengah pasar, dengan bungkusan gorengan di tangan, dengan senyum di bibir,
dengan harapan di hati.
"Danang! Danang Wiratama!"
Danang menoleh.
Seorang lelaki tua dengan tongkat di tangan, dengan tubuh
bungkuk, dengan wajah penuh kerutan, berjalan mendekatinya. Lelaki itu memakai
kemeja batik lengan panjang, dengan sarung batik yang melilit di pinggang,
dengan kopiah hitam di kepala.
"Bima?" bisik Danang, tidak percaya.
Bima, teman masa kecilnya, satu-satunya teman laki-laki
yang tidak sepenuhnya menjauh ketika Danang dituduh membakar gudang. Bima, yang
dulu bertubuh tambun dengan rambut keriting yang tidak pernah rapi, kini kurus
kering, keriput, hampir tidak bisa dikenali.
"Bima, apa kabar? Sehat?" Danang mendekat,
memeluk Bima. Tubuh Bima terasa ringan, seperti orang yang kehilangan separuh
berat badannya.
Bima tertawa. Tawa yang keras, yang riuh, yang seperti tawa
anak muda meskipun suaranya sudah parau karena usia. "Sehat, Danang.
Alhamdulillah. Masih diberi umur panjang. Masih bisa lihat kau kembali. Masih
bisa..."
"Kau tahu aku kembali?"
"Semua orang tahu, Danang. Desa ini kecil. Tidak ada
yang bisa disembunyikan. Kau datang kemarin sore. Naik taksi Avanza hitam.
Sopirnya Budi, anaknya RT Santoso. Kau turun di depan rumah Kirana. Kau masuk
ke rumahnya. Kau keluar tengah malam. Kau tidur di rumah lamamu. Kau bangun
pagi-pagi. Kau pergi ke pasar. Kau membeli gorengan dari Budi Santoso.
Kau..."
Danang tertawa. "Kau tahu semua, Bima. Kau seperti
mata-mata."
"Mata-mata? Bukan. Aku hanya pensiunan. Tidak ada
kerjaan. Setiap hari duduk di rumah, minum kopi, makan pisang goreng, ngobrol
dengan tetangga, dengar berita. Itu saja."
"Kau sudah pensiun? Dari apa?"
"Dari kebun kelapa sawit. Dulu aku kerja di
Kalimantan. Jadi mandor. Gaji lumayan. Rumah dan mobil disediakan perusahaan.
Anak-anak sekolah gratis. Tapi setelah pensiun, aku kembali ke desa. Ingin
menikmati masa tua. Ingin menanam sayur. Ingin memelihara ayam. Ingin..."
"Ingin apa?"
"Ingin bertemu dengan kau, Danang. Aku sudah lama
menunggu. Aku tahu kau akan kembali. Mbah Joyo sudah meramalkannya sebelum
beliau meninggal. Beliau bilang, 'Bima, kau tunggu Danang. Ia akan kembali
ketika rambutnya sudah memutih. Ia akan kembali ketika Kirana sudah menjanda.
Ia akan kembali ketika Surya sudah bangkrut. Ia akan kembali ketika Arman sudah
mati. Ia akan kembali ketika...'"
"Ketika apa?"
"Ketika cinta sudah tidak bisa lagi ditunda. Ketika
waktu sudah tidak bisa lagi diulang. Ketika penyesalan sudah tidak bisa lagi
diobati."
Danang terdiam.
Ia memikirkan kata-kata Mbah Joyo.
Lelaki tua bijak yang dulu meramalkan masa depannya.
Lelaki tua yang dulu mengatakan bahwa ia akan membawa luka
panjang, lebih panjang dari hidupnya sendiri.
Lelaki tua yang dulu mengatakan bahwa ia akan kehilangan
terlalu banyak hal sebelum cukup umur untuk mengerti arti kehilangan.
Lelaki tua yang dulu mengatakan bahwa ia akan mencintai
terlalu dalam, dan cinta itu akan menjadi lukanya yang paling parah.
Lelaki tua yang dulu mengatakan bahwa ia akan mencari
sesuatu sepanjang hidupnya, tanpa pernah benar-benar tahu apa yang ia cari.
"Bima, apa Mbah Joyo juga meramalkan bahwa aku akan
kembali? Bahwa aku akan bertemu Kirana lagi? Bahwa aku akan..."
Mbah Joyo meramalkan semuanya, Danang. Beliau tahu kau akan
pergi. Beliau tahu kau akan kembali. Beliau tahu kau akan menderita. Beliau
tahu kau akan bahagia. Beliau tahu kau akan menangis. Beliau tahu kau akan
tertawa. Beliau tahu kau akan..."
"Beliau tahu aku akan menyesal?"
Bima mengangguk. "Beliau tahu kau akan menyesal.
Beliau tahu Kirana akan menyesal. Beliau tahu Arman akan menyesal. Beliau tahu
Surya akan menyesal. Beliau tahu semua orang akan menyesal. Tapi penyesalan
tidak bisa mengubah masa lalu. Penyesalan hanya bisa mengubah masa depan. Itu
yang beliau bilang."
"Penyesalan hanya bisa mengubah masa depan?"
"Iya. Penyesalan membuat kita tidak mengulangi
kesalahan yang sama. Penyesalan membuat kita lebih bijak. Penyesalan membuat
kita lebih menghargai waktu. Penyesalan membuat kita..."
"Penyesalan membuat kita sadar bahwa kita tidak abadi.
Bahwa kita akan mati. Bahwa kita harus memanfaatkan waktu yang tersisa
sebaik-baiknya."
Bima tersenyum. "Kau masih sama, Danang. Masih suka
memotong pembicaraan orang. Masih suka mengambil kesimpulan sendiri. Masih
suka..."
"Masih suka apa?"
"Masih suka berpikir terlalu keras. Masih suka menganalisis
segala sesuatu. Masih suka mencari makna di balik setiap kata. Padahal kadang,
kata-kata hanyalah kata-kata. Tidak perlu dicari maknanya. Tidak perlu..."
"Tidak perlu apa?"
"Tidak perlu dipikirkan terlalu lama. Nikmati saja.
Seperti gorengan ini. Gorengan dari Budi Santoso. Enak. Renyah. Gurih. Tidak
perlu ditanya dari mana asal minyaknya. Tidak perlu ditanya apakah minyaknya
sehat. Tidak perlu ditanya apakah pisangnya organik. Nikmati saja."
Danang tertawa. "Kau masih suka memberi nasihat, Bima.
Seperti dulu. Waktu kita masih kecil. Waktu kau bilang, 'Jangan sedih, Danang.
Surya hanya anak kaya yang sombong. Suatu hari nanti ia akan jatuh. Suatu hari
nanti ia akan menyesal.'"
Bima mengangguk. "Dan aku benar. Lihat Surya sekarang.
Bangkrut. Sakit. Sendirian. Menyesal. Semua yang ia bangun selama
bertahun-tahun, hancur dalam sekejap. Semua karena kesombongannya. Semua karena
dendamnya. Semua karena..."
"Karena ia tidak bisa memaafkan."
"Karena ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara pasar yang terdengar.
Suara tawar-menawar.
Suara teriakan.
Suara tawa.
Suara tangisan.
Suara kehidupan.
"Bima, aku harus pulang. Kirana menunggu. Aku janji
akan sarapan bersamanya."
"Baik, Danang. Aku juga harus pulang. Istriku
menunggu. Aku janji akan membelikannya ikan segar."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di tengah pasar yang ramai.
Berpelukan di antara pedagang dan pembeli.
Berpelukan di antara tawa dan tangis.
Berpelukan di antara masa lalu dan masa depan.
"Selamat tinggal, Bima."
"Selamat tinggal, Danang. Sampai jumpa lagi."
"Sampai jumpa."
Danang berjalan meninggalkan pasar, meninggalkan Bima,
meninggalkan Budi, meninggalkan semua wajah-wajah baru yang tidak dikenalnya,
meninggalkan semua kenangan lama yang tidak bisa dilupakannya.
Ia berjalan menuju rumah Kirana.
Dengan bungkusan gorengan di tangan.
Dengan senyum di bibir.
Dengan harapan di hati.
Dengan cinta di jiwa.
Bab 6
Anak-Anak
dari Masa yang Berbeda
Beberapa hari setelah pertemuan di pasar, setelah Danang
dan Kirana mulai membiasakan diri dengan kehadiran satu sama lain, setelah
mereka mulai belajar lagi bagaimana berbagi cerita, berbagi tawa, berbagi air
mata, keluarga mulai datang.
Bukan keluarga dalam arti orang tua atau saudara kandung.
Orang tua mereka sudah lama meninggal. Ibu Kirana, Nyonya Dewi Ratnasari,
meninggal sepuluh tahun lalu karena komplikasi diabetes. Ayah Kirana meninggal
lebih awal, dua puluh tahun lalu, karena serangan jantung di kantor pos
tempatnya bekerja. Ibu Danang, Ratih, meninggal tiga puluh tahun lalu di kursi
bambu. Sastrowiryo, ayah tiri Danang, tidak pernah kembali, tidak pernah
memberi kabar, tidak pernah diketahui nasibnya. Ayah kandung Danang, lelaki
dengan rambut panjang yang menari di atas panggung ketoprak, tidak pernah
muncul, tidak pernah dicari, tidak pernah diingat.
Yang datang adalah anak-anak mereka. Anak-anak dari
pernikahan mereka masing-masing. Anak-anak yang tumbuh tanpa mengetahui sejarah
cinta orang tua mereka. Anak-anak yang sekarang sudah dewasa, sudah
berkeluarga, sudah punya anak sendiri. Anak-anak yang datang untuk melihat
apakah benar ayah mereka telah kembali, apakah benar ibu mereka telah menemukan
kebahagiaan, apakah benar cinta lama bisa bersemi kembali di usia senja.
Hari Sabtu pagi, matahari bersinar terang, langit biru
tanpa awan, angin berhembus sepoi-sepoi, membawa wangi bunga melati dari kebun
Kirana. Burung-burung berkicau riang di pohon-pohon rambutan, seolah ikut
merayakan pertemuan keluarga yang telah lama dinanti.
Danang duduk di beranda rumah Kirana, di kursi rotan yang
sudah reyot, dengan bantal pipis yang sudah tidak empuk lagi, dengan sandaran
yang diikat tali plastik agar tidak terlepas. Ia memegang secangkir teh jahe
dengan madu buatan Kirana, menyesap perlahan, menikmati hangatnya yang menyebar
dari tenggorokan ke seluruh tubuh.
Di depannya, halaman rumah yang sederhana, dengan rumput
yang tidak terlalu panjang, dengan pot-pot bunga di pinggir-pinggirnya, dengan
pohon mangga yang rindang di sudut halaman. Ayam-ayam berkeliaran di halaman,
mematuk-matuk tanah mencari cacing atau sisa-sisa makanan yang jatuh. Seekor
kucing oren dengan mata sipit tidur di atas pagar, sesekali membuka mata,
mengeong pelan, lalu tidur lagi.
"Danang, mereka sudah datang," kata Kirana dari
dalam rumah, suaranya terdengar sedikit gugup, sedikit cemas, sedikit bahagia.
"Aku melihat mobil masuk ke gang. Itu mobil Raka, anakmu. Aku kenal plat
nomornya. B 1234 R. Anakmu memang suka pamer."
Danang tersenyum. "Raka memang begitu. Ia suka
barang-barang mewah. Mobil, jam tangan, pakaian, sepatu. Semua harus bermerek.
Semua harus mahal. Semua harus bagus. Ia tidak seperti aku. Ia..."
"Ia anak kau, Danang. Darah kau mengalir di tubuhnya.
Mungkin ia berbeda. Mungkin ia suka pamer. Tapi ia tetap anak kau. Ia tetap
mencintaimu. Ia tetap..."
"Aku tidak yakin, Kirana. Aku tidak pernah menjadi
ayah yang baik. Aku tidak pernah ada untuknya. Aku sibuk bekerja. Aku sibuk
mencari uang. Aku sibuk melupakan masa lalu. Aku sibuk... sibuk
mencintaimu."
Kirana keluar dari rumah, berdiri di samping Danang,
memegang bahunya yang sudah membungkuk. "Kau bisa menjadi ayah yang baik
sekarang, Danang. Kau masih punya waktu. Kau masih bisa memperbaiki kesalahan.
Kau masih bisa..."
"Apakah waktu masih cukup, Kirana? Apakah Raka masih
mau menerimaku? Apakah ia masih mau mengakuiku sebagai ayah? Apakah ia
masih..."
"Kau tidak akan tahu jika tidak mencoba, Danang. Ayo.
Mereka sudah masuk halaman."
Mobil Avanza hitam dengan plat nomor B 1234 R masuk ke
halaman rumah Kirana, perlahan, hati-hati, menghindari ayam-ayam yang
berkeliaran dan pot-pot bunga yang diletakkan di pinggir jalan. Mobil itu
berhenti di depan teras, mesinnya mati, pintu terbuka.
Seorang lelaki muda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun
turun dari mobil. Raka, anak Danang dari pernikahannya dengan seorang perempuan
bernama Dewi, yang sudah bercerai lima belas tahun lalu. Raka tidak mirip
Danang. Wajahnya lebih mirip ibunya, dengan kulit putih bersih, hidung mancung,
mata sipit, rambut lurus hitam. Tapi cara berjalannya, cara berdiri, cara
memandang, semua mirip Danang. Seperti ayah, seperti anak.
Raka mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan motif
parang, warna coklat keemasan, yang terlihat mahal. Celana kain hitam, bahan
wol, dengan lipatan setrika yang masih terlihat jelas di bagian depan. Sepatu
pantofel kulit hitam, mengkilap, merek terkenal, yang harganya mungkin setara
dengan pendapatan Danang sebulan ketika masih bekerja di percetakan dulu.
Di tangannya, ia memegang tas kertas coklat dari butik
terkenal di Jakarta. Tas yang berisi hadiah untuk Danang. Mungkin baju. Mungkin
sepatu. Mungkin jam tangan. Mungkin sesuatu yang mahal, yang tidak terlalu
dibutuhkan oleh Danang, yang hanya akan disimpan di lemari dan tidak pernah
dipakai.
"Ayah," kata Raka, suaranya dingin, datar, tidak
menunjukkan emosi. Matanya menatap Danang dengan tatapan yang sulit dibaca.
Bukan benci. Bukan marah. Bukan sedih. Bukan rindu. Hanya kosong. Kosong
seperti orang yang sudah kehilangan harapan.
Danang berdiri. Lututnya sakit, tetapi ia tahan. Ia
berjalan mendekati Raka, perlahan, dengan tongkat di tangan, dengan langkah
yang tidak stabil. Ia berdiri di depan anaknya, menatap wajahnya yang tidak
mirip dengannya, menatap matanya yang kosong, menatap sikapnya yang dingin.
"Raka," sapanya, suaranya bergetar. "Kau
datang."
"Ayah yang memanggil. Ayah yang bilang mau bertemu.
Ayah yang bilang mau bicara. Ayah yang bilang mau minta maaf. Jadi aku datang.
Bukan karena aku rindu. Bukan karena aku kangen. Tapi karena ayah memanggil.
Itu saja."
Kirana yang mendengar percakapan itu, menghela napas. Ia
mendekati Raka, meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Raka, jangan
begitu. Ayahmu sudah tua. Ayahmu sakit. Ayahmu..."
"Ayahku tidak pernah ada untukku, Bu Kirana. Ayahku
tidak pernah hadir di ulang tahunku. Ayahku tidak pernah hadir di perpisahan
sekolahku. Ayahku tidak pernah hadir di wisudaku. Ayahku tidak pernah..."
"Ayahmu bekerja keras untuk menghidupimu, Raka.
Ayahmu..."
"Bekerja keras? Atau melarikan diri? Ayahku bekerja
keras untuk melupakan masa lalunya. Ayahku bekerja keras untuk melupakan
Kirana. Ayahku bekerja keras untuk melupakan desa ini. Ayahku tidak pernah
bekerja keras untukku. Aku hanya... aku hanya kewajiban. Aku hanya tanggung
jawab. Aku hanya..."
Danang menunduk.
Air matanya jatuh.
Ia tidak bisa membantah.
Karena itu benar.
Ia tidak pernah menjadi ayah yang baik.
Ia tidak pernah ada untuk Raka.
Ia sibuk bekerja.
Ia sibuk mencari uang.
Ia sibuk melupakan Kirana.
Ia sibuk membenci Arman.
Ia sibuk menyalahkan Surya.
Ia sibuk... sibuk menjadi korban.
"Raka, maafkan ayah," bisiknya, suaranya pecah,
tangisnya keluar. "Ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik. Ayah tidak bisa
menjadi ayah yang kau harapkan. Ayah tidak bisa..."
"Ayah tidak perlu meminta maaf, Ayah. Aku sudah
terbiasa. Aku sudah dewasa. Aku sudah punya keluarga sendiri. Aku sudah punya
anak sendiri. Aku sudah... aku sudah tidak butuh ayah lagi."
Raka berbalik.
Ia berjalan ke mobilnya.
Membuka pintu.
Masuk ke dalam.
Menyalakan mesin.
Mobil itu berputar perlahan.
Meninggalkan halaman.
Meninggalkan Danang.
Meninggalkan Kirana.
Meninggalkan semua kata-kata yang tidak sempat diucapkan.
Danang berdiri di halaman, memandang mobil anaknya yang
semakin kecil, semakin jauh, semakin kabur. Ia tidak menangis. Ia tidak
berteriak. Ia hanya berdiri. Berdiri di tengah halaman yang sunyi. Berdiri di
tengah rasa sakit yang tidak bisa ia ungkapkan. Berdiri di tengah penyesalan
yang tidak bisa ia perbaiki.
"Danang," panggil Kirana pelan, memegang
tangannya. "Kau tidak apa-apa?"
"Raka benar, Kirana. Aku bukan ayah yang baik. Aku
tidak pernah ada untuknya. Aku tidak pernah..."
"Kau bisa berubah, Danang. Kau masih punya waktu. Kau
masih bisa..."
"Raka tidak mau. Ia sudah dewasa. Ia sudah punya
keluarga sendiri. Ia sudah tidak butuh aku."
"Tapi ia tetap anakmu, Danang. Darahmu mengalir di tubuhnya.
Suatu hari nanti, ia akan sadar. Suatu hari nanti, ia akan kembali. Suatu hari
nanti, ia akan..."
"Kapan, Kirana? Kapan ia akan sadar? Kapan ia akan
kembali? Kapan ia akan... aku tidak punya banyak waktu. Aku sudah tua. Aku
sakit. Aku bisa mati kapan saja."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
"Jangan bicara seperti itu, Danang. Kau tidak akan
mati. Kita tidak akan mati. Kita masih panjang umur. Kita masih bisa bersama.
Kita masih bisa..."
"Kita masih bisa apa, Kirana?"
"Kita masih bisa bahagia. Kita masih bisa menikmati
sisa hidup kita bersama. Kita masih bisa..."
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara mobil lain.
Mobil masuk ke halaman.
Bukan Avanza hitam.
Bukan mobil Raka.
Mobil lain.
Mobil yang lebih kecil.
Mobil yang lebih sederhana.
Mobil yang lebih tua.
Mobil Daihatsu Xenia warna putih, dengan plat nomor B 5678
R, berhenti di depan teras.
Pintu terbuka.
Seorang perempuan muda turun.
Ayu.
Kirana.
Anak Kirana dari pernikahannya dengan almarhum suaminya,
seorang pegawai bank bernama Bambang, yang meninggal lima tahun lalu karena
kecelakaan di tempat kerja.
Ayu berusia dua puluh lima tahun. Wajahnya mirip Kirana
ketika masih muda. Mata yang sama. Senyum yang sama. Lesung pipit di pipi kiri
yang sama. Rambut panjang hitam yang sama. Bahkan cara berjalannya, cara
tertawanya, cara bicaranya, semua mirip Kirana.
Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, kain batik
coklat, sandal jepit hitam. Tidak seperti Raka yang suka pamer, Ayu sederhana,
bersahaja, tidak neko-neko. Ia tidak butuh barang-barang mewah untuk merasa
berharga. Ia tidak butuh pakaian mahal untuk merasa percaya diri. Ia hanya
butuh kebahagiaan. Kebahagiaan sederhana. Kebahagiaan bersama orang-orang yang
dicintainya.
"Ibu!" seru Ayu, berlari kecil mendekati Kirana,
memeluknya erat-erat. "Ibu, apa kabar? Sehat? Aku kangen Ibu. Kangen
banget."
Kirana tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas, tawa yang
seperti anak kecil yang bermain kejar-kejaran di halaman sekolah. "Sehat,
Nak. Ibu sehat. Ibu baik-baik saja. Ibu..."
"Ibu, ini siapa?" Ayu menunjuk ke arah Danang,
matanya penasaran, matanya seperti sedang mencari-cari kemiripan dengan
foto-foto lama yang ia lihat di album ibunya.
"Ini Danang, Nak. Danang Wiratama. Teman lama Ibu.
Dari desa. Dari kecil. Dari..."
"Dari dulu? Dari sebelum Ibu menikah dengan almarhum
ayah? Dari sebelum aku lahir? Dari sebelum..."
Kirana mengangguk. "Dari sebelum itu, Nak. Danang
sudah dikenal Ibu sejak Ibu masih kecil. Sejak Ibu masih tinggal di desa. Sejak
Ibu masih..."
"Ibu, jangan bilang ini... jangan bilang ini Danang
yang Ibu ceritakan? Danang yang Ibu tulis surat setiap minggu? Danang yang Ibu
tunggu selama bertahun-tahun? Danang yang..."
Kirana tersenyum. "Iya, Nak. Ini dia. Danang. Setelah
tiga puluh tahun, akhirnya ia kembali."
Ayu menatap Danang.
Matanya berkaca-kaca.
"Pak Danang," sapanya, suaranya bergetar.
"Aku Ayu. Anak Ibu. Ibu sering cerita tentang Bapak. Ibu sering bercerita
tentang masa kecil Ibu di desa. Ibu sering bercerita tentang pohon waru di tepi
sungai. Ibu sering bercerita tentang pita biru. Ibu sering bercerita
tentang..."
"Tentang apa, Nak?"
"Tentang cinta. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta
yang bertahan selama tiga puluh tahun. Cinta yang sekarang, di senja hidup Ibu,
akhirnya bersatu lagi."
Danang tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Ayu.
Memeluknya erat-erat. Seperti anak sendiri. Seperti darah daging sendiri.
Seperti bagian dari dirinya yang hilang, dan sekarang ditemukan kembali.
"Ayu, maafkan aku. Maafkan aku karena tidak pernah ada
untuk ibumu. Maafkan aku karena tidak pernah kembali. Maafkan aku
karena..."
"Tidak usah minta maaf, Pak Danang. Yang penting Bapak
kembali. Yang penting Ibu bahagia. Yang penting..."
"Ibu bahagia, Ayu. Ibu bahagia karena Danang kembali.
Ibu bahagia karena kalian di sini. Ibu bahagia karena..."
Kirana menangis.
Ia menangis di hadapan anaknya.
Menangis di hadapan Danang.
Menangis karena ia bahagia.
Menangis karena ia tidak sendirian.
Menangis karena ia dicintai.
"Ayu, tolong panggil Raka. Suruh ia kembali. Aku tidak
mau Danang sedih. Aku tidak mau..."
"Aku sudah coba, Bu. Raka tidak mau. Ia keras kepala.
Ia marah. Ia kecewa. Ia..."
"Tolong, Ayu. Untuk Ibu. Untuk Danang. Untuk..."
Ayu menghela napas. "Baik, Bu. Aku coba lagi. Tapi
tidak janji."
Ia berjalan ke mobilnya, mengambil ponsel dari saku
celananya, menekan nomor Raka, berbicara dengan suara pelan, dengan kata-kata
yang tidak terdengar oleh Danang dan Kirana.
Beberapa menit kemudian, ia kembali.
"Raka mau kembali, Bu. Tapi ia minta waktu. Ia mau
bicara berdua dengan Bapak. Tanpa Ibu. Tanpa aku. Tanpa siapa pun."
Danang mengangguk. "Baik. Aku tunggu. Dimana saja.
Kapan saja. Aku siap."
Ayu tersenyum. "Raka akan datang nanti malam, Pak. Jam
tujuh. Di rumah Ibu. Ia janji."
"Terima kasih, Ayu. Terima kasih."
"Tugas anak, Pak. Tugas anak."
Mereka masuk ke dalam rumah.
Mereka duduk di ruang tamu.
Mereka minum teh.
Mereka makan gorengan.
Mereka bercerita.
Mereka tertawa.
Mereka menangis.
Mereka berbagi.
Mereka mencintai.
Dan untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun, Danang
merasa bahwa ia memiliki keluarga.
Bukan keluarga karena darah.
Tapi keluarga karena cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun.
Cinta yang sekarang, di senja hidupnya, akhirnya ia
temukan.
Bab 7
Pengakuan
di Ujung Senja
Sore itu, setelah Ayu pergi untuk menjemput keponakannya di
sekolah, setelah Raka belum juga datang meskipus sudah hampir pukul tujuh
malam, Danang dan Kirana duduk di beranda rumah, memandang matahari yang mulai
tenggelam di ufuk barat. Langit berwarna jingga keemasan, seperti sedang
terbakar, seperti sedang berdarah, seperti sedang merayakan sesuatu yang indah.
Awan-awan di sekitarnya berwarna merah muda, ungu, keemasan, seperti sedang
berpesta, seperti sedang merayakan keindahan yang akan segera berakhir.
Danang memegang tangan Kirana. Tangannya yang keriput dan
gemetar, menggenggam tangan Kirana yang juga keriput dan gemetar. Dua tangan
tua yang telah melalui banyak hal. Dua tangan yang telah bekerja keras
sepanjang hidup. Dua tangan yang telah menangis, tertawa, berdoa, berharap,
kecewa, dan sekarang, di senja hidup mereka, saling menggenggam.
"Kirana, apa kau takut?" tanya Danang, suaranya
pelan, lembut, seperti angin sore yang berhembus.
"Takut apa, Danang?"
"Takut mati. Takut tidak bisa bersama lagi. Takut..."
Kirana tersenyum. "Aku tidak takut mati, Danang. Aku
sudah lama siap mati. Sejak suamiku meninggal. Sejak aku sendirian. Sejak aku
sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa aku harapkan dari hidup ini."
"Tapi sekarang? Sekarang aku kembali. Sekarang kita bersama.
Sekarang..."
"Sekarang aku masih tidak takut mati, Danang. Karena
jika aku mati, aku akan mati dengan bahagia. Aku akan mati dengan tenang. Aku
akan mati dengan cinta. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang bertahan
selama tiga puluh tahun. Cinta yang..."
"Jangan bicara tentang kematian, Kirana. Kita masih
panjang umur. Kita masih bisa bersama. Kita masih bisa..."
"Kita sudah tua, Danang. Kita tidak tahu kapan kita
akan mati. Bisa besok. Bisa lusa. Bisa minggu depan. Bisa bulan depan. Yang
penting, hari ini kita bersama. Hari ini kita bahagia. Hari ini kita..."
Tiba-tiba, suara mobil terdengar dari kejauhan.
Mobil masuk ke halaman.
Bukan Avanza hitam milik Raka.
Bukan Xenia putih milik Ayu.
Mobil lain.
Mobil yang lebih besar.
Mobil yang lebih mewah.
Mobil Toyota Innova hitam, dengan plat nomor B 9999 R,
berhenti di depan teras.
Pintu terbuka.
Seseorang turun.
Bukan Raka.
Bukan Ayu.
Bukan siapa pun yang mereka kenal.
Seorang perempuan setengah baya, berusia sekitar lima puluh
tahun, dengan pakaian sederhana, dengan wajah yang lelah, dengan mata yang
sayu. Rambutnya diikat sederhana, dengan karet gelang hitam. Wajahnya tidak
dirias, pucat, lesi. Tubuhnya kurus, seperti orang yang baru sembuh dari sakit
parah.
"Ayu? Kirana?" bisik Danang, tidak percaya.
Bukan Ayu.
Bukan Kirana.
Perempuan lain.
Perempuan asing.
Tapi ada sesuatu di matanya.
Sesuatu yang familiar.
Sesuatu yang mengingatkan Danang pada masa lalu.
Sesuatu yang...
"Dewi?" bisik Danang, suaranya gemetar.
Dewi.
Mantan istrinya.
Ibu dari Raka.
Perempuan yang dinikahinya dua puluh tahun lalu, karena ia
sendirian, karena ia butuh teman, karena ia butuh seseorang yang
mengingatkannya bahwa ia masih hidup.
Perempuan yang dicerainya lima belas tahun lalu, karena ia
tidak bisa mencintainya, karena ia tidak pernah bisa mencintainya, karena
hatinya selalu milik Kirana.
Perempuan yang tidak pernah ia temui lagi setelah
perceraian, karena ia malu, karena ia bersalah, karena ia tidak tega melihat
bekas luka di matanya.
"Dewi, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau...
kenapa kau..." Danang berdiri, hampir jatuh karena lututnya sakit, tetapi
Kirana cepat memegang tangannya.
Dewi tersenyum. Senyum yang pahit. Senyum yang getir.
Senyum yang mengatakan bahwa ia telah melalui banyak hal, bahwa ia telah
menderita, bahwa ia telah berjuang, bahwa ia telah menyerah.
"Raka meneleponku, Danang. Ia cerita bahwa kau kembali
ke desa. Ia cerita bahwa kau bertemu Kirana lagi. Ia cerita bahwa kau bahagia.
Ia cerita bahwa..."
"Bahwa aku tidak pernah bahagia bersamamu, Dewi. Bahwa
aku selalu mencintai Kirana. Bahwa aku hanya menikahimu karena..."
"Aku tahu, Danang. Aku sudah tahu sejak awal. Sejak
pertama kali kita bertemu. Sejak pertama kali kau melamarku. Sejak pertama kali
kita menikah. Aku tahu bahwa kau tidak mencintaiku. Aku tahu bahwa hatimu milik
orang lain. Aku tahu bahwa..."
"Kenapa kau tetap menikah denganku, Dewi? Kenapa kau
tidak menolak? Kenapa kau..."
"Karena aku juga sendirian, Danang. Karena aku juga
butuh teman. Karena aku juga butuh seseorang yang mengingatkanku bahwa aku
masih hidup. Karena aku juga..."
Dewi menangis.
Ia menangis di hadapan Danang.
Menangis di hadapan Kirana.
Menangis di hadapan semua yang telah terjadi.
"Maafkan aku, Danang. Maafkan aku karena tidak bisa
membuatmu bahagia. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi Kirana. Maafkan aku
karena..."
"Tidak, Dewi. Jangan minta maaf. Akulah yang harus
minta maaf. Aku yang tidak bisa mencintaimu. Aku yang tidak bisa menjadi suami
yang baik. Aku yang..."
"Kita berdua salah, Danang. Kita berdua bodoh. Kita
berdua memilih untuk hidup dalam kebohongan, karena takut sendirian."
Kirana yang mendengar percakapan itu, diam-diam menangis.
Ia berjalan mendekati Dewi, meraih tangannya, menggenggamnya erat.
"Dewi, aku Kirana. Kirana Prameswari. Perempuan yang...
yang dicintai Danang. Perempuan yang... yang menjadi alasan perceraian kalian.
Maafkan aku. Maafkan aku karena..."
Dewi tersenyum. "Kau tidak perlu minta maaf, Kirana.
Cinta tidak pernah salah. Cinta tidak pernah meminta izin. Cinta datang begitu
saja. Cinta pergi begitu saja. Cinta..."
"Aku tidak pernah bermaksud merebut Danang darimu,
Dewi. Aku tidak pernah..."
"Aku tahu, Kirana. Danang tidak pernah menjadi
milikku. Danang selalu menjadi milikmu. Sejak awal. Sejak sebelum aku lahir.
Sejak sebelum aku mengenalnya. Danang selalu menjadi milikmu."
Mereka bertiga terdiam.
Hanya suara angin yang terdengar.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara hati.
"Danang, aku datang ke sini bukan untuk merebutmu
kembali," kata Dewi akhirnya. "Aku datang ke sini untuk melepaskanmu.
Untuk memastikan bahwa kau bahagia. Untuk memastikan bahwa kau tidak sendirian.
Untuk memastikan bahwa..."
"Bahwa aku dicintai?"
Dewi mengangguk. "Bahwa kau dicintai. Oleh Kirana.
Oleh Raka. Oleh Ayu. Oleh semua orang yang peduli padamu."
"Tapi Raka... Raka marah padaku. Raka kecewa padaku.
Raka..."
"Raka hanya butuh waktu, Danang. Ia akan datang. Ia
akan memaafkanmu. Ia akan..."
Tiba-tiba, suara mobil lain terdengar.
Mobil masuk ke halaman.
Mobil Avanza hitam dengan plat nomor B 1234 R.
Raka.
Ia turun dari mobil.
Wajahnya masih dingin.
Matanya masih kosong.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Ada keraguan.
Ada ketakutan.
Ada harapan.
"Ayah," panggilnya, suaranya tidak sedingin tadi.
Masih dingin, tetapi tidak membeku. Masih jauh, tetapi tidak sejauh sebelumnya.
Danang berdiri. Ia berjalan mendekati Raka, perlahan,
dengan tongkat di tangan, dengan langkah yang tidak stabil, dengan hati yang
berdebar.
"Raka, maafkan ayah," katanya, suaranya bergetar,
air matanya jatuh. "Ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik. Ayah tidak
bisa..."
"Ayah, aku tidak datang ke sini untuk mendengar
permintaan maaf," potong Raka, suaranya tegas, tetapi matanya
berkaca-kaca. "Aku datang ke sini untuk..."
"Untuk apa, Nak?"
Raka menunduk.
Ia menggenggam tangannya sendiri.
Tangannya gemetar.
"Aku datang ke sini untuk mengatakan bahwa aku... aku
merindukan ayah."
Danang terkejut.
Ia tidak percaya.
Ia tidak percaya bahwa Raka, anak yang selalu dingin,
selalu jauh, selalu marah, selalu kecewa, mengatakan bahwa ia merindukannya.
"Apa katamu, Nak?"
"Aku merindukan ayah, Ayah. Aku merindukan ayah setiap
hari. Aku merindukan ayah setiap malam. Aku merindukan ayah setiap kali aku
melihat teman-temanku bermain dengan ayah mereka. Aku merindukan ayah setiap
kali aku ulang tahun. Aku merindukan ayah setiap kali aku lulus sekolah. Aku
merindukan ayah setiap kali aku..."
Raka tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di hadapan Danang.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis karena ia lelah.
Menangis karena ia rindu.
Menangis karena ia ingin dimaafkan.
Menangis karena ia ingin memaafkan.
Danang memeluk Raka.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan lagi.
Seperti takut ini hanya mimpi.
"Maafkan ayah, Nak. Maafkan ayah karena tidak pernah
ada untukmu. Maafkan ayah karena..."
"Sudah, Ayah. Tidak usah. Yang penting sekarang ayah
di sini. Yang penting sekarang ayah..."
"Ayah di sini, Nak. Ayah tidak akan pergi lagi. Ayah
akan tinggal di sini. Bersama Kirana. Bersama kau. Bersama Ayu. Bersama..."
"Bersama ibu?" Raka menunjuk ke arah Dewi yang
masih berdiri di halaman, menangis.
Danang mengangguk. "Bersama ibumu. Sebagai teman.
Sebagai sahabat. Sebagai..."
"Sebagai keluarga," sambut Dewi, berjalan
mendekat, berdiri di samping Raka. "Kita keluarga, Danang. Mungkin tidak
utuh. Mungkin tidak sempurna. Tapi kita keluarga."
Mereka berpelukan.
Danang, Raka, Dewi.
Berpelukan di halaman rumah Kirana.
Berpelukan di bawah langit yang mulai gelap.
Berpelukan di bawah bintang-bintang yang mulai muncul.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang tidak utuh.
Keluarga yang tidak sempurna.
Tapi keluarga.
"Danang, aku juga ingin berpelukan," kata Kirana
dari beranda, matanya basah, senyumnya mengembang.
Danang tertawa. "Ayo, Kirana. Kita berpelukan bersama.
Kita keluarga. Kita semua keluarga."
Kirana berjalan mendekat.
Ia berdiri di samping Danang.
Mereka berpelukan.
Berlima.
Danang, Kirana, Raka, Dewi, dan Ayu yang baru saja tiba
dari menjemput keponakannya.
Berpelukan di halaman rumah.
Berpelukan di bawah langit yang penuh bintang.
Berpelukan sebagai keluarga yang baru terbentuk.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun.
Cinta yang sekarang, di senja hidup mereka, akhirnya
bersatu.
"Danang, aku sayang kau," bisik Kirana di telinga
Danang.
"Aku juga sayang kau, Kirana. Lebih dari apa pun di
dunia ini."
"Danang, aku juga sayang ayah," kata Raka,
suaranya masih bergetar.
"Aku juga sayang kau, Nak. Maafkan ayah."
"Danang, aku juga sayang kau," kata Dewi,
suaranya pelan, lembut.
"Aku juga sayang kau, Dewi. Sebagai teman. Sebagai
sahabat. Sebagai..."
"Sebagai keluarga," sambut Ayu. "Kita
keluarga. Kita semua keluarga."
Mereka tertawa.
Tertawa bersama.
Tertawa sebagai keluarga.
Tertawa sebagai orang yang saling mencintai.
Tertawa sebagai orang yang saling memaafkan.
Tertawa sebagai orang yang saling merindukan.
Tertawa sebagai orang yang akhirnya bersama.
Bab 8
Lelaki
yang Datang Membawa Penyesalan
Malam itu, setelah Raka dan Dewi pamit pulang, setelah Ayu
mengantarkan keponakannya tidur di kamar belakang, setelah Kirana membereskan
cangkir-cangkir teh yang berserakan di meja ruang tamu, hujan turun lagi. Bukan
hujan deras seperti malam-malam sebelumnya. Hujan gerimis. Pelan. Sayu. Seperti
langit sedang menangis pelan, tidak ingin mengganggu siapa pun dengan
kesedihannya.
Danang duduk di beranda, sendirian, ditemani oleh secangkir
teh jahe yang sudah dingin dan sebatang rokok kretek yang tidak pernah ia
nyalakan. Ia hanya memegang rokok itu, memutarnya di antara jari-jarinya yang
keriput, mencium aroma tembakau yang bercampur dengan cengkeh, mengingat masa
lalunya ketika ia masih muda dan bodoh dan penuh amarah.
"Danang, kau tidak tidur?" suara Kirana dari
dalam rumah, lembut, penuh perhatian.
"Belum, Kirana. Aku masih menikmati malam. Masih
menikmati hujan. Masih menikmati..."
"Masih menikmati apa?"
"Masih menikmati kenyataan bahwa aku di sini.
Bersamamu. Setelah tiga puluh tahun."
Kirana keluar rumah, membawa selimut tipis untuk Danang. Ia
menyelimuti pundak Danang yang sudah membungkuk, merapikan ujung-ujung selimut
yang terlepas, lalu duduk di kursi di sampingnya.
"Kau kedinginan, Danang. Pakai selimut. Jangan sampai
sakit. Kita sudah tua. Tidak seperti dulu."
"Kau masih perhatian, Kirana. Seperti dulu. Waktu kau
membawakanku pisang goreng di tepi sungai. Waktu kau membawakanku obat untuk
ibuku. Waktu kau..."
"Sudahlah, Danang. Jangan bicara tentang masa lalu.
Masa lalu sudah berlalu. Tidak bisa diubah. Yang penting sekarang kita di sini.
Bersama."
"Tapi masa lalu terus menghantuiku, Kirana. Setiap
malam. Setiap kali aku memejamkan mata. Aku melihat Arman. Aku melihat
surat-surat palsu. Aku melihat kau membanting pintu di depanku. Aku
melihat..."
"Sudah, Danang. Jangan. Aku tidak mau kau sakit. Aku
tidak mau kau..."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Langkh kaki yang berat.
Langkh kaki yang tidak stabil.
Langkh kaki yang disertai dengan suara tongkat yang
mengetuk-ngetuk tanah becek.
Danang dan Kirana menoleh ke arah suara.
Di kegelapan malam, di bawah cahaya bulan yang redup, di
bawah gerimis yang masih turun, seorang lelaki tua muncul.
Tubuhnya kurus, hampir seperti kerangka.
Wajahnya penuh kerutan, seperti peta yang mencatat setiap
tahun yang telah ia lalui, setiap kesalahan yang telah ia buat, setiap
penyesalan yang tidak pernah bisa ia perbaiki.
Rambutnya putih semua, tidak ada yang hitam, tipis, hampir
botak di bagian atas.
Matanya cekung, sayu, seperti orang yang sudah kehilangan
semangat hidup, seperti orang yang sudah menyerah pada takdir.
Ia berjalan dengan susah payah, ditopang oleh tongkat kayu
yang sudah halus karena sering dipegang, yang mungkin sudah berusia puluhan
tahun, yang mungkin adalah satu-satunya teman setianya.
Setiap langkah terasa berat, seperti sedang berjalan di
lumpur yang dalam, seperti sedang menyeret beban yang tidak terlihat.
Setiap napas terdengar tersengal-sengal, seperti orang yang
sedang sakit parah, seperti orang yang sedang berjuang melawan waktu.
"Arman?" bisik Danang, tidak percaya.
Arman.
Sahabatnya.
Saudaranya.
Pengkhianatnya.
Orang yang selama tiga puluh tahun ia benci.
Orang yang selama tiga puluh tahun ia coba lupakan.
Orang yang selama tiga puluh tahun ia harap mati.
Dan sekarang, orang itu berdiri di depannya.
Di halaman rumah Kirana.
Di tengah hujan gerimis.
Di tengah malam yang gelap.
Di tengah penyesalan yang tidak pernah berakhir.
"Danang... Kirana... maafkan aku... maafkan
aku..." suara Arman parau, hampir tidak terdengar, seperti suara yang
keluar dari dasar sumur yang paling dalam, seperti suara orang yang sudah
kehabisan air mata.
Kirana berdiri. Ia berjalan mendekati Arman, membuka pagar,
membiarkan lelaki tua itu masuk. "Arman, apa yang kau lakukan di sini?
Sudah malam. Hujan. Kau bisa sakit. Tubuhmu tidak kuat. Kau..."
"Aku tidak bisa tidur, Kirana. Aku tidak bisa tidur
selama bertahun-tahun. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat Danang. Aku
melihat kau. Aku melihat surat-surat yang aku tahan. Aku melihat surat-surat
palsu yang aku tulis. Aku melihat kehancuran yang aku sebabkan. Aku tidak
bisa..."
"Masuklah, Arman. Kau basah. Kau kedinginan.
Kau..."
"Tidak, Kirana. Aku tidak mau masuk. Aku tidak pantas
masuk ke rumahmu. Aku tidak pantas duduk di kursimu. Aku tidak pantas minum
dari cangkirmu. Aku tidak pantas..."
"Arman, jangan bicara seperti itu. Kau manusia. Kau
punya hak. Kau..."
"Aku tidak punya hak, Kirana. Aku sudah kehilangan
hakku ketika aku menahan surat-suratmu. Aku sudah kehilangan hakku ketika aku
menulis surat-surat palsu. Aku sudah kehilangan hakku ketika aku menghancurkan
kebahagiaan kalian. Aku sudah..."
Arman tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di halaman rumah Kirana.
Menangis di tengah hujan gerimis.
Menangis di hadapan Danang dan Kirana.
Menangis karena ia menyesal.
Menangis karena ia tidak bisa memperbaiki kesalahannya.
Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak pantas diampuni.
Danang berdiri.
Ia berjalan mendekati Arman.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Dengan tongkat di tangan.
Dengan langkah yang tidak stabil.
Dengan hati yang berdebar.
Ia berhenti di depan Arman.
Hanya satu lengan jaraknya.
Ia bisa melihat setiap kerutan di wajah Arman.
Ia bisa melihat setiap uban di rambutnya.
Ia bisa melihat setiap tetes air hujan yang jatuh dari
dagunya.
Ia bisa melihat setiap tetes air mata yang bercampur dengan
air hujan.
"Arman," panggilnya, suaranya pelan, lembut,
tidak seperti yang ia bayangkan.
Selama tiga puluh tahun, ia membayangkan akan membentak
Arman.
Selama tiga puluh tahun, ia membayangkan akan memukul
Arman.
Selama tiga puluh tahun, ia membayangkan akan membunuh
Arman.
Tapi sekarang, ketika Arman berdiri di depannya, ketika ia
melihat betapa hancurnya lelaki itu, ketika ia melihat betapa menyesalnya
lelaki itu, ketika ia melihat betapa sakitnya lelaki itu, ia tidak bisa marah.
Ia hanya bisa sedih.
Sedih untuk dirinya sendiri.
Sedih untuk Kirana.
Sedih untuk Arman.
Sedih untuk semua yang telah terjadi.
"Danang, aku datang ke sini malam ini karena aku tidak
tahu apakah aku masih punya waktu besok," kata Arman, suaranya
terputus-putus, seperti radio tua yang rusak, seperti pita kaset yang kusut.
"Dokter bilang, jantungku lemah. Aku bisa mati kapan saja. Aku tidak ingin
mati tanpa meminta maaf padamu. Aku tidak ingin mati tanpa mengakui semua
kesalahanku. Aku tidak ingin mati tanpa..."
"Kau tidak perlu meminta maaf, Arman. Itu sudah lama.
Aku sudah memaafkanmu."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri, Danang. Aku
belum bisa tidur nyenyak sejak hari itu. Aku belum bisa tersenyum tulus sejak
kau pergi. Aku belum bisa..."
"Itu bukan salahmu, Arman. Kau hanya... kau hanya
jatuh cinta. Kau hanya... kau hanya iri. Kau hanya..."
"Tapi aku yang menahan surat-surat Kirana. Aku yang
menulis surat-surat palsu. Aku yang berbohong pada kalian. Aku yang..."
"Kau manusia, Arman. Manusia boleh salah. Manusia boleh
jatuh cinta. Manusia boleh iri. Manusia boleh..."
"Tapi manusia juga harus bertanggung jawab atas
kesalahannya, Danang. Manusia juga harus meminta maaf. Manusia juga
harus..."
"Kau sudah minta maaf, Arman. Sekarang. Di sini. Di
depan aku. Di depan Kirana. Itu sudah cukup."
"Tapi apakah kau bisa memaafkanku, Danang? Apakah kau
bisa melupakan semua yang telah aku lakukan? Apakah kau bisa..."
"Aku bisa memaafkanmu, Arman. Aku sudah memaafkanmu
sejak lama. Sejak aku meninggalkan kota. Sejak aku memutuskan untuk memulai
hidup baru. Sejak aku sadar bahwa membenci tidak akan membuatku bahagia."
Arman menangis lebih keras.
Ia berlutut di halaman yang basah.
Di tanah yang becek.
Di rumput yang basah.
Di depan Danang.
"Maafkan aku, Danang. Maafkan aku. Maafkan aku.
Maafkan aku."
Danang memegang pundak Arman.
Ia membantunya berdiri.
"Jangan berlutut, Arman. Kau tidak perlu berlutut. Kau
tidak perlu merendahkan diri. Kau hanya perlu..."
"Aku hanya perlu apa, Danang?"
"Kau hanya perlu memaafkan dirimu sendiri."
Arman terdiam.
Ia menatap Danang.
Matanya yang cekung dan sayu, tiba-tiba berkaca-kaca.
"Bagaimana caranya, Danang? Bagaimana cara memaafkan
diri sendiri? Bagaimana cara..."
"Kau mulai dengan menerima bahwa kau manusia. Bahwa
kau bisa salah. Bahwa kau bisa jatuh. Bahwa kau bisa..."
"Tapi kesalahanku terlalu besar, Danang. Kesalahanku
menghancurkan hidup kalian. Kesalahanku mencuri tiga puluh tahun kebahagiaan
kalian. Kesalahanku..."
"Kesalahanmu juga mengajarkan kami banyak hal, Arman.
Kesalahanmu mengajarkan kami arti kesabaran. Kesalahanmu mengajarkan kami arti
pengampunan. Kesalahanmu mengajarkan kami arti..."
"Arti apa, Danang?"
"Arti cinta. Cinta tidak hanya tentang kebahagiaan.
Cinta juga tentang penderitaan. Cinta tidak hanya tentang memiliki. Cinta juga
tentang melepaskan. Cinta tidak hanya tentang bersama. Cinta juga
tentang..."
"Tentang apa?"
"Tentang memaafkan."
Arman menangis lagi.
Ia memeluk Danang.
Memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut Danang akan pergi lagi.
Seperti takut ini hanya mimpi.
"Danang, aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.
Aku tidak tahu bagaimana..."
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Arman. Cukup kau
hidup. Cukup kau bahagia. Cukup kau..."
"Tapi bagaimana aku bisa bahagia, Danang? Setelah
semua yang telah aku lakukan? Setelah semua yang..."
"Kau mulai dengan memaafkan dirimu sendiri. Seperti
yang aku katakan tadi. Menerima bahwa kau manusia. Menerima bahwa kau bisa
salah. Menerima bahwa kau..."
"Aku mencoba, Danang. Aku sudah mencoba selama
bertahun-tahun. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Aku tidak bisa..."
"Kau butuh bantuan, Arman. Kau butuh teman. Kau butuh
keluarga. Kau butuh..."
"Aku tidak punya siapa-siapa, Danang. Keluargaku sudah
meninggal. Teman-temanku sudah pergi. Aku sendirian. Aku..."
"Kau tidak sendirian, Arman. Aku di sini. Kirana di
sini. Kami akan membantumu. Kami akan menjagamu. Kami akan..."
"Kalian baik, Danang. Kalian terlalu baik untuk orang
seperti aku."
"Tidak ada yang terlalu baik, Arman. Setiap orang
berhak mendapatkan kesempatan kedua. Setiap orang berhak..."
"Apakah aku berhak, Danang? Apakah aku berhak
mendapatkan kesempatan kedua? Apakah aku..."
"Kau berhak, Arman. Karena kau manusia. Karena kau
masih hidup. Karena kau masih..."
Arman tersenyum.
Senyum yang lemah.
Senyum yang tidak secerah biasanya.
Tapi senyum.
"Terima kasih, Danang. Terima kasih, Kirana. Aku tidak
akan melupakan kebaikan kalian. Aku akan berdoa untuk kalian setiap hari. Aku
akan..."
"Kau tidak perlu berdoa untuk kami, Arman. Cukup kau
berdoa untuk dirimu sendiri. Cukup kau..."
"Baik, Danang. Aku akan berdoa untuk diriku sendiri.
Aku akan memaafkan diriku sendiri. Aku akan..."
"Kau bisa, Arman. Aku percaya kau bisa."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di halaman rumah Kirana.
Berpelukan di tengah hujan gerimis.
Berpelukan di tengah malam yang gelap.
Berpelukan sebagai sahabat.
Sahabat yang pernah tersesat.
Sahabat yang pernah saling membenci.
Sahabat yang sekarang saling memaafkan.
"Arman, kau mau masuk? Aku buatkan teh hangat,"
tanya Kirana, suaranya lembut, penuh perhatian.
"Tidak, Kirana. Aku harus pulang. Aku sudah merepotkan
kalian. Aku sudah..."
"Kau tidak merepotkan, Arman. Kami senang kau datang.
Kami senang kau..."
"Lain kali, Kirana. Lain kali aku akan mampir. Lain
kali aku akan minum teh buatanmu. Lain kali aku akan..."
"Janji, Arman? Janji kau akan mampir?"
Arman mengangguk. "Janji, Kirana. Aku janji."
Ia berbalik.
Berjalan perlahan.
Meninggalkan halaman.
Meninggalkan Danang dan Kirana.
Meninggalkan penyesalan.
Meninggalkan masa lalu.
Meninggalkan semua yang telah terjadi.
"Arman!" panggil Danang.
Arman berhenti. Ia menoleh.
"Kau tidak sendirian, Arman. Ingat itu. Kau tidak
sendirian."
Arman tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Senyum yang mengatakan bahwa ia lega.
Senyum yang mengatakan bahwa ia diampuni.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak sendirian.
"Terima kasih, Danang. Terima kasih, Kirana. Aku
mencintai kalian berdua. Sebagai sahabat. Sebagai saudara. Sebagai..."
"Sebagai keluarga," sambut Kirana.
Arman mengangguk.
Ia berjalan lagi.
Menghilang di balik kegelapan malam.
Di balik pohon-pohon rambutan.
Di balik suara jangkrik dan katak.
Di balik hujan gerimis yang masih turun.
Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan di halaman.
"Danang, kau benar-benar memaafkannya?" tanya
Kirana.
"Iya, Kirana. Aku benar-benar memaafkannya."
"Kenapa? Setelah semua yang ia lakukan? Setelah semua
penderitaan yang ia sebabkan? Setelah..."
"Karena aku tidak ingin membawa amarah sampai mati,
Kirana. Karena aku tidak ingin seperti Surya. Karena aku tidak ingin..."
"Kau baik, Danang. Kau terlalu baik untuk dunia
ini."
"Aku tidak baik, Kirana. Aku hanya lelah. Lelah marah.
Lelah benci. Lelah dendam. Lelah..."
"Lelah apa?"
"Lelah menjadi korban."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
"Aku bangga padamu, Danang. Aku bangga menjadi
kekasihmu. Aku bangga menjadi..."
"Kau belum menjadi kekasihku lagi, Kirana. Kita
belum..."
"Aku akan menjadi kekasihmu lagi, Danang. Jika kau
mau. Jika kau masih..."
"Aku mau, Kirana. Aku selalu mau. Sejak dulu. Sejak
kita di tepi sungai. Sejak kau memberikan bunga kuning itu padaku.
Sejak..."
"Sudah, Danang. Jangan bicara tentang masa lalu. Masa
lalu sudah berlalu. Yang penting sekarang kita di sini. Bersama."
Mereka berpelukan di halaman rumah Kirana.
Berpelukan di tengah hujan gerimis.
Berpelukan di tengah malam yang gelap.
Berpelukan sebagai kekasih.
Kekasih yang pernah terpisah.
Kekasih yang pernah saling membenci.
Kekasih yang sekarang saling mencintai.
"Danang, aku sayang kau," bisik Kirana.
"Aku juga sayang kau, Kirana. Lebih dari apa pun di
dunia ini."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berciuman.
Ciuman pertama setelah tiga puluh tahun.
Ciuman yang lembut.
Ciuman yang hangat.
Ciuman yang penuh dengan cinta.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka telah menunggu terlalu
lama.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka tidak akan berpisah
lagi.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka akan bersama selamanya.
Sampai mati.
Bab 9
Malam
Terakhir di Beranda
Malam itu, meskipun tubuhnya sudah sangat lemah, meskipun
doktor di puskesmas sudah memperingatkan agar ia tidak banyak bergerak,
meskipun Raka dan Ayu sudah melarangnya untuk keluar rumah setelah matahari
terbenam, Danang meminta untuk duduk di beranda. Ia ingin merasakan angin malam
di wajahnya untuk terakhir kalinya. Ia ingin mendengar suara jangkrik dan katak
untuk terakhir kalinya. Ia ingin melihat bintang-bintang di langit untuk
terakhir kalinya. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Kirana untuk terakhir
kalinya.
"Kirana, tolong antar aku ke beranda," pinta
Danang, suaranya lemah, napasnya pendek, matanya sayu. "Aku ingin duduk di
luar. Aku ingin merasakan angin malam. Aku ingin..."
"Danang, kau tidak boleh. Dokter bilang kau harus
istirahat. Jangan memaksakan diri. Nanti kau..."
"Kirana, tolong. Ini mungkin malam terakhirku. Aku
tidak ingin mati di dalam kamar. Aku tidak ingin mati tanpa melihat bintang.
Aku tidak ingin mati tanpa..."
"Jangan bicara seperti itu, Danang. Kau tidak akan
mati. Kita masih panjang umur. Kita masih bisa bersama. Kita masih
bisa..."
"Kita sudah tua, Kirana. Kita tidak tahu kapan kita
akan mati. Bisa besok. Bisa lusa. Bisa minggu depan. Bisa bulan depan. Yang
penting, malam ini aku ingin duduk di beranda. Bersamamu. Menikmati angin
malam. Menikmati bintang. Menikmati..."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menolak.
Ia tidak tega menolak.
Ia membantu Danang berdiri dari ranjang. Satu tangan Kirana
melingkar di pinggang Danang, tangan satunya memegang tangannya yang dingin.
Mereka berjalan sangat lambat, langkah demi langkah, berhenti di setiap anak
tangga untuk mengatur napas. Tubuh Danang terasa sangat ringan di pelukannya,
seperti orang yang sudah kehilangan separuh berat badannya, seperti orang yang
sedang sekarat.
"Pelankan langkahmu, Danang. Jangan terburu-buru. Kita
tidak ke mana-mana. Kita hanya ke beranda. Masih banyak waktu. Masih..."
"Waktu tidak banyak, Kirana. Aku bisa merasakannya.
Aku bisa merasakan bahwa waktuku hampir habis. Aku bisa merasakan
bahwa..."
"Jangan, Danang. Jangan bicara seperti itu. Aku tidak
mau mendengarnya. Aku tidak mau..."
"Kita harus realistis, Kirana. Kita sudah tua. Kita
sakit. Kita tidak abadi. Kita akan mati. Itu fakta. Tidak bisa..."
"Tapi aku tidak siap, Danang. Aku tidak siap
kehilanganmu lagi. Aku sudah kehilanganmu sekali. Aku tidak bisa kehilanganmu
dua kali. Aku tidak bisa..."
"Kau tidak akan kehilangan aku, Kirana. Aku akan
selalu bersamamu. Dalam doamu. Dalam kenanganmu. Dalam..."
"Aku tidak mau kenangan, Danang. Aku mau kau. Aku mau
kau di sini. Aku mau kau..."
"Kita tidak bisa memilih, Kirana. Kita hanya bisa
menerima. Menerima apa yang diberikan Tuhan. Menerima apa yang..."
"Tapi aku belum siap menerima, Danang. Aku belum
siap..."
Akhirnya mereka sampai di beranda. Kirana membantunya duduk
di kursi rotan yang sudah reyot, yang sandarannya longgar, yang bantalnya
pipis, yang kakinya ditopang dengan potongan kayu agar tidak goyang. Ia
mengambil selimut tipis dari dalam, menyelimuti kaki Danang yang mulai membiru
karena dingin. Ia mengambil bantal kecil dari kamar, menyangga punggung Danang
agar ia tidak terlalu membungkuk.
Lalu ia duduk di sampingnya. Kursi yang sama. Kursi yang
hanya cukup untuk satu orang, tetapi mereka berdua duduk di sana, berdesakan,
hangat, seperti dua burung yang bertengger di dahan yang sama, seperti dua anak
kecil yang berbagi bangku di sekolah.
Langit malam itu bersih. Tidak ada awan. Bintang-bintang
terlihat sangat jelas, seperti berlian yang tersebar di atas kain beludru
hitam, seperti pasir keemasan yang bertebaran di lautan gelap, seperti
mata-mata kecil yang berkedip-kedip mengirimkan pesan rahasia. Bulan hampir
penuh, hanya sedikit yang kurang, memancarkan cahaya keperakan yang lembut,
yang membuat dunia terlihat seperti mimpi, seperti negeri dongeng, seperti
surga di bumi.
Sungai di kejauhan terdengar tenang. Airnya mengalir pelan,
tidak seperti biasanya yang bergolak di musim hujan. Mungkin sungai itu juga
sedang tenang, seperti tahu bahwa malam ini adalah malam yang istimewa, seperti
tahu bahwa dua insang yang saling mencintai sedang menghabiskan waktu terakhir
mereka bersama. Mungkin sungai itu juga ikut berduka, tetapi tidak mau
menunjukkan kesedihannya, karena tidak ingin mengganggu.
Angin malam berhembus pelan, membawa wangi bunga melati
dari kebun tetangga, membawa wangi tanah basah dari sawah yang baru digarap,
membawa wangi sungai dari tepian yang berlumpur. Angin yang lembut, seperti
belaian tangan ibu, seperti bisikan kekasih, seperti doa yang dipanjatkan
dengan penuh harap.
"Kirana, apa kau ingat malam pertama kita di beranda
ini?" tanya Danang, suaranya pelan, lembut, seperti angin malam yang
berhembus.
"Yang mana, Danang? Ada banyak malam. Aku tidak bisa
mengingat semuanya. Aku sudah tua. Ingatanku sudah..."
"Yang ketika kau bilang, 'Danang, aku takut kita tidak
akan bersama selamanya.' Yang ketika kau bilang, 'Danang, aku takut cinta kita
tidak cukup kuat.' Yang ketika kau bilang, 'Danang, aku takut...'"
Kirana tersenyum. "Aku ingat, Danang. Aku ingat malam
itu. Aku ingat bagaimana kau menggenggam tanganku. Aku ingat bagaimana kau
bilang, 'Cinta kita cukup kuat, Kirana. Aku yakin. Kau juga harus yakin.' Aku
ingat bagaimana kau..."
"Dan aku benar, Kirana. Cinta kita cukup kuat. Cinta
kita bertahan selama tiga puluh tahun. Cinta kita melewati badai. Cinta kita
melewati pengkhianatan. Cinta kita melewati..."
"Cinta kita melewati segalanya, Danang. Cinta kita
tidak pernah mati. Cinta kita hanya tidur. Cinta kita hanya..."
"Cinta kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk
bangun lagi."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara angin.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara hati.
"Kirana, aku ingin kau tahu sesuatu," kata Danang
setelah beberapa lama.
"Apa, Danang?"
"Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Tidak selama
tiga puluh tahun. Tidak selama aku bekerja di percetakan. Tidak selama aku menjadi
kuli bangunan di Jakarta. Tidak selama aku tidur di emperan toko. Tidak selama
aku sakit. Tidak selama aku..."
"Danang, jangan..."
"Dengarkan aku, Kirana. Ini mungkin terakhir kalinya
aku bisa bicara seperti ini. Aku tidak ingin menyimpan apa pun. Aku tidak ingin
menyesal. Aku ingin..."
"Baik, Danang. Aku mendengarkan. Aku
mendengarkan."
Danang menarik napas panjang.
Napas yang terasa berat.
Napas yang terasa seperti mengeluarkan seluruh isi dadanya.
"Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu di
tepi sungai. Waktu kau masih kecil. Waktu kau memegang bunga liar di tanganmu.
Waktu kau bilang, 'Kau kelihatan seperti orang yang butuh sesuatu yang cantik
dalam hidupmu.' Waktu itu, aku tidak tahu apa itu cinta. Aku hanya tahu bahwa
aku ingin selalu di dekatmu. Aku hanya tahu bahwa aku ingin selalu melihat
senyummu. Aku hanya tahu bahwa aku ingin..."
Kirana menangis.
Air matanya jatuh.
Membasahi pipinya.
Membasahi kebaya putihnya.
Membasahi tangannya yang menggenggam tangan Danang.
"Aku juga, Danang. Aku juga mencintaimu sejak pertama
kali aku melihatmu di tepi sungai. Waktu kau masih kecil. Waktu kau duduk di
akar pohon waru. Waktu kau melempar batu ke sungai. Waktu itu, aku tidak tahu
apa itu cinta. Aku hanya tahu bahwa aku ingin selalu di dekatmu. Aku hanya tahu
bahwa aku ingin selalu melihat matamu yang gelap. Aku hanya tahu bahwa aku
ingin..."
"Kita bodoh, Kirana. Kita membuang waktu
bertahun-tahun hanya karena surat palsu. Kita membuang waktu bertahun-tahun
hanya karena ketidakpercayaan. Kita membuang waktu bertahun-tahun hanya
karena..."
"Kita tidak bodoh, Danang. Kita hanya manusia. Kita
hanya khilaf. Kita hanya..."
"Kita hanya takut. Takut kehilangan. Takut disakiti.
Takut..."
"Takut cinta kita tidak cukup kuat."
"Tapi cinta kita cukup kuat, Kirana. Cinta kita
melewati semuanya. Cinta kita..."
"Cinta kita abadi, Danang. Cinta kita tidak akan
pernah mati. Cinta kita akan terus hidup. Dalam kenangan. Dalam doa.
Dalam..."
"Dalam hati kita. Selamanya."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di beranda.
Berpelukan di bawah bintang.
Berpelukan di bawah bulan.
Berpelukan di bawah langit yang luas.
"Kirana, aku ingin kau janji sesuatu," bisik
Danang.
"Apa, Danang?"
"Janji bahwa kau akan bahagia. Bahwa kau tidak akan
menangis. Bahwa kau tidak akan..."
"Aku tidak bisa janji, Danang. Aku akan sedih. Aku
akan menangis. Aku akan..."
"Tapi kau harus bahagia, Kirana. Untukku. Untuk
anak-anak kita. Untuk..."
"Bagaimana aku bisa bahagia tanpa kau, Danang?
Bagaimana aku bisa..."
"Kau bisa, Kirana. Kau kuat. Kau tegar. Kau tidak
pernah menyerah. Kau..."
"Aku tidak kuat, Danang. Aku lemah. Aku rapuh.
Aku..."
"Kau kuat, Kirana. Aku tahu. Kau sudah membuktikannya.
Selama tiga puluh tahun. Kau bertahan. Kau tidak menyerah. Kau..."
"Aku bertahan karena aku berharap kau kembali. Aku
tidak menyerah karena aku percaya pada cinta kita. Aku..."
"Sekarang aku sudah kembali, Kirana. Sekarang cinta
kita sudah bersatu. Sekarang kau bisa bahagia. Sekarang kau bisa..."
"Tapi kau akan pergi lagi, Danang. Kau akan
meninggalkanku lagi. Kau akan..."
"Aku tidak akan pergi, Kirana. Aku akan selalu
bersamamu. Dalam doamu. Dalam kenanganmu. Dalam..."
"Aku tidak mau kenangan, Danang. Aku mau kau. Aku mau
kau di sini. Aku mau kau..."
"Kita tidak bisa memilih, Kirana. Kita hanya bisa
menerima. Menerima apa yang diberikan Tuhan. Menerima apa yang..."
"Tapi aku belum siap menerima, Danang. Aku belum
siap..."
"Kau harus siap, Kirana. Karena waktu tidak akan
menunggumu. Karena hidup tidak akan..."
"Danang, jangan..."
"Kirana, dengarkan aku. Ini penting."
Kirana diam.
Ia mendengarkan.
Ia menangis.
Ia memeluk Danang erat-erat.
"Kirana, aku ingin kau tahu bahwa aku bahagia. Bahagia
karena aku bisa kembali. Bahagia karena aku bisa bertemu denganmu lagi. Bahagia
karena aku bisa mencintaimu lagi. Bahagia karena aku bisa..."
"Danang, aku juga bahagia. Bahagia karena kau kembali.
Bahagia karena kau di sini. Bahagia karena kau..."
"Tapi aku juga sedih, Kirana. Sedih karena waktu kita
singkat. Sedih karena kita tidak bisa bersama lama. Sedih karena..."
"Jangan sedih, Danang. Kita masih punya waktu. Kita
masih bisa bersama. Kita masih bisa..."
"Berapa lama, Kirana? Berapa lama lagi kita bisa
bersama? Berapa lama lagi..."
"Entahlah, Danang. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, hari
ini kita bersama. Hari ini kita bahagia. Hari ini kita..."
"Kita mencintai satu sama lain."
Mereka berciuman.
Ciuman yang lembut.
Ciuman yang hangat.
Ciuman yang penuh dengan cinta.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka telah menunggu terlalu
lama.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka tidak akan berpisah lagi.
Ciuman yang mengatakan bahwa mereka akan bersama selamanya.
Sampai mati.
"Kirana, aku sayang kau," bisik Danang.
"Aku juga sayang kau, Danang. Lebih dari apa pun di
dunia ini."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di beranda.
Berpelukan di bawah bintang.
Berpelukan di bawah bulan.
Berpelukan di bawah langit yang luas.
Berpelukan sebagai kekasih.
Kekasih yang pernah terpisah.
Kekasih yang pernah saling membenci.
Kekasih yang sekarang saling mencintai.
Kekasih yang akan bersama selamanya.
Sampai mati.
Bab 10
Pagi
yang Tidak Lagi Sama
Pagi datang sangat tenang. Tidak ada hujan. Tidak ada
angin. Tidak ada suara selain burung kecil di pohon waru yang bernyanyi dengan
riang, seolah tidak tahu bahwa dunia telah kehilangan seseorang, seolah tidak peduli
bahwa hati seseorang telah hancur, seolah alam sedang merayakan sesuatu yang
tidak dimengerti oleh manusia.
Matahari terbit dengan indahnya, menyapa bumi dengan cahaya
keemasan yang hangat, yang lembut, yang seperti pelukan dari surga. Awan-awan
tipis berarak perlahan di langit biru, seperti sedang berjalan-jalan santai,
seperti tidak ada yang perlu dikejar, seperti tidak ada yang perlu ditakutkan.
Desa mulai bangun. Ayam-ayam berkokok bersahutan, saling memberi tahu bahwa
pagi telah tiba, bahwa hari baru telah dimulai. Asap mulai mengepul dari
cerobong dapur rumah-rumah penduduk, asap tipis yang membawa aroma kayu bakar
dan rempah-rempah dan nasi yang baru ditanak.
Kirana datang seperti biasa. Setiap pagi, sejak Danang
kembali ke desa, ia selalu datang sebelum matahari terbit. Membawa teh hangat
dalam termos tua yang sudah berkarat di beberapa tempat, termos warna hijau
army yang dulu hadiah pernikahannya dengan almarhum suami. Membawa sepiring
pisang goreng untuk sarapan, pisang yang masih hangat, yang masih mengepulkan
uap, yang renyah di luar dan lembut di dalam. Membawa senyum di bibir, senyum
yang sama seperti tiga puluh tahun lalu, senyum yang tidak pernah berubah
meskipun waktu telah mengubah segalanya.
"Danang! Bangun! Aku bawa teh hangat! Pisang goreng!
Sarapan!" seru Kirana dari depan pintu, suaranya ceria, riang, seperti
burung kenari yang baru belajar berkicau. Ia mengetuk pintu kayu yang sudah
tua, pintu yang engselnya berkarat, pintu yang sudah berderit setiap kali
dibuka dan ditutup.
Tidak ada jawaban.
"Danang! Ayo bangun! Nanti tehnya dingin! Pisang
gorengnya tidak enak!" serunya lagi, lebih keras, sedikit panik.
Jantungnya berdebar lebih cepat. Ada firasat tidak enak di dadanya. Ada sesuatu
yang mengganjal di tenggorokannya. Ada sesuatu yang tidak beres.
Masih tidak ada jawaban.
"Danang! Kau dengar aku? Danang!"
Diam.
Sunyi.
Hanya suara burung di pohon waru.
Hanya suara ayam di kejauhan.
Hanya suara jantungnya yang berdebar kencang.
Ia mendorong pintu. Pintu itu terbuka dengan suara berderit
panjang, seperti suara orang tua yang mengeluh karena diganggu dari tidurnya,
seperti suara sesuatu yang bangun setelah sekian lama tertidur. Kirana masuk ke
dalam rumah. Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi. Bahkan lantai kayu yang biasanya
berderit ketika diinjak, seolah ikut diam. Bahkan angin yang biasanya masuk
melalui celah-celah dinding, seolah berhenti berhembus. Bahkan debu-debu yang
biasanya menari di udara ketika terkena sinar matahari, seolah membeku.
Ia berjalan ke kamar Danang. Langkahnya pelan, berat,
seperti kakinya terbenam di lumpur, seperti ada beban yang menggantung di
setiap langkahnya. Tangannya gemetar. Bibirnya gemetar. Seluruh tubuhnya
gemetar.
"Danang," panggilnya sekali lagi, suaranya hampir
berbisik, hampir tidak terdengar, seperti doa yang dipanjatkan dengan penuh
harap, seperti permohonan yang tidak akan dikabulkan.
Danang masih berbaring di ranjang. Wajahnya tenang. Sangat
tenang. Tidak ada kerutan di dahinya yang biasanya mengerut ketika ia
memikirkan masa lalu. Tidak ada rasa sakit di wajahnya yang biasanya muncul
ketika ia batuk atau sesak napas. Tidak ada beban di pundaknya yang biasanya membuat
ia terlihat lebih tua dari usianya.
Bibirnya sedikit tersenyum, senyum yang tidak pernah ia
tunjukkan ketika masih hidup, senyum yang hanya muncul dalam tidurnya, senyum
yang mengatakan bahwa ia sedang bermimpi indah, senyum yang mengatakan bahwa ia
telah menemukan kedamaian.
Tangannya di atas dada, tergenggam satu sama lain, seperti
sedang berdoa, seperti sedang memeluk sesuatu yang tidak terlihat, seperti
sedang memegang pita biru yang selama tiga puluh tahun ia simpan di kotak kayu.
Seperti seseorang yang sedang tidur setelah perjalanan yang
sangat panjang. Perjalanan yang penuh lika-liku. Perjalanan yang penuh onak dan
duri. Perjalanan yang penuh air mata dan tawa. Perjalanan yang melelahkan.
Perjalanan yang hampir membuatnya menyerah di tengah jalan. Tetapi akhirnya, ia
sampai. Ia pulang. Ia beristirahat.
Kirana tersenyum kecil. Senyum yang lembut, penuh kasih
sayang, penuh kesedihan, penuh kehilangan.
"Bangun, Danang," katanya pelan, suaranya lembut,
seperti sedang membangunkan bayi yang baru lahir, seperti sedang membangunkan
kekasih yang tertidur di pangkuannya. "Tehnya dingin nanti. Pisang
gorengnya tidak enak. Aku sudah repot-repot membuatkan untukmu.
Bangunlah."
Tak ada jawaban.
"Danang, ini tidak lucu. Bangun. Aku tidak suka kau
berbohong. Aku tidak suka kau..."
Ia mendekat.
Langkhnya pelan.
Hampir tidak bersuara.
Ia menyentuh tangan Danang.
Dingin.
Sangat dingin.
Dingin yang berbeda dengan dinginnya tidur.
Dingin yang mengatakan bahwa jiwa telah pergi.
Dingin yang mengatakan bahwa yang tersisa hanyalah
cangkang.
Dingin yang mengatakan bahwa perjalanan telah usai.
Cangkir di tangannya jatuh ke lantai.
Byar!
Suara pecahnya kaca memecah kesunyian pagi.
Teh hangat tumpah, membentuk genangan kecil di lantai kayu
yang berderit.
Cangkir keramik putih dengan pinggiran biru itu pecah
berkeping-keping, seperti hati Kirana yang baru saja hancur untuk kesekian
kalinya, seperti mimpi-mimpi yang baru saja pupus, seperti harapan-harapan yang
baru saja mati.
"Danang..." bisiknya, suaranya pecah, tangisnya
keluar. "Danang, jangan... jangan tinggalkan aku... jangan..."
Ia duduk di sisi ranjang.
Perlahan.
Dengan hati-hati.
Seperti takut membangunkan Danang dari tidurnya.
Seperti takut mengganggu ketenangannya.
Seperti takut bahwa jika ia bergerak terlalu cepat, Danang
akan benar-benar pergi.
Ia menggenggam tangan Danang yang sudah dingin.
Tangannya yang keriput dan gemetar, menggenggam tangan
Danang yang juga keriput dan dingin.
Ia menyandarkan dahinya ke tangan itu.
Dahinya yang keriput.
Tangannya yang dingin.
Dan akhirnya, air matanya jatuh.
Pelan.
Diam.
Seperti hujan kecil yang datang setelah kemarau panjang.
Seperti air yang akhirnya menembus bendungan setelah sekian
lama ditahan.
Seperti doa yang akhirnya dijawab dengan cara yang tidak
pernah ia duga.
"Kenapa kau pergi, Danang?" bisiknya di antara
isak tangisnya. "Kenapa kau tinggalkan aku? Kenapa kau... kau bilang tidak
akan pergi. Kau bilang akan selalu di sini. Kau bilang akan bersamaku
selamanya. Kau bilang..."
Ia tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di samping ranjang.
Menangis di samping mayat kekasihnya.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis karena ia kehilangan.
Menangis karena ia sendirian.
Menangis karena ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Bu Kirana! Bu Kirana!"
Suara Ayu dari luar rumah.
Ia berlari masuk, dengan wajah panik, dengan mata cemas,
dengan napas tersengal-sengal.
"Ibu, aku dengar suara pecahan kaca. Ibu tidak
apa-apa? Ibu..."
Ia berhenti di depan pintu kamar.
Matanya tertuju pada Kirana yang duduk di sisi ranjang,
menangis.
Matanya tertuju pada Danang yang terbaring diam dengan
senyum di bibir.
"Pak Danang..." bisik Ayu, suaranya gemetar.
"Pak Danang... meninggal?"
Kirana mengangguk pelan.
Tidak bisa bicara.
Hanya bisa menangis.
Ayu berlari mendekat.
Ia memeriksa denyut nadi Danang.
Dingin.
Tidak ada denyut.
Ia memeriksa pernapasan Danang.
Diam.
Tidak ada napas.
Ia memeriksa mata Danang.
Terpejam.
Tidak akan terbuka lagi.
"Bu, saya panggil Pak Raka. Saya panggil Pak Bima.
Saya panggil Pak RT. Saya panggil..."
"Panggil siapa saja, Ayu. Panggil semua orang. Biar
mereka tahu bahwa Danang Wiratama telah pergi. Biar mereka tahu bahwa pahlawan
desa ini telah tiada. Biar mereka tahu bahwa..."
Ayu mengangguk.
Ia berlari keluar rumah.
Mencari sinyal di ponselnya.
Menekan nomor Raka.
"Raka, cepat ke sini! Ayahmu... ayahmu
meninggal!"
Tiga puluh menit kemudian, rumah Kirana dipenuhi orang.
Raka datang dengan mobil Avanza hitamnya, melaju kencang,
hampir menabrak pohon mangga di halaman. Wajahnya pucat, matanya merah,
tangannya gemetar. Ia berlari masuk ke kamar, langsung jatuh berlutut di
samping ranjang, memegang tangan ayahnya yang sudah dingin.
"Ayah... Ayah... maafkan aku... maafkan aku karena
tidak bisa menjadi anak yang baik... maafkan aku karena tidak pernah mengatakan
bahwa aku sayang ayah... maafkan aku karena..."
Ia tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di samping mayat ayahnya.
Menangis karena ia menyesal.
Menangis karena ia kehilangan.
Menangis karena ia tidak bisa memutar waktu.
Dewi datang bersama Raka. Ia berdiri di pintu kamar,
menangis, tidak berani mendekat. "Danang... maafkan aku... maafkan aku
karena tidak bisa membuatmu bahagia... maafkan aku karena..."
"Bu Dewi, masuklah. Ayah tidak akan marah. Ayah sudah
memaafkan semua orang," kata Raka sambil terus menangis.
Dewi masuk.
Ia duduk di sisi lain ranjang.
Memegang tangan Danang yang lain.
"Danang, istirahatlah dengan tenang. Kau sudah
berjuang cukup lama. Kau sudah menderita cukup lama. Kau sudah..."
"Kau sudah mencintai cukup lama," sambut Kirana
dari sisi ranjang yang lain. "Dan cintamu tidak akan pernah sia-sia.
Cintamu akan terus hidup. Dalam diri kami. Dalam kenangan kami. Dalam..."
Bima datang dengan tongkatnya, dengan tubuh bungkuk, dengan
wajah penuh kerutan. Ia berdiri di pintu kamar, menangis, tidak kuasa mendekat.
"Danang... sahabatku... kau pergi terlalu cepat... kita masih belum
selesai bercerita... kita masih belum..."
"Bima, masuklah. Danang tidak suka dilihat dari jauh.
Danang suka orang yang berani. Danang suka..."
Bima masuk.
Ia duduk di kursi di samping pintu.
Tidak bisa mendekat.
Tangannya terlalu gemetar.
Matanya terlalu kabur.
"Danang, kau tahu? Aku iri padamu. Kau berani. Kau
tidak takut pada siapa pun. Kau..."
"Kau juga berani, Bima. Kau tetap menjadi sahabatku
ketika semua orang menjauh. Kau..."
"Tapi aku tidak bisa seperti kau. Aku tidak
bisa..."
"Kau sudah seperti aku, Bima. Kau sudah menjadi
pahlawan bagi keluargamu. Kau sudah..."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara tangis.
Hanya suara doa.
Hanya suara hati.
Ayu membawa keponakannya yang masih kecil, seorang anak
laki-laki berusia lima tahun bernama Adi. Adi belum mengerti apa itu kematian.
Ia hanya melihat orang-orang dewasa menangis, dan ia ikut menangis karena ia
takut.
"Om Danang kenapa, Tante Ayu?" tanya Adi, matanya
polos, tidak mengerti.
"Om Danang sudah pergi, Adi. Om Danang sudah di surga.
Om Danang sudah..."
"Kapan Om Danang kembali, Tante? Om Danang janji mau
belikan aku mobil-mobilan. Om Danang..."
"Om Danang tidak akan kembali, Adi. Om Danang
sudah..."
"Kenapa, Tante? Kenapa Om Danang tidak kembali? Apakah
Om Danang marah padaku? Apakah Om Danang..."
"Om Danang tidak marah, Adi. Om Danang sayang padamu.
Om Danang..."
"Tapi kenapa Om Danang pergi? Kenapa Om
Danang..."
Ayu menangis.
Ia tidak bisa menjawab.
Ia hanya memeluk Adi erat-erat.
"Om Danang pergi karena Om Danang sudah terlalu lelah,
Adi. Om Danang sudah berjuang cukup lama. Om Danang sudah..."
"Tapi aku akan merindukan Om Danang, Tante. Aku
akan..."
"Kita semua akan merindukan Om Danang, Adi. Kita
semua."
Pak RT Santoso datang dengan beberapa orang tua di desa.
Mereka membantu mengurus pemakaman. Mereka menggali kubur di pemakaman desa di
lereng bukit, di bawah pohon beringin tua, di samping makam Ratih, ibu Danang.
"Ini makam ibunya, ya?" tanya Pak RT Santoso,
sambil membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar makam.
"Iya, Pak. Ratih. Meninggal tiga puluh tahun lalu.
Waktu Danang masih kecil. Waktu Danang..."
"Danang pasti senang bisa dekat dengan ibunya. Danang
pasti..."
"Danang pasti bahagia. Danang pasti..."
Mereka menurunkan peti mati ke dalam liang kubur. Peti kayu
sederhana, terbuat dari papan kayu nangka, berwarna coklat muda, dengan ukiran
bunga melati di tutupnya. Peti yang dibuat oleh Bima dan Raka, dengan tangan
yang gemetar, dengan mata yang basah, dengan hati yang hancur.
"Danang Wiratama telah berpulang ke rahmatullah pada
hari Sabtu, tanggal 15 November 2008, pukul 04.30 pagi. Jenazah akan dimakamkan
di pemakaman desa ini. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Semoga amal ibadahnya diterima. Semoga dosa-dosanya diampuni. Semoga..."
suara pemuka agama menggema di pemakaman, sayup-sayup, terbawa angin, naik ke
langit, sampai ke tempat yang tidak bisa dijangkau manusia.
Kirana berdiri paling dekat dengan pusara.
Di tangannya, ia memegang pita biru.
Pita yang warnanya hampir putih.
Pita yang kainnya sudah rapuh.
Pita yang menjadi saksi bisu cinta mereka.
Pita yang menemani Danang selama tiga puluh tahun.
Pita yang sekarang akan menemani Danang untuk selama-lamanya.
"Danang, aku simpan pita ini untukmu," bisiknya,
suaranya pelan, lembut, seperti sedang berbicara dengan Danang yang masih
hidup. "Kau bawa ke surga. Kau simpan di sana. Kau ingat aku. Kau..."
Ia menaruh pita itu di atas peti.
Perlahan.
Dengan hati-hati.
Seperti sedang meletakkan bayi tidur di buaian.
Seperti sedang meletakkan kenangan di tempat yang aman.
Seperti sedang meletakkan cinta di dalam kubur.
"Selamat jalan, Danang. Aku akan menyusul. Tunggu aku
di sana. Kita akan bersama lagi. Kita akan..."
Tanah mulai ditaburkan.
Suara tanah jatuh ke peti.
Suara yang berat.
Suara yang menyayat hati.
Suara yang mengatakan bahwa semuanya telah berakhir.
"Danang! Danang! Jangan pergi! Aku belum siap! Aku
belum..." teriak Kirana, mencoba menerobos, tetapi Raka dan Ayu
menahannya.
"Ibu, jangan. Ibu harus kuat. Ibu harus..."
"Aku tidak kuat, Nak. Aku tidak bisa. Aku..."
"Ibu bisa. Ibu kuat. Ibu sudah membuktikan selama tiga
puluh tahun. Ibu..."
Kirana menangis.
Ia menangis di pelukan anaknya.
Menangis di pemakaman.
Menangis di atas pusara kekasihnya.
"Danang, aku sayang kau," bisiknya. "Aku
sayang kau. Aku sayang kau. Aku sayang kau."
Dan angin berhembus.
Membawa kata-katanya ke langit.
Membawa cintanya ke surga.
Membawa doanya ke tempat Danang berada.
"Kirana, aku juga sayang kau," bisik angin.
"Aku juga sayang kau. Aku juga sayang kau. Aku juga sayang kau."
Kirana tersenyum.
Ia mendengar suara Danang.
Dalam hembusan angin.
Dalam rintik hujan.
Dalam nyanyian burung.
Dalam setiap sudut desa.
Dalam setiap kenangan.
Dalam setiap doa.
"Danang, aku akan selalu bersamamu. Sampai kita
bertemu lagi. Sampai..."
"Sampai kita bersama lagi. Selamanya."
Bab 11
Tiga
Puluh Hari Tanpa Danang
Tiga puluh hari telah berlalu sejak Danang dimakamkan di
lereng bukit, di bawah pohon beringin tua, di samping makam ibunya. Tiga puluh
hari sejak Kirana menaruh pita biru di atas peti kayu nangka yang sederhana.
Tiga puluh hari sejak ia mendengar suara tanah jatuh ke liang kubur, suara yang
masih terngiang di telinganya setiap malam, setiap kali ia memejamkan mata,
setiap kali ia sendirian.
Tiga puluh hari dalam tradisi Jawa adalah waktu yang
penting. Tiga puluh hari adalah batas antara berkabung dan kembali ke kehidupan
normal. Tiga puluh hari adalah waktu yang cukup untuk mengadakan selamatan,
untuk mendoakan arwah yang telah pergi, untuk melepas kepergian dengan ikhlas.
Tiga puluh hari adalah waktu yang diyakini bahwa arwah masih berada di sekitar
keluarga, masih belum sepenuhnya meninggalkan dunia, masih bisa menerima doa
dan kiriman dari yang masih hidup.
Kirana duduk di beranda rumahnya, di kursi rotan yang sama,
di tempat yang sama, dengan pemandangan yang sama. Tapi semuanya terasa
berbeda. Langit yang dulu biru, kini tampak kelabu. Matahari yang dulu hangat,
kini terasa dingin. Burung-burung yang dulu bernyanyi riang, kini terdengar
sayu. Angin yang dulu berhembus sepoi-sepoi, kini terasa menusuk tulang.
"Bu, sarapan dulu," kata Ayu, membawa nampan
berisi nasi uduk, ayam goreng, sambal, dan teh jahe hangat. "Ibu belum makan
sejak subuh. Ibu harus makan. Ibu..."
"Tidak, Ayu. Aku tidak lapar. Aku tidak bisa makan.
Aku..."
"Ibu, Pak Danang tidak suka melihat ibu kurus. Pak
Danang pasti sedih jika melihat ibu..."
"Pak Danang sudah tidak bisa melihat apa pun, Ayu. Pak
Danang sudah..."
"Ibu, jangan bicara seperti itu. Pak Danang masih
melihat ibu. Dari surga. Dari alam sana. Pak Danang..."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menahan lagi.
Setiap hari, sejak Danang meninggal, ia menangis.
Setiap pagi, ketika ia bangun dan menyadari bahwa Danang
tidak lagi di sampingnya.
Setiap siang, ketika ia memasak dan menyadari bahwa ia
hanya memasak untuk dirinya sendiri.
Setiap sore, ketika ia duduk di beranda dan menyadari bahwa
kursi di sampingnya kosong.
Setiap malam, ketika ia tidur dan menyadari bahwa ia
sendirian.
"Bu, saya baca Yasin untuk Pak Danang, ya?" kata
Ayu, duduk di samping ibunya, membuka Al-Quran yang sudah usang, yang sudah
berwarna coklat karena usia, yang sudah banyak robek di beberapa halaman.
"Bacakan, Nak. Pak Danang suka mendengar Yasin. Dulu,
waktu masih di desa, setiap Jumat malam ia pergi ke masjid. Ia ikut pengajian.
Ia belajar mengaji. Ia..."
"Ibu, ceritakan tentang Pak Danang. Tentang masa kecil
ibu. Tentang desa. Tentang sungai. Tentang..."
Kirana tersenyum.
Senyum yang lemah.
Senyum yang tidak secerah biasanya.
Tapi senyum.
"Dulu, waktu kami masih kecil, Danang suka duduk di
akar pohon waru di tepi sungai. Ia melempar batu ke air. Pluk. Pluk. Pluk. Satu
per satu. Berjam-jam. Aku bertanya, 'Kau tidak bosan?' Ia menjawab, 'Batu tidak
pernah marah kalau dilempar.'"
Ayu tersenyum. "Pak Danang lucu juga, ya, Bu."
"Lucu? Tidak. Ia hanya... aneh. Tapi aku suka
keanehannya. Aku suka caranya memandang dunia. Aku suka..."
"Ibu suka Pak Danang."
Kirana mengangguk. "Ibu suka Danang. Ibu cinta Danang.
Sejak kecil. Sejak pertama kali melihatnya di tepi sungai. Sejak..."
"Sejak kapan tepatnya, Bu?"
Kirana memejamkan mata.
Ia mengingat.
Mengingat hari itu.
Hari ketika ia pertama kali melihat Danang.
"Waktu itu, aku baru pindah ke desa. Aku tidak punya
teman. Aku kesepian. Aku berjalan-jalan ke tepi sungai. Aku melihat seorang
anak laki-laki duduk di akar pohon waru. Ia melempar batu ke sungai. Wajahnya
sedih. Matanya kosong. Aku bertanya, 'Kau kenapa?' Ia tidak menjawab. Aku
bertanya lagi, 'Kau sendirian?' Ia mengangguk. Aku bilang, 'Aku mau jadi
temanmu.' Ia menatapku. Matanya yang gelap. Matanya yang dalam. Matanya yang...
yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Bu, umur ibu waktu itu berapa?"
"Tujuh tahun. Danang juga tujuh tahun."
"Tujuh tahun sudah jatuh cinta, Bu?"
Kirana tertawa. "Mungkin bukan cinta. Mungkin hanya
suka. Tapi perasaan itu tumbuh. Membesar. Menjadi cinta. Cinta yang tidak
pernah mati. Cinta yang bertahan selama tiga puluh tahun. Cinta yang..."
"Cinta yang abadi, Bu."
"Abadi, Nak. Abadi."
Raka datang pada sore hari. Ia membawa buah tangan dari
Jakarta. Kue-kue kering dalam toples-toples cantik. Pakaian untuk Kirana. Buku
bacaan untuk Ayu. Mainan untuk Adi. Juga sebuah amplop tebal berisi uang untuk
biaya hidup.
"Bu Kirana, ini untuk ibu. Uang. Juga oleh-oleh. Saya
minta maaf tidak bisa sering datang. Pekerjaan di Jakarta banyak. Saya..."
"Raka, kau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti. Kau
sibuk. Kau punya keluarga. Kau..."
"Tapi saya ingin sering datang, Bu. Saya ingin menjaga
ibu. Saya ingin..."
"Kau sudah menjagaku, Raka. Dengan mendoakan ayahmu.
Dengan mengirimkan uang. Dengan..."
"Saya hanya melakukan kewajiban saya, Bu. Ayah pasti
tidak ingin saya..."
"Ayahmu pasti bangga padamu, Raka. Ayahmu pasti..."
Raka menangis.
Ia menangis di hadapan Kirana.
Menangis karena ia rindu ayahnya.
Menangis karena ia menyesal.
Menangis karena ia tidak bisa mengatakan "Aku sayang
ayah" ketika ayahnya masih hidup.
"Bu Kirana, saya menyesal. Saya menyesal tidak pernah
mengatakan bahwa saya sayang ayah. Saya menyesal tidak pernah..."
"Ayahmu tahu, Raka. Ayahmu tahu bahwa kau sayang dia.
Ayahmu tahu bahwa kau..."
"Tapi saya tidak pernah mengucapkannya, Bu. Saya tidak
pernah..."
"Tidak apa, Raka. Yang penting kau menyesal. Yang
penting kau..."
"Tapi penyesalan tidak bisa mengubah apa pun, Bu.
Penyesalan hanya..."
"Penyesalan bisa mengubah masa depan, Raka. Penyesalan
membuat kita lebih baik. Penyesalan membuat kita..."
"Penyesalan membuat saya sadar bahwa saya harus lebih
sering datang ke sini. Bahwa saya harus menjaga ibu. Bahwa saya harus..."
"Kau tidak harus apa-apa, Raka. Yang penting kau
bahagia. Yang penting kau..."
"Tidak, Bu. Saya harus. Untuk ayah. Untuk ibu.
Untuk..."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di ruang tamu yang sederhana.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Bima datang pada malam hari. Ia membawa peti mati kecil
berisi tanah dari makam Danang. "Ini, Kirana. Tanah dari makam Danang. Aku
ambil sedikit. Untuk kenang-kenangan. Untuk..."
"Terima kasih, Bima. Kau baik. Kau selalu baik."
"Aku tidak baik, Kirana. Aku hanya..."
"Kau sahabat Danang. Kau sahabatku. Kau..."
"Danang sudah pergi, Kirana. Kita harus melanjutkan
hidup. Kita harus..."
"Aku tidak bisa, Bima. Aku tidak bisa melanjutkan
hidup. Aku tidak bisa..."
"Kau bisa, Kirana. Kau kuat. Kau tegar. Kau..."
"Aku tidak kuat, Bima. Aku lemah. Aku..."
"Kau kuat, Kirana. Aku tahu. Kau sudah membuktikan
selama tiga puluh tahun. Kau bertahan. Kau tidak menyerah. Kau..."
"Aku bertahan karena aku berharap Danang kembali. Aku
tidak menyerah karena aku percaya pada cinta kita. Aku..."
"Danang sudah kembali, Kirana. Danang sudah di sini.
Danang sudah..."
"Tapi Danang pergi lagi, Bima. Danang meninggalkanku
lagi. Danang..."
"Danang tidak pergi, Kirana. Danang masih di sini.
Dalam hatimu. Dalam kenanganmu. Dalam..."
"Aku tidak bisa hidup dengan kenangan, Bima. Aku butuh
Danang. Aku butuh..."
"Kau punya kami, Kirana. Aku. Raka. Ayu. Adi. Kami
akan menjagamu. Kami akan..."
"Aku butuh Danang, Bima. Bukan kalian. Bukan..."
"Danang sudah tiada, Kirana. Kita harus menerima. Kita
harus..."
"Aku tidak bisa menerima, Bima. Aku tidak
bisa..."
Kirana menangis.
Ia menangis di pelukan Bima.
Menangis sebagai sahabat.
Menangis sebagai orang yang kehilangan.
Menangis sebagai orang yang tidak bisa menerima kenyataan.
"Bima, kenapa Tuhan begitu kejam? Kenapa Tuhan
mengambil Danang? Kenapa Tuhan..."
"Tuhan tidak kejam, Kirana. Tuhan sayang Danang. Tuhan
ingin Danang istirahat. Tuhan ingin Danang..."
"Tapi aku belum siap melepaskan Danang, Bima. Aku
belum siap..."
"Kau harus siap, Kirana. Karena hidup harus terus
berjalan. Karena waktu tidak akan menunggu. Karena..."
"Aku tidak peduli dengan hidup, Bima. Aku tidak peduli
dengan waktu. Aku hanya peduli dengan Danang. Aku hanya..."
"Danang juga peduli padamu, Kirana. Danang ingin kau
bahagia. Danang ingin kau..."
"Bagaimana aku bisa bahagia tanpa Danang, Bima?
Bagaimana aku bisa..."
"Kau bisa, Kirana. Dengan mengingat Danang. Dengan
mendoakan Danang. Dengan..."
"Aku sudah melakukan semua itu, Bima. Tapi aku masih
sedih. Aku masih..."
"Kesedihan adalah bagian dari cinta, Kirana. Kesedihan
adalah bukti bahwa kita pernah mencintai. Kesedihan adalah..."
"Kesedihan adalah beban, Bima. Kesedihan adalah..."
"Kesedihan adalah beban yang harus kita pikul bersama,
Kirana. Kau tidak sendirian. Aku di sini. Raka di sini. Ayu di sini. Kami akan
membantumu. Kami akan..."
"Terima kasih, Bima. Terima kasih untuk
semuanya."
"Tugas sahabat, Kirana. Tugas sahabat."
Bab 12
Taman
Kenangan di Tepi Sungai
Seratus hari setelah kepergian Danang, desa Kapuas berubah.
Bukan berubah secara fisik, tetapi berubah dalam cara orang-orang memandangnya.
Ada sesuatu yang berbeda di udara. Ada sesuatu yang berbeda di hati setiap
penduduk. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara mereka berjalan, berbicara,
tertawa, menangis.
Mbah Joyo dulu pernah berkata, "Ketika seseorang yang
dicintai mati, ia tidak benar-benar pergi. Ia hanya berubah wujud. Menjadi
angin. Menjadi hujan. Menjadi sinar matahari. Menjadi senyum di wajah orang
yang ditinggalkan."
Danang Wiratama, anak haram dari keluarga bermasalah,
lelaki yang dulu dituduh membakar gudang beras, pemuda yang lari dari desa
karena tidak kuat menanggung malu, kini menjadi legenda. Ia bukan lagi anak
haram. Ia bukan lagi tersangka. Ia bukan lagi orang buangan. Ia adalah
pahlawan. Ia adalah simbol perjuangan. Ia adalah bukti bahwa cinta bisa
mengatasi segalanya.
Raka, anak Danang, memutuskan untuk membangun sebuah taman
kecil di tepi sungai, di bawah pohon waru tua, tempat Danang dan Kirana pertama
kali bertemu. Taman itu sederhana. Hanya beberapa bangku kayu, lampu-lampu
taman yang menyala di malam hari, dan sebuah prasasti batu hitam yang
bertuliskan:
"Untuk Danang Wiratama. Lelaki yang mengajarkan kami
bahwa cinta tidak pernah mati. Lelaki yang mengajarkan kami bahwa pulang tidak
selalu berarti kembali ke tempat kita dilahirkan, tetapi kembali ke orang yang
kita cintai. Lelaki yang mengajarkan kami bahwa waktu, sejauh apa pun kita berlari,
pada akhirnya akan selalu membawa kita pulang."
Prasasti itu diresmikan oleh Kirana, didampingi oleh Raka,
Ayu, Bima, dan seluruh warga desa. Tidak ada sambutan panjang. Tidak ada
doa-doa yang rumit. Hanya Kirana yang berdiri di depan prasasti itu, memegang
setangkai bunga melati dari kebunnya, menatap nama Danang yang terukir di batu
hitam.
"Danang, ini untukmu," kata Kirana, suaranya
lirih, hampir tidak terdengar, tetapi cukup jelas di telinga semua orang yang
hadir. "Taman ini. Pohon waru ini. Sungai ini. Desa ini. Semua untukmu.
Karena kau yang mengajarkan kami arti cinta. Karena kau yang mengajarkan kami
arti kesetiaan. Karena kau yang mengajarkan kami arti..."
Ia tidak melanjutkan.
Air matanya jatuh.
Ia menaruh bunga melati di atas prasasti.
Lalu ia berbalik.
Menghadap ke arah sungai.
Menghadap ke arah pohon waru.
Menghadap ke arah masa lalu.
"Danang, aku merindukanmu," bisiknya.
"Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali aku melihat sungai ini. Setiap
kali aku mendengar suara angin. Setiap kali aku..."
"Bu Kirana, Pak Danang pasti bangga melihat taman
ini," kata Raka, berdiri di sampingnya. "Ayah pasti tersenyum di
surga. Ayah pasti..."
"Ayahmu tidak suka hal-hal seperti ini, Raka. Ayahmu
tidak suka pamer. Ayahmu tidak suka..."
"Ini bukan pamer, Bu. Ini penghormatan. Ini rasa
terima kasih. Ini..."
"Ini cinta, Raka. Ini cinta kami padanya. Ini cinta
yang tidak pernah mati. Ini cinta yang..."
Ayu mendekat, memegang tangan ibunya. "Ibu, ayo kita
duduk di bangku itu. Di bawah pohon waru. Seperti dulu. Seperti waktu Ibu masih
kecil. Seperti waktu Ibu..."
"Seperti waktu Ibu pertama kali bertemu Danang."
Mereka duduk di bangku kayu yang baru, yang masih wangi
cat, yang masih mulus permukaannya. Kirana duduk di tengah, Raka di sebelah
kanannya, Ayu di sebelah kirinya. Bima duduk di bangku di seberang, bersama
istri dan cucu-cucunya. Warga desa lainnya berdiri atau duduk di rumput,
menikmati sore yang indah, menikmati taman yang baru, menikmati kenangan yang
tidak akan pernah hilang.
"Ibu, ceritakan lagi tentang Pak Danang," pinta
Adi, cucu Ayu, anak laki-laki berusia lima tahun dengan rambut ikal dan mata
bulat. Ia duduk di pangkuan Kirana, mainan mobil-mobilan di tangannya, sesekali
ia vroom-vroom seperti sedang balapan.
"Cerita apa lagi, Nak? Ibu sudah cerita semuanya. Ibu
sudah..."
"Cerita tentang waktu Ibu dan Pak Danang berjanji di
tepi sungai. Cerita tentang pita biru. Cerita tentang..."
Kirana tersenyum. "Kau suka cerita itu, Nak?"
"Adi suka, Bu. Cerita itu romantis. Seperti di
sinetron. Seperti di film. Seperti..."
"Ini bukan sinetron, Nak. Ini nyata. Ini terjadi.
Ini..."
"Tapi ada pita birunya, Bu. Ada janjinya. Ada..."
"Iya, Nak. Ada pita biru. Ada janji. Ada cinta. Cinta
yang tidak pernah mati. Cinta yang..."
"Bu, mana pita birunya sekarang? Adi mau lihat."
Kirana menghela napas. "Pita biru itu sudah ikut
dengan Pak Danang, Nak. Pita biru itu di dalam kubur. Pita biru itu..."
"Kenapa tidak disimpan saja, Bu? Kenapa..."
"Karena pita biru itu milik Pak Danang. Karena pita
biru itu..."
"Tapi Bu Kirana juga sayang pita biru itu, kan? Bu
Kirana juga..."
"Ibu sayang pita biru itu. Tapi Ibu lebih sayang Pak
Danang. Jadi Ibu berikan pita biru itu kepada Pak Danang. Agar Pak Danang tidak
sendirian di sana. Agar Pak Danang..."
"Om Danang tidak sendirian, Bu. Om Danang bersama
Malaikat. Om Danang bersama..."
Adi tidak melanjutkan. Ia sibuk dengan mobil-mobilan di
tangannya, vroom-vroom, seolah sedang balapan, seolah tidak ada yang lebih
penting dari balapan.
Kirana tertawa. "Kau ini, Adi. Kau ini..."
"Adi sayang Bu Kirana," kata Adi, tiba-tiba
menatap Kirana, matanya bulat, polos, penuh kasih sayang.
Kirana menangis. "Ibu juga sayang Adi. Ibu
sayang..."
"Bu Kirana jangan nangis. Nanti Om Danang sedih. Om
Danang..."
"Om Danang tidak sedih, Nak. Om Danang bahagia. Om
Danang..."
"Kenapa Om Danang bahagia?"
"Karena Om Danang melihat kita semua di sini. Karena
Om Danang melihat taman ini. Karena Om Danang..."
"Om Danang melihat Bu Kirana dari surga?"
Kirana mengangguk. "Om Danang melihat Bu Kirana dari
surga. Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali Bu Kirana..."
"Setiap kali Bu Kirana apa?"
"Setiap kali Bu Kirana merindukannya."
Sementara itu, di sisi lain taman, Raka dan Ayu sedang
berbincang dengan Bima. Mereka duduk di bangku kayu yang lain, di bawah pohon
trembesi yang rindang, yang dulu menjadi tempat Danang dan Kirana bercerita
tentang masa depan.
"Pak Bima, apa benar ayah dulu suka menggambar?"
tanya Raka, matanya penuh rasa ingin tahu.
Bima mengangguk. "Danang suka menggambar. Setiap hari.
Setiap sore. Di tepi sungai. Di bawah pohon waru. Ia menggambar apa pun yang ia
lihat. Perahu. Burung. Ikan. Wajah ibunya. Wajah Kirana. Wajah..."
"Apa gambar-gambar itu masih ada, Pak? Apa masih
disimpan?"
Bima menghela napas. "Setelah Danang pergi dari desa,
rumahnya kosong. Tidak ada yang merawat. Gambar-gambar itu hilang. Dimakan
rayap. Dimakan usia. Dimakan..."
"Ayah tidak menyimpan satu pun, Pak?"
"Danang membawa beberapa gambar ketika ia pergi. Tapi
entah ke mana sekarang. Mungkin hilang. Mungkin rusak. Mungkin..."
"Aku punya satu, Pak," kata Ayu tiba-tiba.
Matanya berbinar. Tangannya merogoh tas selempangnya, mengeluarkan sebuah buku
gambar tua, sampulnya lusuh, halamannya menguning, beberapa halaman sudah
lepas.
Raka terkejut. "Kau punya gambar ayah? Dari
mana?"
"Ibu menyimpannya. Ibu menyimpan banyak barang lama.
Termasuk buku gambar ini. Dulu, waktu Ibu masih kecil, Pak Danang memberikannya
pada Ibu. Sebagai kenang-kenangan. Sebagai..."
Ayu membuka buku gambar itu perlahan, dengan hati-hati,
seperti sedang membuka peti harta karun, seperti sedang membuka luka lama.
Halaman pertama: gambar seorang anak perempuan dengan rambut panjang dan pita
merah di rambutnya. Di bawah gambar itu, ada tulisan: "Kirana, 1978."
Raka menatap gambar itu. Matanya berkaca-kaca. "Ini...
ini Kirana? Ibu Kirana waktu masih kecil?"
Ayu mengangguk. "Iya. Ini Ibu. Waktu masih kecil.
Waktu masih tinggal di desa. Waktu masih..."
"Umur berapa Ibu waktu itu?"
"Tujuh tahun. Sama seperti Pak Danang."
"Tujuh tahun sudah menggambar, Pak? Tujuh tahun sudah..."
"Danang memang berbakat, Raka. Ia bisa menggambar apa
pun. Ia bisa menangkap ekspresi. Ia bisa..."
"Kenapa ayah tidak menjadi pelukis, Pak? Kenapa
ayah..."
"Karena ayahmu tidak punya uang, Raka. Karena ayahmu
harus bekerja. Karena ayahmu..."
"Karena ayah harus menghidupi aku dan ibuku."
Bima mengangguk. "Ayahmu mengorbankan mimpi-mimpinya
untuk keluarganya. Ayahmu..."
"Ayahku tidak pernah cerita tentang ini. Ayahku tidak
pernah..."
"Karena ayahmu tidak ingin kau merasa berutang budi.
Karena ayahmu tidak ingin..."
"Tapi aku berutang budi, Pak. Aku berutang nyawa. Aku
berutang..."
"Kau tidak berutang apa pun, Raka. Yang kau lakukan
sekarang sudah cukup. Yang kau lakukan..."
"Aku belum melakukan apa pun, Pak. Aku hanya..."
"Kau sudah membangun taman ini, Raka. Itu sudah lebih
dari cukup. Itu sudah..."
"Tapi aku tidak bisa membangunkan ayah dari kubur,
Pak. Aku tidak bisa..."
"Tidak ada yang bisa, Raka. Kematian adalah rahasia
Tuhan. Kematian adalah..."
"Aku tahu, Pak. Tapi aku tetap menyesal. Aku
tetap..."
"Penyesalan adalah bagian dari cinta, Raka. Penyesalan
adalah..."
"Penyesalan adalah beban, Pak. Penyesalan
adalah..."
"Penyesalan adalah beban yang harus kita pikul
bersama, Raka. Kau tidak sendirian. Aku di sini. Ayu di sini. Kirana di sini.
Kami akan membantumu. Kami akan..."
Raka menangis.
Ia menangis di hadapan Bima.
Menangis di hadapan Ayu.
Menangis di hadapan semua orang yang hadir.
Menangis karena ia rindu ayahnya.
Menangis karena ia menyesal.
Menangis karena ia tidak bisa memutar waktu.
"Aku sayang ayah, Pak. Aku sayang ayah. Aku
sayang..."
"Ayahmu tahu, Raka. Ayahmu tahu. Ayahmu selalu tahu.
Ayahmu..."
"Tapi aku tidak pernah mengucapkannya, Pak. Aku tidak
pernah..."
"Tidak apa, Raka. Yang penting kau menyesal. Yang
penting kau..."
"Penyesalan tidak bisa mengubah apa pun, Pak.
Penyesalan hanya..."
"Penyesalan bisa mengubah masa depan, Raka. Penyesalan
membuat kita lebih baik. Penyesalan membuat kita..."
"Penyesalan membuat saya sadar bahwa saya harus lebih
sering datang ke sini. Bahwa saya harus menjaga Bu Kirana. Bahwa saya
harus..."
"Kau sudah melakukan itu, Raka. Kau sudah..."
"Tapi belum cukup, Pak. Belum cukup."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di bawah pohon trembesi.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat,
ketika langit mulai berwarna jingga keemasan, ketika burung-burung mulai pulang
ke sarangnya, Kirana berjalan sendirian ke tepi sungai. Ia meninggalkan Raka,
Ayu, Bima, dan semua orang yang hadir. Ia ingin sendiri. Ia ingin merenung. Ia
ingin berbicara dengan Danang.
"Danang, apa kau di sini?" bisiknya, suaranya
pelan, lembut, seperti sedang berbicara dengan angin, seperti sedang berdoa,
seperti sedang merindukan seseorang.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara sungai.
Hanya suara angin.
Hanya suara daun-daun yang bergesekan.
"Danang, aku rindu. Aku rindu senyummu. Aku rindu
tawamu. Aku rindu matamu yang gelap. Aku rindu..."
"Kirana."
Kirana terkejut.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa pun.
Hanya bayangannya sendiri di permukaan air.
Hanya pohon waru yang tua.
Hanya akar-akar yang menjuntai.
"Danang, apa kau?" bisiknya.
"Kirana, aku di sini. Di setiap hembusan angin. Di
setiap rintik hujan. Di setiap sinar matahari. Di setiap..."
"Danang, aku tidak bisa melihatmu. Aku tidak
bisa..."
"Kau tidak perlu melihatku, Kirana. Cukup kau rasakan.
Cukup kau..."
"Tapi aku ingin melihatmu, Danang. Aku ingin
memelukmu. Aku ingin..."
"Kita akan bertemu lagi, Kirana. Di surga. Di akhirat.
Di..."
"Kapan, Danang? Kapan kita akan bertemu lagi? Aku
tidak sabar. Aku..."
"Kau harus sabar, Kirana. Kau masih punya tugas di
dunia. Kau masih harus menjaga anak-anak kita. Kau masih harus..."
"Aku sudah tua, Danang. Aku tidak kuat. Aku..."
"Kau kuat, Kirana. Aku tahu. Aku percaya. Aku..."
"Danang, jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku
lagi. Aku..."
"Aku tidak akan pergi, Kirana. Aku akan selalu di
sini. Menemanimu. Menjagamu. Mencintaimu. Sampai..."
"Sampai kapan, Danang?"
"Sampai kita bertemu lagi. Selamanya."
Kirana tersenyum.
Ia tersenyum di tepi sungai.
Ia tersenyum di bawah pohon waru.
Ia tersenyum di bawah langit yang mulai gelap.
Ia tersenyum karena ia merasakan kehadiran Danang.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa Danang tidak pernah
benar-benar pergi.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa cinta mereka abadi.
"Danang, aku sayang kau," bisiknya.
"Aku juga sayang kau, Kirana. Selamanya."
Bab 13
Surat
dari Masa Lalu
Satu tahun setelah kepergian Danang, ketika musim hujan
kembali datang dan sungai Kapuas mulai naik, ketika pohon waru mulai berbunga
dan kelopak-kelopak putihnya berguguran ke air, Kirana menemukan sesuatu yang
tidak pernah ia duga. Sebuah surat. Bukan surat palsu seperti yang dulu ditulis
Arman. Bukan surat cinta seperti yang dulu ia tulis untuk Danang setiap minggu.
Surat yang berbeda. Surat yang ditulis oleh Danang. Untuknya. Sebelum Danang
meninggal.
Surat itu ditemukan oleh Ayu ketika ia membersihkan lemari
tua di kamar Danang. Lemari kayu jati yang sudah usang, dengan cat yang
mengelupas, dengan engsel yang berkarat, dengan laci-laci yang macet karena
sudah tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun. Ayu sengaja membersihkan
lemari itu karena ingin mencari barang-barang Danang yang mungkin masih
tersisa. Baju. Celana. Foto. Kenangan.
"Ayu, apa yang kau cari?" tanya Kirana dari pintu
kamar, suaranya lemah, matanya sayu.
"Aku hanya... aku hanya ingin membersihkan lemari ini,
Bu. Sudah lama tidak dibuka. Mungkin ada barang-barang Pak Danang yang masih
bagus. Mungkin ada..."
"Pak Danang tidak punya banyak barang, Ayu. Ia hidup
sederhana. Ia tidak suka..."
"Ibu, lihat ini."
Ayu mengeluarkan sebuah amplop coklat dari laci paling
bawah. Amplop itu sudah menguning, sudah rapuh di tepi-tepinya, sudah berbau
apak karena terlalu lama tersimpan. Di bagian depan amplop, tertulis dengan
tulisan tangan Danang: "Untuk Kirana. Hanya boleh dibuka setelah aku
tiada."
Kirana terkejut. Ia meraih amplop itu, tangannya gemetar.
"Ini... ini tulisan Danang. Aku kenal tulisannya. Aku hafal. Aku..."
"Ibu, baca. Mungkin Pak Danang menulis sesuatu.
Mungkin Pak Danang..."
Kirana membuka amplop itu perlahan, dengan hati-hati,
seperti sedang membuka peti harta karun, seperti sedang membuka luka lama,
seperti sedang membuka pintu menuju masa lalu.
Di dalam amplop itu, ada sepucuk surat. Kertasnya sudah
menguning, tulisannya mulai pudar, tetapi masih terbaca. Kirana duduk di
ranjang, merapatkan surat itu ke matanya yang sudah kabur, dan mulai membaca.
"Untuk Kirana, cinta pertamaku, cinta terakhiku, cinta
selamaku.
Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tiada. Aku
sudah pergi ke alam yang lebih baik. Aku sudah meninggalkan dunia fana ini. Aku
sudah... maaf, aku tidak bisa menulis kata-kata ini dengan tenang. Tanganku
gemetar. Mataku basah. Hatiku... hancur.
Kirana, aku menulis surat ini bukan untuk membuatmu sedih.
Aku menulis surat ini untuk membuatmu bahagia. Aku menulis surat ini untuk
mengatakan bahwa aku tidak pernah menyesal mencintaimu. Aku tidak pernah
menyesal menunggumu. Aku tidak pernah menyesal memilihmu. Meskipun kita harus
berpisah selama tiga puluh tahun. Meskipun kita harus melalui banyak
penderitaan. Meskipun kita harus...
Maaf, aku tidak bisa melanjutkan. Aku menangis. Aku
menangis seperti anak kecil. Aku menangis karena aku rindu. Aku rindu senyummu.
Aku rindu tawamu. Aku rindu matamu yang coklat kehijauan. Aku rindu lesung
pipit di pipi kirimu. Aku rindu...
Kirana, aku ingin kau tahu bahwa aku bahagia. Bahagia
karena aku bisa kembali ke desa. Bahagia karena aku bisa bertemu denganmu lagi.
Bahagia karena aku bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Bahagia karena aku
bisa... mati di sampingmu.
Jangan menangis, Kirana. Jangan bersedih. Aku tidak suka
melihatmu menangis. Aku tidak suka melihatmu sedih. Aku ingin kau tersenyum.
Aku ingin kau tertawa. Aku ingin kau...
Kirana, aku meninggalkan sesuatu untukmu. Di lemari. Di
laci paling bawah. Di sebelah surat ini. Aku menyimpannya selama tiga puluh
tahun. Aku tidak pernah membukanya. Aku tidak pernah...
Maaf, Kirana. Maaf karena aku tidak bisa menjadi kekasih
yang baik. Maaf karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik. Maaf karena aku
tidak bisa menjadi ayah yang baik. Maaf karena aku...
Kirana, aku sayang kau. Aku sayang kau. Aku sayang kau.
Sampai mati. Sampai kapan pun. Sampai...
Danang."
Kirana tidak bisa membaca lebih jauh.
Surat itu jatuh dari tangannya.
Jatuh ke lantai.
Jatuh di antara kaki ranjang dan lemari.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bahunya naik turun.
Tangisnya keluar.
Bukan tangis biasa.
Tangis yang pecah.
Tangis yang tidak bisa lagi ditahan.
Tangis yang seperti air bah yang menghancurkan bendungan.
"Ayu... tolong... ambilkan... apa yang Danang
tinggalkan... di lemari... di laci paling bawah..." bisiknya di antara
isak tangisnya.
Ayu mengangguk. Ia berlari ke lemari, membuka laci paling
bawah. Di sana, di sudut laci, terbungkus kain putih bersih, sebuah kotak kayu
kecil. Kotak yang sama. Kotak yang dulu Danang bawa dari desa ke kota. Kotak
yang dulu ia simpan di dasar kopernya. Kotak yang tidak pernah ia buka selama
tiga puluh tahun.
"Ini, Bu," kata Ayu, menyerahkan kotak itu pada
Kirana.
Kirana menerima kotak itu. Tangannya gemetar hebat. Ia
membuka kotak itu perlahan, dengan hati-hati, seperti sedang membuka peti mati,
seperti sedang membuka luka yang tidak pernah sembuh.
Di dalam kotak itu, sebuah buku kecil. Buku catatan. Buku
yang sudah tua, sampulnya lusuh, halamannya menguning, beberapa halaman sudah
lepas. Buku yang dulu menemani Danang ketika ia masih kecil. Buku yang dulu ia
gunakan untuk menggambar. Buku yang dulu...
Kirana membuka buku itu.
Halaman pertama: gambar seorang anak perempuan dengan
rambut panjang dan pita merah di rambutnya. Sama seperti gambar yang ia simpan.
Sama seperti gambar yang Ayu tunjukkan pada Raka. Tapi ada yang berbeda. Di
bawah gambar itu, ada tulisan. Tulisan Danang. Tulisan yang rapi. Tulisan yang
penuh dengan cinta.
"Kirana, 1978. Hari pertama aku jatuh cinta."
Kirana menangis lebih keras.
Ia membuka halaman kedua.
Gambar seorang anak perempuan dan anak laki-laki duduk di
akar pohon waru. Anak laki-laki sedang melempar batu ke sungai. Anak perempuan
sedang tersenyum. Di bawah gambar itu, ada tulisan:
"Kirana dan Danang, 1978. Hari pertama kita
berteman."
Halaman ketiga.
Gambar seorang anak perempuan berdiri di tengah kerumunan,
melindungi anak laki-laki yang lebih kecil. Wajah anak perempuan itu marah,
berani, tidak takut pada siapa pun. Wajah anak laki-laki itu sedih, takut,
membutuhkan perlindungan. Di bawah gambar itu, ada tulisan:
"Kirana dan Danang, 1979. Hari ketika Kirana membelaku
di depan Surya. Aku tidak pernah melupakan keberanianmu."
Halaman keempat.
Gambar seorang anak perempuan berlari di tengah hujan,
membawa bungkusan di tangan, wajahnya basah, bajunya basah, rambutnya basah. Di
bawah gambar itu, ada tulisan:
"Kirana, 1980. Hari ketika kau datang ke rumahku di
tengah hujan untuk membawakan obat untuk ibuku. Aku tidak pernah melupakan
kebaikanmu."
Halaman kelima.
Gambar seorang anak perempuan dan anak laki-laki berdiri di
pinggir jalan, berpelukan. Di belakang mereka, sebuah mobil tua perlahan
menjauh. Wajah anak perempuan itu menangis. Wajah anak laki-laki itu juga
menangis. Di bawah gambar itu, ada tulisan:
"Kirana dan Danang, 1985. Hari perpisahan kita. Aku
tidak pernah melupakan janjimu. 'Aku akan kembali.'"
Kirana tidak bisa membaca lebih jauh.
Ia menutup buku itu.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti memeluk Danang.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan lagi.
"Danang... kau menyimpan semua ini? Kau menyimpan
gambar-gambar ini? Kau menyimpan..."
"Bu, Pak Danang menyimpan semuanya. Setiap kenangan.
Setiap detik. Setiap..."
"Tapi kenapa ia tidak pernah menunjukkan padaku?
Kenapa ia..."
"Mungkin Pak Danang ingin memberikan ini setelah ia
tiada. Mungkin Pak Danang ingin..."
"Ingin apa, Ayu?"
"Ingin ibu tahu bahwa ia tidak pernah berhenti
mencintai ibu. Tidak selama tiga puluh tahun. Tidak selama..."
Kirana menangis.
Ia menangis di pelukan Ayu.
Menangis di kamar Danang.
Menangis di antara kenangan yang tidak pernah mati.
"Ayu, aku rindu Danang. Aku sangat rindu. Aku..."
"Ibu, Pak Danang masih di sini. Dalam buku ini. Dalam
gambar-gambar ini. Dalam..."
"Aku tidak bisa hidup dengan gambar, Ayu. Aku butuh
Danang. Aku butuh..."
"Ibu punya kami. Raka. Adi. Bima. Semua orang yang
mencintai ibu. Kami akan..."
"Aku butuh Danang, Ayu. Bukan kalian. Bukan..."
"Pak Danang tidak akan pergi, Bu. Pak Danang akan
selalu di sini. Di hati ibu. Di..."
"Tapi aku ingin memeluknya, Ayu. Aku ingin menciumnya.
Aku ingin..."
"Ibu bisa memeluk kenangan, Bu. Ibu bisa mencium doa.
Ibu bisa..."
Kirana terdiam.
Ia memandang buku kecil di tangannya.
Buku yang penuh dengan gambar.
Buku yang penuh dengan kenangan.
Buku yang penuh dengan cinta.
"Ayu, tolong panggil Raka. Panggil Bima. Panggil semua
orang. Aku ingin mereka melihat buku ini. Aku ingin mereka tahu bahwa Danang
tidak pernah berhenti mencintai. Aku ingin..."
"Baik, Bu. Saya panggil."
Satu jam kemudian, rumah Kirana dipenuhi orang.
Raka datang dengan Dewi. Ayu datang dengan suami dan Adi.
Bima datang dengan istri dan cucu-cucunya. Pak RT Santoso datang dengan
beberapa warga desa. Arman datang dengan tongkatnya, dengan tubuhnya yang
semakin kurus, dengan matanya yang semakin cekung. Semua orang ingin melihat
buku itu. Semua orang ingin melihat gambar-gambar yang dibuat Danang. Semua
orang ingin merasakan cinta yang tidak pernah mati.
Kirana duduk di kursi rotan di ruang tamu, buku itu di
pangkuannya, tangannya gemetar. Ia membuka halaman demi halaman, menunjukkan
gambar-gambar itu pada semua orang yang hadir.
"Ini Danang waktu masih kecil. Waktu kami pertama kali
berteman. Waktu..."
"Bu, kok Pak Danang sudah bisa menggambar waktu masih
kecil?" tanya Adi, matanya bulat, penuh rasa ingin tahu.
"Pak Danang memang berbakat, Nak. Pak Danang bisa
menggambar apa pun. Pak Danang..."
"Kenapa Pak Danang tidak menjadi pelukis, Bu? Kenapa..."
"Karena Pak Danang tidak punya uang, Nak. Karena Pak
Danang harus bekerja. Karena..."
"Tapi Pak Danang tetap menggambar, Bu. Pak Danang
tetap..."
"Pak Danang tetap menggambar untukku. Untuk ibu.
Untuk..."
"Ibu, ini gambar apa?" tanya Adi, menunjuk ke
halaman terakhir buku itu. Halaman yang kosong. Hanya ada satu kalimat. Ditulis
dengan tulisan Danang yang sudah tidak rapi karena tangannya yang gemetar
karena sakit.
"Kirana, aku akan menunggumu di surga. Jangan
lama-lama. Aku sudah rindu."
Semua orang terdiam.
Suasana ruangan berubah.
Ada yang menangis.
Ada yang terisak.
Ada yang hanya diam, menatap kalimat itu, berusaha menahan
air mata.
Raka berdiri. Ia berjalan mendekati Kirana, berlutut di
depannya, memegang tangannya.
"Bu Kirana, ayah saya orang yang luar biasa. Ayah
saya..."
"Ayahmu orang yang sederhana, Raka. Ayahmu..."
"Tapi ayah saya mencintai ibu dengan sepenuh hati.
Ayah saya..."
"Ayahmu mencintaiku sejak kami masih kecil.
Ayahmu..."
"Dan ayah saya tidak pernah berhenti mencintai ibu.
Tidak selama tiga puluh tahun. Tidak..."
Kirana menangis.
Ia memeluk Raka.
Memeluknya erat-erat.
"Raka, maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa
menjadi ibu yang baik untukmu. Maafkan aku karena..."
"Bu Kirana tidak perlu minta maaf. Bu Kirana sudah
menjadi ibu yang baik. Bu Kirana sudah..."
"Aku tidak pernah ada untukmu, Raka. Aku tidak
pernah..."
"Bu Kirana selalu ada untukku. Dalam doa.
Dalam..."
"Tapi aku tidak pernah..."
"Bu Kirana, cukup. Jangan bicara seperti itu. Yang
penting sekarang kita di sini. Bersama. Mengenang ayah. Mengenang..."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di ruang tamu yang sederhana.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Bab 14
Pengakuan
Terakhir Arman
Tiga hari setelah surat Danang ditemukan, setelah buku
gambar tua itu menjadi pusat perhatian seluruh desa, setelah semua orang
menangis dan tersenyum dan berpelukan dan berdoa, Arman datang lagi. Bukan di
malam hari seperti biasanya. Bukan di waktu senja ketika orang-orang mulai beristirahat.
Di pagi hari. Di waktu ketika matahari baru saja terbit. Di waktu ketika kabut
masih menutupi desa. Di waktu ketika burung-burung baru mulai berkicau.
Ia datang dengan tongkatnya, dengan tubuhnya yang semakin
kurus, dengan matanya yang semakin cekung, dengan napasnya yang semakin pendek.
Ia datang dengan sebuah kotak kayu di tangan. Kotak yang lebih besar dari kotak
Danang. Kotak yang terbuat dari kayu mahoni dengan ukiran sederhana. Kotak yang
sudah usang, sudah tergores di sana-sini, sudah berubah warna menjadi coklat
tua karena usia.
Ia berdiri di depan pagar rumah Kirana, tidak berani masuk,
tidak berani memanggil. Ia hanya berdiri, menunggu, berharap seseorang
melihatnya, berharap seseorang mengundangnya masuk.
"Ayu, tolong lihat siapa yang di luar," kata
Kirana dari dalam rumah, suaranya lemah, matanya sayu.
Ayu berjalan ke halaman. Ia melihat Arman berdiri di depan
pagar, dengan kotak kayu di tangan, dengan air mata di pipi.
"Pak Arman? Pak Arman, masuklah. Hari masih pagi.
Udara masih dingin. Nanti bapak sakit."
Arman menggeleng. "Tidak, Ayu. Aku tidak pantas masuk.
Aku tidak pantas..."
"Pak Arman, Ibu sudah memaafkan bapak. Kami semua
sudah memaafkan bapak. Bapak tidak perlu..."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri, Ayu. Aku
belum..."
"Pak Arman, masuklah. Ibu menunggu."
Arman menghela napas. Ia membuka pagar, berjalan masuk,
melangkah perlahan, dengan susah payah, dengan tongkat yang hampir terlepas
dari tangannya. Ayu membantunya berjalan, memegang sikunya, menuntunnya ke
ruang tamu.
Kirana sudah duduk di kursi rotan, dengan buku gambar
Danang di pangkuannya, dengan secangkir teh jahe di sampingnya, dengan senyum
tipis di bibirnya.
"Arman, duduklah. Aku sudah membuatkan teh untukmu.
Teh jahe, seperti yang kau suka. Masih hangat."
Arman duduk di kursi di hadapan Kirana. Tangannya gemetar.
Matanya basah. Ia meletakkan kotak kayu di meja di antara mereka.
"Kirana, aku datang untuk memberikan ini. Ini... ini
milikmu. Milik Danang. Milik kalian berdua. Aku menyimpannya selama tiga puluh
tahun. Aku tidak pernah berani memberikannya. Aku tidak pernah..."
"Apa itu, Arman?"
Arman membuka kotak itu.
Perlahan.
Dengan tangan yang gemetar.
Dengan napas yang tersengal.
Di dalam kotak itu, puluhan surat.
Bukan surat palsu.
Bukan surat yang ditulis Arman.
Surat asli.
Surat yang ditulis Kirana untuk Danang.
Surat yang ditahan Arman selama tiga puluh tahun.
Surat yang tidak pernah sampai ke tangan Danang.
Surat yang menjadi biang kerok semua penderitaan.
Surat yang menjadi awal dari segalanya.
"Kirana, ini surat-suratmu. Yang kau tulis untuk
Danang. Yang aku... yang aku sembunyikan. Yang aku..."
Arman tidak melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di hadapan Kirana.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis karena ia menyesal.
Menangis karena ia tidak bisa memperbaiki kesalahannya.
Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak pantas diampuni.
Kirana mengambil surat paling atas.
Ia membukanya.
Tangannya gemetar.
Matanya basah.
Ia membaca.
"Danang, surat pertama untukmu. Aku baru sampai di
kota. Rumah baruku besar, lebih besar dari rumah kita di desa. Tapi aku merasa
lebih sempit. Lebih sepi. Lebih dingin. Aku rindu sungai. Aku rindu pohon waru.
Aku rindu suara jangkrik di malam hari. Aku rindu... aku rindu kamu.
Aku menunggumu di kota, Danang. Sampai musim hujan ketiga.
Sampai aku lulus sekolah. Sampai aku dewasa. Kalau kau datang, aku masih di
tempat yang sama. Rumah dinas di Jalan Merdeka. Nomor empat puluh dua. Kalau
kau tidak datang... kalau kau tidak datang, aku akan mengerti. Tapi tolong beri
kabar, Danang. Apa pun. Sepatah kata saja. Selembar surat saja. Sebuah kabar
bahwa kau masih hidup. Sebuah kabar bahwa kau baik-baik saja. Sebuah kabar
bahwa kau... bahwa kau masih mengingatku.
Kirana."
Kirana tidak bisa membaca lebih jauh.
Surat itu jatuh dari tangannya.
Jatuh ke lantai.
Jatuh di antara kursi dan meja.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bahunya naik turun.
Tangisnya keluar.
"Arman, kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau
sembunyikan surat-surat ini? Kenapa kau..."
"Karena aku juga mencintaimu, Kirana. Karena aku iri
pada Danang. Karena aku..."
"Tapi cinta tidak seharusnya merusak, Arman. Cinta
tidak seharusnya..."
"Aku tahu, Kirana. Aku tahu sekarang. Tapi sudah
terlambat. Sudah..."
"Kenapa kau tidak menyadarinya dari dulu? Kenapa
kau..."
"Karena aku bodoh, Kirana. Karena aku egois. Karena
aku..."
Kirana menghela napas.
Ia memandang Arman.
Matanya yang basah, yang merah, menatap lelaki tua di
depannya.
Lelaki yang dulu adalah sahabat Danang.
Lelaki yang dulu adalah temannya.
Lelaki yang dulu ia percayai.
Lelaki yang sama yang menghancurkan hidupnya.
"Arman, aku sudah memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa
melupakan. Aku tidak bisa..."
"Aku tidak minta kau melupakan, Kirana. Aku hanya
minta... aku hanya minta kau menerima surat-surat ini. Surat-surat ini milikmu.
Milik Danang. Aku tidak berhak menyimpannya. Aku tidak berhak..."
"Kau benar, Arman. Kau tidak berhak. Tapi kau sudah
melakukannya. Tidak bisa diubah."
"Maafkan aku, Kirana. Maafkan aku."
Kirana tidak menjawab.
Ia hanya mengambil surat-surat itu satu per satu.
Membacanya.
Menangis.
Mengenang.
Merindukan.
Sementara itu, di halaman rumah, Raka, Ayu, Adi, dan Bima
sedang duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga. Mereka berbincang, tertawa,
mengenang Danang. Adi bermain mobil-mobilan di tanah, sesekali berlari ke arah
ayam-ayam yang berkeliaran, sesekali memetik bunga di pot.
"Pak Bima, apa benar Pak Arman yang menahan
surat-surat Nenek?" tanya Adi, matanya bulat, penuh rasa ingin tahu.
Bima mengangguk. "Benar, Nak. Pak Arman yang menahan
surat-surat itu. Pak Arman yang..."
"Kenapa Pak Arman jahat, Pak? Kenapa Pak
Arman..."
"Pak Arman tidak jahat, Nak. Pak Arman hanya...
tersesat. Pak Arman hanya..."
"Tersesat ke mana, Pak?"
"Tersesat ke dalam hatinya sendiri, Nak. Tersesat ke
dalam rasa iri. Tersesat ke dalam..."
"Rasa iri itu apa, Pak?"
"Rasa iri adalah ketika kita tidak senang melihat
orang lain bahagia, Nak. Ketika kita ingin memiliki apa yang dimiliki orang
lain. Ketika kita..."
"Pak Arman iri pada Om Danang?"
Bima mengangguk. "Pak Arman iri pada Om Danang. Karena
Om Danang memiliki Nenek Kirana. Karena Om Danang..."
"Tapi Nenek Kirana tidak mencintai Pak Arman, kan,
Pak?"
"Tidak, Nak. Nenek Kirana hanya mencintai Om Danang.
Sejak kecil. Sampai mati."
"Kasihan Pak Arman," kata Adi, matanya
berkaca-kaca. "Pak Arman sendirian. Pak Arman tidak punya siapa-siapa. Pak
Arman..."
"Pak Arman punya kita, Nak. Kita akan menjaganya. Kita
akan..."
"Tapi Pak Arman jahat, Pak. Pak Arman..."
"Pak Arman sudah menyesal, Nak. Pak Arman sudah minta
maaf. Pak Arman sudah..."
"Apakah Om Danang memaafkan Pak Arman?"
Bima tersenyum. "Om Danang sudah memaafkan Pak Arman.
Sebelum Om Danang meninggal. Om Danang..."
"Om Danang baik, Pak. Om Danang..."
"Om Danang sangat baik, Nak. Om Danang mengajarkan
kita arti memaafkan. Om Danang..."
Adi berlari ke arah Arman yang masih duduk di ruang tamu.
Ia menarik ujung baju Arman, menatap matanya yang cekung, berkata dengan suara
lantang, "Pak Arman, aku memaafkan bapak. Nenek Kirana juga memaafkan
bapak. Om Danang juga sudah memaafkan bapak. Jadi bapak tidak usah sedih lagi.
Bapak tidak usah menangis lagi. Bapak..."
Arman menangis.
Ia memeluk Adi.
Memeluknya erat-erat.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih. Kau baik. Kau sangat
baik. Seperti kakekmu. Seperti..."
"Adi tidak seperti Om Danang, Pak. Adi hanya Adi. Tapi
Adi sayang Pak Arman. Adi..."
"Terima kasih, Nak. Terima kasih."
Raka berdiri. Ia berjalan ke ruang tamu, berdiri di depan
Arman, menatap lelaki tua yang pernah menjadi sahabat ayahnya.
"Pak Arman, aku Raka. Anak Danang. Aku tidak tahu
apakah aku berhak bicara mewakili ayah. Tapi aku ingin mengatakan
sesuatu."
Arman mengangguk. "Katakan, Nak."
"Ayah saya sudah memaafkan bapak. Ayah saya tidak
pernah membenci bapak. Ayah saya..."
"Tapi aku membenci diriku sendiri, Nak. Aku..."
"Bapak tidak perlu membenci diri sendiri. Bapak sudah
minta maaf. Bapak sudah..."
"Tapi penyesalan tidak cukup, Nak. Penyesalan tidak
bisa..."
"Penyesalan bisa mengubah masa depan, Pak. Penyesalan
bisa membuat kita menjadi lebih baik. Penyesalan bisa..."
"Tapi masa lalu tidak bisa diubah, Nak. Masa
lalu..."
"Masa lalu adalah guru, Pak. Masa lalu mengajarkan
kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Masa lalu..."
Arman menangis.
Ia memeluk Raka.
Memeluknya erat-erat.
"Raka, kau baik. Kau sangat baik. Seperti ayahmu.
Seperti..."
"Aku tidak seperti ayah, Pak. Ayah lebih baik dari
aku. Ayah lebih..."
"Ayahmu adalah orang terbaik yang aku kenal, Raka.
Ayahmu..."
"Ayahmu juga orang baik, Pak. Ayahmu..."
"Ayahku? Ayahku pecandu minuman keras. Ayahku tidak
pernah peduli padaku. Ayahku..."
"Tapi bapak memilih untuk menjadi baik, Pak. Bapak
memilih untuk..."
"Apakah aku baik, Raka? Apakah aku..."
"Bapak baik, Pak. Karena bapak menyesal. Karena
bapak..."
"Penyesalan tidak membuatku baik, Raka. Penyesalan
hanya..."
"Penyesalan membuat bapak sadar, Pak. Penyesalan
membuat bapak..."
"Sadar untuk apa, Raka?"
"Sadar bahwa cinta tidak harus memiliki, Pak. Sadar
bahwa..."
Arman terdiam.
Ia memandang Raka.
Matanya yang cekung, yang sayu, tiba-tiba berkaca-kaca.
"Kau bijak, Raka. Kau sangat bijak. Seperti ayahmu.
Seperti..."
"Aku tidak bijak, Pak. Aku hanya..."
"Kau bijak, Nak. Aku bisa melihatnya dari matamu. Dari
caramu..."
"Dari caraku apa, Pak?"
"Dari caramu memandang dunia. Dari caramu..."
Raka tersenyum. "Terima kasih, Pak. Tapi aku hanya
anak biasa. Aku hanya..."
"Kau tidak biasa, Raka. Kau istimewa. Kau..."
"Tidak, Pak. Aku tidak istimewa. Aku hanya..."
"Kau istimewa di mataku, Raka. Di mata semua orang
yang mencintaimu."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di ruang tamu.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Bab 15
Wasiat
Terakhir
Tiga hari setelah Arman mengembalikan surat-surat yang
selama tiga puluh tahun ia sembunyikan, setelah Kirana membaca semua surat itu
satu per satu, setelah air mata mengalir tanpa henti dan pelukan hangat saling
menguatkan, Raka menemukan sesuatu yang lain di lemari tua ayahnya. Bukan buku
gambar. Bukan surat cinta. Bukan kenangan manis masa lalu.
Sebuah amplop besar berwarna coklat tua, dengan tulisan di
depan: "Wasiat Danang Wiratama. Untuk anak-anakku. Untuk generasi
selanjutnya. Hanya boleh dibuka setelah aku tiada, setelah semua rahasia
terbuka, setelah semua luka mulai sembuh."
Raka memegang amplop itu dengan tangan gemetar. Ia duduk di
kursi kayu di beranda, di tempat yang sama yang dulu menjadi tempat ayahnya
duduk setiap sore, tempat ayahnya memandang sungai dan merenungkan hidup. Ayu
duduk di sampingnya. Kirana duduk di hadapannya. Bima duduk di kursi rotan di
pojok. Adi duduk di lantai, bermain mobil-mobilan, sesekali menatap orang
dewasa dengan mata polosnya.
"Raka, bacalah," kata Kirana, suaranya lembut,
penuh harap. "Ayahmu pasti menulis sesuatu yang penting. Ayahmu
pasti..."
"Aku takut, Bu. Aku takut isinya... aku takut..."
"Kau tidak perlu takut, Nak. Ayahmu tidak akan menulis
hal-hal yang menakutkan. Ayahmu..."
"Tapi aku belum siap, Bu. Aku belum..."
"Kau harus siap, Raka. Ini wasiat ayahmu. Ini pesan
terakhirnya. Ini..."
Raka menghela napas. Ia membuka amplop itu perlahan, dengan
hati-hati, seperti sedang membuka peti harta karun, seperti sedang membuka
pintu menuju masa depan. Di dalam amplop itu, ada beberapa lembar kertas.
Kertas yang sudah menguning, tulisannya sudah mulai pudar, tetapi masih
terbaca. Ada sepuluh halaman. Sepuluh halaman penuh dengan tulisan tangan
Danang. Tulisan yang rapi, yang jelas, yang penuh dengan cinta.
"Raka, bacakan untuk kami semua," pinta Bima.
"Biar kami semua mendengar pesan Danang. Biar kami semua..."
Raka mengangguk. Ia menarik napas panjang, mengusap air
mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya, lalu mulai membaca.
"Untuk anak-anakku, untuk generasi selanjutnya, untuk
semua orang yang mungkin membaca surat ini suatu hari nanti.
Aku, Danang Wiratama, lahir di desa kecil di tepi Sungai
Kapuas, dari seorang ibu yang hamil di luar nikah dan seorang ayah tiri yang
tidak pernah benar-benar menginginkanku. Aku tumbuh dalam kemiskinan, dalam
aib, dalam bisikan-bisikan tetangga yang mengatakan bahwa aku anak haram, bahwa
aku tidak punya masa depan, bahwa aku tidak pantas untuk apa pun.
Tapi aku tidak menyerah. Aku tidak membiarkan masa lalu
menentukan masa depanku. Aku tidak membiarkan kata-kata orang menghancurkanku.
Aku memilih untuk berjuang. Aku memilih untuk bertahan. Aku memilih untuk
hidup.
Dan aku menulis surat ini bukan untuk membuat kalian
kasihan padaku. Bukan untuk membuat kalian menangis. Bukan untuk membuat kalian
marah pada orang-orang yang pernah menyakitiku. Aku menulis surat ini untuk
berbagi pelajaran. Pelajaran yang aku petik dari hidupku yang penuh lika-liku.
Pelajaran yang mungkin berguna bagi kalian yang masih muda, yang masih punya
banyak waktu, yang masih bisa memilih jalan hidup kalian sendiri.
Pelajaran pertama: Jangan pernah menyerah pada keadaan.
Aku lahir sebagai anak haram. Aku tidak punya ayah kandung.
Aku dibesarkan oleh ayah tiri yang lebih sering memegang botol daripada
memegang tanganku. Aku tumbuh dalam kemiskinan yang luar biasa. Aku sering
kelaparan. Aku sering kedinginan. Aku sering tidak punya baju layak pakai.
Tapi aku tidak pernah menyerah. Aku percaya bahwa suatu
hari nanti hidupku akan berubah. Aku percaya bahwa aku bisa menjadi lebih baik
dari keadaanku. Aku percaya bahwa kemiskinan bukanlah takdir, tetapi hanya
ujian.
Dan aku benar. Hidupku berubah. Aku bisa bertahan. Aku bisa
bangkit. Aku bisa... menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain.
*Jadi, anak-anakku, jangan pernah menyerah pada keadaan.
Seberat apa pun ujian yang kalian hadapi, sebesar apa pun masalah yang kalian
hadapi, tetaplah berjuang. Tetaplah percaya bahwa besok akan lebih baik.
Tetaplah..."
Raka berhenti. Tangisnya pecah. Ia tidak bisa melanjutkan.
"Raka, terima kasih. Aku lanjutkan," kata Ayu,
mengambil kertas dari tangan Raka.
Pelajaran kedua: Jangan pernah membenci orang tua.
Aku tidak pernah tahu siapa ayah kandungku. Ia pergi
sebelum aku lahir. Ia tidak pernah kembali. Ia tidak pernah mengirim kabar. Ia
tidak pernah... mengakuiku sebagai anaknya.
*Dulu, aku marah. Dulu, aku benci. Dulu, aku
bertanya-tanya, "Kenapa ia meninggalkan ibuku? Kenapa ia tidak bertanggung
jawab? Kenapa ia tidak..."
Tapi semakin tua, semakin aku sadar bahwa membenci tidak
akan mengubah apa pun. Membenci tidak akan membuat ayah kandungku kembali.
Membenci tidak akan menyembuhkan luka ibuku. Membenci hanya akan meracuni
hatiku sendiri.
Jadi aku memilih untuk memaafkan. Bukan karena ia pantas
dimaafkan. Tapi karena aku butuh kedamaian. Aku butuh... melepaskan beban yang
selama ini aku pikul.
Anak-anakku, jika kalian memiliki masalah dengan orang tua
kalian, jangan biarkan kebencian bersarang di hati kalian. Maafkan mereka.
Bukan untuk mereka, tetapi untuk kalian sendiri. Karena kebencian hanya akan
menghancurkan kalian dari dalam.
Pelajaran ketiga: Cinta sejati tidak pernah mati.
Aku mencintai Kirana sejak aku berusia tujuh tahun. Sejak
pertama kali aku melihatnya di tepi sungai, dengan bunga liar di tangannya,
dengan senyum di bibirnya, dengan lesung pipit di pipi kirinya.
Kami berpisah selama tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun
karena surat-surat yang tidak sampai. Tiga puluh tahun karena kebohongan. Tiga
puluh tahun karena pengkhianatan seorang sahabat.
Tapi cinta kami tidak pernah mati. Ia hanya tidur. Ia hanya
menunggu waktu yang tepat untuk bangun kembali.
*Dan ketika kami akhirnya bertemu lagi, ketika kami
akhirnya bersama lagi, ketika kami akhirnya... merasakan kebahagiaan yang
selama ini kami rindukan, aku tahu bahwa cinta sejati tidak pernah mati. Ia
hanya menunggu. Ia hanya sabar. Ia hanya..."
Ayu tidak bisa melanjutkan. Ia menangis. Ia menyerahkan
kertas itu pada Bima.
Bima menghela napas, mengusap matanya yang basah, lalu
melanjutkan membaca.
Pelajaran keempat: Uang bukanlah segalanya.
Aku miskin. Sangat miskin. Aku tidak punya tanah. Aku tidak
punya rumah. Aku tidak punya tabungan. Aku tidak punya pendidikan. Aku tidak
punya... apa pun.
Tapi aku tidak pernah merasa miskin hati. Aku tidak pernah
merasa miskin cinta. Aku tidak pernah merasa miskin kebahagiaan.
Karena aku punya Kirana. Aku punya Raka. Aku punya Ayu. Aku
punya Adi. Aku punya Bima. Aku punya... banyak orang yang mencintaiku.
Uang bisa membuatmu kaya secara materi, tetapi tidak bisa
membuatmu bahagia. Kebahagiaan sejati datang dari orang-orang di sekitarmu.
Dari cinta yang kau berikan dan kau terima. Dari... ketulusan.
Jadi, anak-anakku, jangan pernah mengejar uang dengan
mengorbankan kebahagiaanmu. Jangan pernah mengejar kekayaan dengan mengorbankan
orang-orang yang kau cintai. Karena pada akhirnya, ketika kau mati, yang akan
kau bawa hanyalah cinta. Bukan uang.
Pelajaran kelima: Memaafkan adalah kekuatan, bukan
kelemahan.
Banyak orang menyangka bahwa memaafkan adalah tanda
kelemahan. Bahwa memaafkan berarti mengakui kekalahan. Bahwa memaafkan berarti
membiarkan orang lain menginjak-injak harga diri kita.
Mereka salah.
Memaafkan adalah kekuatan terbesar yang pernah aku
pelajari. Memaafkan Arman yang telah mencuri tiga puluh tahun kebahagiaanku.
Memaafkan Surya yang telah menuduhku membakar gudang. Memaafkan ayah kandungku
yang telah meninggalkan ibuku. Memaafkan semua orang yang pernah menyakitiku.
Memaafkan membuatku bebas. Bebas dari amarah. Bebas dari
dendam. Bebas dari... belenggu masa lalu.
Anak-anakku, belajarlah memaafkan. Bukan karena orang lain
pantas dimaafkan. Tapi karena kalian pantas untuk bebas.
Pelajaran keenam: Waktu adalah hal paling berharga.
Aku membuang tiga puluh tahun hidupku hanya karena
surat-surat yang tidak sampai. Tiga puluh tahun yang tidak bisa aku kembalikan.
Tiga puluh tahun yang seharusnya bisa aku habiskan bersama Kirana. Tiga puluh
tahun yang seharusnya bisa aku gunakan untuk membahagiakan orang-orang yang aku
cintai.
Jangan ulangi kesalahanku. Jangan buang waktu kalian untuk
hal-hal yang tidak penting. Jangan tunda kebahagiaan kalian. Jangan tunda
mengatakan "Aku sayang kamu" pada orang yang kalian cintai.
Karena waktu tidak pernah menunggu. Waktu terus berjalan.
Dan ketika kalian sadar, mungkin sudah terlambat.
Pelajaran ketujuh: Kesederhanaan adalah kebahagiaan.
Sepanjang hidupku, aku tidak pernah kaya. Aku tidak pernah
punya mobil mewah. Aku tidak pernah punya rumah besar. Aku tidak pernah punya
pakaian mahal. Aku tidak pernah...
Tapi aku bahagia. Bahagia dengan hal-hal sederhana.
Secangkir teh jahe di pagi hari. Sepiring pisang goreng di sore hari. Sebatang
rokok kretek di malam hari. Senyum Kirana. Tawa Raka. Pelukan Ayu. Ciuman Adi.
Kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar.
Kebahagiaan sering datang dari hal-hal kecil. Dari orang-orang di sekitarmu.
Dari... rasa syukur.
Jadi, anak-anakku, belajarlah bersyukur. Belajarlah melihat
kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Karena pada akhirnya, itulah yang akan
membuat kalian benar-benar kaya.
Pelajaran kedelapan: Jangan pernah menyerah pada cinta.
Banyak orang mengatakan bahwa cinta itu buta. Bahwa cinta
itu menyakitkan. Bahwa cinta itu tidak rasional. Bahwa cinta itu hanya
membuang-buang waktu.
Mereka salah.
Cinta adalah hal terindah yang pernah aku alami. Cinta
membuatku bertahan. Cinta membuatku berjuang. Cinta membuatku... hidup.
Meskipun cinta juga membuatku menderita. Meskipun cinta
juga membuatku kecewa. Meskipun cinta juga membuatku menangis.
Tapi aku tidak pernah menyesal mencintai Kirana. Aku tidak
pernah menyesal memilihnya. Aku tidak pernah menyesal... menunggunya selama
tiga puluh tahun.
Karena pada akhirnya, cinta kami menang. Cinta kami
bersatu. Cinta kami... abadi.
Jadi, anak-anakku, jangan pernah takut untuk mencintai.
Jangan pernah takut untuk dicintai. Karena cinta adalah hadiah terindah dari
Tuhan. Cinta adalah... alasan kita hidup.
Pelajaran kesembilan: Keluarga bukan hanya tentang darah.
Aku tidak punya ayah kandung. Ayah tiriku pergi ketika aku
masih kecil. Ibuku meninggal ketika aku masih remaja. Aku sendirian. Aku tidak
punya siapa-siapa.
Tapi aku punya Kirana. Aku punya Raka. Aku punya Ayu. Aku
punya Adi. Aku punya Bima. Aku punya... banyak orang yang mencintaiku, meskipun
tidak sedarah denganku.
Keluarga bukan hanya tentang darah. Keluarga adalah tentang
orang-orang yang peduli padamu. Orang-orang yang ada untukmu. Orang-orang yang
mencintaimu apa adanya.
Jadi, anak-anakku, jangan pernah membatasi keluargamu hanya
pada mereka yang sedarah denganmu. Buka hatimu. Terima orang-orang yang
mencintaimu. Dan cintailah mereka kembali.
Pelajaran kesepuluh: Hidup adalah tentang perjalanan, bukan
tujuan.
Selama hidupku, aku selalu berpikir bahwa kebahagiaan ada
di tujuan. Bahwa aku akan bahagia ketika aku kaya. Bahwa aku akan bahagia
ketika aku bersama Kirana. Bahwa aku akan bahagia ketika aku...
Tapi aku salah.
Kebahagiaan tidak ada di tujuan. Kebahagiaan ada di
perjalanan. Di setiap langkah yang aku ambil. Di setiap air mata yang aku
teteskan. Di setiap tawa yang aku bagikan. Di setiap... cinta yang aku berikan.
Jadi, anak-anakku, nikmati setiap momen dalam hidup kalian.
Jangan terburu-buru mengejar tujuan. Karena perjalananlah yang membentuk
kalian. Perjalananlah yang mengajarkan kalian. Perjalananlah yang... membuat
kalian menjadi siapa kalian sekarang.
Penutup
Anak-anakku, aku tidak tahu apakah kalian akan membaca
surat ini. Aku tidak tahu apakah kalian akan mengingat pesan-pesan ini. Aku
tidak tahu apakah kalian akan... menganggapku sebagai ayah yang baik.
Tapi aku berharap. Aku berharap bahwa suatu hari nanti,
ketika kalian dewasa, ketika kalian menghadapi masalah, ketika kalian merasa
putus asa, kalian akan mengingat pesan-pesan ini. Kalian akan mengingat bahwa
ayah kalian pernah melalui hal-hal yang lebih sulit, tetapi tidak pernah
menyerah. Kalian akan mengingat bahwa ayah kalian pernah jatuh, tetapi selalu
bangkit. Kalian akan mengingat bahwa ayah kalian pernah dicaci, tetapi tidak
pernah membenci.
Karena pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa
sering kita jatuh. Yang terpenting adalah seberapa sering kita bangkit. Yang
terpenting adalah... apa yang kita lakukan setelah kita bangkit.
Aku sayang kalian. Lebih dari apa pun di dunia ini. Lebih
dari hidupku sendiri.
Danang Wiratama.
Desa Kapuas, 2008.
Bima selesai membaca.
Seluruh ruangan sunyi.
Hanya suara tangis yang terdengar.
Raka menangis.
Ayu menangis.
Kirana menangis.
Bima menangis.
Adi menangis, meskipun ia tidak sepenuhnya mengerti.
"Om Danang baik," kata Adi, memeluk neneknya.
"Om Danang sangat baik. Adi sayang Om Danang."
Kirana memeluk Adi.
Ia memeluknya erat-erat.
"Iya, Nak. Om Danang sangat baik. Om Danang..."
"Bu Kirana, aku akan mengingat pesan-pesan ini,"
kata Raka, suaranya tegas, penuh keyakinan. "Aku akan mengajarkannya pada
anak-anakku. Aku akan..."
"Aku juga, Bu," kata Ayu. "Aku akan
menceritakan pada Adi setiap hari. Aku akan..."
"Aku akan menceritakan pada semua orang," kata
Bima. "Aku akan memastikan bahwa pesan Danang tidak akan pernah dilupakan.
Aku akan..."
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian
di dunia.
Senyum yang sekarang, di senja hidupnya, masih tetap sama.
"Terima kasih, Danang," bisiknya. "Terima
kasih untuk semuanya. Untuk cintamu. Untuk kesetiaanmu. Untuk pengorbananmu.
Untuk... untuk wasiatmu. Aku akan menjaganya. Aku akan mengamalkannya. Aku
akan..."
"Bu Kirana, Om Danang pasti bangga melihat ibu,"
kata Adi.
"Kenapa kau bilang begitu, Nak?"
"Karena ibu kuat. Karena ibu tidak menyerah. Karena
ibu..."
Kirana menangis.
Ia memeluk Adi.
Memeluknya erat-erat.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih."
Bab 16
Cahaya
dari Masa Lalu
Satu tahun setelah wasiat Danang dibacakan, setelah air
mata mulai kering dan senyum mulai kembali menghiasi wajah, desa Kapuas berubah
lagi. Bukan berubah secara fisik, tetapi berubah dalam semangat. Ada energi
baru yang mengalir di desa itu. Ada harapan baru yang tumbuh di hati setiap
penduduk. Ada mimpi baru yang mulai dirancang oleh generasi muda.
Taman kenangan di tepi sungai tidak lagi hanya menjadi
tempat untuk berduka. Ia menjadi tempat untuk belajar. Raka, yang selama ini
sibuk dengan bisnisnya di Jakarta, memutuskan untuk pindah kembali ke desa. Ia
menjual perusahaannya, menginvestasikan uangnya untuk membangun sebuah pusat
pendidikan informal di samping taman kenangan. Namanya: "Sekolah Cinta
Danang Wiratama".
Bukan sekolah biasa. Tidak ada gedung megah. Tidak ada
laboratorium canggih. Tidak ada perpustakaan ber-AC. Hanya sebuah bangunan kayu
sederhana dengan dinding terbuka, menghadap ke sungai, menghadap ke pohon waru,
menghadap ke alam. Di dalamnya, rak-rak penuh dengan buku. Buku-buku bekas yang
dikumpulkan dari sumbangan warga. Buku-buku tentang kehidupan, tentang cinta,
tentang perjuangan, tentang ketabahan.
"Raka, kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Dewi,
mantan istrinya, yang kini menjadi teman baiknya. Ia datang dari Jakarta,
membawa serta kabar baik. "Kau meninggalkan semua yang sudah kau bangun di
kota. Bisnis. Jabatan. Gaji besar. Semua."
"Bu, aku sudah lama berpikir tentang ini," jawab
Raka, matanya menatap sungai yang mengalir tenang. "Ayah mengajarkanku
bahwa uang bukanlah segalanya. Ayah mengajarkanku bahwa kebahagiaan tidak
datang dari harta. Ayah mengajarkanku bahwa..."
"Bahwa cinta dan keluarga adalah yang
terpenting," sambut Dewi, tersenyum. "Aku tahu, Raka. Aku juga
belajar dari ayahmu. Meskipun pernikahan kami gagal, aku belajar banyak dari
Danang. Bahwa kesederhanaan adalah kebahagiaan. Bahwa memaafkan adalah
kekuatan. Bahwa..."
"Bu Dewi, apa ibu tidak menyesal menikah dengan
ayah?" tanya Raka, matanya penuh rasa ingin tahu.
Dewi menggeleng. "Tidak, Raka. Aku tidak menyesal.
Meskipun ayahmu tidak pernah mencintaiku, aku bersyukur pernah menjadi bagian
dari hidupnya. Aku bersyukur karena dari pernikahan itu, lahirlah kau. Aku
bersyukur karena..."
"Karena ibu belajar banyak dari ayah?"
Dewi mengangguk. "Aku belajar bahwa cinta tidak harus
memiliki. Aku belajar bahwa kebahagiaan tidak harus sempurna. Aku belajar
bahwa..."
"Bahwa hidup adalah tentang memberi, bukan
menerima."
"Kau bijak, Raka. Seperti ayahmu."
"Aku tidak bijak, Bu. Aku hanya..."
"Kau bijak, Nak. Aku bisa melihatnya dari matamu. Dari
caramu..."
Dari caramu memandang dunia, Bu?
Dewi tersenyum. "Dari caramu mencintai. Tanpa pamrih.
Tanpa mengharapkan imbalan. Seperti ayahmu."
Mereka berdua terdiam. Hanya suara sungai. Hanya suara
angin. Hanya suara burung.
"Bu Dewi, aku ingin ibu tinggal di sini. Bersama aku.
Bersama Ayu. Bersama Bu Kirana. Bersama..."
Dewi menggeleng. "Aku tidak bisa, Raka. Aku punya
kehidupan di Jakarta. Aku punya..."
"Tapi ibu sendirian di sana. Ibu tidak punya
siapa-siapa. Ibu..."
"Aku punya teman-teman, Raka. Aku punya kegiatan
sosial. Aku punya..."
"Tapi ibu tidak punya keluarga, Bu."
Dewi menangis. Ia memeluk Raka. "Kau keluargaku, Raka.
Kau satu-satunya..."
"Kalau begitu, ibu tinggal di sini. Bersama aku. Kita
bangun sekolah ini bersama. Kita ajarkan anak-anak desa. Kita..."
"Raka, aku bukan guru. Aku tidak bisa..."
"Bu Dewi bisa. Bu Dewi bisa mengajarkan banyak hal. Bu
Dewi bisa..."
Dewi tersenyum. "Baik, Raka. Aku coba. Tapi jangan
harap aku bisa seperti ayahmu. Aku tidak sebaik dia. Aku tidak..."
"Tidak ada yang bisa seperti ayah, Bu. Tapi kita bisa
belajar dari dia. Kita bisa..."
"Kita bisa melanjutkan perjuangannya."
Raka mengangguk. "Iya, Bu. Kita bisa melanjutkan
perjuangannya."
Sekolah Cinta Danang Wiratama dibuka pada hari Minggu, di
bawah pohon waru yang rindang, di tepi sungai yang tenang. Upacara pembukaan
sederhana. Tidak ada menteri. Tidak ada pejabat. Tidak ada artis. Hanya warga
desa. Hanya anak-anak. Hanya orang-orang yang mencintai Danang.
Kirana berdiri di depan podium kayu sederhana. Ia memegang
mikrofon, tangannya gemetar, matanya basah.
"Selamat pagi, anak-anak. Selamat pagi, bapak-ibu.
Selamat pagi, semua."
"Selamat pagi, Bu Kirana!" seru anak-anak
serempak, suara mereka riang, penuh semangat.
"Hari ini, kita meresmikan Sekolah Cinta Danang
Wiratama. Sekolah ini bukan sekolah biasa. Di sini, kalian tidak akan belajar
matematika, fisika, kimia, atau bahasa Inggris. Di sini, kalian akan belajar
tentang kehidupan. Tentang cinta. Tentang perjuangan. Tentang..."
"Tentang apa, Bu?" tanya seorang anak laki-laki
dari barisan depan.
"Tentang menjadi manusia yang baik, Nak. Tentang
menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Tentang..."
"Bu Kirana, kenapa sekolah ini dinamai Om
Danang?" tanya seorang anak perempuan dengan pigtails dan baju merah muda.
Kirana tersenyum. "Karena Om Danang adalah guru
terbaik yang pernah aku kenal. Om Danang mengajarkan aku arti kesetiaan. Om
Danang mengajarkan aku arti..."
"Om Danang mengajarkan Bu Kirana tentang cinta, ya,
Bu?" tanya anak itu lagi, matanya polos, penuh rasa ingin tahu.
Kirana tertawa. "Iya, Nak. Om Danang mengajarkan aku
tentang cinta. Cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang..."
"Bu Kirana, aku juga mau belajar cinta. Aku mau punya
pacar," kata anak laki-laki di barisan depan, membuat semua orang tertawa.
Kirana menggeleng. "Kau masih kecil, Nak. Belajar dulu
yang baik. Nanti kalau sudah besar, kau bisa mencari pacar."
"Tapi Om Danang sudah punya pacar waktu masih kecil,
kan, Bu? Om Danang punya Bu Kirana."
Semua orang terdiam.
Suasana berubah.
Ada yang menangis.
Ada yang terisak.
Ada yang hanya diam, menatap Kirana, menunggu jawabannya.
Kirana menghela napas. "Iya, Nak. Om Danang sudah
punya pacar waktu masih kecil. Tapi Om Danang tidak mengganggu sekolahnya. Om
Danang tetap belajar. Om Danang tetap..."
"Om Danang tetap apa, Bu?"
"Om Danang tetap berjuang. Untuk masa depannya. Untuk
keluarganya. Untuk..."
"Untuk Bu Kirana?"
Kirana mengangguk. "Untuk Bu Kirana. Untuk kalian
semua. Untuk..."
"Bu Kirana, aku janji akan belajar sungguh-sungguh.
Aku janji akan menjadi anak yang baik. Aku janji akan..."
"Kau bisa, Nak. Aku percaya."
Raka berdiri di samping Kirana. Ia memegang mikrofon,
matanya berkaca-kaca.
"Anak-anak, hari ini kita memulai sesuatu yang baru.
Sesuatu yang belum pernah ada di desa ini sebelumnya. Sebuah sekolah yang tidak
hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai
kehidupan. Nilai-nilai yang diajarkan ayahku. Nilai-nilai yang..."
"Apa itu, Pak Raka?" tanya anak yang sama.
"Kesederhanaan, Nak. Kejujuran. Kesetiaan. Ketabahan.
Kerja keras. Pantang menyerah. Memaafkan. Mencintai. Berbagi. Bersyukur. Itu
yang diajarkan ayahku. Itu yang akan kita ajarkan di sini."
"Pak Raka, aku bisa ikut? Aku bisa belajar?"
tanya seorang anak perempuan dari barisan belakang, dengan pakaian lusuh,
dengan wajah kotor, dengan mata yang penuh harap.
"Semua bisa ikut, Nak. Sekolah ini gratis. Tidak
dipungut biaya. Cukup bawa semangat. Cukup bawa..."
"Bawa apa, Pak?"
"Bawa hati yang bersih, Nak. Bawa niat yang tulus.
Bawa..."
"Bawa cinta, Pak?"
Raka tersenyum. "Bawa cinta, Nak. Cinta kepada Tuhan.
Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sesama. Cinta kepada..."
"Kepada siapa lagi, Pak?"
"Kepada diri sendiri, Nak. Karena sebelum kita bisa
mencintai orang lain, kita harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu."
Anak-anak bertepuk tangan.
Warga desa bersorak.
Kirana menangis.
Bima tersenyum.
Ayu memeluk Adi.
Dan di atas sana, di tempat yang tidak bisa dilihat mata,
Danang tersenyum. Ia tersenyum melihat anak-anak desanya belajar. Ia tersenyum
melihat Raka melanjutkan perjuangannya. Ia tersenyum melihat Kirana bahagia. Ia
tersenyum melihat cinta yang tidak pernah mati.
Bab 17
Generasi
Penerus
Lima tahun setelah Sekolah Cinta Danang Wiratama berdiri,
desa Kapuas berubah lagi. Bukan hanya fisik, tetapi juga cara berpikir
penduduknya. Anak-anak yang dulu masih kecil, sekarang sudah remaja. Remaja
yang dulu suka bermain kejar-kejaran, sekarang sudah duduk di bangku SMA,
bahkan ada yang sudah kuliah di kota. Dan yang paling membanggakan, beberapa di
antara mereka memilih untuk kembali ke desa setelah lulus, untuk mengabdi,
untuk mengajar, untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Danang dan Raka.
Adi, cucu Ayu yang dulu masih bermain mobil-mobilan di
tanah, sekarang sudah berusia sepuluh tahun. Ia duduk di kelas lima SD, di
sekolah desa yang masih sederhana, tetapi semangat belajarnya luar biasa.
Setiap hari, sebelum berangkat sekolah, ia mampir ke rumah Kirana untuk mencium
tangan neneknya, meminta restu, dan mendengarkan cerita tentang Om Danang.
"Nenek, ceritakan lagi tentang Om Danang," pinta
Adi suatu pagi, duduk di lantai ruang tamu, bersandar di kaki Kirana yang duduk
di kursi rotan.
Kirana tersenyum. "Cerita apa lagi, Nak? Nenek sudah
cerita semua. Nenek sudah..."
"Cerita tentang waktu Nenek dan Om Danang berpisah.
Cerita tentang surat-surat yang tidak sampai. Cerita tentang..."
"Nak, cerita itu sedih. Nenek tidak mau Adi sedih.
Nenek tidak mau..."
"Adi tidak sedih, Nek. Adi ingin belajar. Adi ingin
tahu bagaimana rasanya menunggu tiga puluh tahun. Adi ingin..."
"Kenapa kau ingin tahu, Nak?"
Adi menatap Kirana dengan mata bulatnya, mata yang penuh
dengan ketulusan. "Karena suatu hari nanti, Adi juga akan mencintai
seseorang. Adi juga akan menunggu. Adi juga akan..."
Kirana terkejut. "Kau masih kecil, Nak. Belum waktunya
untuk memikirkan cinta. Belum waktunya untuk..."
"Tapi Om Danang sudah mencintai Nenek sejak usia tujuh
tahun, Nek. Om Danang..."
"Itu berbeda, Nak. Om Danang..."
"Kenapa berbeda, Nek? Cinta tetap cinta. Tidak peduli
usia. Tidak peduli..."
Kirana menghela napas. Ia memandang cucunya, memandang mata
polos yang penuh dengan rasa ingin tahu, memandang semangat yang membara di
dadanya.
"Baiklah, Nak. Nenek ceritakan. Tapi kau harus janji
sesuatu."
"Apa, Nek?"
"Kau harus janji bahwa kau tidak akan melakukan
hal-hal bodoh seperti Nenek dulu. Kau harus janji bahwa kau akan jujur pada
orang yang kau cintai. Kau harus janji bahwa kau tidak akan membiarkan orang
lain menghancurkan kebahagiaanmu. Kau harus..."
"Adi janji, Nek. Adi janji."
Kirana memeluk Adi. Ia memeluknya erat-erat, seperti tidak
ingin melepaskan, seperti takut kehilangan, seperti takut cucunya akan
mengulangi kesalahannya.
"Nak, waktu itu Nenek dan Om Danang berpisah karena
surat-surat yang tidak sampai. Om Danang tidak pernah menerima surat Nenek.
Nenek tidak pernah menerima surat Om Danang. Kami berdua saling merindukan,
tetapi tidak pernah tahu."
"Kenapa surat-surat itu tidak sampai, Nek?"
"Karena ada orang yang menahannya, Nak. Karena ada orang
yang iri. Karena ada orang yang..."
"Pak Arman?"
Kirana mengangguk. "Pak Arman. Sahabat Om Danang.
Sahabat Nenek. Orang yang kami percayai. Orang yang..."
"Kenapa Pak Arman tega melakukan itu, Nek? Kenapa Pak
Arman..."
"Karena Pak Arman juga mencintai Nenek, Nak. Karena
Pak Arman iri melihat Nenek dan Om Danang bahagia. Karena Pak Arman..."
"Tapi Pak Arman sudah minta maaf, kan, Nek? Pak Arman
sudah..."
"Pak Arman sudah minta maaf. Pak Arman sudah menyesal.
Pak Arman sudah..."
"Apakah Nenek memaafkan Pak Arman?"
Kirana tersenyum. "Nenek sudah memaafkan Pak Arman,
Nak. Sejak lama. Sejak sebelum Pak Arman meninggal. Nenek..."
"Pak Arman sudah meninggal, Nek?"
"Pak Arman meninggal dua tahun lalu, Nak. Setelah
sakit lama. Setelah..."
"Apakah Pak Arman bahagia sebelum meninggal,
Nek?"
Kirana mengangguk. "Pak Arman bahagia, Nak. Karena ia
sudah diampuni. Karena ia sudah..."
"Karena ia sudah mencintai dengan tulus, Nek?"
"Karena ia sudah melepaskan, Nak. Karena ia
sudah..."
"Melepaskan apa, Nek?"
"Melepaskan keinginannya untuk memiliki. Melepaskan
rasa irinya. Melepaskan..."
"Melepaskan cintanya pada Nenek?"
Kirana mengangguk lagi. "Melepaskan cintanya pada
Nenek. Agar ia bisa mencintai dirinya sendiri. Agar ia bisa..."
"Pak Arman tidak menikah, kan, Nek?"
"Tidak, Nak. Pak Arman tidak pernah menikah. Pak Arman
tidak pernah punya anak. Pak Arman..."
"Kasihan Pak Arman. Pak Arman sendirian. Pak
Arman..."
"Pak Arman tidak sendirian, Nak. Pak Arman punya kami.
Pak Arman punya..."
"Pak Arman punya siapa, Nek?"
"Pak Arman punya Nenek. Punya Ayu. Punya Raka. Punya
Bima. Punya semua orang yang peduli padanya. Pak Arman..."
"Tapi Pak Arman tidak punya istri, Nek. Pak Arman
tidak punya anak. Pak Arman..."
"Kadang, Nak, kebahagiaan tidak selalu datang dari
memiliki istri atau anak. Kebahagiaan bisa datang dari hal-hal lain. Dari
sahabat. Dari keluarga. Dari..."
"Dari memaafkan, Nek?"
Kirana tersenyum. "Dari memaafkan, Nak. Dari
melepaskan. Dari..."
"Dari mencintai tanpa memiliki?"
"Iya, Nak. Dari mencintai tanpa memiliki."
Adi terdiam. Ia memandang neneknya, memandang mata yang
penuh dengan kebijaksanaan, memandang senyum yang tetap sama meskipun usia
terus bertambah.
"Nek, Adi sayang Nenek," kata Adi, tiba-tiba
memeluk Kirana. "Adi sayang Nenek lebih dari apa pun."
Kirana menangis. Ia memeluk cucunya. "Nenek juga
sayang Adi, Nak. Nenek juga..."
Sementara itu, di taman kenangan, Raka dan Ayu sedang duduk
di bangku kayu di bawah pohon waru. Mereka berbincang tentang masa depan
sekolah, tentang anak-anak desa, tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai.
"Raka, apa kau tidak bosan tinggal di desa?"
tanya Ayu, matanya menatap sungai yang mengalir tenang. "Dulu kau orang
kota. Dulu kau punya bisnis besar. Dulu kau..."
"Ayu, aku sudah lelah dengan hiruk-pikuk kota. Aku sudah
lelah dengan persaingan. Aku sudah lelah dengan..."
"Kau lelah dengan apa, Raka?"
"Aku lelah dengan kepalsuan, Ayu. Di kota, orang-orang
berpura-pura bahagia. Di kota, orang-orang berpura-pura kaya. Di kota,
orang-orang..."
"Di kota, orang-orang lupa pada nilai-nilai
kehidupan."
Raka mengangguk. "Di kota, orang-orang terlalu sibuk
mengejar uang, mengejar jabatan, mengejar status. Mereka lupa pada keluarga.
Mereka lupa pada sahabat. Mereka lupa pada..."
"Mereka lupa pada diri mereka sendiri."
"Kau benar, Ayu. Mereka lupa pada diri mereka sendiri.
Mereka lupa apa yang membuat mereka bahagia. Mereka lupa..."
"Tapi kau tidak lupa, Raka. Kau memilih untuk kembali.
Kau memilih untuk..."
"Aku memilih untuk mengikuti jejak ayahku. Aku memilih
untuk..."
"Kau memilih untuk hidup sederhana, seperti
ayahmu."
Raka tersenyum. "Ayahku mengajarkan bahwa
kesederhanaan adalah kebahagiaan. Ayahku mengajarkan bahwa..."
"Ayahmu mengajarkan bahwa cinta tidak pernah
mati."
"Kau benar, Ayu. Ayahku mengajarkan bahwa cinta tidak
pernah mati. Cinta hanya berubah wujud. Cinta hanya..."
"Cinta hanya pindah dari satu generasi ke generasi
berikutnya."
Raka menatap Ayu. Matanya berkaca-kaca. "Ayu, apa kau
pernah berpikir untuk menikah lagi? Setelah suamimu meninggal? Setelah..."
Ayu menggeleng. "Aku tidak berpikir untuk menikah
lagi, Raka. Aku sudah bahagia dengan Adi. Aku sudah bahagia dengan..."
"Kau bahagia sendirian, Ayu?"
"Aku tidak sendirian, Raka. Aku punya Adi. Aku punya
Ibu. Aku punya kau. Aku punya..."
"Tapi kau tidak punya suami, Ayu. Kau tidak
punya..."
"Aku tidak butuh suami, Raka. Aku sudah punya cinta.
Cinta dari Adi. Cinta dari Ibu. Cinta dari..."
"Dari ayahmu?"
Ayu mengangguk. "Dari ayahku. Meskipun ayahku sudah
tiada, cintanya masih ada. Masih terasa. Masih..."
"Kau kuat, Ayu. Kau sangat kuat."
"Aku tidak kuat, Raka. Aku hanya..."
"Kau kuat, Ayu. Aku bisa melihatnya dari matamu. Dari
caramu..."
"Dari caraku apa, Raka?"
"Dari caramu menghadapi hidup. Dari caramu..."
Ayu tersenyum. "Terima kasih, Raka. Tapi aku hanya perempuan
biasa. Aku hanya..."
"Kau tidak biasa, Ayu. Kau istimewa. Kau..."
"Sudahlah, Raka. Jangan memuji aku terus. Aku tidak
terbiasa."
Mereka berdua tertawa.
Tertawa di tepi sungai.
Tertawa di bawah pohon waru.
Tertawa sebagai sahabat.
Tertawa sebagai keluarga.
Di sekolah, anak-anak sedang belajar dengan Bima. Bima
sudah sangat tua, usianya sudah mendekati delapan puluh tahun. Tubuhnya
bungkuk. Langkahnya lambat. Matanya kabur. Tapi semangatnya masih membara. Ia
masih ingin mengajar. Ia masih ingin berbagi. Ia masih ingin...
"Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang
kesederhanaan," kata Bima, suaranya parau, tetapi masih lantang.
"Pak Bima, apa itu kesederhanaan?" tanya seorang
anak perempuan di barisan depan.
"Kesederhanaan adalah ketika kita merasa cukup dengan
apa yang kita miliki. Ketika kita tidak iri pada orang lain. Ketika
kita..."
"Pak Bima, apa kita tidak boleh bermimpi menjadi
kaya?" tanya seorang anak laki-laki dengan kacamata tebal.
Bima tersenyum. "Boleh, Nak. Menjadi kaya tidak salah.
Yang salah adalah ketika kita mengejar kekayaan dengan cara yang tidak halal.
Yang salah adalah ketika kita lupa pada orang lain. Yang salah adalah ketika
kita..."
"Ketika kita sombong, Pak?"
"Ketika kita sombong, Nak. Ketika kita merasa lebih
baik dari orang lain. Ketika kita..."
"Pak Bima, Om Danang dulu miskin, kan, Pak? Tapi Om
Danang tidak sombong. Om Danang..."
"Om Danang tidak pernah sombong, Nak. Meskipun ia
miskin, ia tetap rendah hati. Meskipun ia..."
"Meskipun ia dicaci, ia tidak membenci."
Bima mengangguk. "Om Danang mengajarkan kita bahwa
harga diri tidak ditentukan oleh harta. Harga diri ditentukan oleh..."
"Oleh apa, Pak?"
"Oleh sikap kita. Oleh perilaku kita. Oleh..."
"Oleh hati kita, Pak?"
Bima tersenyum. "Oleh hati kita, Nak. Hati yang bersih.
Hati yang tulus. Hati yang..."
"Hati yang penuh cinta, Pak?"
"Penuh cinta, Nak. Cinta kepada Tuhan. Cinta kepada
orang tua. Cinta kepada sesama. Cinta kepada..."
"Kepada siapa lagi, Pak?"
"Kepada diri sendiri, Nak. Karena sebelum kita bisa
mencintai orang lain, kita harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu."
Anak-anak bertepuk tangan.
Bima tersenyum.
Ia memandang anak-anak di depannya.
Anak-anak yang masih polos.
Anak-anak yang masih penuh semangat.
Anak-anak yang akan meneruskan perjuangan Danang.
Anak-anak yang akan menjaga cinta agar tidak pernah mati.
Bab 18
Cinta
yang Tidak Pernah Mati
Tahun 2015. Tujuh tahun telah berlalu sejak Danang Wiratama
meninggal. Tujuh tahun sejak Kirana menaruh pita biru di atas peti kayu nangka.
Tujuh tahun sejak Sekolah Cinta Danang Wiratama berdiri di tepi sungai. Tujuh
tahun sejak generasi baru mulai belajar tentang cinta, tentang kesetiaan,
tentang pengorbanan, tentang memaafkan.
Desa Kapuas kini berbeda. Bukan desa terpencil lagi. Bukan
desa yang hanya dikenal karena kebakaran gudang beras dan tuduhan terhadap
Danang. Kini desa itu dikenal sebagai desa pendidikan. Sebagai desa yang
melahirkan generasi-generasi muda yang berkarakter. Sebagai desa yang
mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada siapa pun yang mau belajar.
Banyak pengunjung datang dari berbagai daerah. Bukan untuk
berwisata. Bukan untuk melihat pemandangan. Tapi untuk belajar. Belajar dari
kisah Danang dan Kirana. Belajar dari perjuangan mereka. Belajar dari cinta
yang tidak pernah mati.
"Sekolah Cinta Danang Wiratama" kini memiliki
cabang di tiga kota. Raka yang memimpin pengembangannya. Ia tidak sendiri. Ia
dibantu oleh lulusan-lulusan pertama sekolah tersebut. Anak-anak desa yang dulu
masih kecil, kini sudah dewasa, sudah sarjana, sudah kembali untuk mengabdi.
"Nak, kau tidak menyesal kembali ke desa?" tanya
Kirana suatu sore, ketika ia duduk di beranda rumahnya, ditemani oleh seorang
perempuan muda bernama Sari, lulusan pertama sekolah itu, yang kini menjadi
guru di cabang Jakarta.
Sari tersenyum. "Tidak, Bu. Saya tidak menyesal.
Justru saya bersyukur. Bersyukur karena bisa mengabdi. Bersyukur karena
bisa..."
"Bisa apa, Nak?"
"Bisa melanjutkan perjuangan Om Danang, Bu. Om Danang
mengajarkan saya bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Hidup adalah
tentang..."
"Tentang memberi, Nak. Tentang berbagi.
Tentang..."
"Tentang mencintai tanpa pamrih, Bu."
Kirana menatap Sari. Matanya berkaca-kaca. "Kau tahu,
Nak? Dulu, ketika Danang masih hidup, ia sering berkata, 'Kirana, suatu hari
nanti, akan ada generasi yang meneruskan perjuangan kita. Mereka tidak akan
mengalami penderitaan seperti kita. Mereka akan...'"
"Bu, Om Danang benar. Kami tidak mengalami penderitaan
seperti Om Danang. Tapi kami belajar dari penderitaannya. Kami belajar
dari..."
"Kami belajar dari kesalahannya, Bu," sambut
Sari. "Kami belajar bahwa cinta harus diperjuangkan. Bahwa cinta tidak
boleh disia-siakan. Bahwa cinta..."
"Bahwa cinta adalah segalanya, Nak."
Sari mengangguk. "Cinta adalah segalanya, Bu. Cinta
adalah alasan kita hidup. Cinta adalah..."
"Sudah, Nak. Jangan terlalu serius. Aku jadi ingin
menangis."
Sari tertawa. "Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud membuat
ibu sedih. Saya hanya..."
"Kau tidak membuatku sedih, Nak. Kau membuatku
bahagia. Bahagia karena melihat anak-anak muda seperti kau mau meneruskan
perjuangan Danang. Bahagia karena..."
"Karena cinta tidak pernah mati, Bu."
Kirana tersenyum. "Karena cinta tidak pernah mati,
Nak. Cinta hanya..."
"Cinta hanya berpindah dari satu generasi ke generasi
berikutnya."
Di taman kenangan, di bawah pohon waru, Adi yang sekarang
sudah berusia lima belas tahun, duduk bersama teman-temannya. Ia sudah remaja.
Tingginya sudah melebihi neneknya. Suaranya sudah berubah menjadi berat. Kumis
tipis mulai tumbuh di bibir atasnya. Tapi matanya masih sama. Mata yang polos.
Mata yang penuh rasa ingin tahu. Mata yang mewarisi semangat Om Danang.
"Adi, apa kau punya pacar?" tanya salah seorang
temannya, seorang perempuan bernama Maya, dengan rambut sebahu dan lesung pipit
di pipi kirinya.
Adi tersenyum malu. "Belum, May. Aku masih fokus
belajar. Nenek bilang..."
"Nenek bilang apa?"
"Nenek bilang, jangan terburu-buru mencari cinta.
Cinta sejati akan datang pada waktunya. Cinta sejati tidak perlu..."
"Tidak perlu dicari, ya? Cinta sejati akan datang sendiri."
Adi mengangguk. "Seperti Om Danang dan Nenek Kirana.
Mereka tidak mencari satu sama lain. Mereka bertemu. Mereka jatuh cinta.
Mereka..."
"Mereka berpisah selama tiga puluh tahun."
"Iya. Tiga puluh tahun. Tapi cinta mereka tidak pernah
mati. Cinta mereka..."
"Apakah kau bisa menunggu selama itu, Adi?" tanya
Maya, matanya serius.
Adi terdiam. Ia memandang sungai yang mengalir tenang. Ia
memandang pohon waru yang rindang. Ia memandang taman kenangan yang penuh
dengan bunga.
"Aku tidak tahu, May. Aku tidak tahu apakah aku bisa
menunggu selama itu. Tapi yang aku tahu, jika aku benar-benar mencintai
seseorang, aku akan berusaha. Aku akan berjuang. Aku akan..."
"Kau akan apa, Adi?"
"Kau akan menunggu, May. Selama yang diperlukan."
Maya tersenyum. "Kau romantis, Adi. Seperti Om
Danang."
"Aku tidak romantis, May. Aku hanya..."
"Kau hanya apa?"
"Aku hanya belajar dari Om Danang. Aku hanya..."
"Kau hanya ingin mencintai dengan tulus, seperti Om
Danang."
Adi mengangguk. "Aku ingin mencintai dengan tulus,
May. Tanpa pamrih. Tanpa..."
"Tanpa mengharapkan imbalan?"
"Tanpa mengharapkan imbalan, May. Karena cinta sejati
tidak pernah meminta imbalan. Cinta sejati hanya..."
"Hanya memberi?"
Adi mengangguk lagi. "Hanya memberi, May.
Hanya..."
Maya meraih tangan Adi. Tangannya yang kecil dan hangat,
menggenggam tangan Adi yang mulai besar.
"Adi, aku suka kau," katanya, suaranya pelan,
hampir seperti bisikan.
Adi terkejut. "Apa?"
"Aku suka kau, Adi. Sejak kita kecil. Sejak kau masih
bermain mobil-mobilan di tanah. Sejak kau..."
"May, jangan bercanda. Aku tidak suka..."
"Aku tidak bercanda, Adi. Aku serius. Aku suka kau.
Aku..."
"Tapi kita masih muda, May. Kita masih harus belajar.
Kita masih..."
"Belajar sambil mencintai, Adi. Tidak ada yang
melarang. Om Danang juga..."
"Om Danang lain, May. Om Danang..."
"Om Danang juga muda ketika ia jatuh cinta pada Nenek
Kirana. Om Danang juga..."
"Tapi Om Danang tidak pacaran, May. Om Danang
hanya..."
"Om Danang hanya mencintai dalam diam?"
Adi mengangguk. "Om Danang hanya mencintai dalam diam.
Sampai waktu yang tepat. Sampai..."
"Sampai kapan, Adi?"
"Sampai mereka dewasa. Sampai mereka siap.
Sampai..."
"Kau mau menunggu sampai kita dewasa, Adi?"
Adi menatap Maya. Matanya yang polos, yang penuh dengan
rasa ingin tahu, menatap mata Maya yang juga polos, yang juga penuh dengan rasa
ingin tahu.
"Aku mau, May. Aku mau menunggu. Sampai kita dewasa.
Sampai kita siap. Sampai..."
"Sampai kita bisa mencintai dengan dewasa, Adi?"
"Sampai kita bisa mencintai dengan dewasa, May. Tanpa
menyakiti. Tanpa..."
"Tanpa mengulangi kesalahan Om Danang dan Nenek
Kirana?"
Adi mengangguk. "Tanpa mengulangi kesalahan mereka,
May. Kita akan belajar dari mereka. Kita akan..."
"Kita akan mencintai dengan jujur. Dengan terbuka.
Dengan..."
"Dengan tidak menyembunyikan apa pun."
Maya tersenyum. "Kau dewasa, Adi. Kau lebih dewasa
dari usiamu."
"Aku tidak dewasa, May. Aku hanya..."
"Kau hanya apa?"
"Aku hanya ingin mencintai dengan benar. Agar tidak
ada yang tersakiti. Agar tidak ada yang..."
"Agar tidak ada yang menangis seperti Nenek
Kirana?"
Adi mengangguk. "Agar tidak ada yang menangis seperti
Nenek Kirana. Agar tidak ada yang..."
"Aku janji, Adi. Aku tidak akan membuatmu
menangis."
"Aku juga janji, May. Aku tidak akan membuatmu
menangis."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di bawah pohon waru.
Berpelukan di tepi sungai.
Berpelukan sebagai generasi penerus.
Generasi yang belajar dari kesalahan masa lalu.
Generasi yang akan mencintai dengan lebih baik.
Generasi yang akan menjaga cinta agar tidak pernah mati.
Sementara itu, di dalam rumah, Kirana sedang membaca
surat-surat lama. Surat-surat yang dulu ia tulis untuk Danang. Surat-surat yang
tidak pernah sampai. Surat-surat yang kini menjadi kenangan yang tak ternilai.
"Ibu, kenapa ibu menangis?" tanya Ayu, yang baru
saja masuk ke ruang tamu, membawa nampan berisi teh jahe dan pisang goreng.
Kirana mengusap air matanya. "Tidak, Nak. Ibu tidak
menangis. Ibu hanya..."
"Ibu hanya merindukan Om Danang?"
Kirana mengangguk. "Ibu merindukan Danang, Nak. Setiap
hari. Setiap malam. Setiap kali..."
"Ibu, Om Danang pasti tersenyum melihat ibu. Om Danang
pasti..."
"Apakah Danang tersenyum, Nak? Apakah ia bangga
padaku?"
"Ibu, Om Danang pasti bangga. Om Danang pasti..."
"Kenapa kau yakin, Nak?"
Ayu duduk di samping ibunya, memegang tangannya.
"Karena ibu kuat, Bu. Karena ibu tidak menyerah. Karena ibu..."
"Ibu tidak kuat, Nak. Ibu lemah. Ibu..."
"Ibu kuat, Bu. Ibu sudah membuktikan. Selama tiga
puluh tahun. Ibu menunggu. Ibu..."
"Ibu menunggu karena ibu cinta Danang, Nak. Bukan
karena ibu kuat."
"Cinta adalah kekuatan, Bu. Cinta membuat ibu kuat.
Cinta membuat ibu..."
"Cinta membuat ibu bertahan, Nak. Cinta membuat
ibu..."
"Cinta membuat ibu hidup, Bu."
Kirana menangis. Ia memeluk Ayu.
"Ayu, ibu sayang kau. Ibu sayang..."
"Aku juga sayang ibu, Bu. Lebih dari apa pun."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di ruang tamu.
Berpelukan sebagai ibu dan anak.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Bab 19
Perjumpaan
di Alam Mimpi
Malam itu, setelah semua orang pulang, setelah Adi dan Maya
berjanji di bawah pohon waru, setelah Ayu mencuci piring dan merapikan dapur,
setelah Raka menelepon dari Jakarta untuk memastikan ibunya baik-baik saja,
setelah Bima berjalan pulang dengan tongkatnya yang gemetar, Kirana berbaring
di ranjangnya. Ia tidak bisa tidur. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap
langit-langit kamar yang retak, mendengar suara jangkrik dari kejauhan,
mendengar suara sungai yang mengalir tenang, mendengar suara angin yang
berhembus pelan.
Ia memegang buku gambar Danang di dadanya. Buku yang sudah
usang, yang halamannya menguning, yang beberapa halaman sudah lepas. Buku yang
berisi gambar-gambar yang dibuat Danang ketika masih kecil. Gambar tentang
mereka. Gambar tentang cinta. Gambar tentang kenangan.
"Danang," bisiknya, suaranya pelan, lembut,
seperti angin malam yang berhembus. "Apa kau di sini? Apa kau mendengarku?
Apa kau..."
Tidak ada jawaban.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara sungai.
Hanya suara angin.
"Danang, aku rindu. Aku rindu senyummu. Aku rindu
tawamu. Aku rindu matamu yang gelap. Aku rindu..."
"Kirana."
Kirana terkejut.
Ia duduk di ranjang.
Matanya membesar.
"Danang? Apa kau?"
"Kirana, aku di sini. Di sampingmu. Di hatimu.
Di..."
"Aku tidak bisa melihatmu, Danang. Aku tidak bisa..."
"Kau tidak perlu melihatku, Kirana. Cukup kau rasakan.
Cukup kau..."
"Tapi aku ingin melihatmu, Danang. Aku ingin
memelukmu. Aku ingin..."
"Tutup matamu, Kirana. Tutup matamu dan kau akan
melihatku."
Kirana memejamkan mata.
Perlahan.
Dengan hati-hati.
Seperti sedang berdoa.
Seperti sedang berharap.
Seperti sedang memohon.
Dan ketika ia membuka matanya, Danang ada di depannya.
Bukan Danang yang tua, yang sakit, yang lemah.
Danang yang muda.
Danang yang berusia tujuh belas tahun.
Danang yang dulu ia cintai di kota.
Danang yang dulu ia tinggalkan karena surat palsu.
Danang yang dulu ia rindukan setiap hari.
"Danang? Apa ini? Apa ini mimpi?"
"Ya, Kirana. Ini mimpi. Tapi mimpi ini nyata. Mimpi
ini..."
"Tapi kau sudah mati, Danang. Kau sudah..."
"Aku memang sudah mati, Kirana. Tapi cinta kita tidak
pernah mati. Cinta kita..."
"Bisa bertemu di alam mimpi?"
Danang tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang dulu
menjadi rumah bagi Kirana. Senyum yang membuat Kirana merasa bahwa ia tidak
sendirian di dunia.
"Iya, Kirana. Cinta kita bisa bertemu di alam mimpi.
Di sini, tidak ada waktu. Di sini, tidak ada jarak. Di sini, hanya kita. Hanya
cinta. Hanya..."
Kirana menangis.
Ia memeluk Danang.
Memeluknya erat-erat.
"Danang, jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku
lagi. Aku..."
"Aku tidak akan pergi, Kirana. Aku akan selalu di
sini. Di setiap mimpimu. Di setiap..."
"Tapi aku tidak bisa terus bermimpi, Danang. Aku harus
bangun. Aku harus..."
"Kau harus hidup, Kirana. Kau harus bahagia. Kau
harus..."
"Bagaimana aku bisa bahagia tanpa kau, Danang?
Bagaimana aku bisa..."
"Kau bisa, Kirana. Kau punya Ayu. Kau punya Adi. Kau
punya Raka. Kau punya..."
"Tapi aku tidak punya kau, Danang. Aku tidak
punya..."
"Kau punya aku, Kirana. Di hatimu. Di kenanganmu.
Di..."
"Aku tidak bisa hidup dengan kenangan, Danang. Aku
butuh kau. Aku butuh..."
"Kau kuat, Kirana. Aku tahu. Aku percaya. Aku..."
"Danang, jangan. Jangan tinggalkan aku lagi.
Jangan..."
"Kirana, dengarkan aku. Aku tidak punya banyak waktu.
Mimpi ini akan segera berakhir. Aku harus..."
"Harus apa, Danang?"
"Harus kembali. Ke alam sana. Ke tempat aku berada.
Ke..."
"Bawa aku, Danang. Bawa aku bersamamu. Aku tidak ingin
hidup tanpa kau. Aku..."
"Kau tidak bisa, Kirana. Masih ada yang membutuhkanmu
di dunia. Masih ada..."
"Ayu sudah dewasa. Adi sudah besar. Raka sudah
mandiri. Tidak ada yang..."
"Ada, Kirana. Masih ada yang membutuhkanmu. Masih
ada..."
"Siapa, Danang? Siapa yang membutuhkanku?"
"Dirimu sendiri, Kirana. Kau masih membutuhkan dirimu
sendiri. Kau masih..."
Kirana terdiam.
Ia menatap Danang.
Matanya yang basah, yang merah, menatap mata Danang yang
gelap, yang dalam.
"Danang, apa kau bahagia di sana? Apa kau..."
"Aku bahagia, Kirana. Aku bahagia karena kau bahagia.
Aku bahagia karena..."
"Tapi aku tidak bahagia, Danang. Aku tidak..."
"Kau bahagia, Kirana. Aku bisa melihatnya dari matamu.
Dari caramu..."
"Dari caraku apa, Danang?"
"Dari caramu tersenyum. Dari caramu tertawa. Dari
caramu..."
"Tapi aku menangis setiap malam, Danang. Aku menangis
karena..."
"Kau menangis karena kau rindu, Kirana. Bukan karena
kau tidak bahagia."
Kirana menghela napas.
Ia memandang Danang.
Lelaki yang dicintainya sejak kecil.
Lelaki yang dinanti selama tiga puluh tahun.
Lelaki yang kini berada di alam yang berbeda.
"Danang, apa kita akan bertemu lagi? Di alam mimpi? Di
alam..."
"Kita akan bertemu lagi, Kirana. Setiap kali kau
rindu. Setiap kali kau..."
"Setiap kali aku menutup mata?"
Danang mengangguk. "Setiap kali kau menutup mata dan
mengingatku, Kirana. Aku akan datang. Aku akan..."
"Kau akan menjemputku?"
"Suatu hari nanti, Kirana. Ketika waktunya tiba.
Ketika tugasmu di dunia selesai. Ketika..."
"Aku tidak sabar menunggu, Danang. Aku..."
"Kau harus sabar, Kirana. Masih banyak yang harus kau
lakukan. Masih banyak..."
"Apa lagi yang harus aku lakukan, Danang? Aku sudah
tua. Aku sudah..."
"Kau harus menjaga anak-anak kita, Kirana. Kau harus
mengajarkan mereka. Kau harus..."
"Adi sudah besar. Ayu sudah dewasa. Raka sudah
mandiri. Mereka tidak perlu..."
"Mereka butuh kau, Kirana. Mereka butuh nenek. Mereka
butuh..."
"Mereka butuh apa, Danang?"
"Mereka butuh cintamu, Kirana. Mereka butuh..."
"Tapi cintaku hanya untukmu, Danang. Sejak dulu.
Sampai sekarang. Sampai..."
"Cintamu untukku, Kirana. Tapi perhatianmu, kasih
sayangmu, bimbinganmu, semua itu untuk mereka. Untuk..."
"Untuk generasi penerus kita?"
Danang tersenyum. "Untuk generasi penerus kita,
Kirana. Mereka akan meneruskan perjuangan kita. Mereka akan..."
"Mereka akan menjaga cinta agar tidak pernah
mati."
Danang mengangguk. "Mereka akan menjaga cinta agar
tidak pernah mati, Kirana. Mereka akan..."
"Danang, aku sayang kau. Aku sayang kau. Aku sayang
kau."
"Aku juga sayang kau, Kirana. Lebih dari apa pun.
Lebih dari..."
"Dari hidupmu?"
"Dari hidupku, Kirana. Dari segalanya."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di alam mimpi.
Berpelukan di antara bintang.
Berpelukan di antara cinta.
"Danang, jangan pergi. Jangan..."
"Aku harus pergi, Kirana. Mimpi ini akan segera
berakhir. Aku harus..."
"Kapan kita akan bertemu lagi?"
"Malam ini. Besok. Lusa. Setiap kali kau tidur. Setiap
kali kau..."
"Setiap kali aku merindukanmu?"
"Setiap kali kau merindukanku, Kirana. Aku akan
datang. Aku akan..."
"Kau akan menemaniku?"
"Aku akan menemanimu, Kirana. Sampai kita bertemu di
alam yang abadi. Sampai..."
"Sampai kapan, Danang?"
"Sampai selamanya, Kirana. Sampai selamanya."
Danang mulai menghilang.
Perlahan.
Seperti kabut yang ditiup angin.
Seperti mimpi yang berakhir.
"Danang! Jangan pergi! Jangan..."
"Kirana, ingatlah pesanku. Jangan menangis. Jangan
bersedih. Aku akan selalu bersamamu. Di..."
"Di mana, Danang? Di mana?"
"Di hatimu, Kirana. Di hatimu. Selamanya."
Danang menghilang.
Kirana sendirian.
Di alam mimpi.
Di antara bintang.
Di antara cinta.
"Danang," bisiknya. "Aku sayang kau. Aku
sayang kau. Aku sayang kau."
Ia membuka mata.
Ia kembali ke dunia nyata.
Ke kamarnya yang sunyi.
Ke ranjangnya yang dingin.
Ke buku gambar yang masih ia pegang di dadanya.
"Danang," bisiknya lagi. "Terima kasih.
Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah..."
"Bu, ibu menangis? Ada apa?" suara Ayu dari luar
pintu.
Kirana mengusap air matanya. "Tidak, Nak. Ibu tidak
menangis. Ibu hanya..."
"Ibu hanya bermimpi tentang Om Danang?"
Kirana terkejut. "Kau tahu?"
"Ibu, wajah ibu bersinar. Seperti orang yang baru
bertemu kekasihnya. Seperti..."
"Ayu, ibu bertemu Danang. Di alam mimpi. Danang masih
muda. Danang..."
"Om Danang bahagia, Bu?"
Kirana mengangguk. "Danang bahagia, Nak.
Danang..."
"Om Danang pasti rindu ibu, Bu. Om Danang..."
"Danang rindu, Nak. Tapi ia sabar. Ia menunggu. Ia..."
"Ia menunggu apa, Bu?"
"Ia menunggu ibu di surga, Nak. Ia menunggu..."
"Bu, jangan bicara seperti itu. Ibu masih panjang
umur. Ibu masih..."
"Ayu, ibu sudah tua. Ibu tidak tahu kapan ibu akan
mati. Tapi yang ibu tahu, ketika ibu mati, ibu akan bersama Danang lagi. Ibu
akan..."
"Bu, aku tidak siap kehilangan ibu. Aku tidak..."
"Kau tidak akan kehilangan ibu, Nak. Ibu akan selalu
bersamamu. Di hatimu. Di..."
"Tapi aku ingin ibu di sini, Bu. Aku ingin..."
"Ibu di sini, Nak. Selama ibu masih hidup. Selama..."
"Bu, janji. Janji bahwa ibu tidak akan pergi sebelum
waktunya. Janji bahwa ibu..."
"Ayu, ibu tidak bisa janji. Hidup dan mati adalah hak
Tuhan. Ibu hanya bisa..."
"Bisa apa, Bu?"
"Bisa berdoa. Bisa berusaha. Bisa..."
"Bisa mencintai kami, Bu?"
Kirana tersenyum. "Bisa mencintai kalian, Nak. Sampai
akhir hayat. Sampai..."
"Sampai kapan, Bu?"
"Sampai Tuhan memanggil, Nak. Sampai..."
Ayu menangis. Ia memeluk ibunya.
"Bu, aku sayang ibu. Aku sayang..."
"Aku juga sayang kau, Nak. Lebih dari apa pun."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di kamar.
Berpelukan sebagai ibu dan anak.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Bab 20
Senja
yang Memulangkan
Tahun 2018. Sepuluh tahun telah berlalu sejak Danang
Wiratama meninggal. Sepuluh tahun sejak Kirana menaruh pita biru di atas peti
kayu nangka. Sepuluh tahun sejak Sekolah Cinta Danang Wiratama berdiri di tepi
sungai. Sepuluh tahun sejak generasi baru mulai belajar tentang cinta, tentang
kesetiaan, tentang pengorbanan, tentang memaafkan.
Desa Kapuas Muara kini telah menjadi desa yang dikenal di
seluruh Indonesia. Bukan karena kekayaan alamnya. Bukan karena keindahan
wisatanya. Tapi karena kisah cintanya. Kisah Danang dan Kirana. Kisah dua insan
yang berpisah selama tiga puluh tahun karena surat-surat yang tidak sampai.
Kisah dua insan yang akhirnya bersatu di senja hidup mereka. Kisah dua insan
yang mengajarkan bahwa cinta tidak pernah mati.
Setiap tahun, ribuan orang datang berziarah ke makam
Danang. Mereka datang dari berbagai daerah. Dari berbagai kalangan. Dari
berbagai usia. Mereka datang bukan hanya untuk berziarah, tetapi juga untuk
belajar. Belajar dari kehidupan Danang. Belajar dari perjuangannya. Belajar
dari cintanya.
"Bu Kirana, ada tamu dari Jakarta. Mereka ingin
bertemu ibu," kata Ayu suatu pagi, ketika Kirana sedang duduk di beranda,
menikmati secangkir teh jahe, ditemani oleh buku gambar Danang yang selalu ia
bawa ke mana-mana.
"Ada keperluan apa, Nak?" tanya Kirana, suaranya
lemah, matanya sayu. Usianya sudah enam puluh lima tahun. Rambutnya hampir
seluruhnya putih. Wajahnya penuh kerutan. Tubuhnya kurus. Tapi matanya masih
sama. Mata yang dulu membuat Danang jatuh cinta. Mata yang masih menyimpan
cahaya.
"Mereka ingin membuat film tentang Om Danang, Bu. Tentang
perjuangan Om Danang. Tentang cinta Om Danang. Tentang..."
Kirana tersenyum. "Film? Tentang Danang? Untuk
apa?"
"Untuk menginspirasi orang, Bu. Untuk mengajarkan
bahwa cinta tidak pernah mati. Untuk..."
"Katakan pada mereka, Ayu. Aku setuju. Asalkan mereka
tidak mengubah cerita. Asalkan mereka..."
"Mereka tidak akan mengubah cerita, Bu. Mereka sudah
membaca semua surat. Mereka sudah..."
"Sudah apa, Nak?"
"Mereka sudah jatuh cinta pada Om Danang, Bu. Seperti
kita semua."
Kirana tertawa. "Danang memang mudah dicintai.
Ia..."
"Ia orang yang baik, Bu. Ia..."
"Ia orang yang sederhana, Nak. Ia tidak
pernah..."
"Ia tidak pernah menyerah, Bu. Ia selalu..."
"Ia selalu percaya pada cinta, Nak. Ia selalu..."
"Ia selalu percaya pada ibu, Bu."
Kirana menangis. Ia memeluk Ayu.
"Ayu, terima kasih. Terima kasih sudah menjadi anak
yang baik. Terima kasih sudah..."
"Ibu, aku yang harus berterima kasih. Terima kasih
sudah menjadi ibu yang baik. Terima kasih sudah..."
"Sudah apa, Nak?"
"Sudah mengajarkan aku arti cinta, Bu. Arti kesetiaan.
Arti..."
"Arti pengorbanan, Nak. Arti..."
"Arti kehidupan, Bu."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di beranda.
Berpelukan sebagai ibu dan anak.
Berpelukan sebagai keluarga.
Sore itu, Kirana meminta untuk diantar ke makam Danang. Ia
ingin berziarah. Untuk terakhir kalinya. Karena ia sudah merasakan bahwa
waktunya tidak lama lagi. Tubuhnya semakin lemah. Napasnya semakin pendek.
Jantungnya semakin berdebar tidak teratur.
"Ayu, antar ibu ke makam Danang," pinta Kirana,
suaranya lemah, matanya sayu.
"Bu, hari sudah sore. Nanti gelap. Besok saja. Besok
pagi kita..."
"Ayu, tolong. Ibu tidak tahu apakah besok ibu masih
hidup. Ibu ingin..."
"Bu, jangan bicara seperti itu. Ibu masih panjang
umur. Ibu masih..."
"Ayu, ibu sudah tua. Ibu sudah lelah. Ibu
sudah..."
"Bu, aku tidak siap kehilangan ibu. Aku tidak..."
"Kau tidak akan kehilangan ibu, Nak. Ibu akan selalu
bersamamu. Di hatimu. Di..."
"Tapi aku ingin ibu di sini, Bu. Aku ingin..."
"Ayu, tolong. Antar ibu."
Ayu menangis. Ia membantu ibunya berdiri, berjalan pelan ke
mobil, membantunya duduk di kursi penumpang, lalu mengemudi perlahan menuju
pemakaman di lereng bukit.
Di pemakaman, Kirana berjalan sendiri menuju makam Danang.
Ayu menunggu di mobil, menangis, tidak tega melihat ibunya yang semakin lemah.
Kirana berdiri di depan makam Danang. Nisan kayu sederhana
dengan tulisan: "Danang Wiratama. Lelaki yang mengajarkan kami arti cinta.
1970-2008."
"Danang, aku datang," bisiknya, suaranya pelan,
lembut, seperti angin sore yang berhembus. "Aku datang untuk menjengukmu.
Untuk..."
"Kirana."
Kirana terkejut.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa pun.
Hanya angin.
Hanya pepohonan.
Hanya suara burung.
"Danang? Apa kau?"
"Kirana, aku di sini. Di sampingmu. Di..."
"Aku tidak bisa melihatmu, Danang. Aku tidak bisa..."
"Kau tidak perlu melihatku, Kirana. Cukup kau rasakan.
Cukup kau..."
"Danang, aku rindu. Aku sangat rindu. Aku..."
"Kirana, aku juga rindu. Tapi kita akan segera
bertemu. Kita akan..."
"Kapan, Danang? Kapan kita akan bertemu?"
"Sebentar lagi, Kirana. Sebentar lagi. Kau sudah
lelah. Kau sudah..."
"Kau tahu, Danang? Aku sudah lelah. Aku sudah sangat
lelah. Aku ingin..."
"Kau ingin istirahat, Kirana?"
Kirana mengangguk. "Aku ingin istirahat, Danang. Aku
ingin..."
"Kau ingin pulang, Kirana?"
Kirana mengangguk lagi. "Aku ingin pulang, Danang. Aku
ingin pulang ke rumah. Rumah kita. Rumah..."
"Rumah di surga, Kirana?"
"Rumah di surga, Danang. Di mana kita bisa bersama
selamanya. Tanpa..."
"Tanpa perpisahan. Tanpa air mata. Tanpa..."
"Tanpa sakit. Tanpa..."
"Tanpa usia, Kirana. Kita akan muda lagi. Kita
akan..."
"Kita akan tersenyum lagi. Kita akan tertawa lagi.
Kita akan..."
"Kita akan mencintai lagi, Kirana. Seperti dulu.
Seperti..."
"Seperti pertama kali kita bertemu di tepi
sungai."
Danang tersenyum. "Aku menunggumu, Kirana. Di sini. Di
surga. Di..."
"Jemput aku, Danang. Jemput aku sekarang. Aku tidak
sabar. Aku..."
"Tutup matamu, Kirana. Tutup matamu dan kau akan
bersamaku."
Kirana memejamkan mata.
Perlahan.
Dengan hati-hati.
Seperti sedang berdoa.
Seperti sedang berharap.
Seperti sedang memohon.
Dan ketika ia membuka matanya, Danang ada di depannya.
Bukan Danang yang tua, yang sakit, yang lemah.
Danang yang muda.
Danang yang berusia tujuh belas tahun.
Danang yang dulu ia cintai di kota.
Danang yang dulu ia tinggalkan karena surat palsu.
Danang yang dulu ia rindukan setiap hari.
"Danang," bisiknya, suaranya penuh dengan
kebahagiaan.
"Kirana," jawab Danang, suaranya penuh dengan
cinta.
"Kau datang menjemputku?"
"Aku datang menjemputmu, Kirana. Seperti yang aku
janjikan. Seperti..."
"Kita akan bersama selamanya?"
"Kita akan bersama selamanya, Kirana. Tidak ada lagi
perpisahan. Tidak ada lagi..."
"Tidak ada lagi air mata, Danang?"
"Tidak ada lagi air mata, Kirana. Hanya kebahagiaan.
Hanya..."
"Hanya cinta, Danang?"
"Hanya cinta, Kirana. Cinta yang tidak pernah mati.
Cinta yang..."
Kirana tersenyum.
Ia meraih tangan Danang.
Tangannya yang muda, yang hangat, yang kuat.
"Danang, aku siap. Aku siap pulang."
"Tutup matamu, Kirana. Dan ikuti aku."
Kirana memejamkan mata.
Ia merasakan tangan Danang menggenggam tangannya.
Ia merasakan kehangatan.
Ia merasakan kedamaian.
Ia merasakan cinta.
Dan kemudian, ia tidak merasakan apa-apa.
Ayu yang menunggu di mobil, mulai gelisah. Ibunya sudah
terlalu lama di makam. Biasanya, hanya sebentar. Lima belas menit. Paling lama
setengah jam. Tapi kali ini, sudah hampir satu jam.
Ia turun dari mobil.
Berjalan ke makam Danang.
"Bu... Bu Kirana..."
Ia berhenti.
Kirana duduk di samping makam Danang, bersandar di nisan
kayu, matanya terpejam, bibirnya tersenyum.
"Bu... Bu..."
Ayu mendekat.
Ia menyentuh tangan ibunya.
Dingin.
Sangat dingin.
"Ibu... Ibu..."
Ayu menangis.
Ia memeluk ibunya.
"Ibu... jangan tinggalkan aku... Ibu..."
"Tante Ayu, ada apa?" suara Adi dari belakang. Ia
datang bersama Maya, yang kini menjadi pacarnya. Mereka sudah lulus SMA dan
kuliah di kota yang sama.
Ayu tidak bisa menjawab.
Ia hanya menangis.
Adi mendekat.
Ia melihat neneknya duduk di samping makam Om Danang,
tersenyum, matanya terpejam.
"Nenek... Nenek..."
Ia menyentuh tangan neneknya.
Dingin.
"Nenek sudah pergi, Adi," bisik Ayu. "Nenek
sudah..."
Adi menangis.
Ia berlutut di samping neneknya.
"Nenek, kenapa nenek pergi? Kenapa nenek..."
"Nenek sudah bahagia, Adi," kata Maya, memegang
pundak Adi. "Nenek sudah bertemu Om Danang. Nenek sudah..."
"Tapi aku belum siap kehilangan nenek, May. Aku
belum..."
"Kita tidak akan pernah siap, Adi. Tapi kita harus
menerima. Kita harus..."
"Kita harus ikhlas, May?"
Kita harus ikhlas, Adi. Karena nenek sudah berjuang cukup
lama. Nenek sudah..."
"Nenek sudah pantas beristirahat, May?"
Nenek sudah pantas beristirahat, Adi. Nenek sudah..."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di makam.
Berpelukan sebagai keluarga.
Keluarga yang lahir dari cinta.
Cinta yang tidak pernah mati.
Raka datang dari Jakarta.
Ia berlari ke makam.
Menangis.
Memeluk ibunya.
"Ibu... maafkan aku... maafkan aku karena tidak bisa
menjaga ibu... maafkan aku karena..."
"Pak Raka, Bu Kirana sudah bahagia," kata Ayu,
memegang pundak Raka. "Bu Kirana sudah bersama Om Danang. Bu
Kirana..."
"Tapi aku belum sempat meminta maaf, Ayu. Aku belum
sempat..."
"Bu Kirana sudah memaafkan bapak, Raka. Bu Kirana
sudah..."
"Sejak kapan?"
"Sejak lama, Raka. Sejak sebelum bapak datang ke desa.
Bu Kirana..."
"Ibu tidak pernah marah padaku?"
"Ibu tidak pernah marah pada bapak, Raka. Ibu
hanya..."
"Ibu hanya sedih karena aku tidak pernah mengakuinya
sebagai ibu?"
Ayu mengangguk. "Ibu sedih, Raka. Tapi ibu tidak
marah. Ibu..."
"Ibu memaafkan aku?"
"Ibu memaafkan bapak, Raka. Seperti Om Danang
memaafkan Pak Arman. Seperti..."
Raka menangis.
Ia memeluk Ayu.
"Terima kasih, Ayu. Terima kasih sudah menjaga ibu.
Terima kasih sudah..."
"Aku hanya melakukan tugasku, Raka. Aku hanya..."
"Kau anak yang baik, Ayu. Kau..."
"Aku tidak baik, Raka. Aku hanya..."
"Kau baik, Ayu. Seperti ibumu. Seperti..."
"Seperti Om Danang, Raka?"
Raka mengangguk. "Seperti Om Danang, Ayu. Sederhana.
Tulus. Penuh cinta."
Mereka berpelukan.
Berpelukan sebagai saudara.
Berpelukan sebagai keluarga.
Pemakaman Kirana dilaksanakan keesokan harinya.
Seluruh desa hadir.
Bukan hanya warga desa Kapuas, tetapi juga warga dari
desa-desa tetangga.
Bahkan dari kota.
Bahkan dari Jakarta.
Mereka datang untuk memberi penghormatan terakhir.
Untuk Kirana.
Untuk Danang.
Untuk cinta yang tidak pernah mati.
"Bu Kirana adalah perempuan hebat," kata Bima
dalam sambutannya. Suaranya parau, tubuhnya lemah, matanya kabur. Tapi
semangatnya masih membara. "Ia menunggu Danang selama tiga puluh tahun.
Tiga puluh tahun! Siapa yang bisa menunggu selama itu? Hanya Kirana. Hanya
perempuan yang benar-benar mencintai."
"Pak Bima, apa rahasia kesetiaan Bu Kirana?"
tanya seorang anak muda dari Jakarta.
Bima tersenyum. "Cinta, Nak. Cinta sejati. Cinta yang
tidak pernah mati. Cinta yang..."
"Cinta yang bagaimana, Pak?"
"Cinta yang tulus, Nak. Cinta yang ikhlas. Cinta
yang..."
"Cinta yang tidak mengharapkan imbalan?"
Bima mengangguk. "Cinta yang tidak mengharapkan
imbalan, Nak. Cinta yang..."
"Seperti cinta Om Danang pada Bu Kirana?"
"Seperti cinta Om Danang pada Bu Kirana, Nak. Mereka
saling mencintai tanpa pamrih. Mereka..."
"Mereka mengajarkan kita arti cinta sejati, Pak?"
Bima mengangguk lagi. "Mereka mengajarkan kita bahwa
cinta sejati tidak pernah mati. Cinta sejati hanya..."
"Hanya berubah wujud, Pak?"
"Berubah wujud, Nak. Dari pertemuan menjadi kenangan.
Dari suara menjadi bisikan. Dari..."
"Dari pelukan menjadi doa, Pak?"
"Dari pelukan menjadi doa, Nak. Doa yang tidak pernah
putus. Doa yang..."
"Doa yang mengiringi kita sepanjang hidup?"
Bima menangis. Ia memeluk anak muda itu. "Kau
mengerti, Nak. Kau mengerti."
Anak muda itu tersenyum. "Saya belajar dari Om Danang
dan Bu Kirana, Pak. Saya belajar dari..."
"Dari sekolah cinta?"
"Sekolah cinta, Pak. Sekolah kehidupan.
Sekolah..."
Mereka berdoa bersama.
Berdoa untuk Kirana.
Berdoa untuk Danang.
Berdoa untuk cinta.
Kirana dimakamkan di samping Danang.
Di lereng bukit.
Di bawah pohon beringin tua.
Di samping makam Ratih, ibu Danang.
"Bu Kirana pasti senang," kata Ayu, sambil
menaburkan bunga di atas makam. "Bu Kirana bisa bersama Om Danang. Bu
Kirana bisa..."
"Ibu bisa istirahat dengan tenang," kata Raka,
sambil menaburkan tanah. "Ibu tidak perlu menunggu lagi. Ibu tidak
perlu..."
"Ibu tidak perlu menangis lagi," kata Adi, sambil
memeluk Maya. "Ibu sudah bahagia. Ibu sudah..."
"Kita yang harus melanjutkan perjuangan mereka,"
kata Maya. "Kita yang harus..."
"Menjaga cinta agar tidak pernah mati," kata
Bima. "Itu pesan terakhir Danang dan Kirana. Itu..."
"Itu amanat yang harus kita emban sepanjang
hidup," kata seorang pemuka agama. "Mari kita berdoa semoga mereka
ditempatkan di tempat yang terbaik. Semoga..."
Semoga cinta mereka menjadi penerang bagi kita semua.
Semoga.
Malam itu, di rumah Kirana, Ayu, Raka, Adi, Maya, Bima, dan
semua orang yang mencintai Kirana berkumpul. Mereka tidak menangis. Mereka
tersenyum. Mereka tertawa. Mereka mengenang.
"Ayu, ingatkah kau waktu kecil kau selalu minta tolong
dibelikan pisang goreng?" tanya Raka, sambil tertawa.
"Iya, Raka. Dan kau selalu membelikannya. Padahal kau
tidak punya uang. Kau..."
"Kau mencuri uang dari dompet ibu?"
Raka tertawa. "Iya. Aku mencuri. Tapi aku tidak pernah
ketahuan."
"Kami tahu, Raka. Ibu tahu. Tapi ibu tidak pernah
marah. Ibu hanya..."
"Ibu hanya tersenyum dan berkata, 'Raka, lain kali
jangan curi. Minta saja.'"
Mereka tertawa bersama.
"Aku ingat waktu Adi masih kecil," kata Ayu.
"Ia selalu bertanya tentang Om Danang. Setiap hari. Setiap malam. 'Tante,
ceritakan tentang Om Danang.' 'Tante, kenapa Om Danang tidak bisa datang?'
'Tante, Om Danang sayang tidak sama Adi?'"
Adi tersenyum malu. "Aku memang suka bertanya, Tante.
Aku ingin tahu. Aku ingin..."
"Kau ingin belajar, Adi. Kau ingin..."
"Aku ingin menjadi seperti Om Danang, Tante. Baik.
Sabar. Tidak mudah marah. Tidak..."
"Tidak pendendam, Adi?"
Adi mengangguk. "Tidak pendendam, Tante. Memaafkan.
Seperti Om Danang memaafkan Pak Arman. Seperti..."
"Seperti Nenek memaafkan semua orang?"
"Seperti Nenek memaafkan semua orang, Tante. Nenek
mengajarkan aku bahwa memaafkan adalah..."
"Memaafkan adalah kekuatan, Adi. Bukan
kelemahan."
Adi mengangguk. "Aku akan mengingat itu, Tante. Aku
akan..."
"Kau akan mengajarkannya pada anak-anakmu nanti,
Adi?"
Adi tersenyum. "Aku akan mengajarkannya pada
anak-anakku nanti, Tante. Agar mereka..."
"Agar mereka tidak mengulangi kesalahan masa
lalu?"
"Agar mereka menjadi lebih baik dari kita,
Tante."
Mereka semua terdiam.
Hanya suara angin.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara hati.
"Raka, apa kau akan menikah lagi?" tanya Ayu
tiba-tiba.
Raka terkejut. "Kenapa kau tanya itu, Ayu?"
"Aku hanya... aku hanya ingin kau bahagia, Raka. Kau
sudah sendirian terlalu lama. Kau sudah..."
"Aku bahagia, Ayu. Aku punya kalian. Aku
punya..."
"Tapi kau tidak punya istri, Raka. Kau tidak
punya..."
"Aku tidak butuh istri, Ayu. Aku butuh keluarga. Dan
aku sudah punya keluarga. Kalian. Itu cukup."
"Tapi suatu hari nanti, ketika kita semua pergi, kau
akan sendirian, Raka."
"Kita tidak akan pernah sendirian, Ayu. Kita punya
kenangan. Kita punya..."
"Kenangan tidak bisa memeluk kita, Raka. Kenangan
tidak bisa..."
"Tapi cinta bisa, Ayu. Cinta bisa memeluk kita. Dari
mana pun. Kapan pun. Cinta..."
Ayu menangis. Ia memeluk Raka.
"Maafkan aku, Raka. Aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa, Ayu. Aku mengerti. Kau hanya peduli
padaku. Kau hanya..."
"Kau saudaraku, Raka. Aku sayang kau."
"Aku juga sayang kau, Ayu. Lebih dari apa pun."
Mereka berpelukan.
Berpelukan sebagai saudara.
Berpelukan sebagai keluarga.
Di luar, di taman kenangan, di bawah pohon waru, di tepi
sungai, Adi dan Maya duduk berdampingan. Mereka memandang bintang. Memandang
bulan. Memandang air sungai yang mengalir tenang.
"Adi, apa kau percaya pada cinta sejati?" tanya
Maya, suaranya pelan, lembut, seperti angin malam.
"Maya, aku percaya. Sejak kecil. Sejak Nenek bercerita
tentang Om Danang. Sejak..."
"Sejak kapan tepatnya?"
"Sejak Nenek bercerita tentang surat-surat yang tidak
sampai. Tentang tiga puluh tahun menunggu. Tentang..."
"Tentang cinta yang tidak pernah mati?"
Adi mengangguk. "Tentang cinta yang tidak pernah mati,
May. Cinta yang..."
"Cinta yang abadi?"
"Cinta yang abadi, May. Seperti Om Danang dan Nenek
Kirana."
Maya meraih tangan Adi.
"Adi, aku berjanji. Aku tidak akan membuatmu menunggu
selama itu. Aku tidak akan..."
"May, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa
depan. Kita hanya bisa..."
"Kita hanya bisa berusaha, Adi. Berusaha menjadi yang
terbaik. Berusaha..."
"Berusaha mencintai dengan tulus, May. Tanpa pamrih.
Tanpa..."
"Tanpa menyakiti?"
"Tanpa menyakiti, May. Seperti Om Danang.
Seperti..."
"Seperti Nenek Kirana?"
Adi mengangguk. "Seperti Nenek Kirana, May. Mereka
mengajarkan kita bahwa cinta adalah..."
"Cinta adalah perjuangan, Adi?"
"Cinta adalah perjuangan, May. Cinta adalah..."
"Cinta adalah pengorbanan?"
"Cinta adalah pengorbanan, May. Cinta adalah..."
"Cinta adalah segalanya?"
Adi tersenyum. "Cinta adalah segalanya, May. Cinta
adalah alasan kita hidup. Cinta adalah..."
"Cinta adalah pulang, Adi?"
"Cinta adalah pulang, May. Pulang ke orang yang kita
cintai. Pulang ke..."
"Pulang ke rumah, Adi?"
"Pulang ke rumah, May. Rumah bukan tempat. Rumah
adalah seseorang. Rumah adalah..."
"Rumah adalah cinta?"
Adi mengangguk. "Rumah adalah cinta, May. Cinta yang
tidak pernah mati. Cinta yang..."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di bawah pohon waru.
Berpelukan di tepi sungai.
Berpelukan sebagai generasi penerus.
Generasi yang belajar dari masa lalu.
Generasi yang akan mencintai dengan lebih baik.
Generasi yang akan menjaga cinta agar tidak pernah mati.
Dan di atas sana, di tempat yang tidak bisa dilihat mata,
di alam yang tidak bisa dijangkau akal, Danang dan Kirana duduk berdampingan.
Mereka tersenyum. Mereka tertawa. Mereka berpelukan. Mereka bahagia.
"Danang, lihat mereka," kata Kirana, menunjuk ke
arah Adi dan Maya.
"Kirana, mereka mewarisi cinta kita," jawab
Danang.
"Mereka akan melanjutkan perjuangan kita."
"Mereka akan menjaga cinta agar tidak pernah
mati."
"Danang, aku sayang kau."
"Kirana, aku juga sayang kau. Selamanya."
Mereka berciuman.
Ciuman yang abadi.
Ciuman yang tidak akan pernah berakhir.
Ciuman di alam yang tidak mengenal waktu.
Ciuman di surga.
EPILOG
Jejak yang Tidak Pernah Hilang
Tahun 2023. Dua puluh lima tahun setelah Danang Wiratama
meninggal. Lima belas tahun setelah Kirana menyusulnya. Desa Kapuas Muara kini
telah menjadi destinasi wisata religi dan edukasi. Ribuan orang datang setiap
bulan. Bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Malaysia.
Singapura. Brunei. Bahkan dari Jepang dan Belanda.
Mereka datang untuk belajar. Belajar dari kisah Danang dan
Kirana. Belajar tentang cinta sejati. Belajar tentang kesetiaan. Belajar
tentang pengorbanan. Belajar tentang memaafkan.
"Selamat datang di Desa Kapuas Muara, Desa Cinta
Sejati," kata Adi, yang kini menjadi ketua pengelola wisata desa. Ia sudah
menikah dengan Maya. Mereka memiliki dua orang anak. Laki-laki dan perempuan.
Laki-laki diberi nama Danang. Perempuan diberi nama Kirana.
"Danang, Kirana, ayo cepat! Banyak tamu yang
menunggu!" panggil Maya dari jauh.
"Iya, Ma! Ayo, Dik Kirana!" seru Danang kecil,
sambil menggandeng adik perempuannya.
Mereka berlari ke taman kenangan.
Ke tepi sungai.
Ke bawah pohon waru.
Ke tempat di mana cinta itu bermula.
"Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang cinta
sejati," kata Adi kepada para pengunjung. "Cinta sejati tidak pernah
mati. Cinta sejati hanya berubah wujud. Dari pertemuan menjadi kenangan. Dari
suara menjadi bisikan. Dari pelukan menjadi doa."
"Pak Adi, apa yang dimaksud dengan cinta sejati?"
tanya seorang pengunjung dari Jepang, dengan logat yang kental.
Adi tersenyum. "Cinta sejati adalah ketika kau
mencintai seseorang tanpa mengharapkan imbalan. Ketika kau rela berkorban
untuknya. Ketika kau rela menunggunya. Selama apa pun. Di mana pun."
"Seperti Om Danang dan Nenek Kirana?" tanya
seorang anak kecil dari belakang.
Adi mengangguk. "Seperti Om Danang dan Nenek Kirana,
Nak. Mereka menunggu selama tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun! Dan cinta
mereka tidak pernah mati. Cinta mereka..."
"Cinta mereka abadi?"
"Abadi, Nak. Abadi selamanya."
Anak-anak bertepuk tangan.
Para pengunjung tersenyum.
Dan di atas sana, di tempat yang tidak bisa dilihat mata,
Danang dan Kirana tersenyum. Mereka tersenyum melihat cinta mereka
menginspirasi banyak orang. Mereka tersenyum melihat generasi penerus menjaga
cinta agar tidak pernah mati. Mereka tersenyum melihat jejak mereka tidak
pernah hilang.
"Danang, kita berhasil," bisik Kirana.
"Kirana, cinta kita tidak pernah sia-sia."
"Cinta kita abadi."
"Cinta kita selamanya."
Mereka berpelukan.
Berpelukan di surga.
Berpelukan selamanya.
TAMAT
TRILOGI ROMAN EPIK
JEJAK WAKTU
"Kadang, cinta tidak mempertemukan dua orang di dunia.
Kadang, cinta mempertemukan mereka di surga. Di tempat di mana tidak ada lagi
perpisahan. Di tempat di mana tidak ada lagi air mata. Di tempat di mana mereka
bisa bersama selamanya."
— Danang Wiratama, dalam surat terakhirnya untuk Kirana —







0 komentar:
Posting Komentar