NOVEL
RINDU TAK BERTEPI
Di
Antara Senja dan Luka yang Tak Pernah Usai
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh tokoh, nama, tempat,
dan peristiwa yang digambarkan merupakan hasil imajinasi penulis. Meskipun mengambil
latar tempat di Kuala Kapuas dan sekitarnya, termasuk Dermaga KP3 serta
berbagai tempat kuliner yang terinspirasi dari suasana nyata, semua cerita dan
karakternya tidak memiliki hubungan dengan peristiwa atau individu tertentu,
baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Kemiripan dengan kejadian
nyata adalah kebetulan semata.
PROLOG
Sungai Kapuas mengalir seperti urat nadi kehidupan. Ia
membawa air, membawa perahu, dan kadang membawa rahasia-rahasia yang tak pernah
terucap. Di Dermaga KP3, di mana senja selalu setia melukis langit dengan
warna-warna yang membakar, aku belajar bahwa cinta dan luka adalah dua sisi
dari koin yang sama—kadang kita harus tersesat untuk menemukan jalan pulang.
Namaku Rakuan. Aku datang ke dermaga ini untuk melupakan,
tapi justru di sinilah aku menemukan semuanya kembali. Susan—namanya seperti
gema yang tak pernah padam. Ia muncul di antara hiruk-pikuk pedagang kuliner,
di antara aroma kerupuk basah dan ikan bakar, dengan senyum yang menyimpan
lautan rahasia. Tapi di balik senyum itu, ada luka yang sama dalamnya dengan
lukaku.
Tiga tahun aku pergi meninggalkan kota ini. Tiga tahun aku
mencoba melupakan cinta pertama yang kandas oleh tembok keluarga dan dendam
masa lalu. Tapi sungai ini tidak pernah melupakan siapa pun. Ia mengalir terus,
membawa kenangan-kenangan yang kupikir telah mati, lalu mengembalikannya
kepadaku di saat yang paling tidak kuduga.
Ayahku, Samsudin, adalah nelayan yang keras kepala. Ia
membenci pilihanku menjadi arsitek karena baginya, anak nelayan harus menjadi
nelayan. Ibuku, Rahmah, adalah wanita lembut yang terjebak di antara cintanya
pada suami dan cintanya pada anak. Dan Rosnah, ibu Susan, adalah sahabat ibuku
yang berubah menjadi musuh karena sebidang tanah yang kini menjadi restoran tempat
Susan bekerja.
Lucas, sepupu Susan, adalah bayang-bayang yang selalu
menghantui. Tampan, percaya diri, dan segalanya yang bukan aku. Rudi,
sahabatku, adalah saudara yang kupilih sendiri, tapi persaingan bisnis dan
cinta hampir merenggut persahabatan kami. Dan di tengah semua itu, Maya datang
dari Jakarta—wanita yang mencintaiku dengan tulus, tapi bukan Susan.
Ini bukan sekadar kisah tentang rindu. Ini tentang
bagaimana kita memilih untuk bertahan ketika semua tampak runtuh. Tentang
bagaimana pengampunan bisa muncul dari tempat paling gelap. Tentang bagaimana
keluarga bisa berarti lebih dari sekadar darah.
Ini adalah kisah tentang bagaimana dua orang yang sama-sama
terluka saling menemukan, kehilangan, dan berjuang untuk tidak tenggelam dalam
rindu yang tak bertepi.
Aku menulis ini bukan untuk dikenang. Aku menulis ini agar
semua orang tahu bahwa di Kuala Kapuas, di Dermaga KP3, di bawah senja yang
selalu setia, ada cinta yang bertahan meski badai terus menerpa. Ada harapan
yang tak pernah padam meski gelap menyelimuti.
Dan pada akhirnya, rindu terindah adalah rindu yang
berujung pada kepulangan.
BAB I
Kepulangan
yang Terlambat
Pesawat terbang rendah di atas hamparan hutan Kalimantan
yang hijau pekat. Rakuan menempelkan dahinya ke jendela, menyaksikan
sungai-sungai berkelok seperti ular raksasa yang tergeletak di antara
pepohonan. Di kejauhan, ia bisa melihat Sungai Kapuas—jalur air terpanjang di
Indonesia—berkilauan di bawah sinar matahari sore. Tiga tahun. Tiga tahun sejak
terakhir kali ia melihat pemandangan ini. Tiga tahun sejak ia meninggalkan
segalanya di Kuala Kapuas.
Namun pesawat ini tidak membawanya pulang karena rindu.
Tidak. Pesawat ini membawanya pulang karena telegram dari tantenya yang
berbunyi: "Ibu sakit keras. Kau harus pulang."
Rakuan menarik napas panjang. Di tangannya, ia menggenggam
foto usang—potret keluarga di halaman rumah tua tepian sungai. Ia masih kecil
dalam foto itu, duduk di pangkuan ibunya, Rahmah, sementara ayahnya, Samsudin,
berdiri di belakang dengan ekspresi kaku. Senyum ibunya selalu menjadi
satu-satunya kehangatan dalam foto itu. Dan kini, senyum itu mungkin akan
segera padam.
"Apa kau baik-baik saja, Nak?"
Rakuan menoleh. Seorang ibu-ibu di kursi sebelahnya
tersenyum penuh perhatian. Mungkin karena ia menyadari Rakuan tampak murung.
Rakuan memaksakan senyum. "Ya, Bu. Saya baik-baik
saja."
"Mau ke Kapuas?" tanya ibu itu lagi.
"Iya."
"Pulang kampung?"
Rakuan ragu sejenak. "Pulang. Ibu saya sakit."
Ibu itu mengangguk, matanya berbinar penuh pengertian.
"Semoga lekas sembuh, Nak. Doa anak sangat mustajab untuk orang tua."
Rakuan hanya mengangguk. Dalam hati, ia
bertanya-tanya—apakah doanya masih di dengar ketika ia sudah bertahun-tahun
tidak berbicara dengan ayahnya, ketika ia pergi meninggalkan rumah tanpa pamit,
ketika ia memilih merantau ke Jakarta untuk menjadi arsitek meskipun itu
berarti mengkhianati harapan ayahnya?
"Perjalanan ke kapuas ada 2 jam lagi melalui sungai
setelah pesawat mendarat di Palangka Raya," Gumamnya. Ia sudah
mempersiapkan semua. Ia tahu betul medan di kampung halamannya.
Pesawat mulai turun. Rakuan merasakan getaran di
perutnya—bukan karena turbulensi, tapi karena kecemasan. Ia tahu bahwa di
bandara kecil Palangka Raya, seseorang akan menjemputnya. Tapi ia tidak tahu
siapa.
Bandara Tjilik Riwut masih sama seperti yang ia ingat.
Sederhana, ramai, dan penuh dengan aroma khas Kalimantan—campuran tanah basah,
minyak kayu putih, dan sedikit asap dari kendaraan tua yang melintas. Rakuan
melangkah keluar dengan satu koper kecil di tangan. Ia sengaja tidak membawa
banyak barang. Ia tidak yakin berapa lama ia akan tinggal.
Dan di antara kerumunan orang yang menunggu kedatangan,
Rakuan melihat sosok yang dikenalnya.
"Rakuan!"
Seorang pria dengan perawakan kekar, kulit sawo matang, dan
rambut keriting yang mulai memutih di pelipis melambaikan tangan. Wajahnya
lebar dengan senyum khas yang memperlihatkan gigi putih bersih.
Rakuan tertegun. "Rudi?"
Pria itu—Rudi—bergegas mendekat dan langsung memeluk Rakuan
erat. "Anjing! Kau benar-benar pulang! Tiga tahun, Ku! Tiga tahun kau
menghilang!"
Rakuan membalas pelukan itu, setengah terkejut. Rudi adalah
sahabat masa kecilnya, teman bermain di tepian sungai, teman memancing ikan
patin di bawah jembatan, teman berbagi mimpi di bangku SMA. Mereka pernah begitu
dekat seperti saudara. Tapi setelah Rakuan pergi ke Jakarta, komunikasi mereka
mulai terputus.
"Kau yang menjemputku?" tanya Rakuan melepaskan
pelukan.
"Kau pikir siapa lagi?" Rudi menepuk bahunya
keras. "Tante Mira teleponku. Katanya kau datang hari ini. Mana bisa aku
diam saja."
"Bagaimana ibuku?" pertanyaan itu meluncur begitu
saja. Rakuan tidak bisa menahan diri.
Wajah Rudi berubah serius. Ekspresi ceria yang tadi menyala
kini redup. "Mari kita bicara di perjalanan," katanya sambil
mengambil koper Rakuan. "Kita ke kapal dulu, perjalanan dua jam menuju
Kuala Kapuas."
Mereka berjalan keluar bandara. Udara sore terasa hangat,
berbeda dengan udara Jakarta yang pengap. Rakuan menarik napas dalam-dalam,
membiarkan aroma tanah dan pepohonan mengisi paru-parunya. Ia lupa bahwa ia
merindukan ini.
Di dalam mobil tua yang mengantarkan mereka ke pelabuhan,
Rudi mulai bercerita.
"Ibu kau dirawat di rumah sakit Kapuas," katanya.
"Dua minggu terakhir kondisinya menurun drastis. Tante Mira bilang ia
sering minta nama kau sebelum tidur."
Rakuan menahan sesuatu di dadanya. "Samsudin?
Ayahku?"
Rudi menggeleng. "Ayahmu ... ya, dia masih di rumah.
Tapi kau tahu bagaimana beliau, Ku. Keras kepala. Tidak mau mengaku bahwa ia
khawatir. Tapi kudengar beliau setiap hari ke rumah sakit. Duduk di samping ibu
kau tanpa bicara berjam-jam."
Rakuan mengepalkan tangan. Ayahnya, Samsudin, adalah
seorang nelayan tua yang kasar dan otoriter. Ia selalu ingin Rakuan meneruskan
profesinya—menjadi nelayan seperti dirinya. Tapi Rakuan memilih arsitektur.
Samsudin menganggap itu pengkhianatan. Sejak saat itu, hubungan mereka retak.
"Aku ... aku belum siap bertemu ayahku," kata
Rakuan pelan.
"Kau harus, Ku." Rudi menatapnya tajam. "Ibu
kau mungkin tidak punya waktu banyak. Jangan biarkan penyesalan
menghantuimu."
Mobil memasuki kawasan pelabuhan. Rakuan melihat
perahu-perahu kayu yang bersandar di dermaga. Bau air sungai—bau khas yang
selalu ia kenali sejak kecil—menyambutnya. Di kejauhan, Sungai Kapuas
membentang lebar, seperti cermin raksasa yang memantulkan langit sore.
Perahu motor melaju pelan menyusuri Sungai Kapuas. Rakuan
duduk di sisi perahu, menyaksikan pepohonan di tepian melintas dengan lambat.
Bebberapa rumah panggung terlihat di antara rimbunan pohon, anak-anak melambai
dari beranda mereka. Rudi duduk di sampingnya, sesekali menyetir perahu—karena
ternyata ia yang mengemudikan sendiri kendaraan air ini.
"Ke mana kau pergi setelah meninggalkan Kapuas
dulu?" tanya Rudi tiba-tiba.
Rakuan tidak menjawab. "Tiga tahun di Jakarta," katanya
kemudian. "Aku bekerja di biro arsitektur. Bukan kantor besar memang, tapi
aku bisa bertahan. Sekarang bahkan sudah punya proyek-proyek sendiri. Aku
tinggal di apartemen kecil di dekat stasiun Tanah Abang. Hidup sibuk. Sibuk
sekali."
"Tapi kau tidak pernah pulang," kata Rudi pelan.
Terdengar desahan di balik gumaman mesin perahu.
"Aku tak bisa, Rud. Aku tak bisa menghadapi ayahku.
Terakhir kali kami bicara, ia menyebutku anak durhaka. Ia bilang aku mati
baginya." Suara Rakuan bergetar. "Aku pikir dengan pergi dan menjadi
sukses, mungkin suatu hari ia akan bangga. Tapi ibu ..."
"Ibumu selalu bangga padamu, Ku. Setiap kali aku
bertemu beliau, ia selalu bercerita tentang kau. Tentang kau menjadi arsitek.
Beliau menunjukkan foto-foto yang kau kirim. Dinding ruang tamu kalian penuh
dengan karya-karyamu."
Rakuan menunduk. Air matanya hampir jatuh. Ia mengingat
semua foto yang ia kirim—gambar-gambar gedung yang ia desain, sketsa-sketsa
bangunan modern. Dan selama ini ibunya menyimpannya seperti harta berharga.
"Rudi ..." Rakuan menghela napas. "Bagaimana
dengan ... Susan?"
Nama itu menggantung di udara seperti gema yang tak mau
padam. Rudi terdiam sejenak.
"Susan baik-baik saja," jawabnya akhirnya.
Suaranya terdengar aneh, terukur. "Ia kini mengelola restoran keluarganya.
Dapoer Tepian Kapuas. Mungkin kau pernah dengar."
"Restoran keluarga?"
"Keluarga besarnya. Yang terutama,
Lucas—sepupunya—memegang kendali manajemen. Tapi Susan yang mengelola
operasional hari-hari. Masakan ibunya adalah menu andalan."
Rakuan menoleh menatap Rudi. Ada sesuatu di mata sahabatnya
itu. Sesuatu yang tidak diucapkan.
"Ada apa?" tanya Rakuan curiga.
Rudi menggeleng. "Tidak ada."
"Rudi, aku mengenalmu sejak kita SMP. Kau bicara
dengan nada aneh. Ada apa dengan Susan?"
Rudi diam. Perahu terus melaju, meninggalkan jejak putih di
permukaan sungai. Akhirnya ia menghela napas panjang.
"Susan dan Lucas akan bertunangan," kata Rudi.
"Itu sudah diatur keluarganya. Lucas adalah anak dari Hendri, pamannya
Susan. Hendri adalah orang berpengaruh di komunitas kuliner Kapuas. Pernikahan
ini adalah aliansi bisnis juga."
Rakuan merasa dadanya sesak. Tangan yang bersandar di tepi
perahu mulai gemetar. Ia menutup matanya.
"Ah ..." katanya pelan. "Aku pikir aku sudah
melupakannya."
"Kau tidak akan pernah melupakan Susan, Ku." Rudi
menatapnya dengan tatapan yang terlalu tajam. "Dan percayalah, Susan juga
tidak pernah melupakanmu."
"Jangan, Rud." Rakuan mengangkat tangannya.
"Jangan membuatku berharap. Aku meninggalkannya dulu karena aku tidak
berani melawan semua ini. Aku tidak pantas untuknya."
Rudi tidak menjawab. Mereka melanjutkan perjalanan dalam
diam. Hanya suara mesin perahu dan deburan air yang menemani.
Matahari mulai tenggelam ketika perahu merapat di Dermaga
KP3 Kuala Kapuas. Rakuan menatap dermaga kayu yang sudah usang, tempat di mana
ia dulu menghabiskan banyak sore—memancing, bermain, dan kemudian di masa
remaja, duduk diam memandang senja bersama Susan.
Tapi ia tidak melihat Susan. Yang ia lihat adalah
keramaian.
Dermaga KP3 kini telah berubah. Tidak lagi hanya menjadi
tempat perahu bersandar. Kini ada deretan warung dan restoran kecil yang
menjual aneka kuliner khas Kapuas. Aroma ikan bakar bercampur dengan bau rempah
dan sedikit asap menggoda. Meja-meja kayu berjejer, dihuni pengunjung yang
menikmati makanan sambil memandang sungai.
"Banyak yang berubah," gumam Rakuan.
Rudi tersenyum. "Dua tahun terakhir, kawasan ini
dibenahi. Pemerintah daerah menyulap Dermaga KP3 menjadi wisata kuliner. Banyak
pendatang dari luar kota. Bahkan turis mancanegara kadang mampir."
Rakuan mengamati sekeliling. Ada sebuah warung dengan papan
nama "Sungai Rindu" yang ramai pengunjung.
Meja-mejanya penuh, ada pengunjung yang mengantre. "Itu tempatmu?"
tanya Rakuan.
Rudi mengangguk. "Warung kecil. Aku menjual bubur
pedas, ikan patin bakar, dan beberapa makanan tradisional Dayak. Tidak besar,
tapi cukup untuk menghidupi keluargaku."
"Keluarga? Kau sudah berkeluarga?"
"Sudah tiga tahun. Istriku, Dina, dan seorang putri,
Melati, baru berusia satu tahun." Rudi tersenyum lebar. "Aku sangat
bahagia, Ku."
Rakuan menepuk bahu Rudi. "Aku senang
mendengarnya."
Mereka melangkah meninggalkan dermaga menuju jalan utama.
Rumah sakit di mana ibu Rakuan dirawat berada tidak jauh dari dermaga. Namun
Rakuan memutuskan untuk tidak langsung ke sana. Ia butuh waktu.
"Bolehkah aku ke rumah dulu? Rumah tua kita?"
tanyanya.
Rudi mengangguk. "Aku antar."
Mereka berjalan menyusuri jalan yang sudah beraspal.
Rumah-rumah di sekitar masih sama seperti yang diingat Rakuan—kebanyakan rumah
panggung kayu dengan atap seng. Di beberapa pekarangan, ia melihat orang-orang
menjemur ikan asin dan kerupuk basah.
"Kau pernah ke pasar tradisional?" tanya Rudi
tiba-tiba.
"Belum."
"Di sana masih ada Rosnah, ibu Susan. Ia masih
berjualan kerupuk basah di sana. Setiap hari."
Nama Rosnah mengingatkan Rakuan pada masa lalu yang rumit.
Ia ingat bahwa ibunya, Rahmah, dulu sangat dekat dengan Rosnah. Mereka seperti
saudara. Tapi suatu ketika terjadi perselisihan tentang tanah. Sampai sekarang,
Rakuan tidak pernah tahu persis apa yang terjadi.
"Apa ibu kita masih berteman?" tanya Rakuan.
Rudi tertawa kecil. "Hubungan mereka ... rumit. Tapi
yang jelas, Rosnah sering ke rumah sakit menjenguk ibumu. Meskipun mereka tidak
bicara banyak, ia tetap datang."
Rakuan terdiam. Ada banyak hal yang tidak ia ketahui. Tiga
tahun pergi ternyata bukan hanya membuatnya kehilangan kenangan—ia juga
kehilangan banyak cerita.
Rumah tua itu terletak di tepian Sungai Kapuas. Sebuah
rumah panggung kayu yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun. Cat
cokelatnya mulai mengelupas, tapi bangunannya masih kokoh. Di depan rumah, ada
pohon rambutan tua yang dulu menjadi saksi bisu masa kecilnya.
Rakuan berdiri di depan rumah itu dengan perasaan yang
sulit digambarkan. Rudi menepuk bahunya dan pamit. "Aku ke dermaga. Kapan
pun kau butuh, hubungi aku. Aku akan tunggu di Sungai Rindu."
"Iya, Rud. Terima kasih."
Rudi pergi. Rakuan sendirian di depan rumah. Ia melangkah
menaiki tangga kayu yang berderit. Pintu depan terbuka, dan ia melihat ruang
tamu yang masih sama seperti dulu. Dindingnya penuh foto-foto—foto pernikahan
orangtuanya, foto Rakuan saat bayi, foto mereka saat liburan ke Pantai Sampit.
Dan di satu sudut, Rakuan melihat dinding yang penuh dengan
foto-foto bangunan. Ini semua adalah karyanya. Foto-foto yang ia kirimkan pada
ibunya selama tiga tahun. Ada beberapa gambar yang nyaris robek karena sering
dipegang.
Ia meraih satu foto dan memeluknya. Air matanya tumpah.
"Ibu ..." bisiknya.
Rakuan melangkah ke kamar ibunya. Di dalam lemari tua, ia
menemukan sebuah kotak kayu berisi surat-surat. Ia membukanya dan mendapati
semua surat yang ia kirim selama di Jakarta, tersimpan rapi. Ibunya menyimpan
semuanya.
"Dan aku bahkan tidak pernah membalas surat-surat
ini," katanya pada dirinya sendiri. Airmatanya kembali mengalir.
"Maafkan aku, Bu."
Malam mulai gelap. Rakuan keluar rumah dan duduk di tangga,
memandang Sungai Kapuas yang mengalir tenang di bawah cahaya rembulan. Di
kejauhan, ia bisa melihat Dermaga KP3 yang mulai diterangi lampu-lampu.
Besok, ia akan ke rumah sakit. Besok, ia akan bertemu
ibunya. Dan besok juga, mungkin ia akan bertemu semua orang yang ia tinggalkan.
Tapi untuk malam ini, ia membiarkan dirinya merindukan
semua yang telah ia tinggalkan.
"Rindu yang tak bertepi," gumamnya. "Inikah
rasanya, Bu?"
Di kejauhan, ia melihat seorang perempuan berjalan di
tepian dermaga. Dari jarak jauh, sosok itu mengingatkannya pada Susan. Tapi ia
tidak yakin.
Malam berlalu, membawa serta kerinduan dan ketakutan akan
hari esok.
BAB II
Senja yang
Menghadirkan Kembali
Rakuan tidak bisa tidur semalaman. Setiap kali ia
memejamkan mata, ia melihat wajah ibunya yang tersenyum dalam foto-foto di
dinding. Ia melihat surat-surat yang tersimpan rapi di kotak kayu. Ia melihat
tangan ibunya yang lembut membelai kepalanya saat ia masih kecil. Dan di antara
semua kenangan itu, ia juga melihat sosok lain—sosok yang selama tiga tahun ia
coba lupakan tapi tak pernah benar-benar hilang.
Susan.
Nama itu seperti duri di hatinya. Menusuk setiap kali ia
mengingatnya.
Di pagi hari, Rakuan mandi dengan air sumur yang
dingin—seperti kebiasaan masa kecilnya. Ia memakai kemeja putih sederhana dan
celana hitam. Tidak terlalu formal, tapi cukup rapi untuk menjenguk ibunya di
rumah sakit. Sebelum pergi, ia melirik cermin tua di kamar. Wajahnya tampak
lebih tua dari usianya yang baru 28 tahun. Garis-garis halus di keningnya
menunjukkan bahwa tiga tahun di Jakarta bukanlah tiga tahun yang mudah.
"Ibu, aku datang," bisiknya.
Rumah Sakit Umum Kuala Kapuas terletak tidak jauh dari
pusat kota. Rakuan berjalan menuju ruang rawat inap dengan langkah berat.
Setiap langkah terasa seperti menginjak batu-batu tajam. Tangan yang memegang
buket bunga dan sekotak buah—yang ia beli di pasar dekat rumah—terasa gemetar.
Di depan pintu ruang perawatan, ia berhenti. Melalui kaca
kecil, ia bisa melihat ibunya terbaring lemah di atas ranjang. Tubuh Rahmah
tampak lebih kurus dari yang ia ingat. Rambutnya yang dulu hitam pekat kini
putih di mana-mana. Alat-alat medis terpasang di tubuhnya, membuat suara detak
jantung yang teratur.
Namun yang membuat Rakuan terkejut bukanlah itu. Di kursi
di samping ranjang, seorang pria tua duduk membungkuk. Wajahnya cekung, matanya
sayu, dan tangannya—tangan yang dulu kuat menarik jaring ikan di sungai—kini
memegang tangan ibunya dengan lembut.
Samsudin. Ayahnya.
Rakuan hampir mundur. Dadanya terasa sesak. Ia belum siap.
Ia belum siap bertemu dengan ayahnya setelah tiga tahun.
Tapi kemudian ibunya bergerak. Matanya terbuka. Menatap ke
arah pintu. Dan ia tersenyum—meskipun senyum itu lemah, hampir tidak terlihat.
Rakuan tidak bisa mundur lagi. Ia membuka pintu.
"Ibu ..." suaranya pecah.
Rahmah mencoba mengangkat tangannya, tapi terlalu lemah.
"Nak ..." bisiknya. "Kau datang ..."
Rakuan melangkah cepat dan berlutut di samping ranjang. Ia
mengambil tangan ibunya dan menciumnya. "Maafkan aku, Bu. Maafkan aku yang
lama tidak pulang."
Rahmah menggeleng pelan. "Tidak ada yang perlu
dimaafkan, Nak. Kau di sini ... itu sudah cukup."
Samsudin tidak bergerak. Ia hanya menatap putranya dengan
ekspresi yang sulit dibaca. Rakuan balas menatap ayahnya. Ada banyak kata yang
tidak terucap di antara mereka. Ada banyak luka yang belum sembuh.
"Nak ..." suara Rahmah memecah keheningan.
"Kau dan ayahmu ..."
"Bu, jangan bicara banyak." Rakuan menatap
ibunya. "Kau harus istirahat."
Tapi Rahmah menggeleng. "Dengarkan aku, Nak. Sebelum
aku ... pergi. Aku ingin kau tahu. Aku mencintai kalian berdua. Dan aku ingin
kalian berbaikan."
Rakuan menunduk. Di sisi lain, Samsudin memalingkan muka.
Ada keheningan yang canggung.
"Aku ... akan ke luar dulu," kata Samsudin
tiba-tiba. Ia berdiri dengan susah payah—Rakuan baru menyadari bahwa ayahnya
juga sudah tua dan lemah. "Kau bicara dengan ibumu."
Ia berjalan keluar tanpa menatap Rakuan. Pintu tertutup pelan.
Rakuan mendengar desahan dari ibunya.
"Jangan marah pada ayahmu, Nak," bisik Rahmah.
"Dia ... dia juga menderita. Ia menyesali semua yang terjadi."
Rakuan tidak menjawab. Ia hanya memegang tangan ibunya dan
menangis.
Rakuan menghabiskan hampir sepanjang hari di rumah sakit.
Ia berbicara dengan dokter yang merawat ibunya—dokter mengatakan bahwa kondisi
Rahmah memang kritis. Penyakit ginjal yang dideritanya sudah mencapai stadium
lanjut. Tidak ada banyak yang bisa dilakukan selain perawatan paliatif.
"Berapa lama lagi?" tanya Rakuan dengan suara
berat.
Dokter menggeleng. "Sulit dipastikan. Bisa minggu,
bisa bulan. Tapi yang jelas ... kami sarankan keluarga menghabiskan waktu
sebanyak mungkin dengannya."
Rakuan kembali ke ruang perawatan. Ibunya tertidur lelap.
Ia duduk di kursi di samping ranjang, memegang tangan ibunya, dan membiarkan
pikirannya melayang ke masa lalu.
Ia ingat bagaimana ibunya selalu menjadi pelindungnya. Saat
Samsudin marah karena Rakuan memilih arsitektur, ibunya yang membelanya. Saat
Rakuan putus asa karena Susan, ibunya yang menghiburnya. Ibunya adalah
segalanya.
"Bu ..." bisiknya. "Aku tidak tahu bagaimana
aku akan bertahan tanpamu."
Sore mulai turun ketika Rakuan keluar dari rumah sakit. Ia
butuh udara segar. Ia butuh menenangkan pikirannya. Tanpa sadar, langkahnya
membawanya ke arah Sungai Kapuas. Ke arah Dermaga KP3.
Dermaga KP3 sore hari adalah pemandangan yang tak
terlupakan. Matahari mulai tenggelam di ujung barat, melukis langit dengan
gradasi jingga, merah, dan ungu. Sungai Kapuas memantulkan warna-warna itu
seperti cermin raksasa. Perahu-perahu mulai berlabuh, nelayan-nelayan membawa
hasil tangkapan mereka. Di warung-warung di sepanjang dermaga, lampu-lampu
mulai dinyalakan.
Rakuan berjalan perlahan di sepanjang dermaga kayu yang
berderit. Ia menyaksikan senja Kapuas yang selalu ia rindukan. Ada sesuatu yang
menenangkan tentang pemandangan ini. Seperti sungai itu sendiri mengatakan
padanya, "Semua akan baik-baik saja."
Tapi ketika ia sampai di ujung dermaga, ia melihat sesuatu
yang menghentikan langkahnya.
Seorang perempuan duduk di ujung dermaga, menghadap ke
sungai. Rambut panjangnya terurai dan diterbangkan angin sore. Ia mengenakan
blus putih dan celana jeans biru. Di tangannya, sebuah kamera menempel di
matanya.
Tapi Rakuan tidak perlu melihat wajahnya. Ia mengenali
gerakan itu. Ia mengenali cara perempuan itu memiringkan kepalanya saat
membidik foto. Ia mengenali semua itu. Karena ia pernah melihatnya ribuan kali.
Susan.
Rakuan berdiri terpaku. Jantungnya berdebar kencang. Ia
ingin memanggil nama itu, tapi kata-katanya tercekat di tenggorokan.
Seolah merasakan tatapannya, perempuan itu menurunkan
kameranya dan menoleh.
Dan dunia Rakuan berhenti berputar.
Susan menatapnya. Matanya yang dulu penuh cinta kini
menyimpan sesuatu yang lain—kejutan, kebingungan, dan sesuatu yang sulit
diartikan. Mereka saling memandang dalam keheningan yang terasa seperti
selamanya.
"Aku ..." Rakuan berusaha bicara, tapi suaranya
serak. "Aku ... tidak menyangka."
Susan berdiri perlahan. Kameranya menggantung di leher.
Ekspresinya berubah—dari terkejut menjadi dingin, terkendali.
"Rakuan."
Namanya diucapkan dengan nada datar. Tidak ada kehangatan.
Tidak ada kebahagiaan. Hanya sebuah pernyataan fakta.
"Sudah lama," kata Rakuan bodoh.
"Tiga tahun," jawab Susan. "Kau
menghitungnya?"
Rakuan tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu ia pantas
menerima semua kemarahan Susan. Ia yang pergi tanpa pamit. Ia yang memutuskan
komunikasi secara sepihak. Ia yang menyerah pada cinta mereka.
"Susan, aku ..."
"Jangan." Susan mengangkat tangannya.
"Jangan katakan apa-apa. Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu. Aku tidak
ingin mendengar alasanmu. Kau pergi. Itu sudah cukup."
Rakuan merasakan sesuatu menusuk dadanya. "Aku tahu
aku salah. Aku tahu aku seharusnya tidak pergi begitu saja. Tapi ..."
"Tapi apa?" Susan menatapnya tajam. "Kau
takut? Kau lemah? Kau memilih untuk melarikan diri daripada melawan? Aku tahu
semua itu, Rakuan. Aku tahu."
"Lalu kenapa kau masih di sini?" Kata-kata itu
keluar tanpa ia sadari. "Kenapa kau masih duduk di dermaga ini? Di tempat
yang sama?"
Susan terdiam. Matanya tiba-tiba tampak basah. Ia menatap
Rakuan dengan tatapan yang membuat hati Rakuan hancur.
"Karena aku bodoh," katanya pelan. "Aku
bodoh karena masih merindukan seseorang yang tidak pernah cukup berani untuk
memperjuangkanku."
Ia berbalik dan berjalan pergi. Kamera di tangannya
diayunkan, langkahnya tegas, dan punggungnya lurus. Tapi Rakuan bisa
melihat—bahunya sedikit bergetar.
"Susan!" Rakuan memanggil.
Susan tidak menoleh. Ia terus berjalan menjauh,
meninggalkan Rakuan di ujung dermaga, di bawah langit jingga yang perlahan
berubah menjadi gelap.
Rakuan menunduk. Air matanya jatuh ke papan kayu dermaga.
"Maafkan aku, Sus," bisiknya. "Maafkan
aku."
Rakuan tidak tahu berapa lama ia berdiri di sana. Matahari
tenggelam sepenuhnya, dan lampu-lampu dermaga menyala satu per satu. Suara tawa
dari warung-warung kuliner di dekatnya terdengar seperti dari dunia yang
berbeda. Ia merasa terjebak dalam gelembung kesedihannya sendiri.
Tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Ia
menoleh dan melihat Rudi berdiri dengan ekspresi prihatin.
"Kudengar kau ke sini," kata Rudi. "Aku
melihat Susan pergi dari dermaga dengan wajah ... ya, kau tahu. Ada apa?"
Rakuan menggeleng. "Aku melihatnya. Kami bicara. Tidak
ada yang berubah, Rud. Ia masih marah."
"Tentu saja ia marah. Kau meninggalkannya, Ku. Kau
pergi begitu saja tanpa penjelasan. Tanpa pamit. Kau menghilang dari
hidupnya."
"Aku tahu. Aku melakukan kesalahan. Tapi aku ..."
Rakuan menarik napas. "Aku tidak tahu harus berbuat apa. Keluarga kami
bermusuhan. Ayahku membenci keluarganya. Ibuku dan Rosnah berselisih. Dan Lucas
..."
Rudi mendesah. "Lucas. Ya. Tapi Rakuan, kau tahu apa
yang aku lihat saat Susan pergi tadi? Aku melihat seorang perempuan yang masih
mencintaimu. Ia marah, tapi ia masih mencintaimu. Jika ia sudah benar-benar
melupakanmu, ia tidak akan marah."
Rakuan menatap Rudi. "Kau pikir?"
"Aku tahu." Rudi menepuk bahunya. "Tapi kau
harus memperbaiki semuanya, Ku. Kau harus memperbaiki hubunganmu dengan ayahmu,
dengan keluarga Susan, dengan semua orang. Dan kau harus melakukannya dengan
tulus."
Rakuan dan Rudi berjalan ke Sungai Rindu,
warung Rudi yang terletak di tepi Dermaga KP3. Warung itu sederhana tapi ramai.
Atapnya dari rumbia, dindingnya dari bambu, dan meja-mejanya dari kayu ulin
yang kokoh. Aroma ikan bakar dan rempah-rempah memenuhi udara.
Rakuan duduk di salah satu meja. Rudi menyodorkan sepiring
ikan patin bakar dan semangkuk bubur pedas khas Kapuas.
"Makan," kata Rudi. "Kau butuh energi."
Rakuan mengambil garpu dan mencicipi bubur pedas itu.
Rasanya—pedas, gurih, dan hangat—mengingatkannya pada masa kecil. Ia tersenyum
meskipun hatinya masih berat.
"Aku kangen ini," katanya.
"Tentu saja. Ini adalah makanan kampung halaman. Tidak
ada yang bisa menggantikannya."
Mereka makan dalam diam untuk beberapa saat. Akhirnya,
Rakuan meletakkan sendoknya.
"Rudi, aku ingin bertanya sesuatu."
"Sebut saja."
"Kau bilang Susan dan Lucas akan bertunangan.
Kapan?"
Rudi menghela napas. "Dua minggu lagi. Keluarga Susan
sedang mempersiapkan semuanya. Aku dengar Hendri—ayah Lucas—ingin acara yang
besar. Mengundang semua tokoh penting di Kapuas."
Rakuan mengepalkan tangannya. "Aku ... aku tidak bisa
membiarkannya, Rud. Aku tahu aku tidak punya hak. Tapi aku tidak bisa
membiarkan Susan menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya."
"Kau yakin Susan tidak mencintai Lucas?" tanya
Rudi hati-hati.
Rakuan menggeleng. "Aku tahu Susan. Jika ia mencintai
Lucas, ia tidak akan terlihat sesedih itu tadi. Ia masih terluka karena aku.
Dan pernikahan dengan Lucas hanya akan membuat lukanya semakin dalam."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Rakuan terdiam. Di kepalanya, ia merencanakan sesuatu.
Sesuatu yang berani. Mungkin gila. Tapi ia tidak peduli.
"Aku akan melawannya, Rud. Aku akan memperjuangkan
Susan. Kali ini, aku tidak akan lari."
Rudi menatapnya lama. Kemudian ia tersenyum.
"Baru sekarang aku mengenal sahabatku yang dulu,"
katanya. "Rakuan yang tidak pernah menyerah."
Rakuan menatap Dermaga KP3 yang diterangi lampu-lampu. Di
kejauhan, ia melihat perahu-perahu yang bersandar. Dan di antara semua itu, ia
berjanji pada dirinya sendiri.
Aku tidak akan lari lagi. Kali ini, aku akan berjuang.
Untuk ibuku. Untuk Susan. Untuk diriku sendiri.
Malam itu, Rakuan kembali ke rumah tua di tepian sungai. Ia
menyalakan lampu minyak tanah—listrik di daerah itu sering padam—dan duduk di
beranda. Angin malam membawa aroma sungai yang segar.
Ia membuka ponselnya. Ada beberapa pesan yang belum ia
baca. Sebagian dari kantornya di Jakarta. Sebagian dari teman-temannya. Tapi
ada satu pesan yang membuatnya terkejut.
Nomor yang tidak ia kenali. Isi pesannya: "Aku
tahu kau kembali. Kita perlu bicara. Datanglah ke Dapoer Tepian Kapuas besok
sore. - Susan."
Rakuan menatap layar ponselnya. Jantungnya berdebar. Susan
mengirim pesan padanya. Susan ingin bertemu.
Ia tidak tahu apakah itu pertanda baik atau buruk. Tapi ia
tahu, apapun yang terjadi, ia akan datang.
"Besok, Susan," bisiknya. "Aku akan datang.
Aku akan menjelaskan semuanya. Dan aku akan memperjuangkanmu."
Ia mematikan lampu dan merebahkan diri di tempat tidur tua
yang berderit. Di luar, Sungai Kapuas mengalir tenang, membawa semua rahasia
dan harapan ke tempat yang tidak diketahui.
BAB III
Pahitnya
Bubur Pedas
Pagi itu, Rakuan terbangun dengan perasaan yang berat.
Sinar matahari menembus celah-celah dinding kayu rumah tuanya, menciptakan
pola-pola cahaya di lantai. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya
yang tergeletak di atas meja. Pesan dari Susan masih terbuka di layar: "Aku
tahu kau kembali. Kita perlu bicara. Datanglah ke Dapoer Tepian Kapuas besok
sore."
Ia membaca pesan itu berulang kali, mencoba menebak maksud
Susan. Apakah ini undangan untuk berdamai? Atau justru peringatan agar ia
menjauh? Atau mungkin—dan ini yang paling membuatnya cemas—Susan ingin
mengumumkan pertunangannya di hadapannya?
Rakuan menghela napas. Ia tidak tahu. Tapi ia tahu satu
hal: ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Rakuan berjalan ke Dermaga
KP3 untuk mencari Rudi. Di warung Sungai Rindu, Rudi sedang sibuk
menyiapkan dagangannya. Istrinya, Dina—seorang wanita ramah dengan senyum
manis—sedang menggendong bayi mereka, Melati.
"Rakuan!" Rudi menyambutnya dengan senyum lebar.
"Kau datang tepat waktu. Aku baru saja selesai memasak bubur pedas. Mau
mencicipi?"
Rakuan menggeleng. "Aku ada urusan, Rud. Susan
mengirimiku pesan."
Rudi mengangkat alis. "Oh? Apa katanya?"
"Ia minta aku datang ke Dapoer Tepian Kapuas sore
ini."
Rudi bersiul pelan. "Wow. Itu ... menarik. Kau akan
pergi?"
"Tentu saja."
Rudi mengangguk. "Baik. Tapi sebelum itu, bagaimana
kalau kau sarapan dulu di sini? Aku ingin kau mencicipi masakanku. Dan
omong-omong, aku juga perlu berbicara denganmu tentang sesuatu."
Rakuan menatap Rudi curiga. "Tentang apa?"
"Nanti," kata Rudi. "Setelah kau
makan."
Rakuan duduk di salah satu meja kayu di Sungai
Rindu. Rudi menyajikan semangkuk bubur pedas yang masih mengepul, sepiring
ikan patin bakar, dan segelas jus lidah buaya khas Kapuas.
"Ini," kata Rudi sambil duduk di hadapannya.
"Menu andalanku. Aku mengembangkan resep ini dari resep nenekku.
Cobalah."
Rakuan mengambil sendok dan mencicipi bubur pedas itu.
Rasanya—pedas, gurih, dengan aroma rempah yang kuat—membuat lidahnya bergoyang.
Ada sensasi hangat yang menyebar dari perut ke seluruh tubuh.
"Ini enak, Rud," katanya tulus. "Sungguh
enak. Aku belum pernah merasakan bubur pedas seperti ini."
Rudi tersenyum bangga. "Terima kasih. Aku sudah
bekerja keras untuk menyempurnakan resep ini. Tapi ..." ia menurunkan
suaranya, "... aku tidak akan bisa bertahan lama jika terus bersaing
dengan Dapoer Tepian Kapuas."
Rakuan menghentikan sendoknya. "Apa maksudmu?"
Rudi menghela napas. "Dapoer Tepian Kapuas adalah
restoran besar yang dikelola oleh keluarga Susan. Mereka punya modal besar,
jaringan luas, dan pengaruh yang kuat. Hendri—paman Susan dan ayah Lucas—adalah
tokoh penting di komunitas kuliner Kapuas. Ia memiliki hubungan dengan banyak
pemasok dan pejabat daerah. Sementara aku ..." Rudi menunjuk warungnya,
"... hanya warung kecil dengan modal pas-pasan."
"Tapi masakanmu enak," kata Rakuan.
"Enak tidak cukup, Ku. Di dunia bisnis, kau butuh
koneksi, pemasaran, dan modal. Aku tidak punya semua itu. Dan Lucas terus
berusaha menjatuhkanku. Beberapa minggu lalu, ia menyebarkan isu bahwa
masakanku tidak higienis. Banyak pelanggan yang pergi."
Rakuan mengepalkan tangannya. "Itu tidak adil."
"Dunia tidak adil, Ku. Kau tahu itu." Rudi
tersenyum pahit. "Tapi aku tidak menceritakan ini untuk membuatmu kasihan.
Aku menceritakan ini karena ... jika kau benar-benar ingin memperjuangkan
Susan, kau harus tahu apa yang kau hadapi. Lucas bukanlah pria biasa. Ia adalah
orang yang ambisius dan tidak segan-segan menggunakan segala cara untuk
mencapai tujuannya."
Rakuan diam. Ia merenungkan kata-kata Rudi. Selama ini, ia
hanya berpikir bahwa ia harus berhadapan dengan rasa bersalahnya pada Susan. Ia
tidak menyadari bahwa ada pertarungan yang lebih besar—pertarungan melawan
sistem, melawan kekuasaan, melawan ambisi.
"Rudi," kata Rakuan akhirnya, "aku akan
membantumu. Apapun yang terjadi, aku akan membantumu."
Rudi menatapnya dengan mata berbinar. "Kau
serius?"
"Aku serius. Kau adalah sahabatku. Aku tidak akan
membiarkan siapa pun menjatuhkanmu."
Rudi mengulurkan tangannya. Rakuan menjabatnya erat.
"Terima kasih, Ku," kata Rudi. "Aku tidak
akan melupakan ini."
Sore itu, Rakuan dan Rudi berjalan menuju Dapoer
Tepian Kapuas. Restoran itu terletak tidak jauh dari Dermaga KP3, tepat di
tepian sungai. Bangunannya lebih besar dan lebih modern daripada warung-warung
di sekitarnya. Dindingnya dari kayu ulin yang dipoles mengkilap, atapnya dari
sirap, dan di depannya ada teras luas dengan meja-meja kayu yang menghadap ke
sungai.
"Wow," gumam Rakuan. "Ini ...
mengesankan."
Rudi mengangguk. "Ya. Mereka punya investasi besar.
Lucas yang mendesain ulang restoran ini tahun lalu. Ia mempekerjakan arsitek
dari Banjarmasin. Biayanya tidak kecil."
Rakuan merasakan sesuatu mengganjal di dadanya. Lucas
mendesain ulang restoran. Lucas mempekerjakan arsitek. Lucas—bukan dia—yang ada
di sisi Susan.
Mereka melangkah masuk. Di dalam, restoran itu ramai dengan
pengunjung. Aroma masakan—campuran rempah, ikan bakar, dan bubur pedas—memenuhi
udara. Meja-meja kayu yang ditata rapi diisi oleh orang-orang yang menikmati
makanan sambil bercakap-cakap.
Di belakang meja kasir, Rakuan melihat Susan. Ia mengenakan
seragam restoran—kemeja putih dengan logo Dapoer Tepian Kapuas di
dada. Rambutnya diikat rapi, dan wajahnya tampak serius mengerjakan sesuatu di
buku catatan.
Rakuan hampir memanggilnya, tapi Rudi menarik lengannya.
"Tunggu," bisik Rudi. "Kita duduk dulu.
Jangan langsung menghampirinya."
Mereka duduk di sebuah meja di sudut ruangan. Tak lama,
seorang pelayan datang dan menyodorkan menu.
"Selamat sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
tanya pelayan itu ramah.
"Kami ingin mencicipi bubur pedas," kata Rudi.
"Dua porsi. Dan ikan patin bakar juga."
"Baik, Pak. Tunggu sebentar."
Pelayan itu pergi. Rakuan melirik ke arah Susan. Ia masih
sibuk dengan buku catatannya. Belum melihat mereka.
"Kau yakin ini tempat yang tepat?" tanya Rakuan.
"Kau yang memutuskan datang," kata Rudi.
"Aku hanya mengantarmu."
Rakuan menarik napas. Ia menatap sekeliling ruangan. Di
dinding, ada foto-foto kuliner Kapuas—kerupuk basah, bubur pedas, ikan belida
goreng, dan berbagai makanan khas lainnya. Ada juga foto-foto keluarga yang
menghiasi sudut ruangan.
Matanya tertumbuk pada satu foto. Foto itu menunjukkan
seorang wanita yang ia kenal—Rosnah, ibu Susan. Wanita itu tersenyum sambil
memegang semangkuk bubur pedas. Di sampingnya, ada seorang pria dengan jas rapi
yang tersenyum lebar. Pria itu adalah Hendri, ayah Lucas.
"Rudi, lihat itu," bisik Rakuan.
Rudi menoleh. "Oh, itu foto Rosnah dan Hendri. Mereka
sering difoto bersama karena kolaborasi bisnis. Rosnah adalah kepala dapur di
sini, sementara Hendri adalah pemodal."
"Dan Susan? Di mana Susan?"
"Susan adalah manajer operasional. Ia mengurus semua
detail—mulai dari bahan baku, pelayanan, hingga promosi. Lucas ..." Rudi
menghentikan kata-katanya.
"Lucas apa?"
Rudi menunjuk ke arah pintu masuk. "Dia datang."
Rakuan menoleh. Di pintu masuk, seorang pria tinggi dengan
postur atletis melangkah masuk. Pria itu mengenakan kemeja batik lengan panjang
dengan rapi. Wajahnya tampan—hidung mancung, rahang tegas, dan kulit putih
bersih. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Ia berjalan dengan percaya diri,
seperti semua orang di ruangan itu adalah bawahannya.
Lucas.
Pria itu melangkah langsung ke arah Susan. Ia menyapa Susan
dengan senyum lebar dan mencium pipi Susan. Susan tersenyum—senyum yang sopan,
tidak terlalu hangat, tapi tetap senyum.
Rakuan merasakan sesuatu di dadanya. Seperti ada yang
menusuk. Cemburu. Tidak bisa dipungkiri.
"Itu dia," bisik Rudi. "Lucas. Calon suami
Susan."
Rakuan mengepalkan tangannya di bawah meja.
Lucas tampaknya menyadari kehadiran mereka. Ia menoleh ke
arah meja Rakuan dan Rudi. Ekspresinya berubah—dari ramah menjadi sedikit
mengejutkan. Ia tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Rudi," sapa Lucas dengan nada ramah yang
dibuat-buat. "Apa kabar? Kau jarang datang ke sini."
Rudi tersenyum tipis. "Aku hanya mengantarkan teman.
Rakuan, ini Lucas. Lucas, ini Rakuan."
Lucas melangkah mendekat. Matanya mengamati Rakuan dari
ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian ia mengulurkan tangannya.
"Rakuan," katanya dengan suara yang halus tapi
tajam. "Kudengar kau baru pulang ke Kapuas. Tiga tahun di Jakarta, ya?
Sebagai arsitek?"
Rakuan menjabat tangannya. Genggaman Lucas kuat—terlalu
kuat untuk sekadar salam.
"Ya," jawab Rakuan datar. "Aku baru
kembali."
"Kami sudah mendengar banyak tentangmu dari
Susan." Lucas tersenyum. "Tentu saja ... itu dulu. Sekarang Susan
lebih sering bercerita tentang rencana pernikahan kami."
Rakuan merasakan darahnya mendidih. Tapi ia berusaha tetap
tenang.
"Selamat," katanya dingin. "Semoga kalian
bahagia."
Lucas terkekeh. "Terima kasih. Aku yakin Susan akan
bahagia. Aku akan memberikan segalanya untuknya." Ia menatap Rakuan tajam.
"Segalanya yang ia butuhkan."
Rudi, yang melihat ketegangan itu, cepat-cepat menyela.
"Lucas, bagaimana dengan bubur pedas yang kami pesan? Kami datang ke sini
untuk mencicipi masakan Rosnah."
Lucas mengalihkan pandangannya ke Rudi. "Tentu. Aku
akan pastikan pelayan membawanya segera." Ia berbalik, tapi sebelum pergi,
ia menatap Rakuan sekali lagi. "Nikmatilah, Rakuan. Dan jangan ragu untuk
memesan apa pun. Ini restoran kami."
Kata kami diucapkan dengan penekanan
khusus. Lucas ingin Rakuan tahu bahwa ia dan Susan adalah kami.
Lucas pergi menuju dapur. Rakuan menghela napas panjang.
Tangannya masih gemetar.
"Kau lihat?" bisik Rudi. "Itu Lucas. Sopan,
tampan, percaya diri. Dan ia tahu bahwa ia menang."
"Belum," kata Rakuan. "Ini belum
berakhir."
Tak lama, dua mangkuk bubur pedas tiba di meja mereka.
Aromanya—harum, pedas, dan menggugah selera—membuat perut Rakuan keroncongan
meskipun hatinya sedang kacau.
"Silakan dinikmati," kata pelayan.
Rakuan mengambil sendok dan mencicipi bubur itu. Begitu
bubur itu menyentuh lidahnya, ia merasakan pedas yang meledak. Pedasnya jauh lebih
kuat daripada bubur Rudi. Ia terbatuk-batuk, matanya berair.
"Wah ..." katanya dengan suara serak. "Pedas
sekali."
Rudi tertawa. "Itulah bubur pedas khas Dapoer Tepian
Kapuas. Resep Rosnah. Konon, ia menambahkan banyak cabai rawit agar membuat
orang terus minum dan memesan lebih banyak minuman. Strategi bisnis yang
cerdas."
Rakuan mengambil segelas air dan meneguknya. Tapi air tidak
cukup untuk meredakan pedas. Ia menangkap Lucas yang sedang melihatnya dari
kejauhan, tersenyum puas.
"Kau tahu ..." kata Rudi pelan. "Aku pikir
Lucas sengaja menyuruh pelayan menambahkan ekstra cabai."
"Kenapa ia melakukan itu?"
"Untuk mempermalukanmu. Untuk menunjukkan bahwa kau
tidak kuat, tidak tahan, tidak seperti dirinya."
Rakuan menatap mangkuk bubur itu. Di tengah rasa pedas yang
membakar lidahnya, ada rasa pahit yang lebih dalam—rasa cemburu, rasa tidak
berdaya, rasa marah.
"Tapi aku tidak akan menyerah," katanya tegas.
"Pedas ini, rasa pahit ini, hanya akan membuatku lebih kuat."
Rudi tersenyum. "Itu semangat yang kuharapkan."
Setelah selesai makan, Rakuan berjalan menuju meja kasir.
Susan masih di sana, sibuk menulis sesuatu. Ketika ia mendekat, Susan
mengangkat kepalanya.
"Rakuan," sapanya datar. "Kau datang."
"Kau mengirim pesan padaku," kata Rakuan.
"Kau bilang kita perlu bicara."
Susan menatapnya lama. Kemudian ia menatap Lucas yang masih
di dapur, lalu kembali ke Rakuan.
"Ya," katanya pelan. "Tapi tidak di sini.
Tidak sekarang. Nanti malam. Di Dermaga KP3. Jam delapan."
Rakuan mengangguk. "Aku akan datang."
"Aku tidak menjanjikan apa pun," kata Susan
cepat. "Aku hanya ingin bicara. Hanya itu."
"Aku mengerti."
Susan menunduk. Tangannya yang memegang pulpen bergetar
sedikit. "Kau tahu, Rakuan ... aku tidak tahu apakah ini keputusan yang
baik. Bertemu denganmu lagi. Tapi aku merasa ... aku harus melakukannya. Untuk
menutup semuanya."
Rakuan merasakan hatinya hancur. Menutup. Susan ingin
menutup semuanya.
"Jika itu yang kau inginkan," katanya dengan
suara berat, "aku akan menghormatinya."
Susan tidak menjawab. Ia hanya menunduk lebih dalam. Rakuan
melihat air mata jatuh ke buku catatannya.
Ia ingin memeluknya. Ia ingin menangis bersamanya. Tapi ia
tidak bisa. Lucas sedang memperhatikan mereka dari dapur. Semua mata tertuju
pada mereka.
"Aku akan pergi dulu," kata Rakuan. "Sampai
nanti malam."
Ia berbalik dan berjalan keluar restoran. Rudi menyusulnya.
"Bagaimana?" tanya Rudi.
"Aku bertemu dengannya nanti malam," kata Rakuan.
"Di Dermaga KP3."
"Apakah kau siap?"
Rakuan berhenti. Ia menatap Sungai Kapuas yang mengalir
tenang. Di kejauhan, matahari mulai tenggelam, menciptakan langit jingga yang
indah.
"Aku tidak tahu, Rud," katanya jujur. "Aku
tidak tahu apakah aku siap kehilangannya untuk kedua kalinya."
Rudi menepuk bahunya. "Kau tidak akan kehilangannya,
Ku. Karena kali ini, kau akan berjuang."
Malam mulai turun. Rakuan duduk di beranda rumah tuanya,
menatap ponselnya. Jam menunjukkan pukul tujuh. Satu jam lagi ia akan bertemu
Susan.
Ia memikirkan semua yang terjadi hari ini. Pertemuan dengan
Lucas. Rasa pedas yang membakar lidahnya. Kata-kata Susan tentang menutup
semuanya.
Apakah ini benar-benar akhir? Atau justru awal dari sesuatu
yang baru?
Rakuan menghela napas. Ia berdiri dan berjalan menuju
sungai. Di kejauhan, ia melihat lampu-lampu Dermaga KP3 mulai menyala.
"Susan," bisiknya. "Aku datang. Aku akan
datang dan mendengarkan semua yang ingin kau katakan. Tapi aku juga akan
mengatakan yang sebenarnya. Bahwa aku masih mencintaimu. Bahwa aku tidak akan
pernah berhenti mencintaimu."
Ia melangkah menuju dermaga, meninggalkan rumah tua di
belakangnya. Di atas, langit malam bertabur bintang. Dan di bawah, Sungai
Kapuas mengalir tenang, membawa serta semua rahasia yang belum terungkap.
BAB IV
Persaingan
di Atas Piring
Rakuan tiba di Dermaga KP3 tepat pukul delapan malam.
Lampu-lampu dermaga menyala terang, memantulkan cahaya ke permukaan sungai yang
tenang. Di kejauhan, beberapa perahu nelayan masih bersandar, bergoyang pelan
mengikuti aliran air. Warung-warung di sepanjang dermaga masih ramai dengan pengunjung
yang menikmati makanan malam. Suara tawa, obrolan, dan dentingan piring
bercampur menjadi simfoni malam yang akrab.
Tapi Rakuan tidak memperhatikan semua itu. Matanya hanya
tertuju pada satu sosok—Susan, yang duduk di ujung dermaga, menghadap ke sungai.
Ia telah datang lebih awal.
Rakuan berjalan mendekat. Langkahnya terasa berat, seperti
menapaki jalan yang penuh duri. Setiap langkah mengingatkannya pada malam-malam
di masa lalu ketika mereka duduk di tempat yang sama, berbicara tentang mimpi-mimpi
mereka.
"Susan," sapanya pelan.
Susan menoleh. Di bawah cahaya lampu, wajahnya terlihat
pucat. Matanya sembab—seperti baru saja menangis. Ia tersenyum tipis, tapi
senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Kau datang," katanya.
"Aku bilang aku akan datang."
Ia duduk di samping Susan, menjaga jarak yang sopan.
Sejenak mereka hanya diam, menatap sungai yang mengalir tenang. Angin malam
membawa aroma air dan sedikit bau ikan dari dermaga.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana," kata
Susan akhirnya.
"Dari awal saja," kata Rakuan. "Dari tiga
tahun lalu."
Susan menggeleng. "Tiga tahun lalu terlalu rumit. Mari
kita bicara tentang sekarang. Tentang kenyataan."
Rakuan mengangguk. "Baik. Sekarang."
Susan menarik napas panjang. "Aku akan menikah dengan
Lucas. Kau tahu itu."
Rakuan merasakan dadanya sesak. "Aku tahu."
"Keluarga sudah mengatur semuanya. Pamanku, Hendri,
telah menginvestasikan banyak uang untuk restoran ini. Pernikahan ini adalah
bagian dari kesepakatan bisnis. Lucas akan menjadi pewaris usaha ini. Dan aku
..." Susan tertawa pahit, "... aku hanya pion dalam permainan
mereka."
"Kau tidak harus melakukannya," kata Rakuan
cepat. "Kau bisa memilih."
"Memilih?" Susan menoleh menatapnya dengan mata
yang tajam. "Kau pikir aku punya pilihan? Aku tidak punya uang, Rakuan.
Aku tidak punya keterampilan lain selain mengelola restoran. Jika aku menolak
pernikahan ini, aku akan diusir dari rumah. Aku akan kehilangan pekerjaanku.
Aku tidak punya tempat untuk pergi."
"Kau punya aku."
Susan terdiam. Matanya menatap Rakuan dengan ekspresi yang
sulit dibaca—antara harapan dan keraguan.
"Kau?" katanya pelan. "Kau yang pergi tiga
tahun lalu tanpa pamit? Kau yang menghilang dari hidupku begitu saja? Kau pikir
aku bisa begitu saja mempercayaimu lagi?"
Rakuan menunduk. Kata-kata Susan menusuk seperti belati.
"Aku tahu aku salah," katanya. "Aku tahu aku
pengecut. Aku pergi karena aku takut—takut pada ayahku, takut pada keluarganya,
takut pada semua yang terjadi. Tapi aku sudah berubah, Susan. Tiga tahun di
Jakarta mengajariku banyak hal. Aku belajar bahwa lari bukanlah solusi. Dan aku
berjanji—kali ini, aku tidak akan lari."
Susan tidak menjawab. Ia hanya menatap sungai dengan mata
yang berkaca-kaca.
"Aku percaya padamu," katanya akhirnya.
"Tapi percaya tidak cukup. Kau harus membuktikannya."
"Aku akan membuktikannya," kata Rakuan tegas.
"Apapun yang harus kulakukan."
Susan menoleh padanya. Untuk pertama kalinya, senyum tulus
terlihat di wajahnya—meskipun hanya sebentar.
"Baik," katanya. "Kita lihat saja."
Malam itu, ketika Rakuan kembali ke rumah tuanya, ia tidak
bisa tidur. Pikirannya terus berputar—tentang Susan, tentang pernikahan yang
direncanakan, tentang ancaman Lucas, dan tentang persaingan bisnis antara Rudi
dan keluarga Susan. Ia menyadari bahwa untuk memperjuangkan Susan, ia harus
terlibat lebih dalam.
Keesokan paginya, Rakuan pergi ke warung Sungai
Rindu. Rudi sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk masakan hari itu.
Ketika melihat Rakuan datang, ia tersenyum lebar.
"Bagaimana pertemuanmu tadi malam?" tanya Rudi sambil
mengupas bawang.
Rakuan duduk di meja kayu. "Susan bilang ia akan
menikah dengan Lucas. Tapi ia tidak bahagia. Ia seperti dipaksa."
Rudi menghentikan tangannya. "Aku tahu. Semua orang
tahu. Tapi tidak ada yang berani melawan Hendri. Ia terlalu berkuasa di
sini."
"Aku harus berbuat sesuatu, Rud."
Rudi menghela napas. "Aku tahu. Tapi kau harus
hati-hati. Lucas bukan orang yang bisa diremehkan."
Rakuan menatap sahabatnya. "Rudi, aku ingin
membantumu. Aku ingin membantu warungmu berkembang. Mungkin dengan begitu, kita
bisa memberikan alternatif bagi Susan. Tempat di mana ia bisa bekerja tanpa
takut pada Hendri."
Rudi terdiam. Matanya menatap Rakuan dengan serius.
"Kau serius?" tanyanya.
"Aku serius. Aku punya pengalaman di bidang desain dan
manajemen proyek. Aku bisa membantumu merenovasi warung ini, membuatnya lebih
menarik. Dan aku juga bisa membantumu dengan strategi pemasaran. Kita bisa
bersaing dengan Dapoer Tepian Kapuas."
Rudi tersenyum—senyum yang tulus, penuh harapan. "Kau
benar-benar sahabat sejati, Ku."
"Kita bertarung bersama," kata Rakuan. "Kau
dan aku."
Namun persaingan bisnis antara Sungai Rindu dan Dapoer
Tepian Kapuas tidak semudah yang dibayangkan. Rudi dan Lucas memiliki
pendekatan yang sangat berbeda.
Rudi adalah koki tradisional. Ia memasak dengan resep
turun-temurun yang diwariskan dari neneknya. Setiap bumbu ditumbuk manual
dengan cobek batu, setiap ikan dipilih dengan teliti dari nelayan setempat, dan
setiap porsi disajikan dengan cinta. Warungnya kecil, sederhana, tapi penuh
kehangatan. Pelanggan datang bukan hanya untuk makanan, tapi juga untuk
suasana—untuk merasakan "rumah" di setiap suapan.
Sementara Lucas—di bawah pengawasan Hendri—mengusung konsep
modern. Dapoer Tepian Kapuas adalah restoran yang mewah dengan
dekorasi interior yang elegan. Menu mereka adalah fusion: memadukan resep
tradisional Kapuas dengan sentuhan internasional. Mereka menggunakan
bahan-bahan impor, peralatan masak modern, dan memiliki tim pelayan yang
terlatih profesional. Harga mereka jauh lebih tinggi, tapi pelanggan kelas atas
berbondong-bondong datang.
"Rudi dan Lucas adalah dua kutub yang
berlawanan," kata Rakuan pada Rudi saat mereka duduk di warung, membahas
strategi. "Tapi kau punya keunggulan yang tidak mereka miliki."
"Keunggulan apa?" tanya Rudi penasaran.
"Keaslian." Rakuan menunjuk ke dapur kecil Rudi.
"Kau memasak dengan hati. Masakanmu adalah warisan, bukan sekadar produk.
Orang-orang bisa merasakan perbedaannya. Lucas menjual pengalaman, tapi kau
menjual kenangan. Itu lebih berharga."
Rudi tersenyum malu. "Kau terlalu memujiku."
"Aku tidak memuji. Aku mengatakan kebenaran."
Mereka pun mulai merancang strategi. Rakuan—dengan
pengetahuannya tentang desain dan pemasaran—membantu Rudi mempercantik warung.
Mereka menambahkan dekorasi tradisional, lampu-lampu yang hangat, dan papan
nama baru yang lebih menarik. Rakuan juga membantu Rudi membuat media sosial
untuk warungnya, memposting foto-foto makanan yang menggugah selera.
Namun, perubahan itu tidak luput dari perhatian Lucas.
Beberapa hari kemudian, Rakuan dan Rudi kembali ke Dapoer
Tepian Kapuas untuk meneliti persaingan mereka—atau setidaknya itulah
alasan Rudi. Rakuan tahu Rudi sebenarnya ingin mengawasi Lucas. Tapi Rakuan
juga punya alasan lain: ia ingin melihat Susan.
Saat mereka memasuki restoran, suasana terasa berbeda. Ada
ketegangan di udara. Lucas menyambut mereka dengan senyum yang terlalu manis.
"Rudi, Rakuan," sapa Lucas. "Senang melihat
kalian kembali. Aku dengar kau merenovasi warungmu, Rudi. Bagus, bagus.
Kompetisi yang sehat selalu baik."
Rudi tersenyum tipis. "Terima kasih. Aku hanya ingin
memberikan yang terbaik untuk pelanggan."
Lucas tertawa kecil. "Tentu. Tapi kau tahu, persaingan
itu tidak hanya soal tampilan. Ada banyak hal di balik layar yang perlu
diperhatikan."
Apa maksudmu?" tanya Rakuan curiga.
Lucas tersenyum misterius. "Kau akan lihat."
Ia pergi meninggalkan mereka. Rakuan dan Rudi saling
berpandangan. Ada sesuatu yang mengancam di balik kata-kata Lucas.
"Kita harus waspada," bisik Rudi. "Lucas
tidak akan tinggal diam."
Dan memang, Lucas tidak tinggal diam. Seminggu kemudian,
Rudi menemukan bahwa pemasok ikan utamanya—seorang nelayan tua bernama Haji
Nurdin—tiba-tiba berhenti memasok ikan ke Sungai Rindu.
"Kenapa, Pak Haji?" tanya Rudi saat ia
mengunjungi rumah nelayan itu.
Haji Nurdin menggeleng dengan ekspresi bersalah.
"Maaf, Nak. Aku tidak bisa memasokmu lagi. Aku sudah berjanji pada orang
lain."
"Siapa?"
Haji Nurdin menunduk. "Lucas. Ia menawarkan harga
lebih tinggi. Aku tidak bisa menolak. Keluargaku butuh uang."
Rudi terdiam. Ia tidak marah pada Haji Nurdin—nelayan tua
itu hanya mencari nafkah. Tapi ia marah pada Lucas yang menggunakan uang untuk
merebut pemasoknya.
"Lucas," gumam Rudi dengan gigi terkatup.
"Dia bermain kotor."
Rakuan yang mendengar cerita itu langsung marah. "Kita
harus melawannya. Kita harus melapor ke dinas perdagangan. Ini tidak
adil."
Rudi menggeleng. "Tidak akan berguna. Hendri punya
pengaruh besar. Mereka akan melindunginya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Rudi menarik napas panjang. "Kita cari pemasok lain.
Ada banyak nelayan di Kapuas. Kita tidak boleh menyerah."
Namun persoalan tidak berhenti di situ. Beberapa hari
kemudian, Rakuan mendengar kabar bahwa beberapa pelanggan tetap Sungai
Rindu mulai beralih ke Dapoer Tepian Kapuas. Ada rumor
bahwa makanan di Sungai Rindu tidak sehat—rumor yang
jelas-jelas disebarkan oleh seseorang dari kubu Lucas.
"Lucas menyebarkan fitnah," kata Rakuan dengan
marah. "Kita harus melawannya."
Tapi Rudi menggeleng. "Tidak ada bukti, Ku. Jika kita menuduh
tanpa bukti, kita akan semakin terpuruk. Lebih baik kita fokus pada kualitas
masakan dan pelayanan. Biarkan pelanggan menilai sendiri."
Rakuan menghela napas. Ia tahu Rudi benar. Tapi di dalam
hatinya, ia semakin membenci Lucas. Bukan hanya karena Lucas adalah saingan
bisnis, tapi juga karena Lucas adalah ancaman bagi Susan—dan sekarang, ancaman
bagi sahabatnya.
Di tengah persaingan yang semakin memanas, hubungan Rakuan
dan Susan juga mengalami pasang surut. Mereka sering bertemu diam-diam di Dermaga
KP3—biasanya saat senja, ketika orang-orang sibuk dengan aktivitas mereka
masing-masing.
"Kau tidak bisa terus begini, Rakuan," kata Susan
suatu senja. "Bertemu diam-diam, bersembunyi dari semua orang. Suatu hari
nanti, Lucas atau pamanku akan tahu."
"Aku tidak takut pada Lucas," kata Rakuan.
"Aku tidak takut pada siapa pun."
"Kau seharusnya takut." Susan menatapnya dengan
mata cemas. "Lucas bukan orang yang baik. Ia bisa melakukan apa saja untuk
melindungi kepentingannya. Dan pamanku ... Hendri juga sama. Mereka berdua
adalah orang-orang yang berbahaya."
Rakuan meraih tangan Susan. "Aku tidak peduli. Aku
akan tetap di sini. Aku tidak akan lari lagi."
Susan menatap tangannya yang digenggam Rakuan. Air matanya
mulai menetes.
"Kenapa kau melakukan ini?" bisiknya.
"Kenapa kau tidak pergi saja? Kenapa kau membuat segalanya lebih
rumit?"
"Karena aku mencintaimu," kata Rakuan dengan
suara yang dalam dan tulus. "Karena aku tidak bisa membayangkan hidup
tanpamu. Karena tiga tahun yang lalu, aku membuat kesalahan terbesar dalam
hidupku dengan pergi. Dan sekarang, aku akan melakukan segalanya untuk
memperbaikinya."
Susan tidak menjawab. Tapi ia tidak melepaskan tangan
Rakuan. Dan di bawah langit senja yang jingga, mereka duduk bersama dalam
diam—dua insan yang sama-sama terluka, mencoba menemukan jalan untuk saling
percaya.
Sementara itu, Rudi mulai merasakan beban persaingan yang
semakin berat. Pendapatan warungnya menurun drastis. Pelanggan yang dulu ramai
kini mulai berkurang. Ia harus merumahkan satu karyawan dan mengurangi pesanan
bahan baku.
Suatu malam, Rakuan menemukan Rudi duduk sendirian di
warungnya, memegang segelas kopi yang sudah dingin.
"Rud," panggil Rakuan pelan. "Kau baik-baik
saja?"
Rudi tersenyum pahit. "Aku tidak tahu, Ku. Aku tidak
tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Lucas terus menekanku dari segala sisi.
Aku kehilangan pemasok, kehilangan pelanggan, dan sekarang ..." ia
menunjuk ke warung kosong di sekitarnya, "... aku hampir kehilangan
segalanya."
Rakuan duduk di hadapannya. "Aku akan membantumu, Rud.
Aku tidak akan membiarkanmu jatuh."
"Kau sudah membantuku banyak," kata Rudi.
"Tapi aku tidak mau kau terbebani oleh masalahku. Kau punya masalahmu
sendiri dengan Susan."
"Kau adalah sahabatku," kata Rakuan tegas.
"Masalahmu adalah masalahku. Kita bertarung bersama, ingat?"
Rudi menatapnya lama. Kemudian matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih, Ku," katanya. "Aku tidak akan
melupakan ini."
Mereka berpelukan—dua sahabat yang saling menguatkan di
tengah badai. Dan di luar warung, Sungai Kapuas mengalir tenang, menyaksikan
semua yang terjadi, menyimpan semua rahasia yang belum terungkap.
Namun, di balik semua itu, Rakuan menyadari bahwa konflik
persahabatan dan cinta semakin meruncing. Ia terjebak di antara dua dunia—dunia
Rudi yang membutuhkan dukungannya, dan dunia Susan yang hatinya masih ia rebut.
Dan di tengah-tengah, ada Lucas yang terus mengancam.
Suatu hari, Rakuan mendapat telepon dari Maya—teman
kuliahnya dari Jakarta. Maya memanggilnya dengan suara cemas.
"Rakuan, aku dengar kau pulang ke Kapuas. Apa kau
baik-baik saja? Kapan kau kembali ke Jakarta? Kantor membutuhkanmu."
Rakuan terdiam sejenak. "Aku tidak tahu, Maya. Ada
banyak hal yang harus aku selesaikan di sini."
"Apa kau lupa dengan proyek besar yang kita kerjakan?
Ini adalah kesempatan emas, Ku. Kau tidak bisa melewatkannya."
"Maaf, Maya. Aku harus menyelesaikan ini dulu. Aku
akan kembali ketika semuanya selesai."
Maya mendesah. "Baik. Tapi jangan terlalu lama. Dunia
tidak akan menunggumu."
Telepon ditutup. Rakuan menatap ponselnya dengan perasaan
yang rumit. Ia memang memiliki karier yang sukses di Jakarta. Tapi di sini, di
Kapuas, ada sesuatu yang lebih penting—cinta, persahabatan, dan perjuangan
untuk keadilan.
"Aku tidak bisa meninggalkan semua ini,"
bisiknya. "Aku tidak bisa meninggalkan mereka."
Dan ia berjanji pada dirinya sendiri: apapun yang terjadi,
ia akan bertahan. Untuk Susan. Untuk Rudi. Untuk semua yang ia cintai.
BAB V
Rahasia
di Balik Kerupuk Basah
Pagi itu, Rakuan terbangun dengan perasaan yang berbeda.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya—sebuah pertanyaan yang tak pernah ia
tanyakan kepada siapa pun. Tentang ibunya, Rahmah, dan Rosnah, ibu Susan.
Tentang perselisihan yang memisahkan mereka. Tentang tanah yang menjadi sumber
konflik.
Ia ingat bahwa ibunya pernah bercerita tentang sahabat masa
kecilnya. Rosnah dan Rahmah tumbuh bersama di tepian Sungai Kapuas. Mereka
bermain bersama, bersekolah bersama, dan bermimpi bersama. Tapi suatu hari,
semuanya berubah. Persahabatan mereka retak. Dan hingga kini, tidak ada yang
pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Rakuan memutuskan untuk mencari jawaban.
Ia menuju pasar tradisional Kuala Kapuas, tempat di mana
Rosnah berjualan kerupuk basah setiap hari. Pasar itu terletak tidak jauh dari
Dermaga KP3, di sebuah bangunan tua yang sudah berusia puluhan tahun. Atapnya
dari seng yang berkarat, lantainya dari semen yang retak-retak, dan cahaya
matahari menembus celah-celah dinding kayu.
Begitu Rakuan masuk, ia disambut oleh hiruk-pikuk pasar.
Para pedagang berteriak menawarkan dagangan mereka—ikan segar, sayuran,
rempah-rempah, dan berbagai makanan khas Kapuas. Aroma amis ikan bercampur
dengan wangi rempah dan bau tanah basah menciptakan suasana yang khas.
Rakuan berjalan menyusuri lorong pasar. Matanya mencari
sosok Rosnah. Ia tidak terlalu sulit menemukannya. Di sudut pasar, di sebuah
meja kayu kecil, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih
duduk di balik tumpukan kerupuk basah. Wanita itu—Rosnah—tampak sibuk merapikan
dagangannya.
"Selamat pagi, Tante Rosnah," sapa Rakuan pelan.
Rosnah mengangkat kepalanya. Matanya membulat ketika
melihat Rakuan. Ada kejutan, kegembiraan, dan juga sedikit ketakutan di
wajahnya.
"Rakuan?" suaranya bergetar. "Kau ... kau
kembali?"
Rakuan tersenyum tipis. "Ya, Tante. Aku kembali. Maaf
baru sekarang bisa menjenguk."
Rosnah mengangguk. Tangannya gemetar saat ia merapikan
kerupuk di depannya. "Aku dengar kau pulang. Tante Mira bercerita. Dan aku
juga dengar ... ibumu sakit."
Rakuan menunduk. "Iya. Aku di rumah sakit menjenguknya
setiap hari."
Rosnah terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya pelan.
"Tidak baik, Tante. Dokter mengatakan ... waktunya
mungkin tidak lama lagi."
Rosnah menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh.
"Rahmah ..." bisiknya. "Aku tidak menyangka ..."
Rakuan menatap Rosnah dengan saksama. Ia melihat kesedihan
yang tulus di mata wanita itu. Bukan kepura-puraan. Bukan kebencian. Ada cinta
di sana—cinta yang tidak pernah padam meskipun waktu telah berlalu.
"Tante," kata Rakuan hati-hati. "Aku ingin
bertanya sesuatu."
Rosnah mengusap air matanya. "Bertanyalah."
"Apa yang sebenarnya terjadi antara Tante dan ibuku?
Apa yang menyebabkan kalian berselisih?"
Rosnah terdiam. Wajahnya berubah—dari sedih menjadi tegang.
Ia menunduk, memainkan jari-jarinya yang keriput.
"Itu cerita lama, Nak. Cerita yang seharusnya kubawa
sampai mati."
"Tapi aku perlu tahu, Tante. Aku perlu tahu apa yang
terjadi. Karena hubunganku dan Susan juga hancur karena perselisihan ini. Aku tidak
bisa memperbaikinya jika aku tidak tahu akar masalahnya."
Rosnah mengangkat kepalanya. Ia menatap Rakuan dengan mata
yang tajam.
"Kau benar," katanya akhirnya. "Kau berhak
tahu. Tapi tidak di sini. Tidak di pasar yang ramai ini. Datanglah ke rumahku nanti
sore. Aku akan ceritakan semuanya."
Rakuan mengangguk. "Aku akan datang."
Sore itu, Rakuan berjalan menuju rumah Rosnah. Rumah itu
terletak di tepian sungai, tidak jauh dari pasar tradisional. Sebuah rumah
panggung kayu yang sederhana, dengan halaman yang dipenuhi tanaman
rempah—serai, jahe, kunyit, dan daun salam. Aroma rempah-rempah segar memenuhi
udara.
Rosnah menyambutnya di pintu. Ia mengenakan baju daster
sederhana dan kerudung yang diikat longgar. Wajahnya tampak lebih tenang dari
pagi tadi.
"Masuklah, Nak," katanya. "Aku sudah
menyiapkan teh dan kue tradisional."
Rakuan masuk ke dalam rumah. Ruang tamu kecil itu sederhana
tapi rapi. Di dinding, ada foto-foto keluarga—termasuk foto Susan saat kecil.
Rakuan menatap foto itu lama. Susan dalam foto itu tersenyum lebar, dengan gigi
yang masih ompong. Ia tampak bahagia.
"Susan sangat mirip dengan ibunya," kata Rakuan.
Rosnah tersenyum pahit. "Susan bukan anak
kandungku," katanya tiba-tiba.
Rakuan terkejut. "Apa?"
Rosnah menghela napas. Ia duduk di kursi kayu dan menunjuk
kursi di hadapannya. "Duduklah, Nak. Aku akan menjelaskan semuanya."
Rakuan duduk dengan hati berdebar-debar. Ia tidak pernah
menyangka akan mendengar ini.
"Susan adalah anak angkatku," kata Rosnah.
"Aku dan suamiku—yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu—tidak bisa
memiliki anak. Kami mengadopsi Susan dari panti asuhan di Putussibau ketika ia
masih bayi. Aku membesarkannya dengan sepenuh hati. Ia adalah anakku, apa pun
yang terjadi."
"Tapi ... apa hubungannya dengan ibu kandungku?"
Rosnah menunduk. Tangannya meremas ujung daster.
"Perselisihan kami dimulai ketika Rahmah tahu bahwa
aku mengadopsi Susan," kata Rosnah. "Bukan karena ia membenciku. Tapi
karena ... karena Susan sebenarnya adalah kerabat Rahmah."
Rakuan terdiam. Otaknya bekerja cepat. "Apa maksud
Tante?"
Rosnah mengangkat kepalanya. Matanya menatap Rakuan dengan
tajam.
"Susan adalah keponakan Rahmah. Anak dari adik
laki-laki Rahmah, yang meninggal dalam kecelakaan kapal. Rahmah ingin mengasuh
Susan, tapi aku sudah lebih dulu mengadopsinya. Kami bertengkar hebat. Rahmah
menuduhku mencuri anak dari keluarganya. Dan aku ... aku tidak mau melepaskan
Susan. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri."
Rakuan terdiam. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Susan—wanita yang ia cintai—adalah keponakan ibunya sendiri.
"Tante ..." suaranya serak. "Apa
benar?"
Rosnah mengangguk. "Benar. Dan tanah yang menjadi
rebutan kami sebenarnya adalah warisan untuk Susan. Tanah itu adalah milik
almarhum adik Rahmah. Ketika ia meninggal, tanah itu menjadi milik Susan. Tapi
aku dan Rahmah berselisih tentang siapa yang berhak mengelola tanah itu. Rahmah
ingin mengelolanya untuk Susan. Aku juga ingin. Kami sama-sama ingin yang
terbaik untuk Susan, tapi kami tidak bisa menyetujui cara masing-masing."
Rakuan duduk terdiam, mencerna semua informasi. Ia
membayangkan ibunya dan Rosnah—dua wanita yang dulu bersahabat—bertengkar
sengit tentang seorang anak dan sebidang tanah. Keduanya memiliki alasan yang
kuat. Keduanya mencintai Susan. Tapi cinta mereka malah menjadi sumber
perpecahan.
"Jadi ..." Rakuan berbicara pelan, "...
selama ini, aku mengira ayahku dan keluarganya yang menjadi penghalang. Tapi
sebenarnya, ini lebih rumit dari yang kukira."
Rosnah mengangguk. "Ya. Ini bukan hanya tentang cinta
atau dendam. Ini tentang keluarga. Tentang siapa yang berhak atas apa. Dan di
tengah semua itu, Susan adalah korban yang tidak bersalah."
"Apakah Susan tahu tentang ini?"
Rosnah menggeleng. "Tidak. Aku tidak pernah
memberitahunya. Dan Rahmah juga tidak. Kami sepakat untuk menyimpan rahasia
ini. Kami pikir itu lebih baik untuk Susan."
Rakuan menghela napas. "Tapi rahasia ini menghancurkan
segalanya. Hubunganku dengan Susan. Persahabatan Tante dengan ibuku. Dan
sekarang ..."
"Sekarang Rahmah akan segera pergi," kata Rosnah
dengan suara tercekat. "Aku tidak ingin ia pergi dengan dendam di hatinya.
Aku tidak ingin ia mengingatku sebagai musuh."
Rakuan meraih tangan Rosnah. "Tante, aku akan
membantu. Aku akan membawa Susan ke rumah sakit. Aku akan mempertemukan Tante
dengan ibuku. Ini waktunya untuk mengakhiri semua perselisihan ini."
Rosnah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kau
benar, Nak. Sudah waktunya."
Rakuan pamit dari rumah Rosnah dengan pikiran yang penuh.
Di perjalanan pulang, ia memikirkan semua yang telah ia dengar. Susan adalah
keponakan ibunya. Tanah yang menjadi sumber konflik adalah milik Susan. Dan di
tengah semua itu, ada Lucas yang ingin memanfaatkan situasi untuk keuntungannya
sendiri.
Ia teringat bahwa Dapoer Tepian Kapuas—restoran yang dikelola
Lucas—berdiri di atas tanah yang seharusnya menjadi milik Susan. Lucas dan
Hendri mungkin tahu tentang rahasia ini. Mereka mungkin memanfaatkannya untuk
menguasai Susan dan keluarganya.
"Lucas," gumam Rakuan dengan marah. "Aku
tidak akan membiarkanmu memanfaatkan Susan."
Ia segera pergi ke Dermaga KP3 untuk mencari Rudi. Ia butuh
bantuan sahabatnya untuk menyusun rencana.
Di warung Sungai Rindu, Rudi sedang sibuk
menyiapkan pesanan. Ketika melihat Rakuan datang dengan ekspresi serius, ia
segera meletakkan peralatannya.
"Ada apa, Ku? Kau terlihat seperti baru saja menemukan
harta karun—atau bom."
Rakuan duduk di meja kayu. "Aku baru saja bicara
dengan Rosnah, ibu Susan."
Rudi mengangkat alis. "Oh? Apa katanya?"
Rakuan menceritakan semua yang ia dengar—tentang Susan
sebagai anak angkat, tentang hubungan Susan dengan Rahmah, tentang tanah
warisan, dan tentang perselisihan yang selama ini menjadi sumber konflik.
Rudi mendengarkan dengan saksama. Ketika Rakuan selesai, ia
menghela napas panjang.
"Wow," katanya. "Aku tidak pernah menyangka
ada rahasia sebesar ini."
"Aku juga tidak," kata Rakuan. "Tapi
sekarang aku mengerti mengapa ibuku dan Rosnah begitu keras kepala. Mereka
sama-sama mencintai Susan. Mereka sama-sama ingin melindunginya. Mereka hanya
tidak tahu cara yang benar."
"Dan Lucas?"
"Lucas pasti tahu tentang ini," kata Rakuan.
"Dan ia memanfaatkannya. Ia ingin menikahi Susan untuk menguasai tanah
itu. Itu sebabnya Hendri begitu bersemangat mendukung pernikahan mereka."
Rudi mengepalkan tangannya. "Bajingan."
"Aku harus menghentikannya, Rud. Aku harus
menyelamatkan Susan dari pernikahan yang dipaksakan itu."
"Bagaimana caranya?"
Rakuan terdiam. Pikirannya bekerja cepat. "Aku akan
mempertemukan Rosnah dan ibuku di rumah sakit. Aku akan membuat mereka
berdamai. Dan aku akan memberi tahu Susan tentang semua ini. Ia berhak tahu
siapa dirinya sebenarnya."
Rudi mengangguk. "Aku mendukungmu. Apapun yang kau
butuhkan, aku di sini."
Malam itu, Rakuan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk
ibunya. Rahmah terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya semakin kurus, dan
napasnya terdengar pendek-pendek. Tapi matanya masih berbinar ketika melihat
Rakuan masuk.
"Nak ..." bisiknya. "Kau datang."
Rakuan duduk di samping ranjang dan memegang tangan ibunya.
"Ibu, aku harus bicara denganmu tentang sesuatu."
"Apa itu, Nak?"
Rakuan menarik napas panjang. "Tentang Rosnah. Tentang
Susan. Tentang semua yang terjadi di masa lalu."
Rahmah terdiam. Matanya menatap Rakuan dengan hati-hati.
"Apa yang kau ketahui?"
"Rosnah sudah cerita semuanya, Bu. Tentang Susan,
tentang tanah warisan, tentang perselisihan kalian." Rakuan menggenggam
tangan ibunya erat. "Bu, aku tahu Ibu dan Rosnah sama-sama mencintai
Susan. Aku tahu Ibu dan Rosnah sama-sama ingin yang terbaik untuknya. Tapi permusuhan
ini tidak ada gunanya. Itu hanya menyakiti semua orang—termasuk Susan."
Rahmah menunduk. Air mata mengalir di pipinya yang keriput.
"Aku tahu, Nak," bisiknya. "Aku tahu aku
salah. Aku terlalu keras kepala. Aku terlalu sombong. Aku tidak mau mendengarkan
Rosnah. Padahal sebenarnya ... sebenarnya aku hanya takut kehilangan Susan. Aku
takut jika Rosnah mengurusnya, aku tidak akan bisa melihatnya lagi."
Rakuan memeluk ibunya. "Bu, Rosnah tidak akan
mengambil Susan dari Ibu. Ia hanya ingin melindunginya. Sama seperti Ibu."
"Aku tahu," kata Rahmah. "Aku sudah
menyadarinya. Tapi terlambat. Semua sudah terjadi."
"Belum terlambat, Bu. Ibu masih bisa berdamai dengan
Rosnah. Ibu masih bisa melihat Susan. Aku akan membawa mereka ke sini. Kita
akan menyelesaikan semua ini bersama."
Rahmah menatap putranya. "Kau yakin?"
"Aku yakin."
Keesokan harinya, Rakuan menjemput Rosnah dan membawanya ke
rumah sakit. Rosnah tampak gugup—tangannya gemetar, dan ia terus memainkan
ujung kerudungnya.
"Apa kau yakin ini ide yang baik?" tanya Rosnah
untuk kesepuluh kalinya.
"Tante, ini adalah kesempatan terakhir. Ibu tidak
punya banyak waktu. Jangan biarkan penyesalan menghantui Tante seumur
hidup."
Rosnah mengangguk. Mereka memasuki ruang perawatan. Rahmah
terbaring di ranjang, tapi matanya terbuka. Ketika melihat Rosnah masuk, air
matanya langsung jatuh.
"Ros ..." bisik Rahmah.
Rosnah mendekati ranjang. Tangannya meraih tangan Rahmah.
Kedua wanita itu saling menatap dalam diam. Seribu kenangan melintas di antara
mereka—kenangan masa kecil, persahabatan, pertengkaran, dan penyesalan.
"Maafkan aku, Rah," bisik Rosnah. "Aku
seharusnya tidak bersikap keras padamu. Aku seharusnya mendengarkanmu."
Rahmah menggeleng. "Aku juga salah, Ros. Aku terlalu
sombong. Aku terlalu keras kepala. Aku seharusnya tidak menuduhmu mencuri
Susan."
"Aku mencintai Susan," kata Rosnah. "Aku
mencintainya seperti anakku sendiri."
"Aku juga," kata Rahmah. "Dia adalah
keponakanku. Aku ingin melindunginya seperti aku melindungi Rakuan."
Mereka berpelukan. Air mata mengalir deras dari kedua mata
mereka. Dan di samping mereka, Rakuan menyaksikan dengan hati yang hangat.
Akhirnya, setelah bertahun-tahun, dua sahabat itu berdamai.
Ketika Rakuan keluar dari ruangan, ia melihat Susan berdiri
di koridor. Wajahnya pucat. Matanya merah.
"Susan?" Rakuan terkejut. "Kau di sini sejak
kapan?"
Susan tidak menjawab. Ia menatap Rakuan dengan ekspresi
yang sulit dibaca—antara marah, sedih, dan bingung.
"Aku mendengar semuanya," katanya pelan.
"Aku mendengar ibuku dan ibumu berbicara. Aku mendengar bahwa aku ...
bahwa aku bukan anak kandung Rosnah. Bahwa aku keponakan Rahmah. Bahwa semua
ini adalah rahasia yang selama ini disembunyikan dariku."
Rakuan meraih tangannya. "Susan, aku ..."
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" suara Susan bergetar.
"Kenapa semua orang menyembunyikan ini dariku?"
"Karena mereka ingin melindungimu," kata Rakuan.
"Karena mereka mencintaimu. Karena mereka takut kau akan terluka."
Susan menangis. "Aku sudah terluka. Aku terluka karena
mereka tidak mempercayaiku. Aku terluka karena mereka menganggapku tidak cukup
kuat untuk menerima kebenaran."
Rakuan memeluknya erat. "Maafkan mereka, Susan. Mereka
hanya manusia. Mereka membuat kesalahan. Tapi mereka mencintaimu. Dan sekarang,
mereka sudah berdamai. Semua bisa diperbaiki."
Susan menangis di pelukannya. Dan di dalam ruangan, Rahmah
dan Rosnah juga menangis—tangisan rekonsiliasi, tangisan pengampunan, tangisan
cinta yang tak pernah padam.
BAB VI
Senja
di Dermaga, Air Mata di Hati
Malam itu, setelah semua pengakuan dan tangisan di rumah
sakit, Rakuan dan Susan berjalan keluar bersama. Udara malam terasa sejuk,
membawa aroma sungai dan dedaunan basah. Mereka berjalan tanpa arah, hanya
mengikuti langkah kaki yang membawa mereka ke tempat yang selalu menjadi saksi
bisu perjalanan mereka—Dermaga KP3.
Lampu-lampu dermaga mulai menyala satu per satu. Beberapa
warung masih buka, menyajikan makanan untuk pengunjung malam. Tapi Rakuan dan
Susan tidak memperhatikan semua itu. Mereka hanya duduk di ujung dermaga,
seperti dulu, seperti ketika mereka masih remaja dan percaya bahwa cinta bisa
mengatasi segalanya.
Susan masih diam. Air matanya sudah kering, tapi matanya
tetap sembab. Ia menggenggam tangannya sendiri, berusaha menenangkan diri.
Rakuan menatapnya dengan hati yang hancur. Ia ingin
mengatakan sesuatu, tapi kata-kata terasa hambar di tengah semua kebenaran yang
baru saja terungkap.
"Aku tidak tahu harus merasa apa," kata Susan
akhirnya. Suaranya serak, seperti baru saja menangis berjam-jam. "Aku
marah. Aku sedih. Aku bingung. Tapi di saat yang sama, aku juga lega."
"Lega?" tanya Rakuan pelan.
Susan mengangguk. "Karena akhirnya aku tahu. Aku tahu
siapa aku sebenarnya. Aku tahu mengapa ibuku—Rosnah—begitu protektif padaku.
Aku tahu mengapa ibumu—Rahmah—selalu menatapku dengan tatapan yang aneh setiap
kali kami bertemu. Semua teka-teki itu akhirnya terjawab."
Rakuan meraih tangannya. "Aku minta maaf, Sus. Aku
seharusnya memberitahumu lebih awal. Tapi aku tidak tahu bagaimana
caranya."
"Kau tidak perlu minta maaf," kata Susan.
"Kau baru tahu hari ini juga. Kau tidak menyembunyikan apapun dariku.
Mereka yang menyembunyikannya—ibuku, ibumu, semua orang dewasa di sekitar
kita."
"Aku tahu mereka salah," kata Rakuan. "Tapi
cobalah pahami. Mereka melakukannya karena mereka mencintaimu. Mereka takut kau
akan terluka. Mereka takut kau akan membenci mereka."
Susan tertawa pahit. "Dan sekarang? Aku tidak membenci
mereka. Tapi aku kecewa. Sangat kecewa."
Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat. Angin malam
bertiup pelan, membawa suara gemericik air sungai. Di kejauhan, seekor burung
malam bersuara, seperti ikut meratapi kesedihan mereka.
"Susan," kata Rakuan akhirnya, "aku ingin
bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Tentang
pernikahanmu dengan Lucas?"
Susan terdiam. Wajahnya berubah—dari sedih menjadi tegang.
"Aku tidak tahu," katanya jujur.
"Sebelumnya, aku pikir aku tidak punya pilihan. Tapi sekarang ... setelah
semua ini, setelah tahu bahwa ada orang-orang yang mencintaiku dengan
tulus—ibuku, ibumu, kau ... aku mulai berpikir bahwa mungkin aku punya hak
untuk memilih."
"Kau punya hak, Sus," kata Rakuan tegas.
"Kau punya hak untuk memilih siapa yang kau cintai. Kau punya hak untuk
memilih kebahagiaanmu. Jangan biarkan siapa pun merampas hak itu darimu."
Susan menatapnya. Matanya mencari-cari sesuatu di wajah
Rakuan—mungkin keraguan, mungkin ketulusan.
"Dan kau?" tanyanya. "Apa yang kau
inginkan?"
Rakuan menatap mata Susan dalam-dalam. Di bawah cahaya
lampu dermaga, ia melihat binar di mata wanita itu—harapan yang masih tersisa
di tengah segala keputusasaan.
"Aku ingin kau bahagia," katanya. "Aku ingin
kau bebas dari semua tekanan ini. Aku ingin ..." ia berhenti sejenak,
"... aku ingin kau memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku layak
dicintai."
Susan tidak menjawab. Tapi ia tidak melepaskan tangan
Rakuan. Dan di bawah langit malam yang bertabur bintang, mereka duduk
bersama—dua insan yang sama-sama terluka, berusaha menemukan jalan keluar dari
kegelapan.
Keesokan harinya, Rakuan bangun dengan perasaan yang lebih
ringan. Pertemuannya dengan Susan tadi malam memberinya harapan. Tapi ia tahu
bahwa perjuangan belum selesai. Masih ada Lucas. Masih ada Hendri. Masih ada
pernikahan yang direncanakan.
Ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit pagi-pagi. Ia
ingin melihat kondisi ibunya dan berbicara dengan Rosnah tentang langkah
selanjutnya.
Di rumah sakit, ia menemukan pemandangan yang mengharukan.
Rosnah duduk di samping ranjang Rahmah, memegang tangannya. Kedua wanita itu
tampak berbicara dengan tenang—seperti dua sahabat lama yang akhirnya berdamai.
"Ibu, Tante," sapa Rakuan.
Rahmah tersenyum melihat putranya. "Nak, kemarilah.
Aku dan Rosnah sedang bicara tentang masa lalu. Tentang semua yang
terjadi."
Rakuan mendekat dan duduk di kursi di sisi lain. "Apa
yang kalian bicarakan?"
Rosnah menghela napas. "Kami membicarakan Susan.
Tentang masa depannya. Tentang apa yang terbaik untuknya."
"Dan apa keputusan kalian?"
Rahmah menatap Rosnah. Rosnah mengangguk—seperti ada
kesepakatan di antara mereka.
"Kami memutuskan bahwa Susan berhak tahu
segalanya," kata Rahmah. "Dan kami memutuskan bahwa Susan berhak
memilih jalannya sendiri. Kami tidak akan memaksanya menikah dengan
Lucas."
Rakuan terkejut. "Benarkah, Bu? Tapi bagaimana dengan
Hendri? Bagaimana dengan tekanan dari keluarganya?"
Rosnah tersenyum tipis. "Aku akan berbicara dengan
Hendri. Aku akan mengatakan bahwa pernikahan itu dibatalkan. Aku tidak peduli
apa pun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkan anakku dipaksa menikahi
seseorang yang tidak dicintainya."
Rakuan merasa lega luar biasa. Akhirnya, ada keputusan
tegas dari kedua wanita itu.
"Tapi ..." Rosnah melanjutkan, "... ada satu
hal yang perlu kau lakukan, Rakuan."
"Apa itu, Tante?"
Rosnah menatapnya dengan serius. "Kau harus melindungi
Susan. Hendri dan Lucas tidak akan menerima keputusan ini dengan mudah. Mereka
akan melawan. Mereka akan berusaha merebut Susan dengan cara apa pun. Kau harus
siap menghadapi mereka."
Rakuan mengangguk tegas. "Aku siap, Tante. Aku akan
melakukan apa pun untuk melindungi Susan."
Sore itu, Rakuan dan Susan bertemu lagi di Dermaga KP3.
Mereka memilih tempat yang sama—ujung dermaga yang menghadap ke sungai.
Matahari mulai tenggelam, menciptakan langit jingga yang memukau.
"Aku sudah bicara dengan ibuku," kata Susan.
"Rosnah memberitahuku bahwa pernikahan dengan Lucas akan dibatalkan."
Rakuan mengangguk. "Aku juga mendengar dari
ibuku."
"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku," kata Susan
jujur. "Aku lega, tapi aku juga takut. Lucas tidak akan menyerah begitu
saja. Pamanku juga tidak. Mereka akan mencari cara untuk menghancurkanku."
Rakuan meraih tangannya. "Aku tidak akan membiarkan
mereka menyakitimu, Sus. Aku berjanji."
Susan menatapnya. "Kau sungguh berubah, Rakuan. Dulu,
kau selalu lari dari masalah. Sekarang, kau justru berlari menuju
masalah."
Rakuan tersenyum. "Aku belajar dari kesalahanku. Aku
belajar bahwa lari tidak pernah menyelesaikan apa pun. Dan aku belajar bahwa
..." ia menatap Susan dalam-dalam, "... bahwa orang yang kucintai
layak untuk diperjuangkan."
Susan tersipu. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang
memerah. Tapi tangannya tetap menggenggam tangan Rakuan.
"Kau tahu, Rakuan," katanya pelan, "selama
tiga tahun ini, aku selalu membayangkan pertemuan kita. Aku membayangkan bahwa
aku akan marah padamu, bahwa aku akan membentakmu, bahwa aku akan mengatakan
semua kata-kata pedas yang sudah kupendam. Tapi sekarang ... sekarang ketika
kau benar-benar di sini, aku tidak bisa melakukannya."
"Kenapa?"
Susan mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca.
"Karena aku masih mencintaimu. Aku mencintaimu meskipun kau pergi. Aku
mencintaimu meskipun kau menyakitiku. Dan aku tidak bisa membenci seseorang
yang kucintai."
Rakuan merasakan jantungnya berdetak kencang. Air mata
mengalir di pipinya.
"Aku juga mencintaimu, Susan. Aku tidak pernah
berhenti mencintaimu. Bahkan ketika aku di Jakarta, di tengah kesibukanku, di
antara gedung-gedung tinggi dan lalu lintas yang macet, aku selalu
memikirkanmu. Aku selalu merindukanmu. Dan setiap malam, aku bermimpi bahwa
suatu hari nanti, aku akan kembali dan memperbaiki semua kesalahanku."
Susan menangis. Tapi kali ini, tangisannya berbeda—bukan
tangisan kesedihan, tapi tangisan kelegaan. Tangisan kebahagiaan.
Mereka berpelukan di bawah langit senja. Angin sungai
bertiup lembut, seolah ikut merayakan rekonsiliasi mereka. Dan di kejauhan,
Dermaga KP3 berdiri kokoh, menyaksikan dua insan yang akhirnya menemukan jalan
kembali ke satu sama lain.
Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Keesokan
harinya, Rakuan menerima telepon dari Rudi yang membuatnya terkejut.
"Ku, ada masalah," kata Rudi dengan suara panik.
"Lucas tahu tentang pertemuanmu dengan Susan di dermaga. Ia tahu kalian
berpelukan. Dan ia sangat marah."
Rakuan mengepalkan tangannya. "Bagaimana ia bisa
tahu?"
"Aku tidak tahu. Mungkin seseorang melihat dan
melaporkannya. Atau mungkin ia memata-matimu. Yang jelas, ia sudah mengancam
akan menghancurkan Susan jika ia tidak segera menikah dengannya."
Rakuan merasakan darahnya mendidih. "Di mana Susan
sekarang?"
"Di rumahnya. Rosnah memintanya tinggal di rumah
sampai situasi aman. Tapi Rakuan, kau harus hati-hati. Lucas bisa melakukan apa
saja."
"Aku akan segera ke sana," kata Rakuan. "Aku
tidak akan membiarkan Lucas menyentuh Susan."
Rakuan bergegas menuju rumah Rosnah. Di perjalanan, ia
memikirkan semua yang terjadi. Lucas tahu tentang pertemuannya dengan Susan.
Lucas marah. Lucas mengancam. Ini adalah pertanda bahwa perjuangan mereka baru
saja dimulai.
Ketika ia tiba di rumah Rosnah, ia melihat Susan duduk di
teras dengan wajah cemas. Rosnah berdiri di sampingnya, memegang ponsel dengan
ekspresi tegang.
"Rakuan!" Susan berdiri ketika melihatnya.
"Aku takut. Lucas baru saja menelepon. Ia mengatakan bahwa jika aku tidak
menikah dengannya, ia akan menghancurkan restoran ibuku dan memastikan bahwa
aku tidak pernah bisa bekerja lagi di Kapuas."
Rakuan memeluknya. "Tenang, Sus. Aku di sini. Kita
akan menghadapinya bersama."
Rosnah mendekat. "Rakuan, aku sudah bicara dengan
Hendri. Ia tidak mau mendengarkan. Ia mengatakan bahwa pernikahan ini adalah
kesepakatan bisnis yang sudah disetujui. Jika kami membatalkannya, ia akan
menarik semua investasinya dari restoran dan memastikan bahwa kami
bangkrut."
Rakuan mengepalkan tangannya. Ia memikirkan semua pilihan.
Ia bisa melawan secara hukum. Ia bisa melaporkan Hendri dan Lucas ke polisi.
Tapi itu akan memakan waktu dan tidak ada jaminan berhasil.
"Ada satu cara," kata Rakuan akhirnya.
"Apa?" tanya Susan dan Rosnah bersamaan.
Rakuan menatap mereka dengan tegas. "Kita kumpulkan
bukti. Kita kumpulkan semua bukti bahwa Lucas dan Hendri melakukan praktik
curang, memonopoli bisnis, dan mengancam orang lain. Lalu kita laporkan ke
dinas perdagangan dan polisi. Tapi kita harus melakukannya dengan cepat dan
diam-diam."
Rosnah mengangguk. "Aku bisa membantu. Aku tahu banyak
tentang praktik-praktik curang Hendri. Aku sudah lama mengumpulkan informasi,
tapi aku tidak pernah berani menggunakannya."
"Bagus," kata Rakuan. "Kita mulai sekarang.
Susan, kau tinggal di sini dan jangan pergi ke mana pun tanpa aku. Aku akan ke
rumah Rudi untuk menyusun rencana."
Rakuan pergi ke warung Sungai Rindu dan
menemukan Rudi sedang sibuk menyiapkan makan malam. Ketika melihat Rakuan
datang dengan ekspresi tegang, Rudi segera meletakkan peralatannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Rudi.
Rakuan menceritakan semua yang terjadi—ancaman Lucas,
tekanan Hendri, dan rencana mereka untuk mengumpulkan bukti.
Rudi mendengarkan dengan saksama. Ketika Rakuan selesai, ia
mengangguk.
"Aku siap membantu," katanya. "Apa yang bisa
aku lakukan?"
"Kau kenal banyak orang di komunitas kuliner,"
kata Rakuan. "Kau bisa mengumpulkan informasi tentang praktik-praktik
curang Hendri. Siapa saja yang menjadi korbannya? Siapa saja yang memiliki
bukti?"
Rudi berpikir sejenak. "Ada beberapa pemasok yang
ditekan oleh Hendri. Ada juga beberapa restoran kecil yang dipaksa tutup karena
tidak mau bergabung dengan jaringan Hendri. Aku bisa menghubungi mereka."
"Lakukan," kata Rakuan. "Kita harus segera
bertindak. Semakin cepat kita mengumpulkan bukti, semakin cepat kita bisa
menghentikan Lucas."
Malam itu, Rakuan kembali ke Dermaga KP3. Ia duduk
sendirian di ujung dermaga, menatap sungai yang mengalir tenang. Pikirannya
penuh dengan rencana dan kekhawatiran.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Itu Susan.
"Rakuan," suara Susan terdengar gemetar.
"Aku baru saja menerima pesan dari Lucas. Ia mengatakan bahwa jika aku
tidak menikah dengannya, ia akan melaporkan Rosnah ke polisi karena ... karena
telah mencuri anak."
Rakuan terkejut. "Apa?"
"Dia mengatakan bahwa ia memiliki bukti bahwa Rosnah
menculikku dari panti asuhan tanpa prosedur yang sah. Aku tidak tahu apakah itu
benar. Tapi jika itu benar, Rosnah bisa dipenjara."
Rakuan merasakan kepanikan. Lucas bermain sangat kotor.
"Tenang, Susan," katanya sekuat tenaga. "Aku
akan mengurus ini. Aku tidak akan membiarkan Lucas menyentuh Rosnah."
Ia mematikan telepon dan mulai merencanakan langkah
selanjutnya. Perjuangan mereka semakin berat. Tapi Rakuan tidak akan menyerah.
Ia berjanji pada dirinya sendiri—ia akan melindungi Susan, ia akan melindungi
Rosnah, dan ia akan menghentikan Lucas dengan cara apa pun.
Di ujung dermaga, di bawah langit malam yang gelap, Rakuan
berdoa. Ia berdoa untuk ibunya yang sakit. Ia berdoa untuk Susan yang
ketakutan. Ia berdoa untuk Rosnah yang terancam. Dan ia berdoa untuk kekuatan
untuk menghadapi semua ini.
"Tuhan," bisiknya, "beri aku kekuatan. Beri
aku keberanian. Dan tolonglah aku untuk melindungi orang-orang yang
kucintai."
Angin malam bertiup, seolah menjawab doanya. Dan di
kejauhan, lampu-lampu Dermaga KP3 terus menyala, menjadi saksi bisu perjuangan
yang baru saja dimulai.
BAB VII
Ambisi
dan Pengkhianatan
Malam itu, Rakuan tidak bisa tidur. Ancaman Lucas
terngiang-ngiang di kepalanya. Lucas akan melaporkan Rosnah ke polisi karena menculik
Susan. Lucas akan menghancurkan bisnis Rosnah. Lucas akan melakukan apa saja
untuk memaksa Susan menikah dengannya.
Rakuan bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke beranda
rumah tuanya. Udara malam terasa dingin, membawa aroma sungai yang khas. Di
kejauhan, lampu-lampu Dermaga KP3 masih menyala, seperti bintang-bintang yang
jatuh ke bumi.
Ia memikirkan semua pilihan yang ada. Mengumpulkan bukti.
Melaporkan Lucas ke polisi. Melawan secara hukum. Tapi semua itu membutuhkan
waktu. Sementara itu, Lucas terus mengancam.
"Ada cara lain," gumamnya. "Aku harus
menghadapi Lucas secara langsung."
Ia memutuskan bahwa besok pagi, ia akan pergi ke Dapoer
Tepian Kapuas dan berbicara dengan Lucas. Ia akan menghadapi pria itu secara
langsung. Ia akan membuatnya mengerti bahwa ia tidak akan menyerah.
Pagi itu, Rakuan berpakaian rapi. Ia memakai kemeja putih
dan celana hitam—penampilan yang tegas dan profesional. Sebelum pergi, ia
menelepon Rudi.
"Rud, aku akan pergi ke Dapoer Tepian Kapuas. Aku akan
bicara dengan Lucas."
Rudi terdiam sejenak. "Kau yakin, Ku? Itu berbahaya.
Lucas bisa melakukan apa saja."
"Aku tidak punya pilihan, Rud. Aku harus
menghentikannya. Aku tidak bisa membiarkan Susan dan Rosnah terus-menerus
terancam."
"Baik. Tapi hati-hati. Telepon aku jika ada
apa-apa."
"Pasti."
Rakuan mematikan telepon dan berjalan menuju Dapoer Tepian
Kapuas.
Restoran itu masih sepi di pagi hari. Beberapa karyawan
sedang membersihkan meja dan menyiapkan bahan-bahan untuk jam makan siang.
Rakuan melangkah masuk, matanya mencari Lucas.
Ia menemukannya di belakang meja kasir, sedang memeriksa
buku catatan. Ketika melihat Rakuan masuk, Lucas mengangkat alisnya dengan
ekspresi terkejut—tapi segera berubah menjadi senyum sinis.
"Rakuan," sapa Lucas dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Kedatanganmu sungguh mengejutkan. Ada yang bisa aku bantu?"
Rakuan melangkah mendekat. Ia berdiri di hadapan Lucas,
menatap matanya langsung.
"Aku ingin bicara tentang Susan," kata Rakuan
datar.
Lucas tersenyum. "Oh, Susan. Tentu. Apa tentang
dia?"
"Kau mengancamnya. Kau mengancam Rosnah. Kau
mengatakan akan melaporkan Rosnah ke polisi. Kau melakukan semua ini untuk
memaksa Susan menikah denganmu."
Lucas tertawa kecil. "Kau datang ke sini untuk
mengancamku? Atau untuk memintaku berhenti?"
"Aku datang untuk mengatakan bahwa kau tidak akan
berhasil," kata Rakuan dengan suara dingin. "Susan tidak akan menikah
denganmu. Rosnah tidak akan takut pada ancamanmu. Dan aku ... aku akan
melakukan apa saja untuk menghentikanmu."
Lucas berhenti tertawa. Ekspresinya berubah—dari sinis
menjadi marah.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku?" tanyanya
dengan suara rendah. "Kau hanyalah arsitek gagal yang kembali ke kampung
halaman karena tidak punya tempat lain. Aku memiliki segalanya—uang, kekuasaan,
pengaruh. Aku bisa menghancurkanmu dalam sekejap."
"Silakan coba," kata Rakuan tenang. "Tapi
ingat, Lucas. Setiap tindakan ada konsekuensinya. Jika kau menyakiti Susan,
jika kau menyakiti Rosnah, jika kau menyakiti siapa pun yang kucintai, aku akan
memastikan bahwa kau membayarnya."
Mereka saling menatap dalam diam. Udara di antara mereka
terasa panas. Seolah-olah listrik mengalir di antara dua pria yang saling
membenci.
Akhirnya, Lucas tersenyum lagi—tapi kali ini, senyumnya
lebih dingin dan lebih berbahaya.
"Kau membuat kesalahan besar, Rakuan," katanya.
"Kau seharusnya tidak menantangku."
Rakuan keluar dari Dapoer Tepian Kapuas dengan perasaan
yang campur aduk. Ia merasa lega karena sudah menghadapi Lucas secara langsung.
Tapi ia juga merasa cemas. Ancaman Lucas terasa nyata.
Ia segera menelepon Rudi.
"Rud, aku sudah bicara dengan Lucas. Ia tidak akan
menyerah. Kita harus segera bergerak."
"Aku sudah mengumpulkan beberapa informasi," kata
Rudi. "Ada beberapa pemasok yang bersedia memberikan kesaksian tentang
praktik curang Hendri. Tapi kita butuh bukti yang lebih kuat."
"Apa yang bisa kita lakukan?"
"Ada satu orang. Namanya Toni. Ia adalah mantan
karyawan Dapoer Tepian Kapuas. Ia tahu banyak tentang praktik-praktik gelap
Lucas dan Hendri. Tapi ia takut untuk berbicara."
"Di mana aku bisa menemukannya?"
"Aku tahu alamatnya. Aku akan mengirimkannya
padamu."
Rakuan segera menuju alamat yang diberikan Rudi. Rumah Toni
terletak di pinggiran Kuala Kapuas, sebuah rumah kayu kecil yang tampak
sederhana. Ketika Rakuan tiba, ia melihat seorang pria paruh baya duduk di
beranda, merokok dengan ekspresi gelisah.
"Toni?" sapa Rakuan.
Pria itu mengangkat kepalanya. Matanya tampak waspada.
"Siapa kau?"
"Aku Rakuan. Teman Rudi. Aku ingin bicara denganmu
tentang Dapoer Tepian Kapuas."
Toni langsung berdiri. Ekspresinya berubah—dari waspada
menjadi takut.
"Aku tidak tahu apa-apa," katanya cepat.
"Aku tidak mau terlibat."
Rakuan mendekat. "Toni, aku tahu kau takut. Tapi aku
juga tahu bahwa kau tahu banyak tentang praktik curang Lucas dan Hendri. Aku
butuh bantuanmu. Aku butuh bukti untuk menghentikan mereka."
Toni menggeleng. "Mereka berbahaya, Nak. Aku melihat
sendiri apa yang mereka lakukan pada orang yang melawan mereka. Aku tidak mau
jadi korban berikutnya."
"Aku akan melindungimu," kata Rakuan tegas.
"Aku akan memastikan bahwa kau aman. Tapi aku tidak bisa melakukannya
sendirian. Aku butuh bantuanmu."
Toni terdiam. Ia menatap Rakuan dengan mata yang penuh
keraguan.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya akhirnya.
"Kenapa kau mau mengambil risiko?"
"Karena ada orang yang kucintai yang terancam oleh
mereka," kata Rakuan. "Karena aku tidak bisa diam ketika orang-orang
yang aku sayangi disakiti. Dan karena ... aku percaya bahwa keadilan harus
ditegakkan."
Toni menghela napas panjang. Ia membuang puntung rokoknya
dan menginjaknya.
"Baik," katanya. "Aku akan membantumu. Tapi
kau harus berjanji bahwa kau akan melindungiku dan keluargaku."
"Aku berjanji," kata Rakuan.
Mereka pun mulai berbicara. Toni menceritakan
semuanya—tentang bagaimana Lucas dan Hendri memonopoli bisnis kuliner di Kuala
Kapuas, tentang bagaimana mereka menekan pemasok, tentang bagaimana mereka
menyuap pejabat, dan tentang bagaimana mereka mengancam siapa saja yang berani
melawan.
Rakuan mencatat semuanya dengan saksama. Di dalam hatinya,
ia bersyukur karena akhirnya ada harapan.
Sementara itu, di rumah Rosnah, Susan merasa semakin
tertekan. Lucas terus mengirim pesan ancaman. Hendri juga menelepon Rosnah,
mengatakan bahwa jika pernikahan dibatalkan, ia akan menarik semua investasinya
dan memastikan bahwa keluarga Rosnah bangkrut.
"Bu, aku takut," kata Susan dengan suara gemetar.
"Apa yang akan terjadi pada kita?"
Rosnah memeluk putrinya. "Tenang, Nak. Kita akan
melewati ini. Rakuan sedang berusaha mengumpulkan bukti. Kita harus percaya
padanya."
"Tapi bagaimana jika ia tidak berhasil? Bagaimana jika
Lucas benar-benar menghancurkan kita?"
Rosnah menatap mata putrinya. "Kau tahu, Susan, selama
bertahun-tahun, aku selalu berpikir bahwa melindungimu berarti menyembunyikan
kebenaran. Tapi sekarang aku sadar bahwa melindungimu berarti membantumu
menjadi kuat. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkanmu—termasuk
Lucas."
Susan menangis di pelukan ibunya. Ia merasa lemah, tapi di
saat yang sama, ia juga merasa ada kekuatan baru yang tumbuh di dalam dirinya.
"Bu, aku mencintai Rakuan," katanya. "Aku
tidak bisa membayangkan hidup tanpanya."
"Aku tahu, Nak. Dan aku percaya bahwa Rakuan akan
melakukan apa saja untuk melindungimu."
Malam itu, Rakuan kembali ke Dermaga KP3. Ia membawa semua
catatan yang ia peroleh dari Toni. Ia duduk di ujung dermaga, membaca ulang
semua informasi yang ia kumpulkan. Ada banyak bukti—tapi semuanya masih berupa
kesaksian. Ia butuh bukti tertulis.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Itu Rudi.
"Ku, aku punya kabar buruk," kata Rudi dengan
suara tegang. "Lucas tahu bahwa kau bertemu dengan Toni. Ia mengancam akan
menghancurkan Toni dan keluarganya."
Rakuan terkejut. "Bagaimana ia bisa tahu?"
"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, ia punya mata dan
telinga di mana-mana. Kau harus berhati-hati."
"Aku akan melindungi Toni," kata Rakuan.
"Tapi kita harus segera bertindak. Kita tidak bisa membiarkan Lucas terus
mengancam orang-orang."
"Baik. Aku akan mengumpulkan semua orang yang bersedia
memberikan kesaksian. Kita akan mengadakan pertemuan besok malam di
warungku."
"Setuju."
Keesokan malamnya, sekelompok orang berkumpul di
warung Sungai Rindu. Ada Toni dan beberapa pemasok lain yang pernah
menjadi korban praktik curang Hendri dan Lucas. Ada juga beberapa restoran
kecil yang dipaksa tutup. Semua datang dengan harapan yang sama—keadilan.
Rakuan berdiri di depan mereka. "Terima kasih sudah
datang. Aku tahu ini berbahaya. Aku tahu kalian semua takut. Tapi kita tidak
bisa terus diam. Kita harus bersatu melawan mereka."
Toni berdiri. "Aku bersedia memberikan kesaksian. Aku
sudah lelah hidup dalam ketakutan."
Pemasok lain juga mengangguk. "Aku juga. Aku sudah
kehilangan banyak karena Hendri. Aku tidak mau kehilangan lebih banyak
lagi."
Rakuan tersenyum. "Terima kasih. Dengan kesaksian
kalian, kita bisa menghentikan mereka. Kita bisa mengembalikan keadilan di
Kuala Kapuas."
Pertemuan itu berlangsung hingga larut malam. Ketika semua
orang pulang, Rudi mendekati Rakuan.
"Kau tahu, Ku, ini berbahaya. Kau menantang orang yang
sangat berkuasa."
"Aku tahu, Rud. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku
harus melindungi Susan dan semua orang yang kucintai."
Rudi menepuk bahunya. "Aku bangga padamu, Ku. Kau
benar-benar berubah."
Namun, di balik semua persiapan itu, ada pengkhianatan yang
tidak mereka sadari. Salah satu pemasok yang hadir dalam pertemuan itu ternyata
adalah mata-mata Lucas. Ia melaporkan semua yang terjadi kepada Lucas.
Keesokan paginya, Rakuan terbangun dengan ponsel yang
berdering deras. Itu Susan.
"Rakuan!" suara Susan panik. "Lucas tahu
tentang pertemuanmu! Ia mengancam akan menghancurkan semua orang yang hadir!
Dan ia mengatakan ... ia mengatakan bahwa ia akan membunuhmu!"
Rakuan merasakan darahnya membeku. Ia tahu Lucas berbahaya.
Tapi ia tidak menyangka akan sejauh ini.
"Tenang, Susan," katanya sekuat tenaga. "Aku
akan mengurus ini. Kau tetap di rumah dan jangan pergi ke mana-mana."
"Rakuan, aku takut. Aku takut kehilanganmu."
"Kau tidak akan kehilanganku, Sus. Aku berjanji."
Ia mematikan telepon dan segera berpakaian. Ia harus segera
pergi. Ia harus melindungi semua orang yang terlibat dalam pertemuan itu.
Rakuan berlari menuju warung Sungai Rindu. Ia
menemukan Rudi sedang sibuk menelepon semua orang yang hadir dalam pertemuan
semalam.
"Rud, apa yang terjadi?" tanya Rakuan.
Rudi menggeleng. "Buruk, Ku. Lucas sudah mengancam
semua orang. Beberapa pemasok sudah menarik diri. Mereka takut. Toni juga
menghilang. Aku tidak bisa menghubunginya."
Rakuan merasakan kepanikan. Semua rencana mereka hancur
dalam semalam.
"Kita harus menemukan Toni," katanya. "Ia
adalah saksi kunci. Tanpa dia, kita tidak punya bukti yang cukup."
"Aku sudah mencari," kata Rudi. "Tapi tidak
ada yang tahu di mana ia berada."
Rakuan mengepalkan tangannya. Lucas telah memenangkan
pertempuran ini. Tapi perang belum usai.
"Aku akan menemukannya," kata Rakuan tegas.
"Apapun yang terjadi, aku akan menemukan Toni dan membuatnya bersaksi. Aku
tidak akan menyerah."
BAB VIII
Ibu
yang Sekarat
Rakuan tidak pernah membayangkan bahwa hari itu akan menjadi
hari terburuk dalam hidupnya.
Ia sedang dalam perjalanan menuju rumah Toni ketika
ponselnya berdering. Nomor rumah sakit muncul di layar. Dengan tangan gemetar,
ia menjawab panggilan itu.
"Selamat pagi, Bapak Rakuan," suara perawat
terdengar di seberang sana. "Ibu Bapak kondisinya menurun drastis. Dokter
meminta Bapak segera ke rumah sakit."
Rakuan merasakan jantungnya berhenti berdetak. "Aku
akan segera ke sana," katanya dengan suara tercekik.
Ia langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju
rumah sakit. Setiap langkah terasa berat. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan
ibunya—wajahnya yang lemah, tangannya yang dingin, senyumnya yang perlahan
memudar.
"Tuhan, tolong," bisiknya di antara helaan napas
yang tersengal. "Jangan ambil ibuku. Belum sekarang. Aku belum siap."
Rakuan tiba di rumah sakit dengan napas tersengal. Ia
berlari melewati koridor menuju ruang perawatan ibunya. Di depan pintu, ia
melihat Rosnah duduk di kursi, menangis. Di sampingnya, Susan berdiri dengan
wajah pucat, memegang tangan Rosnah.
"Rakuan!" Susan memanggilnya. "Aku turut
berduka. Ibu minta kau masuk."
Rakuan tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu dan melangkah
masuk.
Ruang perawatan terasa sunyi. Hanya suara alat-alat medis
yang berbunyi teratur. Di ranjang, Rahmah terbaring dengan tubuh yang semakin
kurus. Matanya setengah terbuka, dan ketika melihat Rakuan masuk, ia
tersenyum—senyum lemah yang membuat hati Rakuan hancur.
"Ibu ..." Rakuan berlutut di samping ranjang dan
meraih tangan ibunya. "Ibu, aku di sini. Aku tidak akan pergi."
Rahmah menggenggam tangan putranya dengan sisa kekuatannya.
Matanya menatap Rakuan dengan penuh cinta.
"Nak ..." bisiknya, suaranya hampir tidak
terdengar. "Aku ... aku ingin kau tahu sesuatu."
"Apa, Bu?" Rakuan menahan tangisnya. "Apa
pun, Bu. Aku akan mendengarkan."
Rahmah menarik napas panjang. "Aku ... aku dan Rosnah
... kami bersahabat."
Rakuan mengangguk. "Aku tahu, Bu. Rosnah sudah
bercerita padaku."
"Tapi ... ada yang tidak kau tahu." Rahmah
batuk-batuk pelan. "Tanah itu ... bukan masalahnya. Masalahnya ... adalah
aku."
Rakuan bingung. "Apa maksud Ibu?"
Rahmah menutup matanya sejenak. Ketika membukanya lagi, air
mata mengalir di pipinya yang keriput.
"Aku tidak pernah cukup kuat untuk melawan
ayahmu," katanya. "Aku tahu Samsudin bersalah. Aku tahu ia memaksa
Rosnah menjual tanahnya untuk membayar utang judinya. Tapi aku tidak berani
melawannya. Aku takut."
Rakuan terdiam. Kata-kata ibunya seperti pukulan keras di
dadanya.
"Apa?" suaranya bergetar. "Ayahku ... yang
melakukan itu?"
Rahmah mengangguk pelan. "Ia berutang banyak, Nak. Ia
kalah judi. Ia memaksa Rosnah menjual tanah warisan untuk membayar utangnya.
Aku tahu itu salah. Aku ingin menghentikannya. Tapi aku ... aku tidak cukup
kuat."
Rakuan merasakan dunia berputar di sekelilingnya. Ia tidak
percaya. Ayahnya—Samsudin, nelayan tua yang keras kepala itu—ternyata memiliki
sisi gelap. Ia bukan hanya orang tua yang tidak setuju dengan pilihan Rakuan.
Ia adalah orang yang merusak persahabatan ibunya dengan Rosnah. Ia adalah orang
yang menyebabkan semua penderitaan ini.
"Kenapa, Bu?" Rakuan menangis. "Kenapa Ibu
tidak mengatakan ini padaku sejak dulu?"
"Aku malu, Nak. Aku malu pada Rosnah. Aku malu pada
diriku sendiri. Dan aku takut ... takut kau akan membenci ayahmu."
Rakuan menggenggam tangan ibunya erat-erat. "Aku tidak
membencimu, Bu. Aku hanya ... aku hanya tidak mengerti. Kenapa Ibu tidak
melawan?"
Rahmah tersenyum sedih. "Karena aku mencintai ayahmu,
Nak. Meskipun ia tidak sempurna. Meskipun ia melakukan banyak kesalahan. Aku tetap
mencintainya. Dan aku tidak ingin melihatnya hancur."
Rakuan menunduk. Air matanya jatuh ke tangan ibunya.
"Maafkan aku, Bu," bisiknya. "Maafkan aku
yang tidak pernah ada di sini untuk Ibu. Maafkan aku yang lari dari semua
masalah. Maafkan aku yang membuat Ibu khawatir."
Rahmah menggeleng. "Tidak ada yang perlu dimaafkan,
Nak. Kau adalah anak terbaik yang pernah aku miliki. Aku bangga padamu. Aku
selalu bangga padamu."
Di luar ruangan, Rosnah dan Susan masih menunggu dengan
cemas. Ketika pintu terbuka dan Rakuan keluar dengan mata sembab, Susan segera
mendekat.
"Rakuan, bagaimana keadaan ibumu?" tanyanya.
Rakuan tidak menjawab. Ia hanya memeluk Susan erat-erat dan
menangis di bahunya.
"Susan ..." isaknya. "Ibuku ... ia ..."
Susan tidak perlu mendengar lebih lanjut. Ia memeluk Rakuan
balik, membiarkannya menangis sepuasnya. Di samping mereka, Rosnah juga
menangis. Ia tahu bahwa sahabatnya akan segera pergi.
"Rakuan," kata Rosnah pelan, "aku harus
masuk. Aku harus bicara dengan Rahmah. Sekarang atau tidak pernah."
Rakuan mengangguk. Ia melepaskan pelukannya dan membiarkan
Rosnah masuk.
Di dalam ruangan, Rosnah duduk di samping ranjang Rahmah.
Kedua wanita itu saling menatap. Ada ribuan kata yang tidak terucap di antara
mereka.
"Rah," bisik Rosnah. "Aku di sini."
Rahmah tersenyum. "Ros ... aku minta maaf. Aku minta
maaf untuk semua yang terjadi. Aku seharusnya melawan Samsudin. Aku seharusnya
membelamu. Tapi aku ... aku terlalu lemah."
Rosnah meraih tangan Rahmah. "Kau tidak lemah, Rah.
Kau adalah wanita terkuat yang aku kenal. Kau bertahan dengan semua ini. Kau
membesarkan Rakuan sendirian. Kau menghadapi semua kesulitan. Kau bukan orang
yang lemah."
"Aku meninggalkanmu," kata Rahmah dengan air
mata. "Aku membiarkan Samsudin mengambil tanahmu. Aku membiarkan
persahabatan kita hancur."
"Itu bukan salahmu," kata Rosnah. "Kau
korban, sama sepertiku. Samsudin adalah orang yang salah. Dan aku ... aku juga
salah. Aku seharusnya tidak membiarkan dendam menghancurkan persahabatan kita.
Aku seharusnya tetap berteman denganmu, apa pun yang terjadi."
Mereka berpelukan—dua sahabat yang akhirnya saling
memaafkan di saat-saat terakhir.
"Ros ..." bisik Rahmah, "aku titip Rakuan
padamu. Aku titip Susan padamu. Jaga mereka. Lindungi mereka. Mereka adalah
masa depan kita."
"Aku akan menjaganya," janji Rosnah. "Aku
berjanji."
Di luar ruangan, Rakuan duduk di kursi koridor dengan
kepala tertunduk. Susan duduk di sampingnya, memegang tangannya erat. Rudi juga
datang setelah mendengar kabar itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rudi pelan.
Rakuan menggeleng. "Ia ... ia sudah sangat lemah.
Dokter mengatakan ... waktunya mungkin tidak lama lagi."
Rudi menepuk bahu sahabatnya. "Aku turut berduka,
Ku."
Mereka duduk dalam diam. Hanya suara alat-alat medis dari
dalam ruangan yang terdengar samar.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Rosnah keluar dengan mata
sembab. Ia berjalan mendekati Rakuan.
"Rakuan," katanya, "ibumu minta kau masuk.
Ia ingin bicara denganmu. Dan ..." ia menatap Rudi, "... ia juga
ingin bicara dengan ayahmu. Samsudin. Apakah kau bisa menghubunginya?"
Rakuan terdiam. Ia belum siap bertemu ayahnya. Tapi ini
adalah permintaan terakhir ibunya.
"Aku akan mencoba," katanya.
Rakuan menelepon Samsudin. Telepon berdering beberapa kali
sebelum akhirnya diangkat.
"Ya?" suara Samsudin terdengar serak.
"Ayah," kata Rakuan dengan suara berat. "Ibu
minta Ayah datang ke rumah sakit. Sekarang."
Samsudin terdiam sejenak. "Apa yang terjadi?"
"Ibu ... kondisinya memburuk. Ia mungkin tidak akan
bertahan lama."
Ada keheningan panjang di seberang sana. Kemudian Rakuan
mendengar suara isak tangis—isak tangis seorang pria tua yang tidak pernah
menunjukkan kelemahannya di depan siapa pun.
"Aku akan segera ke sana," kata Samsudin
akhirnya.
Telepon ditutup. Rakuan menatap ponselnya dengan perasaan
yang rumit. Ia marah pada ayahnya. Tapi di saat yang sama, ia juga merasa
kasihan.
Samsudin tiba setengah jam kemudian. Ia berjalan dengan
langkah tergagap—tubuhnya yang tua dan lemah tidak lagi sekokoh dulu. Ketika ia
melihat Rakuan di koridor, mereka saling menatap dalam diam.
"Ayah," sapa Rakuan dingin.
Samsudin mengangguk. "Bagaimana keadaannya?"
"Parah." Rakuan menatap ayahnya tajam.
"Ayah, Ibu sudah menceritakan semuanya padaku. Tentang tanah. Tentang
utang judi Ayah. Tentang semua yang Ayah lakukan pada Rosnah."
Samsudin terdiam. Wajahnya berubah—dari sedih menjadi penuh
penyesalan.
"Aku ..." ia mencoba berbicara, tapi kata-kata
tercekat di tenggorokannya. "Aku minta maaf, Nak."
"Maaf?" Rakuan tertawa pahit. "Kata-kata itu
tidak cukup, Ayah. Ayah menghancurkan persahabatan Ibu dengan Rosnah. Ayah
menyebabkan semua penderitaan ini. Dan Ayah membiarkan Ibu memikul beban itu
sendirian."
"Aku tahu," kata Samsudin dengan suara bergetar.
"Aku tahu aku salah. Aku tahu aku tidak pantas diampuni. Tapi aku ... aku
mencintai ibumu. Aku selalu mencintainya. Dan aku menyesali semua yang telah
kulakukan."
Rakuan menatap ayahnya. Ia melihat air mata di mata pria
tua itu—air mata yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Samsudin, nelayan keras
kepala yang selalu terlihat kuat, ternyata juga bisa menangis.
"Ayah," kata Rakuan akhirnya, "Ibu minta
Ayah masuk. Ia ingin bicara dengan Ayah. Sekarang."
Samsudin mengangguk. Ia berjalan perlahan menuju ruangan,
membuka pintu, dan masuk.
Di dalam ruangan, Samsudin duduk di samping ranjang
istrinya. Rahmah membuka matanya dan tersenyum ketika melihat suaminya.
"Sam," bisiknya. "Kau datang."
Samsudin meraih tangan istrinya dan menciumnya. Air matanya
jatuh ke tangan Rahmah.
"Maafkan aku, Rah," katanya. "Maafkan aku
untuk semua yang kulakukan. Maafkan aku yang tidak pernah menjadi suami yang
baik. Maafkan aku yang menyebabkan semua ini."
Rahmah menggeleng. "Tidak ada yang perlu dimaafkan,
Sam. Aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Aku mencintaimu. Dan aku tahu kau juga
mencintaiku."
Samsudin menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia
menunjukkan kelemahannya di depan siapa pun.
"Aku tidak pantas mendapatkanmu, Rah," katanya.
"Aku tidak pantas mendapatkan cintamu."
Rahmah tersenyum lemah. "Kau pantas, Sam. Kau pantas
mendapatkan cinta. Kita semua pantas mendapatkan cinta."
Ia menggenggam tangan suaminya erat-erat. Dan dalam
keheningan ruangan itu, mereka saling memaafkan—dua manusia yang telah melalui
banyak hal bersama.
Rakuan, Rosnah, dan Susan masih menunggu di luar. Tidak ada
yang berbicara. Mereka hanya saling memandang, saling menguatkan dalam diam.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Samsudin keluar dengan
mata sembab. Ia berjalan mendekati Rakuan dan meraih tangannya.
"Nak," katanya dengan suara serak, "ibumu
meminta kau dan Susan masuk. Ia ingin melihat kalian berdua."
Rakuan mengangguk. Ia meraih tangan Susan dan membawanya
masuk.
Di dalam ruangan, Rahmah terbaring dengan senyum di
wajahnya. Ketika melihat Rakuan dan Susan masuk, matanya berbinar.
"Anak-anakku," bisiknya. "Kemarilah."
Rakuan dan Susan berlutut di samping ranjang. Mereka
memegang tangan Rahmah bersama-sama.
"Bu," kata Rakuan, "aku dan Susan di
sini."
Rahmah menatap mereka berdua. Matanya penuh dengan cinta
dan kebahagiaan.
"Aku ... aku sangat bahagia melihat kalian
bersama," katanya. "Aku selalu ingin ini terjadi. Aku selalu ingin
melihat anakku bahagia dengan wanita yang dicintainya."
Susan menangis. "Tante ..."
Rahmah menggeleng. "Panggil aku Ibu, Nak. Karena kau
adalah anakku juga."
Susan tersenyum di antara air matanya. "Ibu ..."
Rahmah memegang tangan mereka berdua. "Jaga satu sama
lain. Cintai satu sama lain. Dan jangan biarkan apa pun memisahkan kalian. Kau
dengar?"
Kami berjanji, Bu," kata Rakuan. "Kami akan
saling menjaga."
Rahmah tersenyum. Matanya mulai terpejam perlahan.
"Aku ... aku mencintai kalian ..." bisiknya.
"Semua ... semua ..."
Tangannya lemas. Napasnya berhenti.
Rakuan merasakan dunia runtuh di sekelilingnya. Ia memeluk
ibunya dan menangis sejadi-jadinya.
"Ibu ... Ibuu ..."
Susan juga menangis. Di luar ruangan, Rosnah dan Samsudin
menangis. Dan di koridor rumah sakit, Rudi menangis.
Rahmah telah pergi. Tapi cintanya akan selalu ada.
Keluarga itu berkumpul di ruang tunggu. Tidak ada yang
berbicara. Kesedihan menyelimuti mereka seperti selimut tebal.
Akhirnya, Samsudin berdiri. Ia berjalan mendekati Rosnah.
"Ros," katanya dengan suara bergetar, "aku
minta maaf. Aku minta maaf untuk semua yang kulakukan. Aku tahu kata-kata tidak
cukup. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku menyesal. Aku menyesal telah merusak
persahabatanmu dengan Rahmah."
Rosnah menatapnya lama. Kemudian ia mengangguk.
"Aku memaafkanmu, Sam," katanya. "Bukan
karena kau pantas diampuni. Tapi karena Rahmah sudah memaafkanmu. Dan karena
aku tidak mau membawa dendam ke kubur."
Samsudin menangis. Ia memeluk Rosnah dan meminta maaf
berulang kali.
Di sudut ruangan, Rakuan dan Susan saling berpelukan.
Mereka telah kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai. Tapi di tengah
kesedihan, ada juga kelegaan—kelegaan bahwa akhirnya semua rahasia terungkap,
semua dendam berakhir, dan semua orang saling memaafkan.
BAB IX
Pengakuan
Samsudin
Tiga hari telah berlalu sejak kepergian Rahmah. Rumah tua
di tepian Sungai Kapuas terasa lebih sunyi dari biasanya. Rakuan duduk di
beranda, menatap sungai yang mengalir tenang. Di tangannya, ia memegang foto
terakhir bersama ibunya—foto yang diambil ketika ia masih kecil, sebelum semua
kerumitan hidup menghampiri.
Susan duduk di sampingnya, tidak bicara. Ia hanya
menggenggam tangan Rakuan, memberikan kehangatan yang sangat ia butuhkan.
"Aku masih tidak percaya ia pergi," kata Rakuan
pelan. "Setiap pagi, aku bangun dan berharap mendengar suaranya
memanggilku dari dapur. Tapi yang ada hanya keheningan."
Susan memeluk lengannya. "Aku tahu, Sayang. Aku juga
merindukannya. Tapi ia pergi dengan damai. Ia pergi setelah menyelesaikan semua
yang perlu diselesaikan. Itu adalah anugerah."
Rakuan mengangguk. "Aku tahu. Tapi masih terasa
berat."
Mereka duduk dalam diam. Angin sore bertiup lembut, membawa
aroma sungai dan dedaunan. Di kejauhan, burung-burung mulai pulang ke sarang
mereka.
Tiba-tiba, Rakuan melihat sesosok pria berjalan perlahan
menuju rumahnya. Pria itu berusia lanjut, dengan langkah tergagap dan tubuh
yang membungkuk. Ia mengenakan pakaian sederhana—kemeja lusuh dan celana
panjang yang sudah pudar.
Samsudin.
Rakuan merasa dadanya sesak. Sejak pemakaman ibunya tiga
hari lalu, ia belum berbicara dengan ayahnya. Ada begitu banyak yang harus
diucapkan, tapi kata-kata terasa sulit.
Samsudin berhenti di depan tangga rumah. Ia menatap
putranya dengan mata yang sembab—mata yang telah menangis banyak dalam beberapa
hari terakhir.
"Nak," sapanya pelan. "Bolehkah aku bicara
denganmu?"
Rakuan menatap Susan. Susan mengangguk, memberikan dukungan
diam. Rakuan berdiri dan berjalan menuruni tangga.
"Iya, Ayah," katanya datar. "Mari kita duduk
di sini."
Mereka duduk di kursi kayu di halaman. Samsudin tampak
gelisah, tangannya memainkan ujung bajunya.
"Rakuan," Samsudin memulai, "aku tahu kau
marah padaku. Kau berhak marah. Aku telah melakukan banyak kesalahan. Aku telah
menyakiti banyak orang—ibumu, Rosnah, kau, dan juga Susan."
Rakuan tidak menjawab. Ia hanya menatap ayahnya dengan
ekspresi sulit dibaca.
"Tapi aku tidak ingin kau membenci aku selamanya,"
lanjut Samsudin. "Aku tidak ingin kau pergi dari hidupku seperti kau pergi
tiga tahun lalu. Aku sudah kehilangan ibumu. Aku tidak mau kehilangan anakku
juga."
"Ayah," kata Rakuan akhirnya, suaranya bergetar,
"kenapa Ayah melakukan semua itu? Kenapa Ayah memaksa Rosnah menjual
tanahnya? Kenapa Ayah membiarkan Ibu dan Rosnah berseteru? Kenapa Ayah tidak
pernah mengatakan kebenaran?"
Samsudin menunduk. Air mata mengalir di pipinya yang
keriput.
"Aku ... aku adalah orang yang lemah, Nak,"
katanya dengan suara serak. "Aku adalah nelayan miskin yang tidak punya
apa-apa. Aku bertemu ibumu ketika aku masih muda. Ia adalah wanita cantik dari
keluarga yang lebih berada. Aku tidak pernah mengerti kenapa ia mau menikah
denganku. Tapi ia mencintaiku. Dan aku mencintainya."
Rakuan terdiam. Ia tidak pernah mendengar ayahnya berbicara
seperti ini—dengan kerentanan, dengan kejujuran.
"Tapi cinta tidak cukup," lanjut Samsudin.
"Aku ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk ibumu. Aku ingin
membelikannya rumah yang lebih baik, pakaian yang lebih bagus, makanan yang
lebih enak. Tapi aku tidak punya uang. Aku hanya nelayan. Penghasilanku
pas-pasan."
"Lalu Ayah berjudi?" tanya Rakuan dengan nada
getir.
Samsudin mengangguk. "Aku pikir judi adalah jalan
pintas. Aku pikir aku bisa cepat kaya. Tapi aku salah. Aku justru kehilangan
segalanya. Aku berutang banyak. Dan ketika para rentenir datang menagih, aku
panik. Aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Jadi Ayah memaksa Rosnah menjual tanahnya?"
Samsudin menangis. "Aku tahu itu salah. Aku tahu itu
keji. Tapi aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak membayar utang, mereka akan
melukai keluargaku—ibumu, kau, semua orang. Aku memilih untuk menyakiti Rosnah
daripada menyakiti kalian."
Rakuan menutup matanya. Ia merasakan campuran emosi—marah,
sedih, kecewa, dan juga sedikit kasihan. Ia melihat ayahnya sebagai manusia
yang rapuh, bukan sebagai monster yang ia bayangkan.
"Kenapa Ayah tidak meminta bantuan?" tanya
Rakuan. "Kenapa Ayah tidak bilang pada Ibu? Kenapa Ayah tidak bilang
padaku?"
Samsudin menggeleng. "Aku terlalu sombong, Nak. Aku
tidak mau terlihat lemah di depan istri dan anakku. Aku ingin kalian melihatku
sebagai kepala keluarga yang kuat, yang bisa melindungi kalian. Tapi aku gagal.
Aku justru menjadi sumber masalah."
"Ayah," kata Rakuan pelan, "Ayah tidak harus
menjadi sempurna. Ayah hanya perlu menjadi jujur. Jika Ayah jujur sejak awal,
semua ini mungkin tidak akan terjadi."
"Aku tahu," kata Samsudin. "Aku menyesal.
Aku sangat menyesal. Tapi penyesalan tidak bisa mengembalikan semua yang telah
hilang. Penyesalan tidak bisa menghidupkan kembali ibumu."
Rakuan meraih tangan ayahnya. "Ayah, aku marah pada
Ayah. Aku sangat marah. Tapi aku juga mencintai Ayah. Dan aku tahu Ibu juga
mencintai Ayah. Ia memaafkan Ayah sebelum ia pergi. Dan aku ... aku juga akan
mencoba memaafkan Ayah."
Samsudin menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau ... kau serius?"
"Aku serius, Ayah. Tapi Ayah harus berubah. Ayah harus
berhenti berjudi. Ayah harus berhenti menyembunyikan masalah. Ayah harus
belajar menjadi jujur."
"Aku berjanji," kata Samsudin. "Aku berjanji
akan berubah. Aku sudah tua, Nak. Aku tidak punya banyak waktu lagi. Tapi aku
ingin menghabiskan sisa hidupku dengan memperbaiki semua kesalahanku."
Rakuan memeluk ayahnya—untuk pertama kalinya dalam
bertahun-tahun. Air mata mengalir dari kedua mata mereka.
"Maafkan aku, Nak," bisik Samsudin. "Maafkan
ayahmu yang lemah ini."
"Aku memaafkan Ayah," kata Rakuan. "Aku
memaafkan Ayah."
Susan, yang menyaksikan dari kejauhan, tersenyum sambil
menangis. Ia melihat dua pria yang dicintainya—ayah dan anak—akhirnya
berbaikan. Ia berjalan mendekat dan duduk di samping mereka.
"Bagaimana kabarmu, Pak Samsudin?" tanya Susan
sopan.
Samsudin tersenyum—senyum yang jarang ia tunjukkan. "Aku
baik, Susan. Terima kasih. Dan ..." ia menatap Susan dengan tatapan yang
dalam, "... aku minta maaf. Aku minta maaf atas semua yang terjadi pada
keluargamu. Aku minta maaf karena aku adalah penyebab semua penderitaan
ini."
Susan menggeleng. "Tidak ada yang perlu dimaafkan,
Pak. Yang penting sekarang kita bisa memperbaiki semuanya."
"Kau sangat baik, Susan," kata Samsudin.
"Aku mengerti sekarang mengapa Rakuan begitu mencintaimu. Kau adalah
wanita yang istimewa."
Susan tersenyum malu. Ia meraih tangan Rakuan dan
menggenggamnya erat.
Malam itu, Rakuan dan Samsudin makan malam bersama untuk
pertama kalinya dalam tiga tahun. Susan memasak untuk mereka—ikan patin bakar
dan bubur pedas yang ia pelajari dari Rosnah.
"Aroma masakan Susan mengingatkanku pada masakan
ibumu," kata Samsudin sambil mencium aroma bubur pedas.
Susan tersenyum. "Aku belajar dari Ibu Rosnah. Ia
mengajarkan banyak resep Rahmah padaku."
Samsudin mengangguk. "Rosnah adalah wanita yang baik.
Aku sangat menyesal telah menyakitinya."
Rakuan menatap ayahnya. "Ayah, besok kita akan ke
rumah Rosnah. Ayah harus meminta maaf langsung padanya. Itu adalah bagian dari
proses."
Samsudin mengangguk. "Aku akan melakukannya. Aku akan
meminta maaf pada Rosnah dan berjanji untuk memperbaiki semuanya."
Mereka makan dalam suasana yang hangat. Untuk pertama
kalinya dalam bertahun-tahun, rumah itu terasa seperti rumah lagi.
Keesokan harinya, Rakuan, Susan, dan Samsudin pergi ke
rumah Rosnah. Perjalanan itu terasa berat bagi Samsudin—ia gelisah, tangannya
gemetar, dan ia terus bertanya apakah Rosnah akan mau menerimanya.
"Tenang, Ayah," kata Rakuan. "Rosnah adalah
orang yang baik. Ia sudah memaafkan Ayah di rumah sakit."
"Tapi aku harus meminta maaf secara langsung,"
kata Samsudin. "Aku harus mengatakan semua yang ada di hatiku."
Ketika mereka tiba, Rosnah menyambut mereka di pintu. Ia
tersenyum—senyum yang hangat dan tulus.
"Masuklah," katanya. "Aku sudah menyiapkan
teh dan kue."
Mereka duduk di ruang tamu. Samsudin tampak canggung,
matanya menunduk.
"Ros," katanya akhirnya, "aku datang ke sini
untuk meminta maaf. Aku minta maaf untuk semua yang kulakukan. Aku minta maaf
karena telah memaksa menjual tanahmu. Aku minta maaf karena telah merusak
persahabatanmu dengan Rahmah. Aku minta maaf karena telah menjadi sumber
masalah bagi keluargamu."
Rosnah menghela napas. "Sam, aku sudah memaafkanmu di
rumah sakit. Tapi aku menghargai kedatanganmu. Dan aku menerima permintaan
maafmu."
"Terima kasih," kata Samsudin dengan mata
berkaca-kaca. "Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku akan
mengembalikan tanah itu padamu. Aku akan bekerja keras untuk menebus semua
kesalahanku."
Rosnah menggeleng. "Kau tidak perlu mengembalikan
tanah itu, Sam. Tanah itu sudah menjadi milik Susan sekarang. Itu adalah
warisan yang seharusnya menjadi miliknya."
Susan terkejut. "Ibu?"
Rosnah tersenyum. "Aku sudah memutuskan, Nak. Tanah
itu adalah milikmu. Aku hanya mengelolanya selama ini. Sekarang, kau bisa
mengelolanya sendiri."
Susan menangis. "Ibu ..."
Rosnah memeluknya. "Kau adalah anakku, Susan. Apa pun
yang terjadi, kau adalah anakku. Dan aku ingin kau bahagia."
Sore itu, mereka semua berkumpul di Dermaga KP3. Rakuan,
Susan, Rudi, Rosnah, dan Samsudin. Mereka duduk di ujung dermaga, menikmati
senja yang indah.
"Aku tidak pernah menyangka kita akan duduk bersama
seperti ini," kata Rudi sambil tersenyum. "Semua orang yang dulu
bermusuhan, sekarang duduk bersama di dermaga."
Rakuan mengangguk. "Ini semua berkat ibuku. Ia
meninggalkan kita dengan pesan perdamaian. Dan kita semua menghormatinya dengan
saling memaafkan."
Susan menggenggam tangan Rakuan. "Aku sangat
bersyukur."
Samsudin menatap langit senja. "Rahmah, kau melihat
ini? Anak kita sudah dewasa. Ia bahagia. Dan kita semua sudah berdamai. Kau
pasti bangga padanya."
Rosnah tersenyum sambil mengusap air mata. "Rahmah
pasti tersenyum melihat kita semua."
Mereka duduk bersama hingga matahari tenggelam. Dan ketika
langit mulai gelap, mereka berjanji untuk saling menjaga dan tidak pernah
membiarkan dendam memisahkan mereka lagi.
Malam itu, Rakuan dan Susan berjalan pulang bersama. Rumah
tua di tepian sungai menyambut mereka dengan hangat.
"Rakuan," kata Susan pelan, "aku ingin
bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Setelah semua ini ... apa yang akan kau lakukan?
Apakah kau akan kembali ke Jakarta?"
Rakuan terdiam. Ia merenungkan pertanyaan itu. Selama ini,
ia selalu berpikir bahwa ia akan kembali ke Jakarta setelah semuanya selesai.
Tapi sekarang ... sekarang ia tidak yakin.
"Susan," katanya akhirnya, "aku tidak tahu.
Aku masih bingung. Tapi aku tahu satu hal—aku tidak ingin pergi. Aku tidak
ingin meninggalkanmu lagi."
Susan tersenyum. "Aku juga tidak mau kau pergi."
Mereka berpelukan di bawah cahaya rembulan. Dan untuk
pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rakuan merasa bahwa ia telah menemukan
tempatnya—di rumah, di sisi Susan, di Kuala Kapuas.
BAB X
Rudi
Menemukan Kebenaran
Pagi itu, Rakuan terbangun dengan perasaan yang berbeda.
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasa ada harapan.
Rekonsiliasi dengan ayahnya, perdamaian dengan Rosnah, dan cintanya pada
Susan—semua tampak berjalan ke arah yang benar.
Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya: Rudi.
Persahabatan mereka masih retak. Sejak Rudi menuduhnya
bersekongkol dengan Lucas, mereka jarang berbicara. Rakuan tahu Rudi sakit
hati. Ia juga tahu bahwa Rudi sedang berjuang mempertahankan warungnya dari
serangan Lucas.
"Aku harus memperbaiki ini," gumam Rakuan.
"Aku tidak bisa kehilangan sahabatku."
Ia segera mandi dan berganti pakaian. Susan masih tidur di
kamar sebelah—ia menginap di rumah tua itu sejak pemakaman Rahmah. Rakuan
menulis pesan singkat untuknya: "Aku ke warung Rudi. Ada yang
harus aku selesaikan. Aku akan segera kembali."
Ia meninggalkan rumah dan berjalan menuju Dermaga KP3.
Udara pagi masih segar, membawa aroma sungai dan dedaunan basah. Di kejauhan,
beberapa nelayan sudah mulai beraktivitas.
Ketika Rakuan tiba di Sungai Rindu, ia melihat
Rudi sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan masakan. Warung itu tampak sepi—hanya
ada beberapa pengunjung yang duduk di meja kayu. Rudi mengangkat kepalanya
ketika melihat Rakuan, lalu menunduk lagi tanpa menyapa.
"Rud," sapa Rakuan pelan. "Boleh aku
bicara?"
Rudi tidak menjawab. Ia terus memotong bawang dengan
gerakan yang tajam dan terburu-buru.
"Rud, tolong. Aku tahu kau marah padaku. Tapi aku
datang untuk menjelaskan semuanya."
Rudi meletakkan pisaunya. Ia menatap Rakuan dengan mata
yang dingin.
"Jelaskan apa?" katanya dengan nada tajam.
"Kau berkonspirasi dengan Lucas untuk menghancurkanku. Kau membantunya
menyebarkan isu bahwa masakanku tidak higienis. Kau mengkhianati persahabatan
kita."
"Aku tidak melakukan itu!" kata Rakuan cepat.
"Rud, aku tidak pernah bersekongkol dengan Lucas. Aku membencinya sama
sepertimu. Dia adalah orang yang ingin merebut Susan dariku."
"Lalu kenapa isu itu mulai menyebar setelah kau sering
ke Dapoer Tepian Kapuas?" tanya Rudi sinis. "Kenapa pelangganku mulai
berkurang setelah kau muncul?"
Rakuan menghela napas. Ia berusaha tetap tenang meskipun
hatinya sakit.
"Rud, aku tidak tahu bagaimana isu itu menyebar. Tapi
aku berjanji padamu, aku tidak ada hubungannya dengan itu. Aku akan
membuktikannya. Beri aku waktu."
Rudi menatapnya lama. Kemudian ia menggeleng.
"Aku tidak percaya padamu, Ku. Kau sudah
meninggalkanku sekali. Kau pergi ke Jakarta tanpa pamit. Kau menghilang dari
hidupku. Dan sekarang kau kembali dengan semua masalah ini. Aku lelah."
Rudi berbalik dan kembali ke dapurnya. Rakuan berdiri di
tempatnya, merasa hancur.
Rakuan meninggalkan warung Rudi dengan perasaan berat. Ia
berjalan menyusuri Dermaga KP3, mencoba menenangkan pikirannya. Tiba-tiba,
ponselnya berdering. Itu Susan.
"Rakuan, di mana kau?" suara Susan terdengar
cemas. "Aku bangun dan kau sudah pergi."
"Aku di Dermaga KP3," kata Rakuan. "Aku
pergi menemui Rudi. Tapi ia masih marah padaku. Ia tidak mau
mendengarkan."
"Rakuan, aku punya kabar. Aku baru saja berbicara
dengan Rosnah. Ia mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.
Namanya Toni. Ia adalah mantan karyawan Dapoer Tepian Kapuas. Ia tahu sesuatu tentang
isu yang menyebar tentang Sungai Rindu."
Rakuan terkejut. "Toni? Tapi ia menghilang beberapa
hari lalu. Bagaimana Rosnah bisa menghubunginya?"
"Ia menghubungi Rosnah tadi malam. Ia mengatakan bahwa
ia takut dan ingin melindungi keluarganya. Tapi ia juga ingin mengatakan
kebenaran."
"Aku akan segera ke sana," kata Rakuan. "Di
mana ia sekarang?"
"Di rumah Rosnah. Ia bersembunyi di sana. Aku akan
menunggumu."
Rakuan mematikan telepon dan segera berlari menuju rumah
Rosnah.
Ketika Rakuan tiba, ia melihat Toni duduk di ruang tamu
dengan ekspresi gelisah. Rosnah dan Susan duduk di sampingnya, berusaha
menenangkannya.
"Toni," sapa Rakuan. "Aku senang kau
datang."
Toni mengangkat kepalanya. Matanya tampak lelah dan
ketakutan.
"Aku ... aku datang untuk mengatakan kebenaran,"
katanya dengan suara bergetar. "Aku tidak bisa terus hidup dalam
ketakutan. Aku sudah melihat terlalu banyak orang yang disakiti oleh Lucas dan
Hendri."
"Apa yang kau ketahui?" tanya Rakuan.
Toni menarik napas panjang. "Aku yang menyebarkan isu
tentang Sungai Rindu. Aku yang mengatakan bahwa masakan Rudi tidak higienis.
Tapi aku melakukannya bukan karena aku ingin. Aku disuruh oleh Lucas."
Rakuan terdiam. "Lucas menyuruhmu?"
Toni mengangguk. "Ia membayarku. Ia mengatakan bahwa
jika aku menyebarkan isu itu, aku akan mendapat banyak uang. Aku butuh uang
untuk keluarga. Aku tidak punya pilihan."
"Tapi kau tahu itu salah," kata Susan dengan
suara tegas. "Kau tahu itu merusak reputasi Rudi."
"Aku tahu," kata Toni. "Dan aku menyesal.
Aku datang ke sini untuk mengakui semuanya. Aku siap memberikan kesaksian. Aku
siap mengatakan kebenaran di depan siapa pun."
Rakuan menatap Toni. Ia melihat penyesalan yang tulus di
mata pria itu.
"Terima kasih, Toni," katanya. "Ini sangat
berarti."
Rakuan segera kembali ke warung Rudi. Kali ini, ia membawa
Toni bersamanya. Ketika mereka tiba, Rudi masih sibuk di dapur. Ia mengangkat
kepalanya dan terkejut melihat Rakuan kembali—dan melihat Toni di sampingnya.
"Rudi," kata Rakuan, "aku membawa seseorang
yang ingin bicara denganmu. Ini Toni. Ia adalah orang yang menyebarkan isu
tentang warungmu."
Rudi menatap Toni dengan mata yang tajam. "Kau?"
Toni menunduk. "Maafkan aku, Pak Rudi. Aku yang
menyebarkan isu itu. Tapi aku melakukannya karena Lucas menyuruhku. Ia membayarku.
Ia mengatakan bahwa jika aku melakukannya, aku akan mendapat banyak uang."
Rudi terdiam. Ekspresinya berubah—dari marah menjadi
terkejut.
"Lucas?" ulang Rudi.
Toni mengangguk. "Ia adalah dalang di balik semua ini.
Ia ingin menghancurkan warungmu agar Dapoer Tepian Kapuas menjadi satu-satunya
restoran terkenal di Kuala Kapuas."
Rudi menutup matanya. Ia merasakan amarah yang membara di
dadanya. Tapi di saat yang sama, ia juga merasa lega—karena akhirnya ia tahu
kebenaran.
"Rudi," kata Rakuan, "aku tidak pernah
bersekongkol dengan Lucas. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku adalah
sahabatmu."
Rudi membuka matanya. Ia menatap Rakuan—sahabatnya sejak
kecil, orang yang selalu ada untuknya.
"Maafkan aku, Ku," katanya dengan suara serak.
"Aku terlalu cepat menghakimimu. Aku seharusnya percaya padamu."
Rakuan tersenyum. "Tidak ada yang perlu dimaafkan,
Rud. Yang penting kita sudah tahu kebenarannya."
Mereka berpelukan—dua sahabat yang akhirnya berbaikan.
Malam itu, Rakuan, Rudi, dan Toni duduk di warung Sungai
Rindu. Mereka merencanakan langkah selanjutnya.
"Toni sudah bersedia memberikan kesaksian," kata
Rudi. "Tapi kita butuh lebih banyak bukti. Kita harus mengungkap semua
kejahatan Lucas dan Hendri di hadapan publik."
Rakuan mengangguk. "Aku setuju. Tapi ..." ia ragu
sejenak, "... ada satu hal yang membuatku khawatir."
"Apa?" tanya Rudi.
Rakuan menghela napas. "Jika kita mengungkap semua
ini, Susan akan terluka. Lucas masih sepupunya. Keluarganya akan malu. Dan
Susan mungkin akan terseret dalam skandal ini."
Rudi terdiam. Ia memahami kekhawatiran Rakuan.
"Ku, aku mengerti perasaanmu," kata Rudi
akhirnya. "Tapi kita tidak bisa diam. Lucas dan Hendri terus melakukan
kejahatan. Mereka merusak banyak orang. Jika kita tidak bertindak, mereka akan
terus melakukannya."
"Aku tahu," kata Rakuan. "Tapi aku tidak
ingin menyakiti Susan."
Toni berbicara. "Pak Rakuan, aku mengerti
kekhawatiranmu. Tapi percayalah, Susan adalah wanita yang kuat. Ia akan bisa
menghadapi semua ini. Dan ia akan lebih baik jika tahu kebenaran daripada terus
hidup dalam kebohongan."
Rakuan merenungkan kata-kata Toni. Ia tahu mereka benar.
Tapi hatinya masih berat.
"Aku akan bicara dengan Susan," katanya akhirnya.
"Aku akan menjelaskan semuanya padanya. Jika ia setuju, kita akan
melanjutkan rencana ini. Jika tidak, kita akan mencari cara lain."
Rudi mengangguk. "Itu keputusan yang bijaksana."
Rakuan kembali ke rumah tua di tepian sungai. Susan sedang
duduk di beranda, menatap sungai yang mengalir tenang di bawah cahaya rembulan.
Ketika melihat Rakuan datang, ia tersenyum.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Susan.
Rakuan duduk di sampingnya. "Rudi sudah tahu
kebenaran. Toni mengaku bahwa ia yang menyebarkan isu atas perintah Lucas. Rudi
dan aku sudah berbaikan."
Susan tersenyum lega. "Aku senang mendengarnya."
"Tapi ada satu hal lagi," kata Rakuan. "Kami
berencana mengungkap semua kejahatan Lucas dan Hendri di hadapan publik. Toni
akan memberikan kesaksian. Tapi ..." ia menatap Susan dengan serius,
"... aku khawatir akan menyakiti mu. Lucas masih sepupumu. Keluarganya
akan malu. Dan kau mungkin akan terseret dalam skandal ini."
Susan terdiam. Ia menatap Rakuan dengan mata yang dalam.
"Rakuan," katanya akhirnya, "aku tahu kau
khawatir. Tapi percayalah, aku bisa menghadapi ini. Aku sudah lelah hidup dalam
bayang-bayang Lucas. Aku sudah lelah menjadi korban. Aku ingin kebenaran
terungkap, apa pun risikonya."
"Kau yakin?"
Susan mengangguk. "Aku yakin. Dan aku akan mendukungmu
apa pun yang terjadi."
Rakuan memeluknya erat. "Terima kasih, Sus. Kau adalah
wanita terkuat yang aku kenal."
Keesokan harinya, Rakuan, Rudi, dan Toni bertemu lagi di
warung Sungai Rindu. Kali ini, Susan juga hadir.
"Kita sudah punya kesaksian Toni," kata Rudi.
"Tapi kita butuh lebih banyak bukti. Kita butuh dokumen, catatan, atau apa
pun yang bisa membuktikan praktik curang Lucas dan Hendri."
"Aku bisa membantu," kata Susan. "Aku
memiliki akses ke beberapa dokumen di Dapoer Tepian Kapuas. Aku bisa
mencarinya."
Rakuan terkejut. "Susan, itu berbahaya. Jika Lucas
tahu, kau bisa dalam bahaya."
"Aku tahu," kata Susan. "Tapi aku sudah
memutuskan. Aku tidak akan membiarkan Lucas terus merusak kehidupan
orang-orang. Aku akan membantumu."
Rakuan menatap Susan dengan bangga. "Baik. Tapi kita
harus berhati-hati. Kita tidak bisa memberi tahu siapa pun tentang rencana
ini."
Mereka semua mengangguk. Rencana mulai disusun.
Malam itu, Susan pergi ke Dapoer Tepian Kapuas dengan dalih
mengambil barang yang tertinggal. Rakuan menunggunya di luar, siap membantu
jika ada masalah.
Susan masuk ke ruang kantor Lucas. Di dalam lemari, ia
menemukan dokumen-dokumen yang mencurigakan—catatan transaksi, daftar pemasok
yang ditekan, dan bukti-bukti penyuapan. Ia segera mengambil foto-foto dengan
ponselnya.
Tapi sebelum ia selesai, ia mendengar suara langkah kaki di
koridor. Lucas datang.
Susan panik. Ia menyembunyikan ponselnya dan berpura-pura
mencari sesuatu di meja.
"Susan?" suara Lucas terdengar dari pintu.
"Kau di sini?"
Susan berbalik dan tersenyum canggung. "Aku lupa
mengambil buku catatanku."
Lucas menatapnya curiga. "Kau terlihat gelisah. Apa
yang kau lakukan?"
"Tidak ada," kata Susan cepat. "Aku hanya
mencari buku catatanku."
Lucas mendekat. Matanya mengamati Susan dengan teliti.
"Kau yakin?"
Susan merasa jantungnya berdetak kencang. Tapi ia berusaha
tetap tenang.
"Aku yakin," katanya. "Aku akan pergi
sekarang."
Ia berjalan melewati Lucas dan keluar ruangan. Begitu ia
berada di luar, ia berlari sekencang mungkin menuju tempat Rakuan menunggu.
"Rakuan!" katanya dengan napas tersengal.
"Aku mendapatkannya!"
Rakuan memeluknya. "Kau hebat, Sus."
Keesokan harinya, Rakuan, Rudi, Susan, dan Toni
mengumpulkan semua bukti yang mereka miliki. Mereka menyusunnya dengan
rapi—dokumen, foto, dan kesaksian.
"Kita sudah punya cukup bukti," kata Rudi.
"Sekarang kita tinggal melaporkannya ke dinas perdagangan dan
polisi."
Rakuan mengangguk. "Aku akan menangani laporan ke
polisi. Rud, kau urus laporan ke dinas perdagangan. Kita lakukan besok
pagi."
Semua mengangguk setuju. Perjuangan mereka akan segera
berakhir.
BAB XI
Susan
Menolak Lucas
Malam itu, setelah berhasil mengumpulkan bukti-bukti dari
kantor Lucas, Susan tidak bisa tidur. Ia berbaring di kamar tamu rumah tua
Rakuan, menatap langit-langit kayu yang gelap. Pikirannya berkecamuk—antara
rasa lega karena akhirnya memiliki bukti, dan rasa takut akan apa yang akan
terjadi besok.
Besok, semuanya akan berubah.
Rakuan dan Rudi akan melaporkan semua bukti ke polisi dan
dinas perdagangan. Lucas dan Hendri akan dihadapkan pada kejahatan mereka. Dan
Susan ... Susan harus menghadapi keluarganya.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke beranda. Udara
malam terasa sejuk. Di kejauhan, ia bisa melihat lampu-lampu Dermaga KP3 yang
masih menyala. Rakuan sedang duduk di kursi kayu, menatap sungai.
"Kau juga tidak bisa tidur?" tanya Susan pelan.
Rakuan menoleh dan tersenyum. "Aku terlalu gelisah.
Besok adalah hari besar."
Susan duduk di sampingnya. "Aku takut, Rakuan."
Rakuan meraih tangannya. "Aku tahu. Aku juga takut.
Tapi kita harus melakukan ini. Untuk keadilan. Untuk semua orang yang telah
dirugikan oleh Lucas dan Hendri."
"Aku tahu," kata Susan. "Tapi aku tidak tahu
bagaimana menghadapi keluargaku. Mereka akan marah. Mereka akan kecewa. Mereka
mungkin akan membenciku."
Rakuan memeluknya. "Aku akan bersamamu, Sus. Apa pun
yang terjadi, aku akan bersamamu."
Susan menangis di pelukannya. Ia merasa lemah, tapi di saat
yang sama, ia juga merasa kuat—karena ia tidak sendirian.
Pagi itu, Rakuan dan Rudi pergi ke kantor polisi dan dinas
perdagangan. Mereka membawa semua bukti yang telah dikumpulkan—foto-foto
dokumen, catatan transaksi curang, dan kesaksian Toni. Petugas menerima laporan
mereka dengan serius dan berjanji akan segera menindaklanjuti.
"Kami akan memanggil Lucas dan Hendri untuk dimintai
keterangan," kata petugas. "Jika bukti-bukti ini cukup kuat, mereka
akan diproses secara hukum."
Rakuan dan Rudi keluar dari kantor dengan perasaan lega.
Akhirnya, keadilan akan ditegakkan.
"Bagaimana kabar Susan?" tanya Rudi.
"Ia masih di rumah," kata Rakuan. "Ia akan
menghadapi keluarganya hari ini. Aku harus segera ke sana."
"Aku ikut," kata Rudi. "Kau tidak bisa
menghadapi mereka sendirian."
Mereka bergegas menuju rumah Rosnah.
Di rumah Rosnah, suasana tegang. Hendri dan Lucas telah
datang dengan marah setelah mendengar bahwa laporan telah diajukan ke polisi.
Rosnah duduk di kursi dengan wajah pucat, sementara Susan berdiri di
sampingnya, berusaha tetap tenang.
"Kau tahu apa yang telah kau lakukan, Susan?"
Hendri berteriak. "Kau telah menghancurkan keluarga kita! Kau telah
melaporkan pamannya sendiri ke polisi!"
Susan menatap pamannya dengan mata yang tajam. "Aku
hanya melaporkan kebenaran, Paman. Kau dan Lucas telah melakukan banyak
kejahatan. Kau merusak bisnis orang lain. Kau menyuap pejabat. Kau mengancam
orang-orang. Aku tidak bisa diam melihat semua itu."
Lucas melangkah maju. Wajahnya merah padam karena marah.
"Kau pengkhianat, Susan! Setelah semua yang kami berikan padamu—rumah,
pekerjaan, kehidupan yang layak—kau membalas kami dengan ini?"
"Kau tidak memberiku apa pun, Lucas," kata Susan
dengan suara dingin. "Kau hanya ingin mengendalikanku. Kau hanya ingin
menikahiku untuk menguasai tanah warisan. Aku bukan boneka. Aku tidak akan
membiarkan siapa pun memanfaatkanku."
Hendri tertawa sinis. "Kau pikir kau bisa bertahan
tanpa kami? Tanpa restoran, tanpa uang, tanpa dukungan keluarga? Kau tidak akan
bertahan lama di Kuala Kapuas."
"Aku tidak butuh kalian," kata Susan tegas.
"Aku punya ibuku. Aku punya Rakuan. Aku punya teman-teman yang
mendukungku. Aku tidak butuh orang-orang yang hanya memanfaatkanku."
Pada saat itu, Rakuan dan Rudi tiba. Mereka berdiri di
pintu, menyaksikan adegan yang terjadi.
"Lucas, Hendri," kata Rakuan dengan suara tegas.
"Lebih baik kalian pergi. Polisi sudah tahu semuanya. Mereka akan segera
memanggil kalian."
Lucas menatap Rakuan dengan mata penuh kebencian. "Kau
... kau yang menghancurkan semuanya. Sebelum kau datang, semuanya berjalan
baik. Susan akan menikah denganku. Bisnis kami akan berkembang. Tapi kau datang
dan merusak semuanya."
"Aku tidak merusak apa pun," kata Rakuan.
"Kau sendiri yang menghancurkan hidupmu dengan keserakahanmu. Kau memilih
jalan yang salah. Dan sekarang kau harus bertanggung jawab."
Lucas melangkah maju, mengancam. Tapi Rudi segera berdiri
di antara mereka.
"Cukup, Lucas," kata Rudi. "Kau sudah kalah.
Terimalah kenyataan itu."
Lucas mengepalkan tangannya. Ia ingin memukul Rakuan. Tapi
di hadapan semua orang, ia tidak berani.
"Ini belum berakhir," kata Lucas dengan gigi
terkatup. "Kau akan menyesal, Rakuan. Aku berjanji."
Ia berbalik dan berjalan keluar. Hendri mengikutinya,
meninggalkan rumah Rosnah dengan kemarahan yang membara.
Setelah Lucas dan Hendri pergi, Susan jatuh ke kursi dan
menangis. Rosnah memeluknya, berusaha menenangkannya.
"Kau hebat, Nak," kata Rosnah. "Kau sangat
berani."
Susan menggeleng. "Aku takut, Bu. Aku takut apa yang
akan mereka lakukan selanjutnya."
Rakuan mendekat dan berlutut di hadapan Susan.
"Tenang, Sus. Kita akan menghadapi ini bersama. Kau tidak sendirian."
Susan menatap Rakuan dengan mata berkaca-kaca. "Aku
sangat mencintaimu," katanya. "Aku tidak tahu bagaimana aku bisa
melewati semua ini tanpamu."
Rakuan tersenyum dan memeluknya. "Kau tidak perlu
melewati ini sendirian. Aku selalu ada untukmu."
Sementara itu, di rumah Hendri, Lucas dan ayahnya duduk
dengan wajah muram. Mereka tahu bahwa mereka dalam masalah besar. Polisi akan
segera memanggil mereka. Bisnis mereka akan hancur. Reputasi mereka akan rusak.
"Ayah, kita harus melakukan sesuatu," kata Lucas
dengan panik. "Kita tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan kita."
Hendri menggeleng. "Tidak ada yang bisa kita lakukan.
Bukti-bukti itu terlalu kuat. Kita sudah kalah."
"Tidak!" Lucas membanting meja. "Aku tidak
akan menyerah. Aku akan menghancurkan mereka. Aku akan memastikan bahwa mereka
menyesal telah melawanku."
Hendri menatap putranya dengan mata lelah. "Lucas, kau
sudah membuat banyak kesalahan. Jangan tambah lagi. Lebih baik kita mengakui
kesalahan dan menerima hukuman."
"Aku tidak mau!" Lucas berteriak. "Aku tidak
akan membiarkan Rakuan menang!"
Ia berlari keluar rumah, meninggalkan ayahnya yang hanya
bisa menggeleng.
Sore itu, Rakuan dan Susan berjalan di Dermaga KP3. Mereka
duduk di ujung dermaga, menikmati senja yang indah. Meskipun ada banyak masalah
yang masih harus dihadapi, mereka merasa tenang—karena mereka bersama.
"Rakuan," kata Susan pelan, "apa yang akan
terjadi setelah ini? Setelah Lucas dan Hendri diproses secara hukum?"
Rakuan mengangguk. "Aku akan mencari pekerjaan di
sini. Aku tidak akan kembali ke Jakarta. Aku ingin menetap di Kapuas dan
membangun masa depan bersama."
Susan tersenyum. "Kau benar-benar berubah. Dulu, kau
selalu ingin pergi. Sekarang, kau ingin tinggal."
"Aku belajar bahwa rumah bukanlah tempat, Sus. Rumah
adalah orang-orang yang kau cintai. Dan rumahku ada di sini, bersamamu."
Susan tersipu. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang
memerah.
"Aku mencintaimu, Rakuan," katanya.
"Aku juga mencintaimu, Susan."
Mereka berpelukan di bawah senja, berjanji untuk saling
menjaga dan tidak pernah meninggalkan satu sama lain lagi.
Malam itu, Lucas datang ke rumah Rosnah dengan mabuk. Ia
memecahkan jendela dan berteriak-teriak di luar.
"Susan! Keluar! Kita bicara!"
Rakuan segera keluar dan berdiri di hadapan Lucas.
"Kau sudah mabuk, Lucas. Pulanglah."
Lucas tertawa keras. "Pulang? Kau pikir aku akan
pulang? Aku akan menghancurkan kalian semua!"
Ia mencoba menyerang Rakuan, tapi Rakuan dengan cepat
menghindar. Rudi yang datang bersama Rakuan segera menahan Lucas.
"Lucas, tenang!" kata Rudi. "Kau membuat
masalah besar!"
Lucas meronta, tapi tidak bisa melepaskan diri. Akhirnya,
polisi datang dan membawa Lucas pergi. Ia akan menghadapi tuduhan tambahan
karena mengancam dan merusak properti.
Rosnah keluar rumah dan memeluk Susan. "Aku takut,
Bu," kata Susan.
"Tenang, Nak," kata Rosnah. "Semuanya sudah
berakhir. Lucas tidak akan mengganggumu lagi."
Keesokan harinya, Hendri datang ke rumah Rosnah. Kali ini,
ia datang dengan sikap yang berbeda—lembut dan penuh penyesalan.
"Rosnah, Susan," katanya dengan suara serak,
"aku datang untuk meminta maaf. Aku tahu aku telah melakukan banyak
kesalahan. Aku membiarkan ambisi dan keserakahan menghancurkan keluarga kita.
Aku minta maaf."
Rosnah menatap Hendri dengan mata yang tajam. "Kau
datang terlambat, Hendri. Semua sudah terjadi."
"Aku tahu," kata Hendri. "Tapi aku ingin
memperbaikinya. Aku akan mengakui semua kesalahanku di pengadilan. Aku akan
menerima hukuman. Dan aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik."
Susan mendekati pamannya. "Paman, aku tahu kau tidak
sepenuhnya jahat. Aku tahu kau hanya terjebak dalam ambisimu. Tapi kau harus
bertanggung jawab atas semua yang kau lakukan."
Hendri mengangguk. "Aku akan melakukannya. Aku
berjanji."
Beberapa minggu kemudian, Lucas dan Hendri diadili.
Keduanya dihukum karena praktik curang, monopoli, dan penyuapan. Mereka
kehilangan semua bisnis mereka dan harus membayar denda yang besar.
Keluarga Susan akhirnya bisa bernapas lega. Dapoer Tepian
Kapuas diserahkan kepada Rosnah dan Susan untuk dikelola. Dan untuk pertama
kalinya, mereka bisa menjalankan bisnis dengan jujur dan adil.
Rakuan dan Susan duduk di Dermaga KP3, menatap senja yang
indah. Semua badai telah berlalu. Dan di hadapan mereka, masa depan yang cerah
menunggu.
BAB XII
Menemukan
Kekuatan di Dermaga
Hari-hari setelah pengadilan Lucas dan Hendri terasa
seperti mimpi buruk yang perlahan berakhir. Tapi bagi Susan, kenyataan justru
semakin berat.
Meskipun Lucas dan Hendri telah dihukum, keluarga besar
Susan tidak tinggal diam. Mereka menganggap Susan sebagai pengkhianat—seorang
anak durhaka yang telah menghancurkan nama baik keluarga. Mereka mengucilkan
Susan dan Rosnah. Mereka menyebarkan gosip bahwa Susan adalah wanita tidak tahu
terima kasih yang membalas kebaikan dengan pengkhianatan.
Susan mencoba bertahan. Ia tetap mengelola Dapoer Tepian
Kapuas bersama Rosnah. Tapi pengunjung mulai berkurang. Banyak yang takut
bersinggungan dengan keluarga Susan setelah skandal itu. Pemasok yang dulu
setia kini mulai menarik diri. Bisnis mereka perlahan-lahan merosot.
Dan yang terburuk, Susan mulai menerima ancaman.
Pesan-pesan anonim di ponselnya. Suara-suara misterius di telepon. Kadang,
ketika ia berjalan sendirian di malam hari, ia merasa ada yang mengikutinya.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa, Bu," kata
Susan suatu malam pada Rosnah. "Aku merasa seperti dikepung dari segala
sisi."
Rosnah memeluk putrinya. "Kita akan bertahan, Nak.
Kita sudah melalui banyak hal. Kita akan melewati ini juga."
Tapi Susan tidak yakin. Untuk pertama kalinya dalam
hidupnya, ia merasa benar-benar sendirian.
Suatu sore, Susan tidak tahan lagi. Segala tekanan,
ancaman, dan pengucilan terasa terlalu berat. Ia meninggalkan restoran dan
berjalan tanpa tujuan. Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke Dermaga KP3.
Dermaga itu sunyi. Hanya ada beberapa nelayan yang sedang
memperbaiki jaring mereka di kejauhan. Susan duduk di ujung dermaga, di tempat
yang sama di mana ia dan Rakuan dulu sering menghabiskan waktu bersama.
Air matanya jatuh. Tangisnya pecah.
"Aku tidak punya apa-apa lagi," isaknya.
"Tidak ada keluarga. Tidak ada teman. Tidak ada masa depan."
Ia menangis sejadi-jadinya, melepaskan semua beban yang
selama ini ia pendam. Ia menangis untuk ibunya, Rosnah, yang harus menderita
karena pilihannya. Ia menangis untuk dirinya sendiri, yang kehilangan segalanya
demi kebenaran.
Dan di tengah tangisnya, ia mendengar suara langkah kaki
mendekat.
"Susan?"
Rakuan telah mencari Susan sejak ia mendengar dari Rosnah
bahwa Susan pergi tanpa pamit. Ia tahu ke mana Susan akan pergi. Ke tempat di
mana mereka selalu bertemu. Ke tempat di mana mereka berbagi mimpi dan harapan.
Dan di sanalah ia menemukannya—menangis sendirian di ujung
Dermaga KP3.
Rakuan duduk di sampingnya tanpa bicara. Ia tidak perlu
bertanya apa yang terjadi. Ia bisa melihat dari mata Susan yang sembab dan
bahunya yang bergetar. Ia bisa merasakan keputusasaan yang memancar dari tubuh
gadis yang dicintainya.
"Susan," katanya pelan. "Aku di sini."
Susan menoleh. Matanya merah dan basah. "Rakuan
..."
Ia jatuh ke pelukan Rakuan dan menangis lebih keras. Rakuan
memeluknya erat, membiarkannya melepaskan semua kesedihannya.
"Aku tidak punya apa-apa lagi," isaknya di antara
tangisan. "Keluargaku membenciku. Bisnisku hancur. Aku tidak tahu harus
pergi ke mana. Aku tidak punya siapa-siapa."
Rakuan mengusap rambutnya dengan lembut. "Kau punya
aku, Sus. Kau selalu punya aku. Dan aku tidak akan pergi lagi. Aku
berjanji."
"Tapi ..." Susan mengangkat kepalanya. Matanya
menatap Rakuan dengan penuh keraguan. "Apa kau cukup kuat untuk melindungiku?
Keluargaku bisa melakukan apa saja. Mereka bisa menyakitimu juga."
Rakuan tersenyum—senyum yang penuh keyakinan. "Biarkan
mereka mencoba. Aku tidak takut pada siapa pun. Selama kau ada di sisiku, aku
akan menghadapi apa pun."
Susan menangis lagi—tapi kali ini, tangisannya berbeda. Ada
harapan di dalamnya. Ada kelegaan.
Mereka duduk di ujung dermaga hingga matahari mulai
tenggelam. Langit jingga menciptakan pemandangan yang indah—seperti lukisan
yang dibuat oleh alam sendiri.
"Kau tahu," kata Rakuan, "di sinilah kita
pertama kali bertemu lagi setelah tiga tahun. Di tempat yang sama."
Susan tersenyum tipis. "Aku ingat. Aku sangat marah
padamu saat itu."
"Kau masih marah padaku sekarang?"
Susan menggeleng. "Tidak. Aku hanya ... aku hanya
takut. Aku takut kau akan pergi lagi. Aku takut kau akan meninggalkanku ketika
semuanya menjadi sulit."
Rakuan menggenggam tangannya. "Dengarkan aku, Susan.
Aku telah melakukan banyak kesalahan di masa lalu. Aku pergi ketika kau
membutuhkanku. Aku lari dari masalah. Tapi aku sudah berubah. Aku berjanji pada
diriku sendiri, pada ibuku, dan sekarang padamu—aku tidak akan pernah
meninggalkanmu lagi. Apa pun yang terjadi."
Susan menatap matanya. Di dalam mata Rakuan, ia melihat
ketulusan. Ia melihat cinta. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin
semuanya akan baik-baik saja.
"Kau percaya padaku?" tanya Rakuan.
Susan mengangguk. "Aku percaya padamu."
"Dan kau akan tetap bersamaku? Meskipun dunia
menentang kita?"
"Aku akan tetap bersamamu," janji Susan.
"Selamanya."
Malam mulai turun. Lampu-lampu dermaga menyala satu per
satu, menciptakan pantulan cahaya di permukaan sungai. Rakuan dan Susan masih
duduk di ujung dermaga, saling berpegangan tangan.
"Rakuan," kata Susan pelan, "aku takut. Aku
takut apa yang akan terjadi besok. Keluargaku tidak akan menyerah begitu saja.
Mereka akan terus menyerangku."
Rakuan mengangguk. "Aku tahu. Tapi kita akan
menghadapinya bersama. Kita akan mencari cara untuk melindungi dirimu dan
bisnis ibumu."
"Bagaimana?"
Rakuan berpikir sejenak. "Aku punya ide. Bagaimana
kalau kita menggabungkan bisnis kita? Sungai Rindu dan Dapoer Tepian Kapuas
bekerja sama. Kita bisa menciptakan kawasan kuliner yang lebih besar dan lebih
kuat. Dengan begitu, kita tidak akan mudah dihancurkan oleh siapa pun."
Susan terkejut. "Kau serius?"
"Aku serius. Aku sudah bicara dengan Rudi tentang ini.
Ia setuju. Kita semua setuju bahwa bekerja sama lebih baik daripada
bersaing."
Susan tersenyum—senyum tulus yang sudah lama tidak ia
tunjukkan. "Kau benar-benar luar biasa, Rakuan. Kau selalu punya cara
untuk membuat segalanya lebih baik."
Rakuan tersenyum malu. "Aku hanya mencoba menjadi
lebih baik untukmu."
Sementara itu, di rumah Rosnah, suasana juga tegang. Rosnah
menerima telepon dari salah satu anggota keluarga besar yang mengancam akan
mengambil alih Dapoer Tepian Kapuas.
"Kau tidak berhak mengelola restoran itu,
Rosnah," kata suara di seberang telepon. "Itu adalah milik keluarga.
Dan kau serta Susan telah mengkhianati keluarga."
Rosnah menjawab dengan tenang. "Restoran ini adalah
milikku dan Susan. Kami yang mengelolanya selama bertahun-tahun. Kami yang
membangunnya. Tidak ada yang bisa mengambilnya dari kami."
"Kita lihat saja nanti," kata suara itu sebelum
menutup telepon.
Rosnah meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar. Ia tahu
bahwa perjuangan belum berakhir. Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak sendirian. Ia
memiliki Susan. Ia memiliki Rakuan. Dan ia memiliki Rudi.
"Kita akan bertahan," bisiknya. "Kita akan
bertahan bersama."
Keesokan harinya, Rakuan dan Susan mengunjungi Rudi di
warung Sungai Rindu. Mereka membahas rencana untuk menggabungkan bisnis.
"Aku setuju dengan idemu, Ku," kata Rudi.
"Jika kita bekerja sama, kita bisa menjadi lebih kuat. Kita bisa
menciptakan kawasan kuliner yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa
pun."
"Tapi bagaimana dengan keluarga Susan?" tanya
Susan. "Mereka akan terus mengancam kita."
Rudi tersenyum. "Biarkan mereka mengancam. Kita punya
bukti-bukti yang cukup untuk melindungi diri kita. Jika mereka mencoba
melakukan sesuatu yang ilegal, kita bisa melaporkan mereka ke polisi."
Rakuan mengangguk. "Rudi benar. Kita tidak boleh
takut. Kita sudah melalui hal yang lebih buruk. Kita bisa melewati ini
juga."
Susan tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada
harapan.
Malam itu, Rakuan dan Susan berjalan di Dermaga KP3.
Lampu-lampu dermaga menciptakan suasana yang romantis. Mereka berhenti di ujung
dermaga dan menatap sungai yang mengalir tenang.
"Rakuan," kata Susan, "aku ingin bertanya
sesuatu."
"Apa?"
"Apakah kau benar-benar yakin ingin tinggal di Kapuas?
Jakarta adalah kota besar dengan banyak peluang. Kau bisa menjadi arsitek
sukses di sana. Di sini ... di sini hanya ada masalah dan kesulitan."
Rakuan menatapnya dengan serius. "Susan, aku sudah
memutuskan. Aku ingin tinggal di sini. Bukan karena aku tidak punya pilihan.
Tapi karena aku memilihmu. Aku memilih kehidupan bersamamu. Dan aku tidak akan
menukarnya dengan apa pun."
Susan menangis—air mata kebahagiaan. Ia memeluk Rakuan
erat-erat.
"Aku mencintaimu, Rakuan," bisiknya. "Aku
sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Susan. Dan aku akan selalu ada
untukmu."
Beberapa hari kemudian, Rakuan, Susan, dan Rudi mulai
merencanakan penggabungan bisnis. Mereka mengundang beberapa pengusaha kuliner
lain di Kuala Kapuas untuk bergabung dalam kawasan kuliner yang lebih besar.
"Kita bisa menciptakan destinasi wisata kuliner yang
terkenal di seluruh Kalimantan," kata Rakuan dalam pertemuan itu.
"Dengan bekerja sama, kita bisa menarik lebih banyak pengunjung. Kita bisa
meningkatkan ekonomi lokal. Dan kita bisa melindungi diri kita dari ancaman
siapa pun."
Banyak pengusaha yang setuju. Mereka lelah dengan
persaingan tidak sehat dan ancaman dari keluarga besar Susan. Mereka ingin
bekerja sama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Dan di tengah semua itu, Susan menemukan kekuatan yang
tidak pernah ia sadari. Ia bukan lagi gadis lemah yang takut pada keluarganya.
Ia adalah wanita yang berani melawan ketidakadilan. Ia adalah pemimpin yang
menginspirasi orang lain.
"Kita akan berhasil," kata Susan dalam pertemuan
itu. "Kita akan berhasil bersama."
Suatu sore, Rakuan dan Susan kembali ke Dermaga KP3. Mereka
duduk di ujung dermaga, menikmati senja yang indah.
"Kau tahu," kata Susan, "aku tidak pernah
membayangkan bahwa aku akan berada di sini—dikelilingi oleh orang-orang yang
mencintaiku, membangun masa depan bersama, dan merasa benar-benar
bahagia."
Rakuan tersenyum. "Aku juga tidak membayangkan ini.
Tapi aku bersyukur bahwa kita ada di sini."
Susan menggenggam tangannya. "Terima kasih, Rakuan.
Terima kasih telah menjadi kekuatanku."
Rakuan membalas genggamannya. "Kau adalah kekuatanku
juga, Susan. Tanpamu, aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti
sekarang."
Mereka berpelukan di bawah senja. Dermaga KP3 menjadi saksi
bisu perjalanan mereka—dari pertemuan kembali, perselisihan, rekonsiliasi,
hingga akhirnya menemukan kekuatan bersama.
BAB XIII
Rahasia
Terakhir Rosnah
Pagi itu, Rakuan terbangun dengan perasaan yang berbeda.
Ada semacam firasat yang mengganggu pikirannya. Ia duduk di tepi tempat tidur,
menatap keluar jendela rumah tuanya. Sungai Kapuas mengalir tenang di bawah
sinar matahari pagi, tapi hatinya tidak setenang permukaan air itu.
Susan masih tertidur di kamar sebelah. Semalam, mereka
larut malam merencanakan penggabungan bisnis dengan Rudi. Ada banyak hal yang
harus dipersiapkan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Rakuan—sesuatu
tentang Rosnah, ibu Susan.
Ia ingat tatapan Rosnah beberapa hari terakhir. Ada sesuatu
di mata wanita itu—seperti ada beban yang belum terungkap. Seperti ada rahasia
yang masih ia pendam.
Rakuan memutuskan untuk pergi ke rumah Rosnah pagi itu. Ia
ingin berbicara dengan wanita yang telah menjadi ibu bagi Susan, yang telah
menjadi teman bagi ibunya, yang telah melalui semua suka dan duka bersama
mereka.
Ia meninggalkan pesan untuk Susan: "Aku pergi
ke rumah ibumu. Ada yang perlu aku bicarakan. Aku akan segera kembali."
Rumah Rosnah terletak di tepian sungai, tidak jauh dari
pasar tradisional. Ketika Rakuan tiba, ia melihat Rosnah sedang duduk di
beranda, menatap sungai dengan tatapan kosong. Wanita itu tampak lebih tua dari
biasanya—garis-garis di wajahnya tampak lebih dalam, dan matanya tampak lelah.
"Tante Rosnah," sapa Rakuan pelan.
Rosnah menoleh dan tersenyum—tapi senyum itu tidak sampai
ke matanya. "Rakuan, kau datang. Masuklah."
Rakuan naik ke beranda dan duduk di kursi kayu di samping
Rosnah. Mereka duduk dalam diam beberapa saat, menatap sungai yang mengalir.
"Tante," kata Rakuan akhirnya, "ada sesuatu
yang mengganggu Tante. Aku bisa melihatnya. Ada apa?"
Rosnah menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca.
"Kau sangat perhatian, Nak," katanya.
"Seperti ibumu."
"Tante, tolong beri tahu aku. Apapun itu, aku siap
mendengarnya."
Rosnah menunduk. Tangannya gemetar ketika ia memainkan
ujung kerudungnya.
"Aku ... aku belum mengatakan semua kebenaran,
Rakuan," katanya pelan. "Ada satu rahasia lagi yang belum aku ungkap.
Rahasia yang paling berat."
Rakuan terdiam. Ia merasakan dadanya berdebar-debar.
"Rahasia apa, Tante?"
Rosnah mengangkat kepalanya. Air mata mengalir di pipinya
yang keriput.
"Tentang Susan," katanya. "Aku sudah
mengatakan bahwa ia adalah anak angkat. Aku sudah mengatakan bahwa ia adalah
keponakan Rahmah. Tapi ada satu hal yang belum aku katakan."
"Apa itu?"
Rosnah menarik napas panjang. "Aku tahu siapa ayah
kandung Susan."
Rakuan terkejut. "Apa? Tante tahu?"
Rosnah mengangguk. "Aku mengetahuinya sejak awal. Tapi
aku tidak pernah memberitahu siapa pun—termasuk Rahmah. Aku menyimpannya
sebagai rahasia karena ... karena aku takut."
"Siapa ayah kandung Susan, Tante?"
Rosnah menatap Rakuan dengan mata yang penuh kesedihan.
"Ayah kandung Susan adalah ... Hendri."
Dunia Rakuan berhenti berputar. "Hendri? Paman Susan?
Ayah Lucas?"
Rosnah mengangguk. "Ya. Hendri adalah ayah kandung
Susan. Ia memiliki hubungan dengan adik Rahmah—Rukiah, ibu kandung Susan.
Ketika Rukiah hamil, Hendri tidak mau bertanggung jawab. Ia sudah menikah
dengan wanita lain dan memiliki Lucas. Rukiah meninggal dalam kecelakaan kapal
ketika Susan masih bayi. Dan aku ... aku mengambil Susan dan membesarkannya
sebagai anakku sendiri."
Rakuan terdiam. Ia mencerna semua informasi yang baru saja
ia dengar. Hendri—paman Susan, ayah Lucas, musuh mereka—adalah ayah kandung
Susan. Ini berarti Susan adalah saudara tiri Lucas.
"Tante ..." suara Rakuan serak. "Kenapa
Tante tidak pernah mengatakan ini?"
Rosnah menangis. "Karena aku takut, Nak. Aku takut
Susan akan terluka. Aku takut ia akan membenci dirinya sendiri. Aku takut
Hendri akan menggunakan informasi ini untuk mengambil Susan dariku. Ia adalah
orang yang kejam. Ia tidak segan-segan melakukan apa pun untuk mencapai
tujuannya."
"Tapi Tante, Susan berhak tahu," kata Rakuan.
"Ia berhak tahu siapa ayah kandungnya."
"Aku tahu," kata Rosnah. "Dan itulah yang
membuatku takut. Jika Susan tahu bahwa Hendri adalah ayahnya, ia akan hancur.
Ia akan merasa bahwa darahnya sama dengan darah musuhnya."
Rakuan meraih tangan Rosnah. "Tante, Susan adalah
orang yang kuat. Ia sudah melalui banyak hal. Ia bisa menghadapi ini. Tapi Tante
harus memberitahunya. Ia berhak tahu."
Rosnah mengangguk pelan. "Aku tahu. Aku akan
memberitahunya. Tapi aku butuh waktu, Nak. Aku butuh keberanian."
Rakuan kembali ke rumah tua dengan pikiran yang penuh. Ia
tidak tahu bagaimana harus mengatakan semua ini pada Susan. Ia tidak tahu
bagaimana Susan akan bereaksi.
Ketika ia tiba, Susan sedang duduk di beranda, menatap
sungai. Ia tersenyum ketika melihat Rakuan.
"Kau pergi ke mana?" tanyanya.
Rakuan duduk di sampingnya. "Aku pergi menemui ibumu.
Ada sesuatu yang ingin ia katakan padamu."
"Tentang apa?"
Rakuan menghela napas. "Susan, ada sesuatu yang perlu
kau ketahui. Sesuatu tentang masa lalumu."
Susan menatapnya dengan bingung. "Apa maksudmu?"
Rakuan menggenggam tangannya. "Ayah kandungmu ...
bukanlah siapa yang kau kira. Ibumu, Rosnah, belum mengatakan semuanya. Ada
rahasia terakhir yang ia simpan selama bertahun-tahun."
Susan terkejut. "Apa? Apa maksudmu?"
Rakuan menatap mata Susan dalam-dalam. "Ayah kandungmu
adalah Hendri."
Susan terdiam. Wajahnya berubah menjadi pucat. Matanya
membesar karena terkejut.
"Apa?" bisiknya. "Hendri? Paman Hendri? Ayah
Lucas?"
Rakuan mengangguk. "Ya. Ia memiliki hubungan dengan
Rukiah, ibu kandungmu. Ketika Rukiah hamil, Hendri tidak mau bertanggung jawab.
Ia sudah menikah dan memiliki Lucas. Rukiah meninggal dalam kecelakaan kapal.
Dan Rosnah mengambilmu dan membesarkanmu."
Susan menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir
deras di pipinya.
"Jadi ... Lucas adalah saudara tiriku?" suaranya
bergetar. "Selama ini, aku dijodohkan dengan saudara tiriku sendiri?"
"Aku tahu ini berat," kata Rakuan. "Tapi kau
harus tahu kebenaran."
Susan menangis. Ia memeluk Rakuan dan menangis
sejadi-jadinya.
"Kenapa ... kenapa tidak ada yang memberitahuku?"
isaknya. "Kenapa semua orang menyembunyikan ini dariku?"
"Karena mereka ingin melindungimu," kata Rakuan.
"Mereka takut kau akan terluka. Tapi sekarang, kau berhak tahu."
Setelah Susan tenang, Rakuan mengajaknya pergi ke rumah
Rosnah. Susan ingin mendengar semuanya langsung dari ibunya.
Ketika mereka tiba, Rosnah sedang duduk di beranda dengan
wajah pucat. Ia tahu bahwa putrinya akan datang.
"Susan ..." bisik Rosnah.
Susan mendekati ibunya. Air mata masih mengalir di pipinya.
"Bu, kenapa Bu tidak memberitahuku?" tanyanya
dengan suara serak. "Kenapa Bu menyembunyikan ini selama
bertahun-tahun?"
Rosnah menangis. "Karena aku takut, Nak. Aku takut kau
akan membenci dirimu sendiri. Aku takut kau akan membenci Hendri dan
keluarganya. Aku takut kau akan pergi dariku."
Susan memeluk ibunya. "Bu, aku tidak akan pernah pergi
darimu. Kau adalah ibuku. Satu-satunya ibu yang aku kenal."
"Aku mencintaimu, Susan," kata Rosnah. "Aku
mencintaimu seperti anakku sendiri. Dan aku tidak akan pernah berhenti
mencintaimu."
Mereka berpelukan—ibu dan anak yang telah melalui banyak
hal bersama.
Setelah semua tangisan mereda, Susan duduk di samping
ibunya. Rakuan duduk di sisi lain, memberikan dukungan.
"Bu," kata Susan pelan, "apa aku harus
bertemu dengan Hendri?"
Rosnah terdiam. "Itu keputusanmu, Nak. Kau bebas
memilih."
Susan menghela napas. "Aku tidak tahu. Aku masih
bingung. Tapi aku tahu satu hal—aku tidak akan membiarkan ini menghancurkanku.
Aku sudah melalui terlalu banyak hal untuk menyerah sekarang."
Rakuan meraih tangannya. "Aku akan mendukungmu apa pun
keputusanmu."
Susan tersenyum—senyum yang penuh tekad. "Terima
kasih, Rakuan. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melewati semua ini
tanpamu."
Malam itu, Susan duduk sendirian di beranda rumah Rosnah.
Ia menatap sungai yang mengalir di bawah cahaya rembulan. Pikirannya masih
kacau. Tapi ada satu hal yang ia yakini—ia tidak akan membiarkan masa lalu
menentukan masa depannya.
Rakuan mendekati dan duduk di sampingnya. "Apa yang
kau pikirkan?"
Susan menghela napas. "Aku memikirkan tentang Hendri.
Tentang bagaimana ia bisa melakukan semua itu. Tentang bagaimana ia
meninggalkan ibuku—Rukiah—dan tidak pernah bertanggung jawab."
"Aku tidak akan membela Hendri," kata Rakuan.
"Tapi mungkin kau bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin
ia juga manusia yang lemah. Mungkin ia juga membuat kesalahan."
Susan menatap Rakuan. "Kau selalu melihat sisi baik
orang, ya?"
Rakuan tersenyum. "Aku belajar dari ibumu. Ia
mengajariku bahwa setiap orang pantas mendapatkan kesempatan kedua."
Susan menggenggam tangannya. "Aku mencintaimu, Rakuan.
Dan aku berterima kasih karena kau selalu ada untukku."
Keesokan harinya, Susan memutuskan untuk mengunjungi Hendri
di penjara. Ia ingin melihatnya—ayah kandungnya—untuk pertama kalinya dalam
hidupnya.
Rakuan menemaninya. Ketika mereka tiba di ruang kunjungan,
Hendri duduk di balik kaca dengan wajah yang lelah dan menua. Ketika melihat
Susan, matanya membelalak.
"Susan?" suaranya bergetar. "Kau ... kau
datang?"
Susan duduk di hadapannya. "Aku datang karena aku
ingin tahu kebenaran. Dari mulutmu sendiri."
Hendri menunduk. Air mata mengalir di pipinya.
"Aku tahu aku salah," katanya. "Aku tahu aku
telah meninggalkan ibumu. Aku tahu aku tidak pernah bertanggung jawab. Tapi aku
menyesal. Aku sangat menyesal."
"Kenapa kau meninggalkannya?" tanya Susan dengan
suara dingin.
Hendri menghela napas. "Aku takut. Aku sudah menikah.
Aku punya Lucas. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya. Aku
pengecut. Aku memilih untuk lari."
Susan menatap ayah kandungnya dengan mata yang tajam.
"Aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah. Tapi aku ingin kau tahu bahwa
aku tidak membencimu. Aku hanya ... kecewa."
Hendri menangis. "Maafkan aku, Susan. Maafkan
aku."
Susan berdiri. "Aku akan mencoba. Tapi aku butuh
waktu."
Ia berbalik dan pergi. Rakuan mengikutinya.
Di luar penjara, Susan menangis di pelukan Rakuan. Tapi
kali ini, tangisannya bukan tangisan kesedihan. Itu adalah tangisan
pelepasan—pelepasan dari masa lalu yang selama ini membebaninya.
BAB XIV
Pencarian
Jati Diri
Pagi itu, Susan bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada
kegelisahan yang menggelayuti hatinya sejak pertemuannya dengan Hendri di
penjara. Kata-kata ayah kandungnya masih terngiang di telinganya. "Aku
pengecut. Aku memilih untuk lari." Susan merasakan ada kemiripan antara
dirinya dan Hendri—keduanya pernah lari dari kenyataan. Tapi Susan tidak ingin
menjadi seperti ayahnya. Ia ingin menemukan jati dirinya yang sebenarnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur di kamar tamu rumah tua
Rakuan. Melalui jendela, ia melihat Sungai Kapuas yang mengalir tenang. Di
kejauhan, burung-burung mulai berkicau menyambut pagi.
"Susan," suara Rakuan terdengar dari balik pintu.
"Kau sudah bangun?"
"Ya," jawab Susan. "Masuklah."
Rakuan membuka pintu dan masuk dengan membawa dua cangkir
kopi. Ia menyodorkan satu cangkir pada Susan.
"Kau terlihat gelisah," kata Rakuan sambil duduk
di sampingnya. "Ada apa?"
Susan menggenggam cangkir kopinya, menikmati kehangatan
yang menjalar ke tangannya.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata
Hendri," katanya. "Ia mengatakan bahwa ia lari karena takut. Dan aku
menyadari ... aku juga sama. Aku juga lari. Aku lari dari kenyataan bahwa aku
tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Aku lari dari pertanyaan-pertanyaan tentang
masa laluku."
Rakuan meraih tangannya. "Kau tidak perlu lari lagi,
Sus. Aku di sini. Kita akan mencari jawabannya bersama."
Susan menatapnya. "Aku ingin pergi ke Putussibau. Aku
ingin mencari tahu tentang ibu kandungku—Rukiah. Aku ingin tahu siapa dia,
bagaimana kehidupannya, dan mengapa ia meninggalkanku."
Rakuan tersenyum. "Aku akan menemanimu. Kapan kita
berangkat?"
"Hari ini," kata Susan tegas. "Aku tidak
bisa menunggu lebih lama lagi."
Perjalanan dari Kuala Kapuas ke Putussibau memakan waktu
sekitar delapan jam melalui jalur sungai dan darat. Rakuan dan Susan memutuskan
untuk naik perahu motor menyusuri Sungai Kapuas—jalur yang sama yang pernah
dilalui oleh Rukiah, ibu kandung Susan, bertahun-tahun lalu.
Perahu itu melaju pelan, meninggalkan Dermaga KP3 di
belakang mereka. Susan duduk di sisi perahu, menatap pepohonan di tepian sungai
yang melintas perlahan. Pemandangan hijau yang rimbun, sesekali diselingi oleh
rumah-rumah panggung dan anak-anak yang melambai dari beranda mereka.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rakuan.
Susan mengangguk. "Aku gugup. Tapi aku juga
bersemangat. Ini adalah pertama kalinya aku mencari tahu tentang
asal-usulku."
Rakuan mengusap rambutnya lembut. "Kau akan baik-baik
saja. Apa pun yang kau temukan, aku akan ada di sisimu."
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, menikmati
pemandangan sungai yang indah. Sesekali, Rakuan menunjukkan tempat-tempat yang
ia kenal—desa-desa kecil, pasar terapung, dan perkebunan karet di sepanjang
sungai.
Setelah empat jam perjalanan, mereka berhenti di sebuah
desa kecil untuk beristirahat dan makan siang. Susan dan Rakuan duduk di sebuah
warung sederhana di tepian sungai, menikmati ikan bakar dan nasi.
"Kau tahu," kata Susan, "aku tidak pernah
menyangka bahwa perjalanan ini akan terasa seperti ini. Aku pikir aku akan
takut. Tapi justru ... aku merasa tenang."
Rakuan tersenyum. "Itu karena kau sudah siap. Kau
sudah siap untuk menemukan jawaban."
Susan menggenggam tangannya. "Terima kasih, Rakuan.
Tanpamu, aku mungkin tidak akan pernah memiliki keberanian untuk melakukan
ini."
"Kau lebih kuat dari yang kau kira, Sus. Kau hanya
perlu seseorang yang mengingatkanmu."
Mereka menyelesaikan makan siang dan melanjutkan
perjalanan. Perahu melaju lebih cepat di jalur sungai yang semakin lebar. Di
kejauhan, mereka mulai melihat pemandangan yang berbeda—pegunungan yang
menjulang di balik pepohonan.
Mereka tiba di Putussibau menjelang sore. Kota itu lebih
tenang dan lebih sederhana daripada Kuala Kapuas. Rumah-rumah kayu berjejer di
sepanjang sungai, dan suasana pedesaan yang damai terasa di mana-mana.
Susan dan Rakuan mencari penginapan sederhana untuk
bermalam. Setelah itu, mereka mulai mencari informasi tentang Rukiah—ibu
kandung Susan.
Mereka pergi ke kantor kelurahan setempat dan bertanya
tentang Rukiah. Seorang pegawai tua yang ramah membantu mereka mencari catatan.
"Rukiah," gumam pegawai itu sambil memeriksa
arsip. "Ah, ya. Saya ingat. Ia adalah seorang wanita Dayak yang tinggal di
pedalaman. Ia dikenal sebagai dukun berobat—seorang yang dihormati di desanya.
Tapi ia meninggal dalam kecelakaan kapal sekitar dua puluh enam tahun
lalu."
Susan merasakan dadanya sesak. "Apakah ada catatan
tentang keluarganya?"
Pegawai itu mengangguk. "Rukiah memiliki seorang adik
laki-laki—Nama belakangnya saya lupa. Tapi saya ingat bahwa ia memiliki seorang
bayi perempuan yang kemudian diadopsi oleh keluarga di Kuala Kapuas. Itu
mungkin Anda?"
Susan mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Ya.
Saya bayi itu."
Pegawai itu tersenyum lembut. "Rukiah adalah wanita
yang baik. Ia sangat mencintai putrinya. Ia sering mengatakan bahwa ia ingin
putrinya tumbuh bahagia dan menjadi orang yang berguna."
Susan menangis. Rakuan memeluknya erat.
"Aku ingin bertemu dengan keluarganya," kata
Susan. "Siapa pun yang masih hidup."
Pegawai itu memberi mereka alamat sebuah desa di pedalaman,
sekitar dua jam perjalanan dari Putussibau. Mereka harus naik perahu kecil dan
kemudian berjalan kaki menyusuri jalan setapak di hutan.
Perjalanan ke desa itu terasa seperti petualangan. Mereka
melewati hutan yang rimbun, sungai-sungai kecil, dan sawah-sawah yang hijau.
Susan merasa seperti sedang berjalan menuju masa lalunya—menuju jawaban yang
selama ini ia cari.
Ketika mereka tiba di desa, mereka disambut oleh seorang
wanita tua yang duduk di depan rumah panggung. Wanita itu—bernama Ibu
Lina—adalah sepupu Rukiah.
"Kau Susan?" tanya Ibu Lina dengan mata berbinar.
"Kau anak Rukiah?"
Susan mengangguk, tidak bisa berkata-kata.
Ibu Lina memeluknya erat. "Kau sangat mirip dengan
ibumu," katanya. "Matamu. Senyummu. Kau mirip sekali."
Susan menangis di pelukan wanita itu. "Aku ... aku
ingin tahu tentang ibuku. Aku ingin tahu bagaimana kehidupannya."
Ibu Lina mengajak mereka masuk ke rumah panggungnya. Rumah
itu sederhana tapi rapi, dihiasi dengan anyaman-anyaman tradisional dan
foto-foto keluarga. Di dinding, Susan melihat sebuah foto usang—seorang wanita
muda dengan senyum lembut. Itu adalah Rukiah.
"Ibumu," kata Ibu Lina. "Itu adalah
satu-satunya foto yang tersisa."
Susan mendekati foto itu, air mata mengalir di pipinya.
"Dia cantik," bisiknya.
"Ya," kata Ibu Lina. "Ia adalah wanita yang
baik. Ia sangat mencintaimu. Ketika ia mengandungmu, ia sangat bahagia. Tapi
ayahmu ..." Ibu Lina menggeleng, "... Hendri tidak mau bertanggung
jawab. Ia sudah menikah dengan orang lain. Ia meninggalkan Rukiah sendirian."
"Mengapa ia tidak pernah menikah dengan orang
lain?" tanya Susan.
Ibu Lina tersenyum sedih. "Karena ia masih mencintai
Hendri. Meskipun ia telah meninggalkannya, Rukiah tetap mencintainya. Ia tidak
pernah bisa melupakan cinta pertamanya."
Susan merasakan hatinya hancur. Ibunya—Rukiah—telah
menderita karena cinta yang tak berbalas.
Ibu Lina melanjutkan ceritanya. "Ketika kau lahir,
Rukiah sangat bahagia. Ia memberikan namamu—Susan—yang berarti 'bunga teratai'
dalam bahasa setempat. Ia berharap kau akan tumbuh menjadi wanita yang kuat dan
anggun, seperti bunga teratai yang tumbuh di air keruh."
Susan menangis. "Kenapa ia meninggalkanku?"
Ibu Lina menghela napas. "Ia tidak ingin
meninggalkanmu, Nak. Tapi ia sakit parah setelah melahirkan. Dan Hendri
mengancam akan mengambilmu darinya jika ia tidak pergi. Rukiah takut. Ia takut
kau akan diambil. Jadi ia meminta Rosnah—sahabatnya—untuk merawatmu. Dan Rosnah
setuju."
"Jadi Rosnah mengenal ibuku?" tanya Susan
terkejut.
Ibu Lina mengangguk. "Mereka bersahabat sejak kecil.
Rosnah adalah orang yang paling dipercaya Rukiah. Ketika Rukiah meninggal,
Rosnah mengadopsimu dan membesarkanmu seperti anaknya sendiri. Ia berjanji pada
Rukiah bahwa ia akan selalu melindungimu."
Susan menangis. "Aku tidak tahu ... aku tidak tahu semua
ini."
"Rosnah tidak pernah memberitahumu karena ia ingin
melindungimu," kata Ibu Lina. "Ia takut kau akan terluka. Tapi
sekarang, kau sudah dewasa. Kau berhak tahu."
Malam itu, Susan duduk di beranda rumah Ibu Lina, menatap
langit yang bertabur bintang. Rakuan duduk di sampingnya, menggenggam
tangannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rakuan.
Susan mengangguk. "Aku lega. Aku akhirnya tahu siapa
ibuku. Aku akhirnya tahu mengapa ia meninggalkanku. Dan aku tahu bahwa
Rosnah—ibuku—selalu mencintaiku."
Rakuan tersenyum. "Kau memiliki dua ibu yang
mencintaimu dengan sepenuh hati. Itu adalah anugerah yang luar biasa."
Susan menatapnya. "Aku juga memiliki seseorang yang
mencintaiku dengan sepenuh hati. Kau."
Rakuan memeluknya. "Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Mereka duduk bersama di bawah langit berbintang,
merenungkan perjalanan panjang yang telah mereka lalui—dan perjalanan yang
masih menunggu di depan.
Keesokan harinya, Susan dan Rakuan pamit pada Ibu Lina.
Wanita tua itu memberikan foto Rukiah kepada Susan sebagai kenang-kenangan.
"Jagalah foto ini, Nak," kata Ibu Lina. "Itu
adalah satu-satunya yang tersisa dari ibumu. Dan ingatlah—kau adalah bunga
teratai. Kau bisa tumbuh di mana pun, meskipun lingkunganmu keruh."
Susan memeluk wanita tua itu erat. "Terima kasih,
Tante. Terima kasih telah memberitahuku semua ini."
"Semoga kau bahagia, Susan. Dan jangan pernah lupa—ibu
kandungmu selalu mencintaimu."
Susan dan Rakuan berjalan kembali menyusuri jalan setapak
menuju perahu mereka. Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Susan akhirnya
menemukan jawaban yang ia cari—dan ia merasa lebih utuh dari sebelumnya.
Perjalanan pulang menyusuri Sungai Kapuas terasa lebih
singkat. Susan duduk di sisi perahu, memegang foto ibunya erat-erat. Ia
tersenyum—senyum yang tulus dan damai.
"Aku akhirnya tahu siapa diriku," katanya pada
Rakuan. "Aku adalah putri Rukiah. Aku adalah anak angkat Rosnah. Aku
adalah keponakan Rahmah. Dan aku adalah wanita yang mencintaimu."
Rakuan tersenyum. "Dan aku adalah pria yang
mencintaimu. Itu semua yang perlu kita tahu."
Mereka berpegangan tangan saat perahu melaju menuju Kuala
Kapuas. Matahari mulai tenggelam di ujung horizon, menciptakan langit jingga
yang indah.
Di Dermaga KP3, Rosnah dan Rudi menunggu mereka. Ketika
perahu merapat, Rosnah segera memeluk putrinya.
"Bagaimana perjalanannya, Nak?" tanya Rosnah.
Susan menangis di pelukan ibunya. "Aku menemukan
jawabannya, Bu. Aku menemukan siapa diriku. Dan aku tahu bahwa Ibu selalu
mencintaiku."
Rosnah juga menangis. "Aku selalu mencintaimu, Susan.
Aku selalu mencintaimu."
Mereka berpelukan di Dermaga KP3, di bawah senja yang
indah. Semua rahasia telah terungkap. Semua pencarian telah berakhir. Dan di
hadapan mereka, masa depan yang cerah menunggu.
BAB XV
Ibu
Kandung Susan
Hari-hari setelah kepulangan Susan dari Putussibau terasa
lebih tenang. Foto Rukiah—ibunya yang telah meninggal—sekarang berada di
bingkai kayu sederhana di kamar Susan. Setiap pagi, Susan menatap foto itu dan
tersenyum. Ia akhirnya memiliki hubungan dengan ibunya, meskipun hanya melalui
foto dan cerita.
Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya. Ibu
Lina mengatakan bahwa Rukiah adalah seorang dukun berobat—seorang wanita yang
dihormati di desanya. Susan ingin tahu lebih banyak. Ia ingin mengunjungi
tempat di mana ibunya tinggal, merasakan kehadirannya, dan mungkin menemukan
sisa-sisa kehidupan ibunya yang masih tersisa.
Suatu malam, Susan berbicara dengan Rakuan tentang
keinginannya.
"Aku ingin pergi ke desa tempat ibuku tinggal,"
katanya. "Bukan hanya ke desa Ibu Lina, tapi ke rumah ibuku yang
sebenarnya. Di pedalaman. Tempat di mana ia menghabiskan hari-hari
terakhirnya."
Rakuan mengangguk. "Aku akan menemanimu. Tapi
perjalanan ke pedalaman tidak mudah. Kita harus berjalan kaki melewati hutan.
Kita harus membawa perbekalan yang cukup."
"Aku siap," kata Susan tegas. "Aku harus
melakukan ini."
Mereka merencanakan perjalanan selama dua hari ke depan.
Rakuan mengumpulkan perbekalan—makanan, air, obat-obatan, dan perlengkapan
lainnya. Rudi dan Rosnah juga membantu mempersiapkan segala sesuatu.
"Kau yakin ingin pergi ke sana?" tanya Rosnah
cemas. "Pedalaman itu berbahaya. Ada binatang buas. Ada jalur yang
sulit."
Susan memeluk ibunya. "Aku harus pergi, Bu. Aku harus
merasakan kehadiran ibuku. Aku harus berdiri di tempat di mana ia pernah
berdiri. Ini adalah bagian dari proses penyembuhanku."
Rosnah menghela napas. "Baik. Tapi hati-hati. Dan
jangan lupa berdoa."
Pagi itu, Susan dan Rakuan berangkat. Mereka meninggalkan
Dermaga KP3 dengan perahu kecil yang menyusuri Sungai Kapuas ke arah hulu.
Pemandangan di sepanjang sungai semakin liar—hutan yang lebat, pohon-pohon
raksasa, dan suara-suara hewan yang tak dikenal.
"Kau takut?" tanya Rakuan.
Susan menggeleng. "Aku justru merasa tenang. Seperti
aku sedang pulang ke rumah."
Mereka melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa jam, perahu
mereka berhenti di sebuah dermaga kecil di tepian sungai. Dari sana, mereka
harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang sempit di antara pepohonan.
"Hati-hati," kata Rakuan. "Jalannya
licin."
Mereka berjalan selama dua jam melewati hutan yang rimbun.
Terkadang, mereka harus menyeberangi sungai-sungai kecil dengan melompat di
atas batu-batu besar. Terkadang, mereka harus merunduk untuk melewati
cabang-cabang pohon yang rendah.
Susan merasa lelah, tapi ia tidak mau menyerah. Setiap
langkah membawanya semakin dekat dengan ibunya.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah desa kecil di tengah hutan.
Desa itu terdiri dari beberapa rumah panggung kayu yang tersebar di tepian
sungai. Penduduk desa—sebagian besar wanita dan anak-anak—menyambut mereka
dengan rasa ingin tahu.
"Kau mencari siapa?" tanya seorang wanita tua
dengan logat setempat.
Susan menunjukkan foto Rukiah. "Aku mencari rumah
ibuku. Rukiah."
Wanita tua itu terkejut. "Rukiah? Kau ... kau
anaknya?"
Susan mengangguk. "Ya. Aku Susan."
Wanita tua itu memeluknya erat. "Aku Kakek Umi,
tetangga Rukiah. Aku mengenal ibumu sejak kecil. Kau sangat mirip
dengannya."
Susan menangis. "Aku ingin melihat rumahnya. Aku ingin
merasakan kehadirannya."
Kakek Umi mengangguk. "Aku akan membawamu ke sana.
Rumahnya masih ada, meskipun sudah tua dan tidak terawat."
Kakek Umi membawa mereka ke sebuah rumah panggung kecil di
ujung desa. Rumah itu terlihat tua—dinding kayunya sudah lapuk, atapnya bocor
di beberapa tempat, dan rumput liar tumbuh di sekelilingnya. Tapi bagi Susan,
rumah itu adalah istana.
"Ini rumah ibumu," kata Kakek Umi. "Ia
tinggal di sini sendirian setelah kau lahir. Ia merawat dirinya sendiri sampai
akhir hayatnya."
Susan melangkah masuk dengan hati-hati. Di dalam, ada meja
kayu yang sudah berdebu, kursi-kursi yang lapuk, dan beberapa peralatan dapur
sederhana. Di sudut ruangan, ia melihat sebuah tempat tidur—tempat tidur di
mana ibunya mungkin menghabiskan hari-hari terakhirnya.
Susan duduk di tepi tempat tidur itu. Air mata mengalir
deras di pipinya.
"Ibu ..." bisiknya. "Aku di sini. Aku
akhirnya di sini."
Rakuan berdiri di belakangnya, tidak bicara. Ia tahu Susan
membutuhkan waktu sendirian dengan ibunya—bahkan jika itu hanya dalam bayangan.
Susan berjalan keliling rumah, menyentuh setiap benda yang
ada. Ia membayangkan ibunya duduk di meja itu, memasak di dapur itu, tidur di
tempat tidur itu. Ia membayangkan ibunya tersenyum, bernyanyi, atau mungkin
menangis karena merindukannya.
Kakek Umi masuk dan duduk di kursi kayu. "Ibumu adalah
wanita yang baik, Susan. Ia selalu membantu orang lain. Setiap kali ada yang
sakit, ia datang membawa ramuan. Setiap kali ada yang sedih, ia datang
menghibur. Ia adalah dukun berobat yang dihormati oleh semua orang di desa
ini."
Susan menatap Kakek Umi. "Apa ia pernah berbicara
tentang aku?"
Kakek Umi mengangguk. "Setiap hari, Susan. Setiap hari
ia berbicara tentangmu. Ia mengatakan bahwa ia merindukanmu. Ia mengatakan
bahwa ia berharap kau bahagia. Ia mengatakan bahwa ia berdoa untukmu setiap
malam."
Susan menangis. "Aku juga merindukannya. Aku
merindukannya meskipun aku tidak pernah mengenalnya."
"Tapi sekarang kau mengenalnya," kata Kakek Umi.
"Kau di sini. Kau berdiri di tempat ia pernah berdiri. Itu adalah bentuk
cinta yang paling indah."
Malam itu, Susan dan Rakuan menginap di rumah Rukiah.
Mereka membersihkan rumah itu sedikit, menyalakan lilin, dan duduk di beranda
menatap langit malam yang penuh bintang.
"Kau tahu," kata Susan, "aku merasa ibuku
ada di sini. Aku merasakan kehadirannya."
Rakuan menggenggam tangannya. "Ia pasti sangat bahagia
melihatmu di sini."
"Aku berjanji pada diriku sendiri," kata Susan,
"bahwa aku akan merawat rumah ini. Aku akan memperbaikinya. Aku akan
menjadikannya tempat yang layak dikunjungi. Untuk menghormati ibuku."
"Aku akan membantumu," kata Rakuan. "Kita
akan melakukannya bersama."
Mereka duduk dalam diam, menikmati keheningan malam. Suara
jangkrik dan kodok di kejauhan menciptakan simfoni alam yang menenangkan.
Keesokan paginya, Susan dan Rakuan berjalan ke makam
Rukiah. Makam itu terletak di sebuah bukit kecil di belakang desa, dikelilingi
oleh pohon-pohon yang rimbun. Batu nisannya sederhana—hanya sebuah batu besar
dengan nama Rukiah yang terukir di atasnya.
Susan berlutut di depan makam itu. Ia meletakkan
bunga-bunga liar yang ia petik di sepanjang jalan.
"Ibu," bisiknya, "aku di sini. Aku akhirnya
bertemu denganmu, meskipun hanya di sini. Aku ingin kau tahu bahwa aku bahagia.
Aku memiliki ibu angkat yang mencintaiku. Aku memiliki seseorang yang
mencintaiku." Ia menatap Rakuan. "Dan aku tidak akan pernah
melupakanmu."
Rakuan berlutut di sampingnya. "Aku akan menjaga
Susan, Ibu. Aku berjanji. Aku akan membuatnya bahagia."
Air mata mengalir di pipi Susan. Tapi kali ini, tangisannya
adalah tangisan kebahagiaan—kebahagiaan karena akhirnya ia bisa bertemu dengan
ibunya, meskipun hanya di alam mimpi.
Sebelum meninggalkan desa, Susan dan Rakuan mengunjungi
Kakek Umi sekali lagi. Wanita tua itu memberikan beberapa barang milik
Rukiah—sebuah sisir kayu, sebuah gelang manik-manik, dan sebuah buku catatan
tua.
"Ini milik ibumu," kata Kakek Umi. "Aku
menyimpannya untukmu. Semoga ini membantumu merasa lebih dekat dengannya."
Susan memeluk Kakek Umi erat. "Terima kasih, Nenek.
Terima kasih telah merawat kenangan ibuku."
"Jangan lupa, Susan," kata Kakek Umi. "Ibumu
selalu mencintaimu. Dan ia selalu bersamamu. Dalam hatimu."
Susan dan Rakuan berjalan kembali menuju perahu mereka.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan—seperti ada beban yang telah diangkat
dari pundak Susan.
Ketika mereka tiba di Dermaga KP3, Rosnah dan Rudi sudah
menunggu. Rosnah memeluk putrinya erat-erat.
"Bagaimana perjalanannya, Nak?" tanya Rosnah.
Susan tersenyum—senyum yang tulus dan damai. "Aku
menemukan ibuku, Bu. Aku menemukan kedamaian."
Rosnah menangis. "Aku senang mendengarnya, Susan. Aku
sangat senang."
Mereka berpelukan di Dermaga KP3. Rakuan dan Rudi tersenyum
menyaksikan mereka.
"Malam ini kita makan bersama," kata Rudi.
"Aku akan memasak makanan spesial untuk merayakan kepulangan Susan."
Semua setuju. Malam itu, mereka duduk bersama di warung
Sungai Rindu, menikmati makanan dan kebersamaan. Susan memegang sisir kayu
peninggalan ibunya di tangannya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa
benar-benar utuh.
Malam itu, setelah semua orang pulang, Susan dan Rakuan
duduk di Dermaga KP3. Lampu-lampu dermaga menyala terang, memantulkan cahaya ke
permukaan sungai.
"Rakuan," kata Susan, "terima kasih telah
menemaniku. Tanpamu, aku tidak akan pernah memiliki keberanian untuk melakukan
semua ini."
Rakuan tersenyum. "Kau lebih kuat dari yang kau kira,
Sus. Aku hanya ada di sini untuk mengingatkanmu."
Susan menggenggam tangannya. "Aku mencintaimu, Rakuan.
Dan aku bersyukur bahwa kau ada dalam hidupku."
"Aku juga mencintaimu, Susan. Dan aku bersyukur bahwa
kau mengizinkanku menjadi bagian dari perjalananmu."
Mereka berpelukan di bawah langit malam yang bertabur
bintang. Dermaga KP3 menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka—kebahagiaan yang
telah diperjuangkan dengan air mata dan pengorbanan.
BAB XVI
Kepulangan
dengan Hati Baru
Matahari pagi menyinari Dermaga KP3 dengan kehangatan yang
lembut. Susan dan Rakuan berdiri di ujung dermaga, menatap Sungai Kapuas yang
mengalir tenang. Udara segar membawa aroma sungai dan dedaunan basah—aroma yang
kini terasa seperti rumah.
Perjalanan mereka ke pedalaman telah mengubah segalanya.
Susan kembali dengan hati yang lebih ringan, seolah beban berat yang selama ini
ia pikul akhirnya terangkat. Ia memegang erat sisir kayu peninggalan Rukiah di
tangannya, dan di hatinya, ia merasakan kehadiran dua ibu—Rosnah yang
membesarkannya dengan kasih sayang, dan Rukiah yang melahirkannya dengan cinta.
"Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan merasa
seperti ini," kata Susan pelan. "Aku pikir aku akan kembali dengan
perasaan hampa. Tapi justru ... aku merasa utuh. Seperti semua potongan diriku
akhirnya bersatu."
Rakuan tersenyum. "Kau memang utuh, Sus. Kau selalu
utuh. Kau hanya perlu menemukan semua bagian dirimu."
Susan menatapnya. "Kau tahu, Rakuan, selama ini aku
selalu berpikir bahwa aku adalah korban. Korban dari keputusan orang lain.
Korban dari takdir. Tapi sekarang aku sadar—aku bukan korban. Aku adalah
pemenang. Aku berhasil melewati semua ini."
Rakuan menggenggam tangannya. "Kau adalah wanita
terkuat yang aku kenal, Susan. Dan aku sangat bangga menjadi bagian dari
perjalananmu."
Mereka berjalan dari Dermaga KP3 menuju rumah Rosnah. Di
sepanjang jalan, Susan melihat Kuala Kapuas dengan cara yang berbeda.
Rumah-rumah kayu yang dulu terasa asing kini terasa akrab. Warung-warung yang
dulu hanya menjadi tempat makan kini terasa seperti bagian dari keluarganya.
Ketika mereka tiba di rumah Rosnah, wanita itu sedang duduk
di beranda, menatap sungai. Ia tersenyum ketika melihat putrinya datang.
"Susan, Nak. Kau kembali."
Susan mendekati ibunya dan memeluknya erat. "Aku
kembali, Bu. Dan aku membawa sesuatu untuk Ibu."
Susan mengeluarkan sisir kayu peninggalan Rukiah. "Ini
milik ibu kandungku. Kakek Umi memberikannya padaku. Aku ingin Ibu
menyimpannya."
Rosnah terkejut. "Ini ... ini sisir Rukiah. Aku
mengenalinya. Ia selalu memakai sisir ini ketika kami masih muda."
"Aku ingin Ibu memiliki bagian dari dirinya,"
kata Susan. "Karena Ibu dan Rukiah adalah dua ibu yang membentuk diriku.
Dan aku mencintai kalian berdua."
Rosnah menangis. Ia memeluk Susan erat-erat. "Terima
kasih, Nak. Terima kasih telah menerima aku sebagai ibumu, meskipun aku bukan
darah dagingmu."
Susan menggeleng. "Ibu adalah ibuku. Darah tidak
pernah menentukan siapa keluarga. Cinta yang menentukan. Dan Ibu telah
mencintaiku sepanjang hidupku."
Mereka berpelukan di beranda rumah, di bawah sinar matahari
pagi yang hangat.
Sementara itu, Rakuan berjalan menuju rumah tuanya di
tepian sungai. Di halaman, ia melihat Samsudin sedang duduk di kursi kayu,
memandangi sungai dengan tatapan kosong. Sejak kepergian Rahmah, Samsudin
tampak lebih tua dan lebih lemah. Tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini—ada
ketenangan di wajahnya.
"Ayah," sapa Rakuan.
Samsudin menoleh dan tersenyum. "Nak, kau kembali.
Bagaimana perjalananmu?"
Rakuan duduk di samping ayahnya. "Perjalanan yang
mengubah hidupku, Ayah. Susan menemukan ibunya. Dan aku ... aku belajar banyak
tentang keluarga."
Samsudin mengangguk. "Aku mendengar tentang
perjalananmu dari Rudi. Kau menemukan rumah Rukiah di pedalaman?"
"Ya, Ayah. Kami bertemu dengan tetangga Rukiah. Kami
melihat rumahnya. Kami bahkan mengunjungi makamnya."
Samsudin terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca. "Rukiah
... aku mengenalnya. Ia adalah adik dari Rahmah. Ia adalah wanita yang baik.
Aku menyesal tidak pernah mengenalnya lebih dekat."
Rakuan meraih tangan ayahnya. "Ayah, aku ingin
mengucapkan terima kasih."
Samsudin terkejut. "Untuk apa?"
"Untuk menjadi ayahku," kata Rakuan. "Ayah
tidak sempurna. Ayah melakukan banyak kesalahan. Tapi Ayah tetap di sini. Ayah
tetap menjadi ayahku. Dan aku mencintai Ayah."
Samsudin menangis. Air mata mengalir di pipinya yang
keriput.
"Maafkan aku, Nak," bisiknya. "Maafkan aku
karena tidak pernah menjadi ayah yang sempurna. Maafkan aku karena telah
menyakitimu dan ibumu."
Rakuan memeluk ayahnya. "Aku sudah memaafkan Ayah,
Ayah. Dan aku akan selalu mencintai Ayah."
Malam itu, mereka semua berkumpul di rumah Rosnah. Rakuan,
Susan, Samsudin, Rosnah, dan Rudi. Mereka duduk di ruang tamu yang sederhana,
menikmati makanan yang dimasak oleh Rosnah dan Susan.
"Ini adalah pertama kalinya kita semua duduk bersama
seperti ini," kata Rudi sambil tersenyum. "Dulu, kita semua
bermusuhan. Sekarang, kita duduk bersama seperti keluarga."
Rosnah mengangguk. "Ini semua berkat Rahmah. Ia
meninggalkan kita dengan pesan perdamaian. Dan kita semua menghormatinya dengan
saling memaafkan."
Samsudin mengangkat gelasnya. "Untuk Rahmah. Wanita
yang telah mengajarkan kita arti cinta dan pengampunan."
Semua mengangkat gelas mereka. "Untuk Rahmah."
Mereka makan bersama dalam suasana yang hangat.
Cerita-cerita lama diceritakan, tawa-tawa kecil terdengar, dan untuk pertama
kalinya, mereka merasa seperti keluarga yang sebenarnya.
Setelah makan malam, Rakuan dan Susan berjalan ke Dermaga
KP3. Lampu-lampu dermaga menyala terang, menciptakan suasana yang romantis.
Mereka duduk di ujung dermaga, menghadap ke sungai.
"Rakuan," kata Susan, "aku ingin bertanya
sesuatu."
"Apa?"
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Setelah semua
ini?"
Rakuan merenung sejenak. "Aku akan tetap di sini. Aku
akan membantumu dan Rudi mengelola kawasan kuliner. Aku akan memperbaiki rumah
ibuku. Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku denganmu."
Susan tersenyum. "Kau benar-benar berubah, Rakuan.
Dulu, kau selalu ingin pergi. Sekarang, kau ingin tinggal."
"Aku belajar bahwa rumah bukanlah tempat, Sus. Rumah
adalah orang-orang yang kau cintai. Dan rumahku ada di sini, bersamamu."
Mereka berpelukan di bawah langit malam yang bertabur
bintang.
Keesokan harinya, Rakuan dan Susan memulai proyek baru
mereka. Mereka akan merenovasi rumah Rukiah di pedalaman, menjadikannya tempat
yang layak dikunjungi. Rakuan, dengan pengetahuannya sebagai arsitek, merancang
renovasi yang sederhana tapi indah. Susan, dengan cintanya pada ibunya,
mengawasi setiap detail.
"Rumah ini akan menjadi tempat ziarah," kata
Susan. "Tempat di mana orang-orang bisa mengenang Rukiah dan belajar
tentang cinta dan pengorbanan."
Rakuan mengangguk. "Dan kita akan menjadikannya simbol
bahwa keluarga bukan tentang darah, tapi tentang cinta."
Mereka bekerja keras selama beberapa minggu. Rudi dan
Rosnah juga membantu. Bahkan Samsudin, meskipun sudah tua, ikut membantu
membersihkan halaman.
Ketika renovasi selesai, rumah Rukiah tampak seperti baru.
Dinding kayunya dicat ulang, atapnya diperbaiki, dan halamannya ditanami
bunga-bunga yang indah. Di dalam rumah, mereka menempatkan foto Rukiah di
tempat yang paling terhormat.
Suatu sore, mereka semua berkumpul di rumah Rukiah untuk
meresmikannya. Rosnah, Susan, Rakuan, Rudi, dan Samsudin duduk di beranda
rumah, menikmati pemandangan hutan yang indah.
"Rukiah pasti tersenyum melihat ini," kata
Rosnah. "Ia selalu ingin rumahnya menjadi tempat yang penuh cinta. Dan
sekarang, dengan kalian semua di sini, rumah ini benar-benar penuh cinta."
Susan menangis. "Aku berterima kasih pada semua orang
yang telah membantu. Tanpa kalian, aku tidak akan pernah bisa melakukan
ini."
Rakuan memeluknya. "Kau tidak sendirian, Sus. Kau
tidak akan pernah sendirian."
Mereka semua berpelukan—satu keluarga yang terbentuk dari
cinta, bukan dari darah.
Kembali ke Kuala Kapuas, Rakuan dan Susan terus bekerja
mengembangkan kawasan kuliner di Dermaga KP3. Mereka menggabungkan Sungai Rindu
dan Dapoer Tepian Kapuas di bawah bendera "Rindu Kapuas". Kawasan itu
menjadi destinasi wisata kuliner yang terkenal, menarik pengunjung dari
berbagai daerah.
"Kita berhasil," kata Rudi suatu hari, menatap
kawasan yang ramai pengunjung. "Kita berhasil mengubah persaingan menjadi
kerja sama."
Rakuan mengangguk. "Ini semua berkat kerja sama kita.
Kita semua memiliki peran penting."
Susan tersenyum. "Dan kita semua belajar bahwa
persatuan lebih kuat daripada perpecahan."
Mereka berdiri bersama di Dermaga KP3, menatap masa depan
yang cerah.
Samsudin menghabiskan hari tuanya dengan memancing di
sungai, ditemani oleh Rakuan dan kadang-kadang Susan. Ia tidak lagi menjadi
nelayan yang keras kepala. Ia menjadi kakek yang lembut, yang suka bercerita
tentang masa lalu dan tertawa bersama cucu-cucunya kelak.
"Kau tahu, Nak," kata Samsudin suatu hari,
"aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan bahagia seperti ini. Aku
pikir aku akan mati dalam penyesalan. Tapi kau dan Susan mengajariku bahwa
tidak ada kata terlambat untuk berubah."
Rakuan tersenyum. "Kita semua belajar, Ayah. Kita
semua tumbuh bersama."
Mereka duduk di tepian sungai, memancing dalam diam,
menikmati kebersamaan yang dulu tidak pernah mereka miliki.
Malam itu, Rakuan dan Susan kembali ke Dermaga KP3. Mereka
duduk di ujung dermaga, seperti biasa, menikmati senja yang indah.
"Rakuan," kata Susan, "aku ingin mengatakan
sesuatu."
"Apa?"
"Selama bertahun-tahun, aku selalu mencari
identitasku. Aku selalu bertanya-tanya siapa aku sebenarnya. Tapi sekarang, aku
tahu. Aku adalah Susan. Putri Rukiah. Anak angkat Rosnah. Keponakan Rahmah. Dan
kekasihmu. Itu semua adalah bagian dari diriku. Dan aku menerima
semuanya."
Rakuan menggenggam tangannya. "Dan aku adalah Rakuan.
Anak Samsudin. Putra Rahmah. Sahabat Rudi. Dan kekasihmu. Kita semua adalah
bagian dari satu keluarga besar yang dibangun oleh cinta."
Susan menangis—air mata kebahagiaan. "Aku mencintaimu,
Rakuan."
"Aku juga mencintaimu, Susan. Dan aku tidak akan
pernah meninggalkanmu."
Mereka berpelukan di bawah senja. Sungai Kapuas mengalir
tenang di hadapan mereka, membawa serta semua kesedihan dan kegembiraan yang
telah mereka lalui. Dan di kejauhan, lampu-lampu Dermaga KP3 mulai menyala,
menerangi jalan mereka menuju masa depan.
BAB XVII
Perlawanan
terhadap Hendri
Kebahagiaan yang telah dibangun oleh Rakuan, Susan, dan
keluarga kecil mereka tidak bertahan lama. Seperti bayangan yang selalu
mengintai di balik cahaya, Hendri—ayah kandung Susan—kembali muncul dengan niat
jahatnya. Meskipun telah dihukum dan dipenjara, Hendri memiliki jaringan dan
pengaruh yang masih tersisa di Kuala Kapuas. Melalui orang-orang
kepercayaannya, ia mulai merencanakan perlawanan.
Suatu pagi, Rakuan menerima telepon dari Rudi dengan suara
panik.
"Ku, ada masalah besar," kata Rudi. "Kawasan
kuliner 'Rindu Kapuas' kita mendapat serangan. Seseorang melaporkan bahwa kita
menggunakan bahan-bahan ilegal dalam masakan kita. Dinas kesehatan datang untuk
inspeksi mendadak."
Rakuan terkejut. "Apa? Itu tidak mungkin. Kita selalu
menggunakan bahan-bahan segar dan berkualitas."
"Aku tahu. Tapi laporan itu dibuat oleh seseorang yang
tidak dikenal. Dan dinas kesehatan wajib memeriksa. Mereka akan datang
besok."
Rakuan mengepalkan tangannya. "Ini pasti ulah Hendri.
Ia tidak akan menyerah begitu saja."
Rakuan segera pergi ke warung Sungai Rindu. Di sana, ia
bertemu dengan Susan, Rudi, dan beberapa karyawan lainnya. Semua tampak cemas
dan gelisah.
"Kita harus bersiap," kata Rakuan. "Kita
harus memastikan bahwa semua bahan-bahan kita bersih dan sesuai standar. Kita
tidak boleh memberi mereka celah untuk menyerang."
Susan mengangguk. "Aku akan memeriksa semua bahan di
Dapoer Tepian Kapuas. Rudi, kau periksa yang di Sungai Rindu. Kita kumpulkan
semua bukti bahwa masakan kita aman dan higienis."
Mereka bekerja sepanjang hari, memeriksa setiap bahan
makanan, setiap peralatan masak, dan setiap sudut dapur. Rakuan juga memanggil
beberapa pemasok terpercaya untuk memberikan kesaksian bahwa bahan-bahan yang
mereka pasok adalah bahan-bahan segar dan berkualitas.
Ketika malam tiba, mereka semua berkumpul kembali di Sungai
Rindu. Kelelahan terlihat di wajah mereka, tapi ada kepuasan karena mereka
telah bersiap.
"Kita sudah siap," kata Rudi. "Besok, ketika
dinas kesehatan datang, mereka tidak akan menemukan apa pun yang salah."
Tapi Rakuan tidak yakin. Ia tahu Hendri tidak akan
menyerang hanya dengan satu cara.
Keesokan harinya, dinas kesehatan datang untuk inspeksi.
Mereka memeriksa semua bahan makanan, peralatan masak, dan kebersihan dapur.
Hasilnya—semuanya dinyatakan aman dan sesuai standar.
"Semua bersih dan baik," kata petugas dinas
kesehatan. "Tidak ada pelanggaran yang ditemukan."
Rakuan dan Susan menghela napas lega. Tapi sebelum petugas
itu pergi, ia menambahkan, "Tapi kami menerima laporan lain. Tentang
praktik monopoli di kawasan kuliner ini. Kami akan mengirim tim investigasi
untuk memeriksa."
Rakuan mengepalkan tangannya. Hendri tidak menyerah. Ia
terus menyerang dari berbagai sisi.
Rakuan, Susan, dan Rudi mengadakan pertemuan darurat di
rumah Rosnah. Mereka harus merencanakan strategi untuk menghadapi serangan
berikutnya.
"Kita tidak bisa terus bertahan," kata Rudi.
"Kita harus menyerang balik. Kita harus membuktikan bahwa Hendri adalah
dalang di balik semua ini."
Rakuan mengangguk. "Tapi bagaimana caranya? Hendri
berada di penjara. Ia menggunakan orang lain untuk melakukan semua ini."
Susan berpikir sejenak. "Aku tahu seseorang yang bisa
membantu. Ada seorang mantan karyawan Hendri yang pernah bekerja sebagai
asisten pribadinya. Namanya Andi. Ia tahu banyak tentang jaringan Hendri di
luar penjara."
"Di mana kita bisa menemukannya?" tanya Rakuan.
"Andi sekarang bekerja di Banjarmasin," kata
Susan. "Tapi aku bisa menghubunginya. Aku masih memiliki nomor
teleponnya."
"Hubungi dia segera," kata Rakuan. "Kita
butuh informasinya."
Susan menelepon Andi. Setelah beberapa kali mencoba, Andi
akhirnya menjawab.
"Andi, ini Susan. Aku butuh bantuanmu."
Di seberang telepon, Andi terdiam sejenak. "Susan ...
aku sudah dengar tentang semua yang terjadi. Aku tahu Hendri terus menyerang
kalian. Aku bisa membantu. Tapi aku takut. Hendri masih memiliki pengaruh. Jika
ia tahu aku membantu kalian, ia akan menghancurkanku."
"Andi, aku berjanji akan melindungimu," kata
Susan. "Kami akan menjaga kerahasiaan identitasmu. Tapi kami butuh
informasi tentang jaringan Hendri di luar penjara. Siapa saja orang-orang yang
bekerja untuknya?"
Andi menghela napas panjang. "Ada beberapa orang.
Seorang pengacara bernama Firman. Seorang pejabat di dinas perdagangan bernama
Hartono. Dan seorang pengusaha bernama Sugiarto. Mereka semua adalah kaki
tangan Hendri. Mereka melakukan apa pun yang ia perintahkan."
Susan mencatat semua nama itu. "Terima kasih, Andi.
Aku tidak akan melupakan bantuanmu."
"Susan, berhati-hatilah," kata Andi. "Mereka
berbahaya. Hendri tidak akan berhenti sampai ia menghancurkan kalian."
Rakuan, Susan, dan Rudi segera menyusun rencana. Mereka
akan mengumpulkan bukti tentang keterlibatan Firman, Hartono, dan Sugiarto
dalam serangan terhadap kawasan kuliner mereka. Mereka juga akan melaporkan
semua bukti itu ke polisi dan dinas terkait.
"Kita harus bergerak cepat," kata Rakuan.
"Sebelum mereka menyadari bahwa kita tahu tentang mereka."
Mereka mulai mengumpulkan bukti. Susan menghubungi beberapa
pemasok yang pernah menjadi korban tekanan dari orang-orang Hendri. Rudi
mengumpulkan dokumen-dokumen yang menunjukkan praktik curang mereka. Rakuan
menghubungi seorang jurnalis lokal yang bersedia membantu mengungkap skandal
ini.
Semua bekerja keras siang dan malam. Tidak ada yang
mengeluh. Mereka tahu bahwa ini adalah perjuangan untuk mempertahankan semua
yang telah mereka bangun.
Sementara itu, di penjara, Hendri mendengar kabar bahwa
Rakuan dan kelompoknya sedang mengumpulkan bukti melawan orang-orangnya. Ia
marah. Ia memanggil pengacaranya, Firman, untuk datang ke penjara.
"Firman, aku dengar mereka sedang menyelidiki
kita," kata Hendri dengan suara dingin. "Kau harus menghentikan
mereka. Lakukan apa pun yang kau bisa."
Firman tampak gelisah. "Pak Hendri, situasinya sudah
sulit. Mereka memiliki banyak bukti. Jika kita terus melawan, kita bisa semakin
terpuruk."
"Aku tidak peduli!" Hendri membentak. "Aku
tidak akan membiarkan mereka menang. Lakukan apa pun yang kau bisa, atau kau
akan menyesal."
Firman keluar dari penjara dengan perasaan cemas. Ia tahu
Hendri tidak bisa dipercaya. Tapi ia juga takut pada Hendri. Ia terjebak di
antara dua pilihan yang sulit.
Malam itu, Rakuan mendapat telepon dari jurnalis yang
membantunya. Jurnalis itu mengatakan bahwa ia telah mengumpulkan cukup bukti
untuk membuat laporan besar tentang skandal Hendri dan orang-orangnya.
"Aku akan mempublikasikannya besok pagi," kata
jurnalis itu. "Tapi kau harus siap. Begitu laporan ini keluar, Hendri dan
orang-orangnya akan marah besar."
"Aku siap," kata Rakuan. "Kami semua
siap."
Setelah telepon ditutup, Rakuan bergabung dengan Susan dan
Rudi di ruang tamu rumah Rosnah. Mereka menatap satu sama lain dengan penuh
harapan.
"Besok, semuakan berubah," kata Rakuan.
"Entah kita menang atau kalah."
Susan menggenggam tangannya. "Kita akan menang. Aku
percaya."
Keesokan paginya, laporan jurnalis itu terbit di media
lokal dan nasional. Judulnya besar dan mencolok: "Skandal Monopoli dan
Kecurangan di Balik Bisnis Kuliner Kuala Kapuas". Laporan itu memuat
bukti-bukti keterlibatan Firman, Hartono, dan Sugiarto dalam serangan terhadap
kawasan kuliner "Rindu Kapuas". Nama Hendri juga disebut sebagai
dalang di balik semua ini.
Publik terkejut. Banyak yang marah. Demonstrasi kecil
terjadi di depan kantor dinas perdagangan. Polisi segera menangkap Firman, Hartono,
dan Sugiarto untuk dimintai keterangan.
Di penjara, Hendri mendengar berita itu. Ia hancur. Semua
rencananya gagal. Orang-orangnya ditangkap. Reputasinya hancur total.
"Kalah," bisiknya. "Aku kalah."
Rakuan, Susan, dan Rudi merayakan kemenangan mereka di
Dermaga KP3. Mereka duduk di ujung dermaga, menikmati senja yang indah. Semua
tekanan dan kecemasan akhirnya hilang.
"Kita berhasil," kata Rudi sambil tersenyum
lebar. "Kita berhasil mengalahkan Hendri."
Susan mengangguk. "Aku tidak pernah menyangka kita
bisa melewati semua ini. Tapi kita melakukannya."
Rakuan memeluk Susan. "Ini semua karena kerja sama
kita. Kita saling mendukung. Kita saling menguatkan. Dan kita tidak pernah
menyerah."
Mereka duduk bersama, menikmati senja yang indah. Di
kejauhan, lampu-lampu Dermaga KP3 mulai menyala, menerangi jalan mereka menuju
masa depan yang lebih cerah.
BAB XVIII
Senja
Kemenangan
Hari-hari setelah laporan skandal terbit, keadaan berubah
drastis. Hendri dan Lucas yang awalnya masih berusaha melawan kini benar-benar
tersudut. Tidak ada lagi orang yang mau bekerja sama dengan mereka. Pemasok
yang dulu loyal kini menarik diri. Pelanggan yang dulu setia kini menghindar.
Bisnis-bisnis mereka yang tersisa gulung tikar satu per satu.
Keputusan pengadilan akhirnya keluar. Hendri dijatuhi
hukuman tambahan karena terbukti melakukan praktik monopoli, penyuapan, dan
ancaman terhadap pesaing bisnis. Lucas, yang terlibat dalam banyak tindakan
curang, juga menerima hukuman yang setimpal. Bisnis mereka dibekukan, dan
aset-aset mereka disita negara.
Rakuan, Susan, Rudi, dan Rosnah mengikuti persidangan
terakhir. Ketika vonis dibacakan, mereka saling berpandangan. Ada rasa lega di
hati mereka, tapi juga ada rasa iba. Hendri dan Lucas telah menuai apa yang
mereka tabur. Mereka telah memilih jalan yang salah, dan sekarang mereka harus
menanggung akibatnya.
Setelah persidangan, Rakuan dan Susan keluar dari ruang
pengadilan. Matahari bersinar terang di atas mereka, seperti menyetujui
keputusan keadilan yang baru saja ditegakkan.
"Akhirnya," kata Susan pelan. "Semuanya
benar-benar berakhir."
Rakuan menggenggam tangannya. "Ini adalah awal dari
segalanya, Sus. Awal dari kehidupan baru kita."
Beberapa hari kemudian, Rakuan, Susan, Rudi, dan Rosnah
berkumpul di warung Sungai Rindu. Mereka memiliki rencana besar yang telah
mereka diskusikan selama berminggu-minggu. Rencana yang akan mengubah wajah
kuliner Kuala Kapuas.
"Kita semua sudah sepakat," kata Rudi membuka
pertemuan. "Sungai Rindu dan Dapoer Tepian Kapuas akan bergabung. Kita
akan bekerja sama, bukan bersaing."
Rosnah mengangguk. "Aku setuju. Dapoer Tepian Kapuas
sudah terlalu lama dikendalikan oleh orang-orang yang salah. Sekarang, kita
bisa menjalankannya dengan jujur dan adil."
Susan tersenyum. "Dan dengan Rakuan sebagai
arsiteknya, kita bisa menciptakan kawasan kuliner yang indah dan modern."
Rakuan mengeluarkan sketsa yang telah ia buat. "Aku
sudah merancang konsepnya. Kita akan menggabungkan elemen tradisional Kapuas
dengan sentuhan modern. Kita akan menggunakan kayu ulin, atap sirap, dan
ornamen-ornamen khas Kalimantan. Tapi kita juga akan menambahkan pencahayaan
modern, area duduk yang nyaman, dan ruang terbuka yang menghadap ke
sungai."
Semua orang terkesima melihat sketsa itu. "Ini luar
biasa, Ku," kata Rudi. "Kau benar-benar arsitek berbakat."
Rakuan tersenyum malu. "Aku hanya melakukan apa yang
aku bisa. Ini adalah proyek yang sangat berarti bagiku."
Proyek pembangunan kawasan kuliner "Rindu Kapuas"
segera dimulai. Rakuan memimpin tim konstruksi dengan penuh semangat. Ia
mengawasi setiap detail, dari fondasi bangunan hingga ornamen terakhir. Ia
ingin kawasan ini menjadi sempurna—menjadi simbol kebangkitan mereka dari
segala kesulitan.
Susan membantu mengurus logistik dan koordinasi dengan para
pekerja. Rudi bertanggung jawab atas dapur dan pengembangan menu. Rosnah
menjadi penasihat, memberikan masukan tentang resep-resep tradisional yang
harus dipertahankan.
Mereka bekerja dari pagi hingga malam. Kadang, ketika
kelelahan mulai terasa, mereka saling menyemangati dengan cerita-cerita lucu
atau tawa-tawa kecil. Di tengah semua kerja keras itu, mereka seperti keluarga
yang sebenarnya.
"Kau tahu," kata Susan suatu hari, "aku
tidak pernah membayangkan bahwa kami akan bekerja bersama seperti ini. Dulu,
kami semua saling bermusuhan. Sekarang, kami seperti saudara."
Rudi tertawa. "Ya, dulu aku benci pada Dapoer Tepian
Kapuas. Tapi sekarang, aku justru bangga karena kita bergabung."
Rakuan tersenyum. "Itulah kekuatan rekonsiliasi.
Ketika kita mau saling memaafkan dan bekerja sama, kita bisa menciptakan
sesuatu yang luar biasa."
Setelah tiga bulan kerja keras, kawasan kuliner "Rindu
Kapuas" akhirnya selesai. Bangunan-bangunan yang berdiri di tepian Sungai
Kapuas tampak megah dan indah. Kayu ulin yang kokoh berpadu dengan atap sirap
yang elegan. Lampu-lampu hangat menerangi setiap sudut, menciptakan suasana
yang romantis dan akrab. Di tengah kawasan, ada area terbuka dengan panggung
kecil untuk pertunjukan musik tradisional.
Rakuan berdiri di depan kawasan itu, menatap hasil karyanya
dengan hati yang penuh. Susan berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya.
"Ini luar biasa, Rakuan," kata Susan. "Kau
berhasil menciptakan sesuatu yang indah."
Rakuan menggeleng. "Ini bukan hanya karyaku. Ini karya
kita semua. Tanpa kalian, tanpa kerja sama kita, ini tidak akan pernah
terwujud."
Rudi mendekat. "Kapan kita meresmikannya?"
"Besok," kata Rakuan. "Kita akan
meresmikannya saat senja. Di Dermaga KP3. Sebagai simbol bahwa setelah semua
kegelapan, akhirnya ada cahaya."
Hari peresmian tiba. Kawasan "Rindu Kapuas"
dipenuhi oleh pengunjung dari berbagai daerah. Tokoh-tokoh masyarakat, pejabat
pemerintah, pengusaha kuliner, dan warga setempat datang untuk menyaksikan
peresmian ini. Ada juga beberapa jurnalis yang meliput acara tersebut.
Rakuan, Susan, Rudi, Rosnah, dan Samsudin berdiri di atas
panggung kecil di tengah kawasan. Rakuan memegang mikrofon dengan tangan yang
sedikit gemetar.
"Selamat sore, semuanya," katanya memulai.
"Selamat datang di 'Rindu Kapuas'—kawasan kuliner yang kami bangun dengan
kerja keras, air mata, dan pengorbanan."
Penonton bertepuk tangan. Rakuan melanjutkan.
"Tempat ini bukan sekadar tempat untuk makan. Tempat
ini adalah simbol dari perjuangan kami. Kami telah melalui banyak
hal—perselisihan, permusuhan, pengkhianatan, dan bahkan ancaman. Tapi kami
tidak menyerah. Kami memilih untuk saling memaafkan, bekerja sama, dan
menciptakan sesuatu yang lebih baik."
Ia menatap Susan, Rudi, Rosnah, dan Samsudin.
"Ini adalah kemenangan kita semua. Kemenangan cinta,
persahabatan, dan keluarga. Selamat datang di 'Rindu Kapuas'!"
Tepuk tangan menggema di seluruh kawasan. Rakuan meneteskan
air mata—air mata kebahagiaan.
Setelah acara peresmian, mereka semua berkumpul di Dermaga
KP3. Senja mulai turun, menciptakan langit jingga yang indah. Lampu-lampu
kawasan "Rindu Kapuas" mulai menyala, menciptakan pemandangan yang
memukau di tepian sungai.
"Kau tahu," kata Rudi, "aku tidak pernah
membayangkan bahwa dermaga ini akan terlihat begitu indah. Dulu, ini hanya
tempat perahu bersandar. Sekarang, ini adalah pusat kehidupan."
Rosnah mengangguk. "Ini semua karena kita berani
berubah. Kita berani memaafkan. Kita berani memulai dari awal."
Samsudin duduk di kursi kayu, menatap pemandangan dengan
senyum di wajahnya. "Rahmah pasti tersenyum melihat ini. Ia pasti sangat
bangga pada kalian semua."
Susan memeluk Samsudin. "Kami semua bangga, Pak.
Bangga karena kita bisa bersama-sama seperti ini."
Rakuan dan Susan berjalan menyusuri dermaga, berpegangan
tangan. Lampu-lampu kawasan "Rindu Kapuas" memantulkan cahaya ke
permukaan sungai, menciptakan efek yang memukau.
"Rakuan," kata Susan pelan, "apa kau ingat
ketika kita pertama kali bertemu di sini? Setelah tiga tahun kau pergi?"
Rakuan tersenyum. "Aku ingat. Kau sangat marah
padaku."
"Aku memang marah," kata Susan. "Tapi
sebenarnya, di dalam hati, aku sangat senang melihatmu kembali. Aku hanya tidak
mau mengakuinya."
"Dan sekarang?"
Susan menatapnya dengan mata yang penuh cinta.
"Sekarang, aku sangat bersyukur bahwa kau kembali. Tanpamu, aku mungkin
tidak akan pernah menemukan kekuatan untuk menghadapi semua ini."
Rakuan mengusap pipinya. "Kau adalah wanita terkuat
yang aku kenal, Susan. Aku hanya membantu sedikit."
Mereka berpelukan di ujung dermaga, di bawah senja yang
indah.
Malam itu, mereka semua makan malam bersama di salah satu
restoran di kawasan "Rindu Kapuas". Menu yang disajikan adalah
hidangan khas Kapuas—bubur pedas, ikan patin bakar, kerupuk basah, dan berbagai
hidangan lainnya. Semua makanan itu dimasak dengan resep turun-temurun yang
telah diwariskan dari nenek moyang.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa makanan ini akan
terasa begitu istimewa," kata Rudi sambil menikmati seporsi bubur pedas.
"Rasanya seperti ... seperti pulang."
Rosnah tersenyum. "Itulah kekuatan makanan, Rudi.
Makanan bukan hanya mengenyangkan perut. Makanan juga mengobati hati."
Susan mengangkat gelasnya. "Untuk keluarga. Untuk
persahabatan. Dan untuk kemenangan yang telah kita raih bersama."
Semua mengangkat gelas mereka. "Untuk keluarga! Untuk
persahabatan! Untuk kemenangan!"
Mereka makan dan tertawa bersama, menikmati malam yang
penuh kebahagiaan. Di luar, Sungai Kapuas mengalir tenang, menyaksikan perayaan
yang telah lama mereka nantikan.
Setelah makan malam, Rakuan dan Susan berjalan kembali ke
Dermaga KP3. Mereka duduk di ujung dermaga, seperti biasa, menatap sungai yang
berkilau di bawah cahaya bulan.
"Rakuan," kata Susan, "aku ingin mengatakan
sesuatu."
"Apa?"
"Selama bertahun-tahun, aku selalu merasa bahwa
hidupku penuh dengan kegelapan. Aku kehilangan ibu kandungku. Aku dibesarkan
dengan rahasia. Aku dijodohkan dengan seseorang yang tidak kucintai. Aku
dikucilkan oleh keluarganya. Tapi sekarang ... sekarang aku melihat bahwa semua
kegelapan itu membawaku ke sini. Ke tempat ini. Ke sisimu. Ke keluarga yang
sebenarnya."
Rakuan menggenggam tangannya. "Aku juga merasakan hal
yang sama, Sus. Semua kesalahan yang kulakukan—meninggalkanmu, meninggalkan
ayahku, lari dari masalah—semua itu mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang
lebih baik. Dan semua itu membawaku kembali padamu."
Susan menangis—air mata kebahagiaan. "Aku mencintaimu,
Rakuan. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Susan. Dan aku akan selalu ada
untukmu."
Mereka berpelukan di bawah langit malam yang bertabur
bintang.
Di kejauhan, Rudi, Rosnah, dan Samsudin menyaksikan mereka
dari restoran. Mereka tersenyum melihat kebahagiaan Rakuan dan Susan.
"Mereka benar-benar cocok," kata Rudi.
"Mereka berdua telah melalui banyak hal, tapi mereka tetap bersama."
Rosnah mengangguk. "Cinta sejati tidak pernah mudah.
Tapi ketika ia bertahan, ia menjadi sesuatu yang indah."
Samsudin mengusap air mata di pipinya. "Rahmah pasti
sangat bahagia melihat mereka. Ia selalu ingin Rakuan bahagia. Dan sekarang, ia
mendapatkannya."
Mereka semua duduk bersama, menikmati malam yang penuh
dengan cinta dan kebahagiaan. Di Dermaga KP3, di bawah senja yang telah berubah
menjadi malam, sebuah perjalanan panjang akhirnya mencapai titik yang indah.
BAB XIX
Antara
Dua Cinta
Kebahagiaan yang menyelimuti kawasan "Rindu
Kapuas" seakan menjadi obat bagi segala luka masa lalu. Setiap hari,
Rakuan dan Susan bekerja bersama di kawasan kuliner itu—mengelola restoran,
menyambut pengunjung, dan menikmati kehidupan yang telah mereka bangun dari
nol. Senja di Dermaga KP3 menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka. Tapi seperti
kata pepatah, di balik awan cerah selalu ada hujan yang mengintai.
Suatu pagi, Rakuan menerima kabar yang mengubah segalanya.
"Rakuan!" suara Rudi terdengar dari kejauhan.
"Ada seseorang mencarimu!"
Rakuan menoleh dan melihat seorang perempuan berdiri di
pintu masuk kawasan kuliner. Perempuan itu tinggi, dengan rambut panjang yang
diikat rapi, dan mengenakan kemeja putih serta celana blazer hitam. Wajahnya
tampak familiar, tapi Rakuan tidak bisa langsung mengingat di mana ia pernah
melihatnya.
Perempuan itu berjalan mendekat. Senyum lebar menghiasi
wajahnya.
"Rakuan! Akhirnya aku menemukanmu!" katanya
dengan suara ceria.
Rakuan terdiam. Matanya membulat ketika ia mengenali
perempuan itu. "Maya?"
"Ya! Aku Maya!" Perempuan itu memeluknya erat.
"Sudah lama sekali, Ku! Aku mencari-cari kabarmu sejak kau pergi dari
Jakarta. Kenapa kau tidak pernah memberi kabar?"
Rakuan terdiam. Ia merasa canggung di tengah pelukan Maya.
Di belakangnya, ia bisa merasakan tatapan Susan yang tajam.
Maya adalah teman kuliah Rakuan di Jakarta. Mereka dulu
sangat dekat—bahkan beberapa orang mengira mereka berpacaran. Maya adalah
seorang arsitek berbakat yang bekerja di kantor yang sama dengan Rakuan sebelum
ia memutuskan kembali ke Kuala Kapuas.
"Kau datang ke sini?" tanya Rakuan dengan suara
terkejut.
Maya tersenyum. "Aku datang untuk menjemputmu. Kantor
membutuhkanmu segera. Proyek besar yang kita kerjakan dulu sekarang memasuki
tahap final, dan klien meminta desain aslimu. Kau harus kembali ke
Jakarta."
Rakuan terdiam. Ia menatap Susan yang berdiri di kejauhan
dengan ekspresi sulit dibaca.
"Maya, aku ... aku tidak bisa pergi sekarang. Aku ada
banyak tanggung jawab di sini."
Maya mengerutkan kening. "Tanggung jawab? Rakuan, ini
adalah kesempatan emas. Proyek ini akan membuat namamu melambung. Kau akan
menjadi arsitek terkenal. Ini yang selama ini kita perjuangkan."
"Aku tidak bisa, Maya," kata Rakuan dengan tegas.
"Aku sudah memutuskan untuk tinggal di sini."
Maya menatapnya dengan tatapan tajam. "Kau serius? Kau
mengorbankan kariermu untuk ... ini?" Ia menunjuk ke sekeliling kawasan
kuliner. "Untuk restoran kecil di kampung halaman?"
Susan mendekati mereka. Ia tersenyum—senyum sopan yang
tidak mencapai matanya.
"Hai, aku Susan," katanya memperkenalkan diri.
"Kau teman Rakuan?"
Maya menatap Susan dengan tatapan evaluatif. "Ya, aku
Maya. Teman kuliah dan rekan kerja Rakuan. Kami bekerja bersama di
Jakarta."
"Senang bertemu denganmu, Maya," kata Susan.
"Rakuan sering bercerita tentangmu."
Maya tersenyum sinis. "Oh, benarkah? Aku berharap ia
juga bercerita tentangku di sini." Ia menatap Rakuan. "Rakuan, aku
perlu bicara denganmu empat mata. Ada hal penting yang harus kita
diskusikan."
Rakuan menatap Susan. Susan mengangguk pelan, memberikan
izin.
"Baik," kata Rakuan. "Mari kita bicara di
kantor."
Mereka berjalan ke ruang kantor kecil di belakang restoran.
Begitu pintu tertutup, Maya langsung berbicara.
"Rakuan, apa yang terjadi padamu? Kau adalah arsitek berbakat.
Kau memiliki masa depan yang cerah di Jakarta. Tapi kau membuang semuanya untuk
... untuk apa? Untuk perempuan itu?"
Rakuan menatap Maya dengan tatapan datar. "Susan bukan
'perempuan itu', Maya. Ia adalah kekasihku. Dan aku tidak membuang masa depanku.
Aku memilih kehidupan yang aku inginkan."
Maya menghela napas frustasi. "Rakuan, aku tidak
datang ke sini hanya untuk menjemputmu. Aku juga datang karena ..." ia
berhenti sejenak, "... karena aku mencintaimu."
Rakuan terkejut. "Apa?"
"Aku mencintaimu sejak kita di kampus," kata Maya
dengan suara bergetar. "Selama ini, aku selalu ada untukmu. Aku
mendukungmu dalam setiap proyek. Aku menghiburmu saat kau sedih. Aku bahkan
mengorbankan karierku untukmu. Tapi kau tidak pernah melihatku sebagai lebih
dari sekadar teman."
Rakuan terdiam. Ia tidak pernah menyangka Maya menyimpan
perasaan seperti ini.
"Maya, aku ... aku tidak tahu. Aku tidak pernah
..."
"Aku tahu," kata Maya cepat. "Aku tahu kau
tidak pernah melihatku seperti itu. Tapi aku tidak bisa terus menyembunyikan
perasaanku. Aku datang ke sini untuk memberitahumu. Dan untuk memintamu
memilih. Antara aku dan kehidupan barumu di sini. Antara karier yang bisa kau
miliki dan ... dan perempuan itu."
Rakuan keluar dari kantor dengan perasaan kacau. Pikirannya
dipenuhi oleh kata-kata Maya. Ia tidak pernah menyangka bahwa teman dekatnya
selama ini menyimpan perasaan padanya. Dan sekarang, ia harus memilih.
Susan menunggunya di luar. Ketika melihat ekspresi Rakuan,
ia langsung tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada apa?" tanya Susan cemas.
Rakuan menggenggam tangannya. "Susan, kita perlu
bicara."
Mereka berjalan ke Dermaga KP3—tempat yang selalu menjadi
saksi bisu percakapan mereka. Di sana, Rakuan menceritakan semuanya. Tentang
Maya, tentang perasaannya, dan tentang tawaran untuk kembali ke Jakarta.
"Aku tidak mau pergi, Sus," kata Rakuan.
"Tapi aku juga tidak ingin menyakiti Maya. Ia adalah teman baikku. Aku
tidak pernah menyangka ia memiliki perasaan seperti ini."
Susan terdiam. Ia menatap sungai yang mengalir tenang.
"Rakuan," katanya akhirnya, "aku tidak akan
menghalangi kebahagiaanmu. Jika kau ingin kembali ke Jakarta, aku akan
mendukungmu. Aku tidak mau menjadi penghalang bagi masa depanmu."
Rakuan menatapnya. "Apakah kau serius?"
Susan mengangguk, tapi air mata mulai mengalir di pipinya.
"Aku serius. Aku mencintaimu, Rakuan. Dan aku hanya ingin kau bahagia.
Jika kebahagiaanmu ada di Jakarta, maka pergilah."
Rakuan merasakan hatinya hancur. Ia memeluk Susan
erat-erat.
"Susan, dengarkan aku. Aku tidak akan pergi. Aku
memilihmu. Aku memilih kehidupan kita di sini. Aku tidak peduli dengan karier,
ketenaran, atau apa pun. Yang aku pedulikan hanyalah kau."
Susan menangis di pelukannya. "Tapi bagaimana dengan
Maya? Kau tidak bisa begitu saja mengabaikan perasaannya."
"Aku akan bicara dengannya," kata Rakuan.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku akan mengatakan bahwa aku
mencintaimu, dan aku akan selalu memilihmu."
Keesokan harinya, Rakuan mengajak Maya untuk berbicara di
Dermaga KP3. Senja mulai turun, menciptakan langit jingga yang indah—tapi
suasana di antara mereka terasa tegang.
"Maya," kata Rakuan memulai, "aku harus
mengatakan sesuatu."
Maya menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Apa?"
"Aku mencintai Susan," kata Rakuan tegas.
"Aku sangat mencintainya. Dan aku tidak akan pergi ke Jakarta. Aku akan
tinggal di sini, bersamanya."
Maya terdiam. Wajahnya berubah—dari penuh harap menjadi
pucat.
"Rakuan ..." suaranya bergetar. "Kau
serius?"
"Aku serius, Maya. Aku tahu ini menyakitkan. Aku tahu
kau berharap aku akan memilihmu. Tapi aku tidak bisa berbohong pada diriku
sendiri. Aku tidak bisa berpura-pura mencintaimu seperti aku mencintai
Susan."
Maya menunduk. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Aku sudah mencintaimu bertahun-tahun, Rakuan,"
katanya. "Aku selalu ada untukmu. Aku selalu mendukungmu. Tapi kau ... kau
tidak pernah melihatku."
"Aku minta maaf, Maya," kata Rakuan. "Aku
tidak pernah bermaksud menyakitimu. Tapi lebih baik kita jujur sekarang
daripada terluka di kemudian hari."
Maya mengusap air matanya. "Kau benar," katanya
pelan. "Aku lebih baik terluka sekarang daripada terus berharap pada
sesuatu yang tidak mungkin."
Ia berdiri dan menatap Rakuan. "Aku akan kembali ke
Jakarta. Aku akan melanjutkan hidupku. Tapi aku ingin kau tahu—aku tidak akan
melupakanmu, Rakuan. Dan aku berharap kau bahagia."
Rakuan berdiri dan memeluk Maya. "Terima kasih, Maya.
Terima kasih karena telah menjadi teman baikku. Aku berharap kau menemukan
kebahagiaanmu sendiri."
Maya melepaskan pelukan dan tersenyum—senyum yang meskipun
penuh kesedihan, juga penuh dengan kelegaan.
"Selamat tinggal, Rakuan," katanya. "Semoga
kita bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik."
Ia berbalik dan pergi. Rakuan menatapnya sampai ia
menghilang di ujung dermaga. Di dalam hatinya, ia merasa sedih, tapi juga lega.
Ia telah mengatakan kebenaran, meskipun itu menyakitkan.
Rakuan kembali menemui Susan. Gadis itu sedang duduk di
beranda rumah Rosnah, menatap sungai dengan tatapan kosong. Ketika melihat
Rakuan datang, ia berdiri dan berjalan mendekat.
"Bagaimana?" tanyanya cemas.
Rakuan tersenyum. "Sudah selesai. Maya kembali ke
Jakarta. Aku mengatakan yang sebenarnya padanya."
Susan menangis—air mata kebahagiaan. "Aku sangat
takut, Rakuan. Aku takut kau akan pergi."
Rakuan memeluknya erat. "Aku tidak akan pernah pergi,
Sus. Aku sudah berjanji padamu. Aku akan selalu ada di sisimu."
Mereka berpelukan di bawah langit senja. Di kejauhan,
lampu-lampu kawasan "Rindu Kapuas" mulai menyala, menciptakan
pemandangan yang indah.
Malam itu, mereka semua berkumpul di rumah Rosnah untuk
makan malam. Rudi, Rosnah, dan Samsudin hadir. Suasana terasa lebih ringan dan
bahagia.
"Jadi, Maya sudah kembali ke Jakarta?" tanya
Rudi.
Rakuan mengangguk. "Ya. Kami sudah bicara. Ia menerima
keputusanku."
Rosnah tersenyum. "Kau melakukan hal yang benar,
Rakuan. Kau memilih cinta sejati."
Samsudin mengangguk. "Aku bangga padamu, Nak. Kau
tidak seperti ayahmu yang dulu. Kau berani memperjuangkan cintamu."
Rakuan tersenyum. "Aku belajar dari semua orang di
sini. Aku belajar bahwa cinta sejati adalah tentang pengorbanan dan
keberanian."
Mereka makan bersama dalam suasana yang hangat. Tawa-tawa
kecil terdengar, dan cerita-cerita lucu diceritakan. Di luar, Sungai Kapuas
mengalir tenang, menyaksikan kebahagiaan yang telah lama mereka nantikan.
Setelah makan malam, Rakuan dan Susan berjalan di Dermaga
KP3. Lampu-lampu dermaga menciptakan suasana yang romantis. Mereka berhenti di
ujung dermaga, tempat yang selalu menjadi saksi perjalanan mereka.
"Rakuan," kata Susan pelan, "aku ingin
bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Apakah kau pernah menyesal? Menyesal karena memilihku
daripada kariermu di Jakarta?"
Rakuan menatapnya dalam-dalam. "Susan, dengarkan aku.
Aku tidak pernah menyesal. Tidak sedetik pun. Kau adalah keputusan terbaik
dalam hidupku. Dan aku akan memilihmu berulang kali, dalam kehidupan ini dan
kehidupan berikutnya."
Susan menangis. "Aku mencintaimu, Rakuan. Aku sangat
mencintaimu."
Rakuan mengusap air matanya. "Aku juga mencintaimu,
Susan. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Mereka berpelukan di bawah langit malam yang bertabur
bintang. Dermaga KP3 menjadi saksi bisu cinta mereka—cinta yang telah melalui
badai dan akhirnya menemukan pelabuhan yang aman.
Beberapa hari kemudian, Rakuan menerima surat dari Maya.
Surat itu pendek tapi penuh makna.
"Rakuan,
Aku sudah kembali ke Jakarta dengan selamat. Aku ingin
mengucapkan terima kasih karena telah jujur padaku. Awalnya memang sakit, tapi
sekarang aku mulai menerimanya. Aku menyadari bahwa cinta sejati adalah ketika
kita rela melepaskan seseorang untuk kebahagiaannya.
Aku berharap kau dan Susan bahagia. Kau layak mendapatkan
kebahagiaan itu. Dan aku akan selalu menjadi temanmu, kapan pun kau
membutuhkanku.
Salam,
Maya"
Rakuan membaca surat itu dengan mata berkaca-kaca. Ia
menunjukkan surat itu pada Susan.
"Kau lihat?" katanya. "Maya adalah orang
yang baik. Ia rela melepaskanku demi kebahagiaanku."
Susan tersenyum. "Aku senang kau memiliki teman
seperti Maya. Dan aku berharap suatu hari nanti, ia menemukan kebahagiaannya
sendiri."
Mereka menyimpan surat itu di dalam kotak kenangan, sebagai
pengingat bahwa cinta sejati juga bisa berarti melepaskan.
Malam itu, Rakuan dan Susan duduk di Dermaga KP3, menikmati
senja yang indah. Langit jingga menciptakan latar yang sempurna untuk
percakapan mereka.
"Rakuan," kata Susan, "aku ingin bertanya
sesuatu."
"Apa?"
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Setelah semua yang
terjadi?"
Rakuan merenung sejenak. "Aku merasa ... tenang. Aku
sudah menyelesaikan semua konflik. Aku sudah berdamai dengan masa lalu. Dan aku
sudah memilih jalan yang aku yakini. Aku merasa ... aku merasa seperti telah
menemukan tempatku."
Susan menggenggam tangannya. "Aku juga merasakan hal
yang sama. Aku akhirnya menemukan tempatku—di sini, di Kapuas, di sisimu."
Rakuan menatapnya dengan penuh cinta. "Kau tahu,
Susan, selama bertahun-tahun, aku selalu mencari sesuatu. Aku mencari
kesuksesan. Aku mencari pengakuan. Aku mencari identitas. Tapi sekarang aku
sadar—apa yang selama ini aku cari sebenarnya ada di sini. Di kampung halaman ini.
Di antara orang-orang yang kucintai. Dan di sisimu."
Susan menangis—air mata kebahagiaan. "Aku juga,
Rakuan. Aku juga."
Mereka berpelukan di bawah senja yang indah. Dan di
kejauhan, Dermaga KP3 berdiri kokoh, menjadi saksi bisu perjalanan cinta
mereka—sebuah perjalanan yang berliku, penuh badai, tapi akhirnya berujung pada
pelabuhan yang aman.
BAB XX
Rindu
yang Berujung Nyata
Maya telah kembali ke Jakarta. Suratnya yang penuh makna
masih tersimpan rapi di kotak kenangan Rakuan. Kehidupan di Kuala Kapuas berjalan
seperti biasa—tapi ada sesuatu yang berbeda dalam diri Rakuan. Ada ketenangan
yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Seperti semua badai dalam hidupnya
akhirnya reda, dan yang tersisa hanyalah langit cerah di hadapannya.
Suatu pagi, Rakuan bangun lebih awal dari biasanya. Ia
duduk di beranda rumah tuanya, menatap Sungai Kapuas yang mengalir tenang. Di
tangannya, ia menggenggam sebuah kotak kecil berwarna biru. Di dalam kotak itu,
ada cincin perak sederhana—cincin yang ia beli beberapa hari lalu di sebuah
toko perhiasan kecil di pasar tradisional.
Hari ini, ia akan melamar Susan.
Ia sudah merencanakan semuanya. Tempatnya—Dermaga KP3, di
mana semuanya dimulai. Waktunya—senja, ketika langit Kapuas terbakar jingga,
seperti saat pertama kali mereka bertemu kembali setelah tiga tahun perpisahan.
"Semuanya harus sempurna," bisiknya. "Untuk
Susan. Untuk cinta sejati kita."
Rakuan menghabiskan pagi hari dengan mempersiapkan segala
sesuatu. Ia meminta bantuan Rudi untuk mengatur dekorasi sederhana di Dermaga
KP3. Bukan dekorasi yang mewah—hanya beberapa lilin kecil dan bunga-bunga segar
yang ia petik dari kebun Rosnah.
"Kau yakin ini hari yang tepat?" tanya Rudi
sambil membantu merangkai bunga.
Rakuan mengangguk. "Aku sudah menunggu terlalu lama,
Rud. Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu. Aku tidak mau menunggu
lagi."
Rudi tersenyum. "Aku bangga padamu, Ku. Kau
benar-benar telah berubah."
Rakuan menepuk bahu sahabatnya. "Aku belajar dari
semua yang terjadi. Aku belajar bahwa cinta sejati tidak pernah datang dengan
sendirinya. Kita harus memperjuangkannya."
Mereka bekerja bersama hingga siang. Rudi membantu
merangkai bunga, memasang lilin, dan membersihkan area dermaga. Rosnah dan
Samsudin juga membantu—Rosnah menyiapkan makanan kecil untuk perayaan nanti,
sementara Samsudin membersihkan kursi-kursi kayu di ujung dermaga.
"Ini seperti pesta pernikahan," kata Rosnah
sambil tersenyum.
"Ini adalah awal dari pernikahan," kata Rakuan.
"Dan aku berharap kalian semua menjadi bagian dari momen ini."
Sementara itu, Susan menghabiskan hari itu dengan perasaan
yang aneh. Ada firasat di hatinya—firasat bahwa sesuatu yang istimewa akan
terjadi. Tapi ia tidak tahu apa.
"Susan, kau terlihat gelisah," kata Rosnah ketika
Susan datang ke rumahnya. "Ada apa?"
Susan menggeleng. "Aku tidak tahu, Bu. Aku hanya
merasa ... seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi aku tidak tahu
apa."
Rosnah tersenyum misterius. "Kadang, firasat adalah
cara Tuhan memberitahu kita bahwa sesuatu yang indah akan datang."
Susan menatap ibunya. "Bu, apakah kau tahu
sesuatu?"
Rosnah terkekeh. "Aku hanya seorang ibu tua yang tidak
tahu apa-apa. Pergilah, Nak. Mandi dan berpakaianlah yang cantik. Siapa tahu
malam ini adalah malam yang istimewa."
Susan bingung, tapi ia mengikuti saran ibunya. Ia mandi dan
mengenakan baju terbaiknya—gaun putih sederhana yang dulu pernah ia beli untuk
acara penting. Ia tidak tahu mengapa ia memilih gaun itu. Tapi hatinya
mengatakan bahwa ini adalah pilihan yang tepat.
Sore mulai turun. Rakuan berdiri di Dermaga KP3, menatap
langit yang mulai berubah warna. Di tangannya, ia memegang kotak kecil berisi
cincin. Jantungnya berdebar kencang. Tapi ia tidak takut. Kali ini, ia yakin.
Rudi mendekat dan menepuk bahunya. "Semua sudah siap,
Ku. Aku sudah memastikan Susan akan datang."
"Terima kasih, Rud," kata Rakuan. "Aku tidak
akan bisa melakukan ini tanpamu."
Rudi tersenyum. "Kau adalah sahabatku, Ku. Aku akan
selalu ada untukmu."
Rakuan mengambil napas dalam-dalam. Ia melihat ke arah
ujung dermaga, di mana Susan akan muncul. Hatinya berdegup kencang.
Susan tiba di Dermaga KP3 dengan langkah ragu-ragu. Rudi
mengatakan bahwa Rakuan ingin bertemu dengannya di sini. Tapi ketika ia melihat
dermaga itu, ia terkejut—ada lilin-lilin kecil yang menyala, bunga-bunga segar
yang tersusun rapi, dan di ujung dermaga, Rakuan berdiri dengan pakaian
terbaiknya.
"Rakuan ..." bisiknya. "Apa ini?"
Rakuan berjalan mendekat. Senyumnya lembut, matanya penuh
dengan cinta.
"Susan," katanya. "Aku minta kau datang ke
sini karena aku ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sudah lama ingin aku
katakan, tapi selama ini aku tidak punya cukup keberanian."
Susan mendekat. Air mata mulai menggenang di matanya.
"Apa itu?"
Rakuan berlutut di hadapannya. Dari sakunya, ia
mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dan membukanya. Di dalamnya, sebuah
cincin perak sederhana bersinar di bawah cahaya senja.
"Susan," katanya dengan suara bergetar. "Aku
sudah melewati banyak hal. Aku sudah kehilangan banyak waktu. Aku sudah
merindukanmu dari jauh selama tiga tahun. Dan aku tidak mau melakukannya lagi.
Aku ingin merindukanmu setiap hari, di sisimu. Aku ingin menjadi milikmu, dan
aku ingin kau menjadi milikku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.
Maukah kau menjadi istriku?"
Susan menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir
deras di pipinya. Ia tidak bisa berkata-kata.
"Susan?" suara Rakuan mulai gemetar. "Maukah
kau?"
Susan mengangguk—berulang kali, seperti tidak percaya.
"Ya, Rakuan. Ya! Aku mau!"
Rakuan tersenyum—senyum terbesar yang pernah ia tunjukkan.
Ia mengambil cincin itu dan melingkarkannya di jari Susan. Cincin perak itu
melingkar sempurna, seperti takdir yang telah menunggu terlalu lama.
Tepuk tangan menggema di sepanjang Dermaga KP3. Rudi,
Rosnah, Samsudin, dan beberapa orang lain yang telah bersembunyi di balik
warung-warung keluar dan bertepuk tangan. Mereka semua tersenyum dan menangis
bahagia.
"Kita berhasil!" seru Rudi. "Akhirnya,
sahabatku bertunangan!"
Rosnah memeluk Susan erat-erat. "Aku sangat bahagia,
Nak. Aku sangat bahagia."
Samsudin mendekati Rakuan dan memeluknya. "Aku bangga
padamu, Nak. Kau telah menemukan cinta sejatimu."
Rakuan tersenyum di antara air mata. "Terima kasih,
Ayah. Terima kasih untuk semuanya."
Mereka semua berkumpul di ujung dermaga, merayakan momen
yang penuh kebahagiaan. Susan memeluk Rakuan erat-erat, masih tidak percaya
bahwa ini nyata.
"Aku tidak pernah membayangkan ini," bisik Susan.
"Aku tidak pernah membayangkan bahwa momen ini akan datang."
Rakuan mengusap air matanya. "Aku juga tidak, Sus.
Tapi ini nyata. Dan aku berjanji—aku akan membuatmu bahagia. Selamanya."
Malam itu, mereka semua berkumpul di kawasan "Rindu
Kapuas" untuk merayakan pertunangan Rakuan dan Susan. Rudi menyiapkan
hidangan spesial, Rosnah membuat kue tradisional, dan Samsudin membawakan ikan segar
hasil tangkapannya sendiri.
"Untuk Rakuan dan Susan!" seru Rudi mengangkat
gelas. "Semoga cinta kalian abadi seperti Sungai Kapuas!"
Semua mengangkat gelas mereka. "Untuk Rakuan dan
Susan!"
Mereka makan dan tertawa bersama, menikmati kebahagiaan
yang telah lama mereka nantikan. Cerita-cerita lucu diceritakan,
kenangan-kenangan indah dikenang, dan harapan-harapan baru dirancang.
Di tengah perayaan, Rakuan bangkit dan berdiri.
"Semua," katanya, "aku ingin mengucapkan
terima kasih. Tanpa kalian semua, aku tidak akan pernah sampai di sini. Tanpa
dukungan, cinta, dan pengorbanan kalian, aku mungkin masih menjadi orang yang
sama—orang yang lari dari masalah dan takut akan komitmen."
Ia menatap satu per satu—Rudi, Rosnah, Samsudin, dan
akhirnya Susan.
"Kalian semua adalah keluarga saya. Keluarga yang saya
pilih. Dan saya berjanji, saya akan menjaga keluarga ini dengan sepenuh
hati."
Susan menggenggam tangannya. "Kami juga berjanji akan
menjagamu, Rakuan. Kami adalah keluarga. Selamanya."
Setelah perayaan usai, Rakuan dan Susan berjalan ke Dermaga
KP3. Lampu-lampu dermaga menyala terang, menciptakan pemandangan yang indah di
tepian sungai. Mereka duduk di ujung dermaga, seperti biasa, menatap sungai
yang mengalir tenang.
"Rakuan," kata Susan pelan, "apa kau ingat
ketika kita pertama kali bertemu di sini? Tiga tahun lalu?"
Rakuan tersenyum. "Aku ingat. Kau sangat marah
padaku."
"Aku memang marah," kata Susan. "Tapi
sebenarnya, aku sangat bahagia. Aku sangat bahagia karena kau kembali."
Rakuan menggenggam tangannya. "Dan sekarang, aku tidak
akan pernah pergi lagi. Aku berjanji."
Susan menatap cincin di jarinya. Cincin perak itu berkilau
di bawah cahaya bulan.
"Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan bahagia
seperti ini," katanya. "Setelah semua yang terjadi—setelah semua air
mata, pengkhianatan, dan kesedihan—aku akhirnya menemukan kebahagiaan. Di sini.
Di kapuas. Di sisimu."
Rakuan memeluknya. "Kita berdua telah melalui banyak
hal, Sus. Kita berdua telah terluka. Tapi kita juga telah tumbuh. Kita telah
belajar bahwa cinta sejati bukanlah tentang kesempurnaan. Cinta sejati adalah
tentang saling menerima, saling mendukung, dan saling memperjuangkan."
Malam semakin larut. Bintang-bintang mulai muncul di
langit, menciptakan pemandangan yang memukau. Rakuan dan Susan masih duduk di
ujung dermaga, berbicara tentang masa depan.
"Rakuan," kata Susan, "apa yang akan kita
lakukan setelah ini? Setelah pernikahan?"
Rakuan merenung sejenak. "Kita akan terus mengelola
kawasan 'Rindu Kapuas'. Kita akan menjadikannya tempat yang lebih indah dan
lebih ramai. Kita akan membesarkan anak-anak kita di sini, mengajarkan mereka
tentang sungai, tentang makanan, dan tentang keluarga."
Susan tersenyum. "Kau benar-benar sudah memikirkan
semuanya."
"Aku sudah memikirkannya sejak lama, Sus. Sejak aku
menyadari bahwa kau adalah orang yang ingin aku habiskan sisa hidupku."
Susan memeluknya erat. "Aku juga. Aku juga sudah
memikirkannya."
Mereka duduk bersama, membayangkan masa depan yang cerah.
Dan di kejauhan, Dermaga KP3 berdiri kokoh, menjadi saksi bisu perjalanan cinta
mereka—sebuah perjalanan yang berliku, penuh badai, tapi akhirnya berujung pada
pelabuhan yang aman.
Keesokan harinya, Rakuan dan Susan mengunjungi makam
Rahmah. Mereka duduk di samping makam itu, meletakkan bunga-bunga yang mereka
petik dari kebun Rosnah.
"Ibu," kata Rakuan dengan suara pelan, "aku
akhirnya melamar Susan. Aku akhirnya menemukan cinta sejatiku. Aku harap Ibu
bangga padaku."
Susan juga berbicara. "Tante Rahmah, aku berjanji akan
menjaga Rakuan. Aku berjanji akan mencintainya seumur hidupku. Aku berharap
Tante restu dari surga."
Angin bertiup lembut, seolah menjawab doa mereka. Di
kejauhan, burung-burung berkicau, menciptakan melodi yang indah.
Mereka berdiri dan menatap makam itu dengan penuh cinta.
"Terima kasih, Ibu," kata Rakuan. "Terima
kasih untuk semua yang telah Ibu berikan padaku. Terima kasih karena telah
mengajariku arti cinta dan pengampunan. Aku akan selalu mengingat Ibu."
Mereka berjalan meninggalkan makam, menuju masa depan yang
cerah. Dan di hati mereka, Rahmah selalu ada.
Beberapa minggu kemudian, pernikahan Rakuan dan Susan
dilangsungkan. Acara itu sederhana tapi penuh makna. Mereka memilih Dermaga KP3
sebagai tempat upacara—tempat di mana semuanya dimulai, tempat di mana mereka
bertemu kembali, tempat di mana mereka melamar, dan tempat di mana mereka akan
memulai babak baru kehidupan mereka.
Rudi menjadi saksi pernikahan. Rosnah dan Samsudin duduk di
barisan depan, meneteskan air mata kebahagiaan. Seluruh komunitas kuliner Kuala
Kapuas hadir untuk merayakan cinta sejati yang telah mereka saksikan tumbuh dan
berkembang.
"Rakuan dan Susan," kata penghulu, "kalian
telah melalui banyak hal. Kalian telah melewati badai, air mata, dan
pengkhianatan. Tapi kalian tetap bersama. Itu adalah bukti bahwa cinta kalian
sejati. Dan sekarang, dengan pengesahan ini, kalian resmi menjadi suami
istri."
Tepuk tangan menggema. Rakuan dan Susan saling menatap
dengan penuh cinta.
"Aku mencintaimu, Susan," bisik Rakuan.
"Aku juga mencintaimu, Rakuan. Selamanya."
Mereka berpelukan di bawah langit senja—senja yang sama
seperti pertama kali mereka bertemu, seperti saat mereka berjanji, dan seperti
saat mereka melamar. Senja Kapuas, yang selalu setia, menjadi saksi bisu cinta
mereka.
Epilog
Tahun-tahun berlalu. Kawasan kuliner "Rindu
Kapuas" berkembang menjadi destinasi wisata kuliner yang terkenal di
seluruh Kalimantan. Pengunjung datang dari berbagai daerah untuk menikmati
makanan khas Kapuas dan menikmati keindahan Senja di Dermaga KP3.
Rakuan dan Susan memiliki dua orang anak—seorang putra
bernama Bintang dan seorang putri bernama Sinar. Mereka tumbuh besar di tepian
sungai, belajar tentang kehidupan, cinta, dan keluarga.
Rudi menikah setahun setelah pernikahan Rakuan dan Susan.
Ia menikahi seorang perempuan baik bernama Sari, yang membantu mengelola
kawasan kuliner bersama mereka. Persahabatan mereka tetap kuat, seperti ikatan
yang tidak bisa diputuskan.
Rosnah menikmati masa tuanya dengan tenang. Ia sering duduk
di Dermaga KP3, menatap sungai, dan mengenang semua yang telah terjadi. Ia
tersenyum setiap kali melihat cucu-cucunya bermain di tepian dermaga.
Samsudin menjadi kakek yang lembut dan penuh kasih. Ia
menghabiskan hari-harinya dengan mengajari Bintang dan Sinar cara memancing di
sungai, sama seperti ia dulu mengajari Rakuan.
Di setiap senja, Rakuan dan Susan masih duduk di ujung
Dermaga KP3, tempat pertama mereka bertemu setelah tiga tahun perpisahan.
Mereka mengenang semua yang telah mereka lalui—air mata, kesedihan,
pengkhianatan, dan akhirnya, kebahagiaan.
"Rakuan," kata Susan suatu senja, "apa kau
ingat ketika kau bilang bahwa rindu itu tidak bertepi?"
Rakuan tersenyum. "Aku ingat."
"Dan sekarang?"
Rakuan menggenggam tangannya. "Sekarang, rindu itu
sudah berujung nyata. Karena kau ada di sini, di sisiku, selamanya."
Mereka berpelukan di bawah senja Kapuas yang indah. Sungai
Kapuas mengalir tenang di hadapan mereka, membawa semua kenangan dan harapan
menuju masa depan.
TAMAT











