Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Minggu, 23 Agustus 2026

NOVEL RINDU TAK BERTEPI

 

 


NOVEL

RINDU  TAK BERTEPI

Di Antara Senja dan Luka yang Tak Pernah Usai

Oleh: Slamet Riyadi


DISCLAIMER

Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh tokoh, nama, tempat, dan peristiwa yang digambarkan merupakan hasil imajinasi penulis. Meskipun mengambil latar tempat di Kuala Kapuas dan sekitarnya, termasuk Dermaga KP3 serta berbagai tempat kuliner yang terinspirasi dari suasana nyata, semua cerita dan karakternya tidak memiliki hubungan dengan peristiwa atau individu tertentu, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Kemiripan dengan kejadian nyata adalah kebetulan semata.


PROLOG

Sungai Kapuas mengalir seperti urat nadi kehidupan. Ia membawa air, membawa perahu, dan kadang membawa rahasia-rahasia yang tak pernah terucap. Di Dermaga KP3, di mana senja selalu setia melukis langit dengan warna-warna yang membakar, aku belajar bahwa cinta dan luka adalah dua sisi dari koin yang sama—kadang kita harus tersesat untuk menemukan jalan pulang.

Namaku Rakuan. Aku datang ke dermaga ini untuk melupakan, tapi justru di sinilah aku menemukan semuanya kembali. Susan—namanya seperti gema yang tak pernah padam. Ia muncul di antara hiruk-pikuk pedagang kuliner, di antara aroma kerupuk basah dan ikan bakar, dengan senyum yang menyimpan lautan rahasia. Tapi di balik senyum itu, ada luka yang sama dalamnya dengan lukaku.

Tiga tahun aku pergi meninggalkan kota ini. Tiga tahun aku mencoba melupakan cinta pertama yang kandas oleh tembok keluarga dan dendam masa lalu. Tapi sungai ini tidak pernah melupakan siapa pun. Ia mengalir terus, membawa kenangan-kenangan yang kupikir telah mati, lalu mengembalikannya kepadaku di saat yang paling tidak kuduga.

Ayahku, Samsudin, adalah nelayan yang keras kepala. Ia membenci pilihanku menjadi arsitek karena baginya, anak nelayan harus menjadi nelayan. Ibuku, Rahmah, adalah wanita lembut yang terjebak di antara cintanya pada suami dan cintanya pada anak. Dan Rosnah, ibu Susan, adalah sahabat ibuku yang berubah menjadi musuh karena sebidang tanah yang kini menjadi restoran tempat Susan bekerja.

Lucas, sepupu Susan, adalah bayang-bayang yang selalu menghantui. Tampan, percaya diri, dan segalanya yang bukan aku. Rudi, sahabatku, adalah saudara yang kupilih sendiri, tapi persaingan bisnis dan cinta hampir merenggut persahabatan kami. Dan di tengah semua itu, Maya datang dari Jakarta—wanita yang mencintaiku dengan tulus, tapi bukan Susan.

Ini bukan sekadar kisah tentang rindu. Ini tentang bagaimana kita memilih untuk bertahan ketika semua tampak runtuh. Tentang bagaimana pengampunan bisa muncul dari tempat paling gelap. Tentang bagaimana keluarga bisa berarti lebih dari sekadar darah.

Ini adalah kisah tentang bagaimana dua orang yang sama-sama terluka saling menemukan, kehilangan, dan berjuang untuk tidak tenggelam dalam rindu yang tak bertepi.

Aku menulis ini bukan untuk dikenang. Aku menulis ini agar semua orang tahu bahwa di Kuala Kapuas, di Dermaga KP3, di bawah senja yang selalu setia, ada cinta yang bertahan meski badai terus menerpa. Ada harapan yang tak pernah padam meski gelap menyelimuti.

Dan pada akhirnya, rindu terindah adalah rindu yang berujung pada kepulangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

Kepulangan yang Terlambat


Pesawat terbang rendah di atas hamparan hutan Kalimantan yang hijau pekat. Rakuan menempelkan dahinya ke jendela, menyaksikan sungai-sungai berkelok seperti ular raksasa yang tergeletak di antara pepohonan. Di kejauhan, ia bisa melihat Sungai Kapuas—jalur air terpanjang di Indonesia—berkilauan di bawah sinar matahari sore. Tiga tahun. Tiga tahun sejak terakhir kali ia melihat pemandangan ini. Tiga tahun sejak ia meninggalkan segalanya di Kuala Kapuas.

Namun pesawat ini tidak membawanya pulang karena rindu. Tidak. Pesawat ini membawanya pulang karena telegram dari tantenya yang berbunyi: "Ibu sakit keras. Kau harus pulang."

Rakuan menarik napas panjang. Di tangannya, ia menggenggam foto usang—potret keluarga di halaman rumah tua tepian sungai. Ia masih kecil dalam foto itu, duduk di pangkuan ibunya, Rahmah, sementara ayahnya, Samsudin, berdiri di belakang dengan ekspresi kaku. Senyum ibunya selalu menjadi satu-satunya kehangatan dalam foto itu. Dan kini, senyum itu mungkin akan segera padam.

"Apa kau baik-baik saja, Nak?"

Rakuan menoleh. Seorang ibu-ibu di kursi sebelahnya tersenyum penuh perhatian. Mungkin karena ia menyadari Rakuan tampak murung.

Rakuan memaksakan senyum. "Ya, Bu. Saya baik-baik saja."

"Mau ke Kapuas?" tanya ibu itu lagi.

"Iya."

"Pulang kampung?"

Rakuan ragu sejenak. "Pulang. Ibu saya sakit."

Ibu itu mengangguk, matanya berbinar penuh pengertian. "Semoga lekas sembuh, Nak. Doa anak sangat mustajab untuk orang tua."

Rakuan hanya mengangguk. Dalam hati, ia bertanya-tanya—apakah doanya masih di dengar ketika ia sudah bertahun-tahun tidak berbicara dengan ayahnya, ketika ia pergi meninggalkan rumah tanpa pamit, ketika ia memilih merantau ke Jakarta untuk menjadi arsitek meskipun itu berarti mengkhianati harapan ayahnya?

"Perjalanan ke kapuas ada 2 jam lagi melalui sungai setelah pesawat mendarat di Palangka Raya," Gumamnya. Ia sudah mempersiapkan semua. Ia tahu betul medan di kampung halamannya.

Pesawat mulai turun. Rakuan merasakan getaran di perutnya—bukan karena turbulensi, tapi karena kecemasan. Ia tahu bahwa di bandara kecil Palangka Raya, seseorang akan menjemputnya. Tapi ia tidak tahu siapa.


Bandara Tjilik Riwut masih sama seperti yang ia ingat. Sederhana, ramai, dan penuh dengan aroma khas Kalimantan—campuran tanah basah, minyak kayu putih, dan sedikit asap dari kendaraan tua yang melintas. Rakuan melangkah keluar dengan satu koper kecil di tangan. Ia sengaja tidak membawa banyak barang. Ia tidak yakin berapa lama ia akan tinggal.

Dan di antara kerumunan orang yang menunggu kedatangan, Rakuan melihat sosok yang dikenalnya.

"Rakuan!"

Seorang pria dengan perawakan kekar, kulit sawo matang, dan rambut keriting yang mulai memutih di pelipis melambaikan tangan. Wajahnya lebar dengan senyum khas yang memperlihatkan gigi putih bersih.

Rakuan tertegun. "Rudi?"

Pria itu—Rudi—bergegas mendekat dan langsung memeluk Rakuan erat. "Anjing! Kau benar-benar pulang! Tiga tahun, Ku! Tiga tahun kau menghilang!"

Rakuan membalas pelukan itu, setengah terkejut. Rudi adalah sahabat masa kecilnya, teman bermain di tepian sungai, teman memancing ikan patin di bawah jembatan, teman berbagi mimpi di bangku SMA. Mereka pernah begitu dekat seperti saudara. Tapi setelah Rakuan pergi ke Jakarta, komunikasi mereka mulai terputus.

"Kau yang menjemputku?" tanya Rakuan melepaskan pelukan.

"Kau pikir siapa lagi?" Rudi menepuk bahunya keras. "Tante Mira teleponku. Katanya kau datang hari ini. Mana bisa aku diam saja."

"Bagaimana ibuku?" pertanyaan itu meluncur begitu saja. Rakuan tidak bisa menahan diri.

Wajah Rudi berubah serius. Ekspresi ceria yang tadi menyala kini redup. "Mari kita bicara di perjalanan," katanya sambil mengambil koper Rakuan. "Kita ke kapal dulu, perjalanan dua jam menuju Kuala Kapuas."

Mereka berjalan keluar bandara. Udara sore terasa hangat, berbeda dengan udara Jakarta yang pengap. Rakuan menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma tanah dan pepohonan mengisi paru-parunya. Ia lupa bahwa ia merindukan ini.

Di dalam mobil tua yang mengantarkan mereka ke pelabuhan, Rudi mulai bercerita.

"Ibu kau dirawat di rumah sakit Kapuas," katanya. "Dua minggu terakhir kondisinya menurun drastis. Tante Mira bilang ia sering minta nama kau sebelum tidur."

Rakuan menahan sesuatu di dadanya. "Samsudin? Ayahku?"

Rudi menggeleng. "Ayahmu ... ya, dia masih di rumah. Tapi kau tahu bagaimana beliau, Ku. Keras kepala. Tidak mau mengaku bahwa ia khawatir. Tapi kudengar beliau setiap hari ke rumah sakit. Duduk di samping ibu kau tanpa bicara berjam-jam."

Rakuan mengepalkan tangan. Ayahnya, Samsudin, adalah seorang nelayan tua yang kasar dan otoriter. Ia selalu ingin Rakuan meneruskan profesinya—menjadi nelayan seperti dirinya. Tapi Rakuan memilih arsitektur. Samsudin menganggap itu pengkhianatan. Sejak saat itu, hubungan mereka retak.

"Aku ... aku belum siap bertemu ayahku," kata Rakuan pelan.

"Kau harus, Ku." Rudi menatapnya tajam. "Ibu kau mungkin tidak punya waktu banyak. Jangan biarkan penyesalan menghantuimu."

Mobil memasuki kawasan pelabuhan. Rakuan melihat perahu-perahu kayu yang bersandar di dermaga. Bau air sungai—bau khas yang selalu ia kenali sejak kecil—menyambutnya. Di kejauhan, Sungai Kapuas membentang lebar, seperti cermin raksasa yang memantulkan langit sore.


Perahu motor melaju pelan menyusuri Sungai Kapuas. Rakuan duduk di sisi perahu, menyaksikan pepohonan di tepian melintas dengan lambat. Bebberapa rumah panggung terlihat di antara rimbunan pohon, anak-anak melambai dari beranda mereka. Rudi duduk di sampingnya, sesekali menyetir perahu—karena ternyata ia yang mengemudikan sendiri kendaraan air ini.

"Ke mana kau pergi setelah meninggalkan Kapuas dulu?" tanya Rudi tiba-tiba.

Rakuan tidak menjawab. "Tiga tahun di Jakarta," katanya kemudian. "Aku bekerja di biro arsitektur. Bukan kantor besar memang, tapi aku bisa bertahan. Sekarang bahkan sudah punya proyek-proyek sendiri. Aku tinggal di apartemen kecil di dekat stasiun Tanah Abang. Hidup sibuk. Sibuk sekali."

"Tapi kau tidak pernah pulang," kata Rudi pelan.

Terdengar desahan di balik gumaman mesin perahu.

"Aku tak bisa, Rud. Aku tak bisa menghadapi ayahku. Terakhir kali kami bicara, ia menyebutku anak durhaka. Ia bilang aku mati baginya." Suara Rakuan bergetar. "Aku pikir dengan pergi dan menjadi sukses, mungkin suatu hari ia akan bangga. Tapi ibu ..."

"Ibumu selalu bangga padamu, Ku. Setiap kali aku bertemu beliau, ia selalu bercerita tentang kau. Tentang kau menjadi arsitek. Beliau menunjukkan foto-foto yang kau kirim. Dinding ruang tamu kalian penuh dengan karya-karyamu."

Rakuan menunduk. Air matanya hampir jatuh. Ia mengingat semua foto yang ia kirim—gambar-gambar gedung yang ia desain, sketsa-sketsa bangunan modern. Dan selama ini ibunya menyimpannya seperti harta berharga.

"Rudi ..." Rakuan menghela napas. "Bagaimana dengan ... Susan?"

Nama itu menggantung di udara seperti gema yang tak mau padam. Rudi terdiam sejenak.

"Susan baik-baik saja," jawabnya akhirnya. Suaranya terdengar aneh, terukur. "Ia kini mengelola restoran keluarganya. Dapoer Tepian Kapuas. Mungkin kau pernah dengar."

"Restoran keluarga?"

"Keluarga besarnya. Yang terutama, Lucas—sepupunya—memegang kendali manajemen. Tapi Susan yang mengelola operasional hari-hari. Masakan ibunya adalah menu andalan."

Rakuan menoleh menatap Rudi. Ada sesuatu di mata sahabatnya itu. Sesuatu yang tidak diucapkan.

"Ada apa?" tanya Rakuan curiga.

Rudi menggeleng. "Tidak ada."

"Rudi, aku mengenalmu sejak kita SMP. Kau bicara dengan nada aneh. Ada apa dengan Susan?"

Rudi diam. Perahu terus melaju, meninggalkan jejak putih di permukaan sungai. Akhirnya ia menghela napas panjang.

"Susan dan Lucas akan bertunangan," kata Rudi. "Itu sudah diatur keluarganya. Lucas adalah anak dari Hendri, pamannya Susan. Hendri adalah orang berpengaruh di komunitas kuliner Kapuas. Pernikahan ini adalah aliansi bisnis juga."

Rakuan merasa dadanya sesak. Tangan yang bersandar di tepi perahu mulai gemetar. Ia menutup matanya.

"Ah ..." katanya pelan. "Aku pikir aku sudah melupakannya."

"Kau tidak akan pernah melupakan Susan, Ku." Rudi menatapnya dengan tatapan yang terlalu tajam. "Dan percayalah, Susan juga tidak pernah melupakanmu."

"Jangan, Rud." Rakuan mengangkat tangannya. "Jangan membuatku berharap. Aku meninggalkannya dulu karena aku tidak berani melawan semua ini. Aku tidak pantas untuknya."

Rudi tidak menjawab. Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Hanya suara mesin perahu dan deburan air yang menemani.


Matahari mulai tenggelam ketika perahu merapat di Dermaga KP3 Kuala Kapuas. Rakuan menatap dermaga kayu yang sudah usang, tempat di mana ia dulu menghabiskan banyak sore—memancing, bermain, dan kemudian di masa remaja, duduk diam memandang senja bersama Susan.

Tapi ia tidak melihat Susan. Yang ia lihat adalah keramaian.

Dermaga KP3 kini telah berubah. Tidak lagi hanya menjadi tempat perahu bersandar. Kini ada deretan warung dan restoran kecil yang menjual aneka kuliner khas Kapuas. Aroma ikan bakar bercampur dengan bau rempah dan sedikit asap menggoda. Meja-meja kayu berjejer, dihuni pengunjung yang menikmati makanan sambil memandang sungai.

"Banyak yang berubah," gumam Rakuan.

Rudi tersenyum. "Dua tahun terakhir, kawasan ini dibenahi. Pemerintah daerah menyulap Dermaga KP3 menjadi wisata kuliner. Banyak pendatang dari luar kota. Bahkan turis mancanegara kadang mampir."

Rakuan mengamati sekeliling. Ada sebuah warung dengan papan nama "Sungai Rindu" yang ramai pengunjung. Meja-mejanya penuh, ada pengunjung yang mengantre. "Itu tempatmu?" tanya Rakuan.

Rudi mengangguk. "Warung kecil. Aku menjual bubur pedas, ikan patin bakar, dan beberapa makanan tradisional Dayak. Tidak besar, tapi cukup untuk menghidupi keluargaku."

"Keluarga? Kau sudah berkeluarga?"

"Sudah tiga tahun. Istriku, Dina, dan seorang putri, Melati, baru berusia satu tahun." Rudi tersenyum lebar. "Aku sangat bahagia, Ku."

Rakuan menepuk bahu Rudi. "Aku senang mendengarnya."

Mereka melangkah meninggalkan dermaga menuju jalan utama. Rumah sakit di mana ibu Rakuan dirawat berada tidak jauh dari dermaga. Namun Rakuan memutuskan untuk tidak langsung ke sana. Ia butuh waktu.

"Bolehkah aku ke rumah dulu? Rumah tua kita?" tanyanya.

Rudi mengangguk. "Aku antar."

Mereka berjalan menyusuri jalan yang sudah beraspal. Rumah-rumah di sekitar masih sama seperti yang diingat Rakuan—kebanyakan rumah panggung kayu dengan atap seng. Di beberapa pekarangan, ia melihat orang-orang menjemur ikan asin dan kerupuk basah.

"Kau pernah ke pasar tradisional?" tanya Rudi tiba-tiba.

"Belum."

"Di sana masih ada Rosnah, ibu Susan. Ia masih berjualan kerupuk basah di sana. Setiap hari."

Nama Rosnah mengingatkan Rakuan pada masa lalu yang rumit. Ia ingat bahwa ibunya, Rahmah, dulu sangat dekat dengan Rosnah. Mereka seperti saudara. Tapi suatu ketika terjadi perselisihan tentang tanah. Sampai sekarang, Rakuan tidak pernah tahu persis apa yang terjadi.

"Apa ibu kita masih berteman?" tanya Rakuan.

Rudi tertawa kecil. "Hubungan mereka ... rumit. Tapi yang jelas, Rosnah sering ke rumah sakit menjenguk ibumu. Meskipun mereka tidak bicara banyak, ia tetap datang."

Rakuan terdiam. Ada banyak hal yang tidak ia ketahui. Tiga tahun pergi ternyata bukan hanya membuatnya kehilangan kenangan—ia juga kehilangan banyak cerita.


Rumah tua itu terletak di tepian Sungai Kapuas. Sebuah rumah panggung kayu yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun. Cat cokelatnya mulai mengelupas, tapi bangunannya masih kokoh. Di depan rumah, ada pohon rambutan tua yang dulu menjadi saksi bisu masa kecilnya.

Rakuan berdiri di depan rumah itu dengan perasaan yang sulit digambarkan. Rudi menepuk bahunya dan pamit. "Aku ke dermaga. Kapan pun kau butuh, hubungi aku. Aku akan tunggu di Sungai Rindu."

"Iya, Rud. Terima kasih."

Rudi pergi. Rakuan sendirian di depan rumah. Ia melangkah menaiki tangga kayu yang berderit. Pintu depan terbuka, dan ia melihat ruang tamu yang masih sama seperti dulu. Dindingnya penuh foto-foto—foto pernikahan orangtuanya, foto Rakuan saat bayi, foto mereka saat liburan ke Pantai Sampit.

Dan di satu sudut, Rakuan melihat dinding yang penuh dengan foto-foto bangunan. Ini semua adalah karyanya. Foto-foto yang ia kirimkan pada ibunya selama tiga tahun. Ada beberapa gambar yang nyaris robek karena sering dipegang.

Ia meraih satu foto dan memeluknya. Air matanya tumpah. "Ibu ..." bisiknya.

Rakuan melangkah ke kamar ibunya. Di dalam lemari tua, ia menemukan sebuah kotak kayu berisi surat-surat. Ia membukanya dan mendapati semua surat yang ia kirim selama di Jakarta, tersimpan rapi. Ibunya menyimpan semuanya.

"Dan aku bahkan tidak pernah membalas surat-surat ini," katanya pada dirinya sendiri. Airmatanya kembali mengalir. "Maafkan aku, Bu."

Malam mulai gelap. Rakuan keluar rumah dan duduk di tangga, memandang Sungai Kapuas yang mengalir tenang di bawah cahaya rembulan. Di kejauhan, ia bisa melihat Dermaga KP3 yang mulai diterangi lampu-lampu.

Besok, ia akan ke rumah sakit. Besok, ia akan bertemu ibunya. Dan besok juga, mungkin ia akan bertemu semua orang yang ia tinggalkan.

Tapi untuk malam ini, ia membiarkan dirinya merindukan semua yang telah ia tinggalkan.

"Rindu yang tak bertepi," gumamnya. "Inikah rasanya, Bu?"

Di kejauhan, ia melihat seorang perempuan berjalan di tepian dermaga. Dari jarak jauh, sosok itu mengingatkannya pada Susan. Tapi ia tidak yakin.

Malam berlalu, membawa serta kerinduan dan ketakutan akan hari esok.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Senja yang Menghadirkan Kembali


Rakuan tidak bisa tidur semalaman. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah ibunya yang tersenyum dalam foto-foto di dinding. Ia melihat surat-surat yang tersimpan rapi di kotak kayu. Ia melihat tangan ibunya yang lembut membelai kepalanya saat ia masih kecil. Dan di antara semua kenangan itu, ia juga melihat sosok lain—sosok yang selama tiga tahun ia coba lupakan tapi tak pernah benar-benar hilang.

Susan.

Nama itu seperti duri di hatinya. Menusuk setiap kali ia mengingatnya.

Di pagi hari, Rakuan mandi dengan air sumur yang dingin—seperti kebiasaan masa kecilnya. Ia memakai kemeja putih sederhana dan celana hitam. Tidak terlalu formal, tapi cukup rapi untuk menjenguk ibunya di rumah sakit. Sebelum pergi, ia melirik cermin tua di kamar. Wajahnya tampak lebih tua dari usianya yang baru 28 tahun. Garis-garis halus di keningnya menunjukkan bahwa tiga tahun di Jakarta bukanlah tiga tahun yang mudah.

"Ibu, aku datang," bisiknya.


Rumah Sakit Umum Kuala Kapuas terletak tidak jauh dari pusat kota. Rakuan berjalan menuju ruang rawat inap dengan langkah berat. Setiap langkah terasa seperti menginjak batu-batu tajam. Tangan yang memegang buket bunga dan sekotak buah—yang ia beli di pasar dekat rumah—terasa gemetar.

Di depan pintu ruang perawatan, ia berhenti. Melalui kaca kecil, ia bisa melihat ibunya terbaring lemah di atas ranjang. Tubuh Rahmah tampak lebih kurus dari yang ia ingat. Rambutnya yang dulu hitam pekat kini putih di mana-mana. Alat-alat medis terpasang di tubuhnya, membuat suara detak jantung yang teratur.

Namun yang membuat Rakuan terkejut bukanlah itu. Di kursi di samping ranjang, seorang pria tua duduk membungkuk. Wajahnya cekung, matanya sayu, dan tangannya—tangan yang dulu kuat menarik jaring ikan di sungai—kini memegang tangan ibunya dengan lembut.

Samsudin. Ayahnya.

Rakuan hampir mundur. Dadanya terasa sesak. Ia belum siap. Ia belum siap bertemu dengan ayahnya setelah tiga tahun.

Tapi kemudian ibunya bergerak. Matanya terbuka. Menatap ke arah pintu. Dan ia tersenyum—meskipun senyum itu lemah, hampir tidak terlihat.

Rakuan tidak bisa mundur lagi. Ia membuka pintu.

"Ibu ..." suaranya pecah.

Rahmah mencoba mengangkat tangannya, tapi terlalu lemah. "Nak ..." bisiknya. "Kau datang ..."

Rakuan melangkah cepat dan berlutut di samping ranjang. Ia mengambil tangan ibunya dan menciumnya. "Maafkan aku, Bu. Maafkan aku yang lama tidak pulang."

Rahmah menggeleng pelan. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Kau di sini ... itu sudah cukup."

Samsudin tidak bergerak. Ia hanya menatap putranya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Rakuan balas menatap ayahnya. Ada banyak kata yang tidak terucap di antara mereka. Ada banyak luka yang belum sembuh.

"Nak ..." suara Rahmah memecah keheningan. "Kau dan ayahmu ..."

"Bu, jangan bicara banyak." Rakuan menatap ibunya. "Kau harus istirahat."

Tapi Rahmah menggeleng. "Dengarkan aku, Nak. Sebelum aku ... pergi. Aku ingin kau tahu. Aku mencintai kalian berdua. Dan aku ingin kalian berbaikan."

Rakuan menunduk. Di sisi lain, Samsudin memalingkan muka. Ada keheningan yang canggung.

"Aku ... akan ke luar dulu," kata Samsudin tiba-tiba. Ia berdiri dengan susah payah—Rakuan baru menyadari bahwa ayahnya juga sudah tua dan lemah. "Kau bicara dengan ibumu."

Ia berjalan keluar tanpa menatap Rakuan. Pintu tertutup pelan. Rakuan mendengar desahan dari ibunya.

"Jangan marah pada ayahmu, Nak," bisik Rahmah. "Dia ... dia juga menderita. Ia menyesali semua yang terjadi."

Rakuan tidak menjawab. Ia hanya memegang tangan ibunya dan menangis.


Rakuan menghabiskan hampir sepanjang hari di rumah sakit. Ia berbicara dengan dokter yang merawat ibunya—dokter mengatakan bahwa kondisi Rahmah memang kritis. Penyakit ginjal yang dideritanya sudah mencapai stadium lanjut. Tidak ada banyak yang bisa dilakukan selain perawatan paliatif.

"Berapa lama lagi?" tanya Rakuan dengan suara berat.

Dokter menggeleng. "Sulit dipastikan. Bisa minggu, bisa bulan. Tapi yang jelas ... kami sarankan keluarga menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengannya."

Rakuan kembali ke ruang perawatan. Ibunya tertidur lelap. Ia duduk di kursi di samping ranjang, memegang tangan ibunya, dan membiarkan pikirannya melayang ke masa lalu.

Ia ingat bagaimana ibunya selalu menjadi pelindungnya. Saat Samsudin marah karena Rakuan memilih arsitektur, ibunya yang membelanya. Saat Rakuan putus asa karena Susan, ibunya yang menghiburnya. Ibunya adalah segalanya.

"Bu ..." bisiknya. "Aku tidak tahu bagaimana aku akan bertahan tanpamu."

Sore mulai turun ketika Rakuan keluar dari rumah sakit. Ia butuh udara segar. Ia butuh menenangkan pikirannya. Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke arah Sungai Kapuas. Ke arah Dermaga KP3.


Dermaga KP3 sore hari adalah pemandangan yang tak terlupakan. Matahari mulai tenggelam di ujung barat, melukis langit dengan gradasi jingga, merah, dan ungu. Sungai Kapuas memantulkan warna-warna itu seperti cermin raksasa. Perahu-perahu mulai berlabuh, nelayan-nelayan membawa hasil tangkapan mereka. Di warung-warung di sepanjang dermaga, lampu-lampu mulai dinyalakan.

Rakuan berjalan perlahan di sepanjang dermaga kayu yang berderit. Ia menyaksikan senja Kapuas yang selalu ia rindukan. Ada sesuatu yang menenangkan tentang pemandangan ini. Seperti sungai itu sendiri mengatakan padanya, "Semua akan baik-baik saja."

Tapi ketika ia sampai di ujung dermaga, ia melihat sesuatu yang menghentikan langkahnya.

Seorang perempuan duduk di ujung dermaga, menghadap ke sungai. Rambut panjangnya terurai dan diterbangkan angin sore. Ia mengenakan blus putih dan celana jeans biru. Di tangannya, sebuah kamera menempel di matanya.

Tapi Rakuan tidak perlu melihat wajahnya. Ia mengenali gerakan itu. Ia mengenali cara perempuan itu memiringkan kepalanya saat membidik foto. Ia mengenali semua itu. Karena ia pernah melihatnya ribuan kali.

Susan.

Rakuan berdiri terpaku. Jantungnya berdebar kencang. Ia ingin memanggil nama itu, tapi kata-katanya tercekat di tenggorokan.

Seolah merasakan tatapannya, perempuan itu menurunkan kameranya dan menoleh.

Dan dunia Rakuan berhenti berputar.

Susan menatapnya. Matanya yang dulu penuh cinta kini menyimpan sesuatu yang lain—kejutan, kebingungan, dan sesuatu yang sulit diartikan. Mereka saling memandang dalam keheningan yang terasa seperti selamanya.


"Aku ..." Rakuan berusaha bicara, tapi suaranya serak. "Aku ... tidak menyangka."

Susan berdiri perlahan. Kameranya menggantung di leher. Ekspresinya berubah—dari terkejut menjadi dingin, terkendali. "Rakuan."

Namanya diucapkan dengan nada datar. Tidak ada kehangatan. Tidak ada kebahagiaan. Hanya sebuah pernyataan fakta.

"Sudah lama," kata Rakuan bodoh.

"Tiga tahun," jawab Susan. "Kau menghitungnya?"

Rakuan tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu ia pantas menerima semua kemarahan Susan. Ia yang pergi tanpa pamit. Ia yang memutuskan komunikasi secara sepihak. Ia yang menyerah pada cinta mereka.

"Susan, aku ..."

"Jangan." Susan mengangkat tangannya. "Jangan katakan apa-apa. Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu. Aku tidak ingin mendengar alasanmu. Kau pergi. Itu sudah cukup."

Rakuan merasakan sesuatu menusuk dadanya. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku seharusnya tidak pergi begitu saja. Tapi ..."

"Tapi apa?" Susan menatapnya tajam. "Kau takut? Kau lemah? Kau memilih untuk melarikan diri daripada melawan? Aku tahu semua itu, Rakuan. Aku tahu."

"Lalu kenapa kau masih di sini?" Kata-kata itu keluar tanpa ia sadari. "Kenapa kau masih duduk di dermaga ini? Di tempat yang sama?"

Susan terdiam. Matanya tiba-tiba tampak basah. Ia menatap Rakuan dengan tatapan yang membuat hati Rakuan hancur.

"Karena aku bodoh," katanya pelan. "Aku bodoh karena masih merindukan seseorang yang tidak pernah cukup berani untuk memperjuangkanku."

Ia berbalik dan berjalan pergi. Kamera di tangannya diayunkan, langkahnya tegas, dan punggungnya lurus. Tapi Rakuan bisa melihat—bahunya sedikit bergetar.

"Susan!" Rakuan memanggil.

Susan tidak menoleh. Ia terus berjalan menjauh, meninggalkan Rakuan di ujung dermaga, di bawah langit jingga yang perlahan berubah menjadi gelap.

Rakuan menunduk. Air matanya jatuh ke papan kayu dermaga.

"Maafkan aku, Sus," bisiknya. "Maafkan aku."


Rakuan tidak tahu berapa lama ia berdiri di sana. Matahari tenggelam sepenuhnya, dan lampu-lampu dermaga menyala satu per satu. Suara tawa dari warung-warung kuliner di dekatnya terdengar seperti dari dunia yang berbeda. Ia merasa terjebak dalam gelembung kesedihannya sendiri.

Tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Ia menoleh dan melihat Rudi berdiri dengan ekspresi prihatin.

"Kudengar kau ke sini," kata Rudi. "Aku melihat Susan pergi dari dermaga dengan wajah ... ya, kau tahu. Ada apa?"

Rakuan menggeleng. "Aku melihatnya. Kami bicara. Tidak ada yang berubah, Rud. Ia masih marah."

"Tentu saja ia marah. Kau meninggalkannya, Ku. Kau pergi begitu saja tanpa penjelasan. Tanpa pamit. Kau menghilang dari hidupnya."

"Aku tahu. Aku melakukan kesalahan. Tapi aku ..." Rakuan menarik napas. "Aku tidak tahu harus berbuat apa. Keluarga kami bermusuhan. Ayahku membenci keluarganya. Ibuku dan Rosnah berselisih. Dan Lucas ..."

Rudi mendesah. "Lucas. Ya. Tapi Rakuan, kau tahu apa yang aku lihat saat Susan pergi tadi? Aku melihat seorang perempuan yang masih mencintaimu. Ia marah, tapi ia masih mencintaimu. Jika ia sudah benar-benar melupakanmu, ia tidak akan marah."

Rakuan menatap Rudi. "Kau pikir?"

"Aku tahu." Rudi menepuk bahunya. "Tapi kau harus memperbaiki semuanya, Ku. Kau harus memperbaiki hubunganmu dengan ayahmu, dengan keluarga Susan, dengan semua orang. Dan kau harus melakukannya dengan tulus."


Rakuan dan Rudi berjalan ke Sungai Rindu, warung Rudi yang terletak di tepi Dermaga KP3. Warung itu sederhana tapi ramai. Atapnya dari rumbia, dindingnya dari bambu, dan meja-mejanya dari kayu ulin yang kokoh. Aroma ikan bakar dan rempah-rempah memenuhi udara.

Rakuan duduk di salah satu meja. Rudi menyodorkan sepiring ikan patin bakar dan semangkuk bubur pedas khas Kapuas.

"Makan," kata Rudi. "Kau butuh energi."

Rakuan mengambil garpu dan mencicipi bubur pedas itu. Rasanya—pedas, gurih, dan hangat—mengingatkannya pada masa kecil. Ia tersenyum meskipun hatinya masih berat.

"Aku kangen ini," katanya.

"Tentu saja. Ini adalah makanan kampung halaman. Tidak ada yang bisa menggantikannya."

Mereka makan dalam diam untuk beberapa saat. Akhirnya, Rakuan meletakkan sendoknya.

"Rudi, aku ingin bertanya sesuatu."

"Sebut saja."

"Kau bilang Susan dan Lucas akan bertunangan. Kapan?"

Rudi menghela napas. "Dua minggu lagi. Keluarga Susan sedang mempersiapkan semuanya. Aku dengar Hendri—ayah Lucas—ingin acara yang besar. Mengundang semua tokoh penting di Kapuas."

Rakuan mengepalkan tangannya. "Aku ... aku tidak bisa membiarkannya, Rud. Aku tahu aku tidak punya hak. Tapi aku tidak bisa membiarkan Susan menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya."

"Kau yakin Susan tidak mencintai Lucas?" tanya Rudi hati-hati.

Rakuan menggeleng. "Aku tahu Susan. Jika ia mencintai Lucas, ia tidak akan terlihat sesedih itu tadi. Ia masih terluka karena aku. Dan pernikahan dengan Lucas hanya akan membuat lukanya semakin dalam."

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

Rakuan terdiam. Di kepalanya, ia merencanakan sesuatu. Sesuatu yang berani. Mungkin gila. Tapi ia tidak peduli.

"Aku akan melawannya, Rud. Aku akan memperjuangkan Susan. Kali ini, aku tidak akan lari."

Rudi menatapnya lama. Kemudian ia tersenyum.

"Baru sekarang aku mengenal sahabatku yang dulu," katanya. "Rakuan yang tidak pernah menyerah."

Rakuan menatap Dermaga KP3 yang diterangi lampu-lampu. Di kejauhan, ia melihat perahu-perahu yang bersandar. Dan di antara semua itu, ia berjanji pada dirinya sendiri.

Aku tidak akan lari lagi. Kali ini, aku akan berjuang. Untuk ibuku. Untuk Susan. Untuk diriku sendiri.


Malam itu, Rakuan kembali ke rumah tua di tepian sungai. Ia menyalakan lampu minyak tanah—listrik di daerah itu sering padam—dan duduk di beranda. Angin malam membawa aroma sungai yang segar.

Ia membuka ponselnya. Ada beberapa pesan yang belum ia baca. Sebagian dari kantornya di Jakarta. Sebagian dari teman-temannya. Tapi ada satu pesan yang membuatnya terkejut.

Nomor yang tidak ia kenali. Isi pesannya: "Aku tahu kau kembali. Kita perlu bicara. Datanglah ke Dapoer Tepian Kapuas besok sore. - Susan."

Rakuan menatap layar ponselnya. Jantungnya berdebar. Susan mengirim pesan padanya. Susan ingin bertemu.

Ia tidak tahu apakah itu pertanda baik atau buruk. Tapi ia tahu, apapun yang terjadi, ia akan datang.

"Besok, Susan," bisiknya. "Aku akan datang. Aku akan menjelaskan semuanya. Dan aku akan memperjuangkanmu."

Ia mematikan lampu dan merebahkan diri di tempat tidur tua yang berderit. Di luar, Sungai Kapuas mengalir tenang, membawa semua rahasia dan harapan ke tempat yang tidak diketahui.


 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Pahitnya Bubur Pedas


Pagi itu, Rakuan terbangun dengan perasaan yang berat. Sinar matahari menembus celah-celah dinding kayu rumah tuanya, menciptakan pola-pola cahaya di lantai. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Pesan dari Susan masih terbuka di layar: "Aku tahu kau kembali. Kita perlu bicara. Datanglah ke Dapoer Tepian Kapuas besok sore."

Ia membaca pesan itu berulang kali, mencoba menebak maksud Susan. Apakah ini undangan untuk berdamai? Atau justru peringatan agar ia menjauh? Atau mungkin—dan ini yang paling membuatnya cemas—Susan ingin mengumumkan pertunangannya di hadapannya?

Rakuan menghela napas. Ia tidak tahu. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Rakuan berjalan ke Dermaga KP3 untuk mencari Rudi. Di warung Sungai Rindu, Rudi sedang sibuk menyiapkan dagangannya. Istrinya, Dina—seorang wanita ramah dengan senyum manis—sedang menggendong bayi mereka, Melati.

"Rakuan!" Rudi menyambutnya dengan senyum lebar. "Kau datang tepat waktu. Aku baru saja selesai memasak bubur pedas. Mau mencicipi?"

Rakuan menggeleng. "Aku ada urusan, Rud. Susan mengirimiku pesan."

Rudi mengangkat alis. "Oh? Apa katanya?"

"Ia minta aku datang ke Dapoer Tepian Kapuas sore ini."

Rudi bersiul pelan. "Wow. Itu ... menarik. Kau akan pergi?"

"Tentu saja."

Rudi mengangguk. "Baik. Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kau sarapan dulu di sini? Aku ingin kau mencicipi masakanku. Dan omong-omong, aku juga perlu berbicara denganmu tentang sesuatu."

Rakuan menatap Rudi curiga. "Tentang apa?"

"Nanti," kata Rudi. "Setelah kau makan."


Rakuan duduk di salah satu meja kayu di Sungai Rindu. Rudi menyajikan semangkuk bubur pedas yang masih mengepul, sepiring ikan patin bakar, dan segelas jus lidah buaya khas Kapuas.

"Ini," kata Rudi sambil duduk di hadapannya. "Menu andalanku. Aku mengembangkan resep ini dari resep nenekku. Cobalah."

Rakuan mengambil sendok dan mencicipi bubur pedas itu. Rasanya—pedas, gurih, dengan aroma rempah yang kuat—membuat lidahnya bergoyang. Ada sensasi hangat yang menyebar dari perut ke seluruh tubuh.

"Ini enak, Rud," katanya tulus. "Sungguh enak. Aku belum pernah merasakan bubur pedas seperti ini."

Rudi tersenyum bangga. "Terima kasih. Aku sudah bekerja keras untuk menyempurnakan resep ini. Tapi ..." ia menurunkan suaranya, "... aku tidak akan bisa bertahan lama jika terus bersaing dengan Dapoer Tepian Kapuas."

Rakuan menghentikan sendoknya. "Apa maksudmu?"

Rudi menghela napas. "Dapoer Tepian Kapuas adalah restoran besar yang dikelola oleh keluarga Susan. Mereka punya modal besar, jaringan luas, dan pengaruh yang kuat. Hendri—paman Susan dan ayah Lucas—adalah tokoh penting di komunitas kuliner Kapuas. Ia memiliki hubungan dengan banyak pemasok dan pejabat daerah. Sementara aku ..." Rudi menunjuk warungnya, "... hanya warung kecil dengan modal pas-pasan."

"Tapi masakanmu enak," kata Rakuan.

"Enak tidak cukup, Ku. Di dunia bisnis, kau butuh koneksi, pemasaran, dan modal. Aku tidak punya semua itu. Dan Lucas terus berusaha menjatuhkanku. Beberapa minggu lalu, ia menyebarkan isu bahwa masakanku tidak higienis. Banyak pelanggan yang pergi."

Rakuan mengepalkan tangannya. "Itu tidak adil."

"Dunia tidak adil, Ku. Kau tahu itu." Rudi tersenyum pahit. "Tapi aku tidak menceritakan ini untuk membuatmu kasihan. Aku menceritakan ini karena ... jika kau benar-benar ingin memperjuangkan Susan, kau harus tahu apa yang kau hadapi. Lucas bukanlah pria biasa. Ia adalah orang yang ambisius dan tidak segan-segan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya."

Rakuan diam. Ia merenungkan kata-kata Rudi. Selama ini, ia hanya berpikir bahwa ia harus berhadapan dengan rasa bersalahnya pada Susan. Ia tidak menyadari bahwa ada pertarungan yang lebih besar—pertarungan melawan sistem, melawan kekuasaan, melawan ambisi.

"Rudi," kata Rakuan akhirnya, "aku akan membantumu. Apapun yang terjadi, aku akan membantumu."

Rudi menatapnya dengan mata berbinar. "Kau serius?"

"Aku serius. Kau adalah sahabatku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menjatuhkanmu."

Rudi mengulurkan tangannya. Rakuan menjabatnya erat.

"Terima kasih, Ku," kata Rudi. "Aku tidak akan melupakan ini."


Sore itu, Rakuan dan Rudi berjalan menuju Dapoer Tepian Kapuas. Restoran itu terletak tidak jauh dari Dermaga KP3, tepat di tepian sungai. Bangunannya lebih besar dan lebih modern daripada warung-warung di sekitarnya. Dindingnya dari kayu ulin yang dipoles mengkilap, atapnya dari sirap, dan di depannya ada teras luas dengan meja-meja kayu yang menghadap ke sungai.

"Wow," gumam Rakuan. "Ini ... mengesankan."

Rudi mengangguk. "Ya. Mereka punya investasi besar. Lucas yang mendesain ulang restoran ini tahun lalu. Ia mempekerjakan arsitek dari Banjarmasin. Biayanya tidak kecil."

Rakuan merasakan sesuatu mengganjal di dadanya. Lucas mendesain ulang restoran. Lucas mempekerjakan arsitek. Lucas—bukan dia—yang ada di sisi Susan.

Mereka melangkah masuk. Di dalam, restoran itu ramai dengan pengunjung. Aroma masakan—campuran rempah, ikan bakar, dan bubur pedas—memenuhi udara. Meja-meja kayu yang ditata rapi diisi oleh orang-orang yang menikmati makanan sambil bercakap-cakap.

Di belakang meja kasir, Rakuan melihat Susan. Ia mengenakan seragam restoran—kemeja putih dengan logo Dapoer Tepian Kapuas di dada. Rambutnya diikat rapi, dan wajahnya tampak serius mengerjakan sesuatu di buku catatan.

Rakuan hampir memanggilnya, tapi Rudi menarik lengannya.

"Tunggu," bisik Rudi. "Kita duduk dulu. Jangan langsung menghampirinya."

Mereka duduk di sebuah meja di sudut ruangan. Tak lama, seorang pelayan datang dan menyodorkan menu.

"Selamat sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu ramah.

"Kami ingin mencicipi bubur pedas," kata Rudi. "Dua porsi. Dan ikan patin bakar juga."

"Baik, Pak. Tunggu sebentar."

Pelayan itu pergi. Rakuan melirik ke arah Susan. Ia masih sibuk dengan buku catatannya. Belum melihat mereka.

"Kau yakin ini tempat yang tepat?" tanya Rakuan.

"Kau yang memutuskan datang," kata Rudi. "Aku hanya mengantarmu."

Rakuan menarik napas. Ia menatap sekeliling ruangan. Di dinding, ada foto-foto kuliner Kapuas—kerupuk basah, bubur pedas, ikan belida goreng, dan berbagai makanan khas lainnya. Ada juga foto-foto keluarga yang menghiasi sudut ruangan.

Matanya tertumbuk pada satu foto. Foto itu menunjukkan seorang wanita yang ia kenal—Rosnah, ibu Susan. Wanita itu tersenyum sambil memegang semangkuk bubur pedas. Di sampingnya, ada seorang pria dengan jas rapi yang tersenyum lebar. Pria itu adalah Hendri, ayah Lucas.

"Rudi, lihat itu," bisik Rakuan.

Rudi menoleh. "Oh, itu foto Rosnah dan Hendri. Mereka sering difoto bersama karena kolaborasi bisnis. Rosnah adalah kepala dapur di sini, sementara Hendri adalah pemodal."

"Dan Susan? Di mana Susan?"

"Susan adalah manajer operasional. Ia mengurus semua detail—mulai dari bahan baku, pelayanan, hingga promosi. Lucas ..." Rudi menghentikan kata-katanya.

"Lucas apa?"

Rudi menunjuk ke arah pintu masuk. "Dia datang."

Rakuan menoleh. Di pintu masuk, seorang pria tinggi dengan postur atletis melangkah masuk. Pria itu mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan rapi. Wajahnya tampan—hidung mancung, rahang tegas, dan kulit putih bersih. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Ia berjalan dengan percaya diri, seperti semua orang di ruangan itu adalah bawahannya.

Lucas.

Pria itu melangkah langsung ke arah Susan. Ia menyapa Susan dengan senyum lebar dan mencium pipi Susan. Susan tersenyum—senyum yang sopan, tidak terlalu hangat, tapi tetap senyum.

Rakuan merasakan sesuatu di dadanya. Seperti ada yang menusuk. Cemburu. Tidak bisa dipungkiri.

"Itu dia," bisik Rudi. "Lucas. Calon suami Susan."

Rakuan mengepalkan tangannya di bawah meja.


Lucas tampaknya menyadari kehadiran mereka. Ia menoleh ke arah meja Rakuan dan Rudi. Ekspresinya berubah—dari ramah menjadi sedikit mengejutkan. Ia tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

"Rudi," sapa Lucas dengan nada ramah yang dibuat-buat. "Apa kabar? Kau jarang datang ke sini."

Rudi tersenyum tipis. "Aku hanya mengantarkan teman. Rakuan, ini Lucas. Lucas, ini Rakuan."

Lucas melangkah mendekat. Matanya mengamati Rakuan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian ia mengulurkan tangannya.

"Rakuan," katanya dengan suara yang halus tapi tajam. "Kudengar kau baru pulang ke Kapuas. Tiga tahun di Jakarta, ya? Sebagai arsitek?"

Rakuan menjabat tangannya. Genggaman Lucas kuat—terlalu kuat untuk sekadar salam.

"Ya," jawab Rakuan datar. "Aku baru kembali."

"Kami sudah mendengar banyak tentangmu dari Susan." Lucas tersenyum. "Tentu saja ... itu dulu. Sekarang Susan lebih sering bercerita tentang rencana pernikahan kami."

Rakuan merasakan darahnya mendidih. Tapi ia berusaha tetap tenang.

"Selamat," katanya dingin. "Semoga kalian bahagia."

Lucas terkekeh. "Terima kasih. Aku yakin Susan akan bahagia. Aku akan memberikan segalanya untuknya." Ia menatap Rakuan tajam. "Segalanya yang ia butuhkan."

Rudi, yang melihat ketegangan itu, cepat-cepat menyela. "Lucas, bagaimana dengan bubur pedas yang kami pesan? Kami datang ke sini untuk mencicipi masakan Rosnah."

Lucas mengalihkan pandangannya ke Rudi. "Tentu. Aku akan pastikan pelayan membawanya segera." Ia berbalik, tapi sebelum pergi, ia menatap Rakuan sekali lagi. "Nikmatilah, Rakuan. Dan jangan ragu untuk memesan apa pun. Ini restoran kami."

Kata kami diucapkan dengan penekanan khusus. Lucas ingin Rakuan tahu bahwa ia dan Susan adalah kami.

Lucas pergi menuju dapur. Rakuan menghela napas panjang. Tangannya masih gemetar.

"Kau lihat?" bisik Rudi. "Itu Lucas. Sopan, tampan, percaya diri. Dan ia tahu bahwa ia menang."

"Belum," kata Rakuan. "Ini belum berakhir."


Tak lama, dua mangkuk bubur pedas tiba di meja mereka. Aromanya—harum, pedas, dan menggugah selera—membuat perut Rakuan keroncongan meskipun hatinya sedang kacau.

"Silakan dinikmati," kata pelayan.

Rakuan mengambil sendok dan mencicipi bubur itu. Begitu bubur itu menyentuh lidahnya, ia merasakan pedas yang meledak. Pedasnya jauh lebih kuat daripada bubur Rudi. Ia terbatuk-batuk, matanya berair.

"Wah ..." katanya dengan suara serak. "Pedas sekali."

Rudi tertawa. "Itulah bubur pedas khas Dapoer Tepian Kapuas. Resep Rosnah. Konon, ia menambahkan banyak cabai rawit agar membuat orang terus minum dan memesan lebih banyak minuman. Strategi bisnis yang cerdas."

Rakuan mengambil segelas air dan meneguknya. Tapi air tidak cukup untuk meredakan pedas. Ia menangkap Lucas yang sedang melihatnya dari kejauhan, tersenyum puas.

"Kau tahu ..." kata Rudi pelan. "Aku pikir Lucas sengaja menyuruh pelayan menambahkan ekstra cabai."

"Kenapa ia melakukan itu?"

"Untuk mempermalukanmu. Untuk menunjukkan bahwa kau tidak kuat, tidak tahan, tidak seperti dirinya."

Rakuan menatap mangkuk bubur itu. Di tengah rasa pedas yang membakar lidahnya, ada rasa pahit yang lebih dalam—rasa cemburu, rasa tidak berdaya, rasa marah.

"Tapi aku tidak akan menyerah," katanya tegas. "Pedas ini, rasa pahit ini, hanya akan membuatku lebih kuat."

Rudi tersenyum. "Itu semangat yang kuharapkan."


Setelah selesai makan, Rakuan berjalan menuju meja kasir. Susan masih di sana, sibuk menulis sesuatu. Ketika ia mendekat, Susan mengangkat kepalanya.

"Rakuan," sapanya datar. "Kau datang."

"Kau mengirim pesan padaku," kata Rakuan. "Kau bilang kita perlu bicara."

Susan menatapnya lama. Kemudian ia menatap Lucas yang masih di dapur, lalu kembali ke Rakuan.

"Ya," katanya pelan. "Tapi tidak di sini. Tidak sekarang. Nanti malam. Di Dermaga KP3. Jam delapan."

Rakuan mengangguk. "Aku akan datang."

"Aku tidak menjanjikan apa pun," kata Susan cepat. "Aku hanya ingin bicara. Hanya itu."

"Aku mengerti."

Susan menunduk. Tangannya yang memegang pulpen bergetar sedikit. "Kau tahu, Rakuan ... aku tidak tahu apakah ini keputusan yang baik. Bertemu denganmu lagi. Tapi aku merasa ... aku harus melakukannya. Untuk menutup semuanya."

Rakuan merasakan hatinya hancur. Menutup. Susan ingin menutup semuanya.

"Jika itu yang kau inginkan," katanya dengan suara berat, "aku akan menghormatinya."

Susan tidak menjawab. Ia hanya menunduk lebih dalam. Rakuan melihat air mata jatuh ke buku catatannya.

Ia ingin memeluknya. Ia ingin menangis bersamanya. Tapi ia tidak bisa. Lucas sedang memperhatikan mereka dari dapur. Semua mata tertuju pada mereka.

"Aku akan pergi dulu," kata Rakuan. "Sampai nanti malam."

Ia berbalik dan berjalan keluar restoran. Rudi menyusulnya.

"Bagaimana?" tanya Rudi.

"Aku bertemu dengannya nanti malam," kata Rakuan. "Di Dermaga KP3."

"Apakah kau siap?"

Rakuan berhenti. Ia menatap Sungai Kapuas yang mengalir tenang. Di kejauhan, matahari mulai tenggelam, menciptakan langit jingga yang indah.

"Aku tidak tahu, Rud," katanya jujur. "Aku tidak tahu apakah aku siap kehilangannya untuk kedua kalinya."

Rudi menepuk bahunya. "Kau tidak akan kehilangannya, Ku. Karena kali ini, kau akan berjuang."


Malam mulai turun. Rakuan duduk di beranda rumah tuanya, menatap ponselnya. Jam menunjukkan pukul tujuh. Satu jam lagi ia akan bertemu Susan.

Ia memikirkan semua yang terjadi hari ini. Pertemuan dengan Lucas. Rasa pedas yang membakar lidahnya. Kata-kata Susan tentang menutup semuanya.

Apakah ini benar-benar akhir? Atau justru awal dari sesuatu yang baru?

Rakuan menghela napas. Ia berdiri dan berjalan menuju sungai. Di kejauhan, ia melihat lampu-lampu Dermaga KP3 mulai menyala.

"Susan," bisiknya. "Aku datang. Aku akan datang dan mendengarkan semua yang ingin kau katakan. Tapi aku juga akan mengatakan yang sebenarnya. Bahwa aku masih mencintaimu. Bahwa aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."

Ia melangkah menuju dermaga, meninggalkan rumah tua di belakangnya. Di atas, langit malam bertabur bintang. Dan di bawah, Sungai Kapuas mengalir tenang, membawa serta semua rahasia yang belum terungkap.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

Persaingan di Atas Piring


Rakuan tiba di Dermaga KP3 tepat pukul delapan malam. Lampu-lampu dermaga menyala terang, memantulkan cahaya ke permukaan sungai yang tenang. Di kejauhan, beberapa perahu nelayan masih bersandar, bergoyang pelan mengikuti aliran air. Warung-warung di sepanjang dermaga masih ramai dengan pengunjung yang menikmati makanan malam. Suara tawa, obrolan, dan dentingan piring bercampur menjadi simfoni malam yang akrab.

Tapi Rakuan tidak memperhatikan semua itu. Matanya hanya tertuju pada satu sosok—Susan, yang duduk di ujung dermaga, menghadap ke sungai. Ia telah datang lebih awal.

Rakuan berjalan mendekat. Langkahnya terasa berat, seperti menapaki jalan yang penuh duri. Setiap langkah mengingatkannya pada malam-malam di masa lalu ketika mereka duduk di tempat yang sama, berbicara tentang mimpi-mimpi mereka.

"Susan," sapanya pelan.

Susan menoleh. Di bawah cahaya lampu, wajahnya terlihat pucat. Matanya sembab—seperti baru saja menangis. Ia tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

"Kau datang," katanya.

"Aku bilang aku akan datang."

Ia duduk di samping Susan, menjaga jarak yang sopan. Sejenak mereka hanya diam, menatap sungai yang mengalir tenang. Angin malam membawa aroma air dan sedikit bau ikan dari dermaga.

"Aku tidak tahu harus mulai dari mana," kata Susan akhirnya.

"Dari awal saja," kata Rakuan. "Dari tiga tahun lalu."

Susan menggeleng. "Tiga tahun lalu terlalu rumit. Mari kita bicara tentang sekarang. Tentang kenyataan."

Rakuan mengangguk. "Baik. Sekarang."

Susan menarik napas panjang. "Aku akan menikah dengan Lucas. Kau tahu itu."

Rakuan merasakan dadanya sesak. "Aku tahu."

"Keluarga sudah mengatur semuanya. Pamanku, Hendri, telah menginvestasikan banyak uang untuk restoran ini. Pernikahan ini adalah bagian dari kesepakatan bisnis. Lucas akan menjadi pewaris usaha ini. Dan aku ..." Susan tertawa pahit, "... aku hanya pion dalam permainan mereka."

"Kau tidak harus melakukannya," kata Rakuan cepat. "Kau bisa memilih."

"Memilih?" Susan menoleh menatapnya dengan mata yang tajam. "Kau pikir aku punya pilihan? Aku tidak punya uang, Rakuan. Aku tidak punya keterampilan lain selain mengelola restoran. Jika aku menolak pernikahan ini, aku akan diusir dari rumah. Aku akan kehilangan pekerjaanku. Aku tidak punya tempat untuk pergi."

"Kau punya aku."

Susan terdiam. Matanya menatap Rakuan dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara harapan dan keraguan.

"Kau?" katanya pelan. "Kau yang pergi tiga tahun lalu tanpa pamit? Kau yang menghilang dari hidupku begitu saja? Kau pikir aku bisa begitu saja mempercayaimu lagi?"

Rakuan menunduk. Kata-kata Susan menusuk seperti belati.

"Aku tahu aku salah," katanya. "Aku tahu aku pengecut. Aku pergi karena aku takut—takut pada ayahku, takut pada keluarganya, takut pada semua yang terjadi. Tapi aku sudah berubah, Susan. Tiga tahun di Jakarta mengajariku banyak hal. Aku belajar bahwa lari bukanlah solusi. Dan aku berjanji—kali ini, aku tidak akan lari."

Susan tidak menjawab. Ia hanya menatap sungai dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku percaya padamu," katanya akhirnya. "Tapi percaya tidak cukup. Kau harus membuktikannya."

"Aku akan membuktikannya," kata Rakuan tegas. "Apapun yang harus kulakukan."

Susan menoleh padanya. Untuk pertama kalinya, senyum tulus terlihat di wajahnya—meskipun hanya sebentar.

"Baik," katanya. "Kita lihat saja."


Malam itu, ketika Rakuan kembali ke rumah tuanya, ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar—tentang Susan, tentang pernikahan yang direncanakan, tentang ancaman Lucas, dan tentang persaingan bisnis antara Rudi dan keluarga Susan. Ia menyadari bahwa untuk memperjuangkan Susan, ia harus terlibat lebih dalam.

Keesokan paginya, Rakuan pergi ke warung Sungai Rindu. Rudi sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk masakan hari itu. Ketika melihat Rakuan datang, ia tersenyum lebar.

"Bagaimana pertemuanmu tadi malam?" tanya Rudi sambil mengupas bawang.

Rakuan duduk di meja kayu. "Susan bilang ia akan menikah dengan Lucas. Tapi ia tidak bahagia. Ia seperti dipaksa."

Rudi menghentikan tangannya. "Aku tahu. Semua orang tahu. Tapi tidak ada yang berani melawan Hendri. Ia terlalu berkuasa di sini."

"Aku harus berbuat sesuatu, Rud."

Rudi menghela napas. "Aku tahu. Tapi kau harus hati-hati. Lucas bukan orang yang bisa diremehkan."

Rakuan menatap sahabatnya. "Rudi, aku ingin membantumu. Aku ingin membantu warungmu berkembang. Mungkin dengan begitu, kita bisa memberikan alternatif bagi Susan. Tempat di mana ia bisa bekerja tanpa takut pada Hendri."

Rudi terdiam. Matanya menatap Rakuan dengan serius.

"Kau serius?" tanyanya.

"Aku serius. Aku punya pengalaman di bidang desain dan manajemen proyek. Aku bisa membantumu merenovasi warung ini, membuatnya lebih menarik. Dan aku juga bisa membantumu dengan strategi pemasaran. Kita bisa bersaing dengan Dapoer Tepian Kapuas."

Rudi tersenyum—senyum yang tulus, penuh harapan. "Kau benar-benar sahabat sejati, Ku."

"Kita bertarung bersama," kata Rakuan. "Kau dan aku."


Namun persaingan bisnis antara Sungai Rindu dan Dapoer Tepian Kapuas tidak semudah yang dibayangkan. Rudi dan Lucas memiliki pendekatan yang sangat berbeda.

Rudi adalah koki tradisional. Ia memasak dengan resep turun-temurun yang diwariskan dari neneknya. Setiap bumbu ditumbuk manual dengan cobek batu, setiap ikan dipilih dengan teliti dari nelayan setempat, dan setiap porsi disajikan dengan cinta. Warungnya kecil, sederhana, tapi penuh kehangatan. Pelanggan datang bukan hanya untuk makanan, tapi juga untuk suasana—untuk merasakan "rumah" di setiap suapan.

Sementara Lucas—di bawah pengawasan Hendri—mengusung konsep modern. Dapoer Tepian Kapuas adalah restoran yang mewah dengan dekorasi interior yang elegan. Menu mereka adalah fusion: memadukan resep tradisional Kapuas dengan sentuhan internasional. Mereka menggunakan bahan-bahan impor, peralatan masak modern, dan memiliki tim pelayan yang terlatih profesional. Harga mereka jauh lebih tinggi, tapi pelanggan kelas atas berbondong-bondong datang.

"Rudi dan Lucas adalah dua kutub yang berlawanan," kata Rakuan pada Rudi saat mereka duduk di warung, membahas strategi. "Tapi kau punya keunggulan yang tidak mereka miliki."

"Keunggulan apa?" tanya Rudi penasaran.

"Keaslian." Rakuan menunjuk ke dapur kecil Rudi. "Kau memasak dengan hati. Masakanmu adalah warisan, bukan sekadar produk. Orang-orang bisa merasakan perbedaannya. Lucas menjual pengalaman, tapi kau menjual kenangan. Itu lebih berharga."

Rudi tersenyum malu. "Kau terlalu memujiku."

"Aku tidak memuji. Aku mengatakan kebenaran."

Mereka pun mulai merancang strategi. Rakuan—dengan pengetahuannya tentang desain dan pemasaran—membantu Rudi mempercantik warung. Mereka menambahkan dekorasi tradisional, lampu-lampu yang hangat, dan papan nama baru yang lebih menarik. Rakuan juga membantu Rudi membuat media sosial untuk warungnya, memposting foto-foto makanan yang menggugah selera.

Namun, perubahan itu tidak luput dari perhatian Lucas.


Beberapa hari kemudian, Rakuan dan Rudi kembali ke Dapoer Tepian Kapuas untuk meneliti persaingan mereka—atau setidaknya itulah alasan Rudi. Rakuan tahu Rudi sebenarnya ingin mengawasi Lucas. Tapi Rakuan juga punya alasan lain: ia ingin melihat Susan.

Saat mereka memasuki restoran, suasana terasa berbeda. Ada ketegangan di udara. Lucas menyambut mereka dengan senyum yang terlalu manis.

"Rudi, Rakuan," sapa Lucas. "Senang melihat kalian kembali. Aku dengar kau merenovasi warungmu, Rudi. Bagus, bagus. Kompetisi yang sehat selalu baik."

Rudi tersenyum tipis. "Terima kasih. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk pelanggan."

Lucas tertawa kecil. "Tentu. Tapi kau tahu, persaingan itu tidak hanya soal tampilan. Ada banyak hal di balik layar yang perlu diperhatikan."

Apa maksudmu?" tanya Rakuan curiga.

Lucas tersenyum misterius. "Kau akan lihat."

Ia pergi meninggalkan mereka. Rakuan dan Rudi saling berpandangan. Ada sesuatu yang mengancam di balik kata-kata Lucas.

"Kita harus waspada," bisik Rudi. "Lucas tidak akan tinggal diam."


Dan memang, Lucas tidak tinggal diam. Seminggu kemudian, Rudi menemukan bahwa pemasok ikan utamanya—seorang nelayan tua bernama Haji Nurdin—tiba-tiba berhenti memasok ikan ke Sungai Rindu.

"Kenapa, Pak Haji?" tanya Rudi saat ia mengunjungi rumah nelayan itu.

Haji Nurdin menggeleng dengan ekspresi bersalah. "Maaf, Nak. Aku tidak bisa memasokmu lagi. Aku sudah berjanji pada orang lain."

"Siapa?"

Haji Nurdin menunduk. "Lucas. Ia menawarkan harga lebih tinggi. Aku tidak bisa menolak. Keluargaku butuh uang."

Rudi terdiam. Ia tidak marah pada Haji Nurdin—nelayan tua itu hanya mencari nafkah. Tapi ia marah pada Lucas yang menggunakan uang untuk merebut pemasoknya.

"Lucas," gumam Rudi dengan gigi terkatup. "Dia bermain kotor."

Rakuan yang mendengar cerita itu langsung marah. "Kita harus melawannya. Kita harus melapor ke dinas perdagangan. Ini tidak adil."

Rudi menggeleng. "Tidak akan berguna. Hendri punya pengaruh besar. Mereka akan melindunginya."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Rudi menarik napas panjang. "Kita cari pemasok lain. Ada banyak nelayan di Kapuas. Kita tidak boleh menyerah."

Namun persoalan tidak berhenti di situ. Beberapa hari kemudian, Rakuan mendengar kabar bahwa beberapa pelanggan tetap Sungai Rindu mulai beralih ke Dapoer Tepian Kapuas. Ada rumor bahwa makanan di Sungai Rindu tidak sehat—rumor yang jelas-jelas disebarkan oleh seseorang dari kubu Lucas.

"Lucas menyebarkan fitnah," kata Rakuan dengan marah. "Kita harus melawannya."

Tapi Rudi menggeleng. "Tidak ada bukti, Ku. Jika kita menuduh tanpa bukti, kita akan semakin terpuruk. Lebih baik kita fokus pada kualitas masakan dan pelayanan. Biarkan pelanggan menilai sendiri."

Rakuan menghela napas. Ia tahu Rudi benar. Tapi di dalam hatinya, ia semakin membenci Lucas. Bukan hanya karena Lucas adalah saingan bisnis, tapi juga karena Lucas adalah ancaman bagi Susan—dan sekarang, ancaman bagi sahabatnya.


Di tengah persaingan yang semakin memanas, hubungan Rakuan dan Susan juga mengalami pasang surut. Mereka sering bertemu diam-diam di Dermaga KP3—biasanya saat senja, ketika orang-orang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.

"Kau tidak bisa terus begini, Rakuan," kata Susan suatu senja. "Bertemu diam-diam, bersembunyi dari semua orang. Suatu hari nanti, Lucas atau pamanku akan tahu."

"Aku tidak takut pada Lucas," kata Rakuan. "Aku tidak takut pada siapa pun."

"Kau seharusnya takut." Susan menatapnya dengan mata cemas. "Lucas bukan orang yang baik. Ia bisa melakukan apa saja untuk melindungi kepentingannya. Dan pamanku ... Hendri juga sama. Mereka berdua adalah orang-orang yang berbahaya."

Rakuan meraih tangan Susan. "Aku tidak peduli. Aku akan tetap di sini. Aku tidak akan lari lagi."

Susan menatap tangannya yang digenggam Rakuan. Air matanya mulai menetes.

"Kenapa kau melakukan ini?" bisiknya. "Kenapa kau tidak pergi saja? Kenapa kau membuat segalanya lebih rumit?"

"Karena aku mencintaimu," kata Rakuan dengan suara yang dalam dan tulus. "Karena aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu. Karena tiga tahun yang lalu, aku membuat kesalahan terbesar dalam hidupku dengan pergi. Dan sekarang, aku akan melakukan segalanya untuk memperbaikinya."

Susan tidak menjawab. Tapi ia tidak melepaskan tangan Rakuan. Dan di bawah langit senja yang jingga, mereka duduk bersama dalam diam—dua insan yang sama-sama terluka, mencoba menemukan jalan untuk saling percaya.


Sementara itu, Rudi mulai merasakan beban persaingan yang semakin berat. Pendapatan warungnya menurun drastis. Pelanggan yang dulu ramai kini mulai berkurang. Ia harus merumahkan satu karyawan dan mengurangi pesanan bahan baku.

Suatu malam, Rakuan menemukan Rudi duduk sendirian di warungnya, memegang segelas kopi yang sudah dingin.

"Rud," panggil Rakuan pelan. "Kau baik-baik saja?"

Rudi tersenyum pahit. "Aku tidak tahu, Ku. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Lucas terus menekanku dari segala sisi. Aku kehilangan pemasok, kehilangan pelanggan, dan sekarang ..." ia menunjuk ke warung kosong di sekitarnya, "... aku hampir kehilangan segalanya."

Rakuan duduk di hadapannya. "Aku akan membantumu, Rud. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh."

"Kau sudah membantuku banyak," kata Rudi. "Tapi aku tidak mau kau terbebani oleh masalahku. Kau punya masalahmu sendiri dengan Susan."

"Kau adalah sahabatku," kata Rakuan tegas. "Masalahmu adalah masalahku. Kita bertarung bersama, ingat?"

Rudi menatapnya lama. Kemudian matanya berkaca-kaca.

"Terima kasih, Ku," katanya. "Aku tidak akan melupakan ini."

Mereka berpelukan—dua sahabat yang saling menguatkan di tengah badai. Dan di luar warung, Sungai Kapuas mengalir tenang, menyaksikan semua yang terjadi, menyimpan semua rahasia yang belum terungkap.


Namun, di balik semua itu, Rakuan menyadari bahwa konflik persahabatan dan cinta semakin meruncing. Ia terjebak di antara dua dunia—dunia Rudi yang membutuhkan dukungannya, dan dunia Susan yang hatinya masih ia rebut. Dan di tengah-tengah, ada Lucas yang terus mengancam.

Suatu hari, Rakuan mendapat telepon dari Maya—teman kuliahnya dari Jakarta. Maya memanggilnya dengan suara cemas.

"Rakuan, aku dengar kau pulang ke Kapuas. Apa kau baik-baik saja? Kapan kau kembali ke Jakarta? Kantor membutuhkanmu."

Rakuan terdiam sejenak. "Aku tidak tahu, Maya. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan di sini."

"Apa kau lupa dengan proyek besar yang kita kerjakan? Ini adalah kesempatan emas, Ku. Kau tidak bisa melewatkannya."

"Maaf, Maya. Aku harus menyelesaikan ini dulu. Aku akan kembali ketika semuanya selesai."

Maya mendesah. "Baik. Tapi jangan terlalu lama. Dunia tidak akan menunggumu."

Telepon ditutup. Rakuan menatap ponselnya dengan perasaan yang rumit. Ia memang memiliki karier yang sukses di Jakarta. Tapi di sini, di Kapuas, ada sesuatu yang lebih penting—cinta, persahabatan, dan perjuangan untuk keadilan.

"Aku tidak bisa meninggalkan semua ini," bisiknya. "Aku tidak bisa meninggalkan mereka."

Dan ia berjanji pada dirinya sendiri: apapun yang terjadi, ia akan bertahan. Untuk Susan. Untuk Rudi. Untuk semua yang ia cintai.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

Rahasia di Balik Kerupuk Basah


Pagi itu, Rakuan terbangun dengan perasaan yang berbeda. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya—sebuah pertanyaan yang tak pernah ia tanyakan kepada siapa pun. Tentang ibunya, Rahmah, dan Rosnah, ibu Susan. Tentang perselisihan yang memisahkan mereka. Tentang tanah yang menjadi sumber konflik.

Ia ingat bahwa ibunya pernah bercerita tentang sahabat masa kecilnya. Rosnah dan Rahmah tumbuh bersama di tepian Sungai Kapuas. Mereka bermain bersama, bersekolah bersama, dan bermimpi bersama. Tapi suatu hari, semuanya berubah. Persahabatan mereka retak. Dan hingga kini, tidak ada yang pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Rakuan memutuskan untuk mencari jawaban.

Ia menuju pasar tradisional Kuala Kapuas, tempat di mana Rosnah berjualan kerupuk basah setiap hari. Pasar itu terletak tidak jauh dari Dermaga KP3, di sebuah bangunan tua yang sudah berusia puluhan tahun. Atapnya dari seng yang berkarat, lantainya dari semen yang retak-retak, dan cahaya matahari menembus celah-celah dinding kayu.

Begitu Rakuan masuk, ia disambut oleh hiruk-pikuk pasar. Para pedagang berteriak menawarkan dagangan mereka—ikan segar, sayuran, rempah-rempah, dan berbagai makanan khas Kapuas. Aroma amis ikan bercampur dengan wangi rempah dan bau tanah basah menciptakan suasana yang khas.

Rakuan berjalan menyusuri lorong pasar. Matanya mencari sosok Rosnah. Ia tidak terlalu sulit menemukannya. Di sudut pasar, di sebuah meja kayu kecil, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih duduk di balik tumpukan kerupuk basah. Wanita itu—Rosnah—tampak sibuk merapikan dagangannya.


"Selamat pagi, Tante Rosnah," sapa Rakuan pelan.

Rosnah mengangkat kepalanya. Matanya membulat ketika melihat Rakuan. Ada kejutan, kegembiraan, dan juga sedikit ketakutan di wajahnya.

"Rakuan?" suaranya bergetar. "Kau ... kau kembali?"

Rakuan tersenyum tipis. "Ya, Tante. Aku kembali. Maaf baru sekarang bisa menjenguk."

Rosnah mengangguk. Tangannya gemetar saat ia merapikan kerupuk di depannya. "Aku dengar kau pulang. Tante Mira bercerita. Dan aku juga dengar ... ibumu sakit."

Rakuan menunduk. "Iya. Aku di rumah sakit menjenguknya setiap hari."

Rosnah terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya pelan.

"Tidak baik, Tante. Dokter mengatakan ... waktunya mungkin tidak lama lagi."

Rosnah menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh. "Rahmah ..." bisiknya. "Aku tidak menyangka ..."

Rakuan menatap Rosnah dengan saksama. Ia melihat kesedihan yang tulus di mata wanita itu. Bukan kepura-puraan. Bukan kebencian. Ada cinta di sana—cinta yang tidak pernah padam meskipun waktu telah berlalu.

"Tante," kata Rakuan hati-hati. "Aku ingin bertanya sesuatu."

Rosnah mengusap air matanya. "Bertanyalah."

"Apa yang sebenarnya terjadi antara Tante dan ibuku? Apa yang menyebabkan kalian berselisih?"

Rosnah terdiam. Wajahnya berubah—dari sedih menjadi tegang. Ia menunduk, memainkan jari-jarinya yang keriput.

"Itu cerita lama, Nak. Cerita yang seharusnya kubawa sampai mati."

"Tapi aku perlu tahu, Tante. Aku perlu tahu apa yang terjadi. Karena hubunganku dan Susan juga hancur karena perselisihan ini. Aku tidak bisa memperbaikinya jika aku tidak tahu akar masalahnya."

Rosnah mengangkat kepalanya. Ia menatap Rakuan dengan mata yang tajam.

"Kau benar," katanya akhirnya. "Kau berhak tahu. Tapi tidak di sini. Tidak di pasar yang ramai ini. Datanglah ke rumahku nanti sore. Aku akan ceritakan semuanya."

Rakuan mengangguk. "Aku akan datang."


Sore itu, Rakuan berjalan menuju rumah Rosnah. Rumah itu terletak di tepian sungai, tidak jauh dari pasar tradisional. Sebuah rumah panggung kayu yang sederhana, dengan halaman yang dipenuhi tanaman rempah—serai, jahe, kunyit, dan daun salam. Aroma rempah-rempah segar memenuhi udara.

Rosnah menyambutnya di pintu. Ia mengenakan baju daster sederhana dan kerudung yang diikat longgar. Wajahnya tampak lebih tenang dari pagi tadi.

"Masuklah, Nak," katanya. "Aku sudah menyiapkan teh dan kue tradisional."

Rakuan masuk ke dalam rumah. Ruang tamu kecil itu sederhana tapi rapi. Di dinding, ada foto-foto keluarga—termasuk foto Susan saat kecil. Rakuan menatap foto itu lama. Susan dalam foto itu tersenyum lebar, dengan gigi yang masih ompong. Ia tampak bahagia.

"Susan sangat mirip dengan ibunya," kata Rakuan.

Rosnah tersenyum pahit. "Susan bukan anak kandungku," katanya tiba-tiba.

Rakuan terkejut. "Apa?"

Rosnah menghela napas. Ia duduk di kursi kayu dan menunjuk kursi di hadapannya. "Duduklah, Nak. Aku akan menjelaskan semuanya."

Rakuan duduk dengan hati berdebar-debar. Ia tidak pernah menyangka akan mendengar ini.

"Susan adalah anak angkatku," kata Rosnah. "Aku dan suamiku—yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu—tidak bisa memiliki anak. Kami mengadopsi Susan dari panti asuhan di Putussibau ketika ia masih bayi. Aku membesarkannya dengan sepenuh hati. Ia adalah anakku, apa pun yang terjadi."

"Tapi ... apa hubungannya dengan ibu kandungku?"

Rosnah menunduk. Tangannya meremas ujung daster.

"Perselisihan kami dimulai ketika Rahmah tahu bahwa aku mengadopsi Susan," kata Rosnah. "Bukan karena ia membenciku. Tapi karena ... karena Susan sebenarnya adalah kerabat Rahmah."

Rakuan terdiam. Otaknya bekerja cepat. "Apa maksud Tante?"

Rosnah mengangkat kepalanya. Matanya menatap Rakuan dengan tajam.

"Susan adalah keponakan Rahmah. Anak dari adik laki-laki Rahmah, yang meninggal dalam kecelakaan kapal. Rahmah ingin mengasuh Susan, tapi aku sudah lebih dulu mengadopsinya. Kami bertengkar hebat. Rahmah menuduhku mencuri anak dari keluarganya. Dan aku ... aku tidak mau melepaskan Susan. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri."

Rakuan terdiam. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Susan—wanita yang ia cintai—adalah keponakan ibunya sendiri.

"Tante ..." suaranya serak. "Apa benar?"

Rosnah mengangguk. "Benar. Dan tanah yang menjadi rebutan kami sebenarnya adalah warisan untuk Susan. Tanah itu adalah milik almarhum adik Rahmah. Ketika ia meninggal, tanah itu menjadi milik Susan. Tapi aku dan Rahmah berselisih tentang siapa yang berhak mengelola tanah itu. Rahmah ingin mengelolanya untuk Susan. Aku juga ingin. Kami sama-sama ingin yang terbaik untuk Susan, tapi kami tidak bisa menyetujui cara masing-masing."


Rakuan duduk terdiam, mencerna semua informasi. Ia membayangkan ibunya dan Rosnah—dua wanita yang dulu bersahabat—bertengkar sengit tentang seorang anak dan sebidang tanah. Keduanya memiliki alasan yang kuat. Keduanya mencintai Susan. Tapi cinta mereka malah menjadi sumber perpecahan.

"Jadi ..." Rakuan berbicara pelan, "... selama ini, aku mengira ayahku dan keluarganya yang menjadi penghalang. Tapi sebenarnya, ini lebih rumit dari yang kukira."

Rosnah mengangguk. "Ya. Ini bukan hanya tentang cinta atau dendam. Ini tentang keluarga. Tentang siapa yang berhak atas apa. Dan di tengah semua itu, Susan adalah korban yang tidak bersalah."

"Apakah Susan tahu tentang ini?"

Rosnah menggeleng. "Tidak. Aku tidak pernah memberitahunya. Dan Rahmah juga tidak. Kami sepakat untuk menyimpan rahasia ini. Kami pikir itu lebih baik untuk Susan."

Rakuan menghela napas. "Tapi rahasia ini menghancurkan segalanya. Hubunganku dengan Susan. Persahabatan Tante dengan ibuku. Dan sekarang ..."

"Sekarang Rahmah akan segera pergi," kata Rosnah dengan suara tercekat. "Aku tidak ingin ia pergi dengan dendam di hatinya. Aku tidak ingin ia mengingatku sebagai musuh."

Rakuan meraih tangan Rosnah. "Tante, aku akan membantu. Aku akan membawa Susan ke rumah sakit. Aku akan mempertemukan Tante dengan ibuku. Ini waktunya untuk mengakhiri semua perselisihan ini."

Rosnah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kau benar, Nak. Sudah waktunya."


Rakuan pamit dari rumah Rosnah dengan pikiran yang penuh. Di perjalanan pulang, ia memikirkan semua yang telah ia dengar. Susan adalah keponakan ibunya. Tanah yang menjadi sumber konflik adalah milik Susan. Dan di tengah semua itu, ada Lucas yang ingin memanfaatkan situasi untuk keuntungannya sendiri.

Ia teringat bahwa Dapoer Tepian Kapuas—restoran yang dikelola Lucas—berdiri di atas tanah yang seharusnya menjadi milik Susan. Lucas dan Hendri mungkin tahu tentang rahasia ini. Mereka mungkin memanfaatkannya untuk menguasai Susan dan keluarganya.

"Lucas," gumam Rakuan dengan marah. "Aku tidak akan membiarkanmu memanfaatkan Susan."

Ia segera pergi ke Dermaga KP3 untuk mencari Rudi. Ia butuh bantuan sahabatnya untuk menyusun rencana.


Di warung Sungai Rindu, Rudi sedang sibuk menyiapkan pesanan. Ketika melihat Rakuan datang dengan ekspresi serius, ia segera meletakkan peralatannya.

"Ada apa, Ku? Kau terlihat seperti baru saja menemukan harta karun—atau bom."

Rakuan duduk di meja kayu. "Aku baru saja bicara dengan Rosnah, ibu Susan."

Rudi mengangkat alis. "Oh? Apa katanya?"

Rakuan menceritakan semua yang ia dengar—tentang Susan sebagai anak angkat, tentang hubungan Susan dengan Rahmah, tentang tanah warisan, dan tentang perselisihan yang selama ini menjadi sumber konflik.

Rudi mendengarkan dengan saksama. Ketika Rakuan selesai, ia menghela napas panjang.

"Wow," katanya. "Aku tidak pernah menyangka ada rahasia sebesar ini."

"Aku juga tidak," kata Rakuan. "Tapi sekarang aku mengerti mengapa ibuku dan Rosnah begitu keras kepala. Mereka sama-sama mencintai Susan. Mereka sama-sama ingin melindunginya. Mereka hanya tidak tahu cara yang benar."

"Dan Lucas?"

"Lucas pasti tahu tentang ini," kata Rakuan. "Dan ia memanfaatkannya. Ia ingin menikahi Susan untuk menguasai tanah itu. Itu sebabnya Hendri begitu bersemangat mendukung pernikahan mereka."

Rudi mengepalkan tangannya. "Bajingan."

"Aku harus menghentikannya, Rud. Aku harus menyelamatkan Susan dari pernikahan yang dipaksakan itu."

"Bagaimana caranya?"

Rakuan terdiam. Pikirannya bekerja cepat. "Aku akan mempertemukan Rosnah dan ibuku di rumah sakit. Aku akan membuat mereka berdamai. Dan aku akan memberi tahu Susan tentang semua ini. Ia berhak tahu siapa dirinya sebenarnya."

Rudi mengangguk. "Aku mendukungmu. Apapun yang kau butuhkan, aku di sini."


Malam itu, Rakuan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Rahmah terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya semakin kurus, dan napasnya terdengar pendek-pendek. Tapi matanya masih berbinar ketika melihat Rakuan masuk.

"Nak ..." bisiknya. "Kau datang."

Rakuan duduk di samping ranjang dan memegang tangan ibunya. "Ibu, aku harus bicara denganmu tentang sesuatu."

"Apa itu, Nak?"

Rakuan menarik napas panjang. "Tentang Rosnah. Tentang Susan. Tentang semua yang terjadi di masa lalu."

Rahmah terdiam. Matanya menatap Rakuan dengan hati-hati. "Apa yang kau ketahui?"

"Rosnah sudah cerita semuanya, Bu. Tentang Susan, tentang tanah warisan, tentang perselisihan kalian." Rakuan menggenggam tangan ibunya erat. "Bu, aku tahu Ibu dan Rosnah sama-sama mencintai Susan. Aku tahu Ibu dan Rosnah sama-sama ingin yang terbaik untuknya. Tapi permusuhan ini tidak ada gunanya. Itu hanya menyakiti semua orang—termasuk Susan."

Rahmah menunduk. Air mata mengalir di pipinya yang keriput.

"Aku tahu, Nak," bisiknya. "Aku tahu aku salah. Aku terlalu keras kepala. Aku terlalu sombong. Aku tidak mau mendengarkan Rosnah. Padahal sebenarnya ... sebenarnya aku hanya takut kehilangan Susan. Aku takut jika Rosnah mengurusnya, aku tidak akan bisa melihatnya lagi."

Rakuan memeluk ibunya. "Bu, Rosnah tidak akan mengambil Susan dari Ibu. Ia hanya ingin melindunginya. Sama seperti Ibu."

"Aku tahu," kata Rahmah. "Aku sudah menyadarinya. Tapi terlambat. Semua sudah terjadi."

"Belum terlambat, Bu. Ibu masih bisa berdamai dengan Rosnah. Ibu masih bisa melihat Susan. Aku akan membawa mereka ke sini. Kita akan menyelesaikan semua ini bersama."

Rahmah menatap putranya. "Kau yakin?"

"Aku yakin."


Keesokan harinya, Rakuan menjemput Rosnah dan membawanya ke rumah sakit. Rosnah tampak gugup—tangannya gemetar, dan ia terus memainkan ujung kerudungnya.

"Apa kau yakin ini ide yang baik?" tanya Rosnah untuk kesepuluh kalinya.

"Tante, ini adalah kesempatan terakhir. Ibu tidak punya banyak waktu. Jangan biarkan penyesalan menghantui Tante seumur hidup."

Rosnah mengangguk. Mereka memasuki ruang perawatan. Rahmah terbaring di ranjang, tapi matanya terbuka. Ketika melihat Rosnah masuk, air matanya langsung jatuh.

"Ros ..." bisik Rahmah.

Rosnah mendekati ranjang. Tangannya meraih tangan Rahmah. Kedua wanita itu saling menatap dalam diam. Seribu kenangan melintas di antara mereka—kenangan masa kecil, persahabatan, pertengkaran, dan penyesalan.

"Maafkan aku, Rah," bisik Rosnah. "Aku seharusnya tidak bersikap keras padamu. Aku seharusnya mendengarkanmu."

Rahmah menggeleng. "Aku juga salah, Ros. Aku terlalu sombong. Aku terlalu keras kepala. Aku seharusnya tidak menuduhmu mencuri Susan."

"Aku mencintai Susan," kata Rosnah. "Aku mencintainya seperti anakku sendiri."

"Aku juga," kata Rahmah. "Dia adalah keponakanku. Aku ingin melindunginya seperti aku melindungi Rakuan."

Mereka berpelukan. Air mata mengalir deras dari kedua mata mereka. Dan di samping mereka, Rakuan menyaksikan dengan hati yang hangat.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun, dua sahabat itu berdamai.


Ketika Rakuan keluar dari ruangan, ia melihat Susan berdiri di koridor. Wajahnya pucat. Matanya merah.

"Susan?" Rakuan terkejut. "Kau di sini sejak kapan?"

Susan tidak menjawab. Ia menatap Rakuan dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara marah, sedih, dan bingung.

"Aku mendengar semuanya," katanya pelan. "Aku mendengar ibuku dan ibumu berbicara. Aku mendengar bahwa aku ... bahwa aku bukan anak kandung Rosnah. Bahwa aku keponakan Rahmah. Bahwa semua ini adalah rahasia yang selama ini disembunyikan dariku."

Rakuan meraih tangannya. "Susan, aku ..."

"Kenapa kau tidak memberitahuku?" suara Susan bergetar. "Kenapa semua orang menyembunyikan ini dariku?"

"Karena mereka ingin melindungimu," kata Rakuan. "Karena mereka mencintaimu. Karena mereka takut kau akan terluka."

Susan menangis. "Aku sudah terluka. Aku terluka karena mereka tidak mempercayaiku. Aku terluka karena mereka menganggapku tidak cukup kuat untuk menerima kebenaran."

Rakuan memeluknya erat. "Maafkan mereka, Susan. Mereka hanya manusia. Mereka membuat kesalahan. Tapi mereka mencintaimu. Dan sekarang, mereka sudah berdamai. Semua bisa diperbaiki."

Susan menangis di pelukannya. Dan di dalam ruangan, Rahmah dan Rosnah juga menangis—tangisan rekonsiliasi, tangisan pengampunan, tangisan cinta yang tak pernah padam.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

Senja di Dermaga, Air Mata di Hati


Malam itu, setelah semua pengakuan dan tangisan di rumah sakit, Rakuan dan Susan berjalan keluar bersama. Udara malam terasa sejuk, membawa aroma sungai dan dedaunan basah. Mereka berjalan tanpa arah, hanya mengikuti langkah kaki yang membawa mereka ke tempat yang selalu menjadi saksi bisu perjalanan mereka—Dermaga KP3.

Lampu-lampu dermaga mulai menyala satu per satu. Beberapa warung masih buka, menyajikan makanan untuk pengunjung malam. Tapi Rakuan dan Susan tidak memperhatikan semua itu. Mereka hanya duduk di ujung dermaga, seperti dulu, seperti ketika mereka masih remaja dan percaya bahwa cinta bisa mengatasi segalanya.

Susan masih diam. Air matanya sudah kering, tapi matanya tetap sembab. Ia menggenggam tangannya sendiri, berusaha menenangkan diri.

Rakuan menatapnya dengan hati yang hancur. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata terasa hambar di tengah semua kebenaran yang baru saja terungkap.

"Aku tidak tahu harus merasa apa," kata Susan akhirnya. Suaranya serak, seperti baru saja menangis berjam-jam. "Aku marah. Aku sedih. Aku bingung. Tapi di saat yang sama, aku juga lega."

"Lega?" tanya Rakuan pelan.

Susan mengangguk. "Karena akhirnya aku tahu. Aku tahu siapa aku sebenarnya. Aku tahu mengapa ibuku—Rosnah—begitu protektif padaku. Aku tahu mengapa ibumu—Rahmah—selalu menatapku dengan tatapan yang aneh setiap kali kami bertemu. Semua teka-teki itu akhirnya terjawab."

Rakuan meraih tangannya. "Aku minta maaf, Sus. Aku seharusnya memberitahumu lebih awal. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya."

"Kau tidak perlu minta maaf," kata Susan. "Kau baru tahu hari ini juga. Kau tidak menyembunyikan apapun dariku. Mereka yang menyembunyikannya—ibuku, ibumu, semua orang dewasa di sekitar kita."

"Aku tahu mereka salah," kata Rakuan. "Tapi cobalah pahami. Mereka melakukannya karena mereka mencintaimu. Mereka takut kau akan terluka. Mereka takut kau akan membenci mereka."

Susan tertawa pahit. "Dan sekarang? Aku tidak membenci mereka. Tapi aku kecewa. Sangat kecewa."


Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat. Angin malam bertiup pelan, membawa suara gemericik air sungai. Di kejauhan, seekor burung malam bersuara, seperti ikut meratapi kesedihan mereka.

"Susan," kata Rakuan akhirnya, "aku ingin bertanya sesuatu."

"Apa?"

"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Tentang pernikahanmu dengan Lucas?"

Susan terdiam. Wajahnya berubah—dari sedih menjadi tegang.

"Aku tidak tahu," katanya jujur. "Sebelumnya, aku pikir aku tidak punya pilihan. Tapi sekarang ... setelah semua ini, setelah tahu bahwa ada orang-orang yang mencintaiku dengan tulus—ibuku, ibumu, kau ... aku mulai berpikir bahwa mungkin aku punya hak untuk memilih."

"Kau punya hak, Sus," kata Rakuan tegas. "Kau punya hak untuk memilih siapa yang kau cintai. Kau punya hak untuk memilih kebahagiaanmu. Jangan biarkan siapa pun merampas hak itu darimu."

Susan menatapnya. Matanya mencari-cari sesuatu di wajah Rakuan—mungkin keraguan, mungkin ketulusan.

"Dan kau?" tanyanya. "Apa yang kau inginkan?"

Rakuan menatap mata Susan dalam-dalam. Di bawah cahaya lampu dermaga, ia melihat binar di mata wanita itu—harapan yang masih tersisa di tengah segala keputusasaan.

"Aku ingin kau bahagia," katanya. "Aku ingin kau bebas dari semua tekanan ini. Aku ingin ..." ia berhenti sejenak, "... aku ingin kau memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku layak dicintai."

Susan tidak menjawab. Tapi ia tidak melepaskan tangan Rakuan. Dan di bawah langit malam yang bertabur bintang, mereka duduk bersama—dua insan yang sama-sama terluka, berusaha menemukan jalan keluar dari kegelapan.


Keesokan harinya, Rakuan bangun dengan perasaan yang lebih ringan. Pertemuannya dengan Susan tadi malam memberinya harapan. Tapi ia tahu bahwa perjuangan belum selesai. Masih ada Lucas. Masih ada Hendri. Masih ada pernikahan yang direncanakan.

Ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit pagi-pagi. Ia ingin melihat kondisi ibunya dan berbicara dengan Rosnah tentang langkah selanjutnya.

Di rumah sakit, ia menemukan pemandangan yang mengharukan. Rosnah duduk di samping ranjang Rahmah, memegang tangannya. Kedua wanita itu tampak berbicara dengan tenang—seperti dua sahabat lama yang akhirnya berdamai.

"Ibu, Tante," sapa Rakuan.

Rahmah tersenyum melihat putranya. "Nak, kemarilah. Aku dan Rosnah sedang bicara tentang masa lalu. Tentang semua yang terjadi."

Rakuan mendekat dan duduk di kursi di sisi lain. "Apa yang kalian bicarakan?"

Rosnah menghela napas. "Kami membicarakan Susan. Tentang masa depannya. Tentang apa yang terbaik untuknya."

"Dan apa keputusan kalian?"

Rahmah menatap Rosnah. Rosnah mengangguk—seperti ada kesepakatan di antara mereka.

"Kami memutuskan bahwa Susan berhak tahu segalanya," kata Rahmah. "Dan kami memutuskan bahwa Susan berhak memilih jalannya sendiri. Kami tidak akan memaksanya menikah dengan Lucas."

Rakuan terkejut. "Benarkah, Bu? Tapi bagaimana dengan Hendri? Bagaimana dengan tekanan dari keluarganya?"

Rosnah tersenyum tipis. "Aku akan berbicara dengan Hendri. Aku akan mengatakan bahwa pernikahan itu dibatalkan. Aku tidak peduli apa pun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkan anakku dipaksa menikahi seseorang yang tidak dicintainya."

Rakuan merasa lega luar biasa. Akhirnya, ada keputusan tegas dari kedua wanita itu.

"Tapi ..." Rosnah melanjutkan, "... ada satu hal yang perlu kau lakukan, Rakuan."

"Apa itu, Tante?"

Rosnah menatapnya dengan serius. "Kau harus melindungi Susan. Hendri dan Lucas tidak akan menerima keputusan ini dengan mudah. Mereka akan melawan. Mereka akan berusaha merebut Susan dengan cara apa pun. Kau harus siap menghadapi mereka."

Rakuan mengangguk tegas. "Aku siap, Tante. Aku akan melakukan apa pun untuk melindungi Susan."


Sore itu, Rakuan dan Susan bertemu lagi di Dermaga KP3. Mereka memilih tempat yang sama—ujung dermaga yang menghadap ke sungai. Matahari mulai tenggelam, menciptakan langit jingga yang memukau.

"Aku sudah bicara dengan ibuku," kata Susan. "Rosnah memberitahuku bahwa pernikahan dengan Lucas akan dibatalkan."

Rakuan mengangguk. "Aku juga mendengar dari ibuku."

"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku," kata Susan jujur. "Aku lega, tapi aku juga takut. Lucas tidak akan menyerah begitu saja. Pamanku juga tidak. Mereka akan mencari cara untuk menghancurkanku."

Rakuan meraih tangannya. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu, Sus. Aku berjanji."

Susan menatapnya. "Kau sungguh berubah, Rakuan. Dulu, kau selalu lari dari masalah. Sekarang, kau justru berlari menuju masalah."

Rakuan tersenyum. "Aku belajar dari kesalahanku. Aku belajar bahwa lari tidak pernah menyelesaikan apa pun. Dan aku belajar bahwa ..." ia menatap Susan dalam-dalam, "... bahwa orang yang kucintai layak untuk diperjuangkan."

Susan tersipu. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tapi tangannya tetap menggenggam tangan Rakuan.

"Kau tahu, Rakuan," katanya pelan, "selama tiga tahun ini, aku selalu membayangkan pertemuan kita. Aku membayangkan bahwa aku akan marah padamu, bahwa aku akan membentakmu, bahwa aku akan mengatakan semua kata-kata pedas yang sudah kupendam. Tapi sekarang ... sekarang ketika kau benar-benar di sini, aku tidak bisa melakukannya."

"Kenapa?"

Susan mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca. "Karena aku masih mencintaimu. Aku mencintaimu meskipun kau pergi. Aku mencintaimu meskipun kau menyakitiku. Dan aku tidak bisa membenci seseorang yang kucintai."

Rakuan merasakan jantungnya berdetak kencang. Air mata mengalir di pipinya.

"Aku juga mencintaimu, Susan. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Bahkan ketika aku di Jakarta, di tengah kesibukanku, di antara gedung-gedung tinggi dan lalu lintas yang macet, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu merindukanmu. Dan setiap malam, aku bermimpi bahwa suatu hari nanti, aku akan kembali dan memperbaiki semua kesalahanku."

Susan menangis. Tapi kali ini, tangisannya berbeda—bukan tangisan kesedihan, tapi tangisan kelegaan. Tangisan kebahagiaan.

Mereka berpelukan di bawah langit senja. Angin sungai bertiup lembut, seolah ikut merayakan rekonsiliasi mereka. Dan di kejauhan, Dermaga KP3 berdiri kokoh, menyaksikan dua insan yang akhirnya menemukan jalan kembali ke satu sama lain.


Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Keesokan harinya, Rakuan menerima telepon dari Rudi yang membuatnya terkejut.

"Ku, ada masalah," kata Rudi dengan suara panik. "Lucas tahu tentang pertemuanmu dengan Susan di dermaga. Ia tahu kalian berpelukan. Dan ia sangat marah."

Rakuan mengepalkan tangannya. "Bagaimana ia bisa tahu?"

"Aku tidak tahu. Mungkin seseorang melihat dan melaporkannya. Atau mungkin ia memata-matimu. Yang jelas, ia sudah mengancam akan menghancurkan Susan jika ia tidak segera menikah dengannya."

Rakuan merasakan darahnya mendidih. "Di mana Susan sekarang?"

"Di rumahnya. Rosnah memintanya tinggal di rumah sampai situasi aman. Tapi Rakuan, kau harus hati-hati. Lucas bisa melakukan apa saja."

"Aku akan segera ke sana," kata Rakuan. "Aku tidak akan membiarkan Lucas menyentuh Susan."


Rakuan bergegas menuju rumah Rosnah. Di perjalanan, ia memikirkan semua yang terjadi. Lucas tahu tentang pertemuannya dengan Susan. Lucas marah. Lucas mengancam. Ini adalah pertanda bahwa perjuangan mereka baru saja dimulai.

Ketika ia tiba di rumah Rosnah, ia melihat Susan duduk di teras dengan wajah cemas. Rosnah berdiri di sampingnya, memegang ponsel dengan ekspresi tegang.

"Rakuan!" Susan berdiri ketika melihatnya. "Aku takut. Lucas baru saja menelepon. Ia mengatakan bahwa jika aku tidak menikah dengannya, ia akan menghancurkan restoran ibuku dan memastikan bahwa aku tidak pernah bisa bekerja lagi di Kapuas."

Rakuan memeluknya. "Tenang, Sus. Aku di sini. Kita akan menghadapinya bersama."

Rosnah mendekat. "Rakuan, aku sudah bicara dengan Hendri. Ia tidak mau mendengarkan. Ia mengatakan bahwa pernikahan ini adalah kesepakatan bisnis yang sudah disetujui. Jika kami membatalkannya, ia akan menarik semua investasinya dari restoran dan memastikan bahwa kami bangkrut."

Rakuan mengepalkan tangannya. Ia memikirkan semua pilihan. Ia bisa melawan secara hukum. Ia bisa melaporkan Hendri dan Lucas ke polisi. Tapi itu akan memakan waktu dan tidak ada jaminan berhasil.

"Ada satu cara," kata Rakuan akhirnya.

"Apa?" tanya Susan dan Rosnah bersamaan.

Rakuan menatap mereka dengan tegas. "Kita kumpulkan bukti. Kita kumpulkan semua bukti bahwa Lucas dan Hendri melakukan praktik curang, memonopoli bisnis, dan mengancam orang lain. Lalu kita laporkan ke dinas perdagangan dan polisi. Tapi kita harus melakukannya dengan cepat dan diam-diam."

Rosnah mengangguk. "Aku bisa membantu. Aku tahu banyak tentang praktik-praktik curang Hendri. Aku sudah lama mengumpulkan informasi, tapi aku tidak pernah berani menggunakannya."

"Bagus," kata Rakuan. "Kita mulai sekarang. Susan, kau tinggal di sini dan jangan pergi ke mana pun tanpa aku. Aku akan ke rumah Rudi untuk menyusun rencana."


Rakuan pergi ke warung Sungai Rindu dan menemukan Rudi sedang sibuk menyiapkan makan malam. Ketika melihat Rakuan datang dengan ekspresi tegang, Rudi segera meletakkan peralatannya.

"Apa yang terjadi?" tanya Rudi.

Rakuan menceritakan semua yang terjadi—ancaman Lucas, tekanan Hendri, dan rencana mereka untuk mengumpulkan bukti.

Rudi mendengarkan dengan saksama. Ketika Rakuan selesai, ia mengangguk.

"Aku siap membantu," katanya. "Apa yang bisa aku lakukan?"

"Kau kenal banyak orang di komunitas kuliner," kata Rakuan. "Kau bisa mengumpulkan informasi tentang praktik-praktik curang Hendri. Siapa saja yang menjadi korbannya? Siapa saja yang memiliki bukti?"

Rudi berpikir sejenak. "Ada beberapa pemasok yang ditekan oleh Hendri. Ada juga beberapa restoran kecil yang dipaksa tutup karena tidak mau bergabung dengan jaringan Hendri. Aku bisa menghubungi mereka."

"Lakukan," kata Rakuan. "Kita harus segera bertindak. Semakin cepat kita mengumpulkan bukti, semakin cepat kita bisa menghentikan Lucas."


Malam itu, Rakuan kembali ke Dermaga KP3. Ia duduk sendirian di ujung dermaga, menatap sungai yang mengalir tenang. Pikirannya penuh dengan rencana dan kekhawatiran.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Itu Susan.

"Rakuan," suara Susan terdengar gemetar. "Aku baru saja menerima pesan dari Lucas. Ia mengatakan bahwa jika aku tidak menikah dengannya, ia akan melaporkan Rosnah ke polisi karena ... karena telah mencuri anak."

Rakuan terkejut. "Apa?"

"Dia mengatakan bahwa ia memiliki bukti bahwa Rosnah menculikku dari panti asuhan tanpa prosedur yang sah. Aku tidak tahu apakah itu benar. Tapi jika itu benar, Rosnah bisa dipenjara."

Rakuan merasakan kepanikan. Lucas bermain sangat kotor.

"Tenang, Susan," katanya sekuat tenaga. "Aku akan mengurus ini. Aku tidak akan membiarkan Lucas menyentuh Rosnah."

Ia mematikan telepon dan mulai merencanakan langkah selanjutnya. Perjuangan mereka semakin berat. Tapi Rakuan tidak akan menyerah. Ia berjanji pada dirinya sendiri—ia akan melindungi Susan, ia akan melindungi Rosnah, dan ia akan menghentikan Lucas dengan cara apa pun.


Di ujung dermaga, di bawah langit malam yang gelap, Rakuan berdoa. Ia berdoa untuk ibunya yang sakit. Ia berdoa untuk Susan yang ketakutan. Ia berdoa untuk Rosnah yang terancam. Dan ia berdoa untuk kekuatan untuk menghadapi semua ini.

"Tuhan," bisiknya, "beri aku kekuatan. Beri aku keberanian. Dan tolonglah aku untuk melindungi orang-orang yang kucintai."

Angin malam bertiup, seolah menjawab doanya. Dan di kejauhan, lampu-lampu Dermaga KP3 terus menyala, menjadi saksi bisu perjuangan yang baru saja dimulai.

 

 

 

 

BAB VII

Ambisi dan Pengkhianatan


Malam itu, Rakuan tidak bisa tidur. Ancaman Lucas terngiang-ngiang di kepalanya. Lucas akan melaporkan Rosnah ke polisi karena menculik Susan. Lucas akan menghancurkan bisnis Rosnah. Lucas akan melakukan apa saja untuk memaksa Susan menikah dengannya.

Rakuan bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke beranda rumah tuanya. Udara malam terasa dingin, membawa aroma sungai yang khas. Di kejauhan, lampu-lampu Dermaga KP3 masih menyala, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.

Ia memikirkan semua pilihan yang ada. Mengumpulkan bukti. Melaporkan Lucas ke polisi. Melawan secara hukum. Tapi semua itu membutuhkan waktu. Sementara itu, Lucas terus mengancam.

"Ada cara lain," gumamnya. "Aku harus menghadapi Lucas secara langsung."

Ia memutuskan bahwa besok pagi, ia akan pergi ke Dapoer Tepian Kapuas dan berbicara dengan Lucas. Ia akan menghadapi pria itu secara langsung. Ia akan membuatnya mengerti bahwa ia tidak akan menyerah.


Pagi itu, Rakuan berpakaian rapi. Ia memakai kemeja putih dan celana hitam—penampilan yang tegas dan profesional. Sebelum pergi, ia menelepon Rudi.

"Rud, aku akan pergi ke Dapoer Tepian Kapuas. Aku akan bicara dengan Lucas."

Rudi terdiam sejenak. "Kau yakin, Ku? Itu berbahaya. Lucas bisa melakukan apa saja."

"Aku tidak punya pilihan, Rud. Aku harus menghentikannya. Aku tidak bisa membiarkan Susan dan Rosnah terus-menerus terancam."

"Baik. Tapi hati-hati. Telepon aku jika ada apa-apa."

"Pasti."

Rakuan mematikan telepon dan berjalan menuju Dapoer Tepian Kapuas.


Restoran itu masih sepi di pagi hari. Beberapa karyawan sedang membersihkan meja dan menyiapkan bahan-bahan untuk jam makan siang. Rakuan melangkah masuk, matanya mencari Lucas.

Ia menemukannya di belakang meja kasir, sedang memeriksa buku catatan. Ketika melihat Rakuan masuk, Lucas mengangkat alisnya dengan ekspresi terkejut—tapi segera berubah menjadi senyum sinis.

"Rakuan," sapa Lucas dengan nada manis yang dibuat-buat. "Kedatanganmu sungguh mengejutkan. Ada yang bisa aku bantu?"

Rakuan melangkah mendekat. Ia berdiri di hadapan Lucas, menatap matanya langsung.

"Aku ingin bicara tentang Susan," kata Rakuan datar.

Lucas tersenyum. "Oh, Susan. Tentu. Apa tentang dia?"

"Kau mengancamnya. Kau mengancam Rosnah. Kau mengatakan akan melaporkan Rosnah ke polisi. Kau melakukan semua ini untuk memaksa Susan menikah denganmu."

Lucas tertawa kecil. "Kau datang ke sini untuk mengancamku? Atau untuk memintaku berhenti?"

"Aku datang untuk mengatakan bahwa kau tidak akan berhasil," kata Rakuan dengan suara dingin. "Susan tidak akan menikah denganmu. Rosnah tidak akan takut pada ancamanmu. Dan aku ... aku akan melakukan apa saja untuk menghentikanmu."

Lucas berhenti tertawa. Ekspresinya berubah—dari sinis menjadi marah.

"Kau pikir kau bisa mengalahkanku?" tanyanya dengan suara rendah. "Kau hanyalah arsitek gagal yang kembali ke kampung halaman karena tidak punya tempat lain. Aku memiliki segalanya—uang, kekuasaan, pengaruh. Aku bisa menghancurkanmu dalam sekejap."

"Silakan coba," kata Rakuan tenang. "Tapi ingat, Lucas. Setiap tindakan ada konsekuensinya. Jika kau menyakiti Susan, jika kau menyakiti Rosnah, jika kau menyakiti siapa pun yang kucintai, aku akan memastikan bahwa kau membayarnya."

Mereka saling menatap dalam diam. Udara di antara mereka terasa panas. Seolah-olah listrik mengalir di antara dua pria yang saling membenci.

Akhirnya, Lucas tersenyum lagi—tapi kali ini, senyumnya lebih dingin dan lebih berbahaya.

"Kau membuat kesalahan besar, Rakuan," katanya. "Kau seharusnya tidak menantangku."


Rakuan keluar dari Dapoer Tepian Kapuas dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa lega karena sudah menghadapi Lucas secara langsung. Tapi ia juga merasa cemas. Ancaman Lucas terasa nyata.

Ia segera menelepon Rudi.

"Rud, aku sudah bicara dengan Lucas. Ia tidak akan menyerah. Kita harus segera bergerak."

"Aku sudah mengumpulkan beberapa informasi," kata Rudi. "Ada beberapa pemasok yang bersedia memberikan kesaksian tentang praktik curang Hendri. Tapi kita butuh bukti yang lebih kuat."

"Apa yang bisa kita lakukan?"

"Ada satu orang. Namanya Toni. Ia adalah mantan karyawan Dapoer Tepian Kapuas. Ia tahu banyak tentang praktik-praktik gelap Lucas dan Hendri. Tapi ia takut untuk berbicara."

"Di mana aku bisa menemukannya?"

"Aku tahu alamatnya. Aku akan mengirimkannya padamu."


Rakuan segera menuju alamat yang diberikan Rudi. Rumah Toni terletak di pinggiran Kuala Kapuas, sebuah rumah kayu kecil yang tampak sederhana. Ketika Rakuan tiba, ia melihat seorang pria paruh baya duduk di beranda, merokok dengan ekspresi gelisah.

"Toni?" sapa Rakuan.

Pria itu mengangkat kepalanya. Matanya tampak waspada. "Siapa kau?"

"Aku Rakuan. Teman Rudi. Aku ingin bicara denganmu tentang Dapoer Tepian Kapuas."

Toni langsung berdiri. Ekspresinya berubah—dari waspada menjadi takut.

"Aku tidak tahu apa-apa," katanya cepat. "Aku tidak mau terlibat."

Rakuan mendekat. "Toni, aku tahu kau takut. Tapi aku juga tahu bahwa kau tahu banyak tentang praktik curang Lucas dan Hendri. Aku butuh bantuanmu. Aku butuh bukti untuk menghentikan mereka."

Toni menggeleng. "Mereka berbahaya, Nak. Aku melihat sendiri apa yang mereka lakukan pada orang yang melawan mereka. Aku tidak mau jadi korban berikutnya."

"Aku akan melindungimu," kata Rakuan tegas. "Aku akan memastikan bahwa kau aman. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendirian. Aku butuh bantuanmu."

Toni terdiam. Ia menatap Rakuan dengan mata yang penuh keraguan.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya akhirnya. "Kenapa kau mau mengambil risiko?"

"Karena ada orang yang kucintai yang terancam oleh mereka," kata Rakuan. "Karena aku tidak bisa diam ketika orang-orang yang aku sayangi disakiti. Dan karena ... aku percaya bahwa keadilan harus ditegakkan."

Toni menghela napas panjang. Ia membuang puntung rokoknya dan menginjaknya.

"Baik," katanya. "Aku akan membantumu. Tapi kau harus berjanji bahwa kau akan melindungiku dan keluargaku."

"Aku berjanji," kata Rakuan.

Mereka pun mulai berbicara. Toni menceritakan semuanya—tentang bagaimana Lucas dan Hendri memonopoli bisnis kuliner di Kuala Kapuas, tentang bagaimana mereka menekan pemasok, tentang bagaimana mereka menyuap pejabat, dan tentang bagaimana mereka mengancam siapa saja yang berani melawan.

Rakuan mencatat semuanya dengan saksama. Di dalam hatinya, ia bersyukur karena akhirnya ada harapan.


Sementara itu, di rumah Rosnah, Susan merasa semakin tertekan. Lucas terus mengirim pesan ancaman. Hendri juga menelepon Rosnah, mengatakan bahwa jika pernikahan dibatalkan, ia akan menarik semua investasinya dan memastikan bahwa keluarga Rosnah bangkrut.

"Bu, aku takut," kata Susan dengan suara gemetar. "Apa yang akan terjadi pada kita?"

Rosnah memeluk putrinya. "Tenang, Nak. Kita akan melewati ini. Rakuan sedang berusaha mengumpulkan bukti. Kita harus percaya padanya."

"Tapi bagaimana jika ia tidak berhasil? Bagaimana jika Lucas benar-benar menghancurkan kita?"

Rosnah menatap mata putrinya. "Kau tahu, Susan, selama bertahun-tahun, aku selalu berpikir bahwa melindungimu berarti menyembunyikan kebenaran. Tapi sekarang aku sadar bahwa melindungimu berarti membantumu menjadi kuat. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkanmu—termasuk Lucas."

Susan menangis di pelukan ibunya. Ia merasa lemah, tapi di saat yang sama, ia juga merasa ada kekuatan baru yang tumbuh di dalam dirinya.

"Bu, aku mencintai Rakuan," katanya. "Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpanya."

"Aku tahu, Nak. Dan aku percaya bahwa Rakuan akan melakukan apa saja untuk melindungimu."


Malam itu, Rakuan kembali ke Dermaga KP3. Ia membawa semua catatan yang ia peroleh dari Toni. Ia duduk di ujung dermaga, membaca ulang semua informasi yang ia kumpulkan. Ada banyak bukti—tapi semuanya masih berupa kesaksian. Ia butuh bukti tertulis.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Itu Rudi.

"Ku, aku punya kabar buruk," kata Rudi dengan suara tegang. "Lucas tahu bahwa kau bertemu dengan Toni. Ia mengancam akan menghancurkan Toni dan keluarganya."

Rakuan terkejut. "Bagaimana ia bisa tahu?"

"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, ia punya mata dan telinga di mana-mana. Kau harus berhati-hati."

"Aku akan melindungi Toni," kata Rakuan. "Tapi kita harus segera bertindak. Kita tidak bisa membiarkan Lucas terus mengancam orang-orang."

"Baik. Aku akan mengumpulkan semua orang yang bersedia memberikan kesaksian. Kita akan mengadakan pertemuan besok malam di warungku."

"Setuju."


Keesokan malamnya, sekelompok orang berkumpul di warung Sungai Rindu. Ada Toni dan beberapa pemasok lain yang pernah menjadi korban praktik curang Hendri dan Lucas. Ada juga beberapa restoran kecil yang dipaksa tutup. Semua datang dengan harapan yang sama—keadilan.

Rakuan berdiri di depan mereka. "Terima kasih sudah datang. Aku tahu ini berbahaya. Aku tahu kalian semua takut. Tapi kita tidak bisa terus diam. Kita harus bersatu melawan mereka."

Toni berdiri. "Aku bersedia memberikan kesaksian. Aku sudah lelah hidup dalam ketakutan."

Pemasok lain juga mengangguk. "Aku juga. Aku sudah kehilangan banyak karena Hendri. Aku tidak mau kehilangan lebih banyak lagi."

Rakuan tersenyum. "Terima kasih. Dengan kesaksian kalian, kita bisa menghentikan mereka. Kita bisa mengembalikan keadilan di Kuala Kapuas."

Pertemuan itu berlangsung hingga larut malam. Ketika semua orang pulang, Rudi mendekati Rakuan.

"Kau tahu, Ku, ini berbahaya. Kau menantang orang yang sangat berkuasa."

"Aku tahu, Rud. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus melindungi Susan dan semua orang yang kucintai."

Rudi menepuk bahunya. "Aku bangga padamu, Ku. Kau benar-benar berubah."


Namun, di balik semua persiapan itu, ada pengkhianatan yang tidak mereka sadari. Salah satu pemasok yang hadir dalam pertemuan itu ternyata adalah mata-mata Lucas. Ia melaporkan semua yang terjadi kepada Lucas.

Keesokan paginya, Rakuan terbangun dengan ponsel yang berdering deras. Itu Susan.

"Rakuan!" suara Susan panik. "Lucas tahu tentang pertemuanmu! Ia mengancam akan menghancurkan semua orang yang hadir! Dan ia mengatakan ... ia mengatakan bahwa ia akan membunuhmu!"

Rakuan merasakan darahnya membeku. Ia tahu Lucas berbahaya. Tapi ia tidak menyangka akan sejauh ini.

"Tenang, Susan," katanya sekuat tenaga. "Aku akan mengurus ini. Kau tetap di rumah dan jangan pergi ke mana-mana."

"Rakuan, aku takut. Aku takut kehilanganmu."

"Kau tidak akan kehilanganku, Sus. Aku berjanji."

Ia mematikan telepon dan segera berpakaian. Ia harus segera pergi. Ia harus melindungi semua orang yang terlibat dalam pertemuan itu.


Rakuan berlari menuju warung Sungai Rindu. Ia menemukan Rudi sedang sibuk menelepon semua orang yang hadir dalam pertemuan semalam.

"Rud, apa yang terjadi?" tanya Rakuan.

Rudi menggeleng. "Buruk, Ku. Lucas sudah mengancam semua orang. Beberapa pemasok sudah menarik diri. Mereka takut. Toni juga menghilang. Aku tidak bisa menghubunginya."

Rakuan merasakan kepanikan. Semua rencana mereka hancur dalam semalam.

"Kita harus menemukan Toni," katanya. "Ia adalah saksi kunci. Tanpa dia, kita tidak punya bukti yang cukup."

"Aku sudah mencari," kata Rudi. "Tapi tidak ada yang tahu di mana ia berada."

Rakuan mengepalkan tangannya. Lucas telah memenangkan pertempuran ini. Tapi perang belum usai.

"Aku akan menemukannya," kata Rakuan tegas. "Apapun yang terjadi, aku akan menemukan Toni dan membuatnya bersaksi. Aku tidak akan menyerah."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VIII

Ibu yang Sekarat


Rakuan tidak pernah membayangkan bahwa hari itu akan menjadi hari terburuk dalam hidupnya.

Ia sedang dalam perjalanan menuju rumah Toni ketika ponselnya berdering. Nomor rumah sakit muncul di layar. Dengan tangan gemetar, ia menjawab panggilan itu.

"Selamat pagi, Bapak Rakuan," suara perawat terdengar di seberang sana. "Ibu Bapak kondisinya menurun drastis. Dokter meminta Bapak segera ke rumah sakit."

Rakuan merasakan jantungnya berhenti berdetak. "Aku akan segera ke sana," katanya dengan suara tercekik.

Ia langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju rumah sakit. Setiap langkah terasa berat. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan ibunya—wajahnya yang lemah, tangannya yang dingin, senyumnya yang perlahan memudar.

"Tuhan, tolong," bisiknya di antara helaan napas yang tersengal. "Jangan ambil ibuku. Belum sekarang. Aku belum siap."


Rakuan tiba di rumah sakit dengan napas tersengal. Ia berlari melewati koridor menuju ruang perawatan ibunya. Di depan pintu, ia melihat Rosnah duduk di kursi, menangis. Di sampingnya, Susan berdiri dengan wajah pucat, memegang tangan Rosnah.

"Rakuan!" Susan memanggilnya. "Aku turut berduka. Ibu minta kau masuk."

Rakuan tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu dan melangkah masuk.

Ruang perawatan terasa sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang berbunyi teratur. Di ranjang, Rahmah terbaring dengan tubuh yang semakin kurus. Matanya setengah terbuka, dan ketika melihat Rakuan masuk, ia tersenyum—senyum lemah yang membuat hati Rakuan hancur.

"Ibu ..." Rakuan berlutut di samping ranjang dan meraih tangan ibunya. "Ibu, aku di sini. Aku tidak akan pergi."

Rahmah menggenggam tangan putranya dengan sisa kekuatannya. Matanya menatap Rakuan dengan penuh cinta.

"Nak ..." bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar. "Aku ... aku ingin kau tahu sesuatu."

"Apa, Bu?" Rakuan menahan tangisnya. "Apa pun, Bu. Aku akan mendengarkan."

Rahmah menarik napas panjang. "Aku ... aku dan Rosnah ... kami bersahabat."

Rakuan mengangguk. "Aku tahu, Bu. Rosnah sudah bercerita padaku."

"Tapi ... ada yang tidak kau tahu." Rahmah batuk-batuk pelan. "Tanah itu ... bukan masalahnya. Masalahnya ... adalah aku."

Rakuan bingung. "Apa maksud Ibu?"

Rahmah menutup matanya sejenak. Ketika membukanya lagi, air mata mengalir di pipinya yang keriput.

"Aku tidak pernah cukup kuat untuk melawan ayahmu," katanya. "Aku tahu Samsudin bersalah. Aku tahu ia memaksa Rosnah menjual tanahnya untuk membayar utang judinya. Tapi aku tidak berani melawannya. Aku takut."

Rakuan terdiam. Kata-kata ibunya seperti pukulan keras di dadanya.

"Apa?" suaranya bergetar. "Ayahku ... yang melakukan itu?"

Rahmah mengangguk pelan. "Ia berutang banyak, Nak. Ia kalah judi. Ia memaksa Rosnah menjual tanah warisan untuk membayar utangnya. Aku tahu itu salah. Aku ingin menghentikannya. Tapi aku ... aku tidak cukup kuat."

Rakuan merasakan dunia berputar di sekelilingnya. Ia tidak percaya. Ayahnya—Samsudin, nelayan tua yang keras kepala itu—ternyata memiliki sisi gelap. Ia bukan hanya orang tua yang tidak setuju dengan pilihan Rakuan. Ia adalah orang yang merusak persahabatan ibunya dengan Rosnah. Ia adalah orang yang menyebabkan semua penderitaan ini.

"Kenapa, Bu?" Rakuan menangis. "Kenapa Ibu tidak mengatakan ini padaku sejak dulu?"

"Aku malu, Nak. Aku malu pada Rosnah. Aku malu pada diriku sendiri. Dan aku takut ... takut kau akan membenci ayahmu."

Rakuan menggenggam tangan ibunya erat-erat. "Aku tidak membencimu, Bu. Aku hanya ... aku hanya tidak mengerti. Kenapa Ibu tidak melawan?"

Rahmah tersenyum sedih. "Karena aku mencintai ayahmu, Nak. Meskipun ia tidak sempurna. Meskipun ia melakukan banyak kesalahan. Aku tetap mencintainya. Dan aku tidak ingin melihatnya hancur."

Rakuan menunduk. Air matanya jatuh ke tangan ibunya.

"Maafkan aku, Bu," bisiknya. "Maafkan aku yang tidak pernah ada di sini untuk Ibu. Maafkan aku yang lari dari semua masalah. Maafkan aku yang membuat Ibu khawatir."

Rahmah menggeleng. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Kau adalah anak terbaik yang pernah aku miliki. Aku bangga padamu. Aku selalu bangga padamu."


Di luar ruangan, Rosnah dan Susan masih menunggu dengan cemas. Ketika pintu terbuka dan Rakuan keluar dengan mata sembab, Susan segera mendekat.

"Rakuan, bagaimana keadaan ibumu?" tanyanya.

Rakuan tidak menjawab. Ia hanya memeluk Susan erat-erat dan menangis di bahunya.

"Susan ..." isaknya. "Ibuku ... ia ..."

Susan tidak perlu mendengar lebih lanjut. Ia memeluk Rakuan balik, membiarkannya menangis sepuasnya. Di samping mereka, Rosnah juga menangis. Ia tahu bahwa sahabatnya akan segera pergi.

"Rakuan," kata Rosnah pelan, "aku harus masuk. Aku harus bicara dengan Rahmah. Sekarang atau tidak pernah."

Rakuan mengangguk. Ia melepaskan pelukannya dan membiarkan Rosnah masuk.


Di dalam ruangan, Rosnah duduk di samping ranjang Rahmah. Kedua wanita itu saling menatap. Ada ribuan kata yang tidak terucap di antara mereka.

"Rah," bisik Rosnah. "Aku di sini."

Rahmah tersenyum. "Ros ... aku minta maaf. Aku minta maaf untuk semua yang terjadi. Aku seharusnya melawan Samsudin. Aku seharusnya membelamu. Tapi aku ... aku terlalu lemah."

Rosnah meraih tangan Rahmah. "Kau tidak lemah, Rah. Kau adalah wanita terkuat yang aku kenal. Kau bertahan dengan semua ini. Kau membesarkan Rakuan sendirian. Kau menghadapi semua kesulitan. Kau bukan orang yang lemah."

"Aku meninggalkanmu," kata Rahmah dengan air mata. "Aku membiarkan Samsudin mengambil tanahmu. Aku membiarkan persahabatan kita hancur."

"Itu bukan salahmu," kata Rosnah. "Kau korban, sama sepertiku. Samsudin adalah orang yang salah. Dan aku ... aku juga salah. Aku seharusnya tidak membiarkan dendam menghancurkan persahabatan kita. Aku seharusnya tetap berteman denganmu, apa pun yang terjadi."

Mereka berpelukan—dua sahabat yang akhirnya saling memaafkan di saat-saat terakhir.

"Ros ..." bisik Rahmah, "aku titip Rakuan padamu. Aku titip Susan padamu. Jaga mereka. Lindungi mereka. Mereka adalah masa depan kita."

"Aku akan menjaganya," janji Rosnah. "Aku berjanji."


Di luar ruangan, Rakuan duduk di kursi koridor dengan kepala tertunduk. Susan duduk di sampingnya, memegang tangannya erat. Rudi juga datang setelah mendengar kabar itu.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Rudi pelan.

Rakuan menggeleng. "Ia ... ia sudah sangat lemah. Dokter mengatakan ... waktunya mungkin tidak lama lagi."

Rudi menepuk bahu sahabatnya. "Aku turut berduka, Ku."

Mereka duduk dalam diam. Hanya suara alat-alat medis dari dalam ruangan yang terdengar samar.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Rosnah keluar dengan mata sembab. Ia berjalan mendekati Rakuan.

"Rakuan," katanya, "ibumu minta kau masuk. Ia ingin bicara denganmu. Dan ..." ia menatap Rudi, "... ia juga ingin bicara dengan ayahmu. Samsudin. Apakah kau bisa menghubunginya?"

Rakuan terdiam. Ia belum siap bertemu ayahnya. Tapi ini adalah permintaan terakhir ibunya.

"Aku akan mencoba," katanya.


Rakuan menelepon Samsudin. Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.

"Ya?" suara Samsudin terdengar serak.

"Ayah," kata Rakuan dengan suara berat. "Ibu minta Ayah datang ke rumah sakit. Sekarang."

Samsudin terdiam sejenak. "Apa yang terjadi?"

"Ibu ... kondisinya memburuk. Ia mungkin tidak akan bertahan lama."

Ada keheningan panjang di seberang sana. Kemudian Rakuan mendengar suara isak tangis—isak tangis seorang pria tua yang tidak pernah menunjukkan kelemahannya di depan siapa pun.

"Aku akan segera ke sana," kata Samsudin akhirnya.

Telepon ditutup. Rakuan menatap ponselnya dengan perasaan yang rumit. Ia marah pada ayahnya. Tapi di saat yang sama, ia juga merasa kasihan.


Samsudin tiba setengah jam kemudian. Ia berjalan dengan langkah tergagap—tubuhnya yang tua dan lemah tidak lagi sekokoh dulu. Ketika ia melihat Rakuan di koridor, mereka saling menatap dalam diam.

"Ayah," sapa Rakuan dingin.

Samsudin mengangguk. "Bagaimana keadaannya?"

"Parah." Rakuan menatap ayahnya tajam. "Ayah, Ibu sudah menceritakan semuanya padaku. Tentang tanah. Tentang utang judi Ayah. Tentang semua yang Ayah lakukan pada Rosnah."

Samsudin terdiam. Wajahnya berubah—dari sedih menjadi penuh penyesalan.

"Aku ..." ia mencoba berbicara, tapi kata-kata tercekat di tenggorokannya. "Aku minta maaf, Nak."

"Maaf?" Rakuan tertawa pahit. "Kata-kata itu tidak cukup, Ayah. Ayah menghancurkan persahabatan Ibu dengan Rosnah. Ayah menyebabkan semua penderitaan ini. Dan Ayah membiarkan Ibu memikul beban itu sendirian."

"Aku tahu," kata Samsudin dengan suara bergetar. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku tidak pantas diampuni. Tapi aku ... aku mencintai ibumu. Aku selalu mencintainya. Dan aku menyesali semua yang telah kulakukan."

Rakuan menatap ayahnya. Ia melihat air mata di mata pria tua itu—air mata yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Samsudin, nelayan keras kepala yang selalu terlihat kuat, ternyata juga bisa menangis.

"Ayah," kata Rakuan akhirnya, "Ibu minta Ayah masuk. Ia ingin bicara dengan Ayah. Sekarang."

Samsudin mengangguk. Ia berjalan perlahan menuju ruangan, membuka pintu, dan masuk.


Di dalam ruangan, Samsudin duduk di samping ranjang istrinya. Rahmah membuka matanya dan tersenyum ketika melihat suaminya.

"Sam," bisiknya. "Kau datang."

Samsudin meraih tangan istrinya dan menciumnya. Air matanya jatuh ke tangan Rahmah.

"Maafkan aku, Rah," katanya. "Maafkan aku untuk semua yang kulakukan. Maafkan aku yang tidak pernah menjadi suami yang baik. Maafkan aku yang menyebabkan semua ini."

Rahmah menggeleng. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sam. Aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Aku mencintaimu. Dan aku tahu kau juga mencintaiku."

Samsudin menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menunjukkan kelemahannya di depan siapa pun.

"Aku tidak pantas mendapatkanmu, Rah," katanya. "Aku tidak pantas mendapatkan cintamu."

Rahmah tersenyum lemah. "Kau pantas, Sam. Kau pantas mendapatkan cinta. Kita semua pantas mendapatkan cinta."

Ia menggenggam tangan suaminya erat-erat. Dan dalam keheningan ruangan itu, mereka saling memaafkan—dua manusia yang telah melalui banyak hal bersama.


Rakuan, Rosnah, dan Susan masih menunggu di luar. Tidak ada yang berbicara. Mereka hanya saling memandang, saling menguatkan dalam diam.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Samsudin keluar dengan mata sembab. Ia berjalan mendekati Rakuan dan meraih tangannya.

"Nak," katanya dengan suara serak, "ibumu meminta kau dan Susan masuk. Ia ingin melihat kalian berdua."

Rakuan mengangguk. Ia meraih tangan Susan dan membawanya masuk.

Di dalam ruangan, Rahmah terbaring dengan senyum di wajahnya. Ketika melihat Rakuan dan Susan masuk, matanya berbinar.

"Anak-anakku," bisiknya. "Kemarilah."

Rakuan dan Susan berlutut di samping ranjang. Mereka memegang tangan Rahmah bersama-sama.

"Bu," kata Rakuan, "aku dan Susan di sini."

Rahmah menatap mereka berdua. Matanya penuh dengan cinta dan kebahagiaan.

"Aku ... aku sangat bahagia melihat kalian bersama," katanya. "Aku selalu ingin ini terjadi. Aku selalu ingin melihat anakku bahagia dengan wanita yang dicintainya."

Susan menangis. "Tante ..."

Rahmah menggeleng. "Panggil aku Ibu, Nak. Karena kau adalah anakku juga."

Susan tersenyum di antara air matanya. "Ibu ..."

Rahmah memegang tangan mereka berdua. "Jaga satu sama lain. Cintai satu sama lain. Dan jangan biarkan apa pun memisahkan kalian. Kau dengar?"

Kami berjanji, Bu," kata Rakuan. "Kami akan saling menjaga."

Rahmah tersenyum. Matanya mulai terpejam perlahan.

"Aku ... aku mencintai kalian ..." bisiknya. "Semua ... semua ..."

Tangannya lemas. Napasnya berhenti.

Rakuan merasakan dunia runtuh di sekelilingnya. Ia memeluk ibunya dan menangis sejadi-jadinya.

"Ibu ... Ibuu ..."

Susan juga menangis. Di luar ruangan, Rosnah dan Samsudin menangis. Dan di koridor rumah sakit, Rudi menangis.

Rahmah telah pergi. Tapi cintanya akan selalu ada.


Keluarga itu berkumpul di ruang tunggu. Tidak ada yang berbicara. Kesedihan menyelimuti mereka seperti selimut tebal.

Akhirnya, Samsudin berdiri. Ia berjalan mendekati Rosnah.

"Ros," katanya dengan suara bergetar, "aku minta maaf. Aku minta maaf untuk semua yang kulakukan. Aku tahu kata-kata tidak cukup. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku menyesal. Aku menyesal telah merusak persahabatanmu dengan Rahmah."

Rosnah menatapnya lama. Kemudian ia mengangguk.

"Aku memaafkanmu, Sam," katanya. "Bukan karena kau pantas diampuni. Tapi karena Rahmah sudah memaafkanmu. Dan karena aku tidak mau membawa dendam ke kubur."

Samsudin menangis. Ia memeluk Rosnah dan meminta maaf berulang kali.

Di sudut ruangan, Rakuan dan Susan saling berpelukan. Mereka telah kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai. Tapi di tengah kesedihan, ada juga kelegaan—kelegaan bahwa akhirnya semua rahasia terungkap, semua dendam berakhir, dan semua orang saling memaafkan.

 

 

BAB IX

Pengakuan Samsudin


Tiga hari telah berlalu sejak kepergian Rahmah. Rumah tua di tepian Sungai Kapuas terasa lebih sunyi dari biasanya. Rakuan duduk di beranda, menatap sungai yang mengalir tenang. Di tangannya, ia memegang foto terakhir bersama ibunya—foto yang diambil ketika ia masih kecil, sebelum semua kerumitan hidup menghampiri.

Susan duduk di sampingnya, tidak bicara. Ia hanya menggenggam tangan Rakuan, memberikan kehangatan yang sangat ia butuhkan.

"Aku masih tidak percaya ia pergi," kata Rakuan pelan. "Setiap pagi, aku bangun dan berharap mendengar suaranya memanggilku dari dapur. Tapi yang ada hanya keheningan."

Susan memeluk lengannya. "Aku tahu, Sayang. Aku juga merindukannya. Tapi ia pergi dengan damai. Ia pergi setelah menyelesaikan semua yang perlu diselesaikan. Itu adalah anugerah."

Rakuan mengangguk. "Aku tahu. Tapi masih terasa berat."

Mereka duduk dalam diam. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma sungai dan dedaunan. Di kejauhan, burung-burung mulai pulang ke sarang mereka.

Tiba-tiba, Rakuan melihat sesosok pria berjalan perlahan menuju rumahnya. Pria itu berusia lanjut, dengan langkah tergagap dan tubuh yang membungkuk. Ia mengenakan pakaian sederhana—kemeja lusuh dan celana panjang yang sudah pudar.

Samsudin.

Rakuan merasa dadanya sesak. Sejak pemakaman ibunya tiga hari lalu, ia belum berbicara dengan ayahnya. Ada begitu banyak yang harus diucapkan, tapi kata-kata terasa sulit.

Samsudin berhenti di depan tangga rumah. Ia menatap putranya dengan mata yang sembab—mata yang telah menangis banyak dalam beberapa hari terakhir.

"Nak," sapanya pelan. "Bolehkah aku bicara denganmu?"

Rakuan menatap Susan. Susan mengangguk, memberikan dukungan diam. Rakuan berdiri dan berjalan menuruni tangga.

"Iya, Ayah," katanya datar. "Mari kita duduk di sini."

Mereka duduk di kursi kayu di halaman. Samsudin tampak gelisah, tangannya memainkan ujung bajunya.


"Rakuan," Samsudin memulai, "aku tahu kau marah padaku. Kau berhak marah. Aku telah melakukan banyak kesalahan. Aku telah menyakiti banyak orang—ibumu, Rosnah, kau, dan juga Susan."

Rakuan tidak menjawab. Ia hanya menatap ayahnya dengan ekspresi sulit dibaca.

"Tapi aku tidak ingin kau membenci aku selamanya," lanjut Samsudin. "Aku tidak ingin kau pergi dari hidupku seperti kau pergi tiga tahun lalu. Aku sudah kehilangan ibumu. Aku tidak mau kehilangan anakku juga."

"Ayah," kata Rakuan akhirnya, suaranya bergetar, "kenapa Ayah melakukan semua itu? Kenapa Ayah memaksa Rosnah menjual tanahnya? Kenapa Ayah membiarkan Ibu dan Rosnah berseteru? Kenapa Ayah tidak pernah mengatakan kebenaran?"

Samsudin menunduk. Air mata mengalir di pipinya yang keriput.

"Aku ... aku adalah orang yang lemah, Nak," katanya dengan suara serak. "Aku adalah nelayan miskin yang tidak punya apa-apa. Aku bertemu ibumu ketika aku masih muda. Ia adalah wanita cantik dari keluarga yang lebih berada. Aku tidak pernah mengerti kenapa ia mau menikah denganku. Tapi ia mencintaiku. Dan aku mencintainya."

Rakuan terdiam. Ia tidak pernah mendengar ayahnya berbicara seperti ini—dengan kerentanan, dengan kejujuran.

"Tapi cinta tidak cukup," lanjut Samsudin. "Aku ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk ibumu. Aku ingin membelikannya rumah yang lebih baik, pakaian yang lebih bagus, makanan yang lebih enak. Tapi aku tidak punya uang. Aku hanya nelayan. Penghasilanku pas-pasan."

"Lalu Ayah berjudi?" tanya Rakuan dengan nada getir.

Samsudin mengangguk. "Aku pikir judi adalah jalan pintas. Aku pikir aku bisa cepat kaya. Tapi aku salah. Aku justru kehilangan segalanya. Aku berutang banyak. Dan ketika para rentenir datang menagih, aku panik. Aku tidak tahu harus berbuat apa."

"Jadi Ayah memaksa Rosnah menjual tanahnya?"

Samsudin menangis. "Aku tahu itu salah. Aku tahu itu keji. Tapi aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak membayar utang, mereka akan melukai keluargaku—ibumu, kau, semua orang. Aku memilih untuk menyakiti Rosnah daripada menyakiti kalian."


Rakuan menutup matanya. Ia merasakan campuran emosi—marah, sedih, kecewa, dan juga sedikit kasihan. Ia melihat ayahnya sebagai manusia yang rapuh, bukan sebagai monster yang ia bayangkan.

"Kenapa Ayah tidak meminta bantuan?" tanya Rakuan. "Kenapa Ayah tidak bilang pada Ibu? Kenapa Ayah tidak bilang padaku?"

Samsudin menggeleng. "Aku terlalu sombong, Nak. Aku tidak mau terlihat lemah di depan istri dan anakku. Aku ingin kalian melihatku sebagai kepala keluarga yang kuat, yang bisa melindungi kalian. Tapi aku gagal. Aku justru menjadi sumber masalah."

"Ayah," kata Rakuan pelan, "Ayah tidak harus menjadi sempurna. Ayah hanya perlu menjadi jujur. Jika Ayah jujur sejak awal, semua ini mungkin tidak akan terjadi."

"Aku tahu," kata Samsudin. "Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Tapi penyesalan tidak bisa mengembalikan semua yang telah hilang. Penyesalan tidak bisa menghidupkan kembali ibumu."

Rakuan meraih tangan ayahnya. "Ayah, aku marah pada Ayah. Aku sangat marah. Tapi aku juga mencintai Ayah. Dan aku tahu Ibu juga mencintai Ayah. Ia memaafkan Ayah sebelum ia pergi. Dan aku ... aku juga akan mencoba memaafkan Ayah."

Samsudin menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. "Kau ... kau serius?"

"Aku serius, Ayah. Tapi Ayah harus berubah. Ayah harus berhenti berjudi. Ayah harus berhenti menyembunyikan masalah. Ayah harus belajar menjadi jujur."

"Aku berjanji," kata Samsudin. "Aku berjanji akan berubah. Aku sudah tua, Nak. Aku tidak punya banyak waktu lagi. Tapi aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan memperbaiki semua kesalahanku."

Rakuan memeluk ayahnya—untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Air mata mengalir dari kedua mata mereka.

"Maafkan aku, Nak," bisik Samsudin. "Maafkan ayahmu yang lemah ini."

"Aku memaafkan Ayah," kata Rakuan. "Aku memaafkan Ayah."


Susan, yang menyaksikan dari kejauhan, tersenyum sambil menangis. Ia melihat dua pria yang dicintainya—ayah dan anak—akhirnya berbaikan. Ia berjalan mendekat dan duduk di samping mereka.

"Bagaimana kabarmu, Pak Samsudin?" tanya Susan sopan.

Samsudin tersenyum—senyum yang jarang ia tunjukkan. "Aku baik, Susan. Terima kasih. Dan ..." ia menatap Susan dengan tatapan yang dalam, "... aku minta maaf. Aku minta maaf atas semua yang terjadi pada keluargamu. Aku minta maaf karena aku adalah penyebab semua penderitaan ini."

Susan menggeleng. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Pak. Yang penting sekarang kita bisa memperbaiki semuanya."

"Kau sangat baik, Susan," kata Samsudin. "Aku mengerti sekarang mengapa Rakuan begitu mencintaimu. Kau adalah wanita yang istimewa."

Susan tersenyum malu. Ia meraih tangan Rakuan dan menggenggamnya erat.


Malam itu, Rakuan dan Samsudin makan malam bersama untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Susan memasak untuk mereka—ikan patin bakar dan bubur pedas yang ia pelajari dari Rosnah.

"Aroma masakan Susan mengingatkanku pada masakan ibumu," kata Samsudin sambil mencium aroma bubur pedas.

Susan tersenyum. "Aku belajar dari Ibu Rosnah. Ia mengajarkan banyak resep Rahmah padaku."

Samsudin mengangguk. "Rosnah adalah wanita yang baik. Aku sangat menyesal telah menyakitinya."

Rakuan menatap ayahnya. "Ayah, besok kita akan ke rumah Rosnah. Ayah harus meminta maaf langsung padanya. Itu adalah bagian dari proses."

Samsudin mengangguk. "Aku akan melakukannya. Aku akan meminta maaf pada Rosnah dan berjanji untuk memperbaiki semuanya."

Mereka makan dalam suasana yang hangat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rumah itu terasa seperti rumah lagi.


Keesokan harinya, Rakuan, Susan, dan Samsudin pergi ke rumah Rosnah. Perjalanan itu terasa berat bagi Samsudin—ia gelisah, tangannya gemetar, dan ia terus bertanya apakah Rosnah akan mau menerimanya.

"Tenang, Ayah," kata Rakuan. "Rosnah adalah orang yang baik. Ia sudah memaafkan Ayah di rumah sakit."

"Tapi aku harus meminta maaf secara langsung," kata Samsudin. "Aku harus mengatakan semua yang ada di hatiku."

Ketika mereka tiba, Rosnah menyambut mereka di pintu. Ia tersenyum—senyum yang hangat dan tulus.

"Masuklah," katanya. "Aku sudah menyiapkan teh dan kue."

Mereka duduk di ruang tamu. Samsudin tampak canggung, matanya menunduk.

"Ros," katanya akhirnya, "aku datang ke sini untuk meminta maaf. Aku minta maaf untuk semua yang kulakukan. Aku minta maaf karena telah memaksa menjual tanahmu. Aku minta maaf karena telah merusak persahabatanmu dengan Rahmah. Aku minta maaf karena telah menjadi sumber masalah bagi keluargamu."

Rosnah menghela napas. "Sam, aku sudah memaafkanmu di rumah sakit. Tapi aku menghargai kedatanganmu. Dan aku menerima permintaan maafmu."

"Terima kasih," kata Samsudin dengan mata berkaca-kaca. "Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku akan mengembalikan tanah itu padamu. Aku akan bekerja keras untuk menebus semua kesalahanku."

Rosnah menggeleng. "Kau tidak perlu mengembalikan tanah itu, Sam. Tanah itu sudah menjadi milik Susan sekarang. Itu adalah warisan yang seharusnya menjadi miliknya."

Susan terkejut. "Ibu?"

Rosnah tersenyum. "Aku sudah memutuskan, Nak. Tanah itu adalah milikmu. Aku hanya mengelolanya selama ini. Sekarang, kau bisa mengelolanya sendiri."

Susan menangis. "Ibu ..."

Rosnah memeluknya. "Kau adalah anakku, Susan. Apa pun yang terjadi, kau adalah anakku. Dan aku ingin kau bahagia."


Sore itu, mereka semua berkumpul di Dermaga KP3. Rakuan, Susan, Rudi, Rosnah, dan Samsudin. Mereka duduk di ujung dermaga, menikmati senja yang indah.

"Aku tidak pernah menyangka kita akan duduk bersama seperti ini," kata Rudi sambil tersenyum. "Semua orang yang dulu bermusuhan, sekarang duduk bersama di dermaga."

Rakuan mengangguk. "Ini semua berkat ibuku. Ia meninggalkan kita dengan pesan perdamaian. Dan kita semua menghormatinya dengan saling memaafkan."

Susan menggenggam tangan Rakuan. "Aku sangat bersyukur."

Samsudin menatap langit senja. "Rahmah, kau melihat ini? Anak kita sudah dewasa. Ia bahagia. Dan kita semua sudah berdamai. Kau pasti bangga padanya."

Rosnah tersenyum sambil mengusap air mata. "Rahmah pasti tersenyum melihat kita semua."

Mereka duduk bersama hingga matahari tenggelam. Dan ketika langit mulai gelap, mereka berjanji untuk saling menjaga dan tidak pernah membiarkan dendam memisahkan mereka lagi.


Malam itu, Rakuan dan Susan berjalan pulang bersama. Rumah tua di tepian sungai menyambut mereka dengan hangat.

"Rakuan," kata Susan pelan, "aku ingin bertanya sesuatu."

"Apa?"

"Setelah semua ini ... apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan kembali ke Jakarta?"

Rakuan terdiam. Ia merenungkan pertanyaan itu. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa ia akan kembali ke Jakarta setelah semuanya selesai. Tapi sekarang ... sekarang ia tidak yakin.

"Susan," katanya akhirnya, "aku tidak tahu. Aku masih bingung. Tapi aku tahu satu hal—aku tidak ingin pergi. Aku tidak ingin meninggalkanmu lagi."

Susan tersenyum. "Aku juga tidak mau kau pergi."

Mereka berpelukan di bawah cahaya rembulan. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rakuan merasa bahwa ia telah menemukan tempatnya—di rumah, di sisi Susan, di Kuala Kapuas.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB X

Rudi Menemukan Kebenaran


Pagi itu, Rakuan terbangun dengan perasaan yang berbeda. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasa ada harapan. Rekonsiliasi dengan ayahnya, perdamaian dengan Rosnah, dan cintanya pada Susan—semua tampak berjalan ke arah yang benar.

Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya: Rudi.

Persahabatan mereka masih retak. Sejak Rudi menuduhnya bersekongkol dengan Lucas, mereka jarang berbicara. Rakuan tahu Rudi sakit hati. Ia juga tahu bahwa Rudi sedang berjuang mempertahankan warungnya dari serangan Lucas.

"Aku harus memperbaiki ini," gumam Rakuan. "Aku tidak bisa kehilangan sahabatku."

Ia segera mandi dan berganti pakaian. Susan masih tidur di kamar sebelah—ia menginap di rumah tua itu sejak pemakaman Rahmah. Rakuan menulis pesan singkat untuknya: "Aku ke warung Rudi. Ada yang harus aku selesaikan. Aku akan segera kembali."

Ia meninggalkan rumah dan berjalan menuju Dermaga KP3. Udara pagi masih segar, membawa aroma sungai dan dedaunan basah. Di kejauhan, beberapa nelayan sudah mulai beraktivitas.


Ketika Rakuan tiba di Sungai Rindu, ia melihat Rudi sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan masakan. Warung itu tampak sepi—hanya ada beberapa pengunjung yang duduk di meja kayu. Rudi mengangkat kepalanya ketika melihat Rakuan, lalu menunduk lagi tanpa menyapa.

"Rud," sapa Rakuan pelan. "Boleh aku bicara?"

Rudi tidak menjawab. Ia terus memotong bawang dengan gerakan yang tajam dan terburu-buru.

"Rud, tolong. Aku tahu kau marah padaku. Tapi aku datang untuk menjelaskan semuanya."

Rudi meletakkan pisaunya. Ia menatap Rakuan dengan mata yang dingin.

"Jelaskan apa?" katanya dengan nada tajam. "Kau berkonspirasi dengan Lucas untuk menghancurkanku. Kau membantunya menyebarkan isu bahwa masakanku tidak higienis. Kau mengkhianati persahabatan kita."

"Aku tidak melakukan itu!" kata Rakuan cepat. "Rud, aku tidak pernah bersekongkol dengan Lucas. Aku membencinya sama sepertimu. Dia adalah orang yang ingin merebut Susan dariku."

"Lalu kenapa isu itu mulai menyebar setelah kau sering ke Dapoer Tepian Kapuas?" tanya Rudi sinis. "Kenapa pelangganku mulai berkurang setelah kau muncul?"

Rakuan menghela napas. Ia berusaha tetap tenang meskipun hatinya sakit.

"Rud, aku tidak tahu bagaimana isu itu menyebar. Tapi aku berjanji padamu, aku tidak ada hubungannya dengan itu. Aku akan membuktikannya. Beri aku waktu."

Rudi menatapnya lama. Kemudian ia menggeleng.

"Aku tidak percaya padamu, Ku. Kau sudah meninggalkanku sekali. Kau pergi ke Jakarta tanpa pamit. Kau menghilang dari hidupku. Dan sekarang kau kembali dengan semua masalah ini. Aku lelah."

Rudi berbalik dan kembali ke dapurnya. Rakuan berdiri di tempatnya, merasa hancur.


Rakuan meninggalkan warung Rudi dengan perasaan berat. Ia berjalan menyusuri Dermaga KP3, mencoba menenangkan pikirannya. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Itu Susan.

"Rakuan, di mana kau?" suara Susan terdengar cemas. "Aku bangun dan kau sudah pergi."

"Aku di Dermaga KP3," kata Rakuan. "Aku pergi menemui Rudi. Tapi ia masih marah padaku. Ia tidak mau mendengarkan."

"Rakuan, aku punya kabar. Aku baru saja berbicara dengan Rosnah. Ia mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Namanya Toni. Ia adalah mantan karyawan Dapoer Tepian Kapuas. Ia tahu sesuatu tentang isu yang menyebar tentang Sungai Rindu."

Rakuan terkejut. "Toni? Tapi ia menghilang beberapa hari lalu. Bagaimana Rosnah bisa menghubunginya?"

"Ia menghubungi Rosnah tadi malam. Ia mengatakan bahwa ia takut dan ingin melindungi keluarganya. Tapi ia juga ingin mengatakan kebenaran."

"Aku akan segera ke sana," kata Rakuan. "Di mana ia sekarang?"

"Di rumah Rosnah. Ia bersembunyi di sana. Aku akan menunggumu."

Rakuan mematikan telepon dan segera berlari menuju rumah Rosnah.


Ketika Rakuan tiba, ia melihat Toni duduk di ruang tamu dengan ekspresi gelisah. Rosnah dan Susan duduk di sampingnya, berusaha menenangkannya.

"Toni," sapa Rakuan. "Aku senang kau datang."

Toni mengangkat kepalanya. Matanya tampak lelah dan ketakutan.

"Aku ... aku datang untuk mengatakan kebenaran," katanya dengan suara bergetar. "Aku tidak bisa terus hidup dalam ketakutan. Aku sudah melihat terlalu banyak orang yang disakiti oleh Lucas dan Hendri."

"Apa yang kau ketahui?" tanya Rakuan.

Toni menarik napas panjang. "Aku yang menyebarkan isu tentang Sungai Rindu. Aku yang mengatakan bahwa masakan Rudi tidak higienis. Tapi aku melakukannya bukan karena aku ingin. Aku disuruh oleh Lucas."

Rakuan terdiam. "Lucas menyuruhmu?"

Toni mengangguk. "Ia membayarku. Ia mengatakan bahwa jika aku menyebarkan isu itu, aku akan mendapat banyak uang. Aku butuh uang untuk keluarga. Aku tidak punya pilihan."

"Tapi kau tahu itu salah," kata Susan dengan suara tegas. "Kau tahu itu merusak reputasi Rudi."

"Aku tahu," kata Toni. "Dan aku menyesal. Aku datang ke sini untuk mengakui semuanya. Aku siap memberikan kesaksian. Aku siap mengatakan kebenaran di depan siapa pun."

Rakuan menatap Toni. Ia melihat penyesalan yang tulus di mata pria itu.

"Terima kasih, Toni," katanya. "Ini sangat berarti."


Rakuan segera kembali ke warung Rudi. Kali ini, ia membawa Toni bersamanya. Ketika mereka tiba, Rudi masih sibuk di dapur. Ia mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Rakuan kembali—dan melihat Toni di sampingnya.

"Rudi," kata Rakuan, "aku membawa seseorang yang ingin bicara denganmu. Ini Toni. Ia adalah orang yang menyebarkan isu tentang warungmu."

Rudi menatap Toni dengan mata yang tajam. "Kau?"

Toni menunduk. "Maafkan aku, Pak Rudi. Aku yang menyebarkan isu itu. Tapi aku melakukannya karena Lucas menyuruhku. Ia membayarku. Ia mengatakan bahwa jika aku melakukannya, aku akan mendapat banyak uang."

Rudi terdiam. Ekspresinya berubah—dari marah menjadi terkejut.

"Lucas?" ulang Rudi.

Toni mengangguk. "Ia adalah dalang di balik semua ini. Ia ingin menghancurkan warungmu agar Dapoer Tepian Kapuas menjadi satu-satunya restoran terkenal di Kuala Kapuas."

Rudi menutup matanya. Ia merasakan amarah yang membara di dadanya. Tapi di saat yang sama, ia juga merasa lega—karena akhirnya ia tahu kebenaran.

"Rudi," kata Rakuan, "aku tidak pernah bersekongkol dengan Lucas. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku adalah sahabatmu."

Rudi membuka matanya. Ia menatap Rakuan—sahabatnya sejak kecil, orang yang selalu ada untuknya.

"Maafkan aku, Ku," katanya dengan suara serak. "Aku terlalu cepat menghakimimu. Aku seharusnya percaya padamu."

Rakuan tersenyum. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Rud. Yang penting kita sudah tahu kebenarannya."

Mereka berpelukan—dua sahabat yang akhirnya berbaikan.


Malam itu, Rakuan, Rudi, dan Toni duduk di warung Sungai Rindu. Mereka merencanakan langkah selanjutnya.

"Toni sudah bersedia memberikan kesaksian," kata Rudi. "Tapi kita butuh lebih banyak bukti. Kita harus mengungkap semua kejahatan Lucas dan Hendri di hadapan publik."

Rakuan mengangguk. "Aku setuju. Tapi ..." ia ragu sejenak, "... ada satu hal yang membuatku khawatir."

"Apa?" tanya Rudi.

Rakuan menghela napas. "Jika kita mengungkap semua ini, Susan akan terluka. Lucas masih sepupunya. Keluarganya akan malu. Dan Susan mungkin akan terseret dalam skandal ini."

Rudi terdiam. Ia memahami kekhawatiran Rakuan.

"Ku, aku mengerti perasaanmu," kata Rudi akhirnya. "Tapi kita tidak bisa diam. Lucas dan Hendri terus melakukan kejahatan. Mereka merusak banyak orang. Jika kita tidak bertindak, mereka akan terus melakukannya."

"Aku tahu," kata Rakuan. "Tapi aku tidak ingin menyakiti Susan."

Toni berbicara. "Pak Rakuan, aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi percayalah, Susan adalah wanita yang kuat. Ia akan bisa menghadapi semua ini. Dan ia akan lebih baik jika tahu kebenaran daripada terus hidup dalam kebohongan."

Rakuan merenungkan kata-kata Toni. Ia tahu mereka benar. Tapi hatinya masih berat.

"Aku akan bicara dengan Susan," katanya akhirnya. "Aku akan menjelaskan semuanya padanya. Jika ia setuju, kita akan melanjutkan rencana ini. Jika tidak, kita akan mencari cara lain."

Rudi mengangguk. "Itu keputusan yang bijaksana."


Rakuan kembali ke rumah tua di tepian sungai. Susan sedang duduk di beranda, menatap sungai yang mengalir tenang di bawah cahaya rembulan. Ketika melihat Rakuan datang, ia tersenyum.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Susan.

Rakuan duduk di sampingnya. "Rudi sudah tahu kebenaran. Toni mengaku bahwa ia yang menyebarkan isu atas perintah Lucas. Rudi dan aku sudah berbaikan."

Susan tersenyum lega. "Aku senang mendengarnya."

"Tapi ada satu hal lagi," kata Rakuan. "Kami berencana mengungkap semua kejahatan Lucas dan Hendri di hadapan publik. Toni akan memberikan kesaksian. Tapi ..." ia menatap Susan dengan serius, "... aku khawatir akan menyakiti mu. Lucas masih sepupumu. Keluarganya akan malu. Dan kau mungkin akan terseret dalam skandal ini."

Susan terdiam. Ia menatap Rakuan dengan mata yang dalam.

"Rakuan," katanya akhirnya, "aku tahu kau khawatir. Tapi percayalah, aku bisa menghadapi ini. Aku sudah lelah hidup dalam bayang-bayang Lucas. Aku sudah lelah menjadi korban. Aku ingin kebenaran terungkap, apa pun risikonya."

"Kau yakin?"

Susan mengangguk. "Aku yakin. Dan aku akan mendukungmu apa pun yang terjadi."

Rakuan memeluknya erat. "Terima kasih, Sus. Kau adalah wanita terkuat yang aku kenal."


Keesokan harinya, Rakuan, Rudi, dan Toni bertemu lagi di warung Sungai Rindu. Kali ini, Susan juga hadir.

"Kita sudah punya kesaksian Toni," kata Rudi. "Tapi kita butuh lebih banyak bukti. Kita butuh dokumen, catatan, atau apa pun yang bisa membuktikan praktik curang Lucas dan Hendri."

"Aku bisa membantu," kata Susan. "Aku memiliki akses ke beberapa dokumen di Dapoer Tepian Kapuas. Aku bisa mencarinya."

Rakuan terkejut. "Susan, itu berbahaya. Jika Lucas tahu, kau bisa dalam bahaya."

"Aku tahu," kata Susan. "Tapi aku sudah memutuskan. Aku tidak akan membiarkan Lucas terus merusak kehidupan orang-orang. Aku akan membantumu."

Rakuan menatap Susan dengan bangga. "Baik. Tapi kita harus berhati-hati. Kita tidak bisa memberi tahu siapa pun tentang rencana ini."

Mereka semua mengangguk. Rencana mulai disusun.


Malam itu, Susan pergi ke Dapoer Tepian Kapuas dengan dalih mengambil barang yang tertinggal. Rakuan menunggunya di luar, siap membantu jika ada masalah.

Susan masuk ke ruang kantor Lucas. Di dalam lemari, ia menemukan dokumen-dokumen yang mencurigakan—catatan transaksi, daftar pemasok yang ditekan, dan bukti-bukti penyuapan. Ia segera mengambil foto-foto dengan ponselnya.

Tapi sebelum ia selesai, ia mendengar suara langkah kaki di koridor. Lucas datang.

Susan panik. Ia menyembunyikan ponselnya dan berpura-pura mencari sesuatu di meja.

"Susan?" suara Lucas terdengar dari pintu. "Kau di sini?"

Susan berbalik dan tersenyum canggung. "Aku lupa mengambil buku catatanku."

Lucas menatapnya curiga. "Kau terlihat gelisah. Apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada," kata Susan cepat. "Aku hanya mencari buku catatanku."

Lucas mendekat. Matanya mengamati Susan dengan teliti. "Kau yakin?"

Susan merasa jantungnya berdetak kencang. Tapi ia berusaha tetap tenang.

"Aku yakin," katanya. "Aku akan pergi sekarang."

Ia berjalan melewati Lucas dan keluar ruangan. Begitu ia berada di luar, ia berlari sekencang mungkin menuju tempat Rakuan menunggu.

"Rakuan!" katanya dengan napas tersengal. "Aku mendapatkannya!"

Rakuan memeluknya. "Kau hebat, Sus."


Keesokan harinya, Rakuan, Rudi, Susan, dan Toni mengumpulkan semua bukti yang mereka miliki. Mereka menyusunnya dengan rapi—dokumen, foto, dan kesaksian.

"Kita sudah punya cukup bukti," kata Rudi. "Sekarang kita tinggal melaporkannya ke dinas perdagangan dan polisi."

Rakuan mengangguk. "Aku akan menangani laporan ke polisi. Rud, kau urus laporan ke dinas perdagangan. Kita lakukan besok pagi."

Semua mengangguk setuju. Perjuangan mereka akan segera berakhir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XI

Susan Menolak Lucas


Malam itu, setelah berhasil mengumpulkan bukti-bukti dari kantor Lucas, Susan tidak bisa tidur. Ia berbaring di kamar tamu rumah tua Rakuan, menatap langit-langit kayu yang gelap. Pikirannya berkecamuk—antara rasa lega karena akhirnya memiliki bukti, dan rasa takut akan apa yang akan terjadi besok.

Besok, semuanya akan berubah.

Rakuan dan Rudi akan melaporkan semua bukti ke polisi dan dinas perdagangan. Lucas dan Hendri akan dihadapkan pada kejahatan mereka. Dan Susan ... Susan harus menghadapi keluarganya.

Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke beranda. Udara malam terasa sejuk. Di kejauhan, ia bisa melihat lampu-lampu Dermaga KP3 yang masih menyala. Rakuan sedang duduk di kursi kayu, menatap sungai.

"Kau juga tidak bisa tidur?" tanya Susan pelan.

Rakuan menoleh dan tersenyum. "Aku terlalu gelisah. Besok adalah hari besar."

Susan duduk di sampingnya. "Aku takut, Rakuan."

Rakuan meraih tangannya. "Aku tahu. Aku juga takut. Tapi kita harus melakukan ini. Untuk keadilan. Untuk semua orang yang telah dirugikan oleh Lucas dan Hendri."

"Aku tahu," kata Susan. "Tapi aku tidak tahu bagaimana menghadapi keluargaku. Mereka akan marah. Mereka akan kecewa. Mereka mungkin akan membenciku."

Rakuan memeluknya. "Aku akan bersamamu, Sus. Apa pun yang terjadi, aku akan bersamamu."

Susan menangis di pelukannya. Ia merasa lemah, tapi di saat yang sama, ia juga merasa kuat—karena ia tidak sendirian.


Pagi itu, Rakuan dan Rudi pergi ke kantor polisi dan dinas perdagangan. Mereka membawa semua bukti yang telah dikumpulkan—foto-foto dokumen, catatan transaksi curang, dan kesaksian Toni. Petugas menerima laporan mereka dengan serius dan berjanji akan segera menindaklanjuti.

"Kami akan memanggil Lucas dan Hendri untuk dimintai keterangan," kata petugas. "Jika bukti-bukti ini cukup kuat, mereka akan diproses secara hukum."

Rakuan dan Rudi keluar dari kantor dengan perasaan lega. Akhirnya, keadilan akan ditegakkan.

"Bagaimana kabar Susan?" tanya Rudi.

"Ia masih di rumah," kata Rakuan. "Ia akan menghadapi keluarganya hari ini. Aku harus segera ke sana."

"Aku ikut," kata Rudi. "Kau tidak bisa menghadapi mereka sendirian."

Mereka bergegas menuju rumah Rosnah.


Di rumah Rosnah, suasana tegang. Hendri dan Lucas telah datang dengan marah setelah mendengar bahwa laporan telah diajukan ke polisi. Rosnah duduk di kursi dengan wajah pucat, sementara Susan berdiri di sampingnya, berusaha tetap tenang.

"Kau tahu apa yang telah kau lakukan, Susan?" Hendri berteriak. "Kau telah menghancurkan keluarga kita! Kau telah melaporkan pamannya sendiri ke polisi!"

Susan menatap pamannya dengan mata yang tajam. "Aku hanya melaporkan kebenaran, Paman. Kau dan Lucas telah melakukan banyak kejahatan. Kau merusak bisnis orang lain. Kau menyuap pejabat. Kau mengancam orang-orang. Aku tidak bisa diam melihat semua itu."

Lucas melangkah maju. Wajahnya merah padam karena marah. "Kau pengkhianat, Susan! Setelah semua yang kami berikan padamu—rumah, pekerjaan, kehidupan yang layak—kau membalas kami dengan ini?"

"Kau tidak memberiku apa pun, Lucas," kata Susan dengan suara dingin. "Kau hanya ingin mengendalikanku. Kau hanya ingin menikahiku untuk menguasai tanah warisan. Aku bukan boneka. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memanfaatkanku."

Hendri tertawa sinis. "Kau pikir kau bisa bertahan tanpa kami? Tanpa restoran, tanpa uang, tanpa dukungan keluarga? Kau tidak akan bertahan lama di Kuala Kapuas."

"Aku tidak butuh kalian," kata Susan tegas. "Aku punya ibuku. Aku punya Rakuan. Aku punya teman-teman yang mendukungku. Aku tidak butuh orang-orang yang hanya memanfaatkanku."


Pada saat itu, Rakuan dan Rudi tiba. Mereka berdiri di pintu, menyaksikan adegan yang terjadi.

"Lucas, Hendri," kata Rakuan dengan suara tegas. "Lebih baik kalian pergi. Polisi sudah tahu semuanya. Mereka akan segera memanggil kalian."

Lucas menatap Rakuan dengan mata penuh kebencian. "Kau ... kau yang menghancurkan semuanya. Sebelum kau datang, semuanya berjalan baik. Susan akan menikah denganku. Bisnis kami akan berkembang. Tapi kau datang dan merusak semuanya."

"Aku tidak merusak apa pun," kata Rakuan. "Kau sendiri yang menghancurkan hidupmu dengan keserakahanmu. Kau memilih jalan yang salah. Dan sekarang kau harus bertanggung jawab."

Lucas melangkah maju, mengancam. Tapi Rudi segera berdiri di antara mereka.

"Cukup, Lucas," kata Rudi. "Kau sudah kalah. Terimalah kenyataan itu."

Lucas mengepalkan tangannya. Ia ingin memukul Rakuan. Tapi di hadapan semua orang, ia tidak berani.

"Ini belum berakhir," kata Lucas dengan gigi terkatup. "Kau akan menyesal, Rakuan. Aku berjanji."

Ia berbalik dan berjalan keluar. Hendri mengikutinya, meninggalkan rumah Rosnah dengan kemarahan yang membara.


Setelah Lucas dan Hendri pergi, Susan jatuh ke kursi dan menangis. Rosnah memeluknya, berusaha menenangkannya.

"Kau hebat, Nak," kata Rosnah. "Kau sangat berani."

Susan menggeleng. "Aku takut, Bu. Aku takut apa yang akan mereka lakukan selanjutnya."

Rakuan mendekat dan berlutut di hadapan Susan. "Tenang, Sus. Kita akan menghadapi ini bersama. Kau tidak sendirian."

Susan menatap Rakuan dengan mata berkaca-kaca. "Aku sangat mencintaimu," katanya. "Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melewati semua ini tanpamu."

Rakuan tersenyum dan memeluknya. "Kau tidak perlu melewati ini sendirian. Aku selalu ada untukmu."


Sementara itu, di rumah Hendri, Lucas dan ayahnya duduk dengan wajah muram. Mereka tahu bahwa mereka dalam masalah besar. Polisi akan segera memanggil mereka. Bisnis mereka akan hancur. Reputasi mereka akan rusak.

"Ayah, kita harus melakukan sesuatu," kata Lucas dengan panik. "Kita tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan kita."

Hendri menggeleng. "Tidak ada yang bisa kita lakukan. Bukti-bukti itu terlalu kuat. Kita sudah kalah."

"Tidak!" Lucas membanting meja. "Aku tidak akan menyerah. Aku akan menghancurkan mereka. Aku akan memastikan bahwa mereka menyesal telah melawanku."

Hendri menatap putranya dengan mata lelah. "Lucas, kau sudah membuat banyak kesalahan. Jangan tambah lagi. Lebih baik kita mengakui kesalahan dan menerima hukuman."

"Aku tidak mau!" Lucas berteriak. "Aku tidak akan membiarkan Rakuan menang!"

Ia berlari keluar rumah, meninggalkan ayahnya yang hanya bisa menggeleng.


Sore itu, Rakuan dan Susan berjalan di Dermaga KP3. Mereka duduk di ujung dermaga, menikmati senja yang indah. Meskipun ada banyak masalah yang masih harus dihadapi, mereka merasa tenang—karena mereka bersama.

"Rakuan," kata Susan pelan, "apa yang akan terjadi setelah ini? Setelah Lucas dan Hendri diproses secara hukum?"

Rakuan mengangguk. "Aku akan mencari pekerjaan di sini. Aku tidak akan kembali ke Jakarta. Aku ingin menetap di Kapuas dan membangun masa depan bersama."

Susan tersenyum. "Kau benar-benar berubah. Dulu, kau selalu ingin pergi. Sekarang, kau ingin tinggal."

"Aku belajar bahwa rumah bukanlah tempat, Sus. Rumah adalah orang-orang yang kau cintai. Dan rumahku ada di sini, bersamamu."

Susan tersipu. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Aku mencintaimu, Rakuan," katanya.

"Aku juga mencintaimu, Susan."

Mereka berpelukan di bawah senja, berjanji untuk saling menjaga dan tidak pernah meninggalkan satu sama lain lagi.


Malam itu, Lucas datang ke rumah Rosnah dengan mabuk. Ia memecahkan jendela dan berteriak-teriak di luar.

"Susan! Keluar! Kita bicara!"

Rakuan segera keluar dan berdiri di hadapan Lucas. "Kau sudah mabuk, Lucas. Pulanglah."

Lucas tertawa keras. "Pulang? Kau pikir aku akan pulang? Aku akan menghancurkan kalian semua!"

Ia mencoba menyerang Rakuan, tapi Rakuan dengan cepat menghindar. Rudi yang datang bersama Rakuan segera menahan Lucas.

"Lucas, tenang!" kata Rudi. "Kau membuat masalah besar!"

Lucas meronta, tapi tidak bisa melepaskan diri. Akhirnya, polisi datang dan membawa Lucas pergi. Ia akan menghadapi tuduhan tambahan karena mengancam dan merusak properti.

Rosnah keluar rumah dan memeluk Susan. "Aku takut, Bu," kata Susan.

"Tenang, Nak," kata Rosnah. "Semuanya sudah berakhir. Lucas tidak akan mengganggumu lagi."


Keesokan harinya, Hendri datang ke rumah Rosnah. Kali ini, ia datang dengan sikap yang berbeda—lembut dan penuh penyesalan.

"Rosnah, Susan," katanya dengan suara serak, "aku datang untuk meminta maaf. Aku tahu aku telah melakukan banyak kesalahan. Aku membiarkan ambisi dan keserakahan menghancurkan keluarga kita. Aku minta maaf."

Rosnah menatap Hendri dengan mata yang tajam. "Kau datang terlambat, Hendri. Semua sudah terjadi."

"Aku tahu," kata Hendri. "Tapi aku ingin memperbaikinya. Aku akan mengakui semua kesalahanku di pengadilan. Aku akan menerima hukuman. Dan aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik."

Susan mendekati pamannya. "Paman, aku tahu kau tidak sepenuhnya jahat. Aku tahu kau hanya terjebak dalam ambisimu. Tapi kau harus bertanggung jawab atas semua yang kau lakukan."

Hendri mengangguk. "Aku akan melakukannya. Aku berjanji."


Beberapa minggu kemudian, Lucas dan Hendri diadili. Keduanya dihukum karena praktik curang, monopoli, dan penyuapan. Mereka kehilangan semua bisnis mereka dan harus membayar denda yang besar.

Keluarga Susan akhirnya bisa bernapas lega. Dapoer Tepian Kapuas diserahkan kepada Rosnah dan Susan untuk dikelola. Dan untuk pertama kalinya, mereka bisa menjalankan bisnis dengan jujur dan adil.

Rakuan dan Susan duduk di Dermaga KP3, menatap senja yang indah. Semua badai telah berlalu. Dan di hadapan mereka, masa depan yang cerah menunggu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XII

Menemukan Kekuatan di Dermaga


Hari-hari setelah pengadilan Lucas dan Hendri terasa seperti mimpi buruk yang perlahan berakhir. Tapi bagi Susan, kenyataan justru semakin berat.

Meskipun Lucas dan Hendri telah dihukum, keluarga besar Susan tidak tinggal diam. Mereka menganggap Susan sebagai pengkhianat—seorang anak durhaka yang telah menghancurkan nama baik keluarga. Mereka mengucilkan Susan dan Rosnah. Mereka menyebarkan gosip bahwa Susan adalah wanita tidak tahu terima kasih yang membalas kebaikan dengan pengkhianatan.

Susan mencoba bertahan. Ia tetap mengelola Dapoer Tepian Kapuas bersama Rosnah. Tapi pengunjung mulai berkurang. Banyak yang takut bersinggungan dengan keluarga Susan setelah skandal itu. Pemasok yang dulu setia kini mulai menarik diri. Bisnis mereka perlahan-lahan merosot.

Dan yang terburuk, Susan mulai menerima ancaman. Pesan-pesan anonim di ponselnya. Suara-suara misterius di telepon. Kadang, ketika ia berjalan sendirian di malam hari, ia merasa ada yang mengikutinya.

"Aku tidak tahu harus berbuat apa, Bu," kata Susan suatu malam pada Rosnah. "Aku merasa seperti dikepung dari segala sisi."

Rosnah memeluk putrinya. "Kita akan bertahan, Nak. Kita sudah melalui banyak hal. Kita akan melewati ini juga."

Tapi Susan tidak yakin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar sendirian.


Suatu sore, Susan tidak tahan lagi. Segala tekanan, ancaman, dan pengucilan terasa terlalu berat. Ia meninggalkan restoran dan berjalan tanpa tujuan. Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke Dermaga KP3.

Dermaga itu sunyi. Hanya ada beberapa nelayan yang sedang memperbaiki jaring mereka di kejauhan. Susan duduk di ujung dermaga, di tempat yang sama di mana ia dan Rakuan dulu sering menghabiskan waktu bersama.

Air matanya jatuh. Tangisnya pecah.

"Aku tidak punya apa-apa lagi," isaknya. "Tidak ada keluarga. Tidak ada teman. Tidak ada masa depan."

Ia menangis sejadi-jadinya, melepaskan semua beban yang selama ini ia pendam. Ia menangis untuk ibunya, Rosnah, yang harus menderita karena pilihannya. Ia menangis untuk dirinya sendiri, yang kehilangan segalanya demi kebenaran.

Dan di tengah tangisnya, ia mendengar suara langkah kaki mendekat.

"Susan?"


Rakuan telah mencari Susan sejak ia mendengar dari Rosnah bahwa Susan pergi tanpa pamit. Ia tahu ke mana Susan akan pergi. Ke tempat di mana mereka selalu bertemu. Ke tempat di mana mereka berbagi mimpi dan harapan.

Dan di sanalah ia menemukannya—menangis sendirian di ujung Dermaga KP3.

Rakuan duduk di sampingnya tanpa bicara. Ia tidak perlu bertanya apa yang terjadi. Ia bisa melihat dari mata Susan yang sembab dan bahunya yang bergetar. Ia bisa merasakan keputusasaan yang memancar dari tubuh gadis yang dicintainya.

"Susan," katanya pelan. "Aku di sini."

Susan menoleh. Matanya merah dan basah. "Rakuan ..."

Ia jatuh ke pelukan Rakuan dan menangis lebih keras. Rakuan memeluknya erat, membiarkannya melepaskan semua kesedihannya.

"Aku tidak punya apa-apa lagi," isaknya di antara tangisan. "Keluargaku membenciku. Bisnisku hancur. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku tidak punya siapa-siapa."

Rakuan mengusap rambutnya dengan lembut. "Kau punya aku, Sus. Kau selalu punya aku. Dan aku tidak akan pergi lagi. Aku berjanji."

"Tapi ..." Susan mengangkat kepalanya. Matanya menatap Rakuan dengan penuh keraguan. "Apa kau cukup kuat untuk melindungiku? Keluargaku bisa melakukan apa saja. Mereka bisa menyakitimu juga."

Rakuan tersenyum—senyum yang penuh keyakinan. "Biarkan mereka mencoba. Aku tidak takut pada siapa pun. Selama kau ada di sisiku, aku akan menghadapi apa pun."

Susan menangis lagi—tapi kali ini, tangisannya berbeda. Ada harapan di dalamnya. Ada kelegaan.


Mereka duduk di ujung dermaga hingga matahari mulai tenggelam. Langit jingga menciptakan pemandangan yang indah—seperti lukisan yang dibuat oleh alam sendiri.

"Kau tahu," kata Rakuan, "di sinilah kita pertama kali bertemu lagi setelah tiga tahun. Di tempat yang sama."

Susan tersenyum tipis. "Aku ingat. Aku sangat marah padamu saat itu."

"Kau masih marah padaku sekarang?"

Susan menggeleng. "Tidak. Aku hanya ... aku hanya takut. Aku takut kau akan pergi lagi. Aku takut kau akan meninggalkanku ketika semuanya menjadi sulit."

Rakuan menggenggam tangannya. "Dengarkan aku, Susan. Aku telah melakukan banyak kesalahan di masa lalu. Aku pergi ketika kau membutuhkanku. Aku lari dari masalah. Tapi aku sudah berubah. Aku berjanji pada diriku sendiri, pada ibuku, dan sekarang padamu—aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Apa pun yang terjadi."

Susan menatap matanya. Di dalam mata Rakuan, ia melihat ketulusan. Ia melihat cinta. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin semuanya akan baik-baik saja.

"Kau percaya padaku?" tanya Rakuan.

Susan mengangguk. "Aku percaya padamu."

"Dan kau akan tetap bersamaku? Meskipun dunia menentang kita?"

"Aku akan tetap bersamamu," janji Susan. "Selamanya."


Malam mulai turun. Lampu-lampu dermaga menyala satu per satu, menciptakan pantulan cahaya di permukaan sungai. Rakuan dan Susan masih duduk di ujung dermaga, saling berpegangan tangan.

"Rakuan," kata Susan pelan, "aku takut. Aku takut apa yang akan terjadi besok. Keluargaku tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan terus menyerangku."

Rakuan mengangguk. "Aku tahu. Tapi kita akan menghadapinya bersama. Kita akan mencari cara untuk melindungi dirimu dan bisnis ibumu."

"Bagaimana?"

Rakuan berpikir sejenak. "Aku punya ide. Bagaimana kalau kita menggabungkan bisnis kita? Sungai Rindu dan Dapoer Tepian Kapuas bekerja sama. Kita bisa menciptakan kawasan kuliner yang lebih besar dan lebih kuat. Dengan begitu, kita tidak akan mudah dihancurkan oleh siapa pun."

Susan terkejut. "Kau serius?"

"Aku serius. Aku sudah bicara dengan Rudi tentang ini. Ia setuju. Kita semua setuju bahwa bekerja sama lebih baik daripada bersaing."

Susan tersenyum—senyum tulus yang sudah lama tidak ia tunjukkan. "Kau benar-benar luar biasa, Rakuan. Kau selalu punya cara untuk membuat segalanya lebih baik."

Rakuan tersenyum malu. "Aku hanya mencoba menjadi lebih baik untukmu."


Sementara itu, di rumah Rosnah, suasana juga tegang. Rosnah menerima telepon dari salah satu anggota keluarga besar yang mengancam akan mengambil alih Dapoer Tepian Kapuas.

"Kau tidak berhak mengelola restoran itu, Rosnah," kata suara di seberang telepon. "Itu adalah milik keluarga. Dan kau serta Susan telah mengkhianati keluarga."

Rosnah menjawab dengan tenang. "Restoran ini adalah milikku dan Susan. Kami yang mengelolanya selama bertahun-tahun. Kami yang membangunnya. Tidak ada yang bisa mengambilnya dari kami."

"Kita lihat saja nanti," kata suara itu sebelum menutup telepon.

Rosnah meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar. Ia tahu bahwa perjuangan belum berakhir. Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki Susan. Ia memiliki Rakuan. Dan ia memiliki Rudi.

"Kita akan bertahan," bisiknya. "Kita akan bertahan bersama."


Keesokan harinya, Rakuan dan Susan mengunjungi Rudi di warung Sungai Rindu. Mereka membahas rencana untuk menggabungkan bisnis.

"Aku setuju dengan idemu, Ku," kata Rudi. "Jika kita bekerja sama, kita bisa menjadi lebih kuat. Kita bisa menciptakan kawasan kuliner yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun."

"Tapi bagaimana dengan keluarga Susan?" tanya Susan. "Mereka akan terus mengancam kita."

Rudi tersenyum. "Biarkan mereka mengancam. Kita punya bukti-bukti yang cukup untuk melindungi diri kita. Jika mereka mencoba melakukan sesuatu yang ilegal, kita bisa melaporkan mereka ke polisi."

Rakuan mengangguk. "Rudi benar. Kita tidak boleh takut. Kita sudah melalui hal yang lebih buruk. Kita bisa melewati ini juga."

Susan tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada harapan.


Malam itu, Rakuan dan Susan berjalan di Dermaga KP3. Lampu-lampu dermaga menciptakan suasana yang romantis. Mereka berhenti di ujung dermaga dan menatap sungai yang mengalir tenang.

"Rakuan," kata Susan, "aku ingin bertanya sesuatu."

"Apa?"

"Apakah kau benar-benar yakin ingin tinggal di Kapuas? Jakarta adalah kota besar dengan banyak peluang. Kau bisa menjadi arsitek sukses di sana. Di sini ... di sini hanya ada masalah dan kesulitan."

Rakuan menatapnya dengan serius. "Susan, aku sudah memutuskan. Aku ingin tinggal di sini. Bukan karena aku tidak punya pilihan. Tapi karena aku memilihmu. Aku memilih kehidupan bersamamu. Dan aku tidak akan menukarnya dengan apa pun."

Susan menangis—air mata kebahagiaan. Ia memeluk Rakuan erat-erat.

"Aku mencintaimu, Rakuan," bisiknya. "Aku sangat mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Susan. Dan aku akan selalu ada untukmu."


Beberapa hari kemudian, Rakuan, Susan, dan Rudi mulai merencanakan penggabungan bisnis. Mereka mengundang beberapa pengusaha kuliner lain di Kuala Kapuas untuk bergabung dalam kawasan kuliner yang lebih besar.

"Kita bisa menciptakan destinasi wisata kuliner yang terkenal di seluruh Kalimantan," kata Rakuan dalam pertemuan itu. "Dengan bekerja sama, kita bisa menarik lebih banyak pengunjung. Kita bisa meningkatkan ekonomi lokal. Dan kita bisa melindungi diri kita dari ancaman siapa pun."

Banyak pengusaha yang setuju. Mereka lelah dengan persaingan tidak sehat dan ancaman dari keluarga besar Susan. Mereka ingin bekerja sama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Dan di tengah semua itu, Susan menemukan kekuatan yang tidak pernah ia sadari. Ia bukan lagi gadis lemah yang takut pada keluarganya. Ia adalah wanita yang berani melawan ketidakadilan. Ia adalah pemimpin yang menginspirasi orang lain.

"Kita akan berhasil," kata Susan dalam pertemuan itu. "Kita akan berhasil bersama."


Suatu sore, Rakuan dan Susan kembali ke Dermaga KP3. Mereka duduk di ujung dermaga, menikmati senja yang indah.

"Kau tahu," kata Susan, "aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan berada di sini—dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaiku, membangun masa depan bersama, dan merasa benar-benar bahagia."

Rakuan tersenyum. "Aku juga tidak membayangkan ini. Tapi aku bersyukur bahwa kita ada di sini."

Susan menggenggam tangannya. "Terima kasih, Rakuan. Terima kasih telah menjadi kekuatanku."

Rakuan membalas genggamannya. "Kau adalah kekuatanku juga, Susan. Tanpamu, aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti sekarang."

Mereka berpelukan di bawah senja. Dermaga KP3 menjadi saksi bisu perjalanan mereka—dari pertemuan kembali, perselisihan, rekonsiliasi, hingga akhirnya menemukan kekuatan bersama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XIII

Rahasia Terakhir Rosnah


Pagi itu, Rakuan terbangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam firasat yang mengganggu pikirannya. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap keluar jendela rumah tuanya. Sungai Kapuas mengalir tenang di bawah sinar matahari pagi, tapi hatinya tidak setenang permukaan air itu.

Susan masih tertidur di kamar sebelah. Semalam, mereka larut malam merencanakan penggabungan bisnis dengan Rudi. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Rakuan—sesuatu tentang Rosnah, ibu Susan.

Ia ingat tatapan Rosnah beberapa hari terakhir. Ada sesuatu di mata wanita itu—seperti ada beban yang belum terungkap. Seperti ada rahasia yang masih ia pendam.

Rakuan memutuskan untuk pergi ke rumah Rosnah pagi itu. Ia ingin berbicara dengan wanita yang telah menjadi ibu bagi Susan, yang telah menjadi teman bagi ibunya, yang telah melalui semua suka dan duka bersama mereka.

Ia meninggalkan pesan untuk Susan: "Aku pergi ke rumah ibumu. Ada yang perlu aku bicarakan. Aku akan segera kembali."


Rumah Rosnah terletak di tepian sungai, tidak jauh dari pasar tradisional. Ketika Rakuan tiba, ia melihat Rosnah sedang duduk di beranda, menatap sungai dengan tatapan kosong. Wanita itu tampak lebih tua dari biasanya—garis-garis di wajahnya tampak lebih dalam, dan matanya tampak lelah.

"Tante Rosnah," sapa Rakuan pelan.

Rosnah menoleh dan tersenyum—tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Rakuan, kau datang. Masuklah."

Rakuan naik ke beranda dan duduk di kursi kayu di samping Rosnah. Mereka duduk dalam diam beberapa saat, menatap sungai yang mengalir.

"Tante," kata Rakuan akhirnya, "ada sesuatu yang mengganggu Tante. Aku bisa melihatnya. Ada apa?"

Rosnah menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca.

"Kau sangat perhatian, Nak," katanya. "Seperti ibumu."

"Tante, tolong beri tahu aku. Apapun itu, aku siap mendengarnya."

Rosnah menunduk. Tangannya gemetar ketika ia memainkan ujung kerudungnya.

"Aku ... aku belum mengatakan semua kebenaran, Rakuan," katanya pelan. "Ada satu rahasia lagi yang belum aku ungkap. Rahasia yang paling berat."


Rakuan terdiam. Ia merasakan dadanya berdebar-debar. "Rahasia apa, Tante?"

Rosnah mengangkat kepalanya. Air mata mengalir di pipinya yang keriput.

"Tentang Susan," katanya. "Aku sudah mengatakan bahwa ia adalah anak angkat. Aku sudah mengatakan bahwa ia adalah keponakan Rahmah. Tapi ada satu hal yang belum aku katakan."

"Apa itu?"

Rosnah menarik napas panjang. "Aku tahu siapa ayah kandung Susan."

Rakuan terkejut. "Apa? Tante tahu?"

Rosnah mengangguk. "Aku mengetahuinya sejak awal. Tapi aku tidak pernah memberitahu siapa pun—termasuk Rahmah. Aku menyimpannya sebagai rahasia karena ... karena aku takut."

"Siapa ayah kandung Susan, Tante?"

Rosnah menatap Rakuan dengan mata yang penuh kesedihan. "Ayah kandung Susan adalah ... Hendri."

Dunia Rakuan berhenti berputar. "Hendri? Paman Susan? Ayah Lucas?"

Rosnah mengangguk. "Ya. Hendri adalah ayah kandung Susan. Ia memiliki hubungan dengan adik Rahmah—Rukiah, ibu kandung Susan. Ketika Rukiah hamil, Hendri tidak mau bertanggung jawab. Ia sudah menikah dengan wanita lain dan memiliki Lucas. Rukiah meninggal dalam kecelakaan kapal ketika Susan masih bayi. Dan aku ... aku mengambil Susan dan membesarkannya sebagai anakku sendiri."


Rakuan terdiam. Ia mencerna semua informasi yang baru saja ia dengar. Hendri—paman Susan, ayah Lucas, musuh mereka—adalah ayah kandung Susan. Ini berarti Susan adalah saudara tiri Lucas.

"Tante ..." suara Rakuan serak. "Kenapa Tante tidak pernah mengatakan ini?"

Rosnah menangis. "Karena aku takut, Nak. Aku takut Susan akan terluka. Aku takut ia akan membenci dirinya sendiri. Aku takut Hendri akan menggunakan informasi ini untuk mengambil Susan dariku. Ia adalah orang yang kejam. Ia tidak segan-segan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya."

"Tapi Tante, Susan berhak tahu," kata Rakuan. "Ia berhak tahu siapa ayah kandungnya."

"Aku tahu," kata Rosnah. "Dan itulah yang membuatku takut. Jika Susan tahu bahwa Hendri adalah ayahnya, ia akan hancur. Ia akan merasa bahwa darahnya sama dengan darah musuhnya."

Rakuan meraih tangan Rosnah. "Tante, Susan adalah orang yang kuat. Ia sudah melalui banyak hal. Ia bisa menghadapi ini. Tapi Tante harus memberitahunya. Ia berhak tahu."

Rosnah mengangguk pelan. "Aku tahu. Aku akan memberitahunya. Tapi aku butuh waktu, Nak. Aku butuh keberanian."


Rakuan kembali ke rumah tua dengan pikiran yang penuh. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan semua ini pada Susan. Ia tidak tahu bagaimana Susan akan bereaksi.

Ketika ia tiba, Susan sedang duduk di beranda, menatap sungai. Ia tersenyum ketika melihat Rakuan.

"Kau pergi ke mana?" tanyanya.

Rakuan duduk di sampingnya. "Aku pergi menemui ibumu. Ada sesuatu yang ingin ia katakan padamu."

"Tentang apa?"

Rakuan menghela napas. "Susan, ada sesuatu yang perlu kau ketahui. Sesuatu tentang masa lalumu."

Susan menatapnya dengan bingung. "Apa maksudmu?"

Rakuan menggenggam tangannya. "Ayah kandungmu ... bukanlah siapa yang kau kira. Ibumu, Rosnah, belum mengatakan semuanya. Ada rahasia terakhir yang ia simpan selama bertahun-tahun."

Susan terkejut. "Apa? Apa maksudmu?"

Rakuan menatap mata Susan dalam-dalam. "Ayah kandungmu adalah Hendri."


Susan terdiam. Wajahnya berubah menjadi pucat. Matanya membesar karena terkejut.

"Apa?" bisiknya. "Hendri? Paman Hendri? Ayah Lucas?"

Rakuan mengangguk. "Ya. Ia memiliki hubungan dengan Rukiah, ibu kandungmu. Ketika Rukiah hamil, Hendri tidak mau bertanggung jawab. Ia sudah menikah dan memiliki Lucas. Rukiah meninggal dalam kecelakaan kapal. Dan Rosnah mengambilmu dan membesarkanmu."

Susan menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras di pipinya.

"Jadi ... Lucas adalah saudara tiriku?" suaranya bergetar. "Selama ini, aku dijodohkan dengan saudara tiriku sendiri?"

"Aku tahu ini berat," kata Rakuan. "Tapi kau harus tahu kebenaran."

Susan menangis. Ia memeluk Rakuan dan menangis sejadi-jadinya.

"Kenapa ... kenapa tidak ada yang memberitahuku?" isaknya. "Kenapa semua orang menyembunyikan ini dariku?"

"Karena mereka ingin melindungimu," kata Rakuan. "Mereka takut kau akan terluka. Tapi sekarang, kau berhak tahu."


Setelah Susan tenang, Rakuan mengajaknya pergi ke rumah Rosnah. Susan ingin mendengar semuanya langsung dari ibunya.

Ketika mereka tiba, Rosnah sedang duduk di beranda dengan wajah pucat. Ia tahu bahwa putrinya akan datang.

"Susan ..." bisik Rosnah.

Susan mendekati ibunya. Air mata masih mengalir di pipinya.

"Bu, kenapa Bu tidak memberitahuku?" tanyanya dengan suara serak. "Kenapa Bu menyembunyikan ini selama bertahun-tahun?"

Rosnah menangis. "Karena aku takut, Nak. Aku takut kau akan membenci dirimu sendiri. Aku takut kau akan membenci Hendri dan keluarganya. Aku takut kau akan pergi dariku."

Susan memeluk ibunya. "Bu, aku tidak akan pernah pergi darimu. Kau adalah ibuku. Satu-satunya ibu yang aku kenal."

"Aku mencintaimu, Susan," kata Rosnah. "Aku mencintaimu seperti anakku sendiri. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."

Mereka berpelukan—ibu dan anak yang telah melalui banyak hal bersama.


Setelah semua tangisan mereda, Susan duduk di samping ibunya. Rakuan duduk di sisi lain, memberikan dukungan.

"Bu," kata Susan pelan, "apa aku harus bertemu dengan Hendri?"

Rosnah terdiam. "Itu keputusanmu, Nak. Kau bebas memilih."

Susan menghela napas. "Aku tidak tahu. Aku masih bingung. Tapi aku tahu satu hal—aku tidak akan membiarkan ini menghancurkanku. Aku sudah melalui terlalu banyak hal untuk menyerah sekarang."

Rakuan meraih tangannya. "Aku akan mendukungmu apa pun keputusanmu."

Susan tersenyum—senyum yang penuh tekad. "Terima kasih, Rakuan. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melewati semua ini tanpamu."


Malam itu, Susan duduk sendirian di beranda rumah Rosnah. Ia menatap sungai yang mengalir di bawah cahaya rembulan. Pikirannya masih kacau. Tapi ada satu hal yang ia yakini—ia tidak akan membiarkan masa lalu menentukan masa depannya.

Rakuan mendekati dan duduk di sampingnya. "Apa yang kau pikirkan?"

Susan menghela napas. "Aku memikirkan tentang Hendri. Tentang bagaimana ia bisa melakukan semua itu. Tentang bagaimana ia meninggalkan ibuku—Rukiah—dan tidak pernah bertanggung jawab."

"Aku tidak akan membela Hendri," kata Rakuan. "Tapi mungkin kau bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin ia juga manusia yang lemah. Mungkin ia juga membuat kesalahan."

Susan menatap Rakuan. "Kau selalu melihat sisi baik orang, ya?"

Rakuan tersenyum. "Aku belajar dari ibumu. Ia mengajariku bahwa setiap orang pantas mendapatkan kesempatan kedua."

Susan menggenggam tangannya. "Aku mencintaimu, Rakuan. Dan aku berterima kasih karena kau selalu ada untukku."


Keesokan harinya, Susan memutuskan untuk mengunjungi Hendri di penjara. Ia ingin melihatnya—ayah kandungnya—untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Rakuan menemaninya. Ketika mereka tiba di ruang kunjungan, Hendri duduk di balik kaca dengan wajah yang lelah dan menua. Ketika melihat Susan, matanya membelalak.

"Susan?" suaranya bergetar. "Kau ... kau datang?"

Susan duduk di hadapannya. "Aku datang karena aku ingin tahu kebenaran. Dari mulutmu sendiri."

Hendri menunduk. Air mata mengalir di pipinya.

"Aku tahu aku salah," katanya. "Aku tahu aku telah meninggalkan ibumu. Aku tahu aku tidak pernah bertanggung jawab. Tapi aku menyesal. Aku sangat menyesal."

"Kenapa kau meninggalkannya?" tanya Susan dengan suara dingin.

Hendri menghela napas. "Aku takut. Aku sudah menikah. Aku punya Lucas. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya. Aku pengecut. Aku memilih untuk lari."

Susan menatap ayah kandungnya dengan mata yang tajam. "Aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak membencimu. Aku hanya ... kecewa."

Hendri menangis. "Maafkan aku, Susan. Maafkan aku."

Susan berdiri. "Aku akan mencoba. Tapi aku butuh waktu."

Ia berbalik dan pergi. Rakuan mengikutinya.

Di luar penjara, Susan menangis di pelukan Rakuan. Tapi kali ini, tangisannya bukan tangisan kesedihan. Itu adalah tangisan pelepasan—pelepasan dari masa lalu yang selama ini membebaninya.

 

 

 

 

 

 

BAB XIV

Pencarian Jati Diri


Pagi itu, Susan bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada kegelisahan yang menggelayuti hatinya sejak pertemuannya dengan Hendri di penjara. Kata-kata ayah kandungnya masih terngiang di telinganya. "Aku pengecut. Aku memilih untuk lari." Susan merasakan ada kemiripan antara dirinya dan Hendri—keduanya pernah lari dari kenyataan. Tapi Susan tidak ingin menjadi seperti ayahnya. Ia ingin menemukan jati dirinya yang sebenarnya.

Ia duduk di tepi tempat tidur di kamar tamu rumah tua Rakuan. Melalui jendela, ia melihat Sungai Kapuas yang mengalir tenang. Di kejauhan, burung-burung mulai berkicau menyambut pagi.

"Susan," suara Rakuan terdengar dari balik pintu. "Kau sudah bangun?"

"Ya," jawab Susan. "Masuklah."

Rakuan membuka pintu dan masuk dengan membawa dua cangkir kopi. Ia menyodorkan satu cangkir pada Susan.

"Kau terlihat gelisah," kata Rakuan sambil duduk di sampingnya. "Ada apa?"

Susan menggenggam cangkir kopinya, menikmati kehangatan yang menjalar ke tangannya.

"Aku tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Hendri," katanya. "Ia mengatakan bahwa ia lari karena takut. Dan aku menyadari ... aku juga sama. Aku juga lari. Aku lari dari kenyataan bahwa aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Aku lari dari pertanyaan-pertanyaan tentang masa laluku."

Rakuan meraih tangannya. "Kau tidak perlu lari lagi, Sus. Aku di sini. Kita akan mencari jawabannya bersama."

Susan menatapnya. "Aku ingin pergi ke Putussibau. Aku ingin mencari tahu tentang ibu kandungku—Rukiah. Aku ingin tahu siapa dia, bagaimana kehidupannya, dan mengapa ia meninggalkanku."

Rakuan tersenyum. "Aku akan menemanimu. Kapan kita berangkat?"

"Hari ini," kata Susan tegas. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."


Perjalanan dari Kuala Kapuas ke Putussibau memakan waktu sekitar delapan jam melalui jalur sungai dan darat. Rakuan dan Susan memutuskan untuk naik perahu motor menyusuri Sungai Kapuas—jalur yang sama yang pernah dilalui oleh Rukiah, ibu kandung Susan, bertahun-tahun lalu.

Perahu itu melaju pelan, meninggalkan Dermaga KP3 di belakang mereka. Susan duduk di sisi perahu, menatap pepohonan di tepian sungai yang melintas perlahan. Pemandangan hijau yang rimbun, sesekali diselingi oleh rumah-rumah panggung dan anak-anak yang melambai dari beranda mereka.

"Kau baik-baik saja?" tanya Rakuan.

Susan mengangguk. "Aku gugup. Tapi aku juga bersemangat. Ini adalah pertama kalinya aku mencari tahu tentang asal-usulku."

Rakuan mengusap rambutnya lembut. "Kau akan baik-baik saja. Apa pun yang kau temukan, aku akan ada di sisimu."

Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, menikmati pemandangan sungai yang indah. Sesekali, Rakuan menunjukkan tempat-tempat yang ia kenal—desa-desa kecil, pasar terapung, dan perkebunan karet di sepanjang sungai.


Setelah empat jam perjalanan, mereka berhenti di sebuah desa kecil untuk beristirahat dan makan siang. Susan dan Rakuan duduk di sebuah warung sederhana di tepian sungai, menikmati ikan bakar dan nasi.

"Kau tahu," kata Susan, "aku tidak pernah menyangka bahwa perjalanan ini akan terasa seperti ini. Aku pikir aku akan takut. Tapi justru ... aku merasa tenang."

Rakuan tersenyum. "Itu karena kau sudah siap. Kau sudah siap untuk menemukan jawaban."

Susan menggenggam tangannya. "Terima kasih, Rakuan. Tanpamu, aku mungkin tidak akan pernah memiliki keberanian untuk melakukan ini."

"Kau lebih kuat dari yang kau kira, Sus. Kau hanya perlu seseorang yang mengingatkanmu."

Mereka menyelesaikan makan siang dan melanjutkan perjalanan. Perahu melaju lebih cepat di jalur sungai yang semakin lebar. Di kejauhan, mereka mulai melihat pemandangan yang berbeda—pegunungan yang menjulang di balik pepohonan.


Mereka tiba di Putussibau menjelang sore. Kota itu lebih tenang dan lebih sederhana daripada Kuala Kapuas. Rumah-rumah kayu berjejer di sepanjang sungai, dan suasana pedesaan yang damai terasa di mana-mana.

Susan dan Rakuan mencari penginapan sederhana untuk bermalam. Setelah itu, mereka mulai mencari informasi tentang Rukiah—ibu kandung Susan.

Mereka pergi ke kantor kelurahan setempat dan bertanya tentang Rukiah. Seorang pegawai tua yang ramah membantu mereka mencari catatan.

"Rukiah," gumam pegawai itu sambil memeriksa arsip. "Ah, ya. Saya ingat. Ia adalah seorang wanita Dayak yang tinggal di pedalaman. Ia dikenal sebagai dukun berobat—seorang yang dihormati di desanya. Tapi ia meninggal dalam kecelakaan kapal sekitar dua puluh enam tahun lalu."

Susan merasakan dadanya sesak. "Apakah ada catatan tentang keluarganya?"

Pegawai itu mengangguk. "Rukiah memiliki seorang adik laki-laki—Nama belakangnya saya lupa. Tapi saya ingat bahwa ia memiliki seorang bayi perempuan yang kemudian diadopsi oleh keluarga di Kuala Kapuas. Itu mungkin Anda?"

Susan mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Ya. Saya bayi itu."

Pegawai itu tersenyum lembut. "Rukiah adalah wanita yang baik. Ia sangat mencintai putrinya. Ia sering mengatakan bahwa ia ingin putrinya tumbuh bahagia dan menjadi orang yang berguna."

Susan menangis. Rakuan memeluknya erat.

"Aku ingin bertemu dengan keluarganya," kata Susan. "Siapa pun yang masih hidup."


Pegawai itu memberi mereka alamat sebuah desa di pedalaman, sekitar dua jam perjalanan dari Putussibau. Mereka harus naik perahu kecil dan kemudian berjalan kaki menyusuri jalan setapak di hutan.

Perjalanan ke desa itu terasa seperti petualangan. Mereka melewati hutan yang rimbun, sungai-sungai kecil, dan sawah-sawah yang hijau. Susan merasa seperti sedang berjalan menuju masa lalunya—menuju jawaban yang selama ini ia cari.

Ketika mereka tiba di desa, mereka disambut oleh seorang wanita tua yang duduk di depan rumah panggung. Wanita itu—bernama Ibu Lina—adalah sepupu Rukiah.

"Kau Susan?" tanya Ibu Lina dengan mata berbinar. "Kau anak Rukiah?"

Susan mengangguk, tidak bisa berkata-kata.

Ibu Lina memeluknya erat. "Kau sangat mirip dengan ibumu," katanya. "Matamu. Senyummu. Kau mirip sekali."

Susan menangis di pelukan wanita itu. "Aku ... aku ingin tahu tentang ibuku. Aku ingin tahu bagaimana kehidupannya."


Ibu Lina mengajak mereka masuk ke rumah panggungnya. Rumah itu sederhana tapi rapi, dihiasi dengan anyaman-anyaman tradisional dan foto-foto keluarga. Di dinding, Susan melihat sebuah foto usang—seorang wanita muda dengan senyum lembut. Itu adalah Rukiah.

"Ibumu," kata Ibu Lina. "Itu adalah satu-satunya foto yang tersisa."

Susan mendekati foto itu, air mata mengalir di pipinya. "Dia cantik," bisiknya.

"Ya," kata Ibu Lina. "Ia adalah wanita yang baik. Ia sangat mencintaimu. Ketika ia mengandungmu, ia sangat bahagia. Tapi ayahmu ..." Ibu Lina menggeleng, "... Hendri tidak mau bertanggung jawab. Ia sudah menikah dengan orang lain. Ia meninggalkan Rukiah sendirian."

"Mengapa ia tidak pernah menikah dengan orang lain?" tanya Susan.

Ibu Lina tersenyum sedih. "Karena ia masih mencintai Hendri. Meskipun ia telah meninggalkannya, Rukiah tetap mencintainya. Ia tidak pernah bisa melupakan cinta pertamanya."

Susan merasakan hatinya hancur. Ibunya—Rukiah—telah menderita karena cinta yang tak berbalas.


Ibu Lina melanjutkan ceritanya. "Ketika kau lahir, Rukiah sangat bahagia. Ia memberikan namamu—Susan—yang berarti 'bunga teratai' dalam bahasa setempat. Ia berharap kau akan tumbuh menjadi wanita yang kuat dan anggun, seperti bunga teratai yang tumbuh di air keruh."

Susan menangis. "Kenapa ia meninggalkanku?"

Ibu Lina menghela napas. "Ia tidak ingin meninggalkanmu, Nak. Tapi ia sakit parah setelah melahirkan. Dan Hendri mengancam akan mengambilmu darinya jika ia tidak pergi. Rukiah takut. Ia takut kau akan diambil. Jadi ia meminta Rosnah—sahabatnya—untuk merawatmu. Dan Rosnah setuju."

"Jadi Rosnah mengenal ibuku?" tanya Susan terkejut.

Ibu Lina mengangguk. "Mereka bersahabat sejak kecil. Rosnah adalah orang yang paling dipercaya Rukiah. Ketika Rukiah meninggal, Rosnah mengadopsimu dan membesarkanmu seperti anaknya sendiri. Ia berjanji pada Rukiah bahwa ia akan selalu melindungimu."

Susan menangis. "Aku tidak tahu ... aku tidak tahu semua ini."

"Rosnah tidak pernah memberitahumu karena ia ingin melindungimu," kata Ibu Lina. "Ia takut kau akan terluka. Tapi sekarang, kau sudah dewasa. Kau berhak tahu."


Malam itu, Susan duduk di beranda rumah Ibu Lina, menatap langit yang bertabur bintang. Rakuan duduk di sampingnya, menggenggam tangannya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Rakuan.

Susan mengangguk. "Aku lega. Aku akhirnya tahu siapa ibuku. Aku akhirnya tahu mengapa ia meninggalkanku. Dan aku tahu bahwa Rosnah—ibuku—selalu mencintaiku."

Rakuan tersenyum. "Kau memiliki dua ibu yang mencintaimu dengan sepenuh hati. Itu adalah anugerah yang luar biasa."

Susan menatapnya. "Aku juga memiliki seseorang yang mencintaiku dengan sepenuh hati. Kau."

Rakuan memeluknya. "Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Mereka duduk bersama di bawah langit berbintang, merenungkan perjalanan panjang yang telah mereka lalui—dan perjalanan yang masih menunggu di depan.


Keesokan harinya, Susan dan Rakuan pamit pada Ibu Lina. Wanita tua itu memberikan foto Rukiah kepada Susan sebagai kenang-kenangan.

"Jagalah foto ini, Nak," kata Ibu Lina. "Itu adalah satu-satunya yang tersisa dari ibumu. Dan ingatlah—kau adalah bunga teratai. Kau bisa tumbuh di mana pun, meskipun lingkunganmu keruh."

Susan memeluk wanita tua itu erat. "Terima kasih, Tante. Terima kasih telah memberitahuku semua ini."

"Semoga kau bahagia, Susan. Dan jangan pernah lupa—ibu kandungmu selalu mencintaimu."

Susan dan Rakuan berjalan kembali menyusuri jalan setapak menuju perahu mereka. Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Susan akhirnya menemukan jawaban yang ia cari—dan ia merasa lebih utuh dari sebelumnya.


Perjalanan pulang menyusuri Sungai Kapuas terasa lebih singkat. Susan duduk di sisi perahu, memegang foto ibunya erat-erat. Ia tersenyum—senyum yang tulus dan damai.

"Aku akhirnya tahu siapa diriku," katanya pada Rakuan. "Aku adalah putri Rukiah. Aku adalah anak angkat Rosnah. Aku adalah keponakan Rahmah. Dan aku adalah wanita yang mencintaimu."

Rakuan tersenyum. "Dan aku adalah pria yang mencintaimu. Itu semua yang perlu kita tahu."

Mereka berpegangan tangan saat perahu melaju menuju Kuala Kapuas. Matahari mulai tenggelam di ujung horizon, menciptakan langit jingga yang indah.

Di Dermaga KP3, Rosnah dan Rudi menunggu mereka. Ketika perahu merapat, Rosnah segera memeluk putrinya.

"Bagaimana perjalanannya, Nak?" tanya Rosnah.

Susan menangis di pelukan ibunya. "Aku menemukan jawabannya, Bu. Aku menemukan siapa diriku. Dan aku tahu bahwa Ibu selalu mencintaiku."

Rosnah juga menangis. "Aku selalu mencintaimu, Susan. Aku selalu mencintaimu."

Mereka berpelukan di Dermaga KP3, di bawah senja yang indah. Semua rahasia telah terungkap. Semua pencarian telah berakhir. Dan di hadapan mereka, masa depan yang cerah menunggu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XV

Ibu Kandung Susan


Hari-hari setelah kepulangan Susan dari Putussibau terasa lebih tenang. Foto Rukiah—ibunya yang telah meninggal—sekarang berada di bingkai kayu sederhana di kamar Susan. Setiap pagi, Susan menatap foto itu dan tersenyum. Ia akhirnya memiliki hubungan dengan ibunya, meskipun hanya melalui foto dan cerita.

Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya. Ibu Lina mengatakan bahwa Rukiah adalah seorang dukun berobat—seorang wanita yang dihormati di desanya. Susan ingin tahu lebih banyak. Ia ingin mengunjungi tempat di mana ibunya tinggal, merasakan kehadirannya, dan mungkin menemukan sisa-sisa kehidupan ibunya yang masih tersisa.

Suatu malam, Susan berbicara dengan Rakuan tentang keinginannya.

"Aku ingin pergi ke desa tempat ibuku tinggal," katanya. "Bukan hanya ke desa Ibu Lina, tapi ke rumah ibuku yang sebenarnya. Di pedalaman. Tempat di mana ia menghabiskan hari-hari terakhirnya."

Rakuan mengangguk. "Aku akan menemanimu. Tapi perjalanan ke pedalaman tidak mudah. Kita harus berjalan kaki melewati hutan. Kita harus membawa perbekalan yang cukup."

"Aku siap," kata Susan tegas. "Aku harus melakukan ini."

Mereka merencanakan perjalanan selama dua hari ke depan. Rakuan mengumpulkan perbekalan—makanan, air, obat-obatan, dan perlengkapan lainnya. Rudi dan Rosnah juga membantu mempersiapkan segala sesuatu.

"Kau yakin ingin pergi ke sana?" tanya Rosnah cemas. "Pedalaman itu berbahaya. Ada binatang buas. Ada jalur yang sulit."

Susan memeluk ibunya. "Aku harus pergi, Bu. Aku harus merasakan kehadiran ibuku. Aku harus berdiri di tempat di mana ia pernah berdiri. Ini adalah bagian dari proses penyembuhanku."

Rosnah menghela napas. "Baik. Tapi hati-hati. Dan jangan lupa berdoa."


Pagi itu, Susan dan Rakuan berangkat. Mereka meninggalkan Dermaga KP3 dengan perahu kecil yang menyusuri Sungai Kapuas ke arah hulu. Pemandangan di sepanjang sungai semakin liar—hutan yang lebat, pohon-pohon raksasa, dan suara-suara hewan yang tak dikenal.

"Kau takut?" tanya Rakuan.

Susan menggeleng. "Aku justru merasa tenang. Seperti aku sedang pulang ke rumah."

Mereka melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa jam, perahu mereka berhenti di sebuah dermaga kecil di tepian sungai. Dari sana, mereka harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang sempit di antara pepohonan.

"Hati-hati," kata Rakuan. "Jalannya licin."

Mereka berjalan selama dua jam melewati hutan yang rimbun. Terkadang, mereka harus menyeberangi sungai-sungai kecil dengan melompat di atas batu-batu besar. Terkadang, mereka harus merunduk untuk melewati cabang-cabang pohon yang rendah.

Susan merasa lelah, tapi ia tidak mau menyerah. Setiap langkah membawanya semakin dekat dengan ibunya.


Akhirnya, mereka tiba di sebuah desa kecil di tengah hutan. Desa itu terdiri dari beberapa rumah panggung kayu yang tersebar di tepian sungai. Penduduk desa—sebagian besar wanita dan anak-anak—menyambut mereka dengan rasa ingin tahu.

"Kau mencari siapa?" tanya seorang wanita tua dengan logat setempat.

Susan menunjukkan foto Rukiah. "Aku mencari rumah ibuku. Rukiah."

Wanita tua itu terkejut. "Rukiah? Kau ... kau anaknya?"

Susan mengangguk. "Ya. Aku Susan."

Wanita tua itu memeluknya erat. "Aku Kakek Umi, tetangga Rukiah. Aku mengenal ibumu sejak kecil. Kau sangat mirip dengannya."

Susan menangis. "Aku ingin melihat rumahnya. Aku ingin merasakan kehadirannya."

Kakek Umi mengangguk. "Aku akan membawamu ke sana. Rumahnya masih ada, meskipun sudah tua dan tidak terawat."


Kakek Umi membawa mereka ke sebuah rumah panggung kecil di ujung desa. Rumah itu terlihat tua—dinding kayunya sudah lapuk, atapnya bocor di beberapa tempat, dan rumput liar tumbuh di sekelilingnya. Tapi bagi Susan, rumah itu adalah istana.

"Ini rumah ibumu," kata Kakek Umi. "Ia tinggal di sini sendirian setelah kau lahir. Ia merawat dirinya sendiri sampai akhir hayatnya."

Susan melangkah masuk dengan hati-hati. Di dalam, ada meja kayu yang sudah berdebu, kursi-kursi yang lapuk, dan beberapa peralatan dapur sederhana. Di sudut ruangan, ia melihat sebuah tempat tidur—tempat tidur di mana ibunya mungkin menghabiskan hari-hari terakhirnya.

Susan duduk di tepi tempat tidur itu. Air mata mengalir deras di pipinya.

"Ibu ..." bisiknya. "Aku di sini. Aku akhirnya di sini."

Rakuan berdiri di belakangnya, tidak bicara. Ia tahu Susan membutuhkan waktu sendirian dengan ibunya—bahkan jika itu hanya dalam bayangan.


Susan berjalan keliling rumah, menyentuh setiap benda yang ada. Ia membayangkan ibunya duduk di meja itu, memasak di dapur itu, tidur di tempat tidur itu. Ia membayangkan ibunya tersenyum, bernyanyi, atau mungkin menangis karena merindukannya.

Kakek Umi masuk dan duduk di kursi kayu. "Ibumu adalah wanita yang baik, Susan. Ia selalu membantu orang lain. Setiap kali ada yang sakit, ia datang membawa ramuan. Setiap kali ada yang sedih, ia datang menghibur. Ia adalah dukun berobat yang dihormati oleh semua orang di desa ini."

Susan menatap Kakek Umi. "Apa ia pernah berbicara tentang aku?"

Kakek Umi mengangguk. "Setiap hari, Susan. Setiap hari ia berbicara tentangmu. Ia mengatakan bahwa ia merindukanmu. Ia mengatakan bahwa ia berharap kau bahagia. Ia mengatakan bahwa ia berdoa untukmu setiap malam."

Susan menangis. "Aku juga merindukannya. Aku merindukannya meskipun aku tidak pernah mengenalnya."

"Tapi sekarang kau mengenalnya," kata Kakek Umi. "Kau di sini. Kau berdiri di tempat ia pernah berdiri. Itu adalah bentuk cinta yang paling indah."


Malam itu, Susan dan Rakuan menginap di rumah Rukiah. Mereka membersihkan rumah itu sedikit, menyalakan lilin, dan duduk di beranda menatap langit malam yang penuh bintang.

"Kau tahu," kata Susan, "aku merasa ibuku ada di sini. Aku merasakan kehadirannya."

Rakuan menggenggam tangannya. "Ia pasti sangat bahagia melihatmu di sini."

"Aku berjanji pada diriku sendiri," kata Susan, "bahwa aku akan merawat rumah ini. Aku akan memperbaikinya. Aku akan menjadikannya tempat yang layak dikunjungi. Untuk menghormati ibuku."

"Aku akan membantumu," kata Rakuan. "Kita akan melakukannya bersama."

Mereka duduk dalam diam, menikmati keheningan malam. Suara jangkrik dan kodok di kejauhan menciptakan simfoni alam yang menenangkan.


Keesokan paginya, Susan dan Rakuan berjalan ke makam Rukiah. Makam itu terletak di sebuah bukit kecil di belakang desa, dikelilingi oleh pohon-pohon yang rimbun. Batu nisannya sederhana—hanya sebuah batu besar dengan nama Rukiah yang terukir di atasnya.

Susan berlutut di depan makam itu. Ia meletakkan bunga-bunga liar yang ia petik di sepanjang jalan.

"Ibu," bisiknya, "aku di sini. Aku akhirnya bertemu denganmu, meskipun hanya di sini. Aku ingin kau tahu bahwa aku bahagia. Aku memiliki ibu angkat yang mencintaiku. Aku memiliki seseorang yang mencintaiku." Ia menatap Rakuan. "Dan aku tidak akan pernah melupakanmu."

Rakuan berlutut di sampingnya. "Aku akan menjaga Susan, Ibu. Aku berjanji. Aku akan membuatnya bahagia."

Air mata mengalir di pipi Susan. Tapi kali ini, tangisannya adalah tangisan kebahagiaan—kebahagiaan karena akhirnya ia bisa bertemu dengan ibunya, meskipun hanya di alam mimpi.


Sebelum meninggalkan desa, Susan dan Rakuan mengunjungi Kakek Umi sekali lagi. Wanita tua itu memberikan beberapa barang milik Rukiah—sebuah sisir kayu, sebuah gelang manik-manik, dan sebuah buku catatan tua.

"Ini milik ibumu," kata Kakek Umi. "Aku menyimpannya untukmu. Semoga ini membantumu merasa lebih dekat dengannya."

Susan memeluk Kakek Umi erat. "Terima kasih, Nenek. Terima kasih telah merawat kenangan ibuku."

"Jangan lupa, Susan," kata Kakek Umi. "Ibumu selalu mencintaimu. Dan ia selalu bersamamu. Dalam hatimu."

Susan dan Rakuan berjalan kembali menuju perahu mereka. Perjalanan pulang terasa lebih ringan—seperti ada beban yang telah diangkat dari pundak Susan.


Ketika mereka tiba di Dermaga KP3, Rosnah dan Rudi sudah menunggu. Rosnah memeluk putrinya erat-erat.

"Bagaimana perjalanannya, Nak?" tanya Rosnah.

Susan tersenyum—senyum yang tulus dan damai. "Aku menemukan ibuku, Bu. Aku menemukan kedamaian."

Rosnah menangis. "Aku senang mendengarnya, Susan. Aku sangat senang."

Mereka berpelukan di Dermaga KP3. Rakuan dan Rudi tersenyum menyaksikan mereka.

"Malam ini kita makan bersama," kata Rudi. "Aku akan memasak makanan spesial untuk merayakan kepulangan Susan."

Semua setuju. Malam itu, mereka duduk bersama di warung Sungai Rindu, menikmati makanan dan kebersamaan. Susan memegang sisir kayu peninggalan ibunya di tangannya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar utuh.


Malam itu, setelah semua orang pulang, Susan dan Rakuan duduk di Dermaga KP3. Lampu-lampu dermaga menyala terang, memantulkan cahaya ke permukaan sungai.

"Rakuan," kata Susan, "terima kasih telah menemaniku. Tanpamu, aku tidak akan pernah memiliki keberanian untuk melakukan semua ini."

Rakuan tersenyum. "Kau lebih kuat dari yang kau kira, Sus. Aku hanya ada di sini untuk mengingatkanmu."

Susan menggenggam tangannya. "Aku mencintaimu, Rakuan. Dan aku bersyukur bahwa kau ada dalam hidupku."

"Aku juga mencintaimu, Susan. Dan aku bersyukur bahwa kau mengizinkanku menjadi bagian dari perjalananmu."

Mereka berpelukan di bawah langit malam yang bertabur bintang. Dermaga KP3 menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka—kebahagiaan yang telah diperjuangkan dengan air mata dan pengorbanan.

 

 

BAB XVI

Kepulangan dengan Hati Baru


Matahari pagi menyinari Dermaga KP3 dengan kehangatan yang lembut. Susan dan Rakuan berdiri di ujung dermaga, menatap Sungai Kapuas yang mengalir tenang. Udara segar membawa aroma sungai dan dedaunan basah—aroma yang kini terasa seperti rumah.

Perjalanan mereka ke pedalaman telah mengubah segalanya. Susan kembali dengan hati yang lebih ringan, seolah beban berat yang selama ini ia pikul akhirnya terangkat. Ia memegang erat sisir kayu peninggalan Rukiah di tangannya, dan di hatinya, ia merasakan kehadiran dua ibu—Rosnah yang membesarkannya dengan kasih sayang, dan Rukiah yang melahirkannya dengan cinta.

"Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan merasa seperti ini," kata Susan pelan. "Aku pikir aku akan kembali dengan perasaan hampa. Tapi justru ... aku merasa utuh. Seperti semua potongan diriku akhirnya bersatu."

Rakuan tersenyum. "Kau memang utuh, Sus. Kau selalu utuh. Kau hanya perlu menemukan semua bagian dirimu."

Susan menatapnya. "Kau tahu, Rakuan, selama ini aku selalu berpikir bahwa aku adalah korban. Korban dari keputusan orang lain. Korban dari takdir. Tapi sekarang aku sadar—aku bukan korban. Aku adalah pemenang. Aku berhasil melewati semua ini."

Rakuan menggenggam tangannya. "Kau adalah wanita terkuat yang aku kenal, Susan. Dan aku sangat bangga menjadi bagian dari perjalananmu."


Mereka berjalan dari Dermaga KP3 menuju rumah Rosnah. Di sepanjang jalan, Susan melihat Kuala Kapuas dengan cara yang berbeda. Rumah-rumah kayu yang dulu terasa asing kini terasa akrab. Warung-warung yang dulu hanya menjadi tempat makan kini terasa seperti bagian dari keluarganya.

Ketika mereka tiba di rumah Rosnah, wanita itu sedang duduk di beranda, menatap sungai. Ia tersenyum ketika melihat putrinya datang.

"Susan, Nak. Kau kembali."

Susan mendekati ibunya dan memeluknya erat. "Aku kembali, Bu. Dan aku membawa sesuatu untuk Ibu."

Susan mengeluarkan sisir kayu peninggalan Rukiah. "Ini milik ibu kandungku. Kakek Umi memberikannya padaku. Aku ingin Ibu menyimpannya."

Rosnah terkejut. "Ini ... ini sisir Rukiah. Aku mengenalinya. Ia selalu memakai sisir ini ketika kami masih muda."

"Aku ingin Ibu memiliki bagian dari dirinya," kata Susan. "Karena Ibu dan Rukiah adalah dua ibu yang membentuk diriku. Dan aku mencintai kalian berdua."

Rosnah menangis. Ia memeluk Susan erat-erat. "Terima kasih, Nak. Terima kasih telah menerima aku sebagai ibumu, meskipun aku bukan darah dagingmu."

Susan menggeleng. "Ibu adalah ibuku. Darah tidak pernah menentukan siapa keluarga. Cinta yang menentukan. Dan Ibu telah mencintaiku sepanjang hidupku."

Mereka berpelukan di beranda rumah, di bawah sinar matahari pagi yang hangat.


Sementara itu, Rakuan berjalan menuju rumah tuanya di tepian sungai. Di halaman, ia melihat Samsudin sedang duduk di kursi kayu, memandangi sungai dengan tatapan kosong. Sejak kepergian Rahmah, Samsudin tampak lebih tua dan lebih lemah. Tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini—ada ketenangan di wajahnya.

"Ayah," sapa Rakuan.

Samsudin menoleh dan tersenyum. "Nak, kau kembali. Bagaimana perjalananmu?"

Rakuan duduk di samping ayahnya. "Perjalanan yang mengubah hidupku, Ayah. Susan menemukan ibunya. Dan aku ... aku belajar banyak tentang keluarga."

Samsudin mengangguk. "Aku mendengar tentang perjalananmu dari Rudi. Kau menemukan rumah Rukiah di pedalaman?"

"Ya, Ayah. Kami bertemu dengan tetangga Rukiah. Kami melihat rumahnya. Kami bahkan mengunjungi makamnya."

Samsudin terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca. "Rukiah ... aku mengenalnya. Ia adalah adik dari Rahmah. Ia adalah wanita yang baik. Aku menyesal tidak pernah mengenalnya lebih dekat."

Rakuan meraih tangan ayahnya. "Ayah, aku ingin mengucapkan terima kasih."

Samsudin terkejut. "Untuk apa?"

"Untuk menjadi ayahku," kata Rakuan. "Ayah tidak sempurna. Ayah melakukan banyak kesalahan. Tapi Ayah tetap di sini. Ayah tetap menjadi ayahku. Dan aku mencintai Ayah."

Samsudin menangis. Air mata mengalir di pipinya yang keriput.

"Maafkan aku, Nak," bisiknya. "Maafkan aku karena tidak pernah menjadi ayah yang sempurna. Maafkan aku karena telah menyakitimu dan ibumu."

Rakuan memeluk ayahnya. "Aku sudah memaafkan Ayah, Ayah. Dan aku akan selalu mencintai Ayah."


Malam itu, mereka semua berkumpul di rumah Rosnah. Rakuan, Susan, Samsudin, Rosnah, dan Rudi. Mereka duduk di ruang tamu yang sederhana, menikmati makanan yang dimasak oleh Rosnah dan Susan.

"Ini adalah pertama kalinya kita semua duduk bersama seperti ini," kata Rudi sambil tersenyum. "Dulu, kita semua bermusuhan. Sekarang, kita duduk bersama seperti keluarga."

Rosnah mengangguk. "Ini semua berkat Rahmah. Ia meninggalkan kita dengan pesan perdamaian. Dan kita semua menghormatinya dengan saling memaafkan."

Samsudin mengangkat gelasnya. "Untuk Rahmah. Wanita yang telah mengajarkan kita arti cinta dan pengampunan."

Semua mengangkat gelas mereka. "Untuk Rahmah."

Mereka makan bersama dalam suasana yang hangat. Cerita-cerita lama diceritakan, tawa-tawa kecil terdengar, dan untuk pertama kalinya, mereka merasa seperti keluarga yang sebenarnya.


Setelah makan malam, Rakuan dan Susan berjalan ke Dermaga KP3. Lampu-lampu dermaga menyala terang, menciptakan suasana yang romantis. Mereka duduk di ujung dermaga, menghadap ke sungai.

"Rakuan," kata Susan, "aku ingin bertanya sesuatu."

"Apa?"

"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Setelah semua ini?"

Rakuan merenung sejenak. "Aku akan tetap di sini. Aku akan membantumu dan Rudi mengelola kawasan kuliner. Aku akan memperbaiki rumah ibuku. Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku denganmu."

Susan tersenyum. "Kau benar-benar berubah, Rakuan. Dulu, kau selalu ingin pergi. Sekarang, kau ingin tinggal."

"Aku belajar bahwa rumah bukanlah tempat, Sus. Rumah adalah orang-orang yang kau cintai. Dan rumahku ada di sini, bersamamu."

Mereka berpelukan di bawah langit malam yang bertabur bintang.


Keesokan harinya, Rakuan dan Susan memulai proyek baru mereka. Mereka akan merenovasi rumah Rukiah di pedalaman, menjadikannya tempat yang layak dikunjungi. Rakuan, dengan pengetahuannya sebagai arsitek, merancang renovasi yang sederhana tapi indah. Susan, dengan cintanya pada ibunya, mengawasi setiap detail.

"Rumah ini akan menjadi tempat ziarah," kata Susan. "Tempat di mana orang-orang bisa mengenang Rukiah dan belajar tentang cinta dan pengorbanan."

Rakuan mengangguk. "Dan kita akan menjadikannya simbol bahwa keluarga bukan tentang darah, tapi tentang cinta."

Mereka bekerja keras selama beberapa minggu. Rudi dan Rosnah juga membantu. Bahkan Samsudin, meskipun sudah tua, ikut membantu membersihkan halaman.

Ketika renovasi selesai, rumah Rukiah tampak seperti baru. Dinding kayunya dicat ulang, atapnya diperbaiki, dan halamannya ditanami bunga-bunga yang indah. Di dalam rumah, mereka menempatkan foto Rukiah di tempat yang paling terhormat.


Suatu sore, mereka semua berkumpul di rumah Rukiah untuk meresmikannya. Rosnah, Susan, Rakuan, Rudi, dan Samsudin duduk di beranda rumah, menikmati pemandangan hutan yang indah.

"Rukiah pasti tersenyum melihat ini," kata Rosnah. "Ia selalu ingin rumahnya menjadi tempat yang penuh cinta. Dan sekarang, dengan kalian semua di sini, rumah ini benar-benar penuh cinta."

Susan menangis. "Aku berterima kasih pada semua orang yang telah membantu. Tanpa kalian, aku tidak akan pernah bisa melakukan ini."

Rakuan memeluknya. "Kau tidak sendirian, Sus. Kau tidak akan pernah sendirian."

Mereka semua berpelukan—satu keluarga yang terbentuk dari cinta, bukan dari darah.


Kembali ke Kuala Kapuas, Rakuan dan Susan terus bekerja mengembangkan kawasan kuliner di Dermaga KP3. Mereka menggabungkan Sungai Rindu dan Dapoer Tepian Kapuas di bawah bendera "Rindu Kapuas". Kawasan itu menjadi destinasi wisata kuliner yang terkenal, menarik pengunjung dari berbagai daerah.

"Kita berhasil," kata Rudi suatu hari, menatap kawasan yang ramai pengunjung. "Kita berhasil mengubah persaingan menjadi kerja sama."

Rakuan mengangguk. "Ini semua berkat kerja sama kita. Kita semua memiliki peran penting."

Susan tersenyum. "Dan kita semua belajar bahwa persatuan lebih kuat daripada perpecahan."

Mereka berdiri bersama di Dermaga KP3, menatap masa depan yang cerah.


Samsudin menghabiskan hari tuanya dengan memancing di sungai, ditemani oleh Rakuan dan kadang-kadang Susan. Ia tidak lagi menjadi nelayan yang keras kepala. Ia menjadi kakek yang lembut, yang suka bercerita tentang masa lalu dan tertawa bersama cucu-cucunya kelak.

"Kau tahu, Nak," kata Samsudin suatu hari, "aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan bahagia seperti ini. Aku pikir aku akan mati dalam penyesalan. Tapi kau dan Susan mengajariku bahwa tidak ada kata terlambat untuk berubah."

Rakuan tersenyum. "Kita semua belajar, Ayah. Kita semua tumbuh bersama."

Mereka duduk di tepian sungai, memancing dalam diam, menikmati kebersamaan yang dulu tidak pernah mereka miliki.


Malam itu, Rakuan dan Susan kembali ke Dermaga KP3. Mereka duduk di ujung dermaga, seperti biasa, menikmati senja yang indah.

"Rakuan," kata Susan, "aku ingin mengatakan sesuatu."

"Apa?"

"Selama bertahun-tahun, aku selalu mencari identitasku. Aku selalu bertanya-tanya siapa aku sebenarnya. Tapi sekarang, aku tahu. Aku adalah Susan. Putri Rukiah. Anak angkat Rosnah. Keponakan Rahmah. Dan kekasihmu. Itu semua adalah bagian dari diriku. Dan aku menerima semuanya."

Rakuan menggenggam tangannya. "Dan aku adalah Rakuan. Anak Samsudin. Putra Rahmah. Sahabat Rudi. Dan kekasihmu. Kita semua adalah bagian dari satu keluarga besar yang dibangun oleh cinta."

Susan menangis—air mata kebahagiaan. "Aku mencintaimu, Rakuan."

"Aku juga mencintaimu, Susan. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Mereka berpelukan di bawah senja. Sungai Kapuas mengalir tenang di hadapan mereka, membawa serta semua kesedihan dan kegembiraan yang telah mereka lalui. Dan di kejauhan, lampu-lampu Dermaga KP3 mulai menyala, menerangi jalan mereka menuju masa depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XVII

Perlawanan terhadap Hendri


Kebahagiaan yang telah dibangun oleh Rakuan, Susan, dan keluarga kecil mereka tidak bertahan lama. Seperti bayangan yang selalu mengintai di balik cahaya, Hendri—ayah kandung Susan—kembali muncul dengan niat jahatnya. Meskipun telah dihukum dan dipenjara, Hendri memiliki jaringan dan pengaruh yang masih tersisa di Kuala Kapuas. Melalui orang-orang kepercayaannya, ia mulai merencanakan perlawanan.

Suatu pagi, Rakuan menerima telepon dari Rudi dengan suara panik.

"Ku, ada masalah besar," kata Rudi. "Kawasan kuliner 'Rindu Kapuas' kita mendapat serangan. Seseorang melaporkan bahwa kita menggunakan bahan-bahan ilegal dalam masakan kita. Dinas kesehatan datang untuk inspeksi mendadak."

Rakuan terkejut. "Apa? Itu tidak mungkin. Kita selalu menggunakan bahan-bahan segar dan berkualitas."

"Aku tahu. Tapi laporan itu dibuat oleh seseorang yang tidak dikenal. Dan dinas kesehatan wajib memeriksa. Mereka akan datang besok."

Rakuan mengepalkan tangannya. "Ini pasti ulah Hendri. Ia tidak akan menyerah begitu saja."


Rakuan segera pergi ke warung Sungai Rindu. Di sana, ia bertemu dengan Susan, Rudi, dan beberapa karyawan lainnya. Semua tampak cemas dan gelisah.

"Kita harus bersiap," kata Rakuan. "Kita harus memastikan bahwa semua bahan-bahan kita bersih dan sesuai standar. Kita tidak boleh memberi mereka celah untuk menyerang."

Susan mengangguk. "Aku akan memeriksa semua bahan di Dapoer Tepian Kapuas. Rudi, kau periksa yang di Sungai Rindu. Kita kumpulkan semua bukti bahwa masakan kita aman dan higienis."

Mereka bekerja sepanjang hari, memeriksa setiap bahan makanan, setiap peralatan masak, dan setiap sudut dapur. Rakuan juga memanggil beberapa pemasok terpercaya untuk memberikan kesaksian bahwa bahan-bahan yang mereka pasok adalah bahan-bahan segar dan berkualitas.

Ketika malam tiba, mereka semua berkumpul kembali di Sungai Rindu. Kelelahan terlihat di wajah mereka, tapi ada kepuasan karena mereka telah bersiap.

"Kita sudah siap," kata Rudi. "Besok, ketika dinas kesehatan datang, mereka tidak akan menemukan apa pun yang salah."

Tapi Rakuan tidak yakin. Ia tahu Hendri tidak akan menyerang hanya dengan satu cara.


Keesokan harinya, dinas kesehatan datang untuk inspeksi. Mereka memeriksa semua bahan makanan, peralatan masak, dan kebersihan dapur. Hasilnya—semuanya dinyatakan aman dan sesuai standar.

"Semua bersih dan baik," kata petugas dinas kesehatan. "Tidak ada pelanggaran yang ditemukan."

Rakuan dan Susan menghela napas lega. Tapi sebelum petugas itu pergi, ia menambahkan, "Tapi kami menerima laporan lain. Tentang praktik monopoli di kawasan kuliner ini. Kami akan mengirim tim investigasi untuk memeriksa."

Rakuan mengepalkan tangannya. Hendri tidak menyerah. Ia terus menyerang dari berbagai sisi.


Rakuan, Susan, dan Rudi mengadakan pertemuan darurat di rumah Rosnah. Mereka harus merencanakan strategi untuk menghadapi serangan berikutnya.

"Kita tidak bisa terus bertahan," kata Rudi. "Kita harus menyerang balik. Kita harus membuktikan bahwa Hendri adalah dalang di balik semua ini."

Rakuan mengangguk. "Tapi bagaimana caranya? Hendri berada di penjara. Ia menggunakan orang lain untuk melakukan semua ini."

Susan berpikir sejenak. "Aku tahu seseorang yang bisa membantu. Ada seorang mantan karyawan Hendri yang pernah bekerja sebagai asisten pribadinya. Namanya Andi. Ia tahu banyak tentang jaringan Hendri di luar penjara."

"Di mana kita bisa menemukannya?" tanya Rakuan.

"Andi sekarang bekerja di Banjarmasin," kata Susan. "Tapi aku bisa menghubunginya. Aku masih memiliki nomor teleponnya."

"Hubungi dia segera," kata Rakuan. "Kita butuh informasinya."


Susan menelepon Andi. Setelah beberapa kali mencoba, Andi akhirnya menjawab.

"Andi, ini Susan. Aku butuh bantuanmu."

Di seberang telepon, Andi terdiam sejenak. "Susan ... aku sudah dengar tentang semua yang terjadi. Aku tahu Hendri terus menyerang kalian. Aku bisa membantu. Tapi aku takut. Hendri masih memiliki pengaruh. Jika ia tahu aku membantu kalian, ia akan menghancurkanku."

"Andi, aku berjanji akan melindungimu," kata Susan. "Kami akan menjaga kerahasiaan identitasmu. Tapi kami butuh informasi tentang jaringan Hendri di luar penjara. Siapa saja orang-orang yang bekerja untuknya?"

Andi menghela napas panjang. "Ada beberapa orang. Seorang pengacara bernama Firman. Seorang pejabat di dinas perdagangan bernama Hartono. Dan seorang pengusaha bernama Sugiarto. Mereka semua adalah kaki tangan Hendri. Mereka melakukan apa pun yang ia perintahkan."

Susan mencatat semua nama itu. "Terima kasih, Andi. Aku tidak akan melupakan bantuanmu."

"Susan, berhati-hatilah," kata Andi. "Mereka berbahaya. Hendri tidak akan berhenti sampai ia menghancurkan kalian."


Rakuan, Susan, dan Rudi segera menyusun rencana. Mereka akan mengumpulkan bukti tentang keterlibatan Firman, Hartono, dan Sugiarto dalam serangan terhadap kawasan kuliner mereka. Mereka juga akan melaporkan semua bukti itu ke polisi dan dinas terkait.

"Kita harus bergerak cepat," kata Rakuan. "Sebelum mereka menyadari bahwa kita tahu tentang mereka."

Mereka mulai mengumpulkan bukti. Susan menghubungi beberapa pemasok yang pernah menjadi korban tekanan dari orang-orang Hendri. Rudi mengumpulkan dokumen-dokumen yang menunjukkan praktik curang mereka. Rakuan menghubungi seorang jurnalis lokal yang bersedia membantu mengungkap skandal ini.

Semua bekerja keras siang dan malam. Tidak ada yang mengeluh. Mereka tahu bahwa ini adalah perjuangan untuk mempertahankan semua yang telah mereka bangun.


Sementara itu, di penjara, Hendri mendengar kabar bahwa Rakuan dan kelompoknya sedang mengumpulkan bukti melawan orang-orangnya. Ia marah. Ia memanggil pengacaranya, Firman, untuk datang ke penjara.

"Firman, aku dengar mereka sedang menyelidiki kita," kata Hendri dengan suara dingin. "Kau harus menghentikan mereka. Lakukan apa pun yang kau bisa."

Firman tampak gelisah. "Pak Hendri, situasinya sudah sulit. Mereka memiliki banyak bukti. Jika kita terus melawan, kita bisa semakin terpuruk."

"Aku tidak peduli!" Hendri membentak. "Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Lakukan apa pun yang kau bisa, atau kau akan menyesal."

Firman keluar dari penjara dengan perasaan cemas. Ia tahu Hendri tidak bisa dipercaya. Tapi ia juga takut pada Hendri. Ia terjebak di antara dua pilihan yang sulit.


Malam itu, Rakuan mendapat telepon dari jurnalis yang membantunya. Jurnalis itu mengatakan bahwa ia telah mengumpulkan cukup bukti untuk membuat laporan besar tentang skandal Hendri dan orang-orangnya.

"Aku akan mempublikasikannya besok pagi," kata jurnalis itu. "Tapi kau harus siap. Begitu laporan ini keluar, Hendri dan orang-orangnya akan marah besar."

"Aku siap," kata Rakuan. "Kami semua siap."

Setelah telepon ditutup, Rakuan bergabung dengan Susan dan Rudi di ruang tamu rumah Rosnah. Mereka menatap satu sama lain dengan penuh harapan.

"Besok, semuakan berubah," kata Rakuan. "Entah kita menang atau kalah."

Susan menggenggam tangannya. "Kita akan menang. Aku percaya."


Keesokan paginya, laporan jurnalis itu terbit di media lokal dan nasional. Judulnya besar dan mencolok: "Skandal Monopoli dan Kecurangan di Balik Bisnis Kuliner Kuala Kapuas". Laporan itu memuat bukti-bukti keterlibatan Firman, Hartono, dan Sugiarto dalam serangan terhadap kawasan kuliner "Rindu Kapuas". Nama Hendri juga disebut sebagai dalang di balik semua ini.

Publik terkejut. Banyak yang marah. Demonstrasi kecil terjadi di depan kantor dinas perdagangan. Polisi segera menangkap Firman, Hartono, dan Sugiarto untuk dimintai keterangan.

Di penjara, Hendri mendengar berita itu. Ia hancur. Semua rencananya gagal. Orang-orangnya ditangkap. Reputasinya hancur total.

"Kalah," bisiknya. "Aku kalah."


Rakuan, Susan, dan Rudi merayakan kemenangan mereka di Dermaga KP3. Mereka duduk di ujung dermaga, menikmati senja yang indah. Semua tekanan dan kecemasan akhirnya hilang.

"Kita berhasil," kata Rudi sambil tersenyum lebar. "Kita berhasil mengalahkan Hendri."

Susan mengangguk. "Aku tidak pernah menyangka kita bisa melewati semua ini. Tapi kita melakukannya."

Rakuan memeluk Susan. "Ini semua karena kerja sama kita. Kita saling mendukung. Kita saling menguatkan. Dan kita tidak pernah menyerah."

Mereka duduk bersama, menikmati senja yang indah. Di kejauhan, lampu-lampu Dermaga KP3 mulai menyala, menerangi jalan mereka menuju masa depan yang lebih cerah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XVIII

Senja Kemenangan


Hari-hari setelah laporan skandal terbit, keadaan berubah drastis. Hendri dan Lucas yang awalnya masih berusaha melawan kini benar-benar tersudut. Tidak ada lagi orang yang mau bekerja sama dengan mereka. Pemasok yang dulu loyal kini menarik diri. Pelanggan yang dulu setia kini menghindar. Bisnis-bisnis mereka yang tersisa gulung tikar satu per satu.

Keputusan pengadilan akhirnya keluar. Hendri dijatuhi hukuman tambahan karena terbukti melakukan praktik monopoli, penyuapan, dan ancaman terhadap pesaing bisnis. Lucas, yang terlibat dalam banyak tindakan curang, juga menerima hukuman yang setimpal. Bisnis mereka dibekukan, dan aset-aset mereka disita negara.

Rakuan, Susan, Rudi, dan Rosnah mengikuti persidangan terakhir. Ketika vonis dibacakan, mereka saling berpandangan. Ada rasa lega di hati mereka, tapi juga ada rasa iba. Hendri dan Lucas telah menuai apa yang mereka tabur. Mereka telah memilih jalan yang salah, dan sekarang mereka harus menanggung akibatnya.

Setelah persidangan, Rakuan dan Susan keluar dari ruang pengadilan. Matahari bersinar terang di atas mereka, seperti menyetujui keputusan keadilan yang baru saja ditegakkan.

"Akhirnya," kata Susan pelan. "Semuanya benar-benar berakhir."

Rakuan menggenggam tangannya. "Ini adalah awal dari segalanya, Sus. Awal dari kehidupan baru kita."


Beberapa hari kemudian, Rakuan, Susan, Rudi, dan Rosnah berkumpul di warung Sungai Rindu. Mereka memiliki rencana besar yang telah mereka diskusikan selama berminggu-minggu. Rencana yang akan mengubah wajah kuliner Kuala Kapuas.

"Kita semua sudah sepakat," kata Rudi membuka pertemuan. "Sungai Rindu dan Dapoer Tepian Kapuas akan bergabung. Kita akan bekerja sama, bukan bersaing."

Rosnah mengangguk. "Aku setuju. Dapoer Tepian Kapuas sudah terlalu lama dikendalikan oleh orang-orang yang salah. Sekarang, kita bisa menjalankannya dengan jujur dan adil."

Susan tersenyum. "Dan dengan Rakuan sebagai arsiteknya, kita bisa menciptakan kawasan kuliner yang indah dan modern."

Rakuan mengeluarkan sketsa yang telah ia buat. "Aku sudah merancang konsepnya. Kita akan menggabungkan elemen tradisional Kapuas dengan sentuhan modern. Kita akan menggunakan kayu ulin, atap sirap, dan ornamen-ornamen khas Kalimantan. Tapi kita juga akan menambahkan pencahayaan modern, area duduk yang nyaman, dan ruang terbuka yang menghadap ke sungai."

Semua orang terkesima melihat sketsa itu. "Ini luar biasa, Ku," kata Rudi. "Kau benar-benar arsitek berbakat."

Rakuan tersenyum malu. "Aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Ini adalah proyek yang sangat berarti bagiku."


Proyek pembangunan kawasan kuliner "Rindu Kapuas" segera dimulai. Rakuan memimpin tim konstruksi dengan penuh semangat. Ia mengawasi setiap detail, dari fondasi bangunan hingga ornamen terakhir. Ia ingin kawasan ini menjadi sempurna—menjadi simbol kebangkitan mereka dari segala kesulitan.

Susan membantu mengurus logistik dan koordinasi dengan para pekerja. Rudi bertanggung jawab atas dapur dan pengembangan menu. Rosnah menjadi penasihat, memberikan masukan tentang resep-resep tradisional yang harus dipertahankan.

Mereka bekerja dari pagi hingga malam. Kadang, ketika kelelahan mulai terasa, mereka saling menyemangati dengan cerita-cerita lucu atau tawa-tawa kecil. Di tengah semua kerja keras itu, mereka seperti keluarga yang sebenarnya.

"Kau tahu," kata Susan suatu hari, "aku tidak pernah membayangkan bahwa kami akan bekerja bersama seperti ini. Dulu, kami semua saling bermusuhan. Sekarang, kami seperti saudara."

Rudi tertawa. "Ya, dulu aku benci pada Dapoer Tepian Kapuas. Tapi sekarang, aku justru bangga karena kita bergabung."

Rakuan tersenyum. "Itulah kekuatan rekonsiliasi. Ketika kita mau saling memaafkan dan bekerja sama, kita bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa."


Setelah tiga bulan kerja keras, kawasan kuliner "Rindu Kapuas" akhirnya selesai. Bangunan-bangunan yang berdiri di tepian Sungai Kapuas tampak megah dan indah. Kayu ulin yang kokoh berpadu dengan atap sirap yang elegan. Lampu-lampu hangat menerangi setiap sudut, menciptakan suasana yang romantis dan akrab. Di tengah kawasan, ada area terbuka dengan panggung kecil untuk pertunjukan musik tradisional.

Rakuan berdiri di depan kawasan itu, menatap hasil karyanya dengan hati yang penuh. Susan berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya.

"Ini luar biasa, Rakuan," kata Susan. "Kau berhasil menciptakan sesuatu yang indah."

Rakuan menggeleng. "Ini bukan hanya karyaku. Ini karya kita semua. Tanpa kalian, tanpa kerja sama kita, ini tidak akan pernah terwujud."

Rudi mendekat. "Kapan kita meresmikannya?"

"Besok," kata Rakuan. "Kita akan meresmikannya saat senja. Di Dermaga KP3. Sebagai simbol bahwa setelah semua kegelapan, akhirnya ada cahaya."


Hari peresmian tiba. Kawasan "Rindu Kapuas" dipenuhi oleh pengunjung dari berbagai daerah. Tokoh-tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, pengusaha kuliner, dan warga setempat datang untuk menyaksikan peresmian ini. Ada juga beberapa jurnalis yang meliput acara tersebut.

Rakuan, Susan, Rudi, Rosnah, dan Samsudin berdiri di atas panggung kecil di tengah kawasan. Rakuan memegang mikrofon dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Selamat sore, semuanya," katanya memulai. "Selamat datang di 'Rindu Kapuas'—kawasan kuliner yang kami bangun dengan kerja keras, air mata, dan pengorbanan."

Penonton bertepuk tangan. Rakuan melanjutkan.

"Tempat ini bukan sekadar tempat untuk makan. Tempat ini adalah simbol dari perjuangan kami. Kami telah melalui banyak hal—perselisihan, permusuhan, pengkhianatan, dan bahkan ancaman. Tapi kami tidak menyerah. Kami memilih untuk saling memaafkan, bekerja sama, dan menciptakan sesuatu yang lebih baik."

Ia menatap Susan, Rudi, Rosnah, dan Samsudin.

"Ini adalah kemenangan kita semua. Kemenangan cinta, persahabatan, dan keluarga. Selamat datang di 'Rindu Kapuas'!"

Tepuk tangan menggema di seluruh kawasan. Rakuan meneteskan air mata—air mata kebahagiaan.


Setelah acara peresmian, mereka semua berkumpul di Dermaga KP3. Senja mulai turun, menciptakan langit jingga yang indah. Lampu-lampu kawasan "Rindu Kapuas" mulai menyala, menciptakan pemandangan yang memukau di tepian sungai.

"Kau tahu," kata Rudi, "aku tidak pernah membayangkan bahwa dermaga ini akan terlihat begitu indah. Dulu, ini hanya tempat perahu bersandar. Sekarang, ini adalah pusat kehidupan."

Rosnah mengangguk. "Ini semua karena kita berani berubah. Kita berani memaafkan. Kita berani memulai dari awal."

Samsudin duduk di kursi kayu, menatap pemandangan dengan senyum di wajahnya. "Rahmah pasti tersenyum melihat ini. Ia pasti sangat bangga pada kalian semua."

Susan memeluk Samsudin. "Kami semua bangga, Pak. Bangga karena kita bisa bersama-sama seperti ini."


Rakuan dan Susan berjalan menyusuri dermaga, berpegangan tangan. Lampu-lampu kawasan "Rindu Kapuas" memantulkan cahaya ke permukaan sungai, menciptakan efek yang memukau.

"Rakuan," kata Susan pelan, "apa kau ingat ketika kita pertama kali bertemu di sini? Setelah tiga tahun kau pergi?"

Rakuan tersenyum. "Aku ingat. Kau sangat marah padaku."

"Aku memang marah," kata Susan. "Tapi sebenarnya, di dalam hati, aku sangat senang melihatmu kembali. Aku hanya tidak mau mengakuinya."

"Dan sekarang?"

Susan menatapnya dengan mata yang penuh cinta. "Sekarang, aku sangat bersyukur bahwa kau kembali. Tanpamu, aku mungkin tidak akan pernah menemukan kekuatan untuk menghadapi semua ini."

Rakuan mengusap pipinya. "Kau adalah wanita terkuat yang aku kenal, Susan. Aku hanya membantu sedikit."

Mereka berpelukan di ujung dermaga, di bawah senja yang indah.


Malam itu, mereka semua makan malam bersama di salah satu restoran di kawasan "Rindu Kapuas". Menu yang disajikan adalah hidangan khas Kapuas—bubur pedas, ikan patin bakar, kerupuk basah, dan berbagai hidangan lainnya. Semua makanan itu dimasak dengan resep turun-temurun yang telah diwariskan dari nenek moyang.

"Aku tidak pernah menyangka bahwa makanan ini akan terasa begitu istimewa," kata Rudi sambil menikmati seporsi bubur pedas. "Rasanya seperti ... seperti pulang."

Rosnah tersenyum. "Itulah kekuatan makanan, Rudi. Makanan bukan hanya mengenyangkan perut. Makanan juga mengobati hati."

Susan mengangkat gelasnya. "Untuk keluarga. Untuk persahabatan. Dan untuk kemenangan yang telah kita raih bersama."

Semua mengangkat gelas mereka. "Untuk keluarga! Untuk persahabatan! Untuk kemenangan!"

Mereka makan dan tertawa bersama, menikmati malam yang penuh kebahagiaan. Di luar, Sungai Kapuas mengalir tenang, menyaksikan perayaan yang telah lama mereka nantikan.


Setelah makan malam, Rakuan dan Susan berjalan kembali ke Dermaga KP3. Mereka duduk di ujung dermaga, seperti biasa, menatap sungai yang berkilau di bawah cahaya bulan.

"Rakuan," kata Susan, "aku ingin mengatakan sesuatu."

"Apa?"

"Selama bertahun-tahun, aku selalu merasa bahwa hidupku penuh dengan kegelapan. Aku kehilangan ibu kandungku. Aku dibesarkan dengan rahasia. Aku dijodohkan dengan seseorang yang tidak kucintai. Aku dikucilkan oleh keluarganya. Tapi sekarang ... sekarang aku melihat bahwa semua kegelapan itu membawaku ke sini. Ke tempat ini. Ke sisimu. Ke keluarga yang sebenarnya."

Rakuan menggenggam tangannya. "Aku juga merasakan hal yang sama, Sus. Semua kesalahan yang kulakukan—meninggalkanmu, meninggalkan ayahku, lari dari masalah—semua itu mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan semua itu membawaku kembali padamu."

Susan menangis—air mata kebahagiaan. "Aku mencintaimu, Rakuan. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Susan. Dan aku akan selalu ada untukmu."

Mereka berpelukan di bawah langit malam yang bertabur bintang.


Di kejauhan, Rudi, Rosnah, dan Samsudin menyaksikan mereka dari restoran. Mereka tersenyum melihat kebahagiaan Rakuan dan Susan.

"Mereka benar-benar cocok," kata Rudi. "Mereka berdua telah melalui banyak hal, tapi mereka tetap bersama."

Rosnah mengangguk. "Cinta sejati tidak pernah mudah. Tapi ketika ia bertahan, ia menjadi sesuatu yang indah."

Samsudin mengusap air mata di pipinya. "Rahmah pasti sangat bahagia melihat mereka. Ia selalu ingin Rakuan bahagia. Dan sekarang, ia mendapatkannya."

Mereka semua duduk bersama, menikmati malam yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan. Di Dermaga KP3, di bawah senja yang telah berubah menjadi malam, sebuah perjalanan panjang akhirnya mencapai titik yang indah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XIX

Antara Dua Cinta


Kebahagiaan yang menyelimuti kawasan "Rindu Kapuas" seakan menjadi obat bagi segala luka masa lalu. Setiap hari, Rakuan dan Susan bekerja bersama di kawasan kuliner itu—mengelola restoran, menyambut pengunjung, dan menikmati kehidupan yang telah mereka bangun dari nol. Senja di Dermaga KP3 menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka. Tapi seperti kata pepatah, di balik awan cerah selalu ada hujan yang mengintai.

Suatu pagi, Rakuan menerima kabar yang mengubah segalanya.

"Rakuan!" suara Rudi terdengar dari kejauhan. "Ada seseorang mencarimu!"

Rakuan menoleh dan melihat seorang perempuan berdiri di pintu masuk kawasan kuliner. Perempuan itu tinggi, dengan rambut panjang yang diikat rapi, dan mengenakan kemeja putih serta celana blazer hitam. Wajahnya tampak familiar, tapi Rakuan tidak bisa langsung mengingat di mana ia pernah melihatnya.

Perempuan itu berjalan mendekat. Senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Rakuan! Akhirnya aku menemukanmu!" katanya dengan suara ceria.

Rakuan terdiam. Matanya membulat ketika ia mengenali perempuan itu. "Maya?"

"Ya! Aku Maya!" Perempuan itu memeluknya erat. "Sudah lama sekali, Ku! Aku mencari-cari kabarmu sejak kau pergi dari Jakarta. Kenapa kau tidak pernah memberi kabar?"

Rakuan terdiam. Ia merasa canggung di tengah pelukan Maya. Di belakangnya, ia bisa merasakan tatapan Susan yang tajam.


Maya adalah teman kuliah Rakuan di Jakarta. Mereka dulu sangat dekat—bahkan beberapa orang mengira mereka berpacaran. Maya adalah seorang arsitek berbakat yang bekerja di kantor yang sama dengan Rakuan sebelum ia memutuskan kembali ke Kuala Kapuas.

"Kau datang ke sini?" tanya Rakuan dengan suara terkejut.

Maya tersenyum. "Aku datang untuk menjemputmu. Kantor membutuhkanmu segera. Proyek besar yang kita kerjakan dulu sekarang memasuki tahap final, dan klien meminta desain aslimu. Kau harus kembali ke Jakarta."

Rakuan terdiam. Ia menatap Susan yang berdiri di kejauhan dengan ekspresi sulit dibaca.

"Maya, aku ... aku tidak bisa pergi sekarang. Aku ada banyak tanggung jawab di sini."

Maya mengerutkan kening. "Tanggung jawab? Rakuan, ini adalah kesempatan emas. Proyek ini akan membuat namamu melambung. Kau akan menjadi arsitek terkenal. Ini yang selama ini kita perjuangkan."

"Aku tidak bisa, Maya," kata Rakuan dengan tegas. "Aku sudah memutuskan untuk tinggal di sini."

Maya menatapnya dengan tatapan tajam. "Kau serius? Kau mengorbankan kariermu untuk ... ini?" Ia menunjuk ke sekeliling kawasan kuliner. "Untuk restoran kecil di kampung halaman?"


Susan mendekati mereka. Ia tersenyum—senyum sopan yang tidak mencapai matanya.

"Hai, aku Susan," katanya memperkenalkan diri. "Kau teman Rakuan?"

Maya menatap Susan dengan tatapan evaluatif. "Ya, aku Maya. Teman kuliah dan rekan kerja Rakuan. Kami bekerja bersama di Jakarta."

"Senang bertemu denganmu, Maya," kata Susan. "Rakuan sering bercerita tentangmu."

Maya tersenyum sinis. "Oh, benarkah? Aku berharap ia juga bercerita tentangku di sini." Ia menatap Rakuan. "Rakuan, aku perlu bicara denganmu empat mata. Ada hal penting yang harus kita diskusikan."

Rakuan menatap Susan. Susan mengangguk pelan, memberikan izin.

"Baik," kata Rakuan. "Mari kita bicara di kantor."

Mereka berjalan ke ruang kantor kecil di belakang restoran. Begitu pintu tertutup, Maya langsung berbicara.

"Rakuan, apa yang terjadi padamu? Kau adalah arsitek berbakat. Kau memiliki masa depan yang cerah di Jakarta. Tapi kau membuang semuanya untuk ... untuk apa? Untuk perempuan itu?"

Rakuan menatap Maya dengan tatapan datar. "Susan bukan 'perempuan itu', Maya. Ia adalah kekasihku. Dan aku tidak membuang masa depanku. Aku memilih kehidupan yang aku inginkan."

Maya menghela napas frustasi. "Rakuan, aku tidak datang ke sini hanya untuk menjemputmu. Aku juga datang karena ..." ia berhenti sejenak, "... karena aku mencintaimu."

Rakuan terkejut. "Apa?"

"Aku mencintaimu sejak kita di kampus," kata Maya dengan suara bergetar. "Selama ini, aku selalu ada untukmu. Aku mendukungmu dalam setiap proyek. Aku menghiburmu saat kau sedih. Aku bahkan mengorbankan karierku untukmu. Tapi kau tidak pernah melihatku sebagai lebih dari sekadar teman."

Rakuan terdiam. Ia tidak pernah menyangka Maya menyimpan perasaan seperti ini.

"Maya, aku ... aku tidak tahu. Aku tidak pernah ..."

"Aku tahu," kata Maya cepat. "Aku tahu kau tidak pernah melihatku seperti itu. Tapi aku tidak bisa terus menyembunyikan perasaanku. Aku datang ke sini untuk memberitahumu. Dan untuk memintamu memilih. Antara aku dan kehidupan barumu di sini. Antara karier yang bisa kau miliki dan ... dan perempuan itu."


Rakuan keluar dari kantor dengan perasaan kacau. Pikirannya dipenuhi oleh kata-kata Maya. Ia tidak pernah menyangka bahwa teman dekatnya selama ini menyimpan perasaan padanya. Dan sekarang, ia harus memilih.

Susan menunggunya di luar. Ketika melihat ekspresi Rakuan, ia langsung tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

"Ada apa?" tanya Susan cemas.

Rakuan menggenggam tangannya. "Susan, kita perlu bicara."

Mereka berjalan ke Dermaga KP3—tempat yang selalu menjadi saksi bisu percakapan mereka. Di sana, Rakuan menceritakan semuanya. Tentang Maya, tentang perasaannya, dan tentang tawaran untuk kembali ke Jakarta.

"Aku tidak mau pergi, Sus," kata Rakuan. "Tapi aku juga tidak ingin menyakiti Maya. Ia adalah teman baikku. Aku tidak pernah menyangka ia memiliki perasaan seperti ini."

Susan terdiam. Ia menatap sungai yang mengalir tenang.

"Rakuan," katanya akhirnya, "aku tidak akan menghalangi kebahagiaanmu. Jika kau ingin kembali ke Jakarta, aku akan mendukungmu. Aku tidak mau menjadi penghalang bagi masa depanmu."

Rakuan menatapnya. "Apakah kau serius?"

Susan mengangguk, tapi air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku serius. Aku mencintaimu, Rakuan. Dan aku hanya ingin kau bahagia. Jika kebahagiaanmu ada di Jakarta, maka pergilah."

Rakuan merasakan hatinya hancur. Ia memeluk Susan erat-erat.

"Susan, dengarkan aku. Aku tidak akan pergi. Aku memilihmu. Aku memilih kehidupan kita di sini. Aku tidak peduli dengan karier, ketenaran, atau apa pun. Yang aku pedulikan hanyalah kau."

Susan menangis di pelukannya. "Tapi bagaimana dengan Maya? Kau tidak bisa begitu saja mengabaikan perasaannya."

"Aku akan bicara dengannya," kata Rakuan. "Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku akan mengatakan bahwa aku mencintaimu, dan aku akan selalu memilihmu."


Keesokan harinya, Rakuan mengajak Maya untuk berbicara di Dermaga KP3. Senja mulai turun, menciptakan langit jingga yang indah—tapi suasana di antara mereka terasa tegang.

"Maya," kata Rakuan memulai, "aku harus mengatakan sesuatu."

Maya menatapnya dengan tatapan penuh harap. "Apa?"

"Aku mencintai Susan," kata Rakuan tegas. "Aku sangat mencintainya. Dan aku tidak akan pergi ke Jakarta. Aku akan tinggal di sini, bersamanya."

Maya terdiam. Wajahnya berubah—dari penuh harap menjadi pucat.

"Rakuan ..." suaranya bergetar. "Kau serius?"

"Aku serius, Maya. Aku tahu ini menyakitkan. Aku tahu kau berharap aku akan memilihmu. Tapi aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri. Aku tidak bisa berpura-pura mencintaimu seperti aku mencintai Susan."

Maya menunduk. Air mata mulai mengalir di pipinya.

"Aku sudah mencintaimu bertahun-tahun, Rakuan," katanya. "Aku selalu ada untukmu. Aku selalu mendukungmu. Tapi kau ... kau tidak pernah melihatku."

"Aku minta maaf, Maya," kata Rakuan. "Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Tapi lebih baik kita jujur sekarang daripada terluka di kemudian hari."

Maya mengusap air matanya. "Kau benar," katanya pelan. "Aku lebih baik terluka sekarang daripada terus berharap pada sesuatu yang tidak mungkin."

Ia berdiri dan menatap Rakuan. "Aku akan kembali ke Jakarta. Aku akan melanjutkan hidupku. Tapi aku ingin kau tahu—aku tidak akan melupakanmu, Rakuan. Dan aku berharap kau bahagia."

Rakuan berdiri dan memeluk Maya. "Terima kasih, Maya. Terima kasih karena telah menjadi teman baikku. Aku berharap kau menemukan kebahagiaanmu sendiri."

Maya melepaskan pelukan dan tersenyum—senyum yang meskipun penuh kesedihan, juga penuh dengan kelegaan.

"Selamat tinggal, Rakuan," katanya. "Semoga kita bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik."

Ia berbalik dan pergi. Rakuan menatapnya sampai ia menghilang di ujung dermaga. Di dalam hatinya, ia merasa sedih, tapi juga lega. Ia telah mengatakan kebenaran, meskipun itu menyakitkan.


Rakuan kembali menemui Susan. Gadis itu sedang duduk di beranda rumah Rosnah, menatap sungai dengan tatapan kosong. Ketika melihat Rakuan datang, ia berdiri dan berjalan mendekat.

"Bagaimana?" tanyanya cemas.

Rakuan tersenyum. "Sudah selesai. Maya kembali ke Jakarta. Aku mengatakan yang sebenarnya padanya."

Susan menangis—air mata kebahagiaan. "Aku sangat takut, Rakuan. Aku takut kau akan pergi."

Rakuan memeluknya erat. "Aku tidak akan pernah pergi, Sus. Aku sudah berjanji padamu. Aku akan selalu ada di sisimu."

Mereka berpelukan di bawah langit senja. Di kejauhan, lampu-lampu kawasan "Rindu Kapuas" mulai menyala, menciptakan pemandangan yang indah.


Malam itu, mereka semua berkumpul di rumah Rosnah untuk makan malam. Rudi, Rosnah, dan Samsudin hadir. Suasana terasa lebih ringan dan bahagia.

"Jadi, Maya sudah kembali ke Jakarta?" tanya Rudi.

Rakuan mengangguk. "Ya. Kami sudah bicara. Ia menerima keputusanku."

Rosnah tersenyum. "Kau melakukan hal yang benar, Rakuan. Kau memilih cinta sejati."

Samsudin mengangguk. "Aku bangga padamu, Nak. Kau tidak seperti ayahmu yang dulu. Kau berani memperjuangkan cintamu."

Rakuan tersenyum. "Aku belajar dari semua orang di sini. Aku belajar bahwa cinta sejati adalah tentang pengorbanan dan keberanian."

Mereka makan bersama dalam suasana yang hangat. Tawa-tawa kecil terdengar, dan cerita-cerita lucu diceritakan. Di luar, Sungai Kapuas mengalir tenang, menyaksikan kebahagiaan yang telah lama mereka nantikan.


Setelah makan malam, Rakuan dan Susan berjalan di Dermaga KP3. Lampu-lampu dermaga menciptakan suasana yang romantis. Mereka berhenti di ujung dermaga, tempat yang selalu menjadi saksi perjalanan mereka.

"Rakuan," kata Susan pelan, "aku ingin bertanya sesuatu."

"Apa?"

"Apakah kau pernah menyesal? Menyesal karena memilihku daripada kariermu di Jakarta?"

Rakuan menatapnya dalam-dalam. "Susan, dengarkan aku. Aku tidak pernah menyesal. Tidak sedetik pun. Kau adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Dan aku akan memilihmu berulang kali, dalam kehidupan ini dan kehidupan berikutnya."

Susan menangis. "Aku mencintaimu, Rakuan. Aku sangat mencintaimu."

Rakuan mengusap air matanya. "Aku juga mencintaimu, Susan. Dan aku akan selalu mencintaimu."

Mereka berpelukan di bawah langit malam yang bertabur bintang. Dermaga KP3 menjadi saksi bisu cinta mereka—cinta yang telah melalui badai dan akhirnya menemukan pelabuhan yang aman.


Beberapa hari kemudian, Rakuan menerima surat dari Maya. Surat itu pendek tapi penuh makna.

"Rakuan,

Aku sudah kembali ke Jakarta dengan selamat. Aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah jujur padaku. Awalnya memang sakit, tapi sekarang aku mulai menerimanya. Aku menyadari bahwa cinta sejati adalah ketika kita rela melepaskan seseorang untuk kebahagiaannya.

Aku berharap kau dan Susan bahagia. Kau layak mendapatkan kebahagiaan itu. Dan aku akan selalu menjadi temanmu, kapan pun kau membutuhkanku.

Salam,
Maya"

Rakuan membaca surat itu dengan mata berkaca-kaca. Ia menunjukkan surat itu pada Susan.

"Kau lihat?" katanya. "Maya adalah orang yang baik. Ia rela melepaskanku demi kebahagiaanku."

Susan tersenyum. "Aku senang kau memiliki teman seperti Maya. Dan aku berharap suatu hari nanti, ia menemukan kebahagiaannya sendiri."

Mereka menyimpan surat itu di dalam kotak kenangan, sebagai pengingat bahwa cinta sejati juga bisa berarti melepaskan.


Malam itu, Rakuan dan Susan duduk di Dermaga KP3, menikmati senja yang indah. Langit jingga menciptakan latar yang sempurna untuk percakapan mereka.

"Rakuan," kata Susan, "aku ingin bertanya sesuatu."

"Apa?"

"Bagaimana perasaanmu sekarang? Setelah semua yang terjadi?"

Rakuan merenung sejenak. "Aku merasa ... tenang. Aku sudah menyelesaikan semua konflik. Aku sudah berdamai dengan masa lalu. Dan aku sudah memilih jalan yang aku yakini. Aku merasa ... aku merasa seperti telah menemukan tempatku."

Susan menggenggam tangannya. "Aku juga merasakan hal yang sama. Aku akhirnya menemukan tempatku—di sini, di Kapuas, di sisimu."

Rakuan menatapnya dengan penuh cinta. "Kau tahu, Susan, selama bertahun-tahun, aku selalu mencari sesuatu. Aku mencari kesuksesan. Aku mencari pengakuan. Aku mencari identitas. Tapi sekarang aku sadar—apa yang selama ini aku cari sebenarnya ada di sini. Di kampung halaman ini. Di antara orang-orang yang kucintai. Dan di sisimu."

Susan menangis—air mata kebahagiaan. "Aku juga, Rakuan. Aku juga."

Mereka berpelukan di bawah senja yang indah. Dan di kejauhan, Dermaga KP3 berdiri kokoh, menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka—sebuah perjalanan yang berliku, penuh badai, tapi akhirnya berujung pada pelabuhan yang aman.

 

 

 

BAB XX

Rindu yang Berujung Nyata


Maya telah kembali ke Jakarta. Suratnya yang penuh makna masih tersimpan rapi di kotak kenangan Rakuan. Kehidupan di Kuala Kapuas berjalan seperti biasa—tapi ada sesuatu yang berbeda dalam diri Rakuan. Ada ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Seperti semua badai dalam hidupnya akhirnya reda, dan yang tersisa hanyalah langit cerah di hadapannya.

Suatu pagi, Rakuan bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di beranda rumah tuanya, menatap Sungai Kapuas yang mengalir tenang. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kotak kecil berwarna biru. Di dalam kotak itu, ada cincin perak sederhana—cincin yang ia beli beberapa hari lalu di sebuah toko perhiasan kecil di pasar tradisional.

Hari ini, ia akan melamar Susan.

Ia sudah merencanakan semuanya. Tempatnya—Dermaga KP3, di mana semuanya dimulai. Waktunya—senja, ketika langit Kapuas terbakar jingga, seperti saat pertama kali mereka bertemu kembali setelah tiga tahun perpisahan.

"Semuanya harus sempurna," bisiknya. "Untuk Susan. Untuk cinta sejati kita."


Rakuan menghabiskan pagi hari dengan mempersiapkan segala sesuatu. Ia meminta bantuan Rudi untuk mengatur dekorasi sederhana di Dermaga KP3. Bukan dekorasi yang mewah—hanya beberapa lilin kecil dan bunga-bunga segar yang ia petik dari kebun Rosnah.

"Kau yakin ini hari yang tepat?" tanya Rudi sambil membantu merangkai bunga.

Rakuan mengangguk. "Aku sudah menunggu terlalu lama, Rud. Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu. Aku tidak mau menunggu lagi."

Rudi tersenyum. "Aku bangga padamu, Ku. Kau benar-benar telah berubah."

Rakuan menepuk bahu sahabatnya. "Aku belajar dari semua yang terjadi. Aku belajar bahwa cinta sejati tidak pernah datang dengan sendirinya. Kita harus memperjuangkannya."

Mereka bekerja bersama hingga siang. Rudi membantu merangkai bunga, memasang lilin, dan membersihkan area dermaga. Rosnah dan Samsudin juga membantu—Rosnah menyiapkan makanan kecil untuk perayaan nanti, sementara Samsudin membersihkan kursi-kursi kayu di ujung dermaga.

"Ini seperti pesta pernikahan," kata Rosnah sambil tersenyum.

"Ini adalah awal dari pernikahan," kata Rakuan. "Dan aku berharap kalian semua menjadi bagian dari momen ini."


Sementara itu, Susan menghabiskan hari itu dengan perasaan yang aneh. Ada firasat di hatinya—firasat bahwa sesuatu yang istimewa akan terjadi. Tapi ia tidak tahu apa.

"Susan, kau terlihat gelisah," kata Rosnah ketika Susan datang ke rumahnya. "Ada apa?"

Susan menggeleng. "Aku tidak tahu, Bu. Aku hanya merasa ... seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi aku tidak tahu apa."

Rosnah tersenyum misterius. "Kadang, firasat adalah cara Tuhan memberitahu kita bahwa sesuatu yang indah akan datang."

Susan menatap ibunya. "Bu, apakah kau tahu sesuatu?"

Rosnah terkekeh. "Aku hanya seorang ibu tua yang tidak tahu apa-apa. Pergilah, Nak. Mandi dan berpakaianlah yang cantik. Siapa tahu malam ini adalah malam yang istimewa."

Susan bingung, tapi ia mengikuti saran ibunya. Ia mandi dan mengenakan baju terbaiknya—gaun putih sederhana yang dulu pernah ia beli untuk acara penting. Ia tidak tahu mengapa ia memilih gaun itu. Tapi hatinya mengatakan bahwa ini adalah pilihan yang tepat.


Sore mulai turun. Rakuan berdiri di Dermaga KP3, menatap langit yang mulai berubah warna. Di tangannya, ia memegang kotak kecil berisi cincin. Jantungnya berdebar kencang. Tapi ia tidak takut. Kali ini, ia yakin.

Rudi mendekat dan menepuk bahunya. "Semua sudah siap, Ku. Aku sudah memastikan Susan akan datang."

"Terima kasih, Rud," kata Rakuan. "Aku tidak akan bisa melakukan ini tanpamu."

Rudi tersenyum. "Kau adalah sahabatku, Ku. Aku akan selalu ada untukmu."

Rakuan mengambil napas dalam-dalam. Ia melihat ke arah ujung dermaga, di mana Susan akan muncul. Hatinya berdegup kencang.


Susan tiba di Dermaga KP3 dengan langkah ragu-ragu. Rudi mengatakan bahwa Rakuan ingin bertemu dengannya di sini. Tapi ketika ia melihat dermaga itu, ia terkejut—ada lilin-lilin kecil yang menyala, bunga-bunga segar yang tersusun rapi, dan di ujung dermaga, Rakuan berdiri dengan pakaian terbaiknya.

"Rakuan ..." bisiknya. "Apa ini?"

Rakuan berjalan mendekat. Senyumnya lembut, matanya penuh dengan cinta.

"Susan," katanya. "Aku minta kau datang ke sini karena aku ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sudah lama ingin aku katakan, tapi selama ini aku tidak punya cukup keberanian."

Susan mendekat. Air mata mulai menggenang di matanya. "Apa itu?"

Rakuan berlutut di hadapannya. Dari sakunya, ia mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dan membukanya. Di dalamnya, sebuah cincin perak sederhana bersinar di bawah cahaya senja.

"Susan," katanya dengan suara bergetar. "Aku sudah melewati banyak hal. Aku sudah kehilangan banyak waktu. Aku sudah merindukanmu dari jauh selama tiga tahun. Dan aku tidak mau melakukannya lagi. Aku ingin merindukanmu setiap hari, di sisimu. Aku ingin menjadi milikmu, dan aku ingin kau menjadi milikku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Maukah kau menjadi istriku?"

Susan menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia tidak bisa berkata-kata.

"Susan?" suara Rakuan mulai gemetar. "Maukah kau?"

Susan mengangguk—berulang kali, seperti tidak percaya.

"Ya, Rakuan. Ya! Aku mau!"

Rakuan tersenyum—senyum terbesar yang pernah ia tunjukkan. Ia mengambil cincin itu dan melingkarkannya di jari Susan. Cincin perak itu melingkar sempurna, seperti takdir yang telah menunggu terlalu lama.


Tepuk tangan menggema di sepanjang Dermaga KP3. Rudi, Rosnah, Samsudin, dan beberapa orang lain yang telah bersembunyi di balik warung-warung keluar dan bertepuk tangan. Mereka semua tersenyum dan menangis bahagia.

"Kita berhasil!" seru Rudi. "Akhirnya, sahabatku bertunangan!"

Rosnah memeluk Susan erat-erat. "Aku sangat bahagia, Nak. Aku sangat bahagia."

Samsudin mendekati Rakuan dan memeluknya. "Aku bangga padamu, Nak. Kau telah menemukan cinta sejatimu."

Rakuan tersenyum di antara air mata. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih untuk semuanya."

Mereka semua berkumpul di ujung dermaga, merayakan momen yang penuh kebahagiaan. Susan memeluk Rakuan erat-erat, masih tidak percaya bahwa ini nyata.

"Aku tidak pernah membayangkan ini," bisik Susan. "Aku tidak pernah membayangkan bahwa momen ini akan datang."

Rakuan mengusap air matanya. "Aku juga tidak, Sus. Tapi ini nyata. Dan aku berjanji—aku akan membuatmu bahagia. Selamanya."


Malam itu, mereka semua berkumpul di kawasan "Rindu Kapuas" untuk merayakan pertunangan Rakuan dan Susan. Rudi menyiapkan hidangan spesial, Rosnah membuat kue tradisional, dan Samsudin membawakan ikan segar hasil tangkapannya sendiri.

"Untuk Rakuan dan Susan!" seru Rudi mengangkat gelas. "Semoga cinta kalian abadi seperti Sungai Kapuas!"

Semua mengangkat gelas mereka. "Untuk Rakuan dan Susan!"

Mereka makan dan tertawa bersama, menikmati kebahagiaan yang telah lama mereka nantikan. Cerita-cerita lucu diceritakan, kenangan-kenangan indah dikenang, dan harapan-harapan baru dirancang.

Di tengah perayaan, Rakuan bangkit dan berdiri.

"Semua," katanya, "aku ingin mengucapkan terima kasih. Tanpa kalian semua, aku tidak akan pernah sampai di sini. Tanpa dukungan, cinta, dan pengorbanan kalian, aku mungkin masih menjadi orang yang sama—orang yang lari dari masalah dan takut akan komitmen."

Ia menatap satu per satu—Rudi, Rosnah, Samsudin, dan akhirnya Susan.

"Kalian semua adalah keluarga saya. Keluarga yang saya pilih. Dan saya berjanji, saya akan menjaga keluarga ini dengan sepenuh hati."

Susan menggenggam tangannya. "Kami juga berjanji akan menjagamu, Rakuan. Kami adalah keluarga. Selamanya."


Setelah perayaan usai, Rakuan dan Susan berjalan ke Dermaga KP3. Lampu-lampu dermaga menyala terang, menciptakan pemandangan yang indah di tepian sungai. Mereka duduk di ujung dermaga, seperti biasa, menatap sungai yang mengalir tenang.

"Rakuan," kata Susan pelan, "apa kau ingat ketika kita pertama kali bertemu di sini? Tiga tahun lalu?"

Rakuan tersenyum. "Aku ingat. Kau sangat marah padaku."

"Aku memang marah," kata Susan. "Tapi sebenarnya, aku sangat bahagia. Aku sangat bahagia karena kau kembali."

Rakuan menggenggam tangannya. "Dan sekarang, aku tidak akan pernah pergi lagi. Aku berjanji."

Susan menatap cincin di jarinya. Cincin perak itu berkilau di bawah cahaya bulan.

"Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan bahagia seperti ini," katanya. "Setelah semua yang terjadi—setelah semua air mata, pengkhianatan, dan kesedihan—aku akhirnya menemukan kebahagiaan. Di sini. Di kapuas. Di sisimu."

Rakuan memeluknya. "Kita berdua telah melalui banyak hal, Sus. Kita berdua telah terluka. Tapi kita juga telah tumbuh. Kita telah belajar bahwa cinta sejati bukanlah tentang kesempurnaan. Cinta sejati adalah tentang saling menerima, saling mendukung, dan saling memperjuangkan."


Malam semakin larut. Bintang-bintang mulai muncul di langit, menciptakan pemandangan yang memukau. Rakuan dan Susan masih duduk di ujung dermaga, berbicara tentang masa depan.

"Rakuan," kata Susan, "apa yang akan kita lakukan setelah ini? Setelah pernikahan?"

Rakuan merenung sejenak. "Kita akan terus mengelola kawasan 'Rindu Kapuas'. Kita akan menjadikannya tempat yang lebih indah dan lebih ramai. Kita akan membesarkan anak-anak kita di sini, mengajarkan mereka tentang sungai, tentang makanan, dan tentang keluarga."

Susan tersenyum. "Kau benar-benar sudah memikirkan semuanya."

"Aku sudah memikirkannya sejak lama, Sus. Sejak aku menyadari bahwa kau adalah orang yang ingin aku habiskan sisa hidupku."

Susan memeluknya erat. "Aku juga. Aku juga sudah memikirkannya."

Mereka duduk bersama, membayangkan masa depan yang cerah. Dan di kejauhan, Dermaga KP3 berdiri kokoh, menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka—sebuah perjalanan yang berliku, penuh badai, tapi akhirnya berujung pada pelabuhan yang aman.


Keesokan harinya, Rakuan dan Susan mengunjungi makam Rahmah. Mereka duduk di samping makam itu, meletakkan bunga-bunga yang mereka petik dari kebun Rosnah.

"Ibu," kata Rakuan dengan suara pelan, "aku akhirnya melamar Susan. Aku akhirnya menemukan cinta sejatiku. Aku harap Ibu bangga padaku."

Susan juga berbicara. "Tante Rahmah, aku berjanji akan menjaga Rakuan. Aku berjanji akan mencintainya seumur hidupku. Aku berharap Tante restu dari surga."

Angin bertiup lembut, seolah menjawab doa mereka. Di kejauhan, burung-burung berkicau, menciptakan melodi yang indah.

Mereka berdiri dan menatap makam itu dengan penuh cinta.

"Terima kasih, Ibu," kata Rakuan. "Terima kasih untuk semua yang telah Ibu berikan padaku. Terima kasih karena telah mengajariku arti cinta dan pengampunan. Aku akan selalu mengingat Ibu."

Mereka berjalan meninggalkan makam, menuju masa depan yang cerah. Dan di hati mereka, Rahmah selalu ada.


Beberapa minggu kemudian, pernikahan Rakuan dan Susan dilangsungkan. Acara itu sederhana tapi penuh makna. Mereka memilih Dermaga KP3 sebagai tempat upacara—tempat di mana semuanya dimulai, tempat di mana mereka bertemu kembali, tempat di mana mereka melamar, dan tempat di mana mereka akan memulai babak baru kehidupan mereka.

Rudi menjadi saksi pernikahan. Rosnah dan Samsudin duduk di barisan depan, meneteskan air mata kebahagiaan. Seluruh komunitas kuliner Kuala Kapuas hadir untuk merayakan cinta sejati yang telah mereka saksikan tumbuh dan berkembang.

"Rakuan dan Susan," kata penghulu, "kalian telah melalui banyak hal. Kalian telah melewati badai, air mata, dan pengkhianatan. Tapi kalian tetap bersama. Itu adalah bukti bahwa cinta kalian sejati. Dan sekarang, dengan pengesahan ini, kalian resmi menjadi suami istri."

Tepuk tangan menggema. Rakuan dan Susan saling menatap dengan penuh cinta.

"Aku mencintaimu, Susan," bisik Rakuan.

"Aku juga mencintaimu, Rakuan. Selamanya."

Mereka berpelukan di bawah langit senja—senja yang sama seperti pertama kali mereka bertemu, seperti saat mereka berjanji, dan seperti saat mereka melamar. Senja Kapuas, yang selalu setia, menjadi saksi bisu cinta mereka.


Epilog

 

Tahun-tahun berlalu. Kawasan kuliner "Rindu Kapuas" berkembang menjadi destinasi wisata kuliner yang terkenal di seluruh Kalimantan. Pengunjung datang dari berbagai daerah untuk menikmati makanan khas Kapuas dan menikmati keindahan Senja di Dermaga KP3.

Rakuan dan Susan memiliki dua orang anak—seorang putra bernama Bintang dan seorang putri bernama Sinar. Mereka tumbuh besar di tepian sungai, belajar tentang kehidupan, cinta, dan keluarga.

Rudi menikah setahun setelah pernikahan Rakuan dan Susan. Ia menikahi seorang perempuan baik bernama Sari, yang membantu mengelola kawasan kuliner bersama mereka. Persahabatan mereka tetap kuat, seperti ikatan yang tidak bisa diputuskan.

Rosnah menikmati masa tuanya dengan tenang. Ia sering duduk di Dermaga KP3, menatap sungai, dan mengenang semua yang telah terjadi. Ia tersenyum setiap kali melihat cucu-cucunya bermain di tepian dermaga.

Samsudin menjadi kakek yang lembut dan penuh kasih. Ia menghabiskan hari-harinya dengan mengajari Bintang dan Sinar cara memancing di sungai, sama seperti ia dulu mengajari Rakuan.

Di setiap senja, Rakuan dan Susan masih duduk di ujung Dermaga KP3, tempat pertama mereka bertemu setelah tiga tahun perpisahan. Mereka mengenang semua yang telah mereka lalui—air mata, kesedihan, pengkhianatan, dan akhirnya, kebahagiaan.

"Rakuan," kata Susan suatu senja, "apa kau ingat ketika kau bilang bahwa rindu itu tidak bertepi?"

Rakuan tersenyum. "Aku ingat."

"Dan sekarang?"

Rakuan menggenggam tangannya. "Sekarang, rindu itu sudah berujung nyata. Karena kau ada di sini, di sisiku, selamanya."

Mereka berpelukan di bawah senja Kapuas yang indah. Sungai Kapuas mengalir tenang di hadapan mereka, membawa semua kenangan dan harapan menuju masa depan.


TAMAT

 

 

0 komentar:

Posting Komentar