CERPEN PANJANG
Di Antara Kita: Cinta Segi Tiga yang Tak Terucap
Sore itu, di atas papan kayu Dermaga KP3 yang memanjang ke
arah Sungai Kapuas, Herman duduk bersila dengan sebatang pancing bambu di
tangan. Umpannya tenggelam di antara riak air yang perlahan mengalir, dan ia
menunggu. Bukan ikan—ia sudah lama tidak peduli pada ikan. Yang ia tunggu
adalah udang. Udang sungai yang kadang muncul di sela-sela batu di bawah
dermaga, kecil, transparan, dan sulit ditangkap. Orang-orang di Kuala Kapuas
memancing udang bukan untuk dijual. Mereka melakukannya untuk mengisi waktu,
untuk merasakan bahwa ada sesuatu yang bisa dilakukan sambil menunggu senja
turun.
Herman sudah memancing udang di tempat ini sejak ia masih SMP.
Dulu ia datang bersama ayahnya, membawa dua batang pancing bambu dan sebotol
air teh. Ayahnya sudah lama pergi—bukan meninggal, hanya pergi ke Banjarmasin
dan tidak pernah kembali—tapi kebiasaan itu tinggal. Setiap sore, sekitar pukul
empat, Herman datang ke Dermaga KP3, duduk di papan kayu yang sama, dan
memancing udang. Kadang dapat, kadang tidak. Yang penting ia duduk di sana.
Dermaga KP3 sendiri sudah berubah banyak sejak Herman
kecil. Papan kayunya sekarang lebih rapi, beberapa bagian sudah diganti dengan
bahan yang lebih tahan lama, dan taman di sekitarnya ditata dengan
bangku-bangku baru. Pedagang kuliner mulai berdatangan sekitar pukul lima,
membawa meja lipat, kursi plastik, dan termos besar berisi es. Aroma sate dan
gorengan mulai memenuhi udara, bercampur dengan bau sungai yang khas—lumpur,
ikan, dan sesuatu yang manis yang tidak pernah bisa Herman jelaskan.
Ia memasang umpan baru, melemparkan kembali kailnya, dan
menyandarkan punggung pada tiang kayu dermaga. Dari sini ia bisa merasakan
Bundaran Besar di kejauhan—tidak terlalu jauh, hanya beberapa kilo meter ke
arah utara, di mana lampu-lampu PLN mulai menyala satu per satu. Tugu Batang
Garing berdiri di tengahnya, sebagai symbol Ikonik Kota Kuala Kapuas . Herman
tidak sering ke sana. Terlalu ramai, terlalu banyak orang yang lewat tanpa
benar-benar melihat. Ia lebih suka dermaga ini, tempat orang-orang datang untuk
duduk, bukan untuk lewat.
"Bang, udangnya dapat?"
Suara itu datang dari Pak Rahmat, pedagang sate yang sudah
Herman kenal sejak ia masih duduk di bangku SD. Pak Rahmat selalu datang lebih
awal dari pedagang lain, membawa meja lipatnya yang sudah penyok di salah satu
kaki, dan mulai menata tusuk sate di atas bara yang belum sepenuhnya panas.
"Belum, Pak. Dari tadi cuma dapat sepatu."
Pak Rahmat tertawa. "Sepatu apa?"
"Sepatu bekas. Mungkin punya orang yang buang di
sungai."
"Ah, sungai ini memang kadang aneh. Dulu waktu saya
muda, pernah ada orang dapat peti di sini. Bukan peti harta, peti kosong. Tapi
orang-orang tetap ramai datang, karena penasaran."
Herman tersenyum kecil. Ia suka cerita-cerita Pak Rahmat.
Bukan karena ceritanya benar, tapi karena cara Pak Rahmat bercerita membuat
segalanya terdengar seperti pernah terjadi, atau setidaknya, mungkin terjadi.
"Malam ini ramai, Bang. Festival kuliner. Kau tidak
ikut jualan?"
"Jualan apa, Pak? Saya cuma pemancing udang."
"Ya, jualan udang. Kau tangkap udang, saya bakar. Kita
bagi hasil."
Herman tertawa. "Udangnya belum tentu dapat, Pak. Mau
jual apa?"
"Kau ini tidak punya jiwa dagang, Herman. Sudah berapa
tahun di dermaga ini, tapi tidak pernah kepikiran untuk jualan."
"Saya bukan pedagang, Pak. Saya pemancing."
"Pemancing udang." Pak Rahmat menggeleng-geleng.
"Udangnya kecil-kecil, Herman. Kalau kau mau jualan, mending jual ikan.
Ikan lebih besar, lebih laku."
"Tapi udang lebih jujur."
Pak Rahmat memandangnya aneh. "Apa hubungannya udang
dengan kejujuran?"
"Udang tidak pernah bilang ia ikan. Dia cuma udang.
Kecil, transparan, dan sulit ditangkap. Tidak ada yang berpura-pura."
Pak Rahmat terdiam sebentar, lalu tertawa lagi. "Kau
ini memang aneh, Herman. Tapi setidaknya kau menghibur."
Herman mengangkat bahu, lalu kembali ke pancingnya. Pak
Rahmat pergi ke mejanya, mulai membakar arang, dan berseru-seru menawarkan sate
kepada orang-orang yang mulai berdatangan.
Herman memandang kailnya yang tenggelam, lalu ke arah
sungai yang mulai berwarna keemasan. Senja di Kuala Kapuas selalu datang dengan
cara yang sama—perlahan, seperti orang yang tidak ingin mengganggu. Langit
berubah dari biru pucat menjadi jingga, lalu merah muda, lalu ungu, sebelum
akhirnya gelap. Lampu-lampu PLN di sepanjang Jalan Sudirman menyala satu per
satu, dan Dermaga KP3 mulai dipenuhi orang-orang yang datang untuk makan,
duduk, atau sekadar melihat sungai.
Herman menarik pancingnya. Umpannya hilang. Ia tidak tahu
apakah dimakan udang atau hanya tersangkut di batu. Ia memasang umpan baru,
melemparkannya kembali, dan duduk lagi. Malam ini akan panjang. Festival
kuliner selalu membuat dermaga ini ramai sampai larut, dan Herman biasanya
bertahan sampai pedagang terakhir menutup mejanya. Bukan karena ia ingin, tapi
karena ia tidak punya tempat lain untuk pergi.
Ia memandang keramaian yang mulai tumbuh di
sekitarnya—anak-anak yang berlarian dengan balon, pasangan muda yang berfoto di
tepi dermaga, pedagang yang berseru menawarkan dagangan. Semua orang tampak
punya tujuan. Herman hanya duduk di sana, dengan pancing bambu di tangan,
seperti patung yang tidak pernah diminta pendapatnya tentang apa pun.
"Malam ini kamu akan di sini sampai jam berapa?"
tanya Pak Rahmat, yang sudah mulai membakar sate.
"Sampai selesai, Pak."
"Sampai selesai itu jam berapa?"
Herman mengangkat bahu. "Sampai orang-orang
pulang."
Pak Rahmat menggeleng-geleng. "Kau ini aneh, Herman.
Orang lain datang ke festival untuk bersenang-senang. Kau datang untuk menunggu
orang-orang pulang."
Herman tidak menjawab. Ia sudah mendengar kalimat itu
berkali-kali, dari Pak Rahmat, dari Bu Ida, dari ibunya dulu. Mereka semua
bilang hal yang sama—Herman terlalu banyak menunggu, terlalu sedikit melakukan.
Tapi menunggu adalah satu-satunya hal yang ia tahu caranya. Menunggu udang,
menunggu senja, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
Malam itu, ketika pedagang terakhir menutup mejanya dan
lampu-lampu PLN di sepanjang Jalan Sudirman mulai berkedip-kedip seperti orang
mengantuk, Herman menggulung pancingnya, membersihkan papan kayu tempat ia
duduk, dan berjalan pulang. Di sepanjang jalan, ia melewati Bundaran Besar—tugu
Batang Garing yang berdiri diam, taman yang sudah sepi, lampu-lampu yang
menyala biasa saja. Ia tidak berhenti. Ia hanya berjalan, seperti biasa, menuju
gang belakang Ujung Murung, menuju rumah kecilnya yang hanya berisi satu kamar,
satu dapur, dan satu rak buku yang sebagian besar bukunya belum ia baca.
Di rumah, ia membuka buku tulis lama dan menulis: Sungai
ini tidak pernah bertanya ke mana ia akan bermuara. Mungkin karena ia sudah
tahu.
Herman masih ingat hari ketika ayahnya pergi.
Waktu itu ia berusia sepuluh tahun. Ayahnya membawanya ke
dermaga seperti biasa, memasang umpan, melemparkan kail, dan duduk di papan
kayu yang sama. Mereka tidak banyak bicara—ayahnya memang bukan orang yang
banyak bicara. Tapi sore itu, ayahnya berkata sesuatu yang tidak pernah Herman
lupakan.
"Kau tahu kenapa sungai ini tidak pernah berhenti
mengalir, Herman?"
Herman kecil menggeleng.
"Karena sungai tidak punya pilihan. Ia harus mengalir.
Kalau ia berhenti, ia akan mati. Jadi ia terus bergerak, meskipun tidak tahu ke
mana."
Herman tidak mengerti saat itu. Ia hanya mengangguk, lalu
kembali ke pancingnya. Keesokan harinya, ayahnya sudah pergi. Tidak ada surat,
tidak ada penjelasan. Hanya ada rumah yang tiba-tiba terasa terlalu besar, dan
dermaga yang tiba-tiba terasa terlalu sepi.
Ibunya tidak pernah membicarakan kepergian ayahnya. Ia
hanya bekerja—menjual kue di pasar pagi, menjahit baju di rumah, melakukan apa
pun untuk memastikan Herman bisa terus sekolah. Herman tidak pernah bertanya.
Ia hanya terus datang ke dermaga setiap sore, memancing udang yang tidak pernah
ia pedulikan, dan menunggu sesuatu yang tidak pernah ia mengerti.
Ibunya meninggal ketika Herman berusia dua puluh tiga
tahun. Sejak itu, rumah kecil di gang belakang Ujung Murung menjadi terlalu
sunyi. Herman tidak pernah pindah. Ia tidak pernah menjual rumah itu. Ia hanya
terus tinggal di sana, dikelilingi oleh barang-barang ibunya, dan setiap sore
ia datang ke dermaga, memancing udang, seperti yang selalu ia lakukan.
Pak Rahmat pernah bertanya, "Kenapa kau tidak pindah
ke Banjarmasin? Di sana lebih ramai, lebih banyak kerja."
Herman hanya mengangkat bahu. "Di sini ada
udang."
Pak Rahmat tertawa, tapi Herman tidak. Ia serius. Di sini
ada udang. Di sini ada dermaga. Di sini ada ayahnya, meskipun ayahnya sudah
lama pergi. Di sini ada ibunya, meskipun ibunya sudah meninggal. Di sini ada
sesuatu yang tidak pernah bisa ia jelaskan, tapi selalu membuatnya kembali.
Setiap bulan, Herman pergi ke makam ibunya. Bukan pada
tanggal tertentu—ia tidak pernah ingat tanggal—hanya pada hari ketika ia merasa
perlu. Ia membawa udang yang ia tangkap sendiri, dibungkus daun pisang, dan
diletakkan di atas nisan. Ibunya dulu suka udang. Ia selalu bilang udang Herman
terlalu kecil, tapi ia selalu memakannya sampai habis.
Makam ibunya ada di TPU Ujung Murung, tidak jauh dari
dermaga. Herman biasanya datang pagi-pagi, sebelum orang lain datang, dan duduk
di sana selama satu jam. Ia tidak selalu berbicara. Kadang ia hanya duduk,
memandang nisan, dan mendengarkan suara burung atau suara motor yang lewat di
jalan depan. Tapi kadang ia berbicara—tentang dermaga, tentang Pak Rahmat,
tentang udang yang semakin sulit didapat.
Bulan ini, Herman datang dengan udang yang lebih banyak
dari biasanya—sebelas ekor, hasil memancing yang jarang ia dapatkan. Ia
meletakkan udang itu di atas nisan, lalu duduk di tanah, bersila, seperti yang
biasa ia lakukan di dermaga.
"Bu," katanya. "Aku dapat udang banyak hari
ini. Mungkin karena musim hujan. Atau mungkin karena aku sedang
beruntung."
Ia terdiam. Angin pagi bertiup, menggoyang daun-daun pisang
di sekitar makam.
"Ada perempuan baru di dermaga," lanjut Herman.
"Namanya Sania. Guru. Orang Jawa, tapi sudah lama di Kalteng. Dia belajar
memancing udang. Tidak pandai. Umpannya selalu jatuh."
Ia tersenyum kecil.
"Ada juga Sintia. Dia pulang. Setelah lima tahun. Aku
tidak tahu harus berbuat apa."
Herman memandang nisan ibunya. Tidak ada jawaban, tentu
saja. Ibunya sudah lama tidak menjawab apa pun.
"Kamu dulu pernah bilang," kata Herman,
"kalau aku terlalu banyak menunggu, aku akan kehilangan banyak hal. Aku
tidak mengerti saat itu. Sekarang pun aku tidak yakin aku mengerti."
Ia bangkit, membersihkan tanah yang menempel di celananya,
dan memandang nisan itu untuk terakhir kali.
"Udangnya habis dimakan semut," katanya.
"Tapi tidak apa-apa. Aku akan bawa lagi bulan depan."
Ia berjalan pulang, melewati gang-gang sempit Ujung Murung,
melewati warung-warung yang mulai buka, melewati Bundaran Besar yang masih
sepi. Sampai di rumah, ia menulis di buku tulisnya: Hari ini aku mengunjungi
ibu. Aku bercerita tentang dua perempuan. Ibu tidak menjawab, seperti biasa.
Tapi setidaknya aku sudah bercerita.
Perempuan itu muncul di dermaga sekitar pukul lima, dua
minggu setelah festival kuliner. Herman sedang menggulung pancingnya untuk yang
ketiga kalinya—hari itu ia belum dapat udang sama sekali—ketika ia melihatnya
berjalan pelan di atas papan kayu.
Ia memakai sandal jepit dan tas kain yang disampirkan di
bahu. Rambutnya diikat ke belakang, dan ia membawa buku kecil bersampul
cokelat—buku yang terlihat sudah lama, dengan sudut-sudut yang mulai
melengkung. Ia berhenti di ujung dermaga, beberapa meter dari Herman, dan
memandang sungai.
Herman memperhatikannya sebentar, lalu kembali ke
pancingnya. Ia sudah terbiasa dengan orang-orang yang datang ke dermaga
ini—pasangan muda, keluarga dengan anak-anak, orang tua yang duduk sendirian.
Tapi perempuan ini berbeda. Ia tidak duduk di bangku taman, tidak membeli
makanan dari pedagang, tidak berfoto di tepi dermaga. Ia hanya berdiri di sana,
memandang air, seperti orang yang sedang menunggu sesuatu yang tidak akan
datang.
"Udangnya susah didapat?"
Herman menoleh. Perempuan itu masih memandang sungai, tapi
jelas ia berbicara pada Herman.
"Tergantung," kata Herman. "Kalau sedang
beruntung, bisa dapat banyak. Kalau tidak, cuma dapat sepatu."
Perempuan itu tersenyum. Baru sekarang Herman melihat
wajahnya—mata cokelat yang besar, kulit yang sedikit lebih terang dari
kebanyakan orang di sini, dan senyum yang datang perlahan, seperti orang yang
jarang tersenyum pada orang asing.
"Aku Sania," katanya. "Guru baru di SD
Negeri 2. Aku baru pindah ke sini."
Herman mengangguk. "Herman."
"Kamu tinggal di dekat sini?"
"Di gang belakang Ujung Murung. Dekat."
Sania duduk di papan kayu, beberapa langkah dari Herman,
dan meletakkan bukunya di pangkuan. "Aku belum kenal banyak orang di sini.
Murid-muridku baik, tapi mereka anak-anak. Guru-guru lain juga baik, tapi
mereka sudah punya kelompoknya sendiri."
Herman tidak tahu harus berkata apa. Ia bukan orang yang
pandai menghibur. Ia hanya pemancing udang yang duduk di dermaga setiap sore.
"Kamu selalu di sini?" tanya Sania.
"Hampir selalu."
"Kenapa?"
Herman memikirkan pertanyaan itu. Kenapa ia selalu di sini?
Karena ayahnya dulu membawanya ke sini. Karena dermaga ini adalah satu-satunya
tempat yang ia kenal. Karena di rumah, ia hanya akan duduk sendirian dan
memikirkan hal-hal yang tidak perlu ia pikirkan.
"Karena di sini ada udang," katanya akhirnya.
Sania tertawa. Tawa yang lepas, tidak dibuat-buat. Herman
merasa sesuatu yang aneh di dadanya—bukan sakit, hanya hangat, seperti minum
kopi terlalu cepat.
"Mungkin aku juga harus mulai memancing udang,"
kata Sania. "Kalau tidak ada yang lain untuk dilakukan."
"Mancing udang tidak menghibur," kata Herman.
"Kamu hanya duduk dan menunggu."
"Justru itu," kata Sania. "Aku sudah terlalu
banyak berpikir. Mungkin menunggu tanpa berpikir itu yang aku butuhkan."
Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat. Suara pedagang
yang mulai berdatangan, suara anak-anak yang berlarian di taman, suara perahu
klotok yang lewat di kejauhan—semuanya mengisi keheningan itu dengan cara yang
tidak mengganggu. Herman memasang umpan baru, melemparkan kailnya, dan
menyandarkan punggung pada tiang.
"Nanti malam ada festival kuliner," kata Herman.
"Kalau kamu belum pernah ke sini malam-malam, kamu harus lihat.
Ramai."
Sania menoleh. "Kamu akan ke sana?"
"Aku akan di sini. Menjaga pancing."
"Menjaga pancing atau menghindari keramaian?"
Herman tidak menjawab. Sania tersenyum, lalu bangkit dan
mengambil tasnya. "Aku akan datang lagi besok. Kalau kamu masih di sini,
mungkin aku bisa belajar memancing udang."
Herman mengangguk. Sania berjalan pergi, melewati pedagang
yang mulai menata meja, melewati anak-anak yang bermain di tangga dermaga, dan
menghilang di tikungan jalan menuju Bundaran Besar.
Herman memandang kailnya yang tenggelam. Untuk pertama
kalinya dalam waktu yang lama, ia berharap besok datang lebih cepat.
Sania kembali besok, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi.
Ia datang sekitar pukul empat, saat matahari masih cukup
tinggi untuk membuat sungai berkilau, dan duduk di papan kayu dekat Herman.
Kadang ia membawa buku, kadang hanya membawa dirinya sendiri. Herman
mengajarinya memasang umpan—potongan kecil ikan yang dipotong memanjang, cukup
untuk menarik perhatian udang tanpa membuatnya langsung melepaskan kail. Sania
tidak pandai melakukannya. Umpannya selalu jatuh, atau terlepas, atau dimakan
ikan kecil sebelum sempat mencapai dasar. Tapi ia tidak menyerah, dan Herman
tidak keberatan mengulanginya berkali-kali.
"Ini bagaimana caranya?" tanya Sania, memegang
potongan ikan dengan dua jari, seperti memegang sesuatu yang menjijikkan.
"Jangan takut. Ikan ini sudah mati. Tidak akan
menggigit."
"Bukan takut. Cuma... licin."
Herman menghela napas, lalu mengambil potongan ikan dari
tangan Sania. Ia menusukkan kail ke ujung ikan, memutar sedikit, lalu
mengulanginya di sisi lain. "Seperti ini. Jangan terlalu dalam, nanti
udang susah lepas."
Sania memperhatikan dengan serius, seperti murid yang
sedang belajar membaca. "Kamu belajar dari mana?"
"Dari ayahku."
"Rajin sekali ayahmu mengajari."
Herman tidak menjawab. Ia menyerahkan pancing yang sudah
terpasang umpan kepada Sania. "Coba lagi."
Sania melemparkan kailnya. Kali ini umpannya tidak jatuh.
Ia tersenyum lebar. "Berhasil!"
"Belum. Udangnya belum tentu datang."
"Setidaknya umpannya tidak jatuh. Itu sudah
kemajuan."
Herman tersenyum kecil. Ia suka cara Sania melihat
sesuatu—selalu ada kemajuan, selalu ada hal yang bisa disyukuri. Berbeda dari
dirinya, yang selalu melihat apa yang tidak berhasil.
"Mungkin udang tidak suka padaku," kata Sania
suatu sore, setelah umpannya jatuh untuk kelima kalinya.
"Udang tidak suka pada siapa pun," kata Herman.
"Mereka hanya suka pada umpan yang tepat."
"Seperti manusia?"
Herman menoleh. Sania tersenyum, tapi matanya serius.
"Maksudku," lanjut Sania, "kadang kita hanya
butuh umpan yang tepat untuk tertarik pada seseorang. Bukan karena orangnya
salah, hanya karena umpan yang kita tawarkan tidak cocok."
Herman tidak yakin apakah Sania sedang berbicara tentang
udang atau sesuatu yang lain. Ia memilih untuk tidak bertanya. Ia mengambil
pancing Sania, memasang umpan baru, dan menyerahkannya kembali.
"Coba lagi," katanya. "Kali ini jangan
terlalu keras melemparnya. Udang itu penakut."
Sania menurut. Kailnya masuk ke air dengan lembut, hampir
tanpa suara. Mereka duduk dalam diam, memandang ujung pancing masing-masing,
dan untuk beberapa saat, tidak ada yang perlu dikatakan.
"Kamu pernah ingin pergi dari sini?" tanya Sania
kemudian.
Herman berpikir. "Pernah."
"Kenapa tidak pergi?"
"Tidak tahu. Takut mungkin."
"Takut apa?"
Herman memandang sungai. "Takut kalau pergi, aku tidak
akan menemukan tempat lain yang seperti ini. Tempat di mana aku bisa duduk dan
tidak melakukan apa-apa tanpa merasa bersalah."
Sania mengangguk perlahan. "Aku mengerti. Aku juga
sering merasa seperti itu. Di tempat lamaku, aku selalu merasa harus melakukan
sesuatu. Di sini, aku bisa duduk di dermaga dan tidak ada yang peduli."
"Mereka peduli," kata Herman. "Mereka hanya
tidak mengatakannya."
Sania menoleh. "Kamu peduli?"
Herman tidak menjawab. Ia menarik pancingnya—kosong—lalu
melemparkannya kembali. Sania tidak mendesak. Ia hanya duduk di sana, di
samping Herman, dan memandang sungai yang sama.
Sore itu, Herman menangkap tiga udang. Sania tidak
menangkap apa pun, tapi ia tersenyum seperti orang yang baru saja memenangkan
sesuatu.
"Tiga ekor," kata Sania, memandang udang kecil di
ember Herman. "Cukup untuk apa?"
"Untuk dimakan sendiri."
"Sendirian?"
"Iya."
Sania memandangnya lama. "Kamu tidak pernah bosan
makan sendirian?"
Herman mengangkat bahu. "Sudah terbiasa."
"Itu bukan jawaban."
Herman menoleh. Sania masih memandangnya, dengan mata yang
tenang tapi tidak melepaskan. "Kamu tidak pernah bosan?"
Herman terdiam. Ia tidak pernah ditanya seperti ini—tidak
pernah dipaksa untuk menjawab pertanyaan yang jawabannya ia sendiri tidak tahu.
"Mungkin," katanya akhirnya. "Tapi tidak ada yang bisa
dilakukan."
"Ada," kata Sania. "Kamu bisa makan bersama
seseorang."
Herman tidak menjawab. Sania tidak mendesak lagi. Ia hanya
tersenyum, lalu bangkit dan mengambil tasnya. "Besok aku akan bawa kopi.
Kamu suka kopi?"
"Suka."
"Tanpa gula?"
Herman tersenyum. "Tanpa gula."
Sania berjalan pergi, dan Herman memandangnya sampai hilang
di tikungan. Malam itu, ia menulis: Hari ini seseorang bertanya apakah aku
bosan makan sendirian. Aku tidak menjawab. Mungkin karena aku tidak tahu
jawabannya. Atau mungkin karena aku terlalu takut untuk mengatakannya.
Suatu sore, Sania datang dengan membawa dua gelas kopi dari
warung di dekat Bundaran Besar. Ia meletakkan satu gelas di samping Herman,
lalu duduk di papan kayu seperti biasa.
"Kopi tanpa gula," katanya. "Seperti yang
kamu suka."
Herman mengambil gelas itu, mencium aroma kopinya, lalu
menyesapnya perlahan. "Enak."
"Tentu saja enak. Aku beli di warung Bu Siti. Katanya
kopinya paling enak di Kuala Kapuas."
Herman tersenyum. "Bu Siti memang paling enak."
Mereka duduk dalam diam, menikmati kopi masing-masing.
Suara pedagang yang mulai berdatangan, suara anak-anak yang berlarian di taman,
suara perahu klotok yang lewat di kejauhan—semuanya mengisi keheningan itu
dengan cara yang tidak mengganggu.
"Kamu pernah ke Bundaran Besar malam-malam?"
tanya Sania kemudian.
Herman menggeleng. "Tidak sering."
"Kenapa?"
"Terlalu ramai."
Sania memandangnya lama. "Malam ini aku mau ke sana.
Kamu mau ikut?"
Herman terdiam. Ia tidak pernah pergi ke Bundaran Besar
pada malam hari—setidaknya tidak sejak ia dewasa. Dulu, waktu kecil, ia sering
ke sana bersama ayahnya, melihat lampu-lampu yang menyala, membeli es krim dari
pedagang kaki lima. Tapi setelah ayahnya pergi, ia tidak pernah kembali.
"Aku tidak tahu," katanya.
"Ayolah," kata Sania. "Cuma sebentar. Kita
lihat lampu-lampu, lalu pulang. Aku belum pernah ke sana malam-malam
juga."
Herman memandang pancingnya, lalu ke arah Sania.
"Baiklah."
Malam itu, mereka berjalan bersama ke Bundaran Besar.
Jalanan cukup ramai—orang-orang yang pulang kerja, anak-anak yang bermain di
taman, pedagang yang mulai menutup mejanya. Lampu-lampu PLN di sepanjang Jalan
Sudirman menyala putih kekuningan, tidak terlalu terang, tapi cukup untuk
membuat wajah orang-orang terlihat jelas.
Bundaran Besar sendiri tidak terlalu ramai pada malam itu.
Beberapa pasangan duduk di bangku taman, beberapa anak berlarian di sekitar
tugu Batang Garing, dan seorang penjual es keliling sedang mendorong gerobaknya
di sisi jalan. Herman dan Sania duduk di bangku taman, memandang tugu yang
berdiri diam di tengah bundaran.
"Tugu Batang Garing," kata Sania. "Aku
pernah baca tentang ini. Lambang kehidupan masyarakat Dayak."
Herman mengangguk. "Iya."
"Kamu pernah ke sini waktu kecil?"
Herman terdiam. "Pernah. Bersama ayahku."
Sania tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya duduk di sana,
memandang tugu, dan membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka.
"Ayahku pergi waktu aku sepuluh tahun," kata
Herman tiba-tiba. "Dia bilang mau ke Banjarmasin. Tidak pernah
kembali."
Sania menoleh. "Kamu tidak pernah mencari tahu?"
"Pernah. Waktu aku SMP, aku menulis surat ke alamat
terakhir yang kami tahu. Tidak ada balasan."
Sania mengangguk perlahan. "Aku mengerti."
"Kamu?" tanya Herman. "Kenapa kamu pindah ke
sini?"
Sania memandang tugu. "Aku ingin keluar dari
Yogyakarta. Terlalu banyak kenangan. Terlalu banyak orang yang mengenalku. Aku
ingin tempat di mana tidak ada yang tahu siapa aku."
"Dan sekarang?"
"Sekarang..." Sania tersenyum. "Sekarang aku
punya murid-murid yang mengenalku, guru-guru yang mengenalku, dan seorang
pemancing udang yang mengenalku. Mungkin itu sudah cukup."
Herman tidak menjawab. Ia memandang tugu Batang Garing,
lampu-lampu PLN yang menyala biasa saja, dan Sania yang duduk di sampingnya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa bahwa Bundaran Besar
bukanlah tempat yang terlalu ramai. Mungkin karena ia tidak sendirian.
Mereka pulang sekitar pukul sembilan. Sania berhenti di
depan gang tempat ia tinggal—bukan gang yang sama dengan Sintia, tapi gang lain
di sisi utara Jalan Jawa.
"Terima kasih," kata Sania. "Aku senang
malam ini."
"Sama-sama," kata Herman.
Sania tersenyum, lalu masuk ke gang dan menghilang. Herman
berdiri di sana untuk beberapa saat, memandang gang yang gelap, lalu berjalan
pulang.
Malam itu, ia menulis: Hari ini aku pergi ke Bundaran
Besar pada malam hari. Untuk pertama kalinya sejak ayahku pergi. Aku tidak
merasa sedih. Aku hanya merasa bahwa lampu-lampu itu tidak seburuk yang aku
ingat.
Hari-hari berikutnya, Herman mulai mengenal Sania lebih
jauh.
Ia tahu bahwa Sania berasal dari Yogyakarta, bahwa ia sudah
lama ingin mengajar di Kalimantan, bahwa ia suka kopi tanpa gula dan tidak suka
durian. Ia tahu bahwa Sania punya kebiasaan menulis di buku kecilnya setiap
sore—bukan catatan harian, hanya kalimat-kalimat pendek yang kadang tidak
berhubungan. Ia tahu bahwa Sania takut pada kucing, tapi tidak takut pada
anjing, dan bahwa ia selalu membawa payung meskipun langit cerah.
"Kenapa kamu selalu bawa payung?" tanya Herman
suatu sore, ketika Sania datang dengan payung biru di tasnya.
"Karena aku pernah kehujanan di sini."
"Kamu bisa berteduh di bawah atap dermaga."
"Waktu itu atapnya belum ada."
Herman mengangguk. Atap dermaga memang baru dipasang dua
tahun lalu, setelah beberapa kali orang mengeluh kehujanan saat festival
kuliner.
"Kamu pernah kehujanan di sini?" tanya Sania.
"Pernah."
"Kapan?"
"Setiap kali hujan."
Sania tertawa. "Itu tidak dihitung."
"Kenapa tidak?"
"Karena kamu selalu di sini. Kalau hujan, pasti kamu
kehujanan."
Herman tersenyum. "Iya juga."
Sania juga mulai mengenal Herman. Ia tahu bahwa Herman
tidak pernah pergi dari Kuala Kapuas, bahwa ia tinggal sendirian di rumah
peninggalan ibunya, bahwa ia punya kebiasaan menulis di buku tulis lama yang
sudah penuh coretan. Ia tahu bahwa Herman tidak suka keramaian tapi selalu
datang ke festival kuliner, dan bahwa ia selalu duduk di papan kayu yang sama
setiap sore, seperti orang yang takut kehilangan tempatnya.
"Kenapa kamu selalu duduk di sini?" tanya Sania
suatu sore. "Banyak tempat lain di dermaga ini."
Herman memandang papan kayu di bawahnya. "Ini tempat
ayahku dulu duduk."
Sania tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk, lalu
kembali ke pancingnya. Herman menghargai itu—Sania tahu kapan harus berhenti
bertanya.
Suatu sore, hujan turun tiba-tiba. Bukan hujan deras, hanya
gerimis yang datang tanpa peringatan, seperti orang yang tiba-tiba ingat
sesuatu. Pedagang bergegas menutup meja, anak-anak berlarian mencari tempat
berteduh, dan Herman menarik pancingnya, menggulungnya dengan cepat, lalu
berlari ke bawah atap dermaga.
Sania sudah di sana, duduk di bangku kayu dengan buku
kecilnya di pangkuan. Ia tersenyum ketika Herman datang, dan menggeser sedikit
untuk memberi ruang.
"Kamu basah," kata Sania.
"Kamu juga."
Mereka duduk di bawah atap, memandang gerimis yang jatuh ke
sungai. Suara hujan bercampur dengan suara air, menciptakan irama yang aneh
tapi menenangkan.
"Kamu pernah menulis tentang hujan?" tanya Sania.
Herman menggeleng. "Aku hanya menulis tentang
sungai."
"Kenapa sungai?"
Herman berpikir. "Karena sungai tidak pernah berhenti.
Apa pun yang terjadi, sungai tetap mengalir. Banjir, kemarau, hujan—sungai
tetap ada."
Sania memandangnya lama. "Kamu suka hal-hal yang tidak
berubah."
"Iya."
"Kenapa?"
Herman tidak menjawab. Ia memandang gerimis yang jatuh ke
sungai, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ada sesuatu yang ingin ia
katakan tapi tidak tahu caranya.
"Karena kalau semuanya berubah," katanya
akhirnya, "aku tidak tahu harus berpegang pada apa."
Sania tidak mendesak. Ia hanya duduk di sana, di samping
Herman, dan memandang hujan yang sama. Gerimis berhenti sekitar setengah jam
kemudian, dan ketika matahari muncul kembali, Sania bangkit, mengambil tasnya,
dan berkata, "Besok aku akan bawa kopi. Kamu suka kopi?"
"Suka."
"Tanpa gula?"
Herman tersenyum. "Tanpa gula."
Sania berjalan pergi, dan Herman memandangnya sampai hilang
di tikungan. Malam itu, ia menulis: Hari ini hujan. Aku duduk di bawah atap
dermaga bersama seseorang, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu
untuk menunggu.
Sintia datang pada hari Minggu, di sore yang sama seperti
ketika ia pergi lima tahun lalu.
Herman sedang membersihkan udang yang ia tangkap—hanya lima
ekor, cukup untuk dimakan sendiri—ketika ia melihat perempuan itu berdiri di
ujung dermaga, dengan koper kecil di tangan dan rambut yang lebih pendek dari
yang ia ingat. Herman mengenalnya seketika. Dari cara ia berdiri, dari cara ia
menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu yang mungkin sudah berubah,
dari caranya menggenggam gagang koper terlalu erat, seperti orang yang tidak
yakin apakah ia boleh meletakkannya.
"Herman."
Herman meletakkan udang yang sedang ia bersihkan.
"Sintia."
Sintia tersenyum. Senyum yang sama—lebar, sedikit miring ke
kanan, dengan lesung pipi yang hanya muncul di satu sisi. "Lima tahun, dan
kamu masih di sini juga."
"Kamu bilang akan pergi sebentar."
"Sebentar itu ternyata lima tahun." Sintia
meletakkan kopernya. "Aku pulang."
Herman tidak tahu harus berkata apa. Lima tahun ia menunggu
kabar, lima tahun ia berlatih untuk tidak berharap, lima tahun ia meyakinkan
dirinya bahwa Sintia sudah bahagia di tempat lain—dan sekarang perempuan itu
berdiri di depannya, di Dermaga KP3, seperti tidak pernah ada jarak di antara
mereka.
"Kamu masih memancing udang," kata Sintia,
memandang pancing bambu yang tergeletak di papan kayu.
"Iya."
"Masih di tempat yang sama."
"Iya."
Sintia duduk di samping Herman, tanpa bertanya apakah ia
boleh. Ia sudah tahu bahwa ia boleh. Dulu, mereka selalu duduk di sini—Sintia
dengan kakinya yang menggantung di atas air, Herman dengan pancingnya yang
tidak pernah menangkap apa-apa. Mereka berbicara tentang sekolah, tentang
mimpi, tentang hal-hal yang tidak pernah mereka ucapkan kepada orang lain. Lalu
Sintia pergi, dan Herman tetap duduk di sini, memancing udang yang tidak pernah
ia pedulikan.
"Kamu tidak berubah," kata Sintia.
"Kamu berubah," kata Herman.
"Rambutmu."
Sintia menyentuh rambutnya. "Ya. Panjang itu
merepotkan."
Mereka tertawa, canggung, seperti dua orang yang baru
bertemu. Herman ingin bertanya banyak hal—ke mana saja kamu, kenapa tidak
pernah ada kabar, apakah kamu pernah memikirkan aku—tapi yang keluar hanya,
"Mau udang? Aku baru dapat lima."
Sintia tertawa lagi, kali ini lebih lepas. "Kamu masih
menawarkan udang sebagai obat segala hal."
"Udang itu jujur," kata Herman. "Tidak
seperti manusia."
Sintia memandangnya lama. "Aku minta maaf,
Herman."
"Untuk apa?"
"Untuk pergi tanpa bilang. Untuk tidak mengirim kabar.
Untuk..." Sintia berhenti, menunduk. "Untuk membuatmu menunggu."
Herman tidak menjawab. Ia memasang umpan baru, melemparkan
kailnya, dan menyandarkan punggung pada tiang. Sintia duduk di sampingnya, dan
untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Sungai Kapuas mengalir seperti
biasa, tidak peduli pada dua orang yang duduk di tepiannya.
"Kamu masih menunggu?" tanya Sintia akhirnya.
Herman menoleh. "Menunggu apa?"
Sintia tidak menjawab. Ia hanya memandang sungai, dan
Herman tahu bahwa perempuan itu tahu. Sintia selalu tahu.
"Aku akan tinggal di rumah bibiku di Jalan Jawa,"
kata Sintia kemudian. "Untuk beberapa waktu. Aku belum tahu berapa
lama."
Herman mengangguk. "Bagus."
"Kamu tidak bertanya kenapa aku pulang?"
"Kenapa kamu pulang?"
Sintia tersenyum, tapi senyumnya kali ini berbeda—lebih
tipis, lebih lelah. "Karena aku tidak menemukan apa yang aku cari di
sana."
"Apa yang kamu cari?"
Sintia menoleh, dan matanya bertemu mata Herman. "Aku
tidak tahu. Itu masalahnya."
Mereka duduk dalam diam sampai matahari terbenam. Sintia
bangkit lebih dulu, mengambil kopernya, dan berkata, "Aku akan datang lagi
besok. Kalau kamu tidak keberatan."
"Tidak keberatan."
Sintia berjalan pergi, melewati pedagang yang mulai menata
meja, melewati anak-anak yang bermain di tangga dermaga, dan menghilang di
tikungan jalan menuju Bundaran Besar. Herman memandang punggungnya sampai tidak
terlihat, lalu kembali ke pancingnya.
Malam itu, ia menulis: Hari ini seseorang yang pernah
aku tunggu akhirnya pulang. Aku tidak tahu apakah aku bahagia atau hanya
bingung.
Malam berikutnya, Sintia datang lagi. Kali ini ia datang
setelah magrib, saat dermaga sudah mulai sepi dan pedagang mulai menutup
mejanya. Herman masih duduk di papan kayu, memancing udang dalam gelap, dengan
lampu kecil yang ia bawa dari rumah.
"Kamu masih di sini?" tanya Sintia, duduk di
sampingnya.
"Masih."
"Dalam gelap?"
"Udang tidak butuh cahaya."
Sintia tersenyum, lalu duduk di samping Herman. Mereka
duduk dalam diam untuk beberapa saat, memandang sungai yang gelap, mendengarkan
suara air yang menghantam tiang kayu.
"Aku ingin bercerita," kata Sintia akhirnya.
Herman menoleh. "Tentang apa?"
"Tentang lima tahun itu."
Herman tidak menjawab. Ia hanya menunggu, seperti biasa.
"Aku pergi ke Surabaya karena aku pikir aku bisa
melupakan semuanya," kata Sintia. "Aku pikir kalau aku jauh dari
sini, aku bisa berhenti memikirkan kamu, berhenti berharap, berhenti merasa bahwa
ada sesuatu yang salah dengan hidupku."
Ia berhenti, menarik napas.
"Tapi ternyata tidak. Di Surabaya, aku bekerja di
restoran. Aku punya teman-teman. Aku bahkan pernah hampir menikah dengan
seseorang."
Herman menoleh. "Hampir?"
"Namanya Rudi. Dia baik. Dia tidak banyak bicara,
seperti kamu. Tapi dia tidak pernah membuatku merasa bahwa aku sedang menunggu
sesuatu."
"Kenapa kamu tidak menikah dengannya?"
Sintia menunduk. "Karena pada hari pernikahan, aku
berdiri di depan cermin, dan aku menyadari bahwa aku tidak bisa melakukannya.
Aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang tidak pernah membuatku merasa
seperti kamu."
Herman terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Aku tahu itu tidak adil," lanjut Sintia.
"Untuk Rudi, untuk kamu, untuk aku sendiri. Tapi aku tidak bisa
berbohong."
"Mengapa kamu tidak kembali?" tanya Herman.
"Setelah itu?"
"Karena aku takut." Sintia menoleh, dan matanya
berkaca-kaca. "Aku takut kamu sudah melupakanku. Aku takut kamu sudah
punya seseorang. Aku takut... aku takut kamu tidak menginginkanku lagi."
Herman memandang perempuan yang telah ia tunggu selama lima
tahun. "Aku tidak pernah melupakanmu."
Sintia tersenyum, tapi senyumnya pahit. "Aku tahu. Itu
yang membuatku semakin takut."
Mereka duduk dalam diam sampai lampu-lampu PLN di sepanjang
Jalan Sudirman mulai berkedip-kedip seperti orang mengantuk. Sintia bangkit,
mengambil tasnya, dan berkata, "Aku akan pulang."
Herman mengangguk. "Hati-hati."
Sintia berjalan pergi, lalu berhenti dan menoleh.
"Herman."
"Ya?"
"Terima kasih sudah mendengarkan."
Herman tidak menjawab. Ia hanya memandang Sintia sampai
hilang di tikungan, lalu kembali ke pancingnya. Malam itu, ia menulis: Hari
ini seseorang bercerita tentang lima tahun yang ia habiskan untuk melupakan
aku. Aku tidak tahu harus merasa bagaimana.
Hari-hari berikutnya menjadi rumit bagi Herman.
Sania tetap datang setiap sore, duduk di papan kayu dekat
Herman, belajar memancing udang dengan cara yang sama tidak berhasilnya. Sintia
juga datang—kadang sore, kadang malam—duduk di sisi lain dermaga, memandang
sungai yang sama. Herman berpindah-pindah di antara mereka, seperti pemancing
yang tidak tahu di mana udang sedang berkumpul.
Sania menyadari perubahan itu lebih cepat dari yang Herman
duga. Ia melihat cara Herman tersenyum berbeda ketika Sintia muncul, cara
Herman tiba-tiba sibuk merapikan pancing yang sudah rapi, cara Herman
kehilangan fokus dalam percakapan mereka. Sania bukan perempuan bodoh. Ia hanya
memilih diam.
Tapi diam bukan berarti tidak sakit.
Suatu sore, ketika Sintia tidak datang, Sania bertanya,
"Siapa perempuan itu?"
Herman sedang membersihkan udang—hari itu ia dapat tujuh
ekor, rekor dalam seminggu terakhir. Tangannya berhenti. "Sintia. Teman
masa kecil."
"Teman masa kecil," ulang Sania. "Kamu tidak
pernah bercerita tentang dia."
"Tidak ada yang perlu diceritakan."
Sania menatapnya. "Herman, aku bukan anak SD. Aku bisa
melihat."
Herman meletakkan udang yang sedang ia bersihkan.
"Sania—"
"Aku tidak minta penjelasan," potong Sania.
"Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku melihat. Dan aku tidak akan memaksa
kamu untuk memilih."
Sania bangkit, mengambil tasnya, dan berjalan pergi. Herman
ingin mengejarnya, tapi kakinya tidak bergerak. Ia hanya duduk di sana, di
papan kayu dermaga, memandang sungai yang tidak pernah memberinya jawaban.
Malam itu, Sintia datang. Ia duduk di sisi yang biasa, dan
tanpa melihat Herman, ia berkata, "Aku melihat kamu dengan perempuan
itu."
Herman tidak menjawab.
"Dia suka padamu," lanjut Sintia.
"Sintia—"
"Aku tidak marah." Sintia menoleh, dan matanya
berkaca-kaca. "Aku hanya... aku hanya ingin kamu bahagia, Herman. Itu
saja."
Herman menatap perempuan yang telah ia tunggu selama lima
tahun. "Kenapa kamu pergi?"
Sintia menunduk. "Karena aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau aku tetap di sini, aku akan terus
berharap. Dan aku tidak ingin berharap pada sesuatu yang tidak pernah kamu
ucapkan."
Herman merasakan sesuatu menusuk di dadanya. "Sintia,
aku—"
"Jangan," potong Sintia. "Jangan
mengucapkannya sekarang. Bukan karena aku, bukan karena dia. Kalau kamu
mengucapkannya sekarang, aku tidak akan pernah tahu apakah kamu benar-benar
menginginkannya atau hanya karena kamu merasa kasihan."
Sintia bangkit. "Aku akan pergi lagi, Herman. Mungkin
besok, mungkin lusa. Tapi sebelum aku pergi, aku ingin kamu tahu satu hal: aku
tidak pernah menyalahkanmu. Aku hanya menyalahkan waktu."
Ia berjalan pergi, meninggalkan Herman di papan kayu yang
tiba-tiba terasa terlalu luas.
Herman duduk di sana sampai lampu-lampu PLN di sepanjang
Jalan Sudirman mulai berkedip-kedip seperti orang mengantuk. Ia tidak
menggulung pancingnya. Ia tidak membersihkan udangnya. Ia hanya duduk,
memandang sungai, dan merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan
sebelumnya—bukan sedih, bukan bingung, hanya sesuatu yang seperti berhenti.
Malam itu, ia menulis: Hari ini dua orang mengatakan hal
yang sama. Bahwa mereka tidak ingin aku memilih karena kasihan. Aku tidak tahu
apakah itu membuat segalanya lebih mudah atau lebih sulit.
Pagi itu Herman datang lebih awal dari biasanya. Ia duduk
di dermaga dengan pancing di tangan, tapi ia tidak melemparkan kailnya. Ia
hanya duduk di sana, memandang sungai yang tenang, dan memikirkan kata-kata
Sintia.
Pak Rahmat menemukannya beberapa menit kemudian, sedang
menata meja lipatnya dengan tangan yang tidak terlalu bersemangat.
"Bang, kenapa kau duduk di situ? Seperti orang habis
kalah judi."
Herman tidak menjawab. Pak Rahmat duduk di sampingnya,
menghela napas panjang.
"Aku sudah tua, Herman," kata Pak Rahmat
kemudian. "Aku sudah lihat banyak orang datang dan pergi dari dermaga ini.
Ada yang datang untuk mencari kerja, ada yang datang untuk mencari jodoh, ada
yang datang hanya karena tidak tahu harus ke mana. Tapi yang paling sering aku
lihat adalah orang yang datang untuk menunggu."
Herman menoleh.
"Kau ini penunggu, Bang. Kau menunggu sesuatu yang kau
sendiri tidak tahu apa. Dan selama kau menunggu, kau lupa bahwa hidup itu bukan
tentang menunggu, tapi tentang memilih."
"Kalau aku salah memilih?"
Pak Rahmat tertawa. "Semua pilihan punya risiko, Bang.
Tapi tidak memilih juga pilihan. Dan itu pilihan yang paling menyakitkan,
karena kau membiarkan dua orang terluka sementara kau sendiri tidak pernah
benar-benar hidup."
Herman terdiam. Pak Rahmat bangkit, menepuk bahunya, lalu
berjalan menuju meja lipatnya.
"Udangmu sudah habis dimakan ikan," kata Pak
Rahmat tanpa menoleh. "Kau terlalu lama melamun."
Herman menarik pancingnya. Umpannya hilang. Ia tidak tahu
apakah dimakan udang atau ikan atau hanya terlepas. Ia memasang umpan baru,
melemparkannya kembali, dan duduk lagi. Tapi kali ini, ia tidak hanya menunggu.
Ia memikirkan Sania—cara ia tersenyum ketika berhasil
memasang umpan, cara ia menutup mulut dengan tangannya ketika tertawa, cara ia
mengatakan "aku tidak akan menunggu kamu selamanya" dengan suara yang
tenang tapi mata yang berkaca-kaca. Ia memikirkan Sintia—cara ia berdiri di
ujung dermaga dengan koper di tangan, cara ia mengatakan "aku tidak pernah
menyalahkanmu" dengan suara yang hampir berbisik, cara ia berjalan pergi
tanpa menoleh lagi.
Herman menyadari sesuatu yang selama ini ia hindari: ia
tidak takut memilih karena takut salah. Ia takut memilih karena takut
kehilangan. Selama ia tidak memilih, ia bisa memiliki keduanya—Sania yang duduk
di sampingnya setiap sore, Sintia yang berdiri di ujung dermaga dengan senyum
yang sama seperti lima tahun lalu. Tapi selama ia tidak memilih, ia juga tidak
pernah benar-benar memiliki siapa pun.
Sore itu, Sania datang seperti biasa. Ia duduk di papan
kayu, membuka buku kecilnya, dan mulai menulis. Herman memandangnya lama, lalu
berkata, "Sania."
Sania menoleh. "Ya?"
"Aku ingin bercerita tentang Sintia."
Sania menutup bukunya. Ia tidak tersenyum, tidak marah,
hanya duduk di sana dengan mata yang tenang. "Aku mendengarkan."
Herman bercerita. Tentang masa kecil mereka, tentang
dermaga ini, tentang janji yang tidak pernah diucapkan, tentang kepergian
Sintia lima tahun lalu, tentang surat yang tidak pernah ia balas. Ia bercerita
sampai mulutnya kering dan suaranya serak, dan Sania mendengarkan tanpa
menyela, tanpa mengalihkan pandangan.
Ketika Herman selesai, Sania duduk dalam diam untuk
beberapa saat. Lalu ia berkata, "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk akhirnya jujur." Sania tersenyum tipis.
"Aku tidak tahu apakah ini mengubah apa pun. Tapi setidaknya sekarang aku
tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Herman mengangguk. "Aku tidak tahu harus berbuat
apa."
"Tidak ada yang harus kamu lakukan sekarang,"
kata Sania. "Kadang hal-hal seperti ini tidak perlu diselesaikan dengan
cepat. Kadang kita hanya perlu duduk dan membiarkannya."
Mereka duduk di sana sampai matahari terbenam, tanpa berbicara,
tanpa memancing. Untuk pertama kalinya, Herman tidak merasa perlu untuk mengisi
keheningan dengan apa pun.
Beberapa hari setelah percakapan itu, Herman mencoba
menulis surat untuk Sania.
Ia duduk di meja kayu di rumahnya, membuka buku tulis baru,
dan menulis: Sania, aku tidak tahu harus mulai dari mana.
Ia memandang kalimat itu, lalu mencoretnya. Ia menulis
lagi: Sania, aku ingin kamu tahu bahwa aku—
Ia mencoretnya lagi. Ia menulis: Sania, aku minta maaf.
Ia memandang kalimat itu untuk waktu yang lama. Ia ingin
mengatakan banyak hal—tentang kebimbangannya, tentang rasa takutnya, tentang
mengapa ia begitu sulit mengatakan apa yang ia rasakan. Tapi setiap kali ia
mencoba menulis, kata-kata itu terasa salah.
Akhirnya, ia menutup buku tulisnya dan meletakkannya di
rak. Ia tidak pernah mengirim surat itu. Ia tidak pernah menyelesaikannya. Tapi
setidaknya ia sudah mencoba.
Malam itu, ia menulis di buku tulisnya yang lain: Hari
ini aku mencoba menulis surat untuk seseorang. Aku tidak pernah menyelesaikannya.
Mungkin karena aku belum siap mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan.
Festival kuliner Kuala Kapuas diadakan setiap tahun di
sekitar Dermaga KP3 dan taman di sekitarnya. Malam itu, Ujung Murung penuh
orang—pedagang dari berbagai kecamatan, anak-anak dengan balon, pasangan yang
berfoto di depan tugu Batang Garing, dan Herman yang duduk di papan kayu
dermaga, memancing udang di tengah keramaian.
Lampu-lampu PLN di sepanjang Jalan Sudirman menyala seperti
biasa, putih kekuningan, tidak terlalu terang, tapi cukup untuk membuat wajah
orang-orang terlihat jelas. Herman memperhatikan wajah-wajah itu—wajah Pak
Rahmat yang berteriak menawarkan sate, wajah Bu Ida yang tersenyum pada
pelanggan, wajah anak-anak yang berlarian tanpa tujuan.
Sania datang dengan teman-teman gurunya. Ia melihat Herman
dari kejauhan, tersenyum, lalu mengangkat tangan—sapaan kecil yang biasa mereka
lakukan. Herman membalas, tapi ia tidak mendekat. Ia tidak bisa.
Sintia datang sendirian. Ia berdiri di dekat tugu Batang
Garing, memandang keramaian dengan mata yang tidak benar-benar melihat. Herman
memperhatikannya dari dermaga, dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa
Sintia tidak pernah benar-benar pulang—ia hanya kembali ke tempat yang ia
kenal, untuk memastikan bahwa tempat itu masih ada.
Malam semakin larut. Keramaian mulai surut. Sania sudah
pulang bersama teman-temannya. Sintia masih berdiri di dekat tugu, seperti
patung yang tidak ingin diganggu. Herman menggulung pancingnya, meletakkannya
di samping tasnya, dan berjalan menuju Sintia.
"Mau pulang?" tanya Herman.
Sintia menoleh. "Kamu tidak perlu mengantarku."
"Aku tahu. Tapi aku ingin."
Mereka berjalan berdampingan melewati taman, melewati
lampu-lampu PLN yang menyala biasa saja, melewati pedagang yang mulai menutup
mejanya. Sintia berhenti di depan gang tempat ia tinggal.
"Herman," katanya. "Aku akan pergi
besok."
Herman mengangguk. "Aku tahu."
"Kamu tidak akan menghentikanku?"
Herman menatap perempuan yang telah ia tunggu selama lima
tahun. "Kalau aku menghentikanku, apakah kamu akan tinggal?"
Sintia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum—senyum yang sama,
lebar, sedikit miring ke kanan, dengan lesung pipi di satu sisi—lalu masuk ke
gang dan menghilang.
Herman berdiri di sana untuk waktu yang lama, memandang
gang yang gelap, dan menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia
benar-benar sendirian.
Malam itu, ia menulis: Hari ini seseorang pergi lagi.
Aku tidak tahu apakah aku sedih atau lega. Mungkin keduanya.
Sania tidak datang selama tiga hari.
Herman menunggu di dermaga, setiap sore, memandang papan
kayu kosong di sampingnya. Ia ingin menghubungi Sania, tapi ia tidak punya
nomor teleponnya. Ia ingin bertanya kepada Bu Ida, tapi ia terlalu malu. Ia
hanya bisa menunggu, seperti biasa.
Pada hari keempat, Sania datang. Ia duduk di papan kayu,
membuka buku kecilnya, dan tidak menoleh ke arah Herman. Herman berdiri,
ragu-ragu, lalu berjalan mendekat.
"Boleh saya duduk?"
Sania tidak menjawab. Herman duduk.
"Aku minta maaf," kata Herman.
Sania berhenti menulis. "Untuk apa?"
"Untuk... semuanya. Untuk tidak jujur. Untuk membuatmu
merasa seperti pilihan kedua."
Sania menutup bukunya. "Herman, aku tidak marah karena
kamu mencintainya. Aku marah karena kamu tidak pernah jujur padaku. Aku bukan
anak kecil yang tidak bisa menerima kenyataan. Aku hanya ingin kamu
menghargaiku cukup untuk mengatakan yang sebenarnya."
Herman menunduk. "Aku tahu. Aku bodoh."
"Ya, kamu bodoh." Sania tersenyum tipis.
"Tapi aku juga bodoh, karena aku tetap datang ke sini."
Mereka duduk dalam keheningan. Sungai Kapuas mengalir
seperti biasa. Lampu PLN di sepanjang Jalan Sudirman mulai menyala satu per
satu.
"Sintia sudah pergi," kata Herman akhirnya.
"Kemarin pagi."
Sania menoleh. "Kamu tidak menghentikannya?"
"Aku tidak berhak."
Sania memandangnya lama. "Herman, kamu tahu apa
bedanya kamu dan aku?"
Herman menggeleng.
"Aku berani mengatakan apa yang aku rasakan. Kamu
tidak." Sania bangkit. "Aku akan tetap datang ke sini, karena aku
suka dermaga ini. Tapi aku tidak akan menunggu kamu selamanya."
Ia berjalan pergi, dan Herman tidak menghentikannya. Untuk
pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus menjadi pemancing udang
yang hanya bisa duduk dan menunggu. Ia harus berani melakukan sesuatu—hanya
saja, ia tidak tahu caranya.
Malam itu, ia menulis: Hari ini seseorang mengatakan
bahwa aku tidak berani mengatakan apa yang aku rasakan. Aku ingin membantahnya.
Tapi aku tidak bisa.
Tiga minggu setelah kepergian Sintia, sebuah surat datang
ke rumah Herman. Amplopnya putih, tulisannya rapi, dan di sudut kanan atas
tertulis nama pengirim: Sintia.
Herman membuka surat itu di dermaga, di papan kayu tempat
ia biasa memancing udang.
Herman,
Aku menulis ini di kamar kos yang sama seperti lima tahun
lalu. Ternyata tidak banyak yang berubah. Dindingnya masih retak di sudut yang
sama, dan tetangga sebelah masih berdeham setiap pagi seperti orang yang ingin
membuang sesuatu dari tenggorokannya.
Aku tidak tahu apakah surat ini akan sampai atau tidak.
Tapi kalau sampai, aku ingin kamu tahu beberapa hal yang tidak sempat aku
ucapkan di dermaga.
Pertama, aku tidak pergi karena kamu. Aku pergi karena aku.
Aku terlalu takut untuk tinggal, terlalu takut untuk berharap, terlalu takut
untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu sejak kita masih duduk di bangku SD dan
kamu memberiku udang yang kamu tangkap sendiri di dermaga, dan aku pura-pura
suka memakannya meskipun udang itu terlalu kecil dan terlalu keras.
Kedua, aku melihat caramu memandang perempuan itu—Sania.
Aku melihat sesuatu di matamu yang tidak pernah aku lihat saat kamu
memandangku. Bukan karena kamu tidak mencintaiku, tapi karena mungkin kamu
mencintaiku dengan cara yang berbeda. Cara yang lebih tua. Cara yang lebih
aman. Cara yang tidak menuntut apa-apa.
Ketiga, aku tidak menyalahkanmu. Aku tidak pernah
menyalahkanmu. Aku hanya menyalahkan waktu—waktu yang membuat kita bertemu
terlalu awal, atau mungkin terlalu lambat.
Herman, kamu tidak perlu membalas surat ini. Aku hanya
ingin kamu tahu bahwa aku baik-baik saja. Dan aku berharap kamu juga.
Terima kasih untuk dermaga itu. Terima kasih untuk
udang-udangmu yang terlalu kecil. Terima kasih untuk semuanya.
Sintia
Herman melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam buku
tulisnya. Ia tidak menangis. Ia hanya duduk di sana, memandang sungai, dan
merasakan sesuatu yang aneh—bukan sedih, bukan lega, hanya sesuatu yang seperti
berhenti.
Malam itu, ia menulis: Sungai ini tidak pernah bertanya
ke mana ia akan bermuara. Ia hanya mengalir. Mungkin aku harus belajar dari
sungai.
Setahun kemudian, Dermaga KP3 masih sama. Pak Rahmat masih
berjualan sate, Bu Ida masih menjual ketupat kandangan, anak-anak masih
berlarian di tangga dermaga. Lampu PLN di sepanjang Jalan Sudirman masih
menyala setiap pukul enam sore, satu per satu, seperti orang menyalakan rokok.
Herman masih memancing udang. Tapi ada yang berbeda.
Ia mulai menulis. Buku tulis lamanya sudah penuh, dan ia
membeli buku baru. Setiap malam, di rumah kecilnya di gang belakang Ujung
Murung, ia menulis tentang sungai, tentang dermaga, tentang perempuan yang
duduk di sampingnya dan perempuan yang berdiri di dekat tugu Batang Garing. Ia
menulis tentang hal-hal yang tidak pernah ia ucapkan, karena menulis adalah
satu-satunya cara yang ia tahu untuk mengatakannya.
Sania masih datang setiap sore. Mereka masih berbicara
tentang banyak hal, tapi sekarang ada jarak yang jelas di antara mereka—jarak
yang tidak menyakitkan, hanya nyata. Sania sudah punya teman baru, seorang guru
dari sekolah lain, dan Herman senang melihatnya tersenyum. Kadang Sania masih
duduk di papan kayu dekat Herman, membuka buku kecilnya, dan Herman masih
memancing udang di sampingnya, tapi sekarang ia tidak merasa kehilangan.
Suatu sore, Sania bertanya, "Kamu masih menulis?"
Herman mengangguk. "Setiap malam."
"Tentang apa?"
Herman berpikir sebentar. "Tentang orang yang menunggu
sesuatu yang tidak pernah datang."
Sania tersenyum. "Itu sedih."
"Tidak juga," kata Herman. "Kadang orang
perlu menunggu untuk tahu apa yang sebenarnya ia cari."
Sania memandangnya lama, lalu mengangguk. "Aku senang
kamu akhirnya tahu apa yang kamu cari."
Herman tidak menjawab. Tapi malam itu, ketika ia menggulung
pancingnya dan berjalan pulang, ia tidak merasa bahwa ia sedang menunggu apa
pun. Ia hanya merasa bahwa ia sedang berjalan, dan itu sudah cukup.
Ia melewati Bundaran Besar, melewati tugu Batang Garing
yang berdiri diam, melewati lampu-lampu PLN yang menyala biasa saja. Ia tidak
berhenti. Ia hanya berjalan, seperti biasa, menuju gang belakang Ujung Murung,
menuju rumah kecilnya yang hanya berisi satu kamar, satu dapur, dan satu rak
buku yang sebagian besar bukunya belum ia baca—tapi sekarang ada satu buku
tulis baru di atas meja, dan itu sudah cukup untuk membuat rumah itu terasa
seperti rumah.
Suatu sore, Herman membaca ulang surat Sintia. Ia duduk di
papan kayu dermaga, dengan amplop putih di tangan, dan membaca kata-kata yang
sudah ia hafal di luar kepala.
Herman, kamu tidak perlu membalas surat ini.
Ia membaca kalimat itu berkali-kali. Lalu ia membuka buku
tulisnya, mengambil pena, dan menulis:
Sintia,
Suratmu sampai. Aku membacanya di dermaga, di papan kayu
tempat kita dulu duduk. Udangnya masih sulit didapat, tapi aku masih memancing.
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak pandai
menulis surat. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah menyalahkanmu.
Aku tidak pernah menyalahkan waktu. Aku hanya... aku hanya tidak tahu harus
berbuat apa.
Kamu bilang kamu mencintaiku sejak kita masih duduk di
bangku SD. Aku juga. Tapi aku terlalu takut untuk mengatakannya. Aku terlalu takut
untuk kehilangan kamu. Dan akhirnya, karena aku terlalu takut, aku kehilangan
kamu juga.
Sania baik. Dia tidak seperti kamu. Dia tidak pernah
membuatku merasa bahwa aku sedang menunggu sesuatu. Dia hanya duduk di
sampingku, dan aku merasa bahwa itu sudah cukup. Tapi aku tidak tahu apakah itu
berarti aku mencintainya. Aku tidak tahu apakah aku pernah mencintai siapa pun
dengan cara yang benar.
Sintia, aku tidak tahu apakah surat ini akan sampai. Aku
tidak tahu apakah kamu akan membalas. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku
baik-baik saja. Dermaga masih di sini. Udangnya masih kecil. Dan aku masih
menulis.
Herman
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop, dan
menulis alamat Sintia di Surabaya. Ia tidak tahu apakah alamat itu masih benar.
Ia tidak tahu apakah Sintia masih tinggal di sana. Tapi ia mengirimnya juga.
Malam itu, ia menulis di buku tulisnya: Hari ini aku
mengirim surat. Aku tidak tahu apakah itu akan sampai. Tapi setidaknya aku
sudah mencoba.
Suatu sore, seorang perempuan muda duduk di papan kayu
dermaga, tidak jauh dari tempat Herman biasa memancing. Ia membawa buku kecil
bersampul cokelat, seperti Sania dulu. Herman memperhatikannya dari jauh, lalu
tersenyum. Ia tidak mendekat. Ia hanya duduk di tempatnya, memandang sungai, dan
membiarkan angin menyapu wajahnya.
Pak Rahmat menghampirinya. "Bang, itu ada tamu baru.
Kenapa kau tidak menyapa?"
Herman menggeleng. "Bukan tamuku, Pak."
Pak Rahmat tertawa. "Kau ini aneh. Dulu kau terlalu
takut menyapa. Sekarang kau terlalu santai."
Herman tersenyum. "Mungkin aku sudah belajar bahwa
tidak semua orang yang datang ke dermaga ini harus aku sapa."
Pak Rahmat mengangkat bahu, lalu kembali ke mejanya. Herman
memandang sungai yang mengalir, lampu-lampu PLN yang menyala biasa saja, dan
perempuan muda di papan kayu yang sedang menulis sesuatu di buku kecilnya.
Ia tidak tahu apakah perempuan itu akan datang lagi besok.
Ia tidak tahu apakah Sania akan tetap datang setiap sore. Ia tidak tahu apakah
Sintia akan pernah kembali. Ia tidak tahu apakah suratnya akan sampai.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Herman tidak
merasa perlu untuk tahu.
Sungai Kapuas tidak pernah bertanya ke mana ia akan
bermuara. Ia hanya mengalir, seperti cinta yang tidak pernah benar-benar
selesai—hanya berubah bentuk, berpindah tempat, dan terus bergerak.
Di antara kita, selalu ada sesuatu yang tak terucap. Dan
mungkin, itulah yang membuat kita tetap tinggal.
—Tamat—











