Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Sabtu, 18 April 2026

NOVELET JEJAK PETUALANG 5: SUMPAH di PUNCAK SUMBING

 

 

 



 

PROLOG

Kabut yang Menyimpan Nama

Tidak semua gunung hanya menyimpan batu, pepohonan, dan kabut.

Sebagian gunung menyimpan nama.

Nama orang-orang yang pernah datang dengan niat baik.
Nama mereka yang pulang dengan hati berbeda.
Dan nama mereka yang tak pernah benar-benar kembali.

Masyarakat Desa Awan Biru, sebuah desa kecil yang terletak di lereng selatan Gunung Sumbing, telah lama percaya bahwa kabut bukan sekadar embun yang turun dari langit.

Kabut adalah ingatan.

Ia turun perlahan setiap sore.
Menyusuri akar-akar tua.
Menempel pada batang pinus.
Membelai semak liar.
Lalu berjalan pelan seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu yang tertinggal.

Orang-orang tua di desa tidak pernah berani menyebutnya dengan suara keras.

Mereka hanya menyebutnya sebagai:

penjaga gunung.

Dan malam itu,
ketika angin dari arah puncak bertiup lebih dingin dari biasanya,
Pak Sugeng kembali mendengar suara yang selama bertahun-tahun selalu datang dalam mimpinya.

Tok...
Tok...
Tok...

Langkah kaki.

Pelan.

Teratur.

Seperti sepatu gunung yang menginjak tanah basah di halaman rumah kayunya.

Pak Sugeng yang sedang duduk di beranda langsung menghentikan gerakan tangannya.

Cangkir kopi hitam di genggamannya bergetar kecil.

Matanya menatap ke halaman depan yang hanya diterangi lampu kuning redup.

Kosong.

Tak ada siapa-siapa.

Namun suara itu masih terdengar.

Tok...
Tok...
Tok...

Semakin dekat.

Pak Sugeng menelan ludah.

Usianya kini hampir tujuh puluh tahun.
Rambutnya telah memutih.
Tubuhnya tak lagi sekuat dulu.

Tetapi rasa dingin yang merambat di punggungnya malam itu terasa sama persis seperti tiga puluh tahun yang lalu.

Malam ketika seorang sahabatnya menghilang.

Di gunung yang sama.

Di jalur yang sama.

Jalur yang kini hampir tidak pernah disebut siapa pun.

Pak Sugeng memejamkan mata.

Ia tahu suara itu.

Ia tidak mungkin salah.

Karena suara itu milik seseorang yang tak pernah benar-benar pergi dari gunung ini.

Seseorang bernama:

R. WIRATAMA.

Ayah dari seorang anak kecil yang dulu menangis sepanjang malam menunggu kepulangannya.

Anak itu kini telah tumbuh dewasa.

Namanya:

Joko Supratikno.

Pak Sugeng memandang gelap lereng di kejauhan.

Kabut turun perlahan dari atas.
Menyelimuti pohon-pohon.
Membuat seluruh gunung tampak seperti bayangan raksasa yang sedang bernapas.

Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun,
Pak Sugeng merasa satu hal:

gunung itu sedang menunggu.

Bukan menunggu dirinya.

Melainkan menunggu seseorang yang sebentar lagi akan datang.

Seseorang yang selama ini tak pernah tahu
bahwa ayahnya bukan sekadar hilang.

Tetapi memilih tinggal.

Di dalam gunung.


Pak Sugeng menaruh cangkirnya pelan.

Tangannya yang renta meraih sebuah kotak kayu kecil di samping kursi.

Kotak tua itu sudah kusam.
Sudutnya retak.
Engselnya berkarat dimakan usia.

Dengan hati-hati ia membukanya.

Di dalamnya hanya ada tiga benda:

  • kompas tua
  • tali gelang lusuh
  • dan sepotong kayu kecil berukir

Pak Sugeng mengambil potongan kayu itu.

Di permukaannya masih terlihat ukiran samar:

“Yang datang untuk mencari akan pulang membawa janji.”

Kalimat itu tidak pernah berubah.

Meskipun waktu telah berlalu.

Meskipun hujan, angin, dan tahun terus berganti.

Pak Sugeng menggenggam kayu itu erat.

“Sudah waktunya...” bisiknya.

Angin malam berembus pelan.

Lampu beranda bergoyang kecil.

Lalu dari arah hutan di bawah lereng,
suara langkah itu terdengar sekali lagi.

Tok...
Tok...
Tok...

Namun kali ini,
Pak Sugeng tidak takut.

Karena ia tahu.

Gunung tidak sedang menakuti.

Gunung sedang memanggil.


di lereng gunung sumbing,
di sebuah rumah sederhana yang penuh dengan peralatan pendakian,
seorang lelaki berusia tiga puluh tahun sedang membersihkan carrier besar berwarna hitam.

Namanya Joko.

Ia tidak tahu bahwa malam itu,
namanya baru saja disebut oleh gunung.

Ia hanya tahu satu hal:

beberapa hari lagi,
ia akan memimpin perjalanan
yang mungkin mengubah hidupnya.

Ia belum tahu,
bahwa pendakian kali ini
bukan hanya tentang membuka jalur baru.

Bukan hanya tentang wisata.

Bukan hanya tentang persahabatan antar desa.

Tetapi tentang sebuah rahasia lama
yang selama puluhan tahun disimpan kabut lereng selatan.

Rahasia yang menunggu dirinya.

Rahasia tentang ayahnya.

Rahasia tentang gunung.

Dan rahasia tentang sumpah
yang suatu hari nanti
akan diucapkan di atas awan.


Di luar,
kabut terus turun.

Pelan.
Sunyi.
Seperti seseorang yang tersenyum dalam gelap.

Karena Gunung Sumbing tahu.

Mereka akan datang.

Dan ketika mereka datang,
tak seorang pun akan pulang
sebagai orang yang sama.


BAB 1

Undangan dari Lereng Selatan

Pagi di Desa Awan Biru selalu datang dengan cara yang berbeda.

Udara dingin turun lebih dahulu daripada cahaya.
Kabut menggantung di sela rumah-rumah kayu.
Burung-burung kecil melintas di atas ladang.
Dan dari kejauhan,
Gunung Sumbing berdiri diam seperti penjaga tua yang tak pernah tidur.

Joko Supratikno berdiri di halaman kantor desa sambil menatap puncak yang sebagian masih tertutup awan.

Tangannya memegang secarik surat undangan.

Di atas kertas itu tertulis:

Rapat Koordinasi Jalur Pendakian Lereng Selatan

Kelompok Pecinta Alam Awan Biru (KPAAB)

Namun yang membuatnya diam bukan isi surat itu.

Melainkan satu nama yang tertulis di bawahnya.

Muhammad Ilham – Tim Digital Desa Suralaya
Fahri – Tim Digital Desa Lembah Selatan

Joko tersenyum tipis.

Tiga desa.
Tiga perjalanan.
Satu gunung.

Dan tanpa ia sadari,
hari itu adalah awal dari cerita panjang
yang kelak akan mengubah hidup mereka semua.


Bambang datang dari belakang sambil membawa map.

“Sudah dibaca?”

Joko mengangguk.
“Sudah.”

“Gimana?”

Joko menoleh.
“Serius mau buka jalur lama?”

Bambang ikut memandang gunung.

“Pak Iwan mau.”
“Pak Sugeng juga akhirnya setuju.”

Joko mengernyit.
“Pak Sugeng setuju?”

“Itu yang aneh.”

Karena selama bertahun-tahun,
Pak Sugeng adalah orang yang paling menolak
siapa pun menyentuh jalur lama.

Jalur yang oleh warga hanya disebut:

jalur awan.

Jalur yang katanya:

  • terlalu sunyi
  • terlalu tua
  • terlalu banyak cerita

Joko melipat surat itu perlahan.

“Kalau Pak Sugeng setuju… berarti ada sesuatu.”

Bambang menatap sahabatnya.
“Kamu tetap mau ikut?”

Joko tersenyum kecil.

“Saya justru harus ikut.”

“Kenapa?”

Joko kembali menatap puncak.

“Entahlah.”

Ia diam sebentar.

“Tapi rasanya gunung itu memanggil.”

Bambang menghela napas.
“Kalimat seperti itu biasanya awal masalah.”

Joko tertawa kecil.

Dan untuk pertama kalinya,
tanpa mereka sadari,
perjalanan itu sudah dimulai
bahkan sebelum kaki mereka melangkah.


Pagi di Desa Awan Biru selalu datang lebih lambat dari desa-desa lain di kaki gunung.

Bukan karena matahari enggan terbit.

Melainkan karena kabut selalu lebih dulu mengambil tempat.

Kabut turun dari lereng selatan Gunung Sumbing seperti tirai putih tipis yang perlahan menyelimuti sawah, kebun kopi, dan rumah-rumah kayu yang berdiri berjajar di sepanjang jalan tanah desa. Dari kejauhan, desa itu tampak seperti terapung di atas awan, sebab itulah orang-orang tua dulu menamainya:

Desa Awan Biru

Sebuah desa kecil yang tidak terlalu dikenal peta wisata.
Namun terlalu dikenal oleh orang-orang yang percaya bahwa gunung memiliki ingatan.

Di halaman kantor desa,
Joko Supratikno berdiri sendiri.

Tangannya memegang secarik undangan berstempel resmi desa.
Namun matanya justru tertuju pada puncak Gunung Sumbing yang berdiri diam di balik kabut pagi.

Angin dingin berembus pelan,
membawa aroma tanah basah dan daun pinus.

Sudah lama Joko tidak menatap gunung itu selama ini.

Bukan karena ia tak mencintainya.

Justru sebaliknya.

Terlalu mencintai kadang membuat seseorang memilih menjauh.

Karena gunung itu pernah mengambil sesuatu yang tak pernah bisa ia minta kembali.

Ayahnya.


“Kalau kamu tatap terus begitu, gunungnya nggak bakal turun sendiri.”

Suara Bambang dari belakang membuat Joko menoleh.

Lelaki bertubuh tegap itu datang sambil membawa map tebal di tangan kirinya.
Ransel kecil menggantung di bahunya.
Wajahnya masih sama seperti dulu:
serius,
namun selalu terlihat tenang.

Joko tersenyum tipis.

“Pagi-pagi sudah nyinyir.”

Bambang menyerahkan map itu.
“Bukan nyinyir. Realistis.”

Joko membuka map.
Di dalamnya ada:

  • daftar peserta
  • peta jalur lama
  • jadwal rapat
  • dan proposal pengembangan wisata desa

Di halaman depan tertulis besar:

Ekspedisi Jalur Lereng Selatan – Gunung Sumbing

Kerja Sama Tiga Desa

Joko mengangkat alis.

“Serius?”

Bambang mengangguk.
“Pak Iwan sudah setuju.”

“Pak Sugeng?”

Bambang diam sebentar.
Lalu menjawab pelan.

“Itu yang bikin saya heran.”
“Beliau juga setuju.”

Joko memandang sahabatnya lama.

Selama bertahun-tahun,
Pak Sugeng adalah orang yang paling keras menolak siapa pun mendekati jalur lama lereng selatan.

Jalur yang oleh warga desa disebut dengan suara setengah berbisik:

Jalur Awan

Jalur yang:

  • tak tercatat resmi
  • jarang dilewati
  • dan penuh cerita yang tak pernah selesai

Joko melipat kembali map itu.

“Kalau beliau setuju…”
“berarti ada sesuatu.”

Bambang menghela napas.
“Itu yang saya pikir juga.”


Kenangan yang Belum Selesai

Joko kembali menatap gunung.

Sudah hampir dua puluh lima tahun sejak ayahnya dinyatakan hilang.

Waktu itu Joko masih kecil.
Terlalu kecil untuk memahami mengapa seorang ayah bisa pergi tanpa pamit.
Terlalu kecil untuk mengerti mengapa ibunya menangis setiap malam sambil menatap lereng gunung.

Yang ia tahu hanya satu:
sejak hari itu,
setiap orang di desa mendadak diam
setiap kali nama ayahnya disebut.

Tidak ada yang pernah bercerita dengan utuh.
Tidak ada yang pernah memberi jawaban jelas.

Semua hanya berkata hal yang sama:

“Ayahmu hilang di gunung.”

Hilang.

Satu kata sederhana.

Namun cukup untuk membuat seorang anak tumbuh dengan pertanyaan yang tak pernah selesai.

Bambang memandang wajah sahabatnya.
“Kamu masih kepikiran?”

Joko tersenyum kecil.
“Kadang saya pikir gunung itu belum selesai sama saya.”

“Jangan ngomong begitu.”

“Kenapa?”

Bambang menatap lereng.

“Karena biasanya gunung suka mendengar.”

Joko tertawa pendek.
“Kamu sekarang mulai seperti Pak Sugeng.”

“Lebih baik seperti orang tua daripada seperti kamu.”
“Ne kat nekat tapi nggak mikir.”

Joko tertawa.

Dan untuk sesaat,
beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.


Kantor Desa yang Mulai Ramai

Menjelang pukul sembilan,
Kantor desa mulai ramai.

Warga berdatangan.
Anak-anak muda dari KPAAB sibuk menata kursi.
Perempuan desa menyiapkan teh panas.
Bendera kecil dipasang di depan aula.

Di dinding balai,
terpasang spanduk besar:

“Menyatukan Langkah, Menjaga Alam, Membangun Desa”

Pak Iwan Setiawan,
kepala Desa Awan Biru,
berjalan keluar dari ruangannya.

Tubuhnya tinggi.
Raut wajahnya tenang.
Namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia memikirkan sesuatu lebih besar dari sekadar rapat wisata.

“Ikut saya,” katanya kepada Joko dan Bambang.

Mereka masuk ke ruangan kecil di samping aula.

Di sana sudah ada:
Pak Eko,
Bu Lulu,
dan Pak Sugeng.

Joko langsung terdiam.

Pak Sugeng duduk diam di kursi kayu.
Tangannya memegang tongkat.
Matanya menatap jendela.

Ia tampak lebih tua dari terakhir kali Joko melihatnya.

Namun ada sesuatu di matanya hari itu.

Sesuatu yang sulit dijelaskan.

Seperti seseorang yang tahu lebih banyak
daripada yang ingin ia katakan.

Pak Iwan membuka pembicaraan.

“Hari ini kita akan menerima tamu dari dua desa.”

“Suralaya dan Lembah Selatan.”

Bambang mengangguk.
“Sudah siap.”

Pak Iwan menatap Joko.

“Saya mau kamu memimpin jalur.”

Joko terdiam.

“Saya?”

Pak Iwan mengangguk.
“Kamu paling paham medan.”

Pak Sugeng yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata pelan,

“Dan karena gunung mengenal keluargamu.”

Ruangan langsung sunyi.

Joko menatap Pak Sugeng.

Namun lelaki tua itu kembali diam,
seolah tidak merasa baru saja mengatakan sesuatu yang aneh.


Kedatangan Desa Suralaya

Tak lama kemudian,
suara mobil terdengar dari luar.

Satu mobil double cabin berhenti di depan kantor desa.

Dari dalam turun rombongan Desa Suralaya.

Yang pertama keluar:
Raditya.

Kepala desa muda yang dikenal progresif.
Rapi.
Tenang.
Wibawanya kuat.

Di belakangnya turun:

  • Ilham
  • Angga
  • Dimas
  • Haris
  • Nisa
  • Nilam
  • dan Pak Kirno

Ilham langsung tersenyum lebar saat melihat Joko.

“Wah, akhirnya ketemu lagi.”

Joko tersenyum.
“Sudah lama.”

Ilham menjabat tangannya erat.
“Terakhir kita ketemu waktu pelatihan digital dua tahun lalu.”

“Sekarang malah ketemu di gunung.”

Dimas melihat puncak lalu menghela napas.
“Saya kira rapat digital. Ternyata olahraga ekstrem.”

Angga langsung menyahut.
“Kamu naik tangga kantor saja ngos-ngosan.”

Dimas menatap kesal.
“Minimal saya jujur.”

Nisa yang berdiri di samping Ilham hanya tersenyum kecil.

Joko memperhatikan mereka.
Hubungan Ilham dan Nisa terlihat hangat,
namun ada sesuatu yang belum sepenuhnya tenang di antara keduanya.

Dan Joko tahu:
kadang perjalanan panjang
selalu membuka apa yang tersembunyi.


Kedatangan Lembah Selatan

Belum sempat suasana tenang,
sebuah minibus datang dari arah jalan desa.

Pintu terbuka.

Dan suara pertama yang terdengar adalah:

“Wah… dinginnya bisa bikin jomblo cepat nikah.”

Semua langsung menoleh.

Udin turun sambil menggosok tangan.
Senyumnya lebar.
Matanya penuh energi.
Dan mulutnya jelas tak bisa diam.

Di belakangnya turun:

  • Bu Yuni
  • Fahri
  • Dayat
  • Eni
  • Tedi
  • Jamaludin
  • Dedi

Fahri langsung menyalami semua dengan tenang.

“Terima kasih sudah mengundang kami.”

Bu Yuni tersenyum hangat.
“Sudah lama kami ingin melihat jalur ini.”

Udin melihat sekitar.
Lalu berbisik cukup keras:

“Yang saya lihat baru kabut.”
“Semoga nanti ada jodoh.”

Dayat menepuk belakang kepalanya.
“Belum juga mulai.”

Udin mengusap kepala.
“Namanya juga doa.”

Semua tertawa kecil.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu,
balai desa terasa hidup.

Tiga desa.
Tiga cerita.
Tiga rombongan berbeda.

Namun tak seorang pun tahu,
mereka sedang berdiri di awal perjalanan
yang akan mengubah semuanya.


Tatapan Pertama

Di tengah keramaian,
Udin mendadak berhenti bicara.

Hal yang sangat jarang terjadi.

Sebab matanya menangkap seseorang.

Seorang perempuan yang sedang membantu menyusun gelas di meja teh.

Rambut panjang.
Wajah tenang.
Jaket biru tua.
Tatapan lembut.

Yulia.

Dari Desa Awan Biru.

Udin mematung.

Dayat melirik.
“Kenapa?”

Udin menunjuk pelan.
“Itu…”

“Itu apa?”

“Kayaknya saya baru nemu alasan kenapa saya harus naik gunung.”

Dayat memejamkan mata.
“Belum juga rapat.”

Udin tetap menatap.

Karena untuk pertama kalinya,
lelaki paling cerewet itu
kehilangan kata-kata.

Dan jauh di dalam dirinya,
sesuatu baru saja dimulai.


Kantor desa semakin ramai.
Teh mulai disajikan.
Kursi mulai terisi.
Percakapan mulai mengalir.

Namun di luar,
Gunung Sumbing tetap berdiri diam di balik kabut.

Seolah menunggu.

Karena ia tahu.

Sebentar lagi,
mereka bukan hanya akan saling mengenal.

Mereka akan saling mengubah.


Rapat Besar Tiga Desa

Suasana di Kantor Desa Awan Biru perlahan berubah dari ramah menjadi khidmat.

Kursi-kursi kayu yang sebelumnya masih berderit karena orang hilir mudik kini mulai terisi penuh.
Cangkir teh panas tersusun rapi di atas meja panjang.
Beberapa map dokumen terbuka.
Laptop milik tim digital dari dua desa sudah menyala.

Di bagian depan ruangan,
spanduk putih besar menggantung di dinding kayu:

“Menyatukan Langkah, Menjaga Alam, Membangun Masa Depan Bersama”

Matahari pagi mulai masuk dari sela jendela.
Kabut di luar perlahan menipis.
Namun hawa dingin pegunungan masih bertahan di dalam ruangan.

Pak Iwan berdiri di depan meja rapat.
Tatapannya menyapu semua wajah yang hadir.

Wajah-wajah dari tiga desa.
Wajah-wajah yang datang dengan tujuan berbeda.

Ada yang datang karena visi.
Ada yang datang karena persahabatan.
Ada yang datang karena rasa penasaran.

Dan ada yang datang…
karena sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum mengerti.

Joko termasuk yang terakhir.


Pembukaan yang Tenang

Pak Iwan membuka rapat dengan suara tenang.

“Terima kasih sudah datang ke Awan Biru.”

Ia menatap Raditya.
Lalu Bu Yuni.
Kemudian semua yang hadir.

“Beberapa tahun terakhir, tiga desa kita pernah saling belajar.”

Raditya mengangguk.

“Dulu Suralaya belajar digitalisasi awal dari Awan Biru.”

Bu Yuni ikut tersenyum.

“Lalu Lembah Selatan belajar bangkit dari Suralaya.”

Pak Iwan mengangguk pelan.

“Dan hari ini…”
“mungkin saatnya kita belajar melangkah bersama.”

Ruangan hening.

Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat semua orang merasa bahwa pertemuan hari itu
bukan rapat biasa.


Presentasi Jalur Lama

Bambang maju ke depan sambil membawa peta besar.

Ia membentangkan peta di meja.

Sebuah garis merah tua terlihat membelah lereng selatan Gunung Sumbing.

Bambang menunjuk jalur itu.

“Ini jalur lama.”

Ilham memperhatikan.
“Tidak ada di peta wisata.”

“Memang,” jawab Bambang.

Fahri menyipitkan mata.
“Kenapa?”

Joko yang menjawab kali ini.

“Karena jalur ini tidak pernah dibuka untuk umum.”

Ruangan menjadi lebih tenang.

Bambang melanjutkan.

“Jalur ini dulu dipakai warga lama.”
“Untuk naik ke hutan atas.”
“Untuk ritual.”
“Untuk mengambil hasil hutan.”
“Dan untuk jalur darurat.”

Pak Kirno mengangguk pelan.
“Jalur adat.”

“Benar.”

Bambang menunjuk beberapa titik.

“Jalur ini punya lima belas basecamp alami.”

Di peta terlihat:

  • sumber air
  • batu datar
  • pohon penanda
  • tebing kabut
  • titik puncak

Udin yang dari tadi diam akhirnya angkat tangan.

“Pertanyaan penting.”

Semua menoleh.

“Di jalur itu ada sinyal?”

Beberapa orang menahan tawa.

Bambang menatap datar.
“Tidak.”

Udin menghela napas.
“Berarti kalau saya hilang, status terakhir saya tidak terkirim.”

Ruangan langsung pecah oleh tawa.

Bahkan Pak Iwan ikut tersenyum.

Dan untuk beberapa saat,
suasana yang tadinya tegang menjadi lebih ringan.


Tujuan yang Lebih Besar

Setelah tawa mereda,
Ilham membuka laptop.

Ia menampilkan rancangan digital promosi wisata.

Di layar muncul:

  • desain website
  • peta interaktif
  • promosi media sosial
  • paket wisata edukasi desa

Ilham menjelaskan dengan penuh semangat.

“Kalau jalur ini dibuka dengan benar,” katanya,
“ini bukan hanya wisata.”

Ia menunjuk layar.

“Ini bisa jadi:

  • promosi budaya
  • edukasi konservasi
  • sumber ekonomi baru
  • kerja sama antar desa”

Raditya menambahkan,

“Bukan wisata massal.”
“Tapi wisata berkarakter.”

Bu Yuni mengangguk.
“Wisata yang menghormati alam.”

Fahri menambahkan,
“Dan semua terintegrasi digital.”

Pak Eko yang sejak tadi diam akhirnya berkata,

“Jadi bukan sekadar pendakian?”

Ilham tersenyum.
“Bukan.”
“Ini tentang masa depan desa.”

Joko memperhatikan semua itu.

Ia tahu ide itu bagus.

Bahkan sangat bagus.

Namun entah kenapa,
setiap kali melihat garis merah jalur lama di peta,
dadanya terasa berat.

Seolah gunung itu
tidak sedang menunggu wisata.

Tetapi menunggu sesuatu yang lain.


Penolakan Pertama

Saat suasana mulai sepakat,
Dayat tiba-tiba mengangkat tangan.

“Maaf.”

Semua menoleh.

“Kalau boleh jujur…”

Dayat menatap peta.

“Kenapa harus jalur ini?”

Ruangan hening.

“Gunung sudah punya jalur resmi.”
“Kenapa harus buka yang lama?”

Fahri menoleh.
“Dayat…”

Namun Dayat melanjutkan.

“Saya bukan menolak.”
“Saya cuma ingin tahu.”

Ia menatap Joko.

“Kalau jalur ini aman, kenapa ditutup puluhan tahun?”

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Beberapa orang saling pandang.

Karena itulah pertanyaan yang sebenarnya ada di kepala banyak orang.

Namun belum ada yang berani mengucapkannya.

Joko belum sempat menjawab.

Pak Sugeng yang duduk di sudut ruangan tiba-tiba berbicara.

“Karena tidak semua jalan ditutup karena berbahaya.”

Semua menoleh padanya.

Suara lelaki tua itu tenang.

“Kadang…”
“ada jalan yang ditutup karena manusia belum siap melewatinya.”

Udin berbisik ke Fahri.
“Saya mulai merinding.”

Fahri menyikutnya.
“Diam.”

Dayat mengernyit.
“Belum siap bagaimana maksudnya?”

Pak Sugeng menatap lurus ke peta.

“Karena gunung tidak pernah menerima orang yang datang hanya untuk menaklukkan.”

Ruangan kembali sunyi.

Tak ada yang tertawa.

Tak ada yang menyela.

Karena kalimat itu terasa terlalu berat
untuk dianggap sekadar nasihat orang tua.


Tatapan Diam Joko

Joko menatap Pak Sugeng lama.

Ada sesuatu di balik kalimat itu.

Sesuatu yang selama ini belum pernah dijelaskan.

Bambang melihat perubahan wajah sahabatnya.
Namun memilih diam.

Kadang,
ada pertanyaan yang memang harus datang sendiri.


Yulia dan Tatapan Pertama

Di tengah rapat,
Yulia masuk membawa nampan teh.

Ia meletakkan beberapa cangkir di depan tamu.

Saat ia sampai di depan Udin,
lelaki itu langsung duduk lebih tegak.

“Terima kasih.”

Yulia hanya mengangguk kecil.

Namun saat hendak berbalik,
Udin berbisik pelan,

“Tehnya pasti manis.”

Yulia menoleh.
“Belum diminum.”

Udin tersenyum.
“Yang bikin yang manis.”

Yulia terdiam dua detik.

Lalu melanjutkan langkah.

Dayat menutup wajah.
“Ya Allah…”

Fahri menahan tawa.

Sementara Yulia yang berjalan menjauh,
diam-diam tersenyum tipis.

Mungkin untuk pertama kalinya,
ada seseorang yang mampu membuat suasana rapat serius
menjadi sedikit lebih hangat.


Keputusan Besar

Setelah diskusi panjang,
Pak Iwan berdiri.

“Baik.”

Ia menatap semua.

“Kalau kita ingin membuka jalur ini…”

Ia berhenti sejenak.

“Kita harus melewatinya terlebih dahulu.”

Raditya mengangguk.
“Survei langsung.”

Bu Yuni setuju.
“Tim gabungan.”

Bambang membuka daftar.

“Dari Awan Biru.”
“Dari Suralaya.”
“Dari Lembah Selatan.”

Ilham tersenyum.
“Pendakian persahabatan.”

Udin mengangkat tangan.
“Sekalian pendakian pencarian jodoh.”

Yulia yang berada di belakang hampir tersedak teh.

Ruangan kembali tertawa.

Namun Pak Iwan kembali serius.

“Ini bukan perjalanan biasa.”

Ia menatap semua.

“Kalau ada yang ragu…”
“masih bisa mundur sekarang.”

Ruangan sunyi.

Tak ada satu pun yang berdiri.

Tak ada satu pun yang mundur.

Karena tanpa mereka sadari,
setiap orang di ruangan itu
sudah merasa terpanggil.

Dengan alasan masing-masing.


Tanda yang Tak Disadari

Saat rapat selesai,
semua mulai berdiri.

Kursi bergeser.
Suara percakapan kembali terdengar.

Namun Joko masih duduk memandang peta.

Tatapannya berhenti pada satu titik:
basecamp sepuluh.

Sebuah tanda kecil di peta lama.
Lingkaran hitam.
Tanpa keterangan.

Joko mengernyit.

“Apa ini?”

Ia menoleh ke Bambang.

Bambang mendekat.
“Yang mana?”

“Ini.”

Bambang memandang.
Lalu menggeleng.

“Entahlah.”
“Peta lama dari Pak Sugeng.”

Joko menoleh pada lelaki tua itu.

Namun Pak Sugeng hanya memandang keluar jendela.

Ke arah gunung.

Ke arah kabut.

Seolah ia tahu,
perjalanan itu tidak hanya akan membuka jalur.

Tetapi membuka sesuatu yang selama ini
sudah terlalu lama tertutup.


Di luar kantor desa,
angin gunung kembali berembus.

Pelan.

Membawa aroma tanah basah.

Dan jauh di atas lereng selatan,
kabut turun perlahan
seperti seseorang
yang sedang menunggu mereka datang.


Persiapan Keberangkatan

Setelah rapat selesai, kantor desa tidak langsung sepi.

Justru sebaliknya.

Ruangan yang tadi dipenuhi suara diskusi perlahan berubah menjadi pusat kesibukan kecil yang terasa seperti sarang lebah. Kursi-kursi dipindahkan. Peta digulung. Tas-tas mulai dibuka. Daftar perlengkapan dibacakan satu per satu. Beberapa anggota tim keluar masuk membawa logistik dari gudang samping balai desa.

Pendakian itu memang baru akan dimulai besok pagi.

Namun semua orang tahu:
setiap perjalanan besar selalu dimulai
sehari sebelumnya.

Kadang bukan dengan langkah.

Tetapi dengan rasa.

Dan sore itu,
di tengah udara dingin Desa Awan Biru,
masing-masing orang mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Ada yang bersemangat.
Ada yang gugup.
Ada yang diam-diam takut.
Ada pula yang belum sadar
bahwa hidupnya akan berubah.


Daftar Perlengkapan

Di teras kantor desa,
Bambang berdiri sambil memegang clipboard.

Wajahnya serius seperti biasa.

“Baik.”
“Sekarang kita cek perlengkapan.”

Udin langsung mengangkat tangan.
“Kalau semangat termasuk perlengkapan, saya paling lengkap.”

Dayat menghela napas.
“Mulai lagi.”

Bambang tetap datar.

“Yang saya maksud:

  • tenda
  • kompor
  • sleeping bag
  • logistik
  • radio
  • obat-obatan
  • lampu kepala
  • tali”

Udin mengangguk.
“Oh. Kalau itu saya bawa.”

“Bagus.”

“Termasuk kopi.”

“Yang itu paling penting.”

Semua tertawa kecil.

Bambang melanjutkan daftar.

“Tim medis?”

Bu Amilia mengangkat tas merah.
“Siap.”

“Air?”

Rendi menjawab,
“Sudah dibagi.”

“GPS?”

Ilham mengangkat alat di tangannya.
“Ada dua.”

“Power bank?”

Dimas mengangkat tiga.
“Kalau sinyal hilang, setidaknya baterai tidak.”

Angga menatapnya.
“Gunung bukan kantor.”

Dimas mengangkat bahu.
“Trauma hidup modern.”

Tawa kembali terdengar.

Di tengah kesibukan,
hubungan antar tiga desa perlahan mulai mencair.

Mereka bukan lagi tamu.
Mereka mulai menjadi satu tim.


Joko dan Pak Sugeng

Sementara yang lain sibuk,
Joko melihat Pak Sugeng duduk sendirian di bangku kayu depan kantor.

Lelaki tua itu menatap gunung yang mulai tertutup kabut sore.

Joko berjalan mendekat.

“Bapak.”

Pak Sugeng tidak langsung menoleh.
“Hm.”

Joko duduk di sampingnya.

“Kenapa baru sekarang jalur itu dibuka?”

Pak Sugeng diam cukup lama.

Suara anak-anak yang bermain di kejauhan terdengar samar.

Suara burung sore melintas di atas ladang.

Lalu Pak Sugeng berkata pelan,

“Karena baru sekarang orang yang tepat datang.”

Joko mengernyit.
“Orang yang tepat?”

Pak Sugeng menoleh.

“Kadang gunung tidak menunggu kelompok.”

Ia menatap mata Joko.

“Kadang gunung hanya menunggu satu orang.”

Joko terdiam.

Angin dingin menyentuh tengkuknya.

“Bapak tahu sesuatu tentang ayah saya?”

Pak Sugeng kembali menatap lereng.

“Besok…”
“mungkin kamu akan tahu sendiri.”

Jawaban itu justru membuat dada Joko semakin berat.

Karena terkadang,
setengah jawaban
lebih menyakitkan daripada diam.


Percakapan di Dapur Desa

Di dapur umum belakang kantor,
beberapa perempuan sibuk menyiapkan makan malam.

Yulia sedang memotong sayur.
Nisa membantu membungkus nasi.
Nilam menyiapkan teh.
Bu Lulu mengatur perlengkapan dapur.

Suasana hangat.
Aroma bawang goreng memenuhi ruangan.

Nisa melirik Yulia.
“Kamu dari tadi diam.”

Yulia tersenyum kecil.
“Capek.”

Nilam tertawa kecil.
“Capek atau mikirin yang tadi?”

Yulia pura-pura tak paham.
“Yang mana?”

Nilam menirukan suara Udin.
“Tehnya pasti manis…”

Yulia langsung memukul pelan bahu Nilam.
“Apaan sih.”

Nisa ikut tersenyum.
“Lucu juga.”

Yulia menggeleng.
“Berisik.”

Nilam mengangkat alis.
“Tapi kamu senyum.”

Yulia terdiam.

Karena ia sadar.
Ia memang tersenyum.

Dan itu yang justru membuatnya bingung.


Udin yang Tak Bisa Diam

Di luar,
Udin duduk di tangga sambil membersihkan sepatu.

Fahri duduk di sampingnya.

“Kamu langsung tertarik ya?”

Udin tersenyum lebar.
“Namanya juga hati.”

Fahri menggeleng.
“Kamu baru lihat dua menit.”

“Kadang dua menit cukup.”
“Bahkan ada yang satu detik.”

Dayat yang lewat menyela,
“Kadang satu tamparan juga cukup.”

Udin menatapnya.
“Kamu iri.”

“Saya waras.”

Udin tertawa kecil.
Lalu menatap langit yang mulai berubah jingga.

“Tapi serius.”

Fahri menoleh.
“Serius apa?”

“Saya merasa perjalanan ini beda.”

Fahri terdiam.

Karena untuk pertama kalinya,
Udin terdengar sungguh-sungguh.

“Beda bagaimana?”

Udin menatap gunung.

“Kayak…”
“kita bukan cuma diajak naik.”

Ia menghela napas.

“Kayak kita dipanggil.”

Fahri tidak menjawab.

Karena jauh di dalam hatinya,
ia merasakan hal yang sama.


Malam Turun di Awan Biru

Matahari tenggelam lebih cepat di desa pegunungan.

Tak lama setelah senja,
kabut mulai turun lagi.

Lampu-lampu rumah menyala satu per satu.
Udara semakin dingin.
Suara jangkrik menggantikan suara manusia.

Malam itu,
seluruh rombongan menginap di rumah warga dan kantor desa.

Besok subuh mereka akan berangkat.

Malam terakhir sebelum pendakian.

Malam yang seharusnya tenang.

Namun justru menjadi awal dari sesuatu yang tak seorang pun duga.


Makan Malam Bersama

Di aula kecil kantor,
semua duduk lesehan menikmati makan malam.

Menu sederhana:

  • nasi hangat
  • sayur sop
  • ikan goreng
  • sambal
  • teh panas

Namun karena dimakan bersama,
rasanya jauh lebih istimewa.

Udin menatap piring Yulia.
“Kamu sedikit banget makannya.”

Yulia melirik.
“Kenapa?”

“Kalau pingsan besok, saya yang panik.”

Dayat langsung menyahut,
“Kamu panik atau senang bisa gendong?”

Semua tertawa.

Udin pura-pura serius.
“Saya tulus.”

Yulia menggeleng kecil sambil menahan senyum.

Di sisi lain,
Ilham memperhatikan Nisa yang tampak murung.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Bohong.”

Nisa menatapnya.
“Aku cuma merasa…”

Ia berhenti.

“Perjalanan ini aneh.”

Ilham mengernyit.
“Aneh bagaimana?”

Nisa memandang jendela yang gelap.

“Seperti kita bukan memilih pergi.”

Ia berkata pelan.

“Seperti kita dipilih.”

Ilham tak langsung menjawab.

Karena kalimat itu
terdengar terlalu dekat dengan apa yang ia rasakan.


Pertanda Pertama

Malam semakin larut.

Satu per satu orang mulai masuk ke tempat tidur masing-masing.

Lampu balai dimatikan.
Hanya lampu teras yang tersisa.

Joko tidak bisa tidur.

Ia keluar sendirian.
Berdiri di depan balai.
Memandang gelap lereng.

Kabut turun lebih tebal malam itu.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Lalu—

tok…

Joko menoleh.

Tok…
Tok…

Suara langkah.

Pelan.

Dari arah belakang balai.

Joko mengernyit.

“Siapa?”

Tak ada jawaban.

Ia melangkah perlahan menuju sumber suara.

Tok…
Tok…
Tok…

Langkah itu terdengar lagi.
Jelas.
Seperti seseorang sedang berjalan di tanah basah.

Joko menahan napas.

“Siapa di sana?”

Kabut bergerak.

Dan di antara putih samar itu,
Joko melihat sesosok bayangan berdiri.

Diam.

Tinggi.

Mengenakan jaket gunung tua.

Joko membeku.

Tubuhnya dingin seketika.

Bayangan itu tak bergerak.

Hanya berdiri.

Menatap ke arahnya.

Lalu perlahan mengangkat tangan…

seolah memberi isyarat untuk mengikuti.

Joko melangkah satu langkah.

Namun tiba-tiba,

“Joko!”

Suara Bambang dari belakang membuat Joko tersentak.

Ia menoleh sebentar.

Saat menoleh kembali,

bayangan itu sudah hilang.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya kabut.
Hanya dingin.
Hanya malam.

Bambang mendekat.
“Kamu ngapain di sini?”

Joko menatap kosong ke depan.

“Tadi ada orang.”

Bambang melihat sekitar.
“Mana?”

Joko diam.

Karena ia sendiri tidak yakin
apa yang baru saja dilihatnya.

Namun satu hal pasti:

sesuatu di gunung itu
sudah mulai memanggilnya.


Malam terus berjalan.

Desa kembali sunyi.

Namun tak seorang pun tahu,
bahwa sebelum pendakian dimulai,
gunung telah lebih dulu
menyambut salah satu dari mereka.


BAB 2

Pertemuan Tiga Desa

Subuh di Desa Awan Biru datang dengan suara yang lembut.

Bukan suara kendaraan.
Bukan hiruk-pikuk pasar.
Bukan juga alarm ponsel yang nyaring.

Melainkan:

  • kokok ayam dari kejauhan
  • desir angin dari lereng
  • dan embun yang jatuh pelan dari ujung daun pinus

Kabut masih menggantung rendah di antara rumah-rumah kayu ketika lampu-lampu balai desa mulai menyala satu per satu.

Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba.

Hari ketika tiga desa akan berjalan bersama.

Bukan di ruang rapat.
Bukan di layar komputer.
Bukan dalam forum digital.

Tetapi di jalan sunyi menuju gunung.


Pagi yang Berbeda

Di dapur belakang balai desa,
aroma kopi hitam dan nasi goreng mulai memenuhi udara.

Bu Lulu sibuk membungkus nasi.
Bu Amilia menyiapkan obat.
Nilam menuang teh.
Yulia menata bekal ke dalam kantong.

Suasana pagi itu terasa berbeda.

Lebih tenang.

Lebih khidmat.

Seolah semua orang sadar bahwa perjalanan ini bukan sekadar pendakian biasa.

Di teras,
Joko duduk sambil mengikat tali sepatunya.

Matanya masih berat karena semalam hampir tak tidur.

Bayangan lelaki berkabut itu masih terus terlintas di kepalanya.

Ia belum menceritakannya kepada siapa pun.
Bahkan kepada Bambang.

Karena sebagian dirinya sendiri masih belum percaya.

“Belum tidur?”

Suara lembut membuat Joko menoleh.

Ternyata Yulia berdiri di dekat pintu sambil membawa secangkir kopi.

“Ini.”

Joko menerima cangkir itu.
“Terima kasih.”

Yulia duduk di sampingnya.
“Kelihatan seperti orang habis mimpi buruk.”

Joko tersenyum tipis.
“Memangnya kelihatan sekali?”

Yulia mengangguk.
“Dari mata.”

Joko menatap kopi hangat di tangannya.

Kadang ada orang yang bisa melihat hal-hal yang tak sempat kita ceritakan.

Namun sebelum Joko sempat menjawab,
suara keras dari halaman memecah suasana.

“SELAMAT PAGI CALON PENDAKI DAN CALON MENANTU!”

Udin.

Tentu saja Udin.

Yulia menutup wajah.
Joko tertawa kecil.

Dan pagi yang tadinya sunyi
langsung berubah hidup.


Kekacauan Sebelum Berangkat

Di halaman,
Udin berdiri di atas batu kecil sambil memegang sendok.

“Perhatian!”
“Yang belum sarapan dilarang pingsan di tengah jalan!”
“Yang punya pacar harap jangan mesra berlebihan!”
“Yang jomblo… sabar, gunung kadang mempertemukan.”

Dayat langsung menarik kerah jaketnya.
“Turun.”

“Belum selesai.”

“Turun sekarang.”

“Baik.”

Semua tertawa.

Suasana yang sempat tegang perlahan mencair.
Dan itulah yang dibutuhkan semua orang pagi itu.

Karena terkadang,
seseorang yang paling banyak bercanda
adalah orang yang diam-diam paling peka
melihat kegelisahan orang lain.


Tiga Kelompok Menjadi Satu

Di halaman depan kantor,
rombongan mulai dibagi.

Tim Depan

dipimpin oleh:

  • Joko
  • Bambang
  • Ilham
  • Fahri

Mereka bertugas membuka jalur.


Tim Tengah

berisi:

  • Nisa
  • Yulia
  • Nilam
  • Eni
  • Udin
  • Guntur
  • Alia

Mereka menjaga ritme rombongan.


Tim Belakang

dipimpin:

  • Pak Sugeng
  • Pak Kirno
  • Dayat
  • Bu Amilia

Untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.


Pak Iwan berdiri di depan seluruh peserta.

Ia memandang mereka satu per satu.

“Tiga desa.”

Ia berhenti.

“Satu langkah.”

Angin pagi berembus pelan.

“Kita naik bukan untuk menaklukkan gunung.”

Ia menatap puncak.

“Kita naik untuk menghormatinya.”

Semua diam.

Lalu Pak Iwan berkata tegas:

“Jangan tinggalkan siapa pun.”

Kalimat sederhana itu terdengar seperti aturan biasa.

Namun nanti,
mereka akan mengerti
betapa pentingnya kalimat itu.


Langkah Pertama

Pukul lima lewat tiga puluh menit.

Langit mulai berubah biru muda.

Joko melangkah paling depan.

Sepatu gunungnya menyentuh jalan tanah desa.

Di belakangnya,
satu per satu rombongan mulai berjalan.

Melewati:

  • rumah-rumah kayu
  • kebun kopi
  • ladang sayur
  • jalan sempit berbatu

Warga desa keluar dari rumah untuk melihat.

Beberapa melambaikan tangan.
Beberapa memberi doa.
Beberapa hanya menatap diam.

Seorang nenek tua berbisik saat rombongan lewat:

“Gunung memilih tamunya sendiri.”

Joko menoleh.

Namun nenek itu sudah masuk kembali ke rumahnya.


Perkenalan yang Sebenarnya

Beberapa kilometer pertama,
jalan masih landai.

Percakapan mulai mengalir.

Ilham berjalan di samping Fahri.

“Dulu saya cuma dengar cerita tentang Lembah Selatan.”

Fahri tersenyum.
“Kami juga dulu hampir menyerah.”

Ilham mengangguk.
“Tapi sekarang kalian bangkit.”

Fahri menatap depan.
“Karena ada orang yang datang membantu.”

Ia melirik Joko.
Lalu Ilham.

“Kadang desa juga butuh sahabat.”

Ilham tersenyum.
“Kadang manusia juga.”


Di tengah rombongan,
Udin berjalan di samping Yulia.

“Capek?”

“Belum.”

“Kalau capek bilang.”

“Kenapa?”

“Saya bisa kasih semangat.”

Yulia menatap datar.
“Dengan cara?”

Udin berpikir.
Lalu menjawab serius.

“Saya nyanyi.”

Yulia langsung menggeleng.
“Jangan.”

“Kenapa?”

“Saya takut hutan ikut marah.”

Udin menepuk dada.
“Wah, ternyata kamu bisa bercanda.”

Yulia tersenyum tipis.

Dan Udin merasa:
perjalanan ini mungkin akan lebih indah dari yang ia bayangkan.


Ilham dan Nisa

Tak jauh di belakang,
Nisa berjalan berdampingan dengan Ilham.

Mereka sudah lama bersama.
Namun belakangan hubungan mereka mulai berubah.

Bukan karena hilang rasa.

Justru karena terlalu banyak hal yang tak diucapkan.

Nisa menatap jalur.
“Kamu masih cemburu sama Fahri?”

Ilham menoleh.
“Apa?”

“Kamu selalu aneh kalau saya bicara sama dia.”

Ilham diam.

Nisa menghela napas.
“Ilham…”

“Aku cuma takut.”

“Takut apa?”

Ilham menatap jalan.

“Takut kehilangan.”

Nisa menatap wajahnya lama.

Lalu berkata pelan.

“Kamu tidak akan kehilangan sesuatu yang kamu jaga.”

Kalimat itu sederhana.

Namun cukup membuat Ilham terdiam sepanjang beberapa langkah berikutnya.


Pak Sugeng dan Kabut

Di barisan belakang,
Pak Sugeng berjalan perlahan.

Tongkat kayunya mengetuk tanah.

Tok...
Tok...
Tok...

Suara yang hampir sama
dengan yang didengar Joko semalam.

Bu Amilia berjalan di sampingnya.

“Bapak kuat?”

Pak Sugeng mengangguk.
“Selama gunung masih mengizinkan.”

Bu Amilia tersenyum.
“Bapak selalu bicara begitu.”

Pak Sugeng menatap kabut di depan.

“Karena gunung bukan tempat yang kita datangi.”

Ia berhenti sebentar.

“Gunung tempat kita diterima.”

Bu Amilia tak menjawab.

Karena dari semua orang,
hanya Pak Sugeng yang terlihat seperti seseorang
yang sudah pernah kehilangan sesuatu di jalur itu.


Jembatan Tua

Setelah hampir dua jam berjalan,
rombongan tiba di sebuah jembatan kayu tua di atas sungai kecil.

Air mengalir jernih.
Batu-batu besar tertutup lumut.
Kabut menggantung rendah di atas aliran air.

Joko berhenti.

“Inilah batas desa.”

Semua memandang sekitar.

“Setelah ini…”

Bambang melanjutkan.

“Jalur gunung dimulai.”

Udin melihat jembatan goyah itu.
“Ini aman?”

Bambang menjawab santai.
“Kalau pelan.”

“Kalau saya jatuh?”

Dayat menjawab,
“Arusnya pilih-pilih.”

Semua tertawa.

Namun saat satu per satu mulai menyeberang,
Joko mendadak diam.

Karena di seberang jembatan,
di antara kabut pagi,
ia kembali melihat sosok itu.

Seseorang berdiri di bawah pohon tua.

Jaket gunung lusuh.

Diam.

Menatap ke arahnya.

Joko membeku.

“Jok?”

Suara Bambang membuatnya tersadar.

Ia berkedip.

Sosok itu hilang.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya kabut tipis bergerak perlahan.

Joko menelan ludah.

Dan untuk pertama kalinya,
ia sadar satu hal:

perjalanan ini
tidak sekadar mempertemukan tiga desa.

Tetapi juga
mempertemukan dirinya
dengan sesuatu dari masa lalu
yang belum selesai.


Mereka melangkah melewati jembatan tua itu.

Dan tanpa mereka sadari,
begitu kaki terakhir menginjak tanah seberang,

mereka bukan lagi tamu.

Mereka telah resmi masuk
ke wilayah gunung.


BAB 3

Jalur yang Tak Dikenal

Begitu kaki terakhir meninggalkan jembatan tua,
suasana langsung berubah.

Perubahan itu tidak keras.
Tidak tiba-tiba.
Tidak seperti pintu yang menutup.

Namun semua orang merasakannya.

Udara menjadi lebih dingin.
Angin terasa lebih pelan.
Dan suara dunia di belakang mereka
perlahan menghilang.

Tak ada lagi suara warga.
Tak ada suara ayam.
Tak ada suara kendaraan dari desa.

Yang tersisa hanya:

  • desir daun
  • bunyi ranting patah
  • aliran air kecil
  • dan langkah kaki rombongan

Tanah mulai menanjak.
Jalur menyempit.
Pohon-pohon menjadi lebih rapat.

Dan perlahan,
mereka masuk
ke jalur yang selama puluhan tahun
hanya hidup dalam cerita.

Jalur Awan


Hutan Pertama

Joko berjalan paling depan.

Tangannya memegang tongkat kayu.
Mata tajamnya menelusuri jalur.

Meski lama tak melewati jalan itu,
anehnya tubuhnya seperti mengenal arah.

Seolah ada sesuatu yang diam-diam membimbing langkahnya.

Di kanan kiri,
hutan mulai hidup.

Pohon damar menjulang tinggi.
Pakis liar tumbuh di sela batu.
Akar-akar besar menjulur seperti ular tua.
Burung kecil beterbangan cepat di antara dahan.

Kabut tipis masih bergelayut di sela batang.

Ilham yang berjalan di belakang Joko berkata pelan,

“Ini indah sekali.”

Joko hanya mengangguk.

“Masih awal.”

Fahri tersenyum.
“Kalau awalnya begini, atasnya pasti luar biasa.”

Joko tidak menjawab.

Karena ia tahu:
gunung tidak selalu memperlihatkan wajah yang sama
kepada setiap orang.


Tawa di Tengah Hutan

Di barisan tengah,
suasana jauh lebih ramai.

Udin berjalan sambil sesekali menoleh ke Yulia.

“Kamu capek?”

“Belum.”

“Lapar?”

“Belum.”

“Haus?”

“Belum.”

Yulia akhirnya menoleh.
“Kamu yang kenapa?”

Udin tersenyum.
“Saya cuma memastikan.”

“Memastikan apa?”

“Bahwa kamu masih mau jalan di dekat saya.”

Yulia memutar mata.
“Kamu memang tidak bisa diam ya?”

Udin mengangguk bangga.
“Bakat alami.”

Dayat dari belakang langsung menyela.
“Bukan bakat. Gangguan.”

Rombongan kecil tertawa.

Suasana yang semula kaku
perlahan menjadi lebih akrab.

Mungkin karena di gunung,
semua topeng perlahan jatuh.

Dan manusia mulai kembali menjadi dirinya sendiri.


Legenda Jalur Lama

Sekitar satu jam perjalanan,
rombongan berhenti di sebuah batu besar.

Bambang memberi isyarat istirahat.

Air minum dibuka.
Napas diatur.
Carrier diturunkan.

Pak Kirno duduk sambil memandang pohon tua di samping jalur.

“Dulu,” katanya pelan,
“orang-orang tua percaya setiap jalur gunung punya penjaga.”

Udin langsung menoleh.
“Jangan mulai.”

Pak Kirno tertawa kecil.
“Takut?”

“Bukan takut.”
“Saya menghormati imajinasi.”

Semua tersenyum.

Pak Kirno melanjutkan.

“Di jalur ini…”
“katanya ada penunggu yang hanya muncul pada orang tertentu.”

Joko yang sedang minum mendadak berhenti.

Ilham menoleh.
“Orang tertentu seperti apa?”

Pak Kirno menatap kabut.

“Orang yang datang bukan hanya untuk naik.”

“Lalu?”

“Orang yang datang untuk mencari sesuatu.”

Sunyi.

Tanpa sadar,
Joko menggenggam botol airnya lebih erat.

Karena kata-kata itu
terasa terlalu dekat
dengan apa yang ia alami.


Pertanda Kecil

Mereka melanjutkan perjalanan.

Semakin masuk,
jalur semakin asing.

Meski masih berupa tanah,
beberapa bagian hampir tertutup lumut.
Ranting-ranting rendah menghalangi jalan.
Kadang jalur tampak bercabang samar.

Namun anehnya,
setiap kali rombongan ragu,
Joko selalu memilih arah tanpa berpikir lama.

Dan selalu benar.

Bambang memperhatikan itu.

“Masih ingat?”

Joko menggeleng.
“Tidak.”

“Lalu?”

Joko menatap depan.
“Entah.”

Ia berkata pelan.

“Seperti ada yang menunjukkan.”

Bambang tidak tertawa.

Karena nada suara Joko
tidak terdengar seperti bercanda.


Yulia yang Mulai Tersenyum

Saat melintasi tanjakan kecil,
Yulia terpeleset karena akar licin.

“Ah!”

Tubuhnya hampir jatuh.

Namun sebelum sempat menyentuh tanah,
tangan Udin menangkap lengannya.

“Pelan.”

Yulia menatapnya.

Untuk pertama kalinya,
Udin tidak bercanda.

Tatapannya justru serius.

“Kalau kamu jatuh…”
“saya ikut panik.”

Yulia terdiam sesaat.

Lalu menarik tangannya pelan.
“Terima kasih.”

Udin tersenyum kecil.
“Sama-sama.”

Dayat yang melihat dari belakang berbisik pada Fahri,
“Saya nggak percaya dia bisa serius.”

Fahri menjawab,
“Saya juga baru lihat.”

Dan sejak saat itu,
sesuatu yang halus mulai berubah
di antara keduanya.


Jalur yang Menghilang

Menjelang siang,
kabut turun lebih tebal.

Tidak seperti kabut pagi.

Kabut ini datang cepat.
Diam-diam.
Dan menelan hutan sedikit demi sedikit.

Pandangan hanya tersisa beberapa meter.

Joko berhenti mendadak.

Semua ikut berhenti.

“Ada apa?” tanya Ilham.

Joko menatap depan.

Wajahnya berubah.

“Jalurnya…”

“Kenapa?”

Joko menunjuk.

Semua memandang.

Dan saat itulah mereka sadar.

Jalur tanah yang sejak tadi mereka ikuti
mendadak lenyap.

Benar-benar hilang.

Di depan mereka hanya ada:

  • semak rapat
  • akar pohon
  • batu besar
  • kabut putih

Tidak ada jejak.
Tidak ada pijakan.
Tidak ada jalan.

Udin menelan ludah.
“Sebentar…”

Ia menatap sekitar.

“Kita nyasar?”

Bambang cepat membuka peta.
“Tidak mungkin.”

Ilham menyalakan GPS.
Namun layar hanya menunjukkan sinyal kacau.

“GPS tidak stabil.”

Fahri menatap Joko.
“Kamu yakin ini jalurnya?”

Joko masih diam.

Karena ia yakin.

Sangat yakin.

Tadi jalur itu ada.

Namun sekarang,
hilang begitu saja.


Suara dari Dalam Kabut

Semua terdiam.

Hanya suara napas yang terdengar.

Lalu,

krak…

Suara ranting patah.

Semua menoleh.

Dari sisi kanan.

Kabut bergeser.

Tak ada siapa-siapa.

Lalu,

krak…

Dari sisi kiri.

Nisa langsung merapat ke Ilham.

Yulia memegang tali carrier.
Bu Amilia menoleh cepat.

Udin yang biasanya paling cerewet kini hanya berbisik:

“Itu suara apa?”

Pak Sugeng yang berdiri paling belakang menjawab pelan.

“Jangan bicara keras.”

“Kenapa?”

Pak Sugeng menatap kabut.

“Karena kita sedang diperhatikan.”

Kalimat itu membuat semua merinding.


Joko Melihat Sesuatu

Joko melangkah pelan ke depan.

Matanya menembus kabut.

Dan di sana,

di antara batang pohon besar,

ia melihat sosok yang sama.

Jaket lusuh.
Tubuh tinggi.
Diam.

Menatapnya.

Kali ini lebih jelas.

Dan perlahan,
sosok itu mengangkat tangan.

Menunjuk ke kiri.

Lalu menghilang.

Joko membeku.

“Jok?”

Bambang memanggil.

Joko menoleh cepat.

Lalu berkata singkat,

“Ke kiri.”

“Apa?”

“Jalurnya ke kiri.”

Bambang mengernyit.
“Kamu yakin?”

Joko menatap arah kabut tadi.

“Yakin.”

Semua saling pandang.

Namun entah kenapa,
tak ada yang membantah.

Karena dalam situasi seperti itu,
mereka hanya punya satu pilihan:

percaya.


Jalan yang Muncul Kembali

Joko membelah semak kecil di sisi kiri.

Dan beberapa langkah kemudian,

jalur itu muncul lagi.

Tanah sempit.
Jejak lama.
Akar yang terinjak.

Persis seperti sebelumnya.

Semua terdiam.

Bahkan Udin tidak langsung bicara.

Fahri menatap Joko.
“Kamu tahu dari mana?”

Joko menjawab singkat.

“Saya cuma merasa.”

Bambang menatap sahabatnya lama.

Karena ia tahu:
itu bukan sekadar firasat.

Dan jauh di dalam hatinya,
Bambang mulai merasa bahwa perjalanan ini
lebih besar dari yang mereka duga.


Gunung Mulai Membuka Diri

Mereka kembali berjalan.

Namun kali ini,
tak ada lagi yang terlalu banyak bicara.

Karena sesuatu baru saja terjadi.

Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan logika.

Sesuatu yang terlalu nyata untuk diabaikan.

Kabut kembali bergerak pelan di antara pohon.

Dan jauh di depan,
jalur lama terus menanjak
menuju tempat yang belum mereka ketahui.

Sementara Gunung Sumbing,
diam-diam,
mulai membuka dirinya
sedikit demi sedikit.


BAB 4

Langkah Menuju Ketinggian

Setelah jalur yang sempat menghilang itu ditemukan kembali, tidak ada seorang pun yang benar-benar berjalan dengan perasaan yang sama.

Hutan masih sama.

Pohon-pohon tua tetap berdiri diam.
Kabut masih melayang di sela batang.
Aroma tanah basah masih memenuhi udara.

Namun sesuatu telah berubah.

Bukan jalurnya.

Melainkan hati orang-orang yang melewatinya.

Kini setiap langkah terasa lebih pelan.
Lebih hati-hati.
Lebih sadar.

Karena untuk pertama kalinya,
semua mulai mengerti bahwa gunung itu
bukan hanya tempat.

Gunung itu seperti makhluk tua
yang sedang mengamati mereka satu per satu.


Keheningan yang Baru

Joko masih berjalan paling depan.

Namun kali ini ia tidak hanya memimpin langkah.
Ia seperti sedang mendengarkan sesuatu.

Sesekali ia berhenti.
Menatap tanah.
Menatap pohon.
Menatap kabut.

Seolah hutan sedang berbicara dengan bahasa yang hanya ia pahami sendiri.

Ilham memperhatikan itu dari belakang.

“Dia berubah ya?”

Fahri mengangguk.
“Sejak tadi.”

“Menurutmu dia lihat sesuatu?”

Fahri menatap Joko.
Lalu menjawab pelan.

“Kadang orang yang punya urusan dengan gunung…”
“selalu melihat lebih dulu.”

Ilham tak langsung menjawab.

Karena kalimat itu
terdengar terlalu masuk akal
untuk dianggap candaan.


Tanjakan Pertama yang Berat

Jalur mulai berubah.

Tanah yang sebelumnya landai perlahan menanjak.
Akar pohon menjadi pijakan.
Batu besar mulai muncul di sela semak.
Napas mulai terasa lebih berat.

Bambang memberi aba-aba.

“Kita masuk tanjakan pertama.”
“Jaga ritme.”
“Jangan terlalu cepat.”

Udin menatap lereng di depan.
“Ini tanjakan atau ujian hidup?”

Dayat menjawab,
“Kalau kamu masih sempat ngomong, berarti belum capek.”

“Batin saya capek.”

Semua tertawa kecil.

Meskipun suasana masih menyisakan tegang,
tawa kecil itu membuat langkah terasa lebih ringan.

Kadang,
yang menyelamatkan perjalanan bukan tenaga.

Melainkan orang-orang yang membuat kita lupa sedang lelah.


Nisa Mulai Tertinggal

Setelah hampir satu jam menanjak,
langkah Nisa mulai melambat.

Napasnya pendek.
Wajahnya pucat.
Keringat dingin muncul di pelipis.

Ilham yang sejak tadi memperhatikan langsung mendekat.

“Kamu kenapa?”

“Gapapa.”

“Nisa.”

“Aku cuma sedikit pusing.”

Ilham segera mengambil botol air.

“Duduk dulu.”

Nisa menggeleng.
“Nanti menghambat.”

Ilham menatapnya serius.
“Tidak ada yang lebih penting dari kondisi kamu.”

Nisa menatap wajahnya.
Untuk sesaat,
semua kekesalan kecil yang selama ini tersimpan
seolah luruh begitu saja.

Karena terkadang,
rasa sayang paling jelas terlihat
saat seseorang mulai takut kehilangan.

Fahri ikut mendekat.

“Biar saya cek.”

Bu Amilia juga datang dari belakang.

Setelah memeriksa sebentar,
Bu Amilia tersenyum.

“Hanya kelelahan.”
“Kurang makan pagi.”

Udin langsung menyahut,
“Makanya saya bilang nasi itu penting.”
“Cinta saja tidak cukup.”

Yulia tanpa sadar tertawa kecil.

Udin menoleh cepat.

Dan baginya,
tawa kecil itu
terasa lebih indah daripada pemandangan gunung mana pun.


Istirahat di Basecamp Dua

Mereka berhenti di sebuah tanah datar kecil di bawah pohon beringin tua.

Bambang meletakkan tas.
“Kita istirahat sepuluh menit.”

Semua langsung duduk.
Beberapa membuka bekal.
Beberapa meregangkan kaki.
Beberapa hanya menarik napas panjang.

Di batang pohon besar itu,
terukir tulisan lama yang hampir pudar:

BC 2

Ilham memandang ukiran itu.
“Masih ada.”

Pak Kirno mengangguk.
“Jalur ini memang pernah hidup.”

Pak Sugeng memandang pohon itu lama.

“Dulu di sini sering dipakai tempat bermalam.”

Udin menoleh.
“Kenapa sekarang tidak?”

Pak Sugeng menjawab singkat.

“Karena setelah kejadian itu…”
“tak ada yang mau naik lagi.”

Suasana mendadak sunyi.

Tak ada yang bertanya kejadian apa.

Karena semua tahu:
jawaban itu akan datang sendiri
cepat atau lambat.


Percakapan Joko dan Bambang

Bambang duduk di samping Joko.

“Kamu belum cerita.”

Joko menoleh.
“Cerita apa?”

“Yang tadi.”

Joko diam.

Bambang menatapnya.
“Kita sahabat.”
“Jangan bohong.”

Joko menarik napas panjang.

“Tadi…”
“saya lihat seseorang.”

Bambang terdiam.

“Di kabut.”

“Siapa?”

Joko menatap kosong ke depan.

“Saya tidak tahu.”

“Pendaki?”

Joko menggeleng perlahan.

“Rasanya bukan.”

Bambang memandang wajah sahabatnya.
Dan untuk pertama kalinya,
ia melihat ketakutan di mata Joko.

Bukan takut pada hutan.

Tetapi takut pada kemungkinan
bahwa apa yang ia cari
mungkin benar-benar ada.


Yulia dan Udin

Di sisi lain,
Yulia duduk sambil mengikat ulang tali sepatu.

Udin datang membawa sepotong cokelat.

“Ini.”

Yulia menoleh.
“Untuk apa?”

“Katanya kalau capek makan manis.”

“Kamu yang capek?”

“Belum.”
“Tapi kalau kamu lemas saya ikut sedih.”

Yulia menatap cokelat itu.
Lalu mengambilnya.

“Terima kasih.”

Udin duduk di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.

“Aneh ya.”

“Apa?”

“Saya biasanya gampang bosan sama orang.”

Yulia menoleh.

“Tapi sama kamu…”

Udin tersenyum kecil.

“Baru beberapa jam, saya malah takut perjalanan ini cepat selesai.”

Yulia tidak langsung menjawab.

Namun pipinya menghangat.

Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai,
ia tidak merasa terganggu oleh lelaki cerewet itu.


Kabut yang Turun Mendadak

Saat istirahat hampir selesai,
angin tiba-tiba berubah.

Daun-daun bergoyang pelan.

Lalu dari arah atas,
kabut turun lebih cepat.

Terlalu cepat.

Dalam hitungan menit,
hutan yang tadi masih jelas
berubah putih.

Bambang berdiri.
“Semua siap.”
“Kita lanjut.”

Pak Sugeng justru menatap atas.

Wajahnya berubah.

“Cepat.”

Joko menoleh.
“Kenapa?”

Pak Sugeng berkata lirih,

“Gunung tidak suka kita terlalu lama di sini.”

Kalimat itu membuat bulu kuduk beberapa orang meremang.

Mereka segera kembali berjalan.

Namun kini,
kabut turun begitu tebal
hingga orang di depan hanya terlihat seperti bayangan.

Langkah mulai rapat.
Percakapan berkurang.
Suara napas terdengar lebih jelas.

Dan tanpa sadar,
semua mulai merasakan satu hal yang sama:

mereka sedang memasuki wilayah
yang berbeda dari sebelumnya.


Suara yang Mengikuti

Beberapa menit berjalan,
Dayat menoleh ke belakang.

“Dengar nggak?”

Fahri berhenti.
“Dengar apa?”

Dayat menatap hutan.

“Ada langkah lain.”

Semua ikut diam.

Mereka mendengar.

Suara langkah rombongan.
Ranting.
Napas.

Lalu—

krek...

Satu langkah lain.

Pelan.

Dari belakang.

Semua menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya kabut.

Udin berbisik,
“Jangan bercanda.”

Dayat menatapnya.
“Saya tidak.”

Lalu terdengar lagi.

Krek...

Sekali.

Seperti seseorang
berjalan mengikuti.

Bu Amilia langsung merapat.

Nisa memegang tangan Ilham.

Yulia menahan napas.

Joko menatap kabut di belakang.
Matanya tajam.

Namun tak ada apa pun.

Atau mungkin…

ada sesuatu
yang memang tidak ingin terlihat.


Langkah Menuju Ketinggian

Mereka terus naik.

Semakin tinggi.
Semakin dingin.
Semakin sunyi.

Dan tanpa mereka sadari,
setiap langkah bukan hanya membawa tubuh mereka naik.

Tetapi juga membawa mereka
semakin dekat
kepada rahasia lama
yang menunggu di atas.

Di belakang mereka,
kabut menutup jalur perlahan.

Seolah gunung ingin memastikan satu hal:

setelah melewati titik itu,
tak ada satu pun dari mereka
yang akan kembali menjadi orang yang sama.


BAB 5

Hutan Para Penunggu

Menjelang sore, hutan berubah warna.

Cahaya matahari yang sejak siang masih sempat menyelinap di antara dahan kini perlahan memudar. Sinar keemasan berganti menjadi bayangan kelabu. Pohon-pohon tinggi tampak semakin rapat. Kabut yang sejak siang menemani langkah mereka kini turun lebih rendah, menyapu tanah seperti asap tipis yang bergerak pelan.

Tak ada seorang pun yang mengatakannya dengan lantang.

Namun semua merasakan hal yang sama.

Hutan ini berbeda.

Bukan karena lebih gelap.
Bukan karena lebih dingin.
Tetapi karena ada perasaan samar
seolah mereka tidak sedang berjalan sendirian.


Memasuki Wilayah Lama

Joko berhenti di depan sebuah pohon besar yang akarnya menjulur seperti tangan-tangan tua.

Di batang pohon itu,
tergantung kain putih lusuh yang sudah pudar dimakan waktu.

Bambang mendekat.
“Masih ada.”

Ilham mengernyit.
“Itu apa?”

Pak Kirno menjawab pelan.

“Penanda lama.”

“Penanda apa?”

Pak Sugeng yang menjawab.

“Batas.”

Semua menoleh.

Pak Sugeng menatap kain itu lama.

“Dari sini…”
“orang tua dulu selalu meminta izin.”

Udin menelan ludah.
“Izin sama siapa?”

Pak Sugeng tidak langsung menjawab.

Ia hanya memandang ke dalam hutan yang semakin gelap.

“Dengan yang lebih dulu tinggal di sini.”

Tidak ada yang tertawa kali ini.

Karena suara lelaki tua itu
terlalu tenang untuk dianggap bercanda.


Doa Sebelum Melanjutkan

Pak Sugeng berdiri di depan pohon.
Melepas topinya.
Menundukkan kepala.

Tanpa diminta,
semua ikut diam.

Angin mendadak berhenti.

Tak ada suara burung.
Tak ada suara serangga.
Tak ada suara ranting.

Hanya suara napas mereka sendiri.

Pak Sugeng berkata pelan,

“Permisi.”
“Kami hanya lewat.”
“Tidak berniat mengganggu.”
“Tidak berniat merusak.”
“Hanya ingin pulang dengan selamat.”

Suara itu begitu sederhana.

Namun entah kenapa,
membuat bulu kuduk beberapa orang merinding.

Setelah itu,
angin kembali bergerak.

Daun-daun kembali berbisik.

Dan suasana hutan
seolah sedikit melunak.

Udin berbisik ke Dayat.
“Saya nggak tahu kenapa…”
“tapi saya merinding.”

Dayat menjawab singkat.
“Karena untuk sekali ini kamu diam.”


Mendirikan Camp

Tak lama kemudian,
Bambang menunjuk sebuah tanah datar kecil.

“Kita bermalam di sini.”

Sebuah area lapang alami
di antara tiga pohon besar.

Tanahnya cukup rata.
Ada sumber air kecil tak jauh.
Cukup aman dari longsor.

Di batu besar dekat tempat itu,
terukir tulisan samar:

BC 5

Malam pertama di gunung.

Dan semua mulai sibuk.

  • tenda dibuka
  • kompor disiapkan
  • kayu kecil dikumpulkan
  • lampu digantung
  • logistik dibagi

Suasana yang tadi tegang
perlahan berubah menjadi hangat.

Karena dalam dingin gunung,
kesibukan kecil seperti itu
membuat manusia merasa sedikit lebih tenang.


Tawa di Tengah Dingin

Udin sedang berusaha memasang tenda.

Namun karena terlalu percaya diri,
tiang tenda justru melipat sendiri.

Brak.

Tenda menimpa kepalanya.

Yulia yang melihat langsung tertawa.

Tawa kecil.
Namun jernih.

Udin muncul dari bawah kain tenda.
Rambut acak-acakan.
Wajah serius pura-pura.

“Kalau mau ketawa, bantuin.”

Yulia masih tersenyum.
“Siapa suruh sok bisa.”

“Saya memang bisa.”
“Tendanya saja yang kurang menghargai.”

Dayat lewat sambil membawa kayu.
“Tendanya juga punya perasaan.”

Semua tertawa.

Untuk sesaat,
hutan yang menyeramkan itu
terasa lebih manusiawi.


Joko dan Suara Masa Lalu

Sementara yang lain sibuk,
Joko berjalan sedikit menjauh dari camp.

Ia berdiri di tepi pohon besar.

Menatap hutan.

Kabut bergerak pelan di antara batang.

Malam belum turun sepenuhnya,
namun cahaya sudah mulai redup.

Dan saat itulah,

“Joko…”

Ia membeku.

Suara itu.

Sangat pelan.

Seperti bisikan.

Namun jelas menyebut namanya.

Joko menoleh cepat.

Tak ada siapa-siapa.

“Joko…”

Sekali lagi.

Kali ini dari arah kanan.

Tubuh Joko menegang.

Karena suara itu…

terlalu familiar.

Suara yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Suara ayahnya.


Bambang Menyadari Sesuatu

“Jok!”

Suara Bambang membuat Joko tersentak.

Ia menoleh.

Bambang berdiri beberapa meter di belakang.

“Kamu kenapa?”

Joko menggeleng cepat.
“Tidak apa-apa.”

“Kamu pucat.”

“Capek.”

Bambang menatap sahabatnya lama.

Ia tahu Joko berbohong.

Namun ia juga tahu:
ada beberapa hal
yang seseorang harus hadapi sendiri.

“Jangan jauh-jauh.”

Joko hanya mengangguk.

Namun dalam dadanya,
pertanyaan lama itu
kini mulai hidup kembali.

Apa yang sebenarnya terjadi di gunung ini?

Dan kenapa gunung itu
terus memanggilnya?


Makan Malam di Tengah Kabut

Malam turun sepenuhnya.

Lampu-lampu kecil di tenda mulai menyala.
Api kompor kecil berpendar hangat.
Aroma mie rebus dan kopi menyebar di udara dingin.

Mereka duduk melingkar.

Wajah-wajah yang tadi tegang
kini mulai lebih santai.

Udin menyeruput kopi.
Lalu menatap sekeliling.

“Kalau begini rasanya…”

Ia tersenyum.

“Kayak keluarga aneh.”

Ilham tertawa.
“Kenapa aneh?”

Udin menunjuk satu per satu.

“Ada yang pendiam.”
“Ada yang cerewet.”
“Ada yang serius.”
“Ada yang galak.”
“Ada yang jatuh cinta diam-diam.”

Yulia langsung menatap tajam.
“Siapa?”

Udin pura-pura kaget.
“Wah, saya nggak nyebut nama.”

Semua tertawa.

Nisa menatap api.
“Mungkin memang seperti itu.”

“Apa?” tanya Ilham.

“Perjalanan.”

Nisa tersenyum kecil.

“Kadang orang asing bisa terasa seperti keluarga.”
“Hanya karena melewati jalan yang sama.”

Kalimat itu membuat semua diam sesaat.

Karena setiap orang tahu:
itu benar.


Cerita Pak Sugeng

Saat suasana mulai tenang,
Pak Sugeng menatap api kecil.

“Dulu…”

Suara tuanya pelan.

“Jalur ini ramai.”

Semua menoleh.

“Orang naik turun.”
“Mencari kayu.”
“Mencari tanaman obat.”
“Membawa hasil hutan.”

Ia berhenti.

“Sampai satu malam…”
“seseorang hilang.”

Joko menegang.

Tak ada yang bergerak.

Pak Sugeng melanjutkan.

“Setelah itu…”
“jalur ini seperti menutup sendiri.”

Fahri bertanya pelan.
“Siapa yang hilang?”

Pak Sugeng menatap api.

Lalu berkata,

“Ayah Joko.”

Ruangan langsung sunyi.

Joko menunduk.

Tak ada suara.
Tak ada tawa.
Tak ada angin.

Hanya suara api kecil yang menyala pelan.

Dan untuk pertama kalinya,
semua mengerti:

perjalanan ini
bukan hanya tentang membuka jalur.

Tetapi tentang seseorang
yang sedang mencari jawaban
yang tertunda puluhan tahun.


Malam yang Tidak Biasa

Satu per satu mereka masuk tenda.

Lampu dimatikan.
Suara percakapan hilang.
Hutan kembali mengambil alih.

Malam gunung terasa berbeda.

Terlalu sunyi.

Terlalu dalam.

Joko belum tidur.

Ia duduk di depan tenda.
Menatap gelap.

Kabut turun tipis di antara pohon.

Lalu—

krek...

Suara langkah.

Joko menoleh.

Seseorang berdiri di antara pohon.

Siluet tinggi.
Jaket tua.
Diam.

Menatapnya.

Joko berdiri perlahan.

Dan untuk pertama kalinya,
sosok itu tidak menghilang.

Ia justru berbalik.

Lalu berjalan masuk
ke dalam gelap hutan.

Pelan.

Seolah mengajak.

Seolah memanggil.

Dan malam itu,
di tengah Hutan Para Penunggu,
Joko harus memilih:

tetap di camp...

atau mengikuti
masa lalu yang memanggil namanya.


BAB 6

Cinta di Antara Kabut

Malam di lereng selatan Gunung Sumbing tidak pernah benar-benar sunyi.

Bagi orang yang baru pertama kali mendengarnya,
hutan hanya terdengar seperti:

  • desir daun
  • tetes embun
  • ranting yang bergesekan
  • suara serangga malam

Namun bagi mereka yang mau mendengar lebih lama,
hutan kadang menyimpan suara lain.

Suara yang tidak berasal dari angin.

Suara yang tidak berasal dari manusia.

Dan malam itu,
Joko mendengarnya.


Sosok di Antara Pohon

Di depan tenda,
Joko berdiri terpaku.

Kabut bergerak perlahan di antara batang-batang pinus.
Udara dingin menusuk sampai ke tulang.
Api unggun kecil sudah hampir padam.

Beberapa meter dari tempatnya berdiri,
sosok itu kembali terlihat.

Tinggi.
Diam.
Mengenakan jaket gunung tua.

Jaket yang sangat familiar.

Jaket yang dulu pernah dipakai ayahnya.

Joko menahan napas.

“Siapa kamu?”

Tak ada jawaban.

Sosok itu hanya berdiri.

Lalu perlahan berbalik.
Melangkah masuk ke balik kabut.
Seolah mengajak Joko mengikutinya.

Satu langkah.

Dua langkah.

Joko hampir bergerak.

Namun tiba-tiba,

“Joko?”

Suara lembut dari belakang membuatnya berhenti.

Ia menoleh.

Yulia berdiri di dekat tenda,
membungkus tubuh dengan jaket tebal.

“Kenapa belum tidur?”

Saat Joko kembali melihat ke depan,
sosok itu sudah menghilang.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya kabut.

Dan malam.


Percakapan yang Tak Direncanakan

Yulia berjalan mendekat.
Wajahnya terlihat cemas.

“Kamu baik-baik saja?”

Joko memaksakan senyum.
“Cuma susah tidur.”

Yulia memandang ke arah hutan.
“Karena cerita tadi?”

Joko tak langsung menjawab.

Mereka berdiri berdampingan.
Menatap gelap yang sama.

Kadang dua orang bisa merasa dekat
bukan karena banyak bicara,
melainkan karena sama-sama diam
di tempat yang sama.

“Aku dulu sering kehilangan tidur juga,” kata Yulia pelan.

Joko menoleh.
“Kenapa?”

Yulia tersenyum tipis.
“Karena terlalu banyak memikirkan hal yang belum selesai.”

Kalimat itu membuat Joko terdiam.

Karena tanpa sadar,
mereka sedang membicarakan hal yang sama.

Hanya dengan luka yang berbeda.


Perasaan yang Tumbuh Diam-Diam

Tak jauh dari tenda utama,
Udin juga belum tidur.

Ia sebenarnya keluar untuk mencari air.

Namun ketika melihat Yulia berbicara berdua dengan Joko,
langkahnya berhenti.

Ia hanya berdiri.

Memandang dari kejauhan.

Fahri yang keluar dari tenda melihat itu.

“Kamu kenapa?”

Udin tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”

“Bohong.”

Udin menatap Yulia.
Lalu berkata pelan.

“Lucu ya.”

“Apa?”

“Saya baru kenal beberapa jam.”

Ia tertawa kecil.

“Tapi rasanya seperti takut kehilangan.”

Fahri menatap sahabatnya lama.

Untuk pertama kalinya,
ia melihat sisi Udin
yang jarang muncul.

Bukan pelawak.
Bukan pengacau suasana.

Melainkan seseorang
yang diam-diam punya hati paling lembut.


Pagi yang Berkabut

Subuh datang dengan udara yang lebih dingin dari hari sebelumnya.

Kabut turun sangat rendah.
Bahkan jarak lima meter pun tampak samar.

Suara kompor kembali menyala.
Aroma kopi menyebar.
Beberapa orang mulai bangun dengan wajah masih mengantuk.

Udin datang paling awal ke dapur darurat.

Yulia sedang menuang air panas.

“Pagi.”

Yulia menoleh.
“Pagi.”

Udin tersenyum.
“Kamu nggak tidur?”

“Tidur.”

“Kenapa masih cantik?”

Yulia langsung menatap tajam.
“Kamu selalu begitu ya?”

“Begitu bagaimana?”

“Ngomong sembarangan.”

Udin menggeleng.
“Kalau soal kamu, saya justru serius.”

Yulia terdiam.

Tangannya berhenti sesaat di atas cangkir.

Lalu ia buru-buru menunduk.
Menyembunyikan wajah yang mulai memanas.

Di balik kabut pagi itu,
sesuatu yang kecil mulai tumbuh.

Pelan.
Hening.
Namun nyata.


Ilham dan Nisa

Sementara itu,
Ilham duduk di atas batu sambil memperbaiki tali carrier.

Nisa duduk di sampingnya.

Mereka diam cukup lama.

Sampai akhirnya Nisa berkata,

“Kita sudah lama ya.”

Ilham tersenyum kecil.
“Iya.”

“Kadang aku takut.”

Ilham menoleh.
“Takut apa?”

Nisa memandang kabut.

“Takut kita terlalu sibuk berjalan…”
“sampai lupa saling melihat.”

Ilham terdiam.

Karena kalimat itu benar.

Mereka selama ini selalu bersama.
Namun justru jarang benar-benar saling mendengarkan.

Ilham menggenggam tangan Nisa pelan.

“Aku masih lihat kamu.”

Nisa menatapnya.

“Masih?”

Ilham mengangguk.

“Selalu.”

Kabut pagi menyelimuti mereka.

Dan untuk sesaat,
gunung seperti memberi ruang
bagi dua hati
yang nyaris saling menjauh.


Perjalanan Dilanjutkan

Setelah sarapan sederhana,
rombongan kembali bersiap.

Tenda dilipat.
Sampah dikumpulkan.
Logistik dicek.

Pak Sugeng berdiri memandang jalur di depan.

Hari ini mereka akan naik lebih tinggi.

Lebih dekat ke puncak.
Lebih dekat ke rahasia.

Joko datang mendekat.

“Bapak…”

Pak Sugeng menoleh.

“Kalau gunung memang ingin menunjukkan sesuatu…”
“kenapa kepada saya?”

Pak Sugeng menatap mata Joko lama.

Lalu menjawab pelan.

“Karena kadang…”
“yang hilang tidak pernah benar-benar pergi.”

Joko terdiam.

Dan sebelum sempat bertanya lagi,
Pak Sugeng sudah berjalan lebih dulu.

Meninggalkan Joko dengan pertanyaan
yang justru semakin berat.


Kabut dan Perasaan

Jalur hari itu lebih sempit.

Kabut turun sepanjang pagi.
Membuat rombongan berjalan berdekatan.

Di sinilah hubungan mulai berubah.

Yang biasanya cuek mulai peduli.
Yang biasanya diam mulai bicara.
Yang biasanya bercanda mulai serius.

Udin beberapa kali berjalan di dekat Yulia.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa banyak bercanda.

Yulia justru heran.

“Kamu sakit?”

Udin menoleh.
“Kenapa?”

“Tumben diam.”

Udin tersenyum kecil.

“Kadang saya takut.”
“Kalau terlalu banyak bicara…”
“yang penting justru nggak terdengar.”

Yulia memandangnya.

Dan untuk pertama kalinya,
ia melihat Udin
bukan sebagai lelaki cerewet.

Melainkan seseorang
yang diam-diam menyimpan ketulusan.


Tangan di Tengah Jurang Kecil

Di sebuah jalur sempit,
Yulia terpeleset lagi.

Kali ini di tepi jurang kecil.

Tubuhnya goyah.

Namun sebelum jatuh,
tangan Udin langsung menangkapnya.

Refleks.

Kuat.

Tanpa berpikir.

Yulia terdiam.
Mereka saling menatap.

Jarak mereka sangat dekat.

Terlalu dekat.

Kabut mengelilingi mereka.
Hutan mendadak terasa sunyi.

“Pegang saya,” kata Udin pelan.

Yulia masih menatapnya.

“Kalau takut jatuh…”

Ia tersenyum kecil.

“Boleh pegang lebih lama.”

Yulia spontan menarik tangannya.

Namun wajahnya memerah.

Dayat dari belakang menghela napas.
“Di gunung pun tetap drama.”

Semua tertawa kecil.

Namun di antara tawa itu,
dua hati baru saja bergerak
sedikit lebih dekat.


Misteri yang Belum Usai

Menjelang siang,
rombongan berhenti sejenak.

Joko berdiri sendirian di tepi jalur.

Lalu ia melihat sesuatu.

Di batang pohon tua,
terukir sebuah nama.

Samar.
Hampir hilang.

Namun masih bisa dibaca.

R. WIRATAMA

Nama ayahnya.

Tubuh Joko langsung membeku.

Tangannya menyentuh ukiran itu.

Jari-jarinya gemetar.

Karena itu bukan sekadar kebetulan.

Ayahnya benar-benar pernah sampai di titik itu.

Dan mungkin…

lebih dekat daripada yang selama ini ia bayangkan.

Kabut bergerak perlahan.

Dan dari kejauhan,
sekali lagi,
Joko mendengar suara pelan itu.

“Joko…”

Kali ini lebih jelas.

Lebih dekat.

Dan ia tahu:

gunung itu
belum selesai dengannya.


BAB 7

Jalur yang Menghilang

Semakin tinggi mereka mendaki, gunung mulai memperlihatkan wajah yang berbeda.

Tidak lagi hanya indah.

Tidak lagi hanya sunyi.

Tetapi liar.

Misterius.

Dan sulit ditebak.

Kabut yang sejak pagi menggantung di antara pepohonan kini turun semakin tebal. Bukan kabut tipis yang lembut seperti sebelumnya, melainkan kabut pekat yang datang seperti dinding putih. Dalam beberapa menit, jarak pandang menyusut drastis.

Orang yang berjalan dua langkah di depan
hanya terlihat seperti bayangan.

Langkah kaki menjadi satu-satunya penanda
bahwa mereka masih bersama.

Dan tanpa mereka sadari,
di sinilah gunung mulai menguji
siapa yang datang hanya karena penasaran
dan siapa yang benar-benar siap berjalan.


Ukiran Nama yang Mengusik

Joko masih berdiri memandangi batang pohon itu.

Ukiran tua:

R. WIRATAMA

Nama ayahnya.

Tangannya masih menempel di kulit pohon yang dingin.

Pikirannya berputar liar.

Selama ini,
ia hanya tahu ayahnya hilang di gunung.

Namun melihat nama itu
seolah membuka pintu lama
yang selama bertahun-tahun terkunci.

Ayahnya pernah sampai di sini.

Pernah berjalan di jalur ini.

Pernah melihat kabut yang sama.

Dan mungkin,
pernah berdiri dengan perasaan yang sama.

“Jok!”

Suara Bambang memanggilnya.

Joko menoleh cepat.

Bambang mendekat.
“Kenapa diam?”

Joko menunjuk ukiran itu.

Bambang tertegun.

Untuk beberapa detik,
tak ada satu pun dari mereka berbicara.

Lalu Bambang berkata pelan,

“Ini bukan kebetulan.”

Joko hanya menatap lurus ke kabut di depan.

Karena jauh di dalam dirinya,
ia tahu:
gunung sedang menunjukkan sesuatu.

Namun ia belum tahu,
apakah itu jawaban,
atau peringatan.


Kabut Menelan Jalur

Mereka kembali berjalan.

Namun belum sampai lima belas menit,
kabut turun lebih parah.

Bukan hanya tebal.

Tetapi aneh.

Kabut itu seperti bergerak sendiri.
Berputar.
Mengalir rendah.
Menelan pepohonan perlahan.

Ilham memeriksa GPS.
Layar berkedip.
Sinyal hilang.

“Tidak bisa.”

Fahri menatap kompas.
Jarumnya berputar tidak stabil.

“Kompas juga aneh.”

Bambang mengangkat tangan.
“Semua berhenti.”

Rombongan langsung diam.

Suara hutan menghilang.

Tidak ada burung.
Tidak ada angin.
Tidak ada serangga.

Hanya napas mereka sendiri.

Lalu Joko menatap ke depan.

Dan wajahnya berubah.

Jalur itu…
hilang lagi.

Tanah sempit yang tadi jelas di depan mereka
mendadak lenyap
seolah ditelan kabut.

Yang tersisa hanya:

  • akar
  • batu
  • semak rapat
  • dan putih yang tak berujung

Udin langsung menelan ludah.
“Jangan bilang…”

Dayat menjawab datar.
“Kita nyasar.”

Udin memejamkan mata.
“Saya baru mulai jatuh cinta.”
“Jangan mati dulu.”

Meski situasi tegang,
beberapa orang tetap tertawa gugup.

Karena terkadang,
humor adalah satu-satunya cara
melawan rasa takut.


Suara yang Memecah Konsentrasi

Saat semua mencoba tenang,
terdengar suara pelan dari kejauhan.

Tok…

Tok…

Tok…

Seperti tongkat kayu
mengetuk tanah.

Semua menoleh ke arah yang sama.

Pak Sugeng yang berdiri paling belakang
langsung menegang.

“Itu bukan saya.”

Kalimat itu membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

Karena suara itu
sangat mirip
dengan tongkat Pak Sugeng.

Namun datang dari tempat lain.

Lebih dalam.
Lebih jauh.
Lebih gelap.

Tok…
Tok…
Tok…

Mendekat.

Yulia spontan meraih lengan Udin.

Tanpa sadar.

Udin menatap tangan itu.
Lalu menatap wajah Yulia yang pucat.

Untuk pertama kalinya,
ia tidak bercanda.

Ia hanya menggenggam tangan Yulia erat.

“Tenang.”

Yulia tidak melepaskan.

Dan dalam ketakutan itu,
ada sesuatu yang justru terasa hangat.


Konflik Mulai Muncul

Bambang menatap Joko.
“Kita harus putuskan arah.”

Dayat langsung menyahut,
“Kita balik.”

Joko menoleh.
“Belum.”

“Belum?”
“Jalurnya hilang!”

Dayat menatap tajam.
“Kita tidak tahu apa yang terjadi.”

Joko menjawab dingin.
“Saya tahu jalur ini.”

Dayat membalas,
“Tadi jalurnya dua kali hilang.”

Suasana mendadak tegang.

Fahri mencoba menenangkan.
“Tenang dulu.”

Namun Dayat sudah emosi.

“Kita ini naik gunung atau ikut cerita mistis?”

Joko mendekat.
“Kalau takut, bilang.”

Dayat langsung maju.
“Saya bukan takut.”
“Saya realistis.”

Ilham cepat berdiri di tengah.
“Cukup.”

Nisa ikut menahan napas.

Kabut mengelilingi mereka.

Dan untuk pertama kalinya,
bukan gunung yang mengancam mereka.

Tetapi ego masing-masing.


Pak Sugeng Bicara

Pak Sugeng melangkah maju.

Suara tuanya pelan.
Namun tegas.

“Diam.”

Anehnya,
semua langsung terdiam.

Pak Sugeng menatap satu per satu.

“Gunung paling mudah memecah manusia…”
“yang tidak bisa menjaga hati.”

Sunyi.

Ia melanjutkan.

“Kalau kalian mulai saling curiga…”
“gunung akan makin jauh menunjukkan jalan.”

Tak ada yang menjawab.

Karena dalam situasi seperti itu,
kalimat sederhana itu terdengar
terlalu benar untuk dibantah.


Joko Mendengar Panggilan

Di tengah keheningan itu,
Joko mendengar suara.

Pelan.
Sangat pelan.

“Ke kiri…”

Ia menoleh cepat.

Tak ada siapa-siapa.

Lalu lagi.

“Ke kiri…”

Suara itu.
Suara ayahnya.

Joko menutup mata sebentar.

Saat membukanya,
di antara kabut,
ia melihat siluet samar
berdiri di sisi kiri.

Menghadap ke jalur sempit tersembunyi
di balik semak.

Joko menunjuk.

“Lewat sana.”

Dayat langsung menolak.
“Tidak masuk akal.”

Joko menatap tajam.
“Percaya atau tidak.”

Bambang memandang jalur itu.
Lalu berkata pelan.

“Kita ikut Joko.”

Dayat terdiam.
Namun akhirnya tak membantah.

Karena dalam keadaan seperti itu,
mereka tak punya pilihan lain.


Jalur Rahasia

Joko membelah semak perlahan.

Dan benar.

Di balik semak itu,
muncul jalur kecil.

Sangat sempit.
Nyaris tak terlihat.

Namun jelas:
itu jalan.

Semua terdiam.

Fahri menatap Joko.
“Kamu tahu dari mana?”

Joko tak menjawab.

Karena ia sendiri
tak tahu harus menjelaskan bagaimana.

Ia hanya tahu satu hal:

ada sesuatu di gunung itu
yang sedang membimbingnya.

Dan itu membuatnya takut
lebih dari kabut mana pun.


Kabut Memisahkan Mereka

Mereka mulai berjalan lagi.

Namun jalur baru itu jauh lebih sempit.

Kabut semakin tebal.

Rombongan mulai memanjang.
Jarak antar orang makin renggang.

Bambang berteriak,
“Jangan terlalu jauh!”

Namun suara itu
seolah ditelan kabut.

Udin masih menggenggam tangan Yulia.

Sampai tiba-tiba,

sebuah ranting besar patah dari atas.

Brak!

Yulia refleks melepas tangan.
Semua menunduk.

Saat mereka kembali berdiri,

Yulia sudah tidak ada.

“Yulia?”

Udin menoleh cepat.

Tak ada jawaban.

Kabut putih di sekeliling.

“Yulia!”

Suara Udin pecah.

Semua berhenti.

Joko berbalik.
“Ada apa?”

Udin menatap panik.

“Yulia hilang.”

Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai,
ketakutan yang sesungguhnya
akhirnya datang.


Kabut menutup rapat hutan.

Suara napas menjadi cepat.

Dan di tengah Jalur yang Menghilang,
mereka sadar:

gunung telah mengambil seseorang.


BAB 8

Rahasia Lereng Selatan

“Yulia!”

Suara Udin menggema di antara kabut.

Namun kabut tidak pernah menjawab.

Ia hanya diam,
menggantung di antara batang-batang pohon tua,
menelan suara satu demi satu
sampai yang tersisa hanyalah gema samar
yang terdengar seperti bisikan dari tempat jauh.

“Yulia!”

Kali ini suara Udin lebih keras.

Lebih panik.

Lebih putus asa.

Semua orang langsung berhenti.
Wajah-wajah yang sebelumnya lelah kini berubah tegang.
Jantung yang tadi hanya berdebar karena tanjakan,
sekarang berdetak karena ketakutan.

Karena dalam pendakian,
tak ada yang lebih menakutkan
daripada menyadari
seseorang hilang
hanya dalam hitungan detik.


Panik di Tengah Kabut

Udin berputar ke segala arah.

Tadi Yulia masih di sampingnya.

Masih menggenggam tangannya.

Masih ada.

Lalu satu suara ranting patah,
satu detik menunduk,
dan kini…

tak ada.

“Yulia!”

Ia melangkah maju.

Bambang langsung menahan bahunya.
“Jangan bergerak sembarangan.”

“Lepas!”

“Tenang dulu!”

“Bagaimana saya bisa tenang?”

Mata Udin memerah.
Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai,
tak ada satu pun candaan tersisa di wajahnya.

Hanya rasa takut yang telanjang.

“Dia tadi di samping saya!”

“Dia nggak mungkin jauh!”

Joko menatap sekitar.
Kabut terlalu tebal.
Jejak kaki nyaris tak terlihat.

Dayat memandang hutan.
“Satu orang jangan bergerak sendiri.”
“Kita cari bareng.”

Pak Sugeng menutup mata sebentar.
Lalu berkata lirih,

“Dia tidak jauh.”

Semua menoleh.

Pak Sugeng membuka mata.

“Gunung hanya sedang memperlihatkan sesuatu.”

Kalimat itu membuat suasana semakin mencekam.

Karena tidak ada yang tahu
apakah itu berarti harapan,
atau peringatan.


Yulia di Tempat Asing

Sementara itu,
Yulia membuka mata perlahan.

Kepalanya berat.

Dingin menusuk kulitnya.

Ia duduk di tanah basah.
Napasnya pendek.
Jantungnya masih berdetak keras.

Kabut mengelilinginya.

Tapi ini bukan kabut yang sama.

Kabut ini terasa lebih sunyi.
Lebih dingin.
Lebih tua.

Ia bangkit pelan.

“Udin?”

Tak ada jawaban.

“Joko?”

Sunyi.

Yulia menoleh ke sekeliling.

Ia berada di sebuah tanah lapang kecil
yang dikelilingi pohon-pohon tua.
Akar besar menjulur seperti ular.
Tanahnya lembab.
Udara terasa ganjil.

Lalu matanya menangkap sesuatu.

Di tengah lapang itu,
berdiri sebuah batu besar.

Bukan batu biasa.

Melainkan batu tegak
dengan ukiran lama yang hampir hilang.

Yulia mendekat.

Di permukaan batu itu,
terukir simbol kuno.
Dan di bawahnya,
tulisan samar:

“Jangan membawa hati yang kotor melewati puncak.”

Yulia menelan ludah.

Bulu kuduknya berdiri.

Karena tiba-tiba ia sadar:
tempat itu bukan jalur biasa.

Ia seperti berada
di tempat yang sengaja disembunyikan gunung.


Pencarian

Di jalur utama,
Bambang segera mengambil alih.

“Semua dengar.”
“Jangan panik.”

Ia menunjuk kelompok.

“Ilham sama Fahri ke kanan.”
“Dayat sama Udin ke bawah.”
“Saya sama Joko ke atas.”

“Jangan lebih dari lima puluh meter.”
“Kalau ketemu apa pun, panggil.”

Udin langsung berjalan paling cepat.

“Yulia!”

Suaranya serak.

Dayat mengejar di belakang.
“Jangan jauh!”

Namun Udin tak peduli.

Karena saat seseorang mulai takut kehilangan,
ia sering lupa caranya berpikir.


Joko Menemukan Jejak

Joko berjalan pelan.

Mata menelusuri tanah.

Di antara lumut dan akar,
ia melihat sesuatu.

Bekas sepatu kecil.

Masih baru.

“Bang…”

Bambang mendekat.
“Apa?”

Joko menunjuk.

Jejak itu berbelok ke arah kiri.
Masuk ke semak rapat.
Ke tempat yang bahkan tidak terlihat seperti jalan.

Bambang mengernyit.
“Ini bukan jalur.”

Joko menatap jejak itu.
“Justru itu.”

Ia mengangkat kepala.

Dan di depan sana,
kabut bergerak pelan.

Lalu sekali lagi,
ia melihat sosok itu.

Siluet tinggi.
Jaket tua.
Diam.

Ayahnya.

Sosok itu berdiri di mulut semak.
Lalu perlahan menoleh,
seakan berkata:

ikuti.

Joko menahan napas.

“Bang…”
“Lewat sini.”

Bambang menatap wajah sahabatnya.
Dan dari sorot matanya,
ia tahu:
Joko tidak sedang menebak.


Rahasia Lereng

Semak dibuka.
Dan di baliknya,
muncul jalan kecil menurun.

Bukan jalur pendaki.

Tetapi seperti jalan lama
yang pernah dipakai puluhan tahun lalu.

Batu-batu tua tersusun rapi.
Akar pohon melengkung seperti gerbang.
Udara terasa lebih dingin.

Bambang berbisik,
“Ini apa?”

Pak Sugeng yang entah kapan sudah berdiri di belakang mereka berkata pelan,

“Tempat lama.”

Joko menoleh.
“Tempat apa?”

Pak Sugeng menatap jalan itu.

“Tempat para penjaga.”

Sunyi.

“Dulu…”
“sebelum jalur ini ditutup…”

Pak Sugeng menarik napas.

“Warga tua sering membawa sesaji ke sini.”
“Untuk meminta keselamatan.”

Bambang memandang sekitar.
“Kenapa tidak pernah diceritakan?”

Pak Sugeng tersenyum pahit.

“Karena manusia modern suka menertawakan hal yang tak mereka pahami.”

Joko menatap jalan itu.

Dan untuk pertama kalinya,
ia sadar:
jalur yang mereka buka
bukan sekadar jalur pendakian.

Tetapi jalur yang menyimpan sejarah
yang sengaja dilupakan.


Pertemuan

Di ujung jalan kecil itu,
mereka menemukan Yulia.

Ia berdiri diam di depan batu besar.

Memandang ukiran tua.

“Yulia!”

Udin datang paling cepat.
Langsung memeluknya.

Refleks.

Tanpa berpikir.

Yulia terkejut.
Namun tidak langsung melepaskan.

“Syukurlah…”

Suara Udin bergetar.

“Kamu bikin saya takut.”

Yulia menatap wajahnya.
Wajah lelaki yang biasanya penuh tawa
kini benar-benar pucat.

Dan untuk pertama kalinya,
Yulia melihat:
seseorang bisa sangat tulus
hanya karena takut kehilangan.

“Aku nggak apa-apa.”

Udin masih menggenggam bahunya.
“Jangan hilang lagi.”

Yulia tersenyum kecil.
“Memangnya aku barang?”

“Kalau iya…”
“barang paling berharga.”

Dayat menutup wajah.
“Bahkan di tempat angker tetap gombal.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Dan ketegangan perlahan mencair.


Tulisan Lama

Fahri menyorot batu dengan senter.

Ilham membaca ukirannya.

“Jangan membawa hati yang kotor melewati puncak.”

Nisa berbisik,
“Maksudnya?”

Pak Sugeng memandang batu itu lama.

“Gunung tidak menilai kuatnya kaki.”

Ia menatap satu per satu.

“Gunung menilai isi hati.”

Suasana mendadak tenang.

Karena tanpa sadar,
setiap orang mulai memikirkan dirinya sendiri.

Apa yang sebenarnya mereka bawa naik?

Ambisi?
Rasa ingin tahu?
Luka?
Cinta?
Atau sesuatu yang belum selesai?


Rahasia yang Lebih Dalam

Joko mendekat ke batu itu.

Tangannya menyentuh ukiran tua.

Lalu matanya menangkap satu nama kecil
di bagian bawah batu.

Tulisan itu nyaris hilang.
Namun masih bisa dibaca.

R. WIRATAMA

Tubuh Joko membeku.

Ayahnya pernah berada di sini.

Bukan sekadar melewati.
Tetapi sampai di tempat tersembunyi ini.

Joko menoleh cepat ke Pak Sugeng.

“Bapak tahu.”

Pak Sugeng menunduk.

“Dulu…”
“ayahmu bukan hilang.”

Joko menatap tajam.
“Lalu?”

Pak Sugeng menatap matanya.

“Dia mencari sesuatu.”

Sunyi.

Dan kalimat itu
mengubah seluruh perjalanan.

Karena mulai saat itu,
Joko sadar:

ia bukan hanya sedang mendaki gunung.

Ia sedang berjalan
di jejak langkah ayahnya sendiri.


Kabut perlahan bergerak di sekitar mereka.

Dan jauh di atas lereng selatan,
puncak Gunung Sumbing
masih menunggu.

Karena rahasia terbesar
belum sepenuhnya terbuka.


BAB 9

Sampai di Atas Awan

Setelah menemukan Yulia di tempat tersembunyi itu, tidak ada seorang pun yang benar-benar kembali seperti sebelumnya.

Mereka memang melanjutkan perjalanan.

Kaki tetap melangkah.
Carrier tetap dipanggul.
Napas tetap diatur.

Namun hati setiap orang
sudah berubah.

Karena setelah melihat batu tua itu,
setelah membaca nama yang terukir di sana,
semua mulai memahami bahwa perjalanan ini
bukan sekadar membuka jalur baru.

Mereka sedang berjalan
di atas jejak masa lalu
yang belum selesai.

Dan puncak gunung,
perlahan,
terasa bukan lagi tujuan.

Melainkan jawaban.


Meninggalkan Hutan Penunggu

Pak Sugeng menjadi orang pertama yang melangkah keluar dari tempat itu.

“Sudah.”
“Kita tidak boleh terlalu lama di sini.”

Suara tuanya pelan,
tetapi kali ini tak ada yang membantah.

Satu per satu mereka meninggalkan batu tua itu.

Udin berjalan di samping Yulia.
Tidak lagi banyak bercanda.

Sesekali ia melirik,
seolah memastikan perempuan itu
benar-benar masih ada di sana.

Yulia memperhatikan itu.

“Kenapa?”

Udin pura-pura bingung.
“Apa?”

“Kamu diam.”

Udin tersenyum tipis.
“Saya takut.”

Yulia menatapnya.
“Kamu?”

“Iya.”

“Takut apa?”

Udin menatap jalur di depan.

“Takut tadi benar-benar kehilangan kamu.”

Untuk beberapa detik,
Yulia tidak berkata apa-apa.

Karena kadang,
kata-kata paling sederhana
justru yang paling sulit diabaikan.


Jalur Batu

Semakin tinggi,
pepohonan mulai berubah.

Pohon besar perlahan berkurang.
Pakis semakin pendek.
Tanah lembab berganti batu vulkanik.
Udara menjadi lebih tipis.

Langkah terasa lebih berat.

Bambang menoleh ke belakang.
“Mulai hemat tenaga.”
“Di atas lebih berat.”

Ilham mengangguk.
“Kita sudah hampir keluar hutan.”

Fahri melihat ke atas.
Kabut mulai menipis.

Dan untuk pertama kalinya,
cahaya matahari terlihat menembus sela kabut.

Tipis.

Keemasan.

Seperti harapan kecil
setelah perjalanan panjang.


Nafas yang Mulai Berat

Nisa mulai tertinggal lagi.

Langkahnya melambat.
Wajahnya pucat.

Ilham langsung mendekat.
“Pegang saya.”

“Aku bisa.”

“Nisa.”

Nada suara Ilham lembut,
tapi tegas.

Nisa akhirnya menggenggam tangannya.

Mereka berjalan pelan bersama.

Di belakang,
Fahri melihat itu sambil tersenyum kecil.

Dayat menoleh.
“Kenapa?”

Fahri mengangkat bahu.
“Kadang orang baru sadar berharganya seseorang…”
“setelah hampir kehilangannya.”

Dayat mendengus.
“Kamu ini kalau bicara seperti puisi.”

Fahri tertawa.
“Gunung memang bikin orang puitis.”

Udin menyahut dari belakang,
“Kalau saya dari dulu romantis.”

Yulia langsung menjawab,
“Tidak. Kamu berisik.”

Semua tertawa.

Dan tawa kecil itu
kembali membuat dingin gunung terasa lebih hangat.


Joko dan Langkah Masa Lalu

Di depan,
Joko berjalan sendiri.

Tangannya menyentuh batang pohon terakhir
saat mereka meninggalkan batas hutan.

Ia menoleh ke belakang.

Kabut menggantung di antara pepohonan.
Gelap.
Sunyi.

Seolah hutan itu
menyimpan rahasia yang belum selesai.

Lalu suara itu datang lagi.

Pelan.

“Joko…”

Ia menoleh cepat.

Di antara kabut,
sosok ayahnya berdiri.

Kali ini lebih jelas.

Wajah samar.
Jaket tua.
Tatapan tenang.

Tidak menakutkan.

Justru damai.

Sosok itu menunjuk ke atas.

Ke arah puncak.

Lalu perlahan menghilang bersama kabut.

Joko memejamkan mata.

Bukan karena takut.

Tetapi karena untuk pertama kalinya,
ia merasa ayahnya
tidak sedang menyesatkan.

Melainkan menuntunnya.


Melewati Batas Hutan

Dan akhirnya,

mereka keluar dari hutan.

Langkah terakhir dari jalur tanah
berubah menjadi hamparan batu terbuka.

Semua spontan berhenti.

Karena pemandangan di depan mereka
membuat siapa pun kehilangan kata.

Di bawah sana,

lautan awan.

Putih.
Luas.
Tak berujung.

Kabut yang sejak tadi mengurung mereka
kini berada jauh di bawah kaki.

Langit biru membentang tanpa batas.
Matahari sore menyinari lereng.
Angin gunung menyapu wajah pelan.

Mereka benar-benar berdiri
di atas awan.


Tak Ada yang Bicara

Tak seorang pun langsung berbicara.

Karena ada pemandangan
yang terlalu indah
untuk dirusak dengan kata-kata.

Udin bahkan sampai lupa bercanda.

Yulia menatap horizon.
Matanya berkaca.

“Indah…”

Ilham tersenyum.
“Lebih dari foto mana pun.”

Fahri menatap jauh.
“Kadang perjuangan memang harus sejauh ini…”
“supaya kita tahu apa yang layak diperjuangkan.”

Bu Amilia mengusap mata.
“Capeknya langsung hilang.”

Pak Kirno hanya berbisik,
“MasyaAllah…”

Dan di tengah diam itu,
setiap orang merasakan hal yang sama:

tidak semua keindahan
bisa dijelaskan.

Beberapa hanya bisa dirasakan.


Tangan yang Tidak Dilepas

Angin bertiup lebih kencang.

Yulia sedikit goyah di batu.

Refleks,
Udin menggenggam tangannya.

Kali ini,
Yulia tidak menariknya.

Mereka berdiri berdampingan.
Memandang lautan awan.

“Kalau begini…”

Udin berkata pelan.

“Rasanya saya bisa percaya…”
“bahwa beberapa orang memang dipertemukan di tempat yang aneh.”

Yulia menoleh.

“Seperti di gunung?”

Udin mengangguk.

“Seperti di kabut.”

Yulia tersenyum tipis.

Dan untuk pertama kalinya,
ia menggenggam tangan itu balik.

Tidak erat.

Namun cukup
untuk membuat Udin diam
lebih lama dari biasanya.


Kebenaran yang Mendekat

Joko berdiri sedikit terpisah.

Menatap puncak yang kini terlihat jelas.

Tak jauh lagi.

Namun dadanya justru terasa lebih berat.

Karena semakin dekat dengan puncak,
semakin dekat pula
dengan jawaban yang selama ini ia cari.

Bambang mendekat.

“Kamu takut?”

Joko menatap langit.
Lalu tersenyum tipis.

“Iya.”

“Takut apa?”

Joko menjawab pelan.

“Takut kalau jawaban yang saya cari…”
“ternyata lebih berat dari kehilangan itu sendiri.”

Bambang menepuk bahunya.

“Kalau begitu…”
“jangan hadapi sendiri.”

Joko menoleh.

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai,
ia sadar satu hal:

ia memang mencari ayahnya.

Tetapi kali ini,
ia tidak berjalan sendirian.


Malam Menjelang Puncak

Matahari mulai turun.

Warna langit berubah jingga.
Awan di bawah memantulkan cahaya emas.
Gunung-gunung jauh tampak seperti pulau di lautan putih.

Bambang menunjuk tanah datar berbatu.

“Kita camp terakhir di sini.”

Semua langsung bergerak.

Karena besok pagi,
mereka akan menuju puncak.

Puncak yang bukan hanya titik tertinggi.

Tetapi tempat
di mana semua perjalanan,
semua luka,
semua persahabatan,
dan semua rahasia
akan bertemu.

Malam itu,
mereka tidur
hanya beberapa ratus meter
di bawah langit.

Dan untuk pertama kalinya,
semua tahu:

esok,
hidup mereka
tidak akan pernah sama lagi.


BAB 10

Sumpah di Puncak

Malam terakhir di lereng selatan Gunung Sumbing terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Tidak ada suara tawa yang terlalu keras.
Tidak ada candaan panjang dari Udin.
Tidak ada obrolan ringan tentang desa atau pekerjaan.

Semua orang lebih banyak diam.

Mungkin karena dingin.
Mungkin karena lelah.
Atau mungkin karena masing-masing tahu,
mereka sudah terlalu dekat
dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Puncak kini hanya beberapa ratus meter di atas mereka.

Dekat.

Namun justru terasa semakin berat.

Karena terkadang,
langkah paling sulit dalam perjalanan
bukan langkah pertama.

Melainkan langkah terakhir.


Api Kecil Sebelum Subuh

Di tengah camp,
api kecil menyala pelan.

Cahaya oranye menari di wajah-wajah lelah.
Kabut tipis melayang rendah.
Langit penuh bintang terbuka luas di atas mereka.

Joko duduk sendirian di dekat batu.

Matanya menatap nyala api,
namun pikirannya jauh melampaui malam itu.

Bambang datang membawa secangkir kopi.

“Ini.”

Joko menerimanya.
“Terima kasih.”

Mereka duduk berdampingan.

Tak langsung bicara.

Karena persahabatan lama
kadang tidak membutuhkan banyak kata.

Setelah beberapa saat,
Bambang berkata pelan,

“Kalau besok kamu menemukan jawaban…”
“kamu siap?”

Joko menatap nyala api.

“Tidak.”

Bambang tersenyum kecil.
“Jujur sekali.”

“Saya takut.”

“Masih soal ayahmu?”

Joko mengangguk.

Lalu untuk pertama kalinya,
ia mengucapkan sesuatu
yang selama ini tak pernah ia katakan kepada siapa pun.

“Saya takut…”
“selama ini saya naik gunung bukan untuk mencari ayah.”

Bambang menoleh.
“Lalu?”

Joko menunduk.

“Mungkin saya cuma ingin tahu…”
“kenapa dia lebih memilih gunung daripada pulang.”

Kalimat itu jatuh pelan.
Namun terasa jauh lebih berat
daripada angin dingin gunung.

Bambang tidak langsung menjawab.

Ia hanya menepuk bahu sahabatnya pelan.

Karena beberapa luka
tidak bisa disembuhkan dengan nasihat.

Hanya bisa ditemani.


Subuh yang Menentukan

Pukul tiga dini hari,
mereka bangun.

Langit masih gelap.
Udara terasa menggigit.
Senter kepala mulai menyala satu per satu.

Hari terakhir dimulai.

Bu Amilia membagikan minuman hangat.
Pak Sugeng berdiri menatap puncak.

Lalu berkata singkat,

“Naiklah dengan hati tenang.”
“Jangan sombong.”
“Jangan berisik.”
“Dan jangan lupa siapa yang lebih dulu ada di sini.”

Tak ada yang bercanda.

Karena di ketinggian seperti itu,
setiap orang merasa kecil.

Sangat kecil.

Dan mungkin itulah yang membuat manusia
lebih mudah jujur
di hadapan alam.


Tanjakan Terakhir

Jalur menuju puncak adalah batu.

Curam.
Licin.
Terjal.

Tak ada lagi pohon besar.
Tak ada lagi perlindungan.
Hanya:

  • batu vulkanik
  • angin dingin
  • dan langit gelap

Mereka berjalan perlahan.

Satu langkah.
Satu napas.
Satu langkah.
Satu napas.

Udin yang biasanya cerewet
kini hanya fokus berjalan.

Namun sesekali,
ia tetap memastikan Yulia aman.

“Pegang batu.”
“Pelan.”
“Hati-hati.”

Yulia melirik.
“Kamu sekarang berubah.”

“Bagus?”

“Sedikit.”

“Kalau begitu nanti saya tambah.”

Yulia tersenyum kecil.
Dan meski dingin menusuk,
hatinya justru terasa hangat.


Matahari Pertama

Saat mereka mencapai bibir puncak,
langit timur mulai berubah.

Hitam menjadi biru tua.
Biru tua menjadi ungu.
Lalu perlahan
semburat jingga muncul di cakrawala.

Bambang naik lebih dulu.

Lalu berhenti.

Menoleh ke belakang.

Senyumnya perlahan muncul.

“Kita sampai.”

Satu per satu mereka naik.

Dan akhirnya,

mereka berdiri di puncak Gunung Sumbing.


Puncak

Dunia terbuka di depan mereka.

Gunung-gunung lain berdiri di kejauhan.
Lautan awan membentang tanpa batas.
Langit menyala keemasan.
Matahari perlahan muncul dari balik horizon.

Semua terdiam.

Karena di hadapan pemandangan seperti itu,
bahkan manusia yang paling banyak bicara
pun kehilangan kata.

Udin berbisik,
“Ya Tuhan…”

Nisa menggenggam tangan Ilham.
Fahri menatap langit.
Dayat memejamkan mata.
Bu Yuni menitikkan air mata.
Pak Iwan tersenyum dalam diam.

Dan Joko…

hanya berdiri.

Memandang matahari.

Dengan dada yang terasa sesak.


Pertemuan yang Tak Pernah Selesai

Di sisi timur puncak,
dekat batu besar,
Joko melihat sesuatu.

Sebuah kain kecil terjepit di sela batu.

Sudah pudar.
Sudah tua.
Hampir hancur.

Tangannya gemetar saat mengambilnya.

Bambang mendekat.
“Apa itu?”

Joko membuka kain itu perlahan.

Di dalamnya,
ada kompas tua.

Kompas milik ayahnya.

Joko membeku.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Pak Sugeng datang pelan.
Wajahnya tenang.

“Saya tahu benda itu.”

Joko menoleh.
Mata merah.

“Bapak tahu?”

Pak Sugeng mengangguk.

“Dulu ayahmu sampai di sini.”
“Dia tahu jalur ini akan hilang.”
“Dia bilang suatu hari…”
“anaknya akan kembali.”

Joko menahan napas.

“Kenapa dia tidak pulang?”

Pak Sugeng menatap matahari.

Lalu menjawab lirih.

“Karena ada longsor.”
“Dan dia memilih menyelamatkan orang lain.”

Joko terdiam.

Dunia terasa berhenti.

“Dia bisa turun sendiri…”
“tapi dia kembali menolong.”
“Dan tidak pernah kembali.”

Sunyi.

Hanya suara angin.

Dan untuk pertama kalinya,
selama bertahun-tahun,
Joko akhirnya tahu:

ayahnya tidak meninggalkan keluarganya.

Ayahnya mengorbankan dirinya.


Air Mata di Atas Awan

Joko berlutut.

Tangannya menggenggam kompas tua itu.

Air mata yang selama bertahun-tahun tertahan
akhirnya jatuh bebas.

Bukan karena kehilangan.

Tetapi karena akhirnya
ia menemukan kebenaran.

Bambang berdiri di sampingnya.
Tidak berkata apa-apa.

Karena kadang,
kehadiran seseorang
lebih penting daripada kata-kata.

Yulia memandang Joko dengan mata berkaca.
Udin berdiri di dekatnya.
Tanpa sadar,
tangan mereka saling menggenggam.

Semua orang di puncak itu
diam menghormati.

Karena mereka tahu:
mereka baru saja menyaksikan
bukan hanya pendakian.

Tetapi pertemuan
antara seorang anak
dan masa lalunya.


Sumpah di Puncak

Setelah cukup lama,
Pak Iwan melangkah ke tengah.

Ia menatap semua orang.

“Tiga desa naik ke sini…”

Ia memandang puncak.

“…bukan kebetulan.”

Angin berembus pelan.

“Kita dipertemukan bukan hanya untuk jalur baru.”
“Tapi untuk masa depan baru.”

Bu Yuni mengangguk.
Raditya menatap semua orang.
Fahri tersenyum.
Ilham berdiri tegak.

Pak Iwan mengangkat tangan.

“Mulai hari ini…”

“Desa Awan Biru.”
“Desa Suralaya.”
“Dan Desa Lembah Selatan.”

“Bukan lagi berjalan sendiri.”

Ia berhenti.

“Mulai hari ini kita bersumpah—”
“membangun bersama.”
“menjaga alam bersama.”
“dan menjaga persaudaraan ini…”
“selama langkah kita masih ada.”

Satu per satu,
mereka meletakkan tangan di tengah.

Joko.
Bambang.
Ilham.
Fahri.
Udin.
Yulia.
Dan semua yang berdiri di sana.

Di atas awan.
Di atas kabut.
Di puncak gunung.

Mereka mengucapkan bersama:

“Bersama, sampai langkah terakhir.”

Angin berembus lebih kencang.

Seolah gunung tua itu
mendengar sumpah mereka.

Dan menerima.


Matahari Baru

Matahari akhirnya muncul penuh.

Cahayanya menyapu wajah mereka.

Menghangatkan dingin malam.
Menghapus kabut.
Membuka langit.

Di puncak itu,
mereka bukan hanya menemukan pemandangan.

Mereka menemukan:

  • persahabatan
  • cinta
  • kehilangan
  • jawaban
  • dan awal baru

Karena kadang,
perjalanan terjauh
bukan menuju puncak gunung.

Melainkan menuju hati sendiri.


EPILOG

Langkah yang Tak Pernah Usai

Beberapa bulan setelah pendakian itu, musim di lereng selatan Gunung Sumbing mulai berubah.

Kabut pagi masih datang seperti biasa.

Angin masih berembus dari sela pinus.
Embun masih menggantung di ujung daun.
Burung-burung kecil masih bernyanyi sebelum matahari naik.

Namun bagi orang-orang yang pernah berdiri di puncak bersama,
gunung itu tidak pernah lagi terasa sama.

Karena ada perjalanan
yang selesai di kaki gunung.

Dan ada perjalanan lain
yang justru baru dimulai
setelah turun.


Jalur yang Kini Bernama

Jalur lama yang dulu nyaris dilupakan,
perlahan hidup kembali.

Warga Desa Awan Biru bersama pemuda dari Suralaya dan Lembah Selatan mulai membersihkan jalan.
Ranting dipotong.
Batu ditandai.
Sumber air dicatat.
Basecamp diperbaiki.

Tidak dengan gegap gempita.

Tidak dengan ambisi berlebihan.

Tetapi dengan hati-hati.

Karena mereka sepakat,
jalur itu bukan sekadar wisata.

Jalur itu adalah warisan.

Pak Iwan berdiri di depan papan kayu sederhana
yang dipasang di mulut jalur.

Tulisan itu diukir tangan oleh Bambang sendiri.

JALUR PERSAHABATAN TIGA DESA

Lereng Selatan Gunung Sumbing

Di bawahnya,
dengan huruf lebih kecil:

Untuk mereka yang datang dengan hormat.

Joko berdiri menatap papan itu lama.

Lalu tersenyum.

Karena akhirnya,
jalur yang pernah mengambil sesuatu darinya,
kini justru memberinya sesuatu yang baru.


Tiga Desa, Satu Jalan

Kerja sama yang dulu hanya ide di puncak
perlahan menjadi nyata.

Desa Awan Biru menjadi pusat wisata alam.
Suralaya membantu sistem digital dan promosi.
Lembah Selatan mengelola pelatihan pemuda dan dokumentasi.

Mereka membentuk:

Badan Kerja Sama Tiga Desa

Bukan hanya untuk pariwisata.
Tetapi juga:

  • pendidikan digital
  • pemberdayaan pemuda
  • ekonomi kreatif
  • dan pelestarian alam

Ilham dan Fahri sering terlihat duduk bersama di depan laptop,
membahas portal bersama.

Bambang mengurus jalur.
Dayat mengatur relawan.
Bu Yuni menghubungkan program desa.
Pak Kirno menjaga tradisi.
Bu Amilia menjadi koordinator keselamatan pendaki.

Dan di antara semua itu,
persahabatan yang dulu lahir di gunung
tumbuh menjadi sesuatu
yang jauh lebih besar.


Tentang Udin dan Yulia

Di antara semua perubahan,
mungkin yang paling sering menjadi bahan candaan
adalah satu hal:

Udin berubah.

Atau setidaknya,
sedikit.

Ia masih banyak bicara.
Masih suka melawak.
Masih sering membuat orang menggeleng.

Namun sekarang,
setiap pagi,
ia punya alasan baru
untuk datang ke kantor desa Awan Biru.

Alasan bernama:
Yulia.

Suatu sore,
di bawah pohon kopi dekat balai,
Yulia duduk memeriksa foto-foto pendakian.

Udin datang membawa dua gelas kopi.

“Ini.”

Yulia menoleh.
“Kamu sekarang rajin sekali.”

Udin duduk di sampingnya.
“Saya sedang investasi.”

“Investasi apa?”

“Masa depan.”

Yulia menghela napas.
“Masih saja.”

Udin tersenyum.
“Tapi kali ini serius.”

Yulia menatapnya.
Lama.

Lalu bertanya pelan,

“Kalau suatu hari saya hilang lagi?”

Udin tak bercanda.

Ia menatap mata Yulia.
Dan menjawab pelan.

“Kalau kamu hilang…”
“saya akan cari.”
“Kalau kamu diam…”
“saya akan tunggu.”
“Kalau kamu takut…”
“saya akan tinggal.”

Yulia tidak menjawab.

Namun kali ini,
ia tidak lagi menghindar.

Ia hanya tersenyum.
Kecil.
Namun cukup
untuk membuat Udin diam
lebih lama dari biasanya.

Dan bagi orang seperti Udin,
itu sudah seperti jawaban.


Ilham dan Nisa

Ilham dan Nisa juga berubah.

Bukan menjadi pasangan yang sempurna.

Tetapi menjadi pasangan
yang lebih saling mendengar.

Karena setelah gunung,
mereka mengerti satu hal:

kadang hubungan tidak rusak karena kurang cinta.

Tetapi karena terlalu lama
menyimpan hal yang seharusnya dibicarakan.

Suatu malam,
Ilham berkata kepada Nisa:

“Gunung itu mengajarkan saya…”

Nisa tersenyum.
“Apa?”

Ilham menggenggam tangannya.

“Bahwa kehilangan bisa terjadi dalam satu detik.”
“Jadi saya tidak mau lagi menunggu lama untuk menghargai seseorang.”

Nisa menatapnya.
Lalu menggenggam tangan itu lebih erat.

Dan kadang,
cinta tidak membutuhkan janji besar.

Hanya keberanian
untuk tetap memilih orang yang sama
setiap hari.


Joko dan Kompas Lama

Namun dari semua yang berubah,
orang yang paling berbeda adalah Joko.

Sejak turun dari puncak,
ia tidak lagi terlihat seperti orang
yang sedang mengejar masa lalu.

Ia lebih tenang.

Lebih ringan.

Meski tidak sepenuhnya sembuh.

Karena kehilangan
tidak pernah benar-benar selesai.

Ia hanya berubah bentuk.

Kompas tua milik ayahnya kini selalu ia simpan.

Bukan lagi sebagai tanda kehilangan.

Melainkan sebagai pengingat.

Bahwa seseorang bisa pergi,
namun jejaknya tetap tinggal
di hati orang yang ditinggalkan.

Suatu pagi,
Joko berdiri sendirian di mulut jalur.

Kabut tipis turun dari lereng.

Tangannya menggenggam kompas tua itu.

Bambang datang dari belakang.

“Kamu masih sering ke sini.”

Joko tersenyum kecil.
“Iya.”

“Masih mencari?”

Joko menatap puncak yang samar.

Lalu menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu?”

Joko menjawab pelan.

“Saya sekarang cuma datang untuk mengucapkan terima kasih.”

Bambang terdiam.

Karena akhirnya ia mengerti.

Kadang perjalanan terberat
bukan menemukan seseorang.

Melainkan memaafkan kepergiannya.


Gunung yang Tetap Diam

Gunung Sumbing tetap sama.

Ia tidak berubah
hanya karena manusia datang dan pergi.

Kabut masih turun.
Hutan masih sunyi.
Batu-batu masih menyimpan cerita.
Dan angin masih membawa nama-nama lama
yang hanya bisa didengar
oleh mereka yang pernah benar-benar mendengarkan.

Bagi sebagian orang,
gunung hanyalah tempat mendaki.

Bagi sebagian lain,
gunung adalah tempat pulang.

Dan bagi mereka,
gunung itu telah menjadi saksi
bahwa tiga desa yang berbeda
bisa dipersatukan
oleh satu perjalanan.


Langkah yang Tak Pernah Usai

Beberapa waktu kemudian,
rombongan kecil pendaki pertama
resmi melewati Jalur Persahabatan Tiga Desa.

Di depan,
Joko memimpin.

Di sampingnya Bambang.
Di belakang Ilham.
Fahri.
Dayat.
Yulia.
Dan tentu saja,
Udin yang masih tidak bisa diam.

“Kalau nanti saya terpeleset…”
“yang nangkap tetap Yulia ya.”

Yulia menatap datar.
“Biar jatuh saja.”

“Wah.”
“Cinta saya ditolak gravitasi.”

Semua tertawa.

Suara tawa itu kembali memenuhi lereng.

Dan gunung,
seperti biasa,
hanya diam mendengarkan.

Joko berhenti sejenak.
Menoleh ke belakang.
Melihat sahabat-sahabatnya.
Melihat orang-orang yang dulu hanyalah tamu,
kini menjadi keluarga.

Lalu ia menatap jalur di depan.

Masih panjang.

Masih menanjak.

Masih penuh misteri.

Namun kali ini,
ia tidak merasa sendirian.

Karena ia akhirnya mengerti:

beberapa perjalanan memang selesai di puncak.

Tetapi langkah yang paling penting
adalah langkah setelahnya.

Langkah untuk pulang.
Langkah untuk menjaga.
Langkah untuk hidup.
Dan langkah untuk terus berjalan.

Sebab pada akhirnya,

yang abadi bukan puncak yang berhasil dicapai,
melainkan orang-orang yang tetap berjalan bersama
meski perjalanan belum selesai.


TAMAT

 

0 komentar:

Posting Komentar