PROLOG:
MALAM YANG MEMBELAH SUNYI
Hujan turun seperti langit sedang melampiaskan amarah yang
tertahan berabad-abad. Bukan sekadar rintik, melainkan deras yang menghantam
bumi dengan keras, seolah setiap tetesnya adalah pukulan kemarahan. Di Desa
Awan Biru, yang tersembunyi di lembah kaki Gunung Sumbing, kegelapan malam
begitu pekat, seperti kain beludru hitam yang membungkus seluruh penjuru. Tidak
ada sebatang lampu pun yang menyala, kecuali nyala pelita minyak tanah yang
redup di beberapa rumah panggung. Desa ini belum pernah tersentuh aliran
listrik. Yang ada hanya suara jangkrik, kodok, dan kadang-kadang lolongan
serigala dari kejauhan.
Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan
dedaunan busuk. Jalan setapak yang menghubungkan satu rumah ke rumah lain
berubah menjadi kubangan lumpur licin, seolah bumi sendiri ingin menelan siapa
pun yang berani melangkah. Di langit, petir menyambar-nyambar, sesekali
menerangi desa dengan kilatan putih yang dingin, memperlihatkan kontur bukit,
pohon-pohon besar yang menjulang, dan atap-atap seng yang berkarat.
Di sebuah rumah panggung sederhana, hampir roboh di bagian
belakang, terdengar jeritan yang memecah sunyi malam. Bukan jeritan biasa, itu
adalah jeritan seorang perempuan yang sedang berperang antara hidup dan mati.
Suaranya naik turun, kadang menggelegar, kadang melemah seperti dedaunan yang
tertiup angin.
"AAAHHH...! TOLONG...! TOLONG SAYA...!"
Ibu hamil itu terbaring lemah di atas balai-balai kayu yang
dilapisi tikar anyaman. Wajahnya pucat pasi, bibirnya pecah-pecah dan kering,
keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya hingga pakaiannya basah. Napasnya
tersengal-sengal, seperti seseorang yang kehabisan oksigen di ruang sempit. Di
sekelilingnya, beberapa perempuan tua duduk bersimpuh, wajah-wajah mereka
keriput dan penuh kerutan, mata mereka menyipit cemas di bawah cahaya pelita
yang berkedip-kedip.
"Ini sudah berapa jam, Mbah?" bisik seorang
perempuan berbaju hitam, matanya tak lepas dari perut ibu hamil yang membuncit.
"Sejak matahari masih di atas bukit," jawab
perempuan lain dengan suara parau. "Sekarang burung malam sudah dua kali
bersuara. Artinya sudah lewat tengah malam."
"Kenapa belum keluar juga? Biasanya Mbah Sari cepat...
ini sudah lama sekali."
"Bayinya keras kepala," sahut yang lain.
"Atau mungkin... ini pertanda buruk."
Mereka saling pandang, ketakutan mulai merayap di antara
mereka. Di sudut ruangan, seorang perempuan sepuh dengan rambut putih yang
disanggul rapi, memakai kain batik lusuh namun tetap terlihat berwibawa, duduk
dengan punggung tegap. Matanya tajam, seperti burung elang yang sedang
mengintai mangsa. Dialah Mbah Sari, dukun beranak yang sudah puluhan tahun
menolong persalinan di desa ini. Warga percaya bahwa tangannya memiliki
"kekuatan" yang diturunkan dari nenek moyang. Tapi malam itu, untuk
pertama kalinya, keraguan mulai menggerogoti keyakinan mereka.
"Panggil Mbah dukun saja," bisik seseorang panik.
"Mungkin Mbah Sari bisa mendoakan lebih keras."
"Dia sudah di sini," jawab yang lain, menunjuk ke
arah perempuan sepuh itu.
Tapi nada suara itu tidak yakin. Bahkan Mbah Sari sendiri
tampak gelisah, bibirnya bergerak-gerak membaca mantera, namun matanya sesekali
melirik ke arah pintu, seolah mencari sesuatu atau seseorang.
Di sudut ruangan yang lain, di tempat yang paling gelap,
seorang perempuan muda berdiri dengan tegang. Jas putih sederhana yang ia
kenakan basah oleh air hujan yang masih menetes dari ujung kerudungnya. Di
tangan kirinya, sebuah tas medis warna merah dengan logo palang putih yang
sudah agak pudar. Di tangan kanannya, senter yang mati karena kehabisan baterai
sejak sejam yang lalu. Wajahnya segar, namun ada garis-garis kelelahan di
sekitar matanya, mata yang cokelat tua dan dalam, seolah menyimpan lautan
cerita yang belum sempat ia ceritakan.
Namanya Amilia. Umurnya baru dua puluh enam tahun. Dan ia
adalah bidan desa yang baru tiga minggu bertugas di Desa Awan Biru. Tiga minggu
yang terasa seperti tiga tahun. Tiga minggu penuh dengan tatapan curiga,
bisik-bisik di belakang punggung, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah
diucapkan tapi selalu terasa di udara.
"Dari mana dia? Kota, ya?"
"Paling cuma sebentar. Nanti juga kabur."
"Jangan terlalu percaya sama orang baru."
Amilia mendengar semuanya. Setiap bisikan, setiap desahan,
setiap helaan napas yang penuh makna. Tapi ia diam. Karena ia tahu, di desa
seperti ini, kepercayaan tidak bisa dipaksa. Ia harus membuktikan dirinya. Dan
malam ini, mungkin, adalah saat pembuktian itu.
"Bu, kita harus segera rujuk," ucap Amilia,
melangkah maju satu langkah. Suaranya tegas, namun ia sengaja menahannya agar
tidak terlalu tinggi. Ia sudah belajar bahwa di desa ini, suara perempuan muda
yang lantang sering dianggap kurang ajar. "Ini sudah terlalu lama.
Tanda-tandanya tidak normal. Pendarahan sudah mulai, kontraksinya melemah, dan
ibu sudah kehabisan tenaga. Ini berbahaya, untuk ibu dan bayinya."
Belum genap kata-kata itu selesai, seorang lelaki tua duduk
di dekat pintu membentak. Tubuhnya kekar meski usianya sudah lewat enam puluh,
dengan wajah keras dan kulit yang gelap oleh terik matahari. Matanya
menyala-nyala, seperti bara api yang siap membakar siapa pun yang berani
menantangnya.
"Tidak perlu! Dari dulu juga begini!" bentaknya,
suaranya menggema di ruangan kecil itu. "Anak-anak kami lahir di tangan
dukun, bukan di tangan orang kota! Kami tidak butuh suntik-suntik dan
obat-obatan kimia! Alam sudah memberikan jalannya sendiri!"
Lelaki itu adalah Pak Sugeng, salah satu tetua desa yang
paling disegani. Ia bukan kepala desa, tapi pengaruhnya bisa mengalahkan kepala
desa itu sendiri ketika menyangkut soal adat dan tradisi. Suaranya adalah gong
yang jika dipukul, semua orang akan berhenti dan mendengar.
Beberapa perempuan tua mengangguk setuju, meski dengan raut
wajah yang tidak sepenuhnya yakin. Mbah Sari membuka matanya yang sedari tadi
terpejam. Sorot mata perempuan sepuh itu tajam, menusuk, seperti duri yang
masuk ke dalam daging. Ia menatap Amilia dengan dingin, bukan kebencian, namun
sesuatu yang lebih berbahaya: ketidaksukaan yang mendarah daging.
"Kamu masih baru di sini, Nak," kata Mbah Sari.
Suaranya pelan, tapi setiap suku kata keluar seperti bilah pisau yang diasah
halus. "Jangan sok tahu adat kami. Kami sudah berabad-abad hidup dengan
cara ini. Dan kami masih hidup. Ratusan bayi telah lahir melalui tanganku.
Tidak ada satu pun yang meninggal. Jadi jangan kau anggap aku tidak tahu
apa-apa."
Amilia menelan ludah. Tangannya yang memegang tas medis
mulai gemetar, bukan karena takut, tapi karena frustrasi yang tertahan. Ia bisa
melihat tanda-tanda bahaya yang jelas: pendarahan yang tidak normal, lemahnya
kontraksi, wajah pasien yang pucat seperti kain kafan, dan napas yang semakin
pendek. Ia tahu persis apa yang diajarkan di bangku kuliah, apa yang ia
praktikkan selama magang di rumah sakit, dan apa yang ia baca di puluhan jurnal
kesehatan internasional. Tapi di sini, di desa yang langitnya gelap dan
listriknya tak pernah menyala, ilmu itu seolah tidak bernilai apa-apa.
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan debaran
jantungnya yang semakin kencang. Matanya beralih ke ibu hamil yang terbaring
lemah. Wajah perempuan itu kini pucat seperti mayat. Bibirnya kebiruan. Matanya
sayu, setengah terpejam, seolah sedang melayang di antara sadar dan tidak
sadar.
"Tolong aku," kata
mata itu. "Aku takut. Aku tidak ingin mati."
Dan itu cukup. Amilia tidak bisa lagi diam.
"Tapi ini bukan soal adat," kata Amilia,
melangkah maju lagi. Kali ini suaranya lebih tegas, lebih berani. "Ini
soal nyawa. Lihatlah, Bu, " ia menunjuk ke arah ibu hamil, " wajahnya
sudah pucat, napasnya pendek, pendarahannya tidak berhenti. Tanda-tanda ini
menunjukkan bahwa ada komplikasi serius. Mungkin plasenta-nya bermasalah, atau
bayinya sungsang. Saya tidak tahu persis tanpa pemeriksaan lebih lanjut, tapi
satu hal yang saya tahu: jika kita tidak segera bertindak, jika kita terus
berdebat, kita akan kehilangan dua nyawa sekaligus. Bukan karena adat salah,
bukan karena ilmu saya benar, tapi karena waktu tidak menunggu siapa pun."
Petir menyambar tepat di luar rumah. Cahaya putih sesaat
menerangi seluruh ruangan, memperlihatkan wajah-wajah yang tegang,
bayangan-bayangan yang menari di dinding bambu, dan tubuh ibu hamil yang
semakin melemah.
Jeritan ibu itu kembali terdengar, namun kali ini lebih
lemah. Hampir seperti rintihan. "...tolong... saya... tidak...
kuat..."
Kata-kata itu keluar seperti angin terakhir sebelum padam.
Ruangan menjadi hening. Bahkan suara hujan yang deras di luar seolah ikut
berhenti sejenak. Semua orang saling pandang. Keraguan yang tadinya hanya
merayap, kini berubah menjadi pertanyaan besar yang menggantung di udara.
Apakah kita salah? Apakah kita sudah terlalu lama
mempertahankan sesuatu yang tidak lagi cukup?
Mbah Sari terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak menjawab.
Tidak membantah. Hanya diam dan itu lebih menakutkan daripada seribu bentakan.
Dan dalam keheningan yang mencekik itu, Amilia mengambil
langkah maju. Bukan langkah sombong, bukan langkah arogan, melainkan langkah
seorang perempuan yang tidak bisa lagi hanya berdiri dan melihat. Suaranya
berubah. Tidak lagi memohon. Tidak lagi merendah. Sekarang, ia memimpin.
"Dengar," katanya, matanya menatap satu per satu
orang di ruangan itu. Tatapannya dalam, menembus, seperti seorang komandan yang
berbicara di medan perang. "Saya bukan di sini untuk menghapus adat
kalian. Saya bukan di sini untuk menggantikan Mbah Sari. Tapi malam ini, di
ruangan ini, seorang ibu sedang sekarat dan bayinya juga terancam. Jika kita
terlambat, jika kita terus berdebat soal siapa yang lebih tahu, kita akan
kehilangan dua nyawa sekaligus. Bukan karena saya lebih pintar. Tapi karena
saya punya alat, saya punya ilmu, dan saya punya hati yang tidak tega
membiarkan seseorang mati hanya karena saya terlalu takut untuk
bertindak."
Ia berhenti. Napasnya memburu. Dan untuk pertama kalinya, ia
membiarkan suaranya meninggi, hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat semua
orang terdiam.
Sunyi. Sepi. Detak jantung mungkin satu-satunya suara yang
terdengar.
Lalu, dari sudut ruangan, seorang lelaki setengah baya yang
selama ini hanya diam dengan wajah penuh luka berdiri. Wajahnya basah oleh air
mata yang tidak berani ia tumpahkan. Ia adalah suami dari ibu yang terbaring
lemah itu. Matanya merah, tangannya gemetar, dan suaranya pecah di akhir
kalimat.
"Lakukan apa yang bisa kamu lakukan, Bu," katanya
pelan. "Selamatkan istri saya. Saya... saya percaya pada ibu."
Kata-kata itu seperti kunci yang membuka pintu. Amilia
tidak menunggu lagi. Ia langsung membuka tas medisnya, mengeluarkan peralatan
yang ia perlukan, dan mendekati ibu hamil itu dengan langkah cepat namun
hati-hati.
"Semua tolong mundur!" perintahnya. "Beri
saya ruang! Ibu Yati, tolong siapkan air hangat! Bu Siti, ambil kain bersih!
Kita tidak punya banyak waktu!"
Untuk pertama kalinya malam itu, ada gerakan. Ada arah. Ada
harapan.
Mbah Sari hanya berdiri di sudut, menatap Amilia dengan sorot
mata yang sulit diartikan, antara kekaguman, kemarahan, dan rasa takut
kehilangan. Tapi ia tidak bergerak. Tidak menghalangi. Dan itu sudah cukup.
Tangis bayi akhirnya pecah beberapa saat kemudian. Keras.
Jelas. Hidup.
Namun bersamaan dengan itu, konflik besar lahir. Karena di
balik pintu rumah itu, di tengah hujan yang masih deras, bisik-bisik mulai
terdengar, bukan lagi bisik-bisik ragu, tapi bisik-bisik yang penuh tuduhan.
"Dia memaksa."
"Dia merendahkan Mbah Sari."
"Dia pikir dia paling benar."
Dan Amilia, yang baru saja menyelamatkan dua nyawa, tidak
tahu bahwa malam itu adalah awal dari badai yang jauh lebih besar.
BAB 1: LANGKAH PERTAMA DI TANAH SUNYI
Matahari pagi di Desa Awan Biru tidak pernah terbit dengan
gegap gempita. Ia naik perlahan di balik bukit-bukit hijau, seperti seorang tua
yang enggan memulai hari. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan,
menciptakan suasana yang dingin dan misterius. Ayam-ayam jantan mulai berkokok
bersahutan, menandakan bahwa kehidupan akan segera dimulai. Namun di balik
ketenangan itu, ada sesuatu yang tidak kasat mata, sebuah batas yang memisahkan
desa ini dari dunia luar.
Mobil tua yang ditumpangi Amilia berhenti dengan bunyi
berderit panjang, seperti kuda tua yang kelelahan setelah perjalanan jauh.
Pintu besinya berkarat, dan ketika dibuka, suaranya nyaring memecah kesunyian
pagi.
"Sudah sampai, Bu," kata sopir, seorang lelaki
paruh baya dengan kumis tipis dan kulit gelap oleh terik matahari. Ia menunjuk
ke jalan tanah di depan, bukan jalan aspal, bukan jalan berbatu, melainkan
jalan setapak yang penuh lubang dan genangan air. "Dari sini ibu harus
jalan kaki. Mobil tidak bisa masuk."
Amilia membuka pintu perlahan. Sepatu putihnya langsung
tenggelam sedikit ke dalam lumpur. Ia menghela napas, bukan karena kecewa, tapi
karena sadar bahwa ini bukan lagi mimpi. Ini adalah kenyataan. Ia menatap
sekeliling. Rumah-rumah kayu berdiri di kiri-kanan, sebagian besar terlihat tua
dan tidak terawat. Atap-atap seng berkarat. Dinding-dinding bambu yang bolong-bolong.
Jalan setapak yang becek dan penuh dengan kotoran ternak. Di kejauhan, beberapa
orang mulai keluar dari rumah mereka, menatapnya dengan mata penuh rasa ingin
tahu dan kecurigaan.
"Ini... Desa Awan Biru," gumam Amilia, lebih
kepada dirinya sendiri. Ia mencoba tersenyum, tapi senyum itu terasa kaku di
bibirnya.
Sopir itu hanya mengangguk. "Ibu hati-hati ya. Saya
balik dulu. Nanti kalau mau keluar, titip pesan sama Pak Kades. Ada angkutan
desa setiap hari Kamis."
"Terima kasih, Pak," jawab Amilia, masih sibuk
menyesuaikan matanya dengan suasana baru.
Mobil tua itu berbalik dan pergi, meninggalkan Amilia
berdiri sendirian di pinggir jalan desa dengan sebuah koper kecil dan tas medis
di tangannya. Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan asap
kayu bakar dari dapur-dapur rumah. Burung-burung berkicau di kejauhan, seolah
menyambut kedatangannya atau mungkin memperingatkannya.
Belum sempat ia melangkah jauh, suara berat terdengar dari
belakang.
"Panjenengan bidan baru itu, ya?"
Amilia menoleh. Seorang pria paruh baya mendekat. Tubuhnya
tegap, wajahnya serius, dan matanya, matanya seperti seorang yang terbiasa
memerintah, terbiasa dihormati, dan terbiasa tidak banyak bicara. Ia mengenakan
kemeja batik lusuh dan sandal jepit, namun wibawanya terasa begitu kuat,
seperti seorang raja yang sedang menilai bawahannya.
"Ya, Pak. Saya Amilia," jawab Amilia dengan
sopan, sedikit menunduk sebagai tanda hormat. "Bidan baru yang ditugaskan
di sini."
"Pak Iwan. Kepala desa," kata pria itu singkat. Ia
tidak tersenyum. Tidak juga mengulurkan tangan. Hanya menatap Amilia dengan sorot
mata yang sulit diartikan, antara penerimaan dan penolakan.
Amilia berusaha tersenyum hangat, meskipun hatinya mulai
berdegup kencang. "Terima kasih sudah menerima saya, Pak. Saya akan
berusaha sebaik mungkin untuk membantu warga di sini."
Pak Iwan hanya mengangguk singkat. "Ya... kita lihat
saja nanti," katanya, lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa menunggu
jawaban.
Nada itu dingin. Tidak kasar, tapi juga tidak ramah. Seperti
angin pagi yang menusuk tulang. Amilia menarik napas panjang, berusaha
menenangkan dirinya. Ini baru hari pertama, pikirnya. Jangan
langsung berkecil hati.
Dari kejauhan, beberapa warga mulai berbisik. Mata-mata
mereka mengarah padanya, lalu saling berpandangan, lalu berbisik lagi dengan
suara yang sengaja tidak terlalu pelan.
"Itu dia... bidan dari kota..."
"Ya ampun, masih muda sekali..."
"Paling cuma sebentar, nanti juga pulang. Bidan sebelumnya juga
begitu."
"Iya, tiga bulan lalu juga ada yang baru, cuma dua minggu langsung
kabur."
"Wajar lah, desa kita kan jauh dari mana-mana. Mana ada listrik. Mana ada
sinyal. Mana ada yang betah?"
Amilia mendengar semuanya. Setiap kata, setiap helaan
napas, setiap desahan penuh makna. Tapi ia tetap tersenyum. Senyum yang ia
yakini sebagai jembatan, meskipun untuk saat ini, jembatan itu masih sangat
rapuh.
Kantor Desa Awan Biru adalah sebuah bangunan kayu berukuran
sedang, dengan lantai panggung dan dinding setengah tembok. Di ruang utama,
terdapat meja panjang dan kursi-kursi kayu yang sudah lapuk. Dindingnya dihiasi
foto-foto lama, kepala desa dari masa ke masa, acara-acara adat, dan satu peta
desa yang sudah kuning dan robek di pinggirnya. Di sudut ruangan, sebuah papan
tulis hitam masih berdiri, meskipun kapurnya sudah habis sejak tahun lalu.
Amilia diperkenalkan oleh Pak Iwan kepada perangkat desa
yang hadir. Mereka duduk melingkar di meja panjang, wajah-wajah mereka beragam,
ada yang ramah, ada yang cuek, ada yang sinis, dan ada yang benar-benar tidak
peduli.
"Ini Sekdes kita, Bu Yuni," kata Pak Iwan,
menunjuk seorang perempuan setengah baya dengan wajah bulat dan senyum yang
hangat. Ia mengenakan kebaya sederhana dan rambutnya disanggul rapi. Dari semua
orang di ruangan itu, dialah yang paling terlihat bersahabat.
"Selamat datang, Bu Amilia," ucap Bu Yuni dengan
suara lembut. "Semoga betah di sini. Kalau ada yang perlu, jangan
sungkan-sungkan ya. Rumah saya di ujung desa, dekat kali."
"Terima kasih, Bu," jawab Amilia lega. Setidaknya
ada satu wajah ramah di tengah lautan ketidakpastian.
"Ini Kasi Pelayanan, Bu Endang," lanjut Pak Iwan,
menunjuk seorang perempuan kurus dengan kacamata tebal dan wajah yang sulit
ditebak. Ia duduk menyilangkan tangan, matanya mengamati Amilia dari atas ke
bawah.
Bu Endang tersenyum tipis, sangat tipis, hampir tidak
terlihat. "Semoga betah, Bu... walau biasanya bidan-bidan sebelumnya tidak
lama di sini. Paling lama tiga bulan. Yang terakhir hanya dua minggu."
Suasana sedikit canggung. Beberapa perangkat desa lainnya
saling pandang, ada yang tersenyum miring, ada yang menggeleng pelan.
"Ya, mudah-mudahan saya bisa lebih lama," jawab
Amilia sopan, meskipus hatinya sedikit tersentak. Dua minggu? Sungguh
parah.
Tiba-tiba suara celetukan muncul dari belakang. "Kalau
kuat sih, Bu..."
Semua menoleh. Seorang pemuda kurus berdiri di pintu,
dengan senyum usil di bibirnya. Rambutnya agak panjang, sedikit kusut, dan ia
mengenakan kaos oblong lusuh serta celana jeans yang sudah pudar. Matanya
cerdas, penuh dengan rasa ingin tahu, dan sedikit, nakal.
"Amat, kamu ini..." tegur Pak Edi, salah satu
perangkat desa yang duduk di samping Pak Iwan. "Ini pertemuan resmi.
Jangan main-main."
Amat hanya nyengir, tidak sedikit pun merasa bersalah.
"Maaf, Pak. Tapi fakta lapangan kan begitu. Bidan-bidan sebelumnya
rata-rata tidak bertahan lama. Bukan karena desa kita jelek, tapi karena...
yah, gimana ya, ini desa butuh orang yang kuat mentalnya. Dan saya lihat, Bu
Amilia, " ia menatap Amilia dengan sorot mata yang tiba-tiba menjadi
serius, " semoga ibu termasuk yang kuat."
Amilia tersenyum kecil. Ia tidak marah, justru ia merasa
ada kejujuran dalam kata-kata pemuda itu. "Memangnya kenapa banyak yang
tidak bertahan?" tanyanya penasaran.
Amat mendekat, berbisik setengah bercanda, tapi suaranya
cukup keras untuk didengar semua orang. "Karena di sini bukan cuma butuh
ilmu, Bu... tapi juga mental baja. Dan hati yang tebal. Karena warga di sini...
yah, agak keras kepala."
Beberapa orang tertawa kecil. Bahkan Pak Iwan pun tersenyum
tipis, hampir tidak terlihat, tapi Amilia melihatnya. Ini awal yang
menarik, pikirnya.
Namun tidak semua tertawa. Di sudut ruangan, seorang lelaki
tua dengan sorot mata tajam duduk diam. Ia tidak ikut bergurau, tidak ikut
tersenyum, hanya diam dan memperhatikan Amilia dengan tatapan yang dalam, seperti
seorang ahli bedah yang sedang membedah pasiennya. Itu adalah Mbah Darmo,
sesepuh desa yang jarang bicara tapi kata-katanya sangat didengar. Ia belum
mengucapkan sepatah kata pun sejak Amilia datang. Dan itu membuat Amilia
gelisah.
Di Desa Awan Biru, warung kopi Mbah Karyo adalah pusat
informasi, pusat gosip, dan pusat segala opini. Letaknya tepat di persimpangan
jalan desa, dengan atap rumbia dan dinding anyaman bambu. Di dalamnya, beberapa
bangku kayu panjang disusun berjajar, dan di sudut ruangan, Mbah Karyo, seorang
lelaki tua dengan perut buncit dan senyum yang selalu mengembang, sedang sibuk
menyeduh kopi tubruk menggunakan ceret hitam yang sudah berkarat.
Suasana sore itu santai, tapi penuh bisik-bisik. Beberapa
lelaki desa duduk bersila, menyeruput kopi panas, dan membicarakan berita
terbaru: kedatangan bidan baru.
"Menurutmu gimana, Pak, bidan baru itu?" tanya
Pak Sugeng, yang sudah duduk di kursi favoritnya, sambil memainkan sendok kopi
di tangannya.
Pak Santoso, lelaki setengah baya dengan kumis tebal dan
sorot mata yang teduh, menyeruput kopinya pelan-pelan. Ia tidak terburu-buru
menjawab. "Terlalu berani," katanya akhirnya.
"Berani atau nekat?" timpal Pak Sugeng.
"Ya dua-duanya," jawab Pak Santoso. "Berani
itu bagus, tapi kalau tidak dibarengi dengan kebijaksanaan, nekat bisa jadi
bumerang."
Mbah Karyo ikut nimbrung sambil mengelap gelas dengan kain
lap yang sudah lusuh. "Yang jelas... dia belum tahu desa ini seperti apa.
Desa ini punya sejarah, punya adat, punya kepercayaan yang sudah dipegang
turun-temurun. Kalau dia mau bertahan, dia harus belajar menghormati itu, bukan
menggantinya."
Pak Sugeng mengangguk setuju. "Setuju. Mbah Sari saja
sudah puluhan tahun di sini. Tiba-tiba datang anak muda dari kota, bawa-bawa
tas merah, mau ngatur-ngatur. Ya wajar kalau warga agak... yah, gimana."
Pak Santoso tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil dan
kembali menyeruput kopinya. Matanya menatap ke luar warung, ke arah rumah dinas
tempat Amilia tinggal. Kita lihat saja, pikirnya. Kita
lihat saja seberapa kuat perempuan itu.
Posyandu Desa Awan Biru terletak di sebuah bangunan kecil
di samping Kantor desa. Dindingnya setengah tembok, atapnya seng, dan lantainya
tanah yang sedikit becek karena hujan semalam. Di dalamnya, hanya ada satu meja
kayu panjang, dua kursi, dan beberapa timbangan bayi yang sudah berkarat.
Hari itu adalah hari pertama Amilia menjalankan program
posyandu. Ia datang lebih awal, membersihkan ruangan, menata alat-alat medis,
dan menyiapkan catatan-catatan. Ia berharap warga akan dating, setidaknya
beberapa ibu dengan anak-anak mereka.
Tapi harapan tidak selalu sesuai kenyataan.
"Bu, nanti anaknya kita timbang ya, biar tahu tumbuh
kembangnya," kata Amilia kepada seorang ibu muda yang lewat di depan
posyandu. Wajah ibu itu cantik, tapi matanya penuh kecurigaan.
Ibu itu menarik tangan anaknya yang masih balita.
"Tidak usah, Bu. Selama ini sehat-sehat saja. Tidak perlu
ditimbang-timbang. Lagipula, makan kami ya apa adanya. Timbang atau tidak, ya
tetap begitu."
"Tapi, Bu, " Amilia mencoba menjelaskan, tapi ibu
itu sudah berbalik dan pergi.
Yang lain juga sama. Beberapa ibu yang tadinya tampak
tertarik, tiba-tiba menghilang saat melihat Amilia mendekat. Seperti ada tembok
tak kasat mata yang memisahkan mereka.
Yulia, Ketua Posyandu, seorang perempuan muda berusia
sekitar dua puluh lima tahun dengan rambut sebahu dan wajah yang ramah,
terlihat canggung. "Maaf ya, Bu... mereka belum biasa. Selama ini posyandu
hanya jalan kalau ada imunisasi dari puskesmas. Selain itu, sepi."
Anita, kader KPM yang berusia dua puluh delapan tahun,
dengan tubuh kurus dan mata yang tajam, mendekat. "Pelan-pelan saja, Bu.
Di sini... kepercayaan itu mahal. Harganya bukan uang, tapi waktu. Dan kita
tidak bisa memaksanya."
Amilia mengangguk. Ia tahu itu. Ia sudah mempersiapkan
mentalnya sejak pertama kali menerima penugasan ini. Tapi tetap saja, saat
dihadapkan pada kenyataan, rasanya seperti ditampar.
Namun saat ia tersenyum, berusaha tetap tegar, tiba-tiba
seseorang berbisik cukup keras dari kejauhan.
"Lihat tuh, senyum-senyum sendiri... sok baik...
padahal paling juga cuma pencitraan."
Langkah Amilia terhenti. Senyumnya beku. Untuk pertama
kalinya, senyum itu terasa begitu berat, seperti topeng yang mulai retak di
pinggirnya.
Rumah dinas yang diberikan untuk Amilia adalah sebuah rumah
panggung kecil di ujung desa, dekat dengan kali. Dindingnya dari papan kayu
yang sudah lapuk, atapnya seng yang bolong di beberapa bagian, dan lantainya
papan yang berderit setiap kali dilangkahi. Tidak ada listrik. Hanya satu lampu
minyak tanah yang menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari
di dinding.
Amilia duduk sendiri di lantai, bersandar pada tiang kayu.
Suara jangkrik terdengar begitu keras di malam hari, seperti paduan suara yang
tidak pernah berhenti. Angin berhembus pelan melalui celah-celah dinding,
membawa aroma tanah basah dan dedaunan.
Ia membuka tasnya. Di dalam, di antara alat-alat medis dan
buku catatan, ada sebuah foto yang sudah agak lusuh. Foto seorang perempuan
paruh baya dengan senyum yang hangat, wajah yang sama dengan wajah Amilia,
hanya lebih tua, lebih berkerut, dan lebih penuh dengan cerita.
Ibunya.
Amilia tersenyum, lalu matanya berkaca-kaca. "Bu...
ternyata tidak mudah," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku kira aku
sudah siap. Tapi... ternyata tidak."
Air mata jatuh. Satu, dua, tiga dan kemudian tidak
terbendung lagi. Ia menangis dalam diam, menangis karena lelah, menangis karena
sendirian, menangis karena ia merindukan sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan
namanya.
Tapi ia cepat menghapus air matanya. Ia berdiri, berjalan
ke jendela, dan menatap ke luar. Gelap. Sepi. Dan asing. Tidak ada lampu. Tidak
ada suara kendaraan. Hanya gelap yang pekat dan sunyi yang mencekik.
Namun perlahan, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Aku
tidak akan pulang... sebelum aku benar-benar berarti di sini. Aku berjanji, Bu.
Aku tidak akan mengecewakanmu."
Ia tidak tahu bahwa di luar rumahnya, di balik kegelapan
malam, sekelompok pemuda sedang berkumpul di bawah pohon beringin besar dan
mereka sedang membicarakannya.
Pohon beringin di lapangan desa sudah berusia ratusan
tahun. Akarnya menjalar ke mana-mana, seperti urat-urat yang menghubungkan desa
ini dengan masa lalunya. Di bawah pohon itu, sekelompok pemuda duduk bersila,
ditemani oleh sebatang lilin yang diletakkan di tengah-tengah mereka.
Ada Hermansyah,pemuda berusia dua puluh lima tahun dengan
tubuh atletis dan wajah yang tegas. Ia adalah ketua karang taruna desa, dan
sering dianggap sebagai "pemimpin alami" di antara mereka.
Ada Rangga, pemuda kurus dengan kacamata tebal, yang lebih
suka membaca buku daripada bergosip. Ia adalah lulusan SMA satu-satunya di desa
itu yang melanjutkan pendidikan ke kota, tapi kembali lagi karena tidak punya
biaya.
Ada Guntur, pemuda gemuk dengan senyum yang selalu
mengembang, yang hobinya menggoda setiap perempuan yang lewat.
Ada Bambang, pemuda pendiam dengan wajah yang selalu
serius, yang jarang bicara tapi kalau bicara selalu menusuk.
Dan tentu saja... Amat.
"Menenurut kalian... bidan itu bakal kuat?" tanya
Rangga, sambil memegang dagunya.
"Kalau cantik sih kuat," celetuk Guntur sambil
nyengol. "Kuat diliatin, maksudnya."
"Woy, serius dikit!" bentak Hermansyah sambil
memukul lengan Guntur. "Ini serius. Desa kita sudah bertahun-tahun tidak
punya bidan tetap. Terakhir yang bertahan cuma tiga bulan, eh dua minggu. Kalau
ini juga cuma sebentar, kita akan kesulitan lagi."
Amat yang sedari tadi diam, akhirnya bicara. Suaranya
pelan, tapi penuh makna. "Yang saya lihat... dia bukan orang biasa."
"Kenapa?" tanya Bambang, penasaran.
"Matanya," jawab Amat. "Bukan mata orang
yang mudah menyerah. Ada api di sana. Mungkin kecil, mungkin masih samar, tapi
saya melihatnya."
Hening sejenak. Lilin di tengah mereka berkedip-kedip,
diterpa angin malam.
"Menarik..." kata Hermansyah akhirnya. "Kita
lihat saja seberapa besar api itu. Dan apakah desa ini akan membiarkannya
menyala... atau memadamkannya."
Malam itu, di Desa Awan Biru, dua dunia bertemu. Dan tanpa
mereka sadari, ini baru permulaan dari sebuah perjalanan panjang yang akan
mengubah segalanya.
BAB 2: DESA DENGAN DUA DUNIA
Pagi di Desa Awan Biru tidak pernah benar-benar tenang. Ada
sesuatu yang mengambang di udara, bukan kabut, bukan asap, melainkan sebuah
ketegangan halus yang tidak kasat mata. Seperti senar gitar yang terus dipetik
pelan-pelan, tidak pernah benar-benar diam, tidak pernah benar-benar sunyi.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika suara ayam jantan
mulai bersahutan, satu di sini, satu di sana, menciptakan irama alam yang sudah
berlangsung ribuan tahun.
Namun di balik ketenangan semu itu, Desa Awan Biru
menyimpan sebuah rahasia yang tidak pernah diucapkan tapi selalu dirasakan oleh
setiap orang yang tinggal di dalamnya: batas. Bukan batas geografis, bukan
batas wilayah administratif, melainkan batas antara dua dunia. Dunia lama yang
mengakar kuat di tanah leluhur, dengan adat-istiadat yang sudah
berdarah-daging, dengan kepercayaan yang tidak pernah goyah meski dihantam
badai zaman. Dan dunia baru yang perlahan merangkak masuk, membawa serta
gagasan-gagasan asing, ilmu pengetahuan yang tidak selalu mudah dicerna, dan
perubahan yang sering kali terasa seperti ancaman.
Dua dunia itu tidak pernah benar-benar bertemu. Mereka
hanya berdiri berseberangan, saling menatap dengan curiga, dan sesekali, seperti
pagi itu, saling mengirimkan gelombang ketidakpercayaan yang terasa di udara.
Rumah Mbah Sari terletak di bagian tertua desa, di dekat
pohon beringin besar yang konon sudah ada sejak desa ini pertama kali dibuka
oleh para leluhur. Rumah itu tidak besar, bahkan cenderung sempit, namun setiap
orang yang memasukinya akan merasakan sesuatu yang ganjil, sebuah getaran,
sebuah aura, atau mungkin hanya sugesti belaka. Dindingnya dari kayu jati tua
yang sudah menghitam oleh usia, dan di setiap sudut ruangan tergantung berbagai
macam benda: akar-akar kering, bulu burung, keris kecil, dan sesaji yang selalu
diganti setiap hari Jumat Legi.
Pagi itu, beberapa warga berkumpul di halaman rumah Mbah
Sari. Mereka duduk bersila di atas tikar anyaman, wajah-wajah mereka serius,
penuh hormat. Di tengah mereka, duduk Mbah Sari dengan kain batik lusuh
berwarna cokelat kehitaman dan rambut putih yang disanggul rapi di atas
kepalanya. Sebuah tusuk konde dari perak, warisan nenek moyang, menghiasi
sanggulnya, berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Matanya, meskipun sudah
tua, masih tajam seperti burung elang. Tidak ada yang bisa berbohong di depan
mata itu.
Mbah Sari bukan sekadar dukun beranak. Ia adalah penjaga
tradisi, pemegang ilmu turun-temurun, dan bagi sebagian warga, perantara antara
dunia manusia dan dunia gaib yang tidak kasat mata. Setiap masalah, mulai dari
sakit perut hingga gagal panen, selalu berujung pada pintu rumahnya. Dan setiap
kata yang keluar dari mulutnya dianggap sebagai kebenaran yang tidak perlu
dipertanyakan lagi.
"Anak sekarang itu terlalu percaya obat-obatan,"
ucap Mbah Sari pelan, namun setiap suku kata keluar dengan wibawa yang membuat
semua orang terdiam. Ia menghela napas panjang, seolah sedang memikirkan nasib
generasi muda yang semakin hari semakin melupakan akar mereka. "Padahal,
tubuh ini sudah punya jalannya sendiri. Alam sudah memberikan keseimbangan.
Yang kita butuhkan hanyalah... kesadaran. Bukan kimia-kimia yang dibuat di
pabrik."
Suaranya bergetar di akhir kalimat, bukan karena lemah,
melainkan karena emosi yang tertahan. Mbah Sari telah melihat banyak perubahan
selama puluhan tahun hidupnya. Ia melihat bagaimana anak-anak muda pergi ke
kota dan kembali dengan kepala penuh gagasan baru, gagasan yang sering kali
merusak tatanan yang sudah mapan. Dan sekarang, seorang bidan muda dari kota
datang dengan tas merahnya, dengan ilmu yang konon lebih "modern",
dan berani-beraninya mencoba mengubah cara lama yang sudah terbukti selama
berabad-abad.
Pak Sugeng, yang duduk paling depan, mengangguk mantap.
Wajahnya yang keras dan penuh kerutan itu menunjukkan persetujuan total.
"Betul, Mbah. Dulu semua lahiran di tangan panjenengan. Aman saja. Tidak
pernah ada masalah. Bayi-bayi lahir sehat, ibu-ibu selamat. Tidak perlu
suntik-suntik, tidak perlu obat-obatan kimia."
Seorang perempuan di belakangnya menambahkan, "Iya,
anak saya yang keempat juga lahir di tangan Mbah Sari. Tidak pakai ribet. Cuma
doa dan pijatan. Sekarang sudah gede, sehat-sehat saja."
Yang lain ikut mengangguk-angguk, seolah menguatkan
keyakinan yang sudah tidak perlu diragukan lagi. Mbah Sari tersenyum tipis, puas,
namun tidak berlebihan. Ia sudah terbiasa dengan pujian seperti itu. Baginya,
itu bukan pujian, melainkan pengakuan atas kebenaran yang sudah seharusnya.
"Tapi sekarang..." lanjut Mbah Sari, nadanya berubah
menjadi sedikit lebih tajam, "sudah ada yang merasa lebih pintar.
Bawa-bawa ijazah dari kota, merasa bisa mengubah segalanya dalam semalam.
Padahal, desa ini tidak butuh perubahan. Desa ini butuh... keteguhan."
Kalimat itu terasa tajam seperti sembilu. Semua yang hadir
tahu persis siapa yang dimaksud. Beberapa dari mereka saling pandang, ada yang
menggeleng pelan, ada yang tersenyum sinis, dan ada pula yang hanya diam, bukan
karena tidak setuju, tapi karena tidak ingin terlihat ikut-ikutan menyerang.
Mbah Sari menatap satu per satu orang di depannya.
"Ingat," katanya, "kita tidak boleh lupa dari mana kita berasal.
Jangan sampai kita tergiur dengan kilauan janji-janji palsu, lalu meninggalkan
apa yang sudah dijaga leluhur selama ratusan tahun."
"Hormat Mbah," sahut mereka serentak, suara
mereka bergema di halaman rumah yang sempit itu.
Dan di dalam genggaman mereka, keyakinan itu semakin erat, seperti
akar pohon beringin yang mencengkeram tanah, tidak mudah dicabut meski dihantam
badai.
Di balai desa, suasana berbeda. Tidak ada wibawa Mbah Sari,
tidak ada bisik-bisik penuh makna. Yang ada hanya Amilia, seorang perempuan
muda berjilbab putih, dengan jas putih yang sedikit basah oleh keringat, berdiri
di depan papan tulis sederhana. Di hadapannya, hanya ada beberapa kader: Anita,
Yulia, dan dua-tiga ibu lain yang duduk di kursi kayu dengan wajah ragu-ragu.
Jumlah mereka sangat sedikit, dan itu sudah membuat Amilia bersyukur.
"Jadi, ibu-ibu..." Amilia mulai bicara. Suaranya
sedikit serak karena pagi itu ia hampir tidak bersuara. Ia sengaja
mempersiapkan materi penyuluhan sejak subuh, menulis poin-poin penting di buku
catatan, dan berlatih di depan cermin, meskipun cermin itu hanya selembar kaca
pecah yang ia temukan di dapur rumah dinas. "Penting sekali untuk rutin
memeriksa kehamilan. Minimal satu bulan sekali di trimester pertama, dua minggu
sekali di trimester kedua, dan seminggu sekali di trimester ketiga. Ini untuk
memastikan bahwa ibu dan janin dalam keadaan sehat. Tidak ada kelainan, tidak
ada komplikasi, dan jika ada masalah, kita bisa segera mengatasinya."
Ia menggambar sketsa sederhana di papan tulis dengan kapur
yang sudah pendek, hampir habis. Tangannya bergerak lincah, meskipun sedikit
gemetar karena gugup. Gambar itu menunjukkan rahim, janin, dan plasenta, sederhana
namun informatif.
"Kalau ada tanda-tanda seperti pusing hebat yang tidak
kunjung reda," lanjut Amilia sambil menunjuk gambar itu, "atau
bengkak di tangan dan kaki, atau pendarahan meskipun hanya sedikit, harus segera
ditangani. Jangan ditunda-tunda. Jangan menunggu sampai parah. Karena dalam
kasus-kasus tertentu, keterlambatan beberapa jam saja bisa membahayakan nyawa
ibu dan bayi."
Seorang ibu yang duduk di baris belakang, seorang perempuan
muda dengan perut yang mulai membuncit, mungkin hamil lima atau enam bulan, mengangkat
tangan. Wajahnya ragu-ragu, matanya tidak berani menatap langsung ke arah
Amilia. "Kalau... kalau cuma pakai ramuan saja tidak cukup ya, Bu?"
Amilia tersenyum lembut. Ia sudah mengantisipasi pertanyaan
seperti ini. "Boleh saja, Bu. Ramuan tradisional itu bagus, banyak yang
sudah terbukti secara ilmiah memiliki manfaat. Contohnya jahe untuk mengatasi
mual, atau daun katuk untuk melancarkan ASI. Tapi... kalau sudah ada
tanda-tanda risiko, seperti pendarahan atau tekanan darah tinggi, ramuan saja
tidak cukup. Kita harus pakai cara medis juga. Bukan karena ramuannya jelek,
tapi karena kondisi darurat membutuhkan tindakan cepat yang hanya bisa
diberikan oleh tenaga medis dengan peralatan yang memadai."
Ibu itu mengangguk pelan, meskipun matanya masih penuh
keraguan. Sepertinya ia belum sepenuhnya yakin, tapi setidaknya ia mau
mendengar, itu sudah lebih dari yang Amilia harapkan.
Namun belum sempat Amilia melanjutkan penjelasannya, suara
sandal jepit yang diseret di lantai tanah terdengar dari pintu masuk. Suara itu
lambat, berat, dan sengaja dibuat pelan, seolah ingin membangun ketegangan.
Semua orang di ruangan itu langsung menoleh. Wajah-wajah mereka berubah. Yulia
menunduk, seolah ingin menghilang ke dalam kursinya. Anita menggigit bibir
bawahnya, tanda ia gelisah. Dua ibu lainnya saling pandang dengan mata
membulat.
Mbah Sari berdiri di pintu.
Ia tidak berteriak. Tidak menggebrak meja. Tidak mengancam.
Ia hanya berdiri di sana, tegap, wibawa, dengan sorot mata yang dingin menusuk.
Kain batik lusuhnya berkibar sedikit oleh angin yang masuk dari celah dinding.
Di tangannya, ia membawa sebuah keranjang kecil anyaman bambu yang berisi
daun-daunan kering dan beberapa benda lain yang tidak bisa diidentifikasi dari
kejauhan.
Sunyi. Sepi. Detik-detik berlalu seperti jam.
"Kalau tubuh sehat... tidak perlu macam-macam,"
kata Mbah Sari akhirnya. Suaranya datar, tanpa ekspresi, namun setiap kata
terasa seperti batu yang dilemparkan ke kolam yang tenang, menciptakan
gelombang yang menyebar ke seluruh ruangan.
Amilia merasakan dadanya sesak. Ia tahu momen ini akan
datang. Ia sudah membayangkannya berkali-kali di malam-malam sunyi, ketika ia
berbaring di rumah dinas dan mendengar suara jangkrik yang terus-menerus. Tapi
membayangkan dan menghadapi langsung adalah dua hal yang sangat berbeda.
Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Namun ia tidak mundur. Ia tidak
bisa mundur. Bukan karena sombong, tapi karena jika ia mundur sekarang, ia akan
kehilangan segalanya.
"Betul, Mbah," kata Amilia, berusaha menjaga
suaranya tetap tenang meskipun hatinya berdebar seperti genderang perang.
"Tapi kita juga harus siap kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.
Kesehatan itu ibarat jembatan. Kalau jembatannya kuat, kita bisa lewat dengan
aman. Tapi kalau ada keretakan, kita harus segera memperbaikinya sebelum
jembatan itu runtuh. Pemeriksaan rutin itu seperti memeriksa keretakan sebelum
terlambat."
Mbah Sari melangkah masuk, pelan-pelan. Setiap langkahnya
terasa seperti guntur di ruangan yang sunyi itu. Ia mendekati Amilia, berhenti
sekitar satu meter di depannya, lalu menatap langsung ke mata Amilia. Tatapan
yang tidak berkedip, seperti ular yang siap menerkam.
"Sejak dulu, desa ini baik-baik saja tanpa bantuan
orang luar," kata Mbah Sari, nadanya mulai meninggi sedikit, hanya
sedikit, namun cukup untuk membuat semua orang yang mendengar merinding.
"Kami punya cara sendiri. Cara yang sudah diwariskan dari nenek moyang.
Cara yang tidak pernah gagal. Kenapa sekarang harus berubah? Karena ada orang
kota yang merasa lebih pintar?"
Amilia menelan ludah. Ia merasakan dadanya sesak,
jantungnya berdebar kencang, dan tangannya mulai gemetar, tapi ia tidak bisa
menunjukkan itu. Ia harus tetap tenang. Ia harus tetap profesional. Ia menarik
napas panjang, mengingat-ingat kata-kata ibunya dalam surat yang selalu ia bawa
di tasnya.
"Dan sejak dulu juga," jawab Amilia pelan, namun
kata-katanya keluar seperti pisau yang diasah halus, tajam, tepat, dan menusuk,
"banyak yang tidak tertolong karena terlambat ditangani. Mungkin bukan di
desa ini, tapi di desa-desa lain. Mungkin tidak sekarang, tapi dulu-dulu. Saya
tidak mengatakan cara Mbah salah. Saya hanya mengatakan... kadang-kadang, cara
lama dan cara baru bisa berjalan berdampingan. Saling melengkapi. Bukan saling
menggantikan."
Ruangan langsung membeku. Bahkan udara seolah berhenti
bergerak. Yulia menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. Anita
menggenggam erat ujung bajunya, berusaha menahan diri untuk tidak ikut bicara.
Dua ibu lainnya hanya diam, tidak berani bergerak, seolah mereka sedang
menyaksikan pertarungan antara dua raksasa.
Mbah Sari tidak menjawab. Ia hanya menatap Amilia lebih
lama, lama sekali, seperti seorang ahli bedah yang sedang membedah pasiennya.
Lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan keluar.
Langkahnya sama lambatnya seperti saat ia masuk. Sandalnya diseret di lantai
tanah, meninggalkan bekas garis yang panjang.
Setelah ia pergi, ruangan itu masih sunyi beberapa saat.
Semua orang seolah tidak berani bernapas.
Pak Edi, yang baru masuk dari pintu belakang dan
menyaksikan separuh kejadian, berusaha mencairkan suasana. "Sudah-sudah...
ini semua demi kebaikan warga. Yang penting kita semua punya tujuan yang sama:
kesehatan masyarakat. Jangan sampai ada yang merasa tersinggung."
Namun apinya sudah tersulut. Dan Amilia tahu, di dalam
hatinya, ia tahu, bahwa ini baru awal dari konflik yang jauh lebih besar.
Warung kopi Mbah Karyo selalu menjadi pusat "berita
tercepat" di Desa Awan Biru. Tidak ada koran, tidak ada internet, tidak
ada televisi. Yang ada hanya kopi tubruk, rokok kretek, dan mulut-mulut yang
tidak pernah berhenti bergerak. Setiap sore, warung itu dipenuhi oleh
lelaki-lelaki desa yang datang untuk menghabiskan waktu, bertukar cerita, dan
yang paling penting, membangun opini.
"Katanya tadi bidan itu berani melawan Mbah
Sari," kata Bambang sambil menyesap kopinya. Wajahnya yang biasanya datar
itu kali ini sedikit berubah, ada campuran antara kagum dan khawatir.
"Wah... berani juga ya," timpal Guntur sambil
menyandarkan punggungnya ke dinding bambu. "Baru beberapa hari sudah
berani adu mulut dengan Mbah Sari. Biasanya orang baru langsung ciut begitu lihat
Mbah Sari."
Hermansyah, yang duduk di pojok dengan tangan bersilang,
menghela napas panjang. Wajahnya serius, matanya menerawang ke luar warung, ke
arah bukit-bukit yang mulai diselimuti kabut sore. "Ini bukan soal berani
atau tidak," katanya pelan. "Ini soal benturan kepercayaan. Dua
sistem yang berbeda. Dua cara pandang yang tidak mudah disatukan."
Amat, yang sedari tadi diam sambil memainkan sendok kopi di
tangannya, akhirnya ikut bicara. "Yang satu pakai ilmu... yang satu pakai
keyakinan." Ia berhenti sejenak, menatap kopi di hadapannya yang sudah
setengah habis. "Yang satu bilang 'bukti', yang satu bilang 'warisan'.
Dua-duanya benar di tempatnya masing-masing. Tapi kalau keduanya dipaksa
bertemu tanpa jembatan... ya akan pecah."
"Lalu yang mana yang benar?" tanya Rangga polos.
Amat tersenyum miring, senyum yang hanya muncul ketika ia
sedang berpikir keras. "Yang menyelamatkan nyawa," jawabnya singkat.
Semua diam. Kalimat itu sederhana, namun dalam. Terlalu
dalam untuk sekadar menjadi bahan gosip di warung kopi.
Posyandu keesokan harinya lebih sepi dari sebelumnya. Jauh
lebih sepi.
Amilia datang pagi-pagi, membawa catatan dan alat-alat
medis. Ia membersihkan meja, menyapu lantai tanah, dan menata kursi-kursi kayu yang
berjajar rapi. Ia berharap, masih berharap, bahwa mungkin warga akan datang.
Mungkin mereka hanya butuh waktu. Mungkin hari ini akan berbeda.
Tapi yang datang hanya segelintir orang. Yulia, Anita, dan
seorang ibu tua yang ingin memeriksakan tekanan darahnya, itu pun karena ia
tidak punya siapa-siapa lagi untuk meminta tolong.
Yulia terlihat kecewa. Wajahnya yang biasanya cerah itu
kini murung, seperti langit sebelum hujan. "Biasanya ramai, Bu... sekarang
malah sepi. Padahal kemarin lusa saya sudah keliling kampung memberitahu."
Anita berbisik, suaranya nyaris tak terdengar, seperti
angin yang berhembus di antara dedaunan. "Sejak kemarin... banyak yang
takut dimarahi Mbah Sari. Saya dengar dari tetangga, ada yang bilang kalau ikut
posyandu nanti 'kesurupan' atau 'kena guna-guna'. Saya tahu itu tidak masuk
akal, tapi... ya gitu, Bu. Mereka percaya."
Amilia menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, seperti
ada batu besar yang diletakkan di atasnya. Ia ingin menangis, benar-benar ingin
menangis, tapi ia menahan. Ia menatap kursi-kursi kosong di depannya,
kursi-kursi yang seharusnya diisi oleh ibu-ibu dengan anak-anak mereka. Ia
membayangkan tawa anak-anak kecil, suara timbangan yang berderit, dan
coretan-coretan di buku catatan.
Tapi yang ada hanya keheningan.
Namun ia tidak menyerah. Ia tetap bekerja. Menimbang bayi, hanya
satu, anak dari ibu tua itu. Mencatat data, hanya satu baris. Tersenyum, walau
jelas, hatinya mulai lelah.
Di sela-sela kegiatan, Yulia mendekat. "Bu... ibu
tidak apa-apa?" tanyanya pelan.
Amilia menoleh. Ia berusaha tersenyum, tapi senyum itu
terasa pahit di bibirnya. "Tidak apa-apa, Yu. Mungkin mereka butuh waktu.
Aku juga butuh waktu."
Yulia tidak percaya. Ia melihat mata Amilia, mata yang
cokelat tua dan dalam, yang kini mulai berkaca-kaca. "Ibu jangan menyerah
ya," bisiknya. "Kami, saya dan Anita, kami di sini. Mungkin hanya
sedikit, tapi kami tidak akan pergi."
Amilia hanya mengangguk. Ia tidak bisa bicara. Jika ia
membuka mulutnya sekarang, ia takut yang keluar bukan kata-kata, melainkan
tangis yang tertahan selama ini.
Di bawah pohon besar dekat lapangan desa, suasana berbeda.
Tidak ada tekanan, tidak ada konflik. Hanya dua orang yang duduk berdampingan
di atas batu besar yang sudah licin karena sering diduduki. Daun-daun kering
berguguran di sekitar mereka, dibawa oleh angin sore yang sejuk.
Amat dan Camelia.
Camelia adalah seorang perempuan muda berusia dua puluh
empat tahun, dengan rambut panjang yang diikat kuda, wajah bulat dengan pipi
yang sedikit tembam, dan senyum yang selalu hangat. Ia adalah lulusan SMA yang
tidak melanjutkan kuliah karena harus membantu orang tuanya berjualan di pasar.
Tapi ia punya mimpi, mimpi untuk membawa desanya maju, meskipun perlahan.
"Jadi kamu serius mau bikin program digital
desa?" tanya Camelia, matanya berbinar-binar. Ia menyandarkan kepalanya ke
pohon, menikmati angin sore yang membelai rambutnya.
"Serius lah," jawab Amat Junior sambil memainkan
sehelai rumput di tangannya. "Masa desa terus begini. Tidak ada informasi,
tidak ada akses. Semua serba manual. Padahal kalau kita punya ponsel pintar,
setidaknya beberapa orang, kita bisa mulai mendokumentasikan potensi desa.
Hasil pertanian, kerajinan tangan, wisata alam. Terus kita promosikan lewat
media sosial. Siapa tahu ada yang tertarik."
Camelia tersenyum. "Kadang kamu ini terlalu idealis,
Mat."
"Idealisme itu yang membuat perubahan, Cam. Kalau
semua orang realistis, tidak akan ada yang pernah mencoba sesuatu yang
baru."
Camelia terdiam sesaat. Matanya menatap ke arah desa, ke
arah rumah-rumah kayu yang mulai diterangi oleh lampu minyak. Lalu pelan-pelan
ia berkata, "Termasuk bidan itu ya?"
Amat Junior mengangguk. Tidak perlu bertanya siapa yang
dimaksud. "Iya... dia juga sedang berjuang. Berjuang untuk sesuatu yang
dia yakini benar. Berjuang melawan ketakutan yang sudah berakar puluhan
tahun."
Camelia tersenyum tipis. "Semoga dia tidak
sendirian..." Katanya lirih, seperti doa yang tidak ingin didengar orang
lain.
Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang hangat, sesuatu
yang belum terucap, yang masih tersimpan rapi di dalam hati masing-masing.
Namun seperti angin sore yang berlalu begitu saja, mereka tidak
membicarakannya. Tidak sekarang. Mungkin tidak pernah.
Malam itu, bulan bersinar terang. Cahayanya menembus
celah-celah dinding bambu rumah dinas, menciptakan bayangan-bayangan yang
menari-nari di lantai. Amilia baru saja selesai makan malam, nasi dengan
sedikit sayur dan ikan asin, ketika ia mendengar ketukan pelan di pintu.
Tok... tok... tok...
Amilia membuka pintu. Di depan berdiri seorang ibu muda
dengan wajah panik. Matanya merah, tangannya gemetar, dan bajunya basah oleh
keringat. Di baliknya, gelap pekat, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang
samar.
"Bu... tolong... saya perutnya sakit..." suaranya
bergetar, hampir menangis. "Sejak sore... sakitnya luar biasa... saya takut..."
Amilia langsung sigap. Matanya berubah, dari lelah menjadi
waspada. "Sudah berapa lama, Bu? Sakitnya seperti apa? Apakah disertai
pendarahan?"
"Sakitnya seperti ditusuk-tusuk... Bu... di bagian
bawah... dan saya hamil... Saya takut terjadi apa-apa dengan bayi saya..."
Amilia tidak menunggu lagi. Ia mengambil tas medisnya,
meraih senter, dan bersiap untuk memeriksa. "Masuk, Bu. Saya periksa
dulu—"
Belum sempat pintu ditutup, suara keras terdengar dari
luar. Bukan dari kejauhan, melainkan dari depan rumah, hanya beberapa meter
dari tempat Amilia berdiri.
"JANGAN MACAM-MACAM!"
Semua membeku.
Mbah Sari berdiri di bawah cahaya bulan. Di belakangnya,
beberapa warga, Pak Sugeng, dua orang laki-laki lain, dan seorang perempuan
tua, berdiri dengan wajah-wajah tegang. Mbah Sari melangkah maju, matanya tajam
menatap ibu muda yang ketakutan itu.
"Dia sudah saya tangani!" tegas Mbah Sari,
suaranya menggema di malam yang sunyi. "Saya sudah memberi ramuan, sudah
memijat, sudah mendoakan. Tidak perlu dibawa ke sini. Ini hanya sakit biasa.
Nanti juga reda."
Ibu muda itu bingung. Ia menatap Amilia... lalu menatap Mbah
Sari. Wajahnya penuh konflik, antara ketakutan akan sakitnya dan ketakutan akan
melanggar adat.
"Bu... saya..." gumamnya, tidak tahu harus
berkata apa.
Amilia menahan diri. Ia melihat semua tanda-tanda bahaya di
wajah ibu itu: pucat, keringat dingin, mata sayu. Bisa jadi itu gejala
keguguran, atau kehamilan ektopik, atau komplikasi serius lainnya. Tapi ia juga
tahu, ia sangat tahu, bahwa jika ia memaksa sekarang, ia tidak hanya akan
kehilangan pasien itu, tapi juga kepercayaan sisa yang masih tersisa.
Dengan berat hati, begitu berat hingga ia merasakan dadanya
seperti diremas-remas, ia berkata pelan, "Kalau ibu sudah ditangani Mbah
Sari... saya tidak akan memaksa. Tapi tolong, Bu... jika sakitnya bertambah
parah, atau jika ada pendarahan, jangan tunggu-tunggu lagi. Datanglah ke saya.
Atau ke puskesmas. Janji?"
Ibu muda itu mengangguk ragu-ragu. Mbah Sari tersenyum
tipis, seolah ia telah memenangkan pertempuran. Lalu mereka pergi. Satu per
satu. Meninggalkan Amilia berdiri sendiri di depan pintu.
Ia menutup pintu perlahan.
Lalu ia bersandar di dinding.
Tangannya mengepal. Matanya berkaca-kaca. Dan untuk pertama
kalinya malam itu, ia membiarkan air matanya jatuh, hanya setetes, tapi terasa
seperti lautan.
Desa Awan Biru kini benar-benar terbelah. Tidak terlihat,
tidak terdengar, tapi terasa oleh setiap orang yang peka. Di satu sisi, ada
tradisi yang mengakar kuat seperti pohon beringin, tidak mudah digoyahkan, tidak
mudah ditebang, dan akan tumbuh kembali meskipun dipotong. Di sisi lain, ada
ilmu yang berusaha masuk, membawa serta janji-janji keselamatan, data-data
statistik, dan alat-alat medis yang dingin.
Dan di tengahnya, seorang perempuan berdiri sendirian.
Bukan pahlawan. Bukan musuh. Hanya seorang bidan desa yang
mencoba melakukan tugasnya.
Namun di Desa Awan Biru, melakukan tugas saja tidak cukup.
Ia harus berjuang. Ia harus bertahan. Atau ia akan kalah, sebelum benar-benar
berjuang.
Malam itu, di rumah dinas yang gelap dan sepi, Amilia
berbisik pada dirinya sendiri, "Besok... aku akan coba lagi."
Ia tidak tahu bahwa besok akan membawa badai yang jauh
lebih besar.
BAB 3: SENYUM YANG DISALAHARTIKAN
Pagi itu, matahari terbit dengan enggan di balik
bukit-bukit hijau yang diselimuti kabut tipis. Cahayanya masih samar-samar,
seperti seseorang yang baru bangun tidur dan belum siap menghadapi hari.
Burung-burung mulai berkicau, namun kicauan mereka terdengar sayu, mungkin
hanya perasaan Amilia, atau mungkin alam sendiri sedang merasakan apa yang ia
rasakan. Udara dingin menusuk tulang, menciptakan uap tipis setiap kali ia
menghela napas.
Amilia berdiri di depan rumah dinasnya, sebuah bangunan
panggung kecil yang sudah usang dan rapuh. Ia memandangi cermin kecil, selembar
kaca bekas bingkai foto yang ia gantung di dinding dan merapikan jilbab
putihnya. Jilbab itu sudah sedikit kusut karena dipakai tiga hari
berturut-turut; ia belum sempat mencuci karena air sumur di belakang rumah
kadang-kadang keruh dan berbau tanah. Dengan jari-jari yang sedikit gemetar
karena dingin atau mungkin karena gugup, ia membenarkan ujung jilbabnya,
menarik sedikit ke depan agar menutupi dada.
Lalu, seperti biasa, ia tersenyum.
Senyum yang ia yakini sebagai jembatan antara dirinya dan
warga desa yang masih asing. Senyum yang ia pelajari dari ibunya, seorang
perempuan yang juga bekerja di bidang kesehatan, yang selalu berkata,
"Nak, senyum adalah bahasa yang dimengerti oleh semua orang, bahkan oleh
mereka yang tidak mau mendengar." Senyum yang dalam hati kecil Amilia ia
harap bisa meluluhkan hati, membuka pintu, dan menciptakan kepercayaan.
Namun di Desa Awan Biru, senyum itu justru menjadi jarak.
Seperti pagar berduri yang tidak sengaja ia bangun di sekeliling dirinya.
Seperti tembok kaca yang bening, bisa dilihat, tapi tidak bisa ditembus.
Seperti bahasa asing yang tidak dipahami oleh siapa pun di sekitarnya.
Amilia memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri desa. Bukan
karena ada tugas khusus, tapi karena ia ingin, ia butuh, untuk dilihat. Untuk
dikenal. Untuk menunjukkan bahwa ia tidak tinggal diam di balik dinding rumah
dinasnya. Bahwa ia adalah bagian dari desa ini, meskipun desa ini belum mau
mengakuinya.
Jalan setapak yang menghubungkan satu rumah ke rumah lain
masih becek oleh hujan semalam. Lumpur cokelat menempel di sepatu karetnya yang
baru, sepatu yang ia beli khusus sebelum berangkat ke desa ini, dengan harapan
bisa melindunginya dari genangan air dan kotoran ternak. Namun lumpur desa ini
ternyata lebih licin dan lebih lengket dari yang ia bayangkan. Setiap langkah
terasa berat, seperti bumi sendiri sedang mencoba menahannya.
Beberapa warga mulai beraktivitas. Seorang lelaki tua
sedang membersihkan halaman rumahnya dengan sapu lidi, gerakannya lambat dan
penuh ritme. Seorang ibu muda sedang menjemur pakaian di belakang rumah, sambil
sesekali menepuk-nepuk pakaian itu dengan tangan untuk menghilangkan debu.
Seorang anak kecil berlarian tanpa alas kaki, tertawa riang, tidak peduli
dengan lumpur yang mengotori kakinya.
Amilia menyapa.
"Pagi, Bu..." katanya kepada seorang ibu yang
sedang duduk di teras rumah sambil mengupas singkong.
Ibu itu menoleh sekilas. Matanya menatap Amilia dari ujung
kepala hingga ujung kaki, seperti sedang menilai, mengukur, mencari-cari
kesalahan. Lalu ia hanya mengangguk kaku, tanpa senyum, tanpa kata, dan kembali
fokus pada singkong di tangannya. Jari-jarinya bergerak cepat mengupas kulit
singkong yang cokelat, memperlihatkan daging putih di dalamnya. Bunyi kulit
singkong yang terkupas terdengar nyaring di pagi yang sunyi.
Amilia tidak berhenti. Ia terus berjalan.
"Pagi, Pak..." sapanya kepada seorang lelaki yang
sedang membawa cangkul di pundaknya, mungkin hendak ke ladang.
Lelaki itu hanya melirik sekilas, lalu mempercepat
langkahnya. Tidak menjawab. Tidak mengangguk. Hanya meninggalkan jejak kaki di
lumpur dan Amilia yang berdiri dengan senyum yang mulai kaku.
Yang lain berbisik. Suara mereka tidak terlalu pelan, sengaja
dibuat cukup keras agar Amilia bisa mendengar, tapi tidak cukup keras untuk
bisa ditegur. Bisik-bisik yang halus, tajam, seperti duri kecil yang menusuk
pelan-pelan.
"Ramah sekali ya..."
"Ah, itu mah cuma pencitraan..."
"Biasanya orang kota begitu. Di depan manis, di belakang lain."
"Iya, kita lihat saja nanti. Paling juga cuma sebentar."
Langkah Amilia sedikit melambat. Dadanya terasa sesak,
seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya pelan-pelan. Ia ingin
berhenti. Ia ingin berbalik. Ia ingin lari ke rumah dinasnya dan mengurung diri
di sana. Tapi ia tidak melakukannya.
Ia tetap tersenyum.
Senyum yang sama. Senyum yang ia yakini sebagai jembatan.
Meskipun sekarang, jembatan itu terasa semakin panjang dan semakin rapuh.
Seperti biasa, warung kopi Mbah Karyo sudah ramai sejak
pagi. Beberapa lelaki desa duduk bersila di bangku-bangku kayu panjang, sambil
menyeruput kopi hitam pekat yang disajikan dalam gelas kaca tebal. Asap rokok
kretek mengepul tipis, bercampur dengan aroma kopi dan gorengan yang baru
diangkat dari wajan.
Topik pembicaraan pagi itu, seperti dugaan siapa pun, adalah
bidan baru.
"Lihat itu, tiap hari senyum terus," kata Pak
Sugeng sambil mengusap kumisnya yang tebal. Matanya menyipit ke arah jalan
desa, meskipun dari warung kopi ia tidak bisa melihat Amilia. Ia hanya
membayangkan, membayangkan seorang perempuan muda dengan jilbab putih dan
senyum yang tidak pernah pudar. "Ada-ada saja. Senyum mulu. Padahal hidup
di desa ini tidak semanis itu."
Pak Santoso mengangguk pelan. Wajahnya yang teduh itu
tampak berpikir keras, seperti sedang memecahkan teka-teki yang rumit.
"Orang yang terlalu manis itu... biasanya ada maksud. Bukan maksud jahat,
mungkin. Tapi ada sesuatu di balik senyumnya. Entah apa."
"Atau mungkin," celetuk Mbah Karyo sambil
mengelap gelas dengan kain lap yang sudah lusuh, "dia memang orang baik.
Dan kita yang terlalu curiga."
Suasana hening sejenak. Semua orang menoleh ke arah Mbah
Karyo, yang dengan tenang terus mengelap gelasnya seolah tidak mengatakan
sesuatu yang kontroversial.
"Ah, Mbah ini," sahut Pak Sugeng dengan nada
sedikit kesal, "orang baik itu tidak perlu terlalu banyak tersenyum. Orang
baik itu cukup... baik. Tidak perlu pencitraan."
"Atau," Pak Santoso memotong dengan suara pelan,
"kita yang sudah lupa bagaimana rasanya melihat orang yang benar-benar
tulus."
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara kopi yang diseruput
dan asap rokok yang mengepul.
Amat Junior, yang duduk di pojok sejak tadi hanya
mendengarkan, akhirnya ikut menimpali. Suaranya santai, seperti sedang bicara
soal cuaca, tapi matanya serius. "Berarti yang salah bukan orangnya... tapi
cara kita melihatnya."
Semua terdiam lagi. Lebih lama dari sebelumnya.
"Eh Amat... kamu kok jadi bela dia terus?" goda
Bambang sambil menyenggol bahu Amat. "Jangan-jangan kamu suka sama bidan
baru?"
Amat Junior tersenyum miring. "Saya tidak bela
siapa-siapa. Saya cuma pakai logika."
"Logika apa perasaan?" celetuk Guntur sambil
nyengol, matanya berbinar-binar nakal.
Semua tertawa. Bahkan Pak Sugeng ikut tersenyum, meskipun
cepat-cepat ia sembunyikan dengan menyesap kopinya.
Amat Junior hanya tersenyum. Ia tidak menjawab. Di dalam
hatinya, ia bertanya-tanya: Mengapa kebenaran sering kali harus
berkelahi dengan kecurigaan? Dan mengapa orang lebih mudah percaya pada bisikan
daripada pada bukti?
Amilia mencoba lagi. Kali ini, ia mengadakan penyuluhan
kecil di balai desa dengan topik sederhana: gizi ibu hamil. Ia sudah menyiapkan
materi sejak semalam, membaca ulang catatan kuliahnya, mencari referensi
tambahan dari buku-buku yang ia bawa dari kota, dan membuat gambar-gambar
sederhana di kertas karton menggunakan spidol yang sudah hampir kering.
Ia berharap setidaknya ada sepuluh ibu yang datang. Sepuluh
orang. Itu sudah cukup. Sepuluh orang yang mau mendengar, yang mau belajar,
yang mungkin, mungkin, akan mengajak yang lain.
Namun kenyataan berkata lain.
Hanya ada empat orang yang hadir. Anita. Yulia. Seorang ibu
muda yang hamil anak pertama, namanya Rini, baru dua minggu yang lalu ia
selamatkan dari komplikasi persalinan. Dan seorang nenek tua dengan punggung
bungkuk yang datang karena tidak ada kegiatan lain.
Empat orang.
Amilia tetap tersenyum. Ia berdiri di depan mereka,
memegang karton-karton bergambar yang ia buat dengan susah payah, dan mulai
berbicara.
"Ibu-ibu... makanan bergizi itu penting sekali,
terutama untuk ibu hamil. Bayi yang sedang tumbuh di dalam rahim membutuhkan
asupan protein, zat besi, kalsium, dan vitamin. Kalau ibu kekurangan gizi, bayi
bisa lahir dengan berat badan rendah, pertumbuhannya terhambat, dan daya tahan
tubuhnya lemah."
Ia menunjuk ke gambar yang ia buat, sebuah lingkaran yang
mewakili piring makan, dibagi menjadi beberapa bagian: nasi, lauk-pauk, sayur,
buah.
"Ini yang disebut 'isi piringku'. Setiap kali makan,
usahakan piring ibu terisi oleh semua komponen ini. Tidak harus mahal. Ikan
asin, tahu, tempe, sayur kangkung, pisang, semua itu bisa. Yang penting
bervariasi."
Rini mengangguk-angguk, matanya serius memperhatikan. Ia
memang termasuk ibu yang paling antusias sejak Amilia menolongnya. Mungkin
karena ia pernah merasakan langsung bagaimana rasanya ditolong oleh seseorang
yang benar-benar peduli.
Namun sebelum Amilia melanjutkan, suara dari luar
terdengar. Bukan dari balai desa, tapi dari jalan di depannya, cukup dekat
untuk didengar, cukup jauh untuk tidak bisa ditegur.
"Ngapain sih repot-repot... dulu juga makan singkong
sehat-sehat saja!"
Tawa kecil mengikuti.
"Ah, itu mah gaya-gayaan orang kota. Sok tahu
gizi-gizian. Padahal makan apa aja yang penting kenyang."
"Desa kita sudah puluhan tahun begini. Tidak ada yang
mati gara-gara kurang gizi."
"Biarin saja, nanti juga kapok sendiri."
Suara-suara itu terdengar seperti sengatan lebah—kecil,
tapi perih. Amilia berhenti sejenak. Tangannya yang sedang menunjuk gambar di
kertas karton itu menggantung di udara. Ia merasakan dadanya sesak, tapi ia
menelan ludah dan mencoba mengabaikan.
Yulia menunduk, tidak berani menatap siapa pun. Anita
mengepalkan tangan di pangkuannya, kesal tapi tidak berani bicara. Rini
menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena
marah.
Amilia menarik napas panjang. Lalu ia tersenyum.
Namun kali ini, senyumnya terasa berbeda. Bukan senyum yang
hangat dan penuh harapan. Bukan juga senyum yang dipaksakan. Ada sesuatu yang
lain, sesuatu yang lebih dalam, lebih kompleks, seperti lautan yang tenang di
permukaan namun bergolak di kedalaman.
"Betul, Bu... singkong itu juga bagus," kata
Amilia, suaranya tetap lembut meskipun ada getaran di dalamnya. "Kandungan
karbohidratnya tinggi, bisa memberi energi. Tapi kalau bisa ditambah protein, misalnya
dengan tahu, tempe, atau telur, hasilnya lebih baik. Bayi yang tumbuh di dalam
rahim butuh zat pembangun, bukan hanya zat penghasil energi."
Ia melanjutkan penjelasannya. Tidak melawan. Tidak
menyerang. Tidak meninggikan suara. Namun juga tidak menyerah.
Dan di dalam hatinya, ia berdoa, Ya Allah, beri aku
kekuatan. Bukan untuk membuktikan bahwa aku benar, tapi untuk tetap bertahan
meskipun semua tampak salah.
Lapangan desa yang luas dan ditumbuhi rumput ilalang itu
menjadi tempat berkumpulnya para pemuda di sore hari. Tidak ada fasilitas
khusus, hanya tanah lapang, beberapa pohon rindang di pinggirnya, dan angin
sepoi-sepoi yang membawa aroma rumput kering. Di tengah lapangan, sekelompok
pemuda duduk bersila membentuk lingkaran, ditemani oleh beberapa botol air
minum dan bungkus kerupuk yang sudah hampir habis.
Ada Hermansyah, pemimpin alami mereka, dengan tubuh tegap
dan wajah yang selalu serius. Ada Rangga, si kutu buku dengan kacamata tebal.
Ada Guntur, si gembul dengan senyum usil. Ada Bambang, si pendiam yang kalau
bicara selalu menusuk. Ada Bayu dan Joko, duo pelawak yang selalu bisa
mencairkan suasana. Dan tentu saja, Amat.
Topik utama? Masih sama.
"Eh serius, menurut kalian bidan itu cantik nggak
sih?" tanya Guntur sambil menyandarkan badannya ke pohon. Matanya menyipit
nakal, senyumnya melebar seperti bulan sabit.
"Woy... ini lagi bahas desa, bukan lomba
kecantikan!" bentak Hermansyah sambil memukul lengan Guntur, cukup keras
untuk membuat Guntur meringis, tapi tidak keras untuk membuatnya berhenti
tertawa.
"Ya siapa tahu bisa jadi motivasi kerja," sahut
Bambang dengan wajah datar sarkasme khasnya yang selalu membuat orang bingung
apakah ia serius atau bercanda.
Semua tertawa. Bahkan Hermansyah ikut tersenyum, meskipun
cepat-cepat ia sembunyikan dengan menunduk dan memainkan rumput di tangannya.
Tiba-tiba, dari arah belakang, suara seorang perempuan
terdengar. "Motivasi kerja apaan?"
Semua menoleh. Nadya berdiri di pinggir lingkaran, dengan
tangan di pinggang dan alis terangkat. Ia mengenakan kemeja lengan panjang
berwarna hijau muda, rambutnya diikat kuda, dan wajahnya yang bulat itu sedang
menyipit curiga.
Hermansyah langsung salah tingkah. Wajahnya yang biasanya
tegas itu mendadak memerah seperti kepiting rebus. "Eh... itu... kita lagi
bahas... program desa..."
"Oh ya?" Nadya menyipitkan mata, senyumnya tipis
tapi menusuk. "Program apa? Program 'melirik bidan baru'? Atau program
'cari muka'?"
Semua pecah tertawa. Bahkan Bambang, si pendiam, ikut
terbahak-bahak. Hermansyah merah padam, dari ujung telinga hingga ke leher.
"Ah kalian ini...!" bentaknya, tapi tidak ada
yang menganggapnya serius.
Nadya tersenyum geli. Ia melangkah masuk ke lingkaran dan
duduk di samping Hermansyah, begitu dekat sehingga bahu mereka hampir
bersentuhan. Hermansyah bergeser sedikit, tapi tidak terlalu jauh. Mungkin karena
tidak ada tempat. Atau mungkin karena alasan lain.
"Serius, Mas," kata Nadya, suaranya berubah
menjadi lebih lembut. Matanya menatap Hermansyah dengan sorot yang sulit
diartikan. "Bidan itu kelihatannya baik. Saya sudah lihat bagaimana dia
memperlakukan pasien. Sabar. Lembut. Dan tidak pernah marah meskipun
diomelin."
Hermansyah mengangguk. Wajahnya mulai kembali normal,
meskipun masih ada sisa-sisa rona merah di pipinya. "Iya... tapi desa ini
tidak mudah menerima orang baru. Apalagi orang kota. Apalagi perempuan muda.
Apalagi yang membawa perubahan."
Nadya menatapnya lama. Lalu pelan-pelan ia berkata,
"Kadang... bukan orang barunya yang salah... tapi luka lama yang belum
sembuh."
Semua terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi menusuk, seperti
anak panah yang melesat tepat sasaran.
Amat Junior menatap Nadya dengan pandangan baru. Perempuan
ini lebih dalam dari yang saya kira, pikirnya.
Hermansyah menatap Nadya. Dan untuk pertama kalinya, ia
melihat sesuatu yang berbeda di matanya, sesuatu yang hangat, sesuatu yang
dalam, sesuatu yang selama ini mungkin ia abaikan.
Namun seperti biasa, ia tidak mengatakannya. Hanya diam,
dan membiarkan detik-detik itu berlalu begitu saja.
Malam kembali turun di Desa Awan Biru. Langit gelap tanpa
bintang, seolah semesta sedang bersedih. Angin bertiup lebih kencang dari
biasanya, membuat dinding-dinding kayu rumah dinas berderit pelan, seperti
sedang mengeluh.
Amilia duduk di depan meja kayu kecil yang berfungsi
sebagai meja belajar, meja makan, dan meja kerja sekaligus. Di atasnya,
catatan-catatan berserakan: data posyandu, jadwal imunisasi, daftar ibu hamil,
buku panduan kesehatan ibu dan anak, dan beberapa lembar kertas kosong yang
sudah ia siapkan untuk menulis laporan.
Namun pikirannya tidak di situ.
Ia menatap lilin kecil yang menyala redup di depannya.
Nyala api itu berkedip-kedip, sesekali hampir padam, lalu menyala lagi, seperti
hatinya yang terus berjuang antara bertahan dan menyerah.
Ia teringat bisikan warga pagi tadi.
"Ramah sekali ya..."
"Ah, itu mah cuma pencitraan..."
"Paling cuma sebentar..."
Ia teringat tawa kecil dari balai desa.
"Ngapain sih repot-repot..."
"Sok tahu gizi-gizian..."
Ia teringat tatapan sinis, senyum tipis penuh makna, dan
anggukan-anggukan kecil yang terasa seperti pukulan.
Perlahan, tanpa disadari, air matanya mulai jatuh.
Bukan tangis yang keras. Bukan isak yang histeris. Hanya
tetesan-tetesan kecil yang mengalir di pipinya, satu per satu, seperti hujan
rintik-rintik yang tidak pernah berhenti.
Ia berbicara sendiri, biasa ia lakukan di malam-malam sunyi
seperti ini, ketika tidak ada yang mendengar kecuali dinding kayu dan
tikus-tikus yang bersembunyi di kolong rumah.
"Apakah aku salah cara...? Apakah aku terlalu banyak
tersenyum...? Apakah aku terlalu cepat... terlalu lambat... terlalu
sesuatu...?"
Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu, hatinya terasa
berat, begitu berat seperti ia membawa beban yang tidak pernah ia minta.
Ia membiarkan air matanya mengalir. Untuk pertama kalinya,
ia tidak langsung menghapusnya. Ia membiarkannya jatuh, membasahi pipinya,
menetes ke meja kayu, dan membasahi catatan-catatannya.
Sebagai pengakuan, bahwa ia juga manusia. Bahwa ia bisa
lelah. Bahwa ia bisa rapuh. Bahwa di balik senyum yang selalu ia kenakan, ada
luka yang tidak pernah ia tunjukkan.
Tok... tok... tok.
Amilia terkejut. Ia cepat-cepat menghapus air matanya
dengan lengan baju, menarik napas dalam-dalam, dan berusaha menenangkan diri.
Ia berdiri, berjalan ke pintu dengan langkah pelan, dan membukanya.
Di sana berdiri Anita.
Wajah Anita terlihat lelah, matanya sedikit sembab, mungkin
ia juga menangis, mungkin ia juga merasakan apa yang dirasakan Amilia. Di
tangannya, ia membawa sebuah bungkusan kecil yang dibungkus daun pisang.
"Maaf, Bu... mengganggu..." kata Anita pelan,
suaranya hampir tidak terdengar.
"Tidak apa-apa, Nit. Masuk, yuk."
Anita masuk, duduk di lantai kayu dengan hati-hati, lalu
meletakkan bungkusan itu di depannya. "Ini... saya bawa pisang goreng
buatan ibu saya. Sedikit, Bu. Buat teman ngopi."
Amilia tersenyum, senyum yang tulus, bukan senyum topeng.
"Terima kasih, Nit. Kamu baik sekali."
Mereka duduk berdampingan dalam keheningan beberapa saat.
Hanya suara jangkrik dan angin malam yang menemani.
Lalu Anita berkata, suaranya bergetar, "Bu... jangan
menyerah ya..."
Amilia terdiam. Ia menatap Anita, yang matanya mulai
berkaca-kaca.
"Memang banyak yang belum percaya," lanjut Anita,
berusaha menguatkan suaranya meskipun jelas ia hampir menangis. "Tapi
bukan berarti tidak ada yang berharap. Saya... Yulia... Rini... Pak Santoso...
mungkin masih banyak yang diam, tapi mereka sebenarnya berharap. Mereka butuh
ibu."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah.
"Kalau ibu pergi... kami yang ingin berubah ini...
harus bagaimana?"
Kalimat itu menghantam tepat di hati Amilia. Seperti palu
yang memecahkan dinding yang selama ini ia bangun untuk melindungi dirinya sendiri.
Air matanya kembali jatuh, tidak bisa ditahan lagi. Namun kali ini, bukan
karena lemah. Bukan karena putus asa.
Melainkan karena... ia tidak sendiri.
"Terima kasih, Nit," bisik Amilia sambil
menggenggam tangan Anita. "Terima kasih sudah mengingatkanku."
Mereka berdua menangis dalam diam. Di ruangan kecil yang
gelap, hanya diterangi oleh nyala lilin yang berkedip-kedip, dua perempuan itu
duduk bersimpuh, saling menguatkan, saling mengingatkan, bahwa harapan tidak
pernah benar-benar padam.
Di rumah Mbah Sari, suasana berbeda. Tidak ada tangis,
tidak ada harapan yang rapuh. Yang ada hanya keyakinan yang membatu dan rencana
yang mulai terbentuk.
Beberapa warga berkumpul di ruang tamu yang sempit.
Wajah-wajah mereka serius, seperti dewan perang yang sedang merumuskan
strategi. Mbah Sari duduk di kursi kayu tertua, dengan sandaran yang sudah
lapuk dan ukiran-ukiran halus yang memudar oleh usia. Di depannya, beberapa
orang duduk bersila di lantai anyaman bambu.
"Kalau dibiarkan... lama-lama orang-orang ikut
dia," kata Pak Sugeng, suaranya berat dan penuh kekhawatiran. "Sudah
mulai kelihatan. Rini sudah ikut-ikutan. Yulia juga. Anita. Nanti lama-lama
bertambah."
Mbah Sari diam. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut.
Jari-jarinya yang keriput memainkan ujung kain batiknya, bolak-balik, seperti
sedang menghitung sesuatu.
"Kalau akar tidak dicabut..." katanya pelan,
suaranya seperti angin yang berbisik di antara pepohonan, "...pohon baru
akan tumbuh."
"Lalu bagaimana, Mbah?" tanya seorang lelaki
paruh baya dengan wajah penasaran.
Mbah Sari menatap tajam. Matanya yang tua itu tiba-tiba
menyala, bukan dengan api, tapi dengan dingin yang membekukan. "Kita harus
membuatnya... tidak dipercaya."
Sunyi. Sepi. Kata-kata itu menggantung di udara seperti
pedang yang siap diayunkan.
"Bukan dengan kekerasan," lanjut Mbah Sari.
"Itu akan membuat kita terlihat jahat. Tapi dengan... cerita. Bisik-bisik.
Keraguan yang ditanam pelan-pelan. Sampai suatu hari, tanpa perlu kita usir,
dia sendiri yang akan pergi."
Rencana itu mulai terbentuk. Pelan-pelan, seperti racun
yang menetes setetes demi setetes ke dalam sumur.
Dan Amilia, di rumah dinasnya yang sunyi, tidak tahu bahwa
badai yang lebih besar sedang dipersiapkan untuknya.
Senyum...
Yang dulu dianggap sebagai kehangatan, kini dianggap
sebagai kepura-puraan. Yang dulu menjadi jembatan, kini menjadi jarak. Yang
dulu membuka pintu, kini menutup hati.
Di Desa Awan Biru, senyum Amilia telah disalahartikan. Bukan
karena ia salah, tapi karena orang-orang di sekitarnya sudah lupa bagaimana
rasanya melihat ketulusan.
Di satu sisi, ada harapan kecil yang mulai tumbuh, dalam
diri Anita, Yulia, Rini, dan beberapa orang lain yang masih percaya bahwa
perubahan itu mungkin. Di sisi lain, ada kekuatan besar yang diam-diam menolak,
dalam bisik-bisik, dalam keraguan yang ditanam, dalam rencana yang mulai
dibentuk.
Dan di tengah semua itu, Amilia harus memilih,
Tetap tersenyum, meskipun senyumnya disalahartikan...
Atau mulai melawan, meskipun ia tidak tahu caranya.
Malam itu, di rumah dinas yang gelap, Amilia berbisik pada
dirinya sendiri, "Besok... aku akan coba lagi. Dengan cara yang sama. Atau
dengan cara yang berbeda. Tapi aku tidak akan berhenti."
Ia tidak tahu bahwa besok akan membawa ujian yang jauh
lebih berat dari sebelumnya.
BAB 4: PANGGILAN PERTAMA YANG
MENGGUNCANG
Malam itu, langit Desa Awan Biru kembali gelap, lebih gelap
dari biasanya, seolah matahari telah memutuskan untuk tidak pernah kembali.
Awan hitam menggulung di atas bukit-bukit, tebal dan berat, seperti kain kafan
yang siap membungkus bumi. Tidak ada satu pun bintang yang terlihat. Bulan pun
bersembunyi di balik tabir mendung, segan menunjukkan wajahnya. Angin bertiup
lebih kencang dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang
membusuk, aroma yang biasa datang sebelum badai besar. Pepohonan di sekitar
desa bergoyang liar, dedaunannya berbisik-bisik seolah sedang memperingatkan
sesuatu.
Di rumah dinasnya yang sederhana, Amilia baru saja hendak
memejamkan mata. Tubuhnya terasa berat, sekujur tulangnya seperti diremas-remas
oleh kelelahan yang menumpuk selama tiga minggu terakhir. Ia baru saja selesai
mencatat laporan harian, hanya beberapa baris, karena hampir tidak ada kegiatan
berarti selain penyuluhan yang sepi dan kunjungan rumah yang ditolak. Matanya
perih karena terlalu lama menatap lilin yang berkedip-kedip. Punggungnya pegal
karena duduk di lantai kayu yang keras. Dadanya masih terasa sesak oleh
bisikan-bisikan yang terus menghantuinya.
Namun alam semesta sepertinya tidak mengizinkannya
beristirahat.
BRAK! BRAK! BRAK!
Pintu diketuk keras, bukan ketukan biasa, tapi ketukan yang
penuh kepanikan, seperti orang yang sedang dikejar oleh kematian itu sendiri.
Suara itu menggema di ruangan kecil, memecah kesunyian malam yang pekat. Amilia
tersentak kaget, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Lilin di
depannya hampir padam karena hembusan angin yang masuk dari celah-celah
dinding.
Ia langsung terbangun dari setengah tidurnya. Matanya yang
tadinya sayu kini terbuka lebar, waspada. "Ya! Sebentar!" teriaknya,
suaranya serak karena baru saja hendak terlelap.
Dengan tergesa, hampir jatuh karena kakinya tersandung ujung
tikar, ia bangkit dan berlari ke pintu. Tangannya gemetar saat membuka kunci
kayu yang sederhana. Pintu terbuka dengan bunyi berdecit panjang, dan di
depannya berdiri seorang pria dengan wajah yang nyaris tidak bisa dikenali
dalam kegelapan.
Pria itu masih muda, mungkin sekitar tiga puluhan, dengan
tubuh kurus dan rambut yang acak-acakan seolah baru saja bangun dari tidur atau
mungkin tidak tidur sama sekali. Wajahnya basah oleh keringat yang bercampur
dengan air mata. Matanya merah, bengkak, dan penuh dengan ketakutan yang nyaris
histeris. Napasnya tersengal-sengal, seperti orang yang baru saja berlari
sejauh satu kilometer melewati jalan becek dan gelap. Kemejanya basah, tidak
hanya oleh keringat tapi juga oleh air hujan yang mulai turun, rintik-rintik kecil
yang perlahan menjadi deras.
"Bu Amilia... Bu Amilia..." suaranya
terputus-putus, nyaris tidak bisa membentuk kalimat yang utuh. "Tolong...
istri saya... mau melahirkan... tapi... tapi... tidak keluar-keluar... sudah
berjam-jam... dia lemah... dia sekarat..."
Setiap kata keluar seperti semburan dari keran yang tidak
bisa ditutup. Pria itu hampir jatuh berlutut di depan Amilia, tangannya meraih
ujung jas putih Amilia dengan genggaman yang erat, seperti orang yang tenggelam
meraih satu-satunya tali yang bisa menyelamatkannya.
Amilia tidak menunggu lebih lama lagi. Dalam hitungan
detik, pikirannya yang tadinya masih setengah tertidur kini berubah menjadi
mode darurat, seperti saklar yang dibalik dalam sekejap. Semua kelelahan, semua
rasa putus asa, semua bisikan-bisikan menyakitkan itu lenyap seketika,
tergantikan oleh fokus yang tajam dan adrenalin yang mengalir deras di pembuluh
darahnya.
"Sudah berapa lama?" tanya Amilia sambil berlari
ke sudut ruangan mengambil tas medisnya. Tangannya bergerak cepat, memeriksa
isi tas, stetoskop, tensimeter, alat bantu persalinan, obat-obatan darurat,
semuanya ada. Ia selalu menyiapkan tas itu setiap malam sebelum tidur, karena
di desa seperti ini, panggilan darurat bisa datang kapan saja.
"Sejak matahari masih tinggi, Bu," jawab pria
itu, suaranya pecah di akhir kalimat. "Istri saya mulai sakit sejak jam
dua siang. Tapi Mbah Sari bilang tidak usah buru-buru, katanya nanti juga
keluar sendiri. Tapi sekarang... sekarang sudah jam sembilan malam... dan
dia... dia semakin lemah... tadi sempat pingsan, Bu... saya... saya
takut..."
Amilia mendengarkan dengan seksama sambil tangannya terus memeriksa
tas. Wajahnya berubah, dari waspada menjadi serius, dari serius menjadi cemas.
Tanda-tanda yang disebutkan pria itu sangat mengkhawatirkan: persalinan yang
berlangsung terlalu lama (lebih dari tujuh jam), ibu yang semakin lemah, dan
sempat pingsan. Bisa jadi itu tanda distosia (persalinan macet), atau atonia
uteri (rahim tidak bisa berkontraksi), atau bahkan ruptur uteri (robeknya rahim),
semua kondisi yang mengancam nyawa.
Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di rumah
pasien. Apakah Mbah Sari masih memaksa dengan ramuan dan pijatan? Apakah ada
pendarahan? Apakah janin masih hidup?
"Kita berangkat sekarang!" perintah Amilia, suaranya
tegas tanpa bisa dibantah. "Tunjukkan jalannya!"
Jalan desa di malam hari adalah mimpi buruk yang nyata.
Tidak ada penerangan sama sekali. Tidak ada satu pun lampu jalan, karena desa
ini tidak memiliki listrik. Yang ada hanya gelap yang pekat, begitu pekat
hingga Amilia hampir tidak bisa melihat tangannya sendiri di depan wajahnya.
Hanya sesekali kilatan petir yang menerangi langit, cahaya putih yang dingin
dan cepat, memperlihatkan kontur pepohonan yang menyeramkan dan jalan setapak
yang berliku-liku.
Amilia menyalakan senternya, senter kecil yang sudah mulai
redup karena baterainya hampir habis. Cahaya kuning yang samar-samar itu hanya
cukup untuk menerangi dua atau tiga meter ke depan, tidak lebih. Namun itu
sudah lebih baik daripada gelap total.
"Hati-hati, Bu... jalannya licin..." kata pria
itu sambil berjalan di depannya, kadang-kadang menoleh ke belakang untuk
memastikan Amilia masih mengikutinya.
Setiap langkah adalah perjuangan. Tanah yang becek oleh
hujan yang mulai turun semakin deras membuat sepatu karet Amilia tenggelam ke
dalam lumpur setiap kali ia menginjak. Kadang ia hampir terpeleset, kakinya
tergelincir, dan hanya keseimbangan yang membuatnya tetap berdiri. Daun-daun
basah menempel di bajunya. Air hujan merembes melalui kerudungnya, membasahi
rambut dan lehernya. Dingin menusuk tulang, tapi keringat dingin tetap mengalir
di punggungnya karena ketegangan.
"Jauh, Pak?" tanya Amilia, napasnya mulai
terengah-engah. Tas medis di tangannya terasa semakin berat setiap menit.
"Sebentar lagi, Bu. Lewat jembatan kayu di depan,
belok kiri, lalu naik sedikit."
Jembatan kayu itu ternyata lebih mengerikan dari yang
dibayangkan Amilia. Hanya dua batang kayu panjang yang disusun sejajar, dengan
celah-celah di antaranya yang cukup lebar untuk membuat kaki seorang dewasa
masuk ke dalam sungai di bawahnya. Tidak ada pegangan. Tidak ada pagar. Hanya
kayu licin yang basah oleh air hujan. Di bawahnya, suara air sungai mengalir
deras, gemuruhnya terdengar seperti amukan binatang buas yang lapar.
Amilia berhenti sejenak, jantungnya berdegup kencang. Ia
takut, bukan takut pada sungai, tapi takut pada waktu yang terus berjalan,
takut pada nyawa yang mungkin tidak bisa ia selamatkan jika ia terlalu lama
ragu-ragu. Namun ia tidak punya pilihan. Dengan gigi digigit kuat-kuat, ia
melangkah, satu per satu, perlahan tapi pasti, berusaha menjaga keseimbangan
sambil memegang tas medisnya erat-erat di dada.
Setiap langkah terasa seperti mimpi buruk. Kayu di bawah
kakinya berderit pelan, seolah siap patah kapan saja. Angin bertiup kencang,
nyaris membuatnya kehilangan keseimbangan. Tapi ia terus melangkah. Sampai
akhirnya, setelah apa yang terasa seperti satu jam (padahal hanya beberapa
menit), ia berhasil menyeberang.
"Kita hampir sampai, Bu," kata pria itu, suaranya
mulai sedikit lega.
Di kejauhan, di antara rintik hujan yang deras dan gelapnya
malam, Amilia mulai melihat sebuah rumah panggung kecil dengan cahaya lampu
minyak yang redup. Dari dalam rumah itu, terdengar suara tangis, bukan tangis
bayi, tapi tangis orang dewasa yang penuh keputusasaan. Suara perempuan. Suara
kesakitan yang tidak bisa lagi disembunyikan. Suara yang perlahan melemah,
seolah pemiliknya sedang kehabisan tenaga untuk terus bertahan hidup.
Rumah itu lebih kecil dari rumah dinas Amilia. Dindingnya
dari anyaman bambu yang sudah rapuh, dengan banyak lubang yang ditambal oleh
karung goni bekas. Lantainya papan kayu yang berderit setiap kali dilangkahi.
Di tengah ruangan, sebuah tikar anyaman dialas di lantai, dan di atasnya
terbaring seorang ibu hamil, mungkin sekitar dua puluh delapan tahun, dengan
tubuh yang kurus dan perut yang membuncit. Wajahnya pucat seperti kain kafan,
bibirnya kebiruan dan pecah-pecah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya
hingga pakaiannya basah dan menempel di kulitnya. Matanya terpejam,
kadang-kadang terbuka setengah, sayu, seperti sedang melayang di antara sadar
dan tidak sadar.
Di sekelilingnya, beberapa perempuan desa duduk bersimpuh.
Ada yang menangis pelan, ada yang membaca doa dengan suara berbisik, ada yang
hanya diam dengan wajah penuh ketakutan. Beberapa anak kecil bersembunyi di
sudut ruangan, mata mereka membulat ketakutan, tidak mengerti apa yang terjadi
tetapi merasakan bahwa sesuatu yang mengerikan sedang berlangsung.
Dan di sana, di samping ibu hamil itu, duduk Mbah Sari.
Perempuan sepuh itu tidak bergerak ketika Amilia masuk. Ia
hanya menoleh perlahan, sangat perlahan, seperti ular yang sedang mengintai
mangsanya dan menatap Amilia dengan sorot mata yang dingin menusuk. Di
tangannya, ia memegang sebuah mangkuk kecil berisi ramuan berwarna kehijauan
yang menguapkan aroma pahit dan menyengat. Di pangkuannya, sebuah keris kecil, benda
pusaka yang konon memiliki kekuatan magis, tergeletak di atas kain hitam.
"Kamu lagi," kata Mbah Sari, suaranya datar,
tanpa ekspresi, namun penuh dengan makna yang tidak diucapkan.
Amilia tidak menjawab. Fokusnya sudah tertuju pada pasien, satu-satunya
yang penting saat ini. Ia melangkah cepat, berlutut di samping ibu hamil itu,
dan mulai memeriksa dengan gerakan yang cepat namun hati-hati.
Jari-jarinya meraba perut ibu itu, keras, tegang, seperti
papan kayu. Tanda yang sangat tidak baik. Ia mengambil stetoskop dari tasnya,
meletakkannya di perut ibu itu, dan mendengarkan. Jantung janin, masih ada,
tapi lemah, tidak teratur, seperti detak mesin yang kehabisan bahan bakar. Kemudian
ia memeriksa tekanan darah, tangan ibu itu dingin, lembab, dan nadinya lemah
dan cepat.
Wajah Amilia berubah. Bukan lagi cemas. Bukan lagi
khawatir. Tapi panik—panik yang tertahan, panik yang berusaha ia sembunyikan di
balik ketenangan profesional, tapi tetap terlihat di matanya yang membesar dan
napasnya yang semakin pendek.
"Ini tidak normal," kata Amilia, suaranya
bergetar namun tetap tegas. "Ini sudah terlalu lama. Tanda-tandanya
menunjukkan persalinan macet. Mungkin karena letak janin yang tidak normal,
atau karena panggul ibu yang terlalu sempit, atau mungkin karena kontraksi yang
tidak efektif. Yang jelas, ini berbahaya. Kita harus segera tindakan.
Sekarang."
Ia berdiri, matanya mencari suami pasien yang masih berdiri
di pintu dengan wajah pucat. "Pak, kita harus rujuk ke puskesmas. Atau
kalau tidak memungkinkan, saya bisa melakukan tindakan di sini dengan peralatan
yang saya punya. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Istri bapak sudah
kehilangan banyak tenaga. Bayinya juga mulai melemah."
Mbah Sari menyela sebelum suami pasien sempat menjawab.
Suaranya masih datar, tapi kali ini ada nada tajam di dalamnya, seperti sembilu
yang ditusukkan pelan-pelan ke dalam daging.
"Tidak perlu. Sudah hampir keluar. Saya sudah meraba,
kepala bayi sudah di jalan lahir. Hanya perlu sedikit doa dan sedikit pijatan,
dan semuanya akan selesai. Tidak usah panik. Tidak usah bawa-bawa alat aneh
itu."
Amilia menoleh, menatap Mbah Sari langsung ke matanya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi bersikap hormat yang berlebihan. Matanya
tajam, tegas, dan penuh dengan urgensi yang tidak bisa ditawar.
"Mbah," katanya, suaranya meninggi sedikit, hanya
sedikit, tapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu terdiam,
"saya tidak bermaksud meremehkan ilmu Mbah. Tapi tanda-tanda yang saya
lihat tidak normal. Perut ibu ini keras seperti papan, itu tanda distosia.
Jantung janin lemah dan tidak teratur, itu tanda gawat janin. Tekanan darah ibu
rendah dan nadinya lemah, itu tanda awal syok. Ini bukan masalah doa atau
pijatan. Ini masalah anatomi dan fisiologi. Kalau kita tidak bertindak
sekarang, dalam hitungan jam, bahkan mungkin hitungan menit, kita bisa kehilangan
dua nyawa sekaligus."
Ruangan itu sunyi. Begitu sunyi hingga suara hujan di luar
terdengar seperti gemuruh air terjun. Semua orang saling pandang, tidak tahu
harus berpihak pada siapa.
Suami pasien, pria yang memanggil Amilia tadi, berdiri
dengan wajah bingung, antara percaya pada Mbah Sari yang sudah puluhan tahun
menolong warga, atau percaya pada bidan muda yang berani dengan ilmu barunya.
Matanya bolak-balik menatap Amilia dan Mbah Sari, seperti bola pingpong yang
dipukul bolak-balik.
"Saya... saya tidak tahu..." gumamnya, suaranya
nyaris tak terdengar.
Mbah Sari berdiri. Perlahan. Sangat perlahan. Tubuhnya yang
tua dan bungkuk itu tiba-tiba terasa besar, seperti bayangan yang membubung
tinggi di dinding bambu. Ia menatap Amilia dengan sorot mata yang penuh dengan
kebencian yang tertahan, bukan kebencian pribadi, tapi kebencian pada
perubahan, pada ketidaktaatan, pada keberanian seorang perempuan muda yang
berani menantang tatanan yang sudah mapan.
"Kamu pikir dengan tas merahmu, dengan stetoskopmu,
dengan gelarmu, kamu bisa mengubah segalanya?" kata Mbah Sari, suaranya
pelan tapi penuh racun. "Kamu pikir kami ini bodoh? Kami ini primitif?
Kami ini tidak tahu apa-apa?"
"Tidak, Mbah. Sama sekali tidak—"
"Kami sudah hidup dengan cara ini selama puluhan
tahun!" potong Mbah Sari, suaranya mulai meninggi. "Ratusan bayi
lahir melalui tanganku! Puluhan ibu selamat karena doaku dan ramuanku! Dan
sekarang, datang anak muda seperti kamu, bawa-bawa buku tebal dari kota, dan
bilang bahwa cara kami salah?! Siapa kamu?! Apa yang kamu tahu tentang desa
ini?!"
Amilia merasakan dadanya sesak. Bukan karena takut, tapi
karena frustrasi yang begitu dalam. Ia ingin berteriak, "SAYA TIDAK BILANG
CARA ANDA SALAH! SAYA HANYA INGIN MENYELAMATKAN NYAWA!" Tapi ia tahu,
teriak tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ia butuhkan adalah ketenangan, ketenangan
yang luar biasa di tengah badai.
Ia menarik napas panjang. Lalu, dengan suara yang ia
usahakan setenang mungkin, ia berkata, "Mbah, saya tidak bilang cara Mbah
salah. Saya tidak bilang adat Mbah tidak berguna. Tapi malam ini, di ruangan
ini, ada seorang ibu yang sedang sekarat. Bayinya juga sekarat. Dan saya punya
alat, saya punya ilmu, yang mungkin, mungkin, bisa menyelamatkan mereka. Saya
tidak minta Mbah pergi. Saya tidak minta Mbah berhenti. Saya hanya minta izin
untuk melakukan apa yang saya bisa. Demi nyawa. Bukan demi ego. Bukan demi
gelar. Bukan demi siapa yang benar. Tapi demi nyawa."
Suara Amilia bergetar di akhir kalimat. Ia hampir menangis.
Tapi ia tahan.
Sunyi. Sepi. Hanya suara hujan dan tangis pelan dari ibu
hamil yang terbaring lemah.
Suami pasien menatap istrinya. Wajah istrinya kini pucat
seperti mayat, bibirnya kebiruan, matanya setengah terpejam dan hampir tidak
berkedip. Napasnya pendek-pendek, seperti orang yang sedang tenggelam.
Dan pria itu, suami yang sama yang dua jam yang lalu masih
ragu-ragu, kini mengambil keputusan. Bukan keputusan yang mudah. Bukan
keputusan yang populer. Tapi keputusan yang lahir dari cinta dan ketakutan yang
lebih besar daripada adat dan tradisi.
"Bu..." katanya, suaranya pecah, "tolong...
selamatkan istri saya... saya... saya percaya pada ibu..."
Keputusan itu diambil. Dan dunia tidak pernah kembali
seperti semula.
Amilia tidak menunggu lebih lama lagi. Begitu kata-kata itu
keluar dari mulut suami pasien, ia langsung bergerak, seperti atlet yang
mendengar tembakan start. Tas medisnya terbuka, alat-alat berserakan di tikar,
tangannya bergerak cepat namun terukur.
"Semua tolong mundur!" perintahnya, suaranya
tegas dan tidak bisa dibantah. "Saya butuh ruang! Bu Yati, tolong siapkan
air hangat, rebus air sebanyak mungkin! Bu Siti, ambil kain bersih, kain yang
tidak dipakai, yang benar-benar bersih! Yang lain, keluar dari ruangan ini
kecuali suami pasien! Saya tidak bisa bekerja dengan kerumunan!"
Warga mulai bergerak, ragu-ragu pada awalnya, tapi semakin
cepat ketika mereka melihat keseriusan di wajah Amilia. Beberapa perempuan
keluar dengan wajah cemas. Dua orang tetap tinggal untuk membantu. Mbah Sari
masih berdiri di sudut, tidak bergerak, tidak bicara, hanya menatap dengan mata
yang dingin dan bibir yang mengerucut.
Amilia memeriksa pasien sekali lagi. Lebih teliti kali ini.
Lebih dalam.
"Pembukaan sudah lengkap," gumamnya, "tapi
posisi janin tidak normal. Ini sungsang. Dan kontraksi sudah melemah. Ibu sudah
kehabisan tenaga."
Ia menatap suami pasien. "Pak, saya harus melakukan
tindakan. Saya akan mencoba membantu persalinan dengan manuver tertentu. Tapi
ada risiko. Saya harus jujur. Risiko untuk ibu dan bayi. Tapi jika kita tidak
melakukan apa-apa, risikonya lebih besar."
Suami pasien mengangguk, matanya berkaca-kaca.
"Saya... saya percaya, Bu. Lakukan saja."
Amilia mulai bekerja. Tangannya, tangan yang sama yang
sempat gemetar karena bisikan-bisikan warga, kini bergerak dengan ketenangan
yang luar biasa. Ia mengatur posisi pasien, membersihkan area dengan
antiseptik, dan mulai melakukan manuver untuk membantu kelahiran bayi sungsang.
"Ini akan sakit, Bu," katanya kepada pasien yang
mulai setengah sadar. "Tapi ibu harus kuat. Demi bayi ibu. Ikuti instruksi
saya. Tarik napas... sekarang dorong... jangan teriak, Bu, gunakan tenaganya
untuk mendorong... ayo... ayo..."
Keringat mengalir di dahi Amilia. Ia menggigit bibir
bawahnya, kebiasaan sejak kecil saat ia sedang fokus. Tangannya tidak berhenti
bergerak. Kadang ia memijat perut pasien, kadang ia memeriksa posisi janin
dengan jari-jarinya, kadang ia memberikan instruksi dengan suara yang tegas
namun lembut.
"Sekali lagi, Bu! AYO! KITA HAMPIR SAMPAI!"
Tiba-tiba, dalam sekejap yang terasa seperti selamanya, sebuah
tangisan kecil terdengar. Lemah. Samar. Hampir tidak terdengar di antara suara
hujan dan teriakan. Tapi itu ada.
Tangisan bayi.
Kemudian semakin kuat. Semakin jelas. Semakin hidup.
"Huaaa... huaaa... huaaa..."
Ruangan itu berubah. Wajah-wajah yang tadinya tegang kini
berubah menjadi lega. Beberapa orang menangis. Suami pasien jatuh berlutut di
lantai kayu, menangis tersedu-sedu, sujud syukur dengan dahi menyentuh papan
yang dingin.
"Alhamdulillah... alhamdulillah..." bisiknya berulang-ulang.
Amilia menggendong bayi kecil itu, tubuhnya mungil,
kulitnya kemerahan, matanya masih terpejam, tapi tangisannya kuat. Tanda ia
hidup. Tanda ia selamat.
Amilia terdiam sejenak. Ia menatap bayi di tangannya. Lalu,
perlahan, ia tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang tidak perlu dipaksakan.
Senyum yang lahir dari rasa syukur yang begitu dalam.
"Ibu... bayi ibu laki-laki," katanya kepada
pasien yang mulai sadar sedikit. "Sehat. Selamat."
Namun ia belum selesai. Ia harus memeriksa plasenta, memastikan
tidak ada sisa yang tertinggal di rahim. Ia harus memeriksa tanda-tanda
perdarahan pasca persalinan, risiko terbesar setelah persalinan lama. Ia harus
memastikan bahwa ibu itu benar-benar selamat, tidak hanya sekarang, tapi juga
dalam jam-jam berikutnya.
"Masih harus kita awasi," katanya kepada suami
pasien. "Jangan lengah. Saya akan tinggal beberapa jam untuk memastikan
semuanya baik-baik saja."
Ia tidak tahu bahwa di luar rumah itu, badai lain sedang
dipersiapkan untuknya.
Di luar rumah, di bawah rintik hujan yang mulai reda,
beberapa warga mulai berbisik.
"Lihat tuh... dia yang memaksa tadi..."
"Kalau terjadi apa-apa... siapa yang tanggung jawab?"
"Bisa bahaya... ini kan bukan rumah sakit..."
Bisik-bisik itu pelan pada awalnya, tapi semakin lama semakin
keras. Seperti api yang mulai menjalar di semak-semak kering, kecil pada
awalnya, tapi berpotensi menjadi kebakaran besar.
Mbah Sari keluar dari rumah itu perlahan. Wajahnya tidak
menunjukkan emosi apapun. Tidak marah. Tidak kecewa. Tidak lega. Hanya datar, datar
yang menakutkan. Ia berdiri di teras rumah, memandangi warga yang mulai
berkumpul, lalu berkata dengan suara pelan, cukup pelan untuk terasa intim,
namun cukup keras untuk didengar oleh semua orang di sekitarnya.
"Kadang... sesuatu yang dipaksakan... membawa
akibat."
Kalimat itu sederhana. Tidak menuduh. Tidak menyebut nama.
Namun setiap orang yang mendengarnya tahu persis apa, dan siapa, yang dimaksud.
Kalimat itu seperti racun. Pelan. Halus. Tapi menyebar.
Dan Amilia, di dalam rumah, masih belum tahu bahwa ia telah
membuat musuh yang tidak hanya satu orang, tapi sebuah sistem kepercayaan yang
sudah berakar selama puluhan tahun.
Berita sudah menyebar. Seperti api di padang rumput kering,
kabar itu menjalar dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, dari warung ke
warung. Namun seperti biasa, berita yang sampai tidak selalu sama dengan fakta
yang terjadi.
"Katanya bidan itu memaksa ambil alih... Mbah Sari
sampai tidak dihargai..."
"Katanya hampir saja tidak selamat... bayinya biru... ibunya pingsan..."
"Untung saja dibantu doa... kalau tidak, bisa-bisa..."
Versi yang berbeda-beda. Potongan-potongan fakta yang
dicampur dengan interpretasi pribadi, ketakutan kolektif, dan kecurigaan yang
sudah lama terpendam.
Di warung kopi Mbah Karyo, seperti biasa, diskusi
berlangsung sengit.
"Saya dengar, bidan itu pakai alat-alat aneh,"
kata seorang lelaki paruh baya sambil mengusap dagunya. "Kayak di rumah
sakit. Apa nggak bahaya itu?"
"Bahaya atau tidak, yang penting selamat," sahut
yang lain.
"Selamat sekarang... nanti? Siapa tahu ada efek
sampingnya..."
Amat Junior menghela napas panjang. Ia duduk di pojok,
seperti biasa, dengan segelas kopi yang sudah dingin di depannya. Matanya
menatap ke luar warung, ke arah jalan desa yang mulai gelap.
"Kadang..." katanya pelan, "yang benar pun
bisa kalah oleh cerita yang salah."
Hermansyah yang duduk di sampingnya menoleh.
"Maksudmu?"
Amat Junior menatapnya. "Maksud saya, orang tidak
peduli dengan fakta. Mereka peduli dengan apa yang mereka dengar. Dan apa yang
mereka dengar... tergantung pada siapa yang bicara paling keras."
Amilia pulang ke rumah dinasnya sekitar pukul sepuluh
malam. Tubuhnya lelah, bajunya basah, rambutnya kusut, dan matanya sembab. Namun
di hatinya, ada rasa lega, kecil, tapi nyata. Ia telah menyelamatkan dua nyawa.
Tapi kenapa ia merasa tidak tenang?
Ia duduk di lantai kayu, bersandar pada tiang, dan menatap
lilin yang hampir habis. Ia mengingat tatapan Mbah Sari, dingin, menusuk, penuh
makna. Ia mengingat bisikan-bisikan warga di luar rumah pasien. Ia mengingat
suara-suara yang tidak berani diucapkan di depannya, tapi terdengar jelas di
belakang punggungnya.
Ia berbisik pelan, "Apakah ini... awal dari masalah
yang lebih besar?"
Lilin itu padam. Ruangan menjadi gelap. Dan Amilia duduk
sendirian di dalamnya, dengan pikiran yang tidak bisa tenang.
Malam itu, ia tidak tidur.
Sebuah nyawa telah diselamatkan.
Dua nyawa, sebenarnya. Ibu dan bayi. Berkat keberanian
Amilia untuk bertindak di saat semua orang ragu-ragu.
Namun sebuah konflik juga telah dilahirkan. Bukan konflik
terbuka, belum. Tapi konflik yang merayap di balik senyum, di balik bisikan, di
balik tatapan yang penuh makna.
Keberhasilan tidak selalu membawa penerimaan. Kadang, ia
justru membawa kebencian yang lebih dalam.
Dan di Desa Awan Biru, kebenaran masih harus bertarung.
Melawan cerita. Melawan prasangka. Melawan ketakutan yang sudah berakar puluhan
tahun.
Amilia telah memenangkan satu pertempuran. Tapi perang
sesungguhnya... baru saja dimulai.
BAB 5: BISIK-BISIK DI BALIK PINTU
Pagi itu, Desa Awan Biru tampak seperti biasa. Matahari
terbit dengan malas di balik bukit-bukit hijau, menyapa bumi dengan cahaya
keemasan yang hangat. Ayam-ayam jantan berkokok bersahutan, menandakan bahwa
kehidupan akan segera dimulai. Kabut tipis masih menggantung di antara
pepohonan, menciptakan suasana yang dingin dan misterius. Burung-burung kecil
mulai beterbangan dari dahan ke dahan, mencari sarapan di sela-sela dedaunan
yang basah oleh embun.
Namun sebenarnya, tidak ada yang benar-benar sama lagi.
Ada sesuatu yang berubah di udara, sesuatu yang tidak kasat
mata, namun terasa oleh setiap orang yang memiliki hati dan telinga yang peka.
Seperti bau anyir darah setelah pertempuran, seperti sisa-sisa asap setelah
kebakaran hutan, seperti keheningan yang menggantung setelah badai berlalu.
Desa Awan Biru telah menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dilupakan: seorang
perempuan muda berdiri melawan arus, dan bertahan.
Dan sekarang, konsekuensinya mulai terasa.
Amilia berjalan seperti biasa pagi itu. Sepatu karetnya
yang sudah mulai usang melangkah pelan di atas jalan tanah yang masih becek
oleh hujan semalam. Tas medis berwarna merah dengan logo palang putih yang
mulai pudar tergantung di bahu kanannya, beban yang sudah menjadi bagian dari
tubuhnya, seperti tangan atau kaki. Jilbab putihnya berkibar lembut ditiup
angin pagi, kadang-kadang menutupi sebagian wajahnya, dan ia dengan sabar
menyingkirkannya ke belakang telinga.
Senyum di wajahnya, seperti biasa, terukir rapi, meskipun
pagi itu senyum itu terasa lebih berat dari biasanya. Matanya yang cokelat tua
dan dalam, yang kemarin malam masih basah oleh air mata, kini berusaha
memancarkan ketenangan. Ia telah memutuskan untuk tidak menyerah, dan keputusan
itu harus ia tunjukkan melalui setiap langkah, setiap tatapan, setiap helaan
napas.
"Pagi, Bu..." sapanya kepada seorang ibu yang
sedang duduk di teras rumah sambil menyisir rambut putrinya yang masih kecil.
Ibu itu menunduk. Tidak menjawab. Tidak mengangguk. Tidak
tersenyum. Hanya menunduk, seolah-oleh ia tidak mendengar, atau mendengar tapi
memilih untuk tidak merespon. Tangannya terus menyisir rambut putrinya dengan
gerakan yang tiba-tiba menjadi lebih cepat, lebih kasar, seperti sedang
tergesa-gesa menyelesaikan sesuatu agar ia bisa masuk ke dalam rumah dan
menghilang.
Amilia tidak berhenti. Ia terus berjalan.
"Pagi, Pak..." sapanya kepada seorang lelaki tua
yang sedang membersihkan halaman dengan sapu lidi.
Lelaki tua itu berhenti menyapu sejenak. Matanya yang
keriput menatap Amilia dari ujung kepala hingga ujung kaki, seperti sedang
menilai, mengukur, mencari-cari kesalahan. Lalu ia mengalihkan pandangannya,
berpura-pura melihat sesuatu yang menarik di kejauhan, dan melanjutkan menyapu
dengan gerakan yang lebih bersemangat dari sebelumnya. Debu beterbangan di
sekitar kakinya, seolah sengaja diarahkan ke arah Amilia.
"Pagi, Nek..." sapanya kepada seorang nenek yang
sedang duduk di kursi anyaman bambu sambil mengupas kelapa.
Nenek itu menatap Amilia dengan sorot mata yang sulit
diartikan, bukan benci, bukan marah, tapi seperti... kehilangan. Seperti sedang
membandingkan Amilia dengan seseorang yang dulu pernah ia kenal, atau dengan
sesuatu yang dulu pernah ia percaya. Lalu ia menggeleng pelan, begitu pelan
hingga hampir tidak terlihat dan kembali fokus pada kelapa di pangkuannya.
Pisau di tangannya bergerak dengan ritme yang tidak berubah, seolah Amilia
tidak pernah lewat di depannya.
Langkah Amilia melambat. Jantungnya berdegup lebih keras
dari biasanya. Senyumnya masih ada di wajahnya, ia pastikan itu, tapi matanya
mulai kosong. Mulai hampa. Seperti sumur yang airnya perlahan-lahan mengering,
meskipun masih berusaha memantulkan cahaya.
Setiap sapaan yang tidak dijawab, setiap tatapan yang
dihindari, setiap senyum yang tidak dibalas, semuanya seperti duri-duri kecil
yang menusuk pelan-pelan ke dalam hatinya. Tidak cukup tajam untuk membuatnya
berteriak, tapi cukup banyak untuk membuatnya berdarah.
Ini hanya ujian,
pikirnya. Mereka butuh waktu. Aku juga butuh waktu.
Tapi di dalam hati yang paling dalam, di tempat yang paling
jujur dan tidak bisa dibohongi, ia bertanya: Berapa lama? Berapa lama
aku bisa bertahan seperti ini?
Warung kopi Mbah Karyo, seperti biasa, adalah pusat segala
opini. Tidak ada koran, tidak ada televisi, tidak ada internet, yang ada hanya
kopi tubruk, rokok kretek, dan mulut-mulut yang tidak pernah berhenti bergerak.
Di sinilah berita lahir, tumbuh, berkembang biak, dan kadang-kadang mati, hanya
untuk lahir kembali dalam bentuk yang berbeda.
Pagi itu, warung kopi lebih ramai dari biasanya. Bukan
karena ada acara khusus, tapi karena ada bahan pembicaraan yang spesial: bidan
baru yang berani melawan Mbah Sari. Topik yang begitu kaya, begitu
berlapis-lapis, seperti seduhan kopi yang pekat dan pahit.
"Katanya semalam hampir bahaya ya..." kata
seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal dan perut buncit. Namanya Pak
Karso, pedagang keliling yang selalu punya informasi terbaru karena ia
berkeliling dari desa ke desa.
"Iya, terlalu dipaksa. Bayinya sungsang katanya.
Harusnya diserahkan ke Mbah Sari, itu sudah biasa. Tapi dipaksakan pakai cara
medis. Alat-alatan segala," sahut yang lain, seorang lelaki muda dengan
wajah jerawatan yang duduk di pojok. Matanya berbinar-binar, menikmati sensasi
drama yang sedang ia ceritakan ulang.
"Kalau sampai kenapa-kenapa, siapa tanggung
jawab?" timpal yang lain. "Pemerintah? Bidan? Atau kita warga yang
harus menanggung risikonya?"
Pak Sugeng, yang duduk di kursi paling strategis, tepat di tengah,
dekat dengan Mbah Karyo, mengangguk mantap. Wajahnya yang keras dan penuh
kerutan itu tampak lebih gelap dari biasanya. Matanya menyipit, bibirnya
mengerucut, dan setiap kali ia bicara, semua orang diam mendengar.
"Makanya jangan sembarangan ubah kebiasaan,"
katanya, suaranya berat dan dalam, seperti gong yang dipukul pelan-pelan.
"Adat sudah ada sejak nenek moyang. Bukan tanpa alasan. Semua sudah
teruji. Tapi sekarang, orang-orang lebih percaya sama buku daripada pengalaman.
Lebih percaya sama orang luar daripada tetua sendiri."
Pak Santoso, yang duduk tidak jauh dari Pak Sugeng,
terlihat lebih diam dari biasanya. Wajahnya yang teduh itu tampak berpikir
keras, mungkin sedang mencoba melihat masalah ini dari berbagai sudut, seperti
prisma yang memecah cahaya menjadi spektrum warna yang berbeda. Ia menyesap
kopinya pelan-pelan, lalu berkata dengan suara yang tenang namun tegas,
"Yang penting hasilnya selamat, kan? Ibu dan bayinya
selamat. Bukankah itu yang utama?"
Pak Sugeng menoleh, matanya menyipit. "Selamat
sekarang... nanti?" katanya, nadanya penuh makna. "Siapa tahu ada
efek sampingnya. Siapa tahu besok bayinya sakit. Siapa tahu ibunya
kenapa-kenapa. Kita tidak tahu. Ilmu medis kan tidak bisa jamin semuanya."
"Tidak ada yang bisa menjamin semuanya," jawab
Pak Santoso dengan tenang. "Bahkan Mbah Sari juga tidak bisa menjamin.
Tapi yang jelas, malam ini, dua nyawa selamat. Itu fakta."
Suasana menjadi hening sejenak. Pak Sugeng tidak menjawab.
Ia hanya menyesap kopinya dengan gerakan yang lebih kasar dari biasanya, seolah
sedang berusaha menelan sesuatu yang pahit.
Di pojok warung, Amat mendengar semuanya. Ia duduk dengan
kaki disilangkan, punggung bersandar pada dinding bambu yang berderit setiap
kali ada yang bergerak. Di tangannya, segelas kopi sudah dingin sejak sepuluh
menit yang lalu, tapi ia tidak menyentuhnya. Matanya tidak fokus pada apa pun, hanya
menatap kosong ke arah jalan desa, tapi telinganya mendengar semuanya.
Kadang, pikirnya, yang
benar pun bisa kalah oleh cerita yang salah. Dan cerita yang salah, jika
diulang cukup sering, akan terdengar seperti kebenaran.
Ia tidak mengucapkan pikirannya dengan suara keras. Tidak
ada gunanya. Di desa seperti ini, yang didengar bukanlah siapa yang paling
benar, tapi siapa yang paling keras, siapa yang paling sering bicara, dan siapa
yang paling ditakuti.
Rapat kecil digelar di kantor desa. Tidak resmi, hanya
panggilan dari Pak Iwan kepada beberapa perangkat desa dan tokoh masyarakat
untuk membahas "situasi terkini." Namun semua orang tahu bahwa
"situasi terkini" itu adalah Amilia, konflik dengan Mbah Sari, dan
perpecahan yang mulai terlihat di antara warga.
Pak Iwan duduk di kursi paling depan, sebuah kursi kayu tua
dengan sandaran tinggi yang sudah lapuk di beberapa tempat. Wajahnya serius,
matanya sayu, dan garis-garis kelelahan terlihat jelas di dahinya. Sebagai
kepala desa, ia berada di posisi yang sulit: harus menjaga keseimbangan antara
adat dan modernitas, antara tekanan warga dan tanggung jawabnya kepada
pemerintah.
"Ini sudah mulai jadi pembicaraan warga,"
katanya, suaranya berat dan penuh beban. Jari-jarinya yang kasar memainkan
ujung meja kayu di depannya, bolak-balik, seperti sedang menghitung sesuatu
yang tidak terlihat. "Bukan hanya di sini, tapi juga di desa-desa
tetangga. Kabarnya sudah sampai ke puskesmas. Bahkan katanya Camat sudah
dengar."
Ibu Yuni, Sekretaris Desa yang duduk di samping kanan Pak
Iwan, mencoba menengahi. Wajahnya yang bulat dan hangat itu tampak cemas, matanya
bergerak cepat dari satu orang ke orang lain, mencoba membaca ekspresi mereka.
"Pak, kita juga harus lihat hasilnya. Ibu dan bayinya selamat. Bayi
sungsang, persalinan lama, itu kondisi berisiko tinggi. Kalau tidak ditangani
dengan cepat, bisa fatal. Bu Amilia bertindak cepat. Itu harus
diapresiasi."
Bu Endang, Kasi Pelayanan, menyela dengan suara yang tajam,
seperti pisau yang digoreskan ke papan kayu. "Tapi cara penyampaiannya
yang jadi masalah. Warga merasa dilangkahi. Mbah Sari merasa tidak dihormati.
Ini soal kepercayaan, Bu Yuni. Bukan soal medis. Kita tidak bisa memaksakan
ilmu baru ke warga yang sudah puluhan tahun percaya pada cara lama."
Pak Edi, yang duduk di ujung meja, menambahkan dengan suara
yang lebih hati-hati, seperti orang yang berjalan di atas telur. "Ini
sensitif, Pak. Sangat sensitif. Mbah Sari bukan dukun biasa. Beliau dianggap
punya kekuatan. Warga takut jika melanggar adat, akan ada sesuatu yang
terjadi. Bukan hanya sakit, tapi... hal-hal lain."
Kalimat terakhir itu menggantung di udara, tidak diucapkan
secara eksplisit, tapi semua orang mengerti. Hal-hal lain. Istilah
yang nyaman untuk segala sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat.
Musibah. Kecelakaan. Penyakit misterius. Semua bisa dikaitkan dengan
ketidakseimbangan spiritual.
Pak Iwan menghela napas panjang. Ia menutup matanya
sejenak, seperti sedang memohon petunjuk dari sesuatu yang tidak kasat mata.
Lalu ia membuka matanya lagi, dan berkata dengan suara yang lebih pelan,
"Kita tidak bisa memihak. Tapi kita juga tidak bisa
membiarkan konflik membesar. Desa ini sudah damai selama puluhan tahun. Saya
tidak ingin perpecahan hanya karena perbedaan metode."
Matanya menatap jauh ke luar jendela, ke arah bukit-bukit
yang membiru di kejauhan.
"Ini baru awal..."
Hari itu, Posyandu benar-benar sepi. Sunyi. Hening.
Tidak ada ibu-ibu yang datang dengan anak-anak di
gendongan. Tidak ada suara tangis bayi yang ditimbang. Tidak ada tawa kecil
balita yang berlarian di antara kursi-kursi kayu. Tidak ada coretan-coretan di
buku catatan, tidak ada angka-angka yang ditulis, tidak ada grafik pertumbuhan
yang digambar.
Hanya Amilia. Yulia. Dan Anita.
Tiga perempuan. Di ruangan yang luas. Di tengah kesunyian
yang mencekik.
Yulia duduk di kursi kayu di samping pintu, matanya menatap
kosong ke arah jalan desa yang sepi. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri,
berharap melihat seorang ibu berjalan menuju posyandu dengan anak di
gendongannya. Tapi tidak ada. Hanya angin yang berhembus, membawa daun-daun
kering yang berputar-putar di tanah.
"Biasanya ramai..." gumam Yulia, suaranya nyaris
tak terdengar. "Hari ini... sepi sekali."
Anita berdiri di dekat meja, tangannya memegang timbangan
bayi yang sudah berkarat. Ia menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya saat
gelisah dan matanya berkaca-kaca. "Mereka takut, Bu," katanya pelan,
suaranya bergetar. "Sejak kemarin, banyak yang takut dimarahi Mbah Sari.
Saya dengar dari tetangga, ada yang bilang kalau ikut posyandu nanti
'dikerjain'. Ada yang bilang kalau bayinya bisa kena penyakit aneh. Saya tahu
itu tidak masuk akal, tapi... mereka percaya."
Amilia berdiri di depan papan tulis yang masih berisi
gambar-gambar gizinya. Kapur putih yang ia gunakan kemarin masih ada di pinggir
papan, sebatang kapur pendek yang hampir habis. Ia menatap gambar-gambar itu, lingkaran-lingkaran
yang mewakili piring makan, panah-panah yang menunjuk ke berbagai jenis
makanan, tulisan-tulisan sederhana tentang gizi seimbang.
Semua itu terasa sia-sia sekarang. Seperti ceramah yang
didengarkan oleh dinding-dinding kosong.
Ia tetap berdiri. Tetap tegap. Tetap tersenyum, meskipun
senyum itu terasa seperti topeng yang semakin berat setiap hari.
"Mungkin mereka butuh waktu," kata Amilia, suaranya
tenang meskipun hatinya berteriak. "Perubahan tidak pernah instan. Kita
harus sabar."
Anita menatapnya, matanya penuh dengan kekaguman dan rasa
iba. "Bu... ibu tidak apa-apa?"
Amilia menoleh, tersenyum, senyum yang sama, senyum yang ia
kenakan setiap hari. "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
Tapi saat ia membalikkan badan, saat wajahnya tidak lagi
terlihat oleh Anita dan Yulia, senyum itu runtuh. Matanya berkaca-kaca.
Bibirnya bergetar. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan
berdoa, berdoa agar ia diberi kekuatan untuk terus tersenyum, meskipun tidak
ada yang melihat, meskipun tidak ada yang peduli.
Sore hari, di bawah pohon besar dekat lapangan desa,
suasana sedikit lebih ringan. Matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat
jingga yang indah di langit. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, berkicau
dengan riang, tidak peduli dengan drama manusia yang terjadi di bawah mereka.
Seperti biasa, para pemuda berkumpul. Duduk bersila di atas
tikar anyaman yang dibawa oleh Guntur, ditemani oleh beberapa botol air minum
dan bungkus kerupuk yang sudah hampir habis. Suasana santai, penuh canda, dan
untuk beberapa saat, melupakan semua ketegangan yang terjadi di desa.
"Eh, kalau bidan itu marah gimana ya?" tanya
Guntur sambil menyandarkan punggungnya ke pohon. Matanya menyipit nakal,
senyumnya melebar seperti bulan sabit. "Kayaknya dia tipe orang yang kalau
marah... diam. Tapi diamnya nyeremin."
"Kayaknya tetap senyum," jawab Bambang dengan
wajah datar, seperti biasa, tidak jelas apakah ia sedang bercanda atau serius.
"Senyum terus meskipun hatinya sedang berdarah-darah."
"Wah, itu bahaya," celetuk Rangga sambil menyesap
air minumnya. "Senyum tapi menyimpan amarah. Kayak gunung berapi yang
diam-diam meletus."
Semua tertawa. Bahkan Amat Junior, yang biasanya lebih
pendiam, ikut tersenyum.
Hermansyah menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian ini...
orang lagi punya masalah malah dibuat bahan bercanda. Kasihan juga."
"Bercanda itu cara desa bertahan, Mas," kata Amat
Junior, suaranya santai. "Kalau kita terlalu serius terus, kita bisa gila.
Apalagi dengan situasi yang makin panas begini."
Nadya, yang datang membawa teh hangat dalam teko tanah
liat, duduk di samping Hermansyah. "Kalian ini kalau serius sebentar bisa
nggak sih?" katanya sambil menuangkan teh ke dalam gelas-gelas kecil yang
ia bawa. Uap panas mengepul tipis, bercampur dengan aroma jahe yang
menyegarkan.
Guntur langsung menggoda, matanya berbinar-binar nakal.
"Kalau ada Mbak Nadya, kami langsung serius kok. Serius... melirik."
Nadya melempar sendal yang ada di dekat kakinya. Guntur
menghindar sambil tertawa terbahak-bahak. "Serius kepala kalian!"
teriak Nadya, tapi matanya tersenyum.
Semua pecah tertawa. Bahkan Hermansyah, yang tadinya
tegang, ikut tersenyum lebar.
Namun di balik tawa itu, di balik candaan dan sendal yang
dilempar, mereka semua tahu: situasi desa sedang tidak baik-baik saja. Dan di
balik setiap tawa, ada kekhawatiran yang tidak diucapkan.
Di sebuah rumah yang terletak di bagian gelap desa, jauh
dari jalan utama, dekat dengan kali yang airnya keruh, sekelompok warga
berkumpul diam-diam. Tidak ada undangan resmi, tidak ada pemberitahuan terbuka.
Hanya bisik-bisik dari mulut ke mulut, dan tiba-tiba, sepuluh orang sudah duduk
bersila di ruang tamu yang sempit.
Lampu minyak tanah menyala redup, menciptakan
bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding bambu. Wajah-wajah mereka
setengah terang setengah gelap, seperti hati mereka yang sedang bergulat antara
ketakutan dan kebencian.
"Kalau kemarin gagal... pasti beda ceritanya,"
kata Pak Sugeng, suaranya berat dan penuh makna. Jari-jarinya yang kasar
memainkan ujung sarung yang ia kenakan. "Bayi itu bisa meninggal. Ibu itu
bisa meninggal. Tapi karena selamat, semua orang jadi bilang bidan itu
hebat."
"Makanya jangan sampai ada kejadian lagi," sahut
seorang lelaki paruh baya dengan wajah penuh jerawat dan kumis tipis.
"Kalau sampai ada yang meninggal gara-gara ulahnya, kita yang repot."
"Bagaimana caranya?" tanya yang lain.
Pak Sugeng tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke
matanya. "Kita tidak perlu melakukan apa-apa. Cuma perlu... memastikan
bahwa orang-orang tetap percaya pada Mbah Sari. Dan meragukan bidan itu."
Mbah Sari, yang duduk di kursi kayu tertua di ruangan itu,
tidak bicara. Ia hanya diam, diam yang penuh wibawa. Matanya yang tajam menatap
satu per satu orang di depannya, seperti jenderal yang menilai pasukannya
sebelum pertempuran.
Lalu, dengan suara yang pelan namun menusuk, ia berkata,
"Kepercayaan itu seperti kaca..."
Semua orang menoleh. Mbah Sari menatap mereka dengan sorot
mata yang dalam, seperti sumur tua yang tidak pernah kering.
"Sekali retak... tidak akan sama lagi."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.
"Dan sekarang... retakan itu sudah ada."
Sunyi. Sepi. Suara jangkrik di luar terdengar seperti
gemuruh.
"Kita hanya perlu memastikan," lanjut Mbah Sari,
"bahwa retakan itu semakin lebar. Hingga suatu hari... dia sendiri yang
akan pergi. Tanpa perlu kita usir."
Rencana itu mulai terbentuk. Perlahan. Pasti. Seperti akar
pohon beringin yang menjalar di bawah tanah, tidak terlihat, tapi semakin lama
semakin kuat.
Dan Amilia, di rumah dinasnya yang sunyi, tidak tahu bahwa
ia sedang dikepung oleh bisik-bisik yang lebih berbahaya dari teriakan.
Amilia duduk di lantai kayu rumah dinasnya. Lilin di
depannya hampir habis, hanya tersisa setengah jari, dengan sumbu yang mulai
tenggelam ke dalam cairan lilin. Api kecilnya berkedip-kedip, sesekali hampir
padam, lalu menyala lagi, seperti hatinya yang terus berjuang.
Ia membuka buku catatan. Halaman demi halaman ia buka,
membaca catatan-catatan yang ia tulis selama tiga minggu terakhir. Data
posyandu. Jadwal imunisasi. Daftar ibu hamil. Catatan kunjungan rumah. Semua
tertulis rapi dengan tulisannya yang khas, tegak, jelas, dan penuh harapan.
Tapi malam ini, ia tidak menulis apa pun. Pena di tangannya
hanya menggantung, tidak bergerak. Kertas kosong di depannya tetap putih
bersih, tidak tersentuh tinta.
Pikirannya penuh. Penuh dengan suara-suara. Suara-suara
yang tidak bisa ia hentikan.
"Ramah sekali ya... ah, itu mah cuma
pencitraan..."
"Ngapain sih repot-repot... dulu juga makan singkong sehat-sehat
saja..."
"Kami tidak butuh perubahan..."
"Kalau tidak kuat... pulang saja..."
Suara-suara itu bergema di kepalanya, berulang-ulang,
seperti piringan hitam yang macet.
Ia memeluk lututnya. Menunduk. Menekan wajahnya ke lutut
yang dingin. Dan untuk kesekian kalinya, air mata jatuh.
Bukan tangis yang keras. Bukan isak yang histeris. Hanya
tetesan-tetesan kecil yang mengalir di pipinya, satu per satu, seperti hujan
rintik-rintik yang tidak pernah berhenti.
"Kenapa... niat baik selalu salah di mata
mereka..." bisiknya, suaranya pecah.
Ia tidak menghapus air matanya. Ia membiarkannya
mengalir—membasahi pipinya, menetes ke lantai kayu, menjadi saksi bisu dari
perjuangan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Kapan ini akan berakhir? pikirnya. Kapan
mereka akan percaya? Kapan aku bisa berhenti berjuang hanya untuk dianggap ada?
Tiba-tiba—di tengah kesunyian malam yang pekat, ia
mendengar suara.
Tok... tok... tok.
Ketukan pelan. Hampir tidak terdengar. Seperti ketukan
orang yang tidak yakin apakah ia boleh mengetuk.
Amilia terdiam. Ia cepat-cepat menghapus air matanya dengan
lengan baju, menarik napas dalam-dalam, dan berusaha menenangkan diri.
"Siapa...?" suaranya serak.
"Ini saya... Yulia..."
Amilia berdiri, berjalan ke pintu dengan langkah pelan, dan
membukanya. Di sana berdiri Yulia, dengan wajah cemas dan tangan yang
menggenggam erat sebuah bungkusan kecil, mungkin makanan.
"Maaf ganggu, Bu... saya cuma mau bilang..."
Yulia berhenti. Ia menatap mata Amilia, mata yang merah,
sembab, dan masih basah oleh air mata. Dan untuk sesaat, ia tidak bisa bicara.
Lalu ia berkata, dengan suara yang lembut namun penuh
keyakinan,
"Tidak semua orang membenci ibu."
Amilia terdiam. Matanya kembali berkaca-kaca.
Yulia melanjutkan, "Cuma... mereka takut berubah.
Bukan karena mereka jahat. Bukan karena mereka benci ibu. Tapi karena mereka
sudah terlalu lama hidup dengan satu cara, dan cara baru itu... menakutkan. Ibu
bukan masalahnya. Perubahan itu yang mereka takuti."
Kalimat itu sederhana. Sederhana sekali. Tapi dalam. Sangat
dalam.
Amilia tersenyum kecil, senyum yang tulus, untuk pertama
kalinya malam itu.
"Terima kasih, Yu," bisiknya. "Aku perlu
mendengar itu."
Mereka berdua berdiri di ambang pintu, di bawah cahaya
bulan yang samar-samar, dan untuk sesaat, kesunyian malam tidak lagi terasa
mencekik. Ada kehangatan kecil di antara mereka, kecil, tapi nyata.
Fitnah tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang, ia
hadir dalam bisikan. Pelan. Halus. Lembut seperti bisikan angin malam. Tidak
mengagetkan, tidak menakutkan, tapi perlahan meracuni pikiran, menggerogoti
keyakinan, dan membunuh harapan tanpa suara.
Dan di Desa Awan Biru, bisikan itu mulai tumbuh. Merambat
dari rumah ke rumah, dari warung ke warung, dari mulut ke mulut. Seperti
tanaman parasit yang akarnya menjalar di bawah tanah, tidak terlihat, tapi
semakin lama semakin kuat, semakin sulit dicabut.
Amilia telah menyelamatkan nyawa. Tapi ia belum
menyelamatkan dirinya sendiri dari badai yang mulai mengelilinginya.
Ia masih berdiri. Masih tersenyum. Masih berjuang.
Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, di tempat yang
paling jujur, ia mulai bertanya: Sampai kapan?
Dan tidak ada yang bisa menjawab.
BAB 6: LUKA YANG TAK TERLIHAT
Pagi itu, matahari tetap terbit seperti biasa di Desa Awan
Biru. Ia naik perlahan di balik bukit-bukit hijau, menyapa bumi dengan sinar
keemasan yang hangat, sama hangatnya seperti pagi-pagi sebelumnya, sama
indahnya seperti pagi-pagi ketika Amilia pertama kali menginjakkan kaki di desa
ini. Burung-burung berkicau dengan riang di antara pepohonan, tidak peduli
dengan drama manusia yang terjadi di bawah mereka. Kabut tipis masih
menggantung di lembah, menciptakan pemandangan yang seolah dilukis oleh tangan
Tuhan yang mahatinggi.
Namun bagi Amilia, pagi itu terasa lebih berat dari
sebelumnya. Bukan karena cuaca, bukan karena tugas, bukan karena kelelahan
fisik, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, lebih abstrak, lebih sulit
dijelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang tidak kasat mata namun terasa nyata,
seperti bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun ia pergi, seperti beban yang
semakin lama semakin berat meskipun tidak ada yang menambahkannya.
Ia terbangun sebelum matahari terbit, seperti biasa. Namun
kali ini, ia tidak langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia hanya berbaring di
atas balai-balai kayu yang dilapisi tikar tipis, tempat tidurnya selama tiga
minggu terakhir dan menatap langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman
bambu. Melalui celah-celah anyaman itu, ia bisa melihat bintang-bintang yang
masih setia menemaninya, berkelap-kelip seperti mata-mata kecil yang penuh rasa
iba.
Tubuhnya terasa berat. Sekujur tulangnya seperti
diremas-remas oleh kelelahan yang tidak hanya fisik, tapi juga mental dan
emosional. Matanya sembab, bekas air mata yang tidak bisa ia tahan tadi malam,
setelah Yulia pulang dan ia kembali sendirian dengan pikirannya yang kacau. Ia
tidak ingat persis kapan ia tertidur. Mungkin sekitar pukul dua dini hari.
Mungkin lebih. Yang ia ingat hanyalah ia menangis, menangis dalam diam,
menangis tanpa suara, menangis sampai air matanya habis dan yang tersisa hanya
kekosongan yang mencekik.
Di meja kayu kecil di sudut ruangan, buku catatannya masih
terbuka. Halaman kosong. Tidak ada satu kata pun yang tertulis sejak dua hari
yang lalu. Pena yang biasa ia gunakan untuk mencatat data posyandu, jadwal
imunisasi, dan catatan kunjungan rumah, tergeletak di samping buku itu, tanpa
tutup, ujungnya sudah kering karena tidak digunakan.
Bahkan alat-alat medis di tas merahnya, yang biasanya
selalu ia rapi setiap pagi, masih berserakan di lantai sejak malam terakhir ia
memeriksa seorang pasien, pasien yang datang diam-diam, dengan rasa takut, dan
pergi dengan rasa takut yang sama setelah Amilia selesai memeriksanya.
Apakah ini yang aku inginkan? pikirnya, matanya masih terpaku pada langit-langit
bambu. Apakah ini yang aku bayangkan ketika aku menerima penugasan ini?
Ia mengingat kembali hari-hari di bangku kuliah, ketika
para dosen bercerita tentang pengabdian di daerah terpencil. Mereka selalu
berbicara dengan nada heroic, tentang tantangan, tentang perjuangan, tentang
kebanggaan bisa membantu mereka yang membutuhkan. Mereka tidak pernah bercerita
tentang ini. Tentang kesepian yang menusuk tulang. Tentang penolakan yang
terasa seperti tamparan setiap hari. Tentang keraguan yang perlahan-lahan
menggerogoti keyakinan, seperti air yang menetes di batu, pelan tapi pasti,
sampai akhirnya batu itu retak.
Ia menghela napas panjang. Udara pagi yang dingin masuk
melalui celah-celah dinding, membuatnya menggigil. Atau mungkin bukan karena
dingin. Mungkin karena sesuatu yang lain.
"Aku harus kuat," bisiknya pada dirinya sendiri,
suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Namun suaranya sendiri terdengar ragu,
begitu ragu, seperti orang yang mencoba meyakinkan dirinya tentang sesuatu yang
bahkan ia sendiri tidak percaya.
Setelah apa yang terasa seperti satu jam hanya untuk
mengumpulkan keberanian untuk bangun, Amilia akhirnya duduk di tepi ranjang.
Tangannya meraih jilbab putih yang tergantung di paku di dinding, jilbab yang
sama yang ia kenakan setiap hari, yang sudah mulai kusam karena dicuci dengan
air sumur yang kadang keruh dan berbau tanah. Ia mengenakannya perlahan, dengan
gerakan yang mekanis, tanpa berpikir, seperti robot yang menjalankan program
yang sudah diatur.
Matanya menatap cermin kecil, selembar kaca bekas bingkai
foto yang ia gantung di dinding dengan seutas tali rafia. Di dalam cermin itu,
ia melihat seorang perempuan muda dengan wajah pucat, mata sembab, bibir
pecah-pecah, dan senyum yang tidak lagi mudah tersungging seperti dulu. Siapa
kamu? pikirnya. Kamu bukan aku yang dulu.
Di meja, buku catatan masih terbuka. Halaman kosong.
Seperti pikirannya. Seperti hatinya. Kosong.
Ia menarik napas panjang, begitu panjang hingga dadanya
terasa sesak, lalu menghembuskannya perlahan, seperti sedang mencoba
menghembuskan semua beban yang ada di pundaknya. Lalu ia berdiri. Mengambil tas
medis. Mengenakan sepatu karetnya yang sudah mulai usang. Dan melangkah keluar
rumah.
Hari ini,
pikirnya, aku akan coba lagi. Entah untuk apa, entah untuk siapa, tapi
aku akan coba lagi.
Ia tidak tahu bahwa hari itu akan menjadi salah satu hari
terberat dalam hidupnya.
Amilia datang ke balai desa seperti biasa. Setiap pagi, ia
mampir ke kantor desa untuk mengecek jadwal, bertanya kepada perangkat desa
tentang kegiatan yang mungkin perlu keterlibatannya, atau sekadar menyapa, berusaha
membangun hubungan, meskipun hubungan itu terasa seperti membangun istana di atas
pasir.
Namun pagi itu, suasana berbeda. Tidak ada yang berubah
secara fisik, meja dan kursi masih sama, dinding kayu masih sama, papan
pengumuman masih sama, tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu di udara. Sesuatu
yang tidak kasat mata, namun terasa oleh setiap orang yang masuk ke dalam
ruangan itu.
Beberapa perangkat desa yang biasanya menyapanya dengan
ramah, atau setidaknya dengan sopan, kini hanya mengangguk sekadarnya. Bahkan
ada yang pura-pura sibuk dengan kertas-kertas di mejanya ketika Amilia melintas,
seolah ia tidak melihat, seolah ia tidak mendengar langkah kaki Amilia yang
berat di lantai kayu.
"Pagi, Bu Endang..." sapa Amilia kepada Kasi
Pelayanan yang sedang duduk di depan komputer tua, satu-satunya komputer di
balai desa, yang sudah berdebu dan hanya menyala jika ada listrik dari genset.
Bu Endang menoleh sekilas, matanya menatap Amilia dari
ujung kepala hingga ujung kaki, seperti sedang menilai, mengukur, mencari-cari
kesalahan. "Pagi," jawabnya singkat, lalu kembali menatap layar
komputer yang bahkan tidak menyala.
"Ada kegiatan hari ini, Bu? Saya bisa bantu jika
perlu."
"Tidak ada. Semua berjalan seperti biasa."
"Baik, Bu. Kalau ada yang membutuhkan, saya di rumah
dinas."
Bu Endang tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan, begitu
pelan hingga hampir tidak terlihat dan kembali fokus pada komputer yang mati.
Amilia berjalan ke meja Ibu Yuni, satu-satunya orang yang
masih terlihat bersahabat. Ibu Yuni sedang menulis sesuatu di buku besar,
mungkin laporan keuangan desa dengan wajah yang serius namun tetap teduh.
"Pagi, Bu Yuni."
Ibu Yuni menengadah, tersenyum, senyum yang hangat, yang
tulus, yang membuat Amilia merasa sedikit lebih ringan. "Pagi, Bu Amilia.
Sehat?"
"Sehat, Bu. Alhamdulillah."
"Jangan lupa makan ya, Bu. Kelihatannya ibu kurusan."
Amilia tersenyum kecil. "Iya, Bu. Makasih."
Ibu Yuni menatapnya lebih lama, matanya menyelidik, bukan
dengan curiga, tapi dengan kepedulian yang tulus. "Ibu... jangan terlalu
dipikirkan ya," katanya pelan, suaranya nyaris berbisik. "Orang-orang
memang suka bicara. Tapi itu bukan cerminan ibu. Itu cerminan mereka."
Amilia merasakan dadanya sesak. Ia ingin menangis,
benar-benar ingin menangis, tapi ia menahan. "Iya, Bu... saya baik-baik
saja."
Namun Ibu Yuni tahu. Ia bisa melihat di mata Amilia, mata yang
cokelat tua dan dalam, yang kini mulai berkaca-kaca, bahwa itu bukan kebenaran.
Tapi ia tidak memaksa. Ia hanya tersenyum, menggenggam tangan Amilia sejenak,
lalu melepaskannya.
"Semoga hari ini lebih baik, Bu."
"Aamiin, Bu Yuni. Terima kasih."
Amilia berbalik dan berjalan keluar dari balai desa. Di
belakangnya, ia bisa merasakan tatapan-tatapan—tajam, menusuk, penuh makna, yang
mengikuti setiap langkahnya. Ia tidak menoleh. Ia tidak berhenti. Ia terus
berjalan, meskipun setiap langkah terasa seperti berjalan di atas bara api.
Hari itu, Amilia memutuskan untuk mengadakan posyandu
keliling, sebuah program di mana petugas kesehatan mendatangi rumah-rumah warga
yang tidak bisa datang ke posyandu karena alasan jarak, usia, atau kesehatan.
Biasanya program ini disambut dengan antusias, terutama oleh ibu-ibu dengan
anak balita yang kesulitan berjalan jauh.
Namun hari itu berbeda.
Rumah pertama yang ia datangi adalah rumah Bu Lastri,
seorang ibu muda dengan anak balita berusia dua tahun. Amilia sudah beberapa
kali mengunjungi rumah ini sebelumnya, dan Bu Lastri selalu menerimanya dengan
ramah, meskipun kadang-kadang masih ada rasa canggung.
"Pagi, Bu Lastri..." sapa Amilia dari depan pagar
bambu yang sederhana.
Bu Lastri yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah,
menoleh. Wajahnya yang biasanya ramah itu kini tampak tegang, matanya bergerak
cepat ke kanan dan ke kiri, seperti sedang memastikan tidak ada tetangga yang
melihat. "Pagi, Bu..." jawabnya, suaranya pelan, hampir berbisik.
"Boleh saya masuk? Saya mau timbang anaknya, sekalian
cek kesehatannya."
Bu Lastri terdiam sejenak. Ia menatap Amilia, lalu menatap
rumahnya, lalu menatap ke arah rumah tetangga yang mulai membuka jendela.
"Maaf, Bu... lain kali saja ya..." katanya akhirnya, suaranya nyaris
tak terdengar. "Sekarang... agak repot."
Amilia merasakan ada yang tidak beres. "Ada masalah,
Bu?"
Bu Lastri menggeleng cepat, terlalu cepat. "Tidak, Bu.
Tidak ada masalah. Cuma... yah... lain kali saja. Maaf ya, Bu."
Sebelum Amilia sempat menjawab, Bu Lastri sudah berbalik
dan masuk ke dalam rumah, menutup pintu dengan pelan tapi pasti. Amilia hanya
bisa berdiri di depan pagar, dengan tas medis di tangan, dan senyum yang
perlahan-lahan memudar dari wajahnya.
Rumah kedua. Rumah ketiga. Rumah keempat.
Pola yang sama terulang. Ada yang menolak dengan halus, ada
yang pura-pura tidak ada di rumah meskipun Amilia bisa melihat bayangan mereka
bergerak di balik dinding bambu, ada yang menerima tapi dengan wajah cemas dan
bisik-bisik minta maaf karena "takut dibilang ini-itu".
Hingga akhirnya, di rumah kelima, seorang ibu yang sama
yang bayinya ia selamatkan beberapa malam yang lalu, Rini namanya, menerimanya
dengan tangan terbuka. Tapi bahkan Rini pun terlihat gelisah, matanya sesekali
menatap ke luar jendela, seperti takut seseorang akan melihat dan
melaporkannya.
"Bu... sebentar saja ya..." bisik Rini sambil
menggendong bayinya yang baru beberapa hari itu. "Nanti kalau ketahuan...
saya takut..."
Amilia mengangguk. Ia bekerja cepat, menimbang bayi,
memeriksa suhu tubuh, memeriksa tali pusar, menanyakan ASI, memberikan vitamin,
semua dilakukan dalam hitungan menit. Tidak ada obrolan santai seperti
biasanya. Tidak ada tawa. Hanya efisiensi yang dingin dan hati yang terluka.
Setelah selesai, Amilia berdiri. Ia menatap Rini, yang
masih terlihat cemas, dan berkata, "Bayinya sehat, Bu. Tali pusarnya sudah
kering, tidak ada tanda infeksi. ASI-nya sudah lancar? Jangan lupa untuk tetap
memberikan ASI eksklusif ya, Bu."
Rini mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih,
Bu... maaf... saya..."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti."
Amilia berbalik dan berjalan keluar. Di luar, matahari
mulai meninggi, sinarnya terik dan menyengat. Tapi di dalam hatinya, terasa
dingin, begitu dingin, seperti musim salju yang tidak pernah ia alami.
Yulia yang menemaninya sejak tadi, hanya bisa diam. Ia
melihat bagaimana Amilia berusaha tersenyum di setiap rumah, bagaimana ia bersikap
profesional meskipun jelas hatinya terluka, bagaimana ia tidak pernah mengeluh
meskipun setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.
Setelah rumah terakhir, mereka berdua duduk di bawah pohon
rindang di pinggir lapangan desa. Amilia meletakkan tas medisnya di sampingnya,
lalu menatap kosong ke arah sawah yang menghampar hijau di kejauhan.
Burung-burung kecil beterbangan di atas padi yang mulai menguning, riang dan
bebas, tidak seperti dirinya.
"Bu... istirahat saja dulu..." kata Yulia pelan,
suaranya penuh kekhawatiran.
Amilia menggeleng. "Kalau saya berhenti... siapa
lagi?"
Kalimat itu terdengar kuat. Namun nadanya, nada itu rapuh.
Rapuh seperti kaca tipis yang siap pecah kapan saja.
Yulia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya duduk di
samping Amilia, dalam diam, dan berdoa, berdoa agar perempuan di sampingnya ini
diberi kekuatan untuk terus bertahan.
Seperti biasa, di sore hari, para pemuda berkumpul di bawah
pohon beringin besar. Namun kali ini, suasana tidak seceria biasanya. Bahkan
Guntur, yang biasanya paling banyak bercanda, terlihat lebih pendiam. Bahkan
Bambang, yang biasanya melontarkan sarkasme pedas, hanya diam memainkan rumput
di tangannya.
"Sepi ya..." kata Bambang akhirnya, memecah
keheningan.
"Iya... kayak posyandu," celetuk Guntur, mencoba
bercanda. Namun tidak ada yang tertawa. Bahkan Guntur sendiri tidak tertawa.
Amat Junior menatap kopi di tangannya, kopi yang sudah
dingin sejak setengah jam yang lalu, tapi belum ia sentuh. "Kalian sadar
nggak..." katanya pelan, suararnya nyaris berbisik, "kita ini
sebenarnya sedang melihat seseorang berjuang sendirian."
Hermansyah, yang duduk bersila dengan tangan bersilang di
dada, mengangguk pelan. Wajahnya yang biasanya tegas itu kini tampak murung.
"Iya... dan kita cuma jadi penonton."
"Bukan cuma penonton," sahut Amat Junior, nadanya
sedikit lebih tajam. "Kita juga bagian dari masalah. Karena dengan diam,
kita membiarkan semuanya terjadi."
Nadya yang duduk di samping Hermansyah, ikut bicara.
Suaranya lembut tapi menusuk, seperti anak panah yang melesat tanpa suara.
"Kadang... diam juga bisa jadi bentuk kejahatan."
Kalimat itu menggantung di udara. Semua terdiam. Tidak ada
yang berani menjawab, karena mereka tahu, di dalam hati mereka yang paling
jujur, bahwa itu benar.
Hermansyah menunduk, memainkan ujung bajunya yang sudah
lusuh. "Jadi... apa yang harus kita lakukan?"
Amat Junior menatapnya. "Setidaknya... jangan diam.
Jangan biarkan dia berjuang sendirian."
Setelah seharian berkeliling desa dari rumah ke rumah, dari
ujung desa ke ujung desa lainnya, Amilia memutuskan untuk pulang. Langkahnya
lebih lambat dari biasanya. Jauh lebih lambat. Setiap langkah terasa seperti
mengangkat beban yang beratnya berlipat ganda dari sebelumnya.
Tas medis yang biasanya terasa ringan di bahunya, kini
terasa seperti karung berisi batu. Jilbab putihnya basah oleh keringat, bukan
karena panas, tapi karena kelelahan yang membuat tubuhnya mengeluarkan keringat
dingin. Kepalanya terasa berat, seperti ada yang menekan dari dalam. Matanya
perih, kelopaknya terasa seperti timah.
Di tengah jalan, ia berhenti sejenak. Ia bersandar pada
pohon randu yang tumbuh di pinggir jalan, pohon besar dengan ranting-ranting
yang merunduk, seolah turut bersedih melihat keadaannya. Ia memegang kepalanya
dengan tangan kanan, sementara tangan kiri masih memegang tas medis erat-erat.
"Kenapa... rasanya... berat sekali..." bisiknya,
suaranya hampir tidak terdengar.
Ia merasakan dunia berputar. Pemandangan di depannya mulai
kabur, pohon-pohon bergoyang, langit berputar, tanah di bawah kakinya terasa
seperti tidak lagi solid. Ia hampir kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleng ke
kanan, lalu ke kiri, seperti batang pohon yang siap tumbang.
Namun sebelum ia jatuh,
"Bu Amilia!"
Dua tangan yang kuat menangkapnya.
Amat Junior.
Pemuda kurus dengan rambut agak panjang itu berdiri di
sampingnya, wajahnya penuh kekhawatiran. Ia memegang lengan Amilia dengan kuat,
cukup kuat untuk menahan tubuh Amilia yang nyaris roboh.
"Bu tidak apa-apa?" tanyanya, suaranya panik.
Amilia mencoba tersenyum, refleks lama yang sudah menjadi
kebiasaan. "Saya... tidak apa-apa..." katanya, meskipun suaranya
bergetar dan tubuhnya masih oleng.
Amat Junior tidak percaya. Matanya yang tajam menatap
Amilia, melihat pucat di wajahnya, melihat lingkaran hitam di bawah matanya,
melihat bibirnya yang pecah-pecah dan kering. Ini bukan "tidak
apa-apa". Ini adalah seseorang yang berada di ambang kehancuran.
"Bu, duduk dulu," katanya tegas, sambil memandu
Amilia untuk duduk di akar pohon randu yang besar. "Jangan paksakan diri.
Ibu pucat sekali. Kapan terakhir ibu makan?"
Amilia tidak menjawab. Ia hanya menunduk, matanya terpejam,
napasnya terengah-engah.
Amat Junior duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat, masih
menjaga jarak yang sopan, tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia ada di
sana. "Bu... boleh saya jujur?"
Amilia mengangguk pelan, gerakan yang begitu kecil, nyaris
tidak terlihat.
"Desa ini keras," kata Amat Junior, suaranya
lembut namun tegas. "Tapi bukan berarti ibu harus hancur untuk
mengubahnya."
Amilia menatapnya. Matanya berkaca-kaca. "Kalau saya
tidak bertahan... siapa yang akan melakukannya?"
Amat Junior menatap lurus ke depan, ke arah sawah yang
mulai menguning di kejauhan. "Bertahan itu penting... tapi bertahan
sendirian itu berbahaya. Ibu bisa sakit. Ibu bisa patah. Dan kalau ibu patah,
siapa yang akan menolong ibu?"
Hening. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah dan
dedaunan kering. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, meninggalkan langit
yang mulai berwarna jingga.
Amilia akhirnya berkata dengan suara yang begitu pelan,
begitu rapuh, hingga hampir tidak terdengar oleh telinga Amat Junior yang
berada di sampingnya,
"Saya capek, Mat..."
Satu kalimat. Tiga kata. Namun penuh beban. Begitu penuh,
seperti gunung yang diletakkan di atas pundak seseorang yang sudah tidak kuat
lagi.
Amat Junior tidak langsung menjawab. Ia membiarkan
kata-kata itu menggantung di udara, membiarkan kejujuran itu meresap ke dalam
hatinya. Lalu, dengan suara yang lembut namun penuh keyakinan, ia berkata,
"Tidak apa-apa capek... yang tidak boleh itu berhenti.
Istirahatlah, Bu. Tapi jangan berhenti. Karena desa ini, setidaknya beberapa
dari kami, masih butuh ibu."
Di rumah dinas, setelah perjalanan pulang yang dibantu oleh
Amat Junior sampai ke depan pintu, Amilia akhirnya sendirian.
Ia duduk di lantai kayu. Tidak di kursi. Tidak di
balai-balai. Langsung di lantai, dengan punggung bersandar pada tiang kayu yang
dingin. Tas medis tergeletak di sampingnya, tidak ia buka, tidak ia rapi.
Sepatu karetnya masih melekat di kakinya, penuh lumpur yang mulai mengering.
Jilbabnya basah oleh keringat, rambutnya kusut, dan wajahnya pucat seperti kain
kafan.
Lampu minyak tanah yang ia nyalakan setengah jam yang lalu
menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding bambu.
Nyala apinya berkedip-kedip, sesekali hampir padam, lalu menyala lagi, seperti
hatinya yang terus berjuang antara bertahan dan menyerah.
Dan untuk beberapa saat, ia hanya duduk di sana. Diam.
Tidak menangis. Tidak bicara. Hanya diam. Kosong. Hampa. Seperti sumur yang
airnya sudah kering sejak lama, dan hanya menyisakan dinding-dinding yang
lembab dan gelap.
Di kepalanya, suara-suara itu terus terngiang.
"Keluar saja dari desa ini!"
"Kami tidak butuh orang seperti ini!"
"Gara-gara kamu..."
"Kalau tidak kuat... pulang saja..."
Suara-suara itu bergema, berulang-ulang, seperti rekaman
yang diputar terus-menerus tanpa henti. Ia mencoba mengusirnya, mencoba fokus
pada hal-hal lain, pada suara jangkrik di luar, pada suara angin yang berhembus,
pada suara dedaunan yang bergesekan, tapi suara-suara itu tetap ada, tetap
mengganggu, tetap menyiksa.
Dan kemudian, perlahan-lahan, tanpa bisa ia cegah, air mata
mulai jatuh.
Bukan tangis yang keras. Bukan isak yang histeris. Bukan
tangis yang ingin didengar orang lain. Tapi tangis yang pecah, pecah seperti
bendungan yang sudah terlalu lama menahan air, dan akhirnya jebol dengan
sendirinya.
Air mata itu mengalir di pipinya, satu per satu, kemudian
semakin deras, semakin deras, hingga akhirnya ia tidak bisa lagi mengontrolnya.
Ia menangis. Menangis dengan suara yang tertahan, dengan bahu yang bergetar,
dengan tangan yang memeluk lututnya erat-erat seolah sedang melindungi diri
dari sesuatu yang tidak terlihat.
"Kenapa... seberat ini..." bisiknya di antara
isak tangis. "Kenapa... aku tidak sekuat yang aku kira..."
Ia memeluk dirinya sendiri, begitu erat, seperti sedang
mencoba menahan tubuhnya agar tidak hancur berkeping-keping. Tidak ada yang
melihat. Tidak ada yang mendengar. Hanya dia. Hanya dinding-dinding kayu yang
berderit pelan, seolah ikut merasakan kesedihannya. Hanya tikus-tikus kecil
yang bersembunyi di kolong rumah, yang mungkin tidak peduli. Hanya angin malam
yang berhembus, yang mungkin terlalu dingin untuk memberikan kehangatan.
Dan luka yang tak terlihat itu, luka yang tidak bisa
diobati oleh obat apapun, yang tidak bisa dijahit oleh benang dan jarum, yang
tidak bisa didiagnosa oleh stetoskop dan tensimeter, luka itu semakin lebar,
semakin dalam, semakin terasa.
Di rumah Mbah Sari, suasana berbeda. Tidak ada tangis.
Tidak ada luka. Yang ada hanya ketenangan yang dingin, dan rencana yang semakin
matang.
Beberapa warga berkumpul di ruang tamu yang sempit, duduk
bersila di lantai anyaman bambu. Mbah Sari duduk di kursi kayu tertua, dengan sandaran
yang sudah lapuk dan ukiran-ukiran halus yang memudar oleh usia. Wajahnya
tenang, seperti air di telaga yang tidak pernah bergerak, namun di
kedalamannya, ada arus yang kuat, yang siap menyeret siapa pun yang lengah.
"Dia masih bertahan," kata Pak Sugeng, suaranya
penuh kekaguman yang enggan ia akui. "Padahal sudah hampir semua warga
menjauh. Tapi dia masih bertahan."
Mbah Sari tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke
matanya. "Orang yang kuat... justru harus dijatuhkan pelan-pelan. Jika
dipukul sekaligus, dia akan melawan. Jika dipotong sedikit demi sedikit... dia
tidak akan menyadari sampai terlalu terlambat."
"Lalu sekarang bagaimana, Mbah?"
Mbah Sari menatap tajam. Matanya yang tua itu tiba-tiba
menyala, bukan dengan api, tapi dengan dingin yang membekukan. "Kita
tunggu... sampai dia benar-benar membuat kesalahan. Bukan kesalahan medis, karena
sejauh ini dia cukup kompeten. Tapi kesalahan lain. Kesalahan dalam bersikap.
Kesalahan dalam berucap. Kesalahan yang bisa kita gunakan untuk menunjukkan
bahwa dia tidak pantas berada di sini."
Sunyi. Sepi. Suara jangkrik di luar terdengar seperti
gemuruh di telinga mereka.
"Dan jika dia tidak membuat kesalahan?" tanya
seseorang.
Mbah Sari menatapnya dengan sorot mata yang dalam, seperti
sumur tua yang tidak pernah kering. "Maka kita akan... membantu... nya
membuat kesalahan."
Rencana itu semakin gelap. Dan Amilia, di rumah dinasnya
yang sunyi, tidak tahu bahwa ia sedang dikepung, bukan hanya oleh
ketidakpercayaan, tapi oleh sesuatu yang lebih berbahaya: niat jahat yang
tersembunyi di balik senyum.
Tidak semua luka terlihat. Ada luka yang tersembunyi di
balik senyum, di balik sapaan hangat, di balik ketegaran yang dipaksakan. Ada
luka yang tidak bisa diobati oleh obat-obatan, yang tidak bisa dijahit oleh benang
dan jarum, yang tidak bisa disembuhkan oleh waktu, setidaknya tidak dengan
cepat.
Tidak semua tangisan terdengar. Ada tangis yang ditahan di
dalam hati, yang tidak pernah keluar melalui mata, yang hanya dirasakan oleh
pemiliknya sebagai beban yang semakin lama semakin berat. Ada tangis yang
terlalu bangga untuk diucapkan, terlalu takut untuk ditunjukkan, terlalu lelah
untuk dijelaskan.
Dan tidak semua perjuangan mendapatkan dukungan. Ada
perjuangan yang dilakukan sendirian, di tengah kerumunan yang tidak peduli atau
bahkan yang memusuhi. Ada perjuangan yang tidak pernah dilihat, tidak pernah
dihargai, tidak pernah dipahami.
Di Desa Awan Biru, Amilia masih berdiri. Masih tersenyum.
Masih berjuang.
Namun perlahan, begitu perlahan hingga hampir tidak terlihat,
ia mulai goyah.
Dan pertanyaan yang sama terus berputar di kepalanya,
seperti air yang mengalir melingkar di dalam sumur yang kering:
Sampai kapan? Sampai kapan aku bisa bertahan?
Tidak ada yang bisa menjawab. Tidak ada yang mendengar.
Hanya dia. Hanya malam. Hanya luka yang tak terlihat.
BAB 7: PERTARUHAN NYAWA
Langit pagi itu terasa ganjil. Tidak mendung, tidak juga
cerah, ada sesuatu yang menggantung di udara, sesuatu yang tidak bisa
dijelaskan dengan kata-kata, namun terasa oleh setiap orang yang peka. Seperti
aroma tanah sebelum hujan, seperti keheningan sebelum badai, seperti firasat
yang tidak bisa diabaikan meskipun tidak ada bukti yang mendukungnya.
Burung-burung tidak berkicau seperti biasa. Mereka
bertengger di dahan-dahan pohon beringin dengan diam, sesekali menoleh ke kanan
dan ke kiri, seperti sedang waspada terhadap sesuatu yang tidak terlihat oleh
mata manusia. Ayam-ayam jantan yang biasanya berkokok dengan riang pada pagi
hari, kali ini hanya bersuara sekali atau dua kali, lalu diam, seolah mereka
juga merasakan keanehan yang merayap di udara.
Di Desa Awan Biru, hari itu dimulai dengan keheningan yang
tidak biasa. Tidak ada suara orang bercanda di warung kopi, tidak ada tawa
anak-anak yang berlarian di lapangan, tidak ada suara lesung yang menumbuk padi
dari rumah-rumah warga. Yang ada hanya keheningan, keheningan yang berat, yang
mencekik, yang membuat setiap orang yang merasakannya ingin berteriak tapi
tidak tahu harus berteriak tentang apa.
Amilia terbangun sebelum matahari terbit, seperti biasa.
Namun kali ini, ia tidak langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia hanya
berbaring di atas balai-balai kayu yang dilapisi tikar tipis, matanya menatap
langit-langit anyaman bambu, telinganya mendengarkan keheningan yang aneh itu.
Ada yang tidak beres,
pikirnya. Tapi aku tidak tahu apa.
Ia duduk perlahan, tubuhnya masih terasa berat dari
kelelahan hari-hari sebelumnya. Kepalanya masih sedikit pusing, matanya masih
sembab, dan dadanya masih terasa sesak oleh beban yang tidak bisa ia lepaskan.
Namun ia tetap bangkit, karena itulah yang biasa ia lakukan. Bangkit.
Tersenyum. Berjalan. Meskipun hatinya terasa seperti pecahan kaca yang
direkatkan dengan lem yang sudah mengering.
Ia mengambil jilbab putihnya dari paku di dinding,
mengenakannya perlahan, lalu berdiri di depan cermin kecil, selembar kaca bekas
bingkai foto yang ia gantung dengan tali rafia. Di dalam cermin itu, ia melihat
seorang perempuan dengan wajah pucat, mata cekung, dan senyum yang tidak lagi
mudah tersungging.
Kamu masih bisa,
bisiknya pada dirinya sendiri. Kamu masih kuat. Kamu masih bisa.
Ia tidak tahu bahwa hari itu akan menjadi hari yang akan
mengubah segalanya. Hari di mana nyawa dipertaruhkan. Hari di mana ia harus
memilih antara mengikuti aturan atau mengikuti hati nuraninya. Hari di mana
segalanya, kepercayaan, pengabdian, dan identitasnya sebagai seorang bidan, akan
diuji hingga batas yang paling ekstrem.
Matahari mulai naik ketika sebuah truk tua berhenti dengan
suara berdecit panjang di pinggir Desa Awan Biru. Truk itu berwarna hijau
pupus, dengan karat di sana-sini, dan ban belakang sebelah kanan yang sedikit
kempes. Mesinnya mengeluarkan asap hitam pekat sebelum akhirnya mati dengan
suara batuk-batuk yang keras.
"Ckriiieeettt..." suara rem truk yang mengerang,
seperti jeritan logam yang kesakitan.
Di balik kemudi, seorang pria dengan rambut agak gondrong
dan kumis tipis turun sambil meregangkan badan. Ia mengenakan kaos oblong lusuh
berwarna abu-abu, celana jeans yang sudah pudar, dan sandal jepit yang salah
satu talinya terbuat dari tambang plastik. Wajahnya cokelat oleh terik matahari,
matanya sayu namun tajam, seperti seseorang yang terbiasa melihat hal-hal yang
tidak dilihat oleh orang lain.
Dialah Anto. Sopir truk langganan desa. Setiap hari Kamis,
ia datang ke Desa Awan Biru untuk mengangkut hasil bumi ke kota dan membawa
sembako untuk warga. Ia sudah melakukan ini selama lebih dari sepuluh tahun,
dan selama itu pula ia mengenal setiap sudut desa, setiap wajah warga, dan
setiap cerita yang tersembunyi di balik senyum.
Namun bukan itu yang membuat Anto dikenal. Bukan
pekerjaannya sebagai sopir truk. Bukan wajahnya yang biasa-biasa saja.
Melainkan, kebiasaannya yang aneh.
Anto memiliki kebiasaan yang membuat sebagian warga
menganggapnya "kurang waras" dan sebagian lainnya menganggapnya
"berkah". Ia suka berdiri di pinggir desa, memejamkan mata, menghirup
udara dalam-dalam, lalu berkata-kata yang terdengar seperti ramalan atau
mungkin hanya omong kosong belaka. Tidak ada yang tahu pasti.
Pagi itu, seperti biasa, Anto melakukan ritualnya.
Ia berjalan ke pinggir jalan, berdiri di bawah pohon randu
besar yang sudah berusia puluhan tahun, lalu memejamkan mata. Dadanya
mengembang ketika ia menghirup udara dalam-dalam, lalu mengempis ketika ia
menghembuskannya perlahan. Ia melakukan ini tiga kali, tarik, hembus, tarik,
hembus, tarik, hembus—dengan mata terpejam dan wajah yang sangat serius.
Beberapa warga yang lewat hanya menggeleng.
"Itu lagi... mulai lagi..."
"Peramal kampung..."
"Paling nanti bilangnya bakal hujan atau bakal kemarau..."
"Ah, omong kosong."
Namun Anto tidak peduli. Ia sudah terbiasa dengan ejekan
dan cemoohan. Baginya, apa yang ia lakukan bukanlah meramal, bukan dalam arti
membaca kartu atau melihat bola kristal. Ia hanya... membaca tanda. Tanda-tanda
yang diberikan oleh alam, oleh angin, oleh aroma tanah, oleh perilaku burung,
oleh getaran yang tidak dirasakan oleh orang kebanyakan.
Setelah beberapa saat, Anto membuka matanya. Matanya yang
tadinya sayu kini tiba-tiba terlihat lebih tajam, seperti elang yang baru saja
melihat mangsa dari kejauhan. Ia menatap ke arah desa, matanya bergerak
perlahan dari satu titik ke titik lain, seperti sedang memindai sesuatu yang
tidak terlihat oleh orang lain.
"Hari ini... anginnya beda," gumamnya, lebih
kepada dirinya sendiri.
Seorang pemuda yang kebetulan lewat mendengar gumamannya.
"Angin? Biasa saja, To. Kayak kemarin."
Anto tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa diartikan,
antara bijak dan gila. "Bukan angin fisik. Angin... perasaan. Ada yang
bergerak di desa ini. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang akan mengubah
segalanya."
Pemuda itu hanya menggeleng dan melanjutkan jalannya, tidak
ingin terlibat dengan "kegilaan" Anto.
Anto tidak terkejut. Ia sudah terbiasa. Namun kali ini, ia
tidak bisa mengabaikan apa yang ia rasakan. Ia menatap ke arah rumah dinas, ke
arah tempat Amilia tinggal, lalu berbisik,
"Hari ini... akan ada yang pergi. Bukan dalam arti
fisik. Tapi... ada yang akan hilang. Dan tidak akan pernah kembali."
Ia tidak tahu persis apa maksud kata-katanya sendiri. Tapi
ia sudah belajar untuk tidak mengabaikan firasatnya.
Siang itu, matahari berada tepat di atas kepala,
memancarkan panas yang terik dan menyengat. Udara terasa seperti di dalam oven,
kering, panas, dan membuat kulit terasa perih jika terkena sinar matahari langsung.
Bahkan pepohonan pun tampak layu, daun-daunnya menggulung, seolah sedang
berusaha melindungi diri dari sengatan panas yang tak kenal ampun.
Namun di rumah Pak Sugeng, suasana justru lebih panas dari
cuaca di luar. Jauh lebih panas.
Di dalam sebuah ruangan yang sempit dan pengap, dengan
dinding anyaman bambu yang bolong-bolong dan atap seng yang memerangkap panas,
seorang ibu muda terbaring lemah di atas balai-balai kayu yang dilapisi tikar
anyaman. Wajahnya pucat seperti kain kafan, begitu pucat hingga hampir tidak
ada perbedaan warna antara kulitnya dan bantal putih di bawah kepalanya.
Bibirnya kebiruan dan pecah-pecah, menganga sedikit, mengeluarkan napas-napas
pendek yang tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya,
membasahi pakaiannya hingga basah dan menempel di kulitnya yang mulai dingin.
Darah. Darah masih mengalir dari bawah tubuhnya, bukan
deras, tapi juga tidak berhenti. Seperti keran yang tidak bisa ditutup rapat,
menetes terus-menerus, pelan tapi pasti, menguras kehidupan dari tubuh yang
sudah lemah itu.
Perempuan itu baru saja melahirkan beberapa jam yang lalu.
Persalinan dibantu oleh Mbah Sari, dengan ramuan dan pijatan, seperti yang
sudah dilakukan selama puluhan tahun. Bayinya lahir, laki-laki, gemuk, sehat,
dengan tangisan yang keras dan kuat. Semua orang bersorak. Semua orang
bersyukur.
Tapi kegembiraan itu berubah menjadi kepanikan ketika darah
tidak berhenti mengalir.
"Kenapa masih pendarahan...?" bisik seorang
perempuan tua yang duduk di samping ibu itu, suaranya penuh kekhawatiran.
Tangannya yang keriput memegang tangan ibu itu yang dingin dan lembab.
"Sudah berjam-jam... masih keluar terus..."
Mbah Sari, yang duduk tidak jauh dari situ, mencoba
menenangkan suasana. Wajahnya yang biasanya tenang itu kini sedikit tegang, hanya
sedikit, tapi cukup untuk dilihat oleh orang-orang yang peka. Tangannya yang
keriput memegang mangkuk kecil berisi ramuan berwarna kecokelatan, yang ia
sodorkan ke bibir ibu itu.
"Minum ini," katanya, suaranya berusaha tegas
namun ada getaran di dalamnya. "Ini untuk menghentikan darah. Nanti juga
berhenti. Ini biasa. Tubuh perempuan butuh waktu untuk pulih."
Ibu itu mencoba minum, tapi ramuannya tumpah di dagunya
karena ia terlalu lemah untuk menelan. Beberapa tetes masuk ke mulutnya, tapi
sisanya membasahi bantal dan tikar di bawahnya.
Waktu berlalu. Menit berganti menit. Jam berganti jam.
Dan darah... tidak berhenti.
Wajah ibu itu semakin pucat. Napasnya semakin pendek.
Matanya, yang tadinya masih bisa terbuka, kini mulai terpejam lebih sering
daripada terbuka. Tangannya, yang tadinya masih bisa menggenggam, kini
tergeletak lemas di samping tubuhnya.
"Ya Allah... dia semakin lemah..." bisik seorang
perempuan lain, suaranya mulai pecah.
Kepanikan mulai menyebar seperti api di padang rumput kering.
Suara-suara mulai bersahutan, saling memotong, saling menyalahkan, saling tidak
tahu harus berbuat apa.
"Panggil bidan!"
"Jangan! Nanti malah makin kacau!"
"Tapi lihat dia! Dia sekarat!"
"Mbah Sari pasti bisa!"
Perdebatan sengit terjadi di ruangan yang sempit itu.
Beberapa orang ingin memanggil Amilia, yang lain bersikeras bahwa Mbah Sari
bisa menangani sendiri. Sementara itu, darah terus mengalir. Dan waktu terus
berjalan. Dan nyawa... nyawa itu semakin tipis.
Di luar rumah Pak Sugeng, di jalan-jalan desa yang becek
dan panas, berita mulai menyebar dengan kecepatan yang luar biasa. Mulut ke
mulut, dari rumah ke rumah, dari warung ke warung, seperti api yang menjalar di
semak-semak kering, tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Bu Sari tidak bisa menghentikan pendarahan..."
"Kondisinya makin parah... katanya sudah pingsan beberapa kali..."
"Harus panggil bidan... harus panggil Bu Amilia..."
Namun setiap kali kata-kata itu diucapkan, selalu ada yang
menyanggah.
"Jangan! Nanti malah makin kacau! Ini urusan Mbah
Sari!"
"Tapi kalau sampai meninggal... siapa yang bertanggung jawab?"
"Itu sudah takdir! Bukan salah siapa-siapa!"
Di tengah kebingungan dan perdebatan, seorang anak kecil, laki-laki
sekitar sepuluh tahun, dengan rambut kusut dan pakaian compang-camping, berlari
sekencang mungkin menuju rumah dinas Amilia. Kakinya yang telanjang menginjak
lumpur dan kerikil, kadang terpeleset, kadang hampir jatuh, tapi ia terus
berlari.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia hanya tahu bahwa
ibunya, ibunya sendiri, yang sedang terbaring lemah di rumah Pak Sugeng, membutuhkan
pertolongan. Dan ia mendengar dari obrolan orang dewasa bahwa "bidan
baru" adalah satu-satunya yang bisa membantu.
"Bu Amilia! Bu Amilia!" teriaknya begitu sampai
di depan rumah dinas, suaranya serak dan napasnya tersengal-sengal.
Amilia sedang duduk di lantai kayu rumah dinasnya,
bersandar pada tiang, matanya setengah terpejam. Ia baru saja selesai makan
siang nasi dengan sedikit sayur dan ikan asin, tapi makanannya hanya dihabiskan
setengah piring. Tidak ada nafsu makan. Yang ada hanya kelelahan yang tidak
kunjung hilang.
Tiba-tiba, dari luar, ia mendengar suara anak kecil
berteriak.
"BU AMILIA! BU AMILIA!"
Amilia tersentak. Ia bangkit dengan cepat, mungkin terlalu
cepat, karena kepalanya terasa berputar sejenak dan berlari ke pintu. Di luar
berdiri seorang anak laki-laki dengan wajah panik, basah oleh keringat dan air
mata, napasnya tersengal-sengal seperti baru saja berlari maraton.
"Ada apa, Dik?" tanya Amilia, berjongkok agar
sejajar dengan anak itu.
"Ibu... ibu yang di rumah Pak Sugeng... sekarat, Bu!
Pendarahan! Mbah Sari tidak bisa menghentikan! Tolong, Bu! Tolong!"
Amilia tidak menunggu lebih lama lagi. Hatinya berdegup
kencang, bukan karena takut, tapi karena urgensi yang mendesak. Ia berlari ke
dalam rumah, mengambil tas medisnya, memeriksa isinya sekilas, stetoskop,
tensimeter, obat-obatan darurat, peralatan infus, semuanya ada, lalu berlari
keluar.
"Ayo! Tunjukkan jalannya!" teriaknya sambil
berlari mengikuti anak kecil yang sudah berlari lebih dulu.
Di dalam hatinya, ia berdoa, Ya Allah, jangan sampai
terlambat. Jangan sampai aku kehilangan dia. Jangan sampai...
Jalan menuju rumah Pak Sugeng terasa lebih panjang dari
biasanya. Setiap langkah terasa seperti berlari di dalam mimpi buruk, kaki
terasa berat, napas terasa sesak, dan waktu seolah berjalan lebih cepat dari
yang ia bisa kejar. Amilia berlari sekencang mungkin, tas medis di tangannya
yang berat, jilbabnya yang mulai lepas, sepatu karetnya yang penuh lumpur.
"Bu Amilia! Cepat, Bu!" teriak anak kecil itu
dari depan, suaranya nyaris tenggelam oleh deburan jantung Amilia sendiri.
Akhirnya, setelah apa yang terasa seperti satu jam (padahal
hanya beberapa menit), Amilia sampai di rumah Pak Sugeng. Rumah panggung
sederhana dengan dinding anyaman bambu yang sudah rapuh dan tangga kayu yang
licin. Dari luar, ia sudah bisa mendengar suara-suara, ada yang menangis, ada
yang berdoa, ada yang berbisik-bisik dengan suara panik.
Ia naik tangga dengan tiga lompatan, hampir jatuh karena
anak tangga yang terlewat, lalu mendorong pintu dan masuk.
Sunyi.
Ruangan itu sunyi ketika ia masuk. Sunyi yang aneh, bukan
sunyi karena tidak ada suara, tapi sunyi karena semua orang berhenti bicara
pada saat yang bersamaan. Sepuluh pasang mata menatapnya, ada yang penuh harap,
ada yang penuh curiga, ada yang penuh ketakutan, ada yang penuh kebencian.
Dan di tengah ruangan, di atas balai-balai kayu yang
dilapisi tikar anyaman, terbaring seorang ibu muda dengan wajah pucat seperti
mayat. Matanya terpejam. Dadanya tidak bergerak. Tidak ada napas yang keluar
dari bibirnya yang kebiruan.
Amilia tidak menunggu. Ia berlutut di samping ibu itu,
tangannya yang gemetar meraba leher ibu itu, mencari nadi karotis. Jari-jarinya
menekan perlahan, lalu lebih keras, lalu bergerak ke tempat yang berbeda.
Tidak ada.
Ia meraba pergelangan tangan. Tidak ada.
Ia mendekatkan telinganya ke dada ibu itu, mendengarkan
dengan saksama, berharap, berharap, mendengar sesuatu. Suara jantung. Suara
napas. Suara kehidupan.
Hening. Sepi. Tidak ada apa-apa.
Amilia duduk terdiam. Tangannya masih berada di dada ibu
itu, gemetar hebat. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menunduk, menekan dahinya ke
punggung tangannya yang masih berada di dada pasien, dan berbisik dengan suara
yang nyaris tak terdengar,
"...terlambat..."
Satu kata. Tiga suku kata. Namun terasa seperti petir yang
menyambar di siang bolong. Menggema di ruangan itu, memecah keheningan, dan
membuka pintu bagi ledakan emosi yang sudah lama tertahan.
"TERLAMBAT?!"
Suara keras menggema, memecah kesunyian seperti palu yang
menghantam kaca. Suami pasien, seorang lelaki muda dengan tubuh kurus dan wajah
yang masih basah oleh air mata, berdiri dari sudut ruangan dengan mata merah
menyala. Wajahnya berubah, dari kesedihan menjadi amarah, dari amarah menjadi
kebencian yang membara.
"KENAPA BARU DATANG?!" teriaknya, suaranya pecah
di akhir kalimat. Ia melangkah maju, tangannya mengepal, urat-urat di lehernya
menonjol. "ISTRI SAYA SUDAH SAKIT SEJAK PAGI! KENAPA BARU DATANG
SEKARANG?!"
Amilia terkejut. Ia mundur selangkah, secara refleks,
karena teriakan itu begitu keras dan begitu dekat. "Saya... baru
dipanggil..." jawabnya, suaranya bergetar. "Saya tidak tahu... tidak
ada yang memberi tahu saya..."
"BOHONG!" teriak lelaki itu lagi. "KALIAN
SEMUA SAMA! KALIAN BIDAN-BIDAN DARI KOTA! KALIAN TIDAK PEDULI! KALIAN DATANG
CUMA KARENA TUGAS, BUKAN KARENA HATI!"
Warga mulai berkumpul di pintu dan jendela. Wajah-wajah
mereka muncul satu per satu, seperti bayangan-bayangan yang muncul dari
kegelapan. Ada yang menangis, ada yang diam, ada yang ikut marah, ada yang
hanya melihat dengan mata kosong.
Suasana memanas. Suara-suara mulai bersahutan, saling
memotong, saling menyalahkan.
"Kalau dari awal ditangani benar... pasti tidak
begini..."
"Kalau tidak dicampuri bidan itu... Mbah Sari pasti bisa..."
"Ini gara-gara kemarin itu... gara-gara dia memaksa-maksa..."
Fitnah yang selama ini berbisik di balik pintu, di warung
kopi, di pertemuan-pertemuan tertutup, kini meledak ke permukaan. Tidak lagi
bisikan. Tidak lagi kode-kode halus. Tapi tuduhan terbuka, di depan umum,
dengan suara yang keras dan mata yang penuh kebencian.
Mbah Sari berdiri di sudut ruangan. Tidak bergerak. Tidak
bicara. Wajahnya datar, datar yang menakutkan. Matanya yang tajam menatap
Amilia, dan di dalam tatapan itu, ada sesuatu yang sulit diartikan. Bukan
kemenangan. Bukan juga kekalahan. Tapi... kepuasan yang dingin.
Amilia dikepung. Dari kiri, kanan, depan, belakang, suara-suara
tuduhan datang dari segala arah. Ia tidak bisa lari. Ia tidak bisa bersembunyi.
Ia hanya bisa berdiri di sana, dengan tas medis di tangan, dengan hati yang
hancur berkeping-keping, dan berusaha, berusaha, untuk tetap tegap.
"Saya tidak ada di sini sebelumnya," katanya,
suaranya bergetar tapi berusaha tegas. "Saya baru dipanggil sepuluh menit
yang lalu oleh anak kecil ini. Saya datang secepat mungkin. Saya berlari. Saya
tidak tahu bahwa ada yang melahirkan hari ini. Tidak ada yang memberi tahu
saya."
"TIDAK ADA YANG PERLU MEMBERI TAHU!" teriak
seseorang dari kerumunan. "KAMU BIDAN! KAMU HARUS TAHU! KAMU HARUS SIAGA
24 JAM! ITU TUGASMU!"
"Sejak dia datang... desa ini tidak tenang!"
sahut yang lain. "Dulu tidak pernah begini! Dulu semua baik-baik
saja!"
Amilia mundur selangkah lagi. Punggungnya hampir menyentuh
dinding bambu. Matanya berkaca-kaca, air mata sudah tidak bisa lagi ia tahan.
Tapi ia tidak menangis. Belum. Ia menahan dengan sekuat tenaga.
"Saya hanya ingin membantu..." bisiknya, suaranya
nyaris tak terdengar di tengah keributan.
Namun suaranya tenggelam. Tenggelam dalam lautan amarah,
dalam lautan tuduhan, dalam lautan ketakutan yang berubah menjadi kebencian.
Anto berdiri di dekat truknya, di pinggir jalan desa, tidak
jauh dari rumah Pak Sugeng. Ia tidak ikut masuk ke dalam kerumunan, bukan
karena tidak peduli, tapi karena ia tahu bahwa kehadirannya tidak akan
membantu. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyaksikan. Dan merenungkan.
Matanya yang tajam menatap ke arah rumah itu, mendengar
suara-suara teriakan yang keluar dari balik dinding bambu. Kadang ia bisa
menangkap sepatah dua kata, "terlambat", "gara-gara kamu",
"tidak butuh" dan setiap kata itu menusuk hatinya, meskipun bukan ia
yang menjadi sasaran.
Ia menghela napas panjang. Asap rokok yang ia hisap
mengepul tipis, membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang perlahan-lahan menghilang
di udara.
"Sudah kejadian," gumamnya, lebih kepada dirinya
sendiri.
Amat Junior, yang datang dari arah berlawanan setelah
mendengar keributan, menghampiri Anto. Wajahnya tegang, matanya cemas.
"Maksudmu, To?"
Anto tidak menoleh. Matanya masih tertuju pada rumah Pak
Sugeng. "Yang pergi... sudah ditentukan. Sejak awal. Tidak ada yang bisa
mengubahnya."
Amat Junior mengerutkan kening. "Jangan mulai aneh
lagi, To. Ini serius. Ada orang meninggal."
Anto menoleh, menatap Amat Junior dengan sorot mata yang
dalam, seperti sumur tua yang tidak pernah kering. "Yang aneh bukan saya,
Mat... tapi manusia yang suka menyalahkan yang masih hidup, karena mereka tidak
berani menghadapi kenyataan bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan."
Amat Junior terdiam. Kalimat itu terasa dalam, terlalu
dalam untuk sekadar dianggap omong kosong.
"Kematian itu tidak pernah mudah," lanjut Anto,
suaranya pelan namun penuh makna. "Tapi menyalahkan orang lain... itu
lebih mudah daripada menerima bahwa kita tidak bisa mengontrol segalanya. Dan
itulah yang sedang terjadi di dalam sana. Mereka tidak marah pada bidan itu.
Mereka marah pada kematian. Tapi karena kematian tidak bisa mereka lawan...
mereka mencari kambing hitam."
Amat Junior menunduk, memikirkan kata-kata Anto.
"Jadi... Bu Amilia hanya kambing hitam?"
Anto mengangguk pelan. "Iya. Tapi menjadi kambing
hitam di desa seperti ini... lebih berbahaya daripada menjadi musuh. Karena
musuh bisa dilawan. Tapi kambing hitam... hanya bisa dihancurkan."
Kembali ke dalam rumah Pak Sugeng, suasana semakin panas.
Tidak lagi hanya teriakan, tapi sudah ada yang mendorong, menarik baju, dan
gestur-gestur agresif lainnya. Amilia benar-benar terpojok. Punggungnya sudah
menempel di dinding, tas medisnya ia dekap di dada seperti perisai terakhir, dan
matanya, matanya yang cokelat tua dan dalam, berkaca-kaca, tapi ia tidak
menangis. Belum.
"Keluar saja dari desa ini!" teriak seseorang
dari belakang kerumunan. "Kami tidak butuh orang seperti ini!"
"Iya! Pulang saja ke kota! Bawa tas merahmu! Bawa ilmumu!
Kami tidak butuh!"
"Sejak kamu datang, sial terus! Ini tandanya kamu
tidak diterima!"
Setiap kata seperti pukulan. Setiap suara seperti tamparan.
Setiap tatapan seperti pisau yang menusuk pelan-pelan.
Amilia ingin berteriak. Ingin menjelaskan. Ingin membela
diri. Tapi suaranya tidak keluar. Hanya air mata yang mulai jatuh, tanpa suara,
tanpa isak, hanya tetesan-tetesan kecil yang mengalir di pipinya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya
berdiri. Menahan air mata. Dan bertahan.
Pak Iwan akhirnya masuk. Wajahnya tegang, matanya lelah,
dan langkahnya berat. Ia berdiri di tengah ruangan, mengangkat kedua tangannya,
dan berteriak dengan suara yang menggema—
"CUKUP!"
Suasana langsung diam. Tidak sepenuhnya, masih ada
bisik-bisik, masih ada tatapan tajam—tapi setidaknya teriakan berhenti.
"Kita sedang berduka!" kata Pak Iwan, suaranya
tegas namun ada nada letih di dalamnya. "Jangan tambah keruh! Jangan
saling menyalahkan! Urus dulu jenazahnya! Doakan! Yang lain... tenang!"
Namun api sudah terlanjur menyala. Dan di mata beberapa
warga, Amilia bukan lagi bidan desa. Ia adalah biang masalah. Sumber petaka.
Orang asing yang membawa sial.
Dan Amilia, yang berdiri di sudut ruangan dengan tubuh gemetar
dan hati hancur, tahu bahwa malam ini, segalanya telah berubah. Tidak akan
pernah kembali seperti semula.
Malam itu, Desa Awan Biru benar-benar berubah. Tidak ada
tawa, tidak ada canda, tidak ada suara anak-anak bermain di lapangan. Yang ada
hanya keheningan yang berat, keheningan yang terasa seperti kain kafan yang
membungkus seluruh desa.
Lampu-lampu minyak tanah menyala redup di rumah-rumah
warga, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding. Namun di
balik setiap pintu yang tertutup, ada bisik-bisik. Bisik-bisik yang lebih tajam
dari sebelumnya, lebih keras dari sebelumnya, dan lebih berbahaya dari
sebelumnya.
"Katanya bidan itu yang salah..."
"Katanya kalau dari awal ditangani Mbah Sari saja, tidak akan
begini..."
"Katanya bidan itu bawa sial..."
Cerita-cerita itu berputar, berubah, membesar, dan semakin
jauh dari fakta. Seperti bola salju yang menggelinding menuruni bukit, semakin
lama semakin besar, semakin cepat, dan semakin sulit dihentikan.
Amilia duduk sendiri di lantai kayu rumah dinasnya. Lampu
minyak tanah menyala redup di sampingnya, tapi ia tidak merasakan hangatnya.
Tas medis tergeletak di sampingnya, masih terbuka—sejak pulang dari rumah Pak
Sugeng, ia belum sempat membereskannya. Alat-alat medis berserakan di lantai,
seperti puing-puing setelah badai.
Ia tidak menangis. Tidak bicara. Hanya diam.
Kosong.
Matanya menatap kosong ke arah dinding bambu yang
bolong-bolong, tapi tidak melihat apa-apa. Pikirannya kosong, atau mungkin
terlalu penuh hingga tidak bisa lagi memproses apa pun. Yang ia rasakan
hanyalah... hampa. Sebuah kekosongan yang begitu dalam, begitu luas, begitu
mencekik, seperti jatuh ke dalam sumur tanpa dasar.
Di kepalanya, suara-suara itu terus terngiang. Lebih keras
dari sebelumnya. Lebih tajam. Lebih menyakitkan.
"Keluar saja dari desa ini!"
"Kami tidak butuh orang seperti ini!"
"Gara-gara kamu!"
"Kamu bawa sial!"
Perlahan, tanpa sadar, bibirnya bergerak. Ia berbisik,
dengan suara yang begitu pelan hingga hampir tidak terdengar, bahkan oleh
dirinya sendiri,
"Mungkin... mereka benar..."
Kata-kata itu keluar begitu saja, seperti angin yang
berhembus dari celah-celah dinding. Namun setelah keluar, ia tidak bisa
menariknya kembali. Kata-kata itu menggantung di udara, menjadi kenyataan yang
tidak bisa diingkari.
Mungkin aku memang tidak pantas di sini.
Mungkin aku memang sebaiknya pergi.
Mungkin... semua ini adalah kesalahanku.
Ia memeluk lututnya. Menunduk. Menekan wajahnya ke lutut
yang dingin. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak menahan apa pun. Ia
membiarkan air matanya jatuh, deras, tanpa henti, seperti hujan yang tidak
pernah berhenti.
Tapi tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang melihat.
Hanya dia. Hanya dinding-dinding kayu yang berderit pelan. Hanya malam yang
gelap dan sunyi.
Anto duduk di atas bak truknya, di pinggir desa, di bawah
langit malam yang gelap tanpa bintang. Rokok di tangannya sudah hampir habis,
tinggal puntung yang masih menyala redup. Ia menatap langit, langit yang sama
yang ia lihat setiap malam, namun kali ini terasa berbeda.
"Kadang... yang datang membawa harapan... justru
dianggap pembawa masalah," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Ia
tertawa kecil, tawa yang pahit, tawa yang tidak mengandung kebahagiaan.
"Manusia..."
Ia membuang puntung rokoknya ke tanah, mematikan api kecil
itu dengan ujung sepatunya. Lalu ia menatap ke arah desa, ke arah rumah-rumah
yang lampunya mulai satu per satu padam.
"Yang kuat belum tentu menang," bisiknya.
"Dan yang benar belum tentu didengar. Tapi yang bertahan... yang bertahan
akan melihat fajar."
Ia tidak tahu apakah Amilia akan bertahan. Tapi ia berdoa, berdoa
dalam diam, dengan cara yang hanya ia pahami, bahwa perempuan itu tidak akan
menyerah. Karena jika ia menyerah, desa ini akan kehilangan sesuatu yang tidak
bisa digantikan.
Dan Anto, dengan segala keanehannya, tahu itu.
Satu nyawa telah pergi.
Seorang ibu muda meninggal karena pendarahan setelah
melahirkan. Meninggal di rumahnya sendiri, di atas balai-balai kayu yang
dingin, di bawah atap seng yang bocor, dengan ramuan Mbah Sari yang masih
tersisa di bibirnya yang kebiruan.
Satu nyawa telah pergi. Dan di Desa Awan Biru, kematian itu
tidak hanya membawa duka. Ia juga membawa perpecahan. Ia juga membawa tuduhan.
Ia juga membawa kebencian yang lebih dalam dari sebelumnya.
Namun yang lebih berbahaya dari kematian itu sendiri...
adalah hilangnya kepercayaan. Kepercayaan pada ilmu. Kepercayaan pada kebaikan.
Kepercayaan pada sesama manusia.
Dan di Desa Awan Biru, Amilia kini tidak hanya berjuang
untuk menyelamatkan orang lain.
Ia juga berjuang untuk mempertahankan dirinya sendiri.
Pertanyaannya: akankah ia bertahan? Atau akankah ia
menyerah, seperti yang diharapkan oleh mereka yang membencinya?
Malam itu, di rumah dinas yang gelap dan sunyi, Amilia
tidak memiliki jawaban.
Yang ia miliki hanyalah air mata.
Dan keraguan.
Dan sebuah pertanyaan yang terus berputar di kepalanya,
tanpa jawaban—
Haruskah aku pergi?
BAB 8: DI ANTARA HARAPAN DAN PENOLAKAN
Desa Awan Biru tidak lagi sama. Sesuatu telah mati malam
itu, bukan hanya seorang ibu muda yang meninggal karena pendarahan, bukan hanya
mimpi-mimpi yang belum sempat diwujudkan, bukan hanya senyum yang tidak akan
pernah tersungging lagi. Sesuatu yang lebih besar, lebih abstrak, lebih sulit
dijelaskan dengan kata-kata telah mati. Mungkin kepercayaan. Mungkin kepolosan.
Mungkin ilusi bahwa desa ini damai dan harmonis, bahwa tradisi tidak pernah
salah, bahwa semua orang bisa hidup berdampingan tanpa konflik.
Kematian itu bukan hanya merenggut satu nyawa. Ia juga
membelah hati banyak orang. Ia menciptakan jurang yang tidak terlihat namun
terasa, jurang yang memisahkan satu kelompok dengan kelompok lainnya, satu
keyakinan dengan keyakinan lainnya, satu kebenaran dengan kebenaran lainnya.
Dan di dasar jurang itu, tergeletak mayat-mayat kecil bernama harapan, yang
perlahan-lahan mengering dan mati karena tidak ada yang menyiraminya.
Pagi harinya, matahari tetap terbit. Ia tidak peduli dengan
drama manusia yang terjadi di bawahnya. Ia naik di balik bukit-bukit hijau
dengan kemegahan yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya, seolah tidak ada yang
berubah. Namun di Desa Awan Biru, segalanya telah berubah. Udara terasa lebih
berat, langkah kaki lebih lambat, suara lebih pelan, dan senyum, senyum itu
telah menghilang dari banyak wajah.
Matahari sudah cukup tinggi ketika Amilia akhirnya keluar
dari rumah dinasnya. Wajahnya pucat, matanya sembab dan cekung, bibirnya
pecah-pecah, dan langkahnya terhuyung-huyung seperti orang yang baru sembuh
dari sakit parah. Semalam ia hampir tidak tidur. Ia berbaring di lantai kayu
yang dingin, matanya terbuka lebar menatap langit-langit anyaman bambu,
mendengarkan suara jangkrik yang tidak pernah berhenti, dan berusaha, berusaha,
untuk tidak berpikir.
Tapi pikiran tidak bisa dihentikan sesuka hati. Ia terus
memutar ulang kejadian kemarin, seperti film yang diputar berulang-ulang di
kepalanya. Wajah suami pasien yang marah. Mata Mbah Sari yang dingin.
Teriakan-teriakan yang penuh kebencian. Tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar.
Dan yang paling menyakitkan, kematian itu sendiri. Seorang ibu muda. Meninggal.
Darah yang tidak berhenti mengalir. Nyawa yang melayang sebelum sempat
ditolong.
Apakah aku bisa menyelamatkannya jika aku datang lebih
cepat? pikirnya, untuk kesekian
kalinya. Apakah ada yang bisa aku lakukan? Apakah ini salahku?
Ia tahu jawabannya secara rasional. Ia tidak tahu bahwa ada
persalinan. Tidak ada yang memanggilnya. Ia datang secepat mungkin setelah
dipanggil. Secara medis, ia tidak bersalah. Tapi rasionalitas tidak selalu bisa
mengalahkan perasaan. Dan perasaannya mengatakan, berteriak, bahwa ia gagal.
Bahwa ia seharusnya bisa melakukan lebih. Bahwa ia seharusnya hadir sebelum
semuanya terlambat.
Ia berjalan di jalan desa yang becek, langkahnya pelan dan
tanpa tujuan. Tas medis tidak ia bawa pagi itu. Untuk pertama kalinya sejak
tiba di desa ini, ia meninggalkan tas merahnya di rumah. Bukan karena lupa,
tapi karena ia tidak tahu untuk apa membawanya. Siapa yang akan ia tolong?
Siapa yang mau ditolong? Siapa yang masih percaya padanya?
Orang-orang berjalan seperti biasa di desa itu, ada yang ke
sawah, ada yang ke pasar, ada yang sekadar duduk-duduk di teras rumah. Namun
tidak ada yang "biasa" lagi. Setiap kali Amilia melintas, orang-orang
menunduk, berpaling, atau berbalik arah. Bukan karena mereka tidak melihatnya, mereka
melihat dengan jelas. Tapi mereka memilih untuk tidak melihat. Mereka memilih
untuk pura-pura sibuk, pura-pura tidak mendengar, pura-pura bahwa Amilia tidak
ada.
Kelompok-kelompok kecil mulai terlihat jelas di berbagai
sudut desa. Bukan kelompok resmi, bukan organisasi, hanya kumpulan orang-orang
yang memiliki kesamaan pandangan. Yang satu berkumpul di teras rumah Pak
Sugeng, berbisik-bisik dengan wajah-wajah tegang dan mata yang sesekali melirik
ke arah Amilia. Yang satu lagi berkumpul di warung kopi Mbah Karyo, dengan
suara yang sengaja dibuat pelan tapi tidak terlalu pelan, cukup untuk didengar,
tapi tidak cukup untuk ditegur.
Yang satu... berbisik menyalahkan.
Yang lain... diam, tapi ragu.
Dan di tengah-tengah mereka, Amilia berjalan. Kali ini, ia
tidak lagi menyapa. Bukan karena sombong. Bukan karena marah. Bukan karena ia
sudah menyerah. Tapi karena ia tahu, ia sangat tahu, bahwa tidak ada yang akan
menjawab. Setiap sapaan hanya akan berakhir dengan keheningan yang menyakitkan,
dengan tatapan yang dihindari, dengan punggung yang berbalik. Dan ia tidak kuat
mendengar keheningan itu lagi. Tidak pagi ini.
Jadi ia berjalan dalam diam. Matanya lurus ke depan.
Bibirnya terkunci. Hatinya... hatinya terasa seperti luka yang tidak pernah
sembuh, yang setiap hari dibuka kembali oleh kata-kata dan tatapan yang tidak
perlu diucapkan.
Warung kopi Mbah Karyo, yang biasanya ramai dengan tawa dan
canda, pagi itu terasa seperti ruang pengadilan. Suasananya tegang, berat, dan
setiap orang yang masuk seolah membawa beban yang tidak bisa ditinggalkan di
pintu. Beberapa lelaki desa duduk bersila di bangku-bangku kayu panjang, dengan
kopi di tangan yang sudah dingin karena terlalu lama tidak disentuh.
Topik pembicaraan, seperti dugaan siapa pun, adalah
kematian semalam. Dan tentu saja, siapa yang harus disalahkan.
"Sudah jelas itu akibat campur tangan!" kata Pak
Sugeng keras, suaranya menggema di ruangan yang sempit itu. Wajahnya merah
padam, bukan karena malu, tapi karena amarah yang tertahan. Tangannya yang
memegang cangkir kopi gemetar, dan beberapa tetes kopi tumpah ke meja kayu yang
sudah lusuh. "Sejak bidan itu datang, desa ini tidak tenang! Sekarang ada
yang meninggal! Apa lagi yang mau kalian tunggu?!"
Pak Santoso, yang duduk tidak jauh dari Pak Sugeng,
menyesap kopinya dengan tenang, terlalu tenang, seperti orang yang sedang
berusaha keras untuk tidak terpancing emosi. Matanya yang teduh itu menatap Pak
Sugeng dengan sorot yang sulit diartikan. "Jangan asal menyimpulkan,
Pak," katanya, suaranya pelan namun tegas. "Kita tidak tahu persis
apa yang terjadi. Menyalahkan tanpa bukti hanya akan memperkeruh suasana."
"Bukti?" Pak Sugeng nyaris berteriak.
"Faktanya ada kejadian setelah dia datang! Sebelum dia datang, tidak
pernah ada kematian seperti ini! Itu sudah bukti yang cukup!"
"Fakta atau kebetulan?" balas Pak Santoso, masih
dengan suara yang sama tenangnya. "Kebetulan bukan kaulitas. Hanya karena
dua hal terjadi berurutan, belum tentu yang satu menyebabkan yang lain. Itu
logika dasar."
"LOGIKA?!" Pak Sugeng berdiri, hampir menjatuhkan
kursinya. Wajahnya semakin merah, urat-urat di lehernya menonjol. "KAMU
BICARA LOGIKA DI DEPAN MAYAT? ISTRI SAYA MENINGGAL! ANAKNYA SEKARANG TIDAK
PUNYA IBU! DAN KAMU BICARA LOGIKA?!"
Pak Santoso tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap kopi
di tangannya yang sudah hampir habis. Bukan karena ia kalah berdebat, tapi
karena ia tahu, debat tidak akan mengembalikan nyawa yang telah pergi. Debat
tidak akan menghibur suami yang berduka. Debat hanya akan memperlebar jurang
yang sudah ada.
Mbah Karyo, yang dari tadi hanya diam di belakang meja,
menghela napas panjang. Tangannya yang keriput mengelap gelas yang sama
berulang-ulang, tanpa tujuan, seperti sedang mencari ketenangan dalam gerakan
yang monoton. "Dari dulu desa ini tenang..." gumamnya, lebih kepada
dirinya sendiri. "Sekarang jadi penuh curiga. Penuh tuduhan. Penuh
kebencian. Apa yang terjadi dengan kita?"
Tidak ada yang menjawab. Semua hanya diam, tenggelam dalam
pikiran masing-masing.
Di pojok warung, Amat Junior, Hermansyah, Rangga, Guntur,
dan Bambang duduk bersila. Mereka tidak ikut debat, bukan karena tidak punya
pendapat, tapi karena mereka tahu bahwa suara mereka tidak akan didengar. Di
desa ini, yang didengar bukanlah siapa yang paling benar, tapi siapa yang
paling tua, siapa yang paling disegani, dan siapa yang paling keras suaranya.
"Ini bukan lagi soal benar atau salah..." kata
Hermansyah pelan, matanya menatap kopi di depannya yang sudah dingin dan tidak
pernah ia sentuh. "Ini soal siapa yang dipercaya. Dan kepercayaan... tidak
selalu berdasarkan fakta."
Amat Junior mengangguk. Wajahnya yang biasanya santai itu
kini tegang, dan matanya, matanya yang cerdas itu, terlihat sayu, seperti
sedang memikirkan sesuatu yang berat. "Iya. Dan di sini, Mbah Sari sudah
dipercaya puluhan tahun. Bu Amilia baru beberapa minggu. Tidak peduli seberapa
benarnya ilmu Bu Amilia, kepercayaan tidak bisa dibangun dalam semalam."
Rangga, yang duduk di samping Amat, menambahkan dengan
suara hati-hati, "Jadi... apa yang harus kita lakukan? Diam? Atau bicara?"
"Bicara untuk apa?" sahut Bambang dengan nada
datar, khasnya, yang membuat orang sulit menebak apakah ia sedang serius atau
sarkastik. "Mereka tidak akan dengar. Yang mereka dengar hanya suara
mereka sendiri."
Di rumah dinas, Amilia duduk sendiri di lantai kayu. Lampu
minyak tanah tidak ia nyalakan, meskipun hari mulai gelap. Biarlah gelap. Gelap
lebih jujur daripada cahaya yang berpura-pura hangat. Gelap tidak menuntutnya
untuk tersenyum. Gelap tidak menuntutnya untuk terlihat kuat. Gelap hanya membiarkannya
menjadi apa adanya, hancur, rapuh, dan lelah.
Tidak ada aktivitas. Tidak ada pasien. Tidak ada panggilan.
Sejak kemarin, tidak ada satu pun warga yang datang ke rumah dinas. Bahkan
Anita dan Yulia, yang biasanya setia menemaninya, pagi tadi hanya singgah
sebentar untuk memastikan ia masih hidup, lalu pergi karena ada urusan
keluarga. Amilia tidak menyalahkan mereka. Mereka juga punya kehidupan sendiri.
Mereka juga punya risiko sendiri jika terlalu dekat dengannya.
Ia membuka tas medisnya, tas merah dengan logo palang putih
yang mulai pudar. Isinya masih lengkap: stetoskop, tensimeter, alat bantu
persalinan, obat-obatan darurat, perban, jarum suntik, dan segala macam
perlengkapan yang ia bawa dari kota dengan penuh harapan. Semua itu sekarang terasa
seperti beban, seperti pemberat yang menahannya di desa ini, seperti rantai
yang mengikatnya pada sesuatu yang mungkin sudah tidak ia inginkan.
Ia memeriksa satu per satu alat itu, bukan karena perlu,
tapi karena tidak ada yang bisa ia lakukan. Tangannya bergerak mekanis, tanpa
berpikir, seperti robot yang menjalankan program lama yang sudah tidak relevan.
Stetoskop. Masih berfungsi. Ia meletakkannya kembali.
Tensimeter. Masih baik. Ia melipatnya rapi.
Alat bantu persalinan. Masih steril dalam kemasannya. Ia tidak menyentuhnya.
Lalu ia menutup tas itu kembali.
Kosong.
Seperti harapannya. Seperti hatinya. Seperti masa depannya
di desa ini.
Ia bersandar pada tiang kayu, menatap langit-langit anyaman
bambu yang bolong-bolong. Melalui lubang-lubang kecil itu, ia bisa melihat
bintang-bintang yang mulai muncul satu per satu, berkelap-kelip seperti
mata-mata kecil yang penuh rasa iba.
Apakah ini akhirnya? pikirnya. Apakah
ini yang aku inginkan ketika aku menerima penugasan ini? Apakah ini yang ibu
maksud ketika ia berkata, "Pengabdian itu indah"?
Ia teringat surat ibunya, surat yang selalu ia bawa di
tasnya, yang sudah ia baca berkali-kali hingga kertasnya mulai lusuh dan
tulisannya mulai pudar. "Akan ada hari di mana kamu merasa tidak
dihargai, disalahkan, bahkan ditolak..." tulis ibunya. "...tapi
percayalah, kebaikan tidak pernah benar-benar hilang."
Tapi, Bu,
pikirnya, matanya mulai berkaca-kaca, kebaikan tidak akan terlihat jika
tidak ada yang mau melihat. Dan di sini, tidak ada yang mau melihat.
Tok... tok... tok.
Amilia tidak langsung membuka pintu. Ia ragu. Setelah
kemarin, setelah semua tuduhan dan teriakan, ia tidak tahu siapa yang mungkin
datang. Mungkin sekelompok warga yang marah. Mungkin Pak Sugeng yang ingin
melampiaskan amarahnya. Mungkin... siapa pun, yang penting ia tidak siap.
Tapi ketukan itu terdengar lagi. Lebih pelan kali ini,
lebih ragu-ragu, seperti ketukan orang yang tidak yakin apakah ia boleh
mengetuk.
Tok... tok.
Akhirnya, dengan hati berdebar-debar, Amilia bangkit. Ia
berjalan ke pintu dengan langkah pelan, tangannya gemetar saat membuka kunci
kayu yang sederhana. Pintu terbuka dengan bunyi berderit panjang.
Di sana berdiri seorang ibu muda. Mungkin sekitar dua puluh
lima tahun. Wajahnya masih segar, namun matanya cemas dan gelisah. Ia mengenakan
kain sarung dan kemeja lusuh, dan di tangannya ia membawa sebuah bungkusan
kecil yang dibungkus daun pisang. Ia adalah Rini, ibu yang bayinya ia
selamatkan beberapa minggu yang lalu, ketika persalinan sungsang dan hampir
gagal.
"Bu... maaf... saya datang diam-diam..." bisik
Rini, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya bergerak cepat ke kanan dan ke
kiri, seperti sedang memastikan tidak ada yang melihatnya. "Saya... saya
takut ada yang tahu... tapi saya harus datang..."
Amilia terkejut. Matanya yang tadinya kosong tiba-tiba
berbinar, hanya sedikit, tapi cukup untuk terasa. "Masuk, Bu. Cepat."
Rini masuk dengan langkah cepat, seperti orang yang sedang
bersembunyi dari kejaran. Begitu pintu tertutup, ia menghela napas lega,
bahunya turun, dan air matanya mulai jatuh.
"Bu Amilia..." katanya, suaranya pecah.
"Saya... saya percaya sama ibu. Saya lihat sendiri waktu ibu bantu saya.
Kalau tidak ada ibu, mungkin saya dan bayi saya sudah..."
Ia tidak bisa melanjutkan. Tangisnya pecah, dan ia menutup
wajahnya dengan kedua tangannya.
Amilia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri di
sana, dengan hati yang hancur dan air mata yang mulai menggenang di matanya. Ia
ingin memeluk Rini, ingin menangis bersamanya, ingin berterima kasih karena
masih ada yang percaya. Tapi ia tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa kaku,
seperti patung yang terbuat dari batu.
"Saya... saya takut, Bu," lanjut Rini di antara
isak tangisnya. "Saya takut kalau ketahuan... saya takut dijauhi... tapi
saya juga tidak tega melihat ibu sendirian... tidak tega melihat ibu
diperlakukan seperti itu... padahal ibu hanya ingin membantu..."
Amilia akhirnya bergerak. Ia melangkah maju, meraih tangan
Rini, dan menggenggamnya erat-erat. Tangannya dingin, begitu dingin, seperti
orang yang baru saja keluar dari kulkas, tapi genggamannya kuat.
"Terima kasih, Bu Rini," bisik Amilia, suaranya
bergetar. "Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah percaya. Itu...
itu sangat berarti. Lebih dari yang ibu tahu."
Mereka berdua menangis dalam diam. Di ruangan kecil yang
gelap, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah
dinding, dua perempuan itu duduk bersimpuh, saling menguatkan, saling
mengingatkan, bahwa di tengah lautan penolakan, masih ada pulau-pulau kecil
bernama harapan.
Di bawah pohon beringin besar, yang sudah menjadi tempat
berkumpul mereka sejak kecil, Amat Junior dan Camelia duduk berdua. Yang lain
tidak ada malam itu, mungkin mereka sibuk, mungkin mereka sengaja memberi
ruang, atau mungkin mereka juga sedang bergulat dengan dilema yang sama.
Langit malam terlihat gelap, tanpa bintang. Awan hitam
menggulung di atas bukit-bukit, seolah sedang mempersiapkan hujan. Angin
bertiup lebih kencang dari biasanya, membuat dedaunan di atas mereka
berbisik-bisik dengan suara yang misterius.
"Menurutmu... kita harus bagaimana?" tanya
Camelia, suaranya pelan dan penuh keraguan. Matanya menatap Amat, mencari
jawaban, atau mungkin mencari keberanian.
Amat Junior menghela napas panjang. Ia memainkan sehelai
rumput di tangannya, memilinnya, lalu membuangnya ke tanah. "Kita tahu dia
tidak salah... itu jelas. Kita lihat sendiri bagaimana dia bekerja. Kita lihat
sendiri bagaimana dia berjuang. Tapi..."
"Tapi?" Camelia menatapnya tajam.
"Tapi kalau kita bicara... kita bisa ikut
dijauhi." Amat tidak menatap Camelia. Matanya lurus ke depan, ke arah desa
yang mulai gelap. "Kita tinggal di sini, Cam. Keluarga kita di sini. Hidup
kita di sini. Kalau kita memihak orang yang dibenci banyak orang... kita bisa
kehilangan segalanya."
Camelia terdiam. Ia tahu itu. Ia merasakan ketakutan yang
sama. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan, sesuatu
yang tidak bisa ia diamkan.
"Kadang... kebenaran itu butuh keberanian, Mat,"
katanya akhirnya, suaranya lembut tapi tegas. "Dan keberanian itu mahal.
Tapi kalau tidak ada yang bayar... siapa yang akan berubah?"
Amat menoleh, menatap Camelia. Untuk pertama kalinya, ia
melihat perempuan itu dengan cara yang berbeda. Bukan hanya teman masa kecil,
bukan hanya seseorang yang ia kenal sejak kecil. Tapi seseorang yang berani, lebih
berani darinya. Dan itu membuatnya malu.
"Kamu benar," katanya pelan. "Tapi
keberanian tanpa strategi hanya akan bunuh diri. Kita harus pintar. Kita tidak
bisa terang-terangan melawan arus. Tapi kita bisa... perlahan-lahan...
mengalihkan arus."
Camelia tersenyum, senyum yang hangat, yang membuat Amat
merasa sedikit lebih ringan. "Itu baru namanya perubahan."
Tatapan mereka bertemu. Lebih lama dari biasanya. Lebih
dalam. Dan di dalam hati masing-masing, ada sesuatu yang mulai tumbuh, sesuatu
yang belum mereka beri nama, tapi sudah mulai terasa.
Di sisi lain desa, di tepi kali yang airnya mengalir deras,
Hermansyah berjalan bersama Nadya. Bulan bersinar terang, memantulkan cahayanya
di permukaan air yang beriak, menciptakan kilauan perak yang indah. Namun
keindahan itu tidak bisa menenangkan kegelisahan di hati mereka.
"Mas... kamu diam saja?" tanya Nadya, memecah
keheningan yang sudah berlangsung terlalu lama. Matanya menatap Hermansyah
dengan sorot yang tajam, tajam seperti pisau yang siap mengupas lapisan-lapisan
ketakutan.
Hermansyah terlihat gelisah. Tangannya yang biasanya tegap
kini menggenggam erat ujung bajunya, dan matanya tidak berani menatap Nadya.
"Saya... bingung, Nad."
"Bingung atau takut?" potong Nadya, tidak memberi
kesempatan Hermansyah untuk berlindung di balik kata-kata ambigu.
Pertanyaan itu langsung menohok. Seperti anak panah yang
melesat tepat sasaran, tidak bisa dihindari, tidak bisa ditepis.
Hermansyah berhenti berjalan. Ia menatap sungai di depannya,
air yang mengalir deras, tidak pernah berhenti, tidak pernah ragu, tidak
seperti dirinya. "Kalau saya bela dia... saya bisa kehilangan kepercayaan
warga. Bapak saya adalah salah satu tetua desa. Kalau saya memihak orang yang
dianggap 'musuh' oleh warga... nama keluarga saya bisa tercemar. Bapak saya
bisa kehilangan wibawa."
Nadya menatapnya tajam. Matanya yang biasanya lembut itu
kini keras, keras seperti baja, seperti gunung yang tidak bisa digoyahkan.
"Dan kalau kamu diam... kamu kehilangan dirimu sendiri."
Hermansyah menunduk. Kata-kata Nadya menusuk, bukan karena
tajam, tapi karena benar. Karena ia tahu di dalam hatinya yang paling jujur, ia
tidak bisa terus diam. Tapi takut. Takut sekali.
"Hermansyah," panggil Nadya, menggunakan nama
lengkapnya, sesuatu yang jarang ia lakukan. Suaranya lembut namun penuh wibawa.
"Kamu adalah orang yang paling saya hormati di desa ini. Bukan karena kamu
kuat, bukan karena kamu tegas, tapi karena kamu punya hati. Dan hati itu...
jangan kamu matikan hanya karena takut."
Hermansyah menatap Nadya. Untuk pertama kalinya, ia melihat
perempuan itu dengan cara yang berbeda. Bukan hanya teman, bukan hanya
seseorang yang ia kenal sejak kecil. Tapi seseorang yang berani, lebih berani
darinya. Dan itu membuatnya ingin menjadi lebih baik.
Ia tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, sebuah keputusan
mulai terbentuk.
Di pinggir jalan desa, di tempat yang sama seperti
biasanya, Anto duduk di atas truknya. Seperti biasa, rokok di tangan, mata
menatap langit, dan pikiran yang melayang ke tempat yang tidak diketahui orang
lain. Asap rokoknya mengepul tipis, membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang
perlahan-lahan menghilang di udara malam.
Amat Junior menghampirinya. Ia butuh seseorang yang bisa
diajak bicara, bukan untuk meminta solusi, tapi sekadar untuk berbagi
kegelisahan. Dan Anto, dengan segala keanehannya, adalah orang yang paling
tepat.
"To... menurutmu ini bakal bagaimana?" tanya Amat
Junior sambil duduk di samping Anto di atas bak truk yang berkarat.
Anto tidak langsung menjawab. Ia menghisap rokoknya
dalam-dalam, menahan asap di paru-parunya beberapa saat, lalu menghembuskannya
perlahan. Asap itu mengepul ke langit malam, bercampur dengan kabut tipis yang
mulai turun.
"Desa ini seperti jalan bercabang," katanya
akhirnya, suaranya pelan namun penuh makna. "Satu cabang ke kiri, satu
cabang ke kanan. Tidak ada jalan lurus. Tidak ada jalan mundur."
"Maksudmu?"
Anto menatap Amat Junior. Matanya yang biasanya sayu itu
tiba-tiba terlihat lebih tajam, seperti elang yang sedang mengintai mangsa.
"Yang satu menuju perubahan. Yang satu menuju pengulangan. Perubahan itu
menyakitkan, tapi pengulangan itu membosankan. Dan yang paling berbahaya...
adalah berdiri di tengah terlalu lama, sampai kedua jalan itu hilang."
Amat Junior mengernyit. "Jadi... kita harus
memilih?"
"Kita sudah memilih sejak lama," jawab Anto.
"Kita hanya tidak berani mengakuinya."
Amat Junior terdiam. Kata-kata Anto terasa seperti pukulan,
bukan pukulan yang menyakitkan, tapi pukulan yang membangunkan. Yang membuatnya
sadar bahwa selama ini ia hanya berdiri di tengah, berpura-pura netral, padahal
hatinya sudah memihak sejak awal.
"Dan sekarang?" tanya Amat Junior.
Anto tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa diartikan,
antara bijak dan gila. "Sekarang... mereka harus memilih. Desa ini. Warga
ini. Bu Amilia. Dan kita. Karena tidak ada yang bisa berdiri di tengah
selamanya. Cepat atau lambat, badai akan memaksa kita untuk memihak."
Sore harinya, setelah Rini pulang, setelah mereka berdua
menangis dan berdoa bersama, Amilia memutuskan untuk keluar rumah. Ia tidak
bisa terus bersembunyi. Ia tidak bisa terus diam. Meskipun hatinya hancur,
meskipun tubuhnya lelah, ia harus tetap berjalan. Karena jika ia berhenti, ia
takut tidak akan bisa memulai lagi.
Ia berjalan di jalan desa, tanpa tas medis, tanpa senyum,
tanpa harapan yang besar. Hanya berjalan. Melangkah. Satu kaki di depan kaki
yang lain. Itu saja.
Ia melewati sekelompok warga yang sedang duduk-duduk di
teras rumah. Beberapa dari mereka menatapnya dengan tatapan yang sulit
diartikan, ada yang penuh kebencian, ada yang penuh rasa iba, ada yang penuh
ketidakpedulian. Dan tiba-tiba, dari tengah kelompok itu, sebuah suara
terdengar.
"Kalau tidak kuat... pulang saja!"
Suara itu keras. Tajam. Sengaja dibuat agar semua orang
mendengar.
Beberapa orang tertawa kecil, tawa yang sinis, tawa yang
menusuk, tawa yang mengatakan bahwa mereka setuju, bahwa mereka senang, bahwa
mereka menikmati penderitaan orang lain.
Amilia berhenti.
Sekejap.
Ia merasakan dadanya sesak, jantungnya berdegup kencang,
dan air mata ingin sekali jatuh. Tapi ia menahan. Ia menggigit bibir bawahnya, begitu
keras hingga hampir berdarah, dan menelan semua rasa sakit itu.
Ia tidak menoleh.
Ia hanya melanjutkan langkah.
Perlahan.
Tapi pasti.
Dan di belakangnya, tawa itu masih terdengar. Semakin
keras. Semakin sinis. Semakin menyakitkan.
Malam itu, setelah matahari tenggelam dan desa kembali
diselimuti kegelapan, Amilia duduk bersama Anita dan Yulia di rumah dinas.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak sendirian. Lampu minyak tanah
menyala terang di tengah ruangan, menciptakan bayangan-bayangan yang
menari-nari di dinding bambu, namun kali ini bayangan itu tidak lagi
menakutkan.
"Kita tetap jalan, Bu," kata Anita tegas, matanya
berbinar-binar, bukan dengan kebahagiaan, tapi dengan tekad yang membaja.
"Walau sedikit... tetap jalan. Tidak boleh berhenti. Kalau kita berhenti,
mereka menang."
Yulia mengangguk, tangannya menggenggam erat tangan Amilia.
"Iya, Bu. Kami mungkin sedikit... tapi kami tidak pergi. Kami tidak akan
meninggalkan ibu sendirian."
Amilia menatap mereka. Satu per satu. Anita, perempuan
dengan semangat yang tidak pernah padam meskipun sering kecewa. Yulia, perempuan
dengan hati yang lembut namun kuat seperti baja. Mereka adalah dua dari sedikit
orang yang masih percaya. Dua dari sedikit orang yang masih bertahan di
sisinya.
Matanya berkaca-kaca. Air mata itu, air mata yang sudah ia
tahan seharian, akhirnya jatuh. Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan. Bukan
air mata keputusasaan. Tapi air mata harapan, harapan yang kecil, rapuh, dan
hampir padam, tapi masih menyala.
"Terima kasih," bisik Amilia, suaranya bergetar.
"Terima kasih sudah tidak pergi."
Anita tersenyum. "Kami mungkin sedikit, Bu. Tapi kami
nyata. Dan kami tidak akan menyerah selama ibu tidak menyerah."
Malam itu, di rumah dinas yang sederhana, tiga perempuan
duduk bersimpuh, bukan sebagai bidan dan kader, bukan sebagai pemimpin dan
bawahan, tapi sebagai teman. Sebagai saudara. Sebagai pejuang yang sama-sama
lelah, tapi sama-sama tidak mau menyerah.
Dan di luar, di balik kegelapan malam, bintang-bintang
mulai muncul satu per satu, seolah alam sendiri ikut berbisik, "Masih
ada harapan. Masih ada."
Desa Awan Biru kini benar-benar terbelah.
Tidak lagi samar. Tidak lagi abu-abu. Tidak lagi bisa
ditutupi oleh senyum dan sapaan hangat. Perpecahan itu nyata, kasat mata,
terasa oleh setiap orang yang memiliki hati dan telinga yang peka.
Di satu sisi, penolakan yang keras, yang teriakan, bisikan,
dan tawa sinisnya masih bergema di setiap sudut desa. Di sisi lain, harapan
yang masih kecil, yang hanya terdiri dari beberapa orang, beberapa hati, dan
beberapa tangan yang masih bersedia membantu.
Dan di tengah semua itu, Amilia masih berdiri.
Dengan luka yang menganga di hatinya.
Dengan air mata yang masih basah di pipinya.
Dengan keraguan yang masih bergelayut di pikirannya.
Tapi ia masih berdiri.
Bukan karena ia kuat. Bukan karena ia tegar. Bukan karena
ia tidak punya pilihan lain.
Tapi karena ia percaya, percaya bahwa di balik semua
penolakan ini, masih ada yang membutuhkannya. Masih ada yang percaya padanya.
Masih ada yang tidak mau menyerah padanya.
Dan selama masih ada, ia tidak akan pergi.
Meskipun berat. Meskipun sakit. Meskipun setiap hari terasa
seperti perang.
Ia akan bertahan.
BAB 9: MALAM YANG MENGGUBAH SEGALANYA
Malam itu, langit Desa Awan Biru tidak menampakkan sepucuk
bintang pun. Awan hitam menggulung di atas bukit-bukit seperti lautan tinta
yang siap tumpah kapan saja, tebal dan berat, menggantung rendah seolah langit
sendiri sedang bersedih dan tidak ingin ada yang melihat air matanya. Bulan
bersembunyi di balik tabir mendung, enggan menunjukkan cahayanya, seperti
seorang saksi yang memilih untuk tidak melihat kejahatan yang akan terjadi.
Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan
dedaunan yang membusuk, aroma yang biasa datang sebelum badai besar, aroma yang
membuat bulu kuduk merinding dan hati menjadi gelisah tanpa sebab yang jelas.
Pepohonan di sekitar desa bergoyang liar, dedaunannya
berbisik-bisik dengan suara yang nyaring dan misterius, seolah sedang
memperingatkan sesuatu kepada mereka yang mau mendengar. Ranting-ranting patah
berguguran di jalan-jalan desa, berserakan seperti tulang-belulang makhluk
halus yang tidak terlihat. Suara jangkrik yang biasanya menjadi pengantar tidur
yang merdu, malam itu terdengar seperti ratapan, panjang, melankolis, dan
menusuk kalbu. Bahkan burung hantu yang biasanya bertengger di pohon beringin
besar, malam itu tidak bersuara. Ia hanya diam, matanya yang bundar dan kuning
menatap desa dengan sorot yang aneh, seperti tahu sesuatu yang tidak diketahui
oleh manusia.
Desa Awan Biru sedang menahan napas. Semua orang
merasakannya, sesuatu yang berat menggantung di udara, sesuatu yang tidak bisa
dijelaskan namun terasa oleh setiap pori-pori kulit. Ibu-ibu yang biasanya
duduk-duduk di teras rumah setelah magrib, malam itu memilih untuk tinggal di
dalam, mengunci pintu, dan berdoa dengan suara yang lebih khusyuk dari
biasanya. Bapak-bapak yang biasanya ngopi di warung Mbah Karyo sampai larut,
malam itu pulang lebih awal, dengan langkah cepat dan wajah yang tidak bisa
menyembunyikan kegelisahan. Anak-anak yang biasanya masih bermain kejar-kejaran
di lapangan desa, malam itu sudah tidur sejak matahari terbenam, mungkin karena
didiamkan oleh orang tua mereka, atau mungkin karena mereka sendiri merasakan
keanehan yang tidak bisa mereka namai.
Dan di tengah semua kegelisahan itu, di tengah keheningan
yang mencekik dan kegelapan yang pekat, Amilia terbaring di rumah dinasnya
dengan mata yang tidak bisa terpejam. Ia sudah berusaha tidur sejak dua jam
yang lalu, membaringkan tubuhnya di atas balai-balai kayu yang dilapisi tikar
tipis, memejamkan mata, mengatur napas, dan berusaha mengosongkan pikirannya.
Tapi tidur tidak datang. Yang datang hanya bayangan-bayangan, wajah ibu muda
yang meninggal, wajah suaminya yang marah, wajah Mbah Sari yang dingin,
wajah-wajah warga yang berteriak dan menuduh. Semua itu berputar-putar di
kepalanya seperti film yang diputar berulang-ulang, tanpa jeda, tanpa henti,
tanpa ampun.
Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri, lalu telentang lagi.
Tikar di bawahnya terasa keras meskipun sudah dialasi dua lapis. Bantal dari
kapuk yang ia buat sendiri terasa panas meskipun malam dingin. Udara yang masuk
melalui celah-celah dinding bambu terasa menusuk tulang, tapi selimut tipis
yang ia kenakan terasa seperti tidak memberikan kehangatan sama sekali.
Tubuhnya ada di sini, tapi pikirannya melayang jauh, ke masa lalu, ke masa
depan, ke tempat-tempat yang tidak bisa ia capai.
Haruskah aku pergi? pikirnya,
untuk kesekian kalinya. Pertanyaan yang sama, berputar-putar seperti air dalam
wajan yang mendidih, tidak pernah menemukan jawaban yang memuaskan. Apakah
ini masih layak diperjuangkan? Apakah aku masih punya alasan untuk bertahan?
Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memblokir semua
pikiran itu, mencoba fokus pada suara jangkrik di luar, pada suara angin yang
berhembus, pada suara dedaunan yang bergesekan. Tapi pikiran itu tetap ada,
tetap mengganggu, tetap menyiksa, seperti lalat yang beterbangan di sekitar
kepalanya dan tidak bisa diusir.
Di luar, angin semakin kencang. Sebuah dahan pohon randu
patah dan jatuh dengan suara keras, diikuti oleh suara gemerisik dedaunan yang
beterbangan. Amilia mendengarnya, tapi tidak bergerak. Ia hanya berbaring di
sana, dengan mata terbuka di kegelapan, menunggu—menunggu apa, ia tidak tahu.
Dan kemudian, dari kejauhan, terdengar suara yang memecah
keheningan malam.
"TOLOOOONG!"
Bukan teriakan biasa. Bukan teriakan mabuk yang sering
terdengar dari pemuda-pemuda desa pada malam minggu. Bukan teriakan anak-anak
yang sedang bermain kejar-kejaran. Bukan teriakan tawa yang keras dan riuh. Ini
adalah teriakan yang berbeda, teriakan yang keluar dari lubuk hati yang paling
dalam, teriakan yang lahir dari kepanikan yang tidak bisa lagi dikendalikan,
teriakan yang mengatakan bahwa sesuatu yang sangat buruk telah terjadi, sedang
terjadi, dan akan terus terjadi jika tidak ada yang bertindak.
"TOLOOOONG! TOLONG! ANAK SAYA!"
Suara itu semakin jelas, semakin dekat, semakin panik.
Amilia duduk di tempat tidurnya dengan jantung berdebar kencang. Ia mengenali
suara itu, suara Pak RT 02, seorang lelaki paruh baya yang tinggal tidak jauh
dari rumah dinas, dengan tiga orang anak dan seorang istri yang bekerja sebagai
penjual gorengan di pasar. Namanya Pak Rofi. Biasanya ia adalah orang yang
tenang, jarang bicara, dan tidak pernah terlihat panik dalam situasi apa pun.
Tapi malam itu, suaranya terdengar seperti orang yang sedang dikejar oleh
kematian.
Amilia bangkit dari tempat tidurnya, kakinya mencari sandal
di lantai yang gelap. Tangannya meraba-raba meja kecil di samping tempat
tidurnya, mencari korek api untuk menyalakan lampu minyak tanah. Jari-jarinya
gemetar, korek api jatuh beberapa kali sebelum akhirnya ia berhasil menyalakan
lampu. Nyala api kecil itu berkedip-kedip, seolah-olah sedang ragu-ragu untuk
menyala, sebelum akhirnya menetap menjadi cahaya kuning yang redup.
Ia berlari ke pintu, membukanya dengan gerakan yang
terburu-buru, dan di luar, di bawah cahaya bulan yang samar-samar karena
tertutup awan, ia melihat Pak Rofi berlari di tengah jalan desa. Pria itu tidak
sendiri. Di gendongannya, terbaring seorang bayi kecil, bayi laki-laki, mungkin
sekitar delapan bulan, dengan tubuh yang lemas seperti boneka kain. Tidak
menangis. Tidak bergerak. Hanya terbaring di lengan ayahnya dengan mata
terpejam, kulit kebiruan, dan napas yang sangat pelan, hampir tidak ada.
"BU AMILIA! TOLONG!" teriak Pak Rofi begitu
melihat Amilia berdiri di pintu. Ia berlari ke arah rumah dinas, langkahnya
terhuyung-huyung seperti orang yang kehabisan tenaga. Keringat bercucuran di
dahinya, bercampur dengan air mata yang tidak bisa ia tahan. "Anak saya...
demam... kejang... tiba-tiba... tidak sadar... TOLONG, BU!"
Amilia tidak menunggu lebih lama lagi. Dalam sekejap,
pikirannya yang tadinya kacau oleh kegelisahan dan keraguan, kini berubah
menjadi mode darurat, seperti saklar yang dibalik dalam sepersekian detik.
Semua rasa lelah, semua rasa putus asa, semua rasa ingin menyerah, lenyap seketika,
digantikan oleh fokus yang tajam, adrenalin yang mengalir deras, dan naluri
seorang tenaga medis yang tidak bisa membiarkan seseorang mati di depannya.
"Masuk! Cepat!" perintahnya sambil membuka pintu
lebar-lebar. Ia berlari ke sudut ruangan mengambil tas medisnya, lalu berlutut
di samping bayi itu yang sudah diletakkan ayahnya di atas tikar.
Tangannya—tangan yang sempat gemetar karena kelelahan dan tekanan batin, kini
bergerak dengan cepat dan terukur, seperti ahli bedah yang sudah bertahun-tahun
berlatih.
Amilia memeriksa bayi itu dengan saksama. Matanya bergerak
cepat dari kepala ke kaki, mencari tanda-tanda yang bisa membantunya
mendiagnosis kondisi. Tubuh bayi itu panas, sangat panas, seperti baru saja
dikeluarkan dari oven. Amilia meraba dahi, leher, dada, dan ketiak bayi itu
dengan punggung tangannya. Semua sama. Panas yang luar biasa.
"Demam sangat tinggi," gumumnya, hampir tidak
terdengar. Tangannya bergerak ke perut bayi, meraba apakah ada pembengkakan
atau kekakuan yang tidak normal. Tidak ada. Lalu ke tungkai dan lengan—kaku,
tapi tidak kaku seperti kejang. Lalu ke mulut, bibir kebiruan, gusi pucat,
tidak ada warna merah muda yang sehat.
Ia mengambil stetoskop dari tasnya, meletakkannya di dada
bayi itu, dan mendengarkan. Jantung, masih berdetak, tapi cepat dan tidak
teratur, seperti detak mesin yang kehabisan bahan bakar. Napas, pendek,
dangkal, dan tidak teratur, seperti orang yang sedang berjuang untuk tetap
hidup di bawah air.
"Sejak kapan demamnya, Pak?" tanya Amilia,
matanya masih fokus pada bayi itu, tangannya sudah mulai menyiapkan obat
penurun panas dalam bentuk suppositoria, satu-satunya yang bisa ia berikan
karena bayi tidak sadar dan tidak bisa minum obat oral.
"Sejak sore, Bu. Sekitar jam empat. Saya kira hanya
demam biasa. Saya kasih kompres, saya kasih ramuan dari Mbah Sari—"
Amilia menghentikan gerakannya. Matanya menatap Pak Rofi
sekilas, tajam, tapi tidak marah. "Ramuan apa, Pak?"
"Saya tidak tahu, Bu. Mbah Sari yang buat. Katanya
untuk menurunkan panas. Tapi setelah diminum, anak saya malah muntah-muntah.
Lalu tiba-tiba kejang. Kejangnya lama, Bu. Mungkin lima menit. Setelah itu
dia... dia tidak sadar. Tidak menangis. Tidak bergerak. Saya panggil Mbah Sari,
tapi beliau bilang itu biasa, nanti juga sadar sendiri. Tapi sudah satu jam,
Bu, belum sadar. Saya panik. Saya lari ke sini."
Amilia menarik napas panjang. Ia tidak ingin menilai Mbah
Sari sekarang, bukan saatnya. Yang penting adalah menyelamatkan bayi ini. Ia
memasukkan suppositoria penurun panas ke dalam anus bayi itu dengan gerakan
yang lembut namun pasti. Lalu ia mengambil kain bersih dari tasnya,
membasahinya dengan air dingin dari kendi yang selalu ia siapkan di sudut
ruangan, dan mengompres dahi, leher, ketiak, dan selangkangan bayi itu.
"Pak Rofi, tolong ambilkan air hangat," katanya
tanpa menoleh. "Banyak. Dan kain bersih. Cepat."
Pak Rofi berlari ke dapur kecil di belakang rumah dinas,
mencari air dan kain. Ia hampir menjatuhkan kendi karena tangannya gemetar,
tapi ia berhasil.
Sementara itu, Amilia terus bekerja. Ia memeriksa saturasi
oksigen bayi itu, tidak punya alat pulse oxymeter, jadi ia harus menggunakan
cara manual: melihat warna kulit, melihat pergerakan dada, mendengarkan suara
napas. Semua tanda menunjukkan hipoksia, kekurangan oksigen yang serius.
"Kita harus turunkan panasnya sekarang," katanya,
lebih kepada dirinya sendiri. "Kalau tidak, kejang bisa terulang, dan itu
bisa merusak otak."
Ia terus mengompres, bergantian antara air hangat dan air
dingin, teknik yang ia pelajari untuk menurunkan demam secara efektif tanpa
menyebabkan hipotermia. Tangannya tidak pernah berhenti bergerak. Keringat
mulai mengalir di dahinya, menetes ke pipinya, tapi ia tidak menyadarinya. Yang
ia sadari hanyalah bayi di depannya, bayi yang tidak bergerak, bayi yang tidak
menangis, bayi yang nyawanya tergantung pada setiap detik yang ia gunakan
dengan maksimal.
Kabar cepat menyebar. Di desa seperti Awan Biru, berita
tidak membutuhkan internet, televisi, atau koran. Cukup satu mulut ke mulut
lain, dan dalam hitungan menit, semua orang tahu bahwa Pak Rofi membawa anaknya
ke rumah bidan. Warga mulai berdatangan. Bukan dalam jumlah besar, mungkin
sepuluh atau lima belas orang, tapi cukup untuk membuat suasana di luar rumah
dinas menjadi tegang dan penuh bisik-bisik.
"Mana Mbah Sari?"
"Katanya Mbah Sari sudah memberi ramuan, tapi malah muntah-muntah."
"Jangan-jangan... ramuannya tidak cocok?"
"Jangan bicara sembarangan! Mbah Sari sudah puluhan tahun mengobati!"
"Tapi kenapa bayinya kejang?"
"Demam tinggi bisa bikin kejang, itu biasa. Nanti juga sembuh."
Perdebatan terjadi di luar, dengan suara yang sengaja
dibuat pelan tapi tidak terlalu pelan, cukup untuk didengar oleh mereka yang
ingin mendengar. Beberapa orang mencoba mengintip melalui celah-celah dinding
bambu, ingin melihat apa yang terjadi di dalam. Yang lain hanya berdiri di
kejauhan, dengan tangan bersilang di dada, menunggu, menunggu apa, mereka tidak
tahu.
Di tengah kerumunan itu, berdiri Mbah Sari. Ia datang
beberapa menit setelah Pak Rofi, dengan langkah yang masih tenang dan wibawa
yang tidak pernah pudar. Wajahnya datar, tidak menunjukkan emosi apapun.
Matanya yang tajam menatap ke arah rumah dinas, ke arah cahaya lampu minyak
yang berkedip-kedip di balik dinding bambu.
"Biarkan," katanya pelan kepada beberapa orang
yang bertanya apakah ia akan masuk. "Biarkan bidan itu bekerja. Kita lihat
saja hasilnya."
Kata-katanya terdengar netral, tapi ada sesuatu di
baliknya, sesuatu yang tidak diucapkan, sesuatu yang menggantung di udara
seperti ancaman yang tidak terlihat.
Anto, yang datang beberapa saat kemudian setelah mendengar
keributan dari pinggir desa, berdiri di dekat truknya. Seperti biasa, ia tidak
ikut masuk ke dalam kerumunan. Ia hanya berdiri di kejauhan, dengan tangan di
saku celana, dan mata yang menatap ke arah rumah dinas dengan sorot yang dalam.
Amat Junior mendekatinya. Wajahnya tegang, matanya cemas.
"To... menurutmu...?"
Anto tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah rumah dinas,
ke arah cahaya lampu yang berkedip-kedip, lalu ke arah langit yang gelap tanpa
bintang. Angin malam berhembus, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering.
"Ini bukan soal siapa yang benar," katanya
akhirnya, suaranya pelan namun penuh makna. "Ini soal... siapa yang berani
bertanggung jawab sampai akhir."
Amat Junior mengernyit. "Maksudmu?"
Anto menoleh, menatap Amat dengan sorot mata yang dalam, seperti
sumur tua yang tidak pernah kering. "Mbah Sari sudah puluhan tahun di
sini. Tapi setiap kali ada yang gagal, ia bisa bilang 'itu sudah takdir'. Bu
Amilia... tidak punya ruang untuk kesalahan. Setiap tindakannya akan dinilai.
Setiap hasilnya akan dihakimi. Dan jika gagal... ia tidak bisa bilang 'itu
takdir'. Karena orang akan bilang, 'Itu karena ia memaksakan ilmu
barunya'."
Amat Junior terdiam. Kata-kata Anto terasa seperti pukulan,
bukan pukulan yang menyakitkan, tapi pukulan yang membangunkan. Yang membuatnya
sadar bahwa beban yang dipikul Amilia jauh lebih berat dari yang ia bayangkan.
"Dan sekarang?" tanya Amat Junior.
Anto menghela napas panjang. "Sekarang... kita lihat
apakah bayi itu selamat. Karena jika selamat, mungkin, mungkin, ada yang
berubah. Tapi jika tidak..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Amat Junior
sudah mengerti.
Di dalam rumah dinas, Amilia terus bekerja. Bayi itu masih
belum menunjukkan perbaikan yang signifikan, suhu tubuhnya masih tinggi,
napasnya masih pendek dan dangkal, dan kesadarannya masih belum kembali. Pak
Rofi duduk di sudut ruangan dengan wajah pucat, tangannya menggenggam erat
sarung yang ia kenakan, bibirnya bergerak-gerak membaca doa dengan suara yang
hampir tidak terdengar.
Amilia mengganti kompres, mengatur posisi bayi itu agar
jalan napasnya lebih terbuka, dan memeriksa kembali tanda-tanda vitalnya.
Jantung masih berdetak, lega. Napas masih ada, lega. Tapi belum cukup. Belum
aman. Masih jauh dari aman.
"Pak," panggil Amilia, matanya tidak lepas dari
bayi itu. "Apakah anak Bapak punya riwayat kejang sebelumnya?"
"Tidak, Bu. Ini pertama kali."
"Apakah Bapak atau ibu Bapak punya riwayat
kejang?"
"Tidak juga, Bu. Keluarga saya sehat-sehat saja."
Amilia mengangguk. Bukan epilepsi, kemungkinan besar kejang
demam sederhana, kejang yang dipicu oleh kenaikan suhu tubuh yang drastis,
biasanya tidak berbahaya jika ditangani dengan cepat dan tepat. Tapi pada kasus
ini, kejangnya lama (lima menit termasuk lama untuk kejang demam) dan setelah
kejang bayi tidak segera sadar. Itu yang mengkhawatirkan.
"Kita harus terus awasi," katanya. "Saya
akan coba turunkan panasnya dengan kompres terus-menerus. Jika dalam satu jam
tidak ada perubahan, kita harus rujuk ke puskesmas. Tapi jalan ke puskesmas
macam-malam hari begini, "
Ia tidak melanjutkan. Tidak perlu. Pak Rofi sudah tahu
bahwa jalan ke puskesmas membutuhkan waktu dua jam dengan kendaraan darat,
melewati jalan berbatu dan berbukit yang licin karena hujan. Malam hari, dengan
gelap gulita, perjalanan bisa memakan waktu lebih lama. Dan bayi ini tidak
punya banyak waktu.
Maka satu-satunya harapan adalah Amilia sendiri. Tangannya.
Ilmunya. Doanya.
Setengah jam berlalu. Satu jam. Bayi itu masih belum sadar,
tapi suhu tubuhnya mulai menunjukkan penurunan, perlahan, tapi pasti. Amilia
terus mengompres, terus memeriksa, terus berdoa dalam hati. Tangannya sudah
terasa kebas, punggungnya sakit karena terlalu lama membungkuk, matanya perih
karena kurang tidur dan terlalu banyak menatap dalam cahaya redup. Tapi ia
tidak berhenti. Ia tidak bisa berhenti.
"Ayo... ayo..." bisiknya, lebih kepada bayi itu
daripada kepada dirinya sendiri. "Kamu bisa... kamu kuat..."
Dan kemudian, di tengah kelelahan yang hampir membuatnya
pingsan, ia melihat sesuatu. Gerakan kecil di kelopak mata bayi itu. Bukan
gerakan reflex, tapi gerakan sadar, gerakan yang menunjukkan bahwa kesadaran
mulai kembali.
"Pak!" panggil Amilia, suaranya nyaris berteriak
karena kegembiraan yang tertahan. "Pak Rofi! Lihat! Anak Bapak membuka
mata!"
Pak Rofi yang tadi hampir tertidur di sudut ruangan karena
kelelahan dan ketegangan, tersentak bangun. Ia berlari ke samping Amilia, berlutut,
dan menatap wajah anaknya dengan mata yang penuh harap.
Benar. Bayi itu mulai membuka mata, perlahan, sayu, masih
bingung, tapi sadar. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari-cari
sesuatu, mungkin mencari cahaya, mungkin mencari suara, mungkin mencari
ayahnya.
"Ayah di sini, Nak... ayah di sini..." bisik Pak
Rofi, suaranya pecah oleh tangis yang tidak bisa lagi ia tahan. Air matanya
jatuh, menetes ke pipi bayinya yang mulai merona, tidak sepucat tadi.
Dan kemudian, suara yang paling indah di dunia terdengar di
ruangan kecil itu.
Tangisan bayi.
Bukan tangisan keras yang menandakan sakit atau lapar. Tapi
tangisan lemah yang menandakan kehidupan, bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih
di sini, bahwa ia masih bisa menangis.
"Huaaa... huaaa... huaaa..."
Suara itu kecil, parau, dan nyaris tak terdengar. Tapi bagi
Amilia, bagi Pak Rofi, bagi semua orang yang mendengarnya dari luar rumah, suara
itu seperti simfoni yang paling merdu, seperti hadiah terindah yang pernah
diberikan oleh kehidupan.
Amilia terdiam. Ia menatap bayi itu, yang kini mulai
menangis dengan suara yang semakin keras, semakin jelas, semakin hidup. Ia
merasakan dadanya sesak, bukan karena sesak napas, tapi karena emosi yang
begitu kuat, begitu meluap, hingga ia hampir tidak bisa bernapas.
Air matanya jatuh. Tidak bisa ia tahan lagi. Ia menangis, bukan
karena sedih, bukan karena lelah, tapi karena lega. Karena bersyukur. Karena
untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahwa semua perjuangannya,
semua pengorbanannya, semua air mata dan fitnah yang ia terima, tidak sia-sia.
"Alhamdulillah..." bisiknya, suaranya bergetar.
"Alhamdulillah..."
Pak Rofi menangis tersedu-sedu di sampingnya. Ia memeluk
anaknya, hati-hati, takut melukai dan mencium keningnya berkali-kali.
"Terima kasih, Bu... terima kasih... saya tidak tahu harus membalas
apa..."
Amilia menggeleng pelan. "Tidak usah membalas apa-apa,
Pak. Cukup jaga anak Bapak baik-baik. Lanjutkan kompres sampai panasnya
benar-benar turun. Besok pagi bawa ke puskesmas untuk pemeriksaan lanjutan. Dan
jangan beri ramuan apapun tanpa berkonsultasi dulu dengan tenaga medis."
Pak Rofi mengangguk, masih menangis, masih memeluk anaknya
erat-erat.
Di luar rumah dinas, warga yang tadinya berbisik-bisik
dengan tegang, kini terdiam. Mereka mendengar tangisan bayi itu, suara yang
keluar dari balik dinding bambu, suara yang mengatakan bahwa kehidupan telah
menang melawan kematian.
Beberapa dari mereka menghela napas lega. Beberapa
tersenyum, senyum kecil yang tidak ingin mereka tunjukkan. Beberapa lainnya
hanya diam, dengan wajah yang sulit diartikan.
Mbah Sari masih berdiri di tempatnya. Wajahnya masih datar.
Tapi matanya, matanya yang tajam itu, kali ini tidak lagi menusuk. Ada sesuatu
di sana, sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan meskipun ia berusaha. Mungkin
kekaguman. Mungkin ketakutan. Mungkin kesadaran bahwa sesuatu telah berubah,
dan ia tidak bisa menghentikannya.
"Bayinya selamat," bisik seseorang di kerumunan.
"Bidan itu berhasil."
"Ya, untung saja," sahut yang lain. "Kalau
tidak... bisa-bisa..."
"Makanya, jangan terlalu cepat menilai orang."
Pak Santoso, yang berdiri tidak jauh dari Mbah Sari,
berkata pelan, cukup keras untuk didengar oleh orang-orang di sekitarnya, tapi
tidak cukup keras untuk dianggap provokatif, "Mungkin... kita terlalu
cepat menilai."
Tidak ada yang menjawab. Tapi di hati banyak orang,
kata-kata itu mulai meresap. Seperti air yang meresap ke tanah yang kering, perlahan,
tapi pasti.
Anto tersenyum kecil ketika mendengar tangisan bayi itu dari
kejauhan. Ia menatap langit, langit yang masih gelap tanpa bintang, tapi entah
mengapa terasa sedikit lebih terang dari sebelumnya.
"Kadang... keajaiban itu bukan datang dari
langit," katanya, lebih kepada dirinya sendiri.
Amat Junior menatapnya. "Dari mana, kalau bukan dari
langit?"
Anto menoleh, tersenyum, senyum yang tidak bisa diartikan,
antara bijak dan gila. "Dari tangan yang tidak menyerah."
Amat Junior terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi dalam.
Sangat dalam. Ia menatap ke arah rumah dinas, ke arah cahaya lampu minyak yang
masih menyala di balik dinding bambu. Di balik dinding itu, seorang perempuan
sedang berjuang. Seorang perempuan yang tidak menyerah. Seorang perempuan yang
mungkin, mungkin, akan mengubah desa ini selamanya.
"Bu Amilia..." bisik Amat Junior, lebih kepada
dirinya sendiri.
Anto mengangguk. "Iya. Dia. Dan malam ini... dia
menang."
Setelah Pak Rofi pulang, setelah ia berjanji akan kembali
keesokan paginya untuk kontrol ulang, Amilia duduk sendiri di lantai kayu rumah
dinasnya. Lampu minyak tanah masih menyala, meskipun minyaknya hampir habis dan
nyala apinya mulai redup. Tas medis masih terbuka di sampingnya, alat-alat
medis berserakan, tapi ia tidak punya energi untuk membereskannya.
Ia menatap tangannya. Tangannya yang gemetar tadi malam
ketika ia sendirian di rumah ini, memikirkan apakah ia harus pergi atau
bertahan. Tangannya yang gemetar ketika ia mendengar teriakan Pak Rofi dari
kejauhan. Tangannya yang gemetar ketika ia memeriksa bayi itu dan menyadari
betapa kritis kondisinya.
Tapi tangannya itu, tangan yang sama, telah menyelamatkan
nyawa.
Tangan yang sama telah mengompres, memeriksa, memberi obat,
dan tidak menyerah.
Tangan yang sama telah menjadi alat bagi kehidupan untuk
memenangkan pertarungan melawan kematian.
"Bayi itu selamat," bisiknya, suaranya pelan,
hampir tidak terdengar. Ia mengulanginya, seolah-olah perlu meyakinkan dirinya
sendiri bahwa itu benar. "Bayi itu selamat... aku
menyelamatkannya..."
Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini, berbeda. Bukan air
mata kesedihan, bukan air mata keputusasaan, bukan air mata kelelahan. Tapi air
mata harapan, harapan yang kecil, rapuh, dan hampir padam, tapi sekarang mulai
menyala lagi.
Ia teringat surat ibunya. "Kebaikan tidak
pernah benar-benar hilang."
Malam ini, ia melihat buktinya. Kebaikan dalam bentuk
tangisan bayi yang lahir kembali ke kehidupan. Kebaikan dalam bentuk seorang
ayah yang memeluk anaknya dengan air mata bahagia. Kebaikan dalam bentuk
dirinya sendiri, yang memilih untuk tidak menyerah meskipun semua tampak gelap.
"Aku hampir kehilangan dia," bisiknya,
membayangkan betapa dekatnya kematian dengan bayi itu. Betapa tipisnya batas
antara hidup dan mati. Betapa rapuhnya kehidupan.
Tapi ia tidak kehilangan dia. Bayi itu selamat. Dan ia,
Amilia, masih di sini. Masih berdiri. Masih berjuang.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia
tidur dengan tenang. Bukan karena semua masalah selesai, masih banyak yang
harus ia hadapi, masih banyak yang harus ia buktikan, masih banyak luka yang
harus ia sembuhkan. Tapi karena ia tahu, di dalam hatinya yang paling dalam,
bahwa ia melakukan hal yang benar. Bahwa ia berada di tempat yang benar. Bahwa
ia tidak sendirian.
Dan di luar, angin malam mulai reda. Awan hitam
perlahan-lahan menyingkir, membiarkan bulan menunjukkan wajahnya yang bundar
dan terang. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu, berkelap-kelip seperti
mata-mata kecil yang tersenyum.
Desa Awan Biru masih gelap. Tapi tidak segelap sebelumnya.
Satu tangisan mengubah segalanya.
Bukan tangisan kesedihan, bukan tangisan keputusasaan,
bukan tangisan kematian. Tapi tangisan kehidupan, tangisan seorang bayi yang
selamat dari ambang kematian, yang kembali ke dunia dengan suara yang lemah
namun penuh makna.
Tangisan itu tidak mengubah segalanya secara langsung.
Tidak secara drastis. Tidak dalam semalam. Tapi ia cukup untuk menggoyahkan
keyakinan lama. Cukup untuk membuat orang-orang mulai bertanya-tanya. Cukup
untuk menciptakan keretakan kecil di dinding ketidakpercayaan yang selama ini
dibangun.
Di Desa Awan Biru, perubahan tidak datang dengan teriakan.
Ia tidak datang dengan paksa. Ia tidak datang dengan slogan-slogan dan
pidato-pidato yang menggebu-gebu.
Ia datang dengan bukti.
Bukti bahwa seorang perempuan muda, dengan tas medis merah,
dengan ilmu yang ia pelajari dari buku-buku tebal, dengan tangan yang gemetar
tapi tidak pernah menyerah, bisa menyelamatkan nyawa. Bisa membuat perbedaan.
Bisa menjadi harapan di tengah keputusasaan.
Malam itu, di rumah dinas yang sederhana, Amilia tidur
dengan tenang untuk pertama kalinya.
Dan di luar, di bawah cahaya bulan yang mulai terang, Desa
Awan Biru perlahan-lahan mulai bermimpi, mimpi tentang perubahan, mimpi tentang
kemungkinan, mimpi tentang seorang bidan yang mungkin, mungkin—akan mengubah
segalanya.
BAB 10: AIR MATA YANG TERTAHAN
Malam setelah kejadian itu, Desa Awan Biru terasa berbeda.
Tidak ramai, tidak gaduh, tidak ada kerumunan yang berbisik-bisik di setiap
sudut. Namun juga tidak lagi sepenuhnya dingin, tidak seperti malam-malam
sebelumnya, ketika setiap langkah Amilia diiringi oleh bisikan-bisikan tajam
yang menusuk kalbu. Ada sesuatu yang berubah di udara, sesuatu yang tidak kasat
mata namun terasa oleh setiap orang yang memiliki hati yang peka. Seperti bau
tanah setelah hujan pertama di musim kemarau, segar, membumi, dan penuh janji
akan kehidupan yang baru.
Malam itu, desa tidur lebih nyenyak dari biasanya. Mungkin
karena ketegangan yang selama ini menggantung akhirnya sedikit mereda. Mungkin
karena tangisan bayi itu, suara kehidupan yang menang melawan kematian, telah
membawa kedamaian yang tidak dirasakan sejak kematian ibu muda beberapa hari
lalu. Atau mungkin, hanya mungkin, karena untuk pertama kalinya sejak lama,
penduduk Desa Awan Biru menyadari bahwa mereka telah salah menilai seseorang,
dan kesadaran itu, meskipun masih samar dan belum sepenuhnya mengendap, membawa
semacam kelegaan yang aneh.
Amilia terbangun keesokan paginya dengan perasaan yang
aneh. Tidak segar, ia masih kelelahan, matanya masih sembab, dan tubuhnya masih
terasa berat seperti baru selesai mengangkat karung padi seharian. Tapi ada
sesuatu yang berbeda di dalam dadanya. Sesuatu yang hangat, sesuatu yang
ringan, sesuatu yang mengingatkannya pada masa-masa ketika ia masih percaya
bahwa dunia ini baik dan kebaikan selalu menang.
Ia duduk di tepi balai-balai kayu yang berfungsi sebagai
tempat tidurnya, meraih jilbab putih yang tergantung di paku di dinding, dan
mengenakannya dengan gerakan yang lambat dan penuh kesadaran. Setiap lipatan,
setiap simpul, setiap tarikan kain, semua ia lakukan dengan saksama, seperti
ritual, seperti meditasi, seperti doa yang diucapkan tanpa suara. Pagi ini,
untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bahwa jilbab itu adalah topeng. Pagi
ini, ia merasa bahwa jilbab itu adalah bagian dari dirinya, bukan untuk
bersembunyi, tapi untuk menjadi.
Di luar, matahari terbit dengan kemegahan yang jarang
terjadi di desa ini. Sinar keemasannya menembus celah-celah dinding bambu,
menciptakan pola-pola cahaya yang indah di lantai kayu. Burung-burung berkicau
dengan riang di antara pepohonan, seolah ikut merayakan sesuatu yang tidak
mereka mengerti. Angin pagi berhembus sejuk, membawa aroma kopi dan gorengan
dari warung Mbah Karyo yang mulai beraktivitas.
Amilia berdiri, merapikan pakaiannya, dan melangkah keluar.
Tidak ada tas medis di tangannya pagi ini, bukan karena ia menyerah, tapi
karena ia ingin berjalan tanpa beban, tanpa harapan yang terlalu besar, tanpa
target yang harus ia capai. Hari ini, ia hanya ingin menjadi manusia. Bernapas.
Melihat. Mendengar. Merasakan.
Langkah Amilia membawanya ke jalan desa yang sudah ia kenal
dengan baik, setiap tikungan, setiap pohon, setiap rumah panggung dengan
dinding bambu yang bolong-bolong. Namun pagi ini, semuanya terlihat sedikit
berbeda. Mungkin karena cahaya matahari yang lebih terang dari biasanya. Mungkin
karena kabut yang lebih tipis. Atau mungkin karena hatinya yang sedikit lebih
ringan, hanya sedikit, tapi cukup untuk mengubah cara ia melihat dunia.
Di sebuah teras rumah, seorang nenek tua duduk sambil
mengupas singkong dengan pisau yang sudah tumpul. Wajahnya keriput dan penuh
dengan garis-garis waktu, matanya sayu dan agak buram karena usia, tapi
tangannya masih lincah mengupas kulit singkong yang cokelat dengan gerakan yang
sudah menjadi kebiasaan puluhan tahun.
Biasanya, nenek ini tidak pernah menatap Amilia. Ia hanya
diam, terus mengupas, seolah Amilia adalah angin yang lewat dan tidak perlu
dihiraukan. Tapi pagi ini, ketika Amilia melintas di depannya, nenek itu
menatapnya. Tidak lama, hanya sekejap, tapi cukup. Dan di ujung tatapan itu, sebelum
ia menunduk kembali ke singkong di pangkuannya, Amilia melihat sesuatu. Bukan
senyum, bukan anggukan, bukan sapaan. Tapi... sebuah kerutan di sudut matanya
yang melunak. Sebuah perubahan kecil yang mungkin hanya berarti bahwa ia tidak
lagi dibenci. Atau mungkin hanya berarti bahwa ia mulai diterima. Atau mungkin
hanya berarti bahwa nenek itu juga manusia, yang hatinya bisa berubah.
Amilia tidak berhenti. Ia terus berjalan. Namun di dalam
dadanya, ada sesuatu yang menghangat.
Di ujung jalan, di depan rumah panggung yang agak besar
dengan cat hijau yang mulai mengelupas, beberapa ibu-ibu sedang duduk-duduk
sambil menganyam tikar dari daun pandan. Tangan mereka bergerak lincah,
menjalin daun-daun kering menjadi anyaman yang rapi dan indah. Mulut mereka tidak
berhenti bergerak, bukan hanya untuk tersenyum, tapi juga untuk bergosip,
seperti biasa.
Namun ketika Amilia melintas, salah satu dari mereka, seorang
ibu dengan rambut sebahu dan wajah bulat, menatapnya dan tersenyum. Senyum
kecil, senyum singkat, senyum yang mungkin tidak berarti bagi orang lain. Tapi
bagi Amilia, senyum itu seperti mata air di tengah padang pasir. Ia membalas
senyum itu dengan senyum yang tulus, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari
terakhir.
Yang lain tidak tersenyum. Tapi mereka juga tidak membuang
muka. Mereka hanya diam, memperhatikan, dan melanjutkan anyaman mereka. Itu
sudah lebih dari cukup.
Setelah berjalan-jalan tanpa tujuan selama hampir satu jam,
Amilia memutuskan untuk mengunjungi rumah Pak Rofi. Bukan karena kewajiban, ia
sudah berjanji akan kembali untuk kontrol ulang. Tapi karena ia ingin melihat
sendiri bahwa bayi itu baik-baik saja. Bahwa semua usahanya semalam tidak
sia-sia. Bahwa kehidupan benar-benar telah menang.
Rumah Pak Rofi terletak di ujung desa, dekat dengan sawah
yang menguning. Rumah panggung sederhana dengan dinding anyaman bambu yang
sudah agak rapuh dan atap seng yang berkarat. Di halaman depan, beberapa ayam
sedang mematuk-matuk tanah mencari cacing. Seekor kucing orens dengan bulu yang
kusut tidur di bawah tangga, tidak terganggu oleh kedatangan Amilia.
"Pak Rofi!" panggil Amilia dari bawah tangga. Ia
tidak ingin langsung naik tanpa izin, belajar dari pengalaman, kesopanan adalah
hal yang penting di desa ini.
Pintu terbuka. Pak Rofi keluar, dengan wajah yang masih
lelah tapi matanya berbinar-binar. Di gendongannya, bayi laki-laki yang semalam
hampir mati itu terbaring tenang, matanya terbuka, tangannya bergerak-gerak
kecil, dan kulitnya yang tadinya kebiruan kini mulai merona sehat.
"Bu Amilia!" sapa Pak Rofi dengan suara yang
penuh kegembiraan. Ia segera turun dari tangga, menghampiri Amilia, dan menunjukkan
bayinya dengan bangga, seperti seseorang yang baru saja memenangkan hadiah
terbesar dalam hidupnya. "Lihat, Bu! Anak saya sudah sadar! Sudah mau
minum ASI! Sudah tidak kejang lagi! Panasnya sudah turun!"
Amilia mengamati bayi itu dengan saksama. Matanya yang
terlatih, mata yang sudah melihat puluhan bayi dalam berbagai kondisi, bergerak
cepat dari ujung kepala ke ujung kaki. Warna kulit: bagus, tidak pucat, tidak
kebiruan. Pernapasan: teratur, tidak pendek-pendek, tidak terdengar suara napas
tambahan. Kesadaran: baik, mata terbuka, respons terhadap rangsangan positif.
Tanda-tanda dehidrasi: tidak ada, mulut masih lembab, air mata masih ada saat menangis.
"Alhamdulillah," kata Amilia, suaranya bergetar, bukan
karena sedih, tapi karena lega yang begitu dalam. "Bayinya sehat, Pak.
Tapi tetap harus dibawa ke puskesmas untuk pemeriksaan lanjutan, ya. Jangan
sampai ada komplikasi yang tidak kita lihat."
"Baik, Bu. Saya akan bawa hari ini. Istri saya sedang
menyiapkan bawaannya."
Dari dalam rumah, seorang perempuan dengan kerudung cokelat
keluar. Wajahnya masih muda, mungkin sekitar dua puluh lima tahun, dengan
senyum yang hangat dan mata yang basah. Itu adalah Bu Rofi, istri Pak Rofi, ibu
dari bayi yang semalam hampir mati.
Ia berjalan menghampiri Amilia, lalu tanpa kata-kata, ia
memeluknya.
Amilia terkejut. Tubuhnya kaku sejenak, ia tidak terbiasa
dengan kehangatan seperti ini, tidak sejak tiba di desa ini. Tapi kemudian,
perlahan-lahan, ia meluluh. Tangannya naik, membalas pelukan itu, dan untuk
beberapa saat, dua perempuan itu berdiri berpelukan di halaman rumah yang
sederhana, dengan ayam-ayam yang masih mematuk tanah dan kucing orens yang
masih tidur di bawah tangga.
"Terima kasih, Bu," bisik Bu Rofi, suaranya basah
oleh air mata. "Saya tidak tahu harus membalas apa. Saya... saya hampir
kehilangan anak saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Tapi ibu datang. Ibu
menyelamatkannya. Saya... terima kasih..."
Amilia tidak menjawab. Ia hanya memeluk lebih erat. Air
matanya jatuh, bukan air mata kesedihan, tapi air mata syukur. Syukur bahwa ia
ada di sini. Syukur bahwa ia bisa membantu. Syukur bahwa kebaikan—meskipun
kadang terasa sia-sia, pada akhirnya akan membuahkan hasil.
"Sama-sama, Bu," bisik Amilia akhirnya, suararnya
serak. "Sama-sama."
Sepanjang hari itu, Amilia merasakan sesuatu yang tidak ia
rasakan dalam waktu yang lama: penerimaan. Tidak penuh, tidak total, tidak dari
semua orang, tapi dari beberapa orang, di beberapa tempat, dalam beberapa cara.
Ketika ia melewati warung Mbah Karyo, beberapa lelaki yang
sedang duduk di teras menyapanya. Tidak semua, beberapa masih berpaling,
beberapa masih sibuk dengan kopi mereka, tapi beberapa yang lain mengangguk,
tersenyum kecil, bahkan ada yang berkata, "Pagi, Bu." Dua kata
sederhana yang tidak pernah ia dengar dalam beberapa hari terakhir.
Ketika ia singgah ke posyandu, hanya untuk membersihkan dan
merapikan, karena ia tidak yakin akan ada yang dating, ia menemukan beberapa
ibu sudah menunggu di sana. Tidak banyak, hanya empat orang, tapi itu sudah
lebih dari sebelumnya. Mereka datang dengan anak-anak mereka, dengan senyum
malu-malu, dengan harapan yang masih rapuh.
"Bu, anak saya mau ditimbang..." kata seorang ibu
dengan suara pelan, matanya tidak berani menatap langsung ke arah Amilia.
"Bu, anak saya batuk-batuk, sudah tiga hari... bisakah
ibu lihat?" kata yang lain.
Amilia tersenyum, senyum yang tulus, senyum yang tidak
perlu dipaksakan. "Bisa, Bu. Semuanya bisa. Mari kita lakukan satu per
satu."
Anita dan Yulia datang setengah jam kemudian, dengan
wajah-wajah yang berbinar-binar ketika melihat posyandu tidak lagi sepi. Mereka
langsung membantu, menimbang bayi, mencatat data, mengatur antrean, dan
sesekali menyelipkan kata-kata semangat kepada Amilia.
"Lihat, Bu," bisik Anita, matanya berbinar-binar.
"Perubahan itu pelan, tapi nyata."
Amilia hanya tersenyum. Ia tidak ingin berharap terlalu
banyak. Ia sudah belajar bahwa harapan yang terlalu besar bisa menghancurkan
ketika jatuh. Tapi di dalam hatinya, di tempat yang paling dalam dan paling
jujur, ia merasa bahwa sesuatu telah berubah. Sesuatu yang tidak bisa ia
jelaskan dengan kata-kata, tapi ia rasakan dengan sekujur tubuhnya.
Sore harinya, di bawah pohon beringin besar yang sudah
menjadi tempat berkumpul mereka sejak kecil, para pemuda desa duduk bersila. Tidak
ada yang bercanda pagi itu, suasana terlalu serius untuk bercanda. Bahkan
Guntur, yang biasanya paling banyak bicara, hanya diam dengan wajah yang tegang.
Amat berdiri di tengah-tengah mereka. Untuk pertama
kalinya, ia tidak duduk di pinggir seperti biasa. Ia berdiri, dan matanya
menatap satu per satu temannya dengan sorot yang tajam dan penuh tekad.
"Kita tidak bisa diam lagi," kata Amat, suaranya
tegas dan tanpa basa-basi. "Sudah terlalu lama kita hanya jadi penonton.
Sementara Bu Amilia berjuang sendirian, sementara desa ini terbelah, sementara
orang-orang yang butuh pertolongan tidak mendapatkan yang seharusnya. Kita
tidak bisa diam lagi."
Rangga mengangguk. "Iya. Tapi kita harus mulai dari
mana? Kita bukan tenaga medis. Kita tidak punya ilmu seperti Bu Amilia. Kita
hanya... pemuda desa biasa."
"Kita bisa mulai dari hal kecil," jawab Amat.
"Bantu sosialisasi. Bantu edukasi. Bantu warga paham bahwa Bu Amilia bukan
musuh, tapi teman. Bahwa ilmu medis bukan untuk menggantikan tradisi, tapi
untuk melengkapinya. Kita bisa jadi jembatan antara Bu Amilia dan warga yang
masih ragu."
Camelia, yang duduk di samping Amat, menambahkan, "Dan
kita bisa mulai dari keluarga kita sendiri. Dari orang tua kita, dari saudara
kita, dari tetangga kita. Jika setiap dari kita bisa membawa satu atau dua
orang untuk percaya pada Bu Amilia, itu sudah banyak."
Guntur akhirnya bicara. Wajahnya yang biasanya penuh
candaan itu kini serius. "Tapi bagaimana dengan Mbah Sari? Kita tidak bisa
mengabaikan beliau. Beliau sudah puluhan tahun di sini. Warga masih percaya
padanya."
"Kita tidak harus memusuhi Mbah Sari," jawab
Amat. "Kita hanya perlu menunjukkan bahwa Bu Amilia bukan ancaman. Bahwa
keduanya bisa berjalan berdampingan. Tradisi dan ilmu. Keyakinan dan
bukti."
Hermansyah, yang duduk di pojok dengan tangan bersilang di
dada, akhirnya bicara. Suaranya berat, penuh dengan perenungan yang panjang.
"Saya sudah bicara dengan ayah saya," katanya. "Awalnya beliau
marah. Katanya saya tidak tahu adat, tidak tahu sejarah, tidak tahu apa-apa.
Tapi setelah saya ceritakan tentang bayi Pak Rofi, tentang bagaimana Bu Amilia
menyelamatkannya, ayah saya diam. Tidak setuju, tapi juga tidak menolak. Itu
sudah kemajuan."
Nadya tersenyum dari samping Hermansyah. "Itu lebih
dari yang kita harapkan, Mas. Perubahan tidak pernah instan. Tapi dengan
langkah kecil, dengan kesabaran, dengan bukti-bukti yang terus kita tunjukkan, pada
akhirnya, mereka akan melihat."
Amat mengangguk. "Setuju. Maka mulai besok, kita
bergerak. Bukan melawan siapapun, tapi mendukung Bu Amilia. Dengan cara kita.
Dengan kemampuan kita."
Di pinggir desa, di tempat yang sama seperti biasanya, Anto
duduk di atas bak truknya. Seperti biasa, rokok di tangan, mata menatap langit,
dan pikiran yang melayang ke tempat yang tidak diketahui orang lain. Namun sore
itu, ada senyum di wajahnya. Senyum kecil yang jarang muncul, senyum yang
mengatakan bahwa ia melihat sesuatu yang baik, sesuatu yang membuatnya yakin
bahwa dunia ini masih layak dihuni.
Amat Junior menghampirinya setelah pertemuan di bawah pohon
beringin. Ia butuh menenangkan pikirannya, dan Anto dengan segala keanehannya, adalah
orang yang paling tepat untuk diajak bicara.
"To," panggil Amat Junior sambil duduk di samping
Anto di atas bak truk yang berkarat.
"Mat," jawab Anto tanpa menoleh. Matanya masih
menatap langit, yang sore itu berwarna jingga keemasan, seperti lukisan yang
dibuat oleh tangan yang mahir.
"Kami akan bergerak. Mulai besok. Mendukung Bu
Amilia."
Anto tersenyum, senyum yang sama, senyum kecil yang penuh
makna. "Akhirnya."
"Kamu tidak kaget?"
"Tidak. Saya sudah tahu sejak awal bahwa kalian akan
memilih pihak yang benar. Hanya masalah waktu."
Amat Junior menghela napas. "Kamu ini aneh, To. Tapi
kadang... kata-katamu benar juga."
Anto tertawa kecil, tawa yang pendek, tawa yang tidak
mengandung kebahagiaan berlebihan, tapi tawa yang tulus. "Saya tidak aneh,
Mat. Saya hanya melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Dan mendengar apa
yang tidak didengar orang lain. Dan merasakan apa yang tidak dirasakan orang
lain."
"Maksudmu?"
Anto menoleh, menatap Amat Junior dengan sorot mata yang
dalam, seperti sumur tua yang tidak pernah kering. "Saya melihat bahwa Bu
Amilia bukan hanya bidan. Ia adalah... harapan. Bukan hanya untuk desa ini,
tapi untuk cara kita memandang dunia. Dan saya mendengar bahwa desa ini,
setidaknya sebagian dari mereka, mulai membuka hati. Dan saya merasakan bahwa
perubahan... perubahan itu sudah di depan mata. Tinggal kita yang mau meraihnya
atau tidak."
Amat Junior terdiam. Kata-kata Anto selalu seperti itu, misterius,
sulit dicerna, tapi setelah direnungkan, terasa dalam dan benar.
"Kita akan meraihnya, To," kata Amat Junior akhirnya.
"Kita tidak akan biarkan harapan itu lewat."
Anto tersenyum lagi. "Saya tahu. Itu sebabnya saya
masih di sini."
Malam itu, di rumah dinas, Amilia duduk bersama Anita dan
Yulia. Tidak ada pertemuan resmi, tidak ada agenda, tidak ada target yang harus
dicapai. Hanya tiga perempuan yang duduk bersila di lantai kayu, dengan lampu
minyak tanah yang menyala terang di tengah-tengah mereka, dan secangkir teh
jahe yang mengepulkan uap hangat.
Mereka berbicara tentang banyak hal, tentang masa lalu,
tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai, tentang
ketakutan-ketakutan yang masih menghantui. Anita bercerita tentang ibunya yang
sakit-sakitan dan bagaimana ia harus menjadi tulang punggung keluarga sejak
usia delapan belas tahun. Yulia bercerita tentang suaminya yang merantau ke
kota dan jarang pulang, meninggalkannya sendirian dengan dua anak yang masih
kecil. Amilia bercerita tentang ibunya, seorang bidan desa juga, yang
menginspirasinya untuk memilih jalan ini, dan tentang ayahnya yang meninggal
ketika ia masih di bangku SMA.
"Bu Amilia," panggil Anita, menggunakan panggilan
yang lebih akrab dari biasanya. "Apa ibu tidak pernah menyesal? Memilih
jalan ini? Datang ke desa sejauh ini? Jauh dari keluarga? Jauh dari
teman-teman?"
Amilia terdiam sejenak. Ia menyesap teh jahenya, merasakan
hangatnya menyebar dari tenggorokan ke seluruh tubuhnya. Matanya menatap nyala
lilin yang berkedip-kedip, seolah mencari jawaban di antara api kecil itu.
"Pernah," jawabnya akhirnya, jujur. "Banyak
kali. Kemarin, misalnya. Setelah dituduh, setelah dimarahi, setelah semua orang
seolah membenciku... aku hampir menyerah. Aku hampir packing dan pergi."
Anita dan Yulia terdiam, mendengarkan dengan saksama.
"Tapi kemudian," lanjut Amilia, "aku ingat
sesuatu yang ibu katakan. Ibuku. Dia bilang, 'Pengabdian itu tidak pernah
mudah. Kalau mudah, namanya bukan pengabdian, tapi liburan.' Dan aku ingat
bayangan-bayangan pasien yang pernah aku tolong. Bayi-bayi yang aku selamatkan.
Ibu-ibu yang bisa pulang dengan selamat. Semua itu... membuatku bertahan."
Yulia menggenggam tangan Amilia. "Kami senang ibu
bertahan, Bu. Desa ini butuh ibu. Kami butuh ibu."
Anita mengangguk. "Iya, Bu. Mungkin hanya sedikit yang
sadar sekarang. Tapi nanti, lama-lama, mereka akan lihat sendiri. Bahwa ibu
bukan musuh. Ibu adalah... berkah."
Amilia tersenyum, senyum yang hangat, senyum yang tulus,
senyum yang tidak perlu dipaksakan. "Terima kasih, kalian berdua. Tanpa
kalian, aku sudah lama menyerah."
Mereka bertiga terdiam, menikmati kehangatan teh jahe dan
kehangatan persahabatan yang baru mulai tumbuh. Di luar, angin malam berhembus
pelan, membawa aroma bunga melati dari kebun tetangga. Bulan bersinar terang,
membanjiri desa dengan cahaya perak yang lembut.
Air mata...
Bukan tanda kelemahan. Bukan bukti bahwa seseorang tidak
kuat. Bukan isyarat bahwa perjuangan telah usai.
Air mata adalah bahasa hati yang paling jujur. Ia keluar
ketika kata-kata tidak lagi cukup. Ia mengalir ketika beban terlalu berat untuk
dipikul sendirian. Ia jatuh ketika dinding-dinding yang kita bangun untuk melindungi
diri akhirnya runtuh dan di balik runtuhnya dinding itu, kita menemukan bahwa
kita tidak sendirian.
Di Desa Awan Biru, setelah malam penuh tangis itu, setelah
malam di mana Amilia hampir menyerah, setelah malam di mana ia menangis di
lantai kayu rumah dinasnya dengan air mata yang tidak berkesudahan, sesuatu
telah berubah.
Bukan perubahan besar. Bukan revolusi. Bukan peristiwa yang
akan dicatat dalam buku sejarah.
Tapi perubahan yang kecil, pelan, dan pasti.
Amilia tidak lagi berdiri sendiri.
Ia memiliki Anita dan Yulia, yang setia di sampingnya.
Ia memiliki Rini, yang berani datang diam-diam meskipun takut.
Ia memiliki Pak Rofi dan keluarganya, yang bersyukur atas pertolongannya.
Ia memiliki para pemuda, Amat Junior, Hermansyah, Camelia, dan yang lain, yang
mulai bergerak mendukungnya.
Ia memiliki Anto, dengan segala keanehannya, yang percaya bahwa ia adalah
harapan.
Dan ia memiliki dirinya sendiri, yang setelah sekian lama
ragu, mulai percaya bahwa ia berada di tempat yang benar, melakukan hal yang
benar, dan tidak perlu menyerah.
Perlahan, tanpa suara, tanpa gemuruh, tanpa teriakan
kemenangan, harapan mulai tumbuh di Desa Awan Biru.
Seperti tunas kecil yang muncul di tanah yang kering
setelah hujan.
Seperti bintang pertama yang muncul di langit yang gelap setelah badai.
Seperti senyum yang mulai tersungging di wajah seorang perempuan yang hampir
putus asa.
Dan itu, hanya itu, sudah cukup.
BAB 11: CAHAYA KECIL DI TENGAH GELAP
Pagi itu, Desa Awan Biru terbangun dengan suasana yang
berbeda. Matahari terbit seperti biasa, enggan, malas, dan perlahan-lahan
menampakkan wajahnya di balik bukit-bukit hijau yang diselimuti kabut tipis.
Namun ada sesuatu yang berubah di udara, sesuatu yang tidak bisa dilihat tapi
bisa dirasakan oleh setiap orang yang memiliki hati yang masih peka. Seperti
bau tanah setelah hujan, seperti embusan angin yang membawa aroma bunga dari
kebun yang jauh, seperti senyum yang mulai tersungging di wajah seseorang yang
lama tidak tersenyum.
Burung-burung berkicau lebih riang dari biasanya. Ayam-ayam
jantan berkokok dengan suara yang lebih bersemangat. Bahkan daun-daun yang
berguguran di jalan desa seolah menari-nari ditiup angin pagi, menciptakan
koreografi alam yang indah dan menenangkan. Mungkin hanya perasaan. Mungkin hanya
harapan yang mulai tumbuh setelah sekian lama terpendam. Atau mungkin, mungkin,
alam sendiri ikut merayakan sesuatu yang tidak dipahami oleh manusia, tetapi
dirasakan oleh setiap makhluk yang hidup di dalamnya.
Amilia terbangun sebelum matahari terbit, seperti biasa.
Namun kali ini, ia tidak berbaring lama di tempat tidurnya, menatap
langit-langit anyaman bambu dengan pikiran yang kacau dan hati yang berat. Kali
ini, ia bangkit dengan gerakan yang lebih ringan, lebih cepat, lebih
bersemangat. Bukan karena semua masalah telah selesai, ia tahu betul bahwa
masih banyak yang harus ia hadapi, masih banyak luka yang harus ia sembuhkan,
masih banyak hati yang harus ia menangkan. Tapi karena untuk pertama kalinya
setelah sekian lama, ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan:
harapan.
Harapan itu kecil, rapuh, dan masih samar-samar, seperti
embun pagi yang mudah menguap ketika terkena sinar matahari. Tapi ia ada. Ia
nyata. Ia tumbuh di dadanya seperti tunas kecil yang muncul di tanah yang
kering setelah disiram hujan. Dan Amilia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia
akan menjaga harapan itu, menyiraminya dengan kesabaran, melindunginya dari
angin kencang dan terik matahari, dan membiarkannya tumbuh menjadi pohon yang
kokoh.
Ia berdiri di depan cermin kecil, selembar kaca bekas
bingkai foto yang ia gantung di dinding dengan seutas tali rafia. Di dalam
cermin itu, ia melihat seorang perempuan dengan wajah yang masih pucat, mata
yang masih sedikit sembab, dan bibir yang masih pecah-pecah. Namun ada sesuatu
yang berbeda di matanya, sesuatu yang tidak ia lihat dalam beberapa hari
terakhir. Bukan kilau kebahagiaan, bukan sinar kemenangan, tapi... ketenangan.
Ketenangan yang lahir dari keputusan untuk tidak menyerah. Ketenangan yang
muncul ketika seseorang memilih untuk bertahan meskipun semua tampak gelap.
"Kamu masih bisa," bisiknya pada bayangannya
sendiri, seperti doa yang diucapkan setiap pagi. "Kamu masih kuat. Kamu
masih bisa."
Ia mengenakan jilbab putihnya, jilbab yang sama, yang sudah
mulai kusam karena dicuci dengan air sumur yang kadang keruh, dengan gerakan
yang lambat dan penuh kesadaran. Setiap lipatan, setiap simpul, setiap tarikan
kain, ia lakukan dengan saksama, seperti ritual, seperti meditasi, seperti
persiapan untuk perang yang belum usai. Lalu ia mengambil tas medis merahnya, tas
yang sudah menjadi bagian dari tubuhnya, seperti tangan atau kaki, dan
menggantungkannya di bahu kanan.
Hari ini, ia tidak akan berjalan tanpa tujuan. Hari ini, ia
akan pergi ke posyandu. Bukan karena ia yakin akan ada yang dating, ia sudah
belajar untuk tidak berharap terlalu banyak. Tapi karena ia harus tetap
berjalan. Karena jika ia berhenti, ia takut tidak akan bisa memulai lagi.
Posyandu Desa Awan Biru masih sama seperti dulu. Bangunan
kecil dengan dinding setengah tembok, atap seng yang berkarat, dan lantai tanah
yang sedikit becek karena embun pagi. Meja kayu panjang masih berdiri di sudut,
dengan timbangan bayi yang sudah berkarat dan buku catatan yang mulai lusuh.
Tidak ada yang berubah secara fisik. Tapi pagi itu, ketika Amilia tiba, ia
merasakan sesuatu yang berbeda.
Di sana, di depan posyandu, sudah ada beberapa orang yang
menunggu.
Bukan banyak. Tidak seperti yang ia bayangkan ketika
pertama kali datang ke desa ini dengan penuh harapan. Tapi cukup untuk membuat
jantungnya berdegup lebih cepat dan matanya berkaca-kaca.
Tiga ibu. Duduk di kursi kayu panjang yang disediakan di
teras posyandu. Masing-masing menggendong bayi atau balita di pangkuan mereka.
Wajah mereka masih penuh keraguan, matanya masih waspada, bibirnya masih
terkunci, dan tubuh mereka masih sedikit tegang. Tapi mereka datang. Mereka
datang meskipun takut. Mereka datang meskipun belum sepenuhnya percaya. Mereka
datang karena mereka membutuhkan pertolongan, dan di desa ini, hanya ada satu
orang yang bisa memberi mereka pertolongan itu.
Yulia, yang tiba lebih awal untuk membantu membersihkan
posyandu, tersenyum lebar ketika melihat Amilia. Matanya berbinar-binar, bukan
dengan kebahagiaan yang berlebihan, tapi dengan rasa lega yang mendalam.
"Bu... mereka datang..." bisiknya, suaranya nyaris bergetar karena
emosi yang tertahan.
Amilia terkejut. Ia berhenti di pintu posyandu, matanya
menatap satu per satu ibu yang duduk di depannya. Ia mengenali beberapa dari
mereka, ada Bu Lastri, yang kemarin menolaknya dengan halus karena takut
dibilang ini-itu. Ada Bu Ningsih, seorang ibu muda dengan anak balita yang
sering sakit-sakitan. Dan ada seorang ibu lain yang wajahnya tidak begitu ia
kenal, mungkin baru pindah atau jarang ikut kegiatan desa.
"Bu... kami mau periksa..." kata Bu Lastri,
suaranya pelan dan sedikit malu-malu. Matanya tidak berani menatap langsung ke
arah Amilia, tapi ia berusaha tersenyum, senyum yang kaku, senyum yang masih
penuh keraguan, tapi senyum yang tulus.
Amilia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, senyum yang
hangat, senyum yang tulus, senyum yang tidak perlu dipaksakan. Dan untuk
beberapa saat, tidak ada yang bicara. Hanya ada tatapan yang saling bertemu,
senyum yang saling memberi, dan harapan yang mulai tumbuh di hati
masing-masing.
"Silakan masuk, Bu," kata Amilia akhirnya,
suararnya sedikit serak karena emosi. "Kita lakukan satu per satu. Bu
Lastri, siapa yang mau pertama?"
Posyandu hari itu tidak ramai. Hanya tiga ibu dengan
anak-anak mereka. Tapi bagi Amilia, bagi Yulia, bagi Anita yang datang sepuluh
menit kemudian, posyandu itu terasa seperti lautan manusia. Setiap suara,
setiap tawa, setiap tangis bayi, terdengar seperti simfoni yang paling merdu,
seperti musik yang sudah lama tidak mereka dengar.
Bu Lastri maju pertama, dengan anak balitanya yang berusia
dua tahun. Anak itu, seorang laki-laki kecil dengan rambut tipis dan mata yang
besar, sedari tadi diam, mungkin karena takut dengan suasana baru, mungkin
karena ia merasakan ketegangan yang masih menggantung di udara.
"Namanya siapa, Bu?" tanya Amilia sambil membuka
buku catatan dan menyiapkan timbangan.
"Rizki, Bu," jawab Bu Lastri, sambil mendudukkan
anaknya di timbangan dengan hati-hati. "Usianya dua tahun tiga
bulan."
Amilia mencatat, lalu menimbang, lalu mengukur tinggi badan,
lalu memeriksa suhu, lalu memeriksa telinga, hidung, tenggorokan, dan semua
yang perlu diperiksa. Tangannya bergerak dengan lembut namun professional, tidak
terburu-buru, tidak terlalu lambat, tepat seperti yang diajarkan di bangku
kuliah. Matanya mengamati setiap detail, mencari tanda-tanda yang tidak normal,
membandingkan dengan grafik pertumbuhan yang ia hafal di luar kepala.
"Berat badannya 10,5 kilogram. Tinggi 85 sentimeter.
Ini masih dalam batas normal, Bu, tapi agak di bawah rata-rata untuk usianya.
Untuk anak laki-laki seusia Rizki, berat idealnya sekitar 12-14 kilogram. Jadi
Rizki perlu tambahan asupan gizi. Makanannya sudah apa saja, Bu?"
Bu Lastri menghela napas. Wajahnya yang tadinya sedikit
tegang kini berubah menjadi cemas. "Dia susah makan, Bu. Pilih-pilih. Cuma
mau nasi sama telur. Sayur tidak mau, buah tidak mau, ikan juga tidak
mau."
Amilia mengangguk, memahami. "Ini biasa, Bu. Anak
seusia ini memang sering susah makan. Tapi kita tidak boleh menyerah. Coba
variasikan makanannya. Misalnya, telur bisa dicampur dengan sayur yang
dihaluskan. Atau buat nugget dari ikan dan sayur. Bentuknya lucu-lucu biar
menarik. Jangan lupa buah-buahan yang manis seperti pisang atau pepaya. Dan
yang paling penting, Bu, jangan dipaksa. Kalau dipaksa, anak bisa trauma dan
semakin susah makan. Beri sedikit-sedikit tapi sering."
Bu Lastri mengangguk-angguk, matanya serius memperhatikan.
Ia tampak lega karena tidak dimarahi, karena selama ini ia sering dimarahi oleh
mertuanya yang mengatakan bahwa ia tidak becus mengurus anak. "Baik, Bu.
Saya coba."
"Bagus. Dan jangan lupa imunisasi. Dari catatan saya,
Rizki sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap, tapi booster untuk campak dan
DPT belum. Nanti saya jadwalkan, ya. Sangat penting untuk daya tahan
tubuhnya."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Bu Ningsih berikutnya, dengan anak balitanya yang berusia
satu tahun, seorang perempuan kecil dengan rambut ikal dan pipi tembam. Anak
itu tertawa ketika Amilia menyentuh perutnya, membuat semua orang di ruangan
itu ikut tersenyum.
"Anaknya sehat, Bu," kata Amilia setelah
memeriksa. "Berat dan tinggi ideal. Perkembangan motoriknya juga bagus.
Sudah bisa merangkak dan berdiri dengan bantuan. Tapi catatan saya, imunisasi
hepatitis B dosis kedua belum. Bulan lalu seharusnya sudah, tapi tidak
datang."
Bu Ningsih menggaruk kepalanya dengan wajah bersalah.
"Maaf, Bu. Waktu itu saya dengar-dengar dari tetangga bahwa imunisasi bisa
bikin anak demam, jadi saya takut."
Amilia tersenyum, bukan senyum menghakimi, tapi senyum
pengertian. "Itu wajar, Bu. Memang setelah imunisasi, beberapa anak bisa
mengalami demam ringan. Itu tanda bahwa sistem kekebalan tubuhnya sedang
bekerja membentuk antibodi. Demamnya biasanya hanya satu atau dua hari, dan
bisa diatasi dengan kompres hangat dan banyak minum. Manfaat imunisasi jauh
lebih besar daripada risikonya, Bu. Imunisasi melindungi anak dari penyakit
berbahaya seperti hepatitis, TBC, difteri, dan campak. Jadi tolong ya, Bu, lain
kali jangan dilewatkan."
"Iya, Bu. Saya janji."
Di tengah kegiatan posyandu, ketika Amilia sedang sibuk
mencatat data imunisasi, suara langkah kaki terdengar dari luar. Bukan langkah
kaki ibu-ibu yang biasa datang dengan anak di gendongan. Langkah kaki yang
lebih berat, lebih tegas, lebih berwibawa. Amilia menoleh, dan matanya sedikit
membelalak ketika melihat siapa yang datang.
Pak Santoso.
Lelaki setengah baya dengan kumis tebal dan sorot mata yang
teduh itu berdiri di pintu posyandu, dengan tangan di saku celana dan wajah
yang sulit diartikan. Ia tidak membawa anak atau istri, ia datang sendirian.
Dan di desa ini, seorang lelaki dewasa yang datang ke posyandu tanpa didampingi
istri atau anak adalah pemandangan yang langka.
"Pak Santoso?" sapa Amilia, sedikit terkejut.
"Ada yang bisa dibantu?"
Pak Santoso tersenyum, senyum yang hangat, senyum yang
membuat Amilia merasa sedikit lebih tenang. "Saya hanya ingin melihat, Bu.
Mendengar kabar bahwa posyandu mulai ramai lagi. Saya penasaran."
Ia masuk, duduk di kursi kayu panjang di sudut ruangan, dan
mengamati kegiatan dengan saksama. Matanya yang teduh itu bergerak dari Amilia
ke ibu-ibu, dari ibu-ibu ke anak-anak, dari anak-anak ke alat-alat medis yang
tertata rapi di meja. Ia tidak bicara, hanya mengamati, seperti seorang guru
yang sedang menilai muridnya.
Amilia merasa sedikit gugup. Kehadiran Pak Santoso, yang
dikenal sebagai tetua desa yang bijaksana dan disegani, membawa tekanan
tersendiri. Tapi ia berusaha tetap fokus pada pekerjaannya. Ia terus melayani
ibu-ibu yang datang, menjelaskan dengan sabar, mencatat dengan teliti, dan
tersenyum dengan tulus.
Setelah semua pasien selesai dilayani, setelah ibu-ibu
pulang dengan senyum di wajah dan janji akan kembali, Pak Santoso masih duduk
di kursinya, dengan tatapan yang dalam dan pikiran yang tidak bisa ditebak.
"Bu Amilia," panggilnya akhirnya.
"Iya, Pak?"
"Boleh saya bicara sebentar?"
Amilia duduk di seberangnya, di kursi kayu yang sama yang
digunakan untuk memeriksa pasien. Yulia dan Anita, yang sedang membersihkan
alat-alat medis di belakang, segera mengerti bahwa ini bukan percakapan untuk didengar.
Mereka pindah ke ruangan lain dengan alasan mencuci peralatan, meninggalkan
Amilia dan Pak Santoso berdua di ruang utama posyandu.
"Bu," kata Pak Santoso, suaranya pelan namun
penuh makna, "saya ingin minta maaf."
Amilia terkejut. "Maaf? Untuk apa, Pak?"
"Untuk semua yang terjadi. Untuk semua yang tidak saya
lakukan." Pak Santoso menghela napas panjang, matanya menatap keluar
jendela, ke arah sawah yang menguning di kejauhan. "Saya adalah salah satu
tetua desa. Saya seharusnya menjadi penengah, menjadi jembatan antara warga dan
ibu. Tapi saya... saya diam. Saya membiarkan semua terjadi. Saya membiarkan ibu
dihakimi, dibenci, disingkirkan. Padahal saya tahu, saya sudah cukup tua untuk
membedakan mana yang benar dan mana yang salah, bahwa ibu tidak bersalah."
Amilia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya duduk di
sana, dengan hati yang berdebar kencang dan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Saya tidak bisa memutar waktu," lanjut Pak
Santoso. "Saya tidak bisa menghapus semua yang sudah terjadi. Tapi saya bisa
memulai dari sekarang. Saya akan mendukung ibu. Bukan secara terbuka, saya
tidak bisa melawan arus sendirian. Tapi saya akan bicara dengan warga yang saya
pengaruhi. Saya akan coba meluruskan kesalahpahaman. Saya akan coba menjadi
jembatan, seperti yang seharusnya saya lakukan dari awal."
Air mata Amilia jatuh. Tidak bisa ia tahan lagi. Ia
menangis, bukan karena sedih, bukan karena kecewa, tapi karena terharu. Karena
untuk pertama kalinya, seorang tetua desa, seseorang yang dihormati dan
disegani, berdiri di sisinya.
"Terima kasih, Pak Santoso," bisiknya, suaranya
pecah. "Terima kasih."
Pak Santoso tersenyum. "Jangan berterima kasih dulu,
Bu. Masih panjang perjuangan kita. Tapi setidaknya... kita tidak
sendirian."
Namun tidak semua orang senang dengan perubahan yang mulai
terjadi.
Di rumah Mbah Sari, di bagian gelap desa yang jauh dari
keramaian, suasana sunyi. Tidak ada tawa, tidak ada obrolan santai, tidak ada
bisik-bisik penuh makna seperti biasanya. Yang ada hanya keheningan yang berat,
keheningan yang terasa seperti beban yang menggantung di leher setiap orang
yang berada di dalamnya.
Mbah Sari duduk di kursi kayu tertua di ruang tamunya.
Wajahnya datar datar yang menakutkan. Matanya yang tajam menatap ke luar
jendela, ke arah desa yang mulai berubah, ke arah warga yang mulai beralih, ke
arah kekuasaannya yang mulai terkikis.
Pak Sugeng duduk di seberangnya, dengan wajah yang gelisah
dan tangan yang gemetar. "Mbah, warga mulai berdatangan ke posyandu. Bu
Lastri, Bu Ningsih, bahkan Bu Rofi ikut. Katanya Pak Santoso juga sudah
mendekati bidan itu."
Mbah Sari tidak menjawab. Ia hanya diam, matanya tetap
menatap keluar jendela.
"Kalau ini terus berlanjut," lanjut Pak Sugeng,
suaranya mulai panik, "lama-lama tidak ada yang percaya pada Mbah lagi.
Kita harus melakukan sesuatu."
Mbah Sari akhirnya bicara. Suaranya pelan, hampir berbisik,
namun setiap suku kata keluar seperti sembilu yang ditusukkan pelan-pelan ke
dalam daging. "Kita tidak perlu melakukan apa-apa."
Pak Sugeng terkejut. "Maksud Mbah?"
"Biarkan mereka pergi ke bidan itu. Biarkan mereka
merasakan sendiri." Mbah Sari tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke
matanya. "Suatu saat, mereka akan sadar bahwa ilmu barat tidak bisa
menyelesaikan semua masalah. Dan ketika itu terjadi... mereka akan kembali."
Pak Sugeng mengangguk, meskipun hatinya masih gelisah. Ia
tidak yakin dengan rencana Mbah Sari—atau mungkin ia takut bahwa rencana itu
tidak akan berhasil. Tapi ia tidak berani membantah. Ia hanya diam, menunduk,
dan berdoa, berdoa bahwa Mbah Sari benar, bahwa warga akan kembali, bahwa desa
ini tidak akan berubah terlalu cepat.
Sore harinya, setelah posyandu selesai dan semua alat sudah
dibereskan, Amilia duduk di teras rumah dinasnya. Ia menikmati angin sore yang
sejuk, menatap langit yang mulai berwarna jingga, dan mendengarkan suara
burung-burung yang mulai kembali ke sarangnya. Ada kedamaian di hatinya, kedamaian
yang tidak ia rasakan dalam waktu yang lama.
Tas medis merah tergeletak di sampingnya, sudah tertata
rapi, siap digunakan kapan saja. Buku catatan ada di pangkuannya, penuh dengan
coretan-coretan baru, data posyandu, jadwal imunisasi, catatan kunjungan rumah,
dan rencana-rencana untuk minggu-minggu ke depan. Pena yang sempat kering
karena tidak digunakan, kini sudah diganti dengan yang baru, dan tulisannya
mengalir deras di atas kertas.
Yulia datang membawa teh jahe hangat, seperti biasa. Anita
datang dengan senyum di wajahnya, seperti biasa. Rini datang dengan bayinya di
gendongan, seperti biasa. Dan untuk pertama kalinya, Pak Santoso juga dating, bukan
untuk memeriksa kesehatan, tapi sekadar untuk duduk-duduk, berbincang, dan
menunjukkan bahwa ia ada di pihak mereka.
"Bu Amilia," kata Pak Santoso sambil menyesap teh
jahenya, "saya dengar ibu punya rencana untuk membuat program posbindu? Untuk
lansia?"
"Iya, Pak," jawab Amilia, matanya berbinar-binar.
"Di desa ini banyak lansia yang tidak pernah memeriksa kesehatan. Padahal
risiko penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan rematik cukup tinggi. Saya
ingin mengadakan pemeriksaan rutin setiap bulan,tekanan darah, gula darah,
kolesterol, dan penyuluhan tentang pola hidup sehat."
Pak Santoso mengangguk. "Bagus. Saya akan bantu
sosialisasikan ke warga. Dan jika perlu, saya bisa sediakan tempat di rumah
saya untuk kegiatannya. Lebih dekat dengan lansia di ujung desa."
Amilia tersenyum, senyum yang hangat, senyum yang tulus,
senyum yang lahir dari rasa syukur yang begitu dalam. "Terima kasih, Pak.
Itu sangat berarti."
Malam itu, di rumah dinas yang sederhana, sekelompok kecil
orang berkumpul. Bukan pertemuan besar, bukan acara resmi, bukan deklarasi
perang terhadap siapa pun. Hanya sekadar kumpul-kumpul, berbincang-bincang,
berbagi cerita dan mimpi. Tapi bagi Amilia, itu adalah malam yang indah. Malam
di mana ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Malam di mana ia melihat cahaya
kecil di tengah gelap, cahaya yang tidak terlalu terang, tapi cukup untuk
menunjukkan jalan.
Perubahan tidak datang dengan gemuruh. Ia tidak datang
dengan teriakan, dengan pawai, dengan pidato-pidato yang menggebu-gebu. Ia
datang dengan langkah-langkah kecil, dengan hati-hati, dengan keraguan yang
masih menyertai. Ia datang ketika seseorang memutuskan untuk tidak menyerah. Ia
datang ketika orang lain memutuskan untuk tidak diam. Ia datang ketika
sekelompok kecil orang berkumpul di sebuah ruangan sederhana, dengan teh jahe
hangat di tangan, dan bermimpi tentang masa depan yang lebih baik.
Di Desa Awan Biru, satu demi satu, orang mulai berani.
Bukan berani secara terbuka, masih ada ketakutan, masih ada keraguan, masih ada
bisik-bisik di balik pintu. Tapi berani di dalam hati. Berani untuk
mempertanyakan apa yang selama ini dianggap benar. Berani untuk membuka pikiran
terhadap kemungkinan bahwa ada cara lain, cara yang mungkin lebih baik, cara
yang bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Pak Santoso berani.
Bu Lastri berani.
Bu Ningsih berani.
Bu Rofi berani.
Yulia dan Anita berani.
Amat, Hermansyah, Camelia, dan pemuda lainnya berani.
Dan Amilia, Amilia yang hampir menyerah, yang hampir
packing dan pergi, yang hampir memilih jalan yang lebih mudah, Amilia juga
berani. Berani untuk tetap tinggal. Berani untuk terus berjuang. Berani untuk
percaya bahwa kebaikan pada akhirnya akan menang, meskipun jalannya panjang dan
berliku.
Di tengah semua itu, Mbah Sari dan para pengikutnya masih
diam di rumah mereka, masih merencanakan sesuatu, masih percaya bahwa pada
akhirnya warga akan kembali. Mereka belum menyerah. Tapi Amilia juga tidak akan
menyerah.
Dan di Desa Awan Biru, pertempuran antara tradisi dan
perubahan masih terus berlangsung. Tapi untuk pertama kalinya, keseimbangan
mulai bergeser. Dan cahaya kecil di tengah gelap itu, meskipun masih redup,
meskipun masih rapuh, meskipun masih bisa padam kapan saja, mulai menyala lebih
terang.
BAB 12: KONFLIK YANG MEMUNCAK
Langit Desa Awan Biru siang itu terasa panas. Bukan panas
biasa yang disebabkan oleh terik matahari di bulan kemarau, panas yang menusuk
kulit, membuat keringat bercucuran, dan memaksa setiap orang mencari tempat
berteduh di bawah pohon rindang. Ini adalah panas yang berbeda. Panas yang
berasal dari dalam bumi, dari dalam hati, dari dalam konflik yang sudah terlalu
lama dipendam dan kini mulai meluap ke permukaan. Panas yang membuat
orang-orang yang biasanya ramah menjadi mudah tersinggung, yang membuat senyum
menghilang dari wajah-wajah yang biasa ceria, yang membuat desa yang damai
berubah menjadi medan pertempuran yang sunyi namun mematikan.
Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan sinarnya
yang paling terik tanpa ampun. Daun-daun pepohonan menggulung, seolah berusaha
melindungi diri dari sengatan panas yang tak kenal ampun. Ayam-ayam berteduh di
bawah teras rumah, dengan sayap sedikit mengembang untuk melepaskan panas
tubuh. Anjing-anjing terdiam di bawah kolong rumah, tidak punya energi untuk
menggonggong pada orang yang lewat. Bahkan burung-burung pun berhenti berkicau,
seolah ikut merasakan ketegangan yang menggantung di udara.
Namun panas yang paling menyengat bukanlah dari matahari.
Panas yang paling menyengat berasal dari balai desa, di mana puluhan warga
berkumpul untuk sebuah pertemuan yang tidak resmi, tidak diumumkan melalui
kentongan, tidak tercatat dalam buku agenda, tidak dihadiri oleh semua
perangkat desa. Namun berita tentang pertemuan ini menyebar lebih cepat dari
api di padang rumput kering, dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, dari
warung ke warung. Dan dalam hitungan jam, balai desa yang biasanya sepi di
siang hari, kini dipenuhi oleh warga yang datang dengan berbagai macam emosi:
ada yang marah, ada yang cemas, ada yang penasaran, ada yang hanya ingin
melihat drama, dan ada pula yang datang dengan niat untuk menjadi penengah.
Kantor desa yang sederhana itu, dinding setengah tembok,
atap seng yang berkarat, lantai semen yang retak-retak, dan kursi-kursi kayu
yang sudah lapuk, kini terasa seperti ruang sidang pengadilan. Setiap sudutnya
dipenuhi oleh warga yang duduk bersila di lantai, berdiri di dekat dinding,
atau berdesakan di pintu dan jendela karena tidak kebagian tempat. Udara di
dalam ruangan itu panas dan pengap, bercampur dengan aroma keringat, kopi yang
tumpah, dan rokok kretek yang mengepul dari beberapa warga yang tidak bisa
melepaskan kebiasaannya meskipun di dalam ruangan tertutup.
Di depan, di belakang meja panjang yang biasa digunakan
untuk rapat perangkat desa, duduk Pak Iwan, Kepala Desa Awan Biru. Wajahnya
yang biasanya tegas dan penuh wibawa, siang itu terlihat lelah dan kusut.
Matanya sayu, dengan lingkaran hitam di bawahnya, tanda bahwa ia tidak tidur nyenyak
sejak kematian ibu muda beberapa hari lalu. Garis-garis kerutan di dahinya
tampak lebih dalam dari biasanya, seperti peta yang menggambarkan beban yang ia
pikul sebagai pemimpin desa yang terjepit di antara dua kubu yang saling
bertentangan.
Di samping kanannya, duduk Bu Yuni, Sekretaris Desa dengan
wajah bulat dan senyum yang hangat. Namun siang itu, senyum itu tidak ada. Yang
ada hanya kekhawatiran yang terpancar dari matanya yang bergerak cepat dari
satu wajah ke wajah lain, mencoba membaca situasi, mencoba mencari celah untuk
menenangkan gelombang amarah yang siap meledak kapan saja.
Di samping kirinya, duduk Pak Edi, Kaur Pembangunan yang
jarang bicara tapi selalu hadir di setiap pertemuan. Siang itu, ia duduk dengan
tangan bersilang di dada dan wajah yang tidak bisa diartikan, antara bosan,
cemas, atau mungkin hanya ingin cepat-cepat pulang.
Dan di sudut ruangan, di tempat yang paling dekat dengan
pintu keluar, seolah siap untuk pergi kapan saja, duduk Amilia. Ia dipanggil
oleh Pak Iwan pagi tadi, dengan suara yang pelan dan penuh beban. "Bu,
tolong datang ke kantor desa jam sepuluh. Ada pertemuan dengan warga. Saya...
saya tidak bisa menjamin suasana akan kondusif, tapi ibu harus datang. Ini
penting."
Amilia datang. Bagaimana ia bisa tidak datang? Ia sudah
lelah bersembunyi. Ia sudah lelah menghindar. Ia sudah lelah menjadi kambing
hitam yang hanya bisa diam ketika dihujani tuduhan. Siang ini, jika harus
dihakimi, ia akan hadir. Jika harus diusir, ia akan mendengarnya langsung dari
mulut mereka. Jika harus bertarung, ia akan bertarung, bukan dengan kekerasan,
bukan dengan teriakan, tapi dengan fakta, dengan data, dengan ketenangan yang
ia kumpulkan dari dasar hatinya yang paling dalam.
Pak Iwan berdiri. Ruangan yang tadinya ramai dengan bisik-bisik
dan suara kursi yang digeser, tiba-tiba menjadi sunyi. Sunyi yang mencekik,
sunyi yang membuat setiap orang yang hadir merasakan detak jantung mereka
sendiri, sunyi yang seperti kain kafan yang membungkus seluruh ruangan.
"Baik, kita mulai," kata Pak Iwan, suaranya berat
dan dalam, seperti genderang yang dipukul pelan-pelan. "Saya mengumpulkan
warga di sini bukan untuk mencari siapa yang salah atau siapa yang benar. Bukan
untuk menghakimi siapa pun. Tapi untuk mencari solusi. Karena desa ini, desa
kita, sedang terpecah. Dan jika tidak segera kita perbaiki, perpecahan ini akan
merusak apa yang sudah kita bangun bersama selama puluhan tahun."
Ia berhenti sejenak, matanya menatap satu per satu warga
yang hadir. Ada yang mengangguk setuju, ada yang diam dengan wajah skeptis, ada
yang tersenyum sinis, ada yang hanya menatap kosong ke dinding.
"Kita di sini untuk mendengar," lanjut Pak Iwan.
"Mendengar keluhan, mendengar pendapat, mendengar saran. Dan kita akan
mencari jalan keluar bersama. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan saling
menyalahkan, tapi dengan musyawarah. Seperti yang diajarkan oleh leluhur
kita."
Namun dari belakang ruangan, sebelum Pak Iwan selesai
bicara, sebuah suara keras memotong.
"Musyawarah untuk apa, Pak?! Masalahnya sudah
jelas!"
Semua kepala menoleh. Pak Sugeng berdiri di dekat pintu,
dengan wajah merah padam dan mata yang menyala-nyala seperti bara api. Ia tidak
sendirian, di belakangnya, beberapa warga yang selama ini menjadi pendukung
setianya, berdiri dengan wajah-wajah yang sama kerasnya.
"Sejak bidan itu datang, desa kita tidak lagi
tenang!" lanjut Pak Sugeng, suaranya menggema di ruangan yang sunyi.
"Kemarin ada yang meninggal! Sebelumnya, hampir ada yang meninggal! Ini
bukan kebetulan! Ini tanda! Ini peringatan!"
Beberapa warga mengangguk setuju. Beberapa yang lain diam,
tapi tidak membantah.
Pak Santoso, yang duduk tidak jauh dari Pak Sugeng,
berdiri. Wajahnya yang teduh itu tampak serius, lebih serius dari biasanya.
Matanya menatap Pak Sugeng dengan sorot yang tenang namun tegas.
"Jangan hanya melihat satu sisi, Pak Sugeng,"
katanya, suaranya pelan namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
"Kematian kemarin itu tragis, tidak ada yang menyangkal. Tapi jangan
langsung menyalahkan Bu Amilia. Beliau tidak tahu ada persalinan. Beliau datang
setelah dipanggil, dan sudah terlambat. Itu fakta. Bukan kesalahan
beliau."
"Lalu siapa yang salah?!" pekik Pak Sugeng,
nadanya meninggi. "Mbah Sari? Apakah Bapak berani mengatakan bahwa Mbah
Sari yang salah?!"
Pak Santoso tidak terprovokasi. Ia tetap tenang, seperti
pohon besar yang tidak bergoyang meskipun ditiup angin kencang. "Saya
tidak mengatakan siapa yang salah. Saya hanya mengatakan jangan terburu-buru
menyalahkan. Kematian itu kompleks. Banyak faktor. Tidak selalu ada kambing hitam."
"Kambing hitam?!" Pak Sugeng nyaris berteriak.
"Bapak bilang kami mencari kambing hitam?!"
Perdebatan mulai memanas. Suara-suara bersahutan, saling
memotong, saling meninggi. Warga yang tadinya diam, mulai ikut angkat bicara, ada
yang berpihak pada Pak Sugeng, ada yang berpihak pada Pak Santoso, ada yang
hanya ikut-ikutan tanpa tahu persis apa yang diperdebatkan.
Keributan itu tiba-tiba berhenti ketika pintu balai desa
terbuka lebar dan sesosok figur tua masuk dengan langkah pelan namun penuh
wibawa. Semua kepala menoleh. Semua suara berhenti. Bahkan Pak Sugeng yang
sedetik tadi berteriak, kini terdiam, menunduk, memberi jalan.
Mbah Sari.
Ia datang dengan kain batik lusuh berwarna cokelat
kehitaman, rambut putih yang disanggul rapi, dan tusuk konde dari perak yang
berkilauan di bawah cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah dinding. Di
tangannya, ia membawa sebuah keranjang kecil anyaman bambu yang berisi dedaunan
kering dan benda-benda lain yang tidak bisa diidentifikasi dari kejauhan.
Matanya yang tajam menatap satu per satu warga yang hadir, dan setiap
tatapannya membuat yang ditatap menunduk, merasa kecil, merasa bersalah
meskipun tidak tahu salah apa.
Ia berjalan ke depan, melewati kerumunan yang membelah diri
untuk memberinya jalan, dan berdiri di samping Pak Iwan. Tidak ada yang berani
menyuruhnya duduk. Tidak ada yang berani memintanya bicara. Ia hanya berdiri di
sana, dengan wibawa yang terpancar dari sekujur tubuhnya yang tua namun tidak
pernah lemah.
"Dari dulu... desa ini punya cara sendiri," kata
Mbah Sari, suaranya pelan namun setiap suku kata keluar seperti batu yang dilemparkan
ke kolam yang tenang, menciptakan gelombang yang menyebar ke seluruh ruangan.
Ia berhenti sejenak, matanya menatap ke sekeliling, menikmati keheningan yang
ia ciptakan. "Cara yang sudah diwariskan turun-temurun. Cara yang sudah
terbukti selama puluhan tahun. Cara yang tidak pernah gagal."
Ia melangkah maju satu langkah. Satu langkah kecil, namun
terasa seperti guntur di ruangan yang sunyi itu.
"Sekarang... ada yang ingin mengubah semuanya."
Matanya beralih ke arah Amilia, yang duduk di sudut ruangan dengan wajah pucat
dan tangan yang menggenggam erat ujung jilbabnya. "Tanpa memahami akar.
Tanpa menghormati sejarah. Tanpa bertanya pada mereka yang lebih tua."
Sunyi. Sepi. Udara terasa seperti membeku.
Amilia merasakan dadanya sesak. Ia ingin berdiri, ingin
bicara, ingin membela diri. Tapi kakinya terasa seperti terpaku di lantai.
Lidahnya terasa seperti kelu. Yang ia bisa lakukan hanyalah duduk di sana,
dengan jantung yang berdebar kencang dan air mata yang ingin jatuh tapi ia
tahan dengan sekuat tenaga.
Pak Iwan menghela napas panjang. Ia menatap Mbah Sari, lalu
menatap Amilia, lalu menatap warga yang hadir dengan sorot mata yang penuh
beban. Sebagai kepala desa, ia berada di posisi yang sangat sulit: harus
menjaga keseimbangan antara adat dan modernitas, antara tekanan warga dan
tanggung jawabnya kepada pemerintah, antara menghormati Mbah Sari yang sudah
puluhan tahun mengabdi dan melindungi Amilia yang baru datang dengan niat baik.
"Bu Amilia," panggilnya, suaranya berat,
"mungkin ibu bisa menjelaskan. Di depan semua warga. Apa tujuan ibu datang
ke desa ini? Apa yang ingin ibu capai? Dan bagaimana penjelasan ibu tentang...
tentang kejadian-kejadian yang terjadi?"
Semua mata tertuju pada Amilia. Puluhan pasang mata, ada
yang penuh kebencian, ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang penuh harap, ada
yang penuh keraguan, ada yang hanya ingin melihat drama. Semua tertuju padanya,
seperti sorot lampu sorot yang menyilaukan di atas panggung.
Amilia berdiri. Tangannya gemetar. Kakinya terasa lemas.
Dadanya sesak seperti ada batu besar yang diletakkan di atasnya. Ia menarik
napas panjang, begitu panjang hingga dadanya terasa seperti akan meledak—lalu
menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan diri.
Kamu bisa,
bisiknya dalam hati. Kamu sudah melalui yang lebih berat dari ini. Kamu
bisa.
"Saya datang ke desa ini," katanya, suaranya
bergetar di awal, tapi semakin lama semakin mantap, "bukan untuk menghapus
tradisi. Bukan untuk menggantikan Mbah Sari. Bukan untuk menunjukkan bahwa saya
lebih pintar dari siapa pun."
Ia berhenti sejenak, menatap Mbah Sari, lalu menatap warga
yang hadir.
"Saya datang... untuk melengkapi. Karena di desa ini,
di desa-desa lain di seluruh Indonesia, masih banyak ibu dan bayi yang
meninggal karena komplikasi yang sebenarnya bisa dicegah. Bukan karena
tradisinya salah. Bukan karena dukunnya tidak becus. Tapi karena... mereka
tidak punya akses ke pertolongan medis yang cepat dan tepat."
Suasana hening. Beberapa warga mulai terdiam, mendengarkan
dengan saksama.
"Saya tidak meminta Mbah Sari berhenti. Saya tidak
meminta warga meninggalkan tradisi. Saya hanya meminta... izin untuk membantu.
Untuk berbagi ilmu. Untuk bekerja sama. Karena pada akhirnya, kita semua punya
tujuan yang sama: kesehatan dan keselamatan warga desa ini."
Ia berhenti, napasnya memburu. Matanya mulai berkaca-kaca,
tapi ia tidak menangis. Belum.
Namun dari kerumunan, suara lain muncul. Keras. Tajam.
Penuh tuduhan.
"Kalau begitu, kenapa kemarin ada yang
meninggal?!"
Pertanyaan itu seperti pisau yang ditusukkan ke dadanya.
Amilia merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Ia menunduk sejenak, berusaha
mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya yang tersisa.
"Karena... saya terlambat dipanggil," jawabnya,
suaranya pelan, nyaris tak terdengar. "Saya tidak tahu bahwa ada
persalinan. Tidak ada yang memberi tahu saya. Saya datang setelah dipanggil,
dan sudah terlambat."
"Alasan!" teriak seseorang dari belakang.
"Pembelaan!" sahut yang lain.
"Mau bilang apa saja biar tidak salah!"
Suasana langsung riuh. Puluhan suara bersahutan, saling
memotong, saling meninggi. Amilia hanya bisa berdiri di sana, dengan tubuh
gemetar dan hati yang hancur, berusaha, berusaha, untuk tidak jatuh.
Tiba-tiba, seorang warga berdiri dari kursinya di baris
depan. Wajahnya merah padam oleh amarah, urat-urat di lehernya menonjol, dan
matanya, matanya penuh dengan kebencian yang membara. Ia adalah ipar dari ibu
muda yang meninggal beberapa hari lalu. Namanya Pak Jumadi, lelaki paruh baya dengan
tubuh kekar dan suara yang menggelegar.
"KAMI TIDAK BUTUH PERUBAHAN!" teriaknya, suaranya
menggema di ruangan itu, membuat beberapa warga yang dekat dengan dia bergidik.
"SUDAH PULUHAN TAHUN KAMI HIDUP DENGAN CARA INI! DAN KAMI BAHAGIA! KAMI
TIDAK BUTUH ORANG KOTA YANG DATANG MEMBAWA SIAL!"
Beberapa warga berdiri. "Pilih saja! Tetap di sini
atau pergi!" teriak yang lain.
"Kalau tidak cocok... pulang saja ke kota!" sahut
yang lain lagi.
"Bawa tas merahmu! Bawa ilmumu! Kami tidak
butuh!"
Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Amilia
berkali-kali. Setiap suara, setiap teriakan, setiap tuduhan, msemua seperti
tamparan di wajahnya. Ia tidak bisa bernapas. Dadanya terasa seperti
diremas-remas oleh tangan raksasa yang tidak terlihat. Matanya basah, tapi ia
tidak menangis. Ia tidak akan memberi mereka kepuasan melihatnya menangis.
Ia berdiri di sana. Diam. Tegap. Meskipun hancur di dalam.
Di tengah keributan yang semakin menjadi-jadi, seorang
suara perempuan terdengar. Tidak keras, tidak lantang, tapi tegas dan jelas.
"KALAU BUKAN BU AMILIA... ANAK SAYA SUDAH TIDAK
ADA!"
Semua orang menoleh. Rini berdiri di pintu balai desa,
dengan bayinya di gendongan. Wajahnya pucat, matanya basah, dan tangannya
gemetar, bukan karena takut, tapi karena marah. Marah yang tertahan, marah yang
selama ini ia pendam karena takut, marah yang kini meledak di depan umum.
"Ibu yang kalian hina, yang kalian tuduh, yang kalian
usir, itu ibu yang menyelamatkan anak saya!" lanjut Rini, suaranya mulai
pecah. "Bayi saya sungsang! Persalinan macet! Mbah Sari sudah berusaha,
tapi tidak bisa! Kalau Bu Amilia tidak datang, saya dan bayi saya sudah mati!
SUDAH! JADI JANGAN BILANG KAMI TIDAK BUTUH BELIAU!"
Anita, yang dari tadi duduk di belakang dengan tangan
terkepal, berdiri. "Bu Amilia tidak pernah memaksa! Beliau hanya ingin
membantu! Beliau bekerja siang malam, tanpa henti, tanpa bayaran yang sepadan!
Sementara kalian, kalian yang paling keras berteriak, kalian pernah membantu
siapa?!"
Yulia ikut berdiri. "Kami butuh beliau! Desa ini butuh
beliau! Bukan untuk menggantikan Mbah Sari, tapi untuk melengkapi! Untuk
menyelamatkan nyawa yang bisa diselamatkan!"
Satu per satu, warga yang selama ini diam mulai angkat
bicara. Bukan banyak, masih kalah jumlah dengan pendukung Mbah Sari, tapi cukup
untuk membuat keseimbangan kekuatan mulai berubah.
"Rini benar," kata seorang ibu tua dari sudut
ruangan. "Bidan itu yang menolong cucu saya waktu demam tinggi. Kalau
tidak, bisa-bisa kejang."
"Saya juga," sahut yang lain. "Waktu saya
hamil dan pendarahan, beliau yang datang ke rumah. Padahal tengah malam.
Padahal hujan deras."
Pak Santoso berdiri di samping Amilia. "Saya tidak
akan tinggal diam lagi. Bu Amilia adalah bagian dari desa ini. Dan kita harus
melindungi bagian dari desa kita, bukan mengusirnya."
Suasana terbelah. Dua kubu jelas terlihat. Di satu sisi,
pendukung Mbah Sari yang keras dan vokal. Di sisi lain, pendukung Amilia yang
mulai berani bersuara. Dan di tengah-tengah mereka, Pak Iwan berdiri dengan
wajah yang penuh kebingungan, tidak tahu harus berpihak ke mana.
"CUKUP!" teriak Pak Iwan, suaranya menggema di
ruangan itu. Ia mengangkat kedua tangannya, seperti wasit yang mencoba
menghentikan pertandingan tinju yang sudah terlalu brutal. "CUKUP!
STOP!"
Suasana perlahan mereda. Tidak sepenuhnya, masih ada bisik-bisik,
masih ada tatapan tajam, tapi setidaknya teriakan berhenti.
"Ini bukan soal siapa menang atau kalah," kata
Pak Iwan, suaranya berat dan penuh kelelahan. Matanya menatap warga satu per
satu, lalu berhenti pada Amilia. "Ini soal masa depan desa. Kita tidak
bisa terus berpecah seperti ini. Kita tidak bisa saling membenci. Kita adalah
satu desa, satu keluarga, satu tanah air."
Ia menghela napas panjang, seperti orang yang baru saja
mengangkat beban yang sangat berat.
"Kita akan mengambil keputusan bersama. Tapi tidak
hari ini. Hari ini, kita pulang. Kita tenangkan hati. Kita pikirkan dengan
jernih. Dan besok, atau lusa, kita kumpul lagi. Dengan kepala dingin. Dengan
niat untuk mencari solusi, bukan untuk mencari musuh."
Ia menatap Mbah Sari. "Mbah, saya hormat kepada Mbah.
Jasa Mbah untuk desa ini tidak akan pernah saya lupakan. Tapi tolong, jangan
biarkan perbedaan ini menghancurkan desa yang sudah Mbah bangun selama puluhan
tahun."
Mbah Sari tidak menjawab. Ia hanya diam, dengan wajah yang
tidak bisa diartikan.
Pak Iwan menatap Amilia. "Bu, saya tahu ibu sudah
berusaha. Saya tahu niat ibu baik. Tapi tolong, lebih sabar. Lebih hati-hati.
Karena di desa ini, perubahan tidak bisa dipaksakan."
Amilia mengangguk. Ia tidak bisa bicara. Jika ia membuka
mulutnya sekarang, ia takut yang keluar bukan kata-kata, tapi tangis yang
tertahan sejak tadi.
Pertemuan itu bubar tanpa keputusan. Warga pulang ke rumah
masing-masing dengan emosi yang masih menggebu-gebu, dengan pikiran yang masih
kacau, dengan hati yang masih terluka. Tidak ada yang menang. Tidak ada yang
kalah. Hanya luka yang semakin dalam. Dan jarak yang semakin lebar.
Amilia berjalan pulang sendirian. Langkahnya pelan, berat,
seperti orang yang berjalan di dalam mimpi buruk. Tas medis tidak ia bawa, tertinggal
di balai desa, atau mungkin sengaja ia tinggalkan karena tidak tahu untuk apa
membawanya lagi.
Di sepanjang jalan, beberapa warga melihatnya. Ada yang
menatap dengan iba. Ada yang menatap dengan benci. Ada yang menunduk, tidak
berani menatap. Tapi tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang berhenti. Hanya
Amilia dan bayangannya sendiri.
Ia sampai di rumah dinas ketika matahari mulai condong ke
barat. Langit berwarna jingga keemasan, indah dan damai, sangat kontras dengan
kekacauan yang terjadi di dalam hatinya. Ia naik tangga kayu yang berderit,
membuka pintu, dan masuk.
Rumah itu gelap. Lampu minyak tanah belum ia nyalakan. Ia
tidak ingin menyalakannya. Biarlah gelap. Gelap lebih jujur daripada cahaya
yang berpura-pura hangat.
Ia duduk di lantai kayu, bersandar pada tiang, dan menatap
kosong ke dinding. Tas medis tidak ada di sampingnya. Buku catatan tidak ada di
pangkuannya. Yang ada hanya kehampaan. Kehampaan yang begitu dalam, begitu
luas, begitu mencekik, seperti jatuh ke dalam sumur tanpa dasar.
Haruskah aku pergi? pikirnya,
untuk kesekian kalinya. Apakah ini masih layak diperjuangkan?
Ia teringat surat ibunya. "Akan ada hari di
mana kamu merasa tidak dihargai, disalahkan, bahkan ditolak..."
Ibu, hari itu sudah datang, pikirnya. Dan rasanya... sangat berat.
Air mata jatuh. Perlahan pada awalnya, lalu semakin deras,
semakin deras, hingga akhirnya ia tidak bisa lagi mengontrolnya. Ia menangis.
Menangis dengan suara yang tertahan, dengan bahu yang bergetar, dengan tangan
yang memeluk lututnya erat-erat.
Apakah aku sebaiknya pergi?
Ia tidak tahu. Yang ia tahu, hatinya hancur. Hancur
berkeping-keping. Dan ia tidak tahu apakah kepingan-kepingan itu masih bisa
direkatkan kembali.
Di luar balai desa, di bawah pohon beringin besar yang
sudah menjadi tempat berkumpul mereka sejak kecil, para pemuda desa berdiri
dengan wajah-wajah tegang. Mereka tidak ikut masuk ke dalam pertemuan, bukan
karena tidak diizinkan, tapi karena mereka tahu bahwa suara mereka tidak akan
didengar di ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang tua dengan pendapat yang
sudah mengeras.
"Ini sudah terlalu jauh," kata Hermansyah,
suaranya berat dan penuh kekecewaan. "Ini bukan lagi perdebatan. Ini
sudah... penyerangan. Mereka tidak ingin mendengar. Mereka hanya ingin
menang."
Amat Junior mengangguk. "Iya. Bu Amilia sudah
menjelaskan dengan baik, dengan tenang, dengan bukti. Tapi mereka tidak mau
dengar. Mereka sudah punya kesimpulan sejak awal, dan apapun yang terjadi,
mereka akan tetap pada kesimpulan itu."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Guntur,
wajahnya yang biasanya penuh candaan itu kini serius. "Diam? Atau
bicara?"
"Bicara untuk apa?" sahut Bambang dengan nada
datar, khasnya. "Mereka sudah tidak mau dengar. Mereka hanya mau
menang."
Nadya, yang berdiri di samping Hermansyah, menatap mereka
dengan sorot mata yang tajam. "Kalau kalian diam sekarang... kapan lagi?
Setelah Bu Amilia pergi? Setelah desa ini kehilangan satu-satunya orang yang
bisa menolong mereka? Setelah semuanya terlambat?"
Hermansyah terdiam. Wajahnya penuh konflik. Ia tahu Nadya
benar. Tapi ia juga tahu bahwa melawan arus di desa ini tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Ada risiko. Ada konsekuensi. Ada harga yang harus
dibayar.
"Kita tidak bisa terang-terangan melawan," kata
Amat Junior, mencari jalan tengah. "Tapi kita juga tidak bisa diam. Kita
lakukan dengan cara kita. Edukasi. Sosialisasi. Pendekatan personal.
Perlahan-lahan, satu per satu, kita buka pikiran mereka. Bukan dengan debat,
tapi dengan bukti."
Anto berdiri tak jauh dari kerumunan pemuda itu. Seperti
biasa, diam, memperhatikan, dan merokok dengan gerakan yang lambat dan penuh
perenungan. Asap rokoknya mengepul tipis di udara sore, membentuk
lingkaran-lingkaran kecil yang perlahan-lahan menghilang.
Amat Junior menghampirinya. Ia butuh seseorang yang bisa
diajak bicara, bukan untuk meminta solusi, tapi sekadar untuk berbagi
kegelisahan.
"To... apa yang kamu lihat?" tanya Amat, matanya
menatap Anto dengan sorot yang serius.
Anto tidak langsung menjawab. Ia menghisap rokoknya
dalam-dalam, menahan asap di paru-parunya beberapa saat, lalu menghembuskannya
perlahan. Matanya menatap ke arah balai desa, ke arah warga yang mulai
berhamburan keluar dengan wajah-wajah yang masih tegang.
"Desa ini seperti jalan bercabang," katanya
akhirnya, suaranya pelan namun penuh makna. "Satu cabang ke kiri, satu
cabang ke kanan. Tidak ada jalan lurus. Tidak ada jalan mundur."
"Maksudmu?"
"Yang satu menuju perubahan. Yang satu menuju
pengulangan. Perubahan itu menyakitkan, tapi pengulangan itu membosankan. Dan
yang paling berbahaya... adalah berdiri di tengah terlalu lama, sampai kedua
jalan itu hilang."
Amat Junior mengernyit. "Jadi... desa ini harus
memilih?"
"Bukan desa. Kita. Setiap orang. Setiap
individu." Anto menatap Amat dengan sorot mata yang dalam, seperti sumur
tua yang tidak pernah kering. "Dan Bu Amilia... dia sudah memilih. Dia
memilih untuk bertahan. Sekarang giliran kita. Apakah kita akan membiarkannya
berjuang sendirian? Atau kita akan berdiri di sampingnya?"
Amat Junior terdiam. Kata-kata Anto terasa seperti pukulan,
bukan pukulan yang menyakitkan, tapi pukulan yang membangunkan.
Kadang, yang paling berat bukanlah perjuangan itu sendiri.
Bukan rasa sakit, bukan kelelahan, bukan air mata yang jatuh di malam hari
ketika tidak ada yang melihat.
Yang paling berat adalah ketika perjuangan itu tidak
diinginkan. Ketika apa yang kita berikan, pengorbanan, waktu, tenaga, pikiran,
bahkan hati, ditolak mentah-mentah oleh orang-orang yang seharusnya kita
tolong. Ketika niat baik kita disalahartikan sebagai ancaman. Ketika kebaikan
kita dianggap sebagai keburukan.
Dan di Desa Awan Biru, Amilia kini berdiri di persimpangan.
Bertahan, meskipun setiap hari terasa seperti perang,
setiap langkah terasa seperti berjalan di atas bara api, setiap senyum terasa
seperti topeng yang semakin berat.
Atau menyerah. Kembali ke kota. Melupakan desa ini,
melupakan semua yang telah terjadi, melupakan mimpi-mimpi yang pernah ia bangun.
Dua pilihan. Dua jalan. Dua masa depan yang sangat berbeda.
Amilia belum memutuskan. Hatinya masih terbelah. Pikirannya
masih kacau. Air matanya masih mengalir.
Tapi di luar, di balik dinding bambu rumah dinas yang
rapuh, bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit malam.
Berkelap-kelip seperti mata-mata kecil yang penuh harap. Seolah alam sendiri
berbisik, "Jangan menyerah. Masih ada harapan. Masih ada."
Amilia mendengar bisikan itu. Atau mungkin hanya
imajinasinya. Tapi untuk sesaat, ia merasakan sesuatu, kecil, rapuh, dan hampir
padam, tapi nyata.
Harapan.
BAB 13: DIUSIR DARI HARAPAN
Malam itu, Desa Awan Biru tidak bisa tidur. Bukan karena
hujan deras seperti malam pertama Amilia tiba, bukan karena badai yang mengamuk
di luar, bukan karena suara petir yang mengguncang bumi. Malam itu, desa tidak
bisa tidur karena kegelisahan, kegelisahan yang merayap dari rumah ke rumah,
dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran, seperti ular berbisa yang melata di
kegelapan, tidak terlihat tapi terasa keberadaannya oleh setiap orang yang
memiliki naluri untuk bertahan hidup.
Di setiap rumah, lampu minyak tanah masih menyala meskipun
sudah lewat tengah malam. Di balik dinding-dinding bambu yang tipis,
bisik-bisik masih terdengar, tidak lagi pelan, tidak lagi sembunyi-sembunyi,
tapi nyaring dan penuh emosi. Suami istri berbaring berdampingan tapi tidak
saling memandang, pikiran masing-masing melayang ke tempat yang berbeda, hati
masing-masing bergulat dengan keputusan yang harus segera diambil. Ibu-ibu menggendong
anak-anak mereka lebih erat dari biasanya, seolah-olah melindungi mereka dari
sesuatu yang tidak terlihat namun terasa nyata. Bapak-bapak duduk di teras
rumah dengan rokok di tangan, menatap langit yang gelap tanpa bintang, dan
bertanya-tanya, kapan semua ini akan berakhir, dan bagaimana akhirnya nanti.
Di rumah dinas, di ujung desa yang sunyi dan terpencil,
Amilia tidak bisa tidur. Bukan karena ia tidak lelah, ia sangat lelah, lelah
secara fisik, mental, dan emosional, lelah seperti orang yang baru saja selesai
berperang tanpa senjata, lelah seperti orang yang sudah berenang melawan arus
selama berjam-jam dan hampir kehabisan napas. Tapi tidur tidak datang. Yang
datang hanya bayangan-bayangan, wajah-wajah yang marah, suara-suara yang
berteriak, mata-mata yang membenci, dan pertanyaan yang sama yang terus
berputar di kepalanya seperti air dalam wajan yang mendidih, tidak pernah
menemukan jawaban yang memuaskan.
Ia berbaring di atas balai-balai kayu yang dilapisi tikar
tipis, tempat tidurnya selama lebih dari sebulan terakhir dengan mata terbuka
lebar menatap langit-langit anyaman bambu. Melalui celah-celah anyaman itu, ia
bisa melihat bintang-bintang yang masih setia menemaninya, berkelap-kelip
seperti mata-mata kecil yang penuh rasa iba. Angin malam berhembus melalui
celah-celah dinding, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering, aroma yang
biasa ia sukai tetapi malam ini terasa seperti angin dari kuburan.
Ia memikirkan semua yang telah terjadi. Pertemuan di kantor
desa. Teriakan-teriakan. Tuduhan-tuduhan. Wajah Pak Sugeng yang merah padam
oleh amarah. Wajah Mbah Sari yang dingin seperti patung es. Wajah-wajah warga
yang tidak dikenalnya tapi berteriak seolah-olah ia adalah musuh terbesar
mereka.
Dan yang paling menyakitkan, bukan teriakan itu sendiri,
bukan tuduhan itu sendiri, bukan kebencian itu sendiri. Tapi kenyataan bahwa
beberapa dari mereka yang berteriak paling keras adalah orang-orang yang pernah
ia tolong. Ibu-ibu yang bayinya ia selamatkan. Bapak-bapak yang istrinya ia
bantu saat persalinan. Keluarga-keluarga yang ia datangi di tengah malam, dalam
hujan deras, dengan tas medis di tangan dan niat baik di hati.
Mereka lupa,
pikirnya, atau mereka memilih untuk lupa. Lebih mudah membenci daripada
berterima kasih. Lebih mudah menyalahkan daripada menerima kenyataan bahwa
hidup ini tidak bisa dikontrol.
Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri, lalu telentang lagi.
Tikar di bawahnya terasa keras seperti papan kayu. Bantal dari kapuk yang ia
buat sendiri terasa panas meskipun malam dingin. Selimut tipis yang ia kenakan
terasa seperti tidak memberikan kehangatan sama sekali. Tubuhnya ada di sini,
tapi pikirannya melayang jauh, ke masa lalu, ke masa depan, ke tempat-tempat
yang tidak bisa ia capai.
Haruskah aku pergi?
Pertanyaan yang sama. Berulang-ulang. Tidak pernah berubah.
Tidak pernah menemukan jawaban.
Matahari terbit seperti biasa keesokan paginya. Ia naik di
balik bukit-bukit hijau dengan kemegahan yang sama seperti pagi-pagi
sebelumnya, seolah tidak peduli dengan drama manusia yang terjadi di bawahnya.
Cahaya keemasan menembus celah-celah dinding bambu, menciptakan pola-pola
cahaya yang indah di lantai kayu. Burung-burung berkicau dengan riang, tidak
tahu bahwa di bawah pohon-pohon tempat mereka bertengger, ada hati yang hancur
berkeping-keping.
Namun bagi Amilia, pagi itu terasa suram. Suram seperti
langit sebelum hujan, suram seperti kabut yang tidak pernah benar-benar sirna,
suram seperti masa depannya di desa ini yang semakin lama semakin tidak jelas.
Ia duduk di lantai kayu rumah dinasnya, di tempat yang sama
di mana ia biasa duduk setiap pagi untuk merapikan tas medis dan mempersiapkan
diri menghadapi hari. Tapi pagi itu, tas medisnya tidak ia sentuh. Ia hanya
duduk di sana, dengan lutut ditekuk, dagu bertumpu pada lutut, dan mata yang kosong
menatap dinding.
Di depannya, sebuah tas besar, tas koper berwarna biru tua
yang ia bawa dari kota ketika pertama kali datang ke desa ini, terbuka lebar.
Di dalamnya, beberapa pakaian sudah dilipat rapi dan disusun dengan teratur:
kemeja putih, celana panjang hitam, jilbab-jilbab warna pastel, dan beberapa
perlengkapan mandi. Beberapa pakaian lain masih bergelantungan di tali jemuran
di belakang rumah, belum sempat ia ambil karena ia masih ragu, masih ragu
apakah ia benar-benar akan pergi.
Tangannya diam di atas kain yang sedang ia lipat, sebuah
kemeja putih lengan panjang, pakaian favoritnya yang selalu ia kenakan saat ada
acara resmi. Jari-jarinya berhenti bergerak. Kain itu terasa berat di
tangannya, seperti beban yang tidak bisa ia angkat.
Apakah ini... akhirnya? pikirnya. Apakah
setelah semua perjuangan ini... aku akan pulang dengan tangan hampa?
Ia teringat hari-hari pertama tiba di desa ini. Optimisme
yang membara di dadanya. Keyakinan bahwa ia bisa membuat perbedaan. Mimpi-mimpi
tentang posyandu yang ramai, ibu-ibu yang sadar akan pentingnya kesehatan,
anak-anak yang tumbuh sehat dan kuat. Ia teringat senyumnya yang dulu begitu
mudah tersungging, begitu tulus, begitu penuh harapan.
Senyum itu sekarang terasa seperti kenangan dari kehidupan
orang lain. Bukan kehidupannya.
Ia teringat ibunya. Surat yang selalu ia bawa di
tasnya. "Nak, menolong orang bukan hanya soal ilmu... tapi juga
soal hati. Dan hati... seringkali diuji lebih keras daripada kemampuan."
Ibu, hatiku sudah diuji,
pikirnya, matanya mulai berkaca-kaca. Dan rasanya... hatiku hampir
hancur. Hancur berkeping-keping. Dan aku tidak tahu apakah kepingan-kepingan
itu masih bisa direkatkan kembali.
Ia menunduk, menekan wajahnya ke lutut yang dingin. Air
mata jatuh, tetes demi tetes, perlahan, seperti hujan rintik-rintik yang tidak
pernah berhenti. Ia tidak menghapusnya. Ia membiarkannya mengalir, membasahi
pipinya, menetes ke pakaian yang sedang ia lipat, menjadi saksi bisu dari
pertarungan terakhir yang terjadi di dalam hatinya.
Di luar rumah dinas, di jalan-jalan desa yang mulai ramai
oleh aktivitas pagi, kabar sudah menyebar. Bukan kabar tentang pertemuan di
balai desa, bukan kabar tentang perdebatan sengit antara pendukung Mbah Sari
dan pendukung Amilia. Tapi kabar yang lebih personal, lebih menyakitkan, lebih
seperti pisau yang ditusukkan ke jantung yang sudah terluka.
"Katanya bidan itu mau pergi..."
"Ya baguslah... biar desa kembali seperti dulu..."
"Tapi... apa tidak keburu menyesal? Siapa yang akan menolong kita kalau
sakit?"
"Ah, Mbah Sari masih ada. Sudah puluhan tahun, kok."
Namun tidak semua setuju. Di sudut-sudut desa yang lebih
sunyi, di dapur-dapur rumah yang asapnya mengepul tipis, di teras-teras rumah
yang dihiasi tanaman hias sederhana, ada bisik-bisik yang berbeda.
"Kalau dia pergi... siapa yang bantu kita? Siapa yang
mau datang tengah malam waktu hujan deras?"
"Jangan sampai kita menyesal. Mbah Sari sudah tua. Tidak bisa
selamanya."
"Bidan itu baik. Hatinya baik. Kenapa kita harus usir?"
Desa benar-benar terbelah. Bukan lagi samar-samar, bukan
lagi tersembunyi di balik senyum dan sapaan hangat. Perpecahan itu nyata, kasat
mata, terasa oleh setiap orang yang memiliki telinga dan hati yang peka.
Keluarga yang dulu akur, kini saling menghindar. Tetangga yang dulu sering
bertukar makanan, kini menutup pintu ketika melihat satu sama lain. Pertemanan
yang dibangun sejak kecil, kini retak oleh perbedaan pendapat tentang seorang
perempuan asing yang datang dengan tas merah dan hati yang penuh harapan.
Dan di tengah semua itu, Amilia masih duduk di lantai rumah
dinasnya, dengan tas koper biru tua yang terbuka di depannya, dan air mata yang
tidak berhenti mengalir.
Siang itu, kantor desa kembali ramai. Namun kali ini, tidak
ada pertemuan resmi yang diumumkan oleh Pak Iwan. Yang ada hanya sekelompok
warga, sekitar dua puluh orang, kebanyakan pendukung Mbah Sari, yang datang
dengan niat yang sudah bulat. Mereka tidak membawa senjata, tidak membawa
alat-alat kekerasan, tidak membawa apa pun selain suara dan tekad. Tapi tekad
mereka lebih tajam dari pisau, lebih keras dari batu, lebih sulit dihentikan
dari air bah.
"Pak Kades, kita tidak bisa diam terus!" seru Pak
Sugeng, berdiri di depan meja Pak Iwan dengan tangan mengepal dan wajah merah
padam oleh emosi yang meluap-luap. "Desa ini sudah terpecah!
Keluarga-keluarga bertengkar! Tetangga saling curiga! Ini semua karena bidan
itu! Selama dia di sini, desa tidak akan tenang!"
Beberapa warga di belakangnya mengangguk-angguk setuju,
suara mereka bersahutan mendukung.
"Iya, Pak! Kita harus tegas!"
"Jangan biarkan desa kita hancur karena orang asing!"
"Kami minta bidan itu pergi!"
Pak Iwan duduk di kursinya dengan wajah yang pucat dan
tangan yang gemetar. Ia menatap Pak Sugeng, lalu menatap warga di belakangnya,
lalu menatap kosong ke dinding. Beban di pundaknya terasa semakin berat, seperti
gunung yang terus bertambah besar setiap detik, setiap menit, setiap jam.
"Apa yang kalian inginkan?" tanyanya, suaranya
pelan dan lelah, nyaris tak terdengar.
Jawaban datang cepat, begitu cepat, seolah-olah sudah disiapkan
sejak lama, sudah dilatih berulang-ulang, sudah dihafal di luar kepala.
"Kami ingin dia pergi."
Sunyi.
Kalimat itu, sederhana, pendek, tanpa basa-basi, akhirnya
diucapkan secara terbuka. Tidak ada lagi kode-kode halus, tidak ada lagi
bisik-bisik di balik pintu, tidak ada lagi sindiran yang tidak jelas ujung
pangkalnya. Mereka menginginkannya pergi. Mereka menginginkan Amilia
meninggalkan desa ini. Selamanya.
Pak Iwan menutup matanya sejenak, seperti sedang berdoa,
seperti sedang memohon petunjuk dari sesuatu yang tidak kasat mata. Dahinya
berkeringat, tangannya menggenggam erat ujung meja kayu di depannya, dan
dadanya naik turun dengan napas yang tidak teratur.
Ia tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab. Karena apapun
yang ia katakan, ia akan kehilangan sesuatu. Jika ia mempertahankan Amilia, ia
akan kehilangan kepercayaan warga yang selama ini mendukungnya. Jika ia
mengabulkan permintaan mereka, ia akan kehilangan seorang tenaga medis yang
sangat dibutuhkan desa ini. Dan ia akan kehilangan rasa hormat pada dirinya
sendiri.
Di tengah ketegangan yang memuncak, pintu balai desa
terbuka. Semua kepala menoleh. Pak Sugeng dan para pendukungnya yang tadi
berteriak dengan lantang, tiba-tiba terdiam, memberi jalan, menunduk hormat.
Mbah Sari masuk.
Ia tidak berjalan cepat, tidak terburu-buru. Langkahnya
pelan, tenang, penuh wibawa. Kain batik lusuhnya berkibar sedikit ditiup angin
yang masuk dari pintu. Rambut putihnya yang disanggul rapi tidak berubah
sedikit pun, seolah-olah tidak ada badai di luar yang bisa mengganggu
ketenangannya. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, tidak ke kanan, tidak
ke kiri, seolah-olah ia tidak perlu melihat untuk mengetahui apa yang terjadi
di sekitarnya.
Ia berjalan melewati kerumunan yang membelah diri untuk
memberinya jalan, dan berhenti di depan meja Pak Iwan. Tidak ada yang
menyuruhnya duduk. Tidak ada yang memintanya bicara. Ia hanya berdiri di sana,
dengan wibawa yang terpancar dari sekujur tubuhnya yang tua namun tidak pernah
lemah.
"Kadang... yang tidak cocok... harus dilepaskan,"
katanya, suaranya pelan namun setiap suku kata keluar seperti batu yang dilemparkan
ke kolam yang tenang, menciptakan gelombang yang menyebar ke seluruh ruangan.
Ia tidak berteriak, tidak meninggikan suara, tidak menggebrak meja. Tapi kata-katanya
lebih kuat dari teriakan, lebih tajam dari pisau, lebih mematikan dari racun.
Pak Iwan menutup matanya lagi. Lebih lama dari sebelumnya.
Beban itu kini ada di pundaknya. Sepenuhnya. Tidak bisa
dibagi, tidak bisa ditawar, tidak bisa dihindari. Sebagai kepala desa, ia harus
mengambil keputusan. Keputusan yang tidak akan menyenangkan semua orang,
keputusan yang mungkin akan ia sesali seumur hidup, keputusan yang akan
menentukan nasib desa ini untuk tahun-tahun mendatang.
Ia membuka matanya. Matanya sayu, lelah, dan penuh dengan
kepedihan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Baik," katanya, suaranya pelan dan bergetar.
"Saya akan bicara dengan Bu Amilia. Saya akan... menyampaikan keinginan
warga."
Pak Sugeng tersenyum, senyum kemenangan yang tidak perlu
diucapkan. Para pendukungnya menghela napas lega, seolah-olah beban berat telah
terangkat dari pundak mereka. Mbah Sari hanya diam, dengan wajah yang tidak
berubah, seolah-olah semua ini sudah ia perhitungkan sejak awal.
Tapi di sudut ruangan, beberapa warga yang hadir, yang tidak
setuju dengan keputusan ini, hanya bisa diam. Mereka tidak berani bicara.
Mereka takut. Mereka takut menjadi sasaran berikutnya. Mereka takut kehilangan
teman, keluarga, dan tempat tinggal mereka di desa ini. Mereka hanya bisa diam,
menunduk, dan berdoa, berdoa bahwa semuanya tidak akan berakhir seperti ini.
Di rumah dinas, Amilia masih duduk di lantai dengan tas
koper biru tua yang terbuka di depannya. Pakaian-pakaian sudah hampir semuanya
terlipat rapi. Tinggal beberapa lembar lagi, kain-kain yang ia gantung di
belakang rumah, yang mungkin masih basah karena baru dicuci kemarin.
Ia tidak tahu bahwa di kantor desa, keputusannya sudah
hampir ditentukan.
Pintu rumah dinas terbuka tanpa ketukan. Amilia menoleh,
terkejut. Anita masuk dengan wajah pucat dan mata yang basah. Di belakangnya,
Yulia menyusul dengan langkah tergesa-gesa.
"Bu... saya dengar... ibu mau pergi?" tanya
Anita, suaranya nyaris berteriak meskipun ia berusaha menahannya.
Amilia tidak menjawab. Ia hanya menunduk, matanya tertuju
pada pakaian-pakaian yang terlipat rapi di dalam koper.
"Bu!" Anita berlutut di samping Amilia, tangannya
meraih tangan Amilia yang dingin. "Jangan, Bu! Jangan pergi!"
Yulia duduk di sisi lain, matanya sudah basah sejak tadi.
"Bu... kami butuh ibu... desa ini butuh ibu... jangan tinggalkan
kami..."
Amilia akhirnya bicara. Suaranya pelan, serak, dan nyaris
tak terdengar. "Mereka tidak menginginkanku di sini, Nit. Mereka sudah
jelas. Mereka sudah tegas. Mereka... mengusirku."
"Bukan semua, Bu!" Anita memotong, suaranya
meninggi. "Kami—saya, Yulia, Rini, Pak Santoso, banyak yang lain, kami
tidak menginginkan ibu pergi! Hanya segelintir orang yang keras kepala! Tapi
mereka lebih keras, lebih vokal, lebih menakutkan! Tapi bukan berarti mereka
mewakili semua warga!"
Yulia menggenggam tangan Amilia lebih erat. "Ibu sudah
berjuang sejauh ini, Bu. Ibu sudah bertahan melewati fitnah, cemoohan,
penolakan. Ibu sudah menyelamatkan nyawa. Ibu sudah membuktikan bahwa ibu ada
di sini untuk membantu, bukan untuk merusak. Jangan menyerah sekarang, Bu.
Jangan..."
Amilia menatap mereka. Satu per satu. Anita, perempuan
dengan semangat yang tidak pernah padam meskipun sering kecewa. Yulia, perempuan
dengan hati yang lembut namun kuat seperti baja. Mereka adalah dua dari sedikit
orang yang masih percaya. Dua dari sedikit orang yang masih bertahan di
sisinya.
Air matanya jatuh lagi. Tidak bisa ia tahan.
"Tapi aku capek, Nit... Yu..." bisiknya, suaranya
pecah. "Aku capek berjuang sendirian... aku capek dihina... aku capek
dianggap musuh padahal aku hanya ingin membantu... aku capek..."
"Tidak sendirian, Bu!" Anita memeluknya erat.
"Ibu tidak sendirian! Kami di sini! Kami tidak akan pergi!"
Yulia ikut memeluk. "Iya, Bu. Kami mungkin sedikit.
Tapi kami nyata. Dan kami akan terus di sini, selama ibu mau bertahan."
Mereka bertiga berpelukan di lantai kayu rumah dinas yang
sederhana. Tangis pecah. Bukan tangis kesedihan, bukan tangis keputusasaan,
tapi tangis kelegaan, kelegaan karena masih ada yang peduli, masih ada yang
percaya, masih ada yang tidak mau menyerah pada mereka.
Di bawah pohon beringin besar, para pemuda desa berkumpul.
Tidak semua, hanya mereka yang paling dekat, paling peduli, paling tidak tahan
dengan ketidakadilan yang terjadi. Ada Amat, Hermansyah, Rangga, Guntur, Bambang,
dan beberapa yang lain. Wajah-wajah mereka tegang, serius, dan penuh dengan
konflik batin.
"Bu Amilia akan pergi," kata Amat Junior,
suaranya berat. "Saya dengar dari Anita. Pak Iwan akan menyampaikan
keputusan warga. Mereka... mengusirnya."
"Kita harus melakukan sesuatu!" seru Guntur,
wajahnya yang biasanya penuh candaan itu kini merah padam oleh amarah.
"Ini tidak adil! Dia tidak bersalah! Dia hanya ingin membantu!"
"Tapi apa yang bisa kita lakukan?" tanya Rangga,
suaranya ragu-ragu. "Kita hanya pemuda. Suara kita tidak didengar.
Orang-orang tua sudah memutuskan. Mereka tidak akan berubah."
"Kalau kita diam, kita sama saja seperti mereka,"
kata Hermansyah, suaranya tegas. Matanya menatap satu per satu temannya dengan
sorot yang tajam dan penuh tekad. "Kita tidak bisa membiarkan
ketidakadilan terjadi di depan mata kita. Kita harus melakukan sesuatu. Apapun.
Kecil apapun."
Nadya, yang berdiri di samping Hermansyah, menambahkan,
"Kita bisa datang ke rumah dinas. Menyatakan dukungan kita. Membuat Bu Amilia
tahu bahwa tidak semua orang menginginkannya pergi. Bahwa masih ada yang
percaya padanya."
"Tapi... bagaimana dengan orang tua kita?" tanya
Bambang dengan nada datar, khasnya, yang membuat orang sulit menebak apakah ia
sedang serius atau sarkastik. "Mereka bisa marah. Mereka bisa melarang
kita. Mereka bisa..."
"Kita hadapi nanti," potong Amat Junior.
"Yang penting sekarang, Bu Amilia tidak boleh merasa sendirian. Dia sudah
terlalu lama sendirian."
Keputusan itu diambil. Tidak dengan suara bulat, masih ada
yang ragu, masih ada yang takut, masih ada yang memilih untuk diam. Tapi cukup
banyak yang setuju untuk bergerak. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Anto datang perlahan, mendekati kerumunan pemuda itu dengan
langkah yang tenang dan penuh perenungan. Seperti biasa, rokok di tangan, mata
sayu, dan pikiran yang melayang ke tempat yang tidak diketahui orang lain. Asap
rokoknya mengepul tipis di udara sore, bercampur dengan debu yang beterbangan.
"Orang sering salah," katanya, suaranya pelan
namun terdengar jelas di antara mereka. "Mereka pikir kehilangan itu aman.
Mereka pikir dengan menyingkirkan sesuatu yang tidak mereka pahami, mereka akan
merasa lebih tenang. Lebih aman. Lebih damai."
Ia berhenti sejenak, matanya menatap ke arah rumah dinas, ke
arah tempat Amilia berada.
"Padahal... yang paling berbahaya... adalah kehilangan
yang benar."
Amat Junior menunduk. Kata-kata Anto terasa seperti
pukulan, bukan pukulan yang menyakitkan, tapi pukulan yang membangunkan.
"Dan sekarang, To?" tanya Amat Junior.
Anto tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa diartikan,
antara bijak dan gila. "Sekarang... waktu hampir habis. Jika kalian ingin
melakukan sesuatu, lakukan sekarang. Jangan tunggu sampai dia pergi. Jangan
tunggu sampai penyesalan datang."
Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit
berwarna jingga keemasan, pemandangan yang indah namun terasa seperti lukisan di
dinding ruang tunggu kematian, Pak Iwan datang ke rumah dinas.
Ia datang sendirian. Tanpa pengawal, tanpa pendukung, tanpa
siapa pun. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan langkahnya berat seperti orang
yang berjalan menuju eksekusi.
Amilia sudah menunggu di teras. Ia tahu kedatangan Pak Iwan
bukan untuk membawa kabar baik. Dari raut wajahnya, dari cara ia berjalan, dari
cara ia menunduk sebelum naik tangga, semuanya sudah jelas.
"Bu Amilia," panggil Pak Iwan, suaranya pelan dan
penuh beban. "Bisa saya masuk?"
"Silakan, Pak."
Mereka duduk berhadapan di lantai kayu rumah dinas. Tas
koper biru tua masih terbuka di sudut ruangan, dengan pakaian-pakaian yang
sudah terlipat rapi. Pak Iwan menatap koper itu sejenak, lalu menghela napas
panjang.
"Bu... saya... saya tidak tahu harus mulai dari
mana."
"Tidak usah bertele-tele, Pak," kata Amilia,
suaranya tenang, terlalu tenang, seperti orang yang sudah pasrah, seperti orang
yang sudah tidak punya air mata lagi untuk ditumpahkan. "Saya tahu maksud
kedatangan Bapak."
Pak Iwan menunduk. Tangannya yang kasar memainkan ujung
sarung yang ia kenakan, bolak-balik, seperti sedang mencari ketenangan dalam
gerakan yang monoton.
"Warga... beberapa warga... meminta ibu... pergi dari
desa ini."
Kalimat itu keluar dengan susah payah, seperti batang kayu
yang ditarik dari lumpur yang dalam. Tapi setelah keluar, ia menggantung di
udara, berat, gelap, dan tidak bisa ditarik kembali.
Amilia tidak menangis. Ia sudah menangis sepanjang malam,
sepanjang pagi, sepanjang siang. Tidak ada air mata yang tersisa. Yang ada
hanya kekosongan. Kekosongan yang begitu dalam, begitu luas, begitu mencekik,
seperti jatuh ke dalam sumur tanpa dasar dan tidak ada yang melemparkan tali.
"Kalau itu yang terbaik untuk desa..." katanya,
suaranya bergetar di akhir kalimat, "...saya akan pergi."
Anita, yang sedari tadi menguping dari balik dinding, tidak
tahan. Ia masuk dengan mata merah dan wajah yang penuh amarah.
"TIDAK ADIL!" teriaknya, suaranya nyaris
memecahkan gendang telinga. "BU AMILIA TIDAK BERSALAH! KENAPA HARUS
DIUSIR?!"
Yulia masuk, menahan Anita. "Sudah, Nit...
jangan..."
"TIDAK!" Anita melepaskan diri. "KALIAN
SEMU, PAK IWAN, WARGA, MBAH SARI, KALIAN TIDAK TAHU BERAPA BANYAK YANG SUDAH BU
AMILIA LAKUKAN UNTUK DESA INI! KALIAN TIDAK TAHU BERAPA BANYAK MALAM BELIAU
TIDAK TIDUR UNTUK MENOLONG WARGA! KALIAN TIDAK TAHU BERAPA BANYAK AIR MATA YANG
SUDAH BELIAU TUMBAHKAN! DAN SEKARANG KALIAN MENGUSIRNYA?!"
Rini, yang datang beberapa saat kemudian, ikut masuk.
Wajahnya pucat, matanya basah, dan tangannya gemetar. "Saya... saya tidak
akan diam... saya akan bicara pada warga... saya akan katakan bahwa Bu Amilia
menyelamatkan anak saya... saya akan..."
Amilia berdiri. Ia menghampiri Anita, Yulia, dan Rini. Satu
per satu, ia memeluk mereka.
"Terima kasih," bisiknya, suaranya serak.
"Terima kasih sudah berjuang untukku. Tapi... sudah. Biarkan aku pergi.
Mungkin ini yang terbaik."
"BUKAN!" teriak Anita. "TIDAK ADA YANG
TERBAIK DARI KETIDAKADILAN!"
Tapi Amilia sudah memutuskan. Ia tidak bisa terus bertarung
sendirian. Ia tidak bisa terus menguras hati dan jiwanya untuk orang-orang yang
tidak menginginkannya. Ada batas untuk segalanya, termasuk pengabdian, termasuk
kesabaran, termasuk cinta pada sesama.
Malam itu, setelah Pak Iwan pulang dengan wajah yang penuh
penyesalan, setelah Anita, Yulia, dan Rini pulang dengan janji akan kembali
besok pagi untuk membantu membereskan barang-barang—Amilia duduk sendirian di
lantai kayu rumah dinasnya.
Tas koper biru tua kini sudah penuh. Pakaian-pakaian sudah
terlipat rapi, sepatu-sepatu sudah disusun di sudut, buku-buku catatan sudah
ditumpuk di atas meja, ia belum memasukkannya ke dalam koper, karena ia masih
ingin membaca ulang catatan-catatan itu, mengingat kembali perjuangannya di
desa ini.
Ia menatap sekeliling rumah. Tempat ia berjuang. Tempat ia
menangis. Tempat ia berharap. Dinding bambu yang bolong-bolong, atap seng yang
berkarat, lantai kayu yang berderit setiap kali dilangkahi, lampu minyak tanah
yang menyala redup, semua itu telah menjadi rumah baginya. Bukan rumah mewah,
bukan rumah nyaman, tapi rumah. Tempat di mana ia belajar menjadi lebih kuat,
lebih sabar, lebih manusia.
"Aku sudah mencoba," bisiknya, air mata jatuh
lagi, meskipun ia pikir tidak ada lagi yang tersisa. "Aku sudah mencoba
sekuat tenagaku. Tapi... kenapa tetap tidak cukup?"
Tidak ada yang menjawab. Hanya angin malam yang berhembus
pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Hanya jangkrik yang terus
bersuara, tidak peduli dengan kesedihan manusia. Hanya bulan yang bersinar
terang di luar, menerangi desa yang menolaknya.
Pagi hari. Matahari terbit seperti biasa. Burung-burung
berkicau seperti biasa. Ayam-ayam jantan berkokok seperti biasa. Semuanya
seperti biasa. Kecuali satu hal.
Amilia keluar dari rumah dinasnya. Tas koper biru tua di
tangan kanan. Tas medis merah di bahu kiri. Jilbab putih masih ia kenakan, jilbab
yang sama, yang sudah mulai kusam karena dicuci dengan air sumur yang kadang
keruh.
Langkahnya pelan. Tidak terburu-buru. Setiap langkah terasa
seperti mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu yang tidak akan pernah
kembali. Pada harapan. Pada mimpi. Pada dirinya yang dulu.
Beberapa warga melihat. Tidak banyak, pagi masih terlalu
awal untuk kebanyakan orang. Tapi cukup untuk membuat suasana terasa berat.
Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang memintanya
tinggal. Tidak ada yang berteriak, "Jangan pergi!"
Hanya diam. Dan tatapan. Tatapan yang sulit diartikan, ada
yang penuh kemenangan, ada yang penuh penyesalan, ada yang penuh rasa bersalah,
ada yang hanya kosong tanpa makna.
Amilia berjalan. Semakin jauh. Semakin jauh dari rumah
dinas. Semakin jauh dari posyandu. Semakin jauh dari desa yang sudah ia anggap
sebagai rumah.
Ia melewati warung kopi Mbah Karyo. Mbah Karyo berdiri di
pintu, dengan wajah yang tidak bisa ia artikan. Tidak ada senyum, tidak ada
kata-kata. Hanya tatapan.
Ia melewati rumah Pak Santoso. Pak Santoso berdiri di
teras, dengan tangan di saku celana, dan kepala menunduk. Ia tidak berani
menatap Amilia.
Ia melewati rumah Bu Lastri, Bu Ningsih, Bu Rofi.
Pintu-pintu tertutup rapat. Tidak ada yang keluar.
Semakin jauh. Semakin dekat dengan batas desa. Semakin dekat
dengan perpisahan.
Dan tiba-tiba,
"BU AMILIA!"
Suara itu keras. Terdengar dari belakang. Bukan satu suara,
tapi beberapa suara yang bersahutan.
Amilia berhenti. Perlahan, ia menoleh.
Di kejauhan, beberapa orang berlari ke arahnya. Bukan satu
atau dua, tapi lebih banyak dari yang ia duga.
Anita. Yulia. Rini. Pak Santoso. Amat. Hermansyah. Camelia.
Guntur. Rangga. Bambang. Dan beberapa warga lain, wajah-wajah yang tidak
terlalu ia kenal, tapi mereka ada di sana, berlari, dengan wajah-wajah yang
penuh harap dan mata yang basah.
"BU AMILIA! JANGAN PERGI!"
Amilia berdiri di tengah jalan. Tas koper biru tua di
tangan. Tas medis merah di bahu. Air mata mengalir di pipinya.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus melangkah ke
mana.
Keputusan telah dibuat. Langkah telah diambil. Tas koper
sudah penuh, pintu rumah dinas sudah terkunci, dan kaki sudah melangkah
meninggalkan desa yang tidak menginginkannya.
Namun...
Harapan belum sepenuhnya padam.
Di Desa Awan Biru, seseorang hampir pergi. Hampir menyerah.
Hampir kehilangan segalanya.
Tapi di detik-detik terakhir, ketika langkah terakhir
hendak ia ayunkan, suara-suara panggilan terdengar. Bukan suara-suara kebencian
yang biasa ia dengar. Tapi suara-suara yang mengatakan bahwa ia tidak
sendirian. Bahwa masih ada yang percaya. Bahwa masih ada yang menginginkannya
tinggal.
Amilia berdiri di tengah jalan. Di antara pergi dan
tinggal. Di antara menyerah dan bertahan. Di antara keputusasaan dan harapan.
Ia belum memutuskan. Ia masih bingung. Ia masih ragu.
Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa
bahwa pilihannya tidak hanya dua. Mungkin ada jalan ketiga. Mungkin ada pilihan
lain. Mungkin, mungkin, masih ada alasan untuk bertahan.
Dan di balik desa yang gelap dan dingin itu, matahari mulai
naik lebih tinggi. Sinar keemasan menyinari wajah-wajah yang berlari ke
arahnya. Dan angin pagi berhembus, membawa bisikan—bisikan yang tidak lagi
menusuk, tapi hangat.
"Jangan pergi. Kami butuh kamu."
Amilia belum menjawab. Tapi di dalam hatinya, sesuatu mulai
berubah.
BAB 14: TITIK TERENDAH
Langkah Amilia terhenti di tengah jalan desa yang becek,
tepat di perbatasan antara rumah-rumah warga dan hamparan sawah yang menguning
menunggu panen. Di depannya, hanya ada beberapa puluh meter lagi sebelum ia
mencapai ujung desa, sebelum ia melewati pohon beringin besar yang menjadi
batas tidak tertulis antara Desa Awan Biru dan dunia luar. Di belakangnya, suara
panggilan itu masih menggema, nyaring, memecah kesunyian pagi yang tadinya
hanya diisi oleh kicauan burung dan kokok ayam.
"BU AMILIA! JANGAN PERGI!"
Suara itu bukan dari satu orang. Bukan dari dua orang. Tapi
dari sekelompok orang yang berlari ke arahnya dengan langkah tergesa-gesa,
dengan napas tersengal-sengal, dengan wajah-wajah yang basah oleh keringat dan
air mata. Kaki-kaki mereka menginjak lumpur dengan suara berdecak-decap,
sesekali hampir terpeleset tapi terus berlari, seperti orang yang sedang
dikejar oleh waktu, seperti orang yang takut kehilangan sesuatu yang sangat
berharga, seperti orang yang baru menyadari nilai seseorang setelah hampir
kehilangannya.
Amilia berdiri di sana, membeku. Tas koper biru tua di
tangan kanannya terasa semakin berat, seperti batu besar yang mengikatnya ke
tanah. Tas medis merah di bahu kirinya terasa seperti beban sejarah, beban semua
perjuangan, semua air mata, semua malam tanpa tidur, semua harapan yang pernah
ia tanam di desa ini dan kini hampir ia cabut dengan akarnya.
Ia tidak bisa bergerak. Bukan karena lumpur yang menghisap
sepatu karetnya. Bukan karena kelelahan yang membuat otot-ototnya kaku. Tapi
karena suara-suara itu,suara-suara yang selama ini hanya ia dengar sebagai
bisikan kecurigaan, tatapan sinis, dan teriakan kebencian, kini berubah menjadi
panggilan yang penuh harap, penuh ketakutan kehilangan, penuh dengan sesuatu
yang tidak pernah ia duga sebelumnya: cinta.
Cinta dari orang-orang yang dulu ia kira membencinya. Cinta
dari mereka yang dulu ia pikir tidak akan pernah bisa ia raih. Cinta yang
datang bukan karena ia sempurna, bukan karena ia selalu benar, bukan karena ia
tidak pernah membuat kesalahan, tapi karena ia hadir, karena ia berjuang,
karena ia tidak menyerah meskipun seribu alasan untuk menyerah telah ia miliki.
"BU AMILIA!"
Anita berlari paling depan. Wajahnya merah padam, bukan
karena malu tapi karena kelelahan berlari dan tangis yang tertahan. Jilbabnya
hampir terlepas, rambutnya berkeliaran ditiup angin, dan sepatu sandalnya
hampir terlepas dari kakinya. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah satu:
menghentikan Amilia sebelum ia melewati batas desa, sebelum ia menghilang dari
hidup mereka selamanya.
Yulia menyusul dari belakang, dengan langkah yang lebih
pendek dan lebih cepat, kaki-kaki mungilnya yang terbiasa berjalan pelan kini
berlari sekencang mungkin. Air mata sudah jatuh sejak tadi, membasahi pipinya
yang bulat, menetes ke kerah bajunya. Di gendongannya, bayinya, bayi yang lahir
dengan selamat berkat pertolongan Amilia beberapa minggu yang lalu, terbangun
karena guncangan dan mulai menangis. Tapi Yulia tidak berhenti. Ia terus
berlari, sambil menggoyang-goyangkan bayinya dengan satu tangan, berusaha
menenangkan anaknya tanpa mengorbankan kecepatan.
Rini datang ketiga. Ibu muda yang bayinya diselamatkan
Amilia dari persalinan sungsang itu berlari dengan air mata yang sudah tidak
bisa lagi ia bendung. Wajahnya basah, isaknya terdengar di sela-sela napasnya
yang tersengal, dan di dadanya, bayinya, bayi laki-laki yang nyaris meninggal
sebelum sempat hidup, terbaring tenang, tidak terganggu oleh lari ibunya yang
tergesa-gesa, seolah-olah ia juga tahu bahwa ibunya sedang berjuang untuk
sesuatu yang penting.
Pak Santoso menyusul di belakang mereka. Lelaki setengah
baya dengan perut yang sedikit buncit itu berlari dengan langkah yang lebih
lambat, lebih berat, tapi tidak kurang bersemangatnya. Wajahnya yang teduh itu
kini merah oleh usaha, keringat mengalir di dahinya, dan matanya, matanya yang
bijaksana itu, berkaca-kaca. Ia tidak berteriak, tidak memanggil nama Amilia
dengan suara keras. Ia hanya berlari, dengan tekad yang tidak perlu diucapkan,
dengan penyesalan yang mungkin tidak akan pernah bisa ia perbaiki.
Amat, Hermansyah, Camelia, Guntur, Rangga, Bambang, para
pemuda desa yang selama ini hanya menjadi penonton, yang diam ketika Amilia
dihakimi, yang ragu ketika harus memihak, kini berlari di barisan paling
belakang. Wajah-wajah mereka penuh dengan emosi yang sulit diartikan: ada rasa
bersalah, ada rasa malu, ada rasa takut kehilangan, dan ada tekad yang baru
lahir untuk tidak lagi menjadi penonton dalam hidup mereka sendiri.
Dan di belakang mereka semua, di kejauhan, beberapa warga
lain mulai berdatangan. Bukan banyak, mungkin sepuluh atau lima belas orang, tapi
cukup untuk membuat suasana berbeda. Ada yang berlari, ada yang berjalan cepat,
ada yang hanya berdiri di teras rumah mereka dan menatap dari kejauhan dengan
mata yang basah. Mereka adalah warga yang selama ini diam, yang tidak berani
bersuara ketika Amilia dihakimi, yang takut menjadi sasaran berikutnya jika
mereka membela orang asing. Tapi pagi itu, ketika mereka melihat Amilia
benar-benar akan pergi, ketika mereka membayangkan desa tanpa bidan, tanpa
satu-satunya orang yang bisa menolong mereka di tengah malam ketika hujan deras
dan jalan becek, sesuatu di dalam hati mereka berubah. Ketakutan akan penolakan
tiba-tiba menjadi tidak penting dibandingkan ketakutan kehilangan.
Anita sampai lebih dulu. Tubuhnya yang kurus itu hampir
ambruk karena kelelahan, tapi ia tetap berdiri di depan Amilia, menatap matanya
dengan sorot yang penuh dengan segala sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan dengan
kata-kata. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya tersengal-sengal, dan air
matanya, air mata yang sudah ia tahan sejak berlari—kini jatuh dengan deras.
"Bu... jangan pergi..." katanya, suaranya
terputus-putus oleh isak tangis. "Jangan... tolong... jangan tinggalkan
kami..."
Amilia tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, dengan tas
koper di tangan dan tas medis di bahu, dengan air mata yang mengalir di pipinya
dan bibir yang bergetar tidak bisa membentuk kata-kata.
Yulia tiba beberapa saat kemudian. Ia langsung memeluk
Amilia, begitu erat, begitu kuat, seperti orang yang sedang memeluk orang yang
dicintainya sebelum pergi selamanya. Bayinya di gendongannya menangis lebih
keras, mungkin karena terhimpit di antara dua tubuh, atau mungkin karena ia merasakan
kesedihan yang meluap-luap di sekitarnya.
"Bu... kami masih butuh ibu..." isak Yulia di
antara pelukannya. "Desa ini masih butuh ibu... jangan pergi, Bu...
jangan..."
Rini tiba dan langsung berlutut di kaki Amilia. Ia tidak
bisa bicara, isaknya terlalu keras, tangisnya terlalu dalam. Ia hanya
menggenggam ujung jilbab Amilia, seperti orang yang tenggelam menggenggam tali
terakhir yang bisa menyelamatkannya.
"Bu... lihat ini..." akhirnya ia berkata,
suaranya pecah. Ia mengangkat bayinya yang terbaring di dadanya, bayi yang dulu
hampir mati, yang sekarang sehat dan gemuk, yang matanya terbuka lebar menatap
Amilia dengan polosnya. "Ini... ini bukti... bukti ibu berarti... bukti
bahwa ibu menyelamatkan nyawa... jangan pergi, Bu... jangan..."
Pak Santoso tiba dengan langkah terhuyung. Ia tidak
langsung bicara. Ia hanya berdiri di samping mereka, dengan tangan di saku
celana, kepala menunduk, dan bahu yang sedikit bergetar. Lelaki tua itu, yang
selalu bijaksana, yang selalu tenang, yang tidak pernah terlihat lemah di depan
orang lain, kini menangis. Diam-diam. Tanpa suara. Tapi air matanya jatuh,
menetes ke tanah becek di depannya, menjadi saksi bisu dari penyesalan yang
tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Bu Amilia," katanya akhirnya, suaranya serak dan
bergetar. "Saya... saya minta maaf. Saya seharusnya bicara lebih keras.
Saya seharusnya melindungi ibu. Tapi saya... saya terlalu takut. Saya terlalu
tua untuk berani. Saya... saya minta maaf."
Amilia menatapnya. Lelaki tua yang selalu ia hormati, yang
selalu ia anggap sebagai sosok yang bijaksana dan kuat, kini berdiri di
depannya dengan air mata dan penyesalan. Dan untuk pertama kalinya, Amilia
menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam ketakutannya. Bahwa semua orang, bahkan
yang paling kuat sekalipun—memiliki titik di mana mereka merasa takut, merasa
kecil, merasa tidak berdaya.
"Aku... sudah berusaha..." kata Amilia akhirnya,
suaranya bergetar, nyaris tak terdengar di antara tangis dan isak yang
mengelilinginya. Setiap kata keluar dengan susah payah, seperti air yang
menetes dari batu yang hampir kering. "Aku sudah berusaha sekuat
tenagaku... sudah berusaha menjadi bidan yang baik... sudah berusaha membantu
sebanyak mungkin... tapi... tapi mereka tidak mau... mereka tetap membenciku...
mereka mengusirku..."
Anita mengguncang bahu Amilia, bukan dengan kasar, tapi
dengan penuh emosi, seperti sedang berusaha membangunkan seseorang dari mimpi
buruk. "Dan kami melihat itu, Bu! Kami melihat perjuangan ibu! Kami
melihat ibu bekerja siang malam, hujan panas, tidak kenal lelah! Kami melihat
ibu menangis di malam hari ketika tidak ada yang melihat! Kami melihat ibu
tersenyum meskipun hatinya hancur! KAMI MELIHAT, BU! DAN KAMI TIDAK AKAN
LUPA!"
Yulia menggenggam tangan Amilia lebih erat, tangannya yang
dingin, tangannya yang gemetar, tangannya yang telah memeriksa puluhan pasien,
menolong puluhan nyawa, dan menulis ratusan catatan dengan pena yang hampir
kering. "Kami mungkin sedikit, Bu... tapi kami nyata. Kami tidak akan
pergi. Kami akan terus di sini, bersama ibu, selama ibu mau bertahan."
Rini masih berlutut di kaki Amilia, masih menggenggam ujung
jilbabnya, masih menangis dengan isak yang tidak bisa dikendalikan. "Kalau
ibu pergi... kami kehilangan harapan, Bu... bukan hanya harapan untuk sehat,
tapi harapan bahwa desa ini bisa berubah... bahwa kami tidak harus terus hidup
dalam ketakutan... bahwa ada orang yang peduli pada kami..."
Kalimat itu, sederhana, jujur, dan keluar dari lubuk hati
yang paling dalam, menghantam Amilia lebih kuat dari semua teriakan, semua
tuduhan, semua kebencian yang pernah ia terima. Ia merasakan dadanya sesak,
seperti ada yang meletus di dalam sana. Bukan ledakan amarah, bukan ledakan
kesedihan, tapi ledakan... sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia beri
nama. Sesuatu yang membuat dinding-dinding yang selama ini ia bangun untuk
melindungi dirinya, dinding dari ketegaran palsu, dari senyum yang dipaksakan,
dari keyakinan bahwa ia bisa sendirian, runtuh dalam sekejap.
Amilia tidak bisa menahan lagi. Tas koper biru tua di
tangannya jatuh, terhempas ke tanah becek dengan suara yang keras, mencipratkan
lumpur ke sekelilingnya. Tas medis merah di bahunya melorot, jatuh ke
sampingnya, terbuka sedikit, memperlihatkan isinya yang selama ini menjadi
senjata utamanya dalam melawan kematian.
Ia jatuh berlutut di tengah jalan. Di tengah lumpur. Di
tengah air matanya yang tidak lagi bisa ia bendung.
"Aku capek..." tangisnya pecah, suaranya naik
turun, tidak lagi tertahan, tidak lagi disembunyikan. "Aku capek, ya
Allah... aku capek berjuang sendirian... aku capek dihina... aku capek dianggap
musuh... aku capek..."
Ia menangis. Bukan tangis kecil yang pelan dan terkontrol.
Bukan tangis yang hanya keluar sebagai tetesan air mata di sudut mata. Tapi
tangis yang dalam, tangis yang keluar dari perutnya, tangis yang membuat
bahunya bergetar hebat dan dadanya terasa seperti akan meledak. Tangis yang
sudah ia tahan sejak hari pertama tiba di desa ini, sejak bisikan pertama yang
menusuk telinganya, sejak tatapan sinis pertama yang membekukan hatinya.
"Aku hanya ingin membantu... kenapa mereka tidak
mengerti... kenapa mereka membenciku... aku hanya ingin membantu..."
Anita langsung memeluknya. Tidak ada kata-kata. Tidak ada
nasihat. Tidak ada kalimat penyemangat yang klise. Hanya pelukan. Pelukan yang
erat, pelukan yang hangat, pelukan yang mengatakan, "Kamu tidak sendirian.
Aku di sini. Kami di sini."
Yulia ikut memeluk dari sisi lain. Bayinya yang masih
menangis kini ia sandarkan di bahu Amilia, seolah-olah bayi itu juga ikut
memeluk, ikut menangis, ikut merasakan kesedihan yang meluap-luap.
Rini bangkit dari berlutut dan memeluk dari belakang.
Tubuhnya yang kecil dan kurus itu bergetar hebat, isaknya terdengar di telinga
Amilia, tapi ia tidak melepaskan pelukannya.
Pak Santoso berdiri di samping mereka, tidak memeluk, mungkin
karena malu, mungkin karena tidak terbiasa, tapi tangannya yang kasar dan
keriput itu menyentuh pundak Amilia dengan lembut. Sebuah sentuhan yang ringan,
namun penuh makna. Sebuah sentuhan yang mengatakan, "Saya di sini. Saya
mendukungmu. Saya tidak akan pergi."
Amat, Hermansyah, Camelia, dan pemuda lainnya berdiri di
sekeliling mereka, membentuk lingkaran pelindung. Tidak ada yang bicara. Tidak
ada yang berusaha menghibur dengan kata-kata yang tidak perlu. Mereka hanya
berdiri di sana, dengan wajah-wajah yang basah oleh air mata mereka sendiri,
dengan hati yang hancur oleh penyesalan karena tidak bertindak lebih cepat.
Dan di kejauhan, beberapa warga lain yang masih berdiri di
teras rumah mereka, menatap pemandangan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ada
yang menunduk, tidak tahan melihat. Ada yang masuk ke dalam rumah, menutup
pintu, dan menangis sendirian. Ada yang mulai berjalan perlahan ke arah
kerumunan, ingin ikut memeluk, ikut menangis, ikut meminta maaf, tapi masih
ragu, masih takut, masih belum cukup berani.
Beberapa saat kemudian, mungkin beberapa menit, mungkin
setengah jam, Amilia tidak tahu karena waktu terasa seperti berhenti, air
matanya mulai reda. Tidak berhenti, tapi tidak lagi deras. Ia masih terisak,
masih sesekali menangis, tapi napasnya mulai teratur dan pikirannya mulai
jernih.
Ia mendongak. Melihat sekeliling. Melihat wajah-wajah yang
mengelilinginya. Wajah-wajah yang basah oleh air mata. Wajah-wajah yang penuh
dengan cinta yang selama ini tidak ia sadari.
Anita, yang masih memeluknya, berkata dengan suara serak,
"Sekarang ibu tidak sendiri, Bu. Kami di sini. Kami tidak akan
pergi."
Yulia, yang masih memeluk dari sisi lain, menambahkan,
"Kami mungkin sedikit... tapi kami nyata, Bu. Dan kami tidak akan
meninggalkan ibu."
Rini, yang memeluk dari belakang, berbisik, "Dan kami
akan terus di sini, selama ibu mau bertahan."
Amilia menatap mereka satu per satu. Matanya yang merah dan
sembab itu bergerak dari Anita ke Yulia ke Rini ke Pak Santoso ke Amat ke
Hermansyah ke Camelia ke semua wajah yang berdiri di sekelilingnya. Dan untuk
pertama kalinya, ia melihat bukan hanya orang-orang yang membutuhkannya, tapi
orang-orang yang mencintainya. Mencintai dengan segala kekurangan dan
keterbatasan mereka. Mencintai dengan segala ketakutan dan keraguan mereka.
Mencintai dengan cara yang mungkin tidak sempurna, tapi nyata.
"Kalian... kenapa kalian melakukan ini?" bisik
Amilia, suaranya masih bergetar. "Kalian tahu risiko kalian... kalian bisa
dijauhi... dihina... diusir... kenapa kalian tetap di sini?"
Anita tersenyum,senyum yang pahit, senyum yang keluar dari
hati yang terluka, tapi senyum yang tulus. "Karena ibu adalah harapan
kami, Bu. Dan kami tidak akan membiarkan harapan pergi begitu saja."
Yulia mengangguk. "Kami sudah terlalu lama takut, Bu.
Takut pada Mbah Sari, takut pada warga, takut pada apa kata orang. Tapi setelah
melihat ibu berjuang, kami sadar... ketakutan tidak akan mengubah apa pun.
Hanya keberanian yang bisa mengubah sesuatu."
Pak Santoso mengelus pundak Amilia dengan lembut. "Dan
kami sudah terlalu lama diam, Bu. Diam ketika ibu dihakimi. Diam ketika ibu
disakiti. Kami pikir diam adalah cara terbaik untuk bertahan. Tapi ternyata...
diam hanya membuat kami menjadi bagian dari masalah."
Amat melangkah maju. Wajahnya yang biasanya santai itu kini
serius, matanya berkaca-kaca. "Maafkan kami, Bu, karena baru bertindak
sekarang. Maafkan kami karena selama ini hanya menjadi penonton. Tapi mulai
hari ini... kami akan berdiri di samping ibu. Bukan sebagai penonton, tapi sebagai
pejuang. Pejuang yang sama-sama ingin melihat desa ini berubah."
Amilia menghapus air matanya dengan punggung tangan.
Tangannya masih gemetar, tapi ia berusaha menguatkan diri. Ia berdiri perlahan,
dibantu oleh Anita dan Yulia yang masih memegang tangannya dan berdiri di
tengah-tengah mereka.
Ia menatap tas koper biru tua yang tergeletak di lumpur,
setengah terbuka, pakaian-pakaiannya mulai basah dan kotor. Ia menatap tas
medis merah yang juga tergeletak di sampingnya, terbuka sedikit, memperlihatkan
stetoskop dan tensimeter yang sudah menjadi sahabat setianya selama ini.
Ia menatap jalan di depannya, jalan yang mengarah ke luar
desa, ke dunia luar, ke kehidupan yang mungkin lebih mudah, lebih aman, lebih
tidak menyakitkan.
Ia menatap wajah-wajah di sekelilingnya, wajah-wajah yang
penuh harap, penuh ketakutan kehilangan, penuh cinta yang tidak perlu
diucapkan.
Dan ia mengambil keputusan.
"Baik," katanya, suaranya masih serak tapi mulai
mantap. "Aku akan tinggal."
Anita menjerit kegirangan, lalu menangis lagi. Yulia
memeluknya erat-erat, sambil berkata, "Terima kasih, Bu... terima
kasih..."
Rini tersenyum sambil menangis. "Ibu tidak akan
menyesal, Bu. Kami akan buktikan bahwa keputusan ibu benar."
Pak Santoso mengangguk, air matanya masih mengalir tapi ada
senyum di wajahnya, senyum lega, senyum harapan.
Amat Junior dan para pemuda yang lain menghela napas lega,
seolah-olah beban berat terangkat dari pundak mereka.
Namun Amilia belum selesai. Ia menatap mereka semua dengan
mata yang masih merah tapi mulai berbinar.
"Aku akan tinggal," ulangnya, "tapi dengan
satu syarat."
"Apa pun, Bu!" seru Anita.
"Aku tidak bisa berjuang sendirian lagi," kata
Amilia, suaranya tegas meskipun masih bergetar. "Aku butuh kalian. Bukan
hanya sebagai pembantu, bukan hanya sebagai kader, tapi sebagai tim. Sebagai
keluarga. Sebagai orang-orang yang tidak akan pergi ketika badai datang."
Anita mengangguk mantap. "Kami di sini, Bu. Sampai
kapan pun."
Yulia tersenyum. "Kami tidak akan pergi, Bu.
Janji."
Pak Santoso menepuk dada kirinya. "Saya akan menjadi
perisai ibu di depan warga. Saya sudah terlalu lama diam. Sekarang, saya akan
bicara."
Amat Junior melangkah maju, mengulurkan tangannya.
"Kami akan menjadi garda terdepan, Bu. Bukan lagi penonton. Kami akan
membantu ibu membangun desa ini, satu langkah kecil setiap hari."
Amilia menerima uluran tangan Amat, menggenggamnya erat.
Tangan mereka bertemu di tengah-tengah lingkaran, simbol dari persatuan yang
baru lahir, simbol dari harapan yang hampir padam tapi kini menyala kembali.
"Baik," kata Amilia, suaranya mulai penuh
keyakinan. "Mari kita mulai."
Di kejauhan, di balik jendela rumahnya yang setengah
terbuka, Mbah Sari menyaksikan semua yang terjadi. Wajahnya datar, datar yang
menakutkan. Tidak ada emosi yang terpancar, tidak ada gerakan yang tidak perlu.
Ia hanya berdiri di sana, dengan tangan yang menggenggam erat ujung kain
batiknya, dan mata yang tidak berkedip.
Pak Sugeng berdiri di sampingnya, dengan wajah yang pucat
dan tangan yang gemetar. "Mbah... mereka... mereka membelanya..."
Mbah Sari tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada
kerumunan di kejauhan, pada Amilia yang berdiri di tengah-tengah mereka, pada
air mata dan pelukan yang terjadi di sana.
"Ini tidak boleh dibiarkan, Mbah!" lanjut Pak
Sugeng, suaranya mulai panik. "Kalau mereka terus membelanya, lama-lama
semua warga akan ikut! Kita harus melakukan sesuatu!"
Mbah Sari akhirnya bicara. Suaranya pelan, dingin, dan
menusuk seperti sembilu. "Tidak."
Pak Sugeng terkejut. "Tidak, Mbah? Maksudnya?"
Mbah Sari menoleh, menatap Pak Sugeng dengan sorot mata
yang tajam, seperti burung elang yang sedang mengintai mangsanya. "Biarkan
mereka. Biarkan mereka percaya padanya. Biarkan mereka berharap. Pada
akhirnya... mereka akan kecewa. Pada akhirnya... mereka akan kembali."
Ia berbalik, berjalan ke dalam rumah, meninggalkan Pak
Sugeng yang berdiri di jendela dengan wajah bingung dan hati gelisah.
"Pada akhirnya... mereka akan kembali," bisik
Mbah Sari pada dirinya sendiri, sebelum menghilang ke dalam kegelapan rumahnya.
Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, di tempat yang
tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, ada keraguan. Keraguan kecil yang
mulai tumbuh. Keraguan bahwa mungkin, mungkin, kali ini, ia salah.
Amilia mengambil tas koper biru tuanya dari lumpur.
Pakaian-pakaian di dalamnya sudah basah dan kotor, beberapa bahkan terjatuh ke
tanah dan berlumuran lumpur. Ia tidak peduli. Ia hanya memasukkan kembali
pakaian-pakaian itu dengan gerakan yang cepat dan tanpa beban, seperti orang
yang sedang membereskan barang-barang yang tidak lagi penting.
Tas medis merah ia gantungkan kembali di bahunya. Rasanya
berbeda sekarang, tidak lagi berat, tidak lagi seperti beban. Sekarang, rasanya
seperti... seperti bagian dari dirinya. Seperti senjata yang siap digunakan
untuk berperang. Seperti teman yang setia menemani di saat suka dan duka.
Ia menatap desa di depannya desa yang sama yang pagi ini ia
tinggalkan dengan hati hancur, desa yang sama yang kemarin mengusirnya dengan
teriakan dan tuduhan. Tapi sekarang, desa itu terlihat berbeda. Mungkin karena
cahaya matahari yang mulai meninggi. Mungkin karena kabut yang sudah sirna.
Atau mungkin karena hatinya yang mulai berubah.
Ia menarik napas panjang, begitu panjang hingga dadanya
terasa seperti akan meledak, lalu menghembuskannya perlahan, seperti sedang
menghembuskan semua beban yang selama ini ia pikul sendirian.
"Baik," katanya, suaranya mantap. "Mari kita
pulang."
Mereka berjalan bersama. Amilia di tengah, dikelilingi oleh
Anita, Yulia, Rini, Pak Santoso, Amat, Hermansyah, Camelia, dan pemuda lainnya.
Langkah mereka tidak cepat, tidak terburu-buru, tapi pasti. Seperti pasukan
yang baru saja memenangkan pertempuran kecil, yang tahu bahwa masih banyak
pertempuran di depan, tapi untuk saat ini, mereka bisa bernapas lega.
Warga yang melihat dari kejauhan, mereka yang tidak ikut
berlari, yang hanya berdiri di teras rumah dengan mata basah, mulai bertepuk
tangan. Perlahan pada awalnya, seperti ragu-ragu, lalu semakin keras, semakin
mantap. Tepuk tangan yang tidak terkoordinasi, tidak serempak, tapi tulus.
Tepuk tangan yang mengatakan, "Kami salah. Kami minta maaf. Kami senang
kamu tinggal."
Amilia tidak menangis lagi. Ia sudah menangis cukup banyak
untuk hari ini. Tapi matanya berkaca-kaca, dan senyumnya, senyum yang tulus,
senyum yang tidak perlu dipaksakan, kembali menghiasi wajahnya.
Titik terendah bukanlah akhir dari segalanya.
Kadang, titik terendah adalah tempat di mana seseorang
jatuh begitu dalam hingga tidak ada lagi tempat untuk jatuh. Kadang, titik
terendah adalah tempat di mana seseorang menyentuh dasar, merasakan dinginnya
batu, dan menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa ia takutkan karena yang
terburuk sudah terjadi. Kadang, titik terendah adalah tempat di mana seseorang,
setelah sekian lama berjuang sendirian, akhirnya menemukan bahwa ia tidak
sendirian.
Di Desa Awan Biru, Amilia telah mencapai titik terendahnya.
Ia telah dikucilkan, dihina, diusir, dan hampir pergi. Ia telah menangis di
lantai kayu rumah dinasnya, telah membereskan barang-barangnya, telah melangkahkan
kaki meninggalkan desa. Ia telah siap menyerah.
Tapi di titik terendah itu, ketika ia tidak lagi memiliki
harapan, harapan justru datang kepadanya. Datang dalam bentuk suara-suara
panggilan yang memecah kesunyian pagi. Datang dalam bentuk pelukan-pelukan yang
hangat dan air mata yang tumpah bersama. Datang dalam bentuk orang-orang yang
memilih untuk tidak lagi diam, untuk tidak lagi takut, untuk tidak lagi menjadi
penonton.
Amilia tidak lagi berdiri sendiri. Ia tidak lagi berjalan
sendirian. Ia tidak lagi berjuang sendirian.
Kini, ia memiliki tim. Ia memiliki keluarga. Ia memiliki
orang-orang yang akan berdiri di sampingnya, bukan hanya ketika matahari
bersinar terang, tapi juga ketika badai datang dan segalanya tampak gelap.
Dan di Desa Awan Biru, setelah malam yang panjang dan penuh
air mata, setelah pagi yang hampir menjadi perpisahan, harapan mulai tumbuh.
Bukan harapan yang besar dan gemuruh, tapi harapan yang kecil dan tenang, seperti
tunas yang muncul di tanah yang retak setelah kemarau panjang, seperti bintang
pertama yang muncul di langit yang gelap setelah badai berlalu.
Amilia masih di sini.
Dan ia tidak akan pergi.
BAB 15: SURAT DARI MASA LALU
Malam itu, setelah kepulangannya yang dramatis, setelah air
mata yang tumpah di tengah jalan, setelah pelukan yang menghangatkan hati yang
hampir membeku, setelah keputusan untuk tinggal yang diambil dengan keberanian
yang hampir padam, Desa Awan Biru kembali sunyi. Namun sunyi malam itu berbeda.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya ketika keheningan terasa mencekik dan
penuh ancaman, ketika setiap decitan pintu atau derit lantai kayu terdengar
seperti langkah musuh yang mendekat. Malam itu, sunyi terasa lebih lembut,
lebih bersahabat, seperti selimut tebal yang melindungi dari dinginnya dunia
luar.
Bulan bersinar terang di langit, bundar dan penuh,
membanjiri desa dengan cahaya perak yang lembut. Bintang-bintang bertebaran di
kejauhan, berkelap-kelip seperti mata-mata kecil yang tersenyum. Angin malam
berhembus pelan, membawa aroma bunga melati dari kebun tetangga dan aroma tanah
basah dari sawah yang baru saja diairi. Suara jangkrik yang biasanya
mengganggu, malam itu terdengar seperti kidung pengantar tidur yang
menenangkan.
Di rumah dinas, Amilia duduk di lantai kayu, bersandar pada
tiang, dengan lampu minyak tanah yang menyala terang di depannya. Tas koper
biru tua yang pagi ini hampir menjadi saksi kepergiannya, kini tergeletak di
sudut ruangan, setengah terbuka, dengan pakaian-pakaian yang sudah ia keluarkan
kembali dan lipat dengan rapi di lemari kayu sederhana di pojok ruangan.
Pakaian-pakaian itu tidak lagi basah dan kotor, ia sudah mencucinya sore tadi,
menjemurnya di belakang rumah, dan melipatnya dengan penuh kesadaran bahwa ia
tidak akan pergi, setidaknya untuk saat ini.
Tas medis merah terletak di sampingnya, terbuka, isinya
berserakan di lantai, stetoskop, tensimeter, alat bantu persalinan, obat-obatan
darurat, perban, jarum suntik, dan segala macam perlengkapan yang selama ini
menjadi senjatanya dalam melawan kematian. Ia baru saja selesai membersihkan
dan merapikan semuanya, memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang
rusak atau kadaluwarsa. Tangannya bergerak dengan lembut, penuh kasih sayang,
seperti seorang prajurit yang merawat senjatanya setelah pertempuran.
Namun pikirannya tidak di situ. Pikirannya melayang jauh, ke
masa lalu, ke masa depan, ke tempat-tempat yang tidak bisa ia capai. Ia
mengingat pagi ini. Wajah Anita yang merah padam karena berlari. Pelukan Yulia
yang erat dan hangat. Isak tangis Rini yang berlutut di kakinya. Sentuhan
lembut Pak Santoso di pundaknya. Tatapan mata Amat yang penuh tekad. Dan semua
wajah-wajah lain yang berdiri di sekelilingnya, membentuk lingkaran pelindung,
mengatakan tanpa suara bahwa ia tidak sendirian.
Ia juga mengingat wajah-wajah lain, wajah-wajah yang tidak
datang. Wajah Pak Sugeng yang merah padam oleh amarah. Wajah Mbah Sari yang
dingin seperti patung es. Wajah-wajah warga yang berteriak mengusirnya, yang
menuduhnya tanpa bukti, yang membencinya tanpa alasan yang jelas. Wajah-wajah
itu masih terbayang, masih mengganggu, masih menyakiti, tapi tidak lagi seperti
dulu. Tidak lagi menusuk. Tidak lagi membuatnya ingin menyerah.
Mungkin luka tidak pernah benar-benar sembuh, pikirnya, matanya menatap nyala lilin yang
berkedip-kedip. Mungkin luka hanya... menjadi kurang menyakitkan
seiring waktu. Mungkin luka mengajarkan kita sesuatu tentang diri kita sendiri,
tentang seberapa kuat kita, seberapa besar kita bisa bertahan, seberapa dalam
kita bisa mencintai meskipun terluka.
Ia menghela napas panjang. Dadanya terasa lega, lega yang
tidak ia rasakan dalam waktu yang lama. Bukan lega karena semua masalah
selesai, ia tahu betul bahwa masih banyak yang harus dihadapi, masih banyak
hati yang harus dimenangkan, masih banyak pertempuran yang harus dimenangkan.
Tapi lega karena ia tidak sendirian. Lega karena ada orang-orang yang percaya
padanya. Lega karena ia memilih untuk bertahan, dan pilihan itu terasa benar.
Amilia membuka tas medisnya, bukan untuk memeriksa
alat-alat medis, karena ia sudah selesai melakukannya. Tangannya meraba-raba di
kantong tersembunyi di bagian dalam tas, mencari sesuatu yang selama ini ia
simpan dengan hati-hati, seperti harta karun yang tidak boleh hilang. Jari-jarinya
menyentuh sebuah amplop, sedikit kusam, sedikit lembab karena pernah terkena
air hujan ketika ia berlari di tengah malam beberapa minggu yang lalu, tapi
masih utuh.
Ia mengeluarkan amplop itu dengan hati-hati, seperti sedang
mengeluarkan benda pusaka yang sangat berharga. Amplop berwarna cokelat muda,
dengan tinta biru yang sudah sedikit pudar, dan tulisan tangan yang ia kenal
betul, tulisan ibunya. Tulisan yang tegak, jelas, dan penuh dengan karakter, seperti
ibunya sendiri.
"Untuk Amilia, putriku tersayang."
Ia tidak perlu membaca alamat pengirim, ia hafal di luar
kepala. Rumah di kota kecil, dengan halaman yang ditumbuhi bunga-bunga, dengan
dapur yang selalu hangat oleh aktivitas memasak, dengan ruang tamu yang
dipenuhi foto-foto keluarga. Rumah yang ia tinggalkan hampir dua bulan yang
lalu, dengan janji akan kembali setelah satu tahun bertugas. Rumah yang
tiba-tiba terasa sangat jauh, sangat asing, seperti kenangan dari kehidupan
orang lain.
Ia membuka amplop itu perlahan, begitu perlahan, seperti
sedang membuka pintu menuju masa lalu, menuju kenangan-kenangan yang selama ini
ia kubur di dalam hatinya karena terlalu sakit untuk diingat. Kertas di
dalamnya sudah agak kusut, lipatan-lipatannya sudah longgar karena sering ia
baca dan lipat kembali. Tinta biru masih terbaca jelas, meskipun di beberapa tempat
mulai pudar karena sering terkena air mata.
Ia mulai membaca. Bukan dengan mata, tapi dengan hati.
Setiap kata, setiap kalimat, setiap tanda baca, semua ia hafal di luar kepala.
Tapi setiap kali membacanya, rasanya seperti pertama kali. Seperti ibunya
sedang duduk di sampingnya, berbisik di telinganya, mengingatkannya tentang
sesuatu yang selama ini ia lupa.
"Amilia, putriku tersayang,"
"Kalau suatu hari kamu merasa lelah, lelah dengan
dunia, lelah dengan perjuangan, lelah dengan orang-orang yang tidak mengerti, ingatlah,
kamu memilih jalan ini bukan karena mudah. Bukan karena semua orang akan
bertepuk tangan dan memujimu. Bukan karena hidup akan terasa seperti berjalan
di atas hamparan bunga mawar."
"Kamu memilih jalan ini karena kamu ingin berarti. Karena
kamu ingin, ketika kamu melihat ke belakang di suatu hari nanti, kamu bisa
berkata pada dirimu sendiri, 'Aku telah melakukan sesuatu. Aku telah membuat
perbedaan. Aku tidak hanya hidup, tapi juga memberi kehidupan.'"
Air mata Amilia mulai jatuh. Perlahan pada awalnya, seperti
tetesan air hujan pertama sebelum badai. Ia tidak menghapusnya. Ia
membiarkannya mengalir, membasahi pipinya, menetes ke kertas surat yang sudah
lusuh.
"Nak, menolong orang bukan hanya soal ilmu. Bukan
hanya soal apa yang kamu pelajari di bangku kuliah, bukan hanya soal prosedur
dan diagnosis dan resep obat. Menolong orang adalah soal hati. Dan hati...
seringkali diuji lebih keras daripada kemampuan."
"Akan ada hari di mana kamu merasa tidak dihargai.
Akan ada hari di mana kamu disalahkan untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu.
Akan ada hari di mana kamu ditolak oleh orang-orang yang seharusnya kamu
tolong. Akan ada hari di mana kamu ingin berteriak, 'Untuk apa semua ini? Untuk
apa aku berjuang jika pada akhirnya mereka tidak menginginkanku?'"
Amilia menangis lebih keras. Karena ibunya benar, benar
sekali. Hari-hari itu telah datang. Berulang kali. Dan ia hampir menyerah. Ia
hampir pulang. Ia hampir meninggalkan semua mimpi dan harapan yang pernah ia
bangun.
"Tapi percayalah, Nak... kebaikan tidak pernah
benar-benar hilang. Ia mungkin terlupakan untuk sementara waktu. Ia mungkin
terabaikan oleh mereka yang terlalu sibuk dengan ketakutan mereka sendiri. Ia
mungkin tidak dihargai oleh mereka yang terlalu buta untuk melihat. Tapi
kebaikan tidak pernah hilang. Ia akan tumbuh, perlahan-lahan, seperti benih
yang ditanam di tanah yang keras. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok.
Tapi suatu hari, ketika kamu paling tidak mengharapkannya, kamu akan melihat
hasilnya."
"Kamu akan melihat senyum di wajah orang yang pernah
kamu tolong. Kamu akan mendengar ucapan terima kasih dari orang yang dulu
membencimu. Kamu akan merasakan kehangatan dari orang-orang yang dulu dingin
padamu. Dan pada saat itu, kamu akan tahu bahwa semua perjuanganmu, semua air
matamu, semua malam tanpa tidurmu, tidak sia-sia."
Amilia memeluk surat itu erat-erat, seperti sedang memeluk
ibunya yang tidak bisa ia temui karena jarak dan waktu dan keadaan. Air matanya
jatuh deras, membasahi kertas, membuat tinta biru itu semakin pudar. Tapi ia
tidak peduli. Ia sudah hafal isinya. Ia sudah menghafalnya di dalam hati, di
dalam jiwa, di dalam setiap serat tubuhnya.
"Kalau kamu bertahan, bukan karena kamu kuat, bukan
karena kamu tegar, bukan karena kamu tidak pernah jatuh, tapi karena kamu
percaya bahwa apa yang kamu lakukan itu benar, maka kamu akan menjadi lebih
dari sekadar bidan desa. Kamu akan menjadi harapan. Kamu akan menjadi cahaya di
tengah kegelapan. Kamu akan menjadi alasan bagi seseorang untuk terus
hidup."
"Jangan jadi kuat karena tidak pernah jatuh. Jadilah
kuat... karena selalu bangkit. Setiap kali jatuh, setiap kali terluka, setiap
kali ingin menyerah, bangkitlah. Karena di dalam kebangkitan itulah letak
kekuatan sejati."
"Ibu bangga padamu, Nak. Bukan karena kamu sempurna.
Bukan karena kamu tidak pernah membuat kesalahan. Tapi karena kamu berani.
Berani memilih jalan yang sulit. Berani bertahan ketika semua orang berkata
'menyerah saja'. Berani mencintai meskipun hatimu sering terluka."
"Ibu bangga padamu. Dan ibu akan selalu bangga, apa
pun yang terjadi."
"Dengan segala cinta yang tak pernah pudar,"
"Ibumu."
Amilia tidak bisa menahan lagi. Ia menangis, bukan tangis
kecil yang pelan dan terkontrol, bukan tangis yang hanya keluar sebagai tetesan
air mata di sudut mata. Tapi tangis yang dalam, tangis yang keluar dari
perutnya, tangis yang membuat bahunya bergetar hebat dan dadanya terasa seperti
akan meledak. Tangis yang sudah ia tahan sejak hari pertama tiba di desa ini,
sejak bisikan pertama yang menusuk telinganya, sejak tatapan sinis pertama yang
membekukan hatinya.
Tapi kali ini, tangisnya berbeda.
Bukan tangis keputusasaan. Bukan tangis karena ia merasa
kalah. Bukan tangis karena ia merasa sendirian.
Ini adalah tangis pelepas. Tangis yang keluar ketika
seseorang akhirnya mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia telah terluka, bahwa
ia telah berjuang, bahwa ia telah hampir menyerah dan bahwa ia masih di sini.
Masih berdiri. Masih berjuang.
Ini adalah tangis yang membersihkan. Seperti hujan yang
membasuh debu dari dedaunan, seperti sungai yang mengikis lumpur dari batu-batu
di dasarnya, seperti angin yang meniupkan asap dari ruangan yang pengap.
"Bu... aku hampir menyerah..." bisik Amilia di
antara isak tangisnya, berbicara pada surat di tangannya, berbicara pada ibunya
yang tidak bisa mendengar, berbicara pada dirinya sendiri yang hampir lupa
siapa dirinya. "Aku hampir pulang... aku hampir meninggalkan semua ini...
aku hampir..."
Ia tidak bisa melanjutkan. Tangisnya terlalu keras, isaknya
terlalu dalam. Ia hanya bisa memeluk surat itu erat-erat, seperti anak kecil
yang memeluk ibunya setelah mimpi buruk, seperti orang yang tenggelam memegang
pelampung terakhir, seperti pejuang yang menemukan alasan untuk terus
bertarung.
"Tapi sekarang... aku tidak akan menyerah,"
lanjutnya, suaranya mulai mantap meskipun masih tersendat oleh isak. "Aku
tidak akan menyerah, Bu. Aku janji. Aku akan bertahan. Aku akan berjuang. Aku
akan membuktikan bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia."
Ia menatap surat itu, kertas yang basah oleh air matanya,
tinta yang semakin pudar, lipatan-lipatan yang longgar karena terlalu sering
dibuka dan dilipat kembali. Ia mencium surat itu, seperti mencium kening ibunya
sebelum tidur, seperti mencium tangan ibunya sebagai tanda hormat, seperti
mencium hati ibunya yang selalu bersamanya meskipun jarak memisahkan.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Bu," bisiknya.
"Aku akan membuatmu bangga."
Matahari terbit keesokan paginya dengan kemegahan yang
jarang terjadi. Sinar keemasannya menembus celah-celah dinding bambu,
menciptakan pola-pola cahaya yang indah di lantai kayu. Burung-burung berkicau
dengan riang di antara pepohonan, seolah ikut merayakan sesuatu yang baru.
Angin pagi berhembus sejuk, membawa aroma kopi dan gorengan dari warung Mbah Karyo
yang mulai beraktivitas.
Amilia bangun lebih awal dari biasanya. Langit masih gelap
ketika ia membuka matanya, tetapi ia tidak bisa tidur lagi. Pikirannya sudah
terlalu penuh dengan rencana, dengan harapan, dengan tekad yang baru lahir. Ia
bangkit dari tempat tidurnya, meraih jilbab putih yang tergantung di paku di
dinding, dan mengenakannya dengan gerakan yang mantap dan penuh kesadaran.
Setiap lipatan, setiap simpul, setiap tarikan kain, ia lakukan dengan saksama,
seperti ritual, seperti meditasi, seperti persiapan untuk pertempuran yang akan
ia menangkan.
Ia berdiri di depan cermin kecil, selembar kaca bekas
bingkai foto yang ia gantung di dinding dengan seutas tali rafia. Di dalam
cermin itu, ia melihat seorang perempuan dengan wajah yang masih pucat, mata
yang masih sedikit sembab, dan bibir yang masih pecah-pecah. Namun ada sesuatu
yang berbeda di matanya—sesuatu yang tidak ia lihat dalam beberapa minggu
terakhir.
Bukan kilau kebahagiaan. Bukan sinar kemenangan. Tapi...
tekad. Tekad yang membaja. Tekad yang tidak akan padam oleh teriakan, oleh
tuduhan, oleh kebencian. Tekad yang lahir dari dasar hatinya yang paling dalam,
dari surat ibunya yang selalu ia baca, dari keputusan untuk tidak lagi menjadi
korban tetapi menjadi pemenang.
"Aku tidak akan menyerah," bisiknya pada
bayangannya sendiri, suaranya tegas dan penuh keyakinan. "Aku akan
bertahan. Aku akan berjuang. Dan pada akhirnya... aku akan menang."
Ia mengambil tas medis merahnya, tas yang sudah menjadi
bagian dari tubuhnya, seperti tangan atau kaki—dan menggantungkannya di bahu
kanan. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi rasa ingin lari. Yang ada hanya
tekad untuk melangkah maju, apa pun yang terjadi.
Hari itu, Amilia tidak pergi ke posyandu. Ia tidak pergi ke
balai desa. Ia tidak berkeliling desa dengan harapan ada yang mau dilayani. Ia
melakukan sesuatu yang berbeda.
Ia pergi ke rumah Pak Iwan.
Bukan untuk mengadu, bukan untuk meminta perlindungan,
bukan untuk mengeluh tentang perlakuan warga. Ia pergi untuk berbicara, untuk
merencanakan, untuk berkolaborasi, untuk membangun.
Pak Iwan terkejut ketika melihat Amilia di depan pintu
rumahnya pagi itu. Wajahnya yang biasanya tegas itu tampak canggung, matanya
tidak berani menatap langsung ke arah Amilia, dan tangannya yang menggenggam
cangkir kopi sedikit gemetar.
"Bu Amilia... ada apa?" tanyanya, suaranya
hati-hati, seperti orang yang berjalan di atas telur.
"Pak, saya ingin bicara," kata Amilia, suaranya
tenang namun tegas. "Bukan tentang kemarin. Bukan tentang siapa yang
salah. Tapi tentang masa depan. Tentang desa ini. Tentang apa yang bisa kita
lakukan bersama."
Pak Iwan mengernyit, tidak percaya dengan telinganya.
Setelah semua yang terjadi, setelah ia menyampaikan "keinginan warga"
agar Amilia pergi, setelah ia hampir menjadi alat bagi mereka yang ingin
mengusirnya, ia tidak menyangka Amilia akan datang kepadanya dengan tawaran
kerja sama.
"Silakan masuk, Bu," katanya, membuka pintu
lebar-lebar.
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu yang sederhana. Ibu
Iwan menyajikan teh hangat dengan senyum yang ramah, senyum yang membuat Amilia
merasa sedikit lebih tenang.
"Pak," kata Amilia setelah menyesap tehnya,
"saya sudah memutuskan untuk tinggal. Bukan karena saya keras kepala.
Bukan karena saya ingin melawan siapa pun. Tapi karena saya yakin bahwa saya
bisa membantu desa ini. Dan karena ada warga yang masih membutuhkan saya."
Pak Iwan mengangguk, wajahnya masih tegang.
"Tapi saya tidak bisa berjuang sendirian," lanjut
Amilia. "Saya butuh dukungan Bapak. Bukan sebagai kepala desa yang harus
memihak, tapi sebagai pemimpin yang bisa menjadi jembatan antara saya dan warga
yang masih ragu."
Pak Iwan menghela napas panjang. "Bu, saya... saya
minta maaf atas semua yang terjadi. Saya seharusnya lebih tegas membela ibu.
Tapi saya... saya takut kehilangan dukungan warga."
Amilia tersenyum, senyum yang tulus, senyum yang tidak
menyimpan dendam. "Saya tidak marah, Pak. Saya mengerti posisi Bapak. Tapi
mulai sekarang, mari kita bekerja sama. Saya tidak minta Bapak memihak saya.
Saya hanya minta Bapak menjadi penengah yang adil. Dan membantu saya meyakinkan
warga bahwa saya bukan ancaman, tapi mitra."
Pak Iwan menatap Amilia lama. Lalu, perlahan, ia tersenyum,
senyum yang pertama kali muncul di wajahnya dalam beberapa hari terakhir.
"Baik, Bu. Saya akan bantu. Saya tidak bisa menjanjikan semuanya akan
berjalan mulus, tapi saya akan berusaha."
Dari rumah Pak Iwan, Amilia tidak langsung pulang. Ia pergi
ke rumah Pak Santoso. Lalu ke rumah Anita. Lalu ke rumah Yulia. Lalu ke rumah
Rini. Lalu ke rumah-rumah warga lain yang selama ini diam tapi tidak
membencinya. Ia berbicara dengan mereka satu per satu, mendengarkan keluhan dan
ketakutan mereka, menjelaskan tujuannya dengan sabar, dan meminta dukungan
mereka, bukan dukungan untuk melawan Mbah Sari, tapi dukungan untuk membangun
desa yang lebih sehat dan lebih sadar akan pentingnya kesehatan.
Tidak semua langsung setuju. Banyak yang masih ragu, masih
takut, masih khawatir akan konsekuensi sosial jika mereka terang-terangan
mendukung Amilia. Tapi beberapa mulai mengangguk, mulai tersenyum, mulai
berbisik bahwa mungkin, mungkin, mereka salah selama ini.
"Bu, saya dukung ibu," kata seorang ibu muda yang
selama ini hanya diam, tidak pernah ikut menghina tapi juga tidak pernah
membela. "Saya lihat sendiri bagaimana ibu menolong tetangga saya waktu
melahirkan. Saya percaya ibu."
"Kami juga, Bu," sahut suaminya yang berdiri di
sampingnya. "Maaf kalau kami dulu tidak berani bicara. Tapi mulai
sekarang, kami akan dukung ibu."
Amilia tidak menangis. Ia sudah cukup menangis kemarin.
Tapi matanya berkaca-kaca, dan hatinya, hatinya terasa hangat. Hangat seperti
sinar matahari pagi yang menyinari dedaunan yang basah oleh embun.
Di rumah Mbah Sari, kabar tentang "gerakan"
Amilia mulai terdengar. Bukan dari mulut ke mulut, karena para pendukung Mbah
Sari masih setia, masih tidak mau mendengar kabar baik tentang bidan itu, tapi
dari perubahan kecil yang mulai terlihat di desa. Warga yang tadinya
menghindari Amilia, kini mulai menyapanya. Warga yang tadinya menutup pintu
ketika Amilia lewat, kini mulai membuka jendela dan tersenyum. Warga yang
tadinya berbisik-bisik penuh kebencian, kini mulai berbisik-bisik dengan nada
yang berbeda.
"Mbah," kata Pak Sugeng dengan wajah gelisah,
"kabarnya bidan itu mulai mendekati warga satu per satu. Pak Santoso sudah
ikut dia. Pak Iwan juga katanya mulai melunak. Beberapa warga yang tadinya
netral, sekarang mulai mendukungnya."
Mbah Sari tidak menjawab. Ia hanya diam, dengan wajah yang
datar, datar yang menakutkan. Tangannya yang keriput memainkan ujung kain
batiknya, bolak-balik, seperti sedang menghitung sesuatu yang tidak terlihat.
"Kita harus melakukan sesuatu, Mbah!" lanjut Pak
Sugeng, suaranya mulai panik. "Kalau terus begini, lama-lama semua warga
akan ikut dia!"
Mbah Sari akhirnya bicara. Suaranya pelan, nyaris berbisik,
tapi setiap suku kata keluar seperti sembilu yang ditusukkan pelan-pelan ke
dalam daging.
"Biarkan."
Pak Sugeng terkejut. "Biarkan, Mbah?"
"Biarkan mereka mendekatinya. Biarkan mereka percaya
padanya. Pada akhirnya... mereka akan kecewa. Pada akhirnya... mereka akan
kembali."
Tapi di dalam hatinya, Mbah Sari tidak lagi yakin. Keraguan
yang kemarin hanya sebesar biji sawi, kini mulai tumbuh menjadi sebesar biji
kacang. Dan ia takut, takut bahwa untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia
mungkin salah.
Kekuatan tidak selalu datang dari dalam diri sendiri.
Kadang, kekuatan datang dari masa lalu, dari kata-kata yang pernah diucapkan,
dari surat-surat yang pernah ditulis, dari cinta yang tidak pernah pudar
meskipun jarak dan waktu memisahkan. Kadang, kekuatan datang dari mengingat
siapa kita, dari mana kita berasal, dan mengapa kita memulai semua ini.
Di Desa Awan Biru, Amilia telah menemukan kembali
kekuatannya. Bukan kekuatan untuk melawan, bukan kekuatan untuk membenci, bukan
kekuatan untuk membuktikan bahwa ia lebih baik dari orang lain. Tapi kekuatan
untuk bertahan. Kekuatan untuk tetap percaya bahwa kebaikan pada akhirnya akan
menang. Kekuatan untuk mencintai meskipun hatinya sering terluka.
Ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki ibunya, yang meskipun
jauh, selalu hadir dalam setiap kata di surat itu. Ia memiliki Anita, Yulia,
Rini, Pak Santoso, Amat Junior, Hermansyah, dan semua orang yang memilih untuk
berdiri di sampingnya. Ia memiliki tekad yang baru lahir, tekad yang tidak akan
padam oleh badai apa pun.
Dan di Desa Awan Biru, setelah malam yang panjang dan penuh
air mata, setelah pagi yang hampir menjadi perpisahan, setelah surat dari masa
lalu yang mengingatkannya siapa dirinya, Amilia tidak hanya bertahan.
Ia mulai bergerak.
Bergerak maju. Bergerak menuju masa depan. Bergerak bersama
mereka yang percaya bahwa perubahan itu mungkin, bahwa kebaikan tidak pernah
sia-sia, bahwa pada akhirnya, cahaya akan selalu menang melawan gelap.
BAB 16: BADAI TERBESAR
Pagi itu, langit Desa Awan Biru tidak seperti biasanya. Ia
tidak biru cerah seperti langit pada umumnya, tidak juga kelabu mendung seperti
sebelum hujan. Warnanya aneh, seperti kuning tua yang kotor, seperti warna
kulit pisang yang terlalu lama digantung, seperti warna sesuatu yang busuk
sebelum benar-benar membusuk. Matahari tidak terlihat. Yang ada hanya lingkaran
pucat di balik kabut tebal yang tidak seperti kabut biasa. Kabut ini terasa
kering, panas, dan membuat tenggorokan terasa gatal setiap kali menghirupnya.
Burung-burung tidak berkicau. Mereka bertengger di
dahan-dahan pohon beringin dengan diam, sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri,
seperti sedang waspada terhadap sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Ayam-ayam jantan yang biasanya berkokok dengan riang pada pagi hari, kali ini
hanya bersuara sekali atau dua kali, lalu diam, suara mereka terdengar serak,
seperti ada yang mengganjal di tenggorokan mereka. Anjing-anjing desa yang
biasanya menggonggong ketika mendengar langkah kaki orang asing, hari itu hanya
diam di bawah kolong rumah, dengan hidung yang basah dan mata yang sayu.
Bahkan pepohonan pun terasa berbeda. Daun-daunnya menggulung,
bukan karena kekeringan, karena tanah masih lembab oleh hujan beberapa hari
yang lalu, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan
dengan kata-kata, namun terasa oleh setiap orang yang memiliki hati yang masih
peka. Seperti ada yang salah dengan udara, dengan air, dengan tanah, dengan
kehidupan itu sendiri.
Amilia merasakannya sejak ia membuka mata pagi itu. Ada
rasa tidak enak di dadanya, bukan sakit, bukan sesak, tapi seperti firasat,
seperti peringatan, seperti suara bisikan yang mengatakan bahwa sesuatu yang
buruk akan terjadi. Ia bangkit dari tempat tidurnya lebih cepat dari biasanya,
tidak menunggu matahari terbit, tidak menikmati secangkir teh jahe seperti
ritual paginya. Ada urgensi yang mendorongnya untuk segera bergerak, untuk
segera memeriksa, untuk segera bersiap.
Ia mengambil tas medis merahnya, tas yang sudah menjadi
bagian dari tubuhnya, seperti tangan atau kaki—dan memeriksa isinya dengan
lebih teliti dari biasanya. Stetoskop, tensimeter, termometer, obat-obatan
darurat, perban, jarum suntik, antiseptik, oralit, vitamin, dan segala macam
perlengkapan yang mungkin ia butuhkan. Ia menambahkan beberapa item, masker
bedah, sarung tangan karet, hand sanitizer, dan obat-obatan untuk demam dan
diare dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.
Kenapa aku menyiapkan semua ini? pikirnya, sambil merapikan tas medisnya dengan
gerakan yang cepat dan terukur. Apakah aku terlalu paranoid? Atau ada
sesuatu yang tidak beres yang belum bisa aku identifikasi?
Ia tidak tahu jawabannya. Tapi nalurinya sebagai seorang
tenaga medis, naluri yang diasah selama bertahun-tahun di bangku kuliah dan
magang di rumah sakit, berteriak bahwa ada badai yang akan datang. Badai yang
tidak bisa dihindari. Badai yang akan menguji segalanya.
Semua bermula dari hal yang sangat kecil. Begitu kecil
hingga hampir tidak ada yang menyadarinya. Seorang anak laki-laki bernama Budi,
usia lima tahun, anak dari keluarga miskin di ujung desa, terbangun dengan
demam tinggi pada suatu pagi. Ibunya, Bu Yati, seorang perempuan kurus dengan
wajah lelah dan tangan yang kasar karena bekerja di sawah, mengira itu hanya
demam biasa. Ia mengompres dahi anaknya dengan air dingin, memberinya ramuan
jahe dan kunyit seperti yang diajarkan oleh Mbah Sari, dan berdoa semoga
demamnya turun sebelum malam.
Tapi demam Budi tidak turun. Malah semakin tinggi. Suhu
tubuhnya naik hingga mencapai empat puluh derajat Celsius, membuat tubuh
kecilnya terasa panas seperti bara api. Ia tidak mau makan, tidak mau minum,
hanya terbaring lemas di atas tikar anyaman dengan mata terpejam dan napas yang
pendek-pendek. Sesekali ia mengigau, memanggil-manggil nama ayahnya yang sedang
merantau di kota, tidak tahu bahwa anaknya sedang berjuang melawan sesuatu yang
tidak ia mengerti.
Bu Yati panik. Ia berlari ke rumah Mbah Sari, memohon
bantuan. Mbah Sari datang, membawa ramuan-ramuan dan doa-doa, memijat tubuh
kecil Budi dengan minyak yang konon memiliki kekuatan magis, dan membakar dupa
di keempat sudut rumah untuk mengusir "roh jahat" yang konon menjadi
penyebab penyakit.
"Demam biasa," kata Mbah Sari dengan tenang
setelah selesai melakukan ritualnya. "Nanti juga turun. Beri ramuan ini
tiga kali sehari. Jangan lupa berdoa."
Bu Yati mengangguk, lega karena Mbah Sari tidak terlihat
khawatir. Tapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia tenangkan.
Ada sesuatu di mata anaknya, sesuatu yang tidak ia lihat saat anaknya demam biasa
dulu. Matanya sayu, cekung, dan tidak fokus. Seperti sedang melihat sesuatu
yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Keesokan harinya, Budi tidak kunjung membaik. Demamnya
masih tinggi, bahkan lebih tinggi dari sebelumnya. Ia mulai muntah-muntah,
tidak bisa menahan apa pun yang masuk ke perutnya, bahkan air putih sekalipun.
Tubuhnya yang tadinya kurus, kini semakin kurus, seperti lilin yang meleleh
perlahan-lahan. Kulitnya terasa kering dan panas saat disentuh, dan matanya matanya
yang dulu ceria dan penuh dengan rasa ingin tahu, kini kosong, hampa, seperti
mata boneka yang tidak bernyawa.
Dan kemudian, tetangga sebelah, seorang perempuan tua
bernama Mbah Lastri, usia enam puluh tahun, yang sudah beberapa hari mengeluh
pusing dan lemas, jatuh pingsan di dapur ketika sedang memasak. Keluarganya
panik, membawanya ke ruang tamu, memanggil Mbah Sari, melakukan semua ritual
yang sama. Tapi Mbah Lastri tidak kunjung sadar. Wajahnya pucat, bibirnya
kebiruan, dan napasnya, napasnya terdengar seperti orang yang sedang berjuang
untuk tetap hidup di bawah air.
Kabar mulai menyebar. Dari mulut ke mulut, dari rumah ke
rumah, dari warung ke warung. Bukan dengan teriakan, bukan dengan kepanikan
yang nyata, masih terlalu awal untuk itu. Tapi dengan bisik-bisik yang gelisah,
dengan tatapan yang saling bertanya, dengan langkah yang sedikit lebih cepat
dari biasanya.
"Ada yang sakit... demam tinggi..."
"Tidak mau makan... tidak mau minum..."
"Muntah-muntah terus..."
"Mbah Lastri pingsan... belum sadar sampai sekarang..."
Amilia mendengar kabar itu ketika ia sedang dalam
perjalanan menuju posyandu. Ia berhenti di tengah jalan, dadanya berdegup
kencang, dan firasat buruk yang sudah ia rasakan sejak pagi tiba-tiba menjadi
nyata, seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan di depan matanya.
Ini bukan demam biasa,
pikirnya, matanya menyipit ke arah rumah-rumah warga yang mulai tampak lebih
sunyi dari biasanya. Ini bisa jadi wabah.
Amilia segera mengubah arah. Tidak jadi ke posyandu. Ia
pergi ke rumah Bu Yati, tempat Budi terbaring lemah di atas tikar anyaman.
Ketika ia tiba, ia menemukan pemandangan yang membuat jantungnya berdegup lebih
cepat: Budi terbaring dengan mata terpejam, napas pendek dan cepat, kulit
kering dan panas, dan di sekelilingnya, beberapa tetangga berdiri dengan wajah
cemas.
"Bu Yati, sejak kapan anaknya demam?" tanya
Amilia sambil berlutut di samping Budi, tangannya sudah meraba dahi anak itu, panas,
sangat panas.
"Sejak tiga hari lalu, Bu," jawab Bu Yati,
suaranya bergetar. "Saya sudah panggil Mbah Sari. Beliau sudah kasih
ramuan dan doa. Tapi tidak kunjung sembuh. Malah tambah parah."
Amilia memeriksa Budi dengan saksama. Termometer
menunjukkan suhu 40,2 derajat Celsius. Tekanan darah rendah. Denyut nadi cepat
dan lemah. Tanda-tanda dehidrasi berat: mulut kering, mata cekung, kulit tidak
elastis saat dicubit. Dan yang paling mengkhawatirkan, ada bintik-bintik merah
kecil di kulitnya, seperti ruam, yang tidak ia lihat pada kasus demam biasa.
"Bu Yati, anak Bapak harus segera dibawa ke
puskesmas," kata Amilia, suaranya tegas namun tidak panik. "Ini bukan
demam biasa. Ini bisa jadi demam berdarah, atau tifus, atau penyakit lain yang
membutuhkan penanganan medis segera."
Bu Yati panik. "Tapi Mbah Sari bilang, "
"Saya hormat pada Mbah Sari," potong Amilia,
suaranya tetap tegas tapi lembut, "tapi dalam kasus seperti ini, waktu
sangat berharga. Setiap jam, setiap menit, setiap detik keterlambatan bisa
membuat kondisi anak Bapak semakin parah. Kita tidak bisa hanya mengandalkan
ramuan dan doa."
Sebelum Bu Yati sempat menjawab, suara dari belakang
membuat semua orang menoleh.
"Kamu lagi..."
Mbah Sari berdiri di pintu, dengan kain batik lusuh dan
rambut putih yang disanggul rapi, dengan mata yang tajam menusuk dan wajah yang
dingin seperti patung es. Di tangannya, ia membawa keranjang kecil anyaman
bambu berisi dedaunan kering dan benda-benda lain yang tidak bisa
diidentifikasi.
"Ini bukan penyakit biasa," kata Mbah Sari,
suaranya pelan namun penuh wibawa. "Ini adalah ketidakseimbangan. Ini
adalah ujian dari alam. Tidak bisa disembuhkan dengan suntik-suntik dan
obat-obatan kimia. Ini harus disembuhkan dengan doa, dengan ritual, dengan
menyelaraskan diri kembali dengan alam."
Amilia berdiri, menghadap Mbah Sari dengan tatapan yang
tenang namun tegas. "Mbah, saya tidak menolak doa. Saya tidak menolak
ritual. Tapi ketika seorang anak mengalami dehidrasi berat, ketika tekanan
darahnya turun, ketika ada tanda-tanda syok doa saja tidak cukup. Dia butuh
cairan infus, butuh obat yang tepat, butuh pemeriksaan laboratorium untuk
mengetahui penyakit pastinya. Kita bisa berdoa sambil memberikan pertolongan
medis. Keduanya tidak harus bertentangan."
Mbah Sari tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke
matanya. "Kamu masih muda, Nak. Kamu belum melihat cukup banyak. Kamu
belum tahu bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk menyembuhkan. Dan kamu
belum tahu bahwa terlalu banyak campur tangan justru bisa memperburuk
keadaan."
"Dan Mbah," balas Amilia, suaranya tidak meninggi
tapi tetap tegas, "saya sudah melihat cukup banyak kematian yang seharusnya
bisa dicegah jika pertolongan medis datang lebih cepat. Saya tidak ingin Budi
menjadi korban berikutnya."
Mereka berdua berdiri berhadapan, dua dunia bertabrakan,
dua keyakinan yang tidak mau mengalah. Bu Yati dan warga lainnya hanya bisa
diam, dengan wajah-wajah yang tegang dan hati yang bimbang, tidak tahu harus
memihak siapa.
Sementara Amilia dan Mbah Sari masih berdebat tentang nasib
Budi, kabar buruk datang dari rumah lain. Seorang anak perempuan, tetangga
Budi, juga mengalami demam tinggi dengan gejala yang sama. Lalu seorang pemuda,
tetangga yang lain. Lalu seorang ibu hamil. Lalu seorang kakek tua.
Dalam hitungan jam, jumlah yang sakit bertambah dari satu
menjadi lima, dari lima menjadi sepuluh, dari sepuluh menjadi dua puluh. Bukan
hanya di satu RT, tapi menyebar ke seluruh desa, seperti api yang menjalar di
padang rumput kering, seperti air bah yang meluap dari sungai, seperti wabah
yang tidak bisa dihindari.
Rumah-rumah yang biasanya ramai dengan aktivitas pagi, kini
sunyi. Pintu-pintu tertutup rapat, jendela-jendela ditutup dengan kain, dan
dari balik dinding bambu yang tipis, terdengar suara batuk, suara muntah, suara
tangis, dan suara doa yang dipanjatkan dengan khusyuk.
Warga mulai panik. Bukan panik yang tertata, bukan panik
yang produktif, tapi panik yang kacau, yang tidak terarah, yang membuat orang
berlari ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. Ada yang pergi ke Mbah Sari,
membawa sesajen dan meminta doa. Ada yang pergi ke Amilia, meminta obat dan
pertolongan. Ada yang pergi ke dua-duanya, tidak ingin mengambil risiko. Ada
yang hanya diam di rumah, tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa menangis dan
berdoa.
"Bu, tolong anak saya!"
"Bu, suami saya kejang-kejang!"
"Bu, ibu saya tidak sadar!"
Amilia tidak bisa melayani semua. Ia hanya satu orang,
dengan dua tangan, dengan satu tas medis, dengan waktu dan energi yang
terbatas. Ia berlari dari satu rumah ke rumah lain, dari satu pasien ke pasien
lain, memeriksa, mendiagnosis, memberi obat, memberi infus pada yang dehidrasi
berat, dan merujuk ke puskesmas pada yang kondisinya paling kritis.
Ia hampir tidak tidur. Hampir tidak makan. Hampir tidak
berhenti.
"Bu, istirahat dulu..." kata Yulia, yang ikut
membantu meskipun ia sendiri mulai merasa lelah. "Ibu bisa jatuh
sakit."
Amilia menggeleng, matanya masih fokus pada pasien di
depannya, seorang anak kecil dengan infus yang terpasang di lengannya yang
kurus. "Nanti... setelah mereka semua aman..."
Tapi ia tahu di dalam hatinya, ia tahu bahwa "setelah
mereka semua aman" adalah frasa yang tidak akan pernah ia capai. Selama
wabah ini masih ada, selama masih ada yang sakit, selama masih ada yang
membutuhkan, ia tidak akan bisa berhenti.
Wabah tidak menyatukan Desa Awan Biru. Sebaliknya, ia
memperlebar jurang yang sudah ada.
Pendukung Mbah Sari semakin keras mempertahankan keyakinan
mereka. "Ini adalah ujian," kata mereka. "Ini adalah peringatan.
Kita harus kembali ke adat, kembali ke leluhur, kembali ke cara lama. Bukan
lari ke obat-obatan kimia yang tidak kita pahami."
Pendukung Amilia semakin vokal menuntut tindakan medis.
"Lihatlah! Mereka yang dibawa ke puskesmas mulai membaik! Mereka yang
hanya mengandalkan ramuan dan doa, kondisinya semakin parah! Kita butuh obat,
butuh dokter, butuh rumah sakit!"
Di tengah-tengah mereka, warga yang bingung dan takut hanya
bisa diam, mendengar kedua belah pihak, dan berusaha memutuskan sendiri atau
tidak memutuskan sama sekali, membiarkan nasib menentukan jalan mereka.
Pak Iwan, sebagai kepala desa, berada di posisi yang paling
sulit. Ia harus memutuskan: mengikuti saran Amilia untuk segera merujuk semua
pasien ke puskesmas dan melaporkan situasi ini ke dinas kesehatan, atau
mengikuti saran Mbah Sari untuk melakukan ritual adat dan "menyelaraskan
diri dengan alam"?
Ia memanggil rapat darurat di kantor desa. Tapi rapat itu
tidak menghasilkan keputusan. Hanya perdebatan yang lebih sengit, tuduhan yang
lebih tajam, dan perpecahan yang lebih dalam.
"Pak, kita harus segera evakuasi pasien ke
puskesmas!" desak Amilia, suaranya tegas meskipun ia terlihat sangat lelah.
"Ini sudah seperti wabah. Jika tidak segera ditangani, bisa menyebar lebih
luas dan memakan lebih banyak korban."
"Tidak perlu!" bentak Pak Sugeng. "Ini hanya
penyakit musiman! Nanti juga sembuh sendiri! Kita tidak perlu panik!"
"Penyakit musiman?!" Amilia nyaris berteriak.
"Sudah dua puluh orang sakit dalam tiga hari! Tiga orang di antaranya
dalam kondisi kritis! Ini bukan penyakit musiman, Pak. Ini wabah!"
"Kamu hanya ingin menakut-nakuti kami!" sahut
yang lain. "Kamu hanya ingin terlihat penting!"
Perdebatan terus berlangsung tanpa henti, tanpa solusi,
tanpa akhir. Sementara itu, di rumah-rumah warga, kondisi pasien semakin
memburuk. Dan waktu terus berjalan, tidak peduli dengan perdebatan manusia.
Amilia tidak punya waktu untuk berdebat. Ia tidak punya
energi untuk meyakinkan orang-orang yang tidak mau diyakinkan. Yang bisa ia
lakukan hanyalah bekerja. Bekerja tanpa henti. Bekerja tanpa lelah. Bekerja
tanpa peduli siapa yang mendukungnya dan siapa yang membencinya.
Ia mendata semua pasien, memisahkan berdasarkan tingkat
keparahan, memprioritaskan mereka yang paling kritis. Ia mengatur jadwal
kunjungan, membagi tugas dengan Anita dan Yulia, meminta bantuan Amat Junior
dan para pemuda untuk mengantar pasien ke puskesmas dengan truk Anto.
Ia berkomunikasi dengan puskesmas melalui telepon, satu-satunya
telepon di desa yang ada di kantor Pak Iwan, melaporkan situasi, meminta
bantuan tenaga medis tambahan, meminta pasokan obat-obatan dan alat-alat medis.
Ia tidak tidur. Ia tidak makan. Ia hanya bekerja.
"Bu, ibu harus makan," kata Anita, menyodorkan
sepiring nasi dengan lauk sederhana. "Ibu tidak akan bisa menolong siapa
pun jika ibu sendiri jatuh sakit."
Amilia menatap nasi itu. Ia lapar, sangat lapar, perutnya
keroncongan sejak pagi. Tapi ia tidak punya nafsu makan. Mulutnya terasa pahit,
tenggorokannya terasa kering, dan setiap kali ia membayangkan makanan, ia
teringat pasien-pasien yang muntah-muntah, yang tidak bisa menelan apa pun.
"Nanti," katanya, sambil kembali memeriksa
tekanan darah seorang kakek tua yang terbaring lemas di atas balai-balai kayu.
"Setelah ini."
Tapi "setelah ini" tidak pernah datang. Karena
selalu ada pasien berikutnya, selalu ada rumah berikutnya, selalu ada panggilan
berikutnya.
Di sela-sela kesibukannya, Amilia sempat bertemu dengan
Anto di pinggir desa, ketika ia sedang mengantar pasien ke puskesmas dengan truknya.
Anto tidak banyak bicara, seperti biasa, tapi matanya yang sayu itu menatap
Amilia dengan sorot yang dalam.
"Bu," panggilnya, ketika Amilia sedang duduk di
bak truk, melepas lelah sejenak sebelum kembali ke desa. "Saya ingin
cerita."
Amilia menatapnya, heran. Anto jarang sekali memulai
percakapan.
"Dulu, sekitar dua puluh tahun yang lalu, desa ini
juga pernah mengalami wabah seperti ini," kata Anto, suaranya pelan dan
penuh perenungan. "Saya masih kecil waktu itu. Mungkin sekitar sepuluh
tahun. Tapi saya ingat. Saya ingat betapa takutnya semua orang. Saya ingat
betapa banyak yang meninggal."
Amilia terdiam, mendengarkan.
"Waktu itu, Mbah Sari masih muda. Beliau juga menggunakan
ramuan, doa, ritual. Tapi banyak yang tidak selamat. Bukan karena ramuannya
tidak ampuh, tapi karena penyakitnya terlalu cepat menyebar, terlalu ganas, dan
tidak ada yang bisa dilakukan tanpa obat-obatan modern."
"Lalu?" tanya Amilia, penasaran.
"Lalu seorang dokter dari kota datang. Namanya Dokter
Harun. Beliau membawa obat-obatan, alat-alat medis, dan tim kesehatan. Beliau
bekerja siang malam, seperti ibu sekarang. Banyak yang selamat berkat beliau.
Tapi... ada juga yang tidak. Bukan karena beliau tidak kompeten, tapi karena
sudah terlambat."
Anto berhenti sejenak, matanya menatap ke kejauhan, seolah
sedang melihat masa lalu yang tidak bisa ia lupakan.
"Setelah wabah itu reda, warga berterima kasih pada
Dokter Harun. Tapi lama-lama mereka lupa. Mereka kembali ke Mbah Sari, kembali
ke adat, kembali ke cara lama. Dan ketika Dokter Harun meninggal beberapa tahun
kemudian, tidak ada yang datang ke pemakamannya. Hanya saya dan beberapa orang
tua yang masih ingat."
Amilia merasakan dadanya sesak. "Kenapa kamu cerita
ini, To?"
Anto menatapnya. Matanya yang sayu itu tiba-tiba terlihat
lebih tajam, seperti elang yang sedang mengintai mangsa. "Karena saya
tidak ingin sejarah berulang, Bu. Saya tidak ingin ibu berjuang sendirian,
menyelamatkan banyak orang, lalu dilupakan ketika semuanya selesai. Dan saya
tidak ingin desa ini terus-menerus mengulang kesalahan yang sama."
Amilia tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memikirkan
kata-kata Anto. Kata-kata yang sederhana, tapi dalam. Kata-kata yang
mengingatkannya bahwa ia tidak sedang berjuang untuk ketenaran, untuk
penghargaan, untuk pengakuan. Ia berjuang karena itu adalah tugasnya. Karena
itu adalah panggilannya. Karena itu adalah satu-satunya cara untuk mencegah
lebih banyak kematian yang tidak perlu.
Suatu malam, ketika hujan deras mengguyur desa dan angin
bertiup kencang, seorang anak laki-laki, kakak dari Budi, usia tujuh tahun, tiba-tiba
kejang. Tubuhnya yang kurus dan panas itu bergetar hebat, matanya terbalik ke
atas, mulutnya mengeluarkan busa, dan dari sudut bibirnya, darah mulai mengalir
karena ia tanpa sengaja menggigit lidahnya sendiri.
Bu Yati berteriak histeris. "TOLONG! ANAK SAYA! ANAK
SAYA KEJANG!"
Tetangga-tetangga berlari ke rumahnya, tapi tidak ada yang
tahu harus berbuat apa. Beberapa mencoba memegangi tangan dan kaki anak itu,
beberapa mencoba memasukkan sendok ke mulutnya untuk mencegahnya menggigit
lidah, beberapa hanya berdoa dengan suara keras.
Mbah Sari dipanggil. Tapi ketika ia tiba, ia hanya bisa
diam. Ritual-ritualnya, ramuan-ramuannya, doa-doanya, semua tidak ada yang bisa
menghentikan kejang yang sudah berlangsung lebih dari lima menit.
"Bawa ke bidan!" teriak seseorang.
"Jangan! Nanti malah—"
"DIAM! Bawa ke bidan sekarang!"
Anak itu digendong oleh ayahnya, yang berlari sekencang
mungkin di tengah hujan deras, melewati jalan becek dan gelap, menuju rumah
dinas Amilia. Di belakangnya, Bu Yati berlari sambil menangis, dan beberapa
tetangga menyusul dengan senter yang cahayanya redup.
Amilia sedang memeriksa pasien lain ketika pintu rumah dinasnya
terbuka dengan suara keras. Ia menoleh dan melihat seorang ayah dengan anak di
gendongannya, anak yang sedang kejang, dengan mata terbalik dan mulut berbusa.
Tanpa pikir panjang, Amilia meninggalkan pasien yang sedang
ia periksa dan berlari ke arah anak itu. "Letakkan di sini! Cepat!"
Ia bekerja dengan kecepatan yang luar biasa. Tangannya yang
gemetar karena kelelahan tiba-tiba menjadi stabil, fokus, dan terukur. Ia
membaringkan anak itu di tikar, memiringkan kepalanya untuk mencegah tersedak,
melonggarkan pakaiannya, dan memeriksa tanda-tanda vitalnya.
"Kejang sudah lebih dari lima menit," gumumnya,
matanya bergerak cepat dari wajah anak itu ke jam di tangannya. "Ini
status epilepticus. Sangat berbahaya. Bisa merusak otak."
Ia mengambil obat anti-kejang dari tas medisnya, diazepam
rectal dan memberikannya dengan gerakan yang cepat dan tepat. Ia menghitung
detik, matanya tidak lepas dari anak itu, berdoa dalam hati agar kejangnya
berhenti.
Satu menit. Dua menit.
Kejang mulai mereda. Perlahan. Lalu berhenti.
Anak itu terbaring lemas, napasnya masih pendek, tapi
kejangnya sudah berhenti. Amilia menghela napas lega, tapi ia belum selesai. Ia
harus memastikan bahwa anak itu stabil, bahwa tidak ada kejang ulang, bahwa
tidak ada komplikasi lain.
"Bu Yati, anak Bapak harus segera dibawa ke
puskesmas," kata Amilia, suaranya tegas meskipun ia terlihat sangat lelah.
"Kejang yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak. Dia butuh
pemeriksaan lebih lanjut dan perawatan intensif."
Bu Yati menangis. "Tapi... bagaimana, Bu? Jalan ke
puskesmas... malam-malam begini... hujan deras..."
"Saya akan antar," kata Anto, yang tiba-tiba
muncul di pintu, dengan jas hujan dan wajah yang tenang. "Truk saya masih
ada. Saya bisa bawa."
Amilia menatap Anto, bersyukur. "Terima kasih,
To."
Anto hanya mengangguk, lalu membantu ayah anak itu
menggendong anaknya ke truk. Bu Yati menyusul, masih menangis, masih berdoa.
Sebelum mereka pergi, Amilia berbisik pada Bu Yati,
"Jangan khawatir, Bu. Anak Bapak akan baik-baik saja. Saya sudah lakukan
yang terbaik. Sekarang tugas dokter di puskesmas."
Bu Yati menangis dan memeluk Amilia. "Terima kasih,
Bu... terima kasih..."
Malam itu, banyak warga menyaksikan langsung bagaimana
Amilia bekerja. Mereka melihat ketenangannya di tengah kepanikan, kecepatannya
di tengah keterbatasan, ketegasannya di tengah keraguan, dan cintanya di tengah
kebencian.
Mereka melihat bagaimana ia tidak pilih-pilih pasien, semua
dilayani, semua diperlakukan dengan sama, semua diberikan yang terbaik meskipun
ia sendiri kelelahan dan hampir pingsan.
Mereka melihat bagaimana ia tidak dendam pada mereka yang
dulu menghinanya, tidak menolak mereka yang dulu mengusirnya, tidak marah pada
mereka yang dulu membencinya. Ia hanya bekerja. Melayani. Menolong.
Dan perlahan, satu per satu, mereka mulai datang.
"Bu... tolong anak saya..."
"Bu... suami saya juga sakit..."
"Bu... ibu saya... tolong..."
Yang dulu menolak, kini mengetuk pintunya.
Yang dulu membenci, kini membutuhkannya.
Yang dulu mengusir, kini berlutut memohon pertolongan.
Amilia tidak berkata, "Aku sudah bilang." Ia
tidak berkata, "Sekarang kamu percaya?" Ia tidak berkata, "Itu
akibatnya karena tidak mau dengar nasihatku."
Ia hanya berkata, "Baik, Bu. Saya periksa. Sabar ya,
masih ada beberapa pasien di depan."
Tidak ada kemenangan dalam suaranya. Tidak ada kepuasan.
Hanya kelelahan. Dan pengabdian.
Namun di balik semua itu, di balik ketegarannya, di balik
senyumnya, di balik tangannya yang tidak pernah berhenti bergerak, Amilia mulai
melemah.
Langkahnya yang tadinya cepat dan mantap, kini mulai goyah.
Matanya yang tadinya tajam dan fokus, kini mulai sayu dan sering berkedip,
seperti berusaha melawan kantuk yang tidak bisa dihindari. Wajahnya yang tadinya
masih ada warna, kini pucat, sepucat pasien-pasien yang ia rawat.
Ia mulai batuk-batuk kecil. Tenggorokannya terasa gatal,
dadanya terasa sesak, dan kepalanya terasa berat seperti ada yang menekan dari
dalam. Ia demam, ia merasakannya, meskipun ia tidak punya waktu untuk memeriksa
suhu tubuhnya sendiri.
Jangan sakit, pikirnya,
sambil terus berjalan menuju rumah pasien berikutnya. Jangan sakit
sekarang. Mereka butuh kamu. Kamu tidak punya waktu untuk sakit.
Tapi tubuh tidak selalu mendengarkan pikiran.
Di tengah perjalanan, ketika ia sedang menyeberangi
jembatan kayu yang licin, tiba-tiba dunianya berputar. Pemandangan di depannya
kabur, seperti lukisan yang luntur terkena air. Kakinya terasa lemas, tidak
bisa menopang berat tubuhnya. Ia meraih pegangan jembatan, kayu yang basah dan
licin, tapi tangannya tidak kuat.
Ia jatuh.
Bukan jatuh ke sungai, untungnya, ia masih sempat memegang
tali tambang yang dipasang di sepanjang jembatan sebagai pegangan darurat. Tapi
lututnya terbentur kayu, telapak tangannya tergores, dan tas medis merahnya
terlempar ke samping, terbuka, isinya berserakan di lantai jembatan yang becek.
"BU AMILIA!"
Anita yang berjalan di belakangnya berlari mendekat,
membantu Amilia berdiri. Wajah Anita pucat ketakutan, matanya basah, dan
tangannya gemetar.
"Bu... ibu tidak apa-apa?!"
Amilia mencoba tersenyum, refleks lama yang sudah menjadi
kebiasaan. "Saya... tidak apa-apa... hanya sedikit pusing..."
Tapi Anita tidak percaya. Ia meraba dahi Amilia, panas.
Sangat panas.
"Bu, ibu demam!" teriak Anita, panik. "Ibu
sakit! Ibu harus istirahat!"
"Tidak bisa..." Amilia berusaha melepaskan diri
dari genggaman Anita, tapi tubuhnya terlalu lemah. "Masih ada pasien... di
ujung desa... yang menunggu..."
"Bu, kalau ibu terus seperti ini, ibu bisa
pingsan!" Anita tidak melepaskan. "Dan kalau ibu pingsan, siapa yang
akan menolong mereka?!"
Amilia terdiam. Kalimat Anita, kalimat yang sama yang
pernah ia ucapkan pada pasien-pasiennya, kini kembali kepadanya, seperti
bumerang yang tidak bisa dihindari.
"Bu," kata Anita, suaranya lembut namun tegas,
"istirahatlah. Hanya sebentar. Biarkan saya dan Yulia yang menangani
pasien yang tidak kritis. Kita akan panggil ibu jika ada yang darurat."
Amilia menatap Anita. Perempuan muda yang dulu ragu-ragu,
yang dulu takut bersuara, kini berdiri di depannya dengan tekad yang membaja.
Ia telah tumbuh. Ia telah berubah. Dan Amilia, meskipun lelah, merasa bangga.
"Baik," kata Amilia akhirnya, suaranya lemah.
"Tapi janji... kalau ada yang darurat... panggil aku... segera..."
"Janji, Bu."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak wabah mulai melanda,
Desa Awan Biru tidak terpecah. Bukan karena perbedaan telah hilang, masih ada
yang percaya pada Mbah Sari, masih ada yang percaya pada Amilia, masih ada yang
bingung dan takut. Tapi karena untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa
perpecahan hanya akan memperburuk segalanya, bahwa saling menyalahkan hanya
akan membuang waktu yang seharusnya digunakan untuk menolong, bahwa bersatu
adalah satu-satunya cara untuk bertahan.
Warga mulai bergotong royong. Mereka yang sehat membantu
yang sakit, mengantarkan makanan, mengambil air, membersihkan rumah, menjaga
anak-anak. Mereka yang punya kendaraan mengantar pasien ke puskesmas. Mereka
yang punya keahlian memasak membuat makanan bergizi untuk pasien. Mereka yang
punya kekuatan fisik membantu memindahkan pasien yang tidak bisa berjalan.
Pak Iwan akhirnya mengambil keputusan: ia akan melaporkan
situasi ini ke dinas kesehatan dan meminta bantuan tim medis dari kota. Mbah
Sari tidak setuju, tapi untuk pertama kalinya, ia tidak bersuara. Ia hanya
diam, dengan wajah yang tidak bisa diartikan, dan membiarkan Pak Iwan melakukan
tugasnya.
Dan di tengah semua itu, di tengah kepanikan dan ketakutan,
di tengah kerja keras dan pengorbanan, nama Amilia disebut dengan nada yang
berbeda. Bukan dengan bisikan kebencian, bukan dengan tatapan sinis, bukan
dengan senyum penuh makna. Tapi dengan rasa hormat. Dengan rasa terima kasih.
Dengan rasa kagum.
"Bu Amilia... beliau bekerja tanpa henti..."
"Bu Amilia... beliau tidak pernah marah meskipun kita dulu jahat
padanya..."
"Bu Amilia... beliau menyelamatkan anak saya..."
Amilia tidak mendengar semua itu. Ia terbaring di rumah
dinasnya, dengan demam tinggi dan tubuh yang lelah, ditemani oleh Anita dan
Yulia yang bergantian menjaganya. Tapi di dalam tidurnya yang gelisah, ia
tersenyum. Mungkin karena ia bermimpi tentang desa yang damai. Mungkin karena
ia mendengar bisikan-bisikan itu dalam mimpinya. Atau mungkin karena ia tahu, di
dalam hatinya yang paling dalam, bahwa semua perjuangannya tidak sia-sia.
Badai telah datang.
Ia tidak bisa dihindari. Tidak bisa ditunda. Tidak bisa
dihentikan dengan doa dan ritual saja. Badai datang dengan kekuatan penuh,
menghantam desa yang tidak siap, menguji ketahanan fisik dan mental setiap
orang yang menghadapinya.
Dan di tengah badai itu, semua topeng runtuh. Semua
kepalsuan terbuka. Semua perbedaan menjadi tidak relevan. Yang tersisa hanyalah
pilihan: bertahan atau menyerah, bersatu atau hancur, percaya pada ilmu atau
tenggelam dalam ketakutan.
Di Desa Awan Biru, pilihan itu mulai terlihat jelas.
Warga yang dulu menolak Amilia, kini berdatangan meminta
pertolongan.
Warga yang dulu membenci, kini berterima kasih.
Warga yang dulu ragu, kini percaya.
Dan Amilia, Amilia yang hampir menyerah, yang hampir pergi,
yang hampir kehilangan harapan, kini berdiri di garis depan, bukan sebagai
bidan yang diusir, tapi sebagai pahlawan yang diakui. Meskipun ia terbaring
lemah karena kelelahan, meskipun tubuhnya demam dan tangannya gemetar, ia tetap
menjadi pusat dari semua upaya penyelamatan.
Badai belum berakhir. Masih banyak yang harus dilakukan.
Masih banyak yang harus diselamatkan.
Tapi untuk pertama kalinya, Desa Awan Biru bersatu. Bukan
karena paksaan, bukan karena ketakutan, tapi karena kesadaran bahwa mereka
semua berada di kapal yang sama, dan satu-satunya cara untuk tidak tenggelam
adalah dengan mendayung bersama.
Dan di tengah badai yang masih mengamuk, di tengah hujan
yang masih deras, di tengah angin yang masih kencang, sebuah harapan kecil
mulai bersinar.
Harapan yang dibawa oleh seorang perempuan dengan tas medis
merah.
Harapan yang hampir padam, tapi kini menyala kembali.
BAB 17: KETIKA SEMUA BERGANTUNG
PADANYA
Malam itu, Desa Awan Biru tidak lagi mengenal istirahat.
Rumah-rumah yang biasanya gelap setelah pukul sembilan, kini masih menyala
hingga larut, lampu minyak tanah, lilin, dan beberapa senter yang baterainya
mulai melemah, semuanya berusaha memberikan cahaya untuk melawan kegelapan yang
menyelimuti. Di setiap sudut desa, dari ujung timur hingga ujung barat, dari
rumah panggung di pinggir kali hingga gubuk-gubuk kecil di dekat sawah,
suara-suara terdengar ada yang batuk, ada yang menangis, ada yang berdoa, ada
yang memanggil nama-nama orang yang mereka cintai, ada yang berbisik-bisik
dengan suara panik yang tidak bisa disembunyikan.
Wabah telah menyebar seperti api di padang rumput kering.
Tidak ada yang tahu persis berapa banyak yang sakit setiap jam, setiap menit,
setiap detik, jumlahnya terus bertambah. Seperti air bah yang perlahan naik,
seperti pasir di jam yang terus mengalir, seperti detak jantung yang tidak
pernah berhenti. Dua puluh menjadi tiga puluh, tiga puluh menjadi empat puluh,
empat puluh menjadi lima puluh. Anak-anak, orang dewasa, orang tua, semua usia,
semua jenis kelamin, semua kondisi social, tidak ada yang kebal.
Dan di tengah semua itu, di tengah lautan penderitaan dan
ketakutan, Amilia terbaring lemah di rumah dinasnya. Demamnya belum turun, masih
sekitar tiga puluh sembilan derajat Celsius, cukup tinggi untuk membuat
tubuhnya terasa seperti terbakar dari dalam, cukup rendah untuk tidak
membuatnya kehilangan kesadaran sepenuhnya. Ia berbaring di atas balai-balai
kayu yang dilapisi tikar tipis, dengan selimut tipis yang ia tarik hingga ke
dagu, dan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya.
Anita duduk di sampingnya, bergantian dengan Yulia,
bergantian dengan Rini, bergantian dengan beberapa perempuan lain yang datang
untuk membantu. Mereka mengompres dahinya dengan air dingin, memberinya minum
oralit sedikit demi sedikit, dan berdoa, berdoa semoga demamnya turun, semoga
ia cepat pulih, semoga ia bisa kembali berdiri dan berjuang.
"Bu, ibu harus makan," kata Anita, menyodorkan
semangkuk bubur hangat yang baru saja ia masak di dapur belakang. Bubur itu
sederhana, nasi yang dimasak dengan banyak air, ditambah sedikit garam dan daun
bawang, tapi hangat, dan untuk orang yang sakit, hangat adalah obat yang paling
mujarab.
Amilia membuka matanya perlahan. Matanya sayu, cekung, dan merah,
bukan merah karena marah, tapi merah karena demam dan kurang tidur. Ia menatap
bubur itu, lalu menatap Anita, lalu menggeleng pelan.
"Tidak bisa... masih banyak pasien... aku
harus..."
"Bu!" potong Anita, suaranya tegas namun lembut,
seperti seorang ibu yang membentak anaknya yang keras kepala. "Ibu tidak
bisa menolong siapa pun jika ibu sendiri jatuh sakit! Makanlah! Hanya sebentar!
Setelah itu, ibu bisa kembali bekerja!"
Yulia, yang sedang merapikan alat-alat medis di sudut
ruangan, ikut menimpali. "Iya, Bu. Kami yang akan menangani pasien yang
tidak kritis. Ibu istirahat dulu. Kami janji akan memanggil ibu jika ada yang
darurat."
Amilia menatap mereka bergantian. Anita, dengan wajahnya
yang bulat dan matanya yang berbinar-binar oleh tekad. Yulia, dengan rambutnya
yang sebahu dan senyumnya yang lembut namun tegas. Rini, dengan bayinya di
gendongan, bayi yang dulu hampir mati, kini sehat dan gemuk, menjadi saksi
hidup dari kemampuan Amilia sebagai bidan.
Mereka sudah dewasa,
pikir Amilia, sambil meraih sendok yang diberikan Anita. Mereka sudah
bisa dipercaya. Aku tidak perlu melakukan semuanya sendirian.
Ia menyuap bubur itu perlahan. Hangatnya menyebar dari
mulutnya ke tenggorokan, ke perutnya yang keroncongan karena terlalu lama tidak
diisi. Setelah beberapa suapan, ia merasa sedikit lebih baik, tidak banyak,
tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ia benar-benar membutuhkan istirahat.
"Baik," katanya, suaranya masih lemah, "aku
akan istirahat sebentar. Tapi janji... kalau ada yang darurat... panggil aku...
segera..."
"Janji, Bu," kata Anita, Yulia, dan Rini
bersamaan.
Sementara Amilia beristirahat, desa terus berjuang. Anita
memimpin tim kecil yang terdiri dari Yulia, Rini, dan beberapa perempuan lain
yang pernah dilatih oleh Amilia dalam penanganan dasar pasien. Mereka membagi
tugas: ada yang bertugas mendata pasien, ada yang bertugas memberikan obat
sesuai instruksi Amilia, ada yang bertugas mengompres dan memberi minum, ada
yang bertugas mengantar pasien ke puskesmas.
"Prioritaskan yang dehidrasi berat!" perintah
Anita, suaranya tegas meskipun ia sendiri merasa takut. "Kasih oralit
sedikit demi sedikit. Jangan sekaligus banyak, nanti muntah. Kalau tidak bisa
minum, kita harus pasang infus. Tapi kita tidak bisa pasang infus semua, karena
stok terbatas. Jadi kita harus selektif."
Yulia menambahkan, "Dan jangan lupa catat semua! Suhu
tubuh, tekanan darah, gejala, obat yang diberikan. Nanti Bu Amilia akan
memeriksanya."
Di luar, para pemuda bergerak cepat. Amat mengoordinasikan
pengiriman pasien ke puskesmas menggunakan truk Anto. Hermansyah memimpin tim
yang mencari air bersih dan makanan bergizi untuk pasien. Camelia mengatur
posko darurat di kantor desa, tempat pasien dengan gejala ringan bisa dirawat
bersama. Guntur dan Bambang bertugas menyebarkan informasi, kapan jadwal
kunjungan Amilia, di mana lokasi posko, apa yang harus dilakukan jika ada
anggota keluarga yang sakit.
"Jangan panik!" teriak Amat Junior melalui
pengeras suara darurat yang dipinjam dari Pak Iwan. "Jangan panik! Kami di
sini untuk membantu! Ikuti instruksi! Jangan sembarangan minum obat! Jangan
sembarangan pergi ke dukun! Kalau ada yang sakit, segera laporkan ke
posko!"
Pak Iwan, sebagai kepala desa, akhirnya mengambil tindakan
tegas. Ia mengumumkan bahwa desa dalam status darurat kesehatan. Ia melarang
semua kegiatan yang mengumpulkan massa, pengajian, arisan, pertemuan warga. Ia
memerintahkan setiap rumah untuk melakukan isolasi mandiri bagi anggota
keluarga yang sakit. Dan yang paling penting, ia memerintahkan semua warga
untuk mengikuti instruksi dari tim medis, termasuk Amilia dan relawannya.
"Tidak ada lagi perdebatan!" tegas Pak Iwan dalam
pengumumannya. "Ini bukan saatnya untuk berdebat tentang siapa yang benar
dan siapa yang salah! Ini saatnya untuk bersatu dan bertahan! Ikuti instruksi
Bu Amilia dan timnya! Jika tidak, Bapak akan bertanggung jawab sendiri atas
konsekuensinya!"
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang membantah. Bahkan
pendukung setia Mbah Sari pun diam. Mungkin karena mereka takut. Mungkin karena
mereka sadar. Mungkin karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri bahwa
pasien-pasien yang ditangani oleh tim medis lebih cepat pulih daripada yang
hanya mengandalkan ramuan dan doa.
Mbah Sari sendiri tidak muncul. Ia hanya diam di rumahnya,
dengan pintu tertutup rapat, dan jendela yang tidak pernah dibuka. Tidak ada
yang tahu apa yang ia pikirkan. Tidak ada yang tahu apakah ia marah, sedih,
atau sekadar menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali. Yang jelas, untuk
pertama kalinya dalam puluhan tahun, Mbah Sari tidak menjadi pusat dari krisis
kesehatan di desa ini.
Amilia terbangun sekitar pukul sepuluh pagi. Tubuhnya masih
terasa berat, kepalanya masih pusing, dan demamnya belum sepenuhnya turun, tapi
ia tidak bisa terus berbaring. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk bangun,
untuk bergerak, untuk kembali bekerja. Mungkin suara-suara dari luar, suara
orang yang menangis, suara orang yang memanggil namanya, suara orang yang
berdoa dengan khusyuk. Mungkin nalurinya sebagai tenaga medis yang tidak bisa
tinggal diam ketika ada yang menderita. Mungkin hanya karena ia tidak tega
melihat Anita, Yulia, dan yang lain berjuang sendirian.
Ia duduk di tepi tempat tidurnya, merasakan dunia berputar
sejenak, lalu menstabilkan diri dengan memegang tiang kayu di sampingnya. Ia
memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan berusaha mengumpulkan sisa-sisa
kekuatannya yang tersisa.
Kamu bisa,
bisiknya pada dirinya sendiri. Kamu sudah melalui yang lebih berat dari
ini. Kamu bisa.
Ia berdiri perlahan, meraih jilbab putih yang tergantung di
paku di dinding, dan mengenakannya dengan gerakan yang lambat namun mantap. Ia
mengambil tas medis merahnya, tas yang sudah menjadi bagian dari tubuhnya dan
memeriksa isinya sekilas. Beberapa obat sudah habis, perban sudah menipis, dan
cairan infus tinggal dua botol. Ia harus segera meminta pasokan tambahan dari
puskesmas.
Ketika ia keluar dari kamarnya, Anita sedang duduk di
lantai dengan wajah lelah, mencatat sesuatu di buku catatan. Yulia sedang
menyiapkan oralit di dapur. Rini sedang menenangkan bayinya yang menangis.
"Bu!" seru Anita begitu melihat Amilia. "Ibu
bangun! Ibu belum sembuh! Ibu harus istirahat!"
Amilia tersenyum—senyum yang lemah tapi tulus. "Aku
sudah cukup istirahat, Nit. Sekarang giliran kalian yang istirahat. Aku yang
akan bekerja."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi." Amilia mengambil buku catatan
dari tangan Anita dan membacanya dengan saksama. "Tiga puluh lima pasien
baru sejak tadi malam. Dua belas di antaranya sudah dirujuk ke puskesmas.
Sisanya dalam perawatan di rumah masing-masing. Tingkat keparahan sedang hingga
berat. Dua orang menunjukkan tanda-tanda syok. Tidak ada yang meninggal, alhamdulillah."
Ia menutup buku catatan itu dan menatap Anita. "Kamu
hebat, Nit. Kalian semua hebat. Tapi sekarang, biarkan aku yang melanjutkan.
Kamu dan yang lain istirahat dulu. Nanti malam, kalian akan bergantian."
Anita ingin membantah, tapi ia melihat mata Amilia, mata
yang cokelat tua dan dalam, yang masih merah karena demam, yang masih sayu
karena kelelahan, tapi yang memancarkan tekad yang tidak bisa dibantah. Ia
mengalah.
"Baik, Bu. Tapi janji, jika ibu merasa pusing atau lemas,
ibu harus istirahat. Jangan memaksakan diri."
"Janji."
Dengan langkah yang masih sedikit goyah, Amilia keluar dari
rumah dinasnya. Matahari sudah cukup tinggi, memancarkan sinar yang terik dan
menyengat. Namun di balik panasnya, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak
bisa ia jelaskan, tapi ia rasakan di dadanya.
Desa yang ia lihat pagi itu berbeda dari desa yang ia
tinggalkan kemarin. Rumah-rumah yang biasanya terbuka lebar, kini pintu dan
jendelanya tertutup rapat. Jalan-jalan yang biasanya ramai oleh aktivitas
warga, kini sunyi, hanya sesekali terdengar langkah kaki seseorang yang
berjalan cepat, mungkin menuju posko, mungkin menuju rumah tetangga yang sakit,
mungkin hanya sekadar membuang sampah medis.
Namun di balik kesunyian itu, ada sesuatu yang menguatkan.
Ada gotong royong yang tidak terlihat tapi terasa. Ada tetangga yang
mengantarkan makanan untuk keluarga yang sakit. Ada pemuda yang membantu
membersihkan rumah pasien. Ada ibu-ibu yang bergiliran menjaga anak-anak yang
ditinggal orang tuanya sakit.
Ini desa yang dulu aku impikan, pikir Amilia, sambil berjalan menuju rumah pasien pertama
dalam daftarnya. Bersatu. Peduli. Saling membantu. Mungkin wabah ini
adalah harga yang harus dibayar untuk persatuan itu. Mungkin terkadang, manusia
baru sadar setelah hampir kehilangan.
Rumah pertama adalah rumah Pak Jumadi, lelaki yang paling
keras berteriak "KAMI TIDAK BUTUH PERUBAHAN!" dalam pertemuan di
balai desa beberapa hari yang lalu. Sekarang, istrinya terbaring lemah dengan
demam tinggi dan dehidrasi berat. Pak Jumadi sendiri juga mulai merasakan
gejala, badan pegal-pegal, pusing, dan sedikit demam.
Ketika Amilia tiba, Pak Jumadi berdiri di pintu dengan
wajah pucat dan mata yang tidak berani menatap langsung ke arah Amilia. Ada
rasa malu di sana. Ada rasa bersalah. Ada kesadaran bahwa orang yang dulu ia
hina, yang dulu ia usir, yang dulu ia tuduh sebagai pembawa sial, kini menjadi
satu-satunya harapannya.
"Bu... maaf..." katanya, suaranya pelan dan
serak. "Saya... saya minta maaf... atas semua yang saya lakukan... atas
semua yang saya katakan... saya..."
Amilia mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Pak
Jumadi. "Tidak usah minta maaf, Pak. Sekarang, mari kita lihat istri
Bapak."
Ia masuk ke dalam rumah, memeriksa istri Pak Jumadi dengan
saksama. Demam tinggi, dehidrasi sedang, tekanan darah rendah, dan ada ruam di
kulitnya, tanda-tanda yang mengarah pada demam berdarah.
"Bu Jumadi harus segera dibawa ke puskesmas,"
kata Amilia, suaranya tegas. "Ini gejala demam berdarah. Jika tidak segera
ditangani, bisa terjadi penurunan trombosit yang drastis dan menyebabkan
pendarahan internal."
Pak Jumadi panik. "Tapi... jalan ke puskesmas... butuh
waktu dua jam... dan saya sendiri juga mulai sakit... bagaimana, Bu?"
"Kami akan antar," kata seorang pemuda dari belakang.
Amat Junior, dengan truk Anto, sudah siap di depan rumah. "Naik truk, Pak.
Istri Bapak akan kami antar ke puskesmas."
Pak Jumadi menatap Amat Junior, lalu menatap Amilia, lalu
menunduk. Air matanya jatuh, tetes demi tetes, perlahan, seperti hujan rintik-rintik
yang tidak pernah berhenti.
"Terima kasih, Bu... terima kasih... saya... saya
tidak tahu harus membalas apa..."
"Tidak usah membalas apa-apa, Pak," kata Amilia,
sambil membantu memapah istri Pak Jumadi ke truk. "Cukup jaga kesehatan
Bapak sendiri. Dan jaga istri Bapak baik-baik setelah pulang nanti."
Sepanjang hari itu, Amilia bekerja tanpa henti. Dari rumah
ke rumah, dari pasien ke pasien, dari satu krisis ke krisis berikutnya. Ia
memeriksa, mendiagnosis, memberi obat, memberi infus, merujuk ke puskesmas, dan
menenangkan keluarga yang panik.
Ia tidak makan. Ia tidak minum. Ia tidak duduk. Ia hanya
bekerja.
Keringat mengalir di sekujur tubuhnya, membasahi jilbab dan
pakaiannya. Tangannya yang gemetar karena kelelahan, tetap bergerak dengan cepat
dan terukur. Matanya yang perih karena kurang tidur, tetap fokus pada setiap
detail. Suaranya yang serak karena terlalu banyak bicara, tetap tegas dan
meyakinkan.
"Bu, istirahatlah..." kata Yulia, yang bergantian
membantu Amilia sepanjang hari. "Ibu sudah bekerja sejak pagi. Ibu belum
makan. Ibu belum minum. Ibu demamnya belum turun. Ibu..."
"Nanti," potong Amilia, sambil memeriksa tekanan
darah seorang kakek tua yang terbaring lemas di atas dipan. "Setelah semua
pasien selesai."
Tapi "setelah semua pasien selesai" tidak pernah
datang. Karena setiap kali ia selesai dengan satu pasien, selalu ada pasien
lain yang menunggu. Selalu ada panggilan dari rumah lain. Selalu ada yang
membutuhkan.
Di sela-sela kesibukannya, ia sempat bertanya pada Anita,
"Berapa banyak pasien yang sudah kita tangani hari ini?"
Anita melihat catatannya. "Empat puluh tujuh, Bu. Dua
puluh tiga di antaranya sudah dirujuk ke puskesmas. Sisanya dalam perawatan di
rumah."
"Dan yang belum tertangani?"
Anita menghela napas. "Masih sekitar tiga puluh, Bu.
Tersebar di seluruh desa."
Amilia menutup matanya sejenak, merasakan beban yang luar
biasa berat di pundaknya. Tiga puluh pasien. Satu bidan. Waktu yang
terus berjalan. Dan wabah yang terus menyebar.
"Kita tidak bisa menangani semuanya sendirian,"
katanya, membuka matanya. "Kita butuh bantuan. Tim medis dari puskesmas
atau dinas kesehatan. Apakah Pak Iwan sudah melapor?"
"Sudah, Bu. Tapi mereka bilang butuh waktu. Semua
puskesmas dan rumah sakit di kabupaten juga kewalahan. Wabah ini tidak hanya
terjadi di desa kita."
Amilia menggigit bibir bawahnya. Jadi kita
sendirian. Setidaknya untuk saat ini.
"Baik," katanya, suaranya mantap meskipun hatinya
cemas. "Kita lakukan yang terbaik dengan apa yang kita punya. Prioritaskan
pasien dengan gejala berat. Yang ringan, beri obat dan instruksi rawat jalan.
Libatkan keluarga pasien untuk membantu perawatan. Dan jangan lupa edukasi
tentang pencegahan, mencuci tangan, menggunakan masker, tidak berbagi alat
makan, dan isolasi mandiri."
Anita mengangguk, mencatat semua instruksi dengan cepat.
"Baik, Bu."
Ketika malam tiba, ketika matahari tenggelam di balik
bukit-bukit dan langit berwarna jingga keemasan yang kontras dengan kepanikan
di bawahnya, Amilia akhirnya pulang ke rumah dinas. Bukan karena ia selesai
bekerja, pekerjaannya belum selesai, bahkan belum setengah selesai. Tapi karena
tubuhnya tidak bisa diajak kompromi lagi.
Ia berjalan dengan langkah yang terhuyung-huyung, seperti
orang mabuk yang kehilangan keseimbangan. Matanya sayu, hampir tidak bisa
fokus. Tangannya gemetar hebat, dan tas medis merah yang biasanya ia gendong
dengan mudah, kini terasa seperti karung berisi batu.
Anita dan Yulia berjalan di sampingnya, siap menangkap jika
ia jatuh.
"Bu, kita sudah sampai," kata Anita, ketika mereka
tiba di depan rumah dinas. "Ibu istirahat sekarang. Besok pagi kita
lanjutkan."
Amilia menggeleng. "Tidak bisa... masih ada pasien...
yang harus..."
"Bu!" potong Yulia, suaranya tegas. "Ibu
tidak bisa menolong siapa pun jika ibu sendiri mati kelelahan! Masuk sekarang!
Istirahat! Itu perintah!"
Amilia menatap Yulia, terkejut. Yulia tidak pernah sekeras
itu. Yulia selalu lembut, selalu sabar, selalu mengalah. Tapi malam itu, ada
api di matanya, api yang mengatakan bahwa ia tidak akan tinggal diam melihat Amilia
menghancurkan dirinya sendiri.
"Baik," kata Amilia akhirnya, pasrah. "Tapi
besok pagi... aku harus..."
"Besok pagi kita bicarakan," potong Anita,
membuka pintu rumah dinas. "Sekarang, ibu masuk. Kami akan jaga di luar.
Jika ada yang darurat, kami akan panggil."
Amilia masuk ke dalam rumah dinas, melepaskan tas medisnya,
dan jatuh berlutut di lantai kayu. Ia tidak punya energi untuk berjalan ke
tempat tidurnya. Ia hanya bersandar pada tiang kayu, memejamkan mata, dan
membiarkan kelelahan merenggut kesadarannya.
Sementara Amilia tertidur pulas di lantai rumah dinasnya, dengan
punggung bersandar pada tiang kayu, tas medis di sampingnya, dan jilbab yang
masih basah oleh keringat, desa terus berjuang.
Anita dan Yulia bergantian berjaga di luar rumah dinas, menerima
laporan dari warga, mengarahkan pasien ke posko, dan memanggil Amilia hanya
jika benar-benar darurat.
Amat Junior, Hermansyah, dan para pemuda lainnya terus
mengantar pasien ke puskesmas dengan truk Anto. Jalan yang gelap dan berbatu,
hujan yang kadang turun dengan deras, dan kelelahan yang mulai menggerogoti, semua
tidak menghentikan mereka.
"Istirahatlah, To," kata Amat Junior kepada Anto
yang sudah mengemudi bolak-balik sejak subuh. "Kamu bisa jatuh
sakit."
Anto tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa diartikan,
antara bijak dan gila. "Saya tidak bisa sakit, Mat. Saya harus tetap
sehat. Siapa lagi yang akan mengantar pasien?"
"Kita bisa bergantian," kata Hermansyah.
"Aku bisa mengemudi."
"Kamu bisa mengemudi truk?" tanya Anto, setengah
bercanda.
"Tidak. Tapi aku bisa belajar."
Anto tertawa kecil, tawa yang pendek, tawa yang tidak
mengandung kebahagiaan berlebihan, tapi tawa yang tulus. "Belajar di
tengah wabah? Tidak ada waktu untuk itu, Mas. Biarkan saya yang mengemudi.
Kalian fokus pada yang lain."
Pak Iwan, yang sejak wabah mulai jarang tidur, duduk di
kantor desa dengan wajah pucat dan mata cekung. Ia sudah melapor ke dinas
kesehatan, ke camat, ke bupati. Semua berjanji akan mengirim bantuan, tapi belum
ada yang datang. Ia khawatir, khawatir bahwa bantuan tidak akan datang tepat
waktu, khawatir bahwa desanya akan hancur, khawatir bahwa ia akan kehilangan
warganya.
"Pak," kata Bu Yuni, Sekretaris Desa, yang duduk
di sampingnya, "saya sudah koordinasi dengan puskesmas. Mereka akan
mengirim dua orang perawat besok pagi. Dan obat-obatan serta alat medis juga
akan dikirim."
Pak Iwan menghela napas lega. "Alhamdulillah.
Setidaknya ada yang datang."
"Tapi, Pak," lanjut Bu Yuni, wajahnya cemas,
"mereka bilang wabah ini tidak hanya di desa kita. Di desa-desa lain juga
sama. Bahkan di kota, rumah sakit sudah penuh. Mungkin bantuan tidak akan
sebanyak yang kita harapkan."
Pak Iwan menutup matanya sejenak. "Berapa pun
bantuannya, kita syukuri. Yang penting, kita tidak sendirian."
Di dalam tidurnya yang gelisah, Amilia bermimpi. Ia
bermimpi tentang ibunya, ibunya yang tersenyum, ibunya yang memeluknya, ibunya
yang berkata, "Kamu kuat, Nak. Kamu bisa melewati ini."
Ia bermimpi tentang masa kecilnya, tentang rumah di kota
kecil dengan halaman yang ditumbuhi bunga-bunga, tentang ayahnya yang meninggal
ketika ia masih di bangku SMA, tentang ibunya yang bekerja keras membiayai
pendidikannya, tentang surat penerimaan di akademi kebidanan yang membuat
ibunya menangis bahagia.
Ia bermimpi tentang hari pertamanya di desa ini, tentang
optimisme yang membara di dadanya, tentang keyakinan bahwa ia bisa membuat
perbedaan, tentang mimpi-mimpi yang ia bangun dengan susah payah.
Ia bermimpi tentang semua pasien yang pernah ia tolong, wajah-wajah
mereka, nama-nama mereka, cerita-cerita mereka. Ada yang masih ingat, ada yang
mulai lupa. Tapi perasaan ketika mereka mengucapkan terima kasih, perasaan itu
tidak pernah lupa. Hangat. Membahagiakan. Membuat semua perjuangan terasa
berarti.
Dan ia bermimpi tentang surat ibunya, surat yang selalu ia
baca di saat-saat tergelap, surat yang mengingatkannya bahwa kebaikan tidak
pernah sia-sia, surat yang memberinya kekuatan untuk bertahan ketika semua
orang berkata "menyerah saja".
"Kalau kamu bertahan, bukan karena kamu kuat, bukan
karena kamu tegar, bukan karena kamu tidak pernah jatuh, tapi karena kamu
percaya bahwa apa yang kamu lakukan itu benar, maka kamu akan menjadi lebih
dari sekadar bidan desa. Kamu akan menjadi harapan. Kamu akan menjadi cahaya di
tengah kegelapan. Kamu akan menjadi alasan bagi seseorang untuk terus
hidup."
Amilia terbangun dengan air mata di pipinya. Bukan air mata
kesedihan. Bukan air mata keputusasaan. Tapi air mata harapan, harapan yang
kecil, rapuh, dan hampir padam, tapi masih menyala.
Aku tidak akan menyerah, pikirnya,
sambil memeluk surat ibunya yang selalu ia simpan di bawah bantal. Aku
tidak akan menyerah, Bu. Aku janji.
Keesokan paginya, ketika matahari terbit dengan sinar
keemasan yang menembus kabut tipis, dua orang perawat dari puskesmas tiba di
Desa Awan Biru. Mereka datang dengan sepeda motor, membawa tas medis besar dan
beberapa kardus berisi obat-obatan dan alat-alat medis.
"Selamat pagi," sapa salah satu perawat, seorang
perempuan muda dengan wajah ramah dan senyum yang hangat. "Saya Siti, ini
teman saya Rini. Kami dikirim dari puskesmas untuk membantu. Maaf baru bisa
datang sekarang. Kami juga kewalahan."
Pak Iwan menyambut mereka dengan mata yang basah.
"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting bantuannya datang. Mari, saya antar ke
posko. Bu Amilia sudah menunggu."
Amilia berdiri di depan posko, kantor desa yang telah
disulap menjadi ruang perawatan darurat, dengan wajah yang masih pucat dan mata
yang masih sembab, tapi dengan semangat yang tidak padam. Ia menyambut Siti dan
Rini dengan tangan terbuka.
"Terima kasih sudah datang," kata Amilia.
"Kami sangat membutuhkan bantuan."
"Kami di sini untuk membantu, Bu," kata Siti.
"Apa yang bisa kami lakukan?"
Amilia menjelaskan situasi dengan cepat dan jelas. Jumlah
pasien, tingkat keparahan, obat-obatan yang tersedia, dan kebutuhan mendesak.
Siti dan Rini mendengarkan dengan saksama, mencatat, dan segera bergerak.
Dengan kedatangan dua perawat, beban Amilia sedikit
berkurang. Ia tidak lagi sendirian. Kini, ia memiliki tim, kecil, tetapi solid.
Dan dengan tim itu, ia bisa menjangkau lebih banyak pasien, memberikan
perawatan yang lebih baik, dan mudah-mudahan, menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Ketika semua bergantung pada satu orang, beban itu terasa
luar biasa berat. Beban yang tidak bisa dibagi, tidak bisa ditunda, tidak bisa
dihindari. Beban yang membuat bahu terasa remuk, punggung terasa patah, dan
hati terasa hancur. Beban yang membuat seseorang bertanya, "Kenapa aku?
Kenapa harus aku?"
Tapi ketika beban itu dibagi, ketika orang-orang mulai
sadar bahwa mereka juga bisa membantu, bahwa mereka juga memiliki tanggung
jawab, bahwa mereka juga bagian dari solusi, beban itu menjadi lebih ringan.
Tidak ringan, tidak mudah, tidak menyenangkan. Tapi lebih ringan. Cukup ringan
untuk diangkat. Cukup ringan untuk dipikul bersama.
Di Desa Awan Biru, Amilia telah menjadi harapan. Harapan
bagi mereka yang sakit, harapan bagi mereka yang takut, harapan bagi mereka
yang hampir menyerah. Tapi ia bukan satu-satunya harapan. Ada Anita, Yulia,
Rini, Pak Santoso, Amat Junior, Hermansyah, Camelia, Anto, Pak Iwan, dan semua
warga yang memilih untuk tidak lagi menjadi penonton.
Mereka semua adalah harapan. Mereka semua adalah cahaya di
tengah kegelapan.
Dan di tengah wabah yang masih mengamuk, di tengah
ketakutan yang masih menyelimuti, di tengah kepanikan yang masih terasa, mereka
berdiri bersama. Bukan sebagai bidan dan pasien, bukan sebagai pemimpin dan
bawahan, bukan sebagai teman dan musuh. Tapi sebagai manusia. Sebagai saudara.
Sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Badai belum berakhir. Masih banyak yang harus dilakukan.
Masih banyak yang harus diselamatkan.
Tapi untuk pertama kalinya, Amilia tidak merasa sendirian.
Dan itu, hanya itu, sudah cukup untuk membuatnya terus
berjalan.
BAB 18: PENGORBANAN TANPA BATAS
Malam itu, langit Desa Awan Biru kembali gelap. Namun
kegelapan kali ini berbeda dari malam-malam sebelumnya. Bukan kegelapan yang
sunyi dan damai, bukan kegelapan yang membawa istirahat bagi mereka yang lelah.
Ini adalah kegelapan yang tegang, yang penuh dengan ketakutan yang tidak
terucapkan, yang menggantung di udara seperti kabut beracun yang tidak bisa
dihindari. Di setiap rumah, lampu minyak tanah masih menyala meskipun sudah
lewat tengah malam, karena tidak ada yang berani tidur—takut tidak akan bangun
lagi, takut anggota keluarga yang sakit akan memburuk di tengah malam, takut
kematian akan datang tanpa permisi.
Wabah telah mencapai puncaknya. Jumlah pasien terus
bertambah, melebihi kapasitas tim medis yang ada. Bahkan dengan kedatangan Siti
dan Rini, dua perawat dari puskesmas yang bekerja tanpa kenal lelah sejak pagi,
rasio pasien terhadap tenaga kesehatan masih sangat timpang. Satu bidan dan dua
perawat untuk lebih dari enam puluh pasien yang tersebar di seluruh desa,
dengan akses jalan yang buruk, dengan keterbatasan obat-obatan dan alat medis,
dengan waktu yang terus berjalan dan tidak pernah menunggu.
Amilia, Siti, dan Rini membagi tugas. Siti menangani pasien
di posko kantor desa, mereka dengan gejala ringan hingga sedang yang bisa
dirawat secara kolektif. Rini bertugas melakukan kunjungan rumah untuk pasien
dengan gejala berat yang tidak bisa dipindahkan. Dan Amilia, Amilia menangani
yang paling kritis, yang membutuhkan tindakan cepat dan tepat, yang nyawanya
tergantung pada setiap detik yang ia gunakan dengan maksimal.
Mereka bekerja dalam sistem shift, bergantian istirahat,
bergantian makan, bergantian tidur. Tapi Amilia tidak pernah mengambil giliran
istirahatnya. Ia terus bekerja, terus bergerak, terus berjuang, seperti mesin
yang tidak pernah kehabisan bahan bakar, meskipun semua orang di sekitarnya
bisa melihat bahwa bahan bakarnya hampir habis, bahwa mesinnya mulai berasap,
bahwa suatu saat ia akan berhenti, dan ketika itu terjadi, akan sulit untuk
menyalakannya kembali.
"Bu, ibu harus istirahat," kata Siti, ketika
mereka berpapasan di lorong posko yang sempit. Wajah Siti pucat dan lelah,
matanya sayu, tapi masih ada senyum di bibirnya, senyum yang dipaksakan, senyum
yang ia kenakan untuk menenangkan pasien, senyum yang sama seperti yang biasa
dikenakan Amilia.
"Nanti," jawab Amilia, sambil terus berjalan
menuju pintu keluar, menuju rumah pasien berikutnya dalam daftarnya.
"Masih ada tiga pasien yang harus saya periksa sebelum subuh."
"Bu, ini sudah jam satu malam," kata Siti,
suaranya tegas. "Ibu sudah bekerja sejak subuh kemarin. Hampir dua puluh
empat jam nonstop. Ibu demamnya belum turun. Ibu bisa pingsan."
Amilia berhenti. Ia menoleh, menatap Siti dengan mata yang
merah dan sayu, namun masih memancarkan tekad yang tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata. "Siti, kamu tahu berapa banyak pasien yang kondisinya kritis?
Lima. Lima orang yang mungkin tidak akan melihat matahari terbit jika kita
tidak bertindak sekarang. Aku tidak bisa istirahat ketika mereka
membutuhkanku."
Siti menunduk. Ia tahu Amilia benar. Tapi ia juga tahu
bahwa Amilia adalah manusia, bukan dewa, bukan superhero, bukan mesin yang
tidak pernah rusak. Dan manusia, sekalipun hatinya sekuat baja, pada akhirnya
akan jatuh jika terus dipaksa.
"Setidaknya... makan dulu, Bu," kata Siti,
menyodorkan sepotong roti dan segelas air putih. "Hanya sebentar. Lima
menit. Setelah itu, ibu bisa pergi."
Amilia menatap roti itu. Roti biasa, roti tawar tanpa
selai, yang sudah sedikit keras karena terlalu lama terpapar udara. Tapi
perutnya keroncongan, sangat keroncongan, seperti ada yang menggerogoti dari
dalam. Ia belum makan sejak sarapan kemarin pagi, dan itu pun hanya setengah
piring nasi dengan lauk sepotong tempe goreng.
Ia mengambil roti itu, menggigitnya perlahan, lalu menyesap
airnya. Roti itu terasa seperti kardus di mulutnya, kering, hambar, dan sulit
ditelan. Tapi ia memaksakan diri, karena ia tahu bahwa tanpa energi, ia tidak
akan bisa bekerja. Dan tanpa bekerja, orang-orang akan mati.
"Terima kasih," katanya setelah menghabiskan roti
itu dalam tiga gigitan besar. "Sekarang, aku harus pergi. Jaga posko, Sit.
Panggil aku jika ada yang darurat."
Ia berjalan keluar, melangkah ke kegelapan malam, dengan
senter di tangan dan tas medis di bahu, menuju rumah pasien berikutnya—seorang
kakek tua dengan demam berdarah yang trombositnya terus turun, yang membutuhkan
transfusi cairan dan pemantauan ketat.
Subuh tiba dengan langit yang masih gelap, masih enggan
menampakkan cahayanya. Burung-burung belum berkicau, ayam-ayam jantan belum
berkokok, dan alam masih terlelap dalam mimpinya. Namun di Desa Awan Biru,
tidak ada yang terlelap. Yang ada hanya kelelahan, kepanikan, dan ketakutan.
Amilia baru saja selesai memeriksa pasien kelima, seorang
ibu muda dengan komplikasi yang membuatnya sulit bernapas, yang harus segera
dirujuk ke puskesmas meskipun jalan gelap dan berbatu. Ia mengantar pasien itu
ke truk Anto, membantu memapahnya, memastikan infusnya tidak lepas, dan memberi
instruksi pada Anto tentang apa yang harus dilakukan jika kondisi pasien
memburuk di perjalanan.
"To, hati-hati ya," kata Amilia, suaranya serak
dan nyaris tak terdengar. "Jalan licin. Jangan kencang-kencang. Tapi
jangan terlalu lambat juga. Pasien ini butuh penanganan intensif segera."
Anto mengangguk, matanya menatap Amilia dengan sorot yang
dalam. "Bu, ibu sendiri bagaimana? Ibu pucat sekali."
Amilia tersenyum, senyum yang lemah, senyum yang tidak lagi
bisa menyembunyikan kelelahan yang luar biasa. "Aku baik-baik saja, To.
Jangan khawatir. Fokus pada pasien."
Anto tidak percaya. Tapi ia tidak bisa memaksa. Ia hanya
bisa mengangguk, menyalakan mesin truk, dan melaju perlahan meninggalkan desa,
meninggalkan Amilia yang berdiri di pinggir jalan dengan tubuh goyah dan mata
sayu.
Amilia berjalan kembali menuju posko. Langkahnya berat,
seperti berjalan di dalam lumpur setinggi lutut. Setiap langkah membutuhkan
energi yang tidak lagi ia miliki. Kepalanya pusing, pandangannya kabur, dan
dadanya terasa sesak, bukan sesak karena sakit, tapi sesak karena kelelahan
yang sudah mencapai batas maksimal.
Kamu bisa,
bisiknya pada dirinya sendiri, seperti mantra yang sudah ia ulang ribuan
kali. Kamu bisa. Hanya beberapa langkah lagi. Hanya sampai ke posko.
Setelah itu, kamu bisa istirahat. Setelah itu...
Tapi "setelah itu" tidak pernah datang.
Di tengah jalan, ketika ia melewati pohon beringin besar
yang menjadi batas tidak tertulis antara dua dunia, tiba-tiba dunianya
berputar. Pohon-pohon di sekitarnya bergoyang, langit di atasnya berputar, dan
tanah di bawah kakinya terasa seperti tidak lagi solid. Ia merasakan mual yang
luar biasa, kepalanya berdenyut-denyut, dan keringat dingin mengalir di sekujur
tubuhnya.
Ia mencoba berpegangan pada batang pohon beringin, pohon
yang sudah berusia ratusan tahun, yang akarnya menjalar ke mana-mana seperti urat-urat
yang menghubungkan desa ini dengan masa lalunya. Tapi tangannya tidak kuat.
Jari-jarinya terlepas, dan tubuhnya jatuh berlutut di tanah yang becek.
Tas medis merah terlepas dari bahunya, jatuh ke samping
dengan suara yang keras, terbuka, isinya berserakan di tanah, stetoskop,
tensimeter, perban, obat-obatan, semuanya jatuh dan basah oleh lumpur. Amilia
tidak peduli. Ia tidak punya energi untuk peduli.
Ia jatuh tersungkur di tanah, dengan wajah menghadap ke
bawah, dengan air mata yang bercampur dengan lumpur dan keringat. Ia mencoba
bangkit, mencoba merangkak, mencoba mencapai tas medisnya, tapi tubuhnya tidak
mau mendengar. Otot-ototnya lemas, tulang-tulangnya terasa seperti agar-agar,
dan pikirannya mulai gelap, seperti layar televisi yang mati perlahan-lahan.
Ya Allah,
pikirnya, di antara kabut yang mulai menyelimuti kesadarannya, jangan
sekarang... jangan di sini... masih banyak yang harus aku lakukan... masih
banyak yang harus aku selamatkan...
Tapi tubuh tidak selalu mendengarkan pikiran. Dan pada
akhirnya, setiap mesin, sekokoh apa pun, sekuat apa pun, setahan apa pun—akan
berhenti. Dan mesin yang bernama Amilia itu, yang telah bekerja tanpa henti
selama berhari-hari, yang telah dipaksa melebihi batas kemampuannya, yang telah
mengorbankan tidur, makan, dan kesehatannya sendiri untuk orang lain, akhirnya
berhenti.
Ia pingsan.
Tepat di bawah pohon beringin besar, di tanah yang becek
oleh embun pagi, dengan tas medis yang berserakan di sampingnya dan jilbab
putih yang basah oleh lumpur, Amilia jatuh pingsan, tidak sadarkan diri, tidak
tahu apa yang terjadi di sekitarnya.
Seseorang menemukannya. Mungkin seorang pemuda yang sedang
dalam perjalanan pulang setelah mengantar pasien. Mungkin seorang ibu yang
sedang mencari kayu bakar di dekat pohon beringin. Mungkin seorang anak kecil
yang sedang bermain kejar-kejaran dengan teman-temannya. Yang jelas, kabar itu
menyebar lebih cepat dari wabah itu sendiri.
"BU AMILIA PINGSAN!"
"BU AMILIA JATUH DI BAWAH POHON BERINGIN!"
"BU AMILIA TIDAK SADARKAN DIRI!"
Kabar itu menjalar dari mulut ke mulut, dari rumah ke
rumah, dari warung ke warung. Tidak ada yang membutuhkan internet, televisi,
atau koran. Di desa seperti Awan Biru, berita tidak butuh teknologi untuk
menyebar. Ia menyebar dengan kecepatan cahaya, dengan intensitas api, dengan
kekuatan air bah.
Dalam hitungan menit, puluhan orang berkumpul di bawah
pohon beringin. Mereka membawa lampu minyak, senter, dan lilin. Mereka membawa
selimut, air minum, dan obat-obatan tradisional. Mereka membawa ketakutan, kepanikan,
dan air mata.
"BU AMILIA! BU AMILIA!"
Anita tiba lebih dulu, dengan wajah pucat dan mata yang
basah. Ia berlutut di samping Amilia, meraba dahinya, panas, sangat panas,
seperti bara api. Ia meraba nadinya—lemah, cepat, dan tidak teratur. Ia membuka
kelopak mata Amilia, pupilnya masih bereaksi terhadap cahaya, setidaknya itu
kabar baik.
"BU AMILIA!" teriak Anita, suaranya pecah.
"BUKA MATA! BU! BUKA MATA!"
Tidak ada respons. Amilia tetap terbaring lemas, dengan
wajah pucat seperti kain kafan, dengan bibir yang pecah-pecah dan kering,
dengan tubuh yang panas dan lembab oleh keringat.
Yulia datang berlari, dengan bayinya di gendongan, bayi
yang dulu hampir mati, yang kini menangis keras, seolah-olah ia juga merasakan
bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada orang yang menyelamatkan nyawanya.
Yulia menangis, isaknya keras dan tidak terkontrol, tangannya gemetar saat
mencoba membantu Anita mengangkat Amilia.
"Angkat! Bawa ke rumah dinas!" perintah Anita,
suaranya tegas meskipun ia sendiri hampir pingsan karena ketakutan.
Beberapa pemuda membantu mengangkat Amilia. Mereka
membawanya ke rumah dinas dengan hati-hati, seperti sedang membawa benda yang
sangat rapuh, seperti sedang membawa seseorang yang sangat mereka cintai,
seperti sedang membawa harapan terakhir mereka.
Kabar bahwa Amilia pingsan menyebar lebih cepat dari kabar
apa pun sebelumnya. Dalam hitungan jam, seluruh desa tahu. Dan dalam hitungan
jam itu juga, desa berubah.
Bukan berubah menjadi lebih baik, tapi berubah menjadi
lebih panik.
"Bu Amilia sakit! Bidan kita tumbang!"
"Siapa yang akan menolong kita sekarang?"
"Mbah Sari? Mbah Sari tidak bisa menangani kasus-kasus berat!"
"Kita akan mati! Kita semua akan mati!"
Kepanikan kolektif melanda Desa Awan Biru. Orang-orang yang
tadinya tenang, tiba-tiba menjadi histeris. Orang-orang yang tadinya rasional,
tiba-tiba kehilangan akal sehat. Orang-orang yang tadinya saling membantu,
tiba-tiba hanya memikirkan diri mereka sendiri.
Siti, satu-satunya tenaga medis yang masih berdiri, karena
Rini sedang dalam perjalanan pulang dari kunjungan rumah—berusaha menenangkan
warga. "TENANG! SEMUA TENANG!" teriaknya, suaranya nyaris tidak
terdengar di tengah keributan. "BU AMILIA HANYA KELELAHAN! BELIAU BUTUH
ISTIRAHAT! BELIAU AKAN SEGERA SADAR! KITA HARUS TETAP BEKERJA! JANGAN
PANIK!"
Tapi kepanikan tidak bisa dihentikan dengan kata-kata saja.
Kepanikan butuh tindakan. Kepanikan butuh kepemimpinan. Kepanikan butuh
seseorang yang bisa dipercaya, yang bisa diandalkan, yang bisa menjadi sandaran
ketika segalanya terasa runtuh.
Dan orang itu, satu-satunya orang yang selama ini menjadi
sandaran mereka, kini terbaring pingsan di rumah dinas, dengan infus terpasang
di lengannya dan kompres di dahinya.
Anita, Yulia, dan Siti bergantian merawat Amilia. Mereka
membersihkan tubuhnya yang panas dengan air hangat, mengganti kompres di
dahinya setiap tiga puluh menit, memeriksa tanda-tanda vitalnya setiap jam, dan
berdoa, berdoa semoga ia cepat sadar, semoga demamnya turun, semoga ia tidak
mengalami komplikasi yang lebih serius.
"Bagaimana kondisinya, Sit?" tanya Anita,
suaranya gemetar.
Siti memeriksa Amilia sekali lagi. "Demam masih
tinggi, sekitar tiga puluh sembilan setengah. Tekanan darah rendah, denyut nadi
cepat, dan ada tanda-tanda dehidrasi. Saya sudah pasang infus, sudah beri obat
penurun panas, sudah kompres. Sekarang kita tunggu."
"Tapi kenapa belum sadar?" tanya Yulia, matanya
basah.
Siti menghela napas. "Kelelahan ekstrem, Yu. Tubuhnya
sudah dipaksa bekerja melebihi batas. Kadar gula darahnya rendah, tekanan
darahnya rendah, dan kemungkinan ada infeksi karena sistem kekebalan tubuhnya
drop. Butuh waktu. Mungkin beberapa jam. Mungkin sehari. Mungkin lebih."
"Tapi... pasien-pasien..." Yulia tidak bisa
melanjutkan.
Siti menggenggam tangannya. "Kita yang akan menangani
pasien. Bu Amilia sudah terlalu banyak berkorban. Sekarang giliran kita yang
berkorban untuknya."
Anita mengangguk, meskipun air matanya terus mengalir.
"Iya. Kita tidak akan biarkan Bu Amilia sendirian. Tapi kita juga tidak
akan biarkan pasien-pasien terlantar. Kita akan lakukan yang terbaik. Untuk Bu
Amilia. Untuk desa ini."
Mereka bertiga berpelukan di samping tempat tidur Amilia,
di ruangan kecil yang gelap dan pengap, dengan lampu minyak tanah yang menyala
redup dan angin malam yang berhembus pelan melalui celah-celah dinding bambu.
Mereka menangis bersama, berdoa bersama, dan berjanji bersama, bahwa mereka
tidak akan menyerah, bahwa mereka akan terus berjuang, bahwa mereka akan
menjadi cahaya di tengah kegelapan, seperti yang diajarkan oleh Amilia.
Di rumah Mbah Sari, suasana berbeda. Tidak ada kepanikan,
tidak ada tangisan, tidak ada doa yang dipanjatkan dengan khusyuk. Yang ada
hanya keheningan, keheningan yang berat, keheningan yang mencekik, keheningan
yang membuat setiap orang yang masuk ke dalamnya merasa seperti masuk ke dalam
kuburan.
Mbah Sari duduk di kursi kayu tertua di ruang tamunya,
dengan wajah yang tidak bisa diartikan. Matanya yang tajam menatap ke luar
jendela, ke arah desa yang sedang dilanda kepanikan, ke arah rumah dinas tempat
Amilia terbaring pingsan, ke arah kekuasaannya yang telah bergeser, mungkin
untuk selamanya.
Pak Sugeng duduk di seberangnya, dengan wajah pucat dan
tangan yang gemetar. Ia tidak berani bicara. Ia hanya diam, menunduk, dan
memainkan ujung sarungnya dengan gelisah.
"Bidan itu pingsan," kata Mbah Sari akhirnya,
suaranya pelan, nyaris berbisik.
Pak Sugeng mengangkat kepalanya, menatap Mbah Sari dengan
mata yang penuh harap, harap bahwa Mbah Sari akan mengatakan sesuatu yang
melegakan, sesuatu yang membenarkan semua tindakan mereka, sesuatu yang membuat
mereka tidak merasa bersalah.
"Ya, Mbah. Katanya kelelahan. Beliau bekerja tanpa
henti sejak wabah mulai."
Mbah Sari tidak menjawab. Ia hanya diam, matanya masih
tertuju pada jendela, pada desa yang semakin lama semakin asing baginya.
"Kita... apakah kita salah, Mbah?" tanya Pak
Sugeng, suaranya gemetar. "Apakah kita terlalu keras pada bidan itu?"
Mbah Sari menutup matanya sejenak. Untuk pertama kalinya,
Pak Sugeng melihat keraguan di wajah Mbah Sari, keraguan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya, keraguan yang membuatnya takut, keraguan yang mengatakan
bahwa mungkin, mungkin, mereka semua telah melakukan kesalahan yang tidak bisa
diperbaiki.
"Kita... melakukan apa yang kita yakini benar,"
kata Mbah Sari, suaranya tidak lagi mantap. "Tapi kadang... keyakinan bisa
buta. Kadang... kita terlalu keras memegang tradisi hingga kita lupa bahwa
dunia berubah. Kadang... kita terlalu takut kehilangan kekuasaan hingga kita
lupa bahwa yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa."
Pak Sugeng terdiam. Kata-kata Mbah Sari terasa seperti
pukulan, bukan pukulan yang menyakitkan, tapi pukulan yang membangunkan.
Pukulan yang membuatnya sadar bahwa selama ini ia hanya mengikuti tanpa
berpikir, bahwa ia hanya takut tanpa berani, bahwa ia hanya membenci tanpa
alasan.
"Apa yang harus kita lakukan, Mbah?" tanyanya,
suaranya nyaris tidak terdengar.
Mbah Sari membuka matanya. Matanya yang tadinya tajam dan
dingin, kini terlihat lebih lembut, lebih manusia. "Kita... perbaiki
kesalahan kita. Selagi masih ada waktu."
Matahari sudah naik cukup tinggi ketika Amilia masih belum
sadar. Demamnya sudah mulai turun, kini sekitar tiga puluh delapan setengah, tapi
ia belum membuka matanya, belum bergerak, belum menunjukkan tanda-tanda
kesadaran. Ia hanya terbaring di sana, dengan infus yang masih menetes
perlahan, dengan kompres yang diganti setiap setengah jam, dengan napas yang
teratur namun dangkal.
Anita duduk di sampingnya, memegang tangannya yang dingin.
Yulia duduk di sisi lain, sesekali menyeka keringat di dahi Amilia dengan kain
lembut. Siti bergantian dengan mereka, karena ia juga harus memeriksa
pasien-pasien di posko.
"Bu... bangun, Bu..." bisik Anita, suaranya basah
oleh air mata. "Kami butuh ibu... desa ini butuh ibu... jangan tinggalkan
kami..."
Tidak ada respons. Hanya suara napas Amilia yang teratur,
seperti orang yang sedang tidur nyenyak, tapi terlalu nyenyak, terlalu lama,
terlalu mengkhawatirkan.
"Apakah dia akan sadar?" tanya Yulia, matanya
menatap Siti yang baru saja masuk setelah memeriksa pasien.
Siti menghela napas. "Saya tidak tahu, Yu. Secara
medis, tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, tidak ada kejang, tidak ada
tanda-tanda stroke, tidak ada cedera kepala. Tapi kelelahan ekstrem bisa
memengaruhi kesadaran. Tubuhnya mungkin sedang memaksa istirahat total.
Memulihkan diri. Bisa saja dia sadar sebentar lagi. Bisa juga... butuh waktu
lebih lama."
"Tapi kita tidak bisa menunggu," kata Yulia,
suaranya tegang. "Pasien terus bertambah. Siti tidak bisa sendirian. Rini
masih di luar. Aku dan Anita bukan tenaga medis. Kita butuh Bu Amilia."
Siti menatap Amilia, lalu menatap Yulia. "Kita lakukan
yang terbaik dengan apa yang kita punya. Kita sudah berlatih. Kita sudah
belajar dari Bu Amilia. Kita bisa. Mungkin tidak secepat dia, mungkin tidak
setepat dia, tapi kita bisa."
Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit
berwarna jingga keemasan, sekelompok orang datang ke rumah dinas. Bukan warga
biasa, bukan pasien, bukan keluarga. Tapi Mbah Sari, ditemani oleh Pak Sugeng
dan beberapa warga lain yang selama ini menjadi pendukung setianya.
Anita yang menjaga pintu, langsung tegang ketika melihat
mereka. "Ada apa, Mbah?" tanyanya, suaranya dingin dan penuh
kecurigaan.
Mbah Sari tidak menjawab. Ia hanya menatap Anita dengan
mata yang lembut, lembut yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Saya
ingin melihat Bu Amilia," katanya.
Anita ragu. "Beliau masih belum sadar. Tidak bisa
menerima tamu."
"Saya tidak datang sebagai tamu," kata Mbah Sari,
suaranya pelan namun tegas. "Saya datang sebagai... sebagai seseorang yang
ingin meminta maaf."
Anita terkejut. Ia menatap Mbah Sari, lalu menatap Pak
Sugeng yang berdiri di belakangnya dengan wajah penuh penyesalan, lalu menatap
warga lain yang juga terlihat tidak biasa, mereka tidak lagi membawa kebencian,
tidak lagi membawa amarah, tidak lagi membawa tuduhan. Yang mereka bawa
hanyalah... penyesalan.
"Silakan masuk," kata Anita akhirnya, membuka
pintu lebar-lebar.
Mbah Sari masuk dengan langkah pelan, disangga oleh Pak
Sugeng yang tangannya gemetar. Ia berjalan menuju tempat tidur Amilia, berdiri
di sampingnya, dan menatap wajah Amilia yang pucat dan sayu. Untuk beberapa
saat, ia hanya diam. Tidak ada yang berani bicara. Bahkan Anita dan Yulia yang
tadinya penuh kecurigaan, kini hanya bisa diam, menunggu.
"Ampuni saya, Nak," bisik Mbah Sari, suaranya
pecah. "Ampuni saya yang sudah tua ini... yang terlalu sombong... yang
terlalu keras kepala... yang lebih peduli pada tradisi daripada pada
nyawa..."
Air mata jatuh dari mata Mbah Sari, air mata yang tidak
pernah dilihat oleh siapa pun selama puluhan tahun. Air mata yang keluar dari
hati yang telah lama membatu, yang kini mulai lunak oleh penyesalan.
"Kamu benar," lanjut Mbah Sari, suaranya semakin
lemah. "Ilmu barumu... caramu... tidak salah. Kamu hanya ingin membantu.
Sementara aku... aku hanya ingin mempertahankan kekuasaan. Aku takut
kehilangan. Aku takut dianggap tidak berguna. Aku takut... bahwa aku sudah tua
dan tidak relevan lagi."
Ia mengulurkan tangannya yang keriput, menyentuh dahi
Amilia dengan lembut, sentuhan seorang ibu kepada anaknya, sentuhan seorang
guru kepada muridnya, sentuhan seorang manusia kepada manusia lain yang telah
ia sakiti.
"Bangunlah, Nak," bisiknya. "Desa ini butuh
kamu. Aku... aku butuh kamu. Untuk mengajarkanku bahwa dunia ini berubah, dan
kita harus berubah bersamanya."
Amilia tidak bergerak. Tidak membuka mata. Tidak merespons.
Tapi di sudut matanya, mungkin hanya bayangan, mungkin hanya imajinasi, mungkin
hanya harapan, ada setetes air mata yang jatuh. Atau mungkin hanya keringat.
Tidak ada yang tahu pasti.
Malam itu, setelah Mbah Sari dan rombongannya pulang, setelah
mereka berjanji akan membantu tim medis semampu mereka, setelah mereka mengakui
bahwa Amilia selama ini benar, setelah mereka meminta maaf dengan air mata dan
penyesalan, sesuatu terjadi.
Amilia membuka matanya.
Perlahan. Sayu. Bingung. Ia menatap langit-langit anyaman
bambu yang dikenalnya, menatap lampu minyak tanah yang menyala redup di sudut
ruangan, menatap wajah-wajah yang mengelilinginya, Anita yang menangis, Yulia
yang tersenyum sambil menangis, Siti yang menghela napas lega, dan Mbah Sari
yang berdiri di pintu dengan mata basah.
"Bu... ibu sadar..." bisik Anita, suaranya pecah.
Amilia mencoba tersenyum, senyum yang lemah, senyum yang
nyaris tidak terlihat, tapi senyum yang tulus. "Aku... di mana...?"
"Di rumah dinas, Bu," jawab Yulia, sambil
membantu Amilia duduk. "Ibu pingsan di bawah pohon beringin. Ibu sudah
tidak sadar hampir dua belas jam."
Amilia terkejut. "Dua belas jam? Pasien-pasien...
bagaimana dengan pasien-pasien...?"
"Tenang, Bu," kata Siti. "Kami yang
menangani. Tidak ada yang meninggal. Semua pasien stabil. Ibu istirahat dulu.
Jangan pikirkan pasien dulu."
Tapi Amilia tidak bisa tidak memikirkan pasien. Ia adalah
bidan. Ia adalah penolong. Ia adalah orang yang dipanggil ketika malam gelap
dan hujan deras dan tidak ada yang bisa diharapkan selain dirinya. Ia tidak
bisa beristirahat ketika masih ada yang membutuhkan.
"Saya harus... kembali bekerja..." katanya,
berusaha bangkit meskipun tubuhnya masih terasa seperti dipukuli oleh seribu
tangan.
Anita menahannya. "Bu, jangan! Ibu masih lemah! Ibu
bisa jatuh lagi!"
"Biarkan," kata Mbah Sari dari pintu. Suaranya
pelan, tapi semua orang mendengar.
Semua menoleh. Mbah Sari melangkah masuk, berjalan ke
samping Amilia, dan duduk di lantai di sampingnya. Ia menatap Amilia dengan
mata yang tidak lagi dingin, tidak lagi tajam, tidak lagi penuh kebencian. Mata
yang sekarang lembut, lembut seperti mata seorang nenek kepada cucunya.
"Saya akan membantu," kata Mbah Sari. "Saya
tahu saya sudah tua. Saya tahu ilmu saya tidak secanggih ilmumu. Tapi saya bisa
membantu. Mengurus pasien yang tidak kritis. Membuatkan ramuan untuk meningkatkan
daya tahan tubuh. Menjaga pasien-pasien agar tidak panik. Saya bisa belajar.
Saya mau belajar. Jika kamu mau mengajariku."
Amilia menatap Mbah Sari. Untuk beberapa saat, tidak ada
yang bicara. Hanya ada tatapan, tatapan yang saling mencari, saling memahami,
saling memaafkan.
Dan kemudian, Amilia tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum
yang tidak perlu dipaksakan. Senyum yang lahir dari hati yang telah lama
terluka, tetapi masih mampu memaafkan.
"Terima kasih, Mbah," katanya, suaranya masih
lemah tapi hangat. "Saya akan dengan senang hati mengajari Mbah. Dan saya
juga ingin belajar dari Mbah. Tentang ramuan, tentang doa, tentang cara-cara
lama yang juga memiliki kebaikannya."
Mbah Sari menangis. Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, ia
menangis di depan orang lain. Tapi kali ini, bukan air mata penyesalan. Air
mata harapan. Air mata bahwa meskipun sudah tua, meskipun sudah banyak
kesalahan, masih ada kesempatan untuk berubah. Masih ada kesempatan untuk
memulai lagi.
Pengorbanan tanpa batas. Itulah yang telah diberikan Amilia
kepada Desa Awan Biru. Ia memberikan waktu, tenaga, pikiran, hati, bahkan
kesehatannya sendiri. Ia bekerja tanpa henti, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan
imbalan. Ia menangis di malam hari ketika tidak ada yang melihat, ia tersenyum di
siang hari ketika semua orang menatapnya dengan curiga, ia bertahan ketika
semua orang berkata "pergi".
Dan pengorbanan itu, pengorbanan yang hampir merenggut
nyawanya sendiri, tidak sia-sia.
Karena dari pengorbanan itu, lahirlah kesadaran. Kesadaran
bahwa Mbah Sari dan para pendukungnya telah salah. Kesadaran bahwa Amilia bukan
musuh, melainkan teman. Kesadaran bahwa tradisi dan ilmu tidak harus
bertentangan, melainkan bisa berjalan berdampingan, saling melengkapi, saling
menguatkan.
Karena dari pengorbanan itu, lahirlah persatuan. Persatuan
yang tidak dipaksakan, tidak direkayasa, tidak dibangun di atas ketakutan.
Persatuan yang lahir dari kesadaran bahwa mereka semua berada di kapal yang
sama, bahwa mereka semua akan tenggelam jika tidak bersatu, bahwa mereka semua,
Mbah Sari, Amilia, warga, pemuda, tua, muda, kaya, miskin adalah satu.
Karena dari pengorbanan itu, lahirlah harapan. Harapan
bahwa wabah ini akan berlalu. Harapan bahwa desa ini akan pulih. Harapan bahwa
mereka akan menjadi lebih kuat setelah badai berlalu.
Dan di tengah semua itu, Amilia terbaring di rumah
dinasnya, dengan tubuh yang masih lemah dan hati yang masih terluka, namun
dengan senyum di wajahnya. Senyum yang mengatakan bahwa ia telah melakukan yang
terbaik. Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak menyesal. Senyum yang mengatakan
bahwa ia akan bangkit lagi, dan terus berjuang, karena itulah yang ia pilih.
Itulah panggilannya. Itulah pengabdiannya.
Di luar, di bawah pohon beringin besar, angin malam
berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Bintang-bintang
mulai muncul satu per satu di langit yang mulai cerah, berkelap-kelip seperti
mata-mata kecil yang tersenyum. Dan dari kejauhan, suara adzan subuh mulai
berkumandang—seruan untuk bangun, untuk berdoa, untuk memulai hari yang baru.
Badai belum berakhir. Masih banyak yang harus dilakukan.
Tapi untuk pertama kalinya, Desa Awan Biru merasa siap.
Bukan karena mereka kuat, bukan karena mereka hebat, bukan karena mereka
sempurna. Tapi karena mereka bersatu. Dan dalam persatuan, ada kekuatan yang
tidak bisa dikalahkan oleh wabah apa pun.
BAB 19: PENGAKUAN YANG TERLAMBAT
Pagi itu, langit Desa Awan Biru cerah untuk pertama kalinya
dalam beberapa pekan terakhir. Bukan cerah yang menyengat seperti sebelumnya,
bukan juga cerah yang pucat dan hambar. Ini adalah cerah yang lembut, seperti
senyum seorang ibu yang baru saja memeluk anaknya setelah lama berpisah,
seperti cahaya matahari yang menyinari dedaunan yang basah oleh embun, seperti
harapan yang mulai tumbuh di tanah yang sempat kering oleh keputusasaan.
Awan-awan putih bergerak lambat di langit biru yang dalam, seolah sedang
beristirahat setelah badai yang panjang. Burung-burung mulai kembali berkicau,
tidak lagi dengan suara yang serak dan ragu-ragu, tetapi dengan riang dan penuh
semangat, seperti paduan suara yang merayakan kehidupan yang bertahan melawan
kematian.
Kabar bahwa Amilia telah sadar menyebar lebih cepat dari
kabar apa pun sebelumnya. Bukan karena kepanikan, bukan karena ketakutan,
tetapi karena kegembiraan, kegembiraan yang tulus, yang tidak perlu dipaksakan,
yang keluar dari hati yang paling dalam. Warga yang tadinya hanya
berbisik-bisik dengan nada cemas, kini mulai berbicara dengan suara yang lebih
keras, lebih riang, lebih penuh harapan. Anak-anak yang tadinya hanya diam di
dalam rumah, kini mulai bermain kejar-kejaran di halaman, tertawa dengan suara
yang nyaring dan bebas. Ibu-ibu yang tadinya hanya sibuk merawat yang sakit,
kini mulai tersenyum, senyum yang tidak lagi dipaksakan, senyum yang lahir dari
kelegaan yang begitu dalam.
Dan di tengah semua itu, di rumah dinas yang sederhana,
Amilia terbaring dengan tubuh yang masih lemah tetapi mata yang sudah mulai
berbinar. Ia telah sadar sejak subuh tadi, membuka matanya perlahan, menatap
langit-langit anyaman bambu yang dikenalnya, mendengar suara adzan yang
berkumandang dari kejauhan, dan merasakan hangatnya sinar matahari pagi yang
masuk melalui celah-celah dinding. Ia masih lelah, sangat lelah, seperti baru
saja selesai berperang tanpa senjata, seperti baru saja berenang melawan arus
selama berjam-jam, seperti baru saja mengangkat beban yang beratnya berlipat
ganda dari berat tubuhnya sendiri. Tapi ia hidup. Ia masih di sini. Ia masih
bisa melihat, mendengar, merasakan, dan pada waktunya, kembali bekerja.
Anita yang berjaga di sampingnya sepanjang malam, langsung
menangis ketika melihat Amilia membuka mata. "Bu... ibu sadar..."
bisiknya, suaranya pecah oleh tangis yang tidak bisa lagi ia tahan. Ia memeluk
Amilia, hati-hati, takut melukai dan menangis di pundaknya, menangis karena
lega, menangis karena syukur, menangis karena selama beberapa jam terakhir ia
sangat takut kehilangan satu-satunya orang yang menjadi harapan desa ini.
Yulia yang baru saja bergantian dengan Anita untuk
mengambil air di sumur, berlari masuk ketika mendengar suara tangis Anita. Ia
mengira yang terburuk telah terjadi, mengira Amilia tidak sadar, mengira
kondisinya memburuk, mengira mereka akan kehilangan dia untuk selamanya. Tapi
ketika ia melihat Amilia duduk di tempat tidur dengan senyum di wajahnya,
senyum yang lemah namun nyata, ia juga menangis. Ia berlari ke sisi lain tempat
tidur, memeluk Amilia dari sisi yang berbeda, dan menangis bersama Anita,
tangis yang campur aduk antara kelegaan dan syukur dan cinta yang selama ini
tidak pernah ia ucapkan dengan kata-kata.
"Bu... ibu jangan pernah buat kami takut seperti itu
lagi..." isak Yulia di sela-sela tangisnya. "Kami pikir... kami pikir
ibu..."
"Tenang," kata Amilia, suaranya masih serak dan
lemah, tapi tangannya meraih kepala Yulia dan membelainya dengan lembut.
"Aku tidak akan pergi. Aku janji. Masih banyak yang harus aku lakukan di
desa ini."
Kabar bahwa Amilia telah sadar menyebar dari rumah ke
rumah, dari mulut ke mulut, dari hati ke hati. Tidak perlu pengeras suara,
tidak perlu pengumuman resmi, tidak perlu pertemuan warga. Cukup seorang anak
kecil yang berlari-lari di jalan desa sambil berteriak, "BU AMILIA SUDAH
SADAR! BU AMILIA SUDAH BANGUN!" Cukup seorang ibu yang berbisik pada
tetangganya di balik pagar bambu, "Alhamdulillah, bidan kita sudah
sadar." Cukup seorang bapak yang menangis di pelukan istrinya ketika
mendengar kabar itu, menangis karena selama beberapa jam terakhir ia tidak bisa
berhenti membayangkan skenario terburuk.
Desa yang sempat tegang dan panik, kini mulai menghela
napas lega. Bukan lega yang sempurna, wabah masih ada, pasien masih banyak, dan
perjuangan masih panjang. Tapi lega yang cukup untuk membuat mereka tersenyum,
cukup untuk membuat mereka percaya bahwa mereka bisa melewati ini, cukup untuk
membuat mereka kembali bersemangat membantu satu sama lain.
Di posko kantor desa, Siti dan Rini terus bekerja merawat
pasien-pasien dengan gejala sedang hingga berat. Mereka sudah hampir dua puluh
empat jam tidak tidur, mata mereka sembab dan merah, tubuh mereka lelah dan
pegal, tapi mereka tidak berhenti. Karena mereka tahu bahwa di balik setiap
pasien yang mereka rawat, ada keluarga yang menunggu dengan harap, ada
anak-anak yang membutuhkan orang tua mereka kembali sehat, ada kehidupan yang
bergantung pada setiap tetes obat yang mereka berikan dan setiap jahitan yang
mereka lakukan.
"Bu Siti, pasien nomor tujuh demamnya naik lagi,"
lapor seorang relawan muda, salah satu pemuda desa yang dilatih oleh Amilia
untuk membantu perawatan dasar. Namanya Dewi, baru lulus SMA, bercita-cita
menjadi perawat seperti Siti. Wajahnya masih polos, matanya masih bersemangat,
meskipun tubuhnya sudah lelah oleh kerja keras yang tidak pernah ia bayangkan
sebelumnya.
Siti bergegas ke pasien nomor tujuh, seorang kakek tua berusia
enam puluh tahun yang sudah tiga hari terbaring lemah dengan demam berdarah.
Trombositnya terus turun meskipun sudah diberikan obat dan cairan infus.
Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan matanya sayu, seperti sedang berjuang
antara hidup dan mati.
"Ganti kompresnya dengan air hangat," perintah
Siti, tangannya memeriksa tanda-tanda vital kakek itu dengan cepat dan terukur.
"Tekanan darah masih stabil, tapi denyut nadi cepat. Kita harus monitor
ketat. Jika ada tanda-tanda pendarahan, bintik merah di kulit, gusi berdarah,
muntah darah, langsung panggil saya."
Dewi mengangguk, mencatat semua instruksi dengan saksama di
buku catatan yang sudah mulai lusuh. "Baik, Bu."
Rini, yang sedang memeriksa pasien di ujung ruangan,
menoleh dan berkata, "Sit, kamu istirahat dulu. Sebentar saja. Aku yang
jaga."
Siti menggeleng, meskipun matanya sudah sangat berat.
"Nanti. Setelah semua pasien stabil."
"Tidak akan ada 'setelah semua pasien stabil',"
kata Rini, suaranya tegas. "Kita berdua tahu itu. Tapi kalau kita jatuh sakit,
tidak ada yang akan merawat mereka. Jadi, istirahatlah. Hanya satu jam. Aku
yang jaga."
Siti menatap Rini, lalu menatap pasien-pasien yang
terbaring di balai-balai kayu, lalu menatap tangannya sendiri yang mulai
gemetar karena kelelahan. Ia menghela napas panjang, mengalah. "Baik. Satu
jam. Tapi janji, panggil aku jika ada yang darurat."
"Janji."
Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit
berwarna jingga keemasan, Mbah Sari mengumpulkan warga di halaman rumahnya.
Bukan dengan pengeras suara, bukan dengan undangan resmi, tetapi dengan cara
lama—mengirimkan pesan berantai dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, dari
hati ke hati.
"Ada apa, Mbah?" tanya warga yang datang,
wajah-wajah mereka penuh rasa ingin tahu dan sedikit cemas. Apakah Mbah Sari
akan marah karena warga mulai beralih ke Amilia? Apakah Mbah Sari akan melarang
mereka pergi ke posko? Apakah Mbah Sari akan mengumumkan sesuatu yang
kontroversial?
Mbah Sari berdiri di teras rumahnya, dengan kain batik
lusuh yang sama, dengan rambut putih yang disanggul rapi, dengan tusuk konde
dari perak yang berkilauan di bawah sinar matahari sore. Namun ada yang
berbeda. Matanya yang tadinya tajam dan dingin, kini terlihat lebih lembut, lebih
manusia. Wajahnya yang tadinya keras dan penuh wibawa, kini terlihat lebih
rapuh, lebih tua. Tangannya yang tadinya selalu memegang keranjang kecil berisi
dedaunan dan benda-benda misterius, kini kosong, terbuka, seperti sedang
menawarkan perdamaian.
"Warga sekalian," kata Mbah Sari, suaranya pelan namun
terdengar jelas di keheningan sore. "Saya mengumpulkan kalian di sini
bukan untuk memerintah, bukan untuk melarang, bukan untuk menakut-nakuti. Saya
mengumpulkan kalian di sini untuk... meminta maaf."
Sunyi. Sepi. Bahkan angin pun seolah berhenti berhembus,
seolah ingin mendengar dengan saksama apa yang akan dikatakan oleh perempuan
tua yang selama puluhan tahun menjadi pemimpin spiritual desa ini.
"Saya sudah tua," lanjut Mbah Sari, suaranya
mulai bergetar. "Saya sudah puluhan tahun memegang adat, memegang tradisi,
memegang kepercayaan yang diwariskan oleh leluhur. Dan selama itu pula, saya
menjadi sombong. Saya mengira bahwa hanya cara sayalah yang benar. Saya mengira
bahwa tidak ada yang bisa menggantikan saya. Saya mengira bahwa saya adalah
segalanya bagi desa ini."
Ia berhenti sejenak, matanya menatap satu per satu warga
yang hadir. Ada yang menangis, ada yang terkejut, ada yang tersenyum, ada yang
hanya diam dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
"Tapi saya lupa," lanjut Mbah Sari, "bahwa
dunia ini berubah. Bahwa ilmu berkembang. Bahwa ada cara-cara baru yang bisa
menyelamatkan lebih banyak nyawa. Saya lupa bahwa yang terpenting bukanlah
siapa yang benar, tetapi bagaimana kita bisa saling membantu. Saya lupa bahwa
adat dan ilmu tidak harus bertentangan, tetapi bisa berjalan
berdampingan."
Air mata mulai jatuh dari mata Mbah Sari, air mata yang
tidak pernah dilihat oleh siapa pun selama puluhan tahun. Air mata yang keluar
dari hati yang telah lama membatu, yang kini mulai lunak oleh penyesalan dan kesadaran.
"Saya salah," kata Mbah Sari, suaranya pecah.
"Saya salah telah memusuhi Bu Amilia. Saya salah telah menghasut kalian
untuk membencinya. Saya salah telah menolak perubahan yang sebenarnya bisa
menyelamatkan desa ini. Saya minta maaf. Kepada Bu Amilia, kepada kalian semua,
kepada desa ini yang telah saya rugikan dengan kesombongan saya."
Ia berlutut. Mbah Sari, perempuan sepuh yang selama puluhan
tahun tidak pernah berlutut di depan siapa pun, yang wibawanya begitu besar
hingga membuat semua orang tunduk—berlutut di teras rumahnya, dengan air mata
yang mengalir di pipinya yang keriput, dengan tangan yang terbuka, dengan hati
yang hancur oleh penyesalan.
"Ampuni saya," bisiknya. "Ampuni saya yang
sudah tua dan sombong ini."
Suasana hening. Begitu hening hingga suara tetesan air mata
yang jatuh ke lantai kayu terdengar seperti gemericik air di sungai. Warga
saling pandang, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ada yang ikut menangis,
ada yang terkejut, ada yang tersenyum lega, ada yang hanya diam dengan hati
yang penuh dengan berbagai macam emosi.
Pak Sugeng, yang berdiri di samping Mbah Sari, ikut
berlutut. Wajahnya yang keras itu kini basah oleh air mata, tangannya yang
biasa mengepal kini terbuka, memohon maaf. "Saya juga salah,"
katanya, suaranya serak. "Saya yang paling keras menentang Bu Amilia. Saya
yang paling vokal mengusirnya. Saya yang paling membencinya. Padahal... padahal
dia hanya ingin membantu. Ampuni saya, warga sekalian. Ampuni saya, Bu
Amilia."
Satu per satu, warga yang selama ini menjadi pendukung
setia Mbah Sari, mulai berlutut. Bukan karena dipaksa, bukan karena takut,
tetapi karena kesadaran, kesadaran bahwa mereka telah salah, bahwa mereka telah
dibutakan oleh ketakutan dan kesombongan, bahwa mereka telah menyakiti
seseorang yang seharusnya mereka lindungi.
"Maafkan kami..."
"Kami salah..."
"Kami tidak tahu..."
"Bu Amilia... ampuni kami..."
Bisik-bisik itu terdengar di mana-mana, seperti doa yang
dipanjatkan dengan khusyuk, seperti pengakuan dosa yang keluar dari hati yang
paling dalam. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri seorang perempuan dengan jilbab
putih dan tas medis merah, seorang perempuan yang baru saja sadar dari
pingsannya beberapa jam yang lalu, yang tubuhnya masih lemah dan matanya masih
sayu, tetapi yang hatinya, hatinya cukup besar untuk memaafkan.
Amilia.
Ia datang, dituntun oleh Anita dan Yulia yang masih
khawatir dengan kondisinya. Ia berdiri di depan Mbah Sari, menatap perempuan
tua yang berlutut di depannya, menatap air mata yang mengalir di pipi yang
keriput, menatap tangan yang terbuka memohon maaf.
Dan Amilia, Amilia yang telah melalui semua fitnah, semua
kebencian, semua penolakan, tidak marah. Ia tidak berkata, "Sudah saya
bilang." Ia tidak berkata, "Sekarang kalian tahu." Ia tidak
berkata, "Kalian pantas mendapatkan ini."
Ia hanya berlutut di hadapan Mbah Sari, meraih tangan
keriput itu, dan menciumnya dengan hormat.
"Mbah," katanya, suaranya masih lemah tapi
hangat, "saya tidak pernah marah. Saya kecewa, saya sedih, saya hampir
menyerah. Tapi saya tidak pernah marah. Karena saya tahu, Mbah bukan orang
jahat. Mbah hanya... takut kehilangan."
Mbah Sari menangis lebih keras. Ia memeluk Amilia, memeluknya
erat-erat, seperti seorang ibu yang memeluk anaknya yang hilang dan akhirnya
ditemukan, seperti seorang guru yang memeluk muridnya yang ternyata lebih
bijaksana darinya, seperti seorang manusia yang memeluk manusia lain dalam
pengakuan bahwa mereka sama-sama lemah, sama-sama takut, sama-sama butuh untuk
dicintai.
"Ampuni saya, Nak..." bisik Mbah Sari di telinga
Amilia. "Ampuni saya yang sudah menyakitimu... yang sudah hampir
mengusirmu... yang sudah hampir membuatmu pergi..."
Amilia memeluknya balik, air matanya jatuh bukan air mata
kesedihan, bukan air mata kepahitan, tetapi air mata pelepas. Air mata yang
keluar ketika seseorang akhirnya memaafkan dan dimaafkan, ketika luka lama
mulai tertutup, ketika hati yang hancur mulai direkatkan kembali.
"Saya maafkan Mbah," bisik Amilia. "Saya
maafkan Mbah dengan sepenuh hati."
Mereka berdua menangis dalam pelukan, di hadapan puluhan
warga yang juga menangis, di bawah langit sore yang berwarna jingga keemasan,
di atas tanah yang telah menyaksikan begitu banyak konflik dan kini menyaksikan
perdamaian. Tangis yang tidak perlu diartikan dengan kata-kata, tangis yang
cukup dipahami oleh hati.
Setelah peristiwa itu, Desa Awan Biru perlahan-lahan tetapi
pasti mulai pulih. Bukan hanya dari wabah, wabah masih ada, pasien masih
banyak, dan perjuangan masih panjang. Tetapi dari perpecahan yang selama ini
membelah desa menjadi dua kubu yang saling membenci.
Warga yang tadinya hanya mau berinteraksi dengan
kelompoknya sendiri, kini mulai berbicara satu sama lain. Pendukung Mbah Sari
yang tadinya menghindari posko, kini datang membantu, membawa makanan,
membersihkan ruangan, menjaga pasien, dan belajar dari Siti dan Rini tentang
cara-cara perawatan modern yang selama ini mereka tolak.
"Bu, bagaimana cara memasang infus yang benar?"
tanya seorang ibu paruh baya kepada Siti, dengan mata yang penuh rasa ingin
tahu dan semangat belajar. Ibu itu adalah salah satu pendukung setia Mbah Sari,
yang dulu paling keras meneriakkan "KAMI TIDAK BUTUH PERUBAHAN!" Tapi
kini, ia duduk di samping Siti dengan buku catatan di pangkuannya, siap
mencatat setiap instruksi yang diberikan.
Siti tersenyum, lelah, tapi tulus. "Nanti saya ajari,
Bu. Tapi untuk sekarang, bantu saya mengganti kompres pasien nomor lima. Air
hangat, ya. Jangan air dingin."
"Baik, Bu."
Di sisi lain, Mbah Sari sendiri mulai belajar dari Amilia.
Setiap sore, setelah waktu istirahat dan setelah pasien-pasien yang kritis
stabil, Mbah Sari datang ke rumah dinas. Ia duduk di lantai kayu, dengan buku
catatan yang diberikan oleh Amilia, buku yang masih kosong, menunggu untuk
diisi dan mendengarkan dengan saksama setiap kata yang keluar dari mulut
Amilia.
"Jadi, Mbah," kata Amilia, sambil menunjukkan
diagram sederhana tentang sistem peredaran darah manusia, "demam berdarah
disebabkan oleh virus yang dibawa oleh nyamuk. Virus ini masuk ke aliran darah
dan menyerang sel-sel darah putih. Tubuh bereaksi dengan meningkatkan suhu
untuk melawan virus, tetapi jika terlalu tinggi, bisa menyebabkan kejang dan
kerusakan otak."
Mbah Sari mengangguk, matanya serius memperhatikan diagram
itu. "Dan bagaimana cara menghentikannya?"
"Tidak ada obat khusus untuk demam berdarah, Mbah.
Yang bisa kita lakukan hanyalah mengatasi gejalanya, menurunkan demam, mencegah
dehidrasi, menjaga tekanan darah, dan memantau trombosit. Jika trombosit turun
drastis, pasien butuh transfusi darah. Itu sebabnya kita harus segera merujuk
pasien dengan gejala berat ke puskesmas atau rumah sakit."
Mbah Sari menghela napas. "Berarti... ramuan saya
tidak bisa menyembuhkan?"
Amilia tersenyum, lembut, tidak menghakimi. "Ramuan
Mbah bisa membantu meredakan gejala, Mbah. Jahe dan kunyit bisa mengurangi
mual, madu bisa meningkatkan daya tahan tubuh, dan daun sirsak bisa membantu
menurunkan demam. Tapi untuk kasus yang parah, ramuan saja tidak cukup. Kita
butuh obat-obatan modern dan peralatan medis."
Mbah Sari menunduk, merenungkan kata-kata Amilia.
"Selama ini saya pikir ramuan saya bisa menyembuhkan segalanya,"
katanya pelan. "Saya pikir kekuatan doa dan ritual lebih kuat dari
obat-obatan. Tapi sekarang... saya sadar bahwa saya tidak bisa melawan alam
sendirian. Saya butuh ilmu. Saya butuh bantuan."
"Dan kami butuh Mbah," kata Amilia, menggenggam
tangan Mbah Sari yang keriput. "Kami butuh pengetahuan Mbah tentang
ramuan-ramuan tradisional yang bisa membantu pasien dengan gejala ringan. Kami
butuh wibawa Mbah untuk menenangkan warga yang panik. Kami butuh Mbah untuk
menjadi jembatan antara kami dan warga yang masih ragu. Kita tidak bisa bekerja
sendiri-sendiri, Mbah. Kita harus bekerja sama."
Mbah Sari menatap Amilia, matanya berkaca-kaca. "Kamu
benar, Nak. Kita harus bekerja sama. Saya terlalu lama berjalan sendirian. Saya
terlalu lama merasa bahwa hanya sayalah yang benar. Sekarang... saya ingin
belajar. Saya ingin berubah. Saya ingin menjadi bagian dari tim ini, jika kamu
mengizinkan."
Amilia tersenyum. "Tentu, Mbah. Dengan senang
hati."
Di sela-sela kesibukan merawat pasien dan belajar ilmu
baru, tidak lupa ada momen-momen kecil yang membuat mereka tertawa, tertawa
yang sangat dibutuhkan setelah pekan-pekan yang penuh dengan ketegangan dan air
mata.
Suatu sore, ketika Amilia sedang mengajari Mbah Sari cara
menggunakan tensimeter, alat pengukur tekanan darah yang selama ini hanya ia
lihat dari kejauhan, yang dulu ia anggap sebagai "alat aneh milik orang
kota", terjadi insiden kecil yang membuat semua orang yang hadir tertawa
terpingkal-pingkal.
"Jadi, Mbah," kata Amilia, sambil melilitkan
manset tensimeter di lengan Mbah Sari, "kita pompa sampai angka seratus
delapan puluh, lalu kita lepaskan pelan-pelan sambil mendengarkan denyut nadi
melalui stetoskop. Dengarkan bunyi pertama, itu adalah tekanan sistolik. Lalu
bunyi terakhir, itu adalah tekanan diastolik."
Mbah Sari mengangguk, serius. "Baik. Saya coba."
Ia memegang pompa karet dengan tangan kanannya, dan
stetoskop dengan tangan kirinya. Matanya berkonsentrasi penuh, lidahnya sedikit
terjulur—tanda ia sangat fokus. Lalu ia mulai memompa. Pompa... pompa...
pompa... manset di lengannya mengembang, semakin mengembang, semakin
mengembang, hingga Mbah Sari mengerutkan kening karena rasa tidak nyaman.
"Sampai seratus delapan puluh, Mbah," kata
Amilia, melihat jarum tensimeter.
Mbah Sari terus memompa. Jarum naik ke seratus sembilan
puluh. Dua ratus. Dua ratus sepuluh. Dua ratus dua puluh.
"Mbah, sudah cukup!" kata Amilia, setengah panik
setengah tertawa.
Tapi Mbah Sari terlalu fokus untuk mendengar. Ia terus
memompa, matanya tertuju pada jarum tensimeter yang terus naik, hingga
akhirnya—BLOK!—selang karet yang menghubungkan pompa ke manset terlepas dengan
suara keras, dan udara keluar dengan suara "pshhhhh" yang panjang dan
nyaring.
Mbah Sari terkejut, tangannya terlempar ke atas, dan
stetoskop yang ia pegang terlepas dan melayang di udara sebelum jatuh ke lantai
dengan suara berdebuk. Wajahnya yang tadinya serius, kini berubah menjadi
kebingungan yang lucu, matanya membulat, mulutnya terbuka sedikit, dan
ekspresinya, ekspresinya seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan
dan tidak tahu harus berbuat apa.
Amilia tidak bisa menahan tawa. Ia tertawa, tertawa lepas,
tertawa yang keluar dari perutnya, tertawa yang sudah lama tidak ia rasakan.
Anita dan Yulia yang sedang merapikan alat-alat medis di sudut ruangan, ikut
tertawa. Bahkan Siti dan Rini, yang sedang istirahat sejenak dari jadwal padat
mereka, ikut terpingkal-pingkal.
"Maaf, Mbah," kata Amilia di antara tawanya,
"saya lupa bilang... jangan dipompa terlalu keras. Nanti selangnya
lepas."
Mbah Sari menatap Amilia, lalu menatap tensimeter yang
masih tergeletak di lantai, lalu menatap tangannya sendiri yang masih memegang
pompa karet. Dan kemudian, sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun
selama puluhan tahun, Mbah Sari tertawa.
Ia tertawa. Tertawa kecil pada awalnya, seperti orang yang
tidak terbiasa tertawa dan masih ragu-ragu apakah diperbolehkan. Tapi kemudian,
ketika melihat wajah-wajah di sekitarnya yang juga tertawa, ketika merasakan
kehangatan yang menyebar di dadanya, ketika menyadari bahwa tertawa tidak
membuatnya kehilangan wibawa, ia tertawa lebih keras.
"Ah, dasar saya yang sudah tua," kata Mbah Sari,
sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Mau belajar sesuatu yang baru, malah
merusak barang."
"Tidak rusak, Mbah," kata Amilia, sambil
mengambil tensimeter dari lantai dan memasang kembali selang yang terlepas.
"Cuma lepas. Mari kita coba lagi. Pelan-pelan."
Kali ini, Mbah Sari memompa dengan hati-hati, matanya
sesekali melirik ke arah Amilia, memastikan ia tidak melakukan kesalahan yang
sama. Ketika jarum tensimeter mencapai seratus delapan puluh, ia berhenti
memompa, dan dengan lembut melepaskan katup, mendengarkan bunyi pertama melalui
stetoskop yang ia letakkan di telinganya.
"Saya... saya mendengar sesuatu!" seru Mbah Sari,
matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru.
"Ada bunyi... 'dung... dung... dung'... seperti detak jantung!"
"Itu denyut nadi Mbah sendiri," kata Amilia,
tersenyum. "Bagus, Mbah. Mbah sudah bisa menggunakan tensimeter."
Mbah Sari melepas stetoskop dari telinganya, menatap
tensimeter di tangannya dengan rasa kagum yang tidak pernah ia bayangkan
sebelumnya. "Ternyata... alat ini tidak sesulit yang saya bayangkan. Tidak
seseram yang saya kira. Tidak seaneh yang saya dengar dari orang-orang."
"Alat hanyalah alat, Mbah," kata Amilia.
"Yang membedakan adalah tangan yang menggunakannya. Tangan yang penuh
kasih sayang, yang ingin menolong, yang tidak menyerah—itulah yang membuat alat
menjadi berguna. Dan Mbah memiliki tangan itu."
Mbah Sari menatap tangannya sendiri, tangan yang keriput,
tangan yang sudah menolong ratusan persalinan, tangan yang sudah meracik ribuan
ramuan, tangan yang selama ini ia anggap sebagai satu-satunya senjata yang ia
miliki. Kini, tangan itu terbuka untuk memegang alat baru, untuk belajar ilmu
baru, untuk menjadi bagian dari tim yang lebih besar.
"Terima kasih, Nak," bisik Mbah Sari, matanya
berkaca-kaca. "Terima kasih sudah tidak menyerah padaku. Terima kasih sudah
mengajariku. Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa tidak ada kata terlambat
untuk belajar."
Pengakuan memang sering datang terlambat. Terlambat setelah
banyak luka yang tercipta, setelah banyak air mata yang tumpah, setelah banyak
nyawa yang hampir melayang. Terlambat setelah kesombongan dan ketakutan
menghancurkan jembatan-jembatan yang seharusnya menghubungkan.
Namun selama masih ada waktu, selama masih ada napas,
selama masih ada kesempatan untuk memperbaiki, pengakuan tidak pernah
benar-benar terlambat. Karena pengakuan adalah awal dari perdamaian. Pengakuan
adalah pintu menuju maaf. Pengakuan adalah tanah tempat benih-benih harapan
baru bisa tumbuh.
Di Desa Awan Biru, Mbah Sari akhirnya mengakui
kesalahannya. Ia mengakui bahwa ia terlalu sombong, terlalu takut kehilangan,
terlalu buta oleh tradisi hingga ia lupa bahwa yang terpenting adalah
menyelamatkan nyawa. Ia mengakui bahwa Amilia bukan musuh, melainkan sekutu. Ia
mengakui bahwa ilmu baru dan tradisi lama tidak harus bertentangan, tetapi bisa
berjalan berdampingan, saling melengkapi, saling menguatkan.
Dan Amilia, Amilia yang telah melalui semua fitnah, semua
kebencian, semua penolakan—memaafkan. Ia memaafkan bukan karena ia lemah, bukan
karena ia tidak punya pilihan, bukan karena ia dipaksa. Ia memaafkan karena ia
memilih untuk memaafkan. Ia memilih untuk tidak membiarkan kepahitan meracuni
hatinya. Ia memilih untuk menjadi jembatan, bukan tembok. Ia memilih untuk
melihat ke depan, bukan ke belakang.
Di desa yang dulu terbelah oleh kebencian, kini mulai
tumbuh persatuan. Di tanah yang dulu kering oleh konflik, kini mulai mengalir
air perdamaian. Di hati yang dulu tertutup oleh prasangka, kini mulai terbuka
untuk menerima perbedaan.
Wabah masih ada. Pasien masih banyak. Perjuangan masih
panjang.
Tapi untuk pertama kalinya, Desa Awan Biru bersatu. Bukan
bersatu dalam ketakutan, bukan bersatu dalam kepanikan, bukan bersatu dalam
keputusasaan. Bersatu dalam harapan. Bersatu dalam tekad. Bersatu dalam
keyakinan bahwa mereka akan melewati badai ini, bersama-sama, sebagai satu
keluarga, satu desa, satu hati.
Dan di tengah semua itu, Amilia tersenyum. Senyum yang
tidak lagi dipaksakan, senyum yang tidak lagi menyembunyikan luka, senyum yang
tulus, senyum yang lahir dari hati yang telah menemukan kedamaian.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Ia tidak tahu
apakah wabah ini akan segera berakhir atau justru semakin parah. Ia tidak tahu
apakah semua yang telah ia korbankan akan cukup untuk menyelamatkan desa ini.
Tapi ia tahu satu hal: ia tidak sendirian. Dan itu sudah
cukup. Itu sudah lebih dari cukup.
BAB 20: SENYUM YANG MENGHAPUS AIR MATA
(FINAL)
Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah Desa Awan
Biru yang tercatat dalam ingatan kolektif warganya, matahari terbit dengan
kemegahan yang luar biasa. Ia naik dari balik bukit-bukit hijau seperti raja
yang baru saja memenangkan perang, menyapa bumi dengan sinar keemasan yang
hangat dan penuh harapan. Kabut tipis yang biasanya menggantung di lembah dan
menciptakan suasana dingin yang misterius, pagi itu sirna seketika ketika
disentuh oleh cahaya pertama. Burung-burung berkicau dengan riang di antara
pepohonan, seolah-olah mereka juga merayakan sesuatu, sesuatu yang tidak mereka
mengerti tetapi mereka rasakan dalam getaran yang menyebar di udara.
Desa Awan Biru terbangun dengan suasana yang berbeda. Bukan
hanya berbeda, tetapi benar-benar baru. Seperti seseorang yang bangun dari
mimpi buruk yang panjang dan menyadari bahwa ia masih hidup, bahwa dunia masih
ada, bahwa masih ada hari esok yang layak untuk dijalani.
Wabah yang selama beberapa pekan terakhir menjadi momok
yang menakutkan, perlahan-lahan mulai mereda. Bukan karena obat mujarab yang
tiba-tiba ditemukan, bukan karena keajaiban yang turun dari langit, tetapi
karena kerja keras yang tidak pernah berhenti, karena persatuan yang akhirnya
terwujud, karena pengorbanan yang tidak pernah dihitung-hitungan. Pasien-pasien
yang tadinya terbaring lemah dengan demam tinggi dan tubuh yang menggigil, kini
mulai duduk, mulai tersenyum, mulai berbicara dengan suara yang tidak lagi
serak. Pasien-pasien yang tadinya hanya bisa menatap langit-langit dengan mata
kosong, kini mulai melihat ke luar jendela, melihat matahari, melihat
burung-burung yang terbang bebas, dan bersyukur bahwa mereka masih diberi
kesempatan untuk hidup.
Tim medis dari puskesmas dan dinas kesehatan akhirnya
datang dengan pasokan obat-obatan, alat-alat medis, dan tenaga tambahan. Mereka
terkejut ketika melihat bagaimana desa ini bertahan, bukan karena bantuan dari
luar, tetapi karena kekuatan dari dalam. Mereka terkejut ketika melihat Mbah
Sari, perempuan sepuh yang terkenal dengan kekerasan hatinya terhadap
"obat-obatan modern", kini duduk di samping Amilia, dengan tensimeter
di tangan dan stetoskop di telinga, memeriksa tekanan darah pasien dengan penuh
konsentrasi. Mereka terkejut ketika melihat warga yang tadinya terpecah menjadi
dua kubu yang saling membenci, kini bekerja berdampingan, ada yang memasak
makanan untuk pasien, ada yang membersihkan ruangan, ada yang menjaga anak-anak
yang ditinggal orang tuanya sakit, ada yang mengantar pasien ke puskesmas
dengan truk dan sepeda motor.
"Ini luar biasa," kata Dokter Hendra, kepala tim
medis yang datang dari kabupaten, setelah berkeliling melihat situasi. Wajahnya
yang tadinya serius dan penuh kekhawatiran, kini berubah menjadi kagum dan
terharu. "Saya sudah menangani wabah di beberapa desa. Biasanya, kepanikan
dan perpecahan memperburuk keadaan. Tapi di sini... saya melihat persatuan.
Saya melihat gotong royong. Saya melihat harapan. Ini... ini adalah contoh
bagaimana seharusnya sebuah desa menghadapi krisis."
Pak Iwan, yang berdiri di samping Dokter Hendra, tersenyum,
senyum yang lega, senyum yang tulus, senyum yang lahir dari kebanggaan yang
tidak perlu diucapkan. "Itu semua berkat satu orang, Dok. Bu Amilia. Bidan
desa kami. Beliau yang memulai semuanya. Beliau yang tidak menyerah ketika
semua orang menolaknya. Beliau yang mengorbankan kesehatannya sendiri untuk
orang lain."
Dokter Hendra menatap ke arah Amilia yang sedang sibuk
memeriksa pasien di sudut ruangan. Ia melihat seorang perempuan muda dengan
jilbab putih yang sudah kusam, dengan wajah yang masih pucat dan mata yang
masih sembab, dengan tangan yang masih sedikit gemetar tetapi bergerak dengan
cepat dan terukur. Ia melihat seorang perempuan yang telah melalui api dan air,
yang telah diuji oleh kebencian dan fitnah, yang telah jatuh dan bangkit lagi,
yang telah menjadi cahaya di tengah kegelapan.
"Saya ingin bertemu dengannya," kata Dokter
Hendra.
Dokter Hendra berjalan menuju Amilia yang sedang duduk di
samping seorang pasien. seorang kakek tua yang sudah tiga hari terbaring dengan
demam berdarah, yang trombositnya mulai naik setelah sempat turun drastis, yang
kini mulai bisa tersenyum dan bercanda meskipun masih lemah.
"Bu Amilia?" sapa Dokter Hendra, suaranya lembut
dan penuh hormat.
Amilia menoleh, sedikit terkejut. "Ya, Dok. Ada yang
bisa saya bantu?"
Dokter Hendra mengulurkan tangannya. "Saya Dokter
Hendra dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Saya sudah mendengar banyak tentang ibu
dari Pak Iwan dan tim puskesmas. Saya ingin berterima kasih. Ibu telah
melakukan pekerjaan yang luar biasa di sini. Di tengah keterbatasan, di tengah
penolakan, di tengah wabah yang ganas, ibu bertahan. Ibu menyelamatkan banyak
nyawa. Saya... saya hormat pada ibu."
Amilia menerima uluran tangan Dokter Hendra, menggenggamnya
dengan lembut. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tetapi karena terharu.
Selama ini, ia hanya menerima cemoohan dan tuduhan. Selama ini, ia hanya
berjuang sendirian tanpa pengakuan. Kini, untuk pertama kalinya, seorang
dokter, seorang profesional yang ia hormati, mengucapkan terima kasih dan
memberinya pengakuan.
"Terima kasih, Dok," kata Amilia, suaranya
bergetar. "Tapi saya tidak sendirian. Saya dibantu oleh banyak orang. Siti,
Rini, Anita, Yulia, Pak Iwan, Pak Santoso, Mbah Sari, para pemuda, dan semua
warga yang tidak menyerah. Mereka yang pantas mendapat pujian."
Dokter Hendra tersenyum. "Ibu rendah hati. Itu adalah
tanda orang yang benar-benar hebat. Tapi izinkan saya mengatakan, ibu adalah
katalisnya. Ibu adalah apinya. Ibu adalah yang memulai semuanya. Tanpa ibu,
mungkin desa ini sudah hancur."
Amilia tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memandang
tangannya sendiri, tangan yang telah memeriksa ratusan pasien, tangan yang telah
memasang infus di lengan-lengan yang kurus, tangan yang telah mengusap keringat
dari dahi-dahi yang panas, tangan yang telah memeluk mereka yang menangis dan
menenangkan mereka yang takut. Tangan yang hampir menyerah, tetapi pada
akhirnya memilih untuk bertahan.
"Saya hanya melakukan tugas saya, Dok," bisiknya.
"Itu saja."
Beberapa minggu setelah wabah dinyatakan berakhir, setelah
pasien terakhir dinyatakan sembuh, setelah rumah-rumah yang tadinya tertutup
rapat mulai dibuka jendelanya, setelah desa yang tadinya sunyi mulai ramai
kembali dengan aktivitas, Posyandu Desa Awan Biru kembali beroperasi. Namun
kali ini, berbeda.
Bukan hanya berbeda, tetapi benar-benar baru.
Pintu posyandu terbuka lebar sejak pagi. Ibu-ibu datang
dengan anak-anak mereka, bukan hanya beberapa, tetapi puluhan. Mereka datang
dengan senyum di wajah, dengan anak-anak yang sehat dan gemuk, dengan buku
catatan yang sudah siap untuk diisi. Mereka tidak lagi ragu, tidak lagi takut,
tidak lagi berbisik-bisik dengan kecurigaan. Mereka datang karena mereka
percaya. Mereka datang karena mereka tahu bahwa di posyandu ini, ada
orang-orang yang peduli pada mereka. Ada Amilia, bidan yang tidak pernah
menyerah. Ada Anita dan Yulia, kader yang setia. Ada Mbah Sari, yang kini
menjadi bagian dari tim.
"Selamat pagi, Bu Amilia!" sapa seorang ibu muda
dengan anak balita di gendongannya. "Anak saya mau ditimbang. Terakhir
kali ditimbang waktu posyandu pertama Bu Amilia dulu. Sekarang sudah gemukan,
lihat!"
Amilia tersenyum—senyum yang hangat, senyum yang tulus,
senyum yang tidak perlu dipaksakan. "Mari, Bu. Saya timbang. Namanya
siapa?"
"Rizki, Bu. Usia dua tahun enam bulan."
Amilia menimbang anak itu, mengukur tinggi badannya,
memeriksa suhunya, dan mencatat semua data di buku catatan yang sudah mulai menebal.
"Berat 13 kilogram, tinggi 90 sentimeter. Ideal, Bu. Asupan gizinya bagus.
Pertahankan."
Ibu itu tersenyum lebar, matanya berbinar-binar.
"Terima kasih, Bu. Semua berkat petunjuk Bu Amilia dulu. Saya ikuti saran
ibu, memberi sayur dan buah setiap hari, tidak hanya nasi dan telur. Anak saya
sekarang lahap makannya."
"Bagus, Bu. Teruskan."
Satu per satu, ibu-ibu datang dengan antrean yang panjang
namun teratur. Anita dan Yulia sibuk membantu, menimbang, mencatat, mengatur
jadwal imunisasi, dan sesekali menyelipkan kata-kata semangat kepada ibu-ibu
yang masih baru. Mbah Sari duduk di sudut ruangan, tidak lagi sebagai penonton
yang sinis, tetapi sebagai bagian dari tim. Ia membantu meracik ramuan-ramuan
tradisional untuk ibu hamil yang mengalami mual, untuk balita yang susah makan,
untuk lansia yang mengeluh pegal-pegal. Ia tidak lagi menolak obat-obatan
modern, tetapi menggabungkannya dengan pengetahuannya tentang tanaman obat,
menciptakan sinergi yang selama ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Mbah, ramuan untuk ibu hamil yang mual itu apa
saja?" tanya seorang ibu muda yang baru pertama kali datang ke posyandu.
Mbah Sari tersenyum, senyum yang ramah, senyum yang tidak
lagi dingin dan menakutkan. "Jahe, serai, dan sedikit madu, Nak. Rebus
dengan air secukupnya. Minum hangat-hangat. Tapi jangan terlalu banyak, nanti
perut jadi perih. Dan jangan lupa, kalau mualnya parah, konsultasi dulu dengan
Bu Amilia. Bisa jadi ada penyebab lain."
Ibu itu mengangguk, mencatat ramuan itu di buku catatannya
yang masih baru. "Terima kasih, Mbah."
Desa Awan Biru tidak lagi sama. Bukan hanya berbeda, tetapi
benar-benar baru. Perubahan itu tidak hanya terjadi di posyandu, tetapi di
setiap sudut desa, di setiap rumah, di setiap hati.
Jalan-jalan desa yang tadinya becek dan penuh lubang, kini
mulai diperbaiki secara gotong royong. Warga bergotong royong mengangkut batu
dan pasir, menimbun lubang-lubang, dan membuat saluran air agar tidak tergenang
saat hujan. Bukan karena ada perintah dari Pak Iwan, bukan karena ada proyek dari
pemerintah, tetapi karena kesadaran kolektif bahwa mereka harus membangun desa
mereka sendiri, bahwa mereka tidak bisa terus bergantung pada bantuan dari
luar, bahwa mereka memiliki kekuatan untuk berubah.
"Kita mulai dari yang kecil," kata Amat Junior,
yang memimpin proyek perbaikan jalan, sambil mengangkat batu besar dengan susah
payah. Wajahnya berkeringat, tangannya lecet, tetapi matanya berbinar-binar.
"Jalan setapak dulu. Nanti, kalau sudah bagus, kita ajukan proposal ke
pemerintah untuk jalan yang lebih besar. Tapi setidaknya, sekarang ibu-ibu
tidak perlu susah payah menggendong anak ke posyandu melewati lumpur."
Hermansyah yang sedang mengayunkan cangkul, menambahkan,
"Dan kita buat jembatan kecil di sungai. Kayu yang dulu sudah lapuk, kita
ganti dengan yang baru. Biar tidak licin. Biar aman."
Nadya yang membawa air minum untuk para pekerja, tersenyum.
"Kalian hebat. Dulu, kalian hanya duduk-duduk di bawah pohon beringin,
bergosip, dan bercanda. Sekarang, kalian membangun desa."
Guntur, yang sedang beristirahat sejenak sambil meminum air
dari gayung, menyahut, "Itu karena kami punya motivasi baru, Nad. Seorang
motivator yang tidak kenal lelah. Yang mengajarkan kami bahwa perubahan itu
mungkin. Yang tidak menyerah meskipun semua orang menolaknya."
"Bu Amilia," kata Bambang dengan nada datar, khasnya,
tetapi kali ini ada kehangatan di balik datarnya. "Dia mengubah kita.
Bukan dengan pidato, bukan dengan omelan, tetapi dengan contoh. Dia menunjukkan
bahwa satu orang bisa membuat perbedaan. Dan itu... itu menginspirasi kita
untuk juga membuat perbedaan."
Amat Junior mengangguk. "Iya. Kita tidak akan pernah
bisa membalas jasanya. Tapi setidaknya, kita bisa meneruskan semangatnya.
Membangun desa ini. Membuatnya lebih baik. Untuk anak-anak kita. Untuk cucu-cucu
kita. Untuk generasi yang akan datang."
Beberapa hari kemudian, Pak Iwan mengadakan musyawarah desa
di balai desa. Namun kali ini, berbeda. Tidak ada perdebatan sengit, tidak ada
teriakan yang memecah ruangan, tidak ada tuduhan yang saling melempar. Yang ada
hanya diskusi yang hangat, ide-ide yang mengalir, dan semangat untuk membangun
bersama.
"Warga sekalian," kata Pak Iwan, berdiri di depan
meja panjang dengan wajah yang berseri-seri. "Saya mengumpulkan kalian di
sini bukan untuk menyelesaikan konflik, karena konflik sudah kita selesaikan
bersama. Saya mengumpulkan kalian di sini untuk merencanakan masa depan. Desa
Awan Biru sudah melalui badai. Sekarang, saatnya kita membangun kembali. Lebih
baik dari sebelumnya."
Warga yang hadir, lebih dari seratus orang, hampir seluruh
kepala keluarga, menyimak dengan saksama. Tidak ada yang main-main, tidak ada
yang bergosip, tidak ada yang keluar masuk ruangan. Semua duduk dengan tenang,
mendengarkan, dan menunggu giliran untuk berbicara.
"Saya ingin mengusulkan beberapa program," lanjut
Pak Iwan. "Pertama, program kesehatan berkelanjutan. Posyandu akan
diadakan setiap minggu, bukan hanya sebulan sekali. Kita akan membentuk tim
kesehatan desa yang terdiri dari Bu Amilia, Mbah Sari, Siti, Rini, Anita,
Yulia, dan relawan-relawan muda. Tim ini akan bertugas memberikan penyuluhan,
pemeriksaan rutin, dan penanganan darurat."
Warga bertepuk tangan. Beberapa bersorak kecil.
"Kedua, program pendidikan untuk anak-anak. Kita akan
membangun perpustakaan desa sederhana. Buku-buku akan kita kumpulkan dari
sumbangan warga dan bantuan dari luar. Kita juga akan mengadakan les gratis
untuk anak-anak yang orang tuanya tidak bisa membimbing belajar."
Tepuk tangan kembali menggema.
"Ketiga, program pemberdayaan ekonomi. Ibu-ibu yang
bisa membuat kerajinan tangan, makanan ringan, atau produk lainnya, akan kita
bantu untuk memasarkan. Kita akan bekerja sama dengan desa-desa tetangga dan
kota untuk membuka akses pasar. Pemuda-pemuda yang punya keterampilan digital,
akan kita dorong untuk mempromosikan produk desa melalui media sosial."
Sorak-sorai terdengar lebih keras. Warga saling
berpandangan dengan senyum dan mata yang berbinar-binar.
"Dan keempat," kata Pak Iwan, suaranya meninggi
sedikit, "kita akan mengusulkan kepada pemerintah agar Desa Awan Biru
mendapatkan aliran listrik. Saya sudah berkoordinasi dengan PLN. Mereka
mengatakan bahwa desa kita masuk dalam program tahun depan. Insya Allah, tahun
depan, desa kita akan terang benderang."
Semua orang berdiri. Tepuk tangan bergemuruh, memecah
langit-langit balai desa yang sederhana. Beberapa orang menangis, menangis
karena harapan yang selama ini hanya mimpi, kini mulai terwujud. Beberapa orang
berpelukan, berpelukan dengan tetangga yang dulu mereka benci, yang dulu mereka
curigai, yang dulu mereka hindari. Beberapa orang hanya diam dengan senyum di
wajah, senyum yang mengatakan bahwa mereka telah menunggu ini sejak lama, dan
akhirnya, setelah sekian lama, hari itu tiba.
Pak Iwan menatap Amilia yang duduk di barisan depan, dengan
Mbah Sari di samping kanannya dan Anita di samping kirinya. Matanya
berkaca-kaca. "Dan semua ini," katanya, suaranya bergetar,
"tidak akan mungkin terjadi tanpa Bu Amilia. Bidan desa kita. Perempuan
yang tidak menyerah. Perempuan yang mengajarkan kita arti pengabdian. Perempuan
yang mengorbankan segalanya untuk desa ini."
Semua mata tertuju pada Amilia. Wajahnya memerah, bukan
karena malu, tetapi karena terharu. Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian.
Ia tidak terbiasa dipuji. Ia terbiasa bekerja di balik layar, terbiasa tidak
dihargai, terbiasa diabaikan. Kini, ketika semua mata tertuju padanya, ketika
semua hati terbuka untuknya, ia tidak tahu harus berkata apa.
"Bu Amilia! Bu Amilia! Bu Amilia!" teriak warga,
berulang-ulang, seperti sorak-sorai untuk pahlawan yang baru saja memenangkan
pertempuran.
Amilia berdiri. Tangannya gemetar, matanya basah, dan
suaranya serak ketika ia akhirnya bicara.
"Warga sekalian," katanya, suaranya nyaris tak
terdengar di tengah keriuhan. Tapi ketika ia mulai bicara, semua orang diam.
Bahkan anak-anak kecil yang tadinya berlarian, berhenti dan menatapnya.
"Saya... saya tidak tahu harus berkata apa,"
lanjut Amilia, suaranya bergetar. "Saya hanya melakukan tugas saya. Saya
hanya melakukan apa yang diajarkan oleh ibu saya. Saya hanya... mencoba menjadi
bidan yang baik. Tidak lebih dari itu."
Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu warga yang
hadir. Wajah-wajah yang dulu penuh kebencian, kini penuh cinta. Wajah-wajah
yang dulu menyudutkannya, kini mendukungnya. Wajah-wajah yang dulu mengusirnya,
kini memohonnya untuk tinggal.
"Ketika saya pertama kali datang ke desa ini,"
lanjut Amilia, "saya penuh harapan. Saya pikir, dengan ilmu saya, dengan
semangat saya, saya bisa langsung membuat perubahan. Tapi saya salah. Saya
tidak mengerti bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan. Perubahan butuh waktu.
Perubahan butuh kesabaran. Perubahan butuh... cinta."
Air matanya jatuh. Tidak bisa ia tahan lagi.
"Dan di desa ini," lanjutnya, "saya belajar
tentang cinta. Cinta yang tidak mudah, cinta yang harus diperjuangkan, cinta
yang kadang menyakitkan. Saya belajar bahwa untuk dicintai, kita harus terlebih
dahulu memberi cinta. Tanpa pamrih. Tanpa mengharapkan balasan. Tanpa
syarat."
Ia menatap Mbah Sari, yang duduk di sampingnya dengan mata
basah. "Saya belajar dari Mbah Sari bahwa tradisi bukan musuh. Tradisi
adalah akar. Dan kita tidak bisa membangun rumah yang kokoh tanpa akar yang
kuat."
Ia menatap Anita, Yulia, Rini, dan semua relawan yang telah
membantunya. "Saya belajar dari kalian bahwa kebersamaan adalah kekuatan.
Bahwa satu orang mungkin lemah, tetapi banyak orang yang bersatu, tidak ada
yang bisa mengalahkan."
Ia menatap Pak Iwan, Pak Santoso, Amat Junior, Hermansyah,
dan semua warga yang hadir. "Saya belajar dari kalian bahwa kesalahan bukan
akhir. Kesalahan adalah pelajaran. Dan kita bisa memulai lagi. Kapan saja.
Selama kita masih mau."
Ia menghela napas panjang, menghapus air matanya dengan
punggung tangan.
"Jadi, jangan berterima kasih pada saya,"
katanya. "Berterima kasihlah pada diri kalian sendiri. Karena kalian yang
memilih untuk berubah. Kalian yang memilih untuk bersatu. Kalian yang memilih
untuk tidak menyerah. Saya hanya... bagian kecil dari cerita besar ini."
Sunyi. Sepi. Dan kemudian, tepuk tangan bergemuruh lagi.
Lebih keras dari sebelumnya. Lebih lama dari sebelumnya. Lebih tulus dari
sebelumnya.
Sore itu, setelah musyawarah selesai dan warga pulang ke
rumah masing-masing dengan senyum di wajah dan harapan di hati, Amilia duduk di
bawah pohon beringin besar, pohon yang dulu menjadi saksi bisu penderitaannya,
pohon yang dulu menjadi tempat ia jatuh pingsan karena kelelahan, pohon yang
dulu menjadi batas antara dua dunia yang bertentangan.
Kali ini, pohon itu terasa berbeda. Daun-daunnya yang
rindang memberikan keteduhan yang sempurna. Akar-akarnya yang besar dan
menjalar terasa kokoh, seperti fondasi yang tidak akan pernah goyah. Angin sore
berhembus pelan, membawa aroma bunga melati dari kebun tetangga dan aroma tanah
yang hangat oleh sinar matahari.
Di sampingnya, duduk Anita, Yulia, Rini, dan Mbah Sari.
Mereka tidak bicara, hanya duduk dalam diam, menikmati keheningan yang nyaman,
menikmati kebersamaan yang tidak perlu diisi dengan kata-kata.
"Bu," kata Anita akhirnya, memecah keheningan,
"apa ibu akan tinggal selamanya di desa ini?"
Amilia menatap Anita, tersenyum. "Kenapa? Kamu ingin
aku pergi?"
"Tidak!" seru Anita cepat, hampir panik.
"Saya tidak ingin ibu pergi. Saya hanya... khawatir. Ibu adalah bidan
desa. Tugas ibu tidak selamanya di sini. Suatu hari, ibu bisa dipindahkan. Dan
kami... kami tidak siap kehilangan ibu."
Amilia menggenggam tangan Anita. "Aku tidak tahu apa
yang akan terjadi besok, Nit. Aku tidak tahu apakah aku akan dipindahkan atau
tidak. Tapi satu hal yang aku tahu, aku tidak akan pernah melupakan desa ini.
Aku tidak akan pernah melupakan kalian. Dan di mana pun aku berada, aku akan
selalu mendoakan desa ini. Aku akan selalu bangga menjadi bagian dari sejarah
desa ini."
Yulia menangis, bukan tangis sedih, tetapi tangis haru.
"Kami juga tidak akan melupakan ibu, Bu. Ibu adalah malaikat yang dikirim
Tuhan untuk desa ini. Ibu menyelamatkan kami, bukan hanya dari wabah, tetapi
dari kebencian kami sendiri. Ibu mengajarkan kami untuk saling mencintai,
saling memaafkan, saling membantu. Ibu... ibu mengubah kami."
Rini mengangguk, sambil menggendong bayinya yang kini sudah
mulai bisa tersenyum. "Bayi ini akan tumbuh besar, Bu. Dan saya akan
ceritakan padanya tentang ibu. Tentang bagaimana ibu menyelamatkan nyawanya.
Tentang bagaimana ibu berjuang untuk desa ini. Tentang bagaimana ibu tidak
pernah menyerah. Dia akan tahu bahwa ada seorang pahlawan bernama Bu
Amilia."
Mbah Sari yang sedari tadi diam, akhirnya bicara. Suaranya
pelan, nyaris berbisik, tetapi terdengar jelas di keheningan sore.
"Nak," panggil Mbah Sari, menggunakan panggilan
yang akrab, seperti seorang nenek kepada cucunya. "Saya sudah tua. Saya
tidak punya banyak waktu lagi di dunia ini. Tapi sebelum saya pergi, saya ingin
kamu tahu, kamu adalah anugerah terbesar yang pernah datang ke desa ini. Kamu
mengingatkan saya bahwa menjadi tua bukan alasan untuk berhenti belajar. Kamu
mengingatkan saya bahwa kesombongan adalah musuh terbesar. Kamu mengingatkan saya
bahwa cinta, cinta yang tulus, bisa mengalahkan segalanya."
Amilia menatap Mbah Sari, matanya basah. "Mbah... saya
hanya, "
"Jangan merendah," potong Mbah Sari, tersenyum.
"Terimalah pujian. Kamu pantas mendapatkannya. Kamu sudah berjuang terlalu
keras untuk tidak mendengar bahwa kamu hebat. Kamu hebat, Nak. Kamu lebih hebat
dari yang kamu kira. Dan desa ini berutang budi padamu."
Mereka berlima duduk di bawah pohon beringin hingga
matahari terbenam, hingga langit berwarna jingga keemasan, hingga burung-burung
mulai kembali ke sarangnya, hingga bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Mereka berbicara tentang banyak hal, tentang masa lalu, tentang masa depan,
tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai, tentang ketakutan-ketakutan yang masih
menghantui, tentang harapan-harapan yang mulai tumbuh.
Dan di tengah semua itu, Amilia tersenyum. Senyum yang
paling tulus dalam hidupnya. Senyum yang tidak perlu dipaksakan. Senyum yang
lahir dari hati yang telah menemukan kedamaian.
EPILOG: BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN
Beberapa tahun kemudian, Desa Awan Biru berubah drastis.
Bukan hanya berbeda, tetapi benar-benar baru. Perubahan itu tidak terjadi dalam
semalam, tidak terjadi dalam sebulan, tidak terjadi dalam setahun. Tetapi
terjadi setahap demi setahap, selangkah demi selangkah, sejengkal demi
sejengkal, seperti air yang mengikis batu, seperti angin yang membentuk gunung,
seperti cinta yang mengubah hati.
Listrik akhirnya datang ke Desa Awan Biru. Bukan listrik
yang besar dan megah seperti di kota, tetapi cukup untuk menyalakan lampu-lampu
di malam hari, cukup untuk mengisi daya ponsel dan laptop, cukup untuk
menghidupkan televisi di balai desa. Anak-anak yang dulu hanya bisa belajar di
bawah lampu minyak tanah yang redup, kini bisa belajar dengan cahaya yang
terang. Ibu-ibu yang dulu hanya bisa mendengarkan radio dengan baterai yang
cepat habis, kini bisa menonton televisi dan mendapatkan informasi dari luar.
Bapak-bapak yang dulu hanya bisa mengobrol di warung kopi hingga larut, kini
bisa berkumpul di rumah masing-masing, menikmati cahaya yang tidak pernah
padam.
Posyandu yang dulu hanya sebuah bangunan kecil dengan
dinding setengah tembok dan atap seng yang berkarat, kini telah direnovasi
menjadi balai kesehatan desa yang layak. Lantainya sekarang semen, tidak lagi
tanah becek. Dindingnya sekarang bata, tidak lagi anyaman bambu yang
bolong-bolong. Atapnya sekarang genteng, tidak lagi seng yang bocor. Di
dalamnya, tersedia alat-alat medis yang lebih lengkap—tensimeter digital,
termometer inframerah, timbangan digital, bahkan USG portabel yang bisa
digunakan untuk memeriksa kehamilan.
Mbah Sari, meskipun usianya sudah sangat tua dan tubuhnya
mulai rapuh, masih aktif membantu di balai kesehatan. Ia tidak lagi memegang
peran sebagai dukun beranak yang diandalkan, tetapi sebagai penasihat
tradisional yang dihormati. Ia mengajarkan ramuan-ramuan tradisional kepada
generasi muda, menggabungkannya dengan ilmu medis modern yang ia pelajari dari
Amilia. Ia tidak lagi merasa terancam dengan kehadiran bidan desa, karena ia
tahu bahwa mereka adalah tim, bukan musuh.
"Lihat, Nak," kata Mbah Sari suatu hari kepada
Amilia, ketika mereka sedang duduk di teras balai kesehatan, menikmati angin
sore yang sejuk. "Desa ini sudah berubah. Kita sudah berubah. Dan itu
semua karena kamu."
Amilia tersenyum, menggenggam tangan Mbah Sari yang
keriput. "Kita, Mbah. Karena kita. Karena kita memilih untuk berubah
bersama."
Mbah Sari tertawa kecil, tawa yang jernih, tawa yang bebas,
tawa yang tidak lagi menyembunyikan rasa sakit. "Kamu masih rendah hati,
Nak. Itu yang membuatmu istimewa."
Anita, yang dulu hanya seorang kader posyandu yang
ragu-ragu, kini telah menjadi bidan desa, lulusan program percepatan bidan desa
yang disponsori oleh pemerintah. Ia mengambil alih sebagian tugas Amilia ketika
Amilia harus ke puskesmas untuk bertugas. Wajahnya yang dulu selalu cemas, kini
lebih tenang dan percaya diri. Tangannya yang dulu gemetar ketika memegang alat
medis, kini bergerak dengan cepat dan terukur.
"Bu Amilia," kata Anita suatu hari, setelah
selesai menolong persalinan seorang ibu muda, persalinan pertamanya sebagai
bidan yang memimpin sendiri, tanpa didampingi Amilia. "Saya tidak akan
pernah bisa menjadi bidan yang baik tanpa bimbingan ibu. Ibu mengajarkan saya
bahwa menjadi bidan bukan hanya tentang ilmu, tetapi tentang hati. Dan saya
akan meneruskan apa yang ibu ajarkan kepada generasi berikutnya."
Amilia memeluk Anita, memeluknya erat, seperti seorang ibu
memeluk anaknya yang telah dewasa dan siap berdiri sendiri. "Kamu sudah
hebat, Nit. Kamu tidak perlu menjadi aku. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri.
Dan dirimu sudah lebih dari cukup."
Yulia, yang dulu hanya seorang ibu rumah tangga yang setia
membantu, kini menjadi koordinator relawan kesehatan desa. Ia mengelola jadwal
kunjungan rumah, mengatur distribusi obat-obatan, dan melatih relawan-relawan
baru. Ia tidak lagi hanya mengikuti perintah, tetapi memberikan instruksi. Ia
tidak lagi hanya diam di belakang, tetapi berbicara di depan.
"Bu Amilia," kata Yulia suatu hari, ketika mereka
sedang merapikan laporan bulanan di balai kesehatan. "Dulu, saya hanya
seorang perempuan takut-takutan. Saya takut pada Mbah Sari, takut pada warga,
takut pada apa kata orang. Tapi ibu mengajarkan saya bahwa ketakutan adalah
musuh terbesar. Ibu mengajarkan saya bahwa saya lebih kuat dari yang saya kira.
Dan untuk itu, saya berterima kasih."
Amilia menatap Yulia, matanya berkaca-kaca. "Kamu
kuat, Yu. Kamu selalu kuat. Kamu hanya perlu seseorang yang mengingatkanmu. Dan
aku bangga menjadi orang itu."
Rini, yang dulu hampir kehilangan bayinya karena persalinan
sungsang, kini menjadi salah satu relawan kesehatan yang paling aktif. Ia tidak
pernah lelah menceritakan pengalamannya kepada ibu-ibu hamil lainnya, tentang
bagaimana Amilia menyelamatkan nyawanya, tentang bagaimana pentingnya
pemeriksaan kehamilan rutin, tentang bagaimana ia tidak akan pernah melupakan
kebaikan yang telah diberikan kepadanya.
"Bu Amilia menyelamatkan bayi saya," kata Rini
kepada sekelompok ibu hamil yang sedang mengikuti penyuluhan di balai
kesehatan. "Kalau tidak ada Bu Amilia, mungkin saya sudah tidak ada di
sini. Mungkin bayi saya sudah tidak ada. Jadi, tolong, ikuti saran Bu Amilia.
Periksakan kehamilan kalian secara rutin. Jangan takut. Jangan malu. Karena
nyawa, nyawa kalian dan bayi kalian, lebih berharga dari segalanya."
Ibu-ibu itu mengangguk, mencatat, dan berjanji akan datang
ke posyandu setiap bulan.
Amat Junior, Hermansyah, Camelia, Guntur, Rangga, Bambang,
dan para pemuda lainnya, kini menjadi tulang punggung pembangunan desa. Mereka
tidak lagi hanya duduk-duduk di bawah pohon beringin, bergosip dan bercanda.
Mereka bekerja, membangun jalan, membuat jembatan, mengurus irigasi,
mengembangkan usaha ekonomi kreatif, dan mempromosikan desa melalui media
sosial.
Desa Awan Biru kini dikenal bukan hanya sebagai desa
terpencil di kaki gunung, tetapi sebagai desa wisata yang menawarkan keindahan
alam, keramahan penduduk, dan pengalaman budaya yang autentik. Wisatawan mulai
berdatangan, bukan banyak, tetapi cukup untuk menggerakkan ekonomi desa.
Ibu-ibu yang dulu hanya menganyam tikar untuk kebutuhan sendiri, kini menganyam
untuk dijual sebagai cinderamata. Pemuda-pemuda yang dulu hanya bertani untuk
kebutuhan sendiri, kini membuka homestay dan warung makan. Anak-anak yang dulu
hanya bermain di lumpur, kini bisa bersekolah dengan lebih baik karena desa
memiliki dana untuk membeli buku dan seragam.
"Bu Amilia," kata Amat suatu hari, ketika ia
sedang menunjukkan desa kepada seorang wisatawan dari kota. "Ini semua
berkat ibu. Ibu membuka mata kami bahwa desa ini punya potensi. Ibu mengajarkan
kami bahwa kami tidak harus terus menjadi penonton. Kami bisa menjadi aktor
dalam hidup kami sendiri."
Amilia tersenyum, menepuk pundak Amat. "Kalian yang
melakukannya, Mat. Aku hanya... mengingatkan."
Setahun setelah wabah berakhir, tepatnya pada hari yang
sama ketika Amilia jatuh pingsan di bawah pohon beringin, hari yang menjadi
titik balik bagi desa ini, Pak Iwan mengadakan acara peringatan di balai desa.
Bukan acara yang megah, bukan acara yang dihadiri oleh pejabat-pejabat penting,
tetapi acara yang sederhana dan penuh makna: acara syukuran dan penghargaan
untuk semua pihak yang telah berjasa selama wabah.
Balai desa yang sederhana itu, untuk pertama kalinya, penuh
sesak. Tidak hanya warga Desa Awan Biru, tetapi juga perwakilan dari puskesmas,
dinas kesehatan kabupaten, bahkan camat dan bupati hadir. Mereka datang bukan
karena diundang dengan surat resmi, surat menyurat di desa ini masih sangat
sederhana, tetapi karena mereka mendengar sendiri dari mulut ke mulut tentang
"desa yang berhasil melawan wabah dengan persatuan dan gotong
royong".
"Saudara-saudara sekalian," kata Pak Iwan,
berdiri di depan meja panjang dengan mikrofon sederhana yang suaranya sedikit
mendesis. "Hari ini, tepat satu tahun yang lalu, desa kita sedang dilanda
wabah. Banyak yang sakit. Banyak yang takut. Banyak yang hampir menyerah. Tapi
kita bertahan. Kita bersatu. Kita melawan. Dan kita menang."
Tepuk tangan bergemuruh. Beberapa orang menangis, mengingat
kembali hari-hari kelam itu, mengingat kembali ketakutan yang pernah
menyelimuti, mengingat kembali orang-orang yang hampir hilang.
"Kemenangan ini tidak datang begitu saja," lanjut
Pak Iwan. "Kemenangan ini datang karena kerja keras, pengorbanan, dan
cinta. Kemenangan ini datang karena seseorang memilih untuk tidak menyerah.
Seseorang yang bahkan ketika semua orang menolaknya, ia tetap tinggal.
Seseorang yang bahkan ketika semua orang membencinya, ia tetap membantu.
Seseorang yang bahkan ketika tubuhnya lelah dan sakit, ia tetap bekerja."
Semua mata tertuju pada Amilia yang duduk di barisan depan,
di samping Mbah Sari dan Anita.
"Bu Amilia," kata Pak Iwan, suaranya bergetar.
"Atas nama seluruh warga Desa Awan Biru, saya mengucapkan terima kasih.
Terima kasih sudah datang ke desa ini. Terima kasih sudah bertahan ketika semua
orang mengusirmu. Terima kasih sudah mengorbankan kesehatanmu untuk orang lain.
Terima kasih sudah mengajarkan kami arti pengabdian. Terima kasih sudah menjadi
cahaya di tengah kegelapan."
Ia mengambil sebuah kotak kecil dari saku bajunya, kotak
kayu sederhana yang diukir dengan tangan oleh pengrajin lokal. Ia membukanya,
dan di dalamnya terdapat sebuah plakat kecil bertuliskan:
"Dipersembahkan kepada Ibu Amilia, S.Tr.Keb
Bidan Desa Awan Biru
Atas pengabdian, pengorbanan, dan cinta yang tak terbatas
Engkau adalah pahlawan kami"
Amilia berdiri, tangannya gemetar ketika menerima plakat
itu. Ia menatap tulisan di atasnya, membaca setiap kata, mengucapkannya dalam
hati, dan merasakan hangatnya menyebar di dadanya.
"Saya... saya tidak tahu harus berkata apa,"
katanya, suaranya serak dan bergetar. "Saya hanya melakukan tugas saya.
Saya hanya... mencoba menjadi bidan yang baik. Tidak lebih dari itu."
"Tidak, Bu," kata Pak Iwan, matanya basah.
"Ibu lebih dari itu. Ibu adalah harapan. Ibu adalah inspirasi. Ibu adalah
alasan mengapa desa ini masih ada."
Warga berdiri. Tepuk tangan bergemuruh lagi. Lebih keras.
Lebih lama. Lebih tulus. Dan di tengah gemuruh tepuk tangan itu, Amilia
menangis, menangis bukan karena sedih, tetapi karena bahagia. Bahagia karena
akhirnya, setelah sekian lama, setelah semua air mata dan pengorbanan, ia diakui.
Ia dicintai. Ia dihargai.
Mbah Sari berdiri, berjalan ke arah Amilia, dan memeluknya.
"Kamu hebat, Nak," bisiknya. "Kami bangga padamu."
Anita, Yulia, Rini, dan semua relawan lainnya ikut memeluk,
memeluk Amilia dalam lingkaran cinta yang hangat dan tulus. Dan di luar balai
desa, matahari bersinar terang, burung-burung berkicau riang, dan angin sore
berhembus membawa aroma bunga melati, seperti alam sendiri ikut merayakan
kemenangan seorang pahlawan yang tidak pernah menyerah.
Beberapa tahun kemudian, ketika Amilia sudah tidak lagi
bertugas sebagai bidan desa di Awan Biru, karena ia dipindahkan ke desa lain
yang juga membutuhkan, karena tugas seorang bidan desa adalah mengabdi di mana
pun ia ditempatkan, namanya tetap hidup di hati setiap warga.
Setiap kali ada yang sakit, mereka teringat pada Amilia, pada
senyumnya yang hangat, pada tangannya yang lembut, pada suaranya yang
menenangkan. Setiap kali ada yang melahirkan, mereka teringat pada Amilia, pada
ketenangannya di tengah kepanikan, pada kecepatannya di tengah keterbatasan,
pada cintanya yang tidak pernah pilih kasih. Setiap kali ada yang merayakan
keberhasilan pembangunan desa, mereka teringat pada Amilia, pada pengorbanannya
yang membuka mata mereka, pada perjuangannya yang menyatukan mereka, pada
cintanya yang mengubah mereka.
Anita, yang kini menjadi bidan desa yang diandalkan, tidak
pernah lelah menceritakan tentang gurunya. "Bu Amilia mengajarkan saya
bahwa menjadi bidan bukan tentang gelar, bukan tentang gaji, bukan tentang
pengakuan. Menjadi bidan adalah tentang hati. Tentang hadir ketika orang lain
pergi. Tentang bertahan ketika semua orang menyerah. Tentang mencintai ketika
semua orang membenci."
Yulia, yang kini menjadi koordinator relawan kesehatan
desa, selalu memasang foto Amilia di kantornya, foto yang diambil pada hari
ketika wabah berakhir, ketika Amilia tersenyum untuk pertama kalinya setelah
sekian lama, senyum yang tidak dipaksakan, senyum yang tulus, senyum yang
menghapus semua air mata.
Mbah Sari, yang kini sudah sangat tua dan hampir tidak bisa
keluar rumah, masih menyimpan tensimeter pemberian Amilia di samping tempat
tidurnya. Ia tidak lagi bisa menggunakannya karena tangannya sudah terlalu
gemetar, tetapi ia suka memandangnya, mengingat-ingat masa-masa ketika ia
belajar dari Amilia, mengingat-ingat bagaimana seorang perempuan muda mengubah
hidupnya.
"Amilia," bisik Mbah Sari, ketika ia terbaring di
tempat tidurnya pada suatu malam, dengan bintang-bintang berkelap-kelip di
langit dan angin malam berhembus pelan. "Kamu adalah anugerah terbesar
dalam hidupku. Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah mengajariku.
Terima kasih sudah mencintaiku meskipun aku tidak pantas."
Dan di kejauhan, di desa lain yang juga terpencil, di rumah
dinas yang juga sederhana, Amilia terbaring di tempat tidurnya dengan senyum di
wajah. Ia memegang plakat pemberian warga Awan Biru, plakat yang selalu ia bawa
ke mana pun ia bertugas dan membacanya sekali lagi.
"Engkau adalah pahlawan kami."
Ia tersenyum. Bukan senyum sombong, bukan senyum bangga,
tetapi senyum haru, senyum yang lahir dari kesadaran bahwa semua perjuangannya,
semua air matanya, semua pengorbanannya, tidak sia-sia,
"Aku akan terus berjuang," bisiknya, seperti
janji yang ia ucapkan pada dirinya sendiri setiap malam. "Untuk mereka.
Untuk desa-desa lain yang juga membutuhkan. Untuk ibu. Untuk diriku
sendiri."
Ia memejamkan mata, dan dalam tidurnya, ia bermimpi, bermimpi
tentang desa Awan Biru yang damai dan sejahtera, tentang anak-anak yang tumbuh
sehat dan cerdas, tentang ibu-ibu yang melahirkan dengan selamat, tentang warga
yang saling menyayangi dan saling membantu. Ia bermimpi tentang masa depan yang
lebih baik, bukan hanya untuk satu desa, tetapi untuk semua desa di seluruh
Indonesia. Ia bermimpi tentang pengabdian yang tidak pernah berakhir, tentang
cinta yang tidak pernah pudar, tentang senyum yang menghapus air mata.
SELESAI







0 komentar:
Posting Komentar