LANGIT BIRU ANAK
DESA
Roman Inspiratif tentang Persahabatan, Pendidikan, dan
Mimpi dari Desa Tertinggal
Oleh: Slamet Riyadi
Disclaimer
Novel ini merupakan karya fiksi.
Seluruh tokoh, nama tempat, peristiwa, dialog, dan konflik dalam cerita ini
merupakan hasil imajinasi penulis. Kesamaan nama, tempat, latar, maupun
peristiwa dengan kehidupan nyata terjadi secara tidak disengaja.
Kisah ini ditulis sebagai penghormatan
bagi anak-anak desa, para guru, orang tua, dan masyarakat yang tetap percaya
bahwa pendidikan adalah cahaya yang mampu menuntun masa depan.
Setiap halaman dalam novel ini membawa
pesan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dari rumah-rumah
sederhana, jalan tanah, sekolah tua, dan kehidupan yang serba terbatas, dapat
tumbuh keberanian untuk belajar, bertahan, serta memberi arti bagi sesama.
Prolog
Langit yang Menyimpan Janji
Pagi di Desa Wanasari selalu datang
dengan cara yang perlahan. Kabut tipis menggantung di atas pematang sawah,
menyelimuti rumpun padi yang masih basah oleh embun. Dari kejauhan, suara ayam
jantan bersahut-sahutan, seolah saling mengabarkan bahwa malam telah selesai
dan hari baru harus segera dimulai.
Jalan tanah yang membelah desa tampak
lengang. Bekas roda pedati dan jejak kaki warga masih tertinggal di atas tanah
yang lembek setelah hujan semalam. Di sisi jalan, rumah-rumah kayu berdiri
sederhana dengan dapur-dapur yang mulai mengepulkan asap. Aroma kayu bakar,
kopi hitam, dan singkong rebus menyatu dengan udara pagi yang dingin.
Di salah satu pematang sawah, seorang
anak laki-laki berdiri diam. Usianya belum lebih dari dua belas tahun. Kakinya
tidak beralas sepatu, hanya sandal jepit lusuh yang warnanya telah memudar.
Celana seragam sekolahnya masih tergulung sampai lutut karena sebentar lagi ia
harus membantu ayahnya mencari rumput untuk kambing.
Anak itu bernama Rantaka Wening.
Di tangan kirinya, ia menggenggam
sebuah buku kecil yang sampulnya telah menguning. Sudut-sudutnya robek,
beberapa halamannya berlipat, dan ada bekas noda air di bagian tengahnya. Buku
itu bukan buku pelajaran. Bukan pula buku cerita yang dipinjam dari sekolah.
Buku itu adalah peninggalan kakeknya, Wening Sasmita, seorang lelaki tua yang
semasa hidupnya dikenal sebagai petani sederhana, tetapi selalu percaya bahwa
anak-anak harus belajar setinggi mungkin.
Rantaka membuka halaman pertama buku
itu. Tulisan tangan kakeknya masih tampak jelas meski tintanya mulai memudar.
“Jangan pernah takut
bermimpi, sebab langit tidak memilih siapa yang boleh menatapnya.”
Kalimat itu telah dibacanya
berkali-kali. Saat duduk di teras rumah, ketika menunggu ibunya menggoreng kue,
ketika hujan turun terlalu deras, bahkan ketika ia merasa lelah setelah
membantu ayahnya di ladang. Namun, pagi itu, di bawah langit yang mulai berubah
dari kelabu menjadi biru, kalimat itu terasa berbeda.
Rantaka mengangkat wajahnya.
Di atas sana, langit terbentang luas
tanpa pagar, tanpa batas, tanpa membedakan rumah siapa yang beratap genteng dan
rumah siapa yang hanya beratap seng tua. Langit yang sama menaungi rumah kepala
dusun, rumah para pedagang, rumah nelayan sungai, dan rumah kecil keluarganya
yang berdiri di ujung kampung.
“Apa yang kau lihat, Taka?”
Suara berat dari belakang membuat
Rantaka menoleh. Darma Wening, ayahnya, berdiri sambil membawa sabit dan seikat
tali dari serat pohon. Wajah lelaki itu tampak lelah, tetapi matanya selalu
menyimpan keteduhan yang membuat Rantaka merasa aman.
“Langit, Yah,” jawab Rantaka pelan.
Darma tersenyum. “Langit memang indah
kalau dilihat pagi-pagi.”
“Kalau aku sekolah terus, apa aku bisa
pergi jauh?” tanya Rantaka.
Ayahnya tidak segera menjawab. Ia
memandang hamparan sawah yang mulai terkena cahaya matahari. Lalu, dengan
tangan kasar yang biasa menggenggam cangkul dan sabit, ia menepuk bahu anaknya.
“Pergi jauh bukan hanya soal meninggalkan
desa,” katanya. “Kadang, orang yang tetap tinggal di desa pun bisa membawa
desanya menjadi lebih jauh dari sebelumnya.”
Rantaka belum benar-benar mengerti
maksud ayahnya. Ia hanya mengangguk sambil kembali memandangi langit. Dalam
hatinya, ada keinginan kecil yang belum berani ia ucapkan kepada siapa pun. Ia
ingin menjadi guru. Ia ingin mengajar anak-anak di desa agar mereka tidak takut
membuka buku, tidak malu menyebut cita-cita, dan tidak merasa bahwa masa depan
hanya milik anak-anak yang lahir di kota.
Namun, jalan menuju mimpi itu tidak
akan semudah jalan tanah yang ia lalui setiap pagi. Akan ada sekolah yang
hampir ditutup, persahabatan yang retak, hujan yang merobohkan harapan, dan
keadaan keluarga yang membuatnya hampir meninggalkan bangku belajar.
Pada hari-hari yang akan datang,
Rantaka akan belajar bahwa mimpi tidak hanya membutuhkan keberanian untuk
memulainya. Mimpi juga membutuhkan keteguhan untuk menjaganya ketika hidup
datang membawa ujian.
Pagi itu, sebelum berjalan bersama
ayahnya menuju ladang, Rantaka menutup buku peninggalan kakeknya. Ia
menyelipkannya ke dalam saku seragam yang sudah sedikit robek di bagian dada.
Kemudian ia melangkah menyusuri
pematang sawah.
Di atas Desa Wanasari, langit biru
perlahan terbuka.
Dan tanpa ia sadari, sebuah janji
sedang tumbuh di dalam dirinya—janji seorang anak desa yang kelak akan belajar
bahwa mimpi, seperti langit, tidak pernah terlalu tinggi untuk ditatap.
Bab 1
Jalan Tanah Menuju Pagi
Suara sabit yang menggesek rumput
basah terdengar pelan di antara embun pagi. Di belakang rumah-rumah kayu Desa
Wanasari, hamparan tanah lapang mulai disinari cahaya matahari yang masih
malu-malu muncul dari balik perbukitan.
Rantaka Wening berjalan di belakang
ayahnya sambil membawa karung goni kecil. Sandal jepit lusuh yang dipakainya
beberapa kali tenggelam ke dalam tanah lembek. Ujung celana pendeknya telah
basah terkena rumput dan lumpur, tetapi ia tidak mengeluh. Sejak kecil, ia
sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit.
Di tangan kanannya, ia menggenggam
tali kambing. Dua ekor kambing milik keluarga mereka berjalan perlahan sambil
sesekali berhenti untuk memakan rumput di pinggir jalan.
“Jangan terlalu dekat ke parit, Taka,”
kata Darma Wening tanpa menoleh. “Tanahnya masih licin.”
“Iya, Yah,” jawab Rantaka.
Ia mempercepat langkah. Di depan sana,
ayahnya sudah mulai memotong rumput dengan sabit tua yang gagangnya dibalut
kain. Gerakan Darma tampak teratur, seolah tangan kasarnya telah hafal betul
mana rumput yang layak dibawa pulang dan mana yang harus dibiarkan tumbuh.
Rantaka meletakkan karung goni di
tanah. Ia lalu ikut mencabut rumput dengan kedua tangan. Embun menempel di
telapak tangannya, dingin dan segar. Sesekali ia menoleh ke arah jalan desa
yang masih sepi.
Jalan itu adalah jalan yang sama yang
akan ia lewati menuju sekolah.
Jalan tanah berwarna cokelat, penuh
batu kecil, bekas roda sepeda, dan kubangan air jika hujan turun semalam. Bagi
sebagian orang, jalan itu hanya penghubung antara rumah, sawah, kebun, dan
pasar kecil di ujung desa. Namun bagi Rantaka, jalan itu adalah jalur menuju
sesuatu yang lebih besar.
Setiap kali berjalan ke sekolah, ia
selalu membayangkan dirinya mengenakan pakaian rapi, membawa buku-buku baru,
dan berdiri di depan kelas. Dalam bayangannya, ia memegang kapur putih dan
menulis huruf-huruf besar di papan tulis. Anak-anak duduk di hadapannya dengan
mata berbinar, menunggu cerita tentang dunia yang belum pernah mereka lihat.
“Taka.”
Panggilan ayahnya membuyarkan lamunan
itu.
“Rumputnya jangan dicabut sampai akar.
Nanti tidak tumbuh lagi.”
Rantaka mengangguk cepat. “Maaf, Yah.
Aku lupa.”
Darma berhenti memotong rumput. Ia
memandang anaknya yang sedang menunduk dengan wajah sedikit malu.
“Kau sedang memikirkan sekolah?” tanya
Darma.
Rantaka terdiam beberapa saat. Ia
tidak tahu mengapa ayahnya selalu dapat menebak isi kepalanya.
“Iya,” jawabnya akhirnya. “Aku tadi
membayangkan kalau suatu hari aku bisa jadi guru.”
Darma menaruh sabitnya di atas rumput.
Wajahnya yang lelah tampak lebih tenang ketika mendengar jawaban itu.
“Jadi guru itu pekerjaan baik,”
katanya. “Guru mengajarkan orang untuk membaca, menghitung, dan memahami
hidup.”
“Aku ingin mengajar di desa ini,” kata
Rantaka. “Supaya anak-anak tidak perlu takut sekolah.”
Darma tersenyum kecil. “Kalau begitu,
kau harus lebih rajin dari sekarang.”
Rantaka mengangguk. Namun, di dalam
hati, ia tahu bahwa rajin saja kadang belum cukup. Buku pelajarannya sudah
banyak yang lusuh. Sepatunya mulai sempit dan bagian depannya menganga. Seragam
putihnya tidak lagi benar-benar putih meski ibunya selalu mencucinya dengan
sabun seadanya.
Tetapi Rantaka tidak pernah
mengucapkan keluhannya. Ia tahu ibunya telah bekerja keras sejak subuh. Ia tahu
ayahnya pulang dari ladang dengan punggung membungkuk dan tangan penuh tanah.
Ia tidak ingin menambah beban mereka.
Setelah karung goni hampir penuh,
Darma mengikat mulutnya dengan tali. Ia mengangkat karung itu ke pundak,
sementara Rantaka membawa tali kambing dan sabit kecil.
“Pulang dulu,” kata Darma. “Kau harus
mandi dan bersiap ke sekolah.”
Mereka berjalan kembali melewati jalan
setapak di antara sawah. Matahari kini mulai naik. Cahaya kuning keemasan
memantul di genangan air, membuat pematang sawah tampak seperti garis-garis
panjang yang membelah bumi.
Di kejauhan, terdengar suara ibu-ibu
memanggil anak-anaknya. Ada yang menyuruh mandi, ada yang mengingatkan agar
segera memakai seragam, dan ada pula yang meminta anaknya membantu mengangkat
kayu bakar sebelum berangkat sekolah.
Desa Wanasari mulai hidup.
Ketika sampai di halaman rumah,
Rukmini sudah berdiri di depan dapur. Tangannya memegang serbet, sementara di
belakangnya tampak kukusan besar yang mengeluarkan uap putih. Aroma kue kukus
dan kelapa parut menyambut Rantaka begitu ia memasuki halaman.
“Kalian sudah pulang?” tanya Rukmini.
“Sudah, Bu,” jawab Rantaka sambil
menuntun kambing ke kandang kecil di samping rumah.
“Cepat mandi. Nanti terlambat.”
Rantaka mengangguk. Sebelum masuk ke
rumah, ia membantu ayahnya menaruh rumput ke dalam kandang. Kambing-kambing itu
segera mendekat dan mulai mengunyah dengan lahap.
Darma memandang anaknya dengan bangga.
“Setelah pulang sekolah, jangan lupa bantu Ibu mengantar kue.”
“Iya, Yah.”
Rantaka masuk ke rumah dan mengambil
ember kecil. Ia mandi di sumur belakang rumah dengan air yang dinginnya
menggigit kulit. Setelah itu, ia mengenakan seragam putih merah yang telah
disetrika ibunya semalam. Bagian kerahnya mulai tipis, tetapi masih bersih. Ia
mengenakan sepatu hitam tua yang solnya mulai terbuka sedikit di bagian depan.
Di meja kayu dekat jendela, terdapat
sebuah tas lusuh berwarna cokelat. Tas itu pernah menjadi milik pamannya, lalu
diberikan kepada Rantaka ketika ia masuk sekolah dasar. Di dalamnya ada dua
buku tulis, pensil pendek, penghapus yang tinggal separuh, dan buku kecil
peninggalan kakeknya.
Rantaka memasukkan buku kecil itu ke
dalam tas. Ia tidak selalu membawanya ke sekolah, tetapi pagi itu ia merasa
ingin menyimpannya dekat-dekat.
Di dapur, Rukmini telah menyiapkan
nasi hangat, sambal terasi, dan telur dadar tipis yang dibagi menjadi beberapa
potong kecil.
“Makan dulu,” kata Rukmini.
Rantaka duduk di tikar bersama ayah
dan ibunya. Mereka makan dalam keheningan yang akrab. Tidak banyak lauk di atas
meja, tetapi Rantaka selalu merasa makanan di rumahnya lebih nikmat daripada
apa pun yang pernah ia bayangkan.
Ketika ia hampir selesai makan,
Rukmini menatap sepatunya.
“Sepatumu makin rusak, ya?” katanya
pelan.
Rantaka menunduk. “Masih bisa dipakai,
Bu.”
“Nanti kalau jualan Ibu ramai, kita
beli lem.”
“Tidak usah, Bu. Aku bisa menjahitnya
pakai benang.”
Rukmini tersenyum tipis, tetapi
matanya menyimpan sesuatu yang membuat Rantaka tidak berani menatap terlalu
lama. Ia tahu ibunya ingin membelikan sepatu baru, tetapi ia juga tahu uang
hasil berjualan kue lebih banyak digunakan untuk membeli beras, minyak goreng,
dan keperluan rumah.
Darma meneguk air putih dari gelasnya.
“Sekolah yang benar, Taka. Jangan sia-siakan kesempatan.”
Rantaka mengangguk. “Aku akan belajar
sungguh-sungguh, Yah.”
Setelah berpamitan, ia menyampirkan
tas lusuh di punggungnya. Ia keluar dari rumah dan mulai berjalan menuju
sekolah.
Jalan tanah di depan rumah masih
basah. Beberapa anak kecil berlari sambil membawa sandal di tangan agar tidak
kotor terkena lumpur. Seorang ibu menyapu halaman, sementara seorang kakek
duduk di beranda sambil mengisap rokok linting.
Rantaka berjalan perlahan, tetapi
pikirannya sudah lebih dulu sampai di sekolah.
Di ujung jalan, ia melihat bangunan
tua SD Wanasari berdiri di dekat kebun singkong. Atapnya tampak miring dari
kejauhan. Dindingnya kusam. Halamannya dipenuhi rumput liar yang belum sempat
dibersihkan.
Namun, bagi Rantaka, bangunan itu
bukan sekadar sekolah tua.
Di sanalah ia belajar mengeja kata
pertama. Di sanalah ia mengenal angka, peta, cerita para pahlawan, dan dunia
yang lebih luas daripada sawah serta kebun di desanya. Di sanalah ia menyimpan
mimpi untuk menjadi seorang guru.
Rantaka berhenti sejenak di pinggir
jalan. Ia memandang langit yang kini benar-benar biru.
Lalu ia melanjutkan langkahnya.
Jalan tanah itu mungkin berlumpur,
sempit, dan penuh batu. Tetapi pagi itu, bagi Rantaka Wening, jalan tersebut
terasa seperti jalan pertama menuju masa depan.
Bab 2 — Rumah yang Selalu Berasap
Rumah Rantaka Wening berdiri di ujung
Desa Wanasari, sedikit menjauh dari deretan rumah warga yang lebih dekat dengan
jalan utama. Bangunannya tidak besar. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang
telah berubah warna karena hujan dan panas bertahun-tahun. Di beberapa bagian,
papan-papan itu tidak lagi rapat. Ketika angin malam datang dari arah sawah,
udara dingin dapat masuk melalui celah-celah kecil dan membuat lampu minyak di
ruang depan bergoyang pelan.
Atap rumah itu terbuat dari seng tua.
Jika hujan turun biasa, air hanya menetes di satu atau dua tempat. Namun, bila
hujan turun dengan angin yang kuat, Rukmini harus memindahkan tikar dan
meletakkan ember di bawah titik-titik bocor. Darma pernah beberapa kali mencoba
memperbaikinya dengan lembaran seng bekas, tetapi ia selalu berkata bahwa atap
itu masih dapat bertahan satu musim lagi.
Di halaman depan, tumbuh dua batang
pisang, satu pohon pepaya, dan beberapa tanaman cabai yang ditanam Rukmini
dalam kaleng bekas minyak goreng. Di sisi rumah terdapat kandang kecil untuk
dua ekor kambing. Kandang itu dibuat dari bambu dan kayu sisa pekerjaan Darma.
Di belakang rumah, sebuah sumur tua berdiri di bawah pohon jambu. Sumur itulah
yang menjadi sumber air untuk mandi, mencuci, memasak, dan memberi minum
ternak.
Rumah itu sederhana, tetapi tidak
pernah benar-benar sepi.
Sejak sebelum matahari terbit, suara
kehidupan sudah bergerak dari dalamnya. Ada bunyi kayu dibelah, bunyi air
ditimba dari sumur, bunyi kambing mengembik dari kandang, dan suara peralatan
dapur yang saling beradu. Namun, suara yang paling akrab bagi Rantaka adalah
bunyi kayu bakar yang mulai menyala di tungku.
Setiap pagi, dapur rumah mereka selalu
dipenuhi asap.
Asap itu keluar dari tungku tanah liat
yang diletakkan di sudut dapur. Mula-mula ia hanya tipis, seperti kabut kecil
yang berputar di bawah atap. Lalu, ketika kayu mulai terbakar lebih kuat, asap
itu menebal dan keluar melalui celah-celah dinding serta lubang kecil di atas
dapur. Dari kejauhan, orang yang melewati jalan setapak dapat melihat kepulan
kelabu itu dan mengetahui bahwa Rukmini sudah mulai bekerja.
Pagi itu, setelah Rantaka membantu
ayahnya mencari rumput, ia kembali ke rumah dengan kaki basah oleh embun. Ia
menaruh karung kecil di dekat kandang, lalu berjalan menuju dapur.
“Bu, aku sudah pulang,” katanya.
“Cuci tangan dulu,” jawab Rukmini dari
balik asap. “Jangan masuk dapur dengan tangan penuh tanah.”
Rantaka tersenyum kecil. Ia berjalan
ke tempayan di belakang rumah, membasuh tangan dan wajahnya, lalu kembali ke
dapur. Di sana, ibunya sedang duduk di atas bangku rendah sambil mengaduk
adonan dalam baskom besar. Rambut Rukmini disanggul sederhana. Wajahnya
berkeringat karena panas tungku. Di dekatnya, beberapa daun pisang telah
dipotong dan dibersihkan.
“Apa yang Ibu buat?” tanya Rantaka.
“Nagasari. Pak Sastro pesan dua puluh
bungkus.”
“Banyak.”
“Kalau habis terjual, lumayan untuk
belanja dapur.”
Rantaka duduk di dekat pintu dapur. Ia
memandangi tangan ibunya yang bergerak cepat. Rukmini mengambil selembar daun
pisang, meletakkan adonan dan pisang di tengahnya, lalu melipatnya dengan rapi.
Gerakannya begitu teratur, seolah setiap lipatan telah dihafalnya sejak lama.
“Boleh aku membantu?” tanya Rantaka.
Rukmini menoleh dan tersenyum. “Boleh.
Ambilkan daun pisang yang di atas meja.”
Rantaka segera melakukannya. Ia
menyerahkan daun-daun pisang itu satu per satu. Sesekali ia mencoba meniru cara
ibunya membungkus kue, tetapi hasilnya selalu kurang rapi. Ada yang terlalu
longgar, ada yang terlipat miring, dan ada yang hampir terbuka ketika diangkat.
Rukmini tidak tertawa. Ia hanya
membetulkan lipatan itu dengan sabar.
“Kalau membungkus, tanganmu jangan terburu-buru,”
katanya. “Daunnya harus dilipat seperti ini. Pelan, tetapi kuat.”
Rantaka mencoba lagi. Kali ini,
lipatannya lebih baik.
“Nah,” kata Rukmini, “yang itu sudah
bagus.”
Pujian sederhana itu membuat Rantaka
merasa seolah baru saja berhasil menyelesaikan sesuatu yang besar.
Di ruang depan, Darma Wening sedang
duduk di atas bangku bambu. Ia membersihkan sabit dengan kain tua. Kakinya
masih tampak kotor oleh tanah ladang. Di sampingnya terdapat tali, cangkul
kecil, dan topi anyaman yang biasa dipakainya saat bekerja.
Darma bukan pemilik sawah. Ia bekerja
dari satu ladang ke ladang lain, bergantung pada siapa yang membutuhkan
tenaganya. Saat musim tanam, ia mencangkul tanah dan menanam padi. Saat musim
panen, ia membantu memotong padi, mengikat gabah, atau mengangkut karung.
Ketika tidak ada pekerjaan di sawah, ia membersihkan kebun, memperbaiki pagar,
atau membantu warga membawa kayu dari pinggir hutan.
Tidak semua hari menghasilkan uang.
Kadang Darma pulang membawa upah yang
cukup untuk membeli beras. Kadang ia hanya membawa singkong, sayur, atau
beberapa butir telur dari pemilik kebun. Namun, Rantaka tidak pernah mendengar
ayahnya mengeluh. Lelaki itu selalu berkata bahwa selama tangan masih kuat
bekerja, rumah mereka akan tetap memiliki makanan.
“Yah,” panggil Rantaka dari dapur.
Darma mengangkat wajahnya. “Iya?”
“Besok Bapak kerja di mana?”
“Di kebun Pak Karta, kalau jadi. Ada
singkong yang harus dibersihkan.”
“Jauh?”
“Tidak terlalu. Lewat jalan sungai.”
Rantaka mengangguk. Ia ingin bertanya
apakah ayahnya akan lelah, tetapi pertanyaan itu tertahan di tenggorokannya. Ia
tahu Darma pasti lelah. Namun, ayahnya tetap akan pergi, seperti hari-hari
sebelumnya.
Darma melihat Rantaka yang terdiam.
“Kau tidak perlu memikirkan pekerjaan
Bapak,” katanya lembut. “Kau cukup memikirkan tugasmu.”
“Tugasku belajar?” tanya Rantaka.
Darma mengangguk. “Belajar yang baik.
Itu juga pekerjaan.”
Jawaban itu membuat Rantaka menatap
ayahnya lebih lama.
Selama ini, ia selalu menganggap
belajar sebagai sesuatu yang biasa. Ia pergi membawa tas, duduk di kelas,
membuka buku, lalu pulang. Tetapi dari cara ayahnya berbicara, ia mulai
memahami bahwa belajar bukan hanya kegiatan untuk mengisi waktu. Belajar adalah
pekerjaan yang dipercayakan kepadanya oleh kedua orang tuanya.
Rukmini menaruh beberapa bungkus
nagasari ke dalam tampah.
“Nanti kalau pulang,” katanya kepada
Rantaka, “tolong bantu Ibu mengantar beberapa pesanan.”
“Aku bisa, Bu.”
“Jangan lupa istirahat juga.”
“Aku tidak apa-apa.”
Rukmini menghela napas pelan. “Ibu
tahu kau ingin membantu. Tetapi jangan sampai kau meninggalkan buku-bukumu.”
Rantaka mengangguk.
Ia tidak pernah merasa keberatan
membantu ibunya. Justru ketika melihat Rukmini bekerja sejak subuh, ia sering
merasa bahwa dirinya belum cukup banyak melakukan sesuatu. Namun, ia juga tahu
bahwa ibunya selalu ingin ia memiliki kesempatan yang tidak dimiliki banyak
orang di desa.
Menjelang sore, rumah itu kembali
sibuk.
Rukmini menata kue-kue ke dalam
keranjang rotan. Darma memberi makan kambing dan memperbaiki bagian kandang
yang mulai longgar. Rantaka menyapu halaman, mengambil air dari sumur, lalu
membantu ibunya membawa daun pisang yang tersisa ke dapur.
Saat matahari mulai condong, ia duduk
di teras rumah sambil memeriksa tas sekolahnya. Tali salah satu sisi tas itu mulai
robek. Ia mengambil jarum dan benang dari kotak jahit kecil milik ibunya, lalu
mencoba menjahitnya sendiri.
Beberapa kali jarum menusuk ujung
jarinya.
“Pelan-pelan,” kata Rukmini yang
keluar membawa segelas air putih. “Kalau terlalu dipaksa, malah putus.”
Rantaka mengangguk sambil meniup
jarinya yang sedikit merah.
“Masih bisa dipakai,” katanya. “Tas
ini belum rusak benar.”
Rukmini duduk di sampingnya. “Kau
ingin tas baru?”
Rantaka menggeleng. “Tidak perlu. Yang
penting masih bisa membawa buku.”
Wajah Rukmini tampak tenang, tetapi
matanya menyimpan kesedihan yang tidak diucapkannya. Ia tahu anaknya tidak
meminta banyak karena memahami keadaan rumah mereka.
“Kalau ada rezeki lebih,” kata
Rukmini, “Ibu belikan.”
“Nanti saja, Bu.”
Dari dalam rumah, Darma memanggil
istrinya. Ia sedang menghitung uang hasil kerja beberapa hari terakhir.
Lembaran uang itu tidak banyak. Ia membaginya perlahan: untuk beras, minyak
goreng, keperluan kambing, dan sedikit simpanan di dalam kaleng tua.
Rantaka melihat semua itu dari teras.
Ia tidak tahu berapa jumlah uang yang
tersisa. Ia tidak perlu tahu. Dari cara ayahnya menghitung dengan hati-hati,
dari cara ibunya menahan keinginan membeli banyak kebutuhan, dan dari cara
rumah itu selalu berasap setiap pagi, ia mulai memahami bahwa hidup mereka
berjalan dengan perjuangan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Malam datang tanpa banyak suara.
Rukmini kembali menyalakan tungku
untuk menghangatkan makanan. Asap tipis naik ke atas, memenuhi dapur, lalu
keluar melalui celah dinding. Darma duduk di dekat pintu, sementara Rantaka
menyiapkan buku-bukunya untuk esok hari.
Ia memandangi tas yang baru saja
dijahitnya.
Tas itu lusuh. Seragamnya tidak lagi
seputih dulu. Sepatunya mulai sempit. Namun, semua itu masih dapat dipakai
untuk berjalan menuju sekolah.
Rantaka menatap asap yang mengepul
dari dapur.
Baginya, asap itu bukan sekadar tanda
kayu yang terbakar. Asap itu adalah tanda bahwa ibunya masih memasak, ayahnya
masih bekerja, dan rumah mereka masih bertahan.
Di dalam rumah sederhana yang selalu
berasap itu, Rantaka menyimpan satu keyakinan kecil: selama ia masih dapat
membawa buku dan melangkah keluar rumah setiap pagi, ia tidak boleh
menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar.
Bab 3 — Sekolah di Ujung Kebun Singkong
Pagi berikutnya, setelah membantu
ibunya menata beberapa bungkus kue ke dalam keranjang dan memastikan
kambing-kambing di samping rumah sudah diberi makan, Rantaka Wening mengenakan
seragam putih merahnya. Seragam itu telah disetrika Rukmini dengan setrika
arang semalam. Meski bagian kerahnya mulai menipis dan warna putihnya tidak
lagi secerah milik anak-anak dari rumah yang lebih berada, Rantaka tetap
merapikannya dengan hati-hati.
Ia memasukkan dua buku tulis, pensil
pendek, penghapus kecil, dan penggaris plastik yang salah satu ujungnya patah
ke dalam tas lusuhnya. Setelah itu, ia menyampirkan tas tersebut ke punggung.
“Berangkat, Bu,” katanya dari ambang
pintu.
Rukmini yang sedang menyiapkan
keranjang kue menoleh. “Jalannya hati-hati. Kalau hujan turun, jangan lewat
pinggir parit.”
“Iya, Bu.”
Darma sedang mengikat tali di kandang
kambing. Ia menatap anaknya dan mengangguk pelan.
“Belajar yang sungguh-sungguh,”
katanya.
Rantaka menjawab dengan anggukan yang
lebih mantap. Lalu ia melangkah keluar dari halaman rumah.
Jalan menuju SD Wanasari tidak
panjang, tetapi cukup melelahkan ketika musim hujan datang. Jalan itu melewati
pematang sawah, sebuah jembatan bambu kecil, lalu kebun singkong yang tumbuh
rapat di sisi timur desa. Tanahnya merah kecokelatan dan mudah berubah menjadi lumpur.
Jika matahari terlalu terik, debu akan menempel di kaki dan celana. Jika hujan
turun, jalan itu menjadi licin dan membuat anak-anak harus berjalan perlahan
agar tidak tergelincir.
Rantaka telah melewati jalan itu
hampir setiap hari sejak pertama kali masuk sekolah.
Di tengah perjalanan, ia bertemu
beberapa anak dari dusun lain. Ada yang membawa buku dalam tas baru, ada yang
hanya membungkus bukunya dengan plastik agar tidak basah, dan ada pula yang
berjalan sambil menggandeng adik kecilnya. Mereka saling menyapa, lalu kembali
melanjutkan perjalanan dengan langkah masing-masing.
Dari kejauhan, bangunan SD Wanasari
mulai terlihat.
Sekolah itu berdiri di tanah lapang
yang berbatasan langsung dengan kebun singkong. Bangunannya memanjang, terdiri
atas beberapa ruang kelas yang berdinding papan. Cat dindingnya sudah kusam. Di
beberapa bagian, warna biru pucat yang dahulu menghiasi papan-papan kayu telah
mengelupas dan menyisakan warna kayu tua.
Atap sengnya tampak miring di bagian
belakang. Ketika hujan turun, air sering merembes dari celah-celahnya. Di dalam
beberapa ruang kelas, ember dan kaleng bekas selalu disimpan untuk menampung
tetesan air. Jendela-jendela kayunya tidak semua memiliki kaca. Sebagian hanya
menyisakan bingkai kosong, sehingga angin dari kebun singkong dapat masuk
dengan bebas.
Namun, setiap pagi, sekolah itu tetap
dipenuhi suara anak-anak.
Ada yang berlari di halaman, ada yang
menyapu lantai kelas, ada yang berdiri di dekat tiang bendera sambil
berbincang, dan ada pula yang duduk di bawah pohon ketapang sambil membuka
buku. Suara mereka membuat bangunan tua itu terasa lebih hidup daripada yang
terlihat dari kejauhan.
Rantaka masuk melalui gerbang bambu
yang salah satu sisinya sudah longgar. Di halaman, rumput tumbuh tidak rata.
Sebagian tanah tampak keras dan retak karena panas, sementara di bagian lain
masih ada genangan kecil sisa hujan semalam.
Ia berjalan menuju kelas enam yang
berada di ujung bangunan.
Di depan pintu kelas, sebuah papan
kayu tergantung miring. Tulisan di atasnya sudah pudar, tetapi masih dapat
dibaca: KELAS VI.
Rantaka masuk dan meletakkan tasnya di
atas meja. Meja itu penuh goresan dan tulisan lama. Salah satu kakinya lebih
pendek daripada yang lain, sehingga harus disangga dengan potongan kayu kecil
agar tidak bergoyang.
Ruang kelas itu tidak luas. Dindingnya
dari papan, lantainya dari semen kasar, dan papan tulis di depan kelas telah
kusam oleh bekas kapur yang sulit hilang. Di sudut ruangan terdapat lemari kayu
tua yang pintunya sulit ditutup. Sebuah peta Indonesia tergantung di dinding,
warnanya mulai pudar dan bagian ujung bawahnya sedikit sobek.
Rantaka memandangi peta itu beberapa
saat.
Ia belum pernah pergi jauh dari Desa
Wanasari. Namun, melalui peta itu, ia tahu bahwa ada banyak pulau, kota, laut,
dan tempat-tempat yang belum pernah ia lihat. Peta itu membuat dunia terasa
sangat luas, tetapi sekaligus membuatnya ingin terus belajar.
Bel masuk belum berbunyi. Beberapa
murid mulai berdatangan. Ada yang membawa bekal, ada yang membawa buku dengan
sampul plastik, dan ada yang datang dengan seragam yang sudah kusut. Mereka
mengisi ruang kelas dengan suara obrolan dan tawa kecil.
Tidak lama kemudian, seorang perempuan
datang dari arah kantor sekolah sambil membawa beberapa buku di dadanya.
Ia mengenakan kebaya sederhana
berwarna cokelat muda dan rok panjang hitam. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya
tampak tenang, tetapi ada kelelahan yang tidak dapat sepenuhnya disembunyikan
dari sorot matanya.
Perempuan itu adalah Bu Laras.
Bu Laras telah mengajar di SD Wanasari
selama bertahun-tahun. Ia bukan hanya guru kelas enam, tetapi sering pula
membantu kelas lain ketika guru yang lain berhalangan hadir. Ia mengajar
membaca, menulis, berhitung, ilmu pengetahuan, dan kadang-kadang mengajarkan
anak-anak cara merawat tanaman di halaman sekolah.
Bagi sebagian murid, Bu Laras dikenal
tegas. Ia tidak suka melihat anak-anak datang terlambat tanpa alasan. Ia juga
tidak membiarkan murid-murid menertawakan teman yang belum bisa membaca atau
berhitung. Namun, di balik ketegasannya, ia selalu berbicara dengan suara yang
lembut dan tidak pernah mempermalukan siapa pun.
“Selamat pagi, Anak-anak,” ucapnya
ketika memasuki kelas.
“Selamat pagi, Bu Laras,” jawab
murid-murid serempak.
Bu Laras meletakkan buku-bukunya di
meja. Ia memandang satu per satu wajah muridnya. Pandangannya berhenti sebentar
pada jendela yang kosong tanpa kaca. Angin pagi masuk dan membuat beberapa
lembar kertas di meja depan bergerak.
“Siapa yang tadi pagi menyapu kelas?”
tanyanya.
Dua anak di bangku depan mengangkat
tangan.
“Terima kasih. Kelas yang bersih
membuat kita lebih nyaman belajar.”
Bu Laras mengambil kapur dan menulis
di papan tulis. Huruf-huruf putih itu tampak jelas di atas papan yang sudah
tua.
Pelajaran Hari Ini:
Mengenal Negeri Kita
Rantaka membuka buku tulisnya. Ia
memperhatikan tulisan Bu Laras dengan sungguh-sungguh.
“Anak-anak,” kata Bu Laras, “kita
tinggal di sebuah desa yang kecil. Tetapi desa kecil bukan berarti dunia kita
juga kecil.”
Suasana kelas perlahan menjadi hening.
Bu Laras berjalan ke arah peta Indonesia
yang tergantung di dinding. Ia memegang salah satu ujung peta yang sobek, lalu
menunjuk pulau-pulau besar dengan penggaris kayu.
“Negeri kita luas. Ada banyak tempat
yang dapat kalian kenal melalui buku, pelajaran, dan cerita. Kalian mungkin
belum pernah melihatnya langsung. Tetapi belajar akan membuat kalian mengerti
bahwa dunia tidak berhenti di ujung jalan desa.”
Rantaka menatap peta itu tanpa
berkedip.
Kata-kata Bu Laras seperti membuka
jendela yang selama ini tidak ia sadari ada di dalam dirinya. Ia membayangkan
laut yang sangat luas, kota-kota yang ramai, dan sekolah-sekolah besar yang
memiliki banyak buku. Namun, ia tidak merasa ingin meninggalkan desa begitu
saja.
Ia justru membayangkan suatu hari
dapat kembali membawa pengetahuan untuk anak-anak di Wanasari.
“Siapa yang bisa menyebutkan alasan
kita harus belajar?” tanya Bu Laras.
Beberapa murid saling memandang. Ada
yang menunduk. Ada yang tersenyum malu-malu.
Rantaka mengangkat tangan.
“Supaya kita bisa tahu banyak hal,
Bu,” jawabnya.
Bu Laras mengangguk. “Betul. Ada
lagi?”
Rantaka berpikir sebentar. “Supaya
kita bisa memilih jalan hidup kita sendiri.”
Kelas menjadi lebih hening.
Bu Laras memandang Rantaka dengan mata
yang hangat. “Jawaban yang baik.”
Ia kembali ke depan kelas. “Belajar
bukan hanya agar kalian bisa mendapat nilai. Belajar membuat kalian mampu
memahami hidup, mengambil keputusan, dan membantu orang lain.”
Pelajaran berlangsung sampai matahari
mulai tinggi. Sesekali angin dari kebun singkong masuk melalui jendela yang
kosong. Daun-daun singkong bergoyang di luar, menimbulkan suara gesekan lembut.
Dari atap, terdengar bunyi seng yang memuai terkena panas.
Di tengah pelajaran, sebuah tetesan
air jatuh dari langit-langit tepat di dekat meja belakang. Bekas hujan semalam
rupanya masih tertahan di celah atap. Seorang murid segera memindahkan kursinya
sedikit ke samping.
Bu Laras melihatnya, lalu mengambil
ember kecil dari sudut kelas dan meletakkannya di bawah titik bocor itu.
Tidak ada yang tertawa.
Semua murid sudah terbiasa.
Rantaka memandangi ember itu cukup
lama. Ia merasa sedih melihat sekolah mereka harus menampung air hujan di dalam
kelas. Namun, ketika melihat Bu Laras tetap melanjutkan pelajaran dengan
tenang, ia kembali membuka bukunya.
Seolah-olah guru mereka ingin
mengatakan bahwa bangunan yang tua tidak boleh membuat semangat belajar ikut
runtuh.
Saat pelajaran berakhir, Bu Laras
menutup bukunya.
“Besok,” katanya, “kalian membawa satu
cerita dari rumah. Cerita tentang pekerjaan orang tua, keadaan kampung, atau
sesuatu yang kalian lihat dalam perjalanan menuju sekolah. Kita akan belajar
menulis dari hal-hal yang dekat dengan hidup kita.”
Murid-murid mengangguk.
Rantaka segera teringat pada dapur
rumahnya, asap dari tungku, tangan ibunya yang membungkus nagasari, dan ayahnya
yang membersihkan sabit sebelum berangkat bekerja. Ia belum tahu bagaimana
menuliskan semua itu. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kehidupan
sederhana di rumahnya juga dapat menjadi sebuah cerita.
Bel pulang berbunyi.
Anak-anak keluar dari kelas dengan
langkah cepat. Ada yang langsung berlari menuju jalan desa, ada yang berhenti
di halaman, dan ada yang membantu membereskan kursi. Rantaka masih duduk
sebentar di bangkunya.
Ia memandang papan tulis, peta
Indonesia, jendela tanpa kaca, serta ember kecil di bawah atap yang bocor.
SD Wanasari memang tua.
Namun, di tempat itulah Rantaka mulai
mengerti bahwa sekolah bukan hanya bangunan. Sekolah adalah tempat seseorang
belajar melihat dunia lebih luas daripada batas kampungnya sendiri.
Ia mengambil tasnya, lalu melangkah
keluar kelas.
Di luar, kebun singkong bergoyang
pelan diterpa angin.
Dan di antara bangunan tua, tanah
lapang, serta jalan desa yang sederhana, sebuah keyakinan mulai tumbuh di hati
Rantaka: masa depan mungkin belum terlihat, tetapi ia dapat dimulai dari ruang
kelas kecil di ujung kebun
singkong.
Bab 4 — Sahabat dari Empat Arah Angin
Keesokan harinya, Rantaka datang lebih
pagi ke SD Wanasari. Langit masih berwarna pucat ketika ia melewati jalan tanah
di samping kebun singkong. Embun menggantung di ujung daun-daun, sementara
suara burung kecil terdengar dari pepohonan di sekitar sekolah.
Halaman SD Wanasari masih sepi.
Hanya ada seorang anak perempuan yang
duduk di bawah pohon ketapang dekat gerbang. Di pangkuannya terbuka sebuah buku
tulis dengan sampul biru. Tangannya bergerak pelan, menulis sesuatu dengan
pensil pendek. Rambutnya dikepang dua, dan ujung seragamnya tampak sedikit
basah oleh embun.
Rantaka mengenalnya.
Namanya Liris.
Selama ini, Liris duduk dua bangku di
depan Rantaka. Ia tidak banyak bicara di kelas, tetapi selalu menjadi orang
pertama yang berani menjawab pertanyaan Bu Laras. Jika ada teman yang diejek,
Liris sering kali menjadi orang yang paling cepat membela. Suaranya tidak
keras, tetapi kata-katanya tegas.
Rantaka mendekat dengan langkah
perlahan.
“Kau datang pagi sekali,” katanya.
Liris menutup buku tulisnya setengah.
“Kau juga.”
“Aku ingin menyapu kelas sebelum
teman-teman datang.”
“Aku ingin menulis sebelum halaman
sekolah ramai.”
Rantaka melirik buku di pangkuannya.
“Kau menulis apa?”
Liris tersenyum tipis. “Puisi.”
“Puisi?”
“Iya. Tentang embun.”
Rantaka mengangguk, meski sebenarnya
ia tidak sepenuhnya mengerti bagaimana embun dapat menjadi puisi.
Liris membuka kembali bukunya. Ia
membaca beberapa baris dengan suara pelan.
Embun jatuh di daun singkong,
membawa pagi ke halaman sekolah.
Kami datang dengan sepatu berlumpur,
tetapi membawa langit di dalam kepala.
Rantaka terdiam.
Ia belum pernah mendengar teman
seusianya merangkai kata seperti itu. Baginya, embun hanya air kecil yang
membuat sandal licin. Daun singkong hanya daun yang tumbuh di kebun dekat
sekolah. Namun, melalui kata-kata Liris, semua itu terdengar berbeda.
“Bagus,” kata Rantaka.
Liris memandangnya, seolah tidak
yakin. “Benarkah?”
“Benar. Aku jadi seperti melihat
halaman sekolah dari tempat lain.”
Liris tersenyum. “Bu Laras bilang,
kalau kita mau memperhatikan, hal kecil pun bisa menjadi cerita.”
Rantaka teringat tugas dari Bu Laras:
membawa cerita dari rumah. Ia membuka tas dan mengeluarkan buku tulisnya.
“Aku menulis tentang dapur rumahku,”
katanya. “Tentang asap dan kue buatan Ibu.”
“Boleh aku baca?”
Rantaka ragu sejenak. Tulisan
tangannya tidak serapi milik Liris. Kalimatnya pun pendek-pendek. Namun, ia
menyerahkan buku itu.
Liris membacanya perlahan. Setelah
selesai, ia tidak langsung mengembalikan buku tersebut.
“Ini bagus,” katanya.
“Tidak seperti puisimu.”
“Cerita tidak harus seperti puisi.
Ceritamu membuat aku bisa membayangkan dapur rumahmu.”
Rantaka menerima kembali bukunya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa cerita tentang rumah sederhana mereka
tidak perlu disembunyikan.
Tidak lama kemudian, suara roda
berderit terdengar dari arah jalan. Seorang anak laki-laki mendorong sepeda tua
yang rantainya terlepas. Di bagian belakang sepeda itu tergantung tas sekolah
yang dibuat dari karung beras bekas. Anak itu bertubuh kurus, berambut sedikit
panjang, dan wajahnya selalu tampak tenang.
Namanya Banyu.
Banyu jarang menjadi pusat perhatian.
Ia lebih sering duduk di dekat jendela, memperhatikan benda-benda di
sekitarnya. Jika pensil temannya patah, ia dapat membuatkan pegangan dari
ranting kecil. Jika kursi kelas goyah, ia tahu cara menyelipkan potongan kayu
agar tidak bergerak. Banyak anak menganggap Banyu aneh karena ia senang membawa
kawat, baut, dan potongan bambu kecil di dalam tasnya.
Pagi itu, ia sedang membetulkan rantai
sepedanya.
Rantaka dan Liris mendekat.
“Rusak lagi?” tanya Rantaka.
Banyu mengangguk tanpa menoleh.
“Rantainya longgar.”
“Kau bisa memperbaikinya sendiri?”
tanya Liris.
“Bisa. Tapi tanganku jadi hitam.”
Liris tertawa kecil. “Memang rantai
sepeda bisa diperbaiki tanpa tangan hitam?”
Banyu tidak menjawab. Ia hanya
tersenyum tipis, lalu menarik rantai sepeda ke tempatnya. Setelah beberapa
saat, ia memutar pedal perlahan. Rantai itu kembali bergerak.
“Nah,” katanya singkat.
Rantaka memperhatikan cara Banyu
bekerja. “Kau belajar dari siapa?”
“Dari paman. Dulu dia punya sepeda
tua. Kalau rusak, dia tidak pernah langsung membuangnya.”
“Kalau besar nanti, kau mau jadi apa?”
tanya Liris.
Banyu memandang roda sepedanya. “Aku
ingin membuat sesuatu yang berguna.”
“Seperti apa?”
“Entahlah. Mungkin alat untuk
mengambil air. Mungkin alat untuk membantu orang di kebun. Mungkin apa saja
yang tidak membuat orang bekerja terlalu berat.”
Rantaka dan Liris saling pandang.
Jawaban Banyu terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang kuat di dalamnya.
Sebelum mereka sempat berbicara lagi,
suara langkah kaki berlari terdengar dari arah jalan. Seorang anak laki-laki
datang dengan napas terengah-engah. Seragamnya tidak dimasukkan dengan rapi.
Kancing bajunya tidak lengkap. Di pundaknya tergantung tas yang tampak berat,
sementara di tangan kirinya ia membawa ember kecil.
Namanya Jagra.
Jagra dikenal sebagai anak yang sering
terlambat. Ia juga sering membuat gaduh di kelas. Jika ada anak yang
menyembunyikan kapur atau menggambar wajah guru di belakang buku, banyak orang
langsung menuduh Jagra. Kadang tuduhan itu benar, tetapi kadang tidak.
Pagi itu, ia berhenti di dekat mereka
sambil menaruh ember di tanah.
“Kalian sudah datang sejak kapan?”
tanyanya.
“Sejak sebelum matahari naik,” jawab
Liris.
Jagra menghela napas. “Aku dari
sungai.”
“Untuk apa membawa ember ke sekolah?”
tanya Rantaka.
Jagra menatap ember itu. Di dalamnya
tidak ada ikan, hanya beberapa tetes air dan daun kecil yang menempel di dasar.
“Tadi bantu Bapak,” katanya pelan.
“Jaringnya tersangkut di batu. Aku harus ikut menarik.”
Rantaka baru menyadari bahwa tangan
Jagra berbau sungai dan sisik ikan. Kukunya dipenuhi lumpur. Wajahnya terlihat
lelah, meski ia tetap berusaha tersenyum.
“Setiap pagi kau membantu ayahmu?”
tanya Rantaka.
“Kalau tangkapan sedikit, iya. Bapak
tidak bisa sendiri.”
Liris memandang Jagra dengan wajah
yang lebih lembut dari biasanya. “Makanya kau sering terlambat?”
Jagra mengangkat bahu. “Mungkin.”
“Kenapa tidak bilang kepada Bu Laras?”
“Untuk apa? Nanti tetap saja aku
dianggap anak yang tidak bisa bangun pagi.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rantaka teringat ayahnya yang bekerja
dari ladang ke ladang. Liris mungkin juga memiliki cerita yang belum mereka
ketahui. Banyu membawa sepeda tua dan potongan benda-benda rusak. Jagra datang
dari sungai dengan tangan yang masih berbau ikan.
Mereka semua datang dari arah yang
berbeda.
Rantaka dari ujung jalan tanah dekat
sawah. Liris dari rumah kecil di belakang balai desa. Banyu dari dusun dekat
kebun bambu. Jagra dari tepi sungai.
Namun, pagi itu, mereka berdiri di
halaman sekolah yang sama.
Bel masuk berbunyi.
Mereka berjalan menuju kelas
bersama-sama. Di dalam kelas, Bu Laras meminta setiap murid membacakan cerita
yang telah dibawa dari rumah. Ada yang bercerita tentang membantu orang tua
menanam padi. Ada yang menceritakan adik yang sakit. Ada yang hanya membaca dua
kalimat dengan suara gemetar.
Ketika giliran Rantaka, ia berdiri dan
membaca cerita tentang dapur rumahnya yang selalu berasap.
Ia menceritakan tungku tanah liat,
daun pisang, nagasari buatan ibunya, serta ayahnya yang tetap bekerja meski
tidak memiliki sawah sendiri. Suaranya pada awalnya pelan. Namun, ketika ia
melihat Bu Laras mengangguk dan Liris tersenyum dari bangku depan, ia mulai
membaca lebih jelas.
Setelah Rantaka selesai, Bu Laras
berkata, “Cerita yang baik tidak selalu tentang tempat yang jauh. Cerita yang
baik adalah cerita yang ditulis dengan jujur.”
Lalu Liris membacakan puisinya tentang
embun dan halaman sekolah. Banyu bercerita tentang sepeda tua yang selalu ia
perbaiki. Jagra, yang semula enggan maju, akhirnya berdiri dan menceritakan
sungai tempat ayahnya mencari ikan.
Ketika Jagra selesai, kelas tidak
tertawa.
Bu Laras hanya berkata, “Terima kasih
karena sudah berbagi.”
Sepulang sekolah, Rantaka tidak
langsung pulang. Ia duduk di bawah pohon beringin tua yang tumbuh di belakang
bangunan sekolah. Pohon itu besar dan rindang. Akar-akarnya menjulur ke tanah
seperti tangan-tangan tua yang memegang halaman sekolah.
Liris datang membawa buku tulisnya.
Banyu membawa ranting dan sepotong kawat. Jagra datang terakhir, masih dengan
ember kecil yang kini kosong.
“Kalian tidak pulang?” tanya Rantaka.
“Sebentar lagi,” jawab Liris.
Banyu duduk di dekat akar pohon. Ia
mulai membentuk kawat menjadi lingkaran kecil.
Jagra menatap langit yang tampak biru
di sela daun beringin. “Kalian percaya tidak,” katanya tiba-tiba, “kalau
anak-anak seperti kita bisa punya cita-cita besar?”
Liris memandangnya. “Kenapa tidak?”
“Karena kita tinggal di desa kecil,”
jawab Jagra. “Karena rumah kita bukan rumah besar. Karena orang-orang selalu
bilang nanti kita juga akan bekerja seperti orang tua kita.”
Rantaka tidak langsung menjawab. Ia
memikirkan rumahnya, dapur yang selalu berasap, tangan ayahnya yang kasar, dan
tas sekolahnya yang telah dijahit berkali-kali.
“Aku ingin jadi guru,” katanya
akhirnya. “Bukan karena aku tidak ingin membantu orang tua. Tapi aku ingin
anak-anak di desa ini tetap bisa belajar.”
Liris tersenyum. “Aku ingin jadi
penulis. Aku ingin menulis cerita tentang desa kita, supaya orang tahu bahwa di
sini ada banyak hal yang penting.”
Banyu mengangkat kawat kecil yang
telah dibentuknya. “Aku ingin membuat alat yang bisa membantu orang.”
Jagra menatap mereka satu per satu.
Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak tampak seperti anak yang suka membuat
gaduh.
“Aku ingin punya usaha ikan,” katanya.
“Supaya Bapak tidak harus pergi ke sungai setiap pagi kalau air sedang deras.”
Angin bergerak pelan di antara
daun-daun beringin.
Keempat anak itu duduk dalam diam
beberapa saat. Mereka belum memiliki rencana. Mereka belum tahu bagaimana cara
mencapai semua cita-cita itu. Mereka hanya tahu bahwa di dalam diri
masing-masing, ada keinginan yang selama ini jarang mereka ucapkan.
Namun, siang itu, di bawah pohon
beringin tua, mereka tidak lagi merasa sendirian.
Rantaka memandang tiga sahabat
barunya.
Mereka datang dari empat arah angin,
membawa cerita, luka, dan mimpi yang berbeda.
Tetapi sejak hari itu, jalan mereka
mulai bertemu.
Bab 5 — Nama yang Dipilih Langit
Siang itu, setelah bel pulang
berbunyi, halaman SD Wanasari perlahan kembali sepi. Anak-anak berlarian menuju
jalan tanah, sebagian membawa sandal di tangan agar tidak terkena lumpur,
sebagian lagi berjalan sambil bercanda di antara kebun singkong. Suara mereka
semakin lama semakin jauh, lalu hilang di balik pematang sawah dan rumah-rumah
warga.
Namun, Rantaka belum pulang.
Ia masih duduk di bawah pohon beringin
tua di belakang sekolah. Pohon itu berdiri tidak jauh dari pagar bambu yang
mulai miring. Batangnya besar, penuh guratan, dan akar-akarnya menjulur ke
tanah seperti jari-jari tua yang memeluk halaman sekolah. Di bawah naungannya,
udara terasa lebih sejuk meski matahari sedang tinggi.
Tidak lama kemudian, Liris datang
membawa buku tulis bersampul biru. Ia duduk di atas akar beringin yang menonjol
dari tanah. Banyu menyusul dengan sepeda tuanya, lalu menaruh tas karung di
samping batang pohon. Jagra datang terakhir. Ia membawa sepotong singkong rebus
yang dibungkus daun pisang.
“Kalian benar-benar belum pulang,”
kata Jagra sambil duduk.
“Kau juga,” jawab Liris.
Jagra mengangkat singkong rebus di
tangannya. “Aku pulang sebentar tadi. Ibu menyuruhku membawa ini kalau aku mau
kembali ke sekolah.”
“Untuk apa kembali?” tanya Banyu.
Jagra mengangkat bahu. “Entahlah.
Kalian masih di sini.”
Rantaka tersenyum kecil. Sejak
percakapan mereka siang tadi, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Sebelumnya,
mereka hanya teman sekelas yang duduk di bangku masing-masing. Mereka saling
tahu nama, saling melihat setiap hari, tetapi belum benar-benar mengenal cerita
yang dibawa masing-masing dari rumah.
Kini, setelah mendengar tentang dapur
Rantaka, puisi Liris, sepeda tua Banyu, dan sungai tempat Jagra membantu
ayahnya mencari ikan, jarak di antara mereka terasa lebih dekat.
Angin bertiup dari arah kebun
singkong. Daun-daun beringin bergerak pelan di atas kepala mereka. Dari
kejauhan, terdengar suara kambing dan bunyi kapak dari rumah warga.
Liris membuka buku tulisnya.
“Aku tadi memikirkan sesuatu,”
katanya.
“Apa?” tanya Rantaka.
“Kita semua punya cita-cita. Tapi kita
sering hanya menyimpannya sendiri.”
Jagra menatap tanah. “Karena kalau
cerita ke orang lain, kadang mereka malah tertawa.”
“Tidak semua orang,” jawab Liris.
“Tidak semua,” ulang Rantaka.
Banyu yang sejak tadi memainkan
sepotong kawat di tangannya akhirnya berbicara. “Kalau cita-cita hanya disimpan
sendiri, mungkin mudah hilang.”
Mereka memandang Banyu.
Ia melanjutkan, “Seperti baut kecil.
Kalau diletakkan sembarangan, nanti hilang. Tapi kalau disimpan di kotak, kita
bisa menemukannya lagi saat diperlukan.”
Liris tersenyum. “Itu cara Banyu
menjelaskan mimpi.”
“Aku tidak pandai bicara,” jawab Banyu
pelan.
“Tapi kau pandai membuat orang
mengerti,” kata Rantaka.
Jagra menggigit singkong rebusnya,
lalu berkata, “Jadi, maksud kalian kita harus punya kotak untuk menyimpan
cita-cita?”
“Bukan kotak sungguhan,” jawab Liris.
“Mungkin kelompok.”
“Kelompok?” Jagra mengernyitkan dahi.
“Kelompok apa?”
Rantaka menatap tiga sahabatnya. Ia
belum pernah menjadi bagian dari kelompok seperti itu. Selama ini, setelah
pulang sekolah, ia membantu orang tua, mengantar kue, memberi makan kambing,
atau belajar di bawah lampu minyak. Ia tidak pernah membayangkan bahwa ia dapat
memiliki teman yang mau mendengar mimpinya.
“Kita bisa belajar bersama,” kata
Rantaka perlahan. “Kalau ada yang tidak mengerti pelajaran, kita saling
membantu. Kalau ada yang ingin menulis, Liris bisa membantu. Kalau ada barang
rusak, Banyu bisa mengajarkan cara memperbaikinya. Kalau ada yang ingin tahu
tentang sungai, Jagra bisa bercerita.”
Jagra tertawa kecil. “Aku tidak tahu
apakah sungai bisa jadi pelajaran.”
“Bisa,” kata Rantaka. “Semua yang kita
jalani bisa jadi pelajaran.”
Liris menatap langit di sela daun-daun
beringin. Langit siang itu berwarna biru terang. Tidak ada awan gelap. Cahaya
matahari jatuh di halaman sekolah yang sepi dan membuat daun-daun singkong di
kejauhan tampak berkilau.
“Kalau kita membuat kelompok,” kata
Liris, “kita harus punya nama.”
“Nama apa?” tanya Banyu.
Jagra langsung menjawab, “Kelompok
Empat Anak Hebat.”
Liris menahan tawa. “Terlalu panjang.”
“Kelompok Sungai dan Sawah,” kata
Rantaka.
“Kalau nanti ada anak dari dusun lain,
namanya jadi tidak cocok,” jawab Banyu.
Mereka kembali diam. Nama bukan
perkara mudah. Nama akan menjadi sesuatu yang mereka sebut saat berkumpul,
sesuatu yang mungkin mereka tulis di buku, atau sesuatu yang kelak mengingatkan
mereka pada hari pertama mereka berani berbicara tentang mimpi.
Liris masih memandangi langit.
“Bagaimana kalau Langit Biru?”
katanya.
Rantaka menoleh. “Langit Biru?”
Liris mengangguk. “Langit ada di atas
semua tempat. Di atas rumah kita, di atas sawah, di atas sungai, dan di atas
sekolah ini. Kita mungkin datang dari tempat yang berbeda, tetapi kita melihat
langit yang sama.”
Banyu menatap ke atas. “Langit juga
luas.”
“Dan tidak punya pagar,” tambah
Rantaka.
Jagra menyandarkan punggungnya pada
batang beringin. “Kalau namanya Langit Biru, berarti cita-cita kita boleh
setinggi langit?”
“Boleh,” jawab Liris. “Tidak ada yang
boleh membatasi hanya karena kita tinggal di desa.”
Kalimat itu membuat Rantaka teringat
pada ayahnya. Jangan hanya karena rumah kita kecil, lalu kau menganggap
mimpimu juga harus kecil.
Ia memandang langit lagi.
Langit biru di atas Desa Wanasari
memang tampak jauh. Tetapi tidak ada yang melarang seseorang untuk
memandangnya, menyebut namanya, dan menjadikannya arah.
“Aku setuju,” kata Rantaka.
“Aku juga,” kata Banyu.
Jagra mengangguk. “Baiklah. Mulai hari
ini, kita Kelompok Langit Biru.”
Liris membuka halaman baru dalam buku
tulisnya. Dengan pensil pendek, ia menulis pelan-pelan:
LANGIT BIRU
Kelompok Belajar dan Mimpi Anak Desa Wanasari
Ia lalu menyerahkan buku itu kepada
Rantaka.
“Tuliskan cita-citamu,” katanya.
Rantaka menerima pensil. Tangannya
sempat ragu ketika menyentuh halaman putih itu. Namun, ia kemudian menulis
dengan huruf yang tidak terlalu rapi:
Aku ingin menjadi
guru.
Ia menyerahkan buku itu kepada Liris.
Liris menulis:
Aku ingin menjadi
penulis.
Banyu menerima buku itu berikutnya. Ia
menulis lebih kecil daripada yang lain:
Aku ingin membuat
alat yang membantu banyak orang.
Terakhir, Jagra memegang pensil cukup
lama. Wajahnya tampak serius, seolah ia sedang memilih kata yang tepat.
Lalu ia menulis:
Aku ingin membuat usaha
perikanan agar keluargaku tidak selalu kesulitan.
Setelah itu, mereka memandangi
tulisan-tulisan tersebut.
Empat cita-cita sederhana. Empat
kalimat yang ditulis oleh anak-anak yang belum tahu seberapa panjang jalan di
depan mereka. Namun, bagi mereka, halaman itu terasa seperti sebuah janji.
Rantaka mengambil sepotong ranting
kecil dari tanah.
“Kita harus punya tanda,” katanya.
“Tanda apa?” tanya Jagra.
“Tanda bahwa kita benar-benar akan
saling membantu.”
Banyu mengambil kawat kecil dari
sakunya. Ia membentuknya menjadi empat lingkaran yang saling terhubung.
Bentuknya tidak sempurna, tetapi cukup kuat.
“Seperti ini,” katanya. “Kalau satu
lepas, yang lain ikut berubah. Tapi kalau saling terikat, tidak mudah
tercerai.”
Liris memandang kawat itu dengan mata
berbinar. “Itu bagus.”
Jagra mengulurkan tangan. “Kalau
begitu, kita janji?”
Rantaka meletakkan tangannya di atas
tangan Jagra. Liris menyusul. Banyu meletakkan tangannya paling atas.
“Kita janji,” kata Rantaka.
“Belajar bersama,” kata Liris.
“Tidak menertawakan mimpi teman,” kata
Banyu.
“Dan tidak meninggalkan teman kalau
sedang susah,” kata Jagra.
Mereka saling memandang.
Angin kembali berembus. Daun-daun
beringin bergesekan, menimbulkan suara seperti bisikan panjang. Di kejauhan,
matahari mulai bergerak turun. Bayangan pohon semakin memanjang di tanah.
Rantaka berdiri lebih dahulu. Ia
menepuk debu di celananya.
“Aku harus pulang. Ibu menunggu
bantuan mengantar kue.”
“Aku juga harus membantu Bapak di
sungai,” kata Jagra.
Banyu mendorong sepedanya. “Aku harus
memperbaiki pintu kandang ayam.”
Liris menutup buku tulisnya dan
menyimpannya di dada. “Besok kita bertemu lagi di sini.”
“Untuk belajar?” tanya Rantaka.
“Untuk belajar,” jawab Liris. “Dan
untuk menjaga Langit Biru.”
Mereka berjalan meninggalkan pohon
beringin melalui arah yang berbeda.
Rantaka menuju jalan tanah ke arah
sawah. Liris berjalan ke belakang balai desa. Banyu mendorong sepeda tuanya
menuju kebun bambu. Jagra berlari ke arah sungai dengan ember kecil di
tangannya.
Mereka benar-benar datang dari empat
arah angin.
Tetapi sejak siang itu, mereka membawa
satu nama yang sama.
Di atas Desa Wanasari, langit biru
terbentang luas.
Dan di bawahnya, empat anak desa mulai
percaya bahwa mimpi mereka tidak harus berhenti di batas kampung.
Bab 6 — Buku-Buku dari Gudang Tua
Sejak nama Langit Biru dipilih di
bawah pohon beringin, ada kebiasaan baru yang tumbuh di antara Rantaka, Liris,
Banyu, dan Jagra.
Mereka tidak selalu dapat berkumpul
setiap hari. Rantaka harus membantu ibunya mengantar kue dan memberi makan
kambing. Liris sering diminta menjaga adiknya ketika ibunya pergi ke pasar.
Banyu membantu pamannya memperbaiki peralatan rumah tangga warga. Sementara
Jagra harus bangun pagi untuk ikut ayahnya memeriksa jaring di sungai.
Namun, jika waktu memungkinkan, mereka
selalu menyempatkan diri bertemu setelah pelajaran selesai.
Kadang mereka belajar di bawah pohon
beringin. Kadang mereka duduk di teras kelas sambil berbagi buku. Pada
hari-hari tertentu, mereka hanya berbicara tentang cita-cita dan hal-hal kecil
yang terjadi di rumah masing-masing.
Sore itu, matahari belum terlalu
rendah ketika Bu Laras memanggil Rantaka yang sedang membantu menyusun kursi di
dalam kelas.
“Rantaka,” katanya, “tolong panggil
Liris, Banyu, dan Jagra. Ibu perlu bantuan kalian.”
Rantaka segera keluar kelas. Ia
menemukan Liris sedang menunggu di dekat pohon beringin, Banyu membetulkan roda
sepedanya, dan Jagra berdiri di dekat keran air sambil membasuh tangan.
“Bu Laras memanggil kita,” kata
Rantaka.
“Untuk apa?” tanya Jagra.
“Aku tidak tahu.”
Mereka berjalan bersama menuju kantor
sekolah. Bangunan kantor itu lebih kecil daripada ruang kelas. Dindingnya dari
papan kayu, dengan satu meja besar, dua kursi tua, dan lemari yang penuh
berkas. Di belakang kantor, terdapat sebuah bangunan kecil yang hampir tertutup
semak.
Bangunan itu tampak seperti rumah yang
telah lama ditinggalkan.
Atapnya rendah dan berdebu. Pintu
kayunya berwarna cokelat gelap, tetapi catnya sudah banyak mengelupas. Di
bagian depan, terdapat gembok tua yang berkarat. Rumput liar tumbuh hingga
menutupi sebagian jalan menuju pintu.
“Itu apa, Bu?” tanya Liris.
“Gudang sekolah,” jawab Bu Laras.
“Gudang?” Jagra mengernyitkan dahi.
“Memangnya ada apa di dalam?”
Bu Laras memandang pintu gudang itu
cukup lama sebelum menjawab.
“Dulu, sebelum sekolah ini kekurangan
ruang dan banyak barang rusak, gudang itu dipakai untuk menyimpan buku, alat
peraga, dan beberapa perlengkapan belajar. Tetapi sudah lama tidak dibuka.”
“Kenapa tidak dibuka?” tanya Banyu.
“Karena pintunya macet, banyak barang
berserakan, dan tidak ada yang sempat membereskannya.”
Jagra menatap pintu gudang dengan rasa
ingin tahu. “Kalau ada buku, kenapa tidak dipakai?”
“Itulah sebabnya Ibu memanggil
kalian,” kata Bu Laras. “Ibu ingin melihat apakah masih ada buku yang dapat
diselamatkan.”
Rantaka memandangi bangunan itu.
Semak-semak di sekelilingnya memang tinggi. Tidak ada anak yang biasa bermain
di sana. Selama ini, gudang itu hanya terlihat seperti bagian sekolah yang
tidak penting.
Namun, ketika mendengar kata buku,
dadanya terasa berdebar.
Bu Laras mengambil sebuah kunci besar
dari saku bajunya. Kunci itu sudah kusam dan warnanya hampir sama dengan gembok
di pintu gudang.
“Kalau kalian bersedia membantu,”
katanya, “kita mulai dari membersihkan jalan masuknya.”
“Kami bersedia, Bu,” jawab Rantaka.
Liris mengangguk. Banyu segera
mengambil sebatang kayu untuk menyingkirkan rumput. Jagra menggulung lengan
seragamnya.
Mereka mulai bekerja.
Rantaka mencabut rumput liar di dekat
pintu. Tanahnya lembek dan penuh akar kecil. Liris mengumpulkan daun-daun
kering ke dalam karung bekas. Banyu memeriksa papan kayu yang menutupi sebagian
sisi gudang. Ia menemukan beberapa paku longgar dan segera mengencangkannya
dengan batu kecil. Jagra, yang paling kuat menarik semak, bekerja tanpa banyak
bicara sambil sesekali mengeluh ketika tangannya terkena duri.
“Semak ini seperti sengaja menjaga
gudang,” katanya.
“Bukan menjaga,” jawab Liris. “Mungkin
hanya menunggu ada yang peduli.”
Jagra menatap Liris. “Kau selalu bisa
membuat rumput terdengar seperti punya perasaan.”
Liris tersenyum kecil. “Itu karena kau
jarang mendengarkan rumput.”
Setelah jalan masuk terbuka, Bu Laras
memasukkan kunci ke dalam gembok. Ia memutarnya perlahan.
Sekali.
Dua kali.
Gembok itu tidak bergerak.
Bu Laras mencoba lagi. Tangannya
sedikit gemetar karena harus menekan kunci lebih kuat. Banyu mendekat.
“Boleh saya lihat, Bu?” tanyanya.
Bu Laras menyerahkan kunci itu.
Banyu memeriksa lubang gembok, lalu
mengambil sedikit minyak dari rantai sepedanya yang masih tersisa di kain
kecil. Ia mengoleskannya perlahan pada bagian dalam gembok. Setelah menunggu
beberapa saat, ia kembali memutar kunci.
Terdengar bunyi kecil.
Klik.
Gembok itu terbuka.
Jagra bersorak pelan. “Banyu memang
cocok jadi tukang pembuka gudang.”
“Bukan tukang,” kata Banyu. “Hanya
gemboknya berkarat.”
Bu Laras tersenyum. “Tetap saja,
terima kasih.”
Pintu gudang didorong perlahan.
Debu langsung beterbangan dari dalam.
Bau kayu tua, kertas lembap, dan tanah memenuhi udara. Rantaka menutup hidung
dengan lengan bajunya. Liris mundur satu langkah, sementara Jagra mengibaskan
tangan di depan wajahnya.
Cahaya dari luar masuk melalui pintu
yang terbuka. Sedikit demi sedikit, isi gudang mulai terlihat.
Di dalamnya terdapat meja-meja rusak
yang ditumpuk di sudut. Ada kursi patah, papan tulis kecil dengan gagang retak,
beberapa kotak kayu, dan tumpukan kardus yang sudah hampir hancur. Di bagian
belakang, sebuah rak besar berdiri miring. Rak itu penuh dengan buku-buku yang
tertutup debu.
Rantaka melangkah masuk lebih dahulu.
Ia mendekati rak tersebut dengan
hati-hati. Jarinya menyentuh punggung sebuah buku yang sudah kusam. Ketika ia
menariknya, debu jatuh seperti hujan kecil.
Buku itu berjudul Cerita dari
Nusantara.
Rantaka membuka halaman pertama.
Kertasnya telah menguning, tetapi tulisan di dalamnya masih dapat dibaca. Ada
gambar gunung, laut, rumah adat, dan anak-anak dari berbagai daerah.
“Bu Laras,” katanya pelan, “buku ini
masih bisa dibaca.”
Bu Laras mendekat. Matanya tampak
berbinar ketika melihat buku di tangan Rantaka.
“Masih banyak yang mungkin dapat
dipakai,” katanya. “Kita harus memisahkan mana yang rusak dan mana yang masih
bisa diselamatkan.”
Mereka mulai bekerja dengan lebih
bersemangat.
Liris mengambil buku-buku cerita dan
menyusunnya berdasarkan ukuran. Ia menemukan beberapa buku puisi anak-anak,
buku dongeng rakyat, dan buku kumpulan cerita pendek. Ia membuka salah satu
buku, lalu membaca kalimat pertama dengan wajah penuh perhatian.
“Buku ini seperti menyimpan banyak
suara,” katanya.
Banyu memeriksa meja-meja rusak. Ia
menemukan satu meja kecil yang kakinya patah. Setelah melihat beberapa saat, ia
berkata bahwa meja itu mungkin masih dapat diperbaiki jika diberi penyangga
dari kayu.
Jagra mengangkat kardus-kardus kosong
dan menyapu lantai. Ia juga menemukan sebuah globe kecil yang permukaannya
sudah pudar.
“Ini bola dunia?” tanyanya sambil
mengangkat benda itu.
“Globe,” jawab Bu Laras. “Dulu dipakai
untuk mengenalkan bentuk bumi.”
Jagra memutarnya pelan. “Ternyata
dunia kecil kalau dibuat begini.”
“Dunia tidak kecil,” kata Rantaka
sambil membuka buku lain. “Kita saja yang belum mengenalnya.”
Jagra menatap Rantaka, lalu tersenyum.
“Kau mulai bicara seperti guru.”
Rantaka tidak menjawab. Namun, dalam
hatinya, ia merasa senang.
Di bagian paling bawah rak, Banyu
menemukan gulungan besar yang diikat dengan tali rafia. Ia membawanya ke dekat
pintu, lalu membuka ikatannya perlahan.
Ternyata itu sebuah peta Indonesia.
Peta itu jauh lebih besar daripada
peta yang tergantung di kelas enam. Warnanya mulai pudar dan bagian pinggirnya
robek. Namun, pulau-pulau besar masih terlihat jelas. Ada garis-garis laut,
nama-nama kota, dan gambar kecil yang menunjukkan hasil bumi dari berbagai
daerah.
Bu Laras memandang peta itu dengan
mata yang berkaca-kaca.
“Dulu,” katanya pelan, “peta ini
dipakai saat sekolah masih ramai. Anak-anak berdiri berkeliling, lalu menunjuk
pulau yang ingin mereka ketahui.”
Rantaka mendekat. Ia memandangi peta
itu seolah sedang melihat jendela besar yang baru dibuka.
Selama ini, dunia baginya adalah jalan
tanah, sawah, rumah kayu, sungai, dan kebun singkong. Namun, peta itu
memperlihatkan bahwa ada pulau-pulau lain di luar sana. Ada tempat-tempat yang
namanya belum pernah ia dengar. Ada laut yang lebih luas daripada sungai tempat
Jagra mencari ikan. Ada gunung yang mungkin lebih tinggi daripada bukit di
belakang desa.
“Bu,” tanya Rantaka, “apakah orang
dari desa kecil bisa pergi melihat tempat-tempat itu?”
Bu Laras menoleh kepadanya.
“Bisa,” jawabnya. “Tetapi sebelum kaki
kita pergi jauh, pikiran kita harus lebih dulu berani berjalan.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Ia kembali memandangi peta. Untuk
pertama kalinya, ia tidak hanya ingin tahu nama-nama pulau. Ia ingin mengerti
bagaimana orang hidup di sana, bagaimana sekolah mereka, apa yang mereka baca,
dan bagaimana mereka memandang dunia.
Menjelang sore, gudang itu mulai
berubah.
Lantai yang semula tertutup debu kini
terlihat lebih bersih. Buku-buku yang masih layak dibaca telah dipisahkan dalam
beberapa tumpukan. Meja yang masih dapat diperbaiki diletakkan di dekat
dinding. Peta Indonesia dibentangkan di atas meja panjang agar tidak kembali
terlipat.
Keringat membasahi seragam mereka.
Tangan mereka kotor oleh debu. Namun, tidak seorang pun mengeluh.
Bu Laras berdiri di tengah gudang dan
memandang keempat anak itu.
“Kalian sudah melakukan sesuatu yang
penting hari ini,” katanya.
“Kami hanya membersihkan gudang, Bu,”
jawab Jagra.
“Tidak,” kata Bu Laras. “Kalian sedang
membuka pintu yang sudah lama tertutup.”
Liris memegang sebuah buku puisi di
dadanya. Banyu berdiri di dekat meja rusak yang ingin ia perbaiki. Jagra masih
membawa globe kecil. Rantaka menggenggam buku Cerita dari Nusantara.
Mereka saling memandang.
Di bawah cahaya sore yang masuk
melalui pintu gudang, tempat tua itu tidak lagi terasa seperti ruang yang
dilupakan. Gudang itu mulai terasa seperti sebuah ruang baru yang penuh
kemungkinan.
Sebelum pulang, Bu Laras berkata,
“Mulai besok, kalian boleh menggunakan buku-buku ini untuk belajar. Tetapi ada
satu syarat.”
“Apa, Bu?” tanya Rantaka.
“Kalian harus menjaganya. Buku tidak
hanya untuk dibaca sendiri. Buku harus membuat kita ingin berbagi pengetahuan
dengan orang lain.”
Rantaka mengangguk dengan
sungguh-sungguh.
Saat keluar dari gudang, ia menoleh
sekali lagi ke arah rak-rak buku dan peta besar yang terbentang di atas meja.
Ia merasa seolah baru menemukan sesuatu yang selama ini ia cari, meski belum
dapat menjelaskan apa namanya.
Mungkin itu pengetahuan.
Mungkin itu keberanian.
Atau mungkin itu keyakinan bahwa jalan
hidup tidak harus berhenti di ujung desa.
Di halaman sekolah, Liris berjalan di
sampingnya.
“Besok kita membaca buku yang mana?”
tanyanya.
Rantaka tersenyum. “Semua yang bisa
kita baca.”
Di atas mereka, langit sore mulai
berubah keemasan.
Dan dari gudang tua yang hampir
dilupakan, Langit Biru menemukan pintu pertama menuju dunia yang lebih luas.
BAGIAN II
KABAR BURUK DARI KECAMATAN
Bab 7 — Surat Berstempel Merah
Pagi itu, SD Wanasari tampak seperti
biasanya.
Anak-anak datang melalui jalan tanah
dengan seragam putih merah yang beragam keadaannya. Ada yang masih bersih dan
rapi, ada yang bagian lutut celananya telah ditambal, ada pula yang membawa
buku dalam kantong plastik agar tidak terkena embun atau hujan. Dari kebun
singkong di belakang sekolah, angin membawa aroma tanah basah dan daun-daun
muda.
Di bawah pohon beringin, Rantaka,
Liris, Banyu, dan Jagra duduk mengelilingi beberapa buku dari gudang tua.
Banyu sedang membaca buku pengetahuan
alam tentang air. Ia memperhatikan gambar sungai, hujan, dan awan dengan wajah
serius. Liris membuka buku kumpulan cerita rakyat. Sesekali ia mencatat
kata-kata yang menurutnya indah di buku tulis birunya. Jagra memegang globe
kecil yang kemarin ditemukan di gudang. Ia memutarnya perlahan, lalu menunjuk
beberapa bagian dengan ujung jarinya.
“Kalau bumi benar-benar bulat,” kata
Jagra, “kenapa kita tidak jatuh?”
Banyu menatapnya. “Karena ada gaya
tarik bumi.”
“Gaya tarik bumi itu seperti apa?”
“Seperti ketika kau menarik jaring
ikan dari sungai. Ada sesuatu yang menahan.”
Jagra mengernyitkan dahi. “Tapi jaring
bisa putus.”
“Bumi tidak memakai tali,” jawab
Banyu.
Liris menahan tawa. “Kalian berdua
bisa membahas bumi sampai bel masuk berbunyi.”
Rantaka tersenyum sambil membuka buku Cerita
dari Nusantara. Sejak menemukan buku-buku dari gudang tua, ia merasa hari-hari
di sekolah menjadi lebih hidup. Ada banyak hal yang ingin ia ketahui. Ada
banyak cerita yang ingin ia baca. Bahkan kelas tua dengan jendela tanpa kaca
dan atap yang bocor itu tidak lagi terasa sesempit sebelumnya.
Namun, pagi itu, sesuatu yang tidak biasa
terjadi.
Dari arah jalan desa, seorang lelaki
bersepeda datang menuju halaman sekolah. Ia mengenakan seragam cokelat muda dan
membawa tas hitam di pundaknya. Di bagian depan sepedanya tergantung map besar
berwarna cokelat. Wajahnya tampak serius. Ia tidak menyapa anak-anak yang
sedang bermain, hanya langsung menuju ruang kantor sekolah.
Beberapa murid mulai memperhatikannya.
“Itu siapa?” tanya Jagra.
Rantaka menggeleng.
Liris berdiri sedikit untuk melihat
lebih jelas. “Sepertinya pegawai kecamatan.”
Banyu menutup bukunya. “Mungkin
membawa surat.”
Kalimat itu terdengar biasa, tetapi
entah mengapa Rantaka merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya.
Lelaki itu turun dari sepeda dan
berjalan menuju kantor sekolah. Tidak lama kemudian, Kepala Sekolah Pak Mulyono
keluar dari ruangannya. Pak Mulyono adalah lelaki berusia hampir lima puluh
tahun dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis. Ia jarang berbicara
keras, tetapi semua murid tahu bahwa ia sangat menjaga sekolah itu.
Pak Mulyono menerima map cokelat dari
pegawai kecamatan.
Mereka berbicara dengan suara pelan.
Anak-anak tidak dapat mendengar apa yang mereka katakan. Namun, dari cara Pak
Mulyono memegang map itu, Rantaka melihat wajah kepala sekolahnya berubah.
Semula tenang.
Lalu serius.
Kemudian tampak seperti seseorang yang
baru saja menerima kabar yang tidak ingin didengarnya.
Pegawai kecamatan itu menyerahkan satu
lembar surat. Di bagian atas surat terdapat cap merah yang cukup besar. Setelah
itu, ia berpamitan dan kembali menaiki sepeda.
Pak Mulyono masih berdiri di depan
kantor.
Tangannya memegang surat itu cukup
lama.
Bel masuk berbunyi.
Anak-anak segera masuk ke kelas.
Namun, rasa ingin tahu telah menyebar ke seluruh halaman sekolah. Di dalam
ruang kelas, beberapa murid berbisik-bisik. Ada yang menduga surat itu tentang
bantuan bangunan. Ada yang berkata mungkin sekolah akan mendapat buku baru. Ada
pula yang mendengar kakaknya pernah mengatakan bahwa surat dari kecamatan
biasanya membawa urusan penting.
Rantaka duduk di bangkunya sambil memandangi
jendela kosong.
Ia mencoba memusatkan perhatian ketika
Bu Laras mulai mengajar. Namun, pikirannya terus kembali pada surat berstempel
merah itu.
Bu Laras tampak berbeda pagi itu.
Biasanya, ia memasuki kelas dengan
senyum tipis dan suara yang tenang. Namun, kali ini langkahnya lebih lambat.
Buku-buku yang dibawanya tampak lebih banyak dari biasanya. Ia berdiri di depan
kelas cukup lama sebelum menulis pelajaran di papan tulis.
“Anak-anak,” katanya akhirnya, “hari
ini kita akan belajar seperti biasa.”
Kata seperti biasa terdengar
aneh.
Tidak ada seorang pun yang bertanya.
Tetapi semua murid dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
Pelajaran berlangsung tanpa banyak
suara. Bu Laras menjelaskan tentang pecahan dan pembagian. Rantaka menyalin
angka-angka di papan tulis, tetapi ia tidak benar-benar memahami apa yang
ditulisnya. Liris beberapa kali menoleh ke arah kantor sekolah. Banyu memutar
pensil di antara jari-jarinya. Jagra, yang biasanya sulit diam, justru duduk
tanpa membuat gaduh.
Saat jam istirahat, Rantaka melihat Bu
Laras berjalan menuju kantor kepala sekolah. Ia membawa buku catatan dan
beberapa lembar kertas. Pak Mulyono sudah berada di dalam ruangan bersama dua
guru lain.
Pintu kantor tidak tertutup rapat.
Rantaka tidak bermaksud menguping.
Namun, ketika ia berjalan melewati jendela untuk mengambil air minum, suara
percakapan dari dalam terdengar jelas.
“Jumlah murid kita dianggap terlalu
sedikit,” suara Pak Mulyono terdengar berat.
“Padahal banyak anak yang harus
berjalan jauh kalau sekolah ini ditutup,” jawab salah seorang guru.
“Di surat itu tertulis sekolah akan
dievaluasi,” kata Bu Laras. “Bangunan, jumlah murid, fasilitas, dan kegiatan
belajar semuanya akan diperiksa.”
Rantaka berhenti tanpa sadar.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Kalau hasil evaluasinya buruk?” tanya
guru lain.
Tidak ada jawaban beberapa saat.
Kemudian Pak Mulyono berkata pelan,
“Anak-anak mungkin harus dipindahkan ke sekolah di kecamatan.”
Rantaka tidak bergerak.
Kata-kata itu seperti batu yang jatuh
ke dalam dadanya.
Sekolah di kecamatan.
Ia pernah mendengar tentang sekolah
itu. Letaknya jauh, melewati jalan besar dan beberapa kampung. Anak-anak dari
Desa Wanasari harus berjalan lebih dari satu jam, bahkan lebih lama jika hujan
turun. Tidak semua orang tua memiliki sepeda. Tidak semua anak dapat berangkat
pagi-pagi sekali. Bagi keluarga seperti Rantaka, sekolah yang jauh bukan
sekadar soal jarak. Itu berarti ongkos, waktu, tenaga, dan kemungkinan untuk
tidak lagi sekolah.
Rantaka segera berjalan menjauh dari kantor.
Ia tidak ingin Bu Laras melihatnya berdiri di sana.
Di bawah pohon beringin, Liris, Banyu,
dan Jagra sudah menunggu.
“Kau dengar sesuatu?” tanya Liris.
Rantaka mengangguk pelan.
“Sekolah ini akan dievaluasi,”
katanya.
“Evaluasi apa?” tanya Jagra.
“Karena muridnya sedikit, bangunannya
rusak, dan fasilitasnya kurang.”
Banyu menatap gedung sekolah yang tua.
“Kalau tidak lulus evaluasi?”
Rantaka menelan ludah.
“Mungkin sekolah ini ditutup.”
Jagra berdiri mendadak. “Ditutup?”
Liris memegang buku tulisnya lebih
erat. “Tidak mungkin.”
“Itu yang mereka bicarakan di kantor,”
jawab Rantaka.
Mereka semua diam.
Dari tempat mereka duduk, SD Wanasari
tampak seperti biasa. Kelas-kelas tua itu masih berdiri. Papan tulis masih ada
di dalam ruangan. Peta Indonesia masih tergantung di dinding. Gudang tua yang
baru dibersihkan kini menyimpan buku-buku yang mulai mereka baca.
Namun, setelah mendengar kabar itu,
semua yang biasa terasa seperti sedang berada di ujung sesuatu yang rapuh.
Jagra menendang tanah pelan. “Kalau sekolah
ditutup, aku harus ke kecamatan?”
“Mungkin,” jawab Rantaka.
“Aku harus bantu Bapak pagi-pagi.
Kalau sekolahnya jauh, aku pasti terlambat terus.”
Liris memandang kebun singkong.
“Banyak anak kecil juga belum tentu bisa pergi sejauh itu.”
Banyu tidak berkata apa-apa. Ia hanya
menatap tangannya sendiri.
Rantaka tahu apa yang mungkin sedang
dipikirkan sahabatnya. Jika SD Wanasari ditutup, gudang tua itu akan kembali
sepi. Buku-buku yang baru mereka temukan mungkin akan dipindahkan atau
dibiarkan rusak. Kelompok Langit Biru mungkin tidak lagi memiliki tempat untuk
belajar bersama.
Namun, yang paling membuat Rantaka
takut adalah kemungkinan bahwa sekolah bukan lagi jalan yang dapat ia tempuh
setiap pagi.
Ia teringat kata-kata ayahnya: Belajar
yang baik. Itu juga pekerjaan.
Bagaimana jika pekerjaan itu tiba-tiba
diambil darinya?
Bel masuk kembali berbunyi.
Mereka berjalan ke kelas tanpa banyak
bicara. Sepanjang pelajaran, Rantaka memandangi papan tulis, meja-meja tua, dan
jendela tanpa kaca dengan perasaan yang berbeda. Semua kekurangan yang
sebelumnya hanya ia lihat sebagai bagian dari sekolah kini terasa seperti
alasan-alasan yang dapat membuat sekolah itu hilang.
Menjelang pulang, Bu Laras berdiri di
depan kelas.
Wajahnya tampak tenang, tetapi
suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Anak-anak,” katanya, “mungkin kalian
sudah mendengar kabar tentang surat dari kecamatan.”
Kelas langsung hening.
Bu Laras menarik napas sebelum
melanjutkan.
“Sekolah kita akan dinilai. Ada
beberapa hal yang perlu diperbaiki. Bangunan sekolah, fasilitas belajar, jumlah
murid, dan kegiatan sekolah akan diperhatikan.”
Seorang murid di bangku belakang
mengangkat tangan. “Bu, apakah sekolah kita akan ditutup?”
Pertanyaan itu membuat semua kepala
menoleh.
Bu Laras tidak langsung menjawab.
“Kita belum tahu,” katanya akhirnya.
“Belum ada keputusan.”
“Tapi bisa ditutup?” tanya murid lain.
Bu Laras memandang seluruh kelas.
“Yang bisa kita lakukan sekarang adalah tetap belajar dengan baik dan menjaga
sekolah ini bersama-sama.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya
menghilangkan ketakutan.
Namun, cara Bu Laras mengucapkannya
membuat Rantaka melihat sesuatu yang lain di mata gurunya: keyakinan yang tidak
mau padam.
Setelah kelas bubar, Rantaka kembali
berdiri di halaman sekolah. Langit siang tampak cerah, tetapi hatinya terasa
berat. Ia memandangi bangunan SD Wanasari yang tua, kebun singkong di
belakangnya, dan pohon beringin tempat Langit Biru lahir.
Di kantor kepala sekolah, surat
berstempel merah itu mungkin masih terletak di atas meja.
Selembar kertas.
Tetapi selembar kertas itu telah
membawa pertanyaan besar ke Desa Wanasari.
Apakah sekolah kecil di ujung kebun
singkong itu masih akan berdiri?
Ataukah suatu hari nanti, anak-anak
desa harus menatap bangunan kosong dan mengenang bahwa di tempat itulah mereka
pernah belajar membaca, menulis, serta berani memiliki mimpi?
Bab 8 — Ketika Orang Dewasa Mulai Menyerah
Sejak surat berstempel merah dari
kecamatan datang, suasana di SD Wanasari berubah.
Tidak ada yang benar-benar
membicarakannya dengan suara keras pada hari pertama. Anak-anak tetap datang ke
sekolah, tetap duduk di bangku kayu, tetap membuka buku, dan tetap mendengarkan
Bu Laras mengajar. Namun, di sela-sela pelajaran, bisik-bisik mulai terdengar.
“Benarkah sekolah kita mau ditutup?”
“Kalau ditutup, kita belajar di mana?”
“Sekolah di kecamatan jauh sekali.”
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar
dari satu bangku ke bangku lain. Ada yang menanyakannya dengan wajah takut. Ada
yang berusaha tertawa, seolah kabar itu tidak penting. Ada pula yang hanya diam
dan menunduk, seperti Rantaka.
Ia tetap datang setiap pagi melewati
jalan tanah di antara sawah dan kebun singkong. Namun, sejak mendengar kabar
dari kecamatan, ia selalu memandang bangunan sekolah dengan perasaan yang
berbeda.
Dinding papan yang kusam.
Atap seng yang miring.
Jendela tanpa kaca.
Halaman yang dipenuhi rumput liar.
Semua yang dahulu ia anggap sebagai
bagian biasa dari SD Wanasari kini terasa seperti alasan-alasan yang dapat
membuat sekolah itu hilang.
Pada suatu sore, Rantaka diminta
Rukmini mengantar kue ke rumah Bu Sari, seorang warga yang tinggal dekat balai
desa. Keranjang rotan berisi nagasari dan kue cucur tergantung di setang sepeda
tua milik pamannya yang dipinjamkan untuk beberapa hari.
Setelah mengantar pesanan, Rantaka
hendak pulang. Namun, ketika melewati balai desa, ia mendengar beberapa orang
dewasa sedang berbicara di dalam.
Pintu balai desa terbuka lebar.
Di dalamnya, beberapa warga duduk di
bangku panjang. Ada petani yang baru pulang dari sawah, ada ibu-ibu yang
membawa anak kecil, dan ada beberapa bapak yang masih mengenakan topi kebun. Di
meja depan, Kepala Dusun duduk bersama dua orang perangkat desa.
Rantaka tidak berniat masuk. Ia hanya
berhenti di luar, di dekat pagar bambu, karena ingin mengetahui apa yang sedang
dibicarakan.
Suara Kepala Dusun terdengar cukup
jelas.
“Surat dari kecamatan itu bukan
main-main,” katanya. “Sekolah kita memang banyak kekurangan. Bangunannya tua,
muridnya tidak banyak, dan fasilitasnya hampir tidak ada.”
“Kalau ditutup, anak-anak kita
bagaimana?” tanya seorang ibu.
“Mereka bisa pindah ke sekolah di
kecamatan,” jawab Kepala Dusun.
Seorang bapak yang duduk di sudut
ruangan menghela napas panjang. “Sekolah di kecamatan jauh. Anak saya masih
kelas dua. Jalan kaki saja bisa lebih dari satu jam.”
“Kalau naik ojek, biayanya dari mana?”
sahut ibu lain.
Suasana menjadi hening beberapa saat.
Kemudian seorang lelaki tua berkata,
“Kalau memang tidak mampu mempertahankan, mau bagaimana lagi? Bangunan sekolah
itu sudah lama rusak. Kita ini desa kecil. Tidak mungkin melawan keputusan
kecamatan.”
Rantaka menggenggam erat setang
sepeda.
Kata melawan membuatnya merasa
seolah sekolah mereka sedang berada dalam sebuah pertempuran, tetapi
orang-orang dewasa sudah memilih untuk menyerah sebelum apa pun dilakukan.
“Anak-anak juga bisa membantu orang
tua,” kata seorang bapak lain. “Kalau sekolahnya terlalu jauh, lebih baik
mereka di rumah. Anak laki-laki bisa ikut ke kebun atau ke sungai. Anak
perempuan bisa membantu ibunya.”
Beberapa orang mengangguk pelan.
Rantaka merasa dadanya sesak.
Ia tahu bapak itu tidak sedang berkata
jahat. Banyak orang tua di Desa Wanasari memang membutuhkan bantuan anak-anak
mereka. Di rumahnya sendiri, ia sering membantu ibunya menjual kue dan membantu
ayahnya mencari rumput. Ia mengerti bahwa pekerjaan di rumah tidak mudah.
Tetapi mendengar sekolah disebut
sebagai sesuatu yang dapat ditinggalkan begitu saja membuatnya takut.
Apakah belajar memang tidak sepenting
membantu di ladang?
Apakah mimpi mereka hanya boleh ada
selama sekolah itu masih berdiri?
Rantaka tidak sanggup mendengar lebih
lama. Ia menaiki sepeda dan mengayuh pelan menuju rumah. Keranjang kue di depan
sepeda sudah kosong, tetapi pikirannya terasa penuh.
Di jalan, ia melewati kebun singkong
yang mulai gelap. Angin sore membuat daun-daun singkong bergesekan. Biasanya
suara itu terasa menenangkan. Namun, sore itu, Rantaka hanya mendengar
kata-kata orang dewasa yang terus berulang di kepalanya.
Tidak mungkin
melawan keputusan kecamatan.
Lebih baik membantu
orang tua.
Kalau sekolahnya jauh,
mau bagaimana lagi?
Sesampainya di rumah, Rukmini sedang
menyalakan tungku. Asap tipis mulai memenuhi dapur. Darma belum pulang dari
ladang. Di halaman, kambing-kambing mengembik pelan karena menunggu diberi
makan.
“Kuenya habis?” tanya Rukmini.
“Habis, Bu.”
“Bagus. Ada uangnya?”
Rantaka menyerahkan uang hasil
penjualan. Rukmini menghitungnya sebentar, lalu menyimpannya ke dalam kaleng
tua di dekat rak dapur.
Biasanya, Rantaka akan membantu
menyiapkan makan atau memberi rumput kepada kambing. Namun, sore itu ia hanya
duduk di teras rumah dengan wajah muram.
Rukmini memperhatikannya.
“Ada apa?” tanyanya.
Rantaka tidak langsung menjawab.
“Bu,” katanya akhirnya, “kalau sekolah
kita ditutup, apakah aku harus berhenti sekolah?”
Tangan Rukmini yang sedang memegang
sendok kayu berhenti bergerak.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Di balai desa tadi, ada yang bilang
anak-anak lebih baik membantu orang tua kalau sekolahnya jauh.”
Rukmini duduk di samping Rantaka. Asap
dari dapur bergerak pelan di antara mereka.
“Banyak orang berkata seperti itu
karena mereka sedang memikirkan kesulitan,” katanya. “Bukan karena mereka tidak
sayang pada anak-anaknya.”
“Tapi kalau sekolah di kecamatan jauh,
aku tidak bisa berjalan setiap hari.”
“Kita belum tahu keputusan akhirnya.”
“Kalau benar ditutup?”
Rukmini menatap halaman rumah.
Wajahnya tampak tenang, tetapi Rantaka dapat melihat kekhawatiran yang
disembunyikannya.
“Kita akan mencari jalan,” jawabnya.
“Jalan apa?”
Rukmini tidak segera menjawab.
Jawaban itu membuat Rantaka semakin
mengerti bahwa ibunya juga belum tahu.
Malamnya, Darma pulang dengan langkah
lambat. Bajunya basah oleh keringat dan tanah menempel di celananya. Setelah
makan, ia duduk di dekat pintu sambil memijat telapak kakinya.
Rantaka yang sejak tadi diam akhirnya
memberanikan diri bertanya.
“Yah, kalau SD Wanasari ditutup,
apakah aku harus ikut bekerja di ladang?”
Darma menatap anaknya.
“Siapa yang bilang begitu?”
“Orang-orang di balai desa.”
Darma menghela napas panjang. Ia
memandang lampu minyak yang menyala redup di ruang depan.
“Kalau sekolah ditutup, tentu akan
sulit,” katanya. “Sekolah di kecamatan jauh. Bapak tidak punya kendaraan untuk
mengantar setiap hari.”
Rantaka menunduk.
“Tapi,” lanjut Darma, “sulit bukan
berarti kau harus berhenti.”
Rantaka mengangkat wajahnya.
“Bapak dan Ibu memang tidak punya
banyak uang,” kata Darma. “Kita juga tidak punya sawah sendiri. Tetapi Bapak
tidak ingin kau hanya melihat hidup dari ujung ladang. Kau harus belajar supaya
kau punya pilihan.”
“Kalau orang-orang bilang aku lebih
baik membantu Bapak?”
Darma tersenyum tipis, meski wajahnya
tampak lelah.
“Kau boleh membantu Bapak. Kau boleh
membantu Ibu. Itu baik. Tetapi jangan sampai bantuanmu membuatmu kehilangan
masa depanmu sendiri.”
Kata-kata itu membuat mata Rantaka
terasa panas.
Ia mengangguk pelan.
Di luar rumah, malam semakin gelap.
Dari kejauhan terdengar suara katak dari parit dan suara serangga dari kebun.
Rumah-rumah warga mulai memadamkan lampu satu per satu.
Namun, di dalam diri Rantaka,
ketakutan belum benar-benar hilang.
Keesokan harinya, ia bertemu Liris,
Banyu, dan Jagra di bawah pohon beringin.
Mereka semua tampak membawa
kegelisahan yang sama.
“Ayahku bilang kalau sekolah ditutup,
aku mungkin harus ikut ke sungai lebih sering,” kata Jagra. “Katanya, daripada
aku berjalan jauh ke kecamatan dan terlambat terus.”
Liris memeluk buku tulisnya. “Ibuku
tidak bilang aku harus berhenti. Tapi ia menangis tadi malam. Ia bilang tidak
tahu bagaimana cara membiayai perjalanan ke sekolah yang jauh.”
Banyu menatap sepeda tuanya. “Pamanku
bilang mungkin aku bisa naik sepeda. Tapi jalannya besar dan banyak truk. Aku
belum pernah pergi sejauh itu sendirian.”
Rantaka tidak segera berbicara.
Mereka duduk di bawah beringin dengan
kepala tertunduk. Untuk pertama kalinya sejak Langit Biru dibentuk, tidak ada
yang membicarakan buku, cita-cita, atau rencana masa depan.
Yang ada hanya ketakutan.
Ketakutan bahwa semua yang mereka
tulis di buku Liris mungkin akan berhenti sebagai kalimat-kalimat kecil.
Ketakutan bahwa sekolah tua di ujung
kebun singkong itu benar-benar akan hilang.
Liris memandang bangunan SD Wanasari.
“Orang dewasa mulai menyerah,” katanya
pelan.
Tidak ada yang membantah.
Rantaka memandangi kelas mereka. Ia
teringat gudang tua yang baru dibersihkan, peta Indonesia yang dibentangkan kembali,
serta kata-kata Bu Laras bahwa buku harus membuat mereka ingin berbagi
pengetahuan.
Ia belum tahu apa yang dapat dilakukan
oleh empat anak desa.
Namun, ketika melihat
sahabat-sahabatnya duduk dalam diam, ia merasa bahwa mereka tidak boleh hanya
menunggu.
Jika orang dewasa mulai menyerah,
mungkin anak-anak harus lebih dulu menunjukkan bahwa sekolah itu masih berarti.
Di atas mereka, langit biru tetap
terbentang luas.
Tetapi untuk pertama kalinya, Rantaka
merasa langit itu tampak sangat jauh.
Bab 9 — Papan Tulis yang Retak
Sejak percakapan di bawah pohon
beringin pada pagi itu, Rantaka tidak dapat lagi memandang SD Wanasari seperti
sebelumnya.
Bangunan tua di ujung kebun singkong
itu masih berdiri di tempat yang sama. Dinding papannya masih kusam. Jendela-jendelanya
masih terbuka tanpa kaca. Atap sengnya masih tampak miring di beberapa bagian.
Namun, kini setiap retakan, setiap papan lapuk, dan setiap kebocoran terasa
seperti ancaman yang diam-diam menunggu untuk menjatuhkan sekolah mereka.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam
kecemasan.
Bu Laras tetap mengajar seperti biasa.
Ia tetap datang membawa buku-buku di dadanya, tetap menulis pelajaran di papan
tulis, dan tetap meminta murid-murid membaca dengan suara lantang. Tetapi
Rantaka dapat melihat bahwa gurunya sering berhenti sejenak di depan jendela,
memandang atap sekolah, atau berbicara pelan dengan Pak Mulyono di kantor.
Kabar dari kecamatan belum datang
lagi.
Justru karena itulah, semua orang
merasa lebih gelisah.
Mereka tahu suatu hari nanti tim penilai
akan datang. Tidak ada yang tahu kapan. Tidak ada yang tahu apa yang akan
mereka katakan setelah melihat keadaan sekolah. Namun, semua orang tahu SD
Wanasari tidak berada dalam keadaan baik.
Pada akhir pekan, langit Desa Wanasari
mulai berubah.
Sejak pagi, awan kelabu menggantung
rendah di atas sawah. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Daun-daun
singkong di belakang sekolah bergerak saling beradu, menimbulkan suara yang
panjang dan gelisah.
Rantaka sedang membantu ibunya
mengantar kue ketika hujan pertama turun.
Mula-mula hanya gerimis tipis.
Lalu, dalam waktu singkat, langit
seperti menumpahkan seluruh air yang ditahannya. Jalan tanah berubah menjadi
lumpur. Parit kecil di sisi jalan mulai penuh. Atap-atap rumah berbunyi keras
diterpa hujan.
Rantaka dan Rukmini berlari pulang
sambil menutupi keranjang kue dengan plastik. Sesampainya di rumah, mereka
mendapati halaman sudah dipenuhi genangan kecil. Darma segera memindahkan
beberapa karung singkong ke tempat yang lebih kering.
Hujan turun sampai malam.
Bunyi air di atas atap seng rumah
mereka begitu keras hingga percakapan harus dilakukan dengan suara lebih
tinggi. Di beberapa titik, air mulai menetes dari langit-langit. Rukmini
meletakkan ember di bawah kebocoran, sementara Rantaka membantu memindahkan
tikar agar tidak basah.
Ketika ia sedang mengangkat satu ember
yang hampir penuh, pikirannya tiba-tiba tertuju pada sekolah.
Atap SD Wanasari jauh lebih tua
daripada atap rumahnya.
Kalau rumah mereka saja bocor di
banyak tempat, bagaimana keadaan kelas enam sekarang?
“Bu,” kata Rantaka sambil menatap
hujan di luar, “besok sekolah tetap masuk?”
“Kalau hujan reda, mungkin tetap,”
jawab Rukmini.
Rantaka tidak bertanya lagi. Namun,
malam itu ia sulit tidur.
Dalam pikirannya, ia membayangkan air
masuk dari atap sekolah, jatuh ke meja-meja, membasahi buku-buku, dan
menggenangi lantai kelas. Ia membayangkan peta Indonesia yang tergantung di
dinding menjadi lembap dan robek. Ia membayangkan buku-buku dari gudang tua
kembali rusak sebelum sempat dibaca oleh banyak anak.
Menjelang pagi, hujan memang sedikit
reda.
Tetapi langit masih gelap ketika
Rantaka berangkat ke sekolah. Jalan tanah menjadi lebih licin dari biasanya.
Sandalnya beberapa kali hampir terlepas karena lumpur. Di beberapa bagian, air
mengalir kecil di atas jalan seperti sungai tipis.
Ketika sampai di SD Wanasari, ia
langsung tahu bahwa sesuatu telah terjadi.
Halaman sekolah penuh genangan.
Pagar bambu di sisi timur roboh
sebagian. Beberapa batang bambu terlepas dari ikatannya dan tergeletak di
tanah. Daun-daun singkong dari kebun belakang berserakan hingga ke halaman. Di
depan ruang kelas, beberapa anak berdiri sambil memandangi bangunan sekolah
dengan wajah pucat.
Rantaka mempercepat langkah.
Atap di bagian belakang kelas enam
runtuh.
Tidak seluruhnya, tetapi cukup besar
untuk membuat sebagian ruangan berubah kacau. Beberapa lembar seng jatuh ke
lantai. Papan kayu penyangga tampak patah. Air hujan masih menetes dari celah
besar di atas ruangan.
Meja-meja di bagian belakang basah.
Buku-buku beberapa murid tergeletak di
lantai. Ada yang terbuka, ada yang menempel karena terkena air, dan ada yang
sampulnya mulai hancur. Di dekat dinding, sebuah ember sudah penuh hingga
airnya meluber.
Rantaka berdiri di ambang pintu tanpa
mampu berkata-kata.
“Jangan masuk dulu!” suara Bu Laras
terdengar dari dalam kelas.
Bu Laras berdiri di dekat meja guru.
Rok panjangnya bagian bawah basah oleh air. Di tangannya ada beberapa buku yang
sedang ia pindahkan ke tempat kering. Pak Mulyono dan dua orang guru lain
sedang berusaha mengangkat meja-meja agar tidak terkena tetesan air.
“Rantaka, tolong panggil teman-teman
yang lain,” kata Bu Laras. “Bawa buku-buku mereka ke ruang kelas lima. Jangan
ada yang mendekati bagian belakang.”
Rantaka segera bergerak.
Ia memanggil Liris, Banyu, dan Jagra
yang baru datang dari arah jalan. Mereka semua terdiam ketika melihat atap yang
runtuh.
“Buku-buku!” kata Rantaka. “Bu Laras
menyuruh kita memindahkan buku ke kelas lima.”
Tanpa banyak bertanya, mereka masuk ke
ruang kelas dengan hati-hati.
Liris mengambil buku-buku yang masih
kering dari meja depan. Ia memeluknya di dada, lalu membawanya ke kelas lima.
Banyu mengangkat kursi dan meja yang masih dapat diselamatkan. Jagra membawa
ember-ember penuh air keluar ruangan, lalu mengosongkannya di dekat parit.
Rantaka membantu Bu Laras memindahkan
buku pelajaran dari lemari kayu. Lemari itu berada dekat dinding dan bagian
bawahnya mulai basah. Ketika ia menarik salah satu buku, air menetes dari ujung
halaman.
“Cepat, Nak,” kata Bu Laras, tetapi
suaranya tetap tenang.
Rantaka mengangguk. Ia menahan rasa
sedih ketika melihat buku-buku yang baru saja mereka temukan dari gudang tua
kini harus diselamatkan dari air.
Beberapa murid lain ikut membantu. Ada
yang membawa kain lap dari rumah, ada yang menyapu air keluar kelas, ada yang
menjemur buku di teras. Tidak ada yang diminta terlalu banyak. Semua bergerak
karena melihat keadaan sekolah mereka sendiri.
Namun, di tengah kesibukan itu,
terdengar bunyi keras dari arah depan kelas.
Brak!
Semua orang terkejut.
Papan tulis yang selama ini tergantung
di dinding depan jatuh ke lantai.
Bagian kayu penyangganya patah karena
dinding di belakangnya lembap dan rapuh. Papan tulis itu tidak hancur
seluruhnya, tetapi sebuah retakan panjang membelah bagian tengahnya. Retakan itu
membentuk garis miring dari sudut atas ke bagian bawah, seperti luka yang tidak
dapat disembunyikan.
Kelas mendadak hening.
Rantaka menatap papan tulis itu.
Di atasnya, masih ada sisa tulisan Bu
Laras dari pelajaran kemarin:
Pendidikan Membuka
Jalan
Tulisan itu kini terpotong oleh
retakan panjang.
Liris menutup mulut dengan tangan.
Matanya berkaca-kaca.
Jagra berdiri tanpa bergerak, ember
kosong masih berada di tangannya.
Banyu mendekati papan tulis, lalu
berjongkok untuk memeriksanya. Ia menyentuh bagian kayu yang patah dengan
hati-hati.
“Masih bisa diperbaiki?” tanya
Rantaka.
Banyu tidak langsung menjawab.
“Papan ini bisa dipasang lagi,”
katanya pelan. “Tapi retakannya mungkin tidak bisa hilang.”
Bu Laras berdiri di dekat mereka.
Ia memandangi papan tulis itu cukup
lama. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tidak membiarkan kesedihan menguasai
suaranya.
“Kalau masih bisa dipakai, kita akan
pakai,” katanya.
“Dengan retakan itu?” tanya seorang
murid kecil dari kelas lima.
Bu Laras menoleh kepadanya. “Kadang sesuatu
yang retak masih dapat dipakai untuk memberi pelajaran.”
Tidak ada yang benar-benar mengerti
maksudnya saat itu.
Namun, Rantaka memandang tulisan yang
terbelah di papan tulis. Ia merasa retakan itu bukan hanya ada pada kayu hitam
di depan kelas. Retakan itu seperti gambaran sekolah mereka sendiri.
Sekolah yang masih berdiri.
Tetapi terluka.
Sekolah yang masih memiliki murid dan
guru.
Tetapi sedang diuji oleh keadaan.
Menjelang siang, hujan kembali turun,
meski tidak sederas malam sebelumnya. Anak-anak dipindahkan ke kelas lain.
Ruang kelas enam tidak dapat digunakan sepenuhnya. Sebagian murid duduk
berhimpitan di kelas lima. Sebagian lagi belajar di teras, dengan kursi yang
disusun seadanya.
Bu Laras tetap mengajar.
Ia mengambil kapur, lalu berdiri di depan
papan tulis yang telah dipasang sementara dengan bantuan Pak Mulyono dan
beberapa warga. Papan itu kini sedikit miring. Retakan panjang masih terlihat
jelas di tengahnya.
Bu Laras menulis pelajaran dengan
hati-hati di sisi kiri papan.
Anak-anak memperhatikannya.
Angin masuk melalui jendela tanpa
kaca. Dari atap, tetesan air masih jatuh ke ember. Di belakang kelas, bagian
atap yang runtuh ditutup dengan terpal tua.
Namun, pelajaran tetap berjalan.
Rantaka duduk di bangku paling depan.
Ia tidak lagi melihat papan tulis yang retak sebagai benda yang menyedihkan. Ia
melihatnya sebagai sesuatu yang sedang berusaha bertahan.
Saat jam pulang, sebuah mobil putih
berhenti di depan sekolah.
Dua orang lelaki turun dari dalamnya.
Mereka mengenakan pakaian rapi dan membawa map. Salah satunya memotret bangunan
sekolah, pagar yang roboh, serta bagian atap yang runtuh.
Pak Mulyono berjalan mendekati mereka.
Rantaka dan sahabat-sahabatnya berdiri
di teras kelas sambil memandangi dari jauh.
“Itu orang kecamatan?” tanya Jagra.
Bu Laras yang berdiri tidak jauh dari
mereka mengangguk pelan.
“Sepertinya mereka datang untuk
melihat keadaan sekolah,” katanya.
Rantaka melihat salah satu lelaki itu
menulis sesuatu di dalam map. Lelaki lain menunjuk ke arah atap yang runtuh,
lalu menggeleng pelan.
Tidak ada yang dapat didengar dari
tempat Rantaka berdiri.
Tetapi ia tidak perlu mendengar untuk
mengetahui bahwa keadaan sekolah mereka kini tampak lebih buruk di mata
orang-orang yang datang menilai.
Ketika mobil putih itu pergi, halaman
sekolah kembali sunyi.
Rantaka berjalan mendekati papan tulis
yang retak. Ia menyentuh bagian pinggirnya dengan ujung jari.
Di hadapannya, retakan panjang itu
tetap ada.
Namun, papan tulis itu masih berdiri.
Dan selama papan itu masih dapat
dipakai untuk menulis pelajaran, Rantaka merasa SD Wanasari belum boleh
dianggap kalah.
Bab 10 — Anak-Anak yang Menolak Diam
Mobil putih dari kecamatan telah lama
meninggalkan halaman SD Wanasari, tetapi bayangannya seperti masih tertinggal
di antara bangunan kelas yang basah dan pagar bambu yang roboh.
Sejak pagi, anak-anak tidak banyak
bermain saat jam istirahat. Biasanya, halaman sekolah dipenuhi suara
kejar-kejaran, tawa, dan teriakan kecil dari anak-anak kelas bawah. Namun, hari
itu, sebagian besar hanya duduk di teras atau berdiri memandangi bagian atap
kelas enam yang masih ditutup terpal.
Papan tulis yang retak tetap
tergantung di depan kelas.
Retakan panjang di tengahnya tampak
semakin jelas ketika cahaya matahari masuk dari jendela tanpa kaca. Bu Laras
masih menggunakannya untuk mengajar, tetapi setiap kali kapur menyentuh
permukaannya, Rantaka merasa seolah papan itu sedang berusaha keras untuk tidak
patah lebih jauh.
Setelah pelajaran selesai, Rantaka
tidak langsung pulang.
Ia duduk di bawah pohon beringin bersama
Liris, Banyu, dan Jagra. Tidak ada buku yang dibuka. Tidak ada cerita lucu dari
Jagra. Tidak ada catatan puisi dari Liris. Mereka hanya diam, memandangi
halaman sekolah yang masih penuh bekas hujan.
Di dekat pagar, beberapa batang bambu
tergeletak miring. Rumput liar tumbuh di sepanjang jalan masuk. Saluran air di
samping kelas tersumbat daun-daun kering dan lumpur. Terpal di atap belakang
bergerak-gerak ditiup angin.
Jagra memecah kesunyian.
“Orang kecamatan tadi pasti melihat
semuanya,” katanya.
“Ya,” jawab Banyu.
“Mereka pasti menganggap sekolah kita
tidak layak.”
Liris memeluk lututnya. “Mereka tidak
melihat apa yang ada di dalam sekolah ini.”
“Mereka melihat atap runtuh,” kata
Jagra. “Pagar roboh. Papan tulis retak. Itu sudah cukup bagi mereka.”
Rantaka menunduk. Kata-kata Jagra
memang benar. Orang yang datang dari kecamatan mungkin hanya melihat bangunan
tua dan fasilitas yang rusak. Mereka mungkin tidak melihat Bu Laras yang tetap
mengajar meski kelas bocor. Mereka tidak melihat Banyu yang memperbaiki meja.
Mereka tidak melihat Liris membaca puisi di bawah beringin. Mereka tidak
melihat Jagra yang tetap datang ke sekolah meski harus membantu ayahnya mencari
ikan sejak pagi.
Mereka juga tidak melihat mimpi-mimpi
yang disimpan dalam buku biru milik Liris.
“Apa kita hanya akan menunggu?” tanya
Rantaka.
Tiga sahabatnya menoleh.
Rantaka memandang halaman sekolah.
Dadanya masih dipenuhi rasa takut. Namun, rasa takut itu perlahan berubah
menjadi sesuatu yang lain. Ia teringat percakapan di balai desa. Orang-orang
dewasa berkata bahwa sekolah mungkin tidak dapat dipertahankan. Mereka
berbicara tentang jarak, biaya, dan kesulitan. Semua itu memang nyata.
Tetapi Rantaka tidak ingin sekolah
mereka hanya dikenang sebagai bangunan tua yang ditutup karena tidak ada yang
berusaha menjaganya.
“Kita tidak bisa memperbaiki seluruh
atap,” lanjutnya. “Kita juga tidak bisa memutuskan apa yang akan dilakukan
kecamatan. Tapi kita bisa melakukan sesuatu.”
“Seperti apa?” tanya Liris.
“Kita bersihkan sekolah ini,” jawab
Rantaka. “Kita rapikan halaman. Kita perbaiki pagar yang bisa diperbaiki. Kita
bersihkan saluran air. Kita tunjukkan bahwa sekolah ini masih dijaga.”
Jagra mengangkat alis. “Hanya dengan
membersihkan halaman, sekolah ini tidak jadi ditutup.”
“Mungkin tidak,” kata Rantaka. “Tapi
kalau kita diam, tidak ada yang akan tahu bahwa sekolah ini berarti bagi kita.”
Banyu memandangi pagar bambu yang
roboh.
“Aku bisa mencoba memperbaiki bagian
yang patah,” katanya pelan. “Kalau ada bambu bekas dan tali.”
Liris membuka buku tulisnya. “Aku bisa
membuat tulisan untuk ditempel di kelas. Tentang menjaga sekolah. Supaya
teman-teman lain ikut membantu.”
Jagra menghela napas, lalu berdiri.
“Kalau begitu, aku bisa mengajak anak-anak kelas lima. Mereka kuat-kuat kalau
disuruh angkat bambu.”
Rantaka tersenyum kecil.
“Berarti kita mulai besok,” katanya.
“Besok pagi?” tanya Jagra.
“Besok pagi,” jawab Rantaka.
Keesokan harinya, Rantaka datang lebih
awal dari biasanya.
Kabut masih menggantung tipis di atas
sawah. Jalan tanah belum ramai. Dari kejauhan, suara ayam berkokok bersahutan.
Ia membawa sabit kecil milik ayahnya, sapu lidi, dan sebuah karung untuk
mengumpulkan sampah.
Ketika sampai di sekolah, Liris sudah
menunggu di dekat gerbang. Ia membawa beberapa lembar kertas bekas yang masih kosong
di satu sisi, pensil warna pendek, dan tali rafia.
Banyu datang dengan sepeda tuanya. Di
belakang sepedanya tergantung palu kecil, beberapa paku, dan sepotong kawat.
Jagra muncul beberapa menit kemudian sambil membawa parang kecil yang sudah
diberi sarung dari kain.
“Kita benar-benar seperti mau
membangun sekolah baru,” kata Jagra.
“Belum tentu sekolah baru,” jawab
Banyu. “Tapi setidaknya sekolah lama ini tidak terlihat seperti ditinggalkan.”
Mereka mulai bekerja sebelum bel masuk
berbunyi.
Rantaka membersihkan rumput liar di
sepanjang jalan masuk. Ia mencabut tanaman yang tumbuh di sela-sela batu, lalu
memasukkannya ke dalam karung. Tangannya menjadi kotor oleh tanah, tetapi ia
terus bekerja.
Liris menyapu teras kelas dan
mengumpulkan daun-daun kering. Setelah itu, ia menulis beberapa kalimat di
kertas bekas dengan huruf besar:
SEKOLAH KITA,
TANGGUNG JAWAB KITA
Di bawahnya, ia menulis lagi:
JAGA KEBERSIHAN,
JAGA BUKU, JAGA MIMPI
Ia menempelkan tulisan itu di dinding
dekat pintu kelas menggunakan lem dari tepung yang dibuat ibunya.
Banyu memeriksa pagar bambu yang
roboh. Ia memilih batang-batang yang masih kuat, lalu memasangnya kembali
dengan kawat dan tali rafia. Pekerjaannya tidak cepat. Ia harus mengukur jarak,
menahan bambu agar tidak jatuh, lalu mengikatnya satu per satu.
Jagra membantu mengangkat batang
bambu. Sesekali ia mengeluh karena telapak tangannya terkena serpihan.
“Bambu ini lebih keras daripada ikan
gabus,” katanya.
“Memangnya ikan gabus bisa dipaku?”
tanya Banyu tanpa menoleh.
Jagra tertawa. “Tidak bisa. Tapi ikan
gabus tidak membuat tanganku lecet.”
Ketika bel masuk berbunyi, pekerjaan
mereka belum selesai. Mereka masuk kelas dengan tangan kotor dan seragam yang
sedikit terkena lumpur. Bu Laras melihat keadaan mereka, tetapi tidak marah.
“Apa yang kalian lakukan pagi-pagi
sekali?” tanyanya.
Rantaka berdiri.
“Kami membersihkan sekolah, Bu.”
Bu Laras memandang ke luar jendela. Ia
melihat jalan masuk yang mulai bersih, halaman yang lebih rapi, dan pagar bambu
yang sedang diperbaiki Banyu.
Wajahnya berubah lembut.
“Terima kasih,” katanya.
Hanya dua kata.
Namun, bagi Rantaka, dua kata itu
terasa seperti penguat yang membuatnya ingin terus bergerak.
Saat jam istirahat, Liris mengajak
beberapa teman sekelas untuk membantu. Ia membacakan tulisan yang dibuatnya.
Anak-anak kelas enam mulai membawa sapu, ember, dan kain lap dari rumah
masing-masing. Anak-anak kelas lima ikut mengumpulkan sampah. Bahkan beberapa
murid kelas tiga yang belum mengerti sepenuhnya tentang ancaman penutupan
sekolah ikut membawa daun-daun kering ke dalam karung.
Dalam beberapa hari, halaman SD
Wanasari mulai berubah.
Saluran air yang sebelumnya tersumbat
kini dibersihkan. Saat hujan kecil turun, air tidak lagi menggenang terlalu
lama di depan kelas. Pagar bambu berdiri kembali, meski belum sempurna.
Beberapa anak menanam bunga sederhana dari potongan batang singkong dan kaleng
bekas di dekat teras.
Banyu membuat tempat sampah dari dua
ember cat bekas. Ia mencuci ember itu, melubangi bagian bawahnya agar air tidak
menggenang, lalu menuliskan kata DAUN dan PLASTIK dengan cat sisa
yang ditemukan di gudang.
Liris membuat jadwal piket baru. Ia
membaginya bukan hanya untuk kelas enam, tetapi juga mengajak kelas lain ikut
menjaga halaman sekolah. Tulisan-tulisannya ditempel di beberapa tempat.
Jagra mengajak anak-anak yang biasa
bermain di sungai untuk membantu memperbaiki parit kecil di belakang sekolah.
Ia tahu cara mengalirkan air karena sering melihat ayahnya membuat saluran
sederhana di tepi sungai.
“Kalau airnya lewat sini,” katanya
sambil menunjuk tanah, “nanti tidak masuk ke kelas.”
“Sejak kapan kau jadi ahli parit?”
tanya Liris.
“Sejak sekolah kita hampir tenggelam,”
jawab Jagra.
Mereka tertawa.
Tawa itu terdengar sederhana, tetapi
setelah beberapa hari penuh kecemasan, tawa tersebut terasa seperti tanda bahwa
harapan belum hilang.
Suatu sore, ketika anak-anak sedang
menanam bunga di depan kelas, beberapa warga mulai memperhatikan.
Bu Sari, yang rumahnya tidak jauh dari
sekolah, datang membawa dua ember air. Ia membantu menyiram tanaman yang baru
ditanam.
“Anak-anak ini rajin sekali,” katanya.
Seorang bapak yang sedang lewat
berhenti di dekat pagar. Ia melihat Banyu memperkuat ikatan bambu, lalu ikut
membantu menahan salah satu tiang.
“Kalau begini, pagar bisa lebih kuat,”
katanya sambil mengambil tali.
Tidak lama kemudian, dua orang pemuda
desa datang membawa bambu tambahan. Mereka mendengar Jagra meminta bantuan
kepada kakaknya. Meski awalnya hanya ingin melihat, mereka akhirnya ikut
memperbaiki bagian pagar yang paling rusak.
Rantaka memandangi semua itu dengan
perasaan hangat.
Mereka memang belum memiliki uang
untuk memperbaiki atap. Mereka belum tahu keputusan kecamatan. Mereka belum
mampu menjawab semua kekhawatiran orang dewasa.
Tetapi halaman sekolah yang semula
tampak suram kini mulai hidup kembali.
Pada sore hari ketiga, Pak Mulyono
keluar dari kantor sekolah. Ia berdiri di teras sambil memandangi anak-anak
yang masih bekerja. Bu Laras berdiri di sampingnya.
“Kalian sudah membuat sekolah ini
tampak berbeda,” kata Pak Mulyono.
Rantaka menatap kepala sekolahnya.
“Apakah itu cukup, Pak?”
Pak Mulyono tidak langsung menjawab.
“Belum tentu cukup untuk menyelesaikan
semua masalah,” katanya jujur. “Tetapi ini cukup untuk menunjukkan bahwa
sekolah ini tidak ditinggalkan.”
Kalimat itu membuat Rantaka
mengangguk.
Di bawah pohon beringin, Langit Biru
kembali berkumpul sebelum pulang. Tangan mereka kotor, seragam mereka tidak
lagi sebersih pagi tadi, dan kaki mereka penuh tanah.
Namun, di depan mereka, halaman
sekolah terlihat lebih rapi.
Bunga-bunga kecil berdiri dalam kaleng
bekas. Pagar bambu kembali tegak. Saluran air mulai lancar. Tulisan Liris di
dinding kelas bergerak pelan diterpa angin.
SEKOLAH KITA,
TANGGUNG JAWAB KITA.
Rantaka membaca kalimat itu dalam
hati.
Ia tahu perjuangan mereka baru
dimulai.
Tetapi sejak hari itu, SD Wanasari
tidak lagi hanya memiliki bangunan tua, papan tulis retak, dan atap bocor.
Sekolah itu memiliki anak-anak yang
menolak diam.
Bab 11 — Gerobak Buku Banyu
Perubahan kecil mulai terlihat di SD
Wanasari.
Pagar bambu yang sempat roboh kini
berdiri kembali, meski beberapa bagian masih berbeda warna karena memakai bambu
baru dan bambu lama. Saluran air di samping kelas sudah tidak lagi dipenuhi
lumpur. Kaleng-kaleng bekas yang dijadikan pot bunga berjajar di depan teras,
berisi batang singkong, bunga kertas, dan tanaman kecil yang dibawa anak-anak
dari rumah.
Di dinding dekat pintu kelas, tulisan
Liris masih menempel.
SEKOLAH KITA,
TANGGUNG JAWAB KITA.
Setiap pagi, sebelum masuk kelas,
Rantaka selalu membaca tulisan itu.
Ia tidak tahu apakah orang kecamatan
akan peduli pada halaman yang lebih bersih atau pagar yang lebih rapi. Namun,
ia tahu bahwa sekolah mereka tidak lagi tampak seperti tempat yang dibiarkan
menunggu kerusakan. Ada tangan-tangan kecil yang merawatnya. Ada anak-anak yang
datang lebih awal untuk menyapu, menata buku, dan menyiram tanaman.
Tetapi satu sore, ketika Langit Biru
berkumpul di bawah pohon beringin, Banyu terlihat lebih diam daripada biasanya.
Ia duduk di dekat sepedanya sambil
memandangi roda belakang yang sudah kusam. Di sampingnya terdapat beberapa
potong kayu pendek, dua roda bekas, dan seutas tali rafia yang digulung rapi.
Rantaka memperhatikannya sejak tadi.
“Kau sedang membuat apa?” tanyanya.
Banyu tidak langsung menjawab. Ia mengambil
satu potong kayu, lalu meletakkannya di atas tanah.
“Gerobak,” katanya.
“Gerobak?” Jagra mendekat. “Untuk
apa?”
“Untuk membawa buku.”
Liris menatapnya dengan rasa ingin
tahu. “Buku dari gudang?”
Banyu mengangguk.
Rantaka duduk lebih dekat. “Mau dibawa
ke mana?”
“Ke rumah-rumah warga,” jawab Banyu
pelan. “Banyak anak kecil tidak datang ke sekolah setiap hari. Ada yang masih
terlalu kecil. Ada yang harus membantu orang tuanya. Ada juga yang tidak punya
buku di rumah.”
Jagra memegang salah satu roda bekas.
“Tapi buku-buku itu kan milik sekolah.”
“Kita bisa minta izin Bu Laras,” kata
Banyu. “Buku tidak hanya untuk disimpan di rak.”
Rantaka teringat kata-kata Bu Laras
ketika mereka membersihkan gudang tua: Buku tidak hanya untuk dibaca
sendiri. Buku harus membuat kita ingin berbagi pengetahuan dengan orang lain.
Kalimat itu kembali terngiang dalam
pikirannya.
Liris membuka buku tulis birunya.
“Kalau kita membawa buku ke rumah-rumah, anak-anak kecil bisa mendengar
dongeng. Ibu-ibu juga mungkin mau membaca.”
“Bapak-bapak?” tanya Jagra.
“Mungkin,” jawab Liris.
Jagra tersenyum miring. “Kalau
Bapak-bapak mau membaca, aku akan percaya bahwa dunia benar-benar berubah.”
Banyu mengambil dua batang kayu yang
lebih panjang.
“Gerobaknya tidak perlu besar,”
katanya. “Cukup untuk beberapa buku, tikar, dan papan kecil. Kalau terlalu
berat, kita tidak kuat mendorongnya.”
“Kau bisa membuatnya?” tanya Rantaka.
Banyu menatap potongan kayu di
depannya. “Aku belum tahu. Tapi aku mau mencoba.”
Keesokan harinya, mereka meminta izin
kepada Bu Laras.
Saat itu Bu Laras sedang menata
buku-buku yang telah diselamatkan dari gudang tua. Sebagian buku dijemur di
teras agar halaman yang lembap benar-benar kering. Sebagian lagi sudah kembali
tersusun di rak sederhana yang dibuat dari papan bekas.
Rantaka menjelaskan rencana Banyu
dengan hati-hati.
“Kami ingin membawa beberapa buku ke
rumah-rumah warga, Bu,” katanya. “Bukan untuk dipinjamkan sembarangan. Kami
ingin mengajak anak-anak membaca bersama.”
Bu Laras menghentikan pekerjaannya.
“Perpustakaan keliling?” tanyanya.
Banyu mengangguk. “Gerobaknya dari
kayu bekas, Bu. Saya akan membuatnya sendiri.”
Bu Laras memandang keempat anak itu.
Wajahnya tampak terkejut, tetapi bukan karena ragu. Ia seperti sedang melihat
sesuatu yang tidak pernah ia duga akan tumbuh dari sekolah kecil itu.
“Kalau kalian serius,” katanya, “Ibu
akan membantu memilihkan buku yang sesuai.”
Jagra tersenyum lebar. “Berarti boleh,
Bu?”
“Boleh,” jawab Bu Laras. “Tetapi ada
aturan. Buku harus dicatat. Tidak boleh terkena hujan. Tidak boleh dibawa
pulang tanpa izin. Dan kalian harus memastikan setiap buku kembali.”
“Kami janji,” kata Rantaka.
Bu Laras lalu membuka lemari kecil di
sudut ruangan. Dari dalamnya, ia mengambil sebuah buku tulis tebal yang
sampulnya sudah pudar.
“Ini buku peminjaman lama,” katanya.
“Dulu sekolah pernah punya perpustakaan kecil. Sekarang, mungkin kalian bisa
menghidupkannya lagi.”
Liris menerima buku itu dengan kedua
tangan.
Di halaman pertama, masih terlihat
tulisan lama yang mulai memudar:
DAFTAR PEMINJAMAN
BUKU SD WANASARI
Liris tersenyum.
“Ini seperti menemukan cerita yang
belum selesai,” katanya.
Selama tiga hari berikutnya, Banyu
bekerja keras membuat gerobak buku.
Ia menggunakan kayu bekas dari meja
yang sudah tidak dapat dipakai. Roda gerobak diambil dari sepeda tua milik
pamannya yang sudah rusak. Ia meminta bantuan Jagra untuk mengangkat papan,
sementara Rantaka membantu memegang kayu saat Banyu memaku bagian-bagiannya.
Liris tidak pandai memaku, tetapi ia
membantu dengan cara lain. Ia membuat tulisan untuk bagian depan gerobak.
Dengan cat biru sisa dari gudang
sekolah, ia menulis:
GEROBAK BUKU LANGIT
BIRU
Buku Datang, Mimpi Bertumbuh
Tulisan itu tidak terlalu lurus.
Catnya juga sedikit menetes di beberapa bagian. Namun, ketika dipasang di
bagian depan gerobak, semua orang merasa gerobak itu tampak istimewa.
Jagra berdiri sambil mengamati
hasilnya.
“Kelihatannya seperti gerobak penjual
sayur,” katanya.
“Kalau penjual sayur membawa makanan
untuk perut,” jawab Liris, “gerobak ini membawa makanan untuk pikiran.”
Jagra tertawa. “Kalau begitu, jangan
sampai buku-bukunya dimasak.”
Banyu mencoba mendorong gerobak itu di
halaman sekolah. Rodanya berderit cukup keras. Salah satu roda sedikit miring,
sehingga gerobak berjalan tidak lurus.
“Belok terus,” kata Jagra.
“Karena jalan di desa juga tidak
lurus,” jawab Banyu.
Rantaka ikut mendorong dari belakang.
“Yang penting bisa berjalan.”
Setelah beberapa kali diperbaiki,
gerobak itu akhirnya dapat digunakan.
Tidak sempurna.
Tidak halus.
Tidak seindah gerobak yang mungkin
dijual di kota.
Tetapi gerobak itu dibuat dari tangan
anak-anak Desa Wanasari. Dari kayu bekas, roda tua, paku yang dikumpulkan satu
per satu, dan keinginan untuk membawa buku ke tempat yang belum pernah disentuh
buku.
Hari pertama perpustakaan keliling
dimulai pada Minggu pagi.
Langit cerah. Jalan tanah masih
sedikit lembap oleh hujan malam sebelumnya. Rantaka membawa tikar kecil yang
digulung. Liris membawa buku catatan peminjaman dan pensil. Banyu mendorong
gerobak buku. Jagra berjalan di sampingnya sambil membawa payung besar,
berjaga-jaga jika hujan datang tiba-tiba.
Mereka memilih beberapa buku cerita
rakyat, buku berhitung, buku bergambar tentang hewan, buku pengetahuan alam,
serta beberapa majalah anak lama yang masih layak dibaca.
Tujuan pertama mereka adalah
rumah-rumah di sekitar kebun singkong.
Ketika gerobak itu melewati jalan
desa, beberapa warga menoleh. Anak-anak kecil yang sedang bermain kelereng
berhenti dan memandangi tulisan di bagian depan gerobak.
“Itu apa?” tanya seorang anak kecil
bernama Wawan.
“Gerobak buku,” jawab Liris.
“Buku untuk dijual?”
“Tidak,” kata Rantaka. “Untuk dibaca.”
Anak-anak itu saling pandang.
“Boleh lihat?” tanya Wawan.
“Boleh,” jawab Banyu.
Mereka berhenti di bawah pohon mangga
dekat rumah Bu Sari. Rantaka membentangkan tikar. Liris menyusun buku-buku
bergambar di atasnya. Banyu menata gerobak agar tidak mudah terguling. Jagra
memanggil anak-anak yang masih malu-malu berdiri jauh.
“Kalau mau dengar cerita, duduk sini,”
katanya. “Tidak dipungut ikan.”
Anak-anak tertawa dan mulai mendekat.
Liris memilih sebuah buku dongeng
tentang burung kecil yang ingin terbang melewati gunung. Ia membacakan cerita
itu dengan suara yang jelas dan penuh perasaan. Anak-anak duduk melingkar. Ada
yang memegang lutut, ada yang bersandar pada ibunya, ada yang memandangi gambar
di buku dengan mata lebar.
Rantaka membantu anak-anak yang belum
bisa membaca. Ia menunjukkan huruf-huruf sederhana.
“Ini huruf B,” katanya kepada seorang
anak perempuan kecil.
“B seperti apa?” tanya anak itu.
“B seperti buku,” jawab Rantaka.
“B seperti biru?” tanya Liris.
Rantaka tersenyum. “Ya. B seperti
biru.”
Banyu memperlihatkan buku bergambar
tentang alat-alat sederhana. Ia menjelaskan cara kerja roda, tuas, dan katrol
dengan menggunakan gerobak mereka sebagai contoh. Anak-anak terlihat kagum
ketika ia menunjukkan bahwa roda tua dapat membantu membawa beban berat.
Jagra awalnya hanya berdiri di
belakang. Namun, ketika beberapa anak mulai bertanya tentang ikan sungai, ia
mengambil buku bergambar hewan air dan mulai bercerita.
“Kalau ikan gabus, dia bisa bertahan
di air yang tidak terlalu banyak,” katanya. “Tapi jangan asal menangkap ikan
kecil. Kalau semua ikan kecil diambil, nanti sungainya kosong.”
Seorang ibu yang sedang menyapu
halaman berhenti mendengarkan.
“Jagra sekarang pandai bicara,”
katanya.
Jagra sedikit malu, tetapi ia tetap
melanjutkan ceritanya.
Menjelang siang, lebih banyak anak
datang. Ada yang membawa adik kecil. Ada yang meminta dibacakan dongeng lain.
Ada pula yang ingin meminjam buku untuk dibawa pulang.
Liris mencatat nama mereka di buku
peminjaman.
Nama-nama itu ditulis dengan huruf
sederhana, sebagian masih dibantu oleh orang tua mereka. Namun, bagi Liris,
setiap nama yang masuk ke dalam buku itu terasa seperti tanda bahwa gerobak
kecil mereka benar-benar membawa sesuatu yang berarti.
Pada sore hari, ketika mereka hendak
pulang, Bu Sari menghampiri mereka.
“Besok kalian datang lagi?” tanyanya.
“Kami akan datang lagi minggu depan,
Bu,” jawab Rantaka.
Bu Sari mengangguk. “Kalau begitu,
saya akan mengajak ibu-ibu lain. Anak-anak di sini senang sekali.”
Rantaka menatap sahabat-sahabatnya.
Banyu tampak lelah, tetapi matanya
berbinar. Liris memeluk buku peminjaman di dadanya. Jagra mendorong gerobak
dari samping sambil sesekali memastikan roda tidak masuk terlalu dalam ke
lumpur.
Mereka berjalan pulang melewati jalan
tanah yang mulai mengering.
Gerobak itu berderit.
Roda tuanya masih sedikit miring.
Namun, di dalamnya tersimpan buku-buku
yang telah dibaca, dipinjam, disentuh, dan didengarkan oleh anak-anak desa.
Di belakang mereka, beberapa anak
kecil masih melambaikan tangan.
“Gerobak Buku Langit Biru!” teriak
Wawan.
Rantaka menoleh dan tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia merasa
Langit Biru bukan lagi hanya nama kelompok mereka.
Langit Biru mulai menjadi gerakan
kecil yang membawa harapan dari rumah ke rumah.
Bab 12 — Puisi yang Menggetarkan Balai Desa
Gerobak Buku Langit Biru mulai dikenal
oleh warga Desa Wanasari.
Setiap Minggu pagi, Banyu mendorong
gerobak kayu itu melewati jalan tanah, diikuti Rantaka, Liris, dan Jagra. Roda
tua gerobak masih berderit, kadang miring ketika melewati batu atau lumpur,
tetapi tidak ada yang lagi menertawakannya seperti pada hari pertama.
Anak-anak kecil justru menunggu
kedatangannya.
Mereka berlari dari halaman rumah,
membawa tikar kecil atau duduk di bawah pohon terdekat. Ada yang meminta
dibacakan dongeng, ada yang ingin melihat gambar hewan, dan ada pula yang hanya
ingin membuka buku lalu membalik halaman dengan rasa ingin tahu.
Beberapa ibu mulai ikut duduk bersama
anak-anak mereka. Mereka mendengarkan Liris membacakan cerita, memperhatikan
Rantaka mengajari huruf, atau tersenyum ketika Jagra menjelaskan tentang ikan
sungai dengan cara yang lebih bersemangat daripada biasanya.
Namun, meski gerobak buku membawa suasana
baru ke beberapa sudut desa, kabar tentang SD Wanasari tetap menjadi beban yang
belum selesai.
Atap kelas enam masih ditutup terpal.
Papan tulis retak masih digunakan
setiap hari.
Beberapa meja belum dapat dipakai
karena kaki-kakinya rapuh.
Dan surat dari kecamatan tetap menjadi
bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Suatu sore, Pak Mulyono meminta Bu
Laras menghadiri pertemuan warga di balai desa. Pertemuan itu rencananya
membahas beberapa persoalan desa, termasuk keadaan SD Wanasari yang akan segera
dinilai kembali oleh tim kecamatan.
Bu Laras datang ke kelas enam sebelum
pulang dan menyampaikan kabar itu kepada murid-murid.
“Besok malam akan ada pertemuan warga
di balai desa,” katanya. “Pak Mulyono dan Ibu akan menjelaskan keadaan sekolah
kita.”
Beberapa murid langsung berbisik.
“Apakah sekolah akan ditutup, Bu?”
tanya seorang anak.
“Belum ada keputusan,” jawab Bu Laras.
“Tetapi warga perlu mengetahui apa yang sedang terjadi.”
Liris yang duduk di dekat jendela
memandang Bu Laras cukup lama. Setelah pelajaran selesai, ia mendekati gurunya.
“Bu,” katanya pelan, “bolehkah
anak-anak datang ke pertemuan itu?”
Bu Laras tampak berpikir.
“Pertemuan itu untuk warga dan orang
tua,” katanya. “Tetapi kalian boleh datang jika didampingi keluarga.”
Liris mengangguk, lalu menunduk pada
buku tulis birunya.
Malam itu, ia tidak langsung tidur.
Di rumah kecilnya, lampu minyak
menyala di atas meja kayu. Adiknya telah terlelap di tikar. Ibunya masih
merapikan beberapa pakaian yang baru dicuci. Dari luar rumah, suara jangkrik
terdengar bersahutan.
Liris duduk sendiri di dekat jendela.
Di depannya terbuka buku tulis biru
yang selama ini menyimpan banyak kata. Ada catatan tentang Langit Biru, daftar
buku yang dipinjam warga, nama-nama anak kecil yang mulai belajar membaca,
serta beberapa puisi pendek yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Ia memegang pensil cukup lama.
Lalu ia mulai menulis.
Mula-mula hanya satu baris.
Kemudian dua baris.
Lalu semakin banyak.
Ia menulis tentang sekolah tua di
ujung kebun singkong. Tentang jendela tanpa kaca. Tentang papan tulis retak.
Tentang anak-anak yang datang membawa buku dalam kantong plastik. Tentang guru
yang tetap mengajar ketika hujan masuk ke kelas.
Ia juga menulis tentang ketakutan.
Tentang anak-anak yang mungkin harus
berjalan jauh ke kecamatan.
Tentang orang tua yang mulai berpikir
bahwa sekolah terlalu mahal untuk dipertahankan.
Tentang mimpi yang dapat hilang
sebelum sempat tumbuh.
Ketika ibunya mendekat, Liris masih
menulis.
“Kau membuat apa?” tanya ibunya.
“Puisi, Bu.”
“Untuk tugas sekolah?”
Liris menggeleng. “Untuk pertemuan di
balai desa.”
Ibunya terdiam.
“Kau mau membacakannya?”
“Aku belum tahu.”
Ibunya duduk di sampingnya. Ia membaca
beberapa baris yang telah ditulis Liris. Wajahnya berubah perlahan. Setelah
selesai membaca, ia tidak langsung berkata apa-apa.
“Kalau kau merasa itu perlu
dibacakan,” katanya akhirnya, “bacakanlah.”
“Kalau orang-orang tidak mau
mendengar?”
“Kadang orang dewasa perlu diingatkan
oleh anak-anak,” jawab ibunya.
Keesokan malamnya, balai desa mulai
dipenuhi warga.
Lampu-lampu neon yang tergantung di
langit-langit memancarkan cahaya putih pucat. Bangku panjang disusun menghadap
meja depan. Di sana duduk Kepala Dusun, beberapa perangkat desa, Pak Mulyono,
dan Bu Laras. Beberapa warga datang membawa anak kecil. Ada bapak-bapak yang
baru pulang dari kebun, masih mengenakan sandal berlumpur. Ada ibu-ibu yang
duduk sambil menggendong bayi.
Rantaka datang bersama Darma dan
Rukmini.
Ia duduk di bagian belakang bersama
Liris, Banyu, dan Jagra. Mereka tidak banyak bicara. Semua menunggu pembahasan
tentang sekolah dimulai.
Setelah beberapa urusan desa
dibicarakan, Kepala Dusun berdiri.
“Sekarang kita membahas keadaan SD
Wanasari,” katanya.
Suasana balai desa langsung lebih
hening.
Pak Mulyono kemudian berdiri. Ia
membawa beberapa lembar kertas dan berbicara dengan suara tenang, tetapi tegas.
Ia menjelaskan bahwa sekolah akan
dievaluasi oleh kecamatan. Jumlah murid dianggap sedikit. Bangunan sekolah
dinilai tidak layak di beberapa bagian. Fasilitas belajar terbatas. Atap kelas
enam yang runtuh menjadi salah satu catatan penting.
“Kami telah melakukan pembersihan dan
perbaikan sederhana,” kata Pak Mulyono. “Anak-anak bahkan ikut menjaga
lingkungan sekolah. Namun, untuk perbaikan yang lebih besar, kita membutuhkan
dukungan bersama.”
Seorang warga mengangkat tangan.
“Dukungan seperti apa, Pak?” tanyanya.
“Dukungan tenaga, gagasan, dan jika
memungkinkan, bantuan bahan untuk perbaikan ringan. Yang terpenting, kita harus
menunjukkan bahwa sekolah ini masih dibutuhkan oleh warga.”
Seorang bapak di bagian tengah bangku
menghela napas.
“Sekolah memang penting,” katanya.
“Tetapi kita juga harus realistis. Kalau bangunannya sudah terlalu rusak dan
kecamatan ingin menutup, kita bisa apa?”
Beberapa orang mengangguk pelan.
“Anak-anak bisa pindah ke kecamatan,”
kata warga lain. “Memang jauh, tapi mungkin itu lebih baik daripada belajar di
bangunan yang tidak aman.”
Rantaka merasakan tangan ibunya
menyentuh bahunya. Ia tahu ibunya juga cemas.
Pak Mulyono belum sempat menjawab
ketika seorang ibu berdiri.
“Anak saya kelas satu,” katanya.
“Kalau harus ke kecamatan, siapa yang mengantar? Suami saya pergi ke kebun
sebelum matahari terbit. Saya harus menjaga anak yang kecil. Kami tidak punya
sepeda motor.”
Balai desa kembali hening.
Kepala Dusun memandang warga satu per
satu.
“Kita semua memahami kesulitan itu,”
katanya. “Tetapi masalah biaya perbaikan sekolah juga bukan perkara kecil.”
Kata-kata itu membuat suasana semakin
berat.
Liris menunduk. Di pangkuannya, buku
tulis biru ia pegang erat-erat. Tangannya terlihat gemetar.
Rantaka yang duduk di sebelahnya
melihat hal itu.
“Kau ingin membacakan puisimu?”
bisiknya.
Liris tidak menjawab.
“Aku takut,” katanya akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena mereka semua orang dewasa.”
Rantaka memandang ke depan.
Wajah-wajah warga terlihat lelah. Ada yang tampak putus asa. Ada yang sedang
menghitung kesulitan dalam pikirannya. Ada pula yang mungkin sudah membayangkan
anak-anak mereka harus berhenti sekolah.
“Justru karena mereka orang dewasa,”
kata Rantaka pelan, “mereka perlu mendengar suara anak-anak.”
Liris menatapnya.
Banyu mengangguk. “Puisi itu bisa
membuat mereka melihat sekolah dari sisi yang lain.”
Jagra yang biasanya paling banyak
bercanda kini berkata dengan serius, “Kalau kau tidak berani, aku yang maju.
Tapi aku tidak bisa membuat puisi.”
Liris hampir tersenyum.
Kemudian ia berdiri.
Gerakannya membuat beberapa warga
menoleh. Bu Laras yang duduk di depan melihat Liris dengan wajah terkejut.
Liris berjalan perlahan menuju meja depan. Kakinya tampak ragu, tetapi ia terus
melangkah.
“Pak,” katanya kepada Kepala Dusun,
“bolehkah saya membacakan sesuatu?”
Kepala Dusun memandang Pak Mulyono dan
Bu Laras. Bu Laras mengangguk.
“Silakan, Liris,” kata Kepala Dusun.
Liris berdiri di depan balai desa.
Tangannya memegang buku tulis biru.
Suaranya pada awalnya kecil, hampir tenggelam oleh bunyi kipas angin tua di
sudut ruangan. Namun, setelah membaca beberapa baris pertama, suaranya perlahan
menjadi lebih jelas.
Ia membacakan puisi berjudul “Sekolah
yang Menunggu Pagi.”
Di ujung kebun singkong
ada sekolah kecil yang tidak meminta istana
hanya atap yang tidak bocor
dan papan tulis untuk menulis nama kami.
Di sana kami belajar mengeja dunia
dari huruf-huruf yang kadang pudar
dari buku-buku tua
yang tetap membuka jalan.
Jangan tutup pintunya
sebelum kami sempat melangkah jauh.
Jangan padamkan lampunya
sebelum kami belajar menjadi cahaya.
Sebab kami bukan angka dalam daftar
murid.
Kami adalah anak-anak desa
yang ingin percaya
bahwa masa depan juga mengenal alamat rumah kami.
Ketika Liris selesai, balai desa
menjadi sangat sunyi.
Tidak ada tepuk tangan pada awalnya.
Hanya kesunyian.
Kesunyian yang penuh oleh kata-kata
yang baru saja jatuh ke hati banyak orang.
Seorang ibu di bangku depan mengusap
matanya. Ia memeluk anak kecil di pangkuannya lebih erat. Seorang bapak yang
tadi berkata tentang pindah ke kecamatan menunduk cukup lama. Bahkan Kepala
Dusun tampak tidak segera menemukan kata-kata.
Bu Laras berdiri dari tempat duduknya.
Ia mendekati Liris, lalu memegang bahu
muridnya dengan lembut.
“Terima kasih,” katanya.
Suara Bu Laras terdengar bergetar.
Tepuk tangan mulai terdengar.
Mula-mula dari satu orang.
Kemudian dari beberapa orang.
Lalu seluruh balai desa dipenuhi tepuk
tangan yang panjang.
Rantaka melihat Liris menunduk,
menahan air mata. Banyu tersenyum kecil. Jagra menepuk tangan paling keras,
seolah ingin memastikan semua orang tahu bahwa sahabatnya telah melakukan
sesuatu yang besar.
Setelah suasana sedikit tenang, Bu
Sari berdiri.
“Saya tidak punya uang banyak,”
katanya. “Tetapi saya bisa membantu memasak untuk warga yang bekerja
memperbaiki sekolah.”
Seorang bapak dari ujung ruangan
menyahut, “Saya punya beberapa batang bambu di belakang rumah. Kalau
diperlukan, boleh diambil.”
Warga lain berkata, “Saya bisa
membantu memperbaiki saluran air.”
Beberapa ibu mulai berbicara tentang
mengumpulkan bahan makanan. Para pemuda desa yang duduk di belakang mulai
membicarakan cara memperbaiki bagian pagar dan teras sekolah.
Harapan tidak langsung berubah menjadi
jawaban.
Atap kelas enam belum tiba-tiba
menjadi baru.
Papan tulis retak belum kembali utuh.
Masalah biaya perbaikan sekolah juga
belum selesai.
Namun, malam itu, sesuatu yang
sebelumnya terasa padam mulai menyala kembali.
Kepala Dusun berdiri dan memandang
seluruh warga.
“Kita belum memiliki semua jalan,”
katanya. “Tetapi malam ini kita tahu bahwa anak-anak kita masih ingin berjalan.
Jangan sampai kita menjadi orang dewasa yang menutup jalan itu sebelum mereka
mencoba.”
Kalimat itu membuat banyak orang
terdiam.
Rantaka memandang sahabat-sahabatnya.
Di tangan Liris, buku tulis biru masih
terbuka pada halaman puisi. Halaman itu tidak lagi hanya menyimpan kata-kata.
Ia telah menjadi suara yang membuat satu balai desa berhenti, mendengar, dan
mengingat kembali arti sebuah sekolah.
Ketika pertemuan selesai, warga pulang
dengan langkah yang berbeda.
Mereka masih membawa kekhawatiran.
Namun, mereka juga membawa percakapan
baru.
Tentang bambu yang dapat disumbangkan.
Tentang tenaga yang dapat diberikan.
Tentang anak-anak yang harus tetap
sekolah.
Di luar balai desa, langit malam
terbentang gelap, tetapi bintang-bintang mulai tampak di antara awan.
Rantaka berdiri di dekat Liris.
“Puisimu membuat mereka diam,”
katanya.
Liris menatap langit.
“Aku hanya menulis apa yang kami rasakan,”
jawabnya.
Rantaka mengangguk.
Kadang, satu puisi tidak dapat
memperbaiki atap yang runtuh.
Tetapi satu puisi dapat membuat
orang-orang yang hampir menyerah kembali mengangkat kepala.
Dan malam itu, di Balai Desa Wanasari,
suara seorang anak telah menggetarkan harapan yang hampir hilang.
BAGIAN III
UJIAN DI DALAM RUMAH
Bab 13 — Ladang yang Menelan Langkah
Beberapa hari setelah pertemuan di
balai desa, Desa Wanasari kembali dipenuhi kesibukan kecil yang membawa
harapan.
Di halaman SD Wanasari, beberapa warga
mulai datang pada sore hari untuk membantu pekerjaan ringan. Ada yang membawa
bambu, ada yang memperbaiki bagian pagar, dan ada pula yang membersihkan
saluran air di belakang kelas. Bu Sari bersama ibu-ibu lain kadang mengirimkan
teh hangat dan singkong rebus untuk mereka yang bekerja.
Atap kelas enam memang belum dapat
diperbaiki sepenuhnya. Terpal tua masih menutup bagian yang runtuh. Papan tulis
retak masih tergantung di depan kelas. Namun, setelah puisi Liris dibacakan di
balai desa, sekolah itu tidak lagi terasa seperti tempat yang ditinggalkan
sendirian.
Warga mulai datang.
Anak-anak mulai lebih rajin menjaga
kebersihan.
Dan Langit Biru terus menjalankan
Gerobak Buku setiap Minggu.
Rantaka seharusnya merasa lega.
Namun, pada suatu pagi, sebelum
matahari benar-benar naik, sebuah peristiwa mengubah suasana rumahnya.
Hari itu Darma berangkat ke ladang
lebih awal dari biasanya.
Musim hujan membuat tanah di kebun
menjadi lembap. Beberapa pohon kecil di bagian pinggir ladang perlu dibersihkan
agar tidak mengganggu tanaman singkong. Darma membawa parang, tali, dan bekal
nasi yang dibungkus daun pisang.
Sebelum berangkat, ia sempat melihat
Rantaka yang sedang mengenakan seragam sekolah.
“Belajar yang sungguh-sungguh,”
katanya.
“Iya, Yah,” jawab Rantaka.
Darma mengangguk, lalu berjalan
menyusuri jalan tanah menuju ladang.
Rantaka tidak tahu bahwa pagi itu akan
menjadi pagi terakhir ia melihat ayahnya berjalan dengan langkah tegap.
Menjelang siang, ketika pelajaran di
kelas enam sedang berlangsung, suara gaduh terdengar dari halaman sekolah.
Seorang lelaki berlari masuk melalui
gerbang. Bajunya basah oleh keringat dan lumpur. Wajahnya tampak panik.
Pak Mulyono yang sedang berjalan
menuju kantor segera menghampirinya.
“Ada apa, Pak Jamin?” tanya kepala
sekolah.
“Pak Darma kecelakaan di ladang,”
jawab lelaki itu terengah-engah. “Kakinya tertimpa batang pohon.”
Rantaka yang duduk di dalam kelas
langsung berdiri.
Kata-kata itu seperti menghantam
kepalanya.
Bu Laras menoleh ke arah Rantaka.
Wajahnya berubah pucat.
“Rantaka,” katanya pelan.
Namun, Rantaka sudah berlari keluar
kelas.
Ia tidak sempat mengambil tas. Ia
tidak sempat berpikir. Yang ada di kepalanya hanya ayahnya, ladang, dan batang
pohon yang jatuh.
Pak Jamin berusaha menahannya.
“Jangan lari sendiri, Nak. Bapakmu
sudah dibawa warga ke rumah.”
Rantaka berhenti, tetapi dadanya
terasa seperti terbakar. Bu Laras keluar dari kelas dan memegang bahunya.
“Pulanglah bersama Pak Jamin,”
katanya. “Ibu akan menyusul.”
Rantaka mengangguk tanpa benar-benar
mendengar.
Ia menaiki sepeda Pak Jamin di bagian
belakang. Sepanjang perjalanan, roda sepeda memercikkan lumpur. Jalan tanah
yang biasa ia lalui setiap hari kini terasa jauh lebih panjang. Pohon-pohon,
sawah, dan rumah-rumah warga lewat begitu cepat di matanya.
Ketika sampai di rumah, beberapa orang
sudah berkumpul di halaman.
Rukmini berdiri di dekat pintu dengan
wajah pucat. Matanya merah. Di dalam rumah, Darma berbaring di atas tikar.
Celananya digulung hingga lutut. Kaki kirinya dibalut kain, tetapi darah masih
terlihat merembes di beberapa bagian.
Seorang warga sedang mengompres bagian
yang bengkak dengan air hangat.
“Ayah!” seru Rantaka.
Darma membuka mata perlahan.
“Rantaka,” katanya dengan suara lemah.
Rantaka duduk di sampingnya. Tangannya
gemetar ketika menyentuh tangan ayahnya.
“Ayah sakit?”
Darma mencoba tersenyum, tetapi
wajahnya menahan nyeri.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Hanya kaki
Bapak yang sedang keras kepala.”
Namun, Rantaka tahu itu bukan hal
kecil.
Pak Jamin kemudian menceritakan apa
yang terjadi. Darma sedang membantu menebang batang pohon tua di pinggir
ladang. Tanah yang licin membuat salah satu warga terpeleset saat menarik tali.
Batang pohon itu jatuh lebih cepat dari perkiraan dan mengenai kaki Darma
sebelum ia sempat menghindar.
Warga segera mengangkat batang
tersebut dan membawa Darma pulang.
“Harus dibawa ke puskesmas,” kata Bu
Laras yang datang tidak lama kemudian.
Rukmini mengangguk, tetapi wajahnya
tampak bingung.
“Bagaimana membawanya?” tanyanya.
Pak Jamin menawarkan sepeda motor
miliknya. Dua warga lain membantu mengangkat Darma dengan hati-hati. Rantaka
ikut duduk di belakang Rukmini saat mereka berangkat menuju puskesmas di
kecamatan pembantu yang letaknya beberapa kampung dari Desa Wanasari.
Perjalanan terasa sangat panjang.
Setiap kali motor melewati jalan
berlubang, Darma meringis kesakitan. Rantaka memegang punggung ibunya
erat-erat. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi air matanya jatuh tanpa suara.
Di puskesmas, petugas memeriksa kaki
Darma.
Rantaka dan Rukmini menunggu di lorong
sempit yang dindingnya berwarna putih kusam. Bau obat-obatan memenuhi udara. Di
sudut ruangan, seorang anak kecil menangis dalam pelukan ibunya. Di luar, hujan
gerimis mulai turun lagi.
Setelah beberapa waktu, petugas
kesehatan keluar.
“Kakinya mengalami cedera cukup
berat,” katanya kepada Rukmini. “Tidak patah, tetapi ada luka dan pembengkakan
yang harus dirawat. Untuk beberapa waktu, Pak Darma tidak boleh bekerja berat
atau banyak berjalan.”
Rukmini mengangguk pelan.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Mungkin beberapa minggu. Bisa lebih
lama, tergantung pemulihannya.”
Beberapa minggu.
Bagi keluarga lain, mungkin kalimat
itu hanya berarti waktu untuk beristirahat.
Namun, bagi keluarga Rantaka, beberapa
minggu tanpa Darma bekerja berarti tidak ada penghasilan dari ladang. Tidak ada
upah harian. Tidak ada uang tambahan untuk membeli kebutuhan rumah, obat, atau
perlengkapan sekolah.
Rantaka memandang ibunya.
Rukmini berusaha terlihat kuat. Ia
mengucapkan terima kasih kepada petugas, mengurus obat, lalu kembali menemani
Darma. Tetapi ketika ia mengira Rantaka tidak melihat, ia duduk di kursi lorong
dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Rantaka berdiri diam.
Ia ingin berkata sesuatu.
Ia ingin mengatakan bahwa semuanya
akan baik-baik saja.
Namun, ia tidak tahu bagaimana cara
meyakinkan ibunya ketika dirinya sendiri merasa takut.
Menjelang sore, mereka pulang ke
rumah.
Darma dibaringkan di tikar dekat
jendela agar mendapat udara lebih banyak. Kakinya dibalut lebih rapi.
Obat-obatan diletakkan di atas meja kecil. Pak Jamin dan beberapa warga
membantu memperbaiki posisi tempat tidur agar Darma lebih nyaman.
Saat warga mulai pulang, rumah itu
mendadak terasa sunyi.
Tidak ada suara Darma bersiap pergi ke
ladang.
Tidak ada parang yang diasah di
halaman.
Tidak ada langkah kaki ayahnya menuju
kebun pada pagi hari.
Yang ada hanya suara hujan yang
kembali turun di atap rumah.
Malam itu, Rukmini memasak nasi dengan
lauk sederhana. Darma makan sedikit, lalu minum obat. Rantaka duduk di dekatnya
sambil memperhatikan wajah ayahnya.
“Besok aku tidak usah sekolah dulu,”
kata Rantaka tiba-tiba.
Darma menoleh.
“Kenapa?”
“Aku bisa membantu Ibu. Aku bisa ke
ladang melihat tanaman. Aku bisa mencari rumput untuk kambing.”
Darma diam beberapa saat.
“Kau tetap sekolah,” katanya.
“Tapi Ayah tidak bisa bekerja.”
“Itu urusan orang dewasa.”
“Aku juga bisa bekerja.”
Darma memandang anaknya dengan mata
yang lelah, tetapi tegas.
“Kau memang bisa membantu,” katanya.
“Dan Bapak senang kau mau membantu. Tetapi jangan jadikan kesulitan ini alasan
untuk meninggalkan sekolah.”
Rantaka menunduk.
“Tapi bagaimana kalau kita tidak punya
uang?”
Darma menarik napas perlahan, menahan
rasa sakit di kakinya.
“Kita akan berusaha,” katanya. “Satu
hari demi satu hari.”
Rantaka tidak menjawab.
Ia tahu ayahnya sedang berusaha menenangkan
dirinya. Namun, ia juga tahu bahwa di balik kata-kata itu ada kecemasan yang
besar.
Setelah Darma tidur, Rantaka membantu
Rukmini mencuci piring di dapur. Lampu minyak menyala redup. Di atas rak,
kaleng tempat menyimpan uang hasil jualan kue masih berada di tempatnya.
Rukmini membuka kaleng itu dan
menghitung uang di dalamnya.
Tidak banyak.
Rantaka melihat ibunya berhenti cukup
lama ketika menghitung lembar terakhir.
“Bu,” katanya pelan, “besok aku bisa
membantu menjual kue lebih banyak.”
Rukmini menatapnya.
“Kau tetap harus sekolah.”
“Aku bisa berangkat lebih pagi.”
Rukmini tidak langsung menjawab. Ia
menutup kaleng itu, lalu menyimpannya kembali di rak.
“Kita lihat nanti,” katanya.
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Rantaka, jawaban itu terasa
seperti pintu yang mulai terbuka menuju hari-hari yang lebih berat.
Di luar rumah, hujan semakin deras.
Air mengalir dari atap ke tanah,
membentuk garis-garis kecil di halaman. Jalan menuju ladang yang biasa dilalui
Darma kini berubah menjadi lumpur gelap. Ladang itu tetap ada di kejauhan,
tetapi bagi Rantaka, tempat itu seperti telah menelan langkah ayahnya dan
mengembalikannya dalam keadaan lemah.
Malam semakin larut.
Rantaka berbaring di tikarnya, tetapi
tidak dapat tidur.
Ia memikirkan ayahnya.
Ia memikirkan ibunya yang menghitung
uang dalam diam.
Ia memikirkan sekolah yang sedang
berjuang agar tidak ditutup.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa
perjuangan itu tidak lagi hanya terjadi di halaman SD Wanasari.
Perjuangan itu telah masuk ke dalam
rumahnya sendiri.
Bab 14 — Kue-Kue di Atas Sepeda Tua
Pagi di rumah Rantaka tidak lagi sama
sejak kaki Darma terluka.
Sebelumnya, sebelum ayam jantan
berkokok untuk kedua kalinya, Darma sudah bangun dan menyalakan lampu minyak di
dapur. Ia akan menyiapkan parang, mengenakan topi lusuhnya, lalu berangkat ke
ladang sambil membawa bekal nasi yang dibungkus daun pisang.
Kini, pada jam yang sama, Darma masih
berbaring di tikar dekat jendela.
Kakinya dibalut kain putih. Di
sampingnya ada botol obat, segelas air, dan tongkat kayu yang dibuat Pak Jamin
agar ia dapat berjalan ke halaman jika benar-benar perlu. Namun, Darma lebih
sering hanya duduk diam, memandangi jalan tanah di depan rumah dengan wajah
yang sulit dibaca.
Rantaka selalu terbangun ketika
mendengar ibunya bergerak di dapur.
Pagi itu, langit masih gelap ketika ia
membuka mata. Dari dapur terdengar bunyi sendok mengaduk adonan dan suara
minyak panas yang mendesis. Bau pisang goreng, kue cucur, dan singkong rebus
perlahan memenuhi rumah kecil mereka.
Rantaka bangkit dari tikar.
“Bu,” katanya dari ambang dapur, “aku
bantu.”
Rukmini menoleh. Wajahnya tampak
lelah, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.
“Kau bangun terlalu pagi.”
“Aku tidak mengantuk.”
Rukmini tidak langsung menjawab. Ia
sedang mengangkat kue cucur dari wajan, lalu meletakkannya di atas tampah yang
sudah dialasi daun pisang.
Sejak Darma tidak dapat bekerja,
Rukmini mulai membuat lebih banyak kue untuk dijual. Biasanya, ia hanya
menerima pesanan dari beberapa tetangga atau menitipkan kue di warung kecil
dekat jalan utama desa. Namun, sekarang ia harus berkeliling agar lebih banyak
kue terjual.
Masalahnya, Rukmini tidak bisa
meninggalkan Darma terlalu lama.
Karena itulah, Rantaka ingin membantu.
“Aku bisa mengantar kue ke
rumah-rumah,” katanya lagi. “Aku pakai sepeda tua.”
Rukmini menatapnya cukup lama.
“Setelah itu kau harus sekolah.”
“Iya, Bu. Aku berangkat sebelum
teman-teman datang.”
Dari tikar dekat jendela, Darma
membuka mata.
“Jangan sampai terlambat,” katanya.
Rantaka menoleh. “Tidak akan, Yah.”
Darma memandang anaknya dengan serius.
“Membantu Ibu itu baik. Tapi sekolah tetap yang utama.”
Rantaka mengangguk.
Ia ingin berkata bahwa ia mengerti.
Namun, di dalam hatinya, ia mulai merasa bahwa hidup tidak selalu memberi
pilihan yang mudah. Ia harus membantu ibunya. Ia juga harus tetap sekolah. Ia
harus menjaga nilai pelajaran agar tidak tertinggal. Ia harus tetap menjalankan
Gerobak Buku bersama Langit Biru.
Semua itu terasa seperti beban yang
terlalu banyak untuk dipikul oleh seorang anak kelas enam.
Tetapi Rantaka tidak ingin menyerah.
Pagi itu, Rukmini menyusun kue-kue ke
dalam dua keranjang kecil. Ada pisang goreng, kue cucur, lemper, dan singkong
rebus. Keranjang itu kemudian diikat pada bagian belakang sepeda tua milik
Darma.
Sepeda itu sudah sangat tua.
Cat birunya hampir habis. Rantai
sepedanya sering berbunyi keras. Sadel kulitnya sobek di beberapa bagian dan
ditutup dengan kain bekas. Rem depannya tidak terlalu kuat, sehingga Rantaka
harus berhati-hati ketika melewati jalan menurun.
Namun, sepeda itu masih dapat
berjalan.
Dan pagi itu, sepeda tua itu menjadi
jalan pertama Rantaka untuk membantu keluarganya.
“Jangan terlalu jauh,” pesan Rukmini
sambil mengikatkan kain kecil pada keranjang agar kue tidak terkena debu.
“Aku ke rumah Bu Sari, Pak Jamin, lalu
ke warung dekat jalan besar.”
“Kalau belum habis?”
“Aku coba ke rumah-rumah yang lain.”
Rukmini mengangguk pelan.
Rantaka lalu mendorong sepeda keluar
halaman. Udara pagi masih dingin. Kabut tipis menggantung di atas sawah. Jalan
tanah belum ramai, hanya terlihat beberapa warga yang berjalan menuju kebun
atau membawa rumput untuk ternak.
Keranjang kue di belakang sepeda
bergoyang-goyang saat ia mengayuh.
Rumah pertama yang ia datangi adalah
rumah Bu Sari.
Bu Sari sedang menyapu halaman ketika
melihat Rantaka datang.
“Pagi-pagi sekali sudah berjualan?”
tanyanya.
“Iya, Bu. Ibu mau kue?”
Bu Sari mendekat dan melihat isi
keranjang.
“Wah, ada kue cucur. Berapa?”
Rantaka menyebutkan harga dengan suara
pelan. Bu Sari membeli beberapa bungkus, lalu menambahkan satu lemper lagi.
“Ini untuk Bu Rukmini,” katanya.
“Bilang padanya, kalau ada pesanan untuk kegiatan warga, saya akan kabari.”
“Terima kasih, Bu.”
Dari rumah Bu Sari, Rantaka pergi ke
rumah Pak Jamin. Kemudian ke rumah seorang ibu yang biasa membeli singkong
rebus. Setelah itu, ia menuju warung kecil di ujung jalan desa.
Di warung itu, ia menitipkan beberapa
kue kepada pemiliknya.
“Kalau laku, nanti sore saya ambil
uangnya,” kata Rantaka.
Pemilik warung mengangguk. “Boleh.
Tapi jangan terlalu banyak dulu.”
Rantaka mengerti. Tidak semua orang
bisa membeli. Banyak warga desa juga sedang mengatur pengeluaran mereka
sendiri. Namun, ia tetap bersyukur karena beberapa kue telah terjual.
Saat matahari mulai naik, Rantaka
melihat waktu.
Ia segera mengayuh sepeda menuju
sekolah.
Jalan tanah yang semula lengang kini
mulai ramai. Beberapa anak berjalan sambil membawa tas. Ada yang melambaikan
tangan ketika melihat Rantaka lewat.
“Rantaka, kau dari mana?” teriak Jagra
dari kejauhan.
Rantaka hanya menjawab sambil terus
mengayuh, “Nanti saja!”
Ia sampai di SD Wanasari ketika bel
hampir berbunyi.
Napasnya terengah-engah. Keringat
membasahi bagian belakang seragamnya. Tangannya sedikit lengket karena tadi
membantu membungkus kue. Ia langsung meletakkan sepeda di bawah pohon beringin,
lalu berlari menuju kelas.
Liris sudah duduk di bangkunya.
“Kau terlambat?” tanyanya.
“Belum,” jawab Rantaka sambil menarik
napas. “Hampir.”
Banyu yang duduk di belakang
memperhatikan wajahnya.
“Kau terlihat capai.”
“Aku membantu Ibu menjual kue.”
Jagra menoleh. “Sejak pagi?”
Rantaka mengangguk.
Liris tampak ingin bertanya lebih
banyak, tetapi Bu Laras sudah masuk kelas.
Pelajaran dimulai.
Hari itu, Bu Laras menjelaskan tentang
pecahan dan perbandingan. Ia menulis beberapa soal di papan tulis retak. Kapur
bergerak perlahan di sisi kiri papan, menghindari garis retakan panjang yang
membelah permukaannya.
Rantaka berusaha memperhatikan.
Namun, matanya terasa berat.
Kata-kata Bu Laras terdengar seperti
datang dari jauh. Angka-angka di papan tulis mulai terlihat kabur. Ia mencoba
menyalin soal ke buku, tetapi tangannya bergerak lambat.
Ketika Bu Laras bertanya, “Siapa yang
bisa menjawab soal nomor tiga?” Rantaka biasanya akan mengangkat tangan.
Hari itu, ia hanya menunduk.
Liris meliriknya dengan cemas.
Saat jam istirahat, Rantaka duduk di
teras kelas sambil meminum air dari botol kecil. Jagra datang membawa singkong
rebus.
“Ambil,” katanya.
“Aku tidak lapar.”
“Kalau tidak lapar, kenapa wajahmu
seperti orang yang baru mendorong gerobak sampai kecamatan?”
Rantaka tersenyum tipis. Ia menerima
singkong itu.
Banyu duduk di sebelahnya.
“Kalau kau harus membantu Ibu setiap
pagi, kita bisa mengubah jadwal Gerobak Buku,” katanya.
Rantaka menggeleng. “Tidak usah.
Gerobak Buku tetap jalan.”
“Kau tidak harus melakukan semuanya
sendiri,” kata Liris yang baru datang membawa buku catatan.
Rantaka memandang ketiga sahabatnya.
Ia tahu mereka berniat baik. Namun, ia
juga merasa malu. Selama ini, ia selalu ingin menjadi orang yang mengajak dan
menguatkan mereka. Kini, ketika keluarganya sedang kesulitan, ia tidak ingin
terlihat seperti anak yang tidak sanggup menjalankan tanggung jawabnya.
“Aku bisa,” katanya pelan.
Jagra tidak membantah. Ia hanya duduk
di samping Rantaka.
Namun, setelah beberapa hari, keadaan
mulai terasa semakin berat.
Setiap pagi, Rantaka membantu Rukmini
menyiapkan dan mengantar kue. Kadang ia harus mengayuh lebih jauh karena
beberapa pembeli tinggal di sisi lain desa. Jika hujan turun, jalan menjadi
licin dan roda sepedanya sering masuk ke lumpur. Beberapa kali, keranjang kue
hampir jatuh ketika ia melewati jalan berbatu.
Suatu pagi, rantai sepeda lepas.
Rantaka sedang membawa kue ke warung
ketika sepeda itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Ia berjongkok, mencoba
memasang rantai dengan tangan yang gemetar. Oli hitam menempel di jarinya.
Waktu terus berjalan.
Ketika rantai akhirnya terpasang,
seragamnya sudah terkena noda.
Ia mengayuh secepat mungkin menuju
sekolah.
Hari itu, ia benar-benar terlambat.
Bu Laras sedang mengajar ketika
Rantaka berdiri di pintu kelas. Beberapa murid menoleh. Rantaka menunduk,
menahan malu.
“Maaf, Bu,” katanya.
Bu Laras memandangnya. Matanya sempat
jatuh pada seragam Rantaka yang kotor oleh oli dan lumpur.
“Masuklah,” katanya lembut.
Rantaka duduk di bangkunya tanpa berani
menatap siapa pun.
Setelah pelajaran selesai, Bu Laras
memanggilnya ke meja guru.
“Rantaka, apakah ada sesuatu yang
ingin kau ceritakan?”
Rantaka diam.
Bu Laras tidak memaksanya. Ia hanya
menunggu.
“Ayah saya belum bisa bekerja, Bu,”
kata Rantaka akhirnya. “Saya membantu Ibu jualan kue.”
Bu Laras mengangguk pelan.
“Itu tanggung jawab yang besar.”
“Saya tidak mau terlambat, Bu. Tapi
kadang tidak sempat.”
Bu Laras memandang buku tulis Rantaka.
Beberapa catatan pelajaran terlihat belum selesai. Ada soal yang kosong. Ada
tulisan yang lebih berantakan daripada biasanya.
“Kau boleh membantu keluargamu,” kata
Bu Laras. “Tetapi jangan biarkan kelelahan membuatmu kehilangan pelajaran.”
Rantaka menunduk.
“Saya akan berusaha.”
“Kalau ada pelajaran yang tertinggal,
datanglah setelah sekolah. Ibu akan membantu.”
Rantaka menatap gurunya.
“Benarkah, Bu?”
Bu Laras tersenyum. “Benar.”
Sejak hari itu, Rantaka mulai tinggal
beberapa waktu setelah sekolah selesai.
Saat teman-teman lain pulang, ia duduk
di kelas bersama Bu Laras. Mereka mengulang pelajaran matematika, membaca
kembali teks Bahasa Indonesia, dan membahas soal-soal yang belum ia pahami.
Kadang Liris ikut tinggal untuk
membantu Rantaka mencatat pelajaran.
Kadang Banyu membawa alat tulis
tambahan.
Jagra, meski sering berkata bahwa ia
tidak suka belajar terlalu lama, tetap datang membawa singkong rebus atau
pisang dari rumah.
“Kau harus makan,” katanya. “Kalau
tidak, kau akan tertidur di atas buku.”
Rantaka mulai menyadari bahwa
kelelahan tidak hanya membuat tubuhnya berat. Kelelahan juga membuatnya mudah
merasa sendiri.
Padahal, ia tidak sendiri.
Suatu sore, setelah selesai belajar
tambahan, Rantaka berjalan pulang sambil mendorong sepeda tua. Matahari mulai
turun di balik kebun singkong. Langit berwarna jingga pucat. Jalan tanah masih
menyimpan bekas roda gerobak dan jejak kaki warga.
Di belakang sepedanya, keranjang kue
sudah kosong.
Sebagian kue terjual.
Sebagian lagi dibawa pulang untuk ayah
dan ibunya.
Ketika sampai di rumah, Darma duduk di
depan pintu dengan tongkat kayu di sampingnya. Kakinya masih dibalut, tetapi
wajahnya tampak sedikit lebih segar.
“Bagaimana sekolah?” tanya Darma.
“Baik, Yah.”
“Tidak terlambat?”
Rantaka berhenti sejenak.
“Hari ini tidak.”
Darma tersenyum tipis.
Rantaka masuk ke rumah dan melihat
ibunya sedang menghitung uang hasil jualan. Tidak banyak, tetapi cukup untuk
membeli beras, minyak goreng, dan sebagian obat ayahnya.
Rukmini menatap anaknya.
“Kau capai?”
Rantaka ingin menjawab tidak.
Namun, kali ini ia memilih berkata
jujur.
“Sedikit, Bu.”
Rukmini mendekat dan mengusap
rambutnya.
“Terima kasih sudah membantu.”
Kalimat itu membuat dada Rantaka
terasa hangat sekaligus sesak.
Ia tahu hari-hari berikutnya mungkin
akan lebih berat.
Sepeda tua itu mungkin akan kembali
rusak.
Kue-kue mungkin tidak selalu habis
terjual.
Pelajaran di sekolah mungkin semakin
sulit dikejar.
Namun, setiap pagi, Rantaka akan tetap
mengayuh sepeda itu.
Membawa kue-kue untuk membantu
keluarganya.
Lalu berlari menuju sekolah, membawa
harapan agar mimpinya tidak tertinggal di belakang.
Bab 15 — Uang Tabungan yang Hilang
Malam itu, hujan turun pelan di Desa
Wanasari.
Tidak deras seperti hujan yang pernah
merobohkan bagian atap SD Wanasari, tetapi cukup untuk membuat jalan tanah
kembali basah dan licin. Dari dalam rumah, suara air yang jatuh dari ujung atap
terdengar teratur, seperti seseorang sedang mengetuk tanah tanpa henti.
Rantaka duduk di dekat lampu minyak
sambil membuka buku pelajarannya.
Di hadapannya, ada soal-soal
matematika yang diberikan Bu Laras. Beberapa angka sudah ia kerjakan. Namun,
pikirannya tidak sepenuhnya berada di halaman buku. Dari dapur, ia mendengar
suara ibunya membuka kaleng kecil tempat menyimpan uang.
Kaleng itu sudah sangat dikenalnya.
Kaleng bekas biskuit berwarna biru tua
itu selalu disimpan Rukmini di atas rak dapur, di belakang beberapa piring dan
gelas. Di dalamnya, ada uang hasil jualan kue, uang untuk membeli beras, serta
sedikit tabungan yang mereka simpan untuk keperluan mendadak.
Dulu, Rantaka juga memiliki bagian
kecil di dalam kaleng itu.
Bukan uang yang banyak.
Hanya hasil dari beberapa kali
membantu menjual kue, uang pemberian kakeknya saat Lebaran, dan uang hadiah
ketika ia pernah menjadi juara membaca di kelas. Rukmini menyimpannya terpisah
dalam amplop cokelat kecil.
Uang itu rencananya akan digunakan
untuk membeli buku pelajaran baru dan seragam sekolah ketika seragam lamanya
sudah tidak lagi layak dipakai.
Namun, malam itu, suara lembaran uang
yang dihitung terdengar lebih sedikit dari biasanya.
Rantaka menoleh ke arah dapur.
Rukmini duduk di lantai, dekat meja
kecil. Lampu minyak di dapur membuat wajahnya tampak lebih pucat. Di depannya
terbuka kaleng biru tua, beberapa lembar uang, serta bungkus obat Darma yang
harus dibeli lagi.
Darma duduk di dekat jendela dengan
kaki masih dibalut. Ia tidak berkata apa-apa. Tangannya hanya memegang tongkat
kayu yang kini selalu berada di sampingnya.
“Obatnya tinggal sedikit,” kata
Rukmini pelan.
Darma mengangguk.
“Besok harus dibeli lagi,” lanjut
Rukmini. “Petugas puskesmas bilang lukanya jangan sampai terlambat dirawat.”
“Aku masih punya uang dari jualan
kue,” kata Darma.
Rukmini menggeleng. “Itu sudah dipakai
untuk beras dan minyak. Tinggal ini.”
Darma menunduk.
Rantaka tidak lagi melihat buku
pelajarannya.
Ia memandangi ibunya yang membuka
amplop cokelat kecil dari dalam kaleng. Amplop itu sudah kusut di bagian sudut.
Rukmini memegangnya cukup lama sebelum akhirnya membuka lipatannya.
Rantaka tahu amplop itu miliknya.
Dadanya terasa seperti ditarik.
Rukmini menghitung uang di dalamnya.
Ada beberapa lembar uang kecil dan beberapa lembar yang lebih besar. Jumlahnya
tidak banyak bagi orang lain, tetapi bagi Rantaka, uang itu adalah hasil dari
banyak hari.
Ia teringat ketika kakeknya memasukkan
uang ke telapak tangannya sambil berkata, “Simpan untuk sekolah.”
Ia teringat ketika Bu Laras memberinya
hadiah karena berhasil membaca cerita di depan kelas.
Ia teringat ketika ia membantu Rukmini
menjual kue, lalu ibunya menyisihkan beberapa lembar uang untuknya.
Semua kenangan itu seperti ikut
terlipat di dalam amplop cokelat.
Rukmini menatap Darma.
“Kalau uang ini dipakai dulu,” katanya
lirih, “nanti bagaimana dengan buku dan seragam Rantaka?”
Darma tidak langsung menjawab.
Rantaka menunduk cepat-cepat agar
mereka tidak melihat matanya mulai basah.
“Aku tidak mau uang Rantaka dipakai,”
kata Darma akhirnya.
“Tapi obatmu harus dibeli,” jawab
Rukmini.
“Kita bisa pinjam.”
“Kita sudah terlalu sering berutang
beras di warung.”
Suasana dapur menjadi sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Rantaka menutup bukunya perlahan. Ia
berdiri, lalu berjalan ke dapur.
“Pakai saja, Bu,” katanya.
Rukmini terkejut. “Rantaka…”
“Pakai uang itu untuk obat Ayah.”
“Itu tabunganmu.”
“Ayah lebih penting.”
Darma menatap anaknya. Wajahnya tampak
berat.
“Tidak, Nak,” katanya. “Itu untuk
sekolahmu.”
Rantaka menggeleng. “Aku masih punya
buku lama. Seragam ini juga masih bisa dipakai.”
Ia melihat seragamnya sendiri. Bagian
siku sudah mulai tipis. Warna putihnya tidak lagi benar-benar putih. Di bagian
dada, ada jahitan kecil bekas sobekan ketika ia jatuh dari sepeda beberapa
bulan lalu.
Namun, ia tidak peduli.
“Aku bisa pakai ini dulu,” katanya.
“Yang penting Ayah sembuh.”
Rukmini menggenggam amplop itu
erat-erat.
“Maafkan Ibu,” katanya dengan suara
bergetar.
Rantaka segera menggeleng.
“Jangan minta maaf, Bu.”
Namun, setelah kalimat itu keluar,
hatinya terasa semakin sesak.
Bukan karena ia tidak ingin membantu
ayahnya.
Ia ingin.
Sangat ingin.
Tetapi di dalam dirinya, ada rasa
kehilangan yang sulit dijelaskan. Tabungan itu bukan hanya uang. Tabungan itu
adalah tanda bahwa ia masih memiliki rencana untuk tetap sekolah. Bahwa suatu
hari ia bisa memiliki buku baru, seragam yang lebih layak, dan mungkin sepatu
yang tidak lagi robek di bagian depan.
Kini, rencana itu harus ditunda.
Malam itu, Rukmini menggunakan
sebagian uang tabungan Rantaka untuk membeli obat Darma.
Keesokan harinya, Rantaka kembali
membantu ibunya menjual kue. Ia mengayuh sepeda tua lebih jauh dari biasanya.
Ia berharap semua kue habis agar uang yang masuk bisa sedikit menggantikan
tabungan yang telah digunakan.
Namun, tidak semua orang membeli.
Di beberapa rumah, warga hanya
tersenyum dan berkata akan membeli lain kali. Di warung, beberapa kue masih
tersisa karena pembeli sedang sepi. Ketika Rantaka pulang, keranjangnya belum
kosong.
Ia tidak mengeluh.
Ia hanya menyimpan kue yang tersisa di
dapur, lalu bersiap berangkat ke sekolah.
Hari itu, Bu Laras membagikan lembar
pemberitahuan kepada murid kelas enam.
Di dalamnya tertulis daftar kebutuhan
untuk kegiatan belajar menjelang ujian akhir. Murid diminta membawa beberapa
buku tulis tambahan, alat tulis, dan iuran kecil untuk fotokopi bahan latihan.
Rantaka memegang lembar itu cukup
lama.
Jumlah iurannya tidak besar.
Tetapi bagi keluarganya sekarang, uang
sekecil apa pun harus dipikirkan.
Saat pulang sekolah, Liris berjalan di
sampingnya.
“Kau kenapa?” tanyanya.
“Tidak apa-apa.”
“Kau dari tadi melihat kertas itu
terus.”
Rantaka melipat lembar pemberitahuan
dan memasukkannya ke dalam tas.
“Cuma soal iuran.”
Liris mengangguk. “Kalau kau belum
bisa bayar sekarang, mungkin Bu Laras bisa menunggu.”
Rantaka tidak menjawab.
Ia tidak ingin sahabatnya tahu bahwa
uang tabungannya telah digunakan. Ia tidak ingin terlihat seperti anak yang
selalu membawa masalah. Ia tidak ingin Langit Biru berubah menjadi tempat
orang-orang merasa kasihan kepadanya.
Sesampainya di rumah, ia meletakkan
tas di dekat tikar dan membantu ibunya menyiapkan adonan kue untuk esok pagi.
Darma masih belum dapat bekerja.
Lukanya mulai membaik sedikit, tetapi
ia belum boleh berjalan jauh. Sesekali ia mencoba berdiri dengan tongkat, lalu
kembali duduk karena wajahnya menahan nyeri.
Rantaka melihat ayahnya memandangi
ladang dari pintu rumah.
“Ayah ingin ke ladang?” tanya Rantaka.
Darma menghela napas.
“Ladang tidak akan pergi,” katanya.
“Tapi tanaman tidak bisa menunggu terlalu lama.”
Rantaka diam.
Ia tahu ada singkong yang harus
diperiksa. Ada rumput yang harus dibersihkan. Ada tanah yang perlu dirawat.
Jika tidak, hasil panen mereka bisa berkurang.
Malam berikutnya, Rantaka terbangun
karena mendengar suara ibunya menangis.
Suara itu sangat pelan.
Seolah-olah Rukmini berusaha agar
tidak ada yang mendengar.
Rantaka membuka mata. Lampu minyak di
dapur masih menyala. Dari balik tirai kain, ia melihat ibunya duduk sendirian
di dekat meja kecil. Kaleng biru tua berada di depannya.
Rukmini tidak sedang menghitung uang.
Ia hanya memegang amplop cokelat yang
kini hampir kosong.
Rantaka tidak bergerak.
Ia merasa seperti ada batu besar di
dadanya.
Ia ingin menghampiri ibunya. Ia ingin
berkata bahwa ia tidak apa-apa. Ia ingin mengatakan bahwa uang itu memang
seharusnya digunakan untuk ayah. Namun, ia tahu ibunya menangis bukan hanya
karena uang.
Ibunya menangis karena tidak dapat
memberi semua yang dibutuhkan keluarganya.
Karena harus memilih antara obat suami
dan kebutuhan sekolah anak.
Karena keadaan sering kali memaksa
seseorang mengambil keputusan yang tidak ingin diambilnya.
Rantaka menutup mata, tetapi air mata
tetap mengalir di pipinya.
Di dalam pikirannya, muncul sebuah
kalimat yang belum pernah berani ia ucapkan.
Kalau aku berhenti
sekolah, mungkin Ibu tidak perlu memikirkan buku dan iuran lagi.
Kalimat itu membuatnya takut.
Ia teringat Darma yang berkata bahwa
sekolah tidak boleh ditinggalkan hanya karena kesulitan. Ia teringat Bu Laras
yang selalu mengatakan bahwa pendidikan adalah jalan. Ia teringat papan tulis
retak di kelas yang masih digunakan untuk menulis pelajaran.
Namun, jalan menuju sekolah terasa
semakin berat.
Bukan karena jaraknya.
Bukan karena hujan atau lumpur.
Melainkan karena rumahnya kini
dipenuhi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Keesokan paginya, Rantaka kembali
mengenakan seragam lusuhnya.
Ia mengikat tali sepatunya yang mulai
aus. Ia membantu ibunya menaikkan keranjang kue ke sepeda tua. Ia melihat Darma
duduk di depan rumah sambil memegang tongkat.
Sebelum berangkat, Darma memanggilnya.
“Rantaka.”
“Iya, Yah?”
Darma memandangnya lama.
“Kau tetap sekolah, kan?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun, Rantaka tidak dapat langsung
menjawab.
Ia hanya mengangguk.
“Iya, Yah.”
Lalu ia mengayuh sepeda tua itu
perlahan menyusuri jalan tanah.
Di belakangnya, keranjang kue
bergoyang-goyang.
Di dalam dadanya, mimpi tentang
sekolah masih ada.
Tetapi kini, mimpi itu terasa seperti
sesuatu yang harus ia pegang sangat erat agar tidak ikut hilang bersama uang
tabungan yang telah digunakan untuk menyembuhkan ayahnya.
Bab 16 — Perpisahan di Bawah Beringin
Pagi itu, Rantaka datang ke sekolah
dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya.
Langit Desa Wanasari tampak pucat.
Awan tipis menggantung di atas kebun singkong, seolah matahari sendiri belum
yakin akan menampakkan wajahnya. Jalan tanah masih lembap oleh hujan malam, dan
ujung celana seragam Rantaka kembali terkena cipratan lumpur.
Di belakang sepedanya, tidak ada lagi
keranjang kue.
Ia sudah mengantarkan semua kue
sebelum berangkat. Sebagian terjual, sebagian dititipkan di warung. Namun,
hasilnya belum cukup untuk menghapus kecemasan yang terus tinggal di rumahnya.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah,
satu kalimat terus berputar di kepalanya.
Kalau aku berhenti
sekolah, mungkin Ibu tidak perlu memikirkan buku dan iuran lagi.
Ia membenci kalimat itu.
Namun, semakin ia berusaha menolaknya,
semakin kalimat itu kembali datang.
Di rumah, Darma masih belum dapat
bekerja. Obatnya harus dibeli. Ladang perlu dirawat. Rukmini harus membuat kue
sejak dini hari, lalu memikirkan beras, minyak, dan kebutuhan rumah yang tidak
pernah berhenti datang.
Sementara itu, di sekolah, Rantaka
mulai tertinggal pelajaran.
Ia masih berusaha mengikuti Bu Laras.
Ia masih tinggal setelah jam sekolah untuk belajar tambahan. Namun, tubuhnya
semakin sering lelah. Kadang ia mengantuk saat membaca. Kadang ia tidak dapat
menyelesaikan pekerjaan rumah karena malamnya dipakai membantu ibunya membuat
adonan.
Hari itu, ketika Bu Laras meminta
murid-murid mengumpulkan latihan matematika, Rantaka menyerahkan buku dengan
beberapa soal yang masih kosong.
Bu Laras tidak berkata apa-apa di
depan kelas.
Ia hanya menerima buku itu, lalu
menatap Rantaka sejenak.
Tatapan itu tidak marah.
Justru karena tidak marah, Rantaka
merasa semakin malu.
Saat bel istirahat berbunyi, ia tidak
keluar bersama teman-teman lain. Ia duduk di bangkunya, menatap halaman buku
yang penuh coretan dan jawaban yang belum selesai.
Liris datang membawa dua buah pisang rebus.
“Kau belum makan,” katanya.
Rantaka menggeleng. “Tidak lapar.”
“Kau selalu bilang begitu.”
“Aku memang tidak lapar.”
Liris menaruh pisang itu di atas meja
Rantaka.
“Kalau begitu, simpan saja.”
Banyu dan Jagra datang beberapa saat
kemudian. Jagra membawa selembar kertas yang sudah dilipat.
“Ada kabar,” katanya.
Rantaka tidak menoleh.
“Kepala Dusun mengajak warga kerja
bakti hari Minggu,” lanjut Jagra. “Katanya untuk memperbaiki bagian teras
sekolah dan saluran air. Kita juga bisa membawa Gerobak Buku ke balai desa
setelahnya.”
“Bagus,” jawab Rantaka datar.
Liris memandangnya. “Kau ikut, kan?”
Rantaka terdiam.
Banyu yang sejak tadi berdiri di dekat
jendela menoleh perlahan.
“Rantaka?” tanya Liris lagi.
“Aku tidak tahu.”
“Kenapa tidak tahu?”
“Aku harus membantu Ibu.”
“Kita bisa menyesuaikan waktunya,”
kata Banyu. “Gerobak Buku tidak harus selalu berempat.”
Rantaka mengangkat wajahnya.
“Bukan itu maksudku.”
Jagra mengerutkan dahi. “Lalu?”
Rantaka menarik napas panjang.
Kata-kata yang selama beberapa hari ia simpan akhirnya terasa ingin keluar,
meski ia sendiri takut mendengarnya.
“Mungkin aku tidak akan sekolah lagi.”
Ketiga sahabatnya terdiam.
Suara anak-anak lain yang bermain di
halaman seolah tiba-tiba menjauh.
Liris memandang Rantaka tanpa
berkedip.
“Apa?” katanya pelan.
“Mungkin setelah ini aku berhenti
sekolah,” ulang Rantaka.
Jagra tertawa kecil, tetapi tawanya
tidak terdengar seperti biasanya.
“Jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Banyu duduk di kursi sebelah Rantaka.
“Karena uang tabunganmu dipakai untuk obat ayahmu?”
Rantaka menoleh cepat.
“Kau tahu?”
“Aku mendengar dari Ibu,” jawab Banyu.
“Ibu membantu ibumu menjual kue beberapa hari lalu.”
Rantaka merasa wajahnya panas.
Ia tidak ingin siapa pun tahu. Ia
tidak ingin menjadi bahan pembicaraan. Ia tidak ingin dikasihani.
“Kalau kau tahu, kenapa kau tidak
bilang?” tanyanya.
“Karena itu urusan keluargamu,” jawab
Banyu. “Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja.”
“Aku baik-baik saja.”
“Tidak,” kata Liris. “Kau tidak
baik-baik saja.”
Rantaka berdiri dari bangkunya.
“Aku harus membantu keluarga,”
katanya. “Ayah tidak bisa bekerja. Ibu harus jualan kue. Kalau aku tetap
sekolah, aku cuma menambah biaya.”
“Kau bukan biaya,” kata Liris cepat.
Rantaka menatapnya.
“Kau tidak tahu,” katanya. “Kau tidak
tahu bagaimana rasanya melihat Ibu menghitung uang sampai menangis. Kau tidak
tahu bagaimana rasanya membawa kue keliling sebelum sekolah, lalu datang
terlambat dan tidak bisa mengikuti pelajaran.”
Liris terdiam.
Wajahnya berubah.
Banyu menunduk, sementara Jagra
menggenggam kertas di tangannya.
“Aku tahu aku tidak mengalami persis
seperti itu,” kata Liris pelan. “Tapi aku tahu sekolah ini penting buatmu.”
“Penting tidak selalu berarti bisa
dijalani,” jawab Rantaka.
Kalimat itu keluar lebih keras
daripada yang ia inginkan.
Beberapa murid yang berada di teras
mulai menoleh ke arah mereka.
Rantaka mengambil tasnya, lalu
berjalan keluar kelas.
Ia tidak ingin melihat wajah
sahabat-sahabatnya.
Ia tidak ingin mendengar kata-kata
penghiburan.
Ia tidak ingin ada yang mengatakan
bahwa semuanya akan baik-baik saja, karena baginya, tidak ada seorang pun yang
benar-benar tahu apakah itu akan terjadi.
Ia berjalan menuju pohon beringin.
Pohon itu berdiri di sisi halaman
sekolah, besar dan tua. Akar-akarnya menjalar di tanah seperti tangan yang
mencoba memegang bumi. Di bawah pohon itulah Langit Biru pernah dibentuk. Di
bawah pohon itu pula mereka pernah menyebut mimpi masing-masing.
Rantaka duduk di salah satu akar yang
menonjol.
Tidak lama kemudian, Liris, Banyu, dan
Jagra datang menyusul.
Mereka berdiri beberapa langkah di
depannya.
Angin bergerak pelan di antara
daun-daun beringin.
“Aku tidak mau kalian mengejarku,”
kata Rantaka tanpa menoleh.
“Kami bukan mengejarmu,” jawab Jagra.
“Kami datang karena kami sahabatmu.”
Rantaka tertawa pahit.
“Sahabat tidak bisa membayar obat
ayahku.”
Jagra terdiam.
“Kami bisa membantu,” kata Banyu.
“Kita bisa mencari cara.”
“Cara apa?” Rantaka menoleh tajam.
“Membuat gerobak buku lagi? Menjual bunga dari kaleng bekas? Itu tidak cukup.”
“Kita belum tahu kalau belum mencoba,”
kata Banyu.
“Aku sudah mencoba!” suara Rantaka
meninggi. “Aku bangun sebelum pagi. Aku jualan kue. Aku belajar sampai sore.
Aku bantu Ibu malam hari. Tapi tetap saja uang tidak cukup.”
Liris melangkah mendekat.
“Kalau kau berhenti sekolah, apakah
semuanya akan langsung cukup?”
Pertanyaan itu membuat Rantaka terdiam
sesaat.
“Setidaknya aku bisa bekerja lebih
banyak,” katanya.
“Kau masih anak-anak,” kata Liris.
“Aku sudah cukup besar untuk melihat
keadaan rumahku!”
Liris menunduk. Matanya mulai
berkaca-kaca.
“Kami juga punya masalah,” katanya
pelan. “Banyu harus membantu ayahnya memperbaiki alat-alat di rumah. Jagra
harus ikut mencari ikan. Aku harus menjaga adik ketika Ibu bekerja. Tapi kalau
semua orang berhenti karena hidup sulit, siapa yang akan tetap berjalan?”
Rantaka berdiri.
“Jangan samakan masalah kalian dengan
masalahku.”
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Banyu yang selama ini diam akhirnya
mengangkat wajah.
“Tidak ada yang menyamakan,” katanya.
Suaranya tenang, tetapi terdengar terluka. “Kami hanya tidak ingin
kehilanganmu.”
“Kalau begitu, jangan paksa aku.”
“Kami tidak memaksa,” kata Jagra.
“Kami hanya ingin kau ingat apa yang pernah kau katakan.”
Rantaka memandangnya.
“Kau yang bilang pendidikan adalah
jalan untuk mengubah nasib,” lanjut Jagra. “Kau yang mengajak kami membersihkan
sekolah. Kau yang bilang kita tidak boleh diam ketika sekolah mau ditutup.”
Rantaka merasa dadanya semakin sesak.
“Dulu aku tidak tahu keadaan rumahku
akan seperti ini.”
“Dan sekarang kami tahu,” kata Liris.
“Karena itu kami ingin berdiri di sampingmu.”
“Aku tidak butuh dikasihani!”
“Aku tidak mengasihanimu!” Liris
akhirnya meninggikan suara. Air mata jatuh di pipinya. “Aku marah karena kau
mau menyerah sendirian!”
Rantaka terdiam.
Daun-daun beringin bergerak lebih
keras ketika angin datang.
Liris mengusap air matanya dengan
punggung tangan.
“Kau pikir kami tidak peduli?”
katanya. “Kau pikir Langit Biru hanya nama yang kita buat untuk bermain? Kita
membuatnya karena kita percaya mimpi tidak boleh dibatasi keadaan. Sekarang
ketika keadaanmu sulit, kau justru ingin meninggalkan kami.”
“Aku tidak meninggalkan kalian,” kata
Rantaka, tetapi suaranya melemah.
“Kau sedang melakukannya,” jawab
Liris.
Banyu berdiri dan mengambil tasnya.
“Kalau kau sudah memutuskan,” katanya,
“kami tidak bisa memaksamu.”
Jagra memandang Rantaka cukup lama.
Biasanya, wajahnya mudah berubah menjadi senyum atau candaan. Namun, kali ini
tidak ada senyum di sana.
“Aku kira kita akan berjuang sampai
sekolah ini tidak jadi ditutup,” katanya.
Rantaka tidak menjawab.
Jagra mengangguk kecil, lalu berbalik.
Liris menyusul Banyu dan Jagra.
Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi kepada Rantaka.
“Kalau suatu hari kau ingin kembali,”
katanya pelan, “pohon ini masih ada.”
Lalu mereka pergi.
Rantaka tetap berdiri di bawah
beringin.
Halaman sekolah di depannya tampak
ramai, tetapi terasa jauh. Anak-anak kecil berlari sambil membawa bekal. Dari
kelas, terdengar suara Bu Laras memanggil murid-murid agar masuk kembali. Di
dekat teras, Gerobak Buku Langit Biru terparkir dengan roda yang sedikit
miring.
Gerobak itu biasanya membuat Rantaka
bangga.
Hari itu, ia bahkan tidak sanggup
menatapnya lama-lama.
Saat bel masuk berbunyi, Rantaka tidak
segera kembali ke kelas.
Ia duduk lagi di akar beringin.
Tangannya menggenggam tanah yang
lembap.
Di kepalanya, ia masih mendengar suara
Liris.
Kalau suatu hari kau
ingin kembali, pohon ini masih ada.
Namun, saat itu, Rantaka tidak tahu
apakah ia akan kembali.
Yang ia tahu hanya satu: untuk pertama
kalinya sejak Langit Biru dibentuk, ia pulang dari sekolah tanpa berjalan
bersama sahabat-sahabatnya.
Di jalan tanah menuju rumah,
langkahnya terasa lebih berat daripada biasanya.
Bukan hanya karena lumpur.
Melainkan karena ia membawa perpisahan
yang baru saja lahir di bawah pohon beringin tua.
Bab 17 — Surat Kakek yang Belum Selesai Dibaca
Sejak pertengkaran di bawah pohon
beringin, Rantaka menjadi lebih pendiam.
Ia tetap datang ke sekolah, tetapi
tidak lagi duduk bersama Liris, Banyu, dan Jagra saat jam istirahat. Ia memilih
berada di sudut kelas, membuka buku pelajaran tanpa benar-benar membacanya.
Kadang ia memandangi halaman sekolah dari jendela, melihat ketiga sahabatnya
mendorong Gerobak Buku menuju rumah-rumah warga.
Gerobak itu tetap berjalan.
Banyu mendorongnya dengan kedua tangan
yang kuat. Jagra berjalan di sampingnya sambil membawa beberapa buku bacaan.
Liris membawa buku catatan dan pensil, siap membacakan cerita atau mengajari
anak-anak kecil menulis huruf.
Rantaka melihat mereka dari kejauhan.
Ada keinginan untuk ikut berjalan
bersama.
Namun, ada pula rasa malu yang membuat
kakinya tetap diam.
Ia merasa telah mengatakan terlalu
banyak hal yang menyakitkan.
Ia juga merasa terlalu lelah untuk
meminta maaf.
Di rumah, keadaan belum banyak
berubah.
Darma masih belum dapat kembali ke
ladang. Kakinya memang mulai sedikit membaik, tetapi ia belum bisa berjalan
jauh. Jika terlalu lama berdiri, wajahnya kembali menahan nyeri. Rukmini terus
membuat kue sejak dini hari, sedangkan Rantaka membantu mengantar pesanan dengan
sepeda tua.
Setiap hari, hidup mereka berjalan
seperti putaran yang sama.
Bangun sebelum pagi.
Membuat kue.
Mengantar ke rumah-rumah warga.
Pergi ke sekolah.
Pulang untuk membantu lagi.
Malam hari belajar dengan mata yang
berat.
Lalu kembali tidur dengan kecemasan
yang belum selesai.
Pada suatu sore, hujan turun lebih
lama dari biasanya.
Langit sejak siang sudah gelap. Angin
membawa bau tanah basah dari kebun singkong. Rantaka pulang lebih cepat karena
Bu Laras membolehkan murid-murid pulang sebelum hujan semakin deras.
Ketika sampai di rumah, ia melihat
Rukmini sedang membereskan barang-barang lama di sudut ruang tengah.
Beberapa kardus bekas dikeluarkan dari
bawah tempat tidur. Ada kain-kain lusuh, alat pertanian tua milik Darma,
beberapa bingkai foto yang sudah berdebu, dan buku-buku lama yang disimpan
dalam karung.
“Sedang mencari apa, Bu?” tanya
Rantaka sambil meletakkan tasnya.
“Selimut lama,” jawab Rukmini.
“Malam-malam sekarang lebih dingin. Ayahmu butuh tambahan selimut.”
Rantaka ikut membantu.
Ia mengangkat satu kardus kecil yang
bagian bawahnya sudah mulai rapuh. Di dalamnya, terdapat beberapa buku tua.
Sampulnya kusam, sebagian halaman sudah menguning. Ada buku cerita rakyat, buku
pelajaran sekolah dasar, serta sebuah buku tulis bergaris dengan sampul
cokelat.
Rantaka mengambil salah satu buku yang
paling lusuh.
Di sampul depannya tertulis dengan
huruf yang sudah memudar:
Milik Sastro Wening
Sastro Wening adalah nama kakeknya.
Kakek Rantaka sudah meninggal beberapa
tahun lalu. Ia dikenal sebagai lelaki tua yang sering duduk di beranda rumah
sambil mengisap rokok linting dan memandangi jalan desa. Kakek tidak banyak
bicara, tetapi jika berbicara, suaranya selalu pelan dan dalam.
Dulu, ketika Rantaka masih kecil,
kakeknya sering mengajarinya membaca.
Bukan dengan buku baru.
Melainkan dengan koran bekas, kalender
dinding, dan papan iklan yang ditempel di warung.
“Huruf itu seperti jalan,” kata Kakek
suatu kali. “Kalau kau bisa membacanya, kau bisa pergi ke banyak tempat meski
kakimu tetap di desa.”
Saat itu, Rantaka belum benar-benar
mengerti.
Kini, kalimat itu kembali muncul di
kepalanya.
Ia membuka buku lusuh milik kakeknya.
Halaman pertama berisi beberapa
catatan tangan. Tulisan itu tidak terlalu rapi, tetapi masih dapat dibaca. Ada
catatan tentang harga pupuk, hasil panen, dan daftar kebutuhan rumah. Beberapa
halaman berikutnya berisi potongan cerita, seperti seseorang yang menulis
kenangan tanpa bermaksud menjadikannya buku.
Rantaka membalik halaman demi halaman.
Lalu, dari bagian tengah buku, jatuh
sebuah amplop tua.
Amplop itu berwarna krem, sudah kusam
dan sedikit robek di bagian sudut. Namanya tertulis di depan amplop dengan
tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Untuk Rantaka, jika
kelak ia sudah cukup besar untuk memahami.
Rantaka terdiam.
Tangannya mendadak dingin.
Ia menatap tulisan itu cukup lama
sebelum akhirnya membuka amplop perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar
kertas yang sudah menguning.
Tulisan kakeknya memenuhi halaman
pertama.
Rantaka,
Jika kau membaca surat ini, mungkin Kakek
sudah tidak lagi duduk di beranda rumah sambil menunggumu pulang sekolah. Kakek
menulis surat ini bukan karena Kakek pandai menulis, tetapi karena ada sesuatu
yang selama hidup Kakek selalu ingin disampaikan kepada cucu Kakek.
Dulu, ketika Kakek seumurmu, Kakek
ingin sekali sekolah. Kakek ingin membaca buku, ingin tahu tentang kota-kota
yang ada di peta, dan ingin menjadi guru. Tetapi keadaan tidak mengizinkan.
Orang tua Kakek miskin. Kakek harus membantu di ladang sejak kecil. Pada suatu
hari, Kakek berhenti sekolah dan tidak pernah kembali.
Rantaka membaca perlahan.
Suara hujan di luar rumah terdengar
semakin jelas.
Ia melanjutkan.
Saat itu Kakek merasa berhenti sekolah
adalah pilihan yang paling benar. Kakek pikir, bekerja akan membuat keluarga
lebih ringan. Tetapi setelah dewasa, Kakek mengerti bahwa ada hal-hal yang
tidak dapat dibeli kembali. Waktu sekolah yang hilang tidak bisa diulang.
Buku-buku yang tidak sempat dibaca tidak bisa kembali ke tangan Kakek.
Kakek bekerja keras sepanjang hidup.
Kakek tidak malu menjadi petani. Tetapi Kakek selalu menyesal karena tidak
memiliki cukup ilmu untuk memilih jalan hidup yang lebih luas.
Rantaka menelan ludah.
Kata-kata itu seperti ditulis khusus
untuk menjawab pikirannya selama ini.
Ia terus membaca.
Kalau suatu hari hidupmu sulit, jangan
cepat percaya bahwa sekolah adalah beban. Ilmu memang tidak selalu memberi
hasil dalam satu hari. Ilmu tidak bisa langsung membeli beras atau obat. Tetapi
ilmu akan menolongmu melihat jalan ketika hidup terasa gelap.
Jangan berhenti hanya karena keadaan
membuatmu lelah. Boleh beristirahat. Boleh menangis. Boleh merasa takut. Tetapi
jangan menyerahkan masa depanmu begitu saja kepada kesulitan hari ini.
Rantaka menunduk.
Air matanya jatuh ke atas kertas.
Ia segera mengusapnya agar tulisan
kakeknya tidak terkena terlalu banyak air.
Di bagian bawah halaman, tulisan kakek
tampak semakin kecil dan sedikit bergetar.
Kakek tidak bisa memberikan tanah yang
luas, uang yang banyak, atau rumah yang besar. Tetapi Kakek ingin meninggalkan
satu pesan: ilmu adalah warisan yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun.
Kalau kau tetap belajar, kau akan
membawa nama keluarga ini berjalan lebih jauh daripada langkah Kakek dahulu.
Jangan biarkan jalan tanah membuatmu
lupa bahwa langit di atasmu tetap luas.
Kakekmu,
Sastro Wening.
Rantaka memegang surat itu erat-erat.
Untuk beberapa saat, ia tidak sanggup
berkata apa-apa.
Ia teringat wajah kakeknya yang sering
memandangi jalan desa. Ia teringat tangan kasar yang dulu membantunya mengeja
huruf. Ia teringat kalimat tentang huruf yang menjadi jalan.
Tiba-tiba, Rantaka merasa bahwa selama
ini ia tidak hanya membawa mimpinya sendiri.
Ada mimpi kakeknya yang pernah
terhenti.
Ada harapan ayahnya yang tidak ingin
anaknya mengalami hidup yang sama beratnya.
Ada perjuangan ibunya yang setiap pagi
menggoreng kue demi menjaga rumah tetap menyala.
Dan ada sahabat-sahabat yang masih
menjalankan Gerobak Buku, meski ia telah meninggalkan mereka dalam keadaan
marah.
“Rantaka?”
Suara Rukmini membuatnya tersadar.
Ibunya berdiri di dekat pintu ruang
tengah sambil membawa selimut tua.
“Apa yang kau temukan?”
Rantaka mengangkat surat itu.
“Surat dari Kakek.”
Rukmini mendekat. Ketika melihat nama
Sastro Wening di bagian bawah surat, wajahnya berubah pelan. Ia duduk di
samping Rantaka.
“Dulu Kakekmu memang sering menulis,”
katanya. “Tapi Ibu tidak tahu ia pernah menulis surat untukmu.”
Rantaka menyerahkan surat itu.
Rukmini membacanya dalam diam. Setelah
selesai, ia memegang kertas itu cukup lama.
“Dia selalu ingin kau sekolah setinggi
mungkin,” katanya lirih.
Rantaka menatap ibunya.
“Bu, kalau aku tetap sekolah, apakah
aku hanya akan menambah beban?”
Rukmini terdiam.
Pertanyaan itu terasa berat, karena
jawabannya bukan sekadar tentang uang. Jawabannya adalah tentang harapan yang
selama ini mereka pertahankan meski keadaan semakin sulit.
Rukmini menggenggam tangan Rantaka.
“Kau bukan beban,” katanya. “Kau
adalah alasan Ibu dan Ayah bertahan.”
Rantaka menunduk.
“Tapi uang tabunganku sudah habis.”
“Uang bisa dicari lagi,” jawab
Rukmini. “Buku bisa dipinjam. Seragam bisa dijahit. Tetapi kalau kau berhenti
karena merasa tidak punya jalan, Ibu takut kau akan menyesal seperti Kakekmu.”
Rantaka tidak langsung menjawab.
Di ruang depan, Darma batuk pelan.
Rukmini bangkit untuk mengambilkan air minum. Rantaka tetap duduk dengan surat
di tangannya.
Ia membaca kembali bagian terakhir.
Jangan biarkan jalan
tanah membuatmu lupa bahwa langit di atasmu tetap luas.
Kalimat itu tinggal lama di dalam
dirinya.
Sore berubah menjadi malam.
Hujan mulai reda. Dari celah jendela,
udara dingin masuk membawa bau daun basah. Rantaka menaruh surat kakeknya di
dalam buku pelajaran, lalu menyimpannya di dekat tempat tidurnya.
Malam itu, ia masih belum sepenuhnya
tahu bagaimana cara menyelesaikan semua masalah.
Ia belum tahu dari mana uang untuk
kebutuhan sekolah akan datang.
Ia belum tahu kapan ayahnya dapat
kembali bekerja.
Ia belum tahu apakah Liris, Banyu, dan
Jagra masih mau berbicara dengannya.
Namun, untuk pertama kalinya sejak ia
memutuskan ingin berhenti sekolah, Rantaka tidak lagi merasa keputusan itu
adalah satu-satunya jalan.
Surat kakeknya belum menjawab semua
persoalan.
Tetapi surat itu membuka sesuatu yang
hampir tertutup di dalam dirinya.
Harapan.
Dan di tengah rumah kecil yang masih
dipenuhi kecemasan, Rantaka mulai memahami bahwa harapan kadang datang bukan
dalam bentuk uang atau pertolongan besar.
Kadang, harapan datang dalam bentuk
surat lama yang terselip di antara halaman buku lusuh.
Surat dari seseorang yang telah lama
pergi, tetapi masih ingin memastikan bahwa cucunya tidak menyerah di tengah
jalan.
Bab 18 — Malam Tanpa Lampu
Hujan datang sejak sore dan tidak
menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Awan hitam menutup langit Desa
Wanasari. Angin bergerak dari arah kebun singkong, menggoyangkan daun-daun
pisang di belakang rumah Rantaka. Sesekali, kilat menyala di kejauhan,
menerangi jalan tanah yang berubah menjadi garis-garis lumpur.
Rantaka baru saja pulang dari sekolah
ketika hujan mulai turun lebih deras.
Hari itu ia tidak langsung pulang
setelah pelajaran selesai. Ia sempat berdiri cukup lama di bawah pohon
beringin, memandangi halaman sekolah yang mulai sepi. Gerobak Buku Langit Biru
sudah tidak ada di sana. Mungkin Liris, Banyu, dan Jagra telah membawanya
pulang lebih awal karena cuaca.
Rantaka ingin menyusul mereka.
Ia ingin meminta maaf.
Ia ingin mengatakan bahwa kata-kata
yang keluar di bawah pohon beringin bukan sepenuhnya karena ia marah kepada
mereka. Ia marah kepada keadaan. Ia marah kepada dirinya sendiri karena merasa
tidak sanggup menjadi anak yang dapat membantu keluarga sekaligus tetap menjaga
mimpinya.
Namun, setiap kali ia membayangkan
wajah Liris yang menangis, langkahnya kembali tertahan.
Akhirnya, ia pulang sendirian.
Di rumah, Rukmini sedang menutup
jendela dengan kain bekas agar air hujan tidak masuk. Beberapa ember sudah
diletakkan di bawah bagian atap yang bocor. Darma duduk di dekat dinding sambil
memegang tongkat kayu. Kakinya masih dibalut, tetapi bengkaknya sudah mulai
berkurang.
“Cepat ganti baju,” kata Rukmini
ketika melihat Rantaka masuk. “Nanti masuk angin.”
Rantaka mengangguk.
Ia mengganti seragamnya dengan kaus
lama dan celana pendek. Setelah itu, ia membantu ibunya memindahkan tikar agar
tidak terkena air dari kebocoran kecil di sudut rumah.
Hujan semakin deras.
Air menetes dari atap dengan bunyi
yang tidak teratur. Kadang satu tetes, kadang banyak sekaligus. Rantaka
mengambil ember lain, lalu meletakkannya di dekat dapur.
Darma memandangi anaknya.
“Kau capai?” tanyanya.
“Tidak, Yah.”
Darma tersenyum tipis. “Kau mulai pandai
menjawab seperti Ibumu.”
Rukmini yang sedang menyalakan kompor
kecil menoleh.
“Jawaban apa?”
“Kalau capai, bilang tidak capai.”
Rukmini tersenyum samar, tetapi
senyumnya cepat hilang ketika suara petir menggelegar.
Menjelang malam, listrik padam.
Lampu yang sejak sore menyala redup
tiba-tiba mati. Rumah kecil itu langsung tenggelam dalam gelap. Dari
rumah-rumah tetangga, terdengar beberapa suara anak kecil yang berseru kaget.
Rukmini segera mencari lampu minyak.
“Rantaka, ambil korek di atas rak.”
Rantaka meraba-raba dinding dan meja.
Dalam gelap, rumah itu terasa berbeda. Barang-barang yang biasa ia lihat setiap
hari berubah menjadi bayangan yang tidak jelas. Ia menemukan korek, lalu
membantu ibunya menyalakan lampu minyak.
Nyala kecil muncul perlahan.
Cahaya kuning memenuhi ruang tengah,
memantul pada dinding kayu dan wajah-wajah mereka. Namun, lampu minyak itu
tidak mampu mengusir seluruh gelap. Sudut-sudut rumah tetap tampak hitam. Di
luar, hujan masih jatuh seperti tirai yang menutup dunia.
Mereka makan malam dengan sederhana.
Nasi hangat, sayur daun singkong, dan
ikan asin yang digoreng tipis. Darma makan perlahan. Rukmini beberapa kali
melihat ke arah kakinya, seolah memastikan luka itu tidak semakin sakit.
Rantaka tidak banyak bicara.
Di samping piringnya, buku lusuh milik
Kakek Sastro Wening terletak tertutup. Surat kakeknya masih tersimpan di
dalamnya.
Setelah makan, Rukmini pergi ke dapur
untuk mencuci piring. Rantaka membantu membawa gelas dan sendok. Darma tetap
duduk di dekat jendela, memandangi hujan yang tidak dapat dilihat jelas karena
gelap.
Tiba-tiba, angin besar datang.
Pintu depan bergetar. Salah satu ember
di bawah atap bergeser karena air yang jatuh terlalu deras. Rantaka segera
membetulkannya.
Ketika ia kembali ke ruang tengah, ia
melihat Darma sedang berusaha berdiri.
“Ayah mau ke mana?” tanya Rantaka
cepat.
“Ke depan sebentar.”
“Ayah duduk saja. Biar aku yang
lihat.”
Darma menggeleng. “Bapak ingin
berdiri.”
Rantaka membantu ayahnya memegang
tongkat. Dengan langkah pelan, Darma berjalan menuju pintu. Kakinya masih belum
kuat, tetapi ia memaksa dirinya berdiri tegak.
Di bawah cahaya lampu minyak yang
redup, Rantaka melihat sesuatu yang jarang ia lihat pada wajah ayahnya.
Bukan hanya rasa sakit.
Melainkan rasa kalah.
Darma berdiri di ambang pintu cukup
lama. Di luar, hujan menutup jalan menuju ladang. Tidak ada satu pun cahaya
dari arah kebun. Hanya suara air, angin, dan petir yang sesekali membelah
langit.
“Dulu,” kata Darma perlahan, “kalau
hujan seperti ini, Bapak selalu memikirkan ladang.”
Rantaka berdiri di sampingnya.
“Sekarang juga memikirkan ladang,
Yah?”
Darma tersenyum kecil, tetapi senyum
itu tampak berat.
“Sekarang Bapak memikirkan banyak
hal.”
Rantaka tidak menjawab.
Darma menatap kegelapan di luar rumah.
“Bapak memikirkan singkong yang belum
dibersihkan rumputnya. Memikirkan tanah yang mungkin longsor di bagian
belakang. Memikirkan hasil panen yang belum tentu cukup.” Ia berhenti sebentar.
“Tapi yang paling Bapak pikirkan adalah kau.”
Rantaka menoleh.
“Aku?”
Darma mengangguk.
“Bapak tahu kau membantu Ibu setiap
pagi. Bapak tahu kau sering pulang dengan wajah lelah. Bapak juga tahu kau
mulai tertinggal pelajaran.”
Rantaka menunduk.
“Aku masih bisa mengejar, Yah.”
“Bapak tahu.” Darma menarik napas
perlahan. “Tapi Bapak juga tahu kau pernah berpikir untuk berhenti sekolah.”
Rantaka terdiam.
Ia tidak pernah mengatakannya langsung
kepada ayahnya. Mungkin Darma mendengar dari Rukmini. Mungkin ayahnya hanya
melihat perubahan dalam dirinya. Namun, malam itu, di tengah rumah yang gelap,
Rantaka tidak lagi mampu menyangkal.
“Aku hanya ingin membantu,” katanya
pelan.
Darma memejamkan mata sebentar.
“Bapak tahu.”
“Aku tidak mau Ibu menangis karena
uang. Aku tidak mau Ayah memikirkan obat. Aku tidak mau menjadi beban.”
Darma membuka mata. Cahaya lampu
minyak membuat wajahnya tampak lebih tua dari biasanya.
“Kau bukan beban.”
Rantaka menggigit bibir.
“Tapi uang tabunganku habis.”
“Uang itu dipakai untuk Bapak,” kata
Darma dengan suara yang mulai bergetar. “Dan setiap kali Bapak melihat kau berangkat
dengan seragam lusuh, Bapak merasa seperti telah mengambil sesuatu dari masa
depanmu.”
Rantaka mengangkat wajah.
Darma menatapnya.
“Maafkan Bapak.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam
sepenuhnya.
Selama ini, Darma jarang meminta maaf.
Bukan karena ia tidak memiliki kesalahan, tetapi karena ia adalah lelaki desa
yang lebih sering menunjukkan kasih sayang lewat kerja keras daripada
kata-kata.
Ia mengantar Rantaka ke sekolah ketika
hujan.
Ia memperbaiki sandal anaknya yang
putus.
Ia menabung sedikit demi sedikit untuk
membeli buku.
Namun, malam itu, Darma meminta maaf
dengan suara yang sangat pelan.
“Jangan bilang begitu, Yah,” kata
Rantaka cepat. “Aku yang seharusnya minta maaf. Aku malah berpikir untuk
berhenti sekolah.”
Darma menggeleng.
“Tidak. Kau sedang lelah. Orang yang
lelah kadang tidak melihat jalan dengan jelas.” Ia menatap jalan tanah yang
tertutup hujan. “Tapi dengarkan Bapak. Bapak tidak ingin kau hidup seperti
Bapak.”
Rantaka terkejut.
“Ayah kenapa bilang begitu? Ayah
bekerja keras.”
“Bekerja keras itu baik,” jawab Darma.
“Menjadi petani juga pekerjaan yang mulia. Tetapi Bapak ingin kau punya
pilihan. Bapak ingin kau bisa membaca dunia lebih luas daripada ladang ini.
Kalau suatu hari kau memilih kembali ke desa dan bertani, itu harus karena kau
memilih, bukan karena kau tidak punya jalan lain.”
Rantaka merasakan air mata menghangat
di pelupuk matanya.
Darma melanjutkan, “Bapak tidak ingin
luka di kaki ini membuat kau menyerah. Bapak tidak ingin kesulitan kita hari
ini menjadi alasan kau menutup pintu masa depanmu.”
Di dapur, Rukmini berhenti mencuci
piring.
Ia berdiri diam, mendengarkan.
“Kalau Bapak tidak bisa bekerja
seperti dulu,” kata Darma, “kita cari cara lain. Kita pelan-pelan. Kita hemat.
Kita minta bantuan kalau memang perlu. Tetapi kau tetap sekolah.”
Rantaka menatap ayahnya.
“Bagaimana kalau aku tidak sanggup?”
Darma mengangkat tangan dan
meletakkannya di bahu Rantaka.
“Kalau kau tidak sanggup, jangan
memikulnya sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, di tengah malam tanpa lampu, kalimat
itu terasa seperti cahaya yang lebih terang daripada nyala lampu minyak.
Rantaka menangis.
Ia tidak lagi berusaha
menyembunyikannya. Ia memeluk ayahnya dengan hati-hati agar tidak mengenai kaki
yang terluka. Darma membalas pelukan itu dengan satu tangan.
Rukmini datang mendekat.
Ia tidak berkata banyak. Ia hanya
memeluk mereka berdua.
Untuk beberapa saat, hujan tetap
turun.
Listrik masih padam.
Rumah kecil itu masih bocor di
beberapa bagian.
Obat Darma tetap harus dibeli.
Uang tabungan Rantaka tetap telah
digunakan.
Tidak ada masalah yang tiba-tiba
hilang.
Namun, di dalam rumah itu, sesuatu
berubah.
Rantaka tidak lagi merasa harus
menghadapi semuanya sendiri.
Setelah beberapa lama, Darma kembali
duduk di tikarnya. Rantaka mengambil buku lusuh milik kakeknya, lalu membuka
surat yang tersimpan di dalamnya.
Ia membaca kembali satu kalimat yang
paling membekas.
Boleh beristirahat.
Boleh menangis. Boleh merasa takut. Tetapi jangan menyerahkan masa depanmu
begitu saja kepada kesulitan hari ini.
Rantaka menutup surat itu perlahan.
Di luar, hujan mulai berkurang.
Suara air yang jatuh dari atap tidak
lagi sekeras tadi. Angin juga mulai reda. Dari kejauhan, terdengar suara katak
bersahutan di sawah yang tergenang.
Rantaka memandang lampu minyak yang
masih menyala di tengah ruang.
Nyala itu kecil.
Namun, cukup untuk membuat mereka
saling melihat.
Cukup untuk membuat rumah itu tidak
sepenuhnya gelap.
Dan malam itu, Rantaka mengerti bahwa
harapan tidak selalu datang dalam bentuk cahaya besar yang mengusir seluruh
kegelapan.
Kadang, harapan hanya berupa nyala
kecil yang dijaga bersama-sama agar tidak padam.
BAGIAN IV
PERJUANGAN UNTUK SEKOLAH DAN MASA DEPAN
Bab 19 — Sahabat yang Kembali Datang
Pagi setelah malam tanpa lampu itu,
Desa Wanasari tampak lebih tenang.
Hujan telah berhenti sejak menjelang
subuh. Jalan tanah di depan rumah Rantaka masih basah, tetapi langit perlahan
membuka warna birunya di antara awan-awan putih yang bergerak pelan. Dari kebun
singkong, terdengar suara burung dan serangga yang kembali memenuhi pagi.
Rantaka bangun sebelum ibunya
memanggil.
Ia duduk beberapa saat di tikarnya,
memandangi buku lusuh milik Kakek Sastro yang tersimpan di dekat kepala. Surat
itu masih berada di dalamnya. Ia tidak membacanya lagi, tetapi kata-kata
kakeknya dan percakapan dengan ayahnya semalam terus tinggal di dalam
pikirannya.
Ia belum tahu bagaimana semua masalah
akan selesai.
Namun, ia tahu satu hal.
Ia tidak akan berhenti sekolah.
Rantaka berdiri, lalu berjalan ke
dapur.
Rukmini sudah menyiapkan adonan kue.
Wajahnya masih tampak lelah, tetapi pagi itu ada ketenangan yang sedikit
berbeda dalam sorot matanya. Darma duduk di dekat pintu sambil memegang tongkat
kayu. Kakinya masih belum benar-benar pulih, tetapi ia sudah bisa menggerakkan
jari-jari kakinya lebih leluasa.
“Aku bantu, Bu,” kata Rantaka.
Rukmini menoleh. “Kau tidak perlu
terlalu pagi.”
“Aku mau membantu.”
Darma tersenyum kecil.
Rantaka mulai menata kue-kue yang
sudah matang ke dalam keranjang. Ia melakukannya lebih cepat daripada biasanya.
Setelah itu, ia mengikat keranjang di belakang sepeda tua. Tangannya masih
terkena sedikit minyak dan tepung, tetapi ia tidak peduli.
Sebelum berangkat, ia menoleh kepada
ayahnya.
“Ayah, aku tetap sekolah.”
Darma memandangnya cukup lama.
Kemudian ia mengangguk.
“Itu yang Bapak ingin dengar.”
Rantaka mengayuh sepeda menyusuri
jalan tanah.
Pagi itu, keranjang kue di belakangnya
terasa lebih ringan. Bukan karena isinya berkurang, melainkan karena beban yang
selama ini ia simpan sendiri mulai sedikit terangkat.
Ia mengantar beberapa pesanan ke rumah
warga. Bu Sari membeli kue cucur dan pisang goreng. Pak Jamin membeli singkong
rebus untuk dibawa ke ladang. Di warung ujung desa, pemilik warung menerima
beberapa bungkus lemper untuk dititipkan.
Ketika semua selesai, Rantaka langsung
menuju sekolah.
Ia tiba sebelum bel berbunyi.
Halaman SD Wanasari masih basah.
Daun-daun beringin meneteskan sisa hujan malam. Di dekat teras kelas, Gerobak
Buku Langit Biru berdiri seperti biasa. Roda depannya masih sedikit miring,
tetapi rak kayunya sudah dibersihkan. Di atasnya tersusun buku cerita, buku
pelajaran lama, majalah anak-anak, dan beberapa buku tulis bekas yang masih
bisa digunakan.
Rantaka berhenti di dekat gerobak itu.
Tangannya menyentuh sisi kayu yang
dibuat Banyu.
Ia teringat hari ketika mereka pertama
kali menemukan buku-buku lama di gudang sekolah. Ia teringat Liris yang
menyebut tempat itu sebagai perpustakaan kecil. Ia teringat Jagra yang mengeluh
karena harus mendorong gerobak melewati jalan berlumpur.
Dan ia teringat pertengkaran di bawah
pohon beringin.
Dadanya kembali terasa sesak.
Rantaka ingin mencari ketiga
sahabatnya. Ia ingin meminta maaf sebelum pelajaran dimulai. Namun,
keberaniannya belum cukup. Ia hanya berdiri di dekat gerobak hingga suara bel
masuk terdengar.
Di kelas, Liris duduk di tempatnya
seperti biasa. Banyu berada di belakang. Jagra datang beberapa menit kemudian
dengan rambut yang masih sedikit basah karena embun pagi.
Mereka melihat Rantaka.
Namun, tidak ada yang langsung
berbicara.
Rantaka menunduk dan membuka buku.
Pelajaran berlangsung seperti
hari-hari sebelumnya, tetapi bagi Rantaka, setiap menit terasa lebih panjang.
Ia ingin mengatakan sesuatu. Ia ingin meminta maaf. Namun, kata-kata itu seolah
tertahan di tenggorokannya.
Saat jam istirahat, Rantaka keluar
kelas lebih dulu.
Ia berjalan menuju pohon beringin.
Tempat itu masih sama.
Akar-akar besar menjalar di tanah.
Daunnya bergerak pelan ditiup angin. Di bawah pohon itulah mereka membentuk
Langit Biru. Di bawah pohon itu pula Rantaka mengatakan kata-kata yang membuat
sahabat-sahabatnya terluka.
Rantaka duduk di salah satu akar.
Ia menunggu.
Namun, sampai bel masuk kembali
berbunyi, tidak ada yang datang.
Hari itu berlalu tanpa percakapan.
Begitu pula hari berikutnya.
Rantaka tetap membantu ibunya menjual
kue sebelum sekolah. Ia tetap mengikuti pelajaran tambahan bersama Bu Laras
setelah jam sekolah selesai. Ia juga mulai membantu Darma merawat tanaman kecil
di halaman rumah, seperti cabai dan sayur-sayuran yang dapat dipanen untuk
kebutuhan dapur.
Namun, setiap kali melihat Gerobak
Buku berjalan tanpa dirinya, ada bagian dalam dirinya yang terasa kosong.
Pada hari ketiga, menjelang sore,
Rantaka sedang memperbaiki tali keranjang sepeda di halaman rumah ketika
terdengar suara roda berderit dari arah jalan.
Ia menoleh.
Di ujung jalan tanah, Banyu tampak
mendorong Gerobak Buku.
Di sampingnya berjalan Liris dengan
membawa beberapa buku. Jagra membawa kantong kain yang tampak cukup berat.
Mereka berjalan perlahan menuju rumah Rantaka.
Rantaka berdiri.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang
berkata-kata.
Banyu menghentikan gerobak di depan
pagar bambu. Liris memandang Rantaka, sementara Jagra menaruh kantong kain di
atas bangku kayu dekat teras.
“Apa kalian mencari Ibu?” tanya
Rantaka akhirnya.
“Bukan,” jawab Jagra.
“Kami mencari kau,” kata Liris.
Rantaka menunduk.
“Aku mau minta maaf,” katanya cepat,
seolah takut keberaniannya hilang. “Aku tidak seharusnya berkata seperti itu di
bawah beringin. Aku tahu kalian hanya ingin membantu. Aku marah, tapi bukan
kepada kalian.”
Liris tidak langsung menjawab.
Banyu memegang sisi gerobak.
Jagra menghela napas panjang.
“Aku juga mau minta maaf,” kata Liris
akhirnya. “Aku terlalu keras bicara waktu itu.”
“Kau tidak salah,” jawab Rantaka.
“Aku tetap seharusnya tidak membuatmu
merasa sendirian,” kata Liris.
Rantaka mengangkat wajah.
Banyu lalu membuka salah satu bagian
rak Gerobak Buku. Dari dalamnya, ia mengambil beberapa buku tulis yang masih
cukup bersih, dua pensil, sebuah penghapus, dan penggaris plastik.
“Ini dari buku-buku sisa di gudang,”
katanya. “Ada beberapa halaman kosong. Bisa dipakai untuk latihan.”
Rantaka menerima barang-barang itu
dengan tangan gemetar.
“Terima kasih,” katanya.
Jagra kemudian membuka kantong kain
yang dibawanya.
Di dalamnya ada beberapa ikan sungai
yang sudah dibersihkan, singkong, serta sebungkus kecil berisi uang.
Rantaka langsung menggeleng.
“Tidak. Aku tidak bisa menerima uang.”
“Ini bukan uang dari kami saja,” kata
Jagra. “Sebagian dari hasil jualan ikan Bapak. Sebagian dari warga yang ikut
Gerobak Buku minggu lalu. Mereka tahu ayahmu sedang sakit.”
“Aku tidak mau dikasihani.”
Jagra menatapnya dengan wajah serius.
“Tidak ada yang mengasihanimu. Ini
gotong royong.”
Kalimat itu membuat Rantaka diam.
Liris mendekat.
“Bu Sari juga menitipkan pesan,”
katanya. “Katanya, kalau ibumu mau menerima pesanan kue untuk kegiatan kerja
bakti sekolah hari Minggu, beliau akan membantu mencarikan pembeli.”
Rantaka memandang ketiga sahabatnya
satu per satu.
Mereka datang bukan membawa kata-kata
besar.
Mereka membawa buku tulis bekas.
Mereka membawa ikan dan singkong.
Mereka membawa uang hasil usaha kecil.
Mereka membawa kabar tentang pesanan
kue.
Hal-hal sederhana itu mungkin tidak
langsung menyelesaikan seluruh masalah keluarga Rantaka.
Namun, semua itu menunjukkan bahwa ia
tidak sendiri.
Dari dalam rumah, Rukmini keluar
setelah mendengar suara di halaman.
Ketika melihat Liris, Banyu, dan
Jagra, ia tersenyum hangat.
“Masuklah,” katanya. “Ibu buatkan
teh.”
Mereka duduk di ruang tengah.
Darma yang sedang berbaring di tikar
mencoba duduk lebih tegak. Ia memandang ketiga anak itu dengan mata yang penuh
terima kasih.
“Kalian sahabat yang baik,” katanya.
Liris menunduk sopan. “Kami hanya
datang membantu, Pak.”
Banyu memperhatikan kaki Darma.
“Bagaimana keadaan kaki Bapak?”
“Sudah lebih baik,” jawab Darma.
“Masih belum bisa ke ladang, tapi sudah tidak terlalu sakit.”
Jagra tersenyum kecil. “Kalau sudah
sembuh, Bapak harus lihat Gerobak Buku kami. Sekarang sudah ada tempat khusus
untuk buku pelajaran.”
Darma tertawa pelan.
Suasana rumah yang selama beberapa
minggu terasa berat, sore itu perlahan menjadi lebih hangat.
Rukmini menyuguhkan teh manis dan kue
yang belum sempat dijual. Mereka berbincang tentang sekolah, tentang kerja
bakti hari Minggu, dan tentang rencana perpustakaan keliling berikutnya.
Kemudian, Liris mengeluarkan sebuah
kertas dari buku catatannya.
“Aku menulis beberapa kalimat untuk
pengumuman Gerobak Buku,” katanya. “Mungkin kita bisa membacakannya saat
keliling.”
Ia membaca pelan.
Buku-buku ini tidak datang dari kota
besar.
Buku-buku ini lahir dari gudang tua dan tangan-tangan yang mau merawatnya.
Siapa pun boleh membaca, siapa pun boleh belajar,
karena masa depan tidak hanya milik mereka yang memiliki banyak uang.
Rantaka mendengarkan tanpa
berkata-kata.
Kalimat itu membuatnya teringat surat
Kakek Sastro.
Ilmu adalah warisan
yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun.
Setelah beberapa lama, Banyu berdiri.
“Kami harus lanjut keliling,” katanya.
“Masih ada anak-anak di dekat sungai yang menunggu buku cerita.”
Jagra mengambil pegangan Gerobak Buku.
Namun, sebelum mereka pergi, Rantaka
melangkah mendekat.
“Aku ikut.”
Liris menoleh.
“Sekarang?”
Rantaka mengangguk.
“Aku sudah terlalu lama membiarkan
kalian mendorong gerobak ini tanpa aku.”
Banyu tersenyum tipis.
Jagra menggeser posisi tangannya.
“Kalau begitu, pegang sisi kiri. Roda
kanan masih suka membelok sendiri.”
Rantaka tertawa kecil.
Tawa itu terasa asing setelah beberapa
hari terakhir. Namun, tawa itu juga terasa seperti sesuatu yang kembali ke
tempatnya.
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah
bersama-sama.
Banyu dan Rantaka mendorong Gerobak
Buku dari dua sisi. Liris berjalan di depan sambil membawa buku cerita. Jagra
membawa kantong kecil berisi alat tulis dan beberapa ikan yang tersisa untuk
dibawa pulang nanti.
Di sepanjang jalan, anak-anak kecil
mulai keluar dari rumah.
“Gerobak Buku datang!” teriak seorang
anak.
Beberapa anak berlari mendekat.
Mereka memilih buku, duduk di teras
rumah, lalu mendengarkan Liris membaca cerita. Banyu membantu seorang anak
memperbaiki pensil yang patah. Jagra mengajari anak-anak membuat perahu kecil
dari daun kelapa.
Rantaka duduk di dekat mereka.
Seorang anak kecil menyerahkan buku
bergambar kepadanya.
“Kak Rantaka, bacakan ini.”
Rantaka menerima buku itu.
Ia membuka halaman pertama.
Suara hujan beberapa malam lalu masih
tersimpan dalam ingatannya. Uang tabungan yang habis, kaki ayahnya yang
terluka, dan pertengkaran di bawah beringin belum sepenuhnya hilang dari
hatinya.
Namun, sore itu, di antara anak-anak
desa yang duduk melingkar dan sahabat-sahabat yang kembali berada di sisinya,
Rantaka memahami sesuatu.
Kadang, seseorang tidak membutuhkan
orang lain untuk menghapus semua kesulitannya.
Seseorang hanya membutuhkan orang lain
yang datang, duduk di sampingnya, dan berkata tanpa banyak kata:
Kau tidak harus
menghadapi semuanya sendiri.
Di kejauhan, langit Desa Wanasari
mulai berubah jingga.
Gerobak Buku Langit Biru terus
bergerak perlahan di jalan tanah.
Dan untuk pertama kalinya setelah
perpisahan di bawah beringin, Rantaka kembali berjalan bersama
sahabat-sahabatnya.
Bab 20 — Pentas Harapan Wanasari
Sejak Gerobak Buku Langit Biru kembali
berjalan bersama empat sahabat itu, suasana SD Wanasari perlahan berubah.
Anak-anak yang dahulu hanya datang ke
sekolah lalu segera pulang, kini sering tinggal lebih lama untuk membaca buku.
Beberapa ibu mulai meminjam buku resep dan bacaan kesehatan dari gerobak. Para
bapak yang pulang dari ladang kadang berhenti sebentar untuk melihat anak-anak
mereka duduk melingkar di teras rumah sambil mendengarkan cerita.
Namun, kabar tentang evaluasi sekolah
dari kecamatan belum juga hilang.
Surat berstempel merah itu masih
tersimpan di meja kepala sekolah. Bangunan SD Wanasari tetap tua. Atapnya masih
bocor di beberapa bagian. Pagar bambu yang sudah diperbaiki anak-anak dan warga
mulai tampak lebih rapi, tetapi belum cukup untuk menghapus alasan-alasan yang
mungkin digunakan untuk menutup sekolah.
Suatu sore, Bu Laras memanggil
Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra ke ruang guru.
Ruang itu kecil. Dindingnya dipenuhi
peta Indonesia yang warnanya mulai pudar, daftar nilai murid, serta beberapa
foto kegiatan sekolah. Di sudut ruangan, ada lemari kayu tua yang pintunya
tidak dapat ditutup rapat.
Bu Laras duduk di belakang meja sambil
memegang beberapa lembar kertas.
“Ada kabar dari kecamatan,” katanya.
Keempat anak itu saling memandang.
“Tim penilai kemungkinan datang dalam
beberapa minggu ke depan,” lanjut Bu Laras. “Mereka ingin melihat kondisi
sekolah, jumlah murid, kegiatan belajar, dan dukungan masyarakat.”
Rantaka merasakan tengkuknya menegang.
“Apakah sekolah akan ditutup, Bu?”
tanya Jagra.
Bu Laras tidak langsung menjawab.
“Belum ada keputusan,” katanya.
“Tetapi kita harus menunjukkan bahwa SD Wanasari masih dibutuhkan.”
Liris menatap surat-surat di meja.
“Bagaimana caranya, Bu?”
Bu Laras tersenyum kecil.
“Itulah yang harus kita pikirkan
bersama.”
Setelah keluar dari ruang guru,
keempat sahabat itu berjalan menuju pohon beringin. Tempat itu kembali menjadi
ruang kecil bagi mereka untuk membicarakan hal-hal penting.
Rantaka duduk di salah satu akar
besar. Banyu berdiri sambil memandangi halaman sekolah. Jagra memainkan ranting
kecil di tangannya. Liris membuka buku catatan yang selalu dibawanya.
“Kita sudah membersihkan sekolah,”
kata Jagra. “Kita juga sudah menjalankan Gerobak Buku.”
“Warga mulai mendukung,” tambah Banyu.
“Tapi mungkin kecamatan belum melihat semua itu.”
Liris menulis sesuatu di bukunya.
“Kalau begitu, kita harus membuat
mereka melihat,” katanya.
Rantaka menoleh. “Maksudmu?”
“Kita buat kegiatan di desa,” jawab
Liris. “Bukan hanya kerja bakti. Kita buat acara yang menunjukkan bahwa sekolah
ini hidup.”
Jagra mengangkat alis. “Acara seperti
apa?”
Liris memandang ketiga sahabatnya.
“Pentas seni.”
Banyu terdiam sejenak.
“Pentas seni?” ulangnya.
“Kita bisa mengadakan pertunjukan di
kampung,” kata Liris semakin bersemangat. “Anak-anak bisa membaca puisi,
menyanyi, menampilkan cerita tentang desa. Kita bisa mengajak warga datang.
Kita juga bisa mengumpulkan dukungan untuk sekolah.”
Rantaka mulai memahami maksudnya.
“Seperti malam hiburan?”
“Bukan hanya hiburan,” jawab Liris.
“Pentas Harapan Wanasari. Kita tunjukkan bahwa sekolah ini bukan bangunan
kosong. Sekolah ini tempat anak-anak belajar, berkarya, dan punya mimpi.”
Jagra tersenyum.
“Nama itu bagus.”
Banyu mengangguk perlahan.
“Aku bisa membuat panggung.”
“Kau bisa?” tanya Rantaka.
Banyu menatap halaman sekolah, lalu
menunjuk beberapa bambu yang tersimpan di belakang gudang.
“Masih ada bambu bekas dari pagar
lama. Kita juga bisa minta bambu dari warga. Kalau panggungnya sederhana, aku
bisa membuat rangkanya.”
“Kalau aku,” kata Jagra, “bisa
mengajak pemuda desa. Mereka mungkin mau membantu mengangkat bambu dan memasang
lampu.”
Liris tersenyum lebar.
“Aku akan menulis naskah pertunjukan.
Anak-anak kecil bisa ikut bermain.”
Rantaka memandangi ketiga sahabatnya.
Mereka berbicara dengan semangat,
seolah keputusan besar telah dibuat. Namun, Rantaka tahu bahwa kegiatan seperti
itu tidak akan mudah. Mereka membutuhkan izin, bahan, tenaga, dan dukungan
warga.
“Kalau begitu,” katanya, “aku akan
bicara dengan Bu Laras dan Kepala Dusun. Kita harus menjelaskan bahwa ini untuk
sekolah.”
Sore itu, Langit Biru kembali memiliki
rencana.
Bukan rencana kecil seperti
memperbaiki pagar atau membawa buku keliling.
Melainkan rencana yang akan mengajak
seluruh Desa Wanasari berdiri bersama untuk sekolah mereka.
Keesokan harinya, Rantaka dan Liris
menemui Bu Laras.
Mereka menjelaskan gagasan tentang
Pentas Harapan Wanasari. Bu Laras mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sesekali
ia mengangguk, sesekali ia menatap keluar jendela seperti sedang membayangkan
halaman sekolah yang dipenuhi warga.
“Ini gagasan yang baik,” katanya
setelah mereka selesai berbicara. “Tetapi kalian harus ingat, acara seperti ini
membutuhkan kerja sama banyak orang.”
“Kami siap, Bu,” kata Rantaka.
Bu Laras tersenyum.
“Kalau begitu, Ibu akan membantu
menghubungi Kepala Dusun dan beberapa orang tua murid.”
Pertemuan warga diadakan pada malam
Jumat di balai desa.
Balai desa Wanasari tidak terlalu
besar. Lantainya masih semen kasar, dindingnya dari papan, dan lampunya hanya
beberapa buah. Namun, malam itu balai desa cukup ramai. Ada para orang tua
murid, tokoh masyarakat, pemuda desa, ibu-ibu yang aktif dalam kegiatan
kampung, serta beberapa warga yang sebelumnya masih ragu terhadap perjuangan
mempertahankan SD Wanasari.
Rantaka duduk di dekat Bu Laras.
Tangannya dingin.
Ia belum pernah berbicara di depan
banyak orang dewasa tentang rencana sebesar itu.
Kepala Dusun membuka pertemuan dengan
suara berat.
“Kita semua tahu keadaan sekolah
kita,” katanya. “Bangunannya tua, muridnya tidak banyak, dan kecamatan sedang
menilai. Anak-anak ini punya gagasan. Kita dengarkan dulu.”
Bu Laras berdiri.
“Pentas Harapan Wanasari bukan sekadar
acara hiburan,” katanya. “Ini adalah ruang untuk menunjukkan bahwa masyarakat
masih peduli pada pendidikan anak-anaknya. Jika kita ingin sekolah ini
bertahan, kita harus menunjukkan bahwa sekolah ini benar-benar hidup di tengah
desa.”
Kemudian Rantaka dipersilakan maju.
Ia berdiri perlahan.
Di hadapannya, ada wajah-wajah yang
dikenalnya. Ada Bu Sari yang sering membeli kue dari ibunya. Ada Pak Jamin yang
bekerja di ladang. Ada beberapa bapak yang pernah berkata bahwa anak-anak lebih
baik membantu keluarga daripada berjalan jauh ke sekolah lain.
Rantaka menarik napas.
“Sekolah kami memang kecil,” katanya.
“Atapnya bocor. Buku kami tidak banyak. Papan tulis kami retak. Tetapi di
sekolah itu, kami belajar membaca, berhitung, dan mengenal dunia.”
Suasana balai desa hening.
“Kami membuat Gerobak Buku karena kami
ingin anak-anak di desa juga bisa membaca. Kami ingin mereka tahu bahwa mereka
boleh punya cita-cita. Pentas ini adalah cara kami mengajak semua warga untuk
percaya bahwa SD Wanasari masih layak dipertahankan.”
Rantaka menunduk setelah selesai
berbicara.
Beberapa saat tidak ada suara.
Lalu Bu Sari berdiri.
“Saya setuju,” katanya. “Kalau
anak-anak sudah berani berjuang seperti ini, masa kita yang dewasa hanya
menonton?”
Seorang pemuda desa bernama Ardi ikut
mengangkat tangan.
“Saya dan teman-teman bisa membantu
membuat lampu dari kabel yang ada. Tidak bagus-bagus amat, tapi cukup untuk
acara.”
Warga lain mulai berbicara.
Ada yang menawarkan bambu.
Ada yang menawarkan tikar.
Ada yang bersedia membawa makanan.
Ada yang ingin membantu menyiapkan
pakaian sederhana untuk anak-anak yang akan tampil.
Kepala Dusun yang sebelumnya tampak
ragu akhirnya mengangguk.
“Baik,” katanya. “Kita adakan Pentas
Harapan Wanasari. Tapi semuanya harus dikerjakan bersama-sama.”
Tepuk tangan terdengar di dalam balai
desa.
Liris memandang Rantaka dengan mata
berbinar. Banyu tersenyum kecil. Jagra bahkan menepuk punggung Rantaka cukup
keras hingga ia hampir tersandung.
“Pidatomu tidak buruk,” bisik Jagra.
“Diam,” jawab Rantaka, tetapi ia
tersenyum.
Persiapan dimulai sejak hari
berikutnya.
Banyu menjadi orang yang paling sibuk.
Ia mengukur bambu, memotong tali, dan
menggambar bentuk panggung di tanah dengan ranting. Beberapa pemuda desa
membantunya mengangkat bambu dari kebun. Mereka membuat rangka panggung
sederhana di halaman sekolah, tepat di dekat pohon beringin.
Panggung itu tidak besar.
Hanya cukup untuk beberapa anak
berdiri dan menampilkan pertunjukan.
Namun, bagi Banyu, panggung itu harus
kokoh.
“Kalau anak-anak naik, jangan sampai
bambunya bergoyang,” katanya sambil mengikat tali.
Jagra mengajak pemuda desa mencari
papan bekas. Ada yang berasal dari kandang lama, ada yang dari sisa bangunan
warung, dan ada pula yang dipinjam dari rumah warga. Ia juga membantu memasang
lampu-lampu kecil dari bohlam bekas yang disambungkan dengan kabel.
Liris menghabiskan banyak waktu di
bawah pohon beringin.
Ia menulis naskah pertunjukan tentang
anak-anak desa yang ingin mempertahankan sekolah mereka. Ceritanya sederhana,
tetapi penuh perasaan. Ada tokoh anak petani, anak nelayan, anak penjual kue,
dan seorang guru yang tidak menyerah mengajar meski sekolah hampir ditutup.
“Ini bukan cerita tentang kita semua,
kan?” tanya Jagra sambil membaca bagian awal naskah.
Liris tersenyum. “Bukan. Tapi mungkin
ada sedikit.”
“Sedikit sekali,” kata Banyu.
Rantaka membantu Bu Laras mengajak
murid-murid lain ikut tampil. Ada yang akan menyanyi lagu daerah. Ada yang
membaca puisi. Ada yang memainkan drama. Anak-anak kecil terlihat sangat
bersemangat, meski beberapa dari mereka masih malu berbicara di depan banyak
orang.
Setiap sore, halaman sekolah berubah
menjadi tempat latihan.
Suara anak-anak membaca dialog
terdengar sampai ke jalan. Kadang mereka lupa kalimat, lalu tertawa. Kadang ada
yang menangis karena tidak ingin tampil. Kadang Jagra membuat suasana semakin
ramai dengan menirukan suara tokoh-tokoh dalam drama.
Rantaka menjadi penggerak utama.
Ia mengatur jadwal latihan, membantu
membawa kursi dari balai desa, mengantarkan undangan sederhana ke rumah-rumah
warga, dan memastikan Gerobak Buku tetap berjalan di sela-sela persiapan.
Tubuhnya lelah.
Namun, lelah kali ini berbeda.
Ia tidak lagi merasa lelah karena
memikul semuanya sendirian.
Ia lelah karena bergerak bersama
orang-orang yang percaya pada tujuan yang sama.
Malam sebelum acara, panggung hampir
selesai.
Bambu-bambu berdiri tegak. Kain putih
bekas spanduk dipasang sebagai latar belakang. Di bagian tengah, Liris
menuliskan dengan cat biru:
PENTAS HARAPAN
WANASARI
Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar
Warga mulai menyiapkan makanan.
Ibu-ibu memasak singkong rebus, gorengan, dan teh hangat. Pemuda desa memeriksa
lampu. Anak-anak berlatih untuk terakhir kalinya.
Rantaka berdiri di depan panggung
bersama sahabat-sahabatnya.
“Besok pasti ramai,” kata Jagra.
“Semoga tidak hujan,” ujar Banyu
sambil memandang langit.
Liris menatap tulisan di kain latar.
“Kalau semua berjalan baik, mungkin
tim kecamatan akan tahu bahwa sekolah ini tidak boleh ditutup.”
Rantaka mengangguk.
Ia memandangi halaman sekolah yang
kini tampak berbeda.
Tempat yang dulu penuh kebocoran dan
pagar rusak, kini menjadi ruang harapan. Bukan karena bangunannya sudah berubah
sepenuhnya, tetapi karena banyak tangan telah ikut bekerja.
Namun, ketika malam semakin larut,
angin mulai bertiup lebih kencang.
Daun-daun beringin bergerak keras.
Langit yang sejak sore tampak cerah
perlahan tertutup awan gelap.
Rantaka menatap ke atas.
Satu titik air jatuh di punggung
tangannya.
Kemudian titik kedua.
Lalu, hujan turun.
Awalnya hanya gerimis.
Tetapi tidak lama kemudian, hujan
berubah menjadi deras.
Warga berlari menyelamatkan makanan
dan alat-alat pertunjukan. Banyu serta para pemuda berusaha menahan kain latar
agar tidak robek. Jagra mengangkat beberapa kursi ke teras sekolah. Liris
memeluk naskah dramanya agar tidak basah.
Rantaka berdiri di depan panggung yang
baru saja mereka bangun.
Air hujan membasahi rambut dan
bajunya.
Salah satu tali bambu terlepas.
Kain latar bergoyang keras.
Lalu, dengan suara patahan yang
membuat semua orang terdiam, salah satu sisi panggung runtuh ke tanah.
Pentas Harapan Wanasari belum dimulai.
Namun, malam itu, hujan seolah datang
untuk menguji seberapa kuat janji yang telah mereka buat.
Bab 21 — Hujan yang Menguji Janji
Suara patahan bambu itu masih
menggantung di udara ketika hujan semakin deras.
Salah satu sisi panggung miring ke
tanah. Kain putih bertuliskan Pentas Harapan Wanasari jatuh dan terseret
air. Lampu-lampu kecil yang dipasang pemuda desa berkedip beberapa kali sebelum
akhirnya padam.
Anak-anak yang tadi berlatih berlarian
ke teras sekolah.
Sebagian ibu membawa nampan makanan ke
dalam kelas. Para bapak mencoba mengangkat papan-papan yang sudah basah. Banyu
dan Jagra berdiri di dekat panggung dengan wajah tegang. Liris memeluk naskah
pertunjukan di dadanya agar tidak ikut hancur terkena hujan.
Rantaka tidak bergerak.
Ia berdiri di tengah halaman sekolah
dengan pakaian basah kuyup. Air hujan mengalir dari rambutnya ke wajah, tetapi
ia tidak lagi tahu mana yang berasal dari hujan dan mana yang berasal dari rasa
kecewa.
Panggung itu bukan sekadar bambu dan
papan.
Panggung itu adalah hasil kerja warga
selama berhari-hari.
Ada bambu yang dipinjam dari kebun Pak
Jamin. Ada papan bekas yang dikumpulkan Jagra dari rumah-rumah warga. Ada tali
yang dibeli dari uang patungan. Ada kain latar yang ditulis Liris dengan tangan
sendiri. Ada tenaga Banyu yang sejak pagi mengukur, memotong, dan mengikat
rangka panggung agar berdiri kokoh.
Kini, semuanya jatuh dalam satu malam.
“Rantaka!”
Suara Bu Laras terdengar dari teras.
“Masuk ke dalam! Jangan berdiri di
sana!”
Namun, Rantaka tetap diam.
Banyu mendekatinya.
“Kita harus menyelamatkan papan yang
masih bisa dipakai,” katanya.
Rantaka menggeleng pelan.
“Untuk apa?”
Banyu menatapnya.
“Untuk diperbaiki.”
“Hujan masih deras.”
“Kita tunggu hujan reda.”
“Besok acaranya,” kata Rantaka.
“Bagaimana mungkin kita memperbaiki semuanya dalam satu malam?”
Jagra yang baru saja mengangkat kursi
dari halaman ikut mendekat.
“Kita bisa cari cara.”
Rantaka menoleh kepada sahabatnya.
“Cara lagi?” katanya dengan suara
lelah. “Kita selalu bilang begitu. Kita cari cara, kita cari jalan, kita tidak
boleh menyerah. Tapi lihat sekarang.”
Jagra terdiam.
Rantaka memandang panggung yang
runtuh.
“Sudah berhari-hari warga bekerja.
Ibu-ibu memasak. Anak-anak latihan. Banyu membuat panggung. Liris menulis
naskah. Semua sudah siap.” Ia menarik napas berat. “Lalu hujan datang dan
menghancurkan semuanya.”
Liris mendekat sambil masih memegang
naskah.
“Bukan semuanya hancur,” katanya
pelan.
Rantaka menatapnya.
“Panggungnya hancur.”
“Panggungnya bisa dibuat lagi.”
“Dengan apa?” suara Rantaka meninggi.
“Bambu kita terbatas. Papan kita sudah basah. Lampu kita mati. Besok warga
datang untuk melihat pertunjukan, bukan untuk melihat kita berdiri di tengah
lumpur.”
Liris menggigit bibir.
Wajahnya tampak sedih, tetapi ia tidak
pergi.
“Kalau kita membatalkan acara,”
katanya, “yang mereka lihat justru kita menyerah sebelum mencoba.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Namun, kelelahan di dalam dirinya
lebih besar daripada keberanian yang baru saja tumbuh beberapa hari terakhir.
Ia merasa seperti kembali menjadi anak
yang berdiri di bawah pohon beringin, yakin bahwa semua perjuangan hanya akan
berakhir dengan kekecewaan.
“Aku tidak sanggup,” katanya lirih.
Banyu menunduk.
Jagra mengusap wajahnya yang basah.
Liris memejamkan mata.
Di teras sekolah, beberapa warga mulai
berbicara dengan suara pelan.
“Sepertinya lebih baik dibatalkan
saja.”
“Hujannya belum tentu berhenti sampai
besok.”
“Kalau dipaksakan, anak-anak bisa
sakit.”
“Panggungnya juga sudah tidak mungkin
dipakai.”
Kata-kata itu terdengar satu per satu,
seperti batu kecil yang dilemparkan ke dalam dada Rantaka.
Ia ingin mengatakan bahwa mereka
benar.
Ia ingin mengakhiri semua usaha itu
sebelum ada yang berharap lebih jauh.
Namun, kemudian Bu Laras berjalan
mendekat.
Payung tua di tangannya sudah tidak
mampu menahan seluruh hujan. Ujung bajunya basah. Sandalnya penuh lumpur.
Tetapi wajahnya tetap tenang.
Bu Laras berdiri di depan Rantaka.
“Kau kecewa?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Marah?”
Rantaka kembali mengangguk.
“Merasa ingin berhenti?”
Kali ini, Rantaka tidak menjawab.
Bu Laras menatap panggung yang runtuh.
“Dulu, ketika Ibu pertama kali datang
mengajar di sekolah ini,” katanya, “atap ruang kelas sebelah juga pernah runtuh
saat hujan. Waktu itu, Ibu pikir mungkin sekolah ini memang tidak akan
bertahan.”
Rantaka mendengarkan.
“Namun, besoknya anak-anak tetap
datang. Mereka membawa tikar dari rumah. Mereka belajar di teras. Ada yang
duduk di bawah pohon. Ada yang menulis di atas lutut.” Bu Laras tersenyum
tipis. “Saat itu Ibu mengerti, sekolah bukan hanya bangunan. Sekolah adalah
orang-orang yang tidak mau berhenti belajar.”
Hujan masih turun, tetapi suara Bu
Laras terdengar jelas.
“Pentas ini bukan hanya tentang
panggung,” lanjutnya. “Pentas ini tentang janji kita kepada anak-anak desa.
Janji bahwa mereka tetap punya tempat untuk belajar dan bermimpi.”
Rantaka memandang guru itu.
“Tapi kalau panggungnya tidak bisa
diperbaiki?” tanyanya.
“Kalau halaman tidak bisa dipakai,”
jawab Bu Laras, “kita cari tempat lain.”
Jagra mengangkat wajah.
“Balai desa,” katanya.
Banyu menoleh cepat.
“Balai desa cukup luas.”
Liris memandang naskah di tangannya.
“Kita bisa memindahkan pertunjukan ke
sana.”
Rantaka masih ragu.
“Lampunya?”
“Ada lampu di balai desa,” jawab
Jagra. “Tidak banyak, tapi cukup. Aku bisa minta Ardi dan teman-teman mengecek
kabelnya.”
“Panggungnya?” tanya Banyu.
“Kita tidak perlu panggung tinggi,”
kata Bu Laras. “Kita bisa memakai lantai balai desa. Anak-anak bisa tampil di
depan warga tanpa harus berdiri di atas bambu.”
Liris mulai tersenyum kecil.
“Kain latar masih bisa dijemur,”
katanya. “Tulisan di atasnya mungkin sedikit luntur, tetapi masih bisa dibaca.”
Banyu memandang papan-papan yang
jatuh.
“Beberapa papan bisa dipakai sebagai
tempat duduk,” katanya. “Yang patah bisa dijadikan penyangga untuk papan
pengumuman.”
Jagra mengangguk.
“Kalau begitu, kita tidak
membatalkan.”
Rantaka menatap ketiga sahabatnya.
Mereka basah, lelah, dan kecewa.
Namun, tidak satu pun dari mereka
pergi.
Tidak satu pun berkata bahwa perjuangan
ini sudah selesai.
Di tengah hujan yang merobohkan
panggung, mereka justru mulai mencari bentuk baru untuk menjaga harapan.
Rantaka menarik napas panjang.
Ia memandangi halaman sekolah yang
penuh lumpur. Lalu ia menatap Bu Laras, sahabat-sahabatnya, dan warga yang
masih berdiri di bawah teras.
“Kita pindahkan ke balai desa,”
katanya.
Suara itu tidak terlalu keras.
Namun, cukup untuk membuat beberapa
orang menoleh.
“Kita tetap adakan Pentas Harapan
Wanasari,” lanjut Rantaka. “Kalau panggungnya jatuh, kita tidak ikut jatuh
bersamanya.”
Untuk beberapa saat, suasana hening.
Lalu Pak Jamin, yang sejak tadi
membantu mengangkat papan, mengangkat tangannya.
“Saya punya terpal di rumah,” katanya.
“Bisa dipakai untuk menutup jalan dari depan balai desa.”
Bu Sari menyusul.
“Saya dan ibu-ibu akan bawa makanan ke
balai desa. Tidak apa kalau harus mulai lagi.”
Ardi, pemuda desa yang membantu
memasang lampu, berdiri dari dekat gudang.
“Saya bawa teman-teman untuk cek lampu
dan susun kursi.”
Kepala Dusun yang baru datang dari
rumahnya dengan jas hujan sederhana menatap keadaan halaman sekolah. Ia melihat
panggung yang runtuh, anak-anak yang berkumpul, serta warga yang masih
bertahan.
Kemudian ia berkata, “Kalau anak-anak
ini tidak menyerah, kita juga tidak boleh menyerah.”
Kalimat itu seperti membuka sesuatu.
Warga mulai bergerak.
Ada yang mengangkat makanan ke dalam
kelas agar tidak basah. Ada yang mengumpulkan kain dan tali yang masih bisa
dipakai. Ada yang menutup Gerobak Buku dengan terpal. Beberapa pemuda
mengangkat papan-papan yang belum rusak ke bawah teras.
Hujan masih belum berhenti.
Namun, tidak ada lagi orang yang hanya
berdiri memandangi panggung runtuh.
Mereka bekerja.
Mereka menyelamatkan apa yang bisa
diselamatkan.
Mereka menyiapkan apa yang dapat
dipindahkan.
Malam semakin larut ketika hujan mulai
mengecil.
Halaman sekolah berubah menjadi tanah
berlumpur dan sisa-sisa bambu. Tetapi di bawah teras, orang-orang masih
berbicara tentang besok. Tentang kursi yang harus dibawa. Tentang anak-anak
yang harus diberi tahu. Tentang makanan yang perlu dipindahkan. Tentang lampu
balai desa yang harus diperiksa.
Rantaka membantu Banyu mengikat
kembali kain latar yang basah.
Tulisan biru di tengah kain memang
sedikit luntur.
Namun, kalimat itu masih terlihat.
PENTAS HARAPAN WANASARI
Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar
Rantaka memegang salah satu ujung
kain.
“Masih bisa dipakai?” tanya Banyu.
Rantaka memandangi tulisan itu.
“Masih,” jawabnya.
Liris berdiri di samping mereka.
“Seperti kita,” katanya pelan.
Jagra yang sedang membawa papan kursi
menoleh.
“Jangan mulai bicara seperti puisi
lagi. Nanti aku ikut menangis.”
Liris tersenyum.
“Kau memang mudah menangis.”
“Aku tidak menangis. Ini hujan.”
“Hujannya sudah hampir berhenti,” kata
Banyu.
Jagra segera menunduk dan melanjutkan
pekerjaannya.
Rantaka tertawa kecil.
Tawa itu tidak menghapus kelelahan
mereka. Tidak menghapus panggung yang runtuh. Tidak menghapus kemungkinan bahwa
besok masih akan banyak masalah.
Tetapi tawa itu membuat mereka kembali
merasa dekat.
Menjelang tengah malam, warga mulai
pulang satu per satu.
Bu Laras meminta anak-anak segera
beristirahat karena esok hari mereka harus tampil. Rukmini datang menjemput
Rantaka dengan payung besar. Darma tidak bisa datang karena kakinya masih
sakit, tetapi ia menitipkan pesan agar Rantaka tidak pulang terlalu malam.
Dalam perjalanan pulang, Rantaka
berjalan di samping ibunya.
Jalan tanah masih basah. Di beberapa
tempat, air menggenang dan memantulkan cahaya bulan yang mulai muncul dari
balik awan.
“Kau kecewa?” tanya Rukmini.
“Tadi iya,” jawab Rantaka.
“Sekarang?”
Rantaka memikirkan Bu Laras,
sahabat-sahabatnya, dan warga yang memilih tetap bekerja meski hujan telah
merobohkan panggung.
“Sekarang aku masih kecewa,” katanya
jujur. “Tapi aku tidak ingin berhenti.”
Rukmini menggenggam tangan anaknya.
“Itu sudah cukup.”
Malam itu, sebelum tidur, Rantaka
membuka surat Kakek Sastro sekali lagi.
Ia membaca bagian yang sudah
berkali-kali dibacanya.
Boleh beristirahat.
Boleh menangis. Boleh merasa takut. Tetapi jangan menyerahkan masa depanmu
begitu saja kepada kesulitan hari ini.
Rantaka menutup surat itu.
Di luar rumah, hujan benar-benar
berhenti.
Langit masih gelap, tetapi tidak lagi
menakutkan.
Besok, Pentas Harapan Wanasari akan
tetap berlangsung.
Bukan di panggung bambu yang telah
runtuh.
Melainkan di balai desa, di antara
warga yang memilih untuk memperbaiki harapan bersama-sama.
Dan Rantaka tahu, janji yang diuji
oleh hujan bukanlah janji yang harus dibatalkan.
Janji itu adalah janji yang harus
dijaga, meski harus dibangun kembali dari tanah yang basah.
Bab 22 — Suara dari Anak-Anak Desa
Pagi di Desa Wanasari datang dengan
udara yang masih basah.
Hujan semalam telah meninggalkan
genangan kecil di sepanjang jalan tanah. Daun-daun pisang menunduk karena
menahan sisa air. Dari atap rumah-rumah warga, tetesan hujan masih jatuh
perlahan, seperti sisa-sisa malam yang belum sepenuhnya pergi.
Namun, sejak matahari belum tinggi,
balai desa sudah mulai ramai.
Para pemuda membawa kursi kayu dari
rumah-rumah warga. Ibu-ibu menata makanan di atas meja panjang yang ditutup
kain plastik. Beberapa bapak memasang terpal di bagian depan balai agar warga
tetap bisa duduk meski hujan kembali turun. Ardi dan teman-temannya memeriksa
lampu-lampu yang tergantung di langit-langit.
Di tengah kesibukan itu, kain latar
yang semalam basah telah dipasang kembali.
Tulisan birunya memang tidak lagi
serapi sebelumnya. Sebagian huruf tampak sedikit luntur. Namun, kalimat di
tengah kain itu masih dapat dibaca dengan jelas.
PENTAS HARAPAN
WANASARI
Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar
Rantaka berdiri di depan balai desa
sambil memegang beberapa lembar kertas.
Kertas itu berisi susunan acara.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena dingin.
Melainkan karena ia tahu malam itu
akan menjadi salah satu malam terpenting bagi SD Wanasari. Warga akan datang.
Anak-anak akan tampil. Kepala Dusun akan hadir. Bahkan, Bu Laras mengatakan
bahwa ada kemungkinan beberapa orang dari kecamatan mendengar kabar tentang
kegiatan mereka.
“Jangan dilipat terus,” kata Liris
yang datang dari belakang. “Nanti kertasnya robek.”
Rantaka menoleh.
Liris mengenakan baju sederhana
berwarna putih dengan kain biru yang dipinjam dari ibunya. Rambutnya dikepang
rapi. Di tangannya, ia membawa buku catatan berisi puisi dan naskah
pertunjukan.
“Aku hanya memastikan urutannya,” kata
Rantaka.
“Kau sudah memastikan sejak pagi.”
“Aku takut ada yang salah.”
Liris tersenyum.
“Kalau ada yang salah, kita perbaiki.
Seperti panggung semalam.”
Rantaka mengangguk.
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup
untuk membuatnya sedikit lebih tenang.
Tidak lama kemudian, Banyu datang
membawa sebuah alat yang dibungkus kain.
“Apa itu?” tanya Rantaka.
Banyu membuka kainnya perlahan.
Di dalamnya ada alat sederhana yang
dibuat dari botol plastik bekas, pasir, kerikil, arang, kain, dan pipa kecil.
Alat itu tidak besar, tetapi terlihat dibuat dengan sangat teliti.
“Penyaring air,” jawab Banyu.
“Kau benar-benar jadi membawanya?”
Banyu mengangguk.
“Aku ingin menunjukkan bahwa barang
bekas juga bisa berguna. Kalau air sungai keruh setelah hujan, alat ini bisa
membantu menyaringnya.”
Liris mendekat dan memperhatikan alat
itu.
“Bagus sekali, Banyu.”
Banyu tersenyum kecil, lalu kembali
memeriksa bagian pipa.
Jagra muncul beberapa saat kemudian
dengan pakaian yang lebih rapi dari biasanya. Ia memakai kemeja yang sedikit
kebesaran dan celana panjang hitam yang bagian lututnya sudah mulai pudar.
“Jangan lihat aku seperti itu,”
katanya ketika melihat Liris menahan senyum.
“Aku hanya heran,” jawab Liris.
“Ternyata kau punya baju yang tidak terkena lumpur.”
“Ini dipinjam dari sepupuku,” kata
Jagra. “Kalau terkena lumpur, aku harus mencuci di sungai selama tiga hari.”
Banyu tertawa pelan.
Rantaka juga tersenyum.
Untuk beberapa saat, mereka kembali
seperti empat sahabat yang dahulu duduk di bawah pohon beringin dan berbicara
tentang cita-cita. Namun, kali ini, mereka tidak hanya membicarakan mimpi.
Mereka sedang bersiap
memperjuangkannya.
Menjelang sore, warga mulai
berdatangan.
Ada yang datang bersama anak-anak
kecil. Ada yang membawa tikar tambahan. Ada yang membawa makanan untuk
dibagikan. Para orang tua murid duduk di bagian depan, sementara anak-anak
berkumpul di dekat sisi ruangan dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Balai desa yang biasanya sepi kini
terasa hangat dan hidup.
Lampu-lampu kecil menyala di atas
kepala mereka. Di luar, langit mulai berubah jingga. Awan masih tampak tebal,
tetapi tidak ada tanda hujan akan turun lagi.
Bu Laras berdiri di dekat pintu masuk.
Ia mengenakan kebaya sederhana dan
membawa map berisi catatan. Wajahnya tampak lelah karena semalam ikut membantu
memindahkan perlengkapan, tetapi sorot matanya penuh kebanggaan.
Kepala Dusun datang bersama beberapa
tokoh masyarakat. Ia duduk di barisan depan, tidak jauh dari Darma dan Rukmini.
Darma datang dengan tongkat kayu.
Kakinya belum sepenuhnya pulih, tetapi
ia bersikeras ingin hadir. Rukmini duduk di sampingnya sambil sesekali
memastikan ia tidak terlalu lelah.
Ketika Rantaka melihat ayah dan
ibunya, dadanya terasa hangat.
Darma mengangkat tangan kecil sebagai
tanda semangat.
Rantaka mengangguk.
Lalu, acara dimulai.
Bu Laras maju ke depan.
“Selamat malam, warga Desa Wanasari,”
katanya.
Suara percakapan perlahan berhenti.
“Malam ini kita berkumpul bukan hanya
untuk menyaksikan anak-anak tampil. Kita berkumpul untuk mendengarkan suara
mereka. Suara anak-anak yang ingin belajar, ingin membaca, ingin memiliki masa
depan, dan ingin mempertahankan sekolah mereka.”
Beberapa warga mengangguk.
Bu Laras melanjutkan, “Pentas Harapan
Wanasari adalah bukti bahwa sekolah kecil ini masih hidup. Mungkin bangunannya
belum sempurna. Mungkin fasilitasnya belum lengkap. Tetapi selama masih ada
anak-anak yang datang untuk belajar dan masyarakat yang mau mendukung, sekolah
ini tidak boleh dianggap selesai.”
Tepuk tangan terdengar.
Tidak terlalu keras pada awalnya.
Namun, perlahan semakin banyak tangan
yang ikut bertepuk.
Setelah itu, anak-anak kecil tampil
menyanyikan lagu daerah. Suara mereka kadang tidak serempak, tetapi justru
itulah yang membuat banyak warga tersenyum. Ada seorang anak yang lupa lirik
dan hanya menggerakkan bibir sambil melihat teman di sebelahnya. Ada pula yang
terlalu gugup hingga berdiri kaku, tetapi tetap berusaha menyelesaikan lagu
sampai akhir.
Warga memberi tepuk tangan panjang.
Kemudian, beberapa murid membawakan
drama pendek yang ditulis Liris.
Drama itu bercerita tentang sebuah
sekolah kecil di desa yang hampir ditutup karena dianggap tidak penting. Dalam
cerita itu, seorang anak petani bertanya kepada ayahnya mengapa ia harus
sekolah jika hidup mereka tetap sulit. Sang ayah menjawab bahwa sekolah tidak
selalu membuat hidup mudah, tetapi sekolah membuat seseorang mampu memahami
pilihan hidupnya.
Ketika bagian itu dimainkan, suasana
balai desa menjadi hening.
Banyak orang dewasa memandangi
anak-anak yang tampil di depan mereka.
Beberapa ibu mengusap mata.
Rukmini menunduk sambil menggenggam
tangan Darma.
Darma tidak berkata apa-apa, tetapi
matanya tidak lepas dari Rantaka yang berdiri di sisi ruangan sambil membantu
mengatur jalannya acara.
Setelah drama selesai, giliran Liris
naik ke depan.
Ia membawa selembar kertas.
Tangannya tampak tenang, tetapi
Rantaka tahu Liris sebenarnya gugup. Ia selalu gugup sebelum membaca puisi,
meski setelah mulai berbicara, suaranya akan berubah menjadi kuat.
Liris menatap warga.
Kemudian ia membacakan puisinya.
Di ujung jalan tanah yang basah,
ada anak-anak membawa buku dalam pelukan.
Mereka tidak meminta langit turun ke tangan,
mereka hanya ingin jalan menuju masa depan.
Sekolah kami mungkin kecil,
dindingnya tua, atapnya pernah bocor.
Tetapi di dalamnya, huruf-huruf tumbuh,
dan mimpi tidak pernah benar-benar tidur.
Jangan tutup pintu kami
hanya karena kami datang dari desa.
Sebab di bawah langit yang sama,
anak-anak Wanasari juga ingin menjadi cahaya.
Setelah puisi itu selesai, tidak ada
yang langsung bertepuk tangan.
Balai desa hening.
Suara napas warga terasa lebih jelas
daripada sebelumnya.
Kemudian, Bu Sari berdiri lebih dulu
dan bertepuk tangan. Warga lain mengikuti. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Ada
yang berdiri. Ada yang mengangguk sambil menyeka mata.
Liris menunduk.
Ketika ia turun dari depan, Jagra
berbisik, “Aku hampir menangis.”
“Kau memang mudah menangis,” jawab
Liris.
“Diam. Ini karena lampunya terlalu
terang.”
Banyu tersenyum.
Selanjutnya, Banyu maju membawa alat
penyaring air buatannya.
Ia tidak banyak bicara seperti Liris
atau Jagra. Ia berdiri di depan meja kecil, lalu menjelaskan cara kerja alat
itu dengan kalimat sederhana.
“Air sungai setelah hujan kadang
keruh,” katanya. “Kalau disaring lewat kerikil, pasir, arang, dan kain, airnya
bisa menjadi lebih jernih. Alat ini tidak mahal karena bahannya dari barang
yang ada di sekitar kita.”
Ia menuangkan air keruh ke dalam botol
bagian atas.
Warga memperhatikan.
Air itu mengalir perlahan melalui
lapisan-lapisan penyaring. Beberapa saat kemudian, air yang keluar dari pipa
kecil tampak lebih bening daripada sebelumnya.
Anak-anak kecil berseru kagum.
Beberapa bapak mendekat untuk melihat
lebih jelas.
Pak Jamin bahkan bertanya apakah alat
itu bisa dibuat lebih besar untuk digunakan di dekat kebun.
Banyu menjawab dengan wajah malu-malu,
tetapi matanya berbinar.
Untuk pertama kalinya, banyak orang
melihat bahwa anak pendiam yang sering duduk di belakang kelas itu memiliki
cara sendiri untuk bermimpi.
Setelah Banyu, Jagra tampil.
Ia tidak membawa puisi atau alat.
Ia membawa sebuah jaring ikan kecil.
Jagra berdiri di depan warga, lalu
mulai bercerita.
“Setiap pagi, sebelum sekolah, kadang
aku ikut Ayah mencari ikan di sungai,” katanya. “Ada hari ketika kami dapat
banyak ikan. Ada hari ketika jaring kami kosong.”
Warga mendengarkan.
“Aku dulu sering berpikir, kalau aku
sudah bisa mencari ikan, untuk apa aku sekolah? Tapi kemudian aku melihat Ayah
menghitung hasil tangkapan dengan susah payah. Aku melihat banyak ikan dijual
murah karena kami tidak tahu cara menyimpannya lebih lama atau menjualnya ke
tempat yang lebih baik.”
Jagra mengangkat jaring kecil itu.
“Aku ingin belajar supaya suatu hari
nanti aku bisa membantu nelayan sungai di desa ini. Aku ingin membuat usaha
perikanan. Aku ingin ikan dari Wanasari tidak hanya dijual seadanya, tetapi
bisa menjadi penghidupan yang lebih baik bagi banyak keluarga.”
Suara Jagra tidak sehalus Liris.
Tidak serapi pidato orang dewasa.
Namun, kata-katanya keluar dari
pengalaman yang nyata.
Para bapak yang biasa pergi ke sungai
menatapnya dengan wajah serius. Beberapa dari mereka mengangguk pelan.
Ketika Jagra selesai, tepuk tangan
kembali memenuhi balai desa.
Kini, giliran Rantaka.
Bu Laras memandangnya dari sisi
ruangan.
Rantaka membawa kertas pidatonya,
tetapi ia tidak langsung membukanya. Ia berdiri di depan warga dan melihat
wajah-wajah yang hadir malam itu.
Ia melihat ibunya.
Ia melihat ayahnya.
Ia melihat Bu Laras.
Ia melihat Liris, Banyu, dan Jagra.
Ia melihat anak-anak kecil yang duduk
di lantai sambil memegang buku.
Kemudian ia berbicara.
“Nama saya Rantaka Wening.”
Suaranya terdengar sedikit bergetar
pada kalimat pertama.
Namun, ia melanjutkan.
“Saya anak petani. Ayah saya bekerja
di ladang. Ibu saya membuat dan menjual kue. Saya tahu hidup di desa tidak
selalu mudah. Saya tahu kadang orang tua harus memilih antara membeli buku,
membeli beras, atau membeli obat.”
Balai desa kembali hening.
“Saya juga pernah berpikir untuk
berhenti sekolah. Saya pikir kalau saya bekerja lebih banyak, beban keluarga
saya akan lebih ringan.”
Rukmini menatap anaknya dengan mata
berkaca-kaca.
“Tetapi saya belajar bahwa sekolah
bukan hanya tentang seragam baru atau buku yang lengkap. Sekolah adalah tempat
kami belajar membaca dunia. Tempat kami belajar bahwa anak petani, anak penjual
kue, dan anak nelayan juga boleh punya cita-cita.”
Rantaka menarik napas.
“Sekolah kami memang kecil. Tapi di
sekolah itu, kami menemukan buku-buku lama. Kami membuat Gerobak Buku. Kami
belajar bahwa kalau kami bekerja bersama, sesuatu yang kecil bisa menjadi
berarti.”
Ia memandang warga satu per satu.
“Kami tidak meminta semua masalah
diselesaikan malam ini. Kami hanya meminta agar sekolah ini tidak ditinggalkan.
Kami ingin SD Wanasari tetap ada, supaya anak-anak yang datang setelah kami
masih punya tempat untuk belajar dan percaya pada dirinya sendiri.”
Rantaka berhenti sejenak.
Lalu ia berkata dengan suara lebih
mantap.
“Kalau sekolah ini bertahan, kami
berjanji akan menjaganya. Kami akan belajar lebih sungguh-sungguh. Kami akan
mengajak lebih banyak anak datang. Kami akan membuktikan bahwa anak-anak desa
tidak pernah kekurangan mimpi.”
Tepuk tangan terdengar.
Kali ini lebih keras.
Warga berdiri.
Bu Laras menutup mulutnya dengan
tangan, menahan haru. Darma menatap Rantaka dengan mata basah, lalu mengangkat
tangannya tinggi-tinggi. Rukmini ikut berdiri dan bertepuk tangan.
Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di
belakang Rantaka.
Mereka tidak berkata apa-apa.
Namun, kehadiran mereka di sana terasa
seperti jawaban atas semua kesulitan yang pernah memisahkan mereka.
Setelah pertunjukan selesai, Kepala
Dusun maju ke depan.
“Malam ini,” katanya, “kita sudah
mendengar suara anak-anak kita. Saya rasa tidak ada seorang pun di ruangan ini
yang bisa mengatakan bahwa SD Wanasari tidak dibutuhkan.”
Warga menjawab dengan suara setuju.
“Kita akan membuat komitmen bersama,”
lanjut Kepala Dusun. “Kita akan menjaga sekolah ini. Kita akan membantu
memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Kita akan mengajak anak-anak yang belum
sekolah agar kembali belajar. Dan ketika tim dari kecamatan datang, kita akan
menunjukkan bahwa Wanasari tidak menyerah pada pendidikan.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
Malam itu, balai desa tidak lagi
terasa seperti bangunan sederhana dengan dinding papan dan lampu seadanya.
Balai desa berubah menjadi tempat di
mana harapan dikumpulkan.
Setelah acara berakhir, warga tidak
langsung pulang.
Mereka berbincang, memberi saran, dan
menyampaikan kesediaan membantu. Ada yang ingin menyumbang buku. Ada yang
menawarkan tenaga untuk memperbaiki atap. Ada yang bersedia mengajak keluarga
di dusun sebelah agar menyekolahkan anak-anaknya di SD Wanasari.
Gerobak Buku Langit Biru diletakkan di
dekat pintu balai desa.
Anak-anak kecil masih mengelilinginya,
memilih buku sebelum pulang.
Rantaka berdiri di samping
sahabat-sahabatnya.
“Acara ini berhasil,” kata Jagra.
“Belum selesai,” jawab Banyu. “Tim
kecamatan belum datang.”
Liris memandang kain latar yang
sedikit luntur.
“Tapi sekarang mereka akan datang ke
sekolah yang berbeda.”
Rantaka menatap mereka.
Sekolah itu memang belum berubah
secara fisik.
Atapnya masih perlu diperbaiki.
Dindingnya masih tua.
Papan tulisnya masih retak.
Namun, malam itu, SD Wanasari memiliki
sesuatu yang tidak dapat diukur hanya dengan bangunan dan fasilitas.
Sekolah itu memiliki suara.
Suara anak-anak desa yang tidak lagi memilih
diam.
Di luar balai desa, langit malam
tampak cerah.
Bintang-bintang muncul satu per satu
di atas Desa Wanasari.
Rantaka menengadah.
Ia teringat kalimat yang pernah mereka
ucapkan saat membentuk kelompok Langit Biru.
Mimpi kami tidak
boleh dibatasi keadaan.
Malam itu, kalimat itu tidak lagi
hanya milik empat sahabat.
Kalimat itu telah menjadi milik
seluruh Desa Wanasari.
Bab 23 — Kedatangan Tim Penilai
Tiga hari setelah Pentas Harapan
Wanasari, kabar yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
Pagi itu, Bu Laras memasuki kelas
dengan membawa sebuah surat. Wajahnya tampak tenang, tetapi dari cara ia
menggenggam kertas itu, Rantaka tahu ada sesuatu yang penting.
Anak-anak yang sedang menyalin
pelajaran berhenti menulis.
Banyu mengangkat kepala dari bukunya.
Liris menutup catatan puisi.
Jagra, yang sejak tadi duduk sambil
menguap karena membantu ayahnya mencari ikan sebelum sekolah, langsung terlihat
lebih sadar.
Bu Laras berdiri di depan kelas.
“Anak-anak,” katanya, “tim penilai
dari kecamatan akan datang besok.”
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada suara pensil.
Tidak ada suara kursi bergeser.
Hanya terdengar angin yang masuk dari
jendela tanpa kaca di sisi kelas.
Rantaka memandangi Bu Laras.
Besok.
Artinya, semua yang mereka lakukan
selama ini akan segera dilihat oleh orang-orang yang memiliki keputusan atas
masa depan SD Wanasari.
Gerobak Buku.
Kerja bakti.
Pentas Harapan Wanasari.
Dukungan warga.
Semua akan diuji dalam satu kunjungan.
“Apakah mereka akan langsung
memutuskan, Bu?” tanya seorang murid dari bangku depan.
Bu Laras menggeleng.
“Mereka akan melihat keadaan sekolah,
berbicara dengan guru, murid, dan warga. Setelah itu, mereka akan membuat
laporan.”
“Kalau mereka bilang sekolah ini tidak
layak?” tanya murid lain.
Bu Laras terdiam sesaat.
“Kalau itu terjadi,” katanya, “kita
harus tetap menunjukkan bahwa sekolah ini dibutuhkan.”
Rantaka menunduk.
Ia tahu Bu Laras berusaha menenangkan
mereka. Namun, ia juga tahu bahwa kenyataan tidak selalu berubah hanya karena
seseorang memiliki harapan.
Bangunan sekolah memang masih tua.
Atap kelas sebelah masih memiliki
bekas kebocoran.
Papan tulis retak belum dapat diganti.
Jumlah murid SD Wanasari juga tidak
sebanyak sekolah-sekolah di kecamatan.
Mereka telah melakukan banyak hal.
Tetapi apakah itu cukup?
Setelah jam sekolah selesai, warga
kembali berkumpul di halaman SD Wanasari.
Kali ini tidak ada latihan drama atau
persiapan pentas. Tidak ada suara anak-anak menyanyi. Semua orang bekerja
dengan kesungguhan yang berbeda.
Para bapak memperbaiki bagian pagar
bambu yang mulai longgar. Pemuda desa membersihkan selokan kecil di belakang
kelas. Ibu-ibu menyapu halaman, mencuci tirai sederhana, dan menata bunga dalam
botol-botol bekas yang dicat warna-warni oleh anak-anak.
Banyu memeriksa Gerobak Buku.
Ia mengencangkan roda depan yang masih
sering membelok. Ia juga menyusun buku-buku dengan lebih rapi. Buku cerita
diletakkan di bagian depan, buku pelajaran di bagian tengah, dan buku tulis
bekas di sisi kiri.
Liris membuat beberapa tulisan kecil
untuk ditempel di dinding sekolah.
Salah satunya bertuliskan:
Membaca Membuka
Jalan.
Yang lain bertuliskan:
Sekolah Kecil, Mimpi
yang Besar.
Jagra bersama beberapa anak laki-laki
membersihkan halaman belakang. Mereka mengumpulkan daun-daun kering, memotong
rumput liar, dan memperbaiki tempat cuci tangan sederhana yang terbuat dari
jeriken bekas.
Rantaka berjalan dari satu tempat ke
tempat lain.
Ia membantu membawa ember, memindahkan
meja, menyapu teras, dan memastikan anak-anak yang lebih kecil tidak bermain
terlalu dekat dengan bagian atap yang masih rapuh.
Namun, semakin sibuk ia bekerja,
semakin besar pula rasa cemas di dalam dirinya.
Menjelang sore, ia duduk di bawah
pohon beringin.
Tangannya kotor oleh tanah.
Bajunya terkena debu.
Di kejauhan, ia melihat warga masih
bekerja. Bu Laras berbicara dengan Kepala Dusun. Banyu sedang memperbaiki roda
gerobak. Liris menempelkan tulisan di dinding. Jagra membawa beberapa batang
bambu.
Semua orang bergerak.
Namun, Rantaka merasa seperti ada
sesuatu yang tidak dapat mereka perbaiki dengan sapu, bambu, atau cat.
Ia memikirkan kalimat dalam surat
kecamatan.
Bangunan tidak
layak. Jumlah murid sedikit. Fasilitas terbatas.
Kalimat-kalimat itu terdengar lebih
kuat daripada semua yang mereka lakukan.
Liris datang dan duduk di sampingnya.
“Kau khawatir,” katanya.
Rantaka tidak menyangkal.
“Bagaimana kalau mereka tetap ingin
menutup sekolah?”
Liris memandangi halaman.
“Kalau mereka datang hanya untuk
melihat dinding retak, mungkin mereka akan berpikir begitu.”
“Lalu?”
“Lalu kita pastikan mereka juga melihat
hal lain.”
Rantaka menoleh.
“Mereka harus melihat anak-anak yang
tetap datang belajar,” lanjut Liris. “Mereka harus melihat Gerobak Buku. Mereka
harus melihat warga yang bekerja. Mereka harus tahu bahwa sekolah ini bukan
hanya bangunan.”
Rantaka menarik napas.
“Aku takut semua ini tidak cukup.”
Liris menatapnya dengan wajah tenang.
“Kita tidak bisa menentukan keputusan
mereka. Tapi kita bisa menentukan apakah kita akan diam atau berusaha.”
Kalimat itu mengingatkan Rantaka pada
Bu Laras saat panggung runtuh.
Ia mengangguk perlahan.
“Besok, kita tunjukkan semuanya.”
Pagi berikutnya, SD Wanasari tampak
lebih rapi daripada biasanya.
Halaman yang sebelumnya penuh rumput
liar kini bersih. Pagar bambu berdiri lebih tegak. Bunga-bunga dalam botol
bekas berjajar di depan kelas. Gerobak Buku Langit Biru diletakkan di dekat
pohon beringin dengan buku-buku tersusun rapi.
Anak-anak datang lebih awal.
Mereka mengenakan seragam terbaik yang
mereka miliki. Tidak semua seragam tampak baru. Ada yang warnanya mulai pudar.
Ada yang lengannya sedikit kependekan. Ada yang sepatunya sudah robek di bagian
depan.
Namun, pagi itu, mereka berdiri dengan
wajah penuh harap.
Rantaka mengenakan seragam yang telah
dicuci dan disetrika oleh ibunya. Seragam itu masih lusuh, tetapi bersih. Di
saku bajunya, ia menyimpan pensil dan buku kecil.
Darma datang bersama Rukmini.
Kakinya masih menggunakan tongkat,
tetapi ia bersikeras ingin hadir. Ia duduk di kursi dekat teras sekolah bersama
beberapa orang tua murid.
“Ayah tidak perlu datang kalau terlalu
lelah,” kata Rantaka.
Darma tersenyum.
“Hari seperti ini, Bapak tidak mau
hanya mendengar cerita dari rumah.”
Tidak lama kemudian, suara kendaraan
terdengar dari arah jalan utama.
Sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti
di depan sekolah.
Anak-anak yang berdiri di halaman
langsung memperhatikan.
Dari mobil itu turun tiga orang.
Seorang perempuan berkerudung biru tua
membawa map tebal. Seorang laki-laki berkemeja putih membawa kamera kecil dan
buku catatan. Seorang lagi, pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah
serius, mengenakan sepatu hitam yang tampak sangat bersih dibandingkan jalan
tanah Wanasari.
Bu Laras menyambut mereka di depan
gerbang.
“Selamat datang di SD Wanasari,”
katanya.
Perempuan berkerudung itu tersenyum
sopan.
“Kami dari tim evaluasi kecamatan,”
katanya. “Saya Ibu Ratna. Ini Pak Hadi dari bagian sarana pendidikan, dan Pak
Surya dari bidang pembinaan sekolah dasar.”
Kepala Dusun maju untuk memberi salam.
Warga berdiri dengan sikap hormat.
Rantaka melihat Pak Surya memandangi bangunan
sekolah. Pandangannya berhenti pada atap yang masih tampak tua, jendela tanpa
kaca, dan dinding yang catnya mengelupas.
Wajahnya sulit dibaca.
Tim penilai mulai berkeliling.
Mereka melihat ruang kelas satu per
satu. Pak Hadi mencatat kondisi atap, lantai, jendela, dan meja kursi. Ia
beberapa kali menggeleng ketika melihat bagian kayu yang mulai lapuk.
“Bagian ini perlu perbaikan segera,”
katanya kepada Bu Laras.
“Iya, Pak,” jawab Bu Laras. “Kami
sudah mengajukan usulan perbaikan, tetapi belum mendapat kepastian.”
Pak Surya membuka daftar murid.
“Jumlah murid aktif berapa?”
“Empat puluh dua anak, Pak,” jawab Bu
Laras.
Pak Surya mengangguk pelan.
“Untuk ukuran sekolah dasar, jumlah
ini cukup kecil.”
Beberapa orang tua yang mendengar
kalimat itu tampak gelisah.
Bu Laras tetap tenang.
“Memang jumlahnya tidak besar, Pak.
Tetapi desa kami cukup jauh dari sekolah lain. Jika SD Wanasari ditutup, banyak
anak harus berjalan sangat jauh atau bahkan berhenti sekolah.”
Pak Surya tidak langsung menjawab.
Ia hanya mencatat sesuatu di mapnya.
Tim kemudian melihat kegiatan belajar
di kelas enam.
Bu Laras meminta murid-murid membaca
cerita pendek secara bergantian. Rantaka mendapat giliran membaca bagian
tentang seorang anak yang menanam pohon di halaman rumahnya.
Suara Rantaka sempat bergetar di awal.
Namun, ia mengingat pesan ayahnya.
Ia mengingat sahabat-sahabatnya.
Ia mengingat malam Pentas Harapan
Wanasari.
Lalu ia membaca dengan jelas.
Setelah itu, Ibu Ratna bertanya kepada
beberapa murid.
“Siapa yang paling suka membaca?”
Banyak tangan terangkat.
“Buku apa yang kalian baca?”
“Cerita rakyat, Bu.”
“Buku pelajaran.”
“Majalah anak-anak.”
“Buku tentang hewan.”
Ibu Ratna tersenyum.
“Dari mana kalian mendapatkan
buku-buku itu?”
Anak-anak menoleh ke arah Gerobak Buku
di bawah pohon beringin.
“Dari Gerobak Buku Langit Biru, Bu!”
jawab mereka hampir bersamaan.
Ibu Ratna tampak tertarik.
“Boleh kami melihatnya?”
Banyu maju dengan wajah sedikit gugup.
Ia membawa tim penilai menuju gerobak.
Ia menjelaskan bahwa buku-buku itu berasal dari gudang sekolah, sumbangan
warga, dan beberapa buku bekas dari desa tetangga.
“Kami membawa buku ke rumah-rumah
warga,” katanya. “Supaya anak-anak yang belum bisa datang ke sekolah tetap bisa
membaca.”
Pak Hadi memeriksa rak-rak kayu.
“Siapa yang membuat gerobak ini?”
Banyu menunduk sebentar.
“Saya, Pak. Dibantu teman-teman.”
Pak Hadi memperhatikan roda sepeda tua
yang dipasang di bawah gerobak.
“Bagus,” katanya singkat.
Banyu mengangkat wajah.
Mungkin itu hanya satu kata.
Namun, bagi Banyu, kata itu seperti
penghargaan yang selama ini tidak pernah ia harapkan.
Tim kemudian melihat beberapa karya
murid.
Ada gambar tentang desa.
Ada tulisan sederhana tentang
cita-cita.
Ada alat penyaring air buatan Banyu.
Ada catatan puisi Liris.
Ada laporan kecil tentang kehidupan
nelayan sungai yang dibuat Jagra.
Ibu Ratna membaca puisi Liris yang
ditempel di dinding.
“Anak-anak di sini aktif sekali,”
katanya.
Bu Laras tersenyum.
“Mereka yang membuat sekolah ini tetap
hidup, Bu.”
Namun, ketika pemeriksaan hampir selesai,
Pak Surya kembali membuka mapnya.
Ia berdiri di depan teras sekolah,
memandang bangunan tua itu.
“Kegiatan masyarakat dan kreativitas
murid tentu patut dihargai,” katanya. “Tetapi kami juga harus melihat standar
kelayakan sekolah. Bangunan ini masih memiliki banyak kekurangan. Jumlah murid
juga terbatas. Kami perlu mempertimbangkan apakah sekolah ini dapat terus
berjalan tanpa membahayakan anak-anak.”
Suasana langsung berubah.
Beberapa warga yang tadi tersenyum
kini saling memandang.
Rukmini menggenggam tangan Darma.
Jagra menunduk.
Banyu memegang sisi Gerobak Buku lebih
erat.
Liris memeluk buku catatannya.
Rantaka merasakan jantungnya berdetak
keras.
Mereka telah menunjukkan banyak hal.
Namun, satu kalimat dari Pak Surya
membuat semuanya kembali terasa rapuh.
Kepala Dusun maju.
“Pak, kami siap membantu memperbaiki
sekolah ini.”
Pak Surya mengangguk.
“Itu baik. Tetapi perbaikan
membutuhkan rencana yang jelas, dukungan yang berkelanjutan, dan jaminan bahwa
sekolah ini tetap memiliki murid yang cukup.”
“Kami akan mengajak anak-anak lain
untuk sekolah di sini,” kata seorang warga.
“Kami akan kerja bakti lagi,” kata
warga lain.
Pak Surya memandang mereka.
“Kami akan mencatat semua komitmen
itu,” katanya. “Namun, keputusan tidak dapat dibuat hanya berdasarkan niat
baik.”
Kalimat itu membuat suasana kembali
hening.
Tim penilai mulai merapikan map dan
catatan mereka.
Ibu Ratna masih tampak hangat, tetapi
wajah Pak Surya tetap serius. Mereka belum memberi jawaban. Mereka belum
mengatakan sekolah akan ditutup. Namun, mereka juga belum memberi kepastian
bahwa sekolah akan dipertahankan.
Sebelum kembali ke mobil, Pak Surya
berkata, “Kami akan menyusun laporan hasil penilaian. Setelah itu, kecamatan
akan menentukan langkah selanjutnya.”
Rantaka melihat mobil itu perlahan
bergerak meninggalkan halaman sekolah.
Roda mobil melewati jalan tanah yang
masih lembap.
Anak-anak berdiri diam.
Warga tidak langsung pulang.
Mereka semua seperti menunggu sesuatu
yang tidak dapat dipercepat.
Rantaka memandangi Gerobak Buku Langit
Biru.
Ia melihat karya-karya teman-temannya.
Ia melihat bunga-bunga dalam botol
bekas.
Ia melihat pagar bambu yang diperbaiki
warga.
Semua itu ada.
Semua itu nyata.
Namun, masa depan SD Wanasari masih
belum jelas.
Bu Laras berdiri di dekatnya.
“Kita sudah melakukan yang terbaik,”
katanya.
Rantaka menatap guru itu.
“Apakah itu cukup, Bu?”
Bu Laras tidak segera menjawab.
“Kadang,” katanya perlahan, “yang
terbaik tidak langsung menghasilkan jawaban. Tetapi perjuangan yang
sungguh-sungguh selalu meninggalkan jejak.”
Rantaka kembali memandangi jalan di
depan sekolah.
Mobil tim penilai sudah tidak
terlihat.
Yang tersisa hanya debu tipis, jalan
tanah, dan sekolah kecil yang masih berdiri dengan segala kekurangannya.
Namun, di dalam hati Rantaka, sebuah
keberanian mulai tumbuh.
Jika keputusan akhir masih belum
jelas, maka mungkin masih ada satu hal yang harus dilakukan.
Bukan hanya menunjukkan kegiatan.
Bukan hanya menunjukkan bangunan.
Melainkan menyampaikan dengan jujur
mengapa sekolah itu harus tetap ada.
Dan Rantaka tahu, pada pertemuan
berikutnya, ia harus berani berbicara di depan semua orang.
Bab 24 — Pidato Rantaka di Depan Semua Orang
Dua hari setelah tim penilai dari
kecamatan datang, Desa Wanasari kembali diliputi penantian.
Tidak ada surat baru.
Tidak ada kabar dari kecamatan.
Namun, kata-kata Pak Surya masih
tinggal di dalam pikiran banyak orang.
Keputusan tidak
dapat dibuat hanya berdasarkan niat baik.
Kalimat itu menyebar dari teras rumah
ke warung kecil, dari kebun singkong ke tepian sungai. Sebagian warga mulai
membicarakan kemungkinan buruk yang selama ini mereka coba hindari.
“Kalau sekolah ditutup, anak-anak
harus ke desa sebelah.”
“Jalannya jauh. Apalagi kalau musim
hujan.”
“Belum tentu semua orang tua sanggup
mengantar.”
“Kalau begitu, anak-anak bisa berhenti
sekolah.”
Rantaka mendengar percakapan itu
ketika ia mengantar kue bersama ibunya.
Ia tidak ikut berbicara.
Namun, setiap kata terasa seperti batu
yang dimasukkan ke dalam keranjang sepedanya.
Sesampainya di rumah, ia membantu
Rukmini menata sisa kue. Darma duduk di teras sambil memperbaiki jaring kecil
milik Jagra yang dititipkan untuk dijahit. Kakinya mulai membaik, tetapi ia
masih belum dapat kembali bekerja ke ladang.
Rantaka duduk di dekat ayahnya.
“Pak Surya benar,” katanya pelan.
Darma menghentikan tangannya.
“Benar tentang apa?”
“Sekolah kita memang belum layak.
Atapnya bocor. Muridnya sedikit. Kalau aku jadi mereka, mungkin aku juga akan
ragu.”
Darma memandang anaknya.
“Kau ingin menyerah lagi?”
Rantaka menggeleng cepat.
“Tidak. Tapi aku tidak tahu harus
melakukan apa lagi.”
Darma menaruh jaring di pangkuannya.
“Kadang orang dewasa terlalu sibuk
melihat apa yang kurang,” katanya. “Mereka melihat dinding retak, kursi rusak,
jumlah murid yang sedikit.”
Rantaka mendengarkan.
“Tapi mereka belum tentu tahu apa yang
terjadi di dalam hati anak-anak yang belajar di sana.”
“Apa itu bisa mengubah keputusan?”
“Entahlah,” jawab Darma jujur. “Tapi
kalau mereka belum mendengar suara kalian, mereka belum melihat sekolah ini
sepenuhnya.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Ia teringat Pentas Harapan Wanasari.
Ia teringat bagaimana warga
mendengarkan puisi Liris, alat penyaring air Banyu, cerita Jagra, dan pidatonya
sendiri.
Namun, saat tim penilai datang, ia
hanya membaca cerita di kelas. Ia belum mengatakan apa yang benar-benar ingin
ia sampaikan.
Malam itu, Rantaka membuka buku tulis
bekas yang diberikan Banyu.
Ia duduk di dekat lampu minyak karena
listrik kembali padam. Di luar rumah, suara jangkrik terdengar panjang. Rukmini
masih menyiapkan bahan kue untuk esok hari. Darma sudah berbaring, tetapi belum
tidur.
Rantaka menulis.
Ia menulis tentang jalan tanah yang
harus dilalui anak-anak setiap pagi.
Ia menulis tentang Gerobak Buku Langit
Biru.
Ia menulis tentang atap bocor yang
membuat mereka memindahkan meja saat hujan turun.
Ia menulis tentang Bu Laras yang tetap
mengajar meski papan tulis retak.
Ia menulis tentang Liris yang ingin
menjadi penulis, Banyu yang ingin menjadi penemu, dan Jagra yang ingin
membangun usaha perikanan.
Ia menulis tentang dirinya sendiri
yang pernah hampir berhenti sekolah karena merasa keluarga tidak mampu.
Namun, ia juga menulis tentang ayahnya
yang berkata bahwa anaknya tidak boleh menjalani hidup dengan beban yang sama.
Ketika ia selesai, langit sudah sangat
gelap.
Tulisan di buku itu tidak rapi.
Ada beberapa bagian yang dicoret.
Ada kata-kata yang diganti.
Namun, setiap kalimat terasa seperti
sesuatu yang selama ini disimpan terlalu lama di dalam dada.
Keesokan paginya, Bu Laras menerima
kabar dari kecamatan.
Tim penilai akan kembali datang pada
sore hari untuk melakukan pertemuan bersama warga, guru, dan orang tua murid.
Pertemuan itu akan menjadi bagian dari laporan akhir sebelum keputusan
disampaikan.
Kabar itu segera menyebar.
Kepala Dusun meminta warga berkumpul
di balai desa setelah Asar. Para orang tua murid diminta hadir. Pemuda desa
membantu menata kursi. Gerobak Buku Langit Biru kembali dibawa ke depan balai
desa, bukan sebagai pajangan, tetapi sebagai tanda bahwa kegiatan belajar di
Wanasari tetap berjalan.
Rantaka membaca kembali tulisannya
berkali-kali.
Liris datang ke rumahnya menjelang
siang.
“Kau menulis sesuatu?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Pidato?”
“Mungkin.”
Liris duduk di sebelahnya.
“Kau akan bicara?”
Rantaka menatap buku tulis di
tangannya.
“Aku tidak tahu. Aku takut salah.”
“Kau pernah bicara di Pentas Harapan
Wanasari.”
“Itu berbeda. Waktu itu warga kita
sendiri. Sekarang ada tim kecamatan.”
Liris tersenyum tipis.
“Kalau kau bicara dari hati, tidak ada
yang salah.”
Rantaka memandang sahabatnya.
“Kalau suaraku gemetar?”
“Biar saja,” jawab Liris. “Suara yang
gemetar tetap bisa didengar.”
Menjelang sore, warga mulai memenuhi
balai desa.
Suasana kali ini berbeda dari malam
Pentas Harapan Wanasari.
Tidak ada anak-anak menyanyi.
Tidak ada drama.
Tidak ada makanan yang ditata untuk
hiburan.
Yang ada hanya kursi-kursi sederhana,
wajah-wajah penuh harap, dan perasaan cemas yang tidak dapat disembunyikan.
Di depan ruangan, meja panjang
disiapkan untuk tim kecamatan.
Ibu Ratna datang lebih dulu. Wajahnya
tetap ramah, tetapi ia membawa map yang lebih tebal daripada sebelumnya. Pak
Hadi datang sambil membawa beberapa lembar catatan tentang kondisi bangunan
sekolah. Pak Surya datang terakhir.
Ia memandangi warga yang hadir.
Kemudian pertemuan dimulai.
Kepala Dusun membuka acara dengan
suara yang terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Kami berkumpul hari ini untuk
menyampaikan dukungan masyarakat terhadap SD Wanasari,” katanya. “Kami memahami
bahwa sekolah kami memiliki banyak kekurangan. Tetapi kami juga ingin
menyampaikan bahwa sekolah ini sangat dibutuhkan oleh warga.”
Ibu Ratna mengangguk.
“Kami datang untuk mendengarkan,”
katanya. “Kami ingin memahami kondisi pendidikan di Desa Wanasari secara lebih
lengkap.”
Beberapa orang tua mulai menyampaikan
pendapat.
Bu Sari berdiri dan menceritakan bahwa
anak-anak dari dusun paling jauh harus berjalan lebih dari satu jam jika harus
pindah ke sekolah lain. Pak Jamin menjelaskan bahwa pada musim hujan, jalan
menuju desa sebelah sering berlumpur dan sulit dilalui. Seorang ibu muda berkata
bahwa ia khawatir anak perempuannya tidak akan aman berjalan terlalu jauh
setiap hari.
Pak Hadi mencatat semuanya.
Pak Surya mendengarkan tanpa banyak
bicara.
Setelah beberapa warga menyampaikan
pendapat, suasana kembali hening.
Ibu Ratna melihat ke arah anak-anak
yang duduk di sisi ruangan.
“Apakah ada murid yang ingin
berbicara?” tanyanya.
Rantaka merasakan jantungnya berdegup
keras.
Liris menoleh kepadanya.
Banyu menatapnya dengan wajah tenang.
Jagra mengangkat dagu sedikit, seperti
memberi tanda bahwa ia harus maju.
Rantaka memegang buku tulisnya.
Tangannya dingin.
Ia berdiri perlahan.
Langkahnya menuju depan ruangan terasa
lebih berat daripada ketika ia berjalan melewati jalan tanah menuju sekolah.
Namun, setiap langkah membawa kembali semua hal yang telah ia lalui.
Surat berstempel merah.
Papan tulis retak.
Gerobak Buku.
Pertengkaran di bawah beringin.
Kecelakaan ayahnya.
Uang tabungan yang habis.
Panggung yang runtuh karena hujan.
Pentas Harapan Wanasari.
Semua itu seolah berjalan bersamanya
menuju depan balai desa.
Rantaka berdiri di hadapan tim
penilai.
Ia membuka buku tulisnya.
Namun, setelah melihat wajah ayahnya,
ibunya, Bu Laras, dan sahabat-sahabatnya, ia menutup kembali buku itu.
Ia ingin berbicara tanpa hanya
membaca.
“Nama saya Rantaka Wening,” katanya.
Suasana balai desa menjadi hening.
“Saya murid kelas enam SD Wanasari.”
Ia menarik napas.
“Bapak dan Ibu mungkin melihat sekolah
kami kecil. Memang benar. Bangunannya tua. Atapnya bocor. Jendelanya tidak
lengkap. Papan tulisnya retak.”
Pak Surya memandangnya.
Rantaka melanjutkan.
“Tetapi bagi kami, sekolah itu bukan
hanya bangunan.”
Ia menatap warga yang hadir.
“Di sekolah itu, saya belajar membaca.
Saya belajar menulis nama saya sendiri. Saya belajar bahwa Indonesia bukan
hanya desa kecil tempat saya tinggal. Saya belajar bahwa ada banyak tempat di
luar sana, dan mungkin suatu hari saya bisa melihatnya.”
Suara Rantaka mulai lebih kuat.
“Di sekolah itu, Liris belajar menulis
puisi. Banyu belajar membuat alat dari barang bekas. Jagra belajar menghitung
hasil ikan dari sungai. Kami semua belajar bahwa kami boleh punya cita-cita.”
Liris menunduk, menahan haru.
Banyu memegang tangan di pangkuannya.
Jagra menatap lantai, tetapi senyum
kecil tampak di wajahnya.
Rantaka menoleh kepada tim penilai.
“Kalau sekolah ini ditutup, mungkin
kami masih bisa berjalan ke sekolah lain. Tetapi tidak semua anak bisa. Ada
yang harus membantu orang tua. Ada yang tinggal jauh. Ada yang mungkin akan
berhenti karena merasa sekolah terlalu sulit dijangkau.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalau itu terjadi, bukan hanya satu
bangunan yang ditutup. Jalan kami menuju masa depan juga ikut tertutup.”
Ruangan semakin hening.
Rantaka menatap Pak Surya.
“Kami tidak meminta sekolah ini
menjadi sekolah paling bagus. Kami tahu itu tidak mudah. Kami hanya meminta
kesempatan.”
Ia mengangkat wajah.
“Kesempatan untuk belajar di desa kami
sendiri. Kesempatan untuk memperbaiki sekolah ini bersama-sama. Kesempatan
untuk membuktikan bahwa anak-anak desa juga bisa tumbuh, kalau ada tempat yang
memberi mereka ruang untuk belajar.”
Rantaka menarik napas panjang.
“Bapak dan Ibu boleh melihat dinding
kami yang retak. Tetapi tolong juga lihat anak-anak yang tetap datang setiap
pagi. Lihat guru kami yang tetap mengajar. Lihat orang tua kami yang tetap mendukung.
Lihat Gerobak Buku yang kami dorong dari rumah ke rumah.”
Suaranya bergetar, tetapi ia tidak
berhenti.
“Sekolah ini mengajarkan kami untuk
tidak menyerah. Kalau sekolah ini ditutup, kami takut anak-anak setelah kami
tidak sempat belajar pelajaran itu.”
Setelah kalimat terakhir, Rantaka
terdiam.
Ia tidak tahu apakah pidatonya cukup
baik.
Ia tidak tahu apakah kata-katanya
dapat mengubah keputusan.
Namun, ia tahu bahwa untuk pertama
kalinya, ia telah mengatakan semua yang ingin ia sampaikan.
Balai desa tetap hening.
Kemudian terdengar suara tepuk tangan
dari satu sudut ruangan.
Darma bertepuk tangan lebih dulu.
Tangannya tidak terlalu kuat, tetapi
bunyinya terdengar jelas.
Rukmini ikut bertepuk tangan.
Lalu Bu Laras.
Liris.
Banyu.
Jagra.
Kemudian seluruh warga berdiri.
Tepuk tangan memenuhi balai desa.
Ada yang menangis.
Ada yang mengusap mata.
Ada yang mengangguk dengan wajah penuh
harap.
Rantaka berdiri di depan ruangan
dengan dada bergetar.
Ia tidak merasa menjadi anak yang
paling berani.
Ia hanya merasa seperti seorang anak
desa yang akhirnya berani menjaga mimpinya sendiri.
Pak Surya menatap Rantaka cukup lama.
Wajahnya yang selama ini tampak keras
perlahan berubah.
Ia membuka mapnya, lalu menutupnya
kembali.
“Kata-katamu penting,” katanya.
Rantaka menunggu.
Pak Surya melanjutkan, “Kami memang
harus mempertimbangkan standar bangunan dan jumlah murid. Itu adalah tanggung
jawab kami. Tetapi kami juga harus mempertimbangkan kebutuhan nyata
masyarakat.”
Ibu Ratna mengangguk.
“Pendidikan tidak hanya soal angka,”
katanya. “Pendidikan juga tentang akses, keberlanjutan, dan harapan.”
Pak Hadi menambahkan, “Kami akan
memasukkan dukungan masyarakat, kegiatan Gerobak Buku, serta komitmen perbaikan
sekolah dalam laporan kami.”
Warga kembali bertepuk tangan, meski kali
ini lebih pelan dan penuh harap.
Pak Surya berdiri.
“Kami belum dapat menyampaikan
keputusan hari ini,” katanya. “Namun, kami akan membawa semua yang kami lihat
dan dengar ke kecamatan.”
Rantaka mengangguk.
Ia tidak meminta jawaban lebih cepat.
Ia tidak lagi ingin memaksa keadaan.
Ia hanya ingin mereka benar-benar
memahami.
Setelah pertemuan selesai, warga mulai
mendekati Rantaka.
Bu Sari memeluk bahunya.
Pak Jamin menepuk punggungnya.
Anak-anak kecil mengelilinginya sambil
berkata bahwa mereka juga ingin bisa berbicara seperti Rantaka suatu hari
nanti.
Bu Laras berdiri di dekatnya.
“Kau sudah melakukan sesuatu yang
tidak semua orang dewasa berani lakukan,” katanya.
Rantaka menunduk.
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,
Bu.”
“Itulah keberanian,” jawab Bu Laras.
Di luar balai desa, sore mulai berubah
menjadi senja.
Langit di atas Wanasari berwarna biru
tua dengan garis jingga di ujungnya. Jalan tanah masih tampak basah di beberapa
bagian, tetapi tidak lagi terasa seperti jalan yang menakutkan.
Rantaka berjalan pulang bersama Liris,
Banyu, dan Jagra.
Mereka tidak banyak bicara.
Namun, kali ini keheningan di antara
mereka bukan karena takut.
Keheningan itu dipenuhi oleh rasa
lega.
Mereka telah melakukan apa yang dapat
mereka lakukan.
Sekarang, mereka hanya perlu menunggu.
Dan di dalam hati Rantaka, ada
keyakinan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Apa pun keputusan yang datang nanti,
suara anak-anak Desa Wanasari sudah tidak mungkin diabaikan lagi.
Bab 25 — Sekolah yang Tidak Padam
Tiga hari setelah pertemuan di balai
desa, Desa Wanasari kembali menjalani hari-hari seperti biasa.
Pagi tetap dimulai dengan suara ayam
berkokok dari belakang rumah. Para petani berangkat ke ladang sebelum matahari
tinggi. Beberapa bapak menuju sungai membawa jaring. Ibu-ibu menyiapkan
sarapan, mencuci pakaian, atau membuka warung kecil di depan rumah.
Namun, bagi Rantaka dan
sahabat-sahabatnya, tidak ada hari yang benar-benar biasa.
Setiap suara kendaraan dari arah jalan
utama membuat anak-anak menoleh.
Setiap orang yang datang membawa surat
membuat warga bertanya-tanya.
Setiap kali Bu Laras berjalan menuju
ruang guru dengan wajah serius, jantung Rantaka terasa berdegup lebih cepat.
Keputusan dari kecamatan belum juga
datang.
Di sekolah, pelajaran tetap berjalan.
Bu Laras tetap mengajar pecahan,
membaca, dan ilmu pengetahuan alam. Anak-anak tetap menulis di buku tulis yang
sebagian halamannya sudah mulai tipis. Papan tulis retak itu masih digunakan.
Jika hujan turun, ember masih diletakkan di bawah titik-titik kebocoran.
Namun, ada sesuatu yang berubah.
Anak-anak kini datang lebih pagi.
Mereka tidak lagi hanya duduk menunggu
bel berbunyi. Sebelum pelajaran dimulai, beberapa murid membantu menyapu kelas.
Ada yang menyiram bunga dalam botol bekas. Ada yang merapikan buku di Gerobak
Buku Langit Biru.
Bahkan beberapa anak dari dusun
sebelah mulai datang untuk melihat perpustakaan keliling.
Mereka datang bersama kakak atau orang
tua mereka, lalu bertanya apakah boleh meminjam buku.
“Boleh,” jawab Banyu dengan wajah
serius. “Tapi harus dijaga. Buku tidak boleh terkena hujan.”
“Kalau terlambat mengembalikan?” tanya
seorang anak kecil.
Jagra yang berdiri di samping gerobak
menjawab, “Tidak apa-apa. Tapi nanti kau harus membantu menyapu halaman
sekolah.”
Anak-anak tertawa.
Liris menulis daftar peminjam buku di
sebuah buku catatan baru. Ia membuat kolom nama, judul buku, dan tanggal
pengembalian. Tulisan tangannya rapi, seolah-olah Gerobak Buku Langit Biru
adalah perpustakaan besar di kota.
Rantaka membantu Bu Laras mengajak
anak-anak yang belum sekolah untuk datang ke SD Wanasari.
Mereka mendatangi rumah-rumah di
pinggir desa. Mereka berbicara kepada orang tua. Mereka menjelaskan bahwa
sekolah tidak meminta anak-anak menjadi orang lain, tetapi membantu mereka
memahami dunia dan masa depan.
Tidak semua orang langsung setuju.
Ada yang masih ragu karena anak-anak
dibutuhkan untuk membantu di ladang.
Ada yang khawatir seragam dan buku
akan menjadi beban.
Ada pula yang berkata bahwa sekolah
lain lebih jauh, tetapi mungkin lebih baik.
Rantaka tidak marah mendengar semua
itu.
Ia mulai memahami bahwa setiap
keluarga memiliki kesulitan sendiri.
Namun, ia tetap berkata, “Kalau
anak-anak datang ke sekolah, kami akan membantu mereka belajar. Kami punya
Gerobak Buku. Kami punya Bu Laras. Kami akan belajar bersama.”
Sedikit demi sedikit, beberapa orang
tua mulai luluh.
Seorang anak bernama Karsa, yang
selama ini lebih sering membantu ayahnya menjaga kambing, mulai datang ke
sekolah pada pagi hari. Seorang anak perempuan bernama Suri yang tinggal di
dekat sungai juga mulai ikut membaca bersama Liris.
Jumlah mereka belum banyak.
Tetapi bagi SD Wanasari, setiap anak
yang datang adalah alasan baru untuk tetap berdiri.
Pada suatu pagi yang cerah, ketika
Rantaka sedang membantu Banyu menyusun buku di Gerobak Buku, suara mobil
kembali terdengar dari arah jalan utama.
Anak-anak yang sedang bermain di
halaman langsung berhenti.
Bu Laras keluar dari ruang guru.
Kepala Dusun yang kebetulan datang
untuk melihat kerja bakti berdiri di dekat pagar bambu.
Rantaka menoleh ke arah jalan.
Sebuah mobil kecamatan berhenti di
depan sekolah.
Kali ini, bukan tiga orang yang turun.
Ibu Ratna turun lebih dulu. Di
belakangnya, Pak Hadi membawa map. Pak Surya keluar terakhir. Wajahnya masih
serius, tetapi langkahnya tidak lagi terasa seberat saat pertama datang.
Warga yang berada di sekitar sekolah
mulai mendekat.
Beberapa ibu keluar dari rumah setelah
mendengar kabar bahwa mobil kecamatan datang. Para bapak yang sedang bekerja di
dekat kebun juga berjalan menuju halaman sekolah.
Rantaka berdiri di samping Gerobak
Buku.
Tangannya dingin.
Liris berdiri di sebelahnya.
Banyu memegang pegangan gerobak.
Jagra menatap mobil itu tanpa
berkata-kata.
Bu Laras menyambut tim kecamatan.
“Selamat datang kembali,” katanya.
Ibu Ratna tersenyum.
“Kami datang membawa hasil keputusan.”
Kalimat itu membuat halaman sekolah
menjadi hening.
Pak Surya membuka map yang dibawanya.
Ia memandang bangunan SD Wanasari,
lalu memandang anak-anak yang berdiri di halaman. Pandangannya berhenti pada
bunga-bunga dalam botol bekas, Gerobak Buku Langit Biru, dan pagar bambu yang
berdiri lebih rapi.
Kemudian ia berbicara.
“Setelah melakukan penilaian terhadap
kondisi sekolah, mendengar pendapat masyarakat, serta mempertimbangkan
kebutuhan pendidikan anak-anak di Desa Wanasari, kecamatan memutuskan bahwa SD
Wanasari tidak ditutup.”
Tidak ada yang langsung bersuara.
Seolah-olah warga membutuhkan waktu
untuk benar-benar memahami kalimat itu.
Lalu, Bu Sari menutup mulutnya dengan
tangan.
Rukmini yang baru datang dari rumah
menatap Darma dengan mata berkaca-kaca.
Kepala Dusun menghembuskan napas
panjang.
Anak-anak saling memandang.
Kemudian, Jagra berteriak paling
keras.
“Sekolah kita tidak ditutup!”
Suara itu seperti membuka pintu yang
selama ini tertahan.
Anak-anak bersorak.
Beberapa berlari mengelilingi halaman.
Ada yang melompat-lompat. Ada yang memeluk temannya. Ada yang menangis sambil
tertawa.
Liris menutup wajahnya dengan kedua
tangan.
Banyu tersenyum lebar, senyum yang
jarang sekali terlihat di wajahnya.
Rantaka berdiri diam.
Ia merasa dadanya penuh.
Terlalu penuh untuk langsung
mengucapkan apa pun.
Pak Surya melanjutkan setelah suasana
sedikit tenang.
“Namun, keputusan ini disertai
beberapa langkah yang harus dijalankan bersama. Sekolah akan mendapatkan
pendampingan dari kecamatan. Kami akan mengusulkan perbaikan bertahap untuk
bagian bangunan yang paling membutuhkan. Kami juga akan membantu program
peningkatan jumlah murid dan kegiatan belajar masyarakat.”
Warga kembali bertepuk tangan.
Pak Hadi membuka beberapa lembar dokumen.
“Dalam waktu dekat, bagian atap yang
paling rusak akan diperbaiki terlebih dahulu. Jendela yang tidak memiliki kaca
akan didata. Kami juga akan mengajukan kebutuhan meja dan kursi tambahan.”
Bu Laras menunduk dengan mata basah.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu.”
Ibu Ratna memandang anak-anak.
“Namun, semua ini tidak akan berhasil
tanpa kalian,” katanya. “Kami melihat bahwa SD Wanasari bukan hanya sekolah
yang menunggu bantuan. Sekolah ini sudah bergerak. Ada guru yang bertahan, ada
warga yang peduli, dan ada anak-anak yang berani menyuarakan harapan.”
Rantaka mendengar kata-kata itu
seperti suara yang datang dari jauh.
Ia teringat saat pertama kali menerima
kabar tentang surat berstempel merah.
Ia teringat ketakutan yang membuatnya
hampir berhenti sekolah.
Ia teringat pertengkaran dengan
sahabat-sahabatnya.
Ia teringat surat Kakek Sastro.
Ia teringat ayahnya di malam tanpa
lampu.
Ia teringat panggung bambu yang runtuh
diterpa hujan.
Semua kesulitan itu kini terasa
seperti jalan panjang yang akhirnya membawa mereka sampai ke halaman sekolah
pagi itu.
Darma berjalan perlahan mendekati
Rantaka dengan tongkat kayunya.
Rantaka segera menghampiri ayahnya.
Darma memegang bahu anaknya.
“Kau dengar?” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Sekolah kita tidak ditutup.”
Darma tersenyum.
“Bukan hanya sekolah kita yang
bertahan. Mimpi kalian juga.”
Rantaka tidak mampu menjawab.
Ia memeluk ayahnya.
Rukmini berdiri di samping mereka.
Matanya basah, tetapi wajahnya dipenuhi senyum yang selama beberapa bulan
terakhir jarang terlihat.
Tidak jauh dari sana, Liris, Banyu,
dan Jagra ikut mendekat.
“Kita berhasil,” kata Liris pelan.
Banyu menggeleng kecil.
“Kita belum selesai.”
Jagra menoleh kepadanya. “Apa
maksudmu?”
Banyu menunjuk bangunan sekolah.
“Atapnya masih harus diperbaiki. Buku-buku
masih harus dijaga. Anak-anak baru masih harus diajak belajar.”
Rantaka tersenyum.
Banyu benar.
Keputusan hari itu bukan akhir dari
perjuangan.
Keputusan itu adalah awal dari
tanggung jawab baru.
Namun, pagi itu, mereka boleh merasa
bahagia.
Mereka boleh bersorak.
Mereka boleh menangis.
Mereka boleh percaya bahwa usaha
mereka tidak sia-sia.
Menjelang siang, warga mengadakan
syukuran sederhana di halaman sekolah.
Tidak ada acara besar.
Hanya singkong rebus, teh hangat,
gorengan, dan beberapa kue buatan Rukmini. Namun, halaman SD Wanasari terasa
lebih ramai daripada saat Pentas Harapan Wanasari.
Anak-anak duduk di bawah pohon
beringin.
Para ibu berbincang sambil membagikan
makanan.
Para bapak membicarakan rencana kerja
bakti berikutnya.
Pemuda desa mulai menyusun jadwal
untuk membantu memperbaiki bagian-bagian sekolah yang dapat dikerjakan bersama.
Bu Laras duduk di dekat Gerobak Buku
Langit Biru.
Ia memandangi buku-buku yang tersusun
di dalamnya.
Rantaka menghampiri gurunya.
“Bu,” katanya, “terima kasih karena
tidak pernah menyerah.”
Bu Laras tersenyum.
“Bukan Ibu saja yang tidak menyerah.”
Rantaka memandang halaman sekolah.
Di sana, Liris sedang mengajari
anak-anak kecil menulis kata-kata sederhana. Banyu memperlihatkan alat
penyaring air kepada beberapa bapak. Jagra bercerita kepada anak-anak tentang
sungai dan ikan.
“Dulu aku pikir sekolah hanya tempat
belajar pelajaran,” kata Rantaka.
“Sekolah memang tempat belajar,” jawab
Bu Laras. “Tetapi kadang pelajaran yang paling penting tidak tertulis di papan
tulis.”
“Seperti apa, Bu?”
“Seperti belajar percaya pada diri
sendiri. Belajar menolong teman. Belajar berdiri lagi setelah jatuh.”
Rantaka mengangguk.
Ia memandang pohon beringin tua di
dekat halaman.
Di bawah pohon itu, mereka pernah
membentuk Langit Biru.
Di bawah pohon itu pula mereka pernah
bertengkar dan hampir terpecah.
Namun, pohon itu tetap berdiri.
Akar-akarnya tetap menembus tanah.
Dahannya tetap menaungi anak-anak yang
belajar dan bermain di bawahnya.
Sore hari, setelah warga mulai pulang,
Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di depan sekolah.
Langit di atas Desa Wanasari berwarna
biru cerah.
Tidak ada awan gelap.
Tidak ada hujan.
Hanya cahaya matahari yang jatuh di
dinding sekolah tua, membuatnya tampak lebih hangat daripada biasanya.
Liris memandang langit.
“Langitnya benar-benar biru,” katanya.
Jagra mengangkat tangan seperti ingin
meraih awan.
“Dari dulu juga biru.”
“Tidak,” kata Liris. “Hari ini rasanya
berbeda.”
Banyu mengangguk.
“Mungkin karena kita tidak lagi
melihatnya sendirian.”
Rantaka memandangi sahabat-sahabatnya.
Ia tahu bahwa beberapa tahun lagi
mereka mungkin akan berjalan ke arah yang berbeda. Mereka mungkin akan
meninggalkan Desa Wanasari untuk sekolah lebih tinggi, bekerja, atau mengejar
cita-cita masing-masing.
Namun, hari itu mereka masih berdiri
bersama.
Empat anak desa.
Empat sahabat.
Empat arah angin yang pernah bertemu
di sebuah sekolah kecil.
Rantaka kemudian berjalan ke dinding
depan sekolah.
Ia mengambil sebuah papan kayu bekas
yang telah dibersihkan warga. Dengan bantuan Banyu, ia menggantung papan itu di
dekat pintu masuk.
Liris telah menuliskan kalimat di
atasnya dengan cat biru.
LANGIT BIRU
Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi
Anak-anak kecil yang masih berada di
halaman membaca tulisan itu keras-keras.
Beberapa belum lancar.
Beberapa mengeja satu per satu.
Namun, semua tersenyum ketika akhirnya
berhasil membacanya.
Rantaka berdiri di bawah papan kayu
itu.
Ia memandang SD Wanasari yang tetap
berdiri.
Sekolah itu belum menjadi bangunan
megah.
Belum memiliki perpustakaan besar.
Belum memiliki banyak ruang kelas.
Namun, sekolah itu tidak padam.
Di dalamnya masih ada suara anak-anak
membaca.
Masih ada langkah kaki menuju kelas.
Masih ada guru yang mengajar.
Masih ada warga yang percaya.
Dan selama semua itu ada, SD Wanasari
akan tetap menjadi tempat di mana mimpi-mimpi kecil belajar tumbuh menuju
langit yang luas.
Epilog — Guru dari Jalan Tanah
Dua belas tahun kemudian, jalan tanah
menuju Desa Wanasari tidak lagi sama.
Sebagian jalannya telah diperkeras
dengan batu dan semen. Saat musim hujan datang, jalan itu memang masih
menyimpan kubangan kecil di beberapa bagian, tetapi anak-anak tidak lagi harus
berjalan dengan kaki tenggelam dalam lumpur seperti dahulu.
Di sepanjang jalan, beberapa rumah
baru berdiri. Warung kecil milik warga tampak lebih ramai. Kebun singkong masih
terbentang di sisi desa, tetapi kini ada pula kebun sayur, kolam ikan, dan
beberapa usaha kecil yang dikelola bersama oleh warga.
Pagi itu, matahari baru naik ketika
seorang lelaki muda berjalan menuju SD Wanasari.
Ia membawa tas berisi buku.
Kemeja putihnya sederhana. Sepatunya
terkena sedikit debu jalan. Langkahnya tenang, tetapi matanya memandang setiap
sudut desa seperti seseorang yang sedang membaca kembali halaman-halaman lama
dalam hidupnya.
Lelaki itu adalah Rantaka Wening.
Kini, ia bukan lagi anak kecil yang
berjalan tergesa-gesa dengan seragam lusuh dan buku di bawah lengan.
Ia telah menyelesaikan sekolahnya di
kecamatan, melanjutkan pendidikan hingga menjadi seorang guru, lalu memilih kembali
ke tempat yang dahulu hampir kehilangan sekolahnya.
Di depan gerbang SD Wanasari, sebuah
papan nama baru berdiri.
Catnya masih segar.
Tulisan di atasnya tampak jelas.
SEKOLAH DASAR
WANASARI
Desa Wanasari
Bangunan sekolah itu kini jauh lebih
layak.
Atapnya telah diganti. Jendelanya
memiliki kaca. Dindingnya dicat putih dengan garis biru di bagian bawah. Di
halaman depan, bunga-bunga tumbuh dalam pot dan taman kecil. Ada tempat cuci
tangan, beberapa bangku kayu, serta tiang bendera yang berdiri tegak di tengah
halaman.
Namun, ada satu hal yang tetap
dipertahankan.
Pohon beringin tua di dekat sekolah
masih berdiri.
Batangnya semakin besar.
Akar-akarnya semakin kuat.
Dahannya tetap menaungi halaman
sekolah, seperti seorang penjaga yang tidak pernah pergi.
Di bawah pohon itu, sebuah papan kayu
tergantung.
Cat birunya telah sedikit pudar oleh
waktu, tetapi kalimat di atasnya masih terbaca jelas.
LANGIT BIRU
Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi
Rantaka berhenti di depan papan itu.
Ia tersenyum.
Dalam ingatannya, ia kembali melihat
empat anak kecil duduk di bawah beringin. Ada Liris dengan buku catatannya. Ada
Banyu dengan tangan yang selalu sibuk membongkar benda-benda bekas. Ada Jagra
dengan celana yang sering terkena lumpur sungai. Dan ada dirinya sendiri, anak
petani yang pernah takut bahwa mimpinya terlalu besar untuk sebuah desa kecil.
“Pak Guru!”
Suara anak-anak memanggil dari arah
kelas.
Rantaka menoleh.
Beberapa murid berlari ke arahnya
sambil membawa buku. Ada yang memegang pensil terlalu erat. Ada yang masih
mengenakan tas lebih besar daripada tubuhnya. Ada pula yang tersenyum lebar
tanpa alasan selain karena pagi itu mereka senang datang ke sekolah.
“Pak Guru Rantaka, hari ini kita
membaca cerita apa?” tanya seorang anak perempuan.
“Cerita tentang petualangan?” tanya
anak lain.
“Boleh cerita tentang sungai?” sambung
seorang anak laki-laki.
Rantaka tertawa kecil.
“Semua bisa,” jawabnya. “Tapi sebelum
itu, kita mulai dengan membaca bersama.”
Anak-anak bersorak dan berlari menuju
kelas.
Rantaka mengikuti mereka.
Di dalam ruangan, meja dan kursi telah
tertata rapi. Di salah satu sudut terdapat rak buku yang jauh lebih besar
daripada Gerobak Buku Langit Biru dahulu. Rak itu dipenuhi buku cerita, buku
pelajaran, ensiklopedia sederhana, majalah anak, dan beberapa buku karya
penulis lokal.
Di atas rak buku, tertulis:
TAMAN BACA LANGIT
BIRU
Rantaka menyentuh salah satu buku
dengan ujung jarinya.
Ia masih mengingat bagaimana dahulu
mereka menemukan buku-buku tua di gudang sekolah. Buku-buku berdebu, halaman
menguning, peta Indonesia yang hampir robek, dan meja-meja rusak yang mereka
bersihkan bersama.
Dari buku-buku itulah ia mulai
mengenal dunia.
Dari buku-buku itulah ia percaya bahwa
jalan tanah tidak harus menjadi batas.
Bel masuk berbunyi.
Anak-anak duduk di tempat
masing-masing.
Rantaka berdiri di depan kelas.
“Anak-anak,” katanya, “hari ini Pak
Guru ingin bertanya. Menurut kalian, untuk apa kita sekolah?”
Beberapa tangan langsung terangkat.
“Supaya pintar,” jawab seorang murid.
“Supaya bisa membaca,” jawab yang
lain.
“Supaya punya cita-cita,” kata seorang
anak di bangku belakang.
Rantaka tersenyum.
“Semua jawaban itu benar.”
Ia menulis di papan tulis.
SEKOLAH ADALAH
TEMPAT MIMPI BELAJAR TUMBUH.
Anak-anak membaca kalimat itu
bersama-sama.
Suara mereka belum sepenuhnya
serempak.
Ada yang terlalu cepat.
Ada yang masih mengeja.
Namun, suara itu memenuhi ruang kelas
dengan sesuatu yang dahulu hampir hilang dari Desa Wanasari: harapan.
Saat jam istirahat, sebuah mobil
berhenti di depan sekolah.
Anak-anak segera berlarian ke jendela.
“Siapa itu, Pak Guru?” tanya mereka.
Rantaka keluar ke teras.
Dari mobil turun seorang perempuan
dengan pakaian sederhana dan membawa beberapa kardus buku. Rambutnya kini lebih
pendek daripada ketika masih kecil, tetapi senyumnya tetap sama.
Liris.
Ia telah menjadi penulis.
Beberapa cerpennya dimuat di majalah
dan buku kumpulan cerita. Ia juga menulis novel tentang kehidupan anak-anak
desa, tentang sungai, kebun, jalan tanah, dan mimpi-mimpi yang tumbuh dari
tempat yang sering dianggap kecil.
Namun, Liris tidak pernah benar-benar
meninggalkan Wanasari.
Setiap beberapa bulan, ia kembali
untuk mengadakan kelas menulis bagi anak-anak.
“Buku baru?” tanya Rantaka.
Liris mengangguk.
“Sebagian buku cerita. Sebagian buku
kosong untuk anak-anak menulis.”
Anak-anak segera mengerumuni kardus.
“Bu Liris, aku mau menulis cerita
tentang kambing!”
“Aku mau menulis puisi tentang hujan!”
“Aku mau menulis cerita tentang Pak
Guru!”
Liris tertawa.
“Boleh. Semua cerita boleh ditulis.
Bahkan cerita yang menurut kalian kecil.”
Rantaka memandang sahabatnya.
“Masih ingat puisi pertama yang kau
baca di balai desa?” tanyanya.
Liris tersenyum.
“Yang membuat Jagra hampir menangis?”
“Dia bilang lampunya terlalu terang.”
Mereka tertawa bersama.
Tidak lama kemudian, suara motor
terdengar dari arah jalan.
Seorang lelaki datang membawa beberapa
alat kecil di dalam kotak kayu. Ia mengenakan topi lusuh dan baju kerja yang
bagian lengannya digulung.
Banyu.
Kini, ia dikenal sebagai perajin dan
pencipta alat sederhana untuk membantu warga desa. Ia membuat alat penyaring
air, mesin pengering hasil panen sederhana, serta beberapa alat kecil untuk
membantu petani dan nelayan.
Di belakang motornya, ada sebuah alat
baru yang terbuat dari pipa, kayu, dan beberapa botol besar.
“Ini untuk taman sekolah,” kata Banyu
setelah turun dari motor.
“Apa itu?” tanya Rantaka.
“Penyiram tanaman sederhana. Anak-anak
bisa memompa air dari penampungan, lalu airnya mengalir ke pot-pot bunga.”
Beberapa murid langsung mendekat.
Banyu menjelaskan cara kerja alat itu
dengan sabar. Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar. Seorang anak mencoba
memompa tuas kayu. Air keluar perlahan dari pipa kecil dan membasahi
bunga-bunga di taman.
Anak-anak bersorak.
Rantaka memandangi Banyu.
Dahulu, Banyu hanya membawa alat
penyaring air dari botol bekas ke Pentas Harapan Wanasari.
Kini, tangannya masih bekerja dengan
cara yang sama: mengubah benda sederhana menjadi sesuatu yang berguna.
Menjelang siang, sebuah mobil bak
terbuka berhenti di dekat gerbang sekolah.
Dari sana turun beberapa keranjang
ikan segar.
Seorang lelaki dengan senyum lebar
melambaikan tangan.
Jagra.
Ia kini mengelola kelompok usaha
perikanan warga. Bersama para nelayan sungai, ia membantu mengatur hasil
tangkapan, membuat kolam pembesaran ikan, dan mencari cara agar ikan dari
Wanasari dapat dijual dengan harga yang lebih baik.
“Untuk makan siang anak-anak,” katanya
sambil menurunkan keranjang. “Ikan sungai segar.”
“Jangan bilang kau membawa ini hanya
untuk pamer,” kata Liris.
Jagra tertawa.
“Aku membawa ini supaya anak-anak tahu
bahwa ikan desa kita juga bisa membawa masa depan.”
Anak-anak mengelilinginya.
“Pak Jagra, apakah ikan bisa sekolah?”
“Kalau ikan sekolah, nanti dia jadi
guru ikan,” jawab Jagra.
Anak-anak tertawa keras.
Di bawah pohon beringin tua, empat
sahabat itu akhirnya berdiri bersama lagi.
Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra.
Waktu telah membawa mereka ke jalan
masing-masing.
Namun, jalan-jalan itu ternyata tetap
mengarah pulang.
Mereka memandangi SD Wanasari.
Di halaman, anak-anak bermain sambil
membawa buku. Di taman baca, beberapa murid duduk membaca. Di dekat pot bunga,
anak-anak mencoba alat buatan Banyu. Di dapur sekolah, ibu-ibu mulai menyiapkan
ikan dari kelompok usaha Jagra.
Liris memandang papan kayu Langit
Biru.
“Dulu kita hanya berempat,” katanya.
“Sekarang lebih banyak,” jawab Banyu.
Jagra mengangguk ke arah anak-anak.
“Dan mereka lebih ribut.”
Rantaka tersenyum.
“Bagus. Berarti sekolah ini hidup.”
Angin bergerak perlahan di antara
daun-daun beringin.
Suara anak-anak terdengar dari ruang
kelas.
Rantaka memandang jalan tanah yang
dahulu sering ia lalui dengan langkah berat. Jalan itu masih ada. Desa itu
masih sederhana. Kebun singkong masih tumbuh. Sungai masih mengalir.
Namun, ia tidak lagi melihat jalan itu
sebagai jalan yang menjauhkan Wanasari dari dunia.
Jalan itu kini menjadi jalan pulang.
Jalan yang membawa anak-anak menuju
sekolah.
Jalan yang membawa buku-buku ke rumah
warga.
Jalan yang membawa sahabat-sahabat
kembali ke desa.
Jalan yang mengajarkan bahwa harapan
tidak selalu lahir dari tempat yang besar.
Kadang, harapan tumbuh dari sebuah
sekolah kecil, sebuah gerobak buku, sebuah pohon beringin, dan beberapa anak
desa yang memilih untuk tidak menyerah.
Sebelum kembali masuk ke kelas,
Rantaka berdiri di bawah papan kayu Langit Biru.
Ia memandang tulisan itu sekali lagi.
Mimpi Anak Desa
Tidak Pernah Terlalu Tinggi.
Kemudian ia berjalan menuju ruang
kelas.
Di dalam sana, puluhan anak sedang
menunggu.
Mereka menunggu cerita.
Mereka menunggu pelajaran.
Mereka menunggu masa depan.
Dan Rantaka tahu, selama masih ada
anak-anak yang datang membawa buku dalam pelukan, selama masih ada guru yang
berdiri di depan kelas, dan selama masih ada warga yang percaya pada
pendidikan, sekolah itu akan selalu menjadi cahaya.
Bukan cahaya yang menyilaukan.
Melainkan cahaya yang setia menyala di
ujung desa.






0 komentar:
Posting Komentar