Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Selasa, 07 Juli 2026

LANGIT BIRU ANAK DESA

 


LANGIT BIRU ANAK DESA

Roman Inspiratif tentang Persahabatan, Pendidikan, dan Mimpi dari Desa Tertinggal

Oleh: Slamet Riyadi


Disclaimer

Novel ini merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, nama tempat, peristiwa, dialog, dan konflik dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi penulis. Kesamaan nama, tempat, latar, maupun peristiwa dengan kehidupan nyata terjadi secara tidak disengaja.

Kisah ini ditulis sebagai penghormatan bagi anak-anak desa, para guru, orang tua, dan masyarakat yang tetap percaya bahwa pendidikan adalah cahaya yang mampu menuntun masa depan.

Setiap halaman dalam novel ini membawa pesan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dari rumah-rumah sederhana, jalan tanah, sekolah tua, dan kehidupan yang serba terbatas, dapat tumbuh keberanian untuk belajar, bertahan, serta memberi arti bagi sesama.


Prolog

Langit yang Menyimpan Janji

Pagi di Desa Wanasari selalu datang dengan cara yang perlahan. Kabut tipis menggantung di atas pematang sawah, menyelimuti rumpun padi yang masih basah oleh embun. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahut-sahutan, seolah saling mengabarkan bahwa malam telah selesai dan hari baru harus segera dimulai.

Jalan tanah yang membelah desa tampak lengang. Bekas roda pedati dan jejak kaki warga masih tertinggal di atas tanah yang lembek setelah hujan semalam. Di sisi jalan, rumah-rumah kayu berdiri sederhana dengan dapur-dapur yang mulai mengepulkan asap. Aroma kayu bakar, kopi hitam, dan singkong rebus menyatu dengan udara pagi yang dingin.

Di salah satu pematang sawah, seorang anak laki-laki berdiri diam. Usianya belum lebih dari dua belas tahun. Kakinya tidak beralas sepatu, hanya sandal jepit lusuh yang warnanya telah memudar. Celana seragam sekolahnya masih tergulung sampai lutut karena sebentar lagi ia harus membantu ayahnya mencari rumput untuk kambing.

Anak itu bernama Rantaka Wening.

Di tangan kirinya, ia menggenggam sebuah buku kecil yang sampulnya telah menguning. Sudut-sudutnya robek, beberapa halamannya berlipat, dan ada bekas noda air di bagian tengahnya. Buku itu bukan buku pelajaran. Bukan pula buku cerita yang dipinjam dari sekolah. Buku itu adalah peninggalan kakeknya, Wening Sasmita, seorang lelaki tua yang semasa hidupnya dikenal sebagai petani sederhana, tetapi selalu percaya bahwa anak-anak harus belajar setinggi mungkin.

Rantaka membuka halaman pertama buku itu. Tulisan tangan kakeknya masih tampak jelas meski tintanya mulai memudar.

“Jangan pernah takut bermimpi, sebab langit tidak memilih siapa yang boleh menatapnya.”

Kalimat itu telah dibacanya berkali-kali. Saat duduk di teras rumah, ketika menunggu ibunya menggoreng kue, ketika hujan turun terlalu deras, bahkan ketika ia merasa lelah setelah membantu ayahnya di ladang. Namun, pagi itu, di bawah langit yang mulai berubah dari kelabu menjadi biru, kalimat itu terasa berbeda.

Rantaka mengangkat wajahnya.

Di atas sana, langit terbentang luas tanpa pagar, tanpa batas, tanpa membedakan rumah siapa yang beratap genteng dan rumah siapa yang hanya beratap seng tua. Langit yang sama menaungi rumah kepala dusun, rumah para pedagang, rumah nelayan sungai, dan rumah kecil keluarganya yang berdiri di ujung kampung.

“Apa yang kau lihat, Taka?”

Suara berat dari belakang membuat Rantaka menoleh. Darma Wening, ayahnya, berdiri sambil membawa sabit dan seikat tali dari serat pohon. Wajah lelaki itu tampak lelah, tetapi matanya selalu menyimpan keteduhan yang membuat Rantaka merasa aman.

“Langit, Yah,” jawab Rantaka pelan.

Darma tersenyum. “Langit memang indah kalau dilihat pagi-pagi.”

“Kalau aku sekolah terus, apa aku bisa pergi jauh?” tanya Rantaka.

Ayahnya tidak segera menjawab. Ia memandang hamparan sawah yang mulai terkena cahaya matahari. Lalu, dengan tangan kasar yang biasa menggenggam cangkul dan sabit, ia menepuk bahu anaknya.

“Pergi jauh bukan hanya soal meninggalkan desa,” katanya. “Kadang, orang yang tetap tinggal di desa pun bisa membawa desanya menjadi lebih jauh dari sebelumnya.”

Rantaka belum benar-benar mengerti maksud ayahnya. Ia hanya mengangguk sambil kembali memandangi langit. Dalam hatinya, ada keinginan kecil yang belum berani ia ucapkan kepada siapa pun. Ia ingin menjadi guru. Ia ingin mengajar anak-anak di desa agar mereka tidak takut membuka buku, tidak malu menyebut cita-cita, dan tidak merasa bahwa masa depan hanya milik anak-anak yang lahir di kota.

Namun, jalan menuju mimpi itu tidak akan semudah jalan tanah yang ia lalui setiap pagi. Akan ada sekolah yang hampir ditutup, persahabatan yang retak, hujan yang merobohkan harapan, dan keadaan keluarga yang membuatnya hampir meninggalkan bangku belajar.

Pada hari-hari yang akan datang, Rantaka akan belajar bahwa mimpi tidak hanya membutuhkan keberanian untuk memulainya. Mimpi juga membutuhkan keteguhan untuk menjaganya ketika hidup datang membawa ujian.

Pagi itu, sebelum berjalan bersama ayahnya menuju ladang, Rantaka menutup buku peninggalan kakeknya. Ia menyelipkannya ke dalam saku seragam yang sudah sedikit robek di bagian dada.

Kemudian ia melangkah menyusuri pematang sawah.

Di atas Desa Wanasari, langit biru perlahan terbuka.

Dan tanpa ia sadari, sebuah janji sedang tumbuh di dalam dirinya—janji seorang anak desa yang kelak akan belajar bahwa mimpi, seperti langit, tidak pernah terlalu tinggi untuk ditatap.

 

Bab 1

Jalan Tanah Menuju Pagi

Suara sabit yang menggesek rumput basah terdengar pelan di antara embun pagi. Di belakang rumah-rumah kayu Desa Wanasari, hamparan tanah lapang mulai disinari cahaya matahari yang masih malu-malu muncul dari balik perbukitan.

Rantaka Wening berjalan di belakang ayahnya sambil membawa karung goni kecil. Sandal jepit lusuh yang dipakainya beberapa kali tenggelam ke dalam tanah lembek. Ujung celana pendeknya telah basah terkena rumput dan lumpur, tetapi ia tidak mengeluh. Sejak kecil, ia sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit.

Di tangan kanannya, ia menggenggam tali kambing. Dua ekor kambing milik keluarga mereka berjalan perlahan sambil sesekali berhenti untuk memakan rumput di pinggir jalan.

“Jangan terlalu dekat ke parit, Taka,” kata Darma Wening tanpa menoleh. “Tanahnya masih licin.”

“Iya, Yah,” jawab Rantaka.

Ia mempercepat langkah. Di depan sana, ayahnya sudah mulai memotong rumput dengan sabit tua yang gagangnya dibalut kain. Gerakan Darma tampak teratur, seolah tangan kasarnya telah hafal betul mana rumput yang layak dibawa pulang dan mana yang harus dibiarkan tumbuh.

Rantaka meletakkan karung goni di tanah. Ia lalu ikut mencabut rumput dengan kedua tangan. Embun menempel di telapak tangannya, dingin dan segar. Sesekali ia menoleh ke arah jalan desa yang masih sepi.

Jalan itu adalah jalan yang sama yang akan ia lewati menuju sekolah.

Jalan tanah berwarna cokelat, penuh batu kecil, bekas roda sepeda, dan kubangan air jika hujan turun semalam. Bagi sebagian orang, jalan itu hanya penghubung antara rumah, sawah, kebun, dan pasar kecil di ujung desa. Namun bagi Rantaka, jalan itu adalah jalur menuju sesuatu yang lebih besar.

Setiap kali berjalan ke sekolah, ia selalu membayangkan dirinya mengenakan pakaian rapi, membawa buku-buku baru, dan berdiri di depan kelas. Dalam bayangannya, ia memegang kapur putih dan menulis huruf-huruf besar di papan tulis. Anak-anak duduk di hadapannya dengan mata berbinar, menunggu cerita tentang dunia yang belum pernah mereka lihat.

“Taka.”

Panggilan ayahnya membuyarkan lamunan itu.

“Rumputnya jangan dicabut sampai akar. Nanti tidak tumbuh lagi.”

Rantaka mengangguk cepat. “Maaf, Yah. Aku lupa.”

Darma berhenti memotong rumput. Ia memandang anaknya yang sedang menunduk dengan wajah sedikit malu.

“Kau sedang memikirkan sekolah?” tanya Darma.

Rantaka terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu mengapa ayahnya selalu dapat menebak isi kepalanya.

“Iya,” jawabnya akhirnya. “Aku tadi membayangkan kalau suatu hari aku bisa jadi guru.”

Darma menaruh sabitnya di atas rumput. Wajahnya yang lelah tampak lebih tenang ketika mendengar jawaban itu.

“Jadi guru itu pekerjaan baik,” katanya. “Guru mengajarkan orang untuk membaca, menghitung, dan memahami hidup.”

“Aku ingin mengajar di desa ini,” kata Rantaka. “Supaya anak-anak tidak perlu takut sekolah.”

Darma tersenyum kecil. “Kalau begitu, kau harus lebih rajin dari sekarang.”

Rantaka mengangguk. Namun, di dalam hati, ia tahu bahwa rajin saja kadang belum cukup. Buku pelajarannya sudah banyak yang lusuh. Sepatunya mulai sempit dan bagian depannya menganga. Seragam putihnya tidak lagi benar-benar putih meski ibunya selalu mencucinya dengan sabun seadanya.

Tetapi Rantaka tidak pernah mengucapkan keluhannya. Ia tahu ibunya telah bekerja keras sejak subuh. Ia tahu ayahnya pulang dari ladang dengan punggung membungkuk dan tangan penuh tanah. Ia tidak ingin menambah beban mereka.

Setelah karung goni hampir penuh, Darma mengikat mulutnya dengan tali. Ia mengangkat karung itu ke pundak, sementara Rantaka membawa tali kambing dan sabit kecil.

“Pulang dulu,” kata Darma. “Kau harus mandi dan bersiap ke sekolah.”

Mereka berjalan kembali melewati jalan setapak di antara sawah. Matahari kini mulai naik. Cahaya kuning keemasan memantul di genangan air, membuat pematang sawah tampak seperti garis-garis panjang yang membelah bumi.

Di kejauhan, terdengar suara ibu-ibu memanggil anak-anaknya. Ada yang menyuruh mandi, ada yang mengingatkan agar segera memakai seragam, dan ada pula yang meminta anaknya membantu mengangkat kayu bakar sebelum berangkat sekolah.

Desa Wanasari mulai hidup.

Ketika sampai di halaman rumah, Rukmini sudah berdiri di depan dapur. Tangannya memegang serbet, sementara di belakangnya tampak kukusan besar yang mengeluarkan uap putih. Aroma kue kukus dan kelapa parut menyambut Rantaka begitu ia memasuki halaman.

“Kalian sudah pulang?” tanya Rukmini.

“Sudah, Bu,” jawab Rantaka sambil menuntun kambing ke kandang kecil di samping rumah.

“Cepat mandi. Nanti terlambat.”

Rantaka mengangguk. Sebelum masuk ke rumah, ia membantu ayahnya menaruh rumput ke dalam kandang. Kambing-kambing itu segera mendekat dan mulai mengunyah dengan lahap.

Darma memandang anaknya dengan bangga. “Setelah pulang sekolah, jangan lupa bantu Ibu mengantar kue.”

“Iya, Yah.”

Rantaka masuk ke rumah dan mengambil ember kecil. Ia mandi di sumur belakang rumah dengan air yang dinginnya menggigit kulit. Setelah itu, ia mengenakan seragam putih merah yang telah disetrika ibunya semalam. Bagian kerahnya mulai tipis, tetapi masih bersih. Ia mengenakan sepatu hitam tua yang solnya mulai terbuka sedikit di bagian depan.

Di meja kayu dekat jendela, terdapat sebuah tas lusuh berwarna cokelat. Tas itu pernah menjadi milik pamannya, lalu diberikan kepada Rantaka ketika ia masuk sekolah dasar. Di dalamnya ada dua buku tulis, pensil pendek, penghapus yang tinggal separuh, dan buku kecil peninggalan kakeknya.

Rantaka memasukkan buku kecil itu ke dalam tas. Ia tidak selalu membawanya ke sekolah, tetapi pagi itu ia merasa ingin menyimpannya dekat-dekat.

Di dapur, Rukmini telah menyiapkan nasi hangat, sambal terasi, dan telur dadar tipis yang dibagi menjadi beberapa potong kecil.

“Makan dulu,” kata Rukmini.

Rantaka duduk di tikar bersama ayah dan ibunya. Mereka makan dalam keheningan yang akrab. Tidak banyak lauk di atas meja, tetapi Rantaka selalu merasa makanan di rumahnya lebih nikmat daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.

Ketika ia hampir selesai makan, Rukmini menatap sepatunya.

“Sepatumu makin rusak, ya?” katanya pelan.

Rantaka menunduk. “Masih bisa dipakai, Bu.”

“Nanti kalau jualan Ibu ramai, kita beli lem.”

“Tidak usah, Bu. Aku bisa menjahitnya pakai benang.”

Rukmini tersenyum tipis, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang membuat Rantaka tidak berani menatap terlalu lama. Ia tahu ibunya ingin membelikan sepatu baru, tetapi ia juga tahu uang hasil berjualan kue lebih banyak digunakan untuk membeli beras, minyak goreng, dan keperluan rumah.

Darma meneguk air putih dari gelasnya. “Sekolah yang benar, Taka. Jangan sia-siakan kesempatan.”

Rantaka mengangguk. “Aku akan belajar sungguh-sungguh, Yah.”

Setelah berpamitan, ia menyampirkan tas lusuh di punggungnya. Ia keluar dari rumah dan mulai berjalan menuju sekolah.

Jalan tanah di depan rumah masih basah. Beberapa anak kecil berlari sambil membawa sandal di tangan agar tidak kotor terkena lumpur. Seorang ibu menyapu halaman, sementara seorang kakek duduk di beranda sambil mengisap rokok linting.

Rantaka berjalan perlahan, tetapi pikirannya sudah lebih dulu sampai di sekolah.

Di ujung jalan, ia melihat bangunan tua SD Wanasari berdiri di dekat kebun singkong. Atapnya tampak miring dari kejauhan. Dindingnya kusam. Halamannya dipenuhi rumput liar yang belum sempat dibersihkan.

Namun, bagi Rantaka, bangunan itu bukan sekadar sekolah tua.

Di sanalah ia belajar mengeja kata pertama. Di sanalah ia mengenal angka, peta, cerita para pahlawan, dan dunia yang lebih luas daripada sawah serta kebun di desanya. Di sanalah ia menyimpan mimpi untuk menjadi seorang guru.

Rantaka berhenti sejenak di pinggir jalan. Ia memandang langit yang kini benar-benar biru.

Lalu ia melanjutkan langkahnya.

Jalan tanah itu mungkin berlumpur, sempit, dan penuh batu. Tetapi pagi itu, bagi Rantaka Wening, jalan tersebut terasa seperti jalan pertama menuju masa depan.

 

Bab 2 — Rumah yang Selalu Berasap

Rumah Rantaka Wening berdiri di ujung Desa Wanasari, sedikit menjauh dari deretan rumah warga yang lebih dekat dengan jalan utama. Bangunannya tidak besar. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang telah berubah warna karena hujan dan panas bertahun-tahun. Di beberapa bagian, papan-papan itu tidak lagi rapat. Ketika angin malam datang dari arah sawah, udara dingin dapat masuk melalui celah-celah kecil dan membuat lampu minyak di ruang depan bergoyang pelan.

Atap rumah itu terbuat dari seng tua. Jika hujan turun biasa, air hanya menetes di satu atau dua tempat. Namun, bila hujan turun dengan angin yang kuat, Rukmini harus memindahkan tikar dan meletakkan ember di bawah titik-titik bocor. Darma pernah beberapa kali mencoba memperbaikinya dengan lembaran seng bekas, tetapi ia selalu berkata bahwa atap itu masih dapat bertahan satu musim lagi.

Di halaman depan, tumbuh dua batang pisang, satu pohon pepaya, dan beberapa tanaman cabai yang ditanam Rukmini dalam kaleng bekas minyak goreng. Di sisi rumah terdapat kandang kecil untuk dua ekor kambing. Kandang itu dibuat dari bambu dan kayu sisa pekerjaan Darma. Di belakang rumah, sebuah sumur tua berdiri di bawah pohon jambu. Sumur itulah yang menjadi sumber air untuk mandi, mencuci, memasak, dan memberi minum ternak.

Rumah itu sederhana, tetapi tidak pernah benar-benar sepi.

Sejak sebelum matahari terbit, suara kehidupan sudah bergerak dari dalamnya. Ada bunyi kayu dibelah, bunyi air ditimba dari sumur, bunyi kambing mengembik dari kandang, dan suara peralatan dapur yang saling beradu. Namun, suara yang paling akrab bagi Rantaka adalah bunyi kayu bakar yang mulai menyala di tungku.

Setiap pagi, dapur rumah mereka selalu dipenuhi asap.

Asap itu keluar dari tungku tanah liat yang diletakkan di sudut dapur. Mula-mula ia hanya tipis, seperti kabut kecil yang berputar di bawah atap. Lalu, ketika kayu mulai terbakar lebih kuat, asap itu menebal dan keluar melalui celah-celah dinding serta lubang kecil di atas dapur. Dari kejauhan, orang yang melewati jalan setapak dapat melihat kepulan kelabu itu dan mengetahui bahwa Rukmini sudah mulai bekerja.

Pagi itu, setelah Rantaka membantu ayahnya mencari rumput, ia kembali ke rumah dengan kaki basah oleh embun. Ia menaruh karung kecil di dekat kandang, lalu berjalan menuju dapur.

“Bu, aku sudah pulang,” katanya.

“Cuci tangan dulu,” jawab Rukmini dari balik asap. “Jangan masuk dapur dengan tangan penuh tanah.”

Rantaka tersenyum kecil. Ia berjalan ke tempayan di belakang rumah, membasuh tangan dan wajahnya, lalu kembali ke dapur. Di sana, ibunya sedang duduk di atas bangku rendah sambil mengaduk adonan dalam baskom besar. Rambut Rukmini disanggul sederhana. Wajahnya berkeringat karena panas tungku. Di dekatnya, beberapa daun pisang telah dipotong dan dibersihkan.

“Apa yang Ibu buat?” tanya Rantaka.

“Nagasari. Pak Sastro pesan dua puluh bungkus.”

“Banyak.”

“Kalau habis terjual, lumayan untuk belanja dapur.”

Rantaka duduk di dekat pintu dapur. Ia memandangi tangan ibunya yang bergerak cepat. Rukmini mengambil selembar daun pisang, meletakkan adonan dan pisang di tengahnya, lalu melipatnya dengan rapi. Gerakannya begitu teratur, seolah setiap lipatan telah dihafalnya sejak lama.

“Boleh aku membantu?” tanya Rantaka.

Rukmini menoleh dan tersenyum. “Boleh. Ambilkan daun pisang yang di atas meja.”

Rantaka segera melakukannya. Ia menyerahkan daun-daun pisang itu satu per satu. Sesekali ia mencoba meniru cara ibunya membungkus kue, tetapi hasilnya selalu kurang rapi. Ada yang terlalu longgar, ada yang terlipat miring, dan ada yang hampir terbuka ketika diangkat.

Rukmini tidak tertawa. Ia hanya membetulkan lipatan itu dengan sabar.

“Kalau membungkus, tanganmu jangan terburu-buru,” katanya. “Daunnya harus dilipat seperti ini. Pelan, tetapi kuat.”

Rantaka mencoba lagi. Kali ini, lipatannya lebih baik.

“Nah,” kata Rukmini, “yang itu sudah bagus.”

Pujian sederhana itu membuat Rantaka merasa seolah baru saja berhasil menyelesaikan sesuatu yang besar.

Di ruang depan, Darma Wening sedang duduk di atas bangku bambu. Ia membersihkan sabit dengan kain tua. Kakinya masih tampak kotor oleh tanah ladang. Di sampingnya terdapat tali, cangkul kecil, dan topi anyaman yang biasa dipakainya saat bekerja.

Darma bukan pemilik sawah. Ia bekerja dari satu ladang ke ladang lain, bergantung pada siapa yang membutuhkan tenaganya. Saat musim tanam, ia mencangkul tanah dan menanam padi. Saat musim panen, ia membantu memotong padi, mengikat gabah, atau mengangkut karung. Ketika tidak ada pekerjaan di sawah, ia membersihkan kebun, memperbaiki pagar, atau membantu warga membawa kayu dari pinggir hutan.

Tidak semua hari menghasilkan uang.

Kadang Darma pulang membawa upah yang cukup untuk membeli beras. Kadang ia hanya membawa singkong, sayur, atau beberapa butir telur dari pemilik kebun. Namun, Rantaka tidak pernah mendengar ayahnya mengeluh. Lelaki itu selalu berkata bahwa selama tangan masih kuat bekerja, rumah mereka akan tetap memiliki makanan.

“Yah,” panggil Rantaka dari dapur.

Darma mengangkat wajahnya. “Iya?”

“Besok Bapak kerja di mana?”

“Di kebun Pak Karta, kalau jadi. Ada singkong yang harus dibersihkan.”

“Jauh?”

“Tidak terlalu. Lewat jalan sungai.”

Rantaka mengangguk. Ia ingin bertanya apakah ayahnya akan lelah, tetapi pertanyaan itu tertahan di tenggorokannya. Ia tahu Darma pasti lelah. Namun, ayahnya tetap akan pergi, seperti hari-hari sebelumnya.

Darma melihat Rantaka yang terdiam.

“Kau tidak perlu memikirkan pekerjaan Bapak,” katanya lembut. “Kau cukup memikirkan tugasmu.”

“Tugasku belajar?” tanya Rantaka.

Darma mengangguk. “Belajar yang baik. Itu juga pekerjaan.”

Jawaban itu membuat Rantaka menatap ayahnya lebih lama.

Selama ini, ia selalu menganggap belajar sebagai sesuatu yang biasa. Ia pergi membawa tas, duduk di kelas, membuka buku, lalu pulang. Tetapi dari cara ayahnya berbicara, ia mulai memahami bahwa belajar bukan hanya kegiatan untuk mengisi waktu. Belajar adalah pekerjaan yang dipercayakan kepadanya oleh kedua orang tuanya.

Rukmini menaruh beberapa bungkus nagasari ke dalam tampah.

“Nanti kalau pulang,” katanya kepada Rantaka, “tolong bantu Ibu mengantar beberapa pesanan.”

“Aku bisa, Bu.”

“Jangan lupa istirahat juga.”

“Aku tidak apa-apa.”

Rukmini menghela napas pelan. “Ibu tahu kau ingin membantu. Tetapi jangan sampai kau meninggalkan buku-bukumu.”

Rantaka mengangguk.

Ia tidak pernah merasa keberatan membantu ibunya. Justru ketika melihat Rukmini bekerja sejak subuh, ia sering merasa bahwa dirinya belum cukup banyak melakukan sesuatu. Namun, ia juga tahu bahwa ibunya selalu ingin ia memiliki kesempatan yang tidak dimiliki banyak orang di desa.

Menjelang sore, rumah itu kembali sibuk.

Rukmini menata kue-kue ke dalam keranjang rotan. Darma memberi makan kambing dan memperbaiki bagian kandang yang mulai longgar. Rantaka menyapu halaman, mengambil air dari sumur, lalu membantu ibunya membawa daun pisang yang tersisa ke dapur.

Saat matahari mulai condong, ia duduk di teras rumah sambil memeriksa tas sekolahnya. Tali salah satu sisi tas itu mulai robek. Ia mengambil jarum dan benang dari kotak jahit kecil milik ibunya, lalu mencoba menjahitnya sendiri.

Beberapa kali jarum menusuk ujung jarinya.

“Pelan-pelan,” kata Rukmini yang keluar membawa segelas air putih. “Kalau terlalu dipaksa, malah putus.”

Rantaka mengangguk sambil meniup jarinya yang sedikit merah.

“Masih bisa dipakai,” katanya. “Tas ini belum rusak benar.”

Rukmini duduk di sampingnya. “Kau ingin tas baru?”

Rantaka menggeleng. “Tidak perlu. Yang penting masih bisa membawa buku.”

Wajah Rukmini tampak tenang, tetapi matanya menyimpan kesedihan yang tidak diucapkannya. Ia tahu anaknya tidak meminta banyak karena memahami keadaan rumah mereka.

“Kalau ada rezeki lebih,” kata Rukmini, “Ibu belikan.”

“Nanti saja, Bu.”

Dari dalam rumah, Darma memanggil istrinya. Ia sedang menghitung uang hasil kerja beberapa hari terakhir. Lembaran uang itu tidak banyak. Ia membaginya perlahan: untuk beras, minyak goreng, keperluan kambing, dan sedikit simpanan di dalam kaleng tua.

Rantaka melihat semua itu dari teras.

Ia tidak tahu berapa jumlah uang yang tersisa. Ia tidak perlu tahu. Dari cara ayahnya menghitung dengan hati-hati, dari cara ibunya menahan keinginan membeli banyak kebutuhan, dan dari cara rumah itu selalu berasap setiap pagi, ia mulai memahami bahwa hidup mereka berjalan dengan perjuangan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Malam datang tanpa banyak suara.

Rukmini kembali menyalakan tungku untuk menghangatkan makanan. Asap tipis naik ke atas, memenuhi dapur, lalu keluar melalui celah dinding. Darma duduk di dekat pintu, sementara Rantaka menyiapkan buku-bukunya untuk esok hari.

Ia memandangi tas yang baru saja dijahitnya.

Tas itu lusuh. Seragamnya tidak lagi seputih dulu. Sepatunya mulai sempit. Namun, semua itu masih dapat dipakai untuk berjalan menuju sekolah.

Rantaka menatap asap yang mengepul dari dapur.

Baginya, asap itu bukan sekadar tanda kayu yang terbakar. Asap itu adalah tanda bahwa ibunya masih memasak, ayahnya masih bekerja, dan rumah mereka masih bertahan.

Di dalam rumah sederhana yang selalu berasap itu, Rantaka menyimpan satu keyakinan kecil: selama ia masih dapat membawa buku dan melangkah keluar rumah setiap pagi, ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar.

 

Bab 3 — Sekolah di Ujung Kebun Singkong

Pagi berikutnya, setelah membantu ibunya menata beberapa bungkus kue ke dalam keranjang dan memastikan kambing-kambing di samping rumah sudah diberi makan, Rantaka Wening mengenakan seragam putih merahnya. Seragam itu telah disetrika Rukmini dengan setrika arang semalam. Meski bagian kerahnya mulai menipis dan warna putihnya tidak lagi secerah milik anak-anak dari rumah yang lebih berada, Rantaka tetap merapikannya dengan hati-hati.

Ia memasukkan dua buku tulis, pensil pendek, penghapus kecil, dan penggaris plastik yang salah satu ujungnya patah ke dalam tas lusuhnya. Setelah itu, ia menyampirkan tas tersebut ke punggung.

“Berangkat, Bu,” katanya dari ambang pintu.

Rukmini yang sedang menyiapkan keranjang kue menoleh. “Jalannya hati-hati. Kalau hujan turun, jangan lewat pinggir parit.”

“Iya, Bu.”

Darma sedang mengikat tali di kandang kambing. Ia menatap anaknya dan mengangguk pelan.

“Belajar yang sungguh-sungguh,” katanya.

Rantaka menjawab dengan anggukan yang lebih mantap. Lalu ia melangkah keluar dari halaman rumah.

Jalan menuju SD Wanasari tidak panjang, tetapi cukup melelahkan ketika musim hujan datang. Jalan itu melewati pematang sawah, sebuah jembatan bambu kecil, lalu kebun singkong yang tumbuh rapat di sisi timur desa. Tanahnya merah kecokelatan dan mudah berubah menjadi lumpur. Jika matahari terlalu terik, debu akan menempel di kaki dan celana. Jika hujan turun, jalan itu menjadi licin dan membuat anak-anak harus berjalan perlahan agar tidak tergelincir.

Rantaka telah melewati jalan itu hampir setiap hari sejak pertama kali masuk sekolah.

Di tengah perjalanan, ia bertemu beberapa anak dari dusun lain. Ada yang membawa buku dalam tas baru, ada yang hanya membungkus bukunya dengan plastik agar tidak basah, dan ada pula yang berjalan sambil menggandeng adik kecilnya. Mereka saling menyapa, lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan langkah masing-masing.

Dari kejauhan, bangunan SD Wanasari mulai terlihat.

Sekolah itu berdiri di tanah lapang yang berbatasan langsung dengan kebun singkong. Bangunannya memanjang, terdiri atas beberapa ruang kelas yang berdinding papan. Cat dindingnya sudah kusam. Di beberapa bagian, warna biru pucat yang dahulu menghiasi papan-papan kayu telah mengelupas dan menyisakan warna kayu tua.

Atap sengnya tampak miring di bagian belakang. Ketika hujan turun, air sering merembes dari celah-celahnya. Di dalam beberapa ruang kelas, ember dan kaleng bekas selalu disimpan untuk menampung tetesan air. Jendela-jendela kayunya tidak semua memiliki kaca. Sebagian hanya menyisakan bingkai kosong, sehingga angin dari kebun singkong dapat masuk dengan bebas.

Namun, setiap pagi, sekolah itu tetap dipenuhi suara anak-anak.

Ada yang berlari di halaman, ada yang menyapu lantai kelas, ada yang berdiri di dekat tiang bendera sambil berbincang, dan ada pula yang duduk di bawah pohon ketapang sambil membuka buku. Suara mereka membuat bangunan tua itu terasa lebih hidup daripada yang terlihat dari kejauhan.

Rantaka masuk melalui gerbang bambu yang salah satu sisinya sudah longgar. Di halaman, rumput tumbuh tidak rata. Sebagian tanah tampak keras dan retak karena panas, sementara di bagian lain masih ada genangan kecil sisa hujan semalam.

Ia berjalan menuju kelas enam yang berada di ujung bangunan.

Di depan pintu kelas, sebuah papan kayu tergantung miring. Tulisan di atasnya sudah pudar, tetapi masih dapat dibaca: KELAS VI.

Rantaka masuk dan meletakkan tasnya di atas meja. Meja itu penuh goresan dan tulisan lama. Salah satu kakinya lebih pendek daripada yang lain, sehingga harus disangga dengan potongan kayu kecil agar tidak bergoyang.

Ruang kelas itu tidak luas. Dindingnya dari papan, lantainya dari semen kasar, dan papan tulis di depan kelas telah kusam oleh bekas kapur yang sulit hilang. Di sudut ruangan terdapat lemari kayu tua yang pintunya sulit ditutup. Sebuah peta Indonesia tergantung di dinding, warnanya mulai pudar dan bagian ujung bawahnya sedikit sobek.

Rantaka memandangi peta itu beberapa saat.

Ia belum pernah pergi jauh dari Desa Wanasari. Namun, melalui peta itu, ia tahu bahwa ada banyak pulau, kota, laut, dan tempat-tempat yang belum pernah ia lihat. Peta itu membuat dunia terasa sangat luas, tetapi sekaligus membuatnya ingin terus belajar.

Bel masuk belum berbunyi. Beberapa murid mulai berdatangan. Ada yang membawa bekal, ada yang membawa buku dengan sampul plastik, dan ada yang datang dengan seragam yang sudah kusut. Mereka mengisi ruang kelas dengan suara obrolan dan tawa kecil.

Tidak lama kemudian, seorang perempuan datang dari arah kantor sekolah sambil membawa beberapa buku di dadanya.

Ia mengenakan kebaya sederhana berwarna cokelat muda dan rok panjang hitam. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya tampak tenang, tetapi ada kelelahan yang tidak dapat sepenuhnya disembunyikan dari sorot matanya.

Perempuan itu adalah Bu Laras.

Bu Laras telah mengajar di SD Wanasari selama bertahun-tahun. Ia bukan hanya guru kelas enam, tetapi sering pula membantu kelas lain ketika guru yang lain berhalangan hadir. Ia mengajar membaca, menulis, berhitung, ilmu pengetahuan, dan kadang-kadang mengajarkan anak-anak cara merawat tanaman di halaman sekolah.

Bagi sebagian murid, Bu Laras dikenal tegas. Ia tidak suka melihat anak-anak datang terlambat tanpa alasan. Ia juga tidak membiarkan murid-murid menertawakan teman yang belum bisa membaca atau berhitung. Namun, di balik ketegasannya, ia selalu berbicara dengan suara yang lembut dan tidak pernah mempermalukan siapa pun.

“Selamat pagi, Anak-anak,” ucapnya ketika memasuki kelas.

“Selamat pagi, Bu Laras,” jawab murid-murid serempak.

Bu Laras meletakkan buku-bukunya di meja. Ia memandang satu per satu wajah muridnya. Pandangannya berhenti sebentar pada jendela yang kosong tanpa kaca. Angin pagi masuk dan membuat beberapa lembar kertas di meja depan bergerak.

“Siapa yang tadi pagi menyapu kelas?” tanyanya.

Dua anak di bangku depan mengangkat tangan.

“Terima kasih. Kelas yang bersih membuat kita lebih nyaman belajar.”

Bu Laras mengambil kapur dan menulis di papan tulis. Huruf-huruf putih itu tampak jelas di atas papan yang sudah tua.

Pelajaran Hari Ini: Mengenal Negeri Kita

Rantaka membuka buku tulisnya. Ia memperhatikan tulisan Bu Laras dengan sungguh-sungguh.

“Anak-anak,” kata Bu Laras, “kita tinggal di sebuah desa yang kecil. Tetapi desa kecil bukan berarti dunia kita juga kecil.”

Suasana kelas perlahan menjadi hening.

Bu Laras berjalan ke arah peta Indonesia yang tergantung di dinding. Ia memegang salah satu ujung peta yang sobek, lalu menunjuk pulau-pulau besar dengan penggaris kayu.

“Negeri kita luas. Ada banyak tempat yang dapat kalian kenal melalui buku, pelajaran, dan cerita. Kalian mungkin belum pernah melihatnya langsung. Tetapi belajar akan membuat kalian mengerti bahwa dunia tidak berhenti di ujung jalan desa.”

Rantaka menatap peta itu tanpa berkedip.

Kata-kata Bu Laras seperti membuka jendela yang selama ini tidak ia sadari ada di dalam dirinya. Ia membayangkan laut yang sangat luas, kota-kota yang ramai, dan sekolah-sekolah besar yang memiliki banyak buku. Namun, ia tidak merasa ingin meninggalkan desa begitu saja.

Ia justru membayangkan suatu hari dapat kembali membawa pengetahuan untuk anak-anak di Wanasari.

“Siapa yang bisa menyebutkan alasan kita harus belajar?” tanya Bu Laras.

Beberapa murid saling memandang. Ada yang menunduk. Ada yang tersenyum malu-malu.

Rantaka mengangkat tangan.

“Supaya kita bisa tahu banyak hal, Bu,” jawabnya.

Bu Laras mengangguk. “Betul. Ada lagi?”

Rantaka berpikir sebentar. “Supaya kita bisa memilih jalan hidup kita sendiri.”

Kelas menjadi lebih hening.

Bu Laras memandang Rantaka dengan mata yang hangat. “Jawaban yang baik.”

Ia kembali ke depan kelas. “Belajar bukan hanya agar kalian bisa mendapat nilai. Belajar membuat kalian mampu memahami hidup, mengambil keputusan, dan membantu orang lain.”

Pelajaran berlangsung sampai matahari mulai tinggi. Sesekali angin dari kebun singkong masuk melalui jendela yang kosong. Daun-daun singkong bergoyang di luar, menimbulkan suara gesekan lembut. Dari atap, terdengar bunyi seng yang memuai terkena panas.

Di tengah pelajaran, sebuah tetesan air jatuh dari langit-langit tepat di dekat meja belakang. Bekas hujan semalam rupanya masih tertahan di celah atap. Seorang murid segera memindahkan kursinya sedikit ke samping.

Bu Laras melihatnya, lalu mengambil ember kecil dari sudut kelas dan meletakkannya di bawah titik bocor itu.

Tidak ada yang tertawa.

Semua murid sudah terbiasa.

Rantaka memandangi ember itu cukup lama. Ia merasa sedih melihat sekolah mereka harus menampung air hujan di dalam kelas. Namun, ketika melihat Bu Laras tetap melanjutkan pelajaran dengan tenang, ia kembali membuka bukunya.

Seolah-olah guru mereka ingin mengatakan bahwa bangunan yang tua tidak boleh membuat semangat belajar ikut runtuh.

Saat pelajaran berakhir, Bu Laras menutup bukunya.

“Besok,” katanya, “kalian membawa satu cerita dari rumah. Cerita tentang pekerjaan orang tua, keadaan kampung, atau sesuatu yang kalian lihat dalam perjalanan menuju sekolah. Kita akan belajar menulis dari hal-hal yang dekat dengan hidup kita.”

Murid-murid mengangguk.

Rantaka segera teringat pada dapur rumahnya, asap dari tungku, tangan ibunya yang membungkus nagasari, dan ayahnya yang membersihkan sabit sebelum berangkat bekerja. Ia belum tahu bagaimana menuliskan semua itu. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kehidupan sederhana di rumahnya juga dapat menjadi sebuah cerita.

Bel pulang berbunyi.

Anak-anak keluar dari kelas dengan langkah cepat. Ada yang langsung berlari menuju jalan desa, ada yang berhenti di halaman, dan ada yang membantu membereskan kursi. Rantaka masih duduk sebentar di bangkunya.

Ia memandang papan tulis, peta Indonesia, jendela tanpa kaca, serta ember kecil di bawah atap yang bocor.

SD Wanasari memang tua.

Namun, di tempat itulah Rantaka mulai mengerti bahwa sekolah bukan hanya bangunan. Sekolah adalah tempat seseorang belajar melihat dunia lebih luas daripada batas kampungnya sendiri.

Ia mengambil tasnya, lalu melangkah keluar kelas.

Di luar, kebun singkong bergoyang pelan diterpa angin.

Dan di antara bangunan tua, tanah lapang, serta jalan desa yang sederhana, sebuah keyakinan mulai tumbuh di hati Rantaka: masa depan mungkin belum terlihat, tetapi ia dapat dimulai dari ruang kelas kecil di ujung kebun

singkong.

 

Bab 4 — Sahabat dari Empat Arah Angin

Keesokan harinya, Rantaka datang lebih pagi ke SD Wanasari. Langit masih berwarna pucat ketika ia melewati jalan tanah di samping kebun singkong. Embun menggantung di ujung daun-daun, sementara suara burung kecil terdengar dari pepohonan di sekitar sekolah.

Halaman SD Wanasari masih sepi.

Hanya ada seorang anak perempuan yang duduk di bawah pohon ketapang dekat gerbang. Di pangkuannya terbuka sebuah buku tulis dengan sampul biru. Tangannya bergerak pelan, menulis sesuatu dengan pensil pendek. Rambutnya dikepang dua, dan ujung seragamnya tampak sedikit basah oleh embun.

Rantaka mengenalnya.

Namanya Liris.

Selama ini, Liris duduk dua bangku di depan Rantaka. Ia tidak banyak bicara di kelas, tetapi selalu menjadi orang pertama yang berani menjawab pertanyaan Bu Laras. Jika ada teman yang diejek, Liris sering kali menjadi orang yang paling cepat membela. Suaranya tidak keras, tetapi kata-katanya tegas.

Rantaka mendekat dengan langkah perlahan.

“Kau datang pagi sekali,” katanya.

Liris menutup buku tulisnya setengah. “Kau juga.”

“Aku ingin menyapu kelas sebelum teman-teman datang.”

“Aku ingin menulis sebelum halaman sekolah ramai.”

Rantaka melirik buku di pangkuannya. “Kau menulis apa?”

Liris tersenyum tipis. “Puisi.”

“Puisi?”

“Iya. Tentang embun.”

Rantaka mengangguk, meski sebenarnya ia tidak sepenuhnya mengerti bagaimana embun dapat menjadi puisi.

Liris membuka kembali bukunya. Ia membaca beberapa baris dengan suara pelan.

Embun jatuh di daun singkong,
membawa pagi ke halaman sekolah.
Kami datang dengan sepatu berlumpur,
tetapi membawa langit di dalam kepala.

Rantaka terdiam.

Ia belum pernah mendengar teman seusianya merangkai kata seperti itu. Baginya, embun hanya air kecil yang membuat sandal licin. Daun singkong hanya daun yang tumbuh di kebun dekat sekolah. Namun, melalui kata-kata Liris, semua itu terdengar berbeda.

“Bagus,” kata Rantaka.

Liris memandangnya, seolah tidak yakin. “Benarkah?”

“Benar. Aku jadi seperti melihat halaman sekolah dari tempat lain.”

Liris tersenyum. “Bu Laras bilang, kalau kita mau memperhatikan, hal kecil pun bisa menjadi cerita.”

Rantaka teringat tugas dari Bu Laras: membawa cerita dari rumah. Ia membuka tas dan mengeluarkan buku tulisnya.

“Aku menulis tentang dapur rumahku,” katanya. “Tentang asap dan kue buatan Ibu.”

“Boleh aku baca?”

Rantaka ragu sejenak. Tulisan tangannya tidak serapi milik Liris. Kalimatnya pun pendek-pendek. Namun, ia menyerahkan buku itu.

Liris membacanya perlahan. Setelah selesai, ia tidak langsung mengembalikan buku tersebut.

“Ini bagus,” katanya.

“Tidak seperti puisimu.”

“Cerita tidak harus seperti puisi. Ceritamu membuat aku bisa membayangkan dapur rumahmu.”

Rantaka menerima kembali bukunya. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa cerita tentang rumah sederhana mereka tidak perlu disembunyikan.

Tidak lama kemudian, suara roda berderit terdengar dari arah jalan. Seorang anak laki-laki mendorong sepeda tua yang rantainya terlepas. Di bagian belakang sepeda itu tergantung tas sekolah yang dibuat dari karung beras bekas. Anak itu bertubuh kurus, berambut sedikit panjang, dan wajahnya selalu tampak tenang.

Namanya Banyu.

Banyu jarang menjadi pusat perhatian. Ia lebih sering duduk di dekat jendela, memperhatikan benda-benda di sekitarnya. Jika pensil temannya patah, ia dapat membuatkan pegangan dari ranting kecil. Jika kursi kelas goyah, ia tahu cara menyelipkan potongan kayu agar tidak bergerak. Banyak anak menganggap Banyu aneh karena ia senang membawa kawat, baut, dan potongan bambu kecil di dalam tasnya.

Pagi itu, ia sedang membetulkan rantai sepedanya.

Rantaka dan Liris mendekat.

“Rusak lagi?” tanya Rantaka.

Banyu mengangguk tanpa menoleh. “Rantainya longgar.”

“Kau bisa memperbaikinya sendiri?” tanya Liris.

“Bisa. Tapi tanganku jadi hitam.”

Liris tertawa kecil. “Memang rantai sepeda bisa diperbaiki tanpa tangan hitam?”

Banyu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menarik rantai sepeda ke tempatnya. Setelah beberapa saat, ia memutar pedal perlahan. Rantai itu kembali bergerak.

“Nah,” katanya singkat.

Rantaka memperhatikan cara Banyu bekerja. “Kau belajar dari siapa?”

“Dari paman. Dulu dia punya sepeda tua. Kalau rusak, dia tidak pernah langsung membuangnya.”

“Kalau besar nanti, kau mau jadi apa?” tanya Liris.

Banyu memandang roda sepedanya. “Aku ingin membuat sesuatu yang berguna.”

“Seperti apa?”

“Entahlah. Mungkin alat untuk mengambil air. Mungkin alat untuk membantu orang di kebun. Mungkin apa saja yang tidak membuat orang bekerja terlalu berat.”

Rantaka dan Liris saling pandang. Jawaban Banyu terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang kuat di dalamnya.

Sebelum mereka sempat berbicara lagi, suara langkah kaki berlari terdengar dari arah jalan. Seorang anak laki-laki datang dengan napas terengah-engah. Seragamnya tidak dimasukkan dengan rapi. Kancing bajunya tidak lengkap. Di pundaknya tergantung tas yang tampak berat, sementara di tangan kirinya ia membawa ember kecil.

Namanya Jagra.

Jagra dikenal sebagai anak yang sering terlambat. Ia juga sering membuat gaduh di kelas. Jika ada anak yang menyembunyikan kapur atau menggambar wajah guru di belakang buku, banyak orang langsung menuduh Jagra. Kadang tuduhan itu benar, tetapi kadang tidak.

Pagi itu, ia berhenti di dekat mereka sambil menaruh ember di tanah.

“Kalian sudah datang sejak kapan?” tanyanya.

“Sejak sebelum matahari naik,” jawab Liris.

Jagra menghela napas. “Aku dari sungai.”

“Untuk apa membawa ember ke sekolah?” tanya Rantaka.

Jagra menatap ember itu. Di dalamnya tidak ada ikan, hanya beberapa tetes air dan daun kecil yang menempel di dasar.

“Tadi bantu Bapak,” katanya pelan. “Jaringnya tersangkut di batu. Aku harus ikut menarik.”

Rantaka baru menyadari bahwa tangan Jagra berbau sungai dan sisik ikan. Kukunya dipenuhi lumpur. Wajahnya terlihat lelah, meski ia tetap berusaha tersenyum.

“Setiap pagi kau membantu ayahmu?” tanya Rantaka.

“Kalau tangkapan sedikit, iya. Bapak tidak bisa sendiri.”

Liris memandang Jagra dengan wajah yang lebih lembut dari biasanya. “Makanya kau sering terlambat?”

Jagra mengangkat bahu. “Mungkin.”

“Kenapa tidak bilang kepada Bu Laras?”

“Untuk apa? Nanti tetap saja aku dianggap anak yang tidak bisa bangun pagi.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Rantaka teringat ayahnya yang bekerja dari ladang ke ladang. Liris mungkin juga memiliki cerita yang belum mereka ketahui. Banyu membawa sepeda tua dan potongan benda-benda rusak. Jagra datang dari sungai dengan tangan yang masih berbau ikan.

Mereka semua datang dari arah yang berbeda.

Rantaka dari ujung jalan tanah dekat sawah. Liris dari rumah kecil di belakang balai desa. Banyu dari dusun dekat kebun bambu. Jagra dari tepi sungai.

Namun, pagi itu, mereka berdiri di halaman sekolah yang sama.

Bel masuk berbunyi.

Mereka berjalan menuju kelas bersama-sama. Di dalam kelas, Bu Laras meminta setiap murid membacakan cerita yang telah dibawa dari rumah. Ada yang bercerita tentang membantu orang tua menanam padi. Ada yang menceritakan adik yang sakit. Ada yang hanya membaca dua kalimat dengan suara gemetar.

Ketika giliran Rantaka, ia berdiri dan membaca cerita tentang dapur rumahnya yang selalu berasap.

Ia menceritakan tungku tanah liat, daun pisang, nagasari buatan ibunya, serta ayahnya yang tetap bekerja meski tidak memiliki sawah sendiri. Suaranya pada awalnya pelan. Namun, ketika ia melihat Bu Laras mengangguk dan Liris tersenyum dari bangku depan, ia mulai membaca lebih jelas.

Setelah Rantaka selesai, Bu Laras berkata, “Cerita yang baik tidak selalu tentang tempat yang jauh. Cerita yang baik adalah cerita yang ditulis dengan jujur.”

Lalu Liris membacakan puisinya tentang embun dan halaman sekolah. Banyu bercerita tentang sepeda tua yang selalu ia perbaiki. Jagra, yang semula enggan maju, akhirnya berdiri dan menceritakan sungai tempat ayahnya mencari ikan.

Ketika Jagra selesai, kelas tidak tertawa.

Bu Laras hanya berkata, “Terima kasih karena sudah berbagi.”

Sepulang sekolah, Rantaka tidak langsung pulang. Ia duduk di bawah pohon beringin tua yang tumbuh di belakang bangunan sekolah. Pohon itu besar dan rindang. Akar-akarnya menjulur ke tanah seperti tangan-tangan tua yang memegang halaman sekolah.

Liris datang membawa buku tulisnya. Banyu membawa ranting dan sepotong kawat. Jagra datang terakhir, masih dengan ember kecil yang kini kosong.

“Kalian tidak pulang?” tanya Rantaka.

“Sebentar lagi,” jawab Liris.

Banyu duduk di dekat akar pohon. Ia mulai membentuk kawat menjadi lingkaran kecil.

Jagra menatap langit yang tampak biru di sela daun beringin. “Kalian percaya tidak,” katanya tiba-tiba, “kalau anak-anak seperti kita bisa punya cita-cita besar?”

Liris memandangnya. “Kenapa tidak?”

“Karena kita tinggal di desa kecil,” jawab Jagra. “Karena rumah kita bukan rumah besar. Karena orang-orang selalu bilang nanti kita juga akan bekerja seperti orang tua kita.”

Rantaka tidak langsung menjawab. Ia memikirkan rumahnya, dapur yang selalu berasap, tangan ayahnya yang kasar, dan tas sekolahnya yang telah dijahit berkali-kali.

“Aku ingin jadi guru,” katanya akhirnya. “Bukan karena aku tidak ingin membantu orang tua. Tapi aku ingin anak-anak di desa ini tetap bisa belajar.”

Liris tersenyum. “Aku ingin jadi penulis. Aku ingin menulis cerita tentang desa kita, supaya orang tahu bahwa di sini ada banyak hal yang penting.”

Banyu mengangkat kawat kecil yang telah dibentuknya. “Aku ingin membuat alat yang bisa membantu orang.”

Jagra menatap mereka satu per satu. Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak tampak seperti anak yang suka membuat gaduh.

“Aku ingin punya usaha ikan,” katanya. “Supaya Bapak tidak harus pergi ke sungai setiap pagi kalau air sedang deras.”

Angin bergerak pelan di antara daun-daun beringin.

Keempat anak itu duduk dalam diam beberapa saat. Mereka belum memiliki rencana. Mereka belum tahu bagaimana cara mencapai semua cita-cita itu. Mereka hanya tahu bahwa di dalam diri masing-masing, ada keinginan yang selama ini jarang mereka ucapkan.

Namun, siang itu, di bawah pohon beringin tua, mereka tidak lagi merasa sendirian.

Rantaka memandang tiga sahabat barunya.

Mereka datang dari empat arah angin, membawa cerita, luka, dan mimpi yang berbeda.

Tetapi sejak hari itu, jalan mereka mulai bertemu.

 

Bab 5 — Nama yang Dipilih Langit

Siang itu, setelah bel pulang berbunyi, halaman SD Wanasari perlahan kembali sepi. Anak-anak berlarian menuju jalan tanah, sebagian membawa sandal di tangan agar tidak terkena lumpur, sebagian lagi berjalan sambil bercanda di antara kebun singkong. Suara mereka semakin lama semakin jauh, lalu hilang di balik pematang sawah dan rumah-rumah warga.

Namun, Rantaka belum pulang.

Ia masih duduk di bawah pohon beringin tua di belakang sekolah. Pohon itu berdiri tidak jauh dari pagar bambu yang mulai miring. Batangnya besar, penuh guratan, dan akar-akarnya menjulur ke tanah seperti jari-jari tua yang memeluk halaman sekolah. Di bawah naungannya, udara terasa lebih sejuk meski matahari sedang tinggi.

Tidak lama kemudian, Liris datang membawa buku tulis bersampul biru. Ia duduk di atas akar beringin yang menonjol dari tanah. Banyu menyusul dengan sepeda tuanya, lalu menaruh tas karung di samping batang pohon. Jagra datang terakhir. Ia membawa sepotong singkong rebus yang dibungkus daun pisang.

“Kalian benar-benar belum pulang,” kata Jagra sambil duduk.

“Kau juga,” jawab Liris.

Jagra mengangkat singkong rebus di tangannya. “Aku pulang sebentar tadi. Ibu menyuruhku membawa ini kalau aku mau kembali ke sekolah.”

“Untuk apa kembali?” tanya Banyu.

Jagra mengangkat bahu. “Entahlah. Kalian masih di sini.”

Rantaka tersenyum kecil. Sejak percakapan mereka siang tadi, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Sebelumnya, mereka hanya teman sekelas yang duduk di bangku masing-masing. Mereka saling tahu nama, saling melihat setiap hari, tetapi belum benar-benar mengenal cerita yang dibawa masing-masing dari rumah.

Kini, setelah mendengar tentang dapur Rantaka, puisi Liris, sepeda tua Banyu, dan sungai tempat Jagra membantu ayahnya mencari ikan, jarak di antara mereka terasa lebih dekat.

Angin bertiup dari arah kebun singkong. Daun-daun beringin bergerak pelan di atas kepala mereka. Dari kejauhan, terdengar suara kambing dan bunyi kapak dari rumah warga.

Liris membuka buku tulisnya.

“Aku tadi memikirkan sesuatu,” katanya.

“Apa?” tanya Rantaka.

“Kita semua punya cita-cita. Tapi kita sering hanya menyimpannya sendiri.”

Jagra menatap tanah. “Karena kalau cerita ke orang lain, kadang mereka malah tertawa.”

“Tidak semua orang,” jawab Liris.

“Tidak semua,” ulang Rantaka.

Banyu yang sejak tadi memainkan sepotong kawat di tangannya akhirnya berbicara. “Kalau cita-cita hanya disimpan sendiri, mungkin mudah hilang.”

Mereka memandang Banyu.

Ia melanjutkan, “Seperti baut kecil. Kalau diletakkan sembarangan, nanti hilang. Tapi kalau disimpan di kotak, kita bisa menemukannya lagi saat diperlukan.”

Liris tersenyum. “Itu cara Banyu menjelaskan mimpi.”

“Aku tidak pandai bicara,” jawab Banyu pelan.

“Tapi kau pandai membuat orang mengerti,” kata Rantaka.

Jagra menggigit singkong rebusnya, lalu berkata, “Jadi, maksud kalian kita harus punya kotak untuk menyimpan cita-cita?”

“Bukan kotak sungguhan,” jawab Liris. “Mungkin kelompok.”

“Kelompok?” Jagra mengernyitkan dahi. “Kelompok apa?”

Rantaka menatap tiga sahabatnya. Ia belum pernah menjadi bagian dari kelompok seperti itu. Selama ini, setelah pulang sekolah, ia membantu orang tua, mengantar kue, memberi makan kambing, atau belajar di bawah lampu minyak. Ia tidak pernah membayangkan bahwa ia dapat memiliki teman yang mau mendengar mimpinya.

“Kita bisa belajar bersama,” kata Rantaka perlahan. “Kalau ada yang tidak mengerti pelajaran, kita saling membantu. Kalau ada yang ingin menulis, Liris bisa membantu. Kalau ada barang rusak, Banyu bisa mengajarkan cara memperbaikinya. Kalau ada yang ingin tahu tentang sungai, Jagra bisa bercerita.”

Jagra tertawa kecil. “Aku tidak tahu apakah sungai bisa jadi pelajaran.”

“Bisa,” kata Rantaka. “Semua yang kita jalani bisa jadi pelajaran.”

Liris menatap langit di sela daun-daun beringin. Langit siang itu berwarna biru terang. Tidak ada awan gelap. Cahaya matahari jatuh di halaman sekolah yang sepi dan membuat daun-daun singkong di kejauhan tampak berkilau.

“Kalau kita membuat kelompok,” kata Liris, “kita harus punya nama.”

“Nama apa?” tanya Banyu.

Jagra langsung menjawab, “Kelompok Empat Anak Hebat.”

Liris menahan tawa. “Terlalu panjang.”

“Kelompok Sungai dan Sawah,” kata Rantaka.

“Kalau nanti ada anak dari dusun lain, namanya jadi tidak cocok,” jawab Banyu.

Mereka kembali diam. Nama bukan perkara mudah. Nama akan menjadi sesuatu yang mereka sebut saat berkumpul, sesuatu yang mungkin mereka tulis di buku, atau sesuatu yang kelak mengingatkan mereka pada hari pertama mereka berani berbicara tentang mimpi.

Liris masih memandangi langit.

“Bagaimana kalau Langit Biru?” katanya.

Rantaka menoleh. “Langit Biru?”

Liris mengangguk. “Langit ada di atas semua tempat. Di atas rumah kita, di atas sawah, di atas sungai, dan di atas sekolah ini. Kita mungkin datang dari tempat yang berbeda, tetapi kita melihat langit yang sama.”

Banyu menatap ke atas. “Langit juga luas.”

“Dan tidak punya pagar,” tambah Rantaka.

Jagra menyandarkan punggungnya pada batang beringin. “Kalau namanya Langit Biru, berarti cita-cita kita boleh setinggi langit?”

“Boleh,” jawab Liris. “Tidak ada yang boleh membatasi hanya karena kita tinggal di desa.”

Kalimat itu membuat Rantaka teringat pada ayahnya. Jangan hanya karena rumah kita kecil, lalu kau menganggap mimpimu juga harus kecil.

Ia memandang langit lagi.

Langit biru di atas Desa Wanasari memang tampak jauh. Tetapi tidak ada yang melarang seseorang untuk memandangnya, menyebut namanya, dan menjadikannya arah.

“Aku setuju,” kata Rantaka.

“Aku juga,” kata Banyu.

Jagra mengangguk. “Baiklah. Mulai hari ini, kita Kelompok Langit Biru.”

Liris membuka halaman baru dalam buku tulisnya. Dengan pensil pendek, ia menulis pelan-pelan:

LANGIT BIRU
Kelompok Belajar dan Mimpi Anak Desa Wanasari

Ia lalu menyerahkan buku itu kepada Rantaka.

“Tuliskan cita-citamu,” katanya.

Rantaka menerima pensil. Tangannya sempat ragu ketika menyentuh halaman putih itu. Namun, ia kemudian menulis dengan huruf yang tidak terlalu rapi:

Aku ingin menjadi guru.

Ia menyerahkan buku itu kepada Liris.

Liris menulis:

Aku ingin menjadi penulis.

Banyu menerima buku itu berikutnya. Ia menulis lebih kecil daripada yang lain:

Aku ingin membuat alat yang membantu banyak orang.

Terakhir, Jagra memegang pensil cukup lama. Wajahnya tampak serius, seolah ia sedang memilih kata yang tepat.

Lalu ia menulis:

Aku ingin membuat usaha perikanan agar keluargaku tidak selalu kesulitan.

Setelah itu, mereka memandangi tulisan-tulisan tersebut.

Empat cita-cita sederhana. Empat kalimat yang ditulis oleh anak-anak yang belum tahu seberapa panjang jalan di depan mereka. Namun, bagi mereka, halaman itu terasa seperti sebuah janji.

Rantaka mengambil sepotong ranting kecil dari tanah.

“Kita harus punya tanda,” katanya.

“Tanda apa?” tanya Jagra.

“Tanda bahwa kita benar-benar akan saling membantu.”

Banyu mengambil kawat kecil dari sakunya. Ia membentuknya menjadi empat lingkaran yang saling terhubung. Bentuknya tidak sempurna, tetapi cukup kuat.

“Seperti ini,” katanya. “Kalau satu lepas, yang lain ikut berubah. Tapi kalau saling terikat, tidak mudah tercerai.”

Liris memandang kawat itu dengan mata berbinar. “Itu bagus.”

Jagra mengulurkan tangan. “Kalau begitu, kita janji?”

Rantaka meletakkan tangannya di atas tangan Jagra. Liris menyusul. Banyu meletakkan tangannya paling atas.

“Kita janji,” kata Rantaka.

“Belajar bersama,” kata Liris.

“Tidak menertawakan mimpi teman,” kata Banyu.

“Dan tidak meninggalkan teman kalau sedang susah,” kata Jagra.

Mereka saling memandang.

Angin kembali berembus. Daun-daun beringin bergesekan, menimbulkan suara seperti bisikan panjang. Di kejauhan, matahari mulai bergerak turun. Bayangan pohon semakin memanjang di tanah.

Rantaka berdiri lebih dahulu. Ia menepuk debu di celananya.

“Aku harus pulang. Ibu menunggu bantuan mengantar kue.”

“Aku juga harus membantu Bapak di sungai,” kata Jagra.

Banyu mendorong sepedanya. “Aku harus memperbaiki pintu kandang ayam.”

Liris menutup buku tulisnya dan menyimpannya di dada. “Besok kita bertemu lagi di sini.”

“Untuk belajar?” tanya Rantaka.

“Untuk belajar,” jawab Liris. “Dan untuk menjaga Langit Biru.”

Mereka berjalan meninggalkan pohon beringin melalui arah yang berbeda.

Rantaka menuju jalan tanah ke arah sawah. Liris berjalan ke belakang balai desa. Banyu mendorong sepeda tuanya menuju kebun bambu. Jagra berlari ke arah sungai dengan ember kecil di tangannya.

Mereka benar-benar datang dari empat arah angin.

Tetapi sejak siang itu, mereka membawa satu nama yang sama.

Di atas Desa Wanasari, langit biru terbentang luas.

Dan di bawahnya, empat anak desa mulai percaya bahwa mimpi mereka tidak harus berhenti di batas kampung.

 

Bab 6 — Buku-Buku dari Gudang Tua

Sejak nama Langit Biru dipilih di bawah pohon beringin, ada kebiasaan baru yang tumbuh di antara Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra.

Mereka tidak selalu dapat berkumpul setiap hari. Rantaka harus membantu ibunya mengantar kue dan memberi makan kambing. Liris sering diminta menjaga adiknya ketika ibunya pergi ke pasar. Banyu membantu pamannya memperbaiki peralatan rumah tangga warga. Sementara Jagra harus bangun pagi untuk ikut ayahnya memeriksa jaring di sungai.

Namun, jika waktu memungkinkan, mereka selalu menyempatkan diri bertemu setelah pelajaran selesai.

Kadang mereka belajar di bawah pohon beringin. Kadang mereka duduk di teras kelas sambil berbagi buku. Pada hari-hari tertentu, mereka hanya berbicara tentang cita-cita dan hal-hal kecil yang terjadi di rumah masing-masing.

Sore itu, matahari belum terlalu rendah ketika Bu Laras memanggil Rantaka yang sedang membantu menyusun kursi di dalam kelas.

“Rantaka,” katanya, “tolong panggil Liris, Banyu, dan Jagra. Ibu perlu bantuan kalian.”

Rantaka segera keluar kelas. Ia menemukan Liris sedang menunggu di dekat pohon beringin, Banyu membetulkan roda sepedanya, dan Jagra berdiri di dekat keran air sambil membasuh tangan.

“Bu Laras memanggil kita,” kata Rantaka.

“Untuk apa?” tanya Jagra.

“Aku tidak tahu.”

Mereka berjalan bersama menuju kantor sekolah. Bangunan kantor itu lebih kecil daripada ruang kelas. Dindingnya dari papan kayu, dengan satu meja besar, dua kursi tua, dan lemari yang penuh berkas. Di belakang kantor, terdapat sebuah bangunan kecil yang hampir tertutup semak.

Bangunan itu tampak seperti rumah yang telah lama ditinggalkan.

Atapnya rendah dan berdebu. Pintu kayunya berwarna cokelat gelap, tetapi catnya sudah banyak mengelupas. Di bagian depan, terdapat gembok tua yang berkarat. Rumput liar tumbuh hingga menutupi sebagian jalan menuju pintu.

“Itu apa, Bu?” tanya Liris.

“Gudang sekolah,” jawab Bu Laras.

“Gudang?” Jagra mengernyitkan dahi. “Memangnya ada apa di dalam?”

Bu Laras memandang pintu gudang itu cukup lama sebelum menjawab.

“Dulu, sebelum sekolah ini kekurangan ruang dan banyak barang rusak, gudang itu dipakai untuk menyimpan buku, alat peraga, dan beberapa perlengkapan belajar. Tetapi sudah lama tidak dibuka.”

“Kenapa tidak dibuka?” tanya Banyu.

“Karena pintunya macet, banyak barang berserakan, dan tidak ada yang sempat membereskannya.”

Jagra menatap pintu gudang dengan rasa ingin tahu. “Kalau ada buku, kenapa tidak dipakai?”

“Itulah sebabnya Ibu memanggil kalian,” kata Bu Laras. “Ibu ingin melihat apakah masih ada buku yang dapat diselamatkan.”

Rantaka memandangi bangunan itu. Semak-semak di sekelilingnya memang tinggi. Tidak ada anak yang biasa bermain di sana. Selama ini, gudang itu hanya terlihat seperti bagian sekolah yang tidak penting.

Namun, ketika mendengar kata buku, dadanya terasa berdebar.

Bu Laras mengambil sebuah kunci besar dari saku bajunya. Kunci itu sudah kusam dan warnanya hampir sama dengan gembok di pintu gudang.

“Kalau kalian bersedia membantu,” katanya, “kita mulai dari membersihkan jalan masuknya.”

“Kami bersedia, Bu,” jawab Rantaka.

Liris mengangguk. Banyu segera mengambil sebatang kayu untuk menyingkirkan rumput. Jagra menggulung lengan seragamnya.

Mereka mulai bekerja.

Rantaka mencabut rumput liar di dekat pintu. Tanahnya lembek dan penuh akar kecil. Liris mengumpulkan daun-daun kering ke dalam karung bekas. Banyu memeriksa papan kayu yang menutupi sebagian sisi gudang. Ia menemukan beberapa paku longgar dan segera mengencangkannya dengan batu kecil. Jagra, yang paling kuat menarik semak, bekerja tanpa banyak bicara sambil sesekali mengeluh ketika tangannya terkena duri.

“Semak ini seperti sengaja menjaga gudang,” katanya.

“Bukan menjaga,” jawab Liris. “Mungkin hanya menunggu ada yang peduli.”

Jagra menatap Liris. “Kau selalu bisa membuat rumput terdengar seperti punya perasaan.”

Liris tersenyum kecil. “Itu karena kau jarang mendengarkan rumput.”

Setelah jalan masuk terbuka, Bu Laras memasukkan kunci ke dalam gembok. Ia memutarnya perlahan.

Sekali.

Dua kali.

Gembok itu tidak bergerak.

Bu Laras mencoba lagi. Tangannya sedikit gemetar karena harus menekan kunci lebih kuat. Banyu mendekat.

“Boleh saya lihat, Bu?” tanyanya.

Bu Laras menyerahkan kunci itu.

Banyu memeriksa lubang gembok, lalu mengambil sedikit minyak dari rantai sepedanya yang masih tersisa di kain kecil. Ia mengoleskannya perlahan pada bagian dalam gembok. Setelah menunggu beberapa saat, ia kembali memutar kunci.

Terdengar bunyi kecil.

Klik.

Gembok itu terbuka.

Jagra bersorak pelan. “Banyu memang cocok jadi tukang pembuka gudang.”

“Bukan tukang,” kata Banyu. “Hanya gemboknya berkarat.”

Bu Laras tersenyum. “Tetap saja, terima kasih.”

Pintu gudang didorong perlahan.

Debu langsung beterbangan dari dalam. Bau kayu tua, kertas lembap, dan tanah memenuhi udara. Rantaka menutup hidung dengan lengan bajunya. Liris mundur satu langkah, sementara Jagra mengibaskan tangan di depan wajahnya.

Cahaya dari luar masuk melalui pintu yang terbuka. Sedikit demi sedikit, isi gudang mulai terlihat.

Di dalamnya terdapat meja-meja rusak yang ditumpuk di sudut. Ada kursi patah, papan tulis kecil dengan gagang retak, beberapa kotak kayu, dan tumpukan kardus yang sudah hampir hancur. Di bagian belakang, sebuah rak besar berdiri miring. Rak itu penuh dengan buku-buku yang tertutup debu.

Rantaka melangkah masuk lebih dahulu.

Ia mendekati rak tersebut dengan hati-hati. Jarinya menyentuh punggung sebuah buku yang sudah kusam. Ketika ia menariknya, debu jatuh seperti hujan kecil.

Buku itu berjudul Cerita dari Nusantara.

Rantaka membuka halaman pertama. Kertasnya telah menguning, tetapi tulisan di dalamnya masih dapat dibaca. Ada gambar gunung, laut, rumah adat, dan anak-anak dari berbagai daerah.

“Bu Laras,” katanya pelan, “buku ini masih bisa dibaca.”

Bu Laras mendekat. Matanya tampak berbinar ketika melihat buku di tangan Rantaka.

“Masih banyak yang mungkin dapat dipakai,” katanya. “Kita harus memisahkan mana yang rusak dan mana yang masih bisa diselamatkan.”

Mereka mulai bekerja dengan lebih bersemangat.

Liris mengambil buku-buku cerita dan menyusunnya berdasarkan ukuran. Ia menemukan beberapa buku puisi anak-anak, buku dongeng rakyat, dan buku kumpulan cerita pendek. Ia membuka salah satu buku, lalu membaca kalimat pertama dengan wajah penuh perhatian.

“Buku ini seperti menyimpan banyak suara,” katanya.

Banyu memeriksa meja-meja rusak. Ia menemukan satu meja kecil yang kakinya patah. Setelah melihat beberapa saat, ia berkata bahwa meja itu mungkin masih dapat diperbaiki jika diberi penyangga dari kayu.

Jagra mengangkat kardus-kardus kosong dan menyapu lantai. Ia juga menemukan sebuah globe kecil yang permukaannya sudah pudar.

“Ini bola dunia?” tanyanya sambil mengangkat benda itu.

“Globe,” jawab Bu Laras. “Dulu dipakai untuk mengenalkan bentuk bumi.”

Jagra memutarnya pelan. “Ternyata dunia kecil kalau dibuat begini.”

“Dunia tidak kecil,” kata Rantaka sambil membuka buku lain. “Kita saja yang belum mengenalnya.”

Jagra menatap Rantaka, lalu tersenyum. “Kau mulai bicara seperti guru.”

Rantaka tidak menjawab. Namun, dalam hatinya, ia merasa senang.

Di bagian paling bawah rak, Banyu menemukan gulungan besar yang diikat dengan tali rafia. Ia membawanya ke dekat pintu, lalu membuka ikatannya perlahan.

Ternyata itu sebuah peta Indonesia.

Peta itu jauh lebih besar daripada peta yang tergantung di kelas enam. Warnanya mulai pudar dan bagian pinggirnya robek. Namun, pulau-pulau besar masih terlihat jelas. Ada garis-garis laut, nama-nama kota, dan gambar kecil yang menunjukkan hasil bumi dari berbagai daerah.

Bu Laras memandang peta itu dengan mata yang berkaca-kaca.

“Dulu,” katanya pelan, “peta ini dipakai saat sekolah masih ramai. Anak-anak berdiri berkeliling, lalu menunjuk pulau yang ingin mereka ketahui.”

Rantaka mendekat. Ia memandangi peta itu seolah sedang melihat jendela besar yang baru dibuka.

Selama ini, dunia baginya adalah jalan tanah, sawah, rumah kayu, sungai, dan kebun singkong. Namun, peta itu memperlihatkan bahwa ada pulau-pulau lain di luar sana. Ada tempat-tempat yang namanya belum pernah ia dengar. Ada laut yang lebih luas daripada sungai tempat Jagra mencari ikan. Ada gunung yang mungkin lebih tinggi daripada bukit di belakang desa.

“Bu,” tanya Rantaka, “apakah orang dari desa kecil bisa pergi melihat tempat-tempat itu?”

Bu Laras menoleh kepadanya.

“Bisa,” jawabnya. “Tetapi sebelum kaki kita pergi jauh, pikiran kita harus lebih dulu berani berjalan.”

Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.

Ia kembali memandangi peta. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya ingin tahu nama-nama pulau. Ia ingin mengerti bagaimana orang hidup di sana, bagaimana sekolah mereka, apa yang mereka baca, dan bagaimana mereka memandang dunia.

Menjelang sore, gudang itu mulai berubah.

Lantai yang semula tertutup debu kini terlihat lebih bersih. Buku-buku yang masih layak dibaca telah dipisahkan dalam beberapa tumpukan. Meja yang masih dapat diperbaiki diletakkan di dekat dinding. Peta Indonesia dibentangkan di atas meja panjang agar tidak kembali terlipat.

Keringat membasahi seragam mereka. Tangan mereka kotor oleh debu. Namun, tidak seorang pun mengeluh.

Bu Laras berdiri di tengah gudang dan memandang keempat anak itu.

“Kalian sudah melakukan sesuatu yang penting hari ini,” katanya.

“Kami hanya membersihkan gudang, Bu,” jawab Jagra.

“Tidak,” kata Bu Laras. “Kalian sedang membuka pintu yang sudah lama tertutup.”

Liris memegang sebuah buku puisi di dadanya. Banyu berdiri di dekat meja rusak yang ingin ia perbaiki. Jagra masih membawa globe kecil. Rantaka menggenggam buku Cerita dari Nusantara.

Mereka saling memandang.

Di bawah cahaya sore yang masuk melalui pintu gudang, tempat tua itu tidak lagi terasa seperti ruang yang dilupakan. Gudang itu mulai terasa seperti sebuah ruang baru yang penuh kemungkinan.

Sebelum pulang, Bu Laras berkata, “Mulai besok, kalian boleh menggunakan buku-buku ini untuk belajar. Tetapi ada satu syarat.”

“Apa, Bu?” tanya Rantaka.

“Kalian harus menjaganya. Buku tidak hanya untuk dibaca sendiri. Buku harus membuat kita ingin berbagi pengetahuan dengan orang lain.”

Rantaka mengangguk dengan sungguh-sungguh.

Saat keluar dari gudang, ia menoleh sekali lagi ke arah rak-rak buku dan peta besar yang terbentang di atas meja. Ia merasa seolah baru menemukan sesuatu yang selama ini ia cari, meski belum dapat menjelaskan apa namanya.

Mungkin itu pengetahuan.

Mungkin itu keberanian.

Atau mungkin itu keyakinan bahwa jalan hidup tidak harus berhenti di ujung desa.

Di halaman sekolah, Liris berjalan di sampingnya.

“Besok kita membaca buku yang mana?” tanyanya.

Rantaka tersenyum. “Semua yang bisa kita baca.”

Di atas mereka, langit sore mulai berubah keemasan.

Dan dari gudang tua yang hampir dilupakan, Langit Biru menemukan pintu pertama menuju dunia yang lebih luas.

 

BAGIAN II

KABAR BURUK DARI KECAMATAN

Bab 7 — Surat Berstempel Merah

Pagi itu, SD Wanasari tampak seperti biasanya.

Anak-anak datang melalui jalan tanah dengan seragam putih merah yang beragam keadaannya. Ada yang masih bersih dan rapi, ada yang bagian lutut celananya telah ditambal, ada pula yang membawa buku dalam kantong plastik agar tidak terkena embun atau hujan. Dari kebun singkong di belakang sekolah, angin membawa aroma tanah basah dan daun-daun muda.

Di bawah pohon beringin, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra duduk mengelilingi beberapa buku dari gudang tua.

Banyu sedang membaca buku pengetahuan alam tentang air. Ia memperhatikan gambar sungai, hujan, dan awan dengan wajah serius. Liris membuka buku kumpulan cerita rakyat. Sesekali ia mencatat kata-kata yang menurutnya indah di buku tulis birunya. Jagra memegang globe kecil yang kemarin ditemukan di gudang. Ia memutarnya perlahan, lalu menunjuk beberapa bagian dengan ujung jarinya.

“Kalau bumi benar-benar bulat,” kata Jagra, “kenapa kita tidak jatuh?”

Banyu menatapnya. “Karena ada gaya tarik bumi.”

“Gaya tarik bumi itu seperti apa?”

“Seperti ketika kau menarik jaring ikan dari sungai. Ada sesuatu yang menahan.”

Jagra mengernyitkan dahi. “Tapi jaring bisa putus.”

“Bumi tidak memakai tali,” jawab Banyu.

Liris menahan tawa. “Kalian berdua bisa membahas bumi sampai bel masuk berbunyi.”

Rantaka tersenyum sambil membuka buku Cerita dari Nusantara. Sejak menemukan buku-buku dari gudang tua, ia merasa hari-hari di sekolah menjadi lebih hidup. Ada banyak hal yang ingin ia ketahui. Ada banyak cerita yang ingin ia baca. Bahkan kelas tua dengan jendela tanpa kaca dan atap yang bocor itu tidak lagi terasa sesempit sebelumnya.

Namun, pagi itu, sesuatu yang tidak biasa terjadi.

Dari arah jalan desa, seorang lelaki bersepeda datang menuju halaman sekolah. Ia mengenakan seragam cokelat muda dan membawa tas hitam di pundaknya. Di bagian depan sepedanya tergantung map besar berwarna cokelat. Wajahnya tampak serius. Ia tidak menyapa anak-anak yang sedang bermain, hanya langsung menuju ruang kantor sekolah.

Beberapa murid mulai memperhatikannya.

“Itu siapa?” tanya Jagra.

Rantaka menggeleng.

Liris berdiri sedikit untuk melihat lebih jelas. “Sepertinya pegawai kecamatan.”

Banyu menutup bukunya. “Mungkin membawa surat.”

Kalimat itu terdengar biasa, tetapi entah mengapa Rantaka merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya.

Lelaki itu turun dari sepeda dan berjalan menuju kantor sekolah. Tidak lama kemudian, Kepala Sekolah Pak Mulyono keluar dari ruangannya. Pak Mulyono adalah lelaki berusia hampir lima puluh tahun dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis. Ia jarang berbicara keras, tetapi semua murid tahu bahwa ia sangat menjaga sekolah itu.

Pak Mulyono menerima map cokelat dari pegawai kecamatan.

Mereka berbicara dengan suara pelan. Anak-anak tidak dapat mendengar apa yang mereka katakan. Namun, dari cara Pak Mulyono memegang map itu, Rantaka melihat wajah kepala sekolahnya berubah.

Semula tenang.

Lalu serius.

Kemudian tampak seperti seseorang yang baru saja menerima kabar yang tidak ingin didengarnya.

Pegawai kecamatan itu menyerahkan satu lembar surat. Di bagian atas surat terdapat cap merah yang cukup besar. Setelah itu, ia berpamitan dan kembali menaiki sepeda.

Pak Mulyono masih berdiri di depan kantor.

Tangannya memegang surat itu cukup lama.

Bel masuk berbunyi.

Anak-anak segera masuk ke kelas. Namun, rasa ingin tahu telah menyebar ke seluruh halaman sekolah. Di dalam ruang kelas, beberapa murid berbisik-bisik. Ada yang menduga surat itu tentang bantuan bangunan. Ada yang berkata mungkin sekolah akan mendapat buku baru. Ada pula yang mendengar kakaknya pernah mengatakan bahwa surat dari kecamatan biasanya membawa urusan penting.

Rantaka duduk di bangkunya sambil memandangi jendela kosong.

Ia mencoba memusatkan perhatian ketika Bu Laras mulai mengajar. Namun, pikirannya terus kembali pada surat berstempel merah itu.

Bu Laras tampak berbeda pagi itu.

Biasanya, ia memasuki kelas dengan senyum tipis dan suara yang tenang. Namun, kali ini langkahnya lebih lambat. Buku-buku yang dibawanya tampak lebih banyak dari biasanya. Ia berdiri di depan kelas cukup lama sebelum menulis pelajaran di papan tulis.

“Anak-anak,” katanya akhirnya, “hari ini kita akan belajar seperti biasa.”

Kata seperti biasa terdengar aneh.

Tidak ada seorang pun yang bertanya. Tetapi semua murid dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Pelajaran berlangsung tanpa banyak suara. Bu Laras menjelaskan tentang pecahan dan pembagian. Rantaka menyalin angka-angka di papan tulis, tetapi ia tidak benar-benar memahami apa yang ditulisnya. Liris beberapa kali menoleh ke arah kantor sekolah. Banyu memutar pensil di antara jari-jarinya. Jagra, yang biasanya sulit diam, justru duduk tanpa membuat gaduh.

Saat jam istirahat, Rantaka melihat Bu Laras berjalan menuju kantor kepala sekolah. Ia membawa buku catatan dan beberapa lembar kertas. Pak Mulyono sudah berada di dalam ruangan bersama dua guru lain.

Pintu kantor tidak tertutup rapat.

Rantaka tidak bermaksud menguping. Namun, ketika ia berjalan melewati jendela untuk mengambil air minum, suara percakapan dari dalam terdengar jelas.

“Jumlah murid kita dianggap terlalu sedikit,” suara Pak Mulyono terdengar berat.

“Padahal banyak anak yang harus berjalan jauh kalau sekolah ini ditutup,” jawab salah seorang guru.

“Di surat itu tertulis sekolah akan dievaluasi,” kata Bu Laras. “Bangunan, jumlah murid, fasilitas, dan kegiatan belajar semuanya akan diperiksa.”

Rantaka berhenti tanpa sadar.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Kalau hasil evaluasinya buruk?” tanya guru lain.

Tidak ada jawaban beberapa saat.

Kemudian Pak Mulyono berkata pelan, “Anak-anak mungkin harus dipindahkan ke sekolah di kecamatan.”

Rantaka tidak bergerak.

Kata-kata itu seperti batu yang jatuh ke dalam dadanya.

Sekolah di kecamatan.

Ia pernah mendengar tentang sekolah itu. Letaknya jauh, melewati jalan besar dan beberapa kampung. Anak-anak dari Desa Wanasari harus berjalan lebih dari satu jam, bahkan lebih lama jika hujan turun. Tidak semua orang tua memiliki sepeda. Tidak semua anak dapat berangkat pagi-pagi sekali. Bagi keluarga seperti Rantaka, sekolah yang jauh bukan sekadar soal jarak. Itu berarti ongkos, waktu, tenaga, dan kemungkinan untuk tidak lagi sekolah.

Rantaka segera berjalan menjauh dari kantor. Ia tidak ingin Bu Laras melihatnya berdiri di sana.

Di bawah pohon beringin, Liris, Banyu, dan Jagra sudah menunggu.

“Kau dengar sesuatu?” tanya Liris.

Rantaka mengangguk pelan.

“Sekolah ini akan dievaluasi,” katanya.

“Evaluasi apa?” tanya Jagra.

“Karena muridnya sedikit, bangunannya rusak, dan fasilitasnya kurang.”

Banyu menatap gedung sekolah yang tua. “Kalau tidak lulus evaluasi?”

Rantaka menelan ludah.

“Mungkin sekolah ini ditutup.”

Jagra berdiri mendadak. “Ditutup?”

Liris memegang buku tulisnya lebih erat. “Tidak mungkin.”

“Itu yang mereka bicarakan di kantor,” jawab Rantaka.

Mereka semua diam.

Dari tempat mereka duduk, SD Wanasari tampak seperti biasa. Kelas-kelas tua itu masih berdiri. Papan tulis masih ada di dalam ruangan. Peta Indonesia masih tergantung di dinding. Gudang tua yang baru dibersihkan kini menyimpan buku-buku yang mulai mereka baca.

Namun, setelah mendengar kabar itu, semua yang biasa terasa seperti sedang berada di ujung sesuatu yang rapuh.

Jagra menendang tanah pelan. “Kalau sekolah ditutup, aku harus ke kecamatan?”

“Mungkin,” jawab Rantaka.

“Aku harus bantu Bapak pagi-pagi. Kalau sekolahnya jauh, aku pasti terlambat terus.”

Liris memandang kebun singkong. “Banyak anak kecil juga belum tentu bisa pergi sejauh itu.”

Banyu tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap tangannya sendiri.

Rantaka tahu apa yang mungkin sedang dipikirkan sahabatnya. Jika SD Wanasari ditutup, gudang tua itu akan kembali sepi. Buku-buku yang baru mereka temukan mungkin akan dipindahkan atau dibiarkan rusak. Kelompok Langit Biru mungkin tidak lagi memiliki tempat untuk belajar bersama.

Namun, yang paling membuat Rantaka takut adalah kemungkinan bahwa sekolah bukan lagi jalan yang dapat ia tempuh setiap pagi.

Ia teringat kata-kata ayahnya: Belajar yang baik. Itu juga pekerjaan.

Bagaimana jika pekerjaan itu tiba-tiba diambil darinya?

Bel masuk kembali berbunyi.

Mereka berjalan ke kelas tanpa banyak bicara. Sepanjang pelajaran, Rantaka memandangi papan tulis, meja-meja tua, dan jendela tanpa kaca dengan perasaan yang berbeda. Semua kekurangan yang sebelumnya hanya ia lihat sebagai bagian dari sekolah kini terasa seperti alasan-alasan yang dapat membuat sekolah itu hilang.

Menjelang pulang, Bu Laras berdiri di depan kelas.

Wajahnya tampak tenang, tetapi suaranya lebih pelan dari biasanya.

“Anak-anak,” katanya, “mungkin kalian sudah mendengar kabar tentang surat dari kecamatan.”

Kelas langsung hening.

Bu Laras menarik napas sebelum melanjutkan.

“Sekolah kita akan dinilai. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Bangunan sekolah, fasilitas belajar, jumlah murid, dan kegiatan sekolah akan diperhatikan.”

Seorang murid di bangku belakang mengangkat tangan. “Bu, apakah sekolah kita akan ditutup?”

Pertanyaan itu membuat semua kepala menoleh.

Bu Laras tidak langsung menjawab.

“Kita belum tahu,” katanya akhirnya. “Belum ada keputusan.”

“Tapi bisa ditutup?” tanya murid lain.

Bu Laras memandang seluruh kelas. “Yang bisa kita lakukan sekarang adalah tetap belajar dengan baik dan menjaga sekolah ini bersama-sama.”

Jawaban itu tidak sepenuhnya menghilangkan ketakutan.

Namun, cara Bu Laras mengucapkannya membuat Rantaka melihat sesuatu yang lain di mata gurunya: keyakinan yang tidak mau padam.

Setelah kelas bubar, Rantaka kembali berdiri di halaman sekolah. Langit siang tampak cerah, tetapi hatinya terasa berat. Ia memandangi bangunan SD Wanasari yang tua, kebun singkong di belakangnya, dan pohon beringin tempat Langit Biru lahir.

Di kantor kepala sekolah, surat berstempel merah itu mungkin masih terletak di atas meja.

Selembar kertas.

Tetapi selembar kertas itu telah membawa pertanyaan besar ke Desa Wanasari.

Apakah sekolah kecil di ujung kebun singkong itu masih akan berdiri?

Ataukah suatu hari nanti, anak-anak desa harus menatap bangunan kosong dan mengenang bahwa di tempat itulah mereka pernah belajar membaca, menulis, serta berani memiliki mimpi?

 

Bab 8 — Ketika Orang Dewasa Mulai Menyerah

Sejak surat berstempel merah dari kecamatan datang, suasana di SD Wanasari berubah.

Tidak ada yang benar-benar membicarakannya dengan suara keras pada hari pertama. Anak-anak tetap datang ke sekolah, tetap duduk di bangku kayu, tetap membuka buku, dan tetap mendengarkan Bu Laras mengajar. Namun, di sela-sela pelajaran, bisik-bisik mulai terdengar.

“Benarkah sekolah kita mau ditutup?”

“Kalau ditutup, kita belajar di mana?”

“Sekolah di kecamatan jauh sekali.”

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dari satu bangku ke bangku lain. Ada yang menanyakannya dengan wajah takut. Ada yang berusaha tertawa, seolah kabar itu tidak penting. Ada pula yang hanya diam dan menunduk, seperti Rantaka.

Ia tetap datang setiap pagi melewati jalan tanah di antara sawah dan kebun singkong. Namun, sejak mendengar kabar dari kecamatan, ia selalu memandang bangunan sekolah dengan perasaan yang berbeda.

Dinding papan yang kusam.

Atap seng yang miring.

Jendela tanpa kaca.

Halaman yang dipenuhi rumput liar.

Semua yang dahulu ia anggap sebagai bagian biasa dari SD Wanasari kini terasa seperti alasan-alasan yang dapat membuat sekolah itu hilang.

Pada suatu sore, Rantaka diminta Rukmini mengantar kue ke rumah Bu Sari, seorang warga yang tinggal dekat balai desa. Keranjang rotan berisi nagasari dan kue cucur tergantung di setang sepeda tua milik pamannya yang dipinjamkan untuk beberapa hari.

Setelah mengantar pesanan, Rantaka hendak pulang. Namun, ketika melewati balai desa, ia mendengar beberapa orang dewasa sedang berbicara di dalam.

Pintu balai desa terbuka lebar.

Di dalamnya, beberapa warga duduk di bangku panjang. Ada petani yang baru pulang dari sawah, ada ibu-ibu yang membawa anak kecil, dan ada beberapa bapak yang masih mengenakan topi kebun. Di meja depan, Kepala Dusun duduk bersama dua orang perangkat desa.

Rantaka tidak berniat masuk. Ia hanya berhenti di luar, di dekat pagar bambu, karena ingin mengetahui apa yang sedang dibicarakan.

Suara Kepala Dusun terdengar cukup jelas.

“Surat dari kecamatan itu bukan main-main,” katanya. “Sekolah kita memang banyak kekurangan. Bangunannya tua, muridnya tidak banyak, dan fasilitasnya hampir tidak ada.”

“Kalau ditutup, anak-anak kita bagaimana?” tanya seorang ibu.

“Mereka bisa pindah ke sekolah di kecamatan,” jawab Kepala Dusun.

Seorang bapak yang duduk di sudut ruangan menghela napas panjang. “Sekolah di kecamatan jauh. Anak saya masih kelas dua. Jalan kaki saja bisa lebih dari satu jam.”

“Kalau naik ojek, biayanya dari mana?” sahut ibu lain.

Suasana menjadi hening beberapa saat.

Kemudian seorang lelaki tua berkata, “Kalau memang tidak mampu mempertahankan, mau bagaimana lagi? Bangunan sekolah itu sudah lama rusak. Kita ini desa kecil. Tidak mungkin melawan keputusan kecamatan.”

Rantaka menggenggam erat setang sepeda.

Kata melawan membuatnya merasa seolah sekolah mereka sedang berada dalam sebuah pertempuran, tetapi orang-orang dewasa sudah memilih untuk menyerah sebelum apa pun dilakukan.

“Anak-anak juga bisa membantu orang tua,” kata seorang bapak lain. “Kalau sekolahnya terlalu jauh, lebih baik mereka di rumah. Anak laki-laki bisa ikut ke kebun atau ke sungai. Anak perempuan bisa membantu ibunya.”

Beberapa orang mengangguk pelan.

Rantaka merasa dadanya sesak.

Ia tahu bapak itu tidak sedang berkata jahat. Banyak orang tua di Desa Wanasari memang membutuhkan bantuan anak-anak mereka. Di rumahnya sendiri, ia sering membantu ibunya menjual kue dan membantu ayahnya mencari rumput. Ia mengerti bahwa pekerjaan di rumah tidak mudah.

Tetapi mendengar sekolah disebut sebagai sesuatu yang dapat ditinggalkan begitu saja membuatnya takut.

Apakah belajar memang tidak sepenting membantu di ladang?

Apakah mimpi mereka hanya boleh ada selama sekolah itu masih berdiri?

Rantaka tidak sanggup mendengar lebih lama. Ia menaiki sepeda dan mengayuh pelan menuju rumah. Keranjang kue di depan sepeda sudah kosong, tetapi pikirannya terasa penuh.

Di jalan, ia melewati kebun singkong yang mulai gelap. Angin sore membuat daun-daun singkong bergesekan. Biasanya suara itu terasa menenangkan. Namun, sore itu, Rantaka hanya mendengar kata-kata orang dewasa yang terus berulang di kepalanya.

Tidak mungkin melawan keputusan kecamatan.

Lebih baik membantu orang tua.

Kalau sekolahnya jauh, mau bagaimana lagi?

Sesampainya di rumah, Rukmini sedang menyalakan tungku. Asap tipis mulai memenuhi dapur. Darma belum pulang dari ladang. Di halaman, kambing-kambing mengembik pelan karena menunggu diberi makan.

“Kuenya habis?” tanya Rukmini.

“Habis, Bu.”

“Bagus. Ada uangnya?”

Rantaka menyerahkan uang hasil penjualan. Rukmini menghitungnya sebentar, lalu menyimpannya ke dalam kaleng tua di dekat rak dapur.

Biasanya, Rantaka akan membantu menyiapkan makan atau memberi rumput kepada kambing. Namun, sore itu ia hanya duduk di teras rumah dengan wajah muram.

Rukmini memperhatikannya.

“Ada apa?” tanyanya.

Rantaka tidak langsung menjawab.

“Bu,” katanya akhirnya, “kalau sekolah kita ditutup, apakah aku harus berhenti sekolah?”

Tangan Rukmini yang sedang memegang sendok kayu berhenti bergerak.

“Kenapa bertanya begitu?”

“Di balai desa tadi, ada yang bilang anak-anak lebih baik membantu orang tua kalau sekolahnya jauh.”

Rukmini duduk di samping Rantaka. Asap dari dapur bergerak pelan di antara mereka.

“Banyak orang berkata seperti itu karena mereka sedang memikirkan kesulitan,” katanya. “Bukan karena mereka tidak sayang pada anak-anaknya.”

“Tapi kalau sekolah di kecamatan jauh, aku tidak bisa berjalan setiap hari.”

“Kita belum tahu keputusan akhirnya.”

“Kalau benar ditutup?”

Rukmini menatap halaman rumah. Wajahnya tampak tenang, tetapi Rantaka dapat melihat kekhawatiran yang disembunyikannya.

“Kita akan mencari jalan,” jawabnya.

“Jalan apa?”

Rukmini tidak segera menjawab.

Jawaban itu membuat Rantaka semakin mengerti bahwa ibunya juga belum tahu.

Malamnya, Darma pulang dengan langkah lambat. Bajunya basah oleh keringat dan tanah menempel di celananya. Setelah makan, ia duduk di dekat pintu sambil memijat telapak kakinya.

Rantaka yang sejak tadi diam akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Yah, kalau SD Wanasari ditutup, apakah aku harus ikut bekerja di ladang?”

Darma menatap anaknya.

“Siapa yang bilang begitu?”

“Orang-orang di balai desa.”

Darma menghela napas panjang. Ia memandang lampu minyak yang menyala redup di ruang depan.

“Kalau sekolah ditutup, tentu akan sulit,” katanya. “Sekolah di kecamatan jauh. Bapak tidak punya kendaraan untuk mengantar setiap hari.”

Rantaka menunduk.

“Tapi,” lanjut Darma, “sulit bukan berarti kau harus berhenti.”

Rantaka mengangkat wajahnya.

“Bapak dan Ibu memang tidak punya banyak uang,” kata Darma. “Kita juga tidak punya sawah sendiri. Tetapi Bapak tidak ingin kau hanya melihat hidup dari ujung ladang. Kau harus belajar supaya kau punya pilihan.”

“Kalau orang-orang bilang aku lebih baik membantu Bapak?”

Darma tersenyum tipis, meski wajahnya tampak lelah.

“Kau boleh membantu Bapak. Kau boleh membantu Ibu. Itu baik. Tetapi jangan sampai bantuanmu membuatmu kehilangan masa depanmu sendiri.”

Kata-kata itu membuat mata Rantaka terasa panas.

Ia mengangguk pelan.

Di luar rumah, malam semakin gelap. Dari kejauhan terdengar suara katak dari parit dan suara serangga dari kebun. Rumah-rumah warga mulai memadamkan lampu satu per satu.

Namun, di dalam diri Rantaka, ketakutan belum benar-benar hilang.

Keesokan harinya, ia bertemu Liris, Banyu, dan Jagra di bawah pohon beringin.

Mereka semua tampak membawa kegelisahan yang sama.

“Ayahku bilang kalau sekolah ditutup, aku mungkin harus ikut ke sungai lebih sering,” kata Jagra. “Katanya, daripada aku berjalan jauh ke kecamatan dan terlambat terus.”

Liris memeluk buku tulisnya. “Ibuku tidak bilang aku harus berhenti. Tapi ia menangis tadi malam. Ia bilang tidak tahu bagaimana cara membiayai perjalanan ke sekolah yang jauh.”

Banyu menatap sepeda tuanya. “Pamanku bilang mungkin aku bisa naik sepeda. Tapi jalannya besar dan banyak truk. Aku belum pernah pergi sejauh itu sendirian.”

Rantaka tidak segera berbicara.

Mereka duduk di bawah beringin dengan kepala tertunduk. Untuk pertama kalinya sejak Langit Biru dibentuk, tidak ada yang membicarakan buku, cita-cita, atau rencana masa depan.

Yang ada hanya ketakutan.

Ketakutan bahwa semua yang mereka tulis di buku Liris mungkin akan berhenti sebagai kalimat-kalimat kecil.

Ketakutan bahwa sekolah tua di ujung kebun singkong itu benar-benar akan hilang.

Liris memandang bangunan SD Wanasari.

“Orang dewasa mulai menyerah,” katanya pelan.

Tidak ada yang membantah.

Rantaka memandangi kelas mereka. Ia teringat gudang tua yang baru dibersihkan, peta Indonesia yang dibentangkan kembali, serta kata-kata Bu Laras bahwa buku harus membuat mereka ingin berbagi pengetahuan.

Ia belum tahu apa yang dapat dilakukan oleh empat anak desa.

Namun, ketika melihat sahabat-sahabatnya duduk dalam diam, ia merasa bahwa mereka tidak boleh hanya menunggu.

Jika orang dewasa mulai menyerah, mungkin anak-anak harus lebih dulu menunjukkan bahwa sekolah itu masih berarti.

Di atas mereka, langit biru tetap terbentang luas.

Tetapi untuk pertama kalinya, Rantaka merasa langit itu tampak sangat jauh.

 

Bab 9 — Papan Tulis yang Retak

Sejak percakapan di bawah pohon beringin pada pagi itu, Rantaka tidak dapat lagi memandang SD Wanasari seperti sebelumnya.

Bangunan tua di ujung kebun singkong itu masih berdiri di tempat yang sama. Dinding papannya masih kusam. Jendela-jendelanya masih terbuka tanpa kaca. Atap sengnya masih tampak miring di beberapa bagian. Namun, kini setiap retakan, setiap papan lapuk, dan setiap kebocoran terasa seperti ancaman yang diam-diam menunggu untuk menjatuhkan sekolah mereka.

Hari-hari berikutnya berjalan dalam kecemasan.

Bu Laras tetap mengajar seperti biasa. Ia tetap datang membawa buku-buku di dadanya, tetap menulis pelajaran di papan tulis, dan tetap meminta murid-murid membaca dengan suara lantang. Tetapi Rantaka dapat melihat bahwa gurunya sering berhenti sejenak di depan jendela, memandang atap sekolah, atau berbicara pelan dengan Pak Mulyono di kantor.

Kabar dari kecamatan belum datang lagi.

Justru karena itulah, semua orang merasa lebih gelisah.

Mereka tahu suatu hari nanti tim penilai akan datang. Tidak ada yang tahu kapan. Tidak ada yang tahu apa yang akan mereka katakan setelah melihat keadaan sekolah. Namun, semua orang tahu SD Wanasari tidak berada dalam keadaan baik.

Pada akhir pekan, langit Desa Wanasari mulai berubah.

Sejak pagi, awan kelabu menggantung rendah di atas sawah. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Daun-daun singkong di belakang sekolah bergerak saling beradu, menimbulkan suara yang panjang dan gelisah.

Rantaka sedang membantu ibunya mengantar kue ketika hujan pertama turun.

Mula-mula hanya gerimis tipis.

Lalu, dalam waktu singkat, langit seperti menumpahkan seluruh air yang ditahannya. Jalan tanah berubah menjadi lumpur. Parit kecil di sisi jalan mulai penuh. Atap-atap rumah berbunyi keras diterpa hujan.

Rantaka dan Rukmini berlari pulang sambil menutupi keranjang kue dengan plastik. Sesampainya di rumah, mereka mendapati halaman sudah dipenuhi genangan kecil. Darma segera memindahkan beberapa karung singkong ke tempat yang lebih kering.

Hujan turun sampai malam.

Bunyi air di atas atap seng rumah mereka begitu keras hingga percakapan harus dilakukan dengan suara lebih tinggi. Di beberapa titik, air mulai menetes dari langit-langit. Rukmini meletakkan ember di bawah kebocoran, sementara Rantaka membantu memindahkan tikar agar tidak basah.

Ketika ia sedang mengangkat satu ember yang hampir penuh, pikirannya tiba-tiba tertuju pada sekolah.

Atap SD Wanasari jauh lebih tua daripada atap rumahnya.

Kalau rumah mereka saja bocor di banyak tempat, bagaimana keadaan kelas enam sekarang?

“Bu,” kata Rantaka sambil menatap hujan di luar, “besok sekolah tetap masuk?”

“Kalau hujan reda, mungkin tetap,” jawab Rukmini.

Rantaka tidak bertanya lagi. Namun, malam itu ia sulit tidur.

Dalam pikirannya, ia membayangkan air masuk dari atap sekolah, jatuh ke meja-meja, membasahi buku-buku, dan menggenangi lantai kelas. Ia membayangkan peta Indonesia yang tergantung di dinding menjadi lembap dan robek. Ia membayangkan buku-buku dari gudang tua kembali rusak sebelum sempat dibaca oleh banyak anak.

Menjelang pagi, hujan memang sedikit reda.

Tetapi langit masih gelap ketika Rantaka berangkat ke sekolah. Jalan tanah menjadi lebih licin dari biasanya. Sandalnya beberapa kali hampir terlepas karena lumpur. Di beberapa bagian, air mengalir kecil di atas jalan seperti sungai tipis.

Ketika sampai di SD Wanasari, ia langsung tahu bahwa sesuatu telah terjadi.

Halaman sekolah penuh genangan.

Pagar bambu di sisi timur roboh sebagian. Beberapa batang bambu terlepas dari ikatannya dan tergeletak di tanah. Daun-daun singkong dari kebun belakang berserakan hingga ke halaman. Di depan ruang kelas, beberapa anak berdiri sambil memandangi bangunan sekolah dengan wajah pucat.

Rantaka mempercepat langkah.

Atap di bagian belakang kelas enam runtuh.

Tidak seluruhnya, tetapi cukup besar untuk membuat sebagian ruangan berubah kacau. Beberapa lembar seng jatuh ke lantai. Papan kayu penyangga tampak patah. Air hujan masih menetes dari celah besar di atas ruangan.

Meja-meja di bagian belakang basah.

Buku-buku beberapa murid tergeletak di lantai. Ada yang terbuka, ada yang menempel karena terkena air, dan ada yang sampulnya mulai hancur. Di dekat dinding, sebuah ember sudah penuh hingga airnya meluber.

Rantaka berdiri di ambang pintu tanpa mampu berkata-kata.

“Jangan masuk dulu!” suara Bu Laras terdengar dari dalam kelas.

Bu Laras berdiri di dekat meja guru. Rok panjangnya bagian bawah basah oleh air. Di tangannya ada beberapa buku yang sedang ia pindahkan ke tempat kering. Pak Mulyono dan dua orang guru lain sedang berusaha mengangkat meja-meja agar tidak terkena tetesan air.

“Rantaka, tolong panggil teman-teman yang lain,” kata Bu Laras. “Bawa buku-buku mereka ke ruang kelas lima. Jangan ada yang mendekati bagian belakang.”

Rantaka segera bergerak.

Ia memanggil Liris, Banyu, dan Jagra yang baru datang dari arah jalan. Mereka semua terdiam ketika melihat atap yang runtuh.

“Buku-buku!” kata Rantaka. “Bu Laras menyuruh kita memindahkan buku ke kelas lima.”

Tanpa banyak bertanya, mereka masuk ke ruang kelas dengan hati-hati.

Liris mengambil buku-buku yang masih kering dari meja depan. Ia memeluknya di dada, lalu membawanya ke kelas lima. Banyu mengangkat kursi dan meja yang masih dapat diselamatkan. Jagra membawa ember-ember penuh air keluar ruangan, lalu mengosongkannya di dekat parit.

Rantaka membantu Bu Laras memindahkan buku pelajaran dari lemari kayu. Lemari itu berada dekat dinding dan bagian bawahnya mulai basah. Ketika ia menarik salah satu buku, air menetes dari ujung halaman.

“Cepat, Nak,” kata Bu Laras, tetapi suaranya tetap tenang.

Rantaka mengangguk. Ia menahan rasa sedih ketika melihat buku-buku yang baru saja mereka temukan dari gudang tua kini harus diselamatkan dari air.

Beberapa murid lain ikut membantu. Ada yang membawa kain lap dari rumah, ada yang menyapu air keluar kelas, ada yang menjemur buku di teras. Tidak ada yang diminta terlalu banyak. Semua bergerak karena melihat keadaan sekolah mereka sendiri.

Namun, di tengah kesibukan itu, terdengar bunyi keras dari arah depan kelas.

Brak!

Semua orang terkejut.

Papan tulis yang selama ini tergantung di dinding depan jatuh ke lantai.

Bagian kayu penyangganya patah karena dinding di belakangnya lembap dan rapuh. Papan tulis itu tidak hancur seluruhnya, tetapi sebuah retakan panjang membelah bagian tengahnya. Retakan itu membentuk garis miring dari sudut atas ke bagian bawah, seperti luka yang tidak dapat disembunyikan.

Kelas mendadak hening.

Rantaka menatap papan tulis itu.

Di atasnya, masih ada sisa tulisan Bu Laras dari pelajaran kemarin:

Pendidikan Membuka Jalan

Tulisan itu kini terpotong oleh retakan panjang.

Liris menutup mulut dengan tangan. Matanya berkaca-kaca.

Jagra berdiri tanpa bergerak, ember kosong masih berada di tangannya.

Banyu mendekati papan tulis, lalu berjongkok untuk memeriksanya. Ia menyentuh bagian kayu yang patah dengan hati-hati.

“Masih bisa diperbaiki?” tanya Rantaka.

Banyu tidak langsung menjawab.

“Papan ini bisa dipasang lagi,” katanya pelan. “Tapi retakannya mungkin tidak bisa hilang.”

Bu Laras berdiri di dekat mereka.

Ia memandangi papan tulis itu cukup lama. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tidak membiarkan kesedihan menguasai suaranya.

“Kalau masih bisa dipakai, kita akan pakai,” katanya.

“Dengan retakan itu?” tanya seorang murid kecil dari kelas lima.

Bu Laras menoleh kepadanya. “Kadang sesuatu yang retak masih dapat dipakai untuk memberi pelajaran.”

Tidak ada yang benar-benar mengerti maksudnya saat itu.

Namun, Rantaka memandang tulisan yang terbelah di papan tulis. Ia merasa retakan itu bukan hanya ada pada kayu hitam di depan kelas. Retakan itu seperti gambaran sekolah mereka sendiri.

Sekolah yang masih berdiri.

Tetapi terluka.

Sekolah yang masih memiliki murid dan guru.

Tetapi sedang diuji oleh keadaan.

Menjelang siang, hujan kembali turun, meski tidak sederas malam sebelumnya. Anak-anak dipindahkan ke kelas lain. Ruang kelas enam tidak dapat digunakan sepenuhnya. Sebagian murid duduk berhimpitan di kelas lima. Sebagian lagi belajar di teras, dengan kursi yang disusun seadanya.

Bu Laras tetap mengajar.

Ia mengambil kapur, lalu berdiri di depan papan tulis yang telah dipasang sementara dengan bantuan Pak Mulyono dan beberapa warga. Papan itu kini sedikit miring. Retakan panjang masih terlihat jelas di tengahnya.

Bu Laras menulis pelajaran dengan hati-hati di sisi kiri papan.

Anak-anak memperhatikannya.

Angin masuk melalui jendela tanpa kaca. Dari atap, tetesan air masih jatuh ke ember. Di belakang kelas, bagian atap yang runtuh ditutup dengan terpal tua.

Namun, pelajaran tetap berjalan.

Rantaka duduk di bangku paling depan. Ia tidak lagi melihat papan tulis yang retak sebagai benda yang menyedihkan. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang sedang berusaha bertahan.

Saat jam pulang, sebuah mobil putih berhenti di depan sekolah.

Dua orang lelaki turun dari dalamnya. Mereka mengenakan pakaian rapi dan membawa map. Salah satunya memotret bangunan sekolah, pagar yang roboh, serta bagian atap yang runtuh.

Pak Mulyono berjalan mendekati mereka.

Rantaka dan sahabat-sahabatnya berdiri di teras kelas sambil memandangi dari jauh.

“Itu orang kecamatan?” tanya Jagra.

Bu Laras yang berdiri tidak jauh dari mereka mengangguk pelan.

“Sepertinya mereka datang untuk melihat keadaan sekolah,” katanya.

Rantaka melihat salah satu lelaki itu menulis sesuatu di dalam map. Lelaki lain menunjuk ke arah atap yang runtuh, lalu menggeleng pelan.

Tidak ada yang dapat didengar dari tempat Rantaka berdiri.

Tetapi ia tidak perlu mendengar untuk mengetahui bahwa keadaan sekolah mereka kini tampak lebih buruk di mata orang-orang yang datang menilai.

Ketika mobil putih itu pergi, halaman sekolah kembali sunyi.

Rantaka berjalan mendekati papan tulis yang retak. Ia menyentuh bagian pinggirnya dengan ujung jari.

Di hadapannya, retakan panjang itu tetap ada.

Namun, papan tulis itu masih berdiri.

Dan selama papan itu masih dapat dipakai untuk menulis pelajaran, Rantaka merasa SD Wanasari belum boleh dianggap kalah.

 

Bab 10 — Anak-Anak yang Menolak Diam

Mobil putih dari kecamatan telah lama meninggalkan halaman SD Wanasari, tetapi bayangannya seperti masih tertinggal di antara bangunan kelas yang basah dan pagar bambu yang roboh.

Sejak pagi, anak-anak tidak banyak bermain saat jam istirahat. Biasanya, halaman sekolah dipenuhi suara kejar-kejaran, tawa, dan teriakan kecil dari anak-anak kelas bawah. Namun, hari itu, sebagian besar hanya duduk di teras atau berdiri memandangi bagian atap kelas enam yang masih ditutup terpal.

Papan tulis yang retak tetap tergantung di depan kelas.

Retakan panjang di tengahnya tampak semakin jelas ketika cahaya matahari masuk dari jendela tanpa kaca. Bu Laras masih menggunakannya untuk mengajar, tetapi setiap kali kapur menyentuh permukaannya, Rantaka merasa seolah papan itu sedang berusaha keras untuk tidak patah lebih jauh.

Setelah pelajaran selesai, Rantaka tidak langsung pulang.

Ia duduk di bawah pohon beringin bersama Liris, Banyu, dan Jagra. Tidak ada buku yang dibuka. Tidak ada cerita lucu dari Jagra. Tidak ada catatan puisi dari Liris. Mereka hanya diam, memandangi halaman sekolah yang masih penuh bekas hujan.

Di dekat pagar, beberapa batang bambu tergeletak miring. Rumput liar tumbuh di sepanjang jalan masuk. Saluran air di samping kelas tersumbat daun-daun kering dan lumpur. Terpal di atap belakang bergerak-gerak ditiup angin.

Jagra memecah kesunyian.

“Orang kecamatan tadi pasti melihat semuanya,” katanya.

“Ya,” jawab Banyu.

“Mereka pasti menganggap sekolah kita tidak layak.”

Liris memeluk lututnya. “Mereka tidak melihat apa yang ada di dalam sekolah ini.”

“Mereka melihat atap runtuh,” kata Jagra. “Pagar roboh. Papan tulis retak. Itu sudah cukup bagi mereka.”

Rantaka menunduk. Kata-kata Jagra memang benar. Orang yang datang dari kecamatan mungkin hanya melihat bangunan tua dan fasilitas yang rusak. Mereka mungkin tidak melihat Bu Laras yang tetap mengajar meski kelas bocor. Mereka tidak melihat Banyu yang memperbaiki meja. Mereka tidak melihat Liris membaca puisi di bawah beringin. Mereka tidak melihat Jagra yang tetap datang ke sekolah meski harus membantu ayahnya mencari ikan sejak pagi.

Mereka juga tidak melihat mimpi-mimpi yang disimpan dalam buku biru milik Liris.

“Apa kita hanya akan menunggu?” tanya Rantaka.

Tiga sahabatnya menoleh.

Rantaka memandang halaman sekolah. Dadanya masih dipenuhi rasa takut. Namun, rasa takut itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia teringat percakapan di balai desa. Orang-orang dewasa berkata bahwa sekolah mungkin tidak dapat dipertahankan. Mereka berbicara tentang jarak, biaya, dan kesulitan. Semua itu memang nyata.

Tetapi Rantaka tidak ingin sekolah mereka hanya dikenang sebagai bangunan tua yang ditutup karena tidak ada yang berusaha menjaganya.

“Kita tidak bisa memperbaiki seluruh atap,” lanjutnya. “Kita juga tidak bisa memutuskan apa yang akan dilakukan kecamatan. Tapi kita bisa melakukan sesuatu.”

“Seperti apa?” tanya Liris.

“Kita bersihkan sekolah ini,” jawab Rantaka. “Kita rapikan halaman. Kita perbaiki pagar yang bisa diperbaiki. Kita bersihkan saluran air. Kita tunjukkan bahwa sekolah ini masih dijaga.”

Jagra mengangkat alis. “Hanya dengan membersihkan halaman, sekolah ini tidak jadi ditutup.”

“Mungkin tidak,” kata Rantaka. “Tapi kalau kita diam, tidak ada yang akan tahu bahwa sekolah ini berarti bagi kita.”

Banyu memandangi pagar bambu yang roboh.

“Aku bisa mencoba memperbaiki bagian yang patah,” katanya pelan. “Kalau ada bambu bekas dan tali.”

Liris membuka buku tulisnya. “Aku bisa membuat tulisan untuk ditempel di kelas. Tentang menjaga sekolah. Supaya teman-teman lain ikut membantu.”

Jagra menghela napas, lalu berdiri. “Kalau begitu, aku bisa mengajak anak-anak kelas lima. Mereka kuat-kuat kalau disuruh angkat bambu.”

Rantaka tersenyum kecil.

“Berarti kita mulai besok,” katanya.

“Besok pagi?” tanya Jagra.

“Besok pagi,” jawab Rantaka.

Keesokan harinya, Rantaka datang lebih awal dari biasanya.

Kabut masih menggantung tipis di atas sawah. Jalan tanah belum ramai. Dari kejauhan, suara ayam berkokok bersahutan. Ia membawa sabit kecil milik ayahnya, sapu lidi, dan sebuah karung untuk mengumpulkan sampah.

Ketika sampai di sekolah, Liris sudah menunggu di dekat gerbang. Ia membawa beberapa lembar kertas bekas yang masih kosong di satu sisi, pensil warna pendek, dan tali rafia.

Banyu datang dengan sepeda tuanya. Di belakang sepedanya tergantung palu kecil, beberapa paku, dan sepotong kawat. Jagra muncul beberapa menit kemudian sambil membawa parang kecil yang sudah diberi sarung dari kain.

“Kita benar-benar seperti mau membangun sekolah baru,” kata Jagra.

“Belum tentu sekolah baru,” jawab Banyu. “Tapi setidaknya sekolah lama ini tidak terlihat seperti ditinggalkan.”

Mereka mulai bekerja sebelum bel masuk berbunyi.

Rantaka membersihkan rumput liar di sepanjang jalan masuk. Ia mencabut tanaman yang tumbuh di sela-sela batu, lalu memasukkannya ke dalam karung. Tangannya menjadi kotor oleh tanah, tetapi ia terus bekerja.

Liris menyapu teras kelas dan mengumpulkan daun-daun kering. Setelah itu, ia menulis beberapa kalimat di kertas bekas dengan huruf besar:

SEKOLAH KITA, TANGGUNG JAWAB KITA

Di bawahnya, ia menulis lagi:

JAGA KEBERSIHAN, JAGA BUKU, JAGA MIMPI

Ia menempelkan tulisan itu di dinding dekat pintu kelas menggunakan lem dari tepung yang dibuat ibunya.

Banyu memeriksa pagar bambu yang roboh. Ia memilih batang-batang yang masih kuat, lalu memasangnya kembali dengan kawat dan tali rafia. Pekerjaannya tidak cepat. Ia harus mengukur jarak, menahan bambu agar tidak jatuh, lalu mengikatnya satu per satu.

Jagra membantu mengangkat batang bambu. Sesekali ia mengeluh karena telapak tangannya terkena serpihan.

“Bambu ini lebih keras daripada ikan gabus,” katanya.

“Memangnya ikan gabus bisa dipaku?” tanya Banyu tanpa menoleh.

Jagra tertawa. “Tidak bisa. Tapi ikan gabus tidak membuat tanganku lecet.”

Ketika bel masuk berbunyi, pekerjaan mereka belum selesai. Mereka masuk kelas dengan tangan kotor dan seragam yang sedikit terkena lumpur. Bu Laras melihat keadaan mereka, tetapi tidak marah.

“Apa yang kalian lakukan pagi-pagi sekali?” tanyanya.

Rantaka berdiri.

“Kami membersihkan sekolah, Bu.”

Bu Laras memandang ke luar jendela. Ia melihat jalan masuk yang mulai bersih, halaman yang lebih rapi, dan pagar bambu yang sedang diperbaiki Banyu.

Wajahnya berubah lembut.

“Terima kasih,” katanya.

Hanya dua kata.

Namun, bagi Rantaka, dua kata itu terasa seperti penguat yang membuatnya ingin terus bergerak.

Saat jam istirahat, Liris mengajak beberapa teman sekelas untuk membantu. Ia membacakan tulisan yang dibuatnya. Anak-anak kelas enam mulai membawa sapu, ember, dan kain lap dari rumah masing-masing. Anak-anak kelas lima ikut mengumpulkan sampah. Bahkan beberapa murid kelas tiga yang belum mengerti sepenuhnya tentang ancaman penutupan sekolah ikut membawa daun-daun kering ke dalam karung.

Dalam beberapa hari, halaman SD Wanasari mulai berubah.

Saluran air yang sebelumnya tersumbat kini dibersihkan. Saat hujan kecil turun, air tidak lagi menggenang terlalu lama di depan kelas. Pagar bambu berdiri kembali, meski belum sempurna. Beberapa anak menanam bunga sederhana dari potongan batang singkong dan kaleng bekas di dekat teras.

Banyu membuat tempat sampah dari dua ember cat bekas. Ia mencuci ember itu, melubangi bagian bawahnya agar air tidak menggenang, lalu menuliskan kata DAUN dan PLASTIK dengan cat sisa yang ditemukan di gudang.

Liris membuat jadwal piket baru. Ia membaginya bukan hanya untuk kelas enam, tetapi juga mengajak kelas lain ikut menjaga halaman sekolah. Tulisan-tulisannya ditempel di beberapa tempat.

Jagra mengajak anak-anak yang biasa bermain di sungai untuk membantu memperbaiki parit kecil di belakang sekolah. Ia tahu cara mengalirkan air karena sering melihat ayahnya membuat saluran sederhana di tepi sungai.

“Kalau airnya lewat sini,” katanya sambil menunjuk tanah, “nanti tidak masuk ke kelas.”

“Sejak kapan kau jadi ahli parit?” tanya Liris.

“Sejak sekolah kita hampir tenggelam,” jawab Jagra.

Mereka tertawa.

Tawa itu terdengar sederhana, tetapi setelah beberapa hari penuh kecemasan, tawa tersebut terasa seperti tanda bahwa harapan belum hilang.

Suatu sore, ketika anak-anak sedang menanam bunga di depan kelas, beberapa warga mulai memperhatikan.

Bu Sari, yang rumahnya tidak jauh dari sekolah, datang membawa dua ember air. Ia membantu menyiram tanaman yang baru ditanam.

“Anak-anak ini rajin sekali,” katanya.

Seorang bapak yang sedang lewat berhenti di dekat pagar. Ia melihat Banyu memperkuat ikatan bambu, lalu ikut membantu menahan salah satu tiang.

“Kalau begini, pagar bisa lebih kuat,” katanya sambil mengambil tali.

Tidak lama kemudian, dua orang pemuda desa datang membawa bambu tambahan. Mereka mendengar Jagra meminta bantuan kepada kakaknya. Meski awalnya hanya ingin melihat, mereka akhirnya ikut memperbaiki bagian pagar yang paling rusak.

Rantaka memandangi semua itu dengan perasaan hangat.

Mereka memang belum memiliki uang untuk memperbaiki atap. Mereka belum tahu keputusan kecamatan. Mereka belum mampu menjawab semua kekhawatiran orang dewasa.

Tetapi halaman sekolah yang semula tampak suram kini mulai hidup kembali.

Pada sore hari ketiga, Pak Mulyono keluar dari kantor sekolah. Ia berdiri di teras sambil memandangi anak-anak yang masih bekerja. Bu Laras berdiri di sampingnya.

“Kalian sudah membuat sekolah ini tampak berbeda,” kata Pak Mulyono.

Rantaka menatap kepala sekolahnya. “Apakah itu cukup, Pak?”

Pak Mulyono tidak langsung menjawab.

“Belum tentu cukup untuk menyelesaikan semua masalah,” katanya jujur. “Tetapi ini cukup untuk menunjukkan bahwa sekolah ini tidak ditinggalkan.”

Kalimat itu membuat Rantaka mengangguk.

Di bawah pohon beringin, Langit Biru kembali berkumpul sebelum pulang. Tangan mereka kotor, seragam mereka tidak lagi sebersih pagi tadi, dan kaki mereka penuh tanah.

Namun, di depan mereka, halaman sekolah terlihat lebih rapi.

Bunga-bunga kecil berdiri dalam kaleng bekas. Pagar bambu kembali tegak. Saluran air mulai lancar. Tulisan Liris di dinding kelas bergerak pelan diterpa angin.

SEKOLAH KITA, TANGGUNG JAWAB KITA.

Rantaka membaca kalimat itu dalam hati.

Ia tahu perjuangan mereka baru dimulai.

Tetapi sejak hari itu, SD Wanasari tidak lagi hanya memiliki bangunan tua, papan tulis retak, dan atap bocor.

Sekolah itu memiliki anak-anak yang menolak diam.

 

Bab 11 — Gerobak Buku Banyu

Perubahan kecil mulai terlihat di SD Wanasari.

Pagar bambu yang sempat roboh kini berdiri kembali, meski beberapa bagian masih berbeda warna karena memakai bambu baru dan bambu lama. Saluran air di samping kelas sudah tidak lagi dipenuhi lumpur. Kaleng-kaleng bekas yang dijadikan pot bunga berjajar di depan teras, berisi batang singkong, bunga kertas, dan tanaman kecil yang dibawa anak-anak dari rumah.

Di dinding dekat pintu kelas, tulisan Liris masih menempel.

SEKOLAH KITA, TANGGUNG JAWAB KITA.

Setiap pagi, sebelum masuk kelas, Rantaka selalu membaca tulisan itu.

Ia tidak tahu apakah orang kecamatan akan peduli pada halaman yang lebih bersih atau pagar yang lebih rapi. Namun, ia tahu bahwa sekolah mereka tidak lagi tampak seperti tempat yang dibiarkan menunggu kerusakan. Ada tangan-tangan kecil yang merawatnya. Ada anak-anak yang datang lebih awal untuk menyapu, menata buku, dan menyiram tanaman.

Tetapi satu sore, ketika Langit Biru berkumpul di bawah pohon beringin, Banyu terlihat lebih diam daripada biasanya.

Ia duduk di dekat sepedanya sambil memandangi roda belakang yang sudah kusam. Di sampingnya terdapat beberapa potong kayu pendek, dua roda bekas, dan seutas tali rafia yang digulung rapi.

Rantaka memperhatikannya sejak tadi.

“Kau sedang membuat apa?” tanyanya.

Banyu tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu potong kayu, lalu meletakkannya di atas tanah.

“Gerobak,” katanya.

“Gerobak?” Jagra mendekat. “Untuk apa?”

“Untuk membawa buku.”

Liris menatapnya dengan rasa ingin tahu. “Buku dari gudang?”

Banyu mengangguk.

Rantaka duduk lebih dekat. “Mau dibawa ke mana?”

“Ke rumah-rumah warga,” jawab Banyu pelan. “Banyak anak kecil tidak datang ke sekolah setiap hari. Ada yang masih terlalu kecil. Ada yang harus membantu orang tuanya. Ada juga yang tidak punya buku di rumah.”

Jagra memegang salah satu roda bekas. “Tapi buku-buku itu kan milik sekolah.”

“Kita bisa minta izin Bu Laras,” kata Banyu. “Buku tidak hanya untuk disimpan di rak.”

Rantaka teringat kata-kata Bu Laras ketika mereka membersihkan gudang tua: Buku tidak hanya untuk dibaca sendiri. Buku harus membuat kita ingin berbagi pengetahuan dengan orang lain.

Kalimat itu kembali terngiang dalam pikirannya.

Liris membuka buku tulis birunya. “Kalau kita membawa buku ke rumah-rumah, anak-anak kecil bisa mendengar dongeng. Ibu-ibu juga mungkin mau membaca.”

“Bapak-bapak?” tanya Jagra.

“Mungkin,” jawab Liris.

Jagra tersenyum miring. “Kalau Bapak-bapak mau membaca, aku akan percaya bahwa dunia benar-benar berubah.”

Banyu mengambil dua batang kayu yang lebih panjang.

“Gerobaknya tidak perlu besar,” katanya. “Cukup untuk beberapa buku, tikar, dan papan kecil. Kalau terlalu berat, kita tidak kuat mendorongnya.”

“Kau bisa membuatnya?” tanya Rantaka.

Banyu menatap potongan kayu di depannya. “Aku belum tahu. Tapi aku mau mencoba.”

Keesokan harinya, mereka meminta izin kepada Bu Laras.

Saat itu Bu Laras sedang menata buku-buku yang telah diselamatkan dari gudang tua. Sebagian buku dijemur di teras agar halaman yang lembap benar-benar kering. Sebagian lagi sudah kembali tersusun di rak sederhana yang dibuat dari papan bekas.

Rantaka menjelaskan rencana Banyu dengan hati-hati.

“Kami ingin membawa beberapa buku ke rumah-rumah warga, Bu,” katanya. “Bukan untuk dipinjamkan sembarangan. Kami ingin mengajak anak-anak membaca bersama.”

Bu Laras menghentikan pekerjaannya.

“Perpustakaan keliling?” tanyanya.

Banyu mengangguk. “Gerobaknya dari kayu bekas, Bu. Saya akan membuatnya sendiri.”

Bu Laras memandang keempat anak itu. Wajahnya tampak terkejut, tetapi bukan karena ragu. Ia seperti sedang melihat sesuatu yang tidak pernah ia duga akan tumbuh dari sekolah kecil itu.

“Kalau kalian serius,” katanya, “Ibu akan membantu memilihkan buku yang sesuai.”

Jagra tersenyum lebar. “Berarti boleh, Bu?”

“Boleh,” jawab Bu Laras. “Tetapi ada aturan. Buku harus dicatat. Tidak boleh terkena hujan. Tidak boleh dibawa pulang tanpa izin. Dan kalian harus memastikan setiap buku kembali.”

“Kami janji,” kata Rantaka.

Bu Laras lalu membuka lemari kecil di sudut ruangan. Dari dalamnya, ia mengambil sebuah buku tulis tebal yang sampulnya sudah pudar.

“Ini buku peminjaman lama,” katanya. “Dulu sekolah pernah punya perpustakaan kecil. Sekarang, mungkin kalian bisa menghidupkannya lagi.”

Liris menerima buku itu dengan kedua tangan.

Di halaman pertama, masih terlihat tulisan lama yang mulai memudar:

DAFTAR PEMINJAMAN BUKU SD WANASARI

Liris tersenyum.

“Ini seperti menemukan cerita yang belum selesai,” katanya.

Selama tiga hari berikutnya, Banyu bekerja keras membuat gerobak buku.

Ia menggunakan kayu bekas dari meja yang sudah tidak dapat dipakai. Roda gerobak diambil dari sepeda tua milik pamannya yang sudah rusak. Ia meminta bantuan Jagra untuk mengangkat papan, sementara Rantaka membantu memegang kayu saat Banyu memaku bagian-bagiannya.

Liris tidak pandai memaku, tetapi ia membantu dengan cara lain. Ia membuat tulisan untuk bagian depan gerobak.

Dengan cat biru sisa dari gudang sekolah, ia menulis:

GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
Buku Datang, Mimpi Bertumbuh

Tulisan itu tidak terlalu lurus. Catnya juga sedikit menetes di beberapa bagian. Namun, ketika dipasang di bagian depan gerobak, semua orang merasa gerobak itu tampak istimewa.

Jagra berdiri sambil mengamati hasilnya.

“Kelihatannya seperti gerobak penjual sayur,” katanya.

“Kalau penjual sayur membawa makanan untuk perut,” jawab Liris, “gerobak ini membawa makanan untuk pikiran.”

Jagra tertawa. “Kalau begitu, jangan sampai buku-bukunya dimasak.”

Banyu mencoba mendorong gerobak itu di halaman sekolah. Rodanya berderit cukup keras. Salah satu roda sedikit miring, sehingga gerobak berjalan tidak lurus.

“Belok terus,” kata Jagra.

“Karena jalan di desa juga tidak lurus,” jawab Banyu.

Rantaka ikut mendorong dari belakang. “Yang penting bisa berjalan.”

Setelah beberapa kali diperbaiki, gerobak itu akhirnya dapat digunakan.

Tidak sempurna.

Tidak halus.

Tidak seindah gerobak yang mungkin dijual di kota.

Tetapi gerobak itu dibuat dari tangan anak-anak Desa Wanasari. Dari kayu bekas, roda tua, paku yang dikumpulkan satu per satu, dan keinginan untuk membawa buku ke tempat yang belum pernah disentuh buku.

Hari pertama perpustakaan keliling dimulai pada Minggu pagi.

Langit cerah. Jalan tanah masih sedikit lembap oleh hujan malam sebelumnya. Rantaka membawa tikar kecil yang digulung. Liris membawa buku catatan peminjaman dan pensil. Banyu mendorong gerobak buku. Jagra berjalan di sampingnya sambil membawa payung besar, berjaga-jaga jika hujan datang tiba-tiba.

Mereka memilih beberapa buku cerita rakyat, buku berhitung, buku bergambar tentang hewan, buku pengetahuan alam, serta beberapa majalah anak lama yang masih layak dibaca.

Tujuan pertama mereka adalah rumah-rumah di sekitar kebun singkong.

Ketika gerobak itu melewati jalan desa, beberapa warga menoleh. Anak-anak kecil yang sedang bermain kelereng berhenti dan memandangi tulisan di bagian depan gerobak.

“Itu apa?” tanya seorang anak kecil bernama Wawan.

“Gerobak buku,” jawab Liris.

“Buku untuk dijual?”

“Tidak,” kata Rantaka. “Untuk dibaca.”

Anak-anak itu saling pandang.

“Boleh lihat?” tanya Wawan.

“Boleh,” jawab Banyu.

Mereka berhenti di bawah pohon mangga dekat rumah Bu Sari. Rantaka membentangkan tikar. Liris menyusun buku-buku bergambar di atasnya. Banyu menata gerobak agar tidak mudah terguling. Jagra memanggil anak-anak yang masih malu-malu berdiri jauh.

“Kalau mau dengar cerita, duduk sini,” katanya. “Tidak dipungut ikan.”

Anak-anak tertawa dan mulai mendekat.

Liris memilih sebuah buku dongeng tentang burung kecil yang ingin terbang melewati gunung. Ia membacakan cerita itu dengan suara yang jelas dan penuh perasaan. Anak-anak duduk melingkar. Ada yang memegang lutut, ada yang bersandar pada ibunya, ada yang memandangi gambar di buku dengan mata lebar.

Rantaka membantu anak-anak yang belum bisa membaca. Ia menunjukkan huruf-huruf sederhana.

“Ini huruf B,” katanya kepada seorang anak perempuan kecil.

“B seperti apa?” tanya anak itu.

“B seperti buku,” jawab Rantaka.

“B seperti biru?” tanya Liris.

Rantaka tersenyum. “Ya. B seperti biru.”

Banyu memperlihatkan buku bergambar tentang alat-alat sederhana. Ia menjelaskan cara kerja roda, tuas, dan katrol dengan menggunakan gerobak mereka sebagai contoh. Anak-anak terlihat kagum ketika ia menunjukkan bahwa roda tua dapat membantu membawa beban berat.

Jagra awalnya hanya berdiri di belakang. Namun, ketika beberapa anak mulai bertanya tentang ikan sungai, ia mengambil buku bergambar hewan air dan mulai bercerita.

“Kalau ikan gabus, dia bisa bertahan di air yang tidak terlalu banyak,” katanya. “Tapi jangan asal menangkap ikan kecil. Kalau semua ikan kecil diambil, nanti sungainya kosong.”

Seorang ibu yang sedang menyapu halaman berhenti mendengarkan.

“Jagra sekarang pandai bicara,” katanya.

Jagra sedikit malu, tetapi ia tetap melanjutkan ceritanya.

Menjelang siang, lebih banyak anak datang. Ada yang membawa adik kecil. Ada yang meminta dibacakan dongeng lain. Ada pula yang ingin meminjam buku untuk dibawa pulang.

Liris mencatat nama mereka di buku peminjaman.

Nama-nama itu ditulis dengan huruf sederhana, sebagian masih dibantu oleh orang tua mereka. Namun, bagi Liris, setiap nama yang masuk ke dalam buku itu terasa seperti tanda bahwa gerobak kecil mereka benar-benar membawa sesuatu yang berarti.

Pada sore hari, ketika mereka hendak pulang, Bu Sari menghampiri mereka.

“Besok kalian datang lagi?” tanyanya.

“Kami akan datang lagi minggu depan, Bu,” jawab Rantaka.

Bu Sari mengangguk. “Kalau begitu, saya akan mengajak ibu-ibu lain. Anak-anak di sini senang sekali.”

Rantaka menatap sahabat-sahabatnya.

Banyu tampak lelah, tetapi matanya berbinar. Liris memeluk buku peminjaman di dadanya. Jagra mendorong gerobak dari samping sambil sesekali memastikan roda tidak masuk terlalu dalam ke lumpur.

Mereka berjalan pulang melewati jalan tanah yang mulai mengering.

Gerobak itu berderit.

Roda tuanya masih sedikit miring.

Namun, di dalamnya tersimpan buku-buku yang telah dibaca, dipinjam, disentuh, dan didengarkan oleh anak-anak desa.

Di belakang mereka, beberapa anak kecil masih melambaikan tangan.

“Gerobak Buku Langit Biru!” teriak Wawan.

Rantaka menoleh dan tersenyum.

Untuk pertama kalinya, ia merasa Langit Biru bukan lagi hanya nama kelompok mereka.

Langit Biru mulai menjadi gerakan kecil yang membawa harapan dari rumah ke rumah.

 

Bab 12 — Puisi yang Menggetarkan Balai Desa

Gerobak Buku Langit Biru mulai dikenal oleh warga Desa Wanasari.

Setiap Minggu pagi, Banyu mendorong gerobak kayu itu melewati jalan tanah, diikuti Rantaka, Liris, dan Jagra. Roda tua gerobak masih berderit, kadang miring ketika melewati batu atau lumpur, tetapi tidak ada yang lagi menertawakannya seperti pada hari pertama.

Anak-anak kecil justru menunggu kedatangannya.

Mereka berlari dari halaman rumah, membawa tikar kecil atau duduk di bawah pohon terdekat. Ada yang meminta dibacakan dongeng, ada yang ingin melihat gambar hewan, dan ada pula yang hanya ingin membuka buku lalu membalik halaman dengan rasa ingin tahu.

Beberapa ibu mulai ikut duduk bersama anak-anak mereka. Mereka mendengarkan Liris membacakan cerita, memperhatikan Rantaka mengajari huruf, atau tersenyum ketika Jagra menjelaskan tentang ikan sungai dengan cara yang lebih bersemangat daripada biasanya.

Namun, meski gerobak buku membawa suasana baru ke beberapa sudut desa, kabar tentang SD Wanasari tetap menjadi beban yang belum selesai.

Atap kelas enam masih ditutup terpal.

Papan tulis retak masih digunakan setiap hari.

Beberapa meja belum dapat dipakai karena kaki-kakinya rapuh.

Dan surat dari kecamatan tetap menjadi bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Suatu sore, Pak Mulyono meminta Bu Laras menghadiri pertemuan warga di balai desa. Pertemuan itu rencananya membahas beberapa persoalan desa, termasuk keadaan SD Wanasari yang akan segera dinilai kembali oleh tim kecamatan.

Bu Laras datang ke kelas enam sebelum pulang dan menyampaikan kabar itu kepada murid-murid.

“Besok malam akan ada pertemuan warga di balai desa,” katanya. “Pak Mulyono dan Ibu akan menjelaskan keadaan sekolah kita.”

Beberapa murid langsung berbisik.

“Apakah sekolah akan ditutup, Bu?” tanya seorang anak.

“Belum ada keputusan,” jawab Bu Laras. “Tetapi warga perlu mengetahui apa yang sedang terjadi.”

Liris yang duduk di dekat jendela memandang Bu Laras cukup lama. Setelah pelajaran selesai, ia mendekati gurunya.

“Bu,” katanya pelan, “bolehkah anak-anak datang ke pertemuan itu?”

Bu Laras tampak berpikir.

“Pertemuan itu untuk warga dan orang tua,” katanya. “Tetapi kalian boleh datang jika didampingi keluarga.”

Liris mengangguk, lalu menunduk pada buku tulis birunya.

Malam itu, ia tidak langsung tidur.

Di rumah kecilnya, lampu minyak menyala di atas meja kayu. Adiknya telah terlelap di tikar. Ibunya masih merapikan beberapa pakaian yang baru dicuci. Dari luar rumah, suara jangkrik terdengar bersahutan.

Liris duduk sendiri di dekat jendela.

Di depannya terbuka buku tulis biru yang selama ini menyimpan banyak kata. Ada catatan tentang Langit Biru, daftar buku yang dipinjam warga, nama-nama anak kecil yang mulai belajar membaca, serta beberapa puisi pendek yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

Ia memegang pensil cukup lama.

Lalu ia mulai menulis.

Mula-mula hanya satu baris.

Kemudian dua baris.

Lalu semakin banyak.

Ia menulis tentang sekolah tua di ujung kebun singkong. Tentang jendela tanpa kaca. Tentang papan tulis retak. Tentang anak-anak yang datang membawa buku dalam kantong plastik. Tentang guru yang tetap mengajar ketika hujan masuk ke kelas.

Ia juga menulis tentang ketakutan.

Tentang anak-anak yang mungkin harus berjalan jauh ke kecamatan.

Tentang orang tua yang mulai berpikir bahwa sekolah terlalu mahal untuk dipertahankan.

Tentang mimpi yang dapat hilang sebelum sempat tumbuh.

Ketika ibunya mendekat, Liris masih menulis.

“Kau membuat apa?” tanya ibunya.

“Puisi, Bu.”

“Untuk tugas sekolah?”

Liris menggeleng. “Untuk pertemuan di balai desa.”

Ibunya terdiam.

“Kau mau membacakannya?”

“Aku belum tahu.”

Ibunya duduk di sampingnya. Ia membaca beberapa baris yang telah ditulis Liris. Wajahnya berubah perlahan. Setelah selesai membaca, ia tidak langsung berkata apa-apa.

“Kalau kau merasa itu perlu dibacakan,” katanya akhirnya, “bacakanlah.”

“Kalau orang-orang tidak mau mendengar?”

“Kadang orang dewasa perlu diingatkan oleh anak-anak,” jawab ibunya.

Keesokan malamnya, balai desa mulai dipenuhi warga.

Lampu-lampu neon yang tergantung di langit-langit memancarkan cahaya putih pucat. Bangku panjang disusun menghadap meja depan. Di sana duduk Kepala Dusun, beberapa perangkat desa, Pak Mulyono, dan Bu Laras. Beberapa warga datang membawa anak kecil. Ada bapak-bapak yang baru pulang dari kebun, masih mengenakan sandal berlumpur. Ada ibu-ibu yang duduk sambil menggendong bayi.

Rantaka datang bersama Darma dan Rukmini.

Ia duduk di bagian belakang bersama Liris, Banyu, dan Jagra. Mereka tidak banyak bicara. Semua menunggu pembahasan tentang sekolah dimulai.

Setelah beberapa urusan desa dibicarakan, Kepala Dusun berdiri.

“Sekarang kita membahas keadaan SD Wanasari,” katanya.

Suasana balai desa langsung lebih hening.

Pak Mulyono kemudian berdiri. Ia membawa beberapa lembar kertas dan berbicara dengan suara tenang, tetapi tegas.

Ia menjelaskan bahwa sekolah akan dievaluasi oleh kecamatan. Jumlah murid dianggap sedikit. Bangunan sekolah dinilai tidak layak di beberapa bagian. Fasilitas belajar terbatas. Atap kelas enam yang runtuh menjadi salah satu catatan penting.

“Kami telah melakukan pembersihan dan perbaikan sederhana,” kata Pak Mulyono. “Anak-anak bahkan ikut menjaga lingkungan sekolah. Namun, untuk perbaikan yang lebih besar, kita membutuhkan dukungan bersama.”

Seorang warga mengangkat tangan.

“Dukungan seperti apa, Pak?” tanyanya.

“Dukungan tenaga, gagasan, dan jika memungkinkan, bantuan bahan untuk perbaikan ringan. Yang terpenting, kita harus menunjukkan bahwa sekolah ini masih dibutuhkan oleh warga.”

Seorang bapak di bagian tengah bangku menghela napas.

“Sekolah memang penting,” katanya. “Tetapi kita juga harus realistis. Kalau bangunannya sudah terlalu rusak dan kecamatan ingin menutup, kita bisa apa?”

Beberapa orang mengangguk pelan.

“Anak-anak bisa pindah ke kecamatan,” kata warga lain. “Memang jauh, tapi mungkin itu lebih baik daripada belajar di bangunan yang tidak aman.”

Rantaka merasakan tangan ibunya menyentuh bahunya. Ia tahu ibunya juga cemas.

Pak Mulyono belum sempat menjawab ketika seorang ibu berdiri.

“Anak saya kelas satu,” katanya. “Kalau harus ke kecamatan, siapa yang mengantar? Suami saya pergi ke kebun sebelum matahari terbit. Saya harus menjaga anak yang kecil. Kami tidak punya sepeda motor.”

Balai desa kembali hening.

Kepala Dusun memandang warga satu per satu.

“Kita semua memahami kesulitan itu,” katanya. “Tetapi masalah biaya perbaikan sekolah juga bukan perkara kecil.”

Kata-kata itu membuat suasana semakin berat.

Liris menunduk. Di pangkuannya, buku tulis biru ia pegang erat-erat. Tangannya terlihat gemetar.

Rantaka yang duduk di sebelahnya melihat hal itu.

“Kau ingin membacakan puisimu?” bisiknya.

Liris tidak menjawab.

“Aku takut,” katanya akhirnya.

“Kenapa?”

“Karena mereka semua orang dewasa.”

Rantaka memandang ke depan. Wajah-wajah warga terlihat lelah. Ada yang tampak putus asa. Ada yang sedang menghitung kesulitan dalam pikirannya. Ada pula yang mungkin sudah membayangkan anak-anak mereka harus berhenti sekolah.

“Justru karena mereka orang dewasa,” kata Rantaka pelan, “mereka perlu mendengar suara anak-anak.”

Liris menatapnya.

Banyu mengangguk. “Puisi itu bisa membuat mereka melihat sekolah dari sisi yang lain.”

Jagra yang biasanya paling banyak bercanda kini berkata dengan serius, “Kalau kau tidak berani, aku yang maju. Tapi aku tidak bisa membuat puisi.”

Liris hampir tersenyum.

Kemudian ia berdiri.

Gerakannya membuat beberapa warga menoleh. Bu Laras yang duduk di depan melihat Liris dengan wajah terkejut. Liris berjalan perlahan menuju meja depan. Kakinya tampak ragu, tetapi ia terus melangkah.

“Pak,” katanya kepada Kepala Dusun, “bolehkah saya membacakan sesuatu?”

Kepala Dusun memandang Pak Mulyono dan Bu Laras. Bu Laras mengangguk.

“Silakan, Liris,” kata Kepala Dusun.

Liris berdiri di depan balai desa.

Tangannya memegang buku tulis biru. Suaranya pada awalnya kecil, hampir tenggelam oleh bunyi kipas angin tua di sudut ruangan. Namun, setelah membaca beberapa baris pertama, suaranya perlahan menjadi lebih jelas.

Ia membacakan puisi berjudul “Sekolah yang Menunggu Pagi.”

Di ujung kebun singkong
ada sekolah kecil yang tidak meminta istana
hanya atap yang tidak bocor
dan papan tulis untuk menulis nama kami.

Di sana kami belajar mengeja dunia
dari huruf-huruf yang kadang pudar
dari buku-buku tua
yang tetap membuka jalan.

Jangan tutup pintunya
sebelum kami sempat melangkah jauh.
Jangan padamkan lampunya
sebelum kami belajar menjadi cahaya.

Sebab kami bukan angka dalam daftar murid.
Kami adalah anak-anak desa
yang ingin percaya
bahwa masa depan juga mengenal alamat rumah kami.

Ketika Liris selesai, balai desa menjadi sangat sunyi.

Tidak ada tepuk tangan pada awalnya.

Hanya kesunyian.

Kesunyian yang penuh oleh kata-kata yang baru saja jatuh ke hati banyak orang.

Seorang ibu di bangku depan mengusap matanya. Ia memeluk anak kecil di pangkuannya lebih erat. Seorang bapak yang tadi berkata tentang pindah ke kecamatan menunduk cukup lama. Bahkan Kepala Dusun tampak tidak segera menemukan kata-kata.

Bu Laras berdiri dari tempat duduknya.

Ia mendekati Liris, lalu memegang bahu muridnya dengan lembut.

“Terima kasih,” katanya.

Suara Bu Laras terdengar bergetar.

Tepuk tangan mulai terdengar.

Mula-mula dari satu orang.

Kemudian dari beberapa orang.

Lalu seluruh balai desa dipenuhi tepuk tangan yang panjang.

Rantaka melihat Liris menunduk, menahan air mata. Banyu tersenyum kecil. Jagra menepuk tangan paling keras, seolah ingin memastikan semua orang tahu bahwa sahabatnya telah melakukan sesuatu yang besar.

Setelah suasana sedikit tenang, Bu Sari berdiri.

“Saya tidak punya uang banyak,” katanya. “Tetapi saya bisa membantu memasak untuk warga yang bekerja memperbaiki sekolah.”

Seorang bapak dari ujung ruangan menyahut, “Saya punya beberapa batang bambu di belakang rumah. Kalau diperlukan, boleh diambil.”

Warga lain berkata, “Saya bisa membantu memperbaiki saluran air.”

Beberapa ibu mulai berbicara tentang mengumpulkan bahan makanan. Para pemuda desa yang duduk di belakang mulai membicarakan cara memperbaiki bagian pagar dan teras sekolah.

Harapan tidak langsung berubah menjadi jawaban.

Atap kelas enam belum tiba-tiba menjadi baru.

Papan tulis retak belum kembali utuh.

Masalah biaya perbaikan sekolah juga belum selesai.

Namun, malam itu, sesuatu yang sebelumnya terasa padam mulai menyala kembali.

Kepala Dusun berdiri dan memandang seluruh warga.

“Kita belum memiliki semua jalan,” katanya. “Tetapi malam ini kita tahu bahwa anak-anak kita masih ingin berjalan. Jangan sampai kita menjadi orang dewasa yang menutup jalan itu sebelum mereka mencoba.”

Kalimat itu membuat banyak orang terdiam.

Rantaka memandang sahabat-sahabatnya.

Di tangan Liris, buku tulis biru masih terbuka pada halaman puisi. Halaman itu tidak lagi hanya menyimpan kata-kata. Ia telah menjadi suara yang membuat satu balai desa berhenti, mendengar, dan mengingat kembali arti sebuah sekolah.

Ketika pertemuan selesai, warga pulang dengan langkah yang berbeda.

Mereka masih membawa kekhawatiran.

Namun, mereka juga membawa percakapan baru.

Tentang bambu yang dapat disumbangkan.

Tentang tenaga yang dapat diberikan.

Tentang anak-anak yang harus tetap sekolah.

Di luar balai desa, langit malam terbentang gelap, tetapi bintang-bintang mulai tampak di antara awan.

Rantaka berdiri di dekat Liris.

“Puisimu membuat mereka diam,” katanya.

Liris menatap langit.

“Aku hanya menulis apa yang kami rasakan,” jawabnya.

Rantaka mengangguk.

Kadang, satu puisi tidak dapat memperbaiki atap yang runtuh.

Tetapi satu puisi dapat membuat orang-orang yang hampir menyerah kembali mengangkat kepala.

Dan malam itu, di Balai Desa Wanasari, suara seorang anak telah menggetarkan harapan yang hampir hilang.

 

BAGIAN III

UJIAN DI DALAM RUMAH

Bab 13 — Ladang yang Menelan Langkah

Beberapa hari setelah pertemuan di balai desa, Desa Wanasari kembali dipenuhi kesibukan kecil yang membawa harapan.

Di halaman SD Wanasari, beberapa warga mulai datang pada sore hari untuk membantu pekerjaan ringan. Ada yang membawa bambu, ada yang memperbaiki bagian pagar, dan ada pula yang membersihkan saluran air di belakang kelas. Bu Sari bersama ibu-ibu lain kadang mengirimkan teh hangat dan singkong rebus untuk mereka yang bekerja.

Atap kelas enam memang belum dapat diperbaiki sepenuhnya. Terpal tua masih menutup bagian yang runtuh. Papan tulis retak masih tergantung di depan kelas. Namun, setelah puisi Liris dibacakan di balai desa, sekolah itu tidak lagi terasa seperti tempat yang ditinggalkan sendirian.

Warga mulai datang.

Anak-anak mulai lebih rajin menjaga kebersihan.

Dan Langit Biru terus menjalankan Gerobak Buku setiap Minggu.

Rantaka seharusnya merasa lega.

Namun, pada suatu pagi, sebelum matahari benar-benar naik, sebuah peristiwa mengubah suasana rumahnya.

Hari itu Darma berangkat ke ladang lebih awal dari biasanya.

Musim hujan membuat tanah di kebun menjadi lembap. Beberapa pohon kecil di bagian pinggir ladang perlu dibersihkan agar tidak mengganggu tanaman singkong. Darma membawa parang, tali, dan bekal nasi yang dibungkus daun pisang.

Sebelum berangkat, ia sempat melihat Rantaka yang sedang mengenakan seragam sekolah.

“Belajar yang sungguh-sungguh,” katanya.

“Iya, Yah,” jawab Rantaka.

Darma mengangguk, lalu berjalan menyusuri jalan tanah menuju ladang.

Rantaka tidak tahu bahwa pagi itu akan menjadi pagi terakhir ia melihat ayahnya berjalan dengan langkah tegap.

Menjelang siang, ketika pelajaran di kelas enam sedang berlangsung, suara gaduh terdengar dari halaman sekolah.

Seorang lelaki berlari masuk melalui gerbang. Bajunya basah oleh keringat dan lumpur. Wajahnya tampak panik.

Pak Mulyono yang sedang berjalan menuju kantor segera menghampirinya.

“Ada apa, Pak Jamin?” tanya kepala sekolah.

“Pak Darma kecelakaan di ladang,” jawab lelaki itu terengah-engah. “Kakinya tertimpa batang pohon.”

Rantaka yang duduk di dalam kelas langsung berdiri.

Kata-kata itu seperti menghantam kepalanya.

Bu Laras menoleh ke arah Rantaka. Wajahnya berubah pucat.

“Rantaka,” katanya pelan.

Namun, Rantaka sudah berlari keluar kelas.

Ia tidak sempat mengambil tas. Ia tidak sempat berpikir. Yang ada di kepalanya hanya ayahnya, ladang, dan batang pohon yang jatuh.

Pak Jamin berusaha menahannya.

“Jangan lari sendiri, Nak. Bapakmu sudah dibawa warga ke rumah.”

Rantaka berhenti, tetapi dadanya terasa seperti terbakar. Bu Laras keluar dari kelas dan memegang bahunya.

“Pulanglah bersama Pak Jamin,” katanya. “Ibu akan menyusul.”

Rantaka mengangguk tanpa benar-benar mendengar.

Ia menaiki sepeda Pak Jamin di bagian belakang. Sepanjang perjalanan, roda sepeda memercikkan lumpur. Jalan tanah yang biasa ia lalui setiap hari kini terasa jauh lebih panjang. Pohon-pohon, sawah, dan rumah-rumah warga lewat begitu cepat di matanya.

Ketika sampai di rumah, beberapa orang sudah berkumpul di halaman.

Rukmini berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat. Matanya merah. Di dalam rumah, Darma berbaring di atas tikar. Celananya digulung hingga lutut. Kaki kirinya dibalut kain, tetapi darah masih terlihat merembes di beberapa bagian.

Seorang warga sedang mengompres bagian yang bengkak dengan air hangat.

“Ayah!” seru Rantaka.

Darma membuka mata perlahan.

“Rantaka,” katanya dengan suara lemah.

Rantaka duduk di sampingnya. Tangannya gemetar ketika menyentuh tangan ayahnya.

“Ayah sakit?”

Darma mencoba tersenyum, tetapi wajahnya menahan nyeri.

“Tidak apa-apa,” katanya. “Hanya kaki Bapak yang sedang keras kepala.”

Namun, Rantaka tahu itu bukan hal kecil.

Pak Jamin kemudian menceritakan apa yang terjadi. Darma sedang membantu menebang batang pohon tua di pinggir ladang. Tanah yang licin membuat salah satu warga terpeleset saat menarik tali. Batang pohon itu jatuh lebih cepat dari perkiraan dan mengenai kaki Darma sebelum ia sempat menghindar.

Warga segera mengangkat batang tersebut dan membawa Darma pulang.

“Harus dibawa ke puskesmas,” kata Bu Laras yang datang tidak lama kemudian.

Rukmini mengangguk, tetapi wajahnya tampak bingung.

“Bagaimana membawanya?” tanyanya.

Pak Jamin menawarkan sepeda motor miliknya. Dua warga lain membantu mengangkat Darma dengan hati-hati. Rantaka ikut duduk di belakang Rukmini saat mereka berangkat menuju puskesmas di kecamatan pembantu yang letaknya beberapa kampung dari Desa Wanasari.

Perjalanan terasa sangat panjang.

Setiap kali motor melewati jalan berlubang, Darma meringis kesakitan. Rantaka memegang punggung ibunya erat-erat. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi air matanya jatuh tanpa suara.

Di puskesmas, petugas memeriksa kaki Darma.

Rantaka dan Rukmini menunggu di lorong sempit yang dindingnya berwarna putih kusam. Bau obat-obatan memenuhi udara. Di sudut ruangan, seorang anak kecil menangis dalam pelukan ibunya. Di luar, hujan gerimis mulai turun lagi.

Setelah beberapa waktu, petugas kesehatan keluar.

“Kakinya mengalami cedera cukup berat,” katanya kepada Rukmini. “Tidak patah, tetapi ada luka dan pembengkakan yang harus dirawat. Untuk beberapa waktu, Pak Darma tidak boleh bekerja berat atau banyak berjalan.”

Rukmini mengangguk pelan.

“Berapa lama?” tanyanya.

“Mungkin beberapa minggu. Bisa lebih lama, tergantung pemulihannya.”

Beberapa minggu.

Bagi keluarga lain, mungkin kalimat itu hanya berarti waktu untuk beristirahat.

Namun, bagi keluarga Rantaka, beberapa minggu tanpa Darma bekerja berarti tidak ada penghasilan dari ladang. Tidak ada upah harian. Tidak ada uang tambahan untuk membeli kebutuhan rumah, obat, atau perlengkapan sekolah.

Rantaka memandang ibunya.

Rukmini berusaha terlihat kuat. Ia mengucapkan terima kasih kepada petugas, mengurus obat, lalu kembali menemani Darma. Tetapi ketika ia mengira Rantaka tidak melihat, ia duduk di kursi lorong dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Rantaka berdiri diam.

Ia ingin berkata sesuatu.

Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, ia tidak tahu bagaimana cara meyakinkan ibunya ketika dirinya sendiri merasa takut.

Menjelang sore, mereka pulang ke rumah.

Darma dibaringkan di tikar dekat jendela agar mendapat udara lebih banyak. Kakinya dibalut lebih rapi. Obat-obatan diletakkan di atas meja kecil. Pak Jamin dan beberapa warga membantu memperbaiki posisi tempat tidur agar Darma lebih nyaman.

Saat warga mulai pulang, rumah itu mendadak terasa sunyi.

Tidak ada suara Darma bersiap pergi ke ladang.

Tidak ada parang yang diasah di halaman.

Tidak ada langkah kaki ayahnya menuju kebun pada pagi hari.

Yang ada hanya suara hujan yang kembali turun di atap rumah.

Malam itu, Rukmini memasak nasi dengan lauk sederhana. Darma makan sedikit, lalu minum obat. Rantaka duduk di dekatnya sambil memperhatikan wajah ayahnya.

“Besok aku tidak usah sekolah dulu,” kata Rantaka tiba-tiba.

Darma menoleh.

“Kenapa?”

“Aku bisa membantu Ibu. Aku bisa ke ladang melihat tanaman. Aku bisa mencari rumput untuk kambing.”

Darma diam beberapa saat.

“Kau tetap sekolah,” katanya.

“Tapi Ayah tidak bisa bekerja.”

“Itu urusan orang dewasa.”

“Aku juga bisa bekerja.”

Darma memandang anaknya dengan mata yang lelah, tetapi tegas.

“Kau memang bisa membantu,” katanya. “Dan Bapak senang kau mau membantu. Tetapi jangan jadikan kesulitan ini alasan untuk meninggalkan sekolah.”

Rantaka menunduk.

“Tapi bagaimana kalau kita tidak punya uang?”

Darma menarik napas perlahan, menahan rasa sakit di kakinya.

“Kita akan berusaha,” katanya. “Satu hari demi satu hari.”

Rantaka tidak menjawab.

Ia tahu ayahnya sedang berusaha menenangkan dirinya. Namun, ia juga tahu bahwa di balik kata-kata itu ada kecemasan yang besar.

Setelah Darma tidur, Rantaka membantu Rukmini mencuci piring di dapur. Lampu minyak menyala redup. Di atas rak, kaleng tempat menyimpan uang hasil jualan kue masih berada di tempatnya.

Rukmini membuka kaleng itu dan menghitung uang di dalamnya.

Tidak banyak.

Rantaka melihat ibunya berhenti cukup lama ketika menghitung lembar terakhir.

“Bu,” katanya pelan, “besok aku bisa membantu menjual kue lebih banyak.”

Rukmini menatapnya.

“Kau tetap harus sekolah.”

“Aku bisa berangkat lebih pagi.”

Rukmini tidak langsung menjawab. Ia menutup kaleng itu, lalu menyimpannya kembali di rak.

“Kita lihat nanti,” katanya.

Jawaban itu terdengar sederhana.

Namun, bagi Rantaka, jawaban itu terasa seperti pintu yang mulai terbuka menuju hari-hari yang lebih berat.

Di luar rumah, hujan semakin deras.

Air mengalir dari atap ke tanah, membentuk garis-garis kecil di halaman. Jalan menuju ladang yang biasa dilalui Darma kini berubah menjadi lumpur gelap. Ladang itu tetap ada di kejauhan, tetapi bagi Rantaka, tempat itu seperti telah menelan langkah ayahnya dan mengembalikannya dalam keadaan lemah.

Malam semakin larut.

Rantaka berbaring di tikarnya, tetapi tidak dapat tidur.

Ia memikirkan ayahnya.

Ia memikirkan ibunya yang menghitung uang dalam diam.

Ia memikirkan sekolah yang sedang berjuang agar tidak ditutup.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa perjuangan itu tidak lagi hanya terjadi di halaman SD Wanasari.

Perjuangan itu telah masuk ke dalam rumahnya sendiri.

 

Bab 14 — Kue-Kue di Atas Sepeda Tua

Pagi di rumah Rantaka tidak lagi sama sejak kaki Darma terluka.

Sebelumnya, sebelum ayam jantan berkokok untuk kedua kalinya, Darma sudah bangun dan menyalakan lampu minyak di dapur. Ia akan menyiapkan parang, mengenakan topi lusuhnya, lalu berangkat ke ladang sambil membawa bekal nasi yang dibungkus daun pisang.

Kini, pada jam yang sama, Darma masih berbaring di tikar dekat jendela.

Kakinya dibalut kain putih. Di sampingnya ada botol obat, segelas air, dan tongkat kayu yang dibuat Pak Jamin agar ia dapat berjalan ke halaman jika benar-benar perlu. Namun, Darma lebih sering hanya duduk diam, memandangi jalan tanah di depan rumah dengan wajah yang sulit dibaca.

Rantaka selalu terbangun ketika mendengar ibunya bergerak di dapur.

Pagi itu, langit masih gelap ketika ia membuka mata. Dari dapur terdengar bunyi sendok mengaduk adonan dan suara minyak panas yang mendesis. Bau pisang goreng, kue cucur, dan singkong rebus perlahan memenuhi rumah kecil mereka.

Rantaka bangkit dari tikar.

“Bu,” katanya dari ambang dapur, “aku bantu.”

Rukmini menoleh. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.

“Kau bangun terlalu pagi.”

“Aku tidak mengantuk.”

Rukmini tidak langsung menjawab. Ia sedang mengangkat kue cucur dari wajan, lalu meletakkannya di atas tampah yang sudah dialasi daun pisang.

Sejak Darma tidak dapat bekerja, Rukmini mulai membuat lebih banyak kue untuk dijual. Biasanya, ia hanya menerima pesanan dari beberapa tetangga atau menitipkan kue di warung kecil dekat jalan utama desa. Namun, sekarang ia harus berkeliling agar lebih banyak kue terjual.

Masalahnya, Rukmini tidak bisa meninggalkan Darma terlalu lama.

Karena itulah, Rantaka ingin membantu.

“Aku bisa mengantar kue ke rumah-rumah,” katanya lagi. “Aku pakai sepeda tua.”

Rukmini menatapnya cukup lama.

“Setelah itu kau harus sekolah.”

“Iya, Bu. Aku berangkat sebelum teman-teman datang.”

Dari tikar dekat jendela, Darma membuka mata.

“Jangan sampai terlambat,” katanya.

Rantaka menoleh. “Tidak akan, Yah.”

Darma memandang anaknya dengan serius. “Membantu Ibu itu baik. Tapi sekolah tetap yang utama.”

Rantaka mengangguk.

Ia ingin berkata bahwa ia mengerti. Namun, di dalam hatinya, ia mulai merasa bahwa hidup tidak selalu memberi pilihan yang mudah. Ia harus membantu ibunya. Ia juga harus tetap sekolah. Ia harus menjaga nilai pelajaran agar tidak tertinggal. Ia harus tetap menjalankan Gerobak Buku bersama Langit Biru.

Semua itu terasa seperti beban yang terlalu banyak untuk dipikul oleh seorang anak kelas enam.

Tetapi Rantaka tidak ingin menyerah.

Pagi itu, Rukmini menyusun kue-kue ke dalam dua keranjang kecil. Ada pisang goreng, kue cucur, lemper, dan singkong rebus. Keranjang itu kemudian diikat pada bagian belakang sepeda tua milik Darma.

Sepeda itu sudah sangat tua.

Cat birunya hampir habis. Rantai sepedanya sering berbunyi keras. Sadel kulitnya sobek di beberapa bagian dan ditutup dengan kain bekas. Rem depannya tidak terlalu kuat, sehingga Rantaka harus berhati-hati ketika melewati jalan menurun.

Namun, sepeda itu masih dapat berjalan.

Dan pagi itu, sepeda tua itu menjadi jalan pertama Rantaka untuk membantu keluarganya.

“Jangan terlalu jauh,” pesan Rukmini sambil mengikatkan kain kecil pada keranjang agar kue tidak terkena debu.

“Aku ke rumah Bu Sari, Pak Jamin, lalu ke warung dekat jalan besar.”

“Kalau belum habis?”

“Aku coba ke rumah-rumah yang lain.”

Rukmini mengangguk pelan.

Rantaka lalu mendorong sepeda keluar halaman. Udara pagi masih dingin. Kabut tipis menggantung di atas sawah. Jalan tanah belum ramai, hanya terlihat beberapa warga yang berjalan menuju kebun atau membawa rumput untuk ternak.

Keranjang kue di belakang sepeda bergoyang-goyang saat ia mengayuh.

Rumah pertama yang ia datangi adalah rumah Bu Sari.

Bu Sari sedang menyapu halaman ketika melihat Rantaka datang.

“Pagi-pagi sekali sudah berjualan?” tanyanya.

“Iya, Bu. Ibu mau kue?”

Bu Sari mendekat dan melihat isi keranjang.

“Wah, ada kue cucur. Berapa?”

Rantaka menyebutkan harga dengan suara pelan. Bu Sari membeli beberapa bungkus, lalu menambahkan satu lemper lagi.

“Ini untuk Bu Rukmini,” katanya. “Bilang padanya, kalau ada pesanan untuk kegiatan warga, saya akan kabari.”

“Terima kasih, Bu.”

Dari rumah Bu Sari, Rantaka pergi ke rumah Pak Jamin. Kemudian ke rumah seorang ibu yang biasa membeli singkong rebus. Setelah itu, ia menuju warung kecil di ujung jalan desa.

Di warung itu, ia menitipkan beberapa kue kepada pemiliknya.

“Kalau laku, nanti sore saya ambil uangnya,” kata Rantaka.

Pemilik warung mengangguk. “Boleh. Tapi jangan terlalu banyak dulu.”

Rantaka mengerti. Tidak semua orang bisa membeli. Banyak warga desa juga sedang mengatur pengeluaran mereka sendiri. Namun, ia tetap bersyukur karena beberapa kue telah terjual.

Saat matahari mulai naik, Rantaka melihat waktu.

Ia segera mengayuh sepeda menuju sekolah.

Jalan tanah yang semula lengang kini mulai ramai. Beberapa anak berjalan sambil membawa tas. Ada yang melambaikan tangan ketika melihat Rantaka lewat.

“Rantaka, kau dari mana?” teriak Jagra dari kejauhan.

Rantaka hanya menjawab sambil terus mengayuh, “Nanti saja!”

Ia sampai di SD Wanasari ketika bel hampir berbunyi.

Napasnya terengah-engah. Keringat membasahi bagian belakang seragamnya. Tangannya sedikit lengket karena tadi membantu membungkus kue. Ia langsung meletakkan sepeda di bawah pohon beringin, lalu berlari menuju kelas.

Liris sudah duduk di bangkunya.

“Kau terlambat?” tanyanya.

“Belum,” jawab Rantaka sambil menarik napas. “Hampir.”

Banyu yang duduk di belakang memperhatikan wajahnya.

“Kau terlihat capai.”

“Aku membantu Ibu menjual kue.”

Jagra menoleh. “Sejak pagi?”

Rantaka mengangguk.

Liris tampak ingin bertanya lebih banyak, tetapi Bu Laras sudah masuk kelas.

Pelajaran dimulai.

Hari itu, Bu Laras menjelaskan tentang pecahan dan perbandingan. Ia menulis beberapa soal di papan tulis retak. Kapur bergerak perlahan di sisi kiri papan, menghindari garis retakan panjang yang membelah permukaannya.

Rantaka berusaha memperhatikan.

Namun, matanya terasa berat.

Kata-kata Bu Laras terdengar seperti datang dari jauh. Angka-angka di papan tulis mulai terlihat kabur. Ia mencoba menyalin soal ke buku, tetapi tangannya bergerak lambat.

Ketika Bu Laras bertanya, “Siapa yang bisa menjawab soal nomor tiga?” Rantaka biasanya akan mengangkat tangan.

Hari itu, ia hanya menunduk.

Liris meliriknya dengan cemas.

Saat jam istirahat, Rantaka duduk di teras kelas sambil meminum air dari botol kecil. Jagra datang membawa singkong rebus.

“Ambil,” katanya.

“Aku tidak lapar.”

“Kalau tidak lapar, kenapa wajahmu seperti orang yang baru mendorong gerobak sampai kecamatan?”

Rantaka tersenyum tipis. Ia menerima singkong itu.

Banyu duduk di sebelahnya.

“Kalau kau harus membantu Ibu setiap pagi, kita bisa mengubah jadwal Gerobak Buku,” katanya.

Rantaka menggeleng. “Tidak usah. Gerobak Buku tetap jalan.”

“Kau tidak harus melakukan semuanya sendiri,” kata Liris yang baru datang membawa buku catatan.

Rantaka memandang ketiga sahabatnya.

Ia tahu mereka berniat baik. Namun, ia juga merasa malu. Selama ini, ia selalu ingin menjadi orang yang mengajak dan menguatkan mereka. Kini, ketika keluarganya sedang kesulitan, ia tidak ingin terlihat seperti anak yang tidak sanggup menjalankan tanggung jawabnya.

“Aku bisa,” katanya pelan.

Jagra tidak membantah. Ia hanya duduk di samping Rantaka.

Namun, setelah beberapa hari, keadaan mulai terasa semakin berat.

Setiap pagi, Rantaka membantu Rukmini menyiapkan dan mengantar kue. Kadang ia harus mengayuh lebih jauh karena beberapa pembeli tinggal di sisi lain desa. Jika hujan turun, jalan menjadi licin dan roda sepedanya sering masuk ke lumpur. Beberapa kali, keranjang kue hampir jatuh ketika ia melewati jalan berbatu.

Suatu pagi, rantai sepeda lepas.

Rantaka sedang membawa kue ke warung ketika sepeda itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Ia berjongkok, mencoba memasang rantai dengan tangan yang gemetar. Oli hitam menempel di jarinya. Waktu terus berjalan.

Ketika rantai akhirnya terpasang, seragamnya sudah terkena noda.

Ia mengayuh secepat mungkin menuju sekolah.

Hari itu, ia benar-benar terlambat.

Bu Laras sedang mengajar ketika Rantaka berdiri di pintu kelas. Beberapa murid menoleh. Rantaka menunduk, menahan malu.

“Maaf, Bu,” katanya.

Bu Laras memandangnya. Matanya sempat jatuh pada seragam Rantaka yang kotor oleh oli dan lumpur.

“Masuklah,” katanya lembut.

Rantaka duduk di bangkunya tanpa berani menatap siapa pun.

Setelah pelajaran selesai, Bu Laras memanggilnya ke meja guru.

“Rantaka, apakah ada sesuatu yang ingin kau ceritakan?”

Rantaka diam.

Bu Laras tidak memaksanya. Ia hanya menunggu.

“Ayah saya belum bisa bekerja, Bu,” kata Rantaka akhirnya. “Saya membantu Ibu jualan kue.”

Bu Laras mengangguk pelan.

“Itu tanggung jawab yang besar.”

“Saya tidak mau terlambat, Bu. Tapi kadang tidak sempat.”

Bu Laras memandang buku tulis Rantaka. Beberapa catatan pelajaran terlihat belum selesai. Ada soal yang kosong. Ada tulisan yang lebih berantakan daripada biasanya.

“Kau boleh membantu keluargamu,” kata Bu Laras. “Tetapi jangan biarkan kelelahan membuatmu kehilangan pelajaran.”

Rantaka menunduk.

“Saya akan berusaha.”

“Kalau ada pelajaran yang tertinggal, datanglah setelah sekolah. Ibu akan membantu.”

Rantaka menatap gurunya.

“Benarkah, Bu?”

Bu Laras tersenyum. “Benar.”

Sejak hari itu, Rantaka mulai tinggal beberapa waktu setelah sekolah selesai.

Saat teman-teman lain pulang, ia duduk di kelas bersama Bu Laras. Mereka mengulang pelajaran matematika, membaca kembali teks Bahasa Indonesia, dan membahas soal-soal yang belum ia pahami.

Kadang Liris ikut tinggal untuk membantu Rantaka mencatat pelajaran.

Kadang Banyu membawa alat tulis tambahan.

Jagra, meski sering berkata bahwa ia tidak suka belajar terlalu lama, tetap datang membawa singkong rebus atau pisang dari rumah.

“Kau harus makan,” katanya. “Kalau tidak, kau akan tertidur di atas buku.”

Rantaka mulai menyadari bahwa kelelahan tidak hanya membuat tubuhnya berat. Kelelahan juga membuatnya mudah merasa sendiri.

Padahal, ia tidak sendiri.

Suatu sore, setelah selesai belajar tambahan, Rantaka berjalan pulang sambil mendorong sepeda tua. Matahari mulai turun di balik kebun singkong. Langit berwarna jingga pucat. Jalan tanah masih menyimpan bekas roda gerobak dan jejak kaki warga.

Di belakang sepedanya, keranjang kue sudah kosong.

Sebagian kue terjual.

Sebagian lagi dibawa pulang untuk ayah dan ibunya.

Ketika sampai di rumah, Darma duduk di depan pintu dengan tongkat kayu di sampingnya. Kakinya masih dibalut, tetapi wajahnya tampak sedikit lebih segar.

“Bagaimana sekolah?” tanya Darma.

“Baik, Yah.”

“Tidak terlambat?”

Rantaka berhenti sejenak.

“Hari ini tidak.”

Darma tersenyum tipis.

Rantaka masuk ke rumah dan melihat ibunya sedang menghitung uang hasil jualan. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membeli beras, minyak goreng, dan sebagian obat ayahnya.

Rukmini menatap anaknya.

“Kau capai?”

Rantaka ingin menjawab tidak.

Namun, kali ini ia memilih berkata jujur.

“Sedikit, Bu.”

Rukmini mendekat dan mengusap rambutnya.

“Terima kasih sudah membantu.”

Kalimat itu membuat dada Rantaka terasa hangat sekaligus sesak.

Ia tahu hari-hari berikutnya mungkin akan lebih berat.

Sepeda tua itu mungkin akan kembali rusak.

Kue-kue mungkin tidak selalu habis terjual.

Pelajaran di sekolah mungkin semakin sulit dikejar.

Namun, setiap pagi, Rantaka akan tetap mengayuh sepeda itu.

Membawa kue-kue untuk membantu keluarganya.

Lalu berlari menuju sekolah, membawa harapan agar mimpinya tidak tertinggal di belakang.

 

Bab 15 — Uang Tabungan yang Hilang

Malam itu, hujan turun pelan di Desa Wanasari.

Tidak deras seperti hujan yang pernah merobohkan bagian atap SD Wanasari, tetapi cukup untuk membuat jalan tanah kembali basah dan licin. Dari dalam rumah, suara air yang jatuh dari ujung atap terdengar teratur, seperti seseorang sedang mengetuk tanah tanpa henti.

Rantaka duduk di dekat lampu minyak sambil membuka buku pelajarannya.

Di hadapannya, ada soal-soal matematika yang diberikan Bu Laras. Beberapa angka sudah ia kerjakan. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya berada di halaman buku. Dari dapur, ia mendengar suara ibunya membuka kaleng kecil tempat menyimpan uang.

Kaleng itu sudah sangat dikenalnya.

Kaleng bekas biskuit berwarna biru tua itu selalu disimpan Rukmini di atas rak dapur, di belakang beberapa piring dan gelas. Di dalamnya, ada uang hasil jualan kue, uang untuk membeli beras, serta sedikit tabungan yang mereka simpan untuk keperluan mendadak.

Dulu, Rantaka juga memiliki bagian kecil di dalam kaleng itu.

Bukan uang yang banyak.

Hanya hasil dari beberapa kali membantu menjual kue, uang pemberian kakeknya saat Lebaran, dan uang hadiah ketika ia pernah menjadi juara membaca di kelas. Rukmini menyimpannya terpisah dalam amplop cokelat kecil.

Uang itu rencananya akan digunakan untuk membeli buku pelajaran baru dan seragam sekolah ketika seragam lamanya sudah tidak lagi layak dipakai.

Namun, malam itu, suara lembaran uang yang dihitung terdengar lebih sedikit dari biasanya.

Rantaka menoleh ke arah dapur.

Rukmini duduk di lantai, dekat meja kecil. Lampu minyak di dapur membuat wajahnya tampak lebih pucat. Di depannya terbuka kaleng biru tua, beberapa lembar uang, serta bungkus obat Darma yang harus dibeli lagi.

Darma duduk di dekat jendela dengan kaki masih dibalut. Ia tidak berkata apa-apa. Tangannya hanya memegang tongkat kayu yang kini selalu berada di sampingnya.

“Obatnya tinggal sedikit,” kata Rukmini pelan.

Darma mengangguk.

“Besok harus dibeli lagi,” lanjut Rukmini. “Petugas puskesmas bilang lukanya jangan sampai terlambat dirawat.”

“Aku masih punya uang dari jualan kue,” kata Darma.

Rukmini menggeleng. “Itu sudah dipakai untuk beras dan minyak. Tinggal ini.”

Darma menunduk.

Rantaka tidak lagi melihat buku pelajarannya.

Ia memandangi ibunya yang membuka amplop cokelat kecil dari dalam kaleng. Amplop itu sudah kusut di bagian sudut. Rukmini memegangnya cukup lama sebelum akhirnya membuka lipatannya.

Rantaka tahu amplop itu miliknya.

Dadanya terasa seperti ditarik.

Rukmini menghitung uang di dalamnya. Ada beberapa lembar uang kecil dan beberapa lembar yang lebih besar. Jumlahnya tidak banyak bagi orang lain, tetapi bagi Rantaka, uang itu adalah hasil dari banyak hari.

Ia teringat ketika kakeknya memasukkan uang ke telapak tangannya sambil berkata, “Simpan untuk sekolah.”

Ia teringat ketika Bu Laras memberinya hadiah karena berhasil membaca cerita di depan kelas.

Ia teringat ketika ia membantu Rukmini menjual kue, lalu ibunya menyisihkan beberapa lembar uang untuknya.

Semua kenangan itu seperti ikut terlipat di dalam amplop cokelat.

Rukmini menatap Darma.

“Kalau uang ini dipakai dulu,” katanya lirih, “nanti bagaimana dengan buku dan seragam Rantaka?”

Darma tidak langsung menjawab.

Rantaka menunduk cepat-cepat agar mereka tidak melihat matanya mulai basah.

“Aku tidak mau uang Rantaka dipakai,” kata Darma akhirnya.

“Tapi obatmu harus dibeli,” jawab Rukmini.

“Kita bisa pinjam.”

“Kita sudah terlalu sering berutang beras di warung.”

Suasana dapur menjadi sunyi.

Hanya suara hujan yang terdengar.

Rantaka menutup bukunya perlahan. Ia berdiri, lalu berjalan ke dapur.

“Pakai saja, Bu,” katanya.

Rukmini terkejut. “Rantaka…”

“Pakai uang itu untuk obat Ayah.”

“Itu tabunganmu.”

“Ayah lebih penting.”

Darma menatap anaknya. Wajahnya tampak berat.

“Tidak, Nak,” katanya. “Itu untuk sekolahmu.”

Rantaka menggeleng. “Aku masih punya buku lama. Seragam ini juga masih bisa dipakai.”

Ia melihat seragamnya sendiri. Bagian siku sudah mulai tipis. Warna putihnya tidak lagi benar-benar putih. Di bagian dada, ada jahitan kecil bekas sobekan ketika ia jatuh dari sepeda beberapa bulan lalu.

Namun, ia tidak peduli.

“Aku bisa pakai ini dulu,” katanya. “Yang penting Ayah sembuh.”

Rukmini menggenggam amplop itu erat-erat.

“Maafkan Ibu,” katanya dengan suara bergetar.

Rantaka segera menggeleng.

“Jangan minta maaf, Bu.”

Namun, setelah kalimat itu keluar, hatinya terasa semakin sesak.

Bukan karena ia tidak ingin membantu ayahnya.

Ia ingin.

Sangat ingin.

Tetapi di dalam dirinya, ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan. Tabungan itu bukan hanya uang. Tabungan itu adalah tanda bahwa ia masih memiliki rencana untuk tetap sekolah. Bahwa suatu hari ia bisa memiliki buku baru, seragam yang lebih layak, dan mungkin sepatu yang tidak lagi robek di bagian depan.

Kini, rencana itu harus ditunda.

Malam itu, Rukmini menggunakan sebagian uang tabungan Rantaka untuk membeli obat Darma.

Keesokan harinya, Rantaka kembali membantu ibunya menjual kue. Ia mengayuh sepeda tua lebih jauh dari biasanya. Ia berharap semua kue habis agar uang yang masuk bisa sedikit menggantikan tabungan yang telah digunakan.

Namun, tidak semua orang membeli.

Di beberapa rumah, warga hanya tersenyum dan berkata akan membeli lain kali. Di warung, beberapa kue masih tersisa karena pembeli sedang sepi. Ketika Rantaka pulang, keranjangnya belum kosong.

Ia tidak mengeluh.

Ia hanya menyimpan kue yang tersisa di dapur, lalu bersiap berangkat ke sekolah.

Hari itu, Bu Laras membagikan lembar pemberitahuan kepada murid kelas enam.

Di dalamnya tertulis daftar kebutuhan untuk kegiatan belajar menjelang ujian akhir. Murid diminta membawa beberapa buku tulis tambahan, alat tulis, dan iuran kecil untuk fotokopi bahan latihan.

Rantaka memegang lembar itu cukup lama.

Jumlah iurannya tidak besar.

Tetapi bagi keluarganya sekarang, uang sekecil apa pun harus dipikirkan.

Saat pulang sekolah, Liris berjalan di sampingnya.

“Kau kenapa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa.”

“Kau dari tadi melihat kertas itu terus.”

Rantaka melipat lembar pemberitahuan dan memasukkannya ke dalam tas.

“Cuma soal iuran.”

Liris mengangguk. “Kalau kau belum bisa bayar sekarang, mungkin Bu Laras bisa menunggu.”

Rantaka tidak menjawab.

Ia tidak ingin sahabatnya tahu bahwa uang tabungannya telah digunakan. Ia tidak ingin terlihat seperti anak yang selalu membawa masalah. Ia tidak ingin Langit Biru berubah menjadi tempat orang-orang merasa kasihan kepadanya.

Sesampainya di rumah, ia meletakkan tas di dekat tikar dan membantu ibunya menyiapkan adonan kue untuk esok pagi.

Darma masih belum dapat bekerja.

Lukanya mulai membaik sedikit, tetapi ia belum boleh berjalan jauh. Sesekali ia mencoba berdiri dengan tongkat, lalu kembali duduk karena wajahnya menahan nyeri.

Rantaka melihat ayahnya memandangi ladang dari pintu rumah.

“Ayah ingin ke ladang?” tanya Rantaka.

Darma menghela napas.

“Ladang tidak akan pergi,” katanya. “Tapi tanaman tidak bisa menunggu terlalu lama.”

Rantaka diam.

Ia tahu ada singkong yang harus diperiksa. Ada rumput yang harus dibersihkan. Ada tanah yang perlu dirawat. Jika tidak, hasil panen mereka bisa berkurang.

Malam berikutnya, Rantaka terbangun karena mendengar suara ibunya menangis.

Suara itu sangat pelan.

Seolah-olah Rukmini berusaha agar tidak ada yang mendengar.

Rantaka membuka mata. Lampu minyak di dapur masih menyala. Dari balik tirai kain, ia melihat ibunya duduk sendirian di dekat meja kecil. Kaleng biru tua berada di depannya.

Rukmini tidak sedang menghitung uang.

Ia hanya memegang amplop cokelat yang kini hampir kosong.

Rantaka tidak bergerak.

Ia merasa seperti ada batu besar di dadanya.

Ia ingin menghampiri ibunya. Ia ingin berkata bahwa ia tidak apa-apa. Ia ingin mengatakan bahwa uang itu memang seharusnya digunakan untuk ayah. Namun, ia tahu ibunya menangis bukan hanya karena uang.

Ibunya menangis karena tidak dapat memberi semua yang dibutuhkan keluarganya.

Karena harus memilih antara obat suami dan kebutuhan sekolah anak.

Karena keadaan sering kali memaksa seseorang mengambil keputusan yang tidak ingin diambilnya.

Rantaka menutup mata, tetapi air mata tetap mengalir di pipinya.

Di dalam pikirannya, muncul sebuah kalimat yang belum pernah berani ia ucapkan.

Kalau aku berhenti sekolah, mungkin Ibu tidak perlu memikirkan buku dan iuran lagi.

Kalimat itu membuatnya takut.

Ia teringat Darma yang berkata bahwa sekolah tidak boleh ditinggalkan hanya karena kesulitan. Ia teringat Bu Laras yang selalu mengatakan bahwa pendidikan adalah jalan. Ia teringat papan tulis retak di kelas yang masih digunakan untuk menulis pelajaran.

Namun, jalan menuju sekolah terasa semakin berat.

Bukan karena jaraknya.

Bukan karena hujan atau lumpur.

Melainkan karena rumahnya kini dipenuhi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

Keesokan paginya, Rantaka kembali mengenakan seragam lusuhnya.

Ia mengikat tali sepatunya yang mulai aus. Ia membantu ibunya menaikkan keranjang kue ke sepeda tua. Ia melihat Darma duduk di depan rumah sambil memegang tongkat.

Sebelum berangkat, Darma memanggilnya.

“Rantaka.”

“Iya, Yah?”

Darma memandangnya lama.

“Kau tetap sekolah, kan?”

Pertanyaan itu sederhana.

Namun, Rantaka tidak dapat langsung menjawab.

Ia hanya mengangguk.

“Iya, Yah.”

Lalu ia mengayuh sepeda tua itu perlahan menyusuri jalan tanah.

Di belakangnya, keranjang kue bergoyang-goyang.

Di dalam dadanya, mimpi tentang sekolah masih ada.

Tetapi kini, mimpi itu terasa seperti sesuatu yang harus ia pegang sangat erat agar tidak ikut hilang bersama uang tabungan yang telah digunakan untuk menyembuhkan ayahnya.

 

Bab 16 — Perpisahan di Bawah Beringin

Pagi itu, Rantaka datang ke sekolah dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya.

Langit Desa Wanasari tampak pucat. Awan tipis menggantung di atas kebun singkong, seolah matahari sendiri belum yakin akan menampakkan wajahnya. Jalan tanah masih lembap oleh hujan malam, dan ujung celana seragam Rantaka kembali terkena cipratan lumpur.

Di belakang sepedanya, tidak ada lagi keranjang kue.

Ia sudah mengantarkan semua kue sebelum berangkat. Sebagian terjual, sebagian dititipkan di warung. Namun, hasilnya belum cukup untuk menghapus kecemasan yang terus tinggal di rumahnya.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, satu kalimat terus berputar di kepalanya.

Kalau aku berhenti sekolah, mungkin Ibu tidak perlu memikirkan buku dan iuran lagi.

Ia membenci kalimat itu.

Namun, semakin ia berusaha menolaknya, semakin kalimat itu kembali datang.

Di rumah, Darma masih belum dapat bekerja. Obatnya harus dibeli. Ladang perlu dirawat. Rukmini harus membuat kue sejak dini hari, lalu memikirkan beras, minyak, dan kebutuhan rumah yang tidak pernah berhenti datang.

Sementara itu, di sekolah, Rantaka mulai tertinggal pelajaran.

Ia masih berusaha mengikuti Bu Laras. Ia masih tinggal setelah jam sekolah untuk belajar tambahan. Namun, tubuhnya semakin sering lelah. Kadang ia mengantuk saat membaca. Kadang ia tidak dapat menyelesaikan pekerjaan rumah karena malamnya dipakai membantu ibunya membuat adonan.

Hari itu, ketika Bu Laras meminta murid-murid mengumpulkan latihan matematika, Rantaka menyerahkan buku dengan beberapa soal yang masih kosong.

Bu Laras tidak berkata apa-apa di depan kelas.

Ia hanya menerima buku itu, lalu menatap Rantaka sejenak.

Tatapan itu tidak marah.

Justru karena tidak marah, Rantaka merasa semakin malu.

Saat bel istirahat berbunyi, ia tidak keluar bersama teman-teman lain. Ia duduk di bangkunya, menatap halaman buku yang penuh coretan dan jawaban yang belum selesai.

Liris datang membawa dua buah pisang rebus.

“Kau belum makan,” katanya.

Rantaka menggeleng. “Tidak lapar.”

“Kau selalu bilang begitu.”

“Aku memang tidak lapar.”

Liris menaruh pisang itu di atas meja Rantaka.

“Kalau begitu, simpan saja.”

Banyu dan Jagra datang beberapa saat kemudian. Jagra membawa selembar kertas yang sudah dilipat.

“Ada kabar,” katanya.

Rantaka tidak menoleh.

“Kepala Dusun mengajak warga kerja bakti hari Minggu,” lanjut Jagra. “Katanya untuk memperbaiki bagian teras sekolah dan saluran air. Kita juga bisa membawa Gerobak Buku ke balai desa setelahnya.”

“Bagus,” jawab Rantaka datar.

Liris memandangnya. “Kau ikut, kan?”

Rantaka terdiam.

Banyu yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh perlahan.

“Rantaka?” tanya Liris lagi.

“Aku tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu?”

“Aku harus membantu Ibu.”

“Kita bisa menyesuaikan waktunya,” kata Banyu. “Gerobak Buku tidak harus selalu berempat.”

Rantaka mengangkat wajahnya.

“Bukan itu maksudku.”

Jagra mengerutkan dahi. “Lalu?”

Rantaka menarik napas panjang. Kata-kata yang selama beberapa hari ia simpan akhirnya terasa ingin keluar, meski ia sendiri takut mendengarnya.

“Mungkin aku tidak akan sekolah lagi.”

Ketiga sahabatnya terdiam.

Suara anak-anak lain yang bermain di halaman seolah tiba-tiba menjauh.

Liris memandang Rantaka tanpa berkedip.

“Apa?” katanya pelan.

“Mungkin setelah ini aku berhenti sekolah,” ulang Rantaka.

Jagra tertawa kecil, tetapi tawanya tidak terdengar seperti biasanya.

“Jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

Banyu duduk di kursi sebelah Rantaka. “Karena uang tabunganmu dipakai untuk obat ayahmu?”

Rantaka menoleh cepat.

“Kau tahu?”

“Aku mendengar dari Ibu,” jawab Banyu. “Ibu membantu ibumu menjual kue beberapa hari lalu.”

Rantaka merasa wajahnya panas.

Ia tidak ingin siapa pun tahu. Ia tidak ingin menjadi bahan pembicaraan. Ia tidak ingin dikasihani.

“Kalau kau tahu, kenapa kau tidak bilang?” tanyanya.

“Karena itu urusan keluargamu,” jawab Banyu. “Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja.”

“Aku baik-baik saja.”

“Tidak,” kata Liris. “Kau tidak baik-baik saja.”

Rantaka berdiri dari bangkunya.

“Aku harus membantu keluarga,” katanya. “Ayah tidak bisa bekerja. Ibu harus jualan kue. Kalau aku tetap sekolah, aku cuma menambah biaya.”

“Kau bukan biaya,” kata Liris cepat.

Rantaka menatapnya.

“Kau tidak tahu,” katanya. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat Ibu menghitung uang sampai menangis. Kau tidak tahu bagaimana rasanya membawa kue keliling sebelum sekolah, lalu datang terlambat dan tidak bisa mengikuti pelajaran.”

Liris terdiam.

Wajahnya berubah.

Banyu menunduk, sementara Jagra menggenggam kertas di tangannya.

“Aku tahu aku tidak mengalami persis seperti itu,” kata Liris pelan. “Tapi aku tahu sekolah ini penting buatmu.”

“Penting tidak selalu berarti bisa dijalani,” jawab Rantaka.

Kalimat itu keluar lebih keras daripada yang ia inginkan.

Beberapa murid yang berada di teras mulai menoleh ke arah mereka.

Rantaka mengambil tasnya, lalu berjalan keluar kelas.

Ia tidak ingin melihat wajah sahabat-sahabatnya.

Ia tidak ingin mendengar kata-kata penghiburan.

Ia tidak ingin ada yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, karena baginya, tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu apakah itu akan terjadi.

Ia berjalan menuju pohon beringin.

Pohon itu berdiri di sisi halaman sekolah, besar dan tua. Akar-akarnya menjalar di tanah seperti tangan yang mencoba memegang bumi. Di bawah pohon itulah Langit Biru pernah dibentuk. Di bawah pohon itu pula mereka pernah menyebut mimpi masing-masing.

Rantaka duduk di salah satu akar yang menonjol.

Tidak lama kemudian, Liris, Banyu, dan Jagra datang menyusul.

Mereka berdiri beberapa langkah di depannya.

Angin bergerak pelan di antara daun-daun beringin.

“Aku tidak mau kalian mengejarku,” kata Rantaka tanpa menoleh.

“Kami bukan mengejarmu,” jawab Jagra. “Kami datang karena kami sahabatmu.”

Rantaka tertawa pahit.

“Sahabat tidak bisa membayar obat ayahku.”

Jagra terdiam.

“Kami bisa membantu,” kata Banyu. “Kita bisa mencari cara.”

“Cara apa?” Rantaka menoleh tajam. “Membuat gerobak buku lagi? Menjual bunga dari kaleng bekas? Itu tidak cukup.”

“Kita belum tahu kalau belum mencoba,” kata Banyu.

“Aku sudah mencoba!” suara Rantaka meninggi. “Aku bangun sebelum pagi. Aku jualan kue. Aku belajar sampai sore. Aku bantu Ibu malam hari. Tapi tetap saja uang tidak cukup.”

Liris melangkah mendekat.

“Kalau kau berhenti sekolah, apakah semuanya akan langsung cukup?”

Pertanyaan itu membuat Rantaka terdiam sesaat.

“Setidaknya aku bisa bekerja lebih banyak,” katanya.

“Kau masih anak-anak,” kata Liris.

“Aku sudah cukup besar untuk melihat keadaan rumahku!”

Liris menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Kami juga punya masalah,” katanya pelan. “Banyu harus membantu ayahnya memperbaiki alat-alat di rumah. Jagra harus ikut mencari ikan. Aku harus menjaga adik ketika Ibu bekerja. Tapi kalau semua orang berhenti karena hidup sulit, siapa yang akan tetap berjalan?”

Rantaka berdiri.

“Jangan samakan masalah kalian dengan masalahku.”

Kalimat itu membuat suasana berubah.

Banyu yang selama ini diam akhirnya mengangkat wajah.

“Tidak ada yang menyamakan,” katanya. Suaranya tenang, tetapi terdengar terluka. “Kami hanya tidak ingin kehilanganmu.”

“Kalau begitu, jangan paksa aku.”

“Kami tidak memaksa,” kata Jagra. “Kami hanya ingin kau ingat apa yang pernah kau katakan.”

Rantaka memandangnya.

“Kau yang bilang pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib,” lanjut Jagra. “Kau yang mengajak kami membersihkan sekolah. Kau yang bilang kita tidak boleh diam ketika sekolah mau ditutup.”

Rantaka merasa dadanya semakin sesak.

“Dulu aku tidak tahu keadaan rumahku akan seperti ini.”

“Dan sekarang kami tahu,” kata Liris. “Karena itu kami ingin berdiri di sampingmu.”

“Aku tidak butuh dikasihani!”

“Aku tidak mengasihanimu!” Liris akhirnya meninggikan suara. Air mata jatuh di pipinya. “Aku marah karena kau mau menyerah sendirian!”

Rantaka terdiam.

Daun-daun beringin bergerak lebih keras ketika angin datang.

Liris mengusap air matanya dengan punggung tangan.

“Kau pikir kami tidak peduli?” katanya. “Kau pikir Langit Biru hanya nama yang kita buat untuk bermain? Kita membuatnya karena kita percaya mimpi tidak boleh dibatasi keadaan. Sekarang ketika keadaanmu sulit, kau justru ingin meninggalkan kami.”

“Aku tidak meninggalkan kalian,” kata Rantaka, tetapi suaranya melemah.

“Kau sedang melakukannya,” jawab Liris.

Banyu berdiri dan mengambil tasnya.

“Kalau kau sudah memutuskan,” katanya, “kami tidak bisa memaksamu.”

Jagra memandang Rantaka cukup lama. Biasanya, wajahnya mudah berubah menjadi senyum atau candaan. Namun, kali ini tidak ada senyum di sana.

“Aku kira kita akan berjuang sampai sekolah ini tidak jadi ditutup,” katanya.

Rantaka tidak menjawab.

Jagra mengangguk kecil, lalu berbalik.

Liris menyusul Banyu dan Jagra. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi kepada Rantaka.

“Kalau suatu hari kau ingin kembali,” katanya pelan, “pohon ini masih ada.”

Lalu mereka pergi.

Rantaka tetap berdiri di bawah beringin.

Halaman sekolah di depannya tampak ramai, tetapi terasa jauh. Anak-anak kecil berlari sambil membawa bekal. Dari kelas, terdengar suara Bu Laras memanggil murid-murid agar masuk kembali. Di dekat teras, Gerobak Buku Langit Biru terparkir dengan roda yang sedikit miring.

Gerobak itu biasanya membuat Rantaka bangga.

Hari itu, ia bahkan tidak sanggup menatapnya lama-lama.

Saat bel masuk berbunyi, Rantaka tidak segera kembali ke kelas.

Ia duduk lagi di akar beringin.

Tangannya menggenggam tanah yang lembap.

Di kepalanya, ia masih mendengar suara Liris.

Kalau suatu hari kau ingin kembali, pohon ini masih ada.

Namun, saat itu, Rantaka tidak tahu apakah ia akan kembali.

Yang ia tahu hanya satu: untuk pertama kalinya sejak Langit Biru dibentuk, ia pulang dari sekolah tanpa berjalan bersama sahabat-sahabatnya.

Di jalan tanah menuju rumah, langkahnya terasa lebih berat daripada biasanya.

Bukan hanya karena lumpur.

Melainkan karena ia membawa perpisahan yang baru saja lahir di bawah pohon beringin tua.

 

Bab 17 — Surat Kakek yang Belum Selesai Dibaca

Sejak pertengkaran di bawah pohon beringin, Rantaka menjadi lebih pendiam.

Ia tetap datang ke sekolah, tetapi tidak lagi duduk bersama Liris, Banyu, dan Jagra saat jam istirahat. Ia memilih berada di sudut kelas, membuka buku pelajaran tanpa benar-benar membacanya. Kadang ia memandangi halaman sekolah dari jendela, melihat ketiga sahabatnya mendorong Gerobak Buku menuju rumah-rumah warga.

Gerobak itu tetap berjalan.

Banyu mendorongnya dengan kedua tangan yang kuat. Jagra berjalan di sampingnya sambil membawa beberapa buku bacaan. Liris membawa buku catatan dan pensil, siap membacakan cerita atau mengajari anak-anak kecil menulis huruf.

Rantaka melihat mereka dari kejauhan.

Ada keinginan untuk ikut berjalan bersama.

Namun, ada pula rasa malu yang membuat kakinya tetap diam.

Ia merasa telah mengatakan terlalu banyak hal yang menyakitkan.

Ia juga merasa terlalu lelah untuk meminta maaf.

Di rumah, keadaan belum banyak berubah.

Darma masih belum dapat kembali ke ladang. Kakinya memang mulai sedikit membaik, tetapi ia belum bisa berjalan jauh. Jika terlalu lama berdiri, wajahnya kembali menahan nyeri. Rukmini terus membuat kue sejak dini hari, sedangkan Rantaka membantu mengantar pesanan dengan sepeda tua.

Setiap hari, hidup mereka berjalan seperti putaran yang sama.

Bangun sebelum pagi.

Membuat kue.

Mengantar ke rumah-rumah warga.

Pergi ke sekolah.

Pulang untuk membantu lagi.

Malam hari belajar dengan mata yang berat.

Lalu kembali tidur dengan kecemasan yang belum selesai.

Pada suatu sore, hujan turun lebih lama dari biasanya.

Langit sejak siang sudah gelap. Angin membawa bau tanah basah dari kebun singkong. Rantaka pulang lebih cepat karena Bu Laras membolehkan murid-murid pulang sebelum hujan semakin deras.

Ketika sampai di rumah, ia melihat Rukmini sedang membereskan barang-barang lama di sudut ruang tengah.

Beberapa kardus bekas dikeluarkan dari bawah tempat tidur. Ada kain-kain lusuh, alat pertanian tua milik Darma, beberapa bingkai foto yang sudah berdebu, dan buku-buku lama yang disimpan dalam karung.

“Sedang mencari apa, Bu?” tanya Rantaka sambil meletakkan tasnya.

“Selimut lama,” jawab Rukmini. “Malam-malam sekarang lebih dingin. Ayahmu butuh tambahan selimut.”

Rantaka ikut membantu.

Ia mengangkat satu kardus kecil yang bagian bawahnya sudah mulai rapuh. Di dalamnya, terdapat beberapa buku tua. Sampulnya kusam, sebagian halaman sudah menguning. Ada buku cerita rakyat, buku pelajaran sekolah dasar, serta sebuah buku tulis bergaris dengan sampul cokelat.

Rantaka mengambil salah satu buku yang paling lusuh.

Di sampul depannya tertulis dengan huruf yang sudah memudar:

Milik Sastro Wening

Sastro Wening adalah nama kakeknya.

Kakek Rantaka sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ia dikenal sebagai lelaki tua yang sering duduk di beranda rumah sambil mengisap rokok linting dan memandangi jalan desa. Kakek tidak banyak bicara, tetapi jika berbicara, suaranya selalu pelan dan dalam.

Dulu, ketika Rantaka masih kecil, kakeknya sering mengajarinya membaca.

Bukan dengan buku baru.

Melainkan dengan koran bekas, kalender dinding, dan papan iklan yang ditempel di warung.

“Huruf itu seperti jalan,” kata Kakek suatu kali. “Kalau kau bisa membacanya, kau bisa pergi ke banyak tempat meski kakimu tetap di desa.”

Saat itu, Rantaka belum benar-benar mengerti.

Kini, kalimat itu kembali muncul di kepalanya.

Ia membuka buku lusuh milik kakeknya.

Halaman pertama berisi beberapa catatan tangan. Tulisan itu tidak terlalu rapi, tetapi masih dapat dibaca. Ada catatan tentang harga pupuk, hasil panen, dan daftar kebutuhan rumah. Beberapa halaman berikutnya berisi potongan cerita, seperti seseorang yang menulis kenangan tanpa bermaksud menjadikannya buku.

Rantaka membalik halaman demi halaman.

Lalu, dari bagian tengah buku, jatuh sebuah amplop tua.

Amplop itu berwarna krem, sudah kusam dan sedikit robek di bagian sudut. Namanya tertulis di depan amplop dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.

Untuk Rantaka, jika kelak ia sudah cukup besar untuk memahami.

Rantaka terdiam.

Tangannya mendadak dingin.

Ia menatap tulisan itu cukup lama sebelum akhirnya membuka amplop perlahan.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas yang sudah menguning.

Tulisan kakeknya memenuhi halaman pertama.

Rantaka,

Jika kau membaca surat ini, mungkin Kakek sudah tidak lagi duduk di beranda rumah sambil menunggumu pulang sekolah. Kakek menulis surat ini bukan karena Kakek pandai menulis, tetapi karena ada sesuatu yang selama hidup Kakek selalu ingin disampaikan kepada cucu Kakek.

Dulu, ketika Kakek seumurmu, Kakek ingin sekali sekolah. Kakek ingin membaca buku, ingin tahu tentang kota-kota yang ada di peta, dan ingin menjadi guru. Tetapi keadaan tidak mengizinkan. Orang tua Kakek miskin. Kakek harus membantu di ladang sejak kecil. Pada suatu hari, Kakek berhenti sekolah dan tidak pernah kembali.

Rantaka membaca perlahan.

Suara hujan di luar rumah terdengar semakin jelas.

Ia melanjutkan.

Saat itu Kakek merasa berhenti sekolah adalah pilihan yang paling benar. Kakek pikir, bekerja akan membuat keluarga lebih ringan. Tetapi setelah dewasa, Kakek mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dibeli kembali. Waktu sekolah yang hilang tidak bisa diulang. Buku-buku yang tidak sempat dibaca tidak bisa kembali ke tangan Kakek.

Kakek bekerja keras sepanjang hidup. Kakek tidak malu menjadi petani. Tetapi Kakek selalu menyesal karena tidak memiliki cukup ilmu untuk memilih jalan hidup yang lebih luas.

Rantaka menelan ludah.

Kata-kata itu seperti ditulis khusus untuk menjawab pikirannya selama ini.

Ia terus membaca.

Kalau suatu hari hidupmu sulit, jangan cepat percaya bahwa sekolah adalah beban. Ilmu memang tidak selalu memberi hasil dalam satu hari. Ilmu tidak bisa langsung membeli beras atau obat. Tetapi ilmu akan menolongmu melihat jalan ketika hidup terasa gelap.

Jangan berhenti hanya karena keadaan membuatmu lelah. Boleh beristirahat. Boleh menangis. Boleh merasa takut. Tetapi jangan menyerahkan masa depanmu begitu saja kepada kesulitan hari ini.

Rantaka menunduk.

Air matanya jatuh ke atas kertas.

Ia segera mengusapnya agar tulisan kakeknya tidak terkena terlalu banyak air.

Di bagian bawah halaman, tulisan kakek tampak semakin kecil dan sedikit bergetar.

Kakek tidak bisa memberikan tanah yang luas, uang yang banyak, atau rumah yang besar. Tetapi Kakek ingin meninggalkan satu pesan: ilmu adalah warisan yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun.

Kalau kau tetap belajar, kau akan membawa nama keluarga ini berjalan lebih jauh daripada langkah Kakek dahulu.

Jangan biarkan jalan tanah membuatmu lupa bahwa langit di atasmu tetap luas.

Kakekmu,
Sastro Wening.

Rantaka memegang surat itu erat-erat.

Untuk beberapa saat, ia tidak sanggup berkata apa-apa.

Ia teringat wajah kakeknya yang sering memandangi jalan desa. Ia teringat tangan kasar yang dulu membantunya mengeja huruf. Ia teringat kalimat tentang huruf yang menjadi jalan.

Tiba-tiba, Rantaka merasa bahwa selama ini ia tidak hanya membawa mimpinya sendiri.

Ada mimpi kakeknya yang pernah terhenti.

Ada harapan ayahnya yang tidak ingin anaknya mengalami hidup yang sama beratnya.

Ada perjuangan ibunya yang setiap pagi menggoreng kue demi menjaga rumah tetap menyala.

Dan ada sahabat-sahabat yang masih menjalankan Gerobak Buku, meski ia telah meninggalkan mereka dalam keadaan marah.

“Rantaka?”

Suara Rukmini membuatnya tersadar.

Ibunya berdiri di dekat pintu ruang tengah sambil membawa selimut tua.

“Apa yang kau temukan?”

Rantaka mengangkat surat itu.

“Surat dari Kakek.”

Rukmini mendekat. Ketika melihat nama Sastro Wening di bagian bawah surat, wajahnya berubah pelan. Ia duduk di samping Rantaka.

“Dulu Kakekmu memang sering menulis,” katanya. “Tapi Ibu tidak tahu ia pernah menulis surat untukmu.”

Rantaka menyerahkan surat itu.

Rukmini membacanya dalam diam. Setelah selesai, ia memegang kertas itu cukup lama.

“Dia selalu ingin kau sekolah setinggi mungkin,” katanya lirih.

Rantaka menatap ibunya.

“Bu, kalau aku tetap sekolah, apakah aku hanya akan menambah beban?”

Rukmini terdiam.

Pertanyaan itu terasa berat, karena jawabannya bukan sekadar tentang uang. Jawabannya adalah tentang harapan yang selama ini mereka pertahankan meski keadaan semakin sulit.

Rukmini menggenggam tangan Rantaka.

“Kau bukan beban,” katanya. “Kau adalah alasan Ibu dan Ayah bertahan.”

Rantaka menunduk.

“Tapi uang tabunganku sudah habis.”

“Uang bisa dicari lagi,” jawab Rukmini. “Buku bisa dipinjam. Seragam bisa dijahit. Tetapi kalau kau berhenti karena merasa tidak punya jalan, Ibu takut kau akan menyesal seperti Kakekmu.”

Rantaka tidak langsung menjawab.

Di ruang depan, Darma batuk pelan. Rukmini bangkit untuk mengambilkan air minum. Rantaka tetap duduk dengan surat di tangannya.

Ia membaca kembali bagian terakhir.

Jangan biarkan jalan tanah membuatmu lupa bahwa langit di atasmu tetap luas.

Kalimat itu tinggal lama di dalam dirinya.

Sore berubah menjadi malam.

Hujan mulai reda. Dari celah jendela, udara dingin masuk membawa bau daun basah. Rantaka menaruh surat kakeknya di dalam buku pelajaran, lalu menyimpannya di dekat tempat tidurnya.

Malam itu, ia masih belum sepenuhnya tahu bagaimana cara menyelesaikan semua masalah.

Ia belum tahu dari mana uang untuk kebutuhan sekolah akan datang.

Ia belum tahu kapan ayahnya dapat kembali bekerja.

Ia belum tahu apakah Liris, Banyu, dan Jagra masih mau berbicara dengannya.

Namun, untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan ingin berhenti sekolah, Rantaka tidak lagi merasa keputusan itu adalah satu-satunya jalan.

Surat kakeknya belum menjawab semua persoalan.

Tetapi surat itu membuka sesuatu yang hampir tertutup di dalam dirinya.

Harapan.

Dan di tengah rumah kecil yang masih dipenuhi kecemasan, Rantaka mulai memahami bahwa harapan kadang datang bukan dalam bentuk uang atau pertolongan besar.

Kadang, harapan datang dalam bentuk surat lama yang terselip di antara halaman buku lusuh.

Surat dari seseorang yang telah lama pergi, tetapi masih ingin memastikan bahwa cucunya tidak menyerah di tengah jalan.

 

Bab 18 — Malam Tanpa Lampu

Hujan datang sejak sore dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Awan hitam menutup langit Desa Wanasari. Angin bergerak dari arah kebun singkong, menggoyangkan daun-daun pisang di belakang rumah Rantaka. Sesekali, kilat menyala di kejauhan, menerangi jalan tanah yang berubah menjadi garis-garis lumpur.

Rantaka baru saja pulang dari sekolah ketika hujan mulai turun lebih deras.

Hari itu ia tidak langsung pulang setelah pelajaran selesai. Ia sempat berdiri cukup lama di bawah pohon beringin, memandangi halaman sekolah yang mulai sepi. Gerobak Buku Langit Biru sudah tidak ada di sana. Mungkin Liris, Banyu, dan Jagra telah membawanya pulang lebih awal karena cuaca.

Rantaka ingin menyusul mereka.

Ia ingin meminta maaf.

Ia ingin mengatakan bahwa kata-kata yang keluar di bawah pohon beringin bukan sepenuhnya karena ia marah kepada mereka. Ia marah kepada keadaan. Ia marah kepada dirinya sendiri karena merasa tidak sanggup menjadi anak yang dapat membantu keluarga sekaligus tetap menjaga mimpinya.

Namun, setiap kali ia membayangkan wajah Liris yang menangis, langkahnya kembali tertahan.

Akhirnya, ia pulang sendirian.

Di rumah, Rukmini sedang menutup jendela dengan kain bekas agar air hujan tidak masuk. Beberapa ember sudah diletakkan di bawah bagian atap yang bocor. Darma duduk di dekat dinding sambil memegang tongkat kayu. Kakinya masih dibalut, tetapi bengkaknya sudah mulai berkurang.

“Cepat ganti baju,” kata Rukmini ketika melihat Rantaka masuk. “Nanti masuk angin.”

Rantaka mengangguk.

Ia mengganti seragamnya dengan kaus lama dan celana pendek. Setelah itu, ia membantu ibunya memindahkan tikar agar tidak terkena air dari kebocoran kecil di sudut rumah.

Hujan semakin deras.

Air menetes dari atap dengan bunyi yang tidak teratur. Kadang satu tetes, kadang banyak sekaligus. Rantaka mengambil ember lain, lalu meletakkannya di dekat dapur.

Darma memandangi anaknya.

“Kau capai?” tanyanya.

“Tidak, Yah.”

Darma tersenyum tipis. “Kau mulai pandai menjawab seperti Ibumu.”

Rukmini yang sedang menyalakan kompor kecil menoleh.

“Jawaban apa?”

“Kalau capai, bilang tidak capai.”

Rukmini tersenyum samar, tetapi senyumnya cepat hilang ketika suara petir menggelegar.

Menjelang malam, listrik padam.

Lampu yang sejak sore menyala redup tiba-tiba mati. Rumah kecil itu langsung tenggelam dalam gelap. Dari rumah-rumah tetangga, terdengar beberapa suara anak kecil yang berseru kaget.

Rukmini segera mencari lampu minyak.

“Rantaka, ambil korek di atas rak.”

Rantaka meraba-raba dinding dan meja. Dalam gelap, rumah itu terasa berbeda. Barang-barang yang biasa ia lihat setiap hari berubah menjadi bayangan yang tidak jelas. Ia menemukan korek, lalu membantu ibunya menyalakan lampu minyak.

Nyala kecil muncul perlahan.

Cahaya kuning memenuhi ruang tengah, memantul pada dinding kayu dan wajah-wajah mereka. Namun, lampu minyak itu tidak mampu mengusir seluruh gelap. Sudut-sudut rumah tetap tampak hitam. Di luar, hujan masih jatuh seperti tirai yang menutup dunia.

Mereka makan malam dengan sederhana.

Nasi hangat, sayur daun singkong, dan ikan asin yang digoreng tipis. Darma makan perlahan. Rukmini beberapa kali melihat ke arah kakinya, seolah memastikan luka itu tidak semakin sakit.

Rantaka tidak banyak bicara.

Di samping piringnya, buku lusuh milik Kakek Sastro Wening terletak tertutup. Surat kakeknya masih tersimpan di dalamnya.

Setelah makan, Rukmini pergi ke dapur untuk mencuci piring. Rantaka membantu membawa gelas dan sendok. Darma tetap duduk di dekat jendela, memandangi hujan yang tidak dapat dilihat jelas karena gelap.

Tiba-tiba, angin besar datang.

Pintu depan bergetar. Salah satu ember di bawah atap bergeser karena air yang jatuh terlalu deras. Rantaka segera membetulkannya.

Ketika ia kembali ke ruang tengah, ia melihat Darma sedang berusaha berdiri.

“Ayah mau ke mana?” tanya Rantaka cepat.

“Ke depan sebentar.”

“Ayah duduk saja. Biar aku yang lihat.”

Darma menggeleng. “Bapak ingin berdiri.”

Rantaka membantu ayahnya memegang tongkat. Dengan langkah pelan, Darma berjalan menuju pintu. Kakinya masih belum kuat, tetapi ia memaksa dirinya berdiri tegak.

Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, Rantaka melihat sesuatu yang jarang ia lihat pada wajah ayahnya.

Bukan hanya rasa sakit.

Melainkan rasa kalah.

Darma berdiri di ambang pintu cukup lama. Di luar, hujan menutup jalan menuju ladang. Tidak ada satu pun cahaya dari arah kebun. Hanya suara air, angin, dan petir yang sesekali membelah langit.

“Dulu,” kata Darma perlahan, “kalau hujan seperti ini, Bapak selalu memikirkan ladang.”

Rantaka berdiri di sampingnya.

“Sekarang juga memikirkan ladang, Yah?”

Darma tersenyum kecil, tetapi senyum itu tampak berat.

“Sekarang Bapak memikirkan banyak hal.”

Rantaka tidak menjawab.

Darma menatap kegelapan di luar rumah.

“Bapak memikirkan singkong yang belum dibersihkan rumputnya. Memikirkan tanah yang mungkin longsor di bagian belakang. Memikirkan hasil panen yang belum tentu cukup.” Ia berhenti sebentar. “Tapi yang paling Bapak pikirkan adalah kau.”

Rantaka menoleh.

“Aku?”

Darma mengangguk.

“Bapak tahu kau membantu Ibu setiap pagi. Bapak tahu kau sering pulang dengan wajah lelah. Bapak juga tahu kau mulai tertinggal pelajaran.”

Rantaka menunduk.

“Aku masih bisa mengejar, Yah.”

“Bapak tahu.” Darma menarik napas perlahan. “Tapi Bapak juga tahu kau pernah berpikir untuk berhenti sekolah.”

Rantaka terdiam.

Ia tidak pernah mengatakannya langsung kepada ayahnya. Mungkin Darma mendengar dari Rukmini. Mungkin ayahnya hanya melihat perubahan dalam dirinya. Namun, malam itu, di tengah rumah yang gelap, Rantaka tidak lagi mampu menyangkal.

“Aku hanya ingin membantu,” katanya pelan.

Darma memejamkan mata sebentar.

“Bapak tahu.”

“Aku tidak mau Ibu menangis karena uang. Aku tidak mau Ayah memikirkan obat. Aku tidak mau menjadi beban.”

Darma membuka mata. Cahaya lampu minyak membuat wajahnya tampak lebih tua dari biasanya.

“Kau bukan beban.”

Rantaka menggigit bibir.

“Tapi uang tabunganku habis.”

“Uang itu dipakai untuk Bapak,” kata Darma dengan suara yang mulai bergetar. “Dan setiap kali Bapak melihat kau berangkat dengan seragam lusuh, Bapak merasa seperti telah mengambil sesuatu dari masa depanmu.”

Rantaka mengangkat wajah.

Darma menatapnya.

“Maafkan Bapak.”

Kalimat itu membuat Rantaka terdiam sepenuhnya.

Selama ini, Darma jarang meminta maaf. Bukan karena ia tidak memiliki kesalahan, tetapi karena ia adalah lelaki desa yang lebih sering menunjukkan kasih sayang lewat kerja keras daripada kata-kata.

Ia mengantar Rantaka ke sekolah ketika hujan.

Ia memperbaiki sandal anaknya yang putus.

Ia menabung sedikit demi sedikit untuk membeli buku.

Namun, malam itu, Darma meminta maaf dengan suara yang sangat pelan.

“Jangan bilang begitu, Yah,” kata Rantaka cepat. “Aku yang seharusnya minta maaf. Aku malah berpikir untuk berhenti sekolah.”

Darma menggeleng.

“Tidak. Kau sedang lelah. Orang yang lelah kadang tidak melihat jalan dengan jelas.” Ia menatap jalan tanah yang tertutup hujan. “Tapi dengarkan Bapak. Bapak tidak ingin kau hidup seperti Bapak.”

Rantaka terkejut.

“Ayah kenapa bilang begitu? Ayah bekerja keras.”

“Bekerja keras itu baik,” jawab Darma. “Menjadi petani juga pekerjaan yang mulia. Tetapi Bapak ingin kau punya pilihan. Bapak ingin kau bisa membaca dunia lebih luas daripada ladang ini. Kalau suatu hari kau memilih kembali ke desa dan bertani, itu harus karena kau memilih, bukan karena kau tidak punya jalan lain.”

Rantaka merasakan air mata menghangat di pelupuk matanya.

Darma melanjutkan, “Bapak tidak ingin luka di kaki ini membuat kau menyerah. Bapak tidak ingin kesulitan kita hari ini menjadi alasan kau menutup pintu masa depanmu.”

Di dapur, Rukmini berhenti mencuci piring.

Ia berdiri diam, mendengarkan.

“Kalau Bapak tidak bisa bekerja seperti dulu,” kata Darma, “kita cari cara lain. Kita pelan-pelan. Kita hemat. Kita minta bantuan kalau memang perlu. Tetapi kau tetap sekolah.”

Rantaka menatap ayahnya.

“Bagaimana kalau aku tidak sanggup?”

Darma mengangkat tangan dan meletakkannya di bahu Rantaka.

“Kalau kau tidak sanggup, jangan memikulnya sendiri.”

Kalimat itu sederhana.

Namun, di tengah malam tanpa lampu, kalimat itu terasa seperti cahaya yang lebih terang daripada nyala lampu minyak.

Rantaka menangis.

Ia tidak lagi berusaha menyembunyikannya. Ia memeluk ayahnya dengan hati-hati agar tidak mengenai kaki yang terluka. Darma membalas pelukan itu dengan satu tangan.

Rukmini datang mendekat.

Ia tidak berkata banyak. Ia hanya memeluk mereka berdua.

Untuk beberapa saat, hujan tetap turun.

Listrik masih padam.

Rumah kecil itu masih bocor di beberapa bagian.

Obat Darma tetap harus dibeli.

Uang tabungan Rantaka tetap telah digunakan.

Tidak ada masalah yang tiba-tiba hilang.

Namun, di dalam rumah itu, sesuatu berubah.

Rantaka tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya sendiri.

Setelah beberapa lama, Darma kembali duduk di tikarnya. Rantaka mengambil buku lusuh milik kakeknya, lalu membuka surat yang tersimpan di dalamnya.

Ia membaca kembali satu kalimat yang paling membekas.

Boleh beristirahat. Boleh menangis. Boleh merasa takut. Tetapi jangan menyerahkan masa depanmu begitu saja kepada kesulitan hari ini.

Rantaka menutup surat itu perlahan.

Di luar, hujan mulai berkurang.

Suara air yang jatuh dari atap tidak lagi sekeras tadi. Angin juga mulai reda. Dari kejauhan, terdengar suara katak bersahutan di sawah yang tergenang.

Rantaka memandang lampu minyak yang masih menyala di tengah ruang.

Nyala itu kecil.

Namun, cukup untuk membuat mereka saling melihat.

Cukup untuk membuat rumah itu tidak sepenuhnya gelap.

Dan malam itu, Rantaka mengerti bahwa harapan tidak selalu datang dalam bentuk cahaya besar yang mengusir seluruh kegelapan.

Kadang, harapan hanya berupa nyala kecil yang dijaga bersama-sama agar tidak padam.

 

BAGIAN IV

PERJUANGAN UNTUK SEKOLAH DAN MASA DEPAN

Bab 19 — Sahabat yang Kembali Datang

Pagi setelah malam tanpa lampu itu, Desa Wanasari tampak lebih tenang.

Hujan telah berhenti sejak menjelang subuh. Jalan tanah di depan rumah Rantaka masih basah, tetapi langit perlahan membuka warna birunya di antara awan-awan putih yang bergerak pelan. Dari kebun singkong, terdengar suara burung dan serangga yang kembali memenuhi pagi.

Rantaka bangun sebelum ibunya memanggil.

Ia duduk beberapa saat di tikarnya, memandangi buku lusuh milik Kakek Sastro yang tersimpan di dekat kepala. Surat itu masih berada di dalamnya. Ia tidak membacanya lagi, tetapi kata-kata kakeknya dan percakapan dengan ayahnya semalam terus tinggal di dalam pikirannya.

Ia belum tahu bagaimana semua masalah akan selesai.

Namun, ia tahu satu hal.

Ia tidak akan berhenti sekolah.

Rantaka berdiri, lalu berjalan ke dapur.

Rukmini sudah menyiapkan adonan kue. Wajahnya masih tampak lelah, tetapi pagi itu ada ketenangan yang sedikit berbeda dalam sorot matanya. Darma duduk di dekat pintu sambil memegang tongkat kayu. Kakinya masih belum benar-benar pulih, tetapi ia sudah bisa menggerakkan jari-jari kakinya lebih leluasa.

“Aku bantu, Bu,” kata Rantaka.

Rukmini menoleh. “Kau tidak perlu terlalu pagi.”

“Aku mau membantu.”

Darma tersenyum kecil.

Rantaka mulai menata kue-kue yang sudah matang ke dalam keranjang. Ia melakukannya lebih cepat daripada biasanya. Setelah itu, ia mengikat keranjang di belakang sepeda tua. Tangannya masih terkena sedikit minyak dan tepung, tetapi ia tidak peduli.

Sebelum berangkat, ia menoleh kepada ayahnya.

“Ayah, aku tetap sekolah.”

Darma memandangnya cukup lama.

Kemudian ia mengangguk.

“Itu yang Bapak ingin dengar.”

Rantaka mengayuh sepeda menyusuri jalan tanah.

Pagi itu, keranjang kue di belakangnya terasa lebih ringan. Bukan karena isinya berkurang, melainkan karena beban yang selama ini ia simpan sendiri mulai sedikit terangkat.

Ia mengantar beberapa pesanan ke rumah warga. Bu Sari membeli kue cucur dan pisang goreng. Pak Jamin membeli singkong rebus untuk dibawa ke ladang. Di warung ujung desa, pemilik warung menerima beberapa bungkus lemper untuk dititipkan.

Ketika semua selesai, Rantaka langsung menuju sekolah.

Ia tiba sebelum bel berbunyi.

Halaman SD Wanasari masih basah. Daun-daun beringin meneteskan sisa hujan malam. Di dekat teras kelas, Gerobak Buku Langit Biru berdiri seperti biasa. Roda depannya masih sedikit miring, tetapi rak kayunya sudah dibersihkan. Di atasnya tersusun buku cerita, buku pelajaran lama, majalah anak-anak, dan beberapa buku tulis bekas yang masih bisa digunakan.

Rantaka berhenti di dekat gerobak itu.

Tangannya menyentuh sisi kayu yang dibuat Banyu.

Ia teringat hari ketika mereka pertama kali menemukan buku-buku lama di gudang sekolah. Ia teringat Liris yang menyebut tempat itu sebagai perpustakaan kecil. Ia teringat Jagra yang mengeluh karena harus mendorong gerobak melewati jalan berlumpur.

Dan ia teringat pertengkaran di bawah pohon beringin.

Dadanya kembali terasa sesak.

Rantaka ingin mencari ketiga sahabatnya. Ia ingin meminta maaf sebelum pelajaran dimulai. Namun, keberaniannya belum cukup. Ia hanya berdiri di dekat gerobak hingga suara bel masuk terdengar.

Di kelas, Liris duduk di tempatnya seperti biasa. Banyu berada di belakang. Jagra datang beberapa menit kemudian dengan rambut yang masih sedikit basah karena embun pagi.

Mereka melihat Rantaka.

Namun, tidak ada yang langsung berbicara.

Rantaka menunduk dan membuka buku.

Pelajaran berlangsung seperti hari-hari sebelumnya, tetapi bagi Rantaka, setiap menit terasa lebih panjang. Ia ingin mengatakan sesuatu. Ia ingin meminta maaf. Namun, kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokannya.

Saat jam istirahat, Rantaka keluar kelas lebih dulu.

Ia berjalan menuju pohon beringin.

Tempat itu masih sama.

Akar-akar besar menjalar di tanah. Daunnya bergerak pelan ditiup angin. Di bawah pohon itulah mereka membentuk Langit Biru. Di bawah pohon itu pula Rantaka mengatakan kata-kata yang membuat sahabat-sahabatnya terluka.

Rantaka duduk di salah satu akar.

Ia menunggu.

Namun, sampai bel masuk kembali berbunyi, tidak ada yang datang.

Hari itu berlalu tanpa percakapan.

Begitu pula hari berikutnya.

Rantaka tetap membantu ibunya menjual kue sebelum sekolah. Ia tetap mengikuti pelajaran tambahan bersama Bu Laras setelah jam sekolah selesai. Ia juga mulai membantu Darma merawat tanaman kecil di halaman rumah, seperti cabai dan sayur-sayuran yang dapat dipanen untuk kebutuhan dapur.

Namun, setiap kali melihat Gerobak Buku berjalan tanpa dirinya, ada bagian dalam dirinya yang terasa kosong.

Pada hari ketiga, menjelang sore, Rantaka sedang memperbaiki tali keranjang sepeda di halaman rumah ketika terdengar suara roda berderit dari arah jalan.

Ia menoleh.

Di ujung jalan tanah, Banyu tampak mendorong Gerobak Buku.

Di sampingnya berjalan Liris dengan membawa beberapa buku. Jagra membawa kantong kain yang tampak cukup berat. Mereka berjalan perlahan menuju rumah Rantaka.

Rantaka berdiri.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berkata-kata.

Banyu menghentikan gerobak di depan pagar bambu. Liris memandang Rantaka, sementara Jagra menaruh kantong kain di atas bangku kayu dekat teras.

“Apa kalian mencari Ibu?” tanya Rantaka akhirnya.

“Bukan,” jawab Jagra.

“Kami mencari kau,” kata Liris.

Rantaka menunduk.

“Aku mau minta maaf,” katanya cepat, seolah takut keberaniannya hilang. “Aku tidak seharusnya berkata seperti itu di bawah beringin. Aku tahu kalian hanya ingin membantu. Aku marah, tapi bukan kepada kalian.”

Liris tidak langsung menjawab.

Banyu memegang sisi gerobak.

Jagra menghela napas panjang.

“Aku juga mau minta maaf,” kata Liris akhirnya. “Aku terlalu keras bicara waktu itu.”

“Kau tidak salah,” jawab Rantaka.

“Aku tetap seharusnya tidak membuatmu merasa sendirian,” kata Liris.

Rantaka mengangkat wajah.

Banyu lalu membuka salah satu bagian rak Gerobak Buku. Dari dalamnya, ia mengambil beberapa buku tulis yang masih cukup bersih, dua pensil, sebuah penghapus, dan penggaris plastik.

“Ini dari buku-buku sisa di gudang,” katanya. “Ada beberapa halaman kosong. Bisa dipakai untuk latihan.”

Rantaka menerima barang-barang itu dengan tangan gemetar.

“Terima kasih,” katanya.

Jagra kemudian membuka kantong kain yang dibawanya.

Di dalamnya ada beberapa ikan sungai yang sudah dibersihkan, singkong, serta sebungkus kecil berisi uang.

Rantaka langsung menggeleng.

“Tidak. Aku tidak bisa menerima uang.”

“Ini bukan uang dari kami saja,” kata Jagra. “Sebagian dari hasil jualan ikan Bapak. Sebagian dari warga yang ikut Gerobak Buku minggu lalu. Mereka tahu ayahmu sedang sakit.”

“Aku tidak mau dikasihani.”

Jagra menatapnya dengan wajah serius.

“Tidak ada yang mengasihanimu. Ini gotong royong.”

Kalimat itu membuat Rantaka diam.

Liris mendekat.

“Bu Sari juga menitipkan pesan,” katanya. “Katanya, kalau ibumu mau menerima pesanan kue untuk kegiatan kerja bakti sekolah hari Minggu, beliau akan membantu mencarikan pembeli.”

Rantaka memandang ketiga sahabatnya satu per satu.

Mereka datang bukan membawa kata-kata besar.

Mereka membawa buku tulis bekas.

Mereka membawa ikan dan singkong.

Mereka membawa uang hasil usaha kecil.

Mereka membawa kabar tentang pesanan kue.

Hal-hal sederhana itu mungkin tidak langsung menyelesaikan seluruh masalah keluarga Rantaka.

Namun, semua itu menunjukkan bahwa ia tidak sendiri.

Dari dalam rumah, Rukmini keluar setelah mendengar suara di halaman.

Ketika melihat Liris, Banyu, dan Jagra, ia tersenyum hangat.

“Masuklah,” katanya. “Ibu buatkan teh.”

Mereka duduk di ruang tengah.

Darma yang sedang berbaring di tikar mencoba duduk lebih tegak. Ia memandang ketiga anak itu dengan mata yang penuh terima kasih.

“Kalian sahabat yang baik,” katanya.

Liris menunduk sopan. “Kami hanya datang membantu, Pak.”

Banyu memperhatikan kaki Darma.

“Bagaimana keadaan kaki Bapak?”

“Sudah lebih baik,” jawab Darma. “Masih belum bisa ke ladang, tapi sudah tidak terlalu sakit.”

Jagra tersenyum kecil. “Kalau sudah sembuh, Bapak harus lihat Gerobak Buku kami. Sekarang sudah ada tempat khusus untuk buku pelajaran.”

Darma tertawa pelan.

Suasana rumah yang selama beberapa minggu terasa berat, sore itu perlahan menjadi lebih hangat.

Rukmini menyuguhkan teh manis dan kue yang belum sempat dijual. Mereka berbincang tentang sekolah, tentang kerja bakti hari Minggu, dan tentang rencana perpustakaan keliling berikutnya.

Kemudian, Liris mengeluarkan sebuah kertas dari buku catatannya.

“Aku menulis beberapa kalimat untuk pengumuman Gerobak Buku,” katanya. “Mungkin kita bisa membacakannya saat keliling.”

Ia membaca pelan.

Buku-buku ini tidak datang dari kota besar.
Buku-buku ini lahir dari gudang tua dan tangan-tangan yang mau merawatnya.
Siapa pun boleh membaca, siapa pun boleh belajar,
karena masa depan tidak hanya milik mereka yang memiliki banyak uang.

Rantaka mendengarkan tanpa berkata-kata.

Kalimat itu membuatnya teringat surat Kakek Sastro.

Ilmu adalah warisan yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun.

Setelah beberapa lama, Banyu berdiri.

“Kami harus lanjut keliling,” katanya. “Masih ada anak-anak di dekat sungai yang menunggu buku cerita.”

Jagra mengambil pegangan Gerobak Buku.

Namun, sebelum mereka pergi, Rantaka melangkah mendekat.

“Aku ikut.”

Liris menoleh.

“Sekarang?”

Rantaka mengangguk.

“Aku sudah terlalu lama membiarkan kalian mendorong gerobak ini tanpa aku.”

Banyu tersenyum tipis.

Jagra menggeser posisi tangannya.

“Kalau begitu, pegang sisi kiri. Roda kanan masih suka membelok sendiri.”

Rantaka tertawa kecil.

Tawa itu terasa asing setelah beberapa hari terakhir. Namun, tawa itu juga terasa seperti sesuatu yang kembali ke tempatnya.

Mereka berjalan menyusuri jalan tanah bersama-sama.

Banyu dan Rantaka mendorong Gerobak Buku dari dua sisi. Liris berjalan di depan sambil membawa buku cerita. Jagra membawa kantong kecil berisi alat tulis dan beberapa ikan yang tersisa untuk dibawa pulang nanti.

Di sepanjang jalan, anak-anak kecil mulai keluar dari rumah.

“Gerobak Buku datang!” teriak seorang anak.

Beberapa anak berlari mendekat.

Mereka memilih buku, duduk di teras rumah, lalu mendengarkan Liris membaca cerita. Banyu membantu seorang anak memperbaiki pensil yang patah. Jagra mengajari anak-anak membuat perahu kecil dari daun kelapa.

Rantaka duduk di dekat mereka.

Seorang anak kecil menyerahkan buku bergambar kepadanya.

“Kak Rantaka, bacakan ini.”

Rantaka menerima buku itu.

Ia membuka halaman pertama.

Suara hujan beberapa malam lalu masih tersimpan dalam ingatannya. Uang tabungan yang habis, kaki ayahnya yang terluka, dan pertengkaran di bawah beringin belum sepenuhnya hilang dari hatinya.

Namun, sore itu, di antara anak-anak desa yang duduk melingkar dan sahabat-sahabat yang kembali berada di sisinya, Rantaka memahami sesuatu.

Kadang, seseorang tidak membutuhkan orang lain untuk menghapus semua kesulitannya.

Seseorang hanya membutuhkan orang lain yang datang, duduk di sampingnya, dan berkata tanpa banyak kata:

Kau tidak harus menghadapi semuanya sendiri.

Di kejauhan, langit Desa Wanasari mulai berubah jingga.

Gerobak Buku Langit Biru terus bergerak perlahan di jalan tanah.

Dan untuk pertama kalinya setelah perpisahan di bawah beringin, Rantaka kembali berjalan bersama sahabat-sahabatnya.

 

Bab 20 — Pentas Harapan Wanasari

Sejak Gerobak Buku Langit Biru kembali berjalan bersama empat sahabat itu, suasana SD Wanasari perlahan berubah.

Anak-anak yang dahulu hanya datang ke sekolah lalu segera pulang, kini sering tinggal lebih lama untuk membaca buku. Beberapa ibu mulai meminjam buku resep dan bacaan kesehatan dari gerobak. Para bapak yang pulang dari ladang kadang berhenti sebentar untuk melihat anak-anak mereka duduk melingkar di teras rumah sambil mendengarkan cerita.

Namun, kabar tentang evaluasi sekolah dari kecamatan belum juga hilang.

Surat berstempel merah itu masih tersimpan di meja kepala sekolah. Bangunan SD Wanasari tetap tua. Atapnya masih bocor di beberapa bagian. Pagar bambu yang sudah diperbaiki anak-anak dan warga mulai tampak lebih rapi, tetapi belum cukup untuk menghapus alasan-alasan yang mungkin digunakan untuk menutup sekolah.

Suatu sore, Bu Laras memanggil Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra ke ruang guru.

Ruang itu kecil. Dindingnya dipenuhi peta Indonesia yang warnanya mulai pudar, daftar nilai murid, serta beberapa foto kegiatan sekolah. Di sudut ruangan, ada lemari kayu tua yang pintunya tidak dapat ditutup rapat.

Bu Laras duduk di belakang meja sambil memegang beberapa lembar kertas.

“Ada kabar dari kecamatan,” katanya.

Keempat anak itu saling memandang.

“Tim penilai kemungkinan datang dalam beberapa minggu ke depan,” lanjut Bu Laras. “Mereka ingin melihat kondisi sekolah, jumlah murid, kegiatan belajar, dan dukungan masyarakat.”

Rantaka merasakan tengkuknya menegang.

“Apakah sekolah akan ditutup, Bu?” tanya Jagra.

Bu Laras tidak langsung menjawab.

“Belum ada keputusan,” katanya. “Tetapi kita harus menunjukkan bahwa SD Wanasari masih dibutuhkan.”

Liris menatap surat-surat di meja.

“Bagaimana caranya, Bu?”

Bu Laras tersenyum kecil.

“Itulah yang harus kita pikirkan bersama.”

Setelah keluar dari ruang guru, keempat sahabat itu berjalan menuju pohon beringin. Tempat itu kembali menjadi ruang kecil bagi mereka untuk membicarakan hal-hal penting.

Rantaka duduk di salah satu akar besar. Banyu berdiri sambil memandangi halaman sekolah. Jagra memainkan ranting kecil di tangannya. Liris membuka buku catatan yang selalu dibawanya.

“Kita sudah membersihkan sekolah,” kata Jagra. “Kita juga sudah menjalankan Gerobak Buku.”

“Warga mulai mendukung,” tambah Banyu. “Tapi mungkin kecamatan belum melihat semua itu.”

Liris menulis sesuatu di bukunya.

“Kalau begitu, kita harus membuat mereka melihat,” katanya.

Rantaka menoleh. “Maksudmu?”

“Kita buat kegiatan di desa,” jawab Liris. “Bukan hanya kerja bakti. Kita buat acara yang menunjukkan bahwa sekolah ini hidup.”

Jagra mengangkat alis. “Acara seperti apa?”

Liris memandang ketiga sahabatnya.

“Pentas seni.”

Banyu terdiam sejenak.

“Pentas seni?” ulangnya.

“Kita bisa mengadakan pertunjukan di kampung,” kata Liris semakin bersemangat. “Anak-anak bisa membaca puisi, menyanyi, menampilkan cerita tentang desa. Kita bisa mengajak warga datang. Kita juga bisa mengumpulkan dukungan untuk sekolah.”

Rantaka mulai memahami maksudnya.

“Seperti malam hiburan?”

“Bukan hanya hiburan,” jawab Liris. “Pentas Harapan Wanasari. Kita tunjukkan bahwa sekolah ini bukan bangunan kosong. Sekolah ini tempat anak-anak belajar, berkarya, dan punya mimpi.”

Jagra tersenyum.

“Nama itu bagus.”

Banyu mengangguk perlahan.

“Aku bisa membuat panggung.”

“Kau bisa?” tanya Rantaka.

Banyu menatap halaman sekolah, lalu menunjuk beberapa bambu yang tersimpan di belakang gudang.

“Masih ada bambu bekas dari pagar lama. Kita juga bisa minta bambu dari warga. Kalau panggungnya sederhana, aku bisa membuat rangkanya.”

“Kalau aku,” kata Jagra, “bisa mengajak pemuda desa. Mereka mungkin mau membantu mengangkat bambu dan memasang lampu.”

Liris tersenyum lebar.

“Aku akan menulis naskah pertunjukan. Anak-anak kecil bisa ikut bermain.”

Rantaka memandangi ketiga sahabatnya.

Mereka berbicara dengan semangat, seolah keputusan besar telah dibuat. Namun, Rantaka tahu bahwa kegiatan seperti itu tidak akan mudah. Mereka membutuhkan izin, bahan, tenaga, dan dukungan warga.

“Kalau begitu,” katanya, “aku akan bicara dengan Bu Laras dan Kepala Dusun. Kita harus menjelaskan bahwa ini untuk sekolah.”

Sore itu, Langit Biru kembali memiliki rencana.

Bukan rencana kecil seperti memperbaiki pagar atau membawa buku keliling.

Melainkan rencana yang akan mengajak seluruh Desa Wanasari berdiri bersama untuk sekolah mereka.


Keesokan harinya, Rantaka dan Liris menemui Bu Laras.

Mereka menjelaskan gagasan tentang Pentas Harapan Wanasari. Bu Laras mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sesekali ia mengangguk, sesekali ia menatap keluar jendela seperti sedang membayangkan halaman sekolah yang dipenuhi warga.

“Ini gagasan yang baik,” katanya setelah mereka selesai berbicara. “Tetapi kalian harus ingat, acara seperti ini membutuhkan kerja sama banyak orang.”

“Kami siap, Bu,” kata Rantaka.

Bu Laras tersenyum.

“Kalau begitu, Ibu akan membantu menghubungi Kepala Dusun dan beberapa orang tua murid.”

Pertemuan warga diadakan pada malam Jumat di balai desa.

Balai desa Wanasari tidak terlalu besar. Lantainya masih semen kasar, dindingnya dari papan, dan lampunya hanya beberapa buah. Namun, malam itu balai desa cukup ramai. Ada para orang tua murid, tokoh masyarakat, pemuda desa, ibu-ibu yang aktif dalam kegiatan kampung, serta beberapa warga yang sebelumnya masih ragu terhadap perjuangan mempertahankan SD Wanasari.

Rantaka duduk di dekat Bu Laras.

Tangannya dingin.

Ia belum pernah berbicara di depan banyak orang dewasa tentang rencana sebesar itu.

Kepala Dusun membuka pertemuan dengan suara berat.

“Kita semua tahu keadaan sekolah kita,” katanya. “Bangunannya tua, muridnya tidak banyak, dan kecamatan sedang menilai. Anak-anak ini punya gagasan. Kita dengarkan dulu.”

Bu Laras berdiri.

“Pentas Harapan Wanasari bukan sekadar acara hiburan,” katanya. “Ini adalah ruang untuk menunjukkan bahwa masyarakat masih peduli pada pendidikan anak-anaknya. Jika kita ingin sekolah ini bertahan, kita harus menunjukkan bahwa sekolah ini benar-benar hidup di tengah desa.”

Kemudian Rantaka dipersilakan maju.

Ia berdiri perlahan.

Di hadapannya, ada wajah-wajah yang dikenalnya. Ada Bu Sari yang sering membeli kue dari ibunya. Ada Pak Jamin yang bekerja di ladang. Ada beberapa bapak yang pernah berkata bahwa anak-anak lebih baik membantu keluarga daripada berjalan jauh ke sekolah lain.

Rantaka menarik napas.

“Sekolah kami memang kecil,” katanya. “Atapnya bocor. Buku kami tidak banyak. Papan tulis kami retak. Tetapi di sekolah itu, kami belajar membaca, berhitung, dan mengenal dunia.”

Suasana balai desa hening.

“Kami membuat Gerobak Buku karena kami ingin anak-anak di desa juga bisa membaca. Kami ingin mereka tahu bahwa mereka boleh punya cita-cita. Pentas ini adalah cara kami mengajak semua warga untuk percaya bahwa SD Wanasari masih layak dipertahankan.”

Rantaka menunduk setelah selesai berbicara.

Beberapa saat tidak ada suara.

Lalu Bu Sari berdiri.

“Saya setuju,” katanya. “Kalau anak-anak sudah berani berjuang seperti ini, masa kita yang dewasa hanya menonton?”

Seorang pemuda desa bernama Ardi ikut mengangkat tangan.

“Saya dan teman-teman bisa membantu membuat lampu dari kabel yang ada. Tidak bagus-bagus amat, tapi cukup untuk acara.”

Warga lain mulai berbicara.

Ada yang menawarkan bambu.

Ada yang menawarkan tikar.

Ada yang bersedia membawa makanan.

Ada yang ingin membantu menyiapkan pakaian sederhana untuk anak-anak yang akan tampil.

Kepala Dusun yang sebelumnya tampak ragu akhirnya mengangguk.

“Baik,” katanya. “Kita adakan Pentas Harapan Wanasari. Tapi semuanya harus dikerjakan bersama-sama.”

Tepuk tangan terdengar di dalam balai desa.

Liris memandang Rantaka dengan mata berbinar. Banyu tersenyum kecil. Jagra bahkan menepuk punggung Rantaka cukup keras hingga ia hampir tersandung.

“Pidatomu tidak buruk,” bisik Jagra.

“Diam,” jawab Rantaka, tetapi ia tersenyum.


Persiapan dimulai sejak hari berikutnya.

Banyu menjadi orang yang paling sibuk.

Ia mengukur bambu, memotong tali, dan menggambar bentuk panggung di tanah dengan ranting. Beberapa pemuda desa membantunya mengangkat bambu dari kebun. Mereka membuat rangka panggung sederhana di halaman sekolah, tepat di dekat pohon beringin.

Panggung itu tidak besar.

Hanya cukup untuk beberapa anak berdiri dan menampilkan pertunjukan.

Namun, bagi Banyu, panggung itu harus kokoh.

“Kalau anak-anak naik, jangan sampai bambunya bergoyang,” katanya sambil mengikat tali.

Jagra mengajak pemuda desa mencari papan bekas. Ada yang berasal dari kandang lama, ada yang dari sisa bangunan warung, dan ada pula yang dipinjam dari rumah warga. Ia juga membantu memasang lampu-lampu kecil dari bohlam bekas yang disambungkan dengan kabel.

Liris menghabiskan banyak waktu di bawah pohon beringin.

Ia menulis naskah pertunjukan tentang anak-anak desa yang ingin mempertahankan sekolah mereka. Ceritanya sederhana, tetapi penuh perasaan. Ada tokoh anak petani, anak nelayan, anak penjual kue, dan seorang guru yang tidak menyerah mengajar meski sekolah hampir ditutup.

“Ini bukan cerita tentang kita semua, kan?” tanya Jagra sambil membaca bagian awal naskah.

Liris tersenyum. “Bukan. Tapi mungkin ada sedikit.”

“Sedikit sekali,” kata Banyu.

Rantaka membantu Bu Laras mengajak murid-murid lain ikut tampil. Ada yang akan menyanyi lagu daerah. Ada yang membaca puisi. Ada yang memainkan drama. Anak-anak kecil terlihat sangat bersemangat, meski beberapa dari mereka masih malu berbicara di depan banyak orang.

Setiap sore, halaman sekolah berubah menjadi tempat latihan.

Suara anak-anak membaca dialog terdengar sampai ke jalan. Kadang mereka lupa kalimat, lalu tertawa. Kadang ada yang menangis karena tidak ingin tampil. Kadang Jagra membuat suasana semakin ramai dengan menirukan suara tokoh-tokoh dalam drama.

Rantaka menjadi penggerak utama.

Ia mengatur jadwal latihan, membantu membawa kursi dari balai desa, mengantarkan undangan sederhana ke rumah-rumah warga, dan memastikan Gerobak Buku tetap berjalan di sela-sela persiapan.

Tubuhnya lelah.

Namun, lelah kali ini berbeda.

Ia tidak lagi merasa lelah karena memikul semuanya sendirian.

Ia lelah karena bergerak bersama orang-orang yang percaya pada tujuan yang sama.

Malam sebelum acara, panggung hampir selesai.

Bambu-bambu berdiri tegak. Kain putih bekas spanduk dipasang sebagai latar belakang. Di bagian tengah, Liris menuliskan dengan cat biru:

PENTAS HARAPAN WANASARI
Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar

Warga mulai menyiapkan makanan. Ibu-ibu memasak singkong rebus, gorengan, dan teh hangat. Pemuda desa memeriksa lampu. Anak-anak berlatih untuk terakhir kalinya.

Rantaka berdiri di depan panggung bersama sahabat-sahabatnya.

“Besok pasti ramai,” kata Jagra.

“Semoga tidak hujan,” ujar Banyu sambil memandang langit.

Liris menatap tulisan di kain latar.

“Kalau semua berjalan baik, mungkin tim kecamatan akan tahu bahwa sekolah ini tidak boleh ditutup.”

Rantaka mengangguk.

Ia memandangi halaman sekolah yang kini tampak berbeda.

Tempat yang dulu penuh kebocoran dan pagar rusak, kini menjadi ruang harapan. Bukan karena bangunannya sudah berubah sepenuhnya, tetapi karena banyak tangan telah ikut bekerja.

Namun, ketika malam semakin larut, angin mulai bertiup lebih kencang.

Daun-daun beringin bergerak keras.

Langit yang sejak sore tampak cerah perlahan tertutup awan gelap.

Rantaka menatap ke atas.

Satu titik air jatuh di punggung tangannya.

Kemudian titik kedua.

Lalu, hujan turun.

Awalnya hanya gerimis.

Tetapi tidak lama kemudian, hujan berubah menjadi deras.

Warga berlari menyelamatkan makanan dan alat-alat pertunjukan. Banyu serta para pemuda berusaha menahan kain latar agar tidak robek. Jagra mengangkat beberapa kursi ke teras sekolah. Liris memeluk naskah dramanya agar tidak basah.

Rantaka berdiri di depan panggung yang baru saja mereka bangun.

Air hujan membasahi rambut dan bajunya.

Salah satu tali bambu terlepas.

Kain latar bergoyang keras.

Lalu, dengan suara patahan yang membuat semua orang terdiam, salah satu sisi panggung runtuh ke tanah.

Pentas Harapan Wanasari belum dimulai.

Namun, malam itu, hujan seolah datang untuk menguji seberapa kuat janji yang telah mereka buat.

 

Bab 21 — Hujan yang Menguji Janji

Suara patahan bambu itu masih menggantung di udara ketika hujan semakin deras.

Salah satu sisi panggung miring ke tanah. Kain putih bertuliskan Pentas Harapan Wanasari jatuh dan terseret air. Lampu-lampu kecil yang dipasang pemuda desa berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam.

Anak-anak yang tadi berlatih berlarian ke teras sekolah.

Sebagian ibu membawa nampan makanan ke dalam kelas. Para bapak mencoba mengangkat papan-papan yang sudah basah. Banyu dan Jagra berdiri di dekat panggung dengan wajah tegang. Liris memeluk naskah pertunjukan di dadanya agar tidak ikut hancur terkena hujan.

Rantaka tidak bergerak.

Ia berdiri di tengah halaman sekolah dengan pakaian basah kuyup. Air hujan mengalir dari rambutnya ke wajah, tetapi ia tidak lagi tahu mana yang berasal dari hujan dan mana yang berasal dari rasa kecewa.

Panggung itu bukan sekadar bambu dan papan.

Panggung itu adalah hasil kerja warga selama berhari-hari.

Ada bambu yang dipinjam dari kebun Pak Jamin. Ada papan bekas yang dikumpulkan Jagra dari rumah-rumah warga. Ada tali yang dibeli dari uang patungan. Ada kain latar yang ditulis Liris dengan tangan sendiri. Ada tenaga Banyu yang sejak pagi mengukur, memotong, dan mengikat rangka panggung agar berdiri kokoh.

Kini, semuanya jatuh dalam satu malam.

“Rantaka!”

Suara Bu Laras terdengar dari teras.

“Masuk ke dalam! Jangan berdiri di sana!”

Namun, Rantaka tetap diam.

Banyu mendekatinya.

“Kita harus menyelamatkan papan yang masih bisa dipakai,” katanya.

Rantaka menggeleng pelan.

“Untuk apa?”

Banyu menatapnya.

“Untuk diperbaiki.”

“Hujan masih deras.”

“Kita tunggu hujan reda.”

“Besok acaranya,” kata Rantaka. “Bagaimana mungkin kita memperbaiki semuanya dalam satu malam?”

Jagra yang baru saja mengangkat kursi dari halaman ikut mendekat.

“Kita bisa cari cara.”

Rantaka menoleh kepada sahabatnya.

“Cara lagi?” katanya dengan suara lelah. “Kita selalu bilang begitu. Kita cari cara, kita cari jalan, kita tidak boleh menyerah. Tapi lihat sekarang.”

Jagra terdiam.

Rantaka memandang panggung yang runtuh.

“Sudah berhari-hari warga bekerja. Ibu-ibu memasak. Anak-anak latihan. Banyu membuat panggung. Liris menulis naskah. Semua sudah siap.” Ia menarik napas berat. “Lalu hujan datang dan menghancurkan semuanya.”

Liris mendekat sambil masih memegang naskah.

“Bukan semuanya hancur,” katanya pelan.

Rantaka menatapnya.

“Panggungnya hancur.”

“Panggungnya bisa dibuat lagi.”

“Dengan apa?” suara Rantaka meninggi. “Bambu kita terbatas. Papan kita sudah basah. Lampu kita mati. Besok warga datang untuk melihat pertunjukan, bukan untuk melihat kita berdiri di tengah lumpur.”

Liris menggigit bibir.

Wajahnya tampak sedih, tetapi ia tidak pergi.

“Kalau kita membatalkan acara,” katanya, “yang mereka lihat justru kita menyerah sebelum mencoba.”

Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.

Namun, kelelahan di dalam dirinya lebih besar daripada keberanian yang baru saja tumbuh beberapa hari terakhir.

Ia merasa seperti kembali menjadi anak yang berdiri di bawah pohon beringin, yakin bahwa semua perjuangan hanya akan berakhir dengan kekecewaan.

“Aku tidak sanggup,” katanya lirih.

Banyu menunduk.

Jagra mengusap wajahnya yang basah.

Liris memejamkan mata.

Di teras sekolah, beberapa warga mulai berbicara dengan suara pelan.

“Sepertinya lebih baik dibatalkan saja.”

“Hujannya belum tentu berhenti sampai besok.”

“Kalau dipaksakan, anak-anak bisa sakit.”

“Panggungnya juga sudah tidak mungkin dipakai.”

Kata-kata itu terdengar satu per satu, seperti batu kecil yang dilemparkan ke dalam dada Rantaka.

Ia ingin mengatakan bahwa mereka benar.

Ia ingin mengakhiri semua usaha itu sebelum ada yang berharap lebih jauh.

Namun, kemudian Bu Laras berjalan mendekat.

Payung tua di tangannya sudah tidak mampu menahan seluruh hujan. Ujung bajunya basah. Sandalnya penuh lumpur. Tetapi wajahnya tetap tenang.

Bu Laras berdiri di depan Rantaka.

“Kau kecewa?” tanyanya.

Rantaka mengangguk.

“Marah?”

Rantaka kembali mengangguk.

“Merasa ingin berhenti?”

Kali ini, Rantaka tidak menjawab.

Bu Laras menatap panggung yang runtuh.

“Dulu, ketika Ibu pertama kali datang mengajar di sekolah ini,” katanya, “atap ruang kelas sebelah juga pernah runtuh saat hujan. Waktu itu, Ibu pikir mungkin sekolah ini memang tidak akan bertahan.”

Rantaka mendengarkan.

“Namun, besoknya anak-anak tetap datang. Mereka membawa tikar dari rumah. Mereka belajar di teras. Ada yang duduk di bawah pohon. Ada yang menulis di atas lutut.” Bu Laras tersenyum tipis. “Saat itu Ibu mengerti, sekolah bukan hanya bangunan. Sekolah adalah orang-orang yang tidak mau berhenti belajar.”

Hujan masih turun, tetapi suara Bu Laras terdengar jelas.

“Pentas ini bukan hanya tentang panggung,” lanjutnya. “Pentas ini tentang janji kita kepada anak-anak desa. Janji bahwa mereka tetap punya tempat untuk belajar dan bermimpi.”

Rantaka memandang guru itu.

“Tapi kalau panggungnya tidak bisa diperbaiki?” tanyanya.

“Kalau halaman tidak bisa dipakai,” jawab Bu Laras, “kita cari tempat lain.”

Jagra mengangkat wajah.

“Balai desa,” katanya.

Banyu menoleh cepat.

“Balai desa cukup luas.”

Liris memandang naskah di tangannya.

“Kita bisa memindahkan pertunjukan ke sana.”

Rantaka masih ragu.

“Lampunya?”

“Ada lampu di balai desa,” jawab Jagra. “Tidak banyak, tapi cukup. Aku bisa minta Ardi dan teman-teman mengecek kabelnya.”

“Panggungnya?” tanya Banyu.

“Kita tidak perlu panggung tinggi,” kata Bu Laras. “Kita bisa memakai lantai balai desa. Anak-anak bisa tampil di depan warga tanpa harus berdiri di atas bambu.”

Liris mulai tersenyum kecil.

“Kain latar masih bisa dijemur,” katanya. “Tulisan di atasnya mungkin sedikit luntur, tetapi masih bisa dibaca.”

Banyu memandang papan-papan yang jatuh.

“Beberapa papan bisa dipakai sebagai tempat duduk,” katanya. “Yang patah bisa dijadikan penyangga untuk papan pengumuman.”

Jagra mengangguk.

“Kalau begitu, kita tidak membatalkan.”

Rantaka menatap ketiga sahabatnya.

Mereka basah, lelah, dan kecewa.

Namun, tidak satu pun dari mereka pergi.

Tidak satu pun berkata bahwa perjuangan ini sudah selesai.

Di tengah hujan yang merobohkan panggung, mereka justru mulai mencari bentuk baru untuk menjaga harapan.

Rantaka menarik napas panjang.

Ia memandangi halaman sekolah yang penuh lumpur. Lalu ia menatap Bu Laras, sahabat-sahabatnya, dan warga yang masih berdiri di bawah teras.

“Kita pindahkan ke balai desa,” katanya.

Suara itu tidak terlalu keras.

Namun, cukup untuk membuat beberapa orang menoleh.

“Kita tetap adakan Pentas Harapan Wanasari,” lanjut Rantaka. “Kalau panggungnya jatuh, kita tidak ikut jatuh bersamanya.”

Untuk beberapa saat, suasana hening.

Lalu Pak Jamin, yang sejak tadi membantu mengangkat papan, mengangkat tangannya.

“Saya punya terpal di rumah,” katanya. “Bisa dipakai untuk menutup jalan dari depan balai desa.”

Bu Sari menyusul.

“Saya dan ibu-ibu akan bawa makanan ke balai desa. Tidak apa kalau harus mulai lagi.”

Ardi, pemuda desa yang membantu memasang lampu, berdiri dari dekat gudang.

“Saya bawa teman-teman untuk cek lampu dan susun kursi.”

Kepala Dusun yang baru datang dari rumahnya dengan jas hujan sederhana menatap keadaan halaman sekolah. Ia melihat panggung yang runtuh, anak-anak yang berkumpul, serta warga yang masih bertahan.

Kemudian ia berkata, “Kalau anak-anak ini tidak menyerah, kita juga tidak boleh menyerah.”

Kalimat itu seperti membuka sesuatu.

Warga mulai bergerak.

Ada yang mengangkat makanan ke dalam kelas agar tidak basah. Ada yang mengumpulkan kain dan tali yang masih bisa dipakai. Ada yang menutup Gerobak Buku dengan terpal. Beberapa pemuda mengangkat papan-papan yang belum rusak ke bawah teras.

Hujan masih belum berhenti.

Namun, tidak ada lagi orang yang hanya berdiri memandangi panggung runtuh.

Mereka bekerja.

Mereka menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.

Mereka menyiapkan apa yang dapat dipindahkan.

Malam semakin larut ketika hujan mulai mengecil.

Halaman sekolah berubah menjadi tanah berlumpur dan sisa-sisa bambu. Tetapi di bawah teras, orang-orang masih berbicara tentang besok. Tentang kursi yang harus dibawa. Tentang anak-anak yang harus diberi tahu. Tentang makanan yang perlu dipindahkan. Tentang lampu balai desa yang harus diperiksa.

Rantaka membantu Banyu mengikat kembali kain latar yang basah.

Tulisan biru di tengah kain memang sedikit luntur.

Namun, kalimat itu masih terlihat.

PENTAS HARAPAN WANASARI
Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar

Rantaka memegang salah satu ujung kain.

“Masih bisa dipakai?” tanya Banyu.

Rantaka memandangi tulisan itu.

“Masih,” jawabnya.

Liris berdiri di samping mereka.

“Seperti kita,” katanya pelan.

Jagra yang sedang membawa papan kursi menoleh.

“Jangan mulai bicara seperti puisi lagi. Nanti aku ikut menangis.”

Liris tersenyum.

“Kau memang mudah menangis.”

“Aku tidak menangis. Ini hujan.”

“Hujannya sudah hampir berhenti,” kata Banyu.

Jagra segera menunduk dan melanjutkan pekerjaannya.

Rantaka tertawa kecil.

Tawa itu tidak menghapus kelelahan mereka. Tidak menghapus panggung yang runtuh. Tidak menghapus kemungkinan bahwa besok masih akan banyak masalah.

Tetapi tawa itu membuat mereka kembali merasa dekat.

Menjelang tengah malam, warga mulai pulang satu per satu.

Bu Laras meminta anak-anak segera beristirahat karena esok hari mereka harus tampil. Rukmini datang menjemput Rantaka dengan payung besar. Darma tidak bisa datang karena kakinya masih sakit, tetapi ia menitipkan pesan agar Rantaka tidak pulang terlalu malam.

Dalam perjalanan pulang, Rantaka berjalan di samping ibunya.

Jalan tanah masih basah. Di beberapa tempat, air menggenang dan memantulkan cahaya bulan yang mulai muncul dari balik awan.

“Kau kecewa?” tanya Rukmini.

“Tadi iya,” jawab Rantaka.

“Sekarang?”

Rantaka memikirkan Bu Laras, sahabat-sahabatnya, dan warga yang memilih tetap bekerja meski hujan telah merobohkan panggung.

“Sekarang aku masih kecewa,” katanya jujur. “Tapi aku tidak ingin berhenti.”

Rukmini menggenggam tangan anaknya.

“Itu sudah cukup.”

Malam itu, sebelum tidur, Rantaka membuka surat Kakek Sastro sekali lagi.

Ia membaca bagian yang sudah berkali-kali dibacanya.

Boleh beristirahat. Boleh menangis. Boleh merasa takut. Tetapi jangan menyerahkan masa depanmu begitu saja kepada kesulitan hari ini.

Rantaka menutup surat itu.

Di luar rumah, hujan benar-benar berhenti.

Langit masih gelap, tetapi tidak lagi menakutkan.

Besok, Pentas Harapan Wanasari akan tetap berlangsung.

Bukan di panggung bambu yang telah runtuh.

Melainkan di balai desa, di antara warga yang memilih untuk memperbaiki harapan bersama-sama.

Dan Rantaka tahu, janji yang diuji oleh hujan bukanlah janji yang harus dibatalkan.

Janji itu adalah janji yang harus dijaga, meski harus dibangun kembali dari tanah yang basah.

 

Bab 22 — Suara dari Anak-Anak Desa

Pagi di Desa Wanasari datang dengan udara yang masih basah.

Hujan semalam telah meninggalkan genangan kecil di sepanjang jalan tanah. Daun-daun pisang menunduk karena menahan sisa air. Dari atap rumah-rumah warga, tetesan hujan masih jatuh perlahan, seperti sisa-sisa malam yang belum sepenuhnya pergi.

Namun, sejak matahari belum tinggi, balai desa sudah mulai ramai.

Para pemuda membawa kursi kayu dari rumah-rumah warga. Ibu-ibu menata makanan di atas meja panjang yang ditutup kain plastik. Beberapa bapak memasang terpal di bagian depan balai agar warga tetap bisa duduk meski hujan kembali turun. Ardi dan teman-temannya memeriksa lampu-lampu yang tergantung di langit-langit.

Di tengah kesibukan itu, kain latar yang semalam basah telah dipasang kembali.

Tulisan birunya memang tidak lagi serapi sebelumnya. Sebagian huruf tampak sedikit luntur. Namun, kalimat di tengah kain itu masih dapat dibaca dengan jelas.

PENTAS HARAPAN WANASARI
Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar

Rantaka berdiri di depan balai desa sambil memegang beberapa lembar kertas.

Kertas itu berisi susunan acara.

Tangannya sedikit gemetar.

Bukan karena dingin.

Melainkan karena ia tahu malam itu akan menjadi salah satu malam terpenting bagi SD Wanasari. Warga akan datang. Anak-anak akan tampil. Kepala Dusun akan hadir. Bahkan, Bu Laras mengatakan bahwa ada kemungkinan beberapa orang dari kecamatan mendengar kabar tentang kegiatan mereka.

“Jangan dilipat terus,” kata Liris yang datang dari belakang. “Nanti kertasnya robek.”

Rantaka menoleh.

Liris mengenakan baju sederhana berwarna putih dengan kain biru yang dipinjam dari ibunya. Rambutnya dikepang rapi. Di tangannya, ia membawa buku catatan berisi puisi dan naskah pertunjukan.

“Aku hanya memastikan urutannya,” kata Rantaka.

“Kau sudah memastikan sejak pagi.”

“Aku takut ada yang salah.”

Liris tersenyum.

“Kalau ada yang salah, kita perbaiki. Seperti panggung semalam.”

Rantaka mengangguk.

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuatnya sedikit lebih tenang.

Tidak lama kemudian, Banyu datang membawa sebuah alat yang dibungkus kain.

“Apa itu?” tanya Rantaka.

Banyu membuka kainnya perlahan.

Di dalamnya ada alat sederhana yang dibuat dari botol plastik bekas, pasir, kerikil, arang, kain, dan pipa kecil. Alat itu tidak besar, tetapi terlihat dibuat dengan sangat teliti.

“Penyaring air,” jawab Banyu.

“Kau benar-benar jadi membawanya?”

Banyu mengangguk.

“Aku ingin menunjukkan bahwa barang bekas juga bisa berguna. Kalau air sungai keruh setelah hujan, alat ini bisa membantu menyaringnya.”

Liris mendekat dan memperhatikan alat itu.

“Bagus sekali, Banyu.”

Banyu tersenyum kecil, lalu kembali memeriksa bagian pipa.

Jagra muncul beberapa saat kemudian dengan pakaian yang lebih rapi dari biasanya. Ia memakai kemeja yang sedikit kebesaran dan celana panjang hitam yang bagian lututnya sudah mulai pudar.

“Jangan lihat aku seperti itu,” katanya ketika melihat Liris menahan senyum.

“Aku hanya heran,” jawab Liris. “Ternyata kau punya baju yang tidak terkena lumpur.”

“Ini dipinjam dari sepupuku,” kata Jagra. “Kalau terkena lumpur, aku harus mencuci di sungai selama tiga hari.”

Banyu tertawa pelan.

Rantaka juga tersenyum.

Untuk beberapa saat, mereka kembali seperti empat sahabat yang dahulu duduk di bawah pohon beringin dan berbicara tentang cita-cita. Namun, kali ini, mereka tidak hanya membicarakan mimpi.

Mereka sedang bersiap memperjuangkannya.


Menjelang sore, warga mulai berdatangan.

Ada yang datang bersama anak-anak kecil. Ada yang membawa tikar tambahan. Ada yang membawa makanan untuk dibagikan. Para orang tua murid duduk di bagian depan, sementara anak-anak berkumpul di dekat sisi ruangan dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

Balai desa yang biasanya sepi kini terasa hangat dan hidup.

Lampu-lampu kecil menyala di atas kepala mereka. Di luar, langit mulai berubah jingga. Awan masih tampak tebal, tetapi tidak ada tanda hujan akan turun lagi.

Bu Laras berdiri di dekat pintu masuk.

Ia mengenakan kebaya sederhana dan membawa map berisi catatan. Wajahnya tampak lelah karena semalam ikut membantu memindahkan perlengkapan, tetapi sorot matanya penuh kebanggaan.

Kepala Dusun datang bersama beberapa tokoh masyarakat. Ia duduk di barisan depan, tidak jauh dari Darma dan Rukmini.

Darma datang dengan tongkat kayu.

Kakinya belum sepenuhnya pulih, tetapi ia bersikeras ingin hadir. Rukmini duduk di sampingnya sambil sesekali memastikan ia tidak terlalu lelah.

Ketika Rantaka melihat ayah dan ibunya, dadanya terasa hangat.

Darma mengangkat tangan kecil sebagai tanda semangat.

Rantaka mengangguk.

Lalu, acara dimulai.

Bu Laras maju ke depan.

“Selamat malam, warga Desa Wanasari,” katanya.

Suara percakapan perlahan berhenti.

“Malam ini kita berkumpul bukan hanya untuk menyaksikan anak-anak tampil. Kita berkumpul untuk mendengarkan suara mereka. Suara anak-anak yang ingin belajar, ingin membaca, ingin memiliki masa depan, dan ingin mempertahankan sekolah mereka.”

Beberapa warga mengangguk.

Bu Laras melanjutkan, “Pentas Harapan Wanasari adalah bukti bahwa sekolah kecil ini masih hidup. Mungkin bangunannya belum sempurna. Mungkin fasilitasnya belum lengkap. Tetapi selama masih ada anak-anak yang datang untuk belajar dan masyarakat yang mau mendukung, sekolah ini tidak boleh dianggap selesai.”

Tepuk tangan terdengar.

Tidak terlalu keras pada awalnya.

Namun, perlahan semakin banyak tangan yang ikut bertepuk.

Setelah itu, anak-anak kecil tampil menyanyikan lagu daerah. Suara mereka kadang tidak serempak, tetapi justru itulah yang membuat banyak warga tersenyum. Ada seorang anak yang lupa lirik dan hanya menggerakkan bibir sambil melihat teman di sebelahnya. Ada pula yang terlalu gugup hingga berdiri kaku, tetapi tetap berusaha menyelesaikan lagu sampai akhir.

Warga memberi tepuk tangan panjang.

Kemudian, beberapa murid membawakan drama pendek yang ditulis Liris.

Drama itu bercerita tentang sebuah sekolah kecil di desa yang hampir ditutup karena dianggap tidak penting. Dalam cerita itu, seorang anak petani bertanya kepada ayahnya mengapa ia harus sekolah jika hidup mereka tetap sulit. Sang ayah menjawab bahwa sekolah tidak selalu membuat hidup mudah, tetapi sekolah membuat seseorang mampu memahami pilihan hidupnya.

Ketika bagian itu dimainkan, suasana balai desa menjadi hening.

Banyak orang dewasa memandangi anak-anak yang tampil di depan mereka.

Beberapa ibu mengusap mata.

Rukmini menunduk sambil menggenggam tangan Darma.

Darma tidak berkata apa-apa, tetapi matanya tidak lepas dari Rantaka yang berdiri di sisi ruangan sambil membantu mengatur jalannya acara.

Setelah drama selesai, giliran Liris naik ke depan.

Ia membawa selembar kertas.

Tangannya tampak tenang, tetapi Rantaka tahu Liris sebenarnya gugup. Ia selalu gugup sebelum membaca puisi, meski setelah mulai berbicara, suaranya akan berubah menjadi kuat.

Liris menatap warga.

Kemudian ia membacakan puisinya.

Di ujung jalan tanah yang basah,
ada anak-anak membawa buku dalam pelukan.
Mereka tidak meminta langit turun ke tangan,
mereka hanya ingin jalan menuju masa depan.

Sekolah kami mungkin kecil,
dindingnya tua, atapnya pernah bocor.
Tetapi di dalamnya, huruf-huruf tumbuh,
dan mimpi tidak pernah benar-benar tidur.

Jangan tutup pintu kami
hanya karena kami datang dari desa.
Sebab di bawah langit yang sama,
anak-anak Wanasari juga ingin menjadi cahaya.

Setelah puisi itu selesai, tidak ada yang langsung bertepuk tangan.

Balai desa hening.

Suara napas warga terasa lebih jelas daripada sebelumnya.

Kemudian, Bu Sari berdiri lebih dulu dan bertepuk tangan. Warga lain mengikuti. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Ada yang berdiri. Ada yang mengangguk sambil menyeka mata.

Liris menunduk.

Ketika ia turun dari depan, Jagra berbisik, “Aku hampir menangis.”

“Kau memang mudah menangis,” jawab Liris.

“Diam. Ini karena lampunya terlalu terang.”

Banyu tersenyum.

Selanjutnya, Banyu maju membawa alat penyaring air buatannya.

Ia tidak banyak bicara seperti Liris atau Jagra. Ia berdiri di depan meja kecil, lalu menjelaskan cara kerja alat itu dengan kalimat sederhana.

“Air sungai setelah hujan kadang keruh,” katanya. “Kalau disaring lewat kerikil, pasir, arang, dan kain, airnya bisa menjadi lebih jernih. Alat ini tidak mahal karena bahannya dari barang yang ada di sekitar kita.”

Ia menuangkan air keruh ke dalam botol bagian atas.

Warga memperhatikan.

Air itu mengalir perlahan melalui lapisan-lapisan penyaring. Beberapa saat kemudian, air yang keluar dari pipa kecil tampak lebih bening daripada sebelumnya.

Anak-anak kecil berseru kagum.

Beberapa bapak mendekat untuk melihat lebih jelas.

Pak Jamin bahkan bertanya apakah alat itu bisa dibuat lebih besar untuk digunakan di dekat kebun.

Banyu menjawab dengan wajah malu-malu, tetapi matanya berbinar.

Untuk pertama kalinya, banyak orang melihat bahwa anak pendiam yang sering duduk di belakang kelas itu memiliki cara sendiri untuk bermimpi.

Setelah Banyu, Jagra tampil.

Ia tidak membawa puisi atau alat.

Ia membawa sebuah jaring ikan kecil.

Jagra berdiri di depan warga, lalu mulai bercerita.

“Setiap pagi, sebelum sekolah, kadang aku ikut Ayah mencari ikan di sungai,” katanya. “Ada hari ketika kami dapat banyak ikan. Ada hari ketika jaring kami kosong.”

Warga mendengarkan.

“Aku dulu sering berpikir, kalau aku sudah bisa mencari ikan, untuk apa aku sekolah? Tapi kemudian aku melihat Ayah menghitung hasil tangkapan dengan susah payah. Aku melihat banyak ikan dijual murah karena kami tidak tahu cara menyimpannya lebih lama atau menjualnya ke tempat yang lebih baik.”

Jagra mengangkat jaring kecil itu.

“Aku ingin belajar supaya suatu hari nanti aku bisa membantu nelayan sungai di desa ini. Aku ingin membuat usaha perikanan. Aku ingin ikan dari Wanasari tidak hanya dijual seadanya, tetapi bisa menjadi penghidupan yang lebih baik bagi banyak keluarga.”

Suara Jagra tidak sehalus Liris.

Tidak serapi pidato orang dewasa.

Namun, kata-katanya keluar dari pengalaman yang nyata.

Para bapak yang biasa pergi ke sungai menatapnya dengan wajah serius. Beberapa dari mereka mengangguk pelan.

Ketika Jagra selesai, tepuk tangan kembali memenuhi balai desa.

Kini, giliran Rantaka.

Bu Laras memandangnya dari sisi ruangan.

Rantaka membawa kertas pidatonya, tetapi ia tidak langsung membukanya. Ia berdiri di depan warga dan melihat wajah-wajah yang hadir malam itu.

Ia melihat ibunya.

Ia melihat ayahnya.

Ia melihat Bu Laras.

Ia melihat Liris, Banyu, dan Jagra.

Ia melihat anak-anak kecil yang duduk di lantai sambil memegang buku.

Kemudian ia berbicara.

“Nama saya Rantaka Wening.”

Suaranya terdengar sedikit bergetar pada kalimat pertama.

Namun, ia melanjutkan.

“Saya anak petani. Ayah saya bekerja di ladang. Ibu saya membuat dan menjual kue. Saya tahu hidup di desa tidak selalu mudah. Saya tahu kadang orang tua harus memilih antara membeli buku, membeli beras, atau membeli obat.”

Balai desa kembali hening.

“Saya juga pernah berpikir untuk berhenti sekolah. Saya pikir kalau saya bekerja lebih banyak, beban keluarga saya akan lebih ringan.”

Rukmini menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.

“Tetapi saya belajar bahwa sekolah bukan hanya tentang seragam baru atau buku yang lengkap. Sekolah adalah tempat kami belajar membaca dunia. Tempat kami belajar bahwa anak petani, anak penjual kue, dan anak nelayan juga boleh punya cita-cita.”

Rantaka menarik napas.

“Sekolah kami memang kecil. Tapi di sekolah itu, kami menemukan buku-buku lama. Kami membuat Gerobak Buku. Kami belajar bahwa kalau kami bekerja bersama, sesuatu yang kecil bisa menjadi berarti.”

Ia memandang warga satu per satu.

“Kami tidak meminta semua masalah diselesaikan malam ini. Kami hanya meminta agar sekolah ini tidak ditinggalkan. Kami ingin SD Wanasari tetap ada, supaya anak-anak yang datang setelah kami masih punya tempat untuk belajar dan percaya pada dirinya sendiri.”

Rantaka berhenti sejenak.

Lalu ia berkata dengan suara lebih mantap.

“Kalau sekolah ini bertahan, kami berjanji akan menjaganya. Kami akan belajar lebih sungguh-sungguh. Kami akan mengajak lebih banyak anak datang. Kami akan membuktikan bahwa anak-anak desa tidak pernah kekurangan mimpi.”

Tepuk tangan terdengar.

Kali ini lebih keras.

Warga berdiri.

Bu Laras menutup mulutnya dengan tangan, menahan haru. Darma menatap Rantaka dengan mata basah, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Rukmini ikut berdiri dan bertepuk tangan.

Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di belakang Rantaka.

Mereka tidak berkata apa-apa.

Namun, kehadiran mereka di sana terasa seperti jawaban atas semua kesulitan yang pernah memisahkan mereka.

Setelah pertunjukan selesai, Kepala Dusun maju ke depan.

“Malam ini,” katanya, “kita sudah mendengar suara anak-anak kita. Saya rasa tidak ada seorang pun di ruangan ini yang bisa mengatakan bahwa SD Wanasari tidak dibutuhkan.”

Warga menjawab dengan suara setuju.

“Kita akan membuat komitmen bersama,” lanjut Kepala Dusun. “Kita akan menjaga sekolah ini. Kita akan membantu memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Kita akan mengajak anak-anak yang belum sekolah agar kembali belajar. Dan ketika tim dari kecamatan datang, kita akan menunjukkan bahwa Wanasari tidak menyerah pada pendidikan.”

Tepuk tangan kembali terdengar.

Malam itu, balai desa tidak lagi terasa seperti bangunan sederhana dengan dinding papan dan lampu seadanya.

Balai desa berubah menjadi tempat di mana harapan dikumpulkan.

Setelah acara berakhir, warga tidak langsung pulang.

Mereka berbincang, memberi saran, dan menyampaikan kesediaan membantu. Ada yang ingin menyumbang buku. Ada yang menawarkan tenaga untuk memperbaiki atap. Ada yang bersedia mengajak keluarga di dusun sebelah agar menyekolahkan anak-anaknya di SD Wanasari.

Gerobak Buku Langit Biru diletakkan di dekat pintu balai desa.

Anak-anak kecil masih mengelilinginya, memilih buku sebelum pulang.

Rantaka berdiri di samping sahabat-sahabatnya.

“Acara ini berhasil,” kata Jagra.

“Belum selesai,” jawab Banyu. “Tim kecamatan belum datang.”

Liris memandang kain latar yang sedikit luntur.

“Tapi sekarang mereka akan datang ke sekolah yang berbeda.”

Rantaka menatap mereka.

Sekolah itu memang belum berubah secara fisik.

Atapnya masih perlu diperbaiki.

Dindingnya masih tua.

Papan tulisnya masih retak.

Namun, malam itu, SD Wanasari memiliki sesuatu yang tidak dapat diukur hanya dengan bangunan dan fasilitas.

Sekolah itu memiliki suara.

Suara anak-anak desa yang tidak lagi memilih diam.

Di luar balai desa, langit malam tampak cerah.

Bintang-bintang muncul satu per satu di atas Desa Wanasari.

Rantaka menengadah.

Ia teringat kalimat yang pernah mereka ucapkan saat membentuk kelompok Langit Biru.

Mimpi kami tidak boleh dibatasi keadaan.

Malam itu, kalimat itu tidak lagi hanya milik empat sahabat.

Kalimat itu telah menjadi milik seluruh Desa Wanasari.

 

Bab 23 — Kedatangan Tim Penilai

Tiga hari setelah Pentas Harapan Wanasari, kabar yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.

Pagi itu, Bu Laras memasuki kelas dengan membawa sebuah surat. Wajahnya tampak tenang, tetapi dari cara ia menggenggam kertas itu, Rantaka tahu ada sesuatu yang penting.

Anak-anak yang sedang menyalin pelajaran berhenti menulis.

Banyu mengangkat kepala dari bukunya.

Liris menutup catatan puisi.

Jagra, yang sejak tadi duduk sambil menguap karena membantu ayahnya mencari ikan sebelum sekolah, langsung terlihat lebih sadar.

Bu Laras berdiri di depan kelas.

“Anak-anak,” katanya, “tim penilai dari kecamatan akan datang besok.”

Ruangan mendadak sunyi.

Tidak ada suara pensil.

Tidak ada suara kursi bergeser.

Hanya terdengar angin yang masuk dari jendela tanpa kaca di sisi kelas.

Rantaka memandangi Bu Laras.

Besok.

Artinya, semua yang mereka lakukan selama ini akan segera dilihat oleh orang-orang yang memiliki keputusan atas masa depan SD Wanasari.

Gerobak Buku.

Kerja bakti.

Pentas Harapan Wanasari.

Dukungan warga.

Semua akan diuji dalam satu kunjungan.

“Apakah mereka akan langsung memutuskan, Bu?” tanya seorang murid dari bangku depan.

Bu Laras menggeleng.

“Mereka akan melihat keadaan sekolah, berbicara dengan guru, murid, dan warga. Setelah itu, mereka akan membuat laporan.”

“Kalau mereka bilang sekolah ini tidak layak?” tanya murid lain.

Bu Laras terdiam sesaat.

“Kalau itu terjadi,” katanya, “kita harus tetap menunjukkan bahwa sekolah ini dibutuhkan.”

Rantaka menunduk.

Ia tahu Bu Laras berusaha menenangkan mereka. Namun, ia juga tahu bahwa kenyataan tidak selalu berubah hanya karena seseorang memiliki harapan.

Bangunan sekolah memang masih tua.

Atap kelas sebelah masih memiliki bekas kebocoran.

Papan tulis retak belum dapat diganti.

Jumlah murid SD Wanasari juga tidak sebanyak sekolah-sekolah di kecamatan.

Mereka telah melakukan banyak hal.

Tetapi apakah itu cukup?


Setelah jam sekolah selesai, warga kembali berkumpul di halaman SD Wanasari.

Kali ini tidak ada latihan drama atau persiapan pentas. Tidak ada suara anak-anak menyanyi. Semua orang bekerja dengan kesungguhan yang berbeda.

Para bapak memperbaiki bagian pagar bambu yang mulai longgar. Pemuda desa membersihkan selokan kecil di belakang kelas. Ibu-ibu menyapu halaman, mencuci tirai sederhana, dan menata bunga dalam botol-botol bekas yang dicat warna-warni oleh anak-anak.

Banyu memeriksa Gerobak Buku.

Ia mengencangkan roda depan yang masih sering membelok. Ia juga menyusun buku-buku dengan lebih rapi. Buku cerita diletakkan di bagian depan, buku pelajaran di bagian tengah, dan buku tulis bekas di sisi kiri.

Liris membuat beberapa tulisan kecil untuk ditempel di dinding sekolah.

Salah satunya bertuliskan:

Membaca Membuka Jalan.

Yang lain bertuliskan:

Sekolah Kecil, Mimpi yang Besar.

Jagra bersama beberapa anak laki-laki membersihkan halaman belakang. Mereka mengumpulkan daun-daun kering, memotong rumput liar, dan memperbaiki tempat cuci tangan sederhana yang terbuat dari jeriken bekas.

Rantaka berjalan dari satu tempat ke tempat lain.

Ia membantu membawa ember, memindahkan meja, menyapu teras, dan memastikan anak-anak yang lebih kecil tidak bermain terlalu dekat dengan bagian atap yang masih rapuh.

Namun, semakin sibuk ia bekerja, semakin besar pula rasa cemas di dalam dirinya.

Menjelang sore, ia duduk di bawah pohon beringin.

Tangannya kotor oleh tanah.

Bajunya terkena debu.

Di kejauhan, ia melihat warga masih bekerja. Bu Laras berbicara dengan Kepala Dusun. Banyu sedang memperbaiki roda gerobak. Liris menempelkan tulisan di dinding. Jagra membawa beberapa batang bambu.

Semua orang bergerak.

Namun, Rantaka merasa seperti ada sesuatu yang tidak dapat mereka perbaiki dengan sapu, bambu, atau cat.

Ia memikirkan kalimat dalam surat kecamatan.

Bangunan tidak layak. Jumlah murid sedikit. Fasilitas terbatas.

Kalimat-kalimat itu terdengar lebih kuat daripada semua yang mereka lakukan.

Liris datang dan duduk di sampingnya.

“Kau khawatir,” katanya.

Rantaka tidak menyangkal.

“Bagaimana kalau mereka tetap ingin menutup sekolah?”

Liris memandangi halaman.

“Kalau mereka datang hanya untuk melihat dinding retak, mungkin mereka akan berpikir begitu.”

“Lalu?”

“Lalu kita pastikan mereka juga melihat hal lain.”

Rantaka menoleh.

“Mereka harus melihat anak-anak yang tetap datang belajar,” lanjut Liris. “Mereka harus melihat Gerobak Buku. Mereka harus melihat warga yang bekerja. Mereka harus tahu bahwa sekolah ini bukan hanya bangunan.”

Rantaka menarik napas.

“Aku takut semua ini tidak cukup.”

Liris menatapnya dengan wajah tenang.

“Kita tidak bisa menentukan keputusan mereka. Tapi kita bisa menentukan apakah kita akan diam atau berusaha.”

Kalimat itu mengingatkan Rantaka pada Bu Laras saat panggung runtuh.

Ia mengangguk perlahan.

“Besok, kita tunjukkan semuanya.”


Pagi berikutnya, SD Wanasari tampak lebih rapi daripada biasanya.

Halaman yang sebelumnya penuh rumput liar kini bersih. Pagar bambu berdiri lebih tegak. Bunga-bunga dalam botol bekas berjajar di depan kelas. Gerobak Buku Langit Biru diletakkan di dekat pohon beringin dengan buku-buku tersusun rapi.

Anak-anak datang lebih awal.

Mereka mengenakan seragam terbaik yang mereka miliki. Tidak semua seragam tampak baru. Ada yang warnanya mulai pudar. Ada yang lengannya sedikit kependekan. Ada yang sepatunya sudah robek di bagian depan.

Namun, pagi itu, mereka berdiri dengan wajah penuh harap.

Rantaka mengenakan seragam yang telah dicuci dan disetrika oleh ibunya. Seragam itu masih lusuh, tetapi bersih. Di saku bajunya, ia menyimpan pensil dan buku kecil.

Darma datang bersama Rukmini.

Kakinya masih menggunakan tongkat, tetapi ia bersikeras ingin hadir. Ia duduk di kursi dekat teras sekolah bersama beberapa orang tua murid.

“Ayah tidak perlu datang kalau terlalu lelah,” kata Rantaka.

Darma tersenyum.

“Hari seperti ini, Bapak tidak mau hanya mendengar cerita dari rumah.”

Tidak lama kemudian, suara kendaraan terdengar dari arah jalan utama.

Sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di depan sekolah.

Anak-anak yang berdiri di halaman langsung memperhatikan.

Dari mobil itu turun tiga orang.

Seorang perempuan berkerudung biru tua membawa map tebal. Seorang laki-laki berkemeja putih membawa kamera kecil dan buku catatan. Seorang lagi, pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah serius, mengenakan sepatu hitam yang tampak sangat bersih dibandingkan jalan tanah Wanasari.

Bu Laras menyambut mereka di depan gerbang.

“Selamat datang di SD Wanasari,” katanya.

Perempuan berkerudung itu tersenyum sopan.

“Kami dari tim evaluasi kecamatan,” katanya. “Saya Ibu Ratna. Ini Pak Hadi dari bagian sarana pendidikan, dan Pak Surya dari bidang pembinaan sekolah dasar.”

Kepala Dusun maju untuk memberi salam.

Warga berdiri dengan sikap hormat.

Rantaka melihat Pak Surya memandangi bangunan sekolah. Pandangannya berhenti pada atap yang masih tampak tua, jendela tanpa kaca, dan dinding yang catnya mengelupas.

Wajahnya sulit dibaca.

Tim penilai mulai berkeliling.

Mereka melihat ruang kelas satu per satu. Pak Hadi mencatat kondisi atap, lantai, jendela, dan meja kursi. Ia beberapa kali menggeleng ketika melihat bagian kayu yang mulai lapuk.

“Bagian ini perlu perbaikan segera,” katanya kepada Bu Laras.

“Iya, Pak,” jawab Bu Laras. “Kami sudah mengajukan usulan perbaikan, tetapi belum mendapat kepastian.”

Pak Surya membuka daftar murid.

“Jumlah murid aktif berapa?”

“Empat puluh dua anak, Pak,” jawab Bu Laras.

Pak Surya mengangguk pelan.

“Untuk ukuran sekolah dasar, jumlah ini cukup kecil.”

Beberapa orang tua yang mendengar kalimat itu tampak gelisah.

Bu Laras tetap tenang.

“Memang jumlahnya tidak besar, Pak. Tetapi desa kami cukup jauh dari sekolah lain. Jika SD Wanasari ditutup, banyak anak harus berjalan sangat jauh atau bahkan berhenti sekolah.”

Pak Surya tidak langsung menjawab.

Ia hanya mencatat sesuatu di mapnya.

Tim kemudian melihat kegiatan belajar di kelas enam.

Bu Laras meminta murid-murid membaca cerita pendek secara bergantian. Rantaka mendapat giliran membaca bagian tentang seorang anak yang menanam pohon di halaman rumahnya.

Suara Rantaka sempat bergetar di awal.

Namun, ia mengingat pesan ayahnya.

Ia mengingat sahabat-sahabatnya.

Ia mengingat malam Pentas Harapan Wanasari.

Lalu ia membaca dengan jelas.

Setelah itu, Ibu Ratna bertanya kepada beberapa murid.

“Siapa yang paling suka membaca?”

Banyak tangan terangkat.

“Buku apa yang kalian baca?”

“Cerita rakyat, Bu.”

“Buku pelajaran.”

“Majalah anak-anak.”

“Buku tentang hewan.”

Ibu Ratna tersenyum.

“Dari mana kalian mendapatkan buku-buku itu?”

Anak-anak menoleh ke arah Gerobak Buku di bawah pohon beringin.

“Dari Gerobak Buku Langit Biru, Bu!” jawab mereka hampir bersamaan.

Ibu Ratna tampak tertarik.

“Boleh kami melihatnya?”

Banyu maju dengan wajah sedikit gugup.

Ia membawa tim penilai menuju gerobak. Ia menjelaskan bahwa buku-buku itu berasal dari gudang sekolah, sumbangan warga, dan beberapa buku bekas dari desa tetangga.

“Kami membawa buku ke rumah-rumah warga,” katanya. “Supaya anak-anak yang belum bisa datang ke sekolah tetap bisa membaca.”

Pak Hadi memeriksa rak-rak kayu.

“Siapa yang membuat gerobak ini?”

Banyu menunduk sebentar.

“Saya, Pak. Dibantu teman-teman.”

Pak Hadi memperhatikan roda sepeda tua yang dipasang di bawah gerobak.

“Bagus,” katanya singkat.

Banyu mengangkat wajah.

Mungkin itu hanya satu kata.

Namun, bagi Banyu, kata itu seperti penghargaan yang selama ini tidak pernah ia harapkan.

Tim kemudian melihat beberapa karya murid.

Ada gambar tentang desa.

Ada tulisan sederhana tentang cita-cita.

Ada alat penyaring air buatan Banyu.

Ada catatan puisi Liris.

Ada laporan kecil tentang kehidupan nelayan sungai yang dibuat Jagra.

Ibu Ratna membaca puisi Liris yang ditempel di dinding.

“Anak-anak di sini aktif sekali,” katanya.

Bu Laras tersenyum.

“Mereka yang membuat sekolah ini tetap hidup, Bu.”

Namun, ketika pemeriksaan hampir selesai, Pak Surya kembali membuka mapnya.

Ia berdiri di depan teras sekolah, memandang bangunan tua itu.

“Kegiatan masyarakat dan kreativitas murid tentu patut dihargai,” katanya. “Tetapi kami juga harus melihat standar kelayakan sekolah. Bangunan ini masih memiliki banyak kekurangan. Jumlah murid juga terbatas. Kami perlu mempertimbangkan apakah sekolah ini dapat terus berjalan tanpa membahayakan anak-anak.”

Suasana langsung berubah.

Beberapa warga yang tadi tersenyum kini saling memandang.

Rukmini menggenggam tangan Darma.

Jagra menunduk.

Banyu memegang sisi Gerobak Buku lebih erat.

Liris memeluk buku catatannya.

Rantaka merasakan jantungnya berdetak keras.

Mereka telah menunjukkan banyak hal.

Namun, satu kalimat dari Pak Surya membuat semuanya kembali terasa rapuh.

Kepala Dusun maju.

“Pak, kami siap membantu memperbaiki sekolah ini.”

Pak Surya mengangguk.

“Itu baik. Tetapi perbaikan membutuhkan rencana yang jelas, dukungan yang berkelanjutan, dan jaminan bahwa sekolah ini tetap memiliki murid yang cukup.”

“Kami akan mengajak anak-anak lain untuk sekolah di sini,” kata seorang warga.

“Kami akan kerja bakti lagi,” kata warga lain.

Pak Surya memandang mereka.

“Kami akan mencatat semua komitmen itu,” katanya. “Namun, keputusan tidak dapat dibuat hanya berdasarkan niat baik.”

Kalimat itu membuat suasana kembali hening.

Tim penilai mulai merapikan map dan catatan mereka.

Ibu Ratna masih tampak hangat, tetapi wajah Pak Surya tetap serius. Mereka belum memberi jawaban. Mereka belum mengatakan sekolah akan ditutup. Namun, mereka juga belum memberi kepastian bahwa sekolah akan dipertahankan.

Sebelum kembali ke mobil, Pak Surya berkata, “Kami akan menyusun laporan hasil penilaian. Setelah itu, kecamatan akan menentukan langkah selanjutnya.”

Rantaka melihat mobil itu perlahan bergerak meninggalkan halaman sekolah.

Roda mobil melewati jalan tanah yang masih lembap.

Anak-anak berdiri diam.

Warga tidak langsung pulang.

Mereka semua seperti menunggu sesuatu yang tidak dapat dipercepat.

Rantaka memandangi Gerobak Buku Langit Biru.

Ia melihat karya-karya teman-temannya.

Ia melihat bunga-bunga dalam botol bekas.

Ia melihat pagar bambu yang diperbaiki warga.

Semua itu ada.

Semua itu nyata.

Namun, masa depan SD Wanasari masih belum jelas.

Bu Laras berdiri di dekatnya.

“Kita sudah melakukan yang terbaik,” katanya.

Rantaka menatap guru itu.

“Apakah itu cukup, Bu?”

Bu Laras tidak segera menjawab.

“Kadang,” katanya perlahan, “yang terbaik tidak langsung menghasilkan jawaban. Tetapi perjuangan yang sungguh-sungguh selalu meninggalkan jejak.”

Rantaka kembali memandangi jalan di depan sekolah.

Mobil tim penilai sudah tidak terlihat.

Yang tersisa hanya debu tipis, jalan tanah, dan sekolah kecil yang masih berdiri dengan segala kekurangannya.

Namun, di dalam hati Rantaka, sebuah keberanian mulai tumbuh.

Jika keputusan akhir masih belum jelas, maka mungkin masih ada satu hal yang harus dilakukan.

Bukan hanya menunjukkan kegiatan.

Bukan hanya menunjukkan bangunan.

Melainkan menyampaikan dengan jujur mengapa sekolah itu harus tetap ada.

Dan Rantaka tahu, pada pertemuan berikutnya, ia harus berani berbicara di depan semua orang.

 

Bab 24 — Pidato Rantaka di Depan Semua Orang

Dua hari setelah tim penilai dari kecamatan datang, Desa Wanasari kembali diliputi penantian.

Tidak ada surat baru.

Tidak ada kabar dari kecamatan.

Namun, kata-kata Pak Surya masih tinggal di dalam pikiran banyak orang.

Keputusan tidak dapat dibuat hanya berdasarkan niat baik.

Kalimat itu menyebar dari teras rumah ke warung kecil, dari kebun singkong ke tepian sungai. Sebagian warga mulai membicarakan kemungkinan buruk yang selama ini mereka coba hindari.

“Kalau sekolah ditutup, anak-anak harus ke desa sebelah.”

“Jalannya jauh. Apalagi kalau musim hujan.”

“Belum tentu semua orang tua sanggup mengantar.”

“Kalau begitu, anak-anak bisa berhenti sekolah.”

Rantaka mendengar percakapan itu ketika ia mengantar kue bersama ibunya.

Ia tidak ikut berbicara.

Namun, setiap kata terasa seperti batu yang dimasukkan ke dalam keranjang sepedanya.

Sesampainya di rumah, ia membantu Rukmini menata sisa kue. Darma duduk di teras sambil memperbaiki jaring kecil milik Jagra yang dititipkan untuk dijahit. Kakinya mulai membaik, tetapi ia masih belum dapat kembali bekerja ke ladang.

Rantaka duduk di dekat ayahnya.

“Pak Surya benar,” katanya pelan.

Darma menghentikan tangannya.

“Benar tentang apa?”

“Sekolah kita memang belum layak. Atapnya bocor. Muridnya sedikit. Kalau aku jadi mereka, mungkin aku juga akan ragu.”

Darma memandang anaknya.

“Kau ingin menyerah lagi?”

Rantaka menggeleng cepat.

“Tidak. Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.”

Darma menaruh jaring di pangkuannya.

“Kadang orang dewasa terlalu sibuk melihat apa yang kurang,” katanya. “Mereka melihat dinding retak, kursi rusak, jumlah murid yang sedikit.”

Rantaka mendengarkan.

“Tapi mereka belum tentu tahu apa yang terjadi di dalam hati anak-anak yang belajar di sana.”

“Apa itu bisa mengubah keputusan?”

“Entahlah,” jawab Darma jujur. “Tapi kalau mereka belum mendengar suara kalian, mereka belum melihat sekolah ini sepenuhnya.”

Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.

Ia teringat Pentas Harapan Wanasari.

Ia teringat bagaimana warga mendengarkan puisi Liris, alat penyaring air Banyu, cerita Jagra, dan pidatonya sendiri.

Namun, saat tim penilai datang, ia hanya membaca cerita di kelas. Ia belum mengatakan apa yang benar-benar ingin ia sampaikan.

Malam itu, Rantaka membuka buku tulis bekas yang diberikan Banyu.

Ia duduk di dekat lampu minyak karena listrik kembali padam. Di luar rumah, suara jangkrik terdengar panjang. Rukmini masih menyiapkan bahan kue untuk esok hari. Darma sudah berbaring, tetapi belum tidur.

Rantaka menulis.

Ia menulis tentang jalan tanah yang harus dilalui anak-anak setiap pagi.

Ia menulis tentang Gerobak Buku Langit Biru.

Ia menulis tentang atap bocor yang membuat mereka memindahkan meja saat hujan turun.

Ia menulis tentang Bu Laras yang tetap mengajar meski papan tulis retak.

Ia menulis tentang Liris yang ingin menjadi penulis, Banyu yang ingin menjadi penemu, dan Jagra yang ingin membangun usaha perikanan.

Ia menulis tentang dirinya sendiri yang pernah hampir berhenti sekolah karena merasa keluarga tidak mampu.

Namun, ia juga menulis tentang ayahnya yang berkata bahwa anaknya tidak boleh menjalani hidup dengan beban yang sama.

Ketika ia selesai, langit sudah sangat gelap.

Tulisan di buku itu tidak rapi.

Ada beberapa bagian yang dicoret.

Ada kata-kata yang diganti.

Namun, setiap kalimat terasa seperti sesuatu yang selama ini disimpan terlalu lama di dalam dada.


Keesokan paginya, Bu Laras menerima kabar dari kecamatan.

Tim penilai akan kembali datang pada sore hari untuk melakukan pertemuan bersama warga, guru, dan orang tua murid. Pertemuan itu akan menjadi bagian dari laporan akhir sebelum keputusan disampaikan.

Kabar itu segera menyebar.

Kepala Dusun meminta warga berkumpul di balai desa setelah Asar. Para orang tua murid diminta hadir. Pemuda desa membantu menata kursi. Gerobak Buku Langit Biru kembali dibawa ke depan balai desa, bukan sebagai pajangan, tetapi sebagai tanda bahwa kegiatan belajar di Wanasari tetap berjalan.

Rantaka membaca kembali tulisannya berkali-kali.

Liris datang ke rumahnya menjelang siang.

“Kau menulis sesuatu?” tanyanya.

Rantaka mengangguk.

“Pidato?”

“Mungkin.”

Liris duduk di sebelahnya.

“Kau akan bicara?”

Rantaka menatap buku tulis di tangannya.

“Aku tidak tahu. Aku takut salah.”

“Kau pernah bicara di Pentas Harapan Wanasari.”

“Itu berbeda. Waktu itu warga kita sendiri. Sekarang ada tim kecamatan.”

Liris tersenyum tipis.

“Kalau kau bicara dari hati, tidak ada yang salah.”

Rantaka memandang sahabatnya.

“Kalau suaraku gemetar?”

“Biar saja,” jawab Liris. “Suara yang gemetar tetap bisa didengar.”

Menjelang sore, warga mulai memenuhi balai desa.

Suasana kali ini berbeda dari malam Pentas Harapan Wanasari.

Tidak ada anak-anak menyanyi.

Tidak ada drama.

Tidak ada makanan yang ditata untuk hiburan.

Yang ada hanya kursi-kursi sederhana, wajah-wajah penuh harap, dan perasaan cemas yang tidak dapat disembunyikan.

Di depan ruangan, meja panjang disiapkan untuk tim kecamatan.

Ibu Ratna datang lebih dulu. Wajahnya tetap ramah, tetapi ia membawa map yang lebih tebal daripada sebelumnya. Pak Hadi datang sambil membawa beberapa lembar catatan tentang kondisi bangunan sekolah. Pak Surya datang terakhir.

Ia memandangi warga yang hadir.

Kemudian pertemuan dimulai.

Kepala Dusun membuka acara dengan suara yang terdengar lebih pelan dari biasanya.

“Kami berkumpul hari ini untuk menyampaikan dukungan masyarakat terhadap SD Wanasari,” katanya. “Kami memahami bahwa sekolah kami memiliki banyak kekurangan. Tetapi kami juga ingin menyampaikan bahwa sekolah ini sangat dibutuhkan oleh warga.”

Ibu Ratna mengangguk.

“Kami datang untuk mendengarkan,” katanya. “Kami ingin memahami kondisi pendidikan di Desa Wanasari secara lebih lengkap.”

Beberapa orang tua mulai menyampaikan pendapat.

Bu Sari berdiri dan menceritakan bahwa anak-anak dari dusun paling jauh harus berjalan lebih dari satu jam jika harus pindah ke sekolah lain. Pak Jamin menjelaskan bahwa pada musim hujan, jalan menuju desa sebelah sering berlumpur dan sulit dilalui. Seorang ibu muda berkata bahwa ia khawatir anak perempuannya tidak akan aman berjalan terlalu jauh setiap hari.

Pak Hadi mencatat semuanya.

Pak Surya mendengarkan tanpa banyak bicara.

Setelah beberapa warga menyampaikan pendapat, suasana kembali hening.

Ibu Ratna melihat ke arah anak-anak yang duduk di sisi ruangan.

“Apakah ada murid yang ingin berbicara?” tanyanya.

Rantaka merasakan jantungnya berdegup keras.

Liris menoleh kepadanya.

Banyu menatapnya dengan wajah tenang.

Jagra mengangkat dagu sedikit, seperti memberi tanda bahwa ia harus maju.

Rantaka memegang buku tulisnya.

Tangannya dingin.

Ia berdiri perlahan.

Langkahnya menuju depan ruangan terasa lebih berat daripada ketika ia berjalan melewati jalan tanah menuju sekolah. Namun, setiap langkah membawa kembali semua hal yang telah ia lalui.

Surat berstempel merah.

Papan tulis retak.

Gerobak Buku.

Pertengkaran di bawah beringin.

Kecelakaan ayahnya.

Uang tabungan yang habis.

Panggung yang runtuh karena hujan.

Pentas Harapan Wanasari.

Semua itu seolah berjalan bersamanya menuju depan balai desa.

Rantaka berdiri di hadapan tim penilai.

Ia membuka buku tulisnya.

Namun, setelah melihat wajah ayahnya, ibunya, Bu Laras, dan sahabat-sahabatnya, ia menutup kembali buku itu.

Ia ingin berbicara tanpa hanya membaca.

“Nama saya Rantaka Wening,” katanya.

Suasana balai desa menjadi hening.

“Saya murid kelas enam SD Wanasari.”

Ia menarik napas.

“Bapak dan Ibu mungkin melihat sekolah kami kecil. Memang benar. Bangunannya tua. Atapnya bocor. Jendelanya tidak lengkap. Papan tulisnya retak.”

Pak Surya memandangnya.

Rantaka melanjutkan.

“Tetapi bagi kami, sekolah itu bukan hanya bangunan.”

Ia menatap warga yang hadir.

“Di sekolah itu, saya belajar membaca. Saya belajar menulis nama saya sendiri. Saya belajar bahwa Indonesia bukan hanya desa kecil tempat saya tinggal. Saya belajar bahwa ada banyak tempat di luar sana, dan mungkin suatu hari saya bisa melihatnya.”

Suara Rantaka mulai lebih kuat.

“Di sekolah itu, Liris belajar menulis puisi. Banyu belajar membuat alat dari barang bekas. Jagra belajar menghitung hasil ikan dari sungai. Kami semua belajar bahwa kami boleh punya cita-cita.”

Liris menunduk, menahan haru.

Banyu memegang tangan di pangkuannya.

Jagra menatap lantai, tetapi senyum kecil tampak di wajahnya.

Rantaka menoleh kepada tim penilai.

“Kalau sekolah ini ditutup, mungkin kami masih bisa berjalan ke sekolah lain. Tetapi tidak semua anak bisa. Ada yang harus membantu orang tua. Ada yang tinggal jauh. Ada yang mungkin akan berhenti karena merasa sekolah terlalu sulit dijangkau.”

Ia berhenti sejenak.

“Kalau itu terjadi, bukan hanya satu bangunan yang ditutup. Jalan kami menuju masa depan juga ikut tertutup.”

Ruangan semakin hening.

Rantaka menatap Pak Surya.

“Kami tidak meminta sekolah ini menjadi sekolah paling bagus. Kami tahu itu tidak mudah. Kami hanya meminta kesempatan.”

Ia mengangkat wajah.

“Kesempatan untuk belajar di desa kami sendiri. Kesempatan untuk memperbaiki sekolah ini bersama-sama. Kesempatan untuk membuktikan bahwa anak-anak desa juga bisa tumbuh, kalau ada tempat yang memberi mereka ruang untuk belajar.”

Rantaka menarik napas panjang.

“Bapak dan Ibu boleh melihat dinding kami yang retak. Tetapi tolong juga lihat anak-anak yang tetap datang setiap pagi. Lihat guru kami yang tetap mengajar. Lihat orang tua kami yang tetap mendukung. Lihat Gerobak Buku yang kami dorong dari rumah ke rumah.”

Suaranya bergetar, tetapi ia tidak berhenti.

“Sekolah ini mengajarkan kami untuk tidak menyerah. Kalau sekolah ini ditutup, kami takut anak-anak setelah kami tidak sempat belajar pelajaran itu.”

Setelah kalimat terakhir, Rantaka terdiam.

Ia tidak tahu apakah pidatonya cukup baik.

Ia tidak tahu apakah kata-katanya dapat mengubah keputusan.

Namun, ia tahu bahwa untuk pertama kalinya, ia telah mengatakan semua yang ingin ia sampaikan.

Balai desa tetap hening.

Kemudian terdengar suara tepuk tangan dari satu sudut ruangan.

Darma bertepuk tangan lebih dulu.

Tangannya tidak terlalu kuat, tetapi bunyinya terdengar jelas.

Rukmini ikut bertepuk tangan.

Lalu Bu Laras.

Liris.

Banyu.

Jagra.

Kemudian seluruh warga berdiri.

Tepuk tangan memenuhi balai desa.

Ada yang menangis.

Ada yang mengusap mata.

Ada yang mengangguk dengan wajah penuh harap.

Rantaka berdiri di depan ruangan dengan dada bergetar.

Ia tidak merasa menjadi anak yang paling berani.

Ia hanya merasa seperti seorang anak desa yang akhirnya berani menjaga mimpinya sendiri.

Pak Surya menatap Rantaka cukup lama.

Wajahnya yang selama ini tampak keras perlahan berubah.

Ia membuka mapnya, lalu menutupnya kembali.

“Kata-katamu penting,” katanya.

Rantaka menunggu.

Pak Surya melanjutkan, “Kami memang harus mempertimbangkan standar bangunan dan jumlah murid. Itu adalah tanggung jawab kami. Tetapi kami juga harus mempertimbangkan kebutuhan nyata masyarakat.”

Ibu Ratna mengangguk.

“Pendidikan tidak hanya soal angka,” katanya. “Pendidikan juga tentang akses, keberlanjutan, dan harapan.”

Pak Hadi menambahkan, “Kami akan memasukkan dukungan masyarakat, kegiatan Gerobak Buku, serta komitmen perbaikan sekolah dalam laporan kami.”

Warga kembali bertepuk tangan, meski kali ini lebih pelan dan penuh harap.

Pak Surya berdiri.

“Kami belum dapat menyampaikan keputusan hari ini,” katanya. “Namun, kami akan membawa semua yang kami lihat dan dengar ke kecamatan.”

Rantaka mengangguk.

Ia tidak meminta jawaban lebih cepat.

Ia tidak lagi ingin memaksa keadaan.

Ia hanya ingin mereka benar-benar memahami.

Setelah pertemuan selesai, warga mulai mendekati Rantaka.

Bu Sari memeluk bahunya.

Pak Jamin menepuk punggungnya.

Anak-anak kecil mengelilinginya sambil berkata bahwa mereka juga ingin bisa berbicara seperti Rantaka suatu hari nanti.

Bu Laras berdiri di dekatnya.

“Kau sudah melakukan sesuatu yang tidak semua orang dewasa berani lakukan,” katanya.

Rantaka menunduk.

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Bu.”

“Itulah keberanian,” jawab Bu Laras.

Di luar balai desa, sore mulai berubah menjadi senja.

Langit di atas Wanasari berwarna biru tua dengan garis jingga di ujungnya. Jalan tanah masih tampak basah di beberapa bagian, tetapi tidak lagi terasa seperti jalan yang menakutkan.

Rantaka berjalan pulang bersama Liris, Banyu, dan Jagra.

Mereka tidak banyak bicara.

Namun, kali ini keheningan di antara mereka bukan karena takut.

Keheningan itu dipenuhi oleh rasa lega.

Mereka telah melakukan apa yang dapat mereka lakukan.

Sekarang, mereka hanya perlu menunggu.

Dan di dalam hati Rantaka, ada keyakinan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Apa pun keputusan yang datang nanti, suara anak-anak Desa Wanasari sudah tidak mungkin diabaikan lagi.

 

Bab 25 — Sekolah yang Tidak Padam

Tiga hari setelah pertemuan di balai desa, Desa Wanasari kembali menjalani hari-hari seperti biasa.

Pagi tetap dimulai dengan suara ayam berkokok dari belakang rumah. Para petani berangkat ke ladang sebelum matahari tinggi. Beberapa bapak menuju sungai membawa jaring. Ibu-ibu menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, atau membuka warung kecil di depan rumah.

Namun, bagi Rantaka dan sahabat-sahabatnya, tidak ada hari yang benar-benar biasa.

Setiap suara kendaraan dari arah jalan utama membuat anak-anak menoleh.

Setiap orang yang datang membawa surat membuat warga bertanya-tanya.

Setiap kali Bu Laras berjalan menuju ruang guru dengan wajah serius, jantung Rantaka terasa berdegup lebih cepat.

Keputusan dari kecamatan belum juga datang.

Di sekolah, pelajaran tetap berjalan.

Bu Laras tetap mengajar pecahan, membaca, dan ilmu pengetahuan alam. Anak-anak tetap menulis di buku tulis yang sebagian halamannya sudah mulai tipis. Papan tulis retak itu masih digunakan. Jika hujan turun, ember masih diletakkan di bawah titik-titik kebocoran.

Namun, ada sesuatu yang berubah.

Anak-anak kini datang lebih pagi.

Mereka tidak lagi hanya duduk menunggu bel berbunyi. Sebelum pelajaran dimulai, beberapa murid membantu menyapu kelas. Ada yang menyiram bunga dalam botol bekas. Ada yang merapikan buku di Gerobak Buku Langit Biru.

Bahkan beberapa anak dari dusun sebelah mulai datang untuk melihat perpustakaan keliling.

Mereka datang bersama kakak atau orang tua mereka, lalu bertanya apakah boleh meminjam buku.

“Boleh,” jawab Banyu dengan wajah serius. “Tapi harus dijaga. Buku tidak boleh terkena hujan.”

“Kalau terlambat mengembalikan?” tanya seorang anak kecil.

Jagra yang berdiri di samping gerobak menjawab, “Tidak apa-apa. Tapi nanti kau harus membantu menyapu halaman sekolah.”

Anak-anak tertawa.

Liris menulis daftar peminjam buku di sebuah buku catatan baru. Ia membuat kolom nama, judul buku, dan tanggal pengembalian. Tulisan tangannya rapi, seolah-olah Gerobak Buku Langit Biru adalah perpustakaan besar di kota.

Rantaka membantu Bu Laras mengajak anak-anak yang belum sekolah untuk datang ke SD Wanasari.

Mereka mendatangi rumah-rumah di pinggir desa. Mereka berbicara kepada orang tua. Mereka menjelaskan bahwa sekolah tidak meminta anak-anak menjadi orang lain, tetapi membantu mereka memahami dunia dan masa depan.

Tidak semua orang langsung setuju.

Ada yang masih ragu karena anak-anak dibutuhkan untuk membantu di ladang.

Ada yang khawatir seragam dan buku akan menjadi beban.

Ada pula yang berkata bahwa sekolah lain lebih jauh, tetapi mungkin lebih baik.

Rantaka tidak marah mendengar semua itu.

Ia mulai memahami bahwa setiap keluarga memiliki kesulitan sendiri.

Namun, ia tetap berkata, “Kalau anak-anak datang ke sekolah, kami akan membantu mereka belajar. Kami punya Gerobak Buku. Kami punya Bu Laras. Kami akan belajar bersama.”

Sedikit demi sedikit, beberapa orang tua mulai luluh.

Seorang anak bernama Karsa, yang selama ini lebih sering membantu ayahnya menjaga kambing, mulai datang ke sekolah pada pagi hari. Seorang anak perempuan bernama Suri yang tinggal di dekat sungai juga mulai ikut membaca bersama Liris.

Jumlah mereka belum banyak.

Tetapi bagi SD Wanasari, setiap anak yang datang adalah alasan baru untuk tetap berdiri.


Pada suatu pagi yang cerah, ketika Rantaka sedang membantu Banyu menyusun buku di Gerobak Buku, suara mobil kembali terdengar dari arah jalan utama.

Anak-anak yang sedang bermain di halaman langsung berhenti.

Bu Laras keluar dari ruang guru.

Kepala Dusun yang kebetulan datang untuk melihat kerja bakti berdiri di dekat pagar bambu.

Rantaka menoleh ke arah jalan.

Sebuah mobil kecamatan berhenti di depan sekolah.

Kali ini, bukan tiga orang yang turun.

Ibu Ratna turun lebih dulu. Di belakangnya, Pak Hadi membawa map. Pak Surya keluar terakhir. Wajahnya masih serius, tetapi langkahnya tidak lagi terasa seberat saat pertama datang.

Warga yang berada di sekitar sekolah mulai mendekat.

Beberapa ibu keluar dari rumah setelah mendengar kabar bahwa mobil kecamatan datang. Para bapak yang sedang bekerja di dekat kebun juga berjalan menuju halaman sekolah.

Rantaka berdiri di samping Gerobak Buku.

Tangannya dingin.

Liris berdiri di sebelahnya.

Banyu memegang pegangan gerobak.

Jagra menatap mobil itu tanpa berkata-kata.

Bu Laras menyambut tim kecamatan.

“Selamat datang kembali,” katanya.

Ibu Ratna tersenyum.

“Kami datang membawa hasil keputusan.”

Kalimat itu membuat halaman sekolah menjadi hening.

Pak Surya membuka map yang dibawanya.

Ia memandang bangunan SD Wanasari, lalu memandang anak-anak yang berdiri di halaman. Pandangannya berhenti pada bunga-bunga dalam botol bekas, Gerobak Buku Langit Biru, dan pagar bambu yang berdiri lebih rapi.

Kemudian ia berbicara.

“Setelah melakukan penilaian terhadap kondisi sekolah, mendengar pendapat masyarakat, serta mempertimbangkan kebutuhan pendidikan anak-anak di Desa Wanasari, kecamatan memutuskan bahwa SD Wanasari tidak ditutup.”

Tidak ada yang langsung bersuara.

Seolah-olah warga membutuhkan waktu untuk benar-benar memahami kalimat itu.

Lalu, Bu Sari menutup mulutnya dengan tangan.

Rukmini yang baru datang dari rumah menatap Darma dengan mata berkaca-kaca.

Kepala Dusun menghembuskan napas panjang.

Anak-anak saling memandang.

Kemudian, Jagra berteriak paling keras.

“Sekolah kita tidak ditutup!”

Suara itu seperti membuka pintu yang selama ini tertahan.

Anak-anak bersorak.

Beberapa berlari mengelilingi halaman. Ada yang melompat-lompat. Ada yang memeluk temannya. Ada yang menangis sambil tertawa.

Liris menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Banyu tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya.

Rantaka berdiri diam.

Ia merasa dadanya penuh.

Terlalu penuh untuk langsung mengucapkan apa pun.

Pak Surya melanjutkan setelah suasana sedikit tenang.

“Namun, keputusan ini disertai beberapa langkah yang harus dijalankan bersama. Sekolah akan mendapatkan pendampingan dari kecamatan. Kami akan mengusulkan perbaikan bertahap untuk bagian bangunan yang paling membutuhkan. Kami juga akan membantu program peningkatan jumlah murid dan kegiatan belajar masyarakat.”

Warga kembali bertepuk tangan.

Pak Hadi membuka beberapa lembar dokumen.

“Dalam waktu dekat, bagian atap yang paling rusak akan diperbaiki terlebih dahulu. Jendela yang tidak memiliki kaca akan didata. Kami juga akan mengajukan kebutuhan meja dan kursi tambahan.”

Bu Laras menunduk dengan mata basah.

“Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu.”

Ibu Ratna memandang anak-anak.

“Namun, semua ini tidak akan berhasil tanpa kalian,” katanya. “Kami melihat bahwa SD Wanasari bukan hanya sekolah yang menunggu bantuan. Sekolah ini sudah bergerak. Ada guru yang bertahan, ada warga yang peduli, dan ada anak-anak yang berani menyuarakan harapan.”

Rantaka mendengar kata-kata itu seperti suara yang datang dari jauh.

Ia teringat saat pertama kali menerima kabar tentang surat berstempel merah.

Ia teringat ketakutan yang membuatnya hampir berhenti sekolah.

Ia teringat pertengkaran dengan sahabat-sahabatnya.

Ia teringat surat Kakek Sastro.

Ia teringat ayahnya di malam tanpa lampu.

Ia teringat panggung bambu yang runtuh diterpa hujan.

Semua kesulitan itu kini terasa seperti jalan panjang yang akhirnya membawa mereka sampai ke halaman sekolah pagi itu.

Darma berjalan perlahan mendekati Rantaka dengan tongkat kayunya.

Rantaka segera menghampiri ayahnya.

Darma memegang bahu anaknya.

“Kau dengar?” katanya.

Rantaka mengangguk.

“Sekolah kita tidak ditutup.”

Darma tersenyum.

“Bukan hanya sekolah kita yang bertahan. Mimpi kalian juga.”

Rantaka tidak mampu menjawab.

Ia memeluk ayahnya.

Rukmini berdiri di samping mereka. Matanya basah, tetapi wajahnya dipenuhi senyum yang selama beberapa bulan terakhir jarang terlihat.

Tidak jauh dari sana, Liris, Banyu, dan Jagra ikut mendekat.

“Kita berhasil,” kata Liris pelan.

Banyu menggeleng kecil.

“Kita belum selesai.”

Jagra menoleh kepadanya. “Apa maksudmu?”

Banyu menunjuk bangunan sekolah.

“Atapnya masih harus diperbaiki. Buku-buku masih harus dijaga. Anak-anak baru masih harus diajak belajar.”

Rantaka tersenyum.

Banyu benar.

Keputusan hari itu bukan akhir dari perjuangan.

Keputusan itu adalah awal dari tanggung jawab baru.

Namun, pagi itu, mereka boleh merasa bahagia.

Mereka boleh bersorak.

Mereka boleh menangis.

Mereka boleh percaya bahwa usaha mereka tidak sia-sia.


Menjelang siang, warga mengadakan syukuran sederhana di halaman sekolah.

Tidak ada acara besar.

Hanya singkong rebus, teh hangat, gorengan, dan beberapa kue buatan Rukmini. Namun, halaman SD Wanasari terasa lebih ramai daripada saat Pentas Harapan Wanasari.

Anak-anak duduk di bawah pohon beringin.

Para ibu berbincang sambil membagikan makanan.

Para bapak membicarakan rencana kerja bakti berikutnya.

Pemuda desa mulai menyusun jadwal untuk membantu memperbaiki bagian-bagian sekolah yang dapat dikerjakan bersama.

Bu Laras duduk di dekat Gerobak Buku Langit Biru.

Ia memandangi buku-buku yang tersusun di dalamnya.

Rantaka menghampiri gurunya.

“Bu,” katanya, “terima kasih karena tidak pernah menyerah.”

Bu Laras tersenyum.

“Bukan Ibu saja yang tidak menyerah.”

Rantaka memandang halaman sekolah.

Di sana, Liris sedang mengajari anak-anak kecil menulis kata-kata sederhana. Banyu memperlihatkan alat penyaring air kepada beberapa bapak. Jagra bercerita kepada anak-anak tentang sungai dan ikan.

“Dulu aku pikir sekolah hanya tempat belajar pelajaran,” kata Rantaka.

“Sekolah memang tempat belajar,” jawab Bu Laras. “Tetapi kadang pelajaran yang paling penting tidak tertulis di papan tulis.”

“Seperti apa, Bu?”

“Seperti belajar percaya pada diri sendiri. Belajar menolong teman. Belajar berdiri lagi setelah jatuh.”

Rantaka mengangguk.

Ia memandang pohon beringin tua di dekat halaman.

Di bawah pohon itu, mereka pernah membentuk Langit Biru.

Di bawah pohon itu pula mereka pernah bertengkar dan hampir terpecah.

Namun, pohon itu tetap berdiri.

Akar-akarnya tetap menembus tanah.

Dahannya tetap menaungi anak-anak yang belajar dan bermain di bawahnya.

Sore hari, setelah warga mulai pulang, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di depan sekolah.

Langit di atas Desa Wanasari berwarna biru cerah.

Tidak ada awan gelap.

Tidak ada hujan.

Hanya cahaya matahari yang jatuh di dinding sekolah tua, membuatnya tampak lebih hangat daripada biasanya.

Liris memandang langit.

“Langitnya benar-benar biru,” katanya.

Jagra mengangkat tangan seperti ingin meraih awan.

“Dari dulu juga biru.”

“Tidak,” kata Liris. “Hari ini rasanya berbeda.”

Banyu mengangguk.

“Mungkin karena kita tidak lagi melihatnya sendirian.”

Rantaka memandangi sahabat-sahabatnya.

Ia tahu bahwa beberapa tahun lagi mereka mungkin akan berjalan ke arah yang berbeda. Mereka mungkin akan meninggalkan Desa Wanasari untuk sekolah lebih tinggi, bekerja, atau mengejar cita-cita masing-masing.

Namun, hari itu mereka masih berdiri bersama.

Empat anak desa.

Empat sahabat.

Empat arah angin yang pernah bertemu di sebuah sekolah kecil.

Rantaka kemudian berjalan ke dinding depan sekolah.

Ia mengambil sebuah papan kayu bekas yang telah dibersihkan warga. Dengan bantuan Banyu, ia menggantung papan itu di dekat pintu masuk.

Liris telah menuliskan kalimat di atasnya dengan cat biru.

LANGIT BIRU
Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi

Anak-anak kecil yang masih berada di halaman membaca tulisan itu keras-keras.

Beberapa belum lancar.

Beberapa mengeja satu per satu.

Namun, semua tersenyum ketika akhirnya berhasil membacanya.

Rantaka berdiri di bawah papan kayu itu.

Ia memandang SD Wanasari yang tetap berdiri.

Sekolah itu belum menjadi bangunan megah.

Belum memiliki perpustakaan besar.

Belum memiliki banyak ruang kelas.

Namun, sekolah itu tidak padam.

Di dalamnya masih ada suara anak-anak membaca.

Masih ada langkah kaki menuju kelas.

Masih ada guru yang mengajar.

Masih ada warga yang percaya.

Dan selama semua itu ada, SD Wanasari akan tetap menjadi tempat di mana mimpi-mimpi kecil belajar tumbuh menuju langit yang luas.

 

Epilog — Guru dari Jalan Tanah

Dua belas tahun kemudian, jalan tanah menuju Desa Wanasari tidak lagi sama.

Sebagian jalannya telah diperkeras dengan batu dan semen. Saat musim hujan datang, jalan itu memang masih menyimpan kubangan kecil di beberapa bagian, tetapi anak-anak tidak lagi harus berjalan dengan kaki tenggelam dalam lumpur seperti dahulu.

Di sepanjang jalan, beberapa rumah baru berdiri. Warung kecil milik warga tampak lebih ramai. Kebun singkong masih terbentang di sisi desa, tetapi kini ada pula kebun sayur, kolam ikan, dan beberapa usaha kecil yang dikelola bersama oleh warga.

Pagi itu, matahari baru naik ketika seorang lelaki muda berjalan menuju SD Wanasari.

Ia membawa tas berisi buku.

Kemeja putihnya sederhana. Sepatunya terkena sedikit debu jalan. Langkahnya tenang, tetapi matanya memandang setiap sudut desa seperti seseorang yang sedang membaca kembali halaman-halaman lama dalam hidupnya.

Lelaki itu adalah Rantaka Wening.

Kini, ia bukan lagi anak kecil yang berjalan tergesa-gesa dengan seragam lusuh dan buku di bawah lengan.

Ia telah menyelesaikan sekolahnya di kecamatan, melanjutkan pendidikan hingga menjadi seorang guru, lalu memilih kembali ke tempat yang dahulu hampir kehilangan sekolahnya.

Di depan gerbang SD Wanasari, sebuah papan nama baru berdiri.

Catnya masih segar.

Tulisan di atasnya tampak jelas.

SEKOLAH DASAR WANASARI
Desa Wanasari

Bangunan sekolah itu kini jauh lebih layak.

Atapnya telah diganti. Jendelanya memiliki kaca. Dindingnya dicat putih dengan garis biru di bagian bawah. Di halaman depan, bunga-bunga tumbuh dalam pot dan taman kecil. Ada tempat cuci tangan, beberapa bangku kayu, serta tiang bendera yang berdiri tegak di tengah halaman.

Namun, ada satu hal yang tetap dipertahankan.

Pohon beringin tua di dekat sekolah masih berdiri.

Batangnya semakin besar.

Akar-akarnya semakin kuat.

Dahannya tetap menaungi halaman sekolah, seperti seorang penjaga yang tidak pernah pergi.

Di bawah pohon itu, sebuah papan kayu tergantung.

Cat birunya telah sedikit pudar oleh waktu, tetapi kalimat di atasnya masih terbaca jelas.

LANGIT BIRU
Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi

Rantaka berhenti di depan papan itu.

Ia tersenyum.

Dalam ingatannya, ia kembali melihat empat anak kecil duduk di bawah beringin. Ada Liris dengan buku catatannya. Ada Banyu dengan tangan yang selalu sibuk membongkar benda-benda bekas. Ada Jagra dengan celana yang sering terkena lumpur sungai. Dan ada dirinya sendiri, anak petani yang pernah takut bahwa mimpinya terlalu besar untuk sebuah desa kecil.

“Pak Guru!”

Suara anak-anak memanggil dari arah kelas.

Rantaka menoleh.

Beberapa murid berlari ke arahnya sambil membawa buku. Ada yang memegang pensil terlalu erat. Ada yang masih mengenakan tas lebih besar daripada tubuhnya. Ada pula yang tersenyum lebar tanpa alasan selain karena pagi itu mereka senang datang ke sekolah.

“Pak Guru Rantaka, hari ini kita membaca cerita apa?” tanya seorang anak perempuan.

“Cerita tentang petualangan?” tanya anak lain.

“Boleh cerita tentang sungai?” sambung seorang anak laki-laki.

Rantaka tertawa kecil.

“Semua bisa,” jawabnya. “Tapi sebelum itu, kita mulai dengan membaca bersama.”

Anak-anak bersorak dan berlari menuju kelas.

Rantaka mengikuti mereka.

Di dalam ruangan, meja dan kursi telah tertata rapi. Di salah satu sudut terdapat rak buku yang jauh lebih besar daripada Gerobak Buku Langit Biru dahulu. Rak itu dipenuhi buku cerita, buku pelajaran, ensiklopedia sederhana, majalah anak, dan beberapa buku karya penulis lokal.

Di atas rak buku, tertulis:

TAMAN BACA LANGIT BIRU

Rantaka menyentuh salah satu buku dengan ujung jarinya.

Ia masih mengingat bagaimana dahulu mereka menemukan buku-buku tua di gudang sekolah. Buku-buku berdebu, halaman menguning, peta Indonesia yang hampir robek, dan meja-meja rusak yang mereka bersihkan bersama.

Dari buku-buku itulah ia mulai mengenal dunia.

Dari buku-buku itulah ia percaya bahwa jalan tanah tidak harus menjadi batas.

Bel masuk berbunyi.

Anak-anak duduk di tempat masing-masing.

Rantaka berdiri di depan kelas.

“Anak-anak,” katanya, “hari ini Pak Guru ingin bertanya. Menurut kalian, untuk apa kita sekolah?”

Beberapa tangan langsung terangkat.

“Supaya pintar,” jawab seorang murid.

“Supaya bisa membaca,” jawab yang lain.

“Supaya punya cita-cita,” kata seorang anak di bangku belakang.

Rantaka tersenyum.

“Semua jawaban itu benar.”

Ia menulis di papan tulis.

SEKOLAH ADALAH TEMPAT MIMPI BELAJAR TUMBUH.

Anak-anak membaca kalimat itu bersama-sama.

Suara mereka belum sepenuhnya serempak.

Ada yang terlalu cepat.

Ada yang masih mengeja.

Namun, suara itu memenuhi ruang kelas dengan sesuatu yang dahulu hampir hilang dari Desa Wanasari: harapan.


Saat jam istirahat, sebuah mobil berhenti di depan sekolah.

Anak-anak segera berlarian ke jendela.

“Siapa itu, Pak Guru?” tanya mereka.

Rantaka keluar ke teras.

Dari mobil turun seorang perempuan dengan pakaian sederhana dan membawa beberapa kardus buku. Rambutnya kini lebih pendek daripada ketika masih kecil, tetapi senyumnya tetap sama.

Liris.

Ia telah menjadi penulis.

Beberapa cerpennya dimuat di majalah dan buku kumpulan cerita. Ia juga menulis novel tentang kehidupan anak-anak desa, tentang sungai, kebun, jalan tanah, dan mimpi-mimpi yang tumbuh dari tempat yang sering dianggap kecil.

Namun, Liris tidak pernah benar-benar meninggalkan Wanasari.

Setiap beberapa bulan, ia kembali untuk mengadakan kelas menulis bagi anak-anak.

“Buku baru?” tanya Rantaka.

Liris mengangguk.

“Sebagian buku cerita. Sebagian buku kosong untuk anak-anak menulis.”

Anak-anak segera mengerumuni kardus.

“Bu Liris, aku mau menulis cerita tentang kambing!”

“Aku mau menulis puisi tentang hujan!”

“Aku mau menulis cerita tentang Pak Guru!”

Liris tertawa.

“Boleh. Semua cerita boleh ditulis. Bahkan cerita yang menurut kalian kecil.”

Rantaka memandang sahabatnya.

“Masih ingat puisi pertama yang kau baca di balai desa?” tanyanya.

Liris tersenyum.

“Yang membuat Jagra hampir menangis?”

“Dia bilang lampunya terlalu terang.”

Mereka tertawa bersama.

Tidak lama kemudian, suara motor terdengar dari arah jalan.

Seorang lelaki datang membawa beberapa alat kecil di dalam kotak kayu. Ia mengenakan topi lusuh dan baju kerja yang bagian lengannya digulung.

Banyu.

Kini, ia dikenal sebagai perajin dan pencipta alat sederhana untuk membantu warga desa. Ia membuat alat penyaring air, mesin pengering hasil panen sederhana, serta beberapa alat kecil untuk membantu petani dan nelayan.

Di belakang motornya, ada sebuah alat baru yang terbuat dari pipa, kayu, dan beberapa botol besar.

“Ini untuk taman sekolah,” kata Banyu setelah turun dari motor.

“Apa itu?” tanya Rantaka.

“Penyiram tanaman sederhana. Anak-anak bisa memompa air dari penampungan, lalu airnya mengalir ke pot-pot bunga.”

Beberapa murid langsung mendekat.

Banyu menjelaskan cara kerja alat itu dengan sabar. Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar. Seorang anak mencoba memompa tuas kayu. Air keluar perlahan dari pipa kecil dan membasahi bunga-bunga di taman.

Anak-anak bersorak.

Rantaka memandangi Banyu.

Dahulu, Banyu hanya membawa alat penyaring air dari botol bekas ke Pentas Harapan Wanasari.

Kini, tangannya masih bekerja dengan cara yang sama: mengubah benda sederhana menjadi sesuatu yang berguna.

Menjelang siang, sebuah mobil bak terbuka berhenti di dekat gerbang sekolah.

Dari sana turun beberapa keranjang ikan segar.

Seorang lelaki dengan senyum lebar melambaikan tangan.

Jagra.

Ia kini mengelola kelompok usaha perikanan warga. Bersama para nelayan sungai, ia membantu mengatur hasil tangkapan, membuat kolam pembesaran ikan, dan mencari cara agar ikan dari Wanasari dapat dijual dengan harga yang lebih baik.

“Untuk makan siang anak-anak,” katanya sambil menurunkan keranjang. “Ikan sungai segar.”

“Jangan bilang kau membawa ini hanya untuk pamer,” kata Liris.

Jagra tertawa.

“Aku membawa ini supaya anak-anak tahu bahwa ikan desa kita juga bisa membawa masa depan.”

Anak-anak mengelilinginya.

“Pak Jagra, apakah ikan bisa sekolah?”

“Kalau ikan sekolah, nanti dia jadi guru ikan,” jawab Jagra.

Anak-anak tertawa keras.

Di bawah pohon beringin tua, empat sahabat itu akhirnya berdiri bersama lagi.

Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra.

Waktu telah membawa mereka ke jalan masing-masing.

Namun, jalan-jalan itu ternyata tetap mengarah pulang.

Mereka memandangi SD Wanasari.

Di halaman, anak-anak bermain sambil membawa buku. Di taman baca, beberapa murid duduk membaca. Di dekat pot bunga, anak-anak mencoba alat buatan Banyu. Di dapur sekolah, ibu-ibu mulai menyiapkan ikan dari kelompok usaha Jagra.

Liris memandang papan kayu Langit Biru.

“Dulu kita hanya berempat,” katanya.

“Sekarang lebih banyak,” jawab Banyu.

Jagra mengangguk ke arah anak-anak.

“Dan mereka lebih ribut.”

Rantaka tersenyum.

“Bagus. Berarti sekolah ini hidup.”

Angin bergerak perlahan di antara daun-daun beringin.

Suara anak-anak terdengar dari ruang kelas.

Rantaka memandang jalan tanah yang dahulu sering ia lalui dengan langkah berat. Jalan itu masih ada. Desa itu masih sederhana. Kebun singkong masih tumbuh. Sungai masih mengalir.

Namun, ia tidak lagi melihat jalan itu sebagai jalan yang menjauhkan Wanasari dari dunia.

Jalan itu kini menjadi jalan pulang.

Jalan yang membawa anak-anak menuju sekolah.

Jalan yang membawa buku-buku ke rumah warga.

Jalan yang membawa sahabat-sahabat kembali ke desa.

Jalan yang mengajarkan bahwa harapan tidak selalu lahir dari tempat yang besar.

Kadang, harapan tumbuh dari sebuah sekolah kecil, sebuah gerobak buku, sebuah pohon beringin, dan beberapa anak desa yang memilih untuk tidak menyerah.

Sebelum kembali masuk ke kelas, Rantaka berdiri di bawah papan kayu Langit Biru.

Ia memandang tulisan itu sekali lagi.

Mimpi Anak Desa Tidak Pernah Terlalu Tinggi.

Kemudian ia berjalan menuju ruang kelas.

Di dalam sana, puluhan anak sedang menunggu.

Mereka menunggu cerita.

Mereka menunggu pelajaran.

Mereka menunggu masa depan.

Dan Rantaka tahu, selama masih ada anak-anak yang datang membawa buku dalam pelukan, selama masih ada guru yang berdiri di depan kelas, dan selama masih ada warga yang percaya pada pendidikan, sekolah itu akan selalu menjadi cahaya.

Bukan cahaya yang menyilaukan.

Melainkan cahaya yang setia menyala di ujung desa.

 

0 komentar:

Posting Komentar