KKN
DI BALIK SENJA SUKODADI
Empat Puluh
Hari Pengabdian yang Mengubah Hidup:
Persahabatan,
Pengabdian, dan Pertarungan Melawan Misteri
di Sebuah
Desa Terpencil Kalimantan
Sebuah Novel
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel KKN di Balik Senja Sukodadi merupakan karya fiksi.
Seluruh tokoh, dialog, alur cerita, nama tempat, serta berbagai peristiwa yang
terdapat di dalam novel ini disusun sebagai karya sastra yang memadukan unsur
pengabdian masyarakat, budaya lokal, drama kehidupan, misteri, dan elemen
supernatural.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, organisasi,
maupun peristiwa dengan kejadian nyata, hal tersebut semata-mata merupakan
kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan individu atau lembaga
tertentu.
Cerita dalam novel ini lahir dari semangat untuk mengangkat
nilai-nilai pengabdian mahasiswa kepada masyarakat desa, pentingnya
persahabatan, penghormatan terhadap adat dan budaya lokal, serta keyakinan bahwa
setiap pengalaman hidup selalu menyimpan pelajaran yang berharga.
Unsur misteri dan horor yang disajikan merupakan bagian
dari kebutuhan artistik sebuah karya fiksi dan tidak dimaksudkan untuk
menghakimi, menyudutkan, ataupun menggambarkan suatu kepercayaan tertentu
sebagai kebenaran mutlak. Pembaca diharapkan dapat menikmati cerita ini sebagai
sebuah karya sastra yang mengedepankan nilai kemanusiaan, keberanian, gotong
royong, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya Indonesia.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa pengabdian yang
dilakukan dengan hati yang tulus akan selalu meninggalkan jejak yang abadi,
baik bagi mereka yang datang maupun bagi mereka yang menerima.
PROLOG
Senja di Ujung Kenangan
Senja perlahan turun di langit Kalimantan.
Cahaya keemasan membias di permukaan sungai yang mengalir
tenang, sementara bayangan pepohonan hutan tropis memanjang mengikuti langkah
matahari yang bersiap tenggelam. Angin sore berembus lembut membawa aroma tanah
basah, dedaunan, dan kayu yang telah lama menyatu dengan kehidupan masyarakat
pedalaman.
Di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, kehidupan
berjalan dengan ritmenya sendiri.
Pagi dimulai oleh kokok ayam dan suara azan yang menggema
dari musala sederhana di tengah kampung. Siang dipenuhi aktivitas para petani
yang bekerja di sawah, pekebun yang merawat ladang, nelayan yang menyusuri
sungai, serta anak-anak yang berlarian di jalan-jalan tanah sambil membawa tawa
yang begitu jujur.
Ketika sore menjelang, warga kembali ke rumah
masing-masing. Mereka berkumpul bersama keluarga, menikmati secangkir kopi
hangat di beranda, berbincang tentang hasil panen, atau sekadar menyaksikan
matahari perlahan menghilang di balik rimbunnya pepohonan.
Begitulah Desa Sukodadi.
Sebuah desa kecil yang tampak sederhana.
Damai.
Tenang.
Dan penuh kehangatan.
Tidak banyak orang mengenal desa itu. Letaknya berada cukup
jauh dari pusat kabupaten. Untuk mencapainya, seseorang harus menempuh
perjalanan panjang melintasi jalan raya, menyeberangi sungai, kemudian memasuki
jalan tanah merah yang pada musim hujan berubah menjadi lumpur pekat. Namun
justru keterpencilan itulah yang membuat Sukodadi tetap menjaga nilai-nilai
kebersamaan yang mulai jarang ditemukan di tempat lain.
Di desa itu, gotong royong bukan sekadar semboyan.
Ia adalah cara hidup.
Pintu rumah hampir tak pernah tertutup bagi tamu. Segelas
teh hangat dan senyum tulus selalu menjadi sambutan pertama bagi siapa pun yang
datang. Anak-anak tumbuh mengenal sopan santun, sementara para orang tua
menjaga tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Setiap sudut desa menyimpan cerita.
Tentang perjuangan membuka hutan menjadi permukiman.
Tentang keluarga-keluarga yang membangun kehidupan dari
tanah yang mereka garap sendiri.
Tentang masyarakat yang percaya bahwa manusia hanya dapat
hidup dengan damai apabila mampu menghormati sesama, alam, dan Sang Pencipta.
Namun di balik kedamaian itu, ada sejarah yang jarang
diceritakan.
Ada kisah tentang sebuah rumah tua di tepi desa. Tentang
sepasang suami-istri yang hidup sederhana di antara kebun dan sumur yang mereka
jaga. Tentang cinta yang begitu dalam hingga kematian tidak mampu memisahkan
mereka. Tentang kesepian yang begitu pekat hingga mereka terperangkap di antara
dunia selama puluhan tahun.
Kisah itu tidak pernah diceritakan kepada pendatang.
Kisah itu sengaja dilupakan.
Karena ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui oleh
mereka yang baru datang.
Karena ada rahasia yang lebih baik tetap terkubur bersama
waktu.
Karena ada dua jiwa yang—jika diganggu—akan bangkit dan
mencari perhatian dengan cara yang paling menakutkan.
Bagi warga Sukodadi, kehidupan berjalan sebagaimana
mestinya.
Hingga pada suatu pagi di awal musim kemarau, sebuah kabar
menggembirakan datang dari Pemerintah Desa.
Desa Sukodadi ditetapkan sebagai lokasi pelaksanaan Kuliah
Kerja Nyata Angkatan I Universitas Tunas Harapan Palangkaraya.
Kabar itu disambut dengan penuh antusias.
Bagi pemerintah desa, kehadiran mahasiswa menjadi harapan
baru untuk membantu berbagai program pembangunan. Bagi masyarakat, itu adalah
kesempatan untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman dengan generasi muda yang
datang dari berbagai daerah.
Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa kedatangan dua
belas mahasiswa itu kelak akan membuka kembali pintu yang telah lama terkunci.
Pintu menuju masa lalu.
Pintu menuju rahasia yang selama puluhan tahun terkubur
bersama waktu.
Pintu menuju dua jiwa yang telah lama menunggu—menunggu
untuk didengar, menunggu untuk ditemukan, menunggu untuk dibebaskan dari
kesepian yang tak berujung.
Empat puluh hari.
Hanya empat puluh hari.
Waktu yang bagi sebagian orang terasa begitu singkat.
Namun dalam empat puluh hari itu akan tumbuh persahabatan
yang tak tergantikan, lahir pengabdian yang tulus, hadir pelajaran tentang arti
kebersamaan, dan terbentuk ikatan yang melampaui hubungan antara mahasiswa dan
masyarakat.
Di balik tawa anak-anak yang mereka ajari membaca, di balik
senyum para ibu yang mereka dampingi di Posyandu, di balik semangat perangkat
desa yang mulai mengenal teknologi, perlahan tersimpan sebuah kisah yang tak
pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Sebuah kisah yang akan menguji keberanian, keyakinan,
persahabatan, dan iman mereka.
Kisah itu tidak datang pada hari pertama.
Tidak pula pada minggu pertama.
Ia menunggu dengan sabar, hingga waktu yang tepat tiba.
Sebab setiap tempat memiliki masa lalu.
Setiap rumah menyimpan cerita.
Setiap sumur menyimpan rahasia.
Dan setiap senja selalu membawa kenangan yang tak pernah
benar-benar pergi.
Inilah kisah tentang dua belas mahasiswa yang datang dengan
niat mengabdi, tetapi pulang sebagai pribadi yang telah diubah oleh pengalaman
hidup yang melampaui akal sehat.
Inilah kisah tentang Desa Sukodadi.
Tentang empat puluh hari yang mengubah segalanya.
Tentang jejak yang tetap tinggal, bahkan ketika senja telah
lama berlalu.
Dan tentang dua jiwa yang akhirnya menemukan kedamaian
setelah bertahun-tahun tersesat di antara dunia—Pak Karim dan Mbah Minah,
sepasang suami-istri yang cintanya begitu abadi hingga kematian pun tak mampu
memisahkan mereka, namun justru membuat mereka terperangkap dalam kesepian yang
tak terhingga.
Di sebuah sudut desa, di belakang rumah yang kini ditempati
mahasiswa, sebuah sumur tua berdiri sunyi.
Airnya hitam pekat.
Di permukaannya, terkadang terlihat dua bayangan—seorang
lelaki tua dan seorang perempuan tua—yang saling bergandengan tangan.
Mereka menatap ke atas.
Menatap ke arah dunia yang telah melupakan mereka.
Dan berbisik pelan dengan suara yang hanya terdengar oleh
angin malam:
"Kami... menunggu..."
"Kami... kesepian..."
"Tolong... dengar kami..."
BAB
I
PANGGILAN
PENGABDIAN
Bagian 1: Fajar yang
Berbeda
Mentari pagi baru saja menyinari halaman Kampus Universitas
Tunas Harapan Palangkaraya ketika ratusan mahasiswa mulai berdatangan dari
berbagai penjuru kota. Sebagian mengenakan almamater biru tua yang masih tampak
baru, sebagian lagi membawa map, buku catatan, dan laptop untuk mengikuti
kegiatan yang telah lama mereka nantikan.
Hari itu bukan hari perkuliahan seperti biasanya.
Hari itu menjadi awal dari sebuah perjalanan yang akan membawa
mereka keluar dari ruang kelas dan memasuki kehidupan nyata di tengah
masyarakat.
Spanduk besar yang terpasang di depan Gedung Auditorium
berbunyi:
PEMBEKALAN PROGRAM KULIAH KERJA NYATA (KKN) ANGKATAN I
UNIVERSITAS TUNAS HARAPAN PALANGKARAYA
"Mengabdi Bersama Masyarakat, Berkarya untuk
Negeri."
Suasana kampus sejak pagi terasa berbeda. Halaman dipenuhi
kendaraan mahasiswa, dosen, dan panitia. Di depan auditorium, beberapa panitia
sibuk membagikan tanda peserta, buku panduan KKN, serta jadwal kegiatan
pembekalan yang akan berlangsung selama tiga hari.
Di dalam auditorium, kursi-kursi telah tersusun rapi.
Sebuah layar proyektor menampilkan peta lokasi desa-desa tujuan KKN yang
tersebar di berbagai wilayah Kalimantan Tengah.
Suara percakapan mahasiswa memenuhi ruangan.
Sebagian tampak antusias.
Sebagian lagi terlihat gugup.
Tidak sedikit yang baru pertama kali mengikuti kegiatan di
luar kampus dalam waktu yang cukup lama.
Namun di antara keramaian itu, ada satu sosok yang berdiri
di sudut halaman dengan tatapan kosong ke arah langit.
Herman.
Sejak malam sebelumnya, ia tidak bisa tidur. Bukan karena
gugup menghadapi KKN. Bukan pula karena persiapan yang belum rampung. Ada
sesuatu yang mengganggu pikirannya—sebuah mimpi yang terus berulang setiap kali
ia memejamkan mata.
Mimpi itu selalu sama.
Ia berdiri di tepi sebuah sumur tua. Sumur itu terbuat dari
batu hitam yang sudah menghitam dimakan usia. Lumut tebal menutupi hampir
seluruh permukaannya. Di atas sumur, tergantung sebuah timba besi yang nyaris
berkarat.
Air di dalam sumur itu hitam pekat—begitu hitamnya hingga
ia tidak bisa melihat dasarnya.
Namun ia tahu ada sesuatu di dalam air itu.
Sesuatu yang menatapnya dari balik kegelapan.
Herman selalu mencoba berlari dalam mimpinya. Namun kakinya
terasa berat, seperti terikat oleh sesuatu yang tak terlihat. Dan
kemudian—suara itu datang.
Suara lelaki tua.
Serak. Berat. Seperti seseorang yang telah lama tidak
berbicara.
"Kau... kau akan datang..."
"Aku sudah menunggu... sangat lama..."
"Bawa dia... bawa dia ke sini..."
Herman selalu terbangun pada saat itu.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Dadanya berdebar kencang.
Dan selalu—selalu ada satu pertanyaan yang tersisa di
benaknya:
"Siapa yang harus ku bawa? Dan ke mana?"
Bagian 2: Mimpi yang Tak
Bisa Dilupakan
Herman menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu
dari pikirannya.
Ia sudah tiga malam berturut-turut mengalami mimpi yang
sama.
Tiga malam.
Tiga kali ia terbangun dengan keringat dingin dan jantung
berdebar kencang.
Tiga kali ia mendengar suara lelaki tua itu memanggilnya
dari kedalaman sumur hitam.
"Hanya mimpi," gumamnya. "Hanya
mimpi."
Namun jauh di dalam hatinya, ada firasat yang tidak bisa ia
abaikan.
Seolah ada sesuatu di Desa Sukodadi yang telah lama
menunggu kedatangan mereka.
Sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Sesuatu yang—entah mengapa—telah memilihnya sebagai pintu
masuk.
Bagian 3: Pembekalan
yang Mengganggu
Pukul delapan pagi, acara resmi dimulai.
Lagu Indonesia Raya berkumandang mengawali kegiatan,
disusul doa bersama yang dipimpin oleh salah seorang dosen. Setelah itu, Rektor
Universitas Tunas Harapan Palangkaraya, Prof. Dr. H. Ardiansyah, M.Si., memasuki ruangan dan berdiri di podium.
Seluruh peserta memberikan tepuk tangan.
Beliau memandang ratusan mahasiswa yang memenuhi auditorium
dengan senyum bangga.
"Anak-anakku," ucapnya membuka sambutan.
"Hari ini kalian memasuki tahapan yang berbeda dari perjalanan sebagai
mahasiswa."
Beliau berhenti sejenak, membiarkan seluruh perhatian
tertuju kepadanya.
"Selama ini kalian belajar dari buku, jurnal, dan
ruang kuliah. Mulai beberapa minggu ke depan, kalian akan belajar langsung dari
masyarakat."
Ruangan menjadi hening.
"Kuliah Kerja Nyata bukan sekadar memenuhi kewajiban
akademik. Bukan pula sekadar menjalankan program kerja. KKN adalah proses
belajar menjadi manusia yang mampu hadir di tengah masyarakat dengan hati yang
rendah, pikiran yang terbuka, dan kemauan untuk melayani."
Beliau kemudian menampilkan sebuah foto desa di layar.
"Di desa nanti, kalian mungkin akan menemukan
keterbatasan. Mungkin jaringan internet sulit. Mungkin listrik tidak selalu
stabil. Mungkin fasilitas tidak selengkap di kota. Tetapi percayalah... di
sanalah kalian akan menemukan pelajaran hidup yang tidak pernah diajarkan di
ruang kuliah."
Kalimat itu disambut tepuk tangan panjang.
Banyak mahasiswa mulai menyadari bahwa perjalanan yang akan
mereka jalani bukan sekadar kegiatan akademik biasa.
Namun saat foto desa itu muncul di layar, Herman merasakan
sesuatu yang aneh.
Darahnya terasa dingin.
Foto itu menunjukkan sebuah desa sederhana dengan hamparan
sawah hijau dan rumah-rumah kayu di kejauhan. Namun di sudut kanan foto, ia
melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Sebuah sumur tua.
Sumur batu hitam dengan timba besi yang tergantung di
atasnya.
Sumur yang sama dari mimpinya.
Herman menahan napas. Ia mencoba mencari detail lebih
lanjut, namun foto itu berganti dengan gambar lain.
"Itu hanya kebetulan," pikirnya. "Sumur di desa mana pun pasti
terlihat mirip."
Namun hatinya terus berdegup tidak karuan.
Bagian 4: Cerita yang
Mengguncang
Selama tiga hari pembekalan, para peserta menerima berbagai
materi dari dosen, praktisi, dan narasumber.
Materi pertama membahas filosofi pengabdian kepada
masyarakat.
Mahasiswa diajak memahami bahwa keberadaan mereka di desa
bukan untuk merasa lebih pintar atau lebih mampu, melainkan untuk belajar
bersama masyarakat dan membantu mengembangkan potensi yang telah dimiliki desa.
Materi berikutnya membahas etika hidup di lingkungan
masyarakat.
Bagaimana menghormati adat istiadat.
Bagaimana berkomunikasi dengan tokoh masyarakat.
Bagaimana menjaga nama baik universitas.
Bagaimana menyelesaikan konflik apabila terjadi perbedaan
pendapat.
Hari kedua diisi dengan pelatihan penyusunan program kerja
berbasis kebutuhan masyarakat.
Para peserta diajarkan menyusun program yang realistis,
terukur, dan dapat dilanjutkan oleh pemerintah desa setelah masa KKN berakhir.
Hari ketiga difokuskan pada simulasi kehidupan di desa.
Mahasiswa diminta memecahkan berbagai studi kasus, mulai
dari pelayanan administrasi desa, kegiatan pendidikan, kesehatan masyarakat,
hingga pemberdayaan ekonomi.
Pembekalan berlangsung serius, tetapi tetap diselingi
berbagai diskusi dan permainan kelompok yang membuat suasana lebih hidup.
Namun di akhir sesi hari ketiga, terjadi sesuatu yang tidak
pernah Herman duga.
Dr. Rahmat Hidayat, Dosen Pembimbing Lapangan, tiba-tiba
menghentikan presentasinya. Beliau memandang seluruh peserta dengan tatapan
yang tidak biasa—serius, bahkan hampir terlihat khawatir.
"Ada satu hal yang ingin saya sampaikan," katanya
dengan suara rendah. "Sebuah cerita yang mungkin tidak ada hubungannya
dengan KKN. Tetapi saya merasa perlu kalian ketahui."
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
"Beberapa tahun lalu, ada sekelompok mahasiswa dari
universitas lain yang juga melaksanakan KKN di sebuah desa di Kalimantan.
Mereka mengalami... sesuatu. Kejadian yang sulit dijelaskan. Gangguan. Bisikan
di malam hari. Beberapa dari mereka bahkan harus ditarik lebih awal karena
alasan kesehatan."
Ruangan menjadi semakin hening.
"Pada akhirnya, laporan resmi menyebutkan bahwa mereka
mengalami gangguan psikologis akibat tekanan beradaptasi dengan lingkungan
baru. Namun beberapa sumber tidak resmi mengatakan hal yang berbeda."
Dr. Rahmat berhenti sejenak. Matanya tampak menerawang
jauh, seolah mengingat sesuatu yang tidak ingin ia ingat.
"Mereka mengatakan bahwa desa itu... memiliki sejarah
yang tidak pernah diceritakan kepada pendatang. Dan mahasiswa-mahasiswa itu
menjadi sasaran karena mereka... membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap
tertidur."
Seorang mahasiswa bertanya dengan suara bergetar.
"Desa apa itu, Pak?"
Dr. Rahmat menghela napas panjang.
"Namanya tidak penting. Yang penting kalian harus
selalu waspada. Jaga kebersamaan. Dan jangan pernah... jangan pernah mengabaikan
firasat kalian."
Setelah itu, beliau kembali melanjutkan presentasi seolah
tidak terjadi apa-apa. Namun suasana di ruangan telah berubah. Beberapa
mahasiswa saling berpandangan dengan wajah cemas.
Herman tidak mengatakan apa pun. Namun dalam hatinya, mimpi
tentang rumah kayu tua dan sumur hitam itu kembali terbayang. Dan untuk pertama
kalinya, ia merasa bahwa perjalanan mereka ke Desa Sukodadi bukanlah sekadar
pengabdian biasa.
Bagian 5: Perkenalan
yang Aneh
Pada hari terakhir pembekalan, panitia mengumumkan
pembagian kelompok KKN.
Satu per satu nomor kelompok dipanggil ke depan.
Ketika nomor 212 disebutkan, dua belas mahasiswa berdiri
dan saling berpandangan.
Mereka berasal dari program studi yang berbeda.
Ada mahasiswa pendidikan, pertanian, ekonomi, hukum, teknik
informatika, kesehatan masyarakat, administrasi publik, dan ilmu sosial.
Mereka belum saling mengenal.
Namun mulai hari itu, mereka akan hidup bersama selama
empat puluh hari.
Panitia mempersilakan setiap kelompok berkumpul di ruangan
yang telah ditentukan.
Di ruang 3A, dua belas mahasiswa duduk membentuk lingkaran.
Suasana masih canggung.
Seorang panitia tersenyum melihat mereka.
"Silakan mulai berkenalan."
Herman menjadi orang pertama yang berdiri.
"Perkenalkan, nama saya Herman. Saya dari Program
Studi Pendidikan. Saya senang bekerja dalam tim. Saya berharap kita bisa saling
membantu selama KKN."
Sikapnya yang tenang membuat suasana menjadi lebih nyaman.
Setelah itu, satu per satu anggota mulai memperkenalkan
diri.
Maya berasal dari
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Ia gemar membaca, menulis, dan
mengajar anak-anak.
Alex berasal dari
Program Studi Teknik Informatika. Kepribadiannya terbuka dan penuh humor.
Rina berasal dari
Administrasi Publik. Ia dikenal rapi dan teliti.
Dimas memiliki kemampuan
di bidang desain grafis dan multimedia.
Aisyah aktif dalam
kegiatan kesehatan masyarakat.
Yoga berasal dari
Fakultas Pertanian.
Laras, Nadia, Beni, Fikri, dan Andi pun memperkenalkan diri dengan karakter yang
berbeda-beda.
Dalam waktu singkat, suasana yang semula kaku berubah
menjadi penuh keakraban.
Namun saat Maya memperkenalkan diri, Herman melihat sesuatu
yang aneh.
Gadis itu menatapnya dengan ekspresi kosong, seolah sedang
melihat sesuatu di balik tubuh Herman.
Bukan sekadar melihat.
Menatap.
Dengan tatapan yang membuat bulu kuduk Herman meremang.
"Maya?" panggil Herman pelan.
Maya tersentak. Matanya berkedip beberapa kali seperti baru
saja tersadar dari lamunan.
"Eh... iya?"
"Kamu tidak apa-apa?"
Maya tersenyum tipis, namun senyum itu terasa dipaksakan.
Ada getaran aneh di balik senyumnya.
"Iya. Hanya... ada sesuatu."
"Ada apa?"
Maya menggeleng cepat. Terlalu cepat. Seolah ia sedang
berusaha mengusir sesuatu dari pikirannya.
"Tidak. Tidak ada. Mungkin hanya perasaanku."
Namun ketika Herman berbalik, Maya masih menatap ke arahnya
dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Seolah ia melihat bayangan di belakang Herman.
Bayangan yang tidak terlihat oleh orang lain.
Bayangan yang membuat wajah Maya menjadi pucat pasi.
Bagian 6: Pemilihan
Ketua dan Firasat yang Tak Terucap
Setelah seluruh anggota saling mengenal, panitia meminta
setiap kelompok memilih seorang ketua.
Beberapa nama langsung diusulkan.
Namun sebagian besar anggota sepakat menunjuk Herman.
"Kenapa saya?" tanyanya.
Alex menjawab sambil tersenyum.
"Soalnya dari tadi kamu paling tenang. Kalau ketuanya
panikan, nanti kita semua ikut panik."
Seluruh anggota tertawa.
Rina menambahkan, "Kami butuh orang yang bisa mendengarkan
semua pendapat."
Maya mengangguk. "Dan menurutku itu ada pada
Herman."
Herman sempat menolak. Namun setelah diyakinkan seluruh
anggota, ia akhirnya menerima amanah tersebut.
"Baik. Kalau kalian percaya kepada saya, mari kita
jalankan tugas ini bersama. Tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Kita
semua sama-sama bertanggung jawab."
Ucapan itu langsung mendapat tepuk tangan dari seluruh
anggota.
Sejak saat itu, Herman resmi menjadi Ketua Kelompok 212.
Namun ada satu hal yang mengganjal di hati Herman.
Saat Maya mengucapkan kata-kata dukungannya, Herman melihat
sesuatu di matanya.
Ketakutan.
Maya tidak hanya memilihnya sebagai ketua karena ia mampu
mendengarkan.
Maya memilihnya karena—entah bagaimana—ia merasa Herman
adalah satu-satunya yang bisa melindungi mereka dari sesuatu.
Sesuatu yang bahkan Maya sendiri belum mengerti.
Sesuatu yang terkait dengan mimpi-mimpi Herman.
Sesuatu yang terkait dengan sumur tua itu.
Bagian 7: Nasihat
Terakhir
Beberapa jam kemudian, Dosen Pembimbing Lapangan memasuki
ruangan.
Beliau memperkenalkan diri sebagai Dr. Rahmat Hidayat,
M.Pd.
"Saya akan mendampingi kalian selama pelaksanaan
KKN."
Beliau tidak langsung berbicara tentang administrasi
ataupun laporan. Sebaliknya, beliau mengajukan satu pertanyaan.
"Apa tujuan kalian mengikuti KKN?"
Jawaban bermunculan.
"Ingin lulus."
"Ingin mencari pengalaman."
"Ingin mengabdi."
"Ingin mengenal masyarakat."
Dr. Rahmat tersenyum.
"Semuanya benar. Tetapi nanti kalian akan menemukan
satu jawaban lagi."
"Apa itu, Pak?" tanya Maya.
Beliau menjawab pelan,
"Bahwa sebenarnya masyarakatlah yang akan mengajarkan
kalian tentang kehidupan."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali hening.
Dr. Rahmat memandang satu per satu mahasiswa di hadapannya.
Tatapannya berhenti sejenak pada Herman.
"Dan ingatlah," kata beliau dengan suara yang
hampir berbisik. "Terkadang, apa yang kita cari di suatu tempat bukanlah
jawaban. Tapi pertanyaan yang lebih dalam. Pertanyaan yang hanya bisa dijawab
oleh keberanian dan keyakinan."
Tak seorang pun menyadari bahwa beberapa minggu kemudian,
mereka benar-benar akan belajar tentang kehidupan, persahabatan, keberanian,
dan makna pengabdian dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.
Dan tak seorang pun menyadari bahwa di Desa Sukodadi, dua
jiwa telah lama menunggu untuk didengar.
Malam itu, Herman kembali bermimpi.
Ia berdiri di tepi sumur tua.
Airnya hitam pekat.
Dan di dalam air itu, dua wajah muncul.
Wajah lelaki tua dan perempuan tua.
Mereka tersenyum.
Namun senyum itu bukan senyum bahagia.
Senyum putus asa.
Senyum dua jiwa yang telah lama terperangkap.
"Kami... menunggu..." bisik mereka bersamaan.
"Kami... kesepian..."
"Tolong... dengar kami..."
Herman terbangun dengan keringat dingin.
Ia memandang langit-langit kamar.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa takut.
Bukan karena mimpi itu.
Tapi karena ia tahu—mimpi itu bukan sekadar mimpi.
Ia adalah panggilan.
Panggilan dari dua jiwa yang telah lama membutuhkan
pertolongan.
Babak pertama perjalanan Kelompok 212 pun resmi dimulai.
BAB
II
SURVEI
LOKASI
Bagian 1: Persiapan yang
Gelisah
Mentari masih setengah terbenam di balik gedung-gedung
kampus ketika tiga mahasiswa laki-laki berdiri di halaman parkir Universitas
Tunas Harapan Palangkaraya. Hari itu adalah hari Kamis, dua minggu sebelum
keberangkatan KKN resmi dimulai.
Herman, Dimas, dan Beni tampak sibuk memeriksa perlengkapan
yang akan mereka bawa. Sebuah mobil pick-up tua milik kampus telah dipersiapkan
untuk perjalanan survei lokasi ke Desa Sukodadi. Di atas bak terbuka terdapat
beberapa dus berisi peralatan dokumentasi, peta, dokumen administrasi, serta
bekal makanan dan air minum untuk perjalanan yang akan memakan waktu hampir
seharian penuh.
"Kamera sudah?" tanya Dimas sambil mengecek
tasnya.
"Sudah," jawab Beni.
"Baterai cadangan?"
"Ada dua."
"Kabel charger?"
Beni mengangkat sebuah tas kecil.
"Semua aman."
Herman berjalan menghampiri mereka dengan map berisi surat
tugas dan surat pengantar dari universitas. Wajahnya tampak serius, tetapi
matanya memancarkan semangat yang tak terbantahkan.
"Ini surat menyuratnya sudah lengkap," katanya
sambil memperlihatkan map tersebut. "Surat tugas dari rektorat, surat
pengantar ke Pemerintah Kabupaten Kapuas, dan surat permohonan izin survei ke
Pemerintah Desa Sukodadi."
Dimas mengangguk puas.
"Kalau begitu, kita siap berangkat."
"Tunggu," Herman menghentikan langkah Dimas.
"Kita doakan dulu."
Mereka bertiga menundukkan kepala sejenak.
"Doa agar perjalanan kami diberi kelancaran,
perlindungan, dan kemudahan dalam melaksanakan tugas survei ini. Amin."
"Amin," sahut Dimas dan Beni bersamaan.
Namun saat Herman mengucapkan kata
"perlindungan", ia merasakan hawa dingin menyelinap di punggungnya.
Seolah ada sesuatu yang mendengar doanya.
Seolah ada sesuatu yang tersenyum.
Ia menoleh ke sekeliling.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya pohon-pohon di tepi parkiran yang bergoyang pelan
ditiup angin pagi.
"Hanya perasaanku," pikirnya.
Namun sepanjang perjalanan menuju Desa Sukodadi, ia tidak
bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang mengawasi mereka dari
kejauhan.
Bagian 2: Perjalanan
yang Mencurigakan
Mobil pick-up melaju perlahan meninggalkan gerbang kampus.
Pagi itu lalu lintas Kota Palangkaraya masih cukup padat. Kendaraan bermotor
saling bersahutan di jalan-jalan utama, sementara para pedagang kaki lima mulai
membuka lapaknya di tepi jalan.
Herman duduk di kursi penumpang depan. Di tangannya
terbentang sebuah peta yang telah ia tandai dengan beberapa titik penting. Beni
duduk di belakang kemudi dengan konsentrasi penuh, sementara Dimas di kursi
belakang sibuk memotret setiap pemandangan yang mereka lewati.
"Jarak ke Kabupaten Kapuas sekitar tiga jam perjalanan
normal," kata Herman sambil membaca catatan di peta. "Kalau jalannya
bagus."
"Kalau jalannya tidak bagus?" tanya Beni sambil
tersenyum miring.
Herman menghela napas.
"Kita lihat nanti."
Beni tertawa kecil. Ia sudah mengenal ketua kelompoknya itu
cukup baik sejak masa pembekalan. Herman memang selalu berusaha mempersiapkan
segala sesuatu, tetapi ia juga cukup fleksibel ketika menghadapi kenyataan di
lapangan.
Perjalanan melewati jalan-jalan utama kota, kemudian
memasuki jalan lintas provinsi yang menghubungkan Palangkaraya dengan
kabupaten-kabupaten di sekitarnya. Di kanan-kiri jalan terbentang hamparan
perkebunan kelapa sawit yang terawat rapi. Sesekali mereka melewati kawasan
hutan yang masih asri dengan pepohonan tinggi menjulang.
Dimas terus mengabadikan setiap pemandangan.
"Ini akan berguna untuk dokumentasi KKN nanti,"
katanya sambil memfokuskan kamera ke sebuah jembatan yang membentang di atas
sungai lebar.
"Jangan lupa rekam juga kondisi jalannya," kata
Herman. "Ini penting untuk menentukan jenis kendaraan yang akan digunakan
saat keberangkatan nanti."
"Siap, Ketua."
Namun semakin jauh mereka melaju, semakin aneh perasaan
Herman.
Di beberapa titik perjalanan, ia melihat bayangan samar di
tepi hutan.
Bayangan lelaki tua dengan pakaian sederhana.
Bayangan itu selalu berdiri di antara pepohonan, menatap ke
arah mobil mereka.
Setiap kali Herman menoleh untuk melihat lebih jelas,
bayangan itu menghilang.
"Ada apa?" tanya Beni melihat Herman terus
menoleh ke kiri dan kanan.
"Tidak... Tidak ada. Mungkin hanya kelelahan."
Beni tidak curiga.
Namun Herman tahu—ia tidak kelelahan.
Ia melihat sesuatu.
Sesuatu yang tidak ingin dilihat orang lain.
Bagian 3: Tiba di
Sukodadi
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, mobil mulai
memasuki jalan yang lebih kecil. Aspal yang mulus perlahan berganti dengan
jalan berbatu. Di beberapa ruas, jalan berubah menjadi tanah merah yang sedikit
bergelombang.
"Ini mulai masuk wilayah Kapuas," kata Beni
sambil mengerem perlahan melewati sebuah tikungan tajam.
Herman memandang ke luar jendela. Pemandangan di sekitarnya
mulai berubah. Rumah-rumah penduduk yang semula masih berjarak rapat mulai
tersebar dengan jarak yang lebih renggang. Sawah-sawah menghijau membentang di
sisi kiri dan kanan jalan. Di kejauhan terlihat perbukitan rendah yang
diselimuti pepohonan.
"Desa Sukodadi masih sekitar dua puluh kilometer lagi
dari sini," kata Herman sambil memeriksa peta. "Menurut informasi
yang saya dapat, setelah melewati jembatan kayu di depan sana, kita akan
memasuki wilayah desa."
Beberapa menit kemudian, mereka melintasi sebuah jembatan
kayu yang cukup sempit. Hanya cukup untuk satu mobil melintas. Di bawah
jembatan, air sungai mengalir dengan tenang. Beberapa anak terlihat sedang
mandi dan bermain di tepian sungai.
"Jembatannya masih kokoh," kata Beni sambil
hati-hati melintas.
"Semoga saat keberangkatan nanti masih sama,"
timpal Dimas.
Herman tidak menjawab. Matanya justru tertuju pada sebuah
papan kayu yang berdiri di tepi jalan tidak jauh dari jembatan. Papan itu
bertuliskan dengan cat merah:
"SELAMAT DATANG DI DESA SUKODADI"
"Kita sudah sampai," katanya pelan.
Namun saat ia membaca tulisan itu, Herman merasakan sesuatu
yang aneh.
Udara di sekitarnya tiba-tiba terasa lebih dingin.
Suhu yang semula hangat berubah menjadi dingin yang menusuk
tulang.
Dan kemudian—ia mendengar suara.
Suara lelaki tua dari mimpinya.
"Kau datang..."
"Aku sudah menunggu..."
Herman menoleh ke sekeliling.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya Dimas dan Beni yang sibuk membereskan perlengkapan.
"Apa yang terjadi padaku?" pikirnya.
Bagian 4: Sambutan yang
Hangat—dan Aneh
Mobil berhenti di halaman sebuah bangunan sederhana yang
tertulis "Kantor Desa Sukodadi". Bangunan itu terbuat dari kayu ulin
dengan atap seng yang sedikit berkarat di beberapa bagian. Di halaman depan
terdapat sebuah tiang bendera merah putih yang berkibar pelan ditiup angin.
Herman turun lebih dulu. Ia merapikan pakaiannya, mengambil
map berisi surat-surat, lalu berjalan menuju pintu kantor. Dimas dan Beni
mengikuti di belakangnya dengan membawa kamera dan tas perlengkapan.
Seorang pria paruh baya dengan kemeja batik lengan panjang
menyambut mereka dari balik meja resepsionis. Wajahnya ramah, dengan senyum
yang terlihat tulus.
"Selamat pagi," sapa pria itu. "Ada yang
bisa saya bantu?"
Herman menghampiri meja dengan sikap hormat.
"Selamat pagi, Pak. Saya Herman dari Universitas Tunas
Harapan Palangkaraya. Bersama dua rekan saya, Dimas dan Beni, kami datang untuk
survei lokasi pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Angkatan I di Desa Sukodadi."
Pria itu mengangguk sambil tersenyum.
"Ah, mahasiswa KKN. Iya, kami sudah menerima surat
dari pemerintah kabupaten beberapa hari lalu. Silakan duduk dulu. Saya
panggilkan Kepala Desa."
Beberapa menit kemudian, seorang pria bertubuh tegap dengan
kumis tebal memasuki ruang tamu kantor desa. Beliau mengenakan kemeja putih dan
celana kain hitam. Di dadanya tersemat pin kecil bergambar peta desa.
"Selamat pagi, adik-adik mahasiswa," sapa beliau dengan
suara berat yang bersahabat. "Saya Bambang, Kepala Desa Sukodadi."
Herman segera berdiri dan menjabat tangan Pak Bambang
dengan hormat.
"Selamat pagi, Pak. Saya Herman. Ini Dimas dan Beni.
Kami dari Kelompok 212 KKN Universitas Tunas Harapan Palangkaraya."
Pak Bambang tersenyum puas.
"Kami sangat menantikan kedatangan kalian. Silakan,
mari kita bicara di ruang rapat."
Namun saat Herman menjabat tangan Pak Bambang, ia merasakan
sesuatu yang aneh.
Telapak tangan Pak Bambang terasa dingin.
Sangat dingin.
Seperti menyentuh batu yang terkena embun malam.
Pak Bambang tampak tidak menyadari hal itu. Ia terus
tersenyum ramah dan memimpin mereka menuju ruang rapat.
Herman mengikuti dengan langkah berat.
Ada sesuatu yang tidak beres di desa ini.
Ia bisa merasakannya.
Bagian 5: Koordinasi
dengan Pemerintah Desa
Ruang rapat Kantor Desa Sukodadi sederhana namun bersih. Di
tengah ruangan terdapat sebuah meja kayu besar yang dilapisi taplak plastik
bermotif bunga. Di dinding terpajang foto-foto kegiatan warga, peta desa, dan
struktur organisasi pemerintahan desa.
Pak Bambang mempersilakan mereka duduk.
"Survei lokasi ini sangat penting," kata Herman
sambil membuka map dan buku catatan. "Kami perlu memastikan beberapa hal
sebelum keberangkatan resmi dua minggu lagi."
"Sebutkan saja apa yang adik-adik butuhkan,"
jawab Pak Bambang dengan ramah.
Herman mulai memaparkan poin-poin yang perlu mereka survei.
"Pertama, lokasi tempat tinggal. Kami berjumlah dua
belas orang, enam putra dan enam putri. Kami memerlukan dua tempat tinggal yang
layak dan aman."
Pak Bambang mengangguk.
"Untuk itu, kami sudah mempersiapkan dua rumah. Satu
untuk putra di rumah milik Pak Rahman, dan satu untuk putri di rumah milik Bu
Ratmi. Kedua rumah itu sudah kami bersihkan dan kami perbaiki beberapa bagian.
Nanti bisa adik-adik lihat langsung."
"Terima kasih, Pak," kata Herman sambil mencatat.
"Kedua, akses transportasi dan kondisi jalan. Apakah kendaraan roda empat
bisa masuk dengan lancar?"
Pak Bambang menjawab,
"Bisa. Jalannya memang tanah merah dan sedikit
bergelombang di beberapa bagian, tetapi masih bisa dilalui. Kalau musim hujan,
memang agak licin. Tapi saya sudah koordinasikan dengan warga untuk membantu
jika ada kendaraan yang kesulitan."
"Ketiga, fasilitas umum. Kami ingin melihat sekolah,
posyandu, balai desa, tempat ibadah, dan sarana kesehatan."
"Semua ada," jawab Pak Bambang bangga.
"Memang sederhana, tapi cukup untuk kebutuhan dasar. Nanti kami akan antar
adik-adik berkeliling."
Herman melanjutkan,
"Keempat, kami perlu berkoordinasi dengan perangkat
desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama untuk program kerja yang akan kami
jalankan."
Pak Bambang tersenyum lebar.
"Itu sudah kami siapkan. Saya sudah mengundang
beberapa perangkat desa, Ketua BPD, Ketua TP PKK, Karang Taruna, Ustad Ilham, dan
Mak Sari sebagai tokoh adat. Mereka akan datang siang nanti."
Herman terkejut.
"Wah, Pak Bambang sudah sangat siap."
Pak Bambang tertawa kecil.
"Kami memang sudah menantikan kehadiran kalian. Desa
Sukodadi ingin berkembang, dan kami percaya mahasiswa bisa membawa semangat
baru."
Bagian 6: Rumah yang
Akan Ditempati
Setelah sesi perkenalan dan koordinasi awal, Pak Bambang
mengajak ketiga mahasiswa berkeliling desa dengan menggunakan sepeda motor
dinas.
Pertama, mereka menuju rumah yang akan ditempati oleh
mahasiswa putra. Rumah milik Pak Rahman terletak tidak jauh dari kantor desa,
sekitar lima menit berjalan kaki. Bangunannya terbuat dari kayu ulin yang
kokoh, dengan halaman yang cukup luas. Di samping rumah terdapat pohon mangga
dan rambutan yang rindang.
"Ini rumahnya," kata Pak Bambang sambil membuka
pintu kayu yang sedikit berderit.
Herman masuk lebih dulu. Matanya mengamati setiap sudut
ruangan. Rumah itu terdiri dari ruang tamu yang cukup luas, dua kamar tidur,
dapur sederhana, dan sebuah kamar mandi di bagian belakang. Di belakang rumah,
ia melihat sebuah sumur tua dengan timba besi yang mulai berkarat.
"Sumur itu masih aktif?" tanya Herman.
"Masih," jawab Pak Bambang. "Airnya jernih
dan segar. Warga sekitar masih sering menggunakannya."
Dimas memotret setiap sudut rumah. Beni mencatat kondisi
bangunan dan fasilitas yang tersedia.
"Rumah ini cukup nyaman untuk enam orang," kata
Beni.
"Tapi tempat tidurnya?" tanya Dimas.
Pak Bambang tersenyum.
"Nanti kami sediakan kasur dan perlengkapan tidur.
Tidak perlu khawatir."
Herman mengangguk puas.
"Baik, Pak. Rumah ini cocok untuk kami."
Namun saat Herman berjalan ke belakang rumah untuk
memeriksa sumur, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Udara di sekitar sumur terasa sangat dingin.
Jauh lebih dingin daripada bagian rumah lainnya.
Dan saat ia mendekati sumur, ia mendengar suara.
Suara bisikan pelan.
Seperti dua orang yang sedang berbicara.
"Kau datang..."
"Kami sudah menunggu..."
Herman berhenti. Dadanya berdegup kencang.
Ia mencondongkan tubuh ke depan. Ia memandang ke dalam
sumur.
Airnya hitam pekat. Tidak seperti sumur biasa yang airnya
jernih. Di permukaan air, ia melihat bayangannya sendiri. Namun ada yang aneh.
Bayangan itu tidak bergerak bersamaan dengan gerakannya.
Herman menggerakkan tangan kirinya.
Bayangan di dalam sumur tetap diam.
Ia menggerakkan tangan kanannya.
Bayangan itu masih tidak bergerak.
Jantung Herman berdegup kencang. Ia hendak berteriak
memanggil Dimas dan Beni. Namun sebelum suara keluar dari mulutnya, bayangan
itu perlahan mengangkat tangan—dan melambai ke arahnya.
Bukan hanya satu bayangan.
Dua bayangan.
Seorang lelaki tua dan seorang perempuan tua.
Mereka berdiri di dalam air hitam itu, bergandengan tangan,
dan melambai ke arahnya.
"Kami... menunggu..."
Herman tersentak dan mundur beberapa langkah. Dadanya naik
turun dengan cepat. Keringat dingin membasahi keningnya.
"Ada apa?" tanya Beni yang tiba-tiba muncul dari
balik rumah.
Herman menoleh dengan wajah pucat.
"Tidak... tidak ada."
"Kamu pucat sekali."
"Airnya... sangat dingin," jawab Herman
berbohong.
Beni tidak curiga. Ia menghampiri sumur dan memandang ke
dalam.
"Airnya jernih kok," katanya.
Herman terdiam. Jernih?
Ia mencondongkan tubuh lagi dan memandang ke dalam sumur.
Kini airnya benar-benar jernih. Bayangannya bergerak normal
mengikuti gerak tubuhnya. Tidak ada yang aneh.
Tidak ada dua bayangan.
Tidak ada lelaki tua dan perempuan tua.
Hanya dirinya sendiri.
"Apa yang baru saja aku lihat?" pikir Herman.
Ia tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada siapa pun.
Bagian 7: Pertemuan
dengan Mak Sari
Dari rumah Pak Rahman, mereka melanjutkan perjalanan menuju
rumah yang akan ditempati mahasiswa putri. Rumah milik Bu Ratmi berjarak
sekitar lima puluh meter dari rumah Pak Rahman. Bangunannya serupa, terbuat
dari kayu dengan halaman yang lebih kecil tetapi lebih asri karena banyak
ditanami bunga-bunga.
"Bu Ratmi adalah janda yang anak-anaknya sudah
merantau," jelas Pak Bambang. "Beliau dengan senang hati menawarkan
rumahnya untuk ditempati mahasiswi. Beliau sendiri akan tinggal sementara di
rumah saudaranya."
Herman mengangguk.
"Kami sangat berterima kasih kepada Bu Ratmi."
"Beliau orang yang baik," kata Pak Bambang.
"Selama KKN nanti, beliau juga akan sering membantu mengurus konsumsi
kalian."
Herman mencatat semua informasi itu dengan saksama.
"Dua rumah ini sangat strategis," katanya.
"Dekat dengan kantor desa, sekolah, dan balai desa."
"Kami sudah memikirkan itu," jawab Pak Bambang.
"Kami ingin kalian betah dan mudah menjangkau semua lokasi kegiatan."
Perjalanan berlanjut menuju Sekolah Dasar Negeri Sukodadi,
PAUD, TK, Posyandu, dan Balai Pertemuan Desa.
Namun pertemuan paling penting terjadi saat mereka kembali
ke Kantor Desa.
Pak Bambang memperkenalkan mereka kepada Mak Sari, tokoh
adat desa.
Perempuan sepuh dengan rambut putih yang disanggul rapi.
Matanya tajam dan penuh wibawa.
Namun saat matanya bertemu dengan Herman, ia terdiam.
Matanya menyipit. Seolah melihat sesuatu yang tidak
terlihat oleh orang lain.
"Kalian dari mana, Nak?" tanyanya.
"Kami dari Palangkaraya, Mak," jawab Herman.
Mak Sari mengangguk.
"Jauh sekali. Semoga betah di desa kami."
"Insyaallah, Mak," jawab Herman dengan tulus.
Mak Sari mendekat dan menggenggam tangan Herman. Telapak
tangannya dingin—sangat dingin, seperti menyentuh batu yang terkena embun
malam.
"Nak," panggil Mak Sari pelan.
"Ya, Mak?"
"Kamu... pernah bermimpi tentang tempat ini?"
Herman terkejut. Bagaimana Mak Sari bisa tahu?
"Kenapa Mak bertanya begitu?"
Mak Sari tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak sampai ke
matanya.
"Karena wajahmu... seperti orang yang pernah
melihat."
Herman tidak menjawab.
Mak Sari mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan, hanya
cukup untuk didengar Herman.
"Sumur itu... sumur itu adalah jendela. Jendela menuju
masa lalu. Dan ada dua jiwa di sana yang telah lama menunggu untuk
didengar."
Herman membeku.
"Kau tahu siapa mereka?" tanyanya pelan.
Mak Sari menggeleng.
"Aku hanya tahu bahwa mereka ada. Dan bahwa mereka...
memilihmu."
Bagian 8: Kembali dengan
Pertanyaan
Perjalanan pulang terasa lebih singkat.
Namun pikiran Herman dipenuhi oleh satu hal.
Sumur tua.
Dua bayangan.
Dan kata-kata Mak Sari: "Mereka
memilihmu."
Malam harinya, di ruang tengah rumah kontrakan mereka di
Palangkaraya, Herman, Dimas, dan Beni mempresentasikan hasil survei kepada
seluruh anggota Kelompok 212.
Foto-foto diputar di layar laptop.
Peta desa dibentangkan di atas meja.
Catatan demi catatan dibacakan.
Maya tampak terpesona melihat foto-foto desa yang asri.
"Indah sekali," katanya.
Namun saat foto sumur tua muncul di layar, Maya terdiam.
Wajahnya menjadi pucat.
Matanya terpaku pada gambar sumur itu.
"Kak Maya?" panggil Laras.
Maya tersentak.
"Iya?"
"Kamu tidak apa-apa?"
Maya menggeleng cepat. Terlalu cepat.
"Tidak... Tidak apa-apa. Hanya..."
"Hanya apa?"
Maya menatap foto sumur itu sekali lagi.
"Sumur itu... aku merasa pernah melihatnya. Dalam
mimpiku."
Ruangan menjadi hening.
Herman menatap Maya dengan tatapan tajam.
"Mimpi apa?"
Maya menggeleng.
"Aku tidak tahu. Hanya... perasaan aneh. Seperti ada
sesuatu di dalam sumur itu."
Herman tidak mengatakan apa pun.
Namun dalam hatinya, ia tahu.
Maya juga merasakannya.
Maya juga telah dipilih.
Malam itu, Herman tidak bisa tidur.
Ia duduk di tepi ranjang, memandang langit-langit kamar.
Di benaknya, satu pertanyaan terus berputar:
"Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan
dariku?"
Angin malam berembus pelan.
Dan dari kejauhan—seolah menjawab pertanyaannya—ia
mendengar bisikan.
"Kami... menunggu..."
"Kami... kesepian..."
"Kami... ingin ditemani..."
Herman memejamkan mata.
Ia tahu—perjalanan mereka ke Sukodadi bukanlah sekadar
pengabdian.
Ia adalah misi.
Misi untuk mendengar.
Misi untuk menyelamatkan.
Misi untuk membebaskan dua jiwa yang telah lama
terperangkap.
BAB III
MENUJU
TANAH MERAH
Bagian 1: Fajar
Keberangkatan
Pagi itu, langit Kota Palangkaraya tampak cerah. Sinar
matahari yang hangat menyelimuti halaman utama Universitas Tunas Harapan
Palangkaraya, tempat seluruh peserta Kuliah Kerja Nyata Angkatan I berkumpul
untuk memulai perjalanan menuju desa-desa tujuan. Sejak pukul enam pagi,
halaman kampus telah dipenuhi mahasiswa yang mengenakan jaket almamater,
membawa ransel besar, koper, kardus perlengkapan, serta berbagai peralatan yang
akan mereka gunakan selama empat puluh hari di lokasi pengabdian.
Suasana yang biasanya dipenuhi hiruk-pikuk aktivitas perkuliahan
kini berubah menjadi lautan harapan dan perasaan yang bercampur aduk. Ada
wajah-wajah yang memancarkan semangat, ada pula yang menyembunyikan rasa gugup
karena untuk pertama kalinya harus tinggal jauh dari keluarga dalam waktu yang
cukup lama.
Di sudut halaman kampus, beberapa orang tua tampak sibuk
membantu anak-anak mereka menyusun barang bawaan ke dalam bagasi bus. Seorang
ibu membetulkan kerah jaket almamater putrinya, sementara seorang ayah memeluk
anak lelakinya dengan erat sambil berpesan agar selalu menjaga kesehatan dan
nama baik keluarga.
Herman datang lebih awal bersama anggota Kelompok 212.
Sebagai ketua, ia memeriksa kembali daftar perlengkapan yang telah disusun
beberapa hari sebelumnya.
"Printer?"
"Sudah masuk," jawab Dimas.
"Laptop?"
"Dua unit."
"Proyektor?"
"Aman."
"Kotak P3K?"
Aisyah mengangkat kotak berwarna putih.
"Lengkap."
Herman tersenyum lega.
"Alhamdulillah. Mudah-mudahan tidak ada yang
tertinggal."
Alex yang sedang mengangkat kardus berisi buku-buku bacaan
anak ikut menyela.
"Kalau yang tertinggal ketuanya bagaimana?"
Seluruh anggota tertawa.
"Kalau ketuanya tertinggal, berarti KKN batal,"
jawab Fikri cepat.
"Tidak juga," balas Alex sambil terkekeh.
"Paling kita cari ketua baru."
Herman hanya menggeleng sambil tersenyum. Candaan-candaan
kecil seperti itu perlahan mencairkan ketegangan yang sejak pagi menyelimuti
mereka.
Namun di balik senyumnya, Herman menyimpan kegelisahan yang
tidak ia tunjukkan kepada siapa pun.
Semalam, ia kembali bermimpi.
Mimpi yang sama.
Sumur tua.
Air hitam pekat.
Dan dua bayangan—lelaki tua dan perempuan tua—yang berdiri
bergandengan tangan di dalam air.
Namun kali ini, ada yang berbeda.
Mereka tidak hanya melambai.
Mereka berbicara.
Dan kata-kata mereka lebih jelas dari sebelumnya.
"Kau akan datang... bersama yang lain..."
"Bawa dia... bawa perempuan itu..."
"Dia yang akan mendengar kami..."
"Dia yang akan membebaskan kami..."
Herman terbangun dengan keringat dingin.
"Perempuan itu? Siapa?"
Ia tidak tahu.
Namun saat ia melihat Maya di kejauhan, ia merasakan
sesuatu.
Maya adalah perempuan itu.
Maya adalah yang dimaksud.
Bagian 2: Perpisahan
yang Berat
Pukul delapan tepat, seluruh peserta berkumpul di lapangan
upacara universitas. Sebuah panggung sederhana telah disiapkan. Di belakangnya
terpasang spanduk besar bertuliskan:
PELEPASAN MAHASISWA KULIAH KERJA NYATA ANGKATAN I
UNIVERSITAS TUNAS HARAPAN PALANGKARAYA
Acara diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan
sambutan Rektor Universitas.
Beliau berdiri di podium sambil memandang ratusan mahasiswa
yang akan segera berangkat menuju berbagai desa di Kalimantan Tengah.
"Anak-anakku," ucapnya dengan suara tenang.
"Hari ini kalian meninggalkan kampus bukan sebagai wisatawan, melainkan
sebagai duta universitas."
Beliau berhenti sejenak.
"Jaga tutur kata. Jaga sikap. Jaga nama baik
almamater. Lebih dari itu, jadilah sahabat bagi masyarakat yang akan menerima
kehadiran kalian."
Suasana menjadi hening.
Beliau melanjutkan,
"Kalian akan tinggal bersama masyarakat yang mungkin
memiliki kehidupan berbeda dengan yang biasa kalian temui. Hormatilah adat
mereka, dengarkan cerita mereka, dan belajarlah dari pengalaman mereka.
Percayalah, ketika kalian kembali nanti, bukan hanya masyarakat yang memperoleh
manfaat. Kalianlah yang akan pulang membawa pelajaran hidup yang jauh lebih
berharga."
Tepuk tangan menggema memenuhi lapangan.
Setelah pembacaan doa penutup, satu per satu mahasiswa
menyalami para dosen.
Beberapa di antara mereka tak kuasa menahan haru.
Di dekat bus yang akan membawa Kelompok 212 menuju Desa
Sukodadi, Maya berdiri bersama kedua orang tuanya.
Ibunya menggenggam erat kedua tangannya.
"Jangan lupa makan tepat waktu."
"Iya, Bu."
"Kalau sakit, segera kabari."
Maya mengangguk sambil menahan air mata.
Ayahnya menepuk pelan pundaknya.
"Pergilah dengan niat baik. Jadilah anak yang
bermanfaat. Jangan pernah merasa lebih pintar daripada masyarakat."
Maya memeluk kedua orang tuanya.
"Doakan Maya, Yah... Bu."
"Kami selalu mendoakanmu."
Tak jauh dari sana, Alex justru sedang sibuk berpamitan
kepada hampir semua orang yang dikenalnya.
"Pak Satpam, doakan saya ya."
"Siap."
"Ibu kantin, nanti kalau pulang jangan lupa masak soto
lagi."
Ibu kantin tertawa.
"Kamu saja belum berangkat sudah mikirin makan."
Candaan Alex membuat suasana yang semula haru berubah
menjadi lebih ringan.
Namun saat Maya berpamitan, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Udara di sekelilingnya tiba-tiba terasa dingin.
Sangat dingin.
Dan kemudian—ia mendengar suara.
Suara perempuan tua.
Serak. Berat. Seperti seseorang yang telah lama tidak
berbicara.
"Kau... kau akan datang..."
"Kami sudah menunggu..."
Maya menoleh ke sekeliling.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya ibunya yang masih menatapnya dengan penuh kasih.
"Maya? Kamu tidak apa-apa?" tanya ibunya.
Maya menggeleng cepat.
"Tidak... Tidak apa-apa, Bu. Hanya... perasaan
aneh."
Ibunya memeluknya erat.
"Berdoalah selalu, Nak. Allah akan melindungimu."
Maya mengangguk.
Namun dalam hatinya, ia tahu—ada sesuatu yang menantinya di
Desa Sukodadi.
Sesuatu yang telah memilihnya.
Bagian 3: Perjalanan
yang Dimulai
Tak lama kemudian, mesin bus dinyalakan.
Seluruh mahasiswa naik ke kendaraan masing-masing.
Lambaian tangan mengiringi perlahan bergeraknya bus
meninggalkan gerbang universitas.
Herman yang duduk di bangku paling depan memandang ke luar
jendela.
Gedung-gedung kampus semakin lama semakin jauh.
Dalam hati ia berdoa agar seluruh anggota kelompoknya dapat
menyelesaikan amanah itu dengan baik.
Perjalanan menuju Kabupaten Kapuas dimulai.
Selama beberapa jam pertama, bus melaju melewati
jalan-jalan utama yang mulus. Gedung-gedung kota perlahan berganti dengan
hamparan perkebunan kelapa sawit, kebun karet, dan hutan tropis yang membentang
luas.
Di beberapa tempat, bus harus melintasi jembatan panjang
yang membelah sungai-sungai besar.
Maya tak henti-hentinya memandang keluar jendela.
Ini adalah pertama kalinya ia melakukan perjalanan sejauh
itu menuju pedalaman.
"Hijau sekali..." gumamnya.
Laras yang duduk di sebelahnya tersenyum.
"Kalimantan memang seperti itu. Semakin jauh dari
kota, semakin indah."
Sementara itu di bagian belakang bus, suasana jauh lebih
ramai.
Alex memulai permainan tebak kata.
"Siapa yang kalah nanti cuci piring pertama."
"Curang!" protes Fikri.
"Belum sampai desa sudah bagi tugas."
Gelak tawa memenuhi isi bus.
Sesekali mereka bernyanyi bersama untuk mengusir rasa
bosan.
Perjalanan panjang terasa jauh lebih menyenangkan karena
kebersamaan yang mulai terjalin.
Namun semakin jauh mereka melaju, semakin aneh perasaan
Herman dan Maya.
Maya merasakan hawa dingin yang tidak biasa di sekitar
tubuhnya.
Herman merasakan sensasi seperti ada yang mengawasi mereka
dari balik pepohonan.
Dan di beberapa titik perjalanan, mereka berdua melihat hal
yang sama.
Bayangan samar di tepi hutan.
Bayangan dua orang—lelaki tua dan perempuan tua—yang
berdiri bergandengan tangan.
Bayangan itu selalu muncul di tikungan-tikungan tertentu.
Dan selalu menghilang ketika mereka mencoba melihat lebih
dekat.
Bagian 4: Hutan yang Tak
Berujung
Menjelang siang, rombongan berhenti di sebuah rumah makan
sederhana di tepi jalan.
Menu yang disajikan cukup sederhana: ikan bakar, sayur
bening, sambal terasi, ayam kampung goreng, dan lalapan segar.
"Silakan makan sepuasnya," kata pemilik rumah
makan ramah.
Alex mengangkat piring.
"Kalau nambah tiga kali boleh?"
"Boleh. Asal masih kebagian yang lain."
Semua kembali tertawa.
Sambil menikmati makan siang, Dr. Rahmat mengingatkan
kembali tujuan keberangkatan mereka.
"Mulai besok, kalian bukan lagi sekadar mahasiswa.
Kalian adalah bagian dari masyarakat Desa Sukodadi. Jangan terburu-buru
menjalankan program. Kenali dulu masyarakatnya. Dengarkan kebutuhan mereka.
Karena program terbaik adalah program yang lahir dari kebutuhan masyarakat,
bukan dari keinginan kita."
Seluruh anggota mengangguk memahami.
Perjalanan kembali dilanjutkan.
Beberapa jam kemudian, kondisi jalan mulai berubah.
Aspal hitam perlahan berganti dengan jalan berbatu.
Tak lama setelah itu, roda bus memasuki jalan tanah merah
yang membelah kawasan hutan.
Bus mulai berguncang mengikuti kontur jalan yang tidak
rata.
Debu beterbangan di belakang kendaraan.
Di kiri dan kanan terbentang hutan dengan pepohonan tinggi
menjulang.
Sesekali tampak sungai kecil yang mengalir jernih di bawah
jembatan kayu.
"Jalannya luar biasa," ujar Dimas sambil
berpegangan pada sandaran kursi.
"Inilah Kalimantan," jawab sopir sambil
tersenyum. "Kalau musim hujan, jalan ini bisa jauh lebih berat."
Perjalanan yang tadinya terasa santai kini berubah menjadi
pengalaman baru bagi seluruh mahasiswa.
Mereka benar-benar mulai memasuki wilayah pedalaman.
Namun sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Setelah hampir satu jam melewati hutan, bus masih belum
keluar dari kawasan yang sama.
"Sepertinya kita sudah lewat jalan ini," kata
Beni sambil memandang ke luar jendela.
"Memang," jawab Dimas. "Ini rute yang
sama."
"Tapi..." Beni mengerutkan dahi. "Kenapa
kita belum sampai juga?"
Herman yang duduk di kursi depan langsung menoleh. Ia
melihat ke luar jendela. Hamparan hutan yang sama. Pohon-pohon yang sama.
Bahkan bebatuan di tepi jalan tampak identik.
"Sudah berapa lama kita melewati hutan ini?"
tanyanya kepada sopir.
"Sekitar satu jam," jawab sopir. "Padahal
seharusnya hanya butuh dua puluh menit untuk melewati hutan ini."
Ruangan mendadak hening.
"Bapak yakin jalannya tidak salah?" tanya Alex.
"Saya sudah tiga puluh tahun jadi sopir di
Kalimantan," jawab sopir dengan suara tegas. "Tidak mungkin
salah."
Bus terus melaju. Namun setengah jam kemudian, mereka masih
berada di hutan yang sama. Pohon yang sama. Bebatuan yang sama. Bahkan ada
pohon dengan bentuk aneh yang sudah mereka lihat tiga kali.
"Kita berputar-putar," kata Maya pelan. Suaranya
bergetar.
Herman memandang ke luar jendela. Matahari mulai condong ke
barat. Seharusnya mereka sudah sampai di Sukodadi sejak satu jam lalu. Namun
mereka masih berada di hutan yang seolah tidak pernah berakhir.
"Berhenti," kata Herman tiba-tiba.
Sopir mengerem. Seluruh penumpang memandang Herman dengan
bingung.
"Kita turun," kata Herman tegas.
"Turun? Di tengah hutan?" tanya Alex.
"Kita akan jalan kaki."
"Kenapa?"
Karena saat Herman memandang ke hutan, ia melihat sesuatu
yang tidak dilihat orang lain.
Di antara pepohonan, ia melihat dua sosok berdiri.
Seorang lelaki tua dan seorang perempuan tua.
Mereka bergandengan tangan dan menunjuk ke arah kanan.
Herman mengikuti arah tangan mereka. Di kejauhan, ia
melihat celah di antara pepohonan. Sebuah jalan setapak yang tidak terlihat
dari jalan utama.
"Ke sana," kata Herman.
"Tapi itu bukan jalan utama," protes sopir.
"Percaya saya."
Saat mereka berjalan menyusuri jalan setapak, Maya
merasakan sesuatu yang aneh.
Udara di sekelilingnya terasa semakin dingin.
Dan kemudian—ia mendengar suara.
Suara perempuan tua.
"Kau datang..."
"Kami sudah menunggu..."
Maya berhenti.
"Ada apa?" tanya Laras di sampingnya.
Maya tidak menjawab. Ia terus menatap ke arah depan—ke arah
di mana dua bayangan samar berdiri di antara pepohonan.
Bayangan itu tersenyum padanya.
Lalu menghilang.
Setengah jam berjalan kaki, mereka akhirnya tiba di Desa
Sukodadi.
Ketika Herman menoleh ke belakang, ia melihat dua bayangan
itu berdiri di tepi hutan.
Mereka tersenyum.
Lalu perlahan menghilang.
Herman menghela napas.
Ia tahu—perjalanan mereka baru saja dimulai.
Dan dua jiwa itu—Pak Karim dan Mbah Minah—telah menunggu
mereka.
Bagian 5: Kedatangan
yang Ditunggu
Menjelang sore, sebuah gapura sederhana bertuliskan
"Selamat Datang di Desa Sukodadi" tampak berdiri di tepi jalan.
Bus (yang akhirnya mengikuti jalan setapak) melambat.
Anak-anak desa yang sedang bermain sepak bola segera
menghentikan permainan mereka.
Mereka melambaikan tangan ke arah bus sambil tersenyum
riang.
"Itu pasti mahasiswa KKN!"
Seruan itu terdengar hingga ke halaman balai desa.
Tak lama kemudian, bus berhenti di depan Kantor Desa
Sukodadi.
Di sana telah menunggu Kepala Desa Bambang bersama
perangkat desa, Ketua BPD, Ketua TP PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, Karang
Taruna, dan puluhan warga.
Pak Bambang melangkah maju menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di Desa Sukodadi. Saya Bambang, Kepala
Desa."
Herman segera turun dari bus dan menjabat tangan beliau.
"Terima kasih atas sambutannya, Pak. Kami merasa
terhormat dapat melaksanakan KKN di desa ini."
Pak Bambang tersenyum hangat.
"Mulai hari ini, anggaplah Sukodadi sebagai rumah
kalian sendiri."
Ucapan sederhana itu langsung disambut tepuk tangan warga.
Satu per satu mahasiswa memperkenalkan diri kepada
masyarakat.
Suasana berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan.
Tidak ada jarak antara tamu dan tuan rumah.
Namun saat Maya memperkenalkan diri, Mak Sari yang berdiri
di antara warga menatapnya dengan tatapan yang dalam.
Perempuan tua itu mendekat dan berbisik pelan.
"Nak... kau sudah pernah ke sini sebelumnya?"
Maya terkejut.
"Belum, Mak. Ini pertama kalinya."
Mak Sari menggeleng pelan.
"Tapi wajahmu... aku pernah melihat wajahmu. Dalam
mimpiku. Dan kau..."
Mak Sari menggenggam tangan Maya. Telapak tangannya dingin.
"Kau telah dipilih."
Maya membeku.
"Dipilih? Untuk apa, Mak?"
Mak Sari tidak menjawab. Ia hanya menatap Maya dengan
tatapan penuh makna.
"Kau akan tahu nanti. Ketika waktunya tiba."
Bagian 6: Malam Pertama
yang Mencurigakan
Malam pertama di Desa Sukodadi diisi dengan acara ramah
tamah di balai desa.
Di atas tikar yang digelar sederhana, mahasiswa dan warga
duduk melingkar sambil menikmati hidangan khas desa yang dimasak bersama oleh
ibu-ibu PKK.
Pak Bambang memperkenalkan satu per satu perangkat desa,
ketua RT, tokoh agama, tokoh adat, serta para kader Posyandu.
Sebaliknya, Herman memperkenalkan seluruh anggota Kelompok
212 kepada masyarakat.
Percakapan berlangsung hangat.
Anak-anak desa mulai akrab dengan para mahasiswa.
Beberapa ibu bahkan menawarkan bantuan apabila mahasiswa
memerlukan sesuatu selama tinggal di Sukodadi.
Malam itu, Kelompok 212 mengadakan rapat internal pertama.
Herman membagikan tugas sementara, menyusun jadwal
observasi, serta mengingatkan seluruh anggota agar menjaga sikap dan selalu
menghormati masyarakat.
Semua menyambutnya dengan penuh semangat.
Ketika rapat selesai, malam telah larut.
Satu per satu anggota kembali ke rumah masing-masing untuk
beristirahat.
Namun sebelum memejamkan mata, Herman dan Maya sama-sama
mendengar suara yang sama.
Dari arah sumur tua di belakang rumah Pak Rahman, terdengar
bisikan pelan.
Dua suara bergabung menjadi satu.
"Selamat datang..."
"Kami sudah menunggu..."
"Kami... ingin ditemani..."
Maya membeku di tempat tidurnya.
Herman duduk tegak di ranjangnya.
Mereka berdua tahu—malam itu bukanlah malam biasa.
Malam itu adalah awal dari segalanya.
Di luar rumah, angin malam berembus pelan melewati
pepohonan.
Desa Sukodadi tertidur dalam ketenangan.
Namun di bawah permukaan ketenangan itu, sesuatu telah
mulai bergerak.
Dua jiwa yang telah lama terperangkap akhirnya merasakan
kehadiran orang-orang yang bisa mendengar mereka.
Dan mereka tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu
begitu saja.
BAB IV
DESA
DI UJUNG KEHENINGAN
Bagian 1: Fajar yang
Dingin
Ayam jantan mulai berkokok ketika semburat cahaya matahari
menyelinap di sela-sela pepohonan yang mengelilingi Desa Sukodadi. Kabut tipis
masih menggantung di atas persawahan, sementara embun membasahi dedaunan dan
rerumputan di sepanjang jalan tanah desa.
Bagi sebagian besar anggota Kelompok 212, pagi itu menjadi
pengalaman pertama benar-benar merasakan kehidupan pedesaan. Tidak ada suara
kendaraan yang saling bersahutan seperti di kota. Yang terdengar hanyalah kicau
burung, desir angin yang menerpa dedaunan, serta suara warga yang mulai
beraktivitas sejak fajar.
Di rumah mahasiswa putra, Herman telah bangun lebih awal.
Ia membantu Alex menyiapkan air panas untuk membuat kopi, sementara Dimas
menyapu halaman rumah yang dipenuhi daun-daun kering.
"Udara di sini segar sekali," ujar Alex sambil
menghirup napas dalam-dalam. "Rasanya beda dengan di kota."
Herman mengangguk. "Mungkin karena belum banyak
polusi."
Tak lama kemudian, dari rumah mahasiswa putri, Maya dan teman-temannya
berjalan menuju musala desa untuk mengikuti kegiatan pengajian pagi bersama
ibu-ibu yang rutin dilaksanakan setiap hari Selasa.
Suasana desa terasa hidup sejak matahari terbit.
Namun Herman dan Maya merasakan sesuatu yang tidak
dirasakan oleh anggota lainnya.
Suhu di sekitar mereka terasa lebih dingin daripada
biasanya.
Bukan dingin biasa.
Dingin yang menusuk tulang.
Dingin yang terasa seperti ada sesuatu yang mengawasi
mereka dari balik bayangan.
Saat Maya berjalan menuju musala, ia sempat menoleh ke
belakang.
Di kejauhan, ia melihat dua bayangan samar berdiri di tepi
halaman rumah mahasiswa putra.
Bayangan lelaki tua dan perempuan tua.
Mereka bergandengan tangan dan tersenyum ke arahnya.
Maya berhenti. Jantungnya berdegup kencang.
Ia berkedip.
Bayangan itu menghilang.
"Maya? Kamu kenapa?" tanya Laras.
Maya menggeleng cepat. "Tidak... Tidak ada. Ayo
jalan."
Bagian 2: Orientasi Desa
yang Mencekam
Pukul delapan pagi, seluruh anggota Kelompok 212 berkumpul
di Kantor Desa Sukodadi. Hari itu Pemerintah Desa telah menyiapkan agenda
khusus berupa orientasi desa agar mahasiswa mengenal lingkungan tempat mereka
akan mengabdi selama empat puluh hari.
Di ruang rapat yang sederhana, Kepala Desa Bambang
menyambut mereka dengan senyum ramah.
"Selamat pagi semuanya. Mulai hari ini, saya ingin
kalian tidak hanya mengenal Sukodadi sebagai lokasi KKN. Tetapi mengenalnya
sebagai rumah."
Ucapan itu membuat seluruh mahasiswa tersenyum.
Pak Bambang kemudian membuka sebuah peta desa yang
terbentang di atas meja.
"Desa Sukodadi memiliki luas wilayah sekitar seribu
delapan ratus hektare. Sebagian besar wilayah berupa lahan pertanian,
perkebunan rakyat, hutan, dan rawa."
Beliau menunjuk beberapa bagian peta.
"Di sebelah utara berbatasan dengan hutan produksi.
Sebelah timur terdapat aliran sungai yang menjadi sumber air masyarakat.
Sebelah selatan berbatasan dengan desa tetangga. Sedangkan di sebelah barat
terdapat kawasan perkebunan."
Seluruh mahasiswa mencatat dengan saksama.
Mereka mulai memahami bahwa kondisi geografis desa akan
sangat memengaruhi pelaksanaan program kerja nantinya.
Namun saat Pak Bambang menunjuk bagian belakang rumah Pak
Rahman, Herman melihat sesuatu yang aneh.
Di peta itu, area di sekitar sumur tua ditandai dengan
simbol yang tidak ia kenali.
Bukan simbol rumah.
Bukan simbol kebun.
Tapi simbol yang lebih mirip... tanda peringatan.
"Pak," tanya Herman hati-hati. "Apa maksud
simbol ini?"
Pak Bambang tersenyum. Namun senyumnya tampak sedikit kaku.
"Oh, itu hanya tanda bahwa area itu adalah lahan basah.
Tidak ada yang istimewa."
Herman tidak percaya.
Namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.
Bagian 3: Sekolah dan
Perpustakaan yang Sunyi
Setelah penjelasan mengenai wilayah, Sekretaris Desa, Pak
Joko, memperkenalkan struktur pemerintahan desa.
"Di kantor ini kami bekerja melayani masyarakat."
Beliau memperlihatkan ruang pelayanan administrasi, ruang
arsip, ruang musyawarah, hingga ruang operator desa.
"Kami terus berusaha meningkatkan pelayanan. Tetapi
masih banyak yang perlu dibenahi."
Dimas memperhatikan tumpukan map yang memenuhi lemari
arsip.
"Semuanya masih disimpan secara manual ya, Pak?"
Pak Joko tersenyum. "Iya. Itulah sebabnya kami
berharap kalian bisa membantu digitalisasi administrasi."
Mendengar itu, Dimas langsung menoleh kepada Alex.
"Wah, sepertinya ini bagian kita."
Alex mengangguk antusias. "Siap."
Dari kantor desa, rombongan berjalan menuju Balai Pertemuan
Desa yang biasa digunakan untuk musyawarah warga.
Bangunannya sederhana, tetapi cukup luas.
Di dinding terpajang foto-foto kegiatan masyarakat, mulai
dari gotong royong, panen raya, lomba Hari Kemerdekaan, hingga kegiatan
Posyandu.
Pak Bambang menjelaskan bahwa hampir semua keputusan
penting desa selalu dibahas melalui musyawarah.
"Di sini kami percaya bahwa setiap warga berhak
menyampaikan pendapat. Karena membangun desa bukan tugas kepala desa saja.
Tetapi tugas bersama."
Herman mencatat kalimat itu di buku kecilnya.
Baginya, filosofi tersebut menjadi pelajaran berharga
tentang kepemimpinan.
Perjalanan dilanjutkan menuju sekolah dasar yang berada
tidak jauh dari balai desa.
Kepala Sekolah menyambut rombongan dengan hangat.
Beliau memperlihatkan ruang kelas, perpustakaan, dan
halaman sekolah yang setiap pagi dipenuhi anak-anak.
Maya tampak paling antusias.
Ia memperhatikan rak buku yang masih sederhana.
"Anak-anak di sini senang membaca, Bu?" tanyanya.
"Sangat senang. Hanya saja koleksi buku kami masih
terbatas."
Maya saling berpandangan dengan anggota lainnya.
Dalam hati mereka mulai muncul berbagai ide untuk menyusun
program literasi selama KKN.
Namun saat Maya memasuki perpustakaan, ia merasakan sesuatu
yang aneh.
Udara di dalam ruangan terasa lebih dingin daripada di
luar.
Dan di sudut ruangan, di antara rak-rak buku tua, ia
melihat bayangan samar.
Bayangan seorang perempuan tua dengan rambut panjang dan
putih.
Bayangan itu menatapnya.
Lalu tersenyum.
"Kau... datang..." bisik suara pelan.
Maya membeku.
"Kak Maya?" panggil Laras dari belakang.
Maya tersentak.
"Iya?"
"Kamu kenapa diam saja?"
Maya menoleh ke sudut ruangan.
Bayangan itu telah menghilang.
"Tidak... Tidak ada. Ayo lanjut."
Bagian 4: Sumur yang
Menatap
Dari sekolah, mereka melanjutkan perjalanan menuju PAUD,
TK, Posyandu, dan Puskesmas Pembantu.
Aisyah memperhatikan fasilitas kesehatan yang tersedia.
"Kader Posyandunya aktif ya, Bu?"
Ketua TP PKK mengangguk. "Alhamdulillah. Setiap bulan
kami rutin melaksanakan pelayanan kesehatan ibu dan balita. Kalau nanti
adik-adik mahasiswa bersedia membantu, kami tentu sangat senang."
"Insyaallah, Bu. Kami siap membantu."
Menjelang siang, rombongan menuju kawasan persawahan.
Hamparan padi menghijau membentang sejauh mata memandang.
Beberapa petani tampak sibuk membersihkan saluran irigasi.
Yoga yang berasal dari Fakultas Pertanian terlihat sangat
bersemangat.
Ia langsung berdiskusi dengan para petani mengenai jenis
padi, musim tanam, hingga kendala yang sering mereka hadapi.
"Yang paling sering menjadi masalah apa, Pak?"
tanyanya.
"Hama dan cuaca. Kadang hasil panen bagus. Kadang
menurun."
Yoga mencatat setiap penjelasan dengan teliti.
Ia mulai membayangkan program penyuluhan sederhana yang
dapat dilakukan selama KKN.
Sore harinya, mahasiswa diajak mengunjungi kebun karet,
kebun buah, dan kolam ikan milik kelompok tani.
Mereka mulai memahami bahwa sebagian besar masyarakat Desa
Sukodadi menggantungkan hidup dari pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Meskipun hidup sederhana, warga terlihat bekerja dengan
penuh semangat.
Tidak ada yang mengeluh.
Mereka saling membantu ketika musim tanam maupun musim
panen tiba.
Semangat gotong royong begitu terasa.
Namun saat rombongan melewati rumah Pak Rahman di akhir
perjalanan, Herman dan Maya melihat hal yang sama.
Di tepi sumur tua, dua bayangan berdiri bergandengan
tangan.
Bayangan itu tidak bergerak.
Hanya berdiri.
Dan menatap.
Menatap langsung ke arah mereka berdua.
"Kami... menunggu..." bisik angin malam.
Herman menggenggam tangannya erat.
Maya menggigit bibirnya.
Mereka berdua tahu—sumur itu bukan sekadar sumur.
Dan dua bayangan itu bukan sekadar bayangan.
Bagian 5: Mak Sari dan Nasihat
yang Menggugah
Beberapa hari berikutnya, Kelompok 212 semakin akrab dengan
masyarakat.
Mereka mulai mengenal Ketua BPD yang bijaksana dalam setiap
musyawarah.
Ketua TP PKK yang aktif membina para ibu.
Karang Taruna yang penuh semangat mengembangkan kegiatan
kepemudaan.
Ustad Ilham yang setiap malam mengajar mengaji bagi
anak-anak.
Serta Mak Sari, perempuan sepuh yang dikenal sebagai tokoh
adat desa.
Mak Sari tinggal di sebuah rumah kayu sederhana di tepi
kebun.
Rambutnya telah memutih seluruhnya.
Namun sorot matanya masih tajam dan penuh wibawa.
Setiap kali mahasiswa datang berkunjung, beliau selalu
menyambut mereka dengan senyum hangat.
"Kalian betah di sini?" tanyanya suatu sore.
"Alhamdulillah, Mak. Warganya baik semua."
Mak Sari mengangguk pelan.
"Itulah yang harus dijaga. Kerukunan. Kalau orang
saling menghormati, desa akan selalu tenteram."
Ucapan itu begitu sederhana, tetapi meninggalkan kesan
mendalam bagi seluruh mahasiswa.
Namun saat Herman dan Maya datang berkunjung secara
terpisah, Mak Sari memberikan nasihat yang berbeda.
Kepada Herman, ia berkata:
"Nak... kau telah melihat mereka, bukan?"
Herman terkejut. "Mak... maksud Mak?"
Mak Sari tersenyum tipis. "Dua jiwa di sumur itu.
Mereka telah memilihmu. Mereka telah memilih kalian berdua."
Herman terdiam.
"Mereka tidak jahat," lanjut Mak Sari.
"Mereka hanya kesepian. Mereka hanya ingin didengar. Dan kau—kau memiliki
telinga yang bisa mendengar."
Kepada Maya, Mak Sari berkata:
"Nak... kau telah mendengar suara mereka, bukan?"
Maya membeku. "Mak... bagaimana Mak tahu?"
Mak Sari menggenggam tangan Maya. Telapak tangannya dingin.
"Karena kau memiliki hati yang bisa mendengar. Mereka
telah memilihmu. Kau adalah kunci mereka."
"Kunci?" tanya Maya bingung.
"Kunci untuk membebaskan mereka. Untuk mengakhiri
kesepian mereka. Untuk membawa mereka pulang."
Maya tidak mengerti.
Namun ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Seolah ada beban yang dipikulnya.
Beban yang tidak ia minta.
Namun beban yang harus ia pikul.
Bagian 6: Malam di Balai
Desa
Melalui berbagai pertemuan dengan masyarakat, mahasiswa
mulai mengenal berbagai tradisi yang masih dilestarikan warga.
Tradisi gotong royong membersihkan lingkungan setiap akhir
pekan.
Kenduri syukuran setelah panen.
Musyawarah kampung.
Permainan tradisional anak-anak.
Hingga kesenian daerah yang biasa dipentaskan pada
acara-acara tertentu.
Semuanya dilakukan dengan semangat kebersamaan.
Tidak ada yang merasa lebih tinggi daripada yang lain.
Semua saling membantu.
Semua saling menghormati.
Suatu malam, setelah salat Isya, Herman dan Maya duduk di
beranda Balai Desa.
Langit malam bertabur bintang.
Angin berembus pelan.
Mereka berdua diam, masing-masing tenggelam dalam
pikirannya sendiri.
"Kau juga mendengarnya, kan?" tanya Herman
akhirnya.
Maya menoleh. "Mendengar apa?"
"Suara itu. Dari sumur."
Maya terdiam. Lalu mengangguk pelan.
"Sejak malam pertama. Aku mendengar mereka. Dua suara.
Lelaki tua dan perempuan tua. Mereka memanggilku."
Herman menghela napas.
"Aku juga. Dan Mak Sari mengatakan sesuatu kepadaku.
Bahwa mereka telah memilih kita."
Maya menatap Herman dengan tatapan tajam.
"Memilih kita? Untuk apa?"
Herman menggeleng.
"Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal."
"Apa?"
"Kita tidak bisa mengabaikan mereka. Ada sesuatu yang
harus kita lakukan. Sesuatu yang hanya bisa kita lakukan."
Maya terdiam.
Ia merasakan kebenaran dalam kata-kata Herman.
Dan dalam hatinya, ia merasakan hal yang sama.
Bagian 7: Bisikan Malam
yang Semakin Keras
Malam itu, ketika semua sudah tertidur, Herman dan Maya
kembali mendengar suara itu.
Kali ini lebih jelas.
Lebih dekat.
Lebih... putus asa.
"Tolong..."
"Kami kesepian..."
"Kami ingin ditemani..."
"Bantu kami..."
Herman terbangun dengan keringat dingin.
Di luar jendela, ia melihat dua bayangan samar berdiri di
halaman.
Bayangan itu menatap ke arahnya.
Dan kemudian—salah satu dari mereka mengangkat tangan dan
menunjuk ke arah sumur.
"Di sini..."
"Kami di sini..."
Herman memejamkan mata.
Ketika ia membukanya kembali, bayangan itu telah
menghilang.
Namun suara itu masih terngiang di telinganya.
Di rumah mahasiswa putri, Maya juga terbangun.
Ia duduk di tepi ranjang dengan tubuh gemetar.
Ia telah mendengar suara yang sama.
Suara yang memanggilnya.
Suara yang memintanya untuk datang.
"Kau... kau harus datang..."
"Kami menunggu..."
"Jangan tinggalkan kami..."
Maya menutup telinganya.
Namun suara itu tetap terdengar.
Bahkan ketika ia menutup mata, ia melihat bayangan itu.
Dua bayangan bergandengan tangan, berdiri di tepi sumur.
Mereka menatapnya.
Dan mereka tersenyum.
Bukan senyum bahagia.
Senyum putus asa.
Senyum dua jiwa yang telah lama menunggu pertolongan.
Bagian 8: Fajar yang
Menghantui
Keesokan paginya, Herman dan Maya tampak kelelahan.
Lingkar hitam di bawah mata mereka tidak bisa
disembunyikan.
"Kamu kurang tidur?" tanya Alex kepada Herman.
"Ya. Sulit tidur di tempat baru."
Alex tidak curiga.
Namun Laras memperhatikan Maya dengan tatapan khawatir.
"Maya, kamu tidak apa-apa?"
Maya mengangguk. "Hanya... mimpi buruk."
"Mimpi apa?"
Maya menatap Laras dengan tatapan kosong.
"Aku bermimpi tentang sumur. Tentang dua orang tua
yang memanggilku. Tentang... sesuatu yang harus aku lakukan."
Laras menggenggam tangan Maya.
"Kamu hanya kelelahan. Istirahatlah."
Maya mengangguk.
Namun dalam hatinya, ia tahu—itu bukan sekadar mimpi.
Itu adalah panggilan.
Panggilan dari dua jiwa yang telah lama terperangkap.
Panggilan yang tidak bisa ia abaikan.
Di sisi lain, Herman berjalan sendirian menuju sumur tua.
Ia berdiri di tepi sumur, memandang ke dalam air yang hitam
pekat.
"Kalian di sini, kan?" bisiknya.
Hening.
Kemudian—dua bayangan muncul di permukaan air.
"Kami di sini..."
"Kami menunggu..."
"Bantu kami..."
Herman menggenggam tepi sumur erat.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Bayangan itu saling berpandangan.
Lalu menjawab dengan suara yang membuat bulu kuduk Herman
meremang.
"Bawa dia... bawa perempuan itu..."
"Dia yang akan mendengar kami..."
"Dia yang akan membebaskan kami..."
Herman tersentak.
"Perempuan itu... Maya."
Ia menoleh ke belakang.
Di kejauhan, ia melihat Maya berdiri di halaman rumah
mahasiswa putri.
Ia menatap ke arah Herman.
Dan dalam tatapannya, Herman melihat hal yang sama.
Ketakutan.
Kebingungan.
Dan kesadaran bahwa mereka berdua telah dipilih.
Malam itu, Herman menulis di buku catatannya:
"Desa Sukodadi bukanlah desa biasa. Ada dua jiwa yang
terperangkap di sumur tua. Mereka telah memilih Maya dan aku untuk membantu
mereka. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Namun aku tahu—kita tidak bisa
mengabaikan mereka. Kita harus mendengar. Kita harus membantu. Kita harus
membebaskan mereka."
Ia menutup buku itu.
Di luar, angin malam berembus pelan.
Dan dari kejauhan, ia mendengar bisikan:
"Kami... menunggu..."
BAB V
HARI-HARI
PENGABDIAN
Bagian 1: Fajar yang
Penuh Harapan—dan Kegelisahan
Mentari pagi baru saja muncul di ufuk timur ketika suara
ayam berkokok bersahut-sahutan membangunkan Desa Sukodadi. Embun masih menempel
di ujung dedaunan, sementara kabut tipis perlahan menghilang diterpa sinar
matahari yang mulai menghangatkan bumi.
Sudah satu minggu Kelompok 212 berada di Desa Sukodadi.
Rasa canggung yang sempat menyelimuti mereka pada hari-hari
pertama kini perlahan menghilang. Warga tidak lagi memanggil mereka
"mahasiswa dari kota", melainkan menyebut nama mereka satu per satu.
Anak-anak yang semula hanya memperhatikan dari kejauhan kini berani menyapa
bahkan menghampiri ketika bertemu di jalan.
Hari itu menjadi awal dimulainya seluruh program kerja yang
telah mereka susun bersama Pemerintah Desa.
Semangat pengabdian yang selama ini hanya tertulis di atas
proposal akhirnya benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata.
Namun di balik semangat itu, Herman dan Maya masih
dibayangi oleh kejadian-kejadian aneh yang mereka alami.
Setiap malam, mereka masih mendengar bisikan dari sumur
tua.
Setiap pagi, mereka masih melihat bayangan samar di tepi halaman.
Dan setiap kali mereka bertatapan, mereka merasakan hal
yang sama—ada sesuatu yang harus mereka lakukan. Sesuatu yang hanya bisa mereka
lakukan berdua.
Pukul tujuh pagi, Herman mengumpulkan seluruh anggota di
halaman rumah mahasiswa putra.
"Mulai hari ini kita bekerja sesuai pembagian
tugas."
Ia membuka buku agenda yang selalu dibawanya.
"Tim Pendidikan menuju PAUD, TK, dan SD. Tim
Administrasi ke Kantor Desa. Tim Kesehatan mendampingi Posyandu. Tim Teknologi
mulai mendata kebutuhan digitalisasi desa."
Semua mengangguk.
"Tetap saling membantu. Kalau ada kesulitan, segera
komunikasikan."
Alex mengangkat tangan.
"Kalau ada yang lapar sebelum jam makan bagaimana,
Ketua?"
Seluruh anggota tertawa.
Herman menggeleng sambil tersenyum.
"Itu urusan pribadi. Tapi jangan sampai mengganggu
pekerjaan."
Candaan kecil itu menjadi penyemangat sebelum mereka
berangkat menuju lokasi masing-masing.
Bagian 2: Maya dan PAUD
Harapan Bunda
Maya, Laras, dan Nadia mendapat tugas di PAUD Harapan
Bunda.
Bangunan sekolah itu sederhana, berdinding kayu dengan
halaman yang dipenuhi berbagai tanaman bunga hasil karya para guru dan orang
tua murid.
Ketika mereka tiba, anak-anak sedang berbaris menyanyikan
lagu Indonesia Raya.
Melihat kehadiran mahasiswa, wajah-wajah mungil itu tampak
begitu antusias.
"Bu Guru... ada kakak-kakak baru!"
Seorang anak kecil berlari menghampiri Maya.
"Kak, namanya siapa?"
"Maya."
"Kalau adik?"
"Aku Rafi."
Rafi langsung menggenggam tangan Maya seolah mereka telah
lama saling mengenal.
Pagi itu Maya membantu guru mengenalkan huruf dan angka
melalui permainan sederhana.
Alih-alih hanya menulis di papan tulis, ia mengajak
anak-anak bernyanyi, bermain kartu huruf, dan bercerita menggunakan
gambar-gambar berwarna.
Tawa riang memenuhi ruang kelas.
Anak-anak belajar tanpa merasa sedang belajar.
Guru PAUD yang melihat kegiatan itu tampak tersenyum
bangga.
"Metode seperti ini membuat mereka lebih
semangat."
Maya hanya tersenyum.
"Anak-anak memang lebih mudah belajar sambil
bermain."
Namun di tengah kegiatan mengajar, Maya merasakan sesuatu
yang aneh.
Saat ia sedang membacakan dongeng tentang seekor kura-kura
dan kelinci, tiba-tiba suaranya berubah.
Bukan suaranya sendiri.
Suara itu lebih tua. Lebih serak. Seperti suara seorang
nenek yang sedang bercerita kepada cucunya.
"Dahulu kala... di sebuah desa yang jauh... hiduplah
sepasang suami-istri yang saling mencintai..."
Maya berhenti. Ia menoleh ke sekeliling.
Anak-anak masih menatapnya dengan penuh perhatian.
"Kak Maya?" panggil Rafi. "Kenapa
berhenti?"
Maya menggeleng cepat. "Tidak... Tidak ada. Maaf,
Kakak tadi melamun."
Ia melanjutkan cerita dengan suaranya sendiri.
Namun di dalam hatinya, ia bertanya-tanya.
"Suara siapa itu?"
Bagian 3: Herman di SD
Negeri Sukodadi
Di tempat lain, Herman bersama Beni mengajar di Sekolah
Dasar Negeri Sukodadi.
Mereka membantu guru kelas enam mempersiapkan pembelajaran
Matematika dan Pendidikan Pancasila.
Saat jam istirahat, beberapa siswa mengerumuni Herman.
"Kak, kuliah itu susah tidak?"
Herman tertawa kecil.
"Kalau rajin belajar, tidak. Kalau malas? Ya...
gurunya yang pusing."
Anak-anak tertawa.
Seorang siswa lain bertanya,
"Kak, aku juga ingin kuliah."
Herman menepuk pelan pundaknya.
"Belajar yang rajin. Mimpi besar selalu dimulai dari
langkah kecil."
Kalimat itu membuat mata anak-anak berbinar penuh harapan.
Namun saat Herman membantu seorang siswa mengerjakan soal
Matematika, ia melihat sesuatu yang aneh di luar jendela.
Di halaman sekolah, di bawah pohon rindang, berdiri dua
sosok.
Lelaki tua dan perempuan tua.
Mereka bergandengan tangan dan menatap ke arah ruang kelas.
Menatap langsung ke arah Herman.
"Kami... menunggu..." bisik angin.
Herman berkedip.
Sosok itu menghilang.
"Kak? Kak Herman?"
Herman tersentak. Ia menoleh ke siswa di hadapannya.
"Eh... Iya?"
"Kak kenapa melamun?"
Herman tersenyum tipis.
"Tidak ada. Ayo kita lanjutkan."
Bagian 4: Bimbingan
Belajar yang Penuh Kejutan
Sore harinya, halaman balai desa berubah menjadi tempat
belajar.
Kelompok 212 membuka Bimbingan Belajar Gratis bagi seluruh
anak Desa Sukodadi.
Awalnya hanya belasan anak yang datang.
Namun setiap hari jumlahnya terus bertambah.
Ada yang belajar membaca.
Ada yang belajar berhitung.
Ada pula yang meminta diajari menggunakan komputer.
Alex menjadi favorit anak-anak.
Ia selalu mengawali pelajaran dengan permainan.
"Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini dapat
hadiah."
"Apa hadiahnya, Kak?"
"Permen."
Sorak sorai langsung memenuhi ruangan.
Belajar pun terasa menyenangkan.
Namun saat Maya membantu anak-anak membaca di pojok baca,
terjadi sesuatu yang tidak pernah ia duga.
Seorang anak perempuan bernama Sari tiba-tiba menatapnya
dengan tatapan kosong.
Suara Sari berubah—menjadi suara yang lebih tua, lebih
serak.
"Kau... kau harus datang..."
"Kami menunggu..."
"Kami ingin ditemani..."
Maya membeku.
"Sari? Kamu tidak apa-apa?"
Sari berkedip. Tatapannya kembali normal.
"Eh? Iya, Kak. Aku baik-baik saja."
"Kamu tadi bicara apa?"
Sari mengerutkan dahi bingung.
"Aku tidak bicara apa-apa, Kak. Aku hanya membaca
buku."
Maya menatap Sari dengan tatapan tajam.
Namun Sari kembali membaca bukunya seolah tidak terjadi
apa-apa.
Malam harinya, Maya menceritakan kejadian itu kepada Herman
di beranda rumah mahasiswa putra.
"Aku yakin itu bukan Sari," katanya dengan suara
bergetar. "Suaranya berubah. Menjadi suara perempuan tua. Suara yang sama
yang aku dengar dari sumur."
Herman mengangguk pelan.
"Mereka semakin kuat. Mereka semakin bisa
berkomunikasi. Melalui kita—atau melalui orang lain."
"Tapi kenapa? Kenapa mereka memilih kita?"
Herman menghela napas.
"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin satu hal."
"Apa?"
"Kita harus mencari tahu. Sebelum mereka... melakukan
sesuatu yang lebih jauh."
Bagian 5: Posyandu dan
PKK
Sementara itu, Aisyah dan Rina aktif mendampingi kegiatan
Posyandu.
Mereka membantu kader desa menimbang balita, mengukur
tinggi badan, mencatat perkembangan gizi, serta mengatur antrean pelayanan.
Aisyah juga memberikan penyuluhan sederhana mengenai
pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pola makan sehat.
Seorang ibu muda menghampirinya seusai kegiatan.
"Terima kasih ya, Nak. Penjelasannya mudah
dipahami."
Aisyah tersenyum.
"Kami juga banyak belajar dari ibu-ibu di sini."
Hubungan yang hangat membuat kegiatan Posyandu semakin
hidup.
Setiap hari Kamis, mahasiswa turut mengikuti kegiatan PKK.
Mereka membantu ibu-ibu membuat administrasi kelompok,
menyusun data anggota, serta mendokumentasikan berbagai kegiatan.
Nadia mengajarkan cara membuat laporan menggunakan
komputer.
Sementara Rina membantu menyusun arsip agar lebih rapi.
Ketua TP PKK tampak sangat terbantu.
"Biasanya kami menulis semuanya di buku. Sekarang
datanya lebih mudah dicari."
"Itulah tujuan kami, Bu. Supaya pekerjaan ibu-ibu
menjadi lebih ringan."
Namun saat Rina sedang menyusun arsip di ruang PKK, ia
melihat sesuatu yang aneh di sudut ruangan.
Sebuah foto tua tergantung di dinding.
Foto itu menunjukkan sepasang suami-istri—lelaki tua dengan
kumis tebal dan perempuan tua dengan rambut putih tersanggul rapi.
Mereka berdiri di depan sebuah rumah kayu.
Dan di belakang mereka—terlihat sebuah sumur tua.
Rina mendekati foto itu.
Di bagian bawah foto, tertulis dengan tinta yang sudah
pudar:
"Pak Karim & Mbah Minah — 1978"
Rina memandang foto itu dengan perasaan aneh.
"Pak Karim... Mbah Minah..."
Ia tidak tahu mengapa, tetapi nama itu terasa akrab di
telinganya.
Bagian 6: Digitalisasi
yang Diganggu
Di Kantor Desa, Dimas dan Alex mulai menjalankan program
digitalisasi administrasi.
Mereka mendata seluruh arsip surat masuk dan surat keluar.
Dokumen-dokumen lama dipilah berdasarkan tahun.
Sebagian mulai dipindai agar tersimpan dalam bentuk
digital.
Pak Joko, Sekretaris Desa, memperhatikan pekerjaan mereka
dengan kagum.
"Kalau nanti komputer rusak bagaimana?"
Dimas menjelaskan dengan sabar.
"Semua data juga kami simpan di penyimpanan cadangan.
Jadi lebih aman."
Alex menambahkan sambil tersenyum.
"Kalau map dimakan rayap, datanya tetap ada."
Pak Joko tertawa.
"Benar juga."
Sejak hari itu perangkat desa mulai belajar menggunakan
komputer untuk membuat surat, menyimpan arsip, dan mencari dokumen secara lebih
cepat.
Perubahan kecil itu membuat pelayanan kepada masyarakat
menjadi lebih efisien.
Namun saat Alex memindai sebuah dokumen tua, ia melihat
sesuatu yang aneh.
Dokumen itu adalah catatan desa dari tahun 1978.
Di dalamnya tertulis sebuah laporan tentang "kehilangan
warga".
Nama yang tercatat adalah:
"Pak Karim — hilang di sumur"
"Mbah Minah — hilang di sumur"
Alex memandang dokumen itu dengan perasaan tidak enak.
"Dimas," panggilnya. "Lihat ini."
Dimas menghampiri.
"Mereka... hilang di sumur?" tanyanya.
"Sepertinya begitu."
Mereka berdua saling berpandangan.
Sumur yang sama. Sumur di belakang rumah mahasiswa putra.
"Kita harus memberitahu Herman," kata Dimas.
Bagian 7: Penemuan yang
Mengguncang
Malam harinya, Herman mengumpulkan seluruh anggota di ruang
tengah rumah mahasiswa putra.
"Ada sesuatu yang perlu kalian ketahui."
Ia menceritakan semua yang telah terjadi.
Mimpi-mimpi aneh.
Bisikan dari sumur.
Bayangan dua sosok.
Foto Pak Karim dan Mbah Minah.
Dan dokumen tentang kehilangan mereka di sumur.
"Jadi... sumur itu bukan sumur biasa?" tanya
Laras dengan suara bergetar.
Herman menggeleng.
"Bukan. Ada dua jiwa di sana. Pak Karim dan Mbah
Minah. Mereka telah terperangkap di sumur itu selama puluhan tahun."
"Dan mereka... memanggil kita?" tanya Nadia.
"Memanggil Maya dan aku," jawab Herman.
"Mereka ingin kita membantu mereka."
"Bagaimana?" tanya Alex.
Herman menghela napas.
"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin—kita tidak bisa
mengabaikan mereka."
Ruangan menjadi hening.
Maya yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Aku setuju dengan Herman. Kita harus membantu mereka.
Aku merasakannya—setiap malam, mereka memanggilku. Aku tidak bisa tidur
nyenyak. Aku terus mendengar suara mereka."
"Tapi bagaimana?" tanya Dimas. "Kita bukan
dukun. Kita bukan paranormal. Kita hanya mahasiswa KKN."
Herman memandang Dimas dengan tatapan tajam.
"Kita adalah manusia. Dan manusia memiliki kewajiban
untuk membantu sesama. Bahkan jika sesama itu... telah tiada."
Bagian 8: Keputusan yang
Diambil
Setelah diskusi panjang, akhirnya disepakati beberapa
langkah.
1.
Herman dan Maya akan
mencoba berkomunikasi dengan Pak Karim dan Mbah Minah untuk mencari tahu apa
yang mereka inginkan.
2.
Mereka akan meminta
bantuan Mak Sari dan Ustad Ilham untuk memahami adat dan ajaran agama terkait
hal ini.
3.
Seluruh anggota akan
tetap menjalankan program KKN seperti biasa, tetapi akan saling menjaga dan
mendukung.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka terus
terperangkap," kata Herman. "Kita harus membantu mereka menemukan
kedamaian."
"Tapi bagaimana?" tanya Maya.
Herman memandang ke arah sumur tua di belakang rumah.
"Kita akan mencari tahu. Kita akan mendengar mereka.
Dan kita akan melakukan apa yang harus kita lakukan."
Malam itu, ketika semua sudah tertidur, Herman dan Maya
berjalan menuju sumur tua.
Mereka berdiri di tepi sumur, bergandengan tangan.
"Pak Karim... Mbah Minah..." bisik Herman.
"Kami di sini. Kami mendengar kalian. Kami ingin membantu."
Hening.
Kemudian—dari dalam sumur, muncul dua cahaya kecil.
Cahaya itu naik perlahan ke permukaan.
Dan kemudian—dua suara terdengar bersamaan.
"Terima kasih..."
"Kami sudah menunggu... sangat lama..."
"Kami ingin... ditemani..."
"Kami ingin... dibebaskan..."
"Bagaimana kami bisa membebaskan kalian?" tanya
Maya.
Hening beberapa saat.
Kemudian suara itu menjawab.
"Temukan... kalung Mbah Minah..."
"Kalung itu... tercebur ke sumur..."
"Jika kalian menemukannya... kami akan pergi..."
Herman dan Maya saling berpandangan.
"Kami akan menemukannya," kata Herman tegas.
Cahaya itu berkelap-kelip seolah tersenyum.
Lalu perlahan menghilang kembali ke dalam sumur.
Keesokan paginya, Herman mengumpulkan seluruh anggota.
"Kita harus mencari kalung di sumur tua,"
katanya. "Itu satu-satunya cara untuk membebaskan Pak Karim dan Mbah
Minah."
"Tapi sumurnya dalam," kata Dimas. "Dan
airnya hitam pekat. Kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya."
"Aku akan turun," kata Herman tegas.
"Aku juga," tambah Maya.
"Kami akan membantumu," kata Alex. "Kami
akan menarik tali. Kami akan menjaga."
Herman memandang teman-temannya dengan tatapan penuh haru.
"Terima kasih. Aku tidak bisa melakukannya
sendiri."
Malam itu, sebelum tidur, Herman menulis di buku
catatannya:
"Kami akhirnya tahu apa yang harus kami lakukan. Kami
harus mencari kalung Mbah Minah di dasar sumur. Aku tidak tahu apa yang akan
terjadi. Tapi aku tahu—kita tidak bisa mundur. Kita harus membantu mereka. Kita
harus membebaskan mereka. Demi kedamaian mereka. Dan demi kedamaian kita."
Di luar, angin malam berembus pelan.
Dan dari kejauhan, ia mendengar bisikan:
"Kami... menunggu..."
BAB VI
SUKA
DAN DUKA
Bagian 1: Rutinitas yang
Mulai Terbiasa
Waktu berlalu begitu cepat.
Tanpa terasa, Kelompok 212 telah menjalani lebih dari dua
minggu masa Kuliah Kerja Nyata di Desa Sukodadi. Berbagai program yang mereka
rancang mulai berjalan dengan baik. Anak-anak semakin antusias mengikuti
bimbingan belajar setiap sore, pelayanan administrasi desa menjadi lebih
tertata, kegiatan Posyandu berlangsung lebih tertib, dan pojok baca yang mereka
dirikan hampir tidak pernah sepi pengunjung.
Kesibukan itu membuat hari-hari mereka terasa padat.
Pagi dimulai sebelum matahari terbit.
Siang dihabiskan berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan
lain.
Sore dipenuhi tawa anak-anak yang mengikuti bimbingan
belajar.
Malam menjadi waktu untuk mengevaluasi pekerjaan sekaligus
menyusun rencana esok hari.
Di balik rutinitas yang melelahkan, perlahan tumbuh rasa
kekeluargaan yang begitu erat di antara seluruh anggota Kelompok 212.
Namun di balik semua kebersamaan itu, Herman dan Maya masih
dibayangi oleh misi yang harus mereka selesaikan.
Setiap malam, mereka masih mendengar bisikan dari sumur
tua.
Setiap pagi, mereka masih melihat bayangan samar di tepi
halaman.
Dan setiap kali mereka bertemu di koridor atau di halaman,
mereka saling bertukar pandang—pandang yang berkata, "Kita harus
segera melakukannya."
Namun mereka juga tahu, mereka tidak bisa terburu-buru.
Mereka harus menunggu waktu yang tepat.
Waktu ketika semua orang siap.
Waktu ketika mereka benar-benar siap.
Bagian 2: Pagi yang
Sibuk—dan Aneh
Suatu pagi, sebelum berangkat menjalankan kegiatan, Maya
sibuk menyiapkan bahan ajar untuk anak-anak SD.
Di ruang tamu rumah mahasiswa putri, buku-buku pelajaran
berserakan di atas meja.
Laras sedang membuat media pembelajaran dari kertas karton
berwarna, sementara Nadia menuliskan jadwal kegiatan di papan tulis kecil.
"Besok kita mengajar kelas berapa?" tanya Laras.
"Kelas empat dan lima," jawab Maya sambil membuka
buku catatan. "Kita buat permainan supaya mereka tidak bosan."
Di saat yang sama, di rumah mahasiswa putra, suasananya
jauh lebih ramai.
Alex masih sibuk mencari kaus kaki.
"Siapa yang lihat kaus kaki sebelah kiriku?"
Dimas yang sedang menyapu halaman mengangkat kepala.
"Memangnya kaus kaki kananmu mau pergi sendiri?"
"Tidak. Yang kiri hilang."
Fikri tertawa terbahak-bahak.
"Mungkin ikut KKN kelompok lain."
Seluruh penghuni rumah putra tertawa.
Tak lama kemudian, Herman menemukan kaus kaki itu terselip
di bawah tas Alex.
"Nah, ini."
Alex menggaruk kepala sambil tersenyum malu.
"Untung ketuanya teliti. Kalau tidak, aku berangkat
pakai sandal saja."
Candaan seperti itu hampir setiap hari menghiasi kehidupan
mereka.
Namun saat Maya sedang menyusun bahan ajar, ia melihat
sesuatu yang aneh di sudut ruangan.
Sebuah buku tua yang tidak pernah ia lihat sebelumnya
tergeletak di atas meja.
Buku itu bersampul coklat tua dengan tulisan tangan di
sampulnya:
"Catatan Harian Mbah Minah — 1978"
Maya memandang buku itu dengan perasaan aneh.
Ia membuka halaman pertama.
Tulisan tangan yang rapi—tulisan seorang perempuan
tua—mengisi setiap halaman.
"Hari ini, Pak Karim jatuh sakit. Demamnya tinggi. Aku
sudah memberi ramuan, tapi tidak kunjung sembuh. Aku khawatir..."
Maya terus membaca.
Halaman demi halaman.
Cerita tentang kehidupan sepasang suami-istri yang
sederhana.
Tentang cinta mereka yang dalam.
Tentang kebahagiaan mereka di tengah kesederhanaan.
Dan tentang kesedihan yang perlahan datang.
"Pak Karim semakin lemah. Aku tidak tahu harus berbuat
apa. Aku hanya bisa berdoa..."
"Pak Karim pergi hari ini. Aku kehilangan separuh
jiwaku. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan..."
"Aku duduk di tepi sumur setiap hari. Di tempat Pak
Karim biasa duduk. Aku berbicara padanya meskipun dia tidak ada. Aku
merindukannya..."
"Hari ini, aku memutuskan untuk pergi. Untuk menemui
Pak Karim. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku akan pergi ke sumur... dan aku
akan menemukannya..."
Maya menutup buku itu dengan tangan gemetar.
Air mata mengalir di pipinya.
"Kak Maya? Kamu kenapa?" tanya Laras.
Maya menggeleng cepat.
"Tidak... Tidak ada. Aku hanya... sedikit
terharu."
Ia menyimpan buku itu di dalam tasnya.
Ia harus menunjukkannya kepada Herman.
Bagian 3: Malam yang
Penuh Cerita
Malam hari menjadi waktu yang paling dinanti seluruh
anggota.
Setelah seluruh kegiatan selesai, mereka biasanya berkumpul
di teras rumah mahasiswa putra.
Teh hangat, kopi hitam, pisang goreng, dan singkong rebus
yang sering dikirim warga menjadi teman berbincang.
Angin malam bertiup pelan.
Suara jangkrik bersahutan dari balik semak-semak.
Di bawah cahaya lampu teras yang redup, mereka saling
bercerita tentang pengalaman masing-masing.
"Aku hari ini diajak memanen cabai," kata Yoga.
"Gimana rasanya?"
"Capek. Tapi seru."
Rina ikut bercerita.
"Tadi ibu-ibu PKK ngajarin aku bikin kerupuk
ikan."
Alex langsung menyahut,
"Hasilnya enak?"
"Belum tahu. Soalnya yang bikin lebih banyak
ketawanya."
Semua kembali tertawa.
Suasana sederhana itu perlahan menjadi kenangan yang kelak
akan selalu mereka rindukan.
Namun saat Maya bercerita tentang buku harian yang ia
temukan, suasana berubah menjadi serius.
"Aku menemukan buku ini di ruang tamu tadi pagi,"
katanya sambil mengeluarkan buku tua dari tasnya. "Ini buku harian Mbah
Minah."
Semua anggota mengerumuni buku itu.
Herman mengambilnya dan membuka beberapa halaman.
"Pak Karim dan Mbah Minah," katanya pelan.
"Ini tentang mereka."
"Boleh kami baca?" tanya Laras.
Herman mengangguk. "Nanti. Tapi untuk sekarang, kita
harus menyimpan buku ini dengan aman. Ini mungkin kunci untuk memahami apa yang
terjadi."
"Dan untuk menemukan kalungnya," tambah Maya.
Semua mengangguk.
Bagian 4: Konflik Kecil
yang Menghangatkan
Namun kebersamaan tidak selalu berjalan mulus.
Semakin padat kegiatan, semakin besar pula tantangan yang
mereka hadapi.
Suatu sore, Herman mengumpulkan seluruh anggota untuk
mengevaluasi program kerja.
"Ada beberapa kegiatan yang belum selesai sesuai
jadwal."
Rina membuka buku laporan.
"Data administrasi desa masih banyak yang belum
dipindai."
Alex mengangkat tangan.
"Komputernya sempat bermasalah."
Dimas mengangguk.
"Selain itu listrik kemarin padam hampir tiga jam."
Laras menambahkan,
"Tim pendidikan juga kekurangan waktu karena jumlah
anak yang ikut bimbingan belajar semakin banyak."
Herman mendengarkan semua masukan dengan tenang.
"Kita cari solusinya bersama."
Namun pembahasan mulai memanas ketika jadwal piket rumah
dibicarakan.
Fikri mengeluh.
"Kenapa yang cuci piring selalu orang yang sama?"
Alex langsung menjawab,
"Karena yang lain pura-pura sibuk."
"Aku tidak pura-pura. Aku memang sibuk."
"Kalau sibuk, bukan berarti tidak bisa bantu."
Nada bicara keduanya mulai meninggi.
Ruangan mendadak hening.
Tiba-tiba, Maya berdiri.
"Stop!" katanya dengan suara tegas. "Kita
semua lelah. Tapi jangan biarkan kelelahan merusak persahabatan kita."
Semua menoleh ke arah Maya dengan terkejut.
Maya yang biasanya pendiam dan lembut kini berbicara dengan
penuh keyakinan.
"Kita datang ke sini untuk mengabdi. Untuk belajar.
Untuk saling mendukung. Bukan untuk saling menyalahkan."
Ia memandang Alex dan Fikri bergantian.
"Kita adalah keluarga. Dan keluarga saling membantu.
Bukan saling menyalahkan."
Ruangan menjadi hening.
Kemudian Alex tertawa kecil.
"Maya benar. Maaf, Fikri. Aku terlalu emosional."
Fikri mengangguk.
"Maaf juga. Aku juga terlalu emosional."
Mereka berjabat tangan.
Herman memandang Maya dengan tatapan kagum.
"Terima kasih, Maya. Kau benar. Kita harus saling
mendukung."
Bagian 5: Rindu Rumah
dan Kebersamaan
Hari-hari berikutnya kembali berjalan seperti biasa.
Namun rasa lelah mulai terlihat di wajah beberapa anggota.
Maya beberapa kali termenung setelah selesai mengajar.
Suatu malam ia duduk sendirian di beranda rumah putri.
Laras menghampirinya.
"Kenapa diam saja?"
Maya tersenyum tipis.
"Aku kangen rumah. Kangen Ibu."
Laras duduk di sampingnya.
"Aku juga. Kalau malam begini rasanya ingin pulang
sebentar."
Mereka sama-sama terdiam.
Angin malam berembus pelan.
Di kejauhan terdengar suara anak-anak mengaji dari musala.
Suasana desa yang tenang justru membuat kerinduan kepada
keluarga semakin terasa.
Melihat beberapa anggota mulai dilanda rasa rindu rumah,
Herman mengusulkan kegiatan sederhana.
"Malam Minggu nanti kita makan bersama. Masak
sendiri."
Alex langsung bertepuk tangan.
"Akhirnya ada acara yang paling aku tunggu."
"Masak?"
"Bukan. Makan."
Gelak tawa kembali memenuhi ruangan.
Hari Sabtu sore mereka bersama-sama pergi ke pasar kecil
desa membeli sayur, ayam, ikan, dan berbagai kebutuhan dapur.
Sesampainya di rumah, semua mendapat tugas masing-masing.
Yoga membersihkan ikan.
Rina memotong sayuran.
Nadia membuat sambal.
Alex mendapat tugas mengupas bawang.
Baru lima menit bekerja, matanya sudah berair.
"Bawangnya jahat."
"Bukan bawangnya. Kamu yang tidak biasa ke
dapur."
Semua tertawa melihat tingkahnya.
Makan malam sederhana itu berubah menjadi pesta kecil penuh
keakraban.
Mereka saling menyuapi, bercanda, dan bernyanyi hingga
larut malam.
Bagian 6: Alex dan
Maya—Benih yang Tumbuh
Di sela-sela kesibukan itu, Alex tetap menjadi sumber
keceriaan kelompok.
Ia hampir selalu berhasil membuat siapa pun tertawa.
Suatu pagi saat Maya sedang menyusun buku di pojok baca,
Alex datang membawa sebuah bunga liar yang dipetik dari tepi jalan.
"Nih."
"Buat apa?"
"Hadiah."
"Kenapa?"
"Soalnya pustakawan paling rajin."
Maya menerima bunga itu sambil tertawa.
"Terima kasih. Tapi jangan dipetik lagi. Kasihan
bunganya."
Alex pura-pura menghela napas.
"Padahal aku sudah latihan cari bunga paling
cantik."
Maya menggeleng sambil tersenyum.
"Yang cantik tetap bunganya. Bukan yang ngasih."
Percakapan sederhana itu disaksikan Laras yang sejak tadi
menyusun buku.
Ia hanya tersenyum kecil.
"Sepertinya ada yang mulai rajin ke
perpustakaan."
Alex langsung membela diri.
"Aku memang cinta literasi."
"Iya. Literasi atau pustakawannya?"
Seluruh ruangan dipenuhi tawa.
Tanpa disadari, perhatian Alex kepada Maya semakin sering
terlihat.
Ia selalu menawarkan bantuan ketika Maya membawa buku.
Ia sering menemani saat mengajar anak-anak.
Bahkan beberapa kali membantu menyiapkan media pembelajaran
meskipun itu bukan tugasnya.
Maya sebenarnya menyadari perubahan itu.
Namun ia memilih menganggap semuanya sebagai bentuk
persahabatan.
Di sisi lain, Alex sendiri tidak pernah mengungkapkan apa
pun.
Ia tetap menjadi dirinya yang humoris.
Baginya, melihat Maya tersenyum sudah cukup membuat harinya
terasa lebih menyenangkan.
Herman memperhatikan semua itu.
Suatu malam ia berbincang dengan Alex di teras rumah.
"Kamu suka sama Maya?"
Alex yang sedang minum kopi hampir tersedak.
"Siapa bilang?"
"Kelihatan."
Alex tertawa kecil.
"Entahlah. Mungkin. Mungkin juga tidak."
Herman tersenyum.
"Aku tidak melarang. Tapi ingat. Kita datang ke sini
untuk mengabdi. Jangan sampai urusan pribadi mengganggu tanggung jawab. Dan
satu lagi—Maya sedang menghadapi sesuatu yang berat. Dia butuh dukungan, bukan
kebingungan."
Alex mengangguk pelan.
"Aku paham. Tenang saja, Ketua. KKN tetap nomor satu.
Dan Maya... aku akan menjaganya."
Herman menepuk pundaknya.
"Itu yang ingin kudengar."
Bagian 7: Kedekatan
dengan Masyarakat
Semakin lama, hubungan mahasiswa dengan masyarakat pun
semakin erat.
Pak Bambang sering mengundang mereka minum kopi di rumahnya.
Ibu-ibu PKK tidak pernah bosan mengirimkan makanan.
Anak-anak selalu menunggu kedatangan kakak-kakak KKN setiap
sore.
Bahkan para petani mulai menganggap mereka sebagai keluarga
sendiri.
Suatu hari ketika Herman membantu memperbaiki saluran air
sawah, seorang petani tua berkata,
"Kalian datang bukan hanya membawa ilmu. Kalian juga
membawa semangat."
Herman tersenyum rendah hati.
"Kami justru banyak belajar dari Bapak dan warga di
sini."
Ucapan itu lahir dari hati.
Karena selama berada di Sukodadi, mereka benar-benar
belajar tentang arti gotong royong, ketulusan, dan kehidupan yang sederhana.
Namun saat Herman berjalan pulang melewati sumur tua, ia
kembali mendengar bisikan.
"Kami... menunggu..."
"Kami... ingin ditemani..."
Herman berhenti.
"Sebentar lagi," bisiknya. "Kami akan segera
mencari kalung itu."
"Kami... percaya padamu..."
Herman mengangguk.
Ia berjalan menuju rumah dengan langkah mantap.
Bagian 8: Malam Evaluasi
yang Penuh Harapan
Malam itu, setelah seluruh kegiatan selesai, Kelompok 212
kembali berkumpul untuk mengevaluasi pekerjaan.
Semua program berjalan sesuai rencana.
Festival Literasi mulai dipersiapkan.
Digitalisasi administrasi desa menunjukkan perkembangan
yang baik.
Pojok baca semakin ramai.
Bimbingan belajar terus bertambah pesertanya.
Herman menutup rapat dengan sebuah kalimat.
"Apa pun yang kita hadapi nanti, jangan pernah lupa
bahwa kita datang ke desa ini sebagai satu keluarga. Dan sebagai satu keluarga,
kita akan menghadapi semuanya bersama."
Semua menganggukkan kepala.
Setelah rapat selesai, Herman dan Maya berjalan ke halaman.
"Malam ini," kata Herman pelan. "Aku akan
turun ke sumur."
Maya menoleh dengan tatapan khawatir.
"Sendirian?"
"Aku akan membawa Alex dan Dimas. Mereka akan menarik
tali."
"Aku ikut."
Herman menatap Maya dengan tatapan tajam.
"Kau yakin?"
Maya mengangguk tegas.
"Aku harus ikut. Mereka memanggilku. Aku harus
mendengar mereka."
Herman menghela napas.
"Baik. Tapi kau harus berhati-hati."
"Aku akan."
Malam itu, ketika semua sudah tertidur, Herman, Maya, Alex,
dan Dimas berkumpul di tepi sumur tua.
Mereka membawa senter, tali, dan ember.
Herman mengikatkan tali di pinggangnya.
"Aku turun," katanya.
"Kami akan menjagamu," kata Dimas.
Herman perlahan menuruni sumur.
Airnya dingin—sangat dingin.
Ia merasakan sesuatu di bawah permukaan.
Ia menyentuh dasar sumur.
Dan kemudian—tangannya menyentuh sesuatu.
Sebuah kalung.
Kalung perak tua dengan liontin berbentuk hati.
Kalung Mbah Minah.
BAB VII
MALAM
YANG MENGUBAH SEGALANYA
Bagian 1: Penemuan di
Dasar Sumur
Air sumur itu dingin—sangat dingin. Dingin yang menusuk
tulang, dingin yang terasa seperti menyentuh es yang telah membeku selama
ribuan tahun. Herman menggigil hebat saat kakinya menyentuh dasar sumur. Lumpur
lembut menyelimuti pergelangan kakinya, dan ia merasakan sesuatu yang aneh di
bawah permukaan.
Bukan hanya air.
Bukan hanya lumpur.
Ada sesuatu yang bergerak di sana.
Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa.
Herman berusaha mengendalikan rasa takutnya. Ia meraba-raba
di dasar sumur dengan tangannya yang gemetar. Lumpur dingin menyelinap di
antara jari-jarinya. Dan kemudian—ia menyentuh sesuatu.
Sebuah kalung.
Kalung perak tua dengan liontin berbentuk hati.
Ia menggenggamnya erat dan menariknya ke permukaan.
"Aku menemukannya!" teriaknya dari dalam sumur.
Dari atas, Alex dan Dimas segera menarik tali dengan cepat.
Herman terangkat perlahan, tubuhnya berguncang karena
dingin dan kelelahan.
Saat ia mencapai permukaan, Maya segera menghampirinya.
"Kau berhasil!" serunya dengan mata berkaca-kaca.
Herman menunjukkan kalung itu di tangannya.
Kalung perak tua dengan liontin berbentuk hati. Di bagian
dalam liontin, terukir dua nama dengan tulisan tangan yang rapi:
"Karim & Minah — 1978"
Maya mengambil kalung itu dengan hati-hati.
"Kita menemukannya," bisiknya. "Kita
akhirnya menemukannya."
Namun saat kalung itu menyentuh tangannya, terjadi sesuatu
yang tidak pernah mereka duga.
Udara di sekeliling mereka tiba-tiba berubah.
Suhu yang tadinya dingin menjadi semakin dingin—jauh lebih
dingin dari sebelumnya.
Napas mereka berubah menjadi uap putih di udara.
Dan kemudian—suara itu datang.
Bukan satu suara.
Dua suara.
Bergabung menjadi satu.
"Terima kasih..."
Herman, Maya, Alex, dan Dimas saling berpandangan dengan
mata terbelalak.
"Kami... sudah menunggu... sangat lama..."
"Kami ingin... ditemani..."
"Kami ingin... dibebaskan..."
Dan kemudian—dua cahaya muncul dari dalam sumur.
Cahaya itu naik perlahan.
Semakin tinggi.
Semakin terang.
Dan di dalam cahaya itu—dua sosok terlihat.
Seorang lelaki tua dan seorang perempuan tua.
Mereka bergandengan tangan.
Mereka tersenyum.
Bukan senyum putus asa seperti sebelumnya.
Senyum bahagia.
Senyum kelegaan.
Senyum dua jiwa yang akhirnya menemukan kedamaian.
Bagian 2: Pertemuan
dengan Dua Jiwa
Herman dan Maya tidak bisa bergerak.
Mereka terpaku di tempat, menyaksikan dua sosok yang
perlahan menjadi lebih jelas.
Lelaki tua itu mengenakan pakaian sederhana—kemeja lusuh
dan celana kain. Rambutnya putih, kumisnya tebal, dan matanya—matanya penuh
kebijaksanaan.
Perempuan tua itu mengenakan kebaya sederhana dengan rambut
putih tersanggul rapi. Wajahnya keriput, tetapi matanya—matanya bersinar
seperti bintang.
"Kau... kau yang menemukan kalungku..." kata perempuan tua itu, menatap Herman.
Herman mengangguk, tidak mampu berkata-kata.
"Dan kau..." perempuan tua itu menatap Maya. "Kau
yang mendengar suaraku. Kau yang merasakan kesedihanku."
Maya menangis.
"Aku... aku mendengar kalian. Setiap malam. Aku
mendengar tangisan kalian."
Perempuan tua itu tersenyum.
*"Kami menangis karena kami kesepian. Kami tidak
bisa pergi. Kami terikat dengan sumur ini. Dengan kenangan kami. Dengan cinta
kami." *
Lelaki tua itu berbicara untuk pertama kalinya.
Suaranya berat, serak, tetapi penuh kehangatan.
*"Kami saling mencintai. Cinta kami begitu kuat
hingga kematian tidak bisa memisahkan kami. Namun justru karena itu, kami
terperangkap. Kami tidak bisa melepaskan satu sama lain. Kami tidak bisa
melepaskan tempat ini." *
"Tapi sekarang?" tanya Herman.
Lelaki tua itu tersenyum.
*"Sekarang... kalian telah mendengar kami. Kalian
telah menemukan kalung itu. Kalian telah membuktikan bahwa kami tidak
dilupakan." *
Perempuan tua itu mengangguk.
*"Kami bisa pergi sekarang. Kami bisa menemukan
kedamaian." *
Cahaya di sekitar mereka semakin terang.
"Terima kasih..." kata mereka bersamaan.
Cahaya itu semakin terang—sangat terang hingga Herman dan
Maya harus menutup mata.
Ketika mereka membuka mata kembali, cahaya itu telah
menghilang.
Dua sosok itu juga telah menghilang.
Yang tersisa hanyalah kalung perak tua di tangan Maya.
Dan keheningan yang damai.
Bagian 3: Dampak yang
Langsung Terasa
Keesokan paginya, seluruh desa merasakan perubahan.
Suasana Sukodadi terasa lebih cerah.
Lebih hangat.
Lebih... hidup.
Pak Bambang berjalan di sekitar desa dengan senyum lebar.
"Ada yang berbeda," katanya. "Seperti ada
beban yang terangkat dari desa ini."
Mak Sari yang duduk di beranda rumahnya hanya tersenyum.
"Mereka akhirnya pergi," katanya pelan. "Pak
Karim dan Mbah Minah akhirnya menemukan kedamaian."
Ketika Herman dan Maya datang menemuinya, Mak Sari memeluk
mereka berdua.
"Kalian telah melakukan sesuatu yang luar biasa,"
katanya. "Kalian telah mendengar. Kalian telah membantu. Kalian telah
membebaskan dua jiwa yang telah terperangkap selama puluhan tahun."
"Tapi kami hanya menemukan kalungnya," kata
Herman.
Mak Sari menggeleng.
"Bukan hanya itu. Kalian mendengar mereka. Kalian
tidak mengabaikan mereka. Kalian tidak takut pada mereka. Itulah yang paling
penting."
Maya menangis.
"Aku merasakan kedamaian mereka, Mak. Aku merasakan
kebahagiaan mereka."
Mak Sari mengangguk.
"Karena mereka akhirnya tenang. Dan desa ini... desa
ini juga akan tenang."
Bagian 4: Kembali ke
Rutinitas—dengan Perubahan
Hari-hari berikutnya, Kelompok 212 kembali menjalankan
program kerja mereka.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Tidak ada lagi bisikan di malam hari.
Tidak ada lagi bayangan samar di tepi halaman.
Tidak ada lagi hawa dingin yang menusuk tulang.
Sumur tua itu—kini terasa seperti sumur biasa.
Dan Herman serta Maya—mereka akhirnya bisa tidur nyenyak.
Namun ada satu hal yang tidak pernah mereka duga.
Kalung Mbah Minah—yang Maya simpan di kamarnya—mulai
mengeluarkan cahaya lembut setiap malam.
Bukan cahaya yang menakutkan.
Cahaya yang hangat.
Cahaya yang terasa seperti pelukan.
Suatu malam, Maya terbangun dan melihat kalung itu
bersinar.
Di dalam sinar itu, ia melihat dua sosok—Pak Karim dan Mbah
Minah—berdiri bergandengan tangan.
Mereka tersenyum padanya.
"Terima kasih..." bisik mereka.
*"Kami akan selalu menjagamu..." *
Cahaya itu perlahan memudar.
Dan kalung itu kembali menjadi kalung biasa.
Maya tersenyum.
Ia tahu—mereka telah pergi.
Tetapi mereka tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Bagian 5: Festival
Literasi yang Mulai Dipersiapkan
Dengan hilangnya gangguan mistis, seluruh anggota Kelompok
212 bisa fokus pada program kerja yang tersisa.
Festival Literasi menjadi prioritas utama.
Maya dan Laras sibuk mempersiapkan bahan-bahan.
Alex dan Dimas membantu mendesain spanduk dan dekorasi.
Aisyah dan Rina mengkoordinasikan dengan ibu-ibu PKK untuk
konsumsi.
Yoga dan para petani menyiapkan hasil bumi untuk pameran.
Semua bekerja dengan penuh semangat.
Namun saat Maya sedang menyusun daftar peserta lomba
membaca puisi, ia melihat sesuatu yang aneh.
Di sudut ruangan, ia melihat dua sosok—Pak Karim dan Mbah
Minah—berdiri di samping rak buku.
Mereka tersenyum padanya.
*"Kami bangga padamu..." *
Maya berkedip.
Sosok itu menghilang.
Namun Maya tidak takut.
Ia hanya tersenyum.
"Terima kasih, Mbah," bisiknya. "Aku akan
membuat kalian bangga."
Bagian 6: Kejutan dari
Masyarakat
Suatu sore, Pak Bambang mengumpulkan seluruh warga dan
mahasiswa di Balai Desa.
"Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan adik-adik mahasiswa,"
katanya dengan suara bersemangat. "Ada sesuatu yang ingin kami
sampaikan."
Semua orang mendekat.
"Sebagai bentuk terima kasih atas semua yang telah
dilakukan Kelompok 212, kami—Pemerintah Desa dan seluruh masyarakat
Sukodadi—ingin memberikan sesuatu."
Pak Bambang menyerahkan sebuah bingkai foto besar kepada
Herman.
Di dalam bingkai itu terdapat foto seluruh warga desa dan mahasiswa
yang diambil saat acara penyambutan.
Di bawah foto itu tertulis:
"Untuk Kelompok 212 — Keluarga Kedua Kami"
Herman menerima bingkai itu dengan tangan gemetar.
Air mata mengalir di pipinya.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih, semuanya. Ini... ini
sangat berarti bagi kami."
Alex yang berdiri di sampingnya juga menangis.
"Kami tidak akan pernah melupakan kalian,"
katanya. "Kalian adalah keluarga kami."
Seluruh ruangan dipenuhi isak tangis haru.
Bagian 7: Malam di Bawah
Bintang
Malam itu, seluruh anggota Kelompok 212 berkumpul di
halaman rumah mahasiswa putra.
Langit cerah dipenuhi bintang.
Tidak ada rapat.
Tidak ada pembahasan program.
Mereka hanya duduk melingkar sambil menikmati jagung bakar
yang dibuat bersama warga.
Alex memecah keheningan.
"Kalau nanti KKN selesai... Apa yang paling kalian
rindukan dari Sukodadi?"
Laras tersenyum.
"Anak-anak."
Dimas menjawab,
"Kopi buatan Pak Bambang."
Nadia berkata,
"Ibu-ibu PKK."
Semua tertawa.
Herman memandang teman-temannya satu per satu.
"Aku akan merindukan kebersamaan ini. Dan sumur
itu—aku akan merindukan pelajaran yang diberikan oleh Pak Karim dan Mbah
Minah."
Maya mengangguk.
"Aku akan merindukan suara mereka. Suara yang
mengajarkanku bahwa setiap orang memiliki cerita. Dan setiap cerita layak
didengar."
Mereka terdiam.
Karena semua menyadari satu hal.
Mereka telah melewati hari-hari yang tidak pernah mereka
bayangkan sebelumnya.
Mereka pernah tertawa bersama.
Menangis bersama.
Takut bersama.
Dan tetap memilih bertahan bersama.
Persahabatan mereka tidak lagi dibangun oleh kesamaan hobi
atau latar belakang.
Melainkan oleh perjuangan yang mereka lalui dalam
menghadapi ujian yang datang tanpa pernah mereka duga.
Bagian 8: Persiapan
Terakhir
Menjelang akhir masa KKN, seluruh anggota bekerja keras
menyelesaikan semua program.
Laporan kegiatan disusun.
Dokumentasi dirapikan.
Festival Literasi difinalisasi.
Dan yang terpenting—kalung Mbah Minah akan dikembalikan ke
tempat yang layak.
Herman dan Maya memutuskan untuk menanam kalung itu di
bawah pohon rambutan yang mereka tanam di atas sumur tua.
"Di sini," kata Herman. "Di tempat mereka
dulu tinggal. Di tempat mereka dulu mencintai. Di tempat mereka akhirnya
menemukan kedamaian."
Maya mengangguk.
Mereka berdua menanam kalung itu dengan hati-hati.
Dan ketika tanah menutupi kalung itu, mereka merasakan
kehangatan yang menyelimuti mereka.
Seolah-olah dua jiwa itu tersenyum dari kejauhan.
Malam itu, sebelum tidur, Herman menulis di buku
catatannya:
"Empat puluh hari di Sukodadi telah mengajarkan kami
banyak hal. Tentang pengabdian, tentang persahabatan, tentang keberanian, dan
tentang mendengar. Dan yang paling penting—kami belajar bahwa setiap jiwa
memiliki cerita. Dan setiap cerita layak didengar. Pak Karim dan Mbah Minah
telah pergi. Namun mereka tidak akan pernah dilupakan. Dan kami—kami akan
selalu membawa pelajaran mereka dalam hati."
BAB VIII
PENGHUNI
LAMA
Bagian 1: Pagi yang
Berbeda
Pagi di Desa Sukodadi masih tampak sama seperti biasanya.
Kabut tipis menggantung di atas hamparan sawah. Suara
burung terdengar bersahutan dari pepohonan yang mengelilingi desa. Para petani
mulai berjalan menuju ladang, sementara anak-anak berlarian menuju sekolah
dengan seragam yang masih rapi.
Namun bagi Herman dan Maya, pagi itu terasa berbeda.
Tidak ada lagi bisikan di telinga mereka.
Tidak ada lagi bayangan samar di tepi halaman.
Tidak ada lagi hawa dingin yang menusuk tulang.
Yang ada hanyalah ketenangan.
Ketenangan yang telah lama hilang.
Ketenangan yang akhirnya kembali.
Namun meskipun gangguan mistis telah hilang, rasa ingin
tahu Herman dan Maya tentang Pak Karim dan Mbah Minah belum juga padam.
Mereka ingin tahu lebih banyak tentang dua jiwa yang telah
memilih mereka.
Mereka ingin tahu tentang kehidupan mereka.
Tentang cinta mereka.
Tentang kesedihan mereka.
Dan tentang bagaimana mereka akhirnya menemukan kedamaian.
Bagian 2: Mencari
Jawaban di Rumah Mak Sari
Setelah sarapan, Herman dan Maya memutuskan untuk
mengunjungi Mak Sari.
Perempuan tua itu sedang duduk di beranda rumahnya,
menikmati secangkir teh hangat.
"Assalamu'alaikum, Mak," sapa Herman.
"Wa'alaikumussalam, Nak. Silakan duduk."
Mereka berdua duduk di samping Mak Sari.
"Mak," kata Herman hati-hati. "Kami ingin
bertanya sesuatu tentang Pak Karim dan Mbah Minah."
Mak Sari tersenyum tipis.
"Aku sudah menduga kalian akan datang."
Ia meneguk tehnya perlahan.
"Apa yang ingin kalian ketahui?"
"Segalanya," kata Maya. "Tentang kehidupan
mereka. Tentang cinta mereka. Tentang bagaimana mereka... berakhir di sumur
itu."
Mak Sari menghela napas panjang.
"Baiklah. Aku akan menceritakan semuanya."
Bagian 3: Kisah Cinta
Pak Karim dan Mbah Minah
"Pak Karim dan Mbah Minah adalah sepasang suami-istri
yang sangat sederhana," mulai Mak Sari. "Mereka tinggal di rumah kayu
di tepi desa—rumah yang sekarang ditempati oleh kalian."
Maya dan Herman mendengarkan dengan saksama.
"Mereka menikah muda. Sangat muda. Pak Karim baru
berusia dua puluh tahun, Mbah Minah baru berusia delapan belas tahun. Mereka
saling mencintai dengan sangat dalam."
Mak Sari tersenyum mengenang.
"Pak Karim adalah seorang petani yang rajin. Setiap
pagi ia pergi ke kebun, merawat tanamannya, dan pulang saat senja tiba. Mbah
Minah adalah istri yang setia. Ia menunggu suaminya setiap hari, menyiapkan
makanan, dan merawat rumah mereka dengan penuh cinta."
"Apakah mereka punya anak?" tanya Maya.
Mak Sari menggeleng.
"Mereka tidak bisa memiliki anak. Itulah satu-satunya
kesedihan dalam pernikahan mereka. Namun mereka tidak pernah saling
menyalahkan. Mereka justru semakin dekat. Mereka saling menguatkan."
Herman mengangguk pelan.
"Mereka saling mencintai dengan tulus," katanya.
"Benar," kata Mak Sari. "Cinta mereka begitu
dalam hingga... hingga kematian pun tidak bisa memisahkan mereka."
Bagian 4: Hari yang
Mengubah Segalanya
"Suatu hari," lanjut Mak Sari, "Pak Karim
jatuh sakit. Sangat sakit. Demamnya tidak kunjung turun. Mbah Minah sudah
mencoba berbagai ramuan, tetapi tidak ada yang berhasil."
Maya menunduk. Ia ingat buku harian yang ia baca.
"Hari demi hari, Pak Karim semakin lemah. Mbah Minah
tidak pernah meninggalkan sisinya. Ia merawat suaminya dengan penuh
pengorbanan. Namun pada akhirnya... Pak Karim meninggal."
Mak Sari berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca.
"Mbah Minah hancur. Ia tidak bisa menerima kenyataan
bahwa suaminya telah pergi. Ia terus duduk di tepi sumur—tempat Pak Karim biasa
duduk—dan berbicara padanya seolah ia masih ada."
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Herman pelan.
Mak Sari menarik napas panjang.
"Suatu malam, Mbah Minah pergi ke sumur. Ia tidak
pernah kembali. Keesokan paginya, warga menemukan tubuhnya... di dalam
sumur."
Maya menutup wajahnya. Air mata mengalir di pipinya.
"Mereka mengatakan bahwa Mbah Minah tidak sengaja
jatuh," lanjut Mak Sari. "Tapi aku tahu—aku selalu tahu—bahwa Mbah
Minah sengaja pergi ke sumur itu. Ia ingin menemui suaminya. Ia tidak bisa
hidup tanpanya."
"Jadi mereka berdua... mati di sumur itu?" tanya
Herman.
Mak Sari mengangguk.
"Sejak saat itu, warga mulai melihat bayangan mereka
di sekitar sumur. Dua sosok yang bergandengan tangan. Dua sosok yang menatap ke
arah rumah mereka dengan penuh kesedihan. Mereka tidak bisa pergi. Mereka
terikat dengan sumur itu. Dengan kenangan mereka. Dengan cinta mereka."
Bagian 5: Rahasia yang
Tersembunyi
"Tapi ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan
kepada siapa pun," kata Mak Sari dengan suara pelan.
Herman dan Maya mencondongkan tubuh ke depan.
"Pak Karim dan Mbah Minah memiliki sebuah kalung.
Kalung perak dengan liontin berbentuk hati. Di dalamnya terukir nama mereka
berdua. Kalung itu adalah simbol cinta mereka. Mbah Minah selalu memakainya di
lehernya—sampai hari ia pergi ke sumur."
"Kami menemukan kalung itu," kata Herman.
"Di dasar sumur."
Mak Sari mengangguk.
"Itu sebabnya mereka akhirnya bisa pergi. Kalung itu
adalah pengikat mereka. Selama kalung itu masih di dalam sumur, mereka tidak
bisa melepaskan diri. Mereka terperangkap oleh cinta mereka sendiri."
"Tapi sekarang kalung itu sudah kami temukan,"
kata Maya. "Apakah mereka benar-benar pergi?"
Mak Sari tersenyum.
"Mereka telah pergi. Aku merasakannya. Desa ini
merasakannya. Kalian berdua juga merasakannya."
Maya mengangguk.
"Aku merasakan kedamaian mereka. Aku merasakan
kebahagiaan mereka."
"Karena mereka akhirnya tenang," kata Mak Sari.
"Karena mereka akhirnya ditemani. Karena mereka akhirnya didengar."
Bagian 6: Pelajaran dari
Kisah Lama
"Mak," kata Herman setelah beberapa saat hening.
"Ada apa yang bisa kami pelajari dari kisah mereka?"
Mak Sari memandang mereka berdua dengan tatapan penuh
kebijaksanaan.
"Kalian telah belajar banyak, Nak. Kalian telah
belajar bahwa setiap orang memiliki cerita. Bahwa setiap jiwa layak didengar.
Bahwa cinta—cinta sejati—tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berubah
bentuk."
Maya mengangguk pelan.
"Dan kalian telah belajar bahwa terkadang, membantu
orang lain bukan berarti melakukan sesuatu yang besar. Terkadang, membantu
orang lain hanya berarti... mendengar."
Herman menundukkan kepala.
"Terima kasih, Mak. Kami tidak akan pernah melupakan
pelajaran ini."
Mak Sari tersenyum.
"Dan jangan lupakan mereka. Pak Karim dan Mbah Minah.
Mereka telah pergi, tetapi mereka tidak akan pernah dilupakan. Selama ada yang
mengingat mereka, mereka akan selalu hidup."
Bagian 7: Kembali ke
Sumur
Setelah berbincang dengan Mak Sari, Herman dan Maya
berjalan menuju sumur tua.
Kini sumur itu tidak lagi menakutkan.
Tidak lagi misterius.
Tidak lagi menyimpan kesedihan.
Sumur itu sekarang hanyalah sumur—tempat yang menyimpan
kenangan tentang dua jiwa yang saling mencintai.
Mereka berdiri di tepi sumur, memandang ke dalam.
Airnya kini jernih.
Benar-benar jernih.
Tidak lagi hitam pekat seperti dulu.
"Aku bisa melihat dasarnya," kata Maya.
Herman mengangguk.
"Mereka telah pergi. Sumur ini tidak lagi menyimpan
kesedihan."
Maya menangkupkan kedua tangan.
"Pak Karim... Mbah Minah... terima kasih telah
mempercayai kami. Terima kasih telah memilih kami. Kami akan selalu mengingat
kalian."
Herman juga berdoa dalam hati.
"Kami akan selalu mengingat cinta kalian. Kami akan
selalu mengingat kesetiaan kalian. Dan kami akan selalu mengingat bahwa setiap
jiwa layak didengar."
Bagian 8: Malam yang
Tenang
Malam itu, seluruh anggota Kelompok 212 berkumpul di balai
desa.
Tidak ada rapat.
Tidak ada evaluasi.
Mereka hanya duduk bersama, menikmati malam yang tenang.
Alex memecah keheningan.
"Jadi... Pak Karim dan Mbah Minah sudah pergi?"
Herman mengangguk.
"Mereka sudah pergi. Mereka akhirnya menemukan
kedamaian."
"Kalian berdua benar-benar luar biasa," kata
Laras. "Kalian berani mendengar mereka. Berani membantu mereka. Berani
menghadapi ketakutan kalian."
Maya tersenyum.
"Kami tidak sendirian. Kami memiliki kalian semua.
Tanpa kalian, kami tidak akan sekuat ini."
Alex mengangguk.
"Kami adalah keluarga. Dan keluarga selalu saling
mendukung."
Seluruh anggota mengangguk setuju.
Malam itu, Desa Sukodadi benar-benar tenang.
Tidak ada lagi bisikan.
Tidak ada lagi bayangan.
Yang ada hanyalah kebersamaan.
Dan kedamaian.
Bagian 9: Catatan Akhir
Keesokan harinya, Herman menulis di buku catatannya:
"Pak Karim dan Mbah Minah telah pergi. Mereka akhirnya
menemukan kedamaian setelah puluhan tahun terperangkap. Kami belajar banyak
dari mereka. Tentang cinta. Tentang kesetiaan. Tentang kesedihan. Dan tentang
pentingnya mendengar. Kami akan selalu mengingat mereka. Dan kami akan selalu
membawa pelajaran mereka dalam hati."
Di sampingnya, Maya menambahkan satu kalimat:
"Dan kami akan selalu mengingat bahwa setiap jiwa
layak didengar—bahkan jiwa yang telah tiada sekalipun."
BAB IX
DIALOG
DENGAN DUNIA LAIN
Bagian 1: Ketenangan
yang Meragukan
Sejak malam penemuan kalung, Desa Sukodadi terasa berbeda.
Udara yang dulu terasa berat kini terasa ringan. Suasana
yang dulu terasa mencekam kini terasa damai. Bahkan anak-anak yang bermain di
halaman balai desa tampak lebih ceria dari biasanya.
Namun Herman dan Maya tidak bisa sepenuhnya merasa tenang.
Ada sesuatu yang mengganjal di hati mereka.
Bukan ketakutan.
Bukan kegelisahan.
Tapi... rasa penasaran.
Siapa sebenarnya Pak Karim dan Mbah Minah?
Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?
Dan mengapa mereka memilih Herman dan Maya dari semua
orang?
"Aku ingin tahu lebih banyak," kata Maya suatu sore saat mereka duduk di beranda
rumah mahasiswa putra.
Herman mengangguk.
"Aku juga. Aku merasa ada bagian dari cerita mereka
yang belum kita ketahui. Ada sesuatu yang mereka belum sempat sampaikan."
"Tapi mereka sudah pergi," kata Maya.
"Bagaimana kita bisa tahu?"
Herman terdiam sejenak.
"Mak Sari," katanya akhirnya. "Dia tahu
lebih banyak dari yang dia ceritakan. Aku yakin."
"Kita harus menemuinya lagi."
"Besok pagi."
Bagian 2: Kunjungan
Kedua ke Rumah Mak Sari
Pagi harinya, Herman dan Maya kembali mengunjungi Mak Sari.
Perempuan tua itu sedang menyiram tanaman di halaman
rumahnya.
"Assalamu'alaikum, Mak," sapa Herman.
"Wa'alaikumussalam, Nak. Kalian datang lagi?" Mak
Sari tersenyum. "Aku sudah menduga."
"Mak," kata Maya hati-hati. "Kami ingin tahu
lebih banyak tentang Pak Karim dan Mbah Minah. Ada sesuatu yang belum kami
ketahui."
Mak Sari menghela napas. Ia menaruh gayung airnya dan
mengajak mereka duduk di beranda.
"Kalian benar. Ada sesuatu yang belum aku ceritakan.
Sesuatu yang mungkin akan mengubah cara kalian memandang mereka."
Herman dan Maya saling berpandangan.
"Ceritakan, Mak," kata Herman.
Mak Sari menarik napas panjang.
Bagian 3: Rahasia yang
Terpendam
"Pak Karim dan Mbah Minah tidak meninggal secara
bersamaan," mulai Mak Sari. "Pak Karim meninggal lebih dulu. Karena
sakit. Mbah Minah merawatnya sampai akhir hayatnya."
Herman dan Maya mengangguk. Mereka sudah tahu bagian ini
dari buku harian.
"Tapi ada satu hal yang tidak aku ceritakan
sebelumnya."
Mak Sari berhenti sejenak.
"Mbah Minah... dia tidak sengaja jatuh ke sumur."
Ruangan mendadak hening.
"Maksud Mak?" tanya Herman dengan suara bergetar.
"Mbah Minah sengaja pergi ke sumur. Ia sengaja terjun
ke dalamnya. Ia tidak tahan hidup tanpa Pak Karim."
Maya menutup mulutnya dengan tangan.
"Tapi sebelum ia melakukannya, ia menulis sebuah
surat."
Mak Sari berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Beberapa saat
kemudian, ia keluar membawa sebuah amplop tua berwarna kuning.
"Ini suratnya. Aku menyimpannya selama puluhan tahun.
Aku tidak tahu harus memberikannya kepada siapa. Tapi sekarang—aku tahu kalian
adalah orang yang tepat."
Maya menerima amplop itu dengan tangan gemetar.
"Boleh kami membacanya?" tanyanya.
Mak Sari mengangguk.
"Itu untuk kalian."
Bagian 4: Surat Mbah
Minah
Dengan hati-hati, Maya membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat selembar kertas tua yang sudah
menguning. Tulisan tangan yang rapi—tulisan yang sama dengan buku harian yang
ia temukan—mengisi halaman itu.
Maya mulai membaca dengan suara pelan:
"Untuk siapa pun yang menemukan surat ini,
Aku, Minah, menulis surat ini dengan tangan yang gemetar
dan hati yang hancur. Suamiku, Karim, telah pergi. Ia meninggalkanku sendirian
di dunia ini. Kami tidak memiliki anak. Kami hanya memiliki satu sama lain. Dan
sekarang—ia telah pergi.
Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku sudah mencoba. Aku sudah
berusaha kuat. Tapi setiap hari, setiap malam, aku merindukannya. Aku mendengar
suaranya di setiap angin yang berembus. Aku melihat wajahnya di setiap bayangan
yang muncul.
Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku, Karim. Tapi aku tidak
tahan lagi. Aku akan pergi ke sumur. Aku akan menemui Karim di sana. Aku akan
bersamanya lagi.
Jika ada yang menemukan surat ini, tolong ingatlah kami.
Ingatlah bahwa kami saling mencintai. Ingatlah bahwa cinta kami begitu dalam
hingga kematian pun tidak bisa memisahkan kami.
Dan jika suatu hari nanti—ada seseorang yang mendengar
suara kami, yang melihat bayangan kami, yang merasakan kesedihan kami—tolong
dengarkan kami. Tolong bantu kami. Kami hanya ingin ditemani. Kami hanya ingin
didengar.
Terima kasih.
— Minah, 1978"
Bagian 5: Air Mata dan
Pemahaman
Maya tidak bisa menahan air matanya.
Surat itu—surat yang ditulis dengan penuh kesedihan dan
harapan—telah menyentuh hatinya.
Ia membayangkan Mbah Minah duduk di meja kayu yang
sederhana, menulis surat itu dengan tangan gemetar, mengetahui bahwa ia akan
segera pergi selamanya.
"Pak Karim dan Mbah Minah..." bisik Herman.
"Mereka benar-benar saling mencintai."
"Sampai mati," kata Maya. "Sampai melampaui
kematian."
Mak Sari mengangguk.
"Cinta mereka begitu kuat hingga mereka tidak bisa
berpisah. Bahkan ketika tubuh mereka telah tiada, jiwa mereka masih terikat.
Mereka tidak bisa pergi karena mereka tidak ingin meninggalkan satu sama
lain."
"Tapi sekarang mereka sudah pergi," kata Herman.
"Mereka sudah tenang."
"Karena kalian," kata Mak Sari. "Kalian
mendengar mereka. Kalian menemukan kalung itu. Kalian membuktikan bahwa mereka
tidak dilupakan."
Maya memeluk surat itu erat-erat.
"Aku akan menyimpan surat ini," katanya.
"Aku akan selalu mengingat mereka."
Bagian 6: Malam di Bawah
Pohon Rambutan
Malam itu, Herman dan Maya berjalan ke pohon rambutan yang
mereka tanam di atas sumur tua.
Mereka duduk di bawah pohon itu, menatap langit yang
dipenuhi bintang.
"Aku tidak pernah membayangkan bahwa kami akan
mengalami semua ini," kata Maya pelan.
Herman tersenyum.
"Aku juga. Aku datang ke sini dengan niat mengabdi.
Aku tidak pernah menyangka bahwa kami akan bertemu dengan dua jiwa yang
membutuhkan pertolongan."
"Tapi kami berhasil," kata Maya. "Kami
berhasil membantu mereka."
Herman mengangguk.
"Karena kita mendengar. Kita tidak mengabaikan mereka.
Kita tidak takut pada mereka. Kita hanya... mendengar."
Maya menatap surat Mbah Minah yang masih ia pegang.
"Mbah Minah menulis surat itu dengan harapan bahwa
suatu hari nanti, seseorang akan mendengar mereka. Dan kita—kita adalah orang
itu."
"Kita adalah jawaban atas doanya," kata Herman.
Maya tersenyum.
"Dan sekarang... mereka tenang."
Mereka berdua diam beberapa saat.
Angin malam berembus pelan.
Dan di kejauhan—seolah menjawab—mereka mendengar bisikan
pelan.
Bukan suara yang menakutkan.
Suara yang hangat.
Suara yang penuh syukur.
"Terima kasih..."
Maya dan Herman saling berpandangan.
Mereka tersenyum.
Bagian 7: Pagi yang
Penuh Harapan
Keesokan paginya, Maya menunjukkan surat Mbah Minah kepada
seluruh anggota Kelompok 212.
Semua membaca surat itu dengan penuh perhatian.
Ada yang menangis.
Ada yang terdiam.
Ada yang memeluk Maya erat-erat.
"Ini... ini luar biasa," kata Laras. "Mbah
Minah menulis surat itu puluhan tahun yang lalu. Dan sekarang—surat itu sampai
ke tangan kalian."
"Seperti takdir," kata Alex.
Herman mengangguk.
"Takdir. Atau mungkin... doa. Mbah Minah berdoa agar
seseorang mendengar mereka. Dan kita—kita adalah jawabannya."
Maya menyimpan surat itu dengan hati-hati.
"Aku akan menjaganya. Aku akan membawanya pulang. Aku
akan selalu mengingat mereka."
Bagian 8: Pelajaran yang
Abadi
Hari-hari berikutnya, Kelompok 212 kembali menjalankan
program kerja mereka.
Namun ada sesuatu yang telah berubah dalam diri mereka.
Mereka tidak lagi hanya melihat Desa Sukodadi sebagai
tempat KKN.
Mereka melihatnya sebagai tempat yang penuh cerita.
Tempat yang penuh sejarah.
Tempat yang penuh jiwa.
Dan mereka—mereka telah menjadi bagian dari cerita itu.
Malam terakhir di Sukodadi, Herman menulis di buku
catatannya:
"Kami telah belajar banyak dari Pak Karim dan Mbah
Minah. Kami belajar bahwa cinta sejati tidak pernah mati. Kami belajar bahwa
kesedihan bisa berubah menjadi kedamaian jika ada yang mau mendengar. Dan kami
belajar bahwa setiap jiwa—hidup atau mati—layak untuk didengarkan.
Mereka telah pergi. Namun mereka tidak akan pernah
dilupakan. Dan kami—kami akan selalu membawa pelajaran mereka dalam hati."
BERSAMBUNG KE BAB X...
BERSAMBUNG
KE BAB X...
BAB X
ANTARA ADAT DAN
KEYAKINAN
Bagian 1: Ketenangan
yang Membawa Pertanyaan
Hari-hari berlalu dengan tenang di Desa Sukodadi.
Tidak ada lagi bisikan di malam hari. Tidak ada lagi
bayangan di tepi halaman. Tidak ada lagi hawa dingin yang menusuk tulang. Sumur
tua itu—yang dulu menjadi pusat ketakutan—kini hanya menjadi bagian dari
lanskap desa yang biasa.
Namun ketenangan itu justru membawa pertanyaan baru bagi
Herman dan Maya.
Mengapa mereka berdua yang dipilih?
Mengapa suara-suara itu hanya bisa didengar oleh mereka?
Dan apa arti semua ini bagi perjalanan hidup mereka?
"Aku ingin memahami lebih dalam," kata Maya suatu sore saat mereka duduk di beranda
rumah Mak Sari. "Bukan hanya tentang Pak Karim dan Mbah Minah.
Tapi tentang... semua ini. Tentang adat. Tentang keyakinan. Tentang bagaimana
masyarakat di sini memandang hal-hal seperti ini."
Mak Sari tersenyum bijak.
"Kalian ingin belajar tentang adat dan
keyakinan?"
Herman mengangguk.
"Kami datang ke sini sebagai mahasiswa. Kami pikir
kami akan mengajar. Tapi ternyata—kami yang banyak belajar."
Mak Sari tertawa kecil.
"Bagus. Itulah tanda orang bijak. Orang yang mau
belajar dari siapa pun dan di mana pun."
Ia berdiri dan mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
"Aku akan menceritakan semuanya."
Bagian 2: Filosofi Adat
Sukodadi
Di ruang tengah rumah Mak Sari, Herman dan Maya duduk di
atas tikar anyaman. Mak Sari duduk di hadapan mereka dengan secangkir teh
hangat di tangannya.
"Desa Sukodadi," mulai Mak Sari, "telah
berdiri sejak zaman penjajahan. Para leluhur kami membuka hutan ini dengan
kapak dan parang. Mereka menebang pohon, membersihkan lahan, dan membangun
rumah-rumah sederhana."
Herman dan Maya mendengarkan dengan saksama.
"Sejak awal, masyarakat kami hidup dengan
aturan-aturan yang tidak tertulis. Aturan yang diwariskan dari generasi ke
generasi. Aturan yang mengajarkan kami bagaimana hidup berdampingan dengan
alam, dengan sesama, dan dengan yang gaib."
"Seperti apa aturan-aturannya, Mak?" tanya Maya.
Mak Sari tersenyum.
"Aturan pertama: hormati alam. Jangan menebang pohon
sembarangan. Jangan mencemari sungai. Jangan merusak hutan. Karena alam adalah
ibu yang memberi kehidupan."
"Aturan kedua: hormati sesama. Jangan menyakiti orang
lain. Jangan mengambil hak orang lain. Jangan berkata kasar. Karena setiap
manusia adalah saudara."
"Aturan ketiga: hormati yang gaib. Jangan mengganggu
tempat-tempat yang dianggap keramat. Jangan meremehkan hal-hal yang tidak
terlihat. Karena di dunia ini, ada banyak hal yang tidak bisa kita lihat,
tetapi bisa kita rasakan."
Herman mengangguk pelan.
"Jadi... sumur itu dianggap keramat?"
Mak Sari mengangguk.
"Sumur itu adalah tempat terakhir Pak Karim dan Mbah
Minah. Tempat mereka meninggal. Tempat mereka terperangkap. Karena itu, sumur
itu dianggap memiliki energi—energi kesedihan, energi kerinduan, energi cinta
yang tak terbalas."
"Tapi kami tidak tahu itu saat pertama kali
datang," kata Maya. "Kami tidak sengaja mengganggu mereka."
Mak Sari tersenyum.
"Tidak ada yang salah dengan ketidaktahuan. Yang salah
adalah ketika kita tahu, tetapi kita tetap bertindak seenaknya. Kalian—ketika
kalian tahu, kalian mendengar. Kalian tidak mengabaikan. Kalian membantu.
Itulah yang membedakan kalian."
Bagian 3: Adat dan Agama
"Di desa ini," lanjut Mak Sari, "adat dan
agama berjalan beriringan. Kami tidak memisahkan keduanya. Kami percaya bahwa
adat adalah cara hidup, dan agama adalah pedoman hidup."
"Bagaimana keduanya bisa berjalan bersama?" tanya
Herman.
Mak Sari tersenyum.
"Kami punya aturan: selama adat tidak bertentangan
dengan ajaran agama, maka adat tetap dihormati. Karena adat lahir dari
kebijaksanaan leluhur. Dan agama lahir dari wahyu Tuhan. Keduanya bertujuan
sama—membuat manusia menjadi lebih baik."
Maya mengangguk.
"Jadi... apa yang terjadi dengan Pak Karim dan Mbah
Minah—itu adalah bagian dari adat?"
"Dan bagian dari agama," jawab Mak Sari.
"Dalam adat, kami percaya bahwa jiwa yang meninggal dengan cara tragis
akan tetap berada di tempat kematiannya. Dalam agama, kami diajarkan untuk
mendoakan orang yang telah meninggal, agar mereka mendapatkan ketenangan."
"Kami melakukan keduanya," kata Maya. "Kami
menghormati adat dengan mendengarkan mereka. Dan kami berdoa untuk
mereka."
Mak Sari tersenyum puas.
"Kalian telah melakukan hal yang benar. Kalian telah
menghormati adat dan menjalankan ajaran agama. Itulah sebabnya mereka akhirnya
tenang."
Bagian 4: Pelajaran dari
Mak Sari
"Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan,"
kata Mak Sari dengan suara lebih pelan.
Herman dan Maya mendekat.
"Pengalaman kalian dengan Pak Karim dan Mbah Minah
bukanlah kebetulan. Itu adalah takdir. Takdir yang mempertemukan kalian dengan
mereka. Takdir yang memungkinkan kalian membantu mereka."
"Tapi kenapa kami?" tanya Maya. "Kenapa
bukan orang lain?"
Mak Sari menatap Maya dengan tatapan dalam.
"Karena kalian memiliki hati yang bisa mendengar.
Kalian memiliki keberanian untuk tidak takut. Kalian memiliki ketulusan untuk
membantu tanpa pamrih. Itulah yang membuat kalian dipilih."
Herman menundukkan kepala.
"Kami hanya melakukan apa yang seharusnya kami
lakukan."
"Dan itulah yang membuat kalian istimewa," kata
Mak Sari. "Orang yang baik tidak melakukan kebaikan untuk pujian. Mereka
melakukan kebaikan karena itu adalah hal yang benar."
Bagian 5: Malam di Balai
Desa
Malam itu, Herman dan Maya berjalan menuju Balai Desa.
Di dalam balai, beberapa warga sedang berkumpul untuk
mempersiapkan Festival Literasi yang akan segera diadakan.
Maya membantu ibu-ibu PKK menyusun dekorasi.
Herman membantu Karang Taruna memasang lampu-lampu kecil.
Semua bekerja dengan penuh semangat.
Di sela-sela pekerjaan, Pak Bambang mendekati Herman.
"Bagaimana perasaanmu setelah semua yang
terjadi?" tanyanya.
Herman tersenyum.
"Aneh, Pak. Awalnya aku takut. Tapi sekarang—aku
merasa tenang. Aku merasa seperti... kami telah melakukan sesuatu yang
penting."
Pak Bambang mengangguk.
"Kalian telah melakukan sesuatu yang sangat penting.
Kalian telah membawa kedamaian bagi desa ini. Dan bagi dua jiwa yang telah lama
menderita."
"Kami hanya mendengar, Pak. Itu saja."
Pak Bambang menepuk pundak Herman.
"Mendengar adalah hal yang paling sulit dilakukan.
Banyak orang mendengar, tetapi tidak mendengarkan. Kalian—kalian mendengarkan.
Itulah yang membuat perbedaan."
Bagian 6: Festival
Literasi yang Mendekat
Festival Literasi semakin dekat.
Seluruh desa sibuk mempersiapkan acara.
Anak-anak berlatih membaca puisi.
Ibu-ibu PKK menyiapkan makanan.
Karang Taruna membangun panggung.
Dan Mahasiswa Kelompok 212—mereka bekerja tanpa lelah.
Suatu sore, Maya mengumpulkan semua anak yang akan tampil.
"Kalian semua sudah siap?" tanyanya.
"SIAP, KAK MAYA!" teriak anak-anak serempak.
Maya tersenyum.
"Kalian akan tampil di depan banyak orang. Kalian akan
membacakan puisi. Kalian akan mendongeng. Kalian akan menunjukkan bahwa
anak-anak Sukodadi adalah anak-anak yang hebat."
Anak-anak bersorak.
Rafi, anak kecil yang selalu dekat dengan Maya, mengangkat
tangan.
"Kak Maya, aku akan membacakan puisi tentang desa
kita!"
Maya membelai rambut Rafi.
"Bagus, Rafi. Aku yakin puisimu akan indah."
Bagian 7: Persiapan
Terakhir
Malam sebelum Festival Literasi, seluruh anggota Kelompok
212 berkumpul di rumah mahasiswa putra.
"Besok adalah hari besar," kata Herman.
"Kita akan menunjukkan kepada masyarakat apa yang telah kita capai selama
empat puluh hari."
"Kita sudah bekerja keras," kata Alex.
"Sekarang saatnya kita menikmati hasilnya."
"Tapi jangan lupa," tambah Maya. "Ini bukan
tentang kita. Ini tentang mereka—masyarakat Sukodadi. Tentang anak-anak yang
akan tampil. Tentang ibu-ibu yang memasak. Tentang para bapak yang membantu
membangun panggung."
Herman mengangguk.
"Maya benar. Ini adalah momen mereka. Kita hanya
membantu mereka menunjukkannya."
Bagian 8: Doa di Bawah
Pohon Rambutan
Sebelum tidur, Herman dan Maya berjalan ke pohon rambutan
yang mereka tanam di atas sumur tua.
Mereka duduk di bawah pohon itu, menatap langit malam.
"Besok adalah hari terakhir kita di sini," kata
Maya pelan.
"Ya. Besok kita merayakan. Dan lusa—kita pulang."
Maya menghela napas.
"Aku akan merindukan tempat ini. Aku akan merindukan
anak-anak. Aku akan merindukan Mak Sari. Aku akan merindukan... semua
orang."
Herman tersenyum.
"Aku juga. Tapi kita akan selalu bisa kembali. Desa
ini akan selalu menjadi rumah bagi kita."
Maya mengangguk.
"Aku ingin berdoa. Untuk mereka—Pak Karim dan Mbah
Minah. Untuk desa ini. Untuk kita semua."
Mereka berdua menundukkan kepala.
"Ya Allah... terima kasih telah mempertemukan kami
dengan tempat ini. Terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk membantu.
Terima kasih telah mengajarkan kami banyak hal. Ampunilah dosa-dosa kami. Dan
berikanlah kedamaian bagi Pak Karim dan Mbah Minah. Amin."
Angin malam berembus pelan.
Daun-daun pohon rambutan bergoyang.
Dan di kejauhan—seolah menjawab doa mereka—mereka mendengar
bisikan pelan.
Bukan suara yang menakutkan.
Suara yang hangat.
Suara yang penuh syukur.
"Amin..."
Maya dan Herman saling berpandangan.
Mereka tersenyum.
Dan mereka tahu—Pak Karim dan Mbah Minah telah mendengar
doa mereka.
BERSAMBUNG KE BAB XI...
BERSAMBUNG
KE BAB XI...
BAB XI
TEROR BERULANG
Bagian 1: Ketenangan
yang Terganggu
Festival Literasi telah usai. Desa Sukodadi masih
bergembira dengan keberhasilan acara tersebut. Anak-anak masih bersemangat
membicarakan penampilan mereka. Ibu-ibu PKK masih sibuk merapikan sisa-sisa
dekorasi. Dan Mahasiswa Kelompok 212—mereka mulai mempersiapkan kepulangan.
Namun di tengah kegembiraan itu, sesuatu yang aneh mulai
terjadi lagi.
Bukan bisikan dari sumur.
Bukan bayangan di tepi halaman.
Tapi sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang lebih... mengganggu.
Malam itu, ketika semua orang sudah tertidur, Alex
terbangun karena suara aneh.
Suara ketukan.
Pelan. Teratur.
Tok... tok... tok...
Seperti seseorang mengetuk pintu dari luar.
Alex duduk di ranjangnya. Ia mendengarkan dengan saksama.
Tok... tok... tok...
Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Ia
membukanya perlahan.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya halaman yang diterangi cahaya bulan.
Alex mengerutkan dahi. Ia menutup pintu dan kembali ke
ranjang.
Namun saat ia berbaring, ketukan itu terdengar lagi.
Tok... tok... tok...
Kali ini dari arah jendela.
Alex menoleh ke jendela.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya bayangan pohon rambutan yang bergoyang ditiup angin.
Bagian 2: Gangguan yang
Menyebar
Keesokan paginya, Alex menceritakan kejadian itu kepada
Herman.
"Aku yakin ada yang mengetuk pintu dan jendela,"
katanya. "Tapi ketika aku lihat, tidak ada siapa-siapa."
Herman mengerutkan dahi.
"Mungkin hanya angin."
Alex menggeleng.
"Aku tahu perbedaan antara angin dan ketukan. Itu
ketukan. Teratur. Seperti seseorang yang sengaja mengetuk."
Herman terdiam.
Ia berharap itu hanya imajinasi Alex.
Namun malam berikutnya, giliran Dimas yang mengalami
sesuatu yang aneh.
Dimas terbangun di tengah malam karena suara langkah kaki
di halaman.
Langkah kaki itu terdengar jelas.
Kres... kres... kres...
Seperti seseorang berjalan di atas dedaunan kering.
Dimas bangkit dan melihat ke luar jendela.
Di halaman, ia melihat bayangan seseorang berjalan
perlahan.
Bayangan itu berhenti di depan sumur tua.
Lalu berbalik dan menatap ke arah rumah.
Dimas merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ia segera membangunkan Herman.
"Herman! Ada seseorang di halaman!"
Herman bangkit dan melihat ke luar jendela.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya halaman yang kosong.
"Tidak ada siapa-siapa, Dimas."
"Tapi aku melihatnya! Bayangan seseorang! Berdiri di
dekat sumur!"
Herman menghela napas.
"Mungkin hanya bayangan pohon."
Dimas tidak yakin. Tapi ia memilih untuk diam.
Bagian 3: Maya Juga
Mengalami
Malam berikutnya, giliran Maya yang mengalami gangguan.
Ia terbangun karena suara tangisan.
Tangisan perempuan tua.
Tangisan yang terdengar dari arah sumur tua.
Maya duduk di ranjangnya. Ia mendengarkan dengan saksama.
Tangisan itu terus terdengar.
Pelankeras
Sedih pilu
Maya turun dari ranjang dan berjalan menuju jendela.
Ia melihat ke arah sumur tua.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun tangisan itu terus terdengar.
"Tolong... tolong aku..."
Maya menggenggam erat pinggiran jendela.
"Pak Karim? Mbah Minah?" bisiknya. "Apakah
kalian di sana?"
Tangisan itu berhenti.
Hening.
Lalu—suara lain terdengar.
Suara perempuan tua yang sama, tetapi kali ini berbeda.
Bukan tangisan.
Tapi... tawa.
Tawa yang menakutkan.
Tawa yang membuat bulu kuduk Maya berdiri.
Bagian 4: Herman dan
Maya Berdiskusi
Keesokan paginya, Herman dan Maya bertemu di bawah pohon
rambutan.
"Aku mendengar tangisan tadi malam," kata Maya
dengan suara bergetar. "Tangisan Mbah Minah. Dan kemudian—tawa. Tawa yang
menakutkan."
Herman mengangguk.
"Alex mendengar ketukan. Dimas melihat bayangan. Dan
kau mendengar tangisan dan tawa. Ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang
aneh."
"Tapi mereka sudah pergi," kata Maya. "Pak
Karim dan Mbah Minah sudah tenang. Mereka sudah pergi."
Herman menghela napas.
"Aku juga berpikir begitu. Tapi mungkin—mungkin ada
sesuatu yang lain."
"Maksudmu?"
"Mungkin bukan mereka. Mungkin ada... sesuatu yang
lain."
Bagian 5: Konsultasi
dengan Mak Sari
Herman dan Maya segera pergi ke rumah Mak Sari.
Perempuan tua itu mendengarkan cerita mereka dengan
saksama.
"Kalau begitu," kata Mak Sari pelan, "mereka
belum sepenuhnya pergi."
Herman dan Maya saling berpandangan.
"Maksud Mak?" tanya Herman.
"Pak Karim dan Mbah Minah—jiwa mereka mungkin sudah
tenang. Namun ada sisa-sisa energi mereka yang masih tersisa di tempat itu.
Energi kesedihan. Energi kerinduan. Energi yang bisa mempengaruhi orang-orang
di sekitarnya."
"Jadi... bukan mereka yang mengganggu kami?"
tanya Maya.
Mak Sari menggeleng.
"Mungkin bukan. Tapi energi mereka bisa memicu hal-hal
aneh. Terutama jika ada yang tidak sengaja membangunkannya."
"Siapa yang membangunkannya?" tanya Herman.
Mak Sari terdiam sejenak.
"Kalian semua. Dengan kegiatan kalian. Dengan
kehadiran kalian. Dengan perhatian kalian. Kalian telah membuka pintu yang
selama ini tertutup. Dan meskipun mereka telah pergi, pintu itu masih
terbuka."
Bagian 6: Ustad Ilham
Memberi Nasihat
Setelah berbincang dengan Mak Sari, Herman dan Maya menemui
Ustad Ilham.
Beliau mendengarkan cerita mereka dengan tenang.
"Mak Sari benar," kata Ustad Ilham. "Ada
energi yang tersisa. Energi yang bisa mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.
Namun jangan takut. Selama kalian menjaga iman dan berdoa, kalian akan
dilindungi."
"Tapi apa yang harus kami lakukan?" tanya Maya.
Ustad Ilham tersenyum.
"Perbanyak doa. Perbanyak zikir. Dan jangan biarkan
rasa takut menguasai hati kalian. Karena ketakutan akan membuka pintu bagi
hal-hal yang lebih buruk."
"Dan bagaimana dengan Alex dan Dimas?" tanya
Herman.
"Mintalah mereka untuk berdoa juga. Dan yang
terpenting—jangan biarkan peristiwa ini merusak kebersamaan kalian. Karena
kebersamaan adalah benteng terkuat melawan segala gangguan."
Bagian 7: Rapat Darurat
Kelompok 212
Malam itu, Herman mengumpulkan seluruh anggota Kelompok 212
di ruang tengah rumah mahasiswa putra.
"Kalian semua pasti sudah mendengar tentang
kejadian-kejadian aneh beberapa malam terakhir," katanya.
Semua mengangguk.
"Alex mendengar ketukan. Dimas melihat bayangan. Maya
mendengar tangisan dan tawa."
"Aku juga mendengar sesuatu," kata Laras pelan.
"Aku mendengar suara perempuan tua memanggil namaku."
"Aku juga," kata Nadia. "Tapi suaranya lebih
pelan. Seperti bisikan."
Herman menghela napas.
"Mak Sari dan Ustad Ilham mengatakan bahwa itu adalah
sisa-sisa energi dari Pak Karim dan Mbah Minah. Mereka sudah pergi, tetapi
energi mereka masih tersisa."
"Lalu bagaimana?" tanya Alex.
"Kita harus menjaga iman. Perbanyak doa. Dan yang
terpenting—kita harus tetap bersama. Jangan ada yang sendirian di malam hari.
Jangan ada yang pergi ke sumur sendirian."
Semua mengangguk.
"Dan satu hal lagi," tambah Herman. "Kita
akan mengadakan doa bersama besok malam. Di bawah pohon rambutan. Di atas sumur
tua itu."
Bagian 8: Doa Bersama di
Bawah Pohon Rambutan
Malam berikutnya, seluruh anggota Kelompok 212 berkumpul di
bawah pohon rambutan.
Ustad Ilham memimpin doa.
Mak Sari juga hadir, duduk di sudut dengan senyum tenang.
"Ya Allah," doa Ustad Ilham, "lindungilah
kami dari segala kejahatan. Berikanlah kami ketenangan dan kedamaian. Dan
ampunilah dosa-dosa kami."
Semua mengamini.
"Ya Allah," lanjut Ustad Ilham, "berikanlah
kedamaian bagi arwah Pak Karim dan Mbah Minah. Terimalah mereka di sisi-Mu. Dan
jauhkanlah sisa-sisa energi mereka yang mengganggu."
Setelah doa selesai, suasana terasa lebih tenang.
Tidak ada lagi suara aneh.
Tidak ada lagi bayangan.
Yang ada hanyalah kedamaian.
Malam itu, ketika semua sudah tertidur, Herman dan Maya
duduk di bawah pohon rambutan.
"Aku merasa lega," kata Maya. "Seperti ada
beban yang terangkat."
Herman mengangguk.
"Kita telah melakukan semua yang bisa kita lakukan.
Sekarang kita hanya perlu percaya."
"Percaya pada apa?"
"Percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja."
Maya tersenyum.
"Dan percaya bahwa Pak Karim dan Mbah Minah telah
menemukan kedamaian."
Herman mengangguk.
"Ya. Mereka telah menemukan kedamaian. Dan kita—kita
juga akan menemukan kedamaian."
Di kejauhan, angin malam berembus pelan.
Daun-daun pohon rambutan bergoyang.
Dan seolah menjawab—mereka mendengar bisikan pelan.
Bukan suara yang menakutkan.
Suara yang hangat.
Suara yang penuh syukur.
"Terima kasih..."
BAB XII
UJIAN
PERSAHABATAN
Bagian 1: Ketenangan
yang Membawa Kebersamaan
Doa bersama di bawah pohon rambutan membawa ketenangan bagi
seluruh anggota Kelompok 212. Suara-suara aneh yang mengganggu mereka akhirnya
berhenti. Tidak ada lagi ketukan di tengah malam. Tidak ada lagi bayangan di
halaman. Tidak ada lagi tangisan atau tawa yang menakutkan.
Yang ada hanyalah kedamaian.
Dan kebersamaan yang semakin erat.
Namun di tengah ketenangan itu, muncul tantangan baru yang
tidak pernah mereka duga.
Bukan tantangan dari dunia gaib.
Tapi tantangan dari dalam diri mereka sendiri.
Persahabatan mereka—yang selama ini kokoh—mulai diuji oleh
hal-hal yang lebih duniawi.
Kelelahan.
Tekanan.
Perbedaan pendapat.
Dan rasa jenuh yang mulai menghampiri.
Bagian 2: Kelelahan yang
Mulai Terasa
Empat puluh hari KKN bukanlah waktu yang singkat. Hari-hari
yang panjang, pekerjaan yang menumpuk, dan kurangnya istirahat mulai membawa
dampak bagi seluruh anggota.
Alex yang biasanya selalu ceria mulai terlihat murung.
Dimas yang biasanya sabar menjadi mudah tersinggung.
Laras yang biasanya perhatian mulai menarik diri.
Dan Maya—yang sudah melalui banyak hal—mulai terlihat lelah
secara fisik dan mental.
Suatu pagi, ketika Herman membangunkan semua orang untuk
rapat, Alex berkata dengan nada kesal.
"Rapat lagi? Kita sudah rapat hampir setiap malam.
Kapan kita bisa istirahat?"
Herman terkejut mendengar nada bicara Alex.
"Alex, kita perlu rapat untuk mengevaluasi
program."
"Program itu sudah berjalan baik. Kita tidak perlu
rapat setiap saat."
Dimas yang mendengar percakapan itu ikut angkat bicara.
"Alex benar. Kita semua kelelahan. Kita perlu
istirahat."
Tapi Laras memiliki pendapat berbeda.
"Kita tidak bisa istirahat. Festival Literasi masih
perlu persiapan. Digitalisasi desa belum selesai. Kita masih punya banyak
pekerjaan."
"Kita bisa melakukannya nanti," kata Alex.
"Kalau nanti, kapan?" balas Laras.
Suasana mulai memanas.
Bagian 3: Perdebatan
yang Memecah
Herman mencoba menengahi.
"Teman-teman, mari kita bicara dengan tenang. Kita
semua lelah. Tapi kita tidak bisa saling menyalahkan."
Alex berdiri.
"Aku tidak menyalahkan siapa pun. Aku hanya bilang
bahwa kita butuh istirahat."
"Tapi kalau kita istirahat, pekerjaan tidak
selesai," kata Laras.
"Pekerjaan tidak akan selesai jika kita semua
kelelahan!" seru Alex.
Dimas ikut berdiri.
"Alex benar. Kita butuh istirahat. Tapi Laras juga
benar. Kita masih punya banyak pekerjaan."
Lalu Nadia angkat bicara.
"Aku setuju dengan Laras. Kita tidak boleh menunda
pekerjaan. Kita sudah berkomitmen untuk menyelesaikan semua program."
"Tapi kesehatan kita juga penting!" bantah Alex.
Ruangan menjadi riuh.
Semua orang berbicara bersamaan.
Tidak ada yang mau mendengarkan.
Tidak ada yang mau mengalah.
Maya yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
"CUKUP!"
Suaranya lantang dan tegas.
Semua orang terdiam.
Maya memandang satu per satu teman-temannya.
"Kita adalah keluarga. Dan keluarga tidak saling
menyalahkan. Keluarga saling mendukung."
Ia berjalan ke tengah ruangan.
"Aku tahu kita semua lelah. Aku juga lelah. Tapi kita
tidak boleh membiarkan kelelahan merusak persahabatan kita."
Alex menundukkan kepala.
"Maaf. Aku terlalu emosional."
"Aku juga maaf," kata Laras. "Aku terlalu
memaksakan kehendak."
Herman menghela napas lega.
"Kita semua lelah. Tapi kita harus ingat—kita datang
ke sini untuk mengabdi. Untuk belajar. Untuk saling mendukung. Bukan untuk
saling menyalahkan."
Bagian 4: Mencari Solusi
Bersama
Setelah suasana mendingin, Herman mengajak semua orang
duduk kembali.
"Mari kita cari solusi bersama. Bukan saling
menyalahkan."
Semua mengangguk.
Alex berbicara lebih tenang.
"Aku pikir kita perlu mengatur ulang jadwal. Kita
terlalu banyak bekerja tanpa istirahat. Mungkin kita bisa mengurangi jam kerja
dan menambah waktu istirahat."
Laras mengangguk.
"Alex benar. Kita bisa mengatur ulang prioritas. Fokus
pada program yang paling penting dulu."
Dimas menambahkan.
"Kita juga bisa meminta bantuan warga. Mereka pasti
bersedia membantu."
Herman tersenyum.
"Itu ide bagus. Kita bisa melibatkan lebih banyak
warga. Jadi beban kita tidak terlalu berat."
Maya yang sejak tadi mendengarkan akhirnya berbicara.
"Aku setuju. Tapi yang paling penting—kita harus
saling mendukung. Jika ada yang merasa lelah, katakan. Jika ada yang butuh
bantuan, minta. Jangan memendamnya sendiri."
Semua mengangguk.
Bagian 5: Rencana Baru
Malam itu, mereka menyusun rencana baru.
· Jam kerja dikurangi.
· Waktu istirahat ditambah.
· Program diprioritaskan.
· Bantuan warga dimaksimalkan.
Mereka juga sepakat untuk saling menjaga.
Jika ada yang kelelahan, yang lain akan membantu.
Jika ada yang sakit, yang lain akan menggantikan.
Jika ada yang sedih, yang lain akan menghibur.
"Kita adalah keluarga," kata Herman. "Dan keluarga selalu saling
menjaga."
Alex tersenyum.
"Aku minta maaf atas sikapku tadi. Aku terlalu
emosional."
Herman menepuk pundaknya.
"Tidak apa-apa. Kita semua manusia. Kita semua bisa
salah. Yang penting kita belajar dari kesalahan."
Bagian 6: Dukungan dari
Warga
Keesokan harinya, Pak Bambang mendengar tentang
perselisihan kecil yang terjadi.
Ia segera mengumpulkan warga untuk membantu.
"Adik-adik mahasiswa sudah bekerja keras untuk desa
kita. Sekarang giliran kita yang membantu mereka."
Warga pun bergotong royong.
Ibu-ibu PKK membantu menyiapkan makanan.
Karang Taruna membantu persiapan Festival Literasi.
Para petani membantu menyelesaikan pekerjaan di ladang.
Bahkan anak-anak membantu membersihkan balai desa.
Alex tersentuh melihat bantuan warga.
"Maafkan aku," katanya kepada Herman. "Aku
terlalu egois. Aku hanya memikirkan kelelahan sendiri, tanpa memikirkan bahwa
warga juga bekerja keras untuk kita."
Herman tersenyum.
"Tidak apa-apa, Alex. Yang penting sekarang kita semua
bersama. Warga, mahasiswa, semua bekerja sama untuk Desa Sukodadi."
Bagian 7: Malam
Keakraban
Malam itu, seluruh anggota Kelompok 212 dan warga desa
berkumpul di balai desa.
Mereka makan bersama.
Bercanda bersama.
Bersyukur bersama.
Pak Bambang memberikan sambutan singkat.
"Kami bangga memiliki kalian di desa ini. Kalian tidak
hanya membantu program-program desa. Kalian juga membantu kami mengingat bahwa
kebersamaan adalah kekuatan terbesar."
Herman berdiri dan membalas sambutan.
"Kami yang berterima kasih, Pak. Kami belajar banyak
dari warga. Tentang gotong royong. Tentang kebersamaan. Tentang saling
mendukung."
Malam itu, ketika semua sudah pulang, Herman dan Maya duduk
di bawah pohon rambutan.
"Aku merasa bersyukur," kata Maya. "Meskipun
kita pernah bertengkar, kita akhirnya bisa rukun lagi."
Herman mengangguk.
"Persahabatan sejati tidak akan hancur karena satu
pertengkaran. Persahabatan sejati akan semakin kuat setelah melewati ujian."
Maya tersenyum.
"Kita sudah melewati banyak ujian, ya?"
"Banyak sekali. Tapi kita masih di sini.
Bersama."
Bagian 8: Catatan Akhir
Malam itu, Herman menulis di buku catatannya:
"Hari ini kami belajar bahwa persahabatan sejati tidak
selalu mulus. Ada kalanya kami bertengkar. Ada kalanya kami berbeda pendapat.
Tapi pada akhirnya, kami selalu kembali bersama. Karena kami adalah keluarga.
Dan keluarga selalu saling menjaga."
Di sampingnya, Maya menambahkan:
"Dan kami belajar bahwa kebersamaan bukan berarti
selalu setuju. Kebersamaan adalah saling mendukung meskipun berbeda pendapat.
Kebersamaan adalah saling menguatkan ketika salah satu lemah. Kebersamaan
adalah... pulang ke rumah setelah seharian berjuang."
BAB XIII
PUNCAK
PERTARUNGAN
Bagian 1: Persiapan Akhir
Matahari pagi menyinari Desa Sukodadi dengan cahaya
keemasan. Hari itu adalah hari ke-38 masa KKN Kelompok 212. Hanya tersisa dua
hari lagi sebelum mereka harus kembali ke Palangkaraya.
Namun sebelum pulang, ada satu hal yang masih harus mereka
selesaikan.
Festival Literasi.
Acara puncak yang telah mereka persiapkan sejak awal.
Acara yang akan menjadi penutup pengabdian mereka di Desa
Sukodadi.
Semua anggota Kelompok 212 bekerja dengan penuh semangat.
Maya dan Laras mempersiapkan panggung dan dekorasi.
Alex dan Dimas menyiapkan sound system dan proyektor.
Aisyah dan Rina mengkoordinasikan konsumsi dengan ibu-ibu
PKK.
Yoga dan para petani menyiapkan hasil bumi untuk pameran.
Herman dan Beni mengatur jadwal acara dan memastikan semua
berjalan lancar.
"Kita harus membuat ini berkesan," kata Herman kepada seluruh anggota. "Ini
adalah hadiah terakhir kita untuk Desa Sukodadi."
Bagian 2: Malam Sebelum
Festival
Malam sebelum Festival Literasi, seluruh anggota Kelompok
212 berkumpul di balai desa untuk gladi bersih.
Anak-anak tampil dengan percaya diri.
Puisi-puisi mereka mengalun indah.
Cerita-cerita mereka memukau.
Tarian-tarian mereka memesona.
"Mereka luar biasa," bisik Maya kepada Herman. "Aku bangga
pada mereka."
Herman mengangguk.
"Mereka telah belajar banyak. Mereka telah berkembang.
Dan kita—kita menjadi saksi dari perkembangan mereka."
Namun di tengah gladi bersih, terjadi sesuatu yang tidak
terduga.
Rafi, anak kecil yang selalu dekat dengan Maya, tiba-tiba
jatuh pingsan di atas panggung.
Maya berlari ke panggung.
"Rafi! Rafi!"
Rafi tidak sadarkan diri.
Wajahnya pucat.
Napasnya lemah.
"Panggil ambulans! Panggil Ustad Ilham! Panggil Mak
Sari!" teriak Herman.
Bagian 3: Kepanikan
Menyelimuti
Suasana menjadi kacau.
Anak-anak menangis.
Ibu-ibu PKK berlarian.
Pak Bambang memerintahkan agar semua tenang.
"Bawa Rafi ke rumah sakit terdekat!"
Ustad Ilham datang dan memeriksa Rafi.
"Tidak ada luka," katanya. "Tapi denyut nadinya lemah.
Kita harus segera membawanya ke puskesmas."
Maya tidak mau meninggalkan Rafi.
"Aku akan ikut!"
Di puskesmas, dokter memeriksa Rafi.
"Dia kelelahan," kata dokter. "Terlalu banyak aktivitas
tanpa istirahat yang cukup. Ditambah lagi, dia demam."
Maya menangis.
"Aku seharusnya lebih memperhatikannya. Aku seharusnya
tidak memaksanya tampil."
Dokter tersenyum.
"Kamu tidak salah, Nak. Rafi sendiri yang ingin
tampil. Dia sangat antusias. Tapi tubuhnya tidak sekuat semangatnya."
Bagian 4: Refleksi di
Tengah Malam
Malam itu, Maya tidak bisa tidur.
Ia duduk di samping Rafi yang masih terbaring di puskesmas.
"Rafi... maafkan Kak Maya. Kakak seharusnya lebih
memperhatikan kesehatanmu."
Rafi membuka mata perlahan.
"Kak Maya..."
Maya terkejut.
"Rafi! Kamu sadar!"
Rafi tersenyum lemah.
"Aku... aku ingin tampil besok. Aku ingin membacakan
puisiku."
Maya menangis.
"Kamu tidak perlu tampil, Rafi. Yang penting kamu
sehat."
Rafi menggeleng.
"Aku mau tampil. Aku sudah berlatih. Aku sudah
menyiapkan puisi untuk Kak Maya."
Maya memeluk Rafi erat.
"Baik. Tapi janji—jika kamu merasa lelah, kamu harus istirahat."
Rafi mengangguk.
"Janji, Kak."
Bagian 5: Fajar Festival
Pagi hari Festival Literasi tiba.
Matahari terbit dengan indahnya.
Halaman balai desa dipenuhi warga.
Anak-anak mengenakan pakaian terbaik mereka.
Ibu-ibu PKK menyiapkan makanan.
Bapak-bapak membantu mengatur kursi.
Semua bersemangat.
Namun ada satu hal yang membuat semua orang terkejut.
Rafi—yang semalam pingsan—datang dengan senyum ceria.
"Kak Maya! Aku datang!"
Maya memeluk Rafi erat.
"Kamu sehat?"
Rafi mengangguk.
"Aku sudah minum obat. Aku sudah istirahat. Aku siap
tampil!"
Maya meneteskan air mata bahagia.
"Kamu anak yang hebat, Rafi."
Bagian 6: Festival
Dimulai
Acara dimulai dengan sambutan dari Pak Bambang.
"Selamat datang di Festival Literasi Desa
Sukodadi!" serunya. "Ini
adalah acara yang ditunggu-tunggu. Anak-anak kita akan menunjukkan bakat
mereka. Dan kita—kita akan menyaksikan mereka bersinar!"
Tepuk tangan menggema.
Penampilan pertama: Lomba Membaca Puisi.
Anak-anak tampil dengan percaya diri.
Puisi-puisi mereka mengalun indah.
Ada yang bercerita tentang desa mereka.
Ada yang bercerita tentang alam.
Ada yang bercerita tentang mimpi.
Penampilan kedua: Lomba Mendongeng.
Anak-anak menceritakan dongeng-dongeng tradisional.
Cerita tentang putri dan pangeran.
Cerita tentang hewan-hewan yang cerdik.
Cerita tentang kebaikan dan kejujuran.
Penampilan ketiga: Lomba Membaca Nyaring.
Anak-anak membaca buku-buku cerita dengan suara lantang.
Mereka membaca dengan ekspresi.
Mereka menghayati setiap kata.
Mereka membuat semua orang terpukau.
Bagian 7: Penampilan
Rafi
Akhirnya, tiba giliran Rafi.
Rafi berjalan ke atas panggung dengan percaya diri.
Ia memegang selembar kertas berisi puisinya.
"Halo, semuanya. Aku Rafi. Aku akan membacakan puisi
untuk Kak Maya."
Maya menangis haru.
Rafi mulai membaca:
"Untaian Mimpi untuk Kak Maya"
Kak Maya datang dari kota jauh
Membawa buku dan cerita penuh
Mengajar kami membaca dan menulis
Mengajarkan kami bahwa mimpi itu nyata
Kak Maya sabar mengajari kami
Meskipun terkadang kami sulit memahami
Kak Maya selalu tersenyum
Meskipun lelah melanda
Kak Maya mengajarkan kami
Bahwa kata-kata bisa mengubah dunia
Bahwa cerita bisa menghibur hati
Bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan
Terima kasih, Kak Maya
Kami akan selalu mengingatmu
Kami akan selalu membaca
Kami akan selalu bermimpi
Dan suatu hari nanti
Saat kami besar
Kami akan datang ke kota
Dan kami akan membacakan puisi untukmu lagi
Bagian 8: Haru di Balai
Desa
Seluruh hadirin bertepuk tangan.
Maya menangis di atas panggung.
Ia memeluk Rafi erat-erat.
"Puisi itu indah, Rafi. Sangat indah."
Rafi tersenyum.
"Aku menulisnya sendiri, Kak. Untuk Kak Maya."
Maya tidak bisa berkata-kata.
Ia hanya memeluk Rafi dan menangis.
Herman, yang menyaksikan dari sudut ruangan, juga
meneteskan air mata.
"Mereka telah belajar banyak," bisiknya. "Dan kita—kita telah belajar
banyak dari mereka."
Bagian 9: Penutupan
Festival
Setelah semua penampilan selesai, Herman naik ke panggung.
"Selamat siang, Bapak, Ibu, dan adik-adik semua. Ini
adalah hari yang indah. Kita telah menyaksikan bakat-bakat luar biasa dari
anak-anak Sukodadi."
Tepuk tangan bergema.
"Kami—Kelompok 212—sangat berterima kasih telah
diberikan kesempatan untuk mengabdi di desa ini. Kami belajar banyak dari
kalian. Tentang gotong royong. Tentang kebersamaan. Tentang cinta dan kasih
sayang."
Maya berdiri di samping Herman.
"Dan kami belajar bahwa setiap anak memiliki mimpi.
Dan mimpi itu layak diperjuangkan."
Rafi bertepuk tangan dengan semangat.
Bagian 10: Puncak
Keharuan
Di akhir acara, Pak Bambang memberikan sambutan penutup.
"Hari ini bukan hanya tentang Festival Literasi. Hari
ini adalah tentang persahabatan. Tentang pengabdian. Tentang cinta yang
tulus."
Ia memandang Kelompok 212.
"Kami tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian
adalah keluarga kami. Dan rumah kami selalu terbuka untuk kalian."
Seluruh hadirin berdiri.
Mereka bertepuk tangan dengan penuh haru.
Malam itu, di bawah pohon rambutan, Herman dan Maya duduk
bersama.
"Hari ini adalah hari yang sempurna," kata Maya.
Herman mengangguk.
"Ya. Hari yang sempurna."
Maya melihat ke arah sumur tua yang kini telah menjadi
pohon rambutan.
"Aku merasa Pak Karim dan Mbah Minah juga bahagia hari
ini."
Herman tersenyum.
"Aku juga merasakannya. Mereka tersenyum dari
kejauhan."
Maya menatap langit malam.
"Kita akan pulang lusa. Tapi aku akan selalu mengingat
tempat ini."
Herman menggenggam tangan Maya.
"Kita semua akan selalu mengingat tempat ini."
BAB XIV
EMPAT
PULUH HARI
Bagian 1: Fajar Ke-40
Fajar ke-40 di Desa Sukodadi.
Matahari terbit dengan indahnya. Sinar keemasan menyelinap
di sela-sela dedaunan pohon rambutan. Burung-burung berkicau riang di
dahan-dahan. Angin pagi berembus lembut, membawa aroma tanah basah dan
bunga-bunga desa.
Hari itu adalah hari terakhir Kelompok 212 di Desa
Sukodadi.
Hari ketika mereka harus mengakhiri empat puluh hari
pengabdian.
Hari ketika mereka harus berpamitan dengan desa yang telah
menjadi rumah kedua.
Herman terbangun lebih awal dari biasanya.
Ia duduk di tepi ranjang, memandang keluar jendela.
Pemandangan yang sudah begitu akrab.
Sawah hijau di kejauhan.
Gunung-gunung di cakrawala.
Dan pohon rambutan di halaman belakang.
"Hari terakhir," pikirnya. "Rasanya baru kemarin kita
datang."
Ia menghela napas panjang.
Hari ini akan menjadi hari yang penuh haru.
Bagian 2: Persiapan Pulang
Di rumah mahasiswa putri, suasana juga sudah ramai sejak
subuh.
Maya sedang melipat pakaiannya dengan hati-hati.
Laras mengemas buku-buku yang telah mereka bawa.
Nadia membersihkan kamar mandi untuk terakhir kalinya.
Semua bekerja dengan tenang.
Namun di balik ketenangan itu, ada kesedihan yang tak
terucap.
"Aku akan merindukan tempat ini," kata Maya lirih.
Laras mengangguk.
"Aku juga. Sudah seperti rumah sendiri."
Nadia menambahkan,
"Anak-anak PAUD pasti akan merindukan kita."
Maya tersenyum sedih.
"Aku juga akan merindukan mereka."
Bagian 3: Sarapan
Terakhir
Sarapan pagi itu diadakan bersama di Balai Desa.
Ibu-ibu PKK menyiapkan makanan istimewa.
Nasi liwet, ayam goreng, ikan bakar, sambal terasi, dan
berbagai lauk khas Kalimantan.
Semua anggota Kelompok 212 dan warga desa duduk bersama.
Suasana hangat, tetapi ada haru yang mengendap.
Pak Bambang memulai sambutan.
"Hari ini adalah hari terakhir kalian di Sukodadi.
Empat puluh hari yang lalu, kami menyambut kalian sebagai tamu. Hari ini, kami
melepas kalian sebagai keluarga."
Maya menundukkan kepala menahan tangis.
"Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian,"
lanjut Pak Bambang. "Kalian telah membawa semangat baru. Kalian telah
mengajar anak-anak kami. Kalian telah membantu pekerjaan kami. Kalian telah
menjadi bagian dari desa ini."
Tepuk tangan bergema.
Bagian 4: Penyerahan
Kenang-kenangan
Setelah sarapan, acara dilanjutkan dengan penyerahan
kenang-kenangan.
Herman menyerahkan sebuah plakat kayu kepada Pak Bambang.
Di atas plakat itu tertulis:
"Untuk Desa Sukodadi — Rumah Kedua Kami"
— Kelompok 212 KKN UTH Palangkaraya
Pak Bambang menerima plakat itu dengan tangan gemetar.
"Ini akan kami pajang di ruang rapat," katanya.
"Agar selalu mengingatkan kami bahwa kebaikan selalu datang dari mana
saja."
Mak Sari juga memberikan sesuatu.
Sebuah kain tenun tradisional Kalimantan.
"Ini untuk kalian," katanya kepada Herman dan
Maya. "Agar kalian selalu mengingat bahwa di desa kecil ini, ada
orang-orang yang mencintai kalian."
Herman menerima kain itu dengan hormat.
"Terima kasih, Mak. Kami akan menjaganya
selamanya."
Bagian 5: Ucapan
Perpisahan
Herman naik ke panggung kecil yang digunakan untuk Festival
Literasi.
Ia memandang warga yang memenuhi halaman.
"Bapak, Ibu, dan adik-adik sekalian..."
Suaranya bergetar.
"Empat puluh hari yang lalu, kami datang dengan penuh
semangat. Kami berpikir kami akan mengajar kalian. Namun ternyata—kalian yang
mengajar kami."
Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Kami belajar tentang gotong royong. Kami belajar
tentang kebersamaan. Kami belajar tentang kesederhanaan yang penuh makna. Kami
belajar bahwa cinta dan kasih sayang tidak memerlukan kemewahan."
Warga mulai menangis.
"Dan kami belajar tentang Pak Karim dan Mbah Minah.
Kami belajar bahwa setiap jiwa layak didengar. Bahwa setiap cerita layak
dihormati. Bahwa cinta sejati tidak pernah mati."
Herman berhenti sejenak.
"Terima kasih telah menerima kami. Terima kasih telah
menganggap kami sebagai keluarga. Kami akan selalu mengingat kalian. Dan kami
akan selalu kembali."
Maya naik ke panggung berikutnya.
Ia membawa buku catatan kecil—buku yang selalu ia bawa
selama KKN.
"Aku menulis banyak hal selama di sini," katanya.
"Tentang anak-anak. Tentang ibu-ibu PKK. Tentang para bapak yang bekerja
di sawah. Tentang Mak Sari. Tentang Pak Bambang. Tentang semua orang."
Ia membuka salah satu halaman.
"Aku menulis tentang Rafi. Tentang puisi yang dia
bacakan untukku. Tentang mimpi-mimpinya. Tentang harapannya."
Rafi menangis di barisan depan.
"Dan aku menulis tentang Pak Karim dan Mbah Minah.
Tentang cinta mereka yang abadi. Tentang kesedihan mereka. Tentang kedamaian
yang akhirnya mereka temukan."
Maya menutup buku itu.
"Aku akan membawa semua tulisan ini pulang. Aku akan
menulisnya menjadi sebuah cerita. Cerita tentang Desa Sukodadi. Cerita tentang
kalian semua. Agar dunia tahu bahwa di desa kecil ini, ada cinta, ada
pengabdian, dan ada kebaikan."
Bagian 6: Pelukan
Perpisahan
Setelah sambutan, semua orang saling berpelukan.
Herman memeluk Pak Bambang.
"Terima kasih, Pak. Atas segalanya."
Pak Bambang menepuk punggungnya.
"Kalian selalu pulang ke sini, ya. Rumah kalian masih
ada di sini."
Maya memeluk Mak Sari.
"Terima kasih, Mak. Atas semua nasihat. Atas semua
pelajaran."
Mak Sari tersenyum.
"Kalian telah melakukan hal yang luar biasa. Pak Karim
dan Mbah Minah pasti bangga padamu."
Maya menangis.
"Aku akan selalu mengingat mereka. Dan aku akan selalu
mengingat Mak."
Alex memeluk anak-anak yang selama ini menjadi muridnya.
"Kalian harus rajin belajar, ya. Jangan lupa membaca
buku. Jangan lupa bermimpi."
Anak-anak menangis.
"Kak Alex... jangan pergi..."
Alex menahan air mata.
"Aku akan kembali. Aku janji."
Bagian 7: Terakhir Kali
di Bawah Pohon Rambutan
Sebelum berangkat, Herman dan Maya berjalan ke pohon
rambutan.
Mereka duduk di bawah pohon itu untuk terakhir kalinya.
"Di sinilah kita pertama kali mendengar mereka,"
kata Maya.
"Di sinilah kita menemukan kalung itu," kata
Herman.
"Di sinilah kita berdoa bersama."
"Di sinilah kita mengucapkan selamat tinggal."
Mereka terdiam beberapa saat.
Herman berbicara pelan.
"Pak Karim... Mbah Minah... kami akan pergi sekarang.
Tapi kami tidak akan melupakan kalian. Kami akan selalu mengingat cinta kalian.
Kami akan selalu mengingat kesetiaan kalian."
Maya menambahkan,
"Kami akan selalu mengingat bahwa setiap jiwa layak
didengar. Terima kasih telah mempercayai kami."
Angin berembus pelan.
Daun-daun pohon rambutan bergoyang.
Dan seolah menjawab—mereka mendengar bisikan pelan.
Bukan suara yang menakutkan.
Suara yang hangat.
Suara yang penuh kasih.
"Terima kasih..."
Bagian 8: Keberangkatan
Bus mulai berbaris di halaman Kantor Desa.
Semua barang sudah dimasukkan.
Semua orang sudah siap.
Warga desa berbaris di tepi jalan untuk mengantar.
Herman adalah orang terakhir yang naik ke bus.
Ia berdiri di pintu bus, memandang warga yang menatapnya
dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat tinggal, Sukodadi. Terima kasih atas
semuanya."
Pak Bambang menjawab,
"Selamat jalan, anak-anakku. Jangan lupa pulang."
Bus mulai bergerak.
Lambaian tangan.
Tangisan.
Tawa.
Dan doa.
Bagian 9: Perjalanan
Pulang
Di dalam bus, suasana hening.
Semua orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Maya menatap ke luar jendela, melihat Sukodadi semakin
menjauh.
Herman duduk di sampingnya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.
"Aku memikirkan semua yang terjadi," jawab Maya.
"Empat puluh hari yang lalu, kita datang sebagai mahasiswa. Sekarang kita
pulang sebagai pribadi yang berbeda."
Herman mengangguk.
"Kita telah melalui banyak hal. Persahabatan.
Pengabdian. Misteri. Ketakutan. Dan akhirnya—kedamaian."
Maya tersenyum.
"Aku akan menulis semua ini. Aku akan menulis cerita
tentang Sukodadi. Tentang Pak Karim dan Mbah Minah. Tentang kita semua."
Herman menggenggam tangannya.
"Aku akan membacanya."
Bagian 10: Catatan Akhir
Malam itu, ketika semua sudah tertidur di bus, Herman
menulis di buku catatannya:
"Empat puluh hari yang lalu, kami datang dengan niat
mengabdi. Kami pikir kami akan mengajar. Tapi ternyata—kami yang belajar. Kami
belajar tentang cinta. Kami belajar tentang kesetiaan. Kami belajar tentang
pengabdian. Kami belajar tentang kedamaian. Dan kami belajar bahwa setiap jiwa
layak didengar—bahkan jiwa yang telah tiada sekalipun."
"Pak Karim dan Mbah Minah telah pergi. Namun mereka
tidak akan pernah dilupakan. Dan kami—kami akan selalu mengingat mereka. Kami
akan selalu mengingat Sukodadi."
"Selamat tinggal, Sukodadi. Sampai jumpa lagi."
BAB XV
JEJAK
YANG TERTINGGAL
Bagian 1: Kembali ke
Palangkaraya
Bus yang membawa Kelompok 212 memasuki Kota Palangkaraya
pada sore hari. Gedung-gedung tinggi mulai terlihat di kejauhan. Suara klakson
kendaraan dan hiruk-pikuk kota kembali terdengar—suara yang dulu akrab, tetapi
kini terasa asing setelah empat puluh hari di Desa Sukodadi.
Herman memandang ke luar jendela.
"Kita sudah sampai," katanya pelan.
Maya yang duduk di sampingnya mengangguk.
"Rasanya aneh. Seperti baru saja kita meninggalkan
kota ini kemarin. Tapi rasanya juga seperti sudah bertahun-tahun."
Alex yang duduk di belakang mereka menambahkan,
"Aku sudah rindu Sukodadi. Rindu anak-anak. Rindu Mak
Sari. Rindu Pak Bambang."
Semua mengangguk setuju.
Bus berhenti di halaman kampus.
Di sana, beberapa orang tua telah menunggu.
Maya melihat ibunya berdiri di antara kerumunan.
Ia turun dari bus dan berlari memeluk ibunya.
"Bu... aku pulang."
Ibunya memeluknya erat.
"Aku rindu kamu, Nak."
Maya menangis.
"Aku juga rindu, Bu. Tapi aku juga rindu
Sukodadi."
Ibunya tersenyum.
"Ceritakan semuanya nanti."
Bagian 2: Menceritakan
Kisah
Malam itu, Maya duduk di kamarnya di rumah orang tuanya.
Di hadapannya terbentang buku catatan yang selalu ia bawa
selama KKN.
Ia membuka halaman pertama.
Tulisan tangannya sendiri—tulisan yang ia buat di hari
pertama KKN.
"Hari pertama di Sukodadi. Aku tidak tahu apa yang
akan terjadi. Tapi aku merasa ini akan menjadi pengalaman yang tak
terlupakan."
Maya tersenyum membaca tulisannya sendiri.
Ia melanjutkan membaca.
Halaman demi halaman.
Cerita tentang anak-anak.
Cerita tentang ibu-ibu PKK.
Cerita tentang Mak Sari.
Cerita tentang Pak Karim dan Mbah Minah.
Cerita tentang sumur tua.
Cerita tentang kalung.
Cerita tentang persahabatan.
Dan cerita tentang perpisahan.
Maya menutup buku itu.
Ia memandang keluar jendela.
Langit malam bertabur bintang.
"Besok," bisiknya. "Besok aku akan mulai
menulis. Aku akan menulis cerita tentang Sukodadi."
Bagian 3: Reuni Kecil
Seminggu kemudian, seluruh anggota Kelompok 212 bertemu di
sebuah kafe di dekat kampus.
Suasana akrab seperti dulu.
Alex masih menjadi sumber tawa.
Dimas masih sibuk dengan teknologinya.
Laras masih membawa camilan untuk semua orang.
Maya masih pendiam tapi penuh perhatian.
Herman masih menjadi pemimpin yang tenang.
"Aku rindu kalian semua," kata Laras.
"Aku juga," kata Alex. "Meskipun kita sering
bertengkar."
Semua tertawa.
Herman tersenyum.
"Kita sudah melalui banyak hal bersama. Itu membuat
kita lebih dekat."
Maya mengangguk.
"Aku sudah mulai menulis. Tentang Sukodadi. Tentang
kita. Tentang Pak Karim dan Mbah Minah."
"Serius?" tanya Alex.
Maya mengangguk.
"Aku ingin dunia tahu tentang mereka. Tentang desa
itu. Tentang cinta dan pengabdian."
Bagian 4: Bertemu Mak
Sari—dari Kejauhan
Suatu sore, Maya menerima telepon dari Pak Bambang.
"Maya, Mak Sari ingin berbicara denganmu."
Beberapa saat kemudian, suara Mak Sari terdengar di ujung
telepon.
"Nak Maya... bagaimana kabarmu?"
"Baik, Mak. Aku rindu Sukodadi."
Mak Sari tertawa kecil.
"Kami juga merindukan kalian. Anak-anak terus bertanya
kapan kalian kembali."
Maya menahan tangis.
"Aku akan kembali, Mak. Suatu hari nanti."
"Kami menunggumu, Nak."
Sebelum menutup telepon, Mak Sari berkata,
"Nak Maya... Pak Karim dan Mbah Minah... mereka masih
ada. Dalam kenangan kita. Dalam cerita yang kau tulis."
Maya mengangguk meskipun Mak Sari tidak bisa melihatnya.
"Aku tahu, Mak. Aku akan membuat mereka hidup dalam
tulisanku."
Bagian 5: Menulis Cerita
Maya mulai menulis dengan tekun.
Setiap malam, ia duduk di meja belajarnya dan mengetik.
Kisah demi kisah mengalir dari tangannya.
Tentang kedatangan mereka ke Sukodadi.
Tentang persahabatan yang terbentuk.
Tentang misteri sumur tua.
Tentang Pak Karim dan Mbah Minah.
Tentang cinta yang abadi.
Tentang pengabdian yang tulus.
Tentang perpisahan yang mengharukan.
Suatu malam, Herman menelepon Maya.
"Bagaimana tulisannya?"
Maya tersenyum.
"Sudah puluhan halaman. Aku menulis semua yang kita alami."
"Apa judulnya?"
Maya terdiam sejenak.
"Jejak di Balik Senja Sukodadi."
Herman mengangguk.
"Judul yang indah."
Maya tersenyum.
"Terima kasih, Herman. Tanpa kalian, aku tidak akan
bisa menulis ini."
Bagian 6: Membaca Hasil
Tulisan
Beberapa minggu kemudian, seluruh anggota Kelompok 212
berkumpul di rumah Maya.
Maya membacakan beberapa bagian dari tulisannya.
Tentang kedatangan mereka.
Tentang anak-anak PAUD.
Tentang Festival Literasi.
Tentang Mak Sari dan nasihatnya.
Tentang Pak Karim dan Mbah Minah.
Dan tentang perpisahan di bawah pohon rambutan.
Semua orang menangis mendengar cerita itu.
Alex mengusap air matanya.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan memiliki
cerita seperti ini."
Laras mengangguk.
"Aku akan selalu mengingat Sukodadi. Dan Pak Karim
serta Mbah Minah."
Herman menatap Maya dengan bangga.
"Kau telah menuliskan kenangan kita dengan indah,
Maya."
Maya tersenyum.
"Ini adalah hadiahku untuk mereka. Untuk Pak Karim dan
Mbah Minah. Untuk Desa Sukodadi. Dan untuk kita semua."
Bagian 7: Penerbitan
Setelah melalui proses yang panjang, buku Maya akhirnya
diterbitkan.
"Jejak di Balik Senja Sukodadi" menjadi judulnya.
Buku itu menceritakan tentang perjalanan dua belas
mahasiswa di sebuah desa terpencil.
Tentang persahabatan.
Tentang pengabdian.
Dan tentang misteri yang mengubah hidup mereka.
Saat buku itu terbit, Maya mengirimkan satu eksemplar ke
Desa Sukodadi.
Pak Bambang menerima buku itu dengan tangan gemetar.
Membacanya dengan penuh haru.
Anak-anak meminta Maya membacakan cerita untuk mereka.
Mak Sari menangis bahagia.
Pak Karim dan Mbah Minah—dalam kenangan—tersenyum.
Bagian 8: Kembali ke
Sukodadi
Setahun kemudian, Maya dan Herman kembali ke Desa Sukodadi.
Anak-anak menyambut mereka dengan riang.
"Kak Maya! Kak Herman!" teriak Rafi.
Maya memeluk Rafi erat.
"Aku kembali, Rafi. Aku menepati janjiku."
Rafi tersenyum.
"Aku sudah bisa membaca, Kak. Aku sudah membaca
bukumu."
Maya menangis bahagia.
Mereka berjalan menuju pohon rambutan.
Sumur tua itu kini telah benar-benar menjadi bagian dari
desa.
Di bawah pohon itu, Maya dan Herman duduk bersama.
"Mereka ada di sini," kata Maya pelan. "Pak
Karim dan Mbah Minah. Mereka ada di dalam setiap kata yang aku tulis."
Herman mengangguk.
"Mereka telah menemukan kedamaian. Dan kita—kita juga
telah menemukan kedamaian."
Maya menatap langit.
"Terima kasih, Pak Karim. Terima kasih, Mbah Minah.
Terima kasih telah mempercayai kami. Terima kasih telah mengajarkan kami arti
cinta dan pengabdian."
Bagian 9: Pesan yang
Tertinggal
Sebelum mereka kembali ke Palangkaraya, Mak Sari memberikan
sebuah amplop kepada Maya.
"Ini untukmu," katanya.
Maya membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat sehelai kertas tua dengan tulisan
tangan yang sudah pudar.
Tulisan yang sama dengan surat Mbah Minah.
"Untuk siapa pun yang membaca ini,
Aku, Minah, menulis surat ini dengan penuh harapan. Semoga
ada yang mendengar suara kami. Semoga ada yang membantu kami. Dan jika kalian
membaca ini—artinya kalian adalah orang yang kami tunggu.
Terima kasih telah mendengar kami. Terima kasih telah
membantu kami. Dan terima kasih telah mengingat kami.
Semoga hidupmu diberkati.
— Minah, 1978"
EPILOG
SATU TAHUN KEMUDIAN
Bagian 1: Pagi di
Palangkaraya
Satu tahun telah berlalu sejak Kelompok 212 meninggalkan
Desa Sukodadi.
Palangkaraya tetap sama seperti dulu. Gedung-gedung tinggi
menjulang. Lalu lintas padat di jam sibuk. Mahasiswa berlalu-lalang di kampus
Universitas Tunas Harapan. Namun bagi Maya, semuanya terasa berbeda.
Ia tidak lagi sama.
Desa Sukodadi telah mengubahnya.
Pengalaman di sana—persahabatan, pengabdian, misteri, dan
kedamaian—telah membentuknya menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih
bijaksana, dan lebih menghargai kehidupan.
Pagi itu, Maya duduk di perpustakaan kampus.
Di hadapannya terbentang laptop.
Di sampingnya, sebuah buku dengan sampul bergambar pohon
rambutan di atas sumur tua.
"Jejak di Balik Senja Sukodadi"
Buku itu telah menjadi best-seller di kalangan mahasiswa.
Banyak yang terinspirasi oleh kisah pengabdian mereka.
Banyak yang menangis membaca kisah Pak Karim dan Mbah
Minah.
Dan banyak yang ingin mengikuti jejak mereka—untuk
mengabdi, untuk mendengar, dan untuk membantu.
Bagian 2: Reuni di Kafe
Sore itu, seluruh anggota Kelompok 212 berkumpul di kafe
langganan mereka.
Suasana hangat seperti dulu.
Alex masih menjadi sumber tawa.
Dimas masih sibuk dengan teknologinya.
Laras masih membawa camilan untuk semua orang.
Herman masih menjadi pemimpin yang tenang.
Dan Maya—ia masih pendiam, tetapi matanya bersinar dengan
kebahagiaan.
"Sudah satu tahun," kata Alex sambil menyesap kopinya. "Rasanya
baru kemarin kita di Sukodadi."
Dimas mengangguk.
"Aku masih ingat suara ketukan di malam hari. Dan
bayangan di halaman."
Laras tertawa.
"Aku masih ingat bagaimana kita bertengkar soal jadwal
piket."
Semua tertawa.
Herman tersenyum.
"Tapi kita tetap bersama. Itulah yang
terpenting."
Bagian 3: Kabar dari
Sukodadi
"Aku mendapat kabar dari Pak Bambang," kata Maya. "Festival Literasi sekarang
menjadi acara tahunan. Anak-anak terus membaca. Perpustakaan desa semakin
ramai. Bahkan ada beberapa mahasiswa dari universitas lain yang ingin KKN di
Sukodadi."
Semua tersenyum mendengar kabar itu.
"Pak Karim dan Mbah Minah..." kata Alex pelan.
"Apakah mereka masih...?"
Maya menggeleng.
"Mereka sudah pergi. Tapi nama mereka tetap hidup. Mak
Sari menanam pohon rambutan lain di samping sumur itu. Sebagai pengingat."
"Mak Sari masih sehat?" tanya Laras.
"Masih. Beliau selalu bertanya tentang kita. Dan
beliau selalu berpesan—'Jangan lupakan Sukodadi.'"
Bagian 4: Surat dari Mak
Sari
Maya mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya.
"Ini surat dari Mak Sari. Untuk kita semua."
Ia membacakan surat itu dengan suara pelan:
"Untuk anak-anakku tersayang,
Satu tahun telah berlalu sejak kalian pergi. Namun rasanya
baru kemarin kalian datang. Tawa kalian masih terdengar di setiap sudut desa.
Senyum kalian masih terbayang di setiap wajah yang pernah kalian sentuh.
Pak Karim dan Mbah Minah—mereka sudah tenang. Namun mereka
tidak akan pernah dilupakan. Setiap kali angin berembus di bawah pohon
rambutan, aku mendengar bisikan mereka. Bukan bisikan sedih. Bisikan bahagia.
Bisikan syukur.
Anak-anak di sini terus membaca. Mereka terus bermimpi.
Mereka terus mengingat kalian. Rafi sekarang sudah bisa membaca buku-buku
tebal. Ia bercita-cita menjadi penulis seperti Maya.
Terima kasih telah datang ke Sukodadi. Terima kasih telah
mengajarkan kami bahwa kebaikan selalu datang dari mana saja. Terima kasih
telah menjadi keluarga bagi kami.
Kami menunggu kalian kembali.
— Mak Sari"
Semua orang menangis mendengar surat itu.
Alex mengusap air matanya.
"Aku rindu Sukodadi. Aku rindu anak-anak. Aku rindu
Mak Sari."
Herman menggenggam tangan Maya.
"Kita harus kembali. Suatu hari nanti.
Bersama-sama."
Bagian 5: Kunjungan ke
Sukodadi
Tiga bulan kemudian, seluruh anggota Kelompok 212 kembali
ke Desa Sukodadi.
Kali ini bukan untuk KKN.
Kali ini untuk pulang.
Anak-anak menyambut mereka dengan riang.
Rafi—yang kini sudah lebih tinggi—berlari menghampiri Maya.
"Kak Maya! Aku sudah membaca bukumu! Aku suka cerita
tentang Pak Karim dan Mbah Minah!"
Maya memeluk Rafi erat.
"Aku senang kau suka, Rafi."
Rafi menatap Maya dengan mata berbinar.
"Aku ingin menjadi penulis seperti Kak Maya. Aku ingin
menulis cerita tentang desa kita."
Maya tersenyum.
"Kau pasti bisa, Rafi. Teruslah menulis. Teruslah
bermimpi."
Mereka berjalan menuju pohon rambutan.
Pohon itu kini telah tumbuh besar.
Daun-daunnya rimbun.
Di bawahnya, sebuah bangku kayu sederhana telah
ditempatkan.
Maya dan Herman duduk di bangku itu.
"Mereka ada di sini," kata Maya pelan. "Pak
Karim dan Mbah Minah. Mereka ada di dalam setiap hembusan angin. Di dalam
setiap daun yang bergoyang. Di dalam setiap senyum anak-anak."
Herman mengangguk.
"Mereka telah mengajarkan kita banyak hal. Tentang
cinta. Tentang kesetiaan. Tentang pengabdian. Tentang mendengar."
Bagian 6: Mak Sari dan
Nasihat Terakhir
Mak Sari menyambut mereka di rumahnya.
Perempuan tua itu masih sama seperti dulu.
Rambutnya putih, matanya tajam, dan senyumnya hangat.
"Anak-anakku..." katanya sambil memeluk mereka
satu per satu.
"Kami rindu Mak," kata Laras.
Mak Sari tersenyum.
"Aku juga merindukan kalian. Setiap hari, aku
membayangkan kalian masih di sini. Tertawa. Bercanda. Mengajar anak-anak."
Maya menunjukkan salinan bukunya kepada Mak Sari.
"Ini, Mak. Buku yang aku tulis tentang Sukodadi.
Tentang Pak Karim dan Mbah Minah. Tentang kita semua."
Mak Sari menerima buku itu dengan tangan gemetar.
Ia membuka halaman pertama.
Membaca beberapa kalimat.
Air mata mengalir di pipinya.
"Ini... ini indah sekali, Nak. Kau telah membuat
mereka hidup kembali."
Maya menangis.
"Aku ingin dunia tahu tentang mereka, Mak. Tentang
cinta mereka. Tentang kesetiaan mereka."
Mak Sari memeluk Maya.
"Mereka pasti bangga padamu, Nak. Mereka pasti
tersenyum di surga."
Bagian 7: Tradisi Baru
Malam itu, seluruh warga desa dan Kelompok 212 berkumpul di
bawah pohon rambutan.
Mereka membawa lilin-lilin kecil.
Menerangi kegelapan malam.
Pak Bambang berdiri di tengah.
"Hari ini, kita memulai tradisi baru," katanya.
"Setiap tahun, pada malam perpisahan kalian, kita akan berkumpul di bawah
pohon ini. Kita akan menyalakan lilin. Kita akan berdoa. Kita akan mengingat
Pak Karim dan Mbah Minah. Dan kita akan mengingat bahwa cinta sejati tidak
pernah mati."
Maya menyalakan lilin pertamanya.
"Untuk Pak Karim dan Mbah Minah," bisiknya.
"Terima kasih telah mempercayai kami. Terima kasih telah mengajarkan kami
arti cinta dan kesetiaan."
Herman menyalakan lilin berikutnya.
"Untuk Desa Sukodadi. Terima kasih telah menjadi rumah
kedua bagi kami."
Alex menyalakan lilin.
"Untuk semua orang yang pernah membantu kami. Terima
kasih atas segalanya."
Satu per satu, lilin-lilin menyala.
Menerangi malam.
Menerangi kenangan.
Menerangi hati.
Bagian 8: Malam di Bawah
Bintang
Setelah acara selesai, Herman dan Maya duduk di bangku di
bawah pohon rambutan.
Langit malam bertabur bintang.
Angin berembus pelan.
Daun-daun bergoyang.
"Aku bahagia," kata
Maya.
Herman menoleh.
"Apa yang membuatmu bahagia?"
Maya tersenyum.
"Kita berhasil. Kita membantu mereka. Kita
menyelesaikan semua yang harus kita selesaikan. Dan sekarang—kita bisa kembali.
Bukan sebagai tamu. Tapi sebagai keluarga."
Herman menggenggam tangannya.
"Aku juga bahagia. Aku bahagia karena kita bersama.
Karena kita tidak pernah menyerah. Karena kita selalu saling mendukung."
Maya menatap langit.
"Aku ingin suatu hari nanti... anak-anakku tahu
tentang cerita ini. Tentang Pak Karim dan Mbah Minah. Tentang Sukodadi. Tentang
kita."
Herman tersenyum.
"Mereka akan tahu. Karena kau sudah
menuliskannya."
Bagian 9: Kenangan yang
Abadi
Keesokan paginya, Kelompok 212 bersiap pulang.
Warga desa kembali berkumpul di halaman balai.
Air mata, pelukan, dan senyum bercampur menjadi satu.
Rafi mendekati Maya dengan selembar kertas.
"Ini, Kak Maya. Puisi untukmu."
Maya menerima kertas itu dan membaca:
"Kak Maya datang dari kota
Membawa cerita dan cinta
Mengajar kami membaca
Mengajarkan kami bermimpi
Kak Maya pergi ke kota
Meninggalkan jejak di hati
Kami akan selalu mengingat
Bahwa kebaikan selalu datang
Terima kasih, Kak Maya
Untuk semua yang kau berikan
Kami akan terus membaca
Kami akan terus bermimpi
Dan suatu hari nanti
Kami akan menulis cerita
Tentang Kak Maya
Dan tentang Sukodadi"
Maya menangis membaca puisi itu.
Ia memeluk Rafi erat.
"Puisi ini indah, Rafi. Aku akan menjaganya selamanya."
Rafi tersenyum.
"Aku akan menjadi penulis, Kak. Aku janji."
Bagian 10: Pesan
Terakhir
Sebelum bus berangkat, Mak Sari berjalan mendekati Herman
dan Maya.
"Anak-anakku..." katanya pelan. "Aku ingin
memberikan sesuatu."
Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.
Di dalamnya terdapat dua gelang anyaman tradisional.
"Ini untuk kalian. Aku membuatnya sendiri. Agar kalian
selalu ingat bahwa di desa kecil ini, ada orang-orang yang mencintai
kalian."
Herman dan Maya menerima gelang itu dengan hormat.
"Terima kasih, Mak," kata Herman. "Kami akan
menjaganya selamanya."
Mak Sari tersenyum.
"Dan ingatlah... setiap kali kalian melihat pohon
rambutan, ingatlah bahwa ada dua jiwa yang telah menemukan kedamaian berkat
kalian. Dan ada sebuah desa yang selalu menunggu kepulangan kalian."
Bagian 11: Perjalanan
Pulang
Bus mulai bergerak.
Maya menatap ke luar jendela.
Desa Sukodadi perlahan menjauh.
Pohon rambutan semakin kecil.
Anak-anak masih melambaikan tangan.
Mak Sari masih berdiri di depan rumahnya.
Pak Bambang mengangkat tangan sebagai salam perpisahan.
Maya menutup matanya.
Ia mengingat semua yang telah terjadi.
Empat puluh hari yang mengubah hidup mereka.
Persahabatan yang tak tergantikan.
Pengabdian yang tulus.
Misteri yang menguji keberanian.
Dan kedamaian yang akhirnya ditemukan.
"Terima kasih, Sukodadi," bisiknya. "Kau
telah memberiku segalanya."
Herman menggenggam tangannya.
"Kita akan kembali, Maya. Suatu hari nanti."
Maya membuka matanya dan tersenyum.
"Aku tahu, Herman. Aku tahu."
Bagian 12: Epilog yang
Tertulis
Di akhir bukunya, Maya menulis:
"Pak Karim dan Mbah Minah telah pergi. Namun mereka
tidak akan pernah dilupakan. Mereka hidup dalam kenangan. Mereka hidup dalam
cerita. Dan mereka hidup dalam hati setiap orang yang pernah mendengar suara
mereka."
"Desa Sukodadi mungkin kecil. Tapi ia memiliki cerita
besar. Cerita tentang cinta. Cerita tentang pengabdian. Cerita tentang
persahabatan. Dan cerita tentang kedamaian."
"Kami datang sebagai mahasiswa. Kami pulang sebagai
keluarga. Dan kami akan selalu kembali—ke rumah yang telah memberikan kami
segalanya."
"Kepada Pak Karim dan Mbah Minah—terima kasih telah
mempercayai kami. Kepada Mak Sari—terima kasih telah membimbing kami. Kepada
Pak Bambang—terima kasih telah menerima kami. Kepada seluruh warga Sukodadi—terima
kasih telah menjadi keluarga bagi kami."
"Dan kepada Rafi—teruslah menulis. Teruslah bermimpi.
Suatu hari nanti, dunia akan membaca ceritamu."
"Ini bukan akhir. Ini adalah awal dari
segalanya."
Bagian 13: Dua Tahun
Kemudian
Dua tahun kemudian, Maya menerima kabar dari Desa Sukodadi.
Rafi—anak kecil yang dulu menulis puisi untuknya—telah
menerbitkan buku pertamanya.
Judulnya: "Di Bawah Pohon Rambutan"
Buku itu bercerita tentang seorang mahasiswi yang datang ke
desa kecil dan mengajarkan anak-anak tentang mimpi.
Maya membaca buku itu sambil menangis.
Di halaman terakhir, Rafi menulis:
"Untuk Kak Maya—yang mengajarkanku bahwa kata-kata
bisa mengubah dunia. Terima kasih telah mempercayai mimpiku."
Bagian 14: Senja di
Sukodadi
Di Desa Sukodadi, senja masih sama seperti dulu.
Cahaya keemasan membias di permukaan sungai.
Bayangan pepohonan memanjang mengikuti langkah matahari
yang bersiap tenggelam.
Di bawah pohon rambutan, Mak Sari duduk bersama beberapa
anak.
Ia membacakan buku Maya untuk mereka.
"Dan mereka akhirnya menemukan kedamaian," kata
Mak Sari menutup buku itu.
Anak-anak tersenyum.
"Kak Maya dan Kak Herman akan kembali, kan, Mak?"
tanya salah satu anak.
Mak Sari tersenyum.
"Suatu hari nanti, Nak. Suatu hari nanti."
Angin berembus pelan.
Daun-daun pohon rambutan bergoyang.
Dan di kejauhan—seolah menjawab—terdengar suara bisikan
pelan.
Bukan suara yang menakutkan.
Suara yang hangat.
Suara yang penuh syukur.
"Terima kasih..."
Maya dan Herman, di Palangkaraya, mendengar bisikan itu di
dalam hati mereka.
Mereka tersenyum.
Mereka tahu—Pak Karim dan Mbah Minah masih bersama mereka.
Dalam kenangan.
Dalam cerita.
Dan dalam cinta yang abadi.
Bagian 15: Kata Penutup
dari Penulis
Novel ini adalah penghormatan bagi semua jiwa yang telah
pergi, tetapi tidak pernah dilupakan. Penghormatan bagi semua pengabdian yang
tulus. Penghormatan bagi semua persahabatan yang sejati. Dan penghormatan bagi
semua desa—kecil dan sederhana—yang mengajarkan kita bahwa cinta dan kebaikan
adalah hal yang paling berharga dalam hidup.
— Slamet Riyadi, 2026
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar