Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Kamis, 10 September 2026

CERPEN CINTA TAK BERBATAS WAKTU

 

 


CERPEN

CINTA TAK BERBATAS WAKTU

Sebuah Cerpen Romansa tentang Cinta, Jarak, Kehilangan, Pengampunan, dan Kesetiaan yang Tak Lekang oleh Waktu

Oleh: Slamet Riyadi


Sungai Kapuas mengalir perlahan di bawah langit senja.

Permukaannya memantulkan warna jingga yang perlahan berubah menjadi keemasan. Perahu-perahu kecil bergerak tenang, meninggalkan riak yang memecah bayangan langit. Di tepian sungai, kehidupan Kota Kuala Kapuas berjalan seperti biasa. Orang-orang datang dan pergi, anak-anak berlarian, pedagang mulai membereskan dagangan, sementara angin membawa aroma air sungai yang khas.

Namun bagi Aria Rhamadan, tempat itu bukan sekadar tepian sungai.

Sungai Kapuas menyimpan sebuah nama.

Sekar.

Nama yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Aria berdiri seorang diri di tepian sungai. Usianya telah bertambah. Wajahnya tidak lagi seperti pemuda yang dahulu sering berjalan menyusuri jalan desa bersama seorang gadis bernama Sekar Tanjung.

Tetapi beberapa hal tidak berubah.

Tatapan matanya ketika memandang sungai itu masih menyimpan sesuatu yang sama.

Kerinduan.

Ia tersenyum tipis.

“Entah kamu masih mengingat tempat ini atau tidak, Sekar.”

Angin menjawab dengan sunyi.

Dan seperti sebuah pintu yang terbuka perlahan, kenangan itu kembali membawanya ke masa lalu.

Ke sebuah desa bernama Sriwidadi.


 

Saat itu Aria belum mengenal Sekar.

Mereka sama-sama tinggal di Desa Sriwidadi. Desa yang kehidupan masyarakatnya berjalan sederhana, di antara perkebunan sawit dan karet, jalan desa yang panjang, serta hubungan antarwarga yang masih begitu dekat.

Aria bukan pemuda yang memiliki banyak hal untuk dibanggakan.

Ia hidup sederhana.

Namun ia memiliki satu prinsip yang selalu ditanamkan ayahnya, Pak Rahman.

“Kalau ingin dihargai orang, jangan hanya mengejar apa yang kamu punya. Kejarlah apa yang bisa kamu perjuangkan.”

Nasihat itu selalu diingat Aria.

Sementara Sekar adalah seorang perempuan muda yang dikenal cerdas dan memiliki keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan.

Pertemuan pertama mereka berlangsung biasa saja.

Tidak ada musik.

Tidak ada hujan.

Tidak ada adegan seperti dalam film.

Hanya sebuah pertemuan sederhana yang kelak mengubah perjalanan hidup mereka.

Sekar tersenyum ketika Aria membantu mengambil sesuatu yang terjatuh dari tangannya.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Mereka kemudian berjalan ke arah yang berbeda.

Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari sebuah kisah panjang.


 

Hari-hari berikutnya mempertemukan mereka semakin sering.

Awalnya hanya percakapan sederhana.

Tentang desa.

Tentang pekerjaan.

Tentang pendidikan.

Tentang masa depan.

Namun semakin sering berbicara, semakin mereka menyadari bahwa ada kenyamanan yang sulit dijelaskan.

Aria menyukai cara Sekar berbicara tentang cita-citanya.

Sekar menyukai kesederhanaan Aria.

Tidak lama kemudian, kebersamaan mereka menjadi sesuatu yang mulai diperhatikan orang-orang terdekat.

Fahri, sahabat Aria, adalah orang pertama yang menyadarinya.

Suatu sore Fahri menepuk bahu Aria.

“Kamu suka sama Sekar?”

Aria tersenyum.

“Kenapa bertanya begitu?”

“Karena kalau kamu melihat dia, wajahmu berbeda.”

Aria tertawa kecil.

“Memangnya bagaimana?”

“Seperti orang menemukan alasan untuk pulang.”

Aria terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi benar.

Sekar perlahan menjadi seseorang yang ingin ia temui setelah hari yang panjang.


 

Sesekali mereka pergi ke Kuala Kapuas.

Tidak selalu untuk sesuatu yang penting.

Kadang hanya berjalan-jalan, membeli makanan, berbincang, lalu duduk di tepian Sungai Kapuas.

Di tempat itulah hubungan mereka semakin dekat.

Suatu sore Sekar bertanya,

“Aria, kamu pernah membayangkan masa depanmu?”

“Pernah.”

“Seperti apa?”

Aria memandang sungai.

“Sederhana.”

“Cuma itu?”

“Punya pekerjaan yang cukup. Bisa membahagiakan orang tua. Dan...”

Aria berhenti.

Sekar tersenyum.

“Dan?”

“Punya seseorang yang mau berjalan bersama.”

Sekar menunduk.

“Siapa?”

Aria tersenyum.

“Belum tahu.”

Padahal ia tahu.

Sekar juga tahu.

Mereka hanya belum berani mengatakannya.


 

Hubungan mereka akhirnya diketahui keluarga.

Pak Rahman tidak langsung melarang.

Ia hanya memandang Aria lama sebelum berkata,

“Kalau kamu memang serius, jangan jadikan cinta sebagai alasan untuk melupakan tanggung jawab.”

“Saya mengerti, Pak.”

“Cinta itu bukan hanya soal ingin bersama.”

Pak Rahman menarik napas.

“Cinta juga tentang kesanggupan bertahan ketika keadaan tidak sesuai keinginan.”

Sementara Bu Salmah lebih lembut.

Ia memahami perubahan anaknya.

“Kamu sungguh-sungguh menyayangi Sekar?”

Aria mengangguk.

“Iya, Bu.”

“Kalau begitu, jangan hanya jaga perasaanmu. Jaga juga masa depannya.”

Nasihat itu kelak menjadi sesuatu yang sangat penting bagi Aria.

Di rumah Sekar, persoalannya sedikit berbeda.

Pak Darmawan menyayangi putrinya dengan cara yang sangat protektif.

Ia tidak membenci Aria.

Ia hanya khawatir.

“Sekar harus menyelesaikan pendidikannya,” katanya kepada Bu Ratih.

“Saya tahu.”

“Jangan sampai hubungan ini membuatnya mengambil keputusan terburu-buru.”

Bu Ratih tersenyum.

“Kadang cinta bukan penghalang, Pak. Kalau dijalani dengan benar, cinta justru bisa menjadi alasan seseorang berjuang lebih keras.”

Pak Darmawan diam.

Ia belum sepenuhnya yakin.


 

Kabar yang selama ini ditunggu Sekar akhirnya datang.

Ia diterima untuk melanjutkan pendidikan di luar kota.

Seharusnya itu menjadi kabar bahagia.

Namun bagi Aria, kabar itu membawa dua perasaan sekaligus.

Ia bangga.

Sekaligus takut.

Ketika Sekar menyampaikan kabar itu, Aria tersenyum.

“Selamat.”

Sekar memandang wajahnya.

“Kamu bahagia?”

“Bahagia.”

“Tapi?”

Aria terdiam.

“Aku cuma takut.”

“Takut apa?”

“Takut kehilangan kamu.”

Sekar menarik napas panjang.

“Aria, aku pergi bukan untuk meninggalkanmu.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu jangan membuat keberangkatanku terasa seperti sebuah kesalahan.”

Aria menunduk.

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Aku hanya ingin kamu mendukungku.”

“Aku akan mencoba.”

Sekar tersenyum tipis.

Namun sejak saat itu, hubungan mereka mulai memasuki masa yang berbeda.

Bukan karena cinta mereka berkurang.

Melainkan karena ketakutan mulai ikut berbicara.


Pak Darmawan kemudian meminta Sekar berbicara.

“Sekar.”

“Iya, Ayah.”

“Ayah ingin kamu mengurangi pertemuan dengan Aria.”

Sekar terkejut.

“Kenapa?”

“Karena sebentar lagi kamu akan pergi. Ayah ingin kamu fokus.”

“Aria bukan penghalang pendidikan saya.”

“Ayah tidak mengatakan dia penghalang.”

“Lalu?”

Pak Darmawan menghela napas.

“Ayah hanya takut kamu mengambil keputusan besar karena perasaan.”

Sekar menatap ayahnya.

“Saya bisa membedakan cinta dan masa depan.”

Pak Darmawan diam.

“Saya ingin Ayah percaya kepada saya.”

Bu Ratih yang mendengar percakapan itu kemudian mendekat.

“Pak, jangan buat Sekar merasa harus memilih.”

Pak Darmawan memandang istrinya.

“Cinta seharusnya tidak membuat seorang anak memilih antara orang yang dicintainya dan masa depannya,” lanjut Bu Ratih.

Kata-kata itu membuat Pak Darmawan terdiam.


Di sisi lain, Aria mulai bekerja lebih keras.

Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan seseorang yang hanya pandai mencintai.

Ia ingin memiliki masa depan yang pantas.

Namun kesibukan itu justru mulai menciptakan jarak baru.

Suatu malam Sekar menelepon.

“Kamu sibuk?”

“Iya.”

“Bisa bicara sebentar?”

Aria berhenti bekerja.

“Bisa.”

Namun percakapan mereka tidak lagi seperti dahulu.

“Aku merasa kamu semakin jauh,” kata Sekar.

“Aku sedang berusaha.”

“Berusaha apa?”

“Berusaha punya masa depan.”

“Untuk siapa?”

“Untuk kita.”

Sekar terdiam.

“Aku tidak pernah meminta kamu menjadi orang lain, Aria.”

“Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku serius.”

“Kadang aku tidak butuh pembuktian. Aku hanya ingin kamu hadir.”

Aria tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa cinta saja tidak cukup jika komunikasi mulai dipenuhi prasangka.


Beberapa hari kemudian, Aria melihat Sekar bersama seorang laki-laki.

Mereka berbicara cukup akrab.

Aria merasa dadanya sesak.

Ia tidak bertanya.

Ia memilih pergi.

Fahri mengetahui perubahan sikap sahabatnya.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Jangan bohong.”

Aria akhirnya berkata,

“Aku melihat Sekar bersama laki-laki lain.”

Fahri menggeleng.

“Kamu sudah bertanya siapa dia?”

“Belum.”

“Kalau belum, jangan menghukum orang berdasarkan dugaan.”

Namun Aria sudah terlanjur dipenuhi ketakutan.

Belakangan ia baru mengetahui bahwa laki-laki itu adalah sepupu Sekar.

Kesalahpahaman itu sebenarnya sederhana.

Tetapi karena tidak dikomunikasikan sejak awal, ia berubah menjadi luka.


Sekar pun mengalami hal yang sama.

Suatu hari Nadia datang kepadanya.

“Aku dengar ada keluarga yang ingin memperkenalkan Aria dengan seorang perempuan.”

Sekar terdiam.

“Serius?”

“Aku hanya mendengar.”

Malam itu Sekar sulit tidur.

Ia mulai bertanya-tanya.

Apakah Aria akan menunggunya?

Apakah jarak akan membuatnya berubah?

Apakah seseorang yang baru akan datang ke kehidupan Aria?

Padahal perempuan yang dimaksud ternyata hanya seorang rekan kerja Aria.

Sekali lagi, sebuah kabar yang belum tentu benar hampir menghancurkan sesuatu yang dibangun dengan susah payah.


Belum selesai sampai di situ.

Keberangkatan Sekar ternyata dimajukan.

Aria mengetahuinya bukan dari Sekar, melainkan dari Nadia.

Ia merasa terluka.

“Kamu tidak memberitahuku?”

Sekar menunduk.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu semakin sedih.”

Aria tertawa getir.

“Justru karena kamu tidak memberitahuku, aku merasa lebih sedih.”

“Aku tidak ingin membuatmu berat.”

“Sekar, aku hanya ingin kamu jujur.”

Sekar menatapnya.

“Aku juga ingin kamu percaya.”

Keduanya terdiam.

Di antara mereka tidak ada kemarahan yang besar.

Yang ada hanyalah dua orang yang sama-sama takut kehilangan.


Beberapa hari sebelum keberangkatan, Aria menemukan sebuah dokumen pendidikan Sekar yang mencantumkan nama seorang laki-laki.

Ia bertanya dengan nada yang tidak seharusnya.

“Siapa dia?”

Sekar terkejut.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

“Aku hanya ingin tahu.”

“Tidak. Kamu sedang curiga.”

Aria terdiam.

Sekar menahan air mata.

“Kenapa kamu selalu takut kehilangan aku sampai-sampai membuatku merasa bersalah karena pergi?”

“Aku takut.”

“Aku juga takut, Aria.”

Air mata Sekar akhirnya jatuh.

“Tapi aku tidak pernah menjadikan ketakutanku sebagai alasan untuk mencurigaimu.”

Aria menyesal.

“Maaf.”

Sekar mengusap air matanya.

“Aku ingin pergi dengan tenang.”

“Aku tahu.”

“Aku ingin kamu menjadi orang yang percaya bahwa aku akan kembali.”

Aria mengangguk.

“Aku akan belajar.”


Pak Darmawan kemudian menemui Aria.

Mereka duduk berdua.

“Aria.”

“Iya, Pak.”

“Kalau kamu benar-benar mencintai Sekar, jangan jadikan kepergiannya sebagai hukuman.”

Aria menunduk.

“Saya tidak bermaksud begitu.”

“Saya tahu.”

Pak Darmawan menatapnya.

“Semua orang takut kehilangan. Ayah juga takut kehilangan anak saya. Tetapi hidup tidak bisa dijalani dengan ketakutan.”

Aria diam.

“Kalau Sekar pergi, apakah kamu sanggup menunggunya?”

Aria menarik napas panjang.

“Saya tidak tahu berapa lama, Pak.”

Pak Darmawan mengangguk.

“Tapi?”

“Saya tahu saya tidak ingin menghentikannya.”

Untuk pertama kalinya, Pak Darmawan melihat kedewasaan dalam diri Aria.


Malam sebelum keberangkatan, Aria dan Sekar bertemu.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada tuduhan.

Hanya dua orang yang sedang berusaha menerima kenyataan.

“Aku takut,” kata Sekar.

“Aku juga.”

“Aku takut kamu berubah.”

“Aku takut kamu menemukan kehidupan yang lebih baik tanpa aku.”

Sekar tersenyum sedih.

“Kalau kita terus takut, kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya akan terjadi.”

Aria mengangguk.

“Kita janji satu hal.”

“Apa?”

“Jangan saling membuat kesimpulan sebelum bertanya.”

Sekar tersenyum.

“Janji.”

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Jangan berhenti hidup hanya karena menunggu.”

Sekar terdiam.

“Kalau suatu hari nanti kita masih dipertemukan, kita mulai lagi dengan hati yang lebih dewasa.”

Aria memandangnya.

“Kalau aku masih mencintaimu?”

Sekar tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau begitu, mungkin waktu memang tidak pernah benar-benar memisahkan kita.”


Pagi datang terlalu cepat.

Keberangkatan Sekar kembali dimajukan.

Kali ini benar-benar tidak ada waktu untuk menunda.

Aria datang menemui Sekar.

Mereka berdiri berhadapan.

Sekar mengeluarkan sebuah foto dari tasnya.

Foto mereka ketika berada di tepian Sungai Kapuas.

“Ini untuk kamu.”

Aria menerima foto itu.

“Kenapa?”

“Supaya kamu tidak lupa.”

Aria tersenyum.

“Aku tidak akan lupa.”

Sekar menatapnya lama.

“Jaga dirimu.”

“Kamu juga.”

“Jangan terlalu sibuk.”

Aria tertawa kecil.

“Kamu juga jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Air mata Sekar jatuh.

Aria ingin memeluknya, tetapi mereka hanya saling menggenggam tangan.

Karena terkadang cinta tidak membutuhkan pelukan untuk membuktikan kesetiaan.

“Aku pergi bukan karena berhenti mencintaimu,” kata Sekar.

“Aku tahu.”

Aria menahan air matanya.

“Aku membiarkanmu pergi bukan karena aku menyerah.”

Sekar menatapnya.

“Lalu karena apa?”

“Karena aku mencintaimu.”

Sekar menangis.

Kemudian ia pergi.

Aria berdiri diam sampai sosok Sekar menghilang dari pandangan.

Hari itu ia belajar sesuatu.

Bahwa mencintai seseorang kadang berarti membiarkannya berjalan menuju masa depan yang ia impikan.


 

Hari berubah menjadi minggu.

Minggu menjadi bulan.

Kemudian tahun.

Sekar menjalani pendidikannya.

Aria menjalani kehidupannya.

Awalnya mereka masih sering berkomunikasi.

Namun perlahan kesibukan membuat percakapan semakin jarang.

Kadang Aria menunggu pesan.

Sekar juga menunggu.

Keduanya sama-sama ingin menghubungi.

Tetapi sama-sama takut mengganggu.

Waktu kemudian mengajarkan sesuatu yang pahit.

Tidak semua jarak muncul karena seseorang ingin pergi.

Kadang jarak tumbuh karena dua orang terlalu takut mengatakan bahwa mereka masih ingin tinggal.

Fahri pernah berkata,

“Kamu masih mencintai Sekar?”

Aria menjawab pelan,

“Masih.”

“Kenapa tidak mencarinya?”

“Aku takut dia sudah bahagia.”

“Dan kalau ternyata dia juga menunggu?”

Aria terdiam.

Pertanyaan itu menghantuinya selama bertahun-tahun.


Sekar pun tidak jauh berbeda.

Nadia pernah bertanya,

“Kamu masih mencintai Aria?”

Sekar tersenyum.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Karena setiap kali mendengar nama Kuala Kapuas, wajahmu berubah.”

Sekar memandang jauh.

“Aku tidak pernah benar-benar berhenti mencintainya.”

“Lalu kenapa tidak menghubunginya?”

Sekar menghela napas.

“Karena aku tidak tahu apakah dia masih menungguku.”

Nadia hanya tersenyum.

“Kadang manusia kehilangan sesuatu bukan karena cinta itu habis. Tapi karena tidak ada yang berani mengetuk pintu.”


 

Bertahun-tahun kemudian, Aria kembali ke Kuala Kapuas.

Sore itu ia berjalan menuju Sungai Kapuas.

Ia tidak tahu mengapa langkahnya membawa dirinya ke tempat yang begitu penuh kenangan.

Kemudian ia melihat seseorang.

Seorang perempuan berdiri tidak jauh dari tepian sungai.

Rambutnya tertiup angin.

Aria berhenti.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Perempuan itu menoleh.

Mata mereka bertemu.

Sekar.

Untuk beberapa detik, dunia seakan berhenti.

“Aria?”

Suara itu masih sama.

Aria tersenyum.

“Sekar.”

Mereka berdiri tanpa kata.

Bertahun-tahun telah berlalu.

Namun dalam satu tatapan, semua kenangan seperti kembali.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Sekar.

“Baik.”

“Kamu berubah.”

“Kamu juga.”

Mereka tertawa kecil.

Tetapi air mata justru mengalir.


Mereka kemudian duduk di tepian Sungai Kapuas.

Aria akhirnya mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan.

“Aku dulu pernah melihatmu bersama seorang laki-laki.”

Sekar tersenyum.

“Sepupuku.”

“Aku tahu sekarang.”

Sekar menunduk.

“Aku juga pernah mendengar kamu akan diperkenalkan dengan perempuan lain.”

“Rekan kerjaku.”

Mereka saling memandang.

Kemudian tertawa kecil.

Betapa lucunya hidup.

Mereka pernah hampir kehilangan satu sama lain karena sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

“Kenapa dulu kita tidak bertanya?” kata Sekar.

“Karena kita terlalu takut.”

“Takut kehilangan.”

“Padahal justru ketakutan itu yang membuat kita kehilangan waktu.”

Sekar mengangguk.


 

Pertemuan mereka tidak langsung membuat semuanya kembali seperti dulu.

Ada luka.

Ada waktu yang terlewat.

Ada kehidupan yang telah mereka jalani masing-masing.

Tetapi kali ini mereka tidak ingin terburu-buru.

Aria meminta maaf.

“Maaf karena dulu aku terlalu banyak curiga.”

Sekar tersenyum.

“Aku juga minta maaf karena pergi tanpa cukup menjelaskan.”

“Kita sama-sama salah.”

“Dan sama-sama belajar.”

Mereka terdiam.

Kemudian Sekar berkata,

“Mungkin kita memang harus berpisah dulu untuk belajar bagaimana mencintai dengan benar.”

Aria menatap sungai.

“Mungkin.”


 

Pak Darmawan akhirnya mengetahui bahwa Aria dan Sekar kembali bertemu.

Kali ini ia melihat sesuatu yang berbeda.

Aria bukan lagi pemuda yang dulu datang dengan keyakinan bahwa cinta cukup untuk mempertahankan hubungan.

Ia telah tumbuh.

Ia lebih tenang.

Lebih bertanggung jawab.

Dan yang paling penting, ia tidak lagi berusaha memiliki Sekar dengan cara memaksanya tinggal.

Pak Darmawan berkata,

“Dulu Ayah takut kamu belum siap.”

Aria menunduk.

“Saya mengerti, Pak.”

“Sekarang Ayah melihat kamu sudah belajar.”

Aria tersenyum.

“Saya banyak belajar dari kehilangan.”

Pak Darmawan mengangguk.

“Kalau begitu jangan sia-siakan kesempatan kedua.”


 

Aria dan Sekar tidak lagi berbicara tentang cinta seperti dua anak muda yang takut kehilangan.

Mereka berbicara tentang kehidupan.

Tentang keluarga.

Tentang pekerjaan.

Tentang masa depan.

Tentang kesalahan yang pernah mereka lakukan.

Mereka menyadari bahwa cinta bukan sekadar rasa yang membuat seseorang ingin selalu bersama.

Cinta juga berarti memberikan ruang.

Memberikan kepercayaan.

Memberikan kesempatan.

Dan yang paling penting, berani berkata jujur ketika hati sedang takut.

Suatu sore mereka kembali duduk di tepian Sungai Kapuas.

Sekar berkata,

“Kalau waktu bisa diulang, apa yang ingin kamu ubah?”

Aria tersenyum.

“Aku ingin lebih banyak bertanya daripada berprasangka.”

Sekar tertawa kecil.

“Kalau aku, aku ingin lebih banyak bicara daripada menyimpan semuanya sendiri.”

Mereka kemudian saling memandang.

Tidak ada lagi pertanyaan tentang siapa yang menunggu.

Tidak ada lagi ketakutan tentang siapa yang akan pergi.

Karena mereka akhirnya mengerti.

Cinta yang benar tidak selalu berarti tidak pernah berpisah.

Kadang cinta harus melewati jarak.

Harus melewati kesalahpahaman.

Harus melewati kehilangan.

Bahkan harus melewati waktu.

Namun jika dua hati masih memilih untuk saling memahami, waktu tidak akan mampu menghapus semuanya.


 

Senja kembali turun di atas Sungai Kapuas.

Aria berdiri di tempat yang sama seperti bertahun-tahun lalu.

Namun kali ini ia tidak sendiri.

Sekar berdiri di sampingnya.

Mereka memandang aliran sungai yang terus bergerak.

Aria tersenyum.

“Dulu aku pikir waktu adalah musuh cinta.”

Sekar menoleh.

“Sekarang?”

“Sekarang aku tahu waktu hanya menguji apakah cinta itu benar-benar memiliki alasan untuk bertahan.”

Sekar tersenyum.

“Dan kita?”

Aria menggenggam tangannya.

“Kita pernah kehilangan waktu.”

“Ya.”

“Tapi kita tidak kehilangan satu sama lain.”

Sekar memandang Sungai Kapuas.

Air sungai terus mengalir menuju tempat yang jauh.

Seperti kehidupan.

Tidak pernah kembali ke tempat yang sama.

Tetapi selalu membawa kenangan dari tempat-tempat yang pernah dilaluinya.

Begitu pula cinta mereka.

Pernah tumbuh di Desa Sriwidadi.

Pernah berjalan bersama di tepian Sungai Kapuas.

Pernah dipisahkan oleh jarak.

Pernah terluka oleh prasangka.

Pernah hampir hilang karena ketakutan.

Namun akhirnya kembali.

Bukan sebagai cinta yang sama.

Melainkan sebagai cinta yang telah dewasa.

Cinta yang mengerti bahwa memiliki bukan berarti menggenggam terlalu erat.

Menunggu bukan berarti menghentikan hidup.

Dan melepaskan bukan selalu berarti kehilangan.

Senja semakin turun.

Sekar bersandar perlahan di bahu Aria.

Mereka tidak berkata apa-apa.

Tidak perlu.

Karena setelah perjalanan panjang yang mereka lalui, keduanya akhirnya memahami satu hal:

Ada cinta yang tidak kalah oleh jarak.

Ada cinta yang tidak hancur oleh kehilangan.

Ada cinta yang tidak selesai hanya karena waktu memisahkan.

Dan mungkin, cinta seperti itulah yang disebut cinta tak berbatas waktu.

Di tepian Sungai Kapuas, Aria dan Sekar akhirnya menemukan kembali jalan menuju satu sama lain.

Bukan karena waktu berhenti.

Tetapi karena cinta mereka memilih untuk tetap hidup di dalamnya.

TAMAT

 

 

0 komentar:

Posting Komentar