CERPEN
CINTA TAK BERBATAS WAKTU
Sebuah Cerpen Romansa tentang Cinta, Jarak,
Kehilangan, Pengampunan, dan Kesetiaan yang Tak Lekang oleh Waktu
Oleh: Slamet Riyadi
Sungai Kapuas mengalir perlahan di
bawah langit senja.
Permukaannya memantulkan warna jingga
yang perlahan berubah menjadi keemasan. Perahu-perahu kecil bergerak tenang,
meninggalkan riak yang memecah bayangan langit. Di tepian sungai, kehidupan
Kota Kuala Kapuas berjalan seperti biasa. Orang-orang datang dan pergi,
anak-anak berlarian, pedagang mulai membereskan dagangan, sementara angin
membawa aroma air sungai yang khas.
Namun bagi Aria Rhamadan, tempat itu
bukan sekadar tepian sungai.
Sungai Kapuas menyimpan sebuah nama.
Sekar.
Nama yang selama bertahun-tahun tidak
pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Aria berdiri seorang diri di tepian
sungai. Usianya telah bertambah. Wajahnya tidak lagi seperti pemuda yang dahulu
sering berjalan menyusuri jalan desa bersama seorang gadis bernama Sekar
Tanjung.
Tetapi beberapa hal tidak berubah.
Tatapan matanya ketika memandang
sungai itu masih menyimpan sesuatu yang sama.
Kerinduan.
Ia tersenyum tipis.
“Entah kamu masih mengingat tempat ini
atau tidak, Sekar.”
Angin menjawab dengan sunyi.
Dan seperti sebuah pintu yang terbuka
perlahan, kenangan itu kembali membawanya ke masa lalu.
Ke sebuah desa bernama Sriwidadi.
Saat itu Aria belum mengenal Sekar.
Mereka sama-sama tinggal di Desa
Sriwidadi. Desa yang kehidupan masyarakatnya berjalan sederhana, di antara
perkebunan sawit dan karet, jalan desa yang panjang, serta hubungan antarwarga
yang masih begitu dekat.
Aria bukan pemuda yang memiliki banyak
hal untuk dibanggakan.
Ia hidup sederhana.
Namun ia memiliki satu prinsip yang
selalu ditanamkan ayahnya, Pak Rahman.
“Kalau ingin dihargai orang, jangan
hanya mengejar apa yang kamu punya. Kejarlah apa yang bisa kamu perjuangkan.”
Nasihat itu selalu diingat Aria.
Sementara Sekar adalah seorang
perempuan muda yang dikenal cerdas dan memiliki keinginan besar untuk
melanjutkan pendidikan.
Pertemuan pertama mereka berlangsung
biasa saja.
Tidak ada musik.
Tidak ada hujan.
Tidak ada adegan seperti dalam film.
Hanya sebuah pertemuan sederhana yang
kelak mengubah perjalanan hidup mereka.
Sekar tersenyum ketika Aria membantu
mengambil sesuatu yang terjatuh dari tangannya.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Mereka kemudian berjalan ke arah yang
berbeda.
Tidak ada yang menyangka bahwa
pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari sebuah kisah panjang.
Hari-hari berikutnya mempertemukan
mereka semakin sering.
Awalnya hanya percakapan sederhana.
Tentang desa.
Tentang pekerjaan.
Tentang pendidikan.
Tentang masa depan.
Namun semakin sering berbicara,
semakin mereka menyadari bahwa ada kenyamanan yang sulit dijelaskan.
Aria menyukai cara Sekar berbicara
tentang cita-citanya.
Sekar menyukai kesederhanaan Aria.
Tidak lama kemudian, kebersamaan
mereka menjadi sesuatu yang mulai diperhatikan orang-orang terdekat.
Fahri, sahabat Aria, adalah orang
pertama yang menyadarinya.
Suatu sore Fahri menepuk bahu Aria.
“Kamu suka sama Sekar?”
Aria tersenyum.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Karena kalau kamu melihat dia,
wajahmu berbeda.”
Aria tertawa kecil.
“Memangnya bagaimana?”
“Seperti orang menemukan alasan untuk
pulang.”
Aria terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi benar.
Sekar perlahan menjadi seseorang yang
ingin ia temui setelah hari yang panjang.
Sesekali mereka pergi ke Kuala Kapuas.
Tidak selalu untuk sesuatu yang
penting.
Kadang hanya berjalan-jalan, membeli
makanan, berbincang, lalu duduk di tepian Sungai Kapuas.
Di tempat itulah hubungan mereka
semakin dekat.
Suatu sore Sekar bertanya,
“Aria, kamu pernah membayangkan masa
depanmu?”
“Pernah.”
“Seperti apa?”
Aria memandang sungai.
“Sederhana.”
“Cuma itu?”
“Punya pekerjaan yang cukup. Bisa
membahagiakan orang tua. Dan...”
Aria berhenti.
Sekar tersenyum.
“Dan?”
“Punya seseorang yang mau berjalan
bersama.”
Sekar menunduk.
“Siapa?”
Aria tersenyum.
“Belum tahu.”
Padahal ia tahu.
Sekar juga tahu.
Mereka hanya belum berani
mengatakannya.
Hubungan mereka akhirnya diketahui
keluarga.
Pak Rahman tidak langsung melarang.
Ia hanya memandang Aria lama sebelum
berkata,
“Kalau kamu memang serius, jangan
jadikan cinta sebagai alasan untuk melupakan tanggung jawab.”
“Saya mengerti, Pak.”
“Cinta itu bukan hanya soal ingin
bersama.”
Pak Rahman menarik napas.
“Cinta juga tentang kesanggupan
bertahan ketika keadaan tidak sesuai keinginan.”
Sementara Bu Salmah lebih lembut.
Ia memahami perubahan anaknya.
“Kamu sungguh-sungguh menyayangi
Sekar?”
Aria mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Kalau begitu, jangan hanya jaga
perasaanmu. Jaga juga masa depannya.”
Nasihat itu kelak menjadi sesuatu yang
sangat penting bagi Aria.
Di rumah Sekar, persoalannya sedikit
berbeda.
Pak Darmawan menyayangi putrinya
dengan cara yang sangat protektif.
Ia tidak membenci Aria.
Ia hanya khawatir.
“Sekar harus menyelesaikan
pendidikannya,” katanya kepada Bu Ratih.
“Saya tahu.”
“Jangan sampai hubungan ini membuatnya
mengambil keputusan terburu-buru.”
Bu Ratih tersenyum.
“Kadang cinta bukan penghalang, Pak.
Kalau dijalani dengan benar, cinta justru bisa menjadi alasan seseorang
berjuang lebih keras.”
Pak Darmawan diam.
Ia belum sepenuhnya yakin.
Kabar yang selama ini ditunggu Sekar
akhirnya datang.
Ia diterima untuk melanjutkan
pendidikan di luar kota.
Seharusnya itu menjadi kabar bahagia.
Namun bagi Aria, kabar itu membawa dua
perasaan sekaligus.
Ia bangga.
Sekaligus takut.
Ketika Sekar menyampaikan kabar itu,
Aria tersenyum.
“Selamat.”
Sekar memandang wajahnya.
“Kamu bahagia?”
“Bahagia.”
“Tapi?”
Aria terdiam.
“Aku cuma takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan kamu.”
Sekar menarik napas panjang.
“Aria, aku pergi bukan untuk
meninggalkanmu.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu jangan membuat
keberangkatanku terasa seperti sebuah kesalahan.”
Aria menunduk.
“Aku tidak bermaksud begitu.”
“Aku hanya ingin kamu mendukungku.”
“Aku akan mencoba.”
Sekar tersenyum tipis.
Namun sejak saat itu, hubungan mereka
mulai memasuki masa yang berbeda.
Bukan karena cinta mereka berkurang.
Melainkan karena ketakutan mulai ikut
berbicara.
Pak Darmawan kemudian meminta Sekar berbicara.
“Sekar.”
“Iya, Ayah.”
“Ayah ingin kamu mengurangi pertemuan
dengan Aria.”
Sekar terkejut.
“Kenapa?”
“Karena sebentar lagi kamu akan pergi.
Ayah ingin kamu fokus.”
“Aria bukan penghalang pendidikan
saya.”
“Ayah tidak mengatakan dia
penghalang.”
“Lalu?”
Pak Darmawan menghela napas.
“Ayah hanya takut kamu mengambil
keputusan besar karena perasaan.”
Sekar menatap ayahnya.
“Saya bisa membedakan cinta dan masa
depan.”
Pak Darmawan diam.
“Saya ingin Ayah percaya kepada saya.”
Bu Ratih yang mendengar percakapan itu
kemudian mendekat.
“Pak, jangan buat Sekar merasa harus
memilih.”
Pak Darmawan memandang istrinya.
“Cinta seharusnya tidak membuat
seorang anak memilih antara orang yang dicintainya dan masa depannya,” lanjut
Bu Ratih.
Kata-kata itu membuat Pak Darmawan
terdiam.
Di sisi lain, Aria mulai bekerja lebih
keras.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya
bukan seseorang yang hanya pandai mencintai.
Ia ingin memiliki masa depan yang
pantas.
Namun kesibukan itu justru mulai
menciptakan jarak baru.
Suatu malam Sekar menelepon.
“Kamu sibuk?”
“Iya.”
“Bisa bicara sebentar?”
Aria berhenti bekerja.
“Bisa.”
Namun percakapan mereka tidak lagi
seperti dahulu.
“Aku merasa kamu semakin jauh,” kata
Sekar.
“Aku sedang berusaha.”
“Berusaha apa?”
“Berusaha punya masa depan.”
“Untuk siapa?”
“Untuk kita.”
Sekar terdiam.
“Aku tidak pernah meminta kamu menjadi
orang lain, Aria.”
“Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku
serius.”
“Kadang aku tidak butuh pembuktian.
Aku hanya ingin kamu hadir.”
Aria tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya, mereka
menyadari bahwa cinta saja tidak cukup jika komunikasi mulai dipenuhi
prasangka.
Beberapa hari kemudian, Aria melihat
Sekar bersama seorang laki-laki.
Mereka berbicara cukup akrab.
Aria merasa dadanya sesak.
Ia tidak bertanya.
Ia memilih pergi.
Fahri mengetahui perubahan sikap
sahabatnya.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Jangan bohong.”
Aria akhirnya berkata,
“Aku melihat Sekar bersama laki-laki
lain.”
Fahri menggeleng.
“Kamu sudah bertanya siapa dia?”
“Belum.”
“Kalau belum, jangan menghukum orang
berdasarkan dugaan.”
Namun Aria sudah terlanjur dipenuhi
ketakutan.
Belakangan ia baru mengetahui bahwa
laki-laki itu adalah sepupu Sekar.
Kesalahpahaman itu sebenarnya
sederhana.
Tetapi karena tidak dikomunikasikan
sejak awal, ia berubah menjadi luka.
Sekar pun mengalami hal yang sama.
Suatu hari Nadia datang kepadanya.
“Aku dengar ada keluarga yang ingin
memperkenalkan Aria dengan seorang perempuan.”
Sekar terdiam.
“Serius?”
“Aku hanya mendengar.”
Malam itu Sekar sulit tidur.
Ia mulai bertanya-tanya.
Apakah Aria akan menunggunya?
Apakah jarak akan membuatnya berubah?
Apakah seseorang yang baru akan datang
ke kehidupan Aria?
Padahal perempuan yang dimaksud
ternyata hanya seorang rekan kerja Aria.
Sekali lagi, sebuah kabar yang belum
tentu benar hampir menghancurkan sesuatu yang dibangun dengan susah payah.
Belum selesai sampai di situ.
Keberangkatan Sekar ternyata
dimajukan.
Aria mengetahuinya bukan dari Sekar,
melainkan dari Nadia.
Ia merasa terluka.
“Kamu tidak memberitahuku?”
Sekar menunduk.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu semakin sedih.”
Aria tertawa getir.
“Justru karena kamu tidak
memberitahuku, aku merasa lebih sedih.”
“Aku tidak ingin membuatmu berat.”
“Sekar, aku hanya ingin kamu jujur.”
Sekar menatapnya.
“Aku juga ingin kamu percaya.”
Keduanya terdiam.
Di antara mereka tidak ada kemarahan
yang besar.
Yang ada hanyalah dua orang yang
sama-sama takut kehilangan.
Beberapa hari sebelum keberangkatan,
Aria menemukan sebuah dokumen pendidikan Sekar yang mencantumkan nama seorang
laki-laki.
Ia bertanya dengan nada yang tidak
seharusnya.
“Siapa dia?”
Sekar terkejut.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Aku hanya ingin tahu.”
“Tidak. Kamu sedang curiga.”
Aria terdiam.
Sekar menahan air mata.
“Kenapa kamu selalu takut kehilangan
aku sampai-sampai membuatku merasa bersalah karena pergi?”
“Aku takut.”
“Aku juga takut, Aria.”
Air mata Sekar akhirnya jatuh.
“Tapi aku tidak pernah menjadikan
ketakutanku sebagai alasan untuk mencurigaimu.”
Aria menyesal.
“Maaf.”
Sekar mengusap air matanya.
“Aku ingin pergi dengan tenang.”
“Aku tahu.”
“Aku ingin kamu menjadi orang yang
percaya bahwa aku akan kembali.”
Aria mengangguk.
“Aku akan belajar.”
Pak Darmawan kemudian menemui Aria.
Mereka duduk berdua.
“Aria.”
“Iya, Pak.”
“Kalau kamu benar-benar mencintai
Sekar, jangan jadikan kepergiannya sebagai hukuman.”
Aria menunduk.
“Saya tidak bermaksud begitu.”
“Saya tahu.”
Pak Darmawan menatapnya.
“Semua orang takut kehilangan. Ayah
juga takut kehilangan anak saya. Tetapi hidup tidak bisa dijalani dengan
ketakutan.”
Aria diam.
“Kalau Sekar pergi, apakah kamu
sanggup menunggunya?”
Aria menarik napas panjang.
“Saya tidak tahu berapa lama, Pak.”
Pak Darmawan mengangguk.
“Tapi?”
“Saya tahu saya tidak ingin
menghentikannya.”
Untuk pertama kalinya, Pak Darmawan
melihat kedewasaan dalam diri Aria.
Malam sebelum keberangkatan, Aria dan
Sekar bertemu.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada tuduhan.
Hanya dua orang yang sedang berusaha
menerima kenyataan.
“Aku takut,” kata Sekar.
“Aku juga.”
“Aku takut kamu berubah.”
“Aku takut kamu menemukan kehidupan
yang lebih baik tanpa aku.”
Sekar tersenyum sedih.
“Kalau kita terus takut, kita tidak
akan pernah tahu apa yang sebenarnya akan terjadi.”
Aria mengangguk.
“Kita janji satu hal.”
“Apa?”
“Jangan saling membuat kesimpulan
sebelum bertanya.”
Sekar tersenyum.
“Janji.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan berhenti hidup hanya karena
menunggu.”
Sekar terdiam.
“Kalau suatu hari nanti kita masih
dipertemukan, kita mulai lagi dengan hati yang lebih dewasa.”
Aria memandangnya.
“Kalau aku masih mencintaimu?”
Sekar tersenyum dengan mata
berkaca-kaca.
“Kalau begitu, mungkin waktu memang
tidak pernah benar-benar memisahkan kita.”
Pagi datang terlalu cepat.
Keberangkatan Sekar kembali dimajukan.
Kali ini benar-benar tidak ada waktu
untuk menunda.
Aria datang menemui Sekar.
Mereka berdiri berhadapan.
Sekar mengeluarkan sebuah foto dari
tasnya.
Foto mereka ketika berada di tepian
Sungai Kapuas.
“Ini untuk kamu.”
Aria menerima foto itu.
“Kenapa?”
“Supaya kamu tidak lupa.”
Aria tersenyum.
“Aku tidak akan lupa.”
Sekar menatapnya lama.
“Jaga dirimu.”
“Kamu juga.”
“Jangan terlalu sibuk.”
Aria tertawa kecil.
“Kamu juga jangan terlalu keras pada
dirimu sendiri.”
Air mata Sekar jatuh.
Aria ingin memeluknya, tetapi mereka
hanya saling menggenggam tangan.
Karena terkadang cinta tidak
membutuhkan pelukan untuk membuktikan kesetiaan.
“Aku pergi bukan karena berhenti
mencintaimu,” kata Sekar.
“Aku tahu.”
Aria menahan air matanya.
“Aku membiarkanmu pergi bukan karena
aku menyerah.”
Sekar menatapnya.
“Lalu karena apa?”
“Karena aku mencintaimu.”
Sekar menangis.
Kemudian ia pergi.
Aria berdiri diam sampai sosok Sekar
menghilang dari pandangan.
Hari itu ia belajar sesuatu.
Bahwa mencintai seseorang kadang
berarti membiarkannya berjalan menuju masa depan yang ia impikan.
Hari berubah menjadi minggu.
Minggu menjadi bulan.
Kemudian tahun.
Sekar menjalani pendidikannya.
Aria menjalani kehidupannya.
Awalnya mereka masih sering
berkomunikasi.
Namun perlahan kesibukan membuat
percakapan semakin jarang.
Kadang Aria menunggu pesan.
Sekar juga menunggu.
Keduanya sama-sama ingin menghubungi.
Tetapi sama-sama takut mengganggu.
Waktu kemudian mengajarkan sesuatu
yang pahit.
Tidak semua jarak muncul karena
seseorang ingin pergi.
Kadang jarak tumbuh karena dua orang
terlalu takut mengatakan bahwa mereka masih ingin tinggal.
Fahri pernah berkata,
“Kamu masih mencintai Sekar?”
Aria menjawab pelan,
“Masih.”
“Kenapa tidak mencarinya?”
“Aku takut dia sudah bahagia.”
“Dan kalau ternyata dia juga
menunggu?”
Aria terdiam.
Pertanyaan itu menghantuinya selama
bertahun-tahun.
Sekar pun tidak jauh berbeda.
Nadia pernah bertanya,
“Kamu masih mencintai Aria?”
Sekar tersenyum.
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Karena setiap kali mendengar nama
Kuala Kapuas, wajahmu berubah.”
Sekar memandang jauh.
“Aku tidak pernah benar-benar berhenti
mencintainya.”
“Lalu kenapa tidak menghubunginya?”
Sekar menghela napas.
“Karena aku tidak tahu apakah dia
masih menungguku.”
Nadia hanya tersenyum.
“Kadang manusia kehilangan sesuatu
bukan karena cinta itu habis. Tapi karena tidak ada yang berani mengetuk
pintu.”
Bertahun-tahun kemudian, Aria kembali
ke Kuala Kapuas.
Sore itu ia berjalan menuju Sungai
Kapuas.
Ia tidak tahu mengapa langkahnya
membawa dirinya ke tempat yang begitu penuh kenangan.
Kemudian ia melihat seseorang.
Seorang perempuan berdiri tidak jauh
dari tepian sungai.
Rambutnya tertiup angin.
Aria berhenti.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Perempuan itu menoleh.
Mata mereka bertemu.
Sekar.
Untuk beberapa detik, dunia seakan
berhenti.
“Aria?”
Suara itu masih sama.
Aria tersenyum.
“Sekar.”
Mereka berdiri tanpa kata.
Bertahun-tahun telah berlalu.
Namun dalam satu tatapan, semua
kenangan seperti kembali.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Sekar.
“Baik.”
“Kamu berubah.”
“Kamu juga.”
Mereka tertawa kecil.
Tetapi air mata justru mengalir.
Mereka kemudian duduk di tepian Sungai
Kapuas.
Aria akhirnya mengatakan sesuatu yang
selama ini ia simpan.
“Aku dulu pernah melihatmu bersama
seorang laki-laki.”
Sekar tersenyum.
“Sepupuku.”
“Aku tahu sekarang.”
Sekar menunduk.
“Aku juga pernah mendengar kamu akan
diperkenalkan dengan perempuan lain.”
“Rekan kerjaku.”
Mereka saling memandang.
Kemudian tertawa kecil.
Betapa lucunya hidup.
Mereka pernah hampir kehilangan satu
sama lain karena sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
“Kenapa dulu kita tidak bertanya?”
kata Sekar.
“Karena kita terlalu takut.”
“Takut kehilangan.”
“Padahal justru ketakutan itu yang
membuat kita kehilangan waktu.”
Sekar mengangguk.
Pertemuan mereka tidak langsung
membuat semuanya kembali seperti dulu.
Ada luka.
Ada waktu yang terlewat.
Ada kehidupan yang telah mereka jalani
masing-masing.
Tetapi kali ini mereka tidak ingin
terburu-buru.
Aria meminta maaf.
“Maaf karena dulu aku terlalu banyak
curiga.”
Sekar tersenyum.
“Aku juga minta maaf karena pergi
tanpa cukup menjelaskan.”
“Kita sama-sama salah.”
“Dan sama-sama belajar.”
Mereka terdiam.
Kemudian Sekar berkata,
“Mungkin kita memang harus berpisah
dulu untuk belajar bagaimana mencintai dengan benar.”
Aria menatap sungai.
“Mungkin.”
Pak Darmawan akhirnya mengetahui bahwa
Aria dan Sekar kembali bertemu.
Kali ini ia melihat sesuatu yang
berbeda.
Aria bukan lagi pemuda yang dulu
datang dengan keyakinan bahwa cinta cukup untuk mempertahankan hubungan.
Ia telah tumbuh.
Ia lebih tenang.
Lebih bertanggung jawab.
Dan yang paling penting, ia tidak lagi
berusaha memiliki Sekar dengan cara memaksanya tinggal.
Pak Darmawan berkata,
“Dulu Ayah takut kamu belum siap.”
Aria menunduk.
“Saya mengerti, Pak.”
“Sekarang Ayah melihat kamu sudah
belajar.”
Aria tersenyum.
“Saya banyak belajar dari kehilangan.”
Pak Darmawan mengangguk.
“Kalau begitu jangan sia-siakan
kesempatan kedua.”
Aria dan Sekar tidak lagi berbicara
tentang cinta seperti dua anak muda yang takut kehilangan.
Mereka berbicara tentang kehidupan.
Tentang keluarga.
Tentang pekerjaan.
Tentang masa depan.
Tentang kesalahan yang pernah mereka
lakukan.
Mereka menyadari bahwa cinta bukan
sekadar rasa yang membuat seseorang ingin selalu bersama.
Cinta juga berarti memberikan ruang.
Memberikan kepercayaan.
Memberikan kesempatan.
Dan yang paling penting, berani
berkata jujur ketika hati sedang takut.
Suatu sore mereka kembali duduk di
tepian Sungai Kapuas.
Sekar berkata,
“Kalau waktu bisa diulang, apa yang
ingin kamu ubah?”
Aria tersenyum.
“Aku ingin lebih banyak bertanya
daripada berprasangka.”
Sekar tertawa kecil.
“Kalau aku, aku ingin lebih banyak
bicara daripada menyimpan semuanya sendiri.”
Mereka kemudian saling memandang.
Tidak ada lagi pertanyaan tentang
siapa yang menunggu.
Tidak ada lagi ketakutan tentang siapa
yang akan pergi.
Karena mereka akhirnya mengerti.
Cinta yang benar tidak selalu berarti
tidak pernah berpisah.
Kadang cinta harus melewati jarak.
Harus melewati kesalahpahaman.
Harus melewati kehilangan.
Bahkan harus melewati waktu.
Namun jika dua hati masih memilih
untuk saling memahami, waktu tidak akan mampu menghapus semuanya.
Senja kembali turun di atas Sungai
Kapuas.
Aria berdiri di tempat yang sama
seperti bertahun-tahun lalu.
Namun kali ini ia tidak sendiri.
Sekar berdiri di sampingnya.
Mereka memandang aliran sungai yang
terus bergerak.
Aria tersenyum.
“Dulu aku pikir waktu adalah musuh
cinta.”
Sekar menoleh.
“Sekarang?”
“Sekarang aku tahu waktu hanya menguji
apakah cinta itu benar-benar memiliki alasan untuk bertahan.”
Sekar tersenyum.
“Dan kita?”
Aria menggenggam tangannya.
“Kita pernah kehilangan waktu.”
“Ya.”
“Tapi kita tidak kehilangan satu sama
lain.”
Sekar memandang Sungai Kapuas.
Air sungai terus mengalir menuju
tempat yang jauh.
Seperti kehidupan.
Tidak pernah kembali ke tempat yang
sama.
Tetapi selalu membawa kenangan dari
tempat-tempat yang pernah dilaluinya.
Begitu pula cinta mereka.
Pernah tumbuh di Desa Sriwidadi.
Pernah berjalan bersama di tepian
Sungai Kapuas.
Pernah dipisahkan oleh jarak.
Pernah terluka oleh prasangka.
Pernah hampir hilang karena ketakutan.
Namun akhirnya kembali.
Bukan sebagai cinta yang sama.
Melainkan sebagai cinta yang telah
dewasa.
Cinta yang mengerti bahwa memiliki
bukan berarti menggenggam terlalu erat.
Menunggu bukan berarti menghentikan
hidup.
Dan melepaskan bukan selalu berarti
kehilangan.
Senja semakin turun.
Sekar bersandar perlahan di bahu Aria.
Mereka tidak berkata apa-apa.
Tidak perlu.
Karena setelah perjalanan panjang yang
mereka lalui, keduanya akhirnya memahami satu hal:
Ada cinta yang tidak
kalah oleh jarak.
Ada cinta yang tidak
hancur oleh kehilangan.
Ada cinta yang tidak
selesai hanya karena waktu memisahkan.
Dan mungkin, cinta seperti itulah yang
disebut cinta tak berbatas waktu.
Di tepian Sungai Kapuas, Aria dan
Sekar akhirnya menemukan kembali jalan menuju satu sama lain.
Bukan karena waktu berhenti.
Tetapi karena cinta mereka memilih
untuk tetap hidup di dalamnya.
TAMAT






0 komentar:
Posting Komentar