CERPEN
TIGA SAHABAT, SATU CINTA, DAN SEBUAH PERPISAHAN
Ketika Cinta Datang di Saat Persahabatan Sedang Diuji
Oleh: Slamet Riyadi
SENJA DI TEPI KAPUAS
Senja selalu mempunyai cara sendiri
untuk membuat seseorang mengenang sesuatu yang sebenarnya ingin dilupakan.
Di tepian Sungai Kapuas, langit Kuala
Kapuas perlahan berubah warna. Jingga yang semula terang mulai memudar menjadi
kemerah-merahan. Perahu-perahu kecil bergerak perlahan mengikuti arus,
sementara suara mesin kelotok terdengar sesekali dari kejauhan.
Di sebuah bangku kayu yang menghadap
sungai, tiga orang siswa SMA duduk berdampingan.
Rahman, Edo, dan Hahdili.
Mereka sudah bersahabat sejak kelas X.
Tiga orang dengan karakter yang
berbeda.
Rahman lebih pendiam dan sering
menjadi tempat teman-temannya bercerita. Edo terkenal paling banyak bicara,
suka bercanda, dan sering membuat suasana kelas menjadi ramai. Sementara
Hahdili adalah tipe yang tenang, tetapi ketika sudah mempunyai keinginan, ia
sulit mengalah.
Selama hampir tiga tahun mereka tidak
pernah membayangkan bahwa persahabatan mereka akan diuji oleh sesuatu yang
sederhana sekaligus rumit.
Cinta.
“Sebentar lagi kita lulus,” kata Edo
sambil melemparkan batu kecil ke sungai.
“Kalau lulus, kita bakal ke mana?”
tanya Hahdili.
Rahman tersenyum.
“Entahlah. Yang jelas, aku ingin
kuliah.”
“Kalau aku,” Edo menyela, “ingin
kuliah juga. Tapi sebelum itu aku mau menikmati masa-masa terakhir kita sebagai
anak SMA.”
Hahdili tertawa kecil.
“Termasuk mengejar seseorang?”
Edo menoleh.
“Siapa?”
Hahdili hanya tersenyum.
Rahman yang sejak tadi diam tiba-tiba
berkata,
“Kalian tahu Imelda?”
Ketiganya terdiam.
Edo menatap Rahman.
Hahdili juga menoleh.
Kemudian Edo tertawa.
“Kenapa tiba-tiba nama Imelda?”
Rahman mengangkat bahu.
“Tidak apa-apa.”
Tetapi mereka bertiga sebenarnya tahu.
Ada sesuatu yang berubah sejak Imelda
Yuliana masuk dalam lingkaran pertemanan mereka.
Dan tanpa mereka sadari, ketiganya
ternyata menyimpan perasaan yang sama.
IMELDA YULIANA
Imelda Yuliana bukan siswi yang selalu
menjadi pusat perhatian.
Ia tidak suka berdandan berlebihan.
Tidak suka mencari popularitas.
Tidak pula senang menjadi bahan
pembicaraan.
Namun ada sesuatu dalam dirinya yang
membuat orang mudah mengingatnya.
Senyumnya.
Imelda adalah siswi yang rajin. Hampir
setiap hari ia datang lebih awal ke sekolah. Buku-bukunya selalu tertata rapi.
Ia mempunyai target yang sangat jelas setelah lulus SMA.
Kuliah.
Ia ingin melanjutkan pendidikan ke
perguruan tinggi di luar Kuala Kapuas.
“Mel, kamu serius mau kuliah jauh?”
tanya seorang teman perempuan suatu pagi.
Imelda mengangguk.
“Serius.”
“Tidak takut?”
“Takut itu pasti. Tapi aku lebih takut
kalau aku tidak mencoba.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun bagi Imelda, pendidikan adalah
sesuatu yang jauh lebih penting daripada urusan percintaan.
Sayangnya, tiga orang sahabatnya
justru mulai melihat Imelda dengan cara berbeda.
Rahman menyukai ketenangannya.
Edo menyukai senyumnya.
Hahdili menyukai keteguhan hatinya.
Mereka bertiga mulai berlomba
mendapatkan perhatian Imelda.
Awalnya semuanya terlihat seperti
candaan.
Edo sering membawakan makanan untuk
Imelda.
Rahman sering membantu mengerjakan
tugas.
Hahdili sering menawarkan diri
mengantar pulang.
Imelda menganggap semuanya sebagai
perhatian sahabat.
Ia tidak menyadari bahwa di balik
perhatian itu terdapat perasaan yang semakin dalam.
RAHASIA DI ANTARA TIGA SAHABAT
Suatu siang setelah pelajaran
terakhir, Rahman dan Edo duduk di belakang kelas.
Hahdili belum datang.
Edo memainkan pena di tangannya.
“Man.”
“Hm?”
“Aku mau ngomong serius.”
Rahman menoleh.
“Apa?”
“Aku suka Imelda.”
Rahman terdiam.
Hanya beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Kenapa bilang begitu kepadaku?”
“Karena kamu sahabatku.”
Rahman menunduk.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Namun kata-kata itu tertahan di
tenggorokan.
“Aku juga suka Imelda.”
Edo membeku.
“Serius?”
Rahman mengangguk.
Belum sempat mereka melanjutkan
percakapan, Hahdili muncul dari pintu.
“Kalian ngomongin apa?”
Edo dan Rahman saling berpandangan.
Kemudian Edo berkata,
“Imelda.”
Hahdili langsung berhenti.
“Ada apa dengan Imelda?”
Edo tersenyum.
“Kamu suka dia, kan?”
Hahdili terdiam cukup lama.
Kemudian ia menghela napas.
“Iya.”
Suasana mendadak hening.
Tiga sahabat.
Satu perempuan.
Tiga hati yang sama-sama jatuh cinta.
Edo tertawa kecil, tetapi tawanya
terdengar canggung.
“Wah... berarti kita bertiga punya
masalah yang sama.”
Rahman mengangguk.
Hahdili duduk.
“Jadi?”
“Jadi apa?” tanya Rahman.
“Siapa yang akan mendapatkan Imelda?”
Pertanyaan itu menjadi awal dari
semuanya.
PERJANJIAN YANG SEHARUSNYA TIDAK PERNAH ADA
Mereka sepakat untuk tidak bertengkar.
Setidaknya pada awalnya.
“Tidak boleh ada yang curang,” kata
Edo.
“Curang bagaimana?” tanya Rahman.
“Misalnya menjatuhkan yang lain.”
Hahdili mengangguk.
“Kita tetap sahabat.”
Mereka berjabat tangan.
Mereka membuat semacam kesepakatan.
Siapa pun yang akhirnya dipilih
Imelda, dua lainnya harus menerima.
Tidak boleh marah.
Tidak boleh menyimpan dendam.
Tidak boleh merusak persahabatan.
Malam itu mereka pulang dengan
perasaan aneh.
Masing-masing percaya dirinya
mempunyai peluang.
Rahman berpikir Imelda menyukai sifat
tenangnya.
Edo yakin Imelda lebih nyaman dengan
dirinya yang selalu membuatnya tertawa.
Hahdili merasa kedekatannya dengan
Imelda selama ini lebih istimewa.
Tidak ada seorang pun yang menyadari
bahwa mereka sedang membuat kesepakatan untuk sesuatu yang sebenarnya tidak
bisa mereka kendalikan.
Karena cinta bukan perlombaan.
Dan hati seseorang bukan hadiah yang
dapat dimenangkan.
PERLOMBAAN DIMULAI
Hari-hari berikutnya berubah.
Rahman mulai sering duduk di dekat
Imelda di perpustakaan.
Ia membantu Imelda memahami pelajaran
yang sulit.
“Kalau bagian ini begini,” kata Rahman
sambil menunjuk buku.
Imelda memperhatikan.
“Oh... sekarang aku mengerti.”
Rahman tersenyum.
“Makanya jangan menyerah.”
Di sisi lain, Edo mempunyai cara
berbeda.
Ia selalu berhasil membuat Imelda
tertawa.
Suatu pagi ketika Imelda terlihat
murung, Edo datang membawa sebungkus makanan.
“Ini.”
“Apa?”
“Obat.”
“Obat apa?”
“Obat supaya kamu tersenyum.”
Imelda tertawa.
“Kamu aneh.”
“Yang penting berhasil.”
Hahdili juga tidak mau kalah.
Ia sering menunggu Imelda selesai
kegiatan sekolah.
“Pulang bareng?”
Imelda menggeleng.
“Aku masih ada tugas.”
“Aku tunggu.”
“Tidak perlu.”
“Aku tidak keberatan.”
Ketiga pemuda itu terus berusaha.
Dan Imelda tetap menganggap semuanya
sebagai bentuk persahabatan.
KECEMBURUAN PERTAMA
Masalah mulai muncul ketika Edo
melihat Rahman dan Imelda belajar berdua di perpustakaan.
Edo berdiri di luar.
Ia melihat Imelda tertawa kecil.
Entah mengapa dadanya terasa sesak.
“Kenapa harus Rahman?”
Ia pergi tanpa menyapa.
Hari berikutnya, Edo menjadi dingin.
Rahman menyadarinya.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Serius?”
“Serius.”
Namun nada Edo mengatakan sebaliknya.
Hahdili juga mulai memperhatikan
perubahan itu.
“Kalian bertengkar?”
“Tidak,” jawab Rahman.
“Kalau tidak bertengkar, kenapa
suasananya seperti orang bertengkar?”
Tidak ada jawaban.
Sementara itu Imelda mulai merasa ada
sesuatu yang aneh.
“Kalian kenapa sih?”
Edo tersenyum.
“Tidak ada apa-apa.”
Rahman juga mengatakan hal yang sama.
Hahdili pun demikian.
Mereka menyembunyikan masalah dari
Imelda.
Tetapi justru karena disembunyikan,
masalah itu semakin besar.
PESAN YANG SALAH DIMENGERTI
Suatu malam, Imelda mengirim pesan
kepada Rahman.
“Terima kasih sudah membantu aku
belajar tadi.”
Rahman membalas:
“Sama-sama. Kalau kamu butuh bantuan
lagi, bilang saja.”
Pesan itu sederhana.
Tetapi Edo melihatnya ketika mereka
sedang duduk bersama.
“Masih chat dengan Imelda?”
Rahman mengangguk.
“Iya.”
“Apa katanya?”
Rahman menunjukkan pesan tersebut.
Edo membaca.
Kemudian ia diam.
Hahdili yang duduk di sebelahnya
berkata,
“Cuma begitu?”
“Cuma begitu.”
“Lalu?”
Edo memasukkan ponselnya ke saku.
“Tidak ada.”
Namun beberapa hari kemudian, Edo
mulai merasa Rahman terlalu dekat dengan Imelda.
Sementara Hahdili juga merasakan hal
yang sama.
Mereka mulai saling mencurigai.
Persahabatan yang selama ini kokoh
perlahan retak oleh prasangka.
PEREBUTAN DI BALIK SENYUM
Di sekolah, persaingan semakin jelas.
Ketika Imelda membutuhkan buku, tiga
tangan langsung menawarkan bantuan.
Ketika Imelda membawa banyak barang,
tiga orang langsung ingin membawakan.
Ketika Imelda sakit, tiga orang menanyakan
keadaannya.
Awalnya Imelda merasa senang.
Ia mempunyai sahabat yang peduli.
Namun lama-kelamaan ia mulai merasa
tidak nyaman.
Suatu hari ia berkata,
“Kalian kenapa sih?”
Edo bertanya,
“Maksudnya?”
“Kalian akhir-akhir ini aneh.”
Rahman tersenyum.
“Mungkin kamu saja yang merasa.”
Imelda memandang ketiganya.
“Aku merasa kalian sedang bersaing.”
Tidak ada yang menjawab.
Imelda menghela napas.
“Aku tidak suka kalau persahabatan
kita berubah karena sesuatu seperti ini.”
Kata-kata itu membuat ketiganya terdiam.
Tetapi perasaan mereka sudah terlalu
jauh.
Tidak ada yang benar-benar siap
mundur.
PERTENGKARAN
Puncaknya terjadi di belakang sekolah.
Edo melihat Hahdili memberikan sebuah
hadiah kepada Imelda.
“Apa itu?”
“Bukan urusanmu.”
“Kenapa bukan urusanku?”
“Karena kamu bukan siapa-siapa bagi
Imelda.”
Edo tersinggung.
“Apa maksudmu?”
Rahman datang dan mencoba melerai.
“Sudah. Jangan bertengkar.”
Namun Hahdili berkata,
“Kamu juga sama, Man.”
“Apa?”
“Kamu pura-pura menjadi penengah
padahal kamu juga mengejar Imelda.”
Rahman terdiam.
Edo kemudian berkata,
“Benar juga.”
Suasana memanas.
“Kita sudah sepakat,” kata Rahman.
“Kesepakatan itu tidak berarti apa-apa
kalau kita semua ingin menang,” jawab Hahdili.
Edo mengepalkan tangan.
Untuk pertama kalinya mereka
bertengkar serius.
Persahabatan tiga tahun hampir hancur
hanya karena seorang perempuan.
Dan perempuan itu bahkan tidak pernah
meminta mereka melakukan semua itu.
AIR MATA IMELDA
Imelda mengetahui pertengkaran itu.
Ia menemui mereka setelah sekolah.
“Aku mau bicara.”
Ketiganya diam.
“Aku tahu kalian bertengkar karena
aku.”
Tidak ada yang menjawab.
Imelda menatap mereka satu per satu.
“Aku kecewa.”
Edo menunduk.
Rahman menarik napas.
Hahdili memalingkan wajah.
“Aku tidak pernah meminta kalian memilih
aku,” lanjut Imelda.
“Kalau kalian memang sahabatku, kenapa
kalian harus saling menyakiti?”
Suaranya mulai bergetar.
“Aku tidak mau menjadi alasan
persahabatan kalian hancur.”
Air mata jatuh di pipinya.
Edo langsung merasa bersalah.
“Mel... maaf.”
Rahman juga berkata,
“Maafkan kami.”
Hahdili hanya menunduk.
Hari itu mereka menyadari satu hal.
Mereka telah mengubah sesuatu yang
seharusnya indah menjadi sebuah persaingan.
MENJELANG UJIAN
Waktu berjalan cepat.
Ujian kelulusan semakin dekat.
Guru-guru mulai memberikan banyak
tugas.
Sekolah dipenuhi suasana tegang.
Di kelas, semua siswa mulai
mempersiapkan diri.
Imelda semakin serius belajar.
Ia bahkan membuat jadwal belajar
sendiri.
Rahman, Edo, dan Hahdili kembali duduk
bersama.
Tidak seperti dulu.
Tetapi setidaknya mereka tidak lagi
bertengkar.
“Kita harus lulus,” kata Rahman.
Edo mengangguk.
“Benar.”
Hahdili menambahkan,
“Setelah itu hidup kita
masing-masing.”
Mereka mulai menyadari bahwa masa SMA
memang akan berakhir.
Dan mungkin inilah kesempatan terakhir
mereka untuk memperbaiki semuanya.
Suatu sore, mereka belajar bersama di
perpustakaan.
Imelda duduk di tengah.
Rahman di sebelah kiri.
Edo di sebelah kanan.
Hahdili berhadapan dengan mereka.
Tidak ada yang membicarakan cinta.
Untuk pertama kalinya setelah
berbulan-bulan, mereka merasa seperti sahabat kembali.
PENGAKUAN RAHMAN
Namun Rahman masih menyimpan perasaan.
Suatu sore ia memberanikan diri
menemui Imelda.
“Mel.”
“Iya?”
“Aku ingin jujur.”
Imelda terdiam.
“Aku menyukaimu.”
Imelda menunduk.
“Aku sudah tahu.”
Rahman terkejut.
“Sejak kapan?”
“Sudah lama.”
Rahman tersenyum pahit.
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Aku menunggu kalian berhenti saling
bersaing.”
Rahman mengangguk.
“Kalau aku meminta kesempatan?”
Imelda tersenyum.
“Rahman, aku menghargai perasaanmu.”
“Tapi?”
“Aku belum ingin menjalani hubungan.”
Rahman terdiam.
“Aku ingin kuliah. Aku ingin mengejar
cita-citaku.”
“Jadi... aku tidak punya kesempatan?”
Imelda menggeleng pelan.
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Aku hanya belum ingin memilih siapa
pun.”
Jawaban itu membuat Rahman memahami
sesuatu.
Tidak semua penolakan berarti
seseorang tidak cukup baik.
Kadang seseorang hanya sedang memilih
jalan hidupnya sendiri.
EDO MENCOBA
Edo tidak mau menyerah begitu saja.
Ia menemui Imelda di halaman sekolah.
“Mel.”
“Kenapa?”
“Aku ingin membuat pernyataan resmi.”
Imelda tertawa.
“Pernyataan apa?”
“Aku suka kamu.”
Imelda tertawa kecil.
“Kamu sudah pernah bilang.”
“Tapi sekarang serius.”
Imelda menatapnya.
Edo melanjutkan,
“Aku memang banyak bercanda. Tapi
perasaanku tidak bercanda.”
Imelda tersenyum.
“Aku tahu.”
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Apakah aku punya kesempatan?”
Imelda menarik napas.
“Aku tidak ingin memberikan harapan
palsu.”
Edo terdiam.
“Berarti?”
“Aku memilih kuliah.”
Edo tertawa kecil.
“Jadi aku kalah?”
“Bukan kalah.”
“Lalu?”
“Kita tidak sedang bertanding.”
Edo terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi sangat dalam.
HAHDILI MARAH
Hahdili menerima kenyataan paling
sulit.
Ia merasa dirinya paling dekat dengan
Imelda.
Ia merasa selama ini selalu ada ketika
Imelda membutuhkan bantuan.
Suatu hari ia berkata,
“Kalau aku yang memilihmu, kenapa kamu
tidak memilih aku?”
Imelda menatapnya.
“Aku tidak pernah mengatakan aku akan
memilihmu.”
Hahdili terdiam.
“Aku kira...”
“Jangan mengira sesuatu hanya karena
aku bersikap baik.”
Hahdili merasa tersinggung.
“Aku sudah melakukan banyak hal
untukmu.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku berterima kasih.”
Jawaban itu membuat Hahdili semakin
kecewa.
“Jadi semua yang aku lakukan tidak
berarti?”
“Bukan begitu.”
“Lalu apa?”
“Perhatian tidak boleh menjadi utang
yang harus dibayar dengan cinta.”
Hahdili terdiam.
Untuk pertama kalinya ia memahami
kesalahan dirinya.
Ia mencintai Imelda, tetapi tanpa
sadar menjadikan cintanya sebagai tuntutan.
TIGA CINTA YANG SAMA-SAMA ZONK
Hari pengumuman kelulusan semakin
dekat.
Tiga sahabat itu kembali berkumpul di
tempat biasa mereka.
Tepian Sungai Kapuas.
Edo tertawa.
“Jadi?”
Rahman bertanya,
“Jadi apa?”
“Siapa yang menang?”
Hahdili tertawa.
“Tidak ada.”
Rahman ikut tertawa.
“Kita bertiga zonk.”
Mereka terdiam.
Kemudian Edo berkata,
“Lucu juga.”
“Apa?”
“Kita hampir menghancurkan
persahabatan karena mengejar seseorang yang sejak awal tidak mau memilih.”
Rahman mengangguk.
Hahdili memandang sungai.
“Imelda benar.”
“Apa?”
“Cinta bukan perlombaan.”
Mereka bertiga tertawa.
Tawa itu terasa berbeda.
Bukan tawa kemenangan.
Bukan pula tawa kekalahan.
Itu adalah tawa tiga sahabat yang
akhirnya menyadari bahwa mereka hampir kehilangan sesuatu yang jauh lebih
berharga.
Persahabatan.
IMELDA MEMBUAT KEPUTUSAN
Di kelas, Imelda sedang mengisi
formulir pendaftaran perguruan tinggi.
Ia mempunyai impian besar.
Ia ingin meninggalkan Kuala Kapuas
untuk sementara.
Bukan karena tidak mencintai kota itu.
Justru karena ia ingin membawa semua
kenangan tentang kota itu sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
Rahman datang.
“Kamu sudah menentukan?”
Imelda mengangguk.
“Sudah.”
“Kuliah di mana?”
“Masih menunggu hasil seleksi.”
Edo datang membawa minuman.
“Kalau diterima, jangan lupa kami.”
Imelda tertawa.
“Bagaimana mungkin lupa?”
Hahdili ikut duduk.
“Kita tetap sahabat?”
Imelda mengangguk.
“Selamanya, kalau kalian mau.”
Rahman tersenyum.
“Kami mau.”
Edo mengangkat tangan.
“Setuju.”
Hahdili ikut mengangkat tangan.
Mereka saling menepukkan tangan.
Tidak ada lagi persaingan.
Tidak ada lagi rasa ingin menang.
Hanya persahabatan.
HARI TERAKHIR DI SEKOLAH
Hari terakhir di SMAN 45 Kuala Kapuas
akhirnya tiba.
Halaman sekolah dipenuhi siswa.
Ada yang berfoto.
Ada yang menangis.
Ada yang saling meminta maaf.
Ada yang berjanji akan tetap bertemu.
Imelda berdiri di depan kelas.
Rahman memandangnya dari jauh.
Edo sibuk berfoto.
Hahdili tersenyum.
Mereka semua tahu kehidupan setelah
SMA tidak akan sama.
Mereka akan pergi ke tempat berbeda.
Memilih jalan masing-masing.
“Foto bertiga!” teriak Edo.
“Berempat,” kata Imelda.
Mereka berdiri bersama.
Satu kamera.
Empat orang.
Satu kenangan.
Klik.
Foto itu menjadi saksi terakhir masa
SMA mereka.
Namun bagi mereka, cerita persahabatan
belum berakhir.
SURAT UNTUK IMELDA
Sebelum meninggalkan sekolah, Rahman
memberikan sebuah amplop kepada Imelda.
“Apa ini?”
“Baca nanti.”
Edo juga memberikan sesuatu.
“Ini dari aku.”
Hahdili menyerahkan sebuah buku kecil.
“Kalau sudah kuliah, tulis impianmu di
situ.”
Imelda tersenyum.
Malamnya ia membuka ketiga pemberian
tersebut.
Surat Rahman berisi ucapan terima
kasih.
Edo menulis pesan sederhana agar
Imelda tidak pernah berhenti tersenyum.
Hahdili menuliskan satu kalimat di
halaman pertama buku:
"Pergilah mengejar
masa depanmu. Jangan merasa bersalah karena tidak memilih kami."
Imelda menangis.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena akhirnya ia tahu bahwa
ketiga sahabatnya telah berubah.
Mereka tidak lagi meminta cintanya.
Mereka hanya ingin melihatnya
berhasil.
MALAM PERPISAHAN
Malam sebelum keberangkatan Imelda,
mereka kembali berkumpul.
Kuala Kapuas terasa tenang.
Lampu-lampu kota memantul di permukaan
sungai.
“Besok kamu berangkat?” tanya Edo.
Imelda mengangguk.
“Ya.”
Rahman tersenyum.
“Jaga diri.”
Hahdili berkata,
“Jangan lupa belajar.”
Edo langsung tertawa.
“Nasihatmu seperti guru.”
Hahdili ikut tertawa.
Imelda memandang mereka.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?” tanya Rahman.
“Untuk semuanya.”
Edo menggeleng.
“Kita yang harus berterima kasih.”
“Kenapa?”
“Karena kamu mengajari kami bahwa
cinta tidak selalu harus memiliki.”
Mereka semua terdiam.
Imelda tersenyum.
Kemudian berkata,
“Dan kalian mengajari aku bahwa
sahabat sejati tetap ada meskipun pernah terluka.”
KEBERANGKATAN
Pagi datang terlalu cepat.
Imelda membawa sebuah koper.
Ia berdiri di tempat keberangkatan.
Rahman, Edo, dan Hahdili datang
mengantarnya.
Tidak ada bunga.
Tidak ada adegan romantis.
Tidak ada permintaan terakhir.
Hanya pelukan persahabatan.
“Belajar yang rajin,” kata Rahman.
“Jangan sombong kalau sudah sukses,”
tambah Edo.
Hahdili tersenyum.
“Kalau nanti pulang, kabari.”
Imelda mengangguk.
“Pasti.”
Kendaraan mulai bergerak.
Imelda melambaikan tangan dari balik
jendela.
Ketiga sahabat itu membalas.
Semakin jauh kendaraan itu pergi,
semakin kecil sosok Imelda terlihat.
Edo menghela napas.
“Jadi benar-benar selesai.”
Rahman menepuk bahunya.
“Bukan selesai.”
“Apa?”
“Babak baru.”
SETELAH IMELDA PERGI
Hari-hari pertama terasa aneh.
Tidak ada Imelda di kelas.
Tidak ada lagi suara tertawanya.
Tidak ada lagi seseorang yang membuat
mereka berlomba-lomba menjadi perhatian.
Rahman fokus belajar.
Edo mulai mempersiapkan pendaftaran
kuliah.
Hahdili sibuk membantu keluarganya.
Mereka tidak lagi mempunyai alasan
untuk bertengkar.
Suatu malam, Edo mengirim pesan kepada
grup mereka.
“Masih hidup?”
Rahman menjawab,
“Masih.”
Hahdili:
“Sayangnya masih.”
Edo tertawa.
Kemudian ia menulis:
“Besok ketemu di tempat biasa?”
Rahman:
“Boleh.”
Hahdili:
“Siap.”
Mereka kembali ke tepian Sungai
Kapuas.
Tempat yang dahulu menjadi awal dari
persaingan mereka.
Kini menjadi tempat mereka memulai
kembali persahabatan.
KABAR DARI JAUH
Beberapa minggu kemudian, pesan dari
Imelda masuk.
“Teman-teman, aku diterima!”
Edo langsung menelepon.
“Serius?”
“Serius!”
Rahman tersenyum ketika mendengarnya.
“Selamat, Mel.”
Hahdili berkata,
“Kami bangga.”
Imelda tertawa.
“Aku juga punya kabar lain.”
“Apa?”
“Aku mulai kuliah bulan depan.”
Mereka bertiga langsung mengucapkan
selamat.
Tidak ada seorang pun yang bertanya
apakah Imelda sudah mempunyai pacar.
Tidak ada yang menanyakan apakah ia
sudah memilih salah satu dari mereka.
Mereka hanya ingin mendengar kabarnya.
Karena sekarang mereka telah memahami
arti cinta yang sebenarnya.
Mencintai seseorang berarti mampu ikut
bahagia ketika orang itu menemukan jalan hidupnya.
Bahkan ketika jalan itu tidak melewati
kita.
TIGA SAHABAT YANG TUMBUH DEWASA
Waktu terus berjalan.
Rahman diterima di perguruan tinggi
yang ia inginkan.
Edo juga.
Hahdili pun mulai menyusun rencana
masa depannya.
Mereka tidak lagi membicarakan siapa
yang mendapatkan Imelda.
Kadang-kadang mereka masih bercanda.
“Kalau dulu aku menang, mungkin
sekarang sudah pacaran,” kata Edo.
Rahman tertawa.
“Menang apanya?”
Hahdili menyahut,
“Tidak ada yang menang.”
Edo mengangguk.
“Benar. Kita bertiga zonk.”
Mereka tertawa.
Tetapi jauh di dalam hati, mereka tahu
bahwa mereka sebenarnya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Mereka mendapatkan pelajaran.
Tentang cinta.
Tentang persahabatan.
Tentang kehilangan.
Dan tentang bagaimana seseorang harus
belajar menerima keputusan orang lain.
KEMBALI KE KUALA KAPUAS
Setahun kemudian, Imelda kembali ke
Kuala Kapuas saat liburan.
Ia menghubungi ketiga sahabatnya.
Mereka kembali bertemu di tempat yang
sama.
Tepian Sungai Kapuas.
Imelda terlihat berbeda.
Lebih dewasa.
Lebih percaya diri.
Rahman bertanya,
“Bagaimana kuliah?”
“Capek.”
Edo tertawa.
“Berarti sukses.”
Hahdili berkata,
“Sudah punya pacar?”
Imelda tertawa.
“Belum.”
Ketiganya saling memandang.
Edo langsung berkata,
“Jangan salah paham. Aku cuma
bertanya.”
Mereka semua tertawa.
Imelda kemudian berkata,
“Aku dulu takut kalian marah karena
aku tidak memilih salah satu dari kalian.”
Rahman menggeleng.
“Kami juga dulu takut kehilanganmu.”
“Sekarang?”
Edo menjawab,
“Sekarang kami tahu. Sahabat tidak
harus memiliki.”
Hahdili menatap sungai.
“Kadang cukup menjaga agar seseorang
tetap menjadi bagian dari kenangan terbaik kita.”
Imelda tersenyum.
CINTA YANG TIDAK MEMILIKI
Matahari mulai tenggelam.
Langit Kuala Kapuas berubah jingga.
Empat sahabat itu duduk bersama
seperti masa SMA dahulu.
Namun mereka bukan lagi anak-anak yang
sama.
Mereka telah tumbuh.
Rahman telah belajar menerima.
Edo telah belajar mengendalikan rasa
memiliki.
Hahdili telah belajar bahwa perhatian
bukanlah tiket untuk mendapatkan cinta.
Dan Imelda telah belajar bahwa memilih
masa depan bukan berarti mengkhianati perasaan seseorang.
Tidak ada seorang pun yang mendapatkan
cinta Imelda.
Rahman tidak.
Edo tidak.
Hahdili juga tidak.
Mereka semua benar-benar zonk.
Namun anehnya, tidak seorang pun
merasa kalah.
Karena pada akhirnya mereka
mendapatkan sesuatu yang lebih penting.
Persahabatan yang hampir hilang
berhasil diselamatkan.
Imelda berhasil melanjutkan
pendidikannya.
Ketiga sahabat itu juga menemukan
jalan mereka masing-masing.
Mereka pernah memperebutkan satu hati.
Mereka pernah saling cemburu.
Mereka pernah bertengkar.
Mereka bahkan hampir tidak menjadi
sahabat lagi.
Tetapi waktu mengajarkan mereka bahwa
cinta tidak selalu berakhir dengan hubungan.
Kadang cinta hanya datang untuk
mengajarkan seseorang tentang kedewasaan.
Imelda berdiri.
“Aku harus pulang.”
“Besok berangkat lagi?” tanya Rahman.
Imelda mengangguk.
“Ya.”
Edo tersenyum.
“Belajar yang rajin.”
Hahdili menambahkan,
“Kejar cita-citamu.”
Imelda memandang mereka.
“Terima kasih sudah pernah
mencintaiku.”
Ketiganya terdiam.
Kemudian Edo tertawa.
“Kalimatmu berat sekali.”
Mereka semua tertawa.
Imelda melangkah pergi.
Rahman, Edo, dan Hahdili memandangnya
hingga sosoknya menghilang di ujung jalan.
Rahman kemudian berkata,
“Teman-teman...”
“Apa?” tanya Edo.
“Kayaknya kita benar-benar sudah
dewasa.”
Hahdili tersenyum.
“Belum tentu.”
Edo tertawa.
“Yang jelas, kita pernah kalah dalam
perebutan cinta.”
Rahman mengangguk.
“Tapi menang dalam persahabatan.”
Mereka saling menatap.
Kemudian berjabat tangan.
Di belakang mereka, Sungai Kapuas
terus mengalir.
Seperti waktu.
Seperti kehidupan.
Seperti cinta yang datang dan pergi
tanpa pernah meminta izin.
Dan di antara riuh kota Kuala Kapuas
yang mulai diselimuti malam, tersimpan sebuah kisah tentang empat anak muda
yang pernah percaya bahwa cinta harus dimiliki.
Hingga akhirnya mereka mengerti:
Tidak semua cinta
harus berakhir dengan memiliki.
Tidak semua
perjuangan harus berakhir dengan kemenangan.
Dan tidak semua
perpisahan berarti kehilangan.
Karena terkadang, seseorang datang ke
dalam hidup kita bukan untuk menjadi pasangan.
Ia datang untuk menjadi kenangan.
Untuk menjadi pelajaran.
Untuk membuat kita tumbuh.
Dan untuk mengajarkan bahwa setelah
semua drama, pertengkaran, kecemburuan, dan perebutan cinta...
yang paling berharga ternyata bukan
siapa yang mendapatkan Imelda Yuliana.
Melainkan siapa yang masih tetap
menjadi sahabat ketika semuanya telah berakhir.
Di bawah langit senja Kuala Kapuas,
empat nama itu tetap tersimpan dalam satu kenangan.
Rahman.
Edo.
Hahdili.
Dan Imelda Yuliana.
Empat sahabat.
Satu kisah cinta.
Tiga hati yang pernah berharap.
Dan sebuah akhir yang sama:
Tidak ada yang
mendapatkan cinta Imelda.
Namun mereka semua mendapatkan sesuatu
yang jauh lebih dewasa.
Mereka mendapatkan
kembali persahabatan mereka.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar