NOVELET
DENGARLAH BINTANG HATIKU
Sebuah Cerpen Panjang tentang Cinta,
Jarak, Kehilangan, Kesalahpahaman, Keluarga, dan Kesetiaan
Oleh: Slamet
Riyadi
PROLOG
LANGIT YANG MASIH SAMA
Kuala Kapuas selalu memiliki cara sendiri untuk menyimpan
kenangan.
Sungai Kapuas mengalir tanpa pernah bertanya kepada siapa
ia membawa kenangan. Airnya keruh kecokelatan, membawa aroma tanah basah dan
kayu lapuk dari hulu. Perahu-perahu kecil bermesin tempel melintas perlahan,
meninggalkan jejak buih putih yang cepat hilang ditelan arus. Di tepian,
rumah-rumah panggung berdiri di atas tiang-tiang kayu ulin yang hitam termakan
usia. Lampu-lampu mulai menyala ketika matahari beranjak turun di balik
cakrawala, memantulkan cahaya jingga di permukaan air yang bergelombang lembut.
Bagi sebagian orang, sungai hanyalah sungai.
Tetapi bagi Ardan Pratama, Sungai Kapuas adalah tempat di
mana sebuah cinta pernah dimulai, kemudian hilang, dan bertahun-tahun
setelahnya mencoba menemukan jalan pulang.
Sore itu Ardan berdiri seorang diri di ujung dermaga kayu
yang mulai lapuk. Angin sungai membawa bau lumpur dan ikan segar dari pasar
terapung yang baru saja tutup. Di kejauhan, suara azan magrib berkumandang dari
masjid tua di seberang, bercampur dengan teriakan anak-anak yang mandi di tepian.
Sudah empat tahun ia tidak menginjakkan kaki di tempat
tersebut.
Empat tahun yang lalu, ia datang ke sana bersama seorang
perempuan bernama Naira Maheswari.
Saat itu Naira duduk sambil menggoyangkan kedua kakinya di
atas permukaan air. Ujung jarinya menyentuh air sungai, menciptakan riak-riak
kecil yang melebar dan hilang.
"Dan," katanya.
"Ya?"
"Kalau suatu hari kita tidak bersama lagi, kamu akan
mengingat tempat ini?"
Ardan tertawa. Tawa yang ringan, tawa seseorang yang belum
pernah merasakan kehilangan.
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Jawab saja."
"Tentu."
"Kenapa?"
"Karena di sini aku pertama kali bilang cinta
kepadamu."
Naira tersenyum. Senyum yang sampai ke matanya, membuat
lesung pipinya terlihat.
"Dan aku pertama kali percaya."
Ardan saat itu tidak mengerti mengapa Naira tiba-tiba
berbicara tentang perpisahan. Ia hanya merangkul bahu perempuan itu, merasakan
hangat tubuhnya di bawah kain tipis blus putihnya.
"Jangan bicara tentang perpisahan."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka."
Naira memandang langit. Awan-awan tipis bergerak pelan,
seperti kapas yang ditiup angin.
"Kadang-kadang yang paling kita takutkan justru
menjadi sesuatu yang harus kita hadapi."
Ardan menggeleng.
"Kalau begitu, kita lawan."
Naira tertawa. Tapi tawa itu tidak sampai ke matanya.
"Memangnya semua hal bisa dilawan?"
"Kalau cinta, bisa."
Empat tahun kemudian, Ardan berdiri di tempat yang sama.
Namun kali ini ia sendirian.
Atau setidaknya, ia mengira dirinya sendirian.
Sebuah suara perempuan terdengar dari belakang. Suara yang
sudah lama tidak didengarnya, tetapi masih dikenalnya seperti mengenali detak
jantungnya sendiri.
"Ardan?"
Tubuhnya seketika kaku. Darahnya terasa berhenti mengalir.
Ia menoleh.
Dan dunia seolah berhenti bergerak.
Perempuan yang selama empat tahun hanya hidup dalam
ingatannya kini berdiri beberapa meter di hadapannya. Rambutnya lebih pendek
dari yang terakhir kali ia lihat. Ada kerutan halus di sudut matanya, kerutan
yang dibentuk oleh tawa dan air mata.
Naira.
Wajahnya terlihat lebih dewasa. Lebih tenang. Tetapi mata
itu masih sama. Mata hitam pekat yang dulu membuat Ardan percaya bahwa cinta
bisa menjadi rumah.
"Naira..."
Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.
Naira tersenyum tipis. Senyum yang hati-hati, seperti
seseorang yang takut melukai atau terluka.
"Sudah lama."
Ardan mengangguk. Tenggorokannya kering.
"Empat tahun."
Keduanya terdiam.
Sungai Kapuas mengalir di antara mereka. Airnya membawa
potongan-potongan kayu, daun-daun kering, dan mungkin juga kenangan yang tidak
pernah selesai. Seolah-olah sungai itu tahu bahwa empat tahun bukan sekadar
waktu.
Empat tahun adalah jarak.
Empat tahun adalah luka.
Empat tahun adalah pertanyaan yang tidak pernah selesai.
Dan malam itu, tanpa mereka sadari, sebuah kisah lama
kembali membuka pintunya.
BAB I
PEREMPUAN
YANG MEMILIH PERGI
Empat tahun sebelumnya, kehidupan Ardan dan Naira terlihat
sederhana.
Mereka bukan pasangan yang selalu hidup dalam kemewahan.
Ardan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Kuala Kapuas, menghabiskan
hari-harinya di balik meja kayu yang penuh tumpukan dokumen. Sementara Naira
membantu ibunya mengelola usaha kecil keluarga—sebuah toko kelontong di depan
rumah yang menjual beras, gula, minyak goreng, dan segala kebutuhan
sehari-hari.
Mereka bertemu pertama kali di sebuah kegiatan sosial.
Saat itu Naira sedang membawa beberapa kotak buku.
Kotak-kotak kardus itu tampak berat, sudut-sudutnya sudah penyok, dan Naira
harus berjalan dengan hati-hati agar tidak terjatuh. Keringat membasahi
dahinya, tapi ia tidak mengeluh.
Salah satu kotak terjatuh. Buku-buku berhamburan di jalan
berbatu.
Ardan yang kebetulan lewat langsung membantu. Ia berlutut,
mengumpulkan buku-buku yang berserakan—novel-novel bekas, buku pelajaran, dan
beberapa buku agama.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Ardan mengambil sebuah buku. Sampulnya lusuh, halamannya
sudah menguning.
"Berat juga."
"Memang."
"Kenapa tidak minta bantuan?"
Naira tersenyum. Ada sesuatu di senyumnya—keras kepala,
mandiri, tapi juga hangat.
"Kalau selalu menunggu bantuan, kapan bisa
mandiri?"
Jawaban itu membuat Ardan tertarik.
Sejak hari itu mereka sering bertemu. Di warung kopi dekat
pasar, di kegiatan sosial berikutnya, di tepian sungai tempat Naira biasa duduk
sendirian. Mereka mulai berbicara tentang banyak hal. Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
Dan perlahan, tanpa mereka sadari, perasaan tumbuh.
Ardan akhirnya menyatakan cinta di tepian Sungai Kapuas.
Senja itu berwarna jingga keemasan, dan angin bertiup lembut membawa aroma
sungai.
"Aku tidak punya kalimat romantis," katanya.
Naira tertawa. Tawa yang lepas, tawa yang membuat matanya
berbinar.
"Bagus."
"Bagus bagaimana?"
"Berarti kamu akan bicara jujur."
Ardan menatapnya. Menatap mata hitam yang selama ini selalu
berhasil membuatnya kehilangan kata-kata.
"Aku mencintaimu, Naira."
Senyum Naira perlahan menghilang. Matanya berkaca-kaca.
"Aku takut."
"Kenapa?"
"Karena kalau aku menerima cintamu, aku akan takut
kehilanganmu."
Ardan menggenggam tangannya. Tangan Naira dingin, sedikit
gemetar.
"Kalau begitu jangan pikirkan kehilangan."
"Tapi hidup tidak selalu seperti yang kita
inginkan."
"Kalau suatu hari ada masalah, kita hadapi
bersama."
Naira menatapnya lama. Ada keraguan di matanya, tapi juga
harapan.
"Kamu janji?"
"Janji."
Saat itu mereka belum tahu bahwa janji paling mudah diucapkan
ketika kehidupan belum menguji.
Ujian itu datang tidak lama kemudian.
Malam itu hujan turun deras. Air mengalir deras di selokan,
membanjiri jalanan berbatu. Naira hendak pulang setelah menemui Ardan. Ia
mengendarai sepeda motornya dengan hati-hati, lampu depan menembus kabut hujan.
Di sebuah ruas jalan, kecelakaan terjadi.
Kendaraan yang ditumpangi Naira tergelincir di jalan licin.
Ia terlempar, tubuhnya membentur aspal, dan sepeda motornya menghantam tiang
listrik.
Ardan mendapat kabar beberapa jam kemudian. Telepon
berdering di tengah malam, membangunkan dirinya dari tidur gelisah.
Ia langsung menuju rumah sakit. Hujan masih turun, dan
jalanan lengang. Sepanjang perjalanan, tangannya gemetar memegang setir.
"Naira!"
Tidak ada jawaban.
Ia melihat Bu Ratna menangis di depan ruang perawatan.
Perempuan tua itu duduk di kursi plastik, tubuhnya menggigil, air matanya tidak
terbendung.
"Bu..."
Ibunya Naira memandangnya. Mata itu bengkak, merah, penuh
ketakutan.
"Ardan..."
"Bagaimana Naira?"
Bu Ratna menangis. Suaranya pecah.
"Kakinya mengalami cedera berat."
Ardan merasa tubuhnya kehilangan tenaga. Ia bersandar di
dinding, merasakan dinginnya menembus kemejanya.
"Dia sadar?"
"Belum."
Malam itu Ardan duduk di depan ruang operasi. Lantai rumah
sakit dingin dan berbau antiseptik. Ia berdoa. Untuk pertama kalinya dalam
hidupnya, ia benar-benar takut kehilangan seseorang.
Operasi berlangsung berjam-jam. Jam dinding bergerak
lambat, setiap detik terasa seperti satu jam.
Ketika akhirnya dokter keluar, Ardan berdiri. Kakinya kaku,
tapi ia tidak peduli.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Operasinya berhasil. Tetapi proses pemulihan akan
panjang."
Ardan mengangguk. Ada tekad di matanya.
"Saya akan menunggunya."
Ia benar-benar berniat demikian.
Tetapi Naira justru mulai membangun tembok.
Ketika akhirnya sadar, hal pertama yang ditanyakannya bukan
tentang dirinya. Suaranya serak, lemah.
"Ardan?"
"Iya."
"Dia di mana?"
"Aku di sini."
Naira menatapnya. Air matanya mengalir di pipi yang pucat.
"Kenapa kamu masih di sini?"
Ardan terkejut. Ia meraih tangan Naira, tapi perempuan itu
menariknya menjauh.
"Karena aku mencintaimu."
Naira memalingkan wajah. Menatap dinding putih yang kosong.
"Jangan."
"Jangan apa?"
"Jangan mencintaiku karena kasihan."
"Aku tidak kasihan."
"Kamu belum tahu keadaanku."
"Aku tahu kamu sedang terluka."
"Dan setelah aku sembuh?"
Ardan diam. Ia tidak tahu jawabannya.
Naira menangis. Tubuhnya bergetar, tapi ia menahan suara.
"Kalau aku tidak bisa berjalan seperti dulu?"
"Kita hadapi."
"Kalau aku harus menggunakan alat bantu?"
"Kita hadapi."
"Kalau aku tidak bisa menjadi perempuan yang kamu
bayangkan?"
"Aku tidak pernah punya bayangan seperti itu."
Tetapi Naira tidak percaya. Ketakutan telah menguasai
pikirannya. Ia melihat dirinya sebagai beban, sebagai sesuatu yang rusak,
sebagai sesuatu yang tidak layak dicintai.
Beberapa minggu kemudian, tanpa sepengetahuan Ardan, Naira
memutuskan pergi ke Banjarmasin untuk menjalani pemulihan. Ia pergi di pagi
buta, ketika kota masih tidur.
Sebelum pergi, ia hanya meninggalkan pesan di atas meja
kamarnya.
"Jangan tunggu aku. Jalani hidupmu. Aku tidak ingin
menjadi alasan kamu berhenti."
Ketika Ardan membaca pesan itu, ia merasa seluruh dunia
runtuh. Kertas itu ia pegang erat, sampai kertasnya kusut.
Ia mencoba menghubungi Naira. Telepon tidak dijawab. Pesan
tidak dibalas.
Ia datang ke rumah. Pintu terkunci. Jendela tertutup.
Naira sudah pergi.
Sejak hari itu, mereka kehilangan satu sama lain.
BAB II
EMPAT
TAHUN KEMUDIAN
"Bagaimana kabarmu?"
Pertanyaan Naira mengembalikan Ardan ke masa kini.
"Baik."
"Kamu?"
"Baik."
Mereka sama-sama tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum dua
orang yang ingin mengatakan banyak hal tetapi tidak tahu harus memulai dari
mana. Senyum yang menyembunyikan badai di dalam.
"Kamu berubah," kata Naira.
"Begitu juga kamu."
"Lebih tua?"
"Lebih kuat."
Naira menunduk. Menatap ujung sepatunya yang basah oleh air
sungai.
"Aku tidak merasa kuat."
"Bagiku kamu kuat."
Naira menatapnya. Ada sesuatu di matanya—peringatan,
ketakutan, harapan yang ia coba padamkan.
"Jangan mengatakan hal seperti itu."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin kembali berharap."
Kalimat itu membuat Ardan terdiam. Ia merasakan sesuatu
menusuk di dadanya.
"Aku tidak datang untuk membuatmu berharap."
"Lalu?"
"Aku juga belum tahu."
Naira tersenyum pahit. Senyum yang miring, tanpa
kebahagiaan.
"Setidaknya kamu jujur."
Mereka akhirnya berjalan meninggalkan dermaga. Langkah
mereka pelan, tidak sinkron, seperti dua orang yang belajar berjalan bersama
lagi.
Sebelum berpisah, Ardan berkata,
"Naira."
"Ya?"
"Besok aku boleh bertemu denganmu?"
Naira ragu. Ia menggigit bibir bawahnya, kebiasaan lama
yang masih ia bawa.
"Untuk apa?"
"Untuk bicara."
"Kita sudah bicara."
"Belum."
Naira tahu Ardan benar. Mereka baru berbicara tentang
hal-hal kecil. Belum tentang empat tahun. Belum tentang luka. Belum tentang
alasan sebenarnya mengapa Naira pergi.
"Baik."
"Jam berapa?"
"Sore."
"Di mana?"
Naira berpikir. Ia menatap sungai, menatap air yang terus
mengalir tanpa peduli.
"Tempat biasa."
Ardan tersenyum. Senyum pertama yang tulus malam itu.
"Masih ingat?"
"Aku tidak pernah lupa."
Malam itu mereka berpisah.
Namun masing-masing membawa pulang perasaan yang berbeda.
Ardan membawa harapan. Naira membawa ketakutan.
BAB
III
SURAT-SURAT
YANG TERLAMBAT
Keesokan harinya, Naira datang ke rumah ibunya.
Rumah itu masih sama—rumah panggung kayu dengan cat putih
yang mulai mengelupas. Di teras, ada kursi rotan tempat Bu Ratna biasa duduk
sore-sore sambil mengupas kacang.
Naira membuka lemari lama di kamarnya. Lemari kayu jati
yang berbau apek dan kapur barus. Di sana terdapat sebuah kotak kayu. Kotak itu
ukirannya sederhana, tapi terbuat dari kayu yang bagus.
Bu Ratna melihatnya. Perempuan tua itu berdiri di ambang
pintu, tangannya memegang kain lap.
"Kamu mencari apa?"
"Surat-surat."
Bu Ratna terdiam. Wajahnya berubah.
"Surat siapa?"
Naira tidak langsung menjawab. Tangannya membuka tutup
kotak.
"Surat Ardan."
Bu Ratna menarik napas panjang. Ia masuk ke kamar, duduk di
tepi ranjang.
"Kenapa Ibu masih menyimpannya?"
"Karena Ibu tidak tega membuangnya."
Naira membuka kotak itu. Ada belasan surat. Kertasnya sudah
menguning, lipatannya masih rapi. Tangannya gemetar.
Ia membuka satu.
"Naira, hari ini aku datang ke rumahmu. Kata ibumu
kamu masih menjalani perawatan. Aku ingin melihatmu, tetapi aku takut
mengganggu. Aku hanya ingin kamu tahu, aku tidak pergi."
Surat kedua.
"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentang aku.
Tapi aku ingin kamu tahu, aku tidak pergi."
Surat ketiga.
"Kalau kamu takut aku berubah, izinkan aku membuktikan
bahwa aku tidak berubah."
Air mata Naira jatuh. Membasahi kertas yang sudah rapuh.
Ia membuka surat lain.
"Aku mencintaimu bukan karena kakimu bisa berjalan
atau tidak. Aku mencintaimu karena kamu adalah Naira."
Naira menutup mulutnya. Bahunya bergetar.
"Ibu..."
Bu Ratna mendekat. Ia duduk di samping anaknya.
"Apa?"
"Kenapa Ibu tidak pernah memberikan surat ini?"
Bu Ratna menatapnya. Ada kesedihan di mata tuanya.
"Karena waktu itu kamu meminta Ibu memutus semua
hubunganmu dengan Ardan."
Naira menangis. Suaranya pecah.
"Aku bodoh."
"Kamu sedang takut."
"Tapi aku menyakitinya."
Bu Ratna memeluk anaknya. Pelukan yang hangat, pelukan yang
hanya bisa diberikan seorang ibu.
"Kadang manusia membuat keputusan buruk ketika sedang
terluka."
Naira membaca surat terakhir. Tanggalnya empat tahun lalu.
"Kalau suatu hari kamu kembali, aku tidak akan
bertanya mengapa kamu pergi. Aku hanya ingin bertanya apakah kamu masih mau
berjalan bersamaku."
Naira menangis semakin keras. Ia menekan wajahnya ke bahu
ibunya.
Selama empat tahun ia mengira Ardan telah melupakannya.
Ternyata laki-laki itu menunggunya dalam diam. Menulis surat yang tidak pernah
dikirim. Menyimpan janji yang tidak pernah dibuang.
BAB IV
RAKA
Pertemuan berikutnya berlangsung di sebuah kedai dekat
tepian sungai. Kedai itu sederhana—dinding kayu, meja plastik, dan lampu neon
yang berkedip-kedip. Aroma kopi dan gorengan memenuhi udara.
Ardan datang lebih dahulu. Ia memesan kopi hitam dan duduk
di sudut, menghadap sungai.
Naira muncul beberapa menit kemudian. Ia mengenakan kemeja
biru muda, rambutnya diikat ekor kuda.
"Maaf terlambat."
"Tidak apa-apa."
Naira duduk. Ia meletakkan tasnya di kursi sebelah.
"Aku membaca surat-suratmu."
Ardan menatapnya. Kopi di cangkirnya masih mengepul.
"Surat?"
"Ibu menyimpannya."
Ardan menghela napas. Ia menatap kopinya, berputar-putar di
cangkir.
"Aku kira semuanya tidak pernah sampai."
"Memang."
Hening. Hanya suara mesin perahu di kejauhan dan tawa
anak-anak yang bermain di tepian.
"Aku minta maaf," kata Naira.
"Sudah."
"Belum."
"Naira..."
"Aku pergi tanpa memberimu kesempatan."
Ardan menatap meja. Ada goresan-goresan kecil di
permukaannya, bekas pisau atau kunci.
"Aku marah."
"Aku tahu."
"Aku kecewa."
"Aku tahu."
"Aku merasa tidak berharga."
Naira menunduk. Ia menatap tangannya sendiri.
"Tapi sekarang aku mengerti."
"Apa?"
"Kamu tidak pergi karena tidak mencintaiku."
Naira menatapnya.
"Kamu pergi karena terlalu takut dicintai dalam
keadaanmu."
Naira menangis. Air matanya jatuh ke meja plastik,
menciptakan bercak kecil.
"Benar."
Ardan mengulurkan tangan. Naira tidak langsung
menyambutnya.
Tetapi sebelum percakapan itu selesai, seorang laki-laki
datang.
"Naira."
Naira menoleh. Wajahnya berubah—terkejut, lalu lega.
"Raka."
Ardan memandang laki-laki tersebut. Tinggi, rambut cepak,
senyum ramah.
Raka tersenyum.
"Maaf mengganggu."
"Kenapa?"
"Ibu menelepon. Katanya kamu harus pulang lebih
awal."
Raka kemudian melihat Ardan.
"Temanmu?"
Naira terdiam. Ia menatap Ardan, lalu Raka.
"Ardan."
Raka mengulurkan tangan. Jabatannya kuat.
"Raka."
Mereka berjabat tangan.
Namun Ardan merasakan sesuatu yang aneh. Raka terlihat
sangat dekat dengan Naira. Terlalu dekat. Dan ketika Raka membantu membawa tas
Naira, menyentuh bahunya dengan santai, Ardan hanya diam.
Ia tidak bertanya.
Itulah kesalahannya.
Raka ternyata adalah saudara tiri Naira. Anak dari ayah
Naira yang menikah lagi setelah bercerai dengan Bu Ratna. Namun Ardan belum
mengetahuinya.
Dan kesalahpahaman itu menjadi awal dari konflik baru.
BAB V
KELUARGA
Kabar tentang kedekatan Ardan dan Naira akhirnya sampai
kepada keluarga Ardan.
Pak Hendra, ayah Ardan, memanggil anaknya. Mereka duduk di
ruang tamu rumah keluarga—rumah besar dengan perabot kayu dan foto-foto
keluarga di dinding.
"Kamu bertemu Naira lagi?"
"Iya."
"Kamu ingin kembali dengannya?"
Ardan mengangguk. Ia menatap ayahnya dengan mata yang
tegas.
"Aku mencintainya."
Pak Hendra diam. Ia menyalakan rokok, mengembuskan asap ke
udara.
"Kamu ingat apa yang terjadi dulu?"
"Ingat."
"Dia meninggalkanmu."
"Karena dia takut."
"Alasan itu tidak menghapus kenyataan."
"Ayah..."
"Empat tahun kamu berusaha bangkit."
"Saya sudah bangkit."
"Dan sekarang kamu ingin kembali ke luka lama?"
Ardan menatap ayahnya. Ada kekecewaan di matanya.
"Naira bukan luka."
Pak Hendra menghela napas. Asap rokoknya menari di udara.
"Kamu terlalu emosional."
"Justru karena saya pernah kehilangan dia, sekarang
saya tahu nilainya."
"Bagaimana kalau nanti kamu menyesal?"
Ardan menjawab pelan, tapi tegas.
"Saya akan lebih menyesal kalau saya meninggalkan
seseorang yang masih saya cintai hanya karena takut terhadap masa depan."
Pak Hendra tidak menjawab. Namun ia tidak memberikan restu.
Masalah semakin rumit ketika keluarga Ardan mendengar kabar
bahwa Naira pernah mengalami kondisi kesehatan yang membuatnya membutuhkan
perawatan panjang.
Ibunya Ardan berkata, suaranya penuh kekhawatiran.
"Kamu yakin bisa menjalaninya?"
"Saya yakin."
"Ini bukan hanya soal cinta."
"Saya tahu."
"Kamu harus memikirkan keluarga."
"Saya juga memikirkan Naira."
"Bagaimana kalau suatu hari kamu lelah?"
Ardan terdiam.
Pertanyaan itu ternyata sama dengan pertanyaan yang selama
ini menghantui Naira.
BAB VI
KESALAHPAHAMAN
Hubungan mereka kembali dekat. Mereka bertemu hampir setiap
sore, duduk di tepian sungai, berbicara tentang hal-hal kecil.
Namun Ardan mulai memperhatikan Raka.
Suatu sore, ia melihat Naira naik ke kendaraan Raka. Mobil
itu melaju pergi, meninggalkan Ardan yang berdiri di depan toko kelontong. Ia
ingin bertanya. Tetapi tidak jadi. Pertanyaan itu tersangkut di tenggorokannya.
Malamnya Naira menelepon.
"Kamu kenapa?"
"Kenapa?"
"Seharian tidak menghubungiku."
"Aku sibuk."
"Kamu marah?"
"Tidak."
"Kamu bohong."
Ardan menghela napas. Ia menatap langit-langit kamarnya
yang retak.
"Aku melihatmu bersama Raka."
Naira diam. Hanya suara napasnya yang terdengar.
"Kenapa?"
"Dia saudaraku."
Ardan terkejut. Ia bangkit dari tempat tidur.
"Apa?"
"Saudara tiriku."
"Kenapa kamu tidak pernah bilang?"
"Kamu tidak pernah bertanya."
Ardan tertawa kecil. Tawa yang lega, tapi juga getir.
"Benar."
Namun masalah belum selesai.
"Aku juga mendengar sesuatu."
"Apa?"
"Keluargamu tidak menyukaiku."
Ardan diam.
"Siapa yang bilang?"
"Tidak penting."
"Naira..."
"Aku tidak ingin menjadi sumber masalah antara kamu
dan keluargamu."
"Jangan berpikir seperti itu."
"Tapi itu kenyataan."
"Keluargaku hanya butuh waktu."
"Dan kalau mereka tidak pernah menerima?"
Ardan tidak menjawab.
Jawaban itu membuat Naira takut. Ia teringat masa lalu. Ia
kembali berpikir bahwa mungkin dirinya memang terlalu berat untuk Ardan.
BAB
VII
PERPISAHAN
KEDUA
Beberapa hari kemudian, Naira menghilang.
Teleponnya tidak aktif. Pesan-pesan Ardan tidak dibalas.
Ardan datang ke rumah. Bu Ratna hanya berkata, suaranya
pelan.
"Naira pergi ke tempat pamannya."
"Kenapa?"
"Dia ingin menenangkan diri."
Ardan merasa marah. Tangannya mengepal.
"Kapan dia kembali?"
"Saya tidak tahu."
Ardan pulang dengan kecewa. Ia mengendarai motornya dengan
cepat, angin malam menerpa wajahnya.
Di kamarnya ia membuka laci. Cincin itu masih ada. Cincin
sederhana dengan batu kecil, yang telah disimpannya selama empat tahun.
Ia menatapnya. Matanya panas.
"Berapa kali lagi aku harus kehilanganmu?"
Sementara itu, Naira berada di sebuah rumah keluarga di
luar kota. Rumah itu sepi, dikelilingi pohon-pohon karet.
Ia menangis seorang diri. Duduk di beranda, menatap halaman
yang gelap.
Raka datang. Ia duduk di samping adiknya.
"Kamu yakin ini keputusanmu?"
"Aku tidak tahu."
"Kalau kamu masih mencintainya, kenapa pergi?"
"Karena aku tidak ingin dia memilih antara aku dan
keluarganya."
Raka duduk di sampingnya. Ia menatap langit yang penuh
bintang.
"Kamu tahu apa kesalahanmu?"
"Apa?"
"Kamu selalu memutuskan sesuatu atas nama kebahagiaan
orang lain."
Naira terdiam.
"Empat tahun lalu kamu meninggalkannya karena takut
menjadi beban."
"Ya."
"Dan sekarang kamu meninggalkannya lagi karena takut
keluarganya tidak menerima."
Naira menangis. Air matanya jatuh ke lantai kayu.
"Kamu harus berhenti menentukan apa yang dirasakan
orang lain."
Naira menatap kakaknya. Matanya bengkak.
"Aku takut."
"Kalau begitu katakan takutmu kepadanya."
"Tapi kalau dia akhirnya memilih pergi?"
"Setidaknya kali ini dia pergi karena pilihannya
sendiri, bukan karena kamu memaksanya pergi."
Kalimat itu menghantam hati Naira. Ia menunduk, menutup
wajahnya dengan kedua tangan.
BAB
VIII
PILIHAN
ARDAN
Di rumah, Pak Hendra kembali berbicara dengan Ardan. Mereka
duduk di ruang makan, di meja kayu yang panjang.
"Ayah sudah mendengar Naira pergi."
Ardan diam.
"Mungkin ini pertanda."
"Pertanda apa?"
"Bahwa hubungan kalian memang tidak seharusnya
dilanjutkan."
Ardan menatap ayahnya. Matanya tajam.
"Kenapa Ayah begitu menolaknya?"
Pak Hendra terdiam. Ia menatap meja, menatap piring kosong
di depannya.
"Karena Ayah takut."
"Takut apa?"
"Takut melihat kamu terluka lagi."
Ardan terkejut. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan
di mata ayahnya. Ketakutan yang selama ini tersembunyi di balik kemarahan.
"Ayah tidak membencinya."
"Lalu?"
"Ayah hanya tidak ingin kamu kehilangan masa
depan."
Ardan mendekat. Ia duduk di samping ayahnya.
"Ayah, masa depan saya bukan sesuatu yang bisa Ayah
pilihkan."
Pak Hendra menghela napas. Panjang, berat.
"Ayah hanya ingin kamu bahagia."
"Saya juga."
"Dan kamu yakin kebahagiaanmu ada pada Naira?"
Ardan mengangguk. Ia menatap ayahnya dengan mata yang
jujur.
"Setelah empat tahun, saya masih memilih dia."
Pak Hendra terdiam lama. Kemudian berkata,
"Kalau begitu, buktikan bahwa pilihanmu bukan sekadar
karena rasa kasihan."
Ardan menjawab,
"Saya akan membuktikannya."
BAB IX
HUJAN
DAN KABAR BURUK
Naira akhirnya kembali ke Kuala Kapuas.
Namun ia tidak langsung menemui Ardan. Ia butuh waktu. Ia
butuh keberanian.
Malam itu hujan turun deras. Air mengalir deras di atap
seng, menciptakan suara berisik yang mengisi keheningan.
Naira duduk di kamar sambil memandangi ponselnya. Layar
ponsel menyala, menampilkan nama Ardan.
Sebuah pesan masuk.
"Aku ingin bertemu."
Naira membalas.
"Besok."
Namun sebelum pertemuan itu terjadi, kabar buruk datang.
Ardan mengalami kecelakaan ketika perjalanan pulang dari
pekerjaannya. Jalanan licin, dan motornya tergelincir.
Tidak parah. Tetapi ia harus dirawat.
Naira langsung pergi ke rumah sakit. Ia menerobos hujan,
pakaiannya basah kuyup.
Ketika melihat Ardan terbaring, air matanya tidak
terbendung.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
Ardan membuka mata. Bibirnya tersenyum lemah.
"Naira?"
"Aku di sini."
"Kamu pulang."
"Iya."
Ardan tersenyum. Senyum yang lelah, tapi tulus.
"Syukurlah."
Naira menangis. Ia menggenggam tangan Ardan.
"Aku benci kamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu selalu membuatku takut
kehilanganmu."
Ardan diam.
"Aku takut."
"Kali ini jangan pergi."
Naira menggenggam tangannya. Erat.
"Aku tidak akan pergi."
Ardan menatapnya.
"Janji?"
Naira mengangguk.
"Janji."
Namun malam itu Ardan justru mengatakan sesuatu yang
membuat Naira terpukul.
"Aku harus pergi."
Naira membeku.
"Pergi ke mana?"
"Aku mendapat pekerjaan di luar kota."
"Berapa lama?"
"Hampir dua tahun."
Naira melepaskan tangannya. Ia mundur selangkah.
"Jadi setelah aku kembali, kamu pergi?"
"Aku mengambil pekerjaan ini untuk masa depan."
"Atau karena keluargamu?"
Ardan diam.
Naira mengira diam itu sebagai jawaban.
Ia bangkit.
"Aku mengerti."
"Naira, tunggu."
Tetapi Naira sudah pergi. Pintu ruangan menutup dengan
suara pelan.
BAB X
DUA
HATI YANG SAMA-SAMA TERLUKA
Hari keberangkatan Ardan semakin dekat.
Naira tidak datang.
Ardan mengirim pesan. Tidak dijawab.
Ia datang ke rumah Naira. Bu Ratna membuka pintu.
"Naira tidak mau bertemu."
Ardan menghela napas. Ia menatap Bu Ratna dengan mata yang
lelah.
"Saya hanya ingin menjelaskan."
"Dia sedang terluka."
"Saya juga."
Bu Ratna menatapnya. Ada iba di mata perempuan tua itu.
"Kalau kalian masih saling mencintai, jangan biarkan
kesalahpahaman menjadi keputusan."
Ardan mengangguk.
Namun ketika ia pulang, ia menemukan sebuah surat di depan
rumah. Surat itu diletakkan di bawah pot bunga, dilindungi plastik bening.
Dari Naira.
"Ardan,
Aku tidak tahu apakah aku masih boleh meminta sesuatu
darimu. Tetapi kalau pekerjaan itu memang impianmu, pergilah. Jangan tinggal
hanya karena aku.
Aku pernah membuatmu kehilangan empat tahun. Aku tidak
ingin mengulanginya.
Aku mencintaimu. Justru karena itu aku ingin kamu hidup
bahagia.
Naira."
Ardan membaca surat itu berulang kali. Kata-katanya
sederhana, tapi menusuk.
Kemudian menangis.
Ia akhirnya mengerti. Naira tidak pernah berhenti
mencintainya. Tetapi cinta mereka selalu dikalahkan oleh ketakutan.
Ketakutan menjadi beban. Ketakutan kehilangan. Ketakutan
ditolak. Ketakutan ditinggalkan.
Dan ketakutan itu telah membuat mereka saling menyakiti.
BAB XI
DUA
TAHUN
Ardan pergi.
Mereka menjalani hubungan jarak jauh. Pada awalnya
komunikasi berjalan baik. Telepon setiap malam, pesan-pesan singkat di sela pekerjaan.
Kemudian pekerjaan semakin padat. Ardan sibuk dengan
proyek-proyek besar. Naira juga mulai sibuk dengan kegiatan sosial yang ia
jalankan—mengajar anak-anak jalanan, mengorganisir donasi buku.
Mereka mulai jarang berbicara.
Suatu malam, Naira menunggu telepon Ardan. Duduk di
beranda, menatap ponsel.
Tidak ada.
Hari berikutnya juga tidak.
Hari ketiga baru ada pesan.
"Maaf. Banyak pekerjaan."
Naira membalas.
"Tidak apa-apa."
Tetapi ia menangis setelah mengirim pesan itu. Air matanya
jatuh ke layar ponsel.
Sementara Ardan juga duduk seorang diri di kamar. Kamar
kecil dengan satu jendela yang menghadap tembok.
Ia melihat foto Naira. Foto lama, saat mereka masih
bersama.
Ia ingin menelepon. Namun rasa lelah membuatnya tertidur.
Ponsel masih di tangannya.
Begitulah jarak bekerja.
Ia tidak selalu menghancurkan cinta dengan pertengkaran.
Kadang-kadang ia mengikisnya perlahan melalui kesibukan, diam, dan perasaan
bahwa seseorang mulai tidak membutuhkan kita.
Suatu hari Naira mendapat kabar dari seseorang bahwa Ardan
sering terlihat bersama seorang perempuan di tempat kerjanya. Rekan kerja, kata
mereka. Tapi Naira tidak bertanya.
Ia kembali memilih diam.
Ardan pun mendengar bahwa Naira sering ditemani Raka. Ia
juga diam.
Mereka kembali mengulang kesalahan lama. Mereka berdua
sama-sama merasa takut. Dan karena takut bertanya, mereka memilih menebak.
BAB
XII
PUNCAK
LUKA
Dua tahun hampir berakhir ketika Ardan tiba-tiba tidak
dapat dihubungi.
Telepon mati. Pesan tidak terkirim.
Naira mulai panik. Ia menelepon tempat kerja Ardan. Tidak
ada jawaban.
Ia menelepon teman-teman Ardan. Tidak ada yang tahu.
Kemudian seorang teman Ardan menghubunginya.
"Ardan mengalami kecelakaan."
Naira merasa dunia kembali runtuh.
Ia langsung pergi. Perjalanan panjang, menyeberang sungai,
melewati hutan.
Sepanjang perjalanan, hanya satu hal yang ada dalam
pikirannya.
Jangan ambil dia dariku.
Ketika tiba, ia melihat Ardan duduk di ruang perawatan.
Luka di dahinya cukup dalam, dibalut perban putih.
Tetapi ia sadar.
Naira langsung menangis. Ia berlari, memeluk Ardan.
"Kamu..."
Ardan memandangnya. Matanya lelah, tapi ada cahaya di sana.
"Kamu datang."
Naira memeluknya. Erat.
"Aku kira kamu pergi."
"Aku masih di sini."
"Aku takut."
"Aku juga."
Naira menangis di dadanya. Air matanya membasahi kemeja
rumah sakit.
"Maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
Ardan mengusap rambutnya. Tangannya hangat.
"Kita sama-sama salah."
Namun sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, Pak
Hendra datang.
Ia melihat Naira. Kemudian melihat Ardan.
"Naira."
"Pak..."
"Ayah ingin bicara."
Ardan berdiri.
"Ayah..."
Pak Hendra mengangkat tangan.
"Biarkan."
Mereka berbicara di luar ruangan. Lorong rumah sakit sepi,
hanya ada suara langkah perawat.
"Kenapa kamu selalu kembali ketika Ardan terluka?"
Naira terdiam.
"Saya tidak bermaksud..."
"Justru itu masalahnya."
Pak Hendra menatapnya. Matanya tajam, tapi tidak kejam.
"Kamu mencintainya, tetapi setiap kali takut, kamu
pergi. Setiap kali merasa bersalah, kamu mengambil keputusan sendiri."
Naira menangis.
"Saya tidak ingin menyakitinya."
"Tetapi kamu sudah menyakitinya."
Kalimat itu menusuk. Naira menunduk.
"Saya tahu."
"Kalau begitu berhentilah mencintainya dengan cara
yang membuatnya terus kehilanganmu."
Naira menangis semakin keras.
"Saya tidak tahu bagaimana caranya."
Pak Hendra terdiam. Ia menatap Naira lama.
"Lalu belajar."
Kalimat itu sederhana. Tetapi Naira merasa seperti
seseorang baru saja membukakan pintu yang selama ini tertutup.
BAB
XIII
PENGAKUAN
Malam itu Ardan dan Naira duduk berdua.
Tidak ada keluarga. Tidak ada teman. Hanya mereka.
Di beranda rumah sakit, di bawah langit yang penuh bintang.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," kata Naira.
"Silakan."
"Aku dulu pergi karena takut menjadi beban."
Ardan diam.
"Aku kemudian menjauh karena takut keluargamu tidak
menerimaku."
Ardan mendengarkan.
"Aku juga pernah curiga kamu memiliki orang
lain."
Ardan menghela napas.
"Aku juga pernah cemburu kepada Raka."
Naira tersenyum kecil.
"Kita benar-benar bodoh."
Ardan tertawa. Tawa yang lepas, tawa yang sudah lama tidak
ia dengar.
"Iya."
Naira kemudian menangis.
"Aku takut mencintaimu."
Ardan menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena kalau aku mencintaimu, aku punya sesuatu untuk
kehilangan."
Ardan menggenggam tangannya.
"Aku juga takut."
"Kamu?"
"Aku takut suatu hari kamu pergi lagi."
Naira menunduk.
"Aku tidak bisa menjanjikan hidup kita akan
mudah."
"Aku tidak meminta itu."
"Aku juga tidak bisa menjanjikan aku tidak akan
takut."
"Aku tahu."
"Kalau suatu hari aku merasa tidak cukup?"
"Aku akan mengingatkanmu."
"Kalau kamu merasa lelah?"
"Aku akan mengatakannya."
"Kalau kita bertengkar?"
"Kita bicara."
"Kalau keluargamu menolak?"
"Kita hadapi."
Naira menatapnya.
"Kalau semuanya terlalu berat?"
Ardan menggenggam tangannya erat. Erat sekali.
"Kita tidak harus kuat setiap hari."
Air mata Naira jatuh.
"Tapi kita harus tetap jujur."
"Ya."
"Dan jangan pergi diam-diam."
"Janji."
Naira akhirnya tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang
sampai ke matanya.
"Janji."
BAB
XIV
JALAN
PULANG
Ardan kembali ke Kuala Kapuas.
Kali ini ia tidak datang sebagai laki-laki yang sedang
mengejar masa lalu.
Ia datang sebagai laki-laki yang ingin membangun masa
depan.
Ia menemui Pak Hendra. Mereka duduk di teras rumah,
ditemani kopi yang mengepul.
"Ayah."
Pak Hendra menatapnya.
"Bagaimana?"
"Saya ingin menikahi Naira."
Pak Hendra diam cukup lama. Ia menatap kopinya, lalu
menatap langit.
"Ayah masih takut."
"Saya tahu."
"Tapi Ayah sudah melihat sesuatu."
"Apa?"
"Kamu tidak sedang menyelamatkan Naira."
Ardan terdiam.
"Kamu benar-benar mencintainya."
Ardan mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
Pak Hendra menarik napas. Panjang, berat, tapi juga lega.
"Kalau begitu, bawa dia pulang."
Ardan tersenyum. Senyum yang lebar, senyum yang sudah lama
tidak ia tunjukkan.
"Terima kasih, Yah."
Restu itu akhirnya datang.
Bukan karena semua masalah menghilang. Tetapi karena
keluarga mulai memahami bahwa cinta yang dewasa bukan cinta yang bebas dari
masalah.
Cinta yang dewasa adalah cinta yang mampu menghadapi
masalah tanpa saling meninggalkan.
Beberapa hari kemudian, Ardan mengajak Naira ke tepian
Sungai Kapuas.
Senja turun. Langit berwarna jingga. Awan-awan tipis
bergerak pelan.
Naira memandang air.
"Tempat ini tidak berubah."
"Yang berubah kita."
Naira tersenyum.
Ardan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Kotak beludru biru
tua.
Naira langsung mengenalinya.
"Masih kamu simpan?"
"Empat tahun."
Naira menangis. Air matanya jatuh, tapi ia tersenyum.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak pernah membuang janji."
Ardan membuka kotak itu.
Sebuah cincin terletak di dalamnya. Cincin sederhana,
dengan batu kecil yang berkilau di bawah cahaya senja.
"Naira."
"Ya?"
"Empat tahun lalu aku bilang kita harus menghadapi
semuanya bersama."
Naira menangis.
"Dan aku pergi."
"Kali ini aku tidak ingin memintamu berjanji untuk
tidak pernah pergi."
Naira menatapnya.
"Lalu?"
"Aku hanya ingin kalau suatu hari kamu takut, jangan
pergi. Katakan kepadaku."
Naira mengangguk.
"Dan kalau suatu hari kamu takut?"
"Aku akan melakukan hal yang sama."
Ardan mengulurkan tangan.
"Jadi?"
Naira tersenyum sambil menangis.
"Aku pulang."
Ardan memasangkan cincin itu. Cincin itu pas di jari Naira,
seperti memang sudah menjadi tempatnya.
BAB XV
DENGARLAH
BINTANG HATIKU
Pernikahan mereka berlangsung sederhana.
Tidak ada pesta yang berlebihan. Tidak ada kemewahan. Hanya
keluarga, beberapa sahabat, dan orang-orang yang telah menyaksikan perjalanan
mereka.
Di halaman rumah Bu Ratna, tenda putih didirikan.
Kursi-kursi plastik ditata rapi. Aroma nasi kuning dan rendang memenuhi udara.
Pak Hendra bahkan datang lebih awal.
Ketika melihat Naira, ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Selamat datang di keluarga."
Naira menangis.
"Terima kasih, Pak."
"Jangan panggil Pak lagi."
Naira tersenyum.
"Baik, Yah."
Pak Hendra menepuk bahunya.
"Kamu tidak perlu takut lagi."
Setelah semua acara selesai, Ardan dan Naira kembali ke
tepian Sungai Kapuas.
Malam telah turun. Bintang-bintang memenuhi langit. Sungai
mengalir tenang, memantulkan cahaya bulan.
Naira duduk di samping Ardan. Kepalanya disandarkan di bahu
suaminya.
"Masih ingat?"
"Semua."
"Dulu aku takut melihat bintang."
"Kenapa?"
"Karena aku merasa terlalu kecil."
Ardan tersenyum.
"Dan sekarang?"
Naira menatap langit. Matanya berkilau.
"Sekarang aku tahu bahwa sesuatu tidak harus dekat
untuk memberi cahaya."
Ardan memandangnya.
"Filosofis sekali."
Naira tertawa. Tawa yang lepas, tawa yang bahagia.
"Jangan merusak suasana."
Mereka tertawa.
Kemudian Naira kembali serius.
"Dan."
"Ya?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena tidak pernah berhenti menungguku."
Ardan menggeleng.
"Aku tidak menunggumu."
Naira terkejut.
"Lalu?"
"Aku menjalani hidupku."
"Terus?"
"Dan ternyata jalan hidupku selalu membawaku kembali
kepadamu."
Naira menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau suatu hari nanti aku tidak sekuat sekarang?"
"Kita hadapi."
"Kalau kamu sakit?"
"Kita hadapi."
"Kalau keluarga punya masalah?"
"Kita bicara."
"Kalau kita bertengkar?"
"Kita jangan tidur dalam keadaan saling
membenci."
Naira tersenyum.
"Kalau aku takut?"
"Pegang tanganku."
Naira menggenggam tangan Ardan.
"Kalau kamu takut?"
"Pegang tanganku juga."
Mereka tertawa kecil.
Sungai Kapuas terus mengalir. Tidak peduli berapa banyak
orang datang dan pergi. Tidak peduli berapa banyak kisah cinta dimulai dan
berakhir. Sungai itu tetap menjadi saksi.
Ardan kemudian berkata,
"Naira."
"Ya?"
"Menurutmu, apa arti pulang?"
Naira berpikir. Ia menatap sungai, menatap air yang terus
mengalir.
"Pulang bukan selalu tentang kembali ke sebuah
tempat."
"Lalu?"
"Pulang adalah ketika kita menemukan seseorang yang
membuat kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain."
Ardan tersenyum.
"Dan kamu menemukan rumahmu?"
Naira memandangnya.
"Di sini."
"Di Kuala Kapuas?"
Naira menggeleng.
"Di kamu."
Ardan terdiam. Hatinya penuh.
Naira menyandarkan kepalanya di bahunya.
Malam semakin dalam. Bintang-bintang semakin terang. Dan
untuk pertama kalinya setelah perjalanan panjang yang penuh luka, mereka tidak
lagi takut kepada hari esok.
Karena mereka telah belajar satu hal yang tidak pernah
diajarkan oleh waktu dengan mudah:
Bahwa cinta bukan tentang memiliki seseorang yang sempurna.
Cinta bukan tentang memastikan seseorang tidak pernah
terluka.
Cinta bukan tentang menjanjikan bahwa hidup akan selalu
mudah.
Cinta adalah keberanian untuk tetap tinggal ketika
kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Cinta adalah kemampuan untuk berkata jujur ketika hati
sedang takut.
Cinta adalah kesediaan untuk mendengarkan ketika
kesalahpahaman mulai tumbuh.
Cinta adalah keberanian untuk memaafkan.
Dan yang paling penting—
cinta adalah pilihan.
Pilihan untuk tetap menggenggam tangan seseorang meskipun
jalan di depan tidak selalu mudah.
Pilihan untuk tidak pergi hanya karena keadaan menjadi
berat.
Pilihan untuk tidak menyerah hanya karena pernah terluka.
Naira memandang langit.
"Dan..."
"Ya?"
"Lihat."
Ardan mengikuti arah pandangannya.
Satu bintang terlihat sangat terang. Berkilau di antara
bintang-bintang lain.
"Itu bintang kita."
"Kenapa?"
"Karena selama empat tahun aku pikir cahayanya sudah
hilang."
Ardan tersenyum.
"Ternyata?"
"Ternyata hanya tertutup awan."
Ardan menggenggam tangan Naira.
"Seperti kita."
Naira mengangguk.
"Seperti kita."
Mereka kemudian diam.
Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Tidak ada lagi masa
lalu yang harus diperdebatkan. Tidak ada lagi surat yang terlambat. Tidak ada
lagi keputusan yang dibuat seorang diri.
Yang tersisa hanya dua hati yang akhirnya belajar saling
percaya.
Dan malam itu, di bawah langit Kuala Kapuas, Naira akhirnya
memahami mengapa dulu Ardan pernah berkata bahwa cinta bisa melawan banyak hal.
Bukan karena cinta membuat manusia kebal terhadap luka.
Tetapi karena cinta memberi seseorang alasan untuk bangkit
setelah terluka.
Naira pernah pergi.
Ardan pernah kehilangan.
Mereka pernah salah memahami.
Mereka pernah saling menjauh.
Mereka pernah mengira bahwa melepaskan adalah bentuk cinta
terbaik.
Ternyata tidak.
Kadang-kadang cinta bukan tentang melepaskan.
Kadang-kadang cinta justru tentang memberikan seseorang
kesempatan untuk memilih tinggal.
Dan kali ini mereka telah memilih.
Bukan karena takut kehilangan.
Bukan karena kasihan.
Bukan karena masa lalu.
Tetapi karena mereka benar-benar ingin berjalan bersama.
Sungai Kapuas terus mengalir. Membawa air menuju tempat
yang jauh.
Tetapi bagi Ardan dan Naira, malam itu bukan tentang ke
mana sungai membawa mereka.
Melainkan tentang tempat di mana hati mereka akhirnya
berhenti mencari.
Tempat itu adalah rumah.
Dan rumah itu adalah satu sama lain.
Di bawah langit yang dipenuhi bintang, Ardan berbisik,
"Dengarlah bintang hatiku."
Naira tersenyum.
Ia tidak membutuhkan penjelasan.
Ia tahu, setelah semua yang mereka lalui, cinta mereka
akhirnya tidak lagi membutuhkan janji panjang.
Cukup satu pilihan sederhana:
tetap tinggal.
TAMAT
---
Catatan
Penulis:
Novelet
ini terinspirasi oleh lagu "Dengarlah Bintang Hatiku"
karya
De'Meises. Seluruh plot, tokoh, dan dialog adalah
kreasi
fiksi independen penulis.







0 komentar:
Posting Komentar