TRILOGI ROMAN EPIK
JEJAK
WAKTU
JILID
PERTAMA
Jejak
Waktu, Akar yang Tumbuh Diam-Diam
"Kadang
rumah bukanlah tempat, melainkan seseorang. Dan kadang, pulang bukan berarti
kembali, melainkan berhenti berlari."
Oleh: Slamet Riyadi
Prolog
Tangis yang Membelah Musim Hujan
Malam itu, hujan turun seperti langit sedang menumpahkan
seluruh kesedihannya ke bumi. Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar
biasa, butir-butirnya besar dan deras, menghantam atap-atap rumbia dengan suara
seperti genderang perang yang tidak pernah berhenti. Di sebuah desa kecil di
tepian Sungai Kapuas Muara, rumah-rumah panggung berdiri diam diterpa angin
malam. Daun-daun kelapa saling adu pelan, menciptakan bunyi yang terdengar
seperti bisikan para leluhur yang berjalan di antara gelap. Air sungai yang
biasanya tenang bergerak lebih cepat dari biasanya, arusnya membawa dedaunan
kering dan ranting-ranting kecil menuju hilir, seolah alam sendiri sedang
gelisah menanti sesuatu yang akan lahir ke dunia malam itu.
Di rumah paling ujung yang menghadap sungai, sebuah rumah
panggung dengan tiang kayu ulin yang mulai lapuk dimakan usia, cahaya lampu
minyak berkedip-kedip dari balik dinding kayu yang renggang. Rumah itu kecil,
hanya berukuran empat kali lima meter, dengan dinding dari papan kayu yang
tidak bercat dan atap dari daun rumbia yang sudah mulai bocor di beberapa
tempat. Tetapi di dalam rumah kecil itulah, pada malam yang gelap dan hujan
yang deras itu, seorang perempuan muda sedang berjuang melahirkan. Namanya
Ratih. Usianya baru dua puluh dua tahun, tetapi wajahnya tampak lebih tua dari
usianya. Bukan karena garis-garis di keningnya yang mulai tampak meskipun
usianya masih muda, melainkan karena sesuatu di matanya yang sudah terlalu lama
menyimpan kesedihan, sesuatu yang membuatnya terlihat seperti telah hidup dua
kali lipat dari usianya.
Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Kain sarung yang ia
kenakan basah kuyup, menempel di kulitnya yang panas. Rambutnya yang panjang
dan hitam kini basah dan menempel di dahi dan leher, beberapa helai tersangkut
di sudut bibirnya yang kering dan pecah-pecah. Tangannya mencengkeram tikar
pandan dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, hingga urat-urat
biru di punggung tangannya tampak menonjol seperti akar pohon yang mencari air
di tanah kering. Napasnya berat, terputus-putus, kadang diselingi jeritan kecil
yang ditahannya karena takut mengganggu tetangga, padahal di tengah hujan
selebat ini, tidak ada yang akan mendengar apa pun.
"Sedikit lagi, Ratih... sedikit lagi..." bisik
dukun beranak tua yang sudah membantu persalinan di desa itu selama empat puluh
tahun. Namanya Mak Tonah. Usianya sudah melewati enam puluh tahun, tetapi
tangannya yang keriput tetap lincah dan berpengalaman. Ia tahu persis kapan
harus mendorong dan kapan harus menahan. Ia tahu persis kapan harus membisikkan
kata-kata penyemangat dan kapan harus diam. Ia telah membantu ratusan bayi
lahir ke dunia, tetapi malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Ada getaran aneh di
udara, sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding setiap kali ia mendekati
Ratih.
"Kuat, Nak. Sebentar lagi kau lihat anakmu."
Ratih menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Matanya
terpejam rapat, air mata bercampur peluh mengalir di pipinya yang pucat. Di
luar, angin malam menderu kencang, menggerakkan daun-daun kelapa yang menari
liar seolah sedang ditarik oleh tangan tak terlihat. Beberapa pelepah kelapa
patah dan jatuh ke tanah dengan suara gemerisik yang nyaris tak terdengar di
tengah derasnya hujan.
Di luar kamar sempit itu, di ruang tengah yang hanya
berukuran dua kali tiga meter dengan dinding yang tidak rapat sehingga angin
malam masuk dari celah-celah kayu, Sastrowiryo berdiri dengan wajah tegang.
Lelaki itu dikenal keras oleh seluruh kampung. Bahunya besar dan bidang, hasil
dari bertahun-tahun bekerja di kebun karet dan di dermaga, mengangkat
karung-karung beras yang berat dan balok-balok kayu yang besar. Wajahnya tegas
dengan rahang yang kuat dan alis tebal yang hampir selalu mengerut, membuatnya
terlihat marah meskipun hatinya sedang tenang. Tatapannya tajam, bahkan orang
dewasa pun sering menghindari bertemu matanya terlalu lama, karena ada sesuatu
di mata itu yang membuat orang merasa sedang dinilai dan dihakimi.
Tetapi malam itu, lelaki yang tidak pernah takut pada apa
pun itu, kedua tangannya gemetar.
Ia mondar-mandir di ruang tengah yang hanya diterangi lampu
minyak kecil dengan sumbu yang hampir habis. Setiap kali jeritan Ratih
terdengar dari dalam, langkahnya berhenti sejenak, lalu ia menggenggam
tangannya sendiri lebih erat, seperti sedang menahan sesuatu yang tidak bisa ia
kendalikan. Dua botol kosong tergeletak di sudut ruangan, botol-botol yang
biasanya ia isi dengan tuak, tetapi malam itu ia tidak menyentuh setetes pun.
Ia ingin sadar. Ia ingin hadir. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ingin
menjadi ayah yang hadir.
"Sastrowiryo," suara tua bergema dari sudut
ruangan.
Mbah Joyo, lelaki tua yang paling dihormati di desa, duduk
bersila di dekat pintu sambil mengisap rokok linting yang ia buat sendiri dari
tembakau kering dan daun kelapa. Usianya sudah melewati delapan puluh tahun,
tetapi matanya masih jernih dan telinganya masih tajam. Seluruh desa tahu bahwa
Mbah Joyo memiliki semacam kemampuan untuk membaca tanda-tanda yang tidak
terlihat oleh orang biasa. Beberapa orang menyebutnya berkat, sebagian lain
menyebutnya kutukan. Namun tidak ada yang berani meragukan kata-katanya. Ia
adalah sesepuh yang disegani, bukan karena kekayaan atau kekuasaan, tetapi
karena kebijaksanaan yang hanya datang dari delapan puluh tahun hidup di desa
yang sama, menyaksikan lahir dan matinya tiga generasi.
Sastrowiryo menoleh. "Ya, Mbah?"
"Duduk. Kau membuat aku pusing."
Sastrowiryo ragu sejenak, lalu duduk di kursi bambu di
hadapan Mbah Joyo. Kursi itu berderit pelan di bawah berat badannya. Ia menatap
lelaki tua itu, mencari sesuatu di wajahnya yang penuh kerut.
Mbah Joyo menatap hujan di luar yang turun tanpa henti. Air
mengalir deras dari atap rumbia, membentuk tirai tipis yang memburamkan dunia
di luar rumah. Genangan air mulai terbentuk di halaman yang tidak rata,
memantulkan cahaya lampu minyak dari jendela-jendela rumah lain yang masih
menyala. Sesekali kilat menyambar di kejauhan, diikuti gemuruh yang terdengar
seperti langit sedang menggeram, seperti raksasa yang sedang marah.
"Hujan seperti ini," kata Mbah Joyo pelan,
suaranya hampir tenggelam oleh suara air yang jatuh dari atap dan angin yang
menderu di antara celah-celah dinding, "biasanya datang bersama takdir
besar."
Sastrowiryo menoleh cepat. Wajahnya yang tegang berubah
menjadi waspada, alisnya yang tebal semakin mengerut, membentuk garis vertikal
di antara kedua matanya. "Takdir macam apa, Mbah?"
Mbah Joyo tidak segera menjawab. Ia hanya memandang langit
gelap di luar jendela, memperhatikan cara angin membawa hujan miring ke timur,
lalu ke barat, lalu ke timur lagi, seolah sedang mencari arah, seolah sedang
ragu ke mana harus pergi. Asap rokoknya mengepul tipis di udara, membentuk
lingkaran-lingkaran kecil yang perlahan menghilang. Setelah beberapa lama, ia
berkata, "Anak yang lahir malam ini akan membawa luka panjang. Lebih
panjang dari hidupnya sendiri."
Sastrowiryo mengerutkan dahi. Dadanya terasa sesak.
Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya menusuk telapak tangan.
"Maksud Mbah, Mbah Joyo?"
Mbah Joyo menghela napas panjang, asap rokoknya mengepul
pelan ke langit-langit yang sudah hitam karena jelaga. "Anak itu akan
kehilangan terlalu banyak hal sebelum dia cukup umur untuk mengerti arti
kehilangan. Dia akan mencintai terlalu dalam, dan cinta itu akan menjadi
lukanya yang paling parah. Dia akan mencari sesuatu sepanjang hidupnya, tanpa
pernah benar-benar tahu apa yang dia cari. Dia akan berlari dari satu tempat ke
tempat lain, tetapi tidak pernah benar-benar sampai."
"Bisa dicegah, Mbah?" suara Sastrowiryo terdengar
hampir seperti bisikan, hampir seperti doa.
Mbah Joyo menatap lelaki itu dengan mata tua yang penuh
kebijaksanaan sekaligus kesedihan. Matanya yang jernih itu berkaca-kaca, tetapi
ia tidak membiarkan air mata jatuh. Ia sudah terlalu tua untuk menangis di
depan orang lain. "Kadang takdir bukan untuk dicegah. Kadang takdir hanya
untuk dijalani."
Sastrowiryo membuka mulutnya hendak bertanya lagi, hendak
memohon agar Mbah Joyo memberikan ramalan yang lebih baik, ramalan yang lebih
membawa harapan, tetapi sebelum sepatah kata pun keluar dari mulutnya, suara
tangis bayi pecah dari dalam kamar.
Nyaring.
Keras.
Panjang.
Seolah sejak pertama kali menghirup udara, anak itu sudah
tahu bahwa dunia bukan tempat yang lembut. Suara tangisnya bukan sekadar tangis
bayi biasa. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Mbah Joyo
merinding, sesuatu yang membuat rokok di tangannya jatuh ke lantai tanpa ia
sadari. Lelaki tua itu hanya bisa diam, menatap pintu kamar yang tertutup, dan
untuk pertama kalinya dalam delapan puluh tahun hidupnya, ia merasa takut akan
ramalannya sendiri.
Pintu kamar terbuka. Mak Tonah keluar dengan wajah lelah
tetapi tersenyum. "Laki-laki," katanya singkat. "Sehat. Matanya
sudah terbuka."
Ratih menangis saat dukun beranak menyerahkan bayi
laki-laki itu ke pelukannya. Bayi itu kecil, lebih kecil dari bayi kebanyakan,
dengan tangan dan kaki yang mungil dan kurus. Kulitnya kemerahan, keriput
seperti orang tua, dengan beberapa bercak putih di pipi dan dahi. Rambutnya
hitam dan tipis, menempel di kepala yang masih lunak. Tetapi matanya sudah
terbuka lebar. Matanya gelap, sangat gelap, seperti lubang sumur tua yang tidak
pernah melihat matahari, seperti samudra yang tidak pernah mencapai dasar. Dan
ketika bayi itu menatap ibunya, Ratih merasa seolah sedang ditatap oleh
seseorang yang sudah sangat tua, seseorang yang sudah lelah sebelum hidupnya
benar-benar dimulai, seseorang yang sudah tahu bahwa dunia ini kejam bahkan
sebelum ia mengalaminya sendiri.
Ia memandang wajah kecil itu dengan mata berkaca-kaca. Air
matanya bercampur peluh jatuh ke pipi bayi yang masih kemerahan. Ia mengusap
pipi bayi itu dengan jarinya yang gemetar, jari yang kasar karena pekerjaan
mencuci dan memasak dan membersihkan rumah setiap hari. Dengan suara yang
hampir tak terdengar, suara yang keluar dari dadanya yang masih sakit karena
persalinan, ia berbisik, "Danang. Namamu Danang."
Bayi itu berhenti menangis sejenak, seperti mendengar
namanya, seperti mengakui bahwa itulah identitas yang akan melekat padanya
sepanjang hidupnya. Matanya yang gelap itu masih menatap ibunya, masih menatap
dengan intensitas yang tidak lazim untuk bayi seusianya.
Di luar, hujan masih turun. Tidak reda sedikit pun. Angin
bertiup lebih kencang, menerbangkan daun-daun kering dan ranting-ranting kecil.
Beberapa pohon kelapa di belakang rumah bergoyang liar, batangnya yang tinggi
melengkung seperti sedang sujud kepada sesuatu yang tidak terlihat. Atap rumbia
beberapa rumah tetangga mulai terlepas, diterbangkan angin ke udara seperti
burung-burung raksasa yang terbang di malam hari. Sesekali terdengar suara
barang-barang jatuh dari dalam rumah-rumah di sekitarnya, suara panci dan wajan
yang berguling-guling di lantai kayu.
Dan di kejauhan, di balik tirai hujan yang begitu lebat
hingga dunia terlihat seperti lukisan cat air yang kabur, Mbah Joyo yang masih
duduk di dekat pintu, yang masih berusaha mengendalikan detak jantungnya yang
berdegup kencang, mendengar sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. Di
sela-sela suara hujan dan angin, di antara gemuruh petir dan deru air sungai,
ia mendengar suara lain. Suara langkah. Banyak langkah. Seperti barisan orang
yang berjalan di atas air, seperti pasukan tak terlihat yang berbaris di atas
permukaan sungai, menuju rumah itu, lalu berhenti tepat di depan tangga.
Ketika ia menoleh ke luar, ketika matanya yang jernih itu
menatap ke arah datangnya suara, tidak ada siapa pun. Hanya hujan dan gelap.
Hanya pohon-pohon yang bergoyang dan air yang mengalir.
Namun Mbah Joyo tahu. Ia tahu dengan pasti, dengan
keyakinan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu telah datang
malam itu. Sesuatu yang akan tinggal bersama anak itu sepanjang hidupnya.
Sesuatu yang tidak memiliki nama, tetapi memiliki wajah. Wajah kesedihan itu
sendiri.
Ia memandang bayi di pelukan Ratih, bayi yang baru saja dinamai
Danang, dan untuk pertama kalinya dalam delapan puluh tahun, Mbah Joyo berdoa.
Bukan doa yang diajarkan oleh agama mana pun. Bukan doa yang dibacakan dari
kitab suci. Tetapi doa yang keluar dari hatinya yang paling dalam, doa seorang
lelaki tua yang tidak berdaya di hadapan takdir.
"Jagalah anak ini," bisiknya. "Ia akan
melewati banyak badai. Jangan biarkan ia tenggelam."
Tak ada siapa pun yang mendengar doa itu. Hanya hujan.
Hanya angin. Hanya langit yang gelap dan tidak peduli.
Tak ada siapa pun malam itu yang mengerti bahwa tangis bayi
itu akan menjadi awal dari kisah yang panjang. Kisah yang akan berlangsung
puluhan tahun, melewati tiga era, tiga kota, tiga generasi. Kisah tentang cinta
yang datang terlalu cepat dan pergi terlalu sering. Kisah tentang kehilangan
yang datang bertubi-tubi tanpa pernah memberi waktu untuk bernapas. Kisah
tentang waktu yang tak pernah benar-benar pergi meski telah puluhan tahun
berlalu, tentang waktu yang selalu kembali dalam bentuk kenangan yang tidak
bisa dihapus. Kisah tentang seorang lelaki yang belajar bahwa kadang rumah
bukanlah tempat, melainkan seseorang. Dan bahwa kadang, pulang bukan berarti
kembali, melainkan berhenti berlari.
Bab 1
Rumah
yang Menyimpan Banyak Diam
Tujuh tahun kemudian.
Danang tumbuh dalam rumah yang penuh suara yang tak pernah
diucapkan.
Rumah panggung itu berdiri di atas tiang kayu ulin tua yang
mulai lapuk dimakan usia. Tiang-tiang itu telah berdiri selama lebih dari
setengah abad, mungkin lebih, menyaksikan lahir dan matinya beberapa generasi,
menyaksikan musim hujan dan musim kemarau yang bergantian datang silih
berganti, menyaksikan anak-anak yang lahir tumbuh menjadi dewasa lalu pergi
merantau lalu kembali dengan anak-anak mereka sendiri. Di beberapa tempat, kayu
ulin itu sudah ditumbuhi jamur kecil berwarna putih keabu-abuan, seperti
penyakit kulit yang tak kunjung sembuh, seperti tanda bahwa usia tidak pernah
bisa dikalahkan oleh kekuatan apa pun.
Setiap pagi, ketika matahari baru mulai menyembulkan
kepalanya di balik bukit di timur, ketika kabut tipis masih menutupi permukaan
sungai seperti selimut putih yang tipis, lantai rumah itu mengeluarkan bunyi
berderit ketika Ratih berjalan dari dapur ke ruang tengah sambil membawa piring
enamel berisi singkong rebus dan secangkir kopi hitam tanpa gula. Derit lantai
itu sudah menjadi bagian dari ritme bagi Danang, seperti suara ayam jantan yang
berkokok di kejauhan atau cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah
dinding kayu yang tidak rapat.
Namun berbeda dengan suara-suara lain yang konstan dan
dapat diprediksi, derit lantai ibunya selalu terdengar lebih pelan di hari-hari
ketika ayahnya ada di rumah. Dan selalu terdengar lebih cepat di hari-hari
ketika ayahnya pergi ke kebun sebelum matahari terbit. Danang kecil tidak
mengerti mengapa, tetapi ia merasakannya. Ia merasakan beban yang berbeda di
setiap langkah ibunya, meskipun ibunya tidak pernah mengeluh, tidak pernah
menangis di depannya, tidak pernah menunjukkan bahwa ada yang salah.
Danang kecil selalu bangun lebih pagi dari ayam jantan.
Bukan karena ia tidak bisa tidur , ia bisa tidur dengan nyenyak di tikar pandannya
yang sudah tua dan gatal, tetapi karena
ia tidak ingin melewatkan sepinya pagi sebelum dunia desa mulai ramai. Sepi itu
adalah miliknya sendiri. Sepi yang tidak perlu dibagi dengan siapa pun. Sepi
yang tidak meminta penjelasan atau pembelaan.
Ia suka duduk di jendela kayu, di sebuah jendela kecil
dengan daun jendela yang hanya bisa terbuka setengah karena engselnya sudah
berkarat, sambil menatap sungai. Dari jendela itu, ia bisa melihat
perahu-perahu kecil yang mulai berlayar, perahu-perahu kayu dengan warna cat
yang mengelupas, ditenagai oleh dayung atau kadang oleh mesin tempel tua yang
suaranya seperti batuk orang tua. Ia bisa melihat nelayan yang melemparkan
jala, jaring-jaring besar yang terbuka di udara seperti payung raksasa sebelum
jatuh ke air dengan suara percikan yang lembut. Dan sesekali, jika ia cukup
beruntung, ia bisa melihat buaya yang berjemur di tepi sungai seberang, dengan
mulut terbuka lebar dan gigi-gigi tajam yang tampak mengkilap terkena sinar
matahari pagi.
Kadang ia merasa sungai lebih hidup daripada rumahnya
sendiri.
Sungai bicara. Ia bicara melalui riak airnya yang selalu
bergerak, yang selalu membentuk pola baru setiap detik. Ia bicara melalui suara
arus yang membentur dermaga kayu, suara yang berirama seperti lagu pengantar
tidur yang tidak pernah berakhir. Ia bicara melalui ikan-ikan yang kadang
melompat ke permukaan, tubuh keperakan mereka berkilauan sebentar di udara
sebelum jatuh kembali ke air dengan suara cipratan kecil. Sungai tidak pernah
diam. Ia selalu bergerak, selalu berubah, selalu pergi ke suatu tempat. Danang
sering berpikir, mungkin ia ingin seperti sungai. Meninggalkan tempat ini,
pergi jauh, dan tidak pernah kembali. Mungkin di suatu tempat di hilir, di
suatu kota yang tidak pernah ia lihat, di suatu tempat di mana tidak ada yang
tahu siapa dirinya, ia bisa menjadi seseorang yang bukan siapa-siapa. Seseorang
tanpa masa lalu. Seseorang tanpa luka.
Ayahnya, Sastrowiryo, jarang bicara.
Jika pulang dari kebun atau dari dermaga, lelaki itu hanya
duduk diam di kursi bambu dekat jendela sambil menatap kosong ke halaman.
Tatapannya kosong, tetapi tidak hampa. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang berat,
sesuatu yang seperti beban yang terus ia pikul meski tidak ada yang memintanya.
Seolah pikirannya berada di tempat lain yang tak bisa disentuh siapa pun.
Seolah ia sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat oleh Danang.
Seolah ia sedang bertengkar dengan bayangannya sendiri.
Kadang Sastrowiryo membawa botol kecil berisi cairan bening
yang baunya menyengat, bau yang membuat hidung Danang terasa perih jika terlalu
dekat. Ia akan duduk berjam-jam di kursi bambu itu, menyesap cairan itu sedikit
demi sedikit, sementara matanya semakin lama semakin sayu, semakin kosong,
semakin seperti orang yang sedang menghilang dari dunia ini sedikit demi
sedikit. Kadang ia tertidur di kursi itu dengan botol masih di tangan, dan
Danang akan membawa selimut tipis untuk menutupi tubuh ayahnya yang dingin.
Ratih tidak pernah berkata apa-apa tentang botol itu. Ia
hanya mengambil botol kosong keesokan paginya dan membuangnya jauh di belakang
rumah, di balik semak-semak dan pohon pisang, tanpa suara, tanpa amarah, hanya
dengan napas panjang yang terdengar seperti kepasrahan. Kadang Danang melihat
ibunya berdiri sebentar di tempat pembuangan botol itu, memandang botol-botol
yang berserakan di antara daun-daun kering, lalu menghela napas lagi dan
kembali ke rumah.
Danang sering memperhatikan ayahnya dari balik pintu, dari
balik dinding kayu yang retak, dari balik tirai tipis yang terbuat dari kain
perca. Ia tidak takut pada ayahnya. Ia tidak benci pada ayahnya. Ia hanya ingin
tahu. Ada rasa ingin tahu yang besar di hati kecilnya. Pertanyaan-pertanyaan
yang tidak pernah ia ucapkan karena tidak tahu harus mulai dari mana.
Pertanyaan-pertanyaan yang ia pendam di dadanya seperti menyimpan rahasia yang
bahkan tidak ia mengerti.
"Kenapa ayah jarang tersenyum?" tidak pernah ia
tanyakan.
"Kenapa ibu sering diam padahal di depan tetangga ia
selalu tersenyum?" tidak pernah ia tanyakan.
"Kenapa rumah mereka selalu terasa dingin meski
matahari bersinar terik di luar?" tidak pernah ia tanyakan.
"Kenapa ayah tidak pernah mengajaknya main seperti
ayah-ayah lain yang sering menggendong anaknya ke pasar?" tidak pernah ia
tanyakan.
Dan yang paling sering muncul di benaknya, yang paling
sulit ia pendam, "Kenapa ketika Danang jatuh dari pohon jambu dan kakinya
berdarah, ayahnya hanya memandang sebentar lalu pergi ke dapur untuk mengambil obat,
tanpa satu kata pun, tanpa pelukan, tanpa 'Kau tak apa, Nak?'"
Namun setiap kali mulut kecilnya ingin membuka pertanyaan,
suara ibunya selalu datang lebih dulu. Lembut. Cepat. Seperti orang yang sudah
hafal pertanyaan apa yang akan keluar sebelum anaknya sendiri menyadarinya.
"Jangan ganggu bapakmu, Danang."
Bukan perintah keras. Hanya permintaan pelan yang diulang
setiap hari. Danang hanya mengangguk. Karena ia sudah belajar sejak kecil bahwa
kepatuhan lebih aman daripada rasa ingin tahu. Bahwa pertanyaan adalah senjata
yang bisa melukai orang yang mengucapkannya. Bahwa kadang, tidak tahu adalah
bentuk perlindungan yang paling baik.
Suatu pagi, ketika usianya genap tujuh tahun, Danang
memberanikan diri bertanya. Mungkin karena hari itu hujan dan ayahnya sedang
tidur di kamar setelah seharian bekerja di kebun karet. Mungkin karena ibunya
sedang duduk di dapur dengan wajah yang sedikit lebih cerah dari biasanya,
dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. Mungkin karena Danang sudah
terlalu lelah dengan ketidaktahuannya. Mungkin karena ia sudah tidak tahan lagi
hidup di rumah yang terasa seperti kuburan bagi kata-kata.
Hari itu, hujan turun sejak subuh. Hujan gerimis yang tidak
deras, tetapi juga tidak berhenti. Air jatuh dari atap rumbia dengan suara yang
teratur, seperti detak jam yang tidak pernah berhenti. Kabut tipis menutupi
desa, membuat semuanya terlihat seperti mimpi, seperti lukisan yang buram.
Rumah-rumah di kejauhan tampak seperti bayangan, tidak jelas batasnya.
Danang duduk di dapur, di dekat tungku api yang menyala
kecil. Panas dari api membuat kulitnya terasa hangat, tetapi punggungnya yang
membelakangi pintu tetap terasa dingin karena angin yang masuk dari celah-celah
dinding. Ibunya sedang mengaduk sayur nangka di kuali tanah liat, dengan sendok
kayu yang sudah hitam karena sering terkena api. Aroma santan dan daun salam
dan lengkuas memenuhi dapur kecil itu, aroma yang selalu membuat perut Danang
keroncongan.
"Mak..." suara Danang kecil, hampir tenggelam
oleh suara hujan dan suara kayu bakar yang merambat.
Ratih menoleh dari tungku api. Wajahnya sedikit memerah
terkena panas, keningnya berkeringat, tetapi matanya lembut. Matanya selalu
lembut ketika memandang Danang. "Iya, Nang?"
Danang menggenggam ujung sarungnya yang kebesaran, sarung
milik ayahnya yang sudah usang dan berlubang di beberapa tempat. Jari-jari
kecilnya memilin-milin kain itu dengan gelisah, seperti yang selalu ia lakukan
ketika gugup atau takut atau tidak tahu harus berkata apa.
"Apakah semua rumah rasanya seperti ini?"
Ratih berhenti mengaduk sayur nangka di kuali. Sendok kayu
di tangannya berhenti bergerak, terhenti di tengah-tengah kuali. Untuk beberapa
detik, hanya suara kayu bakar yang merambat, suara hujan di atap rumbia, dan
suara napas mereka berdua yang terdengar.
"Apa maksudmu?" suara Ratih terdengar hati-hati,
seperti orang yang berjalan di tanah yang mungkin longsor kapan saja, seperti
orang yang tahu bahwa satu langkah salah bisa mengubah segalanya.
Danang menunduk. Ia tidak berani menatap mata ibunya. Ia hanya
terus memilin ujung sarungnya, memilinnya sampai jari-jarinya terasa sakit.
"Seperti sedang menahan sesuatu."
Ratih menatap anak kecil itu lama. Sangat lama. Matanya
bergerak dari ujung rambut Danang yang ikal dan tidak pernah rapi, rambut yang
selalu ia sisir setiap pagi dengan minyak kelapa, ke matanya yang terlalu gelap
dan terlalu dalam untuk anak seusianya, mata yang membuat orang yang menatapnya
merasa sedang ditatap oleh seseorang yang lebih tua dari usianya, lalu ke
tangannya yang terus memilin sarung, tangan kecil yang sudah mulai kasar karena
membantu ibunya mengambil air dari sumur dan memotong kayu bakar.
Lalu perempuan itu tersenyum kecil.
Senyum yang terlihat indah. Bibirnya melengkung sempurna,
membentuk lekukan yang pernah membuat banyak pemuda di desa itu jatuh hati,
yang membuat banyak perempuan iri. Tetapi matanya tidak ikut tersenyum. Matanya
tetap seperti air sumur yang terlalu dalam untuk diterangi cahaya apa pun.
Matanya tetap seperti langit malam yang tidak berbintang.
"Kau masih terlalu kecil untuk memahami rumah,
Nang."
Danang terdiam. Ia tahu nada itu. Nada yang sama setiap
kali ia bertanya tentang sesuatu yang seharusnya tidak ia tanyakan. Nada yang
sama setiap kali ia mendekati batas antara apa yang boleh diketahui dan apa yang
harus tetap tersembunyi. Nada yang sama yang membuat ia belajar bahwa ada dunia
orang dewasa yang tidak boleh dimasuki anak-anak, dan dunia itu penuh dengan
rahasia yang lebih berat daripada yang bisa ia bayangkan.
Namun bahkan di usia tujuh tahun, di usia di mana anak-anak
lain masih sibuk bermain kejar-kejaran dan berlari tanpa alas kaki di lumpur,
Danang sudah tahu satu hal. Kadang rumah bukan tempat paling aman. Kadang rumah
justru tempat pertama luka mulai tumbuh. Bukan luka di kulit yang bisa diobati
dengan daun obat dan minyak kayu putih. Bukan luka yang bisa dilihat dan diukur
dan diperban. Melainkan luka di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun, luka
di dalam hati yang tidak memiliki bentuk tetapi terasa nyata, luka yang tumbuh
diam-diam, seperti akar pohon beringin yang perlahan merusak fondasi rumah
tanpa ada yang menyadari sampai semuanya terlalu runtuh untuk diperbaiki.
Dan di rumah itu, di antara dinding kayu yang berderit dan
lantai yang dingin dan atap rumbia yang bocor di beberapa tempat, Danang
belajar bahwa cinta tidak selalu berbentuk pelukan. Kadang cinta berbentuk
diam. Kadang cinta berbentuk bertahan di tempat yang tidak ingin kau tinggali,
hanya karena ada seseorang yang membutuhkanmu di sana. Kadang cinta berbentuk
bangun setiap pagi meskipun kau tidak punya alasan untuk bangun. Kadang cinta
berbentuk tersenyum meskipun hatimu sedang hancur.
Ia belajar semua itu dari ibunya, yang setiap pagi berjalan
dengan langkah cepat atau lambat tergantung pada apakah ayahnya ada di rumah
atau tidak, tetapi tidak pernah mengeluh. Dari ayahnya, yang setiap malam duduk
di kursi bambu dengan botol di tangan dan tatapan kosong di mata, tetapi tidak
pernah pergi. Dari rumahnya, yang berdiri kokoh di tepi sungai meskipun
tiang-tiangnya mulai lapuk dan dindingnya mulai rapuh.
Danang belajar bahwa kadang, yang terkuat bukanlah yang
paling keras berbicara. Yang terkuat adalah yang tetap bertahan meskipun semua
ingin runtuh.
Suatu sore, ketika Danang sedang duduk di beranda rumah,
seorang lelaki tua datang. Lelaki itu bukan tetangga biasa. Danang belum pernah
melihatnya sebelumnya. Tetapi ada sesuatu di wajahnya yang membuat Danang
merasa aman. Mungkin karena matanya. Matanya jernih, sangat jernih, seperti air
sungai di musim kemarau. Matanya tua, tetapi tidak lelah. Matanya penuh dengan
cerita, tetapi tidak ada kesedihan di sana.
"Kau Danang?" tanya lelaki itu.
Danang mengangguk, masih waspada. Tangannya menggenggam
erat tiang kayu di sampingnya, bersiap untuk lari ke dalam jika lelaki itu
berbuat aneh.
Lelaki itu tersenyum. "Aku Mbah Joyo. Dulu aku kenal
ibumu sejak dia masih kecil. Kau tahu, ibumu itu dulu suka menangis. Sering
sekali. Tapi sekarang dia jarang menangis."
Danang mengernyit. "Kenapa?"
Mbah Joyo duduk di anak tangga teratas, tanpa menunggu
izin. Tubuhnya yang tua bergerak dengan perlahan, dengan hati-hati, seperti
orang yang sudah hafal betapa rapuhnya tulang-tulangnya. "Karena kadang,
semakin dewasa seseorang, semakin ia belajar bahwa tidak semua tangis perlu
keluar. Bahwa kadang, air mata yang ditelan lebih berat daripada air mata yang
jatuh."
Danang tidak mengerti sepenuhnya, tetapi ia menyimpan
kata-kata itu di dalam hatinya. Ia menyimpannya seperti menyimpan koin receh di
celengan bambu, sedikit demi sedikit, sampai suatu hari nanti ia akan mengerti
nilainya.
Mbah Joyo menatap sungai di kejauhan. Matahari sore mulai
condong ke barat, mewarnai langit dengan warna jingga keemasan. Burung-burung
beterbangan di atas sungai, terbang rendah, hampir menyentuh permukaan air.
"Kau tahu, Nak, rumah itu seperti pohon. Akarnya bisa dalam, tapi kadang
pohon yang paling kokoh pun bisa tumbang jika terus diterjang badai."
"Rumah kami akan tumbang?" tanya Danang, matanya
membesar.
Mbah Joyo menatapnya. Matanya lembut, penuh kasih.
"Tidak, Nak. Rumah ini kuat. Yang perlu kau khawatirkan bukan rumahnya.
Tapi apakah kau punya tempat untuk pulang ketika rumah ini tidak lagi terasa
seperti rumah."
Danang terdiam. Ia tidak mengerti. Tujuh tahun terlalu muda
untuk mengerti metafora dan ramalan dan nasihat bijak dari orang tua. Tetapi ia
merasakan sesuatu. Ia merasakan bahwa kata-kata Mbah Joyo itu penting. Bahwa ia
akan mengingat kata-kata itu sepanjang hidupnya. Bahwa suatu hari nanti, ketika
ia sudah tua dan rambutnya sudah memutih, ia akan duduk di suatu tempat, di
suatu beranda di suatu desa atau di suatu kota, dan kata-kata itu akan kembali
kepadanya.
Mbah Joyo berdiri, dengan susah payah. Lututnya yang tua
berbunyi ketika ia berdiri. Ia menepuk kepala Danang pelan. Tangannya kasar,
tetapi hangat. "Jaga ibumu, Nak. Dia sudah terlalu lama menyimpan
kesendirian."
Lalu ia pergi, berjalan perlahan menyusuri jalan setapak
yang berlumpur, dengan tongkat di tangan, dengan tubuh yang bungkuk tetapi
matanya yang tetap jernih.
Danang memandangnya sampai sosoknya hilang di balik pohon
kelapa.
Sore itu, untuk pertama kalinya, Danang merasa bahwa
dunianya lebih besar dari yang ia kira. Bahwa di luar rumahnya yang dingin, di
luar desanya yang kecil, ada orang-orang yang melihat sesuatu yang tidak ia
lihat. Ada cerita-cerita yang tidak ia dengar. Ada rahasia-rahasia yang tidak
ia ketahui.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa takut. Bukan takut
pada hantu atau gelap atau suara aneh di malam hari. Tetapi takut pada apa yang
tidak ia ketahui. Takut pada apa yang disembunyikan orang dewasa darinya. Takut
pada kebenaran yang suatu hari nanti akan menghantamnya seperti ombak besar
yang datang dari laut yang tenang.
Ia memandang rumahnya. Rumah panggung dengan tiang kayu
ulin yang mulai lapuk. Rumah yang menyimpan banyak diam. Rumah yang selama ini
ia kira adalah seluruh dunianya.
Ternyata tidak.
Dunia lebih besar dari itu.
Dan dunia, pikir Danang kecil, mungkin juga lebih kejam.
Malam harinya, Danang tidak bisa tidur. Ia berbaring di
tikar pandannya, memandang langit-langit yang retak, mendengar suara ayahnya
yang mendengkur di kamar sebelah dan suara ibunya yang masih bergerak di dapur
meskipun sudah larut. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap
bayangan-bayangan yang bergerak di dinding karena lampu minyak yang hampir padam.
Ia mengingat kata-kata Mbah Joyo.
"Apakah kau punya tempat untuk pulang ketika rumah ini
tidak lagi terasa seperti rumah."
Ia tidak mengerti sepenuhnya. Tetapi dadanya terasa sesak.
Ada sesuatu yang berat di sana, sesuatu yang tidak bisa ia beri nama, sesuatu
yang seperti air yang terus menggenang dan suatu hari akan meluap.
Ia memejamkan mata.
Ia berdoa pada Tuhan yang tidak pernah ia lihat.
"Tuhan," bisiknya, "tolong jaga rumahku.
Tolong jaga Ibu. Tolong jaga Bapak. Tolong jangan biarkan rumahku runtuh."
Ia tidak tahu bahwa doa anak-anak tidak selalu dijawab
dengan cara yang mereka inginkan. Bahwa kadang Tuhan menjawab doa dengan cara
yang berbeda, dengan cara yang menyakitkan, dengan cara yang membuat kita
bertanya-tanya apakah Tuhan benar-benar mendengar.
Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa tahun, rumahnya akan
runtuh. Bukan karena tiang yang lapuk atau atap yang bocor. Tetapi karena
kebenaran yang selama ini disembunyikan akan keluar seperti air bah,
menghanyutkan semua yang selama ini ia kenal sebagai rumah.
Namun untuk malam itu, untuk malam di mana ia masih berusia
tujuh tahun dan masih percaya bahwa rumah adalah tempat yang aman, ia tertidur
dengan damai. Dengan doa di bibirnya. Dengan harapan di hatinya.
Dan di luar, sungai mengalir tenang. Airnya bergerak
perlahan, membawa dedaunan kering menuju hilir. Bulan bersinar di atas,
memantulkan cahaya keperakan di permukaan air. Jangkrik bernyanyi di
semak-semak. Alam tenang.
Seolah tidak ada yang akan berubah.
Seolah waktu akan berhenti di sini, selamanya.
Tapi waktu tidak pernah berhenti.
Dan perubahan selalu datang, seperti hujan di musimnya.
Bab 2
Anak
Lelaki yang Berteman dengan Sungai
Setiap sore, setelah sekolah usai dan matahari mulai
condong ke barat, Danang berjalan tanpa alas kaki menyusuri setapak tanah yang
berlumpur menuju tepian sungai. Kakinya yang masih kecil dan kurus sudah
terbiasa dengan dinginnya lumpur yang menyelinap di antara jari-jari kakinya,
dengan tajamnya kerikil kecil yang kadang menusuk telapak kakinya, dengan
panasnya tanah yang terpanggang matahari seharian. Ia tidak pernah mengeluh. Ia
tidak pernah memakai sandal meskipun ibunya sudah beberapa kali membelikannya
sandal jepit murah dari pasar. Sandal-sandal itu selalu hilang entah ke mana,
atau rusak, atau tertinggal di suatu tempat, dan Danang kembali berjalan tanpa
alas kaki seperti biasa.
Di tepi sungai itu, di tempat di mana air mulai tenang
setelah melewati tikungan tajam beberapa ratus meter di hulu, ada pohon waru
tua. Pohon itu sudah ada sebelum Danang lahir. Bahkan sebelum ibunya lahir,
kata Mbah Joyo suatu hari ketika Danang bertanya. Dahannya lebat dan rindang,
menyebar ke segala arah seperti payung raksasa yang melindungi tanah di
bawahnya dari teriknya matahari sore. Batangnya besar, sangat besar, butuh tiga
orang dewasa untuk merangkulnya, dengan kulit kayu yang kasar dan beralur
dalam, seperti wajah orang tua yang penuh keriput.
Dan di salah satu akarnya yang paling besar, yang menjuntai
ke sungai seperti lengan raksasa yang sedang meraba air, ada cekungan alami.
Cekungan itu persis seukuran tubuh Danang, seperti tempat duduk yang dibuat
khusus untuknya oleh alam, seperti kursi singgasana bagi raja kecil dari
kerajaan sungai. Akar itu telah terbentuk selama puluhan tahun, mungkin ratusan
tahun, dibentuk oleh arus air dan angin dan waktu, dan sekarang menjadi tempat
paling nyaman di dunia bagi Danang.
Danang suka duduk di akar itu. Ia akan duduk bersila atau
kadang berbaring, memandang awan yang lewat di atas, awan-awan putih yang
bergerak lambat seperti domba-domba yang sedang merumput di padang rumput biru.
Lalu ia akan melempar batu kecil ke sungai satu per satu. Pluk. Pluk.
Pluk. Setiap batu menciptakan riak air yang melebar,
lingkaran-lingkaran sempurna yang semakin besar dan semakin lemah sampai
akhirnya menghilang, digantikan oleh riak berikutnya. Ia bisa melakukan ini
berjam-jam tanpa bosan. Puluhan batu. Ratusan batu. Setiap batu berbeda. Ada
yang bulat dan licin, ada yang pipih dan tajam, ada yang berat dan tenggelam
dengan cepat, ada yang ringan dan terapung sebentar sebelum akhirnya menyerah
pada gravitasi.
"Kau bisa melempar batu seharian, ya, Nang?"
tanya seorang lelaki tua suatu sore. Lelaki itu adalah Saman, nelayan yang
sudah berusia enam puluh tahun lebih, dengan kulit hitam legam karena terik matahari
dan tangan yang kasar karena menarik jala setiap hari. Ia sedang membersihkan
jala di dekat Danang, menarik-narik benang yang kusut dengan sabar.
Danang tidak menoleh. Matanya tetap pada sungai. "Batu
tidak pernah marah kalau dilempar."
Saman tertawa. Tawanya keras dan pecah, seperti suara ombak
yang memecah di karang. "Heh, anak ini. Batu tidak punya perasaan,
Nak."
"Justru itu," kata Danang pelan. "Batu tidak
pernah pergi."
Saman berhenti tertawa. Ia menatap anak kecil itu lama.
Matanya yang tua dan keruh itu berusaha membaca sesuatu di wajah Danang,
sesuatu yang tidak biasa untuk anak seusianya. "Siapa yang pergi,
Nang?"
Danang tidak menjawab. Ia hanya melempar batu lain ke
sungai. Batu itu jatuh dengan suara pluk yang keras,
menciptakan riak yang lebih besar dari biasanya. Mungkin karena batu itu lebih
besar. Mungkin karena ia melemparnya lebih keras. Mungkin karena ia sedang
marah pada sesuatu yang bahkan tidak bisa ia sebutkan namanya.
Saman tidak memaksa. Ia kembali ke jalanya, tetapi matanya sesekali
masih melirik ke arah Danang. Lelaki tua itu sudah cukup lama hidup di desa ini
untuk tahu bahwa kadang anak-anak membawa luka yang tidak terlihat, luka yang
tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, luka yang hanya bisa diobati dengan
kesunyian dan sungai dan batu-batu yang dilempar satu per satu.
Melihat riak air, mendengar angin yang berbisik di antara
dedaunan waru, merasakan air sungai yang dingin menyentuh ujung jari kakinya
yang menjuntai di atas permukaan air, semua itu membuat Danang merasa bahwa
sungai mendengarnya. Sungai mendengarnya tanpa meminta penjelasan. Sungai tidak
bertanya kenapa ia sering diam atau kenapa matanya kadang tiba-tiba basah tanpa
sebab. Sungai tidak bertanya kenapa ayahnya lebih sering memegang botol
daripada memegang tangannya. Sungai tidak bertanya kenapa ibunya tersenyum di
depan tetangga tetapi menangis di dapur ketika tidak ada yang melihat.
Sungai hanya menerimanya, seperti apa adanya. Sungai tidak
menghakimi. Sungai tidak membandingkannya dengan anak-anak lain yang ayahnya
lebih perhatian atau ibunya lebih bahagia. Sungai tidak mengatakan bahwa ia
seharusnya lebih ceria atau lebih banyak bicara atau lebih seperti anak-anak
seusianya.
Sungai hanya ada. Dan itu sudah cukup.
Kadang Danang membawa buku gambar tipis dan pensil yang
sudah pendek, pensil yang hanya tinggal tiga jari lagi, yang sudah ia raut
berkali-kali sampai hampir tidak bisa dipegang. Buku gambarnya adalah buku
tulis bekas kakak kelasnya yang sudah tidak terpakai, halamannya bolak-balik,
ada yang kosong, ada yang sudah terisi tulisan dan coretan yang tidak ia
mengerti. Di halaman-halaman kosong itulah ia menggambar.
Ia akan menggambar apa yang dilihatnya. Perahu-perahu yang
berlayar di sungai, dengan layar putih yang mengembang seperti sayap burung
camar. Burung-burung yang terbang di atas air, kadang menyambar ikan dengan
paruhnya yang tajam. Ikan-ikan yang melompat ke permukaan, tubuh keperakan
mereka berkilauan sebentar di udara sebelum jatuh kembali. Wajah ibunya yang
sedang tersenyum, senyum yang jarang ia lihat tetapi selalu ia ingat, senyum
yang ia gambar berulang-ulang karena takut lupa bentuknya.
Kadang ia menggambar ayahnya. Tetapi ia selalu kesulitan
menggambar mata ayahnya. Mata yang terlalu sulit untuk ditangkap di atas
kertas. Mata yang menyimpan terlalu banyak hal yang bahkan Danang sendiri tidak
mengerti. Mata yang kadang kosong, kadang marah, kadang sayu, kadang tidak
menunjukkan apa pun. Mata yang seperti jendela ke ruangan gelap yang tidak
pernah bisa ia lihat isinya.
Setiap kali ia selesai menggambar, ia akan memandang hasil
gambarnya lama-lama, lalu menghela napas, lalu merobek halaman itu dan
melemparkannya ke sungai. Kertas itu akan mengapung sebentar, basah perlahan,
tulisannya luntur, lalu tenggelam. Seperti kenangan yang perlahan memudar.
Seperti perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan. Seperti pertanyaan-pertanyaan
yang tidak pernah terjawab.
Suatu sore, ketika langit mulai berwarna jingga kemerahan
seperti sedang demam, seperti matahari yang demam tinggi dan akan segera jatuh
sakit, suara kecil terdengar dari belakangnya. Suara yang tidak ia kenal.
Ceria. Riang. Ringan. Seperti suara burung kenari yang baru belajar berkicau,
seperti suara air yang mengalir di atas batu-batu kecil, seperti suara sesuatu
yang belum pernah terluka oleh kehidupan.
"Kalau kau terus diam begitu, ikan-ikan bisa ikut
bosan, lho."
Danang menoleh cepat, hampir kehilangan keseimbangan dan
jatuh ke sungai. Tangannya refleks mencengkeram akar waru di sampingnya,
kuku-kuku kecilnya menggores kulit kayu yang kasar. Jantungnya berdegup
kencang, bukan karena kaget, tetapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang
tidak bisa ia jelaskan.
Seorang anak perempuan berdiri beberapa langkah darinya.
Kakinya telanjang, berlumuran lumpur sampai di atas mata
kaki, seperti baru saja selesai bermain di sawah. Jari-jari kakinya yang kecil
berlumuran tanah liat berwarna coklat kemerahan. Rambutnya hitam dan panjang,
sedikit bergelombang di ujung, diikat dengan karet gelang merah sehingga
membentuk ekor kuda yang sedikit miring ke kanan, tidak simetris, tetapi entah
mengapa terlihat sempurna. Di tangannya ia memegang beberapa tangkai bunga
liar, warnanya campur aduk, kuning, putih, ungu kecil, merah muda pucat,
seperti pelangi yang jatuh ke tanah dan dipetik oleh tangan mungilnya.
Wajahnya cerah, sangat cerah, dengan mata yang hidup dan
berbinar-binar seperti baru saja menemukan sesuatu yang menarik, seperti baru
saja menemukan harta karun yang tidak pernah ia duga akan ia temukan. Di pipi
kirinya ada lesung pipit kecil yang muncul setiap kali ia tersenyum, lesung
pipit yang membuat wajahnya terlihat seperti sedang menyembunyikan rahasia yang
menyenangkan. Dan saat itu, ia tersenyum lebar. Gigi depannya yang masih
lengkap dan putih bersih terlihat, dua gigi seri atas yang sedikit maju ke depan,
membuatnya terlihat seperti kelinci kecil yang lucu.
Danang mengernyit. Tidak biasa ada anak seusianya yang
datang ke tempat ini. Tempat ini adalah rahasianya. Tempatnya sendiri. Tempat
yang tidak pernah ia bagi dengan siapa pun. Tempat di mana ia bisa menjadi
dirinya sendiri tanpa harus menjelaskan apa pun. Dan sekarang, seorang anak
perempuan asing dengan bunga di tangan dan lumpur di kaki telah melanggar batas
itu.
"Kau siapa?" suara Danang terdengar lebih kasar
dari yang ia maksudkan. Ada nada marah di sana, nada defensif, nada seseorang
yang merasa wilayahnya diganggu.
Anak itu tidak tersinggung dengan nada ketus Danang. Ia
justru tersenyum lebih lebar, menunjukkan dua baris gigi yang masih lengkap dan
putih bersih. Lesung pipitnya semakin dalam, seperti dua lubang kecil di
pipinya yang berisi kebahagiaan. Matanya yang berbinar semakin terang, seperti
dua bintang kecil di wajahnya.
"Namaku Kirana," katanya. Suaranya jernih, tidak
ragu-ragu, seperti orang yang sudah terbiasa memperkenalkan diri, seperti orang
yang tidak pernah takut pada pertemuan baru. "Aku pindahan dari desa
sebelah. Ayahku dapat pekerjaan baru di sini."
Danang diam. Ia tidak kenal nama itu. Tidak ada anak
bernama Kirana di sekolahnya. Setidaknya di kelasnya. Mungkin dari kelas lain.
Mungkin kelas dua atau kelas tiga. Atau mungkin anak baru seperti katanya.
"Kau?" tanya anak itu lagi, tidak menunggu Danang
merespon pertanyaan sebelumnya. "Siapa namamu?"
Danang ragu sejenak. Ada bagian dari dirinya yang ingin
berbohong, ingin memberikan nama palsu, ingin menjaga jarak, ingin tetap
sendirian. Tetapi ada bagian lain, bagian yang lebih kecil tetapi lebih kuat,
yang ingin mengatakan kebenaran. Mungkin karena matanya. Matanya yang cerah dan
tidak memiliki kebohongan. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam waktu
yang lama, ada seseorang yang memandangnya tanpa rasa kasihan atau curiga.
"Danang," jawabnya akhirnya. Suaranya lebih pelan
sekarang, tidak lagi kasar.
"Danang," ulang Kirana, seperti sedang mencicipi
nama itu di mulutnya, seperti sedang menguji apakah nama itu enak didengar atau
tidak. "Nama yang bagus. Berarti 'unggul', ya? Atas?"
Danang mengangkat bahu. Ia tidak pernah tahu arti namanya.
Ia tidak pernah bertanya. Dan tidak ada yang pernah menjelaskan.
Kirana tidak menunggu izin. Ia berjalan mendekat tanpa malu
sedikit pun, tanpa ragu-ragu, tanpa bertanya apakah ia boleh atau tidak. Ia
melangkah melewati lumpur dan rumput liar dan batu-batu kecil seolah itu adalah
karpet merah, seolah ia sedang berjalan di istana, seolah seluruh dunia adalah
miliknya.
Ia duduk di akar pohon waru di samping Danang. Begitu dekat
hingga Danang bisa mencium wangi bunga yang ia bawa bercampur dengan aroma
lumpur sungai dan aroma rambutnya yang seperti sabun kelapa. Begitu dekat
hingga bahu mereka hampir bersentuhan, hingga Danang bisa merasakan hangatnya
tubuhnya di sore yang mulai dingin.
"Kau sering duduk di sini?" tanyanya lagi.
Matanya menjelajahi sungai, pohon waru, langit jingga, seperti sedang menikmati
pemandangan yang baru pertama kali ia lihat.
Danang mengangguk. Masih curiga. Masih menjaga jarak
meskipun jarak fisik mereka sudah sangat dekat.
"Sendirian?" tanya Kirana lagi. Matanya kembali
ke Danang.
"Ya."
Kirana tersenyum lagi. Kali ini senyumnya berbeda. Tidak
selebar tadi. Lebih kecil. Lebih lembut. Lebih dalam. Ada sesuatu di dalamnya,
sesuatu yang tidak bisa Danang jelaskan saat itu, tetapi akan ia ingat
sepanjang hidupnya. Sesuatu yang seperti cahaya pertama setelah hujan panjang
yang tak kunjung reda. Sesuatu yang seperti suara pertama setelah sunyi yang
terlalu lama. Sesuatu yang seperti napas pertama setelah hampir tenggelam.
"Kasihan sekali," katanya.
Danang menatap tajam. Matanya yang gelap menyala. Ada
amarah kecil yang muncul. Bukan karena ia benar-benar marah pada Kirana, ia bahkan
belum kenal anak ini, tetapi karena kata
itu menyentuh sesuatu yang selama ini ia pendam. Sesuatu yang ia kubur
dalam-dalam di hatinya, sesuatu yang tidak pernah ia akui bahkan pada dirinya
sendiri. Kata "kasihan" adalah kata yang paling ia benci. Itu berarti
orang melihatnya sebagai korban. Dan ia tidak ingin menjadi korban. Ia tidak
ingin dilihat sebagai korban.
"Aku tidak kasihan," katanya tegas. Tangannya
mengepal di pangkuannya.
Kirana tidak mundur. Tidak takut. Tidak meminta maaf karena
telah menyinggung perasaannya. Ia justru tertawa. Tawa kecil yang terdengar
aneh di telinga Danang. Bukan karena mengganggu. Bukan karena terlalu keras.
Bukan karena mengejek. Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang
sangat lama, kesunyian di sekelilingnya terasa pecah. Seperti kaca jendela yang
pecah setelah sekian lama utuh, membiarkan cahaya masuk dari celah yang
sebelumnya tidak ada. Seperti pintu yang terbuka setelah sekian lama terkunci,
membiarkan udara segar masuk ke ruangan yang pengap.
"Kau lucu, Danang," kata Kirana sambil masih
tersenyum. "Aku tidak bilang kasihan karena kau sendirian. Aku bilang
kasihan karena kau melewatkan pemandangan indah ini sendirian. Padahal kalau
ada teman, bisa lebih seru."
Danang terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada
yang pernah berbicara kepadanya seperti itu. Tidak ada yang pernah mengajaknya
berdebat tentang kata "kasihan". Tidak ada yang pernah membuatnya
merasa bahwa amarahnya tidak berdasar.
Kirana mengambil satu tangkai bunga kuning dari tangannya,
bunga yang tidak Danang kenal namanya, dengan kelopak kecil dan benang sari
yang panjang. Ia menyerahkannya pada Danang.
"Ini buatmu."
Danang menatap bunga itu. Tangkai kecil berwarna hijau
muda, dengan beberapa daun kecil di sepanjang batang. Bunga kuning dengan lima
kelopak yang simetris, seperti matahari mini. Ia tidak pernah menerima bunga
dari siapa pun sebelumnya. Ibunya kadang memberi dia makanan, kadang memberinya
pakaian, kadang memberinya uang receh untuk membeli jajan. Tapi tidak pernah bunga.
Bunga adalah sesuatu yang aneh. Bunga tidak bisa dimakan. Bunga tidak bisa
dipakai. Bunga tidak bisa dijual. Bunga hanya indah untuk dilihat, dan setelah
beberapa hari ia akan layu dan mati.
"Untuk apa?" tanyanya.
Kirana mengangkat bahu. Gerakan yang begitu bebas, begitu
tanpa beban, begitu seperti seseorang yang tidak pernah diajari bahwa ada
hal-hal yang tidak boleh dilakukan. "Tidak untuk apa-apa. Cuma karena
bunga itu cantik, dan kau kelihatan seperti orang yang butuh sesuatu yang
cantik dalam hidupmu."
Danang tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada yang pernah
mengatakan bahwa ia butuh sesuatu yang cantik. Tidak ada yang pernah berpikir
bahwa ia pantas menerima sesuatu yang cantik. Ibunya terlalu sibuk bekerja
untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Ayahnya terlalu sibuk dengan botolnya.
Tetangga-tetangganya terlalu sibuk dengan bisikan-bisikan mereka.
Ia mengambil bunga itu. Tangannya yang kecil dan kotor
karena lumpur memegang tangkai bunga dengan hati-hati, seperti takut
merusaknya. Bunga itu terasa ringan di tangannya, sangat ringan, hampir tidak
terasa. Tetapi ada sesuatu yang berat di dadanya. Sesuatu yang hangat. Sesuatu
yang tidak bisa ia beri nama.
"Aku mau jadi temanmu," kata Kirana. Bukan
tawaran. Bukan permintaan. Bukan pertanyaan. Pernyataan. Seperti fakta yang
tidak perlu diperdebatkan. Seperti hukum alam yang tidak bisa diubah.
Danang menatap sungai. Air mengalir seperti biasa.
Riak-riak kecil menari-nari di permukaan, menangkap cahaya matahari sore yang
mulai memudar. Di kejauhan, seorang nelayan sedang menarik jalanya, tubuhnya
yang kurus membungkuk karena beban ikan yang mungkin banyak atau mungkin
sedikit. Seorang ibu-ibu berjalan di seberang sungai dengan keranjang di
kepalanya, langkahnya mantap meskipun tanah di bawahnya tidak rata.
"Kenapa?" tanya Danang akhirnya.
Kirana mengangkat bahu lagi. Gerakan yang sama. Bebas.
Tanpa beban. "Karena kau kelihatan seperti orang yang butuh teman."
Danang tidak menjawab. Ia hanya duduk diam, memandang
sungai, sementara di sampingnya seorang anak perempuan asing duduk dengan bunga
liar di pangkuannya, bersenandung kecil tanpa peduli apakah Danang mendengarnya
atau tidak.
Lagu yang ia senandungkan adalah lagu anak-anak yang sering
dinyanyikan di sekolah. Lagu tentang pelangi. Lagu tentang kebahagiaan
sederhana. "Pelangi-pelangi, alangkah indahmu, merah kuning hijau, di
langit yang biru..."
Suaranya kecil, tidak keras, tetapi cukup jelas di telinga
Danang. Suara yang belum mengenal kepahitan. Suara yang belum terluka oleh
kehidupan. Suara yang masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik.
Danang tidak ikut bernyanyi. Ia tidak tahu lagu itu. Atau
mungkin ia tahu, tetapi ia tidak pernah bernyanyi di depan orang lain.
Bernyanyi berarti menunjukkan perasaan. Dan menunjukkan perasaan berarti
membuka diri untuk dilukai. Itu pelajaran yang sudah ia pelajari sejak kecil.
Namun sore itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Danang
pulang dengan perasaan yang berbeda. Tidak lagi sepenuhnya sendiri. Ada sesuatu
yang hangat di dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia beri nama, sesuatu yang
seperti bara api yang tertutup abu, masih panas meskipun tidak terlihat.
Sesuatu yang akan tumbuh besar seiring waktu. Menjadi pohon
rindang di tengah padang tandus hatinya. Menjadi tempat berteduh saat badai
datang. Menjadi alasan untuk bangun di pagi hari. Dan kemudian menjadi akar
yang paling sulit dicabut ketika waktunya tiba untuk pergi.
Ia memasukkan bunga kuning itu ke dalam saku bajunya. Bunga
itu sedikit hancur karena tergesek, beberapa kelopaknya lepas, tetapi ia tetap
menyimpannya. Sampai di rumah, ia mengambil gelas bekas selai, mengisinya
dengan air, dan menaruh bunga itu di dalamnya. Ia letakkan gelas itu di jendela
kamarnya, tempat di mana sinar matahari pagi akan menyentuhnya pertama kali.
Ibunya melihatnya dari pintu dapur. "Bunga dari mana,
Nang?"
"Dari teman," jawab Danang.
Ratih menatap anaknya lama. Untuk pertama kalinya dalam
beberapa minggu terakhir, ada sedikit cahaya di mata Danang. Cahaya yang sudah
lama ia rindukan. Cahaya yang membuatnya ingat bahwa anaknya masih kecil, bahwa
anaknya masih bisa bahagia, bahwa anaknya masih punya kesempatan untuk tidak
menjadi seperti dirinya.
"Teman?" ulang Ratih, tidak bisa menyembunyikan
keterkejutannya. Selama ini Danang tidak pernah punya teman. Anak-anak lain
menjauhinya. Entah karena mereka takut pada ayahnya yang terkenal keras, atau
karena mereka mendengar bisikan orang dewasa tentang keluarganya.
"Namanya Kirana," kata Danang. "Dia anak
baru."
Ratih tersenyum. Senyum yang tulus, yang jarang muncul,
yang membuat wajahnya yang lelah itu terlihat muda kembali untuk beberapa
detik. "Bagus, Nang. Kau punya teman."
Danang tidak menjawab. Ia hanya memandang bunga kuning di
dalam gelas selai. Bunga itu sudah sedikit layu, kelopaknya mulai mengerut di
tepi, tetapi warnanya masih kuning cerah. Seperti harapan. Seperti janji.
Seperti awal dari sesuatu yang belum tahu akan berakhir seperti apa.
Malam itu, sebelum tidur, Danang membuka buku gambarnya. Ia
mencari halaman yang masih kosong, halaman yang tidak terkena noda tinta atau
coretan pensil. Ia menemukannya di bagian tengah buku, halaman yang masih putih
bersih, belum pernah ia sentuh sebelumnya.
Ia mengambil pensil pendeknya. Pensil yang sudah tinggal
dua jari lagi. Ia raut pensil itu dengan pisau kecil, hati-hati, sampai ujungnya
runcing sempurna.
Lalu ia mulai menggambar.
Bukan perahu. Bukan burung. Bukan ikan. Bukan wajah ibunya.
Bukan sungai.
Ia menggambar seorang anak perempuan. Dengan rambut panjang
yang diikat karet gelang merah. Dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi
seri atas yang sedikit maju. Dengan lesung pipit di pipi kiri. Dengan mata yang
berbinar-binar seperti bintang.
Ia menggambar Kirana.
Ketika selesai, ia memandang gambar itu lama-lama.
Tangannya yang kotor meninggalkan bekas di tepi kertas. Gambar itu tidak
sempurna. Mata Kirana terlalu besar. Rambutnya terlalu panjang. Senyumnya
terlalu lebar. Tetapi bagi Danang, itu adalah gambar terbaik yang pernah ia
buat.
Ia melipat kertas itu kecil-kecil, lalu menyelipkannya di
bawah tikarnya. Di tempat yang tidak akan dilihat siapa pun. Di tempat yang
hanya ia yang tahu.
Karena beberapa hal, pikir Danang, terlalu berharga untuk
dibagi. Beberapa perasaan terlalu rapuh untuk diucapkan. Beberapa kenangan
terlalu indah untuk diingat sendirian, tetapi tidak ada orang lain yang bisa
diajak berbagi.
Ia memejamkan mata.
Di luar, jangkrik mulai bernyanyi. Bulan bersinar terang,
memantulkan cahaya keperakan di permukaan sungai yang tenang. Angin malam
berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kebun tetangga.
Danang tersenyum kecil dalam tidurnya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bermimpi.
Bukan mimpi buruk tentang rumah yang runtuh atau ayah yang marah atau ibu yang
menangis. Tetapi mimpi indah tentang seorang anak perempuan dengan bunga di tangan
dan senyum di wajah.
Mimpi tentang Kirana.
Bab 3
Tawa
di Bawah Pohon Trembesi
Hari-hari berikutnya berubah.
Desa yang dulunya terasa abu-abu bagi Danang, yang dulunya
hanya terdiri dari warna-warna kusam seperti coklat tanah, hijau daun yang
lusuh, dan biru sungai yang kehitaman, perlahan mulai berwarna. Seperti
seseorang yang perlahan menambahkan cat ke kanvas yang tadinya kosong. Seperti
matahari yang perlahan terbit setelah malam yang panjang. Seperti sesuatu yang
mulai hidup kembali setelah sekian lama mati suri.
Kirana datang hampir setiap sore. Kadang ia datang lebih
dulu, sudah duduk manis di akar pohon waru ketika Danang masih berjalan dari
sekolah, tas kain lusuhnya bergoyang di bahu, kakinya berlumuran debu jalanan.
Kadang Danang yang menunggu, memandang jalan setapak yang dilalui Kirana dengan
sabar, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat setiap kali melihat sosok kecil
dengan rambut ekor kuda itu muncul dari balik pohon pisang atau dari balik
semak-semak di tikungan jalan.
Danang tidak pernah mengakui, bahkan pada dirinya sendiri,
bahwa ia menunggu Kirana. Ia akan duduk di akar waru, melempar batu ke sungai
seperti biasa, tetapi matanya tidak benar-benar melihat sungai. Matanya selalu
tertuju ke jalan setapak, ke arah dari mana Kirana biasanya datang. Ia akan
berpura-pura sibuk dengan batu atau dengan gambar di buku catatannya, tetapi
telinganya selalu waspada mendengar suara langkah kaki kecil yang ringan dan
suara senandung yang menjadi ciri khas Kirana.
"Kau sudah lama di sini?" tanya Kirana suatu
sore, ketika ia menemukan Danang sudah duduk di akar waru.
"Baru saja," jawab Danang, meskipun sebenarnya ia
sudah duduk di sana sejak satu jam yang lalu, sejak sepulang sekolah, sejak ia
berlari pulang, mengganti seragamnya, dan langsung menuju sungai tanpa berhenti
di rumah.
Kirana tertawa. Ia tahu Danang berbohong. Matanya yang
tajam melihat bahwa rumput di sekitar akar waru sudah rata karena diduduki
terlalu lama. Tetapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya duduk di samping
Danang seperti biasa, membuka bungkusan yang dibawanya, dan berkata, "Ibu
buat getuk. Masih hangat."
Getuk itu dibungkus daun pisang yang masih hijau, diikat
dengan lidi di kedua ujungnya. Ketika daun pisang itu dibuka, uap panas masih
mengepul tipis, membawa aroma singkong yang manis bercampur dengan aroma daun
pisang yang khas. Getuk itu berwarna kuning keemasan, ditaburi kelapa parut
putih yang masih segar.
Danang menatap getuk itu. Perutnya keroncongan, tetapi ia
tidak segera mengambil. "Ibu kamu baik sekali," katanya. "Sering
banget bikin makanan."
"Ibu suka masak," kata Kirana sambil mengambil
sepotong getuk dan memasukkannya ke mulutnya. "Katanya, kalau masak, dia
lupa kalau hidup itu berat."
Danang mengernyit. "Hidup itu berat?"
Kirana mengunyah getuknya perlahan, menikmati rasa manis
yang meleleh di lidahnya. "Kata Ibu begitu. Tapi aku tidak tahu
maksudnya."
Danang diam. Ia tahu maksudnya. Ia terlalu tahu. Ia melihat
ibunya setiap hari, bekerja dari pagi sampai malam, memasak, mencuci,
membersihkan rumah, kadang menjahit pakaian tetangga untuk uang tambahan. Ia
melihat lelah di mata ibunya yang tidak pernah hilang meskipun ia sudah tidur.
Ia tahu bahwa hidup itu berat. Tetapi ia tidak tahu bagaimana mengatakannya
pada Kirana.
Ia mengambil sepotong getuk. Singkongnya lembut, manisnya
pas, kelapanya gurih. Ini mungkin makanan terenak yang pernah ia makan,
meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya.
Kadang Kirana membawa mangga muda dari pohon belakang
rumahnya. Mangga itu masih hijau, keras, belum matang, dengan getah putih yang
masih menetes dari tangkainya. Kirana sudah mengupasnya dan memotongnya
kecil-kecil, lalu menaburinya dengan garam dan sedikit gula merah yang
dihaluskan.
Rasanya asin, manis, asam, seperti perasaan yang mulai
tumbuh di dada Danang tanpa ia sadari. Asam seperti rasa canggung di awal
pertemuan mereka. Asin seperti air mata yang kadang ia tahan ketika memikirkan
rumahnya. Manis seperti senyum Kirana yang selalu membuat hari-harinya terasa
lebih ringan.
"Coba, ini enak," kata Kirana sambil menyodorkan
bungkusan daun pisang berisi potongan mangga muda. "Pohonnya di belakang
rumah. Aku yang petik sendiri. Hati-hati getahnya, ya. Nanti gatal."
Danang mengambil satu potong. Mangga itu renyah, segar,
dengan rasa asam yang menyengat di lidah, segera diikuti oleh rasa asin dari
garam dan manis dari gula merah. "Asam banget," katanya sambil
mengernyit.
Kirana tertawa. "Itu namanya segar, bukan asam."
"Tetap saja asam."
"Kau tidak punya selera."
"Kau yang tidak punya selera. Ini terlalu asam untuk
disebut enak."
Tapi Danang mengambil potongan lain. Dan potongan lain
lagi. Sampir setengah bungkusan habis dalam beberapa menit. Kirana hanya
tersenyum, tidak mengatakan apa pun, tetapi matanya berbinar puas melihat
Danang makan dengan lahap.
Kadang Kirana hanya membawa cerita.
Cerita yang tidak pernah habis. Cerita tentang ayamnya yang
bertelur di bawah tempat tidur, dan ketika ia mencoba mengambil telurnya, ayam
itu mematuk tangannya sampai berdarah. Cerita tentang kucing tetangga yang
mencuri ikan asin dari dapur mereka, dan ibunya yang marah-marah tetapi tetap
memberi kucing itu sedikit ikan karena kasihan. Cerita tentang mimpi aneh yang
ia alami malam sebelumnya, tentang bisa terbang melayang-layang di atas desa,
melihat atap-atap rumah dari atas, melihat sungai yang berkelok seperti ular
raksasa, melihat orang-orang yang berjalan seperti semut kecil.
"Lalu aku terbang sampai ke laut," kata Kirana
suatu sore, matanya berbinar-binar saat menceritakan mimpinya. "Air
lautnya biru, lho, Danang. Bukan kayak sungai kita yang coklat. Biru bening.
Aku bisa lihat ikan-ikan di dalamnya. Ada ikan yang warnanya pelangi. Ada ikan
yang bentuknya aneh, seperti punya sayap."
"Kau belum pernah ke laut," kata Danang.
"Mana mungkin kau tahu warna laut."
Kirana cemberut. "Itu mimpi. Mimpi tidak perlu
logika."
"Mimpi tetap harus masuk akal."
"Kenapa?"
"Karena kalau tidak masuk akal, namanya bukan mimpi,
namanya ngigau."
Kirana tertawa keras. Tawanya menggema di antara pepohonan,
mengagetkan beberapa burung yang sedang bertengger di dahan pohon waru.
"Kau ini aneh, Danang. Semua orang tahu mimpi itu tidak harus masuk akal.
Itu yang membuat mimpi indah."
"Tapi kalau mimpi tidak masuk akal, bagaimana kau bisa
percaya mimpi itu?"
Kirana menatapnya. Matanya serius sekarang, tidak lagi bercanda.
"Kadang kita tidak perlu percaya mimpi untuk menikmatinya, Danang. Cukup
rasakan saja."
Danang tidak menjawab. Ia memandang sungai yang coklat,
yang tidak pernah biru, yang tidak pernah bening, yang hanya mengalir seperti
biasa tanpa pernah berubah. Ia ingin melihat laut biru seperti dalam mimpi
Kirana. Ia ingin melihat ikan warna pelangi. Ia ingin terbang di atas desa dan
melihat dunianya dari ketinggian.
Tetapi ia hanya Danang, anak desa yang tidak pernah pergi
ke mana pun, yang dunianya hanya sebatas sungai dan rumah dan sekolah yang
atapnya bocor.
Ia hanya bisa bermimpi.
Dan dalam mimpinya, Kirana selalu ada.
Kadang mereka hanya diam.
Bukan diam yang canggung seperti di awal pertemuan mereka.
Bukan diam karena tidak ada yang bisa dikatakan. Tetapi diam yang nyaman. Diam
yang terasa seperti selimut hangat di malam yang dingin. Diam yang tidak perlu
diisi dengan kata-kata karena kehadiran satu sama lain sudah cukup.
Mereka akan duduk berdampingan di akar waru, memandang
sungai yang mengalir, mendengar suara air yang membentur dermaga kayu,
mendengar suara angin yang berbisik di antara dedaunan, mendengar suara
burung-burung yang pulang ke sarangnya saat matahari mulai tenggelam.
Kadang Danang menggambar. Kadang Kirana membaca buku cerita
yang ia bawa dari rumah. Kadang mereka hanya berbaring di rumput, memandang
awan yang lewat di atas, dan merasa bahwa waktu bergerak terlalu cepat. Bahwa
sore terlalu singkat. Bahwa senja terlalu cepat berubah menjadi malam.
"Danang," panggil Kirana suatu sore, ketika awan
di langit berbentuk seperti gajah dan kelinci dan kadang seperti wajah orang
yang tidak mereka kenal.
"Hmm?"
"Kita akan tetap berteman, kan? Sampai kapan
pun?"
Danang menoleh. Wajah Kirana serius, tidak bercanda. Lesung
pipitnya tidak terlihat karena ia tidak tersenyum. Matanya yang biasanya
berbinar kini tampak sedikit cemas.
"Kenapa tanya begitu?" tanya Danang.
Kirana menggigit bibirnya, kebiasaannya ketika gugup.
"Karena teman-temanku dulu sering pindah. Ayahku pekerjaannya
pindah-pindah. Jadi aku tidak pernah punya teman lama. Setiap kali aku mulai
dekat dengan seseorang, kami harus pindah lagi."
Danang terdiam. Ia tidak pernah berpikir tentang itu. Ia
tidak pernah berpikir bahwa suatu hari Kirana bisa pergi. Bahwa suatu hari
sore-sore mereka di tepi sungai bisa berakhir. Bahwa suatu hari akar waru ini
akan kembali sepi, hanya ditemani oleh batu-batu yang ia lempar ke sungai
sendirian.
"Aku tidak akan pindah," kata Danang akhirnya.
"Desa ini adalah rumahku. Meskipun rumahku tidak seperti rumah orang lain,
tapi ini satu-satunya rumah yang aku punya. Aku tidak punya tempat lain untuk
pergi."
Kirana tersenyum kecil. Senyum yang lega, tetapi masih ada
sedikit keraguan di matanya. "Janji?"
Danang mengangkat jari kelingkingnya. Jari kecil yang
kurus, dengan kuku yang pendek dan hitam karena kotoran. "Janji."
Kirana mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Danang.
Jari mungilnya yang bersih dan putih, dengan kuku yang dipotong rapi oleh
ibunya. Dua jari yang sangat berbeda, tetapi tergenggam erat.
"Janji," ulang Kirana.
Mereka tidak tahu bahwa janji yang dibuat oleh anak-anak di
tepi sungai, dengan jari kelingking yang digenggam erat, dengan tawa dan air
mata dan harapan, adalah janji yang paling sulit ditepati. Karena anak-anak
tidak tahu bahwa dunia akan berubah, bahwa waktu akan memisahkan, bahwa orang
dewasa akan datang dengan rencana-rencana mereka yang tidak melibatkan
anak-anak.
Mereka tidak tahu bahwa suatu hari nanti, mereka akan
berpisah.
Tetapi untuk sore itu, untuk sore di mana awan berbentuk
gajah dan kelinci dan matahari mulai tenggelam di ufuk barat, janji itu terasa
nyata. Janji itu terasa seperti sesuatu yang bisa mereka pegang, seperti jari
kelingking mereka yang saling mengait, seperti hangatnya tangan satu sama lain.
Di bawah pohon trembesi dekat sekolah, tempat yang berbeda
dari pohon waru di tepi sungai, mereka sering duduk berdua setelah jam
pelajaran selesai. Pohon trembesi itu besar, sangat besar, dengan dahan-dahan
yang menyebar lebar seperti payung raksasa, seperti tangan raksasa yang sedang
melindungi semua yang ada di bawahnya.
Daunnya kecil-kecil dan rindang, menciptakan bayangan yang
teduh meski matahari sedang terik-teriknya. Batangnya sangat besar, butuh empat
atau lima anak kecil untuk merangkulnya. Di beberapa tempat, akarnya muncul ke
permukaan tanah, besar dan meliuk-liuk seperti ular yang sedang berjemur.
Di bawah pohon itulah Danang dan Kirana menghabiskan
sebagian besar masa kecil mereka. Bercerita. Tertawa. Kadang bertengkar soal
hal sepele, lalu berdamai tanpa perlu mengucap maaf. Kadang mereka hanya diam,
berbaring di atas akar pohon yang besar, memandang langit di sela-sela
dedaunan, dan merasa bahwa waktu tidak pernah bergerak secepat ini sebelumnya.
Suatu sore, ketika langit biru cerah tanpa awan, ketika
matahari masih tinggi meskipun sudah menjelang sore, Kirana bertanya, "Kau
mau jadi apa nanti, Danang?"
Danang menatap langit. Biru. Sangat biru. Biru seperti laut
dalam mimpi Kirana. Beberapa burung terbang di kejauhan, terlalu jauh untuk
dikenali jenisnya. "Aku mau pergi jauh," katanya.
Kirana mengernyit. Alisnya yang tipis bertaut.
"Kenapa?"
Danang terdiam sejenak. Ia memikirkan rumahnya. Rumah yang
dingin. Rumah yang penuh diam. Rumah yang terasa seperti kuburan bagi
mimpi-mimpi. Rumah yang tidak pernah terasa seperti rumah, meskipun ia tinggal
di sana sejak lahir. "Karena di sini terlalu banyak hal yang tidak bisa
dimengerti."
"Seperti apa?"
Danang berpikir. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada Kirana
tentang ayahnya yang lebih sering memegang botol daripada memegang tangannya?
Tentang ibunya yang tersenyum di depan orang tetapi menangis di dapur? Tentang
bisikan-bisikan tetangga yang berhenti ketika ia lewat? Tentang perasaan aneh
bahwa ia tidak benar-benar menjadi bagian dari desa ini, bahwa ia hanya numpang
hidup, bahwa suatu hari nanti ia akan pergi dan tidak ada yang akan
merindukannya?
"Banyak," katanya akhirnya. "Terlalu banyak
untuk diceritakan."
Kirana tidak memaksa. Ia sudah belajar bahwa Danang adalah
orang yang butuh waktu untuk membuka mulutnya, bahwa ia tidak bisa dipaksa
untuk bicara jika belum siap, bahwa kadang yang terbaik adalah diam dan
menunggu.
"Kalau aku," kata Kirana setelah beberapa lama,
"aku ingin tinggal di sini. Di desa ini. Selamanya."
Danang menoleh. "Kenapa?"
Kirana tersenyum. Senyum yang berbeda dari senyum cerianya
yang biasa. Senyum yang lebih dalam, lebih matang, seperti orang yang sudah
memikirkan hal ini berkali-kali, seperti orang yang sudah mengambil keputusan
dan tidak akan berubah pikiran.
"Karena di sinilah aku bertemu denganmu."
Danang terdiam. Dadanya terasa aneh. Ada sesuatu yang
hangat di sana, sesuatu yang seperti air hangat mengalir di pembuluh darahnya,
sesuatu yang membuatnya ingin tersenyum tetapi juga ingin menangis pada saat
yang bersamaan.
"Dan karena," lanjut Kirana, "kalau semua
pergi, siapa yang akan mengingat rumah?"
Danang menatap Kirana. Wajahnya yang cerah di bawah sinar
matahari sore. Rambutnya yang hitam berkibar sedikit ditiup angin. Matanya yang
berbinar, tidak hanya karena cahaya, tetapi karena sesuatu yang lain, sesuatu
yang bersinar dari dalam.
Untuk pertama kalinya, Danang merasa ada seseorang yang
melihat dunia dengan cara yang sama sepinya. Bukan kesepian yang menyedihkan.
Bukan kesepian yang membuat orang ingin menangis. Bukan kesepian yang membutuhkan
belas kasihan orang lain. Tapi kesepian yang sadar, yang memilih untuk tinggal,
yang memilih untuk mengingat, karena tahu bahwa kenangan adalah satu-satunya
hal yang tidak bisa diambil oleh siapa pun.
Ia tidak mengerti mengapa, tetapi saat itu, di bawah pohon
trembesi yang rindang, di sore yang cerah dengan langit biru tanpa awan, Danang
merasa bahwa ia tidak sendirian. Bahwa ada seseorang di dunia ini yang memilih
untuk tinggal, meskipun ia tidak punya alasan untuk tinggal.
Dan itu, pikir Danang, mungkin adalah definisi
persahabatan.
Atau mungkin, sesuatu yang lebih dari itu.
Suatu hari, ketika hujan turun tiba-tiba di tengah
perjalanan pulang sekolah, Danang dan Kirana berlari bersama mencari tempat
berteduh. Mereka berlari melewati genangan air yang memercik ke mana-mana,
melewati lumpur yang licin, melewati rerumputan basah yang tingginya sampai
lutut.
Mereka menemukan sebuah pondok kecil di pinggir sawah.
Pondok yang biasanya digunakan petani untuk beristirahat atau untuk menjaga
sawah dari hama burung. Pondok itu terbuat dari bambu dan kayu, dengan atap
rumbia yang sudah mulai bocor di beberapa tempat. Lantainya tanah, basah dan
becek karena air hujan yang merembes dari bawah. Dindingnya anyaman bambu yang
tidak rapat, angin masuk dari celah-celahnya.
Mereka duduk di lantai yang basah, terengah-engah karena
berlari. Pakaian mereka basah kuyup. Rambut Kirana basah menempel di dahi dan
pipinya. Seragam putihnya menjadi transparan karena air, tetapi ia tidak
peduli. Ia hanya tertawa, tertawa karena basah, tertawa karena hujan, tertawa
karena hidup terasa menyenangkan.
"Kau lihat wajah Pak Guru tadi?" kata Kirana di
sela-sela tawanya. "Ketika kau bilang PR-nya dimakan kambing?"
Danang tersenyum kecil. "Itu benar. Kambingnya lepas.
Makannya memang PR-ku."
"Tapi kambing tidak makan kertas!"
"Kambingku lain. Kambingku suka makan kertas."
Kirana tertawa lebih keras. "Kambingmu kambing
aneh."
"Seperti pemiliknya," kata Danang.
Mereka berdua tertawa. Tawa mereka bergema di pondok kecil
itu, terdengar sampai ke sawah-sawah di sekitarnya, bercampur dengan suara
hujan yang jatuh di atap rumbia.
Di tengah tawa, Kirana tiba-tiba berhenti. Ia menatap
Danang dengan serius. "Danang," katanya.
Danang berhenti tertawa. "Apa?"
"Kadang aku berpikir... apakah kita akan berteman
selamanya?"
Danang menatapnya. Wajah Kirana basah oleh air hujan,
tetapi matanya kering. Matanya serius, serius seperti orang dewasa yang
bertanya tentang hal-hal penting.
"Kenapa kau selalu bertanya begitu?" tanya
Danang.
Karena aku takut, jawab Kirana. Suaranya kecil, hampir
tidak terdengar di antara suara hujan.
Takut apa?
Takut kehilangan.
Danang tidak menjawab. Ia hanya memandang hujan yang turun
deras di luar pondok. Air jatuh dari atap rumbia membentuk tirai yang
memburamkan dunia di luar. Sawah-sawah di kejauhan mulai tergenang. Padi-padi
yang baru setengah tinggi bergoyang-goyang ditiup angin.
Kadang, pikir Danang, yang paling ditakuti manusia bukanlah
rasa sakit, bukan kegagalan, bukan kematian. Tetapi kehilangan. Kehilangan
orang yang kita cintai. Kehilangan tempat yang kita sebut rumah. Kehilangan
versi diri kita yang masih percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kita tidak akan kehilangan," kata Danang
akhirnya. "Kita akan berteman selamanya."
Kirana tersenyum. Senyum yang lega. Senyum yang
mempercayai.
Dan di dalam hati Danang, ia berdoa pada Tuhan yang entah
di mana, agar kata-katanya menjadi kenyataan. Agar Kirana tidak pergi. Agar
mereka bisa bersama selamanya.
Tapi doa anak-anak, pikir Danang kemudian, kadang tidak
didengar.
Atau didengar, tetapi tidak dijawab dengan cara yang kita
inginkan.
Sore itu, di bawah pohon trembesi yang rindang, ketika
matahari mulai condong ke barat dan burung-burung mulai pulang ke sarangnya,
Danang dan Kirana duduk berdampingan dalam diam.
Mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam di sana.
Bercerita tentang sekolah, tentang guru yang galak, tentang teman sekelas yang
menyebalkan, tentang cita-cita yang masih samar-samar, tentang mimpi-mimpi yang
masih terlalu tinggi untuk diraih.
Danang menggambar di buku catatannya. Ia menggambar pohon
trembesi, dengan batang yang besar dan dahan yang menyebar lebar. Di bawah
pohon itu, ia menggambar dua sosok kecil. Dua anak kecil yang duduk
berdampingan.
"Siapa itu?" tanya Kirana, menunjuk gambar itu.
"Kita," jawab Danang.
Kirana melihat gambar itu lebih dekat. "Aku tidak
sejelek itu."
"Memangnya aku gambar jelek?"
"Kamu gambar aku dengan hidung seperti kentang."
"Itu bukan hidung. Itu lesung pipitmu."
Kirana tertawa. "Lesung pipit di hidung?"
Danang ikut tertawa. "Sudahlah, aku bukan
pelukis."
"Tapi ini gambar yang bagus," kata Kirana,
tiba-tiba serius. "Simpan, ya. Agar kita ingat sore ini."
Danang memandang gambar itu. Dua sosok kecil di bawah pohon
besar. Dua anak yang tidak tahu bahwa dunia akan segera berubah. Dua anak yang
masih percaya bahwa persahabatan bisa bertahan selamanya.
"Iya," katanya. "Aku simpan."
Ia melipat gambar itu dengan hati-hati, lalu menyelipkannya
di saku bajunya. Di tempat yang aman. Di tempat yang tidak akan ia lupakan.
Matahari semakin rendah. Warna jingga mulai muncul di ufuk
barat. Burung-burung terakhir terbang di atas kepala mereka, cepat-cepat pulang
sebelum gelap.
"Pulang yuk," kata Kirana. "Nanti ibu
marah."
"Iya."
Mereka berdiri, membersihkan rumput dan debu dari pakaian
mereka. Kirana mengambil tasnya, Danang mengambil buku gambarnya.
"Besok kita ke sungai lagi?" tanya Kirana.
"Biasa," jawab Danang.
Kirana tersenyum. "Sampai besok, Danang."
"Sampai besok, Kirana."
Mereka berjalan pulang ke arah yang berlawanan. Kirana ke
utara, melewati rumah-rumah penduduk dan kebun singkong. Danang ke selatan,
melewati sawah dan jembatan kayu kecil.
Di tengah jalan, Danang berhenti. Ia menoleh ke belakang.
Kirana masih berjalan. Rambutnya yang panjang
bergoyang-goyang. Tasnya bergoyang di bahu. Sesekali ia melompati genangan air
kecil di jalan.
Danang memandang sampai sosok Kirana hilang di balik
tikungan.
Lalu ia melanjutkan perjalanan.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang tumbuh. Sesuatu yang
belum bisa ia beri nama. Sesuatu yang terasa seperti benih yang baru saja
ditanam di tanah yang subur. Sesuatu yang suatu hari nanti akan tumbuh menjadi
pohon yang besar, dengan akar yang dalam dan dahan yang rindang.
Pohon yang akan menjadi tempatnya berteduh ketika badai
datang.
Pohon yang akan ia rindukan ketika terpisah jarak dan
waktu.
Pohon yang akan menjadi alasan mengapa ia tidak pernah
benar-benar bisa melupakan.
Pohon bernama Kirana.
Bab 4
Suara
dari Balik Dinding Kayu
Malam turun lebih cepat pada musim hujan.
Langit menggantung rendah di atas desa, seperti
langit-langit kamar yang terlalu dekat dengan wajah, seperti selimut tebal yang
membungkus dunia dalam kegelapan. Awan-awan hitam tebal bergelayut di atas
gunung-gunung di kejauhan, kadang disambar kilat yang membuat desa terang
sekejap sebelum kembali gelap, seperti lampu yang berkedip-kedip sebelum mati.
Suara kodok bersahut-sahutan dari rawa di belakang rumah-rumah panggung, suara
mereka bercampur dengan jangkrik dan suara aneh lainnya yang tidak pernah bisa
diidentifikasi siapa pun, suara-suara yang membuat malam terasa hidup meskipun
tidak ada manusia yang terlihat.
Danang kecil terbangun ketika suara piring pecah terdengar
dari ruang tengah.
Ia membuka mata perlahan. Matanya masih berat, masih
lengket dengan sisa tidur, tetapi jantungnya sudah berdegup lebih cepat. Ada
sesuatu di udara malam itu, sesuatu yang tegang, seperti tali yang terlalu
ditarik dan siap putus kapan saja, seperti busur panah yang ditarik terlalu
kencang dan akan melesat kapan pun jari pemanah terlepas.
Di luar kamar, suara ibunya terdengar. Tidak keras, tetapi
cukup jelas di malam yang sunyi. Suara yang bergetar, seperti orang yang sedang
menahan sesuatu yang terlalu berat, seperti orang yang sedang berusaha agar
tidak hancur tetapi sudah terlalu dekat dengan batasnya.
"Aku sudah capek hidup seperti ini, Mas..."
Suara Ratih tidak keras. Namun cukup untuk membuat Danang
duduk di atas tikarnya. Tikar pandan yang sudah tua, beberapa helainya sudah
lepas, membuat punggungnya terasa gatal jika tidur terlalu lama. Beberapa
bagian tikar sudah robek, hanya menyisakan anyaman yang tipis dan hampir tembus
pandang. Tetapi malam itu ia tidak merasakan gatal. Yang ia rasakan hanyalah
ketakutan yang tumbuh di dadanya, seperti tanaman liar yang muncul tanpa
disiram, seperti rumput yang tumbuh di sela-sela batu, tidak diundang tetapi
tidak bisa diusir.
Lalu suara ayahnya menyusul. Lebih pelan. Lebih dalam.
Seperti gemuruh yang masih jauh, seperti suara yang keluar dari dasar sumur
yang paling dalam, seperti suara yang tidak ingin didengar siapa pun tetapi
tidak bisa disembunyikan.
"Jangan mulai lagi, Ratih."
Ratih terdengar menahan tangis. Danang bisa mendengar
isakan kecil yang ditelan, napas yang tertahan, lalu suara yang keluar setengah
tercekik, seperti orang yang sedang tersedak oleh kata-katanya sendiri.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyikan semuanya dari
anak itu, Mas?"
Danang membeku.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu. Tangannya yang
tadinya memegang ujung selimut, berhenti bergerak. Napasnya yang tadinya
teratur, berhenti sejenak. Matanya yang tadinya setengah terbuka, kini terbuka
lebar, menatap gelap di depannya tanpa melihat apa pun.
Anak itu.
Ia tahu yang dimaksud adalah dirinya.
Bukan "Danang". Bukan "Nak". Bukan
"anak kita". Tapi "anak itu". Seperti benda. Seperti orang
asing. Seperti seseorang yang tidak memiliki nama, tidak memiliki wajah, tidak
memiliki tempat dalam keluarga ini.
Selama ini ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
Sesuatu yang dibisikkan orang-orang dewasa ketika mereka mengira ia tidak
mendengar. Sesuatu yang membuat tetangga kadang memandangnya dengan tatapan
aneh, bukan benci, bukan kasihan, tetapi sesuatu di antara keduanya, sesuatu
yang membuatnya merasa seperti sedang ditelanjangi di depan umum tanpa tahu mengapa.
Sastrowiryo menjawab dengan suara rendah, tetapi tajam.
Suara yang membuat bulu kuduk Danang merinding, suara yang membuat rambut di
tengkuknya berdiri, suara yang seperti pisau yang digerinda, tajam dan
berbahaya.
"Dia tidak perlu tahu, Ratih."
"Dia berhak tahu, Mas!"
"Tidak!"
Bentakan itu membuat Danang tersentak. Seluruh tubuhnya
gemetar. Ia belum pernah mendengar ayahnya membentak seperti itu. Bukan
bentakan marah biasa yang ia dengar ketika ayahnya marah pada tetangga atau
pada pekerja di dermaga. Bukan bentakan karena kesal atau karena sesuatu yang
tidak beres. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang lebih mirip ketakutan
daripada amarah. Seperti orang yang berteriak bukan karena ingin menguasai,
tetapi karena panik karena kontrolnya mulai lepas, karena dunia yang selama ini
ia bangun mulai runtuh, karena ia tidak tahu harus berbuat apa selain
berteriak.
Danang turun perlahan dari tempat tidur.
Kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin.
Dinginnya menusuk sampai ke tulang, tetapi ia tidak merasakannya. Ia terlalu
fokus pada suara-suara dari ruang tengah, pada kata-kata yang tidak ia mengerti
tetapi membuat jantungnya berdegup kencang.
Ia melangkah tanpa suara, seperti kucing yang sedang
memburu mangsanya, seperti pencuri yang tidak ingin ketahuan, seperti bayangan
yang bergerak di malam hari. Setiap langkahnya ia lakukan dengan hati-hati,
memastikan tidak ada papan lantai yang berderit di bawah kakinya.
Pintu kamarnya sedikit terbuka. Engselnya sudah longgar
sejak bertahun-tahun lalu, tidak pernah diperbaiki karena tidak ada yang punya
waktu atau uang untuk memperbaikinya. Celah itu cukup lebar untuk ia melihat ke
ruang tengah. Cukup lebar untuk ia menyaksikan pertengkaran orang tuanya tanpa
ketahuan.
Dari balik kayu yang sedikit terbuka itu, ia melihat ibunya
berdiri dengan mata merah. Wajah Ratih pucat di bawah cahaya lampu minyak yang
redup, pucat seperti kertas, seperti orang yang sedang sakit parah, seperti
orang yang kehabisan darah. Lampu minyak di meja kayu bergoyang-goyang, ditiup
angin yang masuk dari celah-celah dinding, membuat bayangan di dinding bergerak
seperti hantu-hantu yang menari.
Tangannya gemetar, memegang ujung kain yang dikenakannya,
kain sarung yang sudah usang dan berlubang di beberapa tempat. Buku-buku
jarinya putih karena tekanan, seperti sedang memegang sesuatu yang sangat erat
agar tidak jatuh, seperti sedang berpegangan pada satu-satunya hal yang
tersisa.
Di lantai, pecahan piring berserakan. Piring enamel putih
dengan pinggiran biru, piring yang sudah menemani mereka makan sejak Danang
masih bayi. Air dan nasi bercampur dengan tanah liat di lantai, membentuk
genangan kecil yang berwarna keruh, seperti air sungai setelah hujan.
Sementara ayahnya berdiri di depan meja. Meja kayu kecil
yang digunakan untuk makan bersama, meja yang kakinya tidak rata dan harus
dialasi potongan kayu di salah satu sisinya. Rahang Sastrowiryo mengeras,
otot-otot di pipinya menegang seperti tali yang ditarik kencang. Dadanya naik
turun dengan napas yang berat, napas yang seperti orang yang baru saja berlari
jauh, napas yang seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan sesuatu yang
tidak bisa dikendalikan.
Tangan kanannya mengepal, mengepal sangat kuat hingga
kuku-kukunya menusuk telapak tangan, mungkin meninggalkan bekas yang akan ia
lihat besok pagi. Sementara tangan kirinya memegang botol kecil yang setengah
kosong. Botol kaca hijau dengan label yang sudah luntur, tidak terbaca lagi,
berisi cairan bening yang baunya menyengat, bau yang sudah sangat akrab di
hidung Danang.
Ratih menatap suaminya. Matanya basah, tetapi ada sesuatu
di sana yang tidak pernah Danang lihat sebelumnya. Bukan hanya kesedihan yang
biasa ia lihat setiap hari. Bukan hanya kepasrahan yang sudah menjadi ekspresi
default ibunya. Ada keputusasaan di sana. Ada kelelahan yang begitu dalam
sehingga seolah-olah ia sudah menyerah bahkan sebelum pertengkaran ini dimulai.
Seperti seseorang yang sudah tahu bahwa ia akan kalah, tetapi tetap bertarung
karena tidak punya pilihan lain.
"Berapa lama lagi kau mau lari dari dosa, Mas
Sastro?"
Kata itu terasa asing bagi Danang. Dosa. Ia mendengar kata
itu di gereja desa ketika diajak Kirana sesekali pada hari Minggu, ketika
pendeta dengan jubah putihnya berbicara tentang surga dan neraka dan hal-hal
yang harus dihindari. Tetapi tidak pernah dalam konteks seperti ini. Tidak
pernah di rumahnya sendiri. Tidak pernah diucapkan oleh ibunya dengan nada
seperti itu, nada yang seperti orang yang sedang melemparkan batu ke sumur,
berharap mendengar suara air di bawah tetapi hanya mendengar keheningan.
Dosa. Seperti beban. Seperti bayang-bayang yang tidak bisa
dilepaskan. Seperti belenggu yang mengikat kaki sehingga tidak bisa berlari
meskipun ingin.
Sastrowiryo memejamkan mata sejenak. Wajahnya yang tegang
tampak tua dalam sekejap. Garis-garis di keningnya tampak lebih dalam, lebih
banyak dari yang Danang ingat. Garis-garis yang dulu hanya ada dua atau tiga,
kini sudah puluhan, seperti peta yang mencatat setiap kesalahan yang pernah ia
buat.
Saat membukanya kembali, wajahnya seperti batu. Tidak ada
emosi. Tidak ada perasaan. Tidak ada amarah yang tersisa, tidak ada kesedihan,
tidak ada penyesalan. Hanya dinding yang kokoh dan tidak bisa ditembus. Hanya
benteng yang tidak akan pernah runtuh, meskipun di dalamnya mungkin sudah
hancur berkeping-keping.
"Kalau bukan karena aku, Ratih, kau dan anak itu tidak
akan hidup sampai sekarang. Ingat itu."
Ratih menahan napas. Dadanya naik turun. Tangannya yang
gemetar kini menggenggam ujung bajunya sendiri, memilin-milin kain itu dengan
gerakan yang sama persis dengan kebiasaan Danang ketika gugup, ketika takut,
ketika tidak tahu harus berbuat apa.
"Jangan pernah bilang seolah kami berutang hidup pada
Mas, Sastro."
Danang menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Telapak tangannya yang kecil dan kotor menekan bibirnya yang gemetar, berusaha
menahan suara apa pun yang mungkin keluar, berusaha menahan tangis yang mulai
menggenang di tenggorokannya.
Ia tidak ingin bersuara. Ia tidak ingin ketahuan. Karena ia
takut jika ketahuan, ia akan dipaksa kembali ke kamar, dan ia tidak akan pernah
tahu kelanjutan dari percakapan yang terasa seperti sedang membuka peti mati
yang selama ini terkubur. Peti mati yang berisi rahasia yang mungkin lebih baik
tidak pernah diketahui. Tapi ia sudah terlalu penasaran. Ia sudah terlalu
dekat. Ia tidak bisa berhenti sekarang.
Untuk pertama kalinya, ia sadar rumahnya bukan hanya sunyi.
Bukan hanya dingin. Bukan hanya penuh dengan diam yang tidak pernah dijelaskan.
Rumah itu menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang besar.
Sesuatu yang gelap.
Sesuatu yang tidak boleh diketahui.
Dan sejak malam itu, Danang mulai mengerti bahwa orang
dewasa sering kali lebih pandai menyembunyikan luka daripada anak-anak.
Anak-anak menangis ketika sakit. Anak-anak berteriak ketika kesakitan.
Anak-anak merengek ketika tidak nyaman. Tetapi orang dewasa tersenyum ketika
hancur, tertawa ketika remuk, dan berpura-pura semuanya baik-baik saja ketika
dunia di dalam mereka sedang terbakar, sedang runtuh, sedang berubah menjadi
abu.
Danang mundur perlahan dari celah pintu. Setiap langkah
mundurnya ia lakukan dengan hati-hati, seperti berjalan di atas telur, seperti
berjalan di atas kaca yang akan pecah jika ia salah melangkah.
Ketika ia merasa cukup jauh, ia berbalik dan berjalan ke
tempat tidurnya. Langkahnya masih pelan, tetapi tidak setenang tadi. Ada
getaran di kakinya, getaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya, getaran yang
membuat gigi-giginya bergemeretak meskipun ia berusaha menghentikannya.
Ia berbaring di tikar pandan yang gatal. Tikar yang sama
yang ia tiduri setiap malam, tikar yang sama yang menemani tidurnya sejak ia
lahir, tetapi malam ini terasa berbeda. Terasa dingin. Terasa asing. Terasa
seperti tikar orang lain, di rumah orang lain, di kehidupan orang lain.
Ia menarik selimut tipis sampai menutupi seluruh wajahnya.
Selimut yang sudah bolong-bolong di beberapa tempat, yang sudah tidak tebal
lagi, yang sudah hampir tidak bisa menghangatkan siapa pun. Di dalam gelap
selimut itu, di dalam ruang kecil yang hanya berisi napasnya sendiri dan
keheningan yang pekat, ia membiarkan air matanya jatuh.
Diam-diam.
Tanpa suara.
Karena ia sudah belajar sejak kecil bahwa di rumah ini,
menangis keras-keras adalah kemewahan yang tidak bisa ia nikmati. Bahwa
menangis berarti lemah. Bahwa menangis berarti memberi amunisi pada orang lain
untuk melukaimu lebih dalam. Bahwa menangis adalah tanda bahwa kau telah kalah,
dan di rumah ini, tidak ada yang mau kalah.
Air matanya jatuh ke bantal. Bantal yang terbuat dari kain
perca yang diisi kapuk, bantal yang sudah pipih karena terlalu lama digunakan,
bantal yang sudah tidak empuk lagi. Air mata itu meresap ke dalam kain,
meninggalkan bercak-bercak basah yang akan ia jelaskan sebagai keringat jika
ibunya bertanya besok pagi.
Ia tidak tahu berapa lama ia menangis. Mungkin beberapa
menit. Mungkin satu jam. Mungkin sampai ia kehabisan air mata dan yang tersisa
hanyalah isakan kering yang menyakitkan tenggorokan.
Yang ia tahu, ketika ia akhirnya tertidur, matanya masih
basah, dadanya masih sesak, dan telinganya masih mendengar gema suara ibunya
yang berkata, "Berapa lama lagi kau mau sembunyikan semuanya dari
anak itu?"
Keesokan paginya, Danang bangun lebih lambat dari biasanya.
Matahari sudah cukup tinggi di langit ketika ia membuka
matanya. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah dinding kayu, menciptakan
garis-garis cahaya di lantai kamarnya, seperti bilah-bilah pedang yang terbuat
dari emas.
Ia duduk di tikarnya. Wajahnya terasa aneh. Matanya sembab,
bengkak karena menangis semalaman. Kelopak matanya terasa berat, seperti ada
pasir di dalamnya. Kepalanya pusing, seperti baru saja bangun dari mimpi buruk
yang panjang, tetapi ia tidak ingat apa pun yang ia mimpikan.
Dari dapur, ia mendengar suara ibunya. Suara yang normal.
Suara yang seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Suara yang seperti tidak pernah
menangis, tidak pernah berteriak, tidak pernah melontarkan kata-kata yang
membuat Danang terjaga sepanjang malam.
"Danang, bangun! Nanti terlambat sekolah!"
Danang duduk diam. Ia tidak segera menjawab. Ia hanya
menatap dinding kayu di depannya, dinding yang sama yang ia lihat setiap hari,
dinding yang retak di beberapa tempat, dinding yang menjadi batas antara
kamarnya dan dunia luar.
"Iya, Mak," jawabnya akhirnya. Suaranya serak,
seperti suara orang yang baru bangun tidur, tetapi juga seperti suara orang
yang kehabisan air mata.
Ia berdiri, melipat tikarnya, meletakkannya di sudut kamar.
Ia mengambil air dari ember di belakang rumah, membasuh wajahnya dengan air
dingin yang membuat kulitnya terasa perih. Ia mengganti baju tidurnya dengan
seragam sekolah, kemeja putih yang sudah kekuningan karena terlalu sering
dicuci, celana pendek coklat yang sudah tambal sulam di lutut.
Ketika ia masuk ke dapur, ibunya sedang memasak nasi goreng
di wajan tua. Aroma bawang dan kecap memenuhi ruangan. Wajah Ratih tenang,
seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Tidak ada bekas air mata di pipinya.
Tidak ada kemerahan di matanya. Ia bahkan tersenyum ketika melihat Danang
masuk.
"Cuci tangan dulu. Nasi gorengnya hampir matang."
Danang mengangguk. Ia pergi ke belakang rumah, mengambil
air dari ember, mencuci tangannya yang kotor. Ketika ia kembali, ia duduk di
lantai dapur, di tempat yang biasa ia duduk setiap pagi. Ibunya menyodorkan
piring berisi nasi goreng, telur ceplok di atasnya, dengan sedikit irisan timun
di pinggir piring.
"Makan, Nang. Nanti habis."
Danang mengambil sendok. Ia makan perlahan, tanpa nafsu.
Nasi goreng buatan ibunya selalu enak, tetapi pagi ini rasanya hambar. Atau
mungkin lidahnya yang bermasalah. Atau mungkin perutnya yang terlalu penuh
dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia ucapkan.
"Mak," panggilnya di sela-sela suapan.
Ratih yang sedang membasuh piring di ember, menoleh.
"Iya?"
Danang ragu. Ia memandang ibunya, memandang wajah yang tadi
pagi tersenyum padanya, wajah yang semalam menangis dan berteriak dan
melontarkan kata-kata yang tidak bisa ia lupakan.
"Tadi malam... Bapak dan Mak bertengkar?"
Ratih berhenti membasuh piring. Tangannya yang memegang
spons, berhenti di tengah-tengah gerakan. Air masih mengalir dari keran,
membasahi piring yang setengah bersih, tetapi ia tidak memperhatikan.
Untuk beberapa detik, hanya suara air yang terdengar. Suara
air yang jatuh ke ember, menciptakan percikan-percikan kecil. Suara ayam
berkokok dari halaman tetangga. Suara burung gereja yang berkicau di atap.
"Kau dengar?" tanya Ratih akhirnya. Suaranya
hati-hati, seperti orang yang berjalan di tanah yang mungkin longsor kapan
saja.
Danang mengangguk. "Sedikit."
Ratih menghela napas. Ia menutup keran air, mengeringkan
tangannya di ujung kain yang ia selipkan di pinggang. Ia berjalan mendekati
Danang, lalu duduk di hadapannya. Jarak mereka hanya satu lengan. Cukup dekat
untuk Danang melihat kerutan di kening ibunya, kerutan yang tidak ada beberapa
tahun lalu, kerutan yang tumbuh seiring dengan bertambahnya beban di pundaknya.
"Bapak dan Mak hanya... berbeda pendapat, Nang. Itu
biasa. Semua orang tua pasti pernah bertengkar."
"Tapi Mak menangis," kata Danang. Matanya menatap
lurus ke mata ibunya. Tidak ada ketakutan di matanya. Tidak ada keraguan. Hanya
keingintahuan yang besar, keingintahuan yang tidak bisa dipuaskan dengan
jawaban-jawaban biasa.
Ratih terdiam. Ia menatap anaknya. Anak laki-laki yang
masih kecil, yang seharusnya masih sibuk bermain kejar-kejaran dengan
teman-temannya, yang seharusnya tidak perlu memikirkan pertengkaran orang
tuanya, yang seharusnya tidak perlu melihat air mata ibunya.
"Mak hanya... lelah, Nang."
"Lelah apa, Mak?"
Ratih tersenyum. Senyum yang pahit, senyum yang tidak
sampai ke matanya. "Lelah menjadi dewasa."
Danang tidak mengerti. Ia masih terlalu kecil untuk
mengerti bahwa menjadi dewasa berarti memikul beban yang tidak pernah diminta,
bahwa menjadi dewasa berarti tersenyum ketika ingin menangis, bahwa menjadi
dewasa berarti bertahan di tempat yang tidak ingin kau tinggali karena ada
orang lain yang bergantung padamu.
"Tapi Mak tidak sendirian," kata Danang.
"Ada Danang."
Ratih menatap anaknya. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia
tidak menangis. Ia sudah terlalu sering menangis. Ia sudah terlalu sering
menunjukkan air matanya. Mungkin sudah waktunya untuk berhenti.
"Iya, Nang. Mak punya Danang."
Ia memeluk anaknya. Pelukan yang hangat, yang jarang ia
berikan, yang terasa asing bagi Danang. Danang membalas pelukan itu dengan
kaku, tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana, tidak tahu seberapa erat
harus membalas.
Tapi di dalam pelukan itu, ia merasakan sesuatu.
Kehangatan. Keamanan. Dan untuk beberapa saat, ia lupa pada pertengkaran
semalam, lupa pada kata-kata yang ia dengar, lupa pada rahasia yang mungkin
disembunyikan orang tuanya.
Untuk beberapa saat, ia hanya Danang, anak kecil yang
dipeluk ibunya di pagi hari sebelum berangkat sekolah.
Dan itu sudah cukup.
Di sekolah, Danang tidak bisa berkonsentrasi.
Guru di depan kelas sedang menjelaskan tentang perkalian,
tentang angka-angka yang dikalikan dengan angka lain menghasilkan angka yang
lebih besar. Papan tulis hitam dipenuhi dengan kapur putih, rumus-rumus yang
tidak ia pahami, angka-angka yang berputar-putar di kepalanya.
Ia duduk di bangku paling belakang, di dekat jendela yang
menghadap ke lapangan. Dari jendela itu, ia bisa melihat pohon trembesi besar
di halaman sekolah. Pohon yang sama yang menjadi tempatnya dan Kirana duduk
berjam-jam setelah pulang sekolah.
Tapi sore itu, ia tidak akan pergi ke pohon trembesi. Ia
tidak akan pergi ke sungai. Ia akan pulang langsung ke rumah, duduk di
kamarnya, dan memikirkan semua yang ia dengar semalam.
"Danang!"
Suara guru membuatnya tersentak. Seluruh kelas menoleh ke
arahnya. Beberapa anak tertawa kecil. Kirana, yang duduk di bangku depan,
menoleh ke belakang dengan ekspresi khawatir.
"Ya, Bu?" suara Danang kecil, hampir tidak
terdengar.
"Kau dengar pertanyaan saya tadi?"
Danang terdiam. Ia tidak mendengar apa pun. Pikirannya
terlalu jauh, terlalu sibuk dengan pertengkaran orang tuanya, dengan kata-kata
yang tidak bisa ia lupakan.
"Saya tanya, berapa hasil dua belas kali dua
belas?"
Danang menunduk. Ia tahu jawabannya. Seratus empat puluh
empat. Tetapi mulutnya tidak bisa bergerak. Ada yang mengganjal di
tenggorokannya, ada yang membuatnya tidak bisa berbicara.
Guru itu menghela napas. "Kau tidak belajar semalam,
ya? Duduk yang baik. Perhatikan."
Danang duduk. Ia menatap papan tulis, berusaha fokus pada
angka-angka di sana, tetapi matanya terus kabur. Angka-angka itu berubah
menjadi bayangan, menjadi wajah ibunya yang menangis, menjadi suara ayahnya
yang membentak, menjadi piring yang pecah di lantai.
Saat bel istirahat berbunyi, Kirana langsung berjalan ke
bangku Danang. Ia duduk di kursi di sampingnya, kursi yang kosong karena
pemiliknya sedang sakit.
"Kau kenapa, Danang? Dari tadi kelihatan melamun
terus."
Danang menatap mejanya. Meja kayu yang penuh coretan,
nama-nama yang ditulis dengan bolpoin, hati-hati yang ditorehkan dengan pisau,
kata-kata kotor yang tidak ia mengerti.
"Tidak apa."
"Kau bohong." Kirana menatapnya tajam. Matanya
yang biasanya ceria kini serius. "Aku tahu kau bohong. Wajahmu pucat.
Matamu sembab. Kayak habis nangis."
Danang tidak menjawab. Ia hanya memutar bolpoin di
tangannya, memutar-mutarnya di antara jari-jarinya, berusaha mencari sesuatu
untuk dilakukan selain menjawab pertanyaan Kirana.
Kirana tidak menyerah. Ia menggeser kursinya lebih dekat,
sehingga bahu mereka hampir bersentuhan. Suaranya diturunkan, menjadi bisikan
yang hanya bisa didengar oleh Danang.
"Aku tahu rasanya, Danang. Melihat orang tua
bertengkar."
Danang menoleh. Matanya sedikit melebar. "Kau
juga?"
Kirana mengangguk. Matanya yang tadinya serius kini sedikit
basah. "Dulu. Waktu aku masih kecil banget. Ayah dan Ibu sering
bertengkar. Soal uang. Soal pekerjaan Ayah yang pindah-pindah. Soal Ibu yang
ingin tinggal di satu tempat."
"Apa yang kau lakukan?"
Kirana menggigit bibirnya. "Aku masuk kamar, tutup
pintu, dengar musik dari radio sekencang-kencangnya. Biar tidak dengar suara
mereka."
Danang menatap Kirana. Untuk pertama kalinya, ia melihat
bahwa Kirana tidak selalu secerah yang ia tunjukkan. Bahwa di balik senyum dan
tawa dan bunga-bunga yang ia petik dari kebun, ada luka yang juga ia bawa. Luka
yang berbeda, tetapi sama-sama menyakitkan.
"Aku tidak punya radio," kata Danang.
Kirana tersenyum kecil. "Besok aku pinjamkan
walkman-ku. Tapi baterainya harus beli sendiri, ya."
Danang tersenyum. Senyum pertama setelah semalam yang
panjang. Senyum kecil, hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat Kirana
lega.
"Terima kasih, Kirana."
Kirana mengangkat bahu. "Itu tugas teman."
Bel istirahat kedua berbunyi. Anak-anak mulai berhamburan
ke luar kelas, bermain kejar-kejaran di lapangan, membeli jajanan di kantin.
Tapi Danang dan Kirana tetap duduk di dalam kelas. Berdua.
Diam. Menemani satu sama lain tanpa perlu banyak bicara.
Karena kadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah solusi
untuk masalahnya. Bukan nasihat tentang apa yang harus dilakukan. Bukan
kata-kata bijak yang membuat segalanya terasa lebih baik.
Tapi hanya kehadiran.
Seseorang yang duduk di sampingnya, tidak pergi, tidak
menghakimi, hanya ada.
Dan Kirana adalah orang itu bagi Danang.
Bab 5
Anak
Saudagar dan Benih Kebencian
Beberapa hari kemudian, Danang dan Kirana bermain di halaman
sekolah. Hujan baru saja reda, meninggalkan genangan air di mana-mana dan tanah
yang becek berlumpur. Udara masih lembab, terasa berat di kulit, tetapi langit
sudah mulai cerah, dengan sisa-sisa awan tipis yang berarak pelan seperti kapas
yang ditiup angin.
Genangan air di halaman sekolah membentuk cermin-cermin
kecil yang memantulkan langit biru di atasnya. Ketika angin berhembus,
permukaan genangan itu berkerut, memecah pantulan menjadi seribu keping kecil
yang berkilauan. Anak-anak lain sudah pulang, karena sekolah lebih cepat usai
pada hari Jumat, hanya Danang dan Kirana yang masih tinggal, menikmati
kesunyian sore di halaman yang basah.
Mereka membuat perahu kecil dari daun pisang. Daun pisang
yang masih muda, lentur dan mudah dibentuk, berwarna hijau segar dengan
urat-uratan yang terlihat jelas seperti peta dari dunia lain. Danang melipatnya
dengan hati-hati, meniru cara yang diajarkan Mbah Joyo beberapa tahun lalu,
sementara Kirana memotong daun dengan ujung lidi untuk membuat layar kecil.
"Layar perahu harus lebih tinggi, Danang," kata
Kirana sambil menunjuk perahu daun milik Danang. Jarinya yang mungil
menekan-ngekan layar yang terbuat dari setengah daun pisang, berusaha
membuatnya lebih tegak. "Biar kelihatan gagah."
"Tidak. Kalau terlalu tinggi nanti mudah roboh. Nanti
kena angin langsung jungkir balik," jawab Danang tanpa mengalihkan
pandangan dari perahunya. Tangannya yang kecil dan lincah terus melipat,
membuat lekukan-lekukan yang presisi di daun pisang.
"Tapi kalau pendek, tidak kelihatan bagus,"
protes Kirana sambil cemberut. Bibir bawahnya maju sedikit ke depan, ekspresi
yang sudah Danang kenal sebagai tanda bahwa ia tidak akan menyerah dengan
mudah.
"Perahu tidak harus bagus, Kirana. Perahu harus
kuat," kata Danang tegas. Ia sudah menyelesaikan perahunya, sebuah perahu
kecil dengan lambung yang rapat dan layar yang pendek tapi kokoh. Ia
meletakkannya di telapak tangannya, memamerkan hasil karyanya pada Kirana.
"Kau selalu terlalu serius, Danang," desah
Kirana, masih cemberut. Tapi matanya mengagumi perahu Danang yang lebih rapi
dari perahu buatannya.
"Bukan serius. Realistis," jawab Danang.
"Realistis itu apa?"
"Realistis itu melihat sesuatu seperti apa adanya.
Bukan seperti yang kita mau."
Kirana mengerutkan dahi, berusaha memahami kata-kata Danang
yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. Lalu ia menggeleng, menyerah, dan
kembali ke perahunya yang masih setengah jadi.
Mereka meletakkan perahu-perahu kecil itu di selokan kecil
di pinggir halaman, tempat air hujan masih mengalir pelan menuju sungai di
kejauhan. Air di selokan itu keruh, berwarna coklat karena tanah yang terbawa
hujan, tetapi cukup dalam untuk membuat perahu-perahu kecil mereka berlayar.
Kirana tertawa ketika perahunya tersangkut di ranting kecil
yang jatuh dari pohon trembesi. Ranting itu menjuntai ke dalam air, menghalangi
jalannya perahu daun Kirana yang masih miring karena layarnya tidak seimbang.
"Itu karena kau buatnya miring," kata Danang
sambil menahan senyum. Ia melihat perahu Kirana yang oleng ke kanan, seperti
orang yang sedang mabuk.
"Bukan! Bukan karena itu. Karena kau meniup terlalu
keras, Danang!" Kirana menunjuk ke arah Danang dengan wajak merah padam,
setengah marah setengah malu.
"Aku tidak meniup," kata Danang datar.
"Kau meniup napasmu ke arah perahuku!"
"Itu namanya aku sedang bernapas, Kirana."
"Berarti kau sengaja!"
"Kirana, kalau aku tidak bernapas, aku mati."
"Terserah! Aku tetap bilang kau sengaja!"
Danang menggeleng pelan, tidak bisa menahan senyum kecil
yang akhirnya muncul di bibirnya. "Kau memang selalu salah, Kirana.
Selalu."
Kirana menjulurkan lidahnya, ekspresi kekanakan yang
membuatnya terlihat lucu di mata Danang. "Kau yang terlalu serius, Nang.
Masa kecil cuma sekali, Nikmati. Jangan dihabisin buat jadi realistis
terus."
"Masa kecil memang cuma sekali. Tapi kalau kau
habiskan dengan membuat perahu yang gampang tenggelam, percuma juga."
"Danang!"
"Apa?"
"Kau jahat!"
"Aku jujur."
Mereka bertengkar seperti itu hampir setiap hari.
Bertengkar tentang hal-hal kecil yang tidak penting. Tentang siapa yang lebih
cepat lari. Tentang jawaban soal matematika yang berbeda. Tentang warna mana
yang lebih indah, biru atau hijau. Tentang lagu mana yang lebih enak didengar.
Tapi pertengkaran mereka tidak pernah berlangsung lama.
Tidak pernah meninggalkan luka. Tidak pernah membuat mereka berpisah. Karena
setelah bertengkar, mereka akan diam sebentar, lalu salah satu dari mereka akan
tertawa, dan yang lain akan ikut tertawa, dan semuanya akan kembali seperti
semula.
Seperti sekarang. Setelah saling menuduh tentang perahu
yang tersangkut, Kirana tiba-tiba tertawa. Tawanya keras dan riang, menggema di
halaman sekolah yang sepi. Danang yang tadinya berusaha tetap serius, akhirnya
ikut tertawa. Tawa kecil yang terbatas, tidak seluas tawa Kirana, tetapi tulus.
"Ayo kita buat perahu baru," kata Kirana sambil
mengulurkan tangannya. "Kali ini kau yang buatkan untukku."
Danang mengambil sehelai daun pisang baru dari tumpukan di
samping mereka. "Kau beruntung aku baik hati."
"Kau baik hati karena aku yang membuatmu baik hati,"
kata Kirana sombong.
"Heh, sombong."
"Bukan sombong. Realistis," Kirana menirukan nada
Danang.
Mereka berdua tertawa lagi.
Tiba-tiba sebuah kaki menginjak perahu daun milik Danang.
Bukan sengaja menginjak.
Bukan karena tidak sengaja.
Sengaja menghancurkan.
Sepatu kanvas putih yang masih bersih, tanpa setitik lumpur
pun, mendarat tepat di atas perahu daun yang baru saja Danang selesaikan dengan
susah payah. Daun pisang yang tadinya rapi dan kokoh, kini hancur, tercecer di
tanah basah, tidak berbentuk lagi.
Keduanya menoleh cepat.
Surya Baskara berdiri di depan mereka, tangan di pinggang,
kepala sedikit mendongak ke atas dengan ekspresi yang sudah Danang kenal sejak
pertama kali melihatnya di kelas satu. Ekspresi yang mengatakan bahwa ia merasa
lebih tinggi dari semua orang di sekitarnya, bahwa ia merasa lebih penting,
bahwa ia merasa dunia berutang padanya.
Senyum miring. Mata setengah menyipit. Bibir bawah sedikit
maju ke depan, seperti orang yang sedang menahan tawa, seperti orang yang
sedang menikmati kekuasaannya atas orang lain. Rambutnya disisir rapi ke
samping, dengan minyak rambut yang membuatnya mengkilap seperti kulit ular.
Anak itu sebaya Danang, tetapi penampilannya sangat
berbeda. Pakaiannya selalu lebih bagus daripada anak-anak lain di desa. Kemeja
batik yang disetrika rapi, tanpa kerutan sedikit pun, dengan motif parang yang
rumit dan berwarna-warni. Celana kain yang tidak tambal sulam, berwarna krem
muda, dengan lipatan setrika yang masih terlihat jelas di bagian depan. Sepatu
kanvas putih yang masih bersih, yang tidak pernah terkena lumpur, yang
sepertinya baru setiap hari meskipun sudah dipakai berulang kali. Tidak ada
anak lain di desa ini yang memiliki pakaian sebagus itu. Tidak ada anak lain
yang ayahnya cukup kaya untuk membeli pakaian baru setiap bulan.
Ayah Surya adalah saudagar beras yang kaya, pemilik
satu-satunya toko beras di desa itu. Toko yang selalu ramai pembeli, terutama
menjelang hari raya, ketika orang-orang berbondong-bondong membeli beras untuk
ketupat dan kue-kue tradisional. Rumahnya besar, terbuat dari batu bata merah
dengan atap genteng, satu-satunya rumah di desa yang tidak terbuat dari kayu.
Ia memiliki mobil, satu-satunya mobil di desa, yang diparkir di halaman
rumahnya, menjadi tontonan anak-anak setiap hari.
Dan Surya tumbuh dengan keyakinan bahwa semua hal bisa
dibeli. Termasuk rasa hormat. Termasuk persahabatan. Termasuk, jika perlu,
kehancuran seseorang. Ia tidak pernah belajar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa
dibeli dengan uang, bahwa ada hal-hal yang lebih berharga dari emas, bahwa
menjadi kaya bukan berarti menjadi baik.
"Mainan anak miskin memang selalu murahan, ya,"
katanya sambil melihat perahu daun yang hancur di bawah sepatunya. Suaranya
santai, seperti sedang berbicara tentang cuaca, seperti sedang mengomentari
sesuatu yang tidak penting. Matanya tidak menatap Danang, tetapi menatap perahu
yang hancur, seperti sedang menikmati kehancuran itu.
Kirana langsung berdiri. Wajahnya yang tadi ceria dan
riang, kini berubah merah padam seperti cabai. Matanya menyala, seperti bara
api yang baru saja ditiup. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya
menusuk telapak tangannya.
"Kenapa kau rusak perahu Danang, Surya?" suara
Kirana keras, tidak takut, tidak gentar. Berbeda dengan anak-anak lain yang
biasanya diam atau bahkan ikut menertawakan ketika Surya berbuat semena-mena.
Surya mengangkat bahu dengan gerakan yang dibuat-buat
santai. Gerakan yang sudah ia latih di depan cermin, gerakan yang ia pelajari
dari ayahnya ketika ayahnya meremehkan pelanggan yang tidak mampu membeli beras
dalam jumlah besar. "Karena aku bisa, Kirana. Karena aku pemilik halaman
ini. Ayahku yang menyumbang untuk pembangunan sekolah ini. Jadi aku punya hak
untuk melakukan apa pun di sini."
"Halaman ini milik sekolah, bukan milik ayahmu!"
bentak Kirana. "Dan perahu Danang tidak ada hubungannya dengan
ayahmu!"
Surya tersenyum. Senyum yang dingin, yang tidak mencapai
matanya. Matanya tetap dingin, seperti mata ular yang sedang mengincar mangsa.
"Kau selalu membela dia, Kirana. Pacar kamu?"
Kirana terdiam sejenak, wajahnya semakin merah, bukan hanya
karena marah tetapi juga karena malu. "Dia temanku!"
"Teman? Hah!" Surya tertawa pendek, tawa yang
terdengar seperti ejekan. "Kau pilih berteman dengan anak tidak punya
ayah?"
Danang yang sejak tadi diam, kini berdiri.
Ia berdiri perlahan, tidak terburu-buru, tidak seperti
orang yang sedang marah. Matanya yang biasanya tenang, yang biasanya sayu, kini
berubah. Ada api di sana. Api yang dingin. Api yang tidak membakar tetapi
membekukan. Api yang membuat orang yang menerima tatapannya merasa tidak
nyaman, merasa takut, merasa bahwa ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang
lebih besar dari yang ia kira.
"Apa katamu?" suara Danang pelan. Sangat pelan.
Hampir seperti bisikan. Tetapi justru karena pelannya, suara itu terdengar
lebih mengancam daripada teriakan.
Surya tidak mundur. Ia sudah terbiasa dengan anak-anak yang
berani melawannya. Biasanya, cukup satu kali ancaman, mereka akan mundur. Tapi
Danang berbeda. Danang tidak mundur. Danang justru mendekat.
"Kau dengar sendiri," kata Surya, masih berusaha
mempertahankan senyum sinisnya, meskipus dadanya mulai berdebar tidak nyaman.
"Anak haram."
Kata itu.
Haram.
Danang tidak tahu persis apa artinya. Tetapi ia tahu itu
bukan kata yang baik. Ia pernah mendengar kata itu diucapkan oleh tetangga
ketika mereka membicarakannya di belakang. Ia pernah mendengar kata itu
diucapkan dengan nada berbisik, dengan mata melirik ke arahnya, dengan kepala
menggeleng-geleng. Ia tidak tahu persis apa maksudnya, tetapi ia tahu itu
adalah kata yang digunakan untuk merendahkan seseorang. Kata yang digunakan
untuk mengatakan bahwa seseorang tidak pantas. Kata yang digunakan untuk
mengatakan bahwa seseorang adalah kesalahan.
Sebelum Kirana sempat bereaksi, sebelum kata-kata itu benar-benar
meresap ke dalam kesadaran semua orang, sebelum Surya sempat mempersiapkan
diri, Danang mendorong Surya.
Bukan dorongan keras. Tidak dengan sekuat tenaga. Tidak
dengan niat melukai. Hanya dorongan yang cukup untuk membuat Surya kehilangan
keseimbangan di tanah yang licin. Dorongan yang lahir dari refleks, dari amarah
yang tidak bisa lagi ditahan, dari rasa sakit yang sudah terlalu lama dipendam.
Surya jatuh.
Pantatnya mendarat di genangan air terdekat, dengan suara
percikan yang keras. Air coklat keruh itu memercik ke mana-mana, membasahi
celana kainnya yang rapi, membasahi kemeja batiknya yang disetrika rapi,
membasahi sepatu kanvas putihnya yang masih bersih.
Celana kainnya yang berwarna krem muda kini berlumuran
lumpur coklat. Kemeja batiknya yang motif parang kini basah dan kotor, dengan
noda-noda air yang tidak akan hilang hanya dengan dicuci biasa. Sepatu kanvas
putihnya yang menjadi kebanggaannya, yang ia poles setiap pagi dengan kapur
agar tetap putih bersih, kini terendam dalam air keruh, kotor, mungkin tidak
akan pernah bisa kembali putih.
Wajah Surya yang tadinya penuh kesombongan, yang tadinya
terlihat seperti pemenang, kini berubah merah padam. Merah karena malu. Merah
karena marah. Merah karena tidak percaya bahwa seorang anak haram seperti
Danang berani menyentuhnya, mendorongnya, membuatnya jatuh di depan Kirana, di
depan anak-anak lain yang mulai berkerumun melihat keributan.
Anak-anak lain yang sedang bermain di sekitar halaman, yang
tadi sibuk dengan permainan mereka sendiri, kini terdiam. Mereka berhenti
berlari. Berhenti tertawa. Berhenti bernapas, sepertinya. Semua mata tertuju
pada Danang dan Surya.
Ada sekitar sepuluh atau dua belas anak yang masih tersisa
di halaman. Beberapa anak perempuan menutup mulut dengan tangan, tidak percaya
dengan apa yang baru saja terjadi. Beberapa anak laki-laki membuka mulut
lebar-lebar, mata mereka membulat seperti bola. Seorang anak kelas dua yang
sedang duduk di ayunan, berhenti mengayun, tubuhnya membeku di udara. Seorang
anak kelas tiga yang sedang membeli jajanan di kantin, menoleh dengan mulut
penuh, lupa mengunyah.
Tidak ada yang berani menentang Surya. Tidak ada yang
berani menyentuhnya. Tidak ada yang berani melawannya. Karena semua orang tahu
bahwa ayah Surya kaya, bahwa ayah Surya bisa membeli apa pun, termasuk bisa
membuat anak-anak dikeluarkan dari sekolah jika mereka berani melawan anaknya.
Danang baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah
terpikirkan oleh siapa pun. Sesuatu yang tidak pernah berani dilakukan oleh
siapa pun. Ia telah melintasi batas yang selama ini dijaga oleh rasa takut.
Surya bangkit dengan wajah merah padam. Lumpur menempel di
celana dan bajunya, mengalir perlahan ke bawah, menetes ke tanah. Air mengalir
dari ujung rambutnya yang tadinya rapi disisir, kini kusut dan basah, menutupi
sebagian dahinya. Ia terlihat seperti orang yang baru saja jatuh ke got,
seperti orang yang baru saja dipermalukan di depan umum.
"Kau berani, ya? Kau berani dorong aku?" suara
Surya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena marah yang tak terkendali.
Tangannya gemetar, mengepal dan melepas, mengepal dan melepas, seperti sedang
menahan diri untuk tidak memukul.
Danang menatap tajam. Matanya yang biasanya tenang kini
menyala, seperti bara api yang tertutup abu, masih panas meski tidak terlihat.
Matanya yang gelap seperti lubang sumur, kini gelap dengan amarah yang
terpendam. Amarah yang sudah ia pendam sejak lama, sejak ia mendengar
bisikan-bisikan tetangga, sejak ia melihat ibunya menangis di dapur, sejak ia
menyadari bahwa keluarganya berbeda, bahwa ia berbeda.
"Jangan ganggu Kirana," kata Danang. Suaranya
tenang. Sangat tenang. Tidak ada getaran di sana, tidak ada gemetar, tidak ada
keraguan. Seperti suara orang yang sudah tidak takut pada apa pun, karena sudah
terlalu sering dilukai.
Surya menatap bergantian ke Danang dan Kirana. Matanya
bergerak dari wajah Danang yang dingin, ke wajah Kirana yang masih merah karena
marah, lalu kembali ke Danang.
Ada sesuatu di tatapan itu.
Bukan sekadar marah karena dipermalukan di depan umum.
Bukan sekadar sakit hati karena jatuh di tanah berlumpur. Bukan sekadar dendam
karena harga dirinya terluka.
Ada kebencian di sana. Kebencian yang lahir saat itu juga,
dalam hitungan detik, dalam satu tatapan. Kebencian yang tidak akan padam hanya
karena waktu, hanya karena jarak, hanya karena doa. Kebencian yang akan tumbuh
dan membesar, seperti pohon beracun yang akarnya meracuni tanah di sekitarnya,
yang buahnya bisa membunuh siapa pun yang memakannya.
Tatapan itu adalah awal dari sesuatu yang panjang.
Dan kadang, permusuhan paling panjang lahir dari satu
penghinaan kecil di masa kanak-kanak. Bukan karena penghinaan itu sendiri
terlalu besar, bukan karena kerugian yang ditimbulkan terlalu signifikan, bukan
karena luka yang ditinggalkan terlalu dalam. Tetapi karena ia menyentuh sesuatu
yang rapuh dalam diri seseorang, sesuatu yang tidak pernah bisa diperbaiki,
hanya bisa dibalaskan. Sesuatu yang disebut harga diri.
"Kau akan menyesal, Danang," kata Surya. Suaranya
tidak lagi bergetar. Sekarang dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari air
sungai di pagi hari. "Aku tidak akan lupa ini."
"Aku juga tidak akan lupa," jawab Danang.
"Aku tidak akan lupa bahwa kau menghancurkan perahu daunku."
Surya tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang tidak lagi
sinis, tetapi lebih buruk dari itu. Senyum yang penuh dengan rencana. Senyum
yang mengatakan bahwa ia sudah memikirkan seribu cara untuk membalas dendam,
dan ia akan memilih yang paling menyakitkan.
Ia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Tetapi langkahnya berat. Berat seperti sedang menanam
sesuatu di setiap jejak kakinya. Benih. Benih kebencian. Benih yang akan tumbuh
menjadi pohon beracun yang meracuni banyak orang. Bukan hanya Danang, tetapi
juga Kirana, dan mungkin orang-orang lain yang tidak bersalah.
Kirana menarik napas panjang saat Surya menghilang di balik
pohon trembesi di ujung halaman. Dadanya naik turun, jantungnya masih berdebar
kencang. Tangannya yang menggenggam sisa perahu daun, kini terbuka, melepaskan
potongan daun pisang yang hancur.
"Danang, kau sebaiknya hati-hati," kata Kirana,
suaranya masih sedikit gemetar. "Keluarganya punya pengaruh besar di desa
ini. Ayahnya punya uang. Banyak orang berutang pada keluarganya. Banyak orang
takut pada mereka."
Danang tidak menjawab. Ia hanya memandang perahu daunnya
yang hancur di tanah. Daun pisang yang tadi masih utuh dan rapi, kini tercecer
dalam potongan-potongan kecil, tidak berbentuk, tidak bisa diperbaiki.
Beberapa helai daun pisang mengapung di genangan air,
bergerak perlahan ditiup angin. Sehelai daun yang masih utuh sebagian, dengan
layar yang masih berdiri meskipun lambungnya hancur, bergerak ke arah selokan
kecil, seolah berusaha mencapai air yang lebih dalam, seolah berusaha berlayar
meskipun sudah tidak mungkin.
"Aku bisa buat lagi," kata Danang akhirnya. Suaranya
datar, tidak menunjukkan emosi. "Perahu daun hanya daun. Hancur ya hancur.
Besok bisa buat baru."
Kirana menatapnya. Matanya mencari sesuatu di wajah Danang,
mencari tanda bahwa Danang baik-baik saja, bahwa dorongan tadi bukan karena
amarah yang tidak terkendali, bahwa Danang tidak akan melakukan hal-hal yang
lebih berbahaya di masa depan.
"Aku bantu," kata Kirana sambil tersenyum kecil.
Senyum yang berusaha menghibur, senyum yang mengatakan bahwa semuanya akan
baik-baik saja.
Danang mengangguk.
Mereka mengambil daun pisang baru dari tumpukan di samping
pohon. Daun yang masih segar, masih hijau terang, masih lentur. Danang
melipatnya dengan gerakan yang sama, dengan ketelitian yang sama, seolah tidak
terjadi apa-apa, seolah perahunya tidak pernah dihancurkan, seolah Surya tidak
pernah datang.
Kirana memotong daun untuk layar, kali ini mengikuti
instruksi Danang, tidak memotong terlalu besar. Ia meletakkan layar itu di atas
perahu, menekannya perlahan agar menempel.
Mereka meletakkan perahu baru itu di selokan. Perahu itu
lebih kecil dari sebelumnya, lebih sederhana, tidak serumit perahu pertama yang
hancur diinjak Surya. Layarnya lebih pendek, lambungnya lebih rendah, tidak
terlalu indah dipandang.
Tapi ketika diluncurkan di selokan, perahu itu berlayar lebih
jauh dan lebih lama dari perahu pertama. Ia melewati ranting yang kemarin
menjadi penghalang perahu Kirana, melewati batu-batu kecil di dasar selokan,
melewati daun-daun kering yang mengapung, sampai akhirnya hilang di tikungan,
menuju sungai, menuju laut, menuju tempat-tempat yang tidak pernah mereka
lihat.
"Lihat," kata Kirana bangga. "Kadang yang
sederhana lebih kuat, Danang."
Danang memandang perahu kecil itu sampai hilang di
tikungan. Perahu yang tidak akan pernah mereka lihat lagi, yang akan hancur di
tengah perjalanan atau mungkin sampai ke sungai besar, atau mungkin ke laut,
atau mungkin tidak ke mana-mana karena air selokan tidak cukup dalam.
"Seperti kita," katanya pelan, hampir tidak
terdengar. Kata-kata yang keluar tanpa ia sadari, tanpa ia rencanakan, seperti
bisikan dari hatinya yang paling dalam.
Kirana menoleh cepat. Matanya membesar sedikit. "Apa
katamu?"
Danang menggeleng. "Tidak ada."
Tapi Kirana mendengar. Kirana selalu mendengar, meskipun
Danang berbicara sangat pelan, meskipun Danang mengucapkannya seperti sedang
berbicara pada dirinya sendiri.
Dan di dalam hatinya yang masih kecil, yang masih polos,
yang belum mengenal apa itu cinta dengan segala kompleksitasnya, Kirana
menyimpan kata-kata itu. Seperti menyimpan bunga kering di antara halaman buku,
agar tidak layu meskipun waktu berlalu. Seperti menyimpan rahasia di tempat
paling aman, agar tidak ada yang bisa mengambilnya.
Ia tidak tahu apa artinya. Ia tidak tahu bahwa kata-kata
itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling ia rindukan di masa depan,
ketika ia sudah tua dan Danang sudah tiada. Ia tidak tahu bahwa kata-kata itu
akan menjadi doa yang ia panjatkan setiap malam, berharap bahwa Danang
baik-baik saja di tempat yang jauh, bahwa Danang bahagia meskipun tidak bersama
dengannya.
Ia hanya tahu bahwa sore itu, di halaman sekolah yang
basah, dengan perahu daun yang berlayar menuju hilir, dengan langit yang mulai
cerah setelah hujan, ia merasa bahwa ia memiliki sesuatu yang berharga. Sesuatu
yang tidak bisa dibeli oleh ayah Surya dengan uangnya. Sesuatu yang tidak bisa
dihancurkan oleh sepatu kanvas putih Surya.
Persahabatan.
Atau mungkin, sesuatu yang lebih dari itu.
Malam itu, Danang tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tikar pandannya, memandang langit-langit
yang retak, mendengar suara ayahnya yang mendengkur di kamar sebelah dan suara
ibunya yang masih bergerak di dapur meskipun sudah larut. Di luar, jangkrik
bernyanyi, kodok bersahutan, dan sesekali terdengar suara aneh dari rawa yang
tidak bisa diidentifikasi siapa pun.
Pikirannya melayang pada Surya. Pada tatapan Surya ketika
ia pergi. Tatapan yang mengatakan bahwa ini belum selesai. Tatapan yang
mengatakan bahwa suatu hari nanti, Surya akan kembali, dan ketika itu terjadi,
Danang harus siap.
Ia tidak takut pada Surya. Ia tidak takut pada ayah Surya
yang kaya. Ia tidak takut pada kekuasaan dan uang yang bisa membeli apa pun.
Tapi ia takut pada apa yang tidak ia ketahui. Ia takut pada
apa yang mungkin dilakukan Surya di masa depan. Ia takut bahwa permusuhan ini
akan merembet ke keluarganya, ke ibunya yang sudah terlalu banyak menanggung
beban, ke ayahnya yang sudah terlalu rapuh meskipun dari luar terlihat kuat.
Ia teringat kata-kata Mbah Joyo. "Kadang takdir bukan
untuk dicegah. Kadang takdir hanya untuk dijalani."
Mungkin permusuhan dengan Surya adalah takdirnya. Mungkin
ia memang ditakdirkan untuk bermusuhan dengan anak saudagar kaya itu. Mungkin
ia memang ditakdirkan untuk selalu berbeda, untuk selalu menjadi sasaran, untuk
selalu berjuang lebih keras dari orang lain.
Atau mungkin, pikir Danang, tidak ada takdir. Mungkin
semuanya adalah pilihan. Pilihan Surya untuk menjadi sombong. Pilihan Surya
untuk menghancurkan perahu daunnya. Pilihan Surya untuk memanggilnya anak
haram. Dan pilihannya sendiri untuk mendorong Surya, meskipun ia tahu
konsekuensinya.
Ia memejamkan mata.
Di luar, bulan bersinar terang, memantulkan cahaya
keperakan di permukaan sungai yang tenang. Angin malam berhembus pelan, membawa
bau tanah basah dan bunga melati dari kebun tetangga.
Danang berdoa. Bukan pada Tuhan yang ia tidak kenal. Tetapi
pada sungai. Pada pohon waru. Pada desa yang menjadi rumahnya.
"Jagalah Kirana," bisiknya. "Jangan biarkan
Surya menyakitinya."
Ia tidak berdoa untuk dirinya sendiri.
Ia hanya berdoa untuk Kirana.
Karena Kirana adalah satu-satunya hal baik yang terjadi
dalam hidupnya. Satu-satunya cahaya di tengah kegelapan yang semakin pekat.
Satu-satunya alasan mengapa ia masih bisa tersenyum di pagi hari.
Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun memadamkan cahaya
itu.
Tidak Surya. Tidak siapa pun.
Bab 6
Rahasia
di Ujung Dermaga
Sore itu Danang melihat ayahnya berjalan ke dermaga tua di
ujung desa.
Bukan karena ia sengaja mengikuti. Bukan karena ia curiga.
Tetapi karena kebetulan, ia sedang duduk di pohon jambu biji di halaman belakang
rumahnya, memetik buah jambu yang masih muda dan keras, ketika matanya
menangkap sosok ayahnya melewati jalan setapak di belakang rumah-rumah
tetangga.
Ada sesuatu dalam cara langkah lelaki itu yang membuat
Danang curiga.
Biasanya Sastrowiryo berjalan dengan tegap, kepala tegak,
langkah lebar dan percaya diri. Bahkan ketika ia sedang lelah sepulang kerja,
bahkan ketika ia sedang mabuk dan jalannya sempoyongan, masih ada sisa-sisa
kegagahan di setiap langkahnya, sisa-sisa dari lelaki yang dulu dikenal sebagai
pekerja keras yang tidak takut pada siapa pun.
Tetapi sore itu ia berjalan membungkuk sedikit. Bukan
karena lelah. Bukan karena sakit. Tetapi seperti sedang berusaha tidak
terlihat. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu di balik langkahnya yang terlalu
cepat. Seperti sedang berusaha menghilang di antara bayang-bayang sore yang
mulai memanjang.
Danang yang sedang duduk di dahan pohon jambu, dengan buah
jambu di tangan dan getah di jari-jarinya, melihat ayahnya melewati
semak-semak, melewati pohon pisang yang daunnya sudah menguning, melewati pagar
bambu rumah tetangga yang sudah reot.
Tanpa berpikir panjang, ia turun dari pohon. Tangannya yang
lengket dengan getah jambu ia usapkan ke celananya, tidak peduli akan
meninggalkan noda yang nanti dimarahi ibunya. Kakinya yang telanjang mendarat
di tanah yang hangat, masih panas karena terik matahari seharian.
Ia mengikuti ayahnya dari kejauhan.
Bukan karena ia ingin tahu rahasia. Bukan karena ia ingin
menginterogasi ayahnya. Tetapi karena ada firasat di dadanya, firasat yang
tidak bisa ia jelaskan, firasat yang mengatakan bahwa sore ini ia akan
menemukan sesuatu, bahwa sore ini sesuatu akan berubah, bahwa sore ini ia akan
melihat sisi lain dari ayahnya yang selama ini tersembunyi.
Ia bersembunyi di balik tumpukan kayu ulin yang menumpuk di
pinggir jalan, kayu-kayu besar yang akan digunakan untuk membangun rumah baru
Pak Lurah, tetapi sudah berbulan-bulan tidak tersentuh, hanya ditumbuhi jamur
dan dijadikan tempat bermain anak-anak.
Dari balik kayu-kayu itu, ia melihat ayahnya bertemu dengan
seseorang di ujung dermaga yang sudah tidak terpakai.
Dermaga itu dulunya digunakan untuk bongkar muat barang
dari kapal-kapal kecil yang melewati Sungai Kapuas Muara. Kapal-kapal kayu
dengan layar segitiga yang datang dari hulu membawa kopra, karet, dan rotan,
lalu kembali ke hilir membawa beras, gula, dan garam. Tetapi sudah ditinggalkan
sejak sepuluh tahun lalu, setelah sebuah kapal besar menabrak dermaga itu di
malam yang gelap dan berkabut, merusak separuh bangunannya.
Sekarang dermaga itu hanya kerangkanya yang masih berdiri.
Tiang-tiang kayu ulin yang kokoh tetapi mulai lapuk di bagian bawah. Lantai
papan yang sebagian sudah hilang, hanya menyisakan lubang-lubang besar yang
bisa dilihat sampai ke air di bawahnya. Beberapa papan masih bertahan, tetapi
sudah tidak aman untuk diinjak, bisa patah kapan saja. Tali-tali tambang yang
dulu digunakan untuk mengikat kapal, kini sudah putus dan menjuntai ke air,
ditumbuhi lumut hijau.
Dermaga itu terlihat seperti kerangka manusia yang sudah
lama mati, yang dagingnya sudah habis dimakan waktu, hanya menyisakan
tulang-belulang yang rapuh. Angin sore berhembus melalui sela-sela papan yang
rapuh, menciptakan suara siulan yang melengking, seperti tangisan hantu yang
tidak bisa meninggalkan tempat kematiannya.
Mandor Jalil sudah menunggu di sana.
Lelaki tinggi kurus dengan wajah keras yang selama ini
selalu membuat anak-anak takut. Wajahnya penuh dengan bekas jerawat dan luka,
seperti peta medan perang yang tidak pernah benar-benar sembuh. Bekas luka di
pipi kirinya, mungkin karena pisau, mungkin karena benda tajam lainnya. Bekas
luka di dahinya, panjang dan melengkung, seperti ular yang sedang tidur. Bekas
jerawat yang meninggalkan lubang-lubang kecil di pipi dan dagunya, seperti
kawah di permukaan bulan.
Matanya sipit tetapi tajam, seperti mata elang yang sedang
mengincar mangsa dari ketinggian, seperti mata ular yang siap menerkam kapan
saja. Matanya bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, bisa membaca
ketakutan di wajah orang, bisa menemukan kelemahan yang paling tersembunyi.
Ia selalu memakai baju hitam lengan panjang meski cuaca
panas, baju yang sudah lusuh dan kusam, tetapi tetap ia kenakan setiap hari.
Beberapa orang bilang ia memakai baju hitam untuk menyembunyikan tato di lengannya,
tato naga yang konon memiliki kekuatan gaib. Yang lain bilang ia memakai baju
hitam agar tidak mudah terlihat di malam hari, karena sebagian besar urusannya
dilakukan setelah matahari terbenam.
Dan di pinggangnya, selalu terselip sebilah pisau lipat
besar. Pisau dengan gagang kayu yang sudah halus karena sering dipegang, dengan
mata pisau yang selalu tajam meskipun tidak pernah terlihat ia mengasahnya.
Pisau yang konon sudah digunakan untuk memotong lebih dari sekadar tali
tambang.
Mandor itu dikenal sebagai tangan kanan pemilik tanah
terbesar di daerah itu. Lelaki kaya yang tidak pernah muncul di depan umum,
yang tidak pernah terlihat di pasar atau di acara-acara desa, yang namanya
disebut dengan suara berbisik oleh orang-orang desa. Pemilik tanah yang
membentang dari ujung utara sampai selatan. Sawah. Kebun. Bahkan beberapa rumah
penduduk konon berdiri di atas tanah yang sebenarnya miliknya.
Tidak ada yang pernah melihat wajah pemilik tanah itu.
Tidak ada yang tahu nama aslinya. Yang orang tahu, jika ada masalah dengan
tanah, jika ada sengketa batas, jika ada orang yang tidak bisa membayar utang,
yang datang adalah Mandor Jalil. Dan kedatangan Mandor Jalil selalu berarti
masalah.
Danang menyembunyikan tubuhnya di balik tumpukan kayu.
Napasnya ia tahan, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Dadanya terasa
sesak, jantungnya berdebar kencang, seperti akan melompat keluar dari dadanya.
"Aku sudah bilang, waktumu habis, Sastro," kata
Mandor Jalil. Suaranya parau, seperti suara orang yang terlalu banyak merokok
dan minum tuak, seperti suara yang keluar dari tenggorokan yang sudah terbakar
oleh minuman keras. Suara yang membuat bulu kuduk merinding, suara yang membuat
anak-anak lari ketakutan.
Sastrowiryo menjawab dingin. Tidak ada rasa takut di suaranya,
meskipun Danang bisa melihat dari belakang bahwa tangan ayahnya gemetar
sedikit. "Aku sudah bayar sebagian. Bulan lalu aku bayar dua ratus ribu.
Kau hitung sendiri, Jalil."
"Sebagian tidak cukup, Sastro." Mandor Jalil
meludah ke sungai. Ludahnya jatuh dengan bunyi pluk kecil di permukaan air yang
keruh, menciptakan riak-riak kecil yang segera hilang ditelan arus.
"Utangmu sudah menumpuk sejak lima tahun lalu. Bunganya saja sudah berapa.
Kalau kau terus bayar sebagian-sebagian seperti ini, sampai kakek buyutmu
bangkit dari kubur pun belum lunas."
"Aku butuh waktu, Jalil."
Mandor Jalil tertawa pendek. Tawa yang tidak lucu. Tawa
yang dingin dan menghitung. Tawa yang seperti suara logam digesekkan ke logam
lain, tidak merdu, tidak enak didengar, tetapi membuat orang yang mendengarnya
merasa tidak nyaman. "Waktu? Kau pikir masa lalu bisa dibayar dengan
waktu? Kau pikir kesalahan bisa dihapus dengan waktu?"
Danang mengernyit. Ia tidak mengerti. Masa lalu? Masa lalu
siapa? Apa hubungannya dengan ayahnya? Mengapa Mandor Jalil berbicara tentang
masa lalu seolah itu adalah sesuatu yang bisa diukur dengan uang? Seolah masa
lalu adalah utang yang harus dilunasi?
Ia melihat ayahnya mengepalkan tangan. Buku-buku jari
Sastrowiryo memutih, tidak ada lagi warna merah di sana. Otot-otot di rahangnya
menegang, terlihat dari belakang, bergerak-gerak seperti ada yang menggeliat di
bawah kulit. Seluruh tubuhnya tegang, seperti busur panah yang siap dilepaskan,
seperti tali yang ditarik sampai batas maksimal dan akan putus kapan saja.
Mandor Jalil mendekat. Selangkah. Dua langkah. Kini ia
berdiri hanya satu lengan dari Sastrowiryo. Jarak yang terlalu dekat untuk dua
lelaki yang tidak saling percaya. Jarak yang membuat Danang semakin tegang,
karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika jarak itu semakin dekat.
Suara Mandor Jalil diturunkan, tetapi masih cukup jelas
terdengar di sore yang sunyi, di dermaga yang hanya berdua mereka, di tengah
suara air sungai yang mengalir dan suara angin yang berbisik.
"Anak itu sudah besar sekarang, Sastro."
Sastrowiryo langsung menatap tajam. Matanya menyala seperti
api, seperti bara yang tiba-tiba ditiup angin, menyala dengan dahsyat.
"Jangan sentuh keluargaku, Jalil. Aku peringatkan kau. Aku tidak punya
apa-apa lagi di dunia ini selain mereka. Jika kau berani menyentuh mereka, aku
tidak akan segan-segan melakukan apa pun."
"Kalau kau tak lunasi, bukan aku yang akan datang
berikutnya." Mandor Jalil tersenyum. Senyum yang membuat Danang merinding
dari ujung rambut sampai ujung kaki. Senyum yang tidak menunjukkan kegembiraan,
tidak menunjukkan persahabatan, tidak menunjukkan kebaikan. Senyum yang hanya
menunjukkan bahwa ia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain, bahwa ia
memegang kendali, bahwa ia bisa menghancurkan kapan saja ia mau. "Kau tahu
siapa yang akan datang, Sastro. Dan kau tahu apa yang akan terjadi jika orang
itu yang datang, bukan aku."
Sastrowiryo diam.
Dadanya naik turun. Napasnya berat, seperti orang yang baru
saja berlari jauh, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan amarah yang
membara di dadanya. Tangannya yang mengepal mulai gemetar, bukan karena takut,
tetapi karena marah yang ditahan, marah yang tidak bisa ia salurkan, marah yang
hanya bisa ia pendam karena ia tahu tidak ada gunanya melawan.
Mandor Jalil menepuk bahu Sastrowiryo pelan. Gerakan yang
terlihat akrab, seperti tepukan seorang teman lama, seperti tepukan seorang
kakak pada adiknya. Tetapi bagi Danang yang melihat dari kejauhan, tepukan itu
terasa seperti ancaman. Seperti belati yang ditusukkan ke bahu, meskipun tidak
ada luka yang terlihat.
"Selesaikan sebelum terlambat, Sastro. Untuk
keluargamu. Untuk anakmu."
Lalu ia pergi.
Langkahnya tidak tergesa-gesa, tetapi tidak juga santai.
Langkah orang yang tahu bahwa ia memegang kendali, bahwa ia bisa memutuskan
kapan tali akan dipotong, bahwa ia bisa memilih kapan akan memberikan pukulan
terakhir. Langkah yang tenang, percaya diri, tanpa beban. Seolah apa yang baru
saja terjadi hanyalah rutinitas biasa, bukan ancaman yang bisa menghancurkan
sebuah keluarga.
Danang menahan napas.
Ia tidak mengerti apa-apa dari pembicaraan itu. Kata-kata
seperti "lunas", "masa lalu", "anak itu",
semuanya seperti potongan-potongan puzzle yang tidak bisa ia sambungkan,
seperti potongan-potongan kaca dari jendela yang pecah, yang tidak mungkin lagi
disusun kembali menjadi bentuk semula.
Mengapa ayahnya berutang? Utang apa? Kepada siapa? Mengapa
Mandor Jalil menyebut "anak itu"? Apakah "anak itu" adalah
dirinya? Atau anak orang lain? Mengapa masa lalu disebut-sebut seolah itu
adalah sesuatu yang bisa dibayar dengan uang? Apa hubungan masa lalu dengan
utang? Apa hubungan dirinya dengan semua ini?
Tetapi satu hal terasa jelas.
Ayahnya sedang takut.
Bukan takut pada Mandor Jalil. Sastrowiryo bukan tipe
lelaki yang takut pada preman seperti Mandor Jalil. Ia sudah terlalu sering
berkelahi, terlalu sering menghadapi bahaya di dermaga, terlalu sering
bertarung dengan mabuk dan kekerasan.
Tapi ada ketakutan di mata ayahnya. Ketakutan yang lebih
dalam. Ketakutan pada sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tidak bisa ia sentuh,
tidak bisa ia lawan dengan tinju atau dengan pisau. Ketakutan pada masa lalu.
Ketakutan pada rahasia yang selama ini ia sembunyikan. Ketakutan pada kebenaran
yang suatu hari akan terungkap.
Dan bagi Danang, melihat lelaki sebesar ayahnya takut,
lelaki yang selama ini ia anggap sebagai benteng yang tidak bisa runtuh, lebih
menyeramkan daripada cerita hantu mana pun di desa.
Karena cerita hantu bisa diatasi dengan doa dan mantra.
Hantu bisa diusir dengan bacaan-bacaan suci, dengan air yang sudah didoakan,
dengan sesaji yang diletakkan di pojok-pojok rumah. Hantu tidak nyata. Hantu
hanya cerita untuk menakuti anak-anak agar tidak keluar malam-malam.
Tapi ketakutan di mata ayahnya nyata.
Ketakatan itu dekat.
Ketakutan itu sedang menghampiri mereka seperti badai yang
tidak bisa dihindari, seperti banjir yang datang setiap tahun meskipun sudah
diprediksi, seperti penyakit yang tidak bisa disembuhkan meskipun sudah
diobati.
Danang kembali ke rumah dengan langkah pelan.
Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya terbenam di
lumpur yang dalam, seperti ada beban yang menggantung di setiap langkahnya. Ia
tidak berlari, meskipun ia ingin lari sejauh-jauhnya, meninggalkan desa ini,
meninggalkan semua rahasia ini, meninggalkan semua ketakutan ini.
Ia masuk melalui pintu belakang, melewati dapur yang masih
berbau masakan siang tadi, melewati ruang tengah yang kosong, menuju kamarnya.
Ia berbaring di tikar pandan yang gatal. Tikar yang sama yang ia tiduri setiap
malam, tetapi sore ini terasa berbeda. Terasa seperti tikar orang lain, di
rumah orang lain, di kehidupan orang lain.
Ia memejamkan mata, tetapi tidak bisa tidur.
Pikirannya terus berputar, mencoba memahami sesuatu yang
terlalu besar untuk otak anak seusianya, terlalu rumit untuk akal sehatnya,
terlalu gelap untuk diterangi oleh pengetahuan yang terbatas.
Mengapa ayahnya berutang?
Mengapa Mandor Jalil tahu tentang "anak itu"?
Apa yang dimaksud dengan "masa lalu"?
Mengapa semua ini terasa seperti sesuatu yang berbahaya,
seperti sesuatu yang akan meledak kapan saja, seperti sesuatu yang akan
menghancurkan rumahnya?
Untuk pertama kalinya, Danang merasa bahwa rumahnya tidak
hanya menyimpan rahasia.
Rumahnya sedang dikepung oleh sesuatu.
Dan ia, sekecil apa pun, sekecil apa pun usianya, sekecil
apa pun tubuhnya, adalah bagian dari kepungan itu.
Entah sebagai korban.
Entah sebagai taruhan.
Entah sebagai sesuatu yang sedang diperebutkan tanpa
sepengetahuannya.
Malam itu, ketika ibunya membawakan makan malam, Danang
tidak bisa makan. Ia hanya duduk di depan piring berisi nasi dan sayur lodeh,
memandang makanan itu tanpa nafsu, tanpa keinginan, tanpa perut yang lapar.
"Kenapa tidak makan, Nang?" tanya Ratih. Wajahnya
terlihat lelah, lebih lelah dari biasanya, dengan lingkaran hitam di bawah mata
yang semakin gelap. "Sakit?"
Danang menggeleng. "Tidak, Mak."
"Kenapa?"
Danang menatap ibunya. Ia ingin bertanya. Ia ingin bertanya
tentang Mandor Jalil, tentang utang, tentang masa lalu, tentang "anak
itu". Tapi mulutnya tidak bisa bergerak. Ada yang mengganjal di
tenggorokannya, ada yang membuat kata-katanya tidak bisa keluar.
"Mungkin Danang tidak lapar, Mak."
Ratih menatap anaknya lama. Matanya yang lelah itu berusaha
membaca sesuatu di wajah Danang, berusaha mencari tahu apakah anaknya sakit,
apakah anaknya bermasalah di sekolah, apakah anaknya sedang menyembunyikan
sesuatu.
"Kalau tidak lapar, simpan dulu. Nanti malam kalau
lapar, makan lagi."
"Baik, Mak."
Ratih menghela napas. Ia mengambil piring Danang,
menutupnya dengan tudung saji, membawanya ke dapur. Danang mendengar suara
ibunya menaruh piring di meja dapur, suara langkah kaki yang berat, suara napas
yang panjang.
Ia berbaring lagi.
Di luar, jangkrik mulai bernyanyi. Bulan bersinar terang,
tetapi cahayanya tidak masuk ke kamarnya karena jendela kamarnya menghadap ke
barat, ke arah kebun rambutan yang gelap.
Ia memandang gelap di depannya.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa gelap tidak
hanya ada di luar rumah.
Gelap juga ada di dalam rumahnya.
Gelap juga ada di dalam hati ayahnya.
Gelap juga ada di dalam rahasia yang disembunyikan
keluarganya.
Dan gelap itu, perlahan tapi pasti, mulai merambat ke dalam
hatinya juga.
Keesokan paginya, Danang bangun lebih pagi dari biasanya.
Matahari belum terbit. Langit masih gelap, dengan sisa-sisa
bintang yang masih berkedip-kedip di timur. Kabut tipis masih menutupi desa,
membuat semuanya terlihat seperti mimpi, seperti dunia yang belum sepenuhnya
terbangun.
Ia pergi ke sungai.
Bukan karena ia ingin bermain. Bukan karena ia ingin
bertemu Kirana. Kirana pasti masih tidur, karena ia tidak pernah bangun sepagi
ini.
Ia pergi ke sungai karena ia butuh ketenangan. Karena
sungai adalah satu-satunya tempat di dunia ini yang membuatnya merasa aman.
Karena suara air yang mengalir adalah satu-satunya suara yang tidak pernah
berbohong.
Ia duduk di akar pohon waru.
Akar yang sama. Tempat yang sama. Pemandangan yang sama.
Tetapi ia merasa berbeda.
Ia merasa lebih tua. Lebih dewasa. Lebih lelah.
Seperti pagi ini, ia tidak lagi menjadi Danang kecil yang
kemarin.
Ia telah berubah.
Dan ia tidak tahu apakah perubahan itu baik atau buruk.
Ia hanya tahu bahwa ia tidak bisa kembali menjadi Danang
yang tidak tahu apa-apa.
Bahwa ia sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia
lihat.
Bahwa ia sudah mendengar sesuatu yang tidak seharusnya ia
dengar.
Dan bahwa mulai hari ini, ia akan memandang ayahnya dengan
cara yang berbeda.
Ia akan memandang rumahnya dengan cara yang berbeda.
Ia akan memandang dunianya dengan cara yang berbeda.
Dan ia tidak tahu apakah ia siap untuk semua perbedaan itu.
Bab 7
Hujan
dan Pengakuan Kecil
Sore berikutnya hujan turun deras.
Bukan hujan biasa. Bukan hujan gerimis yang sering turun di
desa itu pada sore hari, yang hanya cukup untuk membasahi tanah dan membuat
udara terasa segar. Ini hujan yang mengguyur dengan keras, seperti langit
sedang marah dan melampiaskan amarahnya ke bumi, seperti Tuhan sedang
menumpahkan seluruh kesedihan-Nya sekaligus, tanpa peduli apakah bumi siap
menerimanya atau tidak.
Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa, butir-butirnya
besar dan deras, menghantam atap-atap rumbia dengan suara seperti ribuan
genderang yang ditabuh bersamaan. Air mengguyur tanah yang kering, menciptakan
genangan-genangan besar dalam hitungan menit, mengubah jalan setapak yang
berdebu menjadi sungai kecil yang mengalir deras.
Kabut tipis terbentuk di atas tanah, karena air yang jatuh
menguap sebelum sempat meresap, menciptakan lapisan putih yang membuat
segalanya terlihat buram dan seperti mimpi. Rumah-rumah di kejauhan hanya
terlihat sebagai bayangan-bayangan abu-abu, tidak jelas batasnya, seperti
lukisan cat air yang basah dan luntur.
Danang dan Kirana berteduh di bawah pondok kecil dekat
sawah. Pondok itu biasanya digunakan petani untuk beristirahat di siang hari
yang terik, atau untuk menjaga sawah dari hama burung ketika padi mulai
menguning. Pondok itu terbuat dari bambu dan kayu, dengan dinding anyaman bambu
yang tidak rapat, dengan atap rumbia yang sudah mulai bocor di beberapa tempat.
Dinding anyaman bambunya sudah tua, warna hijau mudanya telah
berubah menjadi coklat keabu-abuan, dengan lubang-lubang kecil di sana-sini
karena anyaman yang mulai longgar. Atap rumbianya sudah tipis, beberapa helai
sudah lepas, hanya menyisakan lubang-lubang yang menjadi jalan masuk bagi air
hujan. Lantainya tanah, basah dan becek, dengan genangan-genangan kecil di
tempat-tempat yang lebih rendah.
Mereka berlari sekencang-kencangnya ketika hujan mulai
turun. Kirana tertawa terbahak-bahak ketika kakinya terpeleset di lumpur,
hampir jatuh, tetapi Danang cepat-cepat memegang tangannya. Tangan mereka basah
oleh hujan, licin, tetapi genggaman Danang kuat, tidak melepaskan Kirana sampai
mereka sampai di pondok.
Sekarang mereka duduk di lantai tanah yang basah,
berhadapan, dengan jarak hanya satu lengan. Pakaian mereka basah kuyup. Baju
seragam putih Kirana menjadi transparan karena air, menempel di kulitnya yang
coklat langsat karena sering bermain di bawah matahari. Rambut Kirana yang
panjang dan hitam, yang biasanya diikat rapi dengan karet gelang merah, kini
terurai, basah, menempel di dahi, di pipi, di leher.
Danang tidak berani menatap terlalu lama. Ia menunduk,
memandang tanah di depannya, menggambar garis-garis dengan jarinya di tanah
yang basah. Garis lurus. Garis melengkung. Garis berkelok. Seperti sungai.
Seperti jalan yang tidak tahu ke mana arahnya.
Suara hujan memukul atap rumbia begitu keras hingga dunia
seperti hanya berisi mereka berdua. Suara air jatuh dari atap, membentuk
genangan di sekitar pondok. Suara angin yang menderu, menggerakkan dedaunan di
pohon-pohon di sekitar sawah. Suara sesekali kilat yang menyambar di kejauhan,
diikuti gemuruh yang mengguncang tanah.
Semua suara itu bercampur menjadi satu simfoni yang
menderu, simfoni yang membuat mereka merasa kecil, merasa tidak berarti, merasa
bahwa alam semesta jauh lebih besar dari masalah-masalah kecil mereka.
Kirana memandangi Danang. Matanya yang biasanya ceria, yang
biasanya berbinar-binar seperti bintang, kini serius. Ada kerutan kecil di
keningnya, kerutan yang biasanya tidak ada, kerutan yang muncul ketika ia
sedang memikirkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, ketika ia sedang berusaha
memahami sesuatu yang tidak mudah dipahami.
"Kau kenapa, Danang?" tanyanya. Suaranya pelan,
hampir tenggelam oleh suara hujan, tetapi cukup jelas di telinga Danang. "Sejak
kemarin kau diam terus. Tidak seperti biasanya."
Danang menatap tanah. Lumpur di lantai pondok mulai basah
karena air yang merembes dari bawah, merembes dari dinding yang tidak rapat,
merembes dari atap yang bocor. Tanah itu berwarna coklat tua, hampir hitam,
licin dan lengket. Jari-jarinya terus menggambar garis, tidak berhenti, seperti
sedang berusaha menciptakan sesuatu yang tidak bisa ia ciptakan dengan
kata-kata.
"Tak apa, Kirana. Aku hanya... banyak pikiran."
"Kau bohong, Danang." Suara Kirana tegas, tidak
menerima jawaban yang mengelak. Matanya menatap lurus ke arah Danang, tidak
berkedip, seperti sedang mengatakan bahwa ia tidak akan pergi sebelum mendapat
jawaban yang jujur. "Wajahmu sejak kemarin pucat. Matamu sayu. Kayak orang
habis nangis."
Danang diam.
Kirana menggeser duduk lebih dekat. Kini bahu mereka hampir
bersentuhan. Hanya beberapa sentimeter yang memisahkan mereka. Kirana bisa
merasakan dinginnya tubuh Danang yang basah kuyup oleh hujan. Danang bisa
mencium wangi rambut Kirana yang basah, wangi sabun kelapa yang murah tetapi
harum, bercampur dengan aroma tanah basah dan air hujan.
"Danang," panggil Kirana lagi. Kali ini suaranya
lebih lembut, lebih halus, seperti sedang membelai. "Kita ini teman, kan?
Teman itu harus saling cerita. Kalau kau punya masalah, cerita ke aku. Aku
tidak akan bilang ke siapa pun. Aku janji."
Danang menoleh. Matanya bertemu dengan mata Kirana. Mata
yang coklat kehijauan, yang jarang ia lihat sedekat ini, yang membuat
jantungnya berdetak lebih cepat meskipun ia tidak tahu mengapa.
"Ayahku punya masalah, Kirana."
"Masalah apa?"
"Aku tidak tahu."
Kirana mengernyit. "Kok kau tidak tahu?"
Danang menghela napas. Napas panjang yang terasa berat,
seperti mengeluarkan seluruh isi dadanya sekaligus. "Aku hanya tahu itu
masalah besar. Masalah yang sudah lama sekali. Masalah yang membuat ayahku
takut."
Kirana menatap wajah sahabat kecilnya. Untuk pertama
kalinya, ia melihat ketakutan di mata Danang. Danang yang selalu tenang, yang
jarang menunjukkan perasaan, yang selalu terlihat seperti tidak peduli apa pun
yang terjadi di sekitarnya. Danang yang ia kenal sebagai anak laki-laki paling
berani di desa ini, yang tidak takut pada Surya, yang tidak takut pada hantu,
yang tidak takut pada apa pun.
Kini matanya basah, bukan karena hujan, tetapi karena
sesuatu yang tidak bisa ia tahan lebih lama. Sesuatu yang menggenang di pelupuk
matanya, hampir tumpah, tetapi masih ia tahan karena ia tidak mau menangis di
depan Kirana.
"Danang," kata Kirana pelan, suaranya hampir
tenggelam oleh suara hujan yang semakin deras, "kalau kau takut, kau boleh
cerita ke aku. Aku tidak akan tertawa. Aku tidak akan bilang ke siapa pun. Aku
hanya akan diam dan mendengarkan."
"Kenapa kau mau melakukan itu?" tanya Danang.
Suaranya kecil, seperti bisikan, seperti suara anak kecil yang sedang
membutuhkan kepastian.
Kirana tersenyum. Senyum yang lembut, yang hangat, yang
membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian. "Karena aku temanmu,
Danang. Itu tugas teman."
Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana. Hanya lima kata.
"Karena aku temanmu, Danang." Tidak ada kata-kata besar. Tidak ada
janji-janji muluk. Tidak ada sumpah atau ikrar.
Tetapi di telinga Danang, yang jarang mendengar kata-kata
seperti itu, yang jarang merasa bahwa ada seseorang yang benar-benar peduli
padanya, kalimat itu terdengar seperti janji. Janji yang tidak diminta, tetapi
sangat ia butuhkan. Janji yang akan ia ingat sepanjang hidupnya. Janji yang
akan menjadi salah satu alasan mengapa ia masih percaya pada kebaikan manusia,
meskipun dunia sering kali menunjukkan sebaliknya.
Danang terdiam lama.
Ia memandang hujan yang terus turun tanpa henti. Air
mengalir dari atap rumbia membentuk tirai yang memburamkan dunia di luar.
Sawah-sawah di kejauhan mulai tergenang, air setinggi mata kaki, menggenangi
padi-padi yang baru setengah tinggi. Padi-padi itu bergoyang-goyang ditiup
angin, seperti sedang menari, seperti sedang menikmati hujan meskipun hujan
terlalu deras untuk dinikmati.
Ia memandang tangannya. Tangannya yang kecil, dengan
jari-jari yang kurus, dengan kuku yang hitam karena kotoran. Tangannya yang
gemetar, karena dingin, karena takut, karena sesuatu yang tidak bisa ia
kendalikan.
Lalu dengan suara sangat kecil, suara yang nyaris tidak
terdengar, suara yang seperti bisikan dari hatinya yang paling dalam, ia
berkata, "Aku takut suatu hari semuanya hilang, Kirana."
Kirana tidak langsung menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan Danang.
Tangannya kecil dan hangat, sangat kontras dengan tangan
Danang yang dingin karena kedinginan dan ketakutan. Genggaman itu tidak erat,
tidak memaksa, tidak membuat Danang merasa terkurung. Genggaman itu lembut,
seperti sayap kupu-kupu yang hinggap di tangan, seperti daun yang jatuh
perlahan ke tanah.
Tetapi cukup untuk membuat Danang merasa bahwa ia tidak
sendirian.
Cukup untuk membuatnya merasa bahwa ada seseorang di dunia
ini yang peduli padanya.
Cukup untuk membuatnya merasa bahwa meskipun semuanya
hilang, mungkin masih ada satu orang yang akan tetap tinggal.
"Kalau semua pergi, Danang," bisik Kirana,
suaranya nyaris tidak terdengar di antara suara hujan yang deras, tetapi setiap
kata terdengar jelas di telinga Danang, "aku tetap di sini."
Danang menatap tangan kecil yang menggenggam tangannya.
Genggaman itu.
Janji itu.
Ia tidak tahu apakah janji seperti ini bisa ditepati oleh
anak seusia mereka. Ia tidak tahu apakah Kirana benar-benar akan tetap di sini
jika semua pergi. Ia tidak tahu apakah Kirana mengerti apa arti kata-kata yang
ia ucapkan.
Tapi di tengah hujan yang deras, di tengah ketakutan yang
mulai membesar di dadanya, di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti hidupnya,
genggaman itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap bisa bernapas.
Satu-satunya hal yang membuatnya merasa bahwa hidup masih
layak dijalani.
Satu-satunya hal yang membuatnya tersenyum meskipun air
mata hampir jatuh.
Dan di tengah suara hujan, di tengah gemuruh petir, di
tengah deru angin, ia merasakan sesuatu yang belum bisa ia namai.
Bukan sekadar nyaman.
Bukan sekadar tenang.
Bukan sekadar senang.
Tetapi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang lebih kuat,
sesuatu yang lebih abadi.
Sesuatu yang kelak akan tumbuh menjadi luka paling indah
dalam hidupnya.
Luka yang akan ia bawa ke mana pun ia pergi, ke kota mana
pun ia merantau, ke tempat mana pun ia berlari.
Luka yang akan ia kenang ketika rambutnya mulai memutih dan
langkahnya mulai lambat dan matanya mulai kabur.
Luka yang akan membuatnya tersenyum di saat-saat terakhir
hidupnya, ketika ia berbaring di ranjang kematian, dikelilingi oleh orang-orang
yang mungkin tidak benar-benar mengenalnya, tetapi di dalam hatinya ia tahu
bahwa ada satu orang yang pernah membuatnya merasa bahwa ia berharga.
Cinta.
Cinta pertama yang tidak ia sadari sedang tumbuh, seperti
benih yang tertanam di tanah yang paling subur, di antara akar-akar pohon waru
tua, di tepi sungai yang mengalir tanpa henti.
Cinta yang tidak akan pernah ia ucapkan dengan kata-kata,
karena ia tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkannya.
Cinta yang hanya akan ia tunjukkan melalui
tindakan-tindakan kecil, melalui keberanian untuk bertahan, melalui kesetiaan
untuk tidak pergi meskipun semua orang pergi.
Mereka duduk dalam diam untuk waktu yang lama.
Hujan masih turun deras. Tidak reda-reda. Seperti langit
sedang menumpahkan semua yang ia miliki, seperti langit sedang berusaha
membersihkan diri dari sesuatu, seperti langit sedang menangis untuk mereka
berdua.
Kadang Kirana bersenandung kecil. Lagu yang sama. Lagu
tentang pelangi. Lagu tentang kebahagiaan sederhana. Lagu yang ia nyanyikan
ketika pertama kali mereka bertemu di tepi sungai.
"Pelangi-pelangi, alangkah indahmu, merah kuning
hijau, di langit yang biru..."
Suaranya kecil, tidak keras, tetapi cukup jelas di telinga
Danang. Suara yang belum mengenal kepahitan. Suara yang belum terluka oleh
kehidupan. Suara yang masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik, bahwa
manusia pada dasarnya baik, bahwa cinta bisa mengatasi segalanya.
Danang tidak ikut bernyanyi. Ia tidak tahu lagu itu. Atau
mungkin ia tahu, tetapi ia tidak pernah bernyanyi di depan orang lain.
Bernyanyi berarti menunjukkan perasaan. Dan menunjukkan perasaan berarti
membuka diri untuk dilukai. Itu pelajaran yang sudah ia pelajari sejak kecil.
Tapi di dalam hatinya, ia ikut bernyanyi.
Ia menyanyikan lagu yang sama, tetapi dengan lirik yang
berbeda.
Lagu tentang seorang anak perempuan yang datang dengan
bunga di tangan dan mengubah segalanya.
Lagu tentang seorang anak perempuan yang menggenggam
tangannya dan berjanji tidak akan pergi.
Lagu tentang seorang anak perempuan yang tanpa sadar telah
menjadi alasan mengapa ia masih bisa tersenyum di pagi hari.
Ketika hujan mulai reda, ketika rintik-rintik terakhir
jatuh dari langit dan awan mulai cerah, mereka berjalan pulang.
Tanah masih becek. Genangan air masih ada di mana-mana.
Langit masih kelabu, tetapi sudah ada sedikit cahaya di ufuk barat, cahaya yang
menandakan bahwa matahari akan segera terbit lagi besok pagi.
Mereka berjalan bersebelahan, bahu hampir bersentuhan.
Tidak berbicara. Tidak perlu berbicara.
Sampai di perempatan jalan, di mana mereka harus berpisah karena
rumah mereka berbeda arah, Kirana berhenti.
"Danang," katanya.
Danang berhenti. Menoleh.
"Besok kita ke sungai lagi, ya. Kalau tidak
hujan."
Danang tersenyum kecil. Senyum yang tulus, yang jarang
muncul, yang hanya muncul ketika ia bersama Kirana. "Iya."
Kirana tersenyum balik. Senyum yang lebar, yang
memperlihatkan gigi seri atasnya yang sedikit maju ke depan, yang
memperlihatkan lesung pipit di pipi kirinya. "Sampai besok, Danang."
"Sampai besok, Kirana."
Mereka berjalan ke arah yang berlawanan.
Kirana ke utara, melewati rumah-rumah penduduk yang atapnya
masih meneteskan air, melewati kebun singkong yang daunnya basah dan segar.
Danang ke selatan, melewati sawah yang tergenang, melewati
jembatan kayu kecil yang licin.
Di tengah jalan, Danang berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Kirana masih berjalan. Rambutnya yang basah
bergoyang-goyang. Tasnya bergoyang di bahu. Sesekali ia melompati genangan air,
seperti sedang menari.
Danang memandang sampai sosok Kirana hilang di balik
tikungan.
Lalu ia melanjutkan perjalanan.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang tumbuh.
Sesuatu yang belum bisa ia beri nama.
Sesuatu yang terasa seperti benih yang baru saja ditanam di
tanah yang subur.
Benih yang akan tumbuh menjadi pohon yang besar, dengan
akar yang dalam dan dahan yang rindang.
Pohon yang akan menjadi tempatnya berteduh ketika badai
datang.
Pohon yang akan ia rindukan ketika terpisah jarak dan
waktu.
Pohon yang akan menjadi alasan mengapa ia tidak pernah
benar-benar bisa melupakan.
Pohon bernama Kirana.
Malam itu, sebelum tidur, Danang membuka buku gambarnya.
Ia mencari halaman yang masih kosong, halaman yang tidak
terkena noda tinta atau coretan pensil. Ia menemukannya di bagian paling
belakang buku, halaman yang masih putih bersih, belum pernah ia sentuh
sebelumnya.
Ia mengambil pensil pendeknya. Pensil yang sudah tinggal
dua jari lagi. Ia raut pensil itu dengan pisau kecil, hati-hati, sampai
ujungnya runcing sempurna.
Lalu ia mulai menggambar.
Ia menggambar hujan. Ia menggambar pondok kecil di tengah
sawah. Ia menggambar dua anak kecil yang duduk berdampingan di lantai tanah
yang basah.
Satu anak laki-laki. Satu anak perempuan.
Tangan mereka tergenggam.
Di luar pondok, hujan turun deras.
Dan di langit, di sela-sela awan kelabu, ada secercah
pelangi.
Pelangi yang tidak terlihat oleh mata, tetapi terlihat oleh
hati.
Ketika selesai, ia memandang gambar itu lama-lama.
Tangannya yang kotor meninggalkan bekas di tepi kertas.
Gambar itu tidak sempurna. Hujan terlalu lurus. Pondok terlalu miring. Pelangi
terlalu pucat.
Tapi bagi Danang, itu adalah gambar terbaik yang pernah ia
buat.
Ia melipat kertas itu kecil-kecil, lalu menyelipkannya di
bawah tikarnya.
Di tempat yang sama dengan gambar Kirana yang pertama.
Di tempat yang tidak akan dilihat siapa pun.
Di tempat yang hanya ia yang tahu.
Karena beberapa hal, pikir Danang, terlalu berharga untuk
dibagi.
Beberapa perasaan terlalu rapuh untuk diucapkan.
Beberapa kenangan terlalu indah untuk diingat sendirian,
tetapi tidak ada orang lain yang bisa diajak berbagi.
Ia memejamkan mata.
Di luar, jangkrik mulai bernyanyi. Bulan bersinar terang,
memantulkan cahaya keperakan di permukaan sungai yang tenang. Angin malam
berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kebun tetangga.
Danang tersenyum kecil dalam tidurnya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, setelah
pertengkaran orang tuanya, setelah pertemuannya dengan Mandor Jalil, setelah
semua ketakutan yang mulai membesar di dadanya, ia bermimpi.
Bukan mimpi buruk.
Mimpi indah.
Mimpi tentang seorang anak perempuan dengan bunga di tangan
dan senyum di wajah.
Mimpi tentang Kirana.
Bab 8
Malam
Ketika Api Menyala
Malam itu desa gempar.
Gudang beras milik keluarga Surya, ayah Surya Baskara,
terbakar. Api menjilat langit dengan warna jingga kemerahan, menerangi seluruh
desa seperti matahari yang terbit di tengah malam, seperti kiamat kecil yang
turun hanya untuk satu keluarga, seperti peringatan dari Tuhan bahwa tidak ada
yang abadi di dunia ini, tidak kekayaan, tidak kekuasaan, tidak harga diri.
Asap hitam tebal mengepul ke atas, membawa bau beras hangus
yang tercium sampai ke ujung desa, sampai ke rumah-rumah yang berjarak hampir
satu kilometer dari lokasi kebakaran. Asap itu membubung tinggi ke langit
malam, menghitamkan bintang-bintang yang tadinya bersinar terang, seperti tirai
raksasa yang menutupi panggung setelah pertunjukan usai.
Orang-orang berteriak. Anak-anak menangis. Suara ember
berisi air berpindah dari tangan ke tangan, dari orang ke orang, dari sumur ke
gudang, dari gudang ke sumur. Antrean manusia dari sumur ke gudang, dari gudang
ke sumur, seperti semut yang panik karena sarangnya diinjak, seperti barisan
pasukan yang berperang melawan musuh yang tidak bisa dilihat.
"Cepat! Ambil air! Jangan berhenti!"
"Panggil yang lain! Kita butuh lebih banyak orang!"
"Embernya di mana? Embernya!"
"Api sudah sampai ke atap! Cepat! Cepat!"
"Jangan mendekat! Atapnya bisa runtuh!"
"Sudah hubungi pemadam kebakaran dari kecamatan?"
"Sudah! Tapi jalanan licin karena hujan tadi sore!
Mereka butuh waktu!"
"Waktu? Kita tidak punya waktu! Lihat apinya! Semakin
besar!"
Danang terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara
jeritan dari luar. Suara yang keras, suara yang panik, suara yang membuat bulu
kuduknya merinding. Ia duduk di tikarnya, mengucek matanya yang masih berat,
berusaha memahami apa yang terjadi.
Cahaya jingga kemerahan masuk melalui celah-celah dinding
kayu kamarnya, menciptakan bayangan-bayangan menari di dinding, seperti
hantu-hantu yang sedang berpesta. Udara terasa panas meskipun malam, panas yang
aneh, panas yang tidak biasa, panas yang tidak berasal dari matahari atau dari
api unggun biasa.
Ia turun dari tempat tidur. Kakinya yang telanjang
menyentuh lantai kayu yang dingin, tetapi dingin itu segera digantikan oleh
kehangatan yang aneh dari luar. Ia berjalan ke jendela, membuka daun jendela
yang sudah reot, dan melihat ke luar.
Dunia di luar rumahnya terlihat seperti neraka.
Langit berwarna jingga kemerahan, bukan hitam seperti
biasanya. Asap hitam tebal mengepul dari arah timur, dari arah rumah keluarga Surya,
dari arah gudang beras milik saudagar kaya itu. Api menjulang tinggi,
menjilat-jilat langit seperti lidah raksasa yang sedang mencicipi
bintang-bintang.
"Danang! Cepat bangun! Ada kebakaran!"
Suara ibunya dari ruang tengah membuatnya tersentak. Ratih
berlari ke kamarnya, mengambil tangannya, menariknya keluar. Wajah Ratih pucat,
matanya panik, tangannya gemetar. Ia tidak sempat menyisir rambutnya yang
kusut, tidak sempat mengganti sarung tidurnya yang sudah lusuh.
"Ayo, Nang! Keluar! Jauh dari rumah! Takut api
merambat!"
"Makan, Mak? Api dari mana?" tanya Danang sambil
berlari kecil mengikuti ibunya keluar rumah. Kakinya yang telanjang menapak
tanah yang basah dan dingin, tanah yang masih lembab karena hujan sore tadi.
"Gudangnya Surya, Nak! Gudang beras! Besar sekali
apinya!"
Di luar rumah, sudah banyak tetangga yang berkumpul. Mereka
berdiri di halaman masing-masing, menatap ke arah api dengan wajah panik dan
cemas. Beberapa ibu-ibu menangis, memeluk anak-anak mereka erat-erat. Beberapa
bapak-bapak berlari ke arah kebakaran, membawa ember dan timba, siap membantu
memadamkan api.
"Astaga, apinya besar sekali!"
"Semua beras habis! Stok untuk tiga bulan!"
"Kasihan keluarga Surya. Rugi puluhan juta!"
"Jangan-jangan ini ulah orang!"
"Siapa yang tega melakukan ini?"
Danang berlari bersama warga menuju lokasi kebakaran.
Kakinya yang telanjang menapak tanah yang basah oleh air dan lumpur, berlari
melewati genangan-genangan air, melewati rumput-rumput basah yang tingginya
sampai mata kaki, melewati bebatuan kecil yang tajam menusuk telapak kakinya.
Wajahnya merah karena panas api yang terasa dari kejauhan,
panas yang seperti berada di dekat tungku api yang menyala besar, panas yang
membuat kulitnya terasa perih meskipun jaraknya masih puluhan meter. Matanya
perih karena asap yang mulai menyebar ke mana-mana, asap hitam yang membuatnya
sulit bernapas, yang membuat tenggorokannya terasa gatal.
Ketika ia sampai di lokasi, pemandangan yang ia lihat
membuatnya terdiam.
Gudang beras itu besar. Sangat besar. Dindingnya dari batu
bata merah, atapnya dari seng gelombang, lantainya dari semen. Gudang itu bisa
menampung berton-ton beras, stok untuk dijual selama berbulan-bulan. Keluarga
Surya menyimpan hampir semua kekayaannya di sana, dalam bentuk beras yang akan
dijual ke pasar-pasar di seluruh kecamatan.
Sekarang gudang itu terbakar.
Api sudah menghanguskan hampir seluruh bangunan. Dinding
batu bata yang tadinya kokoh, kini retak-retak, beberapa bagian sudah runtuh.
Atap seng yang tadinya mengkilap, kini melengkung karena panas, beberapa lembar
sudah jatuh ke tanah dengan suara dentuman keras. Tiang-tiang kayu penyangga
atap, yang tadinya kokoh, kini menjadi arang hitam yang rapuh, siap hancur jika
disentuh.
Api masih menjilat sisa-sisa bangunan yang belum habis.
Warna apinya jingga kemerahan, dengan lidah-lidah api biru di bagian bawah yang
menunjukkan suhu yang sangat panas. Asap hitam tebal terus mengepul, membawa
bau beras hangus yang menyengat, bau yang membuat perut Danang mual.
Surya berdiri di depan rumahnya, di halaman yang luas
dengan rumput yang terawat, sambil menangis marah. Wajahnya merah padam, bukan
karena panas api, tetapi karena amarah dan frustrasi yang tidak bisa ia
salurkan. Tangannya mengepal-ngepal, kakinya menghentak-hentak tanah, mulutnya
berteriak-teriak tanpa henti.
"Ayah! Semua habis! Semua beras habis! Lihat itu,
Ayah! Api! Gudang kita terbakar! Semua beras habis!"
Suryaputra, ayah Surya, berdiri di samping anaknya dengan
wajah pucat pasi. Lelaki itu biasanya selalu tenang, selalu tersenyum, selalu
menyapa siapa pun dengan ramah. Di pasar, ia dikenal sebagai saudagar yang baik
hati, yang tidak pernah menipu, yang sering memberi tambahan beras kepada
pelanggan yang kurang mampu. Di desa, ia dikenal sebagai dermawan yang sering
menyumbang untuk pembangunan masjid dan perbaikan jalan.
Tetapi malam itu wajahnya berubah menjadi sesuatu yang
menakutkan. Matanya liar, mencari-cari sesuatu, atau seseorang, di antara
kerumunan. Matanya bergerak cepat dari satu wajah ke wajah lain, seperti elang
yang mencari mangsa, seperti detektif yang mencari tersangka. Tangannya
gemetar, bukan karena takut, tetapi karena marah yang tertahan, marah yang
mencari sasaran, marah yang butuh pelampiasan.
"Lihat! Lihat itu! Semua uangku habis! Semua! Beras
untuk tiga bulan! Untuk lebaran! Semua habis!" teriak Suryaputra, suaranya
pecah di tengah-tengah, antara marah dan tangis.
Penduduk desa yang datang membantu mulai berbisik-bisik.
Bisikan yang pelan tetapi terdengar jelas di malam yang sunyi, bisikan yang
seperti tawon, menyengat dari segala arah.
"Siapa ya yang melakukan ini?"
"Pasti orang yang dendam pada keluarga Surya."
"Atau mungkin perampok yang gagal."
"Atau mungkin ini kecelakaan. Korsleting
listrik."
"Tidak mungkin. Gudangnya tidak pakai listrik. Cuma
pakai lampu minyak."
"Lalu siapa?"
Tiba-tiba jari Suryaputra menunjuk ke arah kerumunan.
Wajahnya yang tadinya pucat, kini merah oleh amarah dan asap yang masih
mengepul dari gudang yang terbakar. Matanya yang tadinya liar, kini terfokus
pada satu titik, pada satu orang, pada satu sasaran.
"Itu! Itu anak Sastrowiryo! Aku lihat dia tadi sore
mondar-mandir di dekat gudang! Aku lihat sendiri!"
Semua mata langsung beralih pada Danang.
Ratusan mata. Mata tetangga yang setiap pagi menyapanya
dengan ramah. Mata teman sekolah yang setiap hari bermain dengannya di halaman
sekolah. Mata orang dewasa yang biasanya tersenyum padanya setiap kali ia lewat
di depan rumah mereka. Mata orang-orang yang selama ini ia kenal sebagai
tetangga yang baik, yang tidak pernah menyakitinya, yang selalu membantu ketika
keluarganya membutuhkan.
Kini semuanya menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia
baca.
Campuran antara curiga, takut, dan sesuatu yang lebih
buruk.
Kecurigaan.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Pak!" seru Danang.
Suaranya terdengar kecil di tengah keributan malam, di tengah suara api yang
masih berderak, di tengah suara orang-orang yang berteriak dan berlari. Suara
anak kecil yang tenggelam oleh suara orang dewasa yang panik, suara yang
seperti bisikan di tengah badai.
Tapi Surya berteriak lebih keras, suaranya parau karena
menangis dan marah, suaranya seperti suara orang yang sedang kesurupan, tidak
terkendali, tidak rasional.
"Aku lihat dia, Ayah! Aku lihat dia tadi sore! Aku
lihat dia mondar-mandir di dekat gudang! Aku lihat dengan mata kepalaku
sendiri! Dia yang membakar gudang kita! Dia!"
"Itu bohong!" teriak Kirana yang baru saja tiba,
berlari dari arah rumahnya dengan wajah pucat karena ketakutan dan kelelahan.
Rambutnya yang panjang dan hitam, yang biasanya diikat rapi, kini terurai,
kusut, berkibar-kibar ditiup angin malam yang panas. Bajunya basah oleh
keringat karena ia berlari sepanjang jalan dari rumahnya yang jaraknya hampir
setengah kilometer.
"Dia bersamaku sepanjang sore, Pak Surya! Kami di
pondok dekat sawah! Kami berteduh karena hujan! Sampai hujan reda! Sampai
hampir magrib! Tidak mungkin Danang ada di dekat gudang! Tidak mungkin!"
Warga mulai berbisik lebih keras. Suara-suara kecil yang
seperti tawon, menyengat dari segala arah, menyengat tanpa pandang bulu,
menyengat siapa pun yang berada di dekatnya.
"Memang keluarga itu aneh dari dulu."
"Iya, Sastrowiryo itu sering mabuk. Suka berutang ke
mana-mana."
"Ayahnya punya masalah dengan Mandor Jalil. Saya
dengar dia berutang banyak."
"Anak itu juga aneh, ya. Matanya terlalu dalam untuk
anak seusianya. Suka diam-diam. Suka menyendiri."
"Jangan-jangan benar kata Suryaputra. Mungkin dendam
lama. Keluarga itu kan pendatang. Siapa tahu mereka punya masa lalu
gelap."
"Tapi tidak ada bukti."
"Bukti? Lihat saja kelakuan ayahnya. Suka mabuk. Suka
berkelahi. Anaknya ya ikut-ikutan."
Danang berdiri di tengah kerumunan. Di tengah api yang
masih membakar gudang di belakangnya. Di tengah asap yang masih mengepul di
sekitarnya. Di tengah orang-orang yang mulai memandangnya dengan curiga.
Ia mendengar semuanya.
Kata-kata yang dulu diucapkan dengan nada ramah ketika
mereka berpapasan di jalan, ketika mereka membeli sayur di pasar, ketika mereka
duduk bersama di acara-acara desa, kini berubah menjadi senjata. Senjata yang
tidak terlihat, tetapi tajam. Senjata yang tidak meninggalkan luka di kulit,
tetapi melukai di dalam.
Ia mendengar orang-orang yang dulu ia kenal sebagai
tetangga yang baik, yang tidak pernah menyakitinya, yang selalu tersenyum
padanya setiap pagi, mulai memandangnya seperti orang asing. Seperti musuh.
Seperti sesuatu yang harus dijauhi, yang harus dihindari, yang harus
disingkirkan.
Matanya mulai basah.
Bukan karena asap.
Bukan karena api.
Bukan karena panas.
Tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Rasa tidak percaya.
Bahwa orang-orang yang selama ini ia anggap baik, yang
selama ini ia anggap sebagai bagian dari desanya, yang selama ini ia anggap
sebagai tetangga yang akan membantunya jika ia membutuhkan, ternyata bisa
berubah begitu cepat. Hanya dengan satu tuduhan. Hanya dengan satu jari yang
menunjuk. Hanya dengan satu kata dari orang kaya.
Ratih datang berlari dari antara kerumunan, menerobos
orang-orang yang menghalangi jalannya, dengan wajah pucat dan mata merah. Ia
langsung memeluk Danang erat-erat, melindunginya dari tatapan-tatapan curiga,
dari bisikan-bisikan tajam, dari tuduhan-tuduhan yang belum terbukti.
Tubuh ibunya gemetar. Bukan karena kedinginan. Bukan karena
ketakutan pada api. Tetapi karena ketakutan pada sesuatu yang lebih besar,
sesuatu yang lebih mengerikan, sesuatu yang bisa menghancurkan keluarganya
tanpa ampun.
"Anak saya tidak mungkin, Pak Surya," kata Ratih,
suaranya bergetar tetapi berusaha tegas. "Saya kenal anak saya. Saya kenal
Danang. Dia anak baik. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu. Tidak mungkin.
Saya jamin."
Namun suara-suara itu terus terdengar. Semakin keras.
Semakin yakin. Seolah kebakaran itu bukan hanya menghanguskan gudang beras,
tetapi juga menghanguskan reputasi keluarga Danang. Menghanguskan kepercayaan
yang selama ini dibangun tetangga, meskipun mungkin tidak pernah benar-benar
kuat. Menghanguskan masa kecil Danang yang sudah rapuh, yang sudah retak, yang
sudah hampir hancur berkeping-keping.
"Buktinya mana?" teriak seorang ibu-ibu dari
kerumunan.
"Anak itu kan suka diam-diam. Siapa tahu dia
pendendam."
"Lihat matanya. Matanya seperti orang yang menyimpan
amarah."
"Keluarganya memang bermasalah dari dulu. Ibunya hamil
di luar nikah. Ayahnya pemabuk."
"Jangan-jangan anak itu juga ikut-ikutan."
"Kasihan keluarga Surya. Rugi besar."
"Harusnya polisi dipanggil. Anak itu harus
diinterogasi."
Danang mendengar semuanya.
Setiap kata.
Setiap bisikan.
Setiap desahan.
Setiap tatapan curiga.
Ia menggigit bibirnya hingga hampir berdarah, berusaha
menahan tangis yang mulai menggenang di dadanya, berusaha menahan air mata yang
mulai mendesak keluar dari matanya, berusaha tetap terlihat kuat meskipun
hatinya hancur berkeping-keping.
Ia ingin berteriak.
Ia ingin berteriak bahwa ia tidak bersalah.
Ia ingin berteriak bahwa ia tidak pernah mendekati gudang
itu.
Ia ingin berteriak bahwa ia hanya seorang anak kecil yang
tidak tahu apa-apa tentang api dan dendam dan kebencian.
Tapi suaranya tidak keluar.
Hanya diam.
Diam yang berat.
Diam yang menyakitkan.
Diam yang seperti beban di dadanya, membuatnya sulit
bernapas.
Dan di tengah api yang membakar gudang, di tengah asap yang
mengepul, di tengah kerumunan yang semakin ramai, Danang berdiri diam, memeluk
ibunya yang gemetar, dan berusaha memahami mengapa dunia orang dewasa begitu
kejam pada anak-anak.
Sastrowiryo datang terlambat.
Ia baru saja pulang dari warung tempat ia biasa minum tuak
ketika mendengar kabar kebakaran. Ia berlari sepanjang jalan, tanpa
mempedulikan bahwa ia masih setengah mabuk, tanpa mempedulikan bahwa sepatunya
terlepas di tengah jalan, tanpa mempedulikan bahwa bajunya basah oleh keringat
dan air hujan yang masih tersisa di daun-daun.
Ketika ia sampai di lokasi, kerumunan sudah semakin besar.
Api masih membakar gudang, meskipun tidak sebesar tadi. Beberapa petugas
pemadam kebakaran dari kecamatan sudah datang, berusaha memadamkan api dengan
selang-selang panjang yang terhubung ke mobil pemadam kebakaran yang tergores
di jalanan desa yang sempit.
Ia melihat Ratih dan Danang di tengah kerumunan,
berpelukan, dikelilingi oleh tatapan-tatapan curiga. Ia melihat Suryaputra yang
masih berteriak-teriak. Ia melihat Surya yang masih menangis. Ia melihat warga
yang berbisik-bisik.
Dan tanpa bertanya, tanpa perlu penjelasan, ia sudah tahu.
Ia sudah tahu bahwa anaknya dituduh.
Ia sudah tahu bahwa keluarganya kembali menjadi sasaran.
Ia sudah tahu bahwa masa lalunya, masa lalu Ratih, masa
lalu keluarganya, telah datang menghantui mereka lagi.
Ia berjalan mendekat, menerobos kerumunan, berdiri di
samping Ratih dan Danang. Wajahnya keras, rahangnya mengeras, matanya menyala.
Ia menatap Suryaputra dengan tatapan yang tidak kalah menantang.
"Kau tuduh anakku, Putra?"
Suryaputra menatapnya dengan mata merah, antara marah dan
sedih. "Anakmu mondar-mandir di dekat gudangku tadi sore, Sastro. Banyak
yang melihat."
"Banyak? Siapa? Sebutkan!"
Suryaputra terdiam. Ia tidak bisa menyebutkan nama. Karena
sebenarnya ia tidak melihat Danang. Ia hanya mendengar dari seseorang, entah
dari siapa, atau mungkin ia hanya mencari kambing hitam, seseorang yang bisa ia
salahkan atas musibah yang menimpanya.
"Tidak ada bukti, Putra," kata Sastrowiryo
dingin. "Jadi jangan sembarangan menuduh anak orang."
"Keluarga kau memang bermasalah, Sastro! Dari dulu! Istri
kau hamil di luar nikah! Kau pemabuk! Anak kau ya ikut-ikutan!"
Sastrowiryo melangkah maju. Tangannya mengepal. Otot-otot
di rahangnya menegang. Matanya menyala seperti api, seperti api yang membakar
gudang di belakang mereka.
"Kau hati-hati, Putra. Mulut kau bisa celakakan
kau."
"Kau ancam aku? Di depan banyak orang?"
Suryaputra tertawa sinis. "Lihat semua! Sastrowiryo mengancamku! Padahal
anaknya yang membakar gudangku!"
"Aku tidak mengancam. Aku memperingatkan."
Beberapa warga mulai mencoba melerai. Mereka berdiri di
antara Sastrowiryo dan Suryaputra, berusaha mencegah pertengkaran yang bisa
berujung pada perkelahian.
"Sudah, sudah. Jangan ribut. Api masih besar. Lebih
baik kita fokus memadamkan api."
"Ya, ya. Urusannya nanti. Sekarang padamkan api dulu."
"Jangan saling tuduh. Kita cari tahu dulu
penyebabnya."
Sastrowiryo menarik napas panjang. Ia menatap Suryaputra
sekali lagi, lalu berbalik. Ia menggandeng tangan Ratih dan Danang, membawa
mereka keluar dari kerumunan.
"Ayo pulang. Tidak ada gunanya di sini."
Ratih mengangguk, masih gemetar. Danang berjalan di samping
ibunya, menggenggam erat tangan ibunya yang dingin dan gemetar.
Saat mereka berjalan melewati kerumunan, bisikan-bisikan
masih terdengar.
"Itu dia."
"Anaknya."
"Kasihan."
"Tapi jangan-jangan benar anak itu."
"Siapa tahu."
"Keluarganya aneh."
"Lebih baik jauhi mereka."
Danang menunduk. Ia tidak berani menatap siapa pun. Ia
hanya berjalan, mengikuti langkah ibunya, berusaha menahan air mata yang terus
mendesak keluar.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang pecah.
Sesuatu yang selama ini ia jaga dengan hati-hati.
Sesuatu yang membuatnya masih percaya bahwa dunia ini baik.
Sesuatu yang membuatnya masih mau tersenyum di pagi hari.
Kepercayaan.
Kepercayaan bahwa kebenaran akan selalu menang.
Kepercayaan bahwa jika ia tidak bersalah, ia tidak akan
dihukum.
Kepercayaan bahwa dunia ini adil.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia belajar bahwa satu
tuduhan bisa mengubah cara seluruh dunia memandang seseorang. Bahkan tanpa
bukti. Bahkan tanpa saksi. Bahkan tanpa kebenaran.
Hanya dengan satu jari yang menunjuk, satu kata yang
diucapkan, satu kebohongan yang diulang-ulang.
Dan ia belajar bahwa menjadi miskin, menjadi berbeda,
menjadi orang yang tidak memiliki kekuasaan, adalah dosa yang tidak bisa diampuni
di mata dunia.
Dari kejauhan, di bawah bayangan pohon beringin besar di
ujung desa, Mandor Jalil berdiri.
Ia tidak ikut memadamkan api.
Ia tidak ikut berteriak.
Ia tidak ikut sibuk seperti warga lainnya.
Ia hanya berdiri, memperhatikan, dengan senyum tipis di
bibirnya yang kering, bibir yang pecah-pecah karena terlalu banyak merokok dan
minum tuak.
Tangannya memegang sesuatu.
Kain kecil.
Kain yang basah oleh minyak tanah.
Kain yang masih meneteskan cairan bening dengan bau
menyengat.
Ia memperhatikan kerumunan. Memperhatikan Danang yang
berdiri dengan wajah pucat di samping ibunya. Memperhatikan Suryaputra yang
berteriak-teriak. Memperhatikan Sastrowiryo yang baru saja datang, berdiri di
pinggir kerumunan dengan wajah yang semakin keras, semakin gelap, semakin penuh
dengan sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Ia memperhatikan semua itu dengan senyum tipis di bibirnya.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tahu sesuatu yang tidak
diketahui orang lain.
Senyum yang mengatakan bahwa ia yang berada di balik semua
ini.
Senyum yang mengatakan bahwa kebakaran ini hanyalah
permulaan.
Tanpa satu kata pun.
Tanpa satu gerakan pun.
Ia berbalik, berjalan perlahan meninggalkan kerumunan,
menghilang di balik kegelapan malam.
Seolah kebakaran malam itu hanyalah permulaan dari sesuatu
yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang akan membakar lebih dari sekadar kayu dan
beras.
Sesuatu yang akan membakar kehidupan.
Hubungan.
Masa depan.
Dan mungkin, cinta.
Malam itu, ketika Danang akhirnya berbaring di tikarnya
setelah berjam-jam tidak bisa tidur, setelah mendengar ibunya menangis di dapur
dan ayahnya diam membatu di ruang tengah, ia memandang langit-langit yang
retak.
Lampu minyak di sampingnya hampir padam. Nyala apinya
kecil, berkedip-kedip, seperti akan mati kapan saja.
Ia memegang sesuatu di sakunya.
Bunga kering.
Bunga kuning yang diberikan Kirana saat pertama kali mereka
bertemu.
Bunga yang sudah layu, kering, rapuh, warnanya sudah pudar
menjadi coklat kekuningan.
Tetapi ia masih menyimpannya.
Ia masih menyimpannya sebagai pengingat bahwa pernah ada
seseorang yang memberinya sesuatu tanpa alasan.
Seseorang yang tidak meminta imbalan.
Seseorang yang hanya ingin membuatnya tersenyum.
Ia mencium bunga kering itu.
Baunya sudah tidak ada. Hanya bau kertas tua, bau waktu
yang berlalu.
Tapi di dalam hatinya, bunga itu masih harum.
Kirana masih harum.
Dan meskipun seluruh desa menuduhnya, meskipun semua orang
memandangnya dengan curiga, meskipun dunia terasa seperti sedang melawannya, ia
masih punya Kirana.
Satu orang yang percaya padanya.
Satu orang yang tidak menarik diri ketika semua orang
menjauh.
Satu orang yang tetap berdiri di sisinya.
Dan kadang, satu orang saja sudah cukup untuk membuat
seseorang bertahan.
Satu orang yang bilang "aku percaya padamu"
ketika seratus orang lain bilang "kau bersalah".
Satu orang yang tetap berdiri di sampingmu ketika semua
kursi lain kosong.
Satu orang yang membuatmu ingat bahwa kau tidak sendirian,
meski dunia terasa seperti sedang melawanmu.
Bagi Danang, Kirana adalah satu orang itu.
Dan ia tidak tahu, pada saat itu, bahwa satu orang itu
kelak akan menjadi alasan mengapa ia terus hidup, dan juga alasan mengapa ia
merasa mati berkali-kali.
Bab 9
Anak
yang Mulai Dijauhi
Pagi setelah kebakaran, desa terasa berbeda.
Udara masih bau asap. Bau itu menyengat di hidung, membuat
tenggorokan terasa perih setiap kali bernapas, membuat mata perih meskipun
tidak menangis. Abu beterbangan di mana-mana, menempel di daun-daun pohon yang
tadinya hijau segar, sekarang berwarna abu-abu kotor. Abu menempel di atap-atap
rumah rumbia yang tadinya berwarna coklat keemasan, sekarang kehitaman. Abu
menempel di pakaian yang dijemur di halaman, membuat ibu-ibu harus mencuci
ulang pakaian mereka yang baru saja selesai dicuci kemarin.
Di tempat gudang beras milik keluarga Surya dulu berdiri,
kini hanya tersisa tiang-tiang hangus dan puing-puing hitam yang masih
mengeluarkan asap tipis. Dinding batu bata yang tadinya kokoh dan tebal, kini
rubuh, berserakan di tanah seperti mainan balok yang dirobohkan anak kecil.
Atap seng yang tadinya mengkilap, kini melengkung, menghitam, beberapa lembar
masih menempel di kerangka yang tersisa, yang lain sudah jatuh ke tanah.
Beberapa warga masih berkumpul di sekitar lokasi,
melihat-lihat sisa-sisa kebakaran, mengambil barang-barang yang masih bisa
diselamatkan. Tapi tidak banyak yang bisa diselamatkan. Hampir semuanya hangus.
Beras yang tadinya berton-ton, kini menjadi tumpukan hitam yang tidak berguna.
Karung-karung goni yang tadinya berisi beras, kini menjadi abu yang terbawa
angin.
"Rugi besar, ya," kata seorang bapak-bapak sambil
menggeleng-gelengkan kepala. "Berapa ya kerugiannya?"
"Katanya puluhan juta," jawab yang lain.
"Stok untuk tiga bulan. Untuk lebaran. Sekarang habis semua."
"Kasihan keluarga Surya."
"Iya. Mudah-mudahan ada yang membantu."
"Tapi siapa ya yang melakukan?"
"Belum tahu. Polisi masih menyelidiki."
"Katanya semalam Suryaputra menuduh anak
Sastrowiryo."
"Hush! Jangan bicara sembarangan. Belum tentu."
"Tapi banyak yang melihat anak itu mondar-mandir di
dekat gudang."
"Banyak? Siapa? Saya tidak lihat."
"Itu kata Suryaputra."
"Hush, jangan ikut-ikutan menuduh. Kasihan anak
itu."
Danang berjalan menuju sekolah dengan tas kain lusuh di
bahu.
Tas itu pemberian ibunya saat ia naik kelas dua, terbuat
dari kain perca yang dijahit tangan dengan susah payah. Warna-warnanya campur
aduk, merah, kuning, biru, hijau, seperti pelangi yang jatuh ke tanah dan
dijahit menjadi tas. Tali tasnya dari anyaman bambu yang sudah mulai rapuh,
beberapa helai sudah putus, diikat ulang dengan tali rafia warna merah.
Biasanya, di pagi hari seperti ini, Danang akan berjalan
bersama anak-anak lain yang tinggal di sekitar rumahnya. Mereka akan berangkat
bersama, berjalan kaki melewati jalan setapak yang berdebu, melewati sawah yang
hijau, melewati jembatan kayu yang berderit. Mereka akan berbagi cerita,
tertawa, kadang bertengkar soal siapa yang lebih cepat lari atau siapa yang
punya jajan paling enak.
Namun pagi itu, mereka justru menepi.
Bukan semua. Beberapa anak masih tersenyum padanya, tetapi
senyum mereka canggung, seperti tidak yakin apakah boleh bersikap ramah,
seperti sedang menunggu izin dari orang tua mereka, seperti sedang menghitung
risiko jika mereka tetap berteman dengan Danang.
Beberapa anak lain menunduk ketika Danang lewat, seolah
tidak melihatnya, padahal matanya menatap ke arah lain dengan sengaja. Mereka
memandang ke arah sawah, ke arah langit, ke arah pohon-pohon, ke mana pun asal
tidak bertemu dengan mata Danang.
Sebagian menatapnya dengan rasa takut yang tidak dimengerti
Danang. Takut pada apa? Pada anak seusia mereka yang bahkan tidak pernah
memukul siapa pun? Pada anak yang badannya kurus dan kecil dan tidak mungkin
melukai siapa pun? Atau takut pada apa yang dikatakan orang dewasa tentang
keluarganya, tentang tuduhan yang belum terbukti, tentang api yang tidak pernah
ia nyalakan?
"Danang, kamu... kamu baik-baik saja?" tanya
seorang anak laki-laki bernama Bondan, yang duduk sebangku dengan Danang.
Suaranya ragu-ragu, matanya tidak berani menatap lurus.
"Baik," jawab Danang singkat. Ia tidak ingin
bicara banyak. Ia tidak ingin menjelaskan. Ia tidak ingin membela diri. Ia
lelah.
"Kamu... kamu nggak bakar gudang, kan?" Bondan
menunduk setelah mengucapkan kata-kata itu, seperti takut dengan pertanyaannya
sendiri.
Danang berhenti berjalan.
Ia menatap Bondan.
Bondan adalah anak yang baik. Bondan tidak pernah
mengejeknya. Bondan tidak pernah menjauhinya. Bondan sering meminjamkan pensil
ketika pensil Danang habis. Bondan sering berbagi jajan ketika Danang tidak
punya uang saku.
Tapi pagi itu, Bondan bertanya dengan nada yang sama
seperti orang dewasa. Nada yang mengatakan bahwa ia sudah mendengar sesuatu,
bahwa ia sudah terpengaruh oleh bisikan-bisikan, bahwa ia mulai meragukan
Danang.
"Tidak," jawab Danang. Suaranya tegas. Matanya
menatap lurus ke mata Bondan. "Aku tidak membakar apa pun."
Bondan mengangguk cepat-cepat. "Baik, baik. Aku
percaya. Aku hanya... hanya tanya."
Tapi Danang bisa melihat di mata Bondan bahwa ia tidak
sepenuhnya percaya.
Bahwa ada keraguan di sana.
Keraguan kecil yang akan tumbuh menjadi jarak.
Jarak yang tidak bisa didekati lagi.
Di depan sumur umum, dua ibu-ibu berhenti menimba saat
melihat Danang lewat.
Mereka tadinya sedang berbicara dengan suara normal, suara
yang biasa mereka gunakan ketika bertukar kabar tentang anak-anak atau tentang
harga cabai yang naik. Tapi ketika Danang mendekat, suara mereka berubah
menjadi bisikan. Bukan bisikan biasa, tetapi bisikan yang sengaja dibuat pelan
agar tidak terdengar, tetapi justru karena pelannya, kata-kata itu terdengar
lebih jelas di telinga Danang.
"Itu anaknya, Bu."
"Iya, saya lihat."
"Kasihan ya ibunya."
"Iya. Ratih itu orangnya baik. Tapi anaknya..."
"Jangan-jangan benar anak itu yang membakar."
"Belum tentu. Tapi keluarganya memang bermasalah dari
dulu."
"Ibunya hamil di luar nikah. Ayahnya pemabuk."
"Anaknya ikut-ikutan."
"Hush, jangan keras-keras. Nanti dia dengar."
"Biarlah. Itu fakta."
Danang mendengar semuanya.
Meski mereka berbisik, kata-kata orang dewasa selalu
terdengar lebih tajam daripada yang mereka kira. Mungkin karena orang dewasa
lupa bahwa anak-anak memiliki pendengaran yang lebih baik daripada yang mereka
duga. Atau mungkin karena mereka tidak peduli. Atau mungkin karena mereka
sengaja ingin didengar, sebagai bentuk hukuman sosial, sebagai bentuk penghakiman
tanpa pengadilan.
Ia menunduk dan terus berjalan.
Langkahnya terasa berat, seperti kakinya terbenam di lumpur
yang dalam, seperti ada beban yang menggantung di setiap langkahnya. Tas
kainnya yang lusuh terasa lebih berat dari biasanya, meski hanya berisi dua
buku tulis dan satu kotak pensil kayu yang sudah pendek-pendek.
Ia ingin berteriak.
Ia ingin berteriak pada mereka bahwa ia tidak bersalah.
Ia ingin berteriak bahwa ia hanya seorang anak kecil yang
tidak tahu apa-apa tentang api dan dendam.
Ia ingin berteriak bahwa ia lelah menjadi sasaran tuduhan
hanya karena keluarganya miskin, karena ayahnya pemabuk, karena ibunya hamil di
luar nikah.
Tapi suaranya tidak keluar.
Hanya diam.
Diam yang berat.
Diam yang menyakitkan.
Diam yang seperti batu di dadanya.
Di halaman sekolah, suasana berbeda.
Biasanya, sebelum bel masuk berbunyi, halaman sekolah
dipenuhi oleh anak-anak yang bermain kejar-kejaran, yang bermain kelereng, yang
bermain lompat tali, yang membeli jajanan di kantin. Suara tawa dan teriakan
memenuhi udara, menciptakan suasana riang yang menjadi ciri khas masa
kanak-kanak.
Tapi pagi itu, ketika Danang masuk ke halaman sekolah,
suasana berubah.
Anak-anak yang tadinya tertawa-tawa, tiba-tiba diam.
Mereka menatap Danang.
Bukan tatapan biasa. Tatapan yang penuh dengan rasa ingin
tahu, dengan kecurigaan, dengan ketakutan yang tidak beralasan.
Beberapa anak berbisik-bisik, menutup mulut dengan tangan,
menunjuk ke arah Danang dengan gerakan yang tidak terlalu sembunyi.
"Itu dia."
"Yang dituduh membakar gudang?"
"Iya. Itu Danang."
"Tapi katanya tidak bersalah."
"Kata siapa? Ayah Surya bilang dia lihat Danang di
dekat gudang."
"Itu belum tentu benar."
"Tapi Surya juga bilang dia lihat."
"Surya kan musuhnya Danang. Mungkin dia bohong."
"Tapi kenapa Surya bohong?"
"Karena Surya tidak suka Danang."
"Tapi gudang ayah Surya terbakar. Surya pasti
sedih."
"Jadi Danang benar yang bakar?"
"Aku tidak tahu. Tapi lebih baik jauhi dia dulu."
Danang berjalan melewati mereka.
Ia tidak menoleh.
Ia tidak berhenti.
Ia hanya berjalan ke arah kelasnya, dengan kepala
tertunduk, dengan tas di bahu, dengan langkah yang terasa berat.
Bima, satu-satunya teman laki-laki Danang selain Kirana,
berlari kecil mendekat. Badannya tambun, tidak seperti Danang yang kurus.
Rambutnya keriting dan tidak pernah rapi, seperti sarang burung. Wajahnya
bulat, pipinya tembem, matanya sipit. Tawanya selalu keras meski tidak ada yang
lucu, dan ia selalu menjadi penghibur di kelas dengan kelakuannya yang konyol.
"Danang! Danang, tunggu!"
Danang berhenti. Ia menoleh. Matanya lelah. Lingkaran hitam
di bawah matanya terlihat jelas, karena semalam ia tidak tidur, hanya berbaring
di tikar, memandang langit-langit, mendengar ibunya menangis di dapur.
"Apa, Bima?"
Bima berdiri di hadapannya, terengah-engah karena berlari.
Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun. "Aku... aku dengar... apa
yang terjadi tadi malam."
Danang tidak menjawab. Ia hanya menatap Bima, menunggu.
Bima menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya ketika gugup
atau tidak enak hati. Matanya bergerak ke sana ke mari, tidak berani menatap
lurus ke Danang. Tangannya memegang ujung bajunya, memilin-milin kain itu
dengan gelisah.
"Aku... aku tahu bukan kau, Danang. Aku tahu kau tidak
mungkin melakukan itu. Aku kenal kau."
"Terima kasih, Bima."
"Tapi... tapi Surya bilang ayahnya lihat kau di dekat
gudang sebelum api menyala. Surya bilang ayahnya lihat dengan mata kepala
sendiri."
Danang menatap lurus ke depan. Di kejauhan, di seberang
halaman, di dekat pohon trembesi, Surya sedang berdiri di depan kelasnya. Ia
dikelilingi oleh beberapa anak yang mendengarkan dengan saksama, mulut mereka
terbuka, mata mereka membulat. Surya berbicara dengan penuh semangat, tangannya
bergerak-gerak, matanya berbinar-binar. Ia sedang bercerita. Tentang apa?
Tentang kebakaran? Tentang tuduhan? Tentang Danang?
"Aku memang lewat sana, Bima. Pulang sekolah kemarin,
aku lewat jalan belakang. Lewat depan gudang. Aku lewat, tidak berhenti, tidak
masuk, tidak melakukan apa-apa."
Bima terdiam.
Ia ingin percaya pada Danang. Ia benar-benar ingin. Danang
adalah temannya. Danang tidak pernah berbohong padanya. Danang selalu
membantunya ketika ia kesusahan dengan pelajaran matematika. Danang tidak
pernah menyakitinya.
Tapi kata-kata orang dewasa terasa lebih berat daripada
kata-kata anak-anak.
Orang dewasa tidak mungkin salah, pikir Bima. Orang dewasa
pasti punya alasan. Orang dewasa tidak akan menuduh tanpa bukti. Mungkin Danang
memang lewat. Mungkin Danang memang tidak sengaja. Atau mungkin... mungkin
Danang berbohong?
Danang membaca keraguan di mata Bima.
Ia tidak marah.
Ia hanya lelah.
Lelah karena harus membela diri di depan temannya sendiri.
Lelah karena harus meyakinkan orang bahwa ia tidak
bersalah.
Lelah karena tuduhan yang tidak berdasar bisa merusak
segalanya.
"Kau percaya padaku, Bima?" tanya Danang.
Suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
Bima mengangguk cepat-cepat. Terlalu cepat. "Ya, ya.
Aku percaya."
Tapi Danang tahu.
Bima tidak sepenuhnya percaya.
Dan mulai hari itu, jarak antara mereka mulai terbentuk.
Jarak yang tidak terlihat, tetapi terasa.
Jarak yang tidak bisa didekati dengan kata-kata.
Jarak yang hanya bisa diisi oleh waktu, atau mungkin tidak
pernah.
Saat jam istirahat, Danang duduk sendiri di bawah pohon
trembesi.
Pohon yang sama. Tempat yang sama. Tempat di mana ia dan
Kirana sering duduk berjam-jam, bercerita, tertawa, bertengkar, berdamai.
Tapi sore itu, tempat itu terasa sepi.
Sepi tanpa Kirana. Kirana sedang membantu guru membereskan
buku di perpustakaan. Kirana memang sering disuruh guru karena ia rajin dan pintar.
Sepi tanpa teman-teman lain yang biasanya duduk di
dekatnya.
Semua orang menjauh.
Bahkan Bondan, yang tadinya masih mau bertanya kabar,
sekarang duduk jauh di seberang halaman, bersama anak-anak lain.
Bahkan Bima, yang tadinya berlari menemuinya, sekarang
duduk di dalam kelas, memandang ke luar jendela, sesekali melirik ke arah
Danang tetapi segera memalingkan muka ketika Danang menoleh.
Danang duduk bersandar di batang pohon trembesi yang besar,
merasakan kasar kulit kayu di punggungnya. Angin sore berhembus pelan,
menerbangkan daun-daun kecil pohon trembesi yang berjatuhan seperti hujan
hijau. Daun-daun itu jatuh di rambutnya, di bahunya, di pangkuannya.
Ia tidak menggambar.
Ia tidak melakukan apa-apa.
Ia hanya duduk.
Memandang kosong ke depan.
Merasakan kesepian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia pernah merasa sendiri di rumahnya, di antara
dinding-dinding kayu yang dingin dan keheningan yang pekat.
Ia pernah merasa sendiri di desanya, di antara
bisikan-bisikan tetangga yang tidak pernah berhenti.
Tapi tidak pernah seperti ini.
Tidak pernah sendirian di tengah keramaian.
Tidak pernah dikucilkan oleh teman-teman sebaya.
Tidak pernah dijauhi oleh orang-orang yang kemarin masih
tersenyum padanya.
Ini adalah jenis kesepian yang baru.
Kesepian yang lebih buruk dari kesepian di rumah.
Kesepian yang membuat ia bertanya-tanya, apa salahnya?
Kesepian yang membuat ia ingin berteriak, "Aku tidak
melakukan apa-apa!"
Tapi tidak ada yang mendengar.
Atau mereka mendengar, tetapi tidak peduli.
Kirana datang ketika bel masuk hampir berbunyi.
Ia berlari dari perpustakaan ke halaman sekolah, melewati
lapangan yang panas, melewati kantin yang mulai sepi, melewati anak-anak yang
mulai berbaris masuk kelas.
Ia duduk di samping Danang, tanpa bertanya, tanpa izin.
Napasnya masih tersengal-sengal karena berlari. Wajahnya merah karena
kepanasan. Keringat mengalir di pelipisnya, menetes di pipinya.
"Maaf, Danang. Aku disuruh Bu Guru merapikan buku.
Banyak banget bukunya. Aku nggak bisa kabur."
Danang tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke
matanya. "Tidak apa, Kirana."
Kirana menatapnya. Matanya yang ceria, yang biasanya
berbinar-binar, kini serius. Ia bisa melihat bahwa Danang tidak baik-baik saja.
Bahwa ada beban di pundak Danang yang tidak terlihat tetapi terasa. Bahwa ada
kesedihan di mata Danang yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Danang," panggilnya pelan.
"Hmm?"
"Jangan dengarkan mereka. Mereka hanya ikut-ikutan.
Mereka tidak tahu apa-apa."
"Aku tahu."
"Mereka hanya takut. Orang-orang suka takut pada hal
yang tidak mereka mengerti."
"Aku tahu."
"Tapi aku di sini, Danang. Aku tidak akan pergi."
Danang menatap Kirana. Matanya berkaca-kaca. Untuk pertama
kalinya hari itu, setelah berjam-jam menahan tangis, setelah berjam-jam
berusaha terlihat kuat, setelah berjam-jam berpura-pura bahwa kata-kata dan
tatapan curiga tidak menyakitinya, air matanya hampir jatuh.
"Makasih, Kirana."
Kirana tersenyum. Senyum yang hangat, yang membuat Danang
merasa bahwa ia tidak sendirian. Senyum yang menjadi rumah baginya di tengah
badai yang sedang menghantam hidupnya.
"Tugas teman, Danang. Itu tugas teman."
Bel masuk berbunyi. Suara lonceng tua yang menggantung di
depan kantor guru, dipukul dengan pentungan kayu oleh penjaga sekolah yang
sudah tua. Suaranya nyaring, menggema di seluruh area sekolah, memanggil
anak-anak untuk masuk kelas.
"Ayo, Danang. Kita masuk. Jangan biarkan mereka
melihat kau lemah."
Danang mengangguk. Ia berdiri, merapikan seragamnya yang
kusut, mengambil tasnya yang tergeletak di tanah.
Mereka berjalan bersama menuju kelas. Bersebelahan. Bahu
hampir bersentuhan.
Danang tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Ia tidak
melihat anak-anak lain yang masih menatapnya dengan curiga. Ia tidak mendengar
bisikan-bisikan yang masih terdengar pelan. Ia hanya fokus pada langkahnya,
pada Kirana di sampingnya, pada satu-satunya orang yang masih percaya padanya.
Di dalam kelas, Surya sudah duduk di bangkunya. Di baris
depan, di dekat jendela, di tempat yang paling strategis. Ketika Danang masuk,
Surya menatapnya dengan senyum sinis. Senyum yang mengatakan bahwa ia menang,
bahwa ia berhasil, bahwa Danang akan menderita.
Danang tidak membalas tatapan itu.
Ia hanya berjalan ke bangkunya di baris paling belakang,
duduk, membuka buku, dan berusaha fokus pada pelajaran yang akan dimulai.
Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berubah.
Sesuatu yang mengeras.
Sesuatu yang menjadi dingin.
Sesuatu yang membuat ia tidak lagi percaya pada kebaikan
manusia.
Ia belajar bahwa kebenaran tidak selalu cukup kuat melawan
ketakutan banyak orang.
Kebenaran bisa sekokoh apa pun, tetapi jika seratus orang
mengatakan sebaliknya, kebenaran itu akan terlihat seperti kebohongan.
Jika seribu orang menuduh, yang bersalah pun akan terlihat
seperti tidak bersalah.
Dan di usia yang masih sangat muda, di usia di mana anak-anak
seharusnya belajar tentang matematika dan membaca dan menulis, Danang belajar
pelajaran yang paling pahit tentang dunia.
Dunia tidak peduli pada kebenaran.
Dunia peduli pada apa yang paling mudah dipercaya.
Dunia peduli pada siapa yang paling keras berteriak.
Dunia peduli pada siapa yang paling kaya, paling berkuasa,
paling berpengaruh.
Dan ia, Danang, anak miskin dari keluarga bermasalah, tidak
punya semua itu.
Yang ia punya hanyalah kebenaran.
Dan ternyata, kebenaran tidak cukup.
Sepulang sekolah, Danang tidak langsung pulang.
Ia pergi ke sungai.
Ke pohon waru.
Ke tempat di mana ia merasa aman.
Ke tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa
harus menjelaskan apa pun.
Kirana ikut dengannya. Mereka berjalan bersebelahan, tidak
bicara, hanya berjalan. Melewati sawah yang hijau, melewati jembatan kayu yang
berderit, melewati kebun singkong yang daunnya lebat.
Sesampainya di sungai, Danang duduk di akar pohon waru.
Akar yang sama. Tempat yang sama. Pemandangan yang sama.
Tapi semuanya terasa berbeda.
Sungai masih mengalir seperti biasa.
Air masih tenang seperti biasa.
Pohon waru masih rindang seperti biasa.
Tapi Danang merasa berbeda.
Ia merasa lebih tua.
Lebih dewasa.
Lebih lelah.
Ia memandang sungai yang mengalir perlahan di depannya. Air
yang keruh, coklat kehitaman, dengan daun-daun kering yang mengapung di
permukaan. Ikan-ikan kecil kadang melompat, menciptakan riak-riak kecil yang
segera hilang.
"Kirana," panggilnya.
"Ya?"
"Apa kau tidak takut?"
"Takut apa?"
"Takut berteman denganku. Semua orang menjauh. Semua
orang menganggapku pembakar. Kalau kau tetap berteman denganku, mereka mungkin
akan menjauhi kau juga."
Kirana tidak menjawab segera.
Ia duduk di samping Danang. Bahu mereka bersentuhan. Angin
sore berhembus, menerbangkan rambut Kirana yang panjang, beberapa helai
mengenai pipi Danang.
"Aku tidak takut, Danang," kata Kirana akhirnya.
Suaranya tegas, tidak ada keraguan. "Karena aku tahu kau tidak bersalah.
Dan aku tidak butuh orang-orang yang tidak mau mendengar kebenaran."
"Tapi kau bisa ketinggalan pelajaran. Kau bisa
kehilangan teman-teman lain."
Kirana tersenyum. "Teman-teman yang mau pergi hanya
karena desas-desus, mereka bukan teman sejati, Danang. Aku lebih baik punya
satu teman sejati daripada seratus teman palsu."
Danang menatap Kirana.
Matanya berkaca-kaca.
Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Karena tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan
apa yang ia rasakan saat itu.
Rasa syukur.
Rasa haru.
Rasa tidak percaya bahwa masih ada orang yang mau bertahan
padanya.
Kirana meraih tangan Danang. Tangannya kecil dan hangat.
Genggamannya lembut tetapi kuat. "Kita akan melewati ini bersama, Danang.
Aku janji."
Danang mengangguk.
Ia menggenggam balik tangan Kirana.
Tidak erat.
Tidak longgar.
Cukup.
Cukup untuk membuat ia merasa bahwa ia tidak sendirian.
Cukup untuk membuat ia merasa bahwa masih ada harapan.
Cukup untuk membuat ia tersenyum di tengah badai yang
sedang menghantam hidupnya.
Malam itu, Danang berbaring di tikarnya, memandang
langit-langit yang retak, mendengar suara ayahnya yang mendengkur di kamar
sebelah dan suara ibunya yang masih bergerak di dapur.
Ia memegang sesuatu di sakunya.
Bunga kering.
Bunga kuning pemberian Kirana.
Bunga yang sudah hampir hancur, yang kelopaknya sudah
rontok tinggal dua, yang batangnya sudah patah.
Tapi ia masih menyimpannya.
Ia masih menyimpannya sebagai pengingat.
Pengingat bahwa ada seseorang yang percaya padanya.
Pengingat bahwa ia tidak sendirian.
Pengingat bahwa di tengah dunia yang kejam, masih ada
kebaikan.
Ia mencium bunga itu.
Baunya sudah tidak ada.
Tapi di dalam hatinya, bunga itu masih harum.
Kirana masih harum.
"Ibu," panggilnya pelan.
Ratih yang sedang membereskan dapur, mendengar panggilan
itu. Ia berjalan ke kamar Danang, duduk di tepi tikar. Wajahnya lelah, matanya
sayu, rambutnya kusut. Tapi ia tersenyum melihat Danang.
"Apa, Nang?"
"Mak, besok aku mau ke sungai lagi sama Kirana."
Ratih mengangguk. "Baik, Nang. Tapi hati-hati. Jangan
ke sungai kalau hujan. Airnya bisa naik."
"Iya, Mak."
Ratih menatap anaknya. Ia bisa melihat bahwa Danang sedang
memikirkan sesuatu. Bahwa ada beban di pundak anaknya yang terlalu berat untuk
anak seusianya.
"Nang," panggilnya.
"Ya, Mak?"
"Mak tahu kau tidak bersalah. Mak tahu kau tidak
mungkin melakukan itu. Jangan dengarkan kata-kata orang. Mereka hanya
ikut-ikutan. Mereka tidak tahu apa-apa."
Danang mengangguk. Matanya basah. "Aku tahu,
Mak."
"Mak bangga punya anak sebaik kau, Nang."
Danang tersenyum. Senyum yang tulus, yang jarang muncul,
yang hanya muncul ketika ia merasa aman.
"Mak, aku sayang Mak."
Ratih menangis.
Ia memeluk Danang.
Pelukan yang hangat.
Pelukan yang membuat Danang merasa bahwa rumahnya mungkin
dingin, mungkin penuh rahasia, mungkin tidak sempurna, tetapi masih ada cinta
di sana.
Cinta dari ibunya.
Cinta yang tidak akan pernah pergi.
Cinta yang akan selalu ada, tidak peduli apa yang terjadi.
"Mak juga sayang Danang," bisik Ratih di
sela-sela isaknya. "Mak sayang Danang lebih dari apa pun di dunia
ini."
Malam itu, Danang tidur dengan damai.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia tidak
bermimpi buruk.
Ia bermimpi tentang sungai.
Tentang pohon waru.
Tentang seorang anak perempuan dengan bunga di tangan.
Tentang Kirana.
Bab 10
Kirana
Berdiri di Tengah Kerumunan
Saat jam istirahat tiba, Surya dengan sengaja berdiri di tengah
halaman sekolah.
Ia berdiri di atas sebuah bangku kayu yang biasa digunakan
guru untuk memonitor anak-anak saat istirahat, bangku yang terbuat dari papan
kayu jati tebal dengan kaki-kaki besi yang kokoh. Dari ketinggian itu, ia bisa
melihat seluruh halaman sekolah, dari kantin di ujung timur sampai pohon
trembesi di ujung barat, dari lapangan voli yang berdebu sampai taman kecil
yang ditumbuhi rumput liar.
Dari ketinggian itu, suaranya terdengar lebih keras, lebih
berwibawa, lebih berkuasa. Seperti seorang jenderal yang sedang berpidato di
depan pasukannya. Seperti seorang raja yang sedang menghakimi rakyatnya.
Seperti seorang hakim yang sedang menjatuhkan vonis tanpa pengadilan.
Ia menatap Danang yang duduk sendiri di bawah pohon
trembesi. Danang tidak makan. Ia hanya duduk, memegang buku gambar, tetapi
tidak menggambar apa-apa. Matanya kosong, menatap ke arah lapangan tetapi tidak
melihat apa pun. Pikirannya jauh, mungkin di rumah, mungkin di sungai, mungkin
bersama Kirana yang sedang membeli jajanan di kantin.
"Anak-anak!" teriak Surya, suaranya lantang,
menggema di halaman sekolah yang sunyi. Semua anak yang sedang bermain, yang
sedang makan, yang sedang berbicara, berhenti melakukan apa pun. Mereka menoleh
ke arah Surya, penasaran, ingin tahu apa yang akan dikatakan anak saudagar kaya
itu. "Dengar! Aku punya pengumuman penting!"
Anak-anak mulai berkerumun di sekitar bangku tempat Surya
berdiri. Ada yang penasaran, ada yang takut, ada yang hanya ikut-ikutan karena
tidak mau ketinggalan informasi. Beberapa anak perempuan berbisik-bisik,
menebak-nebak apa yang akan Surya katakan. Beberapa anak laki-laki
mendorong-dorong untuk mendapatkan posisi terdepan.
Surya menghela napas, menarik udara sebanyak-banyaknya,
seperti seorang aktor yang akan memulai monolog penting di atas panggung.
Dadanya mengembang, bahunya tegak, dagunya terangkat.
"Jangan dekat-dekat Danang!" katanya keras.
Suaranya menggema di halaman sekolah yang sunyi, memantul dari dinding-dinding
kelas, terdengar sampai ke kantor guru di lantai dua. "Dia anak pembakar
gudang! Ayahku bilang dia yang membakar gudang beras kami! Jangan dekat-dekat
dia, nanti rumah kalian ikut terbakar!"
Beberapa anak tertawa gugup. Tawa yang tidak tulus, tawa
karena tidak tahu harus bereaksi apa, tawa yang seperti permen pahit di mulut.
Beberapa anak lain hanya diam, menunduk, berpura-pura tidak mendengar, berusaha
menghilang di antara kerumunan. Beberapa anak lain menatap Danang dengan
campuran rasa ingin tahu dan ketakutan, seperti sedang melihat binatang buas yang
baru saja lepas dari kurungan.
"Lihat mukanya!" lanjut Surya, menunjuk ke arah
Danang dengan jari telunjuknya yang gemuk. "Dia tidak pernah bicara! Dia
suka diam-diam! Siapa tahu dia sedang merencanakan sesuatu! Siapa tahu dia
sedang menyusun rencana jahat! Ayahku bilang, orang yang suka diam itu
berbahaya! Karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam
pikirannya!"
"Tapi Surya, tidak ada bukti," kata seorang anak
laki-laki dari kerumunan, suaranya ragu-ragu, hampir seperti bisikan. Itu
adalah Bondan, anak yang duduk sebangku dengan Danang, yang tadi pagi masih
bertanya kabar. Wajahnya pucat, matanya tidak berani menatap Surya.
Surya menatap Bondan dengan tajam. Matanya menyipit,
bibirnya mengerucut. "Bukti? Ayahku melihatnya! Itu bukti! Kau pikir ayahku
berbohong?"
Bondan langsung menunduk, tidak berani menjawab. Ia mundur
selangkah, dua langkah, menghilang di balik kerumunan.
"Kalian semua harus hati-hati!" Surya terus
berteriak, semakin bersemangat, semakin percaya diri. Ia melihat bahwa
kata-katanya didengar, bahwa anak-anak mulai takut, bahwa ia berhasil
menciptakan atmosfer yang ia inginkan. "Keluarga Danang itu keluarga
bermasalah! Ibunya hamil di luar nikah! Ayahnya pemabuk! Danang anak haram!
Tidak punya ayah kandung! Siapa tahu dia ikut-ikutan kelakuan orang
tuanya!"
Kata "anak haram" terdengar jelas di telinga
semua orang.
Kata itu berat.
Kata itu menyakitkan.
Kata itu seperti batu yang dilempar ke kaca jendela,
memecahkan sesuatu yang rapuh.
Danang menunduk.
Bukan karena takut pada Surya.
Bukan karena takut pada ancamannya.
Bukan karena takut pada kata-kata kasar yang keluar dari
mulut anak saudagar kaya itu.
Tetapi karena lelah.
Lelah menjadi pusat perhatian.
Lelah menjadi topik pembicaraan.
Lelah menjadi bahan tertawaan.
Lelah menjadi tersangka tanpa melakukan kejahatan apa pun.
Lelah hidup di dunia di mana kebenaran tidak cukup untuk
membela diri.
Ia tidak ingin menangis. Ia sudah berjanji pada dirinya
sendiri bahwa ia tidak akan menangis di depan orang-orang ini. Ia tidak akan
memberi mereka kepuasan melihat air matanya. Ia tidak akan membiarkan mereka
melihat bahwa kata-kata mereka menyakitinya.
Tapi matanya terasa panas.
Tenggorokannya terasa sesak.
Dadanya terasa seperti ditekan batu besar.
Ia menggigit bibirnya, menggigitnya keras-keras sampai ia
merasakan rasa logam di lidahnya, rasa darah. Ia menggigitnya agar rasa sakit
di bibir mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit di hati.
Tangan kecilnya yang kurus mengepal di pangkuannya,
kuku-kukunya menusuk telapak tangannya, meninggalkan bekas setengah bulan yang
akan ia lihat nanti malam ketika ia sendirian di kamar.
"Lihat! Dia diam! Tidak bisa membela diri!" Surya
tertawa. Tawanya keras, sinis, penuh kemenangan. "Itu artinya dia mengaku!
Dia tahu dia bersalah! Itu artinya benar semua yang kukatakan!"
Anak-anak mulai berbisik lebih keras.
"Jadi benar?"
"Kasihan ya."
"Tapi tidak ada bukti."
"Katanya ayah Surya melihat."
"Ayah Surya kan orang kaya. Masa berbohong?"
"Tapi Danang teman kita."
"Dulu. Sekarang? Siapa mau berteman dengan anak haram?"
"Hush, jangan keras-keras. Nanti dia dengar."
"Biarlah. Itu fakta."
Danang mendengar semuanya.
Setiap kata.
Setiap bisikan.
Setiap desahan.
Setiap tatapan curiga.
Ia ingin lari. Lari sejauh-jauhnya. Lari ke sungai. Lari ke
pohon waru. Lari ke tempat di mana tidak ada yang mengenalnya. Lari ke tempat
di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus menjelaskan apa pun.
Tapi kakinya terasa berat. Terpaku di tanah. Tidak bisa
bergerak. Seolah ada akar yang tumbuh dari telapak kakinya, mencengkeram tanah,
menahannya di tempat yang paling menyakitkan.
Tiba-tiba, suara lain terdengar.
Suara yang tidak asing bagi telinga Danang.
Suara yang selalu membuatnya merasa aman.
Suara yang selalu menjadi rumah baginya di tengah badai.
"Yang terbakar itu gudang, Surya! Bukan hati
kalian!"
Semua menoleh.
Kirana berdiri di belakang Surya, tepat di belakang bangku
kayu tempat Surya berdiri. Wajahnya merah padam, bukan karena malu, tetapi
karena marah. Marah yang membara, marah yang tidak bisa lagi ia pendam, marah
yang keluar seperti api dari gunung berapi yang meletus.
Pipinya yang biasanya putih bersih, kini merah seperti
cabai. Matanya yang biasanya ceria dan berbinar-binar, kini menyala seperti
bara api. Bibir bawahnya yang biasanya tersenyum ramah, kini gemetar karena
menahan amarah yang sangat besar. Tangannya mengepal di sisi tubuh, memegang
erat buku tulis yang dibawanya, buku yang hampir robek karena genggamannya yang
terlalu kuat.
"Kau tidak punya hak, Surya!" lanjut Kirana,
suaranya keras, tegas, tidak gentar. Ia berjalan mendekati Surya, berdiri tepat
di depannya, meskipun Surya masih di atas bangku dan ia di bawah. Dari
posisinya yang lebih rendah, ia tetap terlihat lebih tinggi, lebih besar, lebih
berani. "Kau tidak punya hak untuk menghakimi Danang! Kau tidak punya hak
untuk menyebarkan kebohongan! Kau tidak punya hak untuk menyebutnya anak
haram!"
Surya mendengus. Ia tidak terbiasa dilawan, apalagi oleh
seorang perempuan. Wajahnya yang tadinya penuh kemenangan, kini berubah
sedikit, ada keraguan di matanya, tetapi ia berusaha menutupinya dengan senyum
sinis yang sudah menjadi senjata utamanya.
"Kenapa, Kirana? Kau mau bela dia terus?" suara
Surya masih terdengar percaya diri, tetapi tidak sekuat tadi. Ada sedikit
getaran di ujung kata-katanya, getaran yang menunjukkan bahwa ia mulai tidak
nyaman.
"Karena aku tahu dia tidak seperti yang kau bilang,
Surya!" Kirana menatap tajam. Tatapan yang tidak lazim untuk anak
perempuan seusianya. Tatapan yang membuat Surya, yang biasanya percaya diri,
yang biasanya tidak pernah takut pada siapa pun, merasa sedikit tidak nyaman.
Tatapan yang mengatakan bahwa ia tidak akan mundur, bahwa ia tidak akan
menyerah, bahwa ia akan membela Danang sampai titik darah penghabisan.
Surya tersenyum sinis. Senyum yang ia pelajari dari ayahnya,
senyum yang digunakan untuk merendahkan orang lain tanpa harus mengucapkan
kata-kata kasar. Senyum yang mengatakan "kau tidak berharga" tanpa
harus mengucapkannya. Senyum yang membuat orang yang menerimanya merasa kecil,
merasa tidak berarti, merasa bahwa mereka tidak pantas.
"Karena kau suka dia, ya, Kirana?"
Halaman mendadak sunyi.
Seketika.
Seperti seseorang menekan tombol pause di dunia.
Seperti waktu berhenti berdetak.
Seperti alam semesta berhenti bernapas.
Tidak ada suara. Tidak ada bisikan. Tidak ada tawa. Bahkan
angin seolah berhenti berhembus. Daun-daun pohon trembesi yang tadinya
bergerak-gerak, kini diam. Burung-burung yang tadinya berkicau, kini terdiam.
Jangkrik-jangkrik yang tadinya bersahutan, kini sunyi.
Semua mata tertuju pada Kirana.
Ratusan mata.
Mata anak-anak yang penasaran.
Mata anak-anak yang ingin tahu apakah Kirana akan mengaku
atau membantah.
Mata anak-anak yang sudah mulai bisa menebak-nebak, sudah
mulai bisa membaca situasi, sudah mulai bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang
lebih dalam dari sekadar pertengkaran biasa.
Kirana membeku sesaat.
Wajahnya yang tadinya merah karena marah, kini semakin
memerah, tetapi dengan warna yang berbeda. Bukan merah karena marah. Merah
karena malu. Merah karena rahasia yang terbongkar. Merah karena perasaan yang
selama ini ia pendam, yang bahkan mungkin ia sendiri tidak menyadarinya,
tiba-tiba diucapkan oleh orang lain di depan umum.
Mulutnya terbuka, hendak menjawab, tetapi tidak ada suara
yang keluar. Lidahnya terasa kaku, seperti membatu. Pikirannya kosong, tidak
bisa merangkai kata-kata. Jantungnya berdebar kencang, begitu kencang hingga ia
bisa mendengar detaknya di telinganya.
Tetapi matanya tetap berani.
Matanya tidak menunduk.
Matanya tetap menatap Surya dengan tegas.
Matanya tidak mengalihkan pandangan meskipun hatinya
berdebar kencang dan pipinya memerah dan tangannya gemetar.
"Aku lebih suka berteman dengan orang jujur,
Surya!" kata Kirana akhirnya, suaranya masih tegas meskipun sedikit
bergetar. "Aku lebih suka berteman dengan Danang yang jujur daripada
dengan orang kaya yang pengecut seperti kau!"
Anak-anak terdiam.
Kata-kata itu terlalu dewasa untuk diucapkan anak seusia
mereka.
"Pengecut."
Kata yang berat.
Kata yang tajam.
Kata yang tidak pernah terpikirkan oleh anak-anak seusia mereka
untuk diucapkan kepada Surya, anak saudagar kaya yang selama ini ditakuti semua
orang.
Tetapi Kirana mengucapkannya dengan begitu alami, begitu
yakin, begitu tanpa rasa takut. Seperti ia sudah memikirkannya sejak lama.
Seperti ia sudah menyiapkan kata-kata itu di dalam hatinya, menunggu saat yang
tepat untuk mengucapkannya. Seperti ia sudah lelah melihat Surya berbuat
semena-mena tanpa pernah ada yang berani melawannya.
Surya melangkah maju.
Ia turun dari bangku kayu dengan gerakan cepat, hampir jatuh
karena kakinya tersandung, tetapi ia segera menyeimbangkan diri. Wajahnya merah
padam, merah seperti tomat, merah seperti cabai, merah seperti api yang
membakar gudang ayahnya semalam.
Harga dirinya terluka.
Harga diri yang selama ini ia bangun dengan uang ayahnya,
dengan kekayaan keluarganya, dengan rasa takut orang-orang di sekitarnya,
runtuh dalam satu kalimat. Runtuh dalam satu kata: pengecut.
"Apa katamu, Kirana? Kau bilang aku pengecut?"
suara Surya meninggi, hampir seperti jeritan. Tangannya mengepal, kuku-kukunya
menusuk telapak tangan. Matanya menyala, tidak lagi sinis, tetapi marah. Marah
yang tidak bisa lagi ia kendalikan.
Kirana tidak mundur.
Ia tetap berdiri di tempatnya, meskipun Surya sudah sangat
dekat, hanya satu lengan jaraknya. Ia bisa merasakan napas Surya yang panas di
wajahnya, bau bawang dari makan siangnya. Ia bisa melihat urat-urat di leher
Surya yang menegang, denyut nadi yang berdetak kencang.
"Ya, pengecut!" ulang Kirana, lebih keras, lebih
tegas. "Kau hanya berani menghina Danang ketika ia sendirian! Kau hanya
berani menuduhnya ketika ia tidak bisa membela diri! Kau hanya berani karena
kau tahu ayahmu kaya dan tidak ada yang berani melawanmu!"
"Kau—!"
Belum sempat Surya menyelesaikan kata-katanya, belum sempat
ia melayangkan tangan yang sudah mengepal, Danang sudah berdiri di samping
Kirana.
Dari bawah pohon trembesi, dari jarak puluhan meter, ia
berlari. Ia berlari sekencang-kencangnya, melewati anak-anak yang terkejut,
melewati genangan air yang memercik ke mana-mana, melewati rumput-rumput yang
terinjak-injak.
Dalam hitungan detik, ia sudah berada di samping Kirana.
Dadanya naik turun, napasnya tersengal-sengal, matanya menyala. Ia berdiri di
antara Surya dan Kirana, melindungi Kirana dari Surya, meskipun tubuhnya lebih
kecil, lebih kurus, lebih lemah.
"Jangan sentuh dia, Surya," kata Danang. Suaranya
dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari air sungai di pagi hari. Lebih dingin
dari angin malam di musim hujan.
Surya menghentikan langkahnya.
Ia menatap Danang.
Mereka berhadapan. Hanya beberapa sentimeter jaraknya.
Surya lebih gemuk, lebih tinggi, lebih berisi. Danang kurus, kecil, rapuh.
Tetapi matanya berbeda. Matanya dingin. Matanya gelap. Matanya membuat Surya,
yang tadinya penuh amarah, merasa ada yang mengganjal di dadanya.
"Kau selalu melindunginya, Danang," kata Surya,
suaranya masih marah tetapi mulai menurun. "Tapi kau tidak bisa
melindunginya selamanya."
"Tidak perlu selamanya," jawab Danang. "Hari
ini cukup."
Mereka saling menatap.
Anak-anak di sekitarnya diam. Tidak ada yang berani
bersuara. Tidak ada yang berani bergerak. Mereka hanya menonton, seperti
menonton pertandingan tinju yang tidak pernah mereka duga akan terjadi.
"Awas kau, Danang," kata Surya akhirnya. Suaranya
tidak lagi marah, tetapi dingin. Dingin yang berbeda dengan dinginnya Danang.
Dingin yang penuh dengan rencana. Dingin yang mengatakan bahwa ini belum
selesai. "Ini belum selesai."
"Aku tahu," jawab Danang.
Surya pergi sambil menendang batu kecil di tanah. Batu itu
melambung dan jatuh di dekat kaki Danang. Sebuah pesan kecil. Sebuah
peringatan. Sebuah janji bahwa suatu hari nanti, ia akan kembali, dan ketika
itu terjadi, Danang harus siap.
Anak-anak mulai bubar. Perlahan, satu per satu, mereka
kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Tawa dan suara mulai terdengar lagi,
tetapi tidak seperti biasa. Ada kekakuan di udara, ada kecanggungan, ada
sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung.
Kirana menoleh ke Danang. Matanya yang tadi berani, yang
tadi menyala, kini mulai basah. Lesung pipitnya tidak terlihat. Senyumnya
hilang. Yang tersisa hanyalah seorang anak perempuan yang baru saja melakukan
sesuatu yang sangat berani, dan sekarang mulai merasakan getirnya.
"Kau tak apa, Danang?" tanyanya, suaranya sedikit
bergetar.
Danang menatapnya.
Matanya lembut. Sangat berbeda dengan tatapannya pada Surya
tadi. Tatapan yang hanya ia simpan untuk Kirana. Tatapan yang mengatakan bahwa
ia bersyukur, bahwa ia berterima kasih, bahwa ia tidak akan pernah bisa
membalas kebaikan Kirana.
"Aku baik-baik saja, Kirana," jawabnya. "Kau
yang... kau tidak perlu melakukan itu."
Kirana menggeleng. "Aku harus, Danang. Aku tidak bisa
diam melihat Surya berbuat semena-mena."
"Tapi kau bisa kena masalah. Keluarga Surya punya
pengaruh."
"Aku tidak takut, Danang."
"Kenapa?"
Kirana tersenyum. Senyum yang lelah, tetapi tulus. Senyum
yang membuat Danang lupa pada semua masalah yang sedang menghantamnya.
"Karena aku tidak suka ketidakadilan, Danang. Dan karena kau
temanku."
Untuk pertama kalinya hari itu, Danang tersenyum.
Bukan senyum pahit.
Bukan senyum getir.
Bukan senyum yang dipaksakan.
Tapi senyum tulus.
Senyum yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak sendirian.
"Terima kasih, Kirana."
"Tugas teman, Danang."
Bel masuk berbunyi. Anak-anak mulai berbaris masuk ke kelas
masing-masing. Suara lonceng tua yang dipukul dengan pentungan kayu itu
terdengar sayup-sayup, seperti panggilan dari dunia yang berbeda.
Danang dan Kirana berjalan bersama menuju kelas.
Bersebelahan. Bahu hampir bersentuhan.
Di dalam hati Danang, ada sesuatu yang tumbuh.
Sesuatu yang lebih besar dari rasa syukur.
Sesuatu yang lebih besar dari rasa terima kasih.
Sesuatu yang lebih besar dari persahabatan.
Ia tidak tahu apa namanya.
Ia terlalu muda untuk tahu.
Tapi ia merasakannya.
Ia merasakannya setiap kali Kirana di dekatnya.
Setiap kali Kirana tersenyum padanya.
Setiap kali Kirana menggenggam tangannya.
Setiap kali Kirana mengatakan "aku di sini".
Dan meskipun seluruh dunia menjauh, meskipun semua orang
menuduhnya, meskipun ayahnya bermasalah, meskipun ibunya menangis di dapur,
meskipun rumahnya dingin dan sunyi, Danang merasa bahwa ia memiliki sesuatu
yang berharga.
Sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh uang Surya.
Sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh api.
Sesuatu yang akan bertahan selamanya.
Kirana.
Bab 11
Malam
yang Membuka Luka Lama
Malam itu hujan turun lagi.
Bukan hujan deras seperti malam kebakaran. Bukan hujan
gerimis seperti sore di pondok sawah. Hujan yang turun malam itu adalah hujan
yang pelan, yang sayu, yang seperti sedang menangis tanpa suara. Air jatuh dari
langit dengan lembut, seperti tetesan air mata yang tidak ingin mengganggu
siapa pun dengan kesedihannya.
Butir-butir hujan itu kecil dan jarang, tidak seperti hujan
biasanya yang deras dan mengguyur. Mereka jatuh satu per satu, dengan interval
yang teratur, seperti detak jantung yang lambat, seperti irama lagu sedih yang
dimainkan dengan tempo yang sangat pelan. Di atap rumbia, suara hujan terdengar
seperti bisikan, seperti desahan, seperti suara orang yang sedang mengeluh
dalam tidurnya.
Angin malam berhembus pelan, tidak kencang, tidak menderu,
hanya berhembus cukup untuk membuat dedaunan bergerak sedikit dan membawa
dingin yang menusuk hingga ke tulang. Daun-daun kelapa di belakang rumah
bergoyang-goyang pelan, seperti sedang mengangguk-angguk, seperti sedang setuju
dengan sesuatu yang tidak terdengar oleh telinga manusia.
Danang duduk di depan kamarnya, di ambang pintu yang
memisahkan kamar tidurnya yang sempit dengan ruang tengah yang lebih sempit.
Lampu minyak di ruang tengah hampir padam, sumbunya sudah pendek, minyaknya
hampir habis, nyala apinya kecil dan berkedip-kedip seperti akan mati kapan
saja. Bayangan-bayangan di dinding kayu bergerak-gerak pelan, mengikuti gerakan
api yang tidak menentu.
Ia tidak bisa tidur. Matanya terbuka lebar di kegelapan,
menatap langit-langit yang retak, mendengar suara hujan di atap, mendengar
suara jangkrik dari kejauhan, mendengar suara detak jantungnya sendiri yang
berdebar tidak karuan.
Pikirannya melayang ke mana-mana. Ke kebakaran. Ke tuduhan.
Ke Surya. Ke tatapan curiga tetangga. Ke bisikan-bisikan yang tidak pernah
berhenti. Ke Kirana yang berdiri di tengah kerumunan, membelanya, meskipun
semua orang menjauh.
Tiba-tiba, dari dapur, ia mendengar suara isakan.
Isakan yang ditahan-tahan.
Isakan yang seperti orang yang berusaha tidak mengganggu
siapa pun dengan kesedihannya.
Isakan yang seperti air yang menetes dari keran yang tidak
pernah benar-benar bisa ditutup rapat.
Danang mengangkat kepala. Telinganya menajam. Ia mengenali
suara itu. Suara yang sudah ia dengar berkali-kali, tetapi tidak pernah sedekat
ini, tidak pernah sejelas ini, tidak pernah semenyayat hati ini.
Ibunya menangis.
Bukan tangis keras seperti malam pertengkaran dengan
ayahnya. Bukan tangis histeris seperti ketika piring pecah di lantai. Bukan
tangis marah seperti ketika ia membela Danang di depan kerumunan.
Tangis yang pelan.
Tangis yang lelah.
Tangis yang seperti orang yang sudah tidak punya energi
lagi untuk menangis keras-keras, tetapi air matanya tetap mengalir karena
kesedihan terlalu besar untuk ditahan.
Danang berdiri perlahan. Kakinya yang telanjang menyentuh
lantai kayu yang dingin. Lantai yang terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin
karena hujan, mungkin karena suhu tubuhnya yang naik karena jantungnya berdebar
kencang.
Ia berjalan pelan mendekati dapur. Setiap langkahnya ia
lakukan dengan hati-hati, tidak ingin menimbulkan suara, tidak ingin
mengganggu, tidak ingin ketahuan. Kakinya yang kecil dan kurus melangkah di
antara papan-papan lantai yang berderit, berusaha menghindari bagian-bagian
yang paling berisik.
Pintu dapur terbuka sedikit. Dari celah itu, ia bisa
melihat ibunya.
Ratih duduk sendirian di depan tungku yang sudah padam.
Tungku tanah liat yang hitam karena jelaga, yang sudah menemani ibunya memasak
sejak Danang masih bayi, yang kakinya sudah retak dan diikat dengan kawat. Di
atas tungku, kuali tanah liat masih tergeletak, sisa-sisa sayur nangka yang
tadi malam masih menempel di dindingnya.
Wajah Ratih tertutup kedua tangan. Tangannya yang kasar
karena pekerjaan rumah tangga, yang kapalan karena mencuci dan memasak dan
membersihkan, yang kulitnya mengelupas di beberapa tempat karena terlalu sering
terkena air dan sabun, kini menutupi wajahnya seolah-olah ia sedang berusaha
menyembunyikan diri dari dunia.
Bahunya naik turun. Naik turun. Naik turun. Setiap kali ia
menarik napas, bahunya terangkat sedikit. Setiap kali ia menghela napas,
bahunya turun. Irama yang teratur, seperti ombak di pantai, seperti gelombang
di sungai, tetapi tidak menenangkan, justru menyayat hati.
Sesekali terdengar suara napas yang ditarik dalam-dalam,
seperti orang yang sedang belajar bernapas lagi setelah hampir tenggelam.
Seperti orang yang baru saja sadar bahwa ia masih hidup, meskipun hidup terasa
seperti beban yang terlalu berat untuk dipikul.
Danang berdiri di balik pintu, tidak bergerak, tidak
bersuara. Ia hanya memandang ibunya, memandang perempuan yang setiap pagi
bangun lebih pagi dari siapa pun untuk memasak nasi dan menyiapkan kopi, yang
setiap siang berjalan ke pasar dengan keranjang di kepala untuk membeli sayur
dan lauk, yang setiap malam tidur paling akhir setelah membereskan semua
pekerjaan rumah.
Perempuan yang jarang mengeluh.
Perempuan yang jarang menangis di depan orang lain.
Perempuan yang selalu tersenyum ketika Danang melihatnya,
meskipun matanya sayu dan wajahnya pucat.
Perempuan yang malam ini, sendirian di dapur dengan tungku
yang padam dan lampu minyak yang hampir mati, menangis.
"Ibu," panggil Danang pelan.
Ratih terkejut. Ia mengangkat kepalanya, tangannya
cepat-cepat menghapus air mata dari wajahnya, dari pipinya yang basah, dari
matanya yang merah. Tetapi air mata baru terus mengalir menggantikan yang lama,
seperti air dari mata air yang tidak pernah kering, seperti sungai yang tidak
pernah berhenti mengalir.
"Nang? Kenapa belum tidur?" suara Ratih serak,
basah, seperti orang yang baru saja bangun dari tidur panjang, tetapi Danang
tahu itu bukan karena bangun tidur, itu karena menangis.
Danang tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, melangkah
masuk ke dapur, mendekati ibunya. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai dapur
yang dingin dan sedikit basah karena air yang merembes dari ember di sudut
ruangan.
Ia duduk di samping ibunya, di lantai tanah liat yang
dingin, di samping tungku yang sudah padam. Lantai itu dingin, sangat dingin,
dingin yang menusuk hingga ke tulang, tetapi Danang tidak peduli. Ia sudah
terbiasa dengan dingin. Rumahnya dingin. Hidupnya dingin. Dingin adalah teman
lamanya.
"Ibu kenapa, Mak?" tanya Danang. Suaranya kecil,
lembut, seperti bisikan, seperti suara angin malam yang berhembus di antara
dedaunan.
Ratih diam. Matanya memandang tungku yang sudah tidak
menyala, seperti sedang mencari jawaban di antara abu-abu bekas kayu bakar, di
antara sisa-sisa api yang telah padam, di antara kenangan-kenangan yang tidak
bisa ia bakar.
"Ibu kenapa, Mak?" ulang Danang. Suaranya lebih
kecil kali ini, hampir seperti bisikan, hampir tidak terdengar, tetapi lebih
kuat. Lebih dalam. Lebih menyayat. "Apakah Ibu sedih karena orang-orang
menuduh Danang?"
Ratih menatap anaknya. Matanya yang merah dan basah itu
memandang wajah Danang yang masih polos, yang belum terkontaminasi oleh
kebencian dan kecurigaan yang mulai mengelilinginya, yang masih bersih seperti
kertas putih yang belum ditulisi. Matanya yang masih percaya bahwa dunia ini
baik, bahwa orang-orang pada dasarnya baik, bahwa kebenaran akan selalu menang.
"Bukan, Nang," bisik Ratih, suararnya serak oleh
tangis dan kelelahan, oleh terlalu banyak menangis dalam diam, oleh terlalu
banyak memendam perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan. "Bukan karena
itu."
"Lalu kenapa, Mak?"
Ratih menutup mata. Tangannya yang gemetar memegang ujung
kain sarungnya, memilin-milin kain itu dengan gerakan yang sama persis dengan
kebiasaan Danang ketika gugup, ketika takut, ketika tidak tahu harus berbuat
apa. Gerakan yang diturunkan dari ibu ke anak, tanpa ada yang mengajarkan,
tanpa ada yang menyadari.
"Apakah orang-orang benar, Mak?" tanya Danang
tiba-tiba. Matanya menatap lurus ke mata ibunya, tidak berkedip, tidak
bergerak. "Apakah benar keluarga kita berbeda?"
Kalimat itu membuat Ratih membeku.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu. Tangannya yang
tadinya memilin ujung kain, berhenti bergerak. Napasnya yang tadinya teratur,
berhenti sejenak. Matanya yang tadinya menatap Danang, kini kosong, menembus
dinding dapur, menembus hujan, menembus waktu, menembus kenangan-kenangan yang
selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Apakah benar Danang anak haram, Mak?"
Kata itu.
Haram.
Kata yang sama yang diucapkan Surya di halaman sekolah.
Kata yang sama yang dibisikkan tetangga di belakang
punggungnya.
Kata yang sama yang membuat ia merasa bahwa ia berbeda,
bahwa ia tidak pantas, bahwa ia adalah kesalahan.
Kata yang tidak pernah ia pahami artinya, tetapi ia rasakan
beratnya.
Hening memenuhi dapur kecil itu.
Hanya suara hujan di atap rumbia yang terdengar. Hujan yang
masih turun pelan, tidak reda, tidak berhenti, terus jatuh dengan irama yang
sama, seperti air mata yang tidak pernah kering.
Suara air yang jatuh dari talang, membentuk genangan di
tanah di bawah rumah. Suara tetesan air dari atap yang bocor, jatuh ke
ember-ember yang diletakkan di beberapa sudut rumah. Suara jangkrik yang mulai
bernyanyi meskipun hujan, seolah tidak peduli pada cuaca, seolah tidak peduli
pada kesedihan manusia.
Akhirnya Ratih berkata pelan, suaranya serak oleh tangis
dan kelelahan, oleh terlalu banyak rahasia yang ia pendam, oleh terlalu banyak
kebohongan yang ia ciptakan untuk melindungi anaknya.
"Semua keluarga punya luka masing-masing, Nang."
"Tapi kenapa Ayah takut, Mak? Kenapa Ayah sering
minum? Kenapa Ayah jarang bicara? Kenapa Ayah tidak seperti ayah-ayah
lain?"
Ratih menutup mata.
Ia tidak bisa menjawab.
Bukan karena tidak tahu jawabannya.
Tetapi karena jawabannya terlalu berat untuk diucapkan.
Terlalu berat untuk didengar oleh anak seusia Danang.
Terlalu berat untuk ditanggung oleh bahu kecil yang masih
rapuh.
Tangannya yang memegang ujung kain mulai gemetar. Gemetar
yang semakin lama semakin keras, semakin tidak terkendali, seperti orang yang
sedang demam, seperti orang yang sedang kedinginan, seperti orang yang sedang
ketakutan.
Danang melihat sesuatu di wajah ibunya, sesuatu yang belum
pernah ia lihat sebelumnya.
Kelelahan.
Bukan kelelahan fisik karena bekerja seharian.
Bukan kelelahan karena kurang tidur atau karena sakit.
Kelelahan yang lebih dalam.
Kelelahan jiwa.
Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan
rahasia.
Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama berpura-pura
kuat.
Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama tersenyum
padahal hancur di dalam.
Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama memendam air
mata, dan sekarang air mata itu keluar tanpa bisa ia hentikan.
"Karena kadang, Nang," bisik Ratih, suaranya
hampir tenggelam oleh suara hujan, oleh suara tetesan air dari atap yang bocor,
oleh suara napasnya yang tersengal-sengal, "masa lalu bisa mengejar lebih
lama daripada manusia hidup. Masa lalu tidak pernah benar-benar mati. Masa lalu
selalu ada, menunggu, mengintai, siap menerkam kapan saja."
Danang tidak benar-benar paham. Kata-kata itu terlalu berat
untuk anak seusianya. Terlalu abstrak. Terlalu filosofis. Terlalu dewasa.
Otaknya yang masih kecil tidak bisa memproses makna di balik kata-kata itu.
Tetapi ia mendengar nada di suara ibunya.
Nada ketakutan yang sama yang ia lihat di mata ayahnya di
dermaga tua, ketika Mandor Jalil mengancam.
Nada yang sama yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Nada yang sama yang membuat jantungnya berdebar kencang.
Nada yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang mengancam
keluarganya.
Sesuatu yang besar.
Sesuatu yang gelap.
Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tetapi ia rasakan
kehadirannya.
Seperti bayangan di kegelapan.
Seperti suara langkah di belakang pintu.
Seperti napas di dekat telinga ketika sedang sendirian.
"Ibu," kata Danang, suaranya kecil, tetapi tegas,
"Danang takut."
Ratih membuka matanya. Ia menatap anaknya. Anak laki-laki
satu-satunya yang ia miliki. Anak yang selama ini menjadi alasan mengapa ia
masih bangun setiap pagi. Anak yang membuatnya tersenyum meskipun hatinya hancur.
Anak yang tidak tahu bahwa ia telah menyimpan rahasia selama bertahun-tahun,
rahasia yang akan menghancurkan anak itu jika terungkap.
"Takut apa, Nang?" tanya Ratih, suaranya lembut,
seperti sedang menenangkan bayi yang menangis.
"Takut kehilangan Ibu. Takut kehilangan Bapak. Takut
kehilangan rumah. Takut semuanya hilang."
Ratih menangis lagi.
Ia memeluk Danang.
Pelukan yang erat.
Pelukan yang seperti ingin melindungi Danang dari seluruh
dunia.
Pelukan yang seperti ingin menyembunyikan Danang dari semua
rahasia dan kebohongan dan ketakutan.
Pelukan yang seperti ingin mengatakan bahwa semuanya akan
baik-baik saja, meskipun ia sendiri tidak yakin.
"Tidak, Nang," bisik Ratih di telinga Danang,
suaranya terputus-putus oleh isakan, oleh air mata yang terus mengalir, oleh
dada yang sesak. "Ibu tidak akan pergi. Ibu akan selalu di sini. Ibu akan
menjaga Danang. Ibu akan melindungi Danang. Ibu tidak akan membiarkan siapa pun
menyakiti Danang."
Danang memeluk ibunya.
Tangannya yang kecil melingkar di pinggang Ratih yang
kurus, pinggang yang semakin kurus karena stres, karena kurang makan, karena
terlalu banyak memikirkan beban hidup.
Ia tidak bisa menghentikan air mata ibunya.
Ia tidak bisa mengusir ketakutan ayahnya.
Ia tidak bisa mengubah apa pun yang terjadi.
Ia tidak bisa membuat orang-orang berhenti menuduhnya.
Ia tidak bisa membuat Surya berhenti membencinya.
Ia tidak bisa membuat tetangga berhenti berbisik.
Tapi setidaknya, ia bisa berada di sana.
Setidaknya, ia bisa memeluk ibunya.
Setidaknya, ia bisa menjadi alasan bagi ibunya untuk tetap
tersenyum, meskipun senyum itu pahit.
Dan kadang, berada di sana adalah satu-satunya hal yang
bisa dilakukan seseorang ketika dunia di sekitarnya mulai runtuh.
Ketika tembok-tembok yang selama ini melindunginya mulai retak.
Ketika tanah di bawah kakinya mulai berguncang.
Ketika langit di atas kepalanya mulai gelap.
Ketika semua yang ia kenal sebagai rumah mulai berubah
menjadi debu.
Berada di sana.
Bertahan.
Tidak lari.
Tidak menyerah.
Tidak menutup mata.
Itu sudah cukup.
Itu sudah lebih dari cukup.
Malam itu, Danang tidak kembali ke kamarnya.
Ia tidur di pangkuan ibunya, di lantai dapur yang dingin,
di samping tungku yang sudah padam, di bawah cahaya lampu minyak yang hampir
mati.
Ratih tidak membangunkannya.
Ia hanya duduk diam, memeluk anaknya, membiarkan air
matanya jatuh.
Air mata yang tidak pernah berhenti.
Air mata yang seperti hujan di musim penghujan.
Air mata yang seperti sungai yang tidak pernah kering.
Air mata yang seperti kesedihan yang tidak memiliki akhir.
Di luar, hujan masih turun.
Pelan.
Sayu.
Seperti alam ikut menangis.
Seperti langit ikut bersedih.
Seperti dunia ikut merasakan bahwa malam itu, di sebuah
dapur kecil di tepi Sungai Kapuas Muara, seorang ibu dan anaknya sedang
berpelukan di tengah kegelapan, berusaha bertahan dari badai yang tidak
terlihat tetapi terasa.
Dan di kejauhan, di balik tirai hujan, di balik kegelapan
malam, di balik pohon-pohon kelapa yang bergoyang pelan, seseorang berdiri.
Mandor Jalil.
Ia berdiri di bawah pohon beringin besar di ujung desa,
pohon yang sama tempat ia berdiri malam kebakaran. Tubuhnya yang kurus dan
tinggi seperti bayangan, menyatu dengan kegelapan, tidak terlihat oleh siapa
pun. Hanya puntung rokoknya yang menyala merah di kegelapan, seperti mata setan
yang sedang mengawasi.
Ia memperhatikan rumah itu.
Rumah panggung dengan tiang kayu ulin yang mulai lapuk.
Rumah yang menyimpan banyak diam.
Rumah yang menyimpan banyak rahasia.
Rumah yang menjadi pusat dari semua yang terjadi.
Ia tersenyum.
Senyum tipis di bibirnya yang kering.
Senyum yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tahu sesuatu yang tidak
diketahui orang lain.
Senyum yang mengatakan bahwa ia sabar.
Senyum yang mengatakan bahwa ia bisa menunggu.
Karena waktu, pikir Mandor Jalil, adalah sekutunya.
Dan waktu tidak pernah berpihak pada orang miskin.
Bab 12
Bisikan
dari Orang Tua
Beberapa hari setelah malam di dapur, setelah pelukan
dengan ibunya yang masih terasa hangat di dadanya, setelah air mata yang tak
kunjung kering, Danang sedang duduk di bawah rumah.
Bukan di dalam rumah. Di bawah rumah. Di ruang kosong di
antara tiang-tiang kayu ulin yang menyangga rumah panggungnya. Tempat itu
gelap, lembab, dan dingin. Tanah di bawah rumah lembek dan becek, karena air
hujan yang merembes dari atas. Bau tanah basah bercampur dengan bau kayu lapuk
dan bau sesuatu yang sudah lama membusuk di sudut-sudut gelap.
Tempat itu biasanya tidak pernah dikunjungi siapa pun.
Terlalu gelap. Terlalu lembab. Terlalu banyak laba-laba dan lipan dan makhluk-makhluk
kecil lainnya yang merayap di kegelapan. Ibu Danang selalu melarangnya bermain
di bawah rumah. "Nanti digigit lipan, Nang," kata Ratih setiap kali
melihat Danang mendekati lubang di lantai yang menjadi pintu menuju kolong
rumah.
Tapi sore itu, Danang membutuhkan tempat untuk bersembunyi.
Bukan bersembunyi dari kejaran teman-teman yang bermain kejar-kejaran. Bukan
bersembunyi dari hujan yang tiba-tiba turun. Bukan bersembunyi dari sesuatu
yang terlihat.
Bersembunyi dari dunia.
Bersembunyi dari tatapan curiga.
Bersembunyi dari bisikan-bisikan yang tidak pernah
berhenti.
Bersembunyi dari kenyataan bahwa ia adalah anak haram, anak
pembakar, anak yang harus dijauhi.
Ia duduk di atas sepotong kayu lapuk yang tergeletak di
antara tiang-tiang penyangga. Kayu itu basah, licin, ditumbuhi jamur putih di
beberapa tempat. Tetapi Danang tidak peduli. Pantatnya sudah terbiasa dengan
dingin dan basah. Hidupnya sudah terbiasa dengan ketidaknyamanan.
Matanya menatap celah-celah di lantai kayu di atas
kepalanya. Melalui celah-celah itu, ia bisa melihat kaki ibunya yang
mondar-mandir di dapur, kaki ayahnya yang duduk diam di kursi bambu di ruang
tengah. Dari bawah, suara-suara di atas terdengar sayup-sayup, seperti suara
dari dunia lain, seperti suara orang-orang yang hidup di langit sementara ia
tinggal di neraka.
Ia tidak tahu berapa lama ia sudah duduk di sana. Mungkin
setengah jam. Mungkin satu jam. Mungkin lebih. Waktu terasa aneh di bawah
rumah. Waktu berjalan lambat, seperti molase yang mengalir di musim dingin,
seperti sungai yang tersumbat oleh sampah dan lumpur.
Tiba-tiba, dari kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki
di jalan papan yang menghubungkan rumah-rumah panggung di desa itu. Langkah
kaki yang berat, pelan, diselingi oleh suara tongkat yang mengetuk-ngetuk kayu.
Langkah kaki orang tua. Langkah kaki yang sudah tidak stabil lagi, yang
membutuhkan bantuan untuk tetap tegak.
Dua perempuan tua lewat di jalan papan di depannya. Mereka
berjalan bersamaan, bertongkat, tubuh mereka bungkuk seperti pohon yang akan
tumbang. Wajah mereka penuh kerutan, kerutan yang seperti peta yang mencatat
setiap tahun yang telah mereka lalui, setiap kesedihan yang pernah mereka
rasakan, setiap rahasia yang mereka simpan.
Danang tidak melihat mereka. Posisinya tersembunyi di balik
tumpukan kayu bakar yang menumpuk di bawah rumah, kayu-kayu kering yang
dikumpulkan ibunya dari kebun, yang akan digunakan untuk memasak jika musim
hujan tiba dan kayu bakar basah susah didapat. Dari balik tumpukan kayu itu, ia
bisa melihat kaki-kaki perempuan tua itu, tetapi mereka tidak bisa melihatnya.
"Sudah dengar kabar tentang keluarga Sastrowiryo,
Bu?" suara perempuan pertama. Suaranya parau, seperti suara orang yang
terlalu banyak merokok daun, seperti suara orang yang tenggorokannya sudah terbakar
oleh minuman keras, seperti suara yang keluar dari lubang yang dalam dan gelap.
"Sudah, Bu. Seluruh desa sudah dengar," jawab
perempuan kedua. Suaranya lebih halus, lebih lembut, tetapi tetap tua, tetap
serak, tetap seperti suara dari dunia lain.
"Kasihan anak itu," kata perempuan pertama lagi.
Suaranya parau, seperti suara orang yang terlalu banyak merokok daun tembakau
kering yang dibungkus dengan daun kelapa. Rokok lintingan sendiri yang baunya
menyengat dan membuat mata perih. "Dia bahkan tak tahu siapa dirinya
sebenarnya."
Danang mengangkat kepala.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Dadanya terasa sesak.
Telinganya menajam, seperti telinga kucing yang mendengar
suara tikus di kegelapan.
Ia tahu mereka sedang membicarakannya. Ia bisa
merasakannya. Ia bisa merasakan bahwa namanya disebut, bahwa kata-kata mereka
adalah tentang dirinya, bahwa rahasia-rahasia yang selama ini disembunyikan
orang dewasa darinya akan mulai terungkap.
"Apa maksudmu, Bu?" tanya perempuan kedua lagi.
Suaranya penasaran, seperti suara orang yang sedang mendengar gosip baru,
seperti suara orang yang haus akan informasi, seperti suara orang yang tidak
ingin ketinggalan kabar terbaru.
Perempuan pertama menurunkan suaranya. Tidak terlalu pelan,
tetapi cukup pelan untuk terdengar seperti bisikan. Bisikan yang sengaja dibuat
pelan agar tidak terdengar oleh orang yang lewat, tetapi tidak cukup pelan
untuk tidak terdengar oleh Danang yang duduk hanya beberapa meter di bawah
mereka.
"Sastrowiryo bukan ayah kandung anak itu, Bu."
Danang membeku.
Dunia seakan berhenti.
Udara terasa berat, seperti ada tangan raksasa yang menekan
dadanya, membuatnya sulit bernapas. Suara-suara lain di sekitarnya tiba-tiba
menghilang. Suara jangkrik yang tadinya bersahutan, tiba-tiba diam. Suara angin
yang tadinya berhembus, tiba-tiba berhenti. Suara air sungai yang tadinya
mengalir, tiba-tiba terdengar seperti dari kejauhan, seperti dari dunia yang
berbeda.
Yang tersisa hanya kata-kata itu, berputar-putar di
kepalanya seperti rekaman rusak yang diulang terus, seperti kaset yang kusut
dan tidak bisa berhenti diputar.
Sastrowiryo bukan ayah kandung anak itu.
Ia menahan napas.
Menunggu.
Berharap ia salah dengar.
Mungkin perempuan itu bicara tentang orang lain.
Mungkin ada anak lain di desa ini yang bernasib malang seperti
itu.
Mungkin ada keluarga lain yang menyimpan rahasia seperti
itu.
Mungkin.
"Lho, jadi siapa ayah aslinya, Bu?" suara
perempuan kedua makin penasaran. Nada suaranya meninggi sedikit, seperti orang
yang tidak sabar ingin tahu kelanjutan cerita.
Perempuan pertama mendekatkan mulutnya ke telinga perempuan
kedua. Danang bisa melihat bayangan mereka dari balik tumpukan kayu, dua kepala
yang hampir bersentuhan, berbisik-bisik seperti sedang membicarakan rahasia
negara.
"Ratih hamil sebelum menikah, Bu. Waktu itu desa
gempar. Ramai sekali. Orang-orang bilang dia hamil di luar nikah. Malu-maluin
keluarga. Malu-maluin seluruh desa. Ibunya Ratih, almarhumah, sampai
sakit-sakitan karena malu. Tidak bisa keluar rumah berminggu-minggu."
"Astaga," desis perempuan kedua. "Saya baru
dengar ini, Bu. Selama ini saya kira Ratih menikah dulu baru hamil."
"Tidak, Bu. Tidak. Perutnya sudah besar empat bulan
ketika Sastrowiryo menikahinya. Itu sebabnya pernikahannya sederhana sekali.
Tidak ada resepsi. Tidak ada selamatan. Hanya pergi ke KUA berdua,
pulang-pulang sudah jadi suami istri. Waktu itu banyak yang bilang Sastrowiryo
terpaksa menikahi Ratih. Karena kasihan. Karena tidak ada lelaki lain yang
mau."
"Siapa ayah aslinya, Bu? Siapa yang menghamili
Ratih?"
Perempuan pertama melihat ke kiri dan ke kanan, seperti
sedang memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Matanya yang keriput dan
sayu bergerak cepat, memindai lingkungan sekitar, mencari tanda-tanda bahaya.
"Katanya orang pendatang dari seberang sungai,
Bu," bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar, tetapi bagi Danang yang
menyembunyikan diri di bawah rumah, setiap kata terdengar sejelas bel sekolah
di pagi hari. "Lelaki tampan. Rambut panjang. Kata orang, dia penari di
rombongan ketoprak yang mampir di desa waktu itu. Waktu Ratih masih muda. Masih
cantik. Masih polos. Masih percaya pada kata-kata manis lelaki."
"Penari ketoprak?" suara perempuan kedua
terdengar kaget, tidak percaya. "Ratih berani dekat-dekat dengan penari
ketoprak? Orang tuanya tidak melarang?"
"Dilarang, Bu. Tentu saja dilarang. Tapi anak muda.
Lagi jatuh cinta. Tidak peduli dengan larangan orang tua. Ratih sering kabur
dari rumah malam-malam untuk menonton pertunjukan ketoprak. Katanya dia suka
sekali melihat lelaki itu menari. Matanya tidak bisa lepas dari lelaki itu.
Jatuh cinta pada pandangan pertama, kata orang."
"Lalu?"
"Lalu rombongan ketoprak itu pergi, Bu. Pergi begitu
saja setelah bermalam-malam di desa. Lelaki itu ikut pergi. Tidak pamit. Tidak
meninggalkan pesan. Tidak memberi kabar. Ratih hanya ditinggalkan. Dengan perut
yang mulai berisi. Dengan aib yang tidak bisa disembunyikan. Dengan masa depan
yang hancur."
"Astaga, kasihan sekali Ratih."
"Ya, kasihan. Tapi itu sudah takdirnya, Bu. Sekarang
lihat. Anaknya tumbuh menjadi anak yang aneh. Matanya terlalu dalam untuk anak
seusianya. Suka diam-diam. Suka menyendiri. Siapa tahu dia ikut-ikutan kelakuan
orang tuanya."
"Jadi Danang benar-benar anak haram, Bu?"
"Anak haram atau anak di luar nikah, sama saja, Bu.
Tidak punya ayah kandung. Tidak punya silsilah yang jelas. Tidak tahu darah apa
yang mengalir di tubuhnya. Kasihan, ya. Tapi ya itu sudah takdirnya."
Suara mereka makin menjauh. Langkah kaki mereka berderit di
jalan papan, perlahan menghilang ditelan suara desa yang lain, ditelan suara
ayam berkokok, ditelan suara anak-anak yang bermain di kejauhan.
Namun bagi Danang, kata-kata itu tertinggal.
Menancap.
Tidak hilang.
Seperti duri di daging.
Seperti belati di hati.
Seperti racun di darah.
Sastrowiryo bukan ayah kandung anak itu.
Ratih hamil sebelum menikah.
Penari ketoprak dari seberang sungai.
Anak haram.
Tidak punya ayah kandung.
Tidak tahu darah apa yang mengalir di tubuhnya.
Ia duduk di bawah rumah untuk waktu yang lama.
Tidak tahu berapa lama.
Mungkin beberapa menit.
Mungkin satu jam.
Mungkin setengah hari.
Waktu terasa berhenti.
Seperti jam dinding yang mati.
Seperti sungai yang berhenti mengalir.
Seperti dunia yang berhenti berputar.
Sastrowiryo bukan ayah kandungnya.
Laki-laki yang selama ini ia panggil "Bapak",
yang tinggal serumah dengannya, yang makan di meja yang sama setiap hari, yang
tidur di rumah yang sama setiap malam, yang jarang bicara tetapi selalu ada di
sana, yang sesekali membelikannya jajan ketika pulang dari pasar, yang
memarahinya ketika ia berbuat salah, yang mengajarinya memancing di sungai
ketika ia masih kecil, bukanlah ayah kandungnya.
Bukan darah dagingnya.
Bukan lelaki yang membuat ibunya hamil.
Bukan lelaki yang setengah tanggung jawab atas
keberadaannya di dunia ini.
Lalu siapa?
Siapa lelaki itu?
Penari ketoprak dari seberang sungai?
Lelaki tampan dengan rambut panjang?
Lelaki yang menghamili ibunya lalu pergi tanpa pamit?
Lelaki yang tidak pernah ia lihat, tidak pernah ia kenal,
tidak pernah ia dengar namanya?
Lelaki yang bahkan mungkin tidak tahu bahwa ia memiliki
anak di desa terpencil di tepi Sungai Kapuas Muara?
Lelaki yang mungkin sudah mati, atau sudah punya keluarga
lain, atau sudah lupa bahwa ia pernah singgah di desa ini?
Dan Sastrowiryo?
Mengapa Sastrowiryo mau menikahi Ratih yang sedang hamil?
Karena kasihan?
Karena terpaksa?
Karena tidak ada lelaki lain yang mau?
Karena Ratih membutuhkan seorang suami agar anaknya tidak
lahir tanpa ayah?
Karena Sastrowiryo sendiri mungkin juga memiliki masa lalu
yang kelam sehingga tidak bisa memilih?
Danang tidak tahu.
Ia terlalu muda untuk mengerti kompleksitas hubungan orang
dewasa.
Ia terlalu muda untuk memahami mengapa orang mau menikahi
orang lain bukan karena cinta, tetapi karena kewajiban, karena kasihan, karena
takut akan aib.
Ia terlalu muda untuk mengerti bahwa dunia orang dewasa
penuh dengan kompromi dan kepalsuan dan rahasia.
Yang ia tahu, malam itu, duduk di bawah rumah yang gelap
dan lembab, di antara tiang-tiang kayu ulin yang mulai lapuk, di atas tanah becek
yang dingin, ia merasa seperti kehilangan sesuatu.
Sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai miliknya.
Sesuatu yang selama ini menjadi fondasi identitasnya.
Sesuatu yang selama ini membuatnya merasa bahwa ia adalah
bagian dari sesuatu.
Rasa memiliki.
Rasa bahwa ia adalah anak Sastrowiryo.
Rasa bahwa ia memiliki ayah, meskipun ayah itu jarang
bicara, jarang tersenyum, lebih sering memegang botol daripada memegang
tangannya.
Rasa bahwa ia memiliki rumah, meskipun rumah itu dingin dan
sunyi dan penuh rahasia.
Rasa bahwa ia adalah Danang, anak Sastrowiryo dan Ratih,
dari desa di tepi Sungai Kapuas Muara, dengan masa lalu yang sederhana dan masa
depan yang masih bisa ia tentukan.
Semua itu runtuh dalam beberapa menit.
Runtuh oleh bisikan dua perempuan tua yang tidak pernah ia
kenal.
Runtuh oleh kata-kata yang tidak sengaja ia dengar.
Runtuh oleh rahasia yang selama ini disembunyikan orang
dewasa darinya.
Runtuh seperti rumah kartu yang ditiup angin.
Runtuh seperti menara pasir yang dihantam ombak.
Runtuh seperti mimpi yang pecah ketika kita terbangun.
Malam itu Danang tidak makan.
Ia hanya duduk di kamarnya, di tikar pandan yang gatal,
memandang dinding kayu yang retak, mendengar suara ibunya memanggil dari dapur,
tetapi tidak menjawab.
"Danang! Makan malam!" suara Ratih dari dapur,
seperti biasa, lembut, tidak pernah keras, tidak pernah marah, bahkan ketika
Danang tidak segera menjawab.
Diam.
"Nang! Makan dulu! Nanti habis!"
Diam.
"Danang? Kau dengar Ibu?"
Diam.
Ratih berjalan ke kamar Danang. Wajahnya cemas. Matanya
mencari-cari. Ia melihat Danang duduk di tikar, memandang kosong ke dinding.
Piring berisi nasi dan lauk di tangannya masih utuh, belum tersentuh.
"Nang, kenapa tidak makan?" tanya Ratih, suaranya
lembut, penuh perhatian, tetapi juga cemas. "Sakit?"
Danang tidak menjawab. Ia hanya menatap ibunya. Matanya
kosong. Tidak marah. Tidak sedih. Tidak kecewa. Hanya kosong. Kosong yang lebih
menakutkan daripada amarah apa pun. Kosong yang seperti sumur tua yang tidak
pernah mencapai dasar. Kosong yang seperti lubang hitam di angkasa, yang
menyedot semua cahaya di sekitarnya.
"Nang?" Ratih duduk di samping Danang, meletakkan
piring di lantai. Tangannya meraih dahi Danang, merasakan suhu tubuhnya.
"Kau demam? Dingin sekali."
Danang menarik tangannya. Bukan karena marah. Bukan karena
benci. Hanya karena ia tidak ingin disentuh. Ia tidak ingin dihibur. Ia tidak
ingin dibujuk. Ia ingin sendiri. Ia ingin memproses semua yang baru saja ia
dengar. Ia ingin memahami apa artinya semua ini bagi dirinya.
"Siapa ayahku, Mak?" tanyanya tiba-tiba. Suaranya
datar, tanpa emosi, seperti bertanya tentang cuaca, seperti bertanya tentang
harga beras di pasar.
Ratih terkejut. Wajahnya yang tadinya cemas, kini berubah
pucat. Lebih pucat dari biasanya. Lebih pucat dari ketika ia melihat api
membakar gudang. Lebih pucat dari ketika Suryaputra menuduh Danang. Pucat
seperti kertas, seperti kapur, seperti orang yang baru melihat hantu.
"Apa maksudmu, Nang?" suara Ratih bergetar.
Tangannya gemetar. Dadanya naik turun dengan cepat. "Kau punya Bapak.
Bapakmu Sastrowiryo. Di ruang tengah. Tidur di kursi bambu."
"Aku dengar orang-orang bicara, Mak," kata
Danang. Matanya masih kosong, masih menatap ibunya tanpa berkedip. "Mereka
bilang Bapak bukan ayah kandungku. Mereka bilang Mak hamil sebelum menikah.
Mereka bilang ayah kandungku penari ketoprak dari seberang sungai. Mereka
bilang aku anak haram."
Ratih menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tangannya yang
gemetar menekan bibirnya yang juga gemetar. Matanya yang tadinya masih berusaha
tegar, kini basah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, mulai jatuh
satu per satu, perlahan, seperti tetesan air dari atap yang bocor.
"Siapa yang bilang, Nang?" bisiknya. Suaranya
pecah. Tangisnya keluar, tidak bisa lagi ditahan. "Siapa yang berani bicara
seperti itu di depan anakku?"
"Aku dengar sendiri, Mak. Aku di bawah rumah. Dua
orang tua lewat. Mereka bicara. Mereka tidak tahu aku di sana. Mereka pikir
tidak ada yang mendengar."
Ratih menangis.
Ia tidak bisa lagi berpura-pura.
Tidak bisa lagi menyembunyikan.
Tidak bisa lagi melindungi.
Dinding yang selama ini ia bangun untuk melindungi anaknya,
dan mungkin juga untuk melindungi dirinya sendiri, runtuh dalam satu malam.
Runtuh oleh kejujuran seorang anak.
Runtuh oleh kata-kata yang tidak sengaja didengar.
Runtuh oleh rahasia yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
"Nang... Ibu... Ibu minta maaf..." Ratih terisak,
suaranya terputus-putus, seperti radio tua yang rusak. "Ibu tidak
bermaksud menyembunyikan... Ibu hanya ingin melindungimu... Ibu hanya tidak
ingin kau terluka... Ibu hanya tidak ingin kau tahu bahwa ayah kandungmu...
bahwa ayah kandungmu..."
"Bahwa ayah kandungku tidak menginginkan aku,"
sambung Danang. Masih datar. Masih kosong. Masih tanpa emosi. Seolah ia sedang
membicarakan orang lain. Seolah luka itu bukan lukanya. Seolah rahasia itu
bukan tentang dirinya.
Ratih menangis lebih keras.
Ia tidak bisa membantah.
Karena itu benar.
Ayah kandung Danang tidak menginginkannya.
Lelaki itu pergi begitu saja setelah mengetahui Ratih
hamil.
Tidak ada pesan.
Tidak ada kabar.
Tidak ada tanggung jawab.
Tidak ada.
Danang menatap ibunya yang menangis.
Ia ingin marah.
Ia ingin membentak.
Ia ingin bertanya mengapa ibunya membiarkan hal itu
terjadi.
Mengapa ibunya begitu bodoh hingga hamil oleh lelaki yang tidak
bertanggung jawab.
Mengapa ibunya tidak berpikir tentang masa depannya,
tentang masa depan anak yang akan lahir.
Mengapa ibunya begitu lemah sehingga harus dinikahi oleh
Sastrowiryo karena kasihan.
Tapi ia tidak bisa.
Ia tidak bisa marah pada ibunya.
Ia tidak bisa membenci ibunya.
Ia tidak bisa menyalahkan ibunya.
Karena ia melihat ibunya.
Perempuan yang setiap pagi bangun lebih pagi dari siapa pun
untuk memasak nasi dan menyiapkan kopi.
Perempuan yang setiap siang berjalan ke pasar dengan
keranjang di kepala untuk membeli sayur dan lauk.
Perempuan yang setiap malam tidur paling akhir setelah
membereskan semua pekerjaan rumah.
Perempuan yang jarang mengeluh, jarang menangis di depan
orang lain, selalu tersenyum ketika Danang melihatnya.
Perempuan yang malam ini, di kamar sempit dengan dinding
kayu yang retak, menangis di hadapannya.
"Ibu tidak akan meninggalkan Danang," bisik Ratih
di antara isaknya. "Ibu akan selalu di sini. Ibu akan selalu menjaga
Danang. Ibu akan selalu melindungi Danang. Danang adalah segalanya bagi
Ibu."
Danang menatap ibunya.
Matanya yang kosong tadi, mulai basah.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia tidak ingin menangis.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan
menangis.
Tidak di depan ibunya.
Tidak di depan siapa pun.
Tapi air mata itu tetap keluar.
Mengalir di pipinya yang kurus.
Jatuh ke pangkuannya.
Membasahi kain sarung yang dikenakannya.
Ia tidak bisa menahannya.
Ia sudah terlalu lelah untuk menahan apa pun.
"Ibu, aku takut," bisik Danang. Suaranya kecil,
seperti suara anak kecil yang tersesat di hutan, seperti suara anak kecil yang
kehilangan orang tuanya di pasar yang ramai.
Ratih memeluknya. Pelukan yang erat. Pelukan yang hangat.
Pelukan yang seperti ingin melindunginya dari seluruh dunia. Pelukan yang
seperti ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, meskipun ia
sendiri tidak yakin.
"Jangan takut, Nang. Ibu di sini. Ibu tidak akan
pergi. Ibu akan selalu di sini."
Malam itu, Danang belajar bahwa kebenaran tidak selalu
membebaskan.
Kadang kebenaran justru mengikat.
Mengikat dengan rantai yang berat.
Rantai yang terbuat dari kata-kata.
Kata-kata seperti "anak haram", "hamil di
luar nikah", "tidak punya ayah kandung".
Kata-kata yang akan terus melekat padanya sepanjang
hidupnya.
Kata-kata yang akan selalu diingat, tidak peduli seberapa
jauh ia berlari, tidak peduli seberapa banyak ia berubah, tidak peduli seberapa
sukses ia nanti.
Dan ia belajar bahwa kadang, rahasia disembunyikan bukan
karena orang tua ingin berbohong.
Tetapi karena mereka ingin melindungi.
Melindungi anak-anak mereka dari rasa sakit yang tidak
perlu.
Melindungi anak-anak mereka dari dunia yang kejam.
Melindungi anak-anak mereka dari kebenaran yang terlalu
berat untuk dipikul.
Tapi kebenaran, seberat apa pun, pada akhirnya akan
terungkap juga.
Dan ketika itu terjadi, luka yang ditimbulkan akan jauh
lebih dalam.
Keesokan paginya, Danang tidak pergi ke sekolah.
Ia berbaring di tikarnya, memandang langit-langit yang
retak, mendengar suara ayam berkokok di kejauhan, suara ibunya yang
mondar-mandir di dapur, suara ayahnya yang masih mendengkur di kamar sebelah.
Ia memandang ayahnya dari jauh ketika lelaki itu keluar
kamar, berjalan ke dapur, mengambil segelas air putih, lalu duduk di kursi
bambu dekat jendela.
Mencoba mencari jawaban di wajah lelaki yang selama ini
dipanggilnya "Bapak".
Mencari kemiripan.
Mencari tanda.
Apakah matanya mirip dengan mata Sastrowiryo?
Apakah bentuk rahangnya?
Apakah cara tertawanya?
Apakah cara berjalannya?
Apakah ada satu pun sifat fisik yang diwariskan dari lelaki
ini?
Tetapi semakin lama ia memandang, semakin besar rasa asing
yang tumbuh di dalam dadanya.
Bukan karena Sastrowiryo berubah.
Sastrowiryo tetap sama seperti biasanya.
Diam.
Keras.
Jauh.
Tidak pernah menunjukkan kasih sayang.
Tidak pernah memeluknya.
Tidak pernah mengatakan "Aku sayang kamu, Nak."
Yang berubah adalah cara Danang melihatnya.
Dulu, ia melihat Sastrowiryo sebagai ayah.
Ayah yang dingin, ayah yang keras, ayah yang jarang bicara,
tetapi ayah.
Sekarang, ia melihat Sastrowiryo sebagai orang asing.
Orang asing yang tinggal di rumah yang sama dengannya.
Orang asing yang makan di meja yang sama dengannya.
Orang asing yang tidur di rumah yang sama dengannya.
Orang asing yang membayar biaya sekolahnya, yang
membelikannya pakaian, yang memberinya makan.
Tetapi orang asing.
Bukan ayah.
Bukan darah dagingnya.
Dan kadang, luka paling dalam bukan datang dari kebencian.
Bukan dari pengkhianatan.
Bukan dari kekerasan.
Tetapi dari kenyataan bahwa hidup yang kita kenal mungkin
bukan milik kita sepenuhnya.
Identitas yang kita bangun mungkin hanyalah ilusi.
Rumah yang kita panggil rumah mungkin hanyalah tempat
persinggahan sementara.
Keluarga yang kita cintai mungkin tidak seperti yang kita
bayangkan.
Dan ketika ilusi itu runtuh, ketika kebohongan itu
terungkap, ketika kenyataan itu menghantam, yang tersisa hanyalah pertanyaan.
Siapa aku?
Dari mana aku berasal?
Kemana aku akan pergi?
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapa
pun.
Pertanyaan-pertanyaan yang akan menemaninya sepanjang
hidupnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah
terjawab.
Bab 13
Pertanyaan
yang Tak Berani Dijawab
Malam semakin larut ketika Danang akhirnya berdiri di depan
ibunya.
Bukan malam yang sama dengan malam ketika ia mendengar
bisikan dari bawah rumah. Bukan malam yang sama dengan malam ketika ia
mengetahui bahwa Sastrowiryo bukan ayah kandungnya. Sudah tiga malam berlalu
sejak itu. Tiga malam ia berbaring di tikarnya, memandang langit-langit yang
retak, mendengar suara ibunya yang masih bergerak di dapur, mendengar suara
ayahnya yang mendengkur di kamar sebelah, memikirkan semua yang telah ia
dengar.
Tiga malam tanpa tidur.
Tiga malam tanpa makan.
Tiga malam hanya berbaring, memandang kosong ke depan,
berusaha memahami sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami.
Tiga malam ia menghindari ayahnya. Ketika Sastrowiryo
pulang dari kebun atau dari dermaga, Danang masuk ke kamarnya, menutup pintu,
berpura-pura tidur. Ia tidak bisa menatap mata lelaki itu. Ia tidak tahu harus
berkata apa. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apakah ia masih harus
memanggilnya "Bapak"? Apakah ia masih berhak memanggilnya
"Bapak"? Apakah Sastrowiryo masih menganggapnya sebagai anak,
meskipun bukan darah dagingnya?
Tiga malam ia juga menghindari Kirana. Ketika Kirana datang
ke rumahnya setelah sekolah, mencari tahu mengapa ia tidak masuk sekolah,
Danang menyuruh ibunya untuk mengatakan bahwa ia sakit. Ia tidak bisa bertemu
Kirana. Ia tidak bisa menatap mata Kirana yang selalu ceria, yang selalu penuh
harapan, yang selalu membuatnya merasa bahwa dunia ini baik. Karena saat ini,
dunia tidak terasa baik. Dunia terasa gelap. Dunia terasa seperti lubang hitam
yang menyerap semua cahaya.
Tapi malam ini, ia tidak bisa lagi menghindar.
Ia harus tahu.
Ia harus mendengar dari mulut ibunya sendiri.
Bukan dari bisikan dua perempuan tua di bawah rumah.
Bukan dari kata-kata Surya di halaman sekolah.
Bukan dari tatapan curiga tetangga.
Tetapi dari ibunya.
Dari satu-satunya orang yang mungkin tidak akan berbohong
padanya.
Dari satu-satunya orang yang mungkin akan mengatakan
kebenaran, meskipun kebenaran itu menyakitkan.
Ratih sedang melipat pakaian di ruang tengah. Lampu minyak
di sampingnya berkedip-kedip, hampir padam. Minyaknya hampir habis, sumbunya
sudah pendek, nyala apinya kecil dan tidak stabil, seperti akan mati kapan
saja. Di atas meja kayu di depannya, tumpukan pakaian yang sudah disetrika
masih hangat, menunggu untuk dilipat dan disimpan di lemari.
Tangannya bergerak otomatis, melipat kain sarung dan kebaya
dengan gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali, sejak ia masih gadis, sejak
ia masih tinggal di rumah orang tuanya, sejak sebelum ia menikah, sejak sebelum
Danang lahir. Melipat. Merapikan. Menekan. Menumpuk. Gerakan yang teratur,
seperti doa yang diucapkan berulang-ulang, seperti mantra yang tidak pernah
berubah.
Wajahnya lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin
gelap, semakin dalam, seperti dua lubang yang digali di bawah matanya. Kulitnya
pucat, tidak ada lagi warna merah di pipinya yang dulu membuatnya terlihat
cantik di mata pemuda-pemuda desa. Rambutnya kusut, tidak disisir sejak pagi,
beberapa helai uban mulai terlihat di pelipisnya, meskipun usianya baru tiga
puluh tahun.
Danang berdiri di ambang pintu yang memisahkan ruang tengah
dari lorong menuju kamar. Tubuhnya kecil, kurus, rapuh. Baju tidurnya yang
longgar bergantung di bahunya yang sempit. Kakinya telanjang, dingin, karena
lantai kayu yang dingin. Matanya sayu, lesu, tidak bercahaya seperti biasanya.
"Ibu."
Ratih menoleh. Wajahnya lelah, tetapi masih tersenyum kecil
melihat anaknya. Senyum yang otomatis, yang keluar tanpa ia sadari, seperti
refleks, seperti kebiasaan, seperti cara tubuhnya mengatakan "Aku
baik-baik saja" meskipun tidak.
"Iya, Nang? Kenapa belum tidur? Besok sekolah."
Danang tidak menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu,
memandang ibunya, memandang perempuan yang melahirkannya, yang membesarkannya,
yang bekerja keras setiap hari untuk memberinya makan dan pakaian dan tempat
tinggal.
Perempuan yang menyimpan rahasia selama bertahun-tahun.
Perempuan yang membiarkannya tumbuh dengan kebohongan.
Perempuan yang membiarkannya memanggil lelaki lain
"Bapak" tanpa tahu bahwa lelaki itu bukan ayah kandungnya.
Perempuan yang, meskipun demikian, ia cintai lebih dari apa
pun di dunia ini.
"Ibu," panggilnya lagi, suaranya lebih pelan,
lebih lembut, tetapi lebih dalam, seperti suara yang keluar dari dasar sumur
yang paling dalam.
"Iya, Nang?" Ratih mulai cemas. Ia meletakkan
pakaian yang sedang ia lipat di atas meja. Tangannya berhenti bergerak. Matanya
menatap Danang dengan penuh perhatian, mencari tanda-tanda bahwa anaknya sakit,
bahwa anaknya demam, bahwa anaknya tidak baik-baik saja.
Danang menggenggam ujung bajunya. Tangannya gemetar.
Buku-buku jarinya yang kecil dan kurus memutih karena tekanan. Kuku-kukunya
yang hitam karena kotoran menusuk telapak tangannya, tetapi ia tidak merasakan
sakit.
"Bapak... benar ayahku, Mak?"
Tangan Ratih terhenti.
Sehelai kain sarung jatuh dari pangkuannya. Kain sarung
kotak-kotak merah hitam yang biasa dipakai Sastrowiryo setiap hari, yang sudah
usang dan berlubang di beberapa tempat, yang sudah dicuci berkali-kali hingga
warnanya memudar. Kain itu jatuh ke lantai kayu dengan suara yang terdengar
sangat keras di ruangan yang sunyi, seperti suara sesuatu yang pecah, seperti
suara kaca yang jatuh dari meja.
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan jangkrik di luar seolah berhenti bernyanyi.
Bahkan angin seolah berhenti berhembus.
Bahkan lampu minyak di samping Ratih seolah berhenti
berkedip.
Hanya suara napas Ratih yang mulai memburu, napas yang
pendek-pendek, seperti orang yang baru saja berlari jauh, seperti orang yang
sedang panik, seperti orang yang tahu bahwa saat yang ditakuti akhirnya tiba.
Dan suara napas Danang yang dalam, teratur, seperti orang
yang sudah mempersiapkan diri untuk pertanyaan ini sejak lama, seperti orang
yang sudah tahu jawabannya tetapi tetap ingin mendengar dari mulut ibunya.
Ratih memandang anak laki-lakinya lama sekali.
Matanya bergerak dari ujung rambut Danang yang ikal dan
tidak pernah rapi, rambut yang sama persis dengan rambut lelaki itu, lelaki
dengan rambut panjang yang menari di atas panggung ketoprak bertahun-tahun
lalu. Ke matanya yang terlalu gelap dan terlalu dalam untuk anak seusianya,
mata yang sama persis dengan mata lelaki itu, mata yang membuat Ratih jatuh
cinta pada pandangan pertama. Ke bibirnya yang gemetar, bibir yang sama persis
dengan bibir lelaki itu, bibir yang mengucapkan kata-kata manis yang membuat
Ratih percaya bahwa ia dicintai. Ke tangannya yang terus memilin ujung baju,
gerakan yang diwarisi dari ibunya, tetapi entah mengapa juga mengingatkannya
pada lelaki itu.
Seolah pertanyaan itu sudah ia tunggu bertahun-tahun, dan
tetap tidak siap menjawabnya.
Seolah ia sudah tahu bahwa suatu hari nanti Danang akan
bertanya, dan ia sudah mempersiapkan jawabannya ribuan kali di dalam kepalanya,
tetapi ketika saatnya tiba, semua persiapan itu lenyap, yang tersisa hanyalah
ketakutan dan air mata.
"Siapa bilang begitu, Nang?" suara Ratih
terdengar aneh. Bukan marah. Bukan sedih. Lebih mirip ketakutan. Ketakutan yang
sama yang ia lihat di mata ayahnya di dermaga tua. Ketakutan yang sama yang ia
dengar dalam suara ibunya ketika berbicara tentang Mandor Jalil. Ketakutan yang
sama yang selama ini ia rasakan tetapi tidak pernah ia akui.
Danang menunduk. Matanya menatap lantai kayu yang berderit.
Di sela-sela papan lantai, ia bisa melihat tanah di bawah rumah, gelap, lembab,
dingin. "Orang-orang, Mak. Aku dengar sendiri. Dua orang tua yang lewat di
bawah rumah."
Ratih menghela napas panjang. Napas yang terasa seperti
mengeluarkan seluruh isi dadanya sekaligus, seperti menghela beban yang selama
bertahun-tahun ia pikul sendirian. Bahunya yang tadinya tegang, kini sedikit
melorot, seperti orang yang akhirnya menyerah setelah berjuang terlalu lama.
"Danang..." panggilnya, suaranya lembut, tetapi
ada getaran di sana, getaran yang mengatakan bahwa ia sedang menangis, bahwa ia
sedang berusaha menahan tangis, bahwa ia sedang berusaha tetap kuat untuk
anaknya.
"Jawab saja, Mak," potong Danang. Suaranya kecil.
Bergetar. Namun ada sesuatu yang baru dalam nada itu. Bukan lagi rasa ingin
tahu seorang anak yang polos, yang hanya ingin tahu karena penasaran. Bukan
lagi pertanyaan untuk mengisi keingintahuan tentang dunia. Ada sesuatu yang
lebih dewasa di sana, sesuatu yang lahir dari luka yang baru saja terbuka, dari
kebenaran yang baru saja terungkap, dari kenyataan bahwa masa kecilnya mungkin
telah berakhir malam itu juga.
Bukan karena ia tumbuh dewasa secara alami, melalui proses
yang lambat dan bertahap.
Tetapi karena takdir memaksanya untuk dewasa lebih cepat
dari yang seharusnya.
Memaksanya untuk menghadapi kenyataan yang bahkan orang
dewasa pun tidak siap menghadapinya.
Memaksanya untuk bertanya tentang identitasnya, tentang
asal-usulnya, tentang darah yang mengalir di tubuhnya.
Ketakutan.
Ratih mendekat, lalu memegang wajah anaknya. Tangannya yang
kasar karena kerja keras, karena mencuci dan memasak dan membersihkan, karena
sabun dan air dan keringat, terasa lembut di pipi Danang. Tangannya yang hangat,
yang selama ini menjadi tempat Danang berlindung ketika dunia terasa terlalu
kejam, kini terasa dingin, gemetar, tidak stabil.
Matanya basah. Air mata mulai menggenang di pelupuk
matanya, membentuk lapisan tipis yang membuat matanya terlihat berkilauan di
bawah cahaya lampu minyak yang redup. Tetapi ia berusaha tersenyum. Tersenyum
untuk Danang. Tersenyum meskipun hatinya hancur. Tersenyum meskipun air mata
hampir jatuh.
"Dengarkan Ibu, Nang," bisiknya, suaranya lembut,
seperti sedang menenangkan bayi yang menangis, seperti sedang membisikkan lagu
tidur di malam yang sunyi. "Dengarkan Ibu baik-baik."
"Benar atau tidak, Mak?" Danang tidak mau
mendengarkan. Ia tidak mau dihibur. Ia tidak mau dibujuk. Ia tidak mau
diberikan kata-kata manis yang hanya akan membuatnya semakin bingung. Ia mau
jawaban. Ya atau tidak. Benar atau salah. Hitam atau putih. Tidak ada abu-abu.
Tidak ada "tapi". Tidak ada "mungkin". Tidak ada
"dengarkan Ibu dulu".
Ratih terdiam.
Air matanya jatuh.
Pertama setetes.
Lalu dua tetes.
Lalu tiga tetes.
Lalu tidak bisa dihitung lagi.
Air mata yang selama ini ia tahan, yang selama ini ia
pendam, yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum dan kerja keras dan
kelelahan, akhirnya keluar.
Tangis yang pecah.
Tangis yang tidak bisa lagi ditahan.
Tangis yang seperti air bah yang menghancurkan bendungan.
Tangis yang seperti hujan yang tidak pernah berhenti.
Danang belum pernah melihat ibunya menangis seperti itu.
Bukan tangisan sedih karena kelelahan, seperti malam di
dapur setelah pertengkaran dengan ayahnya.
Bukan tangisan haru karena bahagia, seperti ketika Danang
mendapat nilai bagus di sekolah.
Bukan tangisan karena sakit, seperti ketika ia jatuh dari
sepeda dan lututnya berdarah.
Ini tangisan yang berbeda.
Tangisan seseorang yang terlalu lama memikul rahasia.
Tangisan seseorang yang terlalu lama berbohong.
Tangisan seseorang yang terlalu lama berpura-pura bahwa
semuanya baik-baik saja.
Tangisan seseorang yang akhirnya tidak bisa lagi
berpura-pura.
"Ada hal-hal, Nang," bisik Ratih di antara isaknya,
suaranya terputus-putus, seperti radio tua yang rusak, seperti pita kaset yang
kusut, "yang kalau dibuka sekarang hanya akan melukaimu. Ada hal-hal yang
lebih baik tidak kau ketahui. Ada hal-hal yang Ibu simpan bukan karena Ibu
ingin berbohong, tetapi karena Ibu ingin melindungimu."
Danang menatap ibunya.
Matanya tidak berkedip.
Matanya yang gelap, yang dalam, yang seperti lubang sumur
tua, menatap mata ibunya yang basah, yang merah, yang penuh dengan kesedihan
dan ketakutan.
"Mungkin aku memang sudah terluka, Mak," katanya.
Suaranya pelan, datar, tanpa emosi, seperti orang yang sudah kehabisan air
mata, seperti orang yang sudah terlalu sering dilukai hingga tidak bisa lagi
merasakan sakit. "Mungkin aku sudah terluka sejak lama. Sejak Surya memanggilku
anak haram. Sejak tetangga berbisik di belakangku. Sejak aku sadar bahwa
keluarganya berbeda dengan keluarga lain. Sejak aku sadar bahwa ayahnya tidak
seperti ayah-ayah lain."
Ratih menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Tangisnya pecah lebih keras.
Ia tidak bisa lagi berpura-pura.
Tidak bisa lagi menyembunyikan.
Tidak bisa lagi melindungi.
Dinding yang selama ini ia bangun untuk melindungi anaknya,
dinding yang ia buat dari kebohongan dan rahasia dan senyum palsu, dinding yang
ia yakini akan kokoh selamanya, runtuh dalam satu malam.
Runtuh oleh pertanyaan seorang anak.
Runtuh oleh kejujuran yang tidak bisa ia berikan.
Runtuh oleh kenyataan bahwa ia tidak bisa lagi melindungi
Danang dari dunia.
Danang mundur satu langkah.
Satu langkah kecil.
Hanya beberapa sentimeter.
Tetapi terasa seperti jarak bermil-mil.
Seperti jarak antara masa kecil yang ia tinggalkan dan masa
dewasa yang menunggunya.
Seperti jarak antara Danang yang tidak tahu apa-apa dan
Danang yang tahu terlalu banyak.
Seperti jarak antara kebohongan yang nyaman dan kebenaran
yang menyakitkan.
"Ibu, aku hanya ingin tahu," kata Danang,
suaranya masih pelan, masih datar, tetapi ada sesuatu yang baru di sana.
Sesuatu yang seperti tekad. Sesuatu yang seperti keberanian. Sesuatu yang
seperti keinginan untuk tidak lagi hidup dalam kegelapan. "Aku hanya ingin
tahu siapa aku. Dari mana aku berasal. Darah siapa yang mengalir di tubuhku.
Itu saja, Mak. Itu saja."
Ratih tidak bisa menjawab.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di hadapan anaknya.
Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi
melindungi.
Menangis karena ia tahu bahwa Danang tumbuh dewasa, dan
menjadi dewasa berarti menerima luka, menerima kenyataan pahit, menerima bahwa
dunia tidak selalu ramah.
Danang menatap ibunya yang menangis.
Ia ingin memeluk ibunya.
Ia ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak marah.
Ia ingin mengatakan bahwa ia mengerti.
Tapi ia tidak bisa.
Karena ia juga terluka.
Ia juga butuh dipeluk.
Ia juga butuh mendengar bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi tidak ada yang memeluknya.
Tidak ada yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik
saja.
Ayahnya terlalu sibuk dengan botolnya.
Ibunya terlalu sibuk menangis.
Kirana tidak ada di sini.
Ia hanya sendirian.
Sendirian dengan pertanyaan yang tidak berani dijawab.
Sendirian dengan kebenaran yang tidak ingin ia dengar.
Sendirian dengan luka yang baru saja terbuka dan akan terus
berdarah untuk waktu yang lama.
Malam itu, Danang tidak kembali ke kamarnya.
Ia duduk di beranda rumah, di kursi bambu yang biasanya
diduduki ayahnya, memandang sungai yang gelap di kejauhan.
Hujan sudah reda. Langit mulai cerah. Bintang-bintang
muncul satu per satu, seperti titik-titik cahaya kecil di lautan kegelapan.
Bulan hampir penuh, hanya sedikit yang kurang, memancarkan cahaya keperakan
yang lembut, yang membuat dunia terlihat seperti mimpi.
Sungai mengalir tenang. Airnya gelap, tidak terlihat, hanya
suaranya yang terdengar, suara yang menenangkan, suara yang seperti lagu
pengantar tidur dari alam.
Angin malam berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan
bunga melati dari kebun tetangga. Dingin, tetapi tidak terlalu dingin, cukup
untuk membuat kulitnya merinding sedikit.
Ia memandang sungai.
Ia memandang langit.
Ia memandang bintang-bintang.
Ia memandang bulan.
Ia mencari jawaban di sana.
Tapi tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Hanya kegelapan.
Hanya bintang-bintang yang berkedip tanpa peduli.
"Tuhan," bisiknya, suaranya sangat kecil, hampir
tidak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri. "Kalau kau ada di mana pun,
tolong jawab. Siapa aku? Kenapa aku dilahirkan seperti ini? Kenapa ayahku
pergi? Kenapa Bapak yang membesarkanku bukan ayah kandungku? Kenapa?"
Tidak ada jawaban.
Hanya angin malam yang berhembus.
Hanya jangkrik yang bernyanyi.
Hanya suara sungai yang mengalir.
Hanya keheningan yang abadi.
Danang menunduk.
Air matanya jatuh ke pangkuannya.
Ia tidak menangis keras-keras.
Ia hanya membiarkan air matanya jatuh.
Satu per satu.
Perlahan.
Seperti tetesan air dari atap yang bocor.
Seperti hujan gerimis di musim kemarau.
Seperti kesedihan yang tidak ingin mengganggu siapa pun.
Di usia yang masih sangat kecil, di usia di mana anak-anak
seharusnya bermain kejar-kejaran dan berlari tanpa alas kaki di lumpur, Danang
mulai merasakan sesuatu yang tak pernah diajarkan siapa pun di sekolah.
Tidak ada guru yang menjelaskan.
Tidak ada buku yang menuliskan.
Tidak ada orang dewasa yang mempersiapkannya.
Pelajaran tentang bagaimana rasanya ketika identitasmu
hancur dalam satu kalimat.
Tentang bagaimana rasanya ketika rumah yang selama ini kau
kenal, ternyata berdiri di atas fondasi yang palsu.
Tentang bagaimana rasanya ketika orang yang kau panggil
ayah selama ini, ternyata bukan ayah kandungmu.
Tentang bagaimana rasanya ketika kau menyadari bahwa kau
adalah anak haram, anak di luar nikah, anak yang tidak diinginkan oleh ayah
kandungmu sendiri.
Pelajaran yang pahit.
Pelajaran yang menyakitkan.
Pelajaran yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
Dan malam itu, masa kecil Danang mulai perlahan berakhir.
Bukan karena ia tumbuh dewasa secara alami, melalui proses
yang lambat dan bertahap, melalui pengalaman-pengalaman yang membentuk
karakternya.
Tetapi karena takdir memaksanya untuk dewasa lebih cepat
dari yang seharusnya.
Memaksanya untuk menghadapi kenyataan yang bahkan orang
dewasa pun tidak siap menghadapinya.
Memaksanya untuk tumbuh sebelum waktunya, seperti pohon
yang dipaksa berbuah sebelum akarnya cukup kuat, yang buahnya mungkin tetap
tumbuh, tetapi pohonnya akan selamanya lemah.
Memaksanya untuk kehilangan masa kecil yang seharusnya ia
nikmati, yang seharusnya ia isi dengan tawa dan permainan dan mimpi-mimpi
indah.
Dan ketika Danang akhirnya berdiri dan berjalan kembali ke
kamarnya, ketika ia berbaring di tikar pandan yang gatal, ketika ia memejamkan
mata dan berusaha tidur, ia tahu bahwa ia tidak akan pernah kembali menjadi
Danang yang dulu.
Danang yang dulu sudah mati.
Mat di bawah rumah.
Mat di ruang tengah.
Mat di beranda.
Dan yang tersisa hanyalah Danang yang baru.
Danang yang tahu.
Danang yang terluka.
Danang yang akan membawa luka ini sepanjang hidupnya.
Bab 14
Rahasia
yang Menjadi Senjata
Desa kecil tidak pernah benar-benar menyimpan rahasia.
Di kota, orang bisa menghilang. Bisa berganti identitas.
Bisa memulai hidup baru tanpa ada yang tahu masa lalunya. Di kota, orang-orang
terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, terlalu sibuk mengejar uang
dan karir, terlalu sibuk dengan kemacetan dan polusi, sehingga tidak punya
waktu untuk memperhatikan tetangga di seberang jalan, apalagi menggali masa lalu
mereka.
Tetapi di desa, setiap orang tahu nama orang tuamu, nama
kakek nenekmu, bahkan nama kakek buyutmu. Setiap orang tahu dosa-dosamu,
kesalahanmu, aibmu. Setiap orang tahu siapa yang hamil di luar nikah, siapa
yang suami istrinya bertengkar di tengah malam, siapa yang berutang ke lintah
darat, siapa yang anaknya kabur ke kota tanpa pamit.
Di desa, tidak ada yang bisa disembunyikan selamanya.
Dinding rumah panggung terlalu tipis untuk menahan suara. Pagar bambu terlalu
renggang untuk menghalangi pandangan. Jalan setapak terlalu sempit untuk
menghindari bertemu tetangga.
Dan di desa, yang disebut bisikan, lambat laun akan berubah
menjadi senjata.
Bukan senjata yang terbuat dari besi atau kayu, yang bisa
dilihat dan dihindari. Bukan senjata yang melukai tubuh, yang meninggalkan
bekas luka yang bisa diobati dengan daun obat. Tetapi senjata yang terbuat dari
kata-kata. Senjata yang melukai hati. Senjata yang meninggalkan luka yang tidak
pernah benar-benar sembuh.
Dan Surya Baskara adalah orang pertama yang belajar
memanfaatkannya.
Bukan karena ia jenius. Bukan karena ia pandai. Bukan
karena ia memiliki keahlian khusus dalam hal ini.
Tetapi karena ia belajar dari ayahnya, Suryaputra, saudagar
kaya yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, yang selalu menang dalam
setiap persaingan, yang selalu berhasil menghancurkan saingan-saingannya bukan
dengan kekuatan fisik, tetapi dengan uang dan koneksi dan kata-kata.
Surya masih anak-anak, usianya baru delapan tahun, sebaya
dengan Danang. Tetapi ia sudah belajar bahwa uang bisa membeli apa pun. Uang
bisa membeli kesetiaan. Uang bisa membeli rasa hormat. Uang bisa membeli
ketakutan. Dan uang, jika digunakan dengan cara yang tepat, bisa membeli
kehancuran seseorang.
Siang itu di halaman sekolah, Danang duduk sendiri di bawah
pohon trembesi.
Daun-daun trembesi yang kecil-kecil berjatuhan perlahan,
seperti hujan hijau yang tidak pernah berhenti. Beberapa daun jatuh di
rambutnya, di bahunya, di pangkuannya, tetapi ia tidak menyadarinya. Matanya
kosong, menatap ke arah lapangan, tetapi tidak melihat apa pun.
Buku gambar di pangkuannya terbuka di halaman kosong.
Pensil pendek di tangannya sudah siap, tetapi ia tidak menggambar apa-apa.
Hanya garis. Garis lurus. Garis melengkung. Garis yang berpotongan. Seperti
peta yang tidak mengarah ke mana pun. Seperti jalan yang buntu. Seperti hidup
yang tidak tahu harus ke mana.
Ia tidak pergi ke sungai sore itu. Kirana sedang membantu
guru membereskan buku di perpustakaan. Biasanya ia akan menunggu, atau pergi ke
sungai sendirian, atau pulang lebih awal. Tapi sore ini, ia memilih untuk duduk
di bawah pohon trembesi, sendirian, menikmati kesunyian yang tidak perlu
dijelaskan kepada siapa pun.
Tiba-tiba, suara langkah kaki kecil terdengar dari
belakangnya.
Bukan langkah kaki Kirana. Langkah kaki Kirana ringan,
cepat, seperti burung yang melompat-lompat di dahan. Langkah kaki ini berat,
lambat, sengaja, seperti langkah kaki seseorang yang ingin didengar, yang ingin
diketahui kehadirannya, yang ingin menimbulkan ketakutan sebelum ia bahkan
berbicara.
Danang tidak menoleh.
Ia sudah tahu siapa itu.
Hanya satu orang di sekolah ini yang berjalan seperti itu.
Surya.
"Sendirian lagi, Danang?" suara Surya terdengar
dari belakangnya, dekat, terlalu dekat, hanya beberapa langkah di belakangnya.
Suara yang manis tetapi beracun, seperti buah yang indah tetapi mematikan.
"Kasihan sekali. Tidak punya teman, ya?"
Danang tidak menjawab. Tangannya terus menggambar garis di
atas kertas. Garis lurus. Garis melengkung. Garis berkelok. Tidak membentuk apa
pun. Tidak berarti apa pun. Seperti hidupnya.
Surya berjalan ke sampingnya, lalu berdiri di depan Danang,
menghalangi pandangannya ke lapangan. Kini ia bisa melihat wajah Surya. Wajah
yang selalu rapi, dengan rambut disisir menggunakan minyak rambut yang membuatnya
mengkilap dan wangi. Kemeja batik yang disetrika tanpa kerutan, dengan motif
parang yang rumit. Celana kain yang tidak tambal sulam, dengan lipatan setrika
yang masih terlihat jelas. Sepatu kanvas putih yang masih bersih, tanpa setitik
lumpur pun.
"Kau tahu, Danang?" Surya tersenyum. Senyum yang
manis, senyum yang ramah, senyum yang seolah-olah ia adalah teman baik Danang
yang datang untuk menghibur. "Ayahku bilang, kadang orang memang tidak
tahu siapa bapaknya sendiri. Kasihan, ya."
Danang mengangkat kepala.
Matanya yang kosong tadi, kini berubah. Ada api di sana.
Api yang dingin. Api yang tidak membakar, tetapi membekukan. Api yang membuat
Surya, yang tadinya percaya diri, merasa sedikit tidak nyaman.
"Apa maksudmu?" tanya Danang. Suaranya tenang.
Sangat tenang. Tidak ada getaran. Tidak ada gemetar. Tidak ada ketakutan. Hanya
ketenangan yang aneh, ketenangan yang seperti air danau yang tidak bergerak,
yang permukaannya datar tetapi di dalamnya mungkin ada sesuatu yang berbahaya.
Surya menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke Danang,
seperti sedang membisikkan rahasia, tetapi suaranya sengaja cukup keras untuk
didengar oleh anak-anak lain yang duduk tidak jauh dari sana. Beberapa anak
yang sedang bermain di dekat pohon trembesi mulai memperhatikan, telinga mereka
menajam, mata mereka membulat, mulut mereka sedikit terbuka.
"Kau tahu bahwa Bapakmu bukan ayah kandungmu,
kan?" bisik Surya, tetapi bisikannya sengaja cukup keras, cukup jelas,
cukup untuk didengar oleh setidaknya lima atau enam anak di sekitar mereka.
"Kau anak haram, Danang. Anak di luar nikah. Anak yang tidak diinginkan.
Ayah kandungmu adalah penari ketoprak yang kabur setelah menghamili
ibumu."
Kata-kata itu.
Haram.
Anak di luar nikah.
Tidak diinginkan.
Penari ketoprak.
Kabur.
Setiap kata seperti paku yang dipukulkan ke kayu. Setiap
kata seperti pisau yang menusuk daging. Setiap kata seperti api yang membakar
hati.
Danang tidak bergerak.
Wajahnya tidak berubah.
Matanya tetap tenang.
Tetapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang hancur.
Bukan hancur seperti kaca yang jatuh ke lantai, yang pecah
berkeping-keping dan bisa disapu dan dibuang.
Hancur seperti sesuatu yang lebih dalam.
Hancur seperti fondasi rumah yang retak, yang tidak
terlihat dari luar, tetapi di dalamnya sudah tidak kuat lagi menahan beban.
Hancur seperti kepercayaan bahwa ia adalah anak yang sah,
anak yang diinginkan, anak yang memiliki tempat di dunia ini.
"Kau dengar dari mana?" tanya Danang. Suaranya
masih tenang, tetapi ada sedikit getaran di ujung kata-katanya, getaran yang tidak
bisa ia sembunyikan, getaran yang menunjukkan bahwa kata-kata Surya telah
mencapai sasarannya.
Surya tersenyum lebih lebar. Senyum kemenangan. Senyum yang
mengatakan bahwa ia menang, bahwa ia berhasil, bahwa ia telah menemukan
kelemahan Danang dan menusuknya tepat di tempat yang paling sakit.
"Seluruh desa tahu, Danang," kata Surya, suaranya
kembali normal, tidak lagi berbisik, cukup keras untuk didengar oleh semua anak
yang ada di halaman sekolah. "Kamu saja yang tidak tahu. Karena keluarga
kamu terlalu malu untuk mengakuinya. Ibumu hamil di luar nikah. Bapakmu yang
sekarang hanya lelaki yang kasihan, yang mau menikahi perempuan hamil. Ayah
kandungmu? Penari kampungan yang kabur. Tidak bertanggung jawab. Tidak jelas
asal-usulnya. Tidak jelas darahnya."
Danang berdiri.
Perlahan.
Tidak terburu-buru.
Tidak seperti orang yang sedang marah.
Seperti orang yang sedang mengumpulkan kekuatan.
Seperti orang yang sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu.
"Kau jaga mulutmu, Surya," kata Danang. Suaranya
dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari air sungai di pagi hari. Lebih dingin
dari angin malam di musim hujan.
Surya tidak mundur. Ia sudah terbiasa dengan ancaman.
Ayahnya sering diancam oleh pesaing-pesaing bisnisnya, tetapi tidak pernah ada
yang berani menyentuhnya. Karena ayahnya kaya. Karena ayahnya punya pengaruh.
Karena ayahnya bisa menghancurkan siapa pun yang berani melawannya.
Surya tumbuh dengan keyakinan bahwa ia juga memiliki
kekuatan yang sama. Bahwa tidak ada yang berani menyentuhnya. Bahwa ia bisa melakukan
apa pun, mengatakan apa pun, tanpa takut konsekuensi.
"Aku hanya bilang fakta, Danang," kata Surya
santai. Tangannya di pinggang, kepalanya mendongak, sikap yang menunjukkan
bahwa ia tidak takut, bahwa ia lebih tinggi, bahwa ia lebih kuat, bahwa ia lebih
berkuasa. "Kamu anak haram. Ayah kandungmu tidak mau sama kamu. Ibumu
hamil di luar nikah. Bapakmu sekarang hanya lelaki miskin yang mau dinikahi
karena tidak punya pilihan lain."
"Ulangi," kata Danang. Suaranya masih dingin,
tetapi ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang seperti peringatan. Sesuatu
yang seperti ancaman. Sesuatu yang mengatakan bahwa jika Surya mengulangi
kata-katanya, sesuatu akan terjadi.
Surya mendekat. Kini jarak mereka hanya beberapa
sentimeter. Surya bisa merasakan napas Danang di wajahnya. Danang bisa melihat
urat-urat di leher Surya yang menegang.
"Kamu anak haram, Danang," ulang Surya, perlahan,
dengan penuh penekanan, seperti sedang membacakan vonis mati. "Anak haram.
Anak haram. Anak haram."
Sebelum pikirannya sempat menahan, sebelum ia sempat
mempertimbangkan konsekuensi, sebelum ia sempat berpikir apakah ini benar-benar
yang ia inginkan, tangan Danang melayang.
Tamparan keras mendarat di wajah Surya.
Suaranya memecah kesunyian halaman sekolah.
Plak!
Suara yang keras, jelas, tidak bisa disalahartikan sebagai
sesuatu yang lain.
Semua anak yang ada di sekitar berhenti melakukan apa pun.
Mereka berhenti bermain.
Berhenti berbicara.
Berhenti bernapas, sepertinya.
Mata mereka tertuju pada Surya yang terpaku dengan tangan
di pipinya, dan Danang yang berdiri dengan tangan masih terangkat, telapak
tangannya masih terasa panas, jari-jarinya masih gemetar.
Wajah Surya berubah.
Dari putih menjadi merah.
Dari merah menjadi merah padam.
Bukan karena bekas tamparan. Tamparan anak kurus seperti
Danang, yang badannya kecil dan kekurangan gizi, tidak akan meninggalkan bekas
yang berarti di wajah Surya yang gemuk dan terawat.
Tetapi karena malu.
Karena harga dirinya terluka.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang
berani menyentuhnya.
Bukan hanya menyentuh.
Menampar.
Di depan umum.
Di depan semua anak.
Di depan teman-teman yang selama ini takut padanya.
Di depan guru-guru yang mungkin melihat dari jendela kelas.
Surya terpaku.
Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Matanya membulat, tidak percaya.
Tangannya masih di pipi, meskipun tamparan itu tidak sakit.
Ia tidak percaya.
Tidak percaya ada yang berani menyentuhnya.
Tidak percaya Danang, anak tidak punya ayah itu, anak haram
itu, anak miskin yang bajunya tambal sulam dan sepatunya bolong, berani
menampar wajahnya di depan umum.
"Kau... kau berani?" suara Surya akhirnya keluar,
tetapi tidak seperti biasanya. Tidak percaya diri. Tidak sombong. Tidak sinis.
Hanya kaget. Hanya tidak percaya. Hanya seperti orang yang baru saja tersadar
dari mimpi buruk.
"Aku sudah bilang, jaga mulutmu," kata Danang.
Suaranya masih dingin. Masih tenang. Tidak ada penyesalan di sana. Tidak ada
rasa takut. Hanya kepastian. Hanya keyakinan. Hanya keberanian yang tidak
dimiliki anak seusianya.
Surya menatap Danang.
Matanya yang tadinya tidak percaya, kini berubah.
Ada kebencian di sana.
Kebencian yang murni.
Kebencian yang tidak bercampur dengan apa pun.
Kebencian yang akan tumbuh dan membesar seiring waktu.
Kebencian yang akan membuatnya melakukan hal-hal yang tidak
terpikirkan oleh anak seusianya.
"Kau akan menyesal, Danang," kata Surya. Suaranya
tidak lagi kaget. Tidak lagi tidak percaya. Kini dingin. Sangat dingin. Lebih
dingin dari Danang. "Aku tidak akan melupakan ini. Keluargaku tidak akan
melupakan ini."
"Aku juga tidak akan melupakan," jawab Danang.
"Aku tidak akan melupakan bahwa kau menghina ibuku. Aku tidak akan
melupakan bahwa kau menyebutku anak haram. Aku tidak akan melupakan bahwa kau
mencoba menghancurkanku di depan semua orang."
"Kau yang menghancurkan dirimu sendiri, Danang."
Surya pergi.
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan Danang, meninggalkan
kerumunan, meninggalkan halaman sekolah. Langkahnya cepat, seperti orang yang
sedang berusaha menahan tangis, tetapi Danang tahu Surya tidak akan menangis.
Surya bukan tipe orang yang menangis. Surya adalah tipe orang yang membalas
dendam.
Anak-anak mulai bubar.
Perlahan.
Satu per satu.
Mereka kembali ke aktivitas mereka masing-masing, tetapi
suasana berbeda. Ada ketegangan di udara. Ada kecemasan. Ada perasaan bahwa
sesuatu yang besar telah terjadi, dan sesuatu yang lebih besar akan menyusul.
Danang duduk kembali di bawah pohon trembesi.
Ia memandang telapak tangannya yang masih merah, yang masih
terasa panas, yang masih gemetar.
Ia tidak menyesal.
Ia tidak menyesal telah menampar Surya.
Surya pantas mendapatkannya.
Surya sudah terlalu lama berbuat semena-mena.
Surya sudah terlalu lama menghina dan merendahkan dan
menyakiti orang lain tanpa pernah ada yang berani melawannya.
Tapi Danang tahu bahwa ini baru awal.
Bahwa Surya tidak akan melupakan ini.
Bahwa anak saudagar kaya itu akan membalas dendam dengan
cara yang lebih kejam daripada tamparan.
Bahwa pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai.
Tapi untuk saat itu, untuk beberapa detik yang singkat,
untuk beberapa menit yang berharga, Danang merasa lega.
Karena setidaknya, untuk sekali saja, ia tidak diam.
Untuk sekali saja, ia tidak menunduk.
Untuk sekali saja, ia tidak menerima penghinaan tanpa
melawan.
Untuk sekali saja, ia membela dirinya sendiri.
Untuk sekali saja, ia membela ibunya.
Untuk sekali saja, ia membela harga dirinya.
Malam itu, ketika Danang pulang ke rumah, ibunya sedang
memasak di dapur. Aroma sayur asem memenuhi seluruh rumah, bau yang biasa
membuat perutnya keroncongan, tetapi malam ini ia tidak merasa lapar.
Ia duduk di ruang tengah, di kursi bambu yang biasa
diduduki ayahnya, memandang kosong ke dinding.
"Danang, kenapa pulang terlambat?" suara Ratih
dari dapur. "Tadi Kirana mencari kamu. Katanya kamu tidak ke sungai."
"Iya, Mak. Aku di sekolah," jawab Danang singkat.
Ratih keluar dari dapur, mengeringkan tangannya di ujung
kain yang ia selipkan di pinggang. Wajahnya lelah, seperti biasa, tetapi
matanya masih tajam, masih bisa membaca sesuatu di wajah Danang.
"Kamu kenapa, Nang? Ada masalah?"
"Tidak, Mak."
"Kamu berbohong."
Danang diam.
Ratih duduk di samping Danang. Tangannya meraih tangan
Danang, membalikkan telapak tangannya, melihat bekas merah di sana. Bekas
tamparan. Bekas yang masih terlihat jelas, meskipun sudah beberapa jam berlalu.
"Kamu bertengkar dengan siapa, Nang?"
"Surya, Mak."
Ratih menghela napas. Napas panjang, napas lelah, napas
orang yang sudah terlalu sering mendengar nama itu. "Kenapa? Apa yang dia
lakukan?"
Danang menatap ibunya. Matanya yang kosong tadi, kini
berkaca-kaca. "Dia memanggilku anak haram, Mak. Dia bilang Bapak bukan
ayah kandungku. Dia bilang ayah kandungku penari ketoprak yang kabur. Dia
bilang Mak hamil di luar nikah. Dia bilang seluruh desa tahu."
Ratih terdiam.
Tangannya yang memegang tangan Danang, mulai gemetar.
Matanya yang tadinya tajam, kini basah.
Bibirnya yang tadinya tersenyum, kini bergetar.
"Maafkan Ibu, Nang," bisiknya. "Maafkan
Ibu."
Danang menatap ibunya. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak
marah. Ia ingin mengatakan bahwa ia mengerti. Ia ingin mengatakan bahwa ia
tidak menyalahkan ibunya. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Hanya air mata. Air
mata yang jatuh diam-diam, tanpa suara, tanpa isakan.
Malam itu, Danang belajar bahwa rahasia tidak pernah aman.
Bahwa rahasia, sebaik apa pun niatnya, suatu hari akan terungkap. Dan ketika
itu terjadi, rahasia itu tidak lagi menjadi pelindung. Ia menjadi senjata.
Senjata yang digunakan oleh orang-orang yang ingin menyakitimu. Senjata yang
menusuk tepat di tempat yang paling sakit. Senjata yang tidak bisa kamu hindari
karena ia terbuat dari kebenaran.
Dan ia belajar bahwa kadang, orang yang paling menyakitkan
bukanlah musuh yang terang-terangan membencimu. Tetapi teman yang pura-pura
baik, yang pura-pura peduli, yang pura-pura ingin membantu, tetapi diam-diam
menyebarkan rahasiamu kepada siapa pun yang mau mendengar.
Tapi Surya bukan teman. Surya tidak pernah pura-pura. Surya
sejak awal sudah menunjukkan siapa dirinya. Dan itu, pikir Danang, mungkin lebih
baik daripada berpura-pura.
Bab 15
Mandor
yang Datang Saat Senja
Sore itu langit berwarna merah tua.
Bukan merah biasa. Bukan merah jingga seperti senja
biasanya, yang indah dan menenangkan, yang membuat orang betah duduk di beranda
sambil menikmati angin sore. Bukan merah muda seperti warna langit saat
matahari baru saja tenggelam, yang romantis dan membuat orang ingin berfoto.
Merah yang pekat.
Merah yang gelap.
Merah seperti darah.
Merah seperti peringatan.
Merah seperti sesuatu yang buruk akan terjadi.
Petani-petani di sawah mulai bergegas pulang. Mereka yang
biasanya masih betah di sawah sampai matahari benar-benar tenggelam, yang
biasanya masih sibuk membersihkan rumput atau memperbaiki pematang, sore itu
berjalan cepat meninggalkan sawah mereka. Cangkul dan arit mereka bawa
terburu-buru, tanpa sempat membersihkan tanah yang menempel di mata pisau.
Keranjang-keranjang berisi rumput untuk makanan ternak ditinggalkan begitu saja
di pematang.
Karena warna langit seperti itu biasanya menandakan badai
akan datang. Badai besar. Badai yang bisa merobohkan pohon-pohon kelapa yang
sudah tua, yang bisa menerbangkan atap-atap rumbia yang sudah rapuh, yang bisa
membuat sungai meluap dan merendam rumah-rumah yang terlalu dekat dengan
tepian.
Burung-burung terbang rendah, hampir menyentuh tanah,
seperti sedang mencari tempat berlindung, seperti sedang panik karena tahu
sesuatu yang tidak diketahui manusia. Mereka terbang berputar-putar di atas
desa, kadang menukik tajam, kadang terbang lambat seperti kelelahan. Suara
mereka nyaring, tidak seperti biasanya, seperti sedang berteriak memperingatkan
sesuatu.
Angin bertiup kencang. Tidak seperti angin sore biasanya
yang sepoi-sepoi dan membawa kesejukan. Angin ini keras, kering, panas. Angin
yang membuat daun-daun bergesekan dengan suara gemerisik yang keras, seperti
ribuan orang berbisik sekaligus. Angin yang membuat debu beterbangan, masuk ke
mata, masuk ke hidung, membuat orang bersin-bersin.
Dan di tengah langit merah yang mengancam itu, Mandor Jalil
datang lagi.
Ratih yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang
rumah, membeku saat melihat lelaki kurus itu berdiri di depan tangga rumah.
Seperti bayangan yang muncul tiba-tiba.
Seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
Seperti hantu yang keluar dari cerita-cerita horor yang
diceritakan ibu-ibu kepada anak-anak mereka sebelum tidur.
Lelaki itu berdiri di kaki tangga, tepat di bawah anak
tangga pertama, tidak naik, tidak juga pergi. Tangannya di saku celana, sikap
yang santai, tetapi matanya tidak santai. Matanya bergerak cepat, memindai seluruh
rumah, mencari sesuatu, mencari seseorang, mencari kelemahan.
Bajunya hitam, lengan panjang, kusam, tidak menarik
perhatian. Celananya hitam juga, longgar, nyaman untuk bergerak. Sepatunya
hitam, kusam, tidak mengkilap, sepatu yang tidak pernah disemir, sepatu yang
sudah melihat banyak hal, yang sudah menginjak banyak pintu, yang sudah membuat
banyak orang ketakutan.
Di pinggangnya, seperti biasa, terselip sebilah pisau lipat
besar. Gagang kayunya yang hitam sudah halus karena sering dipegang, karena
sering dibuka dan ditutup, karena sering digunakan untuk hal-hal yang tidak
ingin diketahui siapa pun. Pisau yang konon sudah digunakan untuk memotong
lebih dari sekadar tali tambang, untuk memotong lebih dari sekadar daging hewan
kurban.
Danang yang sedang duduk di jendela kamarnya, yang sedang
memandang langit merah yang mengancam, yang sedang menghitung berapa lama lagi
badai akan datang, melihat lelaki itu dari celah tirai tipis.
Tirai dari kain perca yang sudah usang, yang sudah
bolong-bolong di beberapa tempat, yang tidak bisa menutupi apa pun dengan
sempurna. Dari celah-celah itulah Danang melihat semuanya. Cara Mandor Jalil
berdiri dengan kaki sedikit terbuka, tanda kekuasaan, tanda bahwa ia tidak
takut pada siapa pun, bahwa ia adalah penguasa di sini. Cara Ratih mengecil di
hadapannya, seperti daun yang layu, seperti bunga yang tidak disiram, seperti
sesuatu yang kehilangan semangat hidup.
"Ibu Sastrowiryo, ya?" suara Mandor Jalil
terdengar sampai ke kamar Danang, meskipun pintu kamar tertutup dan tirai
menutupi jendela. Suara yang parau, yang serak, yang seperti suara yang keluar
dari tenggorokan yang terbakar minuman keras. Suara yang membuat bulu kuduk
merinding, suara yang membuat anak-anak lari ketakutan.
Ratih menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seperti
ada yang mengganjal di sana, seperti ada duri yang tidak bisa ditelan, tidak
bisa dimuntahkan. Tangannya yang memegang keranjang jemuran mulai gemetar,
keranjang bambu yang berisi pakaian basah yang baru saja ia jemur, mulai
bergoyang, beberapa helai pakaian jatuh ke tanah, tetapi ia tidak menyadarinya.
"Dia... dia belum pulang, Mandor," jawab Ratih.
Suaranya kecil, hampir tidak terdengar, seperti suara tikus yang ketakutan,
seperti suara orang yang sedang berdoa di dalam hati.
Mandor Jalil tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang
tidak pernah mencapai matanya. Matanya tetap dingin, tetap tajam, tetap seperti
mata elang yang sedang mengincar mangsa. "Siapa? Sastrowiryo? Aku tahu.
Aku tidak datang untuk bertemu suamimu."
Ratih membeku.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu.
Tangannya yang gemetar, berhenti bergerak.
Napasnya yang tadinya teratur, berhenti sejenak.
Matanya yang tadinya menatap Mandor Jalil dengan ketakutan,
kini kosong, menembus lelaki itu, menembus waktu, menembus kenangan-kenangan
yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Kalau begitu... untuk apa Mandor datang ke
sini?" tanya Ratih. Suaranya masih kecil, tetapi ada sesuatu yang baru di
sana. Sesuatu yang seperti keberanian. Sesuatu yang seperti tekad. Sesuatu yang
seperti perempuan yang sedang melindungi anaknya.
Mandor Jalil melangkah naik satu anak tangga.
Kaki kirinya yang memakai sepatu hitam, menginjak papan
kayu yang berderit pelan. Suara derit itu terdengar seperti rintihan, seperti
keluhan, seperti kayu itu sendiri sedang ketakutan.
"Aku mau bicara dengan anakmu, Bu," kata Mandor
Jalil. Suaranya tenang. Sangat tenang. Tenang yang menakutkan. Tenang yang
seperti air danau yang gelap, yang permukaannya datar tetapi di dalamnya
mungkin ada buaya yang siap menerkam. "Danang, namanya, kan?"
Ratih mundur satu langkah. Keranjang jemuran di tangannya
jatuh ke tanah dengan suara berdebuk. Pakaian-pakaian berserakan di tanah,
kaus, sarung, kebaya, semuanya jatuh ke lumpur, menjadi kotor, harus dicuci
ulang. Tapi Ratih tidak memungutnya. Ia hanya berdiri, memandang Mandor Jalil,
dengan mata yang penuh ketakutan.
"Jangan... jangan dekat-dekat anak saya, Mandor,"
bisik Ratih, suaranya hampir pecah, hampir menangis, tetapi ia berusaha
menahan. "Anak saya tidak tahu apa-apa. Dia masih kecil. Dia tidak tahu
apa-apa tentang utang. Dia tidak tahu apa-apa tentang... tentang..."
Mandor Jalil tertawa pendek.
Tawa yang tidak lucu.
Tawa yang dingin.
Tawa yang seperti cemeti.
Tawa yang membuat Ratih semakin ketakutan.
"Justru itu masalahnya, Bu," kata Mandor Jalil,
suaranya masih tenang, masih santai, seperti sedang berbicara tentang cuaca,
seperti sedang membicarakan harga beras di pasar. "Semakin lama rahasia
disimpan, semakin besar luka saat terbuka. Lebih baik anak itu tahu sejak dini.
Agar dia siap. Agar dia tidak kaget. Agar dia tidak hancur ketika kebenaran
datang."
Ratih menatap tajam.
Untuk sesaat, untuk beberapa detik yang singkat, ada
kilatan keberanian di matanya. Bukan keberanian untuk melawan, karena ia tahu
ia tidak bisa melawan Mandor Jalil. Tetapi keberanian untuk melindungi.
Keberanian seorang ibu yang tidak akan membiarkan anaknya disakiti, tidak
peduli seberapa besar musuhnya, tidak peduli seberapa kecil dirinya.
"Anak saya tidak perlu tahu apa-apa, Mandor,"
kata Ratih, suaranya tegas, tidak lagi gemetar, tidak lagi kecil. "Anak
saya tidak perlu tahu tentang masa lalu. Anak saya tidak perlu tahu tentang
utang. Anak saya tidak perlu tahu tentang... tentang lelaki itu. Biarkan dia
tumbuh seperti anak-anak lain. Biarkan dia bahagia. Biarkan dia tidak terbebani
oleh dosa yang bukan dosanya."
Mandor Jalil tersenyum lagi.
Senyum yang sama.
Dingin.
Menghitung.
Berbahaya.
"Sayangnya, Bu, masa lalu tidak pernah meminta izin,
bukan?" kata Mandor Jalil. "Masa lalu datang kapan saja. Tanpa
diundang. Tanpa permisi. Tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Dan ketika masa
lalu datang, ia tidak peduli apakah anakmu masih kecil atau sudah dewasa. Ia
datang. Dan ia menghancurkan."
Ratih tidak bisa menjawab.
Ia hanya berdiri di halaman rumahnya, dengan
pakaian-pakaian yang berserakan di tanah, dengan keranjang jemuran yang
terbalik, dengan langit merah di atas kepalanya, dengan angin kencang yang
menerbangkan rambutnya yang kusut.
Dan Mandor Jalil berdiri di tangga rumahnya, dengan senyum
di bibirnya, dengan pisau di pinggangnya, dengan ancaman di matanya.
Dari dalam kamar, dari balik tirai tipis yang
bolong-bolong, Danang melihat semuanya.
Ia mendengar semuanya.
Setiap kata.
Setiap desahan.
Setiap ancaman.
Setiap ketakutan.
Ia melihat ibunya yang berdiri di halaman, kecil, rapuh,
sendirian, berhadapan dengan lelaki yang membuat seluruh desa takut.
Ia melihat Mandor Jalil yang berdiri di tangga, tinggi,
kurus, angkuh, seperti kematian yang datang menjemput.
Dan ia melihat sesuatu yang lain.
Di mata Mandor Jalil.
Sesaat, ketika lelaki itu menatap ke arah jendela kamarnya,
ketika mata mereka bertemu untuk sepersekian detik.
Bukan ketakutan.
Bukan amarah.
Bukan kebencian.
Tetapi sesuatu yang lebih buruk.
Sesuatu yang seperti kepuasan.
Sesuatu yang seperti kemenangan.
Sesuatu yang seperti "Aku tahu kau mendengar, dan aku
senang kau mendengar."
Danang merasa seolah lelaki itu bisa melihat langsung ke
dalam jiwanya, bisa membaca semua ketakutannya, semua keraguannya, semua
lukanya yang baru saja terbuka. Seolah lelaki itu tahu persis apa yang baru
saja ia dengar dari bisikan dua perempuan tua di bawah rumah, apa yang baru
saja ia ketahui tentang ayah kandungnya, apa yang baru saja ia alami dengan
Surya di halaman sekolah.
Seolah lelaki itu adalah iblis yang tahu segalanya, yang
melihat segalanya, yang merencanakan segalanya.
Mandor Jalil pergi.
Ia turun dari tangga perlahan, dengan langkah yang tidak
tergesa-gesa, dengan sikap yang santai, seperti orang yang baru saja
menyelesaikan urusan kecil, seperti orang yang tidak sedang mengancam kehidupan
orang lain.
Ia berjalan perlahan menuju jalan setapak di antara
semak-semak, di antara pohon-pohon pisang yang daunnya sudah menguning, di
antara rumput-rumput liar yang tingginya hampir selutut.
Di tengah jalan, ia berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Menatap rumah itu.
Menatap Ratih yang masih berdiri di halaman dengan wajah
pucat.
Menatap jendela kamar Danang yang tirainya bergerak
sedikit, karena Danang menarik napas terlalu keras.
Lalu ia tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dingin.
Senyum yang menghitung.
Senyum yang mengatakan bahwa ia akan kembali.
Senyum yang mengatakan bahwa ini belum selesai.
Senyum yang mengatakan bahwa ia akan menang.
Lalu ia menghilang di balik pohon kelapa.
Seperti bayangan yang ditelan kegelapan.
Seperti mimpi buruk yang berakhir, tetapi tidak benar-benar
berakhir, hanya berhenti sejenak, dan akan kembali di lain waktu.
Ratih berdiri diam di halaman.
Wajahnya pucat, seperti kehilangan semua darahnya
sekaligus, seperti orang yang baru saja melihat kematian.
Keranjang jemuran jatuh di kakinya, pakaian-pakaian
berserakan di tanah, kotor, basah, berlumpur.
Ia tidak memungutnya.
Ia hanya berdiri, memandang ke arah Mandor Jalil pergi,
dengan mata yang kosong, dengan pikiran yang tidak bisa berpikir, dengan hati
yang takut.
Danang turun dari jendela.
Ia berjalan keluar rumah, menuruni tangga kayu yang
berderit, berjalan ke halaman, mendekati ibunya.
Kakinya yang telanjang menginjak tanah yang becek, yang
basah, yang berlumpur. Lumpur dingin menyelinap di antara jari-jari kakinya,
tetapi ia tidak merasakannya.
"Siapa dia, Mak?" tanya Danang. Suaranya pelan,
tetapi tegas.
Ratih menoleh cepat. Terlalu cepat. Seperti orang yang baru
sadar dari lamunan panjang, seperti orang yang baru terbangun dari tidur yang
berat.
"Jangan tanya, Nang," bisiknya. Suaranya serak,
seperti suara orang yang kehabisan air, seperti suara orang yang sudah menangis
terlalu lama.
"Tapi dia bicara tentang aku, Mak. Dia bilang dia mau
bicara denganku. Dia bilang aku harus tahu kebenaran. Dia bilang rahasia tidak
boleh disimpan terlalu lama."
Ratih memegang bahu anaknya.
Tangannya menggenggam terlalu keras, seperti takut Danang
akan pergi jika ia melepaskan, seperti takut Danang akan diambil oleh lelaki
itu jika ia tidak cukup kuat memegangnya.
"Kau dengar Ibu, Nang," kata Ratih, matanya
menatap lurus ke mata Danang, matanya yang basah, yang merah, yang penuh
ketakutan. "Jangan pernah mendekati orang itu. Jangan pernah bicara
dengannya. Jangan pernah percaya apa pun yang dia katakan. Dia jahat. Dia
iblis. Dia tidak akan membawa kebaikan bagi keluarga kita."
"Kenapa, Mak?"
Ratih memejamkan mata.
Ketika membukanya kembali, matanya basah.
Air mata mulai mengalir di pipinya yang pucat.
"Karena tidak semua masa lalu boleh dibuka,
Nang," bisiknya. "Ada masa lalu yang lebih baik dikubur. Ada masa
lalu yang lebih baik dilupakan. Ada masa lalu yang jika dibuka, hanya akan
membawa kesengsaraan."
Danang memandang ibunya lama.
Ia melihat kerutan di kening ibunya yang tidak ada beberapa
tahun lalu, kerutan yang tumbuh seiring dengan bertambahnya beban di pundaknya.
Ia melihat uban di rambut ibunya yang mulai bermunculan,
uban yang tidak seharusnya ada di usia yang masih tiga puluh tahun.
Ia melihat kelelahan di mata ibunya yang tidak bisa disembunyikan
oleh senyuman apa pun.
Dan ia tahu.
Ia tahu bahwa ibunya menyembunyikan sesuatu.
Bukan hanya tentang ayah kandungnya.
Tapi tentang Mandor Jalil.
Tapi tentang utang.
Tapi tentang masa lalu.
Tapi tentang sesuatu yang lebih besar, lebih gelap, lebih
berbahaya.
Dan semakin sering ibunya menutup rapat mulutnya, semakin
besar keinginan Danang untuk mengetahui semuanya.
Bukan karena ia ingin menyakiti ibunya.
Bukan karena ia tidak menghargai pengorbanan ibunya.
Bukan karena ia ingin membuat masalah.
Tetapi karena ia lelah hidup dalam kegelapan.
Lelah menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu tentang
dirinya sendiri.
Lelah menjadi boneka yang tidak tahu tali siapa yang
menariknya.
Lelah menjadi anak kecil yang selalu mendengar "nanti
kau tahu kalau sudah dewasa", padahal ia sudah tidak sabar menunggu, dan
ia tidak yakin apakah ia akan selamat sampai dewasa.
Dia ingin tahu siapa dirinya.
Dari mana ia berasal.
Darah siapa yang mengalir di tubuhnya.
Dan ia akan mencari tahu.
Dengan atau tanpa izin ibunya.
Dengan atau tanpa bantuan siapa pun.
Malam itu, Danang tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tikarnya, memandang langit-langit yang
retak, mendengar suara ayahnya yang mendengkur di kamar sebelah, mendengar
suara ibunya yang masih bergerak di dapur meskipun sudah larut.
Pikirannya melayang pada Mandor Jalil.
Pada tatapan lelaki itu ketika mata mereka bertemu.
Pada senyumnya yang dingin.
Pada kata-katanya yang penuh ancaman.
"Semakin lama rahasia disimpan, semakin besar luka
saat terbuka."
Apa maksudnya?
Rahasia apa?
Luka apa?
Dan apa hubungannya dengan dirinya?
Ia juga memikirkan ibunya.
Pada ketakutan di mata ibunya ketika Mandor Jalil datang.
Pada genggaman tangannya yang terlalu keras di bahunya.
Pada kata-katanya yang penuh keputusasaan.
"Jangan pernah mendekati orang itu."
Kenapa?
Apa yang dilakukan Mandor Jalil sehingga ibunya begitu
takut?
Apa yang diketahui Mandor Jalil tentang keluarganya?
Apa yang disembunyikan ibunya?
Dan apakah ia berhak tahu?
Di luar, angin malam berhembus kencang.
Langit yang tadinya merah, kini hitam pekat.
Tidak ada bintang.
Tidak ada bulan.
Hanya kegelapan.
Kegelapan yang seperti masa depannya.
Kegelapan yang tidak bisa ia lihat ujungnya.
Kegelapan yang membuatnya takut, tetapi juga membuatnya
penasaran.
Ia memejamkan mata.
"Masa lalu," bisiknya. "Apa yang kau
sembunyikan?"
Tidak ada jawaban.
Hanya angin malam.
Hanya jangkrik.
Hanya kegelapan.
Hanya pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan terjawab malam
ini.
Atau mungkin tidak akan pernah terjawab.
Bab 16
Luka
yang Mulai Menyentuh Ibu
Beberapa minggu setelah kedatangan Mandor Jalil, setelah
pertengkaran di malam hari, setelah bisikan-bisikan yang tidak pernah berhenti,
setelah tamparan di halaman sekolah yang mengubah segalanya, Ratih jatuh sakit.
Awalnya hanya batuk kecil. Batuk yang diabaikan, yang
dianggapnya sebagai batuk biasa karena kelelahan atau karena udara dingin dari
sungai yang masuk ke paru-paru setiap pagi ketika ia membuka jendela. Batuk
yang hanya terdengar sekali dua kali sehari, di pagi hari ketika ia baru bangun,
atau di malam hari ketika ia sedang membereskan dapur setelah makan malam.
"Mak, batuk terus," kata Danang suatu pagi ketika
Ratih batuk di dapur sambil memasak nasi. Suara batuknya terdengar kering,
seperti kayu yang digesekkan ke kayu lain, tidak basah, tidak berdahak, tetapi
mengganggu.
Ratih tersenyum. "Biasa, Nang. Musim hujan begini
banyak debu. Ibu hanya batuk biasa."
Tapi Danang tidak yakin. Matanya yang tajam, yang sudah
terbiasa membaca ekspresi orang tua sejak kecil, melihat sesuatu di wajah ibunya.
Sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang mengkhawatirkan.
Ia melihat bahwa ibunya lebih pucat dari biasanya. Bahwa
lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap. Bahwa napasnya lebih pendek,
lebih cepat, seperti orang yang sedang berjalan di tanjakan meskipun hanya
duduk diam.
Tapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengangguk,
mengambil piring berisi nasi goreng dari tangan ibunya, dan makan perlahan,
berusaha menikmati setiap suapan meskipun lidahnya terasa pahit.
Lalu tubuhnya sering demam. Demam yang datang dan pergi,
seperti tamu tak diundang yang tidak tahu kapan harus pergi, seperti musim
hujan yang datang lebih awal dan tidak mau beranjak.
Kadang ia merasa panas. Panas yang luar biasa, seperti ada
api yang membakar di dalam tubuhnya, seperti ia sedang berdiri di dekat tungku
yang menyala besar, seperti ia sedang demam malaria yang dulu pernah ia alami
ketika masih gadis. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, baju tidurnya basah,
rambutnya basah, seprai di ranjangnya basah.
Kadang ia menggigil kedinginan meski selimut sudah menutupi
seluruh tubuhnya, meskipun Danang sudah menambahkan dua selimut lagi di atas
tubuhnya, meskipun ia sudah memakai jaket tebal dan kaus kaki wol. Giginya
bergemeretak, tubuhnya gemetar, tangannya yang memegang selimut gemetar hebat.
Danang bergantian mengompres kening ibunya dengan air
dingin ketika demamnya naik, dan menyelimuti ibunya dengan selimut tebal ketika
demamnya turun dan digantikan oleh kedinginan.
Ia tidak mengeluh.
Ia tidak minta bantuan siapa pun.
Ia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan.
Seperti yang diajarkan ibunya sejak kecil.
"Kadang, menjadi dewasa berarti melakukan hal-hal yang
tidak kau sukai, karena orang lain membutuhkanmu."
Wajahnya semakin pucat.
Bibirnya yang dulu merah muda, yang dulu membuatnya
terlihat cantik di mata pemuda-pemuda desa, kini pucat seperti kertas, seperti
kapur, seperti orang yang kehabisan darah.
Matanya cekung, seperti dua lubang di wajahnya, seperti dua
sumur yang kering, seperti dua bintang yang padam.
Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap setiap hari,
seperti dua bayangan yang tidak pernah pergi, seperti dua luka yang tidak
pernah sembuh.
Dan yang paling mengkhawatirkan, napasnya makin pendek.
Setiap kali ia berbicara, napasnya tersengal-sengal.
Setiap kali ia berjalan dari kamar ke dapur, ia harus
berhenti dua atau tiga kali di tengah jalan, bersandar di dinding, menutup
mata, menarik napas panjang-panjang.
Setiap kali ia batuk, batuknya begitu keras hingga tubuhnya
yang kurus berguncang hebat, hingga ia harus memegang dada, hingga Danang
khawatir bahwa suatu hari nanti, dada ibunya akan pecah dan tidak bisa lagi
menahan apa pun.
Kadang setelah batuk, ia menutup mulutnya dengan sapu
tangan. Danang melihat bercak merah di kain putih itu. Bercak kecil, hanya
beberapa titik, tetapi merah. Merah segar. Merah seperti darah.
Tapi Ratih selalu cepat-cepat menyembunyikan sapu tangan
itu sebelum Danang sempat melihat dengan jelas. Ia memasukkan sapu tangan itu
ke dalam saku bajunya, atau ke dalam ember berisi air, atau di bawah bantal, di
mana pun asal tidak terlihat oleh mata Danang yang tajam.
"Mak, apa itu?" tanya Danang suatu hari ketika ia
melihat bercak merah di sapu tangan ibunya.
Ratih tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang tidak
sampai ke matanya. "Tidak apa, Nang. Hanya sisa kecap dari masakan tadi.
Ibu lupa membersihkan tangan."
Danang tidak percaya.
Tapi ia tidak bertanya lagi.
Ia hanya mengangguk, berpura-pura percaya, dan melanjutkan
apa yang sedang ia lakukan.
Karena ia belajar bahwa kadang, orang dewasa berbohong
bukan karena mereka ingin menipu, tetapi karena mereka ingin melindungi.
Dan ia tidak ingin membuat ibunya lebih khawatir dengan menunjukkan
bahwa ia tahu ibunya berbohong.
Danang mulai membantu di rumah.
Ia mengambil air dari sumur setiap pagi, sebelum matahari
terbit, ketika kabut masih menutupi desa dan udara masih dingin menusuk tulang.
Sumur itu terletak di belakang rumah, sekitar lima puluh meter dari dapur,
melewati kebun singkong yang daunnya masih basah oleh embun.
Ember yang ia bawa hampir sebesar dirinya. Ember seng yang
sudah berkarat di beberapa tempat, dengan gagang dari kawat yang sudah longgar.
Ketika ia menarik ember dari sumur, air di dalamnya berat, sangat berat,
seperti sedang mengangkat beban yang tidak semestinya ia angkat.
Ia berjalan tertatih-tatih kembali ke rumah, ember di
tangan kanan, sesekali berganti ke tangan kiri ketika tangannya terasa mau
lepas. Air tumpah di beberapa tempat, membasahi celananya, membasahi kakinya
yang telanjang. Tetapi ia tidak berhenti. Ia terus berjalan, terus membawa
ember itu, sampai ia sampai di dapur dan menuangkan air ke dalam bak
penampungan.
Ia melakukannya setiap pagi.
Tidak pernah bolong.
Tidak pernah mengeluh.
Meskipun tangannya terasa sakit, meskipun punggungnya
terasa pegal, meskipun kakinya terasa lemas.
Karena ibunya tidak bisa lagi mengambil air sendiri.
Karena ibunya batuk setiap kali berjalan terlalu jauh.
Karena ibunya membutuhkannya.
Ia memasak nasi setiap siang, sepulang sekolah, sebelum
pergi ke sungai atau ke pohon trembesi.
Memasak nasi dengan tungku tanah liat yang sudah retak di
beberapa tempat, yang diikat dengan kawat agar tidak pecah. Kayu bakar yang ia
kumpulkan dari kebun belakang, kayu-kayu kering yang patah dari pohon-pohon
yang sudah tua.
Menyalakan api adalah hal yang paling sulit. Korek api yang
lembab karena udara lembab, sering tidak mau menyala. Ia harus
menggosok-gosokkan kepala korek api ke kotaknya berkali-kali, kadang lima kali,
kadang sepuluh kali, sebelum akhirnya api kecil muncul dan ia segera
mendekatkannya ke daun-daun kering yang ia tumpuk di bawah kayu bakar.
Ketika api sudah menyala, ia harus menjaga agar api tidak
terlalu besar atau terlalu kecil. Terlalu besar, nasi akan gosong di luar
tetapi mentah di dalam. Terlalu kecil, nasi tidak akan matang-matang, dan ia
harus menambah kayu bakar, dan itu berarti waktu memasak lebih lama, dan itu
berarti ia tidak bisa segera pergi ke sungai.
Kadang nasinya gosong. Kadang terlalu lembek. Kadang
terlalu keras. Kadang setengah matang.
Tapi ia tidak menyerah.
Setiap hari ia belajar.
Setiap hari ia mencoba memperbaiki kesalahannya.
Setiap hari ia berusaha memasak nasi yang lebih baik dari
hari sebelumnya.
Karena ibunya tidak bisa memasak lagi.
Karena ibunya terlalu lelah untuk berdiri di depan tungku.
Karena ibunya membutuhkannya.
Ia mencuci piring setiap malam, setelah makan malam
selesai.
Piring-piring enamel putih dengan pinggiran biru, yang
sudah tergores di sana-sini, yang enamelnya mulai terkelupas di beberapa
tempat. Sendok dan garpu dari besi yang sudah berkarat, yang harus digosok
keras-keras agar karatnya hilang.
Ia membawa piring-piring itu ke belakang rumah, ke tempat
di mana ada ember berisi air dan sabun colek dari abu dapur. Sabun colek yang
tidak berbusa, yang tidak wangi, yang hanya membuat air menjadi keruh, tetapi
cukup untuk membersihkan minyak dan sisa-sisa makanan.
Tangannya yang kecil dan kurus menggosok setiap piring
dengan sabut kelapa, dengan gerakan memutar, berulang-ulang, sampai piring itu
terasa bersih ketika ia sentuh dengan jarinya.
Ia membilasnya dengan air bersih dari ember kedua, lalu
menumpuknya di rak bambu di samping dapur, tempat piring-piring itu akan
mengering semalaman, dan akan ia gunakan lagi besok pagi.
Ia melakukan semua itu tanpa disuruh.
Tanpa diminta.
Tanpa diingatkan.
Karena ia melihat ibunya lelah.
Karena ia melihat ibunya sakit.
Karena ia melihat ibunya tidak bisa lagi melakukan semua
yang dulu ia lakukan.
Dan karena ia ingin membantu.
Bukan karena ia terpaksa.
Bukan karena ia ingin dipuji.
Tetapi karena ia sayang ibunya.
Kirana sering datang diam-diam membantu.
Kadang membawa sayuran dari kebun ibunya. Bayam, kangkung,
terong, cabai, tomat. Sayuran yang masih segar, yang masih basah oleh embun
pagi, yang daunnya masih hijau cerah. Ia meletakkannya di dapur tanpa suara,
lalu pergi, tidak ingin diganggu, tidak ingin diucapkan terima kasih.
Kadang membawa obat batuk tradisional dari daun sirih dan
jahe, yang ditumbuk halus dan dicampur dengan madu, lalu dibungkus daun pisang.
"Minum tiga kali sehari, Mak," pesannya pada Ratih. "Nanti
batuknya sembuh."
Kadang hanya duduk di samping Danang, tidak bicara, hanya
menemani. Menemani ketika Danang sedang menggambar. Menemani ketika Danang
sedang mencuci piring. Menemani ketika Danang sedang duduk di beranda,
memandang sungai, memikirkan semua yang terjadi.
Suatu sore, ketika hujan gerimis turun pelan, Kirana dan
Danang duduk di dapur. Ratih sedang tidur di kamar, tubuhnya panas karena
demam, napasnya pendek-pendek. Danang sudah mengganti kompres di kening ibunya
tiga kali, tetapi demamnya tidak kunjung turun.
Di luar, hujan turun dengan suara yang teratur, seperti
detak jam yang tidak pernah berhenti. Air jatuh dari atap rumbia membentuk
tirai tipis yang memburamkan dunia di luar. Sesekali angin berhembus, membawa
butir-butir hujan ke dalam dapur, membasahi lantai kayu di dekat pintu.
Danang duduk di lantai dapur, bersandar di dinding kayu
yang dingin. Tangannya yang kecil dan kurus menggenggam gelas berisi air putih,
gelas yang tidak pernah ia minum, hanya ia genggam, seperti ia sedang
menggenggam sesuatu yang berharga, seperti ia sedang menggenggam harapan yang
hampir habis.
Kirana duduk di sampingnya, bersandar di dinding yang sama.
Bahu mereka hampir bersentuhan. Hanya beberapa sentimeter yang memisahkan
mereka. Kirana bisa merasakan dinginnya tubuh Danang. Danang bisa mencium wangi
rambut Kirana, wangi sabun kelapa yang murah tetapi harum, yang selalu
membuatnya tenang.
"Kau capek, Danang?" tanya Kirana. Suaranya
pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan, tetapi cukup jelas di telinga Danang.
Danang menggeleng. "Tidak."
"Kau bohong."
Danang menatap tungku api yang hampir padam. Abu-abu
bercampur dengan bara kecil yang masih menyala, seperti harapan yang hampir
habis, seperti api yang hampir mati, tetapi masih ada, masih bertahan, masih
memberikan sedikit cahaya dan kehangatan.
"Iya," katanya akhirnya. "Aku capek."
Kirana tidak mengatakan "Sudah kuduga" atau
"Aku tahu" atau "Makanya jangan bohong". Ia hanya diam. Ia
hanya mendengarkan. Ia hanya menunggu Danang melanjutkan.
Danang menarik napas panjang. Udara di dapur terasa lembab,
dingin, bau tanah basah dan abu kayu bakar.
"Aku capek melihat Ibu sakit," lanjut Danang. Suaranya
pelan, hampir seperti bisikan, seperti suara yang keluar dari tempat paling
dalam di hatinya. "Aku capek mendengar Ibu batuk setiap malam. Aku capek
melihat Ibu semakin kurus setiap hari. Aku capek mengganti kompres di kening
Ibu, tetapi demamnya tidak pernah turun. Aku capek berdoa kepada Tuhan, tetapi
Tuhan sepertinya tidak mendengar."
Kirana menatapnya.
Matanya lembut.
Penuh perhatian.
Penuh kasih sayang.
"Apa kau takut?" tanya Kirana.
Danang terdiam lama.
Begitu lama hingga Kirana mengira ia tidak akan menjawab.
Lalu dengan suara yang sangat kecil, hampir tidak
terdengar, hampir seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh angin dan
hujan, ia berkata, "Aku takut Ibu mati."
Kirana tidak terkejut.
Ia sudah menduga.
Ia sudah melihat ketakutan di mata Danang sejak beberapa
hari yang lalu, sejak Ratih mulai sakit parah, sejak Danang mulai mengambil
alih semua pekerjaan rumah, sejak Danang mulai terlihat lebih tua dari usianya.
"Kalau Ibu mati," lanjut Danang, suaranya mulai
bergetar, mulai pecah, seperti kaca yang retak dan akan hancur kapan saja,
"aku tidak tahu harus jadi siapa. Aku tidak tahu harus tinggal di mana.
Aku tidak tahu bagaimana hidup tanpa Ibu. Aku tidak tahu..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Air matanya jatuh.
Pertama setetes.
Lalu dua tetes.
Lalu tidak bisa dihitung lagi.
Ia tidak berusaha menyembunyikannya.
Ia tidak berusaha menghapusnya.
Ia hanya membiarkan air matanya jatuh.
Membiarkan tangisnya keluar.
Membiarkan semua ketakutan yang selama ini ia pendam, yang
selama ini ia sembunyikan di balik senyum dan kerja keras dan keheningan,
keluar semua.
Kirana tidak mengatakan "Jangan takut" atau
"Ibu kamu tidak akan mati" atau "Semuanya akan baik-baik
saja".
Ia tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya mengambil tangan Danang dan menggenggamnya.
Genggaman yang hangat.
Genggaman yang sama seperti saat mereka berteduh di pondok
sawah saat hujan deras dulu, ketika Danang pertama kali mengakui bahwa ia takut
kehilangan segalanya.
Genggaman yang sama seperti saat mereka di tepi sungai,
ketika Danang pertama kali memberi tahu bahwa ayahnya punya masalah.
Genggaman yang tidak berubah.
Genggaman yang selalu hangat.
Genggaman yang selalu menjadi rumah bagi Danang.
"Aku di sini, Danang," bisik Kirana. Hanya tiga
kata. Tiga kata yang sederhana. Tiga kata yang tidak membutuhkan penjelasan.
Tiga kata yang cukup untuk membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian.
"Aku di sini."
Danang tidak menjawab.
Ia hanya membalikkan tangannya, membalikkan telapak
tangannya yang dingin dan basah oleh air mata, lalu menggenggam balik tangan
Kirana.
Genggaman yang erat.
Genggaman yang tidak mau melepaskan.
Genggaman yang seperti mengatakan "Jangan pergi.
Jangan tinggalkan aku. Aku tidak kuat sendirian."
Kirana menggenggam balik.
Tak perlu kata-kata.
Tak perlu janji.
Tak perlu sumpah.
Cukup genggaman.
Cukup kehangatan.
Cukup kehadiran.
Karena kadang, di saat-saat paling gelap dalam hidup
seseorang, yang ia butuhkan bukanlah solusi atau nasihat atau kata-kata bijak.
Hanya seseorang yang duduk di sampingnya.
Yang menggenggam tangannya.
Yang mengatakan "Aku di sini."
Dan itu sudah cukup.
Itu sudah lebih dari cukup.
Di luar, hujan masih turun.
Gerimis.
Pelan.
Sayu.
Seperti alam ikut menangis.
Seperti langit ikut bersedih.
Seperti dunia ikut merasakan bahwa di sebuah dapur kecil di
tepi Sungai Kapuas Muara, dua anak kecil sedang berpelukan di tengah kegelapan,
berusaha bertahan dari badai yang tidak terlihat tetapi terasa.
Danang tidak tahu berapa lama mereka duduk di sana.
Mungkin beberapa menit.
Mungkin satu jam.
Mungkin lebih.
Yang ia tahu, ketika ia akhirnya berdiri untuk mengecek
ibunya di kamar, tangannya masih terasa hangat.
Hangat oleh genggaman Kirana.
Hangat oleh kehadiran Kirana.
Hangat oleh cinta Kirana.
Cinta yang belum ia sadari, tetapi sudah ia rasakan.
Cinta yang tumbuh diam-diam, seperti akar pohon beringin
yang perlahan merusak fondasi rumah, tetapi juga memberikan kekuatan untuk
tetap berdiri.
Cinta yang akan menjadi alasan mengapa ia bertahan di
hari-hari paling kelam dalam hidupnya.
Cinta yang akan menjadi lukanya yang paling indah dan
paling menyakitkan pada saat yang bersamaan.
Bab 17
Hujan
dan Janji yang Tak Disadari
Malam itu hujan turun sangat deras.
Bukan hujan biasa. Bukan hujan gerimis yang pelan dan sayu.
Bukan hujan sore yang mengguyur sebentar lalu reda. Ini hujan yang turun dengan
kemarahan, dengan amarah, dengan keputusasaan. Seperti langit sedang
melampiaskan semua yang selama ini ia pendam. Seperti Tuhan sedang menangis dan
tidak peduli siapa yang basah.
Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa,
butir-butirnya besar dan keras, menghantam atap rumbia dengan suara seperti
ribuan genderang yang ditabuh bersamaan, seperti ribuan kuku kuda yang berlari
di atas tanah kering, seperti ribuan orang yang bertepuk tangan dengan marah.
Angin bertiup kencang, menderu di antara celah-celah
dinding kayu, membuat lampu minyak di ruang tengah bergoyang-goyang, hampir
padam beberapa kali. Daun-daun kelapa di belakang rumah bergoyang liar,
patah-patah, beberapa pelepah jatuh ke tanah dengan suara gemerisik yang nyaris
tak terdengar di tengah derasnya hujan.
Hujan yang membuat orang enggan keluar rumah. Hujan yang
membuat orang lebih memilih berdiam diri di dalam, berselimut tebal, menikmati
secangkir teh hangat sambil mendengar suara air yang jatuh dari atap. Hujan
yang membuat orang malas melakukan apa pun selain tidur atau bermalas-malasan.
Hujan yang membuat sungai meluap dan merendam beberapa
rumah yang terlalu dekat dengan tepian. Air sungai yang biasanya tenang, yang
biasanya mengalir pelan seperti orang yang sedang berjalan santai di sore hari,
kini bergolak, mengalir cepat, naik setiap jamnya. Warna airnya coklat keruh,
membawa lumpur dan pasir dan ranting-ranting pohon dari hulu.
Hujan yang membuat listrik padam di seluruh desa, jika desa
itu punya listrik. Tapi desa itu tidak punya listrik. Tidak ada satupun rumah
di desa itu yang memiliki sambungan listrik dari PLN. Listrik baru masuk ke
desa itu sepuluh tahun kemudian, ketika Danang sudah dewasa dan pergi merantau.
Malam itu, yang ada hanyalah lampu minyak dan lilin. Lampu minyak dengan sumbu
yang pendek, yang minyaknya hampir habis, yang nyala apinya kecil dan
berkedip-kedip seperti akan mati kapan saja.
Danang duduk di beranda rumahnya, bersandar di tiang kayu
yang dingin dan lembab. Air hujan jatuh di depannya, membentuk tirai yang
memburamkan dunia di luar. Dari balik tirai itu, ia bisa melihat sungai yang
gelap, yang airnya naik, yang arusnya deras, yang mengancam akan merendam
rumahnya jika hujan tidak berhenti dalam beberapa jam ke depan.
Sastrowiryo belum pulang. Mungkin ia sedang bertugas jaga
malam di dermaga, menjaga karung-karung beras yang baru saja diturunkan dari
kapal, menunggu truk-truk yang akan mengangkutnya ke gudang-gudang di kota.
Mungkin ia sedang minum tuak di warung pinggir jalan, bersama teman-temannya
yang juga pekerja dermaga, melupakan masalah sejenak, menenggelamkan kesedihan
dalam botol.
Mungkin ia sedang menghindari rumahnya sendiri. Menghindari
istri yang sakit. Menghindari anak yang bukan anak kandungnya. Menghindari
pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Menghindari kenyataan bahwa ia
bukan ayah yang baik, bukan suami yang baik, bukan lelaki yang baik.
Seperti yang sering ia lakukan belakangan ini.
Seperti yang sudah menjadi kebiasaannya.
Pergi di pagi hari sebelum matahari terbit, pulang di malam
hari ketika semua orang sudah tidur, atau tidak pulang sama sekali, tidur di
dermaga, tidur di warung, tidur di mana pun asal tidak di rumah.
Ratih tertidur di kamar karena demam. Tubuhnya panas,
sangat panas, seperti ada api yang membakar di dalam tubuhnya. Danang sudah
mengganti kompres di kening ibunya tiga kali malam itu, tetapi demamnya tidak
kunjung turun. Air rebusan jahe masih hangat di termos, tetapi Ratih tidak bisa
minum karena ia terus batuk setiap kali mencoba meneguk air.
Obat dari Mak Tonah sudah diminum. Obat dari Kirana sudah
diminum. Obat dari tetangga yang baik hati sudah diminum. Tapi tidak ada yang
berhasil. Demamnya tidak turun. Batuknya tidak reda. Napasnya tetap pendek.
Sekarang yang bisa Danang lakukan hanyalah menunggu.
Menunggu sampai demamnya turun dengan sendirinya. Menunggu sampai tubuh ibunya
cukup kuat untuk melawan penyakitnya. Menunggu sampai keajaiban datang, jika
keajaiban itu memang ada.
Desa gelap. Lampu minyak di rumah-rumah tetangga sudah
padam satu per satu. Hanya beberapa titik cahaya yang masih terlihat di
kejauhan, mungkin lilin, mungkin lampu minyak dengan sumbu yang masih panjang,
mungkin api unggun di rumah petani yang sedang menjaga sawahnya dari hama
tikus.
Danang hanya punya satu lilin kecil yang hampir habis.
Lilin itu ia tempatkan di meja dekat ranjang ibunya, agar jika Ratih terbangun,
ia tidak sendirian dalam gelap. Agar jika Ratih membutuhkan sesuatu, ia bisa
melihat di mana Danang berada. Agar jika Ratih takut, ia bisa melihat cahaya
kecil yang menyala, tanda bahwa masih ada kehidupan di rumah ini, bahwa ia
tidak sendirian.
Lilin itu meleleh perlahan, lilin kuning yang mencair
membentuk genangan kecil di atas meja kayu yang sudah tua. Sumbunya hitam,
terbakar, kadang berasap, kadang berkedip-kedip, seperti akan mati, tetapi
masih bertahan, masih memberikan cahaya, masih memberikan harapan.
Ia sendiri duduk di beranda karena ia tidak bisa tidur.
Pikirannya terlalu sibuk. Kekhawatirannya terlalu besar. Ketakutannya terlalu
nyata.
Ia memandang hujan. Memandang gelap. Memandang sungai yang
mengalir deras. Memandang langit yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan cerah.
Tiba-tiba, dari kejauhan, di sela-sela suara hujan dan
angin, ia mendengar suara langkah kaki. Langkah kaki yang berlari. Langkah kaki
yang tergesa-gesa. Langkah kaki yang basah, yang menginjak genangan air, yang
memercikkan lumpur ke mana-mana.
Ia menajamkan pandangan.
Seseorang berlari menuju rumahnya.
Seseorang kecil.
Seseorang dengan rambut panjang yang basah, yang
berkibar-kibar ditiup angin, yang menempel di wajah dan leher.
Seseorang yang ia kenal.
Seseorang yang selalu menjadi rumah baginya.
Kirana.
Ia berlari dari arah timur, dari arah rumahnya yang
berjarak hampir setengah kilometer. Payung yang ia bawa tidak berguna, karena
angin terlalu kencang, karena hujan terlalu deras, karena ia berlari terlalu
cepat. Payung itu terbalik, rusak, beberapa jari-jarinya patah, dan akhirnya ia
buang di pinggir jalan, terus berlari tanpa perlindungan.
Rambutnya basah kuyup. Rambut panjang hitam yang biasanya
diikat rapi dengan karet gelang merah, kini terurai, basah, menempel di dahi,
di pipi, di leher. Air mengalir dari ujung rambutnya, jatuh ke bahunya, ke
bajunya, ke tanah.
Bajunya basah. Baju tidur berwarna putih yang biasa ia
kenakan ketika malam hari, kini basah, menempel di tubuhnya yang kecil,
transparan, memperlihatkan kulitnya yang putih di bawahnya. Tetapi ia tidak
peduli. Ia tidak sadar. Yang ia pikirkan hanyalah Danang. Yang ia pikirkan
hanyalah Ratih. Yang ia pikirkan hanyalah obat yang ia bawa.
Di tangannya, ia memegang sesuatu. Bungkusan daun pisang
yang basah, yang hampir hancur karena terguyur hujan, tetapi masih utuh, masih
ia genggam erat, seperti sedang memegang sesuatu yang sangat berharga, seperti
sedang memegang nyawa seseorang.
Danang berdiri. Ia berlari ke arah Kirana, menuruni tangga
kayu yang licin, hampir jatuh karena kakinya terpeleset, tetapi ia seimbangkan
dirinya tepat waktu.
"Kirana! Kau gila? Hujan deras begini kau
keluar?" teriak Danang, suaranya nyaris tak terdengar di tengah derasnya
hujan dan kencangnya angin.
Kirana tidak menjawab. Ia hanya terus berlari, terus
mendekat, sampai akhirnya ia berdiri di depan Danang, di bawah atap rumah,
terlindung dari hujan.
Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat.
Wajahnya merah, bukan karena malu, tetapi karena kelelahan, karena berlari
setengah kilometer di tengah hujan deras. Tangannya gemetar, entah karena
dingin, entah karena kelelahan, entah karena ketakutan.
"Ini... ini obat dari Ibu," kata Kirana, suaranya
terputus-putus karena napasnya yang masih tersengal. Ia mengulurkan tangannya,
memberikan bungkusan daun pisang yang basah itu kepada Danang. "Ibu
bilang... obat ini bagus untuk demam... Ibu bilang... diminum tiga kali
sehari... Ibu bilang... Ibu bilang..."
Ia tidak bisa melanjutkan. Batuknya keluar. Batuk kering,
seperti batuk yang diderita Ratih. Mungkin karena ia kehujanan. Mungkin karena
ia berlari terlalu keras. Mungkin karena ia terlalu memaksakan diri.
Danang mengambil bungkusan itu. Daun pisangnya basah,
hampir hancur, tetapi isinya masih utuh. Ramuan dari daun-daunan dan
rempah-rempah, yang ditumbuk halus, yang dibungkus dengan hati-hati oleh ibu
Kirana.
"Makasih, Kirana," kata Danang. Suaranya lembut,
penuh terima kasih, tetapi juga penuh kekhawatiran. "Tapi kau... kau basah
kuyup. Masuk. Ganti baju dulu. Nanti kau sakit."
Kirana menggeleng. "Tidak usah. Aku hanya antar obat.
Aku harus segera pulang. Ibu menunggu."
"Tapi kau basah. Kau bisa sakit."
"Tidak apa. Aku kuat."
Danang menatapnya. Matanya yang gelap, yang dalam, yang
seperti lubang sumur tua, menatap wajah Kirana yang basah oleh air hujan, yang
merah karena kelelahan, yang bibirnya mulai membiru karena kedinginan.
"Kirana," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Kau... kenapa kau melakukan ini? Hujan deras begini.
Jauh. Gelap. Berbahaya. Kenapa?"
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi masa kecil Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian
di dunia.
Senyum yang telah ia simpan di memorinya sejak pertama kali
mereka bertemu di tepi sungai.
"Karena Ibu mu sakit, Danang," jawab Kirana
sederhana. Seperti itu sudah cukup. Seperti tidak perlu penjelasan lebih
lanjut. Seperti alasan itu sudah melebihi semua alasan lainnya. "Karena
Ibu mu membutuhkan obat. Karena aku tidak tega melihatmu sendirian."
Danang terdiam.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan rasa
terima kasihnya.
Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang
ia rasakan saat itu.
Rasa haru.
Rasa terima kasih.
Rasa tidak percaya bahwa masih ada orang yang mau melakukan
hal seperti ini untuknya.
"Masuk dulu," kata Danang akhirnya. "Aku
ambilkan handuk. Kau bisa pakai baju Bapak dulu. Nanti setelah hujan reda, kau
pulang."
Kirana menggeleng lagi. "Tidak usah, Danang. Aku
harus—"
"Masuk, Kirana."
Suara Danang tegas. Tidak bisa ditawar. Tidak bisa
dibantah.
Kirana terdiam. Ia menatap Danang. Matanya yang tadinya berkilau
karena air hujan, kini berkaca-kaca. Bukan karena sedih. Bukan karena takut.
Tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu
yang membuat hatinya terasa hangat meskipun tubuhnya dingin.
"Baiklah," bisiknya. "Sebentar saja."
Mereka duduk di beranda, di lantai kayu yang dingin dan
lembab. Kirana sudah mengganti bajunya dengan kemeja tua milik Sastrowiryo,
kemeja lengan panjang berwarna abu-abu yang sudah lusuh dan berlubang di siku.
Kemeja itu terlalu besar untuknya, menjuntai di bahunya yang sempit, ujung
lengannya menutupi jari-jarinya.
Tubuhnya masih basah, rambutnya masih basah, tetapi
setidaknya ia tidak lagi menggigil. Handuk tipis yang diberikan Danang
melingkar di bahunya, menyerap sisa-sisa air yang masih menetes dari rambutnya.
Danang menyiapkan teh hangat dari termos. Teh celup murah
yang dibeli ibunya di warung, dengan gula batu sepotong. Ia menuangkan air
panas ke dalam cangkir keramik yang sudah retak di pinggirnya, lalu
menyerahkannya pada Kirana.
"Ini, hangatkan badan dulu."
Kirana menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Telapak
tangannya yang kecil dan dingin menyentuh cangkir yang hangat, dan ia menghela
napas pelan, menikmati kehangatan yang merambat dari ujung jari ke pergelangan
tangan, ke lengan, ke seluruh tubuh.
Mereka duduk berdampingan, memandang hujan yang masih turun
deras. Air jatuh dari atap membentuk tirai, memburamkan dunia di luar. Sungai
di kejauhan terdengar bergolak, arusnya deras, mengancam.
"Kirana," panggil Danang.
"Ya?"
"Aku... aku tidak tahu bagaimana membalas semua
kebaikanmu."
Kirana menoleh. Matanya bertemu dengan mata Danang. Matanya
yang coklat kehijauan, yang selalu berbinar, yang selalu membuat Danang merasa
bahwa dunia ini masih layak dihuni.
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Danang," kata
Kirana. "Kita teman. Teman membantu teman. Tidak perlu
balas-membalas."
"Tapi kau sudah melakukan banyak hal untukku.
Membelaku di depan Surya. Membawa obat untuk Ibu. Menemaniku ketika aku sedih.
Menggenggam tanganku ketika aku takut. Datang ke sini di tengah hujan deras.
Semua itu... aku tidak tahu bagaimana membalasnya."
Kirana tersenyum.
Senyum yang lembut.
Senyum yang membuat Danang lupa pada semua masalah yang
sedang menghantam hidupnya.
"Kau tidak perlu membalas, Danang. Cukup kau... cukup
kau tetap menjadi Danang. Cukup kau tetap menjadi temanku. Cukup kau tidak
pergi. Itu sudah cukup."
Danang menatapnya.
Untuk beberapa saat, hanya suara hujan yang terdengar.
Suara air jatuh dari atap.
Suara angin yang menderu.
Suara sungai yang bergolak.
Suara jantung mereka yang berdetak.
"Kirana," panggil Danang lagi, suaranya lebih
pelan, hampir seperti bisikan.
"Hmm?"
"Apa kau... apa kau akan selalu di sini?"
Kirana tidak menjawab segera.
Ia menatap hujan.
Menatap gelap.
Menatap sungai.
Menatap sesuatu yang tidak terlihat oleh Danang.
"Aku tidak tahu, Danang," katanya akhirnya,
jujur. "Ayahku pekerjaannya pindah-pindah. Suatu hari nanti, mungkin kita
harus pindah lagi. Mungkin ke kota. Mungkin ke desa lain. Aku tidak tahu."
Danang terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
Sesuatu yang seperti ingin keluar, tetapi ia tahan.
"Kalau kau pergi," katanya pelan, "aku akan
sendirian lagi."
Kirana menatapnya.
Matanya berkaca-kaca.
"Kau tidak akan sendirian, Danang. Aku akan selalu
bersamamu. Meskipun aku jauh. Meskipun kita tidak bertemu. Meskipun
bertahun-tahun berlalu. Aku akan selalu bersamamu."
"Janji?"
Kirana mengangkat jari kelingkingnya.
Jari kecil yang gemetar karena dingin dan sedih.
Jari yang sama yang dulu menggenggam tangannya saat badai.
Jari yang sama yang pernah menunjuk ke arah Surya dengan
berani.
Jari yang sama yang pernah memegang bunga liar di tepi
sungai.
"Janji," bisiknya.
Danang menatap jari kecil itu lama.
Jari yang dingin.
Jari yang basah.
Jari yang gemetar.
Lalu perlahan ia mengaitkan jari kelingkingnya.
Di bawah hujan malam, di beranda rumah yang dingin, di
tengah kegelapan yang pekat, dua anak kecil membuat janji.
Janji yang belum mereka tahu akan menjadi luka seumur
hidup.
Janji yang akan mereka ingat ketika rambut mulai memutih
dan langkah mulai lambat.
Janji yang akan membuat mereka tersenyum pahit ketika
sendirian di malam hari, memandang langit-langit yang retak, mengingat masa
lalu yang tidak bisa kembali.
Janji yang mungkin tidak akan pernah bisa mereka tepati,
tetapi akan terus mereka genggam seperti jimat, seperti harapan, seperti alasan
untuk terus hidup.
Janji.
Kata yang paling indah dan paling menyakitkan.
Kata yang membuat orang bertahan di saat-saat paling sulit.
Kata yang membuat orang hancur ketika janji itu dilanggar.
Kata yang akan menemani Danang sepanjang hidupnya.
"Janji," ulang Danang, suaranya hampir tidak
terdengar.
Jari kelingking mereka tergenggam.
Kecil.
Rapuh.
Tapi kuat.
Kuat seperti cinta yang belum mereka sadari.
Kuat seperti kenangan yang akan bertahan selamanya.
Kuat seperti waktu yang tidak akan pernah bisa menghapus
jejak mereka.
Di dalam kamar, Ratih terbangun.
Demamnya masih tinggi.
Tubuhnya masih panas.
Napasnya masih pendek.
Tapi ia tersenyum.
Ia mendengar suara Danang dan Kirana di beranda.
Ia mendengar tawa kecil mereka di sela-sela suara hujan.
Ia mendengar janji yang mereka buat.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, setelah
semua yang terjadi, setelah kebakaran, setelah tuduhan, setelah kedatangan
Mandor Jalil, setelah penyakit yang menggerogoti tubuhnya, Ratih merasa tenang.
Karena ia tahu bahwa Danang tidak sendirian.
Karena ia tahu bahwa ada seseorang yang peduli pada
anaknya.
Karena ia tahu bahwa meskipun ia pergi, Danang akan
baik-baik saja.
Atau setidaknya, ia berharap demikian.
Hujan reda menjelang subuh.
Kirana pulang ketika langit timur mulai terang, ketika
burung-burung mulai berkicau, ketika ayam-ayam mulai berkokok.
Danang mengantarnya sampai ke ujung jalan, sampai ke
perempatan di mana mereka harus berpisah.
"Sampai nanti, Danang," kata Kirana, tersenyum.
"Sampai nanti, Kirana."
Kirana berjalan perlahan, menuju rumahnya yang berjarak
setengah kilometer di timur.
Danang berdiri di perempatan itu, memandang sampai sosok
Kirana hilang di balik tikungan, di balik pohon-pohon pisang, di balik kabut
pagi yang mulai naik.
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, setelah
semua yang terjadi, ia tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya.
Senyum yang mengatakan bahwa meskipun hidup berat, meskipun
dunia kejam, meskipun masa lalu kelam, masih ada alasan untuk tersenyum.
Kirana.
Kirana adalah alasan itu.
Bab 18
Lelaki
yang Mulai Kehilangan Rumah
Malam berikutnya, Danang pulang lebih lambat dari sungai.
Bukan karena ia sengaja ingin pulang terlambat. Bukan
karena ia sedang bermain dengan Kirana hingga lupa waktu. Bukan karena ada
sesuatu yang menahannya di tepi sungai. Tetapi karena ia duduk lama di akar
pohon waru, terlalu lama, memandang air yang gelap, memikirkan banyak hal.
Ia duduk di akar pohon waru yang sama, di tempat yang sama,
dengan pemandangan yang sama. Sungai yang gelap. Langit yang gelap.
Bintang-bintang yang berkedip samar-samar karena tertutup awan tipis. Angin
malam yang dingin menusuk tulang.
Tetapi pikirannya berbeda.
Ia memikirkan ibunya yang sakit.
Memikirkan ayahnya yang semakin jauh.
Memikirkan Mandor Jalil yang datang dengan ancaman.
Memikirkan Surya yang membencinya.
Memikirkan Kirana yang suatu hari mungkin akan pergi.
Memikirkan dirinya sendiri yang tidak tahu siapa dirinya.
Memikirkan ayah kandungnya, lelaki dengan rambut panjang
yang menari di atas panggung ketoprak, yang menghamili ibunya lalu pergi tanpa
pamit, tanpa kabar, tanpa tanggung jawab.
Memikirkan apakah lelaki itu masih hidup.
Memikirkan apakah lelaki itu pernah memikirkannya.
Memikirkan apakah lelaki itu menyesal.
Memikirkan apakah lelaki itu bahagia dengan hidupnya yang
baru, dengan istri barunya, dengan anak-anak barunya, sementara ia, Danang,
anak yang ditinggalkan, hidup dalam kemiskinan dan aib dan ketidakpastian.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab.
Pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan menemaninya sepanjang
hidupnya, seperti bayangan yang tidak pernah pergi, seperti luka yang tidak
pernah sembuh.
Ketika ia akhirnya berdiri dari akar pohon waru, ketika ia
memutuskan untuk pulang, langit sudah benar-benar gelap. Tidak ada lagi cahaya
senja. Tidak ada lagi warna jingga di ufuk barat. Hanya gelap. Gelap yang
pekat. Gelap yang seperti beludru hitam yang menutupi seluruh dunia.
Ia berjalan pulang dengan langkah pelan, tidak
tergesa-gesa, karena tidak ada yang menunggunya di rumah. Ayahnya mungkin belum
pulang, atau sudah pulang tetapi mabuk dan tidur di kursi bambu. Ibunya mungkin
sudah tidur, atau terbangun sendirian di kamar, menunggu Danang pulang,
khawatir tetapi tidak bisa pergi mencarinya karena tubuhnya terlalu lemah.
Ketika ia sampai di depan rumahnya, rumah itu sudah gelap.
Tidak ada lampu minyak yang menyala di ruang tengah. Tidak ada cahaya lilin
dari kamar ibunya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam. Hanya kegelapan.
Hanya kesunyian. Hanya rumah panggung dengan tiang kayu ulin yang mulai lapuk,
berdiri diam di tepi sungai, seperti kuburan yang tidak terawat.
Tetapi ketika ia mendekat, ketika ia menaiki tangga kayu
yang berderit, ketika ia hendak membuka pintu, ia mendengar suara dari dalam.
Suara keras.
Suara yang tidak asing baginya.
Suara yang sudah sering ia dengar, tetapi tidak pernah
semengerikan ini.
Suara yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Sastrowiryo dan Ratih bertengkar lagi.
Danang berdiri di tangga, di anak tangga teratas, tepat di
depan pintu. Tangannya yang hendak membuka pintu, berhenti di udara.
Jari-jarinya yang kecil dan kurus menggantung, tidak bergerak, seperti patung,
seperti orang yang sedang membeku.
Ia ragu.
Ia tidak tahu harus masuk atau tidak.
Ia ingin masuk. Tubuhnya lelah. Matanya mengantuk.
Pikirannya penat. Ia hanya ingin berbaring di tikarnya, memejamkan mata, dan
melupakan semua masalah untuk sementara waktu.
Tetapi ia juga ingin lari. Lari sejauh-jauhnya, ke tempat
di mana tidak ada pertengkaran, tidak ada rahasia, tidak ada luka. Ke tempat di
mana hanya ada sungai yang tenang dan pohon waru yang rindang dan Kirana yang
tersenyum.
Kakinya terasa berat. Seolah ada akar yang tumbuh dari
telapak kakinya, mencengkeram kayu tangga, menahannya di tempatnya.
"Dia mulai tahu, Mas!" suara Ratih pecah dari
dalam. Tangisnya terdengar. Tangis yang sudah sering ia dengar akhir-akhir ini,
tetapi tidak pernah semenyayat hati ini. Tangis yang seperti orang yang sudah
tidak punya harapan lagi. Tangis yang seperti orang yang sudah menyerah.
"Danang mulai tahu! Dia bertanya tentang ayah kandungnya! Dia bertanya
kenapa Bapaknya bukan ayah kandungnya! Dia bertanya kenapa keluarganya
berbeda!"
Sastrowiryo membanting sesuatu. Mungkin kursi. Mungkin
piring. Mungkin gelas. Mungkin botol kosong yang ia temukan di meja. Suara kayu
pecah terdengar keras di malam yang sunyi, seperti suara tulang yang patah,
seperti suara sesuatu yang hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi.
"Aku sudah bilang, Ratih! Jangan buka itu! Jangan buka
masa lalu! Biarkan dia hidup seperti anak-anak lain! Biarkan dia tidak tahu! Biarkan
dia tidak terbebani!"
"Untuk apa, Mas? Untuk apa kita sembunyikan? Untuk apa
kita bohongi dia? Untuk apa kita pura-pura bahwa semuanya normal? Semuanya
tidak normal, Mas! Keluarga kita tidak normal! Danang anak haram! Mas bukan
ayah kandungnya! Aku hamil di luar nikah! Itu fakta! Itu kenyataan! Tidak bisa
kita sembunyikan selamanya!"
"Kau diam, Ratih!"
"Tidak! Aku tidak bisa diam lagi! Aku sudah diam
selama bertahun-tahun! Aku sudah pendam semua ini selama bertahun-tahun! Aku
sudah biarkan Mas minum setiap malam, pulang larut, tidak pernah peduli pada
anak! Aku sudah biarkan orang-orang menghina Danang, memanggilnya anak haram,
tanpa bisa membela karena aku takut! Aku sudah cukup, Mas! Aku sudah
cukup!"
Danang berdiri di tangga.
Tak berani masuk.
Tak berani pergi.
Hanya berdiri.
Membatu.
Seolah tubuhnya lupa cara bergerak.
Seolah pikirannya lupa cara berpikir.
Seolah dunianya berhenti berputar.
Ratih menangis lebih keras.
"Danang berhak tahu siapa ayahnya, Mas!" teriak
Ratih, suaranya pecah, tangisnya keluar, tidak bisa lagi ditahan. "Dia
berhak tahu dari mana dia berasal! Dia berhak tahu darah apa yang mengalir di
tubuhnya! Dia berhak tahu mengapa ayah kandungnya pergi! Dia berhak tahu
mengapa Mas mau menikahi aku! Dia berhak tahu semua! Karena itu hidupnya!
Karena itu masa depannya! Karena itu identitasnya!"
Kalimat itu menghantam Danang seperti petir di siang
bolong.
Seperti sambaran yang tidak terduga, yang membuat rambutnya
berdiri, yang membuat jantungnya berhenti sejenak, yang membuat dunianya terbalik.
Danang berhak tahu siapa ayahnya.
Dia berhak tahu dari mana dia berasal.
Dia berhak tahu darah apa yang mengalir di tubuhnya.
Dia berhak tahu mengapa ayah kandungnya pergi.
Dia berhak tahu mengapa Mas mau menikahi aku.
Dia berhak tahu semua.
Karena itu hidupnya.
Karena itu masa depannya.
Karena itu identitasnya.
Identitas.
Kata yang berat.
Kata yang selama ini ia cari.
Kata yang selama ini ia tanyakan dalam diam.
Kata yang selama ini ia rindukan jawabannya.
Dan malam itu, di tangga rumahnya yang dingin, di tengah
pertengkaran orang tuanya, ia mendengar kata itu diucapkan oleh ibunya sendiri.
Bukan oleh Surya.
Bukan oleh tetangga.
Bukan oleh dua perempuan tua di bawah rumah.
Tetapi oleh ibunya.
Ratih.
Perempuan yang melahirkannya.
Perempuan yang membesarkannya.
Perempuan yang menyembunyikan rahasia selama
bertahun-tahun.
Perempuan yang malam itu, dengan tangis dan amarah dan
keputusasaan, mengatakan bahwa ia berhak tahu.
Sastrowiryo terdiam.
Sunyi.
Hanya suara tangis Ratih yang terdengar.
Tangis yang sudah lama terpendam, yang akhirnya meledak
seperti bendungan yang jebol, seperti gunung berapi yang meletus, seperti badai
yang datang setelah kemarau panjang.
Tangis yang mengatakan bahwa ia sudah tidak kuat lagi.
Tangis yang mengatakan bahwa ia sudah lelah berpura-pura.
Tangis yang mengatakan bahwa ia sudah menyerah.
Lalu suara langkah berat mendekat.
Langkah kaki yang tidak stabil.
Langkah kaki yang seperti orang yang baru saja bangun dari
tidur panjang, atau seperti orang yang baru saja kehilangan keseimbangan.
Pintu terbuka.
Sastrowiryo berdiri di sana.
Wajahnya merah karena minuman keras. Matanya sayu, merah,
tidak fokus. Napasnya berat, bau alkohol menyengat dari mulutnya. Bajunya
kusut, tidak disetrika, beberapa kancing terbuka. Rambutnya acak-acakan,
seperti baru saja bangun tidur, atau seperti baru saja bergulung-gulung di
lantai.
Ia melihat Danang di tangga.
Melihat anak itu.
Anak yang bukan anak kandungnya.
Anak yang selama ini ia besarkan, ia rawat, ia beri nama.
Anak yang tidak pernah ia peluk, tidak pernah ia cium,
tidak pernah ia katakan "Aku sayang kamu".
Anak yang menjadi pengingat setiap hari bahwa ia gagal
sebagai suami, gagal sebagai ayah, gagal sebagai lelaki.
Untuk beberapa detik, tak ada yang bicara.
Hanya suara hujan di kejauhan yang mulai turun lagi.
Hanya angin malam yang berhembus pelan, membawa bau tanah
basah dan daun-daun basah.
Hanya suara napas mereka bertiga yang terdengar.
Sastrowiryo.
Ratih.
Danang.
Mata Danang perlahan basah.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia tidak ingin menangis.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan
menangis di depan ayahnya.
Ia sudah berjanji bahwa ia akan kuat, bahwa ia tidak akan
menunjukkan kelemahan, bahwa ia tidak akan memberi kepuasan pada ayahnya untuk
melihatnya menangis.
Tapi air mata itu tetap keluar.
Mengalir di pipinya yang kurus.
Jatuh ke tanah.
Membasahi lantai kayu yang berderit.
"Benar, Pak?" suara Danang keluar, pelan, hampir
tidak terdengar, seperti bisikan dari halaman yang sangat jauh. "Aku bukan
anak Bapak?"
Sastrowiryo memandang anak itu.
Bukan anak kandungnya.
Anak yang selama ini ia besarkan, ia rawat, ia beri nama.
Anak yang tidak pernah ia peluk, tidak pernah ia cium,
tidak pernah ia katakan "Aku sayang kamu".
Anak yang menjadi pengingat setiap hari bahwa ia gagal.
Tatapan kerasnya yang selama ini menjadi tameng, yang
selama ini melindunginya dari perasaan-perasaan yang tidak ingin ia rasakan,
untuk pertama kalinya retak.
Ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang belum pernah Danang lihat sebelumnya.
Air mata.
Di mata lelaki yang tidak pernah menangis.
Di mata lelaki yang selalu terlihat keras, kasar, tidak
punya perasaan.
Di mata lelaki yang lebih sering memegang botol daripada
memegang tangan anaknya.
Air mata.
Bukan air mata karena sedih.
Bukan air mata karena menyesal.
Bukan air mata karena sakit.
Tetapi air mata karena tahu bahwa ia telah gagal.
Gagal sebagai suami.
Gagal sebagai ayah.
Gagal sebagai manusia.
Air mata yang mengatakan bahwa ia bukan lelaki yang baik,
bahwa ia tidak pantas dipanggil "Bapak", bahwa ia tidak layak
dihormati.
Air mata yang mengatakan bahwa ia menyesal, tetapi tidak
tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Danang menunggu.
Menunggu jawaban.
Menunggu kebenaran.
Menunggu kata-kata yang akan mengubah segalanya.
Tapi Sastrowiryo tidak menjawab.
Ia hanya berdiri di ambang pintu, dengan air mata di
matanya yang merah, dengan tubuh yang gemetar, dengan napas yang berat.
Ia tidak bisa menjawab.
Bukan karena ia tidak tahu jawabannya.
Tetapi karena ia takut.
Takut bahwa jika ia mengakui kebenaran, Danang akan
membencinya.
Takut bahwa jika ia mengatakan "Aku bukan ayah
kandungmu", Danang akan pergi.
Takut bahwa jika ia jujur, ia akan kehilangan satu-satunya
hal yang membuatnya masih terhubung dengan dunia.
Danang mundur satu langkah.
Satu langkah kecil.
Hanya beberapa sentimeter.
Tetapi terasa seperti jarak bertahun-tahun.
Seperti jarak antara seorang anak yang mencari ayah, dan
seorang lelaki yang tidak bisa menjadi ayah.
Seperti jarak antara kebohongan yang nyaman dan kebenaran
yang menyakitkan.
Seperti jarak antara Danang yang masih berharap, dan Danang
yang mulai kehilangan harapan.
Karena kadang, rumah tidak runtuh karena badai.
Rumah tidak runtuh karena gempa.
Rumah tidak runtuh karena banjir.
Rumah runtuh karena satu jawaban yang tidak pernah datang.
Satu kata yang tidak pernah diucapkan.
Satu kebenaran yang terus ditunda hingga tidak ada lagi
waktu untuk mengatakannya.
Dan malam itu, Danang sadar bahwa ia mulai kehilangan
rumahnya, bahkan sebelum benar-benar meninggalkannya.
Bahwa rumah yang ia kenal selama ini mungkin tidak pernah
benar-benar ada.
Bahwa ia hidup di atas ilusi, dan ilusi itu kini hancur
berkeping-keping di hadapannya.
Bahwa ayah yang ia panggil "Bapak" selama ini,
lelaki yang tinggal serumah dengannya, yang makan di meja yang sama, yang tidur
di rumah yang sama, yang membayar biaya sekolahnya, yang membelikannya pakaian,
yang memberinya makan, bukanlah ayah kandungnya.
Bahwa ia adalah anak haram.
Anak di luar nikah.
Anak yang tidak diinginkan oleh ayah kandungnya.
Anak yang dibesarkan oleh lelaki yang tidak memiliki
kewajiban untuk membesarkannya.
Anak yang tidak tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal,
darah siapa yang mengalir di tubuhnya.
Ia tidak menangis.
Ia hanya berdiri di tengah hujan yang mulai turun, merasakan
air dingin membasahi seluruh tubuhnya, dan berharap bahwa hujan bisa
membersihkan semua luka yang tidak terlihat.
Tapi hujan tidak bisa.
Tidak ada yang bisa.
Danang berbalik.
Ia menuruni tangga.
Satu anak tangga.
Dua anak tangga.
Tiga anak tangga.
Langkahnya berat.
Seperti kakinya terbenam di lumpur.
Seperti ada beban yang menggantung di setiap langkahnya.
Sastrowiryo tidak memanggilnya.
Ratih tidak memanggilnya.
Mereka hanya berdiri di ambang pintu, memandang anak mereka
pergi, dengan air mata di mata, dengan penyesalan di hati, dengan kata-kata
yang tidak sempat diucapkan.
Danang berjalan ke tengah hujan.
Hujan mengguyur tubuhnya yang kecil.
Membasahi rambutnya.
Membasahi bajunya.
Membasahi kulitnya.
Membasahi lukanya.
Ia berjalan tanpa tujuan.
Tanpa arah.
Tanpa peta.
Tanpa kompas.
Hanya berjalan.
Meninggalkan rumah.
Meninggalkan rahasia.
Meninggalkan kebohongan.
Meninggalkan luka.
Berjalan ke mana matanya memandang.
Berjalan ke mana kakinya membawa.
Berjalan ke tempat yang tidak dikenal.
Berjalan ke tempat yang tidak akan ada yang mengenalnya.
Berjalan ke tempat di mana ia bisa menjadi siapa pun.
Berjalan ke tempat di mana ia bisa memulai dari awal.
Berjalan ke tempat di mana masa lalu tidak bisa
mengejarnya.
Berjalan ke tempat di mana ia bisa melupakan.
Tapi ia tidak tahu, bahwa beberapa luka tidak bisa
dilupakan.
Beberapa luka akan terus mengejarnya, tidak peduli seberapa
jauh ia berlari.
Beberapa luka akan tetap tinggal di hatinya, seperti akar
pohon beringin yang tidak bisa dicabut, yang terus tumbuh, yang terus merusak
fondasi rumahnya, yang terus membuatnya tidak pernah benar-benar bisa pulang.
Bab 19
Malam
Saat Kebenaran Pecah
Malam itu, setelah Danang berlari ke tengah hujan, setelah
ia basah kuyup dan gemetar kedinginan, setelah ia berjalan tanpa tujuan selama
hampir satu jam, ia kembali ke rumah.
Bukan karena ia ingin kembali. Bukan karena ia sudah
memaafkan. Bukan karena ia sudah menerima kenyataan bahwa Sastrowiryo bukan
ayah kandungnya. Tetapi karena ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Karena
di seluruh desa ini, di seluruh dunia ini, rumah itulah satu-satunya tempat
yang bisa ia sebut "rumah", meskipun rumah itu dingin, meskipun rumah
itu penuh rahasia, meskipun rumah itu terasa seperti kuburan bagi mimpi-mimpi.
Ia kembali dengan langkah gontai, tubuhnya basah, bajunya
basah, rambutnya basah. Air mengalir dari ujung rambutnya, jatuh ke bahunya, ke
bajunya, ke tanah. Giginya bergemeretak karena kedinginan. Bibirnya membiru.
Tangannya gemetar.
Ketika ia menaiki tangga rumahnya, pintu masih terbuka.
Sama seperti ketika ia pergi. Sastrowiryo dan Ratih masih di sana, berdiri di
ruang tengah, saling berhadapan, tetapi tidak lagi berteriak. Yang tersisa
hanyalah keheningan. Keheningan yang berat. Keheningan yang pekat. Keheningan
yang seperti kain kafan yang menutupi orang mati.
Ratih menangis ketika melihat Danang basah kuyup. Ia
berlari ke arah Danang, memeluknya, membawanya masuk ke dalam, mengeringkan
rambutnya dengan handuk, mengganti bajunya dengan baju kering. Tangannya yang
gemetar, yang dingin, yang lemah karena sakit, bergerak cepat, panik, takut
anaknya sakit, takut anaknya demam, takut anaknya meninggal seperti ayahnya,
seperti kakeknya, seperti semua lelaki dalam keluarganya.
"Nang, Nang, jangan begini," bisik Ratih di
sela-sela isaknya. "Ibu minta maaf. Ibu minta maaf. Ibu tidak bermaksud
menyembunyikan. Ibu hanya ingin melindungi. Ibu hanya ingin kau tidak
terluka."
Danang tidak menjawab. Ia hanya duduk diam di lantai ruang
tengah, di kursi yang biasa diduduki ayahnya, memandang kosong ke depan.
Matanya merah, bukan karena menangis, tetapi karena kelelahan, karena terlalu
banyak memikirkan, karena terlalu banyak menahan.
Sastrowiryo duduk di kursi bambu di seberangnya. Lelaki itu
tidak minum malam itu. Botol yang biasanya ia pegang setiap malam, tidak ada di
tangannya. Mungkin ia sudah membuangnya. Mungkin ia sudah meminumnya sampai
habis. Mungkin ia lupa di mana ia meletakkannya. Yang jelas, malam itu, untuk
pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sastrowiryo duduk di kursi bambu tanpa
botol di tangan.
Matanya merah. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Tapi ia
tidak mabuk. Ia sadar. Sepenuhnya sadar. Dan kesadaran itu lebih menyakitkan
daripada mabuk.
Karena ketika mabuk, ia bisa melupakan. Bisa melupakan
bahwa ia bukan ayah kandung Danang. Bisa melupakan bahwa ia gagal sebagai
suami. Bisa melupakan bahwa ia gagal sebagai lelaki. Bisa melupakan bahwa ia
berutang kepada Mandor Jalil. Bisa melupakan bahwa masa lalunya kelam. Bisa
melupakan bahwa ia tidak punya masa depan.
Tapi malam ini, ia tidak mabuk. Dan ia tidak bisa melupakan
apa pun.
Lampu minyak di ruang tengah menyala redup. Minyaknya
hampir habis, sumbunya pendek, nyala apinya kecil dan berkedip-kedip, seperti
akan mati kapan saja. Di luar, hujan masih turun, tidak sedera tadi, tetapi
masih cukup deras untuk membuat suara gemericik di atap rumbia.
Angin malam berhembus melalui celah-celah dinding kayu,
membuat nyala api bergoyang-goyang, membuat bayangan-bayangan di dinding
bergerak seperti hantu, seperti arwah-arwah yang tidak bisa meninggalkan dunia.
Danang, Ratih, dan Sastrowiryo duduk dalam lingkaran kecil
di ruang tengah. Jarak antara mereka hanya satu lengan. Cukup dekat untuk
saling menyentuh. Tapi tidak ada yang menyentuh siapa pun. Mereka hanya duduk,
saling memandang, dengan kata-kata yang tidak bisa diucapkan, dengan rahasia
yang tidak bisa disembunyikan lagi, dengan kebenaran yang akan pecah malam itu
juga.
"Aku mau tahu," kata Danang akhirnya. Suaranya
pelan, tetapi tegas. Tidak ada getaran. Tidak ada keraguan. Hanya kepastian.
Hanya keteguhan. Hanya keberanian yang tidak dimiliki anak seusianya. "Aku
mau tahu semuanya. Jangan ada yang disembunyikan lagi. Jangan ada yang
dibohongi lagi. Jangan ada yang dipalsukan lagi. Aku mau tahu siapa aku. Dari
mana aku berasal. Darah siapa yang mengalir di tubuhku."
Ratih menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuannya. Ia tidak
bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menangis. Menangis karena tahu bahwa saat
yang ia takuti akhirnya tiba. Menangis karena tahu bahwa ia tidak bisa lagi
melindungi Danang dari kebenaran. Menangis karena tahu bahwa setelah malam ini,
hubungan mereka tidak akan pernah sama.
Sastrowiryo menghela napas panjang. Napas yang terasa
seperti mengeluarkan seluruh isi dadanya sekaligus, seperti menghela beban yang
selama bertahun-tahun ia pikul sendirian, seperti menghela penyesalan yang
tidak bisa ia perbaiki.
"Aku bukan ayah kandungmu, Danang," kata
Sastrowiryo. Suaranya berat, serak, seperti suara yang keluar dari dasar sumur
yang paling dalam. "Aku hanya... lelaki yang menikahi ibumu karena...
karena..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
"Karena apa, Pak?" tanya Danang. Matanya menatap
lurus ke mata Sastrowiryo. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada kebencian. Hanya
keingintahuan. Hanya kebutuhan untuk tahu. Hanya kerinduan akan kebenaran.
Sastrowiryo menunduk. Kepalanya tertunduk sangat rendah,
hampir menyentuh dadanya, seperti sedang sujud, seperti sedang memohon ampun
pada Tuhan, pada Ratih, pada Danang, pada semua orang yang pernah ia sakiti.
"Karena aku lelaki yang tidak punya apa-apa,
Danang," bisiknya. "Aku miskin. Aku tidak punya tanah. Aku tidak
punya rumah. Aku hanya pekerja kasar di dermaga. Tidak ada perempuan yang mau
menikah denganku. Tidak ada keluarga yang mau menerimaku. Aku sendirian. Aku
kesepian. Aku putus asa."
Ratih menangis lebih keras.
"Ketika ibumu hamil," lanjut Sastrowiryo,
suaranya terputus-putus, seperti radio tua yang rusak, "tidak ada lelaki
yang mau menikahinya. Tidak ada yang mau menanggung malu. Tidak ada yang mau
membesarkan anak orang lain. Kecuali aku. Aku yang tidak punya apa-apa. Aku
yang tidak punya pilihan. Aku yang putus asa."
"Jadi Bapak menikahi Ibu karena... karena Bapak tidak
punya pilihan lain?" tanya Danang. Suaranya masih pelan, masih tenang,
tetapi ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang seperti kekecewaan. Sesuatu
yang seperti luka. Sesuatu yang seperti "aku tahu dari awal, tetapi
mendengarnya langsung dari mulutmu tetap menyakitkan."
Sastrowiryo mengangguk pelan.
Tidak bisa membantah.
Karena itu benar.
Ia menikahi Ratih bukan karena cinta.
Bukan karena ia terpesona oleh kecantikan Ratih.
Bukan karena ia ingin melindungi perempuan yang hamil.
Tetapi karena ia tidak punya pilihan.
Karena ia lelaki miskin yang tidak ada yang mau.
Karena Ratih adalah satu-satunya perempuan yang mau menerimanya,
meskipun karena terpaksa.
Karena pernikahan mereka adalah pernikahan dua orang yang
putus asa, yang tidak punya pilihan lain, yang saling membutuhkan tetapi tidak
saling mencintai.
Danang menunduk.
Ia memandang lantai kayu yang berderit.
Di sela-sela papan lantai, ia bisa melihat tanah di bawah
rumah, gelap, lembab, dingin.
Tanah yang sama tempat ia mendengar bisikan dua perempuan
tua beberapa minggu lalu.
Tanah yang sama yang menjadi saksi bisu semua rahasia yang
selama ini disembunyikan.
Tanah yang sama yang menjadi fondasi rumahnya, rumah yang
ternyata berdiri di atas kebohongan.
"Siapa ayah kandungku, Mak?" tanya Danang,
mengalihkan pandangan dari Sastrowiryo ke Ratih. Matanya menatap ibunya yang
masih menangis, yang wajahnya basah oleh air mata, yang tubuhnya gemetar oleh
tangis dan demam. "Siapa lelaki itu?"
Ratih mengangkat kepalanya.
Ia menatap Danang.
Matanya merah, basah, penuh dengan kesedihan dan
penyesalan.
Mulutnya terbuka, hendak bicara, tetapi tidak ada suara
yang keluar.
Ia menutup matanya sebentar, menarik napas panjang,
mengumpulkan keberanian yang selama bertahun-tahun ia pendam.
"Seorang lelaki pendatang, Nang," bisiknya.
Suaranya hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari alam lain, seperti suara
dari dunia yang berbeda. "Dia... dia bagian dari rombongan ketoprak yang
mampir di desa ini... dua puluh tahun lalu... atau dua puluh satu tahun lalu...
aku lupa... sudah terlalu lama..."
Ratih berhenti.
Menangis.
Lalu melanjutkan.
"Aku masih muda waktu itu, Nang. Masih sangat muda. Masih
polos. Masih percaya pada kata-kata manis lelaki. Masih percaya bahwa cinta
bisa mengatasi segalanya. Masih percaya bahwa lelaki yang mengatakan 'Aku cinta
kamu' akan setia selamanya."
Ia tersenyum pahit.
Senyum yang pahit seperti kopi hitam tanpa gula.
Senyum yang mengatakan bahwa ia dulu bodoh.
Senyum yang mengatakan bahwa ia menyesal.
"Nama dia? Aku lupa, Nang. Sungguh, aku lupa. Sudah
terlalu lama. Atau mungkin aku sengaja lupa. Karena lupa lebih mudah daripada
mengingat. Karena lupa lebih tidak menyakitkan daripada mengingat bahwa lelaki
yang kucintai, yang membuatku hamil, yang berjanji akan menikahiku, pergi
begitu saja ketika aku memberitahu bahwa aku hamil."
Ratih menangis lagi.
Tangis yang pecah.
Tangis yang tidak bisa lagi ditahan.
Tangis yang seperti air bah yang menghancurkan bendungan.
"Aku tidak tahu namanya, Nang," isaknya.
"Aku tidak tahu asalnya. Aku tidak tahu ke mana dia pergi. Yang aku tahu,
setelah dia pergi, aku hamil. Dan seluruh desa tahu. Dan aku menjadi aib. Dan
tidak ada lelaki yang mau menikahiku. Kecuali... kecuali Mas Sastro."
Danang menatap ibunya.
Matanya kosong.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Bukan kecewa.
Hanya kosong.
Kosong yang lebih menakutkan daripada amarah apa pun.
Kosong yang seperti lubang hitam di angkasa, yang menyedot
semua cahaya di sekitarnya.
Kosong yang seperti sumur tua yang tidak pernah mencapai
dasar.
"Jadi Ibu tidak tahu nama ayah kandungku?" tanya
Danang. Suaranya datar, tanpa emosi. "Ibu tidak tahu dari mana dia
berasal? Ibu tidak tahu ke mana dia pergi? Ibu tidak tahu apakah dia masih
hidup atau sudah mati? Ibu tidak tahu apakah dia punya keluarga lain? Ibu tidak
tahu apa-apa tentang lelaki yang menghamili Ibu?"
Ratih tidak bisa menjawab.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di hadapan anaknya.
Menangis karena ia tahu bahwa ia gagal.
Gagal sebagai ibu.
Gagal sebagai perempuan.
Gagal sebagai manusia.
Danang berdiri.
Ia berdiri perlahan, tidak terburu-buru, seperti orang yang
baru saja kehilangan segalanya, seperti orang yang tidak punya alasan lagi
untuk tetap tinggal.
"Aku akan tidur, Mak," katanya. Suaranya masih
datar, masih kosong, masih tanpa emosi. "Besok sekolah. Aku harus
istirahat."
Ratih mengangguk, masih menangis, masih tidak bisa berkata
apa-apa.
Sastrowiryo hanya diam, menunduk, tidak berani menatap
Danang.
Danang berjalan ke kamarnya.
Langkahnya pelan, berat, seperti orang yang kelelahan,
seperti orang yang baru saja selesai berperang melawan musuh yang tidak
terlihat.
Ia masuk ke kamar, menutup pintu, berbaring di tikar pandan
yang gatal.
Ia memejamkan mata.
Air matanya jatuh.
Ia tidak menangis keras-keras.
Ia hanya membiarkan air matanya jatuh.
Satu per satu.
Perlahan.
Seperti tetesan air dari atap yang bocor.
Seperti hujan gerimis di musim kemarau.
Seperti kesedihan yang tidak ingin mengganggu siapa pun.
Malam itu, Danang tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tikarnya, memandang langit-langit yang
retak, mendengar suara ayahnya yang masih duduk di ruang tengah, mendengar
suara ibunya yang masih menangis di dapur.
Pikirannya melayang pada ayah kandungnya.
Lelaki dengan rambut panjang.
Lelaki yang menari di atas panggung ketoprak.
Lelaki yang membuat ibunya jatuh cinta.
Lelaki yang membuat ibunya hamil.
Lelaki yang pergi tanpa pamit.
Lelaki yang tidak pernah ia lihat.
Lelaki yang tidak pernah ia kenal.
Lelaki yang mungkin tidak pernah tahu bahwa ia memiliki
anak.
Lelaki yang mungkin sudah mati, atau sudah punya keluarga
lain, atau sudah lupa bahwa ia pernah singgah di desa ini.
Ia bertanya-tanya.
Apakah lelaki itu tampan?
Apakah lelaki itu baik?
Apakah lelaki itu pintar?
Apakah lelaki itu kaya?
Apakah lelaki itu bahagia?
Apakah lelaki itu menyesal?
Apakah lelaki itu memikirkannya?
Apakah lelaki itu ingin bertemu dengannya?
Apakah lelaki itu akan bangga jika melihatnya?
Apakah lelaki itu akan menerimanya?
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab.
Pertanyaan-pertanyaan yang akan menemaninya sepanjang
hidupnya.
Di luar, hujan reda.
Langit mulai cerah.
Bintang-bintang muncul satu per satu.
Bulan bersinar terang, memantulkan cahaya keperakan di
permukaan sungai yang tenang.
Jangkrik mulai bernyanyi.
Alam tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Seolah tidak ada anak kecil yang hancur hatinya malam itu.
Seolah tidak ada keluarga yang runtuh malam itu.
Seolah tidak ada rahasia yang terungkap malam itu.
Tapi Danang tahu.
Semuanya telah berubah.
Tidak akan pernah kembali seperti semula.
Rumahnya tidak akan pernah terasa seperti rumah.
Ayahnya tidak akan pernah terasa seperti ayah.
Ibunya tidak akan pernah terasa seperti ibu yang tidak
menyembunyikan apa pun.
Dan ia, Danang, tidak akan pernah lagi menjadi Danang yang
tidak tahu apa-apa.
Ia telah kehilangan sesuatu malam itu.
Sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
Masa kecilnya.
Kepercayaannya.
Identitasnya.
Dan yang tersisa hanyalah luka.
Luka yang akan terus berdarah.
Luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Luka yang akan menjadi bagian dari dirinya selamanya.
Bab 20
Perpisahan
di Tepi Sungai
Pagi berikutnya, desa terasa sunyi.
Bukan sunyi biasa seperti pagi-pagi buta ketika semua orang
masih tidur. Bukan sunyi karena hujan deras yang membuat semua orang berdiam
diri di dalam rumah. Sunyi yang aneh. Sunyi yang berat. Sunyi yang seperti ada
yang hilang, seperti ada yang mati, seperti ada yang pergi untuk selamanya.
Tidak ada suara ayam berkokok. Ayam-ayam jantan yang
biasanya bersahutan sejak pukul empat pagi, yang suaranya menjadi alarm alami
bagi seluruh desa, tiba-tiba diam. Mungkin mereka merasakan sesuatu. Mungkin
mereka tahu bahwa malam itu, di sebuah rumah di tepi sungai, seorang anak kecil
kehilangan masa kecilnya.
Tidak ada suara burung bernyanyi. Burung-burung gereja yang
biasanya berkicau riang di atas pohon-pohon kelapa, yang suaranya menjadi musik
pagi bagi siapa pun yang mau mendengar, tiba-tiba menghilang. Mungkin mereka
terbang ke hutan. Mungkin mereka bersembunyi di sarang-sarang mereka. Mungkin
mereka ikut berduka.
Tidak ada suara tawa anak-anak yang bermain di halaman.
Anak-anak yang biasanya sudah mulai bermain kejar-kejaran sejak matahari
terbit, yang suaranya memecah kesunyian pagi, tiba-tiba tidak terdengar.
Mungkin mereka masih tidur. Mungkin orang tua mereka melarang mereka bermain.
Mungkin mereka sudah mendengar tentang apa yang terjadi, dan mereka tidak tahu
harus bersikap bagaimana.
Bahkan sungai seperti mengalir lebih lambat dari biasanya,
seolah alam ikut berduka. Air yang biasanya mengalir dengan riang, dengan suara
gemericik yang menenangkan, kini mengalir pelan, sayu, seperti air mata yang
tidak ingin mengganggu siapa pun. Daun-daun kering yang biasanya terapung riang
di permukaan air, kini tenggelam, atau tersangkut di akar-akar pohon waru,
tidak mau pergi ke hilir.
Danang bangun lebih lambat dari biasanya. Matanya sembab,
bengkak karena menangis semalaman. Kelopak matanya terasa berat, seperti ada
pasir di dalamnya. Kepalanya pusing, seperti baru saja bangun dari mimpi buruk
yang panjang, tetapi ia tidak ingat apa pun yang ia mimpikan. Mungkin ia tidak
bermimpi sama sekali. Mungkin tidurnya kosong, tanpa mimpi, tanpa apa pun,
seperti kematian kecil yang terjadi setiap malam, tetapi malam ini terasa lebih
mati dari biasanya.
Ketika ia membuka mata, cahaya matahari sudah masuk melalui
celah-celah dinding kayu kamarnya. Garis-garis cahaya tipis jatuh di lantai
kayu, di tikar pandannya, di tangannya yang kurus. Biasanya, ia akan segera
bangun, melipat tikar, mencuci muka, dan membantu ibunya di dapur. Tapi pagi
ini, ia hanya berbaring, memandang langit-langit yang retak, mendengar suara
ibunya yang batuk-batuk di dapur, mendengar suara ayahnya yang masih mendengkur
di kamar sebelah meskipun hari sudah siang.
Sastrowiryo pergi sebelum matahari terbit.
Tanpa pamit.
Tanpa pesan.
Tanpa jejak.
Ketika Danang akhirnya bangun dan berjalan ke ruang tengah,
ia melihat kamar ayahnya kosong. Ranjang kayu yang sederhana, dengan kasur
tipis yang sudah kempes di beberapa bagian, kosong. Selimut tipis yang biasanya
menutupi tubuh ayahnya, terlipat rapi di ujung ranjang, seperti orang yang
tidak pernah tidur di sana. Bantal yang biasanya penyok karena kepala ayahnya,
mengembang kembali, seperti baru saja dicuci dan dijemur.
Hanya botol kosong di bawah tempat tidur yang menjadi bukti
bahwa Sastrowiryo memang ada, tetapi memilih untuk tidak ada lagi. Botol kaca
hijau dengan label yang sudah luntur, tidak terbaca lagi. Botol yang sama yang
selalu ia pegang setiap malam. Botol yang menjadi teman setianya, lebih setia
daripada istri, lebih setia daripada anak, lebih setia daripada siapa pun.
Danang berdiri di depan kamar ayahnya, memandang kekosongan
di dalamnya. Ia tidak menangis. Ia tidak marah. Ia hanya berdiri, memandang,
berusaha memahami mengapa lelaki itu pergi. Apakah karena malu? Apakah karena
takut? Apakah karena tidak kuat menghadapi kenyataan bahwa ia bukan ayah
kandung Danang? Apakah karena ia sudah tidak tahan hidup dalam kebohongan?
Apakah karena ia sudah tidak tahan menjadi lelaki yang gagal?
Atau mungkin, Sastrowiryo pergi karena ia mencintai Danang.
Mungkin ia pergi karena ia tahu bahwa kehadirannya hanya akan membuat Danang
semakin bingung. Mungkin ia pergi karena ia tahu bahwa Danang membutuhkan waktu
untuk memproses semua yang terjadi. Mungkin ia pergi karena ia ingin memberi
Danang ruang, meskipun dengan cara yang salah.
Atau mungkin, Sastrowiryo pergi karena ia pengecut. Karena
ia tidak bisa menghadapi masalah. Karena ia lebih memilih lari daripada
berjuang. Karena ia lebih memilih botol daripada keluarga. Karena ia lebih
memilih kesendirian daripada tanggung jawab.
Danang tidak tahu. Dan mungkin tidak akan pernah tahu.
Ratih hanya duduk di depan rumah dengan mata kosong.
Ia tidak menangis.
Tidak berbicara.
Tidak melakukan apa pun.
Ia hanya duduk di kursi bambu yang biasa diduduki
Sastrowiryo, memandang jalan tanah yang basah karena hujan semalam, seolah
menunggu seseorang yang tidak akan pernah kembali.
Wajahnya pucat. Lebih pucat dari biasanya. Matanya cekung.
Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap, seperti dua lubang yang digali
di bawah matanya. Bibirnya kering, pecah-pecah, seperti tanah di musim kemarau.
Rambutnya kusut, tidak disisir sejak kemarin. Beberapa
helai uban mulai terlihat di pelipisnya, meskipun usianya baru tiga puluh
tahun. Uban yang tumbuh lebih cepat dari seharusnya, karena stres, karena
penyakit, karena beban hidup yang terlalu berat.
Ia memegang sesuatu di tangannya. Sepasang sandal jepit.
Sandal jepit hitam milik Sastrowiryo, yang sudah usang, yang talinya sudah
putus dan diikat ulang dengan karet bekas. Sandal yang ditinggalkan di teras
ketika Sastrowiryo pergi. Sandal yang mungkin sengaja ditinggalkan, sebagai
tanda bahwa ia tidak akan kembali.
Atau mungkin, ia lupa memakainya karena terburu-buru.
Karena ia ingin pergi secepat mungkin, sebelum Danang bangun, sebelum Ratih
sempat memintanya untuk tetap tinggal, sebelum ia berubah pikiran.
"Mak, Bapak ke mana?" tanya Danang, meskipun ia
sudah tahu jawabannya. Ia hanya perlu mendengar dari mulut ibunya. Ia hanya
perlu kepastian bahwa ia tidak bermimpi.
Ratih tidak menjawab. Matanya tetap kosong, tetap menatap
jalan tanah yang basah, tetap menunggu seseorang yang tidak akan pernah
kembali.
"Mak," panggil Danang lagi, lebih keras.
Ratih menoleh perlahan, seperti orang yang baru sadar dari
lamunan panjang, seperti orang yang baru terbangun dari tidur yang berat.
"Bapak... Bapak pergi, Nang," bisiknya. Suaranya serak,
seperti suara orang yang kehabisan air, seperti suara orang yang sudah menangis
terlalu lama. "Bapak... Bapak tidak tahu kapan pulang."
Danang menatap ibunya. Ia ingin bertanya lebih banyak. Ia
ingin bertanya ke mana Sastrowiryo pergi. Ia ingin bertanya apakah Sastrowiryo
akan kembali. Ia ingin bertanya apakah Sastrowiryo pamit. Ia ingin bertanya
apakah Sastrowiryo menangis ketika pergi.
Tapi ia tidak bertanya apa pun. Ia hanya mengangguk,
berpura-pura mengerti, berpura-pura menerima, berpura-pura bahwa semuanya
baik-baik saja.
"Danang masak nasi, Mak," katanya. "Danang
buatkan Ibu makan."
Ratih tersenyum. Senyum yang pahit. Senyum yang tidak
sampai ke matanya. Senyum yang mengatakan bahwa ia menghargai usaha Danang,
tetapi ia tidak bisa makan, tidak bisa menelan, tidak bisa melakukan apa pun
selain duduk di kursi ini dan menunggu.
"Terima kasih, Nang," bisiknya. "Ibu tidak
lapar."
Danang tidak memaksa. Ia hanya berjalan ke dapur,
menyalakan api di tungku tanah liat yang sudah retak, menanak nasi dengan air
yang ia ambil dari sumur. Ia melakukan semua itu dengan gerakan otomatis, tanpa
berpikir, tanpa merasa, seperti robot, seperti mayat hidup.
Menjelang sore, Danang berdiri di pinggir jalan desa.
Ia tidak tahu mengapa ia berdiri di sana. Ia tidak tahu apa
yang ia tunggu. Ia hanya berdiri, memandang ke arah timur, ke arah jalan yang
menghubungkan desanya dengan dunia luar.
Rambutnya masih basah karena ia baru saja mandi di sungai.
Bajunya masih basah di beberapa tempat karena ia tidak sempat mengeringkan diri
dengan benar. Kakinya telanjang, berlumuran lumpur, karena ia berjalan tanpa
sandal.
Di kejauhan, ia melihat sebuah mobil tua melaju perlahan di
jalan tanah yang berlubang. Mobil itu sebenarnya lebih mirip truk kecil, dengan
bak terbuka di belakang yang ditutupi terpal biru. Mobil itu bergoyang-goyang,
mengikuti kontur jalan yang tidak rata, menciptakan debu yang beterbangan di
belakangnya.
Di dalam mobil itu, di kursi penumpang di samping sopir,
duduk seorang perempuan muda dengan rambut panjang yang diikat sederhana. Di
sampingnya, seorang anak perempuan seusia Danang, dengan rambut panjang yang
diikat karet gelang merah.
Kirana.
Mobil itu berhenti di depan Danang.
Pintu terbuka.
Kirana turun.
Matanya merah, bengkak, seperti sudah menangis sepanjang malam.
Wajahnya pucat, tidak seperti biasanya. Bibirnya gemetar. Tangannya gemetar.
"Danang," panggilnya, suaranya serak, hampir
tidak terdengar.
Danang menatapnya. Dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang
mengganjal di tenggorokannya, sesuatu yang seperti ingin keluar, tetapi ia
tahan.
"Kau... kau jadi pergi, Kirana?" tanyanya,
meskipun ia sudah tahu jawabannya.
Kirana mengangguk. Air matanya jatuh. "Ayah
benar-benar dipindahkan, Danang. Kami berangkat... kami berangkat
sekarang."
Danang terdiam.
Ia memandang mobil tua itu. Di dalam, ia melihat ibu Kirana
yang juga menangis, dan ayah Kirana yang duduk di kursi sopir dengan wajah
tegang, tidak berani menatap ke arah Danang.
"Kapan kau kembali?" tanya Danang, suaranya
pelan, hampir seperti bisikan.
Kirana menggeleng. "Aku tidak tahu, Danang. Ayah
bilang... ayah bilang kita akan tinggal di kota. Mungkin lama. Mungkin
selamanya. Aku tidak tahu."
Danang menunduk.
Ia memandang tanah di bawah kakinya. Tanah yang becek,
berlumpur, penuh bekas telapak kaki dan roda mobil.
"Aku... aku tidak mau kau pergi, Kirana,"
bisiknya. Suaranya pecah. Tangisnya keluar, tidak bisa lagi ditahan. "Kau
satu-satunya temanku. Kau satu-satunya yang percaya padaku. Kau satu-satunya
yang tidak menjauh ketika semua orang menjauh. Kau satu-satunya yang membelaku
di depan Surya. Kau satu-satunya yang datang ke rumahku di tengah hujan untuk
membawakan obat untuk Ibu. Kau satu-satunya..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di depan Kirana.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis bukan karena ia lemah.
Menangis karena ia kehilangan.
Kehilangan sahabat.
Kehilangan rumah.
Kehilangan identitas.
Kehilangan segalanya.
Kirana juga menangis.
Ia memeluk Danang.
Pelukan yang erat.
Pelukan yang hangat.
Pelukan yang seperti mengatakan "Aku tidak mau pergi,
tetapi aku tidak punya pilihan."
Pelukan yang seperti mengatakan "Aku akan kembali,
suatu hari nanti."
Pelukan yang seperti mengatakan "Jangan lupakan
aku."
Danang membalas pelukan itu.
Tangannya yang kecil dan kurus melingkar di pinggang
Kirana.
Ia memejamkan mata.
Ia ingin waktu berhenti.
Ia ingin momen ini berlangsung selamanya.
Ia ingin Kirana tidak pernah pergi.
Tapi waktu tidak berhenti.
Mobil itu harus segera berangkat sebelum gelap.
Kirana melepaskan pelukannya.
Ia mengambil sesuatu dari sakunya.
Sebuah pita rambut kecil berwarna biru.
Pita yang biasa ia pakai untuk mengikat rambutnya.
Pita yang sudah usang, warna birunya mulai memudar menjadi
biru keabu-abuan, tetapi masih terawat dengan baik.
Pita yang telah menemani Kirana sejak kecil, sejak ia masih
bisa tertawa lepas tanpa beban, sejak ia masih percaya bahwa dunia adalah
tempat yang indah.
"Ini untukmu, Danang," kata Kirana, menyerahkan
pita itu.
Danang menatap pita itu.
Benda kecil sederhana.
Terbuat dari kain.
Tidak berharga di mata orang lain.
Tapi di matanya, pita itu adalah segalanya.
Pita itu adalah Kirana.
Pita itu adalah kenangan.
Pita itu adalah janji.
"Untuk apa?" tanya Danang, suaranya masih basah
oleh tangis.
Kirana tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang dulu
menjadi rumah bagi Danang. Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak
sendirian di dunia. Senyum yang akan ia rindukan setiap hari, setiap jam,
setiap menit, setelah Kirana pergi.
"Supaya kau ingat aku, Danang."
Danang menatap Kirana.
"Aku tidak butuh benda untuk mengingatmu,
Kirana," katanya. "Karena aku tahu aku tidak akan bisa lupa. Tidak
peduli seberapa jauh kau pergi. Tidak peduli seberapa lama kita tidak bertemu.
Aku tidak akan bisa lupa. Tidak akan pernah."
Kirana menangis lebih keras.
Ia memeluk Danang lagi.
Pelukan terakhir.
Pelukan perpisahan.
Pelukan yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
"Aku akan kembali, Danang," bisik Kirana di
telinga Danang. "Aku janji. Aku akan kembali."
"Kapan?" tanya Danang.
Kirana tidak menjawab. Ia tidak tahu kapan. Ia tidak tahu
apakah ia bisa menepati janjinya. Ia tidak tahu apakah Danang masih di sini
ketika ia kembali. Ia tidak tahu apakah mereka masih sama ketika mereka bertemu
lagi.
Yang ia tahu, ia harus pergi sekarang.
Mobil itu harus segera berangkat.
Ayahnya sudah menyalakan mesin.
Ibunya sudah melambai-lambaikan tangan dari dalam mobil.
"Danang, aku harus pergi," bisik Kirana.
Danang melepaskan pelukannya.
Ia memandang Kirana untuk terakhir kalinya.
Memandang rambut panjang hitam yang diikat karet gelang
merah.
Memandang mata coklat kehijauan yang selalu berbinar.
Memandang lesung pipit di pipi kirinya yang muncul ketika
ia tersenyum.
Memandang bibirnya yang gemetar menahan tangis.
Memandang tangannya yang kecil dan hangat.
Kirana naik ke mobil.
Pintu ditutup.
Mobil mulai bergerak.
Perlahan.
Meninggalkan Danang.
Meninggalkan desa.
Meninggalkan kenangan.
Danang berdiri di pinggir jalan, memandang mobil itu
semakin kecil, semakin jauh, semakin kabur.
Kirana menoleh ke belakang.
Tangannya menempel di kaca.
Matanya penuh air.
Bibirnya bergerak, membentuk kata-kata yang tidak
terdengar.
"Aku akan kembali."
Danang tidak melambaikan tangan.
Tidak memanggil namanya.
Ia hanya berdiri.
Berdiri sampai mobil itu hilang di tikungan.
Sampai debunya menghilang.
Sampai jalan itu kosong.
Dan untuk pertama kalinya, Danang benar-benar sendirian.
Di tangannya, pita rambut biru itu masih tergenggam.
Kecil.
Ringan.
Namun terasa lebih berat daripada seluruh dunia.
Ia memandang pita itu lama.
Warna birunya mulai pudar.
Kainnya mulai rapuh.
Tapi kenangannya masih utuh.
Masih segar.
Masih tajam.
Ia memasukkan pita itu ke dalam sakunya.
Di tempat yang aman.
Di tempat yang tidak akan ia lupakan.
Di tempat yang paling dekat dengan hatinya.
Ia berbalik.
Berjalan pulang.
Melewati rumah-rumah tetangga yang mulai menyalakan lampu.
Melewati sawah yang mulai tergenang air karena hujan
semalam.
Melewati jembatan kayu yang berderit.
Melewati pohon-pohon kelapa yang bergoyang pelan ditiup
angin sore.
Melewati sungai yang mengalir tenang.
Melewati pohon waru yang akarnya menjuntai ke air.
Melewati semua tempat yang penuh kenangan dengan Kirana.
Ia tidak menangis.
Ia sudah kehabisan air mata.
Yang tersisa hanyalah luka.
Luka yang akan terus berdarah.
Luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Luka yang akan menjadi teman setianya di malam-malam yang
sunyi.
Luka yang akan membuatnya sulit percaya pada janji.
Luka yang akan membuatnya ragu untuk mencintai.
Luka yang akan membuatnya lari setiap kali kebahagiaan
mulai mendekat.
Luka bernama Kirana.
Epilog
Jilid Pertama
Akar yang Tidak Pernah Hilang
Danang berdiri sendiri di pinggir jalan desa.
Mobil yang membawa Kirana telah hilang dari pandangan.
Debu yang beterbangan di belakang mobil telah menetap di
tanah.
Jalan itu kosong.
Sunyi.
Seperti hati Danang.
Ia memandang ke arah timur, ke arah kota yang entah di
mana, ke arah tempat Kirana akan tinggal, ke arah tempat Kirana akan tumbuh
dewasa, ke arah tempat Kirana mungkin akan melupakannya.
Ia memandang pita biru di tangannya.
Pita yang sudah usang.
Pita yang sudah pudar warnanya.
Pita yang dulu mengikat rambut Kirana.
Pita yang sekarang menjadi satu-satunya benda yang
menghubungkannya dengan masa lalu.
Ia menggenggam pita itu erat-erat.
Seperti menggenggam janji.
Seperti menggenggam harapan.
Seperti menggenggam Kirana.
"Aku akan menunggumu, Kirana," bisiknya.
"Aku akan menunggu sampai kau kembali. Satu tahun. Dua tahun. Sepuluh
tahun. Dua puluh tahun. Aku akan menunggu. Sampai kapan pun."
Ia tidak tahu bahwa ia akan menunggu lebih lama dari yang
ia duga.
Ia tidak tahu bahwa Kirana tidak akan kembali dalam waktu
dekat.
Ia tidak tahu bahwa mereka akan bertemu lagi di kota,
bertahun-tahun kemudian, ketika mereka sudah dewasa, ketika luka-luka lama
terbuka kembali, ketika cinta mereka diuji oleh pengkhianatan dan kebohongan.
Ia tidak tahu bahwa pita biru itu akan menjadi satu-satunya
benda yang ia simpan sepanjang hidupnya, yang akan ia bawa ke mana pun ia
pergi, yang akan ia lihat setiap kali ia rindu pada Kirana.
Ia hanya tahu bahwa hari itu, di tepi sungai Kapuas Muara,
di desa kecil yang sunyi, ia kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.
Dan tidak ada yang bisa menggantikannya.
Ratih menunggu di rumah.
Ia masih duduk di kursi bambu di depan rumah, memandang
jalan tanah yang basah, menunggu suaminya yang tidak akan pernah kembali,
menunggu anaknya yang sedang berduka, menunggu keajaiban yang mungkin tidak
akan pernah datang.
Tubuhnya semakin lemah.
Batuknya semakin parah.
Demamnya tidak kunjung turun.
Ia tahu waktunya tidak lama lagi.
Ia tahu ia harus pergi.
Tapi ia tidak tega meninggalkan Danang sendirian.
"Tuhan," bisiknya, "jaga anakku. Jaga
Danang. Aku tidak bisa menjaganya selamanya. Aku tidak bisa melindunginya
selamanya. Aku tidak bisa menyembunyikan rahasia selamanya. Tolong jaga dia.
Tolong lindungi dia. Tolong beri dia kebahagiaan yang tidak pernah aku
miliki."
Ia memejamkan mata.
Air matanya jatuh.
Ia tidak membukanya lagi.
Danang pulang ketika matahari hampir tenggelam.
Langit berwarna jingga kemerahan, seperti sedang terbakar,
seperti sedang berdarah.
Ia menaiki tangga rumahnya yang berderit.
Ia membuka pintu.
Rumah itu sunyi.
Terlalu sunyi.
"Ibu," panggilnya.
Tidak ada jawaban.
"Ibu," panggilnya lagi, lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Ia berjalan ke ruang tengah.
Ratih masih duduk di kursi bambu.
Matanya terpejam.
Wajahnya tenang.
Sangat tenang.
Bibirnya tersenyum.
Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan ketika masih hidup.
"Ibu," bisik Danang, suaranya gemetar.
Ia mendekat.
Menyentuh tangan ibunya.
Dingin.
Sangat dingin.
Dingin yang berbeda dengan dinginnya tidur.
Dingin yang mengatakan bahwa jiwa telah pergi.
Dingin yang mengatakan bahwa yang tersisa hanyalah
cangkang.
Dingin yang mengatakan bahwa ia sekarang benar-benar
sendirian.
Danang tidak menangis.
Ia hanya duduk di lantai di samping ibunya.
Memegang tangan ibunya yang dingin.
Menunduk.
Diam.
Untuk waktu yang lama.
Hanya suara jangkrik yang terdengar.
Hanya suara sungai yang mengalir.
Hanya suara angin yang berhembus.
Hanya suara kesunyian.
Beberapa hari kemudian, tetangga membantu mengurus
pemakaman Ratih.
Makamnya sederhana, di pemakaman desa di lereng bukit, di
bawah pohon beringin tua, menghadap ke timur, ke arah matahari terbit.
Danang berdiri di sisi makam ibunya, memandang tanah yang
baru ditimbun, memandang nisan kayu sederhana dengan nama ibunya yang ditulis
dengan cat hitam.
Ia tidak menangis.
Ia tidak berbicara.
Ia hanya berdiri.
Memandang.
Mengingat.
"Selamat jalan, Mak," bisiknya akhirnya.
"Danang akan baik-baik saja. Danang akan kuat. Danang tidak akan
mengecewakan Mak."
Ia berbalik.
Berjalan meninggalkan makam.
Meninggalkan ibunya.
Meninggalkan masa kecilnya.
Meninggalkan desanya.
Meninggalkan segalanya.
Ia pergi ke kota.
Mencari kehidupan baru.
Mencari identitas baru.
Mencari lupa.
Tapi ia tidak pernah lupa.
Tidak pernah.
Di tangannya, pita biru itu masih tergenggam.
Pita yang sama.
Pita yang dulu mengikat rambut Kirana.
Pita yang sekarang menjadi satu-satunya kenangan dari masa
lalu.
Ia memasukkan pita itu ke dalam sakunya.
Di tempat yang aman.
Di tempat yang tidak akan ia lupakan.
Di tempat yang paling dekat dengan hatinya.
"Kirana," bisiknya, "aku akan menunggumu.
Sampai kapan pun."
Dan ia berjalan.
Berjalan menjauh dari desa.
Berjalan menuju masa depan yang tidak pasti.
Berjalan dengan luka yang tidak akan pernah sembuh.
Berjalan dengan cinta yang tidak akan pernah mati.
BERSAMBUG
KE JILID 2, ROMAN EPIK JEJAK
WAKTU, LANGIT YANG MULAI RETAK







0 komentar:
Posting Komentar