PROLOG — Cahaya dari Awan Biru
Pagi itu embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika
matahari perlahan naik dari balik perbukitan Desa Suralaya. Cahaya keemasan
menyelinap di antara rumah-rumah kayu yang berdiri rapi di sepanjang jalan desa
yang kini tak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.
Dulu, Suralaya hanyalah desa sunyi yang nyaris tak
terdengar namanya di peta kabupaten. Sebuah kampung kecil yang berjalan lambat,
tertinggal oleh zaman, seolah hanya menjadi penonton dari perubahan dunia di luar
sana. Jalanan masih berbatu dan berlubang di musim hujan. Listrik hanya menyala
di beberapa rumah. Anak-anak muda berbondong-bondong merantau ke kota,
meninggalkan orang tua yang bertahan dengan sawah dan ladang yang hasilnya tak
menentu.
Namun hari itu, suasananya berbeda.
Di kantor desa yang baru direnovasi, beberapa warga sudah
duduk menunggu pelayanan administrasi. Seorang ibu muda tersenyum ketika surat
keterangan yang ia butuhkan selesai hanya dalam hitungan menit. Seorang petani
tua memandangi layar komputer di depan perangkat desa dengan tatapan takjub,
seakan belum percaya bahwa sesuatu yang dahulu terasa rumit kini bisa selesai
dengan begitu mudah.
Di dinding ruangan, sebuah layar digital menampilkan data
penduduk, jadwal kegiatan desa, hingga informasi potensi wisata yang mulai
dikenal banyak orang dari luar wilayah. Tiga tahun lalu, belum ada yang
membayangkan hal ini bisa terjadi. Tiga tahun lalu, warga Suralaya masih sibuk
dengan urusan masing-masing, tenggelam dalam rutinitas yang tak pernah berubah.
Semua itu bermula dari satu perjalanan.
Perjalanan menuju Desa Awan Biru.
Desa yang pernah membuka mata banyak orang di Suralaya
bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar tradisi. Bahwa teknologi bukan musuh
desa. Dan bahwa perubahan bisa tumbuh dari tempat yang paling sederhana dari
kegelisahan seorang pemuda yang tidak ingin melihat desanya terus tertinggal.
Di antara orang-orang yang sibuk pagi itu, berdirilah
seorang pemuda yang memandang semuanya dengan diam.
Muhammad Ilham.
Usianya dua puluh enam tahun. Posturnya sedang, tidak
terlalu tinggi tetapi tegap karena kebiasaannya berjalan kaki menyusuri bukit
dan hutan sejak kecil. Rambutnya hitam dan sedikit berombak, sering kali
terlihat berantakan karena ia jarang peduli pada penampilan. Namun matanya, matanya
adalah yang paling mencolok. Bukan karena bentuknya yang indah, tetapi karena
sorotnya. Ada ketenangan di sana, tapi juga kegelisahan yang tak pernah
benar-benar padam.
Pemuda yang dahulu hanya dikenal sebagai anak desa biasa
yang gemar berjalan menyusuri bukit dan hutan. Kini namanya mulai dikenal
sebagai salah satu penggerak perubahan di Suralaya. Bukan karena ia paling
pintar. Bukan karena ia paling berani. Tetapi karena ia pernah percaya pada
sesuatu yang tak banyak orang percaya: bahwa desa kecil mereka layak memiliki
masa depan.
Ilham melangkah perlahan keluar dari kantor desa. Dari
halaman, ia memandang perbukitan hijau yang mengelilingi Suralaya. Angin pagi
berembus lembut membawa aroma tanah basah yang begitu akrab sejak kecil. Di kejauhan
terdengar suara anak-anak sekolah yang berjalan sambil tertawa, ransel merah
dan biru tergantung di punggung mungil mereka. Seorang bocah laki-laki mengejar
temannya sambil berteriak, "Tungguin, Ra! Jalan cepet amat sih!"
Mereka tertawa bersama, riuh rendah tanpa beban.
Suara itu membuat Ilham tersenyum kecil.
Semua tampak seperti keberhasilan. Semua tampak seperti
kemenangan. Namun entah mengapa, pagi itu hatinya justru terasa gelisah. Ia
tidak tahu dari mana perasaan itu datang. Hanya saja, semakin besar perubahan
yang datang ke sebuah tempat, semakin besar pula sesuatu yang diam-diam ikut
mengintai di belakangnya.
Dan Ilham mulai merasakan bayangan itu.
Seorang lelaki paruh baya keluar dari kantor desa sambil
membawa secangkir kopi panas. Pakaiannya sederhana, kemeja batik lengan panjang
yang sudah agak lusuh di bagian kerah, celana kain hitam, dan sandal jepit.
Wajahnya dipenuhi garis-garis halus yang menandakan usianya yang tak lagi muda.
Matanya cekung, tetapi tajam. Itu Kades Raditya, kepala desa yang telah
memimpin Suralaya selama dua periode.
"Masih pagi-pagi sudah termenung," sapa Kades
Raditya sambil berdiri di samping Ilham. Suaranya serak karena kebiasaan
merokok di masa muda, namun hangat dan akrab. "Ada yang mengganggu
pikiranmu, Nak?"
Ilham menoleh. "Pagi, Pak Kades. Tidak ada yang
istimewa. Hanya saja..."
"Hanya saja?"
"Pikiran ini terasa seperti sedang menunggu sesuatu.
Saya tidak tahu apa."
Kades Raditya menghela napas panjang, lalu menyesap
kopinya. "Kadang ketika seseorang sudah terlalu lama bergerak, ia lupa
bahwa diam juga bagian dari perjalanan. Mungkin kau butuh istirahat, Nak.
Jalan-jalan ke pantai atau ke gunung. Lepaskan penat."
Ilham tersenyum tipis. "Mungkin, Pak. Tapi bukan itu
rasanya."
"Lalu apa?"
Ilham terdiam cukup lama. Matanya menatap bukit di
kejauhan. "Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya merasa ada sesuatu yang
bergerak di luar sana. Sesuatu yang tidak bisa kita lihat, tapi perlahan
mendekat."
Kades Raditya mengerutkan dahi, lalu menepuk bahu Ilham
pelan. "Kau ini kadang terlalu peka, Nak. Tapi bukan berarti perasaanmu
salah. Hanya saja, jangan biarkan ketakutan yang tak jelas menguasaimu. Kita
sudah melalui banyak hal bersama. Apa pun yang datang, kita hadapi."
Ilham mengangguk meski hatinya masih gelisah.
Sementara itu, di dalam kantor desa, dua perangkat desa
sedang sibuk menyiapkan data untuk laporan bulanan. Seorang perempuan muda
dengan kacamata tebal di hidungnya menatap layar komputer dengan saksama.
Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, matanya menyipit membaca angka-angka
yang bertebaran di spreadsheet.
Itu Nisa, salah satu anak muda yang ikut menggerakkan
digitalisasi Suralaya. Usianya dua puluh tiga tahun. Wajahnya bulat dengan pipi
tembam yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya. Ia lulusan D3
Manajemen Informatika dari sebuah politeknik di kota, dan merupakan salah satu
orang pertama yang kembali ke desa setelah menyelesaikan studinya.
"Nis, data pengunjung wisata bulan lalu udah masuk
semua belum?" tanya seorang pemuda yang duduk di meja sebelah. Rambutnya
dicat cokelat kemerahan, sedikit berantakan namun masih terlihat rapi. Wajahnya
tampan dengan senyum yang mudah mengembang. Itu Rendi, pengelola media sosial
desa yang kreatif dan energik.
"Udah, Ren. Tinggal input," jawab Nisa tanpa mengalihkan
pandangan dari layar. "Tapi aku ragu dengan angka dari kelompok sadar
wisata Cibatu. Mereka laporannya selalu telat dan sering salah hitung."
Rendi menyandarkan kursinya sambil menghela napas. "Ya
ampun, itu lagi-lagi Pak Kirno? Beliau memang agak gaptek, Nis. Sabar
aja."
"Aku sabar kok," balas Nisa sambil tersenyum
tipis. "Tapi kalau setiap bulan begini terus, aku yang jadi repot. Masa
data pengunjung desa wisata salah terus? Padahal kita sudah kasih
pelatihan."
Rendi terkekeh. "Pak Kirno itu lebih paham bercocok
tanam daripada ngitung pengunjung, Nis. Biarin aja, nanti kita bantu di akhir
bulan."
Seorang perempuan lain masuk ke ruangan dengan langkah
cepat. Ia membawa setumpuk kertas dan buku catatan. Itu Aulia, pengelola wisata
desa yang dulunya bekerja sebagai staf administrasi di sebuah hotel berbintang
di Jakarta. Usianya dua puluh delapan tahun, sedikit lebih tua dari Ilham.
Penampilannya rapi, kemeja putih, blazer hitam tipis, rambut panjang yang
diikat ke belakang. Wajahnya tegas namun ramah.
"Aduh, Nis, tolong cek data pemesanan homestay untuk
bulan depan. Ada rombongan dari Jakarta yang minta tiga puluh kamar," kata
Aulia sambil meletakkan kertas di meja Nisa.
Nisa mengerang pelan. "Tiga puluh? Aulia, homestay
kita total cuma dua puluh lima!"
"Iya, makanya aku minta tolong didistribusi ke desa
tetangga. Mereka juga punya kapasitas," jawab Aulia santai. "Kan
tujuan kita membangun jaringan."
Rendi bersiul kecil. "Wa, lumayan tuh. Wisata Suralaya
makin laris."
Aulia tersenyum puas. "Itu hasil kerja keras kita
semua, termasuk Mas Ilham. Tanpa dia, mungkin kita masih jalan di tempat."
Nama Ilham membuat Nisa dan Rendi mengangguk setuju. Bukan
tanpa alasan. Ilham adalah orang yang pertama kali mengusulkan perjalanan ke
Desa Awan Biru. Ia yang mengajak Angga, Rendi, dan beberapa pemuda lainnya
untuk belajar tentang digitalisasi desa. Ia yang meyakinkan warga yang skeptis
bahwa teknologi tidak akan merusak tradisi. Ia yang rela berhari-hari keliling
desa untuk mendata potensi wisata dan hasil bumi.
Dan kini, Suralaya mulai menuai hasilnya.
Namun di balik semua kesibukan itu, Ilham justru semakin
tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Setelah meninggalkan kantor desa, ia berjalan menyusuri
jalan setapak menuju rumahnya. Rumah kayu sederhana dengan halaman yang
ditumbuhi rumput dan beberapa pot bunga yang dirawat oleh ibunya, Laila. Rumah
itu tidak besar, hanya tiga kamar dan satu ruang tamu yang menyatu dengan
dapur. Namun bagi Ilham, tempat itu adalah pus dunianya.
"Ayah sedang ke sawah?" tanya Ilham ketika
melihat ibunya sedang menyapu teras.
Laila mengangguk. Rambutnya yang mulai beruban disanggul
sederhana. Wajahnya lelah tapi matanya masih bersinar. "Iya, katanya mau
lihat padi yang mulai menguning. Pulang-pulang nanti bawa petai, katanya."
Ilham tersenyum. "Bapak memang tidak bisa diam."
"Kamu juga," balas Laila sambil tersenyum.
"Dari kecil sudah suka jalan-jalan. Sekarang malah lebih parah.
Kemarin-kemarin sampai ke Awan Biru, sekarang mau ke mana lagi?"
Ilham tertawa kecil. "Belum tahu, Bu. Mungkin tidak ke
mana-mana dulu."
"Syukurlah," Laila menghela napas lega. "Ibu
sudah kangen masakanmu. Jarang pulang kalau sedang sibuk proyek desa."
Ilham masuk ke rumah dan duduk di kursi bambu di ruang
tamu. Matanya menatap langit-langit kayu yang sudah menghitam karena usia. Di
telinganya masih terngiang suara anak-anak sekolah yang tertawa tadi pagi.
Suara yang dulu nyaris tak terdengar karena sekolah desa sepi murid.
Perubahan memang datang. Tapi bersama perubahan, datang
pula sesuatu yang lain.
Ia teringat surat yang tiba di meja kerjanya kemarin sore.
Sore sebelumnya, langit Suralaya berwarna oranye ketika
Ilham baru saja selesai rapat koordinasi dengan kelompok sadar wisata. Ia
berjalan menuju kantor desa untuk mengambil jaket yang tertinggal. Di meja
kerjanya, sebuah amplop putih polos tergeletak.
Tak ada nama pengirim. Tak ada stempel. Hanya namanya yang
tertulis di bagian depan dengan tulisan tangan yang rapi namun asing.
Ilham membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya selembar kertas kecil dengan satu kalimat
pendek:
"Ketika dua langit memilih jalan berbeda, siapa yang
akan kau jaga?"
Ia membacanya berulang kali. Tidak ada penjelasan. Tidak
ada tanda tangan. Tidak ada petunjuk apa pun.
Mula-mula ia mengira itu lelucon dari teman. Mungkin Angga
yang iseng, atau Rendi yang suka bercanda. Tapi tidak, Angga tidak mungkin
menulis kalimat seperti itu. Rendi juga tidak. Gaya tulisannya terlalu serius.
Lalu siapa?
Ilham membolak-balik amplop itu. Tidak ada apa-apa.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya sepanjang
malam. Dua langit. Jalan berbeda. Siapa yang akan kau jaga? Seperti
teka-teki yang tak memiliki jawaban. Atau mungkin peringatan yang belum bisa ia
pahami.
Kembali ke pagi ini, Ilham masih memikirkan surat itu
ketika suara sepeda motor terdengar mendekat dari ujung jalan.
Sebuah motor trail berwarna hitam berhenti di depan rumah
Ilham. Seorang lelaki muda turun sambil melepas helmnya. Wajahnya tampak asing,
namun sorot matanya menunjukkan ia datang dengan tujuan yang jelas. Usianya
sekitar dua puluh lima tahun, sedikit lebih muda dari Ilham. Tubuhnya kekar
dengan kulit sawo matang. Rambutnya pendek dan rapi.
"Assalamu'alaikum," ucap lelaki itu sambil
tersenyum sopan. Senyumnya lebar, memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ilham, meletakkan
cangkir kopinya. "Ada yang bisa saya bantu?"
Lelaki itu mengeluarkan map cokelat dari tas punggungnya.
"Apakah saya sedang berbicara dengan Muhammad
Ilham?"
Ilham mengangguk pelan.
"Saya Rafi," katanya sambil mengulurkan tangan. Jabatannya
kuat tapi tidak berlebihan. "Saya datang dari Desa Lembah Selatan."
Nama desa itu terasa asing di telinga Ilham. Ia pernah
mendengar sekilas dari beberapa warga yang sering bepergian ke kota, namun
belum pernah berkunjung ke sana. Yang ia tahu, Lembah Selatan berada di
seberang pegunungan, sekitar empat jam perjalanan dengan kendaraan. Sebuah desa
yang katanya juga mulai berkembang, tapi entah sejauh mana.
"Silakan duduk dulu," kata Ilham mempersilakan
sambil menarik kursi kayu.
Rafi duduk dengan hati-hati, seolah menyesuaikan diri
dengan lingkungan baru. Ia meletakkan map di atas meja kayu yang sudah usang.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak," kata
Rafi sopan.
"Tidak apa-apa. Saya memang sedang tidak melakukan
apa-apa," jawab Ilham sambil menuangkan kopi untuk tamunya. "Kopi
hitam, bisa?"
"Bisa. Terima kasih."
Mereka duduk di bangku kayu di teras. Angin pagi berembus
lembut membawa aroma tanah basah dari sawah yang baru selesai disiram hujan
semalam. Suara burung berkicau dari pohon mangga di samping rumah. Beberapa
ekor ayam berkeliaran di halaman, mematuk-matuk tanah mencari cacing.
Rafi menyerahkan map itu kepada Ilham.
"Kami datang membawa undangan resmi dari kepala desa
kami."
Ilham membuka map tersebut perlahan. Di dalamnya terdapat
surat dengan stempel resmi desa—lambang Lembah Selatan bergambar gunung dan
sungai. Tulisan di bagian atas tertulis jelas:
UNDANGAN KUNJUNGAN DAN BERBAGI INOVASI DESA
Matanya bergerak membaca isi surat itu dengan saksama.
Pemerintah Desa Lembah Selatan mengundang Muhammad Ilham
dan perwakilan Desa Suralaya untuk hadir dalam pertemuan khusus membahas
pengembangan digitalisasi desa, wisata berbasis masyarakat, dan kerja sama
antarwilayah.
Acara akan diselenggarakan pada:
*Hari/Tanggal: Rabu-Kamis, 15-16 April 2026*
*Waktu: Pukul 09.00 WIB - selesai*
Tempat: Balai Desa Lembah Selatan
Kami sangat berharap Bapak berkenan hadir untuk berbagi
pengalaman dan pengetahuan. Akomodasi dan transportasi akan ditanggung oleh
panitia.
Tanggalnya tiga hari lagi.
Ilham mengangkat pandangannya. Matanya menatap Rafi dengan
sorot heran.
"Kenapa saya?"
Rafi tersenyum tipis, seolah sudah menduga pertanyaan itu.
"Karena nama Suralaya sedang banyak dibicarakan."
Ilham terdiam.
Rafi melanjutkan, "Kami mendengar bagaimana desa ini berubah
setelah belajar dari Desa Awan Biru. Kami ingin belajar langsung dari orang
yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya dari laporan atau artikel. Tapi dari
seseorang yang benar-benar mengalami perjalanan itu."
Ilham tidak langsung menjawab. Ia memandang kembali surat
di tangannya. Kata-kata itu terdengar sederhana, bahkan membanggakan. Tetapi
ada sesuatu yang terasa ganjil. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tapi
terasa seperti ketidakberesan kecil dalam sebuah lukisan yang tampak sempurna.
"Kenapa harus saya sendiri?" tanya Ilham.
"Banyak orang lain di Suralaya yang lebih tahu tentang digitalisasi desa.
Ada Nisa, ada Rendi, bahkan Pak Kades sendiri lebih paham kebijakannya."
Rafi terlihat ragu sejenak, lalu menjawab pelan.
"Karena kepala desa kami secara khusus meminta
Anda."
Jawaban itu justru membuat Ilham semakin heran.
Ia tidak pernah bertemu siapa pun dari Lembah Selatan.
Tidak pernah berbicara dengan mereka. Bahkan nyaris tak mengenal desa itu. Lalu
bagaimana mungkin seseorang di sana mengetahui namanya? Dan memintanya secara
khusus?
Ilham menutup map itu perlahan. Jari-jarinya menekan
lipatan kertas, seolah mencoba menekan rasa penasaran yang mulai membesar.
"Siapa kepala desa kalian?"
Rafi menatapnya sejenak sebelum menjawab.
"Namanya Pak Rahman. Rahman Hidayat."
Mendengar nama itu, Ilham merasa sesuatu bergerak dalam
ingatannya. Nama itu terasa tidak asing, seolah pernah ia dengar sebelumnya,
namun ia tak bisa mengingat dari mana. Mungkin dari obrolan di pertemuan desa.
Mungkin dari artikel tentang desa-desa inovatif. Tapi samar.
"Beliau bilang," lanjut Rafi, "kadang sebuah
desa tidak cukup hanya belajar dari keberhasilan. Kadang mereka harus belajar
dari orang yang pernah melewati perjalanan. Bukan hanya hasilnya, tapi
prosesnya. Termasuk kegagalan dan keraguan."
Ilham memandang wajah tamunya dalam diam.
Kalimat itu terdengar lebih seperti pesan daripada
undangan. Seolah seseorang sengaja memilih kata-kata itu untuk menyentuh
sesuatu di dalam dirinya. Kegagalan dan keraguan. Dua hal yang
jarang dibicarakan orang ketika berbicara tentang kesuksesan.
Di kejauhan, lonceng kecil dari kantor desa terdengar
berdentang, menandakan jam pelayanan telah dimulai. Warga mulai berdatangan
satu per satu. Ada yang membawa berkas, ada yang hanya duduk di bangku kayu
depan kantor sambil mengobrol.
Suralaya kini sibuk. Suralaya kini berkembang. Suralaya
kini dikenal.
Dan justru karena itulah, Ilham mulai merasa perjalanan
baru ini mungkin bukan sekadar kunjungan biasa.
Rafi berdiri sambil merapikan tasnya. Ia menyandang tas
ransel cokelat yang tampak sudah cukup sering dipakai, ada sobekan kecil di
bagian samping yang dijahit kasar.
"Kami menunggu jawaban sebelum malam besok,"
katanya. "Kalau Anda bersedia, kami akan menjemput. Tolong sampaikan juga
pada perangkat desa lainnya."
Ilham mengangguk pelan.
"Baik. Saya pikirkan dulu."
Rafi tersenyum, lalu menyalakan motornya kembali. Dalam
hitungan detik, suara mesin itu menghilang di tikungan jalan desa yang dipenuhi
kabut pagi.
Ilham masih berdiri di teras dengan map di tangannya.
Tatapannya kosong menembus sawah yang terbentang di depan
rumah. Padi mulai menguning, pertanda panen akan segera tiba. Namun pikirannya
tidak di sana.
Satu surat misterius dengan kalimat yang meresahkan. Satu
undangan dari desa asing dengan permintaan yang aneh. Dan satu nama yang terasa
seperti bayangan dari masa lalu, atau mungkin pertanda dari masa depan.
Angin kembali bertiup pelan.
Di atas langit Suralaya, awan bergerak perlahan. Tenang.
Diam. Seolah tak terjadi apa-apa.
Namun Ilham tahu, kadang perubahan besar selalu datang
dengan cara yang paling sunyi.
Dan pagi itu, tanpa benar-benar ia sadari, langkah
pertamanya menuju persimpangan baru telah dimulai.
BAB 1 — Undangan dari
Lembah Selatan
Pagi di Desa Suralaya selalu datang dengan cara yang sama.
Kabut tipis turun perlahan dari punggung bukit, menyelimuti atap-atap rumah
warga yang masih basah oleh embun malam. Dari kejauhan terdengar suara ayam
berkokok bersahutan, berpadu dengan langkah para petani yang mulai berjalan
menuju ladang sebelum matahari naik terlalu tinggi.
Namun pagi itu, bagi Muhammad Ilham, semuanya terasa
sedikit berbeda.
Sejak membaca surat tanpa nama semalam, pikirannya belum
benar-benar tenang. Kalimat pendek itu terus terngiang di kepalanya seperti
gema yang tak mau hilang. Ia bahkan terbangun dua kali di tengah malam,
berkeringat dingin meskipun suhu udara sedang tidak terlalu panas.
"Ketika dua langit memilih jalan berbeda, siapa yang
akan kau jaga?"
Kalimat itu seperti cermin yang sengaja ditempatkan di hadapannya.
Sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban cepat, melainkan perenungan
panjang. Ilham sudah berusaha menepisnya sebagai lelucon seseorang. Mungkin
gurauan dari teman lama. Mungkin hanya permainan orang iseng yang ingin
mengganggu pikirannya.
Tetapi entah mengapa, hati kecilnya mengatakan bahwa surat
itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.
Setelah Rafi pergi, Ilham memutuskan untuk mencari Angga.
Angga adalah sahabatnya sejak kecil. Mereka bersekolah
bersama di SD dan SMP desa, lalu berpisah ketika Angga melanjutkan ke SMK di
kota sementara Ilham memilih bertahan di desa. Namun pertemanan mereka tidak
pernah renggang. Bahkan setelah Angga kembali ke desa dua tahun lalu, mereka
semakin sering menghabiskan waktu bersama, bekerja, berdiskusi, atau sekadar
duduk diam menikmati sore.
Rumah Angga tidak jauh dari rumah Ilham. Hanya berjarak
sekitar dua ratus meter ke arah timur, di tepi jalan yang sama. Rumahnya juga
terbuat dari kayu, dengan cat hijau pudar yang sudah mengelupas di beberapa
bagian. Halamannya lebih luas dari rumah Ilham, karena Angga memiliki kebun
kecil di belakang rumah tempat ia menanam cabai dan tomat.
Ilham berjalan kaki menyusuri jalan desa yang mulai ramai.
Beberapa warga menyapanya dengan senyum hangat. Seorang ibu yang sedang
menjemur pakaian di halaman rumahnya berteriak, "Mas Ilham, titip salam
buat Ibunya ya!"
"Iya, Bu," jawab Ilham sambil tersenyum.
Seorang bapak yang sedang duduk di warung kopi dekat
perempatan mengangkat tangan. "Ilham, main ke sini dulu! Kopi baru
seduh!"
Ilham tertawa kecil. "Nanti dulu, Pak. Saya mau ke
rumah Angga dulu."
"Oke, nanti mampir ya!"
Suralaya memang seperti itu. Setiap orang saling mengenal.
Setiap orang menyapa. Suasana kekeluargaan masih sangat terasa meskipun desa
mulai berubah. Mungkin itulah yang membuat Ilham betah tinggal di sini.
Angga sedang duduk di teras rumahnya sambil memegang ponsel
ketika Ilham tiba. Rambutnya yang sebentar lagi akan panjang diikat kuncir
kecil di belakang. Wajahnya cenderung bulat dengan kulit yang lebih terang dari
Ilham. Matanya sipit, sering kali menyipit ketika sedang serius atau bercanda.
"Dari tadi kulihat kau diam saja," sapa Angga
sambil mengangkat alis.
Ilham duduk di kursi kayu di sampingnya tanpa permisi.
"Ada yang perlu kita bicarakan."
"Serius banget mukamu. Ada masalah?"
Ilham mengeluarkan map cokelat dari sakunya dan
menyerahkannya.
Angga membukanya perlahan. Matanya menyusuri isi surat itu
dengan saksama. Alisnya berkerut, lalu mengembang lagi. Bibirnya bergerak-gerak
membaca dalam hati. Setelah selesai, ia mengangkat wajah.
"Desa Lembah Selatan?" suaranya sedikit meninggi.
Ilham mengangguk.
"Mereka ingin kita datang tiga hari lagi."
Angga terdiam sesaat. Lalu ia bersiul kecil.
"Bukankah ini kabar baik? Berarti nama Suralaya makin
dikenal."
"Harusnya begitu," jawab Ilham pelan. "Tapi
aku tidak merasa seperti itu."
Angga menatap sahabatnya dalam diam. Ia mengenal Ilham
cukup lama untuk tahu bahwa kegelisahan seperti ini bukan sesuatu yang muncul
tanpa alasan. Ilham bukan tipe orang yang mudah cemas. Ia lebih sering tenang,
bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Jadi jika ia merasa tidak nyaman, pasti
ada sesuatu.
"Karena surat misterius itu?" tanya Angga.
Ilham menoleh cepat.
"Kau tahu?"
Angga tersenyum tipis.
"Wajahmu terlalu mudah dibaca. Semalam kau terlihat
gelisah setelah ke kantor. Aku pikir ada yang mengganggumu."
Ilham tertunduk sambil mengusap keningnya. Ada kerutan di
antara dua alisnya, tanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras.
"Aku tidak tahu kenapa, Ang. Semakin hari aku merasa
semuanya mulai berubah."
Angga menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Kayu itu
berderit pelan menahan beban tubuhnya yang tidak terlalu berat. Angga bertubuh
sedang, sedikit lebih berisi dari Ilham.
"Berubah bagaimana?" tanyanya.
Ilham tidak langsung menjawab. Matanya menatap halaman
rumah Angga yang sederhana. Ada ayunan kayu tua di bawah pohon manga, bekas
ayunan masa kecil mereka yang sudah tidak pernah digunakan lagi.
"Kau ingat dulu, waktu kita pertama kali ke Awan
Biru?"
Angga mengangguk. "Ingat. Kita naik bus antarkota,
lalu dilanjut ojek. Perjalanan hampir enam jam. Sampai di sana, kita kelelahan
tapi langsung disambut hangat sama warga. Mereka memasakkan nasi liwet untuk
kita."
Ilham tersenyum mengingatnya. "Herman yang menjemput
kita di perbatasan desa. Wajahnya dingin waktu itu, kirain orangnya galak.
Ternyata dia hanya pemalu."
Angga tertawa. "Iya. Tapi setelah kenal, dia paling
banyak bercerita tentang digitalisasi desa. Dia jelaskan semuanya dengan sabar,
meskipun kita sering bolak-balik nanya hal yang sama."
"Dan kita belajar banyak di sana," lanjut Ilham.
"Kita belajar bahwa perubahan tidak harus datang dari kota. Kita belajar
bahwa teknologi bisa membantu tanpa merusak tradisi. Kita belajar bahwa desa
kecil pun bisa berdiri dengan caranya sendiri."
Keheningan menyelimuti mereka sejenak.
"Tapi sekarang," Ilham melanjutkan dengan suara
lebih pelan, "aku merasa hubungan kita dengan Awan Biru mulai
berubah."
Angga mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Dalam beberapa bulan terakhir, komunikasi kita dengan
mereka mulai berkurang. Dulu kita sering teleponan, ngobrol tentang
perkembangan desa masing-masing. Sekarang? Herman bahkan jarang membalas pesan.
Wati juga. Aku tidak tahu kenapa."
Angga menghela napas. "Barangkali mereka juga sibuk.
Awan Biru juga berkembang, sama seperti kita."
"Mungkin," jawab Ilham. "Tapi rasanya ada
yang berbeda. Dulu kita merasa seperti satu keluarga. Sekarang... rasanya
seperti hanya tinggal formalitas. Seperti orang yang dulu dekat, tapi sekarang
menjaga jarak."
Angga menatap langit yang mulai cerah. Awan putih bergerak
lambat di atas bukit.
"Kau merindukan masa itu?" tanyanya.
Ilham tersenyum kecil. "Kadang aku merindukan ketika
semua belum serumit sekarang. Ketika perubahan masih terasa seperti
petualangan, bukan seperti beban."
Pembicaraan mereka terhenti ketika suara langkah kaki
terdengar dari dalam rumah. Seorang perempuan paruh baya keluar dengan membawa
nampan berisi dua gelas es teh dan sepiring pisang goreng. Itu ibu Angga, Bu
Ratna. Wajahnya mirip dengan Angga, sipit, bulat, dan selalu tersenyum.
"Lho, Mas Ilham datang. Kok nggak bilang-bilang?"
sapa Bu Ratna ramah sambil meletakkan nampan di meja.
"Baru datang, Bu," jawab Ilham. "Makasih
pisang gorengnya."
"Sama-sama. Kalian ini suka ngobrol panjang kalau
ketemu. Tadi pagi Angga sudah cerita kalau mungkin ada undangan dari desa lain.
Beneran?"
Ilham mengangguk. "Iya, Bu. Dari Desa Lembah
Selatan."
Bu Ratna mengerutkan dahi. "Lembah Selatan? Di mana
itu?"
"Di seberang pegunungan, Bu. Sekitar empat jam
perjalanan."
"Wah, jauh juga. Kalian berangkat berdua?"
"Belum tahu, Bu. Masih kami pikirkan."
Bu Ratna mengangguk sambil melipat tangan di depan perut.
"Hati-hati di jalan kalau jadi berangkat. Jangan lupa bawa bekal dan jas
hujan. Jalan pegunungan kadang tidak menentu."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Bu Ratna masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan mereka
berdua.
Angga mengambil segelas es teh dan menyesapnya pelan.
"Jadi, gimana? Kita terima undangannya?"
Ilham memegang gelasnya tanpa meminumnya. Jari-jarinya
memutar-mutar gelas di atas meja.
"Ada satu hal lagi yang membuatku gelisah."
"Apa?"
Ilham mengeluarkan ponselnya. Ia membuka pesan singkat yang
diterima Angga kemarin malam. Pesan dari Herman.
Angga membaca pesan itu. Matanya melebar.
"Jangan datang ke Lembah Selatan sebelum kalian tahu
siapa yang sebenarnya menunggu di sana."
Kalimat itu sama misteriusnya dengan surat yang diterima
Ilham. Bahkan lebih mengerikan, karena datang dari seseorang yang mereka kenal
dan percaya.
"Menurutmu, kenapa Herman mengirim pesan itu?"
tanya Angga.
Ilham menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi Herman tidak
pernah bicara tanpa alasan. Kalau dia memperingatkan kita, pasti ada
sesuatu."
"Kita telepon dia sekarang?"
Ilham mengangguk.
Ia menekan nomor Herman. Beberapa kali panggilan gagal.
Sinyal di Suralaya memang tidak selalu bagus, terutama di pagi hari ketika
banyak orang menggunakan ponsel. Tapi setelah tiga kali mencoba, akhirnya
sambungan terjalin.
"Herman?" sapa Ilham.
"Halo, Ilham." Suara Herman di seberang terdengar
berat dan pelan. Seperti orang yang sedang lelah atau tidak ingin didengar
orang lain.
"Kami menerima pesanmu. Maksudnya apa?"
Herman terdiam cukup lama. Di kejauhan terdengar suara
kendaraan melintas di desa Awan Biru.
"Ilham, aku tidak bisa bicara banyak sekarang. Tapi
percayalah, aku mengirim pesan itu karena aku peduli padamu dan Suralaya."
"Tapi kenapa? Apa yang salah dengan Lembah
Selatan?"
Herman menghela napas. Suaranya mengecil, seperti berbisik.
"Rahman... kepala desa mereka... dia bukan orang yang
sederhana. Dia punya agenda yang lebih besar dari sekadar belajar digitalisasi
desa. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya lewat telepon. Tapi tolong, pikirkan
baik-baik sebelum kau pergi ke sana."
Ilham merasakan dadanya sesak.
"Kau tahu sesuatu, Herman. Ceritakan."
"Tidak sekarang. Aku akan coba hubungi lagi nanti
malam. Tapi yang jelas, jangan percaya begitu saja pada apa pun yang mereka
katakan."
Panggilan terputus.
Ilham menatap layar ponselnya. Herman menutup telepon lebih
cepat dari biasanya. Biasanya ia selalu mengucapkan salam sebelum memutus
sambungan. Kali ini tidak.
Angga menatap Ilham dengan cemas.
"Apa katanya?"
Ilham menceritakan percakapan singkat itu. Angga
mendengarkan dengan saksama, wajahnya semakin serius.
"Ini aneh," kata Angga akhirnya. "Kenapa
Herman tidak bisa menjelaskan sekarang? Apa dia dalam tekanan? Atau takut
disadap?"
Ilham menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang
jelas: Lembah Selatan bukan sekadar desa yang ingin belajar."
"Jadi kita batalkan saja?" tanya Angga.
"Tidak semua undangan harus kita datangi."
Ilham menunduk menatap map cokelat di tangannya. Ia membuka
surat itu lagi, membaca ulang kalimat demi kalimat. Semua terdengar resmi dan
sopan. Tidak ada yang mencurigakan secara tertulis.
Namun di balik kertas resmi itu, ada sesuatu yang bergerak.
"Kalau aku tidak datang," kata Ilham pelan,
"aku tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi."
Angga menghela napas panjang.
"Kau selalu seperti itu."
Ilham tersenyum tipis.
"Karena perjalanan kadang bukan tentang memilih jalan
yang aman."
"Lalu tentang apa?"
Ilham menatap langit di atas rumah-rumah desa. Langit biru
dengan awan putih yang bergerak lambat. Langit yang sama seperti kemarin, namun
terasa berbeda.
"Memastikan kita tidak salah arah."
Sepanjang hari itu, Ilham tidak bisa konsentrasi. Ia
mencoba membantu ayahnya di sawah, tetapi pikirannya terus melayang ke Lembah
Selatan. Ia membayangkan seperti apa desa itu. Seperti apa Rahman. Seperti apa
rencana yang disembunyikan di balik undangan.
Hasan, ayah Ilham, memperhatikan kegelisahan anaknya.
Lelaki tua itu baru saja selesai membersihkan rumput di pematang sawah.
Keringat membasahi kemeja lusuhnya yang lengan pendek. Topi caping lebar
menutupi kepalanya dari terik matahari.
"Nak," panggil Hasan sambil duduk di tepi
pematang.
Ilham yang sedang membenamkan kaki di lumpur menoleh.
"Iya, Yah?"
"Ada yang mengganggumu."
Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
Ilham tersenyum kecut. "Apa Bapak bisa membaca
pikiran?"
Hasan tertawa kecil. Suaranya serak karena usia, tetapi
masih kuat. "Bukan membaca pikiran. Hanya melihat wajahmu yang cemberut
sejak tadi. Biasanya kalau di sawah, kau selalu bersiul. Hari ini tidak."
Ilham berjalan ke arah ayahnya lalu duduk di sampingnya.
Lumpur masih melekat di betisnya. Air mengalir pelan di saluran irigasi di
depan mereka.
"Bapak, kalau ada undangan dari desa lain untuk
berbagi pengalaman, apakah sebaiknya saya terima?"
Hasan mengangkat alis. "Tergantung. Undangan dari
mana?"
"Lembah Selatan."
Hasan mengerutkan dahi. "Lembah Selatan? Dengar-dengar
desa itu lumayan maju. Tapi aku tidak pernah ke sana."
"Bapak tahu siapa kepala desanya?"
"Rahman, kalau tidak salah. Namanya cukup dikenal di
kalangan kepala desa se-kabupaten. Katanya orangnya ambisius. Tapi aku tidak pernah
bertemu langsung."
Ambisius.
Kata itu membuat Ilham bergidik tipis. Ambisi bisa menjadi
kebaikan jika diarahkan dengan benar. Tapi bisa juga menjadi racun jika tidak
terkendali.
"Kenapa kau bertanya, Nak?" Hasan menatap Ilham.
"Kau ragu?"
Ilham mengangguk. "Ada beberapa hal yang membuat saya
tidak nyaman. Surat misterius, pesan peringatan dari Awan Biru, dan... firasat
saya sendiri."
Hasan terdiam cukup lama. Ia mengambil sebatang rokok dari
saku kemejanya, lalu menyalakannya dengan korek api tua. Asap tipis mengepul ke
udara.
"Nak, Bapak tidak bisa memutuskan untukmu. Tapi satu
hal yang Bapak tahu: kau bukan orang yang mudah takut. Kalau firasatmu
mengatakan ada yang tidak beres, mungkin memang ada yang tidak beres."
"Jadi sebaiknya saya tidak usah pergi?"
Hasan menggeleng. "Bapak tidak bilang begitu. Kadang,
untuk mengetahui kebenaran, kita harus berani masuk ke tempat yang tidak
nyaman. Tapi jangan lupa bekal. Bawa orang yang kau percaya. Dan jangan ragu
untuk pulang jika merasa ada yang aneh."
Ilham merenung sejenak.
"Bapak tidak melarang saya?"
Hasan tersenyum. "Kau sudah dewasa, Nak. Sudah punya
tanggung jawab sendiri. Bapak hanya bisa mendoakan. Tapi ingat, apa pun yang
terjadi, rumah ini tetap terbuka untukmu."
Ilham tersenyum. Dadanya terasa hangat meskipun tubuhnya
basah oleh lumpur dan keringat.
"Terima kasih, Yah."
Hasan mengusap rambut Ilham dengan kasar, seperti yang
sering ia lakukan ketika Ilham masih kecil.
"Pokoknya pulang sebelum Magrib. Ibu sudah masak
rendang."
Sore itu, Ilham mengumpulkan beberapa orang di kantor desa.
Selain Angga, ia memanggil Nisa dan Rendi. Juga Aulia yang
kebetulan masih menyelesaikan laporan di ruang belakang. Mereka duduk di ruang
pertemuan kecil, sebuah ruangan berukuran 4x5 meter dengan meja kayu panjang
dan kursi-kursi plastik warna-warni.
Ilham menjelaskan tentang undangan dari Lembah Selatan. Ia
juga menceritakan tentang surat misterius dan pesan dari Herman, tanpa
menyembunyikan detail.
Nisa yang mendengarkan dengan saksama mengerutkan kening.
"Jadi, Mas Ilham curiga ada yang tidak beres?"
"Iya," jawab Ilham. "Tapi aku tidak punya
bukti. Hanya firasat."
Rendi menyandarkan kursinya. "Firasat itu penting,
Mas. Tapi kita juga tidak bisa menolak undangan begitu saja tanpa alasan jelas.
Nanti dianggap sombong."
Aulia mengangguk. "Rendi benar. Suralaya sedang dalam
masa membangun hubungan dengan desa-desa lain. Kalau kita menolak undangan
tanpa alasan yang masuk akal, citra kita bisa tercoreng."
Ilham menghela napas. "Jadi menurut kalian, sebaiknya
kita terima?"
"Menerima undangan tidak berarti kita harus setuju
dengan semua yang mereka minta," kata Aulia. "Kita bisa datang,
mendengarkan, lalu memutuskan setelahnya."
"Tapi kalau memang ada bahaya?" tanya Angga.
Suaranya tegas. "Herman memperingatkan kita. Dia tidak mungkin
melakukannya tanpa alasan."
Aulia berpikir sejenak. "Kita bisa mencari informasi
lebih dulu tentang Lembah Selatan. Mungkin ada yang kita lewatkan."
Nisa mengangkat tangannya. "Aku bisa mencari di
internet. Tapi informasi tentang desa-desa biasanya terbatas. Paling hanya
artikel berita atau profil di website resmi."
"Lakukan saja," kata Ilham. "Cari apa pun
yang bisa kita dapatkan."
Setelah pertemuan singkat itu, Ilham berjalan keluar kantor
desa. Matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan jingga dan ungu.
Suara adzan Ashar terdengar dari musala kecil di ujung jalan.
Ia berjalan menyusuri jalan desa yang mulai sepi. Sebagian
warga sudah pulang ke rumah masing-masing, bersiap untuk shalat dan makan
malam.
Di perempatan, ia melihat sekelompok anak-anak masih
bermain bola di lapangan tanah. Mereka tertawa dan berteriak riang, tidak
peduli dengan sore yang mulai gelap. Seorang bocah laki-laki berlari sambil
menendang bola karet, lalu jatuh tersungkur. Teman-temannya tertawa, lalu membantunya
berdiri.
Ilham tersenyum. Ada masa ketika ia juga seperti mereka.
Masa ketika dunia hanya sebatas lapangan bola dan sungai di belakang rumah.
Masa ketika masalah terbesar adalah bola yang tersangkut di pohon atau sandal
yang hilang terseret arus.
Sekarang, dunia terasa jauh lebih luas. Dan masalahnya jauh
lebih rumit.
Malamnya, Ilham duduk di teras rumah ditemani secangkir teh
jahe buatan ibunya. Laila sedang membersihkan dapur di dalam, sesekali menyapa
Ilham dari balik jendela.
"Jangan terlalu larut, Nak. Besok masih harus bangun
pagi."
"Iya, Bu. Sebentar lagi."
Ia membuka ponselnya. Ada pesan dari Nisa.
"Mas, aku cari informasi tentang Lembah Selatan. Yang
kutemukan: mereka mulai digitalisasi dua tahun lalu, dibantu oleh investor
swasta. Namanya PT Nusantara Digital Mandiri. Desa mereka disebut-sebut sebagai
percontohan digitalisasi tercepat di wilayah selatan. Tapi tidak banyak artikel
yang membahas detail programnya. Aneh."
"Aneh kenapa?" balas
Ilham.
"Biasanya kalau desa sukses, banyak media yang
meliput. Tapi Lembah Selatan jarang muncul di berita. Seperti mereka sengaja
menjaga profil rendah."
Ilham mengerutkan dahi. Profil rendah untuk desa yang
mengklaim sukses? Itu tidak biasa. Biasanya desa-desa yang berhasil suka
mempublikasikan keberhasilan mereka untuk menarik kunjungan dan investasi.
"Terus ada yang lain?" tanyanya.
"Investornya, PT Nusantara Digital Mandiri. Perusahaan
ini cukup besar, bergerak di bidang pengembangan infrastruktur digital untuk
daerah. Tapi aku cek profilnya, tidak banyak informasi tentang proyek-proyek
mereka di desa. Hanya disebutkan bahwa mereka memiliki tim ahli di bidang IT
dan manajemen."
Ilham mengetik balasan, "Ok, besok kita bahas
lagi. Istirahat dulu."
Ia mematikan ponsel dan menatap langit malam. Bintang-bintang
bertaburan, terang dan jauh. Di kejauhan, terdengar suara jangkrik yang
bersahutan.
PT Nusantara Digital Mandiri.
Nama itu terdengar terlalu besar untuk sebuah proyek desa.
Biasanya investor swasta masuk ke desa dengan skema corporate social responsibility
atau kemitraan. Tapi dari cerita Nisa, sepertinya keterlibatan perusahaan ini
cukup dalam.
Dan itu membuat Ilham semakin penasaran sekaligus waspada.
Dini harinya, sekitar pukul dua, ponsel Ilham bergetar.
Ia terbangun karena suara getaran yang cukup keras di atas
meja kayu. Matanya masih berat, tapi ia meraih ponsel dan melihat layar.
Pesan dari Herman.
"Ilham, maaf tadi aku buru-buru menutup telepon. Ada
yang harus kau tahu."
Ilham duduk di tepi tempat tidur. Matanya mengucek-ngucek,
berusaha fokus.
"Apa?"
"Rahman datang ke Awan Biru setahun lalu. Ia ingin
mengajak kami bergabung dalam jaringan desa digital yang dikendalikan oleh PT
Nusantara Digital Mandiri. Katanya desa kami akan mendapat bantuan dana,
pelatihan, dan akses pasar."
"Lalu?"
"Kami menolak. Bukan karena tidak butuh bantuan. Tapi
karena syaratnya terlalu mengikat. Desa yang bergabung harus menandatangani
kontrak eksklusif. Semua data desa, hasil bumi, wisata, harus dikelola melalui
platform mereka. Dan mereka punya hak untuk menentukan harga dan
distribusi."
Ilham membaca pesan itu berulang kali. Jantungnya berdegup
lebih cepat.
"Itu berarti desa-desa kehilangan kendali atas sumber
daya mereka sendiri."
"Tepat sekali. Itu sebabnya kami menolak. Tapi setelah
kami tolak, Rahman tidak terima. Ia bilang kami akan menyesal. Dan beberapa
bulan kemudian, kami mendengar kabar bahwa ia mulai mendekati desa-desa lain,
termasuk Suralaya."
Ilham menggenggam ponselnya erat-erat.
"Kenapa kau tidak bilang dari dulu?"
"Karena kami tidak menyangka dia akan secepat itu
bergerak. Kami pikir dia hanya mengancam. Ternyata serius. Ilham, hati-hati.
Jangan sampai Suralaya terjebak dalam perjanjian yang merugikan."
"Terima kasih, Herman. Aku akan bicara dengan tim
besok pagi."
"Sama-sama. Jaga dirimu. Dan jangan katakan pada siapa
pun bahwa kau mendapat informasi ini dariku. Aku tidak tahu sejauh mana
jaringan mereka."
Ilham mengirim emoji jempol, lalu mematikan ponsel.
Malam itu, ia tidak bisa tidur lagi.
Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar
yang gelap. Pikirannya berputar cepat, menyusun dan membongkar berbagai
kemungkinan.
Lembah Selatan bukan sekadar desa yang ingin belajar.
Mereka adalah bagian dari jaringan yang lebih besar. Jaringan yang ingin
mengendalikan desa-desa melalui digitalisasi. Dan Suralaya adalah target
berikutnya.
Pertanyaannya sekarang: apakah ia akan tetap datang ke
Lembah Selatan, atau membatalkan semuanya?
Pagi berikutnya, Ilham mengumpulkan tim lagi. Kali ini di
ruang tamu rumahnya, karena kantor desa belum buka.
Nisa, Rendi, Aulia, dan Angga duduk di kursi-kursi bambu
yang sudah agak reyot. Laila menyuguhkan kopi dan pisang goreng, lalu masuk ke
dapur meninggalkan mereka.
Ilham menceritakan isi pesan Herman. Semua mendengarkan
dengan saksama. Wajah mereka berubah dari rasa ingin tahu menjadi serius, lalu
cemas.
"Jadi, ini bukan sekadar kunjungan belajar
biasa?" tanya Rendi.
"Bukan," jawab Ilham. "Ini adalah upaya
untuk menarik kita ke dalam jaringan yang mereka kendalikan."
Nisa menghela napas. "Aku sudah curiga waktu mencari
informasi tentang investornya. Tidak banyak data publik tentang proyek mereka.
Itu tanda bahaya. Biasanya perusahaan yang transparan akan mempublikasikan
proyek-proyek mereka."
Aulia mengangguk. "Aku setuju. Tapi kita juga tidak
bisa menuduh tanpa bukti. Mungkin mereka hanya belum siap mempublikasikan
semuanya."
"Atau mungkin mereka sengaja menyembunyikan,"
potong Angga ketus. "Kita tidak bisa mengambil risiko. Aku usul kita
batalkan saja."
Ruangan hening.
Semua mata tertuju pada Ilham.
Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Matanya menatap halaman
depan yang ditumbuhi rumput dan beberapa ekor ayam yang sedang mematuk tanah.
"Bagaimana kalau kita tetap datang?" katanya
pelan.
Angga menoleh cepat. "Apa? Setelah semua yang kau
ceritakan?"
Ilham berbalik. "Dengar dulu. Kita datang sebagai
utusan resmi dari Suralaya. Kita tidak akan menandatangani apa pun. Kita hanya
mendengarkan, mengamati, dan mencari tahu sejauh mana rencana mereka. Dengan
begitu, kita bisa mendapatkan informasi yang lebih akurat. Bukan hanya dari
Herman, tapi dari sumber pertama."
Rendi mengangguk pelan. "Itu bisa jadi strategi yang
bagus. Kita bisa jadi mata-mata, semacam investigasi."
Nisa mengerutkan dahi. "Tapi berbahaya. Kalau mereka
tahu kita hanya pura-pura setuju, bisa-bisa kita dalam masalah."
"Kita tidak akan pura-pura setuju," tegas Ilham.
"Kita akan datang sebagai tamu yang ingin belajar. Tidak lebih. Kalau
mereka menawarkan sesuatu yang mencurigakan, kita tolak dengan sopan."
Aulia menghela napas. "Aku setuju dengan Ilham.
Menolak undangan tanpa alasan jelas hanya akan menimbulkan kecurigaan dari
mereka. Mungkin mereka akan mencari cara lain untuk mendekati Suralaya. Lebih
baik kita hadapi langsung, dengan kepala dingin dan kewaspadaan tinggi."
Angga masih terlihat ragu. "Tapi bagaimana kalau
mereka memaksa?"
Ilham tersenyum tipis. "Kita di desa mereka, bukan di
penjara. Kita bisa pergi kapan saja. Lagipula, kita tidak sendirian. Ada kalian
semua."
Angga menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi kalau ada
yang aneh-aneh, kita langsung cabut. Setuju?"
"Setuju," kata Ilham.
"Setuju," ucap Nisa dan Rendi bersamaan.
Aulia mengangguk.
Keputusan telah diambil.
Dua hari kemudian, Rafi datang lagi ke Suralaya. Kali ini
ia membawa mobil tua berwarna abu-abu yang tampaknya sudah sering digunakan
untuk perjalanan jauh. Kap mobilnya sedikit penyok di bagian depan, dan kaca
spion kanan retak di sudutnya.
"Sudah siap?" tanyanya dengan senyum ramah.
Ilham mengangguk. Di sampingnya, Angga membawa tas kecil
berisi pakaian dan perlengkapan mandi.
"Kami berangkat berdua saja?" tanya Angga.
Rafi mengangguk. "Perjalanan cukup jauh. Jalan menuju
Lembah Selatan tidak mudah. Melewati hutan dan perbukitan. Kalau terlalu banyak
penumpang, mobil bisa berat."
Ilham berpamitan dengan orang tuanya. Hasan menepuk
pundaknya. Laila memeluknya sebentar sambil berbisik, "Hati-hati,
Nak."
"Iya, Bu. Doakan kami."
Nisa dan Rendi melambaikan tangan dari depan kantor desa.
"Hati-hati di jalan, Mas! Bawa oleh-oleh!" teriak Rendi sambil
tertawa.
Ilham tersenyum. "Nanti kita beli oleh-oleh kalau
ada."
Mobil mulai bergerak meninggalkan Suralaya. Ilham menatap
ke belakang, melihat desanya perlahan mengecil di balik kabut pagi. Rumah-rumah
kayu, sawah hijau, bukit-bukit yang menjulang. Semua tampak tenang.
Namun hatinya tidak tenang.
Ia tahu perjalanan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini
adalah langkah pertama memasuki wilayah yang belum ia kenal. Wilayah yang
mungkin menyimpan jebakan.
Mobil melaju melewati jalan beraspal yang mulai rusak di
beberapa bagian. Mereka melewati perkebunan teh yang membentang luas di lereng
bukit, lalu masuk ke kawasan hutan pinus yang rimbun. Pepohonan tinggi
menjulang di kiri kanan jalan, sesekali diselingi oleh sungai kecil yang airnya
jernih.
Rafi tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali menjelaskan
medan atau menunjuk wilayah yang mereka lewati.
"Di sebelah kiri itu ada desa wisata yang mulai
berkembang," katanya sambil menunjuk ke arah perbukitan. "Namanya
Desa Cibitung. Mereka punya air terjun yang cukup terkenal."
Ilham memperhatikan dengan saksama. "Apakah desa itu
juga bagian dari jaringan Lembah Selatan?"
Rafi menggeleng. "Belum. Tapi Pak Rahman sudah
beberapa kali mengadakan pertemuan dengan kepala desa mereka."
Angga yang duduk di kursi belakang menyelidik. "Untuk
apa?"
Rafi terdiam sejenak. "Saya tidak tahu detailnya. Saya
hanya sopir."
Jawaban itu diplomatis, tapi Ilham bisa menangkap ada
sesuatu yang disembunyikan. Rafi mungkin tahu lebih banyak dari yang ia
katakan, tapi ia tidak mau berbagi informasi.
Empat jam perjalanan terasa jauh lebih panjang dari
biasanya. Mereka melewati jalan berbatu, menuruni lereng curam, menembus hutan
kecil, lalu menyusuri tepian sungai yang panjang. Beberapa kali mobil
terperosok ke dalam lubang, membuat mereka harus turun dan mendorong.
"Maaf, jalannya memang belum bagus," kata Rafi
sambil mengusap keringat.
"Tidak apa-apa," jawab Ilham. "Kami sudah
biasa."
Ketika matahari mulai condong ke barat, mobil itu akhirnya
berhenti di sebuah dataran tinggi.
Rafi mematikan mesin. Suara mesin yang berisik selama empat
jam akhirnya padam, digantikan oleh kesunyian yang diisi oleh suara angin dan
kicauan burung.
"Kita sudah sampai."
Ilham turun perlahan.
Di hadapannya terbentang sebuah desa yang membuatnya
terdiam.
Rumah-rumah kayu berdiri rapi di lereng perbukitan.
Jalan-jalan desa tampak bersih, terbuat dari batu-batu kecil yang disusun rapi.
Lampu tenaga surya terpasang di beberapa sudut, meskipun saat itu belum menyala
karena masih sore. Antena kecil berdiri di dekat kantor desa. Anak-anak bermain
di lapangan terbuka sambil tertawa, mengejar bola plastik.
Desa itu tampak maju. Bukan maju seperti kota, tetapi maju
dengan cara yang teratur dan rapi. Semua tampak tertata. Tidak ada sampah
berserakan. Tidak ada rumah yang tampak reot. Bahkan pagar-pagar rumah pun
terlihat seragam, terbuat dari kayu yang dicat putih.
Tapi bukan itu yang membuat Ilham diam.
Yang membuatnya tertegun adalah suasananya.
Tak ada keramahan seperti yang dulu ia rasakan saat pertama
kali tiba di Awan Biru. Di Awan Biru, warga keluar dari rumah mereka,
tersenyum, menyapa, bahkan ada yang langsung mengajak makan. Di sini, warga
hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan aktivitas mereka. Seperti tidak peduli.
Atau seperti sudah diatur untuk tidak terlalu ramah.
Tak ada senyum hangat yang menyapa. Tak ada rasa akrab yang
mengalir alami.
Semua terlihat indah. Namun terasa asing.
Seolah desa itu menyimpan sesuatu di balik ketenangannya.
"Selamat datang di Lembah Selatan," kata Rafi.
Ilham memandang langit di atas desa itu. Awan tipis
menggantung rendah. Cahayanya indah, keemasan karena matahari sore. Namun
terasa dingin. Seperti cahaya yang tidak menghangatkan.
Dan saat itulah Ilham mengerti mengapa hatinya gelisah
sejak awal.
Desa ini memang maju. Tetapi kemajuan yang ia lihat di sini
berbeda dengan yang pernah ia pelajari di Awan Biru.
Di Awan Biru, teknologi hadir untuk menjaga manusia. Di
sana, warga tetap tersenyum, tetap ramah, tetap terbuka. Teknologi hanyalah
alat, bukan tujuan.
Di Lembah Selatan, teknologi terasa seperti sedang mengubah
manusia. Segala sesuatu tampak terlalu sempurna. Terlalu teratur. Terlalu...
mati.
Angga berdiri di sampingnya.
"Kau merasakan juga?" bisiknya. Suaranya hampir
tidak terdengar, seperti takut ada yang mendengar.
Ilham menjawab pelan.
"Iya."
Rafi menoleh.
"Apa?"
Ilham menggeleng.
"Tidak apa. Ayo, kita ke kantor desa."
Mereka berjalan menuju kantor desa yang berdiri di tengah
dataran. Bangunannya megah dibanding desa-desa lain di sekitarnya. Dinding
kayunya dipadukan dengan kaca besar, memberi kesan modern yang mencolok. Di
depan bangunan, sebuah papan nama besar bertuliskan: KANTOR DESA LEMBAH
SELATAN — PUSAT INOVASI DIGITAL.
Di pintu masuk, seorang pria paruh baya berdiri menunggu.
Tubuhnya tegap, tinggi sekitar 175 cm. Wajahnya tenang,
dengan garis-garis tegas di sekitar rahang. Rambutnya hitam dengan sedikit uban
di pelipis. Matanya tajam, seperti bisa menembus pikiran orang yang diajak
bicara. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna biru tua, celana
kain hitam, dan sepatu pantofel mengkilap.
Begitu melihat Ilham, pria itu tersenyum kecil. Senyum yang
terlatih, tidak terlalu lebar, tidak terlalu tipis. Pas di ukuran formal.
"Selamat datang, Muhammad Ilham."
Ilham berhenti.
Ia belum pernah bertemu pria itu sebelumnya. Namun cara
pria itu menyebut namanya terasa seolah mereka sudah saling mengenal lama.
Seperti ada hubungan yang tidak terucapkan.
"Saya Rahman," katanya sambil mengulurkan tangan.
"Kepala Desa Lembah Selatan."
Ilham menyambut tangannya. Hangat. Tapi entah kenapa,
terasa seperti menyimpan sesuatu. Jabatannya kuat, menunjukkan kekuasaan.
"Terima kasih sudah datang," lanjut Rahman.
"Saya sudah lama menunggu pertemuan ini."
Ilham menatap matanya.
"Menunggu saya?"
Rahman tersenyum tipis.
"Kadang seseorang tidak datang ke sebuah tempat karena
undangan."
Ia berhenti sejenak, menatap Ilham dengan sorot yang sulit
diartikan.
"Kadang karena takdir memang membawanya ke sana."
Kalimat itu sederhana. Namun cukup membuat Ilham merasakan
sesuatu yang tak nyaman menjalar di dadanya. Seperti ada yang menggelitik, tapi
tidak bisa digaruk.
Angga menoleh pelan ke arah Ilham.
Tatapan mereka bertemu.
Keduanya tahu hal yang sama:
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan antar desa.
Dan tanpa mereka sadari, mereka baru saja melangkah masuk
ke dalam sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Di atas Lembah Selatan, langit perlahan berubah warna.
Jingga bercampur ungu, indah namun mencekam.
Dan untuk pertama kalinya, Ilham melihat dengan jelas, bahwa
tidak semua langit memiliki cahaya yang sama.
BAB 2 — Jejak yang
Mulai Berubah
Matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Lembah
Selatan. Langit yang sebelumnya jingga kini berubah menjadi gradasi ungu
keabu-abuan, dengan bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu. Udara
dingin pegunungan mulai turun, membawa embun tipis yang membasahi rerumputan di
halaman balai desa.
Muhammad Ilham berdiri di beranda kantor desa, matanya
menatap pemandangan desa yang mulai gelap. Lampu-lampu jalan tenaga surya
menyala otomatis, memancarkan cahaya pucat kehijauan di sepanjang jalan batu.
Dari kejauhan, terdengar suara adzan Magrib berkumandang dari musala desa.
Suaranya lirih, terbawa angin, seperti bisikan yang mengingatkan bahwa di desa
yang tampak maju ini, masih ada sisa-sisa tradisi yang bertahan.
Rahman telah mengajak mereka masuk ke dalam kantor desa
untuk beristirahat sejenak. Seorang perempuan muda bernama Sari, perangkat desa
yang tadi ikut menyambut, menyuguhkan teh hangat dan kue-kue tradisional di
ruang tamu balai. Ruangan itu cukup luas, berukuran sekitar 8x10 meter, dengan
lantai keramik putih mengkilap yang kontras dengan dinding kayu berukir. Ada
sofa panjang berwarna cokelat di tengah ruangan, meja kaca di depannya, dan
beberapa kursi kayu di sudut.
Ilham memilih untuk tidak duduk di sofa. Ia lebih memilih
berdiri di beranda, menghirup udara dingin yang menusuk hidung. Angga duduk di
kursi kayu dekat pintu, matanya waspada mengamati sekeliling.
"Tidak suka dengan tempat ini?" tanya Angga
pelan, hanya cukup terdengar untuk Ilham.
Ilham menggeleng. "Bukan tidak suka. Hanya... tidak
biasa."
"Tempatnya terlalu rapi, ya?"
Ilham mengangguk. "Iya. Terlalu rapi. Rumah-rumah kayu
biasanya punya karakter. Ada yang miring, ada yang catnya mengelupas, ada yang
halamannya ditumbuhi rumput liar. Tapi di sini... semuanya seragam. Seperti
desa buatan."
Angga menghela napas. "Mungkin mereka memang serius
menata desa. Tidak ada yang salah dengan itu."
"Tidak ada yang salah," Ilham mengakui.
"Tapi perasaan ini tidak bisa bohong. Ada yang aneh."
Sari keluar dari balai desa sambil membawa nampan kosong.
Perempuan itu berusia sekitar dua puluh delapan tahun, tinggi, dengan rambut
panjang yang diikat ke belakang. Wajahnya cukup cantik, dengan kulit sawo
matang dan mata yang teduh. Ia tersenyum ramah ketika melihat Ilham masih di
beranda.
"Mas Ilham, silakan masuk. Udara di sini dingin, nanti
bisa masuk angin," katanya dengan suara lembut.
Ilham tersenyum tipis. "Terima kasih, Mbak Sari. Saya
suka udara dingin. Di Suralaya juga dingin, walau mungkin tidak sedingin
ini."
"Ah, iya. Lembah Selatan memang lebih tinggi dari
Suralaya. Ketinggiannya sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut."
"Cukup tinggi," komentar Ilham. "Cocok untuk
pertanian sayuran."
Sari mengangguk. "Iya, sebagian besar warga bertani
sayur. Kubis, wortel, kentang. Dulu hasilnya dijual ke tengkulak dengan harga
murah. Tapi sekarang sudah ada sistem digital, petani bisa menjual langsung ke
pembeli."
"Melalui platform desa?"
"Platform dari mitra kami, PT Nusantara Digital
Mandiri."
Nama itu kembali muncul. Ilham menangkapnya dengan saksama.
"PT NDM?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Saya belum pernah mendengar. Apa mereka perusahaan teknologi?"
Sari mengangguk. "Iya, mereka spesialis pengembangan
digitalisasi desa. Platform mereka sangat membantu kami. Semua data desa, hasil
pertanian, wisata, dikelola melalui satu sistem."
"Menarik," kata Ilham. "Mungkin saya bisa
belajar lebih banyak tentang sistem itu."
Sari tersenyum. "Tentu. Pak Rahman akan menjelaskan
semuanya besok. Sekarang istirahat dulu. Kamar untuk Bapak dan Mas Angga sudah
disiapkan."
Ilham mengucapkan terima kasih, lalu masuk ke dalam.
Kamar tamu yang disediakan cukup nyaman. Ada dua tempat
tidur kayu dengan kasur tebal, lemari kecil, dan jendela yang menghadap ke
halaman belakang balai desa. Dinding kamar terbuat dari kayu, tapi lantainya
keramik putih seperti di ruang tamu. Sebuah pemanas ruangan berdiri di sudut,
meskipun udara malam tidak terlalu dingin untuk membutuhkannya.
Angga merebahkan diri di salah satu tempat tidur.
"Wah, ini lebih mewah dari kamarku di rumah."
Ilham tertawa kecil. "Jangan keburu betah. Kita di sini
bukan untuk liburan."
"Tahu, tahu. Aku hanya bercanda."
Ilham duduk di tepi tempat tidur. Matanya menatap
langit-langit kamar yang terbuat dari kayu berkualitas baik. Tidak ada retak
atau rembesan air. Semua tampak baru dan terawat.
"Ang," panggilnya pelan.
"Hmm?"
"Kau perhatikan tidak, semua di sini terlihat
baru?"
Angga mengangkat alis. "Maksudmu?"
"Rumah-rumah, jalanan, balai desa, bahkan kamar ini.
Semuanya terlihat baru atau baru direnovasi. Padahal kata Rafi, digitalisasi
baru berjalan dua tahun. Dalam dua tahun, mereka bisa membangun atau merenovasi
hampir seluruh desa?"
Angga terdiam, memikirkan hal itu.
"Memang aneh," akunya akhirnya. "Di
Suralaya, renovasi kantor desa saja memakan waktu hampir setahun karena
keterbatasan dana."
"Itu yang membuatku bertanya-tanya," kata Ilham.
"Dari mana dana mereka? PT NDM pasti mengucurkan banyak uang. Tapi untuk
apa? Perusahaan tidak akan berinvestasi besar-besaran tanpa imbalan."
"Kau pikir mereka punya agenda tersembunyi?"
Ilham mengangguk. "Herman sudah memperingatkan kita.
Aku tidak akan mengabaikannya."
Malam itu, setelah shalat Isya, Rahman mengundang mereka
untuk makan malam di rumahnya.
Rumah Rahman terletak di ujung desa, di lereng bukit yang
menghadap langsung ke lembah. Bangunannya lebih besar dari rumah-rumah lain,
dengan halaman yang luas dan pagar besi tinggi. Di depan rumah, sebuah lampu
taman menerangi jalan setapak dari batu alam.
Ilham dan Angga diantar oleh Dimas, perangkat desa muda
yang tadi siang ikut berkeliling. Dimas berusia sekitar tiga puluh tahun,
bertubuh kurus dengan wajah yang selalu tersenyum. Ia ramah, bahkan terlalu
ramah, seperti berusaha membuat tamunya nyaman dengan segala cara.
"Mas Ilham, Mas Angga, silakan masuk," kata Dimas
sambil membuka pintu pagar.
Mereka masuk ke halaman rumah. Di sana sudah terlihat
beberapa orang duduk di kursi-kursi taman. Ada Rahman, tentu saja, juga seorang
perempuan yang ternyata istrinya, Bu Yanti, perempuan berusia sekitar lima
puluh tahun dengan wajah bulat dan rambut pendek. Ada juga Sari dan Rafi, serta
dua orang laki-laki lain yang tidak Ilham kenal.
"Selamat malam," sapa Rahman dengan ramah.
"Silakan duduk. Makan malamnya sederhana saja, masakan istri saya."
Bu Yanti tersenyum malu-malu. "Maaf kalau tidak enak.
Saya hanya bisa masak makanan biasa."
Ilham duduk di kursi yang tersedia. Angga duduk di
sampingnya.
Makanan yang disajikan tidak sederhana sama sekali. Ada
nasi liwet dengan lauk ayam bakar, pepes ikan, sayur asem, tempe mendoan, dan
sambal terasi. Aroma rempah-rempah tercium kuat, membuat perut Ilham
keroncongan meskipun ia sudah makan camilan sore tadi.
"Ini luar biasa, Bu," puji Ilham setelah
mencicipi ayam bakar. "Ayamnya empuk dan bumbunya meresap."
Bu Yanti tersenyum senang. "Terima kasih, Mas. Resep
dari ibu saya dulu."
Rahman tertawa kecil. "Setiap ada tamu penting, istri
saya selalu mengeluarkan jurus andalannya."
"Tamunya juga penting," tambah Bu Yanti sambil
melirik suaminya. "Bapak sudah menunggu kedatangan Mas Ilham sejak
lama."
Ilham mengangkat alis. "Menunggu saya? Saya hanya
pemuda desa biasa."
Rahman menghela napas. "Bukan biasa, Ilham. Saya sudah
membaca tentang perjalanan Suralaya. Tentang bagaimana desa itu berubah setelah
belajar dari Awan Biru. Tentang peran Anda di dalamnya."
"Saya hanya bagian kecil dari tim," Ilham
merendah.
"Jangan merendahkan diri," potong Rahman tegas
tapi tetap sopan. "Perubahan besar selalu dimulai dari seseorang yang
berani memulai. Anda adalah orang itu untuk Suralaya."
Suasana menjadi hening sejenak.
Angga memecah kesunyian dengan bertanya, "Pak Rahman,
kalau boleh tahu, apa yang membuat Bapak tertarik pada Suralaya? Bukan hanya
Suralaya, tetapi juga Awan Biru?"
Rahman menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya menatap
langit malam yang dipenuhi bintang.
"Saya ingin membangun sesuatu yang besar,"
katanya akhirnya. "Bukan hanya untuk Lembah Selatan, tetapi untuk seluruh
desa di kawasan ini. Desa-desa kita selama ini terpinggirkan. Kita hanya
penonton dari kemajuan yang terjadi di kota. Padahal, kita punya potensi yang
luar biasa."
"Saya setuju," kata Ilham. "Tapi pembangunan
jaringan desa harus didasari oleh kerja sama yang setara, bukan
ketergantungan."
Rahman tersenyum. "Tentu. Itulah mengapa saya ingin
belajar dari Suralaya. Dari cara Anda membangun desa tanpa kehilangan
kemandirian."
Kalimat itu terdengar benar. Terlalu benar. Seperti jawaban
yang sudah dipersiapkan.
Setelah makan malam, Ilham dan Angga berjalan kembali ke
balai desa ditemani oleh Dimas. Jalanan sepi. Lampu-lampu desa menyala redup,
menciptakan bayangan panjang di aspal.
"Mbak Sari tadi cerita tentang sistem digital yang
digunakan Lembah Selatan," kata Ilham kepada Dimas. "Menurut Mas
Dimas, apa kelebihan sistem itu?"
Dimas berpikir sejenak. "Kelebihannya, semua
terintegrasi. Data penduduk, pertanian, wisata, keuangan, semuanya dalam satu
platform. Jadi warga tidak perlu repot-repot menggunakan banyak aplikasi."
"Tapi apakah warga tidak kesulitan beradaptasi? Banyak
warga desa yang gaptek."
"Pada awalnya iya," akui Dimas. "Tapi PT NDM
memberikan pelatihan intensif. Bahkan mereka mengirim tim pendamping yang
tinggal di desa selama tiga bulan."
"Tim pendamping?" Ilham penasaran. "Berapa
orang?"
"Lima orang. Mereka mengajar warga cara menggunakan
aplikasi, mengelola data, bahkan pemasaran digital."
"Lalu setelah tiga bulan, mereka pergi?"
Dimas mengangguk. "Iya. Tapi sistemnya tetap berjalan.
Warga sudah terbiasa."
Angga yang berjalan di samping Ilham bersiul kecil.
"Hebat. Dalam tiga bulan, mereka bisa mengubah warga yang gaptek menjadi
melek digital."
Dimas tersenyum bangga. "Itu berkat kerja keras semua
pihak."
Ilham tidak berkata apa-apa. Dalam pikirannya, ia
menghitung. Lima orang tim pendamping selama tiga bulan, ditambah biaya
pelatihan, pengadaan perangkat, renovasi desa, semua itu membutuhkan dana yang
tidak sedikit. PT NDM pasti menginvestasikan miliaran rupiah untuk Lembah
Selatan.
Pertanyaannya: apa imbalannya?
Kembali di kamar, Ilham tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi
dekat jendela, memandang gelap di luar. Angga sudah terlelap dengan posisi
miring, mulutnya terbuka sedikit, mendengkur pelan.
Ilham mengeluarkan ponselnya. Sinyal di kamar lumayan
bagus. Ia membuka pesan dari Herman yang belum sempat ia balas.
"Ilham, hati-hati. Jangan sampai Suralaya terjebak
dalam perjanjian yang merugikan."
Ia membalas: "Kami sudah sampai di Lembah
Selatan. Semua tampak normal. Tapi ada yang aneh. Aku akan cari tahu lebih
lanjut."
Pesan terkirim. Ia menunggu balasan, tapi tidak ada.
Mungkin Herman sudah tidur. Atau mungkin ia sengaja tidak
membalas karena alasan tertentu.
Ilham mematikan ponsel dan kembali menatap ke luar jendela.
Di kejauhan, ia melihat sebuah bangunan yang masih menyala
lampunya. Bangunan itu terletak di pinggir desa, agak terpisah dari rumah-rumah
lain. Dari jendela kamarnya, Ilham bisa melihat papan nama di depan bangunan
itu, meskipun tulisannya tidak terbaca jelas dalam gelap.
Pusat Inovasi dan Jaringan Desa, kata Angga tadi siang. Tempat di mana peta besar dengan
garis-garis merah itu dipajang.
Ilham bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di balik
dinding bangunan itu.
Pagi berikutnya, Ilham bangun lebih awal dari biasanya.
Matahari baru saja muncul di balik bukit, menyinari lembah dengan cahaya
keemasan. Kabut tipis masih menggantung di antara rumah-rumah, menciptakan
pemandangan yang indah dan misterius.
Ia membangunkan Angga yang masih mendengkur nyenyak.
"Ang, bangun. Hari sudah siang."
Angga menggerutu sambil membalikkan badan. "Sejam
lagi, hmm..."
"Ayo, kita tidak mau ketinggalan sarapan."
"Kau dan perutmu," gumam Angga sambil duduk
dengan mata masih setengah terbuka.
Mereka bersiap-siap, lalu berjalan menuju ruang makan balai
desa. Sari sudah menunggu dengan sarapan sederhana: bubur ayam, pisang goreng,
dan kopi.
"Selamat pagi," sapa Sari ramah. "Selamat
menikmati."
"Terima kasih, Mbak," kata Ilham sambil duduk.
Angga langsung menyantap bubur ayam dengan lahap.
"Enak, Mbak. Masakan siapa ini?"
"Masakan saya sendiri," jawab Sari tersenyum.
"Semoga cocok di lidah."
Setelah sarapan, Sari mengajak mereka berkeliling desa
lagi. Kali ini ia sendiri yang menjadi pemandu, karena Rafi sedang ada
keperluan lain.
Mereka berjalan menyusuri jalan desa yang bersih. Beberapa
warga mulai beraktivitas. Seorang bapak membuka warung kopi di pinggir jalan.
Seorang ibu menjemur pakaian di halaman rumah. Anak-anak berlarian menuju
sekolah.
"Desa ini terasa tenang," komentar Angga.
Sari mengangguk. "Warga di sini memang pendiam. Tapi
baik kok. Hanya saja, mereka kurang terbiasa dengan orang baru."
"Kenapa?" tanya Ilham.
Sari menghela napas. "Dulu, sebelum desa ini maju, sering
ada oknum yang datang menjanjikan bantuan tapi akhirnya menipu. Jadi warga agak
waspada dengan orang luar."
"Tapi sekarang desa sudah maju. Apakah masih ada yang
menipu?"
"Sudah tidak ada. Tapi trauma itu masih terasa."
Ilham mengangguk mengerti. Trauma memang bisa bertahan
lama.
Mereka berjalan melewati sebuah bangunan yang menarik
perhatian Ilham. Bangunan itu adalah Pusat Inovasi dan Jaringan Desa yang
semalam ia lihat dari jendela. Sekarang, di siang hari, bangunan itu tampak
lebih besar dari yang ia kira. Dinding kacanya memantulkan cahaya matahari,
membuatnya berkilauan.
"Itu pusat inovasi kami," kata Sari bangga.
"Di situlah semua data desa dikelola. Juga tempat pelatihan digital untuk
warga."
"Boleh kami lihat ke dalam?" tanya Ilham.
Sari mengangguk. "Tentu. Pak Rahman sudah
mengizinkan."
Mereka masuk ke dalam bangunan itu. Ruangannya luas, dengan
lantai keramik putih mengkilap seperti di balai desa. Di dinding, peta besar
dengan garis-garis merah masih terpajang seperti kemarin. Namun kali ini, ada
lebih banyak informasi yang bisa Ilham lihat.
Dia mendekati peta itu. Matanya menyusuri setiap garis,
setiap nama desa, setiap simbol yang tertera.
Ada tujuh desa yang terhubung dalam peta itu: Lembah
Selatan, Suralaya, Awan Biru, Cikalong, Karangmulya, Cipatat, dan Cibitung.
Garis-garis merah menghubungkan mereka ke satu titik pusat: Lembah Selatan.
"Ini rencana jangka panjang Pak Rahman," jelas
Sari. "Dia ingin semua desa di kawasan selatan terhubung dalam satu
jaringan digital. Sehingga distribusi hasil bumi, promosi wisata, dan
pertukaran informasi bisa berjalan lancar."
"Tampak ambisius," kata Angga.
"Memang. Tapi Pak Rahman yakin ini bisa
terwujud."
Ilham menatap peta itu lama. Ada satu detail yang
membuatnya merinding.
Di sudut kanan bawah peta, tertulis dalam huruf
kecil: Hak kelola data sepenuhnya berada di tangan PT Nusantara Digital
Mandiri.
Ia menunjuk ke arah tulisan itu.
"Mbak Sari, apa maksudnya ini?"
Sari mendekat dan membaca tulisan itu. Wajahnya sedikit
berubah, tetapi ia berusaha tetap tenang.
"Itu... itu bagian dari perjanjian kerjasama kami
dengan PT NDM. Mereka yang mengembangkan sistem, jadi mereka yang memiliki hak
kelola data."
"Termasuk data desa lain yang bergabung?"
Sari terdiam. Ia tampak tidak siap menjawab pertanyaan itu.
Ilham tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu berjalan
menjauh dari peta.
Dalam hatinya, alarm berbunyi keras.
Hak kelola data sepenuhnya di tangan swasta. Itu bukan kerja sama. Itu penjajahan digital.
Sepanjang sisa hari itu, Ilham mengamati dengan saksama.
Ia melihat bagaimana warga Lembah Selatan menggunakan
aplikasi di ponsel mereka untuk segala keperluan, dari membayar listrik hingga
memesan pupuk. Ia melihat bagaimana petani memasukkan data hasil panen ke dalam
sistem, lalu menerima pembayaran langsung ke rekening mereka tanpa melalui
tengkulak. Ia melihat bagaimana pemilik homestay menerima pesanan dari
wisatawan melalui platform desa.
Semua tampak efisien. Semua tampak modern.
Tapi Ilham juga melihat hal-hal lain.
Ia melihat seorang petani yang mencoba menjual hasil
panennya di luar sistem, tetapi tidak mendapat izin dari perangkat desa. Ia
melihat seorang ibu yang bingung menggunakan aplikasi, lalu dimarahi oleh
anaknya yang sudah terbiasa dengan teknologi. Ia melihat seorang pemuda yang
duduk termenung di teras rumah, karena usahanya sebagai pengepul sayur
tradisional bangkrut setelah sistem digital diterapkan.
Perubahan selalu membawa korban. Itu tidak bisa dihindari.
Tapi di Lembah Selatan, korban itu tampak lebih banyak dari
yang diakui.
Malamnya, Ilham dan Angga kembali ke kamar.
Ilham duduk di kursi dekat jendela, matanya kosong menatap
langit malam.
"Ada yang kau temukan?" tanya Angga.
Ilham mengangguk. "Banyak."
Ia menceritakan tentang tulisan di peta itu, tentang hak
kelola data, tentang petani yang tidak bisa menjual di luar sistem, tentang
pemuda yang kehilangan mata pencaharian.
Angga mendengarkan dengan saksama.
"Jadi, ini bukan sekadar kerja sama?"
"Bukan," kata Ilham tegas. "Ini adalah upaya
menguasai desa-desa melalui digitalisasi. Mereka yang menguasai data, menguasai
segalanya. Harga, distribusi, akses pasar, semua ditentukan oleh platform. Desa
hanya jadi pemasok, bukan pemilik."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Ilham menghela napas panjang.
"Besok pagi, kita akan bertemu dengan Rahman. Aku akan
bertanya langsung tentang semua ini. Dan jika perlu, aku akan menolak tawaran
mereka."
"Kau yakin?" Angga tampak ragu. "Kita masih
di wilayah mereka. Belum tahu apa yang bisa terjadi."
"Aku yakin," kata Ilham. "Kita tidak datang
ke sini untuk menjadi korban berikutnya."
BAB 3 — Dua Langit
yang Berbeda
Malam itu, Ilham tidak bisa memejamkan mata sama sekali.
Bukan karena dingin yang menusuk hingga ke tulang, meskipun
suhu di Lembah Selatan memang jauh lebih rendah dibanding Suralaya. Bukan pula
karena suara jangkrik dan katak yang bersahutan di kejauhan, menciptakan
simfoni alam yang justru biasa ia dengar di rumah.
Bukan.
Ilham tidak bisa tidur karena pikirannya terlalu sibuk.
Terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab. Terlalu banyak kejanggalan yang
tersebar di sekitarnya seperti serpihan kaca, kecil, tajam, dan siap melukai
jika tidak hati-hati.
Di tempat tidur sebelah, Angga sudah terlelap dengan posisi
superman: tengkurap, satu tangan menjuntai di tepi kasur, mulut terbuka sedikit,
dan suara dengkuran yang naik turun tidak beraturan. Ilham tersenyum kecil
melihat sahabatnya itu. Angga memang bisa tidur di mana saja, kapan saja, dalam
situasi apa pun. Itu adalah bakat langka yang tidak dimiliki oleh Ilham.
Ia duduk di tepi kasur, meraih ponsel dari atas meja kecil
di samping tempat tidur. Layar ponsel menyala, menunjukkan pukul 02.33 dini
hari. Tidak ada notifikasi dari Herman. Tidak ada pesan balasan dari pesan yang
ia kirim tadi malam.
Mungkin Herman benar-benar tidak bisa dihubungi. Atau
mungkin, dan ini yang lebih mengkhawatirkan, Herman sengaja menjaga jarak
karena takut sesuatu terjadi padanya.
Ilham membuka catatan kecil di ponselnya, sebuah file
bernama "LEMBAH SELATAN - TEMUAN". Ia mengetik poin-poin
yang ia catat sepanjang hari:
1. Desa terlalu rapi, seragam, seperti "dibuat".
2. Warga pendiam, tidak ramah seperti desa pada umumnya. Mungkin karena
trauma? Atau karena diatur?
3. PT Nusantara Digital Mandiri (NDM) sebagai investor utama. Hak kelola
data sepenuhnya di tangan swasta.
4. Ada peta jaringan tujuh desa dengan pusat di Lembah Selatan. Nama
Suralaya dan Awan Biru sudah tercantum tanpa izin.
5. Sistem digital sangat terintegrasi, tapi warga kehilangan alternatif.
Petani tidak bisa menjual di luar sistem. Pengusaha kecil bangkrut.
*6. Rahman terlalu ambisius. Kata-katanya terdengar seperti sudah dipersiapkan,
tidak spontan.*
7. Pesan Herman: "Jangan percaya siapa pun di sana."
8. Surat misterius: "Ketika dua langit memilih jalan berbeda, siapa
yang akan kau jaga?"
Ilham membaca ulang poin terakhir. Dua langit. Apa
artinya? Apakah dua langit itu merujuk pada Suralaya dan Lembah Selatan? Atau
Suralaya dan Awan Biru? Atau mungkin sesuatu yang lebih personal, dua pilihan
dalam hidupnya?
Ia menghela napas panjang. Udara dingin masuk ke paru-paru,
terasa segar tapi juga menusuk.
Di luar jendela, langit masih gelap gulita. Bintang-bintang
bertaburan, terang dan jauh. Tidak ada bulan malam ini, membuat kegelapan
terasa lebih pekat.
Ilham memejamkan mata. Ia mencoba berdoa, meminta petunjuk,
meskipun ia tidak yakin doa akan dijawab secepat itu. Terkadang, jawaban datang
bukan dalam bentuk suara atau tanda, melainkan dalam bentuk ketenangan batin.
Dan malam itu, ketenangan itu belum datang.
Pukul 05.30, suara adzan Subuh berkumandang dari musala
desa. Suaranya lirih tapi jernih, terbawa angin pagi yang dingin. Ilham yang
tidak tidur semalaman langsung bangkit dari posisi berbaring. Ia sebenarnya
hanya merebahkan badan, tidak benar-benar tidur.
Ia membangunkan Angga dengan menggoyang-goyangkan bahu
sahabatnya itu.
"Ang, bangun. Sudah subuh."
Angga hanya bergumam, "Hmm... lima menit lagi..."
"Angga!"
"Iya, iya. Awas kalau ternyata masih malam."
Angga duduk dengan mata masih terpejam. Rambutnya
berantakan, pipinya merah karena tertindih bantal. Ilham tertawa kecil
melihatnya.
"Wajahmu kusut seperti ayam kehujanan."
"Kau juga tidak lebih baik," balas Angga sambil
mengucek mata. "Kok matamu merah? Kau tidak tidur?"
"Iya."
"Semalaman?"
"Iya."
Angga menghela napas. "Ilham, kadang aku khawatir sama
kamu. Pikiranmu itu terus bekerja tanpa istirahat. Suatu saat bisa
korsleting."
Ilham tersenyum tipis. "Mungkin setelah urusan ini
selesai, aku akan tidur tiga hari berturut-turut."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berwudhu dengan air dingin dari kran di kamar mandi.
Airnya dingin sekali, membuat kulit merinding. Angga menggerutu sepanjang
wudhu, tapi Ilham justru merasa segar. Dingin itu membantunya berpikir lebih
jernih.
Setelah shalat, mereka berjalan ke ruang makan. Sari sudah
ada di sana, menyiapkan sarapan. Pagi itu menunya nasi goreng dengan telur mata
sapi, kerupuk, dan teh panas.
"Selamat pagi," sapa Sari ceria. "Semoga
tidurnya nyenyak."
Ilham dan Angga hanya mengangguk sopan. Tidak perlu
mengatakan bahwa tidur mereka tidak nyenyak sama sekali.
Rahman datang beberapa menit kemudian. Ia mengenakan kemeja
batik lengan panjang warna hijau tua, dipadukan dengan celana kain hitam.
Rambutnya disisir rapi. Wajahnya segar, seperti orang yang tidur cukup dan
tidak memiliki beban.
"Selamat pagi, anak-anak muda," sapanya dengan
suara ceria. "Bagaimana tidurnya?"
"Baik, Pak," jawab Ilham diplomatis.
Rahman duduk di seberang mereka. Ia mengambil sepiring nasi
goreng dan makan dengan lahap.
"Hari ini kita akan mengadakan pertemuan dengan
perangkat desa dan beberapa tokoh masyarakat," kata Rahman di sela-sela
makan. "Saya ingin Anda berdua berbagi pengalaman tentang Suralaya.
Bagaimana perubahan dimulai, bagaimana tantangannya, bagaimana mengatasi
keraguan warga."
Ilham mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan coba
menjelaskan sebaik mungkin."
"Dan juga," lanjut Rahman, "saya ingin
mendengar pendapat Anda tentang rencana jaringan desa yang kami usulkan."
Nah, itu dia.
Ilham menatap Rahman lekat-lekat. "Pak Rahman, boleh
saya bertanya sesuatu sebelumnya?"
"Silakan."
"Di peta jaringan yang dipajang di Pusat Inovasi, nama
Suralaya dan Awan Biru sudah tercantum. Juga beberapa desa lain. Apakah
desa-desa itu sudah setuju bergabung?"
Rahman tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin, terlatih,
tidak terlalu lebar, tidak terlalu tipis.
"Beberapa sudah kami ajak bicara. Ada yang setuju, ada
yang masih berpikir. Tapi kami mencantumkan nama mereka sebagai proyeksi.
Sebagai gambaran bahwa kami serius dengan rencana ini."
"Tanpa izin mereka?"
Rahman mengangkat alis. "Ini hanya peta internal,
Ilham. Bukan dokumen resmi. Kami tidak bermaksud mencatut nama siapa pun."
Ilham tidak puas dengan jawaban itu, tapi ia tidak ingin
terlihat konfrontatif di depan Sari dan perangkat desa lain yang mulai
berdatangan.
"Baiklah," katanya. "Kami akan dengarkan
usulan Bapak dengan seksama."
Pertemuan dimulai pukul 09.00 di balai desa.
Ruangan yang kemarin masih sepi kini dipenuhi orang. Ada
sekitar empat puluh orang yang hadir, perangkat desa, kepala dusun, tokoh
masyarakat, ketua kelompok tani, ketua kelompok wisata, dan beberapa warga yang
dianggap mewakili. Suasana ruangan hangat karena banyak orang, meskipun di luar
udara masih dingin.
Rahman duduk di kursi utama di depan ruangan, dengan Ilham
dan Angga di kursi kehormatan di sampingnya. Di kursi lain, duduk Sari, Dimas,
Rafi, dan beberapa orang yang belum Ilham kenal.
Rahman membuka pertemuan dengan sambutan singkat.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Pertama-tama, mari kita panjatkan
puji syukur ke hadirat Allah SWT karena pada hari ini kita bisa berkumpul di
ruangan ini dalam keadaan sehat walafiat."
Beberapa orang mengucap "Aamiin" pelan.
"Hari ini kita kedatangan tamu istimewa dari Desa
Suralaya, saudara Muhammad Ilham dan saudara Angga Putra Pratama. Mereka adalah
pemuda yang berperan besar dalam transformasi digital Suralaya, desa yang
dulunya tidak dikenal, kini menjadi percontohan bagi banyak desa di kabupaten
ini."
Beberapa orang bertepuk tangan. Ilham tersenyum sopan
sambil sedikit membungkukkan badan.
"Kita akan mendengar pengalaman mereka, belajar dari
keberhasilan mereka, dan juga berdiskusi tentang kemungkinan kerja sama antara
Lembah Selatan dan Suralaya," lanjut Rahman. "Saya persilakan saudara
Ilham untuk menyampaikan materi."
Ilham berdiri dan berjalan ke depan ruangan. Ia membawa
ponsel yang terhubung ke proyektor. Nisa sudah membantunya menyiapkan slide
presentasi sebelum berangkat, meskipun Ilham lebih suka bicara tanpa slide.
"Selamat pagi, Bapak/Ibu sekalian," mulainya
dengan suara tenang. "Saya Muhammad Ilham dari Suralaya. Saya di sini
bukan sebagai ahli atau tokoh penting. Saya hanya anak desa biasa yang
kebetulan terlibat dalam proses perubahan di desa saya."
Beberapa orang tersenyum mendengar kerendahan hatinya.
"Perubahan di Suralaya tidak terjadi dalam semalam.
Tidak juga dalam setahun. Perjalanan kami dimulai tiga tahun lalu, ketika
sekelompok pemuda desa memutuskan untuk belajar dari Desa Awan Biru tentang
digitalisasi desa."
Ia melanjutkan dengan menceritakan proses awal: bagaimana
mereka meyakinkan warga yang skeptis, bagaimana mereka memulai dengan hal-hal
kecil seperti pendataan penduduk digital, bagaimana mereka membangun sistem
informasi wisata, bagaimana mereka melibatkan generasi muda yang kembali ke
desa.
Ilham berbicara dengan lugas, tanpa basa-basi. Ia tidak
berusaha terlihat pintar atau hebat. Ia hanya bercerita seperti seorang teman
yang sedang berbagi cerita di warung kopi.
Warga Lembah Selatan mendengarkan dengan saksama. Beberapa mengangguk-angguk.
Beberapa mencatat di buku kecil. Seorang ibu paruh baya di barisan depan bahkan
menangis tersedu ketika Ilham menceritakan tentang seorang petani tua yang
akhirnya bisa menjual hasil panennya langsung ke pembeli tanpa tengkulak.
"Perubahan itu indah," kata Ilham di akhir
presentasinya. "Tapi perubahan juga menyakitkan. Ada yang kehilangan
pekerjaan karena sistem baru. Ada yang merasa terpinggirkan karena tidak bisa
mengikuti teknologi. Itu sebabnya, perubahan harus dilakukan dengan hati-hati,
dengan memastikan tidak ada yang tertinggal."
Ruangan hening sejenak.
Kemudian tepuk tangan bergemuruh.
Rahman berdiri dan berjalan ke depan. Ia menepuk pundak
Ilham.
"Luar biasa, Mas Ilham. Terima kasih untuk
ceritanya."
Ilham kembali ke kursinya. Angga menyenggol sikunya.
"Kau hebat, Ham," bisik Angga. "Aku sampai
merinding."
"Diam kau," balas Ilham tersenyum.
Setelah presentasi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya
jawab dan diskusi.
Seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal mengangkat
tangan. Wajahnya garang, dengan alis tebal menyatu di tengah. Ia mengenakan
kemeja kotak-kotak dan topi petani.
"Mas Ilham, saya Kirno dari Desa Suralaya,"
katanya.
Ilham terkejut. "Pak Kirno? Bapak di sini?"
Kirno tersenyum. "Iya, saya diundang khusus oleh Pak
Rahman. Saya sudah dua hari di sini."
Ilham tidak tahu bahwa Kirno, salah satu tokoh masyarakat
Suralaya yang ikut merintis digitalisasi, juga diundang. Ini baru pertama kali
ia melihat Kirno di Lembah Selatan.
"Maaf, saya baru tahu," kata Ilham. "Apa
yang Bapak tanyakan?"
Kirno berdiri. "Saya ingin bertanya kepada Pak Rahman.
Saudara Ilham sudah bercerita tentang perubahan di Suralaya. Sekarang,
bagaimana dengan Lembah Selatan? Apa yang sudah Bapak lakukan untuk desa Bapak
sendiri?"
Pertanyaan itu langsung menohok.
Ruangan menjadi hening. Semua mata tertuju pada Rahman.
Rahman tersenyum tenang. "Pertanyaan bagus, Pak Kirno.
Baiklah, saya akan jelaskan."
Ia berdiri dan berjalan ke depan ruangan. Tangannya meraih
remote proyektor, lalu menampilkan slide yang berisi data dan grafik.
"Lembah Selatan mulai bertransformasi dua tahun lalu,
setelah saya bertemu dengan perwakilan PT Nusantara Digital Mandiri. Mereka
menawarkan program percepatan digitalisasi desa dengan pendekatan
terintegrasi."
Slide berganti. Grafik menunjukkan peningkatan pendapatan
desa, peningkatan kunjungan wisata, peningkatan efisiensi distribusi hasil
pertanian.
"Dalam dua tahun, pendapatan desa naik tiga kali
lipat. Angka kemiskinan turun dari dua puluh persen menjadi delapan persen.
Tingkat pengangguran hampir nol. Anak-anak muda yang dulu merantau ke kota,
sekarang kembali ke desa."
Beberapa warga bertepuk tangan. Wajah mereka berseri-seri,
bangga dengan apa yang telah dicapai.
Tapi Ilham melihat sesuatu yang lain.
Ia melihat seorang pemuda di barisan belakang yang tidak
bertepuk tangan. Wajahnya muram, matanya menatap lantai. Di samping pemuda itu,
seorang perempuan tua menggenggam tangannya erat-erat.
Ilham bertanya-tanya siapa mereka.
"Tapi," lanjut Rahman, "semua keberhasilan
ini tidak membuat kami berpuas diri. Kami ingin terus belajar, terus
berkembang. Itulah mengapa kami mengundang saudara Ilham dan tim dari Suralaya.
Kami ingin belajar bagaimana membangun desa yang tidak hanya maju secara
materi, tetapi juga kuat secara sosial dan budaya."
Kirno mengangguk. "Jawaban yang baik, Pak Rahman. Tapi
izinkan saya bertanya lagi. Apakah di Lembah Selatan ada warga yang keberatan
dengan sistem digital ini? Atau semua warga mendukung?"
Rahman terdiam sejenak.
"Iya," akunya akhirnya. "Ada beberapa warga
yang keberatan. Tapi kami yakinkan bahwa perubahan ini untuk kebaikan
bersama."
"Berapa banyak?" desak Kirno.
"Kurang lebih... sepuluh persen."
"Sepuluh persen dari berapa jiwa?"
"Lima ribu jiwa."
"Berarti sekitar lima ratus orang. Itu jumlah yang besar,
Pak Rahman. Lima ratus orang yang mungkin kehilangan mata pencaharian, atau
merasa terpinggirkan, atau tidak bisa beradaptasi dengan teknologi."
Ruangan mulai ramai dengan bisik-bisik. Rahman tampak tidak
nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan Kirno.
"Pak Kirno, kami tidak mengabaikan mereka. Ada program
pelatihan khusus untuk warga yang kesulitan beradaptasi."
"Apakah program itu berhasil?"
"Untuk sebagian, iya."
"Untuk sebagian lagi?"
Rahman tidak menjawab.
Kirno menghela napas. "Pak Rahman, saya tidak bermaksud
menyerang. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa perubahan yang meninggalkan
terlalu banyak orang di belakang, pada akhirnya akan menciptakan masalah baru
yang lebih besar."
Ilham tercengang mendengar Kirno. Ia tidak pernah melihat
sisi ini dari lelaki tua yang dulu hanya ia kenal sebagai petani lugu yang suka
bercerita tentang masa mudanya. Kirno ternyata memiliki pemikiran yang tajam
dan berani menyuarakan kebenaran.
Setelah sesi tanya jawab, acara dilanjutkan dengan diskusi
kelompok. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membahas topik-topik
spesifik: pertanian, wisata, UMKM, dan tata kelola desa.
Ilham bergabung dengan kelompok pertanian. Di sana ia
bertemu dengan beberapa petani Lembah Selatan, termasuk pemuda muram yang tadi
ia lihat di barisan belakang.
Pemuda itu bernaman Jono, usia dua puluh tiga tahun. Ia
adalah anak seorang petani sayur yang sejak kecil membantu orang tuanya di
ladang. Sebelum digitalisasi, keluarga Joko bisa menjual hasil panen ke pasar
tradisional dengan harga yang cukup baik. Mereka punya langganan tetap, para
pedagang sayur dari kota yang datang setiap minggu.
Tapi setelah sistem digital diterapkan, semua berubah.
"Aplikasi itu menentukan harga," cerita Jono
dengan suara lirih, seperti takut didengar orang lain. "Kalau kami jual di
luar aplikasi, kami kena sanksi. Hasil panen tidak boleh dijual ke siapa pun
kecuali melalui platform."
"Sanksinya apa?" tanya Ilham.
"Hasil panen disita. Pernah tetangga saya coba menjual
ke pedagang langganan lama. Besoknya, petugas desa datang ke ladang dan
mengambil semua sayur yang sudah siap panen. Katanya itu pelanggaran
kontrak."
Ilham merinding mendengarnya. "Kontrak? Bapak
menandatangani kontrak dengan PT NDM?"
Jono mengangguk. "Semua petani menandatangani. Waktu
itu, kami diberi tahu bahwa ini syarat untuk mendapatkan bantuan bibit, pupuk,
dan alat pertanian modern. Kami tidak membaca detailnya karena terlalu panjang
dan rumit. Lagipula, kami tidak punya pilihan."
"Dengan siapa Bapak menandatangani kontrak? Dengan PT
NDM langsung atau dengan desa?"
"Dengan PT NDM. Tapi Pak Rahman yang menjadi
saksi."
Ilham mencatat semua informasi ini di dalam ponselnya,
diam-diam agar tidak menarik perhatian.
"Apakah ada petani lain yang mengalami hal
serupa?"
Jono mengangguk. "Banyak. Tapi mereka takut bicara.
Katanya, kalau melawan, bantuan akan dicabut dan mereka tidak bisa lagi
menggunakan sistem. Padahal, semua pembeli sekarang cuma lihat aplikasi. Kalau
tidak terdaftar di aplikasi, tidak ada yang mau beli."
Itulah masalahnya. Sistem digital tidak hanya menjadi alat,
tetapi juga menjadi gerbang. Mereka yang tidak masuk ke dalam sistem,
tersingkir dari pasar.
Ilham menghela napas. Ia teringat pada pesan Herman. "Jangan
sampai Suralaya terjebak dalam perjanjian yang merugikan."
Suralaya belum terjebak. Tapi Lembah Selatan sudah.
Siang harinya, setelah diskusi kelompok selesai, Ilham
mencari Kirno. Ia menemukan lelaki tua itu duduk di bangku taman dekat balai
desa, menikmati kopi panas dan pemandangan bukit.
"Pak Kirno," sapa Ilham sambil duduk di
sampingnya.
"Mas Ilham," balas Kirno tersenyum. "apa,
kau sudah makan siang?"
"Belum, Pak. Nanti saja. Saya ingin bicara."
Tentang apa? Bukannya kita bisa bicara di Suralaya
nanti?"
"Ini tentang Lembah Selatan. Saya dengar Bapak sudah
dua hari di sini. Apa yang Bapak temukan?"
Kirno menghela napas panjang. Ia menyesap kopinya, lalu
menatap langit yang mulai berawan.
"Banyak, Mas. Banyak yang membuat hati ini tidak
tenang."
"Apa maksud Bapak?"
Kirno menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang
di sekitar. Kemudian ia menurunkan suaranya.
"Desa ini... ada yang salah. Warga di sini seperti
hidup dalam ketakutan. Mereka tidak berani bicara terbuka. Setiap kali aku
bertanya tentang sistem digital, mereka menjawab dengan kalimat standar: 'bagus,
membantu, terima kasih Pak Rahman.' Tapi mata mereka... mata mereka berkata
lain."
Ilham mengangguk. "Saya juga merasakannya."
"Lalu ada PT NDM itu," lanjut Kirno. "Aku
coba cari informasi tentang perusahaan itu. Katanya sih perusahaan teknologi.
Tapi kantornya di mana? Direkturnya siapa? Aku tanya ke warga, tidak ada yang
tahu. Bahkan Pak Rahman sendiri tidak mau bicara detail."
"Apakah Bapak sudah bertemu langsung dengan perwakilan
PT NDM?"
Kirno menggeleng. "Mereka tidak pernah datang ke desa.
Semuanya diatur melalui Pak Rahman. Semua komunikasi lewat dia. Seperti...
seperti dia adalah satu-satunya pintu."
Pintu tunggal. Itu
istilah yang tepat.
"Pak Kirno, menurut Bapak, apa yang harus kita
lakukan?"
Kirno terdiam cukup lama. Jari-jarinya yang keriput memegang
cangkir kopi dengan erat.
"Pulang," katanya akhirnya. "Kita pulang ke
Suralaya, lalu kita bicarakan ini dengan Pak Kades dan yang lain. Kita harus
melindungi desa kita. Jangan sampai Suralaya berakhir seperti Lembah
Selatan."
Ilham mengangguk. "Besok pagi kita pulang. Tapi
sebelum itu, saya harus bicara dengan Pak Rahman. Saya harus menyampaikan bahwa
Suralaya tidak akan bergabung dengan jaringan ini."
"Kau yakin? Bisa-bisa dia marah."
"Biarlah. Saya tidak datang ke sini untuk menyenangkan
siapa pun."
Kirno tersenyum. "Kau hebat, Mas Ilham. Tidak banyak
pemuda sepertimu."
Ilham tersenyum malu. "Saya hanya melakukan apa yang
benar, Pak."
Malam harinya, sebelum pertemuan penentuan yang dijadwalkan
besok pagi, Ilham meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan Rahman.
Rahman menerima permintaan itu. Ia mengajak Ilham ke ruang
kerjanya di kantor desa, sebuah ruangan berukuran sedang dengan meja kayu
besar, kursi-kursi kulit, lemari arsip, dan peta wilayah di dinding.
"Silakan duduk," kata Rahman sambil menunjuk
kursi di depan mejanya.
Ilham duduk. Ia menatap Rahman lekat-lekat.
"Pak Rahman, saya akan terus terang."
Rahman mengangguk. "Silakan. Saya juga lebih suka
komunikasi yang terbuka."
"Suralaya tidak akan bergabung dengan jaringan desa
yang Bapak usulkan."
Keheningan menggantung di antara mereka.
Rahman tidak terkejut. Wajahnya tetap tenang, seperti sudah
mendengar kalimat itu sebelumnya.
"Boleh saya tahu alasannya?" tanyanya.
"Karena jaringan yang Bapak bangun bukan kerja sama
yang setara. Ini adalah sistem kendali terpusat di mana Lembah Selatan dan PT
NDM memegang kendali penuh atas data, harga, distribusi, dan akses pasar.
Desa-desa lain hanya menjadi pemasok, bukan mitra."
Rahman menghela napas. "Kau telah salah paham,
Ilham."
"Apakah saya salah? Hak kelola data sepenuhnya di
tangan PT NDM. Itu tertulis jelas di peta Bapak."
Rahman terdiam.
"Petani di sini tidak bisa menjual hasil panen di luar
sistem. Mereka kena sanksi jika melanggar. Kontrak yang mereka tandatangani
tidak adil. Banyak yang tidak membaca detailnya karena terlalu rumit."
Rahman masih diam.
"Pak Rahman, saya tidak tahu apa tujuan Bapak
sebenarnya. Tapi saya tahu satu hal: perubahan yang baik adalah perubahan yang
membebaskan, bukan yang mengungkung. Sistem yang Bapak bangun di sini...
mengungkung."
Rahman menatap Ilham lama. Matanya yang biasanya tenang
kini menyimpan sesuatu yang sulit diartikan, mungkin kemarahan, mungkin
kekecewaan, mungkin juga kesedihan.
"Kau masih muda, Ilham," katanya akhirnya.
"Kau belum melihat bagaimana dunia bekerja. Kadang, untuk mencapai
kebaikan yang besar, kita harus melakukan hal-hal yang tidak populer."
"Kebaikan yang besar dengan mengorbankan banyak orang?
Maaf, Pak, saya tidak bisa menerima itu."
Rahman berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke jendela,
memandang gelap di luar.
"Baiklah," katanya. "Saya hargai
pendirianmu. Tapi jangan harap saya akan berhenti. Suralaya tetap akan menjadi
bagian dari jaringan ini, entah kau suka atau tidak."
Ilham merasakan dadanya sesak. "Apa maksud
Bapak?"
Rahman berbalik. Senyumnya kembali tersungging, tapi kali
ini terasa dingin.
"Kau akan lihat nanti. Sekarang, istirahatlah. Besok
pagi kita akan bicara lagi."
Ilham bangkit dan berjalan keluar ruangan. Hatinya berdebar
tidak karuan.
"Suralaya tetap akan menjadi bagian dari jaringan ini,
entah kau suka atau tidak."
Apa maksudnya? Apakah Rahman sudah memiliki cara untuk
memaksa Suralaya bergabung? Atau ada orang dari Suralaya sendiri yang bekerja
sama dengannya?
Pertanyaan itu terus menghantuinya sepanjang malam.
Di kamar, Angga sudah menunggu dengan cemas.
"Gimana?" tanyanya begitu Ilham masuk.
Ilham menceritakan semua yang terjadi. Angga mendengarkan
dengan wajah semakin serius.
"Jadi, dia tidak terima penolakan kita?"
"Iya. Bahkan dia bilang Suralaya tetap akan jadi
bagian dari jaringannya."
Angga mengusap wajahnya kasar. "Ini gila. Kita harus
pulang sekarang. Malam ini juga."
"Tidak bisa. Jalannya gelap dan berbahaya. Kita tunggu
sampai pagi."
"Tapi kalau mereka mengurung kita?"
Ilham menggeleng. "Tidak mungkin. Mereka tidak akan
berani. Kita tamu resmi, bukan tahanan."
Angga tidak yakin, tapi ia tidak bisa memaksa.
Malam itu, mereka bergantian menjaga. Angga tidur lebih
dulu, lalu Ilham yang berjaga. Pukul tiga dini hari, mereka bertukar posisi.
Ilham tidur dengan satu mata terbuka, waspada terhadap suara-suara mencurigakan
di luar.
Tidak ada yang terjadi.
Pagi datang dengan tenang. Matahari terbit di balik bukit,
menyinari lembah dengan cahaya keemasan. Burung-burung berkicau. Ayam berkokok.
Semua tampak normal.
Tapi Ilham tahu, di balik ketenangan itu, ada badai yang
sedang mengumpulkan kekuatan.
BAB 4 — Bisikan di
Balik Kemajuan
Pagi itu, langit Lembah Selatan tidak seperti biasanya.
Bukan karena warna atau bentuk awannya yang berbeda. Bukan
pula karena angin yang bertiup lebih kencang atau suhu yang tiba-tiba turun
drastis. Tidak. Secara fisik, semuanya masih sama seperti kemarin, langit biru
pucat dengan guratan awan tipis yang bergerak lambat, gunung-gunung di kejauhan
yang masih diselimuti kabut, udara dingin yang menusuk pori-pori.
Namun bagi Muhammad Ilham, pagi itu terasa berbeda. Seperti
ada lapisan tak kasat mata yang menyelimuti seluruh desa, membungkus setiap
sudut dengan keheningan yang mencekik. Suara ayam berkokok terdengar
sayup-sayup, seperti dari kejauhan yang sangat jauh. Langkah kaki warga yang
lalu-lalang di jalan batu terasa berat, tidak bersemangat. Bahkan cahaya
matahari yang masuk melalui jendela kamarnya terasa redup, seolah enggan
menyinari tempat ini.
Ilham berdiri di depan jendela kamar, matanya menatap
kosong ke arah balai desa yang mulai ramai oleh persiapan pertemuan. Ia tidak
tidur semalaman, lagi. Matanya sembab, merah di sudut-sudutnya, dengan
lingkaran hitam di bawah mata yang membuatnya tampak sepuluh tahun lebih tua.
Rambutnya berantakan, tidak disisir seperti biasa. Kemeja yang ia kenakan
semalaman masih melekat di tubuhnya, kusut dan penuh kerutan.
Di belakangnya, Angga sudah bangun dan sedang melipat
selimut dengan gerakan mekanis, seperti robot yang kehabisan baterai. Wajahnya
juga tidak segar. Rambutnya yang biasa diikat kuncir sekarang terurai kusut,
menutupi setengah wajahnya. Matanya sayu, menahan kantuk yang belum sempat
terbayar.
"Mau sarapan dulu?" tanya Angga, suaranya serak
karena semalaman tidak banyak bicara.
Ilham menggeleng. "Tidak lapar."
"Kamu harus makan. Hari ini kita akan banyak bicara.
Perut kosong bikin pikiran keruh."
Ilham menoleh, tersenyum tipis. "Sejak kapan kamu jadi
penasihat kesehatan?"
"Sejak aku melihat wajahmu yang kayak mayat
hidup." Angga berjalan mendekat dan menepuk bahu Ilham. "Ayo. Minimal
minum teh hangat. Biar tubuhmu tidak kaku."
Ilham menghela napas. Angga benar. Tidak makan hanya akan
memperburuk kondisinya. Ia butuh tenaga untuk menghadapi apa pun yang akan
terjadi hari ini.
Mereka berjalan menuju ruang makan. Di lorong, mereka
berpapasan dengan Sari yang sedang terburu-buru membawa tumpukan kertas.
"Selamat pagi, Mas Ilham, Mas Angga," sapa Sari
dengan ramah meskipun napasnya tersengal. "Sarapan sudah siap di ruang
makan. Maaf, saya tidak bisa menemani karena harus menyiapkan ruang
pertemuan."
"Tidak apa-apa, Mbak," jawab Ilham. "Kami
bisa ambil sendiri."
Sari tersenyum, lalu berjalan cepat meninggalkan mereka.
Di ruang makan, hanya ada beberapa orang. Seorang bapak tua
duduk di sudut sambil membaca koran. Dua orang ibu sedang makan bubur sambil
berbisik-bisik. Di meja utama, sudah tersedia nasi uduk, telur dadar, tempe
goreng, dan teh hangat.
Ilham mengambil sepiring kecil dan duduk di kursi dekat
jendela. Angga mengambil porsi lebih besar, seperti biasa dan duduk di
seberangnya.
"Kamu cuma makan segitu?" tanya Angga sambil
mengunyah telur.
"Cukup."
"Jangan heran kalau nanti perutmu keroncongan di
tengah pertemuan."
Ilham tidak menjawab. Matanya terus menatap ke luar
jendela, mengamati warga yang mulai berdatangan ke balai desa.
Ada yang berjalan sendiri, ada yang berkelompok. Sebagian
besar berpakaian sederhana—kemeja lusuh, celana kain, sandal jepit. Beberapa
perempuan mengenakan kerudung dan baju panjang. Tidak ada yang tampak bergembira.
Wajah-wajah mereka datar, seperti topeng yang tidak bisa mengungkapkan apa yang
sebenarnya mereka rasakan.
"Itu Jono," kata Angga sambil menunjuk ke arah
seorang pemuda yang berjalan sendirian di pinggir jalan.
Ilham mengikuti arah tunjuk Angga. Jono, pemuda muram yang
kemarin bercerita tentang kontrak tidak adil, berjalan dengan langkah gontai,
tangan di saku celana, kepala menunduk. Ia tidak bergabung dengan kerumunan
lain. Ia seperti berusaha menghilang, menjadi tidak terlihat.
"Ingin aku panggil?" tanya Angga.
Ilham menggeleng. "Tidak di sini. Terlalu banyak mata.
Nanti kita cari dia setelah pertemuan."
Pertemuan dimulai pukul 09.00 tepat.
Balai desa yang kemarin masih bisa menampung empat puluh
orang, hari ini penuh sesak. Hampir seratus orang memadati ruangan. Kursi-kursi
plastik warna-warni ditata berbaris rapi, tetapi masih belum cukup. Beberapa
warga terpaksa berdiri di belakang, berdesakan dengan yang lain. Udara di dalam
ruangan panas dan pengap, bercampur apek keringat dan parfum murahan.
Rahman berdiri di depan ruangan, di samping papan tulis
putih yang sudah penuh dengan tulisan dan diagram. Ia mengenakan kemeja batik
lengan panjang warna biru tua, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel
mengkilap. Rambutnya disisir rapi dengan minyak rambut yang membuatnya berkilau
di bawah lampu. Wajahnya segar, tersenyum lebar, seperti orang yang percaya
diri dengan apa yang akan ia sampaikan.
Di samping Rahman, duduk para perangkat desa: Sari, Dimas,
Rafi, dan beberapa orang lain yang tidak Ilham kenal. Di kursi kehormatan di
depan, duduk Ilham dan Angga, juga Kirno yang datang dari Suralaya. Kirno duduk
dengan tenang, tangan dilipat di dada, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa
pun.
Rahman membuka pertemuan dengan sambutan yang panjang dan
penuh semangat. Ia berbicara tentang visi besar Lembah Selatan, tentang
pentingnya kerja sama antar desa, tentang masa depan yang lebih cerah dengan
teknologi digital.
Kata-katanya mengalir deras, seperti air sungai di musim
hujan, deras, tak terbendung, dan membawa segala sesuatu yang dilewatinya. Ia
menyebut angka-angka statistik yang mengesankan: peningkatan pendapatan tiga
kali lipat, penurunan kemiskinan dua belas persen, serapan tenaga kerja muda
yang hampir seratus persen.
Warga bertepuk tangan di setiap jeda. Tepuk tangan itu
serempak, seperti sudah dilatih. Namun Ilham memperhatikan bahwa tidak semua
orang bertepuk tangan dengan semangat. Beberapa hanya menepuk pelan, sekadar
formalitas. Beberapa lainnya tidak bertepuk tangan sama sekali—mereka hanya diam,
menunduk, atau menatap kosong ke depan.
Setelah sambutan, Rahman mempersilakan Ilham untuk
berbicara lagi.
"Saudara Ilham akan menyampaikan pengalamannya tentang
digitalisasi di Suralaya. Kita semua bisa belajar dari desa tetangga yang juga
sudah sukses bertransformasi."
Ilham berdiri. Ia berjalan ke depan ruangan dengan langkah
tenang, meskipun jantungnya berdebar kencang. Ia bisa merasakan tatapan seratus
pasang mata tertuju padanya, ada yang penuh harap, ada yang skeptis, ada yang
waspada, ada yang tidak peduli.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
mulainya.
"Wa'alaikumussalam," jawab beberapa orang di
ruangan, tidak serempak.
"Sebelum saya berbicara tentang Suralaya, saya ingin
bertanya kepada Bapak/Ibu sekalian."
Ruangan hening.
"Apakah Bapak/Ibu bahagia dengan perubahan yang
terjadi di desa ini?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun efeknya seperti batu yang dijatuhkan
ke kolam yang tenang, riaknya menyebar ke segala arah, menciptakan gelombang
kecil yang tidak terduga.
Warga saling berpandangan. Beberapa tampak bingung.
Beberapa tampak gelisah. Seorang ibu di barisan depan menunduk, tangannya
meremas ujung kerudungnya erat-erat.
Rahman tersenyum, tetapi senyumnya sedikit kaku.
"Tentu saja bahagia, Mas Ilham. Lihatlah sendiri bagaimana desa kita
berkembang."
Ilham menatap Rahman. "Saya tidak bertanya kepada
Bapak, Pak Rahman. Saya bertanya kepada warga."
Keheningan yang lebih dalam menyelimuti ruangan.
"Silakan, Bapak/Ibu. Saya tidak akan menggigit. Saya
hanya ingin mendengar pendapat Bapak/Ibu. Apakah Bapak/Ibu bahagia?"
Seorang bapak di barisan tengah mengangkat tangan. Wajahnya
tua, keriput, dengan janggut putih yang tidak terawat. Matanya sayu, tapi ada
kilatan keberanian di dalamnya.
"Saya, Mas," katanya dengan suara parau.
"Silakan, Pak."
Bapak itu berdiri dengan susah payah, lututnya tampak kaku.
Ia memegang bahu anak muda di sampingnya untuk menjaga keseimbangan.
"Nama saya Karto. Saya petani sayur sejak umur dua
puluh tahun. Sekarang umur saya enam puluh tujuh."
Ilham mengangguk. "Silakan, Pak Karto."
Pak Karto menghela napas panjang. "Dulu, sebelum ada
sistem digital ini, saya bisa jual sayur ke pasar tradisional. Harganya tidak
selalu bagus, tapi saya punya kebebasan. Saya bisa tawar-menawar dengan
pembeli. Saya bisa pilih mau jual ke siapa."
"Dan sekarang?"
Pak Karto terdiam. Matanya berkaca-kaca.
"Sekarang... saya tidak punya pilihan. Semua lewat
aplikasi. Harga sudah ditentukan. Saya cuma bisa terima atau tidak jual. Tapi
kalau tidak jual, sayur saya busuk. Jadi ya... saya terima saja."
Ruangan sunyi. Suasana berubah menjadi tegang.
Rahman berdiri. "Pak Karto, bukankah pendapatan Bapak
meningkat setelah menggunakan sistem digital? Bukankah Bapak sekarang tidak
perlu repot mencari pembeli?"
Pak Karto menggeleng. "Pendapatan saya dulu naik, iya.
Tapi sekarang... sekarang turun lagi. Soalnya biaya operasionalnya tinggi.
Aplikasi ini potong biaya administrasi, biaya platform, biaya pengiriman.
Hitung-hitung, sama saja."
Rahman mencoba memotong. "Pak Karto, mungkin Bapak
kurang memahami detail, "
"Pak Rahman," Ilham memotong dengan sopan,
"biarkan beliau bicara."
Rahman terdiam. Wajahnya sedikit memerah.
Ilham menatap Pak Karto. "Silakan lanjutkan,
Pak."
Pak Karto mengusap matanya yang basah dengan punggung
tangan. "Saya tidak mau ribut. Saya hanya ingin berkata bahwa... perubahan
ini tidak seindah yang dikatakan. Ada banyak dari kami yang menderita
diam-diam."
Setelah Pak Karto duduk, beberapa warga lain mulai angkat
bicara. Seorang ibu mengeluh tentang anaknya yang tidak bisa melanjutkan
sekolah karena biaya yang semakin mahal. Seorang pemuda mengeluh tentang
lapangan pekerjaan yang semakin sempit karena semua sudah diatur oleh sistem.
Seorang bapak lain mengeluh tentang hutang yang menumpuk karena gagal panen.
Rahman berusaha menenangkan, tetapi suaranya tenggelam oleh
gelombang keluhan yang mulai tidak terkendali.
Sari dan Dimas berusaha menenangkan warga, tetapi mereka
hanya bisa diam ketika melihat bahwa warga yang selama ini pendiam dan patuh,
tiba-tiba seperti menemukan keberanian untuk bersuara.
Ilham berdiri di depan ruangan, tidak bicara. Ia hanya
mendengarkan. Ia membiarkan warga meluapkan apa yang selama ini terpendam.
Angga dari belakang mengacungkan jempol. Kirno tersenyum
kecil.
Setelah hampir satu jam sesi curah pendapat yang panas,
Rahman akhirnya berhasil menenangkan suasana. Ia berjanji akan mengevaluasi
sistem dan mendengarkan aspirasi warga. Tapi janji itu terdengar kosong,
seperti kata-kata yang sudah sering diucapkan dan dilupakan.
Pertemuan dilanjutkan dengan agenda lain yang lebih teknis,
tetapi Ilham sudah tidak berkonsentrasi. Pikirannya melayang ke tempat lain.
Ia mengamati ruangan. Matanya menelusuri setiap sudut,
setiap wajah. Lalu ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.
Di sudut ruangan, di belakang kerumunan warga yang berdiri,
ada seorang pria yang tidak seperti yang lain. Pria itu tidak mengenakan
pakaian sederhana seperti warga desa. Ia mengenakan kemeja putih lengan
panjang, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel, mirip dengan yang dikenakan
Rahman. Rambutnya pendek dan rapi. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas dan
mata yang tajam. Tangannya memegang ponsel, dan ia sesekali mengetik sesuatu.
Yang paling mencolok: pria itu tidak pernah bertepuk
tangan. Tidak pernah tersenyum. Tidak pernah bereaksi terhadap apa pun yang
terjadi di ruangan itu. Ia hanya berdiri diam, mengamati, seperti burung
pemangsa yang sedang mengincar mangsa.
Ilham menyenggol Angga. "Lihat ke sana,"
bisiknya.
Angga mengikuti arah pandang Ilham. "Siapa itu?"
"Tidak tahu. Tapi dia tidak seperti warga desa."
"Barangkali perangkat desa dari desa lain? Atau dari
PT NDM?"
Ilham mengangguk. "Mungkin."
Pria itu seolah merasakan tatapan Ilham. Ia menoleh, dan
mata mereka bertemu. Sekejap, lalu pria itu mengalihkan pandangannya kembali ke
ponsel, tidak terganggu.
Tapi Ilham tahu. Pria itu bukan orang biasa.
Setelah pertemuan usai, Ilham mencari Jono.
Ia menemukan pemuda itu sedang duduk di teras rumahnya, sebuah
rumah kayu kecil yang terletak di pinggir desa, agak terpencil dari pemukiman lain.
Rumah itu tampak lusuh, berbeda dengan rumah-rumah lain yang rapi dan terawat.
Cat dindingnya mengelupas, atapnya bolong di beberapa bagian, dan halamannya
ditumbuhi rumput liar yang tidak terurus.
Jono duduk di kursi kayu reyot sambil merokok. Asap tipis
mengepul dari mulutnya, lalu lenyap ditiup angin. Wajahnya muram, matanya sayu,
kulitnya kusam karena terlalu banyak bekerja di bawah matahari tanpa
perlindungan yang cukup.
"Mas Jono," sapa Ilham.
Jono menoleh. Matanya sedikit terkejut melihat Ilham dan
Angga berdiri di depan pagar rumahnya.
"Mas Ilham? Ada apa?"
"Boleh kami masuk?"
Jono ragu sejenak, lalu mengangguk. Ia berdiri dan membuka
pintu pagar.
"Maaf, rumahnya tidak seberapa," katanya
malu-malu.
"Tidak apa-apa," kata Ilham. "Rumah saya
juga sederhana."
Mereka masuk ke dalam rumah. Ruang tamunya kecil, hanya
berisi satu kursi kayu, satu meja kecil, dan lemari tua di sudut. Lantainya
tanah, tidak diplester. Dinding kayu bolong di sana-sini, angin masuk dengan
bebas.
"Silakan duduk," kata Jono sambil menarik kursi
kayu untuk Ilham dan Angga. Ia sendiri duduk di lantai beralas tikar anyaman
yang sudah usang.
Ilham dan Angga duduk di kursi. Mereka berdua merasa tidak
enak, seperti tamu yang terlalu besar untuk rumah sekecil ini.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Mas Jono," kata
Ilham. "Saya hanya ingin bicara sedikit."
Jono mengangguk. "Tidak apa-apa. Lagipula, saya tidak
punya banyak kegiatan."
"Mas Jono masih bertani?"
Jono menggeleng. "Sekarang tidak. Saya berhenti
setelah... setelah sistem digital itu diterapkan."
"Kenapa?"
Jono menarik napas panjang. Cerita itu seperti luka yang
belum sembuh, tetapi ia tahu ia harus membukanya jika ingin dibantu.
"Saya dulu punya langganan tetap di pasar kota. Setiap
minggu, saya kirim sayuran ke sana. Harganya bagus, karena kualitas sayur saya
bagus. Tapi setelah sistem digital, pembeli langganan saya tidak bisa lagi
membeli langsung. Mereka harus beli melalui aplikasi. Dan di aplikasi, harga
sayur saya ditentukan lebih murah dari harga pasar. Katanya untuk
'menstandardisasi harga'."
"Jadi Mas Jono rugi?"
"Rugi besar. Saya protes ke Pak Rahman, tapi beliau
bilang ini demi kebaikan bersama. Semua petani harus tunduk pada sistem."
"Tapi kenapa Mas Jono berhenti? Kenapa tidak tetap
bertani meskipun harga lebih murah?"
Jono tersenyum pahit. "Karena saya tidak punya
pilihan, Mas. Aplikasi itu menentukan berapa banyak sayur yang bisa saya jual.
Tidak boleh lebih. Kalau saya tanam lebih, kelebihannya tidak bisa dijual. Saya
harus buang atau biarkan busuk. Saya tidak tega melihat hasil jerih payah saya
terbuang sia-sia."
Ilham menunduk. Ia bisa merasakan kepedihan Jono. Menjadi
petani itu sulit. Kerja keras dari pagi hingga sore, berpeluh keringat di bawah
terik matahari, hanya untuk melihat hasilnya tidak dihargai. Itu lebih
menyakitkan daripada gagal panen karena hama atau kekeringan.
"Apakah ada petani lain yang mengalami hal
serupa?" tanya Angga.
Jono mengangguk. "Banyak. Tapi kebanyakan diam. Mereka
takut."
"Takut apa?"
Jono menurunkan suaranya. "Takut diusir dari desa.
Takut bantuan dicabut. Takut... dimusuhi."
"Dimusuhi? Oleh siapa?"
Jono tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai dengan mata
kosong.
Ilham memutuskan untuk tidak memaksa. Ia berganti topik.
"Mas Jono, saya dengar dulu Mas Jono aktif di kegiatan
pemuda desa. Ada apa dengan organisasi pemuda sekarang?"
Jono menghela napas. "Bubar. Semua pemuda yang kritis
dipaksa bubar. Sekarang hanya ada organisasi pemuda yang dikendalikan oleh
desa."
"Oleh Pak Rahman?"
Jono mengangguk pelan.
Ilham dan Angga saling berpandangan. Semakin dalam mereka
menyelidiki, semakin banyak hal mengerikan yang mereka temukan.
Dari rumah Jono, Ilham dan Angga berjalan kembali ke balai
desa. Langit mulai mendung. Awan hitam bergerak cepat dari arah barat,
menandakan hujan akan segera turun.
"Semakin kita menggali, semakin gelap," kata
Angga.
Ilham mengangguk. "Iya. Seperti bawang, dikupas satu
lapis, ternyata masih ada lapis lain. Dan setiap lapis lebih busuk dari
sebelumnya."
"Apa yang akan kita lakukan dengan informasi
ini?"
"Kita kumpulkan dulu. Nanti kita laporkan ke Pak Kades
dan teman-teman di Suralaya. Mereka harus tahu."
"Tapi bagaimana dengan Lembah Selatan? Apa kita bisa
membantu mereka?"
Ilham terdiam. Pertanyaan Angga tepat sasaran. Mereka tidak
bisa hanya mengambil informasi lalu pergi, membiarkan warga Lembah Selatan
terperangkap dalam sistem yang mengungkung mereka.
Tapi apa yang bisa mereka lakukan? Mereka hanya tamu.
Mereka tidak punya kekuasaan di sini.
"Kita lihat nanti," kata Ilham akhirnya.
"Yang penting sekarang, kita pastikan Suralaya tidak mengalami nasib yang
sama."
Hujan mulai turun ketika mereka tiba di balai desa. Gerimis
tipis yang perlahan menjadi deras. Air membasahi tanah, menciptakan genangan di
halaman yang tidak rata.
Mereka berlari kecil menuju pintu masuk, berusaha
menghindari hujan yang semakin deras. Di emperan balai desa, mereka melihat
seseorang berdiri di bawah atap sambil merokok.
Pria itu.
Pria dengan kemeja putih yang tadi pagi berdiri di sudut
ruangan. Sekarang ia berdiri di emperan, menghadap ke arah hujan, sesekali
mengisap rokoknya. Asap tipis mengepul, lalu buyar diterpa angin.
Ilham dan Angga berhenti di pintu masuk. Mereka tidak
langsung masuk. Ada perasaan ingin tahu yang mendorong Ilham untuk mendekati
pria itu.
"Selamat siang," sapa Ilham.
Pria itu menoleh. Matanya tajam, dingin, seperti pisau yang
baru diasah.
"Selamat siang," balasnya datar.
"Saya Ilham dari Suralaya. Bapak siapa?"
Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Nama saya Andi. Saya dari PT Nusantara Digital
Mandiri."
Ilham sudah menduga. "Andi... jabatannya?"
"Manajer Proyek."
"Ah, jadi Bapak yang mengawasi implementasi sistem
digital di sini?"
Andi mengangguk. "Sebagian. Saya juga mengawasi
beberapa desa lain."
"Desa lain? Selain Lembah Selatan?"
Andi tidak menjawab. Ia hanya menatap Ilham dengan sorot
yang sulit diartikan.
"Mas Ilham, saya dengar Mas Ilham menolak tawaran
kerja sama dari Pak Rahman."
Ilham terkejut. Informasi itu seharusnya hanya diketahui
oleh beberapa orang. Bagaimana Andi bisa tahu? Apakah Rahman sudah
melaporkannya? Atau... ada yang lain?
"Saya belum membuat keputusan final," kata Ilham
diplomatis.
Andi tertawa kecil. Tawa yang tidak ramah. "Terserah
Mas Ilham. Tapi saya sarankan Mas Ilham mempertimbangkan ulang. Kerja sama
dengan kami menguntungkan banyak pihak."
"Termasuk PT NDM?"
"Termasuk kami, tentu saja. Kami juga perusahaan. Kami
butuh keuntungan."
"Keuntungan apa yang Bapak dapat dari desa-desa?"
Andi menghela napas. "Data, Mas Ilham. Data itu lebih
berharga daripada emas. Dengan data, kami bisa mengembangkan produk, menentukan
harga, mengendalikan pasar. Desa-desa ini adalah tambang emas bagi kami."
Ilham merasakan bulu kuduknya berdiri. Andi bicara dengan
sangat blak-blakan, seolah tidak peduli bahwa apa yang ia katakan itu
mengerikan.
"Dan Bapak tidak merasa bersalah? Mengambil keuntungan
dari desa-desa yang seharusnya mandiri?"
Andi tertawa lagi. "Bersalah? Tidak. Ini bisnis, Mas
Ilham. Tidak ada tempat untuk perasaan dalam bisnis. Desa-desa ini butuh kami.
Tanpa kami, mereka akan tetap tertinggal. Jadi ini hubungan simbiosis
mutualisme. Kami untung, mereka untung."
"Tapi warga tidak bahagia."
"Kebahagiaan bukan urusan kami. Urusan kami adalah
efisiensi dan profit."
Ilham terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Andi adalah
tipe orang yang tidak bisa disentuh oleh logika moralitas. Baginya, semuanya
adalah angka dan keuntungan.
"Maaf, saya harus pergi. Ada rapat dengan Pak
Rahman," kata Andi sambil membuang puntung rokoknya ke tanah.
Ia berjalan masuk ke balai desa, meninggalkan Ilham dan
Angga di emperan dengan pikiran yang kacau.
Angga mengelus dadanya. "Astaga. Orang itu dingin
sekali."
"Iya," kata Ilham. "Dia bukan sekadar
karyawan. Dia adalah eksekutor."
"Eksekutor?"
"Orang yang menjalankan rencana besar. Dan rencana
itu... sangat mengerikan."
Hujan reda menjelang sore.
Ilham dan Angga memutuskan untuk berjalan-jalan lagi,
mencari informasi tambahan sebelum pertemuan penentuan besok pagi. Mereka
menyusuri jalan desa yang basah, sesekali menyapa warga yang mereka temui.
Sebagian besar warga enggan bicara. Mereka hanya tersenyum
tipis, lalu berjalan cepat meninggalkan Ilham dan Angga. Seperti ada perintah
tidak tertulis untuk tidak berbicara dengan orang asing.
Tapi tidak semua warga seperti itu.
Seorang ibu paruh baya yang sedang membersihkan teras
rumahnya memanggil mereka.
"Mas, Mas, sini dulu."
Ilham dan Angga mendekat. Ibu itu mengamati sekeliling
dengan waspada, lalu berkata dengan suara berbisik, "Kalian dari Suralaya?"
"Iya, Bu."
Ibu itu menghela napas. "Awas, Mas. Hati-hati di sini.
Banyak yang tidak beres."
"Maksud Ibu?"
Ibu itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah Pusat
Inovasi dan Jaringan Desa, lalu menggerakkan telunjuknya melingkar di samping
telinga, isyarat "gila" atau "tidak waras".
"Di sana pusat masalah," bisiknya. "Jangan
terlalu percaya sama Pak Rahman. Dan jangan percaya sama orang-orang dari PT
itu."
"Kenapa, Bu?"
Ibu itu menggeleng. "Tidak bisa cerita di sini. Nanti
malam, kalau kalian mau, datang ke rumah saya. Rumah paling ujung desa, yang
catnya biru. Aku tunggu jam sembilan."
Sebelum Ilham sempat bertanya lebih lanjut, ibu itu sudah
masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Ilham dan Angga saling berpandangan.
"Kita datang nanti malam?" tanya Angga.
Ilham mengangguk. "Kita datang."
Malam itu, mereka berdua keluar dari kamar setelah
memastikan tidak ada yang mengawasi. Mereka berjalan menyusuri lorong belakang
kantor desa, memanfaatkan kegelapan untuk bersembunyi dari pandangan.
Rumah paling ujung desa dengan cat biru ternyata tidak
terlalu jauh. Hanya sekitar lima ratus meter dari balai desa, di tepi jalan
setapak yang menurun ke arah sungai.
Mereka mengetuk pintu pelan.
Pintu terbuka. Ibu itu menyilakan mereka masuk.
Di dalam rumah, selain ibu itu, ada tiga orang lain:
seorang bapak tua, seorang pemuda, dan seorang perempuan muda. Wajah mereka
tegang, seperti orang yang sedang bersiap untuk melakukan sesuatu yang
berbahaya.
"Silakan duduk," kata ibu itu. "Nama saya
Mak Tum. Ini suami saya, Pak Dullah. Ini anak saya, Wawan. Dan ini keponakan
saya, Dewi."
Ilham dan Angga duduk di lantai beralas tikar. Rumah ini lebih
sederhana dari rumah Jono, hanya satu ruangan dengan dinding bambu dan atap
rumbia. Lampu minyak menyala redup di sudut, menerangi wajah-wajah mereka
dengan cahaya kuning keemasan.
"Kami dengar Mas Ilham menolak kerja sama dengan Pak
Rahman," kata Pak Dullah. Suaranya berat, dalam, seperti suara dari dalam
sumur.
"Iya, Pak. Saya rasa sistem yang diterapkan di sini
tidak adil."
Pak Dullah mengangguk. "Kau benar. Tidak adil. Tapi
apa kau tahu mengapa sistem itu bisa berjalan?"
Ilham menggeleng.
"Karena ada orang-orang dari desa sendiri yang
membantu mereka."
Ilham terkejut. "Maksud Bapak?"
Pak Dullah menghela napas. "Pak Rahman tidak bekerja
sendiri. Ia punya kaki tangan. Orang-orang desa yang diberi imbalan untuk
mengawasi warga lain, melaporkan siapa yang protes, siapa yang tidak
patuh."
"Siapa mereka?"
Pak Dullah menyebut beberapa nama. Ilham terkejut mendengar
nama-nama itu, beberapa di antaranya adalah perangkat desa yang ia anggap ramah
dan membantu. Sari? Dimas? Rafi? Apakah mereka juga terlibat?
"Sari dan Dimas tahu tentang ini?" tanya Ilham.
Pak Dullah mengangguk. "Mereka tahu. Tapi mereka tidak
berani melawan. Mereka juga terikat kontrak. Kalau melawan, mereka bisa dipecat
dan diusir dari desa."
Ilham menunduk. Semakin rumit. Tidak hanya warga biasa yang
menjadi korban, tetapi juga perangkat desa yang terjebak dalam sistem yang
mereka bantu jalankan.
"Lalu apa yang bisa kami lakukan?" tanya Angga.
Pak Dullah menatap Ilham dan Angga bergantian. "Kalian
bisa jadi saksi. Kalian bisa membawa cerita ini ke luar. Biar orang tahu apa
yang sebenarnya terjadi di Lembah Selatan."
"Tapi apakah tidak berbahaya bagi kalian? Kalau
ketahuan kalian bicara pada kami?"
Mak Tum tersenyum pahit. "Kami sudah tidak punya
banyak yang bisa diambil, Mas. Rumah ini sudah hampir roboh. Sawah kami sudah
diambil alih. Apa lagi yang bisa mereka ambil?"
Ilham merasakan dadanya sesak. Ia ingin menangis mendengar
kata-kata Mak Tum, tapi ia menahan.
"Baik, Pak, Bu. Saya akan membawa cerita ini ke
Suralaya. Saya akan berusaha membantu sebisa saya."
Pak Dullah mengangguk. "Hati-hati di jalan, Mas. Dan
jangan percaya siapa pun di sini. Bahkan orang yang tampaknya baik
sekalipun."
Saat Ilham dan Angga berjalan kembali ke balai desa, langit
sudah gelap gulita. Bintang-bintang bersinar terang, tapi tidak cukup untuk
menerangi jalan. Mereka menggunakan ponsel sebagai senter.
"Berat," kata Angga tiba-tiba.
"Iya," jawab Ilham.
"Kita membawa pulang cerita yang tidak ringan."
"Iya."
"Apakah kita bisa membantu mereka?"
Ilham berhenti berjalan. Ia menatap langit malam yang luas,
penuh bintang, seolah mengingatkannya bahwa dunia ini masih besar dan mereka
hanyalah dua pemuda desa biasa.
"Aku tidak tahu, Ang. Tapi setidaknya kita tidak akan
diam."
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, ditemani suara
jangkrik dan angin malam yang dingin.
BAB 5 — Retaknya
Jembatan Lama
Malam itu, setelah pertemuan rahasia di rumah Mak Tum,
Ilham dan Angga kembali ke balai desa dengan langkah gontai. Bukan karena lelah
secara fisik, meskipun perjalanan bolak-balik menyusuri jalan desa yang gelap
dan berbatu memang cukup menguras tenaga, tetapi karena beban pikiran yang
semakin berat.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada satu kata pun yang
terucap di antara mereka. Angga berjalan di belakang Ilham, sesekali menyinari
jalan dengan lampu ponselnya. Ilham berjalan di depan, matanya lurus ke depan,
tetapi pikirannya melayang jauh ke tempat yang tidak bisa ia kendalikan.
Informasi yang mereka dapatkan malam ini terlalu berat.
Terlalu banyak. Terlalu mengerikan.
Bukan hanya tentang sistem digital yang mengungkung warga.
Bukan hanya tentang kontrak tidak adil yang memaksa petani tunduk pada harga
yang sudah ditentukan. Bukan hanya tentang PT NDM yang dengan dinginnya
mengakui bahwa data desa adalah tambang emas bagi mereka.
Tapi juga tentang pengkhianatan dari orang-orang terdekat.
"Pak Rahman tidak bekerja sendiri. Ia punya kaki
tangan. Orang-orang desa yang diberi imbalan untuk mengawasi warga lain,
melaporkan siapa yang protes, siapa yang tidak patuh."
Itu kata Pak Dullah. Lelaki tua yang rumahnya nyaris roboh
itu menyebutkan nama-nama. Beberapa di antaranya sudah Ilham duga, orang-orang
yang terlalu patuh, terlalu sigap, terlalu bersemangat dalam menjalankan
perintah Rahman.
Tapi ada satu nama yang membuat Ilham terdiam lama.
Sari.
Sari, perangkat desa yang ramah, yang selalu tersenyum,
yang menyajikan teh hangat setiap pagi, yang matanya teduh dan suaranya lembut.
Sari yang tampak begitu peduli pada tamu, begitu perhatian, begitu... tulus.
Apakah semua itu hanya topeng?
Ilham tidak tahu. Ia tidak ingin menuduh tanpa bukti. Tapi
perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Sari. Bukan
karena ia jahat, mungkin Sari juga korban, seperti Pak Dullah dan yang lain.
Mungkin Sari terpaksa melakukan semua itu karena terikat kontrak, karena takut
dipecat, karena takut diusir dari desa yang ia cintai.
Atau mungkin Sari benar-benar percaya pada sistem yang ia
jalankan. Mungkin Sari termasuk orang yang beruntung dalam sistem ini, mungkin
ia mendapatkan keuntungan, fasilitas, atau kekuasaan yang tidak didapatkan
warga biasa.
Ilham tidak tahu. Dan itu yang paling menyakitkan:
ketidaktahuan.
Mereka tiba di balai desa sekitar pukul 22.30. Lampu-lampu
di lorong masih menyala redup, menerangi jalan menuju kamar mereka. Tidak ada
orang di sekitar. Suasana sunyi, hanya terdengar suara angin yang menerpa
dedaunan di halaman.
Angga membuka pintu kamar dengan hati-hati. Ia masuk lebih
dulu, memeriksa apakah ada yang mengintai atau menyusup. Setelah memastikan
semuanya aman, ia memberi isyarat pada Ilham untuk masuk.
Ilham masuk dan langsung duduk di tepi tempat tidur.
Tubuhnya terasa berat, seperti habis mengangkat karung padi seharian. Matanya
perih, kepalanya pusing, dan perutnya keroncongan karena sejak siang hanya
makan sepiring kecil nasi uduk.
"Kau makan dulu," kata Angga seolah bisa membaca
pikiran Ilham. Ia mengambil tas ransel yang dibawa dari Suralaya, mengeluarkan
bungkus plastik berisi nasi dan lauk pauk.
"Bu Laila menyiapkan ini sebelum kita berangkat.
Katanya untuk jaga-jaga kalau lauk di sini tidak cocok."
Ilham tersenyum tipis. Ibunya memang selalu berpikir jauh
ke depan. Di tas ranselnya juga ada obat-obatan sederhana, jas hujan lipat,
bahkan sandal cadangan.
"Makasih, Bu," gumam Ilham dalam hati sambil
mengambil nasi bungkus itu.
Ia makan perlahan, lahap meskipun nasi sudah dingin dan lauknya
sedikit basi. Angga ikut makan di sampingnya, mengambil porsi lebih besar
karena porsi makannya memang selalu lebih besar.
"Menurutmu," kata Angga di sela-sela mengunyah,
"apakah kita bisa mempercayai Mak Tum dan Pak Dullah?"
Ilham berhenti mengunyah. Pertanyaan itu sebenarnya juga
berkecamuk di kepalanya.
"Kenapa? Kau curiga pada mereka?"
Angga menggeleng. "Bukan curiga. Tapi kita tidak kenal
mereka. Baru bertemu sekali. Cerita mereka bisa saja bohong. Mungkin mereka
punya agenda sendiri. Mungkin mereka ingin kita menjadi alat untuk melawan Pak
Rahman."
Ilham terdiam. Angga punya poin yang valid. Dalam situasi
seperti ini, siapa pun bisa berbohong. Pak Rahman bisa berbohong. PT NDM bisa
berbohong. Mak Tum dan Pak Dullah juga bisa berbohong.
"Tapi," lanjut Angga, "ada satu hal yang
membuatku cenderung percaya pada mereka."
"Apa?"
Angga menatap Ilham. "Mata mereka. Ketika Pak Dullah
bercerita tentang sawahnya yang diambil alih, matanya berkaca-kaca. Itu bukan
mata orang yang berbohong. Itu mata orang yang terluka."
Ilham mengangguk pelan. Ia juga melihatnya. Luka di mata
Pak Dullah terlalu tulus untuk dipalsukan.
"Tapi tetap kita harus berhati-hati," kata Ilham.
"Kita tidak tahu sejauh mana jaringan mereka. Mungkin Mak Tum dan Pak
Dullah adalah korban. Tapi bisa juga mereka bagian dari perangkap yang lebih
besar."
"Perangkap?"
"Iya. Mungkin mereka sengaja disuruh seseorang untuk
memberikan informasi palsu, agar kita mengambil langkah yang salah."
Angga menghela napas panjang. "Semakin lama kita di
sini, semakin rumit."
"Iya. Itu sebabnya kita harus segera pulang. Besok
pagi setelah pertemuan, kita langsung pamit."
"Setuju."
Pukul 23.30, setelah selesai makan dan membersihkan diri,
Ilham berbaring di tempat tidur. Matanya terpejam, tetapi pikirannya masih
terjaga. Ia mencoba menyusun ulang semua informasi yang didapatkan dalam dua
hari terakhir.
Ia membayangkan sebuah peta besar seperti yang ada di Pusat
Inovasi. Di peta itu, ada titik-titik yang mewakili desa-desa: Lembah Selatan,
Suralaya, Awan Biru, Cikalong, Karangmulya, Cipatat, Cibitung. Garis-garis
merah menghubungkan mereka ke satu pusat: Lembah Selatan.
Tapi Ilham menambahkan detail baru di peta imajinasinya. Ia
menambahkan titik lain: PT Nusantara Digital Mandiri. Dari titik itu, ada garis
tebal berwarna hitam yang menuju ke Lembah Selatan. Lalu dari Lembah Selatan,
garis-garis merah menyebar ke desa-desa lain.
Itu bukan jaringan kerja sama. Itu adalah jaringan
pengendalian.
PT NDM mengendalikan Lembah Selatan. Lembah Selatan
mengendalikan desa-desa lain. Dan di setiap desa, ada orang-orang yang menjadi
"mata" dan "tangan" untuk memastikan semua berjalan sesuai
rencana.
Ilham membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar yang
gelap.
Siapa "mata" dan "tangan" di Suralaya?
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dan tidak bisa ia
singkirkan. Jika Lembah Selatan memiliki kaki tangan di desa-desa lain,
mungkinkah Suralaya juga sudah dimasuki?
Siapa? Siapa yang mungkin bekerja sama dengan Rahman?
Ilham mencoba mengingat-ingat. Selama ini, hanya sedikit
orang yang tahu tentang perjalanan Suralaya secara detail. Ada Kades Raditya,
tentu saja. Ada Kirno, Santo, Sugi, para tokoh masyarakat. Ada Nisa, Rendi,
Aulia, anak-anak muda yang mengelola digitalisasi. Ada Angga, sahabatnya.
Dan ada satu nama lagi.
M. Haris.
Haris adalah perangkat desa yang bertanggung jawab di
bidang administrasi dan pengembangan desa. Ia orang yang cerdas, teliti, dan
sangat menguasai seluk-beluk pemerintahan desa. Ia juga yang paling sering
berkomunikasi dengan desa-desa lain, termasuk Lembah Selatan.
Ilham tidak ingin mencurigai Haris. Tapi nalurinya
mengatakan bahwa jika ada seseorang di Suralaya yang berpotensi menjadi
"mata" Rahman, itu adalah Haris.
Tapi jangan menuduh tanpa bukti, pikir Ilham. Bukti dulu, baru bicara.
Ia memejamkan mata kembali. Perlahan, kantuk mulai
menyapanya. Suara Angga yang mulai mendengkur di sampingnya menjadi semacam
musik pengantar tidur.
Sebelum benar-benar terlelap, Ilham sempat berdoa dalam
hati. Bukan doa yang panjang dan formal, hanya bisikan kecil: "Ya
Allah, lindungi Suralaya. Lindungi orang-orang yang aku cintai. Dan beri aku
kekuatan untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi besok."
Pagi itu, Ilham bangun lebih awal dari biasanya. Bukan
karena ia sudah cukup tidur, ia hanya tidur sekitar tiga jam, tetapi karena
gelisah yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia duduk di tepi tempat tidur, memandang Angga yang masih
terlelap dengan posisi superman khasnya. Angga mendengkur pelan, kadang
diselingi gumaman tidak jelas. Ilham tersenyum kecil. Di tengah situasi yang
mencekak seperti ini, Angga tetap bisa tidur nyenyak. Itu mungkin kelebihan
yang paling ia iri dari sahabatnya itu.
Ilham berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah dengan air
dingin yang menyegarkan. Ia melihat bayangannya di cermin, mata sembab, lingkaran
hitam di bawah mata, rambut berantakan. Ia tampak seperti orang yang baru saja
kehilangan sesuatu, meskipun ia tidak tahu persis apa yang hilang.
Setelah shalat Subuh, ia duduk di beranda balai desa sambil
menyesap teh hangat yang dibuat sendiri dari dispenser di ruang makan. Udara
pagi masih dingin, kabut tipis masih menggantung di antara rumah-rumah. Dari
kejauhan, terdengar suara adzan yang baru saja usai, digantikan oleh kokok ayam
dan kicauan burung.
"Mas Ilham?"
Ilham menoleh. Sari berdiri di pintu balai desa, masih
mengenakan pakaian tidur, daster panjang bermotif bunga dan kerudung yang tidak
terlalu rapi. Wajahnya masih mengantuk, matanya sayu.
"Selamat pagi, Mbak Sari. Maaf, saya mengambil teh
tanpa izin."
Sari tersenyum. "Tidak apa-apa. Itu untuk tamu kok.
Mas Ilham bangun sekali. Baru jam setengah enam."
"Tidak bisa tidur."
Sari berjalan mendekat dan duduk di kursi kayu di samping
Ilham. Jaraknya tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Cukup untuk berbicara
tanpa berteriak.
"Mas Ilham tampak gelisah sejak kemarin," kata
Sari. "Ada yang mengganggu pikiran?"
Ilham menatap Sari. Wajah perempuan itu teduh, matanya
jujur. Atau setidaknya terlihat jujur.
Apakah ini topeng? pikir
Ilham. Atau Sari benar-benar tulus?
"Mbak Sari," kata Ilham akhirnya, "boleh
saya bertanya sesuatu yang agak pribadi?"
Sari mengangguk. "Silakan."
"Mbak Sari bahagia di sini? Di Lembah Selatan? Dengan
sistem digital yang berjalan?"
Sari terdiam. Matanya menatap ke kejauhan, ke arah bukit
yang masih diselimuti kabut.
"Pertanyaan yang sulit, Mas," jawabnya pelan.
"Kenapa sulit?"
"Karena... bahagia itu relatif. Ada yang bahagia
dengan sistem ini, ada yang tidak. Saya pribadi... saya bersyukur karena sistem
ini memberi saya pekerjaan, penghasilan yang layak, dan kesempatan untuk
belajar banyak hal. Tapi..."
"Tapi?"
Sari menghela napas. "Tapi saya juga melihat
teman-teman saya yang kesulitan. Petani yang tidak bisa menjual hasil panennya
dengan harga layak. Pemuda yang kehilangan pekerjaan karena usahanya bangkrut.
Ibu-ibu yang bingung menggunakan aplikasi."
"Lalu kenapa Mbak Sari tidak melakukan sesuatu untuk
membantu mereka?"
Sari menunduk. Tangannya memainkan ujung kerudung.
"Apa yang bisa saya lakukan, Mas? Saya hanya perangkat
desa. Saya tidak punya kekuasaan untuk mengubah sistem. Saya hanya bisa
menjalankan perintah."
"Tapi Mbak Sari bisa bersuara. Bisa menyampaikan
keluhan warga ke Pak Rahman."
Sari tersenyum pahit. "Saya sudah, Mas. Berkali-kali.
Tapi jawabannya selalu sama: 'Ini demi kebaikan bersama. Bersabarlah. Semua butuh
proses.'"
Ilham diam. Ia bisa merasakan keputusasaan dalam suara
Sari.
"Mbak Sari," katanya hati-hati, "apa Mbak
Sari tahu tentang... kaki tangan?"
Sari menoleh cepat. Wajahnya berubah. Matanya melebar, lalu
menyipit.
"Maksud Mas Ilham?"
"Orang-orang yang disuruh mengawasi warga lain.
Melaporkan siapa yang protes, siapa yang tidak patuh."
Sari terdiam lama. Begitu lama sehingga Ilham mengira ia
tidak akan menjawab.
"Aku tahu," bisiknya akhirnya. Suaranya nyaris
tak terdengar. "Tapi aku tidak bisa sebut nama. Aku takut."
Ilham merasakan dadanya sesak. Jadi itu benar. Ada kaki
tangan. Ada mata-mata di antara warga sendiri.
"Apakah Mbak Sari salah satu dari mereka?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Ilham tidak berniat
menuduh, tetapi ia harus tahu.
Sari menatap Ilham. Matanya berkaca-kaca. Ia menggigit
bibir bawahnya, berusaha menahan sesuatu.
"Tidak," jawabnya tegas. "Aku bukan
mata-mata. Tapi aku tahu siapa mereka. Dan aku tahu mereka melakukan itu bukan
karena jahat. Mereka juga korban."
"Korban bagaimana?"
"Mereka diancam. Kalau tidak mau menjadi mata-mata,
mereka akan dipecat. Atau diusir dari desa. Atau... lebih buruk."
"Lebih buruk seperti apa?"
Sari menggeleng. "Aku tidak bisa cerita. Maaf, Mas.
Aku sudah terlalu banyak bicara."
Ia berdiri dan berjalan cepat ke dalam balai desa,
meninggalkan Ilham dengan pertanyaan yang semakin banyak.
Pertemuan penentuan dimulai pukul 09.00, seperti yang
dijadwalkan.
Ruangan balai desa kembali penuh. Wajah-wajah yang kemarin
terlihat antusias, hari ini tampak lebih tegang. Mungkin karena gelombang
keluhan yang meledak kemarin masih membekas. Atau mungkin karena mereka tahu
bahwa hari ini adalah hari pengambilan keputusan.
Rahman berdiri di depan ruangan. Wajahnya masih tersenyum,
tetapi senyumnya tidak lagi secerah kemarin. Ada sedikit kerutan di dahinya,
tanda bahwa ia sedang tidak nyaman.
"Selamat pagi, Bapak/Ibu sekalian," mulainya.
"Hari ini kita akan mengambil keputusan penting tentang masa depan kerja
sama antar desa. Setelah mendengar presentasi dari saudara Ilham kemarin, dan
setelah diskusi yang cukup panjang, saya ingin mendengar kesimpulan dari
saudara Ilham."
Ia menoleh ke arah Ilham. "Silakan, Mas Ilham."
Ilham berdiri. Ia berjalan ke depan ruangan dengan langkah
tenang. Matanya menatap satu per satu wajah yang hadir, ada yang penuh harap,
ada yang skeptis, ada yang waspada, ada yang tidak peduli.
Ia melihat Pak Karto di barisan depan, lelaki tua yang
kemarin berani bersuara. Ia melihat Jono di barisan belakang, pemuda muram
dengan luka di matanya. Ia melihat Mak Tum dan Pak Dullah di sudut ruangan,
tersembunyi di balik kerumunan.
Ia melihat Sari, yang matanya masih sembab, duduk di kursi
perangkat desa dengan wajah datar.
Ia melihat Andi, pria dari PT NDM, berdiri di belakang
Rahman dengan tangan di saku, wajah dingin tanpa ekspresi.
Dan ia melihat Kirno, lelaki tua dari Suralaya, yang duduk
tenang di kursi kehormatan, menunggu.
"Bapak/Ibu sekalian," mulainya. "Saya bukan
siapa-siapa. Saya hanya pemuda desa biasa yang kebetulan terlibat dalam
perubahan di Suralaya. Saya tidak punya kekuasaan untuk memutuskan apa pun
untuk desa Bapak/Ibu. Tapi saya punya tanggung jawab untuk menyampaikan apa
yang saya lihat dan rasakan."
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam.
"Saya melihat desa yang maju secara teknologi. Saya
melihat data yang rapi, infrastruktur yang baik, dan sistem yang terintegrasi.
Itu semua adalah prestasi yang luar biasa."
Beberapa warga mengangguk.
"Tapi saya juga melihat ketidakadilan. Saya melihat
petani yang tidak bisa menjual hasil panennya dengan harga layak. Saya melihat
warga yang kehilangan mata pencaharian karena usaha mereka bangkrut. Saya
melihat orang-orang yang hidup dalam ketakutan, takut bersuara, takut melawan,
takut kehilangan segalanya."
Ruangan menjadi hening. Beberapa warga menunduk. Beberapa
lainnya saling berpandangan.
"Saya tidak tahu apakah sistem digital yang berjalan
di sini adalah solusi terbaik. Tapi saya tahu satu hal: perubahan yang baik
adalah perubahan yang membebaskan, bukan yang mengungkung. Perubahan yang baik
adalah perubahan yang melibatkan semua pihak, bukan yang dipaksakan dari atas.
Perubahan yang baik adalah perubahan yang meninggalkan ruang bagi mereka yang
tidak bisa mengikuti kecepatan teknologi."
Ia menatap Rahman.
"Oleh karena itu, dengan segala hormat, saya
menyampaikan bahwa Suralaya tidak akan bergabung dengan jaringan desa yang
Bapak usulkan."
Ruangan bergemuruh. Bukan dengan tepuk tangan, tetapi
dengan bisik-bisik yang keras. Warga saling bertanya, saling berkomentar.
Beberapa tampak lega, beberapa tampak kecewa, beberapa tampak bingung.
Rahman berdiri. Wajahnya merah menahan emosi.
"Mas Ilham, saya hormati pendapat Anda. Tapi saya rasa
Anda tidak melihat gambaran besarnya. Sistem ini adalah masa depan. Desa-desa
yang tidak bergabung akan tertinggal."
"Masa depan seperti apa, Pak?" tanya Ilham.
"Masa depan di mana desa kehilangan kendali atas sumber dayanya sendiri?
Masa depan di mana warga hidup dalam ketakutan? Masa depan di mana segelintir
orang menikmati keuntungan sementara yang lain menderita?"
"Tidak sesederhana itu."
"Memang tidak sesederhana itu. Tapi prinsip dasarnya
sederhana: keadilan. Apakah sistem ini adil, Pak? Apakah Bapak bisa berdiri di
sini dan mengatakan bahwa semua warga Bapak diperlakukan adil?"
Rahman terdiam.
Pak Karto tiba-tiba berdiri. "Saya dukung Mas
Ilham!" serunya dengan suara parau. "Saya tidak mau sistem ini terus
berjalan! Saya mau jual sayur bebas seperti dulu!"
Beberapa warga lain mulai bersuara mendukung. Suasana
semakin memanas.
Andi dari PT NDM berjalan mendekati Rahman dan berbisik
sesuatu di telinganya. Wajah Rahman berubah. Ia mengangguk, lalu berdiri.
"Baiklah," katanya. "Kita tidak perlu
memaksakan diri. Lembah Selatan akan tetap maju dengan atau tanpa Suralaya.
Pertemuan ini saya nyatakan selesai."
Ia berbalik dan berjalan keluar ruangan, diikuti oleh Andi
dan beberapa perangkat desa.
Warga mulai berhamburan keluar. Ada yang kecewa, ada yang
marah, ada yang bingung.
Ilham kembali ke kursinya. Angga menepuk pundaknya.
"Kau hebat, Ham. Aku bangga padamu."
Ilham hanya tersenyum tipis. Dadanya masih berdebar. Ia
baru saja melakukan sesuatu yang mungkin akan membawa konsekuensi besar bagi
Suralaya.
Kirno berjalan mendekat. "Mas Ilham, kita harus segera
pulang. Aku tidak suka dengan suasana di sini."
"Iya, Pak. Kita pamit sekarang."
Sebelum pergi, Ilham mencari Sari untuk berpamitan. Ia
menemukan perempuan itu sedang duduk di ruang belakang balai desa, sendirian,
menatap dinding kosong.
"Mbak Sari."
Sari menoleh. Matanya merah.
"Mas Ilham. Mau pulang?"
"Iya. Terima kasih atas keramahannya selama kami di
sini."
Sari tersenyum tipis. "Sama-sama. Maaf jika kami tidak
bisa menjamu dengan baik."
"Tidak apa-apa. Mbak Sari... pesan saya, jaga diri
baik-baik. Dan jangan takut untuk bersuara."
Sari mengangguk, tetapi matanya kosong. Ilham tahu
kata-katanya mungkin tidak akan mengubah apa pun.
Ia berjalan keluar. Angga dan Kirno sudah menunggu di mobil
yang dikemudikan Rafi.
Rafi tersenyum seperti biasa. "Siap, Mas?"
"Iya. Terima kasih sudah mengantar."
Mobil mulai bergerak meninggalkan Lembah Selatan. Ilham
menoleh ke belakang. Desa itu perlahan menjauh, tertutup kabut pagi.
Ia tidak tahu kapan atau apakah ia akan kembali ke sini.
Tapi ia tahu, desa ini akan terus hidup dalam ingatannya sebagai peringatan, peringatan
tentang apa yang terjadi ketika perubahan tidak dikelola dengan bijak.
Perjalanan pulang terasa lebih lama dari perjalanan pergi.
Bukan karena jaraknya yang bertambah, tetapi karena suasana hati yang berat.
Ilham diam sepanjang perjalanan, hanya sesekali menjawab pertanyaan Kirno
tentang Suralaya.
Angga juga diam. Matanya menatap ke luar jendela, melihat
pemandangan hutan pinus yang berlalu cepat.
Rafi tidak banyak bicara. Ia hanya fokus menyetir, sesekali
menyalip kendaraan lambat di depannya.
Mereka tiba di Suralaya sekitar pukul 15.00. Matahari masih
tinggi, terik menyinari sawah-sawah yang menguning.
Ilham turun dari mobil. Udara Suralaya terasa berbeda, lebih
hangat, lebih ramah, lebih... seperti rumah.
Nisa dan Rendi sudah menunggu di depan kantor desa.
"Mas Ilham!" seru Nisa sambil melambaikan tangan.
"Akhirnya pulang! Kami kangen!"
Rendi menyusul. "Gimana? Seru tidak
perjalanannya?"
Ilham tersenyum. "Seru dan melelahkan. Nanti kita
cerita."
Kades Raditya keluar dari kantor. Wajahnya tenang, tetapi matanya
penuh rasa ingin tahu.
"Nak Ilham, mari ke ruang saya. Kita bicara."
Ilham mengangguk. Ia menoleh pada Angga. "Kau
ikut?"
"Iya."
Mereka bertiga masuk ke ruang Kades Raditya. Ruangan itu
sederhana, meja kayu besar, kursi-kursi kayu, lemari arsip, dan peta Suralaya
di dinding.
Kades Raditya duduk di kursinya. Ilham dan Angga duduk di
seberang.
"Ceritakan semuanya," kata Kades Raditya.
"Dari awal hingga akhir."
Ilham mulai bercerita. Ia menceritakan tentang sambutan
Rahman yang ramai tapi dingin, tentang desa yang terlalu rapi, tentang warga
yang pendiam, tentang sistem digital yang mengungkung, tentang PT NDM yang
mengendalikan data, tentang petani yang tidak bisa menjual hasil panen dengan
harga layak, tentang Pak Karto yang berani bersuara, tentang Mak Tum dan Pak
Dullah yang hidup dalam ketakutan, tentang Sari yang terjebak di antara dua
pilihan.
Ia juga menceritakan tentang pertemuan penentuan, tentang
penolakannya, dan tentang reaksi Rahman yang tidak terima.
Kades Raditya mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah
dari serius menjadi cemas, lalu menjadi marah, lalu kembali serius.
"Jadi, Lembah Selatan sudah dikuasai oleh PT
NDM?" tanyanya.
"Sepertinya begitu, Pak. Desa itu seperti...
laboratorium. Mereka menguji sistem di sana, dan jika berhasil, mereka akan
memperluas ke desa-desa lain."
"Termasuk Suralaya?"
"Iya, Pak. Nama Suralaya sudah tercantum di peta
jaringan mereka, tanpa izin kita."
Kades Raditya menghela napas panjang. "Ini serius.
Kita harus waspada."
"Ada satu hal lagi, Pak," kata Ilham.
"Apa?"
"Pak Rahman bilang, 'Suralaya tetap akan menjadi
bagian dari jaringan ini, entah kau suka atau tidak.' Sepertinya dia sudah
punya rencana untuk memaksa kita bergabung."
Kades Raditya mengerutkan dahi. "Maksudnya? Apa dia
punya orang di dalam Suralaya?"
Ilham dan Angga saling berpandangan.
"Itu yang kami khawatirkan, Pak," kata Angga.
"Mungkin ada yang sudah bekerja sama dengan dia dari sini."
Kades Raditya diam cukup lama. Jari-jarinya mengetuk meja
kayu, menciptakan irama yang tidak beraturan.
"Kita tidak bisa menuduh siapa pun tanpa bukti,"
katanya akhirnya. "Tapi kita juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan itu.
Mulai sekarang, kita harus lebih berhati-hati dalam berbagi informasi. Dan kita
harus segera menghubungi Awan Biru."
Ilham mengangguk. "Saya akan hubungi Herman malam
ini."
"Baik. Sekarang, kalian istirahat dulu. Laporan
lengkapnya bisa disusun besok."
Ilham dan Angga berdiri, berpamitan, lalu keluar dari
ruangan.
Malam itu, setelah shalat Isya, Ilham duduk di teras
rumahnya. Langit cerah, bintang-bintang bertaburan. Angin malam berembus sejuk,
membawa aroma tanah basah dari sawah.
Ia membuka ponselnya dan menekan nomor Herman.
Tiga kali panggilan, tidak ada jawaban.
Keempat kalinya, suara di seberang terdengar.
"Halo?"
"Herman, ini Ilham."
Herman terdiam sejenak. "Ilham. Kau sudah
pulang?"
"Iya. Baru saja tadi siang."
"Bagaimana perjalanannya?"
Ilham menceritakan semuanya dengan singkat. Herman
mendengarkan tanpa memotong.
"Kau melakukan hal yang benar," kata Herman
setelah Ilham selesai. "Jangan biarkan Suralaya jatuh ke tangan
mereka."
"Tapi Herman, Pak Rahman bilang Suralaya tetap akan
jadi bagian dari jaringan mereka. Sepertinya dia sudah punya rencana."
Herman terdiam lama. "Kita harus bicara
langsung," katanya akhirnya. "Bukan lewat telepon. Aku khawatir
saluran kita tidak aman."
"Kapan?"
"Besok. Aku akan ke Suralaya. Kita bertemu di tempat
biasa."
"Baik. Hati-hati di jalan."
"Kamu juga. Jaga dirimu."
Panggilan terputus. Ilham memejamkan mata.
Besok, Herman akan datang. Dan mungkin, kita akan
mendapatkan jawaban.
BAB 6 — Hujan di
Bukit Sunyi
Malam itu, setelah percakapan telepon dengan Herman, Ilham
tidak bisa tidur. Bukan karena dingin atau suara jangkrik yang biasa ia dengar
setiap malam. Bukan pula karena rindu pada kamarnya sendiri yang sederhana,
yang dinding kayunya sudah lapuk dimakan usia.
Ilham tidak bisa tidur karena kepalanya terlalu penuh.
Ia berbaring di tempat tidur, mata terbuka lebar menatap
langit-langit kamar yang gelap. Di telinganya masih terngiang suara Herman: "Kita
harus bicara langsung. Aku khawatir saluran kita tidak aman."
Saluran tidak aman. Artinya, Herman takut percakapan mereka
disadap. Disadap oleh siapa? Oleh orang-orang Lembah Selatan? Atau oleh
seseorang yang lebih dekat, mungkin seseorang dari Suralaya sendiri?
Pikiran itu seperti belati yang terus menusuk dadanya.
Tidak dalam, tapi berulang-ulang. Cukup untuk membuatnya tidak nyaman, cukup
untuk membuatnya gelisah, cukup untuk membuatnya mempertanyakan setiap orang
yang selama ini ia anggap teman.
Siapa yang mungkin menjadi "mata" Rahman di
Suralaya?
Ilham mencoba mengingat-ingat setiap interaksinya dengan
orang-orang desa dalam beberapa bulan terakhir. Siapa yang paling sering
bertanya tentang perjalanan ke Awan Biru? Siapa yang paling antusias dengan
perkembangan digitalisasi? Siapa yang paling sering memuji Rahman dan Lembah
Selatan?
Tiba-tiba sebuah nama muncul.
M. Haris.
Haris adalah perangkat desa yang bertanggung jawab di
bidang pengembangan. Ia orang yang cerdas, ramah, dan sangat membantu dalam
banyak hal. Tapi belakangan ini, Ilham merasa ada yang aneh dengan Haris.
Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Misalnya, ketika Ilham pertama kali menerima surat undangan
dari Lembah Selatan, Haris adalah orang pertama yang membacanya. Bukan karena ia
kebetulan ada di kantor, tetapi karena ia meminta izin khusus untuk melihatnya.
"Wah, Lembah Selatan? Desa itu lagi naik daun,
Mas," kata Haris waktu itu dengan mata berbinar. "Pak Rahman kepala
desanya terkenal ambisius. Banyak desa yang sudah diajak kerja sama."
Ilham tidak terlalu memperhatikan saat itu. Tapi sekarang,
mengingat kembali, nada suara Haris terasa aneh. Terlalu antusias. Seperti
orang yang sudah tahu lebih banyak dari yang ia katakan.
Atau ketika Ilham mengadakan rapat kecil untuk membahas
undangan itu, Haris bersikeras ingin ikut. "Saya bisa bantu urusan
administrasi, Mas," katanya. "Lagipula, saya sudah kenal baik dengan
perangkat desa Lembah Selatan. Waktu pelatihan lintas desa dulu, saya sering
komunikasi dengan mereka."
Sudah kenal baik. Mungkin
itulah kuncinya. Haris memiliki akses ke Lembah Selatan jauh sebelum Ilham
menerima undangan. Mungkin ia sudah terlibat dalam pembicaraan dengan Rahman
tanpa sepengetahuan orang lain.
Tapi Ilham tidak ingin menuduh tanpa bukti. Tuduhan tanpa
bukti sama berbahayanya dengan pengkhianatan itu sendiri. Tuduhan bisa
menghancurkan nama baik seseorang, menghancurkan persahabatan, menghancurkan
kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Bukti dulu, pikir
Ilham. Bukti, baru bicara.
Ia memejamkan mata. Perlahan, kantuk mulai menyapanya.
Bukan kantuk yang nyenyak, tetapi kantuk yang gelisah, penuh mimpi buruk
tentang desa yang hancur, tentang sahabat yang berbalik menghunus pisau,
tentang langit yang terbelah menjadi dua.
Pukul 05.30, suara adzan Subuh membangunkan Ilham dari
tidurnya yang dangkal. Ia bangkit, merasakan seluruh tubuhnya pegal, seperti
habis melakukan perjalanan jauh. Padahal ia hanya berbaring semalaman.
Setelah shalat, ia duduk di teras rumah. Langit masih
gelap, bintang-bintang masih bertaburan, tetapi di ufuk timur sudah mulai
terlihat semburat jingga pucat. Udara pagi dingin menusuk, membuat kulitnya
merinding.
Laila, ibunya, keluar dari dapur sambil membawa nampan
berisi segelas teh jahe dan pisang goreng. Wajahnya tenang, tetapi matanya
menyelidik.
"Kamu tidak tidur semalaman lagi, Nak?" tanyanya
sambil meletakkan nampan di meja kayu di depan Ilham.
Ilham tersenyum tipis. "Tidur, Bu. Cuma tidak
nyenyak."
"Pikiranmu terlalu banyak. Ibu bisa lihat dari
matamu." Laila duduk di kursi di samping Ilham. "Cerita pada Ibu.
Mungkin Ibu bisa bantu."
Ilham terdiam sejenak. Ia ingin bercerita, tetapi ia tidak
ingin membebani ibunya dengan masalah yang mungkin terlalu berat. Laila bukan
lagi muda. Wajahnya sudah dipenuhi kerutan, rambutnya sudah banyak yang putih.
Tangannya yang dulu kuat menggendong Ilham sekarang sudah keropos dan gemetar
jika terlalu lama memegang sesuatu.
"Hanya masalah pekerjaan, Bu. Tidak usah Ibu
pikirkan," jawab Ilham akhirnya.
Laila menghela napas. "Kamu selalu bilang begitu.
Padahal Ibu tahu, kalau ada yang mengganggumu, kamu tidak akan tenang sampai
masalahnya selesai. Itu sudah sifatmu dari kecil."
Ilham tersenyum. Ibunya benar. Ia memang tidak bisa diam
jika ada masalah yang belum terselesaikan.
"Baik, Bu. Nanti kalau semuanya sudah selesai, Ibu
akan saya ceritakan semuanya."
"Janji?"
"Janji."
Laila menepuk paha Ilham pelan, lalu berdiri dan kembali ke
dapur. Ilham meminum teh jahe itu perlahan, menikmati hangatnya yang menyebar
ke seluruh tubuh. Pisang gorengnya renyah di luar, lembut di dalam, buatan ibu
yang tidak pernah gagal membuatnya merasa sedikit lebih baik.
Pukul 08.00, Ilham sudah berada di kantor desa.
Kades Raditya belum datang. Beberapa perangkat desa sudah
mulai beraktivitas, menata berkas, membersihkan ruangan, menyiapkan komputer.
Nisa dan Rendi juga sudah ada, duduk di meja mereka sambil sarapan bubur ayam
dari warung depan.
"Mas Ilham, sudah sarapan?" tanya Nisa sambil
mengunyah.
"Sudah. Kamu? Kok baru makan jam segini?"
"Tadi bangun kesiangan," jawab Nisa sambil
tersenyum malu. "Malamnya begadang nonton drakor."
Rendi terkekeh. "Drakor lagi, Nis. Kapan
kerjanya?"
"Kerja juga kok, Ren. Aku bukan tipe orang yang bisa
kerja terus tanpa hiburan."
Ilham tersenyum mendengar mereka bertengkar ringan. Di
tengah situasi yang berat seperti ini, candaan Nisa dan Rendi terasa seperti
pelepas penat. Mereka adalah dua anak muda yang paling aktif dalam digitalisasi
Suralaya. Nisa cekatan dan teliti, Rendi kreatif dan energik. Mereka berdua
adalah aset berharga bagi desa.
"Mas Ilham," panggil Rendi tiba-tiba.
"Iya?"
"Gimana ceritanya tentang Lembah Selatan? Kok dari
kemarin Mas Ilham dan Mas Angga tidak banyak cerita?"
Ilham menghela napas. "Nanti, kalau semuanya sudah
lengkap. Kita akan adakan pertemuan khusus."
"Wah, serem juga," komentar Nisa. "Kayaknya
ada yang serius."
"Memang serius."
Rendi dan Nisa saling berpandangan, lalu mengangguk. Mereka
tidak memaksa.
Pukul 10.00, Herman tiba di Suralaya.
Ia datang sendiri, mengendarai motor trail yang sama
seperti yang dulu ia gunakan ketika pertama kali menjemput Ilham di perbatasan
desa Awan Biru. Motor itu sekarang sudah lebih lusuh, stangnya bengkok sedikit,
dan knalpotnya berbunyi kasar. Tapi Herman tetap sama seperti dulu, wajah
tenang, mata tajam, dan senyum yang jarang muncul tapi hangat ketika muncul.
"Assalamu'alaikum," sapa Herman sambil turun dari
motor.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ilham sambil menyambut
dengan jabat tangan erat. "Terima kasih sudah datang, Herman."
"Tentu. Ini penting."
Mereka berjalan ke ruang pertemuan kecil di belakang kantor
desa. Angga sudah menunggu di sana, duduk di kursi kayu sambil memainkan
ponselnya. Ia berdiri ketika melihat Herman masuk.
"Herman! Lama tidak bertemu," sapa Angga sambil
merangkul Herman. Tubuh Herman lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu,
dan wajahnya tampak lebih lelah.
"Kamu juga kurusan, Ang," balas Herman.
"Jangan-jangan kamu diet?"
Angga tertawa. "Diet apaan. Banyak kerja saja."
Mereka bertiga duduk di meja bundar. Tidak ada orang lain
di ruangan itu. Pintu ditutup rapat.
Herman mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas
ranselnya. Amplop itu tebal, berisi beberapa lembar kertas.
"Ini adalah dokumen yang berhasil saya kumpulkan
tentang PT NDM dan koneksi mereka dengan Lembah Selatan," kata Herman sambil
meletakkan amplop di atas meja. "Butuh waktu berminggu-minggu untuk
mendapatkannya. Beberapa dari sumber yang cukup berisiko."
"Berisiko bagaimana?" tanya Angga.
Herman menghela napas. "Sumber yang memberi saya
dokumen ini... dia sekarang tidak bisa dihubungi. Nomornya mati. Rumahnya
kosong. Tetangganya bilang dia pindah mendadak tanpa memberi tahu siapa
pun."
Ilham merasakan bulu kuduknya berdiri. "Kau pikir
dia...?"
"Disiksa? Ditekan? Dipaksa pergi? Aku tidak tahu. Tapi
yang jelas, dia menghilang setelah memberikan dokumen ini padaku."
Ruangan menjadi sunyi. Suara AC yang berdengung pelan
tiba-tiba terasa sangat keras.
Herman membuka amplop itu dan mengeluarkan
lembaran-lembaran kertas. Beberapa di antaranya adalah dokumen resmi dengan
stempel dan tanda tangan. Beberapa lagi adalah catatan tulisan tangan yang
tidak rapi. Beberapa adalah foto kopi kontrak dan perjanjian.
"Ini kontrak antara PT NDM dengan Desa Lembah
Selatan," jelas Herman sambil menunjuk dokumen pertama. "Tanda tangan
Pak Rahman, disaksikan oleh notaris. Kontrak ini memberi PT NDM hak eksklusif
untuk mengelola data desa, platform digital, dan semua transaksi ekonomi yang
terjadi di desa."
"Untuk jangka waktu berapa?" tanya Ilham.
"Lima belas tahun. Dengan opsi perpanjangan sepuluh tahun."
Angga bersiul kecil. "Dua puluh lima tahun. Itu
setengah generasi."
"Iya. Dalam jangka waktu itu, desa tidak bisa bekerja
sama dengan pihak lain untuk pengembangan digital. Semua harus melalui PT NDM.
Jika melanggar, desa dikenakan denda yang sangat besar, sampai miliaran
rupiah."
Ilham membaca dokumen itu dengan saksama. Bahasa hukumnya
rumit, tetapi ia bisa memahami intinya. Kontrak itu sangat menguntungkan PT NDM
dan sangat merugikan desa.
"Ini baru kontrak dengan desa," lanjut Herman.
"Ada juga kontrak dengan warga perorangan. Kontrak petani, kontrak pemilik
homestay, kontrak pelaku UMKM. Semua hampir sama: mengikat, tidak adil, dan
memberi kekuasaan penuh kepada PT NDM."
"Tapi kenapa warga mau menandatangani?" tanya
Angga.
Herman tersenyum pahit. "Karena mereka tidak diberi
pilihan. Waktu itu, PT NDM datang dengan program bantuan besar-besaran. Bantuan
bibit, pupuk, alat pertanian, pelatihan, dan akses pasar. Tapi semua bantuan
itu diberikan dengan syarat: menandatangani kontrak. Warga yang tidak
menandatangani tidak mendapat bantuan. Dan karena sebagian besar warga miskin,
mereka tidak punya pilihan selain menerima."
"Diikat dengan kemiskinan," gumam Ilham.
"Itu taktik klasik."
"Iya. Tapi ada yang lebih parah."
"Apa?"
Herman mengeluarkan satu lembar kertas lagi. Kertas itu
sudah kusut, seperti pernah diremas lalu diluruskan kembali. Tulisan di atasnya
hampir tidak terbaca, tetapi masih bisa diidentifikasi.
"Ini adalah daftar nama orang-orang yang menjadi
'mitra' PT NDM di desa-desa sasaran. Mereka adalah warga lokal yang direkrut
untuk membantu pelaksanaan program. Tugas mereka: mengawasi warga lain,
melaporkan aktivitas yang mencurigakan, dan memastikan tidak ada yang melanggar
kontrak."
Ilham mengambil kertas itu dan membacanya perlahan. Ada
sekitar dua puluh nama. Beberapa nama asing baginya, mungkin warga Lembah
Selatan atau desa-desa lain. Tapi satu nama membuatnya berhenti.
M. Haris.
Nama itu tertulis di urutan ketiga, dengan
keterangan: Koordinator Wilayah Suralaya.
Ilham memejamkan mata. Dadanya terasa sesak, seperti ada
yang meremas jantungnya.
"Jadi benar," bisiknya. "Haris...
terlibat."
Angga yang membaca dari samping juga terdiam. Wajahnya
pucat.
"Aku tidak percaya," katanya. "Haris? Dia
orang yang baik. Selalu membantu. Selalu tersenyum. Tidak mungkin..."
"Orang yang baik bisa melakukan hal-hal buruk jika
mereka punya alasan," kata Herman pelan. "Mungkin Haris punya alasan.
Mungkin dia butuh uang. Mungkin dia diancam. Atau mungkin... dia benar-benar
percaya bahwa sistem ini akan membantu Suralaya."
"Tapi dia tidak bilang pada kita," tegas Ilham.
"Dia tidak pernah bilang apa pun tentang keterlibatannya dengan Lembah
Selatan. Itu sudah pengkhianatan."
Ruangan hening lagi.
Herman melanjutkan, "Ada lagi yang harus kalian tahu.
PT NDM tidak hanya beroperasi di Lembah Selatan. Mereka juga sudah masuk ke
tiga desa lain: Cikalong, Karangmulya, dan Cipatat. Prosesnya sama: bantuan
besar-besaran, kontrak mengikat, pengawasan ketat."
"Dan target berikutnya adalah Suralaya dan Awan
Biru?"
Herman mengangguk. "Suralaya dan Awan Biru adalah dua
desa yang paling diperhitungkan. Karena kalian berhasil bertransformasi secara
mandiri, tanpa bantuan PT NDM. Itu membuat PT NDM tidak suka. Mereka ingin
mengendalikan semua desa di kawasan ini, dan kalian adalah penghalang."
"Maka mereka berusaha meluluhkan kita dengan
pendekatan manis," kata Ilham. "Undangan, jamuan, pujian. Lalu jika
tidak berhasil, mereka akan menggunakan cara lain."
"Seperti ancaman Pak Rahman: 'Suralaya tetap akan
menjadi bagian dari jaringan ini, entah kau suka atau tidak.'"
Angga mengusap wajahnya kasar. "Ini gila. Kita sedang
berhadapan dengan organisasi yang sangat terorganisir."
"Iya," kata Herman. "Itu sebabnya kita harus
bersatu. Awan Biru, Suralaya, dan desa-desa lain yang belum terjangkit. Kita
harus membangun jaringan perlawanan."
"Perlawanan?" Ilham mengangkat alis. "Kata
itu terlalu kuat."
"Kata yang tepat," tegas Herman. "Kita
sedang melawan ketidakadilan. Melawan penjajahan digital. Melawan sistem yang
mengorbankan rakyat kecil untuk kepentingan segelintir orang. Itu perlawanan,
Ilham. Jangan takut menggunakan kata itu."
Ilham terdiam. Herman benar. Selama ini ia berpikir bahwa
yang mereka lakukan hanyalah "menjaga desa" atau "melindungi
kemandirian." Tapi pada intinya, itu adalah perlawanan. Perlawanan
terhadap kekuatan yang lebih besar yang ingin menguasai mereka.
"Baik," kata Ilham akhirnya. "Kita lawan.
Tapi kita harus pintar. Kita tidak bisa bertindak gegabah."
"Setuju," kata Herman. "Langkah pertama,
kita harus mengamankan dokumen-dokumen ini. Aku akan meninggalkan salinannya
pada kalian. Simpan di tempat yang aman."
"Langkah kedua?"
"Kita harus mencari tahu siapa saja yang sudah
terpengaruh di Suralaya. Selain Haris, mungkin masih ada yang lain. Kita harus
tahu siapa teman dan siapa lawan."
Angga mengangguk. "Aku bisa bantu mencari informasi.
Aku punya banyak kenalan di berbagai kalangan."
"Langkah ketiga," lanjut Herman, "kita harus
menghubungi desa-desa lain yang sudah terjangkit. Bantu mereka keluar dari
kontrak jika memungkinkan. Tapi itu tidak mudah. Kontraknya sangat
mengikat."
"Ada advokat yang bisa membantu?" tanya Ilham.
Herman menggeleng. "Advokat biasa takut. PT NDM punya
tim hukum yang kuat. Tapi aku sedang menghubungi Lembaga Bantuan Hukum di kota.
Mereka mungkin bersedia membantu secara pro bono."
"Baik. Kita kerjakan satu per satu."
Setelah Herman pergi, ia tidak mau makan siang karena harus
segera kembali ke Awan Biru, Ilham dan Angga duduk di teras kantor desa sambil
menikmati angin siang yang panas.
"Berat," kata Angga.
"Iya."
"Kita sekarang tahu siapa pengkhianatnya. Tapi apa
yang bisa kita lakukan? Belum ada bukti kuat selain daftar nama dari
Herman."
Ilham menghela napas. "Kita tidak bisa menuduh Haris
hanya berdasarkan daftar nama itu. Kita butuh bukti yang lebih konkret. Mungkin
dokumen yang ditandatangani Haris sendiri, atau rekaman percakapan, atau saksi
mata."
"Bagaimana kita mendapatkannya?"
"Kita pantau. Kita amati. Kita cari celah."
Angga mengangguk. "Aku akan mulai besok. Aku akan
bergaul lebih dekat dengan Haris, mencari tahu siapa saja teman-temannya, ke
mana ia pergi, dengan siapa ia bicara."
"Hati-hati, Ang. Jangan sampai ketahuan."
"Aku tahu."
Mereka berdua terdiam. Di kejauhan, suara anak-anak sekolah
pulang bergema riang. Mereka tertawa, berlarian, tidak tahu menahu tentang
kegelapan yang sedang mengintai desa mereka.
Sore itu, Ilham memutuskan untuk berjalan ke Bukit Sunyi.
Bukit Sunyi adalah sebutannya untuk bukit kecil di pinggir
Desa Suralaya, sekitar lima belas menit berjalan kaki dari rumah Ilham. Tempat
itu tidak terlalu tinggi, hanya sekitar seratus meter di atas permukaan desa,
tetapi pemandangannya indah. Dari puncak bukit, Ilham bisa melihat seluruh
Suralaya terbentang di bawah, sawah hijau, rumah-rumah kayu, sungai kecil yang
berkelok, dan gunung-gunung di kejauhan.
Tempat itu dulu sering ia datangi ketika masih remaja. Di
sanalah ia merenung, memimpikan masa depan, bertanya-tanya apakah desanya akan
selamanya tertinggal. Di sanalah ia pertama kali berbicara pada Angga tentang
keinginannya untuk belajar dari desa lain. Di sanalah ia mendapat ide untuk
pergi ke Awan Biru.
Dan sekarang, ia kembali ke Bukit Sunyi untuk mencari
ketenangan.
Ia berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang semakin
menanjak. Rumput-rumput liar tumbuh subur di pinggir jalan, beberapa sudah
setinggi pinggang. Pepohonan pinus berdiri tegak di kiri kanan, menciptakan
keteduhan meskipun matahari masih terik.
Sesampainya di puncak, Ilham duduk di bawah pohon beringin
tua yang sudah ada sejak ia kecil. Pohon itu besar, akarnya menjalar ke
mana-mana seperti ular raksasa yang membeku. Daunnya lebat, menciptakan kanopi
alami yang melindunginya dari panas.
Dari ketinggian itu, Ilham melihat Suralaya. Desanya
terlihat damai. Asap dapur mengepul tipis dari rumah-rumah warga. Anak-anak
bermain di lapangan. Petani mulai pulang dari sawah dengan cangkul di pundak.
Semua tampak baik-baik saja, pikir Ilham. Tapi di balik ketenangan ini,
ada badai yang sedang mengumpulkan kekuatan.
Ia membayangkan apa yang akan terjadi jika sistem digital
Lembah Selatan diterapkan di Suralaya. Petani kehilangan kendali atas hasil
panennya. Pemuda kehilangan pekerjaan. Warga hidup dalam ketakutan, takut
bersuara, takut melawan. Desa yang dulu hangat dan ramah berubah menjadi desa
yang dingin dan mati.
Tidak. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Langit mulai berubah. Dari timur, awan hitam bergerak
cepat, menandakan hujan akan segera turun. Ilham seharusnya segera pulang,
tetapi ia memilih untuk tetap duduk.
Biarlah hujan turun. Mungkin hujan bisa membersihkan
pikirannya yang kacau.
Tetes pertama jatuh di dahinya. Dingin. Lalu tetes kedua di
pipinya. Ketiga di tangannya. Kemudian semakin banyak.
Hujan turun dengan derasnya.
Ilham tidak berlindung. Ia membiarkan air hujan membasahi
seluruh tubuhnya. Rambutnya basah, bajunya basah, celananya basah. Air mengalir
di wajahnya, bercampur dengan air mata yang tidak ia sadari keluar.
Ia menangis.
Bukan karena lemah. Bukan karena takut. Tapi karena lelah.
Lelah memikirkan semuanya sendirian. Lelah menahan beban yang seharusnya tidak
ia pikul sendiri. Lelah menjadi "pahlawan desa" yang diharapkan semua
orang, padahal ia hanya manusia biasa dengan keterbatasan.
Di tengah hujan itu, ia mendengar suara langkah kaki
mendekat.
Ilham menoleh.
Angga berdiri di sampingnya, basah kuyup, membawa payung
yang tidak ia buka.
"Aku tahu kau akan ke sini," kata Angga.
Ilham tersenyum tipis. "Kau tahu aku selalu."
Angga duduk di samping Ilham, di bawah pohon beringin yang
tidak lagi melindungi mereka karena hujan terlalu deras. Mereka berdua basah,
tetapi tidak ada yang peduli.
"Menangislah," kata Angga. "Tidak ada yang
melihat. Hanya aku."
Ilham tidak bisa menahan lagi. Ia menangis tersedu-sedu,
bahunya bergetar, tangannya menutup wajah. Angga hanya duduk di sampingnya, tidak
berkata apa-apa, tidak berusaha menghibur. Karena kadang, yang dibutuhkan
seseorang bukanlah kata-kata hikmah atau nasihat bijak, tetapi kehadiran
seseorang yang mau duduk di sampingnya dalam diam.
Setelah beberapa lama, tangis Ilham reda. Ia mengusap
wajahnya dengan tangan basah, menghapus air mata yang bercampur air hujan.
"Maaf," katanya. "Aku tidak biasanya seperti
ini."
"Tidak apa-apa," kata Angga. "Kamu manusia,
bukan robot. Wajar kalau kadang merasa lelah."
"Aku takut, Ang."
"Takut apa?"
Ilham menatap ke arah desa yang mulai kabur oleh tirai
hujan.
"Aku takut kita kalah. Takut Suralaya jatuh ke tangan
mereka. Takut semua yang sudah kita bangun hancur dalam sekejap."
Angga menghela napas. "Kita bisa kalah. Itu selalu
mungkin. Tapi setidaknya kita bertarung. Setidaknya kita tidak menyerah tanpa
perlawanan."
"Apakah itu cukup?"
"Untuk apa?"
"Untuk... ketenangan. Untuk bisa tidur nyenyak di
malam hari. Untuk tidak merasa bersalah."
Angga terdiam sejenak. "Aku tidak tahu. Mungkin ya,
mungkin tidak. Tapi yang aku tahu, Ilham, kau tidak sendirian. Aku di sini.
Herman di sini. Nisa, Rendi, Aulia, Pak Kades, semua orang yang percaya pada
kita, mereka di sini. Kita tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian."
Ilham menatap Angga. Wajah sahabatnya itu basah, rambutnya
menempel di dahi, matanya sayu. Tapi ada ketegasan di sana. Ada keyakinan.
"Terima kasih, Ang."
"Jangan berterima kasih. Itu tugas sahabat."
Hujan mulai reda. Perlahan, butiran-butiran air berkurang,
digantikan oleh gerimis tipis yang terasa lembut di kulit. Awan hitam mulai
bergerak ke timur, meninggalkan langit yang bersih dan biru pucat.
Matahari sore muncul dari balik awan, menyinari lembah
dengan cahaya keemasan. Pelangi terbentang di kejauhan, dari bukit ke bukit,
seperti janji bahwa setelah badai selalu ada keindahan.
Ilham berdiri. Tubuhnya terasa ringan, meskipun basah.
"Ayo pulang," katanya.
Angga berdiri di sampingnya. "Ibu akan marah kalau
melihat kita basah kuyup."
"Biarlah. Ibu sudah terbiasa melihatku pulang dalam
keadaan basah."
Mereka berjalan menuruni bukit bersama, meninggalkan jejak
kaki di tanah basah. Di belakang mereka, pelangi masih setia menghiasi langit.
Saat tiba di rumah, Laila langsung berteriak melihat Ilham
basah kuyup.
"Ya Allah, Nak! Kamu kehujanan? Cepat mandi! Nanti
masuk angin!"
Ilham tersenyum. "Iya, Bu. Maaf."
Ia masuk ke kamar mandi, mengganti pakaian basah dengan
yang kering. Air hangat mengalir di tubuhnya, menghangatkan tulang-tulang yang
kedinginan.
Setelah mandi, ia duduk di ruang tamu sambil memegang segelas
jahe hangat buatan ibunya. Angga juga sudah mandi dan berganti pakaian, ia
meminjam baju Ilham yang agak kekecilan, membuatnya terlihat lucu.
"Makasih, Bu Laila," kata Angga.
"Sama-sama, Nak. Lain kali jangan biarkan Ilham duduk
di hujan. Dia itu keras kepala, tapi kamu harusnya bisa mengingatkannya."
Angga tertawa. "Saya sudah mencoba, Bu. Tapi Ilham
lebih keras kepala dari yang saya kira."
Laila menggeleng-gelengkan kepala, lalu masuk ke dapur.
Ilham dan Angga duduk berdua di ruang tamu. Rumah terasa
hangat, meskipun di luar udara masih dingin bekas hujan.
"Besok kita mulai," kata Ilham.
"Iya. Aku akan mulai memantau Haris."
"Tapi hati-hati. Jangan sampai dia curiga."
"Tenang. Aku lebih licik dari yang kau kira."
Ilham tersenyum. "Aku tahu."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak perjalanan ke Lembah
Selatan, Ilham tidur dengan nyenyak. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada gelisah.
Hanya kegelapan yang nyaman dan keheningan yang damai.
Mungkin karena hujan telah membersihkan pikirannya. Atau
mungkin karena ia tahu, apa pun yang terjadi, ia tidak sendirian.
BAB 7 — Surat dari
Awan Biru
Pagi itu, Suralaya bangun dengan langit yang masih bersih
bekas hujan semalam. Embun tebal membasahi dedaunan, menciptakan kilauan perak
di bawah sinar matahari yang baru saja muncul dari balik bukit. Burung-burung
berkicau lebih riang dari biasanya, seolah ikut bersyukur karena badai telah
berlalu.
Namun bagi Muhammad Ilham, pagi itu tidak sekadar tentang
keindahan alam. Ada agenda penting yang harus ia selesaikan.
Sejak subuh, ia sudah duduk di ruang tamu rumahnya,
ditemani secangkir kopi hitam pekat dan sebatang pensil di tangannya. Di
depannya terbuka sebuah buku catatan tebal, buku yang selama ini ia gunakan
untuk mencatat segala hal tentang perjalanan desanya: ide-ide, masalah, solusi,
nama-nama, dan sekarang, daftar orang-orang yang mungkin terlibat dalam
jaringan Lembah Selatan.
Ia menulis dengan rapi, meskipun tangannya sedikit gemetar
karena kopi yang terlalu panas atau karena sarafnya yang tegang.
Nama-nama yang disebut Herman dalam daftar
"mitra" PT NDM di Suralaya:
1. M. Haris (Koordinator Wilayah)
2. (nama lain, masih harus dikonfirmasi)
Ilham menatap nama itu lama. Haris. Ia membayangkan wajah
lelaki itu, rambutnya yang selalu disisir rapi, kacamatanya yang tebal,
senyumnya yang ramah, dan caranya berbicara yang selalu terdengar meyakinkan.
Apakah semua itu hanya topeng?
Ia menghela napas. Pensilnya berhenti bergerak. Ia tidak
bisa menulis lebih lanjut karena ia tidak memiliki nama lain. Herman hanya
memberinya satu nama untuk Suralaya. Tapi Herman juga mengatakan bahwa daftar
itu mungkin belum lengkap. Ada kemungkinan bahwa selain Haris, masih ada orang
lain di Suralaya yang menjadi "mata" Rahman.
Siapa? Dan sejauh mana keterlibatan mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya
seperti kaset yang macet.
Pukul 08.00, Angga datang dengan membawa dua bungkus nasi
pecel dari warung Bu Srintil di ujung jalan. Warung itu terkenal dengan sambal
kacangnya yang pedas dan gurih, dan selalu menjadi pilihan sarapan favorit
warga Suralaya.
"Kau sudah makan?" tanya Angga sambil meletakkan
bungkusan di meja.
"Belum. Masih sibuk mencatat."
"Makan dulu. Perut kosong bikin otak lemot."
Ilham tersenyum. Angga selalu seperti itu, memperhatikan
hal-hal kecil yang sering dilupakan orang lain. Mungkin itulah sebabnya mereka
bisa berteman selama ini. Angga melengkapi kekurangan Ilham, dan sebaliknya.
Mereka makan bersama di teras rumah. Suasana pagi masih
sejuk, angin bertiup pelan membawa aroma tanah basah dan bunga melati dari
halaman depan.
"Kau sudah punya rencana?" tanya Angga di
sela-sela mengunyah.
"Iya. Hari ini aku akan ke kantor desa, bertemu Pak
Kades. Aku akan laporkan semua temuan kita, termasuk daftar dari Herman.
Setelah itu, kita akan panggil Haris untuk dimintai klarifikasi."
Angga berhenti mengunyah. "Langsung panggil? Bukankah
itu terlalu frontal?"
"Harus. Semakin lama kita diam, semakin besar
kesempatan dia untuk beraksi. Kita tidak tahu apa yang sudah dia lakukan selama
ini."
"Tapi bagaimana kalau dia menyangkal?"
"Kita punya bukti. Daftar nama dari Herman adalah
bukti yang cukup kuat."
Angga terdiam sejenak. "Baik. Aku ikut."
Pukul 09.00, Ilham dan Angga sudah berada di ruang Kades
Raditya. Ruangan itu sederhana, dengan meja kayu jati yang sudah berusia
puluhan tahun, kursi-kursi rotan yang mulai reyot, dan lemari arsip besi yang
catnya mengelupas. Di dinding, foto-foto kegiatan desa terpajang rapi, dokumentasi
perjalanan ke Awan Biru, pelatihan digitalisasi, panen raya, dan acara-acara
desa lainnya.
Kades Raditya duduk di kursinya, membaca laporan yang
ditulis Ilham dengan saksama. Wajahnya berubah-ubah, kadang mengerut, kadang
mengangguk, kadang menggeleng pelan.
Setelah selesai, ia meletakkan kertas itu di atas meja.
Matanya menatap Ilham dan Angga bergantian.
"Ini serius," katanya. Suaranya berat, seperti
orang yang sedang berusaha menahan amarah.
"Sangat serius, Pak," jawab Ilham.
"Kau yakin dengan daftar nama ini?"
"Yakin. Herman memberikannya langsung. Dan Herman
bukan orang yang suka berbohong."
Kades Raditya menghela napas panjang. Ia berdiri dan
berjalan ke jendela, memandang halaman kantor yang mulai ramai oleh warga yang
datang untuk mengurus administrasi.
"Haris sudah bekerja di kantor ini selama lima
tahun," katanya pelan. "Dia orang yang cerdas, rajin, dan selalu
membantu. Aku tidak pernah melihat tanda-tanda bahwa dia terlibat dalam hal-hal
seperti ini."
"Orang yang pandai bersembunyi tidak akan menunjukkan
tanda-tanda, Pak," kata Angga.
Kades Raditya menoleh. "Kau benar. Tapi kita tidak
bisa menuduh tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Panggil dia ke
sini. Sekarang."
Ilham berdiri. "Baik, Pak."
Ia keluar ruangan dan berjalan ke ruang kerja Haris, yang
berada di ujung lorong sebelah timur kantor desa. Ruangan itu kecil, hanya
cukup untuk satu meja, satu kursi, dan satu lemari arsip. Pintunya setengah
terbuka.
Ilham mengetuk pelan.
"Mas Haris?"
Haris yang sedang menatap layar komputer menoleh. Wajahnya
tersenyum seperti biasa.
"Mas Ilham? Ada apa?"
"Pak Kades memanggil. Ada yang ingin
dibicarakan."
Haris mengerutkan dahi, tetapi ia berdiri dan mengikuti
Ilham tanpa bertanya lebih lanjut.
Di ruang Kades Raditya, suasana terasa berbeda. Biasanya
ruangan ini hangat dan akrab, tetapi hari ini terasa dingin dan formal. Kades
Raditya duduk di kursinya dengan wajah serius. Angga duduk di kursi samping,
tangan dilipat di dada. Ilham duduk di seberang Haris, tepat di hadapannya.
Haris duduk di kursi yang disediakan, tampak tenang tetapi
matanya sedikit gelisah.
"Ada apa, Pak?" tanyanya.
Kades Raditya tidak langsung menjawab. Ia membuka laci
mejanya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat, copy dari dokumen yang diberikan
Herman, lalu meletakkannya di atas meja.
"Haris, aku ingin kau jujur padaku," kata Kades
Raditya. "Apakah kau terlibat dalam jaringan Lembah Selatan?"
Haris terdiam. Wajahnya berubah pucat dalam sekejap.
Matanya melebar, lalu menyipit, lalu melebar lagi. Tangannya yang tadinya
santai di pangkuan, sekarang mengepal erat.
"Pak, saya tidak mengerti maksud Bapak," katanya,
suaranya sedikit bergetar.
Ilham membuka amplop itu dan mengeluarkan daftar nama dari
Herman. Ia menunjukkan pada Haris.
"Ini daftar nama 'mitra' PT NDM di desa-desa sasaran.
Nama Mas Haris ada di urutan ketiga, sebagai Koordinator Wilayah
Suralaya."
Haris membaca daftar itu. Wajahnya semakin pucat, sampai
hampir seputih kertas.
"Siapa yang memberi Anda daftar ini?" tanyanya.
"Itu tidak penting," potong Kades Raditya.
"Yang penting, apakah itu benar?"
Haris menunduk. Bahunya bergetar. Untuk beberapa saat, tidak
ada suara apa pun di ruangan itu. Hanya detak jarum jam dinding yang terdengar
jelas, seperti penghitung waktu untuk sebuah pengakuan.
"Iya," bisik Haris akhirnya. "Itu
benar."
Ruangan menjadi sunyi. Kades Raditya memejamkan mata,
seperti sedang berusaha menenangkan diri. Angga menggigit bibir bawahnya,
menahan amarah. Ilham hanya diam, menunggu.
"Ceritakan semuanya," kata Kades Raditya.
"Dari awal."
Haris mengangkat kepalanya. Matanya merah, berkaca-kaca.
Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Semuanya dimulai setahun yang lalu," katanya
dengan suara parau. "Saya dihubungi oleh seseorang dari PT NDM. Namanya
Andi. Dia bilang bahwa perusahaannya ingin bekerja sama dengan Suralaya untuk
pengembangan digitalisasi desa. Mereka menawarkan bantuan dana, pelatihan, dan
akses pasar."
"Kenapa kau tidak melapor ke saya?" tanya Kades
Raditya.
"Karena Andi bilang, ini masih tahap awal. Belum ada
keputusan resmi. Dia hanya ingin saya menjadi 'penghubung', seseorang yang bisa
memberi informasi tentang kondisi Suralaya, potensi desa, dan orang-orang yang
berpengaruh di sini."
"Jadi kau memberi mereka informasi tentang
Suralaya?"
Haris mengangguk pelan. "Iya. Awalnya hanya data umum.
Jumlah penduduk, mata pencaharian, potensi wisata, hasil bumi. Tidak ada yang
rahasia. Tapi lama-lama... mereka minta lebih."
"Apa yang mereka minta?"
"Informasi tentang orang-orang. Siapa yang pro
perubahan, siapa yang anti, siapa yang mudah dipengaruhi, siapa yang sulit
diajak kompromi."
Ilham merasakan dadanya sesak. "Termasuk informasi tentang
saya?"
Haris menunduk. "Iya. Termasuk Mas Ilham."
"Kau beri tahu mereka tentang perjalanan kita ke Awan
Biru? Tentang hubungan kita dengan Herman? Tentang rencana-rencana kita?"
Haris mengangguk tanpa mengangkat kepalanya.
Ilham mengepalkan tangannya. Ia ingin berteriak, ingin
membanting meja, ingin menghajar Haris sampai babak belur. Tapi ia menahan.
Kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah.
"Kau tahu apa yang kau lakukan, Haris?" kata
Angga dengan suara dingin. "Kau mengkhianati desa kita. Kau mengkhianati
kepercayaan kami."
Haris menangis tersedu. "Aku tahu! Aku tahu! Tapi aku
tidak punya pilihan!"
"Tidak punya pilihan bagaimana?" bentak Kades
Raditya.
Haris mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
"Mereka mengancam saya. Andi bilang, kalau saya tidak mau bekerja sama, PT
NDM akan memblokir semua bantuan yang sudah mereka janjikan untuk Suralaya.
Bantuan itu sudah saya laporkan ke Pak Kades sebagai 'hibah dari donatur
anonim'. Saya sudah terlanjur. Saya takut ketahuan. Saya takut dipecat. Saya
takut... diusir."
Kades Raditya menghela napas panjang. "Kau bodoh,
Haris. Kau sangat bodoh."
"Iya, saya bodoh. Saya minta maaf."
"Maaf tidak cukup," kata Ilham. Suaranya tenang,
tetapi dingin. "Kau harus membantu kami memperbaiki kesalahan ini."
Haris mengangkat kepalanya. "Maksud Mas Ilham?"
"Kau tahu rencana PT NDM untuk Suralaya? Apa yang akan
mereka lakukan selanjutnya?"
Haris mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Mereka sudah menyiapkan proposal kerja sama. Pak Rahman akan datang ke
Suralaya bulan depan untuk mempresentasikannya secara resmi. Proposal itu sudah
saya baca. Isinya mirip dengan kontrak di Lembah Selatan, bantuan besar-besaran
dengan imbalan hak kelola data."
"Dan kau akan menjadi penghubung lagi?"
Haris menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan. Aku sudah
muak dengan semua ini. Aku hanya butuh jalan keluar."
Kades Raditya berdiri. "Kau akan mendapat jalan
keluar, Haris. Tapi kau harus membantu kami. Kau harus memberi kami semua
informasi yang kau punya tentang PT NDM, tentang rencana mereka, tentang
orang-orang yang terlibat. Dan setelah itu, kau harus mempertanggungjawabkan
perbuatanmu."
Haris mengangguk. "Baik, Pak. Aku akan membantu apa
pun yang Bapak perintahkan."
Setelah Haris keluar dari ruangan, dengan wajah pucat dan
langkah gontai, Kades Raditya duduk kembali di kursinya. Ia tampak lelah,
sepuluh tahun lebih tua dari biasanya.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Angga.
Kades Raditya menatap Ilham. "Menurutmu?"
Ilham berpikir sejenak. "Kita harus menggagalkan
rencana mereka sebelum bulan depan. Kita harus menyebarkan informasi ke
desa-desa lain tentang bahaya PT NDM. Dan kita harus memperkuat sistem
pertahanan kita sendiri."
"Pertahanan?"
"Sistem digital kita harus benar-benar mandiri. Jangan
sampai ada celah yang bisa mereka manfaatkan. Dan kita harus lebih berhati-hati
dalam berbagi informasi dengan pihak luar."
Kades Raditya mengangguk. "Setuju. Aku akan
menginstruksikan semua perangkat desa untuk tidak memberikan data apa pun
kepada siapa pun tanpa sepengetahuanku."
"Aku akan menghubungi Herman lagi," kata Ilham.
"Kita harus membangun koalisi desa-desa yang menolak PT NDM. Awan Biru,
Suralaya, dan mungkin desa-desa lain yang belum terjangkit."
"Lalu bagaimana dengan desa-desa yang sudah
terjangkit?" tanya Angga. "Seperti Lembah Selatan, Cikalong,
Karangmulya?"
Ilham menghela napas. "Itu lebih sulit. Tapi kita
tidak bisa mengabaikan mereka. Kita harus cari cara untuk membantu warga di
sana keluar dari kontrak yang mengikat."
"Kita butuh advokat," kata Kades Raditya.
"Aku punya kenalan di LBH Kota. Akan kuhubungi."
"Baik, Pak. Kita kerjakan satu per satu."
Sore itu, setelah rapat panjang dengan Kades Raditya dan
beberapa perangkat desa terpercaya, Ilham pulang ke rumah dengan perasaan
campur aduk. Ada lega karena pengkhianat sudah terungkap, tetapi juga ada sedih
karena pengkhianat itu adalah temannya sendiri.
Ia duduk di teras rumah, memandang matahari yang mulai
tenggelam di balik bukit. Langit berwarna jingga keemasan, indah dan damai.
"Mas Ilham!"
Ilham menoleh. Seorang pemuda berdiri di depan pagar
rumahnya, mengendarai sepeda motor butut yang knalpotnya bunyi kasar. Pemuda
itu tidak asing, ia adalah kurir antar desa yang sering mengantar surat dan
paket.
"Ada apa, Din?" tanya Ilham.
Kurir itu turun dari motor dan menghampiri. Ia mengeluarkan
sebuah amplop dari tas selempangnya.
"Ini surat untuk Mas Ilham. Dari Awan Biru."
Ilham mengambil amplop itu. Tangannya sedikit gemetar.
Amplop itu berwarna cokelat muda, tertutup rapi dengan lem, dan di atasnya
tertulis namanya dengan tulisan tangan yang rapi, tulisan Herman.
"Makasih, Din."
"Sama-sama, Mas."
Kurir itu pergi. Ilham masuk ke dalam rumah, duduk di ruang
tamu, dan membuka amplop itu perlahan, seperti orang yang membuka peti harta
karun, atau peti pandora.
Di dalamnya ada tiga lembar kertas. Lembar pertama adalah
surat tulisan tangan Herman. Lembar kedua adalah dokumen resmi yang dicetak
komputer. Lembar ketiga adalah foto hitam-putih yang agak buram.
Ilham membaca surat Herman terlebih dahulu.
Ilham,
Maaf aku tidak bisa menyampaikan ini secara langsung. Ada
situasi yang tidak memungkinkan. Aku sedang diawasi. Aku tidak tahu oleh siapa,
tapi aku yakin ada yang memantau gerak-gerikku.
Setelah aku meninggalkan Suralaya kemarin, aku mendapat
informasi baru yang sangat penting. Aku tidak bisa menyampaikannya lewat
telepon atau pesan singkat. Itu sebabnya aku mengirim surat ini melalui kurir.
Ilham, pengkhianatan di Suralaya tidak hanya melibatkan
Haris. Ada satu nama lagi yang mungkin tidak kau duga.
Nama itu ada di dokumen kedua. Aku tidak akan menyebutnya
di sini. Lihat sendiri.
Dokumen itu adalah daftar lengkap "mitra" PT NDM
di seluruh desa sasaran. Aku mendapatkannya dari sumber yang sama dengan daftar
sebelumnya, tapi kali ini lebih lengkap. Di dalamnya, ada dua nama dari Suralaya.
Satu sudah kau tahu. Satu lagi... aku yakin kau akan terkejut.
Foto ketiga adalah bukti pertemuan antara orang itu dengan
perwakilan PT NDM di sebuah kafe di kota, tiga bulan lalu. Aku tidak tahu
bagaimana sumberku mendapat foto itu, tapi aku yakin itu asli.
Ilham, hati-hati. Jangan percaya pada siapa pun sebelum kau
punya bukti. Bahkan pada orang yang paling kau percaya sekalipun.
Aku akan mencoba menghubungimu lagi minggu depan, jika
situasinya sudah aman.
Tetap jaga diri.
*** Herman***
Ilham meletakkan surat itu di meja. Tangannya gemetar hebat.
Ia mengambil dokumen kedua, daftar lengkap "mitra" PT NDM.
Matanya menyusuri nama-nama itu satu per satu.
Lembah Selatan: 12 nama.
Cikalong: 8 nama.
Karangmulya: 6 nama.
Cipatat: 5 nama.
Awan Biru: 3 nama.
Suralaya: 2 nama.
Nama pertama: M. Haris.
Nama kedua: Ilham membaca, dan dunia terasa berhenti berputar.
Nama kedua: Angga Putra Pratama.
Ilham memejamkan mata. Ia membacanya sekali lagi. Angga
Putra Pratama. Sahabatnya. Temannya sejak kecil. Orang yang selalu ada di
sampingnya. Orang yang tadi pagi masih membawakannya nasi pecel.
Tidak mungkin, pikirnya. Angga
tidak mungkin.
Ia mengambil foto ketiga. Foto hitam-putih, agak buram,
tapi cukup jelas untuk menunjukkan dua orang sedang duduk di sebuah kafe. Meja
kecil, cangkir kopi, latar belakang jendela kaca dengan tulisan "Coffee
Shop" terbalik.
Satu orang adalah Andi, manajer proyek PT NDM yang ditemui
Ilham di Lembah Selatan. Ia yakin itu Andi, meskipun foto itu diambil dari
samping.
Satu orang lagi adalah Angga. Wajahnya jelas terlihat, rambut
ikal khasnya, kemeja flanel yang sering ia kenakan, dan jam tangan di
pergelangan kirinya yang selalu ia pakai sejak SMA.
Ilham meletakkan foto itu di meja. Dadanya terasa sesak,
seperti ada yang menusuk-nusuk. Matanya panas, tetapi air mata tidak mau
keluar. Hanya ada kekosongan yang sangat dalam.
Angga.
Sahabatku.
Pengkhianat.
Ia teringat pada semua momen bersama Angga. Perjalanan ke
Awan Biru, begadang di kantor desa menyusun proposal, tertawa di warung kopi,
berbagi makanan, berbagi rahasia, berbagi mimpi.
Apakah semua itu palsu? Apakah Angga hanya berpura-pura?
Apakah setiap senyumnya, setiap tawanya, setiap dukungannya hanyalah bagian
dari skenario yang sudah dirancang?
Ilham tidak tahu. Pikirannya terlalu kacau untuk berpikir
jernih.
Pukul 19.00, Angga datang ke rumah Ilham seperti biasa. Ia
membawa gorengan dan es teh manis, camilan favorit mereka berdua.
"Hei, Ham," sapa Angga ceria sambil masuk ke
ruang tamu. "Aku beli pisang goreng dan tahu isi dari Bu Srintil. Yang
hangat-hangat."
Ia berhenti ketika melihat wajah Ilham yang pucat dan mata
yang merah.
"Kamu kenapa? Sakit?"
Ilham tidak menjawab. Ia hanya menatap Angga dengan sorot
yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya, sorot kecewa, marah, dan sedih
bercampur menjadi satu.
"Ham?" Angga mulai gelisah. "Ada apa? Cerita
dong."
Ilham menggeser amplop cokelat di atas meja ke arah Angga.
"Baca."
Angga mengambil amplop itu dengan ragu. Ia mengeluarkan
isinya, surat Herman, daftar nama, dan foto.
Ia membaca surat Herman. Wajahnya berubah.
Ia membaca daftar nama. Wajahnya memucat.
Ia melihat foto. Tangannya gemetar. Foto itu jatuh ke
lantai.
"Ham... aku bisa jelaskan..." suaranya parau,
hampir tidak terdengar.
Ilham berdiri. Matanya menatap Angga dengan dingin.
"Jelaskan. Aku dengar."
Angga menunduk. Bahunya bergetar. Air mata mulai mengalir
di pipinya.
"Aku... aku terpaksa, Ham. Mereka mengancam
keluargaku. Ayahku sedang sakit parah. Ibu tidak punya pekerjaan. Adikku masih
sekolah. Aku butuh uang."
"Jadi kau menjual desa demi uang?"
"Bukan menjual desa! Aku hanya memberi mereka
informasi! Informasi umum! Tidak ada yang rahasia!"
"Informasi tentang Suralaya adalah rahasia, Ang! Data
penduduk, potensi desa, rencana pengembangan, itu semua adalah aset desa! Kau tidak
berhak memberikannya pada orang lain tanpa izin!"
Angga menangis tersedu. "Aku tahu! Aku salah! Tapi aku
tidak punya pilihan!"
"Kita selalu punya pilihan, Ang. Kau bisa bilang
padaku. Kau bisa bilang pada Pak Kades. Kita bisa cari solusi bersama. Tapi kau
memilih jalan sendiri. Jalan yang mengkhianati kita semua."
Ilham berjalan ke pintu dan membukanya lebar-lebar.
"Kau pergi sekarang. Aku tidak bisa melihat
wajahmu."
"Ham..."
"PERGI!"
Angga terhuyung berdiri. Wajahnya basah oleh air mata. Ia
berjalan keluar rumah dengan langkah gontai, seperti orang yang baru saja
kehilangan segalanya.
Ilham menutup pintu dan bersandar di dinding. Dadanya naik
turun, napasnya terengah-engah. Air mata yang tertahan akhirnya jatuh juga.
Ia menangis. Bukan karena lemah. Tapi karena kehilangan.
Kehilangan sahabat yang selama ini ia anggap saudara.
Malam itu, Ilham tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang tamu,
memandangi foto Angga dan Andi yang masih tergeletak di lantai.
Ia teringat pada kalimat dalam surat misterius itu:
"Ketika dua langit memilih jalan berbeda, siapa yang
akan kau jaga?"
Sekarang ia mengerti. Dua langit itu adalah persahabatan
dan kebenaran. Dan ia harus memilih.
Ia memilih kebenaran. Meskipun itu berarti kehilangan
sahabatnya.
BAB 8 — Persimpangan
Dua Langit
Malam itu, setelah Angga pergi, rumah Ilham terasa lebih
sunyi dari biasanya.
Bukan sunyi yang nyaman, sunyi yang diisi oleh suara
jangkrik dan angin malam yang berembus pelan. Bukan. Ini adalah sunyi yang
mencekik, sunyi yang membuat Ilham merasa seperti berada di dalam ruangan hampa
tanpa udara. Setiap sudut rumah yang biasanya hangat dan akrab, kini terasa
asing dan dingin.
Ilham masih duduk di kursi bambu di ruang tamu, posisi yang
sama sejak Angga keluar dari rumahnya dua jam lalu. Tubuhnya tidak bergerak,
hanya matanya yang sesekali berkedip, menatap foto hitam-putih yang masih
tergeletak di lantai. Foto itu sudah ia ambil dan letakkan di meja, tetapi
bayangan Angga dan Andi duduk di kafe itu masih melekat di retina matanya.
Bagaimana mungkin?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya seperti rekaman
rusak yang tidak bisa berhenti. Bagaimana mungkin Angga, sahabatnya sejak
kecil, teman seperjuangannya dalam suka dan duka, orang yang selalu ada di
sampingnya ketika dunia terasa berat, bagaimana mungkin ia tega mengkhianati
desa mereka sendiri?
Ilham mencoba mengingat-ingat. Apakah ada tanda-tanda?
Apakah ada perubahan perilaku Angga dalam beberapa bulan terakhir yang luput
dari perhatiannya?
Ia mengingat kembali.
Tiga bulan lalu, Angga mulai sering pergi ke kota.
Alasannya bermacam-macam: mengurus administrasi kendaraan, membeli perlengkapan
desa, menemani ibunya berobat. Ilham tidak pernah curiga karena alasan-alasan
itu masuk akal.
Dua bulan lalu, Angga mulai jarang mengikuti rapat malam.
Ia bilang capek, atau ada urusan keluarga. Ilham memaklumi karena Angga memang
sedang sibuk mengurus ayahnya yang sakit.
Satu bulan lalu, Angga mulai terlihat lebih sering memegang
ponsel, sesekali tersenyum sendiri membaca pesan. Ilham mengira Angga sedang
dekat dengan seseorang, mungkin ada gadis yang sedang ia dekati. Ia tidak
pernah bertanya karena ia menghormati privasi sahabatnya.
Dan aku tidak pernah curiga. Aku terlalu percaya padanya.
Itulah yang paling menyakitkan. Bukan pengkhianatan itu
sendiri, tetapi kenyataan bahwa Ilham, yang selalu bangga dengan kemampuannya
membaca orang, tidak melihat apa pun. Ia buta. Ia membiarkan ular masuk ke
dalam rumahnya sendiri, dan ia bahkan memberi ular itu minum.
Laila, ibunya, keluar dari kamar sekitar pukul 22.00. Ia
terkejut melihat Ilham masih duduk di ruang tamu dengan wajah pucat dan mata
merah.
"Nak, kamu belum tidur?" tanyanya sambil
mendekat.
Ilham tidak menjawab. Ia hanya menatap ibunya dengan sorot
kosong.
Laila duduk di samping Ilham. Tangannya yang keriput
mengusap punggung tangan anaknya.
"Ada apa? Cerita sama Ibu."
Ilham menggigit bibir bawahnya. Ia ingin bercerita, tetapi
kata-kata terasa berat di lidah. Bagaimana ia menjelaskan bahwa sahabatnya, anak
yang sering makan di rumahnya, yang ia anggap seperti saudara sendiri, adalah
pengkhianat?
"Bu," bisiknya akhirnya, "Angga... Angga
ternyata bekerja sama dengan Lembah Selatan."
Laila terdiam. Matanya melebar, lalu menyipit.
"Maksudmu? Angga? Anaknya Bu Ratna?"
Ilham mengangguk pelan.
"Dia memberi informasi tentang Suralaya ke PT NDM.
Sudah berbulan-bulan. Aku baru tahu malam ini."
Laila menghela napas panjang. Sebagai ibu yang bijaksana,
ia tahu bahwa anaknya sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Bukan
karena gagal atau kalah, tetapi karena dikhianati oleh orang terdekat.
"Kamu sudah bicara sama dia?"
"Iya. Dia mengaku. Katanya dia terpaksa karena
keluarganya butuh uang. Ayahnya sakit, ibunya tidak punya pekerjaan, adiknya
masih sekolah."
"Lalu?"
"Lalu aku suruh dia pergi. Aku tidak bisa melihat wajahnya."
Laila mengangguk pelan. "Keputusan yang berat, Nak.
Tapi Ibu yakin kamu punya alasan."
"Aku marah, Bu. Sangat marah. Tapi di dalam hati, aku
juga sedih. Angga bukan orang jahat. Dia hanya... tersesat."
"Orang yang tersesat masih bisa ditemukan jalannya,
Nak. Tapi dia harus mau kembali."
Ilham menatap ibunya. "Apa Ibu pikir aku harus
memaafkannya?"
Laila tersenyum tipis. "Memaafkan tidak berarti
melupakan, Nak. Memaafkan berarti memberi kesempatan pada seseorang untuk
memperbaiki kesalahannya. Tapi itu keputusanmu, bukan keputusan Ibu."
Ilham terdiam. Pikirannya berkecamuk.
Pukul 06.00 pagi berikutnya, Ilham sudah berada di kantor
desa. Ia tidak tidur semalaman. Matanya sembab, wajahnya pucat, dan langkahnya
sempoyongan seperti orang yang baru sembuh dari sakit parah.
Kades Raditya baru saja tiba ketika Ilham masuk ke
ruangannya.
"Nak Ilham? Kamu sudah di sini? Baru jam enam."
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa tidur. Ada hal penting
yang harus saya laporkan."
Kades Raditya mengamati wajah Ilham. Ada yang berbeda. Ada
luka di sana, luka yang tidak terlihat tetapi terasa.
"Silakan duduk. Ceritakan."
Ilham duduk di kursi depan meja Kades Raditya. Ia mengeluarkan
amplop cokelat dari tasnya, amplop yang sama yang ia terima dari kurir kemarin.
"Pak, semalam saya menerima surat dari Herman.
Isinya... mengejutkan."
Ia mengeluarkan dokumen-dokumen itu satu per satu. Surat
Herman, daftar lengkap "mitra" PT NDM, dan foto Angga bersama Andi.
Kades Raditya membaca semuanya dengan saksama. Wajahnya
berubah dari serius menjadi terkejut, lalu menjadi marah, lalu kembali serius.
"Angga?" suaranya nyaris tidak percaya.
"Anak Angga? Temanmu?"
Ilham mengangguk pelan. "Saya sudah konfirmasi
langsung semalam. Dia mengaku."
Kades Raditya meletakkan kertas-kertas itu di atas meja.
Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena marah.
"Anak muda ini... apa yang dia pikirkan? Mengkhianati
desa sendiri demi uang?"
"Dia bilang dia terpaksa, Pak. Ayahnya sakit, ibunya
tidak punya pekerjaan, adiknya masih sekolah. Dia butuh uang."
"Setiap orang punya masalah, Ilham. Tapi tidak semua
orang menyelesaikan masalah dengan mengkhianati orang lain."
"Iya, Pak. Saya setuju. Tapi..."
"Tapi apa?"
Ilham menghela napas. "Tapi saya kenal Angga sejak
kecil. Dia bukan orang jahat. Dia hanya... tersesat. Mungkin kita bisa
memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan."
Kades Raditya menatap Ilham lama. "Kamu terlalu baik,
Nak. Terkadang kebaikanmu bisa dimanfaatkan orang lain."
"Saya tidak baik, Pak. Saya hanya... tidak ingin
kehilangan sahabat."
Kades Raditya menghela napas panjang. "Baik. Kita
panggil Angga. Kita dengar penjelasannya secara resmi. Tapi ingat, Ilham,
apapun keputusan kita nanti, konsekuensi tetap harus dijalani."
"Iya, Pak. Saya mengerti."
Angga datang ke kantor desa sekitar pukul 08.00.
Ia dipanggil melalui pesan singkat oleh Kades Raditya.
Tidak disebutkan alasannya, tetapi Angga sudah tahu. Wajahnya pucat, matanya sembab,
dan rambutnya berantakan, tanda bahwa ia juga tidak tidur semalaman.
Ketika masuk ke ruang Kades Raditya, ia melihat Ilham duduk
di kursi samping, tidak menatapnya. Ia melihat Kades Raditya duduk di balik
meja dengan wajah serius. Ia melihat Nisa dan Rendi juga ada di ruangan itu,
duduk di kursi di sudut, wajah mereka campuran antara terkejut dan kecewa.
"Silakan duduk, Angga," kata Kades Raditya.
Angga duduk di kursi yang disediakan, tepat di hadapan
Kades Raditya. Jaraknya hanya satu meter, tetapi terasa seperti jurang yang tak
terlewati.
"Angga, aku panggil kamu ke sini karena ada hal serius
yang perlu kita bicarakan," kata Kades Raditya. "Kami punya bukti
bahwa kamu terlibat dalam jaringan Lembah Selatan sebagai mitra PT NDM. Apa
kamu mau menjelaskan?"
Angga menunduk. Bahunya bergetar. Air mata mulai menetes di
pangkuannya.
"Iya, Pak," bisiknya. "Itu benar."
Ruangan menjadi hening. Nisa menutup mulutnya dengan
tangan. Rendi menggeleng-gelengkan kepala.
"Ceritakan semuanya," kata Kades Raditya.
"Jangan ada yang disembunyikan."
Angga mengangkat kepalanya. Wajahnya basah oleh air mata.
"Semuanya dimulai sekitar lima bulan lalu, Pak. Waktu
itu, saya dihubungi oleh seseorang bernama Andi. Dia bilang dia dari PT NDM.
Dia menawari saya kerja sama."
"Kerja sama seperti apa?"
"Dia minta saya memberikan informasi tentang Suralaya.
Data penduduk, potensi desa, rencana pengembangan, dan... dan tentang
orang-orang yang berpengaruh di sini."
"Termasuk Ilham?"
Angga mengangguk pelan. "Termasuk Mas Ilham."
Kades Raditya menghela napas. "Berapa banyak informasi
yang sudah kamu berikan?"
"Banyak, Pak. Hampir semua yang mereka minta."
"Dan sebagai imbalannya?"
"Uang. Setiap bulan saya mendapat transfer ke
rekening. Jumlahnya... cukup besar. Cukup untuk biaya berobat ayah, biaya
sekolah adik, dan kebutuhan sehari-hari."
Rendi yang dari tadi diam, akhirnya bersuara. "Mas Angga,
kenapa tidak bilang sama kami? Kalau Mas Angga butuh uang, kami bisa bantu.
Kita kan teman."
Angga tersenyum pahit. "Aku malu, Ren. Aku tidak mau
merepotkan kalian. Aku pikir aku bisa mengatasi semuanya sendiri."
"Tapi lihatlah sekarang," kata Nisa dengan suara
lirih. "Kamu malah terjerumus lebih dalam."
"Iya. Aku salah. Aku tahu."
Kades Raditya berdiri dan berjalan ke jendela. Ia memandang
halaman kantor yang mulai ramai oleh warga yang datang mengurus administrasi.
"Angga, apa yang kamu lakukan adalah pelanggaran
serius. Kamu telah mengkhianati kepercayaan desa. Kamu telah membahayakan masa
depan Suralaya."
Angga menunduk semakin dalam.
"Tapi," lanjut Kades Raditya, "karena kamu
mengakui kesalahanmu dan bersedia membantu kami, hukumanmu akan diringankan.
Kamu akan dicopot dari semua jabatan di desa. Kamu tidak boleh terlibat dalam
kegiatan digitalisasi desa untuk sementara waktu. Dan kamu harus mengembalikan
semua uang yang sudah kamu terima dari PT NDM."
Angga mengangkat kepalanya. "Saya rela, Pak. Saya akan
mengembalikan semuanya."
"Ada satu syarat lagi," kata Kades Raditya.
"Apa, Pak?"
"Kamu harus menjadi mata-mata kami."
Ilham, Nisa, dan Rendi menoleh ke arah Kades Raditya dengan
terkejut.
"Maksud Bapak?" tanya Ilham.
Kades Raditya berbalik. "Angga sudah punya hubungan
dengan PT NDM. Mereka percaya padanya. Kita bisa memanfaatkan itu untuk
mendapatkan informasi tentang rencana-rencana mereka."
Angga terdiam. "Bapak ingin saya... memata-matai
mereka?"
"Bukan memata-matai. Menjadi sumber informasi. Kamu
tetap berkomunikasi dengan mereka seperti biasa. Tapi setiap informasi yang
kamu dapatkan, kamu laporkan ke kami."
"Tapi bagaimana kalau mereka tahu?"
"Kita akan hati-hati. Kamu hanya memberi mereka
informasi yang tidak berbahaya. Informasi umum yang sudah mereka ketahui.
Sementara itu, kita akan mengamati gerak-gerik mereka."
Angga menatap Ilham. Ilham mengangguk pelan.
"Baik, Pak," kata Angga. "Saya akan
lakukan."
Setelah pertemuan itu, Ilham dan Angga berjalan keluar dari
kantor desa bersama. Mereka tidak berbicara. Hanya berjalan berdampingan di
sepanjang jalan desa yang mulai ramai.
Mereka berhenti di bawah pohon beringin tua di pinggir
jalan, tempat yang dulu sering menjadi tempat mereka berteduh setelah bermain
bola seharian.
"Maaf, Ham," bisik Angga. "Aku benar-benar
minta maaf."
Ilham tidak menjawab. Ia hanya menatap ke depan, ke arah
sawah yang menguning.
"Aku tahu maaf tidak cukup. Tapi aku akan berusaha
memperbaiki semuanya."
Ilham menghela napas. "Kau tahu, Ang, yang paling
menyakitkan bukan karena kau mengkhianati desa. Tapi karena kau tidak percaya
padaku."
Angga menunduk.
"Kau pikir aku akan menolak membantu? Kau pikir aku
akan membiarkan keluargamu menderita? Kau kenal aku sejak kecil, Ang. Apakah
aku pernah menolak membantu teman?"
"Tidak pernah."
"Lalu kenapa kau tidak bilang?"
Angga mengusap matanya yang basah. "Karena aku takut,
Ham. Aku takut kau akan melihatku lemah. Aku takut kau akan kecewa
padaku."
"Akhirnya aku tetap kecewa, Ang. Bahkan lebih kecewa
karena kau menyembunyikan semuanya."
"Aku tahu. Aku bodoh."
Ilham menoleh. Matanya menatap Angga dengan sorot yang
sulit diartikan, ada marah, ada sedih, ada kecewa, tetapi juga ada sedikit
kerinduan akan sahabat lamanya yang dulu.
"Kita masih bisa memperbaiki ini," kata Ilham.
"Tapi butuh waktu. Dan butuh kepercayaan. Kau harus membangun kepercayaan
itu dari awal."
Angga mengangguk. "Aku akan lakukan apa pun."
"Baik. Mulai sekarang, kita bekerja sama. Tapi jangan
harap semuanya akan kembali seperti dulu. Luka ini butuh waktu untuk sembuh."
"Aku mengerti."
Mereka berdua berdiri di bawah pohon beringin itu, dua
sahabat yang retak hubungannya, tetapi masih berusaha untuk tetap berdiri
bersama. Seperti pohon beringin yang akarnya menjalar ke mana-mana, hubungan
mereka mungkin tidak akan pernah lagi sesederhana dulu, tetapi akar yang sudah
tertanam terlalu dalam untuk sekadar dicabut.
Siang itu, Ilham mengadakan pertemuan darurat di balai
desa.
Hadir dalam pertemuan itu: Kades Raditya, Kirno, Sugi,
Santo (tokoh-tokoh masyarakat), Nisa, Rendi, Aulia (tim digitalisasi), dan
beberapa perangkat desa terpercaya. Juga hadir Herman yang datang dari Awan
Biru, dan tentu saja Angga yang duduk di sudut ruangan dengan wajah malu-malu.
Ilham berdiri di depan ruangan. Ia memandang satu per satu
wajah yang hadir, wajah-wajah yang selama ini menjadi teman seperjuangannya.
"Bapak/Ibu sekalian," mulainya. "Saya
kumpulkan Bapak/Ibu di sini untuk membahas situasi yang sangat serius. Desa
kita sedang dalam ancaman."
Ia menjelaskan semuanya. Dari awal perjalanan ke Lembah
Selatan, temuan-temuan tentang PT NDM, kontrak-kontrak yang mengikat, daftar
"mitra" yang menjadi mata-mata, hingga pengakuan Haris dan Angga.
Ruangan menjadi hening. Beberapa orang terlihat terkejut,
beberapa marah, beberapa takut.
"Saya tidak akan menyebutkan nama-nama di sini,"
lanjut Ilham. "Yang terlibat sudah kami tangani secara internal. Yang
penting sekarang adalah bagaimana kita melindungi desa dari ancaman yang lebih
besar."
Kirno mengangkat tangan. "Mas Ilham, apa yang bisa
kami lakukan?"
Ilham menghela napas. "Pertama, kita harus memperkuat
sistem keamanan data kita. Jangan sampai ada informasi desa yang bocor ke pihak
luar tanpa izin. Kedua, kita harus membangun koalisi dengan desa-desa lain yang
juga menolak PT NDM. Ketiga, kita harus membantu desa-desa yang sudah terjebak
untuk keluar dari kontrak mereka."
"Itu tidak mudah," kata Santo. "Desa-desa
yang sudah terikat kontrak pasti akan kesulitan keluar."
"Iya, tidak mudah. Tapi kita harus coba. Kita sudah
menghubungi LBH di kota. Mereka bersedia membantu secara pro bono."
Sugi mengangguk. "Baik. Apa pun yang bisa kami bantu,
kami siap."
Kades Raditya berdiri. "Saya sebagai kepala desa akan
bertanggung jawab penuh atas langkah-langkah yang kita ambil. Saya minta
dukungan dari Bapak/Ibu sekalian."
Ruangan bergemuruh dengan ucapan setuju.
Pertemuan selesai sekitar pukul 16.00. Warga mulai
berhamburan keluar, meninggalkan ruangan yang kini terasa lebih lapang.
Herman mendekati Ilham.
"Kau hebat, Ilham. Kamu bisa mengendalikan situasi dengan
baik."
Ilham tersenyum tipis. "Aku tidak hebat. Aku hanya
melakukan apa yang harus dilakukan."
"Tentang Angga..." Herman ragu sejenak. "Aku
tahu dia sahabatmu. Maaf jika informasiku menyakitkan."
"Tidak perlu minta maaf. Itu yang benar. Aku lebih
baik tahu kebenaran daripada hidup dalam kebohongan."
Herman menepuk bahu Ilham. "Kau kuat, Ilham. Lebih
kuat dari yang kau kira."
"Atau mungkin aku hanya pandai menyembunyikan
kelemahanku."
Herman tersenyum. "Itu juga bentuk kekuatan."
Mereka berjalan keluar bersama. Di halaman kantor desa,
matahari sore mulai condong ke barat, menyinari Suralaya dengan cahaya
keemasan.
"Besok aku akan kembali ke Awan Biru," kata
Herman. "Aku akan laporkan semua ini ke Pak Iwan dan tim. Kita akan mulai
membangun koalisi."
"Baik. Aku akan menunggu kabar darimu."
"Hati-hati, Ilham. Jangan percaya pada siapa pun
sebelum kau punya bukti."
"Kau juga."
Mereka berjabat tangan, lalu Herman pergi dengan motornya,
meninggalkan Ilham yang berdiri di halaman kantor desa sendirian.
Malam itu, Ilham duduk di teras rumahnya. Langit cerah,
bintang-bintang bertaburan. Angin malam berembus sejuk, membawa aroma bunga
melati dari halaman depan.
Ia membuka ponselnya. Ada pesan dari Angga yang masuk
sepuluh menit lalu.
"Ham, aku tahu kau mungkin masih marah. Tapi aku ingin
kau tahu bahwa aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki semuanya. Aku
tidak akan mengecewakanmu lagi. Maaf."
Ilham membaca pesan itu berulang kali. Jarinya menggantung
di atas keyboard, ragu hendak membalas atau tidak.
Akhirnya, ia mengetik balasan singkat:
"Besok kita mulai bekerja. Jangan datang
terlambat."
Beberapa detik kemudian, Angga membalas dengan stiker
animasi yang mengacungkan jempol. Stiker yang dulu sering mereka gunakan ketika
masih akrab.
Ilham tersenyum kecil. Senyum pertama setelah dua hari yang
melelahkan.
Ia mematikan ponsel dan menatap langit malam. Di kejauhan,
dua bintang bersinar sangat terang, berdekatan tetapi tidak menyentuh. Seperti
dua sahabat yang retak, tetapi masih berusaha tetap berada di langit yang sama.
BAB 9 — Ketika
Kepercayaan Diuji
Pagi itu, Suralaya bangun dengan langit yang cerah tanpa
secuil awan pun. Matahari terbit dari balik bukit timur, menyinari lembah
dengan cahaya keemasan yang hangat dan menenangkan. Burung-burung berkicau riang
di pepohonan, seolah ikut menyambut hari baru yang penuh harapan.
Namun di balik keindahan alam itu, suasana di kantor desa
Suralaya terasa berbeda. Ada ketegangan yang tidak kasat mata tetapi terasa
oleh setiap orang yang masuk ke dalamnya. Para perangkat desa yang biasanya
bercanda dan tertawa di pagi hari, kini lebih banyak diam. Mereka berbicara
dengan suara pelan, seperti takut ada yang mendengar.
Muhammad Ilham tiba di kantor desa pukul 07.30, lebih awal
dari biasanya. Ia sudah mandi dan berpakaian rapi, kemeja batik lengan panjang
warna biru muda, celana kain hitam, dan sepatu kulit yang jarang ia pakai.
Rambutnya disisir rapi, tidak berantakan seperti biasanya. Wajahnya masih pucat
dan matanya masih sembab, tetapi ia berusaha tersenyum pada setiap orang yang
ditemuinya.
"Selamat pagi, Mas Ilham," sapa Nisa yang sudah
duduk di mejanya sejak pukul tujuh. Wajah perempuan itu tampak lelah, seperti
orang yang tidak tidur nyenyak.
"Selamat pagi, Nis. Kamu sudah sarapan?"
"Belum. Masih belum nafsu makan."
Ilham menghela napas. "Kamu harus makan. Hari ini kita
akan banyak bekerja."
"Iya, Mas. Nanti saya beli bubur."
Ilham berjalan ke ruang Kades Raditya. Pintu ruangan itu
sudah terbuka, tanda bahwa kepala desa sudah datang lebih awal. Biasanya Kades
Raditya baru datang sekitar pukul delapan atau setengah sembilan. Pagi ini, ia
sudah ada di ruangannya sejak pukul tujuh.
"Selamat pagi, Pak," sapa Ilham sambil masuk.
Kades Raditya sedang duduk di kursinya, memegang secangkir
kopi hitam yang sudah tidak mengepul lagi, tanda bahwa ia sudah duduk di sana
cukup lama. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan kegelisahan yang tidak
bisa ia sembunyikan.
"Selamat pagi, Nak. Silakan duduk."
Ilham duduk di kursi depan meja. Ia mengamati wajah Kades
Raditya. Lelaki tua itu tampak lebih tua dari biasanya. Kerutan di dahinya
semakin dalam, dan uban di pelipisnya semakin banyak.
"Pak, bagaimana perasaan Bapak pagi ini?" tanya
Ilham hati-hati.
Kades Raditya tersenyum tipis. "Seperti biasa. Tua,
lelah, tapi masih bersemangat."
"Bukan itu maksud saya."
"Bapak tahu. Kamu bertanya tentang situasi desa,
tentang Angga, tentang Haris, tentang ancaman dari Lembah Selatan." Kades
Raditya menyesap kopinya yang sudah dingin. "Jujur, Nak, saya tidak tahu
harus merasa apa. Marah? Kecewa? Takut? Semuanya bercampur menjadi satu."
"Itu wajar, Pak."
"Tapi sebagai kepala desa, saya tidak bisa terbawa
perasaan. Saya harus tegas. Saya harus melindungi desa ini."
Ilham mengangguk. "Itulah mengapa saya kagum pada
Bapak."
Kades Raditya tertawa kecil. "Jangan kagum dulu. Belum
ada yang kita selesaikan."
Pukul 08.30, Angga datang ke kantor desa.
Ia datang dengan berjalan kaki, tidak mengendarai motor
seperti biasanya. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan langkahnya sempoyongan. Rambutnya
yang biasa diikat kuncir kini terurai kusut, menutupi setengah wajahnya. Ia
mengenakan kemeja lusuh dan celana jeans yang sudah pudar warnanya.
Beberapa perangkat desa yang melihatnya menunduk, tidak
berani menatap matanya. Mereka sudah tahu. Kabar tentang pengkhianatan Angga
sudah menyebar seperti api di padang rumput kering. Tidak ada yang tahu persis
dari mana kabar itu berasal, tetapi dalam waktu kurang dari dua puluh empat
jam, semua orang di kantor desa sudah mendengarnya.
Angga berjalan menuju ruang Kades Raditya. Setiap
langkahnya terasa berat, seperti kakinya terbenam di lumpur. Ia bisa merasakan
tatapan tajam dari orang-orang yang ia lewati, ada yang penuh amarah, ada yang
penuh iba, ada yang penuh rasa ingin tahu.
Ia mengetuk pintu ruangan.
"Masuk," suara Kades Raditya dari dalam.
Angga masuk. Di dalam ruangan, sudah ada Ilham dan Kades
Raditya. Juga Nisa dan Rendi yang dipanggil khusus untuk membantu administrasi.
"Silakan duduk, Angga," kata Kades Raditya.
Angga duduk di kursi yang disediakan, tepat di hadapan
Kades Raditya. Ia tidak berani menatap siapa pun. Matanya hanya tertuju pada
lantai keramik putih yang mengkilap.
"Angga, kita panggil kamu ke sini untuk membahas
langkah-langkah selanjutnya," kata Kades Raditya. "Kemarin kamu sudah
mengakui kesalahanmu dan bersedia membantu. Hari ini kita akan mulai
bekerja."
Angga mengangkat kepalanya. Matanya merah, tapi tidak ada
air mata.
"Siap, Pak. Saya akan lakukan apa pun yang Bapak
perintahkan."
"Baik. Pertama, kita perlu informasi tentang rencana
PT NDM ke depan. Kapan mereka akan datang ke Suralaya? Siapa yang akan datang?
Apa yang akan mereka tawarkan?"
Angga menghela napas. "Pak Rahman dan timnya
rencananya akan datang bulan depan, tanggal 10. Mereka akan mengadakan
pertemuan dengan Bapak dan perangkat desa untuk mempresentasikan proposal kerja
sama."
"Apakah kamu tahu isi proposal itu?"
"Saya sudah melihat draft-nya. Isinya sama dengan
kontrak di Lembah Selatan. Bantuan dana untuk digitalisasi, pelatihan SDM,
pengembangan wisata, dan akses pasar. Tapi sebagai imbalannya, PT NDM akan
mendapatkan hak kelola data desa selama dua puluh lima tahun."
Rendi bersiul kecil. "Dua puluh lima tahun. Itu hampir
seperempat abad."
"Iya. Dalam jangka waktu itu, desa tidak bisa bekerja
sama dengan pihak lain untuk pengembangan digital. Semua harus melalui PT
NDM."
Nisa mencoret-coret sesuatu di buku catatannya. "Ini
jelas merugikan. Kenapa mereka berani menawarkan kontrak seperti itu?"
"Karena mereka tahu banyak desa yang putus asa,"
jawab Angga. "Desa-desa yang tidak punya akses ke teknologi, tidak punya
dana untuk berkembang, tidak punya koneksi ke pasar. Mereka datang dengan
tawaran yang terlalu menggiurkan untuk ditolak."
Kades Raditya menghela napas. "Dan mereka menggunakan
kelicikan untuk memastikan desa-desa itu terikat."
"Iya, Pak."
Setelah diskusi panjang, mereka menyusun rencana.
Pertama, Angga akan tetap berkomunikasi dengan Andi dan
Rahman seolah tidak terjadi apa-apa. Ia akan memberi mereka informasi yang
sudah disetujui, informasi umum yang tidak membahayakan Suralaya, untuk menjaga
kepercayaan mereka.
Kedua, tim digitalisasi Suralaya yang dipimpin Nisa dan
Rendi akan mengaudit seluruh sistem keamanan data. Mereka akan memastikan tidak
ada celah yang bisa dimanfaatkan PT NDM untuk mengakses informasi desa secara
ilegal.
Ketiga, Ilham akan menghubungi desa-desa tetangga untuk
membangun koalisi penolakan terhadap PT NDM. Ia akan berbagi informasi tentang
bahaya kontrak eksklusif dan bagaimana cara melindungi desa dari
praktik-praktik semacam itu.
Keempat, Kades Raditya akan menghubungi LBH di kota untuk
mempersiapkan bantuan hukum jika diperlukan. Ia juga akan melaporkan praktik PT
NDM ke pemerintah kabupaten dan provinsi.
"Semua ini harus dilakukan dengan hati-hati,"
tegas Kades Raditya. "Kita tidak tahu sejauh mana jaringan mereka. Bisa
saja mereka punya orang-orang di pemerintahan yang bisa mempersulit kita."
Ilham mengangguk. "Saya setuju, Pak. Kita harus
bergerak dari bawah, membangun kekuatan dari desa-desa. Jangan sampai mereka
bisa mengisolasi kita."
"Baik. Kita mulai hari ini juga."
Pukul 10.00, Ilham meninggalkan kantor desa untuk menemui
Kirno di rumahnya.
Kirno adalah salah satu tokoh masyarakat yang paling
dihormati di Suralaya. Ia bukan orang kaya atau berpendidikan tinggi. Ia hanya
petani biasa yang hidup sederhana. Tapi ia memiliki kearifan lokal yang tidak
dimiliki banyak orang. Ia tahu cara membaca situasi, cara mendekati orang, cara
menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
Rumah Kirno terletak di pinggir desa, dekat dengan sawah
yang ia garap sendiri. Rumah itu sederhana, terbuat dari kayu dengan atap seng,
berukuran tidak terlalu besar tetapi cukup untuk ia dan istrinya yang sudah
tua. Halamannya ditumbuhi rumput dan beberapa pohon pisang.
Ilham mengetuk pintu kayu yang sudah usang.
"Pak Kirno!"
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Kirno berdiri di
ambang pintu dengan kaus oblong lusuh dan sarung kotak-kotak. Wajahnya keriput,
matanya cekung, tetapi senyumnya masih hangat seperti dulu.
"Mas Ilham? Masuk, masuk. Ibu sedang masak sayur asem.
Kita makan siang bareng."
Ilham tersenyum. "Terima kasih, Pak. Tapi maaf, saya
tidak bisa lama. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan."
Kirno mengangguk. "Silakan duduk di teras. Ibu akan
bawakan kopi."
Mereka duduk di teras rumah. Kursi kayu yang reyot berderit
ketika diduduki. Di depan mereka, hamparan sawah menguning terbentang luas,
dengan gunung-gunung di kejauhan sebagai latar belakang.
"Ada apa, Mas?" tanya Kirno.
Ilham menghela napas. "Pak, desa kita dalam
bahaya."
Ia menceritakan semuanya. Tentang Lembah Selatan, PT NDM,
kontrak-kontrak yang mengikat, mata-mata di dalam desa, dan rencana mereka
untuk menguasai Suralaya.
Kirno mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah dari
tenang menjadi serius, lalu menjadi marah, lalu kembali tenang.
"Jadi Angga dan Haris terlibat?" tanyanya.
"Iya, Pak. Tapi mereka sudah mengakui kesalahan dan
bersedia membantu."
Kirno menghela napas panjang. "Anak-anak muda...
kadang mereka lupa bahwa desa ini adalah rumah mereka. Bukan hanya tempat
tinggal, tapi rumah. Tempat di mana mereka dilahirkan, dibesarkan, dan kelak
akan dimakamkan."
"Iya, Pak. Itulah mengapa saya datang ke sini. Saya
butuh bantuan Bapak."
"Apa yang bisa saya bantu?"
"Bapak punya banyak koneksi dengan desa-desa tetangga.
Bapak juga dihormati oleh tokoh-tokoh masyarakat di sana. Saya ingin Bapak
membantu saya membangun koalisi desa-desa yang menolak PT NDM."
Kirno terdiam sejenak. Matanya menatap sawah di depannya,
tempat ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya.
"Baik," katanya akhirnya. "Aku akan bantu.
Tapi kita harus pintar. Jangan sampai mereka tahu lebih dulu. Kita bergerak
diam-diam, seperti akar di bawah tanah."
Ilham mengangguk. "Itulah yang saya pikirkan."
"Malam ini aku akan kumpulkan beberapa tokoh dari desa
tetangga. Kita bisa bertemu di rumahku, atau di tempat yang lebih aman."
"Di rumah Bapak saja. Tempat yang tidak
mencolok."
"Baik. Jam delapan malam. Aku tunggu."
Pukul 14.00, Ilham kembali ke kantor desa.
Di ruang digitalisasi, Nisa dan Rendi sedang sibuk
memeriksa sistem keamanan data. Layar komputer mereka menampilkan baris-baris
kode yang tidak bisa dipahami oleh orang awam. Jari-jari Nisa menari-nari di
atas keyboard, sementara Rendi mencatat sesuatu di buku.
"Bagaimana, Nis?" tanya Ilham.
Nisa mengangkat kepalanya. Wajahnya tegang. "Ada yang
aneh, Mas."
"Aneh bagaimana?"
"Beberapa hari sebelum kita berangkat ke Lembah
Selatan, ada aktivitas mencurigakan di server kita. Seseorang mengakses
file-file data penduduk dari luar jaringan."
Ilham merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
"Siapa?"
"Aku tidak tahu persis. Tapi IP address-nya mengarah
ke kota. Kemungkinan besar itu Andi atau tim PT NDM."
"Apakah mereka berhasil mengambil data?"
Nisa menghela napas. "Sebagian. Tapi tidak semuanya.
Sistem kita cukup aman. Mereka hanya bisa mengakses file-file yang tidak
terlalu penting."
"File apa saja?"
"Data jumlah penduduk, sebaran usia, tingkat
pendidikan, mata pencaharian. Data umum yang sebenarnya bisa mereka cari
sendiri di internet."
Rendi menambahkan, "Tapi yang mengkhawatirkan, Mas,
mereka mencoba meretas sistem keamanan kita. Mereka gagal, tapi itu pertanda
bahwa mereka serius."
Ilham mengusap wajahnya. "Kita harus memperkuat
sistem. Jangan sampai mereka berhasil lain kali."
"Sudah, Mas," kata Nisa. "Aku sudah
mengganti semua password dan menambahkan lapisan keamanan baru. Semoga
cukup."
"Semoga?"
Nisa tersenyum tipis. "Dalam dunia digital, tidak ada
yang benar-benar aman, Mas. Tapi setidaknya kita sudah melakukan yang
terbaik."
Ilham mengangguk. "Terima kasih, Nis. Terima kasih,
Ren. Kalian hebat."
Rendi tertawa kecil. "Jangan dipuji, Mas. Nanti kami
minta naik gaji."
"Naik gaji? Gaji kalian saja belum pernah saya
bayar."
"Nggak apa-apa, Mas. Kerja untuk desa itu
ibadah."
Ilham tersenyum. Di tengah situasi yang berat seperti ini,
candaan Rendi terasa seperti oksigen di ruangan yang pengap.
Pukul 19.00, Ilham sudah bersiap untuk pergi ke rumah
Kirno.
Ia memakai pakaian yang tidak mencolok, kaos hitam dan
celana jeans gelap. Ia juga membawa senter kecil dan ponsel yang sudah diisi
penuh. Angga akan menjemputnya dalam beberapa menit lagi.
Laila, ibunya, keluar dari dapur sambil membawa bungkusan
plastik.
"Nak, ini bekal. Jangan lupa makan. Ibu tahu kamu
sering lupa makan kalau sedang sibuk."
Ilham menerima bungkusan itu. "Terima kasih, Bu."
"Ibu tidak tahu apa yang sedang kamu kerjakan. Tapi
Ibu yakin itu untuk kebaikan desa. Hati-hati di jalan."
"Iya, Bu. Doakan kami."
"Ibu selalu berdoa untukmu, Nak. Setiap saat."
Ilham memeluk ibunya sebentar. Laila kecil dan kurus, kepalanya
hanya sebatas dada Ilham. Ia mencium rambut ibunya yang sudah banyak beruban,
menikmati kehangatan yang hanya bisa diberikan oleh seorang ibu.
Suara klakson motor terdengar dari depan rumah. Angga sudah
datang.
Ilham melepaskan pelukannya. "Saya pergi, Bu."
"Hati-hati."
Angga mengendarai motor bututnya dengan kecepatan sedang.
Ilham duduk di belakang, membawa tas ransel kecil berisi bekal dan
catatan-catatan penting.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak berbicara. Hubungan
mereka masih canggung setelah pengkhianatan itu. Ilham belum sepenuhnya bisa
mempercayai Angga lagi, meskipun ia sudah memaafkannya. Memaafkan itu mudah;
melupakan itu sulit. Mempercayai kembali itu lebih sulit lagi.
Mereka tiba di rumah Kirno pukul 19.45. Di halaman rumah,
sudah terlihat beberapa sepeda motor dan mobil tua terparkir. Tamu-tamu sudah
mulai berdatangan.
Ilham dan Angga masuk ke dalam rumah. Ruang tamu Kirno yang
sederhana sudah dipenuhi oleh sekitar dua puluh orang. Ada tokoh-tokoh
masyarakat dari Suralaya, ada juga dari desa-desa tetangga: Cikalong,
Karangmulya, Cipatat, dan Cibitung.
Kirno berdiri di depan ruangan, menyambut satu per satu
tamunya. Wajahnya berseri-seri, meskipun matanya tetap waspada.
"Mas Ilham, Mas Angga, silakan masuk. Kita tunggu
beberapa orang lagi."
Ilham duduk di kursi yang disediakan. Ia mengamati
wajah-wajah yang hadir. Beberapa ia kenal, beberapa tidak. Sebagian besar
adalah orang-orang tua, berpengalaman, dan dihormati di desa masing-masing. Tapi
ada juga beberapa anak muda, mungkin perwakilan dari organisasi pemuda atau tim
digitalisasi desa mereka.
Pukul 20.00, semua tamu sudah hadir. Kirno menutup pintu
dan memulai pertemuan.
"Bapak/Ibu sekalian, terima kasih sudah datang di
malam hari. Saya tahu perjalanan dari desa Bapak/Ibu tidak dekat. Tapi ini
penting. Desak-desa kita sedang dalam ancaman."
Ruangan hening. Semua mata tertuju pada Kirno.
Kirno menunjuk ke arah Ilham. "Mas Ilham,
silakan."
Ilham berdiri. Ia berjalan ke depan ruangan, berdiri di
samping Kirno. Matanya menatap satu per satu wajah yang hadir.
"Bapak/Ibu, saya Muhammad Ilham dari Suralaya.
Beberapa dari Bapak/Ibu mungkin sudah mengenal saya, beberapa mungkin belum.
Tapi yang jelas, saya di sini bukan untuk menggurui. Saya di sini untuk berbagi
informasi."
Ia mulai bercerita. Tentang perjalanannya ke Lembah
Selatan, tentang temuan-temuannya, tentang PT NDM, tentang kontrak-kontrak yang
mengikat, tentang petani yang kehilangan kendali atas hasil panennya, tentang
warga yang hidup dalam ketakutan.
Ia berbicara dengan tenang, tetapi kata-katanya tajam. Ia
tidak berteriak, tidak memukul meja, tidak menggunakan retorika yang
berlebihan. Ia hanya bercerita seperti seorang teman yang sedang berbagi
pengalaman.
Ketika ia selesai, ruangan hening beberapa saat. Kemudian
seorang lelaki paruh baya dari Desa Cikalong berdiri.
"Saya Pak Sartono dari Cikalong. Mas Ilham, apa yang
Bapak katakan itu sangat mengkhawatirkan. Tapi bagaimana kami tahu bahwa ini
benar? Mungkin saja Bapak salah informasi. Mungkin saja PT NDM adalah
perusahaan yang baik."
Ilham mengangguk. "Pertanyaan yang bagus, Pak Sartono.
Saya punya bukti."
Ia mengeluarkan dokumen-dokumen dari tas ranselnya, foto
kopi kontrak Lembah Selatan, daftar nama "mitra" PT NDM, dan
foto-foto pertemuan rahasia.
"Ini adalah kontrak antara PT NDM dengan Desa Lembah
Selatan. Silakan Bapak baca sendiri. Di sini tertulis dengan jelas bahwa hak
kelola data desa sepenuhnya berada di tangan PT NDM selama dua puluh lima
tahun. Desa tidak bisa bekerja sama dengan pihak lain. Jika melanggar, desa dikenakan
denda miliaran rupiah."
Pak Sartono mengambil dokumen itu dan membacanya. Wajahnya
berubah.
"Ini... ini gila."
"Iya, Pak. Itulah mengapa kami harus bersatu. Jangan
sampai desa-desa kita jatuh ke tangan mereka."
Seorang perempuan muda dari Desa Karangmulya berdiri.
"Mas Ilham, apa yang bisa kami lakukan?"
Ilham menghela napas. "Pertama, jangan pernah
menandatangani kontrak apa pun dengan PT NDM sebelum berkonsultasi dengan kami
atau dengan LBH. Kedua, perkuat sistem keamanan data desa. Jangan biarkan informasi
desa bocor ke pihak luar. Ketiga, sebarkan informasi ini ke desa-desa lain.
Semakin banyak yang tahu, semakin sulit bagi PT NDM untuk beraksi."
"Bagaimana dengan desa-desa yang sudah terlanjur
menandatangani kontrak?" tanya Pak Sartono.
"Kita akan bantu mereka keluar. LBH di kota sudah siap
membantu. Tapi butuh waktu dan keberanian."
Ruangan mulai ramai dengan diskusi. Beberapa orang
berbicara dengan suara keras, beberapa berbisik-bisik, beberapa hanya diam
mendengarkan.
Kirno berdiri lagi. "Bapak/Ibu, kita tidak perlu
terburu-buru mengambil keputusan malam ini. Yang penting kita sudah tahu. Yang
penting kita sudah diperingatkan. Pulanglah, bicarakan dengan keluarga dan
masyarakat di desa masing-masing. Minggu depan kita kumpul lagi."
Pertemuan bubar sekitar pukul 22.00. Para tamu berhamburan
keluar, menuju kendaraan mereka masing-masing. Beberapa menghampiri Ilham untuk
berjabat tangan dan bertanya lebih lanjut.
Ilham menjawab semua pertanyaan dengan sabar, meskipun ia
sudah sangat lelah.
Pukul 22.30, Ilham dan Angga meninggalkan rumah Kirno.
Mereka berboncengan motor dalam diam. Jalan desa gelap,
hanya diterangi oleh cahaya bintang dan sesekali lampu rumah warga yang masih
menyala.
"Ham," panggil Angga tiba-tiba.
"Iya?"
"Aku bangga padamu."
Ilham terdiam.
"Kamu bisa mengubah kemarahan menjadi tindakan. Bukan
banyak orang yang bisa melakukan itu."
Ilham menghela napas. "Aku tidak marah lagi, Ang. Aku
hanya... lelah."
"Kita semua lelah. Tapi kita tidak berhenti."
"Tidak. Kita tidak berhenti."
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, tetapi kali ini
diamnya tidak lagi canggung. Ada kehangatan kecil yang mulai tumbuh kembali di
antara mereka. Mungkin butuh waktu, mungkin butuh banyak air mata, tetapi
persahabatan sejati tidak mati hanya karena satu kesalahan.
Pukul 23.00, Ilham tiba di rumah. Ia masuk dengan pelan,
tidak ingin membangunkan ibunya yang sudah pasti tidur.
Ia melepas sepatu, meletakkan tas ransel di kursi, dan
merebahkan diri di tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat berat, seperti habis
mendaki gunung seharian.
Sebelum memejamkan mata, ia membuka ponselnya. Ada pesan
dari Herman.
"Ilham, besok aku akan ke Suralaya lagi. Aku bawa
kabar baik. Kita bertemu jam 10 di kantor desa."
Ilham membalas: "Baik. Aku tunggu."
Ia mematikan ponsel dan memejamkan mata. Pikirannya masih
berputar, tetapi kelelahan akhirnya memenangkan pertempuran.
Ia tertidur dengan senyum tipis di wajahnya. Senyum yang
lahir dari harapan, bahwa besok akan ada kabar baik, bahwa perjuangan mereka
tidak sia-sia, bahwa kepercayaan yang retak bisa diperbaiki.
BAB 10 — Jalan yang
Dipilih
Pagi itu, Suralaya diselimuti kabut tipis yang turun dari
punggung bukit, membasahi dedaunan dan rerumputan dengan embun yang berkilauan
di bawah sinar matahari. Udara dingin menusuk pori-pori, tetapi tidak sedingin
pagi-pagi sebelumnya di Lembah Selatan. Ada kehangatan yang tersisa di udara
Suralaya, mungkin karena desa ini masih memegang erat tradisi dan kebersamaan,
mungkin karena Ilham sudah kembali ke rumahnya sendiri.
Ilham bangun pukul 06.00, lebih lambat dari biasanya.
Tubuhnya masih terasa pegal setelah semalam begadang untuk pertemuan di rumah
Kirno. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku, lalu berjalan ke kamar mandi
untuk membasuh wajah dengan air dingin.
Air itu terasa menyegarkan, menghapus sisa-sisa kantuk yang
masih melekat di matanya. Ia menatap bayangannya di cermin, wajah yang sama,
tetapi dengan lingkaran hitam di bawah mata yang semakin dalam. Rambutnya yang
biasanya ia biarkan berantakan, pagi ini ia sisir rapi. Ia ingin terlihat segar
untuk pertemuan dengan Herman.
Setelah shalat Subuh dan sarapan sederhana berupa nasi
goreng buatan ibunya, Ilham bersiap-siap. Ia mengenakan kemeja putih lengan
panjang yang ia setrika sendiri—sesuatu yang jarang ia lakukan karena biasanya
Laila yang menyetrika pakaiannya. Tapi pagi ini, ia ingin melakukan semuanya
sendiri. Mungkin sebagai bentuk tekad bahwa ia siap menghadapi apa pun yang
akan terjadi.
Laila memperhatikan anaknya dari dapur. Matanya menyimpan
kebanggaan yang tidak diucapkan, tetapi terasa hangat.
"Nak, kamu hari ini berbeda," kata Laila sambil
menyeka meja dapur dengan lap basah.
"Berbeda bagaimana, Bu?"
"Kamu terlihat lebih... dewasa. Seperti sudah memikul
beban yang sangat berat, tapi tidak mengeluh."
Ilham tersenyum tipis. "Bukannya saya sudah dewasa,
Bu? Usia sudah dua puluh enam."
"Dewasa itu bukan soal usia, Nak. Dewasa itu soal
bagaimana seseorang menghadapi masalah. Dan kamu, sejak pulang dari Lembah
Selatan, kamu berubah. Kamu lebih tenang, lebih tegas, dan lebih... bijaksana."
Ilham tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menerima pujian
ibunya dengan hati yang hangat.
"Ibu hanya berpesan," lanjut Laila, "jangan
lupa berdoa. Apa pun yang terjadi, Tuhan selalu bersama orang-orang yang
berusaha."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Pukul 09.30, Ilham sudah berada di kantor desa.
Suasana kantor pagi itu berbeda dari biasanya. Tidak ada
tawa, tidak ada candaan, tidak ada suara ribut dari warga yang mengurus
administrasi. Semua berjalan dengan tenang, seperti air sungai yang mengalir
tanpa riak. Para perangkat desa duduk di meja masing-masing, menatap layar
komputer atau berkas-berkas dengan wajah serius. Mereka sudah tahu bahwa hari
ini adalah hari penting.
Nisa dan Rendi sudah ada di ruang digitalisasi, memeriksa
sistem untuk kesekian kalinya. Wajah Nisa tegang, matanya menyipit membaca
baris-baris kode di layar. Rendi duduk di sampingnya, sesekali mencatat sesuatu
di buku.
"Mas Ilham," sapa Nisa ketika melihat Ilham
masuk.
"Bagaimana, Nis? Apakah semuanya aman?"
Nisa mengangguk. "Sejauh ini aman, Mas. Tidak ada
aktivitas mencurigakan sejak dua hari lalu. Mungkin mereka sadar bahwa kita
sudah tahu."
"Atau mereka sedang menyusun strategi baru,"
tambah Rendi.
Ilham menghela napas. "Kita harus selalu waspada.
Jangan lengah."
Kades Raditya keluar dari ruangannya. Wajahnya tenang,
tetapi matanya tajam. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang warna cokelat
muda, pakaian terbaiknya untuk acara-acara penting.
"Nak Ilham, Herman sudah datang. Ia di ruang
tamu."
Ilham berjalan ke ruang tamu kantor desa. Herman sudah
duduk di kursi kayu, ditemani oleh secangkir kopi yang masih mengepul. Di
sampingnya ada seorang perempuan muda yang tidak Ilham kenal, wajahnya tegas,
rambutnya pendek sebahu, dan matanya cerdas. Ia mengenakan kemeja putih dan
celana bahan hitam, seperti seorang aktivis atau pengacara.
"Ilham," sapa Herman sambil berdiri. Mereka
berjabat tangan erat.
"Herman. Terima kasih sudah datang."
"Ini teman saya, Sari. Sari dari LBH Kota. Dialah yang
akan membantu kita."
Perempuan itu berdiri dan mengulurkan tangan. Jabatannya
kuat, tegas, tidak canggung.
"Sari Wulandari. Saya advokat. Herman sudah bercerita
banyak tentang perjuangan desa ini."
Ilham tersenyum. "Terima kasih, Mbak Sari, sudah
bersedia membantu."
"Sama-sama. Ini tugas saya. Melindungi masyarakat dari
ketidakadilan."
Mereka duduk bersama. Kades Raditya, Ilham, Herman, dan
Sari duduk melingkar di meja bundar. Nisa dan Rendi bergabung kemudian, membawa
laptop dan catatan. Angga juga dipanggil masuk, meskipun ia duduk agak
terpisah, di kursi di sudut ruangan.
Sari membuka tas kerjanya dan mengeluarkan setumpuk
dokumen.
"Baik, saya sudah mempelajari kontrak antara PT NDM
dengan Desa Lembah Selatan. Juga kontrak-kontrak dengan warga perorangan.
Kesimpulan saya: kontrak ini sangat merugikan desa dan warga. Banyak klausul
yang melanggar undang-undang."
"Pelanggaran apa saja, Mbak?" tanya Kades
Raditya.
Sari membuka satu per satu dokumen itu. "Pertama,
klausul tentang hak kelola data. Data desa adalah aset publik yang tidak bisa
diberikan kepada pihak swasta secara eksklusif tanpa pengawasan pemerintah. Ini
melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik."
"Kedua," lanjut Sari, "klausul tentang
sanksi bagi warga yang menjual hasil panen di luar platform. Ini melanggar hak
warga untuk memilih saluran distribusi. Ini juga bisa dikategorikan sebagai
praktik monopoli yang dilarang oleh Undang-Undang Anti Monopoli."
"Ketiga, klausul tentang jangka waktu dua puluh lima
tahun. Ini terlalu lama dan tidak proporsional. Kontrak kerjasama antara desa
dan swasta seharusnya maksimal lima tahun, dengan opsi perpanjangan yang
disetujui bersama."
Ilham merasa lega mendengar penjelasan Sari. Jadi apa yang mereka
curigai selama ini benar, kontrak itu ilegal.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan, Mbak?" tanya
Nisa.
Sari tersenyum. "Kita bisa menggugat. Tapi menggugat
butuh waktu, tenaga, dan biaya. Alternatif yang lebih cepat adalah melakukan
negosiasi dengan PT NDM untuk membatalkan kontrak secara damai."
"Apakah mereka bersedia?" tanya Kades Raditya.
"Itu yang akan kita cari tahu. Tapi kita harus punya
kekuatan tawar. Kita harus menunjukkan bahwa kita tidak sendirian. Bahwa ada
banyak desa yang bersatu melawan praktik mereka."
Herman mengangguk. "Itulah mengapa kita membangun
koalisi. Semakin banyak desa yang bergabung, semakin besar tekanan pada PT NDM
dan pemerintah."
Pertemuan berlangsung hingga siang.
Mereka menyusun strategi dalam tiga tahap. Tahap pertama:
menggalang kekuatan di tingkat desa. Kirno dan timnya akan terus mengunjungi desa-desa
tetangga, menyebarkan informasi, dan mengajak mereka bergabung dalam koalisi.
Tahap kedua: melakukan pendekatan ke pemerintah kabupaten.
Kades Raditya akan melaporkan praktik PT NDM ke Bupati dan DPRD, meminta mereka
untuk meninjau ulang izin operasional perusahaan tersebut.
Tahap ketiga: menyiapkan gugatan hukum jika negosiasi
gagal. Sari akan mempersiapkan berkas-berkas dan menggalang dukungan dari LBH
nasional.
"Kita punya waktu sekitar tiga minggu sebelum rencana
kedatangan Rahman ke Suralaya," kata Ilham. "Kita harus sudah siap
sebelum itu."
"Setuju," kata Kades Raditya. "Kita akan
gunakan waktu ini sebaik mungkin."
Angga yang dari tadi diam akhirnya bersuara. "Pak,
saya punya informasi tambahan."
Semua menoleh ke arah Angga.
"Andi menelepon saya tadi pagi. Katanya, Rahman akan
mempercepat kunjungannya. Bukan bulan depan, tapi minggu depan."
Ruangan menjadi hening.
"Minggu depan? Kapan tepatnya?" tanya Kades
Raditya.
"Tanggal 5. Lima hari lagi."
Ilham merasakan dadanya sesak. Waktu semakin sempit.
"Mengapa mereka mempercepat?" tanya Herman.
Angga menghela napas. "Karena mereka tahu kita sudah
bergerak. Mereka punya mata-mata di sini. Mungkin ada yang melaporkan pertemuan
di rumah Kirno kemarin malam."
Ruangan menjadi tegang. Mata-mata masih ada. Meskipun Haris
dan Angga sudah tertangkap, mungkin masih ada yang lain, orang yang belum
teridentifikasi.
"Kita tidak punya waktu untuk mencari mata-mata
sekarang," kata Kades Raditya. "Yang terpenting, kita harus bersiap.
Lima hari adalah waktu yang sangat singkat, tapi bukan tidak mungkin."
"Iya, Pak," kata Ilham. "Kita akan kerjakan
semuanya dalam lima hari."
Setelah pertemuan, Ilham dan Angga berjalan ke kantin kecil
di belakang kantor desa. Kantin itu sederhana, hanya tenda terpal dengan
beberapa kursi plastik dan meja kayu panjang. Bu Srintil, pemilik kantin, sudah
menyiapkan nasi rames untuk mereka berdua.
Mereka makan dalam diam. Suasana masih canggung, tetapi
tidak sedingin beberapa hari lalu.
"Ham," panggil Angga akhirnya.
"Iya?"
"Maafkan aku. Sekali lagi. Atas semuanya."
Ilham menatap Angga. Wajah sahabatnya itu terlihat lebih
tua dari biasanya. Ada kerutan di dahi yang tidak ada sebelumnya. Matanya sayu,
tetapi jujur.
"Aku sudah memaafkanmu, Ang. Tapi memaafkan tidak
berarti melupakan. Dan memaafkan tidak berarti semuanya akan kembali seperti
dulu."
"Aku tahu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku
menyesal. Sangat menyesal. Dan aku akan berusaha seumur hidupku untuk
memperbaiki kesalahan ini."
Ilham menghela napas. "Kita lihat saja nanti. Yang penting
sekarang, kita fokus pada tugas kita. Lima hari lagi mereka datang."
"Iya. Aku siap."
Empat hari berikutnya terasa seperti sebulan.
Ilham dan timnya bekerja tanpa kenal lelah. Siang dan
malam, mereka berkumpul di kantor desa atau di rumah Kirno, menyusun strategi,
menghubungi desa-desa, mempersiapkan dokumen, dan melatih warga untuk
menghadapi kemungkinan terburuk.
Kirno berhasil menggalang dukungan dari sepuluh desa di
kawasan selatan. Mereka semua berjanji akan mendukung Suralaya dalam menolak PT
NDM. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai mempersiapkan gugatan hukum
dengan bantuan Sari.
Kades Raditya bertemu dengan Bupati dan DPRD. Awalnya
Bupati bersikap netral, bahkan cenderung mendukung PT NDM karena perusahaan itu
dianggap membawa investasi ke daerah. Tapi setelah Kades Raditya menunjukkan
bukti-bukti pelanggaran, Bupati berjanji akan meninjau ulang izin PT NDM.
Sari berhasil menghubungi LBH nasional yang bersedia
membantu secara pro bono. Mereka mengirimkan tim advokat yang akan datang ke
Suralaya sehari sebelum kedatangan Rahman.
Nisa dan Rendi berhasil memperkuat sistem keamanan data
Suralaya. Mereka juga memasang perangkat lunak pendeteksi intrusi yang akan
memberi peringatan jika ada upaya peretasan dari luar.
Angga terus berkomunikasi dengan Andi, memberi mereka
informasi yang sudah disetujui, informasi umum yang tidak membahayakan
Suralaya, untuk menjaga kepercayaan mereka. Ia juga berhasil merekam beberapa
percakapan yang bisa dijadikan bukti.
Ilham sendiri yang menjadi koordinator semua gerakan ini.
Ia berkeliling desa, berbicara dengan warga, meyakinkan mereka untuk tidak
takut, dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi kedatangan Rahman.
"Warga Suralaya harus bersatu," katanya dalam
sebuah pertemuan warga di kantor desa. "Jangan biarkan mereka memecah
belah kita. Jangan biarkan mereka mengintimidasi kita. Kita punya hak untuk
menolak. Kita punya hak untuk menentukan masa depan kita sendiri."
Warga bertepuk tangan. Mereka percaya pada Ilham. Mereka
percaya pada Kades Raditya. Mereka percaya pada desa mereka.
Hari kelima tiba.
Tanggal 5, seperti yang diinformasikan Angga, Rahman datang
ke Suralaya.
Ia datang dengan rombongan besar: Andi dari PT NDM, dua
orang advokat, dan beberapa staf. Mereka mengendarai dua mobil mewah berwarna
hitam, dengan kaca film gelap yang tidak tembus pandang.
Mobil-mobil itu berhenti di halaman kantor desa. Warga yang
melihat dari kejauhan berkerumun, ingin tahu apa yang akan terjadi. Beberapa di
antaranya sudah bersiap dengan spanduk penolakan, meskipun Ilham meminta mereka
untuk tidak berbuat gaduh.
"Kita akan hadapi mereka dengan kepala dingin,"
kata Ilham. "Jangan beri mereka alasan untuk menuduh kita anarkis."
Rahman turun dari mobil. Ia mengenakan setelan jas lengkap,
sesuatu yang tidak biasa untuk seorang kepala desa. Wajahnya tersenyum ramah,
tetapi matanya tajam, seperti elang yang mengincar mangsa.
"Selamat pagi, Suralaya," sapanya dengan suara
lantang.
Kades Raditya menyambut di pintu masuk kantor.
"Selamat pagi, Pak Rahman. Silakan masuk."
Mereka masuk ke ruang pertemuan. Ruangan itu sudah
disiapkan dengan kursi-kursi yang tertata rapi, meja bundar di tengah, dan air
mineral di setiap tempat duduk.
Ilham duduk di samping Kades Raditya. Di sampingnya duduk
Sari, advokat dari LBH. Herman juga hadir, mewakili Awan Biru. Angga duduk di
barisan belakang, tidak terlihat tetapi siap siaga.
Rahman dan timnya duduk di seberang. Andi duduk di samping
Rahman, wajahnya datar tanpa ekspresi. Dua advokat duduk di sisi lain, dengan
setumpuk dokumen di depan mereka.
Rahman membuka pertemuan dengan sambutan ramah.
"Terima kasih atas sambutannya, Pak Kades. Kami datang
ke sini dengan niat baik. Kami ingin menawarkan kerja sama yang saling
menguntungkan antara PT NDM dan Desa Suralaya."
Kades Raditya tersenyum tipis. "Kami dengar tentang
kerja sama Bapak di Lembah Selatan. Menarik."
"Ah, Lembah Selatan adalah salah satu keberhasilan
kami. Desa itu sekarang maju pesat. Pendapatan desa naik tiga kali lipat. Angka
kemiskinan turun drastis. Anak-anak muda kembali ke desa."
"Tapi kami juga dengar ada warga yang tidak
bahagia," potong Ilham.
Rahman menatap Ilham. Senyumnya sedikit mengendur.
"Mas Ilham, setiap perubahan pasti ada yang tidak puas. Itu hal yang
wajar. Yang penting, mayoritas warga merasakan manfaatnya."
"Apakah Bapak punya data tentang kepuasan warga Lembah
Selatan?" tanya Sari.
Rahman mengerutkan dahi. "Maaf, Ibu siapa?"
"Sari Wulandari. Advokat dari LBH Kota. Saya mewakili
masyarakat Suralaya dan beberapa desa lain yang ingin menolak kerja sama dengan
PT NDM."
Ruangan menjadi hening. Wajah Rahman berubah. Senyumnya
hilang.
"Menolak? Sebelum mendengar penawaran kami?"
"Kami sudah mendengar cukup banyak tentang penawaran
Bapak," kata Kades Raditya. "Dan kami memutuskan untuk menolak."
Rahman terdiam. Ia menatap Kades Raditya, lalu Ilham, lalu
Sari, lalu kembali ke Kades Raditya.
"Boleh saya tahu alasannya?"
"Kontrak Bapak tidak adil," kata Ilham tegas.
"Hak kelola data desa selama dua puluh lima tahun? Itu bukan kerja sama,
itu pengambilalihan."
"Dan klausul sanksi bagi warga yang menjual hasil
panen di luar platform," tambah Sari. "Itu melanggar hak warga dan
undang-undang anti monopoli."
Andi yang dari tadi diam akhirnya bersuara. "Kontrak
itu sudah disetujui oleh notaris dan pemerintah kabupaten. Semua legal."
"Legal belum tentu adil," kata Kades Raditya.
"Dan kami punya tim advokat yang siap menggugat kontrak itu ke
pengadilan."
Rahman berdiri. Wajahnya memerah.
"Bapak Kades, saya hormati Bapak. Tapi keputusan ini
akan merugikan Suralaya. Desa Bapak akan tertinggal. Desa-desa lain akan
melesat maju, sementara Suralaya tetap jalan di tempat."
"Lebih baik jalan di tempat dengan martabat, daripada
maju dengan cara menjual diri," kata Kades Raditya tenang.
Ruangan hening lagi.
Rahman menghela napas. Ia berbalik pada timnya dan berbisik
sesuatu. Kemudian ia kembali menatap Kades Raditya.
"Baiklah, saya hormati keputusan Bapak. Tapi jangan
harap kami akan berhenti. Kami akan terus mendekati desa-desa lain. Dan suatu
hari, Suralaya akan terisolasi."
"Itu risiko yang siap kami ambil," kata Ilham.
Rahman menatap Ilham dengan sorot tajam. "Kau masih
muda, Ilham. Kau belum melihat bagaimana dunia bekerja. Suatu hari, kau akan
menyesali keputusanmu."
"Lebih baik menyesal karena mempertahankan prinsip,
daripada menyesal karena menjualnya."
Rahman tidak menjawab. Ia memberi isyarat pada timnya untuk
bersiap pergi.
Mereka berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat. Wajah
mereka kesal, kecewa, marah. Di halaman kantor, warga yang sudah berkumpul
meneriakkan yel-yel penolakan. Tidak ada kekerasan, hanya suara-suara lantang
yang menyuarakan pendapat mereka.
"Suralaya merdeka! Tolak PT NDM! Tolak penjajahan
digital!"
Rahman dan timnya masuk ke mobil dan pergi dengan cepat,
meninggalkan debu di belakang mereka.
Di dalam ruang pertemuan, Ilham duduk di kursinya, dadanya
naik turun. Ia tidak menyangka bahwa perlawanan akan berjalan semulus ini. Ia
mengira Rahman akan berdebat lebih keras, atau mungkin mengancam. Tapi ternyata
mereka pergi begitu saja.
"Apakah ini sudah berakhir?" tanya Nisa.
Sari menggeleng. "Belum. Mereka pasti akan kembali
dengan strategi lain. Tapi untuk hari ini, kita menang."
Kades Raditya berdiri dan berjalan ke jendela. Ia memandang
warga yang masih berkumpul di halaman, meneriakkan yel-yel kemenangan.
"Ini baru awal," katanya. "Perjuangan masih
panjang. Tapi setidaknya, kita sudah memilih jalan. Jalan yang menurut kita
benar."
Ilham berdiri dan berjalan ke samping Kades Raditya. Mereka
berdua memandang warga Suralaya yang bersorak-sorak.
"Apakah Bapak yakin dengan keputusan ini, Pak?"
tanya Ilham.
Kades Raditya menoleh. Matanya tenang, tetapi dalam.
"Tidak ada yang benar-benar yakin dalam hidup, Nak.
Tapi kita harus memilih. Dan aku memilih untuk percaya pada warganya, bukan
pada investor asing."
Ilham mengangguk. "Saya juga."
Mereka berdua berdiri di sana, di balik jendela kaca yang
tembus pandang, menyaksikan masyarakat yang mereka cintai merayakan kemenangan
kecil. Di luar, matahari bersinar cerah, awan putih bergerak lambat, dan angin
membawa aroma tanah basah dari sawah yang menguning.
Suralaya masih berdiri. Mungkin tidak semaju desa-desa
lain. Mungkin akan tertinggal untuk sementara waktu. Tapi Suralaya masih
memiliki jiwa. Dan jiwa itu tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa diambil
alih dengan kontrak, tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun.
Tiga bulan kemudian.
Musim panen tiba di Suralaya. Sawah-sawah yang menguning
bergelombang ditiup angin, menciptakan pemandangan yang indah dan menenangkan.
Para petani mulai memanen padi dengan sukacita, diiringi suara ketam dan tawa
riang.
Di kantor desa, suasana kembali normal. Warga berdatangan
mengurus administrasi. Nisa dan Rendi sibuk dengan layar komputer mereka. Aulia
mengatur jadwal wisata yang mulai ramai dikunjungi.
Angga sudah kembali bekerja, meskipun tidak lagi dipercaya
untuk menangani data-data sensitif. Ia lebih banyak membantu di bagian
administrasi umum, mengantar surat, menyortir berkas, dan hal-hal kecil
lainnya. Ia tidak mengeluh. Ia menerima konsekuensi dari kesalahannya dengan
lapang dada.
Haris memilih mengundurkan diri dari perangkat desa. Ia
pindah ke kota dan membuka usaha kecil-kecilan. Sesekali ia masih mengirim
kabar pada Ilham, meminta maaf dan berterima kasih karena tidak dilaporkan ke
polisi. Ilham selalu membalas pesannya dengan singkat: "Jaga diri."
Hubungan Ilham dan Angga masih belum sepenuhnya pulih.
Mereka masih berteman, masih bekerja sama, masih duduk bersama di warung kopi.
Tapi ada jarak yang tidak bisa dijelaskan, seperti celah kecil di antara dua
kepingan puzzle yang dulu sangat rapat.
Mungkin butuh waktu. Mungkin butuh pengorbanan. Mungkin
butuh air mata. Tapi Ilham yakin, persahabatan sejati tidak mati hanya karena
satu kesalahan.
Sore itu, Ilham berdiri di Bukit Sunyi, tempat yang dulu
sering ia datangi ketika dunia terasa terlalu bising. Tempat yang menjadi saksi
bisu perjalanannya ke Awan Biru, pengkhianatan Angga, dan kemenangan kecil
Suralaya.
Angin sore berembus lembut, membawa aroma rumput kering dan
tanah basah. Di bawah, hamparan sawah menguning membentang luas, dengan
rumah-rumah kayu yang berasap tipis dari dapur warga yang memasak untuk makan
malam.
Ia mendengar langkah kaki mendekat dari belakang. Tanpa
menoleh, ia sudah tahu siapa itu.
"Masih suka menyendiri rupanya," kata Angga
sambil berdiri di samping Ilham.
"Kadang tempat sunyi justru lebih jujur."
Angga tertawa kecil. "Kau mulai terdengar seperti
orang tua."
Ilham tersenyum. Mereka berdiri tanpa bicara beberapa saat,
menikmati angin sore yang membawa kesejukan.
"Ang," panggil Ilham.
"Iya?"
"Terima kasih. Atas bantuanmu selama ini. Tanpamu,
mungkin kita tidak akan bisa mengalahkan mereka."
Angga menghela napas. "Aku hanya memperbaiki
kesalahanku sendiri."
"Tapi tidak semua orang punya keberanian untuk
memperbaiki kesalahan. Banyak yang memilih lari."
"Kau juga punya keberanian, Ham. Kau berani memilih
jalan yang sulit. Jalan yang mungkin tidak populer, tapi benar."
Ilham menatap langit yang mulai berwarna jingga. Dua burung
terbang beriringan di kejauhan, melintasi bukit dan lembah, bebas tanpa beban.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya
Angga.
Ilham tersenyum. "Kita lanjutkan perjalanan. Masih
banyak desa yang perlu kita bantu. Masih banyak ketidakadilan yang perlu kita
lawan. Dan kita tidak akan berhenti sampai desa-desa kita benar-benar
merdeka."
Angga mengangguk. "Aku ikut. Ke mana pun."
Mereka berdua berdiri di atas bukit itu, dua sahabat yang
retak tetapi masih berusaha berdiri bersama. Di bawah, Suralaya terbentang
damai, desa yang mereka cintai, desa yang mereka perjuangkan, desa yang tidak
akan pernah mereka biarkan jatuh ke tangan siapa pun.
Matahari perlahan tenggelam di balik bukit. Langit berubah
menjadi gradasi jingga, ungu, dan biru. Dua warna yang berbeda, tetapi bersatu
dalam harmoni yang sempurna.
Seperti dua langit yang dulu terasa bertentangan, kini
tampak sama.
Seperti dua sahabat yang dulu terpisah oleh pengkhianatan,
kini berjalan kembali berdampingan.
Seperti Suralaya yang dulu tertinggal, kini melangkah maju
dengan kepalanya tegak.
Perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, mereka sudah
memilih jalan.
Jalan yang menurut mereka benar.
EPILOG — Langit yang
Sama
Tiga bulan telah berlalu sejak pertemuan bersejarah itu.
Musim berganti perlahan di Desa Suralaya. Pagi-pagi yang
dulu hanya dipenuhi kabut kini kembali ramai oleh suara warga yang datang ke
kantor desa, anak-anak yang berangkat sekolah, dan langkah para petani yang
menyusuri pematang sawah dengan semangat yang tak pernah benar-benar hilang.
Di halaman kantor desa, layar informasi digital tetap
menyala. Data pelayanan berjalan seperti biasa. Anak-anak muda masih sibuk
mengelola media desa. Dan kehidupan terus bergerak.
Namun bagi Muhammad Ilham, tidak ada satu pun yang
benar-benar sama.
Karena setelah Lembah Selatan, ia belajar satu hal yang tak
pernah diajarkan oleh perjalanan mana pun sebelumnya: bahwa membangun desa
ternyata jauh lebih mudah daripada menjaga hati orang-orang di dalamnya. Bahwa
kemajuan tanpa keadilan hanyalah bentuk lain dari penindasan. Dan bahwa
persahabatan sejati tidak diukur dari berapa lama ia bertahan, tetapi dari
seberapa kuat ia bangkit kembali setelah retak.
Setelah Rahman dan timnya pergi dari Suralaya, kabar
tentang penolakan desa itu menyebar cepat ke desa-desa lain.
Desa Cikalong, yang tadinya hampir menandatangani kontrak
dengan PT NDM, memutuskan untuk membatalkan setelah mendengar penjelasan dari
Kirno dan timnya. Desa Karangmulya menyusul. Desa Cipatat juga. Satu per satu,
desa-desa di kawasan selatan mulai membuka mata.
PT NDM tidak tinggal diam. Mereka mencoba pendekatan lain, menawarkan
bantuan lebih besar, mengirim tim negosiasi baru, bahkan mencoba menyuap
beberapa oknum perangkat desa. Tapi kali ini, desa-desa sudah bersatu. Mereka
saling mengingatkan, saling melindungi, saling menguatkan.
LBH Nasional yang dipimpin oleh Sari berhasil menggugat
kontrak PT NDM dengan Lembah Selatan ke pengadilan. Prosesnya panjang dan
melelahkan, tetapi pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa kontrak itu batal
demi hukum karena mengandung klausul yang melanggar undang-undang.
Rahman mengundurkan diri sebagai kepala desa Lembah
Selatan. Ia digantikan oleh seorang perempuan bernama Ibu Yanti, mantan
bendahara desa yang selama ini diam-diam mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran
Rahman. Di bawah kepemimpinan Ibu Yanti, Lembah Selatan mulai membenahi sistem
digitalnya. PT NDM diusir dari desa. Warga kembali diberikan kebebasan untuk
memilih saluran distribusi hasil panen mereka.
Proses pemulihan Lembah Selatan tidak mudah. Banyak warga
yang masih trauma. Banyak petani yang kehilangan mata pencaharian karena selama
dua tahun bergantung pada sistem yang sekarang sudah tidak berjalan. Tapi
mereka tidak sendirian. Suralaya dan desa-desa lain mengirim bantuan, bibit,
pupuk, pelatihan, dan dukungan moral.
"Kita semua satu keluarga," kata Ilham dalam
sebuah pertemuan antar desa di Lembah Selatan. "Apa yang terjadi pada
kalian, terjadi pada kami. Dan kita akan bangkit bersama."
Warga Lembah Selatan menangis mendengar kata-kata itu.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, mereka merasa tidak sendirian.
Sementara itu, di Suralaya, kehidupan terus berjalan.
Nisa dan Rendi berhasil mengembangkan aplikasi baru yang
memungkinkan petani menjual hasil panen langsung ke konsumen tanpa perantara.
Aplikasi itu sederhana, tidak secanggih buatan PT NDM, tetapi sepenuhnya
dimiliki dan dikelola oleh desa. Petani bebas menentukan harga, bebas memilih
pembeli, dan tidak ada potongan biaya yang memberatkan.
Aulia mengembangkan wisata desa dengan konsep "digital
minimalis", menggunakan teknologi secukupnya, tanpa mengorbankan interaksi
manusia dan kearifan lokal. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati
keindahan alam, tetapi juga belajar tentang budaya desa, bertani, dan membuat
kerajinan tangan.
Kades Raditya pensiun setelah dua periode memimpin. Ia
digantikan oleh seorang pemuda pilihan warga, bukan Ilham, karena Ilham menolak
dicalonkan. "Saya lebih suka bekerja di belakang layar," katanya.
"Biarkan yang muda-muda yang memimpin."
Pemuda yang terpilih bernama Dimas, bukan Dimas dari Lembah
Selatan, tetapi Dimas asli Suralaya, seorang sarjana pertanian yang kembali ke
desa setelah lulus dari universitas negeri. Ia adalah tipe pemimpin yang
energik, inovatif, tetapi tetap menghormati tradisi.
Ilham menjadi penasihat desa untuk urusan digitalisasi dan
pengembangan. Ia tidak lagi sibuk dengan rapat-rapat melelahkan, tetapi lebih
banyak berkeliling desa, berbicara dengan warga, mendengarkan keluhan mereka,
dan mencari solusi bersama.
Suatu sore, Ilham duduk di teras rumahnya, ditemani
secangkir kopi hitam buatan ibunya. Langit mulai berwarna jingga, pertanda
matahari akan segera tenggelam.
Angga datang dengan dua gelas es teh manis, kebiasaan lama
mereka yang tidak pernah berubah.
"Kopi lagi? Nanti sakit perut," kata Angga sambil
meletakkan es teh di meja.
"Kopi hitam tidak bikin sakit perut. Itu mitos."
"Mitos atau bukan, kamu tetap harus mengurangi."
Ilham tersenyum. Ia mengambil es teh itu dan menyesapnya.
Manis, segar, seperti masa kecil mereka dulu.
"Kangen juga minum es teh buatan Bu Srintil,"
katanya.
"Ya iyalah. Kamu sudah tiga bulan tidak mampir ke
warungnya. Bu Srintil sampai bertanya-tanya."
"Bilang saja saya sibuk."
"Bilang sendiri. Saya bukan kurir."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang sudah lama tidak
terdengar di antara mereka.
"Apa kau bahagia, Ham?" tiba-tiba Angga bertanya.
Ilham menatap sahabatnya. "Apa maksudmu?"
"Kau sudah melalui banyak hal. Pengkhianatan,
pertarungan, kemenangan. Apa kau bahagia dengan semua itu?"
Ilham terdiam sejenak. Ia memandang langit yang mulai
gelap, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu.
"Bahagia itu relatif, Ang. Tapi aku merasa... damai.
Aku merasa bahwa apa yang kita lakukan adalah benar. Bahwa perjuangan kita
tidak sia-sia. Bahwa desa ini, dan desa-desa lain, sekarang lebih aman."
Angga mengangguk. "Aku juga merasa damai. Meskipun aku
masih membayar kesalahan masa lalu, tapi setidaknya aku sudah di jalan yang
benar."
"Kau sudah di jalan yang benar, Ang. Jangan
ragu."
"Terima kasih, Ham. Karena masih mau menerimaku
sebagai teman."
Ilham menepuk pundak Angga. "Kita saudara, Ang. Bukan
hanya teman. Saudara tidak selalu setuju, tidak selalu sejalan, tapi tetap
saudara."
Angga tersenyum. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menahan
air mata.
Mereka berdua duduk di teras itu, menikmati malam yang
tenang. Di kejauhan, suara anak-anak bermain masih terdengar riang. Lampu-lampu
desa mulai menyala satu per satu, menciptakan pemandangan yang indah dan damai.
Satu minggu kemudian, Ilham menerima surat dari Herman.
Surat itu tidak panjang, hanya beberapa kalimat yang
ditulis dengan tulisan tangan Herman yang rapi.
Ilham,
Aku menulis surat ini bukan untuk mengabarkan kabar buruk
atau kabar baik. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Atas perjuanganmu,
atas keberanianmu, atas keteguhanmu.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Mungkin PT NDM akan bangkit lagi dengan nama lain. Mungkin ada perusahaan lain
yang mencoba hal serupa. Tapi selama ada orang-orang seperti kita, selama ada
desa-desa yang bersatu, selama ada kepercayaan yang dijaga, kita tidak akan
pernah kalah.
Terima kasih telah menjadi sahabat.
***Herman***
Ilham membaca surat itu berulang kali. Ia tersenyum, lalu
melipatnya rapi dan menyimpannya di dalam buku catatan kesayangannya, buku yang
berisi seluruh perjalanan Suralaya dari awal hingga sekarang.
Buku itu tebal, penuh dengan catatan, coretan, dan
gambar-gambar kasar. Setiap halaman menyimpan kenangan: tentang perjalanan ke
Awan Biru, tentang pertemuan-pertemuan di balai desa, tentang suka dan duka,
tentang tawa dan air mata, tentang pengkhianatan dan pengampunan, tentang kemenangan
dan kekalahan.
Ilham menutup buku itu dan meletakkannya di rak.
Perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, ia sudah memilih
jalan.
Jalan yang menurutnya benar.
Matahari perlahan tenggelam di balik bukit. Cahayanya
membelah langit menjadi dua warna: jingga dan biru. Seperti dua dunia yang dulu
terasa berbeda.
Namun kini, Ilham memandang keduanya dengan cara yang baru.
Ia akhirnya mengerti: tidak semua perjalanan membawa
seseorang menemukan tempat baru. Sebagian perjalanan justru membawa seseorang kembali
pada hal paling sederhana, tentang siapa yang layak dipercaya, tentang apa yang
pantas dijaga, dan tentang jalan mana yang masih bisa membuat seseorang pulang
tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Ilham menatap langit itu lama.
Langit yang dulu terasa terpisah. Kini tampak sama.
Dan di dalam hatinya, ia tahu satu hal: jejak petualangan
ini mungkin telah sampai di satu akhir. Tetapi selama masih ada langkah, selama
masih ada harapan, dan selama masih ada desa yang ingin dijaga, cerita itu
tidak akan pernah benar-benar selesai.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar