PROLOG
Desa, Gunung, dan Sebuah Panggilan yang Tak Terlihat
Bagian 1: Kabut yang Tak
Pernah Pergi
Kabut pagi selalu datang lebih awal di Desa Awan Biru.
Ia turun perlahan dari perbukitan, menyelimuti atap-atap
rumah warga yang masih basah oleh embun. Jalanan tanah tampak sunyi, hanya
sesekali terdengar suara ayam berkokok atau langkah kaki warga yang memulai
aktivitasnya. Udara dingin menggigit pelan, namun membawa ketenangan yang sulit
ditemukan di tempat lain.
Di desa itulah… segala cerita bermula.
Desa Awan Biru bukan desa yang besar. Penduduknya hanya
sekitar dua ribu jiwa, tersebar di lereng-lereng bukit yang hijau. Sebagian
besar adalah petani, menanam padi, jagung, dan sayuran. Sebagian kecil
berdagang di pasar yang hanya buka pada hari-hari tertentu. Namun ia menyimpan
kehidupan yang hangat, penuh kebersamaan, dan nilai-nilai yang dijaga
turun-temurun.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Iwan Setiawan, yang baru
saja memulai periode keduanya dengan kemenangan telak, desa itu perlahan
berubah, lebih tertata, lebih hidup, dan penuh semangat baru. Jalan-jalan desa
yang dulu berlubang kini sudah diaspal. Listrik sudah masuk ke setiap rumah.
Bahkan sinyal internet, meskipun masih tersendat-sendat, sudah bisa dinikmati
oleh warga.
Namun di balik perubahan itu… ada satu hal yang tetap sama.
Gunung di kejauhan.
Gunung sumbing dan Merbabu.
Ia berdiri kokoh, seolah menjadi penjaga sekaligus saksi
dari setiap kehidupan yang tumbuh di bawahnya. Bagi sebagian orang, gunung itu
hanyalah bentang alam, latar belakang foto pernikahan atau pemandangan yang
indah untuk dilihat sepintas lalu. Namun bagi yang lain… gunung adalah
panggilan.
Dan panggilan itu… tidak selalu bisa dijelaskan dengan
kata-kata.
Ia bisa dirasakan. Sebagai getaran di dada saat matahari
terbit dari balik puncaknya. Sebagai bisikan yang terdengar saat angin
berhembus dari arah sana. Sebagai kegelisahan yang muncul setiap kali kabut
menyelimuti lereng-lerengnya.
Beberapa orang di Desa Awan Biru merasakan panggilan itu
sejak kecil. Mereka adalah anak-anak yang lebih suka bermain di kebun daripada
di rumah, yang lebih suka memanjat pohon daripada bermain layangan, yang
matanya selalu tertuju ke gunung saat orang lain sibuk dengan urusan duniawi.
Joko Supraktikno adalah salah satu dari mereka.
Bagian 2: Rumah Kedua
bagi Para Pemimpi
Di sebuah sudut desa, tidak jauh dari persimpangan jalan
menuju sawah, terdapat bangunan sederhana yang sering dipenuhi suara tawa dan
diskusi panjang. Dindingnya terbuat dari papan kayu jati yang sudah mulai lapuk
di beberapa tempat, namun masih kokoh berdiri setelah puluhan tahun. Atapnya
dari seng, yang jika hujan akan berbunyi keras, sering menjadi bahan keluhan
saat rapat malam, tetapi juga menjadi alasan mereka untuk duduk lebih dekat
satu sama lain.
Di depan pintu, sebuah papan kayu bertuliskan
"Sekretariat Kelompok Pecinta Alam Awan Biru" tergantung sedikit
miring, seolah ikut merasakan setiap cerita yang lahir di dalamnya. Papan itu
sudah dicat ulang berkali-kali, namun tulisan di atasnya tetap sama, mengingatkan
siapa pun yang masuk bahwa di sini, alam adalah segalanya.
Di sanalah, para pemuda desa berkumpul.
Mereka bukan sekadar anak muda biasa. Mereka adalah mereka
yang memilih untuk berjalan lebih jauh, melihat lebih luas, dan merasakan lebih
dalam. Mereka menamakan diri mereka KPAAB.
Kelompok Pecinta Alam Awan Biru.
Didirikan pada tahun 2018 oleh sekelompok pemuda yang
merasa bahwa desa mereka butuh wadah untuk menyalurkan kecintaan terhadap alam.
Awalnya hanya beranggotakan lima orang. Kini, setelah hampir satu dekade,
anggotanya mencapai lebih dari tiga puluh orang dari berbagai usia, berbagai
latar belakang, namun dengan satu kesamaan: mereka tidak bisa diam saat gunung
memanggil.
Bagi mereka, hutan bukan sekadar pepohonan. Gunung bukan
sekadar ketinggian. Dan perjalanan… bukan sekadar langkah.
Hutan adalah ruang kelas tempat mereka belajar tentang
kehidupan, tentang bagaimana akar pohon saling terhubung di bawah tanah,
bagaimana air mengalir dari puncak ke lembah, bagaimana keseimbangan alam
terjaga jika manusia tidak merusaknya.
Gunung adalah guru yang paling tegas namun paling adil. Ia
tidak pernah membeda-bedakan. Baik kaya maupun miskin, kuat maupun lemah,
percaya pada hal-hal gaib maupun hanya mengandalkan logika, semua akan
mendapatkan perlakuan yang sama. Yang naik akan lelah. Yang ceroboh akan jatuh.
Yang tidak siap akan tersesat.
Dan perjalanan adalah ujian. Ujian terhadap fisik, terhadap
mental, terhadap persahabatan, dan terhadap keyakinan.
Tapi apakah semua orang di desa memahami itu?
Tentu tidak.
"Daripada naik gunung, mending bantu orang tua di
sawah!" begitu kata Pak Kasno, tetangga Joko yang terkenal cerewet, setiap
kali melihat anak-anak KPAAB berkumpul dengan ransel di punggung.
"Naik gunung cuma buang-buang waktu dan uang!"
sahut Bu Darmi, penjual sayur di pasar, yang anaknya lebih suka main game
online daripada keluar rumah.
"Biarkan saja, yang penting mereka tidak
merusak," jawab Pak Kades Iwan dengan bijaksana, meskipun di matanya ada
sedikit kekhawatiran.
Dan di antara berbagai macam pandangan itu, KPAAB tetap
berjalan. Bukan karena mereka tidak peduli dengan omongan orang, tetapi karena
mereka tahu, bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang mereka cari. Sesuatu yang
tidak bisa ditemukan di sawah atau di pasar. Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan
uang atau diukur dengan kepintaran. Sesuatu yang hanya bisa ditemukan di
ketinggian, di antara kabut dan pepohonan, di antara langkah dan napas yang
tersengal.
Sesuatu yang disebut makna.
Bagian 3: Sebuah Ide
yang Lahir dari Rasa Penasaran
Namun tidak semua perjalanan dimulai dengan keyakinan yang
bulat.
Ada kalanya… perjalanan dimulai dari rasa penasaran yang
menggelitik. Dari sebuah ide sederhana yang muncul di tengah obrolan santai.
Dari sebuah kalimat yang terucap tanpa diduga, mungkin karena terlalu banyak
minum kopi, mungkin karena terlalu lama terdiam, atau mungkin karena takdir
sedang bermain.
"Bagaimana kalau kita mencoba jalur yang belum pernah
dilalui?"
Kalimat itu terdengar ringan. Hampir seperti candaan di
sela-sela obrolan santai setelah rapat rutin. Namun bagi mereka… kalimat itu
adalah awal dari segalanya. Awal dari mimpi yang menjadi rencana. Awal dari
rencana yang menjadi perjalanan. Awal dari perjalanan yang mengubah hidup.
Malam itu, di sekretariat yang hanya diterangi lampu minyak
tanah, karena listrik sedang padam, seperti biasa, Joko Supraktikno, ketua
KPAAB yang dikenal keras kepala namun penuh dedikasi, menggambar sebuah sketsa
kasar di papan tulis putih yang sudah penuh coretan.
"Ini Gunung Merbabu," katanya, suaranya bergema
di ruangan yang sunyi, hanya ditemani suara jangkrik dari luar dan detak jarum
jam dinding yang lambat. "Kita semua tahu jalur Selo, jalur Wekas, jalur
Suwanting. Semua jalur resmi yang sudah dilalui ribuan pendaki setiap tahunnya.
Tapi lihat di sini..."
Ia menggambar sebuah titik di sisi barat laut gunung, dekat
dengan perbatasan antara Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali. Sebuah
titik yang tidak pernah ia lihat di peta mana pun.
"Desa Suralaya. Jalur dari sana hampir tidak pernah
tercatat."
"Kenapa tidak tercatat?" tanya Hermansyah, wakil
ketua yang selalu menjadi penyeimbang antara idealisme dan realisme. Tubuhnya
tegap, wajahnya serius, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu
melalui pertimbangan panjang. Ia adalah kebalikan dari Joko dalam banyak hal.
Namun justru itulah mengapa mereka bisa bekerja sama dengan baik.
Joko menghela napas. "Karena tidak banyak yang berani
mencobanya. Informasi tentang jalur itu hanya beredar secara lisan, dari mulut
ke mulut, dari generasi ke generasi. Tidak ada peta resmi, tidak ada blog
pendakian, tidak ada video YouTube."
"Atau mungkin karena tidak ada yang selamat?"
celetuk Guntur sambil merebahkan badannya di kursi kayu yang sudah reyot,
kakinya disilangkan di atas meja. Guntur, dengan rambut acak-acakan, kaos
oblong lusuh, dan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya, adalah
penghibur resmi KPAAB. Ia bisa membuat orang tertawa di saat paling genting,
dan bisa membuat orang lupa bahwa mereka sedang dalam bahaya.
"Jangan bawa-bawa hal buruk, Tur," tegur Yulia
sambil melempar penghapus ke arah Guntur. Yulia adalah perempuan dengan suara
lantang dan pendirian keras. Ia tidak takut pada siapa pun, termasuk pada
Guntur yang sering dianggap terlalu santai. "Kita belum mulai sudah
diomongin mati."
"Ah, saya hanya realistis!" balas Guntur sambil
tersenyum, menghindari lemparan dengan refleks yang cepat, terbukti sering kena
lempar. "Realistis itu penting, Yul. Supaya tidak kaget kalau terjadi
apa-apa."
"Realistis lo mah pesimis," sahut Yulia.
"Pesimis itu realistis yang tidak punya harapan. Gue
punya harapan, kok. Cuma... harapannya realistis."
Mereka bersitegang sejenak, tetapi nada suara mereka tetap
santai. Inilah dinamika KPAAB, perdebatan panas yang tidak pernah berubah
menjadi pertengkaran serius. Setidaknya, belum pernah.
Camelia, yang sejak tadi duduk di pojok ruangan sambil
memegang buku catatan kecil berwarna biru, akhirnya bersuara. Suaranya pelan,
hampir seperti bisikan, namun entah mengapa selalu terdengar jelas di tengah
keributan.
"Aku pernah dengar cerita tentang jalur itu dari
nenekku."
Semua mata tertuju padanya.
Camelia adalah anggota paling misterius di KPAAB. Tidak
banyak yang tahu tentang masa lalunya. Ia tinggal sendirian di rumah
peninggalan orang tuanya, jarang bergaul dengan tetangga, dan lebih sering
terlihat berjalan sendirian di sawah atau di kebun. Namun tidak ada yang
meragukan kepekaannya. Banyak yang percaya bahwa Camelia memiliki indra keenam,
mampu merasakan hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Dan
mimpi-mimpinya... mimpi-mimpinya sering menjadi kenyataan.
"Nenek bilang," lanjut Camelia, "jalur itu
dijaga oleh sesuatu yang tidak terlihat. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk
menguji."
"Menguji apa?" tanya Nadia. Nadia adalah
satu-satunya anggota yang paling rasional di antara mereka. Dengan kacamata
tebal di hidungnya dan segudang buku tentang navigasi, survival, dan geologi di
kamarnya, ia adalah sumber pengetahuan teknis KPAAB. Baginya, gunung bisa
dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Tidak ada ruang untuk takhayul.
Camelia mengangkat bahu. "Menguji apakah kita
benar-benar siap."
"Untuk apa?" tanya Nadia lagi.
"Untuk menghadapi apa pun yang ada di sana."
Suasana hening sejenak. Lampu minyak tanah berkedip-kedip,
diterpa angin malam yang masuk melalui celah-celah dinding kayu. Bayangan
mereka bergoyang-goyang di dinding, seperti penari yang mengikuti irama yang
tidak terdengar.
"Jadi kita akan membiarkan cerita-cerita itu
menghentikan kita?" Joko menatap satu per satu anggota yang hadir. Matanya
berbinar, penuh dengan keyakinan yang tidak bisa dijelaskan. "Atau kita
akan membuktikan bahwa kita bisa?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, menunggu jawaban yang
tidak kunjung datang.
Bagian 4: Pertentangan
yang Tak Terhindarkan
"Joko, aku tidak meragukan kemampuan kita," kata
Hermansyah akhirnya, memecah keheningan. Suaranya tegas, namun tidak bernada
menyalahkan. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati papan tulis.
"Tapi jalur alternatif tanpa data resmi, tanpa informasi yang memadai,
tanpa peta yang akurat... itu namanya nekat."
"Bukan nekat, Man," jawab Joko dengan cepat,
hampir seperti sudah mempersiapkan jawaban ini sejak lama. "Itu namanya
eksplorasi. Dan eksplorasi adalah jiwa dari pecinta alam. Tanpa eksplorasi,
kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di luar sana."
"Eksplorasi butuh persiapan!" Hermansyah
membantah, suaranya sedikit meninggi. "Bukan sekadar semangat dan
keberanian!"
"Dan kita akan mempersiapkan semuanya dengan
matang!" balas Joko dengan nada yang sama.
"Seberapa matang? Lo punya peta detail? Lo tahu
kondisi medan? Lo tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan? Lo tahu titik-titik
air? Lo tahu potensi bahaya?"
"Kita akan cari tahu semua itu sebelum
berangkat!"
"Dari mana? Dari cerita-cerita nenek? Dari mimpi-mimpi
Mu?"
Suara mereka mulai meninggi. Anggota lain hanya bisa
terdiam, terbiasa dengan pertentangan antara dua sahabat yang selalu berbeda
pandangan ini. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan yang
tidak biasa. Mungkin karena topiknya terlalu serius. Mungkin karena taruhannya
terlalu tinggi. Atau mungkin karena mereka berdua sama-sama takut, hanya
mengekspresikannya dengan cara yang berbeda.
"Sudah, sudah!" potong Guntur sambil mengangkat
kedua tangan seperti wasit tinju. "Kalau kalian mau berantem, sekalian aja
pakai sarung tinju. Biar seru. Gue jadi wasitnya."
"Guntur, ini serius!" bentak Hermansyah, menoleh
dengan wajah merah padam.
"Iya, serius," sahut Guntur santai, tidak
terpengaruh oleh amarah Hermansyah. "Tapi lihat wajah kalian. Kaya lagi
rebutan jodoh. Padahal sama-sama belum punya pacar."
Yulia tertawa kecil, diikuti oleh beberapa anggota lain.
Suasana sedikit mencair. Jojon, anak baru yang paling muda dan paling polos di
antara mereka, bahkan sampai terbahak-bahak.
"Guntur, lo tuh kadang keterlaluan," kata Yulia
sambil menggeleng.
"Keterlaluan menghibur, maksudnya?" balas Guntur.
"Keterlaluan nggak tahu waktu."
"Waktu itu relatif, Yul. Menurut Einstein, waktu
itu..."
"Udahlah, lo jangan bawa-bawa Einstein. Einstein aja
mungkin malu sama lo."
Tawa kembali pecah. Hermansyah menghela napas panjang dan
kembali duduk. Joko juga menurunkan ketegangannya.
"Baiklah," kata Joko, menarik napas dalam-dalam.
"Dengar, Man. Aku tahu kamu khawatir. Aku juga khawatir. Tapi justru
karena jalur ini jarang dilalui... kita bisa belajar banyak."
"Belajar apa?" tanya Hermansyah, masih dengan
nada skeptis, tetapi tidak lagi setegar sebelumnya.
"Belajar tentang batas, batas kita sebagai pendaki,
sebagai tim, sebagai manusia. Belajar tentang ketidakpastian dan bagaimana
menghadapinya. Belajar tentang hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh buku
atau peta."
Hermansyah terdiam. Ia menatap Joko lama, mencari
kebohongan atau keraguan di matanya. Namun yang ia temukan hanyalah keyakinan, keyakinan
yang mungkin berbahaya, tetapi juga mengagumkan.
"Kita bicarakan lagi besok," kata Hermansyah
akhirnya, mengalah. "Dengan data yang lebih lengkap. Aku mau lihat bukti
bahwa ini bukan sekadar mimpi basi."
"Setuju," kata Joko, tersenyum lega.
Pertemuan malam itu berakhir tanpa keputusan bulat. Namun
semua orang tahu, sesuatu telah dimulai. Sesuatu yang tidak bisa dihentikan
lagi. Sesuatu yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
Bagian 5: Gunung dan
Rahasianya
Gunung Merbabu memiliki banyak jalur.
Jalur Selo dari sisi selatan adalah yang paling populer.
Setiap akhir pekan, ratusan pendaki memadati pos pendakian, membawa tenda
warna-warni dan semangat yang membara. Jalur Wekas dari sisi timur tidak kalah
ramai, dengan pemandangan matahari terbit yang konon paling indah di Pulau
Jawa. Jalur Suwanting dari sisi utara lebih sepi, biasanya dipilih oleh pendaki
yang ingin menghindari keramaian.
Namun di antara semua itu… terselip satu jalur yang hampir
tidak pernah disebut.
Jalur dari Desa Suralaya.
Jalur yang tidak tercatat secara resmi dalam peta-peta
pendakian yang dijual di toko buku. Jalur yang tidak memiliki pos pendakian,
tidak memiliki jalur yang jelas, dan tidak memiliki informasi tentang medan
atau titik-titik air. Jalur yang hanya dikenal oleh segelintir orang, para
pemburu yang berani masuk ke hutan, pengambil getah pinus yang mengetahui
setiap lekuk lereng, dan sesepuh desa yang mewarisi cerita turun-temurun dari
mulut ke mulut.
Dan jalur… yang menyimpan cerita.
Di kalangan warga sekitar, jalur itu bukan sekadar jalur
alternatif. Ia disebut sebagai "jalur ujian", istilah yang membuat
bulu kuduk merinding bagi siapa pun yang mendengarnya.
Bukan karena medannya yang sulit, meskipun memang sulit,
dengan tanjakan terjal dan bebatuan licin. Bukan pula karena jaraknya yang
panjang, meskipun memang panjang, membutuhkan waktu lebih lama dua kali lipat
dari jalur biasa. Melainkan karena… sesuatu yang tidak terlihat.
Konon, ada bagian dari jalur itu di mana arah menjadi tidak
pasti. Langkah terasa berputar. Pikiran mulai kehilangan pegangan. Kompas tidak
berfungsi. Peta menjadi tidak berguna. Dan satu-satunya yang bisa diandalkan
hanyalah... hati.
Ada pula yang bercerita tentang suara yang memanggil, suara
yang terdengar seperti orang yang dikenal, meminta tolong atau mengajak pergi
ke suatu tempat. Bayangan yang mengikuti dari kejauhan, tidak pernah mendekat
tetapi juga tidak pernah menjauh. Dan perasaan… bahwa mereka tidak pernah
benar-benar sendiri. Bahwa ada sesuatu yang mengawasi. Sesuatu yang menilai.
Sesuatu yang menunggu.
Namun seperti semua cerita yang diwariskan secara lisan…
tidak semua orang percaya.
"Cerita seperti itu hanya untuk menakut-nakuti anak
kecil," kata sebagian orang, yang menganggap semua hal bisa dijelaskan
dengan logika dan ilmu pengetahuan.
"Itu bagian dari alam yang belum kita pahami,"
kata yang lain, yang lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan di luar
nalar.
Dan di antara dua pandangan itu… lahirlah perdebatan yang
tak pernah benar-benar selesai.
Logika melawan keyakinan. Ilmu melawan intuisi. Fakta
melawan perasaan. Dan manusia… berada di tengah-tengahnya, harus memilih
sendiri apa yang ingin dipercaya.
Namun ada satu hal yang sering dilupakan, bahwa alam tidak
pernah berusaha menjelaskan dirinya. Ia hanya ada. Diam. Tenang. Namun penuh
makna. Ia tidak peduli apakah manusia percaya atau tidak. Ia tetap menjadi
dirinya sendiri. Dan hanya mereka yang mau membuka hati… yang bisa merasakan
kehadirannya.
Bagian 6: Nasihat dari
Sesepuh
Pada suatu waktu, jauh sebelum langkah pertama mereka
dimulai… seorang tua di Desa Suralaya pernah berkata,
"Gunung tidak pernah menyesatkan manusia. Manusialah
yang sering tersesat… karena tidak memahami."
Nama orang tua itu adalah Mbah Jayasuprapta. Usianya tidak
ada yang tahu pasti. Ada yang mengatakan tujuh puluh, ada yang mengatakan
delapan puluh, ada pula yang mengatakan sudah melewati seratus tahun. Yang
jelas, wajahnya dipenuhi keriput yang bercerita tentang ribuan hari yang telah
dilewatinya. Matanya, meskipun sudah sayu, masih menyimpan kilauan kecerdasan
yang membuat siapa pun yang menatapnya merasa sedang dihakimi.
Mbah Jayasuprapta adalah satu-satunya orang di Desa
Suralaya yang masih ingat, benar-benar ingat, bukan sekadar dengar-dengar, bagaimana
jalur Suralaya dulu digunakan oleh para leluhur. Bukan untuk sekadar mendaki.
Bukan untuk foto-foto pemandangan. Bukan untuk konten media sosial atau sekadar
mencari sensasi.
Mereka naik ke gunung untuk mencari ketenangan di tengah
hiruk-pikuk kehidupan. Untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang
tidak bisa dijawab oleh manusia. Dan untuk menyucikan diri sebelum menjalani
ritual-ritual tertentu.
"Jalur itu punya kesadaran sendiri," kata Mbah
Jayasuprapta kepada siapa pun yang mau mendengarkan, dan semakin tua, semakin
sedikit orang yang mau mendengarkannya. "Dia tidak akan membuka diri untuk
sembarang orang. Dia hanya akan membuka diri untuk mereka yang benar-benar
siap. Dan kesiapan tidak diukur dari seberapa banyak bekal yang dibawa, atau
seberapa kuat otot kaki, atau seberapa bagus perlengkapan yang dipakai."
"Lalu diukur dari apa, Mbah?" pernah ditanya oleh
seorang pemuda desa yang penasaran.
Mbah Jayasuprapta tersenyum, memperlihatkan giginya yang
tinggal beberapa, mungkin tiga, mungkin empat, sulit dihitung karena semuanya
sudah kecoklatan. "Kamu tidak perlu tahu. Jalur itu sendiri yang akan
mengetahuinya. Dan jika kamu tidak siap... jalur itu akan mengusirmu dengan
caranya sendiri."
"Cara apa, Mbah?"
"Tersesat. Bingung. Takut. Atau lebih parah...
kehilangan jati diri."
Pemuda itu tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin karena
takut. Mungkin karena tidak percaya. Atau mungkin karena ia sudah mendengar
cukup.
Kalimat-kalimat Mbah Jayasuprapta itu sederhana. Namun
menyimpan arti yang dalam. Bahwa perjalanan bukan hanya tentang arah… tetapi
tentang cara memahami. Bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan logika manusia.
Bahwa ada hal-hal yang hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan. Dan bahwa
gunung... gunung adalah cermin. Ia tidak akan pernah berbohong.
*Bagian 7: Takdir yang
Bergerak Diam-diam*
Dan kini… tanpa mereka sadari… sebuah perjalanan sedang
menunggu.
Bukan perjalanan biasa. Bukan sekadar pendakian untuk
mengisi waktu luang. Melainkan perjalanan yang akan menguji, bukan hanya fisik
yang kuat… tetapi juga pikiran yang jernih… dan hati yang tulus.
Di Desa Awan Biru, pagi itu terasa seperti pagi-pagi
sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda aneh. Tidak ada pertanda besar. Tidak ada
mimpi yang mengganggu tidur. Hanya kabut yang turun dari perbukitan, embun yang
membasahi daun-daun, dan rutinitas yang berjalan seperti biasa.
Ibu-ibu sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga, menggoreng
tempe, merebus sayur, menyeduh kopi untuk suami yang akan berangkat ke sawah.
Bapak-bapak bergegas ke sawah atau ke pasar, membawa cangkul atau keranjang
atau dagangan. Anak-anak berlarian menuju sekolah dengan tas yang sedikit
terlalu besar untuk tubuh mereka, sambil tertawa dan berteriak.
Namun di balik itu semua… takdir telah bergerak.
Pelan. Diam. Namun pasti.
Satu keputusan akan dibuat di sebuah ruangan sederhana
dengan papan tulis penuh coretan. Satu langkah akan diambil di sebuah desa yang
bahkan tidak tercantum di peta. Dan satu perjalanan akan dimulai, sebuah
perjalanan yang tidak akan bisa dihentikan oleh siapa pun.
Perjalanan yang akan membawa mereka… menembus batas yang
selama ini hanya mereka dengar dalam cerita-cerita. Menghadapi sesuatu yang
tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan menemukan sesuatu… yang tidak
pernah mereka cari sebelumnya.
Karena pada akhirnya… tidak semua petualangan dimulai
dengan peta yang tergambar rapi. Tidak semua jalan bisa dipahami dengan kompas
yang jarumnya menunjuk utara. Dan tidak semua tujuan… bisa dilihat dengan mata
telanjang.
Ada perjalanan… yang hanya bisa dirasakan dengan hati.
Dan jejaknya… akan abadi.
Bagian 8: Tentang Novel Ini
"Jejak Petualang" bukan sekadar kisah tentang
mendaki gunung.
Ini adalah kisah tentang manusia… yang berani melangkah ke
dalam ketidakpastian, dan menemukan arti dari perjalanan itu sendiri. Tentang
mereka yang memilih untuk tidak tinggal diam ketika panggilan dating, meskipun
panggilan itu tidak selalu jelas dari mana asalnya atau ke mana arahnya.
Ini adalah kisah tentang persahabatan yang diuji oleh rasa
takut dan keraguan. Tentang keyakinan yang diguncang oleh hal-hal yang tidak
bisa dijelaskan oleh nalar. Tentang keberanian untuk terus melangkah, meskipun
arah tidak selalu jelas, meskipun kaki terasa berat, meskipun hati berbisik
untuk berbalik.
Dalam novel ini, Anda akan bertemu dengan berbagai karakter
yang hidup, dengan segala kelebihan dan kekurangannya:
Joko Supraktikno ;
Ketua KPAAB yang keras kepala namun
penuh dedikasi. Pemimpin yang selalu ingin membuktikan bahwa batas hanyalah
ilusi, bahwa manusia bisa melampaui apa pun jika ia cukup berani. Namun di
balik keberaniannya, ia menyimpan keraguan yang tidak pernah ia tunjukkan
kepada siapa pun.
Hermansyah ;
Wakil ketua yang rasional dan penuh
perhitungan. Sahabat sekaligus penyeimbang Joko yang selalu mengingatkan akan
risiko. Ia adalah suara logika di tengah gelora semangat. Namun logikanya tidak
selalu cukup untuk menghadapi hal-hal yang tidak masuk akal.
Guntur ; Si pelawak yang selalu mencairkan suasana,
namun menyimpan ketakutan yang tidak pernah ia tunjukkan. Tertawa adalah
tamengnya. Dan tameng itu akan diuji apakah cukup kuat atau justru retak di
saat yang paling kritis.
Camelia ; Gadis misterius yang memiliki kepekaan
terhadap hal-hal yang tidak terlihat. Sering dianggap aneh oleh orang-orang
yang tidak memahaminya, namun selalu terbukti benar—meskipun kebenarannya
sering tidak disukai.
Nadia ; Ahli navigasi yang logis dan tidak percaya
pada takhayul. Baginya, gunung bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Tidak
ada ruang untuk hal-hal mistis. Namun alam semesta tidak selalu berjalan sesuai
dengan hukum-hukum yang ia pelajari dari buku.
Anita ; Gadis lembut yang selalu mengingatkan anggota
lain untuk berdoa sebelum bertindak. Sering dianggap terlalu khawatir, terlalu
protektif. Namun kekhawatirannya sering menjadi penyelamat ketika yang lain
terlalu larut dalam semangat.
Yulia ; Perempuan tegas yang tidak segan menegur siapa
pun. Mulutnya keras, lebih keras dari batu di gunung. Tapi di balik
ketegasannya, ia memiliki hati yang paling peduli dan paling mudah terluka.
Bayu ; Anggota paling penakut yang selalu
membayangkan skenario terburuk. Ia adalah orang yang paling sibuk memikirkan
"bagaimana jika". Ironisnya, justru kewaspadaannya sering
menyelamatkan mereka dari bahaya yang tidak mereka sadari.
Arga ; Pria pendiam yang lebih banyak mendengar
daripada berbicara. Orang sering lupa bahwa ia ada di ruangan. Namun ketika ia
bersuara, semua orang mendengarkan. Karena kata-katanya selalu berbobot, selalu
tepat, dan sering kali merupakan kebenaran yang tidak ingin didengar oleh siapa
pun.
Jojon ; Anak baru yang penuh semangat namun masih
kurang pengalaman. Ia adalah sumber masalah sekaligus sumber tawa. Tingkahnya
sering membuat kesal, tetapi juga sering membuat lupa bahwa mereka sedang dalam
bahaya.
Amat Junior ;
Pemuda sederhana yang ikut karena tidak
ingin ditinggal teman-temannya. Ia tidak punya alasan kuat untuk mendaki tidak
ingin membuktikan apa pun, tidak mencari sensasi, tidak punya mimpi besar. Ia
hanya ikut. Dan dalam kesederhanaannya, ia sering menjadi pengingat bahwa tidak
semua perjalanan harus dimulai dengan alasan yang rumit.
Selain kesebelas anggota inti KPAAB, Anda juga akan bertemu
dengan tokoh-tokoh pendukung yang tidak kalah penting:
Pak Iwan Setiawan ;
Kepala Desa Awan Biru yang bijaksana. Ia
memberi restu dengan syarat-syarat yang tidak main-main. Bukan karena ia tidak
percaya pada anak-anak muda itu, tetapi karena ia tahu betul apa yang mereka
hadapi.
Pak Raditya ;
Kepala Desa Suralaya yang misterius. Ia
tahu lebih banyak tentang jalur Suralaya daripada yang ia katakan. Matanya
menyimpan rahasia yang tidak akan ia bagikan kecuali kepada mereka yang
dianggapnya layak.
Mbah Jayasuprapta ;
Sesepuh Desa Suralaya yang menyimpan
rahasia tentang jalur ujian. Usianya tidak ada yang tahu. Pengetahuannya tidak
ada yang bisa mengukur. Dan kata-katanya... kata-katanya akan terus bergema di
kepala para pendaki lama setelah mereka meninggalkan desa.
Pak Anto ;
Sopir mobil yang lebih dari sekadar
sopir. Ia adalah pembaca tanda-tanda alam. Ia melihat hal-hal yang tidak
dilihat oleh orang lain. Dan ia sering memberikan petunjuk yang tampaknya tidak
penting, tetapi kemudian terbukti sangat berharga.
Bu Karsinem ;
Ibu Joko, yang setiap malam berdoa untuk
keselamatan anaknya. Ia tidak pernah melarang, tetapi juga tidak pernah
benar-benar merelakan. Doa seorang ibu adalah kekuatan yang tidak terlihat
namun paling ampuh.
Dan masih banyak tokoh-tokoh lain yang akan muncul, beberapa
hanya sekilas, beberapa akan menjadi bagian penting dari perjalanan. Semua
memiliki peran, semua memiliki cerita.
Bagian 9: Sebuah Catatan
Sebelum Memulai
Ada satu hal yang ingin saya sampaikan sebelum Anda
benar-benar memulai perjalanan membaca novel ini.
Gunung Merbabu benar-benar ada. Ia berdiri megah di
perbatasan Jawa Tengah, dengan ketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut,
menjadi salah satu gunung favorit para pendaki di Indonesia.
Desa Awan Biru dan Desa Suralaya adalah fiksi, kreasi saya
untuk kebutuhan cerita. Namun mereka terinspirasi dari desa-desa nyata di
sekitar Gunung Merbabu, dengan segala keindahan dan misterinya.
Cerita tentang jalur Suralaya, jalur alternatif yang
menyimpan misteri dan konon dijaga oleh sesuatu yang tidak terlihat, adalah
cerita fiksi yang hidup di kalangan masyarakat sekitar . Saya tidak mengklaim
bahwa cerita itu benar atau salah. Saya hanya menuliskan berdasarkan imajinasi,
dengan segala bumbu fiksi yang diperlukan untuk membuatnya menjadi novel yang
menarik.
Saya tidak menulis novel ini untuk membuat Anda percaya
pada hal-hal gaib, atau sebaliknya, untuk menganggap semuanya hanya sugesti
belaka. Saya tidak ingin memenangkan debat antara logika dan keyakinan, karena
menurut saya, debat itu tidak akan pernah selesai dan tidak perlu diselesaikan.
Saya menulis novel ini untuk mengajak Anda bertanya apa
sebenarnya makna sebuah perjalanan? Apakah kita berjalan hanya untuk mencapai
tujuan, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang kita cari? Apakah gunung
benar-benar sekadar gunung, atau ia bisa menjadi cermin yang memantulkan
kembali siapa diri kita sebenarnya? Apakah ketakutan adalah musuh yang harus
dikalahkan, atau justru guru yang paling berharga?
Saya tidak akan memberikan jawaban.
Karena jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu… hanya bisa
Anda temukan sendiri. Sama seperti Joko dan kawan-kawan yang harus menemukan
jawaban mereka sendiri di antara kabut Gunung Merbabu, di antara suara-suara
yang tidak bisa dijelaskan, di antara langkah dan napas yang tersengal.
Selamat membaca.
Dan selamat berpetualang.
"Karena pada akhirnya… kita semua adalah petualang.
Dalam perjalanan yang disebut kehidupan. Dan setiap jejak yang kita tinggalkan…
tidak akan pernah benar-benar hilang."
— Slamet Riyadi, 2026
BAB 1
Bara Semangat di Awan Biru
Bagian 1: Pagi yang Dingin, Hati yang Hangat
Pagi itu, Desa Awan Biru masih diselimuti kabut tipis yang
menggantung malas di antara perbukitan. Embun menempel di ujung-ujung daun
ilalang yang tumbuh di sepanjang pinggir jalan, berkilau diterpa cahaya
matahari yang perlahan bangkit dari balik cakrawala, seperti berlian-berlian
kecil yang tersebar di atas hamparan beludru hijau.
Udara sejuk membawa aroma tanah basah, aroma daun-daun yang
mulai membusuk, aroma kehidupan yang terus berputar. Aroma yang selalu
mengingatkan pada permulaan, pada awal dari sebuah perjalanan, pada janji bahwa
hari baru selalu membawa kemungkinan-kemungkinan baru, meskipun tidak semua
kemungkinan itu menyenangkan.
Joko Supraktikno sudah bangun sejak pukul setengah lima.
Bukan karena ada yang mendesak, tidak ada alarm yang berbunyi, tidak ada ayam
jago yang berkokok di dekat rumahnya, tetapi karena ia tidak bisa tidur lagi.
Pikirannya terlalu sibuk sejak semalam, sejak rapat yang berakhir tanpa
keputusan bulat. Membayangkan rapat lanjutan sore nanti, membayangkan bagaimana
ia harus meyakinkan anggota lain tentang rencananya, membayangkan bagaimana
rasanya berdiri di puncak yang tidak pernah ia injak sebelumnya.
Ia duduk di teras rumahnya yang sederhana, menyeruput kopi
hitam pekat buatan ibunya. Kopi itu pahit, sengaja dibuat pahit, karena ibunya
percaya bahwa kopi pahit membuat pikiran jernih. Joko tidak tahu apakah itu
benar, tetapi pagi ini, kopi itu terasa lebih pahit dari biasanya.
Rumah Joko terletak di ujung desa, di pinggir jalan setapak
yang menuju ke kebun. Rumahnya tidak terlalu besar, sekitar enam kali delapan
meter, dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu, dapur kecil di belakang, dan
teras sempit yang menghadap ke timur. Cukup untuk keluarganya yang terdiri dari
ayah, ibu, dan seorang adik perempuan yang masih duduk di bangku SMP.
Dinding rumah terbuat dari bata yang diplester kasar, dicat
putih pucat yang mulai mengelupas di sana-sini. Atapnya dari seng, yang jika
hujan akan berbunyi keras seperti gendering, suara yang biasa ia dengar sejak
kecil dan sekarang menjadi semacam lagu pengantar tidur. Lantainya dari semen,
dingin di pagi hari, tetapi selalu terasa hangat ketika seluruh keluarga
berkumpul di ruang tamu.
"Kok sudah bangun, Jo?" suara ibunya terdengar
dari dalam rumah. Suara itu lembut, namun mengandung nada kekhawatiran yang
tidak bisa disembunyikan. "Baru jam setengah lima. Biasanya kamu tidur
sampai jam enam."
"Tidak bisa tidur, Bu," jawab Joko sambil
tersenyum, meskipun ibunya tidak bisa melihat senyumnya dari dalam.
"Banyak pikiran."
Ibunya, Bu Karsinem, seorang perempuan berusia lima puluh
tahun dengan wajah yang mulai menunjukkan keriput karena kerja keras dan kurang
tidur, mendekat dan duduk di samping anaknya. Ia membawa secangkir kopi yang
sama, tetapi kopinya lebih encer, dengan lebih banyak gula.
"Pikiran apa lagi?" tanyanya sambil menatap Joko
dengan penuh kecemasan. Ibu mana yang tidak cemas melihat anak sulungnya, satu-satunya
anak laki-laki yang diharapkan menjadi tulang punggung keluarga, sering pergi
ke gunung, menghilang berhari-hari, hanya membawa kabar singkat melalui telepon
seluler yang sinyalnya sering putus-putus? "Jangan-jangan mau naik gunung
lagi?"
Joko tertawa kecil, mencoba meredakan ketegangan.
"Memangnya saya bisa bohong sama Ibu? Ibu kan tahu segalanya. Ibu kan
punya mata di mana-mana."
"Tidak bisa," jawab Bu Karsinem tegas, meskipun
senyum kecil mulai muncul di bibirnya. "Makanya jangan coba-coba bohong.
Ibu tahu kamu sudah dewasa, tahu kamu punya kehidupan sendiri, tahu kamu harus
membuat keputusan sendiri. Tapi Ibu juga punya hak untuk khawatir."
"Bu, saya sudah dewasa," kata Joko pelan, menatap
mata ibunya. "Saya tahu risiko. Saya tidak akan melakukan hal-hal
bodoh."
"Tahu risiko sama siap menghadapi risiko itu beda, Jo.
Kamu bisa tahu bahwa naik gunung itu berbahaya, tapi apakah kamu benar-benar
siap jika bahaya itu benar-benar datang?"
Joko terdiam. Ibunya benar, seperti biasa. Ibu selalu benar
dalam hal-hal seperti ini. Tapi Joko juga tahu bahwa ia tidak bisa berhenti.
Bukan karena ia keras kepala, meskipun banyak orang mengatakan demikian, tetapi
karena mendaki gunung sudah menjadi bagian dari dirinya. Seperti udara yang ia
hirup setiap saat. Seperti darah yang mengalir di nadinya. Seperti detak
jantung yang tidak bisa ia hentikan meskipun ia mau.
"Apa Ibu tahu, Bu," kata Joko akhirnya, setelah
menyesap kopinya yang mulai dingin, "rasanya berdiri di puncak gunung,
melihat dunia dari atas, merasakan angin yang begitu bebas, melihat awan di
bawah kaki... rasanya seperti... seperti kita bisa melakukan apa saja. Seperti
tidak ada yang tidak mungkin."
Bu Karsinem menghela napas panjang. "Ibu tahu kamu
suka. Ibu tahu itu sudah menjadi bagian dari dirimu. Ibu tidak akan melarang,
karena Ibu tahu itu tidak akan berguna. Tapi Ibu juga takut, Jo. Setiap kali
kamu pergi, Ibu tidak bisa tidur. Setiap kali telepon berdering, Ibu takut itu
kabar buruk."
"Makanya Ibu jangan khawatir berlebihan. Saya selalu
pulang, kan?"
"Kata siapa khawatir itu bisa diatur? Kalau bisa, Ibu
sudah lama berhenti khawatir."
Joko tidak bisa membantah. Ia hanya bisa memeluk ibunya, merasakan
tubuh kecil yang hangat itu bergetar sedikit, mungkin karena dingin, mungkin
karena menahan tangis, dan berjanji dalam hati bahwa ia akan selalu kembali.
Selalu. Apa pun yang terjadi.
Di kejauhan, Gunung Merbabu mulai terlihat jelas. Kabut
pagi yang menyelimuti puncaknya perlahan tersibak, memperlihatkan bentuknya
yang megah. Joko menatap gunung itu, dan untuk sesaat, ia merasa bahwa gunung
itu menatap balik.
Bagian 2: Sarapan Pagi
yang Panas
Sarapan pagi itu terasa berbeda dari biasanya.
Biasanya Joko makan dengan lahap tanpa banyak bicara, menyantap
nasi, telur dadar, tempe goreng, dan sayur bening dalam waktu kurang dari
sepuluh menit, lalu bergegas ke sekretariat atau ke kampus. Tapi pagi ini, ia
seperti kehilangan nafsu makan. Nasi, telur dadar, dan tempe goreng di depannya
hanya dipindahkan dari satu sisi piring ke sisi lain, seolah ia sedang
bermain-main dengan makanan, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak kecil.
"Mas Joko tidak lahap?" tanya adiknya, Dina, sambil
mengunyah roti dengan lahap. Dina adalah kebalikan dari Joko dalam banyak hal.
Jika Joko serius dan pendiam, Dina adalah gadis cerewet yang tidak bisa diam
lebih dari lima menit. Jika Joko selalu memikirkan gunung, Dina selalu
memikirkan gawai dan media sosial. Jika Joko kurus dan tinggi, Dina gemuk dan
pendek, meskipun ia selalu membantah bahwa ia "berisi", bukan gemuk.
"Lapar, kok," jawab Joko singkat, tanpa
mengalihkan pandangan dari piringnya.
"Lapar tapi tidak dimakan?" Dina menatap kakaknya
dengan curiga. "Jangan-jangan Mas lagi galau. Galau karena cewek? Atau
galau karena gunung?"
"Bukan galau. Lagi mikir."
"Mikir apa? Mikirin cara dapetin hati cewek? Kalau
itu, Mas mending tanya sama aku. Aku kan cewek, jadi tahu apa yang diinginkan
cewek."
"Lo tahu apa yang lo inginkan aja belum tentu. Kemarin
bilang mau beli baju baru, hari ini bilang mau beli pulsa."
"Itu namanya prioritas, Mas. Prioritas bisa
berubah-ubah tergantung situasi."
Dasar Dina. Mulutnya memang tajam sejak kecil, dan seiring
bertambahnya usia, ketajamannya tidak berkurang, bahkan mungkin bertambah. Joko
melempar pandangan kesal, tapi Dina hanya cengar-cengir sambil mengunyah
rotinya.
Bapaknya, Pak Suprapto, seorang petani yang bekerja keras
sejak subuh hingga petang, dengan tangan yang kasar karena tanah dan kulit yang
gelap karena matahari, hanya diam memperhatikan dari ujung meja. Ia sudah tahu.
Setiap kali Joko bersikap seperti ini, kehilangan nafsu makan, melamun,
gelisah—pasti ada rencana besar. Dan rencana besar selalu berarti gunung.
"Kapan berangkat?" tanya Pak Suprapto tiba-tiba,
tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.
Joko menoleh, sedikit terkejut. "Belum pasti, Pak.
Masih rapat. Masih perlu persetujuan banyak pihak."
"Rencana apa?"
Joko ragu sejenak. Haruskah ia jujur? Ayahnya tidak pernah
melarangnya mendaki, tidak seperti ibu yang selalu khawatir, tapi juga tidak
pernah benar-benar mendukung dengan antusias. Pak Suprapto adalah tipe orang
tua yang membiarkan anaknya membuat keputusan sendiri, selama keputusan itu tidak
merugikan orang lain dan tidak membahayakan diri sendiri. Tapi bagaimana dengan
keputusan yang berisiko tinggi?
"Kami mau coba jalur baru, Pak," jawab Joko
akhirnya, memutuskan untuk jujur. "Di Gunung Merbabu. Lewat Desa
Suralaya."
Pak Suprapto berhenti mengunyah. Matanya menyipit, tanda
bahwa ia sedang memproses informasi. "Jalur baru? Yang belum pernah
dilalui?"
"Iya, Pak. Jalur alternatif. Tidak tercatat secara
resmi."
"Kenapa harus jalur baru? Bukannya jalur yang biasa
sudah cukup? Banyak orang naik lewat Selo, Wekas, Suwanting. Kenapa harus cari
yang lain?"
Joko menarik napas panjang. Pertanyaan ayahnya sama seperti
pertanyaan yang akan ia dengar berkali-kali hari ini, dari Hermansyah, dari
Nadia, mungkin dari Pak Iwan, mungkin dari semua orang yang tidak mengerti
mengapa ia melakukan ini. Pertanyaan yang membuatnya harus menjelaskan sesuatu
yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya paham.
"Karena..." Joko mencari kata-kata yang tepat,
kata-kata yang bisa menjelaskan perasaan yang tidak bisa dijelaskan,
"karena kami ingin tahu, Pak. Sejauh mana batas kami. Apa yang sebenarnya
kami mampu lakukan."
"Batas?" ulang Pak Suprapto. "Kamu tahu
batasmu di mana?"
"Tidak, Pak. Itulah mengapa kami ingin mencari
tahu."
Pak Suprapto terdiam beberapa saat. Matanya beralih ke
Gunung Merbabu yang terlihat dari jendela dapur, seperti biasa, megah, tenang,
tidak terganggu oleh keramaian dunia.
"Hati-hati," katanya akhirnya. Suaranya pelan,
hampir seperti bisikan. "Gunung itu tidak seperti sawah. Sawah bisa kamu
atur. Kamu bisa tentukan kapan menanam, kapan menyiram, kapan memupuk.
Gunung... gunung punya kemauannya sendiri. Dan kemauan itu tidak selalu sama
dengan kemauan manusia."
"Aku tahu, Pak."
"Sudah, makan dulu biar kenyang. Jangan pusingkan hal
yang belum terjadi. Nanti kamu sakit, baru tambah repot."
Joko tersenyum. Nasihat ayahnya selalu sederhana, selalu
pendek, tetapi selalu tepat. Tidak bertele-tele, tidak penuh metafora, tetapi
langsung ke inti. Mungkin itulah yang membuatnya bijaksana.
Ia mulai makan dengan lahap, membuat Dina tertawa dan Bu
Karsinem tersenyum lega.
Bagian 3: Jalan Menuju
Sekretariat
Setelah sarapan, Joko bergegas menuju sekretariat KPAAB.
Perjalanan yang biasanya ia tempuh dengan santai dalam
sepuluh menit, pagi ini terasa lebih singkat. Langkahnya cepat, hampir seperti
berlari, seolah ada sesuatu yang mendorongnya dari belakang, sesuatu yang tidak
terlihat namun terasa.
Desa Awan Biru di pagi hari selalu indah. Jalan setapak
yang dilapisi tanah merah membelah perkampungan, diapit oleh rumah-rumah warga
di kiri dan kanan. Pepohonan rindang memberikan keteduhan, meskipun matahari
sudah mulai meninggi. Burung-burung berkicau dengan riang, seolah ikut
menyambut hari yang baru.
Di kiri dan kanan, rumah-rumah warga berdiri dengan
arsitektur tradisional, dinding kayu jati yang sudah berwarna coklat tua karena
usia, atap seng yang berkarat di beberapa bagian, dan halaman yang ditumbuhi
berbagai macam tanaman, singkong, pepaya, pisang, dan kadang-kadang bunga-bunga
warna-warni yang ditanam oleh ibu-ibu.
Beberapa warga yang sudah mulai beraktivitas menyapa Joko
dengan ramah.
"Pagi, Jo!" teriak Pak Slamet, tetangga yang
rumahnya tepat di tikungan jalan. Ia sedang menyapu halaman dengan sapu lidi
yang sudah mulai aus.
"Pagi, Pakde!" jawab Joko sambil melambai.
"Mau ke sekretariat lagi? Dasar anak gunung! Rumah aja
jarang betah!" Pak Slamet tertawa kecil, menampakkan giginya yang sudah
tidak lengkap.
"Ya, Pakde. Daripada di rumah nganggur! Lagian di
sekretariat lebih rame!"
"Kamu tuh, Jo. Kerja aja belum, kok sudah sibuk naik
gunung terus. Nanti kamu ketinggalan sama teman-temanmu yang lain. Yang sudah
kerja, yang sudah punya pacar, yang sudah..."
"Pakde, naik gunung juga kerja, kok! Kerja kaki, kerja
pikiran, kerja hati!"
"Kurang ajar kamu! Bisa aja!"
Tawa kecil terdengar. Joko melambai lagi dan terus
melangkah.
Interaksi seperti ini sudah menjadi rutinitas. Warga desa
memang sudah terbiasa dengan tingkah laku anak-anak muda KPAAB, kedatangan
mereka yang ribut, kepergian mereka yang tiba-tiba, dan cerita-cerita mereka
yang kadang tidak masuk akal. Ada yang mendukung sepenuh hati, ada yang sekadar
ikut-ikutan karena tidak ingin dianggap ketinggalan zaman, ada yang benar-benar
tidak peduli, dan ada pula yang menganggap mereka sekadar anak-anak nakal yang
tidak tahu arah.
Namun bagi Joko, dukungan sekecil apa pun tetap berarti.
Karena mendaki gunung bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ini tentang mewakili
desa, desa kecil yang mungkin tidak banyak orang tahu, tetapi memiliki
anak-anak muda yang berani bermimpi. Ini tentang mewakili keluarganya, ayah
yang diam-diam bangga, ibu yang diam-diam khawatir, adik yang diam-diam iri.
Ini tentang mewakili semua orang yang percaya padanya, meskipun jumlahnya tidak
banyak, tetapi keberadaan mereka cukup untuk membuatnya terus melangkah.
Bagian 4: Sekretariat
yang Sepi
Sekretariat KPAAB adalah bangunan sederhana yang berdiri di
tepi lapangan desa, tidak jauh dari balai desa dan masjid. Bangunan itu
berukuran sekitar enam kali delapan meter, dengan dinding dari papan kayu yang
sudah mulai lapuk di beberapa bagian, bekas gigitan rayap atau mungkin karena
usia, namun masih kokoh berdiri. Atapnya dari seng, yang jika hujan akan
berbunyi keras seperti orkestra yang tidak teratur—sering menjadi bahan keluhan
saat rapat malam, tetapi juga menjadi alasan mereka untuk duduk lebih dekat
satu sama lain.
Di dalam, terdapat beberapa meja dan kursi kayu yang sudah
tidak terhitung usianya. Meja-meja itu penuh dengan goresan, nama-nama anggota
yang sudah lulus, gambar-gambar gunung, kata-kata mutiara yang kadang
inspiratif kadang norak. Di dinding, tergantung berbagai macam peta, peta
Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Lawu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan
beberapa gunung lain di Jawa Tengah. Peta-peta itu sudah usang, robek di beberapa
bagian, penuh dengan coretan dan tanda-tanda yang hanya dimengerti oleh anggota
KPAAB.
Ada juga foto-foto kegiatan KPAAB yang dipajang di dinding:
pendakian ke puncak Merbabu dengan senyum lelah, penanaman pohon di lereng yang
gundul, bakti sosial di panti asuhan, dan berbagai acara lain yang telah mereka
lakukan selama bertahun-tahun. Foto-foto itu berwarna-warni, beberapa sudah
pudar karena usia, beberapa masih cerah karena baru.
Di pojok ruangan, terdapat rak buku sederhana yang berisi
buku-buku tentang alam, navigasi, pertolongan pertama, meteorologi, dan
beberapa novel petualangan, seperti "Lima Sekawan" versi Indonesia,
"The Lost World", dan "Into the Wild" yang sudah
bolak-balik dibaca oleh anggota. Buku-buku itu sudah usang, sampulnya lecek, halamannya
menguning, penuh dengan coretan dan catatan kecil dari anggota yang membacanya.
Namun yang paling mencuri perhatian adalah sebuah papan
tulis putih besar yang tergantung di dinding depan, tepat di belakang meja
ketua. Papan itu sudah penuh dengan coretan, rencana pendakian, jadwal latihan,
daftar perlengkapan, catatan penting, dan berbagai macam informasi lain yang
tidak ingin mereka lupakan. Tulisan di papan itu berbeda-beda, tergantung siapa
yang terakhir menulis. Ada yang rapi seperti tulisan Nadia, ada yang berantakan
seperti tulisan Guntur, dan ada yang hampir tidak terbaca seperti tulisan
Jojon.
Pagi itu, ruangan itu sepi. Joko tiba lebih awal dari yang
lain, sengaja, karena ia ingin memiliki waktu sendiri untuk berpikir sebelum
keramaian dimulai. Ia duduk di kursi ketua, kursi yang sedikit lebih besar dari
yang lain, dengan sandaran yang sedikit lebih tinggi, meskipun sama-sama tidak
nyaman dan menatap papan tulis itu.
Di sana, masih tergambar sketsa Gunung Merbabu yang ia buat
semalam. Jalur Suralaya digambar dengan garis putus-putus, tidak tegas, tidak
pasti dan sebuah tanda tanya besar di sampingnya. Tanda tanya yang melambangkan
semua ketidakpastian yang akan mereka hadapi.
"Ini akan terjadi," gumam Joko pada dirinya
sendiri, suaranya nyaris tak terdengar. "Ini pasti akan terjadi. Tidak ada
yang bisa menghentikannya."
Bagian 5: Kedatangan
Pertama
Sepuluh menit kemudian, pintu sekretariat terbuka dengan
suara berdecit yang keras, suara yang sudah menjadi ciri khas bangunan ini,
suara yang akan langsung dikenali oleh siapa pun yang pernah berkunjung ke
sini.
"Woy! Sepi amat! Yang lain pada mati kali!"
Itu Guntur. Tidak perlu lihat wajahnya, suaranya yang khas,
nada tinggi dengan logat Jawa yang kental, sudah cukup untuk dikenali. Guntur
masuk dengan langkah santai, hampir seperti melayang, rambutnya acak-acakan
seperti baru bangun tidur (atau memang sengaja diacak-acak), dan kaos oblong
warna merah yang terlihat seperti baru dipakai dari tumpukan baju kotor, karena
memang baru dipakai dari tumpukan baju kotor.
"Lo doang yang pagi-pagi udah kayak setan," sahut
Joko sambil tersenyum, tanpa menoleh. "Yang lain pada dateng tepat waktu.
Lo yang keburu."
"Setan yang ganteng, maksudnya," balas Guntur
sambil duduk di kursi di samping Joko, meletakkan kakinya di atas meja, kebiasaan
buruk yang sudah berulang kali ditegur tetapi tidak pernah berhasil
dihilangkan. "Gue belum sarapan nih, Jo. Ada yang bisa dimakan? Gue laper
banget. Perut gue udah keroncengan kayak mau demo."
"Loh, rumah lo kan dekat. Rumah lo cuma lima menit
dari sini. Kenapa gak sarapan dulu? Ibu lo pasti udah masak."
"Males. Males masak juga, males makan sendirian.
Lagian gue kira lo yang traktir. Lo kan ketua, harusnya traktir anggota."
"Ya enak aja. Ketua itu kerja sukarela, Tur. Gak digaji,
gak dapat tunjangan, gak ada fasilitas. Malah sering keluar duit sendiri."
Guntur tertawa. "Bercanda, Jo. Gue udah sarapan tadi.
Cuma pengen ngeluh doang. Ngos-ngosan dari rumah, sampe sini gak ada yang
nyambut. Sepi. Sunyi. Kayak kuburan."
"Ya ampun, Tur. Lo emang..."
"Emang apa? Ganteng? Tampan? Low profile? Rendah hati?
Paling rendah hati se-KPAAB?"
"Banyak bacot."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang hangat, yang akrab, yang
hanya bisa muncul dari persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil. Joko dan
Guntur memang tetanggaan sejak SD. Rumah mereka hanya berjarak beberapa puluh
meter. Mereka satu SD, satu SMP, dan sempat satu SMA sebelum Joko memilih
sekolah kejuruan yang berbeda. Meskipun sering berbeda pendapat, sering sekali,
mereka tetap dekat. Mungkin karena Guntur adalah satu-satunya orang yang bisa
membuat Joko tertawa di saat paling stres. Mungkin karena Joko adalah
satu-satunya orang yang bisa membuat Guntur serius di saat paling sulit.
"Jadi," kata Guntur sambil merebahkan badan di
kursi, menyandarkan kepala ke dinding, "rencana gila lo itu jadi? Atau
cuma anget-anget tai ayam?"
"Rencana apa yang gila?" pura-pura Joko.
"Jalur Suralaya, Jo. Jangan pura-pura lupa. Lo yang
kemarin ngomong di depan papan tulis dengan penuh semangat, kayak lagi pidato
kampanye. Jangan-jangan lo udah lupa karena terlalu banyak mikir."
Joko menghela napas. "Bukan rencana gila. Itu
tantangan. Tantangan untuk kita semua. Tantangan untuk membuktikan
sesuatu."
"Tantangan buat mati, maksudnya? Atau tantangan buat
hilang? Karena kayaknya banyak yang hilang di jalur itu."
"Tur, lo bisa gak sih serius dikit? Ini bukan bahan
candaan. Ini perjalanan yang akan menentukan masa depan KPAAB."
Guntur duduk tegak. Wajahnya berubah dari santai, dari
bercanda, menjadi sedikit serius. Matanya tidak lagi menyipit karena tawa,
tetapi menjadi tajam. "Gue serius, Jo. Gue denger cerita tentang jalur itu
dari Mbah Jayasuprapta. Dan gue gak pernah denger Mbah Jayasuprapta bercerita
omong kosong."
Joko terkejut. "Lo kenal Mbah Jayasuprapta? Orang tua
di Desa Suralaya itu? Yang katanya tahu segalanya tentang gunung?"
"Waktu kecil, gue pernah ikut kakek ke Desa Suralaya.
Kakek gue dulu berteman dengan Mbah Jayasuprapta. Mereka sering ngobrol
berjam-jam tentang gunung, tentang alam, tentang hal-hal yang gak bisa
dijelaskan. Waktu itu gue masih kecil, gak terlalu paham. Tapi satu hal yang
gue ingat: Mbah Jayasuprapta itu bukan orang biasa."
"Apa yang lo dengar dari dia tentang jalur itu?"
Guntur terdiam sejenak. Matanya tampak menerawang, seperti
mengingat sesuatu yang tidak ingin ia ingat. Sesuatu yang mungkin ingin ia
lupakan, tetapi tidak bisa.
"Cerita itu... gak enak, Jo," katanya akhirnya.
Suaranya pelan, tidak seperti biasanya. "Orang yang masuk ke jalur itu...
mereka tidak hanya tersesat secara fisik. Mereka tersesat secara mental. Mereka
kehilangan arah, bukan arah di peta, tapi arah dalam hidup."
Joko menatap Guntur tajam. "Lo percaya? Lo yang selalu
bilang bahwa semua hal mistis itu cuma omongan kosong?"
"Awalnya gak. Awalnya gue pikir itu cuma cerita orang
tua untuk menakut-nakuti anak kecil. Tapi makin gue pikir, makin gue dengar
cerita dari orang lain, makin banyak hal yang gak bisa dijelaskan sama
logika."
"Jadi lo percaya sekarang? Lo percaya bahwa ada
sesuatu di gunung itu yang tidak bisa dijelaskan?"
Guntur menggeleng. "Gue gak tahu harus percaya apa.
Gue masih bingung. Tapi gue tahu satu hal... jalur itu berbahaya. Lebih
berbahaya dari yang lo bayangkan. Bukan hanya karena medannya yang sulit, tapi
karena... karena ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak terlihat, tapi bisa
dirasakan."
Joko terdiam. Ia tidak menyangka Guntur, orang yang paling
sering meremehkan hal-hal mistis, yang paling sering tertawa mendengar
cerita-cerita horor, yang paling sering bilang "ah, itu cuma
sugesti", akan memiliki kekhawatiran seperti ini.
"Makanya lo ikut," kata Joko akhirnya, setelah
hening yang panjang. "Biar gue gak sendirian. Biar kita bisa saling
jaga."
Guntur tersenyum tipis. "Ya, gue bakal ikut. Bukan
karena gue setuju dengan rencana lo, jujur, gue masih ragu. Tapi karena gue gak
mau lo mati sendirian. Atau hilang sendirian. Atau gila sendirian."
"Wah, romantis banget. Kayak di film India."
"Udah, jangan lebay. Gue gak mau dibilang romantis.
Nanti orang salah sangka."
Mereka tertawa lagi.
Bagian 6: Rombongan
Datang
Satu per satu, anggota KPAAB mulai berdatangan.
Hermansyah datang dengan tas ransel di punggungnya, seperti
biasa. Ia tidak pernah pergi ke mana pun tanpa tas, meskipun hanya ke
sekretariat yang jaraknya lima menit dari rumahnya. Tas itu berisi segala macam
perlengkapan darurat, P3K, senter, pisau lipat, korek api, tali nilon, seolah
ia selalu siap untuk keadaan darurat kapan pun.
"Pagi," sapanya singkat sambil duduk di kursi di
seberang Joko. Wajahnya serius seperti biasa, hampir tidak pernah menunjukkan
senyum. Bukan karena ia tidak bisa tersenyum, tetapi karena ia merasa bahwa
tersenyum terlalu sering membuat orang tidak serius.
"Pagi, Man," jawab Joko. "Bawa apa lagi lo?
Tas lo kayak mau perang."
"Persiapan. Lebih baik siap daripada menyesal. Dan ini
bukan untuk sekarang. Ini untuk latihan nanti sore."
"Persiapan buat rapat? Rapat di dalam ruangan, Man.
Gak butuh P3K."
"Persiapan buat apa pun yang terjadi. Rapat juga bisa
darurat. Jantung berdebar, tekanan darah naik, orang pingsan, itu butuh
P3K."
Guntur terkekeh. "Lo tuh kayak mau perang, Man. Perang
dunia ketiga."
"Lebih baik siap daripada menyesal," jawab
Hermansyah datar, tanpa berusaha membela diri.
Kemudian datanglah Nadia, perempuan berambut pendek yang
selalu rapi, dengan kacamata tebal di hidungnya. Kacamata itu sudah menjadi
bagian dari wajahnya, seperti hidung atau mulut. Ia membawa sebuah buku tebal
yang sudah penuh dengan stiker dan catatan, buku tentang navigasi gunung yang
sudah dibacanya berkali-kali.
"Pagi, semua," sapanya sambil meletakkan buku di
meja.
"Pagi, Nad. Buku apa lagi itu? Lo kayak mau
ujian," tanya Guntur.
"Buku tentang navigasi gunung. Ada beberapa teknik
baru yang mungkin berguna untuk pendakian kita. Teknik menggunakan bintang,
teknik menggunakan bayangan matahari, teknik menggunakan lumut..."
"Lo tuh bukunya dibaca atau dipeluk? Kelihatannya buku
itu sudah lo baca puluhan kali."
"Keduanya," jawab Nadia sambil tersenyum.
"Membaca untuk ilmu, memeluk untuk kenyamanan."
Disusul oleh Yulia yang datang dengan langkah tegas,
seperti biasa. Perempuan ini tidak pernah berjalan lambat. Semua yang ia
lakukan selalu cepat, berjalan cepat, bicara cepat, marah cepat, dan mungkin
juga mencintai cepat (meskipun tidak ada yang tahu pasti). Sepatu boot-nya
berdebur-debur di lantai kayu.
"Pagi," katanya sambil melempar tasnya ke kursi
dengan gerakan yang tidak sabar. "Rapat jam berapa sih? Kok pada datang
pagi-pagi buta? Jam baru setengah delapan, Jo. Masih ngantuk."
"Jam delapan, Yul. Masih ada waktu setengah jam. Lo
bisa sarapan dulu."
"Ya udah, gue sarapan dulu. Ada yang mau nitip? Gue ke
warung Bu Sari."
"Gue, beliin nasi pecel," kata Guntur cepat.
"Pake tahu dan tempe. Sambelnya yang banyak."
"Gue juga," tambah Jojon yang baru saja masuk.
Wajahnya masih mengantuk, rambutnya acak-acakan lebih parah dari Guntur.
"Lo udah datang, Jon? Kok gue gak lihat lo
masuk?" tanya Yulia.
"Iya, kebetulan lewat. Pintu belakang."
"Ya ampun, lo tuh kayak hantu. Muncul tiba-tiba dari
belakang. Bikin kaget aja."
Jojon hanya tertawa. Anak baru ini memang punya bakat untuk
muncul di saat yang tidak terduga. Kadang dari pintu depan, kadang dari pintu
belakang, kadang dari jendela. Tidak ada yang tahu persis bagaimana ia masuk,
dan ia tidak pernah menjelaskan.
Bagian 7: Suasana Mulai
Cair
Setelah Yulia kembali dengan bungkusan nasi pecel dan
beberapa gorengan, suasana menjadi semakin hangat. Mereka makan bersama, meskipun
hanya nasi pecel dan beberapa gorengan yang dibeli di warung Bu Sari, dengan
sambal yang membuat lidah terbakar tetapi tidak bisa berhenti.
"Enak banget nasi pecelnya," kata Arga yang baru
datang. Ia duduk di pojok, seperti biasa, nyaris tidak bersuara. Kehadirannya
sering tidak disadari sampai ia berbicara.
"Lo baru dateng, udah makan aja," ejek Bayu yang
sudah duduk sejak tadi, matanya masih setengah tertutup.
"Lapar, masa gak boleh? Perut gak bisa boong,
Yu."
"Boleh, boleh. Yang penting jangan abisin semua. Gue
juga mau. Jangan pelit."
Mereka tertawa. Suasana yang semula tegang perlahan berubah
menjadi lebih santai, lebih akrab. Inilah kelebihan KPAAB, mereka bisa serius
dalam perencanaan, penuh perhitungan dan strategi, tapi juga bisa santai dalam
kebersamaan, tertawa dan bercanda seperti tidak ada beban.
Anita datang dengan senyum lebar. Ia membawa kotak kue berwarna
merah muda buatan ibunya, kue bolu kukus yang lembut dan manis, dengan taburan
keju di atasnya.
"Ibu nitip kue buat kalian," katanya sambil
meletakkan kotak itu di meja, tepat di tengah-tengah agar semua orang bisa
meraihnya.
"Wah, Makasih, Nit! Makasih juga buat Ibu lo!"
seru Guntur sambil langsung meraih kue, mengambil dua sekaligus.
"Santai, jangan banyak-banyak. Nanti gak kebagian yang
lain. Masih banyak orang, Tur," tegur Anita.
"Gue cuma ambil satu, kok."
"Tangan lo udah masuk dua kali. Satu untuk tangan
kanan, satu untuk tangan kiri. Itu dua, Tur."
"Ya... satu untuk tangan kanan, satu untuk tangan
kiri. Tangan kanan buat gue, tangan kiri buat gue juga."
"Jadi dua!"
"Iya, dua untuk satu orang. Itu bukan banyak, Nit. Itu
cukup."
Anita menggeleng, tetapi tersenyum.
Camelia datang paling akhir. Ia berjalan pelan, dengan
tatapan yang sedikit kosong, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang
berat, sesuatu yang tidak bisa dibagikan kepada orang lain. Sesuatu yang
mungkin hanya ia sendiri yang mengerti.
"Pagi, Mel," sapa Joko.
"Pagi," jawab Camelia singkat, lalu duduk di kursi
pojok, kursi yang selalu ia pilih, kursi yang dekat dengan jendela sehingga ia
bisa melihat ke luar.
"Kok keliatan lesu? Kurang tidur? Atau kebanyakan
mimpi?"
"Tidur cukup. Cuma... mimpi aneh. Mimpi yang sama
seperti kemarin, tapi lebih jelas."
Semua langsung menatap Camelia. Mereka tahu bahwa Camelia
sering mendapat firasat melalui mimpinya. Dan mimpi Camelia jarang sekali
salah. Beberapa kali ia bermimpi tentang sesuatu yang kemudian benar-benar
terjadi, kematian tetangga, kecelakaan di jalan, hujan deras yang tidak
terduga.
"Mimpi apa?" tanya Yulia, suaranya sedikit
bergetar.
Camelia terdiam sejenak, menatap wajah mereka satu per
satu. "Nanti saja ceritanya. Biar semua pada kumpul. Supaya gak perlu
ngulang cerita dua kali."
Bagian 8: Rapat Dimulai
Jam delapan tepat, semua anggota KPAAB sudah hadir.
Joko berdiri di depan papan tulis, memandang satu per satu
wajah yang ada di hadapannya. Hitung-hitungan: Joko, Hermansyah, Guntur,
Camelia, Nadia, Anita, Yulia, Bayu, Arga, Jojon, dan Amat Junior. Sebelas
orang. Sebelas orang yang akan mengambil keputusan yang bisa mengubah hidup
mereka.
"Baik," kata Joko memulai, suaranya tegas dan
lantang. "Kita mulai rapat. Agenda hari ini: finalisasi rencana pendakian
eksplorasi ke Gunung Merbabu melalui jalur alternatif Desa Suralaya."
"Sebelum mulai," potong Guntur, mengangkat tangan
seperti anak SD yang mau bertanya, "gue usul, kita nyanyi dulu. Biar
semangat. Lagu 'Naik-naik ke Puncak Gunung' atau 'Pelangi-Pelangi'."
"Gak usah, Tur. Kita bukan anak TK."
"Lagu Indonesia Raya aja, gak papa. Satu stanza. Biar
nasionalis."
"Tur, seriusan, gue bisa tendang lo keluar. Lo tahu
gue bisa."
"Baik, baik. Lanjut. Lanjut. Gue tutup mulut."
Joko menghela napas. "Seperti yang sudah kita bahas
minggu lalu, kita punya rencana untuk melakukan pendakian eksplorasi di Gunung
Merbabu melalui jalur alternatif dari Desa Suralaya."
Ia menunjuk peta yang digantung di papan tulis, peta yang
sudah ia tambahi dengan sketsa jalur Suralaya.
"Ini jalurnya. Tidak tercatat secara resmi dalam
peta-peta pendakian. Tidak memiliki pos pendakian. Tidak memiliki jalur yang
jelas. Hanya diketahui oleh masyarakat setempat, dan itupun hanya beberapa
orang."
"Dan kenapa kita harus ambil jalur itu?" tanya
Hermansyah, pertanyaan yang sudah ia duga sejak semalam. Pertanyaan yang
menjadi inti dari seluruh perdebatan.
"Karena kita ingin menjadi yang pertama," jawab
Joko tegas.
"Menjadi yang pertama dalam hal apa? Menjadi yang
pertama mati? Menjadi yang pertama hilang? Menjadi yang pertama gila?"
"Menjadi yang pertama mendokumentasikan jalur itu
secara resmi. Menjadi yang pertama memetakan titik-titik berbahaya, titik-titik
air, titik-titik camp. Menjadi yang pertama membuka jalan bagi pendaki lain
yang ingin mencoba."
"Tapi apakah itu perlu?" tanya Nadia.
"Bukannya jalur yang sudah ada sudah cukup? Selo, Wekas, Suwanting, itu
sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pendaki."
Joko tersenyum. "Nad, lo tuh ahli navigasi. Lo ahli
membaca peta, ahli menggunakan kompas, ahli menentukan arah. Lo pasti tahu
pentingnya memiliki data lengkap tentang sebuah jalur pendakian."
"Tentu saja," jawab Nadia. "Data itu penting
untuk keselamatan. Tapi untuk apa kita mengorbankan keselamatan demi data?
Bukankah itu kontradiktif? Mengorbankan keselamatan untuk mendapatkan data
keselamatan?"
"Bukan mengorbankan keselamatan. Kita akan
mempersiapkan semuanya dengan matang. Tidak ada yang nekat. Tidak ada yang
asal-asalan."
"Seberapa matang?" tanya Hermansyah lagi, dengan
nada skeptis yang sama seperti kemarin.
Joko mengambil sebuah map tebal dari tasnya. Map berwarna
coklat dengan tali karet di sekelilingnya. Ia membukanya dan menunjukkan
isinya, halaman demi halaman berisi rencana perjalanan, estimasi waktu, daftar
perlengkapan per orang, pembagian tugas, rencana darurat, daftar kontak
penting, dan berbagai macam hal lain yang sudah ia persiapkan selama
berminggu-minggu.
"Ini," kata Joko, meletakkan map itu di atas
meja. "Ini tingkat kematangan persiapan kita. Silakan lihat. Silakan baca.
Silakan kritik."
Bagian 9: Perdebatan
Panas
Hermansyah mengambil map itu dan membacanya dengan saksama.
Matanya bergerak cepat dari satu halaman ke halaman lain, membaca setiap kata,
setiap angka, setiap catatan kaki. Wajahnya berubah, dari skeptis, dari ragu,
menjadi sedikit terkesan, meskipun ia tidak mau mengakuinya.
"Ini... cukup lengkap," katanya akhirnya, setelah
beberapa menit membaca. "Lo bikin ini sendiri? Sendirian?"
"Aku dibantu Nadia untuk bagian navigasi, Anita untuk
bagian logistik, Yulia untuk bagian perizinan. Tapi sisanya, ya, aku."
"Ini kerja bagus, Jo. Lo serius."
"Makasih," kata Joko, tersenyum lega. "Gue
gak akan asal-asalan, Man. Lo kenal gue. Lo tahu gue bukan orang yang ceroboh.
Gue selalu mikir matang-matang sebelum bertindak."
"Gue kenal lo. Tapi gue juga tahu bahwa lo kadang
terlalu ambisius. Terlalu bersemangat. Terlalu yakin bahwa semuanya akan
berjalan lancar. Padahal alam tidak selalu bisa diprediksi."
"Apa salahnya punya ambisi? Apa salahnya punya
semangat? Apa salahnya punya keyakinan?"
"Ambisi itu bagus. Semangat itu bagus. Keyakinan itu
bagus. Tapi kalau buta, namanya nekat. Dan nekat itu tidak pernah berakhir
baik."
Suasana mulai memanas. Anggota lain hanya bisa terdiam, melihat
dua pemimpin mereka beradu argument, seperti pertandingan tinju tanpa pukulan,
tetapi dengan kata-kata.
Guntur mengangkat tangan. "Gue usul, kita voting aja.
Mayoritas menang. Simple, cepat, tidak pakai ribut."
"Bukan masalah voting," potong Yulia cepat.
"Ini masalah keselamatan. Bukan soal siapa yang paling banyak dukungan.
Kalau mayoritas setuju tapi persiapan kurang matang, kita tetap berbahaya. Dan
bahaya itu tidak peduli dengan suara terbanyak."
"Makanya kita harus yakin dulu," kata Nadia.
"Apakah persiapan ini cukup? Apakah kita siap menghadapi risiko? Apakah
kita siap jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi?"
"Risiko apa yang paling besar?" tanya Bayu, anggota
yang paling penakut, yang selalu membayangkan skenario terburuk dalam setiap
situasi. "Apa yang paling mungkin terjadi? Tersesat? Kecelakaan? Cuaca
buruk? Atau... hal-hal mistis?"
Semua terdiam.
Camelia akhirnya bersuara. "Risiko terbesar bukan
medan. Bukan cuaca. Bukan kelelahan."
"Lalu apa?" tanya Amat.
Camelia menatap satu per satu. "Risiko terbesar
adalah... kita kehilangan arah. Bukan arah di peta, tapi arah dalam pikiran.
Kita bisa tersesat, bukan karena jalurnya hilang, tapi karena kita sendiri yang
hilang."
"Mel, lo mulai lagi," keluh Guntur, meskipun
suaranya tidak lagi santai seperti biasanya.
"Lo dulu dengar cerita dari Mbah Jayasuprapta,"
kata Camelia. "Cerita tentang jalur ujian. Tentang orang-orang yang masuk
ke jalur itu dan tidak bisa keluar, bukan karena mereka mati, tapi karena
mereka berubah. Lo tahu itu tidak main-main."
Guntur terdiam. Wajahnya berubah pucat.
"Cerita apa?" tanya Yulia penasaran. "Cerita
tentang apa? Kenapa gue gak pernah dengar?"
Guntur menghela napas panjang. "Cerita tentang
orang-orang yang masuk ke jalur itu... dan tidak bisa keluar. Bukan karena mereka
mati secara fisik, mereka masih hidup, masih bernapas, masih makan dan minum.
Tapi karena... mereka berubah."
"Berubah bagaimana?" tanya Arga.
"Menjadi orang yang berbeda. Lupa siapa diri mereka.
Lupa keluarga, lupa teman, lupa nama mereka sendiri, lupa masa lalu mereka.
Seperti... otak mereka direset. Seperti mereka dilahirkan ulang tanpa
ingatan."
Suasana menjadi hening. Sangat hening. Angin di luar seolah
ikut berhenti, burung-burung berhenti berkicau, bahkan detak jarum jam dinding
seolah melambat.
"Tur," kata Joko akhirnya, "lo percaya
cerita itu? Lo yang selalu bilang bahwa semua hal mistis itu omong
kosong?"
"Awalnya gak," jawab Guntur pelan. "Awalnya
gue pikir itu cuma cerita orang tua untuk menakut-nakuti anak kecil. Tapi makin
gue pikir, makin gue dengar cerita dari orang lain, makin banyak hal yang gak
bisa dijelaskan."
"Dan lo baru cerita sekarang? Kenapa gak dari awal?
Kenapa gak waktu kita pertama kali membahas rencana ini?"
"Gue kira cerita itu cuma omongan kosong. Omongan
tidak bertanggung jawab. Tapi setelah Mel bilang mimpi aneh, setelah gue dengar
dari Mbah Jayasuprapta sendiri... gue jadi mikir. Mungkin ada sesuatu yang
lebih dari sekadar cerita."
Semua mata beralih ke Camelia.
"Mel," kata Joko, "cerita tentang mimpi lo.
Sekarang. Jelas. Jangan disembunyikan lagi."
Bagian 10: Mimpi Camelia
Camelia menarik napas dalam-dalam.
Ruangan terasa semakin sunyi. Semua orang menahan napas,
menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.
"Gue mimpi berada di tengah hutan," mulainya
pelan, hampir seperti berbisik. "Kabut tebal banget. Tebal sampai gue gak
bisa lihat tangan gue sendiri. Gue gak bisa lihat apa-apa. Hanya putih, hanya
kabut, hanya kehampaan."
"Suara apa?" tanya Anita.
"Suara langkah kaki. Banyak. Seperti ada puluhan orang
yang berjalan mengelilingi gue, membentuk lingkaran. Tapi gue gak bisa lihat
siapa mereka. Hanya suara. Hanya langkah. Hanya bisikan."
"Bisikan apa?"
"Bisikan yang gak bisa gue pahami. Seperti bahasa yang
tidak dikenal, atau seperti suara yang terbalik. Tapi gue tahu itu bukan suara
biasa. Itu... berbeda."
"Terus?" tanya Yulia.
"Lalu... gue dengar suara yang familiar. Suara yang
gue kenal. Suara Joko."
Joko terkejut. "Suara gue? Gue manggil lo?"
"Iya. Lo manggil nama gue. Berulang-ulang. 'Mel...
Mel... ke sini... Mel...'"
"Tapi gue gak pernah manggil lo kayak gitu. Gak
pernah."
"Gue tahu. Karena suara itu... dingin. Sangat dingin.
Gak seperti suara lo yang biasa, hangat, ramah, penuh semangat. Suara itu
datar, kosong, seperti tanpa jiwa. Rasanya... seperti dipaksakan. Seperti
seseorang yang mencoba meniru suara lo, tetapi tidak bisa meniru
esensinya."
Nadia menyilangkan tangan. "Mel, lo yakin itu bukan
cuma mimpi biasa? Mungkin karena lo terlalu banyak mikirin pendakian, terlalu
banyak dengar cerita mistis, jadi otak lo memprosesnya menjadi mimpi."
"Gue gak tahu. Tapi gue bangun dengan perasaan... takut.
Bukan takut karena mimpi, gue sudah biasa mimpi aneh. Tapi takut karena sesuatu
yang gak bisa dijelaskan. Seperti ada yang mengawasi gue dari balik jendela. Seperti
ada yang membisikkan nama gue di telinga."
Hening kembali.
Joko berdiri. Ia menatap semua anggota.
"Gue paham ketakutan kalian," katanya, suaranya
tegas namun lembut. "Gue juga takut. Siapa yang tidak takut menghadapi
sesuatu yang tidak diketahui? Tapi ketakutan itu gak boleh menghentikan kita.
Kalau kita berhenti karena takut, kita gak akan pernah tumbuh. Kalau kita
berhenti karena takut, kita akan selamanya berada di tempat yang sama."
"Tapi ada batas antara berani dan bodoh, Jo,"
kata Hermansyah.
"Dan gue yakin kita masih di sisi berani. Kita punya
persiapan, kita punya tim, kita punya keyakinan."
"Berdasarkan apa? Berdasarkan mimpi? Berdasarkan
cerita orang tua?"
"Berdasarkan persiapan kita. Berdasarkan kebersamaan
kita. Berdasarkan keyakinan bahwa kita bisa melakukan ini bersama-sama. Bukan
sendirian. Bukan masing-masing."
Hermansyah menggeleng. "Keyakinan tanpa data hanyalah
harapan kosong. Dan harapan kosong tidak akan menyelamatkan kita jika terjadi
sesuatu."
"Lalu apa yang lo usulkan? Kita batalkan? Kita
lupakan? Kita pura-pura tidak pernah punya ide ini?"
"Gue usulkan kita cari informasi lebih dulu. Turun ke
Desa Suralaya, bicara dengan warga, bicara dengan sesepuh, kumpulkan data
sebanyak mungkin. Baru setelah itu kita putuskan. Jangan terburu-buru."
Joko menghela napas. Itu usulan yang masuk akal, sangat
masuk akal, sangat logis, sangat seperti Hermansyah. Namun Joko tahu, jika
mereka terlalu lama mempersiapkan, jika mereka terlalu banyak berpikir, jika
mereka terlalu banyak ragu, semangat akan luntur. Dan tanpa semangat,
perjalanan tidak akan pernah dimulai.
"Baik," kata Joko akhirnya, setelah pertimbangan
panjang. "Kita setuju. Minggu depan, kita ke Desa Suralaya. Kita cari
informasi sebanyak mungkin. Kita bicara dengan siapa pun yang bisa diajak
bicara. Kita kumpulkan data sebanyak mungkin."
"Dan siapa yang akan pergi?" tanya Yulia.
"Gue, Man, Tur, Mel, Nad, dan Anita. Cukup enam orang.
Kita tidak perlu ramai-ramai."
"Kenapa gue gak ikut? Kenapa gue harus di sini?"
protes Yulia, kesal.
"Lo tugasnya jaga sekretariat. Lo tugasnya koordinasi
dengan Pak Iwan. Lo tugasnya menyiapkan perizinan. Siapa tahu ada yang perlu.
Siapa tahu ada surat yang harus ditandatangani."
Yulia mendengus kesal, melipat tangan di dada, tetapi tidak
membantah. Ia tahu Joko benar, meskipun ia tidak suka mengakuinya.
Rapat pun selesai. Namun keputusan belum final. Perdebatan
masih akan berlanjut. Dan di balik semua itu, bayangan jalur Suralaya terus
menghantui pikiran mereka, seperti gunung yang terus memanggil, tanpa pernah
berusaha dijelaskan.
Bagian 11: Di Luar
Sekretariat
Setelah rapat, suasana di luar sekretariat terasa lebih
tenang.
Matahari sudah cukup tinggi, menghilangkan kabut yang
semula menyelimuti desa. Anak-anak mulai bermain di lapangan, berlarian, tertawa,
jatuh, bangun, menangis, lalu tertawa lagi. Ibu-ibu sibuk berjualan di pasar
desa, menawarkan sayuran, buah-buahan, dan berbagai macam kebutuhan
sehari-hari.
Joko dan Hermansyah duduk di bangku kayu di depan
secretariat, bangku yang sudah lapuk dan reyot, tetapi masih cukup kuat untuk
menahan berat badan mereka. Udara masih sejuk, meskipun matahari sudah bersinar
terang.
"Lo yakin dengan rencana ini, Jo?" tanya
Hermansyah pelan, tanpa menoleh.
"Gue gak yakin seratus persen," jawab Joko jujur,
karena ia tidak pernah berbohong kepada Hermansyah. "Gue masih punya
keraguan. Gue masih punya ketakutan. Gue masih bertanya-tanya apakah ini
keputusan yang benar."
"Lalu kenapa lo tetap ingin melanjutkan?"
"Karena gue yakin kalau kita gak mencoba, kita akan menyesal.
Kita akan selalu bertanya-tanya, 'bagaimana jika'. Dan pertanyaan itu akan
menghantui kita selamanya."
"Menyesal karena apa? Karena melewatkan kesempatan
untuk melakukan sesuatu yang berbahaya?"
"Karena melewatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu
yang berarti. Sesuatu yang akan kita ingat sampai tua. Sesuatu yang akan kita
ceritakan ke anak cucu kita."
Hermansyah terdiam. Ia menatap Gunung Merbabu yang tampak
dari kejauhan, megah, tenang, tidak terganggu oleh keramaian dunia.
"Lo tahu," katanya akhirnya, "setiap kali
gue lihat gunung itu, gue selalu bertanya-tanya."
"Bertanya-tanya tentang apa? Tentang apa yang ada di
balik kabut?"
"Tentang apa yang ada di sana. Tentang apa yang belum
kita lihat. Tentang... apakah ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh buku
atau peta atau logika."
Joko tersenyum. "Jadi lo juga penasaran? Lo yang
selalu bilang bahwa semua bisa dijelaskan dengan logika?"
"Penasaran, iya. Siapa yang tidak penasaran? Tapi gue
gak mau penasaran membuat kita ceroboh. Gue gak mau rasa ingin tahu membunuh
kita."
"Dan gue gak akan ceroboh. Janji. Aku berjanji pada
lo, Man."
Mereka berjabat tangan. Dua sahabat yang berbeda pendapat
dalam banyak hal, tetapi satu tujuan. Satu mimpi. Satu keyakinan bahwa bersama,
mereka bisa melewati apa pun.
Di dalam sekretariat, Guntur dan Camelia sedang duduk
berdua di pojok ruangan, dekat jendela, tempat Camelia biasanya duduk.
"Mel," kata Guntur pelan, suaranya nyaris tidak
terdengar, "mimpi lo... seberapa serius? Seberapa nyata?"
Camelia menatap Guntur. Matanya dalam, seolah bisa melihat
ke dalam jiwa. "Lo percaya?"
"Gue gak tahu. Gue masih bingung. Tapi... gue
merasakan sesuatu yang sama. Sesuatu yang tidak bisa gue jelaskan."
"Apa yang lo rasakan?"
Guntur menghela napas. "Seperti ada yang memanggil. Bukan
suara, tapi... perasaan. Seperti ada sesuatu di gunung itu yang ingin kita
temukan. Atau... ingin menemukan kita."
"Atau ingin kita temukan," kata Camelia,
mengulangi kata-kata Guntur dengan nada yang berbeda.
Mereka berdua terdiam. Masing-masing tenggelam dalam
pikirannya sendiri. Masing-masing berusaha memahami perasaan yang tidak bisa
dijelaskan.
Bagian 12: Sore yang
Menenangkan
Sore harinya, Joko berjalan sendirian ke sawah di belakang
rumahnya.
Pemandangan di sana selalu menenangkannya, mungkin karena
itulah tempat ia berlindung sejak kecil setiap kali ada masalah. Hamparan padi
yang mulai menguning, siap panen dalam beberapa minggu. Gunung Merbabu di
kejauhan, megah dan tenang. Dan langit yang berwarna jingga keemasan, seperti
lukisan yang sempurna.
Ia duduk di pematang sawah yang sedikit lembap, merasakan
tanah di bawah kakinya. Angin berhembus pelan, membawa aroma padi yang mulai
matang dan tanah basah.
"Masih suka ke sini, ya?"
Joko menoleh. Itu Dina, adiknya, yang berdiri sambil
membawa dua gelas es the, gelas plastik bening dengan es batu yang sudah mulai
mencair.
"Iya," jawab Joko. "Masih sama seperti dulu.
Tidak pernah berubah."
"Bapak dulu sering ngajak Mas ke sini waktu
kecil," kata Dina sambil duduk di samping Joko, meletakkan gelas es teh di
antara mereka. "Katanya, kalau lagi bingung, lihat aja sawah. Pasti nemu
jawaban. Katanya, alam punya cara sendiri untuk berbicara."
Joko tersenyum. "Bapak memang bijak. Bijak dalam
diam."
"Mas lagi bingung? Kayaknya dari tadi pagi Mas melamun
terus."
"Sedikit. Sedikit bingung. Sedikit ragu. Sedikit
takut."
"Tentang rencana pendakian? Yang lewat jalur baru
itu?"
"Lo tahu? Dari mana?"
"Dengar dari Ibu. Ibu cerita sambil nangis. Mas,
jangan marah ya... tapi Ibu khawatir banget. Bukan khawatir biasa, tapi
khawatir berat. Sampai beliau lupa garam buat masak."
Joko terdiam. "Gue tahu. Gue tahu Ibu khawatir."
"Tapi Mas tetap akan pergi, kan? Meskipun Ibu
khawatir? Meskipun aku khawatir?"
Joko menatap adiknya. Dina tidak lagi kecil. Ia sudah
mengerti banyak hal. Mungkin lebih banyak dari yang Joko kira.
"Lo setuju? Lo setuju Mas pergi?"
Dina tersenyum. "Gue setuju selama Mas yakin. Selama
Mas sudah memikirkan semuanya dengan matang. Selama Mas tidak hanya
mengandalkan semangat. Tapi kalau Mas ragu... lebih baik jangan. Lebih baik
tunggu sampai yakin."
"Gue tidak ragu. Gue hanya... waspada. Waspada itu
berbeda dengan ragu."
"Ya sudah. Kalau begitu, pergi saja. Tapi janji bakal
pulang. Janji bakal kembali. Bawa oleh-oleh."
"Janji. Janji berat."
Mereka berdua memandang Gunung Merbabu yang mulai
diselimuti kabut sore. Kabut yang turun perlahan, seperti tirai yang menutup
panggung setelah pertunjukan usai.
Di kejauhan, gunung itu berdiri diam. Menyimpan rahasia.
Menunggu kedatangan mereka.
Bagian 13: Malam yang
Penuh Pemikiran
Malam harinya, Joko duduk di kamarnya. Lampu minyak tanah
menyala redup, karena listrik padam, seperti biasa pada malam hari di Desa Awan
Biru, menerangi buku catatan yang ia buka.
Ia mengambil pulpen, pulpen murah yang tintanya sering
macet, dan mulai menulis.
"Hari ini rapat. Perdebatan masih berlangsung. Man
masih skeptic, tapi kali ini skeptisnya beralasan. Tur mulai percaya pada
hal-hal yang tidak bisa dijelaskan, hal yang paling tidak pernah ia lakukan. Mel
punya mimpi aneh, mimpi yang membuatnya takut, dan membuat kami semua takut.
Dan gue... gue merasa ini adalah awal dari sesuatu yang besar. Sesuatu yang
akan mengubah hidup kami semua.
Gue tidak tahu apa yang menanti di jalur Suralaya. Mungkin
keindahan yang belum pernah kami lihat. Mungkin bahaya yang tidak kami duga.
Mungkin pelajaran yang tidak kami cari. Tapi gue yakin satu hal: perjalanan ini
akan mengubah kami semua. Tidak ada yang akan kembali sebagai orang yang sama.
Apakah kami siap? Mungkin tidak. Mungkin tidak ada yang
benar-benar siap untuk menghadapi hal yang tidak diketahui. Tapi apakah kami
akan menyesal jika tidak mencoba? Pasti. Pasti akan ada penyesalan yang tidak
bisa dihapus.
Maka tidak ada pilihan lain selain melangkah. Meskipun kaki
terasa berat. Meskipun hati berbisik untuk berbalik.
Gunung, tunggu kami. Kami akan datang. Meskipun kami tidak
tahu apa yang akan kami temukan."
Ia menutup buku catatannya dan memejamkan mata.
Di luar, angin malam berhembus lebih dingin dari biasanya.
Burung hantu berbunyi dari kejauhan, suara yang sayu, seperti tangisan yang
tertahan.
Dan di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri sunyi, menyaksikan,
menunggu, dan mungkin... tersenyum. Tersenyum pada anak-anak muda yang berani
bermimpi. Tersenyum pada petualang-petualang yang akan menginjakkan kaki di
lerengnya. Tersenyum pada cerita yang akan lahir di antara kabut dan pepohonan.
BAB 2
Restu dan Tanggung Jawab
Bagian 1: Langit Cerah, Hati yang Gelisah
Langit Desa Awan Biru siang itu tampak cerah tanpa secuil awan
pun. Biru pekat membentang dari ufuk timur hingga barat, seolah alam sedang
menunjukkan keindahannya yang paling sempurna. Matahari bersinar terang, tetapi
tidak menyengat, masih ada kelembutan di pagi yang baru beranjak menuju siang.
Namun di balik semangat yang membuncah, langkah berikutnya
tidak lagi sekadar soal keberanian. Bukan lagi tentang seberapa berani mereka
menghadapi gunung. Sekarang, perjalanan ini memasuki fase yang berbeda, fase di
mana mereka harus berhadapan dengan sistem, dengan birokrasi, dengan
orang-orang yang berwenang. Fase yang tidak kalah menegangkan dari pendakian
itu sendiri.
Sejak rapat kemarin, suasana di sekretariat KPAAB berubah
drastis. Tidak lagi sekadar tempat berkumpul dan bercanda, tertawa dan berdebat
tanpa arah. Sekretariat telah berubah menjadi pusat koordinasi yang serius, hampir
seperti markas militer versi desa.
Setiap anggota diberikan tugas masing-masing berdasarkan
keahlian dan kemauan. Ada yang bertugas mengurus perizinan, berurusan dengan
surat-menyurat, cap basah, tanda tangan, dan segala macam dokumen administratif
yang rumit. Ada yang mengumpulkan logistic, menghitung kebutuhan kalori,
mengemas makanan, memastikan tidak ada yang kekurangan. Ada yang mempelajari
peta dan jalur—mencari informasi dari berbagai sumber, membandingkan data,
membuat estimasi waktu. Dan ada pula yang bertugas mencari informasi tentang
Desa Suralaya, menghubungi warga, mencari kenalan yang punya kenalan,
meraba-raba dalam ketidakpastian.
Joko tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Pikirannya terlalu
sibuk membayangkan pertemuan dengan Kepala Desa siang ini. Pak Iwan Setiawan
bukan orang yang mudah dibujuk dengan kata-kata manis atau semangat muda yang
membara. Ia adalah pemimpin yang bijaksana, bijaksana karena pengalaman,
bijaksana karena usia, bijaksana karena telah melihat banyak anak muda datang
dan pergi dengan mimpi-mimpi besar yang kadang berakhir dengan kenyataan pahit.
Pak Iwan sangat protektif terhadap warganya, terutama
anak-anak muda yang sering dianggapnya terlalu nekat, terlalu bersemangat,
terlalu yakin bahwa mereka kebal terhadap bahaya. Ia tahu bahwa semangat bisa
membutakan. Ia tahu bahwa keberanian tanpa perhitungan adalah kebodohan. Dan ia
tidak ingin warganya menjadi korban dari kebodohan mereka sendiri.
"Jangan sampai ada yang salah ngomong, ya," bisik
Yulia saat mereka berjalan menuju kantor desa. Ia berjalan di samping Joko,
dengan langkah tegas seperti biasa, tetapi matanya menunjukkan kegugupan yang
tidak biasa. "Satu kata salah, bisa batal semua."
"Tenang saja," jawab Guntur santai, berjalan di
belakang mereka sambil mengunyah permen karet—kebiasaan buruk yang tidak bisa
ia hentikan. "Yang penting jangan kamu yang ngomong duluan. Kalau kamu
yang mulai, pasti langsung debat."
Yulia menyikutnya pelan, cukup keras untuk membuat Guntur
mengaduh. "Bisa nggak sih kamu serius sedikit? Ini bukan acara bercanda.
Ini urusan hidup mati."
"Serius itu mahal, Yul. Aku lagi nabung. Nanti kalau
sudah kaya, baru aku serius."
"Lo tuh..."
"Sudah, sudah," potong Joko tanpa menoleh.
"Jangan berantem sekarang. Kita harus fokus. Satu langkah salah, satu kata
salah, bisa buyar semua. Kita sudah terlalu jauh untuk gagal di tahap
ini."
Rombongan KPAAB berjalan beriringan menuju kantor desa yang
terletak di pusat Desa Awan Biru, tidak jauh dari lapangan desa dan masjid
besar. Bangunan itu tidak terlalu besar, sekitar sepuluh kali dua belas meter, namun
terlihat kokoh dengan dinding bata putih yang dicat ulang setiap tahun, atap
genteng merah yang masih baru karena baru diganti tahun lalu, dan halaman yang
bersih dari rumput liar.
Bendera Merah Putih berkibar pelan di halaman depan, di
atas tiang yang sedikit miring karena angin sering kencang di desa mereka. Di
samping bendera, ada papan nama besar bertuliskan "Kantor Kepala Desa Awan
Biru" dengan huruf emas yang sedikit mengelupas.
Beberapa perangkat desa duduk di teras, menghisap rokok
sambil membaca koran. Mereka menoleh sekilas ketika rombongan KPAAB lewat, lalu
kembali ke aktivitas mereka, seolah kedatangan anak-anak muda ini sudah terlalu
sering terjadi untuk dianggap istimewa.
Bagian 2: Kantor Desa
yang Khidmat
Di dalam ruangan utama, suasana terasa lebih khidmat.
Ruangan itu tidak besar, mungkin hanya cukup untuk dua
puluh orang duduk dengan nyaman. Dindingnya dihiasi dengan foto-foto kegiatan
desa, kerja bakti, perayaan hari kemerdekaan, pengajian, dan berbagai acara
lain yang melibatkan warga. Ada juga foto Pak Iwan bersama bupati, bersama
camat, bersama tokoh-tokoh penting lainnya, semua dibingkai rapi dengan pigura
kayu berwarna coklat.
Beberapa perangkat desa duduk di kursi-kursi yang disusun
rapi di samping ruangan. Mereka berpakaian rapi, kemeja batik lengan panjang,
celana kain hitam, dan sandal kulit mengilap. Wajah-wajah mereka serius,
seperti sedang menghadiri sidang pengadilan.
Di depan, di balik meja kayu jati yang besar dan kokoh,
duduk Pak Iwan Setiawan dengan tenang. Meja itu sudah tua, mungkin sudah ada
sejak kantor desa ini dibangun puluhan tahun lalu, tetapi masih kokoh, dengan
ukiran-ukiran halus di setiap sudutnya.
Pak Iwan mengenakan kemeja batik coklat dengan motif
parang, lengan panjang yang digulung sedikit hingga siku. Wajahnya bulat dengan
kumis tebal di atas bibir atas, rambutnya yang mulai beruban disisir rapi ke
belakang. Matanya tajam, tajam seperti elang yang mengamati mangsa, tetapi
penuh wibawa. Siapa pun yang menatap matanya akan merasa sedang dihakimi,
sedang dievaluasi, sedang dinilai apakah ia layak atau tidak.
Ia bukan hanya pemimpin desa. Ia adalah sosok yang memahami
betul karakter pemuda-pemuda di hadapannya. Ia tahu bahwa mereka adalah
anak-anak yang baik, keras kepala, mungkin, tapi baik. Ia tahu bahwa mereka
tidak berniat jahat, tidak berniat merusak, tidak berniat membuat masalah.
Namun ia juga tahu bahwa niat baik tidak selalu berakhir dengan hasil baik. Dan
itu yang membuatnya khawatir.
"Silakan duduk," kata Pak Iwan sambil menunjuk
kursi-kursi panjang yang telah disediakan di depan mejanya. Suaranya tenang,
tidak tinggi, tetapi terdengar jelas di seluruh ruangan.
Joko memimpin rombongan duduk dengan rapi, berbaris seperti
pasukan yang akan menerima komando. Guntur yang biasanya paling banyak bicara,
paling sering bercanda, paling sulit diam, kali ini memilih untuk diam total.
Ia bahkan berusaha tidak mengunyah permen karetnya. Yulia yang biasanya tegas
dan tidak takut pada siapa pun, kali ini terlihat gugup, tangannya menggenggam
erat ujung bajunya. Bahkan Hermansyah yang selalu tenang dalam situasi apa pun,
terlihat sedikit gelisah, matanya bergerak cepat, mengamati setiap sudut ruangan,
setiap ekspresi wajah perangkat desa, setiap gerakan kecil Pak Iwan.
"Jadi," suara Pak Iwan memecah keheningan yang
terasa berat, "kalian ingin membuka jalur baru di Gunung Merbabu? Bukan
sekadar mendaki, tapi benar-benar membuka jalur yang belum pernah ada?"
Joko mengangguk mantap. Dadanya berdebar kencang, tetapi ia
berusaha untuk tidak menunjukkannya. "Iya, Pak. Kami sudah diskusikan
matang-matang. Sudah kami rencanakan dengan detail. Kami tidak akan berangkat
tanpa persiapan."
"Matang?" ulang Pak Iwan, sedikit mengernyit, kerutan
di dahinya semakin dalam. "Gunung itu bukan ladang jagung yang bisa kalian
ukur dengan langkah kaki biasa. Bukan sawah yang bisa kalian arungi dengan mata
tertutup. Gunung itu punya bahaya yang tidak terlihat. Dan jalur yang belum
pernah dilalui... itu berarti kalian tidak tahu apa yang akan kalian
hadapi."
Joko menarik napas dalam-dalam. Ia sudah menduga akan
mendapat pertanyaan seperti ini. Ia sudah mempersiapkan jawaban sejak semalam,
bahkan sejak beberapa hari lalu. Tapi mendengar pertanyaan itu langsung dari
mulut Pak Iwan, dengan mata tajam yang menusuk, membuatnya sedikit kehilangan
kata-kata.
"Kami sadar risikonya, Pak," katanya akhirnya,
setelah mengumpulkan keberanian. "Kami tidak buta. Kami tahu bahwa ini
berbahaya. Tapi kami juga sudah mempersiapkan diri. Fisik, mental, logistik,
perizinan, semua kami siapkan."
"Persiapan seperti apa?" tanya Pak Iwan lagi,
tidak puas dengan jawaban yang terlalu umum.
Joko membuka map coklat yang dibawanya, map yang sudah ia
siapkan sejak seminggu lalu, yang isinya terus ia perbarui setiap hari. Ia
mengeluarkan berkas tebal berisi rencana perjalanan, estimasi waktu, kebutuhan
logistik, pembagian tugas, rencana darurat, daftar kontak penting, dan berbagai
macam dokumen lain yang menurutnya relevan. Semua disusun rapi, dengan cover
yang jelas, halaman yang diberi nomor, dan pembatas warna-warni di setiap
bagian.
"Ini, Pak. Rencana lengkap kami," kata Joko
sambil menyerahkan berkas itu dengan kedua tangan, tanda hormat.
Pak Iwan mengambil berkas itu dengan tangan yang gemulai
namun tegas. Ia membacanya dengan saksama, tidak terburu-buru, tidak
melompat-lompat, tetapi halaman demi halaman, baris demi baris, kata demi kata.
Suasana menjadi hening. Sangat hening. Bahkan suara detak
jarum jam dinding yang biasanya tidak terdengar, kali ini terdengar
jelas—tick... tock... tick... tock... seperti detak jantung yang berdebar
kencang.
Beberapa anggota KPAAB saling pandang, saling melempar
pandangan gelisah. Guntur berusaha tersenyum untuk mencairkan suasana, tetapi
Yulia menyikutnya pelan. Hermansyah duduk tegak, tidak bergerak, seperti
patung. Camelia menatap ke luar jendela, melihat gunung di kejauhan, seolah
mencari ketenangan.
Beberapa menit berlalu. Mungkin lima, mungkin sepuluh, tidak
ada yang benar-benar yakin. Waktu terasa berhenti.
Pak Iwan membalik halaman demi halaman, matanya bergerak
cepat, membaca setiap detail. Sesekali ia berhenti, mengernyit, lalu melanjutkan.
Sesekali ia mengangguk kecil, hampir tidak terlihat, seperti ada sesuatu yang
ia setujui.
Bagian 3: Pertanyaan
yang Tajam
"Secara administratif… ini sudah cukup rapi,"
ujar Pak Iwan akhirnya, setelah menutup berkas itu dan meletakkannya di atas
meja. Matanya beralih dari satu wajah ke wajah lain. "Tapi kalian harus
ingat, ini bukan hanya soal kertas dan rencana. Bukan hanya soal angka dan
estimasi."
"Lalu apa lagi, Pak?" tanya Nadia, yang sejak
tadi diam, tidak berani bersuara.
Pak Iwan bersandar di kursinya. Kayu kursi itu berdecit
pelan. "Mental. Kekompakan. Kemampuan untuk tetap tenang ketika segala
sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Dan… hal-hal yang tidak bisa kalian
jelaskan dengan logika."
Beberapa anggota saling pandang. Guntur dan Camelia
bertukar pandangan singkat, seolah mereka berdua memahami sesuatu yang tidak
dipahami oleh yang lain.
"Bapak maksud…?" tanya Amat pelan, suaranya
nyaris tidak terdengar. Ia adalah anggota paling junior, paling tidak
berpengalaman, dan paling sering kebingungan dalam rapat-rapat seperti ini.
Pak Iwan tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke
matanya. "Kalian ini anak gunung. Kalian sering mendaki, sering berkemah,
sering berhadapan dengan alam. Pasti tahu maksud saya. Pasti pernah mendengar
cerita-cerita. Pasti pernah merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan."
Camelia menunduk, seolah memahami. Guntur menggigit
bibirnya.
Namun Guntur, Guntur yang selalu menjadi yang paling vokal
dalam menentang hal-hal mistis, mengangkat tangan. "Pak, kalau boleh
jujur… saya lebih percaya sama peta dan kompas daripada hal-hal begitu. Peta bisa
dibaca, kompas bisa diandalkan. Tapi cerita-cerita... belum tentu benar."
Pak Iwan menatapnya tajam, begitu tajam hingga Guntur
merasa seperti sedang ditusuk. Namun Pak Iwan tidak marah. Matanya justru
menunjukkan rasa hormat, karena ia menghargai keberanian untuk berbicara jujur.
"Dan itu tidak salah," kata Pak Iwan. "Sama
sekali tidak salah. Saya juga percaya pada logika, pada ilmu pengetahuan, pada
hal-hal yang bisa diukur. Tapi jangan pernah merasa bahwa apa yang tidak kamu
percaya… tidak ada. Jangan pernah merasa bahwa dunia ini hanya sebatas apa yang
bisa kamu lihat dan kamu ukur."
Ruangan kembali hening.
Guntur membuka mulut ingin membantah, bibirnya sudah
terbuka, kata-kata sudah siap di ujung lidah, tapi Hermansyah menarik tangannya
pelan, memberi isyarat untuk diam. Jangan memperburuk keadaan. Jangan membuat
Pak Iwan berubah pikiran.
"Pak," kata Joko pelan, suaranya rendah tetapi
penuh keyakinan, "kami akan tetap menjaga sikap. Kami tidak akan
meremehkan apa pun. Kami akan menghormati alam dan segala isinya. Apapun itu.
Apapun bentuknya."
Pak Iwan mengangguk pelan. "Itu baru jawaban yang saya
harapkan. Jawaban yang menunjukkan bahwa kalian tidak hanya punya semangat,
tetapi juga kebijaksanaan."
Ia kemudian meletakkan berkas itu di atas meja, tidak
diembalikan, tidak ditolak. Disimpan di sampingnya, seolah menjadi pertanda
bahwa ia sedang mempertimbangkan.
"Saya izinkan," katanya tegas.
Sejenak, semua seperti tidak percaya. Mata mereka membulat,
mulut mereka ternganga.
"Serius, Pak?" seru Jojon spontan, tidak bisa
menahan keterkejutannya. Suaranya terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
Guntur langsung menepuk bahunya keras-keras. "Woi,
jaga wibawa dikit! Jangan kayak anak kecil!"
Tawa kecil terdengar, tertahan, tidak berani terlalu keras,
mencairkan suasana yang tegang. Pak Iwan pun tersenyum, meskipun tetap terlihat
serius.
Bagian 4: Syarat yang
Tidak Main-main*
"Tapi…" lanjut Pak Iwan, mengangkat satu jari,
membuat semua kembali fokus dalam sekejap. "Izin ini bukan tanpa syarat.
Saya tidak akan memberikan izin begitu saja tanpa memastikan bahwa kalian
benar-benar siap."
Joko mengangguk. "Kami siap mendengar syaratnya, Pak.
Apa pun itu, kami akan berusaha memenuhinya."
"Pertama, kalian wajib mengurus izin resmi ke Polsek
Kecamatan Kabut Merah. Bukan sekadar lisan, bukan sekadar pemberitahuan, tetapi
surat izin resmi dengan tanda tangan dan cap basah."
"Sudah kami urus, Pak," kata Hermansyah cepat.
"Berkasnya sudah kami siapkan, tinggal proses tanda tangan."
"Belum selesai. Kalian harus mengurus surat keterangan
dari desa, yang nanti akan dilampirkan ke polsek. Tanpa surat dari saya, polsek
tidak akan memproses."
"Baik, Pak. Kami akan segera mengurusnya."
"Kedua, koordinasi dengan desa tujuan, yaitu Desa
Suralaya. Kalian harus mendapatkan izin dari kepala desa setempat. Tidak boleh
memaksakan diri jika ditolak. Tidak boleh nekat jika tidak diizinkan. Hormati
keputusan mereka."
"Kami akan segera ke sana, Pak," kata Joko.
"Minggu depan kami rencanakan survei awal. Bertemu dengan kepala desa,
bertemu dengan warga, mengumpulkan informasi sebanyak mungkin."
"Ketiga, laporan lengkap sebelum dan sesudah
pendakian. Saya ingin tahu rencana detail kalian, rute, waktu, personel,
perlengkapan, rencana darurat. Setelah pendakian, saya ingin laporan evaluasi, apa
yang berjalan baik, apa yang tidak, apa yang bisa dipelajari, apa yang bisa
dibagikan ke pendaki lain."
"Siap, Pak!" jawab mereka serempak, terlalu
serempak, seperti sudah dilatih sebelumnya.
"Dan yang terakhir…" suara Pak Iwan sedikit
melembut. Matanya tidak lagi tajam, tetapi lembut, penuh dengan kekhawatiran
yang tidak bisa ia sembunyikan. "Jaga satu sama lain. Jangan ada yang
pulang sendirian… atau tidak pulang sama sekali."
Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi. Lebih sunyi dari
sebelumnya.
Anita menunduk, menggenggam tangannya erat-erat hingga
buku-buku jarinya memutih. Yulia menggigit bibirnya, bibir bawah yang gemetar
sedikit. Bayu terlihat pucat, seperti baru melihat hantu. Bahkan Guntur yang
biasanya paling banyak bicara, paling sulit diam, hanya bisa terdiam.
"Baik, Pak," jawab Joko pelan, namun penuh
keyakinan. Matanya menatap Pak Iwan langsung, tidak berkedip. "Kami akan
menjaga satu sama lain. Tidak ada yang akan kami tinggalkan."
Pak Iwan berdiri. Seluruh perangkat desa ikut berdiri.
"Kalau begitu, saya tunggu kabar baik dari kalian.
Saya tunggu laporan kalian. Dan saya tunggu kalian semua kembali dengan
selamat."
Pertemuan pun selesai.
Bagian 5: Di Luar Kantor
Desa
Setelah pertemuan selesai, rombongan KPAAB keluar dari
kantor desa dengan perasaan campur aduk.
Lega karena mendapat izin. Lega karena rintangan pertama
berhasil dilewati. Tapi juga sedikit terbebani, terbebani dengan tanggung jawab
yang diberikan, dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi, dengan kepercayaan
yang harus dijaga.
"Gila, deg-degan banget tadi," kata Bayu sambil
mengelus dadanya, seperti orang yang baru selamat dari kecelakaan.
"Jantung gue ras mau copot. Keringat dingin terus."
"Aku sampe lupa napas," sahut Jojon.
"Beberapa kali gue nahan napas tanpa sadar."
"Lo tuh dari awal emang gak pernah napas. Udah
kebiasaan." Guntur mencoba bercanda, meskipun suaranya masih sedikit
bergetar.
"Eh, kurang ajar lo! Gue masih hidup, masih bernapas,
masih..."
"Ya, ya, ya. Santai."
Mereka tertawa, tertawa lega, tertawa karena ketegangan
yang akhirnya mereda.
Joko berhenti di halaman kantor desa, di bawah pohon
beringin besar yang sudah berusia puluhan tahun. Ia menatap langit yang cerah,
tanpa awan, biru pekat seperti lautan.
"Ini baru awal," katanya. "Perjalanan kita
masih panjang. Jauh lebih panjang dari yang kita bayangkan."
"Dan masih banyak yang harus dipersiapkan,"
tambah Hermansyah. "Perizinan, logistik, informasi. Jangan sampai ada yang
terlewat."
"Jadi sekarang kita ke polsek?" tanya Nadia.
"Besok saja," jawab Joko. "Sekarang kita
kembali ke sekretariat. Kita rapikan semua berkas. Kita evaluasi apa yang
kurang. Kita pastikan tidak ada yang terlewat."
"Setuju," kata yang lain.
Mereka berjalan kembali ke sekretariat, melewati jalan desa
yang mulai ramai oleh aktivitas warga. Ibu-ibu berjalan ke pasar dengan
keranjang di tangan. Bapak-bapak berangkat ke sawah dengan cangkul di pundak.
Anak-anak berlarian dengan tas sekolah yang sedikit terlalu besar untuk tubuh
mereka.
Beberapa orang menyapa, beberapa hanya melambai. Ada yang
bertanya tentang rencana mereka, ada yang hanya tersenyum. Ada yang mendukung,
ada yang skeptis.
"Anak-anak KPAAB itu ya... suka bikin repot,"
kata seorang bapak-bapak kepada temannya, sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi mereka tidak pernah merusak," jawab
temannya. "Mereka hanya... berbeda. Mereka punya mimpi yang berbeda."
"Dan perbedaan itu kadang membuat khawatir."
"Tapi juga membuat bangga. Setidaknya mereka tidak
hanya diam di rumah."
Bagian 6: Sekretariat
yang Sibuk
Sekretariat KPAAB sore itu berubah menjadi pusat komando.
Joko duduk di depan papan tulis, menuliskan daftar tugas
yang harus diselesaikan dalam huruf kapital yang besar. Tulisannya tidak rapi,
tergesa-gesa, penuh coretan, tetapi bisa dibaca. Hermansyah sibuk dengan laptop
tuanya, laptop bekas yang hanya bisa digunakan untuk mengetik dan membuka file
sederhana, tidak bisa untuk browsing karena koneksi internet yang lemot, membuat
daftar perizinan yang diperlukan, lengkap dengan alamat, nomor telepon, dan
nama-nama pejabat yang harus dihubungi.
Nadia dan Anita sibuk memeriksa perlengkapan pendakian yang
disimpan di gudang kecil di belakang sekretariat. Tali, carabiner, tenda,
kompor, matras, senter, dan berbagai macam peralatan lainnya dikeluarkan satu
per satu, diperiksa dengan teliti, dicatat kondisinya.
"Tali ini udah agak aus," kata Nadia sambil
memeriksa tali nilon biru yang sudah mulai berbulu di beberapa bagian.
"Usianya sudah lima tahun, mungkin."
"Masih bisa dipakai?" tanya Anita.
"Untuk beban ringan, iya. Untuk medan ekstrem seperti
yang kita rencanakan... sebaiknya ganti. Kita tidak bisa ambil risiko."
"Catat," kata Joko dari kejauhan, tanpa menoleh.
"Kita cari dana untuk beli tali baru. Mungkin kita bisa minta sumbangan ke
warga, atau iuran tambahan."
Yulia dan Guntur sibuk dengan logistik makanan. Mereka
duduk di lantai, mengelilingi tumpukan makanan kering, nasi instan, mie instan,
roti, biskuit, energi bar, kopi, teh, gula, garam. Mereka menghitung kebutuhan
kalori per orang per hari, lalu mengalikannya dengan jumlah hari dan jumlah
anggota.
"Kita butuh sekitar tiga ratus ribu kalori
total," kata Yulia serius, memegang kalkulator kecil di tangannya.
"Artinya?" tanya Guntur, yang lebih suka makan
daripada menghitung.
"Artinya kita butuh banyak makanan. Setidaknya sepuluh
kilogram per orang. Total seratus sepuluh kilogram."
"Ya ampun, pusing gue. Bawaannya berat banget."
"Lo tuh gak usah banyak pikiran. Cukup pikirin cara
buat orang lain ketawa. Itu sudah cukup."
"Itu sudah job description gue sejak lahir."
Sementara itu, Camelia duduk di pojok dengan buku catatan
birunya, buku yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia menulis sesuatu, bukan
tentang persiapan teknis, bukan tentang logistik, bukan tentang perizinan. Tapi
tentang hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Tentang mimpi. Tentang firasat.
Tentang suara-suara yang ia dengar di malam hari.
"Mau nulis apa, Mel?" tanya Arga yang duduk di
sampingnya, diam-diam, seperti biasa, kehadirannya sering tidak disadari.
"Catatan tentang mimpi," jawab Camelia singkat,
tanpa menoleh.
"Kok serius banget? Kayak lagi nulis skripsi."
"Karena ini penting. Mungkin lebih penting dari semua
persiapan teknis yang mereka lakukan."
Arga tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah tahu bahwa
Camelia adalah orang yang berbeda. Bukan berbeda dalam arti aneh atau
menyimpang, tapi berbeda dalam cara memandang dunia. Camelia melihat hal-hal
yang tidak dilihat oleh orang lain. Ia merasakan hal-hal yang tidak dirasakan
oleh orang lain. Dan entah mengapa, ia sering benar.
Bagian 7: Kedatangan Tak
Terduga
Saat mereka asyik dengan kesibukan masing-masing, sibuk
menghitung, mencatat, memeriksa, berdebat, pintu sekretariat terbuka dengan
suara berdecit yang sudah menjadi ciri khas.
Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah santai, hampir
seperti sedang berjalan-jalan di taman. Ia mengenakan kemeja batik lengan
panjang, motif megamendung, biru tua, celana kain hitam yang disetrika rapi,
dan sandal kulit berwarna coklat mengilap. Wajahnya familiar, terlalu familiar.
Senyumnya hangat, tetapi matanya tajam.
"Pak Kades?" seru Joko terkejut. Ia langsung
berdiri, hampir menjatuhkan kursinya.
Pak Iwan tersenyum. "Boleh saya ikut? Atau saya
mengganggu?"
"Silakan, Pak. Silakan," kata Joko cepat, menarik
kursi terbaik, kursi yang biasa ia duduki dan mempersilakan Pak Iwan duduk.
"Tidak usah repot," kata Pak Iwan sambil duduk di
kursi kayu biasa, kursi yang sama dengan yang lainnya, tidak istimewa.
"Saya hanya ingin melihat persiapan kalian. Seberapa serius kalian."
"Kami masih merapikan, Pak," kata Hermansyah.
"Masih banyak yang harus disiapkan."
"Bagus. Saya suka melihat anak muda yang bekerja
keras. Bukan hanya sibuk, tapi benar-benar bekerja. Saya suka melihat semangat
yang diimbangi dengan aksi nyata."
Pak Iwan memandang sekeliling ruangan. Matanya berhenti di
papan tulis yang penuh dengan catatan, daftar tugas, jadwal, nomor-nomor
penting. Berhenti di tumpukan berkas di meja, surat, formulir, peta. Berhenti
di peralatan pendakian yang berserakan di lantai, tali, tenda, kompor. Berhenti
di wajah-wajah lelah tetapi bersemangat.
"Kalian serius," katanya. Bukan pertanyaan,
tetapi pernyataan.
"Kami selalu serius, Pak," jawab Joko.
"Mungkin tidak selalu terlihat serius, karena kadang kami bercanda, kadang
kami tertawa, tapi hati kami serius. Keyakinan kami serius."
"Tidak semua anak muda seperti kalian. Banyak yang
lebih suka main game seharian, nongkrong di warung sampai larut malam, atau
tidur sampai siang. Tidak salah dengan itu, setiap orang punya cara
masing-masing untuk bahagia, tapi saya senang melihat ada anak muda yang
memilih jalan yang berbeda."
"Tidak ada yang salah dengan itu, Pak," kata
Guntur tiba-tiba, melompat ke dalam percakapan. "Setiap orang punya hak
untuk memilih kebahagiaannya sendiri. Ada yang bahagia di depan layar, ada yang
bahagia di depan gunung."
Pak Iwan menatap Guntur. Matanya berbinar. "Kamu
bijak, Nak. Lebih bijak dari usiamu."
Guntur tersenyum malu, sesuatu yang jarang terjadi.
"Kebanyakan nonton sinetron, Pak. Sinetron mengajarkan banyak hal."
Semua tertawa. Bahkan Pak Iwan ikut tertawa, tertawa kecil,
tetapi tulus.
Bagian 8: Nasihat dari
Seorang Pemimpin
Setelah tawa mereda, Pak Iwan berbicara lebih serius.
Wajahnya yang semula hangat berubah menjadi lebih tegas. Matanya yang semula
berbinar menjadi lebih tajam.
"Anak-anak," katanya, suaranya rendah tetapi
terdengar jelas di seluruh ruangan, "saya izinkan kalian melakukan
pendakian ini bukan karena saya yakin kalian bisa. Bukan karena saya percaya
kalian akan berhasil. Bukan karena saya tidak tahu risikonya."
Semua terdiam. Bahkan Guntur yang biasanya sulit diam, kali
ini memilih untuk tutup mulut.
"Lalu kenapa, Pak?" tanya Joko. "Kenapa
Bapak mengizinkan?"
"Karena saya percaya pada proses. Saya percaya bahwa
perjalanan, dengan segala risikonya, dengan segala ketidakpastiannya, dengan
segala kegagalan yang mungkin terjadi, adalah guru terbaik. Kalian akan belajar
banyak. Tentang gunung, tentang alam, tentang tim, tentang persahabatan,
tentang ketakutan, tentang keberanian. Dan yang paling penting... tentang diri
kalian sendiri."
"Tapi bagaimana jika kami gagal, Pak?" tanya
Anita pelan, suaranya bergetar sedikit. "Bagaimana jika kami tidak
berhasil mencapai puncak? Bagaimana jika terjadi sesuatu?"
"Kegagalan juga bagian dari proses," jawab Pak
Iwan. "Yang penting kalian tidak berhenti belajar. Yang penting kalian
tidak berhenti mencoba. Yang penting kalian pulang dengan selamat, bawaan fisik
maupun mental."
Ia berdiri. Seluruh anggota KPAAB ikut berdiri, refleks,
tanpa perintah.
"Saya harus kembali ke kantor. Masih banyak yang harus
diselesaikan. Teruskan kerja kalian. Jangan sampai ada yang terlewat. Dan
ingat, saya akan memantau. Saya akan bertanya. Saya akan memastikan bahwa
kalian benar-benar siap."
"Terima kasih, Pak," kata Joko, menunduk hormat.
Pak Iwan berjalan ke pintu, sandalnya berdebur pelan di
lantai kayu. Ia membuka pintu, tetapi sebelum melangkah keluar, ia berhenti. Ia
menoleh.
"Satu pesan terakhir."
"Ya, Pak?" kata mereka serempak.
"Jangan pernah meremehkan gunung. Ia lebih besar dari
kalian. Ia lebih tua dari kalian. Ia lebih kuat dari kalian. Tapi juga jangan
pernah takut berlebihan. Karena gunung bukan musuh kalian. Gunung adalah guru.
Dan guru yang baik... akan menguji muridnya. Dengan keras. Dengan tegas. Dengan
cara yang tidak selalu menyenangkan."
Ia keluar, meninggalkan mereka dengan perasaan yang lebih
dalam dari sekadar rasa hormat.
Bagian 9: Malam yang
Melelahkan
Malam mulai turun saat mereka menyelesaikan sebagian besar
persiapan, setidaknya untuk hari itu.
Matahari sudah terbenam di balik perbukitan, meninggalkan
sisa-sisa cahaya jingga di ufuk barat. Lampu-lampu mulai menyala di rumah-rumah
warga, kuning, redup, kadang berkedip-kedip karena listrik yang tidak stabil.
Di sekretariat, mereka masih bertahan dengan lampu minyak tanah yang menyala
redup.
"Gue capek banget," kata Jojon sambil merebahkan
diri di lantai, tanpa alas, tanpa bantal, tanpa peduli dengan debu dan kotoran.
"Capek fisik, capek mental, capek semuanya."
"Belum apa-apa udah capek," ejek Bayu, yang juga
terlihat lelah tetapi mencoba terlihat kuat.
"Ini namanya latihan, Yu. Latihan buat yang
sesungguhnya. Kita sedang mempersiapkan tubuh dan pikiran untuk tantangan yang
lebih besar."
"Latihan apa? Latihan rebahan? Itu mah gampang."
"Ya, latihan bertahan hidup di lantai. Kalau kita
terbiasa tidur di lantai, nanti di gunung tidak akan kaget."
"Lo tuh bisa aja."
Mereka tertawa, meskipun kelelahan. Tertawa kecil, tetapi
hangat.
Joko melihat jam dinding, jam bundar dengan angka Romawi
yang sudah mulai pudar. Sudah pukul delapan malam.
"Baik, kita cukupkan sampai di sini," katanya.
"Besok kita lanjut. Jangan lupa, jam delapan pagi kita sudah harus kumpul
lagi. Jangan ada yang telat."
"Siap, Komandan!" seru Jojon sambil memberi
hormat, sikap sempurna, seperti tentara.
"Turunkan tanganmu, itu bukan militer. Ini sekretariat
pecinta alam, bukan markas TNI."
"Maaf, lupa. Kebiasaan lihat film perang."
Mereka bergegas pulang. Satu per satu meninggalkan
sekretariat, membawa tas dan perlengkapan masing-masing. Suara sepatu berdebur
di lantai kayu, suara pintu berdecit, suara tawa yang semakin menjauh.
Hingga hanya tersisa Joko dan Hermansyah.
Bagian 10: Dua Sahabat
di Malam Hari
"Lo gak pulang, Man?" tanya Joko sambil merapikan
berkas-berkas yang berserakan di meja. "Udah malam. Jalanan gelap."
"Sebentar lagi," jawab Hermansyah, yang sedang
duduk di kursi dengan mata terpejam. "Lo duluan aja. Gue nyusul."
"Gue nunggu lo. Gue gak akan pulang sebelum lo."
Mereka duduk berdua di teras secretariat, di bangku kayu
yang sama seperti pagi hari, yang sudah lapuk dan reyot. Langit malam di Desa
Awan Biru selalu indah, ribuan bintang bertaburan, tanpa polusi cahaya, tanpa
gedung-gedung tinggi yang menghalangi. Bima Sakti terlihat jelas, seperti
sungai susu yang mengalir di langit.
"Indah ya," kata Hermansyah, menatap ke atas.
"Iya," jawab Joko. "Indah. Dan membuat kita
merasa kecil. Sangat kecil."
"Kadang gue mikir... kenapa kita gak bisa hidup
sederhana aja? Kerja, punya keluarga, hidup tenang, tidak perlu memikirkan
gunung, tidak perlu memikirkan risiko, tidak perlu memikirkan hal-hal yang
tidak pasti."
"Karena kalau semua orang hidup sederhana, tidak akan
ada yang melakukan hal-hal besar. Tidak akan ada yang melampaui batas. Tidak
akan ada yang menemukan hal-hal baru."
"Apakah pendakian ini termasuk hal besar? Apakah
membuka jalur baru termasuk hal besar? Atau hanya sekadar petualangan anak muda
yang tidak tahu arah?"
Joko tersenyum. "Mungkin tidak besar untuk orang lain.
Mungkin bagi Pak Iwan, ini hanya urusan izin. Mungkin bagi warga desa, ini hanya
urusan anak muda yang suka buang-buang waktu. Tapi untuk kita... untuk KPAAB...
ini besar. Ini sangat besar."
Hermansyah menghela napas panjang. "Lo tahu, Jo, gue
takut. Bukan takut ketinggian, bukan takut medan sulit, bukan takut kelelahan.
Tapi takut kehilangan. Bukan kehilangan nyawa, meskipun itu juga menakutkan, tapi
kehilangan... sesuatu yang lebih penting."
"Seperti apa? Seperti kehilangan arah? Seperti yang
dikatakan Mel?"
"Kehilangan... diri sendiri. Kehilangan jati diri.
Kehilangan ingatan. Kehilangan orang-orang yang kita cintai."
Joko menepuk pundak sahabatnya. "Kita akan hadapi
bersama. Apa pun yang terjadi di gunung itu, kita akan hadapi bersama. Tidak
ada yang sendirian. Tidak ada yang ditinggalkan."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berjabat tangan dalam gelap, di bawah cahaya bintang
yang berkelap-kelip, sebuah sumpah yang tidak diucapkan, tetapi terasa lebih
kuat dari kata-kata.
Bagian 11: Di Rumah Joko
Joko tiba di rumah sekitar pukul sembilan malam. Lampu di
ruang tamu masih menyala, kuning redup, pertanda bahwa ibunya belum tidur.
Biasanya, pada jam segini, Bu Karsinem sudah terlelap di kamarnya.
"Jo, sudah makan?" tanya Bu Karsinem dari dapur.
Suaranya lembut, tetapi terdengar sedikit letih.
"Belum, Bu. Belum sempat."
"Ya ampun, anak ibu. Kerja terus sampai lupa makan.
Nanti sakit."
Bu Karsinem menyiapkan nasi hangat dengan lauk sederhana, telur
dadar yang masih mengeluarkan uap, sayur bening dengan bayam dan jagung, serta
tempe goreng yang renyah. Joko makan dengan lahap, meskipun sebenarnya ia sudah
tidak terlalu lapar, kelelahan telah menghilangkan nafsu makannya.
"Ibu," katanya di sela-sela suapan, "kita
sudah dapat izin dari Pak Iwan. Beliau mengizinkan."
Bu Karsinem terdiam. Wajahnya berubah dari tenang menjadi
tegang, dari tegang menjadi khawatir. Tangannya yang sedang menyendok sayur
berhenti bergerak.
"Jadi... jadi jadi? Jadi ini benar-benar akan
terjadi?"
"Iya, Bu. Kami akan mulai persiapan serius besok.
Perizinan, logistik, pelatihan. Semuanya."
Bu Karsinem meletakkan sendok sayurnya. Ia duduk di samping
Joko, di kursi kayu yang sama sejak Joko kecil. Ia memegang tangan anaknya, tangan
yang sudah kasar karena tali dan bebatuan, tangan yang sudah dewasa.
"Jo... Ibu tidak akan melarang. Ibu tahu itu tidak
akan berguna. Tapi Ibu minta satu hal. Satu hal saja."
"Apa, Bu? Apa pun."
"Janji, lo akan jaga diri. Janji lo akan kembali.
Janji lo tidak akan melakukan hal-hal bodoh."
Joko menatap mata ibunya, mata yang mulai berkaca-kaca,
mata yang sudah melihat banyak hal, mata yang penuh dengan cinta dan
kekhawatiran yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Ibu, saya janji. Saya janji akan kembali."
"Jangan janji kalau tidak bisa ditepati. Jangan
berjanji hanya untuk membuat Ibu tenang."
"Saya bisa, Bu. Saya pasti bisa. Saya tidak sendirian.
Ada teman-teman. Ada Hermansyah, ada Guntur, ada semuanya. Kami akan saling
jaga."
Bu Karsinem memeluk Joko. Air matanya jatuh, meskipun ia
berusaha menyembunyikannya, meskipun ia berusaha tegar. Seorang ibu tidak
pernah bisa benar-benar tegar menghadapi anaknya yang akan pergi ke tempat yang
berbahaya.
Bagian 12: Doa Seorang
Ibu
Malam itu, setelah Joko tidur, atau setidaknya setelah ia
masuk ke kamarnya, Bu Karsinem duduk di ruang tamu sendirian.
Lampu minyak tanah masih menyala, tetapi redup, hampir
padam. Ia tidak menambah minyak. Biar saja. Kegelapan lebih cocok dengan
suasana hatinya saat ini.
Ia memegang tasbih tua peninggalan neneknya, tasbih dari
kayu yang sudah halus karena sering digunakan, berwarna coklat tua, dengan
butiran-butiran yang sudah aus. Bibirnya bergerak-gerak, melantunkan doa-doa
yang sudah ia hafal sejak kecil, doa-doa yang ia panjatkan setiap malam, tetapi
malam ini dengan kekhusyukan yang lebih dalam.
"Ya Allah... Ya Tuhan yang Maha Pengasih... lindungi
anakku. Jaga dia di perjalanannya. Jauhkan dia dari bahaya. Beri dia kekuatan,
beri dia kebijaksanaan, beri dia keselamatan. Kembalikan dia dengan selamat.
Kembalikan dia kepadaku. Aamiin."
Air matanya jatuh lagi, tetes demi tetes, seperti hujan
yang tidak pernah berhenti.
Seorang ibu tidak pernah berhenti berdoa untuk anaknya.
Tidak peduli seberapa besar anak itu, atau seberapa jauh ia melangkah, atau
seberapa banyak pengalaman yang telah ia lalui. Doa ibu adalah doa yang paling
tulus, paling kuat, dan paling mustajab. Karena doa ibu lahir dari cinta yang
tidak bersyarat, cinta yang tidak meminta imbalan, cinta yang tidak pernah
habis, cinta yang tetap ada meskipun anaknya sudah dewasa dan tidak lagi
membutuhkan pelukannya.
Dan malam itu, di Desa Awan Biru, seorang ibu berdoa untuk
anaknya yang akan memulai perjalanan.
Di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri diam di bawah cahaya
bintang.
Seolah mendengar.
Seolah mencatat.
Seolah memegang janji.
BAB 3
Perjalanan Penuh Tawa
Bagian 1: Pagi yang Berbeda
Pagi di Desa Awan Biru kali ini terasa berbeda.
Bukan hanya karena langit yang cerah tanpa secuil awan pun,
biru pekat membentang dari timur ke barat, seperti kanvas yang baru dicat.
Bukan hanya karena matahari yang bersinar lebih hangat dari biasanya, seolah
ikut bersemangat menyambut hari yang istimewa. Bukan hanya karena burung-burung
yang berkicau lebih riang, seperti ikut merayakan keberangkatan para petualang.
Tapi karena semangat yang menggantung di udara, semangat
petualangan yang tak bisa lagi dibendung, semangat yang terasa seperti
gelombang listrik menyentuh setiap sudut desa, membuat siapa pun yang
merasakannya ikut terbawa.
Di halaman sekretariat KPAAB, sebuah mobil minibus berwarna
putih sudah terparkir sejak subuh. Catnya sudah mulai pudar di beberapa bagian,
bekas tergores dahan, bekas terkena lumpur, bekas perjalanan jauh yang tak
terhitung jumlahnya. Namun mesinnya masih berbunyi halus, seperti orang tua
yang masih bugar meskipun usianya sudah lanjut. Itu tanda bahwa mobil ini sudah
terbiasa dengan perjalanan jauh, sudah terbiasa membawa penumpang dari berbagai
macam latar belakang, sudah terbiasa dengan jalanan berliku dan medan terjal.
Di samping mobil, seorang pria dengan topi lusuh dan senyum
lebar berdiri sambil bersandar santai di pintu sopir. Topinya, topi pet warna
coklat muda, sudah tampak usang, dengan pinggiran yang melengkung tidak
beraturan karena sering terlipat. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak lengan
pendek, merah dan hitam, yang sudah pudar warnanya karena sering dicuci. Celana
jins biru yang sudah usang di bagian lutut, dan sandal jepit hitam yang
tampaknya sudah berusia beberapa tahun. Wajahnya coklat terbakar matahari,
dengan kulit yang kasar dan keriput di sekitar mata, tanda bahwa ia sering
menyipit melawan sinar matahari. Kumis tipis di atas bibirnya bergerak-gerak
setiap kali ia tersenyum, yang sering terjadi.
"Itu pasti sopirnya," bisik Yulia kepada Guntur,
sambil menunjuk dengan dagu.
"Kalau dari gayanya sih… lebih cocok jadi dukun
keliling," sahut Guntur pelan, sambil mengamati pria itu dari ujung kepala
hingga ujung kaki.
"Eh, jangan sembarangan," tegur Nadia dari
belakang. "Nanti dia dengar."
Pria itu mendekat sambil melambaikan tangan, gerakan yang
lebar dan ramah, seperti sedang menyambut kerabat jauh yang sudah lama tidak
bertemu. "Pagi, anak-anak petualang! Saya Anto. Sopir sekaligus… pembaca
tanda-tanda alam."
Semua saling pandang. Beberapa mengernyit, beberapa
tersenyum bingung.
"Pembaca… apa, Pak?" tanya Jojon, yang berdiri di
paling belakang, dengan ransel yang sedikit terlalu besar untuk tubuhnya.
"Ah, nanti juga kalian tahu," jawab Anto
misterius, lalu terkekeh, tertawa kecil yang terdengar seperti orang yang
mengetahui rahasia yang tidak diketahui orang lain.
Guntur langsung berbisik kepada Hermansyah, "Nah kan,
aku bilang juga. Dukun keliling. Bener kan?"
"Kurang ajar kamu," bisik Hermansyah balik.
"Diam saja."
Joko maju dan menjabat tangan Anto dengan hormat. Tangan
Anto kasar dan hangat, dengan telapak yang penuh kapalan, tangan seorang yang
terbiasa bekerja keras.
"Kami siap berangkat, Pak," kata Joko.
"Siap? Belum tentu," jawab Anto santai, sambil
melepaskan jabatan tangan. "Perjalanan itu bukan soal siap atau tidak.
Bukan soal seberapa banyak bekal yang kalian bawa. Bukan soal seberapa kuat
otot kalian. Tapi soal siapa yang paling banyak doa. Siapa yang paling ikhlas.
Siapa yang paling rendah hati."
"Kalau begitu, kita aman," kata Anita sambil
tersenyum, sambil memegang jimat kecil di lehernya, jimat peninggalan ibunya.
"Doa kita banyak. Keluarga kita semua mendoakan."
"Bagus," ujar Anto. "Karena jalur yang
kalian tuju… bukan jalur biasa. Bukan jalur yang bisa ditaklukkan hanya dengan
keberanian dan perlengkapan mahal."
Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah. Senyum di
wajah beberapa anggota mulai memudar, digantikan oleh ekspresi serius.
Namun Jojon, dengan segala kepolosan dan semangat mudanya,
segera menyela. "Yang penting mobilnya biasa saja, Pak. Jangan sampai
tiba-tiba terbang. Nanti kami ketinggalan."
Tawa pun pecah, pecah seperti gelas yang jatuh di lantai
keramik, pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang tersebar ke segala arah.
Ketegangan yang semula menyelimuti langsung lenyap.
"Tenang, Mas. Mobil ini cuma bisa jalan di darat.
Belum bisa terbang. Belum punya sayap," jawab Anto sambil tertawa.
"Syukurlah," sahut Jojon. "Kalau bisa
terbang, takut jatuh."
Bagian 2: Berangkat!
"Berangkat!" teriak Joko, tangannya melambai ke
arah warga yang mulai berdatangan untuk melepas mereka.
Perjalanan pun dimulai.
Mobil minibus melaju perlahan meninggalkan Desa Awan Biru, melewati
jalan setapak yang berkelok, melewati sawah-sawah yang mulai menguning,
melewati kebun-kebun jagung yang menjulang tinggi. Beberapa warga melambai dari
pinggir jalan, ada yang tersenyum, ada yang menggeleng, ada yang berdoa.
Di dalam mobil, suasana riuh oleh canda dan tawa. Para
anggota KPAAB duduk berdesakan, beberapa di kursi, beberapa di lantai mobil,
dan satu di pangkuan yang lain. Tas-tas ransel besar memenuhi setiap sudut,
membuat ruang gerak semakin sempit. Tapi tidak ada yang mengeluh. Justru
semakin sempit, semakin akrab.
"Eh, siapa yang bawa gitar?" tanya Bayu dari
sudut belakang, suaranya nyaris tidak terdengar karena keriuhan.
"Aku!" jawab Arga dari tengah, sambil mengangkat
gitar akustiknya, gitar tua yang sudah usang tetapi masih bersuara merdu.
"Wah, siap-siap konser di tengah hutan," kata
Guntur. "Konser alam, dengan penonton monyet dan burung."
"Jangan konser horor saja," sahut Yulia.
"Nanti ada yang ngeloyor dari semak-semak."
"Tenang, Yul. Gitar gue cuma bisa lagu cinta. Bukan
lagu horor."
"Lagu cinta juga bisa jadi horor kalau dinyanyikan
sama lo."
Tak lama, suara petikan gitar mengalun. Arga memainkan
intro yang lambat dan lembut, lagu lawas yang tidak asing di telinga. Jojon
langsung menyambung dengan suaranya yang sumbang tetapi penuh semangat.
"Naik-naik ke puncak gunung..." nyanyi
Jojon dengan nada yang salah di beberapa bagian.
"Tinggi-tinggi sekali..." sambung Guntur,
ikut-ikutan meskipun tidak tahu nadanya.
"Kiri kanan kulihat saja..."
"Banyak pohon cemara..."
"Eh, jangan nyanyi yang gitu! Nanti kita kena
imajinasi!" protes Yulia.
"Imajinasi apa?"
"Imajinasi tentang gunung yang tinggi! Nanti kita jadi
takut duluan."
"Emang gunungnya rendah? Gunung Merbabu itu tingginya
lebih dari tiga ribu meter, Yul."
"Ya... relatif. Kalau dibandingkan Gunung Everest,
sih, rendah."
Mereka tertawa. Tawa yang lepas, tawa yang bebas, tawa yang
terasa begitu hangat di pagi yang masih dingin.
Anto yang menyetir hanya tersenyum mendengar keributan di
belakangnya. Ia sudah terbiasa dengan rombongan anak muda yang penuh semangat.
Puluhan kali ia mengantar pendaki ke berbagai gunung, Merbabu, Merapi, Lawu,
Sindoro, Sumbing dan setiap rombongan memiliki karakternya sendiri. Ada yang
serius seperti akan perang, ada yang diam seperti sedang bertapa, ada yang
ribut seperti pasar. Tapi rombongan ini... rombongan ini berbeda. Ada
kehangatan di antara mereka. Ada ikatan yang tidak hanya sebatas teman, tetapi
seperti keluarga.
Bagian 3: Anto dan
Kisahnya
Di tengah perjalanan, ketika mobil mulai memasuki jalanan
yang lebih sepi, dengan pepohonan di kiri kanan dan hanya sesekali rumah warga,
Anto tiba-tiba berbicara.
"Kalian tahu tidak…?" katanya sambil tetap fokus
menyetir, matanya lurus ke depan.
"Apa, Pak?" tanya Hermansyah dari kursi depan, di
samping Anto.
"Kadang… perjalanan yang paling menyenangkan… justru
yang paling berbahaya. Semakin banyak tawa, semakin dekat dengan bahaya.
Semakin ringan suasana, semakin berat ujian yang akan datang."
Semua terdiam sejenak. Petikan gitar Arga berhenti. Suara
Jojon yang sumbang juga ikut berhenti.
"Wah, mulai lagi," gumam Guntur. "Filosofis
lagi."
"Serius ini," lanjut Anto. "Saya sudah
sering antar pendaki. Puluhan kali, mungkin ratusan. Banyak yang berangkat dengan
tawa, tertawa, bercanda, bernyanyi. Tapi pulang dengan cerita yang berbeda.
Cerita yang tidak semua orang mau dengar."
"Cerita seperti apa?" tanya Camelia pelan dari
kursi paling belakang.
Anto tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Cerita tentang kehilangan. Kehilangan arah, kehilangan teman, kehilangan
kepercayaan diri. Cerita tentang ketakutan yang tidak kunjung usai. Cerita
tentang gunung yang tidak bisa ditaklukkan."
"Kalau cerita horor, nanti saja, Pak. Tunggu
malam," sahut Jojon, mencoba mencairkan suasana.
"Kenapa harus malam?" tanya Anto.
"Biar sekalian lengkap. Biar ada efeknya. Kalau cerita
horor di siang bolong, rasanya kurang greget."
Tawa kembali pecah. Namun di balik tawa itu, beberapa dari
mereka mulai merasakan sesuatu, bukan ketakutan, tapi semacam firasat yang
sulit dijelaskan. Seperti ada yang mengawasi dari kejauhan. Seperti ada yang
mendengarkan setiap kata mereka. Seperti ada yang mencatat setiap gerakan
mereka.
Bagian 4: Pemandangan
yang Memukau
Perjalanan terus berlanjut. Jalanan mulai menanjak,
perlahan, tidak terasa dan pemandangan berubah drastis. Sawah dan kebun yang
hijau berubah menjadi perbukitan yang lebih terjal, dengan pepohonan pinus yang
menjulang tinggi di kiri dan kanan. Udara mulai terasa lebih sejuk, dan aroma
tanah basah bercampur dengan aroma daun pinus yang khas.
"Indah banget…" ujar Nadia kagum, matanya menatap
ke luar jendela. "Aku belum pernah ke sini sebelumnya."
"Ini baru awal," kata Anto. "Semakin tinggi,
semakin banyak yang tidak terlihat. Semakin indah, semakin berbahaya."
"Pak…" Guntur menoleh dari kursi tengah,
"kalau terus begitu, nanti kita nggak berani turun dari mobil. Kita akan
tinggal di mobil selamanya."
Anto tertawa. "Tenang saja. Kalian ini pemberani. Saya
bisa lihat dari mata kalian. Mata pemberani itu berbeda dengan mata orang
biasa."
"Wah, bisa baca mata juga, Pak?" tanya Yulia.
"Bisa. Tapi jangan takut kalau saya tahu isi hati
kalian."
"Waduh, kalau tahu isi hati Guntur, bisa pusing,
Pak," sahut Arga dari pojok.
"Eh, hati saya bersih!" protes Guntur.
"Bersih karena kosong," balas Jojon cepat.
"Kosong itu lebih baik daripada kotor!"
"Tapi kalau kosong, tidak ada isinya!"
"Isinya nanti, yang penting dasarnya dulu!"
Tawa kembali menggema di dalam mobil. Bahkan Anto ikut
tertawa, tertawa lebar, memperlihatkan giginya yang tidak lagi rapi.
"Kalian ini lucu-lucu," katanya. "Saya suka.
Sudah lama tidak mengantar rombongan yang begini."
"Jadi gak jadi dukun, Pak?" tanya Jojon.
"Belum tentu. Saya masih bisa berubah kapan saja. Bisa
jadi dukun, bisa jadi sopir, bisa jadi pemandu, bisa jadi apa saja."
Bagian 5: Berhenti di
Warung
Beberapa jam kemudian, setelah melewati perbukitan,
melewati hutan pinus, melewati tikungan-tikungan tajam, mereka berhenti di
sebuah warung kecil di pinggir jalan.
"Istirahat sebentar," kata Anto. "Saya mau
isi bensin juga. Perut saya mulai keroncongan."
Mereka turun, meregangkan tubuh yang kaku karena duduk
terlalu lama. Beberapa mengeluh punggungnya sakit, beberapa mengeluh kakinya kesemutan.
Warung itu sederhana, hanya terbuat dari kayu dan atap rumbia, dengan dinding yang
tidak rapat sehingga angin bebas masuk. Namun tempatnya bersih, meja-mejanya
dilap dengan kain basah, dan pemiliknya, seorang ibu paruh baya dengan senyum
ramah—menyambut mereka dengan hangat.
"Capek juga ya," kata Amat sambil duduk di kursi
kayu yang sedikit goyang.
"Belum apa-apa sudah capek," ejek Hermansyah.
"Ini latihan," jawab Amat. "Latihan untuk
yang sesungguhnya."
"Latihan apa? Latihan duduk?"
"Ya, latihan mengistirahatkan tubuh. Sama pentingnya
dengan latihan fisik."
"Lo tuh bisa aja."
Mereka memesan minuman, es teh manis, es jeruk, dan
beberapa gorengan. Suasana santai kembali tercipta. Guntur bercerita tentang
pengalaman lucunya waktu tersesat di pasar, membuat semua orang tertawa.
Di sudut warung, Anto berbincang dengan pemilik warung, seorang
pria tua dengan rambut putih dan wajah keriput yang dalam, seperti peta yang
menceritakan perjalanan panjang hidupnya. Mereka berbicara pelan, sesekali
tertawa, sesekali menggeleng, sesekali menatap ke arah rombongan KPAAB dengan
tatapan yang sulit diartikan.
Camelia memperhatikan itu. "Kalian lihat?"
bisiknya.
"Apa?" tanya Nadia.
"Orang tua itu. Pemilik warung. Tatapannya aneh.
Seperti... seperti tahu sesuatu tentang kita."
"Ah, kamu mulai lagi," kata Guntur, tetapi
nadanya tidak lagi santai.
"Tapi serius," lanjut Camelia. "Tatapannya
beda. Tidak seperti tatapan biasa. Seperti dia sedang membaca sesuatu."
"Mel, jangan bikin suasana jadi serem. Kita baru
setengah perjalanan."
"Aku serius."
Joko mendekat. "Sudah, jangan dipikirkan dulu. Kita
fokus perjalanan. Kita sudah terlalu jauh untuk terganggu oleh hal-hal
kecil."
Namun sebelum mereka kembali ke mobil, pria tua itu
mendekat. Langkahnya lambat, dengan tongkat kayu di tangan kanan. Matanya, meskipun
sudah sayu, masih menyimpan kilauan kecerdasan.
Bagian 6: Petunjuk dari
Pria Tua
"Kalian mau ke Merbabu?" tanyanya pelan. Suaranya
serak, seperti suara orang yang jarang bicara.
"Iya, Pak," jawab Joko sopan, menunduk sedikit.
"Lewat mana?"
"Desa Suralaya, Pak. Lewat jalur alternatif."
Pria itu terdiam sejenak. Matanya menyipit, mengamati
mereka satu per satu. Kemudian ia mengangguk perlahan, anggukan yang terasa
berat, seperti orang yang sedang mengiyakan sesuatu yang tidak ia sukai.
"Hati-hati…" katanya. "Jalur itu tidak semua
orang bisa lewati. Bukan karena sulit, tapi karena... berbeda."
"Kenapa, Pak?" tanya Hermansyah. "Apa yang
berbeda dari jalur itu?"
Pria itu tersenyum tipis, senyum yang membuat keriput di
wajahnya semakin dalam. "Karena… yang tersesat bukan hanya langkah… tapi
juga pikiran. Bukan hanya kaki yang salah arah, tapi hati yang kehilangan
pegangan."
Semua terdiam. Angin berhembus pelan, membuat daun-daun di
sekitar warung bergesekan, menimbulkan suara yang samar namun terasa dekat.
"Bapak pernah lewat jalur itu?" tanya Camelia, suaranya
pelan.
Pria itu menggeleng. "Saya tidak pernah berani. Saya
sudah dengar cerita sejak kecil, dan saya memilih untuk tidak mencoba. Tapi
saya punya teman yang pernah. Sahabat saya."
"Terus? Apa yang terjadi?" tanya Anita.
"Temanku itu… berubah setelah pulang. Tidak mau
bicara. Tidak mau keluar rumah. Tidak mau bertemu siapa pun. Hanya diam dan
menatap gunung dari jendela kamarnya."
"Apakah dia trauma?" tanya Yulia. "Apakah
dia melihat sesuatu yang mengerikan?"
"Bukan trauma," jawab pria itu. "Dia seperti…
kehilangan sesuatu."
"Kehilangan apa?"
"Kata dia… kehilangan rasa takut."
Hening. Sangat hening.
"Kenapa kehilangan rasa takut itu buruk?" tanya
Guntur, mencoba memahami.
"Karena rasa takut adalah penjaga kita. Rasa takut
membuat kita berhati-hati. Rasa takut membuat kita tidak ceroboh. Tanpa rasa
takut, kita bisa melakukan hal-hal bodoh. Kita bisa berjalan ke jurang tanpa
sadar. Kita bisa mengambil risiko yang tidak perlu."
"Terima kasih, Pak," kata Joko akhirnya.
"Kami akan berhati-hati. Kami akan menjaga rasa takut kami."
Pria itu mengangguk. "Semoga kalian tidak mengalami
hal yang sama. Semoga kalian kembali dengan cerita yang berbeda."
Mereka pun kembali ke mobil. Perjalanan dilanjutkan.
Bagian 7: Suasana
Berubah
Perjalanan dilanjutkan.
Kali ini, suasana sedikit berbeda. Masih ada tawa, masih
ada canda, masih ada suara gitar yang dipetik pelan, tapi ada juga keheningan
yang sesekali muncul, seperti celah di antara gelombang. Seolah setiap orang
mulai memikirkan sesuatu. Seolah kata-kata pria tua itu mulai meresap ke dalam
pikiran mereka.
"Eh, kalau nanti kita tersesat gimana?" tanya
Yulia tiba-tiba, memecah keheningan.
"Ya cari jalan pulang," jawab Guntur.
"Kalau nggak ketemu? Kalau kita muter-muter di tempat
yang sama?"
"Ya… kita buat rumah di sana. Kita jadi penduduk tetap
hutan."
"Serius ini!" Yulia mulai kesal. "Ini bukan
bahan candaan!"
Joko menoleh dari kursi depan. "Kita nggak akan
tersesat. Kita punya peta, kompas, dan pengalaman. Kita punya Nadia yang hafal
rute, kita punya Hermansyah yang selalu waspada, kita punya semuanya."
"Dan…?" tanya Camelia, seolah ada yang kurang.
Joko tersenyum tipis. "Dan kebersamaan. Selama kita
bersama, selama kita tidak saling meninggalkan, selama kita saling menjaga...
kita tidak akan tersesat."
Anita mengangguk. "Selama kita bersama… kita pasti
bisa."
"Kebersamaan tidak menjamin keselamatan," kata
Nadia realistis. "Tapi setidaknya kita tidak sendirian. Setidaknya ada
yang menemani dalam ketakutan."
"Itu yang penting," kata Hermansyah.
Guntur menghela napas panjang, terdengar dramatis, seperti
sedang di panggung teater. "Gue jadi ingat kata-kata bijak nih."
"Apa?" tanya Jojon.
"Kalau kamu tersesat, jangan panik. Karena
kepanikan hanya akan membuatmu semakin tersesat. Dan kalau kamu tidak bisa
tenang, setidaknya jangan lari. Lari hanya akan membuatmu lebih lelah."
"Itu dari mana?" tanya Arga.
"Gue buat sendiri, barusan. Pas lagi mikir."
"Ya ampun, Tur. Jadi pujangga dadakan."
"Pujangga sejati tidak pernah dadakan. Mereka selalu
terinspirasi."
Mereka tertawa, meskipun tidak sepenuhnya lepas. Tawa itu
seperti plester yang menutupi luka, sementara, tetapi cukup untuk membuat
mereka bertahan.
Bagian 8: Anto Berbicara
Lagi
Anto, yang sejak dari warung terdiam, mungkin memikirkan
kata-kata pria tua itu, mungkin fokus menyetir, mungkin sedang merasakan
sesuatu, akhirnya bersuara lagi.
"Kalian tahu," katanya, "dulu saya pernah
antar rombongan pendaki ke Merbabu juga. Rombongan besar, hampir dua puluh
orang. Mereka dari kota, penuh semangat, penuh percaya diri."
"Lewat jalur Suralaya?" tanya Joko.
"Bukan. Lewat jalur biasa. Tapi... mereka cerita
tentang jalur Suralaya. Mereka pernah bertemu seseorang yang pernah
mencoba."
"Cerita apa?" tanya Camelia, yang sejak tadi
diam, mendengarkan.
"Mereka bilang, jalur itu punya 'penjaga'. Bukan
penjaga dalam arti manusia. Bukan satpam atau polisi hutan. Tapi...
energi."
"Energi?" ulang Nadia skeptis. "Energi dalam
arti apa? Listrik? Magnet?"
"Energi dalam arti... sesuatu yang tidak terlihat,
tapi bisa dirasakan. Sesuatu yang hidup, meskipun tidak bernyawa. Sesuatu yang
memiliki kesadaran, meskipun berbeda dengan kesadaran manusia."
"Dan energi itu akan menguji siapa pun yang
masuk?" tanya Hermansyah.
"Konon begitu," kata Anto. "Ujiannya
tergantung orangnya. Ada yang diuji dengan ketakutan, ada yang diuji dengan
kebingungan, ada yang diuji dengan kesepian, ada juga yang diuji dengan... masa
lalu."
"Masa lalu?" tanya Yulia.
"Iya. Kadang, jalur itu bisa memunculkan hal-hal yang
sudah lama terkubur dalam pikiran. Kenangan yang tidak ingin diingat. Kesalahan
yang ingin dilupakan. Orang-orang yang telah pergi."
Suasana menjadi hening. Sangat hening. Bahkan suara mesin
mobil yang biasanya terdengar, kali ini terasa seperti bisikan.
"Pak," kata Joko pelan, "Bapak percaya itu
semua? Bapak percaya bahwa ada sesuatu di gunung itu yang tidak bisa
dijelaskan?"
Anto tersenyum, senyum yang bijaksana, senyum yang lahir
dari pengalaman. "Saya sopir, Mas. Saya hanya mengantar. Tugas saya
membawa kalian ke tempat tujuan, bukan untuk memutuskan apakah cerita itu benar
atau salah. Tapi saya juga mendengar cerita dari banyak orang, dari pendaki,
dari warga, dari sesepuh. Dan satu hal yang saya pelajari... tidak semua cerita
bisa dijelaskan dengan logika."
"Tapi tidak semua cerita juga benar," kata Nadia.
"Benar," kata Anto. "Tapi tidak semua yang
salah... juga salah."
"Wah, filosofis banget, Pak," kata Guntur.
Anto tertawa. "Sudah tua begini, pasti banyak
filosofi. Filosofi lahir dari pengalaman, Mas. Dan pengalaman tidak pernah
bohong."
Bagian 9: Desa Suralaya
di Depan Mata
Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat,
meninggalkan sisa-sisa cahaya keemasan di langit, mereka akhirnya mulai
memasuki wilayah Desa Suralaya.
Desa itu tampak tenang, dengan latar Gunung Merbabu yang
menjulang megah di kejauhan, seperti raksasa yang sedang beristirahat.
Rumah-rumah warga terbuat dari kayu dan bambu, dengan atap seng atau rumbia,
berjajar tidak beraturan di sepanjang jalan setapak. Halaman-halaman ditumbuhi
berbagai macam tanaman, singkong, pepaya, pisang, dan bunga-bunga warna-warni
yang ditanam oleh ibu-ibu.
Asap dapur mengepul dari beberapa rumah, tanda bahwa warga
sedang memasak untuk makan malam. Suara ayam berkokok dan anjing menggonggong
terdengar dari kejauhan, seperti orkestra desa yang tidak pernah tidur.
"Wow..." gumam Bayu, matanya membeliak.
"Itu dia," kata Anto, menunjuk ke arah gunung.
"Tujuan kalian. Panggilan kalian. Ujian kalian."
Semua terdiam, menatap gunung itu dengan perasaan yang
campur aduk, kagum, karena keindahannya yang tak tertandingi; penasaran, karena
misteri yang menyelimutinya; dan sedikit gentar, karena cerita-cerita yang
telah mereka dengar.
"Perjalanan baru saja dimulai," ujar Joko pelan.
Dan di dalam hati masing-masing, mereka tahu, bahwa
perjalanan ini bukan sekadar petualangan biasa. Bukan sekadar mendaki gunung
untuk foto-foto atau mencari sensasi. Melainkan awal dari sesuatu yang lebih
besar. Sesuatu yang akan menguji mereka. Bukan hanya sebagai pendaki… tetapi
sebagai manusia.
Bagian 10: Sambutan dari
Desa
Mobil berhenti di depan sebuah kantor desa sederhana, bangunan
kayu berukuran sedang, dengan papan nama bertuliskan "Kantor Desa
Suralaya" yang sudah mulai pudar. Seorang pria paruh baya dengan pakaian
rapi, kemeja putih lengan panjang, celana kain hitam, dan sandal kulit, menyambut
mereka dengan senyum ramah.
"Selamat datang di Desa Suralaya," ucapnya,
suaranya hangat dan bersahabat.
"Terima kasih, Pak," kata Joko sambil turun dari
mobil, lalu menjabat tangan pria itu.
"Saya Raditya, Kepala Desa di sini. Saya sudah dengar
dari Pak Iwan bahwa kalian akan datang."
"Kami dari Desa Awan Biru, Pak. Kelompok Pecinta Alam
Awan Biru."
"Ah, KPAAB. Saya kenal. Sudah dengar nama
kalian."
Raditya menatap mereka satu per satu, matanya berhenti
beberapa saat di Camelia, lalu di Guntur, lalu di Joko. Seperti ada sesuatu
yang ia cari. Seperti ada sesuatu yang ia nilai.
"Kalian terlihat lelah," katanya.
"Perjalanan jauh, ya? Silakan beristirahat dulu. Besok pagi kita bicara
lebih lanjut tentang jalur yang akan kalian tempuh."
"Terima kasih banyak, Pak."
Mereka dibawa ke sebuah rumah singgah yang telah disiapkan,
bangunan kayu sederhana dengan tiga kamar tidur, satu ruang tamu, dan dapur
kecil di belakang. Rumah itu bersih dan rapi, dengan lantai kayu yang dipel dan
jendela-jendela yang terbuka lebar.
"Wah, enak juga tempatnya," kata Jojon sambil
merebahkan diri di lantai kayu, tanpa alas, tanpa bantal, seperti sudah menjadi
kebiasaan.
"Jangan manja, Jon," kata Yulia.
"Ini bukan manja, ini... adaptasi. Adaptasi dengan
lingkungan baru."
"Adaptasi apa?"
"Adaptasi dengan lantai kayu. Biar nanti di gunung
tidak kaget."
Mereka tertawa. Tawa yang terasa lega, karena akhirnya
sampai, karena sambutan yang hangat, karena ketegangan yang mulai mereda.
Bagian 11: Malam yang
Sunyi
Malam mulai turun di Desa Suralaya.
Udara terasa lebih dingin dari di Awan Biru, dingin yang
menusuk hingga ke tulang, dingin yang membuat napas beruap. Angin berhembus
lebih kencang, membawa aroma pepohonan dan tanah basah, aroma yang segar tetapi
juga sedikit mencekam.
Mereka berkumpul di ruang utama rumah singgah. Lampu minyak
tanah menyala redup, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding kayu, seperti
penari yang mengikuti irama yang tidak terdengar.
"Besok kita akan bicara dengan Pak Raditya," kata
Joko. "Kita harus mendapatkan informasi sebanyak mungkin. Tentang jalur,
tentang medan, tentang titik-titik air, tentang potensi bahaya."
"Dan kita juga harus minta izin," tambah
Hermansyah. "Kita tidak bisa sembarangan masuk. Harus ada izin resmi dari
desa."
"Setuju," kata Nadia. "Kita tidak mau
dianggap sebagai perusak atau pengganggu."
"Apakah kalian merasakan sesuatu?" tiba-tiba
Camelia bertanya, matanya gelap, tidak berkedip.
"Apa?" tanya Yulia.
"Suasana desa ini... berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
Camelia terdiam sejenak, menatap ke luar jendela, ke arah
gunung yang gelap. "Seperti... menyembunyikan sesuatu. Seperti ada rahasia
yang tidak ingin dibagikan. Seperti ada yang mengawasi kita dari balik
kegelapan."
"Mel, jangan mulai lagi," keluh Guntur, tetapi
suaranya tidak lagi santai.
"Aku serius. Rasanya seperti ada yang mengawasi
kita."
"Ya, warga desa mengawasi kita. Wajar, kita orang
asing. Mereka ingin tahu siapa kita, dari mana kita, apa tujuan kita."
"Bukan itu," kata Camelia tegas. "Ini
berbeda. Ini bukan tatapan penasaran. Ini... seperti waspada. Seperti mereka
tahu sesuatu yang tidak mereka katakan."
Suasana menjadi tegang. Anggota lain saling pandang, tidak
tahu harus merespons bagaimana.
Joko berdiri. "Kita tidak akan tahu sebelum kita
mencari tahu. Besok kita akan bicara dengan Pak Raditya. Mungkin dia bisa
menjelaskan. Mungkin dia punya jawaban."
"Atau mungkin dia justru menyembunyikan sesuatu,"
kata Camelia.
"Mungkin," kata Joko. "Tapi kita tidak akan
tahu sampai kita bertanya."
Mereka terdiam. Di luar, angin malam berhembus lebih
kencang, membuat dedaunan bergesekan dan ranting-ranting patah.
Dan di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri gelap, menyaksikan,
menunggu, dan mungkin... tersenyum.
Bagian 12: Tidur yang
Tidak Nyenyak
Malam itu, tidak semua bisa tidur nyenyak.
Joko berbaring di lantai kayu, memandang langit-langit yang
gelap, langit-langit yang penuh dengan retakan dan sarang laba-laba. Pikirannya
terlalu sibuk. Bayangan tentang pria tua di warung, tentang cerita Anto,
tentang firasat Camelia, semua berputar di kepalanya seperti kaset yang macet.
Ia tidak tahu apakah ia takut atau justru bersemangat.
Mungkin keduanya. Mungkin takut dan bersemangat adalah dua sisi dari koin yang
sama, tidak bisa dipisahkan.
"Jo... lo tidur?" bisik Hermansyah dari samping.
"Belum."
"Gue juga. Gue udah pejamin mata dari tadi, tapi
pikiran gak bisa berhenti."
Mereka berdua terdiam beberapa saat. Hanya suara napas dan
detak jantung yang terdengar.
"Lo percaya dengan cerita-cerita itu?" tanya
Hermansyah akhirnya. "Cerita tentang penjaga, tentang energi, tentang
ujian?"
"Aku tidak tahu harus percaya atau tidak," jawab
Joko jujur. "Tapi aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Terlalu
banyak orang yang bercerita hal yang sama."
"Kenapa?"
"Karena... kadang yang tidak bisa dijelaskan itu
justru yang paling nyata. Kadang kebenaran tidak perlu bukti."
Hermansyah menghela napas. "Lo mulai kayak Mel."
"Mungkin Mel benar. Mungkin kita selama ini terlalu
tertutup. Terlalu percaya bahwa hanya yang bisa diukur yang nyata."
"Atau mungkin kita semua terlalu banyak berpikir.
Terlalu banyak mendengar cerita. Terlalu banyak takut."
"Atau mungkin... tidak cukup. Tidak cukup berpikir,
tidak cukup mendengar, tidak cukup takut."
Mereka berdua terdiam lagi. Di luar, burung hantu berbunyi,
suara yang sayu, seperti tangisan yang tertahan, seperti orang yang sedang
menceritakan sesuatu yang tidak bisa dipahami manusia.
Bagian 13: Fajar di Desa
Suralaya
Fajar mulai menyingsing.
Cahaya matahari perlahan masuk melalui celah-celah dinding
kayu, menciptakan garis-garis emas di lantai. Ayam berkokok bersahutan dari
berbagai penjuru, seperti paduan suara yang tidak teratur tetapi merdu. Suara aktivitas
warga mulai terdengar, langkah kaki di tanah, suara kayu dipotong, suara air
diambil dari sumur, percakapan pelan yang tidak bisa ditangkap kata-katanya.
Joko sudah bangun sejak subuh. Ia tidak bisa tidur lagi, bukan
karena gelisah, tetapi karena ia ingin menikmati suasana pagi di desa yang
asing ini.
Ia duduk di teras rumah singgah, menyeruput kopi hitam yang
dibuatkan oleh pemilik rumah, kopi tubruk, kental dan pahit, tanpa gula. Tepat
seperti yang ia suka.
Pemandangan di depan matanya sungguh indah.
Sawah terasering menghampar di lereng bukit, berundak-undak
seperti tangga raksasa menuju langit. Padi mulai menguning, siap panen dalam
beberapa minggu. Di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri megah, diselimuti kabut
tipis yang mulai tersibak oleh sinar matahari, seperti tirai yang dibuka
perlahan untuk memperlihatkan pertunjukan yang spektakuler.
"Ini akan menjadi perjalanan yang tak
terlupakan," bisiknya pada diri sendiri.
Ia tidak tahu apakah perjalanan itu akan berakhir bahagia
atau justru sebaliknya, penuh dengan kekecewaan dan penyesalan. Tapi satu hal
yang ia tahu, ia tidak akan menyesal telah mencoba. Ia tidak akan menyesal
telah melangkah.
Karena pada akhirnya, penyesalan terbesar bukanlah
kegagalan. Bukan jatuh, bukan tersesat, bukan terluka.
Tapi tidak pernah mencoba sama sekali.
BAB 4
Desa Suralaya dan Pertanda Aneh
Bagian 1: Pagi yang Penuh Tanda Tanya
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Joko menyadari
bahwa ia tidak sendirian di teras rumah singgah.
Camelia sudah duduk di pojok, bersandar pada tiang kayu,
matanya terpejam. Bukan tidur, ia sadar, napasnya teratur tetapi tidak dalam.
Seperti sedang mendengarkan sesuatu. Seperti sedang merasakan sesuatu.
"Mel," panggil Joko pelan.
Camelia membuka mata. "Kamu juga tidak bisa
tidur?"
"Sejak subuh. Pikiran terlalu sibuk."
"Kamu juga merasakannya?"
"Merasa apa?"
Camelia menatap ke arah gunung yang masih diselimuti kabut.
"Desa ini... berbeda. Ada beban di udara. Seperti sesuatu yang berat,
sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa."
Joko menghela napas. Ia tidak tahu harus merespon
bagaimana. Sebagai ketua, ia ingin terlihat tegar, tidak terpengaruh oleh firasat-firasat
yang tidak bisa dijelaskan. Tapi sebagai manusia, ia juga merasakan apa yang
dirasakan Camelia.
"Aku merasakannya," akunya akhirnya. "Tapi
aku tidak tahu apa artinya."
"Kita akan tahu," kata Camelia. "Sebentar
lagi."
Dari dalam rumah, terdengar suara Guntur yang menggerutu
dalam tidurnya. Sesuatu tentang "ayam berkokok terlalu pagi" dan
"tolong matikan matahari". Yulia membalas dengan gerutuan yang tidak
kalah keras.
Joko tersenyum kecil. Setidaknya, beberapa dari mereka
masih bisa tidur nyenyak.
Bagian 2: Sarapan yang
Hening
Sarapan pagi itu disediakan oleh pemilik rumah singgah, seorang
janda paruh baya bernama Bu Tuminah. Ia adalah sosok yang ramah tetapi tidak
banyak bicara. Matanya selalu bergerak cepat, mengamati, menilai. Seperti orang
yang terbiasa menyimpan rahasia.
Menu sarapannya sederhana: nasi putih, sayur asem, tempe
goreng, dan sambal terasi yang pedasnya bukan main. Namun setiap suapan terasa
hangat, mungkin karena dimasak dengan hati, mungkin karena mereka memang sedang
butuh kehangatan.
"Makasih, Bu," kata Anita sambil menyeka mulutnya
dengan punggung tangan.
"Jangan sungkan," jawab Bu Tuminah pelan.
"Kalian tamu. Tamu harus dihormati."
"Bu," tiba-tiba Guntur bertanya dengan mulut
masih penuh nasi, "apa benar desa ini punya jalur pendakian yang
misterius?"
Bu Tuminah terdiam. Matanya beralih ke arah gunung, lalu
kembali ke piringnya. "Makan dulu yang banyak, Nak. Nanti kalau sudah
kenyang, baru bicara."
Guntur ingin bertanya lagi, tetapi Yulia menyikutnya.
"Jangan," bisik Yulia. "Hormati."
Mereka makan dalam keheningan yang tidak biasa. Hanya suara
sendok menyentuh piring dan suara kunyahan yang terdengar.
Bagian 3: Kedatangan
Raditya
Setelah sarapan, mereka tidak perlu menunggu lama. Pak
Raditya datang tepat pukul delapan. Ia masih mengenakan kemeja putih seperti
kemarin, tetapi kali ini tanpa lengan panjang, digulung hingga siku,
memperlihatkan lengan yang kekar meskipun usianya tidak muda lagi.
"Selamat pagi," sapanya. "Kalian tidur
nyenyak?"
"Beberapa iya, beberapa tidak," jawab Joko jujur.
Raditya tersenyum. "Wajar. Tempat baru, suasana baru.
Apalagi desa kami... berbeda."
"Berbeda bagaimana, Pak?" tanya Nadia.
Raditya tidak langsung menjawab. Ia duduk di kursi kayu
yang disediakan, mengambil napas panjang, lalu menatap mereka satu per satu.
"Desa Suralaya sudah ada sejak sebelum zaman
penjajahan. Dulu, desa ini adalah tempat peristirahatan para petapa yang akan
naik ke gunung untuk bersemedi. Mereka datang dari berbagai penjuru, mencari
ketenangan, mencari jawaban, mencari... sesuatu."
"Lalu sekarang?" tanya Hermansyah.
"Sekarang? Tidak banyak yang berubah. Gunung masih
sama. Jalurnya masih sama. Dan para penjaga... juga masih sama."
"Penjaga?" ulang Guntur. "Penjaga seperti
apa?"
Raditya tersenyum tipis, senyum yang sama seperti kemarin,
senyum yang tidak sampai ke mata. "Nanti kalian tahu. Sekarang, ikuti
saya. Saya akan tunjukkan sesuatu."
Bagian 4: Jalan Menuju
Rumah Tua
Mereka berjalan menyusuri jalan desa yang masih basah oleh
embun.
Raditya berjalan di depan, diikuti oleh Joko dan
Hermansyah. Yang lain beriringan di belakang, Guntur dan Yulia bertengkar soal
siapa yang paling banyak menginjak lumpur, Anita dan Nadia mendiskusikan
jenis-jenis tumbuhan yang mereka lihat, Camelia berjalan paling belakang,
matanya tidak pernah berhenti bergerak, mengamati setiap sudut.
Rumah-rumah kayu berjajar di kiri kanan. Beberapa warga
sudah mulai beraktivitas, ada yang menyapu halaman, ada yang memberi makan
ayam, ada yang duduk di teras sambil merokok. Mereka menatap rombongan KPAAB
dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan permusuhan, bukan keramahan. Lebih
seperti... kehati-hatian.
"Mereka tidak sering mendapat tamu?" bisik Yulia
kepada Guntur.
"Tamu yang datang ke sini biasanya tidak pulang,"
jawab Guntur santai, tetapi nadanya membuat Yulia merinding.
"Jangan bercanda soal itu!"
"Siapa bercanda?"
Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah tua yang terbuat
dari kayu jati. Rumah itu tampak lebih tua dari rumah-rumah lainnya, dindingnya
sudah kehitaman karena usia, atapnya dari sirap yang sudah berlumut, dan di
halaman terdapat kursi bambu tempat seorang pria tua duduk sambil memandang ke
arah gunung.
"Ini dia," kata Raditya. "Mbah
Jayasuprapta."
Bagian 5: Mbah
Jayasuprapta
Orang tua itu tidak menoleh ketika mereka mendekat. Matanya
tetap lurus ke depan, ke arah Gunung Merbabu yang menjulang gagah. Hanya
mulutnya yang bergerak-gerak pelan, seperti sedang berbicara dengan seseorang
yang tidak terlihat.
Raditya mendekat dan membungkuk hormat. "Mbah, ini dia
tamu dari Desa Awan Biru."
Mbah Jayasuprapta tidak segera menjawab. Hening beberapa
detik, terasa seperti menit. Kemudian ia menoleh perlahan, dengan gerakan yang
terasa berat.
Wajahnya dipenuhi keriput, ribuan garis yang menceritakan
tentang ribuan hari yang telah dilewati. Matanya, meskipun sudah sayu, masih
menyimpan kilauan kecerdasan. Dan ketika ia menatap mereka, Joko merasa sedang
dihakimi. Tidak dengan kata-kata, tidak dengan ekspresi, tetapi dengan tatapan.
"Kalian mau ke gunung?" tanyanya. Suaranya serak,
seperti suara orang yang jarang bicara.
"Iya, Mbah," jawab Joko hormat.
"Lewat mana?"
"Jalur Suralaya, Mbah."
Mbah Jayasuprapta terdiam sejenak. Kemudian ia tertawa, tawa
kecil yang terdengar aneh, seperti campuran antara kegembiraan dan kesedihan.
Tawa yang membuat bulu kuduk merinding.
"Kalian pemberani," katanya. "Atau bodoh.
Saya belum tahu."
"Mbah," kata Hermansyah, "kami sudah
mempersiapkan semuanya dengan matang."
"Persiapan?" ulang Mbah Jayasuprapta.
"Persiapan tidak cukup untuk jalur itu. Tidak ada persiapan yang
cukup."
"Lalu apa yang cukup, Mbah?" tanya Camelia.
Mbah Jayasuprapta menatap Camelia lama. Matanya berbinar, bukan
karena cahaya, tetapi karena pengakuan.
"Kamu peka," katanya. "Itu bagus. Kamu akan
dibutuhkan di sana."
Ia kemudian berdiri, perlahan, dengan bantuan tongkat kayu
yang sudah aus. "Ikuti saya."
Bagian 6: Ruang Kecil di
Belakang Rumah
Mbah Jayasuprapta membawa mereka ke belakang rumahnya. Di
sana, terdapat sebuah bangunan kecil yang terbuat dari bambu, dengan atap
rumbia yang sudah menghitam. Bangunan itu tampak sederhana, tetapi ada sesuatu
yang membuatnya terasa... sakral.
"Duduklah," kata Mbah Jayasuprapta sambil
menunjuk lantai bambu yang bersih.
Mereka duduk melingkar, sebelas anggota KPAAB dan Raditya
yang ikut serta. Mbah Jayasuprapta duduk di tengah, dengan sebuah kotak kayu di
pangkuannya.
"Jalur Suralaya," mulainya, "bukan jalur
biasa. Dulu, sebelum kalian lahir, sebelum orang tuamu lahir, bahkan mungkin
sebelum kakek-nenekmu lahir, jalur itu sudah ada. Dan sejak saat itu, jalur itu
digunakan untuk satu tujuan."
"Tujuan apa, Mbah?" tanya Anita.
"Bersemedi. Mencari ketenangan. Mencari jawaban.
Dan... berkomunikasi."
"Berkomunikasi dengan siapa, Mbah?" tanya Nadia
skeptis.
"Berkomunikasi dengan alam. Dengan leluhur. Dengan...
hal-hal yang tidak terlihat."
Hening.
"Jalur itu punya kesadaran," lanjut Mbah
Jayasuprapta. "Dia bisa merasakan siapa yang masuk. Dia bisa membedakan...
siapa yang tulus dan siapa yang hanya ingin sensasi. Dia bisa menilai... siapa
yang siap dan siapa yang tidak."
"Jadi, Mbah, kalau kami masuk dengan niat tulus...
kami akan selamat?" tanya Anita.
Mbah Jayasuprapta menggeleng. "Belum tentu. Niat tulus
itu syarat pertama, bukan jaminan. Jalur itu akan menguji. Ia akan memberikan
apa yang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan."
"Artinya?" tanya Joko.
"Artinya, jika kamu butuh ketakutan untuk belajar...
kamu akan diberi ketakutan. Jika kamu butuh kebingungan untuk introspeksi...
kamu akan diberi kebingungan. Jika kamu butuh kesepian untuk merenung... kamu akan
diberi kesepian."
"Jadi... jalur itu seperti cermin?" tanya
Camelia.
Mbah Jayasuprapta tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum
itu terlihat hangat. "Tepat. Jalur itu adalah cermin. Ia akan memantulkan
kembali siapa dirimu sebenarnya. Tidak lebih, tidak kurang."
Bagian 7: Peta Kuno
Mbah Jayasuprapta kemudian membuka kotak kayu di
pangkuannya. Di dalamnya, terdapat sebuah peta, bukan peta biasa, tetapi peta
yang terbuat dari kain, dengan tinta yang sudah pudar karena usia. Peta itu
dilipat rapi, dengan tepian yang sudah robek di sana-sini.
"Ini peta jalur Suralaya," katanya.
"Diberikan oleh leluhur saya kepada saya, dan sekarang akan saya berikan
kepada kalian."
"Untuk kami, Mbah?" tanya Joko terkejut.
"Iya. Karena kalian membutuhkannya. Dan karena saya
sudah terlalu tua untuk menyimpannya lebih lama."
Ia menyerahkan peta itu kepada Joko. Kainnya terasa lembut
di tangan, seperti beludru yang sudah usang. Joko membuka lipatan demi lipatan
dengan hati-hati, seolah sedang membuka sesuatu yang sangat berharga.
Peta itu tidak seperti peta modern. Tidak ada garis-garis
kontur, tidak ada skala, tidak ada legenda. Yang ada hanyalah gambar-gambar
sederhana, gunung, sungai, pohon, dan tanda-tanda aneh yang tidak bisa ia
pahami.
"Tanda-tanda ini?" tanya Joko.
"Itu adalah petunjuk. Tapi tidak semua petunjuk bisa
dibaca dengan mata. Ada yang harus dibaca dengan hati."
"Bagaimana cara membacanya, Mbah?" tanya Nadia,
yang skeptis tetapi penasaran.
"Kamu akan tahu saat waktunya tiba."
Nadia tidak puas dengan jawaban itu, tetapi tidak berani
membantah.
"Tapi ingat," lanjut Mbah Jayasuprapta,
"peta ini hanya alat. Yang terpenting adalah hati kalian. Jika hati kalian
bersih, kalian akan menemukan jalan. Jika hati kalian kotor... kalian akan
tersesat."
"Bagaimana cara membersihkan hati, Mbah?" tanya
Anita.
"Bukan dengan ritual. Bukan dengan doa-doa panjang.
Bukan dengan puasa atau bertapa. Tapi dengan niat. Jika niat kalian tulus, bukan
untuk pamer, bukan untuk sensasi, bukan untuk membuktikan sesuatu, tapi untuk
belajar, maka hati kalian akan bersih."
Mereka merenung.
"Dan satu lagi," Mbah Jayasuprapta menatap mereka
dengan serius. "Jangan pernah saling meninggalkan. Di jalur itu,
kebersamaan adalah kunci. Jika kalian terpisah... kalian akan hilang."
"Terima kasih, Mbah," kata Joko.
Mbah Jayasuprapta mengangguk. "Semoga kalian selamat.
Dan semoga kalian... menemukan apa yang kalian cari."
Bagian 8: Kembali ke
Rumah Singgah
Mereka kembali ke rumah singgah dengan perasaan yang
berbeda.
Bukan hanya lega karena mendapat petunjuk, tapi juga
sedikit terbebani. Kata-kata Mbah Jayasuprapta masih terngiang di telinga
mereka, tentang niat, tentang hati, tentang kebersamaan.
"Jadi... kita harus benar-benar jaga
kebersamaan," kata Yulia.
"Itu sudah pasti," jawab Hermansyah.
"Dan kita juga harus jaga niat," tambah Anita.
"Niat kita sudah jelas, kan?" tanya Arga.
"Belum tentu," kata Camelia pelan. "Kadang,
kita tidak sadar bahwa niat kita tidak sebersih yang kita kira."
"Apa maksudmu?" tanya Guntur.
Camelia menghela napas. "Kita bilang kita ingin
mendaki untuk belajar. Tapi apakah ada bagian dari diri kita yang hanya ingin
sensasi? Atau ingin pamer? Atau ingin membuktikan sesuatu? Atau ingin lari dari
masalah?"
Semua terdiam.
"Kita harus introspeksi," kata Joko akhirnya.
"Masing-masing."
"Setuju," kata Hermansyah.
Mereka pun duduk melingkar di ruang tamu rumah singgah.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit. Hanya pikiran yang bekerja, menelisik,
mencari, menemukan.
Bagian 9: Introspeksi
"Gue mulai," kata Joko. "Gue ingin mendaki
karena gue ingin membuktikan bahwa KPAAB bisa melakukan hal-hal besar. Tapi
mungkin... ada juga ego di dalamnya. Gue ingin diakui. Gue ingin dianggap
berhasil."
"Itu wajar," kata Nadia.
"Wajar, tapi tidak sepenuhnya tulus," kata
Camelia. "Setidaknya lo sadar."
"Gue," kata Guntur, "gue ikut karena gue
tidak mau ditinggal. Gue takut sendirian. Tapi jujur... gue juga penasaran. Gue
ingin tahu apakah cerita-cerita itu benar."
"Gue ikut karena gue ingin belajar navigasi di medan
yang sulit," kata Nadia. "Tapi mungkin... gue juga ingin membuktikan
bahwa logika lebih kuat dari takhayul."
"Gue ikut karena teman-teman pada ikut," kata
Amat polos.
Semua tersenyum.
"Gue ikut karena gue ingin melindungi kalian,"
kata Hermansyah. "Tapi mungkin... gue juga takut kehilangan kontrol. Gue
takut jika sesuatu terjadi, gue tidak bisa berbuat apa-apa."
"Gue ikut karena gue ingin merasakan petualangan
sejati," kata Yulia. "Tapi mungkin... gue juga ingin lari dari
masalah di rumah."
Anita memeluk Yulia. "Gue ikut karena gue ingin dekat
dengan alam. Tapi mungkin... gue juga mencari ketenangan yang tidak bisa gue
temukan di rumah."
Camelia menjadi yang terakhir.
"Gue ikut karena gue mendengar panggilan,"
katanya. "Seperti ada suara yang memanggil gue ke gunung itu. Dan gue tidak
tahu apakah itu panggilan yang baik atau buruk. Tapi gue tidak bisa
mengabaikannya."
Hening.
"Yang penting," kata Joko, "kita sadar akan
niat kita. Dan kita berusaha untuk meluruskan. Setidaknya kita jujur pada diri
sendiri."
"Setuju," kata yang lain.
Malam itu, mereka tidur dengan perasaan yang lebih ringan.
Seperti ada beban yang terangkat.
Bagian 10: Firasat
Namun di tengah malam, Camelia terbangun.
Ia mendengar suara, bukan suara biasa, tapi suara yang
familiar. Suara yang pernah ia dengar dalam mimpinya di Awan Biru. Suara yang
sama.
"Ke sini..."
Camelia duduk tegak. Ia melihat sekeliling. Semua masih
tidur, Anita terlelap dengan selimut tipis, Yulia bergelung seperti kucing,
Guntur mendengkur pelan.
Ia berjalan ke jendela. Di luar, bulan purnama bersinar
terang, begitu terang hingga ia bisa melihat puncak Gunung Merbabu dengan
jelas. Puncak itu tampak seperti mahkota perak di kejauhan, megah dan
misterius.
"Ke sini..." bisik suara itu lagi, lebih jelas
dari sebelumnya.
Camelia menggigit bibirnya. Ia ingin pergi. Ingin mengikuti
suara itu. Tapi ia ingat pesan Mbah Jayasuprapta: jangan pernah sendirian.
Jangan pernah terpisah.
Ia kembali ke tempat tidurnya, memejamkan mata, dan
berusaha tidur.
Tapi suara itu terus bergema di kepalanya.
"Ke sini... ke sini..."
Sepanjang malam.
Bagian 11: Persiapan
Terakhir
Pagi harinya, mereka memulai persiapan terakhir.
Peralatan diperiksa ulang, tali, carabiner, tenda, kompor,
matras, senter, baterai cadangan. Logistik dibagi per hari per orang, nasi
instan, mie instan, roti, biskuit, energi bar, kopi, teh, gula, garam, dan
vitamin. Peta dipelajari, peta modern yang mereka bawa dari Awan Biru dan peta
kuno pemberian Mbah Jayasuprapta.
"Kita akan mulai pendakian besok pagi," kata
Joko. "Jadi hari ini, kita istirahat total. Tidak ada aktivitas
berat."
"Setuju," kata Hermansyah. "Kita butuh
energi. Besok perjalanan akan sangat melelahkan."
"Tapi jangan terlalu banyak makan," tambah Nadia.
"Nanti malah mual. Perut kenyang ditambah medan berat, bisa muntah."
"Gue rencananya mau makan sepuluh porsi," kata
Guntur. "Buat cadangan energi."
"Lo mau muntah di tengah jalan?" tanya Yulia.
"Biar jadi pupuk. Menyuburkan tanah."
"Jorok lo!"
Mereka tertawa. Tawa yang terasa hangat di tengah dinginnya
pagi.
Raditya datang dengan senyum ramah. "Bagaimana
persiapannya? Ada yang kurang?"
"Lumayan, Pak," jawab Joko. "Kami akan mulai
besok pagi. Mohon doa restu."
"Baik. Saya akan mengantar kalian sampai ke puncak.
Saya ikut naik, walaupun saya sudah tua, tapi saya akan menemani sampai batas
terakhir."
"Terima kasih banyak, Pak."
Raditya menatap mereka satu per satu. Matanya berhenti di
Camelia, lalu di Guntur, lalu di Joko.
"Ingat pesan Mbah Jayasuprapta. Jaga kebersamaan. Jaga
niat. Dan jika kalian merasa ada yang tidak beres... jangan dipaksakan. Lebih
baik turun dan mencoba lagi lain waktu. Gunung tidak akan kemana-mana."
"Kami ingat, Pak."
Raditya mengangguk, lalu pergi.
Bagian 12: Sore yang
Sunyi
Sore harinya, mereka duduk di teras rumah singgah.
Pemandangan gunung terlihat jelas, tanpa kabut, tanpa awan.
Merbabu berdiri megah, seolah sedang memamerkan keindahannya.
"Besok kita akan di sana," kata Joko sambil
menunjuk ke arah puncak.
"Rasanya tidak nyata," kata Anita.
"Memang tidak nyata," kata Guntur. "Sampai
kita benar-benar menjejakkan kaki di sana. Sampai kita merasakan sendiri."
"Lo filosofis banget hari ini, Tur," kata Jojon.
"Persiapan mental, Jon. Persiapan mental."
Mereka tertawa.
Namun di balik tawa itu, ada kegelisahan yang tidak
terucap. Apa yang akan mereka hadapi besok? Apakah mereka siap? Apakah mereka
akan kembali?
Tidak ada yang tahu.
Bagian 13: Doa Bersama
Malam harinya, sebelum tidur, mereka berdoa bersama.
Anita memimpin doa. Suaranya lembut, menenangkan, seperti
aliran sungai yang tenang.
"Ya Allah... Tuhan Yang Maha Kuasa... lindungi kami
dalam perjalanan ini. Beri kami kekuatan, keberanian, dan kebijaksanaan. Jaga
kami dari bahaya, yang terlihat maupun yang tidak. Jaga persahabatan kami. Jaga
niat kami. Dan kembalikan kami dengan selamat. Aamiin."
"Aamiin," jawab yang lain.
Mereka kemudian tidur.
Tapi tidur malam itu tidak nyenyak.
Mimpi-mimpi aneh menghantui beberapa dari mereka.
Camelia bermimpi lagi, mimpi yang sama. Berada di tengah
kabut, dikelilingi suara-suara yang tidak dikenal. Namun kali ini, ada yang
berbeda. Dalam mimpi itu, ia melihat seorang wanita, wajahnya samar, tetapi
senyumnya familiar. Sangat familiar.
Joko bermimpi tentang masa lalunya, tentang ayahnya ketika
ia masih kecil. Ayahnya berdiri di tengah kabut, memanggil namanya, memintanya
untuk tidak pergi.
Guntur bermimpi tentang jatuh, jatuh dari tebing yang
sangat tinggi, tidak berujung, tidak berhenti. Ia berteriak, tetapi tidak ada
suara yang keluar.
Namun ketika mereka bangun, tidak ada yang menceritakan
mimpi mereka.
Mereka hanya diam, bersiap untuk hari yang akan mengubah
hidup mereka.
Bagian 14: Fajar Penuh
Tekad
Fajar datang dengan warna keemasan.
Langit berubah dari hitam ke ungu, dari ungu ke jingga,
dari jingga ke emas. Matahari muncul perlahan dari balik Gunung Merapi, menyinari
seluruh desa dengan cahaya yang hangat.
Joko sudah bangun sejak subuh. Ia tidak lagi gelisah. Tidak
lagi ragu. Yang ada hanya tekad—tekad yang sudah bulat, tidak bisa digoyahkan.
Ia berdiri di teras rumah singgah, menatap gunung.
"Kami akan datang," bisiknya. "Siapkan
dirimu."
Di belakangnya, satu per satu anggota KPAAB mulai bangun.
Wajah-wajah mereka masih mengantuk, tetapi mata mereka bersinar.
"Ini hari yang kita tunggu-tunggu," kata
Hermansyah.
"Sejak kapan?" tanya Guntur.
"Sejak kita memutuskan untuk tidak tinggal diam."
Mereka bergegas bersiap. Ransel dipasang di punggung. Tali
sepatu dikencangkan. Perlengkapan terakhir dimasukkan ke dalam tas.
Raditya datang tepat waktu. "Kalian siap?"
"Siap, Pak!" jawab mereka serempak.
"Baik. Ikuti saya."
Mereka berjalan menyusuri jalan desa yang masih basah oleh
embun. Warga mulai berdatangan di pinggir jalan, ada yang melambai, ada yang
tersenyum, ada yang berdoa.
Bu Tuminah berdiri di depan rumahnya, menangis pelan.
"Hati-hati, anak-anak," katanya.
Mereka melambai balik.
Di ujung desa, Mbah Jayasuprapta duduk di kursi bambunya,
menatap mereka dengan mata yang tidak berkedip. Ia tidak melambai. Tidak
tersenyum. Hanya menatap.
Camelia berhenti sejenak, menatap balik.
Mbah Jayasuprapta mengangguk, anggukan kecil, tetapi penuh
makna.
Camelia mengangguk balik, lalu melanjutkan langkah.
Perjalanan sesungguhnya telah dimulai.
BAB 5
Langkah Awal Menuju Ketidakpastian
Bagian 1: Fajar yang Dingin
Fajar di Desa Suralaya datang dengan perlahan, seperti
orang yang enggan bangun dari tidurnya. Kabut masih menggantung di
lereng-lereng gunung, tebal dan putih, seolah alam sedang menyembunyikan
sesuatu. Udara terasa lebih dingin dibandingkan pagi-pagi sebelumnya di desa
ini, dingin yang menusuk hingga ke tulang, dingin yang membuat napas beruap
setiap kali mereka membuka mulut.
Di halaman rumah singgah, sebelas anggota KPAAB sudah
bersiap sejak pukul setengah lima. Ransel besar berwarna-warni tergeletak rapi
di lantai kayu, hijau, biru, merah, oranye, seperti pelangi yang jatuh di bumi.
Tali sepatu boot dikencangkan satu per satu, dengan gerakan yang hati-hati dan
teliti. Tidak ada yang ingin sepatu longgar di tengah perjalanan.
Wajah-wajah yang semalam diliputi kegelisahan, oleh
mimpi-mimpi aneh, oleh firasat yang tidak bisa dijelaskan, oleh kata-kata Mbah
Jayasuprapta yang masih terngiang, kini berubah menjadi tekad. Bukan tekad yang
sombong, bukan tekad yang buta, tetapi tekad yang lahir dari kesadaran bahwa
tidak ada jalan mundur. Bahwa mereka sudah terlalu jauh untuk berbalik.
"Semua sudah siap?" tanya Joko sambil memeriksa
daftar perlengkapan untuk yang kesekian kalinya. Selembar kertas kusut di
tangannya, penuh dengan coretan dan tanda centang.
"Siap!" jawab mereka serempak, meski beberapa suara
terdengar masih mengantuk, terutama suara Jojon yang matanya masih setengah
merem.
"Yang belum siap, silakan pulang," celetuk Guntur
sambil menguap lebar.
"Yang belum siap itu kamu," balas Yulia cepat.
"Lo masih ngantuk, tas lo belum dirapikan, dan sepatu lo masih
kotor."
"Gue sudah siap dari lahir! Sepatu kotor itu tanda
pengalaman, Yul. Tanda bahwa gue sudah sering jalan."
"Tanda bahwa lo malas bersih-bersih."
Tawa kecil terdengar, menghangatkan suasana pagi yang
dingin. Tawa itu seperti api unggun di tengah hutan, kecil, tetapi cukup untuk
mengusir rasa dingin dan takut.
Tak lama, Kepala Desa Suralaya, Raditya, datang menghampiri
mereka. Ia membawa sebuah tongkat kayu, tongkat yang tampak sudah tua, dengan
ukiran-ukiran halus yang tidak bisa mereka pahami, dan sebuah tas tanggung di
pundaknya. Pakaiannya sederhana: kemeja lengan panjang warna krem, celana
gunung berwarna hijau tua yang sudah usang di beberapa bagian, dan sepatu boot
yang tampaknya sudah menemani banyak perjalanan.
"Saya akan mengantar sampai ke puncak," katanya.
Suaranya tenang, tetapi matanya serius. "mohon kerjasamanya."
"Terima kasih, Pak," ujar Joko.
Raditya mengangguk, lalu memandang mereka dengan teliti, satu
per satu, seperti seorang jenderal yang menilai pasukannya sebelum perang.
"Ingat, jalur ini bukan hanya soal arah. Kalian harus
peka. Peka terhadap perubahan, perubahan cuaca, perubahan medan, perubahan
suasana. Dan peka terhadap... hal-hal lain."
"Peka terhadap apa lagi, Pak?" tanya Amat Junior,
yang berdiri di paling pinggir dengan ransel yang hampir sebesar tubuhnya.
Raditya tersenyum tipis, senyum yang membuat keriput di
wajahnya semakin dalam. "Terhadap perubahan… sekecil apa pun. Terhadap
bisikan yang tidak terdengar. Terhadap bayangan yang tidak terlihat."
Guntur berbisik pelan ke Hermansyah, "Kalau perubahan
cuaca sih masih masuk akal…"
Hermansyah hanya menggeleng kecil, menatap Guntur dengan
tatapan yang mengatakan "diam saja". "Dengar saja dulu."
Bagian 2: Doa Pelepasan
Sebelum berangkat, Raditya mengajak mereka berdoa bersama
di kantor desa.
"Sebentar," katanya sambil mengangkat tangan.
"Ada satu ritual kecil yang biasa kami lakukan sebelum mendaki. Mungkin
bagi kalian ini aneh, mungkin tidak masuk akal, tetapi bagi kami ini
penting."
"Ritual apa, Pak?" tanya Anita.
"Doa. Bukan doa untuk meminta sesuatu, bukan untuk
meminta keselamatan, bukan untuk meminta kemudahan, bukan untuk meminta
kekayaan. Tapi doa untuk memohon izin."
"Minta izin kepada siapa, Pak?" tanya Nadia
skeptis. Alisnya terangkat, tanda bahwa ia sedang tidak setuju.
Raditya menatap Nadia dengan mata yang dalam. "Kepada
gunung. Kepada alam. Kepada leluhur yang menjaga tempat ini. Kepada mereka yang
telah ada sebelum kita."
Nadia ingin membantah, ia sudah membuka mulut, kata-kata
sudah siap di ujung lidah, tapi Joko menahan.
"Baik, Pak," kata Joko dengan tegas. "Kami
ikut. Kami akan menghormati adat istiadat di sini."
Mereka duduk melingkar di halaman kantor desa di tanah yang
masih lembap oleh embun, di antara rumput-rumput pendek yang basah. Raditya
duduk di tengah, memejamkan mata, dan mulai melantunkan doa dalam bahasa Jawa
kuno, kata-kata yang tidak semua bisa dipahami, tetapi terdengar khidmat dan
penuh makna.
Suaranya naik turun seperti gelombang, kadang pelan seperti
bisikan, kadang lantang seperti guntur di kejauhan. Angin berhembus pelan,
membawa kata-kata itu ke arah gunung.
Anita memejamkan mata, tangannya menggenggam erat, mungkin
sedang berdoa dalam hatinya sendiri. Camelia mengikuti dengan serius, seolah
mengerti setiap kata yang diucapkan Raditya. Guntur terlihat canggung, matanya
ke kanan-kiri, tetapi berusaha menghormati dengan tetap diam.
Setelah doa selesai, Raditya membuka mata. Udara di sekitar
mereka terasa berbeda, lebih tenang, lebih damai, seperti ada sesuatu yang
telah berubah.
"Sekarang, kalian siap," katanya.
"Terima kasih, Pak," kata Joko.
Bagian 3: Perjalanan
Dimulai
"Berangkat!" teriak Joko, suaranya menggema di
antara pepohonan.
Perjalanan pun dimulai.
Langkah pertama mereka menapaki jalur tanah yang masih
lembap oleh embun, lembap dan licin, membuat beberapa dari mereka hampir
tergelincir. Pepohonan tinggi menjulang di kiri dan kanan, membentuk lorong
alami yang seolah menyambut… sekaligus menguji. Daun-daun berguguran perlahan,
menari-nari di udara sebelum jatuh ke tanah.
Di awal perjalanan, suasana masih ringan. Canda dan tawa
masih terdengar, meskipun tidak sekeras di dalam mobil kemarin. Guntur
bercerita tentang pengalaman lucunya waktu tersesat di pasar, cerita yang sudah
berulang kali ia ceritakan, tetapi tetap membuat orang tertawa.
"Lo tersesat di pasar?" tanya Jojon tidak
percaya, meskipun ia sudah mendengar cerita itu tiga kali.
"Iya, gue ketinggalan rombongan waktu beli jajan. Gue
muter-muter, belok kiri, belok kanan, terus-menerus."
"Terus?"
"Gue muter-muter tiga jam. Ternyata pasar cuma satu
hektar. Bentuknya persis seperti lingkaran. Jadi gue cuma muter-muter di tempat
yang sama."
"Ya ampun, Tur. Itu bukan tersesat. Itu namanya
jalan-jalan santai."
"Santai yang melelahkan, Jon. Santai yang bikin
frustrasi."
Mereka tertawa. Raditya yang berjalan di depan hanya
tersenyum kecil, matanya tetap fokus ke depan.
"Indah banget…" ujar Nadia sambil mengamati
sekitar. Pepohonan hijau dengan lumut yang menempel di batang, pakis-pakis yang
tumbuh subur di sela-sela batu, dan suara burung yang berkicau merdu dari
kejauhan. "Aroma hutannya segar sekali."
"Ini baru pemanasan," kata Raditya tanpa menoleh.
"Basecamp pertama tidak akan terasa berat. Nikmati dulu."
Basecamp pertama mereka capai tanpa kesulitan berarti.
Hanya berupa tanah datar seluas lapangan bulu tangkis, dengan beberapa batu
besar yang bisa dijadikan tempat duduk. Suasana masih ringan, begitu ringan
hingga Jojon mulai bernyanyi lagi.
"Kalau begini sih, kita bisa sampai puncak sambil
nyanyi-nyanyi," kata Jojon dengan penuh percaya diri.
"Jangan sombong dulu," sahut Anita. "Masih
panjang. Masih berat. Jangan terkecoh dengan awal yang mudah."
"Bukan sombong, Nit. Ini optimisme. Optimisme itu
penting untuk menjaga semangat."
"Optimisme yang buta namanya nekat."
Perjalanan berlanjut ke basecamp kedua dan ketiga. Jalur
mulai menanjak, perlahan, tidak terasa, tetapi pasti. Napas mulai terasa lebih
berat. Keringat mulai membasahi dahi. Namun semangat masih terjaga, didorong
oleh canda dan tawa yang sesekali masih terdengar.
"Minum dulu," kata Joko, mengangkat tangannya.
Mereka berhenti sejenak. Botol air minum dikeluarkan dari
tas. Suara air dituang ke tenggorokan yang haus. Suara hutan terdengar jelas, burung,
angin, gesekan daun, dan sesekali suara monyet yang melompat dari dahan ke
dahan.
Namun di sela-sela itu, Camelia tiba-tiba diam. Matanya
terpaku ke arah barat, ke arah pepohonan yang lebat. Wajahnya berubah.
"Kalian dengar?" tanyanya pelan, begitu pelan
hingga nyaris tidak terdengar.
"Dengar apa?" tanya Yulia, yang sedang minum dari
botolnya.
"Seperti… ada suara langkah. Langkah kaki. Jelas.
Dekat."
Semua terdiam. Telinga mereka menajam, mendengarkan.
Guntur mendengarkan sejenak, lalu menghela napas. "Itu
suara kita sendiri, Mel. Suara kaki kita sendiri. Atau suara dahan yang
patah."
Camelia menggeleng tegas. "Bukan. Aku tahu perbedaan
antara suara kita dan suara lain. Ini berbeda. Ini... teratur. Seperti
seseorang sedang berjalan."
Raditya yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. Suaranya
tenang, tetapi tegas. "Kita lanjut saja. Jangan berlama-lama di satu
tempat."
Nada suaranya membuat mereka tidak berani bertanya lebih
lanjut.
Bagian 4: Perubahan
Suasana
Memasuki jalur menuju basecamp empat, suasana mulai
berubah, perlahan, seperti air yang mendidih, tidak terasa hingga tiba-tiba
terasa panas.
Cahaya matahari terasa lebih redup, meskipun waktu masih
siang. Waktu menunjukkan pukul sebelas, tetapi sinar matahari yang menembus
kanopi pohon hanya tinggal sisa-sisa, bercak-bercak kecil seperti uang logam
yang jatuh di tanah. Pepohonan semakin rapat, semakin tinggi, dan udara terasa
lebih dingin, bukan dingin biasa, tetapi dingin yang menusuk hingga ke tulang,
dingin yang membuat mereka menggigil meskipun sedang berjalan.
"Kenapa tiba-tiba jadi begini?" gumam Arga, yang
berjalan di tengah-tengah rombongan. Ia menggenggam erat tali tasnya, buku-buku
jarinya memutih.
"Karena kita mulai masuk wilayah yang berbeda,"
jawab Raditya singkat. Langkahnya tidak melambat.
"Berbeda bagaimana, Pak?" tanya Hermansyah, yang
berjalan tepat di belakang Raditya.
Raditya tidak langsung menjawab. Ia hanya melangkah lebih
pelan, seolah memberi kesempatan kepada mereka untuk merasakan sendiri, untuk
meresapi sendiri.
Dan memang… sesuatu terasa berbeda.
Angin yang tadinya sepoi-sepoi, lembut dan menenangkan,
kini terasa lebih berat, seperti ada beban yang tidak terlihat, seperti ada
tangan yang menekan bahu mereka dari belakang. Suara hutan menjadi lebih samar,
suara burung yang tadinya riuh kini nyaris tak terdengar, seperti ditelan oleh keheningan.
Bahkan langkah kaki mereka sendiri terdengar aneh, seperti dipantulkan kembali
oleh pepohonan, seperti ada yang mengulangi setiap gerakan mereka.
"Ko…" bisik Anita, suaranya bergetar. Ia berjalan
di samping Joko, wajahnya pucat. "Aku jadi nggak enak. Perutku mual.
Kepalaku pusing."
Joko menoleh, matanya mengamati wajah Anita yang pucat.
"Tetap di dekatku. Jangan jauh-jauh. Kalau perlu, pegang tas aku."
Guntur mencoba tersenyum, senyum yang dipaksakan, senyum
yang tidak sampai ke mata. "Santai saja. Ini cuma sugesti. Udara dingin,
badan lelah, pikiran jadi sugestif."
"Kalau sugesti, kenapa aku juga merasakan?" tanya
Nadia, Nadia, orang yang paling tidak percaya pada hal-hal mistis, orang yang
selalu mengandalkan logika dan data, orang yang tidak pernah takut pada
cerita-cerita horor. Suaranya gemetar. Tangannya yang memegang kompas gemetar.
Guntur terdiam sejenak. Tidak ada jawaban yang bisa ia
berikan.
"Ya… berarti sugestinya menular," katanya
akhirnya, dengan nada yang tidak lagi yakin.
"Ini bukan lucu, Tur," kata Hermansyah tegas.
Wajahnya serius, matanya tajam.
"Gue tahu. Tapi kalau kita panik, kita gak akan bisa
berpikir jernih. Panik hanya akan memperburuk keadaan. Panik membuat kita
rentan."
Dia benar. Panik adalah musuh terbesar di gunung, lebih
berbahaya dari medan terjal, lebih berbahaya dari cuaca buruk. Panik membuat
orang mengambil keputusan bodoh. Panik membuat orang berpisah. Panik membuat
orang tersesat.
Mereka menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan
diri.
Bagian 5: Tiba di Basecamp
Empat
Mereka akhirnya tiba di sebuah area yang agak terbuka, sebuah
tanah datar seluas setengah lapangan sepak bola, dikelilingi oleh pepohonan
besar yang menjulang seperti tembok alami.
Raditya berhenti. Ia menancapkan tongkatnya ke tanah.
"Inilah… basecamp empat."
Semua langsung memperhatikan sekitar, mata bergerak cepat,
mencari sesuatu yang mencurigakan, sesuatu yang aneh, sesuatu yang berbeda.
Tidak ada yang tampak aneh secara kasat mata. Hanya tanah
datar dengan rumput pendek, beberapa batu besar yang ditumbuhi lumut hijau
keabu-abuan, dan pepohonan yang mengelilingi seperti dinding alami. Angin
berhembus pelan, membuat dedaunan bergesekan.
Namun suasananya…
terlalu sunyi.
Tidak ada suara burung. Tidak ada suara serangga. Tidak ada
suara monyet yang melompat di dahan. Tidak ada apa pun. Bahkan angin seolah
berhenti ketika mereka memasuki area itu.
"Ini tempatnya?" tanya Jojon, suaranya nyaris
berbisik.
Raditya mengangguk. "Ya."
"Kelihatannya biasa saja," kata Guntur, berusaha
meyakinkan dirinya sendiri, dan meyakinkan yang lain. "Seperti basecamp
pada umumnya."
"Tunggu sebentar," jawab Raditya pelan.
"Jangan terburu-buru menilai."
Mereka pun beristirahat sejenak. Beberapa duduk di atas
batu, beberapa membuka botol minum untuk menghilangkan dahaga yang tiba-tiba
terasa sangat hebat. Anita mengeluarkan roti dan membaginya dengan Yulia dan
Nadia.
Namun tiba-tiba,
KRESEK…
Suara itu terdengar jelas. Jelas di tengah keheningan yang
mencekik.
Semua langsung menoleh ke arah yang sama, ke arah timur, di
mana pepohonan paling lebat.
"Siapa itu?" tanya Yulia dengan suara bergetar.
Roti di tangannya jatuh ke tanah.
Tidak ada jawaban.
"Paling binatang," kata Guntur, meski suaranya
berubah, tidak seremeh biasanya. Ada nada keraguan, bahkan ketakutan.
"Binatang apa yang langkahnya seperti itu?" tanya
Camelia. "Binatang apa yang berjalan dengan langkah teratur seperti
manusia?"
KRESEK… KRESEK…
Suara itu terdengar lagi. Kali ini… seperti lebih dekat.
Jauh lebih dekat.
Anita meraih tangan Nadia, meremasnya erat, kuku-kukunya
hampir menusuk kulit. "Aku takut…" bisiknya. "Aku benar-benar
takut."
Joko berdiri. Tangannya mengepal, tetapi ia berusaha
tenang. "Semua tetap tenang. Jangan ada yang bergerak sendiri."
Hermansyah mengamati sekitar, matanya bergerak cepat seperti
radar. "Arah suara berubah."
"Berubah bagaimana?" tanya Arga, yang berdiri
paling jauh dari sumber suara.
"Tadi di kiri… sekarang di kanan. Seperti bergerak
mengelilingi kita."
Guntur menelan ludah, dengan suara yang keras, terdengar
oleh semua orang. "Oke… ini mulai tidak lucu. Ini benar-benar tidak
lucu."
Raditya tetap berdiri tenang di tengah lingkaran. Ia
memejamkan mata sejenak, seperti sedang mendengarkan sesuatu, seperti sedang
berkomunikasi dengan sesuatu, lalu berkata pelan, tetapi tegas, "Jangan
panik. Jangan terpancing."
"Terpancing apa, Pak?" tanya Jojon, yang mulai
gemetar.
"Perasaan kalian sendiri. Ketakutan kalian
sendiri."
Suasana semakin tegang. Udara terasa semakin dingin, begitu
dingin hingga napas mereka beruap seperti di dataran tinggi.
Tiba-tiba, angin berhembus lebih kencang, sangat kencang,
seperti badai kecil yang tiba-tiba datang. Daun-daun berguguran seperti hujan,
menutupi tanah dengan warna coklat dan kuning. Dan di antara pepohonan yang
bergoyang… seolah ada bayangan yang bergerak cepat.
"Lihat itu!" teriak Bayu, jarinya menunjuk ke
arah barat.
Semua menoleh, namun tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan dan
kabut tipis yang mulai turun, seperti tirai yang menutup panggung.
"Di sana tadi!" Bayu menunjuk ke arah yang
berbeda. "Aku lihat! Ada bayangan! Seperti orang!"
"Tidak ada," kata Guntur cepat. "Gak ada
apa-apa."
"Aku lihat!" balas Bayu, suaranya meninggi.
"Aku lihat jelas! Baju putih! Rambut panjang!"
Perdebatan mulai muncul. Suara-suara mulai bersahutan.
"Ini cuma halusinasi! Efek kelelahan!"
"Tidak! Ini nyata! Aku tidak sedang
berhalusinasi!"
"Kalau nyata, mana buktinya? Aku tidak lihat
apa-apa!"
"Tidak semua harus ada bukti untuk dipercaya!"
"Dan tidak semua yang dirasakan itu benar!"
Suara mereka mulai meninggi. Emosi mulai memuncak. Beberapa
anggota lain hanya bisa terdiam, bingung harus berpihak ke mana.
"CUKUP!"
Joko berteriak, sekeras-kerasnya, sampai suaranya serak.
Semua terdiam. Hening. Sangat hening.
"Kita tidak akan bertengkar di sini," lanjutnya,
napasnya tersengal. "Kita satu tim. Satu tujuan. Satu perjalanan. Kita
tidak akan saling menyalahkan."
Raditya membuka mata. Ia menatap mereka satu per satu, dengan
tatapan yang dalam, yang membuat mereka merasa seperti sedang ditelanjangi.
"Kalian sudah merasakan… bukan?" katanya.
Tidak ada yang menjawab.
"Tapi ingat," lanjutnya, "ini baru awal. Ini
baru basecamp empat. Masih ada enam basecamp lagi. Masih lebih berat. Masih
lebih aneh. Masih lebih... menguji."
Kalimat itu terasa seperti beban yang jatuh di hati
masing-masing.
Bagian 6: Raditya
Berbicara
Setelah beberapa saat, mungkin lima menit, mungkin sepuluh,
tidak ada yang benar-benar yakin—suasana mulai kembali tenang. Napas mulai
teratur. Jantung mulai normal. Ketakutan mulai mereda, meskipun tidak
sepenuhnya hilang.
"Pak… kita lanjut?" tanya Joko, suaranya masih
sedikit terengah.
Raditya mengangguk. "Kita lanjut. Tidak boleh
berlama-lama di sini."
Namun sebelum melangkah, ia berkata pelan, begitu pelan
hingga mereka harus mendekat untuk mendengar.
"Jangan pernah merasa sendirian di tempat seperti
ini…"
"Kenapa, Pak?" tanya Amat.
"Karena perasaan sendirian… adalah pintu masuk bagi
ketakutan. Ketakutan adalah pintu masuk bagi hal-hal yang lebih buruk."
Mereka merenung. Kata-kata Raditya terasa berat, tetapi
juga terasa benar.
"Pak," kata Nadia, yang masih berusaha memegang
logika, "apa yang terjadi di sini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini
semua nyata? Atau hanya sugesti?"
Raditya tersenyum, senyum yang aneh, campuran antara
kasihan dan kekaguman. "Apa yang kalian dengar, apa yang kalian lihat, dan
apa yang kalian rasakan… mungkin tidak semuanya nyata. Bisa jadi itu adalah
hasil dari kelelahan, ketakutan, atau sugesti. Tapi perasaan kalian… perasaan
kalian sangat nyata. Ketakutan kalian sangat nyata."
"Jadi, kami harus mengabaikan apa yang kami
rasakan?" tanya Hermansyah.
"Tidak. Justru kalian harus memahami. Tanya pada diri
sendiri: Apakah ini benar-benar nyata, atau hanya sugesti? Apakah ini
benar-benar berbahaya, atau hanya ketakutan yang membesar?"
"Bagaimana cara membedakannya?" tanya Yulia.
Raditya menghela napas. "Latihan. Pengalaman. Dan
kalian akan banyak berlatih di sini. Di gunung ini."
Mereka melanjutkan perjalanan. Langkah lebih hati-hati.
Pikiran lebih waspada. Mata lebih tajam.
Bagian 7: Bayangan yang
Bergerak
Beberapa ratus meter dari basecamp empat, setelah melewati
tanjakan terjal yang membuat paha terasa terbakar, keanehan kembali terjadi.
Kali ini, bukan suara. Tapi bayangan.
Bayu, yang berjalan di posisi tengah-tengah rombongan,
tiba-tiba berhenti. Tubuhnya membeku seperti patung.
"Itu... lihat itu!" katanya, suaranya nyaris
berbisik. Tangannya gemetar saat menunjuk ke arah pepohonan di sebelah kanan.
Semua menoleh ke arah yang ditunjuk. Di antara celah-celah
pohon di antara batang-batang yang lebat, tampak bayangan sesosok tubuh. Tidak
jelas bentuknya, seperti kabut yang membentuk manusia, tetapi samar-samar.
Bayangan itu diam, tidak bergerak.
"Ada apa itu?" tanya Arga, matanya membelalak.
"Siapa di sana?" teriak Jojon, keberaniannya naik
turun.
Tidak ada jawaban. Bayangan itu diam, tidak bergerak.
"Jangan didekati," kata Raditya cepat. Suaranya
tegas, memotong.
"Kenapa, Pak?" tanya Yulia.
Raditya tidak menjawab. Ia hanya menatap bayangan itu
dengan mata yang tidak berkedip.
Hening.
Bayangan itu masih di sana. Masih diam. Seperti
memperhatikan mereka. Seperti menilai mereka.
"Kita lewat saja," kata Joko. "Jangan fokus
ke sana. Jangan lihat. Jangan balas."
Mereka berjalan lebih cepat, secepat mungkin, meskipun
medan tidak mendukung. Beberapa dari mereka tidak bisa menahan rasa penasaran.
Guntur menoleh sekilas, hanya sedetik.
Bayangan itu... tersenyum.
Atau setidaknya, itu yang ia lihat. Senyum yang aneh, yang
membuat bulu kuduknya berdiri.
"Tur, ayo!" panggil Yulia dari depan.
Guntur berbalik dan berjalan lebih cepat. Jantungnya
berdebar tidak karuan. Keringat dingin mengalir di punggungnya.
"Lo lihat apa?" tanya Hermansyah pelan, berjalan
di sampingnya.
"Jangan tanya," jawab Guntur, suaranya serak.
"Jangan tanya."
Bagian 8: Malam di
Basecamp Lima
Mereka akhirnya tiba di basecamp lima saat matahari mulai
tenggelam di ufuk barat. Langit berwarna jingga keemasan, dengan
coretan-coretan merah dan ungu, pemandangan yang indah, tetapi terasa tidak
pada tempatnya setelah apa yang mereka alami.
"Kita berhenti di sini," kata Raditya.
"Besok pagi kita lanjut. Tidak aman berjalan di malam hari."
Mereka mendirikan tenda dengan cepat, begitu cepat hingga
beberapa tali terpasang terbalik, tetapi tidak ada yang punya energi untuk
memperbaikinya. Api unggun dinyalakan, meskipun kayu bakar agak sulit didapat
karena kelembapan udara yang tinggi.
Suasana malam di gunung berbeda. Dingin, sunyi, dan terasa
lebih dekat dengan langit, seperti mereka bisa menyentuh bintang jika
mengangkat tangan.
"Gue belum pernah merasa seperti ini," kata Anita
sambil menggenggam cangkir teh hangat, kedua tangannya melingkari cangkir itu
seperti sedang memeluk sumber kehangatan terakhir di dunia.
"Seperti apa?" tanya Yulia.
"Seperti... kecil. Sangat kecil. Tidak berarti."
"Kita memang kecil," kata Camelia, yang duduk di
seberang, matanya menatap api. "Di alam semesta ini, di gunung ini, kita
hanyalah debu. Tidak lebih."
"Filosofis banget, Mel," kata Guntur.
"Ini bukan filosofi. Ini fakta. Fakta yang sering kita
lupakan di kehidupan sehari-hari."
Mereka terdiam, menatap api unggun yang berkedip-kedip, kadang
besar, kadang kecil, seperti sedang bernapas.
"Jadi, besok kita akan sampai di basecamp
sepuluh?" tanya Amat.
"Kalau tidak ada hambatan," jawab Hermansyah.
"Semoga tidak ada hambatan."
"Atau semoga hambatannya tidak terlalu berat,"
kata Joko.
Mereka tertawa kecil, tawa yang terdengar hambar, tetapi
cukup untuk menghangatkan hati.
Bagian 9: Cerita di
Sekitar Api Unggun
Raditya duduk di dekat api unggun, memanaskan tangannya, telapak
tangannya yang kasar, penuh kapalan. Ia menatap api dengan mata yang sayu,
seperti sedang mengingat sesuatu.
"Kalian tahu," katanya, suaranya pelan,
"dulu, sebelum kalian lahir, bahkan mungkin sebelum orang tua kalian
lahir, ada sekelompok pendaki yang melewati jalur ini."
Mereka langsung fokus. Bahkan Guntur berhenti menghangatkan
tangannya.
"Jumlahnya tujuh orang. Semua laki-laki. Mereka datang
dari kota dari Semarang, katanya. Mereka muda, kuat, penuh semangat."
"Terus?" tanya Jojon.
"Mereka berhasil sampai puncak. Mereka berhasil
mencapai titik tertinggi, berdiri di atas awan, melihat matahari terbit dari
balik Gunung Merapi."
"Lalu?" tanya Yulia.
"Tapi dalam perjalanan turun... mereka kehilangan satu
orang."
Hening.
"Kehilangan? Meninggal?" tanya Anita.
"Hilang," kata Raditya. "Tidak pernah
ditemukan. Seperti ditelan bumi. Seperti tidak pernah ada."
"Apakah mereka mencari?" tanya Bayu.
"Mencari. Tiga hari. Tiga malam. Mereka menyisir
setiap sudut, setiap celah, setiap jurang. Tapi tidak ada jejak. Tidak ada
tanda. Tidak ada apa-apa."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Nadia skeptis.
Raditya menghela napas. "Kami tidak tahu. Dan sampai
sekarang, keluarga orang itu masih berharap... dia suatu hari akan pulang.
Meskipun kami tahu itu tidak mungkin."
Suasana menjadi semakin berat. Api unggun seolah ikut
redup.
"Pak," kata Joko, "kenapa Bapak cerita ini?
Kenapa sekarang?"
Raditya menatap Joko, dalam, tajam, seperti sedang mencari
sesuatu. "Karena kalian harus tahu. Jalur ini tidak hanya indah. Tidak
hanya misterius. Ia juga menyimpan sejarah. Dan sejarah... tidak selalu
bahagia."
"Tapi kami tidak akan kehilangan siapa pun," kata
Hermansyah tegas. Suaranya tidak hanya meyakinkan yang lain, tetapi juga
meyakinkan dirinya sendiri.
Raditya tersenyum, senyum yang bijaksana, tetapi juga
sedikit sedih. "Saya harap begitu. Saya sangat harap begitu."
Bagian 10: Malam yang
Panjang
Malam itu, tidur terasa mustahil.
Guntur berbaring di dalam tenda, memandang langit-langit
yang gelap, tenda yang terlalu sempit untuk tubuhnya yang tidak terlalu besar.
Pikirannya terlalu sibuk. Bayangan yang tersenyum. Cerita tentang pendaki yang
hilang. Kata-kata Mbah Jayasuprapta.
"Tur, lo tidur?" bisik Joko dari tenda sebelah, tenda
yang terpisah hanya oleh selembar kain tipis.
"Belum. Gak bisa."
"Gue juga. Pikiran gak bisa berhenti."
Mereka berdua terdiam. Hanya suara angin dan sesekali suara
ranting patah yang terdengar.
"Jo," kata Guntur akhirnya, "lo percaya
cerita Raditya tadi? Cerita tentang pendaki yang hilang?"
"Aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi aku
tidak bisa mengabaikannya. Terlalu banyak hal aneh yang sudah kita alami."
"Kenapa lo bisa tenang? Kenapa lo tidak panik?"
Joko tertawa kecil, tertawa yang tidak bahagia. "Aku
juga panik, Tur. Aku juga takut. Tapi kalau aku tunjukkan, kalian semua akan
panik. Dan kalau semua panik, kita tidak akan pernah keluar dari sini."
Guntur menghela napas. "Lo pemimpin yang baik,
Jo."
"Belum tentu. Tapi aku berusaha."
Mereka berdua terdiam lagi. Di luar, angin malam berhembus
lebih kencang, membuat tenda mereka bergoyang.
Bagian 11: Panggilan di
Malam Hari
Di tengah malam, ketika bulan berada di posisi tertinggi,
ketika kabut mulai turun, Camelia terbangun.
Ia mendengar suara lagi. Suara yang sama seperti di desa.
Suara yang sama seperti dalam mimpinya.
"Ke sini…"
Camelia duduk tegak. Ia melihat sekeliling. Semua masih
tidur, Anita tergolek di sampingnya, mulutnya sedikit terbuka, Yulia bergelung
seperti kucing di pojok tenda.
Suara itu lebih jelas kali ini. Seperti berasal dari arah
timur, arah yang belum mereka lewati, arah yang menuju puncak.
"Ke sini... aku akan menunjukkan sesuatu..."
Camelia ingin bangun. Ingin mengikuti suara itu. Ingin tahu
apa yang menunggu di sana. Tapi ia ingat pesan Raditya: jangan pernah
sendirian. Jangan pernah berpisah. Jangan pernah mengikuti suara yang tidak
dikenal.
Ia menggigit bibirnya, sampai hampir berdarah, lalu
berbaring lagi, memejamkan mata.
Tapi suara itu terus memanggil.
Sepanjang malam.
"Ke sini... ke sini... ke sini..."
Camelia tidak tidur lagi.
Bagian 12: Fajar yang
Menakutkan
Fajar datang dengan kabut tebal, lebih tebal dari pagi-pagi
sebelumnya. Kabut itu seperti selimut putih yang menyelimuti seluruh basecamp
lima, membuat jarak pandang hanya beberapa meter.
Mereka bangun dengan perasaan tidak nyaman. Tidur yang
tidak nyenyak, terganggu oleh mimpi-mimpi aneh, oleh suara-suara misterius,
oleh ketakutan yang tidak bisa dijelaskan, membuat tubuh terasa lelah, padahal
baru memulai hari.
"Kita harus segera berangkat," kata Raditya, yang
sudah berkemas sejak subuh. "Kabut ini bisa semakin tebal. Kalian tidak
ingin terjebak di sini."
"Tapi kami belum sarapan," protes Guntur, yang
masih mengucek matanya.
"Makan sambil jalan. Tidak ada waktu."
Mereka bergegas membereskan tenda dan perlengkapan. Sarapan
dilakukan dengan cepat, roti tawar dengan selai coklat yang dingin, dan teh
hangat dari termos yang tersisa semalam.
"Pak," kata Joko sambil menggulung tendanya,
"apakah kabut ini normal?"
Raditya menggeleng, gelengan yang tegas. "Tidak. Ini
terlalu tebal untuk waktu begini. Kabut seperti ini biasanya hanya turun di
malam hari atau saat cuaca ekstrem."
"Artinya?"
Raditya menghela napas panjang. "Artinya... alam
sedang tidak bersahabat. Artinya... ada sesuatu yang tidak beres."
Semua terdiam.
"Tapi kita tetap jalan," kata Joko tegas.
"Kita tetap jalan," ulang Raditya.
Bagian 13: Menembus
Kabut
Perjalanan dalam kabut sangat sulit, jauh lebih sulit dari
yang mereka bayangkan.
Jarak pandang hanya beberapa meter, tiga meter, mungkin
lima, tidak lebih. Mereka harus berjalan beriringan, hampir saling menyentuh,
hampir saling memegang, agar tidak terpisah. Satu langkah ke kanan atau ke
kiri, dan mereka bisa kehilangan rombongan.
"Jangan ada yang jauh," perintah Joko dari depan.
"Pegang tas orang di depan kalian."
"Gue pegang ransel lo, Jo," kata Guntur, yang
berjalan tepat di belakang Joko.
"Jangan pegang yang aneh-aneh."
"Ya iyalah. Gue pegang talinya, bukan pantat lo."
Mereka berjalan perlahan, sangat perlahan, seperti
kura-kura yang merayap di tanah. Suara langkah kaki terdengar seperti gema, terpantul-pantul
oleh kabut, oleh pepohonan, oleh keheningan.
Tiba-tiba, Nadia berhenti.
"Kompasku error," katanya, suaranya gemetar.
"Apa?" tanya Hermansyah dari belakang.
"Jarumnya berputar terus. Tidak stabil. Seperti tidak
bisa menentukan arah."
"Ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata
Nadia, suaranya hampir menangis. "Kompass ini baru. Akurasi tinggi. Tidak
mungkin error."
Raditya mendekat, melihat kompas itu. Matanya menyipit.
"Itu pertanda," katanya.
"Pertanda apa, Pak?" tanya Yulia.
"Kita sudah dekat dengan... sesuatu."
Bagian 14: Sesuatu di
Tengah Kabut
Dan tanpa mereka sadari… sesuatu telah menunggu sejak awal.
Sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Sesuatu yang telah menunggu… sejak mereka memutuskan untuk
datang.
Di tengah kabut yang semakin tebal, begitu tebal hingga
mereka hampir tidak bisa melihat tangan sendiri, sesosok bayangan terlihat
samar di depan mereka. Tidak bergerak. Hanya berdiri.
"Siapa di sana?" teriak Joko, suaranya menggema
di antara pepohonan.
Tidak ada jawaban.
Bayangan itu... melambai.
"Jangan ikuti," bisik Raditya.
Tapi sudah terlambat.
Bayu melangkah maju, satu langkah, dua langkah, tiga
langkah.
"Bayu! Berhenti!" teriak Yulia, suaranya pecah.
Bayu tidak mendengar. Atau mungkin... ia mendengar sesuatu
yang lain. Sesuatu yang hanya ia sendiri yang bisa mendengar.
"Bayu!"
BAB 6
Basecamp Empat – Saat Dunia Tak Terlihat Menyapa
Bagian 1: Bayu dan Bayangan
"Bayu! Berhenti!" teriak Yulia sekali lagi,
suaranya pecah oleh ketakutan yang tidak lagi bisa disembunyikan. Suaranya
menggema di antara pepohonan, memantul-mantul, seperti suara hantu di lembah
yang sunyi.
Namun Bayu terus melangkah.
Kakinya bergerak seperti orang yang sedang berjalan dalam
mimpi, lambat, kaku, dan tanpa kesadaran. Matanya kosong, menatap lurus ke arah
bayangan yang berdiri di tengah kabut. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Tidak
ada ketakutan, tidak ada keraguan, tidak ada apa pun. Hanya kekosongan.
"Ada apa dengan dia?" tanya Arga dengan suara
gemetar, tangannya meraih lengan Jojon yang berdiri di sampingnya.
"Dia terhipnotis atau apa?" sahut Jojon, matanya
membelalak.
"Bukan hipnotis," kata Camelia pelan.
"Dia... dipanggil."
Joko bergerak cepat. Ia berlari, secepat mungkin, meskipun
medan berbatu dan licin, meraih lengan Bayu dan menariknya keras ke belakang.
"Bayu! Sadar! Sadar, Yu!"
Bayu tersentak. Tubuhnya bergoncang seperti orang yang baru
tersadar dari tidur panjang. Matanya berkedip beberapa kali, cepat, seperti
sedang berusaha fokus. Lalu ia menoleh ke Joko dengan ekspresi bingung, benar-benar
bingung, seperti baru pertama kali melihat wajah Joko.
"Jo...? Kenapa? Kenapa lo pegang gue
keras-keras?"
"Lo jalan sendiri, Yu. Kita panggil-panggil gak
dengar. Lo kayak kesurupan."
Bayu mengernyit, mengusap matanya dengan punggung tangan.
"Gue dengar suara."
"Suara apa? Suara apa yang lo dengar?"
Bayu menunjuk ke arah bayangan itu, yang masih berdiri di
tengah kabut, tidak bergerak, tidak berkedip. "Dia manggil gue. Dia
bilang... 'ke sini, aku akan tunjukkan sesuatu'. Suaranya... suaranya kayak
suara orang yang gue kenal. Kayak... kayak..."
"Kayak siapa?" desak Yulia.
Bayu menggeleng. "Gue gak tahu. Tapi suaranya
familiar. Sangat familiar. Kayak suara yang pernah gue dengar dulu, waktu
kecil."
Camelia menggigit bibirnya. Wajahnya pucat, lebih pucat
dari biasanya. "Itu suara yang sama."
"Suara apa?" tanya Hermansyah, suaranya tegas.
"Suara dalam mimpiku," jawab Camelia pelan.
"Suara yang memanggil namaku. Suara yang bukan Joko, tapi terdengar
seperti Joko."
Raditya yang sejak tadi diam, akhirnya maju ke depan. Ia
berjalan perlahan, menatap bayangan itu dengan mata menyipit, seperti sedang
membaca sesuatu, seperti sedang menerjemahkan bahasa yang tidak terlihat.
"Kita harus pergi dari sini," katanya tegas.
"Sekarang. Tidak bisa ditunda."
"Tapi, Pak..." Guntur ingin membantah, ingin
bertanya, ingin memahami.
"Tidak ada tapi. Ini tidak aman. Tempat ini... tidak
aman."
Mereka bergegas meninggalkan area itu. Langkah mereka
cepat, hampir seperti berlari, meskipun paha terasa terbakar dan napas
tersengal-sengal. Kabut masih tebal, tapi Raditya seolah tahu persis arah yang
harus dituju, seperti ada kompas di dalam kepalanya, seperti ia sudah hafal
setiap inci jalur ini.
Bayu sesekali menoleh ke belakang, meskipun Joko sudah
berpesan untuk tidak menoleh.
Bayangan itu masih di sana.
Masih berdiri.
Masih melambai.
Bagian 2: Napas yang
Tersengal
Setelah berjalan sekitar dua puluh menit dengan kecepatan
tinggi, melewati tanjakan, melewati akar-akar pohon yang menjulur, melewati
bebatuan licin, mereka akhirnya sampai di area yang sedikit lebih terbuka.
Kabut mulai menipis, meskipun belum sepenuhnya hilang. Mereka bisa melihat
beberapa meter ke depan, cukup untuk bernapas lega.
"Berhenti," kata Raditya sambil mengangkat
tangan.
Mereka berhenti, beberapa langsung duduk di tanah, beberapa
membungkuk dengan tangan di lutut, mengatur napas yang tersengal-sengal.
Keringat bercucuran di dahi mereka, bercampur dengan embun yang masih menempel
di rambut dan pakaian.
"Pak... itu tadi... apa?" tanya Anita di sela-sela
napasnya. Suaranya parau, seperti habis berteriak.
Raditya tidak segera menjawab. Ia duduk di atas batu besar
yang ditumbuhi lumut, meletakkan tongkatnya di samping. Wajahnya tampak lelah, bukan
lelah fisik, tapi lelah pikiran. Ada beban di matanya, beban yang tidak bisa ia
bagikan.
"Itu... penjaga," jawabnya akhirnya.
"Penjaga?" ulang Nadia skeptis. Alisnya terangkat
tinggi. "Maksud Bapak, hantu? Setan? Genderuwo?"
Raditya menggeleng pelan. "Bukan hantu. Bukan juga
makhluk halus dalam pengertian kalian. Itu adalah... energi. Energi yang
terbentuk dari sejarah tempat ini. Dari kisah-kisah yang terjadi di sini. Dari
doa, dari harapan, dari ketakutan, dari air mata."
"Sejarah apa?" tanya Hermansyah.
Raditya menghela napas, napas panjang yang terasa berat.
"Dulu, di tempat itu, di basecamp empat, ada seorang pria yang meninggal
karena tersesat. Ia tidak ditemukan selama berminggu-minggu. Ketika ditemukan,
tubuhnya sudah tidak utuh."
Hening. Angin berhenti.
"Konon," lanjut Raditya, "arahan...
energinya masih ada di sana. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk
memperingatkan."
"Memperingatkan tentang apa?" tanya Yulia.
"Bahwa jalur ini tidak boleh dianggap remeh. Bahwa
alam tidak bisa ditaklukkan hanya dengan keberanian dan perlengkapan
mahal."
Joko duduk di samping Raditya. "Pak, apakah semua
pendaki yang lewat sini mengalami hal yang sama? Melihat bayangan, mendengar
suara?"
Raditya berpikir sejenak. "Tidak semua. Hanya mereka
yang... peka. Hanya mereka yang... dipilih."
"Peka seperti Mel dan Bayu?" tanya Anita.
"Atau peka karena ketakutan," kata Raditya.
"Ketakutan bisa membuka pintu indra yang biasanya tertutup. Ketika kalian
takut, kalian menjadi lebih sensitif. Dan ketika kalian sensitif... kalian bisa
melihat, mendengar, merasakan hal-hal yang biasanya tidak terlihat."
Guntur yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Jadi,
kalau kita tidak takut, kita tidak akan melihat atau mendengar hal-hal
aneh?"
"Teorinya begitu," kata Raditya. "Tapi
mengatakan 'jangan takut' lebih mudah daripada melakukannya. Apalagi setelah
melihat apa yang kalian lihat."
Bagian 3: Diskusi di
Tengah Jalan
Mereka beristirahat lebih lama dari biasanya, mungkin dua
puluh menit, mungkin setengah jam. Raditya memutuskan untuk tidak terburu-buru,
karena kondisi mental beberapa anggota sedang tidak stabil. Bayu masih terlihat
syok, matanya kosong, tangannya gemetar. Camelia duduk terpisah, memejamkan
mata, seperti sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak terlihat.
"Aku tidak bisa melanjutkan kalau terus begini,"
kata Bayu tiba-tiba.
Semua menatapnya.
"Apa maksudmu?" tanya Joko.
"Aku takut, Jo. Bukan takut mati, mungkin itu juga, tapi
takut... kehilangan diriku sendiri. Takut menjadi orang yang berbeda. Takut
tidak bisa kembali seperti sedia kala."
Camelia membuka mata. Ia berjalan mendekati Bayu, lalu
duduk di sampingnya. "Kamu tidak akan kehilangan dirimu sendiri. Selama
kamu masih ingat siapa kamu. Selama kamu masih ingat nama orang tuamu, nama
desamu, nama teman-temanmu."
"Tapi aku hampir berjalan ke arah bayangan itu. Tanpa
sadar. Tanpa bisa mengendalikan kaki sendiri."
"Itu karena kamu panik," kata Nadia, yang
berusaha tetap logis meskipun suaranya masih gemetar. "Panik membuatmu
rentan. Panik membuka celah. Panik membuatmu mudah dipengaruhi."
"Lalu bagaimana caranya agar tidak panik?" tanya
Bayu.
"Latihan," jawab Hermansyah. "Kontrol napas.
Fokus pada hal-hal yang nyata. Jangan biarkan pikiranmu melayang ke hal-hal
yang tidak bisa dijelaskan."
"Apa yang nyata di sini?" tanya Bayu sambil melihat
sekeliling, kabut, pepohonan, batu-batu besar, langit kelabu. "Kabut?
Pohon? Batu? Atau bayangan-bayangan itu? Mana yang nyata?"
Semua terdiam.
"Yang nyata," kata Joko perlahan, "adalah
kita. Kita yang berjalan. Kita yang bernapas. Kita yang saling memegang. Kita
yang saling menjaga. Itu nyata. Jangan lupakan itu."
Bayu menatap Joko lama. Matanya berkaca-kaca. Kemudian ia
mengangguk.
"Baik. Aku akan coba. Aku akan berusaha."
Bagian 4: Basecamp Lima
– Perbatasan
Perjalanan dilanjutkan. Namun kali ini, mereka berjalan
lebih rapat. Tangan hampir saling menyentuh. Suara napas terdengar silih
berganti, seperti orkestra yang tidak teratur.
Mereka akhirnya tiba di basecamp lima saat matahari mulai
condong ke barat, meskipun matahari tidak terlihat, hanya cahaya pucat yang
menembus kabut. Kabut hampir sepenuhnya hilang, digantikan oleh langit jingga
keabu-abuan yang aneh.
"Ini basecamp lima," kata Raditya. "Mulai
dari sini, kalian akan memasuki wilayah yang berbeda."
"Berbeda bagaimana?" tanya Amat.
"Di sini, tidak ada satupun hewan. Tidak ada burung.
Tidak ada serangga. Tidak ada monyet. Tidak ada apa pun. Hanya kalian,
pepohonan, dan keheningan."
Yulia melihat sekeliling. Raditya benar-benar tidak salah.
Tidak ada suara burung. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara apapun selain
angin yang berhembus pelan, terlalu pelan, seperti sedang berbisik.
"Ini menyeramkan," bisiknya.
"Biasakan," kata Raditya. "Karena ini akan
kalian rasakan sampai basecamp sembilan. Keheningan yang memekakkan
telinga."
Mereka mendirikan tenda di area yang agak datar, di antara
dua pohon pinus besar. Api unggun dinyalakan, meskipun kayu bakar harus dicari
cukup jauh, dan ketika mereka menemukannya, kayu itu basah, sulit menyala.
"Pak," kata Joko sambil membantu Raditya
mengumpulkan kayu, "Bapak pernah naik sampai puncak lewat jalur ini? Atau
Bapak hanya sampai basecamp tertentu?"
Raditya tersenyum tipis, senyum yang aneh, campuran antara
bangga dan sedih. "Pernah. Tiga kali. Tiga kali saya berdiri di
puncak."
"Lalu kenapa Bapak tidak naik lagi? Kenapa Bapak hanya
mengantar sampai titik awal?"
Raditya berhenti mengumpulkan kayu. Ia menatap ke arah
puncak, yang mulai tertutup kabut sore, seperti sedang menyembunyikan diri.
"Karena... setiap kali saya naik, saya merasa ada
bagian dari diri saya yang tertinggal di sana. Tidak kembali. Tidak
pulang."
"Tertinggal bagaimana?"
"Seperti... kenangan. Perasaan. Atau mungkin... jiwa.
Sebagian kecil dari jiwa saya."
Joko terdiam. Ia tidak tahu harus merespon apa.
"Saya sudah tua, Jo," lanjut Raditya. "Saya
tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi. Saya sudah kehilangan terlalu
banyak."
Bagian 5: Malam yang
Sunyi
Malam di basecamp lima benar-benar sunyi, sangat sunyi
hingga mereka bisa mendengar detak jantung sendiri.
Tidak ada suara apa pun selain desisan angin yang kadang
datang, kadang pergi, dan gemerisik dedaunan yang bergesekan pelan. Bahkan api
unggun pun terdengar seperti bisikan, lembut dan menenangkan, namun juga
sedikit mencekam, seperti suara orang yang sedang bercerita di kejauhan.
Mereka duduk melingkar di sekitar api. Wajah masing-masing
diterangi cahaya yang berkedip-kedip—kadang terang, kadang redup, seperti
harapan yang naik turun.
"Gue usul kita main game," kata Guntur,
mencairkan suasana.
"Game apa?" tanya Jojon.
"Tebak-tebakan."
"Serius? Di tengah hutan yang sunyi begini? Di tengah
ketakutan yang masih belum reda?"
"Justru biar gak sunyi. Justru biar kita lupa
sebentar."
"Baiklah," kata Yulia. "Gue mulai. Ada
binatang, kakinya empat, suaranya 'embek', apa hayo?"
"Kambing," jawab Amat cepat.
"Bukan."
"Domba?"
"Bukan."
"Lalu apa? Sapi? Kerbau? Kuda?"
"Kambing yang pake sepatu."
Semua terdiam.
"Itu garing banget, Yul," kata Guntur.
"Yang penting berhasil bikin kalian berpikir."
"Berpikir? Kami malah bingung. Bingung kenapa ada
kambing pake sepatu."
Mereka tertawa. Tawa kecil yang terasa hangat di tengah
dinginnya malam. Tawa yang mengingatkan mereka bahwa mereka masih manusia,
masih bisa merasakan kebahagiaan, masih bisa tertawa meskipun ketakutan masih
membayangi.
Bagian 6: Cerita Camelia
Setelah suasana sedikit mencair, setelah tawa mereda,
Camelia mulai berbicara.
"Aku ingin cerita tentang mimpiku. Lengkap. Dari awal
sampai akhir."
Semua menatapnya.
"Mimpi itu bukan hanya sekali. Sudah empat kali. Dan
setiap kali, detailnya semakin jelas. Semakin nyata."
"Ceritakan," kata Joko.
Camelia menarik napas dalam, napas yang terasa berat,
seperti sedang mempersiapkan diri untuk melompat ke jurang.
"Aku berdiri di tengah hutan. Kabut tebal, lebih tebal
dari yang kita alami tadi. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Hanya putih, hanya
kabut, hanya kehampaan."
"Terus?" tanya Anita.
"Aku mendengar suara langkah kaki. Banyak. Seperti
puluhan orang berjalan mengelilingiku, membentuk lingkaran. Tapi aku tidak bisa
melihat siapa mereka. Hanya suara."
"Apakah mereka mengancam?" tanya Hermansyah.
"Tidak. Mereka hanya... memandang. Aku bisa merasakan
tatapan mereka. Seperti sedang menilai. Seperti sedang mencari sesuatu."
"Menilai apa? Mencari apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku merasa... mereka mencari
jawaban. Atau mungkin... mereka mencari seseorang."
Hening.
"Lalu," lanjut Camelia, "aku melihat
bayangan. Satu bayangan, lalu dua, lalu tiga, lalu banyak. Mereka berdiri di
sekelilingku, membentuk lingkaran yang semakin sempit."
"Apakah mereka menyentuhmu?" tanya Yulia.
"Tidak. Mereka hanya... berdiri. Diam. Menatap."
"Dan suara?" tanya Guntur.
"Aku mendengar suara. Suara yang familiar. Suara yang
aku kenal. Suara Joko."
Joko mengernyit. "Suara gue lagi?"
"Iya. Lo manggil nama gue. 'Mel... Mel... ke sini...
Mel...' Tapi aku tahu itu bukan lo."
"Kenapa lo tahu?"
"Karena suara itu... dingin. Sangat dingin. Tidak
seperti suara lo yang biasa, hangat, penuh semangat, kadang tegas. Suara itu
datar, kosong, seperti tanpa jiwa."
Nadia menyilangkan tangan. "Mel, lo yakin itu bukan
cuma mimpi biasa? Mungkin karena lo terlalu banyak mikirin pendakian, terlalu
banyak dengar cerita mistis, jadi otak lo memprosesnya menjadi mimpi."
"Gue juga berpikir seperti itu pada awalnya,"
kata Camelia. "Tapi setelah kejadian tadi, setelah Bayu hampir berjalan ke
arah bayangan, gue jadi yakin. Ini bukan mimpi biasa. Ada sesuatu yang mencoba
berkomunikasi."
"Berkomunikasi tentang apa?" tanya Arga.
Camelia menggeleng. "Gue tidak tahu. Tapi gue
merasa... kita akan segera tahu."
Bagian 7: Hermansyah
Berbicara
Hermansyah yang biasanya pendiam, lebih sering mendengar
daripada berbicara, lebih sering mengamati daripada berkomentar, tiba-tiba
bersuara.
"Aku juga punya mimpi."
Semua menoleh. Hermansyah jarang sekali berbagi cerita
pribadi. Ia adalah tipe orang yang menyimpan segalanya untuk dirinya sendiri.
"Tapi mimpiku bukan tentang bayangan atau suara.
Mimpiku tentang... masa lalu."
"Masa lalu siapa?" tanya Guntur.
"Masa laluku."
Hermansyah menatap api unggun. Wajahnya tampak lebih serius
dari biasanya, lebih dalam, lebih rentan.
"Aku bermimpi tentang ayahku. Beliau meninggal ketika
aku masih kecil, masih SD, mungkin kelas dua atau tiga. Aku tidak terlalu ingat
wajahnya. Hanya suaranya."
"Terus?" tanya Yulia.
"Dalam mimpi itu... dia masih hidup. Dia berdiri di
depan pintu rumah, memanggil namaku. 'Man... jangan pergi...'"
"Memanggil untuk apa?"
"Dia bilang... 'jangan pergi ke gunung'. Dia bilang...
'kamu akan tersesat. Kamu tidak akan kembali'."
Hening.
"Man," kata Joko pelan, "itu hanya mimpi.
Hanya bunga tidur."
"Aku tahu. Tapi rasanya... nyata. Sangat nyata. Aku
bisa merasakan sentuhannya. Aku bisa mencium aroma tubuhnya. Aroma tembakau dan
kayu."
"Apakah ayahmu dulu pernah melarangmu mendaki?"
tanya Anita.
"Tidak. Beliau tidak pernah melarang apapun. Beliau
meninggal sebelum aku bisa bertanya. Sebelum aku bisa mengenalnya lebih
jauh."
Suasana menjadi semakin berat. Api unggun seolah ikut
redup.
"Kita semua punya ketakutan masing-masing," kata
Joko akhirnya. "Tapi kita tidak boleh membiarkan ketakutan itu
mengendalikan kita."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya
Hermansyah.
"Kita hadapi. Bersama. Tidak ada yang sendirian."
Bagian 8: Guntur yang
Jujur
Guntur yang biasanya selalu bercanda, selalu tertawa,
selalu membuat orang lain tertawa, selalu menjadi sumber kegembiraan, kali ini
duduk diam. Matanya menerawang ke arah api, tidak berkedip.
"Tur," panggil Yulia pelan. "Lo
kenapa?"
Guntur tidak menjawab. Ia hanya duduk, membisu.
"Tur!" panggil Yulia lagi, lebih keras.
Guntur menghela napas, napas panjang yang terasa berat,
seperti menghela seluruh beban dunia.
"Gue... gue juga mau cerita."
"Cerita apa?"
"Gue takut."
Semua terdiam. Guntur, orang yang paling sering tertawa,
paling sering bercanda, paling sering meremehkan bahaya, paling sering bilang
"ah, santai aja", mengatakan bahwa ia takut.
"Lo takut sama apa?" tanya Jojon pelan.
"Gue takut... gue gak cukup kuat. Fisik gue mungkin
kuat, gue bisa jalan berjam-jam, gue bisa angkat beban berat, tapi mental
gue... gue gak tahu. Gue gak pernah diuji seperti ini sebelumnya."
"Kenapa lo mikir begitu?" tanya Joko.
"Karena gue selalu lari dari ketakutan. Gue tutup
dengan tawa, dengan candaan, dengan tingkah konyol, dengan lagu-lagu aneh. Tapi
malam ini... di tempat begini, di antara kabut dan bayangan... gue gak bisa
lari lagi."
Camelia meraih tangan Guntur, meremasnya lembut. "Kamu
tidak sendirian, Tur."
"Gue tahu. Gue tahu kalian semua di sini. Tapi rasa
takut itu tetap ada. Tidak peduli seberapa banyak orang di sekitar, rasa takut
tetap tinggal di dalam."
"Rasa takut itu wajar," kata Raditya. "Yang
tidak wajar adalah jika kamu mengabaikannya sampai kamu tidak bisa
mengendalikannya. Yang tidak wajar adalah jika kamu berpura-pura tidak
takut."
"Lalu apa yang harus aku lakukan dengan rasa takut
itu?" tanya Guntur.
"Peluk," kata Raditya sederhana. "Terima.
Akui bahwa ia ada. Dan biarkan ia menjadi bagian dari dirimu, bukan musuhmu.
Karena rasa takut adalah guru. Ia mengajarkan kita untuk berhati-hati. Ia
mengajarkan kita untuk tidak sombong."
Guntur menatap Raditya lama. Matanya berkaca-kaca. Kemudian
ia tersenyum, senyum yang berbeda dari biasanya. Lebih tulus. Lebih dewasa.
Lebih... manusia.
"Makasih, Pak."
Bagian 9: Berjaga
Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul sebelas, mungkin
dua belas, tidak ada yang tahu pasti, karena arloji beberapa anggota sudah
berhenti bekerja sejak memasuki basecamp empat.
Beberapa anggota mulai tidur, Jojon sudah mendengkur di
dalam tenda, Anita memejamkan mata dengan selimut tipis, Amat bergelung seperti
bayi. Namun Joko dan Hermansyah memutuskan untuk berjaga. Mereka duduk di dekat
api unggun yang mulai redup, sesekali menambahkan kayu agar api tidak padam.
"Man," kata Joko pelan, "lo pikir kita
bisa?"
"Bisa apa?"
"Sampai puncak. Dan kembali. Dengan selamat."
Hermansyah terdiam sejenak. "Gue gak tahu. Gue gak
punya jawaban."
"Itu jawaban yang jujur."
"Gue selalu berusaha jujur, Jo. Terutama pada diri
sendiri."
Mereka berdua terdiam, menatap kegelapan di luar lingkaran
api, kegelapan yang pekat, yang seolah bergerak, yang seolah bernapas.
"Jo," kata Hermansyah, "lo tahu, selama ini
gue selalu mengimbangi lo. Setiap kali lo punya ide gila, gue yang mengingatkan
risiko. Setiap kali lo terlalu ambisius, gue yang menahan. Setiap kali lo mau
terbang, gue yang narik ke tanah."
"Aku tahu. Dan aku bersyukur."
"Tapi kali ini... gue gak bisa menahan. Karena gue
juga ingin."
"Kamu ingin apa?"
"Buktikan pada diri sendiri bahwa gue tidak hanya jadi
penyeimbang. Bahwa gue juga punya keberanian. Bahwa gue juga bisa
bermimpi."
Joko menepuk pundak Hermansyah, pelan, tapi penuh makna.
"Lo punya, Man. Lo punya keberanian. Lo hanya tidak pernah
menyadarinya."
Bagian 10: Suara di
Kejauhan
Sekitar pukul dua dini hari, ketika bulan berada di posisi
tertinggi dan kabut mulai turun lagi, Camelia terbangun.
Suara itu kembali.
Tapi kali ini, suaranya berbeda. Tidak lagi memanggil
namanya. Tidak lagi menyuruhnya mendekat. Tidak lagi terdengar seperti suara
Joko atau suara yang familiar.
Suara itu... menyanyi.
Lagu yang tidak dikenal. Melodi yang aneh, seperti campuran
antara ratapan dan bisikan, antara tangisan dan tawa. Nada-naiknya naik turun
tidak beraturan, seperti orang yang sedang menangis sambil tertawa.
Camelia duduk tegak. Ia melihat ke luar tenda, Joko dan
Hermansyah masih berjaga, duduk di dekat api yang hampir padam. Mereka tampak
tidak mendengar apa-apa. Wajah mereka tenang, tidak terganggu.
Camelia merangkak keluar.
"Mel? Kenapa? Kenapa lo bangun?" tanya Joko.
"Kamu tidak dengar?"
"Dengar apa?"
"Nyanyian."
Joko mengernyit. "Tidak ada. Tidak ada nyanyian."
"Tapi aku dengar. Jelas."
Camelia berdiri, matanya menatap ke arah timur, ke arah
puncak. Suara itu datang dari sana.
Hermansyah berdiri. "Apa yang kamu dengar, Mel?
Ceritakan."
Camelia menggigit bibirnya. "Nyanyian. Lagu yang tidak
aku kenal. Tapi... sedih. Sangat sedih. Seperti orang yang kehilangan
sesuatu."
"Ini tidak baik," kata Hermansyah. "Kita
bangunkan Raditya."
Raditya yang sudah terbangun karena suara mereka, mungkin
karena insting, mungkin karena ia juga mendengar sesuatu, keluar dari tendanya.
"Apa yang terjadi?"
Camelia menjelaskan. Raditya mendengarkan dengan serius, wajahnya
berubah, menjadi lebih tegang.
"Kamu dengar nyanyian?" tanyanya.
"Iya, Pak. Jelas. Masih."
Raditya menghela napas. "Itu panggilan."
"Panggilan dari siapa? Dari apa?"
"Panggilan dari... antara."
"Antara apa dan apa?"
Raditya tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah timur, ke
arah puncak, dengan mata yang penuh dengan... sesuatu. Rasa hormat? Ketakutan?
Atau mungkin kesedihan?
"Jangan diikuti," katanya akhirnya. "Jangan
pernah mengikuti suara yang tidak dikenal."
Tapi Camelia merasa... suara itu ingin mengatakan sesuatu.
Sesuatu yang penting. Sesuatu yang hanya ia yang bisa mendengar.
Bagian 11: Fajar yang
Berbeda
Fajar datang dengan warna yang berbeda.
Langit tidak jingga atau merah muda seperti biasanya. Tidak
keemasan atau keperakan. Langit berwarna abu-abu, abu-abu gelap, seperti senja
yang tertukar waktu. Matahari tidak terlihat. Hanya cahaya pucat yang menerobos
kabut tipis, seperti lampu senter yang redup di kegelapan.
"Cuaca aneh," kata Nadia sambil memandang langit.
"Ini bukan cuaca," kata Raditya. "Ini...
tanda."
"Tanda apa, Pak?"
"Bahwa kita harus cepat. Bahwa kita tidak boleh
berlama-lama."
Mereka bergegas membereskan tenda. Sarapan dilakukan dengan
cepat, hanya roti tawar kering dan air hangat dari termos. Tidak ada yang
benar-benar lapar. Perasaan cemas lebih dominan daripada rasa haus atau lapar.
"Kita akan mencapai basecamp enam sebelum siang,"
kata Raditya. "Tapi dari basecamp enam ke tujuh... itu yang paling berat."
"Kenapa?" tanya Arga.
"Karena medannya terjal. Sangat terjal. Dan karena...
di situlah ujian sebenarnya dimulai."
"Ujian apa?" tanya Bayu, yang sejak kejadian
kemarin masih terlihat belum pulih sepenuhnya. Matanya masih kosong, tangannya
masih gemetar.
"Ujian kesabaran. Ujian ketekunan. Ujian
ketidakpastian. Dan ujian... kepercayaan."
Bagian 12: Jalan yang
Berliku
Perjalanan menuju basecamp enam sangat melelahkan, mungkin
yang paling melelahkan sejauh ini.
Jalurnya tidak terlalu curam, tetapi berliku-liku. Mereka
sering kali harus memutar balik karena jalan buntu, bukan karena tersesat,
tetapi karena medan yang tidak memungkinkan untuk dilewati. Pohon tumbang
menghalangi, jurang yang terlalu lebar, atau tebing yang terlalu curam.
"Kapan sampai sih?" keluh Jojon, yang sudah mulai
kehabisan energi.
"Sabarlah," kata Yulia.
"Gue sabar kok. Sabar banget. Cuma... kaki gue mulai
protes. Kiri kanan kompak mogok."
"Bilang sama kaki lo, 'sabar, nanti kita istirahat.
Sabar, nanti kita pulang.'"
"Gue coba deh."
Jojon berbicara pada kakinya sendiri dengan suara keras, "Sabar,
ya, kaki. Nanti kita istirahat. Nanti kita makan. Nanti kita tidur.", membuat
yang lain tertawa.
"Lo tuh aneh, Jon," kata Guntur.
"Biar aneh, yang penting semangat."
Mereka akhirnya tiba di basecamp enam sekitar pukul sebelas
siang. Area ini lebih kecil dari basecamp sebelumnya, hanya berupa tanah datar
seluas sekitar lima meter persegi, dikelilingi pohon-pohon besar yang menjulang
seperti penjaga.
"Kita istirahat di sini," kata Raditya.
"Lalu kita lanjut ke tujuh?" tanya Joko.
"Tidak. Kita akan bermalam di sini. Perjalanan ke
tujuh terlalu berat untuk dilakukan siang hari."
"Kenapa? Karena medannya?"
"Karena di jalur menuju tujuh, sinar matahari hampir
tidak pernah masuk. Gelap. Lembab. Dan... banyak kejutan."
"Kejutan seperti apa?"
Raditya tersenyum tipis, senyum yang membuat mereka
merinding. "Nanti kalian lihat sendiri."
Bagian 13: Menjelajahi
Sekitar
Karena masih siang dan tidak terlalu lelah, beberapa
anggota memutuskan untuk menjelajahi sekitar basecamp enam.
"Jangan pergi jauh," pesan Raditya. "Jangan
ada yang sendirian."
"Kami hanya di sekitar sini, Pak," kata Anita.
Mereka berjalan berkelompok, Anita, Yulia, Nadia, dan
Guntur. Sisanya beristirahat di tenda, Joko dan Hermansyah sedang mempelajari
peta, Bayu dan Amat tidur, Jojon dan Arga bermain kartu, Camelia duduk
termenung.
"Indah juga tempat ini," kata Yulia sambil
melihat pepohonan yang tinggi.
"Indah tapi serem," sahut Guntur.
"Seremnya di mana?"
"Sunyi. Terlalu sunyi. Dan... ada yang aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Aku tidak tahu. Tapi... rasanya seperti ada yang
memperhatikan."
Nadia yang sejak tadi diam, matanya bergerak cepat,
mengamati setiap sudut, tiba-tiba berhenti.
"Ada apa?" tanya Anita.
Nadia menunjuk ke arah sebuah pohon besar di timur, pohon
beringin dengan akar-akar yang menjulur panjang, seperti jari-jari yang
mencengkeram tanah.
Di batang pohon itu, terukir sesuatu.
Bukan ukiran biasa. Bukan nama-nama pasangan kekasih. Bukan
simbol-simbol aneh.
Tapi tulisan.
"Nadia? Di Sini? 12 Mei 1998"
"Ada nama Nadia juga?" tanya Yulia heran.
"Bukan aku," kata Nadia cepat. Suaranya tegang.
"Namanya sama, tapi bukan aku."
"Atau mungkin kamu di kehidupan sebelumnya?"
celetuk Guntur.
"Jangan konyol."
Mereka mendekati pohon itu. Ternyata ada banyak tulisan di
sana, nama-nama, tanggal, dan beberapa kalimat pendek yang tidak bisa mereka
pahami.
"Joko, 15 Maret 2001"
"Hermansyah, 3 Juli 2003"
"Camelia, 22 September 1999"
"Guntur, 10 Januari 2002"
"Yulia, 7 Agustus 2000"
Semua nama anggota KPAAB ada di sana. Lengkap. Dengan
tanggal yang berbeda-beda.
"Ini tidak mungkin," kata Nadia pucat. Wajahnya
putih seperti kapas.
"Pohon ini... sudah ada sebelum kita lahir," kata
Yulia. "Bagaimana mungkin nama kita sudah terukir di sini? Bagaimana mungkin?"
Guntur mencoba tenang, meskipun tangannya gemetar.
"Mungkin cuma kebetulan. Mungkin ada orang lain dengan nama yang
sama."
"Kebetulan? Semua nama kita? Sebelas nama? Ini tidak
masuk akal."
Mereka bergegas kembali ke tenda, membawa kabar yang mengguncang.
Bagian 14: Misteri Pohon
"Ada apa? Kok kalian pada pucat?" tanya Joko
begitu mereka kembali.
Mereka menceritakan apa yang mereka lihat, dengan suara
terputus-putus, dengan napas tersengal.
Raditya yang mendengar cerita itu, langsung berdiri.
Wajahnya berubah, bukan panik, tetapi serius. Sangat serius.
"Ajak saya ke sana."
Mereka kembali ke pohon itu. Raditya mengamati dengan
saksama, berjalan mengelilingi pohon, menyentuh ukiran-ukiran itu dengan ujung
jarinya, membacanya satu per satu.
"Ini... bukan ukiran biasa," katanya akhirnya.
"Lalu apa, Pak?" tanya Joko.
"Ini... peninggalan."
"Peninggalan siapa?"
Raditya menghela napas. "Dulu, sebelum kalian lahir,
sebelum orang tua kalian lahir, ada ritual di sini. Ritual yang dilakukan oleh
para leluhur. Mereka menuliskan nama-nama yang akan datang."
"Maksud Bapak... mereka sudah tahu bahwa kami akan
datang? Puluhan tahun yang lalu?"
"Bukan tahu. Tapi... merasakan. Mereka merasakan bahwa
suatu hari nanti, sekelompok orang akan melewati jalur ini. Dan mereka
menuliskan nama-nama itu sebagai... sebagai pesan."
"Ini gila," kata Guntur. "Ini benar-benar
gila."
Camelia mendekati pohon itu. Ia menyentuh ukiran namanya, 22
September 1999.
"Tanggal lahirku," bisiknya.
Semua terdiam.
"Dan ini tanggal lahirku juga," kata Yulia,
menunjuk ke ukiran namanya.
"7 Agustus 2000. Iya, itu tanggal lahirku."
Satu per satu, mereka menyadari bahwa tanggal yang terukir
adalah tanggal lahir mereka masing-masing. Persis. Tidak ada yang salah.
"Ini... pesan," kata Camelia.
"Pesan apa?"
"Bahwa kita memang ditakdirkan untuk ke sini. Bahwa
perjalanan ini sudah ditulis sejak sebelum kita lahir."
Hening. Angin berhembus pelan.
Bagian 15: Raditya
Berbicara Lagi
Kembali ke tenda, suasana sangat berbeda. Tidak ada lagi canda
tawa. Tidak ada lagi suara kartu atau tawa lepas. Yang ada hanya kebingungan,
ketakutan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.
"Pak," kata Joko, "apa yang sebenarnya
terjadi di gunung ini?"
Raditya duduk di tanah, di tanah yang lembap, tanpa alas, memandang
mereka satu per satu.
"Gunung ini... adalah tempat di mana waktu tidak
berjalan linear. Masa lalu, masa kini, dan masa depan... bisa bertemu."
"Seperti... pintu waktu?" tanya Nadia skeptis.
"Bukan pintu. Lebih seperti... sungai. Arusnya bisa ke
depan, bisa ke belakang, bisa berputar. Kadang kita bisa melihat ke belakang.
Kadang kita bisa melihat ke depan."
"Dan pohon itu?"
"Pohon itu adalah saksi. Ia telah ada sejak ratusan
tahun yang lalu. Ia telah melihat banyak hal. Ia telah mencatat banyak hal. Dan
ia menuliskan nama-nama yang akan datang."
"Apa yang harus kami lakukan, Pak?"
Raditya tersenyum tipis, senyum yang bijaksana, tetapi juga
sedikit sedih.
"Lanjutkan perjalanan. Karena kalian sudah dipanggil.
Dan panggilan itu... tidak bisa diabaikan."
Malam itu, mereka tidur dengan perasaan yang sangat
berbeda. Bukan hanya takut. Bukan hanya bingung. Tapi juga... penasaran.
Siapa yang menulis nama mereka?
Mengapa tanggal lahir mereka ada di sana?
Apa yang menanti di puncak?
Tidak ada yang tahu.
Tapi satu hal yang pasti, mereka tidak bisa berhenti
sekarang.
BAB 7
Labirin di Basecamp Sepuluh
Bagian 1: Perjalanan Menuju Basecamp Tujuh
Pagi harinya, mereka berangkat lebih awal dari biasanya, jauh
lebih awal, bahkan sebelum matahari menunjukkan batang hidungnya. Kabut masih
tebal, udara masih dingin menusuk tulang, dan langit masih gelap seperti
sebelum fajar. Namun Raditya sudah bersikeras sejak subuh bahwa mereka tidak
bisa menunggu lebih lama.
"Kita harus segera berangkat," katanya sambil
menggulung tendanya dengan gerakan yang cepat dan efisien. "Semakin lama
kita menunda, semakin berat medannya."
Matahari baru saja muncul di ufuk timur, samar-samar,
seperti titik cahaya kecil di balik kabut, saat mereka mulai melangkah
meninggalkan basecamp enam. Ransel terasa lebih berat dari kemarin, mungkin
karena kelelahan yang menumpuk, mungkin karena beban mental yang semakin besar.
Perjalanan menuju basecamp tujuh sungguh melelahkan, mungkin
yang paling melelahkan sejauh ini, bahkan lebih berat dari pendakian
sebelumnya.
Jalurnya terjal, sangat terjal. Tanjakan-tanjakan curam
yang membuat paha terasa terbakar, membuat napas tersengal-sengal, membuat
jantung berdebar seperti akan meledak. Akar-akar pohon menjulur di mana-mana,
seperti ular yang siap menjatuhkan siapa pun yang ceroboh. Batu-batu licin
ditumbuhi lumut hijau, membuat setiap langkah terasa seperti berjalan di atas
es.
Sinar matahari hampir tidak pernah menembus kanopi pohon
yang lebat, begitu lebat hingga siang hari terasa seperti senja abadi, dengan
cahaya redup yang hanya cukup untuk melihat beberapa meter ke depan.
"Hati-hati di sini," kata Raditya, yang berjalan
di depan dengan langkah mantap, tidak tergoyahkan oleh medan. "Banyak yang
tergelincir. Banyak yang jatuh. Banyak yang patah tulang."
"Pak," tanya Amat sambil terengah-engah,
ranselnya terlihat hampir sebesar tubuhnya, "apa benar tidak ada yang
pernah mencapai puncak lewat jalur ini? Atau ada, tapi jarang?"
"Ada. Tapi tidak banyak. Tidak sebanyak jalur
resmi."
"Berapa banyak? Kira-kira?"
Raditya berpikir sejenak, matanya menerawang ke kejauhan,
seperti sedang menghitung dalam ingatannya. "Mungkin... lima kelompok
dalam lima puluh tahun terakhir. Mungkin kurang."
"Lima kelompok? Itu sangat sedikit. Berarti hanya
beberapa puluh orang?"
"Karena banyak yang menyerah di tengah jalan. Atau...
tersesat."
"Tersesat seperti yang Bapak ceritakan kemarin?
Tersesat dan tidak pernah ditemukan?"
"Ya. Atau tersesat dan... berubah."
Kata-kata terakhir itu menggantung di udara, berat dan
mencekam.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Pikiran
masing-masing dipenuhi oleh pertanyaan yang tidak terjawab, tentang pohon
misterius dengan nama-nama mereka, tentang suara-suara aneh, tentang bayangan
yang melambai.
Bagian 2: Basecamp Tujuh
– Tempat Peristirahatan Terakhir
Mereka tiba di basecamp tujuh sekitar pukul dua siang, lebih
lambat dari perkiraan, karena medan yang lebih berat dari dugaan.
Area ini lebih luas dari basecamp-basecamp sebelumnya, dengan
pemandangan yang cukup indah, jika cuaca bersahabat. Sayangnya, kabut tipis
terus menggantung di mana-mana, seperti tirai yang tidak pernah benar-benar
terbuka, mengurangi jarak pandang hingga hanya beberapa puluh meter.
"Ini basecamp terakhir sebelum zona rawan," kata
Raditya sambil meletakkan tongkatnya di tanah.
"Zona rawan?" tanya Yulia, alisnya terangkat.
"Basecamp delapan, sembilan, dan sepuluh. Itu adalah
zona di mana banyak pendaki mengalami gangguan. Gangguan serius."
"Gangguan seperti yang kami alami kemarin? Seperti
suara dan bayangan?"
"Lebih parah. Jauh lebih parah."
Mereka mendirikan tenda dengan lebih rapi dari biasanya, tidak
terburu-buru, tidak asal-asalan, karena mereka akan menghabiskan lebih banyak
waktu di sini. Raditya memutuskan untuk beristirahat total selama sisa hari
itu, agar energi terkumpul untuk perjalanan besok.
"Besok kita akan mencapai basecamp sepuluh," kata
Raditya sambil duduk di atas batu besar, melepaskan sepatu bootnya yang basah
oleh embun. "Dan dari sana... kita akan lihat."
"Lihat apa, Pak?" tanya Jojon, yang sudah
merebahkan diri di tanah.
"Lihat apakah kalian layak. Apakah kalian siap. Apakah
kalian... diterima."
"Pak," kata Camelia pelan, "apa yang Bapak
maksud dengan 'diterima'?"
Raditya tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah puncak, yang
tertutup kabut, tidak terlihat, dengan mata yang penuh dengan sesuatu. Sesuatu
yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Bagian 3: Raditya
Bercerita tentang Masa Lalunya
Malam itu, di sekitar api unggun yang menyala redup, karena
kayu bakar hampir habis dan terlalu lembap untuk menyala dengan baik, Raditya
mulai bercerita tentang masa lalunya. Suaranya pelan, kadang terputus-putus,
seperti orang yang sedang mengingat sesuatu yang menyakitkan.
"Saya pertama kali melewati jalur ini ketika saya
berumur dua puluh tahun," katanya. Matanya menerawang ke api, seolah
melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. "Saya ikut dengan
ayah saya. Waktu itu, saya masih muda, masih kuat, masih penuh semangat. Saya
pikir gunung bisa ditaklukkan."
"Ayah Bapak?" tanya Anita.
"Iya. Ayah saya adalah salah satu dari sedikit orang
yang tahu jalur ini. Beliau mewarisi pengetahuan itu dari kakek saya, dan
seterusnya. Turun-temurun. Dari generasi ke generasi."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Saat itu, kami berhasil sampai puncak. Berhasil
berdiri di atas awan. Berhasil melihat matahari terbit dari balik Gunung
Merapi. Tapi dalam perjalanan turun... ayah saya jatuh sakit."
"Sakit apa?" tanya Hermansyah.
"Bukan sakit biasa. Bukan demam, bukan luka, bukan
patah tulang. Beliau... berubah. Seperti orang yang kehilangan semangat hidup.
Matanya kosong. Tidak mau bicara. Hanya diam dan menatap gunung."
"Kenapa bisa begitu?"
Raditya menghela napas panjang, napas yang terasa berat,
seperti menghela seluruh beban hidupnya. "Kami tidak tahu. Tidak ada yang
tahu. Tapi sejak itu, ayah saya tidak pernah mau kembali ke gunung. Tidak
pernah lagi. Dan beliau berpesan pada saya... 'jangan pernah membawa orang yang
tidak siap ke jalur ini'. 'Jangan pernah memaksa'."
Raditya terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca, untuk pertama
kalinya, mereka melihat kepala desa yang tegas itu menunjukkan kerentanan.
"Setelah ayah saya meninggal," lanjutnya,
"saya kembali ke gunung ini sendirian. Saya ingin tahu apa yang sebenarnya
terjadi pada ayah saya. Saya ingin mencari jawaban."
"Dan apa yang Bapak temukan?" tanya Camelia.
"Tidak ada. Hanya keheningan. Hanya kabut. Hanya
pepohonan. Tapi saya merasa... ayah saya ada di sana. Menjaga. Menunggu.
Seperti beliau tidak pernah pergi."
Hening.
"Mungkin," lanjut Raditya, "ayah saya memang
dimaksudkan untuk menjaga jalur ini. Dan saya... hanya penerusnya. Hanya
penjaga sementara."
Bagian 4: Persiapan
Menuju Zona Rawan
Keesokan paginya, mereka bangun lebih awal dari biasanya, bahkan
lebih awal dari hari sebelumnya. Raditya sudah berkemas sejak subuh, bahkan
sebelum ayam berkokok.
"Kita harus segera berangkat," katanya sambil
mengencangkan tali sepatu boot-nya. "Semakin siang, semakin sulit. Kabut
akan semakin tebal."
Mereka bergegas, tanpa sarapan yang layak, hanya energi bar
dan air putih yang ditelan terburu-buru. Tidak ada yang benar-benar nafsu
makan. Perut mereka terasa mual, mungkin karena saraf yang tegang, mungkin
karena firasat buruk.
"Pak," kata Joko sambil memasukkan botol minum ke
dalam tas, "apa yang harus kami lakukan jika mengalami gangguan? Jika
melihat bayangan lagi? Jika mendengar suara lagi?"
Raditya menatap Joko dengan serius. "Jangan panik.
Jangan sendirian. Jangan pernah mengikuti suara atau bayangan apa pun. Dan yang
paling penting... jangan berpisah."
"Baik, Pak."
Perjalanan menuju basecamp delapan dimulai. Dan sejak
langkah pertama, mereka sudah merasakan bahwa sesuatu berbeda.
Pepohonan semakin rapat, begitu rapat hingga mereka harus
berjalan beriringan, hampir saling menyentuh, agar tidak kehilangan satu sama
lain. Udara semakin dingin, begitu dingin hingga napas mereka beruap seperti di
dataran tinggi, meskipun ketinggian belum terlalu ekstrem.
"Ini aneh," kata Nadia, yang berjalan di
tengah-tengah rombongan, memegang kompas di tangannya. "Suhu tidak dingin,
setidaknya tidak sedingin ini seharusnya, tapi napas beruap. Ini tidak masuk
akal."
"Fisika tidak berlaku di sini," kata Raditya
singkat.
"Apa maksud Bapak?"
"Beberapa hukum alam... tidak berjalan seperti
biasanya di zona ini. Gravitasi, suhu, arah... semuanya bisa berubah."
Nadia ingin membantah, ia sudah membuka mulut, kata-kata
sudah siap di ujung lidah, tapi ia menutup mulutnya lagi. Terlalu banyak hal
aneh yang sudah mereka alami untuk masih bisa membantah.
Bagian 5: Tiba di
Basecamp Delapan
Basecamp delapan adalah area yang sangat kecil, hanya cukup
untuk dua tenda kecil, dengan tanah yang tidak rata dan penuh dengan batu-batu
tajam. Tidak ada pemandangan, tidak ada yang indah. Hanya pepohonan yang
mengelilingi seperti tembok penjara, dan kabut yang menggantung di mana-mana.
"Kita tidak akan berhenti lama di sini," kata
Raditya. "Langsung ke sembilan. Tidak ada waktu untuk istirahat."
"Kenapa tidak istirahat, Pak?" tanya Yulia.
"Kaki sudah terasa berat. Paha terasa terbakar."
"Karena tempat ini... tidak nyaman. Tidak aman."
Yulia tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah bisa merasakan
sendiri, ada sesuatu yang menekan dadanya, seperti beban yang tidak terlihat.
Sesuatu yang membuatnya sulit bernapas, meskipun udaranya segar.
Mereka melanjutkan perjalanan. Langkah semakin berat,
semakin lambat. Beberapa anggota mulai merasakan pusing, kepala terasa
berputar, pandangan kabur.
"Gue mau muntah," kata Jojon, yang wajahnya sudah
pucat seperti kertas.
"Tahan," kata Hermansyah. "Jangan
berhenti."
"Aku tidak bisa... perutku..."
"Kamu bisa. Kamu kuat."
Jojon memaksakan diri. Ia berjalan sambil memegang
perutnya, dengan wajah yang menunjukkan penderitaan yang luar biasa.
Bagian 6: Basecamp
Sembilan – Batas Terakhir
Basecamp sembilan adalah titik di mana mereka bisa melihat
puncak untuk pertama kalinya sejak memulai pendakian.
"Wow..." gumam Bayu, matanya membelalak.
Puncak Gunung Merbabu tampak begitu dekat, hanya beberapa ratus
meter lagi, mungkin kurang, namun terasa begitu jauh, seperti fatamorgana di padang
pasir. Kabut tipis menyelimuti puncak itu, membuatnya terlihat seperti istana
di awan, seperti tempat yang tidak nyata.
"Itu tujuan kita," kata Joko, suaranya penuh
dengan harapan dan keteguhan.
"Tapi kita belum sampai," kata Raditya.
"Masih ada basecamp sepuluh. Dan basecamp sepuluh adalah yang paling
berbahaya."
"Apa yang ada di basecamp sepuluh, Pak?" tanya
Camelia.
"Labirin."
"Labirin? Maksud Bapak, labirin buatan manusia?
Seperti maze?"
"Bukan. Labirin alam. Jalur yang berputar, arah yang
membingungkan, dan pikiran yang bisa... tersesat. Bukan hanya fisik, tapi
pikiran."
"Bagaimana cara melewatinya?" tanya Hermansyah.
Raditya menghela napas. "Tidak ada cara pasti. Setiap
orang punya pengalaman berbeda. Ada yang berhasil melewatinya dalam hitungan
jam, ada yang berhari-hari. Ada yang tidak pernah berhasil keluar."
"Tapi kita akan berhasil," kata Joko tegas.
"Semoga," kata Raditya. "Semoga."
Mereka beristirahat di basecamp sembilan lebih lama dari
biasanya, mungkin satu jam, mungkin dua. Raditya memerintahkan mereka untuk
makan sebanyak mungkin, minum sebanyak mungkin, karena perjalanan ke basecamp
sepuluh akan menguras energy, fisik maupun mental.
Bagian 7: Memasuki
Labirin
"Waktunya," kata Raditya setelah semua orang
siap.
Perjalanan menuju basecamp sepuluh dimulai dengan optimisme
yang hati-hati, optimisme yang tidak lagi buta, tetapi optimisme yang lahir
dari kesadaran bahwa mereka sudah terlalu jauh untuk berbalik.
Jalurnya tidak terlalu terjal, tetapi aneh. Sangat aneh.
Setiap beberapa puluh meter, arahnya berubah. Belok kiri,
lalu belok kanan, lalu lurus, lalu berputar, lalu kembali ke kiri lagi. Seperti
jalan yang dibuat oleh orang mabuk.
"Kompasku masih error," kata Nadia frustrasi.
Jarum kompas di tangannya berputar-putar tanpa henti, seperti tidak bisa
menentukan arah.
"Jangan pakai kompas," kata Raditya. "Pakai
insting."
"Insting tidak bisa diandalkan. Insting subjektif.
Insting bisa salah."
"Coba saja. Apa salahnya mencoba?"
Nadia menggigit bibirnya. Ia menutup kompas dengan gerakan
kesal dan memasukkannya ke dalam tas.
Mereka berjalan lebih lama dari perkiraan, satu jam, dua
jam, mungkin tiga. Waktu terasa... aneh. Seperti berjalan di tempat yang sama
berulang-ulang, seperti rekaman yang diputar berulang.
"Ko... kita sudah lewat sini tadi, kan?" suara
Arga memecah keheningan.
Joko berhenti. Ia menatap sekeliling.
Sebuah pohon besar dengan akar menjulur ke tanah, sama
persis dengan pohon yang mereka lihat satu jam yang lalu. Batu datar di
sampingnya, sama persis. Dan bekas jejak sepatu yang samar di tanah—bekas jejak
mereka sendiri.
Ia mengernyit.
"Sepertinya… iya. Kita sudah lewat sini."
Guntur langsung bereaksi, "Lho, kok bisa? Kita kan
jalan lurus dari tadi. Gak ada belokan."
"Kita sudah jalan lurus dari tadi," sahut
Hermansyah. "Setidaknya itulah yang kita kira."
"Kompas?" tanya Nadia.
Hermansyah membuka kompasnya. Jarumnya berputar… tidak
stabil. Berputar seperti jarum jam yang rusak.
"Ini tidak normal," katanya.
"Ah, paling rusak," ujar Guntur, meski suaranya tidak
seyakinnya dulu. Ada nada keraguan, bahkan ketakutan.
"Tidak. Ini bukan rusak. Ini seperti… ada gangguan.
Gangguan magnetik, atau sesuatu."
Bagian 8: Berputar Tanpa
Akhir
Mereka mencoba melanjutkan, kali ini lebih hati-hati, lebih
teliti.
Langkah dihitung. Arah ditentukan ulang dengan berbagai
metode, bayangan matahari, arah angin, posisi lumut di batang pohon.
Tanda-tanda mulai dibuat, ranting dipatahkan, kain diikat di pohon, batu
disusun membentuk panah.
Namun beberapa waktu kemudian,
"Ko…" suara Yulia kembali terdengar, lebih pelan,
hampir seperti bisikan, "kita… kembali lagi."
Semua berhenti.
Di depan mereka… kain yang tadi diikat.
Masih tergantung.
Belum berubah.
Hening. Sangat hening.
"Tidak mungkin…" gumam Bayu. Wajahnya pucat.
"Ini pasti salah jalur," kata Guntur cepat.
"Kita tidak belok," bantah Joko. "Kita jalan
lurus terus."
"Berarti…?" tanya Anita.
Tidak ada yang menjawab.
Waktu terus berjalan. Atau mungkin… berhenti. Tidak ada
yang tahu.
Mereka mencoba lagi. Kali ini lebih hati-hati, setiap
langkah dihitung, setiap belokan dicatat.
Namun hasilnya sama.
Mereka kembali ke titik yang sama. Pohon yang sama. Batu
yang sama. Kain yang sama.
Dan rasa… yang semakin menekan. Rasa frustrasi, rasa takut,
rasa putus asa.
"Aku bilang juga apa…" suara Guntur mulai
meninggi, "ini bukan normal! Ini gila!"
"Sekarang kamu percaya?" tanya Camelia.
"Ini bukan soal percaya atau tidak!" balas
Guntur. "Ini nyata! Kita berputar-putar di tempat yang sama!"
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Yulia,
hampir menangis.
Hermansyah mencoba berpikir, matanya bergerak cepat,
mencari solusi. "Kita harus tenang. Pasti ada penjelasan. Pasti ada jalan
keluar."
"Penjelasan apa?" tanya Arga. "Kita
berjalan, tapi tidak berpindah! Itu tidak masuk akal!"
"Berarti kita yang salah," jawab Hermansyah.
"Tidak!" sahut Camelia. "Ini bukan soal
salah. Ini… ujian."
"Ujian apa lagi?" tanya Guntur kesal.
"Ujian untuk memahami," jawab Camelia.
"Memahami apa? Kita ini tersesat! Kita tidak tahu di
mana kita!"
Perdebatan semakin memanas. Suara mulai meninggi. Emosi
mulai lepas kendali.
Bagian 9: Joko Bertindak
"CUKUP!"
Joko kembali berteriak, sekeras-kerasnya, sampai suaranya
serak.
Semua terdiam. Hening. Sangat hening.
"Kita tidak akan keluar dari sini kalau kita saling
menyalahkan," katanya tegas. "Kita tidak akan keluar kalau kita
panik."
Ia menarik napas dalam-dalam.
"Dengar… kita masih punya logika. Kita masih punya
pengalaman. Kita masih punya satu sama lain."
"Kalau semua itu tidak cukup?" tanya Guntur
pelan.
Joko menatapnya, dalam, tajam. "Maka kita cari cara
lain. Ada banyak cara untuk keluar dari labirin."
Mereka duduk melingkar, di tanah yang lembap, di antara
akar-akar pohon. Wajah-wajah lelah. Keringat bercampur dingin.
Anita memejamkan mata, berdoa dalam diam, bibirnya bergerak-gerak,
melantunkan doa yang tidak terdengar. Nadia menggenggam tangannya, ikut
memejamkan mata.
Sementara itu, Camelia memandang sekeliling dengan lebih
tenang, matanya bergerak lambat, mengamati setiap detail.
"Ini bukan sekadar tersesat," katanya pelan.
"Lalu?" tanya Hermansyah.
"Ini seperti… kita diputar. Seperti ada yang memutar
arah kita tanpa kita sadari."
"Diputar oleh apa?" tanya Arga.
Camelia menatap sebuah pohon besar di dekat mereka, pohon
beringin dengan akar-akar yang menjulur panjang, seperti jari-jari yang
mencengkeram tanah.
"Pohon itu…" katanya.
Semua menoleh.
"Kenapa dengan pohon itu?" tanya Jojon.
Camelia berdiri. "Sesepuh desa bilang… ada tanda di
alam. Tanda yang tidak bisa dilihat dengan mata, tapi bisa dirasakan dengan
hati."
"Dan kamu pikir itu pohonnya?" tanya Guntur.
"Aku tidak tahu," jawab Camelia jujur. "Tapi
kita tidak punya pilihan lain. Kita sudah mencoba logika, dan gagal."
Bagian 10: Petunjuk dari
Alam
Mereka mendekati pohon tersebut, perlahan, hati-hati,
seperti mendekati sesuatu yang sakral.
Hermansyah mengamati dengan teliti. "Akar di sisi ini
lebih besar… lebih tua."
"Dan lumutnya lebih tebal di bagian ini," tambah
Nadia, yang sudah mulai menggunakan logikanya lagi.
"Biasanya lumut tumbuh di arah tertentu," kata
Joko. "Di arah yang lembap, yang tidak terkena matahari."
"Utara," jawab Hermansyah. "Lumut biasanya
tumbuh subur di sisi utara pohon."
Mereka mulai menghubungkan. Akar. Lumut. Arah angin. Posisi
matahari, yang tidak terlihat, tapi bisa dirasakan.
"Kalau ini utara…" gumam Joko, "berarti kita
harus ke sana."
Ia menunjuk ke arah yang berlawanan dengan jalur
sebelumnya, ke arah selatan, yang selama ini mereka hindari.
"Yakin?" tanya Guntur.
"Tidak," jawab Joko jujur. "Tapi ini masuk
akal. Setidaknya lebih masuk akal daripada berputar-putar."
"Dan kalau salah?" tanya Yulia.
Camelia tersenyum tipis, senyum yang aneh, campuran antara
keyakinan dan ketidakpastian. "Kita sudah mencoba yang logis. Kita sudah
mencoba yang rasional. Sekarang… kita coba memahami."
Mereka melanjutkan perjalanan. Langkah lebih pelan. Lebih
hati-hati. Lebih penuh perhitungan.
Namun kali ini… berbeda.
Tidak ada rasa berputar. Tidak ada tanda yang sama. Tidak
ada pohon yang familiar.
"Ko…" bisik Anita, suaranya penuh harap,
"ini… jalan baru."
Joko mengangguk. "Kita keluar."
Rasa lega mulai muncul, seperti air yang mengalir setelah
bendungan dibuka. Namun belum sepenuhnya. Masih ada ketakutan bahwa ini hanya
jebakan lain.
Bagian 11: Cahaya di
Ujung Labirin
Beberapa saat kemudian… kabut mulai menipis.
Cahaya matahari perlahan menembus, lembut, keemasan,
seperti sinar keajaiban. Pepohonan mulai terbuka, memberi jalan.
Dan di kejauhan… terlihat jalur terbuka menuju puncak.
Semua terdiam.
"Berhasil…" gumam Bayu, air matanya mulai
menetes.
Nadia meneteskan air mata, untuk pertama kalinya, Nadia
yang selalu tegar, selalu rasional, menangis. "Kita berhasil…"
Guntur duduk lemas di tanah, melepaskan ransel dari
punggungnya. "Aku… tidak akan meremehkan lagi… Aku tidak akan pernah
bilang hal-hal mistis itu omong kosong lagi."
Hermansyah tersenyum tipis, senyum yang langka, yang hanya
muncul saat ia benar-benar lega. "Kadang… logika butuh bantuan. Kadang,
akal sehat perlu istirahat."
Camelia menatap pohon di belakang mereka, pohon beringin
yang menjadi penunjuk jalan.
"Dan kadang… alam hanya ingin kita belajar. Belajar
bahwa tidak semua bisa dijelaskan."
Joko berdiri di depan. Ia memandang jalur menuju puncak, hanya
tinggal beberapa ratus meter lagi, mungkin kurang. Namun perjalanan yang mereka
lalui… terasa seperti seumur hidup.
"Kita lanjut," katanya pelan.
Dan kali ini… tidak ada yang ragu.
Di belakang mereka, kabut kembali turun, tebal, putih,
seperti tirai yang menutup panggung. Menutup jalur yang baru saja mereka
lewati. Seolah… tidak pernah ada jalan di sana.
Bagian 12: Basecamp
Sepuluh – Titik Akhir
Mereka akhirnya tiba di basecamp sepuluh saat matahari
tepat di atas kepala, siang hari, dengan sinar yang cukup terang untuk
menghilangkan sisa-sisa ketakutan.
Tidak ada yang istimewa dari tempat ini. Hanya tanah datar
seluas lapangan basket, dengan beberapa batu besar yang tersebar tidak
beraturan, dan rumput pendek yang mulai menguning. Tapi pemandangan dari sini…
sungguh luar biasa.
Puncak Gunung Merbabu tampak begitu dekat. Hanya beberapa
ratus meter lagi, mungkin dua ratus, mungkin tiga ratus. Mereka bisa melihat
detail bebatuan di puncak, bisa melihat semak-semak yang tumbuh di sana.
"Ini dia," kata Raditya. "Basecamp sepuluh.
Titik terakhir sebelum puncak."
"Dan dari sini kita lanjut ke puncak?" tanya
Joko.
"Besok pagi. Sekarang kita istirahat. Kalian butuh
energi. Kalian butuh tidur."
Mereka mendirikan tenda, kali ini dengan lebih santai,
tanpa tergesa-gesa, karena mereka tahu bahwa besok adalah hari yang menentukan.
Tidak ada lagi canda tawa. Yang ada hanya kelelahan yang mendalam dan rasa
syukur yang tak terucap.
"Pak," kata Anita sambil menggulung matrasnya,
"apakah kita benar-benar berhasil? Apakah kita benar-benar sudah melewati
ujian terberat?"
Raditya tersenyum, senyum yang hangat, yang tulus, yang
pertama kali mereka lihat sejak memulai pendakian.
"Kalian berhasil melewati ujian terberat. Tapi ingat…
perjalanan pulang juga sama beratnya. Jangan lengah."
"Kami siap, Pak."
Bagian 13: Malam Sebelum
Puncak
Malam di basecamp sepuluh terasa berbeda, sangat berbeda
dari malam-malam sebelumnya.
Tidak ada kabut. Tidak ada suara aneh. Tidak ada bayangan.
Hanya langit yang bersih, begitu bersih hingga jutaan bintang bertaburan
seperti pasir di pantai, dan Bima Sakti terlihat jelas seperti sungai susu yang
mengalir di langit.
"Indah sekali," kata Yulia, matanya tidak
berkedip menatap langit.
"Ini salah satu malam terindah dalam hidupku,"
sahut Anita, yang duduk di sampingnya.
Mereka duduk di luar tenda, semua, tidak ada yang tidur, menikmati
keindahan langit malam. Untuk pertama kalinya sejak memulai pendakian, mereka
merasa benar-benar tenang. Benar-benar aman.
"Jo," panggil Hermansyah.
"Ya?"
"Besok kita akan berdiri di puncak."
"Iya."
"Rasanya... tidak nyata. Seperti mimpi."
"Memang tidak nyata," kata Joko. "Tapi kita
akan membuatnya nyata."
Mereka berjabat tangan dua sahabat yang telah melalui
begitu banyak hal bersama. Air mata mengalir di pipi Hermansyah, dan Joko tidak
menyebutnya.
Bagian 14: Doa di Malam
Hari
Sebelum tidur, Anita mengajak mereka berdoa bersama.
"Ya Allah," kata Anita dengan suara lembut,
lembut seperti aliran sungai, "terima kasih telah mempertemukan kami di
sini. Terima kasih telah melindungi kami sejauh ini. Besok, kami akan melangkah
ke puncak. Beri kami kekuatan, keberanian, dan kebijaksanaan. Lindungi kami
dari bahaya, yang terlihat maupun yang tidak. Dan bawalah kami kembali dengan
selamat. Aamiin."
"Aamiin," jawab yang lain, serempak, penuh
penghayatan.
Mereka tidur dengan perasaan campur aduk. Haru, bangga, dan
sedikit takut. Tapi yang paling kuat adalah rasa syukur, rasa syukur karena
masih hidup, karena masih bersama, karena masih bisa melangkah.
Bagian 15: Fajar di
Ketinggian
Fajar datang dengan keindahan yang sulit dijelaskan dengan
kata-kata.
Langit berubah dari hitam pekat menjadi ungu tua, dari ungu
menjadi jingga, dari jingga menjadi emas. Matahari muncul perlahan dari balik
Gunung Merapi, seperti telur raksasa yang pecah di ufuk timur—menyinari seluruh
Jawa Tengah dengan cahaya yang hangat dan keemasan.
"Ini saatnya," kata Joko.
Mereka bergegas, dengan semangat yang membara, dengan
energi yang baru. Perlengkapan ditinggal di tenda, hanya membawa air, camilan,
jaket tebal, dan kamera.
Perjalanan menuju puncak hanya memakan waktu sekitar tiga
puluh menit, tiga puluh menit yang terasa seperti tiga puluh detik. Jalurnya
tidak terlalu sulit, hanya tanjakan landai dengan bebatuan kecil yang tidak
licin.
Dan ketika mereka akhirnya menginjakkan kaki di puncak…
semua rasa bercampur menjadi satu.
Lelah. Bahagia. Haru. Lega. Bangga. Syukur.
Bayu langsung mengibarkan bendera Merah Putih, bendera yang
ia bawa dari Desa Awan Biru, yang dilipat rapi di dalam tasnya. Arga memasang
bendera KPAAB, bendera dengan logo gunung dan pohon. Angin berkibar kencang di
ketinggian, membawa bendera itu menari-nari di langit biru.
"Ini… untuk Desa Awan Biru!" teriak Jojon,
suaranya menggema di antara bebatuan.
"Untuk kita semua!" sahut yang lain.
Tawa dan tangis pecah bersamaan, tawa karena kebahagiaan,
tangis karena haru. Mereka berpelukan, mereka bersorak, mereka menangis.
Di puncak itu, mereka bukan lagi sebelas individu. Mereka
adalah satu. Satu keluarga. Satu perjalanan. Satu mimpi yang menjadi nyata.
BAB 8
Antara Hidup, Harapan, dan Petunjuk Leluhur
Bagian
1: Puncak yang Sunyi
Puncak Gunung Merbabu tidak seperti yang mereka bayangkan.
Tidak ada keramaian. Tidak ada antrean foto di titik
tertinggi. Tidak ada pedagang minuman ringan atau penjual gantungan kunci.
Tidak ada pendaki lain yang ribut dan sibuk dengan ponsel mereka. Hanya mereka
berdua belas, sebelas anggota KPAAB dan Raditya, yang berdiri di atas awan, di
atas dunia, di antara keheningan yang begitu dalam hingga mereka bisa mendengar
detak jantung masing-masing.
"Sepi banget," kata Guntur, memecah keheningan
dengan suara yang terasa terlalu keras di tempat yang begitu sunyi.
"Ini bukan jalur pendakian biasa," kata Raditya
sambil duduk di atas batu datar yang ditumbuhi lumut kering. "Jalur
Suralaya tidak pernah ramai. Tidak akan pernah. Dan mungkin itulah yang membuatnya
istimewa."
"Tapi ini puncak, Pak. Puncak gunung favorit di Jawa
Tengah. Biasanya ramai seperti pasar."
"Biasanya, ya. Tapi jalur Suralaya tidak biasa. Dan
orang-orang yang memilih jalur ini... juga tidak biasa."
Mereka duduk di bebatuan, ada yang duduk bersila, ada yang
merebahkan diri, ada yang berdiri sambil memandang jauh ke bawah. Pemandangan
dari puncak sungguh luar biasa, seperti lukisan raksasa yang membentang di
seluruh cakrawala.
Di sebelah timur, Gunung Merapi menjulang dengan kawahnya
yang sesekali mengepulkan asap tipis putih, seperti cerutu raksasa yang sedang
dihisap oleh para dewa. Di sebelah selatan, hamparan kota dan desa terlihat
seperti mainan, gedung-gedung kecil, jalan-jalan seperti benang, dan
sawah-sawah seperti permadani hijau dan coklat. Di sebelah barat, perbukitan
hijau membentang tak berujung, bergelombang seperti lautan yang membatu. Di
sebelah utara, Gunung Ungaran tampak samar di balik kabut, seperti hantu yang
muncul dan menghilang.
"Ini… luar biasa," kata Nadia, yang matanya tidak
berkedip menatap pemandangan. "Aku sudah membaca tentang pemandangan dari
puncak Merbabu, aku sudah melihat foto-foto, aku sudah membayangkannya
berkali-kali. Tapi... tidak ada yang bisa menandingi kenyataan."
"Kata-kata tidak cukup untuk menggambarkannya,"
sahut Anita. "Bahasa manusia terlalu terbatas."
Camelia duduk terpisah sedikit dari yang lain, di atas batu
yang lebih kecil, menghadap ke timur, matanya terpejam. Ia seperti sedang
merasakan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh yang lain, sesuatu yang
hanya ia sendiri yang bisa merasakan.
"Mel, lo kenapa?" tanya Yulia, berjalan mendekat.
Camelia membuka mata. Matanya jernih, tetapi ada kilauan
aneh di sana, seperti cahaya yang memantul dari danau yang dalam.
"Aku mendengar suara," jawabnya pelan.
"Suara lagi? Sekarang? Di puncak?"
"Iya. Tapi kali ini... berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
Camelia tersenyum, senyum yang aneh, campuran antara
ketenangan dan kebahagiaan. "Tidak menakutkan. Tidak misterius. Tidak
seperti sebelumnya. Seperti... bisikan yang menenangkan. Seperti suara ibu yang
membacakan dongeng sebelum tidur."
Raditya yang mendengar itu mendekat. Wajahnya yang biasanya
tegas kini berubah menjadi lembut, sangat lembut, seperti tidak pernah mereka
lihat sebelumnya.
"Apa yang dikatakan?" tanyanya.
Camelia terdiam sejenak, mendengarkan sesuatu yang tidak
terdengar oleh orang lain. Kemudian ia berkata, "Dia bilang... 'selamat
datang di rumah'."
Hening.
"Rumah?" ulang Joko. "Rumah siapa?"
Camelia menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi rasanya...
seperti pulang. Seperti kembali ke tempat yang dulu pernah kita tinggali."
Bagian 2: Ritual Kecil
Raditya kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil dari
sakunya, sebuah bungkusan kain putih yang dilipat rapi. Ia membukanya perlahan,
dengan gerakan yang penuh hormat, seperti sedang membuka sesuatu yang sangat
sakral.
Di dalam kain putih itu, terdapat sebuah kemenyan kecil, tidak
lebih besar dari telur ayam dan sebuah batu api kuno.
"Apa itu, Pak?" tanya Anita.
"Ini... tradisi leluhur," jawab Raditya. "Setiap
kali mencapai puncak, kami membakar kemenyan sebagai tanda terima kasih.
Sebagai penghormatan."
"Kepada siapa?"
"Kepada gunung. Kepada alam. Kepada leluhur yang
menjaga tempat ini. Kepada mereka yang telah ada sebelum kita."
Raditya menyalakan kemenyan dengan batu api, gesekan yang
membutuhkan beberapa kali percobaan, karena udara di puncak begitu tipis dan
lembap. Setelah beberapa saat, api kecil menyala, dan aroma wangi mulai
menyebar, aroma yang aneh, tidak seperti kemenyan biasa. Ada aroma kayu, aroma
bunga, aroma tanah basah, dan aroma sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi.
"Silakan, kalian juga bisa berdoa sesuai keyakinan
masing-masing," katanya. "Tidak ada paksaan. Tidak ada ritual yang
harus diikuti. Cukup ucapkan rasa syukur dengan caramu sendiri."
Anita memejamkan mata, tangannya menggenggam erat di dada,
berdoa dengan khusyuk, mungkin memanjatkan doa panjang yang sudah ia hafal
sejak kecil. Camelia melakukan hal yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda, ia
hanya diam, menunduk, seperti sedang mendengarkan sesuatu.
Yang lain hanya diam ada yang menunduk, ada yang memandang
jauh ke bawah, ada yang menatap gunung lain di kejauhan. Semua menghormat
dengan cara mereka sendiri.
Setelah selesai, Raditya memadamkan kemenyan dengan
menekannya ke tanah, api padam, asap tipis mengepul, lalu lenyap.
"Sekarang," katanya, "kalian adalah bagian
dari sejarah gunung ini. Bukan hanya sebagai pendaki, tetapi sebagai
pembelajar."
"Apa maksud Bapak?" tanya Joko.
"Kalian telah melewati ujian. Kalian telah sampai di
sini. Dan kalian akan membawa cerita ini pulang. Cerita yang akan kalian ceritakan
ke generasi berikutnya, ke anak-anak kalian, ke cucu-cucu kalian, ke siapa pun
yang mau mendengar."
"Cerita yang akan kami ceritakan ke generasi
berikutnya," kata Hermansyah, mengulangi kata-kata Raditya.
"Tepat sekali. Karena cerita adalah warisan. Dan
warisan tidak boleh hilang."
Bagian 3: Mengabadikan
Momen
Arga mengeluarkan kamera, kamera tua yang masih menggunakan
film, peninggalan ayahnya yang sudah tidak pernah ia gunakan selama
bertahun-tahun. Ia membawanya karena ingin mengabadikan momen ini dengan cara
yang tidak biasa, bukan dengan ponsel, bukan dengan foto digital yang bisa
dihapus kapan saja, tetapi dengan film yang hanya bisa dicetak dan disimpan.
"Foto, dong!" katanya, suaranya penuh semangat.
"Kita tidak setiap hari di puncak!"
Mereka berpose di puncak, dengan latar belakang langit
biru, awan putih, dan gunung-gunung lain di kejauhan.
Beberapa foto serius, wajah tegas, tangan di pinggang,
seperti pahlawan super. Beberapa foto lucu, Guntur menjulurkan lidah, Jojon
meringis seperti kesakitan, Yulia tertawa terbahak-bahak. Dan beberapa foto
yang tidak sengaja, Anita sedang merapikan rambutnya, Bayu sedang mengucek
mata, Amat Junior sedang memakan biskuit.
"Guntur, jangan melongo!" teriak Yulia.
"Ini gaya signature gue! Gaya khas Guntur!"
"Signature lo kayak orang kesurupan!"
"Ya, kesurupan keindahan alam! Alam yang begitu indah
membuat jiwa saya meronta-ronta!"
Mereka tertawa. Tawa yang terasa begitu bebas, begitu
lepas, begitu murni, tawa yang tidak terbebani oleh ketakutan, tidak dihantui
oleh bayangan, tidak dibebani oleh masa lalu.
Setelah puas berfoto, setelah Arga menghabiskan satu rol
film penuh, mereka duduk melingkar lagi, kali ini lebih santai, lebih akrab.
"Pak," kata Joko, "apa yang harus kami
lakukan sebelum turun? Apakah ada ritual lain? Apakah ada sesuatu yang harus
kami tinggalkan atau kami ambil?"
Raditya berpikir sejenak, menatap puncak-puncak gunung di
kejauhan. "Ambil sesuatu."
"Ambil apa?"
"Ambil kenangan. Bukan benda, bukan batu, bukan
tanaman, bukan apa pun yang bisa diambil secara fisik. Tapi perasaan. Perasaan
ini, rasa syukur, rasa lega, rasa bangga, rasa takut yang sudah terlewati. Bawa
pulang perasaan ini. Simpan di hati. Karena ketika kalian kembali ke kehidupan
normal, ke desa, ke rumah, ke rutinitas, ke masalah-masalah yang menunggu, kalian
akan butuh mengingatnya. Kalian akan butuh perasaan ini untuk mengingatkan
bahwa kalian bisa."
"Baik, Pak."
Bagian 4: Hermansyah Menangis
Hermansyah, pria yang selalu tegar, selalu rasional, selalu
menjadi penyeimbang, selalu menjadi batu karang di tengah badai, tiba-tiba
menangis.
Bukan menangis tersedu-sedu, tetapi air mata mengalir pelan
di pipinya, tanpa suara, tanpa isak. Ia tidak berusaha menyembunyikannya. Ia
hanya duduk diam, membiarkan air matanya jatuh ke tanah.
Semua terkejut. Joko yang paling terkejut, karena ia belum
pernah melihat Hermansyah menangis sejak mereka masih kecil, ketika Hermansyah
jatuh dari sepeda dan lututnya berdarah.
"Man, lo kenapa?" tanya Joko, mendekat.
Hermansyah menggeleng, mencoba tersenyum di tengah air
matanya, senyum yang aneh, campuran antara kebahagiaan dan kesedihan.
"Gue... gue gak tahu. Tiba-tiba aja... gue merasa seperti... seperti pulang."
"Pulang ke mana?"
"Ke tempat yang gak pernah gue kunjungi. Ke tempat
yang bahkan gak pernah gue bayangkan. Tapi rasanya familiar. Sangat
familiar."
Camelia mengangguk, mengangguk seperti ia sangat memahami.
"Itu yang aku rasakan."
"Gue juga," kata Anita.
"Ini gunung," kata Raditya. "Dia punya cara
untuk membuat kalian merasa... terhubung. Terhubung dengan sesuatu yang lebih
besar dari diri kalian."
Mereka terdiam, masing-masing merenungkan perasaan yang
tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Bagian 5: Momen
Kebersamaan
Di tengah keheningan itu, Guntur tiba-tiba berdiri dengan
gerakan yang tiba-tiba, membuat beberapa orang terkejut.
"Gue mau ngomong sesuatu," katanya, suaranya
lantang, menggema di antara bebatuan.
Semua menatapnya.
"Gue... gue minta maaf."
"Minta maaf kenapa?" tanya Jojon.
"Gue sering bercanda. Gue sering meremehkan. Gue
sering bilang hal-hal mistis itu gak masuk akal, cuma omongan kosong, cuma
sugesti. Tapi setelah apa yang kita alami... gue sadar. Gak semua hal harus
masuk akal. Gak semua hal harus bisa dijelaskan."
Yulia tersenyum, senyum yang langka, yang hanya muncul
ketika ia benar-benar terharu. "Itu omongan paling dewasa yang pernah gue
dengar dari lo."
"Jangan dibiasain, nanti gue jadi serius terus. Nanti
gue gak bisa bercanda lagi."
"Bercanda tetap boleh, asal tidak berlebihan."
Mereka tertawa.
"Gue juga mau ngomong," kata Bayu, yang sejak
kejadian dengan bayangan itu terlihat pendiam.
"Apa lagi?"
"Gue minta maaf karena hampir bikin kalian panik. Gue
terlalu takut. Gue terlalu mudah terpengaruh. Tapi ke depannya, gue akan
berusaha lebih kuat. Gue akan belajar."
"Gak perlu kuat sendirian, Yu," kata Joko,
menepuk pundak Bayu. "Kita akan kuat bersama. Itu janji kita."
Bagian 6: Camelia dan
Bisikan Terakhir
Saat yang lain asyik berbincang, berbagi cerita, berbagi
tawa, berbagi air mata, Camelia berjalan ke tepi puncak. Bukan ke tepi jurang
yang curam, tetapi ke sisi timur, di mana bebatuan lebih landai dan angin
berhembus lebih kencang.
Ia berdiri di sana, sendirian, merasakan angin yang
membelai wajahnya, lembut, seperti tangan ibu yang menenangkan anaknya yang
sedang demam.
"Kamu datang," bisik suara itu.
Camelia tidak terkejut. Ia sudah menduganya. Ia sudah
menunggunya.
"Aku datang," jawabnya pelan, nyaris berbisik.
"Kamu sudah menemukan apa yang kamu cari?"
"Aku tidak tahu apa yang aku cari. Aku tidak pernah
tahu. Aku hanya merasakan panggilan, dan aku mengikutinya."
"Tapi kamu tetap datang. Meskipun tidak tahu."
"Iya."
"Kenapa?"
Camelia tersenyum. "Karena panggilanmu terlalu kuat
untuk diabaikan. Karena setiap malam aku mendengarmu dalam mimpi. Karena setiap
kali aku menutup mata, aku melihat bayanganmu."
Suara itu terdiam sejenak, seperti sedang merenung, seperti
sedang mencari kata-kata.
"Kamu mirip dengan ibumu," katanya akhirnya.
Camelia terkejut, sangat terkejut hingga jantungnya
berhenti berdetak sesaat. "Ibu? Kamu mengenal ibuku?"
"Ibu kamu pernah ke sini. Dulu, sebelum kamu lahir.
Jauh sebelum kamu ada."
"Apa yang dia lakukan di sini? Kenapa dia ke
sini?"
"Dia mencari kedamaian. Hidupnya tidak mudah. Ada
banyak masalah, banyak tekanan, banyak ketakutan. Dia datang ke sini untuk
mencari jawaban."
"Dan dia menemukannya?"
"Dia menemukan kedamaian. Bukan jawaban untuk semua
masalahnya, tetapi kedamaian untuk menerima bahwa tidak semua masalah harus
diselesaikan."
"Lalu kenapa dia pergi? Kenapa dia tidak
tinggal?"
"Karena kedamaian tidak bisa dimiliki. Dia hanya bisa
dirasakan. Dan ibumu... merasakannya. Cukup untuk membuatnya kuat menghadapi
hidup."
Camelia meneteskan air mata, air mata yang sudah lama ia
tahan, air mata yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Ibunya meninggal
ketika ia masih kecil, terlalu kecil untuk mengerti, terlalu kecil untuk
mengingat. Ia tidak pernah benar-benar mengenal ibunya. Hanya foto-foto usang
yang disimpan di album, hanya cerita-cerita dari tetangga yang mungkin benar
mungkin tidak.
"Apa ibu bahagia?" tanyanya.
"Sangat."
Camelia tersenyum di tengah air matanya.
"Terima kasih," bisiknya.
Suara itu tidak menjawab. Tapi angin berhembus lebih
hangat, lebih hangat dari biasanya, lebih hangat dari udara di ketinggian.
Angin itu merangkulnya, membelainya, menenangkannya.
Camelia menutup mata, menikmati hangatnya angin itu untuk
terakhir kalinya.
Bagian 7: Persiapan
Turun
Setelah beberapa jam di puncak, menikmati pemandangan,
berfoto, bercerita, menangis, tertawa, berdoa, Raditya memutuskan untuk segera
turun.
"Kita harus turun sebelum siang," katanya.
"Perjalanan pulang sama beratnya dengan perjalanan naik. Bahkan mungkin
lebih berat."
"Kenapa lebih berat, Pak?" tanya Amat.
"Karena kalian sudah lelah. Fisik sudah terkuras.
Mental sudah lelah. Dan karena... perjalanan turun memiliki bahaya yang
berbeda."
"Bahaya apa?"
"Kecerobohan. Banyak pendaki yang selamat saat naik,
tetapi cedera saat turun karena lengah."
Mereka bergegas membereskan perlengkapan. Tendanya tidak
usah dibongkar, mereka akan mengambilnya nanti, dalam perjalanan turun.
Beberapa foto terakhir diambil, beberapa kenangan terakhir diciptakan.
"Jo," panggil Hermansyah.
"Ya?"
"Terima kasih."
"Terima kasih untuk apa? Aku belum melakukan
apa-apa."
"Untuk memaksa kami ikut. Untuk tidak menyerah ketika
kami semua ragu. Tanpa lo, kita tidak akan pernah ada di sini. Tidak akan
pernah merasakan ini."
Joko tersenyum, senyum yang hangat, yang tulus. "Bukan
aku. Kita semua. Tanpa kalian, aku hanya orang gila yang naik gunung
sendirian."
Mereka berpelukan dua sahabat yang telah melalui begitu
banyak hal bersama, yang telah berbeda pendapat dalam banyak hal, tetapi selalu
menemukan jalan untuk kembali.
Bagian 8: Turun Melalui
Labirin
Perjalanan turun melalui basecamp sepuluh, kembali melewati
labirin yang kemarin hampir membuat mereka putus asa, terasa lebih mudah.
Mungkin karena mereka sudah tahu arahnya. Mungkin karena
mereka sudah tidak takut lagi. Mungkin karena mereka sudah berbeda, berbeda
dari kemarin, berbeda dari saat mereka pertama kali memasuki labirin ini dengan
hati yang gelisah.
"Kita akan melewati labirin sekali lagi," kata
Raditya. "Tapi kali ini, jangan panik. Kalian sudah melewatinya sekali.
Kalian bisa melewatinya lagi."
"Kami siap, Pak," kata Joko.
Mereka memasuki labirin dengan keyakinan yang lebih kuat, keyakinan
yang tidak lagi buta, tetapi keyakinan yang lahir dari pengalaman. Tidak ada
lagi rasa takut yang melumpuhkan. Tidak ada lagi kebingungan yang membutakan.
Dan labirin itu... membiarkan mereka lewat.
Tidak ada putaran aneh. Tidak ada tanda yang sama. Tidak
ada suara yang memanggil. Tidak ada bayangan yang melambai. Hanya jalan lurus
yang membawa mereka keluar, seperti jalan pulang yang sudah mereka kenal sejak
kecil.
"Kita berhasil," kata Yulia lega, napasnya
terengah-engah.
"Belum sepenuhnya," kata Raditya. "Masih ada
perjalanan panjang. Masih ada basecamp yang harus dilewati. Jangan
lengah."
Bagian 9: Basecamp Sembilan
– Istirahat
Mereka tiba di basecamp sembilan saat matahari mulai
condong ke barat, cahaya keemasan yang indah, tetapi juga peringatan bahwa
malam akan segera datang.
"Kita bermalam di sini," kata Raditya.
"Tapi kita masih punya waktu, Pak. Masih ada beberapa
jam sebelum gelap," kata Joko.
"Kelelahan tidak bisa ditawar. Istirahat. Besok kita
lanjut."
Mereka mendirikan tenda, tenda yang sama, dengan tali yang
sama, di tanah yang sama. Api unggun dinyalakan, kali ini lebih mudah, karena
kayu bakar lebih kering.
"Gue gak nyangka kita bisa sejauh ini," kata
Jojon sambil merebahkan diri di tanah.
"Aku juga," sahut Arga.
"Ini semua berkat kebersamaan," kata Anita.
"Dan keberanian," tambah Nadia.
"Jangan lupa sedikit keberuntungan," kata Guntur.
"Dan peta kuno dari Mbah Jayasuprapta," kata
Joko.
"Dan Raditya," kata Camelia.
Mereka tertawa, tawa yang terasa hangat, yang mengusir
dinginnya malam.
Bagian 10: Malam yang
Menenangkan
Malam di basecamp sembilan terasa lebih tenang, jauh lebih
tenang dari malam pertama mereka di gunung ini.
Tidak ada suara aneh. Tidak ada bayangan. Tidak ada bisikan
misterius. Hanya api unggun yang berkedip-kedip, suara angin yang berhembus
pelan, dan suara jangkrik yang mulai muncul kembali, seolah alam sedang
mengembalikan kehidupan ke tempat ini.
"Pak," kata Camelia, "apakah kita akan
melewati basecamp empat lagi?"
"Iya. Kita akan melewatinya besok atau lusa,
tergantung kecepatan kita."
"Apakah kita akan melihat... bayangan itu lagi? Yang
melambai?"
Raditya menghela napas, napas yang panjang, yang terasa
berat. "Mungkin. Mungkin tidak. Tapi kalian sudah berbeda sekarang. Kalian
tidak akan takut lagi."
"Bagaimana Bapak tahu?"
"Karena kalian sudah melewati ujian terberat. Setelah
itu, tidak ada yang bisa menakut-nakuti kalian. Setidaknya, tidak di gunung
ini."
Camelia tersenyum. Ia berharap Raditya benar.
Bagian 11: Kenangan yang
Tak Terlupakan
Sebelum tidur, mereka duduk melingkar di sekitar api, seperti
malam-malam sebelumnya, tetapi dengan perasaan yang sangat berbeda.
Masing-masing menceritakan kenangan terindah selama
pendakian.
"Buat gue," kata Guntur, "momen paling indah
adalah saat kita tertawa di tengah ketakutan. Saat kita lupa bahwa kita sedang
dalam bahaya."
"Buat gue," kata Yulia, "saat kita saling
membantu melewati medan sulit. Saat tangan-tangan kita saling meraih."
"Buat gue," kata Anita, "saat kita berdoa
bersama. Saat kita memohon perlindungan kepada Yang Maha Kuasa."
"Buat gue," kata Hermansyah, "saat kita
berdiri di puncak dan menyadari bahwa kita bisa. Bahwa kita mampu."
"Buat gue," kata Camelia, "saat aku
mendengar bisikan terakhir. Tentang ibuku."
Semua terdiam.
"Ceritakan, Mel," kata Joko.
Camelia menceritakan apa yang ia dengar di puncak, tentang
ibunya yang pernah ke sana, tentang kedamaian yang ditemukan ibunya, tentang
angin hangat yang merangkulnya.
"Itu sebabnya ibumu selalu tenang," kata Anita.
"Bahkan di saat-saat paling sulit. Sekarang aku mengerti."
Camelia tersenyum, senyum yang tulus, yang bebas, yang
tidak terbebani oleh masa lalu.
"Aku juga akhirnya mengerti."
Bagian 12: Pesan dari
Raditya
Raditya, yang sejak tadi hanya mendengarkan, duduk di
pinggir lingkaran, matanya menatap api, akhirnya berbicara.
"Anak-anak," katanya, suaranya pelan tetapi
tegas, "kalian telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang tidak
banyak orang berani lakukan."
"Tapi kami hanya mendaki gunung, Pak," kata Amat.
"Bukan hanya mendaki gunung. Kalian telah menghadapi
ketakutan kalian. Kalian telah melewati ujian yang tidak terlihat. Kalian telah
belajar untuk percaya, percaya pada diri sendiri, percaya pada satu sama lain,
percaya pada sesuatu yang lebih besar."
"Tapi ingat," lanjutnya, "pendakian ini
bukan akhir."
"Maksud Bapak?" tanya Joko.
"Ini adalah awal. Awal dari perjalanan kalian sebagai
manusia yang lebih baik. Bawalah pelajaran dari gunung ini ke dalam kehidupan
sehari-hari. Jangan tinggalkan di sini."
"Pelajaran apa yang paling penting, Pak?" tanya
Amat.
Raditya tersenyum, senyum yang bijaksana, yang lahir dari
pengalaman puluhan tahun. "Bahwa ketakutan bukanlah musuh. Ketakutan
adalah guru. Ia mengajarkan kita untuk berhati-hati. Ia mengajarkan kita untuk
tidak sombong. Ia mengajarkan kita bahwa kita tidak sekuat yang kita kira—dan
itu tidak apa-apa."
"Dan bahwa kebersamaan," lanjutnya, "adalah
kekuatan terbesar yang kalian miliki. Sendiri, kalian lemah. Bersama, kalian
bisa melewati apa pun."
Mereka merenung.
"Terima kasih, Pak," kata Joko. "Tanpa
Bapak, kami tidak akan sampai sejauh ini."
Raditya menggeleng, menggeleng dengan lembut. "Kalian
yang sampai. Saya hanya mengantar."
Namun wajah pak Raditya sedikit murung entah kenapa,
perubahan tersebut membuat joko dan kawan kawannya merasa heran, padahal mereka
semua sudah berhasil sampai ke puncak, walaupun seharusnya dapat di selesaikan
dalam lima hari namun pada kenyataannya hingga enam hari. Joko memberanikan
diri untuk menanyakan perubahan tersebut.
“ Pak , boleh saya bertanya “, kata Joko kepada pak Raditya
“ Boleh, mau Tanya apa, ko?” jawab pak Raditya pelan
“ Mengapa Bapak kelihatan murung”, Tanya Joko , sementara
yang lainnya memperhatikan gerak gerik pak Raditya
“ Kalian sadar enggak, bahwa kita telah melewati batas hari
yang telah kita tentukan saat mau berangkat”, kata Pak Raditya mengingatkan
kembali.
Bayu yang dari tadi memperhatikan percakapan antara Joko
dan Pak Raditya cepat menjawab” Seharusnya kemaren kita sudah kembali dan
sampai di Desa Sralaya, Pak,”
Sementara yang lainnya agak terkejut bahwa mereka telah
melampoi batas hari yang telah di sepaki bersama dan ketika pada hari ke enam
belum sampai ke Desa Suralaya, artinya
aka ada tim SAR dari kedua Desa untuk menyusul melaksanakan evakuasi atau
pencarian.
“ Itu artinya aka nada tim SAR, mencari kita untuk
evakuasi,” tambah Pak Raditya
“ Waduh, bisa geger awan biru ini pak, “ sahut Guntur
was-was
“ Itulah kenapa tadi saya murung, dikira kita tidak bakalan
kembali, sehingga mereka akan menyusul untuk mevakuasi ,” lanjut pak Raditya
“ Yang penting kita semua sehat daj selamat pak, mmudahan
di base come berikutnya kita bertemu dengantim SAR Desa,” sambung Hermansyah
dengan suara pelandan menyakinkan.
“ Semoga saja,” kata Pak Raditya , kini raut wajahnya
kembali cerah, tidak lagi kuwatir , walaupun pada akhirnya Tim SAR dari kedua
Desa menyusul, yang paling penting semuanya dalam keadaan sehat. Kemudian Pak
Raditya menyuruh semuanya untuk istirahat, memulihkan tenaga untuk esok hari.
Bagian 13: Basecamp lima
– Kedua Kalinya
Keesokan harinya, mereka melewati basecamp lima untuk kedua
kalinya.
Suasana sangat berbeda dari pertama kali mereka melewati
tempat ini, ketika kabut tebal, ketika suara-suara aneh, ketika bayangan
melambai, ketika ketakutan merayap di setiap sudut.
Sekarang, tidak ada kabut tebal. Hanya sinar matahari yang
hangat menembus pepohonan. Tidak ada suara aneh. Hanya suara burung yang
berkicau dan angin yang berhembus. Tidak ada bayangan. Hanya pepohonan yang
tenang.
"Ini tempat yang dulu..." kata Bayu, matanya
mengamati sekeliling dengan waspada.
"Iya," kata Joko. "Tapi sekarang
berbeda."
"Kita yang berbeda," kata Camelia.
Mereka berjalan melewati basecamp lima tanpa gangguan.
Bahkan bayangan yang dulu muncul dan melambai, kali ini tidak terlihat. Seolah
ia sudah pergi. Seolah ia sudah selesai dengan tugasnya.
"Mungkin... ia sudah pergi," kata Guntur.
"Atau mungkin ia hanya tidak perlu muncul lagi,"
kata Raditya. "Karena kalian sudah lulus. Kalian sudah melewati
ujian."
BAB 9
Tim Penyelamat Desa
Bagian 1: Kabar yang Tak Kunjung Datang
Pagi keenam di Desa Awan Biru datang tanpa kabar.
Langit terlihat pucat, tidak biru seperti biasanya, tetapi
kelabu seperti mendung yang tidak jadi hujan. Awan-awan bergerak lambat,
seperti malas melakukan tugasnya. Matahari bersinar redup, tidak bersemangat.
Di halaman kantor desa, beberapa warga mulai berkumpul
sejak subuh. Bukan karena ada acara, tetapi karena kegelisahan yang tidak bisa
lagi mereka pendam. Wajah-wajah cemas tak lagi bisa disembunyikan, dahi
berkerut, mata sayu, bibir bergetar.
"Mereka belum kembali?" tanya seorang warga,
seorang bapak-bapak dengan kumis tebal dan topi caping.
"Belum," jawab yang lain, seorang ibu dengan kain
batik yang diikat di pinggang. "Belum ada kabar. Telepon tidak bisa
dihubungi."
"Sudah enam hari," kata yang lain lagi.
"Harusnya sudah turun kemarin."
Di depan kantor desa , Kepala Desa Iwan Setiawan berdiri
dengan wajah tegang, lebih tegang dari biasanya, lebih tegang dari saat ia
menghadapi masalah desa yang rumit sekalipun. Matanya menatap ke arah Gunung
Merbabu yang berdiri diam di kejauhan, terlalu diam, terlalu sunyi, seperti
sedang menyembunyikan sesuatu.
"Sudah waktunya," katanya akhirnya, suarara pelan
tetapi tegas.
Seorang perangkat desa mendekat, seorang pria muda dengan
kemeja putih yang sedikit kusut. "Maksud Bapak…?"
Iwan menarik napas dalam-dalam, napas yang terasa berat,
seperti menghirup beban. "Kita bentuk tim pencarian. Kita tidak bisa
menunggu lebih lama."
Bagian 2: Pembentukan
Tim
Tak lama kemudian, suasana desa berubah.
Bukan lagi suasana cemas yang pasif, tetapi suasana darurat
yang aktif. Beberapa pemuda desa bersiap dengan peralatan seadanya, tali
tambang yang sudah tua, senter yang baterainya sudah setengah habis, logistik
makanan yang dikumpulkan dari dapur masing-masing, dan alat komunikasi
sederhana berupa ponsel yang sinyalnya tidak pernah stabil.
"Ini bukan sekadar pencarian," ujar Iwan kepada
mereka yang berkumpul di halaman balai. Suaranya lantang, memotong kebisingan.
"Ini penyelamatan. Mereka tidak sedang tersesat di hutan biasa. Mereka
berada di jalur Suralaya, jalur yang tidak banyak diketahui orang. Jalur yang
menyimpan bahaya."
"Siap, Pak!" jawab mereka serempak, sepuluh
pemuda desa yang dipilih karena fisiknya kuat dan mentalnya tidak mudah goyah.
Namun Iwan tahu… ini tidak akan mudah. Jalur Suralaya bukan
jalur biasa. Dan anak-anak KPAAB bukan pendaki biasa.
Di saat yang sama, kabar itu telah sampai ke telinga
keluarga para pendaki. Ibu-ibu menangis di dapur, di ruang tamu, di teras
rumah. Bapak-bapak hanya bisa diam, duduk di kursi kayu dengan tatapan kosong,
berdoa dalam hati.
"Anakku..." bisik Bu Karsinem, ibu Joko, sambil
memegang foto Joko di tangannya. Foto yang diambil saat Joko lulus SMA, wajahnya
masih polos, belum keras oleh perjalanan. "Kembalilah... Ibu
menunggumu."
Bagian 3: Tim dari Awan
Biru Berangkat
Beberapa jam kemudian, setelah persiapan yang ala kadarnya
karena waktu tidak bisa menunggu, rombongan dari Desa Awan Biru tiba di Desa
Suralaya.
Mereka disambut oleh warga Suralaya yang sudah tahu tentang
rencana pencarian. Wajah-wajah mereka tegang, tetapi tidak panic, seperti orang
yang sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini.
Pertemuan kepala desa, Pak Iwan Setiawan dari Awan Biru dan
sekretaris desa dari Suralaya Prayitno, Karena kepala desa suralaya Raditya
yang semula berencana hanyan mengantar sampai di ujung desa namun Raditya
memutuskan untuk ikut mengawal tim dari Desa awan biru sampai ke puncak. Mereka sudah saling kenal, sudah saling
percaya.
"Mereka belum kembali," kata Prayitno Sekdes
Suralaya, suarara tenang tetapi matanya gelisah.
"Saya tahu," jawab Pak Iwan.
"Tim sudah saya siapkan. Relawan dari desa ini."
"Saya ikut," tegas Pak Iwan. "Saya tidak
bisa hanya diam di sini."
Payitno Sekdes Suralaya menatap Pak Iwan sejenak, menilai,
mengukur. Kemudian ia mengangguk. "Baik. Kita berangkat bersama."
Tim gabungan pun terbentuk. Terdiri dari Pak Iwan, tiga
pemuda Desa Awan Biru yang tidak ikut pendakian, Salam, Budi, dan Jono,
sedangkan Wahyu, Teguh, dan Andri, dan lima pemuda Desa Suralaya yang
berpengalaman dengan medan gunung, dipimpin oleh Prayitno yang juga merupakan
sekdes suralaya, yang sudah beberapa kali melewati jalur Suralaya.
Mereka memulai perjalanan dengan satu tujuan, menemukan.
Tidak ada pilihan lain.
"Perhatikan tanda-tanda," kata Prayitno, yang
ditunjuk sebagai pemandu. Suaranya serak oleh asap rokok, tetapi matanya tajam
seperti elang. "Mereka pasti meninggalkan jejak. Ranting patah, kain,
goresan di pohon, susunan batu."
"Jejak seperti apa?" tanya Wahyu, pemuda Awan
Biru yang paling muda.
"Jejak yang disengaja. Jejak yang dibuat untuk
ditemukan. Bukan jejak biasa."
Perjalanan dimulai. Langkah mereka cepat, tetapi tetap
hati-hati. Prayitno berjalan di depan, matanya bergerak cepat mengamati tanah,
pohon, semak.
Bagian 4: Mencari Jejak
Tim penyelamat bergerak cepat, lebih cepat dari perkiraan,
karena kekhawatiran yang mendorong kaki mereka.
Mereka melewati basecamp satu, dua, tiga tanpa menemukan
tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Jejak ada, bekas sepatu di tanah, bekas tenda
yang didirikan, semuanya normal.
Namun ketika tiba di basecamp satu, Prayitno mengangkat
tangan. Semua berhenti.
"Ini tempat yang aneh," katanya, matanya
menyipit. "Banyak pendaki yang merasakan... gangguan di sini. Gangguan
yang tidak bisa dijelaskan."
"Apakah anak-anak kami melewati sini?" tanya
Iwan.
Prayitno mengamati tanah dengan saksama, berjongkok,
menyentuh tanah dengan ujung jarinya. "Ada bekas jejak sepatu. Banyak. Mereka
lewat sini. Setidaknya dua belas orang."
"Apakah mereka selamat?"
"Sulit tahu. Tapi setidaknya mereka masih bisa
berjalan. Jejaknya tidak kacau."
Mereka melanjutkan perjalanan. Semakin ke atas, semakin
sulit medannya, tanjakan curam, akar pohon yang menjulur, bebatuan licin. Namun
tim penyelamat tidak menyerah. Mereka terus berjalan, terus mencari.
Bagian 5: Menemukan
Tanda
Di basecamp empat, mereka menemukan sesuatu.
Sebuah kain, kain berwarna biru, terikat di ranting pohon,
tepat di samping jalur.
"Ini tanda dari KPAAB," kata Iwan, suaranya
bergetar. "Aku mengenal kain ini. Mereka menggunakannya untuk menandai
jalur. Warna biru adalah warna khas KPAAB."
"Berarti mereka masih hidup dan berpikir jernih,"
kata Prayitno. "Atau setidaknya, mereka masih berusaha."
"Bisa saja mereka sudah lewat sini berhari-hari yang
lalu," kata Teguh, pemuda lain dari Awan Biru.
"Bisa. Tapi setidaknya kita tahu arah mereka."
Semangat tim penyelamat meningkat. Mereka berjalan lebih
cepat, meskipun kelelahan mulai terasa, meskipun kaki mulai terasa berat.
Bagian 6: Di Basecamp
Sepuluh ke basecamp empat
Kilas balik, Sementara itu, rombongan KPAAB sudah
meninggalkan basecamp sepuluh dan sedang dalam perjalanan turun. Mereka tidak
tahu bahwa tim penyelamat sedang mencari mereka. Mereka tidak tahu bahwa
keluarga mereka sudah panik.
"Jo, berapa lama lagi kita sampai di desa?" tanya
Yulia, suarara letih.
"Kalau tidak ada hambatan, besok sore. Paling lambat
lusa pagi."
"Semoga tidak ada hambatan."
Mereka berjalan dalam diam, terlalu lelah untuk berbicara,
terlalu lelah untuk bercanda, terlalu lelah untuk apa pun. Hanya langkah kaki
yang terdengar, berirama seperti detak jantung yang lambat.
Bagian 7: Pertemuan yang
Tak Terduga
Di basecamp empat, tempat yang sama di mana mereka dulu
beristirahat sebelum memasuki zona rawan, tim penyelamat dan rombongan KPAAB
akhirnya bertemu.
Sunyi sejenak. Seolah waktu berhenti. Seolah alam ikut
menahan napas.
Mata mereka bertemu. Mata Iwan dan Joko.
Kemudian,
"Pak!!"
Suara itu pecah. Joko berlari ke arah Pak Iwan, secepat
mungkin, meskipun kakinya terasa seperti timah. Yang lain mengikuti, Hermansyah,
Guntur, Camelia, semua.
Tangis, tawa, dan pelukan bercampur menjadi satu. Mereka
menangis, menangis karena lega, karena takut yang selama ini mereka pendam
akhirnya sirna, karena mereka tidak sendirian.
"Kalian… selamat…" kata Pak Iwan, suaranya
bergetar, tangannya memeluk Joko erat-erat.
"Maaf, Pak…" jawab Joko, air matanya jatuh.
"Maaf sudah membuat Bapak khawatir."
"Tidak ada maaf," kata Pak Iwan. "Yang
penting kalian kembali. Yang penting kalian semua selamat."
Prayitno tersenyum lega—untuk pertama kalinya sejak memulai
pencarian. "Kalian berhasil. Kalian melewati jalur Suralaya."
"Kami… hampir tidak berhasil, Pak," kata
Hermansyah jujur. "Ada beberapa kali kami hampir menyerah."
"Yang penting… kalian sampai," jawab Prayitno.
Pak Raditya tersenyum tipis melihat tim SAR dua Desa
akhirnya datang dan bertemu di basecamp empat, belum terlalu jauh masuk ke area
yang sangat rawan. Prayitno segera mendatangi pak Raditya dan memeluk haru, bahwa
kepala desanya dalam keadaan sehat.
Bagian 8: Perjalanan
Pulang Bersama
Tim gabungan kini berjalan bersama, dua kali lipat
jumlahnya, dua kali lipat kekuatannya, dua kali lipat kebahagiaannya.
Perjalanan pulang terasa lebih mudah, bukan karena medannya
tidak berat, tetapi karena beban mental yang selama ini mereka pikul berkurang.
Mereka tidak sendirian. Ada yang membantu membawakan tas. Ada yang membantu
menuntun saat melewati medan sulit.
"Ceritakan," kata Pak Iwan kepada Joko, berjalan
di sampingnya. "Ceritakan apa yang kalian alami. Aku ingin tahu
semuanya."
Joko menceritakan semuanya, dari awal hingga akhir. Tentang
suara aneh di basecamp empat, tentang bayangan yang melambai, tentang pohon
misterius dengan nama-nama mereka, tentang labirin yang membuat mereka
berputar-putar, tentang bisikan di puncak, tentang ibunya Camelia.
Pak Iwan mendengarkan dengan saksama, tidak menyela, tidak
bertanya, hanya mendengarkan. Wajahnya berubah dari tegang menjadi terkejut,
dari terkejut menjadi haru, dari haru menjadi bangga.
"Kalian luar biasa," katanya akhirnya. "Aku
tidak tahu harus percaya atau tidak pada cerita-cerita itu. Tapi aku percaya
pada kalian. Aku bangga."
"Terima kasih, Pak."
Bagian 9: Tiba di Desa
Suralaya
Mereka tiba di Desa Suralaya keesokan harinya, saat
matahari tepat di atas kepala, saat hari sedang terik-teriknya.
Sambutan hangat dari warga desa membuat mereka semakin
terharu. Ibu-ibu menangis melihat anak-anak mereka kembali, bukan anak kandung,
tetapi anak-anak muda yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri.
"Alhamdulillah…" terdengar dari berbagai sudut.
"Selamat! Selamat!"
"Kalian hebat!"
Beberapa warga membawakan makanan, nasi, sayur, lauk,
minuman, tanpa diminta, tanpa pamrih. Mereka ingin berbagi kebahagiaan.
Raditya berdiri di depan, tersenyum bangga, bangga bukan
hanya pada rombongan KPAAB, tetapi juga pada dirinya sendiri, pada tim
penyelamat, pada warganya yang peduli.
"Kalian bukan hanya pendaki," katanya.
"Kalian adalah pembelajar. Dan kalian adalah keluarga."
Joko menunduk hormat. "Terima kasih, Pak… atas semua
petunjuk. Atas semua perlindungan. Atas semua kebaikan."
Raditya menggeleng pelan. "Bukan saya. Kalian sendiri
yang menemukan jalan. Saya hanya mengantar."
Bagian 10: Malam
Perpisahan
Malam itu, mereka mengadakan perpisahan kecil, bukan
perpisahan yang sedih, tetapi perpisahan yang penuh kehangatan.
Api unggun dinyalakan, kali ini dengan kayu bakar yang
melimpah, karena warga desa berbondong-bondong membawa kayu. Cerita mulai
dibagikan, cerita lucu, cerita menegangkan, cerita haru.
"Jadi kamu benar-benar lihat orang itu?" tanya
Arga kepada Bayu.
"Iya! Jelas! Baju putih, rambut panjang, berdiri di
antara pepohonan!" jawab Bayu.
"Dan dia melambai?"
"Melambai! Dan aku hampir mengikutinya!"
"Kalau kamu kejar, mungkin sekarang kamu yang
hilang," sahut Guntur.
"Eh, jangan serem lagi!" protes Yulia.
"Tenang, Yul. Dia gak jadi hilang. Dia di sini. Masih
utuh."
Tawa kembali pecah, tawa yang lepas, yang bebas, yang tidak
terbebani oleh apa pun.
Di sudut lain, Pak Iwan dan Raditya duduk bersama di kursi
bambu, menikmati kopi hitam yang pahit.
"Mereka kuat," kata Raditya.
Pak Iwan mengangguk. "Karena mereka belajar… bukan
hanya berjalan. Mereka belajar dari gunung, dari alam, dari pengalaman."
"Dan mereka saling menjaga," tambah Raditya.
"Itu yang paling penting. Tanpa kebersamaan, mereka tidak akan
selamat."
"Itu yang paling penting," jawab Pak Iwan.
Bagian 11: Kembali ke
Awan Biru
Keesokan harinya, setelah sarapan bersama, setelah
berpamitan dengan warga desa, setelah berfoto bersama untuk kenangan, rombongan
bersiap kembali ke Desa Awan Biru.
Sebelum berangkat, Joko dan seluruh anggota KPAAB
berpamitan dengan Raditya.
"Terima kasih atas segalanya, Pak," kata Joko.
Raditya tersenyum. "Jaga perjalanan kalian berikutnya.
Jaga persahabatan kalian."
"Kami akan kembali, Pak," kata Jojon.
Raditya tertawa kecil. "Kalau kembali… bawa cerita
yang lebih baik. Dan bawakan oleh-oleh untuk saya."
"Oleh-oleh apa, Pak?"
"Cerita. Cerita tentang kehidupan kalian setelah
ini."
Perjalanan pulang terasa lebih singkat, mungkin karena
mereka sudah tidak sabar untuk pulang, mungkin karena mereka sudah terlalu
lelah untuk menghitung waktu, mungkin karena alam sedang berbaik hati.
Saat mereka tiba di Desa Awan Biru… suasana haru menyambut.
Keluarga, sahabat, dan warga desa berkumpul di sepanjang
jalan, dari pintu masuk desa hingga ke balai desa. Ada yang menangis, ada yang
tersenyum, ada yang berteriak kegirangan.
Pelukan, tangis, dan tawa kembali menyatu.
"Anakku…" Bu Karsinem memeluk Joko erat-erat,
tidak mau melepaskan, seperti takut anaknya akan pergi lagi.
"Maaf, Bu…" jawab Joko lirih, air matanya jatuh
ke bahu ibunya.
Namun sang ibu hanya tersenyum sambil menangis. "Kamu
pulang. Itu yang penting."
Bagian 12: Pelajaran
dari Perjalanan
Di tengah keramaian itu, Joko berdiri sejenak di halaman
kantor desa.
Ia memandang langit Desa Awan Biru, langit yang sama
seperti sebelum ia pergi, tetapi terasa berbeda. Lebih biru, lebih cerah, lebih
indah.
Perjalanan itu telah mengubah mereka. Bukan hanya sebagai
pendaki, lebih kuat secara fisik, lebih terlatih secara teknis. Tetapi sebagai
manusia. Lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih menghargai hal-hal kecil.
"Ko…" panggil Hermansyah.
Joko menoleh. "Ya?"
"Kita berhasil."
Joko tersenyum. "Kita belajar."
BAB 10
Puncak yang Menyatukan Segalanya
Bagian 1: Kembali ke Rutinitas
Beberapa minggu setelah pendakian, kehidupan di Desa Awan
Biru kembali normal, atau setidaknya, berusaha kembali normal.
Namun ada yang berbeda.
Para anggota KPAAB tidak lagi sama seperti dulu. Mereka
lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih menghargai hal-hal kecil, seperti
secangkir kopi di pagi hari, seperti senyum ibu, seperti tawa adik.
"Joko, kamu berubah," kata ibunya suatu pagi saat
mereka sarapan bersama. Bu Karsinem menatap Joko dengan mata yang penuh dengan
rasa ingin tahu.
"Berubah menjadi apa, Bu?"
"Menjadi lebih tenang. Lebih sabar. Lebih... hadir.
Dulu kamu sering melamun, memikirkan gunung, memikirkan pendakian berikutnya.
Sekarang kamu lebih sering di sini. Lebih sering bersama keluarga."
Joko tersenyum, senyum yang hangat, yang tulus.
"Gunung mengajarkan saya banyak hal, Bu. Salah satunya adalah bahwa
keluarga adalah basecamp sejati."
Bu Karsinem tertawa, tertawa kecil, tetapi penuh
kebahagiaan. "Kamu jadi filosof, Jo."
"Terpengaruh gunung, Bu."
Bagian 2: Sekretariat
yang Ramai Kembali
Sekretariat KPAAB kembali ramai oleh aktivitas, tetapi
tidak lagi untuk mempersiapkan pendakian besar berikutnya. Mereka sedang menyusun
laporan untuk Pak Iwan, laporan tentang pengalaman mereka di Gunung Merbabu.
"Ini harus ditulis dengan jujur," kata Joko dalam
rapat. "Termasuk hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Termasuk suara,
bayangan, pohon misterius, bisikan di puncak."
"Apakah Pak Iwan akan percaya?" tanya Yulia.
"Percaya atau tidak, itu hak beliau. Tugas kita
melaporkan apa yang kita alami. Jujur. Tanpa dikurangi, tanpa
dilebih-lebihkan."
Mereka menulis bersama, setiap anggota menceritakan
pengalamannya, lalu ditulis oleh Nadia yang paling rapi tulisannya.
Ada yang menceritakan tentang ketakutan, ada yang tentang
kebersamaan, ada yang tentang mimpi, ada yang tentang bisikan.
Semua jujur. Semua apa adanya.
Bagian 3: Laporan untuk
Pak Iwan
Beberapa hari kemudian, Joko dan Hermansyah menghadap Pak
Iwan di kantor desa.
Mereka menyerahkan laporan tebal berisi catatan perjalanan,
evaluasi, dan rekomendasi untuk pendaki selanjutnya. Laporan itu disusun rapi, cover
plastik transparan, halaman bernomor, daftar isi, dan lampiran foto.
Pak Iwan membacanya dengan saksama, halaman demi halaman,
baris demi baris, kata demi kata.
"Ini... sangat detail," katanya akhirnya.
"Kami ingin pendaki lain yang menggunakan jalur ini
memiliki panduan yang jelas," kata Joko. "Kami ingin mereka tidak
mengalami kesulitan yang sama."
"Dan kalian juga menulis tentang hal-hal mistis?"
"Iya, Pak. Karena itu adalah bagian dari pengalaman
kami. Tidak bisa kami pisahkan."
Pak Iwan menghela napas, napas yang panjang, yang terasa
berat. "Kalian jujur. Itu bagus. Lebih baik daripada berbohong atau
menyembunyikan."
"Apakah Bapak percaya, Pak?" tanya Hermansyah.
Pak Iwan tersenyum, senyum yang bijaksana. "Aku tidak
perlu percaya atau tidak. Yang penting, kalian selamat dan kalian belajar. Yang
penting, kalian pulang."
Bagian 4: Camelia dan
Ibunya
Suatu sore, Camelia pergi ke makam ibunya sendirian.
Makam itu terletak di bukit kecil di belakang desa, di
bawah pohon beringin yang rindang. Rumput di sekitar makam tumbuh subur, mungkin
karena sering disirami oleh air mata.
Camelia membawa bunga, bunga mawar putih, kesukaan ibunya.
Ia juga membawa dupa, meskipun ia tidak yakin apakah ibunya menyukai dupa.
Ia duduk di samping makam, di tanah yang sedikit lembap. Ia
menatap batu nisan yang sudah mulai pudar tulisannya.
"Bu," bisiknya, "aku pergi ke gunung. Aku mendengar
suara yang mengatakan bahwa Ibu pernah ke sana. Bahwa Ibu mencari kedamaian,
dan Ibu menemukannya."
Ia terdiam, menghela napas, menahan tangis.
"Aku tidak tahu apakah itu benar. Tapi aku
merasakan... Ibu ada di sana. Menjagaku. Melindungiku. Menemaniku."
Air matanya jatuh, tetes demi tetes, seperti hujan yang
tidak pernah berhenti.
"Aku merindukan Ibu. Setiap hari. Setiap malam."
Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga yang ia bawa,
membawa aroma tanah basah, membawa aroma kedamaian.
Camelia tersenyum, senyum yang tulus, yang bebas, yang
tidak terbebani oleh masa lalu.
"Aku akan baik-baik saja, Bu. Janji."
Bagian 5: Guntur yang
Berubah
Guntur, yang dulu terkenal sebagai pelawak, yang selalu
tertawa, selalu membuat orang lain tertawa, selalu menjadi sumber kegembiraan, kini
lebih sering diam.
"Tur, lo kenapa?" tanya Yulia suatu hari, ketika
mereka sedang duduk di teras sekretariat.
"Gue lagi mikir."
"Mikir apa? Lo bisa mikir?"
"Hei, gue juga punya otak, Yul. Mungkin jarang
dipakai, tapi tetap punya."
Mereka tertawa, tawa kecil, tetapi hangat.
"Serius, Tur. Lo berubah. Sejak pulang dari gunung, lo
jadi lebih... pendiam."
Guntur menghela napas. "Gue mikir... selama ini gue
terlalu banyak bercanda. Mungkin itu cara gue lari dari kenyataan. Lari dari
masalah. Lari dari ketakutan."
"Dan sekarang?"
Guntur tersenyum, senyum yang berbeda dari biasanya. Lebih
dewasa. Lebih tulus. "Sekarang gue mau belajar serius. Tapi sesekali tetap
bercanda, biar gak stress. Seimbang."
Yulia tertawa. "Itu dia Guntur yang gue kenal."
Bagian 6: Hermansyah dan
Ayahnya
Hermansyah pergi ke makam ayahnya, sesuatu yang jarang ia
lakukan. Mungkin karena ia tidak pernah merasa perlu. Mungkin karena ia tidak
pernah siap.
Makam ayahnya terletak di pemakaman umum desa, tidak jauh dari
rumah. Nisan batu marmer putih dengan tulisan emas yang sudah mulai pudar.
Hermansyah duduk di samping makam, di tanah yang kering, di
antara rumput ilalang.
"Pak," katanya, "maaf, saya jarang ke sini.
Saya sibuk. Sibuk dengan hidup."
Ia terdiam, menghela napas, menatap langit yang biru.
"Saya baru sadar... bahwa Bapak selalu ada. Meskipun
tidak terlihat. Meskipun tidak bisa saya sentuh."
Ia menunduk, air matanya jatuh ke tanah.
"Saya janji, saya akan jaga ibu dan adik. Saya akan
jaga keluarga. Dan saya akan terus belajar menjadi lebih baik. Menjadi manusia
yang Bapak harapkan."
Angin berhembus pelan, membawa debu, membawa doa, membawa
harapan.
Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Hermansyah
menangis.
Bagian 7: Joko dan
Keluarganya
Joko menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya
setelah pendakian, bukan karena ia merasa bersalah, tetapi karena ia sadar
bahwa keluarga adalah segalanya.
Ia membantu ibunya di dapur, memotong sayur, mencuci
piring, menyapu lantai. Ia menemani adiknya belajar, membantu mengerjakan PR
matematika yang rumit, meskipun ia sendiri tidak terlalu pintar matematika. Ia
berbincang dengan ayahnya di sawah, tentang cuaca, tentang tanaman, tentang
kehidupan.
"Kamu berbeda, Jo," kata ayahnya suatu sore saat
mereka duduk di pematang sawah, memandang matahari terbenam.
"Berbeda bagaimana, Pak?"
"Kamu lebih... hadir. Dulu kamu sering melamun,
memikirkan gunung, memikirkan pendakian berikutnya, memikirkan hal-hal yang
jauh. Sekarang kamu lebih fokus pada keluarga. Pada hal-hal yang dekat."
Joko tersenyum. "Gunung mengajarkan saya bahwa
keluarga adalah basecamp sejati. Tempat saya beristirahat, tempat saya pulang,
tempat saya diingatkan siapa saya."
Pak Suprapto tertawa, tertawa keras, seperti tidak pernah
ia lakukan sebelumnya. "Kamu jadi filosof, Jo."
"Terpengaruh gunung, Pak."
Bagian 8: KPAAB dan Masa
Depan
Kelompok Pecinta Alam Awan Biru kini dikenal lebih luas, bukan
hanya di desa, tetapi juga di kecamatan, bahkan di kabupaten.
Banyak pemuda desa yang ingin bergabung. Bukan hanya untuk
mendaki, tetapi untuk belajar. Belajar tentang alam, tentang persahabatan,
tentang kehidupan.
"Kita harus selektif," kata Joko dalam rapat.
"Tidak semua orang bisa langsung ikut pendakian ekstrem. Harus ada
seleksi, harus ada pelatihan."
"Setuju," kata Hermansyah. "Kita buat
pelatihan dasar dulu, navigasi, survival, P3K, etika gunung."
"Dan kita juga harus menjaga nama baik," tambah
Nadia. "Jangan sampai ada anggota yang nekat, yang merusak alam, yang
melanggar aturan."
Mereka menyusun program pelatihan, mulai dari teori di
sekretariat, hingga praktik di bukit belakang desa. Mereka juga menyusun kode
etik, aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh setiap anggota.
Bagian 9: Kunjungan ke
Desa Suralaya
Beberapa bulan kemudian, Joko dan beberapa anggota KPAAB
kembali ke Desa Suralaya.
Bukan untuk mendaki, setidaknya tidak sekarang. Tetapi
untuk bersilaturahmi, untuk berterima kasih, untuk mengingat.
Mereka disambut hangat oleh Raditya dan warga desa, seperti
keluarga yang kembali setelah merantau.
"Kalian kembali," kata Raditya tersenyum.
"Kami kembali, Pak. Tapi kali ini tidak untuk
mendaki."
"Lalu untuk apa?"
"Untuk belajar lagi. Tentang kehidupan. Tentang
kearifan lokal. Tentang menjadi manusia yang lebih baik."
Raditya mengangguk bangga, bangga bukan hanya pada
pencapaian mereka, tetapi pada pertumbuhan mereka.
"Kalian sudah dewasa," katanya.
Mereka menghabiskan beberapa hari di desa itu, belajar
tentang cara bercocok tanam, tentang cara membaca alam, tentang filosofi hidup
sederhana.
Bagian 10: Mbah
Jayasuprapta dan Pesan Terakhir
Sebelum pulang, mereka bertemu dengan Mbah Jayasuprapta.
Orang tua itu masih sehat, meskipun usianya sudah sangat
lanjut, matanya masih jernih, suaranya masih tegas.
"Kalian kembali," katanya.
"Iya, Mbah. Kami ingin berterima kasih. Atas peta,
atas petunjuk, atas doa."
"Tidak perlu berterima kasih. Cukup jaga pesan
saya."
"Pesan apa, Mbah?"
Mbah Jayasuprapta menatap mereka satu per satu, dengan mata
yang dalam, yang melihat hingga ke dalam jiwa.
"Jangan pernah lupa apa yang kalian pelajari di
gunung. Jangan pernah tinggalkan di sana. Bawalah ke kehidupan sehari-hari.
Karena gunung bukan hanya tempat, bukan hanya tujuan, tetapi juga guru."
"Kami tidak akan lupa, Mbah."
"Dan suatu hari, kalian akan menjadi guru bagi yang
lain. Bagi mereka yang belum pernah merasakan panggilan gunung."
Mereka menunduk hormat, menghormati orang tua yang telah
memberikan begitu banyak.
Bagian 11: Refleksi
Malam terakhir di Desa Suralaya, mereka duduk di tepi
sawah, di tempat yang sama di mana mereka dulu duduk sebelum pendakian, tetapi
dengan perasaan yang sangat berbeda.
Bulan bersinar terang, begitu terang hingga mereka bisa
melihat bayangan mereka sendiri di air sawah. Bintang-bintang bertaburan
seperti pasir di pantai, seperti harapan yang tak terhitung jumlahnya.
"Rasanya baru kemarin kita berangkat dengan penuh
ketakutan," kata Anita.
"Sekarang kita pulang dengan penuh pelajaran,"
sahut Yulia.
"Dan persahabatan yang lebih kuat," tambah
Guntur.
Joko memandang mereka semua, satu per satu, dari wajah ke
wajah.
"Aku bersyukur memiliki kalian," katanya.
"Tanpa kalian, aku tidak akan pernah sampai sejauh ini."
"Kita yang bersyukur, Jo," kata Hermansyah.
"Kamu adalah pemimpin yang baik. Mungkin tidak sempurna, tetapi baik."
"Kita semua adalah pemimpin," kata Joko.
"Setiap dari kita punya peran. Setiap dari kita penting."
Mereka terdiam—menikmati malam yang tenang, menikmati
kebersamaan yang hangat.
Bagian 12: Kembali ke
Rumah
Keesokan harinya, mereka kembali ke Desa Awan Biru.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan, bukan karena beban
yang berkurang, tetapi karena hati mereka lebih ringan. Mereka telah menemukan
apa yang mereka cari, atau setidaknya, mereka telah belajar bahwa tidak semua
yang dicari harus ditemukan.
Saat tiba di desa, mereka disambut oleh keluarga dan warga,
seperti biasa, tetapi kali ini dengan kehangatan yang lebih dalam.
"Selamat datang, para petualang!" teriak
seseorang.
Mereka tersenyum.
Rumah. Akhirnya.
Bagian 13: Epilog
Dimulai
Waktu berlalu.
Namun cerita itu tetap hidup.
Di setiap tawa, di setiap pertemuan, di setiap langkah yang
mereka ambil setelahnya, cerita itu terus hidup, seperti api yang tidak pernah
padam, seperti sungai yang tidak pernah kering.
Kelompok Pecinta Alam Awan Biru kini bukan hanya sekadar
nama.
Mereka adalah kisah.
Kisah tentang keberanian, keberanian untuk melangkah ke
dalam ketidakpastian. Kisah tentang kebersamaan, kebersamaan yang melewati
ketakutan dan keraguan. Kisah tentang keyakinan, keyakinan bahwa tidak semua
jalan harus dipahami untuk bisa dilalui.
Beberapa cukup dijalani… dengan hati.
Dan jejak yang mereka tinggalkan… tidak akan pernah hilang.
EPILOG
Jejak yang Tak Pernah Hilang
Bagian 1: Lima Tahun Kemudian
Lima tahun setelah pendakian pertama mereka, kehidupan para
anggota KPAAB telah berubah, berubah secara drastis, seperti sungai yang
berubah arah setelah banjir bandang.
Joko Supraktikno kini
menjadi pemimpin KPAAB yang dihormati, tidak hanya oleh anggota kelompoknya,
tetapi juga oleh komunitas pecinta alam di seluruh Jawa Tengah. Ia tidak hanya
mengatur pendakian, tetapi juga mengajar generasi muda tentang cinta alam,
tentang keselamatan di gunung, tentang etika lingkungan. Ia sering diundang
sebagai pembicara di acara-acara kepemudaan, berbagi pengalaman tentang
perjalanan yang mengubah hidupnya.
Hermansyah menjadi
konsultan navigasi untuk beberapa komunitas pecinta alam. Ia juga sering
diundang sebagai pembicara dalam seminar-seminar tentang keselamatan pendakian.
Ia menikah dengan seorang perempuan dari desa tetangga, seorang guru SD yang
sabar dan baik hati, dan kini memiliki seorang anak laki-laki yang lucu.
Guntur... masih Guntur. Ia
masih bercanda, masih tertawa, masih menjadi penghibur di setiap kesempatan.
Namun ia juga lebih dewasa, lebih bertanggung jawab. Ia membuka usaha
kecil-kecilan, toko perlengkapan outdoor yang cukup sukses. Tokonya menjadi
tempat nongkrong favorit para pecinta alam di desa.
Camelia menjadi penulis.
Ia menulis buku tentang pengalamannya di Gunung Merbabu, tentang suara-suara
misterius, tentang bayangan yang melambai, tentang bisikan di puncak, tentang
ibunya. Buku itu laris dan menginspirasi banyak orang, bukan hanya pecinta
alam, tetapi juga mereka yang sedang mencari makna hidup.
Nadia melanjutkan studi
geografi dan sekarang menjadi dosen di sebuah universitas negeri. Ia sering
membawa mahasiswanya ke gunung untuk praktik lapangan, mengajarkan mereka
tentang navigasi, tentang batuan, tentang ekosistem. Ia tetap logis, tetapi
tidak lagi menolak hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.
Anita menjadi Kader
Pebangunan Manusia ( KPM ) sekaligus menjadi uru honorer di SD Awan Biru,
mengajar anak-anak kelas satu hingga tiga. Ia mengajarkan anak-anak tentang
alam dan pentingnya menjaga lingkungan. Ia juga yang paling sering mengingatkan
anggota KPAAB untuk berdoa sebelum setiap kegiatan.
Yulia Sebagai Ketua Posyandu dan membuka sanggar tari, sanggar yang mengajarkan tarian
tradisional Jawa, tetapi dengan sentuhan modern. Tariannya terinspirasi dari
alam dan gunung, gerakannya lembut seperti angin, kuat seperti batu, dinamis
seperti air.
Bayu menjadi fotografer
alam. Fotonya sering dimuat di majalah, di kalender, di buku-buku wisata. Ia
mengkhususkan diri pada foto-foto gunung dan hutan, menangkap keindahan yang
sering tidak dilihat oleh orang lain.
Arga menjadi pemandu
wisata gunung profesional. Ia sering membawa turis asing mendaki Merbabu,
Merapi, Lawu. Ia juga yang paling sering kembali ke jalur Suralaya, bukan
sebagai pendaki, tetapi sebagai pemandu.
Jojon... entah bagaimana, ia
menjadi YouTuber petualang yang cukup terkena. Channel YouTube-nya diikuti oleh
ratusan ribu orang. Ia membuat konten tentang pendakian, tentang alam, tentang
kehidupan di desa.
Amat Junior membantu
Pamannya Si Amat sebagai Admin Desa. Namun ia juga aktif di KPAAB sebagai
pengurus logistik. Ia yang bertanggung jawab atas peralatan dan perlengkapan
kelompok.
Bagian 2: Reuni
Suatu hari, tepatnya lima tahun setelah pendakian
bersejarah itu, mereka mengadakan reuni di sekretariat KPAAB.
Bangunan sekretariat sudah direnovasi, dinding baru, atap
baru, lantai keramik, dan AC yang berfungsi dengan baik. Namun esensinya tetap
sama, tempat berkumpul, tempat tertawa, tempat berbagi cerita.
"Wah, sekretariatnya jadi mewah!" kata Guntur,
matanya membelalak.
"Ini berkat sumbangan kalian semua," kata Joko.
"Dan berkat usaha kita bersama."
Mereka duduk melingkar, seperti dulu, seperti saat pertama
kali mereka merencanakan pendakian yang mengubah hidup mereka.
"Ingat waktu kita rapat pertama tentang jalur Suralaya?"
kata Yulia.
"Siapa yang bisa lupa," jawab Hermansyah.
"Gue hampir muntah waktu itu," kata Jojon.
"Lo muntah sekarang juga boleh," sahut Bayu.
"Tenang, gue sudah tidak muntah lagi. Perut gue sudah
kuat."
Mereka tertawa, tawa yang sama seperti dulu, tawa yang
hangat, tawa yang mengingatkan mereka pada masa-masa sulit yang telah mereka
lewati bersama.
Bagian 3: Cerita Baru
"Jadi, ada rencana pendakian lagi?" tanya Amat.
"Ada," kata Joko. "Tapi bukan untuk
kita."
"Untuk siapa?"
"Untuk generasi berikutnya. Kita akan menjadi
pembimbing. Kita akan mengajarkan mereka apa yang kita pelajari."
"Wah, jadi guru sekarang?" kata Guntur.
"Kita semua adalah guru," kata Camelia.
"Kita belajar dari gunung, lalu kita ajarkan ke yang lain. Itu
siklus."
"Filosofis banget, Mel."
"Biasalah, sudah jadi penulis."
Mereka tertawa lagi.
Bagian 4: Mengenang
Raditya dan Mbah Jayasuprapta
"Omong-omong, ada kabar dari Pak Raditya?" tanya
Anita.
"Beliau masih sehat," kata Joko. "Aku baru
saja berkirim pesan kemarin. Beliau masih aktif di desa, masih menjadi kepala
desa."
"Dan Mbah Jayasuprapta?"
Joko terdiam sejenak, wajahnya berubah. "Beliau sudah
tiada dua tahun lalu."
Hening.
"Beliau meninggal dengan tenang," lanjut Joko.
"Tidur di kursi bambunya, sambil menatap gunung. Seperti yang beliau
inginkan."
"Semoga beliau tenang di sana," kata Yulia.
"Aamiin," jawab yang lain.
Bagian 5: Gunung yang
Memanggil Lagi
Malam harinya—setelah makan bersama, setelah bernyanyi
bersama, setelah berbagi cerita—mereka duduk di teras sekretariat.
Langit malam masih sama seperti dulu, lima tahun lalu,
sepuluh tahun lalu, mungkin seratus tahun lalu. Jutaan bintang bertaburan,
tanpa polusi cahaya, tanpa gedung-gedung tinggi yang menghalangi. Bima Sakti
terlihat jelas, seperti sungai susu yang mengalir di langit.
"Jo," panggil Hermansyah.
"Ya?"
"Apakah gunung masih memanggilmu?"
Joko tersenyum, senyum yang hangat, yang tulus.
"Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali aku menatap ke arah sana."
"Dan apa yang akan kamu lakukan? Apa yang akan kita
lakukan?"
"Aku akan mendaki lagi. Tapi tidak untuk mencari
sesuatu. Aku akan mendaki untuk mengingat."
"Mengingat apa?"
"Mengingat bahwa kita pernah berani. Bahwa kita pernah
bersama. Bahwa kita pernah melewati masa-masa sulit bersama. Dan bahwa
perjalanan itu... adalah hadiah terbesar dalam hidupku. Dalam hidup kita."
Mereka terdiam, menikmati malam yang tenang, menikmati
kebersamaan yang hangat, menikmati kenangan yang tak pernah pudar.
Bagian 6: Jejak yang
Abadi
Di kejauhan, Gunung Merbabu berdiri diam.
Ia telah menyaksikan segalanya, ketakutan, kebahagiaan, air
mata, tawa, pertengkaran, pelukan, doa, dan harapan.
Ia telah menjadi saksi bisu dari sebuah perjalanan yang
mengubah sebelas orang menjadi keluarga, bukan keluarga karena darah, tetapi
keluarga karena perjalanan, karena pengalaman, karena kenangan.
Dan jejak mereka, jejak kaki di tanah, jejak cerita di
hati, tidak akan pernah hilang.
Karena jejak sejati bukanlah bekas kaki di tanah yang akan
terhapus oleh hujan.
Tapi bekas di hati.
Dan hati... tidak pernah lupa.
Bagian 7: Pesan untuk
Pembaca
Jika suatu hari kalian berdiri di kaki gunung, gunung apa
pun, di mana pun dan merasakan panggilan yang tidak bisa kalian jelaskan...
Jangan abaikan.
Jangan tutup telinga.
Jangan bilang "ah, itu hanya angin" atau
"ah, itu hanya perasaan".
Karena mungkin... itu adalah panggilan untuk memulai
perjalanan kalian sendiri.
Perjalanan yang akan menguji batas kalian.
Perjalanan yang akan mengajarkan kalian tentang arti
keberanian, keberanian untuk melangkah meskipun takut.
Perjalanan yang akan mengajarkan kalian tentang arti
persahabatan, persahabatan yang bertahan di saat paling sulit.
Perjalanan yang akan mengajarkan kalian tentang arti
kehidupan, bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi tentang
perjalanan itu sendiri.
Dan ketika kalian sampai di puncak, ketika kalian berdiri
di atas awan, melihat dunia dari atas, merasakan angin yang begitu bebas...
Kalian akan mengerti.
Bahwa perjalanan itu... sepadan dengan setiap langkah yang
kalian ambil.
Bagian 8: Penutup
"Jejak Petualang" bukan sekadar kisah tentang
mendaki gunung.
Ini adalah kisah tentang manusia, manusia biasa dengan
ketakutan biasa, keraguan biasa, mimpi biasa, yang berani melangkah ke dalam
ketidakpastian, dan menemukan arti dari perjalanan itu sendiri.
Ini adalah kisah tentang persahabatan, persahabatan yang
diuji oleh rasa takut dan keraguan, oleh suara-suara misterius dan
bayangan-bayangan aneh, oleh labirin yang membingungkan dan puncak yang sunyi.
Ini adalah kisah tentang keyakinan, keyakinan bahwa tidak
semua hal harus dipahami untuk bisa dirasakan, bahwa tidak semua jalan harus
dijelaskan untuk bisa dilalui.
Dan ini adalah kisah tentang gunung, gunung yang akan
selalu menjadi guru bagi siapa pun yang mau belajar, yang akan selalu menjadi
cermin bagi siapa pun yang mau bercermin, yang akan selalu menjadi rumah bagi
siapa pun yang mau pulang.
Bagian 9: Salam dari
Penulis
Akhir kata, karena setiap cerita harus berakhir, meskipun
kenangan tidak pernah berakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para
pembaca yang telah menemani Joko dan kawan-kawan dalam perjalanan ini.
Semoga cerita ini menginspirasi kalian untuk berani
bermimpi, berani bermimpi besar, berani bermimpi yang tidak masuk akal, berani
bermimpi yang membuat orang lain tertawa.
Semoga cerita ini menginspirasi kalian untuk berani
melangkah, melangkah ke dalam ketidakpastian, melangkah ke tempat yang belum
pernah kalian kunjungi, melangkah ke arah yang tidak kalian ketahui.
Semoga cerita ini menginspirasi kalian untuk berani
menemukan jejak kalian sendiri, jejak yang tidak akan pernah hilang, jejak yang
akan kalian tinggalkan untuk generasi berikutnya.
Karena pada akhirnya... kita semua adalah petualang.
Dalam perjalanan yang disebut kehidupan.
Dan setiap jejak yang kita tinggalkan... tidak akan pernah
benar-benar hilang.
Selamat berpetualang.
— Slamet Riyadi, 2026
**SELESAI**







0 komentar:
Posting Komentar