Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 03 November 2026

NOVEL SANDIWARA CINTA

 

 


SANDIWARA CINTA

Sebuah Kisah tentang Cinta, Kepalsuan, Pengkhianatan, dan Keberanian untuk Melepaskan

Oleh: Slamet Riyadi


HAK CIPT

SANDIWARA CINTA

Sebuah Kisah tentang Cinta, Kepalsuan, Pengkhianatan, dan Keberanian untuk Melepaskan

Penulis: Slamet Riyadi

Hak cipta © 2026 Slamet Riyadi.

Seluruh hak cipta dilindungi. Dilarang memperbanyak, menyalin, atau mendistribusikan sebagian maupun seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penulis, kecuali untuk kutipan singkat bagi keperluan ulasan atau sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

DISCLAIMER

PERNYATAAN FIKSI

Buku berjudul SANDIWARA CINTA merupakan karya fiksi yang ditulis oleh Slamet Riyadi. Seluruh tokoh, karakter, dialog, alur cerita, konflik, hubungan antartokoh, serta peristiwa yang digambarkan di dalam buku ini merupakan hasil imajinasi dan kreativitas penulis.

Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, tempat, peristiwa, pengalaman, atau keadaan tertentu dengan orang yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, hal tersebut tidak dimaksudkan sebagai gambaran langsung tentang individu tertentu dan dapat terjadi secara kebetulan.

Penggunaan nama Kota Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, kawasan KP3 Kuala Kapuas, Sungai Kapuas, serta unsur geografis lainnya dimaksudkan sebagai latar cerita. Penyebutan tempat-tempat tersebut tidak berarti bahwa tokoh, konflik, hubungan, atau peristiwa dalam cerita ini merupakan representasi dari kejadian nyata yang berlangsung di lokasi tersebut.

Cerita ini mengangkat tema cinta, kepalsuan, pengkhianatan, kepercayaan, kehilangan, tanggung jawab, dan keberanian untuk melepaskan. Segala tindakan, keputusan, dan perilaku tokoh merupakan bagian dari pengembangan cerita dan tidak dimaksudkan untuk menuduh, merendahkan, atau mencemarkan nama baik pihak mana pun.

Karya ini juga tidak dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa semua hubungan cinta memiliki pola yang sama. Setiap individu dan hubungan memiliki keadaan, pengalaman, serta pilihan yang berbeda.

Seluruh isi buku ini disusun untuk kepentingan sastra, hiburan, refleksi, dan pembelajaran kehidupan. Penulis berharap pembaca dapat mengambil nilai-nilai positif tentang pentingnya kejujuran, ketulusan, tanggung jawab, penghargaan terhadap diri sendiri, serta keberanian mengambil keputusan yang sehat dalam kehidupan.

Dengan demikian, SANDIWARA CINTA hendaknya dibaca sebagai sebuah karya roman fiksi, bukan sebagai laporan kejadian nyata, kesaksian faktual, ataupun penggambaran langsung terhadap individu tertentu.

Penulis: Slamet Riyadi

 

PROLOG

Senja yang Menyimpan Rahasia

Senja perlahan turun di atas Kuala Kapuas.

Langit yang semula membentang biru mulai berubah warna menjadi jingga keemasan. Cahaya matahari yang tersisa memantul di permukaan Sungai Kapuas, menciptakan garis-garis berkilauan yang bergerak mengikuti arus. Perahu-perahu kecil masih melintas, sebagian membawa penumpang, sebagian lainnya kembali menuju tepian setelah seharian mencari nafkah.

Kota Air itu tetap hidup dengan caranya sendiri. Di sepanjang jalan, kendaraan berlalu-lalang. Suara percakapan terdengar dari warung-warung, sementara angin sore membawa aroma sungai dan makanan dari kawasan tepian kota.

Bagi sebagian orang, Kuala Kapuas adalah tempat untuk mencari nafkah, membangun masa depan, dan pulang setelah melewati hari yang panjang.

Namun, bagi Imelda Yuliana, sore itu terasa berbeda.

Ia berdiri di kawasan KP3, memandang sungai yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan kota yang dicintainya. Kawasan itu mulai berbenah melalui proses renovasi dan penataan untuk dikembangkan sebagai pusat wisata dan kuliner yang ikonik. Di tengah perubahan yang perlahan terlihat, orang-orang masih datang untuk menikmati suasana tepian air, berbincang, atau sekadar menghabiskan waktu menjelang malam.

Imelda pernah datang ke tempat itu dengan perasaan yang begitu ringan.

Dahulu, ia berdiri di sana bersama seorang laki-laki yang menggenggam tangannya sambil berbicara tentang masa depan. Laki-laki yang mengatakan bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan kekayaan. Laki-laki yang berjanji akan mencintainya dengan tulus, tanpa menjadikan harta sebagai alasan untuk bertahan.

Laki-laki itu bernama Surya Pratama.

Dan kini, laki-laki yang sama sedang berdiri beberapa langkah di hadapannya, mencoba mempertahankan sesuatu yang sesungguhnya telah lama runtuh.

“Mel, dengarkan aku dulu.”

Suara Surya terdengar pelan. Ada kecemasan di wajahnya, sesuatu yang jarang diperlihatkan ketika mereka masih bersama. Kedua tangannya bergerak gelisah, seolah-olah ia sedang mencari cara untuk menyusun kembali kata-kata yang sudah kehilangan kekuatannya.

Imelda tidak segera menjawab.

Ia memandang laki-laki itu cukup lama. Wajah yang dahulu mampu membuatnya tersenyum hanya dengan satu tatapan kini menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rindu yang belum sepenuhnya hilang, ada luka yang masih terasa, dan ada kenyataan yang tidak mungkin lagi ia abaikan.

“Apa lagi yang harus aku dengar, Surya?”

Pertanyaan itu keluar dengan suara lirih.

Surya terdiam.

“Aku sudah menjelaskan semuanya.”

“Tidak,” jawab Imelda. “Kamu sudah menjelaskan banyak hal. Kamu sudah memberikan banyak alasan. Tapi kamu belum menjawab satu pertanyaan yang paling penting.”

Imelda menarik napas perlahan. Ia berusaha menjaga suaranya agar tidak pecah, meskipun dadanya terasa sesak.

“Selama ini, kamu mencintaiku karena aku, atau karena apa yang bisa kamu dapatkan dari keluargaku?”

Surya menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak hubungan mereka dimulai, tidak ada jawaban yang segera keluar dari mulutnya.

Angin sore bertiup melintasi tepian sungai. Beberapa orang berjalan melewati mereka tanpa mengetahui bahwa di antara dua orang yang berdiri berhadapan itu, sebuah hubungan sedang menghadapi akhir yang menyakitkan.

“Aku memang salah, Mel.”

Imelda memejamkan mata sejenak.

Kalimat itu terdengar begitu sederhana dibandingkan dengan semua kebohongan yang kini harus ia terima sebagai kenyataan.

“Aku tahu kamu salah,” katanya. “Yang ingin aku tahu adalah apakah selama ini kamu pernah benar-benar memikirkan perasaanku.”

Surya mengangkat wajahnya. Matanya tampak lelah.

“Aku tidak pernah menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.”

“Karena kamu tidak pernah menyangka aku akan tahu?”

Surya kembali terdiam.

Imelda merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya, sesuatu yang menyerupai harapan terakhir yang perlahan kehilangan bentuknya. Sebagian kecil dari dirinya masih ingin mendengar penjelasan yang dapat menyelamatkan kenangan mereka. Ia ingin percaya bahwa tidak semua perhatian Surya adalah kebohongan, bahwa setidaknya ada bagian dari hubungan mereka yang pernah berarti bagi laki-laki itu.

Namun, keinginan untuk percaya tidak serta-merta membuat kenyataan berubah.

“Aku pernah membelamu di hadapan orang tuaku,” ujar Imelda. “Aku pernah marah kepada sahabatku sendiri karena dia mempertanyakan kesungguhanmu. Aku bahkan pernah berpikir bahwa selama kita saling mencintai, keadaan sesulit apa pun pasti bisa kita lewati.”

Suaranya mulai bergetar.

“Karena aku percaya kepadamu, Surya.”

Surya melangkah mendekat, tetapi Imelda mundur satu langkah.

Gerakan kecil itu membuat Surya berhenti.

“Aku bisa berubah, Mel. Beri aku kesempatan. Aku akan memperbaiki semuanya.”

Imelda menatapnya dengan mata yang mulai basah.

“Bagaimana caranya kamu memperbaiki kepercayaan yang kamu hancurkan sendiri?”

“Aku akan membuktikannya.”

“Dengan janji lagi?”

Surya tidak menjawab.

Imelda menoleh ke arah Sungai Kapuas. Air terus mengalir tanpa menunggu siapa pun. Tidak ada yang berubah pada sungai itu meskipun langit perlahan kehilangan cahaya. Perahu-perahu masih bergerak, orang-orang masih menjalani kehidupan, dan kota tetap melanjutkan waktunya.

Hanya dirinya yang merasa seolah-olah tertinggal di suatu tempat yang tidak lagi bisa ia datangi.

Dahulu, di tepian sungai yang sama, Surya pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi laki-laki kaya yang kehilangan ketulusan. Ia ingin membangun kehidupan dari kerja kerasnya sendiri, lalu berdiri di samping Imelda tanpa harus merasa rendah diri di hadapan keluarga perempuan itu.

Imelda mempercayai setiap kata tersebut.

Ia tidak pernah meminta Surya menjadi orang kaya. Ia tidak pernah menuntut hadiah mahal atau kehidupan yang berlebihan. Bahkan, ketika Surya menceritakan kesulitan yang dialaminya, Imelda tidak berpikir untuk meninggalkannya.

Yang ia inginkan hanya satu: seorang laki-laki yang tidak menjadikan perasaannya sebagai alat untuk mencapai kepentingan pribadi.

Ternyata, keinginan sederhana itu justru menjadi hal yang paling sulit ia temukan.

“Mel,” panggil Surya sekali lagi.

Imelda menghapus air mata di pipinya. Ia ingin mengatakan banyak hal, tetapi tidak semuanya perlu diucapkan. Ada kekecewaan yang terlalu dalam untuk dijelaskan, ada pertanyaan yang jawabannya sudah terlihat dari sikap seseorang, dan ada perasaan yang perlahan harus dilepaskan meskipun hati belum siap menerimanya.

“Aku masih punya perasaan kepadamu,” katanya akhirnya.

Wajah Surya sedikit berubah. Untuk sesaat, ia seperti menemukan harapan yang hampir hilang.

Namun, kalimat berikutnya membuatnya kembali terdiam.

“Tapi aku tidak bisa terus mencintai seseorang yang membuatku meragukan diriku sendiri setiap kali mencoba mempercayainya.”

“Jangan akhiri semuanya seperti ini.”

Imelda tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai kesedihan daripada kebahagiaan.

“Aku tidak mengakhiri hubungan kita karena aku sudah tidak mencintaimu, Surya. Aku mengakhirinya karena aku tidak tahu lagi bagian mana dari hubungan kita yang benar-benar bisa kupercaya.”

Surya menatapnya tanpa mampu berkata-kata.

Di hadapan laki-laki itu, Imelda akhirnya memahami bahwa perpisahan tidak selalu terjadi ketika cinta telah habis. Terkadang, perpisahan justru datang ketika perasaan masih ada, tetapi kepercayaan telah kehilangan tempat untuk berpijak.

Ia berbalik perlahan.

Setiap langkah terasa berat. Ada bagian dari dirinya yang ingin berhenti, menoleh kembali, lalu memberikan kesempatan terakhir kepada laki-laki yang pernah menjadi pusat kebahagiaannya. Akan tetapi, ia tahu bahwa jika kembali hanya karena takut kehilangan, ia mungkin akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: dirinya sendiri.

Surya tetap berdiri di tempatnya.

Ia ingin memanggil Imelda, ingin mengatakan bahwa semua yang terjadi tidak sesederhana yang terlihat. Namun, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kata-kata yang dahulu selalu berhasil meyakinkan perempuan itu kini tidak lagi memiliki kekuatan yang sama.

Imelda terus berjalan.

Di belakangnya, senja perlahan menghilang dari langit Kuala Kapuas.

Dan di antara suara arus sungai serta kehidupan kota yang tidak pernah benar-benar berhenti, sebuah kisah cinta berakhir bukan karena jarak, bukan karena perbedaan status, melainkan karena kebohongan yang tumbuh di dalam janji-janji indah.

Namun, kisah mereka tidak dimulai pada sore itu.

Jauh sebelum air mata jatuh di tepian KP3, jauh sebelum pertanyaan-pertanyaan menyakitkan menggantikan percakapan penuh tawa, dan jauh sebelum Imelda mengetahui siapa sebenarnya laki-laki yang dicintainya, semuanya bermula dari sebuah pertemuan sederhana.

Sebuah pertemuan yang bagi Imelda tampak seperti kebetulan.

Sebuah pertemuan yang bagi Surya justru membuka jalan menuju kehidupan yang selama ini diimpikannya.

Saat itu, belum ada yang menyebutnya sandiwara.

Belum ada yang menduga bahwa di balik senyum, perhatian, dan janji tentang masa depan, tersimpan sebuah niat yang kelak mengubah segalanya.

Saat itu, Imelda masih percaya bahwa cinta yang tulus akan selalu menemukan jalannya.

Dan Surya masih yakin bahwa selama ia mampu memainkan perannya dengan sempurna, tidak seorang pun akan mengetahui alasan sebenarnya mengapa ia datang ke dalam kehidupan perempuan itu.

Di Kota Air yang aman, indah, dan ramah, sandiwara itu pun dimulai.

Semuanya berawal dari sebuah senyuman.

 

BAB I

PERTEMUAN DI KOTA AIR

Pagi di Kuala Kapuas selalu memiliki caranya sendiri untuk menyambut kehidupan.

Ketika matahari mulai meninggi dari ufuk timur, kota itu perlahan terbangun. Kendaraan mulai memenuhi jalan-jalan utama, aktivitas perdagangan bergerak mengikuti kesibukan masyarakat, dan di tepian Sungai Kapuas, beberapa perahu masih melintas membawa orang-orang yang hendak memulai hari. Udara pagi menyimpan kesejukan yang perlahan tergantikan oleh hangatnya matahari, sementara suara kehidupan terdengar dari berbagai sudut kota.

Kuala Kapuas bukan kota yang gemar mempertontonkan kemewahan. Di sini, kehidupan berjalan dengan iramanya sendiri. Ada orang-orang yang berangkat bekerja dengan harapan sederhana, pedagang yang membuka lapak demi memenuhi kebutuhan keluarga, serta anak-anak muda yang mulai menyusun impian tentang masa depan.

Kota yang dikenal dengan semboyan Kota Air — Aman, Indah dan Ramah itu menyimpan banyak cerita di antara jalan-jalan, tepian sungai, dan perjumpaan orang-orang yang mungkin tidak pernah menyangka bahwa sebuah pertemuan sederhana dapat mengubah arah kehidupan mereka.

Bagi Imelda Yuliana, pagi itu hanyalah bagian dari hari biasa.

Ia berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan rambut panjangnya yang tergerai melewati bahu. Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, ia mengambil tas kecil di atas meja, lalu memeriksa telepon genggamnya.

Sebuah pesan dari Nadia Permatasari sudah menunggu sejak beberapa menit sebelumnya.

Mel, jangan lupa. Kita jadi ketemu pagi ini, kan? Aku sudah hampir sampai.

Imelda tersenyum.

Ia segera membalas pesan itu, kemudian berpamitan kepada ibunya yang sedang berada di ruang makan.

“Mau pergi sekarang, Mel?” tanya Ratna Yuliana sambil meletakkan secangkir teh di atas meja.

“Iya, Bu. Janjian sama Nadia.”

“Pulangnya jangan terlalu sore. Kalau ada rencana lain, kabari Ibu.”

“Iya, Bu.”

Ratna memperhatikan putrinya sesaat. Ada kebahagiaan tersendiri melihat Imelda tumbuh menjadi perempuan dewasa yang mampu mengurus dirinya sendiri. Namun, seperti kebanyakan ibu, Ratna tetap memiliki kekhawatiran yang tidak selalu diungkapkan melalui kata-kata.

“Mel,” panggilnya sebelum putrinya beranjak.

Imelda menoleh. “Ya, Bu?”

“Jangan terlalu sibuk memikirkan orang lain sampai lupa memperhatikan dirimu sendiri.”

Imelda tertawa kecil.

“Memangnya Imelda kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa. Ibu cuma mengingatkan.”

Imelda mendekati ibunya, lalu mencium tangannya.

“Iya, Bu. Imelda ingat.”

Ia tidak tahu bahwa nasihat sederhana itu suatu hari akan kembali terngiang di benaknya, justru ketika ia sedang berusaha memahami mengapa seseorang yang begitu ia percaya mampu melukainya sedemikian dalam.

Pagi itu, tentu saja, ia belum memikirkan hal-hal semacam itu.

Baginya, hidup masih terbentang dengan banyak kemungkinan yang menyenangkan.


Di sisi lain kota, Surya Pratama duduk di sebuah warung sederhana tidak jauh dari jalan yang mulai ramai.

Secangkir kopi berada di hadapannya. Sesekali ia mengaduk minuman itu meskipun gula di dalamnya sudah larut sejak tadi. Perhatiannya lebih banyak tertuju pada layar telepon genggam dan orang-orang yang melintas di depan warung.

Usianya masih cukup muda untuk mengejar banyak hal. Ia memiliki penampilan yang menarik, tutur kata yang cukup halus, dan kemampuan menyesuaikan diri ketika berada di lingkungan baru. Orang yang baru mengenalnya biasanya akan menilai Surya sebagai laki-laki yang tenang dan tidak banyak tingkah.

Akan tetapi, di balik ketenangan itu, ada kegelisahan yang jarang ia ceritakan kepada orang lain.

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginannya. Ia pernah membayangkan masa depan yang jauh lebih mapan daripada keadaannya sekarang. Ia ingin memiliki pekerjaan yang memberinya kebebasan finansial, rumah yang nyaman, kendaraan sendiri, serta kehidupan yang tidak lagi membuatnya harus menghitung pengeluaran setiap kali hendak memenuhi keinginannya.

Baginya, uang bukan sekadar alat untuk membeli kebutuhan. Uang juga menjadi lambang keberhasilan, sesuatu yang selama ini ia gunakan untuk mengukur seberapa jauh dirinya tertinggal dari orang-orang yang hidup lebih berkecukupan.

Ia tidak suka mengakui perasaan itu, bahkan kepada dirinya sendiri.

“Masih pagi sudah melamun.”

Suara Fajar Ramadhan membuyarkan pikirannya.

Surya mengangkat kepala. Sahabatnya itu baru saja datang, lalu menarik kursi di hadapannya.

“Bukan melamun,” jawab Surya. “Lagi mikir.”

“Mikir apa? Jangan-jangan sudah menemukan cara supaya cepat kaya.”

Surya tertawa pendek.

“Kalau ada caranya, kamu juga pasti mau.”

“Kalau caranya benar, tentu saja.”

Fajar memesan kopi kepada pemilik warung, kemudian kembali memandang Surya.

“Jadi, rencanamu hari ini apa?”

“Belum tahu. Mungkin jalan-jalan sebentar.”

“Sendirian?”

“Memangnya kenapa kalau sendirian?”

“Tidak kenapa-kenapa. Aku cuma heran. Akhir-akhir ini kamu sering sekali kelihatan punya banyak waktu kosong, tetapi setiap ditanya soal masa depan, jawabanmu selalu berubah.”

Surya menatap sahabatnya beberapa saat.

“Aku sedang mencari kesempatan yang lebih baik, Jar. Tidak semua orang bisa langsung mendapatkan pekerjaan atau kehidupan yang diinginkan.”

“Aku tahu. Aku juga tidak bilang kamu harus berhasil hari ini.”

Fajar berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih tenang.

“Tapi jangan sampai keinginanmu untuk cepat berhasil membuatmu memilih jalan yang salah.”

Surya mengalihkan pandangan ke jalan raya.

Nasihat itu terasa tidak menyenangkan, bukan karena ia tidak memahaminya, melainkan karena ada bagian dari dirinya yang tidak ingin terus diingatkan tentang kenyataan yang sedang dihadapinya.

“Aku tahu batasnya,” jawab Surya akhirnya.

Fajar tidak melanjutkan percakapan. Ia mengenal Surya cukup lama untuk memahami bahwa sahabatnya itu tidak selalu bersedia menerima nasihat pada saat yang tepat.

Beberapa menit kemudian, mereka berpisah. Fajar harus menyelesaikan urusannya sendiri, sedangkan Surya memilih berjalan menyusuri beberapa ruas jalan kota.

Ia belum memiliki rencana yang jelas. Ia hanya tahu bahwa dirinya tidak ingin selamanya menjalani kehidupan seperti sekarang.

Dan terkadang, ketika seseorang terlalu takut tertinggal, ia mulai melihat orang lain bukan sebagai manusia yang memiliki perasaan, melainkan sebagai kemungkinan yang dapat dimanfaatkan.

Surya belum menyadari seberapa jauh pikirannya kelak membawanya.

Atau mungkin, jauh di dalam dirinya, ia sebenarnya sudah mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara ia memandang kehidupan.

Namun, untuk sementara, ia memilih mengabaikannya.


Menjelang siang, Imelda bertemu Nadia di sebuah tempat makan yang cukup nyaman di kawasan kota.

Percakapan mereka mengalir seperti biasa. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari kegiatan sehari-hari, kabar teman-teman lama, sampai rencana-rencana yang belum sempat diwujudkan.

Nadia adalah salah satu dari sedikit orang yang mampu membuat Imelda berbicara tanpa harus memikirkan bagaimana dirinya akan dinilai. Persahabatan mereka telah berlangsung cukup lama sehingga tidak banyak hal yang perlu disembunyikan di antara keduanya.

“Ngomong-ngomong, Mel,” kata Nadia sambil meletakkan gelas minumannya, “kamu pernah kepikiran menikah?”

Imelda hampir tersedak mendengar pertanyaan itu.

“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”

“Memangnya tidak boleh?”

“Boleh saja. Tapi pertanyaanmu mendadak sekali.”

Nadia tertawa.

“Ya, siapa tahu kamu sudah punya calon yang tidak pernah kamu ceritakan.”

Imelda menggeleng sambil tersenyum.

“Belum ada.”

“Serius?”

“Serius.”

“Kalau begitu, kamu mau laki-laki seperti apa?”

Imelda terdiam sejenak. Pertanyaan itu sebenarnya sederhana, tetapi ia tidak ingin menjawabnya hanya dengan menyebutkan penampilan atau pekerjaan seseorang.

“Aku ingin laki-laki yang jujur,” katanya akhirnya.

Nadia mengangkat alis.

“Cuma itu?”

“Bukan cuma itu. Aku ingin seseorang yang bisa diajak bicara, yang bertanggung jawab, yang tidak merasa harus berpura-pura menjadi orang lain hanya supaya aku menyukainya.”

Nadia memperhatikan sahabatnya dengan senyum tipis.

“Wah, ternyata kamu sudah punya gambaran yang cukup lengkap.”

Imelda ikut tertawa.

“Bukankah semua orang ingin hubungan yang seperti itu?”

“Mungkin. Tapi tidak semua orang benar-benar memahami apa artinya ketika hubungan mulai menjadi sulit.”

Imelda tidak langsung menjawab.

Ia tumbuh dalam keluarga yang berkecukupan. Sejak kecil, ia tidak pernah harus memikirkan apakah keluarganya mampu membeli kebutuhan pokok atau membayar biaya sekolahnya. Ayahnya, Hendra Yuliana, bekerja keras membangun kehidupan yang cukup mapan, sedangkan ibunya menjaga kehangatan rumah dengan caranya sendiri.

Namun, kemapanan keluarga tidak membuat Imelda percaya bahwa uang adalah jawaban bagi segala persoalan.

Justru karena terbiasa melihat bagaimana orang tuanya bekerja untuk mempertahankan kehidupan keluarga, ia memahami bahwa kekayaan tidak selalu datang tanpa perjuangan.

Ia tidak mencari laki-laki yang mampu menyaingi harta keluarganya.

Ia hanya ingin seseorang yang tidak menjadikannya sebagai jalan untuk memperoleh sesuatu yang tidak mampu diraihnya sendiri.

“Aku tidak butuh orang yang kaya, Nad,” lanjutnya. “Kalau dia punya pekerjaan sederhana, selama dia jujur dan mau berusaha, menurutku itu sudah cukup. Aku lebih takut hidup dengan seseorang yang selalu mengatakan hal-hal indah, tetapi ternyata tidak bisa dipercaya.”

Nadia mengangguk pelan.

“Semoga kamu menemukan orang seperti itu.”

“Amin.”

Mereka kembali tertawa, lalu melanjutkan percakapan mengenai hal-hal lain.

Di luar tempat makan, siang Kuala Kapuas bergerak semakin sibuk. Kendaraan melewati jalanan, pedagang melayani pembeli, dan orang-orang menjalani urusan mereka masing-masing.

Tidak ada tanda bahwa sebuah kisah yang kelak akan menguji seluruh keyakinan Imelda tentang cinta sedang menunggu di salah satu sudut kota itu.


Pertemuan mereka terjadi menjelang sore.

Setelah berpisah dengan Nadia, Imelda memutuskan singgah di sebuah toko untuk membeli beberapa keperluan. Ia tidak terburu-buru pulang karena masih ingin menikmati waktu di luar rumah.

Sore itu, kawasan kota mulai dipenuhi orang-orang yang menyelesaikan aktivitas harian. Sebagian berjalan santai, sebagian berhenti di tempat makan, dan sebagian lainnya bersiap kembali ke rumah.

Imelda keluar dari toko sambil membawa sebuah tas belanja kecil.

Ketika sedang memasukkan telepon genggam ke dalam tasnya, ia tidak menyadari seorang laki-laki berjalan dari arah berlawanan.

Mereka hampir bertabrakan.

“Maaf!”

Keduanya mengucapkan kata yang sama hampir bersamaan.

Imelda segera mundur satu langkah. Salah satu barang yang dibawanya terlepas dan jatuh ke trotoar.

Laki-laki itu langsung membungkuk untuk mengambilnya.

“Maaf, saya kurang memperhatikan jalan,” katanya.

“Tidak apa-apa. Saya juga sedang tidak melihat ke depan.”

Laki-laki itu menyerahkan barang tersebut kepadanya.

Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Imelda melihat seorang laki-laki berpenampilan rapi dengan kemeja sederhana. Wajahnya menunjukkan sedikit rasa sungkan, tetapi ia tersenyum dengan cara yang membuat situasi canggung itu terasa lebih ringan.

“Terima kasih,” ujar Imelda.

“Sama-sama.”

Seharusnya percakapan mereka berakhir sampai di situ. Imelda dapat melanjutkan perjalanan, sementara laki-laki itu meneruskan urusannya sendiri.

Namun, ketika Imelda hendak melangkah pergi, sebuah benda kecil terjatuh dari tas belanja yang dibawanya.

Laki-laki itu kembali mengambilnya.

“Sepertinya barang-barang Anda sedang ingin berjalan sendiri,” katanya sambil tersenyum.

Imelda tertawa kecil.

“Sepertinya begitu. Hari ini saya agak ceroboh.”

“Tidak apa-apa. Namanya juga manusia.”

Ia menyerahkan barang itu, lalu sedikit menganggukkan kepala.

“Sekali lagi, maaf.”

“Tidak perlu meminta maaf terus. Nanti saya yang merasa bersalah karena membuat Anda repot.”

Laki-laki itu tertawa.

Suasana menjadi lebih santai.

“Saya Surya,” katanya kemudian, seolah baru menyadari bahwa mereka belum memperkenalkan diri.

“Imelda.”

“Imelda Yuliana?”

Imelda sedikit terkejut.

“Iya. Memangnya kita pernah bertemu?”

Surya segera menggeleng.

“Belum pernah. Saya hanya memastikan nama yang tadi Anda sebutkan.”

Imelda mengangguk, menerima jawaban itu tanpa banyak bertanya.

Ia tidak mengetahui bahwa Surya pernah mendengar nama keluarganya dari percakapan orang-orang yang dikenalnya. Nama Yuliana bukan nama yang sepenuhnya asing baginya. Ia mengetahui bahwa keluarga tersebut memiliki kehidupan ekonomi yang mapan, meskipun ia belum pernah bertemu langsung dengan putrinya.

Ketika mendengar nama Imelda, sesuatu dalam pikirannya bergerak.

Ia tidak langsung menunjukkan perubahan sikap. Senyumnya tetap sama, begitu pula nada bicaranya. Namun, di balik percakapan sederhana itu, ia mulai menghubungkan nama yang baru didengarnya dengan informasi yang selama ini tersimpan dalam ingatannya.

Bagi Imelda, Surya hanyalah seorang laki-laki yang kebetulan ditemuinya sore itu.

Bagi Surya, pertemuan tersebut mendadak terasa lebih menarik daripada yang ia bayangkan sebelumnya.

“Apakah Anda tinggal di sekitar sini?” tanya Surya.

“Tidak terlalu jauh.”

“Oh, begitu.”

Surya tidak ingin terlihat terlalu ingin tahu. Ia memilih berbicara mengenai suasana kota, cuaca sore, dan beberapa tempat yang menurutnya menyenangkan untuk dikunjungi.

Imelda menanggapi percakapan itu dengan santai. Ia tidak merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki maksud tertentu. Surya berbicara dengan sopan, tidak memaksakan percakapan, dan sesekali menyelipkan humor ringan yang membuatnya tersenyum.

Ketika mereka akhirnya berpamitan, Surya tidak meminta sesuatu yang berlebihan.

“Senang berkenalan dengan Anda, Imelda.”

“Saya juga.”

“Semoga perjalanan pulangnya menyenangkan.”

“Terima kasih. Anda juga.”

Mereka berpisah ke arah yang berbeda.

Imelda melanjutkan langkahnya dengan perasaan biasa saja. Baginya, pertemuan itu hanyalah kejadian kecil yang mungkin akan dilupakannya beberapa hari kemudian.

Ia tidak membawa pulang harapan baru.

Ia juga tidak merasa baru saja bertemu dengan seseorang yang akan mengubah hidupnya.

Namun, setelah beberapa langkah, ia menyadari bahwa ia masih mengingat senyum laki-laki bernama Surya itu.

Ia tersenyum sendiri, merasa sedikit geli karena memikirkan hal yang sebenarnya tidak penting.

Lalu ia melanjutkan perjalanan.


Surya tidak segera pulang.

Ia berhenti di tepi jalan, menunggu kendaraan yang melintas, tetapi pikirannya tidak lagi tertuju pada tujuan awalnya.

Nama itu terus berputar di kepalanya.

Imelda Yuliana.

Ia berusaha mengingat informasi yang pernah didengarnya tentang keluarga tersebut. Ia tahu bahwa Hendra Yuliana merupakan seorang pengusaha yang kehidupannya cukup mapan. Ia juga pernah mendengar bahwa keluarganya tidak dikenal gemar memamerkan kekayaan secara berlebihan.

Surya tidak mengetahui seluruh keadaan mereka. Ia hanya memiliki beberapa potongan informasi yang belum tentu lengkap.

Namun, bagi seseorang yang sedang memikirkan bagaimana mengubah kehidupannya, potongan informasi semacam itu dapat berkembang menjadi kemungkinan yang sulit diabaikan.

Ia teringat cara Imelda berbicara, penampilannya yang sederhana, dan sikapnya yang tidak menunjukkan keinginan untuk membuat orang lain merasa rendah diri.

Perempuan itu tidak tampak seperti seseorang yang menuntut banyak hal.

Justru itulah yang membuat Surya semakin tertarik.

Ia mulai membayangkan bahwa mendekati Imelda mungkin tidak akan sesulit yang dibayangkannya. Ia hanya perlu mengenalnya lebih jauh, memahami apa yang disukainya, dan menunjukkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang dapat dipercaya.

Pikiran itu muncul begitu saja, tetapi tidak sepenuhnya tanpa kesengajaan.

Surya tahu bahwa jika ia ingin mendapatkan sesuatu dari seseorang, ia harus memahami apa yang membuat orang tersebut merasa nyaman.

Ia pernah melakukan hal serupa dalam pergaulan sehari-hari: menyesuaikan sikap, memilih kata-kata, dan menjaga kesan yang ingin ditampilkan. Selama ini, ia menganggap kemampuan tersebut sebagai kecakapan sosial.

Kali ini, ia mulai mempertimbangkan untuk menggunakannya demi tujuan yang berbeda.

Ia mengeluarkan telepon genggam dari sakunya, lalu menatap layar beberapa saat.

Tidak ada nomor Imelda yang tersimpan. Tidak ada alasan baginya untuk menghubungi perempuan itu setelah pertemuan singkat mereka.

Tetapi ia tidak ingin pertemuan tersebut menjadi yang terakhir.

Surya menghela napas, kemudian memasukkan kembali teleponnya.

“Pelan-pelan saja,” gumamnya.

Ia belum memiliki rencana yang benar-benar matang. Ia juga belum mengetahui bagaimana hubungan itu akan berkembang. Namun, satu hal mulai tumbuh di dalam pikirannya: ia ingin mengenal Imelda lebih dekat.

Pada mulanya, keinginan itu mungkin terlihat seperti rasa penasaran biasa.

Akan tetapi, di balik rasa penasaran tersebut, ada kepentingan yang belum ingin ia akui secara terbuka.

Surya melangkah menuju tempat kendaraannya. Di sepanjang perjalanan, ia membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terbuka jika ia berhasil mendekati perempuan itu.

Ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Imelda jika suatu hari mengetahui alasan sebenarnya.

Ia juga tidak memikirkan bahwa kepercayaan seseorang bukan sesuatu yang dapat dipinjam tanpa konsekuensi.

Baginya, masa depan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, dan ia mulai melihat Imelda sebagai bagian dari jalan menuju kehidupan yang selama ini diinginkannya.

Sore itu, Surya pulang membawa sebuah kemungkinan baru.

Sementara Imelda pulang tanpa mengetahui bahwa pertemuan kecil mereka telah menimbulkan sesuatu yang berbeda dalam pikiran laki-laki tersebut.


Malam turun di Kuala Kapuas.

Lampu-lampu rumah mulai menyala, suara kendaraan berangsur berkurang di beberapa ruas jalan, dan kehidupan kota bergerak menuju waktu istirahat. Dari kejauhan, Sungai Kapuas tetap mengalir, membawa pantulan cahaya yang terpecah oleh riak-riak kecil di permukaannya.

Di rumahnya, Imelda sedang duduk bersama ibunya ketika Hendra pulang.

“Bagaimana harimu?” tanya Hendra sambil meletakkan barang bawaannya.

“Baik, Yah,” jawab Imelda.

“Pergi dengan Nadia?”

“Iya. Tadi kami makan bersama, lalu Imelda mampir ke toko sebentar.”

Hendra mengangguk.

“Ada cerita menarik?”

Imelda sempat teringat pertemuannya dengan Surya. Ia tersenyum kecil, lalu menceritakannya sebagai kejadian sederhana yang tidak terlalu penting.

“Tadi Imelda hampir bertabrakan dengan seseorang. Namanya Surya. Lucu juga, karena kami sampai dua kali saling meminta maaf.”

Ratna tersenyum mendengar cerita itu.

“Untung orangnya baik.”

“Iya, Bu. Orangnya sopan.”

Hendra tidak memberikan tanggapan khusus. Baginya, pertemuan semacam itu adalah bagian biasa dari kehidupan di kota.

“Yang penting tetap hati-hati kalau bepergian,” pesannya.

“Iya, Yah.”

Percakapan mereka kemudian beralih pada hal-hal lain. Tidak ada pembicaraan lebih lanjut mengenai Surya.

Namun, ketika berada di kamarnya malam itu, Imelda kembali mengingat pertemuan singkat tersebut.

Bukan karena ia merasa telah menemukan seseorang yang istimewa, melainkan karena ada sesuatu yang sederhana dari cara laki-laki itu bersikap yang membuat pertemuan mereka terasa menyenangkan.

Ia tidak mencoba memikirkan lebih jauh.

Imelda meletakkan telepon genggamnya di meja, lalu bersiap mengakhiri hari.

Sebelum tidur, ia sempat memandang jendela kamarnya. Cahaya lampu dari rumah-rumah di sekitarnya tampak samar, sementara udara malam terasa semakin tenang.

Ia tidak mengetahui bahwa di tempat lain, seorang laki-laki sedang memikirkan cara untuk bertemu dengannya lagi.

Ia tidak mengetahui bahwa pertemuan yang dianggapnya kebetulan mulai dipandang sebagai kesempatan oleh seseorang yang baru dikenalnya.

Dan ia sama sekali tidak mengetahui bahwa suatu hari nanti, ia akan mengingat sore itu dengan perasaan yang jauh berbeda.

Bagi Imelda, pertemuan tersebut hanyalah awal dari sebuah perkenalan.

Bagi Surya, pertemuan tersebut adalah awal dari sebuah rencana.

Dua orang telah bertemu di kota yang sama, di bawah langit yang sama, tetapi membawa niat yang berbeda.

Mereka belum saling mencintai.

Mereka bahkan belum benar-benar saling mengenal.

Namun, sebuah jalan telah terbuka di antara keduanya—jalan yang kelak dipenuhi janji, harapan, kebohongan, dan luka yang tidak pernah dibayangkan Imelda sebelumnya.

Di Kuala Kapuas, malam semakin larut.

Dan tanpa disadari oleh perempuan yang masih percaya pada ketulusan itu, langkah pertama menuju sandiwara cinta telah dimulai.

 

BAB II

SENYUM YANG DIRENCANAKAN

Surya Pratama bukan laki-laki yang mudah melupakan sesuatu yang dianggapnya berharga.

Sejak pertemuannya dengan Imelda Yuliana, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya: kesempatan untuk mengubah kehidupannya mungkin berada lebih dekat daripada yang selama ini ia bayangkan. Ia tidak lagi melihat pertemuan di depan toko itu sebagai kejadian biasa. Nama Imelda, latar belakang keluarganya, dan kesan pertama yang ditinggalkan perempuan itu perlahan menyatu menjadi sebuah kemungkinan yang ingin ia kejar.

Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, Surya kembali menjalani rutinitasnya. Ia bangun pagi, mengurus keperluan pribadi, lalu menghabiskan sebagian waktu di luar rumah. Namun, pikirannya kerap melayang pada sosok Imelda.

Ia bahkan mulai menyusun alasan untuk kembali bertemu dengannya.

Surya memahami bahwa mendekati seseorang tidak selalu harus dimulai dengan rayuan. Kadang-kadang, perhatian kecil jauh lebih efektif daripada kata-kata yang terlalu manis. Ia hanya perlu menemukan kesempatan yang tepat, kemudian membiarkan semuanya berjalan seolah-olah terjadi secara alami.

Pemikiran itu membuatnya tersenyum tipis.

Di dalam dirinya, ia percaya bahwa selama mampu membaca situasi, ia dapat mengendalikan arah sebuah perkenalan.

Sayangnya, ia tidak pernah benar-benar mempertimbangkan bahwa manusia bukanlah teka-teki yang dapat diselesaikan hanya dengan mempelajari kebiasaannya.


Kesempatan itu datang beberapa hari kemudian.

Siang menjelang sore, Surya berada di salah satu kawasan yang cukup ramai di Kuala Kapuas. Ia baru menyelesaikan urusannya ketika melihat seorang perempuan keluar dari sebuah toko di seberang jalan.

Langkahnya terhenti.

Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana dengan tas tersampir di bahu. Rambutnya tergerai rapi, sementara wajahnya terlihat tenang ketika ia memeriksa sesuatu di telepon genggam.

Surya mengenalinya.

Imelda.

Ada jeda singkat sebelum ia memutuskan untuk menyapa. Ia tidak ingin terlihat seperti seseorang yang sengaja mencari-cari keberadaan perempuan itu. Karena itu, ia menyeberang setelah memastikan keadaan jalan aman, lalu menghampirinya dengan sikap santai.

“Imelda?”

Perempuan itu mengangkat kepala. Sedikit keterkejutan muncul di wajahnya sebelum berubah menjadi senyuman.

“Surya? Kebetulan sekali.”

“Benar. Saya tidak menyangka bisa bertemu lagi.”

Imelda memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas.

“Sedang ada urusan?”

“Baru selesai. Kalau kamu sendiri?”

“Ada beberapa keperluan.”

Surya mengangguk. Ia memperhatikan bahwa Imelda tidak menunjukkan sikap canggung seperti ketika mereka pertama kali bertemu. Percakapan pun terasa lebih mudah dimulai.

“Kalau tidak keberatan, boleh saya mentraktir minum? Anggap saja untuk menebus kejadian waktu itu. Kita belum sempat mengobrol dengan tenang.”

Imelda sempat mempertimbangkannya. Ia sebenarnya tidak memiliki rencana untuk berhenti, tetapi tawaran itu disampaikan dengan wajar, tanpa kesan memaksa.

“Sebentar saja, ya. Saya tidak bisa terlalu lama.”

“Tentu.”

Mereka kemudian berjalan menuju sebuah tempat minum tidak jauh dari sana.

Surya memilih meja yang cukup nyaman, kemudian mempersilakan Imelda duduk. Ia menanyakan minuman yang disukai perempuan itu sebelum memesan. Sikapnya terlihat penuh perhatian, tetapi tidak berlebihan.

Percakapan dimulai dari hal-hal sederhana: kesibukan, tempat tinggal, dan kegiatan yang biasa mereka lakukan ketika memiliki waktu luang.

Imelda mengetahui bahwa Surya sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan ingin membangun kehidupannya secara mandiri.

“Saya percaya setiap orang punya waktunya masing-masing,” kata Surya. “Mungkin sekarang keadaan saya belum seperti yang saya inginkan, tetapi saya tidak mau berhenti berusaha.”

Imelda mengangguk.

“Menurut saya, selama seseorang mau berusaha dan bertanggung jawab, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan.”

Jawaban itu membuat Surya merasa semakin yakin bahwa perempuan di hadapannya memiliki cara pandang yang sesuai dengan gambaran yang ingin ia manfaatkan.

Ia tidak perlu berpura-pura menjadi orang kaya. Sebaliknya, ia dapat tampil sebagai laki-laki sederhana yang sedang berjuang membangun masa depan.

“Tidak semua orang bisa memahami hal itu,” ujarnya. “Kadang-kadang, orang menilai kita dari apa yang sudah kita miliki, bukan dari apa yang sedang kita perjuangkan.”

Imelda menatapnya dengan perhatian.

“Mungkin karena mereka belum mengenal kita lebih jauh.”

“Bisa jadi.”

Surya menundukkan kepala sebentar, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat. Ia kemudian bercerita tentang keinginannya memiliki kehidupan yang mapan, bukan untuk dipamerkan kepada orang lain, melainkan agar kelak ia tidak harus bergantung pada siapa pun.

Sebagian dari perkataannya memang mencerminkan keinginan yang benar-benar ia miliki. Namun, ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan: keinginannya untuk memperoleh kemapanan itu tidak selalu berjalan seiring dengan kesediaannya menempuh jalan yang benar.

Imelda tidak mengetahui bagian tersebut.

Yang ia dengar adalah suara seorang laki-laki yang tampak memahami arti perjuangan.

“Semoga apa yang kamu inginkan bisa tercapai,” katanya tulus.

Surya tersenyum.

“Terima kasih, Imelda.”

Untuk sesaat, ia merasa tidak perlu melakukan banyak hal. Imelda telah memberinya ruang untuk berbicara, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menanggapi ceritanya dengan ketulusan yang jarang ia temukan dalam pergaulan yang selama ini dikenalnya.

Namun, rasa nyaman yang muncul di dalam dirinya tidak membuat niat awalnya berubah. Ia justru mulai menyadari bahwa kepercayaan Imelda mungkin lebih mudah diperoleh daripada yang ia bayangkan.


Pertemuan itu berlangsung lebih lama daripada yang direncanakan Imelda.

Ketika akhirnya mereka bersiap berpisah, Surya tidak meminta nomor teleponnya secara langsung. Ia memilih menunggu kesempatan lain, seolah-olah tidak ingin terburu-buru.

Akan tetapi, sebelum mereka melangkah ke arah berbeda, Imelda justru bertanya lebih dahulu.

“Kalau suatu saat kita bertemu lagi, boleh kita mengobrol seperti ini?”

Surya sempat terkejut, meskipun ia segera menyembunyikannya dengan senyuman.

“Tentu. Saya senang bisa mengobrol denganmu.”

Mereka bertukar nomor telepon dengan alasan agar lebih mudah berkomunikasi.

Bagi Imelda, hal itu tidak lebih dari cara sederhana untuk menjaga perkenalan. Ia belum memiliki perasaan khusus kepada Surya, tetapi ia menilai laki-laki itu cukup menyenangkan untuk dikenal lebih jauh.

Surya menyimpan nomor tersebut dengan hati-hati.

Setelah berpisah, ia berjalan beberapa langkah sebelum mengeluarkan telepon genggamnya dan memastikan nama Imelda sudah tersimpan dengan benar.

Senyum muncul di wajahnya.

Satu langkah telah berhasil ia lewati.

Ia tidak perlu lagi bergantung pada kebetulan untuk menghubungi perempuan itu. Sekarang, ia memiliki jalan untuk membangun komunikasi secara langsung.

Namun, yang membuatnya semakin tertarik bukan hanya kemungkinan untuk menjalin hubungan dengan Imelda. Ia mulai membayangkan bagaimana kehidupannya kelak jika perempuan itu benar-benar mempercayainya.

Pikiran tersebut membuatnya merasa seolah-olah masa depan yang diinginkannya mulai mendekat.

Ia mengabaikan satu kenyataan penting: Imelda memberinya nomor telepon karena menganggapnya sebagai orang yang layak dikenal, bukan karena bersedia menjadi bagian dari rencananya.

Perbedaan itulah yang belum ingin dipahami Surya.


Malam harinya, pesan pertama datang dari Surya.

Sudah sampai di rumah?

Imelda sedang berada di kamarnya ketika membaca pesan tersebut. Ia membalas singkat bahwa dirinya sudah tiba sejak beberapa waktu sebelumnya.

Tidak lama kemudian, percakapan mereka berlanjut.

Surya menanyakan kegiatan Imelda, kemudian menceritakan sedikit tentang hari yang baru dilewatinya. Ia tidak membanjiri perempuan itu dengan pesan panjang. Ia justru berusaha menjaga percakapan tetap ringan, memberikan ruang bagi Imelda untuk membalas ketika memiliki waktu.

Bagi Surya, hal semacam itu merupakan bagian dari pendekatan yang sengaja ia susun.

Ia memperhatikan bahwa Imelda menyukai percakapan yang jujur dan tidak berlebihan. Karena itu, ia menghindari pujian yang terdengar dibuat-buat. Ia memilih membicarakan pengalaman sehari-hari, pandangan mengenai kehidupan, serta cita-cita yang ingin diwujudkan.

Sementara itu, Imelda menikmati percakapan tersebut tanpa memikirkan kemungkinan tersembunyi di baliknya.

Ia merasa Surya berbeda dari beberapa laki-laki yang pernah dikenalnya. Surya tidak terburu-buru menanyakan hal-hal pribadi, tidak berusaha mengesankan dirinya dengan cerita tentang harta, dan tidak membuat setiap percakapan berakhir dengan rayuan.

Ada ketenangan dalam cara laki-laki itu berbicara.

Setidaknya, begitulah yang dilihat Imelda.

Pada suatu malam, percakapan mereka menyentuh persoalan hubungan dan kepercayaan.

“Menurutmu, apa yang paling penting dalam sebuah hubungan?” tanya Surya melalui pesan.

Imelda membaca pertanyaan itu cukup lama sebelum menjawab.

Kejujuran. Kalau dua orang saling jujur, masalah sebesar apa pun masih bisa dibicarakan. Tapi kalau sudah tidak ada kepercayaan, semuanya jadi sulit.

Surya menatap layar teleponnya.

Ia tahu jawaban seperti itulah yang ingin didengarnya. Bukan karena ia berniat memenuhi harapan tersebut, melainkan karena kini ia semakin memahami hal yang harus diperlihatkannya agar Imelda merasa aman.

Ia mulai mengetik.

Saya setuju. Menurut saya, cinta tidak harus dibuktikan dengan kemewahan. Yang penting, dua orang itu saling menghargai dan tidak saling memanfaatkan.

Ia membaca kembali kalimat tersebut sebelum mengirimkannya.

Tidak ada yang salah dengan kata-kata itu. Bahkan, seandainya diucapkan oleh seseorang yang sungguh-sungguh meyakininya, kalimat tersebut dapat menjadi dasar hubungan yang sehat.

Tetapi Surya mengetahui bahwa ada jarak antara apa yang ia katakan dan apa yang sebenarnya ia rencanakan.

Ia tetap menekan tombol kirim.

Beberapa saat kemudian, Imelda membalas dengan sebuah ungkapan singkat yang menunjukkan bahwa ia sependapat.

Surya meletakkan telepon genggamnya di atas meja. Ia merasa puas karena percakapan itu berjalan sesuai harapan.

Di sisi lain, Imelda mematikan layar teleponnya dengan perasaan ringan. Ia tidak sedang jatuh cinta, tetapi mulai merasa bahwa Surya merupakan seseorang yang dapat dipercaya untuk menjadi teman berbicara.

Perbedaan kecil itu tidak tampak berarti pada malam tersebut.

Padahal, di sanalah keduanya mulai melangkah menuju hubungan yang kelak akan memiliki arti sangat berbeda bagi masing-masing.


Hari-hari berikutnya membawa perubahan kecil dalam kehidupan mereka.

Pesan yang semula hanya datang sesekali mulai menjadi bagian dari rutinitas. Surya sesekali menanyakan kabar Imelda pada pagi hari, sementara Imelda terkadang membalas dengan cerita singkat tentang kegiatannya.

Mereka mulai mengetahui kebiasaan masing-masing.

Surya mengetahui bahwa Imelda tidak menyukai percakapan yang penuh basa-basi. Ia juga mengetahui bahwa perempuan itu menghargai orang yang menepati janji, sekecil apa pun janji tersebut.

Imelda, sebaliknya, mulai mengenal Surya sebagai laki-laki yang memiliki banyak keinginan tetapi tidak gemar memamerkannya. Ia melihat ambisi Surya sebagai sesuatu yang wajar, bahkan patut dihargai, selama laki-laki itu tetap bersedia bekerja keras.

Sesekali mereka bertemu untuk minum atau berjalan santai. Tidak ada hadiah mahal, tidak ada pernyataan cinta yang tergesa-gesa, dan tidak ada pembicaraan serius mengenai pernikahan.

Hubungan mereka berkembang dalam bentuk yang sederhana.

Namun, bagi Surya, setiap pertemuan juga menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahamannya tentang Imelda.

Ia memperhatikan cara perempuan itu menanggapi persoalan keluarga, bagaimana ia berbicara tentang orang-orang yang kurang beruntung, dan bagaimana ia menilai seseorang yang sedang menghadapi kesulitan.

Semakin banyak yang ia ketahui, semakin mudah baginya menyesuaikan sikap.

Ketika Imelda berbicara tentang pentingnya kerja keras, Surya menekankan bahwa ia tidak ingin hidup bergantung pada orang lain.

Ketika perempuan itu mengatakan bahwa kesetiaan lebih penting daripada kemewahan, Surya menegaskan bahwa ia juga memiliki pandangan serupa.

Ketika Imelda mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap orang yang berpura-pura, Surya justru tampil sebagai laki-laki yang menganggap kejujuran sebagai prinsip hidup.

Ia tidak perlu menciptakan seluruh cerita dari awal. Ia hanya mengambil bagian-bagian dari dirinya yang ingin diperlihatkan, kemudian menyembunyikan bagian yang bertentangan dengan gambaran tersebut.

Sandiwara itu tidak dibangun dalam sehari.

Ia tumbuh melalui perhatian kecil, jawaban yang dipilih dengan cermat, dan sikap yang perlahan membentuk keyakinan Imelda.

Sementara itu, Imelda mulai merasa nyaman.

Ia tidak menganggap Surya sempurna. Ia mengetahui bahwa laki-laki itu masih berusaha memperbaiki kehidupannya dan belum mencapai semua yang diinginkannya. Namun, baginya, ketidaksempurnaan bukan alasan untuk menutup pintu bagi seseorang yang menunjukkan kesungguhan.

Ia percaya bahwa manusia dapat berkembang bersama, selama keduanya memiliki niat yang baik.

Kepercayaan itu tumbuh tanpa paksaan.

Dan justru karena itulah, kelak, pengkhianatan Surya akan terasa begitu menyakitkan.


Pada suatu sore, mereka kembali bertemu di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari pusat kota.

Setelah menyelesaikan pesanan minuman, Imelda memandang Surya yang sedang bercerita tentang keinginannya membangun kehidupan yang lebih baik.

“Aku suka orang yang punya tujuan,” kata Imelda. “Setidaknya, dia tahu ke mana ingin melangkah.”

Surya tersenyum.

“Kalau kamu sendiri, apa yang paling ingin kamu capai?”

Imelda berpikir sebentar.

“Aku ingin punya kehidupan yang tenang. Punya keluarga yang saling mendukung, pekerjaan yang bermanfaat, dan pasangan yang bisa diajak melewati banyak hal tanpa harus berpura-pura.”

“Tidak ingin hidup mewah?”

Imelda tertawa kecil.

“Kalau punya rezeki lebih, tentu menyenangkan. Tapi kalau setiap hari harus khawatir apakah orang yang bersamaku benar-benar tulus, buat apa semua itu?”

Surya menatapnya.

Ada sesuatu pada jawaban tersebut yang membuatnya memahami bahwa kekayaan keluarga bukan satu-satunya hal yang perlu ia perhitungkan. Untuk mendapatkan kepercayaan Imelda, ia harus membuat perempuan itu merasa bahwa dirinya tidak sedang mengejar keuntungan apa pun.

Ia menyadari bahwa Imelda tidak membutuhkan seorang laki-laki yang memamerkan kemampuan finansial. Ia membutuhkan seseorang yang membuatnya merasa dihargai, didengar, dan aman.

Surya lalu mengangguk seolah-olah sepenuhnya menerima pandangan tersebut.

“Aku mengerti.”

Imelda tersenyum.

“Aku tidak bilang semua orang harus punya pemikiran yang sama. Setiap orang punya pilihan. Tapi kalau aku menjalin hubungan, aku ingin hubungan itu dibangun dengan jujur.”

Surya tidak segera menjawab.

Untuk sesaat, ia merasakan ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu dalam cara Imelda berbicara yang membuatnya menyadari betapa besar kepercayaan yang sedang diberikan perempuan itu kepadanya, bahkan sebelum hubungan mereka benar-benar menjadi serius.

Ia tahu bahwa dirinya tidak datang dengan niat yang sama.

Namun, alih-alih menjadikan kesadaran itu sebagai alasan untuk berhenti, ia justru menganggapnya sebagai tantangan yang harus diatasi.

Ia tidak ingin kehilangan kesempatan yang baru mulai terbuka.

Karena itu, ia tersenyum dan berkata, “Kalau suatu saat aku punya pasangan, aku juga ingin dia merasa bahwa pilihannya tidak salah.”

Imelda menatapnya dengan hangat.

“Aku harap begitu.”

Kalimat itu sederhana, tetapi Surya menyimpannya dalam ingatan.

Bukan sebagai janji yang harus ia tepati, melainkan sebagai gambaran tentang apa yang ingin dipercayai Imelda mengenai dirinya.

Di luar, sore semakin redup. Aktivitas kota perlahan berubah menuju suasana menjelang malam. Mereka melanjutkan percakapan hingga tiba waktunya untuk pulang.

Ketika berpisah, Imelda merasa telah mengenal Surya sedikit lebih jauh daripada sebelumnya.

Ia belum menganggap laki-laki itu sebagai cinta dalam hidupnya. Namun, pintu untuk mengenalnya lebih dekat telah terbuka.

Surya pun merasa bahwa hubungan mereka mulai bergerak ke arah yang ia inginkan.

Ia tidak menyadari bahwa semakin banyak janji yang diucapkannya, semakin besar pula tanggung jawab moral yang sedang ia abaikan.

Sebab, ada perbedaan mendasar antara seseorang yang berusaha menjadi lebih baik demi orang yang dicintainya dan seseorang yang berpura-pura menjadi lebih baik demi memperoleh sesuatu dari orang lain.

Surya telah memilih jalan kedua.

Dan untuk sementara, ia berhasil membuat pilihan itu terlihat seperti yang pertama.

Malam kembali menyelimuti Kuala Kapuas. Lampu-lampu kota menyala satu demi satu, sementara arus Sungai Kapuas terus bergerak tanpa mengetahui kisah yang sedang tumbuh di tepian airnya.

Imelda pulang dengan keyakinan bahwa ia sedang mengenal seseorang yang memiliki pandangan hidup serupa dengannya.

Surya pulang dengan keyakinan bahwa ia telah menemukan cara untuk mendekati perempuan yang diincarnya.

Mereka sama-sama membawa sesuatu dari pertemuan sore itu.

Imelda membawa kepercayaan yang tumbuh perlahan.

Surya membawa pemahaman baru tentang bagaimana kepercayaan tersebut dapat diperoleh.

Dan tanpa disadari Imelda, senyum yang ia terima dengan tulus telah mulai menjadi bagian dari sebuah sandiwara yang direncanakan dengan hati-hati.

 

BAB III

CINTA YANG TUMBUH DI TEPIAN SUNGAI

Pagi di Kuala Kapuas selalu datang dengan caranya sendiri. Kabut tipis yang menggantung di atas Sungai Kapuas perlahan menghilang ketika cahaya matahari menyentuh permukaan air. Perahu-perahu kecil bergerak menyusuri sungai, membawa penumpang, barang dagangan, dan kesibukan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Bagi Imelda Yuliana, sungai itu bukan sekadar bentang alam yang membelah kota. Sungai Kapuas menyimpan banyak kenangan tentang masa kecilnya, tentang ayahnya yang sesekali mengajaknya berjalan-jalan pada akhir pekan, juga tentang ibunya yang selalu mengingatkan bahwa kehidupan tidak boleh dinilai hanya dari apa yang terlihat.

Namun, pagi itu, pikirannya tidak sepenuhnya tertuju pada pemandangan yang biasa ia nikmati.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Sebuah pesan masuk dari Surya Pratama.

Selamat pagi, Imelda. Semoga harimu menyenangkan. Jangan lupa sarapan.

Imelda tersenyum kecil. Pesan itu sederhana, bahkan mungkin tidak berarti banyak bagi orang lain. Akan tetapi, perhatian kecil seperti itulah yang belakangan membuat kehadiran Surya terasa berbeda.

Ia membalas singkat, lalu meletakkan ponselnya kembali.

“Siapa yang membuatmu tersenyum pagi-pagi?” suara Ratna Yuliana terdengar dari arah dapur.

Imelda menoleh. Ibunya sedang membawa secangkir teh hangat menuju meja makan.

“Teman, Bu.”

“Teman yang sama dengan yang pernah kamu ceritakan itu?”

Imelda terdiam sesaat sebelum mengangguk.

Ratna duduk di hadapannya. Sebagai seorang ibu, ia tidak merasa perlu mendesak putrinya untuk menjelaskan segala sesuatu. Ia cukup memperhatikan perubahan kecil yang mungkin tidak disadari Imelda sendiri.

“Tidak ada salahnya berteman dengan siapa pun,” kata Ratna. “Ibu hanya ingin kamu tetap mengenal seseorang dengan baik sebelum menyerahkan terlalu banyak kepercayaan kepadanya.”

“Aku tahu, Bu.”

“Menilai orang itu tidak cukup dari bagaimana dia memperlakukan kita ketika semuanya menyenangkan. Perhatikan juga bagaimana dia bersikap ketika menghadapi masalah, ketika keinginannya tidak terpenuhi, atau ketika dia harus memilih antara kejujuran dan keuntungan.”

Imelda memandang ibunya lebih lama. Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuatnya berpikir.

“Surya orangnya baik, Bu. Setidaknya, sejauh yang aku kenal.”

Ratna mengangguk pelan.

“Ibu tidak mengatakan dia tidak baik. Ibu hanya berharap kamu tidak terburu-buru menyimpulkan.”

Imelda tidak membantah. Ia memahami bahwa ibunya tidak sedang melarang, apalagi meremehkan perasaannya. Ratna hanya ingin putrinya tetap menggunakan akal sehat ketika hatinya mulai terlibat.

Dan tanpa disadari Imelda, nasihat itu kelak akan menjadi sesuatu yang terus terngiang ketika kenyataan tidak lagi seindah harapannya.


Surya Pratama sedang duduk di teras rumah ketika Fajar Ramadhan datang menemuinya. Rumah sederhana itu tidak banyak berubah sejak mereka masih sering menghabiskan waktu bersama setelah pulang sekolah. Beberapa bagian dinding mulai kusam, sementara sebuah sepeda motor tua terparkir di samping rumah.

Fajar menjatuhkan diri ke kursi kosong.

“Kamu sekarang sibuk sekali,” katanya.

Surya meliriknya. “Memangnya kenapa?”

“Sulit diajak bertemu. Sekalinya bertemu, kamu sibuk melihat ponsel.”

Surya tertawa pendek. “Ada teman baru.”

“Teman baru atau seseorang yang sedang kamu dekati?”

“Memangnya salah kalau aku mendekati perempuan?”

“Tidak salah.” Fajar mengangkat bahu. “Aku hanya ingin tahu apakah kali ini kamu benar-benar ingin mengenalnya atau sedang mencari sesuatu yang lain.”

Senyum Surya memudar sedikit.

“Kamu selalu berpikir buruk tentang aku.”

“Karena aku mengenalmu cukup lama untuk tahu kapan kamu sedang serius dan kapan kamu sedang menyusun rencana.”

Surya meletakkan ponselnya di meja. Ia tidak menyukai cara Fajar berbicara seolah-olah mampu membaca pikirannya. Namun, di antara orang-orang yang mengenalnya, Fajar memang termasuk sedikit orang yang mengetahui bagaimana Surya memandang kehidupan.

Surya tidak pernah benar-benar puas dengan keadaan keluarganya. Ia tidak membenci orang tuanya, tetapi sejak muda ia merasa kehidupan telah menempatkannya terlalu jauh dari segala sesuatu yang diinginkannya. Ia ingin hidup nyaman, dihormati, memiliki usaha sendiri, dan tidak lagi menghitung uang sebelum mengambil keputusan.

Keinginan itu tidak sepenuhnya salah. Yang menjadi persoalan adalah cara yang bersedia ia tempuh untuk mencapainya.

“Aku hanya ingin memperbaiki hidupku,” jawab Surya akhirnya.

“Kalau begitu, perbaiki hidupmu dengan kemampuanmu sendiri.”

“Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama, Jar.”

“Benar. Tetapi kesempatan juga bukan alasan untuk mempermainkan orang lain.”

Surya menatap sahabatnya dengan rahang mengeras.

“Kamu belum tahu apa-apa tentang hubunganku dengan Imelda.”

“Karena itu aku belum menuduhmu melakukan apa pun.” Fajar berdiri, merapikan bajunya. “Aku hanya mengingatkan. Jangan sampai kamu terlalu sibuk mengejar kehidupan yang kamu inginkan sampai lupa bahwa ada orang lain yang punya perasaan.”

Fajar melangkah pergi sebelum Surya sempat menjawab.

Untuk beberapa saat, Surya tetap duduk di teras. Perkataan sahabatnya mengusik pikirannya, tetapi tidak cukup kuat untuk membuatnya membatalkan niat.

Ia membuka kembali percakapan dengan Imelda.

Perempuan itu menjawab pesannya dengan ramah. Tidak banyak tuntutan, tidak suka memamerkan kekayaan keluarganya, dan tidak pernah membuat Surya merasa rendah karena keadaan ekonominya.

Sifat-sifat itu membuat Imelda semakin menarik di matanya.

Namun, ada satu hal yang lebih kuat daripada ketertarikan tersebut: Surya mengetahui bahwa keluarga Yuliana memiliki kedudukan ekonomi yang mapan. Ia mulai membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka jika hubungan mereka berkembang jauh.

Dalam pikirannya, cinta dan keuntungan tidak harus saling meniadakan. Ia meyakinkan dirinya bahwa selama ia bisa membuat Imelda bahagia, tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Pembenaran itu terasa masuk akal baginya.

Padahal, ia sengaja mengabaikan satu pertanyaan sederhana: apakah Imelda akan tetap memilihnya jika mengetahui alasan sebenarnya ia mendekat?


Beberapa hari kemudian, Surya mengajak Imelda berjalan-jalan setelah menyelesaikan kesibukan masing-masing. Mereka sepakat bertemu di kawasan tepi Sungai Kapuas, tempat orang-orang sering berhenti sejenak untuk menikmati udara sore.

Imelda datang mengenakan pakaian sederhana dengan rambut tergerai melewati bahunya. Ia tidak berusaha tampil berlebihan. Baginya, pertemuan dengan seorang teman tidak perlu menjadi alasan untuk mengubah dirinya menjadi orang lain.

Surya sudah menunggu.

“Kamu sudah lama?” tanya Imelda.

“Tidak terlalu lama.”

Padahal ia datang lebih awal karena ingin memastikan semuanya berjalan sesuai rencananya. Ia memilih tempat yang tenang, memperhatikan posisi duduk, dan memikirkan topik pembicaraan yang bisa membuat Imelda nyaman. Akan tetapi, ketika perempuan itu tiba, sebagian persiapan tersebut justru terasa tidak diperlukan. Percakapan mereka mengalir tanpa banyak kesulitan.

Mereka berjalan perlahan menyusuri kawasan tepi sungai. Di kejauhan, sebuah perahu melintas, meninggalkan riak yang memecah pantulan cahaya matahari.

“Kamu sering ke sini?” tanya Surya.

“Dulu sering. Sekarang tidak terlalu.”

“Kenapa?”

“Kesibukan. Kadang kita baru menyadari tempat yang kita sukai setelah lama tidak mengunjunginya.”

Surya menoleh kepadanya. “Berarti hari ini kita sedang mengembalikan kebiasaan lama?”

“Mungkin.” Imelda tertawa ringan. “Atau sekadar mencari udara segar.”

Mereka berhenti di sebuah tempat untuk duduk. Beberapa orang tampak bercengkerama, sementara pedagang kecil melayani pembeli yang datang silih berganti.

Imelda memperhatikan sungai di hadapannya.

“Aku suka tempat seperti ini,” katanya. “Tidak harus mewah. Yang penting kita bisa duduk, bicara, dan merasa nyaman.”

Surya mengangguk.

“Banyak orang menganggap kebahagiaan harus dibeli dengan uang,” lanjut Imelda. “Padahal, menurutku, ada hal-hal yang tidak bisa dibeli. Misalnya, seseorang yang benar-benar mendengarkan ketika kita sedang ingin bercerita.”

Surya menatapnya. Ia menyadari bahwa Imelda tidak sedang berbicara tentang barang atau fasilitas. Perempuan itu sedang menjelaskan sesuatu yang lebih mendasar mengenai hubungan antarmanusia.

Dan Surya tahu jawaban seperti apa yang akan membuatnya merasa dipahami.

“Aku setuju,” katanya. “Kadang orang terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa menikmati apa yang sudah ada.”

Imelda menoleh, tampak senang karena menemukan pandangan yang sejalan.

“Benar. Aku juga tidak mencari seseorang yang harus selalu menuruti keinginanku. Aku hanya ingin pasangan yang bisa diajak bicara dengan jujur.”

Surya mengangguk lagi.

Kali ini, ia tidak segera menjawab.

Ada sesuatu pada cara Imelda mengungkapkan keinginannya yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Perempuan itu tidak menuntut kekayaan, tidak pula meminta kehidupan yang sempurna. Ia hanya menginginkan kejujuran—sesuatu yang justru sedang Surya tahan darinya.

Namun, kegelisahan itu segera ia singkirkan.

“Kalau dua orang saling memahami, banyak masalah bisa diselesaikan,” katanya.

“Kalau mereka mau terbuka,” Imelda menambahkan.

Surya tersenyum.

“Ya. Kalau mereka mau terbuka.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Bagi Imelda, itu adalah kesepakatan kecil di antara dua orang yang mulai saling mengenal. Bagi Surya, kalimat tersebut adalah pengingat yang sengaja ia dorong jauh ke sudut pikirannya.


Pertemuan sore itu bukan yang terakhir.

Setelahnya, mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama. Kadang mereka hanya berbincang melalui pesan singkat. Pada kesempatan lain, mereka bertemu untuk menikmati makanan ringan atau berjalan-jalan sebentar setelah menyelesaikan urusan masing-masing.

Kedekatan itu tidak tumbuh dalam satu malam. Ia terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan menjadi bagian dari hari mereka.

Surya mulai mengetahui bahwa Imelda tidak suka dipaksa mengambil keputusan. Ia lebih senang diajak berdiskusi dan diberi kesempatan untuk mempertimbangkan sesuatu. Ia juga mengetahui bahwa Imelda sangat menghargai orang-orang yang bekerja keras, terutama mereka yang tidak malu mengakui keterbatasan.

Informasi itu membuat Surya semakin pandai menyesuaikan diri.

Ketika Imelda bercerita tentang suatu persoalan, ia berusaha mendengarkan tanpa memotong pembicaraan. Ketika perempuan itu sedang sibuk, ia tidak mendesak untuk segera bertemu. Ketika Imelda mengungkapkan pendapat yang berbeda, Surya tidak langsung membantah.

Sebagian sikap tersebut sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja yang sungguh-sungguh ingin mengenal orang lain. Namun, pada Surya, kebaikan itu bercampur dengan perhitungan. Ia mengamati apa yang membuat Imelda nyaman, lalu menjadikan pengamatan tersebut sebagai cara untuk memperoleh tempat yang semakin dekat di hatinya.

Imelda tidak mengetahui proses itu.

Ia hanya melihat seorang laki-laki yang tampak memahami dirinya tanpa harus diminta berkali-kali.

Suatu sore, ketika mereka kembali bertemu, Imelda menceritakan rencananya untuk mengunjungi salah seorang kerabat yang sedang membutuhkan bantuan.

“Aku mungkin tidak bisa bertemu beberapa hari,” katanya. “Ada urusan keluarga yang harus kuselesaikan.”

Surya sebenarnya ingin mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap jadwal perempuan itu. Ia ingin tahu apakah Imelda akan merasa kehilangan ketika mereka tidak bertemu.

Namun, ia tidak menunjukkan keinginan tersebut.

“Tidak apa-apa. Selesaikan dulu urusanmu.”

Imelda menatapnya, sedikit terkejut.

“Kamu tidak keberatan?”

“Kenapa harus keberatan? Kamu punya kehidupan sendiri.”

Jawaban itu membuat Imelda tersenyum lega.

“Terima kasih sudah mengerti.”

Surya membalas senyumnya. Ia menyadari bahwa memberikan ruang kepada Imelda justru membuatnya tampak lebih dewasa di mata perempuan itu.

Maka ia membiarkannya pergi tanpa keberatan.

Setelah Imelda menjauh, Surya berdiri beberapa saat di tempat yang sama. Ia merasa puas karena berhasil menunjukkan sikap yang tepat. Namun, di balik kepuasan itu, muncul perasaan aneh yang tidak segera dapat ia jelaskan.

Ia benar-benar menyukai waktu yang mereka habiskan bersama.

Ia menyukai cara Imelda tertawa ketika mendengar cerita sederhana. Ia menyukai ketenangan yang muncul ketika mereka tidak harus membicarakan sesuatu yang penting. Ia bahkan mulai menantikan pesan-pesan perempuan itu, meskipun pada awalnya ia hanya menganggap komunikasi mereka sebagai bagian dari pendekatan yang telah direncanakannya.

Perasaan itu nyata, setidaknya dalam bentuk yang belum pernah ia perhitungkan.

Tetapi ketertarikan bukanlah kejujuran. Dan menikmati kehadiran seseorang tidak otomatis berarti seseorang telah mencintainya dengan tulus.

Surya masih menyimpan tujuan yang tidak diketahui Imelda. Ia belum bersedia melepaskan bayangan tentang kehidupan yang bisa ia raih melalui hubungan tersebut.


Di rumah, Imelda mulai menyadari bahwa nama Surya semakin sering muncul dalam pikirannya.

Ketika menerima pesan darinya, ia merasa senang. Ketika melewati tempat yang pernah mereka kunjungi, ia teringat percakapan mereka. Bahkan ketika sedang melakukan pekerjaan sehari-hari, sesekali ia memikirkan hal-hal kecil yang ingin diceritakannya kepada Surya.

Perasaan itu tumbuh tanpa banyak suara.

Imelda tidak langsung menyebutnya cinta. Ia tahu bahwa kedekatan membutuhkan waktu, dan ia tidak ingin terburu-buru memberi nama pada sesuatu yang masih berkembang.

Namun, ia tidak dapat menyangkal bahwa Surya telah menjadi seseorang yang kehadirannya ia nantikan.

Malam itu, Nadia Permatasari datang berkunjung. Mereka duduk di ruang keluarga sambil berbincang tentang pekerjaan, keluarga, dan berbagai hal yang biasanya mereka ceritakan satu sama lain.

Di tengah percakapan, Nadia mengangkat topik yang sejak beberapa waktu terakhir menarik perhatiannya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Surya?”

Imelda tersenyum.

“Baik. Kami semakin mengenal satu sama lain.”

“Dan kamu merasa nyaman?”

“Ya.”

Nadia memperhatikan wajah sahabatnya. Ia mengenal Imelda cukup lama untuk memahami perbedaan antara senyum basa-basi dan senyum yang muncul karena perasaan sungguhan.

“Aku senang kalau kamu menemukan orang yang membuatmu bahagia,” katanya. “Tapi aku ingin kamu tetap menjadi dirimu sendiri.”

Imelda mengernyit kecil.

“Maksudmu?”

“Jangan sampai karena menyukai seseorang, kamu berhenti mempertanyakan hal-hal yang memang perlu kamu ketahui. Orang yang baik bukan hanya orang yang bisa membuatmu tersenyum. Dia juga harus bisa membuatmu merasa aman untuk menjadi dirimu sendiri.”

Imelda terdiam sebentar, kemudian mengangguk.

“Aku mengerti. Aku tidak ingin menjalani hubungan yang membuatku kehilangan diriku sendiri.”

“Bagus. Aku tidak bermaksud mencurigai Surya. Aku hanya ingin kamu tidak menutup mata terhadap apa pun.”

Imelda meraih tangan Nadia dan menggenggamnya.

“Aku tahu kamu peduli.”

Percakapan itu tidak mengurangi perasaan Imelda kepada Surya. Sebaliknya, nasihat Nadia membuatnya bertekad untuk menjalani kedekatan mereka dengan tenang. Ia ingin mengenal Surya bukan hanya dari kata-katanya, tetapi juga dari waktu dan tindakannya.

Ia percaya bahwa seseorang harus diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya.

Sayangnya, kesempatan itu juga dapat dimanfaatkan oleh orang yang pandai menyembunyikan sesuatu.


Beberapa hari kemudian, Surya menerima kabar bahwa Imelda memiliki rencana untuk menghadiri sebuah acara bersama keluarganya. Informasi itu ia dapatkan secara wajar dari percakapan mereka. Imelda menceritakannya tanpa maksud apa pun selain berbagi cerita tentang kegiatannya.

Surya mendengarkan dengan saksama.

Di satu sisi, ia ingin menjadi bagian dari kehidupan Imelda yang lebih luas. Ia ingin dikenal oleh keluarganya, mendapatkan kepercayaan mereka, dan membuktikan bahwa dirinya layak berada di dekat perempuan itu.

Namun, di sisi lain, ia memahami bahwa mendekati keluarga Imelda berarti memasuki lingkungan yang selama ini hanya dapat ia pandangi dari luar.

Ia membayangkan peluang usaha, jaringan pergaulan, serta kemudahan yang mungkin muncul jika orang-orang di sekitar Imelda menerima dirinya.

Pikiran itu membuatnya bersemangat.

Ia tidak pernah menganggap dirinya sedang melakukan sesuatu yang benar-benar kejam. Dalam pandangannya, ia hanya memanfaatkan kesempatan yang datang. Ia akan tetap bersikap baik kepada Imelda, tetap menemaninya, dan tetap membuatnya bahagia. Baginya, selama semua itu dilakukan, tidak ada alasan untuk mempertanyakan tujuan yang disimpannya.

Surya tidak menyadari bahwa ia sedang membangun sebuah hubungan dengan dua wajah: satu wajah yang ditunjukkannya kepada Imelda, dan satu lagi yang hanya ia kenal sendiri.

Ketika ponselnya bergetar, ia segera melihat layar.

Pesan dari Imelda.

Terima kasih untuk waktu kemarin. Aku senang bisa ngobrol banyak denganmu.

Surya membaca pesan itu dua kali.

Ia tersenyum, lalu mengetik balasan. Untuk sesaat, ia ingin mengatakan bahwa dirinya juga bahagia. Bukan karena kalimat itu akan membuat Imelda semakin percaya, melainkan karena ia memang merasa demikian.

Namun, ia kembali mengingat semua hal yang ingin dicapainya.

Ia mengirimkan pesan singkat yang hangat, kemudian meletakkan ponselnya.

Di luar, malam perlahan menyelimuti Kuala Kapuas. Suara kendaraan terdengar sesekali dari jalan, sementara kehidupan terus berjalan tanpa mengetahui apa yang sedang tumbuh di antara dua hati yang mulai saling mendekat.

Imelda sedang belajar mempercayai seseorang.

Surya sedang belajar bagaimana mempertahankan kepercayaan itu.

Perbedaannya terletak pada alasan mereka.

Bagi Imelda, kepercayaan adalah dasar untuk membangun cinta. Bagi Surya, kepercayaan telah menjadi pintu yang dapat membawanya menuju kehidupan yang selama ini ia inginkan.

Namun, semakin lama ia berada di dekat Imelda, semakin sulit baginya memisahkan perhitungan dari perasaan. Ia mulai menyukai perempuan itu lebih dari yang pernah direncanakannya, tetapi belum cukup berani untuk memilih kejujuran.

Dan selama ia tetap memilih menyembunyikan kebenaran, perasaan apa pun yang tumbuh di antara mereka akan berdiri di atas dasar yang rapuh.

Di tepian Sungai Kapuas, waktu terus bergerak. Air mengalir membawa bayangan langit, sementara dua manusia perlahan memasuki kisah yang sama dengan harapan berbeda.

Imelda melihat kemungkinan sebuah cinta.

Surya melihat kesempatan yang semakin terbuka.

Mereka belum mengetahui bahwa kelak, ketika semua rahasia terungkap, tempat-tempat yang kini menyimpan kenangan indah justru akan menjadi saksi betapa menyakitkannya sebuah kebohongan.

Untuk saat ini, keduanya masih berjalan beriringan.

Dan cinta yang mulai tumbuh itu belum menyadari bahwa di dalam dirinya telah tertanam benih perpisahan.

 

BAB IV

JANJI DI KP3

Sore itu, langit Kuala Kapuas tampak cerah setelah hujan singkat mengguyur kota menjelang siang. Aspal di beberapa ruas jalan masih menyisakan kilau air, sementara angin dari arah Sungai Kapuas membawa udara yang terasa lebih sejuk daripada biasanya.

Imelda Yuliana berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan rambut sebelum mengambil tas kecil di atas meja. Ia sudah berjanji akan bertemu Surya Pratama di kawasan KP3, tempat yang belakangan mulai sering mereka bicarakan.

Bukan pertama kalinya mereka menghabiskan waktu bersama. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Surya mengatakan ingin berbicara tentang hubungan mereka, tentang apa yang sebenarnya mereka rasakan, dan ke mana kedekatan itu akan dibawa.

Imelda berusaha bersikap biasa saja, tetapi pikirannya terus kembali pada kalimat tersebut.

Ia bukan perempuan yang mudah menyerahkan hati hanya karena seseorang menunjukkan perhatian. Ada proses panjang sebelum ia benar-benar merasa nyaman. Akan tetapi, bersama Surya, proses itu seolah berjalan tanpa ia sadari. Percakapan mereka semakin terbuka, kebersamaan mereka semakin akrab, dan perlahan ia mulai mengizinkan laki-laki itu menempati ruang yang sebelumnya hanya ia sediakan bagi orang-orang terdekat.

Ketukan terdengar di pintu kamar.

“Mel, kamu mau pergi?” tanya Ratna dari luar.

“Iya, Bu. Mau bertemu Surya.”

Ratna membuka pintu setelah mendapat jawaban. Ia memperhatikan putrinya yang tampak sedikit lebih sibuk daripada biasanya.

“Sudah lama kalian berteman?”

Imelda tersenyum. “Belum terlalu lama. Tapi kami sudah cukup sering berbicara.”

“Dan sekarang dia ingin membicarakan hubungan kalian?”

Imelda mengangguk pelan.

Ratna tidak langsung menanggapi. Ia duduk di tepi tempat tidur, memberi kesempatan kepada putrinya untuk bercerita tanpa merasa sedang diperiksa.

“Kamu menyukainya?” tanyanya kemudian.

Imelda menunduk sesaat. Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak mudah dijawab dengan cepat.

“Iya, Bu. Sepertinya aku mulai menyukainya.”

“Kalau begitu, nikmati perasaan itu dengan baik. Tidak perlu takut untuk menyayangi seseorang. Tetapi jangan pula merasa harus mengabaikan pertimbanganmu hanya karena kamu sudah terlanjur menyukainya.”

“Aku akan tetap hati-hati.”

Ratna mengusap bahu putrinya.

“Ibu tidak bisa menentukan siapa yang harus kamu cintai. Ibu hanya berharap orang yang kamu pilih kelak menghargai kepercayaanmu, bukan sekadar menikmati apa yang bisa dia dapatkan darimu.”

Imelda terdiam. Nasihat itu mengingatkannya pada percakapan mereka beberapa hari sebelumnya. Ia memahami maksud ibunya, meskipun dalam hatinya belum muncul alasan untuk meragukan Surya.

“Doakan saja, Bu.”

“Pasti.”

Ratna berdiri dan membiarkan putrinya melanjutkan persiapan. Ia tidak ingin kekhawatirannya berubah menjadi prasangka. Baginya, seorang anak harus diberi ruang untuk mengenal kehidupan, termasuk kemungkinan mengalami kekecewaan. Tugas orang tua bukan menghapus semua risiko, melainkan memastikan bahwa anaknya tahu ke mana harus pulang ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.


Di tempat lain, Surya sedang menghadapi pertanyaan yang berbeda.

Fajar Ramadhan duduk di kursi plastik di depan rumahnya, sementara Surya berdiri dekat sepeda motor yang baru saja ia bersihkan. Mereka telah berteman sejak lama. Fajar mengetahui ambisi Surya, termasuk kebiasaannya membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang-orang yang dianggapnya lebih berhasil.

“Jadi, kamu mau bertemu Imelda di KP3?” tanya Fajar.

Surya mengangguk. “Ada yang ingin kubicarakan dengannya.”

“Hubungan kalian sudah sampai tahap itu?”

“Entahlah. Aku hanya ingin tahu apakah dia juga memikirkan hal yang sama denganku.”

Fajar memperhatikan wajah sahabatnya.

“Kalau kamu memang menyukainya, katakan dengan jujur. Jangan membuat janji hanya karena kamu takut kehilangan kesempatan.”

Surya menghela napas.

“Kamu selalu menganggap aku punya maksud tersembunyi.”

“Karena aku tahu kamu punya keinginan besar untuk mengubah hidupmu. Itu bukan kesalahan. Aku justru ingin kamu berhasil.” Fajar berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Tetapi jangan sampai kamu mengukur keberhasilan dari seberapa jauh kamu bisa masuk ke kehidupan orang lain.”

Surya mengalihkan pandangan.

“Tidak semua hal sesederhana yang kamu pikirkan.”

“Mungkin. Tapi soal perasaan, satu hal tetap sederhana: jangan mengatakan sesuatu yang tidak kamu maksudkan.”

Kalimat itu membuat Surya terdiam lebih lama daripada sebelumnya.

Ia memang ingin mendekat kepada Imelda. Ia juga menikmati perhatian yang diberikan perempuan itu. Namun, keinginannya untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan memperoleh kehidupan yang lebih mapan belum pernah benar-benar surut. Ia masih membayangkan bagaimana hubungan tersebut dapat membuka jalan menuju lingkungan yang selama ini ingin dimasukinya.

“Sudahlah, Jar. Aku tahu apa yang kulakukan.”

Fajar mengangguk, tetapi raut wajahnya tidak menunjukkan keyakinan.

“Semoga kamu benar-benar tahu.”

Surya mengambil kunci sepeda motornya. Ia tidak ingin percakapan itu berlanjut. Menurutnya, Fajar terlalu sering melihat persoalan dari sudut pandang moral tanpa memahami tekanan yang ia rasakan.

Namun, jauh di dalam pikirannya, Surya mengetahui bahwa sahabatnya tidak sepenuhnya keliru.

Ia hanya belum siap menerima bahwa keinginan yang selama ini dianggapnya sebagai jalan menuju keberhasilan mungkin akan membawanya pada sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang: kehilangan kepercayaan seseorang yang tulus menyayanginya.


Kawasan KP3 mulai ramai ketika Imelda tiba. Sejumlah pengunjung menikmati waktu sore, beberapa orang bercakap-cakap bersama keluarga, dan pedagang melayani pembeli yang singgah setelah beraktivitas seharian.

Bagi masyarakat Kuala Kapuas, tempat seperti itu bukan hanya ruang untuk menikmati pemandangan sungai. Ia juga menjadi tempat bertemu, berbagi cerita, dan menghabiskan waktu tanpa harus merencanakan sesuatu yang istimewa.

Imelda menemukan Surya tidak jauh dari area tempat mereka biasa duduk.

“Kamu sudah lama menunggu?” tanyanya.

“Baru sebentar.”

Surya menyambutnya dengan senyum. Ia telah memikirkan bagaimana memulai pembicaraan, tetapi ketika Imelda berdiri di hadapannya, semua kalimat yang disusunnya terasa terlalu kaku.

Mereka berjalan sebentar sebelum memilih tempat untuk duduk. Dari sana, Sungai Kapuas terlihat membentang di hadapan mereka. Perahu yang melintas meninggalkan gelombang kecil, sementara cahaya sore mulai berubah keemasan.

“Tempat ini selalu ramai menjelang sore,” kata Imelda.

“Ya. Mungkin karena orang-orang ingin mencari suasana yang berbeda setelah seharian sibuk.”

“Kadang kita memang hanya perlu berhenti sebentar.”

Surya menoleh. “Kamu sering mengatakan hal seperti itu.”

“Seperti apa?”

“Bahwa hidup tidak harus selalu dikejar. Kadang kita perlu menikmati apa yang ada.”

Imelda tertawa kecil. “Memangnya salah?”

“Tidak. Aku justru sedang belajar memahami itu.”

Jawaban Surya terdengar tulus. Untuk sesaat, ia sendiri tidak yakin apakah ia sedang memainkan peran atau mengungkapkan sesuatu yang sungguh-sungguh ia rasakan.

Ia memang lelah terus-menerus merasa tertinggal dari orang lain. Di dekat Imelda, ia menemukan ketenangan yang tidak biasa ia rasakan ketika sedang memikirkan uang dan masa depan. Namun, ketenangan itu belum cukup untuk mengubah cara pandangnya tentang keuntungan.

Mereka berbincang tentang pekerjaan, keluarga, dan cita-cita. Imelda bercerita tentang harapannya untuk memiliki kehidupan yang tidak hanya nyaman, tetapi juga berarti bagi orang-orang di sekitarnya.

“Aku tidak ingin hidup hanya untuk mengumpulkan sesuatu,” katanya. “Kalau nanti aku sudah punya keluarga sendiri, aku ingin rumah menjadi tempat yang membuat semua orang merasa aman. Tidak harus selalu mewah, tetapi harus ada kejujuran dan rasa saling menghargai.”

Surya mendengarkan.

“Kalau kamu sendiri?” Imelda bertanya.

Surya tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu membawanya pada gambaran kehidupan yang selama ini ia inginkan: usaha yang berkembang, keadaan ekonomi yang lebih baik, kebebasan mengambil keputusan tanpa dibatasi uang, dan pengakuan dari orang-orang di sekitarnya.

“Aku ingin berhasil,” katanya akhirnya. “Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa membangun kehidupan yang lebih baik daripada keadaan sekarang.”

“Itu keinginan yang wajar.”

“Aku juga ingin punya seseorang yang bisa berjalan bersamaku ketika aku sedang berusaha mencapai semuanya.”

Imelda menatapnya. Kalimat itu menyentuh bagian dalam dirinya yang selama ini menginginkan hubungan yang saling mendukung.

“Menurutku, pasangan bukan hanya orang yang datang ketika semuanya sudah berhasil,” katanya. “Dia juga orang yang bersedia menemani ketika keadaan belum baik.”

Surya mengangguk.

Dalam hati, ia memahami bahwa Imelda tidak menuntut dirinya menjadi orang kaya. Justru itulah yang membuat perempuan itu terasa berbeda dari gambaran yang pernah ia bentuk tentang orang-orang dari keluarga berada.

Tetapi pemahaman itu juga menempatkannya di persimpangan yang tidak ingin ia hadapi. Ia dapat membangun hubungan dengan jujur, menerima keadaan dirinya, dan membiarkan masa depan berkembang melalui usahanya sendiri. Atau ia dapat terus menyembunyikan maksudnya, berharap bahwa kedekatan dengan Imelda akan mempercepat pencapaian yang diinginkannya.

Untuk saat ini, Surya memilih jalan kedua tanpa mengakui sepenuhnya kepada dirinya sendiri bahwa pilihan itu akan membawa akibat.


Ketika percakapan mereka mulai melambat, Surya menatap Imelda dengan lebih serius.

“Mel, ada sesuatu yang ingin kusampaikan.”

Imelda memperbaiki posisi duduknya. “Apa?”

“Aku senang mengenalmu. Awalnya kita hanya bertemu secara kebetulan, lalu mulai sering berbicara. Sekarang, aku merasa kehadiranmu sudah menjadi bagian penting dalam hari-hariku.”

Imelda menahan napas sejenak. Ia tidak menyangka Surya akan berbicara seterbuka itu.

“Aku juga senang mengenalmu,” jawabnya.

Surya melanjutkan, “Aku tidak ingin hubungan kita hanya berhenti sebagai dua orang yang sesekali bertemu. Aku ingin kita menjalani hubungan yang lebih serius, kalau kamu juga menginginkannya.”

Angin sungai berembus melewati mereka. Imelda menunduk, berusaha menata perasaannya. Ia telah memikirkan kemungkinan ini, tetapi mendengar Surya mengatakannya secara langsung tetap membuat dadanya terasa berdebar.

“Aku ingin mengenalmu lebih jauh,” katanya. “Aku tidak ingin terburu-buru menjanjikan sesuatu yang belum benar-benar kita pahami.”

Surya mengangguk. Ia telah memperkirakan jawaban semacam itu.

“Aku mengerti. Aku tidak meminta kita menyelesaikan semuanya hari ini. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku serius mendekatimu.”

Imelda memandangnya.

“Kalau begitu, ada satu hal yang perlu kamu pahami.”

“Apa itu?”

“Aku tidak mengharapkan seseorang yang sempurna. Aku tahu setiap orang punya kekurangan, termasuk aku. Tetapi aku tidak bisa menerima kebohongan yang disengaja. Kalau suatu saat ada masalah, aku lebih memilih mendengar kenyataan yang pahit daripada mempercayai sesuatu yang ternyata tidak benar.”

Surya merasakan dadanya mengencang.

Ia tidak menduga pembicaraan itu akan sampai pada persoalan kejujuran dengan begitu langsung. Di hadapannya, Imelda tidak sedang menguji atau menuduhnya. Perempuan itu hanya menjelaskan batas yang dianggapnya penting sebelum hubungan mereka berkembang lebih jauh.

Surya mempunyai kesempatan untuk berhenti sejenak, mengakui bahwa dirinya belum sepenuhnya terbuka, dan membangun kedekatan tanpa menyembunyikan tujuan.

Namun, kesempatan itu berlalu ketika ia memutuskan untuk menjawab sesuai dengan gambaran laki-laki yang ingin dilihat Imelda.

“Aku setuju,” katanya. “Kalau kita ingin membangun hubungan, kita harus saling percaya.”

Imelda mengamati wajahnya, mencoba menangkap kesungguhan dari jawaban tersebut.

“Janji itu mudah diucapkan, Surya. Yang sulit adalah menjaganya.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu, jangan jadikan perasaan sebagai permainan.”

Surya mengangguk. Kemudian, dengan suara lebih pelan, ia berkata, “Aku tidak ingin mempermainkanmu, Mel.”

Kalimat itu keluar tanpa keraguan yang tampak. Imelda menerimanya sebagai ungkapan kesungguhan. Ia tidak mengetahui bahwa ada bagian penting dari maksud Surya yang masih disembunyikan di balik jawaban tersebut.

Bagi Surya, ucapan itu juga tidak sepenuhnya terasa sebagai kebohongan. Ia memang tidak ingin kehilangan Imelda. Ia menyukai perempuan itu, merasa nyaman bersamanya, dan mulai membayangkan masa depan yang melibatkan dirinya.

Masalahnya, ia masih menginginkan sesuatu yang tidak pernah dijanjikan Imelda untuk diberikan: jalan pintas menuju kehidupan yang lebih mapan.


Tidak jauh dari tempat mereka duduk, seorang pedagang minuman memperhatikan pengunjung yang silih berganti datang dan pergi. Di antara mereka, sepasang anak muda yang sedang berbicara serius tidak menarik perhatian khusus siapa pun. Mereka hanyalah dua orang yang sedang mencoba memahami perasaan masing-masing.

Imelda mengeluarkan ponselnya ketika sebuah pesan masuk dari Nadia.

Bagaimana pertemuannya?

Imelda tersenyum lalu membalas singkat.

Kami sedang bicara.

Nadia segera menjawab.

Jangan lupa makan. Dan jangan pulang terlalu malam.

Imelda tertawa kecil ketika membaca pesan itu.

“Dari Nadia?” tanya Surya.

“Iya. Dia selalu ingin memastikan aku baik-baik saja.”

“Bagus kalau kamu punya sahabat seperti itu.”

“Dia memang begitu. Kadang terlalu banyak bertanya, tetapi aku tahu dia peduli.”

Surya tersenyum. Ia tidak merasa terganggu oleh kehadiran Nadia, tetapi ia menyadari bahwa sahabat Imelda tersebut adalah orang yang cukup dekat untuk memengaruhi keputusan perempuan itu.

Ia pun memahami bahwa mendapatkan kepercayaan Imelda tidak cukup dilakukan melalui pertemuan-pertemuan mereka. Ia juga perlu menunjukkan sikap yang dapat diterima oleh lingkungan terdekatnya.

Pikiran itu kembali mengingatkannya pada tujuan awal.

Namun, sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh, Imelda menyimpan ponselnya dan kembali menatap sungai.

“Surya, menurutmu, apa yang membuat dua orang bisa bertahan lama dalam sebuah hubungan?”

Surya mengangkat wajah.

“Kepercayaan, mungkin. Dan kemauan untuk saling mendukung.”

“Menurutku juga begitu. Bukan berarti mereka tidak akan pernah bertengkar. Tetapi ketika ada masalah, keduanya harus mau mencari jalan keluar, bukan malah menyembunyikan sesuatu.”

Surya mengangguk.

Ia merasa seolah-olah setiap jawaban Imelda semakin memperjelas sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan. Perempuan itu tidak sedang mencari kemewahan. Ia mencari seseorang yang bersedia hadir dengan jujur, bahkan ketika kenyataan tidak selalu menguntungkan.

Dan Surya belum sepenuhnya menjadi orang seperti itu.


Menjelang malam, mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuan. Lampu-lampu di sekitar kawasan mulai menyala, sementara suasana tepi sungai berubah menjadi lebih tenang.

Sebelum berpisah, Surya berdiri menghadap Imelda.

“Terima kasih sudah mau datang.”

“Terima kasih juga sudah mengajakku.”

“Aku berharap kita bisa terus berjalan bersama.”

Imelda tersenyum, tetapi kali ini ia tidak langsung menjawab.

“Aku juga berharap kita bisa saling mengenal dengan lebih baik. Pelan-pelan saja, Surya. Aku ingin apa yang kita bangun benar-benar kuat.”

Surya mengulurkan tangannya. Imelda menyambutnya dengan lembut.

Tidak ada cincin, tidak ada saksi khusus, dan tidak ada upacara yang menandai hubungan mereka. Hanya dua orang yang berdiri di tepi sungai, saling memandang, dan mencoba mempercayai apa yang baru saja mereka ucapkan.

Namun, bagi Imelda, pertemuan itu telah meninggalkan kesan yang mendalam. Ia pulang dengan keyakinan bahwa dirinya sedang membuka pintu menuju hubungan yang lebih serius.

Bagi Surya, pertemuan tersebut juga terasa penting. Ia telah berhasil membawa hubungan mereka ke tahap berikutnya. Kepercayaan Imelda semakin besar, dan ia merasa semakin dekat dengan kehidupan yang selama ini dibayangkannya.

Tetapi ada perbedaan yang tidak terlihat oleh mata.

Imelda menganggap janji sebagai tanggung jawab yang harus dijaga.

Surya menganggap janji sebagai ikatan yang akan membantunya mempertahankan kedekatan mereka.


Dalam perjalanan pulang, Imelda memikirkan kembali percakapan di KP3. Ia tidak merasa telah membuat keputusan yang terlalu cepat. Ia hanya bersedia memberi kesempatan kepada seseorang yang menurutnya layak dikenal lebih jauh.

Sesampainya di rumah, Ratna menyambutnya dengan pertanyaan sederhana.

“Bagaimana pertemuannya?”

Imelda meletakkan tasnya.

“Baik, Bu. Kami bicara banyak.”

Ratna memperhatikan wajah putrinya yang tampak lebih tenang daripada ketika berangkat.

“Apakah kalian sudah membicarakan hubungan kalian?”

Imelda mengangguk. “Surya ingin hubungan kami lebih serius. Aku bilang kami harus saling mengenal lebih jauh dan menjaga kejujuran.”

Ratna tersenyum tipis.

“Itu jawaban yang baik. Perasaan boleh tumbuh, tetapi keputusan tetap harus kamu pikirkan dengan jernih.”

“Aku tahu, Bu.”

Malam itu, Imelda beristirahat dengan perasaan hangat. Ia tidak menyadari bahwa beberapa kalimat yang diucapkan di tepi sungai akan menjadi kenangan yang kelak sulit ia hadapi kembali.

Sementara itu, Surya duduk sendirian di kamarnya. Ia membuka percakapan dengan Imelda dan membaca pesan terakhir perempuan itu yang mengucapkan terima kasih atas pertemuan mereka.

Ia tersenyum.

Kemudian, untuk pertama kalinya sejak mendekati Imelda, ia merasakan sesuatu yang menyerupai rasa bersalah. Bukan karena ia telah melakukan kesalahan yang terbongkar, melainkan karena ia mengetahui bahwa perempuan itu mempercayainya berdasarkan gambaran yang belum sepenuhnya benar.

Surya meletakkan ponselnya.

Ia masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki niatnya. Ia bisa berhenti menjadikan latar belakang keluarga Imelda sebagai pertimbangan utama dan membiarkan hubungan mereka tumbuh atas dasar yang lebih jujur.

Tetapi perubahan menuntut keberanian untuk melepaskan keuntungan yang telah dibayangkan.

Dan Surya belum memiliki keberanian itu.


Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, Fajar kembali menemui Surya. Kali ini, ia tidak datang untuk berdebat. Ia hanya ingin mengetahui apakah sahabatnya benar-benar menyadari arti hubungan yang sedang dijalaninya.

“Jadi, bagaimana dengan Imelda?” tanyanya.

“Kami sepakat untuk menjalani hubungan ini dengan lebih serius.”

Fajar terdiam sebentar.

“Kamu sudah mengatakan semuanya kepadanya?”

Surya tahu apa yang dimaksud sahabatnya.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan sekarang.”

“Surya, justru hal-hal yang kamu anggap tidak perlu itu bisa menjadi persoalan besar nanti.”

Surya menatapnya tajam.

“Aku tidak ingin membahas ini lagi.”

Fajar menarik napas panjang. Ia mengenal Surya terlalu lama untuk memaksanya menerima nasihat yang tidak ingin didengarnya.

“Baik. Aku tidak akan memaksamu. Tetapi ingat satu hal: semakin besar kepercayaan seseorang kepadamu, semakin besar pula tanggung jawabmu untuk tidak menyalahgunakannya.”

Surya tidak menjawab.

Setelah Fajar pergi, ia kembali memikirkan Imelda. Ia mengingat senyum perempuan itu ketika mereka berpisah di KP3, juga kesungguhannya saat berbicara tentang kejujuran.

Surya tahu bahwa ia sedang berjalan di atas batas yang berbahaya.

Di satu sisi, ia mulai merasakan kedekatan yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Di sisi lain, ia masih memelihara ambisi yang sejak awal membawanya kepada Imelda.

Ia belum memilih untuk berubah.

Dan selama ia terus menunda pilihan itu, janji yang diucapkannya di tepi Sungai Kapuas akan menyimpan dua arti yang bertolak belakang.

Bagi Imelda, janji itu adalah awal dari sebuah kepercayaan.

Bagi Surya, janji itu adalah sesuatu yang harus dipertahankan, meskipun ia belum bersedia memberikan seluruh kebenaran.

Di KP3, sungai tetap mengalir seperti biasa. Tidak ada yang berubah pada permukaan airnya. Tidak ada yang tahu bahwa dua orang baru saja menautkan harapan mereka pada janji yang sama.

Namun, waktu akan menguji apa yang tidak dapat diuji oleh kata-kata.

Dan ketika ujian itu datang, Imelda akan mengetahui bahwa janji yang paling menyakitkan bukanlah janji yang gagal ditepati karena keadaan, melainkan janji yang sejak awal diucapkan tanpa keberanian untuk mengatakan seluruh kebenaran.

 

BAB V

DI HADAPAN KELUARGA YULIANA

Undangan makan malam itu datang pada hari Kamis, ketika Imelda sedang duduk di ruang keluarga bersama ibunya. Hendra Yuliana baru saja pulang dari kantor dan meletakkan tas kerjanya di atas meja sebelum bergabung dengan mereka.

“Mel,” katanya sambil membuka kancing lengan kemeja, “kamu pernah bercerita tentang temanmu yang bernama Surya, bukan?”

Imelda mengangkat wajah.

“Iya, Yah. Kenapa?”

“Kalau dia tidak keberatan, ajaklah makan malam di rumah akhir pekan ini.”

Imelda sempat terdiam. Ia tidak menyangka ayahnya akan mengusulkan hal tersebut lebih dahulu.

“Bapak ingin bertemu dengannya?”

“Tentu. Kalau seseorang mulai sering menghabiskan waktu bersama anak saya, rasanya wajar kalau saya ingin mengenalnya.”

Hendra menyampaikan kalimat itu dengan nada tenang. Tidak ada kesan hendak menginterogasi atau mencari-cari kesalahan. Namun, Imelda mengenal ayahnya cukup baik untuk memahami bahwa di balik sikap santainya, Hendra selalu memperhatikan orang yang berhubungan dekat dengan keluarganya.

“Surya orangnya baik, Yah,” kata Imelda.

Hendra tersenyum tipis.

“Bagus kalau begitu. Tetapi biarkan Bapak mengenalnya sendiri. Kamu tidak perlu menjelaskan terlalu banyak sebelum kami bertemu.”

Ratna yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka ikut menanggapi.

“Undang saja. Kita makan bersama, berbincang seperti biasa. Tidak perlu membuat suasana seolah-olah dia sedang menghadapi ujian.”

Hendra mengangguk.

“Bapak juga tidak berniat menguji siapa pun. Saya hanya ingin mengetahui bagaimana dia membawa dirinya ketika berada di lingkungan yang berbeda.”

Imelda merasakan kelegaan. Ia tidak ingin pertemuan tersebut menjadi beban bagi Surya. Ia ingin keluarganya mengenal laki-laki itu sebagaimana dirinya mengenalnya selama beberapa waktu terakhir.

Malam itu, setelah mendapatkan persetujuan orang tuanya, Imelda mengirim pesan kepada Surya.

Ayah dan Ibu ingin mengajakmu makan malam di rumah pada hari Sabtu. Kalau kamu tidak ada kesibukan, datanglah.

Pesan itu dibaca Surya beberapa menit kemudian.

Balasannya segera muncul.

Tentu. Terima kasih sudah mengundangku. Aku akan datang.

Imelda tersenyum membaca jawaban tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa undangan sederhana itu segera mengubah arah pikiran Surya. Baginya, pertemuan tersebut bukan lagi sekadar kesempatan untuk mengenal keluarga perempuan yang disukainya. Itu adalah kesempatan untuk memasuki lingkaran yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.

Dan ia tidak berniat menyia-nyiakannya.


Keesokan harinya, Surya bertemu Fajar di sebuah warung makan sederhana. Mereka duduk berhadapan, sementara pemilik warung sibuk melayani beberapa pelanggan.

“Aku diundang makan malam di rumah Imelda,” kata Surya setelah pesanan mereka datang.

Fajar mengangkat wajah.

“Keluarganya yang mengundang?”

“Ya. Ayahnya ingin mengenalku.”

“Itu berarti hubungan kalian mulai dianggap serius.”

Surya mengangguk. Ada kepuasan yang sulit disembunyikannya.

“Aku harus memberikan kesan yang baik.”

“Berikan kesan yang sesuai dengan dirimu.”

Surya meletakkan sendok.

“Kenapa kamu selalu menyisipkan peringatan setiap kali aku bercerita?”

“Karena aku tahu kamu bisa terlalu sibuk memikirkan hasil sampai lupa memikirkan caranya.”

Surya tertawa hambar.

“Aku hanya ingin mereka melihat bahwa aku bisa menjadi pasangan yang baik untuk Imelda.”

“Kalau itu memang tujuanmu, tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.”

Fajar menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Dengarkan aku, Surya. Orang tua biasanya tidak mengharapkan calon pasangan anaknya menjadi orang paling kaya di ruangan itu. Mereka ingin tahu apakah anaknya akan dihargai, apakah orang itu bertanggung jawab, dan apakah perkataannya bisa dipercaya.”

Surya tidak segera menanggapi.

Ia tahu Fajar berbicara berdasarkan akal sehat. Namun, dalam pikirannya, penerimaan keluarga Yuliana dapat berarti lebih dari sekadar restu. Jika Hendra dan Ratna mempercayainya, hubungan dengan Imelda akan semakin kuat. Kedekatan itu bisa membuka kesempatan yang tidak mudah ia peroleh melalui jalannya sendiri.

“Aku mengerti,” jawabnya akhirnya.

Fajar menatapnya beberapa saat.

“Semoga kamu benar-benar mengerti, bukan hanya tahu jawaban apa yang seharusnya diberikan.”

Surya memilih mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin menghabiskan waktu dengan nasihat yang menurutnya terlalu jauh mencampuri urusannya.

Akan tetapi, ketika pulang, ia tetap memikirkan kata-kata Fajar. Ia mulai menyusun hal-hal yang akan diceritakannya kepada Hendra, memilih bagian hidup yang akan ditonjolkan, dan menentukan jawaban yang dianggapnya paling tepat jika ditanya mengenai pekerjaan maupun masa depan.

Ia tidak berniat mengarang seluruh kehidupannya. Ia hanya memilih untuk memperlihatkan bagian yang menguntungkan dirinya.

Dalam pikirannya, semua orang melakukan hal yang sama ketika ingin diterima.

Ia tidak menyadari bahwa ada perbedaan mendasar antara menjaga sopan santun dan sengaja membentuk gambaran yang tidak utuh tentang diri sendiri.


Sabtu sore, rumah keluarga Yuliana telah dipersiapkan untuk menerima tamu. Ratna memastikan hidangan tersaji dengan baik, sementara Imelda beberapa kali melihat jam dinding.

“Kalau kamu terus melihat jam, waktu tidak akan berjalan lebih cepat,” kata Ratna sambil tersenyum.

Imelda tertawa kecil.

“Aku hanya memastikan semuanya siap, Bu.”

“Yang datang Surya, bukan rombongan pejabat.”

“Ibu ini.”

Ratna menggeleng geli. Ia melihat putrinya sedang berusaha bersikap biasa, tetapi ada kegembiraan yang tidak dapat disembunyikan. Ratna tidak ingin mematahkan perasaan itu. Ia hanya berharap Imelda tidak membiarkan kegembiraan membuatnya mengabaikan hal-hal yang patut diperhatikan.

Beberapa saat kemudian, suara kendaraan terdengar di depan rumah.

Imelda bergegas menuju pintu, tetapi ia menahan langkah sebelum membukanya. Ia tidak ingin terlihat terlalu bersemangat.

Surya berdiri di teras dengan pakaian rapi dan sebuah bingkisan sederhana di tangannya.

“Selamat sore,” sapanya.

“Sore. Silakan masuk.”

Surya menyerahkan bingkisan tersebut kepada Imelda.

“Ini sedikit buah tangan. Tidak seberapa, tetapi semoga berkenan.”

Ratna yang menyambut mereka tersenyum ramah.

“Terima kasih, Surya. Tidak perlu repot-repot membawa apa pun. Kehadiranmu saja sudah cukup.”

“Saya hanya ingin menghormati keluarga, Bu.”

Jawaban itu terdengar sopan. Ratna mempersilakannya duduk, kemudian memperkenalkannya kepada Hendra yang baru keluar dari ruang kerja.

“Jadi, kamu Surya?” tanya Hendra sambil mengulurkan tangan.

“Betul, Pak. Saya Surya Pratama.”

Mereka berjabat tangan.

Hendra mempersilakan Surya duduk di ruang keluarga. Percakapan awal berlangsung ringan, mulai dari perjalanan menuju rumah hingga keadaan kota pada sore itu. Ratna sesekali ikut menanggapi, sementara Imelda duduk di samping ibunya, berusaha tidak terlalu sering memperhatikan Surya.

Bagi keluarga Yuliana, pertemuan itu adalah kesempatan untuk mengenal seseorang yang mulai berarti bagi Imelda.

Bagi Surya, setiap percakapan menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya pantas diterima.


Makan malam berlangsung dalam suasana yang cukup santai. Ratna beberapa kali menawarkan tambahan lauk, sedangkan Hendra lebih banyak mendengarkan sebelum mengajukan pertanyaan.

“Sekarang kamu bekerja di bidang apa, Surya?” tanya Hendra.

Surya meletakkan gelasnya.

“Saya sedang menjalani beberapa pekerjaan, Pak. Penghasilan saya belum selalu tetap, tetapi saya berusaha mencari peluang agar keadaan saya bisa lebih baik.”

Hendra mengangguk. Ia tidak langsung menunjukkan penilaian.

“Pekerjaan yang tidak tetap memang menuntut kita lebih pandai mengatur keuangan. Apakah kamu sudah punya rencana jangka panjang?”

“Saya ingin membangun usaha sendiri suatu hari nanti. Saya sedang mempelajari beberapa kemungkinan, meskipun belum semuanya bisa saya jalankan.”

Jawaban itu mengandung bagian yang benar. Surya memang ingin memiliki usaha dan memperbaiki keadaan ekonominya. Namun, ia tidak menceritakan betapa besar harapannya untuk memperoleh dukungan dari lingkungan keluarga Yuliana.

Hendra memperhatikan cara Surya menjawab. Ia tidak mencari jawaban yang terdengar sempurna. Baginya, seseorang yang mengakui keterbatasan tetapi memiliki kemauan bekerja jauh lebih meyakinkan daripada seseorang yang mengumbar keberhasilan tanpa dasar.

“Keinginan membangun usaha itu baik,” kata Hendra. “Tetapi usaha bukan hanya soal modal. Harus ada perhitungan, ketekunan, dan kesediaan menghadapi kegagalan. Jangan sampai karena ingin cepat berhasil, kita mengambil keputusan yang belum sanggup kita tanggung.”

Surya mengangguk dengan serius.

“Betul, Pak. Saya juga sedang belajar soal itu.”

Ratna kemudian bertanya tentang keluarga Surya. Percakapan beralih pada kehidupan sehari-hari, orang tua, dan bagaimana Surya menjalani masa-masa ketika penghasilannya belum mencukupi semua keinginannya.

Untuk beberapa saat, Surya merasa tidak nyaman. Ia terbiasa menutupi rasa rendah diri ketika berada di hadapan orang yang lebih mapan. Ia mengira pertanyaan tentang keluarganya akan membuatnya terlihat kurang berhasil.

Namun, Hendra dan Ratna tidak memperlakukannya dengan merendahkan. Mereka mendengarkan tanpa menyela dan tidak membandingkan kehidupannya dengan kehidupan keluarga mereka.

Pengalaman itu justru membuat Surya menyadari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pertimbangkan.

Ia ingin diterima oleh keluarga Yuliana karena menganggap mereka memiliki banyak hal yang dapat menguntungkannya. Akan tetapi, malam itu ia melihat bahwa penerimaan yang sesungguhnya tidak selalu harus diperoleh melalui penampilan atau kekayaan. Ada bentuk penghargaan yang muncul hanya karena seseorang berbicara dengan sopan dan bersedia menunjukkan dirinya.

Pemahaman tersebut sempat membuatnya merasa bersalah.

Tetapi perasaan itu tidak bertahan lama. Ketika Hendra mulai membicarakan rencana usaha dan hubungan dengan sejumlah rekan bisnis, pikiran Surya kembali tertuju pada peluang yang mungkin terbuka.

Ia mendengarkan lebih saksama.


Setelah makan malam, Ratna mengajak Imelda membereskan beberapa piring ke dapur. Surya tetap duduk bersama Hendra di ruang keluarga.

“Kamu dan Imelda sudah cukup dekat?” tanya Hendra.

Surya mengangguk.

“Kami sedang saling mengenal lebih jauh, Pak.”

“Bagaimana kamu melihat hubungan kalian?”

Surya telah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan semacam itu. Namun, ketika berhadapan langsung dengan ayah Imelda, ia merasa perlu mengukur setiap kata.

“Saya menghargai Imelda, Pak. Dia orang yang menyenangkan dan punya pandangan yang jelas tentang kehidupan. Saya ingin hubungan kami berkembang dengan baik.”

Hendra mengamati wajahnya.

“Bapak tidak akan menentukan siapa yang harus dipilih Imelda. Itu keputusan yang akan dia jalani sendiri. Tetapi saya sebagai ayah tentu punya tanggung jawab untuk mengingatkan.”

Surya duduk lebih tegak.

“Silakan, Pak.”

“Jangan menjanjikan sesuatu hanya untuk membuat seseorang merasa senang. Kalau kamu belum sanggup memberikan sesuatu, katakan belum sanggup. Kalau ada persoalan, bicarakan. Dalam hubungan, kejujuran sering kali lebih penting daripada kemampuan memenuhi semua keinginan.”

Surya merasakan kembali ketegangan yang muncul ketika Imelda membicarakan hal serupa di KP3.

Ia menatap Hendra, lalu mengangguk.

“Saya mengerti, Pak.”

“Bagus. Bapak tidak menuntut kamu menjadi orang yang sempurna. Setiap orang sedang berusaha memperbaiki hidupnya. Yang penting, kamu bertanggung jawab atas pilihanmu dan tidak memperlakukan perasaan Imelda sebagai sesuatu yang bisa dimainkan.”

Hendra menyampaikan kalimat itu tanpa meninggikan suara. Tidak ada ancaman atau sikap menggurui. Justru ketenangannya membuat pesan tersebut terasa lebih kuat.

Surya tidak memiliki alasan untuk membantah. Ia pun tidak ingin menimbulkan kesan buruk di hadapan orang yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan Imelda.

“Saya akan berusaha menjaga hubungan kami dengan baik, Pak.”

Hendra mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan kepada hal-hal yang lebih ringan. Ia tidak berniat memojokkan Surya. Pertemuan pertama seharusnya menjadi awal untuk saling mengenal, bukan tempat untuk memutuskan seluruh penilaian.

Namun, bagi Surya, nasihat Hendra meninggalkan kegelisahan yang sulit diabaikan. Ia merasa seolah-olah kedua orang tua Imelda telah menyentuh persoalan yang selama ini berusaha ia simpan jauh dari pandangan orang lain.


Sementara itu, di dapur, Ratna memperhatikan Imelda yang sedang menyusun piring ke rak.

“Bagaimana menurutmu, Bu?” tanya Imelda setelah beberapa saat.

“Menurut Ibu, dia cukup sopan. Dia juga bisa menjawab pertanyaan dengan baik.”

Imelda tersenyum lega.

“Berarti Ibu tidak keberatan kalau aku terus mengenalnya?”

Ratna berhenti sejenak sebelum menjawab.

“Ibu tidak melihat alasan untuk melarangmu. Tetapi satu kali makan malam belum cukup untuk mengenal seseorang sepenuhnya.”

Imelda mengangguk.

“Aku tahu.”

Ratna menatap putrinya dengan lembut.

“Jangan menganggap orang harus punya banyak uang supaya layak menjadi pasanganmu. Tetapi jangan pula menganggap seseorang pasti tulus hanya karena dia tidak punya banyak uang. Keadaan ekonomi bukan ukuran tunggal untuk menilai watak seseorang.”

Imelda memandang ibunya. Ia memahami bahwa Ratna sedang berusaha menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan kewaspadaan.

“Ibu benar. Aku juga tidak ingin menilai Surya dari latar belakangnya.”

“Bagus. Nilailah dari bagaimana dia memperlakukan orang lain, bagaimana dia menghadapi kesulitan, dan apakah perkataannya sesuai dengan tindakannya.”

Imelda menyimpan nasihat itu dalam hati. Ia tidak merasa ibunya sedang meragukan Surya. Justru ia menghargai bahwa Ratna tidak langsung menerima ataupun menolak seseorang hanya berdasarkan kesan pertama.

Ketika mereka kembali ke ruang keluarga, Surya dan Hendra sedang membicarakan keadaan ekonomi dan tantangan membangun usaha. Suasana tampak akrab. Imelda merasa lega melihat Surya dapat berbincang dengan ayahnya tanpa ketegangan yang berarti.

Namun, Ratna masih menyimpan satu hal dalam pikirannya.

Surya pandai membawa diri. Ia tahu kapan harus mendengarkan dan kapan memberikan jawaban. Semua itu bisa menjadi tanda kedewasaan, tetapi juga bisa sekadar kemampuan bersosialisasi.

Ratna tidak ingin mencurigai tanpa alasan. Ia memilih mengamati lebih jauh.


Malam semakin larut ketika Surya berpamitan. Hendra mengantarnya sampai ke teras, sementara Ratna mengucapkan terima kasih karena ia telah datang.

“Terima kasih atas jamuannya, Pak, Bu,” kata Surya. “Saya senang bisa bertemu langsung dengan keluarga.”

“Sama-sama,” jawab Hendra. “Kalau ada waktu, silakan berkunjung lagi.”

Surya menyalami Hendra dan Ratna, lalu menoleh kepada Imelda.

“Terima kasih, Mel.”

“Sama-sama. Hati-hati di jalan.”

Surya mengangguk dan berjalan menuju sepeda motornya.

Ketika suara kendaraan itu semakin jauh, Imelda kembali masuk ke rumah dengan perasaan lega. Ia merasa pertemuan tersebut berjalan lebih baik daripada yang dibayangkannya.

“Ayah tidak keberatan, kan?” tanyanya.

Hendra duduk kembali di ruang keluarga.

“Bapak tidak punya keberatan berdasarkan pertemuan malam ini.”

Imelda menunggu kelanjutan kalimat itu.

“Tetapi Bapak juga belum bisa mengatakan bahwa Bapak sudah mengenalnya sepenuhnya. Itu membutuhkan waktu.”

“Menurut Ayah, bagaimana orangnya?”

Hendra berpikir sejenak.

“Dia sopan dan memiliki keinginan untuk memperbaiki kehidupannya. Itu hal yang baik. Bapak hanya ingin melihat apakah dia benar-benar menjalankan apa yang dikatakannya.”

Imelda mengangguk. Ia tidak mengharapkan ayahnya langsung memberikan restu penuh. Baginya, pertemuan tersebut sudah menjadi langkah yang berarti.

Ratna duduk di sebelah Hendra.

“Yang terpenting, kita memberi kesempatan kepada Imelda untuk mengenal dan mengambil keputusan sendiri.”

Hendra menyetujui perkataan istrinya.

“Benar. Kita tidak perlu mendahului waktu.”

Percakapan mereka berakhir tanpa kesimpulan yang berlebihan. Tidak ada seorang pun di rumah itu yang mengetahui seluruh isi hati Surya. Mereka hanya memiliki kesan awal, dan kesan itu masih bisa berubah seiring waktu.


Di perjalanan pulang, Surya berhenti sebentar di tepi jalan untuk membeli minuman. Ia duduk di atas sepeda motornya sambil memikirkan pertemuan malam itu.

Ia berhasil melewati percakapan dengan Hendra tanpa kesulitan berarti. Ratna bersikap ramah, sedangkan Imelda tampak senang melihat keluarganya menerima kehadirannya.

Semua berjalan sesuai harapan.

Namun, ada satu bagian dari pertemuan itu yang terus teringat: cara Hendra berbicara tentang kejujuran dan tanggung jawab.

Surya menyadari bahwa keluarga Yuliana bukan hanya memiliki kekayaan. Mereka juga memiliki aturan tidak tertulis mengenai bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan orang lain. Jika ia ingin terus berada di dekat Imelda, ia harus mampu menjaga kepercayaan yang mulai diberikan kepadanya.

Pikiran itu seharusnya menjadi alasan untuk memperbaiki niatnya.

Sebaliknya, Surya justru mulai memikirkan cara agar tidak melakukan kesalahan yang bisa membuat keluarga tersebut meragukannya.

Ia meyakinkan dirinya bahwa ia masih bisa memperbaiki keadaan ekonomi, membangun hubungan dengan Imelda, dan memperoleh kehidupan yang diinginkannya tanpa harus mengungkapkan semua yang ada dalam pikirannya.

Ia tidak melihat bahwa setiap langkah untuk mempertahankan gambaran palsu itu akan membuatnya semakin sulit keluar dari kebohongannya sendiri.


Keesokan harinya, Fajar datang menemui Surya setelah mendengar bahwa pertemuan dengan keluarga Imelda telah berlangsung.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Baik. Ayahnya cukup terbuka. Kami banyak berbicara tentang pekerjaan dan masa depan.”

“Apakah dia tahu keadaanmu yang sebenarnya?”

Surya menoleh.

“Keadaan yang sebenarnya bagaimana?”

“Keadaanmu, keinginanmu, dan alasan kamu mendekati Imelda sejak awal.”

Wajah Surya berubah.

“Tidak semua hal harus diceritakan kepada orang yang baru dikenal.”

“Benar. Tidak semua hal harus diceritakan sekaligus. Tetapi kalau sesuatu itu berkaitan langsung dengan alasan kamu menjalin hubungan, orang yang kamu dekati berhak mengetahuinya.”

Surya menghela napas panjang.

“Kamu tidak berada di posisiku, Jar. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya ingin mengubah kehidupan, tetapi merasa jalan yang tersedia begitu sempit.”

Fajar tidak segera menjawab. Kali ini, ia tidak ingin meremehkan kesulitan sahabatnya.

“Aku tahu kamu ingin hidup lebih baik,” katanya kemudian. “Aku juga tahu keadaanmu tidak selalu mudah. Tetapi kalau kamu menjadikan Imelda sebagai jalan keluar, kamu sedang menempatkan dia dalam persoalan yang tidak pernah dia setujui.”

Surya menunduk.

“Bagaimana kalau pada akhirnya aku benar-benar mencintainya?”

“Kalau begitu, kamu harus mulai berani bersikap jujur kepadanya.”

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Untuk pertama kalinya, Surya tidak langsung membantah. Ia memikirkan kemungkinan bahwa perasaannya kepada Imelda akan berkembang semakin dalam. Ia juga membayangkan kemungkinan bahwa suatu hari perempuan itu mengetahui alasan yang membawanya mendekat.

Kedua bayangan tersebut membuatnya gelisah.

Namun, ia belum sanggup melepaskan keuntungan yang telah dibayangkannya.

“Aku akan memikirkan semuanya,” katanya.

Fajar tidak mendesak lebih jauh. Ia tahu bahwa keputusan untuk berubah tidak bisa dipaksakan dari luar. Surya harus memilihnya sendiri, meskipun pilihan yang salah dapat membawa akibat yang menyakitkan.


Beberapa hari berikutnya, hubungan Surya dan Imelda berjalan semakin akrab. Pertemuan di rumah keluarga Yuliana membuat Imelda merasa bahwa hubungan mereka tidak lagi berada di luar kehidupan keluarga. Surya pun semakin sering bertukar kabar dengannya, meskipun belum semua persoalan mereka dibicarakan secara terbuka.

Suatu malam, Imelda bertanya melalui pesan apakah Surya merasa nyaman ketika bertemu orang tuanya.

Surya membalas bahwa ia senang karena diterima dengan baik.

Imelda tersenyum membaca jawaban itu.

Ia tidak mengetahui bahwa di balik rasa senang tersebut, Surya sedang memikirkan hal yang jauh lebih rumit daripada sekadar penerimaan keluarga. Ia mulai memahami bahwa semakin dekat dirinya dengan Imelda, semakin besar pula tanggung jawab yang harus ia tanggung terhadap kepercayaan yang diberikan.

Sementara itu, Hendra tidak lagi membicarakan Surya setiap hari. Ia membiarkan hubungan putrinya berkembang tanpa tekanan. Namun, ia tetap memperhatikan bagaimana Imelda mengambil keputusan, bagaimana Surya bersikap ketika berkunjung, dan apakah ada perubahan yang patut menjadi perhatian.

Ratna juga memilih untuk tidak mengganggu kebahagiaan putrinya. Ia hanya sesekali mengingatkan Imelda agar tidak mengabaikan pekerjaan, keluarga, dan kehidupan pribadinya demi seseorang yang sedang disukainya.

Nadia tetap menjadi tempat Imelda bercerita. Ketika mendengar bahwa Surya telah bertemu Hendra dan Ratna, Nadia ikut merasa lega, tetapi ia tidak serta-merta menyimpulkan bahwa semua persoalan telah selesai.

“Bagus kalau pertemuannya berjalan baik,” kata Nadia ketika mereka berbincang pada suatu sore. “Sekarang, lihat bagaimana hubungan kalian berkembang setelah ini.”

Imelda tersenyum.

“Kamu memang tidak pernah mau langsung menyimpulkan sesuatu.”

“Karena aku sahabatmu, bukan peramal.”

Keduanya tertawa. Suasana menjadi ringan, tetapi pesan Nadia tetap jelas: penerimaan keluarga adalah awal, bukan jaminan bahwa seseorang telah sepenuhnya dikenal.

Imelda memahami maksudnya. Ia tidak ingin kehilangan kewaspadaan, tetapi ia juga tidak ingin menjalani hubungan dengan terus-menerus mencurigai orang yang disayanginya.

Ia memilih memberi waktu kepada Surya untuk menunjukkan siapa dirinya.

Dan waktu, tanpa mereka sadari, sedang bergerak menuju ujian yang lebih besar.


Pada malam yang sama, Surya berdiri di depan jendela kamarnya. Ia memikirkan Imelda, keluarganya, dan kemungkinan-kemungkinan yang kini terasa semakin dekat.

Ia telah diterima untuk duduk di meja makan keluarga Yuliana. Ia telah berbicara dengan Hendra tentang masa depan. Ia juga telah melihat sendiri bahwa Ratna memperlakukan dirinya dengan hormat meskipun mengetahui keadaan ekonominya belum mapan.

Semua itu seharusnya membuatnya merasa cukup.

Namun, ambisi yang dipeliharanya sejak lama belum juga mereda.

Ia masih ingin lebih. Ia ingin memiliki kehidupan yang tidak lagi membuatnya merasa tertinggal. Ia ingin dihormati tanpa harus terus membuktikan dirinya. Dan ia mulai melihat hubungan dengan Imelda sebagai salah satu jalan untuk mendekati semua itu.

Di sisi lain, ia mulai memahami bahwa Imelda bukan sekadar seseorang yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Perempuan itu memiliki pandangan hidup, harga diri, dan kepercayaan yang diberikan dengan sungguh-sungguh.

Kesadaran itu membuatnya terbelah.

Ada bagian dalam dirinya yang ingin terus mendekat karena ia menikmati kebersamaan mereka. Ada bagian lain yang terus menghitung kemungkinan keuntungan dan merasa takut kehilangan kesempatan.

Surya belum memilih untuk melepaskan salah satunya.

Ia justru mencoba mempertahankan keduanya, seolah-olah perasaan dan kepentingan dapat berjalan beriringan tanpa menimbulkan kerusakan.

Di rumah keluarga Yuliana, Imelda mulai membayangkan bahwa Surya mungkin akan menjadi bagian penting dari masa depannya. Hendra dan Ratna membuka ruang bagi laki-laki itu untuk dikenal lebih jauh. Nadia tetap menjaga sahabatnya agar tidak kehilangan pertimbangan, sedangkan Fajar terus mengingatkan Surya bahwa sebuah hubungan bukan tempat untuk menyembunyikan niat.

Masing-masing telah mengambil perannya.

Tidak ada yang mengetahui seluruh kebenaran, tetapi setiap orang sedang bergerak menuju titik ketika kebenaran itu tidak lagi dapat disembunyikan.

Dan bagi Surya, tantangan berikutnya bukan lagi bagaimana membuat keluarga Yuliana menerimanya.

Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mempertahankan kepercayaan yang telah ia peroleh tanpa berani memberikan seluruh kejujuran yang menjadi dasarnya.

 

BAB VI

HARGA SEBUAH KEPURA-PURAAN

Pagi itu, Surya Pratama menerima sebuah panggilan yang sempat membuatnya lupa pada pekerjaan yang sedang ia lakukan.

Nomor yang muncul di layar ponselnya adalah milik seseorang yang beberapa waktu lalu pernah menawarkan peluang kerja sama. Mereka pernah berbicara mengenai rencana usaha kecil yang membutuhkan modal, jaringan pemasaran, dan kesanggupan mengelola risiko. Saat itu, Surya belum mempunyai cukup keberanian untuk mengambil keputusan. Ia juga belum memiliki sumber daya yang dibutuhkan.

Kini, orang itu menghubunginya kembali.

“Bagaimana, Surya? Kamu masih tertarik dengan rencana yang kita bicarakan dulu?” suara di seberang terdengar lugas.

Surya berdiri dari kursinya dan berjalan ke teras agar bisa mendengar dengan lebih jelas.

“Masih, Pak. Saya masih memikirkannya.”

“Kalau memang serius, kita perlu membicarakan langkah berikutnya. Saya tidak bisa terus menunggu tanpa kepastian.”

Surya terdiam.

Ia tahu bahwa peluang tersebut tidak akan terbuka selamanya. Jika ia mampu ikut menjalankannya, ada kemungkinan keadaan ekonominya membaik. Namun, ia belum mempunyai modal yang cukup, sedangkan orang yang menghubunginya mengharapkan kepastian dalam waktu dekat.

“Saya akan mencoba mencari jalan, Pak,” jawabnya.

“Baik. Tetapi pastikan kamu menghitung semuanya dengan matang. Jangan sampai hanya karena ingin memulai, kamu mengambil risiko yang tidak sanggup kamu tanggung.”

Panggilan berakhir.

Surya memandangi layar ponselnya. Ia kembali merasakan kegelisahan yang sudah lama dikenalnya: keinginan untuk bergerak maju berhadapan dengan keterbatasan yang belum berhasil ia atasi.

Selama ini, ia menganggap dirinya sedang berjuang memperbaiki kehidupan. Ia tidak pernah merasa bahwa keinginannya untuk menjadi lebih berhasil merupakan sesuatu yang keliru. Yang membuatnya gelisah adalah jarak antara kehidupan yang dimiliki sekarang dan kehidupan yang terus dibayangkannya.

Ia ingin mempunyai modal. Ia ingin menjalankan usaha sendiri. Ia ingin bisa membuat keputusan tanpa harus selalu mempertimbangkan apakah uangnya cukup.

Dan sekarang, ketika peluang itu kembali datang, ia tidak ingin membiarkannya berlalu.

Pikirannya kemudian beralih kepada Imelda.

Bukan karena perempuan itu pernah menjanjikan bantuan, melainkan karena Surya mengetahui bahwa keluarganya memiliki kemampuan yang tidak dimilikinya. Hendra mempunyai pengalaman usaha, jaringan pergaulan, dan sumber daya yang selama ini hanya bisa dibayangkan Surya.

Ia mulai memikirkan kemungkinan untuk meminta pendapat Hendra mengenai peluang tersebut.

Pada mulanya, gagasan itu terasa wajar. Meminta saran kepada seseorang yang lebih berpengalaman bukanlah kesalahan. Namun, semakin lama ia memikirkannya, semakin sulit ia membedakan antara keinginan memperoleh nasihat dan harapan untuk mendapatkan keuntungan melalui kedekatannya dengan keluarga Yuliana.

Surya menyandarkan tubuhnya pada tiang teras.

Ia tahu bahwa Imelda tidak pernah menawarkan uang. Ia juga tahu bahwa Hendra belum pernah menjanjikan bantuan apa pun.

Tetapi dalam pikirannya, hubungan yang semakin dekat itu seolah-olah telah membuka pintu yang sebelumnya tertutup.

Ia hanya perlu menemukan cara untuk melangkah masuk.


Siang harinya, Imelda mengajak Surya bertemu setelah menyelesaikan urusannya. Mereka memilih tempat makan sederhana yang tidak terlalu ramai. Imelda datang dengan beberapa cerita tentang kegiatannya, sementara Surya tampak lebih banyak diam daripada biasanya.

“Kamu sedang memikirkan sesuatu?” tanya Imelda setelah memperhatikan perubahan sikapnya.

Surya mengangkat wajah.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Karena dari tadi kamu lebih sering melamun. Biasanya kamu banyak bercerita.”

Surya tersenyum tipis. Ia tidak menyangka bahwa perubahan kecil itu akan segera diperhatikan.

“Sedang ada persoalan pekerjaan.”

“Persoalan yang berat?”

“Tidak juga. Hanya ada peluang yang ingin kucoba, tetapi belum tahu bagaimana menjalankannya.”

Imelda meletakkan sendoknya.

“Kalau kamu mau bercerita, aku bisa mendengarkan.”

Surya memandang perempuan di hadapannya. Ia merasakan dorongan untuk menjelaskan semuanya, tetapi segera menahan diri. Ia belum ingin memperlihatkan betapa besar persoalan keuangan yang sedang dihadapinya. Ia khawatir keterbatasan itu akan mengubah cara Imelda memandangnya.

“Ada rencana usaha yang sedang kupikirkan. Kesempatannya cukup menarik, tetapi aku belum yakin bisa memenuhi kebutuhan awalnya.”

“Kamu sudah menghitung modal dan risikonya?”

Surya sedikit terkejut. Ia mengira Imelda akan langsung memberikan semangat, tetapi perempuan itu justru bertanya tentang perhitungan.

“Belum semuanya.”

“Kalau begitu, jangan buru-buru mengambil keputusan. Peluang yang bagus tetap bisa menjadi masalah kalau kita belum siap.”

Surya mengangguk, berusaha menyembunyikan kekecewaannya yang muncul sesaat.

Imelda melanjutkan, “Aku bukan bermaksud mengecilkan keinginanmu. Aku tahu kamu ingin membangun kehidupan yang lebih baik. Tetapi menurutku, keberanian saja tidak cukup. Kita juga harus tahu apa yang bisa kita tanggung kalau rencana itu tidak berjalan sesuai harapan.”

Surya memandangnya cukup lama.

Ia tidak menemukan sikap merendahkan dalam perkataan Imelda. Perempuan itu sungguh-sungguh berusaha membantunya berpikir jernih.

Akan tetapi, jawaban tersebut tidak memberinya jalan pintas yang diam-diam ia harapkan.

“Terima kasih,” katanya. “Aku akan memikirkannya lagi.”

Imelda tersenyum.

“Aku mendukungmu untuk mencoba sesuatu yang baik. Aku hanya tidak ingin kamu mengambil keputusan karena merasa harus segera berhasil.”

Kalimat itu membuat Surya terdiam.

Ia ingin Imelda melihatnya sebagai laki-laki yang memiliki kemampuan dan masa depan. Ia ingin perempuan itu bangga kepadanya. Namun, ia mulai menyadari bahwa Imelda tidak akan menilai dirinya hanya berdasarkan keberhasilan yang dapat dipamerkan.

Justru itulah yang membuat Surya semakin sulit memahami perasaannya sendiri. Ia merasa dihargai tanpa harus menjadi orang kaya, tetapi pada saat yang sama ia tetap ingin memperoleh keuntungan yang bisa membuatnya merasa lebih unggul.

Ia menyukai ketulusan Imelda, tetapi belum sanggup membalasnya dengan ketulusan yang sama.


Pada sore yang sama, Nadia Permatasari datang ke rumah Imelda untuk mengembalikan sebuah buku yang dipinjamnya. Mereka kemudian duduk di ruang keluarga, berbincang sambil menikmati minuman yang disiapkan Ratna.

“Kamu kelihatan sibuk beberapa hari ini,” kata Nadia.

“Memang ada beberapa urusan.”

“Dengan Surya juga?”

Imelda tertawa kecil.

“Kenapa setiap kali bertemu kamu, pertanyaannya selalu tentang Surya?”

“Karena belakangan ini dia sering muncul dalam ceritamu.”

Imelda tidak membantah. Ia kemudian menceritakan bahwa Surya sedang memikirkan sebuah peluang usaha dan belum yakin bagaimana cara menjalankannya.

Nadia mendengarkan tanpa menyela.

“Dia meminta bantuanmu?” tanyanya setelah Imelda selesai bercerita.

“Tidak. Dia hanya bercerita tentang kesulitannya.”

“Lalu bagaimana tanggapanmu?”

“Aku menyarankan agar dia menghitung semuanya lebih dulu.”

Nadia mengangguk.

“Itu bagus.”

Imelda mengernyit.

“Kamu tidak menganggap aku seharusnya membantunya?”

“Aku tidak tahu apakah dia membutuhkan bantuan atau hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Itu harus dibedakan.” Nadia berhenti sejenak. “Kalau suatu hari dia meminta bantuan, kamu berhak mempertimbangkannya. Tetapi jangan merasa bahwa karena kamu menyayanginya, semua persoalannya otomatis menjadi tanggung jawabmu.”

Imelda menatap sahabatnya.

“Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.”

“Memang belum tentu akan terjadi. Aku hanya ingin kamu punya batas yang jelas.”

Nadia tidak berbicara dengan nada mencurigai Surya. Ia justru berhati-hati agar nasihatnya tidak berubah menjadi tuduhan tanpa dasar. Ia tahu bahwa Imelda sedang membangun hubungan yang berarti baginya. Jika ia terus-menerus menempatkan Surya sebagai orang yang harus dicurigai, Imelda mungkin akan merasa bahwa persahabatan mereka telah berubah menjadi pertentangan.

Karena itu, Nadia memilih berbicara mengenai prinsip, bukan menilai niat seseorang yang belum benar-benar dikenalnya.

“Hubungan yang sehat itu bukan tentang siapa yang bisa memberikan paling banyak,” lanjut Nadia. “Keduanya boleh saling membantu, tetapi tidak boleh ada yang merasa berhak memanfaatkan yang lain.”

Imelda mengangguk perlahan.

“Aku mengerti.”

Nadia tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. Mereka kemudian membicarakan hal-hal lain, mulai dari kegiatan sehari-hari hingga rencana bertemu beberapa teman lama.

Namun, ketika Nadia pulang, kalimatnya masih teringat oleh Imelda.

Bukan karena Imelda mulai mencurigai Surya, melainkan karena ia menyadari bahwa rasa sayang harus tetap berjalan bersama pertimbangan yang sehat.


Sementara itu, Surya mulai mencari jalan untuk menjalankan rencana usahanya.

Ia menghubungi beberapa kenalan, menanyakan kemungkinan mendapatkan tambahan modal, dan mencoba menghitung ulang kebutuhan yang harus dipenuhi. Beberapa orang bersedia mendengarkan, tetapi tidak ada yang langsung memberikan kepastian.

Semakin lama, ia merasa semakin terdesak.

Ketika Fajar datang menemuinya, Surya sedang menulis angka-angka di sebuah buku catatan.

“Apa yang sedang kamu hitung?” tanya Fajar.

“Modal usaha.”

Fajar menarik kursi dan duduk di dekatnya.

“Sudah tahu berapa kebutuhan awalnya?”

“Kurang lebih. Tetapi masih ada beberapa hal yang belum pasti.”

“Kalau begitu, jangan dulu menjanjikan sesuatu kepada orang lain.”

Surya menutup bukunya.

“Aku tahu.”

Fajar memperhatikan wajahnya. “Kamu sudah bercerita kepada Imelda?”

“Sedikit.”

“Sedikit bagaimana?”

“Aku mengatakan bahwa ada peluang usaha yang sedang kupikirkan.”

“Apakah kamu berharap keluarganya membantu?”

Surya tidak langsung menjawab.

Fajar menghela napas. “Surya, meminta pendapat kepada orang yang lebih berpengalaman itu wajar. Bahkan meminta bantuan juga tidak selalu salah. Yang menjadi persoalan adalah kalau kamu mendekati seseorang karena mengharapkan keuntungan, tetapi membiarkannya percaya bahwa kamu datang hanya karena perasaan.”

Surya berdiri dan berjalan menuju jendela.

“Kamu menganggap semuanya buruk. Aku belum meminta uang kepada siapa pun.”

“Benar. Kamu belum melakukannya. Karena itu aku masih mengingatkanmu sebelum semuanya menjadi lebih rumit.”

Surya berbalik.

“Aku juga punya harga diri, Jar. Aku tidak ingin dianggap sebagai laki-laki yang hidup dari kekayaan perempuan.”

“Kalau begitu, jangan menjadikan kekayaan perempuan itu sebagai dasar rencanamu.”

Jawaban Fajar membuat suasana menjadi hening.

Surya ingin membantah, tetapi ia tidak menemukan jawaban yang benar-benar dapat menyangkal perkataan tersebut. Ia memang belum meminta bantuan. Namun, ia sudah memikirkan kemungkinan yang bisa diperoleh melalui hubungan dengan Imelda.

Ia juga tahu bahwa jika Hendra menawarkan bantuan secara sukarela, dirinya mungkin akan menerimanya tanpa banyak pertimbangan.

Persoalannya bukan semata-mata pada uang yang mungkin diterima. Persoalannya terletak pada niat yang tidak pernah ia jelaskan kepada Imelda.

“Aku akan mengurus urusanku sendiri,” katanya akhirnya.

Fajar mengangguk.

“Aku berharap begitu.”

Fajar tidak ingin memutus persahabatan mereka hanya karena perbedaan pandangan. Ia tahu Surya sedang berjuang menghadapi rasa tidak puas terhadap kehidupannya. Namun, ia juga tidak ingin diam ketika melihat sahabatnya mulai mencari pembenaran untuk tindakan yang berpotensi melukai orang lain.

Sebelum pulang, Fajar menepuk bahu Surya.

“Jangan menunggu sampai semuanya terbongkar baru kamu bertanya apakah kamu sudah melangkah terlalu jauh.”

Surya tidak menjawab.

Kali ini, diamnya bukan semata-mata karena kesal. Ada bagian dalam dirinya yang mengetahui bahwa peringatan itu semakin dekat dengan kenyataan.


Beberapa hari kemudian, Imelda mengajak Surya datang ke sebuah acara keluarga kecil. Tidak ada agenda khusus selain berkumpul dan makan bersama. Hendra juga hadir, tetapi sebagian besar waktu dihabiskannya untuk berbincang dengan beberapa kerabat.

Surya datang dengan sikap sopan seperti biasa. Ia membantu memindahkan kursi, menyapa orang-orang yang diperkenalkan kepadanya, dan tidak berusaha mendominasi percakapan.

Sikap itu membuat Imelda merasa nyaman. Ia melihat Surya mampu menempatkan diri tanpa berusaha menjadi pusat perhatian.

Namun, di tengah acara, Surya mendengar Hendra berbicara dengan seorang kerabat tentang rencana pengembangan usaha. Mereka membahas persoalan pengelolaan modal, perhitungan risiko, dan pentingnya memilih rekan kerja yang dapat dipercaya.

Surya berusaha mengikuti percakapan tersebut dari tempatnya duduk. Ia tidak ikut campur, tetapi beberapa kali mengajukan pertanyaan yang masih berkaitan dengan topik.

Hendra menjawab seperlunya, lalu menjelaskan bahwa setiap usaha memiliki perhitungan berbeda.

“Tidak semua peluang harus diambil,” kata Hendra. “Kadang keputusan terbaik justru menunggu sampai kita benar-benar siap.”

Surya mengangguk.

“Berarti kesiapan lebih penting daripada sekadar melihat peluangnya, Pak?”

“Betul. Peluang tidak akan banyak berarti kalau kita tidak memahami kewajiban yang menyertainya.”

Percakapan itu berakhir ketika kerabat Hendra dipanggil oleh anggota keluarga lain.

Surya tetap memikirkan kalimat tersebut. Ia menyadari bahwa Hendra tidak akan mudah memberikan dukungan hanya karena seseorang memiliki hubungan dekat dengan keluarganya. Jika ia ingin mendapatkan kepercayaan, ia harus memperlihatkan bahwa dirinya mampu berpikir secara matang.

Ia pun mulai mempertimbangkan cara untuk memperkenalkan rencana usahanya kepada Hendra pada kesempatan yang lebih tepat.

Ia berusaha meyakinkan diri bahwa langkah tersebut adalah bagian dari upaya memperbaiki kehidupannya. Ia tidak merasa sedang meminta sesuatu yang tidak pantas.

Tetapi di balik alasan itu, ia masih menyimpan harapan bahwa hubungan dengan Imelda dapat mempermudah jalannya.


Malam setelah acara keluarga, Imelda mengantar Surya sampai ke depan rumah.

“Kamu cukup nyaman tadi?” tanyanya.

“Ya. Keluargamu ramah.”

“Ayah memang suka membicarakan usaha. Kalau sudah mulai, kadang pembicaraannya panjang.”

Surya tersenyum.

“Aku justru senang mendengarnya. Banyak hal yang bisa kupelajari.”

Imelda menatapnya dengan bangga.

“Aku senang kalau kamu bisa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dari pertemuan tadi.”

Surya merasa tersentuh oleh ketulusan dalam suara Imelda. Perempuan itu benar-benar ingin melihatnya berkembang. Ia tidak sedang menuntut Surya menjadi kaya atau memberikan sesuatu sebagai balasan atas hubungan mereka.

Untuk sesaat, Surya ingin mengungkapkan semuanya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya sedang menghadapi persoalan keuangan, bahwa ia mempunyai ambisi yang terkadang membuatnya sulit merasa cukup, dan bahwa sejak awal ia telah melihat latar belakang keluarga Imelda sebagai sesuatu yang menguntungkan.

Namun, ia membayangkan apa yang akan terjadi setelah pengakuan itu.

Imelda mungkin akan kecewa. Hubungan mereka mungkin berubah. Keluarga Yuliana mungkin akan menarik kembali penerimaan yang baru mulai tumbuh.

Ketakutan kehilangan semua itu membuatnya mengurungkan niat.

“Terima kasih sudah mengajakku,” katanya.

Imelda tersenyum.

“Kamu tidak perlu berterima kasih untuk hal seperti ini. Aku ingin kamu mengenal keluargaku.”

Surya menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya.

“Aku senang bisa menjadi bagian dari kehidupanmu.”

Kalimat itu membuat Imelda terdiam sesaat. Ia merasakan kehangatan yang sulit dijelaskan. Baginya, Surya sedang menunjukkan kesungguhan untuk melangkah lebih jauh.

Bagi Surya sendiri, kalimat itu mengandung dua perasaan yang saling bertentangan. Ia memang ingin menjadi bagian dari kehidupan Imelda, tetapi ia juga ingin memperoleh sesuatu dari kehidupan yang dimiliki perempuan itu.

Ia tidak mengatakan kebohongan secara langsung. Namun, ia membiarkan Imelda memahami ucapannya sebagai ungkapan cinta yang sepenuhnya tulus.

Dan pembiaran itulah yang perlahan menjadi bentuk kepura-puraan paling berbahaya.


Pada suatu malam, Surya menerima pesan dari orang yang sebelumnya menawarkan peluang usaha. Orang tersebut meminta kepastian apakah Surya akan ikut menjalankan rencana yang telah dibicarakan.

Surya membaca pesan itu berkali-kali.

Ia belum memiliki modal yang cukup. Ia juga belum menemukan jalan yang benar-benar aman untuk memulai. Jika menolak, ia harus menerima kenyataan bahwa kesempatan tersebut mungkin hilang. Jika menerima, ia harus mencari sumber dana yang belum tersedia.

Ia membuka percakapan dengan Imelda, kemudian menutupnya kembali.

Beberapa menit kemudian, ia mencoba menulis pesan kepada Hendra. Ia ingin bertanya apakah Hendra bersedia memberikan saran mengenai usaha yang sedang dipertimbangkannya.

Namun, ia menghapus pesan itu sebelum mengirimkannya.

Ia tidak ingin terlihat seperti orang yang baru saja diterima di lingkungan keluarga lalu segera meminta bantuan. Ia memahami bahwa tindakan semacam itu dapat menimbulkan kesan buruk.

Akhirnya, Surya memilih menghubungi kenalannya yang lain. Ia berusaha mencari jalan melalui kemampuan dan jaringan yang sudah dimilikinya.

Keputusan itu seharusnya menjadi langkah yang baik. Akan tetapi, ia tidak benar-benar melepaskan harapannya terhadap keluarga Yuliana. Ia hanya menunda kemungkinan tersebut sambil mencari cara agar permintaannya kelak tampak lebih wajar.

Surya mulai membangun alasan-alasan yang dapat diterimanya sendiri.

Ia mengatakan kepada dirinya bahwa jika suatu hari ia meminta saran atau bantuan kepada Hendra, hal itu bukan karena ia memanfaatkan Imelda, melainkan karena mereka telah memiliki hubungan yang cukup dekat.

Ia lupa bahwa kedekatan tersebut sejak awal dibangun tanpa kejujuran mengenai seluruh maksudnya.


Sementara itu, Imelda menjalani hari-harinya tanpa mengetahui pergulatan yang terjadi dalam pikiran Surya.

Ia tetap menyelesaikan pekerjaan, menghabiskan waktu bersama keluarga, dan sesekali bertemu Nadia. Hubungannya dengan Surya menjadi salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupannya, tetapi bukan satu-satunya hal yang ia pikirkan.

Pada suatu sore, Nadia mengajaknya duduk bersama setelah mereka menyelesaikan urusan masing-masing.

“Bagaimana hubunganmu sekarang?” tanya Nadia.

“Baik. Surya sedang memikirkan rencana usahanya.”

“Apakah dia sudah mengambil keputusan?”

“Belum. Dia masih menghitung semuanya.”

Nadia mengangguk.

“Semoga dia menemukan jalan yang tepat.”

Imelda tersenyum.

“Aku juga berharap begitu. Aku ingin dia berhasil dengan usahanya sendiri.”

Nadia memperhatikan sahabatnya sebelum berkata, “Mendukung seseorang tidak berarti kita harus menyelesaikan semua persoalannya. Kadang yang paling dibutuhkan seseorang adalah kesempatan untuk bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.”

“Aku setuju.”

Nadia tidak melanjutkan nasihatnya. Ia tidak ingin membuat percakapan itu berubah menjadi pembicaraan yang terus-menerus berpusat pada kemungkinan buruk.

Mereka kemudian berbicara tentang rencana lain dan tertawa ketika mengenang kejadian lucu yang pernah mereka alami.

Namun, bagi Imelda, percakapan itu memperjelas satu hal: ia ingin hubungan yang membuat kedua orang tumbuh, bukan hubungan yang mengharuskan salah satu pihak menjadi penyelamat bagi pihak lainnya.

Ia percaya Surya memiliki kemampuan untuk membangun kehidupannya sendiri.

Ia belum mengetahui bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kemampuan Surya, melainkan juga kejujuran yang menjadi dasar kepercayaan mereka.


Hari-hari berlalu, dan Surya semakin terampil memisahkan apa yang ia tunjukkan kepada Imelda dari apa yang sebenarnya ia pikirkan.

Ketika bersama Imelda, ia berusaha menjadi pendengar yang baik, menunjukkan perhatian, dan memberikan dukungan. Ketika sendirian, ia kembali menghitung peluang, mencari jalan untuk meningkatkan penghasilan, dan membayangkan bagaimana hubungan mereka dapat membawanya lebih dekat pada kehidupan yang diinginkannya.

Kedua sisi itu tidak selalu terasa bertentangan baginya. Ia mulai menganggap bahwa selama ia masih mempunyai perasaan kepada Imelda, keinginannya memperoleh keuntungan tidak harus dipersoalkan.

Padahal, perasaan tidak menghapus tanggung jawab.

Seseorang dapat benar-benar menyukai orang lain sekaligus melakukan sesuatu yang melukai orang tersebut. Seseorang dapat menikmati kebersamaan sekaligus menyembunyikan maksud yang seharusnya diketahui pasangannya.

Surya belum bersedia melihat dirinya melalui cara pandang itu.

Ia lebih memilih percaya bahwa semua akan baik-baik saja selama ia mampu menjaga penampilannya.

Namun, kepura-puraan memiliki harga yang tidak selalu dibayar pada saat kebohongan pertama dilakukan. Kadang, harganya muncul sedikit demi sedikit: dalam kegelisahan ketika ditanya, dalam ketakutan saat harus menjawab, dan dalam jarak yang semakin lebar antara apa yang diketahui seseorang dengan apa yang dipercayai orang lain.

Surya mulai merasakan harga itu, meskipun ia belum mengakuinya.

Ia belum kehilangan Imelda. Ia belum menghadapi tuduhan. Ia bahkan masih diterima oleh keluarga Yuliana.

Tetapi sejak ia memilih mempertahankan gambaran yang tidak utuh tentang dirinya, ia telah kehilangan sesuatu yang tidak dapat dikembalikan hanya dengan kata-kata manis: kebebasan untuk hadir di hadapan orang yang dicintainya tanpa harus terus menjaga rahasia.

Dan semakin lama ia menunda kejujuran, semakin besar pula kemungkinan bahwa suatu hari ia tidak lagi mampu mengendalikan akibat dari pilihannya sendiri.

 

BAB VII

KETIKA KEPERCAYAAN MENJADI SEGALANYA

Pagi itu, Imelda Yuliana menerima telepon dari ibunya ketika sedang bersiap meninggalkan rumah.

Ratna terdengar sedikit terburu-buru. Salah seorang kerabat mereka yang tinggal di luar kota mengalami masalah keluarga dan membutuhkan bantuan untuk mengurus beberapa keperluan. Ratna berencana menemuinya bersama Hendra, tetapi ada pekerjaan yang harus diselesaikan suaminya terlebih dahulu.

“Mel, apakah kamu bisa membantu Ibu menyiapkan beberapa dokumen yang ada di lemari ruang kerja?” tanya Ratna.

“Bisa, Bu. Dokumen yang mana?”

Ratna menjelaskan berkas yang dimaksud. Imelda kemudian membatalkan rencana singkatnya untuk pergi lebih awal dan membantu ibunya mencari dokumen tersebut.

Tidak ada persoalan besar, tetapi pagi itu membuatnya menyadari bahwa beberapa urusan keluarga tidak selalu dapat diperkirakan. Ia harus mengatur kembali jadwalnya, menghubungi orang yang telah membuat janji dengannya, dan memastikan semua kebutuhan ibunya terpenuhi.

Ketika pekerjaannya selesai, Imelda duduk sejenak di ruang keluarga. Ia merasa lelah karena sejak pagi harus berpindah dari satu urusan ke urusan lain.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Surya masuk.

Bagaimana harimu?

Imelda membalas bahwa ia sedang membantu ibunya mengurus beberapa keperluan keluarga. Surya kemudian meneleponnya.

“Kamu terdengar lelah,” kata Surya setelah mendengar suaranya.

“Sedikit. Ada urusan yang harus diselesaikan sejak pagi.”

“Kamu sudah makan?”

Imelda tersenyum tipis.

“Belum sempat.”

“Kalau begitu, jangan lupa makan. Urusan lain bisa dilanjutkan setelah kamu punya tenaga.”

Kalimat itu sederhana, tetapi pada saat itu Imelda merasa diperhatikan. Ia tidak membutuhkan seseorang yang menyelesaikan semua urusannya. Ia hanya ingin ada orang yang menyadari bahwa dirinya juga bisa lelah.

“Terima kasih, Surya.”

“Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya mengingatkan.”

Setelah percakapan berakhir, Imelda menyimpan ponselnya. Ia tidak menganggap perhatian tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. Justru karena terasa wajar, ia mulai percaya bahwa Surya memahami kebutuhannya tanpa harus selalu diberi penjelasan.

Surya sendiri merasa senang ketika mendengar suara Imelda kembali terdengar lebih ringan sebelum mereka mengakhiri panggilan.

Ia menyukai kenyataan bahwa kehadirannya dapat membuat perempuan itu merasa lebih baik. Perasaan tersebut tidak sepenuhnya dibuat-buat. Ia memang mulai peduli pada keadaan Imelda, meskipun kepedulian itu masih bercampur dengan keinginan untuk mempertahankan tempatnya dalam kehidupan perempuan tersebut.

Ia belum memahami bahwa perhatian yang tulus seharusnya tidak digunakan sebagai alasan untuk menutupi ketidakjujuran.


Beberapa hari kemudian, Imelda menghadapi persoalan yang tidak berkaitan dengan Surya. Salah satu rencana kegiatan yang telah disusunnya bersama beberapa orang harus diubah karena terdapat perbedaan jadwal dan kesiapan pihak yang terlibat.

Perubahan itu membuatnya kesulitan membagi waktu. Ia harus menghubungi beberapa orang, menjelaskan keadaan yang sebenarnya, dan mencari alternatif agar kegiatan tersebut tetap dapat berjalan.

Imelda bukan tipe orang yang mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Namun, ia juga tidak selalu mampu menyembunyikan kekecewaannya.

Sore itu, Nadia Permatasari datang menemuinya.

“Kamu belum selesai juga?” tanya Nadia ketika melihat Imelda masih memeriksa catatan.

“Masih ada beberapa hal yang harus disesuaikan.”

Nadia menarik kursi dan duduk di dekatnya.

“Coba kita lihat bersama. Mungkin ada bagian yang bisa disederhanakan.”

Imelda menyerahkan catatannya. Mereka kemudian memeriksa urutan pekerjaan, menghubungi pihak yang perlu diberi kabar, dan membagi beberapa tugas yang masih bisa diselesaikan pada hari itu.

Bantuan Nadia membuat pekerjaan Imelda terasa lebih ringan.

Setelah semuanya cukup terkendali, Nadia menutup catatan tersebut.

“Kamu tidak harus mengerjakan semuanya sendirian, Mel.”

“Aku tahu. Hanya saja, aku merasa bertanggung jawab karena sejak awal ikut menyusun rencana ini.”

“Bertanggung jawab bukan berarti harus menanggung semuanya sendirian. Kadang tanggung jawab justru berarti berani meminta bantuan sebelum keadaan menjadi lebih rumit.”

Imelda tersenyum.

“Sejak kapan kamu jadi seperti orang yang sedang memberi ceramah?”

Nadia tertawa.

“Sejak sahabatku terlalu sibuk sampai lupa istirahat.”

Mereka tertawa bersama. Ketegangan yang sejak tadi memenuhi pikiran Imelda mulai berkurang.

Sebelum pulang, Nadia sempat bertanya tentang Surya.

“Dia tahu kamu sedang menghadapi banyak urusan?”

“Ya. Kami tadi sempat berbicara.”

“Bagus. Kamu boleh berbagi cerita dengannya. Tetapi jangan lupa, kamu juga punya orang-orang lain yang bisa mendukungmu.”

Imelda mengangguk.

Ia memahami bahwa Nadia tidak berusaha mengambil tempat Surya dalam kehidupannya. Nadia hanya ingin memastikan bahwa hubungan yang sedang dibangunnya tidak membuat dirinya menjauh dari orang-orang yang telah lama menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Bagi Imelda, perhatian dari Surya dan persahabatan dengan Nadia memiliki tempat yang berbeda. Ia tidak perlu memilih salah satunya.

Dan karena itulah, ia tidak merasa bahwa kedekatannya dengan Surya harus mengubah seluruh kehidupannya.


Pada malam berikutnya, Surya mengajak Imelda bertemu. Mereka memilih sebuah tempat makan yang tidak terlalu ramai agar bisa berbicara tanpa terganggu suara pengunjung lain.

Surya datang dengan wajah yang lebih cerah daripada beberapa hari sebelumnya. Ia telah memperoleh tanggapan dari salah seorang kenalannya mengenai peluang usaha yang sedang dipertimbangkannya. Belum ada keputusan pasti, tetapi setidaknya ia mulai melihat jalan yang mungkin ditempuh.

Imelda memperhatikan perubahan itu.

“Kamu kelihatan lebih tenang,” katanya.

“Sedikit. Ada beberapa hal yang mulai menemukan titik terang.”

“Syukurlah. Semoga semuanya berjalan baik.”

Surya tersenyum. Ia merasa senang karena Imelda ikut bersukacita meskipun belum mengetahui rincian persoalan yang sedang dihadapinya.

Mereka berbicara cukup lama tentang pekerjaan, rencana masa depan, dan hal-hal sederhana yang mereka alami selama beberapa hari terakhir. Imelda menceritakan persoalan yang sempat membuatnya sibuk, sementara Surya berbagi tentang usahanya mencari peluang yang sesuai dengan kemampuan.

Kali ini, Surya tidak hanya mendengarkan. Ia juga mengajukan beberapa pertanyaan mengenai cara Imelda mengatur waktu dan menghadapi perubahan rencana.

“Kamu selalu berusaha menyelesaikan semuanya dengan tenang,” katanya.

“Tidak selalu. Kadang aku juga panik. Hanya saja, kalau aku ikut panik, masalahnya tidak akan selesai.”

Surya tertawa kecil.

“Sepertinya aku perlu belajar darimu.”

“Boleh saja. Tetapi jangan menjadikan aku tempat belajar semua hal.”

“Kenapa?”

“Karena aku juga masih belajar.”

Jawaban itu membuat mereka tertawa.

Di antara percakapan ringan tersebut, Surya menyadari bahwa Imelda tidak pernah menuntut dirinya untuk selalu tampil sempurna. Perempuan itu bisa menerima bahwa seseorang belum berhasil, belum mengetahui semua jawaban, atau sedang berusaha menemukan jalan.

Surya merasakan kenyamanan yang tidak mudah ia temukan di tempat lain.

Namun, kenyamanan itu justru membuat persoalan dalam dirinya semakin rumit. Ia mulai menyukai hubungan mereka bukan hanya karena kemungkinan yang bisa diperoleh, melainkan juga karena Imelda memberinya ruang untuk menjadi manusia biasa.

Ia ingin mempertahankan perasaan tersebut.

Tetapi ia masih ingin mempertahankan keuntungan yang dibayangkannya sejak awal.

Ia belum memahami bahwa suatu saat, ketika kedua keinginan itu bertabrakan, ia tidak akan dapat menyelamatkan keduanya dengan senyuman.


Dalam perjalanan pulang, Surya menerima telepon dari Fajar Ramadhan.

“Kamu sedang di mana?” tanya Fajar.

“Baru selesai bertemu Imelda.”

“Kalau tidak sibuk, besok kita bertemu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

Surya merasa sedikit heran.

“Ada apa?”

“Tidak enak dibicarakan lewat telepon.”

Surya menyetujuinya, meskipun ia tidak terlalu menyukai nada serius sahabatnya.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat biasa. Fajar datang membawa beberapa catatan mengenai peluang pekerjaan yang pernah mereka bicarakan sebelumnya. Ia ingin menunjukkan kepada Surya bahwa masih ada jalan untuk memperbaiki keadaan ekonomi tanpa menggantungkan harapan pada hubungan dengan Imelda.

“Aku menemukan informasi tentang pekerjaan yang mungkin cocok dengan kemampuanmu,” kata Fajar sambil menyerahkan catatan itu.

Surya memeriksanya.

“Penghasilannya tidak terlalu besar.”

“Memang tidak langsung besar. Tetapi kamu bisa memulai dari sesuatu yang nyata, membangun pengalaman, lalu melihat peluang berikutnya.”

Surya membaca beberapa baris lagi sebelum meletakkan catatan tersebut.

“Aku menghargai usahamu, Jar.”

“Kalau begitu, pertimbangkan dengan serius.”

Surya terdiam. Ia tahu Fajar berusaha membantunya. Namun, kesempatan yang ditawarkan sahabatnya terasa lebih lambat daripada jalan yang selama ini dibayangkannya.

“Aku ingin melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mencari pekerjaan.”

“Tidak ada yang melarangmu punya cita-cita besar. Tetapi kamu perlu membangun dasar yang kuat.”

Surya mengusap wajahnya.

“Kamu tahu apa yang membuatku lelah? Aku sudah lama berusaha, tetapi rasanya selalu berada di tempat yang sama.”

Fajar mendengarkan tanpa memotong.

“Aku ingin sekali merasakan hidup tanpa terus-menerus memikirkan uang. Aku ingin punya sesuatu yang bisa kubanggakan.”

Fajar mengangguk. Untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, ia melihat sisi Surya yang lebih terbuka daripada biasanya.

“Aku mengerti. Aku tidak mengatakan kamu harus puas dengan keadaan sekarang. Aku hanya ingin kamu tidak mengorbankan orang lain demi mempercepat perubahan.”

Surya menunduk.

“Aku tidak pernah berniat menyakiti Imelda.”

“Kalau begitu, jangan lakukan sesuatu yang kamu tahu bisa melukainya.”

Kalimat itu membuat Surya kembali terdiam.

Fajar tidak tahu seberapa jauh sahabatnya telah melangkah dalam pikirannya. Ia juga tidak memiliki bukti bahwa Surya telah meminta atau mengambil keuntungan dari keluarga Yuliana. Karena itu, ia tidak menuduhnya melakukan sesuatu yang belum terjadi.

Ia hanya berusaha mengingatkan bahwa niat yang tidak diluruskan sejak awal dapat berubah menjadi tindakan yang semakin sulit dihentikan.

Sebelum mereka berpisah, Fajar kembali menyodorkan catatan peluang pekerjaan tersebut.

“Pikirkan dulu. Kamu tidak harus mengambil keputusan hari ini.”

Surya menerimanya.

Ia belum berjanji akan mengikuti saran Fajar, tetapi kali ini ia tidak langsung menolak.


Beberapa hari berikutnya, hubungan Imelda dan Surya semakin akrab. Mereka mulai terbiasa berbagi kabar tentang kegiatan masing-masing. Imelda bercerita ketika mengalami kesulitan, sementara Surya sesekali mengungkapkan rasa lelahnya menghadapi keadaan ekonomi.

Keterbukaan itu membuat Imelda merasa bahwa hubungan mereka berkembang ke arah yang baik.

Ia tidak menganggap Surya harus menyelesaikan semua persoalannya dengan cepat. Ia juga tidak merasa perlu mengambil alih urusan laki-laki itu. Baginya, hubungan yang sehat memungkinkan dua orang saling mendukung tanpa kehilangan tanggung jawab atas kehidupan masing-masing.

Suatu malam, Surya bercerita bahwa ia sempat merasa malu ketika melihat beberapa teman sebayanya telah mencapai keberhasilan yang lebih besar.

Imelda mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

“Aku tahu rasanya melihat orang lain sudah sampai di tempat yang kita inginkan,” katanya. “Tetapi kita tidak selalu tahu bagaimana mereka sampai ke sana. Kita juga tidak tahu masalah apa yang mereka hadapi.”

Surya mengangguk.

“Kadang aku merasa tertinggal.”

“Tidak semua orang berjalan dengan kecepatan yang sama, Surya. Yang penting, kamu tahu ke mana kamu ingin pergi dan tetap menjaga cara yang kamu tempuh.”

Surya memandangnya.

“Kalau jalannya panjang?”

“Ya, jalani sedikit demi sedikit.”

“Kalau kesempatan yang lebih cepat datang?”

Imelda tidak langsung menjawab. Ia mencoba memahami maksud pertanyaan itu.

“Kalau memang kesempatan yang baik, tentu boleh dipertimbangkan. Tetapi jangan hanya melihat hasil akhirnya. Kamu juga harus melihat apa yang harus dikorbankan untuk mendapatkannya.”

Surya menunduk.

Jawaban itu terasa sederhana bagi Imelda, tetapi tidak mudah baginya untuk menerimanya. Selama ini, ia selalu mengukur sebuah kesempatan dari seberapa besar perubahan yang dapat dihasilkan. Ia jarang bertanya apakah cara yang ditempuh akan membuatnya kehilangan sesuatu yang tidak dapat diganti.

Imelda melanjutkan, “Aku tidak ingin kamu menyerah pada cita-citamu. Aku hanya ingin kamu berhasil dengan cara yang kelak bisa kamu banggakan.”

Surya mengangguk pelan.

“Terima kasih, Mel.”

Imelda tersenyum.

Ia tidak mengetahui bahwa percakapan itu menyentuh tepat pada bagian yang sedang disembunyikan Surya. Ia tidak sedang menuntut pengakuan. Ia hanya berbicara berdasarkan nilai-nilai yang selama ini ia pegang.

Surya dapat memilih untuk menjadikan kata-kata itu sebagai alasan untuk memperbaiki dirinya.

Namun, ia juga dapat memilih untuk mengabaikannya.

Dan saat itu, ia belum benar-benar menentukan pilihan.


Pada suatu sore, Hendra Yuliana meminta Imelda membantu memeriksa beberapa catatan yang berkaitan dengan urusan keluarga. Mereka duduk di ruang kerja, membandingkan dokumen dan memastikan tidak ada informasi yang terlewat.

Di sela-sela pekerjaan, Hendra bertanya tentang kegiatan Imelda akhir-akhir ini.

“Bagaimana kabar Surya?”

“Baik, Yah. Dia sedang berusaha mengembangkan rencana pekerjaannya.”

“Bagus. Semoga dia menemukan jalan yang sesuai.”

Imelda tersenyum.

“Ayah tidak keberatan kalau aku terus mendukungnya?”

Hendra meletakkan dokumen yang sedang diperiksanya.

“Mendukung seseorang bukan masalah, selama kamu tahu batasnya. Bapak tidak ingin kamu merasa harus bertanggung jawab atas semua keputusan orang lain.”

Imelda mengangguk.

“Aku tidak bermaksud mengambil alih persoalannya, Yah. Aku hanya ingin dia tahu bahwa ada orang yang mendukungnya.”

“Itu baik. Tetapi ingat, orang yang benar-benar ingin membangun kehidupannya juga harus bersedia bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.”

Hendra tidak berbicara dengan prasangka terhadap Surya. Ia hanya ingin Imelda memahami bahwa kasih sayang tidak menghapus kebutuhan untuk memiliki batas.

“Apakah Ayah masih belum yakin kepadanya?” tanya Imelda.

Hendra berpikir sejenak.

“Bapak belum mengenalnya cukup lama untuk memberikan penilaian akhir. Tetapi Bapak juga tidak punya alasan untuk melarangmu mengenalnya lebih jauh.”

Imelda menerima jawaban itu dengan tenang.

Hendra kemudian melanjutkan pekerjaan mereka. Ia tidak ingin pembicaraan tentang Surya menguasai seluruh waktu yang mereka miliki.

Bagi Imelda, sikap ayahnya menunjukkan bahwa ia dipercaya untuk mengambil keputusan sendiri. Ia merasa dihargai sebagai seseorang yang mampu menimbang perasaannya dengan pertimbangan yang matang.

Ia tidak mengetahui bahwa kepercayaan yang diberikan keluarganya itu kelak akan membuatnya semakin sulit menerima kenyataan apabila orang yang dipilihnya ternyata tidak jujur.


Malam itu, Ratna melihat Imelda sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca beberapa pesan di ponselnya.

“Kamu sedang berbicara dengan Surya?” tanyanya.

Imelda mengangguk.

“Dia sedang bercerita tentang rencana pekerjaannya.”

Ratna duduk di kursi sebelah.

“Kalau kamu merasa nyaman berbagi cerita dengannya, itu baik. Hubungan memang membutuhkan keterbukaan.”

Imelda meletakkan ponselnya.

“Menurut Ibu, apakah aku terlalu banyak terlibat dalam kehidupannya?”

Ratna memandang putrinya dengan lembut.

“Apakah kamu merasa kehilangan waktu untuk dirimu sendiri?”

“Tidak. Aku masih bisa mengurus pekerjaanku dan melakukan hal-hal yang biasa kulakukan.”

“Kalau begitu, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum menjadi masalah. Tetaplah memperhatikan bagaimana hubungan itu berjalan.”

Imelda mengangguk.

Ratna tidak ingin menanamkan kecurigaan tanpa dasar. Ia hanya berharap putrinya mampu membedakan antara perhatian dan tanggung jawab, antara mendukung seseorang dan mengambil alih seluruh bebannya.

“Mel,” lanjut Ratna, “orang yang kita sayangi tidak harus selalu kuat. Dia boleh memiliki kesulitan, boleh membutuhkan bantuan, dan boleh belum berhasil. Tetapi dia juga harus menghormati kita dengan bersikap jujur.”

Imelda tersenyum kecil.

“Aku mengerti, Bu.”

Ratna mengusap bahu putrinya sebelum berdiri. Ia percaya Imelda mampu memahami nasihat itu tanpa harus dipaksa melihat dunia sebagai tempat yang penuh kecurigaan.

Setelah ibunya pergi, Imelda kembali membuka ponsel. Ia membaca pesan Surya yang menceritakan perkembangan kecil dalam rencana pekerjaannya.

Ia membalas dengan ucapan semangat.

Bagi Imelda, itulah bentuk dukungan yang wajar. Ia tidak memberikan janji yang berlebihan, tidak menawarkan sesuatu yang belum diminta, dan tidak menganggap dirinya sebagai penyelamat.

Ia hanya ingin Surya tahu bahwa perjuangannya tidak harus dijalani dengan perasaan sendirian.


Sementara Imelda semakin yakin terhadap hubungan mereka, Surya mulai menghadapi persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menjaga sikap.

Salah seorang kenalannya meminta kepastian mengenai sebuah peluang yang sebelumnya telah dibicarakan. Surya harus menentukan apakah akan melanjutkan rencana itu atau mundur sebelum persoalannya berkembang lebih jauh.

Ia memeriksa kembali perhitungan yang dibuatnya. Ada beberapa kebutuhan yang belum dapat ia penuhi. Jika ia tetap memaksakan diri, ia berisiko menghadapi kesulitan yang lebih besar.

Untuk pertama kalinya, ia mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh kemungkinan untuk menunda rencana tersebut.

Namun, keputusan itu terasa seperti kekalahan.

Ia membayangkan bagaimana jika orang lain berhasil mengambil peluang yang sama. Ia juga membayangkan bagaimana jika dirinya terus berada dalam keadaan ekonomi yang tidak berubah, sementara orang-orang di sekitarnya semakin maju.

Pikiran itu membuatnya kembali mencari kemungkinan lain.

Ia membuka percakapan dengan Imelda, lalu berhenti sebelum mengetik. Ia tidak ingin meminta bantuan secara langsung. Namun, ia juga tidak dapat menyangkal bahwa hubungan mereka membuat kemungkinan tersebut terus terlintas dalam pikirannya.

Ia menutup ponsel dan berdiri.

Surya ingin percaya bahwa ia masih dapat mengendalikan keadaan. Ia ingin meyakini bahwa dirinya bisa terus menjaga perasaan Imelda sekaligus mengejar ambisi yang selama ini menguasainya.

Tetapi ada persoalan yang tidak dapat diatasi hanya dengan kecakapan berbicara.

Jika ia terus membiarkan Imelda percaya bahwa dirinya datang dengan niat yang sepenuhnya tulus, sementara ia tetap memelihara tujuan tersembunyi, maka kepercayaan perempuan itu perlahan akan berubah menjadi sesuatu yang ia manfaatkan.

Dan pada saat itu, kebaikan yang diberikan Imelda bukan lagi sekadar bentuk kasih sayang.

Kebaikan itu akan menjadi sesuatu yang diterima Surya tanpa memberikan kejujuran yang sepadan.


Hari-hari berikutnya berjalan tanpa pertengkaran besar. Imelda tetap menyayangi Surya, Nadia tetap menjadi sahabat yang dapat diandalkan, dan keluarga Yuliana tetap memberikan ruang bagi hubungan mereka untuk berkembang.

Fajar pun belum menyerah mengingatkan sahabatnya. Ia masih berharap Surya mampu membedakan antara ambisi yang sehat dan keinginan memperoleh keuntungan melalui kepercayaan orang lain.

Tidak seorang pun berusaha memaksa Surya mengambil keputusan tertentu. Mereka hanya menunjukkan jalan yang menurut mereka lebih baik.

Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tangan Surya sendiri.

Suatu malam, ia membaca kembali percakapan-percakapan dengan Imelda. Ada pesan sederhana yang menanyakan kabarnya, cerita tentang kegiatan sehari-hari, dan ucapan semangat ketika ia menghadapi kesulitan.

Semua itu mengingatkannya bahwa Imelda tidak sedang menuntut sesuatu yang berlebihan.

Perempuan itu memberinya waktu, perhatian, dan kesempatan untuk menjadi bagian dari kehidupannya.

Surya merasakan kehangatan ketika membaca pesan-pesan tersebut. Ia juga merasakan kegelisahan karena mengetahui bahwa kepercayaan itu dibangun di atas pemahaman yang belum utuh.

Ia ingin terus menerima kehangatan itu.

Namun, ia belum siap membayar harga yang dibutuhkan untuk menjaganya: kejujuran, keterbukaan, dan kesediaan melepaskan keuntungan yang mungkin tidak pantas ia peroleh.

Surya meletakkan ponselnya dan mematikan lampu kamar.

Malam itu, ia belum melakukan tindakan yang membuat rahasianya terbongkar. Tidak ada pertengkaran, tidak ada tuduhan, dan tidak ada perpisahan.

Justru karena semuanya masih terlihat baik-baik saja, ia semakin mudah menunda persoalan yang seharusnya diselesaikan.

Imelda mempercayainya karena ia melihat perhatian dan kesungguhan dalam tindakan sehari-hari.

Surya menikmati kepercayaan itu karena membuatnya merasa diterima dan membuka kemungkinan bagi masa depan yang diinginkannya.

Keduanya masih berjalan dalam hubungan yang sama, tetapi tidak sepenuhnya memahami arti hubungan tersebut bagi satu sama lain.

Bagi Imelda, kepercayaan adalah keberanian untuk membuka hati kepada seseorang yang dianggapnya layak.

Bagi Surya, kepercayaan telah menjadi sesuatu yang membuatnya enggan melepaskan hubungan, meskipun ia belum bersedia mengungkapkan seluruh kebenaran.

Dan ketika kepercayaan tumbuh semakin dalam, kebohongan yang disembunyikan tidak ikut mengecil.

Ia justru memperoleh ruang yang lebih besar untuk melukai.

 

BAB VIII

RETAK DI BALIK SENYUMAN

Ada kalanya sebuah hubungan terlihat baik-baik saja bukan karena tidak memiliki masalah, melainkan karena salah satu pihak belum mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Imelda Yuliana masih melihat Surya Pratama sebagai lelaki yang sama seperti ketika mereka pertama kali saling mengenal. Lelaki yang bersedia mendengarkan ceritanya, mengingat hal-hal kecil tentang dirinya, dan memberikan perhatian tanpa harus diminta. Di tengah kesibukan masing-masing, kehadiran Surya masih menjadi bagian yang membuat hari-harinya terasa lebih hangat.

Namun, di balik kedekatan itu, Surya mulai menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan.

Bukan sebuah rahasia besar yang langsung mengubah segalanya. Bukan pula kebohongan yang dapat dengan mudah dibuktikan. Yang tumbuh di dalam dirinya justru sebuah harapan yang perlahan mengambil tempat semakin besar: keinginan untuk memanfaatkan peluang yang mungkin terbuka melalui keluarga Imelda.

Ia belum meminta uang kepada Hendra Yuliana. Ia belum menerima bantuan keuangan dari keluarga itu. Bahkan, rencana usahanya sendiri belum cukup matang untuk dijadikan dasar sebuah kerja sama.

Akan tetapi, dalam pikirannya, kedekatannya dengan Imelda telah membuka kemungkinan yang sebelumnya tidak ia miliki.

Dan sejak saat itu, ia mulai melihat hubungannya dari dua arah yang berbeda.

Di satu sisi, ada Imelda, perempuan yang perlahan ia cintai dengan perasaan yang tidak sepenuhnya dapat ia kendalikan. Di sisi lain, ada peluang untuk mengubah keadaan hidupnya, peluang yang membuatnya sulit membedakan antara keinginan untuk berhasil dan godaan untuk memperoleh jalan yang lebih mudah.

Surya ingin mempercayai dirinya sendiri bahwa ia masih dapat menjaga keduanya.

Ia hanya belum menyadari bahwa keinginan tersebut akan menuntut sesuatu yang semakin sulit ia berikan: kejujuran sepenuhnya.


Pagi itu, Surya duduk di sebuah warung sederhana sambil memperhatikan layar telepon genggamnya. Sebuah pesan dari kenalannya mengenai peluang usaha kembali muncul.

Pembicaraan mereka sebelumnya belum menghasilkan keputusan. Masih ada sejumlah perhitungan yang perlu diperbaiki, kebutuhan modal yang harus diperjelas, dan risiko yang belum sepenuhnya dapat dipastikan. Kesempatan itu memang masih terbuka, tetapi tidak ada jaminan bahwa Surya akan mampu memanfaatkannya.

Ia membaca pesan tersebut dua kali, kemudian meletakkan telepon di atas meja.

Pikirannya bergerak jauh melampaui keadaan yang sedang dihadapinya.

Ia membayangkan bagaimana kehidupannya akan berubah apabila rencana itu berhasil. Ia dapat memiliki usaha yang lebih mapan, membangun masa depan dengan lebih percaya diri, dan membuktikan kepada banyak orang bahwa dirinya bukan seseorang yang hanya pandai bermimpi.

Tetapi setiap kali ia kembali menghitung apa yang dibutuhkan untuk mencapai semua itu, ia selalu berhadapan dengan kenyataan yang sama.

Modalnya terbatas. Rencananya belum sempurna. Pengalamannya masih perlu dikembangkan.

Ia tidak kekurangan keinginan. Ia kekurangan kesiapan.

Surya mengusap wajahnya, lalu kembali menatap telepon genggamnya. Nama Imelda muncul dalam daftar percakapan. Ia teringat bahwa perempuan itu pernah menawarkan untuk membantunya mencari sudut pandang lain ketika ia menghadapi persoalan pekerjaan.

Imelda tidak pernah menjanjikan uang. Ia tidak pernah mengatakan akan meminta ayahnya membantu Surya. Namun, Surya mengetahui bahwa Hendra memiliki pengalaman dalam dunia usaha dan jaringan yang lebih luas daripada dirinya.

Pikiran itu terus berputar.

Ia dapat meminta nasihat kepada Hendra. Hal itu bukan sesuatu yang salah. Ia juga tidak harus merasa rendah diri hanya karena membutuhkan pandangan dari orang yang lebih berpengalaman.

Namun, di balik keinginan untuk memperoleh nasihat tersebut, ada harapan lain yang tidak mudah ia akui.

Ia berharap pembicaraan itu dapat membuka kesempatan yang lebih besar.

Surya menarik napas panjang.

Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa selama tidak meminta sesuatu secara langsung, ia belum melakukan kesalahan. Ia hanya sedang mempertimbangkan kemungkinan. Ia hanya ingin mencari jalan untuk memperbaiki kehidupan.

Pembenaran itu terdengar masuk akal.

Sayangnya, ia tidak bertanya kepada dirinya sendiri mengapa kemungkinan tersebut menjadi begitu penting justru setelah ia menjalin hubungan dengan Imelda.


Menjelang siang, Imelda menghubunginya.

“Surya, kamu sedang sibuk?”

“Tidak terlalu. Ada apa, Melda?”

“Aku cuma ingin tahu kabarmu. Kemarin kamu bilang sedang memikirkan rencana usaha. Bagaimana perkembangannya?”

Surya memandang catatan kecil di samping gelasnya.

“Masih dalam proses. Ada beberapa hal yang harus kuperhitungkan lagi.”

“Bagus kalau kamu tidak terburu-buru.”

“Kenapa?”

“Karena aku tahu kamu ingin segera melihat hasilnya. Tapi, menurutku, lebih baik berjalan sedikit lambat daripada mengambil keputusan yang justru membuatmu kesulitan.”

Surya tersenyum tipis.

“Kamu selalu punya cara untuk membuat orang berpikir lebih tenang.”

“Karena aku ingin kamu berhasil, bukan sekadar cepat sampai.”

Kalimat itu membuat Surya terdiam.

Ia mengenal ketulusan Imelda. Perempuan itu tidak pernah menuntutnya menjadi orang kaya. Ia tidak pernah membandingkan kehidupannya dengan kehidupan keluarga Yuliana. Bahkan, ketika Surya bercerita tentang keterbatasannya, Imelda tidak pernah membuatnya merasa rendah diri.

Bagi Imelda, kesungguhan seseorang jauh lebih penting daripada kemewahan yang dapat dipamerkan.

Justru karena itulah Surya merasa semakin sulit menjelaskan apa yang sedang berlangsung di dalam pikirannya.

“Kalau kamu membutuhkan pendapat orang lain, kamu bisa membicarakannya dengan Ayah,” ujar Imelda. “Beliau punya pengalaman. Siapa tahu ada hal yang bisa kamu pelajari.”

Surya menegakkan tubuhnya.

“Menurutmu, Ayahmu tidak keberatan?”

“Kenapa harus keberatan? Kamu kan ingin meminta pendapat, bukan memaksanya memberikan sesuatu.”

Surya terdiam beberapa saat.

Imelda melanjutkan, “Yang penting, kamu menjelaskan rencanamu apa adanya. Kalau ada bagian yang belum siap, katakan saja belum siap. Tidak ada gunanya terlihat hebat kalau akhirnya kamu sendiri kesulitan menjalankannya.”

Surya menelan ludah.

Kata-kata itu begitu sederhana, tetapi terasa seperti menyentuh bagian dirinya yang paling ia lindungi.

Ia tahu Imelda tidak sedang menyindirnya. Perempuan itu bahkan tidak mengetahui bahwa ia telah mempertimbangkan kemungkinan untuk mendekati keluarganya melalui hubungan mereka.

“Aku akan memikirkannya,” jawab Surya.

“Baiklah. Aku percaya kamu bisa menentukan langkah yang tepat.”

Setelah percakapan berakhir, Surya tidak segera beranjak dari tempat duduknya.

Ia merasa disayangi, tetapi sekaligus merasa sedang menyembunyikan sesuatu dari orang yang menyayanginya.

Imelda telah memberinya ruang untuk berbicara secara terbuka. Ia tidak menuntut Surya tampil sempurna. Ia hanya menginginkan kejujuran.

Namun, Surya masih lebih takut kehilangan pandangan baik Imelda terhadap dirinya daripada menghadapi kenyataan tentang apa yang sebenarnya ia inginkan.

Ia memilih diam.

Dan diam yang semula terasa aman mulai berubah menjadi beban.


Sore harinya, Fajar Ramadhan datang menemui Surya.

Fajar mengenal Surya jauh sebelum nama Imelda masuk ke dalam kehidupannya. Ia mengetahui bagaimana sahabatnya itu sering merasa tertinggal ketika melihat orang lain mencapai keberhasilan lebih cepat. Ia juga memahami bahwa keinginan Surya untuk memperbaiki keadaan hidup bukan sesuatu yang muncul tanpa alasan.

Namun, Fajar mulai melihat perubahan dalam cara Surya berbicara tentang masa depan.

Dahulu, Surya lebih banyak membahas pekerjaan yang dapat ia lakukan dengan kemampuan sendiri. Belakangan, pembicaraannya semakin sering mengarah pada siapa yang mungkin dapat membantunya, siapa yang memiliki jaringan luas, dan siapa yang dapat membuka kesempatan lebih besar.

“Bagaimana rencana usahamu?” tanya Fajar setelah mereka duduk.

“Masih kupikirkan.”

“Sudah ada perhitungan yang lebih jelas?”

“Belum semuanya.”

Fajar mengangguk pelan.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

Surya tidak langsung menjawab.

“Aku sedang mempertimbangkan untuk meminta pendapat ayah Imelda.”

Fajar menatapnya.

“Meminta pendapat?”

“Iya. Beliau punya pengalaman. Aku pikir tidak ada salahnya berdiskusi.”

“Kalau memang itu tujuanmu, tentu tidak ada yang salah.”

Surya mengangkat wajahnya.

“Tetapi?”

Fajar menghela napas.

“Tetapi aku ingin kamu jujur kepada dirimu sendiri. Apakah kamu benar-benar hanya ingin meminta pendapat, atau kamu berharap hubunganmu dengan Imelda akan membuatmu lebih mudah memperoleh kesempatan?”

Surya mengerutkan kening.

“Kamu pikir aku mendekati Imelda hanya karena keluarganya?”

“Aku tidak mengatakan semua perasaanmu palsu.”

“Lalu kenapa kamu terus mempermasalahkan ini?”

“Karena aku melihat bagaimana kamu mulai menghitung keuntungan dari hubungan itu.”

Surya terdiam.

Fajar tidak meninggikan suara. Ia tidak berusaha mempermalukan sahabatnya. Justru ketenangannya membuat perkataan itu sulit diabaikan.

“Aku tahu kamu ingin mengubah hidupmu,” lanjut Fajar. “Aku mendukungmu. Tetapi jangan sampai kamu membangun harapan bisnis di atas kepercayaan seorang perempuan yang bahkan tidak tahu apa yang sedang kamu rencanakan.”

“Aku belum meminta uang kepadanya.”

“Aku tahu.”

“Aku juga belum meminta apa pun kepada keluarganya.”

“Aku juga tahu.”

Surya menatap Fajar dengan kesal.

“Kalau begitu, apa yang sebenarnya kamu takutkan?”

Fajar menjawab dengan tegas, “Aku takut kamu menunggu sampai semuanya menjadi terlalu jauh untuk mengakui alasanmu yang sebenarnya.”

Kalimat itu membuat Surya kehilangan jawaban.

Ia ingin membantah. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya masih memegang kendali dan belum melakukan sesuatu yang merugikan siapa pun.

Namun, di dalam hati, ia tahu bahwa persoalannya bukan semata-mata tentang uang yang sudah atau belum diterima.

Persoalannya adalah niat yang mulai ia sembunyikan.

“Aku hanya ingin mendapatkan kesempatan,” kata Surya akhirnya.

“Kalau begitu, carilah kesempatan dengan cara yang benar. Kamu boleh meminta nasihat, mengajukan rencana, atau membangun kerja sama. Tetapi jangan membuat Imelda percaya bahwa hubungan kalian tidak memiliki kepentingan lain apabila kamu sendiri masih menyimpan harapan yang berbeda.”

Surya menunduk.

Fajar melanjutkan, “Kamu tidak harus menjadi orang kaya untuk pantas dicintai. Tetapi kamu harus bertanggung jawab atas cara kamu memperlakukan orang yang mencintaimu.”

Tidak ada jawaban setelah itu.

Percakapan mereka berakhir dengan suasana yang lebih sunyi daripada ketika dimulai. Fajar tidak memaksa Surya mengakui sesuatu yang belum siap diakuinya. Ia hanya meninggalkan peringatan yang mungkin akan kembali terdengar ketika Surya harus menghadapi akibat dari pilihannya sendiri.

Surya tahu sahabatnya tidak sedang menghalangi masa depannya.

Yang membuatnya tidak nyaman adalah kemungkinan bahwa Fajar benar.


Beberapa hari kemudian, Surya kembali berkunjung ke rumah keluarga Yuliana.

Kunjungan itu berlangsung sederhana. Ratna menyambutnya dengan ramah, sedangkan Hendra berbincang dengannya mengenai pekerjaan dan keadaan usaha secara umum.

Tidak ada pertanyaan yang membuat Surya merasa terpojok. Tidak ada pula pembicaraan mengenai uang atau tawaran kerja sama.

Namun, ketika percakapan beralih pada pentingnya menyusun rencana sebelum memulai usaha, Surya kembali merasakan kegelisahan yang sama.

“Orang yang ingin memulai usaha harus mengenali kemampuan dirinya sendiri,” kata Hendra. “Jangan hanya menghitung kemungkinan keuntungan. Risiko dan kemampuan menanggung kerugian juga harus dipertimbangkan.”

Surya mengangguk.

“Betul, Pak.”

“Kalau rencananya belum matang, tidak perlu malu mengakuinya. Lebih baik memperbaiki perhitungan daripada memberikan gambaran seolah-olah semuanya sudah siap.”

Surya menatap Hendra.

Lelaki itu berbicara dengan tenang, seolah sedang menyampaikan nasihat umum. Tidak ada tanda bahwa ia mencurigai maksud Surya. Tidak ada alasan bagi Surya untuk merasa sedang diselidiki.

Namun, justru sikap terbuka itu membuat Surya semakin menyadari bahwa ia memiliki kesempatan untuk berbicara jujur.

Ia bisa menceritakan rencana usahanya. Ia bisa mengatakan bahwa modalnya terbatas. Ia bisa meminta pendapat tanpa mengharapkan sesuatu yang belum tentu diberikan.

Tetapi ia juga tahu bahwa apabila ia mulai berbicara, ia harus bersedia menerima kemungkinan bahwa Hendra tidak akan menawarkan apa pun selain nasihat.

Dan ia takut menghadapi kemungkinan tersebut.

Bukan karena nasihat tidak berguna, melainkan karena diam-diam ia berharap mendapatkan lebih banyak.

Pembicaraan sore itu berlanjut pada hal-hal lain. Surya tetap bersikap sopan dan menjawab setiap pertanyaan dengan baik. Dari luar, ia tidak berbeda dari lelaki yang selama ini dikenal keluarga Yuliana.

Ketika berpamitan, Hendra berkata, “Kalau suatu saat kamu ingin berdiskusi tentang rencana usahamu, siapkan saja bahan-bahannya. Kita bisa membicarakannya dengan baik.”

Surya tersenyum.

“Terima kasih, Pak. Saya akan mempertimbangkannya.”

Ia pulang dengan membawa kesempatan yang nyata untuk berdiskusi, tetapi tanpa jaminan bahwa kesempatan itu akan berubah menjadi bantuan.

Dalam perjalanan, ia kembali memikirkan nasihat Hendra.

Jangan memberikan gambaran seolah-olah semuanya sudah siap.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang lebih luas daripada urusan bisnis.

Bukankah selama ini ia juga sedang berusaha memberikan gambaran tertentu kepada Imelda?

Gambaran tentang lelaki yang tulus, mandiri, dan tidak memiliki kepentingan tersembunyi dalam hubungan mereka.

Surya menghela napas.

Ia tidak ingin kehilangan Imelda. Namun, ia juga belum bersedia melepaskan harapan yang tumbuh dari kedekatannya dengan keluarga perempuan itu.

Ia masih percaya dapat mengatur keduanya tanpa harus mengungkapkan seluruh isi pikirannya.

Keyakinan itulah yang membuatnya semakin sulit melihat bahaya yang sedang mendekat.


Malam itu, Imelda mengirim pesan kepadanya.

Bagaimana harimu?

Surya membaca pesan tersebut, lalu membalas bahwa semuanya berjalan baik.

Imelda kemudian menanyakan apakah ia sudah memutuskan langkah selanjutnya untuk rencana usahanya.

Surya mengetik beberapa kalimat, menghapusnya, kemudian mengetik kembali.

Ia hampir menulis bahwa dirinya sedang mempertimbangkan untuk meminta waktu berdiskusi dengan Hendra. Namun, ia mengurungkan niat itu.

Belum ada pembicaraan yang pasti, pikirnya. Tidak ada gunanya menceritakan sesuatu yang belum terjadi.

Akhirnya, ia menjawab bahwa rencananya masih dalam pertimbangan dan ia akan memberi kabar apabila sudah ada perkembangan.

Jawaban itu tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, Surya tahu bahwa ia sengaja tidak menceritakan seluruh pikirannya kepada Imelda.

Imelda membalas dengan singkat, menyemangatinya agar tidak terburu-buru.

Surya menatap pesan tersebut cukup lama.

Ia teringat bagaimana perempuan itu selalu berusaha membuatnya merasa cukup sebagai dirinya sendiri. Imelda tidak pernah memintanya menjadi seseorang yang lebih kaya atau lebih berkuasa. Ia hanya ingin Surya jujur mengenai siapa dirinya, apa yang diinginkannya, dan bagaimana ia berencana menjalani hidup.

Namun, Surya masih mengukur dirinya melalui sesuatu yang berbeda.

Ia ingin berhasil secepat mungkin. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu. Ia ingin menghapus perasaan tertinggal yang selama ini mengganggunya.

Tanpa sadar, ia mulai menganggap kejujuran sebagai risiko yang dapat menghambat tujuannya.

Ia tidak menyadari bahwa justru sikap itulah yang dapat menghancurkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada peluang usaha yang sedang dikejarnya.

Kepercayaan Imelda.


Surya akhirnya membuka percakapan dengan Hendra dan mulai menyusun pesan untuk meminta waktu berdiskusi tentang rencana usahanya.

Ia membaca kembali kalimat yang telah ditulisnya. Permintaannya terdengar wajar dan sopan. Ia tidak meminta dana, tidak pula menyampaikan harapan mengenai kerja sama.

Ia hanya ingin berbicara.

Namun, di dalam hatinya, Surya mengetahui bahwa ia berharap pembicaraan itu menjadi pintu menuju sesuatu yang lebih besar.

Setelah beberapa saat, ia mengirim pesan tersebut.

Tidak ada jawaban langsung. Surya meletakkan teleponnya dan bersandar di kursi.

Ia belum tahu bagaimana Hendra akan menanggapi permintaannya. Ia juga belum mengetahui apakah pertemuan itu akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi rencana usahanya.

Tetapi satu hal telah berubah.

Untuk pertama kalinya, ambisinya tidak lagi hanya berada di dalam pikirannya sendiri. Ia mulai membawa hubungan pribadinya dengan Imelda ke dalam ruang yang berhubungan dengan kepentingan masa depannya.

Langkah itu belum menjadi sebuah kesalahan yang sepenuhnya terwujud. Meminta pendapat seseorang yang lebih berpengalaman bukanlah tindakan yang salah. Mencari peluang dan berusaha memperbaiki keadaan hidup juga bukan sesuatu yang patut disalahkan.

Yang menjadi persoalan adalah bagian yang belum berani ia ungkapkan: harapannya untuk mendapatkan keuntungan dari kedekatan tersebut, sementara Imelda masih mempercayai hubungan mereka sebagai ikatan yang dibangun atas dasar ketulusan.

Surya mematikan layar teleponnya.

Ia masih mencintai Imelda, setidaknya dengan perasaan yang kini mulai tumbuh lebih dalam daripada rencana awalnya. Namun, perasaan itu belum membuatnya berani menempatkan kejujuran di atas kepentingannya sendiri.

Ia masih ingin mempertahankan senyum Imelda.

Ia masih ingin mendengar perempuan itu mengatakan bahwa ia percaya kepadanya.

Dan ia masih ingin mengejar masa depan yang dibayangkannya.

Tetapi ia memilih untuk tidak memperlihatkan bahwa ketiga keinginan itu mulai saling bertentangan.

Di mata Imelda, Surya masih lelaki yang sama, seseorang yang sedang berjuang membangun masa depan dan layak mendapatkan dukungan.

Di dalam diri Surya, sebuah perhitungan diam-diam terus berlangsung, membandingkan risiko kehilangan cinta dengan kemungkinan memperoleh kesempatan.

Senyumannya belum berubah. Kata-katanya masih terdengar meyakinkan. Perhatiannya masih terasa tulus.

Namun, di balik semua itu, sebuah retakan mulai terbentuk.

Retakan yang belum terlihat oleh Imelda, tetapi perlahan mengubah cara Surya memandang kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.

Dan sering kali, sebuah hubungan tidak mulai hancur ketika dua orang berhenti saling mencintai.

Hubungan itu mulai kehilangan pijakannya ketika salah satu dari mereka memilih menyembunyikan kebenaran demi mempertahankan sesuatu yang ingin dimilikinya.

 

BAB IX

PERINGATAN YANG DIABAIKAN

Pesan yang dikirim Surya Pratama kepada Hendra Yuliana malam itu tidak langsung mendapat balasan.

Surya sebenarnya telah memperkirakan hal tersebut. Ia tahu Hendra memiliki kesibukan dan tidak mungkin selalu memeriksa telepon setiap saat. Namun, setiap kali layar ponselnya menyala, ia tetap berharap nama Hendra muncul di sana.

Bukan karena ia sekadar menunggu jawaban seorang calon pemberi nasihat. Di balik keinginannya berdiskusi tentang usaha, tersimpan harapan yang lebih besar: ia ingin menemukan jalan untuk mengembangkan kehidupannya melalui kesempatan yang mungkin terbuka dari keluarga Imelda.

Ia telah melangkah satu tahap lebih jauh.

Dan setelah mengambil langkah itu, ia semakin sulit berpura-pura bahwa hubungan dengan Imelda sama sekali tidak berkaitan dengan ambisinya.

Pagi berikutnya, Surya memeriksa ponselnya sebelum memulai kegiatan. Belum ada balasan. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca kembali catatan usahanya, tetapi pikirannya terus kembali pada pesan tersebut.

Menjelang siang, sebuah notifikasi akhirnya muncul.

Hendra membalas dengan singkat dan sopan. Ia bersedia mendengarkan penjelasan Surya, tetapi meminta agar Surya menyiapkan gambaran rencana usaha secara jelas, termasuk kebutuhan modal, perkiraan risiko, serta kemampuan yang sudah dimilikinya.

Surya membaca pesan itu dua kali.

Tidak ada tawaran modal. Tidak ada janji kerja sama. Hendra hanya memberikan kesempatan untuk berbicara.

Namun, bagi Surya, kesempatan tersebut terasa seperti pintu yang mulai terbuka.

Ia segera membalas ucapan terima kasih dan menyatakan kesediaannya menyiapkan bahan pembicaraan. Setelah itu, ia duduk lebih lama di depan meja, memikirkan bagaimana menyusun rencana yang dapat meyakinkan Hendra.

Ia tahu bahwa rencana usahanya masih memiliki banyak kekurangan. Beberapa perhitungan belum selesai, sementara sejumlah kebutuhan belum dapat dipastikan. Akan tetapi, ia khawatir jika menunggu sampai semuanya sempurna, kesempatan itu akan berlalu.

Surya mulai memilih bagian-bagian yang menurutnya paling menarik untuk ditonjolkan.

Ia tidak bermaksud mengubah angka secara sembarangan. Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri. Ia hanya ingin menyampaikan sisi terbaik dari rencana tersebut agar Hendra melihat bahwa dirinya memiliki kesungguhan.

Namun, ada perbedaan antara menyajikan rencana secara meyakinkan dan menyembunyikan kelemahan yang justru perlu diketahui sebelum sebuah keputusan dibuat.

Perbedaan itu mulai kabur dalam pikirannya.


Dua hari kemudian, Surya menemui Fajar Ramadhan di sebuah warung sederhana yang biasa mereka kunjungi.

Ia membawa beberapa lembar catatan dan sebuah rancangan rencana usaha. Fajar semula mengira Surya hanya ingin meminta pendapat seperti yang pernah dilakukannya sebelumnya. Namun, setelah mengetahui bahwa Hendra telah bersedia meluangkan waktu untuk berdiskusi, Fajar mulai memeriksa catatan tersebut dengan lebih teliti.

“Jadi, kamu benar-benar akan membicarakan rencana ini dengan Pak Hendra?” tanyanya.

Surya mengangguk.

“Beliau bersedia mendengarkan. Aku pikir ini kesempatan yang bagus.”

“Kalau memang begitu, kamu harus datang dengan persiapan yang benar-benar matang.”

“Aku sedang menyusunnya.”

Fajar membalik salah satu lembar catatan. Ia menemukan beberapa perkiraan biaya, tetapi belum melihat penjelasan yang cukup mengenai dasar perhitungan dan kemungkinan kerugian.

“Bagian ini dari mana angkanya?” tanyanya.

Surya menjelaskan secara singkat.

“Ini masih perkiraan.”

“Kalau masih perkiraan, tuliskan dengan jelas bahwa angka ini belum pasti. Jangan sampai orang yang membaca menganggap semuanya sudah diperhitungkan.”

“Aku tahu.”

Fajar menunjuk bagian lain.

“Lalu, kalau usaha ini tidak berjalan sesuai rencana, bagaimana kamu akan menanggung kerugiannya?”

Surya menyandarkan tubuhnya.

“Itu yang masih kupikirkan.”

“Berarti persoalannya belum selesai.”

“Aku tidak datang untuk langsung menjalankan usaha besok pagi, Fajar. Aku hanya ingin meminta pendapat.”

“Kalau begitu, tidak ada alasan untuk membuat rencanamu terlihat lebih matang daripada keadaan sebenarnya.”

Surya terdiam. Ia merasa Fajar terlalu banyak menyoroti kekurangan, padahal ia sedang berusaha mencari jalan keluar dari keadaan yang selama ini membuatnya frustrasi.

“Aku sudah cukup lama berada di tempat yang sama,” katanya. “Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa mengubah hidupku.”

“Aku mengerti keinginanmu.”

“Kalau aku terus menunggu sampai semuanya benar-benar pasti, kapan aku bisa mulai?”

Fajar meletakkan catatan itu di atas meja.

“Tidak ada usaha yang sepenuhnya bebas dari risiko. Tetapi mengambil risiko berbeda dengan mengabaikan risiko. Kamu boleh berani, Surya, asalkan kamu tahu apa yang sedang kamu pertaruhkan.”

Surya memalingkan wajah sebentar.

“Aku tidak sedang mempertaruhkan apa-apa.”

Fajar menatapnya dengan serius.

“Benarkah?”

Pertanyaan itu membuat Surya kembali menoleh.

Fajar tidak langsung melanjutkan. Ia tahu bahwa yang sedang mereka bicarakan bukan hanya persoalan perhitungan usaha.

“Aku sudah melihat kamu semakin dekat dengan keluarga Imelda,” katanya akhirnya. “Sekarang kamu ingin membicarakan peluang usaha dengan ayahnya. Aku tidak melarangmu. Tetapi kamu harus jujur kepada dirimu sendiri tentang alasan kamu mengambil langkah itu.”

Surya menghela napas panjang.

“Kenapa setiap kali aku ingin maju, kamu selalu menghubungkannya dengan Imelda?”

“Karena aku melihat bagaimana semuanya mulai terhubung.”

“Aku hanya meminta nasihat. Apa itu salah?”

“Tidak.”

“Lalu, apa masalahnya?”

Fajar menatap sahabatnya tanpa meninggikan suara.

“Masalahnya bukan pada siapa yang kamu temui. Masalahnya ada pada apa yang kamu harapkan dari pertemuan itu, dan apakah orang yang membukakan pintu untukmu mengetahui harapan tersebut.”

Surya tidak menjawab.

Ia tahu Fajar tidak sepenuhnya keliru. Namun, ia juga tidak ingin mengakui bahwa harapannya telah berkembang melampaui sekadar mendapatkan nasihat.

Dalam pikirannya, selama ia tidak meminta uang secara langsung, ia masih berada di wilayah yang dapat dibenarkan. Ia merasa berhak mencari kesempatan dari mana pun, termasuk melalui hubungan yang sedang dibangunnya.

Fajar mengambil napas, lalu berbicara lebih pelan.

“Kalau kamu ingin berhasil, buktikan bahwa kamu mampu membangun sesuatu dengan kemampuanmu sendiri. Kalau Pak Hendra kemudian memberikan saran atau mengenalkanmu kepada orang lain, terimalah sebagai kesempatan belajar. Tetapi jangan menjadikan Imelda alasan agar keluarganya merasa harus membantumu.”

Surya mengumpulkan kembali lembar-lembar catatannya.

“Aku tahu apa yang kulakukan.”

Fajar tidak membantah lagi.

Ia melihat perubahan kecil pada wajah sahabatnya. Surya tidak lagi mendengarkan seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan nasihat. Ia mulai mendengarkan seperti seseorang yang sedang mencari alasan untuk menolak nasihat tersebut.

Dan bagi Fajar, itulah hal yang paling mengkhawatirkan.


Di sisi lain, Imelda Yuliana menjalani hari-harinya tanpa mengetahui percakapan yang berlangsung di warung itu.

Ia hanya mengetahui bahwa Surya sedang menyusun rencana usaha dan telah mendapat kesempatan untuk berbicara dengan ayahnya. Ketika Surya menceritakan hal tersebut, Imelda menyambutnya dengan gembira.

“Aku senang Ayah bersedia mendengarkan rencanamu,” katanya ketika mereka bertemu.

Surya tersenyum.

“Aku juga. Aku berharap bisa mendapatkan banyak masukan.”

“Kalau kamu membutuhkan waktu untuk menyiapkan bahan pembicaraan, gunakan sebaik-baiknya. Jangan merasa harus menunjukkan hasil yang sempurna.”

Surya memandangnya.

“Kamu tidak khawatir kalau ternyata rencanaku belum cukup baik?”

Imelda menggeleng.

“Tidak semua rencana harus langsung berhasil. Yang penting, kamu tahu apa yang sedang kamu kerjakan dan bersedia memperbaikinya kalau ada kekurangan.”

Jawaban itu membuat Surya terdiam sesaat.

Ia tahu Imelda tidak sedang menuntut keberhasilan darinya. Perempuan itu tidak meminta agar ia menjadi kaya, tidak menuntut kehidupan mewah, dan tidak menjadikan pekerjaannya sebagai ukuran nilai dirinya.

Justru sikap itulah yang seharusnya membuat Surya merasa aman untuk berbicara jujur.

Namun, ia khawatir kejujuran yang terlalu lengkap akan memperlihatkan sesuatu yang selama ini berusaha disembunyikannya: bahwa ia mulai memandang hubungan mereka sebagai salah satu jalan untuk mencapai kehidupan yang diinginkan.

“Aku akan berusaha mempersiapkannya dengan baik,” jawab Surya.

Imelda tersenyum.

“Aku percaya kamu bisa belajar dari prosesnya.”

Ia lalu menceritakan rencananya sendiri untuk beberapa hari ke depan. Surya mendengarkan, tetapi sebagian pikirannya masih tertuju pada pertemuan dengan Hendra.

Imelda menyadari bahwa laki-laki itu beberapa kali tampak melamun.

“Kamu masih memikirkan rencana usahamu?” tanyanya.

“Sedikit.”

“Kalau terlalu banyak yang dipikirkan, jangan lupa beristirahat.”

Surya tertawa kecil.

“Kamu seperti selalu tahu kapan aku sedang banyak pikiran.”

“Karena kamu sering terlihat berbeda kalau sedang memikirkan sesuatu.”

Surya tersenyum, tetapi di dalam hatinya muncul kegelisahan.

Ia mulai memahami bahwa semakin dekat seseorang dengannya, semakin besar pula kemungkinan orang itu menyadari perubahan sikapnya. Selama ini, ia mengandalkan perhatian dan kata-kata yang tepat untuk membuat Imelda merasa dipahami.

Kini, ia mulai menyadari bahwa kedekatan juga dapat membuat seseorang melihat bagian-bagian yang selama ini ia tutupi.

Ia mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kegiatan Imelda. Perempuan itu menjawab tanpa curiga, lalu kembali bercerita seperti biasa.

Bagi Imelda, tidak ada alasan untuk menganggap kesibukan Surya sebagai sesuatu yang mencurigakan. Ia hanya berharap laki-laki itu tidak membebani dirinya sendiri dengan keinginan untuk segera berhasil.

Ia belum tahu bahwa Surya sedang menghadapi pilihan yang bukan semata-mata tentang usaha.

Pilihan itu menyangkut kejujuran.


Pada malam berikutnya, Ratna Yuliana memperhatikan Imelda yang sedang membantu merapikan beberapa dokumen keluarga di ruang tengah.

“Bagaimana kabar Surya?” tanyanya.

“Baik, Bu. Dia sedang menyiapkan rencana usaha. Ayah sudah bersedia mendengarkan penjelasannya.”

Ratna mengangguk.

“Bagus kalau dia punya semangat untuk memperbaiki kehidupannya.”

Imelda tersenyum.

“Aku juga senang. Dia terlihat lebih bersemangat.”

Ratna merapikan dokumen di hadapannya sebelum melanjutkan.

“Semoga dia juga bisa bersikap tenang dalam mengambil keputusan. Keinginan untuk berhasil itu baik, tetapi kadang-kadang orang terlalu sibuk mengejar tujuan sampai lupa memikirkan cara mencapainya.”

Imelda memandang ibunya.

“Apakah Ibu meragukan Surya?”

Ratna segera menggeleng.

“Bukan begitu, Nak. Ibu tidak sedang menilai dia buruk. Ibu hanya berharap kamu tidak merasa harus menyelesaikan semua persoalan yang sedang dihadapinya.”

Imelda menunduk sebentar, kemudian tersenyum kecil.

“Aku tidak merasa terbebani, Bu. Aku hanya ingin mendukungnya.”

“Ibu tahu. Mendukung orang yang kita sayangi bukan kesalahan. Tetapi dukungan yang baik juga membutuhkan batas yang sehat.”

Ratna menatap putrinya dengan lembut.

“Kamu boleh mendengarkan, memberi semangat, dan membantu mencari jalan keluar. Namun, keputusan hidupnya tetap harus menjadi tanggung jawabnya sendiri.”

Imelda mengangguk pelan.

Ia memahami maksud ibunya. Selama ini, ia memang ingin menjadi seseorang yang dapat diandalkan oleh orang yang dicintainya. Ia percaya bahwa hubungan tidak hanya tentang menerima kebahagiaan, tetapi juga tentang hadir ketika keadaan sedang sulit.

Namun, ia tidak pernah berniat menggantikan tanggung jawab Surya.

“Aku akan mengingatnya, Bu.”

Ratna mengusap bahu putrinya.

“Ibu hanya ingin kamu tetap menjadi dirimu sendiri ketika mencintai seseorang.”

Kalimat itu membuat Imelda terdiam.

Ia belum melihat hubungan mereka sebagai sesuatu yang membahayakan dirinya. Ia masih percaya bahwa Surya memiliki niat baik dan sedang berusaha membangun masa depan.

Namun, nasihat ibunya mengingatkannya bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menilai keadaan secara jernih.

Malam itu, Imelda menyimpan nasihat tersebut dalam pikirannya tanpa merasa perlu mengambil kesimpulan apa pun.

Ia belum mempunyai alasan untuk menjauh dari Surya.

Ia hanya ingin hubungan mereka tumbuh dengan baik.


Hari pertemuan Surya dengan Hendra akhirnya tiba.

Surya datang dengan pakaian rapi dan membawa catatan yang telah disiapkannya. Ia berusaha menenangkan diri selama perjalanan. Ia ingin terlihat sebagai seseorang yang serius, bukan laki-laki yang hanya datang dengan harapan mendapatkan pertolongan.

Hendra menyambutnya dengan ramah, lalu mempersilakannya duduk.

“Silakan jelaskan rencana yang ingin kamu bicarakan,” kata Hendra.

Surya mulai menerangkan gagasan usahanya. Ia menjelaskan peluang yang dilihatnya, kebutuhan yang telah diperhitungkan, serta beberapa langkah yang menurutnya dapat dilakukan untuk memulai.

Hendra mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.

Sesekali ia mengajukan pertanyaan mengenai biaya, kemungkinan pasar, dan kemampuan Surya menjalankan rencana itu. Beberapa pertanyaan dapat dijawab dengan baik. Namun, ada pula bagian yang belum dapat dijelaskan Surya secara terperinci.

Hendra tidak mempermalukannya.

“Menurut saya, gagasan ini masih bisa dipelajari,” katanya setelah Surya selesai. “Tetapi ada beberapa bagian yang harus kamu perjelas sebelum mengambil keputusan.”

Surya mengangguk.

“Bagian mana yang paling perlu saya perbaiki, Pak?”

“Pertama, dasar perhitunganmu. Kamu harus bisa menjelaskan dari mana perkiraan biaya dan pendapatan itu berasal. Kedua, kamu perlu mengetahui risiko yang mungkin muncul. Ketiga, kamu harus menyiapkan rencana apabila hasilnya tidak sesuai harapan.”

Surya mencatat setiap masukan.

“Baik, Pak. Saya akan memperbaikinya.”

Hendra kemudian meletakkan dokumen tersebut di atas meja.

“Satu hal lagi. Jangan membangun rencana berdasarkan bantuan yang belum tentu kamu peroleh. Hitunglah kemampuanmu berdasarkan keadaan yang benar-benar kamu miliki.”

Surya mengangkat wajah.

Kalimat itu disampaikan dengan nada biasa, tetapi terasa menyentuh bagian yang selama ini berusaha dihindarinya.

Hendra melanjutkan.

“Kalau nanti ada orang yang bersedia bekerja sama atau memberikan dukungan, itu bisa menjadi pertimbangan tambahan. Tetapi kamu harus tetap tahu apa yang bisa kamu lakukan tanpa bergantung pada orang lain.”

Surya mengangguk sekali lagi.

“Baik, Pak. Saya mengerti.”

Ia tidak meminta modal. Ia tidak menyebut nama Imelda sebagai alasan untuk memperoleh bantuan. Pertemuan itu berlangsung sesuai tujuan yang disampaikan sejak awal: membicarakan rencana usaha dan menerima masukan.

Namun, dalam hati Surya, ia merasa kecewa karena tidak memperoleh jalan keluar yang lebih cepat.

Ia datang dengan harapan menemukan peluang yang dapat mempercepat langkahnya. Ia pulang dengan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan sendiri.

Hendra mengantarnya sampai ke depan rumah.

“Pelajari dulu semua masukannya. Tidak perlu terburu-buru.”

“Terima kasih banyak atas waktunya, Pak.”

“Sama-sama. Saya berharap kamu mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang.”

Surya berpamitan dengan sopan.

Tidak ada sikap dingin dari Hendra. Tidak ada penolakan terhadap dirinya sebagai pasangan Imelda. Hendra hanya menempatkan rencana usaha itu pada kedudukan yang semestinya: sebuah gagasan yang perlu diuji sebelum layak dijalankan.

Tetapi bagi Surya yang sedang mencari jalan cepat, kehati-hatian itu terasa seperti hambatan.

Ia belum menyadari bahwa justru pada saat itulah ia memperoleh peringatan yang paling jelas.


Dalam perjalanan pulang, Surya menerima telepon dari Fajar.

“Bagaimana pertemuanmu dengan Pak Hendra?” tanya Fajar.

“Berjalan baik. Beliau memberi beberapa masukan.”

“Bagus. Apa rencanamu selanjutnya?”

“Aku harus memperbaiki banyak hal.”

“Berarti kamu sudah tahu bagian yang perlu dikerjakan.”

Surya tidak segera menjawab.

Fajar kemudian bertanya, “Apakah beliau menawarkan bantuan?”

“Tidak. Beliau hanya memberi saran.”

“Kalau begitu, kamu punya kesempatan untuk memperbaiki rencanamu tanpa terbebani janji dari siapa pun.”

Surya menarik napas.

“Aku berharap bisa mendapatkan lebih dari sekadar saran.”

Kalimat itu terucap begitu saja.

Fajar terdiam beberapa saat.

“Lebih seperti apa?”

Surya menyadari bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Ia berusaha mengoreksi perkataannya.

“Maksudku, aku berharap ada peluang kerja sama.”

“Kalau memang ada dasar yang kuat, kerja sama bisa dibicarakan. Tetapi kalau kamu sendiri belum bisa menjelaskan rencanamu dengan lengkap, apa yang bisa kamu tawarkan kepada orang lain?”

Surya merasa tersinggung.

“Tidak semua orang punya kesempatan yang sama, Fajar.”

“Aku tahu.”

“Orang yang punya modal bisa bergerak lebih cepat. Orang yang tidak punya apa-apa harus bekerja berkali-kali lebih keras hanya untuk mendapatkan kesempatan yang sama.”

Fajar tidak menyangkal keadaan tersebut.

“Memang tidak semua orang memulai dari tempat yang sama. Aku juga tidak mengatakan bahwa kamu harus menerima keadaanmu begitu saja. Kamu boleh mencari bantuan, mencari mitra, dan membangun jaringan. Tetapi jangan sampai keinginanmu mengubah keadaan membuatmu mengabaikan kepercayaan orang yang dekat denganmu.”

Surya terdiam.

Fajar melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

“Aku pernah melihat orang kehilangan banyak hal karena terlalu ingin segera berhasil. Awalnya mereka hanya membenarkan satu kebohongan kecil. Setelah itu, mereka harus menutupi kebohongan berikutnya agar kebohongan pertama tidak terbongkar.”

Surya menggenggam ponselnya lebih erat.

“Kamu menganggap aku seperti itu?”

“Aku tidak mengatakan kamu sudah melakukan semuanya. Aku hanya tidak ingin kamu mulai berjalan ke arah sana.”

Surya memandang jalan di hadapannya.

Ia mengetahui bahwa Fajar sedang berusaha memperingatkannya. Ia juga memahami bahwa peringatan itu tidak sepenuhnya tanpa alasan.

Namun, ia tidak ingin mengakui bahwa ambisinya telah membuatnya semakin mudah mencari pembenaran.

“Aku bisa menjaga semuanya tetap baik,” katanya akhirnya.

Fajar menjawab dengan tenang.

“Semoga kamu benar-benar bisa.”

Percakapan berakhir tanpa pertengkaran. Fajar tidak memutus persahabatan mereka, dan Surya tidak menolak nasihat itu secara terang-terangan.

Tetapi setelah telepon ditutup, Surya justru merasa harus membuktikan bahwa ia dapat mencapai tujuannya tanpa kehilangan hubungan dengan Imelda.

Ia menganggap kedua hal itu masih dapat berjalan bersama selama ia cukup pandai mengendalikan keadaan.

Ia tidak memahami bahwa masalahnya bukan sekadar kemampuan menjaga rahasia.

Masalahnya adalah ia mulai terbiasa membuat keputusan dengan menyisihkan kebenaran yang mungkin tidak disukai orang lain.


Malam itu, Imelda mengirim pesan kepada Surya untuk menanyakan hasil pertemuannya dengan Hendra.

Surya menjelaskan bahwa pertemuan berjalan baik dan ia memperoleh beberapa masukan yang berguna.

Imelda membalas dengan gembira.

Syukurlah. Berarti kamu punya bahan untuk memperbaiki rencanamu.

Surya mengetik jawaban, lalu berhenti.

Ia ingin bercerita bahwa ia sempat berharap Hendra menawarkan peluang yang lebih besar. Ia ingin mengungkapkan kekecewaannya karena belum menemukan jalan keluar yang cepat.

Namun, ia mengurungkan niat tersebut. Ia tidak ingin Imelda melihatnya sebagai seseorang yang terlalu berharap pada keluarganya.

Akhirnya, ia hanya menulis bahwa dirinya akan mempelajari kembali rencana usaha itu.

Imelda membaca pesan tersebut dan merasa lega. Ia tidak mengetahui bahwa ada bagian dari pertemuan yang sengaja tidak diceritakan Surya, bukan karena bagian itu sangat rahasia, melainkan karena Surya tidak ingin memperlihatkan isi hatinya yang sesungguhnya.

Ia kemudian mengirim pesan lain.

Jangan lupa istirahat. Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya dalam satu malam.

Surya membaca pesan itu cukup lama.

Ada ketulusan dalam perhatian Imelda yang tidak dapat ia sangkal. Perempuan itu tidak meminta sesuatu sebagai imbalan. Ia tidak memaksanya berhasil dan tidak menuntut agar Surya memenuhi standar tertentu.

Ia hanya ingin Surya baik-baik saja.

Untuk sesaat, Surya ingin membalas dengan jujur. Ia ingin mengatakan bahwa ia merasa tertinggal, bahwa ia takut gagal, dan bahwa ia mulai memikirkan jalan-jalan yang mungkin tidak akan disetujuinya jika mengetahui seluruh alasan di baliknya.

Tetapi keberanian itu hanya bertahan sebentar.

Ia kembali memilih jawaban yang paling aman.

Terima kasih, Imelda. Aku akan baik-baik saja.

Imelda membalas dengan sebuah ungkapan sederhana yang menunjukkan bahwa ia percaya.

Surya meletakkan ponselnya.

Ia menyadari bahwa kepercayaan Imelda masih utuh. Fajar telah memperingatkannya. Hendra telah memberinya nasihat yang jelas. Ratna, tanpa menuduh siapa pun, telah mengingatkan putrinya tentang pentingnya batas dalam sebuah hubungan.

Peringatan datang dari berbagai arah, dengan cara yang berbeda.

Namun, Surya masih menganggap bahwa dirinya mampu menentukan seberapa jauh ia akan melangkah dan kapan ia harus berhenti.

Ia tidak ingin kehilangan Imelda. Ia juga tidak ingin melepaskan ambisinya.

Karena itulah, ia mulai mencari cara untuk mempertahankan keduanya, sekalipun cara tersebut menuntutnya menyembunyikan lebih banyak hal.

Di dalam pikirannya, ia masih percaya bahwa semuanya dapat dikendalikan.

Ia belum memahami bahwa kebohongan tidak selalu membesar karena seseorang merencanakan kejahatan besar sejak awal. Terkadang, kebohongan tumbuh karena seseorang berulang kali memilih jalan yang terasa paling mudah, lalu menggunakan pilihan sebelumnya sebagai alasan untuk membuat pilihan berikutnya.

Malam semakin larut.

Surya menutup catatan usahanya tanpa menyelesaikan semua kekurangan yang ditunjukkan Hendra. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk memperbaikinya nanti.

Untuk sekarang, ia ingin mencari kesempatan lain.

Kesempatan yang mungkin membawanya lebih dekat kepada kehidupan yang selama ini ia impikan.

Ia tidak menyadari bahwa semakin jauh ia mengejar kesempatan tanpa berani memeriksa niatnya sendiri, semakin besar kemungkinan ia akan kehilangan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh keberhasilan apa pun.

Kepercayaan Imelda masih berada di tangannya.

Tetapi untuk pertama kalinya, Surya mulai memperlakukannya bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dijaga, melainkan juga sebagai sesuatu yang dapat membantunya membuka jalan.

Dan ketika kepercayaan mulai dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan, seseorang mungkin masih terlihat mencintai dengan tulus di mata orang lain.

Namun, di dalam dirinya, batas antara cinta dan kepentingan telah mulai kabur.

Surya telah mendengar peringatan itu.

Ia hanya belum bersedia mengindahkannya.

 

BAB X

KEBOHONGAN YANG SEMAKIN DALAM

Hujan turun sejak sore ketika Surya Pratama menerima sebuah telepon yang telah ditunggunya selama beberapa hari.

Ia sedang duduk di sebuah warung ketika nama kenalannya muncul di layar ponsel. Percakapan mereka berlangsung singkat, tetapi cukup untuk mengubah suasana hatinya. Peluang usaha yang sempat dibicarakan sebelumnya ternyata belum tertutup. Pihak yang berkepentingan masih bersedia mempertimbangkan kerja sama, asalkan Surya dapat menunjukkan kesiapan dan meyakinkan mereka bahwa rencana tersebut layak dijalankan.

Surya menatap air hujan yang mengalir di tepi jalan.

Kesempatan itu kembali terbuka.

Namun, ia belum memiliki modal yang cukup. Rencana usahanya juga belum benar-benar matang seperti yang diharapkan. Ia membutuhkan waktu untuk memperbaiki perhitungan, sementara pihak yang menawarkan peluang tersebut menginginkan kepastian dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kesempatan yang selama ini dicarinya justru dapat berlalu ketika ia mulai melihatnya dari dekat.

Ia membuka catatan di ponselnya. Angka-angka yang tersimpan di sana tidak berubah. Kebutuhan tetap lebih besar daripada kemampuan yang dimilikinya.

Surya mengusap wajahnya.

Ia teringat nasihat Hendra, peringatan Fajar, dan pesan Imelda yang selalu menyuruhnya agar tidak terburu-buru mengambil keputusan.

Semua orang seolah meminta dirinya bersabar.

Sementara itu, ia merasa hidup tidak pernah memberinya cukup waktu untuk mengejar ketertinggalan.

Ia kemudian membuka daftar kontak dan menemukan nama Imelda.

Jarinya berhenti di atas layar.

Surya tahu bahwa Imelda mungkin bersedia mendengarkan persoalannya. Perempuan itu tidak pernah menertawakan kesulitannya, apalagi membuatnya merasa rendah karena keadaan ekonomi.

Namun, justru karena Imelda begitu mudah percaya, Surya mulai membayangkan kemungkinan yang sebelumnya hanya berani dipikirkannya sekilas.

Bagaimana jika ia menceritakan bahwa peluang usaha tersebut membutuhkan dukungan lebih besar?

Bagaimana jika ia meminta Imelda membantu mempertemukannya kembali dengan Hendra?

Ia belum berniat meminta uang secara langsung. Ia hanya ingin membuka jalan agar pembicaraan mengenai kerja sama dapat berlangsung lebih jauh.

Setidaknya, itulah pembenaran yang ia bangun untuk dirinya sendiri.

Surya memasukkan ponselnya ke saku. Ia belum siap menghubungi Imelda. Ia ingin menyusun kata-kata terlebih dahulu, mencari cara agar keinginannya terdengar sebagai kebutuhan seorang laki-laki yang sedang berjuang, bukan sebagai usaha memanfaatkan hubungan.

Hujan semakin deras.

Dan di tengah suara air yang jatuh tanpa henti, Surya mulai menyadari bahwa ia tidak lagi sekadar mencari kesempatan. Ia sedang mencari cara untuk membuat orang lain melihat kebutuhannya tanpa mengetahui seluruh alasan di baliknya.


Keesokan harinya, Surya menemui Imelda.

Mereka duduk berhadapan di sebuah tempat yang tidak terlalu ramai. Imelda memperhatikan wajah Surya yang terlihat lebih lelah daripada biasanya.

“Kamu kurang tidur?” tanyanya.

“Sedikit. Ada beberapa hal yang harus kupikirkan.”

“Masih tentang rencana usahamu?”

Surya mengangguk.

“Peluangnya ternyata masih terbuka, tetapi ada beberapa hal yang harus segera dipastikan.”

Imelda meletakkan gelasnya.

“Kalau memang belum siap, bukankah lebih baik kamu menghitung semuanya sekali lagi?”

“Masalahnya, kesempatan seperti ini tidak selalu datang.”

“Aku mengerti. Tetapi kalau kamu mengambil keputusan hanya karena takut kehilangan kesempatan, kamu bisa saja mendapatkan masalah yang lebih besar.”

Surya memandangnya. Ia tahu jawaban itu masuk akal, tetapi bukan jawaban yang ingin didengarnya.

“Aku tidak bisa terus menunggu sampai semuanya sempurna, Mel.”

“Aku tidak meminta kamu menunggu sampai sempurna.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan. Kalau kamu yakin dengan rencanamu, jelaskan risikonya. Kalau masih ada yang belum pasti, akui bahwa itu belum pasti.”

Imelda mengucapkan kalimat tersebut tanpa nada menggurui. Ia berbicara sebagai seseorang yang sungguh-sungguh ingin melihat orang yang dicintainya berhasil tanpa harus mengorbankan ketenangan hidupnya.

Namun, Surya justru merasa seperti sedang dihadapkan pada sesuatu yang tidak ingin ia perlihatkan.

Ia terdiam, kemudian menunduk.

“Aku hanya takut kembali gagal.”

Nada suaranya terdengar lebih lemah.

Imelda melunak. Ia meraih tangan Surya di atas meja.

“Aku tahu kamu ingin mengubah keadaanmu. Aku juga tahu kamu sudah berusaha. Tetapi kegagalan bukan berarti hidupmu berhenti.”

Surya membiarkan tangan itu menggenggam tangannya.

Untuk sesaat, ia benar-benar merasakan ketenangan. Tidak ada tuntutan dari Imelda, tidak ada perbandingan dengan orang lain, dan tidak ada penghinaan terhadap keadaannya.

Hanya perhatian yang sederhana.

Perhatian itu membuatnya merasa bersalah.

Namun, rasa bersalah tersebut tidak bertahan cukup lama untuk mengubah keputusannya.

“Ada satu hal yang ingin kutanyakan,” kata Surya kemudian.

“Apa?”

“Menurutmu, kalau seseorang ingin mengembangkan usaha, apakah salah jika dia meminta bantuan kepada orang yang lebih berpengalaman?”

Imelda menggeleng.

“Tentu tidak. Selama dia menjelaskan maksudnya dengan jujur dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.”

Surya mengangguk perlahan.

“Kalau orang itu keluargamu sendiri?”

Imelda tidak langsung menjawab. Ia mencoba memahami arah pembicaraan tersebut.

“Kalau maksudmu Ayah, kamu boleh berdiskusi dengannya. Ayah bisa memberikan pendapat. Tetapi soal bantuan atau kerja sama, semuanya harus dibicarakan dengan jelas.”

Surya mengalihkan pandangan.

“Ya. Aku hanya bertanya.”

Imelda memperhatikan wajahnya beberapa detik lebih lama.

“Surya, kalau ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepadaku, katakan saja. Kamu tidak harus mencari cara agar aku memberikan jawaban tertentu.”

Kalimat itu membuat Surya merasa dadanya menegang.

Ia hampir saja menjelaskan semuanya. Hampir saja ia mengakui bahwa dirinya sedang mempertimbangkan untuk meminta Imelda membantu membuka jalan kepada Hendra.

Namun, ia takut pengakuan tersebut akan mengubah cara Imelda memandangnya.

“Aku tidak sedang menyembunyikan apa-apa,” jawabnya.

Kata-kata itu keluar begitu cepat.

Imelda melepaskan genggamannya perlahan.

Ia tidak marah. Ia hanya memandang Surya dengan ekspresi yang sulit ditafsirkan.

“Baiklah,” katanya akhirnya.

Percakapan beralih pada hal lain, tetapi sesuatu telah berubah. Bukan karena Imelda menemukan kebohongan yang jelas, melainkan karena ia mulai merasakan bahwa ada bagian dari pembicaraan Surya yang selalu berhenti tepat sebelum mencapai inti persoalan.

Ia belum mempunyai bukti untuk menuduh.

Ia juga belum ingin mencurigai orang yang dicintainya hanya karena perasaan yang belum dapat dijelaskan.

Maka, ia memilih diam.

Surya mengira diamnya Imelda berarti persoalan telah selesai.

Padahal, bagi Imelda, diam adalah cara untuk memberi kesempatan kepada seseorang agar berkata jujur atas kemauannya sendiri.


Beberapa hari kemudian, Surya mengambil keputusan yang kelak akan disesalinya.

Ia menghubungi kenalannya dan menyampaikan bahwa dirinya sedang menyiapkan langkah untuk memenuhi kebutuhan usaha. Ia ingin mempertahankan peluang tersebut agar tidak jatuh ke tangan orang lain.

Kenalannya bertanya apakah Surya sudah memiliki kepastian mengenai dukungan yang dibutuhkan.

Surya menjawab bahwa ia sedang menjajaki beberapa kemungkinan.

Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong. Ia memang sedang mempertimbangkan beberapa kemungkinan, termasuk kemungkinan melibatkan keluarga Imelda dalam pembicaraan usaha.

Tetapi ia sengaja membiarkan lawan bicaranya menyimpulkan bahwa peluang dukungan tersebut sudah cukup dekat.

Ia ingin terlihat siap.

Ia ingin terlihat memiliki jaringan.

Dan ia ingin menghindari kesan bahwa dirinya belum mempunyai sesuatu yang dapat ditawarkan.

Setelah percakapan itu, Surya menyimpan ponselnya dan mencoba meyakinkan diri bahwa ia belum menjanjikan apa pun. Ia hanya sedang menjaga peluang agar tetap terbuka.

Namun, ia tahu bahwa jawabannya telah menciptakan kesan yang lebih kuat daripada kenyataan.

Kesadaran itu tidak membuatnya mundur.

Ia justru berpikir bahwa selama ia mampu menyelesaikan persoalan modal dan perencanaan dalam waktu dekat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Ia kembali membuka catatan usahanya, lalu menyusun pesan untuk Hendra.

Kali ini, ia tidak langsung meminta pertemuan. Ia memilih mengirimkan ucapan terima kasih atas masukan yang telah diberikan, disertai penjelasan bahwa dirinya sedang memperbaiki rencana.

Ia berharap Hendra melihat kesungguhannya dan bersedia membuka pembicaraan lebih jauh di kemudian hari.

Pesan itu terkirim.

Surya meletakkan ponselnya dan menunggu.

Ia tidak tahu apakah Hendra akan menjawab dengan saran lain, menawarkan pertemuan, atau sekadar mengucapkan terima kasih. Namun, ia sudah mulai menggantungkan harapannya pada respons tersebut.

Dalam pikirannya, hubungan dengan Imelda kini telah menjadi bagian dari rencana yang lebih besar.

Ia tidak pernah mengatakannya kepada perempuan itu.

Dan justru karena tidak pernah mengatakannya, ia merasa masih dapat menjaga hubungan mereka tetap seperti semula.


Sementara itu, Fajar semakin sulit menenangkan pikirannya.

Ia tidak mengetahui seluruh langkah Surya. Ia juga tidak memiliki bukti bahwa sahabatnya telah melakukan sesuatu yang merugikan Imelda. Tetapi dari percakapan-percakapan mereka sebelumnya, Fajar melihat bahwa Surya mulai lebih sering membicarakan akses, jaringan, dan peluang yang mungkin diperoleh melalui keluarga Yuliana.

Fajar akhirnya memutuskan untuk berbicara langsung.

Mereka bertemu pada sore hari, ketika Surya baru selesai mengurus beberapa keperluan.

“Aku ingin bertanya sesuatu,” kata Fajar.

Surya menatapnya.

“Apa lagi?”

“Kamu sebenarnya ingin mendapatkan apa dari hubunganmu dengan Imelda?”

Surya langsung mengerutkan dahi.

“Apa maksudmu?”

“Aku bertanya dengan serius.”

“Aku mencintainya.”

Fajar mengangguk, tetapi tidak segera menjawab.

“Aku tidak mengatakan kamu tidak punya perasaan kepadanya. Aku hanya ingin tahu apakah perasaan itu masih menjadi alasan utama kamu mempertahankan hubungan kalian.”

Surya berdiri dari tempat duduknya.

“Kamu tidak berhak mengatur perasaanku.”

“Aku tidak mengatur perasaanmu. Aku bertanya tentang keputusan yang kamu ambil.”

“Karena aku ingin memperbaiki hidupku, bukan berarti aku tidak mencintainya.”

“Kalau begitu, jangan membuat cinta menjadi jalan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa kamu peroleh dengan cara lain.”

Surya menatap Fajar tajam.

“Kamu selalu menganggap aku punya niat buruk.”

“Aku berharap kamu tidak punya niat itu.”

“Lalu kenapa kamu terus mengulanginya?”

Fajar terdiam sejenak. Ia kemudian berdiri, menghadapi Surya tanpa berusaha mengintimidasi sahabatnya.

“Karena aku mengenalmu cukup lama untuk tahu bahwa kamu sedang mencari pembenaran atas sesuatu yang sebenarnya membuatmu gelisah.”

Surya mengepalkan tangan.

“Aku sedang berusaha. Apa salahnya jika aku ingin hidup lebih baik?”

“Tidak ada yang salah dengan keinginanmu untuk berhasil. Yang salah adalah jika kamu membuat seseorang percaya bahwa kamu mendekatinya hanya karena cinta, sementara diam-diam kamu juga menghitung apa yang bisa kamu dapatkan dari keluarganya.”

Kata-kata itu menghantam Surya lebih keras daripada yang ingin ia akui.

Ia memalingkan wajah. Untuk sesaat, ia merasa Fajar telah melihat terlalu jauh ke dalam pikirannya.

Namun, alih-alih mengakui kebenaran yang tersirat dalam perkataan itu, Surya memilih membela diri.

“Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Imelda.”

“Mungkin aku tidak tahu semuanya. Tetapi aku tahu kamu mulai sulit membedakan antara meminta kesempatan dan memanfaatkan kedekatan.”

Surya mengambil barang-barangnya.

“Aku tidak membutuhkan ceramahmu.”

Fajar tidak menahannya.

“Aku juga tidak ingin menceramahimu, Surya. Aku hanya tidak ingin suatu hari nanti kamu datang kepadaku dengan penyesalan karena merasa semua ini terjadi begitu saja.”

Surya berhenti sesaat, tetapi tidak berbalik.

“Jaga urusanmu sendiri, Fajar.”

Ia kemudian pergi.

Fajar berdiri seorang diri. Ia merasa sedih, bukan karena pendapatnya ditolak, melainkan karena Surya kini tampak lebih sibuk mempertahankan pembenaran daripada memeriksa apakah peringatannya memang perlu didengarkan.

Persahabatan mereka belum berakhir.

Tetapi untuk pertama kalinya, Fajar merasa tidak lagi mudah menjangkau hati sahabatnya.


Pada malam yang sama, Imelda menerima pesan dari Nadia Permatasari.

Nadia mengajaknya bertemu keesokan harinya. Ada beberapa hal yang ingin mereka bicarakan secara langsung.

Mereka akhirnya bertemu di sebuah tempat yang cukup tenang. Setelah membicarakan kegiatan masing-masing, Nadia mulai menanyakan hubungan Imelda dengan Surya.

“Bagaimana keadaan kalian belakangan ini?”

Imelda tersenyum kecil.

“Masih baik.”

“Benar-benar baik?”

Imelda menatap sahabatnya.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

Nadia tidak langsung menjawab. Ia tidak ingin menciptakan masalah yang tidak memiliki dasar.

“Aku hanya merasa kamu lebih banyak memikirkan sesuatu akhir-akhir ini.”

Imelda terdiam.

Ia sebenarnya telah beberapa kali mengingat kembali percakapannya dengan Surya. Tidak ada kebohongan yang dapat ia tunjuk secara pasti. Tidak ada bukti bahwa Surya sedang mempermainkannya.

Tetapi ada beberapa momen yang terasa berbeda.

Surya sering mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, padahal wajahnya menunjukkan kegelisahan. Ia juga mulai berbicara tentang masa depan dengan cara yang lebih tertutup, seolah ada sesuatu yang ingin dicapai tetapi tidak ingin dibicarakan secara lengkap.

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” kata Imelda akhirnya. “Aku tidak merasa dia melakukan sesuatu yang buruk. Hanya saja, kadang-kadang aku merasa ada bagian dari ceritanya yang tidak benar-benar dia sampaikan.”

Nadia mendengarkan dengan saksama.

“Apakah kamu pernah bertanya kepadanya?”

“Pernah. Dia bilang tidak ada yang disembunyikan.”

“Lalu, bagaimana perasaanmu setelah itu?”

Imelda menunduk.

“Aku ingin percaya. Tetapi aku juga tidak ingin mengabaikan apa yang kurasakan.”

Nadia mengangguk pelan.

“Menurutku, kamu tidak harus langsung mengambil kesimpulan. Perasaan tidak nyaman bukan bukti bahwa seseorang bersalah. Tetapi kamu juga tidak harus memaksa diri untuk merasa tenang kalau memang ada sesuatu yang belum kamu pahami.”

Imelda memandang sahabatnya.

“Aku takut kalau aku terlalu curiga, aku justru merusak hubungan yang sedang kami bangun.”

“Dan aku takut kamu terlalu sibuk menjaga hubungan sampai lupa bahwa dirimu sendiri juga harus merasa aman di dalamnya.”

Kalimat itu membuat Imelda terdiam cukup lama.

Nadia meraih tangan sahabatnya.

“Aku tidak meminta kamu meninggalkan Surya. Aku juga tidak mengatakan dia pasti menyembunyikan sesuatu yang buruk. Aku hanya ingin kamu tetap memperhatikan bagaimana dia bersikap, bukan hanya bagaimana dia berbicara.”

Imelda mengangguk.

Ia merasa lega karena Nadia tidak memaksanya memilih antara percaya dan curiga. Sahabatnya memberinya ruang untuk mengamati keadaan tanpa harus segera memutuskan apa pun.

Mereka kemudian melanjutkan percakapan tentang hal-hal lain.

Namun, ketika pulang, Imelda membawa satu pemikiran yang sulit diabaikan: mungkin kepercayaan tidak berarti berhenti bertanya. Mungkin kepercayaan justru membutuhkan keberanian untuk mengajukan pertanyaan ketika ada sesuatu yang tidak lagi terasa selaras.


Dua hari setelah pertemuan itu, sesuatu terjadi yang membuat kegelisahan Imelda semakin nyata.

Sore itu, Surya menghubunginya dan mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan sebuah urusan mendadak. Ia meminta agar mereka mengubah jadwal pertemuan yang sebelumnya telah disepakati.

Imelda tidak keberatan.

“Baiklah. Semoga urusanmu lancar,” jawabnya.

Surya mengucapkan terima kasih, lalu mengakhiri percakapan.

Tidak lama kemudian, Imelda menerima telepon dari seseorang yang dikenalnya melalui kegiatan sosial. Orang tersebut menanyakan apakah Surya masih berencana menghadiri sebuah pertemuan yang pernah dibicarakan bersama beberapa kenalan.

Imelda terkejut.

“Pertemuan apa?” tanyanya.

Orang itu menjelaskan secara singkat bahwa Surya sebelumnya pernah menyatakan minat untuk hadir dalam sebuah pembicaraan mengenai peluang usaha. Ia hanya ingin memastikan apakah Surya jadi datang, sebab beberapa orang lain telah menyesuaikan waktu.

Imelda mengatakan bahwa ia tidak mengetahui rencana tersebut.

Setelah telepon berakhir, ia memandangi ponselnya.

Ia tidak tahu apakah pertemuan itu berkaitan dengan urusan mendadak yang disampaikan Surya. Ia juga tidak tahu apakah Surya sengaja tidak menceritakannya atau sekadar belum sempat menjelaskan.

Belum ada dasar untuk menuduh.

Namun, ada satu hal yang membuatnya merasa tidak nyaman: Surya baru saja mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan sebuah urusan, tetapi ketika Imelda bertanya dalam pikirannya tentang urusan tersebut, ia menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang dikerjakan laki-laki itu.

Ia mencoba mengingat percakapan mereka beberapa hari terakhir.

Surya pernah menyebut bahwa ia sedang mempertimbangkan sejumlah peluang. Ia juga mengatakan bahwa semuanya belum pasti. Kini, ternyata ada pembicaraan lain yang tidak pernah ia ceritakan secara lengkap.

Mungkin itu hal yang biasa.

Mungkin Surya memang belum merasa perlu membicarakannya.

Tetapi mengapa ia selalu mengetahui persoalan Surya hanya setelah sesuatu terjadi, bukan ketika laki-laki itu sedang memutuskan langkahnya?

Imelda menutup mata sejenak.

Ia tidak ingin membiarkan pikirannya berkembang menjadi prasangka. Ia masih mencintai Surya, dan perasaan itu membuatnya ingin memberi penjelasan yang baik bagi setiap hal yang belum dipahaminya.

Namun, ia juga tidak ingin terus-menerus menjadi orang yang harus menebak-nebak.

Malam itu, ia memutuskan untuk berbicara langsung dengan Surya.


Surya datang menemui Imelda keesokan harinya. Ia mengira pertemuan itu akan berlangsung seperti biasa. Namun, sejak awal, ia merasakan bahwa Imelda memiliki sesuatu yang ingin disampaikan.

“Kamu kelihatan ingin membicarakan sesuatu,” katanya.

Imelda mengangguk.

“Aku ingin bertanya tentang rencana usahamu.”

Surya berusaha tetap tenang.

“Kenapa?”

“Kemarin aku menerima telepon dari seseorang yang menanyakan apakah kamu akan menghadiri sebuah pertemuan mengenai peluang usaha. Aku baru tahu bahwa kamu sedang mempertimbangkan pertemuan itu.”

Surya terdiam sesaat.

Ia tidak menyangka informasi tersebut akan sampai kepada Imelda melalui orang lain.

“Pertemuan itu belum pasti,” jawabnya.

“Aku tidak mempermasalahkan apakah kamu jadi datang atau tidak. Aku hanya ingin tahu mengapa aku baru mendengarnya dari orang lain.”

Surya menatap Imelda.

“Aku belum menganggapnya penting untuk diceritakan.”

Imelda menerima jawaban itu, tetapi tidak segera mengangguk.

“Kalau memang belum penting, aku bisa mengerti. Tetapi belakangan ini, ada beberapa hal tentangmu yang baru kuketahui setelah orang lain membicarakannya.”

Surya merasakan ketegangan mulai menjalar di tubuhnya.

“Jadi, sekarang kamu mulai mencurigai aku?”

Imelda menggeleng.

“Aku sedang berusaha memahami apa yang terjadi. Itu berbeda dengan menuduhmu.”

“Kalau kamu percaya kepadaku, seharusnya kamu tidak mempermasalahkan hal-hal seperti ini.”

Imelda menatapnya lebih dalam.

“Justru karena aku percaya kepadamu, aku ingin bisa bertanya tanpa membuatmu merasa sedang diserang.”

Surya tidak menjawab.

Imelda melanjutkan, kali ini dengan suara yang lebih pelan.

“Aku tidak pernah meminta kamu menceritakan setiap hal yang kamu lakukan. Aku tahu kamu punya urusan sendiri. Aku hanya ingin ketika kamu bercerita kepadaku, aku tidak harus bertanya-tanya apakah masih ada bagian penting yang sengaja kamu tinggalkan.”

Surya merasa seolah-olah perempuan itu telah menyentuh sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.

Ia ingin mengatakan bahwa Imelda tidak memahami tekanan yang sedang dihadapinya. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya hanya berusaha mencari jalan keluar, bahwa ia tidak pernah berniat menyakiti perempuan itu, dan bahwa semua yang dilakukannya belum tentu berakhir buruk.

Namun, ia tidak dapat mengucapkan semuanya tanpa membuka bagian dari pikirannya yang selama ini ia lindungi.

Akhirnya, ia memilih bertahan dengan jawaban yang paling mudah.

“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Imelda. Aku hanya sedang berusaha memperbaiki keadaan.”

Imelda menghela napas.

“Aku berharap kamu benar-benar mengatakan yang sebenarnya.”

Surya segera menyahut.

“Aku mengatakan yang sebenarnya.”

Jawaban itu keluar dengan tegas.

Terlalu tegas.

Imelda terdiam. Ia memperhatikan wajah laki-laki yang dicintainya, mencari sesuatu yang dapat menenangkan kegelisahannya. Ia ingin menemukan keyakinan yang sama seperti ketika mereka pertama kali saling mengenal.

Tetapi kali ini, ia tidak menemukannya dengan mudah.

“Aku ingin percaya kepadamu, Surya,” katanya. “Tetapi aku tidak ingin kepercayaanku membuatku berhenti melihat sesuatu yang mungkin perlu kubicarakan denganmu.”

Surya mengalihkan pandangan.

“Jadi, apa yang harus kulakukan supaya kamu percaya?”

Imelda menatapnya dengan sedih.

“Aku tidak membutuhkan kamu melakukan sesuatu hanya untuk membuatku percaya. Aku membutuhkan kamu jujur, bahkan ketika kejujuran itu tidak membuatmu terlihat sempurna.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka.

Surya tidak segera menjawab. Untuk sesaat, ia merasakan dorongan kuat untuk mengakui bahwa ia memang sedang mencari kesempatan melalui hubungan mereka. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya belum meminta uang, belum membuat janji kerja sama, dan belum melakukan sesuatu yang menurutnya tidak dapat diperbaiki.

Namun, ia takut pengakuan itu akan mengubah seluruh hubungan mereka.

Ia takut Imelda akan melihatnya sebagai laki-laki yang berbeda dari sosok yang selama ini dikenalnya.

Maka, sekali lagi, ia memilih diam tentang kebenaran yang paling penting.

“Aku tidak ingin kita bertengkar hanya karena urusan pekerjaan,” katanya.

Imelda menunduk.

“Aku juga tidak ingin bertengkar.”

“Kalau begitu, jangan terlalu memikirkan hal ini.”

Imelda mengangkat wajahnya.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu terasa menyakitkan baginya. Ia tidak sedang mencari pertengkaran. Ia hanya ingin memahami orang yang selama ini dipercaya.

Namun, Surya telah mengubah pertanyaannya menjadi seolah-olah persoalan itu muncul karena Imelda terlalu banyak berpikir.

“Aku tidak sedang mencari masalah, Surya,” katanya. “Aku sedang berusaha menjaga hubungan kita.”

Surya terdiam.

Imelda melanjutkan, “Aku bisa menerima kalau rencanamu belum berhasil. Aku bisa menerima kalau kamu sedang kesulitan. Aku bahkan bisa menerima kalau kamu belum tahu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Tetapi aku tidak tahu bagaimana harus bersikap kalau aku tidak bisa membedakan mana yang kamu ceritakan dengan jujur dan mana yang kamu pilih agar aku tidak bertanya lagi.”

Surya merasa dadanya sesak.

Ia tahu bahwa Imelda tidak menuntut kekayaan atau keberhasilan. Yang diminta perempuan itu justru sesuatu yang selama ini ia anggap paling mudah diberikan: kejujuran.

Dan justru itulah yang tidak mampu ia berikan sepenuhnya.

“Aku tidak pernah berniat menyakitimu,” katanya akhirnya.

Imelda menatapnya lama.

“Aku ingin mempercayai kalimat itu.”

Tidak ada teriakan setelahnya. Tidak ada keputusan untuk berpisah. Imelda tidak meninggalkan tempat itu dengan kemarahan, dan Surya tidak berusaha menahannya dengan janji-janji besar.

Mereka hanya duduk dalam keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada pertengkaran.

Sebab untuk pertama kalinya, Imelda mulai menyadari bahwa cinta saja tidak selalu mampu menghilangkan keraguan yang tumbuh akibat ketidakjelasan.

Dan Surya mulai menyadari bahwa kebohongan tidak harus terbongkar untuk menimbulkan luka. Terkadang, kebohongan telah melukai hubungan bahkan ketika orang yang dibohongi belum mengetahui seluruh kebenarannya.


Malam itu, Surya kembali duduk seorang diri.

Ia membuka percakapan dengan Imelda dan membaca ulang beberapa pesan terakhir mereka. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada ancaman. Tidak ada tuduhan langsung.

Namun, ia dapat merasakan perubahan yang tidak bisa ia abaikan.

Imelda masih berbicara dengan lembut, tetapi kelembutan itu tidak lagi membuatnya merasa aman seperti sebelumnya. Kini, setiap pertanyaan terasa seperti kesempatan bagi kebenaran untuk muncul.

Surya menyesali percakapan mereka, tetapi bukan sepenuhnya karena ia telah membuat Imelda gelisah. Sebagian dirinya justru menyesal karena ia mulai kehilangan kendali atas apa yang diketahui perempuan itu.

Pikiran tersebut membuatnya takut terhadap dirinya sendiri.

Ia tahu bahwa jika ia berhenti sekarang, ia masih dapat menjelaskan sebagian besar keadaannya. Ia masih dapat mengakui bahwa rencana usahanya belum matang, bahwa ia sedang mencari peluang, dan bahwa ia mulai berharap pada jaringan keluarga Imelda.

Pengakuan itu mungkin akan membuat Imelda kecewa.

Mungkin hubungan mereka akan menjadi lebih sulit.

Tetapi setidaknya, ia tidak perlu terus menyusun cerita untuk mempertahankan gambaran yang telah dibangunnya.

Surya memandangi layar ponselnya.

Ia hampir mengirim pesan untuk meminta bertemu kembali dan menjelaskan semuanya.

Namun, sebelum mengetik, ia teringat bahwa pihak yang menawarkan peluang usaha masih menunggu kepastian. Ia teringat keinginannya untuk mengubah hidup, rasa takutnya kembali gagal, dan kesempatan yang menurutnya terlalu berharga untuk dilepaskan.

Ia kemudian menutup percakapan dengan Imelda.

Bukan karena ia tidak memiliki kesempatan untuk jujur.

Melainkan karena ia belum bersedia menanggung akibat dari kejujuran itu.

Di tempat lain, Imelda juga masih terjaga. Ia membaca pesan terakhir Surya, lalu meletakkan ponselnya di samping tempat tidur.

Ia masih mencintai laki-laki itu.

Ia masih mengingat perhatian-perhatian kecil yang pernah membuatnya merasa istimewa. Ia masih ingin percaya bahwa hubungan mereka dapat tumbuh menjadi sesuatu yang baik.

Tetapi untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa mempertahankan cinta tidak berarti harus membungkam setiap pertanyaan yang muncul di dalam hati.

Ia tidak ingin menjatuhkan hukuman sebelum mengetahui kebenaran.

Ia juga tidak ingin berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Malam itu, dua orang yang masih memiliki perasaan satu sama lain tidur dengan kegelisahan berbeda.

Surya takut kehilangan kepercayaan yang selama ini memberinya ruang untuk bergerak.

Imelda takut kehilangan hubungan yang selama ini diyakininya dibangun di atas ketulusan.

Di antara keduanya, kebohongan yang semula kecil mulai membentuk jarak.

Jarak itu belum cukup besar untuk memisahkan mereka.

Namun, ia telah cukup lebar untuk membuat setiap kata terasa perlu diperiksa kembali.

Dan ketika seseorang mulai menyembunyikan kebenaran demi mempertahankan cinta, ia mungkin tidak segera kehilangan orang yang dicintainya.

Ia hanya sedang menunda saat ketika orang itu akhirnya mengetahui bahwa cinta yang dipertahankannya telah berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi sepenuhnya dapat dipercaya.

 

BAB XI

TERBONGKARNYA SANDIWARA CINTA

Ada kebenaran yang tidak datang melalui pengakuan.

Ia muncul dari percakapan yang tidak sengaja terdengar, dari kalimat yang terucap tanpa pertimbangan, atau dari dua cerita yang selama ini berdiri sendiri, tetapi tiba-tiba menunjukkan bahwa keduanya tidak mungkin sama-sama benar.

Bagi Imelda Yuliana, kebenaran itu datang pada suatu sore yang semula tidak memiliki arti istimewa.

Ia sedang berada di luar rumah ketika Nadia Permatasari menghubunginya. Suara sahabatnya terdengar berbeda dari biasanya. Tidak ada basa-basi panjang, tidak ada cerita ringan tentang kegiatan sehari-hari.

“Mel, kamu sedang di mana?” tanya Nadia.

“Aku sedang dalam perjalanan pulang. Kenapa?”

“Aku perlu bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan langsung.”

Imelda menghentikan langkahnya sejenak.

“Apakah ada masalah?”

“Aku belum ingin menyimpulkan apa-apa. Aku hanya ingin kamu mendengarkan sesuatu dan menilainya sendiri.”

Jawaban itu membuat Imelda terdiam.

Ia mengenal Nadia cukup lama untuk mengetahui bahwa sahabatnya tidak mudah mengucapkan kalimat seperti itu tanpa alasan. Namun, ia juga tidak ingin buru-buru membayangkan sesuatu yang buruk tentang Surya.

“Baiklah. Kita bertemu di tempat biasa.”

Setelah percakapan berakhir, Imelda melanjutkan perjalanan dengan pikiran yang mulai dipenuhi pertanyaan.

Belakangan ini, hubungannya dengan Surya memang tidak lagi terasa setenang sebelumnya. Mereka masih berkomunikasi, masih bertukar kabar, dan masih berusaha meluangkan waktu untuk bertemu. Namun, ada sesuatu yang tertinggal setiap kali mereka berbicara tentang pekerjaan dan masa depan.

Sebuah bagian yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.

Imelda berharap pertemuannya dengan Nadia tidak akan memperburuk keadaan.

Ia belum mengetahui bahwa sore itu akan mengubah cara pandangnya terhadap hubungan yang selama ini ia pertahankan.


Nadia telah menunggu ketika Imelda tiba.

Di atas meja terdapat sebuah ponsel dan beberapa catatan kecil. Nadia tidak langsung menjelaskan maksudnya. Ia mempersilakan Imelda duduk, kemudian memastikan bahwa sahabatnya siap mendengarkan.

“Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak datang untuk menyuruhmu meninggalkan Surya,” katanya.

Imelda menatapnya.

“Lalu, apa yang terjadi?”

Nadia menarik napas.

“Beberapa hari lalu, aku bertemu dengan seorang kenalan yang pernah terlibat dalam pembicaraan mengenai peluang usaha yang sedang dijajaki Surya.”

Imelda mulai memperhatikan dengan lebih serius.

“Kenalanmu mengenal Surya?”

“Dia pernah mendengar nama Surya dalam pembicaraan itu. Aku tidak tahu seluruh persoalannya, tetapi ketika kami berbicara, ada satu hal yang membuatku ingin memastikan sesuatu.”

Nadia menjelaskan bahwa dalam percakapan tersebut, kenalannya menyebut Surya sebagai seseorang yang sedang berusaha mendapatkan dukungan melalui hubungan dengan keluarga seorang perempuan yang berasal dari keluarga berada.

Nadia tidak langsung menyebut nama Imelda. Ia juga tidak ingin menjadikan satu kalimat yang didengarnya sebagai bukti bahwa Surya memang memiliki niat buruk.

Namun, ketika ia menanyakan lebih lanjut, kenalannya menjelaskan bahwa Surya pernah membicarakan kemungkinan memperoleh akses kepada orang-orang yang memiliki pengalaman dan kemampuan finansial untuk mendukung rencana usahanya.

“Dia tidak mengatakan bahwa Surya sudah mendapatkan uang,” kata Nadia. “Dia juga tidak mengatakan bahwa ada kesepakatan yang sudah terjadi. Tetapi cara dia menceritakan hubungan Surya dengan keluarga itu membuatku teringat kepadamu.”

Imelda tidak segera menjawab.

Ia berusaha memahami setiap kata yang baru didengarnya. Selama ini, Surya memang pernah membicarakan peluang usaha, dan ia sendiri tidak pernah melarang laki-laki itu mencari nasihat dari ayahnya.

Yang membuatnya gelisah bukanlah keinginan Surya untuk maju.

Yang membuatnya gelisah adalah kemungkinan bahwa hubungan mereka dipandang dari sudut yang berbeda oleh orang yang selama ini ia cintai.

“Apakah kenalanmu tahu namaku?” tanyanya.

“Tidak ketika pertama kali bercerita. Aku juga tidak menyebut namamu. Aku hanya bertanya apakah dia mengetahui adanya hubungan pribadi antara Surya dan keluarga yang dimaksud.”

“Lalu?”

“Dia mengatakan bahwa yang diketahuinya sebatas pembicaraan mengenai peluang dan jaringan. Dia tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Surya.”

Nadia berhenti sejenak.

“Aku tidak ingin kamu mengambil keputusan hanya berdasarkan cerita orang lain. Karena itu, aku ingin kamu memeriksa semuanya sendiri.”

Imelda menatap permukaan meja.

Ada bagian dari dirinya yang ingin langsung menolak kemungkinan tersebut. Ia ingin mengatakan bahwa Surya tidak mungkin menjalin hubungan dengannya hanya untuk mendapatkan sesuatu dari keluarganya.

Namun, ia teringat percakapan mereka beberapa hari sebelumnya.

Ia teringat bagaimana Surya menegaskan bahwa tidak ada yang disembunyikan, padahal setiap kali ia bertanya tentang rencana usaha, selalu ada bagian yang tidak dijelaskan secara utuh.

Untuk pertama kalinya, berbagai kejadian kecil itu mulai membentuk sebuah pola yang tidak nyaman.

“Terima kasih sudah memberitahuku,” katanya pelan.

Nadia menggenggam tangannya.

“Apa pun yang nanti kamu temukan, jangan merasa harus memutuskan semuanya hari ini. Dengarkan fakta, tanyakan langsung kepadanya, dan beri dirimu waktu untuk memahami.”

Imelda mengangguk.

Ia belum siap menyebut Surya sebagai pembohong.

Tetapi ia juga tidak dapat lagi menganggap kegelisahannya sebagai sesuatu yang tidak berarti.


Pada malam yang sama, Fajar Ramadhan menghadapi persoalan yang selama ini berusaha dihindarinya.

Ia baru saja menyelesaikan urusannya ketika menerima pesan dari seorang kenalan yang pernah membicarakan peluang usaha bersama Surya. Kenalan itu menanyakan apakah Fajar mengetahui perkembangan rencana tersebut.

Fajar menjawab bahwa ia hanya mengetahui Surya sedang mempertimbangkan beberapa peluang.

Percakapan kemudian berlanjut.

Kenalannya menyebut bahwa Surya pernah memberikan kesan bahwa ia memiliki jalan untuk menjangkau seseorang dari keluarga yang mampu memberikan dukungan. Orang tersebut tidak menyatakan bahwa bantuan telah disepakati, tetapi ia merasa Surya berbicara seolah-olah dukungan itu tinggal menunggu waktu.

Fajar membaca pesan tersebut dengan wajah tegang.

Ia tidak terkejut sepenuhnya. Sebelumnya, ia telah memperingatkan Surya agar tidak menjadikan hubungannya dengan Imelda sebagai sarana memperoleh keuntungan. Namun, ia berharap peringatan itu cukup untuk membuat sahabatnya berhenti sebelum melangkah terlalu jauh.

Kini, ia tidak lagi dapat menganggap persoalan tersebut sekadar kekhawatiran.

Fajar menghubungi Surya.

“Besok kita perlu bicara,” katanya ketika panggilan tersambung.

“Kenapa lagi?”

“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan.”

Surya terdengar menghela napas.

“Kalau kamu masih ingin membahas soal Imelda dan usaha, aku tidak punya waktu untuk itu.”

“Justru karena kamu tidak pernah mau membicarakannya dengan jujur, persoalannya semakin rumit.”

“Aku sudah menjelaskan semuanya.”

“Belum, Surya. Kamu hanya menjelaskan bagian yang membuatmu terlihat benar.”

Hening sejenak.

Fajar kemudian melanjutkan dengan suara tegas.

“Aku tidak akan ikut campur dalam hubungan kalian. Tetapi kalau kamu sudah memberikan kesan kepada orang lain bahwa kamu bisa mendapatkan dukungan melalui keluarga Imelda, kamu harus menjelaskan apa yang sebenarnya kamu maksud.”

Surya tidak langsung menjawab.

“Siapa yang mengatakan itu kepadamu?”

Fajar menyadari bahwa pertanyaan tersebut justru memperkuat kekhawatirannya.

“Apakah itu yang paling penting sekarang? Siapa yang bercerita, atau apakah kamu memang sedang menggunakan hubunganmu dengan Imelda untuk membuka jalan?”

“Jangan menuduhku tanpa bukti.”

“Aku sedang bertanya kepadamu.”

“Dan aku tidak berkewajiban menjelaskan setiap urusanku kepadamu.”

Fajar menutup mata sesaat.

Ia masih ingin percaya bahwa Surya akan memilih berkata jujur. Ia tidak ingin mengakhiri persahabatan mereka dengan pertengkaran, tetapi ia juga tidak ingin terus melindungi seseorang yang mulai menggunakan kepercayaan orang lain sebagai alasan untuk membenarkan tindakannya.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kalau kamu merasa tidak melakukan sesuatu yang salah, jelaskan dengan jujur kepada Imelda. Jangan biarkan dia mengetahui semuanya dari orang lain.”

Surya tidak menjawab.

Fajar mengakhiri panggilan dengan perasaan berat.

Ia tahu, setelah percakapan itu, Surya mungkin akan semakin menjauh darinya. Namun, ia tidak dapat terus berpura-pura bahwa diam adalah bentuk kesetiaan.

Terkadang, menjadi sahabat berarti berani mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh orang yang kita sayangi.

Dan terkadang, peringatan terakhir justru datang ketika seseorang sudah terlalu jauh berjalan ke arah yang salah.


Keesokan harinya, Imelda meminta Surya bertemu.

Pesannya singkat.

Surya, aku ingin kita berbicara dengan jujur. Ada beberapa hal yang perlu kutanyakan langsung kepadamu.

Surya membaca pesan itu beberapa kali.

Ia mengetahui bahwa percakapan yang selama ini ditakutinya akhirnya datang juga. Ia tidak tahu apa yang telah didengar Imelda, tetapi ia mulai menduga bahwa sesuatu telah sampai kepadanya melalui orang lain.

Ia membalas bahwa dirinya bersedia bertemu.

Sepanjang hari, Surya berusaha menyusun jawaban. Ia meyakinkan diri bahwa ia belum meminta uang kepada Imelda atau keluarganya. Ia belum menerima bantuan finansial, belum membuat kesepakatan kerja sama, dan belum menggunakan nama Hendra untuk menandatangani perjanjian apa pun.

Dalam pikirannya, semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membela diri.

Ia sengaja tidak memikirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sejak awal ia telah membiarkan Imelda percaya bahwa dirinya mendekati perempuan itu semata-mata karena cinta, sementara ia juga menyimpan harapan untuk memperoleh keuntungan dari hubungan tersebut?

Pertanyaan itu jauh lebih sulit dijawab.

Maka, ketika waktu pertemuan tiba, Surya datang dengan keputusan untuk menyangkal segala sesuatu yang menurutnya belum terbukti.


Imelda telah menunggu di tempat yang mereka sepakati.

Ketika Surya tiba, ia tidak menyambutnya dengan senyum seperti biasanya. Ia tetap mempersilakan Surya duduk, tetapi ada ketegangan yang tidak dapat disembunyikan dari wajahnya.

“Ada apa, Mel?” tanya Surya.

Imelda menatapnya.

“Aku ingin bertanya tentang hubungan kita.”

Surya berusaha mempertahankan ketenangannya.

“Silakan.”

“Apakah sejak awal kamu mendekatiku karena benar-benar ingin mengenalku, atau karena kamu melihat sesuatu yang bisa kamu dapatkan dari keluargaku?”

Pertanyaan itu membuat Surya terdiam.

Untuk sesaat, ia tidak mampu menemukan jawaban yang tepat. Ia tidak menyangka Imelda akan mengajukan pertanyaan tersebut secara langsung.

“Apa maksudmu?”

“Aku mendengar bahwa kamu pernah membicarakan kemungkinan mendapatkan dukungan usaha melalui hubunganmu dengan keluarga seorang perempuan dari keluarga berada.”

Surya menatapnya.

“Siapa yang mengatakan itu?”

Imelda menggeleng perlahan.

“Jangan mulai dengan menanyakan siapa yang bercerita. Aku sedang bertanya kepadamu.”

Surya menarik napas.

“Mel, aku memang sedang berusaha membangun usaha. Aku juga pernah mempertimbangkan untuk berdiskusi dengan ayahmu. Tetapi itu bukan berarti aku mendekatimu hanya untuk mendapatkan uang.”

“Apakah kamu pernah berharap hubungan kita bisa membantumu memperoleh kesempatan dari keluargaku?”

Surya terdiam lagi.

Pertanyaan itu tidak memberinya ruang yang mudah untuk mengelak. Ia memang pernah memikirkan kemungkinan tersebut. Ia telah membayangkan bahwa kedekatannya dengan Imelda dapat membawanya lebih dekat kepada orang-orang yang memiliki pengalaman, jaringan, dan kemampuan finansial.

Namun, ia belum pernah menyampaikan pikiran itu secara terbuka.

“Aku ingin memperbaiki hidupku,” katanya akhirnya. “Aku pikir tidak salah kalau aku berharap bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik.”

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa keinginanmu untuk maju itu salah.”

“Lalu kenapa kamu menanyakannya seolah-olah aku melakukan kejahatan?”

Imelda menarik napas panjang.

“Karena aku ingin tahu apakah kamu melihatku sebagai seseorang yang kamu cintai atau sebagai jalan menuju sesuatu yang kamu inginkan.”

Surya memalingkan wajah.

“Aku mencintaimu.”

Imelda menunggu kelanjutan kalimat itu.

Namun, Surya tidak segera menambahkan apa pun.

“Kalau begitu, mengapa kamu tidak pernah menceritakan kepadaku bahwa kamu mulai memikirkan kemungkinan mendapatkan dukungan melalui keluargaku?” tanya Imelda.

Surya berusaha menjawab.

“Aku belum meminta bantuan apa pun.”

“Aku tahu.”

“Aku juga belum mendapatkan uang dari keluargamu.”

“Aku tidak mengatakan kamu sudah menerima uang.”

“Lalu apa yang sebenarnya kamu tuduhkan kepadaku?”

Imelda menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Aku tidak sedang menghitung uang yang belum kamu terima. Aku sedang mencoba memahami niat yang selama ini tidak pernah kamu ceritakan.”

Surya terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa semua pembelaan yang telah disiapkannya tidak menjawab pertanyaan utama Imelda.

Ia hanya berusaha membuktikan bahwa dirinya belum melakukan sesuatu yang secara kasatmata dapat dianggap sebagai penipuan. Ia tidak menjawab apakah ia telah membangun hubungan mereka dengan menyimpan kepentingan yang sengaja tidak diperlihatkan.

Imelda melanjutkan dengan suara bergetar.

“Aku tidak pernah memintamu menjadi orang kaya, Surya. Aku tidak pernah meminta kamu memiliki usaha besar, rumah mewah, atau kehidupan yang sempurna. Aku hanya ingin seseorang yang bisa kupercaya.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu tahu, mengapa kamu tidak jujur sejak awal?”

Surya menunduk.

Ia ingin mengatakan bahwa perasaannya kepada Imelda tidak sepenuhnya palsu. Ia ingin menjelaskan bahwa ada saat-saat ketika ia benar-benar merasa bahagia bersamanya, ketika ia menikmati percakapan mereka, dan ketika ia tidak sedang memikirkan uang atau peluang apa pun.

Semua itu benar.

Tetapi ada kebenaran lain yang juga tidak dapat disangkal: sejak awal, ia memang tertarik pada kehidupan yang berada di sekitar Imelda. Ketertarikan itu bukan sesuatu yang muncul setelah mereka saling mencintai. Ia telah ada ketika Surya memutuskan bahwa perempuan itu layak didekati.

Dan selama ini, ia membiarkan Imelda mengenal dirinya tanpa mengetahui bagian tersebut.

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” kata Surya.

Imelda mengusap air mata yang mulai jatuh.

“Itulah yang membuatku takut. Kamu selalu punya jawaban ketika aku bertanya tentang hal-hal kecil. Tetapi ketika aku menanyakan sesuatu yang benar-benar penting, kamu selalu mengatakan tidak tahu bagaimana menjelaskannya.”

Surya meraih tangannya.

“Mel, dengarkan aku. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu terluka.”

Imelda tidak langsung menarik tangannya, tetapi ia juga tidak menggenggam tangan Surya seperti biasanya.

“Aku ingin percaya bahwa kamu tidak bermaksud menyakitiku. Tetapi niat baik saja tidak cukup kalau kamu terus menyembunyikan sesuatu.”

Surya merasa kehilangan kata-kata.


Pada saat yang sama, Fajar akhirnya mengambil keputusan untuk tidak lagi membiarkan persoalan itu berputar dalam dugaan.

Ia menghubungi Surya dan meminta izin untuk bertemu dengan Imelda, bukan untuk mempermalukan sahabatnya, melainkan untuk memastikan bahwa perempuan itu tidak terus berada dalam ketidakjelasan.

Surya menolak.

“Jangan libatkan Imelda dalam urusan kita,” katanya.

Fajar menjawab dengan tenang.

“Imelda sudah menjadi bagian dari persoalan ini sejak kamu mulai membawa hubungan kalian ke dalam rencana usahamu.”

“Aku bisa menjelaskan sendiri kepadanya.”

“Kalau begitu, jelaskan semuanya. Jangan hanya bagian yang menurutmu aman untuk diceritakan.”

Surya terdiam.

Fajar melanjutkan, “Aku tidak ingin membuka rahasiamu. Tetapi aku juga tidak akan berbohong jika Imelda bertanya tentang sesuatu yang memang kuketahui.”

Surya merasa marah sekaligus takut.

Ia tidak ingin Fajar berbicara kepada Imelda karena ia tahu sahabatnya dapat menjelaskan bagaimana peringatan-peringatan sebelumnya telah ia abaikan.

“Aku tidak menyangka kamu akan melakukan ini kepadaku,” katanya.

Fajar terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Aku juga tidak pernah menyangka bahwa suatu hari aku harus memilih antara melindungi perasaanmu dan membiarkan orang lain tetap berada dalam ketidaktahuan.”

Panggilan itu berakhir.

Fajar tidak merasa menang. Ia justru merasa sedih karena persahabatan yang telah berlangsung lama kini berdiri di ambang keretakan.

Namun, ia tahu bahwa kesetiaan tidak dapat diukur hanya dari kesediaan seseorang menutupi kesalahan sahabatnya.


Sore itu, Imelda kembali menghubungi Nadia.

Ia menceritakan percakapannya dengan Surya, termasuk bagaimana laki-laki itu terus menegaskan bahwa dirinya belum menerima uang atau bantuan dari keluarga Yuliana.

Nadia mendengarkan tanpa memotong.

“Menurutmu, apakah dia berbohong?” tanya Imelda pada akhirnya.

Nadia tidak langsung menjawab.

“Aku tidak bisa memastikan seluruh isi hatinya. Tetapi dari apa yang kamu ceritakan, ada satu hal yang jelas: dia belum menjawab pertanyaan yang paling penting bagimu.”

Imelda menunduk.

“Aku ingin dia berkata jujur, meskipun kejujuran itu menyakitkan.”

“Dan kamu berhak meminta kejujuran itu.”

“Tetapi bagaimana jika sebagian dari perasaannya memang tulus?”

Nadia memandang sahabatnya dengan lembut.

“Perasaan seseorang bisa rumit, Mel. Mungkin dia punya perasaan kepadamu sekaligus memiliki kepentingan lain. Tetapi keberadaan perasaan tidak otomatis menghapus dampak dari kebohongan.”

Imelda merasakan air matanya kembali mengalir.

Ia tidak ingin menerima kenyataan itu. Ia ingin dunia memiliki jawaban yang lebih sederhana: seseorang mencintai atau tidak mencintai, seseorang jujur atau berbohong.

Namun, kenyataan yang sedang dihadapinya jauh lebih menyakitkan.

Bisa jadi Surya memang memiliki perasaan kepadanya.

Bisa jadi ada momen ketika laki-laki itu benar-benar bahagia bersamanya.

Tetapi jika perasaan tersebut tumbuh berdampingan dengan kepentingan yang disembunyikan, Imelda harus menghadapi pertanyaan yang jauh lebih berat daripada sekadar apakah dirinya dicintai.

Ia harus bertanya apakah cinta itu cukup jujur untuk dipercaya.


Malam itu, Surya tidak dapat tidur.

Percakapannya dengan Imelda terus terulang dalam pikirannya. Ia mengingat tatapan perempuan itu ketika bertanya tentang motifnya, cara suaranya bergetar, dan tangannya yang tidak lagi membalas genggamannya.

Ia ingin menghubungi Imelda, meminta maaf, dan meyakinkannya bahwa hubungan mereka masih berarti.

Namun, ia tidak tahu bagaimana meminta maaf tanpa mengakui sesuatu yang selama ini ia hindari.

Jika ia mengatakan bahwa sejak awal dirinya juga tertarik pada keadaan ekonomi keluarga Yuliana, Imelda mungkin akan mempertanyakan seluruh perjalanan mereka. Pertemuan pertama, perhatian-perhatian kecil, janji di KP3, dan makan malam bersama keluarga dapat berubah makna di mata perempuan itu.

Surya takut kehilangan semua kenangan tersebut.

Ia juga takut kehilangan kesempatan yang selama ini dikejarnya.

Di situlah ia akhirnya berhadapan dengan kenyataan yang paling tidak ingin diterimanya: ia ingin mempertahankan kepercayaan Imelda tanpa membuka seluruh alasan yang membuatnya mendekati perempuan itu.

Ia ingin dimaafkan tanpa harus menghadapi sepenuhnya apa yang telah ia sembunyikan.

Surya duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya yang tidak kunjung berbunyi.

Ia mulai menyusun pesan panjang untuk Imelda. Dalam pesan itu, ia menulis bahwa dirinya mencintai Imelda, bahwa ia sedang berusaha memperbaiki kehidupan, dan bahwa ia tidak pernah berniat memanfaatkan siapa pun.

Ia membaca kembali kalimat-kalimat tersebut.

Semuanya terdengar meyakinkan.

Namun, ia menyadari bahwa pesan itu masih berisi pembelaan. Ia lebih banyak menjelaskan alasan dirinya bertindak daripada mengakui dampak tindakannya terhadap Imelda.

Surya menghapus pesan tersebut.

Ia mencoba menulis lagi.

Kali ini, ia hanya mengetik:

Mel, aku ingin kita bicara lagi. Ada hal-hal yang seharusnya sejak awal kujelaskan kepadamu.

Ia menatap kalimat itu cukup lama.

Kemudian, ia mengirimkannya.

Di tempat lain, Imelda menerima pesan tersebut ketika sedang duduk seorang diri. Ia membaca kalimat itu berulang kali, berusaha memahami apa yang mungkin akan dikatakan Surya jika mereka bertemu lagi.

Ia tidak segera membalas.

Bukan karena ingin menghukum Surya dengan diam, melainkan karena ia membutuhkan waktu untuk mengumpulkan keberanian menghadapi jawaban yang mungkin akan mengubah hidupnya.

Ia masih mencintai laki-laki itu.

Perasaan tersebut belum hilang hanya karena sebuah kecurigaan mulai menemukan dasar.

Tetapi cinta yang masih tersisa tidak dapat lagi membuatnya menutup mata.

Imelda akhirnya meletakkan ponselnya dan memandang keluar jendela.

Malam Kuala Kapuas terasa sunyi. Tidak ada yang berubah pada jalan-jalan yang biasa mereka lewati, tidak ada yang berubah pada tempat-tempat yang menyimpan kenangan mereka.

Namun, di dalam hati Imelda, sesuatu telah runtuh.

Bukan seluruh cintanya.

Melainkan keyakinannya bahwa ia telah mengenal Surya sepenuhnya.

Ia mulai memahami bahwa orang yang paling dekat dengan kita pun dapat menyimpan bagian dirinya yang tidak pernah kita kenal. Dan terkadang, yang paling menyakitkan bukanlah kenyataan bahwa seseorang memiliki kekurangan, melainkan kenyataan bahwa ia membiarkan kita mencintai gambaran dirinya yang tidak utuh.

Sementara itu, Surya menunggu jawaban yang belum datang.

Ia masih berharap dapat menyelamatkan hubungan mereka. Ia masih ingin percaya bahwa kata-kata yang tepat dapat memperbaiki keadaan.

Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa persoalan mereka tidak lagi dapat diselesaikan hanya dengan senyuman, perhatian, atau janji baru.

Sandiwara yang selama ini ia bangun mulai terbuka.

Dan di balik semua alasan yang masih ingin ia pertahankan, ada satu kenyataan yang semakin sulit disangkal: Imelda tidak pernah meminta kekayaan darinya.

Perempuan itu hanya meminta kejujuran.

Tetapi justru kejujuran itulah yang paling lama ia tunda.

 

BAB XII

AKU MASIH MENCINTAIMU

Malam itu, Imelda Yuliana duduk sendirian di tepi tempat tidurnya. Lampu kamar menyala redup, sementara layar ponsel di tangannya sesekali memancarkan cahaya. Sejak percakapannya dengan Surya berakhir tanpa jawaban yang benar-benar memuaskan, pikirannya seperti berjalan tanpa arah.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan. Namun, setiap kali mencoba menyusun pertanyaan, ia kembali dihadapkan pada satu kenyataan yang sulit diterima: laki-laki yang selama ini ia percayai ternyata menyimpan bagian dari dirinya yang tidak pernah ia ketahui.

Imelda membuka galeri foto di ponselnya.

Di sana ada beberapa foto bersama Surya. Tidak banyak, tetapi cukup untuk mengembalikan berbagai kenangan yang pernah membuatnya tersenyum. Ada foto ketika mereka menikmati waktu bersama di sekitar Kota Air, ada gambar sederhana yang diambil tanpa persiapan, dan ada pula foto yang mengingatkannya pada sore ketika Surya pernah bercerita tentang impian-impian yang ingin ia wujudkan.

Imelda berhenti pada sebuah foto yang memperlihatkan mereka berdiri berdekatan. Wajah Surya tampak tenang. Senyumnya terlihat begitu alami sehingga sulit bagi Imelda untuk percaya bahwa laki-laki itu mungkin telah menyimpan perhitungan sejak awal perkenalan mereka.

Ia memperbesar foto itu, lalu mengembalikannya ke ukuran semula.

“Apakah semuanya hanya sandiwara?” bisiknya.

Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban dari siapa pun. Namun, justru karena tidak ada jawaban, pertanyaan tersebut terus berputar di dalam kepalanya.

Imelda tidak pernah meminta Surya menjadi laki-laki kaya. Ia juga tidak pernah menuntut agar Surya memiliki usaha besar, kendaraan mewah, atau kedudukan yang dapat dibanggakan di hadapan orang lain.

Yang ia inginkan sederhana. Seorang laki-laki yang mau berjalan bersamanya, berbicara jujur ketika menghadapi kesulitan, dan tidak menjadikan perasaan sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu.

Jika Surya sejak awal mengatakan bahwa dirinya sedang berusaha mencari peluang usaha dan berharap dapat memperoleh nasihat dari ayahnya, Imelda mungkin tidak akan mempermasalahkannya. Ayahnya mengenal dunia usaha. Memberikan saran kepada seseorang yang ingin berkembang bukanlah hal yang aneh.

Namun, Surya tidak memilih jalan itu.

Ia memilih menyimpan maksudnya sendiri, membiarkan Imelda percaya bahwa hubungan mereka tumbuh tanpa kepentingan lain. Ketika kesempatan untuk mendekati keluarga Yuliana muncul, Surya tidak segera menghentikan langkahnya. Ia justru membiarkan hubungan itu semakin dekat.

Di situlah luka Imelda bermula.

Bukan semata-mata karena Surya memiliki keinginan untuk memperbaiki kehidupannya, melainkan karena ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengetahui kebenaran secara utuh.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Surya muncul di layar.

Mel, aku tahu kamu kecewa. Aku tidak akan memaksamu untuk langsung percaya lagi. Aku hanya ingin kamu memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya dengan jujur. Kalau kamu bersedia, aku ingin bertemu dan bicara baik-baik.

Imelda membaca pesan itu berulang kali.

Jarinya bergerak hendak membalas, tetapi kemudian berhenti. Ia ingin menanyakan mengapa Surya baru meminta kesempatan untuk jujur setelah kebohongannya mulai diketahui. Ia juga ingin mengatakan bahwa dirinya lelah menjadi orang yang harus terus mencari jawaban dari hal-hal yang seharusnya dapat disampaikan dengan terbuka.

Namun, di balik semua kemarahan itu, ada sesuatu yang belum hilang.

Ia masih ingin mendengar suara Surya. Masih ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati laki-laki itu. Bahkan, sebagian kecil dari dirinya masih berharap bahwa penjelasan Surya akan membuat semua yang kini terasa rumit menjadi sedikit lebih mudah dipahami.

Harapan itulah yang membuatnya takut.

Sebab, jika ia masih mencintai Surya, apakah ia akan kembali memaafkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh diabaikan?

Imelda meletakkan ponsel di atas meja. Ia tidak membalas malam itu.

Ia membutuhkan waktu untuk membedakan antara kerinduan dan kepercayaan, dua hal yang selama ini tumbuh berdampingan, tetapi kini terasa sangat berbeda.


Keesokan harinya, Nadia Permatasari datang menemui Imelda.

Nadia tidak langsung menanyakan perkembangan hubungannya dengan Surya. Ia mengenal sahabatnya itu cukup baik untuk memahami bahwa tidak semua luka perlu dibicarakan begitu seseorang baru saja mengalaminya.

Mereka duduk di ruang keluarga. Ratna Yuliana sempat menyapa dari arah dapur, kemudian membiarkan keduanya berbicara dengan tenang.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Nadia akhirnya.

Imelda tersenyum tipis. “Menurutmu, bagaimana keadaan seseorang yang masih mencintai orang yang membuatnya kecewa?”

Nadia tidak segera menjawab.

“Mungkin dia sedang berusaha memahami dua hal yang bertentangan,” katanya kemudian. “Hatinya masih ingin bertahan, tetapi pikirannya mulai mempertanyakan apakah hubungan itu masih aman untuknya.”

Imelda menunduk.

“Itulah yang kurasakan. Aku marah kepadanya, Nadia. Aku kecewa. Tetapi ketika mengingat semuanya, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku sudah tidak mencintainya.”

“Perasaan tidak selalu hilang ketika kita mengetahui kesalahan seseorang.”

“Lalu, apa artinya kalau aku masih mencintainya?”

“Artinya kamu masih memiliki perasaan. Bukan berarti kamu harus menerima semua yang telah dia lakukan.”

Imelda memandang sahabatnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti sesuatu yang selama ini tidak berani ia ucapkan kepada dirinya sendiri.

“Aku terus mengingat saat-saat ketika dia memperhatikanku,” ujar Imelda. “Ketika aku lelah, dia bertanya apakah aku sudah makan. Ketika aku bercerita tentang masalahku, dia mendengarkan. Ketika kami berbicara tentang masa depan, dia tampak sungguh-sungguh. Aku tidak tahu harus memandang semua itu sebagai apa sekarang.”

“Jangan buru-buru menganggap setiap kenangan baik sebagai kebohongan,” jawab Nadia. “Kita tidak tahu persis apa yang dia rasakan pada setiap saat itu. Bisa saja ada perhatian yang memang tulus. Bisa saja ada bagian dari dirinya yang benar-benar menyayangimu. Tetapi itu tidak menghapus kenyataan bahwa dia juga menyembunyikan maksud yang penting dari hubungan kalian.”

Imelda menarik napas perlahan.

“Kalau begitu, bagaimana aku bisa mengetahui mana yang benar?”

“Kamu mungkin tidak akan mendapatkan jawaban untuk setiap kenangan. Yang bisa kamu nilai sekarang adalah bagaimana dia menghadapi kebenaran setelah semuanya terbuka. Apakah dia berani mengakui kesalahannya tanpa mencari pembenaran? Apakah dia menghormati perasaanmu ketika kamu membutuhkan waktu? Dan apakah tindakannya nanti sesuai dengan perkataannya?”

Imelda terdiam cukup lama.

Selama ini ia terbiasa menilai Surya dari hal-hal yang terlihat. Perhatian kecil, kata-kata yang menenangkan, dan kesediaannya menemani dalam berbagai kesempatan. Ia mengira semua itu sudah cukup untuk mengenal seseorang.

Kini ia menyadari bahwa mengenal seseorang juga berarti melihat bagaimana orang itu bertindak ketika kejujuran menuntutnya membayar harga.

“Aku takut kalau aku memberinya kesempatan, aku akan terluka lagi,” katanya.

Nadia mengangguk.

“Ketakutan itu wajar. Tetapi keputusanmu tidak harus dibuat hari ini. Kamu tidak wajib langsung memaafkannya, dan kamu juga tidak harus langsung mengakhiri semuanya hanya karena orang lain menganggap itulah keputusan paling tepat.”

“Bagaimana jika aku terlalu lama bertahan karena masih mencintainya?”

“Kalau suatu hari kamu memutuskan bertahan, pastikan itu bukan karena kamu takut kehilangan. Dan kalau kamu memilih pergi, pastikan itu bukan semata-mata karena ingin membalas rasa sakitmu. Apa pun keputusanmu, kamu harus bisa menerimanya tanpa mengkhianati dirimu sendiri.”

Imelda memalingkan wajah ke jendela.

Di luar, hari berjalan seperti biasa. Orang-orang menjalani kesibukan masing-masing, seolah tidak ada yang berubah di dalam dirinya. Namun, bagi Imelda, sesuatu telah bergeser. Ia tidak lagi dapat memandang hubungan itu dengan keyakinan yang sama.

Bukan berarti cintanya telah habis.

Ia hanya mulai memahami bahwa cinta pun membutuhkan batas agar seseorang tidak kehilangan dirinya sendiri.


Pada sore harinya, Surya duduk sendirian di sebuah warung sederhana. Secangkir kopi berada di hadapannya, tetapi sejak tadi hampir tidak tersentuh.

Ia telah mengirim pesan kepada Imelda dan belum menerima jawaban. Beberapa kali ia membuka percakapan mereka, membaca pesan terakhir yang dikirimkannya, lalu menutupnya kembali.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, ia tidak yakin apakah kata-kata yang biasanya mudah ia susun masih dapat membantunya.

Ia tahu dirinya telah melakukan kesalahan. Namun, mengakui kesalahan di dalam hati ternyata jauh lebih mudah daripada menyampaikannya kepada orang yang telah ia lukai.

Fajar Ramadhan datang dan duduk di hadapannya.

“Sudah bicara dengan Imelda?” tanyanya.

“Belum. Aku mengirim pesan, tetapi dia belum membalas.”

Fajar memperhatikan wajah temannya itu.

“Apa yang akan kamu katakan kalau dia bersedia bertemu?”

Surya mengusap wajahnya. “Aku akan menjelaskan semuanya.”

“Benar-benar semuanya?”

Surya terdiam.

Fajar tidak perlu menambahkan banyak kata untuk membuatnya memahami maksud pertanyaan itu.

“Aku tahu aku salah,” ujar Surya akhirnya.

“Kesalahan yang mana?”

Surya menatapnya dengan tidak nyaman.

“Jangan membuatku mengulang semuanya, Jar.”

“Aku bukan ingin menyudutkanmu. Aku hanya ingin kamu berhenti menyebut kesalahanmu secara umum. Kamu mendekati Imelda ketika kamu tahu keluarganya memiliki kedudukan dan kemampuan ekonomi yang baik. Kamu membiarkan kedekatan itu tumbuh sambil memikirkan kemungkinan mendapatkan peluang dari ayahnya. Ketika dia mulai bertanya, kamu tidak menjelaskan semuanya secara terbuka.”

Surya menunduk.

“Begitulah kenyataannya.”

“Kalau kamu mengakuinya, jangan kemudian menjadikan perasaanmu sebagai alasan untuk membenarkan tindakanmu.”

Surya mengangkat kepala.

“Aku memang awalnya melihat kesempatan itu. Aku tidak akan menyangkalnya lagi. Tetapi setelah mengenal Imelda lebih dekat, semuanya tidak sesederhana yang kubayangkan.”

“Apa maksudmu?”

“Aku mulai menyayanginya. Aku menikmati waktu bersamanya. Aku senang ketika dia bercerita kepadaku. Aku merasa tenang ketika berada di dekatnya. Semua itu bukan sesuatu yang bisa kuatur sesuka hati.”

Fajar mendengarkan tanpa menyela.

“Lalu, kenapa kamu tidak berhenti ketika menyadari bahwa hubungan itu mulai berarti bagimu?” tanyanya.

Surya tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu justru membawa pikirannya kembali kepada berbagai kesempatan ketika ia sebenarnya bisa memilih jalan yang berbeda. Ia bisa menjelaskan rencana usahanya secara terbuka. Ia bisa mengatakan kepada Imelda bahwa dirinya berharap memperoleh nasihat dari Hendra. Ia juga bisa menerima kemungkinan bahwa Imelda tidak akan menyukai ambisi dan caranya memandang hubungan mereka.

Namun, ia tidak melakukan semua itu.

Ia ingin mendapatkan keduanya: cinta Imelda dan peluang yang mungkin terbuka melalui keluarganya.

“Aku takut kehilangan kesempatan,” jawab Surya pelan. “Dan aku takut kehilangan Imelda.”

Fajar menghela napas.

“Jadi, kamu mempertahankan kebohongan karena takut kehilangan sesuatu yang kamu inginkan.”

Surya tidak membantah.

“Aku tidak pernah meminta uang kepada ayahnya,” katanya setelah beberapa saat. “Aku juga belum menerima bantuan apa pun dari keluarganya.”

“Aku tahu. Dan aku tidak mengatakan bahwa kamu sudah menerima uang atau melakukan transaksi apa pun. Tetapi persoalannya bukan hanya uang. Kamu membiarkan Imelda mempercayai hubungan kalian sebagai sesuatu yang tumbuh dengan jujur, sementara kamu menyimpan kepentingan yang tidak pernah kamu jelaskan.”

Surya memandang kopi di hadapannya.

Ia ingin mengatakan bahwa hidup telah mengajarinya untuk selalu mencari kesempatan. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya tidak dilahirkan dengan kemudahan yang sama seperti Imelda. Ia juga ingin mengakui betapa sulitnya melihat orang lain bergerak maju sementara dirinya masih berjuang menentukan arah.

Semua itu benar menurut pengalamannya.

Namun, ia mulai memahami bahwa keadaan sulit tidak otomatis memberinya hak untuk menggunakan perasaan orang lain demi mempercepat langkahnya.

“Aku tidak tahu apakah dia masih mau mendengarkanku,” katanya.

“Itu haknya untuk menentukan.”

“Kalau dia pergi, aku akan kehilangan dia.”

“Dan kalau dia bertahan, kamu tidak bisa menganggap semuanya kembali seperti semula. Kepercayaan yang rusak tidak pulih hanya karena kamu berhasil menjelaskan alasanmu.”

Surya mengusap kedua tangannya.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Berhenti mencoba mengendalikan hasilnya. Katakan yang sebenarnya. Setelah itu, biarkan Imelda menentukan apa yang terbaik baginya.”

Fajar tidak mengatakan bahwa Surya harus menyerah. Ia juga tidak menjanjikan bahwa kejujuran akan menyelamatkan hubungan tersebut.

Ia hanya mengingatkan bahwa ada akibat yang harus diterima ketika seseorang terlalu lama menyembunyikan kebenaran.

Surya terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa penyesalan tidak selalu berakhir dengan kesempatan kedua.


Malam itu, Imelda akhirnya membalas pesan Surya.

Besok kita bertemu. Aku ingin mendengar penjelasanmu. Tolong, kali ini jangan ada yang kamu sembunyikan.

Surya membaca pesan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada kelegaan karena Imelda bersedia bertemu, tetapi juga kecemasan karena ia tahu bahwa pertemuan tersebut mungkin menjadi kesempatan terakhir baginya untuk berbicara tanpa kepura-puraan.

Ia membalas singkat.

Baik, Mel. Aku akan menjawab pertanyaanmu sejujur mungkin.

Setelah mengirim pesan itu, Surya meletakkan ponselnya.

Ia sadar bahwa dirinya tidak dapat lagi mengandalkan senyum, perhatian, atau kalimat-kalimat yang selama ini membuat Imelda merasa aman. Kali ini, ia harus berhadapan dengan sesuatu yang selama ini berusaha dihindarinya: kenyataan tentang dirinya sendiri.


Keesokan harinya, mereka bertemu di sebuah tempat yang cukup tenang di Kuala Kapuas.

Imelda datang lebih dahulu. Ia memilih tempat duduk yang menghadap ke arah luar, membiarkan pandangannya sesekali mengikuti orang-orang yang berlalu-lalang.

Ketika Surya datang, ia melihat laki-laki itu berjalan dengan langkah yang tidak setegas biasanya. Senyumnya muncul sekilas, tetapi segera menghilang ketika ia melihat wajah Imelda.

“Terima kasih sudah mau bertemu,” kata Surya.

Imelda mengangguk. “Aku datang karena masih ada hal yang perlu kudengar langsung darimu.”

Surya duduk di hadapannya.

Untuk beberapa saat, keduanya tidak berbicara. Ada jarak yang terasa aneh di antara mereka. Mereka pernah duduk berdekatan tanpa kehabisan bahan percakapan, tetapi sekarang setiap kata seolah harus melewati pertimbangan panjang sebelum diucapkan.

Imelda akhirnya membuka percakapan.

“Aku ingin bertanya sekali lagi. Sejak awal kamu mendekatiku, apakah kamu memang sudah memikirkan keluargaku sebagai jalan untuk mendapatkan peluang usaha?”

Surya menatapnya.

Ia sempat ingin menjawab dengan kalimat yang lebih halus. Ia ingin mengatakan bahwa pertemuan mereka terjadi secara alami, bahwa dirinya memang tertarik kepada Imelda, dan bahwa semua yang tumbuh di antara mereka tidak dapat disederhanakan menjadi kepentingan.

Namun, ia tahu jawaban semacam itu hanya akan mengulangi kesalahan yang sama.

“Ya,” jawabnya akhirnya. “Aku memang memikirkan hal itu.”

Imelda menahan napas.

Meskipun telah menduga jawabannya, mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan.

“Sejak awal?”

“Ketika aku mengetahui siapa keluargamu, aku tahu bahwa kamu berasal dari keluarga yang memiliki kemampuan dan jaringan usaha. Aku mulai melihat kemungkinan bahwa kedekatan denganmu bisa membawaku mengenal orang-orang yang mungkin dapat membuka peluang untukku.”

Imelda memandangnya tanpa berkedip.

“Jadi, ketika kamu mendekatiku, kamu sudah memikirkan kemungkinan itu?”

“Ya.”

“Lalu, kapan kamu mulai benar-benar mencintaiku?”

Pertanyaan tersebut membuat Surya terdiam lebih lama.

Ia tidak memiliki tanggal yang pasti. Tidak ada satu peristiwa yang dapat ia tunjuk sebagai saat ketika perasaannya berubah dari ketertarikan yang penuh perhitungan menjadi sesuatu yang lebih dalam.

“Aku tidak tahu kapan tepatnya,” jawabnya. “Awalnya aku memang memiliki maksud lain. Tetapi setelah kita semakin dekat, aku mulai menikmati kebersamaan kita. Aku mulai memikirkanmu bukan hanya ketika memikirkan peluang usaha. Aku peduli ketika kamu sedang lelah. Aku senang mendengar ceritamu. Ada saat-saat ketika aku benar-benar ingin berada di dekatmu, tanpa memikirkan apa yang bisa kudapatkan.”

Imelda menunduk sebentar.

Sebagian dari dirinya ingin mempercayai kalimat itu. Ia mengenali beberapa hal yang disebutkan Surya, sebab ia pun merasakan kedekatan yang sama selama hubungan mereka berlangsung.

Namun, ada pertanyaan lain yang tidak bisa ia abaikan.

“Kalau perasaanmu benar-benar tumbuh, mengapa kamu tidak pernah mengatakan kepadaku tentang maksudmu yang sebenarnya?”

Surya mengatupkan bibirnya.

“Karena aku takut kamu akan menjauh.”

“Jadi, kamu tahu bahwa aku mungkin tidak akan menerima caramu, tetapi kamu tetap memilih menyembunyikannya?”

“Ya.”

“Apakah kamu menganggap aku tidak cukup mampu memahami keadaanmu sehingga kamu harus menentukan sendiri apa yang boleh kuketahui?”

“Bukan begitu, Mel.”

“Lalu bagaimana?”

Surya menghela napas panjang.

“Aku ingin kamu tetap melihatku sebagai laki-laki yang bisa kamu percaya. Aku tidak ingin kamu menganggapku sedang memanfaatkan hubungan kita. Aku pikir aku bisa mencari peluang usahaku sendiri tanpa harus menjelaskan semua yang ada di pikiranku.”

Imelda menggeleng perlahan.

“Itulah yang membuatku terluka, Surya. Kamu ingin aku percaya kepadamu, tetapi kamu sendiri memilih bagian mana dari dirimu yang boleh kukenal. Kamu ingin aku menerima kesulitanmu, tetapi kamu tidak memberiku kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang kamu kejar.”

Surya tidak menjawab.

“Aku tidak pernah melarangmu mencari peluang usaha,” lanjut Imelda. “Aku tidak pernah mengatakan bahwa kamu harus memiliki kekayaan yang sama dengan keluargaku. Kalau kamu ingin meminta nasihat kepada Ayah, aku tidak akan menganggap itu sesuatu yang memalukan. Tetapi kamu harus jujur. Kamu tidak bisa membiarkan aku percaya bahwa hubungan kita sepenuhnya tentang cinta ketika sejak awal kamu juga melihatnya sebagai kesempatan.”

“Aku tahu aku salah.”

“Sekarang kamu tahu. Tetapi dulu, ketika kamu masih bisa memilih untuk jujur, kamu tidak melakukannya.”

Kalimat itu membuat Surya menundukkan kepala.

Ia ingin memohon agar Imelda memahami keadaannya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berniat membuat perempuan itu menderita. Akan tetapi, ia mulai menyadari bahwa niat untuk tidak menyakiti seseorang tidak cukup jika tindakan yang dipilih justru membuka jalan menuju luka.

“Aku tidak bisa mengubah bagaimana semuanya dimulai,” katanya. “Aku juga tidak bisa meminta kamu menganggap kesalahanku sebagai sesuatu yang kecil. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa perasaanku kepadamu bukan sepenuhnya kebohongan.”

Imelda memandang laki-laki itu lama sekali.

“Masalahnya, aku tidak tahu lagi bagaimana membedakan bagian yang tulus dari bagian yang kamu rencanakan.”

Surya merasakan dadanya sesak.

“Aku berharap suatu hari kamu bisa melihatnya.”

“Dan aku berharap sejak awal kamu memberiku kesempatan untuk melihatnya dengan jujur.”

Tidak ada jawaban yang dapat mempertemukan kedua harapan itu.

Mereka duduk berhadapan, membawa kenyataan yang sama tetapi merasakannya dengan cara yang berbeda. Surya mulai memahami apa yang mungkin hilang darinya. Imelda sedang berusaha menerima bahwa seseorang dapat memiliki perasaan kepadanya sekaligus melakukan sesuatu yang melukai kepercayaannya.

Keduanya tidak sedang membicarakan uang yang berpindah tangan. Tidak ada bantuan keuangan dari keluarga Yuliana yang telah diterima Surya, dan tidak ada kesepakatan usaha yang berhasil mereka bangun bersama. Yang kini mereka hadapi adalah sesuatu yang lebih mendasar: niat yang disembunyikan, harapan yang dibiarkan tumbuh di atas pemahaman yang tidak utuh, dan kepercayaan yang telah kehilangan pijakannya.

“Apa yang kamu inginkan sekarang?” tanya Imelda.

Surya menatapnya.

“Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin kamu memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa berubah.”

Imelda menarik napas perlahan.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya.”

“Aku tidak akan memaksamu.”

“Jangan hanya mengatakan itu karena kamu takut kehilangan aku. Kalau kamu sungguh-sungguh ingin berubah, lakukan karena kamu tahu apa yang salah dalam dirimu, bukan semata-mata agar aku kembali.”

Surya terdiam. Kali ini, ia tidak mencoba membantah.

Imelda berdiri setelah beberapa saat. Surya ikut berdiri, tetapi tidak berusaha menahan tangannya.

“Mel,” panggilnya sebelum perempuan itu beranjak.

Imelda berhenti.

“Aku masih mencintaimu,” kata Surya. “Aku tahu kata-kata itu mungkin tidak cukup berarti sekarang. Tetapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak ingin kehilanganmu.”

Imelda memejamkan mata sejenak.

Kalimat itu menyentuh bagian dirinya yang masih menyimpan kasih sayang. Ia ingin memeluk Surya seperti dahulu, ketika ia percaya bahwa laki-laki itu adalah tempat yang aman untuk berbagi cerita. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, ia tidak sanggup mengucapkan janji yang belum tentu dapat ia tepati.

“Aku juga masih mencintaimu, Surya,” jawabnya pelan.

Surya menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Tetapi aku sedang berusaha memahami apakah aku masih bisa mempercayaimu,” lanjut Imelda. “Dan aku belum menemukan jawabannya.”

Ia kemudian melangkah pergi.

Surya tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak mengejar, tidak pula memanggil Imelda untuk kedua kalinya. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan perempuan itu pergi tanpa berusaha mengatur bagaimana pertemuan mereka harus berakhir.

Imelda berjalan menjauh dengan langkah yang terasa berat.

Air matanya akhirnya jatuh ketika ia telah cukup jauh dari tempat mereka berbicara. Ia menyekanya dengan punggung tangan, tetapi air mata lain segera menyusul.

Ia tidak menangis karena baru mengetahui bahwa Surya memiliki ambisi. Ia menangis karena masih menyayangi seseorang yang kini membuatnya meragukan kenangannya sendiri.

Cinta itu belum mati.

Namun, untuk pertama kalinya, Imelda tidak lagi tahu apakah cinta tersebut masih dapat menjadi alasan untuk bertahan.


Malam harinya, Imelda berbicara dengan Ratna di ruang keluarga.

Ratna tidak langsung bertanya tentang isi percakapan Imelda dan Surya. Ia hanya duduk di samping putrinya, menunggu sampai Imelda sendiri membuka pembicaraan.

“Aku sudah mendengar penjelasannya, Bu,” kata Imelda.

“Bagaimana perasaanmu setelah mendengarnya?”

Imelda tersenyum getir.

“Aku merasa lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi, tetapi tidak merasa lebih tenang.”

Ratna mengangguk pelan.

“Kadang-kadang, mengetahui kebenaran tidak langsung membuat hati kita merasa lega.”

“Dia mengakui bahwa sejak awal dia melihat keluargaku sebagai kesempatan. Katanya, perasaannya kemudian tumbuh dengan sungguh-sungguh. Aku ingin percaya bahwa itu mungkin terjadi, Bu. Tetapi aku tidak tahu apakah aku sedang mempercayai kenyataan atau hanya berharap bahwa semua yang pernah kurasakan bersamanya memang tulus.”

Ratna menggenggam tangan putrinya.

“Kamu tidak harus memutuskan hari ini.”

“Tapi aku takut, Bu. Kalau aku bertahan, aku takut mengabaikan kesalahannya. Kalau aku pergi, aku takut suatu hari menyesal karena ternyata masih ada sesuatu yang baik di antara kami.”

“Tidak ada keputusan yang bisa menjamin kamu tidak akan merasakan penyesalan sama sekali. Yang terpenting adalah kamu tidak membuat keputusan hanya karena takut kehilangan seseorang.”

Imelda menatap ibunya.

“Apakah Ibu pernah berada dalam keadaan seperti ini?”

Ratna tersenyum tipis.

“Setiap hubungan memiliki ujian yang berbeda. Ibu tidak akan mengatakan bahwa Ibu tahu persis apa yang kamu rasakan. Tetapi Ibu tahu satu hal: kamu tidak bisa membangun masa depan hanya dengan mengandalkan kenangan baik. Kamu juga harus melihat bagaimana seseorang memperlakukanmu ketika keadaan menjadi sulit.”

Imelda kembali menunduk.

“Aku masih mencintainya, Bu.”

Ratna mengusap punggung tangan putrinya.

“Ibu tahu.”

“Seandainya aku sudah tidak mencintainya, mungkin keputusan ini akan lebih mudah.”

“Mungkin. Tetapi kamu tidak perlu memaksa dirimu berhenti mencintai seseorang hanya agar bisa mengambil keputusan. Perasaanmu boleh tetap ada. Kamu hanya perlu memastikan bahwa perasaan itu tidak membuatmu mengabaikan apa yang kamu butuhkan untuk menjalani hidup dengan tenang.”

Air mata kembali memenuhi mata Imelda.

Ratna menarik putrinya ke dalam pelukan. Tidak ada nasihat panjang setelah itu. Ia membiarkan Imelda menangis, sebab ia tahu bahwa terkadang seseorang tidak membutuhkan jawaban untuk setiap persoalan. Ia hanya membutuhkan ruang untuk mengakui bahwa dirinya sedang terluka.

Beberapa saat kemudian, Hendra Yuliana masuk ke ruang keluarga. Ia melihat putrinya yang baru saja menyeka air mata, lalu duduk di kursi seberang.

“Ayah tidak akan menentukan pilihanmu,” katanya. “Hubungan itu milikmu, dan kamu yang akan menjalani akibat dari keputusanmu.”

Imelda mengangguk.

“Aku tahu, Yah.”

“Tetapi ada satu hal yang ingin Ayah tegaskan. Keluarga kita tidak akan menggunakan uang atau peluang usaha untuk menyelesaikan persoalan hubungan kalian. Kalau Surya ingin membangun usaha, dia harus menyiapkan rencana yang jelas dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kalau dia ingin menjalin hubungan denganmu, dia harus memahami bahwa hubungan itu tidak bisa dijadikan jalan untuk memperoleh keuntungan.”

“Aku mengerti.”

“Ayah tidak mengatakan bahwa seseorang yang berasal dari keluarga sederhana tidak pantas mendekatimu. Bukan itu persoalannya. Yang Ayah khawatirkan adalah ketika seseorang tidak jujur tentang maksudnya sendiri.”

Hendra berhenti sejenak, memberi kesempatan kepada putrinya untuk mencerna kata-katanya.

“Namun, Ayah juga tidak ingin kamu mengambil keputusan hanya untuk membuktikan bahwa kamu kuat. Kamu boleh bersedih. Kamu boleh membutuhkan waktu. Tetapi jangan sampai kamu mengorbankan ketenanganmu hanya karena merasa bahwa cinta harus selalu dipertahankan.”

Imelda menahan air matanya.

“Bagaimana jika aku masih ingin memberinya kesempatan, Yah?”

“Kalau itu yang kamu pilih, kamu harus tahu apa yang sedang kamu pertaruhkan dan apa yang perlu berubah. Kesempatan bukan berarti kamu harus langsung melupakan semuanya. Dan kesempatan bukan jaminan bahwa dia akan berubah.”

Hendra menatap putrinya dengan lembut.

“Begitu pula sebaliknya. Jika suatu hari kamu memilih pergi, itu bukan berarti kamu gagal mencintai seseorang. Terkadang, kita harus menerima bahwa perasaan saja tidak cukup untuk membuat dua orang berjalan ke arah yang sama.”

Imelda mengangguk perlahan.

Malam itu, ia tidak memperoleh keputusan dari ayah atau ibunya. Namun, ia merasa sedikit lebih lega karena tidak ada seorang pun yang memaksanya untuk segera menentukan akhir dari hubungannya.

Untuk sementara, ia diizinkan menjadi seseorang yang sedang terluka—tanpa harus berpura-pura sudah kuat.


Hari-hari berikutnya berjalan dalam ketidakpastian.

Surya tidak lagi mengirim pesan berulang kali seperti yang mungkin dilakukannya pada masa lalu. Ia mengirim satu pesan pada pagi hari untuk menanyakan keadaan Imelda, lalu menghormati ketika perempuan itu hanya menjawab singkat.

Ia mulai memahami bahwa permintaan maaf tidak boleh berubah menjadi tuntutan agar orang yang disakiti segera memberikan pengampunan.

Di sisi lain, ia juga harus menghadapi dirinya sendiri.

Peluang usaha yang sempat menjadi pusat pikirannya masih belum memberikan kepastian. Rencana yang ia susun belum cukup matang, dan ia belum memiliki modal yang dibutuhkan. Hendra tidak menjanjikan bantuan, sementara Imelda tidak lagi menjadi tempat yang dapat ia datangi untuk mencari ketenangan tanpa memikirkan kesalahan yang telah dilakukannya.

Pada beberapa malam, Surya kembali teringat kepada masa ketika ia pertama kali mengetahui nama Imelda Yuliana. Saat itu, ia melihat peluang. Ia merasa telah menemukan jalan yang mungkin membawanya lebih dekat kepada kehidupan yang diinginkannya.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa langkah yang semula dianggapnya sebagai strategi akan membawanya pada perasaan yang begitu rumit.

Ia memang mulai mencintai Imelda. Namun, ia juga tahu bahwa perasaan itu tumbuh di dalam hubungan yang sejak awal tidak ia bangun dengan kejujuran sepenuhnya.

Kini ia harus menerima kemungkinan bahwa cinta yang tumbuh kemudian tidak dapat menghapus cara hubungan itu dimulai.

Sementara itu, Imelda berusaha kembali menjalani rutinitasnya. Ia membantu ibunya, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, dan sesekali bertemu Nadia. Ia tidak ingin seluruh hidupnya berhenti hanya karena persoalan hubungan.

Akan tetapi, pada saat-saat tertentu, ingatan tentang Surya tetap datang tanpa diundang.

Ketika melihat sesuatu yang pernah mereka bicarakan, ia teringat kepada laki-laki itu. Ketika ponselnya berbunyi, ada bagian dari dirinya yang masih berharap nama Surya muncul di layar. Dan ketika malam menjadi terlalu sunyi, ia kembali memikirkan apakah seseorang dapat mencintai dengan tulus sekaligus menyimpan kepentingan yang menyakitkan.

Ia tidak menemukan jawaban yang mudah.

Satu hal yang mulai ia pahami adalah bahwa ia tidak harus menyangkal perasaannya hanya karena kecewa. Ia boleh mengakui bahwa Surya pernah membuatnya bahagia. Ia boleh merindukan kebersamaan mereka. Ia bahkan boleh berharap bahwa laki-laki itu benar-benar belajar dari kesalahannya.

Namun, semua itu tidak mewajibkannya untuk kembali seperti dahulu.

Cinta bukan alasan untuk menyerahkan seluruh keputusan kepada seseorang yang telah melukai kepercayaan.


Pada suatu sore, Surya mengirim pesan kembali.

Mel, aku tidak ingin mendesakmu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sedang memikirkan semua yang kamu sampaikan. Aku sadar bahwa aku tidak bisa meminta kepercayaanmu kembali hanya dengan mengatakan bahwa aku menyesal.

Imelda membaca pesan tersebut cukup lama.

Kali ini, ia tidak segera membalas. Ia meletakkan ponsel di sampingnya dan memandang langit yang perlahan berubah warna.

Ia tahu bahwa Surya sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang berbeda. Namun, ia juga mengerti bahwa perubahan tidak dapat dinilai hanya dari satu pesan, sebagaimana kepercayaan tidak dapat dibangun hanya melalui satu percakapan.

Setelah beberapa saat, ia mengambil ponselnya.

Terima kasih sudah memahami bahwa aku membutuhkan waktu. Aku belum tahu keputusan apa yang akan kuambil. Aku juga tidak ingin memberikan janji yang belum bisa kupastikan.

Pesan itu terkirim.

Surya membacanya dengan dada yang terasa berat. Ia ingin bertanya apakah masih ada harapan baginya. Namun, ia mengurungkan niat itu. Ia mulai memahami bahwa pertanyaan semacam itu hanya akan memindahkan beban kecemasannya kepada Imelda.

Untuk pertama kalinya, ia mencoba menerima bahwa dirinya tidak berhak meminta kepastian dari seseorang yang masih berusaha menyembuhkan luka akibat perbuatannya.

Beberapa waktu kemudian, Imelda kembali membuka percakapan mereka. Ia menatap nama Surya di layar ponsel, lalu mengunci layar tanpa mengirim pesan lain.

Di dalam hatinya, ia masih menyimpan cinta. Perasaan itu belum pergi, belum pula berubah menjadi kebencian. Namun, ia tidak lagi ingin membiarkan cinta menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan masa depannya.

Ia membutuhkan kejujuran yang tidak harus dipancing dengan pertanyaan. Ia membutuhkan kepercayaan yang tidak membuatnya terus-menerus meragukan apa yang didengarnya. Ia membutuhkan hubungan yang memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri, bukan hubungan yang mengharuskannya menutup mata demi mempertahankan kenangan.

Dan jika semua itu tidak lagi mungkin bersama Surya, ia harus belajar menerima kenyataan tersebut.

Imelda belum siap mengucapkan selamat tinggal. Tetapi ia juga belum sanggup mengatakan bahwa semuanya dapat diperbaiki.

Ia tahu, pada akhirnya, akan ada percakapan yang tidak bisa terus ditunda. Percakapan tentang apa yang masih tersisa di antara mereka, tentang apa yang telah hilang, dan tentang apakah dua orang yang masih saling mencintai dapat melanjutkan perjalanan setelah salah satunya meruntuhkan kepercayaan yang telah dibangun.

Dalam pikirannya, satu tempat kembali muncul: KP3, tempat mereka pernah mengucapkan janji dan membayangkan masa depan bersama.

Dahulu, tempat itu menyimpan harapan. Kini, tempat yang sama mungkin menjadi saksi bagi keputusan yang paling sulit dalam hidupnya.

Imelda memejamkan mata.

“Aku masih mencintaimu, Surya,” bisiknya. “Tetapi aku tidak tahu apakah aku masih bisa mempercayaimu.”

Kalimat itu tidak mengakhiri hubungan mereka.

Namun, untuk pertama kalinya, Imelda berani mengakui bahwa cinta dan keputusan untuk bertahan bukanlah hal yang sama.

Dan ketika senja perlahan turun di Kota Air, ia mulai menyiapkan dirinya untuk menghadapi jawaban yang selama ini paling ia takuti—bukan jawaban tentang apakah ia masih mencintai Surya, melainkan apakah ia harus melepaskan laki-laki yang masih dicintainya demi menyelamatkan dirinya sendiri.

 

BAB XIII

PERPISAHAN DI TEPIAN KAPUAS

Senja turun perlahan di Kota Air.

Langit di atas Sungai Kapuas berubah warna, dari biru yang mulai memudar menjadi jingga keemasan. Permukaan air memantulkan cahaya sore yang bergerak mengikuti riak sungai. Di kejauhan, kehidupan kota tetap berjalan. Orang-orang datang dan pergi, kendaraan melintas, dan percakapan terdengar dari berbagai arah.

Tidak ada yang istimewa bagi orang-orang yang sedang menikmati sore itu.

Namun, bagi Imelda Yuliana, senja kali ini terasa berbeda.

Ia berdiri di kawasan KP3 Kuala Kapuas, tempat yang menyimpan salah satu kenangan paling berarti dalam hubungannya dengan Surya Pratama. Di tempat itulah mereka pernah berbicara tentang masa depan. Di tempat itu pula Surya pernah meyakinkannya bahwa cinta tidak seharusnya diukur dari kekayaan, kedudukan, atau apa yang dapat diberikan seseorang kepada pasangannya.

Dahulu, Imelda mendengarkan kata-kata itu dengan hati yang tenang.

Sekarang, setiap kalimat yang pernah diucapkan Surya seolah kembali kepadanya dengan makna yang berbeda.

Ia datang bukan untuk mengenang masa lalu. Ia datang karena tidak ingin terus hidup di antara pertanyaan yang tidak selesai.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Surya muncul di layar.

Mel, aku sudah sampai. Aku menunggumu di tempat kita biasa duduk.

Imelda membaca pesan itu, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Ia menarik napas panjang sebelum melangkah.

Setiap langkah terasa seperti membawa dirinya mendekati sesuatu yang sejak beberapa hari terakhir berusaha ia hindari. Ia tahu apa yang perlu dibicarakan. Ia tahu bahwa Surya mungkin akan kembali meminta kesempatan. Ia juga tahu bahwa hatinya sendiri belum sepenuhnya siap menerima kemungkinan bahwa pertemuan ini akan menjadi yang terakhir.

Tetapi ada saat ketika seseorang harus berhenti menunda keputusan hanya karena takut menghadapi rasa sakit.

Dan bagi Imelda, saat itu telah tiba.


Surya berdiri ketika melihat Imelda datang.

Untuk beberapa detik, ia hanya memandang perempuan yang selama ini menjadi bagian penting dalam hari-harinya. Ia memperhatikan wajah yang dikenalnya, langkah yang dahulu selalu ia tunggu, dan tatapan yang kini tidak lagi memberikan ketenangan seperti sebelumnya.

“Terima kasih sudah datang, Mel,” katanya.

Imelda mengangguk.

Mereka duduk berhadapan.

Di antara keduanya terbentang jarak yang tidak terlalu jauh, tetapi terasa lebih lebar daripada apa pun yang pernah memisahkan mereka. Dahulu, mereka bisa duduk berjam-jam tanpa merasa kehabisan bahan percakapan. Kini, bahkan untuk memulai satu kalimat pun, keduanya harus mengumpulkan keberanian.

Surya mencoba tersenyum.

“Kamu terlihat lelah.”

Imelda menatapnya.

“Surya, jangan mulai dengan menanyakan keadaanku seolah-olah kita sedang bertemu seperti biasa.”

Senyum Surya perlahan menghilang.

“Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu.”

“Aku tahu. Dulu, pertanyaan seperti itu selalu membuatku merasa diperhatikan. Sekarang, aku bahkan tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.”

Surya menunduk.

Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara keras. Tidak ada bentakan atau kemarahan yang meledak-ledak. Namun, justru ketenangan Imelda membuatnya merasa bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.

“Mel, aku tidak datang untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja,” katanya. “Aku datang karena aku ingin memperbaiki apa yang sudah kurusak.”

Imelda mengalihkan pandangan ke arah sungai.

“Menurutmu, apa yang sudah kamu rusak?”

Surya terdiam sejenak.

“Kepercayaanmu.”

“Hanya itu?”

“Dan perasaanmu. Aku sudah membuatmu terluka.”

Imelda kembali menatapnya.

“Lalu, bagaimana dengan caramu memulai hubungan ini? Bagaimana dengan semua hal yang tidak pernah kamu ceritakan kepadaku? Bagaimana dengan kenyataan bahwa kamu melihat keluargaku sebagai peluang ketika aku mengira kamu mendekatiku karena ingin mengenalku?”

Surya mengatupkan bibir.

“Aku tidak bisa menyangkalnya.”

“Dulu, kamu bisa mengatakan banyak hal kepadaku. Kamu bisa berbicara tentang kejujuran, tentang kesederhanaan, tentang bagaimana seseorang seharusnya membangun kehidupan dengan usahanya sendiri. Aku mempercayai semua itu karena aku pikir kamu benar-benar memegang nilai-nilai tersebut.”

Imelda berhenti sejenak. Ia berusaha mengendalikan getaran suaranya.

“Ternyata, ketika kamu berhadapan dengan kesempatan yang kamu inginkan, kamu justru melakukan hal yang bertentangan dengan semua yang pernah kamu katakan.”

Surya menatapnya dengan mata yang mulai memerah.

“Aku tahu, Mel.”

“Tidak. Aku tidak yakin kamu benar-benar tahu.”

Imelda menarik napas, lalu melanjutkan.

“Kalau kamu tahu, kamu pasti mengerti mengapa ini begitu menyakitkan. Aku tidak pernah malu dengan keadaanmu. Aku tidak pernah meminta kamu menjadi orang kaya. Aku tidak pernah menuntut kamu memberikan sesuatu yang tidak kamu miliki. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang kamu pilih dengan jujur.”

Suara Imelda mulai bergetar.

“Apakah itu terlalu sulit untuk kamu lakukan?”

Surya menundukkan kepala.

“Tidak,” jawabnya pelan. “Seharusnya tidak.”

“Lalu, mengapa kamu tidak melakukannya?”

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Surya membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang segera keluar. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya takut tertinggal, takut hidupnya tidak pernah berubah, dan takut kesempatan yang datang kepadanya akan berlalu begitu saja. Ia ingin mengatakan bahwa semua ambisinya berawal dari keinginan untuk memperbaiki nasib.

Namun, semakin lama ia memikirkannya, semakin ia menyadari bahwa alasan-alasan tersebut tidak dapat mengubah kenyataan.

Ia telah memilih.

Ia telah mengetahui bahwa Imelda mempercayainya, tetapi ia tetap menyembunyikan maksud yang penting bagi hubungan mereka. Ia telah melihat ketulusan perempuan itu, tetapi tidak segera menghentikan langkahnya ketika menyadari bahwa hubungan mereka mulai bercampur dengan kepentingan pribadinya.

“Aku terlalu ingin mengubah hidupku dengan cepat,” katanya akhirnya. “Aku melihat kesempatan, lalu membiarkan diriku berpikir bahwa aku bisa mendapatkan semuanya tanpa harus kehilangan apa pun.”

Imelda menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Dan aku termasuk sesuatu yang ingin kamu dapatkan?”

Surya langsung menggeleng.

“Bukan begitu maksudku.”

“Tetapi itulah yang terjadi, Surya. Kamu ingin tetap memiliki aku, sekaligus mempertahankan kesempatan yang kamu lihat melalui keluargaku. Kamu tidak ingin memilih antara ambisimu dan kejujuranmu. Jadi, kamu membiarkan aku tidak mengetahui semuanya.”

Surya terdiam.

Kali ini, ia tidak menemukan kalimat yang dapat membantahnya.

Imelda mengusap air mata yang mulai jatuh di pipinya.

“Aku terus bertanya kepada diriku sendiri apakah semua perhatianmu hanya sandiwara. Apakah ketika kamu menanyakan kabarku, kamu benar-benar peduli? Apakah ketika kamu mendengarkan ceritaku, kamu benar-benar ingin memahamiku? Apakah ketika kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku, kamu sedang berbicara dari hatimu atau sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang kamu anggap menguntungkan?”

Ia berhenti. Napasnya menjadi tidak teratur.

“Aku lelah, Surya. Aku lelah harus memeriksa kembali setiap kenangan hanya untuk mencari tahu bagian mana yang bisa kupercaya.”

Surya menatap perempuan itu dengan rasa bersalah yang semakin sulit disembunyikan.

“Mel, aku tidak akan mengatakan bahwa semua yang pernah kita jalani adalah kebohongan. Aku memang memiliki maksud yang salah ketika pertama kali mendekatimu. Tetapi perasaanku kemudian berubah. Aku sungguh-sungguh menyayangimu.”

Imelda memejamkan mata.

Kalimat itu adalah sesuatu yang ingin ia dengar sejak awal. Namun, ketika akhirnya mendengarnya, ia justru merasa semakin hancur.

Sebab, bagian dari dirinya masih ingin mempercayai Surya.

Ia masih mengingat bagaimana laki-laki itu pernah membuatnya tertawa ketika harinya terasa berat. Ia masih mengingat percakapan panjang mereka, perhatian-perhatian kecil yang tidak pernah ia minta, dan saat-saat ketika ia merasa tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun di hadapan Surya.

Mungkin memang ada perasaan yang sungguh-sungguh di antara mereka.

Mungkin Surya benar-benar mencintainya pada saat-saat tertentu.

Tetapi bagaimana ia dapat hidup dengan kemungkinan bahwa cinta itu tumbuh berdampingan dengan kepentingan yang sejak awal disembunyikan?

Imelda membuka mata.

“Kalau kamu benar-benar mencintaiku sekarang, mengapa kamu baru mengatakan semuanya setelah aku mulai mengetahui kebenarannya?”

Surya tidak menjawab.

“Kenapa bukan ketika aku masih percaya sepenuhnya kepadamu? Kenapa bukan ketika kita masih bisa membicarakan apa saja tanpa aku harus merasa bahwa ada sesuatu yang sengaja kamu sembunyikan?”

Surya menatap tangannya sendiri.

“Karena aku pengecut,” katanya akhirnya. “Aku takut kehilanganmu. Aku terus berpikir bahwa kalau aku tidak mengatakan semuanya, aku masih punya waktu untuk memperbaiki keadaan. Aku pikir aku bisa menyelesaikan urusan usahaku, lalu membuktikan bahwa aku memang mampu membangun kehidupan yang lebih baik.”

Ia mengangkat wajahnya.

“Tetapi aku tahu sekarang bahwa aku hanya sedang mencari alasan untuk menunda kejujuran. Aku tidak punya pembelaan yang bisa membuat tindakanku menjadi benar.”

Imelda menangis tanpa suara.

Pengakuan itu seharusnya membuatnya merasa lebih lega. Setidaknya, untuk pertama kalinya, Surya tidak lagi mencoba menghindari inti persoalan. Namun, kejujuran yang datang terlambat tidak selalu membawa kedamaian.

Ada kebenaran yang, ketika akhirnya diucapkan, justru memastikan bahwa sesuatu tidak lagi dapat kembali seperti dahulu.


Matahari semakin rendah.

Cahaya senja menyentuh permukaan Sungai Kapuas, menciptakan kilau yang bergerak mengikuti arus. Beberapa orang berjalan tidak jauh dari tempat mereka duduk. Kehidupan terus berlangsung, tidak peduli bahwa dua orang sedang berusaha menerima akhir dari sesuatu yang pernah mereka anggap sebagai masa depan.

Surya memandang Imelda.

“Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”

Pertanyaan itu membuat Imelda terdiam.

Ia ingin menjawab dengan cepat, tetapi tidak ada jawaban sederhana yang mampu menggambarkan isi hatinya.

“Kalau aku sudah tidak mencintaimu, mungkin aku tidak akan sesakit ini,” katanya.

Surya menelan ludah.

“Kalau begitu, kita masih bisa memperbaiki hubungan ini, Mel. Aku bisa berubah. Aku akan membuktikannya kepadamu. Aku tidak akan lagi membawa urusan usahaku ke dalam hubungan kita. Aku tidak akan meminta apa pun kepada keluargamu. Aku akan membangun semuanya dengan caraku sendiri.”

Imelda menatapnya lama.

“Apakah kamu mendengar apa yang baru saja kamu katakan?”

Surya mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Kamu kembali menawarkan masa depan. Kamu kembali mengatakan apa yang akan kamu lakukan. Tetapi masalah kita sekarang bukan hanya tentang apakah kamu bisa membangun usaha sendiri atau tidak.”

Imelda menyeka air matanya.

“Masalahnya adalah aku tidak tahu bagaimana mempercayai kata-katamu lagi.”

Surya menunduk.

“Aku akan berusaha mendapatkan kepercayaanmu kembali.”

“Bagaimana caranya?”

“Aku akan membuktikannya lewat tindakan.”

“Berapa lama, Surya? Berapa lama aku harus menunggu sampai aku tidak lagi meragukan setiap perkataanmu? Berapa lama aku harus meyakinkan diriku bahwa kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu lagi?”

Surya tidak mampu menjawab.

“Aku tidak sedang meminta kamu memberikan jaminan bahwa kamu tidak akan pernah melakukan kesalahan,” lanjut Imelda. “Aku tahu setiap orang bisa salah. Aku pun bukan manusia yang sempurna. Tetapi aku membutuhkan hubungan yang membuatku merasa bahwa ketika ada masalah, kita bisa menghadapinya bersama-sama dengan jujur.”

Ia menatap Surya dengan air mata yang terus mengalir.

“Aku tidak ingin menjadi perempuan yang terus-menerus bertanya apakah dirinya benar-benar dicintai. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang harus mencari bukti untuk mempercayai orang yang katanya mencintainya.”

Surya meraih tangan Imelda secara perlahan.

Imelda membiarkan tangan itu menyentuh tangannya, tetapi tidak membalas genggamannya.

“Mel, tolong. Jangan akhiri semuanya sekarang. Beri aku waktu. Aku tahu aku tidak pantas meminta banyak hal darimu, tetapi jangan pergi seperti ini.”

Imelda menatap tangan mereka.

Dahulu, genggaman itu membuatnya merasa aman. Ia pernah membayangkan bahwa selama mereka saling menggenggam, segala kesulitan akan terasa lebih ringan.

Kini, tangan yang sama justru membuatnya menyadari betapa sulitnya melepaskan seseorang yang masih dicintai.

“Aku tidak ingin pergi, Surya,” bisiknya.

Surya mengangkat wajah dengan harapan yang muncul kembali.

Namun, kalimat berikutnya membuat harapan itu perlahan runtuh.

“Aku ingin kita kembali seperti dahulu. Aku ingin bisa mendengar suaramu tanpa mengingat semua kebohongan itu. Aku ingin bertemu denganmu tanpa bertanya-tanya apakah ada maksud lain di balik setiap perhatianmu. Aku ingin percaya lagi ketika kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku.”

Imelda menarik tangannya perlahan.

“Tetapi aku tidak bisa memaksa diriku untuk kembali menjadi perempuan yang sama setelah mengetahui semuanya.”

Surya memandangnya tanpa berkedip.

“Kalau kamu membutuhkan waktu, aku akan menunggu.”

Imelda menggeleng.

“Ini bukan hanya tentang waktu.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Seandainya aku tahu, mungkin semuanya tidak akan sesulit ini.”

Suara Imelda pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menahan tangis yang sejak tadi ia kendalikan.

Surya ingin memeluknya. Ia ingin mendekat dan menenangkan perempuan yang pernah menjadi tempatnya menemukan ketenteraman. Namun, ia tidak berani melakukannya.

Ia menyadari bahwa kedekatan yang dahulu diterima dengan sukarela kini membutuhkan izin yang tidak lagi bisa ia anggap sebagai sesuatu yang pasti.

Untuk pertama kalinya, Surya merasakan bahwa kehilangan seseorang tidak selalu dimulai ketika orang itu benar-benar pergi. Kadang-kadang, kehilangan dimulai ketika seseorang masih duduk di hadapan kita, tetapi tidak lagi dapat mempercayai kita seperti sebelumnya.


Setelah tangisnya sedikit mereda, Imelda kembali memandang Surya.

“Ada satu hal yang ingin kutanyakan.”

Surya mengangguk.

“Kalau sejak awal kamu tidak mengetahui siapa keluargaku, kalau aku bukan anak dari keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi seperti sekarang, apakah kamu akan tetap mendekatiku?”

Surya terdiam.

Ia tahu bahwa jawaban yang jujur tidak akan mudah diucapkan. Ia juga tahu bahwa jawaban yang salah akan semakin memperdalam luka Imelda.

“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya. “Aku tidak bisa mengubah kenyataan tentang bagaimana aku mulai mengenalmu. Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti apa yang akan kulakukan dalam keadaan yang berbeda.”

Imelda mengangguk perlahan.

Jawaban itu menyakitkan, tetapi ia menghargai bahwa Surya tidak mencoba menciptakan kepastian palsu hanya untuk menenangkannya.

“Setidaknya, sekarang kamu tidak berusaha memberikan jawaban yang menurutmu ingin kudengar.”

Surya menatapnya dengan wajah penuh penyesalan.

“Aku berharap bisa mengulang semuanya dari awal.”

“Aku juga pernah berharap begitu.”

“Kalau kita bisa memulai lagi, aku akan melakukan semuanya dengan cara yang berbeda.”

Imelda tersenyum tipis di antara air matanya.

“Masalahnya, kita tidak bisa kembali ke awal, Surya. Kita hanya bisa menghadapi apa yang sudah terjadi.”

Surya memalingkan wajah.

Di hadapannya terbentang sungai yang terus bergerak. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana tindakannya akan terlihat ketika seluruh alasan yang ia simpan akhirnya dihadapkan kepada orang yang dicintainya.

Selama ini, ia selalu mengira bahwa selama dirinya belum meminta uang atau menerima bantuan, ia belum benar-benar melampaui batas. Ia menganggap pikirannya tentang peluang usaha sebagai sesuatu yang dapat ia kendalikan tanpa perlu dibicarakan kepada Imelda.

Sekarang ia mengerti bahwa persoalannya tidak berhenti pada tindakan yang telah atau belum ia lakukan.

Ia telah membiarkan Imelda mengambil keputusan tentang hubungan mereka tanpa mengetahui seluruh maksud yang ia bawa ke dalamnya.

Ia telah membiarkan perempuan itu mencintai seseorang yang tidak sepenuhnya ia kenal.

Dan ketika kebenaran mulai terbuka, Surya baru menyadari bahwa hal yang paling berharga tidak selalu dapat diperoleh kembali dengan usaha yang lebih keras.

“Mel,” katanya lirih. “Aku benar-benar menyesal.”

Imelda mengangguk. Air matanya kembali jatuh.

“Aku percaya kamu menyesal.”

Surya menatapnya, seolah menunggu kelanjutan kalimat itu.

“Tetapi penyesalanmu tidak otomatis membuatku mampu bertahan.”

Kalimat itu menjadi sesuatu yang tidak pernah ingin didengar Surya, tetapi tidak dapat ia sangkal.


Senja semakin redup.

Imelda berdiri. Ia memandang Sungai Kapuas untuk terakhir kalinya sebelum kembali menatap Surya.

“Aku pernah membayangkan bahwa suatu hari kita akan kembali ke tempat ini dan tertawa mengingat bagaimana hubungan kita dimulai,” katanya. “Aku membayangkan kita akan mengenang masa-masa sulit yang pernah kamu lalui, lalu merasa bangga karena kita berhasil melewatinya bersama.”

Surya berdiri perlahan.

“Aku juga pernah membayangkan itu.”

“Dulu, ketika kamu bercerita tentang impianmu, aku ingin menjadi orang yang mendukungmu. Aku ingin melihatmu berhasil. Aku ingin kamu bisa membangun kehidupan yang kamu inginkan tanpa harus merasa rendah diri di hadapanku atau keluargaku.”

Imelda menelan tangis.

“Aku tidak pernah menginginkan laki-laki yang sempurna. Aku hanya ingin seseorang yang tidak membuatku merasa bodoh karena telah mempercayainya.”

Surya memejamkan mata.

“Maafkan aku, Mel.”

“Aku ingin memaafkanmu.”

Surya membuka mata.

“Tetapi aku belum tahu apakah memaafkanmu berarti aku harus tetap bersamamu.”

Harapan yang sempat muncul di wajah Surya kembali meredup.

Imelda melanjutkan dengan suara yang semakin pelan.

“Aku tidak ingin membencimu. Aku tidak ingin menghapus semua kenangan baik yang pernah kita miliki. Aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa kamu tidak pernah berarti dalam hidupku. Kamu pernah membuatku bahagia, Surya. Dan aku tidak akan menyangkal itu hanya karena sekarang aku terluka.”

Ia berhenti sejenak.

“Tetapi aku juga tidak bisa terus bertahan hanya karena aku mengingat kebahagiaan itu.”

Surya menggeleng perlahan.

“Jangan katakan itu, Mel.”

“Kenapa? Karena kamu tidak ingin mendengarnya?”

“Karena aku masih mencintaimu.”

Imelda memandangnya dengan mata basah.

“Aku juga masih mencintaimu.”

Untuk sesaat, keduanya hanya saling memandang.

Dua kalimat itu seharusnya menjadi alasan untuk tetap bersama. Setidaknya, begitulah yang selalu dibayangkan Imelda. Selama dua orang masih saling mencintai, mereka akan menemukan jalan untuk memperbaiki keadaan.

Namun, di hadapan Surya, ia mulai memahami bahwa cinta tidak selalu menyelesaikan persoalan yang diciptakan oleh pilihan seseorang.

Cinta dapat membuat seseorang bertahan menghadapi kesulitan. Cinta dapat memberi kekuatan untuk memaafkan. Tetapi cinta tidak dapat menggantikan kejujuran yang telah diabaikan, dan tidak dapat memaksa kepercayaan tumbuh kembali hanya karena dua orang takut kehilangan satu sama lain.

Imelda mengusap pipinya.

“Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal sambil membencimu. Aku tidak ingin perpisahan kita menjadi sesuatu yang harus kuingat dengan kemarahan seumur hidup.”

Surya mulai menangis.

“Jadi, kamu benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita?”

Imelda tidak segera menjawab.

Ia memandang laki-laki di hadapannya—laki-laki yang masih dicintainya, yang pernah membuatnya merasa istimewa, dan yang kini berdiri dengan penyesalan yang tidak mampu mengembalikan keadaan mereka seperti semula.

Kemudian, dengan suara yang hampir berbisik, ia berkata, “Aku tidak ingin kehilanganmu. Tetapi aku tidak bisa terus kehilangan ketenanganku hanya untuk mempertahankan kita.”

Surya menunduk dalam-dalam.

“Berarti selama ini aku tidak cukup baik untukmu.”

Imelda menggeleng cepat.

“Jangan mengubah persoalan ini menjadi tentang siapa yang lebih baik atau lebih buruk. Aku tidak meninggalkanmu karena kamu tidak sekaya keluargaku. Aku tidak meninggalkanmu karena usahamu belum berhasil. Aku tidak pernah mengukur nilai dirimu dari semua itu.”

Ia melangkah mendekat, tetapi tetap menjaga jarak.

“Aku sedang berusaha menerima bahwa orang yang kucintai telah menyembunyikan sesuatu yang sangat penting dariku. Aku tidak tahu apakah suatu hari aku bisa mempercayaimu lagi. Dan aku tidak ingin menjanjikan sesuatu yang saat ini tidak sanggup kuberikan.”

Surya menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

“Aku seharusnya jujur sejak awal.”

“Ya,” jawab Imelda. “Seharusnya begitu.”

“Aku seharusnya tidak membiarkanmu mencintaiku tanpa mengetahui maksudku.”

Imelda memejamkan mata. Kalimat itu terasa seperti pengakuan terakhir atas sesuatu yang selama ini ia coba pahami.

“Ya, Surya.”

“Aku tidak tahu bagaimana memperbaiki semuanya.”

Imelda membuka mata.

“Mungkin memang tidak semua hal bisa kembali seperti semula.”

Mereka berdiri berhadapan ketika senja perlahan menghilang.

Tidak ada teriakan. Tidak ada tuduhan baru. Tidak ada janji besar yang diucapkan untuk terakhir kalinya. Yang tersisa hanyalah dua orang yang akhirnya melihat hubungan mereka sebagaimana adanya—sebuah kisah yang pernah dipenuhi harapan, tetapi kini tidak lagi memiliki pijakan kepercayaan yang cukup kuat untuk diteruskan.

Imelda mengambil tasnya.

Surya melihat gerakan itu dan mendadak merasa bahwa waktu yang selama ini ia anggap masih tersedia telah habis.

“Mel, tunggu.”

Imelda berhenti.

“Aku tahu aku tidak berhak memintamu tetap tinggal. Tetapi kalau suatu hari kamu mengingatku, aku berharap kamu tidak hanya mengingat kesalahanku.”

Imelda menatapnya.

“Aku akan mengingat semuanya, Surya. Hal-hal baik yang pernah kita jalani, juga alasan mengapa aku harus pergi.”

Surya terdiam.

Imelda mengulurkan tangan, bukan untuk menggenggam tangannya seperti dahulu, melainkan untuk menyentuh lengannya sebentar. Sentuhan itu begitu singkat, tetapi membawa lebih banyak perasaan daripada yang mampu mereka ucapkan.

“Aku sungguh-sungguh pernah bahagia bersamamu,” katanya.

Surya menangis semakin dalam.

“Maafkan aku karena akhirnya membuat kebahagiaan itu menjadi sesuatu yang menyakitkan untuk kamu kenang.”

Imelda menarik tangannya.

Ia ingin memeluk Surya untuk terakhir kalinya. Ia ingin membiarkan dirinya menangis di dada laki-laki itu, seperti yang mungkin akan dilakukannya jika semua ini tidak pernah terjadi.

Namun, ia tahu bahwa pelukan itu dapat membuat langkahnya semakin sulit.

Maka, ia hanya menatap Surya selama beberapa detik.

“Selamat tinggal, Surya.”

Dua kata itu keluar dengan susah payah.

Surya tidak menjawab. Bibirnya bergerak, tetapi suaranya tertahan oleh tangis.

Imelda berbalik.

Ia melangkah meninggalkan KP3, membawa hati yang terasa seperti tertinggal di belakang. Beberapa kali ia hampir berhenti. Ada dorongan kuat untuk menoleh, untuk memastikan bahwa Surya masih berdiri di tempat yang sama, untuk mencari satu alasan lagi agar ia bisa kembali.

Namun, ia terus berjalan.

Bukan karena ia sudah tidak mencintai Surya.

Justru karena ia masih mencintainya, ia tahu bahwa keputusan itu akan jauh lebih sulit jika terus ditunda.

Di belakangnya, Surya tetap berdiri di tepi sungai.

Ia menyaksikan sosok Imelda semakin jauh hingga akhirnya menghilang di antara orang-orang yang berlalu-lalang. Ia tidak mengejar. Ia tidak lagi memiliki kalimat yang dapat mengubah keputusan perempuan itu.

Sungai Kapuas terus mengalir, membawa pantulan cahaya terakhir senja.

Di tempat yang dahulu menyimpan janji, Surya akhirnya memahami harga dari sesuatu yang selama ini ia anggap dapat dipertahankan dengan kata-kata.

Ia telah memperoleh kedekatan yang diinginkannya, tetapi tidak menjaga kejujuran yang membuat kedekatan itu berarti.

Ia telah mencintai Imelda, tetapi membiarkan ambisinya tumbuh di dalam hubungan yang seharusnya dibangun dengan keterbukaan.

Dan ketika akhirnya ia berani mengakui kesalahannya, perempuan yang masih dicintainya tidak lagi sanggup tinggal.


Malam itu, Imelda tiba di rumah dengan mata sembap.

Ratna yang sedang menunggu di ruang keluarga segera berdiri. Ia tidak bertanya apa yang terjadi, sebab ia dapat membaca kesedihan di wajah putrinya.

Imelda mendekat, lalu memeluk ibunya erat-erat.

“Bu,” bisiknya, “aku sudah berpisah dengan Surya.”

Ratna memeluknya tanpa berkata-kata.

Tangis Imelda pecah. Ia menangis seperti seseorang yang baru saja kehilangan masa depan yang selama ini dibayangkannya. Bukan hanya kehilangan seorang laki-laki, melainkan juga kehilangan kemungkinan tentang kehidupan yang pernah ia harapkan bersama laki-laki itu.

“Aku masih mencintainya, Bu,” katanya di sela tangis. “Aku masih mencintainya, tetapi aku tidak bisa lagi merasa tenang bersamanya.”

Ratna mengusap rambut putrinya.

“Tidak apa-apa, Nak. Kamu tidak harus berhenti mencintainya malam ini.”

Imelda menggeleng dalam pelukan ibunya.

“Aku pikir kalau kami masih saling mencintai, kami akan bisa memperbaiki semuanya.”

“Kadang-kadang, cinta membuat kita ingin mencoba sekali lagi. Tetapi kamu juga harus mendengarkan apa yang dirasakan hatimu ketika kamu berada di dalam hubungan itu.”

“Aku takut besok aku akan menyesal.”

“Kalau kamu sedih besok, menangislah. Kalau kamu merindukannya, akui bahwa kamu merindukannya. Kamu tidak perlu menyangkal semua itu. Tetapi jangan langsung menganggap kesedihan sebagai bukti bahwa keputusanmu salah.”

Imelda terdiam, mendengarkan suara ibunya yang lembut.

“Keputusan yang benar pun bisa terasa menyakitkan,” lanjut Ratna. “Terutama ketika keputusan itu mengharuskan kita melepaskan sesuatu yang masih kita sayangi.”

Imelda memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak hubungan itu mulai retak, ia tidak berusaha terlihat kuat. Ia membiarkan dirinya menangis sampai tubuhnya lelah, membiarkan semua kenangan yang selama ini ia tahan muncul satu per satu.

Malam semakin larut.

Namun, rasa kehilangan tidak ikut mereda.

Di kamar, Imelda membuka ponselnya. Nama Surya masih tersimpan di dalam daftar percakapan. Tidak ada pesan baru. Ia menatap nama itu cukup lama sebelum meletakkan ponselnya kembali.

Ia tidak menghapus foto-foto mereka. Ia belum sanggup melakukannya.

Ia juga tidak memblokir nomor Surya. Ia tidak ingin membuat keputusan tambahan ketika hatinya masih begitu rapuh.

Untuk malam itu, ia hanya ingin beristirahat.

Sebelum mematikan lampu, Imelda memandang ke luar jendela. Langit telah gelap, dan senja yang menjadi saksi perpisahan mereka sudah lama menghilang.

Air matanya kembali jatuh.

“Semoga suatu hari nanti aku bisa mengingatmu tanpa merasa sesakit ini,” bisiknya.

Kemudian ia berbaring, memeluk bantal, dan mencoba memejamkan mata.

Ia belum tahu bagaimana hari esok akan dijalani. Ia belum tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan ketenangannya. Ia juga belum tahu apakah suatu hari nanti ia akan mampu memaafkan Surya sepenuhnya.

Namun, satu hal telah ia putuskan.

Ia tidak akan kembali hanya karena rindu.

Sebab, kali ini, ia ingin belajar mencintai dirinya sendiri dengan keberanian yang sama seperti ketika ia pernah mencintai Surya.

Dan di tepi Sungai Kapuas, janji yang dahulu mereka ucapkan telah berakhir—bukan karena cinta itu tidak pernah ada, melainkan karena cinta yang pernah ada tidak cukup kuat untuk menyelamatkan kepercayaan yang telah mereka kehilangan.

 

BAB XIV

KETIKA SANDIWARA BERAKHIR

Pagi pertama setelah perpisahan itu terasa lebih panjang daripada biasanya.

Surya Pratama terbangun ketika cahaya matahari mulai menembus celah jendela kamarnya. Ia membuka mata, memandang langit-langit, lalu meraih ponsel yang tergeletak di samping tempat tidur.

Tidak ada pesan dari Imelda.

Ia sudah mengetahui kemungkinan itu sejak meninggalkan KP3 kemarin sore. Ia tahu Imelda membutuhkan jarak. Ia tahu perempuan itu telah mengambil keputusan yang tidak mudah. Namun, mengetahui sesuatu tidak serta-merta membuat seseorang siap menerimanya.

Surya membuka percakapan mereka.

Pesan terakhir yang ia kirim beberapa hari sebelumnya masih ada di sana. Di antara pesan-pesan itu tersimpan percakapan ringan yang dahulu terasa biasa: pertanyaan tentang kesibukan, cerita tentang hari yang melelahkan, dan kalimat sederhana yang sering mereka kirim sebelum tidur.

Ia membaca semuanya perlahan.

Dulu, ia tidak pernah membayangkan bahwa percakapan-percakapan sederhana itu suatu hari akan terasa seperti pintu menuju kehidupan yang tidak lagi dapat dimasukinya.

Jarinya bergerak membuka kolom pesan.

Mel, aku minta maaf.

Ia berhenti.

Kalimat itu sudah berkali-kali ia ucapkan. Apa yang dapat diperbaiki dengan mengulanginya sekali lagi?

Ia menghapus pesan tersebut.

Kemudian ia mencoba menulis kalimat lain.

Aku merindukanmu.

Kali ini, ia tidak segera menghapusnya. Ia memandang kalimat itu cukup lama, sampai akhirnya menyadari bahwa kerinduannya bukanlah sesuatu yang perlu segera ditanggung oleh Imelda. Perempuan itu telah meminta ruang untuk memulihkan dirinya. Mengirim pesan hanya untuk meredakan kesepiannya sendiri mungkin akan kembali menjadikan perasaan Imelda sebagai tempat berlindung bagi dirinya.

Surya mengunci ponsel.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menundukkan kepala, lalu mengusap wajahnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak memiliki rencana yang dapat membuat keadaan terasa berada di bawah kendalinya.

Tidak ada kalimat yang dapat ia susun untuk meyakinkan Imelda. Tidak ada pertemuan yang dapat ia atur agar perempuan itu kembali tersenyum kepadanya. Tidak ada janji yang bisa ia tawarkan untuk memastikan bahwa hubungan mereka akan pulih.

Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri dan kenyataan yang selama ini ia hindari.

Ia telah kehilangan Imelda bukan karena perempuan itu menuntut terlalu banyak, melainkan karena ia tidak menjaga sesuatu yang paling mendasar dalam hubungan mereka.

Kepercayaan.

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, Surya mulai memahami bahwa ia tidak dapat meminta orang lain menanggung akibat dari pilihannya hanya karena ia sendiri merasa menyesal.


Di rumah keluarga Yuliana, Imelda juga terbangun dengan perasaan yang tidak jauh berbeda.

Ia tidak langsung bangkit dari tempat tidur. Ia memandang tirai jendela yang bergerak pelan, mendengarkan suara-suara pagi dari luar rumah, dan mencoba menerima kenyataan bahwa hari baru telah datang meskipun sebagian hatinya masih tertinggal di senja kemarin.

Ia tidak lagi memiliki kewajiban untuk menunggu pesan Surya.

Tidak ada janji pertemuan yang harus ia persiapkan. Tidak ada kabar tentang kesibukan Surya yang perlu ia dengarkan. Tidak ada percakapan tentang rencana masa depan yang harus ia tanggapi dengan harapan.

Seharusnya semua itu membuatnya merasa lebih bebas.

Namun, kebebasan yang datang setelah kehilangan tidak selalu terasa seperti kelegaan. Terkadang, kebebasan justru menghadirkan kesunyian yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Imelda duduk dan meraih ponselnya. Tanpa sadar, ia membuka percakapan Surya.

Tidak ada pesan baru.

Ia meletakkan ponsel kembali, lalu menarik napas panjang.

“Kenapa aku masih menunggunya?” gumamnya.

Ia tidak benar-benar mengharapkan jawaban.

Barangkali karena perasaan tidak mengikuti keputusan secepat pikiran. Barangkali karena hatinya masih terbiasa dengan kehadiran seseorang yang kemarin telah ia lepaskan. Atau mungkin karena bagian dari dirinya masih berharap Surya akan menemukan cara untuk memperbaiki sesuatu yang telah mereka rusak.

Namun, ia segera mengingat kembali percakapan mereka di KP3.

Ia mengingat bagaimana Surya mengakui bahwa dirinya memang melihat keluarga Yuliana sebagai peluang. Ia mengingat bahwa Surya juga mengatakan perasaannya kemudian tumbuh dengan sungguh-sungguh. Dan ia mengingat betapa sulitnya menentukan bagian mana dari hubungan itu yang dapat ia percaya tanpa harus mengabaikan kenyataan yang menyakitkan.

Imelda memejamkan mata.

Ia tidak ingin mengubah semua kenangan baik menjadi kebencian. Ia juga tidak ingin menggunakan kenangan baik untuk membenarkan sesuatu yang telah melukainya.

Ia harus belajar membiarkan dua kenyataan itu hidup berdampingan: Surya pernah membuatnya bahagia, dan Surya juga telah merusak kepercayaannya.

Keduanya benar.

Dan menerima keduanya mungkin merupakan langkah pertama untuk berhenti menyiksa dirinya sendiri dengan pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban pasti.


Beberapa hari kemudian, Surya bertemu Fajar Ramadhan.

Mereka duduk di sebuah warung sederhana yang dahulu sering menjadi tempat mereka berbincang tentang kehidupan, pekerjaan, dan berbagai rencana yang ingin diwujudkan. Tempat itu masih sama. Meja-mejanya masih tersusun sederhana, suara percakapan pengunjung tetap terdengar, dan secangkir kopi masih mengepulkan uap di hadapan mereka.

Namun, Surya tidak lagi berbicara dengan semangat seperti sebelumnya.

Fajar memperhatikannya beberapa saat sebelum bertanya, “Bagaimana keadaanmu?”

Surya tersenyum hambar.

“Menurutmu?”

“Aku tidak akan berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi aku juga tidak ingin menganggap semua persoalanmu selesai hanya karena hubunganmu dengan Imelda sudah berakhir.”

Surya mengaduk kopinya.

“Aku merasa kehilangan semuanya.”

“Benarkah semuanya?”

Surya mengangkat wajah.

“Aku kehilangan Imelda. Aku kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang selama ini kuinginkan. Aku juga merasa usahaku belum membawa hasil seperti yang kuharapkan.”

Fajar mengangguk perlahan.

“Aku mengerti kamu sedang kecewa. Tetapi jangan mencampuradukkan semua hal itu. Hubunganmu dengan Imelda berakhir karena persoalan kepercayaan. Rencana usahamu belum berhasil karena masih ada hal-hal yang harus kamu benahi. Keduanya memang terjadi dalam hidupmu sekarang, tetapi kamu tidak bisa menyelesaikan keduanya dengan cara yang sama.”

Surya terdiam.

“Aku dulu berpikir kalau aku berhasil membangun usaha dan memperbaiki keadaan ekonomiku, semuanya akan menjadi lebih mudah,” katanya. “Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik.”

“Keinginan untuk memperbaiki kehidupanmu bukan kesalahan.”

“Tetapi caraku salah.”

“Ya.”

Jawaban Fajar yang singkat membuat Surya menunduk.

Fajar tidak bermaksud mempermalukannya. Ia hanya tidak ingin memberikan penghiburan yang mengaburkan kenyataan.

“Kamu tahu apa yang paling membuatku khawatir sejak awal?” lanjut Fajar. “Bukan karena kamu ingin berhasil. Aku juga ingin berhasil. Kita semua ingin kehidupan yang lebih baik. Tetapi kamu mulai melihat hubungan dengan Imelda sebagai jalan yang mungkin mempercepat tujuanmu.”

Surya mengusap kedua tangannya.

“Aku tidak pernah menerima uang dari keluarganya.”

“Aku tahu. Dan aku tidak mengatakan kamu sudah menerima uang atau melakukan transaksi dengan mereka. Namun, apakah menurutmu seseorang baru bisa melukai kepercayaan ketika uang sudah berpindah tangan?”

Surya menggeleng pelan.

“Tidak.”

“Kamu membiarkan Imelda percaya bahwa hubungan kalian tumbuh tanpa kepentingan yang kamu sembunyikan. Ketika kamu mulai memikirkan keluarganya sebagai peluang, kamu tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui maksud itu. Kamu ingin dia tetap percaya, sementara kamu sendiri tidak memberikan seluruh kebenaran.”

Surya memandang ke luar warung.

Ia tidak lagi mencoba membela diri. Ia mulai menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk menghitung apa yang belum dilakukannya sehingga mengabaikan pilihan-pilihan yang sudah ia ambil.

Ia memang belum meminta uang kepada Hendra. Ia memang belum menerima bantuan usaha dari keluarga Yuliana. Namun, ia telah membiarkan kedekatan dengan Imelda tumbuh sementara dirinya menyimpan perhitungan yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka.

“Aku ingin mengulang semuanya,” katanya.

Fajar menarik napas.

“Kita tidak bisa mengulang masa lalu, Surya. Yang bisa kamu lakukan adalah memastikan bahwa kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

“Bagaimana kalau Imelda tidak pernah memaafkanku?”

“Itu haknya.”

“Bagaimana kalau dia tidak pernah mau kembali?”

Fajar menatapnya dengan tenang.

“Kamu harus belajar menerima itu juga.”

Surya menunduk. Matanya terasa panas, tetapi ia menahan tangisnya.

Selama ini, ia selalu menganggap keberhasilan sebagai sesuatu yang dapat diperjuangkan selama ia menemukan strategi yang tepat. Jika satu jalan tertutup, ia akan mencari jalan lain. Jika satu kesempatan gagal, ia akan menyusun rencana berikutnya.

Namun, hubungan manusia bukanlah persoalan yang selalu dapat diselesaikan dengan strategi.

Imelda bukan peluang yang dapat ia usahakan kembali sampai berhasil. Ia adalah seseorang yang memiliki hak untuk menentukan apakah hubungan itu masih layak dipertahankan.

“Aku baru memahami semuanya setelah terlambat,” ujar Surya.

Fajar mengangguk.

“Kalau begitu, jangan sia-siakan pemahaman itu hanya dengan menyesali apa yang sudah terjadi.”


Hari-hari berikutnya tidak langsung membawa perubahan besar dalam kehidupan Surya.

Ia masih harus menghadapi rencana usahanya yang belum matang. Ia masih harus memikirkan bagaimana memperbaiki keadaan ekonominya. Ia juga masih harus menerima kenyataan bahwa hubungan dengan Imelda tidak lagi menjadi tempatnya berbagi harapan.

Namun, ada satu hal yang mulai berubah: ia tidak lagi mencari jalan pintas untuk menghindari rasa tidak nyaman.

Ketika kembali memeriksa rencana usahanya, ia menemukan sejumlah perhitungan yang belum cukup kuat. Dahulu, ia cenderung melihat kekurangan itu sebagai masalah yang dapat diatasi kemudian, terutama jika ada orang yang bersedia membantunya membuka jalan.

Kini, ia mencoba menilainya dengan lebih jujur.

Ia memisahkan apa yang benar-benar mampu ia lakukan dari apa yang baru ia harapkan. Ia mulai memahami bahwa keinginan besar tidak otomatis membuat sebuah rencana layak dijalankan. Ia harus memiliki perhitungan yang jelas, memahami risikonya, dan menerima kemungkinan bahwa sebagian rencana perlu ditunda.

Perubahan itu tidak membuat kehidupannya tiba-tiba menjadi mudah. Ia belum memperoleh keberhasilan yang diimpikannya. Tidak ada seseorang yang datang membawa modal atau menjanjikan jalan cepat menuju masa depan yang lebih baik.

Tetapi untuk pertama kalinya, Surya mencoba berjalan tanpa menjadikan hubungan pribadi sebagai bagian dari perhitungannya.

Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia benar-benar menginginkan usaha yang sedang direncanakannya, atau hanya ingin segera mencapai kedudukan yang membuatnya merasa tidak tertinggal dari orang lain.

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab.

Selama bertahun-tahun, ia terbiasa mengukur kemajuan melalui apa yang dapat dilihat orang lain. Ia ingin memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu mengubah keadaan. Ia ingin merasa bahwa perjuangannya tidak sia-sia.

Semua keinginan itu masih ada.

Namun, perlahan ia memahami bahwa keberhasilan yang dibangun dengan mengorbankan kejujuran dapat membuat seseorang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada hasil yang dikejarnya.

Ia pernah mengira bahwa masalahnya adalah kekurangan modal, keterbatasan kesempatan, dan keadaan hidup yang tidak selalu berpihak kepadanya.

Sekarang ia harus berani melihat persoalan lain yang lebih dekat: caranya mengambil keputusan ketika keinginan bertemu dengan kesempatan.

Ia tidak dapat mengubah masa lalu. Ia juga tidak dapat menuntut Imelda kembali hanya karena dirinya mulai memahami kesalahan.

Yang dapat ia lakukan hanyalah memperbaiki cara hidupnya, tanpa menjadikan perubahan itu sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu dari perempuan yang telah ia lukai.


Sementara itu, Imelda mulai kembali menata hari-harinya.

Pada awalnya, ia melakukan semuanya dengan perasaan yang masih rapuh. Ia kembali membantu Ratna menyelesaikan berbagai urusan keluarga, berbincang dengan ayahnya, dan bertemu Nadia ketika membutuhkan teman untuk berbagi cerita.

Ada hari ketika ia merasa lebih tenang.

Ada pula hari ketika sebuah kenangan kecil membuatnya kembali menangis.

Pernah suatu sore, ketika sedang membereskan barang-barang di kamarnya, ia menemukan sebuah benda sederhana yang mengingatkannya pada salah satu pertemuan mereka. Ia berhenti bekerja, memegang benda itu cukup lama, lalu duduk di tepi tempat tidur.

Ingatan tentang Surya datang begitu jelas.

Ia teringat cara laki-laki itu berbicara, bagaimana ia pernah menertawakan hal-hal kecil, dan bagaimana dirinya dahulu tidak merasa perlu menyembunyikan kegembiraan ketika menerima pesan darinya.

Imelda menangis.

Ia tidak merasa bersalah karena masih merindukan Surya. Ia juga tidak lagi memaksa dirinya untuk segera berhenti memikirkan laki-laki itu.

Namun, setelah tangisnya mereda, ia menyimpan benda tersebut kembali ke tempatnya.

Ia tidak membuangnya. Ia hanya tidak ingin setiap kenangan menjadi alasan untuk kembali mempertanyakan keputusan yang telah diambilnya.

Beberapa hari kemudian, Nadia datang menemaninya.

“Kamu terlihat sedikit lebih tenang,” kata Nadia.

“Kadang-kadang,” jawab Imelda. “Tetapi ada saat-saat ketika aku masih merasa seolah-olah semuanya baru terjadi kemarin.”

“Itu tidak aneh.”

“Aku pernah berpikir bahwa setelah berpisah, aku akan langsung merasa lebih baik karena tidak perlu lagi menghadapi kebohongan itu. Ternyata tidak sesederhana itu.”

Nadia mengangguk.

“Karena kamu bukan hanya meninggalkan masalah. Kamu juga meninggalkan sesuatu yang pernah membuatmu bahagia.”

Imelda memandang sahabatnya.

“Aku masih mengingat banyak hal baik tentang dia. Aku masih percaya bahwa ada saat-saat ketika dia benar-benar menyayangiku. Tetapi aku juga tahu bahwa perasaan itu tidak membuat apa yang dilakukannya menjadi benar.”

“Itu berarti kamu mulai melihat hubungan kalian dengan lebih utuh.”

“Aku tidak ingin membencinya, Nadia. Aku takut kalau aku membenci dia, aku akan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membawa kemarahan itu ke mana-mana.”

“Kamu tidak harus membenci seseorang agar bisa menjaga jarak darinya.”

Imelda tersenyum tipis.

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang perlahan mulai ia pahami.

Selama ini, ia mengira bahwa melepaskan seseorang berarti harus menghapus semua perasaan yang pernah ada. Kini, ia mulai menyadari bahwa ia dapat mengakui rasa sayang tanpa harus kembali menjalin hubungan.

Ia dapat mengingat Surya tanpa harus menghubunginya.

Ia dapat mengakui bahwa hubungan itu pernah berarti tanpa harus menyangkal alasan mengapa hubungan tersebut berakhir.

Dan ia dapat berharap Surya menjadi orang yang lebih baik tanpa menjadikan dirinya sendiri sebagai bagian dari proses perubahan itu.

“Aku ingin kembali merasa tenang,” kata Imelda.

“Kalau begitu, berikan dirimu kesempatan untuk pulih. Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh perasaanmu dalam satu hari.”

Imelda mengangguk.

Untuk pertama kalinya setelah perpisahan, ia merasa bahwa masa depannya tidak harus segera memiliki jawaban. Ia boleh menjalani hari demi hari, mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, dan membiarkan dirinya tumbuh tanpa harus menentukan kapan seluruh luka itu akan hilang.


Suatu sore, Hendra melihat Imelda duduk sendirian di teras rumah.

Putrinya sedang membaca sesuatu di ponsel, tetapi tatapannya beberapa kali terhenti pada layar tanpa benar-benar memperhatikan apa yang dibacanya.

Hendra duduk di kursi di sebelahnya.

“Masih memikirkan Surya?” tanyanya.

Imelda tersenyum kecil.

“Kadang-kadang, Yah.”

“Apakah itu membuatmu ingin kembali kepadanya?”

Imelda berpikir sebelum menjawab.

“Aku tidak tahu apakah aku ingin kembali. Ada bagian dari diriku yang masih merindukannya. Tetapi aku juga ingat bagaimana rasanya ketika aku mulai meragukan semua yang dia katakan.”

Hendra mengangguk.

“Tidak ada yang salah dengan mengingat seseorang yang pernah berarti dalam hidupmu.”

“Aku takut suatu hari nanti aku akan menyesal karena tidak memberinya kesempatan lagi.”

“Penyesalan adalah sesuatu yang mungkin datang setelah banyak keputusan. Tetapi kamu tidak bisa menjalani hidup hanya dengan menghindari kemungkinan menyesal.”

Imelda memandang ayahnya.

“Bagaimana kalau sebenarnya dia bisa berubah?”

“Dia memang bisa berubah. Setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar dari kesalahannya. Tetapi perubahan Surya adalah tanggung jawabnya sendiri. Kamu tidak harus kembali ke dalam hubungan itu untuk membuktikan bahwa kamu percaya manusia bisa menjadi lebih baik.”

Imelda terdiam.

Hendra melanjutkan dengan nada tenang.

“Kalau suatu hari dia menjadi orang yang lebih jujur dan bertanggung jawab, itu sesuatu yang baik bagi dirinya. Namun, perubahan itu tidak otomatis menghapus apa yang telah terjadi di antara kalian.”

“Aku mengerti, Yah.”

“Dan Ayah ingin kamu mengingat satu hal lagi. Kamu tidak perlu membuktikan bahwa keputusanmu benar dengan cara membenci Surya atau berharap dia gagal. Kamu cukup menjalani hidupmu dengan baik.”

Imelda merasakan dadanya menghangat.

Selama beberapa hari terakhir, ia terlalu sibuk memikirkan apakah perpisahan itu merupakan keputusan yang tepat. Ia mengulang percakapan di KP3 dalam pikirannya, membayangkan jawaban-jawaban yang berbeda, dan bertanya-tanya apakah semuanya akan berakhir lain jika Surya memilih jujur sejak awal.

Kini, ia mulai menerima bahwa tidak ada gunanya terus hidup dalam kemungkinan yang tidak pernah terjadi.

Ia tidak dapat mengubah pilihan Surya.

Ia juga tidak dapat mengubah dirinya menjadi seseorang yang tidak pernah terluka.

Yang dapat ia lakukan adalah menerima apa yang telah terjadi dan memutuskan bagaimana ia ingin melanjutkan hidupnya.


Beberapa hari setelah percakapannya dengan Fajar, Surya kembali membuka ponselnya.

Ia menemukan nama Imelda di dalam daftar kontak dan menatapnya cukup lama.

Ada banyak hal yang masih ingin ia katakan. Ia ingin meminta maaf sekali lagi. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya sedang berusaha memperbaiki cara berpikirnya. Ia ingin memberi tahu bahwa ia mulai memahami mengapa Imelda memilih pergi.

Namun, kali ini ia mencoba memikirkan sesuatu yang berbeda.

Apakah pesan itu akan membantu Imelda, atau hanya membuat dirinya merasa sedikit lebih baik?

Ia tidak dapat memastikan jawabannya.

Akhirnya, ia meletakkan ponsel tanpa mengirim apa pun.

Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti Imelda akan bersedia berbicara lagi dengannya. Ia tidak tahu apakah perempuan itu masih menyimpan perasaan yang sama. Ia bahkan tidak tahu apakah dirinya akan memperoleh kesempatan untuk menjelaskan perubahan yang sedang ia usahakan.

Untuk pertama kalinya, ia mencoba menerima bahwa tidak semua hal harus ia ketahui sekarang.

Ia pernah mendekati Imelda karena melihat kemungkinan memperoleh sesuatu dari hubungan mereka. Ia kemudian jatuh cinta, tetapi tidak segera menghentikan cara berpikir yang telah membawanya ke dalam hubungan itu. Ketika kebenaran terbuka, ia berharap perasaan yang tumbuh belakangan dapat menyelamatkannya dari akibat pilihan awalnya.

Kini ia memahami bahwa cinta bukanlah penghapus kesalahan.

Jika ia benar-benar ingin berubah, ia harus melakukannya meskipun Imelda tidak kembali.

Ia harus belajar menghargai seseorang tanpa menghitung manfaat yang mungkin diperolehnya. Ia harus belajar menyampaikan kebenaran sebelum kebohongan membuat keadaan semakin rumit. Ia juga harus menerima bahwa menjadi lebih baik tidak selalu berarti mendapatkan kembali apa yang pernah hilang.

Surya menghela napas panjang.

Ia belum menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Penyesalan tidak mengubah seluruh watak seseorang dalam hitungan hari. Ambisi, rasa takut, dan keinginannya untuk berhasil masih menjadi bagian dari dirinya.

Namun, kini ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semua persoalan itu berasal dari keadaan di luar dirinya.

Ada sesuatu yang harus ia benahi dari dalam.

Dan perjalanan itu harus dimulai tanpa janji bahwa Imelda akan menunggunya di akhir.


Pada suatu senja, Imelda kembali mengingat KP3.

Ia tidak datang ke sana. Ia hanya membayangkan tempat itu, permukaan sungai yang memantulkan cahaya matahari, dan percakapan terakhir yang mengakhiri hubungan mereka.

Dahulu, ia mengira janji adalah sesuatu yang dapat melindungi cinta dari segala kesulitan.

Sekarang, ia memahami bahwa janji hanya memiliki arti ketika seseorang bersedia menjalankannya dengan kejujuran.

Surya pernah berjanji untuk mencintainya. Ia pun pernah berjanji dalam hati untuk mendampingi laki-laki itu menghadapi masa-masa sulit.

Namun, hubungan mereka tidak berakhir karena Imelda menolak kesulitan atau karena Surya belum berhasil membangun kehidupan yang diinginkannya. Hubungan itu berakhir karena mereka tidak lagi berdiri di atas pemahaman yang sama tentang kejujuran.

Imelda menarik napas panjang.

Ia masih merindukan Surya. Mungkin untuk beberapa waktu ke depan, perasaan itu akan tetap datang pada saat-saat yang tidak terduga.

Tetapi ia tidak lagi menganggap kerinduan sebagai perintah untuk kembali.

Ia mulai memahami bahwa melepaskan bukan berarti menganggap semua yang pernah terjadi tidak berarti. Melepaskan berarti berhenti memaksa sesuatu untuk tetap hidup ketika cara mempertahankannya justru membuat diri sendiri semakin terluka.

Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan benar-benar memaafkan Surya tanpa menyimpan rasa sakit.

Ia juga tidak tahu apakah mereka akan kembali bertemu dalam keadaan yang berbeda.

Namun, ia tidak ingin menggantungkan ketenangannya pada kemungkinan-kemungkinan itu.

Hidupnya masih panjang. Ada banyak hal yang perlu ia kerjakan, banyak hubungan yang perlu ia jaga, dan banyak bagian dari dirinya yang perlu ia kenali kembali setelah sekian lama menempatkan hubungan mereka sebagai salah satu pusat kehidupannya.

Ia akan menjalani semuanya perlahan.

Bukan untuk membuktikan bahwa ia lebih kuat daripada Surya.

Bukan untuk membuat laki-laki itu menyesali keputusannya.

Melainkan karena ia berhak memiliki kehidupan yang tidak terus-menerus ditentukan oleh luka masa lalu.


Malam itu, Surya duduk sendirian di kamarnya.

Ia tidak lagi membuka percakapan Imelda berulang kali. Ponselnya terletak di atas meja, sementara sebuah buku catatan terbuka di hadapannya. Di dalamnya, ia mulai menuliskan hal-hal yang perlu ia perbaiki dalam rencana usaha dan kehidupannya sendiri.

Tidak ada kalimat tentang bagaimana cara mendapatkan kembali Imelda.

Tidak ada rencana untuk mendekati Hendra melalui hubungan pribadi.

Tidak ada janji bahwa setelah berhasil, semua orang akan melihat dirinya sebagai laki-laki yang berbeda.

Ia hanya menuliskan apa yang perlu dikerjakan, apa yang belum mampu ia lakukan, dan apa yang harus ia pelajari sebelum melangkah lebih jauh.

Untuk pertama kalinya, ia mencoba menyusun masa depan tanpa menjadikan seseorang sebagai jalan pintas menuju keberhasilan.

Di luar, malam semakin larut.

Surya menutup buku catatannya, lalu duduk diam.

Ia masih merindukan Imelda. Ia masih menyesali apa yang telah dilakukannya. Dan ia tahu bahwa ada kemungkinan penyesalan itu akan tinggal jauh lebih lama daripada yang ia harapkan.

Namun, ia tidak lagi ingin menggunakan rasa bersalah sebagai alasan untuk terus mengetuk pintu yang telah ditutup oleh seseorang yang berhak melindungi dirinya sendiri.

Ia harus menerima akibat dari pilihannya.

Bukan karena ia tidak lagi mencintai Imelda, melainkan karena jika cinta itu memang pernah berarti, ia harus belajar menghormati keputusan perempuan tersebut.

Di tempat lain, Imelda mulai menjalani malam dengan ketenangan yang masih rapuh, tetapi perlahan tumbuh.

Keduanya berada di jalan yang berbeda.

Tidak ada yang dapat memastikan apakah jalan itu akan kembali mempertemukan mereka. Tidak ada pula janji bahwa waktu akan menghapus semua luka.

Namun, satu hal mulai menjadi jelas bagi mereka berdua: hubungan yang telah berakhir tidak harus menjadikan seluruh kehidupan seseorang ikut berakhir.

Imelda harus belajar hidup tanpa Surya.

Surya harus belajar menjadi lebih jujur tanpa berharap Imelda akan kembali.

Dan di antara dua kehidupan yang kini berjalan terpisah, sandiwara yang pernah mengaburkan kebenaran itu akhirnya kehilangan tempatnya.

Yang tersisa bukan lagi janji untuk saling memiliki.

Melainkan tanggung jawab untuk menerima apa yang telah terjadi, keberanian untuk memperbaiki diri, dan kesediaan untuk melangkah maju tanpa memaksa masa lalu kembali menjadi masa depan.

Ketika sandiwara berakhir, tidak semua orang mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tetapi mungkin, dari sanalah mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk melihat diri sendiri dengan lebih jujur.

 

BAB XV

MEMILIH DIRI SENDIRI

Pagi itu, Imelda Yuliana berdiri di depan cermin kamarnya lebih lama daripada biasanya.

Ia memperhatikan wajahnya sendiri. Tidak ada perubahan besar yang dapat dilihat orang lain. Wajahnya masih sama, rambutnya masih tertata seperti biasa, dan matanya masih menyimpan kelembutan yang selama ini menjadi bagian dari dirinya.

Namun, ada sesuatu yang perlahan berubah di dalam hati.

Beberapa minggu terakhir telah mengajarkannya bahwa kehilangan tidak selalu datang dalam bentuk kepergian seseorang. Ada pula kehilangan yang terjadi ketika kita menyadari bahwa sesuatu yang selama ini kita yakini ternyata tidak sepenuhnya seperti yang kita bayangkan.

Imelda pernah kehilangan keyakinan terhadap hubungan yang dijalaninya bersama Surya. Ia pernah mempertanyakan kenangannya sendiri, meragukan ketulusan yang dahulu terasa begitu nyata, dan menyalahkan dirinya karena tidak lebih cepat menyadari bahwa ada kepentingan yang disembunyikan di balik kedekatan mereka.

Namun, semakin lama ia memikirkan semuanya, semakin ia memahami bahwa mempercayai seseorang bukanlah sebuah kesalahan.

Yang salah adalah ketika kepercayaan itu tidak dijaga oleh orang yang menerimanya.

Ia tidak perlu menghukum dirinya sendiri hanya karena pernah mencintai dengan tulus.

Imelda menarik napas panjang, lalu merapikan rambutnya.

Hari itu, ia ingin memulai sesuatu yang sederhana: menjalani kehidupannya tanpa terus-menerus menoleh ke belakang untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terjawab seluruhnya.

Ia masih mencintai Surya dalam cara yang sulit dijelaskan. Perasaan itu tidak menghilang hanya karena hubungan mereka telah berakhir. Kadang-kadang, ia masih teringat suaranya. Sesekali, ia masih membayangkan bagaimana jika mereka dahulu mengambil keputusan yang berbeda.

Tetapi sekarang, ia tidak lagi menganggap semua bayangan itu sebagai alasan untuk kembali.

Ia mulai memahami bahwa seseorang dapat tetap menyimpan kasih sayang kepada orang lain, sekaligus mengakui bahwa kebersamaan dengan orang tersebut tidak lagi menjadi pilihan yang baik bagi dirinya.

Mencintai seseorang tidak berarti harus mengorbankan ketenangan sendiri.

Dan melepaskan seseorang tidak berarti seluruh cinta yang pernah diberikan menjadi sia-sia.


Hari-hari berikutnya, Imelda berusaha mengembalikan perhatian kepada hal-hal yang selama ini sempat terabaikan.

Ia menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ratna, berbincang dengan Hendra, dan kembali menikmati kegiatan sederhana yang dahulu sering ia lakukan tanpa beban. Ia tidak memaksakan dirinya untuk selalu terlihat bahagia. Jika suatu hari ia merasa sedih, ia membiarkan kesedihan itu hadir tanpa menganggapnya sebagai kemunduran.

Nadia tetap menjadi salah satu orang yang paling dekat dengannya.

Pada suatu sore, mereka duduk bersama sambil menikmati minuman hangat. Percakapan mereka mengalir dari hal-hal ringan hingga persoalan yang selama ini menjadi beban Imelda.

“Aku mulai merasa lebih baik,” ujar Imelda.

Nadia tersenyum. “Aku senang mendengarnya.”

“Tetapi bukan berarti aku sudah melupakan semuanya. Ada hari-hari ketika aku masih memikirkan Surya. Kadang-kadang aku masih bertanya-tanya apakah dia benar-benar mencintaiku.”

“Apakah kamu merasa harus menemukan jawaban itu agar bisa melanjutkan hidup?”

Imelda berpikir sejenak.

“Dulu, iya. Aku merasa harus tahu apakah semua yang pernah kami jalani benar-benar tulus. Aku ingin memastikan bahwa aku tidak salah menilai setiap kenangan.”

“Lalu sekarang?”

“Sekarang aku mulai menyadari bahwa mungkin aku tidak akan pernah mengetahui semuanya dengan pasti. Aku hanya tahu apa yang dia akui, apa yang dia sembunyikan, dan bagaimana semua itu memengaruhi kepercayaanku.”

Nadia mengangguk.

“Itu sudah menjadi bagian penting dari kenyataan yang kamu hadapi.”

Imelda memandang ke luar.

“Aku tidak ingin terus hidup dengan mencoba menebak-nebak isi hati seseorang. Kalau suatu hari aku mencintai orang lain, aku ingin bisa menjalani hubungan dengan lebih tenang. Aku ingin berbicara secara terbuka, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan tidak merasa harus mencari kebenaran di balik setiap kalimat.”

“Itu keinginan yang wajar.”

“Aku juga tidak ingin menjadi orang yang selalu curiga hanya karena pernah terluka. Aku tidak mau kesalahan Surya membuatku kehilangan kemampuan untuk percaya kepada orang lain.”

Nadia tersenyum lembut.

“Berarti kamu tidak hanya sedang berusaha melupakan seseorang. Kamu sedang belajar memahami apa yang kamu butuhkan dari sebuah hubungan.”

Imelda mengangguk perlahan.

Untuk pertama kalinya, ia memandang masa lalu tanpa merasa harus memenangkan pertarungan melawannya. Ia tidak perlu membuktikan bahwa Surya sepenuhnya buruk agar keputusannya berpisah menjadi benar. Ia juga tidak perlu membuktikan bahwa dirinya tidak lagi mencintai Surya agar dapat melanjutkan hidup.

Ia hanya perlu jujur kepada dirinya sendiri.

Hubungan mereka pernah memberinya kebahagiaan, tetapi pada akhirnya juga menempatkannya dalam keadaan yang tidak lagi dapat ia jalani dengan tenang.

Itu sudah cukup untuk menjelaskan mengapa ia memilih pergi.


Di sisi lain Kota Air, Surya Pratama sedang menghadapi kehidupan yang tidak lagi dapat ia jalani dengan cara lama.

Ia tidak tiba-tiba menjadi orang yang sempurna setelah kehilangan Imelda. Ambisinya masih ada. Keinginannya untuk memperbaiki keadaan ekonomi juga belum hilang. Sesekali, ia masih merasa iri ketika melihat orang lain mencapai keberhasilan yang belum dapat diraihnya.

Namun, ia mulai belajar mengenali perasaan-perasaan itu tanpa membiarkannya menjadi alasan untuk mengambil jalan pintas.

Rencana usaha yang dahulu ia harapkan dapat segera membawanya menuju kehidupan yang lebih baik masih membutuhkan banyak pembenahan. Ia kembali memeriksa perhitungan, menimbang risiko, dan mengakui bagian-bagian yang belum dikuasainya.

Ia tidak lagi menganggap nasihat sebagai pengganti modal atau mengira bahwa kedekatan dengan seseorang dapat menyelesaikan persoalan yang seharusnya ia tangani sendiri.

Perubahan itu berlangsung perlahan.

Ada saat ketika ia merasa frustrasi. Ada pula saat ketika ia hampir kembali pada cara berpikir lama, membayangkan bahwa jika dahulu ia berhasil memperoleh dukungan dari keluarga Yuliana, mungkin kehidupannya sekarang akan berbeda.

Namun, setiap kali pikiran itu muncul, ia berusaha mengingat kembali percakapannya dengan Imelda di KP3.

Ia mengingat pertanyaan perempuan itu tentang kejujuran. Ia mengingat bagaimana Imelda tidak pernah mempersoalkan bahwa dirinya belum berhasil membangun usaha besar. Yang dipersoalkan adalah mengapa ia membiarkan hubungan mereka menjadi tempat bagi kepentingan yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka.

Surya akhirnya mengerti bahwa persoalannya bukan sekadar gagal mendapatkan kesempatan.

Persoalannya adalah ia pernah menganggap kepercayaan seseorang sebagai sesuatu yang dapat dipertahankan selama ia mampu memberikan penjelasan yang meyakinkan.

Ia baru memahami bahwa kepercayaan tidak dibangun dengan kemampuan menyusun kata-kata. Kepercayaan dibangun melalui kesediaan untuk mengatakan kebenaran, terutama ketika kebenaran itu mungkin membuat seseorang menjauh.

Pada suatu malam, Fajar datang menemuinya.

“Kamu masih memikirkan Imelda?” tanyanya.

Surya mengangguk.

“Masih.”

“Apakah kamu ingin menghubunginya?”

“Kadang-kadang. Aku ingin mengatakan bahwa aku mulai memahami semuanya. Aku ingin dia tahu bahwa aku sedang berusaha memperbaiki diri.”

Fajar memandangnya.

“Apakah kamu ingin dia mengetahui itu karena kamu berharap dia kembali?”

Surya terdiam cukup lama.

“Dulu, mungkin iya. Aku ingin dia melihat bahwa aku bisa berubah, lalu memberiku kesempatan lagi.”

“Dan sekarang?”

Surya menatap meja di hadapannya.

“Sekarang aku mulai menyadari bahwa kalau aku hanya berubah agar dia kembali, berarti aku masih menjadikan dirinya sebagai tujuan dari semua yang kulakukan. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan itu.”

Fajar mengangguk perlahan.

“Kalau begitu, lanjutkan perubahanmu tanpa harus mengumumkannya kepada siapa pun.”

Surya tersenyum tipis.

“Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan benar-benar menjadi orang yang lebih baik.”

“Tidak ada yang bisa menjamin itu. Yang bisa kamu lakukan adalah terus memilih dengan lebih jujur, termasuk ketika pilihan itu tidak memberimu keuntungan langsung.”

Surya mengangguk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya apakah Imelda akan kembali. Ia juga tidak meminta Fajar meyakinkannya bahwa semuanya masih mungkin diperbaiki.

Ia mulai menerima bahwa perubahan dirinya adalah tanggung jawab yang harus dijalani, bukan janji yang dapat ditukarkan dengan kesempatan kedua.

Dan mungkin, itulah pelajaran yang paling sulit baginya: memperbaiki diri tanpa menjadikan hasilnya sebagai tuntutan kepada orang yang pernah ia lukai.


Beberapa waktu kemudian, Imelda duduk bersama kedua orang tuanya di ruang keluarga.

Pembicaraan mereka berlangsung santai. Hendra menceritakan kesibukan yang sedang dihadapinya, sementara Ratna sesekali menambahkan pendapat. Imelda mendengarkan dan ikut menanggapi.

Di tengah percakapan, Hendra memandang putrinya.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?”

Imelda tersenyum.

“Lebih baik, Yah.”

“Apakah kamu masih memikirkan persoalan kemarin?”

“Kadang-kadang. Tetapi aku tidak lagi memikirkannya sepanjang hari.”

Hendra mengangguk.

“Ayah senang kamu mulai menemukan ketenanganmu sendiri.”

Imelda menunduk sebentar, kemudian berkata, “Aku juga mulai mengerti bahwa Ayah tidak pernah bermaksud melarangku mencintai Surya.”

“Tidak pernah, Nak. Ayah hanya ingin kamu bisa melihat hubungan itu dengan jernih.”

“Aku tahu sekarang.”

Hendra menatap putrinya dengan penuh perhatian.

“Kalau suatu hari nanti kamu bertemu seseorang lagi, jangan biarkan pengalaman ini membuatmu menutup hati. Tetapi jangan pula merasa harus memberikan kepercayaan sepenuhnya sebelum kamu mengenal orang itu dengan baik.”

Imelda mengangguk.

“Aku akan berusaha.”

Ratna tersenyum.

“Kamu tidak harus menjadi orang yang berbeda setelah mengalami kekecewaan. Kamu hanya perlu membawa pelajaran dari pengalaman itu agar dapat membuat keputusan yang lebih baik.”

Imelda memandang kedua orang tuanya.

Selama beberapa waktu, ia merasa bahwa perpisahan dengan Surya telah merenggut sebagian dirinya. Ia merasa lebih berhati-hati, lebih mudah teringat pada hal-hal yang menyakitkan, dan lebih sulit menikmati kebahagiaan tanpa memikirkan kemungkinan kehilangan.

Namun, perlahan ia menyadari bahwa pengalaman itu tidak harus menentukan seluruh masa depannya.

Ia masih dapat menjadi perempuan yang hangat. Ia masih dapat mempercayai orang lain. Ia masih dapat mencintai dengan tulus tanpa harus mengabaikan batas-batas yang penting bagi dirinya.

Ia tidak ingin menjadikan luka sebagai tembok yang memisahkannya dari dunia.

Ia ingin menjadikannya pengingat bahwa ketulusan harus berjalan bersama penghargaan terhadap diri sendiri.


Pada suatu sore yang cerah, Imelda keluar rumah untuk menikmati udara Kota Air.

Ia tidak memiliki tujuan yang istimewa. Ia hanya ingin berjalan sebentar, memberi ruang bagi pikirannya, dan menikmati suasana tanpa terus-menerus menghubungkan setiap tempat dengan kenangan bersama Surya.

Ketika melintasi kawasan yang mengingatkannya pada masa lalu, langkahnya sempat melambat.

Ia teringat pertemuan pertama mereka, percakapan-percakapan yang membuat keduanya semakin dekat, dan janji yang pernah mereka ucapkan di KP3.

Untuk sesaat, dadanya kembali terasa sesak.

Namun, kali ini ia tidak memaksa dirinya berjalan lebih cepat untuk menghindari kenangan itu. Ia membiarkan ingatan tersebut hadir, menerima kesedihan yang menyertainya, lalu menarik napas panjang.

Ia pernah bahagia bersama Surya.

Ia pernah terluka karena Surya.

Dan sekarang, ia sedang belajar hidup tanpa menjadikan salah satu dari dua kenyataan itu sebagai seluruh cerita tentang dirinya.

Imelda melanjutkan langkah.

Di sekelilingnya, Kota Air tetap menjalani kehidupan sehari-hari. Orang-orang sibuk dengan urusannya, percakapan terdengar dari berbagai arah, dan waktu bergerak sebagaimana mestinya.

Dunia tidak berhenti ketika hubungannya berakhir.

Ia pun tidak harus berhenti.

Ada masa depan yang belum ia kenal. Ada pekerjaan dan tanggung jawab yang menantinya. Ada hubungan dengan keluarga dan sahabat yang masih dapat ia rawat. Ada pula kemungkinan-kemungkinan baru yang tidak perlu ia buru-buru cari jawabannya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak harus segera mengetahui ke mana seluruh perjalanan hidupnya akan membawanya.

Ia cukup melangkah.

Satu hari demi satu hari.


Surya juga kembali melewati hari-harinya dengan cara yang berbeda.

Ia masih mengingat Imelda ketika senja tiba. Ia masih sesekali bertanya-tanya bagaimana keadaan perempuan itu. Namun, ia tidak lagi menganggap kerinduan sebagai alasan untuk menghubunginya.

Ia menghormati keputusan Imelda, meskipun keputusan itu menyakitkan baginya.

Pada suatu malam, ia membuka buku catatan yang berisi rencana usaha dan berbagai hal yang ingin diperbaikinya. Ia membaca kembali catatan-catatan itu, lalu menambahkan satu kalimat di halaman terakhir.

Jangan mengorbankan kejujuran demi mendapatkan sesuatu yang belum tentu menjadi milikmu.

Ia memandang kalimat itu cukup lama.

Kalimat tersebut tidak membuat seluruh kesalahannya terhapus. Tidak pula mengembalikan hubungan yang telah berakhir. Namun, ia ingin menjadikannya pengingat ketika suatu hari nanti ambisi kembali membuatnya tergoda untuk mengambil jalan yang keliru.

Ia tidak tahu apakah suatu saat akan bertemu Imelda lagi. Jika itu terjadi, ia tidak ingin datang dengan tuntutan atau membawa daftar perubahan yang harus membuat perempuan itu percaya kepadanya.

Ia hanya ingin menjadi seseorang yang mampu berdiri di hadapan orang lain tanpa harus menyembunyikan maksudnya.

Jika kelak ada orang yang mempercayainya, ia ingin menjaga kepercayaan itu dengan lebih baik.

Jika suatu saat ia mencintai seseorang lagi, ia ingin memulainya dengan kejujuran, bukan dengan strategi.

Dan jika ia kembali menghadapi kegagalan, ia ingin belajar menerimanya tanpa mencari jalan keluar melalui perasaan orang lain.

Surya menutup buku catatannya.

Ia masih memiliki perjalanan panjang. Ia belum mengetahui apakah usahanya akan berhasil, apakah kehidupan ekonominya akan berubah seperti yang ia harapkan, atau berapa lama ia membutuhkan waktu untuk berdamai dengan kehilangan Imelda.

Namun, ia tidak lagi menunggu keberhasilan untuk mulai memperbaiki dirinya.

Perubahan itu harus dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang diambilnya sekarang.


Waktu perlahan membawa Imelda dan Surya menuju kehidupan yang berbeda.

Tidak ada kabar besar tentang mereka. Tidak ada pertemuan dramatis yang tiba-tiba mengubah keadaan. Tidak ada pula janji baru yang membuat keduanya kembali terikat.

Imelda terus belajar menerima dirinya sendiri, sedangkan Surya berusaha membangun hidupnya dengan cara yang lebih bertanggung jawab.

Mereka mungkin masih sesekali mengingat satu sama lain. Bagaimanapun, hubungan yang pernah dijalani dengan sungguh-sungguh tidak selalu lenyap begitu saja setelah perpisahan.

Namun, kenangan itu perlahan tidak lagi menjadi pusat kehidupan mereka.

Imelda tidak lagi menghabiskan malam untuk mencari jawaban atas setiap pertanyaan tentang Surya. Surya pun mulai berhenti membayangkan bahwa perubahan dirinya harus berakhir dengan kembalinya perempuan itu.

Keduanya belajar menerima batas dari apa yang dapat mereka kendalikan.

Imelda tidak dapat mengubah pilihan yang pernah dibuat Surya.

Surya tidak dapat menentukan bagaimana Imelda akan mengenang hubungan mereka.

Mereka hanya dapat bertanggung jawab atas langkah masing-masing.

Pada akhirnya, Imelda memahami bahwa memilih diri sendiri bukan berarti menganggap dirinya lebih penting daripada orang lain. Itu berarti menghormati batas yang dibutuhkan agar ia dapat hidup dengan tenang, tanpa harus terus-menerus mengorbankan kejujuran dan keyakinannya demi mempertahankan sebuah hubungan.

Sementara itu, Surya mulai memahami bahwa mencintai seseorang tidak cukup hanya dengan memiliki perasaan. Cinta juga membutuhkan keberanian untuk berkata jujur, kesediaan untuk bertanggung jawab, dan kerendahan hati untuk menerima ketika orang yang dicintai memilih pergi.

Mereka tidak memperoleh akhir yang pernah dibayangkan.

Imelda tidak mendapatkan masa depan bersama laki-laki yang dahulu ia percayai. Surya tidak mendapatkan kesempatan kedua yang begitu ia inginkan.

Tetapi kehidupan tidak selalu memberikan apa yang diharapkan seseorang. Terkadang, kehidupan justru memperlihatkan sesuatu yang perlu dipahami sebelum seseorang dapat melangkah lebih jauh.

Bagi Imelda, pelajaran itu adalah bahwa ia dapat mencintai tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.

Bagi Surya, pelajaran itu adalah bahwa ambisi tidak boleh menghapus kejujuran, dan penyesalan tidak boleh berubah menjadi tuntutan kepada orang yang telah disakiti.

Mereka pernah berjalan beriringan.

Mereka pernah membayangkan masa depan yang sama.

Kini, mereka berjalan sendiri-sendiri, membawa kenangan yang tidak seluruhnya indah, tetapi juga tidak perlu dihapus agar kehidupan dapat berlanjut.

Dan ketika suatu hari nanti mereka mengingat kisah itu, mungkin mereka akan memahami bahwa hubungan mereka bukan hanya tentang cinta yang gagal dipertahankan.

Kisah itu juga tentang seseorang yang belajar melepaskan, seseorang yang belajar bertanggung jawab, dan dua hati yang harus menerima bahwa tidak semua perasaan dapat diselamatkan dengan cara tetap bersama.

Di Kota Air, kehidupan terus bergerak.

Sungai Kapuas tetap mengalir, senja kembali datang, dan malam berganti pagi.

Sementara itu, Imelda Yuliana mulai menemukan ketenangannya kembali.

Ia tidak lagi menunggu Surya untuk merasa utuh.

Ia tidak lagi membutuhkan jawaban dari masa lalu untuk melangkah ke masa depan.

Ia masih mampu mencintai, masih mampu berharap, dan masih memiliki keberanian untuk menjalani hidup.

Kali ini, ia melangkah bukan untuk mengejar seseorang.

Ia melangkah untuk kembali menemukan dirinya sendiri.

 

EPILOG

KOTA AIR DAN HATI YANG KEMBALI UTUH

Hari-hari terus berjalan setelah Imelda Yuliana memutuskan untuk melanjutkan hidupnya tanpa Surya Pratama.

Tidak ada perubahan besar yang terjadi dalam semalam. Tidak ada pagi ketika ia terbangun lalu mendapati seluruh kesedihan telah menghilang. Pemulihan datang dengan cara yang lebih sederhana, melalui hari-hari biasa yang perlahan mengajarinya menerima kenyataan.

Ada pagi ketika ia bangun dengan perasaan ringan. Ada pula malam ketika sebuah kenangan tiba-tiba muncul dan membuat dadanya terasa sesak. Kadang-kadang, ia masih teringat percakapan mereka, perhatian kecil yang pernah diberikan Surya, atau janji yang dahulu terdengar begitu meyakinkan.

Namun, seiring waktu, kenangan itu tidak lagi selalu membuatnya ingin kembali.

Ia mulai dapat mengingat tanpa harus mencari alasan untuk menghubungi. Ia mulai dapat merindukan tanpa merasa harus mengubah keputusannya. Dan ia mulai memahami bahwa melanjutkan hidup bukan berarti melupakan semua yang pernah terjadi.

Ada hal-hal yang tetap tinggal di dalam ingatan, tetapi tidak harus terus-menerus menguasai hati.

Pada hari-hari berikutnya, Imelda kembali menjalani rutinitasnya. Ia menghabiskan waktu bersama Ratna, berbincang dengan Hendra, dan sesekali bertemu Nadia untuk menikmati sore sambil bertukar cerita. Ia kembali tertawa tanpa merasa bersalah, menikmati hal-hal kecil tanpa harus membandingkannya dengan masa ketika Surya masih berada di sisinya.

Suatu sore, ketika mereka duduk bersama, Nadia memperhatikan perubahan pada sahabatnya itu.

“Kamu kelihatan lebih tenang sekarang,” katanya.

Imelda tersenyum kecil. “Mungkin karena aku sudah berhenti memaksa diriku mencari jawaban untuk semua hal.”

“Apakah kamu sudah benar-benar melupakannya?”

Imelda menggeleng pelan.

“Tidak. Aku rasa aku tidak harus melupakan semuanya. Surya pernah menjadi bagian penting dalam hidupku. Aku pernah bahagia bersamanya, dan aku juga pernah sangat terluka karenanya.”

“Lalu bagaimana kamu memandangnya sekarang?”

Imelda terdiam sesaat sebelum menjawab.

“Sebagai seseorang yang pernah kucintai, tetapi tidak lagi harus berjalan bersamaku.”

Nadia tidak segera menanggapi. Ia hanya menggenggam tangan Imelda sebentar, membiarkan jawaban itu menemukan tempatnya sendiri.

Bagi Imelda, kalimat tersebut bukan tanda bahwa seluruh perasaannya telah lenyap. Itu adalah pengakuan bahwa ia tidak lagi harus mempertahankan sebuah hubungan hanya karena pernah memberikan begitu banyak cinta di dalamnya.

Ia telah belajar bahwa masa lalu boleh dikenang tanpa harus diulang.


Di rumah keluarga Yuliana, Ratna melihat putrinya mulai kembali menikmati kehidupan dengan caranya sendiri.

Suatu pagi, ketika mereka sedang menyiapkan sarapan, Ratna bertanya apakah Imelda masih sering memikirkan Surya.

“Kadang-kadang, Bu,” jawab Imelda jujur. “Tetapi sekarang aku tidak lagi merasa harus melakukan sesuatu setiap kali mengingatnya.”

Ratna menoleh kepadanya.

“Dulu, setiap kali aku merindukannya, aku selalu merasa mungkin seharusnya aku memberinya kesempatan lagi. Aku berpikir, kalau perasaanku masih ada, mungkin hubungan itu masih bisa diselamatkan.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku mengerti bahwa perasaan saja tidak cukup. Aku bisa merindukannya tanpa harus kembali ke keadaan yang membuatku kehilangan ketenangan.”

Ratna tersenyum lembut.

“Ibu tidak pernah ingin kamu berhenti mencintai. Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa dirimu juga layak mendapatkan cinta yang baik.”

Imelda meraih tangan ibunya.

“Terima kasih karena Ibu tidak pernah memaksaku mengambil keputusan tertentu.”

“Karena yang akan menjalani hidupmu adalah kamu, Nak. Kami hanya bisa mendampingi dan mengingatkan.”

Perkataan itu menetap di hati Imelda.

Ia menyadari bahwa selama ini orang-orang yang benar-benar menyayanginya tidak pernah meminta dirinya menjadi seseorang yang tidak lagi memiliki perasaan. Mereka tidak menuntutnya membenci Surya, menghapus kenangan, atau berpura-pura kuat setiap saat.

Mereka hanya memberinya ruang untuk pulih.

Dan dari ruang itulah ia perlahan menemukan keberanian untuk kembali menjalani hidup.


Sementara itu, Surya mulai membangun hari-harinya dengan pemahaman yang berbeda.

Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Ia masih menghadapi keterbatasan yang sama, masih harus menyusun rencana usaha dengan cermat, dan masih harus menerima bahwa keberhasilan tidak datang hanya karena seseorang menginginkannya dengan sungguh-sungguh.

Ada kesempatan yang belum berhasil ia raih. Ada rencana yang harus ia perbaiki. Ada pula keputusan yang mengharuskannya mengakui bahwa ia belum cukup siap untuk melangkah lebih jauh.

Dahulu, keadaan seperti itu mudah membuatnya merasa tertinggal. Ia ingin segera membuktikan bahwa dirinya mampu mencapai sesuatu yang besar. Keinginan itu pernah membuatnya melihat kedekatan dengan Imelda sebagai jalan yang mungkin mempercepat langkahnya.

Kini, ia mulai belajar membedakan antara berusaha memperbaiki kehidupan dan memaksakan diri memperoleh hasil dengan cara apa pun.

Ia lebih berhati-hati dalam menyampaikan rencana. Ia belajar mengakui keterbatasan perhitungannya dan tidak lagi memberi kesan bahwa suatu dukungan telah tersedia ketika hal itu belum pasti. Jika seseorang hanya menawarkan nasihat, ia belajar menerimanya sebagai nasihat, bukan sebagai janji bantuan.

Perubahan itu mungkin tampak kecil bagi orang lain. Tidak ada keberhasilan besar yang dapat ia banggakan. Tidak ada pencapaian yang tiba-tiba menghapus kesalahan masa lalunya.

Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai mengukur kemajuan bukan hanya dari apa yang berhasil diperolehnya, melainkan juga dari cara ia berusaha mendapatkannya.

Pada suatu kesempatan, Fajar kembali berbincang dengannya.

“Bagaimana rencanamu sekarang?” tanya Fajar.

“Masih banyak yang harus diperbaiki.”

“Setidaknya kamu tahu bagian mana yang belum siap.”

Surya tersenyum tipis.

“Dulu, aku ingin semuanya berjalan cepat. Aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya mencapai tujuan sampai lupa mempertanyakan apakah caraku benar.”

“Dan sekarang?”

“Aku masih ingin berhasil. Keinginan itu tidak hilang. Tetapi aku tidak ingin lagi menjadikan orang lain sebagai jalan pintas untuk mencapai sesuatu.”

Fajar mengangguk.

“Itu baru permulaan.”

“Aku tahu.”

Surya menunduk sebentar, kemudian melanjutkan, “Aku juga mulai mengerti bahwa meminta maaf tidak membuat akibat dari kesalahan langsung hilang. Aku bisa menyesal, tetapi orang yang terluka tetap berhak menentukan apakah ia ingin memberiku kesempatan atau tidak.”

Fajar tidak memberikan pujian berlebihan.

“Yang penting, kamu benar-benar menjalankannya. Bukan hanya memahaminya ketika sedang menyesal.”

Surya menerima perkataan itu.

Ia tidak tahu apakah dirinya akan selalu mampu mengambil keputusan yang benar. Ia juga tidak dapat memastikan bahwa penyesalan hari ini akan membuatnya kebal terhadap kesalahan pada masa mendatang.

Namun, ia ingin terus belajar mengenali saat ambisi mulai mengalahkan kejujuran. Ia ingin berani berhenti sebelum kebohongan kecil berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

Dan ia mulai memahami bahwa perubahan yang sungguh-sungguh tidak membutuhkan penonton.

Imelda tidak harus mengetahuinya. Tidak ada kewajiban baginya untuk menyaksikan proses tersebut, apalagi memberikan penghargaan atasnya.

Surya harus melakukannya karena ia bertanggung jawab atas kehidupan yang sedang dibangunnya sendiri.


Waktu berlalu, membawa mereka semakin jauh dari hari ketika hubungan itu berakhir.

Kota Kuala Kapuas tetap menjadi tempat mereka menjalani kehidupan masing-masing. Sungai Kapuas terus mengalir, aktivitas warga berlangsung sebagaimana biasa, dan senja datang silih berganti tanpa mengetahui bahwa di antara orang-orang yang melewati hari-harinya, ada dua manusia yang sedang belajar berdamai dengan masa lalu.

Bagi Imelda, kota itu menyimpan banyak kenangan. Ada tempat yang mengingatkannya pada pertemuan pertama, jalan yang pernah mereka lalui bersama, dan sudut-sudut yang dahulu menjadi saksi percakapan panjang mereka.

Namun, tempat-tempat itu tidak lagi hanya menjadi milik kenangan tentang Surya.

Kota itu juga menyimpan cerita tentang keluarganya, persahabatannya dengan Nadia, dukungan Ratna dan Hendra, serta perjalanan dirinya untuk menemukan kembali ketenangan.

Suatu sore, Imelda kembali melewati kawasan KP3 Kuala Kapuas.

Ia tidak datang untuk menunggu siapa pun. Tidak ada janji yang ingin ia hidupkan kembali. Ia hanya ingin menikmati suasana dan membiarkan dirinya berada di tempat yang dahulu memiliki arti begitu besar bagi hubungan mereka.

Untuk beberapa saat, ia berhenti dan memandang sekeliling.

KP3 mengingatkannya pada janji yang pernah mereka ucapkan. Dahulu, ia datang ke tempat itu dengan keyakinan bahwa cinta dan kepercayaan akan membawa mereka menuju masa depan yang sama. Kemudian, di tempat yang sama, ia harus mengakui bahwa perasaan yang masih tersisa tidak cukup untuk mempertahankan hubungan yang telah kehilangan kejujuran.

Kini, ia berdiri di sana sebagai seseorang yang berbeda.

Bukan karena ia tidak lagi memiliki luka, melainkan karena luka itu tidak lagi menentukan seluruh cara ia memandang kehidupan.

Imelda teringat wajah Surya pada hari perpisahan mereka. Ia masih dapat merasakan kesedihan yang pernah memenuhi dadanya. Namun, ia tidak lagi ingin mengulang percakapan itu dalam pikirannya, mencari kalimat yang mungkin dapat mengubah akhir cerita.

Ia telah mengatakan apa yang perlu dikatakannya.

Ia telah mengambil keputusan yang menurutnya harus diambil.

Dan sekarang, ia berhak melanjutkan hidup.

Imelda mengalihkan pandangan ke arah sungai. Cahaya sore memantul di permukaan air, bergerak bersama arus yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Ia tersenyum kecil.

Tidak semua janji menjadi kenyataan. Tidak semua cinta berakhir dengan kebersamaan. Namun, sebuah kisah yang tidak bertahan selamanya tidak serta-merta kehilangan arti.

Ada pelajaran yang hanya dapat dipahami setelah seseorang berani meninggalkan sesuatu yang pernah sangat dicintainya.

Bagi Imelda, pelajaran itu adalah keberanian untuk menjaga dirinya sendiri tanpa harus membenci orang yang pernah dicintainya.

Ia kemudian melanjutkan langkah, meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang lebih tenang.

KP3 tetap berada di sana, menyimpan cerita tentang janji dan perpisahan. Tetapi kehidupan Imelda tidak lagi berhenti pada salah satu sudut kenangan itu.

Masih ada hari esok yang menunggunya.


Surya juga menyadari bahwa waktu tidak menghapus masa lalu, tetapi dapat mengubah cara seseorang memandangnya.

Ada malam ketika ia masih mengingat Imelda. Ada saat ketika ia ingin mengetahui apakah perempuan itu telah menemukan kebahagiaan. Namun, ia tidak lagi menggunakan rasa ingin tahu tersebut sebagai alasan untuk mengganggu kehidupan yang sedang dibangun Imelda.

Ia menghormati jarak yang telah dipilih perempuan itu.

Tidak ada pesan yang dikirimkannya untuk meminta kabar. Tidak ada perantaraan teman yang digunakan untuk mencari tahu apakah Imelda masih menyimpan perasaan. Ia tidak ingin menjadikan rasa rindunya sebagai beban baru bagi seseorang yang telah berusaha menemukan ketenangan.

Ia juga berhenti menjadikan kemungkinan untuk kembali bersama Imelda sebagai ukuran keberhasilan perubahan dirinya.

Mungkin suatu hari nanti ia akan mengingat perempuan itu dengan rasa terima kasih karena pernah mengenalnya. Mungkin ia akan menyesali beberapa pilihannya untuk waktu yang lama. Namun, penyesalan itu tidak harus membuatnya terus hidup di tempat yang sama.

Ia harus belajar menerima bahwa ada akibat yang tidak dapat dibatalkan.

Kepercayaan yang pernah rusak tidak selalu dapat dipulihkan oleh orang yang merusaknya. Kesempatan yang telah hilang tidak selalu datang kembali. Dan seseorang yang telah memilih pergi tidak memiliki kewajiban untuk menunggu sampai kita menjadi lebih baik.

Pemahaman itu tidak membuat Surya merasa ringan setiap saat.

Sebaliknya, terkadang ia harus menanggung rasa malu ketika mengingat bagaimana ia membiarkan ambisi memengaruhi caranya memperlakukan Imelda. Ia harus menerima bahwa niatnya tidak seluruhnya dapat dibenarkan hanya karena pada akhirnya ia juga memiliki perasaan yang sungguh-sungguh.

Ia pernah mencintai Imelda, tetapi ia juga pernah menyembunyikan sesuatu yang penting darinya.

Kedua kenyataan itu dapat hidup berdampingan.

Menerima hal tersebut adalah bagian dari tanggung jawab yang harus ia jalani.

Pada suatu senja, Surya duduk sendiri dan memandang langit yang mulai berubah warna. Ia teringat kalimat yang pernah ditulisnya di buku catatan: jangan mengorbankan kejujuran demi mendapatkan sesuatu yang belum tentu menjadi milikmu.

Kini, ia memahami kalimat itu dengan lebih dalam.

Kejujuran bukan hanya tentang tidak mengatakan kebohongan. Kejujuran juga berarti tidak sengaja membiarkan orang lain mempercayai gambaran yang keliru tentang diri kita. Kejujuran berarti berani menyampaikan maksud, menerima risiko dari keterbukaan, dan tidak menggunakan perasaan orang lain untuk melindungi kepentingan pribadi.

Surya belum menjadi manusia yang sempurna.

Namun, ia mulai mengerti arah perubahan yang harus ditempuhnya.

Dan untuk saat ini, itu sudah menjadi langkah awal yang nyata.


Hari-hari selanjutnya membawa Imelda pada ketenangan yang tidak lagi bergantung pada kehadiran seseorang.

Ia tidak menutup kemungkinan untuk mencintai lagi suatu hari nanti. Tetapi ia juga tidak terburu-buru mencari pengganti Surya, seolah-olah kekosongan dalam hidupnya harus segera diisi oleh orang lain.

Ia ingin mengenal dirinya lebih baik.

Ia ingin memahami hal-hal yang membuatnya bahagia, batas-batas yang harus dijaganya, dan nilai-nilai yang tidak ingin dikorbankannya dalam sebuah hubungan. Ia ingin tetap menjadi perempuan yang mampu memberi kasih sayang, tetapi juga berani berbicara ketika sesuatu terasa tidak benar.

Ia tidak ingin hidup dalam kecurigaan.

Namun, ia juga tidak ingin kembali mengabaikan keraguan yang muncul hanya karena takut kehilangan seseorang.

Bagi Imelda, kedewasaan bukan berarti tidak pernah salah menilai orang lain. Kedewasaan adalah kesediaan untuk belajar ketika kenyataan memperlihatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

Ia telah belajar dari Surya.

Ia juga telah belajar dari dirinya sendiri.

Dan ia tidak perlu mengubah seluruh masa lalunya menjadi sesuatu yang buruk agar dapat menghargai dirinya yang sekarang.

Pada suatu pagi, ketika cahaya matahari memasuki kamarnya, Imelda membuka jendela dan membiarkan udara segar masuk. Ia berdiri sejenak, memandang hari yang baru dimulai.

Tidak ada pesan khusus yang ditunggunya.

Tidak ada janji yang harus dipertahankannya.

Tidak ada pula jawaban dari masa lalu yang harus ia peroleh sebelum dapat melangkah.

Ia hanya memiliki hari itu, dengan segala kemungkinan yang belum diketahuinya.

Imelda tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum itu tidak ditujukan kepada seseorang agar ia tetap tinggal. Senyum itu hadir karena ia mulai merasa nyaman dengan kehidupannya sendiri.

Ia telah mencintai.

Ia telah kehilangan.

Ia telah menangis dan mempertanyakan banyak hal.

Tetapi ia tidak kehilangan seluruh dirinya.

Hatinya tidak kembali utuh karena semua luka menghilang. Hatinya kembali utuh karena ia tidak lagi membiarkan luka itu mengambil alih seluruh ruang dalam hidupnya.

Ia tidak perlu membenci Surya untuk memilih jalan yang berbeda. Ia tidak perlu menghapus kenangan untuk menerima bahwa hubungan mereka telah selesai. Dan ia tidak perlu menunggu seseorang datang menyelamatkannya agar dapat merasa bahagia.

Ia dapat melangkah dengan kekuatannya sendiri, sambil tetap menerima kasih sayang dari keluarga dan sahabat yang mendampinginya.

Di luar sana, Kota Air terus bergerak bersama waktu.

Sungai Kapuas tetap mengalir, membawa pantulan cahaya dari langit yang berubah setiap hari. Senja akan kembali datang, malam akan berlalu, dan pagi akan membuka kesempatan baru bagi siapa pun yang masih bersedia melanjutkan perjalanan.

Di kota itulah Imelda pernah mengenal cinta yang membuatnya berharap. Di kota yang sama, ia belajar bahwa harapan tidak boleh membuat seseorang kehilangan harga diri dan ketenangan batinnya.

Sementara Surya harus menjalani jalannya sendiri, belajar bertanggung jawab atas pilihan yang pernah dibuatnya.

Mereka tidak kembali bersama.

Mereka tidak mengulang janji yang sama.

Kisah mereka berakhir bukan karena seluruh perasaan telah hilang, melainkan karena Imelda memilih untuk tidak lagi mempertahankan hubungan yang tidak dapat ia jalani dengan kepercayaan yang utuh.

Dan mungkin, pada suatu hari nanti, ketika kenangan itu kembali hadir, keduanya akan dapat mengenangnya tanpa harus berharap waktu berputar ke belakang.

Imelda akan mengingat bahwa ia pernah mencintai dengan tulus.

Surya akan mengingat bahwa ketulusan seseorang bukanlah sesuatu yang boleh dimanfaatkan.

Masing-masing akan membawa pelajaran itu ke dalam kehidupan yang masih terbentang di hadapan mereka.

Sebab, pada akhirnya, tidak semua kisah cinta ditakdirkan berakhir dengan dua orang yang tetap bersama.

Ada kisah yang berakhir dengan perpisahan, tetapi meninggalkan pelajaran tentang kejujuran.

Ada cinta yang tidak berhasil dipertahankan, tetapi mengajarkan keberanian untuk melepaskan.

Dan ada hati yang pernah retak, kemudian menemukan kembali keutuhannya bukan karena seseorang kembali, melainkan karena pemiliknya berani berdiri, menerima kenyataan, dan memilih untuk terus hidup.

Di Kota Air, sungai terus mengalir menuju muaranya.

Begitu pula kehidupan.

Tidak semua yang pernah singgah harus menetap. Tidak semua yang pernah dijanjikan dapat menjadi kenyataan. Namun, setiap perjalanan tetap dapat memberi makna bagi mereka yang bersedia belajar darinya.

Imelda Yuliana telah memilih jalannya.

Ia memilih ketenangan tanpa menyangkal bahwa dirinya pernah terluka. Ia memilih masa depan tanpa berpura-pura bahwa masa lalu tidak pernah berarti. Ia memilih dirinya sendiri, bukan karena ia berhenti mencintai, melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa dirinya pun layak dicintai dengan kejujuran.

Dan ketika senja kembali menyelimuti Kota Air, Imelda tidak lagi memandangnya sebagai akhir dari sesuatu yang ingin ia pertahankan.

Ia memandangnya sebagai bagian dari perjalanan.

Sebuah perjalanan yang pernah memberinya cinta, mengajarkannya kehilangan, dan pada akhirnya membawanya pulang kepada dirinya sendiri.

TAMAT