SANDIWARA CINTA
Sebuah Kisah tentang
Cinta, Kepalsuan, Pengkhianatan, dan Keberanian untuk Melepaskan
Oleh: Slamet Riyadi
HAK CIPT
SANDIWARA CINTA
Sebuah Kisah tentang
Cinta, Kepalsuan, Pengkhianatan, dan Keberanian untuk Melepaskan
Penulis: Slamet Riyadi
Hak cipta © 2026 Slamet Riyadi.
Seluruh hak cipta dilindungi. Dilarang
memperbanyak, menyalin, atau mendistribusikan sebagian maupun seluruh isi buku
ini tanpa izin tertulis dari penulis, kecuali untuk kutipan singkat bagi
keperluan ulasan atau sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
DISCLAIMER
PERNYATAAN FIKSI
Buku berjudul SANDIWARA CINTA
merupakan karya fiksi yang ditulis oleh Slamet Riyadi. Seluruh tokoh, karakter,
dialog, alur cerita, konflik, hubungan antartokoh, serta peristiwa yang
digambarkan di dalam buku ini merupakan hasil imajinasi dan kreativitas
penulis.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh,
karakter, tempat, peristiwa, pengalaman, atau keadaan tertentu dengan orang
yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, hal tersebut tidak
dimaksudkan sebagai gambaran langsung tentang individu tertentu dan dapat
terjadi secara kebetulan.
Penggunaan nama Kota Kuala Kapuas,
Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, kawasan KP3 Kuala Kapuas, Sungai Kapuas,
serta unsur geografis lainnya dimaksudkan sebagai latar cerita. Penyebutan
tempat-tempat tersebut tidak berarti bahwa tokoh, konflik, hubungan, atau
peristiwa dalam cerita ini merupakan representasi dari kejadian nyata yang
berlangsung di lokasi tersebut.
Cerita ini mengangkat tema cinta,
kepalsuan, pengkhianatan, kepercayaan, kehilangan, tanggung jawab, dan
keberanian untuk melepaskan. Segala tindakan, keputusan, dan perilaku tokoh
merupakan bagian dari pengembangan cerita dan tidak dimaksudkan untuk menuduh,
merendahkan, atau mencemarkan nama baik pihak mana pun.
Karya ini juga tidak dimaksudkan untuk
menggambarkan bahwa semua hubungan cinta memiliki pola yang sama. Setiap
individu dan hubungan memiliki keadaan, pengalaman, serta pilihan yang berbeda.
Seluruh isi buku ini disusun untuk
kepentingan sastra, hiburan, refleksi, dan pembelajaran kehidupan. Penulis
berharap pembaca dapat mengambil nilai-nilai positif tentang pentingnya
kejujuran, ketulusan, tanggung jawab, penghargaan terhadap diri sendiri, serta
keberanian mengambil keputusan yang sehat dalam kehidupan.
Dengan demikian, SANDIWARA CINTA
hendaknya dibaca sebagai sebuah karya roman fiksi, bukan sebagai laporan
kejadian nyata, kesaksian faktual, ataupun penggambaran langsung terhadap
individu tertentu.
Penulis: Slamet
Riyadi
PROLOG
Senja yang Menyimpan Rahasia
Senja perlahan turun di atas Kuala
Kapuas.
Langit yang semula membentang biru
mulai berubah warna menjadi jingga keemasan. Cahaya matahari yang tersisa
memantul di permukaan Sungai Kapuas, menciptakan garis-garis berkilauan yang
bergerak mengikuti arus. Perahu-perahu kecil masih melintas, sebagian membawa
penumpang, sebagian lainnya kembali menuju tepian setelah seharian mencari
nafkah.
Kota Air itu tetap hidup dengan
caranya sendiri. Di sepanjang jalan, kendaraan berlalu-lalang. Suara percakapan
terdengar dari warung-warung, sementara angin sore membawa aroma sungai dan
makanan dari kawasan tepian kota.
Bagi sebagian orang, Kuala Kapuas
adalah tempat untuk mencari nafkah, membangun masa depan, dan pulang setelah
melewati hari yang panjang.
Namun, bagi Imelda Yuliana, sore itu
terasa berbeda.
Ia berdiri di kawasan KP3, memandang sungai
yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan kota yang dicintainya. Kawasan
itu mulai berbenah melalui proses renovasi dan penataan untuk dikembangkan
sebagai pusat wisata dan kuliner yang ikonik. Di tengah perubahan yang perlahan
terlihat, orang-orang masih datang untuk menikmati suasana tepian air,
berbincang, atau sekadar menghabiskan waktu menjelang malam.
Imelda pernah datang ke tempat itu
dengan perasaan yang begitu ringan.
Dahulu, ia berdiri di sana bersama
seorang laki-laki yang menggenggam tangannya sambil berbicara tentang masa
depan. Laki-laki yang mengatakan bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan
kekayaan. Laki-laki yang berjanji akan mencintainya dengan tulus, tanpa
menjadikan harta sebagai alasan untuk bertahan.
Laki-laki itu bernama Surya Pratama.
Dan kini, laki-laki yang sama sedang
berdiri beberapa langkah di hadapannya, mencoba mempertahankan sesuatu yang
sesungguhnya telah lama runtuh.
“Mel, dengarkan aku dulu.”
Suara Surya terdengar pelan. Ada
kecemasan di wajahnya, sesuatu yang jarang diperlihatkan ketika mereka masih
bersama. Kedua tangannya bergerak gelisah, seolah-olah ia sedang mencari cara
untuk menyusun kembali kata-kata yang sudah kehilangan kekuatannya.
Imelda tidak segera menjawab.
Ia memandang laki-laki itu cukup lama.
Wajah yang dahulu mampu membuatnya tersenyum hanya dengan satu tatapan kini
menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rindu yang belum sepenuhnya
hilang, ada luka yang masih terasa, dan ada kenyataan yang tidak mungkin lagi
ia abaikan.
“Apa lagi yang harus aku dengar,
Surya?”
Pertanyaan itu keluar dengan suara
lirih.
Surya terdiam.
“Aku sudah menjelaskan semuanya.”
“Tidak,” jawab Imelda. “Kamu sudah
menjelaskan banyak hal. Kamu sudah memberikan banyak alasan. Tapi kamu belum
menjawab satu pertanyaan yang paling penting.”
Imelda menarik napas perlahan. Ia
berusaha menjaga suaranya agar tidak pecah, meskipun dadanya terasa sesak.
“Selama ini, kamu mencintaiku karena
aku, atau karena apa yang bisa kamu dapatkan dari keluargaku?”
Surya menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak hubungan
mereka dimulai, tidak ada jawaban yang segera keluar dari mulutnya.
Angin sore bertiup melintasi tepian
sungai. Beberapa orang berjalan melewati mereka tanpa mengetahui bahwa di
antara dua orang yang berdiri berhadapan itu, sebuah hubungan sedang menghadapi
akhir yang menyakitkan.
“Aku memang salah, Mel.”
Imelda memejamkan mata sejenak.
Kalimat itu terdengar begitu sederhana
dibandingkan dengan semua kebohongan yang kini harus ia terima sebagai
kenyataan.
“Aku tahu kamu salah,” katanya. “Yang
ingin aku tahu adalah apakah selama ini kamu pernah benar-benar memikirkan
perasaanku.”
Surya mengangkat wajahnya. Matanya
tampak lelah.
“Aku tidak pernah menyangka semuanya
akan menjadi seperti ini.”
“Karena kamu tidak pernah menyangka
aku akan tahu?”
Surya kembali terdiam.
Imelda merasakan sesuatu bergerak di
dalam dadanya, sesuatu yang menyerupai harapan terakhir yang perlahan
kehilangan bentuknya. Sebagian kecil dari dirinya masih ingin mendengar
penjelasan yang dapat menyelamatkan kenangan mereka. Ia ingin percaya bahwa
tidak semua perhatian Surya adalah kebohongan, bahwa setidaknya ada bagian dari
hubungan mereka yang pernah berarti bagi laki-laki itu.
Namun, keinginan untuk percaya tidak
serta-merta membuat kenyataan berubah.
“Aku pernah membelamu di hadapan orang
tuaku,” ujar Imelda. “Aku pernah marah kepada sahabatku sendiri karena dia
mempertanyakan kesungguhanmu. Aku bahkan pernah berpikir bahwa selama kita
saling mencintai, keadaan sesulit apa pun pasti bisa kita lewati.”
Suaranya mulai bergetar.
“Karena aku percaya kepadamu, Surya.”
Surya melangkah mendekat, tetapi
Imelda mundur satu langkah.
Gerakan kecil itu membuat Surya
berhenti.
“Aku bisa berubah, Mel. Beri aku
kesempatan. Aku akan memperbaiki semuanya.”
Imelda menatapnya dengan mata yang
mulai basah.
“Bagaimana caranya kamu memperbaiki
kepercayaan yang kamu hancurkan sendiri?”
“Aku akan membuktikannya.”
“Dengan janji lagi?”
Surya tidak menjawab.
Imelda menoleh ke arah Sungai Kapuas.
Air terus mengalir tanpa menunggu siapa pun. Tidak ada yang berubah pada sungai
itu meskipun langit perlahan kehilangan cahaya. Perahu-perahu masih bergerak,
orang-orang masih menjalani kehidupan, dan kota tetap melanjutkan waktunya.
Hanya dirinya yang merasa seolah-olah
tertinggal di suatu tempat yang tidak lagi bisa ia datangi.
Dahulu, di tepian sungai yang sama,
Surya pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi laki-laki kaya yang
kehilangan ketulusan. Ia ingin membangun kehidupan dari kerja kerasnya sendiri,
lalu berdiri di samping Imelda tanpa harus merasa rendah diri di hadapan
keluarga perempuan itu.
Imelda mempercayai setiap kata
tersebut.
Ia tidak pernah meminta Surya menjadi
orang kaya. Ia tidak pernah menuntut hadiah mahal atau kehidupan yang
berlebihan. Bahkan, ketika Surya menceritakan kesulitan yang dialaminya, Imelda
tidak berpikir untuk meninggalkannya.
Yang ia inginkan hanya satu: seorang
laki-laki yang tidak menjadikan perasaannya sebagai alat untuk mencapai
kepentingan pribadi.
Ternyata, keinginan sederhana itu
justru menjadi hal yang paling sulit ia temukan.
“Mel,” panggil Surya sekali lagi.
Imelda menghapus air mata di pipinya.
Ia ingin mengatakan banyak hal, tetapi tidak semuanya perlu diucapkan. Ada
kekecewaan yang terlalu dalam untuk dijelaskan, ada pertanyaan yang jawabannya
sudah terlihat dari sikap seseorang, dan ada perasaan yang perlahan harus
dilepaskan meskipun hati belum siap menerimanya.
“Aku masih punya perasaan kepadamu,”
katanya akhirnya.
Wajah Surya sedikit berubah. Untuk
sesaat, ia seperti menemukan harapan yang hampir hilang.
Namun, kalimat berikutnya membuatnya
kembali terdiam.
“Tapi aku tidak bisa terus mencintai
seseorang yang membuatku meragukan diriku sendiri setiap kali mencoba
mempercayainya.”
“Jangan akhiri semuanya seperti ini.”
Imelda tersenyum tipis, senyum yang
lebih menyerupai kesedihan daripada kebahagiaan.
“Aku tidak mengakhiri hubungan kita
karena aku sudah tidak mencintaimu, Surya. Aku mengakhirinya karena aku tidak
tahu lagi bagian mana dari hubungan kita yang benar-benar bisa kupercaya.”
Surya menatapnya tanpa mampu
berkata-kata.
Di hadapan laki-laki itu, Imelda
akhirnya memahami bahwa perpisahan tidak selalu terjadi ketika cinta telah
habis. Terkadang, perpisahan justru datang ketika perasaan masih ada, tetapi
kepercayaan telah kehilangan tempat untuk berpijak.
Ia berbalik perlahan.
Setiap langkah terasa berat. Ada
bagian dari dirinya yang ingin berhenti, menoleh kembali, lalu memberikan
kesempatan terakhir kepada laki-laki yang pernah menjadi pusat kebahagiaannya.
Akan tetapi, ia tahu bahwa jika kembali hanya karena takut kehilangan, ia
mungkin akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: dirinya sendiri.
Surya tetap berdiri di tempatnya.
Ia ingin memanggil Imelda, ingin
mengatakan bahwa semua yang terjadi tidak sesederhana yang terlihat. Namun,
untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kata-kata yang dahulu selalu berhasil
meyakinkan perempuan itu kini tidak lagi memiliki kekuatan yang sama.
Imelda terus berjalan.
Di belakangnya, senja perlahan
menghilang dari langit Kuala Kapuas.
Dan di antara suara arus sungai serta
kehidupan kota yang tidak pernah benar-benar berhenti, sebuah kisah cinta
berakhir bukan karena jarak, bukan karena perbedaan status, melainkan karena
kebohongan yang tumbuh di dalam janji-janji indah.
Namun, kisah mereka tidak dimulai pada
sore itu.
Jauh sebelum air mata jatuh di tepian
KP3, jauh sebelum pertanyaan-pertanyaan menyakitkan menggantikan percakapan
penuh tawa, dan jauh sebelum Imelda mengetahui siapa sebenarnya laki-laki yang
dicintainya, semuanya bermula dari sebuah pertemuan sederhana.
Sebuah pertemuan yang bagi Imelda
tampak seperti kebetulan.
Sebuah pertemuan yang bagi Surya
justru membuka jalan menuju kehidupan yang selama ini diimpikannya.
Saat itu, belum ada yang menyebutnya
sandiwara.
Belum ada yang menduga bahwa di balik
senyum, perhatian, dan janji tentang masa depan, tersimpan sebuah niat yang
kelak mengubah segalanya.
Saat itu, Imelda masih percaya bahwa
cinta yang tulus akan selalu menemukan jalannya.
Dan Surya masih yakin bahwa selama ia
mampu memainkan perannya dengan sempurna, tidak seorang pun akan mengetahui
alasan sebenarnya mengapa ia datang ke dalam kehidupan perempuan itu.
Di Kota Air yang aman, indah, dan
ramah, sandiwara itu pun dimulai.
Semuanya berawal
dari sebuah senyuman.
BAB I
PERTEMUAN DI KOTA AIR
Pagi di Kuala Kapuas selalu memiliki
caranya sendiri untuk menyambut kehidupan.
Ketika matahari mulai meninggi dari
ufuk timur, kota itu perlahan terbangun. Kendaraan mulai memenuhi jalan-jalan
utama, aktivitas perdagangan bergerak mengikuti kesibukan masyarakat, dan di
tepian Sungai Kapuas, beberapa perahu masih melintas membawa orang-orang yang
hendak memulai hari. Udara pagi menyimpan kesejukan yang perlahan tergantikan
oleh hangatnya matahari, sementara suara kehidupan terdengar dari berbagai
sudut kota.
Kuala Kapuas bukan kota yang gemar
mempertontonkan kemewahan. Di sini, kehidupan berjalan dengan iramanya sendiri.
Ada orang-orang yang berangkat bekerja dengan harapan sederhana, pedagang yang
membuka lapak demi memenuhi kebutuhan keluarga, serta anak-anak muda yang mulai
menyusun impian tentang masa depan.
Kota yang dikenal dengan semboyan Kota
Air — Aman, Indah dan Ramah itu menyimpan banyak cerita di antara
jalan-jalan, tepian sungai, dan perjumpaan orang-orang yang mungkin tidak
pernah menyangka bahwa sebuah pertemuan sederhana dapat mengubah arah kehidupan
mereka.
Bagi Imelda Yuliana, pagi itu hanyalah
bagian dari hari biasa.
Ia berdiri di depan cermin kamarnya,
merapikan rambut panjangnya yang tergerai melewati bahu. Setelah memastikan
penampilannya cukup rapi, ia mengambil tas kecil di atas meja, lalu memeriksa
telepon genggamnya.
Sebuah pesan dari Nadia Permatasari
sudah menunggu sejak beberapa menit sebelumnya.
Mel, jangan lupa.
Kita jadi ketemu pagi ini, kan? Aku sudah hampir sampai.
Imelda tersenyum.
Ia segera membalas pesan itu, kemudian
berpamitan kepada ibunya yang sedang berada di ruang makan.
“Mau pergi sekarang, Mel?” tanya Ratna
Yuliana sambil meletakkan secangkir teh di atas meja.
“Iya, Bu. Janjian sama Nadia.”
“Pulangnya jangan terlalu sore. Kalau
ada rencana lain, kabari Ibu.”
“Iya, Bu.”
Ratna memperhatikan putrinya sesaat.
Ada kebahagiaan tersendiri melihat Imelda tumbuh menjadi perempuan dewasa yang
mampu mengurus dirinya sendiri. Namun, seperti kebanyakan ibu, Ratna tetap
memiliki kekhawatiran yang tidak selalu diungkapkan melalui kata-kata.
“Mel,” panggilnya sebelum putrinya
beranjak.
Imelda menoleh. “Ya, Bu?”
“Jangan terlalu sibuk memikirkan orang
lain sampai lupa memperhatikan dirimu sendiri.”
Imelda tertawa kecil.
“Memangnya Imelda kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa. Ibu cuma
mengingatkan.”
Imelda mendekati ibunya, lalu mencium
tangannya.
“Iya, Bu. Imelda ingat.”
Ia tidak tahu bahwa nasihat sederhana
itu suatu hari akan kembali terngiang di benaknya, justru ketika ia sedang
berusaha memahami mengapa seseorang yang begitu ia percaya mampu melukainya
sedemikian dalam.
Pagi itu, tentu saja, ia belum
memikirkan hal-hal semacam itu.
Baginya, hidup masih terbentang dengan
banyak kemungkinan yang menyenangkan.
Di sisi lain kota, Surya Pratama duduk
di sebuah warung sederhana tidak jauh dari jalan yang mulai ramai.
Secangkir kopi berada di hadapannya.
Sesekali ia mengaduk minuman itu meskipun gula di dalamnya sudah larut sejak
tadi. Perhatiannya lebih banyak tertuju pada layar telepon genggam dan
orang-orang yang melintas di depan warung.
Usianya masih cukup muda untuk
mengejar banyak hal. Ia memiliki penampilan yang menarik, tutur kata yang cukup
halus, dan kemampuan menyesuaikan diri ketika berada di lingkungan baru. Orang
yang baru mengenalnya biasanya akan menilai Surya sebagai laki-laki yang tenang
dan tidak banyak tingkah.
Akan tetapi, di balik ketenangan itu,
ada kegelisahan yang jarang ia ceritakan kepada orang lain.
Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai
dengan keinginannya. Ia pernah membayangkan masa depan yang jauh lebih mapan
daripada keadaannya sekarang. Ia ingin memiliki pekerjaan yang memberinya
kebebasan finansial, rumah yang nyaman, kendaraan sendiri, serta kehidupan yang
tidak lagi membuatnya harus menghitung pengeluaran setiap kali hendak memenuhi
keinginannya.
Baginya, uang bukan sekadar alat untuk
membeli kebutuhan. Uang juga menjadi lambang keberhasilan, sesuatu yang selama
ini ia gunakan untuk mengukur seberapa jauh dirinya tertinggal dari orang-orang
yang hidup lebih berkecukupan.
Ia tidak suka mengakui perasaan itu,
bahkan kepada dirinya sendiri.
“Masih pagi sudah melamun.”
Suara Fajar Ramadhan membuyarkan
pikirannya.
Surya mengangkat kepala. Sahabatnya
itu baru saja datang, lalu menarik kursi di hadapannya.
“Bukan melamun,” jawab Surya. “Lagi
mikir.”
“Mikir apa? Jangan-jangan sudah
menemukan cara supaya cepat kaya.”
Surya tertawa pendek.
“Kalau ada caranya, kamu juga pasti
mau.”
“Kalau caranya benar, tentu saja.”
Fajar memesan kopi kepada pemilik warung,
kemudian kembali memandang Surya.
“Jadi, rencanamu hari ini apa?”
“Belum tahu. Mungkin jalan-jalan
sebentar.”
“Sendirian?”
“Memangnya kenapa kalau sendirian?”
“Tidak kenapa-kenapa. Aku cuma heran.
Akhir-akhir ini kamu sering sekali kelihatan punya banyak waktu kosong, tetapi
setiap ditanya soal masa depan, jawabanmu selalu berubah.”
Surya menatap sahabatnya beberapa
saat.
“Aku sedang mencari kesempatan yang
lebih baik, Jar. Tidak semua orang bisa langsung mendapatkan pekerjaan atau
kehidupan yang diinginkan.”
“Aku tahu. Aku juga tidak bilang kamu
harus berhasil hari ini.”
Fajar berhenti sejenak, lalu
melanjutkan dengan nada lebih tenang.
“Tapi jangan sampai keinginanmu untuk
cepat berhasil membuatmu memilih jalan yang salah.”
Surya mengalihkan pandangan ke jalan
raya.
Nasihat itu terasa tidak menyenangkan,
bukan karena ia tidak memahaminya, melainkan karena ada bagian dari dirinya
yang tidak ingin terus diingatkan tentang kenyataan yang sedang dihadapinya.
“Aku tahu batasnya,” jawab Surya
akhirnya.
Fajar tidak melanjutkan percakapan. Ia
mengenal Surya cukup lama untuk memahami bahwa sahabatnya itu tidak selalu
bersedia menerima nasihat pada saat yang tepat.
Beberapa menit kemudian, mereka
berpisah. Fajar harus menyelesaikan urusannya sendiri, sedangkan Surya memilih
berjalan menyusuri beberapa ruas jalan kota.
Ia belum memiliki rencana yang jelas.
Ia hanya tahu bahwa dirinya tidak ingin selamanya menjalani kehidupan seperti
sekarang.
Dan terkadang, ketika seseorang
terlalu takut tertinggal, ia mulai melihat orang lain bukan sebagai manusia
yang memiliki perasaan, melainkan sebagai kemungkinan yang dapat dimanfaatkan.
Surya belum menyadari seberapa jauh
pikirannya kelak membawanya.
Atau mungkin, jauh di dalam dirinya,
ia sebenarnya sudah mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara ia
memandang kehidupan.
Namun, untuk sementara, ia memilih
mengabaikannya.
Menjelang siang, Imelda bertemu Nadia
di sebuah tempat makan yang cukup nyaman di kawasan kota.
Percakapan mereka mengalir seperti
biasa. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari kegiatan sehari-hari, kabar
teman-teman lama, sampai rencana-rencana yang belum sempat diwujudkan.
Nadia adalah salah satu dari sedikit
orang yang mampu membuat Imelda berbicara tanpa harus memikirkan bagaimana
dirinya akan dinilai. Persahabatan mereka telah berlangsung cukup lama sehingga
tidak banyak hal yang perlu disembunyikan di antara keduanya.
“Ngomong-ngomong, Mel,” kata Nadia
sambil meletakkan gelas minumannya, “kamu pernah kepikiran menikah?”
Imelda hampir tersedak mendengar
pertanyaan itu.
“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Memangnya tidak boleh?”
“Boleh saja. Tapi pertanyaanmu
mendadak sekali.”
Nadia tertawa.
“Ya, siapa tahu kamu sudah punya calon
yang tidak pernah kamu ceritakan.”
Imelda menggeleng sambil tersenyum.
“Belum ada.”
“Serius?”
“Serius.”
“Kalau begitu, kamu mau laki-laki
seperti apa?”
Imelda terdiam sejenak. Pertanyaan itu
sebenarnya sederhana, tetapi ia tidak ingin menjawabnya hanya dengan
menyebutkan penampilan atau pekerjaan seseorang.
“Aku ingin laki-laki yang jujur,”
katanya akhirnya.
Nadia mengangkat alis.
“Cuma itu?”
“Bukan cuma itu. Aku ingin seseorang
yang bisa diajak bicara, yang bertanggung jawab, yang tidak merasa harus
berpura-pura menjadi orang lain hanya supaya aku menyukainya.”
Nadia memperhatikan sahabatnya dengan
senyum tipis.
“Wah, ternyata kamu sudah punya
gambaran yang cukup lengkap.”
Imelda ikut tertawa.
“Bukankah semua orang ingin hubungan
yang seperti itu?”
“Mungkin. Tapi tidak semua orang
benar-benar memahami apa artinya ketika hubungan mulai menjadi sulit.”
Imelda tidak langsung menjawab.
Ia tumbuh dalam keluarga yang
berkecukupan. Sejak kecil, ia tidak pernah harus memikirkan apakah keluarganya
mampu membeli kebutuhan pokok atau membayar biaya sekolahnya. Ayahnya, Hendra
Yuliana, bekerja keras membangun kehidupan yang cukup mapan, sedangkan ibunya
menjaga kehangatan rumah dengan caranya sendiri.
Namun, kemapanan keluarga tidak
membuat Imelda percaya bahwa uang adalah jawaban bagi segala persoalan.
Justru karena terbiasa melihat
bagaimana orang tuanya bekerja untuk mempertahankan kehidupan keluarga, ia
memahami bahwa kekayaan tidak selalu datang tanpa perjuangan.
Ia tidak mencari laki-laki yang mampu
menyaingi harta keluarganya.
Ia hanya ingin seseorang yang tidak
menjadikannya sebagai jalan untuk memperoleh sesuatu yang tidak mampu diraihnya
sendiri.
“Aku tidak butuh orang yang kaya,
Nad,” lanjutnya. “Kalau dia punya pekerjaan sederhana, selama dia jujur dan mau
berusaha, menurutku itu sudah cukup. Aku lebih takut hidup dengan seseorang
yang selalu mengatakan hal-hal indah, tetapi ternyata tidak bisa dipercaya.”
Nadia mengangguk pelan.
“Semoga kamu menemukan orang seperti
itu.”
“Amin.”
Mereka kembali tertawa, lalu
melanjutkan percakapan mengenai hal-hal lain.
Di luar tempat makan, siang Kuala
Kapuas bergerak semakin sibuk. Kendaraan melewati jalanan, pedagang melayani
pembeli, dan orang-orang menjalani urusan mereka masing-masing.
Tidak ada tanda bahwa sebuah kisah
yang kelak akan menguji seluruh keyakinan Imelda tentang cinta sedang menunggu
di salah satu sudut kota itu.
Pertemuan mereka terjadi menjelang
sore.
Setelah berpisah dengan Nadia, Imelda
memutuskan singgah di sebuah toko untuk membeli beberapa keperluan. Ia tidak
terburu-buru pulang karena masih ingin menikmati waktu di luar rumah.
Sore itu, kawasan kota mulai dipenuhi
orang-orang yang menyelesaikan aktivitas harian. Sebagian berjalan santai,
sebagian berhenti di tempat makan, dan sebagian lainnya bersiap kembali ke
rumah.
Imelda keluar dari toko sambil membawa
sebuah tas belanja kecil.
Ketika sedang memasukkan telepon
genggam ke dalam tasnya, ia tidak menyadari seorang laki-laki berjalan dari
arah berlawanan.
Mereka hampir bertabrakan.
“Maaf!”
Keduanya mengucapkan kata yang sama
hampir bersamaan.
Imelda segera mundur satu langkah.
Salah satu barang yang dibawanya terlepas dan jatuh ke trotoar.
Laki-laki itu langsung membungkuk
untuk mengambilnya.
“Maaf, saya kurang memperhatikan
jalan,” katanya.
“Tidak apa-apa. Saya juga sedang tidak
melihat ke depan.”
Laki-laki itu menyerahkan barang
tersebut kepadanya.
Untuk sesaat, mata mereka bertemu.
Imelda melihat seorang laki-laki
berpenampilan rapi dengan kemeja sederhana. Wajahnya menunjukkan sedikit rasa
sungkan, tetapi ia tersenyum dengan cara yang membuat situasi canggung itu
terasa lebih ringan.
“Terima kasih,” ujar Imelda.
“Sama-sama.”
Seharusnya percakapan mereka berakhir
sampai di situ. Imelda dapat melanjutkan perjalanan, sementara laki-laki itu
meneruskan urusannya sendiri.
Namun, ketika Imelda hendak melangkah
pergi, sebuah benda kecil terjatuh dari tas belanja yang dibawanya.
Laki-laki itu kembali mengambilnya.
“Sepertinya barang-barang Anda sedang
ingin berjalan sendiri,” katanya sambil tersenyum.
Imelda tertawa kecil.
“Sepertinya begitu. Hari ini saya agak
ceroboh.”
“Tidak apa-apa. Namanya juga manusia.”
Ia menyerahkan barang itu, lalu
sedikit menganggukkan kepala.
“Sekali lagi, maaf.”
“Tidak perlu meminta maaf terus. Nanti
saya yang merasa bersalah karena membuat Anda repot.”
Laki-laki itu tertawa.
Suasana menjadi lebih santai.
“Saya Surya,” katanya kemudian, seolah
baru menyadari bahwa mereka belum memperkenalkan diri.
“Imelda.”
“Imelda Yuliana?”
Imelda sedikit terkejut.
“Iya. Memangnya kita pernah bertemu?”
Surya segera menggeleng.
“Belum pernah. Saya hanya memastikan
nama yang tadi Anda sebutkan.”
Imelda mengangguk, menerima jawaban
itu tanpa banyak bertanya.
Ia tidak mengetahui bahwa Surya pernah
mendengar nama keluarganya dari percakapan orang-orang yang dikenalnya. Nama
Yuliana bukan nama yang sepenuhnya asing baginya. Ia mengetahui bahwa keluarga
tersebut memiliki kehidupan ekonomi yang mapan, meskipun ia belum pernah
bertemu langsung dengan putrinya.
Ketika mendengar nama Imelda, sesuatu
dalam pikirannya bergerak.
Ia tidak langsung menunjukkan
perubahan sikap. Senyumnya tetap sama, begitu pula nada bicaranya. Namun, di
balik percakapan sederhana itu, ia mulai menghubungkan nama yang baru
didengarnya dengan informasi yang selama ini tersimpan dalam ingatannya.
Bagi Imelda, Surya hanyalah seorang
laki-laki yang kebetulan ditemuinya sore itu.
Bagi Surya, pertemuan tersebut
mendadak terasa lebih menarik daripada yang ia bayangkan sebelumnya.
“Apakah Anda tinggal di sekitar sini?”
tanya Surya.
“Tidak terlalu jauh.”
“Oh, begitu.”
Surya tidak ingin terlihat terlalu ingin
tahu. Ia memilih berbicara mengenai suasana kota, cuaca sore, dan beberapa
tempat yang menurutnya menyenangkan untuk dikunjungi.
Imelda menanggapi percakapan itu
dengan santai. Ia tidak merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki
maksud tertentu. Surya berbicara dengan sopan, tidak memaksakan percakapan, dan
sesekali menyelipkan humor ringan yang membuatnya tersenyum.
Ketika mereka akhirnya berpamitan,
Surya tidak meminta sesuatu yang berlebihan.
“Senang berkenalan dengan Anda,
Imelda.”
“Saya juga.”
“Semoga perjalanan pulangnya
menyenangkan.”
“Terima kasih. Anda juga.”
Mereka berpisah ke arah yang berbeda.
Imelda melanjutkan langkahnya dengan
perasaan biasa saja. Baginya, pertemuan itu hanyalah kejadian kecil yang
mungkin akan dilupakannya beberapa hari kemudian.
Ia tidak membawa pulang harapan baru.
Ia juga tidak merasa baru saja bertemu
dengan seseorang yang akan mengubah hidupnya.
Namun, setelah beberapa langkah, ia
menyadari bahwa ia masih mengingat senyum laki-laki bernama Surya itu.
Ia tersenyum sendiri, merasa sedikit
geli karena memikirkan hal yang sebenarnya tidak penting.
Lalu ia melanjutkan perjalanan.
Surya tidak segera pulang.
Ia berhenti di tepi jalan, menunggu
kendaraan yang melintas, tetapi pikirannya tidak lagi tertuju pada tujuan
awalnya.
Nama itu terus berputar di kepalanya.
Imelda Yuliana.
Ia berusaha mengingat informasi yang
pernah didengarnya tentang keluarga tersebut. Ia tahu bahwa Hendra Yuliana
merupakan seorang pengusaha yang kehidupannya cukup mapan. Ia juga pernah
mendengar bahwa keluarganya tidak dikenal gemar memamerkan kekayaan secara
berlebihan.
Surya tidak mengetahui seluruh keadaan
mereka. Ia hanya memiliki beberapa potongan informasi yang belum tentu lengkap.
Namun, bagi seseorang yang sedang
memikirkan bagaimana mengubah kehidupannya, potongan informasi semacam itu
dapat berkembang menjadi kemungkinan yang sulit diabaikan.
Ia teringat cara Imelda berbicara,
penampilannya yang sederhana, dan sikapnya yang tidak menunjukkan keinginan
untuk membuat orang lain merasa rendah diri.
Perempuan itu tidak tampak seperti
seseorang yang menuntut banyak hal.
Justru itulah yang membuat Surya
semakin tertarik.
Ia mulai membayangkan bahwa mendekati
Imelda mungkin tidak akan sesulit yang dibayangkannya. Ia hanya perlu mengenalnya
lebih jauh, memahami apa yang disukainya, dan menunjukkan bahwa dirinya adalah
laki-laki yang dapat dipercaya.
Pikiran itu muncul begitu saja, tetapi
tidak sepenuhnya tanpa kesengajaan.
Surya tahu bahwa jika ia ingin
mendapatkan sesuatu dari seseorang, ia harus memahami apa yang membuat orang
tersebut merasa nyaman.
Ia pernah melakukan hal serupa dalam
pergaulan sehari-hari: menyesuaikan sikap, memilih kata-kata, dan menjaga kesan
yang ingin ditampilkan. Selama ini, ia menganggap kemampuan tersebut sebagai
kecakapan sosial.
Kali ini, ia mulai mempertimbangkan
untuk menggunakannya demi tujuan yang berbeda.
Ia mengeluarkan telepon genggam dari
sakunya, lalu menatap layar beberapa saat.
Tidak ada nomor Imelda yang tersimpan.
Tidak ada alasan baginya untuk menghubungi perempuan itu setelah pertemuan
singkat mereka.
Tetapi ia tidak ingin pertemuan
tersebut menjadi yang terakhir.
Surya menghela napas, kemudian
memasukkan kembali teleponnya.
“Pelan-pelan saja,” gumamnya.
Ia belum memiliki rencana yang benar-benar
matang. Ia juga belum mengetahui bagaimana hubungan itu akan berkembang. Namun,
satu hal mulai tumbuh di dalam pikirannya: ia ingin mengenal Imelda lebih
dekat.
Pada mulanya, keinginan itu mungkin
terlihat seperti rasa penasaran biasa.
Akan tetapi, di balik rasa penasaran
tersebut, ada kepentingan yang belum ingin ia akui secara terbuka.
Surya melangkah menuju tempat
kendaraannya. Di sepanjang perjalanan, ia membayangkan kemungkinan-kemungkinan
yang dapat terbuka jika ia berhasil mendekati perempuan itu.
Ia tidak memikirkan bagaimana perasaan
Imelda jika suatu hari mengetahui alasan sebenarnya.
Ia juga tidak memikirkan bahwa
kepercayaan seseorang bukan sesuatu yang dapat dipinjam tanpa konsekuensi.
Baginya, masa depan adalah sesuatu
yang harus diperjuangkan, dan ia mulai melihat Imelda sebagai bagian dari jalan
menuju kehidupan yang selama ini diinginkannya.
Sore itu, Surya pulang membawa sebuah
kemungkinan baru.
Sementara Imelda pulang tanpa
mengetahui bahwa pertemuan kecil mereka telah menimbulkan sesuatu yang berbeda
dalam pikiran laki-laki tersebut.
Malam turun di Kuala Kapuas.
Lampu-lampu rumah mulai menyala, suara
kendaraan berangsur berkurang di beberapa ruas jalan, dan kehidupan kota
bergerak menuju waktu istirahat. Dari kejauhan, Sungai Kapuas tetap mengalir,
membawa pantulan cahaya yang terpecah oleh riak-riak kecil di permukaannya.
Di rumahnya, Imelda sedang duduk
bersama ibunya ketika Hendra pulang.
“Bagaimana harimu?” tanya Hendra
sambil meletakkan barang bawaannya.
“Baik, Yah,” jawab Imelda.
“Pergi dengan Nadia?”
“Iya. Tadi kami makan bersama, lalu
Imelda mampir ke toko sebentar.”
Hendra mengangguk.
“Ada cerita menarik?”
Imelda sempat teringat pertemuannya
dengan Surya. Ia tersenyum kecil, lalu menceritakannya sebagai kejadian sederhana
yang tidak terlalu penting.
“Tadi Imelda hampir bertabrakan dengan
seseorang. Namanya Surya. Lucu juga, karena kami sampai dua kali saling meminta
maaf.”
Ratna tersenyum mendengar cerita itu.
“Untung orangnya baik.”
“Iya, Bu. Orangnya sopan.”
Hendra tidak memberikan tanggapan
khusus. Baginya, pertemuan semacam itu adalah bagian biasa dari kehidupan di
kota.
“Yang penting tetap hati-hati kalau
bepergian,” pesannya.
“Iya, Yah.”
Percakapan mereka kemudian beralih
pada hal-hal lain. Tidak ada pembicaraan lebih lanjut mengenai Surya.
Namun, ketika berada di kamarnya malam
itu, Imelda kembali mengingat pertemuan singkat tersebut.
Bukan karena ia merasa telah menemukan
seseorang yang istimewa, melainkan karena ada sesuatu yang sederhana dari cara
laki-laki itu bersikap yang membuat pertemuan mereka terasa menyenangkan.
Ia tidak mencoba memikirkan lebih
jauh.
Imelda meletakkan telepon genggamnya
di meja, lalu bersiap mengakhiri hari.
Sebelum tidur, ia sempat memandang
jendela kamarnya. Cahaya lampu dari rumah-rumah di sekitarnya tampak samar,
sementara udara malam terasa semakin tenang.
Ia tidak mengetahui bahwa di tempat
lain, seorang laki-laki sedang memikirkan cara untuk bertemu dengannya lagi.
Ia tidak mengetahui bahwa pertemuan
yang dianggapnya kebetulan mulai dipandang sebagai kesempatan oleh seseorang
yang baru dikenalnya.
Dan ia sama sekali tidak mengetahui
bahwa suatu hari nanti, ia akan mengingat sore itu dengan perasaan yang jauh
berbeda.
Bagi Imelda, pertemuan tersebut
hanyalah awal dari sebuah perkenalan.
Bagi Surya, pertemuan tersebut adalah
awal dari sebuah rencana.
Dua orang telah bertemu di kota yang
sama, di bawah langit yang sama, tetapi membawa niat yang berbeda.
Mereka belum saling mencintai.
Mereka bahkan belum benar-benar saling
mengenal.
Namun, sebuah jalan telah terbuka di
antara keduanya—jalan yang kelak dipenuhi janji, harapan, kebohongan, dan luka
yang tidak pernah dibayangkan Imelda sebelumnya.
Di Kuala Kapuas, malam semakin larut.
Dan tanpa disadari oleh perempuan yang
masih percaya pada ketulusan itu, langkah pertama menuju sandiwara cinta telah
dimulai.
BAB II
SENYUM YANG DIRENCANAKAN
Surya Pratama bukan laki-laki yang
mudah melupakan sesuatu yang dianggapnya berharga.
Sejak pertemuannya dengan Imelda
Yuliana, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya: kesempatan untuk mengubah
kehidupannya mungkin berada lebih dekat daripada yang selama ini ia bayangkan.
Ia tidak lagi melihat pertemuan di depan toko itu sebagai kejadian biasa. Nama
Imelda, latar belakang keluarganya, dan kesan pertama yang ditinggalkan
perempuan itu perlahan menyatu menjadi sebuah kemungkinan yang ingin ia kejar.
Beberapa hari setelah pertemuan
tersebut, Surya kembali menjalani rutinitasnya. Ia bangun pagi, mengurus
keperluan pribadi, lalu menghabiskan sebagian waktu di luar rumah. Namun,
pikirannya kerap melayang pada sosok Imelda.
Ia bahkan mulai menyusun alasan untuk
kembali bertemu dengannya.
Surya memahami bahwa mendekati
seseorang tidak selalu harus dimulai dengan rayuan. Kadang-kadang, perhatian
kecil jauh lebih efektif daripada kata-kata yang terlalu manis. Ia hanya perlu
menemukan kesempatan yang tepat, kemudian membiarkan semuanya berjalan
seolah-olah terjadi secara alami.
Pemikiran itu membuatnya tersenyum
tipis.
Di dalam dirinya, ia percaya bahwa
selama mampu membaca situasi, ia dapat mengendalikan arah sebuah perkenalan.
Sayangnya, ia tidak pernah benar-benar
mempertimbangkan bahwa manusia bukanlah teka-teki yang dapat diselesaikan hanya
dengan mempelajari kebiasaannya.
Kesempatan itu datang beberapa hari
kemudian.
Siang menjelang sore, Surya berada di
salah satu kawasan yang cukup ramai di Kuala Kapuas. Ia baru menyelesaikan
urusannya ketika melihat seorang perempuan keluar dari sebuah toko di seberang
jalan.
Langkahnya terhenti.
Perempuan itu mengenakan pakaian
sederhana dengan tas tersampir di bahu. Rambutnya tergerai rapi, sementara
wajahnya terlihat tenang ketika ia memeriksa sesuatu di telepon genggam.
Surya mengenalinya.
Imelda.
Ada jeda singkat sebelum ia memutuskan
untuk menyapa. Ia tidak ingin terlihat seperti seseorang yang sengaja
mencari-cari keberadaan perempuan itu. Karena itu, ia menyeberang setelah
memastikan keadaan jalan aman, lalu menghampirinya dengan sikap santai.
“Imelda?”
Perempuan itu mengangkat kepala.
Sedikit keterkejutan muncul di wajahnya sebelum berubah menjadi senyuman.
“Surya? Kebetulan sekali.”
“Benar. Saya tidak menyangka bisa
bertemu lagi.”
Imelda memasukkan telepon genggamnya
ke dalam tas.
“Sedang ada urusan?”
“Baru selesai. Kalau kamu sendiri?”
“Ada beberapa keperluan.”
Surya mengangguk. Ia memperhatikan
bahwa Imelda tidak menunjukkan sikap canggung seperti ketika mereka pertama
kali bertemu. Percakapan pun terasa lebih mudah dimulai.
“Kalau tidak keberatan, boleh saya
mentraktir minum? Anggap saja untuk menebus kejadian waktu itu. Kita belum
sempat mengobrol dengan tenang.”
Imelda sempat mempertimbangkannya. Ia
sebenarnya tidak memiliki rencana untuk berhenti, tetapi tawaran itu
disampaikan dengan wajar, tanpa kesan memaksa.
“Sebentar saja, ya. Saya tidak bisa
terlalu lama.”
“Tentu.”
Mereka kemudian berjalan menuju sebuah
tempat minum tidak jauh dari sana.
Surya memilih meja yang cukup nyaman,
kemudian mempersilakan Imelda duduk. Ia menanyakan minuman yang disukai
perempuan itu sebelum memesan. Sikapnya terlihat penuh perhatian, tetapi tidak
berlebihan.
Percakapan dimulai dari hal-hal
sederhana: kesibukan, tempat tinggal, dan kegiatan yang biasa mereka lakukan
ketika memiliki waktu luang.
Imelda mengetahui bahwa Surya sedang
berusaha mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan ingin membangun kehidupannya
secara mandiri.
“Saya percaya setiap orang punya
waktunya masing-masing,” kata Surya. “Mungkin sekarang keadaan saya belum
seperti yang saya inginkan, tetapi saya tidak mau berhenti berusaha.”
Imelda mengangguk.
“Menurut saya, selama seseorang mau
berusaha dan bertanggung jawab, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki
keadaan.”
Jawaban itu membuat Surya merasa
semakin yakin bahwa perempuan di hadapannya memiliki cara pandang yang sesuai
dengan gambaran yang ingin ia manfaatkan.
Ia tidak perlu berpura-pura menjadi
orang kaya. Sebaliknya, ia dapat tampil sebagai laki-laki sederhana yang sedang
berjuang membangun masa depan.
“Tidak semua orang bisa memahami hal
itu,” ujarnya. “Kadang-kadang, orang menilai kita dari apa yang sudah kita
miliki, bukan dari apa yang sedang kita perjuangkan.”
Imelda menatapnya dengan perhatian.
“Mungkin karena mereka belum mengenal
kita lebih jauh.”
“Bisa jadi.”
Surya menundukkan kepala sebentar,
seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat. Ia kemudian bercerita
tentang keinginannya memiliki kehidupan yang mapan, bukan untuk dipamerkan
kepada orang lain, melainkan agar kelak ia tidak harus bergantung pada siapa
pun.
Sebagian dari perkataannya memang
mencerminkan keinginan yang benar-benar ia miliki. Namun, ada sesuatu yang
sengaja ia sembunyikan: keinginannya untuk memperoleh kemapanan itu tidak
selalu berjalan seiring dengan kesediaannya menempuh jalan yang benar.
Imelda tidak mengetahui bagian
tersebut.
Yang ia dengar adalah suara seorang
laki-laki yang tampak memahami arti perjuangan.
“Semoga apa yang kamu inginkan bisa
tercapai,” katanya tulus.
Surya tersenyum.
“Terima kasih, Imelda.”
Untuk sesaat, ia merasa tidak perlu
melakukan banyak hal. Imelda telah memberinya ruang untuk berbicara, mendengarkan
tanpa menghakimi, dan menanggapi ceritanya dengan ketulusan yang jarang ia
temukan dalam pergaulan yang selama ini dikenalnya.
Namun, rasa nyaman yang muncul di
dalam dirinya tidak membuat niat awalnya berubah. Ia justru mulai menyadari
bahwa kepercayaan Imelda mungkin lebih mudah diperoleh daripada yang ia
bayangkan.
Pertemuan itu berlangsung lebih lama
daripada yang direncanakan Imelda.
Ketika akhirnya mereka bersiap
berpisah, Surya tidak meminta nomor teleponnya secara langsung. Ia memilih
menunggu kesempatan lain, seolah-olah tidak ingin terburu-buru.
Akan tetapi, sebelum mereka melangkah
ke arah berbeda, Imelda justru bertanya lebih dahulu.
“Kalau suatu saat kita bertemu lagi,
boleh kita mengobrol seperti ini?”
Surya sempat terkejut, meskipun ia
segera menyembunyikannya dengan senyuman.
“Tentu. Saya senang bisa mengobrol
denganmu.”
Mereka bertukar nomor telepon dengan
alasan agar lebih mudah berkomunikasi.
Bagi Imelda, hal itu tidak lebih dari
cara sederhana untuk menjaga perkenalan. Ia belum memiliki perasaan khusus
kepada Surya, tetapi ia menilai laki-laki itu cukup menyenangkan untuk dikenal
lebih jauh.
Surya menyimpan nomor tersebut dengan
hati-hati.
Setelah berpisah, ia berjalan beberapa
langkah sebelum mengeluarkan telepon genggamnya dan memastikan nama Imelda
sudah tersimpan dengan benar.
Senyum muncul di wajahnya.
Satu langkah telah berhasil ia lewati.
Ia tidak perlu lagi bergantung pada
kebetulan untuk menghubungi perempuan itu. Sekarang, ia memiliki jalan untuk
membangun komunikasi secara langsung.
Namun, yang membuatnya semakin
tertarik bukan hanya kemungkinan untuk menjalin hubungan dengan Imelda. Ia
mulai membayangkan bagaimana kehidupannya kelak jika perempuan itu benar-benar
mempercayainya.
Pikiran tersebut membuatnya merasa seolah-olah
masa depan yang diinginkannya mulai mendekat.
Ia mengabaikan satu kenyataan penting:
Imelda memberinya nomor telepon karena menganggapnya sebagai orang yang layak
dikenal, bukan karena bersedia menjadi bagian dari rencananya.
Perbedaan itulah yang belum ingin
dipahami Surya.
Malam harinya, pesan pertama datang
dari Surya.
Sudah sampai di
rumah?
Imelda sedang berada di kamarnya
ketika membaca pesan tersebut. Ia membalas singkat bahwa dirinya sudah tiba
sejak beberapa waktu sebelumnya.
Tidak lama kemudian, percakapan mereka
berlanjut.
Surya menanyakan kegiatan Imelda,
kemudian menceritakan sedikit tentang hari yang baru dilewatinya. Ia tidak
membanjiri perempuan itu dengan pesan panjang. Ia justru berusaha menjaga
percakapan tetap ringan, memberikan ruang bagi Imelda untuk membalas ketika
memiliki waktu.
Bagi Surya, hal semacam itu merupakan
bagian dari pendekatan yang sengaja ia susun.
Ia memperhatikan bahwa Imelda menyukai
percakapan yang jujur dan tidak berlebihan. Karena itu, ia menghindari pujian
yang terdengar dibuat-buat. Ia memilih membicarakan pengalaman sehari-hari,
pandangan mengenai kehidupan, serta cita-cita yang ingin diwujudkan.
Sementara itu, Imelda menikmati
percakapan tersebut tanpa memikirkan kemungkinan tersembunyi di baliknya.
Ia merasa Surya berbeda dari beberapa
laki-laki yang pernah dikenalnya. Surya tidak terburu-buru menanyakan hal-hal
pribadi, tidak berusaha mengesankan dirinya dengan cerita tentang harta, dan
tidak membuat setiap percakapan berakhir dengan rayuan.
Ada ketenangan dalam cara laki-laki
itu berbicara.
Setidaknya, begitulah yang dilihat
Imelda.
Pada suatu malam, percakapan mereka
menyentuh persoalan hubungan dan kepercayaan.
“Menurutmu, apa yang paling penting
dalam sebuah hubungan?” tanya Surya melalui pesan.
Imelda membaca pertanyaan itu cukup
lama sebelum menjawab.
Kejujuran. Kalau dua
orang saling jujur, masalah sebesar apa pun masih bisa dibicarakan. Tapi kalau
sudah tidak ada kepercayaan, semuanya jadi sulit.
Surya menatap layar teleponnya.
Ia tahu jawaban seperti itulah yang
ingin didengarnya. Bukan karena ia berniat memenuhi harapan tersebut, melainkan
karena kini ia semakin memahami hal yang harus diperlihatkannya agar Imelda
merasa aman.
Ia mulai mengetik.
Saya setuju. Menurut
saya, cinta tidak harus dibuktikan dengan kemewahan. Yang penting, dua orang
itu saling menghargai dan tidak saling memanfaatkan.
Ia membaca kembali kalimat tersebut
sebelum mengirimkannya.
Tidak ada yang salah dengan kata-kata
itu. Bahkan, seandainya diucapkan oleh seseorang yang sungguh-sungguh
meyakininya, kalimat tersebut dapat menjadi dasar hubungan yang sehat.
Tetapi Surya mengetahui bahwa ada
jarak antara apa yang ia katakan dan apa yang sebenarnya ia rencanakan.
Ia tetap menekan tombol kirim.
Beberapa saat kemudian, Imelda
membalas dengan sebuah ungkapan singkat yang menunjukkan bahwa ia sependapat.
Surya meletakkan telepon genggamnya di
atas meja. Ia merasa puas karena percakapan itu berjalan sesuai harapan.
Di sisi lain, Imelda mematikan layar
teleponnya dengan perasaan ringan. Ia tidak sedang jatuh cinta, tetapi mulai
merasa bahwa Surya merupakan seseorang yang dapat dipercaya untuk menjadi teman
berbicara.
Perbedaan kecil itu tidak tampak
berarti pada malam tersebut.
Padahal, di sanalah keduanya mulai
melangkah menuju hubungan yang kelak akan memiliki arti sangat berbeda bagi
masing-masing.
Hari-hari berikutnya membawa perubahan
kecil dalam kehidupan mereka.
Pesan yang semula hanya datang
sesekali mulai menjadi bagian dari rutinitas. Surya sesekali menanyakan kabar
Imelda pada pagi hari, sementara Imelda terkadang membalas dengan cerita
singkat tentang kegiatannya.
Mereka mulai mengetahui kebiasaan
masing-masing.
Surya mengetahui bahwa Imelda tidak
menyukai percakapan yang penuh basa-basi. Ia juga mengetahui bahwa perempuan
itu menghargai orang yang menepati janji, sekecil apa pun janji tersebut.
Imelda, sebaliknya, mulai mengenal
Surya sebagai laki-laki yang memiliki banyak keinginan tetapi tidak gemar
memamerkannya. Ia melihat ambisi Surya sebagai sesuatu yang wajar, bahkan patut
dihargai, selama laki-laki itu tetap bersedia bekerja keras.
Sesekali mereka bertemu untuk minum
atau berjalan santai. Tidak ada hadiah mahal, tidak ada pernyataan cinta yang
tergesa-gesa, dan tidak ada pembicaraan serius mengenai pernikahan.
Hubungan mereka berkembang dalam
bentuk yang sederhana.
Namun, bagi Surya, setiap pertemuan
juga menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahamannya tentang Imelda.
Ia memperhatikan cara perempuan itu
menanggapi persoalan keluarga, bagaimana ia berbicara tentang orang-orang yang
kurang beruntung, dan bagaimana ia menilai seseorang yang sedang menghadapi
kesulitan.
Semakin banyak yang ia ketahui,
semakin mudah baginya menyesuaikan sikap.
Ketika Imelda berbicara tentang
pentingnya kerja keras, Surya menekankan bahwa ia tidak ingin hidup bergantung
pada orang lain.
Ketika perempuan itu mengatakan bahwa
kesetiaan lebih penting daripada kemewahan, Surya menegaskan bahwa ia juga
memiliki pandangan serupa.
Ketika Imelda mengungkapkan
ketidaksukaannya terhadap orang yang berpura-pura, Surya justru tampil sebagai
laki-laki yang menganggap kejujuran sebagai prinsip hidup.
Ia tidak perlu menciptakan seluruh
cerita dari awal. Ia hanya mengambil bagian-bagian dari dirinya yang ingin
diperlihatkan, kemudian menyembunyikan bagian yang bertentangan dengan gambaran
tersebut.
Sandiwara itu tidak dibangun dalam
sehari.
Ia tumbuh melalui perhatian kecil,
jawaban yang dipilih dengan cermat, dan sikap yang perlahan membentuk keyakinan
Imelda.
Sementara itu, Imelda mulai merasa nyaman.
Ia tidak menganggap Surya sempurna. Ia
mengetahui bahwa laki-laki itu masih berusaha memperbaiki kehidupannya dan
belum mencapai semua yang diinginkannya. Namun, baginya, ketidaksempurnaan
bukan alasan untuk menutup pintu bagi seseorang yang menunjukkan kesungguhan.
Ia percaya bahwa manusia dapat
berkembang bersama, selama keduanya memiliki niat yang baik.
Kepercayaan itu tumbuh tanpa paksaan.
Dan justru karena itulah, kelak,
pengkhianatan Surya akan terasa begitu menyakitkan.
Pada suatu sore, mereka kembali
bertemu di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Setelah menyelesaikan pesanan minuman,
Imelda memandang Surya yang sedang bercerita tentang keinginannya membangun
kehidupan yang lebih baik.
“Aku suka orang yang punya tujuan,” kata
Imelda. “Setidaknya, dia tahu ke mana ingin melangkah.”
Surya tersenyum.
“Kalau kamu sendiri, apa yang paling
ingin kamu capai?”
Imelda berpikir sebentar.
“Aku ingin punya kehidupan yang
tenang. Punya keluarga yang saling mendukung, pekerjaan yang bermanfaat, dan
pasangan yang bisa diajak melewati banyak hal tanpa harus berpura-pura.”
“Tidak ingin hidup mewah?”
Imelda tertawa kecil.
“Kalau punya rezeki lebih, tentu
menyenangkan. Tapi kalau setiap hari harus khawatir apakah orang yang bersamaku
benar-benar tulus, buat apa semua itu?”
Surya menatapnya.
Ada sesuatu pada jawaban tersebut yang
membuatnya memahami bahwa kekayaan keluarga bukan satu-satunya hal yang perlu
ia perhitungkan. Untuk mendapatkan kepercayaan Imelda, ia harus membuat
perempuan itu merasa bahwa dirinya tidak sedang mengejar keuntungan apa pun.
Ia menyadari bahwa Imelda tidak
membutuhkan seorang laki-laki yang memamerkan kemampuan finansial. Ia
membutuhkan seseorang yang membuatnya merasa dihargai, didengar, dan aman.
Surya lalu mengangguk seolah-olah
sepenuhnya menerima pandangan tersebut.
“Aku mengerti.”
Imelda tersenyum.
“Aku tidak bilang semua orang harus
punya pemikiran yang sama. Setiap orang punya pilihan. Tapi kalau aku menjalin
hubungan, aku ingin hubungan itu dibangun dengan jujur.”
Surya tidak segera menjawab.
Untuk sesaat, ia merasakan
ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu dalam cara Imelda berbicara
yang membuatnya menyadari betapa besar kepercayaan yang sedang diberikan
perempuan itu kepadanya, bahkan sebelum hubungan mereka benar-benar menjadi
serius.
Ia tahu bahwa dirinya tidak datang
dengan niat yang sama.
Namun, alih-alih menjadikan kesadaran
itu sebagai alasan untuk berhenti, ia justru menganggapnya sebagai tantangan
yang harus diatasi.
Ia tidak ingin kehilangan kesempatan
yang baru mulai terbuka.
Karena itu, ia tersenyum dan berkata,
“Kalau suatu saat aku punya pasangan, aku juga ingin dia merasa bahwa
pilihannya tidak salah.”
Imelda menatapnya dengan hangat.
“Aku harap begitu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi Surya
menyimpannya dalam ingatan.
Bukan sebagai janji yang harus ia
tepati, melainkan sebagai gambaran tentang apa yang ingin dipercayai Imelda
mengenai dirinya.
Di luar, sore semakin redup. Aktivitas
kota perlahan berubah menuju suasana menjelang malam. Mereka melanjutkan
percakapan hingga tiba waktunya untuk pulang.
Ketika berpisah, Imelda merasa telah
mengenal Surya sedikit lebih jauh daripada sebelumnya.
Ia belum menganggap laki-laki itu
sebagai cinta dalam hidupnya. Namun, pintu untuk mengenalnya lebih dekat telah
terbuka.
Surya pun merasa bahwa hubungan mereka
mulai bergerak ke arah yang ia inginkan.
Ia tidak menyadari bahwa semakin
banyak janji yang diucapkannya, semakin besar pula tanggung jawab moral yang
sedang ia abaikan.
Sebab, ada perbedaan mendasar antara
seseorang yang berusaha menjadi lebih baik demi orang yang dicintainya dan
seseorang yang berpura-pura menjadi lebih baik demi memperoleh sesuatu dari
orang lain.
Surya telah memilih jalan kedua.
Dan untuk sementara, ia berhasil
membuat pilihan itu terlihat seperti yang pertama.
Malam kembali menyelimuti Kuala
Kapuas. Lampu-lampu kota menyala satu demi satu, sementara arus Sungai Kapuas
terus bergerak tanpa mengetahui kisah yang sedang tumbuh di tepian airnya.
Imelda pulang dengan keyakinan bahwa
ia sedang mengenal seseorang yang memiliki pandangan hidup serupa dengannya.
Surya pulang dengan keyakinan bahwa ia
telah menemukan cara untuk mendekati perempuan yang diincarnya.
Mereka sama-sama membawa sesuatu dari
pertemuan sore itu.
Imelda membawa kepercayaan yang tumbuh
perlahan.
Surya membawa pemahaman baru tentang
bagaimana kepercayaan tersebut dapat diperoleh.
Dan tanpa disadari Imelda, senyum yang
ia terima dengan tulus telah mulai menjadi bagian dari sebuah sandiwara yang
direncanakan dengan hati-hati.
BAB III
CINTA YANG TUMBUH DI TEPIAN SUNGAI
Pagi di Kuala Kapuas selalu datang
dengan caranya sendiri. Kabut tipis yang menggantung di atas Sungai Kapuas
perlahan menghilang ketika cahaya matahari menyentuh permukaan air.
Perahu-perahu kecil bergerak menyusuri sungai, membawa penumpang, barang
dagangan, dan kesibukan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat
setempat.
Bagi Imelda Yuliana, sungai itu bukan
sekadar bentang alam yang membelah kota. Sungai Kapuas menyimpan banyak kenangan
tentang masa kecilnya, tentang ayahnya yang sesekali mengajaknya berjalan-jalan
pada akhir pekan, juga tentang ibunya yang selalu mengingatkan bahwa kehidupan
tidak boleh dinilai hanya dari apa yang terlihat.
Namun, pagi itu, pikirannya tidak
sepenuhnya tertuju pada pemandangan yang biasa ia nikmati.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Sebuah pesan masuk dari Surya Pratama.
Selamat pagi,
Imelda. Semoga harimu menyenangkan. Jangan lupa sarapan.
Imelda tersenyum kecil. Pesan itu
sederhana, bahkan mungkin tidak berarti banyak bagi orang lain. Akan tetapi,
perhatian kecil seperti itulah yang belakangan membuat kehadiran Surya terasa
berbeda.
Ia membalas singkat, lalu meletakkan
ponselnya kembali.
“Siapa yang membuatmu tersenyum
pagi-pagi?” suara Ratna Yuliana terdengar dari arah dapur.
Imelda menoleh. Ibunya sedang membawa
secangkir teh hangat menuju meja makan.
“Teman, Bu.”
“Teman yang sama dengan yang pernah
kamu ceritakan itu?”
Imelda terdiam sesaat sebelum
mengangguk.
Ratna duduk di hadapannya. Sebagai seorang
ibu, ia tidak merasa perlu mendesak putrinya untuk menjelaskan segala sesuatu.
Ia cukup memperhatikan perubahan kecil yang mungkin tidak disadari Imelda
sendiri.
“Tidak ada salahnya berteman dengan
siapa pun,” kata Ratna. “Ibu hanya ingin kamu tetap mengenal seseorang dengan
baik sebelum menyerahkan terlalu banyak kepercayaan kepadanya.”
“Aku tahu, Bu.”
“Menilai orang itu tidak cukup dari
bagaimana dia memperlakukan kita ketika semuanya menyenangkan. Perhatikan juga
bagaimana dia bersikap ketika menghadapi masalah, ketika keinginannya tidak
terpenuhi, atau ketika dia harus memilih antara kejujuran dan keuntungan.”
Imelda memandang ibunya lebih lama.
Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa, tetapi ada sesuatu di dalamnya
yang membuatnya berpikir.
“Surya orangnya baik, Bu. Setidaknya,
sejauh yang aku kenal.”
Ratna mengangguk pelan.
“Ibu tidak mengatakan dia tidak baik.
Ibu hanya berharap kamu tidak terburu-buru menyimpulkan.”
Imelda tidak membantah. Ia memahami
bahwa ibunya tidak sedang melarang, apalagi meremehkan perasaannya. Ratna hanya
ingin putrinya tetap menggunakan akal sehat ketika hatinya mulai terlibat.
Dan tanpa disadari Imelda, nasihat itu
kelak akan menjadi sesuatu yang terus terngiang ketika kenyataan tidak lagi
seindah harapannya.
Surya Pratama sedang duduk di teras
rumah ketika Fajar Ramadhan datang menemuinya. Rumah sederhana itu tidak banyak
berubah sejak mereka masih sering menghabiskan waktu bersama setelah pulang
sekolah. Beberapa bagian dinding mulai kusam, sementara sebuah sepeda motor tua
terparkir di samping rumah.
Fajar menjatuhkan diri ke kursi
kosong.
“Kamu sekarang sibuk sekali,” katanya.
Surya meliriknya. “Memangnya kenapa?”
“Sulit diajak bertemu. Sekalinya
bertemu, kamu sibuk melihat ponsel.”
Surya tertawa pendek. “Ada teman
baru.”
“Teman baru atau seseorang yang sedang
kamu dekati?”
“Memangnya salah kalau aku mendekati
perempuan?”
“Tidak salah.” Fajar mengangkat bahu.
“Aku hanya ingin tahu apakah kali ini kamu benar-benar ingin mengenalnya atau
sedang mencari sesuatu yang lain.”
Senyum Surya memudar sedikit.
“Kamu selalu berpikir buruk tentang
aku.”
“Karena aku mengenalmu cukup lama
untuk tahu kapan kamu sedang serius dan kapan kamu sedang menyusun rencana.”
Surya meletakkan ponselnya di meja. Ia
tidak menyukai cara Fajar berbicara seolah-olah mampu membaca pikirannya.
Namun, di antara orang-orang yang mengenalnya, Fajar memang termasuk sedikit
orang yang mengetahui bagaimana Surya memandang kehidupan.
Surya tidak pernah benar-benar puas
dengan keadaan keluarganya. Ia tidak membenci orang tuanya, tetapi sejak muda
ia merasa kehidupan telah menempatkannya terlalu jauh dari segala sesuatu yang
diinginkannya. Ia ingin hidup nyaman, dihormati, memiliki usaha sendiri, dan
tidak lagi menghitung uang sebelum mengambil keputusan.
Keinginan itu tidak sepenuhnya salah.
Yang menjadi persoalan adalah cara yang bersedia ia tempuh untuk mencapainya.
“Aku hanya ingin memperbaiki hidupku,”
jawab Surya akhirnya.
“Kalau begitu, perbaiki hidupmu dengan
kemampuanmu sendiri.”
“Tidak semua orang mendapatkan
kesempatan yang sama, Jar.”
“Benar. Tetapi kesempatan juga bukan
alasan untuk mempermainkan orang lain.”
Surya menatap sahabatnya dengan rahang
mengeras.
“Kamu belum tahu apa-apa tentang
hubunganku dengan Imelda.”
“Karena itu aku belum menuduhmu
melakukan apa pun.” Fajar berdiri, merapikan bajunya. “Aku hanya mengingatkan.
Jangan sampai kamu terlalu sibuk mengejar kehidupan yang kamu inginkan sampai
lupa bahwa ada orang lain yang punya perasaan.”
Fajar melangkah pergi sebelum Surya
sempat menjawab.
Untuk beberapa saat, Surya tetap duduk
di teras. Perkataan sahabatnya mengusik pikirannya, tetapi tidak cukup kuat
untuk membuatnya membatalkan niat.
Ia membuka kembali percakapan dengan
Imelda.
Perempuan itu menjawab pesannya dengan
ramah. Tidak banyak tuntutan, tidak suka memamerkan kekayaan keluarganya, dan
tidak pernah membuat Surya merasa rendah karena keadaan ekonominya.
Sifat-sifat itu membuat Imelda semakin
menarik di matanya.
Namun, ada satu hal yang lebih kuat
daripada ketertarikan tersebut: Surya mengetahui bahwa keluarga Yuliana
memiliki kedudukan ekonomi yang mapan. Ia mulai membayangkan
kemungkinan-kemungkinan yang terbuka jika hubungan mereka berkembang jauh.
Dalam pikirannya, cinta dan keuntungan
tidak harus saling meniadakan. Ia meyakinkan dirinya bahwa selama ia bisa
membuat Imelda bahagia, tidak ada yang perlu dipersoalkan.
Pembenaran itu terasa masuk akal
baginya.
Padahal, ia sengaja mengabaikan satu
pertanyaan sederhana: apakah Imelda akan tetap memilihnya jika mengetahui
alasan sebenarnya ia mendekat?
Beberapa hari kemudian, Surya mengajak
Imelda berjalan-jalan setelah menyelesaikan kesibukan masing-masing. Mereka
sepakat bertemu di kawasan tepi Sungai Kapuas, tempat orang-orang sering
berhenti sejenak untuk menikmati udara sore.
Imelda datang mengenakan pakaian
sederhana dengan rambut tergerai melewati bahunya. Ia tidak berusaha tampil
berlebihan. Baginya, pertemuan dengan seorang teman tidak perlu menjadi alasan
untuk mengubah dirinya menjadi orang lain.
Surya sudah menunggu.
“Kamu sudah lama?” tanya Imelda.
“Tidak terlalu lama.”
Padahal ia datang lebih awal karena
ingin memastikan semuanya berjalan sesuai rencananya. Ia memilih tempat yang
tenang, memperhatikan posisi duduk, dan memikirkan topik pembicaraan yang bisa
membuat Imelda nyaman. Akan tetapi, ketika perempuan itu tiba, sebagian
persiapan tersebut justru terasa tidak diperlukan. Percakapan mereka mengalir
tanpa banyak kesulitan.
Mereka berjalan perlahan menyusuri
kawasan tepi sungai. Di kejauhan, sebuah perahu melintas, meninggalkan riak
yang memecah pantulan cahaya matahari.
“Kamu sering ke sini?” tanya Surya.
“Dulu sering. Sekarang tidak terlalu.”
“Kenapa?”
“Kesibukan. Kadang kita baru menyadari
tempat yang kita sukai setelah lama tidak mengunjunginya.”
Surya menoleh kepadanya. “Berarti hari
ini kita sedang mengembalikan kebiasaan lama?”
“Mungkin.” Imelda tertawa ringan.
“Atau sekadar mencari udara segar.”
Mereka berhenti di sebuah tempat untuk
duduk. Beberapa orang tampak bercengkerama, sementara pedagang kecil melayani
pembeli yang datang silih berganti.
Imelda memperhatikan sungai di
hadapannya.
“Aku suka tempat seperti ini,”
katanya. “Tidak harus mewah. Yang penting kita bisa duduk, bicara, dan merasa
nyaman.”
Surya mengangguk.
“Banyak orang menganggap kebahagiaan harus
dibeli dengan uang,” lanjut Imelda. “Padahal, menurutku, ada hal-hal yang tidak
bisa dibeli. Misalnya, seseorang yang benar-benar mendengarkan ketika kita
sedang ingin bercerita.”
Surya menatapnya. Ia menyadari bahwa
Imelda tidak sedang berbicara tentang barang atau fasilitas. Perempuan itu
sedang menjelaskan sesuatu yang lebih mendasar mengenai hubungan antarmanusia.
Dan Surya tahu jawaban seperti apa
yang akan membuatnya merasa dipahami.
“Aku setuju,” katanya. “Kadang orang
terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa menikmati apa yang sudah ada.”
Imelda menoleh, tampak senang karena
menemukan pandangan yang sejalan.
“Benar. Aku juga tidak mencari
seseorang yang harus selalu menuruti keinginanku. Aku hanya ingin pasangan yang
bisa diajak bicara dengan jujur.”
Surya mengangguk lagi.
Kali ini, ia tidak segera menjawab.
Ada sesuatu pada cara Imelda
mengungkapkan keinginannya yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Perempuan itu
tidak menuntut kekayaan, tidak pula meminta kehidupan yang sempurna. Ia hanya
menginginkan kejujuran—sesuatu yang justru sedang Surya tahan darinya.
Namun, kegelisahan itu segera ia
singkirkan.
“Kalau dua orang saling memahami,
banyak masalah bisa diselesaikan,” katanya.
“Kalau mereka mau terbuka,” Imelda
menambahkan.
Surya tersenyum.
“Ya. Kalau mereka mau terbuka.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Bagi
Imelda, itu adalah kesepakatan kecil di antara dua orang yang mulai saling
mengenal. Bagi Surya, kalimat tersebut adalah pengingat yang sengaja ia dorong
jauh ke sudut pikirannya.
Pertemuan sore itu bukan yang
terakhir.
Setelahnya, mereka semakin sering
menghabiskan waktu bersama. Kadang mereka hanya berbincang melalui pesan
singkat. Pada kesempatan lain, mereka bertemu untuk menikmati makanan ringan
atau berjalan-jalan sebentar setelah menyelesaikan urusan masing-masing.
Kedekatan itu tidak tumbuh dalam satu
malam. Ia terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan menjadi bagian
dari hari mereka.
Surya mulai mengetahui bahwa Imelda
tidak suka dipaksa mengambil keputusan. Ia lebih senang diajak berdiskusi dan
diberi kesempatan untuk mempertimbangkan sesuatu. Ia juga mengetahui bahwa
Imelda sangat menghargai orang-orang yang bekerja keras, terutama mereka yang
tidak malu mengakui keterbatasan.
Informasi itu membuat Surya semakin pandai
menyesuaikan diri.
Ketika Imelda bercerita tentang suatu
persoalan, ia berusaha mendengarkan tanpa memotong pembicaraan. Ketika
perempuan itu sedang sibuk, ia tidak mendesak untuk segera bertemu. Ketika
Imelda mengungkapkan pendapat yang berbeda, Surya tidak langsung membantah.
Sebagian sikap tersebut sebenarnya
bisa dilakukan oleh siapa saja yang sungguh-sungguh ingin mengenal orang lain.
Namun, pada Surya, kebaikan itu bercampur dengan perhitungan. Ia mengamati apa
yang membuat Imelda nyaman, lalu menjadikan pengamatan tersebut sebagai cara
untuk memperoleh tempat yang semakin dekat di hatinya.
Imelda tidak mengetahui proses itu.
Ia hanya melihat seorang laki-laki
yang tampak memahami dirinya tanpa harus diminta berkali-kali.
Suatu sore, ketika mereka kembali
bertemu, Imelda menceritakan rencananya untuk mengunjungi salah seorang kerabat
yang sedang membutuhkan bantuan.
“Aku mungkin tidak bisa bertemu
beberapa hari,” katanya. “Ada urusan keluarga yang harus kuselesaikan.”
Surya sebenarnya ingin mengetahui
seberapa besar pengaruhnya terhadap jadwal perempuan itu. Ia ingin tahu apakah
Imelda akan merasa kehilangan ketika mereka tidak bertemu.
Namun, ia tidak menunjukkan keinginan
tersebut.
“Tidak apa-apa. Selesaikan dulu
urusanmu.”
Imelda menatapnya, sedikit terkejut.
“Kamu tidak keberatan?”
“Kenapa harus keberatan? Kamu punya
kehidupan sendiri.”
Jawaban itu membuat Imelda tersenyum
lega.
“Terima kasih sudah mengerti.”
Surya membalas senyumnya. Ia menyadari
bahwa memberikan ruang kepada Imelda justru membuatnya tampak lebih dewasa di
mata perempuan itu.
Maka ia membiarkannya pergi tanpa
keberatan.
Setelah Imelda menjauh, Surya berdiri
beberapa saat di tempat yang sama. Ia merasa puas karena berhasil menunjukkan
sikap yang tepat. Namun, di balik kepuasan itu, muncul perasaan aneh yang tidak
segera dapat ia jelaskan.
Ia benar-benar menyukai waktu yang
mereka habiskan bersama.
Ia menyukai cara Imelda tertawa ketika
mendengar cerita sederhana. Ia menyukai ketenangan yang muncul ketika mereka
tidak harus membicarakan sesuatu yang penting. Ia bahkan mulai menantikan
pesan-pesan perempuan itu, meskipun pada awalnya ia hanya menganggap komunikasi
mereka sebagai bagian dari pendekatan yang telah direncanakannya.
Perasaan itu nyata, setidaknya dalam
bentuk yang belum pernah ia perhitungkan.
Tetapi ketertarikan bukanlah
kejujuran. Dan menikmati kehadiran seseorang tidak otomatis berarti seseorang
telah mencintainya dengan tulus.
Surya masih menyimpan tujuan yang
tidak diketahui Imelda. Ia belum bersedia melepaskan bayangan tentang kehidupan
yang bisa ia raih melalui hubungan tersebut.
Di rumah, Imelda mulai menyadari bahwa
nama Surya semakin sering muncul dalam pikirannya.
Ketika menerima pesan darinya, ia
merasa senang. Ketika melewati tempat yang pernah mereka kunjungi, ia teringat
percakapan mereka. Bahkan ketika sedang melakukan pekerjaan sehari-hari,
sesekali ia memikirkan hal-hal kecil yang ingin diceritakannya kepada Surya.
Perasaan itu tumbuh tanpa banyak
suara.
Imelda tidak langsung menyebutnya
cinta. Ia tahu bahwa kedekatan membutuhkan waktu, dan ia tidak ingin
terburu-buru memberi nama pada sesuatu yang masih berkembang.
Namun, ia tidak dapat menyangkal bahwa
Surya telah menjadi seseorang yang kehadirannya ia nantikan.
Malam itu, Nadia Permatasari datang
berkunjung. Mereka duduk di ruang keluarga sambil berbincang tentang pekerjaan,
keluarga, dan berbagai hal yang biasanya mereka ceritakan satu sama lain.
Di tengah percakapan, Nadia mengangkat
topik yang sejak beberapa waktu terakhir menarik perhatiannya.
“Bagaimana hubunganmu dengan Surya?”
Imelda tersenyum.
“Baik. Kami semakin mengenal satu sama
lain.”
“Dan kamu merasa nyaman?”
“Ya.”
Nadia memperhatikan wajah sahabatnya.
Ia mengenal Imelda cukup lama untuk memahami perbedaan antara senyum basa-basi
dan senyum yang muncul karena perasaan sungguhan.
“Aku senang kalau kamu menemukan orang
yang membuatmu bahagia,” katanya. “Tapi aku ingin kamu tetap menjadi dirimu
sendiri.”
Imelda mengernyit kecil.
“Maksudmu?”
“Jangan sampai karena menyukai
seseorang, kamu berhenti mempertanyakan hal-hal yang memang perlu kamu ketahui.
Orang yang baik bukan hanya orang yang bisa membuatmu tersenyum. Dia juga harus
bisa membuatmu merasa aman untuk menjadi dirimu sendiri.”
Imelda terdiam sebentar, kemudian
mengangguk.
“Aku mengerti. Aku tidak ingin
menjalani hubungan yang membuatku kehilangan diriku sendiri.”
“Bagus. Aku tidak bermaksud mencurigai
Surya. Aku hanya ingin kamu tidak menutup mata terhadap apa pun.”
Imelda meraih tangan Nadia dan
menggenggamnya.
“Aku tahu kamu peduli.”
Percakapan itu tidak mengurangi
perasaan Imelda kepada Surya. Sebaliknya, nasihat Nadia membuatnya bertekad
untuk menjalani kedekatan mereka dengan tenang. Ia ingin mengenal Surya bukan
hanya dari kata-katanya, tetapi juga dari waktu dan tindakannya.
Ia percaya bahwa seseorang harus
diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya.
Sayangnya, kesempatan itu juga dapat
dimanfaatkan oleh orang yang pandai menyembunyikan sesuatu.
Beberapa hari kemudian, Surya menerima
kabar bahwa Imelda memiliki rencana untuk menghadiri sebuah acara bersama
keluarganya. Informasi itu ia dapatkan secara wajar dari percakapan mereka.
Imelda menceritakannya tanpa maksud apa pun selain berbagi cerita tentang
kegiatannya.
Surya mendengarkan dengan saksama.
Di satu sisi, ia ingin menjadi bagian
dari kehidupan Imelda yang lebih luas. Ia ingin dikenal oleh keluarganya,
mendapatkan kepercayaan mereka, dan membuktikan bahwa dirinya layak berada di
dekat perempuan itu.
Namun, di sisi lain, ia memahami bahwa
mendekati keluarga Imelda berarti memasuki lingkungan yang selama ini hanya
dapat ia pandangi dari luar.
Ia membayangkan peluang usaha,
jaringan pergaulan, serta kemudahan yang mungkin muncul jika orang-orang di
sekitar Imelda menerima dirinya.
Pikiran itu membuatnya bersemangat.
Ia tidak pernah menganggap dirinya
sedang melakukan sesuatu yang benar-benar kejam. Dalam pandangannya, ia hanya
memanfaatkan kesempatan yang datang. Ia akan tetap bersikap baik kepada Imelda,
tetap menemaninya, dan tetap membuatnya bahagia. Baginya, selama semua itu
dilakukan, tidak ada alasan untuk mempertanyakan tujuan yang disimpannya.
Surya tidak menyadari bahwa ia sedang
membangun sebuah hubungan dengan dua wajah: satu wajah yang ditunjukkannya
kepada Imelda, dan satu lagi yang hanya ia kenal sendiri.
Ketika ponselnya bergetar, ia segera
melihat layar.
Pesan dari Imelda.
Terima kasih untuk
waktu kemarin. Aku senang bisa ngobrol banyak denganmu.
Surya membaca pesan itu dua kali.
Ia tersenyum, lalu mengetik balasan.
Untuk sesaat, ia ingin mengatakan bahwa dirinya juga bahagia. Bukan karena
kalimat itu akan membuat Imelda semakin percaya, melainkan karena ia memang
merasa demikian.
Namun, ia kembali mengingat semua hal
yang ingin dicapainya.
Ia mengirimkan pesan singkat yang
hangat, kemudian meletakkan ponselnya.
Di luar, malam perlahan menyelimuti
Kuala Kapuas. Suara kendaraan terdengar sesekali dari jalan, sementara
kehidupan terus berjalan tanpa mengetahui apa yang sedang tumbuh di antara dua
hati yang mulai saling mendekat.
Imelda sedang belajar mempercayai
seseorang.
Surya sedang belajar bagaimana
mempertahankan kepercayaan itu.
Perbedaannya terletak pada alasan
mereka.
Bagi Imelda, kepercayaan adalah dasar
untuk membangun cinta. Bagi Surya, kepercayaan telah menjadi pintu yang dapat
membawanya menuju kehidupan yang selama ini ia inginkan.
Namun, semakin lama ia berada di dekat
Imelda, semakin sulit baginya memisahkan perhitungan dari perasaan. Ia mulai
menyukai perempuan itu lebih dari yang pernah direncanakannya, tetapi belum
cukup berani untuk memilih kejujuran.
Dan selama ia tetap memilih
menyembunyikan kebenaran, perasaan apa pun yang tumbuh di antara mereka akan
berdiri di atas dasar yang rapuh.
Di tepian Sungai Kapuas, waktu terus
bergerak. Air mengalir membawa bayangan langit, sementara dua manusia perlahan
memasuki kisah yang sama dengan harapan berbeda.
Imelda melihat kemungkinan sebuah
cinta.
Surya melihat kesempatan yang semakin
terbuka.
Mereka belum mengetahui bahwa kelak,
ketika semua rahasia terungkap, tempat-tempat yang kini menyimpan kenangan
indah justru akan menjadi saksi betapa menyakitkannya sebuah kebohongan.
Untuk saat ini, keduanya masih
berjalan beriringan.
Dan cinta yang mulai tumbuh itu belum
menyadari bahwa di dalam dirinya telah tertanam benih perpisahan.
BAB IV
JANJI DI KP3
Sore itu, langit Kuala Kapuas tampak
cerah setelah hujan singkat mengguyur kota menjelang siang. Aspal di beberapa
ruas jalan masih menyisakan kilau air, sementara angin dari arah Sungai Kapuas
membawa udara yang terasa lebih sejuk daripada biasanya.
Imelda Yuliana berdiri di depan cermin
kamarnya, merapikan rambut sebelum mengambil tas kecil di atas meja. Ia sudah
berjanji akan bertemu Surya Pratama di kawasan KP3, tempat yang belakangan
mulai sering mereka bicarakan.
Bukan pertama kalinya mereka menghabiskan
waktu bersama. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Surya mengatakan ingin
berbicara tentang hubungan mereka, tentang apa yang sebenarnya mereka rasakan,
dan ke mana kedekatan itu akan dibawa.
Imelda berusaha bersikap biasa saja,
tetapi pikirannya terus kembali pada kalimat tersebut.
Ia bukan perempuan yang mudah
menyerahkan hati hanya karena seseorang menunjukkan perhatian. Ada proses
panjang sebelum ia benar-benar merasa nyaman. Akan tetapi, bersama Surya,
proses itu seolah berjalan tanpa ia sadari. Percakapan mereka semakin terbuka,
kebersamaan mereka semakin akrab, dan perlahan ia mulai mengizinkan laki-laki
itu menempati ruang yang sebelumnya hanya ia sediakan bagi orang-orang
terdekat.
Ketukan terdengar di pintu kamar.
“Mel, kamu mau pergi?” tanya Ratna
dari luar.
“Iya, Bu. Mau bertemu Surya.”
Ratna membuka pintu setelah mendapat
jawaban. Ia memperhatikan putrinya yang tampak sedikit lebih sibuk daripada
biasanya.
“Sudah lama kalian berteman?”
Imelda tersenyum. “Belum terlalu lama.
Tapi kami sudah cukup sering berbicara.”
“Dan sekarang dia ingin membicarakan
hubungan kalian?”
Imelda mengangguk pelan.
Ratna tidak langsung menanggapi. Ia
duduk di tepi tempat tidur, memberi kesempatan kepada putrinya untuk bercerita
tanpa merasa sedang diperiksa.
“Kamu menyukainya?” tanyanya kemudian.
Imelda menunduk sesaat. Pertanyaan
sederhana itu ternyata tidak mudah dijawab dengan cepat.
“Iya, Bu. Sepertinya aku mulai
menyukainya.”
“Kalau begitu, nikmati perasaan itu
dengan baik. Tidak perlu takut untuk menyayangi seseorang. Tetapi jangan pula
merasa harus mengabaikan pertimbanganmu hanya karena kamu sudah terlanjur
menyukainya.”
“Aku akan tetap hati-hati.”
Ratna mengusap bahu putrinya.
“Ibu tidak bisa menentukan siapa yang
harus kamu cintai. Ibu hanya berharap orang yang kamu pilih kelak menghargai
kepercayaanmu, bukan sekadar menikmati apa yang bisa dia dapatkan darimu.”
Imelda terdiam. Nasihat itu
mengingatkannya pada percakapan mereka beberapa hari sebelumnya. Ia memahami
maksud ibunya, meskipun dalam hatinya belum muncul alasan untuk meragukan
Surya.
“Doakan saja, Bu.”
“Pasti.”
Ratna berdiri dan membiarkan putrinya
melanjutkan persiapan. Ia tidak ingin kekhawatirannya berubah menjadi
prasangka. Baginya, seorang anak harus diberi ruang untuk mengenal kehidupan,
termasuk kemungkinan mengalami kekecewaan. Tugas orang tua bukan menghapus
semua risiko, melainkan memastikan bahwa anaknya tahu ke mana harus pulang
ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Di tempat lain, Surya sedang
menghadapi pertanyaan yang berbeda.
Fajar Ramadhan duduk di kursi plastik
di depan rumahnya, sementara Surya berdiri dekat sepeda motor yang baru saja ia
bersihkan. Mereka telah berteman sejak lama. Fajar mengetahui ambisi Surya,
termasuk kebiasaannya membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan
orang-orang yang dianggapnya lebih berhasil.
“Jadi, kamu mau bertemu Imelda di
KP3?” tanya Fajar.
Surya mengangguk. “Ada yang ingin
kubicarakan dengannya.”
“Hubungan kalian sudah sampai tahap
itu?”
“Entahlah. Aku hanya ingin tahu apakah
dia juga memikirkan hal yang sama denganku.”
Fajar memperhatikan wajah sahabatnya.
“Kalau kamu memang menyukainya,
katakan dengan jujur. Jangan membuat janji hanya karena kamu takut kehilangan
kesempatan.”
Surya menghela napas.
“Kamu selalu menganggap aku punya
maksud tersembunyi.”
“Karena aku tahu kamu punya keinginan
besar untuk mengubah hidupmu. Itu bukan kesalahan. Aku justru ingin kamu
berhasil.” Fajar berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Tetapi jangan sampai
kamu mengukur keberhasilan dari seberapa jauh kamu bisa masuk ke kehidupan
orang lain.”
Surya mengalihkan pandangan.
“Tidak semua hal sesederhana yang kamu
pikirkan.”
“Mungkin. Tapi soal perasaan, satu hal
tetap sederhana: jangan mengatakan sesuatu yang tidak kamu maksudkan.”
Kalimat itu membuat Surya terdiam
lebih lama daripada sebelumnya.
Ia memang ingin mendekat kepada
Imelda. Ia juga menikmati perhatian yang diberikan perempuan itu. Namun,
keinginannya untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan memperoleh kehidupan yang
lebih mapan belum pernah benar-benar surut. Ia masih membayangkan bagaimana
hubungan tersebut dapat membuka jalan menuju lingkungan yang selama ini ingin
dimasukinya.
“Sudahlah, Jar. Aku tahu apa yang
kulakukan.”
Fajar mengangguk, tetapi raut wajahnya
tidak menunjukkan keyakinan.
“Semoga kamu benar-benar tahu.”
Surya mengambil kunci sepeda motornya.
Ia tidak ingin percakapan itu berlanjut. Menurutnya, Fajar terlalu sering
melihat persoalan dari sudut pandang moral tanpa memahami tekanan yang ia
rasakan.
Namun, jauh di dalam pikirannya, Surya
mengetahui bahwa sahabatnya tidak sepenuhnya keliru.
Ia hanya belum siap menerima bahwa
keinginan yang selama ini dianggapnya sebagai jalan menuju keberhasilan mungkin
akan membawanya pada sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang: kehilangan
kepercayaan seseorang yang tulus menyayanginya.
Kawasan KP3 mulai ramai ketika Imelda
tiba. Sejumlah pengunjung menikmati waktu sore, beberapa orang bercakap-cakap
bersama keluarga, dan pedagang melayani pembeli yang singgah setelah
beraktivitas seharian.
Bagi masyarakat Kuala Kapuas, tempat
seperti itu bukan hanya ruang untuk menikmati pemandangan sungai. Ia juga
menjadi tempat bertemu, berbagi cerita, dan menghabiskan waktu tanpa harus
merencanakan sesuatu yang istimewa.
Imelda menemukan Surya tidak jauh dari
area tempat mereka biasa duduk.
“Kamu sudah lama menunggu?” tanyanya.
“Baru sebentar.”
Surya menyambutnya dengan senyum. Ia
telah memikirkan bagaimana memulai pembicaraan, tetapi ketika Imelda berdiri di
hadapannya, semua kalimat yang disusunnya terasa terlalu kaku.
Mereka berjalan sebentar sebelum
memilih tempat untuk duduk. Dari sana, Sungai Kapuas terlihat membentang di
hadapan mereka. Perahu yang melintas meninggalkan gelombang kecil, sementara
cahaya sore mulai berubah keemasan.
“Tempat ini selalu ramai menjelang
sore,” kata Imelda.
“Ya. Mungkin karena orang-orang ingin
mencari suasana yang berbeda setelah seharian sibuk.”
“Kadang kita memang hanya perlu
berhenti sebentar.”
Surya menoleh. “Kamu sering mengatakan
hal seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Bahwa hidup tidak harus selalu
dikejar. Kadang kita perlu menikmati apa yang ada.”
Imelda tertawa kecil. “Memangnya
salah?”
“Tidak. Aku justru sedang belajar
memahami itu.”
Jawaban Surya terdengar tulus. Untuk
sesaat, ia sendiri tidak yakin apakah ia sedang memainkan peran atau
mengungkapkan sesuatu yang sungguh-sungguh ia rasakan.
Ia memang lelah terus-menerus merasa
tertinggal dari orang lain. Di dekat Imelda, ia menemukan ketenangan yang tidak
biasa ia rasakan ketika sedang memikirkan uang dan masa depan. Namun,
ketenangan itu belum cukup untuk mengubah cara pandangnya tentang keuntungan.
Mereka berbincang tentang pekerjaan,
keluarga, dan cita-cita. Imelda bercerita tentang harapannya untuk memiliki
kehidupan yang tidak hanya nyaman, tetapi juga berarti bagi orang-orang di
sekitarnya.
“Aku tidak ingin hidup hanya untuk
mengumpulkan sesuatu,” katanya. “Kalau nanti aku sudah punya keluarga sendiri,
aku ingin rumah menjadi tempat yang membuat semua orang merasa aman. Tidak
harus selalu mewah, tetapi harus ada kejujuran dan rasa saling menghargai.”
Surya mendengarkan.
“Kalau kamu sendiri?” Imelda bertanya.
Surya tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu membawanya pada gambaran kehidupan yang selama ini ia inginkan:
usaha yang berkembang, keadaan ekonomi yang lebih baik, kebebasan mengambil
keputusan tanpa dibatasi uang, dan pengakuan dari orang-orang di sekitarnya.
“Aku ingin berhasil,” katanya
akhirnya. “Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa membangun kehidupan yang lebih
baik daripada keadaan sekarang.”
“Itu keinginan yang wajar.”
“Aku juga ingin punya seseorang yang
bisa berjalan bersamaku ketika aku sedang berusaha mencapai semuanya.”
Imelda menatapnya. Kalimat itu
menyentuh bagian dalam dirinya yang selama ini menginginkan hubungan yang
saling mendukung.
“Menurutku, pasangan bukan hanya orang
yang datang ketika semuanya sudah berhasil,” katanya. “Dia juga orang yang
bersedia menemani ketika keadaan belum baik.”
Surya mengangguk.
Dalam hati, ia memahami bahwa Imelda
tidak menuntut dirinya menjadi orang kaya. Justru itulah yang membuat perempuan
itu terasa berbeda dari gambaran yang pernah ia bentuk tentang orang-orang dari
keluarga berada.
Tetapi pemahaman itu juga
menempatkannya di persimpangan yang tidak ingin ia hadapi. Ia dapat membangun
hubungan dengan jujur, menerima keadaan dirinya, dan membiarkan masa depan
berkembang melalui usahanya sendiri. Atau ia dapat terus menyembunyikan
maksudnya, berharap bahwa kedekatan dengan Imelda akan mempercepat pencapaian
yang diinginkannya.
Untuk saat ini, Surya memilih jalan
kedua tanpa mengakui sepenuhnya kepada dirinya sendiri bahwa pilihan itu akan
membawa akibat.
Ketika percakapan mereka mulai
melambat, Surya menatap Imelda dengan lebih serius.
“Mel, ada sesuatu yang ingin
kusampaikan.”
Imelda memperbaiki posisi duduknya.
“Apa?”
“Aku senang mengenalmu. Awalnya kita
hanya bertemu secara kebetulan, lalu mulai sering berbicara. Sekarang, aku
merasa kehadiranmu sudah menjadi bagian penting dalam hari-hariku.”
Imelda menahan napas sejenak. Ia tidak
menyangka Surya akan berbicara seterbuka itu.
“Aku juga senang mengenalmu,”
jawabnya.
Surya melanjutkan, “Aku tidak ingin
hubungan kita hanya berhenti sebagai dua orang yang sesekali bertemu. Aku ingin
kita menjalani hubungan yang lebih serius, kalau kamu juga menginginkannya.”
Angin sungai berembus melewati mereka.
Imelda menunduk, berusaha menata perasaannya. Ia telah memikirkan kemungkinan
ini, tetapi mendengar Surya mengatakannya secara langsung tetap membuat dadanya
terasa berdebar.
“Aku ingin mengenalmu lebih jauh,” katanya.
“Aku tidak ingin terburu-buru menjanjikan sesuatu yang belum benar-benar kita
pahami.”
Surya mengangguk. Ia telah
memperkirakan jawaban semacam itu.
“Aku mengerti. Aku tidak meminta kita
menyelesaikan semuanya hari ini. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku serius
mendekatimu.”
Imelda memandangnya.
“Kalau begitu, ada satu hal yang perlu
kamu pahami.”
“Apa itu?”
“Aku tidak mengharapkan seseorang yang
sempurna. Aku tahu setiap orang punya kekurangan, termasuk aku. Tetapi aku
tidak bisa menerima kebohongan yang disengaja. Kalau suatu saat ada masalah,
aku lebih memilih mendengar kenyataan yang pahit daripada mempercayai sesuatu
yang ternyata tidak benar.”
Surya merasakan dadanya mengencang.
Ia tidak menduga pembicaraan itu akan
sampai pada persoalan kejujuran dengan begitu langsung. Di hadapannya, Imelda
tidak sedang menguji atau menuduhnya. Perempuan itu hanya menjelaskan batas
yang dianggapnya penting sebelum hubungan mereka berkembang lebih jauh.
Surya mempunyai kesempatan untuk
berhenti sejenak, mengakui bahwa dirinya belum sepenuhnya terbuka, dan
membangun kedekatan tanpa menyembunyikan tujuan.
Namun, kesempatan itu berlalu ketika
ia memutuskan untuk menjawab sesuai dengan gambaran laki-laki yang ingin
dilihat Imelda.
“Aku setuju,” katanya. “Kalau kita
ingin membangun hubungan, kita harus saling percaya.”
Imelda mengamati wajahnya, mencoba
menangkap kesungguhan dari jawaban tersebut.
“Janji itu mudah diucapkan, Surya.
Yang sulit adalah menjaganya.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, jangan jadikan perasaan
sebagai permainan.”
Surya mengangguk. Kemudian, dengan
suara lebih pelan, ia berkata, “Aku tidak ingin mempermainkanmu, Mel.”
Kalimat itu keluar tanpa keraguan yang
tampak. Imelda menerimanya sebagai ungkapan kesungguhan. Ia tidak mengetahui
bahwa ada bagian penting dari maksud Surya yang masih disembunyikan di balik
jawaban tersebut.
Bagi Surya, ucapan itu juga tidak
sepenuhnya terasa sebagai kebohongan. Ia memang tidak ingin kehilangan Imelda.
Ia menyukai perempuan itu, merasa nyaman bersamanya, dan mulai membayangkan
masa depan yang melibatkan dirinya.
Masalahnya, ia masih menginginkan
sesuatu yang tidak pernah dijanjikan Imelda untuk diberikan: jalan pintas
menuju kehidupan yang lebih mapan.
Tidak jauh dari tempat mereka duduk,
seorang pedagang minuman memperhatikan pengunjung yang silih berganti datang
dan pergi. Di antara mereka, sepasang anak muda yang sedang berbicara serius
tidak menarik perhatian khusus siapa pun. Mereka hanyalah dua orang yang sedang
mencoba memahami perasaan masing-masing.
Imelda mengeluarkan ponselnya ketika
sebuah pesan masuk dari Nadia.
Bagaimana
pertemuannya?
Imelda tersenyum lalu membalas
singkat.
Kami sedang bicara.
Nadia segera menjawab.
Jangan lupa makan.
Dan jangan pulang terlalu malam.
Imelda tertawa kecil ketika membaca
pesan itu.
“Dari Nadia?” tanya Surya.
“Iya. Dia selalu ingin memastikan aku
baik-baik saja.”
“Bagus kalau kamu punya sahabat
seperti itu.”
“Dia memang begitu. Kadang terlalu
banyak bertanya, tetapi aku tahu dia peduli.”
Surya tersenyum. Ia tidak merasa terganggu
oleh kehadiran Nadia, tetapi ia menyadari bahwa sahabat Imelda tersebut adalah
orang yang cukup dekat untuk memengaruhi keputusan perempuan itu.
Ia pun memahami bahwa mendapatkan
kepercayaan Imelda tidak cukup dilakukan melalui pertemuan-pertemuan mereka. Ia
juga perlu menunjukkan sikap yang dapat diterima oleh lingkungan terdekatnya.
Pikiran itu kembali mengingatkannya
pada tujuan awal.
Namun, sebelum ia sempat memikirkan
lebih jauh, Imelda menyimpan ponselnya dan kembali menatap sungai.
“Surya, menurutmu, apa yang membuat
dua orang bisa bertahan lama dalam sebuah hubungan?”
Surya mengangkat wajah.
“Kepercayaan, mungkin. Dan kemauan
untuk saling mendukung.”
“Menurutku juga begitu. Bukan berarti
mereka tidak akan pernah bertengkar. Tetapi ketika ada masalah, keduanya harus
mau mencari jalan keluar, bukan malah menyembunyikan sesuatu.”
Surya mengangguk.
Ia merasa seolah-olah setiap jawaban
Imelda semakin memperjelas sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan.
Perempuan itu tidak sedang mencari kemewahan. Ia mencari seseorang yang
bersedia hadir dengan jujur, bahkan ketika kenyataan tidak selalu
menguntungkan.
Dan Surya belum sepenuhnya menjadi
orang seperti itu.
Menjelang malam, mereka memutuskan
untuk mengakhiri pertemuan. Lampu-lampu di sekitar kawasan mulai menyala,
sementara suasana tepi sungai berubah menjadi lebih tenang.
Sebelum berpisah, Surya berdiri
menghadap Imelda.
“Terima kasih sudah mau datang.”
“Terima kasih juga sudah mengajakku.”
“Aku berharap kita bisa terus berjalan
bersama.”
Imelda tersenyum, tetapi kali ini ia
tidak langsung menjawab.
“Aku juga berharap kita bisa saling
mengenal dengan lebih baik. Pelan-pelan saja, Surya. Aku ingin apa yang kita
bangun benar-benar kuat.”
Surya mengulurkan tangannya. Imelda
menyambutnya dengan lembut.
Tidak ada cincin, tidak ada saksi
khusus, dan tidak ada upacara yang menandai hubungan mereka. Hanya dua orang
yang berdiri di tepi sungai, saling memandang, dan mencoba mempercayai apa yang
baru saja mereka ucapkan.
Namun, bagi Imelda, pertemuan itu telah
meninggalkan kesan yang mendalam. Ia pulang dengan keyakinan bahwa dirinya
sedang membuka pintu menuju hubungan yang lebih serius.
Bagi Surya, pertemuan tersebut juga
terasa penting. Ia telah berhasil membawa hubungan mereka ke tahap berikutnya.
Kepercayaan Imelda semakin besar, dan ia merasa semakin dekat dengan kehidupan
yang selama ini dibayangkannya.
Tetapi ada perbedaan yang tidak
terlihat oleh mata.
Imelda menganggap janji sebagai
tanggung jawab yang harus dijaga.
Surya menganggap janji sebagai ikatan
yang akan membantunya mempertahankan kedekatan mereka.
Dalam perjalanan pulang, Imelda
memikirkan kembali percakapan di KP3. Ia tidak merasa telah membuat keputusan
yang terlalu cepat. Ia hanya bersedia memberi kesempatan kepada seseorang yang menurutnya
layak dikenal lebih jauh.
Sesampainya di rumah, Ratna
menyambutnya dengan pertanyaan sederhana.
“Bagaimana pertemuannya?”
Imelda meletakkan tasnya.
“Baik, Bu. Kami bicara banyak.”
Ratna memperhatikan wajah putrinya
yang tampak lebih tenang daripada ketika berangkat.
“Apakah kalian sudah membicarakan
hubungan kalian?”
Imelda mengangguk. “Surya ingin
hubungan kami lebih serius. Aku bilang kami harus saling mengenal lebih jauh
dan menjaga kejujuran.”
Ratna tersenyum tipis.
“Itu jawaban yang baik. Perasaan boleh
tumbuh, tetapi keputusan tetap harus kamu pikirkan dengan jernih.”
“Aku tahu, Bu.”
Malam itu, Imelda beristirahat dengan
perasaan hangat. Ia tidak menyadari bahwa beberapa kalimat yang diucapkan di
tepi sungai akan menjadi kenangan yang kelak sulit ia hadapi kembali.
Sementara itu, Surya duduk sendirian
di kamarnya. Ia membuka percakapan dengan Imelda dan membaca pesan terakhir
perempuan itu yang mengucapkan terima kasih atas pertemuan mereka.
Ia tersenyum.
Kemudian, untuk pertama kalinya sejak
mendekati Imelda, ia merasakan sesuatu yang menyerupai rasa bersalah. Bukan
karena ia telah melakukan kesalahan yang terbongkar, melainkan karena ia
mengetahui bahwa perempuan itu mempercayainya berdasarkan gambaran yang belum
sepenuhnya benar.
Surya meletakkan ponselnya.
Ia masih mempunyai kesempatan untuk
memperbaiki niatnya. Ia bisa berhenti menjadikan latar belakang keluarga Imelda
sebagai pertimbangan utama dan membiarkan hubungan mereka tumbuh atas dasar
yang lebih jujur.
Tetapi perubahan menuntut keberanian
untuk melepaskan keuntungan yang telah dibayangkan.
Dan Surya belum memiliki keberanian
itu.
Beberapa hari setelah pertemuan
tersebut, Fajar kembali menemui Surya. Kali ini, ia tidak datang untuk
berdebat. Ia hanya ingin mengetahui apakah sahabatnya benar-benar menyadari
arti hubungan yang sedang dijalaninya.
“Jadi, bagaimana dengan Imelda?”
tanyanya.
“Kami sepakat untuk menjalani hubungan
ini dengan lebih serius.”
Fajar terdiam sebentar.
“Kamu sudah mengatakan semuanya
kepadanya?”
Surya tahu apa yang dimaksud
sahabatnya.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan
sekarang.”
“Surya, justru hal-hal yang kamu
anggap tidak perlu itu bisa menjadi persoalan besar nanti.”
Surya menatapnya tajam.
“Aku tidak ingin membahas ini lagi.”
Fajar menarik napas panjang. Ia
mengenal Surya terlalu lama untuk memaksanya menerima nasihat yang tidak ingin
didengarnya.
“Baik. Aku tidak akan memaksamu.
Tetapi ingat satu hal: semakin besar kepercayaan seseorang kepadamu, semakin
besar pula tanggung jawabmu untuk tidak menyalahgunakannya.”
Surya tidak menjawab.
Setelah Fajar pergi, ia kembali
memikirkan Imelda. Ia mengingat senyum perempuan itu ketika mereka berpisah di
KP3, juga kesungguhannya saat berbicara tentang kejujuran.
Surya tahu bahwa ia sedang berjalan di
atas batas yang berbahaya.
Di satu sisi, ia mulai merasakan
kedekatan yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Di sisi lain, ia masih
memelihara ambisi yang sejak awal membawanya kepada Imelda.
Ia belum memilih untuk berubah.
Dan selama ia terus menunda pilihan
itu, janji yang diucapkannya di tepi Sungai Kapuas akan menyimpan dua arti yang
bertolak belakang.
Bagi Imelda, janji itu adalah awal
dari sebuah kepercayaan.
Bagi Surya, janji itu adalah sesuatu
yang harus dipertahankan, meskipun ia belum bersedia memberikan seluruh
kebenaran.
Di KP3, sungai tetap mengalir seperti
biasa. Tidak ada yang berubah pada permukaan airnya. Tidak ada yang tahu bahwa
dua orang baru saja menautkan harapan mereka pada janji yang sama.
Namun, waktu akan menguji apa yang
tidak dapat diuji oleh kata-kata.
Dan ketika ujian itu datang, Imelda
akan mengetahui bahwa janji yang paling menyakitkan bukanlah janji yang gagal
ditepati karena keadaan, melainkan janji yang sejak awal diucapkan tanpa
keberanian untuk mengatakan seluruh kebenaran.
BAB V
DI HADAPAN KELUARGA YULIANA
Undangan makan malam itu datang pada
hari Kamis, ketika Imelda sedang duduk di ruang keluarga bersama ibunya. Hendra
Yuliana baru saja pulang dari kantor dan meletakkan tas kerjanya di atas meja
sebelum bergabung dengan mereka.
“Mel,” katanya sambil membuka kancing
lengan kemeja, “kamu pernah bercerita tentang temanmu yang bernama Surya,
bukan?”
Imelda mengangkat wajah.
“Iya, Yah. Kenapa?”
“Kalau dia tidak keberatan, ajaklah
makan malam di rumah akhir pekan ini.”
Imelda sempat terdiam. Ia tidak
menyangka ayahnya akan mengusulkan hal tersebut lebih dahulu.
“Bapak ingin bertemu dengannya?”
“Tentu. Kalau seseorang mulai sering
menghabiskan waktu bersama anak saya, rasanya wajar kalau saya ingin
mengenalnya.”
Hendra menyampaikan kalimat itu dengan
nada tenang. Tidak ada kesan hendak menginterogasi atau mencari-cari kesalahan.
Namun, Imelda mengenal ayahnya cukup baik untuk memahami bahwa di balik sikap
santainya, Hendra selalu memperhatikan orang yang berhubungan dekat dengan
keluarganya.
“Surya orangnya baik, Yah,” kata
Imelda.
Hendra tersenyum tipis.
“Bagus kalau begitu. Tetapi biarkan
Bapak mengenalnya sendiri. Kamu tidak perlu menjelaskan terlalu banyak sebelum
kami bertemu.”
Ratna yang sejak tadi mendengarkan
percakapan mereka ikut menanggapi.
“Undang saja. Kita makan bersama,
berbincang seperti biasa. Tidak perlu membuat suasana seolah-olah dia sedang
menghadapi ujian.”
Hendra mengangguk.
“Bapak juga tidak berniat menguji
siapa pun. Saya hanya ingin mengetahui bagaimana dia membawa dirinya ketika
berada di lingkungan yang berbeda.”
Imelda merasakan kelegaan. Ia tidak
ingin pertemuan tersebut menjadi beban bagi Surya. Ia ingin keluarganya
mengenal laki-laki itu sebagaimana dirinya mengenalnya selama beberapa waktu
terakhir.
Malam itu, setelah mendapatkan
persetujuan orang tuanya, Imelda mengirim pesan kepada Surya.
Ayah dan Ibu ingin
mengajakmu makan malam di rumah pada hari Sabtu. Kalau kamu tidak ada
kesibukan, datanglah.
Pesan itu dibaca Surya beberapa menit
kemudian.
Balasannya segera muncul.
Tentu. Terima kasih
sudah mengundangku. Aku akan datang.
Imelda tersenyum membaca jawaban
tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa undangan sederhana itu segera mengubah arah
pikiran Surya. Baginya, pertemuan tersebut bukan lagi sekadar kesempatan untuk
mengenal keluarga perempuan yang disukainya. Itu adalah kesempatan untuk
memasuki lingkaran yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.
Dan ia tidak berniat
menyia-nyiakannya.
Keesokan harinya, Surya bertemu Fajar
di sebuah warung makan sederhana. Mereka duduk berhadapan, sementara pemilik
warung sibuk melayani beberapa pelanggan.
“Aku diundang makan malam di rumah
Imelda,” kata Surya setelah pesanan mereka datang.
Fajar mengangkat wajah.
“Keluarganya yang mengundang?”
“Ya. Ayahnya ingin mengenalku.”
“Itu berarti hubungan kalian mulai
dianggap serius.”
Surya mengangguk. Ada kepuasan yang
sulit disembunyikannya.
“Aku harus memberikan kesan yang
baik.”
“Berikan kesan yang sesuai dengan
dirimu.”
Surya meletakkan sendok.
“Kenapa kamu selalu menyisipkan
peringatan setiap kali aku bercerita?”
“Karena aku tahu kamu bisa terlalu
sibuk memikirkan hasil sampai lupa memikirkan caranya.”
Surya tertawa hambar.
“Aku hanya ingin mereka melihat bahwa
aku bisa menjadi pasangan yang baik untuk Imelda.”
“Kalau itu memang tujuanmu, tidak
perlu berpura-pura menjadi orang lain.”
Fajar menyandarkan punggungnya ke
kursi.
“Dengarkan aku, Surya. Orang tua
biasanya tidak mengharapkan calon pasangan anaknya menjadi orang paling kaya di
ruangan itu. Mereka ingin tahu apakah anaknya akan dihargai, apakah orang itu
bertanggung jawab, dan apakah perkataannya bisa dipercaya.”
Surya tidak segera menanggapi.
Ia tahu Fajar berbicara berdasarkan
akal sehat. Namun, dalam pikirannya, penerimaan keluarga Yuliana dapat berarti
lebih dari sekadar restu. Jika Hendra dan Ratna mempercayainya, hubungan dengan
Imelda akan semakin kuat. Kedekatan itu bisa membuka kesempatan yang tidak
mudah ia peroleh melalui jalannya sendiri.
“Aku mengerti,” jawabnya akhirnya.
Fajar menatapnya beberapa saat.
“Semoga kamu benar-benar mengerti,
bukan hanya tahu jawaban apa yang seharusnya diberikan.”
Surya memilih mengalihkan pembicaraan.
Ia tidak ingin menghabiskan waktu dengan nasihat yang menurutnya terlalu jauh
mencampuri urusannya.
Akan tetapi, ketika pulang, ia tetap
memikirkan kata-kata Fajar. Ia mulai menyusun hal-hal yang akan diceritakannya
kepada Hendra, memilih bagian hidup yang akan ditonjolkan, dan menentukan
jawaban yang dianggapnya paling tepat jika ditanya mengenai pekerjaan maupun
masa depan.
Ia tidak berniat mengarang seluruh
kehidupannya. Ia hanya memilih untuk memperlihatkan bagian yang menguntungkan
dirinya.
Dalam pikirannya, semua orang
melakukan hal yang sama ketika ingin diterima.
Ia tidak menyadari bahwa ada perbedaan
mendasar antara menjaga sopan santun dan sengaja membentuk gambaran yang tidak
utuh tentang diri sendiri.
Sabtu sore, rumah keluarga Yuliana
telah dipersiapkan untuk menerima tamu. Ratna memastikan hidangan tersaji
dengan baik, sementara Imelda beberapa kali melihat jam dinding.
“Kalau kamu terus melihat jam, waktu
tidak akan berjalan lebih cepat,” kata Ratna sambil tersenyum.
Imelda tertawa kecil.
“Aku hanya memastikan semuanya siap,
Bu.”
“Yang datang Surya, bukan rombongan
pejabat.”
“Ibu ini.”
Ratna menggeleng geli. Ia melihat
putrinya sedang berusaha bersikap biasa, tetapi ada kegembiraan yang tidak
dapat disembunyikan. Ratna tidak ingin mematahkan perasaan itu. Ia hanya
berharap Imelda tidak membiarkan kegembiraan membuatnya mengabaikan hal-hal
yang patut diperhatikan.
Beberapa saat kemudian, suara
kendaraan terdengar di depan rumah.
Imelda bergegas menuju pintu, tetapi
ia menahan langkah sebelum membukanya. Ia tidak ingin terlihat terlalu
bersemangat.
Surya berdiri di teras dengan pakaian
rapi dan sebuah bingkisan sederhana di tangannya.
“Selamat sore,” sapanya.
“Sore. Silakan masuk.”
Surya menyerahkan bingkisan tersebut
kepada Imelda.
“Ini sedikit buah tangan. Tidak
seberapa, tetapi semoga berkenan.”
Ratna yang menyambut mereka tersenyum
ramah.
“Terima kasih, Surya. Tidak perlu
repot-repot membawa apa pun. Kehadiranmu saja sudah cukup.”
“Saya hanya ingin menghormati
keluarga, Bu.”
Jawaban itu terdengar sopan. Ratna
mempersilakannya duduk, kemudian memperkenalkannya kepada Hendra yang baru
keluar dari ruang kerja.
“Jadi, kamu Surya?” tanya Hendra
sambil mengulurkan tangan.
“Betul, Pak. Saya Surya Pratama.”
Mereka berjabat tangan.
Hendra mempersilakan Surya duduk di
ruang keluarga. Percakapan awal berlangsung ringan, mulai dari perjalanan
menuju rumah hingga keadaan kota pada sore itu. Ratna sesekali ikut menanggapi,
sementara Imelda duduk di samping ibunya, berusaha tidak terlalu sering
memperhatikan Surya.
Bagi keluarga Yuliana, pertemuan itu
adalah kesempatan untuk mengenal seseorang yang mulai berarti bagi Imelda.
Bagi Surya, setiap percakapan menjadi
kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya pantas diterima.
Makan malam berlangsung dalam suasana
yang cukup santai. Ratna beberapa kali menawarkan tambahan lauk, sedangkan
Hendra lebih banyak mendengarkan sebelum mengajukan pertanyaan.
“Sekarang kamu bekerja di bidang apa,
Surya?” tanya Hendra.
Surya meletakkan gelasnya.
“Saya sedang menjalani beberapa
pekerjaan, Pak. Penghasilan saya belum selalu tetap, tetapi saya berusaha
mencari peluang agar keadaan saya bisa lebih baik.”
Hendra mengangguk. Ia tidak langsung
menunjukkan penilaian.
“Pekerjaan yang tidak tetap memang
menuntut kita lebih pandai mengatur keuangan. Apakah kamu sudah punya rencana
jangka panjang?”
“Saya ingin membangun usaha sendiri
suatu hari nanti. Saya sedang mempelajari beberapa kemungkinan, meskipun belum
semuanya bisa saya jalankan.”
Jawaban itu mengandung bagian yang
benar. Surya memang ingin memiliki usaha dan memperbaiki keadaan ekonominya.
Namun, ia tidak menceritakan betapa besar harapannya untuk memperoleh dukungan
dari lingkungan keluarga Yuliana.
Hendra memperhatikan cara Surya
menjawab. Ia tidak mencari jawaban yang terdengar sempurna. Baginya, seseorang
yang mengakui keterbatasan tetapi memiliki kemauan bekerja jauh lebih
meyakinkan daripada seseorang yang mengumbar keberhasilan tanpa dasar.
“Keinginan membangun usaha itu baik,”
kata Hendra. “Tetapi usaha bukan hanya soal modal. Harus ada perhitungan,
ketekunan, dan kesediaan menghadapi kegagalan. Jangan sampai karena ingin cepat
berhasil, kita mengambil keputusan yang belum sanggup kita tanggung.”
Surya mengangguk dengan serius.
“Betul, Pak. Saya juga sedang belajar
soal itu.”
Ratna kemudian bertanya tentang
keluarga Surya. Percakapan beralih pada kehidupan sehari-hari, orang tua, dan
bagaimana Surya menjalani masa-masa ketika penghasilannya belum mencukupi semua
keinginannya.
Untuk beberapa saat, Surya merasa
tidak nyaman. Ia terbiasa menutupi rasa rendah diri ketika berada di hadapan
orang yang lebih mapan. Ia mengira pertanyaan tentang keluarganya akan
membuatnya terlihat kurang berhasil.
Namun, Hendra dan Ratna tidak
memperlakukannya dengan merendahkan. Mereka mendengarkan tanpa menyela dan
tidak membandingkan kehidupannya dengan kehidupan keluarga mereka.
Pengalaman itu justru membuat Surya
menyadari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pertimbangkan.
Ia ingin diterima oleh keluarga
Yuliana karena menganggap mereka memiliki banyak hal yang dapat
menguntungkannya. Akan tetapi, malam itu ia melihat bahwa penerimaan yang
sesungguhnya tidak selalu harus diperoleh melalui penampilan atau kekayaan. Ada
bentuk penghargaan yang muncul hanya karena seseorang berbicara dengan sopan
dan bersedia menunjukkan dirinya.
Pemahaman tersebut sempat membuatnya
merasa bersalah.
Tetapi perasaan itu tidak bertahan
lama. Ketika Hendra mulai membicarakan rencana usaha dan hubungan dengan
sejumlah rekan bisnis, pikiran Surya kembali tertuju pada peluang yang mungkin
terbuka.
Ia mendengarkan lebih saksama.
Setelah makan malam, Ratna mengajak
Imelda membereskan beberapa piring ke dapur. Surya tetap duduk bersama Hendra
di ruang keluarga.
“Kamu dan Imelda sudah cukup dekat?”
tanya Hendra.
Surya mengangguk.
“Kami sedang saling mengenal lebih
jauh, Pak.”
“Bagaimana kamu melihat hubungan
kalian?”
Surya telah menyiapkan jawaban untuk
pertanyaan semacam itu. Namun, ketika berhadapan langsung dengan ayah Imelda,
ia merasa perlu mengukur setiap kata.
“Saya menghargai Imelda, Pak. Dia
orang yang menyenangkan dan punya pandangan yang jelas tentang kehidupan. Saya
ingin hubungan kami berkembang dengan baik.”
Hendra mengamati wajahnya.
“Bapak tidak akan menentukan siapa
yang harus dipilih Imelda. Itu keputusan yang akan dia jalani sendiri. Tetapi
saya sebagai ayah tentu punya tanggung jawab untuk mengingatkan.”
Surya duduk lebih tegak.
“Silakan, Pak.”
“Jangan menjanjikan sesuatu hanya
untuk membuat seseorang merasa senang. Kalau kamu belum sanggup memberikan
sesuatu, katakan belum sanggup. Kalau ada persoalan, bicarakan. Dalam hubungan,
kejujuran sering kali lebih penting daripada kemampuan memenuhi semua
keinginan.”
Surya merasakan kembali ketegangan
yang muncul ketika Imelda membicarakan hal serupa di KP3.
Ia menatap Hendra, lalu mengangguk.
“Saya mengerti, Pak.”
“Bagus. Bapak tidak menuntut kamu
menjadi orang yang sempurna. Setiap orang sedang berusaha memperbaiki hidupnya.
Yang penting, kamu bertanggung jawab atas pilihanmu dan tidak memperlakukan
perasaan Imelda sebagai sesuatu yang bisa dimainkan.”
Hendra menyampaikan kalimat itu tanpa
meninggikan suara. Tidak ada ancaman atau sikap menggurui. Justru ketenangannya
membuat pesan tersebut terasa lebih kuat.
Surya tidak memiliki alasan untuk
membantah. Ia pun tidak ingin menimbulkan kesan buruk di hadapan orang yang
memiliki pengaruh besar dalam kehidupan Imelda.
“Saya akan berusaha menjaga hubungan
kami dengan baik, Pak.”
Hendra mengangguk, lalu mengalihkan
pembicaraan kepada hal-hal yang lebih ringan. Ia tidak berniat memojokkan
Surya. Pertemuan pertama seharusnya menjadi awal untuk saling mengenal, bukan
tempat untuk memutuskan seluruh penilaian.
Namun, bagi Surya, nasihat Hendra
meninggalkan kegelisahan yang sulit diabaikan. Ia merasa seolah-olah kedua
orang tua Imelda telah menyentuh persoalan yang selama ini berusaha ia simpan
jauh dari pandangan orang lain.
Sementara itu, di dapur, Ratna
memperhatikan Imelda yang sedang menyusun piring ke rak.
“Bagaimana menurutmu, Bu?” tanya
Imelda setelah beberapa saat.
“Menurut Ibu, dia cukup sopan. Dia
juga bisa menjawab pertanyaan dengan baik.”
Imelda tersenyum lega.
“Berarti Ibu tidak keberatan kalau aku
terus mengenalnya?”
Ratna berhenti sejenak sebelum
menjawab.
“Ibu tidak melihat alasan untuk
melarangmu. Tetapi satu kali makan malam belum cukup untuk mengenal seseorang
sepenuhnya.”
Imelda mengangguk.
“Aku tahu.”
Ratna menatap putrinya dengan lembut.
“Jangan menganggap orang harus punya
banyak uang supaya layak menjadi pasanganmu. Tetapi jangan pula menganggap
seseorang pasti tulus hanya karena dia tidak punya banyak uang. Keadaan ekonomi
bukan ukuran tunggal untuk menilai watak seseorang.”
Imelda memandang ibunya. Ia memahami
bahwa Ratna sedang berusaha menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan
kewaspadaan.
“Ibu benar. Aku juga tidak ingin
menilai Surya dari latar belakangnya.”
“Bagus. Nilailah dari bagaimana dia
memperlakukan orang lain, bagaimana dia menghadapi kesulitan, dan apakah
perkataannya sesuai dengan tindakannya.”
Imelda menyimpan nasihat itu dalam
hati. Ia tidak merasa ibunya sedang meragukan Surya. Justru ia menghargai bahwa
Ratna tidak langsung menerima ataupun menolak seseorang hanya berdasarkan kesan
pertama.
Ketika mereka kembali ke ruang
keluarga, Surya dan Hendra sedang membicarakan keadaan ekonomi dan tantangan
membangun usaha. Suasana tampak akrab. Imelda merasa lega melihat Surya dapat
berbincang dengan ayahnya tanpa ketegangan yang berarti.
Namun, Ratna masih menyimpan satu hal
dalam pikirannya.
Surya pandai membawa diri. Ia tahu
kapan harus mendengarkan dan kapan memberikan jawaban. Semua itu bisa menjadi
tanda kedewasaan, tetapi juga bisa sekadar kemampuan bersosialisasi.
Ratna tidak ingin mencurigai tanpa
alasan. Ia memilih mengamati lebih jauh.
Malam semakin larut ketika Surya
berpamitan. Hendra mengantarnya sampai ke teras, sementara Ratna mengucapkan
terima kasih karena ia telah datang.
“Terima kasih atas jamuannya, Pak,
Bu,” kata Surya. “Saya senang bisa bertemu langsung dengan keluarga.”
“Sama-sama,” jawab Hendra. “Kalau ada
waktu, silakan berkunjung lagi.”
Surya menyalami Hendra dan Ratna, lalu
menoleh kepada Imelda.
“Terima kasih, Mel.”
“Sama-sama. Hati-hati di jalan.”
Surya mengangguk dan berjalan menuju
sepeda motornya.
Ketika suara kendaraan itu semakin
jauh, Imelda kembali masuk ke rumah dengan perasaan lega. Ia merasa pertemuan
tersebut berjalan lebih baik daripada yang dibayangkannya.
“Ayah tidak keberatan, kan?” tanyanya.
Hendra duduk kembali di ruang
keluarga.
“Bapak tidak punya keberatan
berdasarkan pertemuan malam ini.”
Imelda menunggu kelanjutan kalimat
itu.
“Tetapi Bapak juga belum bisa
mengatakan bahwa Bapak sudah mengenalnya sepenuhnya. Itu membutuhkan waktu.”
“Menurut Ayah, bagaimana orangnya?”
Hendra berpikir sejenak.
“Dia sopan dan memiliki keinginan
untuk memperbaiki kehidupannya. Itu hal yang baik. Bapak hanya ingin melihat
apakah dia benar-benar menjalankan apa yang dikatakannya.”
Imelda mengangguk. Ia tidak
mengharapkan ayahnya langsung memberikan restu penuh. Baginya, pertemuan
tersebut sudah menjadi langkah yang berarti.
Ratna duduk di sebelah Hendra.
“Yang terpenting, kita memberi
kesempatan kepada Imelda untuk mengenal dan mengambil keputusan sendiri.”
Hendra menyetujui perkataan istrinya.
“Benar. Kita tidak perlu mendahului
waktu.”
Percakapan mereka berakhir tanpa
kesimpulan yang berlebihan. Tidak ada seorang pun di rumah itu yang mengetahui
seluruh isi hati Surya. Mereka hanya memiliki kesan awal, dan kesan itu masih
bisa berubah seiring waktu.
Di perjalanan pulang, Surya berhenti
sebentar di tepi jalan untuk membeli minuman. Ia duduk di atas sepeda motornya
sambil memikirkan pertemuan malam itu.
Ia berhasil melewati percakapan dengan
Hendra tanpa kesulitan berarti. Ratna bersikap ramah, sedangkan Imelda tampak
senang melihat keluarganya menerima kehadirannya.
Semua berjalan sesuai harapan.
Namun, ada satu bagian dari pertemuan
itu yang terus teringat: cara Hendra berbicara tentang kejujuran dan tanggung
jawab.
Surya menyadari bahwa keluarga Yuliana
bukan hanya memiliki kekayaan. Mereka juga memiliki aturan tidak tertulis
mengenai bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan orang lain. Jika ia ingin
terus berada di dekat Imelda, ia harus mampu menjaga kepercayaan yang mulai
diberikan kepadanya.
Pikiran itu seharusnya menjadi alasan
untuk memperbaiki niatnya.
Sebaliknya, Surya justru mulai
memikirkan cara agar tidak melakukan kesalahan yang bisa membuat keluarga
tersebut meragukannya.
Ia meyakinkan dirinya bahwa ia masih
bisa memperbaiki keadaan ekonomi, membangun hubungan dengan Imelda, dan
memperoleh kehidupan yang diinginkannya tanpa harus mengungkapkan semua yang
ada dalam pikirannya.
Ia tidak melihat bahwa setiap langkah
untuk mempertahankan gambaran palsu itu akan membuatnya semakin sulit keluar
dari kebohongannya sendiri.
Keesokan harinya, Fajar datang menemui
Surya setelah mendengar bahwa pertemuan dengan keluarga Imelda telah
berlangsung.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Baik. Ayahnya cukup terbuka. Kami
banyak berbicara tentang pekerjaan dan masa depan.”
“Apakah dia tahu keadaanmu yang
sebenarnya?”
Surya menoleh.
“Keadaan yang sebenarnya bagaimana?”
“Keadaanmu, keinginanmu, dan alasan
kamu mendekati Imelda sejak awal.”
Wajah Surya berubah.
“Tidak semua hal harus diceritakan
kepada orang yang baru dikenal.”
“Benar. Tidak semua hal harus
diceritakan sekaligus. Tetapi kalau sesuatu itu berkaitan langsung dengan
alasan kamu menjalin hubungan, orang yang kamu dekati berhak mengetahuinya.”
Surya menghela napas panjang.
“Kamu tidak berada di posisiku, Jar.
Kamu tidak tahu bagaimana rasanya ingin mengubah kehidupan, tetapi merasa jalan
yang tersedia begitu sempit.”
Fajar tidak segera menjawab. Kali ini,
ia tidak ingin meremehkan kesulitan sahabatnya.
“Aku tahu kamu ingin hidup lebih
baik,” katanya kemudian. “Aku juga tahu keadaanmu tidak selalu mudah. Tetapi
kalau kamu menjadikan Imelda sebagai jalan keluar, kamu sedang menempatkan dia
dalam persoalan yang tidak pernah dia setujui.”
Surya menunduk.
“Bagaimana kalau pada akhirnya aku
benar-benar mencintainya?”
“Kalau begitu, kamu harus mulai berani
bersikap jujur kepadanya.”
Pertanyaan itu menggantung di antara
mereka.
Untuk pertama kalinya, Surya tidak
langsung membantah. Ia memikirkan kemungkinan bahwa perasaannya kepada Imelda
akan berkembang semakin dalam. Ia juga membayangkan kemungkinan bahwa suatu
hari perempuan itu mengetahui alasan yang membawanya mendekat.
Kedua bayangan tersebut membuatnya
gelisah.
Namun, ia belum sanggup melepaskan
keuntungan yang telah dibayangkannya.
“Aku akan memikirkan semuanya,”
katanya.
Fajar tidak mendesak lebih jauh. Ia
tahu bahwa keputusan untuk berubah tidak bisa dipaksakan dari luar. Surya harus
memilihnya sendiri, meskipun pilihan yang salah dapat membawa akibat yang
menyakitkan.
Beberapa hari berikutnya, hubungan
Surya dan Imelda berjalan semakin akrab. Pertemuan di rumah keluarga Yuliana
membuat Imelda merasa bahwa hubungan mereka tidak lagi berada di luar kehidupan
keluarga. Surya pun semakin sering bertukar kabar dengannya, meskipun belum
semua persoalan mereka dibicarakan secara terbuka.
Suatu malam, Imelda bertanya melalui
pesan apakah Surya merasa nyaman ketika bertemu orang tuanya.
Surya membalas bahwa ia senang karena
diterima dengan baik.
Imelda tersenyum membaca jawaban itu.
Ia tidak mengetahui bahwa di balik
rasa senang tersebut, Surya sedang memikirkan hal yang jauh lebih rumit
daripada sekadar penerimaan keluarga. Ia mulai memahami bahwa semakin dekat
dirinya dengan Imelda, semakin besar pula tanggung jawab yang harus ia tanggung
terhadap kepercayaan yang diberikan.
Sementara itu, Hendra tidak lagi
membicarakan Surya setiap hari. Ia membiarkan hubungan putrinya berkembang
tanpa tekanan. Namun, ia tetap memperhatikan bagaimana Imelda mengambil
keputusan, bagaimana Surya bersikap ketika berkunjung, dan apakah ada perubahan
yang patut menjadi perhatian.
Ratna juga memilih untuk tidak
mengganggu kebahagiaan putrinya. Ia hanya sesekali mengingatkan Imelda agar
tidak mengabaikan pekerjaan, keluarga, dan kehidupan pribadinya demi seseorang
yang sedang disukainya.
Nadia tetap menjadi tempat Imelda
bercerita. Ketika mendengar bahwa Surya telah bertemu Hendra dan Ratna, Nadia
ikut merasa lega, tetapi ia tidak serta-merta menyimpulkan bahwa semua persoalan
telah selesai.
“Bagus kalau pertemuannya berjalan
baik,” kata Nadia ketika mereka berbincang pada suatu sore. “Sekarang, lihat
bagaimana hubungan kalian berkembang setelah ini.”
Imelda tersenyum.
“Kamu memang tidak pernah mau langsung
menyimpulkan sesuatu.”
“Karena aku sahabatmu, bukan peramal.”
Keduanya tertawa. Suasana menjadi
ringan, tetapi pesan Nadia tetap jelas: penerimaan keluarga adalah awal, bukan
jaminan bahwa seseorang telah sepenuhnya dikenal.
Imelda memahami maksudnya. Ia tidak
ingin kehilangan kewaspadaan, tetapi ia juga tidak ingin menjalani hubungan
dengan terus-menerus mencurigai orang yang disayanginya.
Ia memilih memberi waktu kepada Surya
untuk menunjukkan siapa dirinya.
Dan waktu, tanpa mereka sadari, sedang
bergerak menuju ujian yang lebih besar.
Pada malam yang sama, Surya berdiri di
depan jendela kamarnya. Ia memikirkan Imelda, keluarganya, dan
kemungkinan-kemungkinan yang kini terasa semakin dekat.
Ia telah diterima untuk duduk di meja
makan keluarga Yuliana. Ia telah berbicara dengan Hendra tentang masa depan. Ia
juga telah melihat sendiri bahwa Ratna memperlakukan dirinya dengan hormat
meskipun mengetahui keadaan ekonominya belum mapan.
Semua itu seharusnya membuatnya merasa
cukup.
Namun, ambisi yang dipeliharanya sejak
lama belum juga mereda.
Ia masih ingin lebih. Ia ingin
memiliki kehidupan yang tidak lagi membuatnya merasa tertinggal. Ia ingin
dihormati tanpa harus terus membuktikan dirinya. Dan ia mulai melihat hubungan
dengan Imelda sebagai salah satu jalan untuk mendekati semua itu.
Di sisi lain, ia mulai memahami bahwa
Imelda bukan sekadar seseorang yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan.
Perempuan itu memiliki pandangan hidup, harga diri, dan kepercayaan yang
diberikan dengan sungguh-sungguh.
Kesadaran itu membuatnya terbelah.
Ada bagian dalam dirinya yang ingin
terus mendekat karena ia menikmati kebersamaan mereka. Ada bagian lain yang
terus menghitung kemungkinan keuntungan dan merasa takut kehilangan kesempatan.
Surya belum memilih untuk melepaskan
salah satunya.
Ia justru mencoba mempertahankan
keduanya, seolah-olah perasaan dan kepentingan dapat berjalan beriringan tanpa
menimbulkan kerusakan.
Di rumah keluarga Yuliana, Imelda
mulai membayangkan bahwa Surya mungkin akan menjadi bagian penting dari masa
depannya. Hendra dan Ratna membuka ruang bagi laki-laki itu untuk dikenal lebih
jauh. Nadia tetap menjaga sahabatnya agar tidak kehilangan pertimbangan,
sedangkan Fajar terus mengingatkan Surya bahwa sebuah hubungan bukan tempat
untuk menyembunyikan niat.
Masing-masing telah mengambil
perannya.
Tidak ada yang mengetahui seluruh
kebenaran, tetapi setiap orang sedang bergerak menuju titik ketika kebenaran
itu tidak lagi dapat disembunyikan.
Dan bagi Surya, tantangan berikutnya
bukan lagi bagaimana membuat keluarga Yuliana menerimanya.
Tantangan sebenarnya adalah bagaimana
mempertahankan kepercayaan yang telah ia peroleh tanpa berani memberikan
seluruh kejujuran yang menjadi dasarnya.
BAB VI
HARGA SEBUAH KEPURA-PURAAN
Pagi itu, Surya Pratama menerima
sebuah panggilan yang sempat membuatnya lupa pada pekerjaan yang sedang ia
lakukan.
Nomor yang muncul di layar ponselnya
adalah milik seseorang yang beberapa waktu lalu pernah menawarkan peluang kerja
sama. Mereka pernah berbicara mengenai rencana usaha kecil yang membutuhkan
modal, jaringan pemasaran, dan kesanggupan mengelola risiko. Saat itu, Surya
belum mempunyai cukup keberanian untuk mengambil keputusan. Ia juga belum
memiliki sumber daya yang dibutuhkan.
Kini, orang itu menghubunginya
kembali.
“Bagaimana, Surya? Kamu masih tertarik
dengan rencana yang kita bicarakan dulu?” suara di seberang terdengar lugas.
Surya berdiri dari kursinya dan
berjalan ke teras agar bisa mendengar dengan lebih jelas.
“Masih, Pak. Saya masih
memikirkannya.”
“Kalau memang serius, kita perlu
membicarakan langkah berikutnya. Saya tidak bisa terus menunggu tanpa
kepastian.”
Surya terdiam.
Ia tahu bahwa peluang tersebut tidak
akan terbuka selamanya. Jika ia mampu ikut menjalankannya, ada kemungkinan
keadaan ekonominya membaik. Namun, ia belum mempunyai modal yang cukup,
sedangkan orang yang menghubunginya mengharapkan kepastian dalam waktu dekat.
“Saya akan mencoba mencari jalan,
Pak,” jawabnya.
“Baik. Tetapi pastikan kamu menghitung
semuanya dengan matang. Jangan sampai hanya karena ingin memulai, kamu
mengambil risiko yang tidak sanggup kamu tanggung.”
Panggilan berakhir.
Surya memandangi layar ponselnya. Ia
kembali merasakan kegelisahan yang sudah lama dikenalnya: keinginan untuk
bergerak maju berhadapan dengan keterbatasan yang belum berhasil ia atasi.
Selama ini, ia menganggap dirinya
sedang berjuang memperbaiki kehidupan. Ia tidak pernah merasa bahwa
keinginannya untuk menjadi lebih berhasil merupakan sesuatu yang keliru. Yang
membuatnya gelisah adalah jarak antara kehidupan yang dimiliki sekarang dan
kehidupan yang terus dibayangkannya.
Ia ingin mempunyai modal. Ia ingin
menjalankan usaha sendiri. Ia ingin bisa membuat keputusan tanpa harus selalu
mempertimbangkan apakah uangnya cukup.
Dan sekarang, ketika peluang itu
kembali datang, ia tidak ingin membiarkannya berlalu.
Pikirannya kemudian beralih kepada
Imelda.
Bukan karena perempuan itu pernah
menjanjikan bantuan, melainkan karena Surya mengetahui bahwa keluarganya
memiliki kemampuan yang tidak dimilikinya. Hendra mempunyai pengalaman usaha,
jaringan pergaulan, dan sumber daya yang selama ini hanya bisa dibayangkan
Surya.
Ia mulai memikirkan kemungkinan untuk
meminta pendapat Hendra mengenai peluang tersebut.
Pada mulanya, gagasan itu terasa
wajar. Meminta saran kepada seseorang yang lebih berpengalaman bukanlah
kesalahan. Namun, semakin lama ia memikirkannya, semakin sulit ia membedakan
antara keinginan memperoleh nasihat dan harapan untuk mendapatkan keuntungan
melalui kedekatannya dengan keluarga Yuliana.
Surya menyandarkan tubuhnya pada tiang
teras.
Ia tahu bahwa Imelda tidak pernah
menawarkan uang. Ia juga tahu bahwa Hendra belum pernah menjanjikan bantuan apa
pun.
Tetapi dalam pikirannya, hubungan yang
semakin dekat itu seolah-olah telah membuka pintu yang sebelumnya tertutup.
Ia hanya perlu menemukan cara untuk
melangkah masuk.
Siang harinya, Imelda mengajak Surya
bertemu setelah menyelesaikan urusannya. Mereka memilih tempat makan sederhana
yang tidak terlalu ramai. Imelda datang dengan beberapa cerita tentang
kegiatannya, sementara Surya tampak lebih banyak diam daripada biasanya.
“Kamu sedang memikirkan sesuatu?”
tanya Imelda setelah memperhatikan perubahan sikapnya.
Surya mengangkat wajah.
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Karena dari tadi kamu lebih sering
melamun. Biasanya kamu banyak bercerita.”
Surya tersenyum tipis. Ia tidak
menyangka bahwa perubahan kecil itu akan segera diperhatikan.
“Sedang ada persoalan pekerjaan.”
“Persoalan yang berat?”
“Tidak juga. Hanya ada peluang yang
ingin kucoba, tetapi belum tahu bagaimana menjalankannya.”
Imelda meletakkan sendoknya.
“Kalau kamu mau bercerita, aku bisa
mendengarkan.”
Surya memandang perempuan di
hadapannya. Ia merasakan dorongan untuk menjelaskan semuanya, tetapi segera
menahan diri. Ia belum ingin memperlihatkan betapa besar persoalan keuangan
yang sedang dihadapinya. Ia khawatir keterbatasan itu akan mengubah cara Imelda
memandangnya.
“Ada rencana usaha yang sedang
kupikirkan. Kesempatannya cukup menarik, tetapi aku belum yakin bisa memenuhi
kebutuhan awalnya.”
“Kamu sudah menghitung modal dan
risikonya?”
Surya sedikit terkejut. Ia mengira
Imelda akan langsung memberikan semangat, tetapi perempuan itu justru bertanya
tentang perhitungan.
“Belum semuanya.”
“Kalau begitu, jangan buru-buru
mengambil keputusan. Peluang yang bagus tetap bisa menjadi masalah kalau kita
belum siap.”
Surya mengangguk, berusaha
menyembunyikan kekecewaannya yang muncul sesaat.
Imelda melanjutkan, “Aku bukan
bermaksud mengecilkan keinginanmu. Aku tahu kamu ingin membangun kehidupan yang
lebih baik. Tetapi menurutku, keberanian saja tidak cukup. Kita juga harus tahu
apa yang bisa kita tanggung kalau rencana itu tidak berjalan sesuai harapan.”
Surya memandangnya cukup lama.
Ia tidak menemukan sikap merendahkan
dalam perkataan Imelda. Perempuan itu sungguh-sungguh berusaha membantunya
berpikir jernih.
Akan tetapi, jawaban tersebut tidak
memberinya jalan pintas yang diam-diam ia harapkan.
“Terima kasih,” katanya. “Aku akan
memikirkannya lagi.”
Imelda tersenyum.
“Aku mendukungmu untuk mencoba sesuatu
yang baik. Aku hanya tidak ingin kamu mengambil keputusan karena merasa harus
segera berhasil.”
Kalimat itu membuat Surya terdiam.
Ia ingin Imelda melihatnya sebagai
laki-laki yang memiliki kemampuan dan masa depan. Ia ingin perempuan itu bangga
kepadanya. Namun, ia mulai menyadari bahwa Imelda tidak akan menilai dirinya
hanya berdasarkan keberhasilan yang dapat dipamerkan.
Justru itulah yang membuat Surya
semakin sulit memahami perasaannya sendiri. Ia merasa dihargai tanpa harus
menjadi orang kaya, tetapi pada saat yang sama ia tetap ingin memperoleh
keuntungan yang bisa membuatnya merasa lebih unggul.
Ia menyukai ketulusan Imelda, tetapi
belum sanggup membalasnya dengan ketulusan yang sama.
Pada sore yang sama, Nadia Permatasari
datang ke rumah Imelda untuk mengembalikan sebuah buku yang dipinjamnya. Mereka
kemudian duduk di ruang keluarga, berbincang sambil menikmati minuman yang
disiapkan Ratna.
“Kamu kelihatan sibuk beberapa hari
ini,” kata Nadia.
“Memang ada beberapa urusan.”
“Dengan Surya juga?”
Imelda tertawa kecil.
“Kenapa setiap kali bertemu kamu,
pertanyaannya selalu tentang Surya?”
“Karena belakangan ini dia sering
muncul dalam ceritamu.”
Imelda tidak membantah. Ia kemudian
menceritakan bahwa Surya sedang memikirkan sebuah peluang usaha dan belum yakin
bagaimana cara menjalankannya.
Nadia mendengarkan tanpa menyela.
“Dia meminta bantuanmu?” tanyanya
setelah Imelda selesai bercerita.
“Tidak. Dia hanya bercerita tentang
kesulitannya.”
“Lalu bagaimana tanggapanmu?”
“Aku menyarankan agar dia menghitung
semuanya lebih dulu.”
Nadia mengangguk.
“Itu bagus.”
Imelda mengernyit.
“Kamu tidak menganggap aku seharusnya
membantunya?”
“Aku tidak tahu apakah dia membutuhkan
bantuan atau hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Itu harus
dibedakan.” Nadia berhenti sejenak. “Kalau suatu hari dia meminta bantuan, kamu
berhak mempertimbangkannya. Tetapi jangan merasa bahwa karena kamu
menyayanginya, semua persoalannya otomatis menjadi tanggung jawabmu.”
Imelda menatap sahabatnya.
“Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh
itu.”
“Memang belum tentu akan terjadi. Aku
hanya ingin kamu punya batas yang jelas.”
Nadia tidak berbicara dengan nada
mencurigai Surya. Ia justru berhati-hati agar nasihatnya tidak berubah menjadi
tuduhan tanpa dasar. Ia tahu bahwa Imelda sedang membangun hubungan yang
berarti baginya. Jika ia terus-menerus menempatkan Surya sebagai orang yang
harus dicurigai, Imelda mungkin akan merasa bahwa persahabatan mereka telah
berubah menjadi pertentangan.
Karena itu, Nadia memilih berbicara
mengenai prinsip, bukan menilai niat seseorang yang belum benar-benar
dikenalnya.
“Hubungan yang sehat itu bukan tentang
siapa yang bisa memberikan paling banyak,” lanjut Nadia. “Keduanya boleh saling
membantu, tetapi tidak boleh ada yang merasa berhak memanfaatkan yang lain.”
Imelda mengangguk perlahan.
“Aku mengerti.”
Nadia tersenyum dan mengalihkan
pembicaraan. Mereka kemudian membicarakan hal-hal lain, mulai dari kegiatan
sehari-hari hingga rencana bertemu beberapa teman lama.
Namun, ketika Nadia pulang, kalimatnya
masih teringat oleh Imelda.
Bukan karena Imelda mulai mencurigai
Surya, melainkan karena ia menyadari bahwa rasa sayang harus tetap berjalan
bersama pertimbangan yang sehat.
Sementara itu, Surya mulai mencari
jalan untuk menjalankan rencana usahanya.
Ia menghubungi beberapa kenalan,
menanyakan kemungkinan mendapatkan tambahan modal, dan mencoba menghitung ulang
kebutuhan yang harus dipenuhi. Beberapa orang bersedia mendengarkan, tetapi
tidak ada yang langsung memberikan kepastian.
Semakin lama, ia merasa semakin
terdesak.
Ketika Fajar datang menemuinya, Surya
sedang menulis angka-angka di sebuah buku catatan.
“Apa yang sedang kamu hitung?” tanya
Fajar.
“Modal usaha.”
Fajar menarik kursi dan duduk di
dekatnya.
“Sudah tahu berapa kebutuhan awalnya?”
“Kurang lebih. Tetapi masih ada
beberapa hal yang belum pasti.”
“Kalau begitu, jangan dulu menjanjikan
sesuatu kepada orang lain.”
Surya menutup bukunya.
“Aku tahu.”
Fajar memperhatikan wajahnya. “Kamu
sudah bercerita kepada Imelda?”
“Sedikit.”
“Sedikit bagaimana?”
“Aku mengatakan bahwa ada peluang
usaha yang sedang kupikirkan.”
“Apakah kamu berharap keluarganya
membantu?”
Surya tidak langsung menjawab.
Fajar menghela napas. “Surya, meminta
pendapat kepada orang yang lebih berpengalaman itu wajar. Bahkan meminta bantuan
juga tidak selalu salah. Yang menjadi persoalan adalah kalau kamu mendekati
seseorang karena mengharapkan keuntungan, tetapi membiarkannya percaya bahwa
kamu datang hanya karena perasaan.”
Surya berdiri dan berjalan menuju
jendela.
“Kamu menganggap semuanya buruk. Aku
belum meminta uang kepada siapa pun.”
“Benar. Kamu belum melakukannya.
Karena itu aku masih mengingatkanmu sebelum semuanya menjadi lebih rumit.”
Surya berbalik.
“Aku juga punya harga diri, Jar. Aku
tidak ingin dianggap sebagai laki-laki yang hidup dari kekayaan perempuan.”
“Kalau begitu, jangan menjadikan
kekayaan perempuan itu sebagai dasar rencanamu.”
Jawaban Fajar membuat suasana menjadi
hening.
Surya ingin membantah, tetapi ia tidak
menemukan jawaban yang benar-benar dapat menyangkal perkataan tersebut. Ia
memang belum meminta bantuan. Namun, ia sudah memikirkan kemungkinan yang bisa
diperoleh melalui hubungan dengan Imelda.
Ia juga tahu bahwa jika Hendra
menawarkan bantuan secara sukarela, dirinya mungkin akan menerimanya tanpa banyak
pertimbangan.
Persoalannya bukan semata-mata pada
uang yang mungkin diterima. Persoalannya terletak pada niat yang tidak pernah
ia jelaskan kepada Imelda.
“Aku akan mengurus urusanku sendiri,”
katanya akhirnya.
Fajar mengangguk.
“Aku berharap begitu.”
Fajar tidak ingin memutus persahabatan
mereka hanya karena perbedaan pandangan. Ia tahu Surya sedang berjuang
menghadapi rasa tidak puas terhadap kehidupannya. Namun, ia juga tidak ingin
diam ketika melihat sahabatnya mulai mencari pembenaran untuk tindakan yang
berpotensi melukai orang lain.
Sebelum pulang, Fajar menepuk bahu
Surya.
“Jangan menunggu sampai semuanya
terbongkar baru kamu bertanya apakah kamu sudah melangkah terlalu jauh.”
Surya tidak menjawab.
Kali ini, diamnya bukan semata-mata
karena kesal. Ada bagian dalam dirinya yang mengetahui bahwa peringatan itu
semakin dekat dengan kenyataan.
Beberapa hari kemudian, Imelda
mengajak Surya datang ke sebuah acara keluarga kecil. Tidak ada agenda khusus
selain berkumpul dan makan bersama. Hendra juga hadir, tetapi sebagian besar
waktu dihabiskannya untuk berbincang dengan beberapa kerabat.
Surya datang dengan sikap sopan
seperti biasa. Ia membantu memindahkan kursi, menyapa orang-orang yang
diperkenalkan kepadanya, dan tidak berusaha mendominasi percakapan.
Sikap itu membuat Imelda merasa
nyaman. Ia melihat Surya mampu menempatkan diri tanpa berusaha menjadi pusat
perhatian.
Namun, di tengah acara, Surya
mendengar Hendra berbicara dengan seorang kerabat tentang rencana pengembangan
usaha. Mereka membahas persoalan pengelolaan modal, perhitungan risiko, dan
pentingnya memilih rekan kerja yang dapat dipercaya.
Surya berusaha mengikuti percakapan
tersebut dari tempatnya duduk. Ia tidak ikut campur, tetapi beberapa kali
mengajukan pertanyaan yang masih berkaitan dengan topik.
Hendra menjawab seperlunya, lalu
menjelaskan bahwa setiap usaha memiliki perhitungan berbeda.
“Tidak semua peluang harus diambil,”
kata Hendra. “Kadang keputusan terbaik justru menunggu sampai kita benar-benar
siap.”
Surya mengangguk.
“Berarti kesiapan lebih penting
daripada sekadar melihat peluangnya, Pak?”
“Betul. Peluang tidak akan banyak
berarti kalau kita tidak memahami kewajiban yang menyertainya.”
Percakapan itu berakhir ketika kerabat
Hendra dipanggil oleh anggota keluarga lain.
Surya tetap memikirkan kalimat
tersebut. Ia menyadari bahwa Hendra tidak akan mudah memberikan dukungan hanya
karena seseorang memiliki hubungan dekat dengan keluarganya. Jika ia ingin
mendapatkan kepercayaan, ia harus memperlihatkan bahwa dirinya mampu berpikir
secara matang.
Ia pun mulai mempertimbangkan cara
untuk memperkenalkan rencana usahanya kepada Hendra pada kesempatan yang lebih
tepat.
Ia berusaha meyakinkan diri bahwa
langkah tersebut adalah bagian dari upaya memperbaiki kehidupannya. Ia tidak merasa
sedang meminta sesuatu yang tidak pantas.
Tetapi di balik alasan itu, ia masih
menyimpan harapan bahwa hubungan dengan Imelda dapat mempermudah jalannya.
Malam setelah acara keluarga, Imelda
mengantar Surya sampai ke depan rumah.
“Kamu cukup nyaman tadi?” tanyanya.
“Ya. Keluargamu ramah.”
“Ayah memang suka membicarakan usaha.
Kalau sudah mulai, kadang pembicaraannya panjang.”
Surya tersenyum.
“Aku justru senang mendengarnya.
Banyak hal yang bisa kupelajari.”
Imelda menatapnya dengan bangga.
“Aku senang kalau kamu bisa
mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dari pertemuan tadi.”
Surya merasa tersentuh oleh ketulusan
dalam suara Imelda. Perempuan itu benar-benar ingin melihatnya berkembang. Ia
tidak sedang menuntut Surya menjadi kaya atau memberikan sesuatu sebagai
balasan atas hubungan mereka.
Untuk sesaat, Surya ingin
mengungkapkan semuanya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya sedang menghadapi
persoalan keuangan, bahwa ia mempunyai ambisi yang terkadang membuatnya sulit
merasa cukup, dan bahwa sejak awal ia telah melihat latar belakang keluarga
Imelda sebagai sesuatu yang menguntungkan.
Namun, ia membayangkan apa yang akan
terjadi setelah pengakuan itu.
Imelda mungkin akan kecewa. Hubungan
mereka mungkin berubah. Keluarga Yuliana mungkin akan menarik kembali
penerimaan yang baru mulai tumbuh.
Ketakutan kehilangan semua itu
membuatnya mengurungkan niat.
“Terima kasih sudah mengajakku,”
katanya.
Imelda tersenyum.
“Kamu tidak perlu berterima kasih
untuk hal seperti ini. Aku ingin kamu mengenal keluargaku.”
Surya menunduk sebentar, lalu kembali
menatapnya.
“Aku senang bisa menjadi bagian dari
kehidupanmu.”
Kalimat itu membuat Imelda terdiam
sesaat. Ia merasakan kehangatan yang sulit dijelaskan. Baginya, Surya sedang
menunjukkan kesungguhan untuk melangkah lebih jauh.
Bagi Surya sendiri, kalimat itu
mengandung dua perasaan yang saling bertentangan. Ia memang ingin menjadi
bagian dari kehidupan Imelda, tetapi ia juga ingin memperoleh sesuatu dari
kehidupan yang dimiliki perempuan itu.
Ia tidak mengatakan kebohongan secara
langsung. Namun, ia membiarkan Imelda memahami ucapannya sebagai ungkapan cinta
yang sepenuhnya tulus.
Dan pembiaran itulah yang perlahan
menjadi bentuk kepura-puraan paling berbahaya.
Pada suatu malam, Surya menerima pesan
dari orang yang sebelumnya menawarkan peluang usaha. Orang tersebut meminta
kepastian apakah Surya akan ikut menjalankan rencana yang telah dibicarakan.
Surya membaca pesan itu berkali-kali.
Ia belum memiliki modal yang cukup. Ia
juga belum menemukan jalan yang benar-benar aman untuk memulai. Jika menolak,
ia harus menerima kenyataan bahwa kesempatan tersebut mungkin hilang. Jika
menerima, ia harus mencari sumber dana yang belum tersedia.
Ia membuka percakapan dengan Imelda,
kemudian menutupnya kembali.
Beberapa menit kemudian, ia mencoba
menulis pesan kepada Hendra. Ia ingin bertanya apakah Hendra bersedia
memberikan saran mengenai usaha yang sedang dipertimbangkannya.
Namun, ia menghapus pesan itu sebelum
mengirimkannya.
Ia tidak ingin terlihat seperti orang
yang baru saja diterima di lingkungan keluarga lalu segera meminta bantuan. Ia
memahami bahwa tindakan semacam itu dapat menimbulkan kesan buruk.
Akhirnya, Surya memilih menghubungi
kenalannya yang lain. Ia berusaha mencari jalan melalui kemampuan dan jaringan
yang sudah dimilikinya.
Keputusan itu seharusnya menjadi
langkah yang baik. Akan tetapi, ia tidak benar-benar melepaskan harapannya
terhadap keluarga Yuliana. Ia hanya menunda kemungkinan tersebut sambil mencari
cara agar permintaannya kelak tampak lebih wajar.
Surya mulai membangun alasan-alasan
yang dapat diterimanya sendiri.
Ia mengatakan kepada dirinya bahwa
jika suatu hari ia meminta saran atau bantuan kepada Hendra, hal itu bukan
karena ia memanfaatkan Imelda, melainkan karena mereka telah memiliki hubungan
yang cukup dekat.
Ia lupa bahwa kedekatan tersebut sejak
awal dibangun tanpa kejujuran mengenai seluruh maksudnya.
Sementara itu, Imelda menjalani
hari-harinya tanpa mengetahui pergulatan yang terjadi dalam pikiran Surya.
Ia tetap menyelesaikan pekerjaan,
menghabiskan waktu bersama keluarga, dan sesekali bertemu Nadia. Hubungannya
dengan Surya menjadi salah satu bagian yang menyenangkan dalam kehidupannya,
tetapi bukan satu-satunya hal yang ia pikirkan.
Pada suatu sore, Nadia mengajaknya
duduk bersama setelah mereka menyelesaikan urusan masing-masing.
“Bagaimana hubunganmu sekarang?” tanya
Nadia.
“Baik. Surya sedang memikirkan rencana
usahanya.”
“Apakah dia sudah mengambil
keputusan?”
“Belum. Dia masih menghitung
semuanya.”
Nadia mengangguk.
“Semoga dia menemukan jalan yang
tepat.”
Imelda tersenyum.
“Aku juga berharap begitu. Aku ingin
dia berhasil dengan usahanya sendiri.”
Nadia memperhatikan sahabatnya sebelum
berkata, “Mendukung seseorang tidak berarti kita harus menyelesaikan semua
persoalannya. Kadang yang paling dibutuhkan seseorang adalah kesempatan untuk
bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.”
“Aku setuju.”
Nadia tidak melanjutkan nasihatnya. Ia
tidak ingin membuat percakapan itu berubah menjadi pembicaraan yang
terus-menerus berpusat pada kemungkinan buruk.
Mereka kemudian berbicara tentang
rencana lain dan tertawa ketika mengenang kejadian lucu yang pernah mereka
alami.
Namun, bagi Imelda, percakapan itu
memperjelas satu hal: ia ingin hubungan yang membuat kedua orang tumbuh, bukan
hubungan yang mengharuskan salah satu pihak menjadi penyelamat bagi pihak
lainnya.
Ia percaya Surya memiliki kemampuan
untuk membangun kehidupannya sendiri.
Ia belum mengetahui bahwa yang sedang
dipertaruhkan bukan hanya kemampuan Surya, melainkan juga kejujuran yang
menjadi dasar kepercayaan mereka.
Hari-hari berlalu, dan Surya semakin
terampil memisahkan apa yang ia tunjukkan kepada Imelda dari apa yang
sebenarnya ia pikirkan.
Ketika bersama Imelda, ia berusaha
menjadi pendengar yang baik, menunjukkan perhatian, dan memberikan dukungan.
Ketika sendirian, ia kembali menghitung peluang, mencari jalan untuk
meningkatkan penghasilan, dan membayangkan bagaimana hubungan mereka dapat
membawanya lebih dekat pada kehidupan yang diinginkannya.
Kedua sisi itu tidak selalu terasa
bertentangan baginya. Ia mulai menganggap bahwa selama ia masih mempunyai
perasaan kepada Imelda, keinginannya memperoleh keuntungan tidak harus
dipersoalkan.
Padahal, perasaan tidak menghapus
tanggung jawab.
Seseorang dapat benar-benar menyukai
orang lain sekaligus melakukan sesuatu yang melukai orang tersebut. Seseorang
dapat menikmati kebersamaan sekaligus menyembunyikan maksud yang seharusnya
diketahui pasangannya.
Surya belum bersedia melihat dirinya
melalui cara pandang itu.
Ia lebih memilih percaya bahwa semua
akan baik-baik saja selama ia mampu menjaga penampilannya.
Namun, kepura-puraan memiliki harga
yang tidak selalu dibayar pada saat kebohongan pertama dilakukan. Kadang,
harganya muncul sedikit demi sedikit: dalam kegelisahan ketika ditanya, dalam
ketakutan saat harus menjawab, dan dalam jarak yang semakin lebar antara apa
yang diketahui seseorang dengan apa yang dipercayai orang lain.
Surya mulai merasakan harga itu,
meskipun ia belum mengakuinya.
Ia belum kehilangan Imelda. Ia belum
menghadapi tuduhan. Ia bahkan masih diterima oleh keluarga Yuliana.
Tetapi sejak ia memilih mempertahankan
gambaran yang tidak utuh tentang dirinya, ia telah kehilangan sesuatu yang
tidak dapat dikembalikan hanya dengan kata-kata manis: kebebasan untuk hadir di
hadapan orang yang dicintainya tanpa harus terus menjaga rahasia.
Dan semakin lama ia menunda kejujuran,
semakin besar pula kemungkinan bahwa suatu hari ia tidak lagi mampu
mengendalikan akibat dari pilihannya sendiri.
BAB VII
KETIKA KEPERCAYAAN MENJADI SEGALANYA
Pagi itu, Imelda Yuliana menerima
telepon dari ibunya ketika sedang bersiap meninggalkan rumah.
Ratna terdengar sedikit terburu-buru.
Salah seorang kerabat mereka yang tinggal di luar kota mengalami masalah
keluarga dan membutuhkan bantuan untuk mengurus beberapa keperluan. Ratna
berencana menemuinya bersama Hendra, tetapi ada pekerjaan yang harus
diselesaikan suaminya terlebih dahulu.
“Mel, apakah kamu bisa membantu Ibu
menyiapkan beberapa dokumen yang ada di lemari ruang kerja?” tanya Ratna.
“Bisa, Bu. Dokumen yang mana?”
Ratna menjelaskan berkas yang
dimaksud. Imelda kemudian membatalkan rencana singkatnya untuk pergi lebih awal
dan membantu ibunya mencari dokumen tersebut.
Tidak ada persoalan besar, tetapi pagi
itu membuatnya menyadari bahwa beberapa urusan keluarga tidak selalu dapat
diperkirakan. Ia harus mengatur kembali jadwalnya, menghubungi orang yang telah
membuat janji dengannya, dan memastikan semua kebutuhan ibunya terpenuhi.
Ketika pekerjaannya selesai, Imelda
duduk sejenak di ruang keluarga. Ia merasa lelah karena sejak pagi harus
berpindah dari satu urusan ke urusan lain.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Surya masuk.
Bagaimana harimu?
Imelda membalas bahwa ia sedang
membantu ibunya mengurus beberapa keperluan keluarga. Surya kemudian meneleponnya.
“Kamu terdengar lelah,” kata Surya
setelah mendengar suaranya.
“Sedikit. Ada urusan yang harus
diselesaikan sejak pagi.”
“Kamu sudah makan?”
Imelda tersenyum tipis.
“Belum sempat.”
“Kalau begitu, jangan lupa makan.
Urusan lain bisa dilanjutkan setelah kamu punya tenaga.”
Kalimat itu sederhana, tetapi pada
saat itu Imelda merasa diperhatikan. Ia tidak membutuhkan seseorang yang
menyelesaikan semua urusannya. Ia hanya ingin ada orang yang menyadari bahwa
dirinya juga bisa lelah.
“Terima kasih, Surya.”
“Tidak perlu berterima kasih. Aku
hanya mengingatkan.”
Setelah percakapan berakhir, Imelda
menyimpan ponselnya. Ia tidak menganggap perhatian tersebut sebagai sesuatu
yang luar biasa. Justru karena terasa wajar, ia mulai percaya bahwa Surya
memahami kebutuhannya tanpa harus selalu diberi penjelasan.
Surya sendiri merasa senang ketika
mendengar suara Imelda kembali terdengar lebih ringan sebelum mereka mengakhiri
panggilan.
Ia menyukai kenyataan bahwa
kehadirannya dapat membuat perempuan itu merasa lebih baik. Perasaan tersebut
tidak sepenuhnya dibuat-buat. Ia memang mulai peduli pada keadaan Imelda,
meskipun kepedulian itu masih bercampur dengan keinginan untuk mempertahankan
tempatnya dalam kehidupan perempuan tersebut.
Ia belum memahami bahwa perhatian yang
tulus seharusnya tidak digunakan sebagai alasan untuk menutupi ketidakjujuran.
Beberapa hari kemudian, Imelda
menghadapi persoalan yang tidak berkaitan dengan Surya. Salah satu rencana
kegiatan yang telah disusunnya bersama beberapa orang harus diubah karena
terdapat perbedaan jadwal dan kesiapan pihak yang terlibat.
Perubahan itu membuatnya kesulitan
membagi waktu. Ia harus menghubungi beberapa orang, menjelaskan keadaan yang
sebenarnya, dan mencari alternatif agar kegiatan tersebut tetap dapat berjalan.
Imelda bukan tipe orang yang mudah
menyerah ketika menghadapi kesulitan. Namun, ia juga tidak selalu mampu
menyembunyikan kekecewaannya.
Sore itu, Nadia Permatasari datang
menemuinya.
“Kamu belum selesai juga?” tanya Nadia
ketika melihat Imelda masih memeriksa catatan.
“Masih ada beberapa hal yang harus
disesuaikan.”
Nadia menarik kursi dan duduk di
dekatnya.
“Coba kita lihat bersama. Mungkin ada
bagian yang bisa disederhanakan.”
Imelda menyerahkan catatannya. Mereka
kemudian memeriksa urutan pekerjaan, menghubungi pihak yang perlu diberi kabar,
dan membagi beberapa tugas yang masih bisa diselesaikan pada hari itu.
Bantuan Nadia membuat pekerjaan Imelda
terasa lebih ringan.
Setelah semuanya cukup terkendali,
Nadia menutup catatan tersebut.
“Kamu tidak harus mengerjakan semuanya
sendirian, Mel.”
“Aku tahu. Hanya saja, aku merasa
bertanggung jawab karena sejak awal ikut menyusun rencana ini.”
“Bertanggung jawab bukan berarti harus
menanggung semuanya sendirian. Kadang tanggung jawab justru berarti berani
meminta bantuan sebelum keadaan menjadi lebih rumit.”
Imelda tersenyum.
“Sejak kapan kamu jadi seperti orang
yang sedang memberi ceramah?”
Nadia tertawa.
“Sejak sahabatku terlalu sibuk sampai
lupa istirahat.”
Mereka tertawa bersama. Ketegangan yang
sejak tadi memenuhi pikiran Imelda mulai berkurang.
Sebelum pulang, Nadia sempat bertanya
tentang Surya.
“Dia tahu kamu sedang menghadapi
banyak urusan?”
“Ya. Kami tadi sempat berbicara.”
“Bagus. Kamu boleh berbagi cerita
dengannya. Tetapi jangan lupa, kamu juga punya orang-orang lain yang bisa
mendukungmu.”
Imelda mengangguk.
Ia memahami bahwa Nadia tidak berusaha
mengambil tempat Surya dalam kehidupannya. Nadia hanya ingin memastikan bahwa
hubungan yang sedang dibangunnya tidak membuat dirinya menjauh dari orang-orang
yang telah lama menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Bagi Imelda, perhatian dari Surya dan
persahabatan dengan Nadia memiliki tempat yang berbeda. Ia tidak perlu memilih
salah satunya.
Dan karena itulah, ia tidak merasa
bahwa kedekatannya dengan Surya harus mengubah seluruh kehidupannya.
Pada malam berikutnya, Surya mengajak
Imelda bertemu. Mereka memilih sebuah tempat makan yang tidak terlalu ramai
agar bisa berbicara tanpa terganggu suara pengunjung lain.
Surya datang dengan wajah yang lebih
cerah daripada beberapa hari sebelumnya. Ia telah memperoleh tanggapan dari
salah seorang kenalannya mengenai peluang usaha yang sedang dipertimbangkannya.
Belum ada keputusan pasti, tetapi setidaknya ia mulai melihat jalan yang
mungkin ditempuh.
Imelda memperhatikan perubahan itu.
“Kamu kelihatan lebih tenang,”
katanya.
“Sedikit. Ada beberapa hal yang mulai
menemukan titik terang.”
“Syukurlah. Semoga semuanya berjalan
baik.”
Surya tersenyum. Ia merasa senang
karena Imelda ikut bersukacita meskipun belum mengetahui rincian persoalan yang
sedang dihadapinya.
Mereka berbicara cukup lama tentang
pekerjaan, rencana masa depan, dan hal-hal sederhana yang mereka alami selama
beberapa hari terakhir. Imelda menceritakan persoalan yang sempat membuatnya
sibuk, sementara Surya berbagi tentang usahanya mencari peluang yang sesuai
dengan kemampuan.
Kali ini, Surya tidak hanya
mendengarkan. Ia juga mengajukan beberapa pertanyaan mengenai cara Imelda
mengatur waktu dan menghadapi perubahan rencana.
“Kamu selalu berusaha menyelesaikan
semuanya dengan tenang,” katanya.
“Tidak selalu. Kadang aku juga panik.
Hanya saja, kalau aku ikut panik, masalahnya tidak akan selesai.”
Surya tertawa kecil.
“Sepertinya aku perlu belajar darimu.”
“Boleh saja. Tetapi jangan menjadikan aku
tempat belajar semua hal.”
“Kenapa?”
“Karena aku juga masih belajar.”
Jawaban itu membuat mereka tertawa.
Di antara percakapan ringan tersebut,
Surya menyadari bahwa Imelda tidak pernah menuntut dirinya untuk selalu tampil
sempurna. Perempuan itu bisa menerima bahwa seseorang belum berhasil, belum
mengetahui semua jawaban, atau sedang berusaha menemukan jalan.
Surya merasakan kenyamanan yang tidak
mudah ia temukan di tempat lain.
Namun, kenyamanan itu justru membuat
persoalan dalam dirinya semakin rumit. Ia mulai menyukai hubungan mereka bukan
hanya karena kemungkinan yang bisa diperoleh, melainkan juga karena Imelda
memberinya ruang untuk menjadi manusia biasa.
Ia ingin mempertahankan perasaan
tersebut.
Tetapi ia masih ingin mempertahankan
keuntungan yang dibayangkannya sejak awal.
Ia belum memahami bahwa suatu saat,
ketika kedua keinginan itu bertabrakan, ia tidak akan dapat menyelamatkan
keduanya dengan senyuman.
Dalam perjalanan pulang, Surya
menerima telepon dari Fajar Ramadhan.
“Kamu sedang di mana?” tanya Fajar.
“Baru selesai bertemu Imelda.”
“Kalau tidak sibuk, besok kita
bertemu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”
Surya merasa sedikit heran.
“Ada apa?”
“Tidak enak dibicarakan lewat
telepon.”
Surya menyetujuinya, meskipun ia tidak
terlalu menyukai nada serius sahabatnya.
Keesokan harinya, mereka bertemu di
tempat biasa. Fajar datang membawa beberapa catatan mengenai peluang pekerjaan
yang pernah mereka bicarakan sebelumnya. Ia ingin menunjukkan kepada Surya
bahwa masih ada jalan untuk memperbaiki keadaan ekonomi tanpa menggantungkan
harapan pada hubungan dengan Imelda.
“Aku menemukan informasi tentang
pekerjaan yang mungkin cocok dengan kemampuanmu,” kata Fajar sambil menyerahkan
catatan itu.
Surya memeriksanya.
“Penghasilannya tidak terlalu besar.”
“Memang tidak langsung besar. Tetapi
kamu bisa memulai dari sesuatu yang nyata, membangun pengalaman, lalu melihat
peluang berikutnya.”
Surya membaca beberapa baris lagi
sebelum meletakkan catatan tersebut.
“Aku menghargai usahamu, Jar.”
“Kalau begitu, pertimbangkan dengan
serius.”
Surya terdiam. Ia tahu Fajar berusaha
membantunya. Namun, kesempatan yang ditawarkan sahabatnya terasa lebih lambat
daripada jalan yang selama ini dibayangkannya.
“Aku ingin melakukan sesuatu yang
lebih besar daripada sekadar mencari pekerjaan.”
“Tidak ada yang melarangmu punya
cita-cita besar. Tetapi kamu perlu membangun dasar yang kuat.”
Surya mengusap wajahnya.
“Kamu tahu apa yang membuatku lelah?
Aku sudah lama berusaha, tetapi rasanya selalu berada di tempat yang sama.”
Fajar mendengarkan tanpa memotong.
“Aku ingin sekali merasakan hidup
tanpa terus-menerus memikirkan uang. Aku ingin punya sesuatu yang bisa
kubanggakan.”
Fajar mengangguk. Untuk pertama
kalinya dalam percakapan itu, ia melihat sisi Surya yang lebih terbuka daripada
biasanya.
“Aku mengerti. Aku tidak mengatakan
kamu harus puas dengan keadaan sekarang. Aku hanya ingin kamu tidak
mengorbankan orang lain demi mempercepat perubahan.”
Surya menunduk.
“Aku tidak pernah berniat menyakiti
Imelda.”
“Kalau begitu, jangan lakukan sesuatu
yang kamu tahu bisa melukainya.”
Kalimat itu membuat Surya kembali
terdiam.
Fajar tidak tahu seberapa jauh
sahabatnya telah melangkah dalam pikirannya. Ia juga tidak memiliki bukti bahwa
Surya telah meminta atau mengambil keuntungan dari keluarga Yuliana. Karena
itu, ia tidak menuduhnya melakukan sesuatu yang belum terjadi.
Ia hanya berusaha mengingatkan bahwa
niat yang tidak diluruskan sejak awal dapat berubah menjadi tindakan yang
semakin sulit dihentikan.
Sebelum mereka berpisah, Fajar kembali
menyodorkan catatan peluang pekerjaan tersebut.
“Pikirkan dulu. Kamu tidak harus
mengambil keputusan hari ini.”
Surya menerimanya.
Ia belum berjanji akan mengikuti saran
Fajar, tetapi kali ini ia tidak langsung menolak.
Beberapa hari berikutnya, hubungan
Imelda dan Surya semakin akrab. Mereka mulai terbiasa berbagi kabar tentang
kegiatan masing-masing. Imelda bercerita ketika mengalami kesulitan, sementara
Surya sesekali mengungkapkan rasa lelahnya menghadapi keadaan ekonomi.
Keterbukaan itu membuat Imelda merasa
bahwa hubungan mereka berkembang ke arah yang baik.
Ia tidak menganggap Surya harus
menyelesaikan semua persoalannya dengan cepat. Ia juga tidak merasa perlu
mengambil alih urusan laki-laki itu. Baginya, hubungan yang sehat memungkinkan
dua orang saling mendukung tanpa kehilangan tanggung jawab atas kehidupan
masing-masing.
Suatu malam, Surya bercerita bahwa ia
sempat merasa malu ketika melihat beberapa teman sebayanya telah mencapai
keberhasilan yang lebih besar.
Imelda mendengarkan dengan
sungguh-sungguh.
“Aku tahu rasanya melihat orang lain
sudah sampai di tempat yang kita inginkan,” katanya. “Tetapi kita tidak selalu
tahu bagaimana mereka sampai ke sana. Kita juga tidak tahu masalah apa yang
mereka hadapi.”
Surya mengangguk.
“Kadang aku merasa tertinggal.”
“Tidak semua orang berjalan dengan
kecepatan yang sama, Surya. Yang penting, kamu tahu ke mana kamu ingin pergi
dan tetap menjaga cara yang kamu tempuh.”
Surya memandangnya.
“Kalau jalannya panjang?”
“Ya, jalani sedikit demi sedikit.”
“Kalau kesempatan yang lebih cepat
datang?”
Imelda tidak langsung menjawab. Ia
mencoba memahami maksud pertanyaan itu.
“Kalau memang kesempatan yang baik,
tentu boleh dipertimbangkan. Tetapi jangan hanya melihat hasil akhirnya. Kamu
juga harus melihat apa yang harus dikorbankan untuk mendapatkannya.”
Surya menunduk.
Jawaban itu terasa sederhana bagi
Imelda, tetapi tidak mudah baginya untuk menerimanya. Selama ini, ia selalu
mengukur sebuah kesempatan dari seberapa besar perubahan yang dapat dihasilkan.
Ia jarang bertanya apakah cara yang ditempuh akan membuatnya kehilangan sesuatu
yang tidak dapat diganti.
Imelda melanjutkan, “Aku tidak ingin
kamu menyerah pada cita-citamu. Aku hanya ingin kamu berhasil dengan cara yang
kelak bisa kamu banggakan.”
Surya mengangguk pelan.
“Terima kasih, Mel.”
Imelda tersenyum.
Ia tidak mengetahui bahwa percakapan
itu menyentuh tepat pada bagian yang sedang disembunyikan Surya. Ia tidak
sedang menuntut pengakuan. Ia hanya berbicara berdasarkan nilai-nilai yang
selama ini ia pegang.
Surya dapat memilih untuk menjadikan
kata-kata itu sebagai alasan untuk memperbaiki dirinya.
Namun, ia juga dapat memilih untuk
mengabaikannya.
Dan saat itu, ia belum benar-benar
menentukan pilihan.
Pada suatu sore, Hendra Yuliana
meminta Imelda membantu memeriksa beberapa catatan yang berkaitan dengan urusan
keluarga. Mereka duduk di ruang kerja, membandingkan dokumen dan memastikan
tidak ada informasi yang terlewat.
Di sela-sela pekerjaan, Hendra
bertanya tentang kegiatan Imelda akhir-akhir ini.
“Bagaimana kabar Surya?”
“Baik, Yah. Dia sedang berusaha
mengembangkan rencana pekerjaannya.”
“Bagus. Semoga dia menemukan jalan
yang sesuai.”
Imelda tersenyum.
“Ayah tidak keberatan kalau aku terus
mendukungnya?”
Hendra meletakkan dokumen yang sedang
diperiksanya.
“Mendukung seseorang bukan masalah,
selama kamu tahu batasnya. Bapak tidak ingin kamu merasa harus bertanggung
jawab atas semua keputusan orang lain.”
Imelda mengangguk.
“Aku tidak bermaksud mengambil alih
persoalannya, Yah. Aku hanya ingin dia tahu bahwa ada orang yang mendukungnya.”
“Itu baik. Tetapi ingat, orang yang
benar-benar ingin membangun kehidupannya juga harus bersedia bertanggung jawab
atas pilihannya sendiri.”
Hendra tidak berbicara dengan
prasangka terhadap Surya. Ia hanya ingin Imelda memahami bahwa kasih sayang
tidak menghapus kebutuhan untuk memiliki batas.
“Apakah Ayah masih belum yakin
kepadanya?” tanya Imelda.
Hendra berpikir sejenak.
“Bapak belum mengenalnya cukup lama
untuk memberikan penilaian akhir. Tetapi Bapak juga tidak punya alasan untuk
melarangmu mengenalnya lebih jauh.”
Imelda menerima jawaban itu dengan
tenang.
Hendra kemudian melanjutkan pekerjaan
mereka. Ia tidak ingin pembicaraan tentang Surya menguasai seluruh waktu yang
mereka miliki.
Bagi Imelda, sikap ayahnya menunjukkan
bahwa ia dipercaya untuk mengambil keputusan sendiri. Ia merasa dihargai
sebagai seseorang yang mampu menimbang perasaannya dengan pertimbangan yang
matang.
Ia tidak mengetahui bahwa kepercayaan
yang diberikan keluarganya itu kelak akan membuatnya semakin sulit menerima
kenyataan apabila orang yang dipilihnya ternyata tidak jujur.
Malam itu, Ratna melihat Imelda sedang
duduk di ruang keluarga sambil membaca beberapa pesan di ponselnya.
“Kamu sedang berbicara dengan Surya?”
tanyanya.
Imelda mengangguk.
“Dia sedang bercerita tentang rencana
pekerjaannya.”
Ratna duduk di kursi sebelah.
“Kalau kamu merasa nyaman berbagi
cerita dengannya, itu baik. Hubungan memang membutuhkan keterbukaan.”
Imelda meletakkan ponselnya.
“Menurut Ibu, apakah aku terlalu
banyak terlibat dalam kehidupannya?”
Ratna memandang putrinya dengan
lembut.
“Apakah kamu merasa kehilangan waktu
untuk dirimu sendiri?”
“Tidak. Aku masih bisa mengurus
pekerjaanku dan melakukan hal-hal yang biasa kulakukan.”
“Kalau begitu, tidak perlu terlalu
mengkhawatirkan sesuatu yang belum menjadi masalah. Tetaplah memperhatikan
bagaimana hubungan itu berjalan.”
Imelda mengangguk.
Ratna tidak ingin menanamkan
kecurigaan tanpa dasar. Ia hanya berharap putrinya mampu membedakan antara
perhatian dan tanggung jawab, antara mendukung seseorang dan mengambil alih
seluruh bebannya.
“Mel,” lanjut Ratna, “orang yang kita
sayangi tidak harus selalu kuat. Dia boleh memiliki kesulitan, boleh
membutuhkan bantuan, dan boleh belum berhasil. Tetapi dia juga harus menghormati
kita dengan bersikap jujur.”
Imelda tersenyum kecil.
“Aku mengerti, Bu.”
Ratna mengusap bahu putrinya sebelum
berdiri. Ia percaya Imelda mampu memahami nasihat itu tanpa harus dipaksa
melihat dunia sebagai tempat yang penuh kecurigaan.
Setelah ibunya pergi, Imelda kembali
membuka ponsel. Ia membaca pesan Surya yang menceritakan perkembangan kecil
dalam rencana pekerjaannya.
Ia membalas dengan ucapan semangat.
Bagi Imelda, itulah bentuk dukungan
yang wajar. Ia tidak memberikan janji yang berlebihan, tidak menawarkan sesuatu
yang belum diminta, dan tidak menganggap dirinya sebagai penyelamat.
Ia hanya ingin Surya tahu bahwa
perjuangannya tidak harus dijalani dengan perasaan sendirian.
Sementara Imelda semakin yakin
terhadap hubungan mereka, Surya mulai menghadapi persoalan yang tidak bisa
diselesaikan hanya dengan menjaga sikap.
Salah seorang kenalannya meminta
kepastian mengenai sebuah peluang yang sebelumnya telah dibicarakan. Surya
harus menentukan apakah akan melanjutkan rencana itu atau mundur sebelum
persoalannya berkembang lebih jauh.
Ia memeriksa kembali perhitungan yang
dibuatnya. Ada beberapa kebutuhan yang belum dapat ia penuhi. Jika ia tetap
memaksakan diri, ia berisiko menghadapi kesulitan yang lebih besar.
Untuk pertama kalinya, ia
mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh kemungkinan untuk menunda rencana
tersebut.
Namun, keputusan itu terasa seperti
kekalahan.
Ia membayangkan bagaimana jika orang
lain berhasil mengambil peluang yang sama. Ia juga membayangkan bagaimana jika
dirinya terus berada dalam keadaan ekonomi yang tidak berubah, sementara
orang-orang di sekitarnya semakin maju.
Pikiran itu membuatnya kembali mencari
kemungkinan lain.
Ia membuka percakapan dengan Imelda,
lalu berhenti sebelum mengetik. Ia tidak ingin meminta bantuan secara langsung.
Namun, ia juga tidak dapat menyangkal bahwa hubungan mereka membuat kemungkinan
tersebut terus terlintas dalam pikirannya.
Ia menutup ponsel dan berdiri.
Surya ingin percaya bahwa ia masih
dapat mengendalikan keadaan. Ia ingin meyakini bahwa dirinya bisa terus menjaga
perasaan Imelda sekaligus mengejar ambisi yang selama ini menguasainya.
Tetapi ada persoalan yang tidak dapat
diatasi hanya dengan kecakapan berbicara.
Jika ia terus membiarkan Imelda
percaya bahwa dirinya datang dengan niat yang sepenuhnya tulus, sementara ia
tetap memelihara tujuan tersembunyi, maka kepercayaan perempuan itu perlahan
akan berubah menjadi sesuatu yang ia manfaatkan.
Dan pada saat itu, kebaikan yang
diberikan Imelda bukan lagi sekadar bentuk kasih sayang.
Kebaikan itu akan menjadi sesuatu yang
diterima Surya tanpa memberikan kejujuran yang sepadan.
Hari-hari berikutnya berjalan tanpa
pertengkaran besar. Imelda tetap menyayangi Surya, Nadia tetap menjadi sahabat
yang dapat diandalkan, dan keluarga Yuliana tetap memberikan ruang bagi
hubungan mereka untuk berkembang.
Fajar pun belum menyerah mengingatkan
sahabatnya. Ia masih berharap Surya mampu membedakan antara ambisi yang sehat
dan keinginan memperoleh keuntungan melalui kepercayaan orang lain.
Tidak seorang pun berusaha memaksa
Surya mengambil keputusan tertentu. Mereka hanya menunjukkan jalan yang menurut
mereka lebih baik.
Pada akhirnya, pilihan tetap berada di
tangan Surya sendiri.
Suatu malam, ia membaca kembali
percakapan-percakapan dengan Imelda. Ada pesan sederhana yang menanyakan
kabarnya, cerita tentang kegiatan sehari-hari, dan ucapan semangat ketika ia
menghadapi kesulitan.
Semua itu mengingatkannya bahwa Imelda
tidak sedang menuntut sesuatu yang berlebihan.
Perempuan itu memberinya waktu,
perhatian, dan kesempatan untuk menjadi bagian dari kehidupannya.
Surya merasakan kehangatan ketika
membaca pesan-pesan tersebut. Ia juga merasakan kegelisahan karena mengetahui
bahwa kepercayaan itu dibangun di atas pemahaman yang belum utuh.
Ia ingin terus menerima kehangatan
itu.
Namun, ia belum siap membayar harga
yang dibutuhkan untuk menjaganya: kejujuran, keterbukaan, dan kesediaan
melepaskan keuntungan yang mungkin tidak pantas ia peroleh.
Surya meletakkan ponselnya dan
mematikan lampu kamar.
Malam itu, ia belum melakukan tindakan
yang membuat rahasianya terbongkar. Tidak ada pertengkaran, tidak ada tuduhan,
dan tidak ada perpisahan.
Justru karena semuanya masih terlihat
baik-baik saja, ia semakin mudah menunda persoalan yang seharusnya diselesaikan.
Imelda mempercayainya karena ia
melihat perhatian dan kesungguhan dalam tindakan sehari-hari.
Surya menikmati kepercayaan itu karena
membuatnya merasa diterima dan membuka kemungkinan bagi masa depan yang
diinginkannya.
Keduanya masih berjalan dalam hubungan
yang sama, tetapi tidak sepenuhnya memahami arti hubungan tersebut bagi satu
sama lain.
Bagi Imelda, kepercayaan adalah
keberanian untuk membuka hati kepada seseorang yang dianggapnya layak.
Bagi Surya, kepercayaan telah menjadi
sesuatu yang membuatnya enggan melepaskan hubungan, meskipun ia belum bersedia
mengungkapkan seluruh kebenaran.
Dan ketika kepercayaan tumbuh semakin
dalam, kebohongan yang disembunyikan tidak ikut mengecil.
Ia justru memperoleh ruang yang lebih
besar untuk melukai.
BAB VIII
RETAK DI BALIK SENYUMAN
Ada kalanya sebuah hubungan terlihat
baik-baik saja bukan karena tidak memiliki masalah, melainkan karena salah satu
pihak belum mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Imelda Yuliana masih melihat Surya
Pratama sebagai lelaki yang sama seperti ketika mereka pertama kali saling
mengenal. Lelaki yang bersedia mendengarkan ceritanya, mengingat hal-hal kecil
tentang dirinya, dan memberikan perhatian tanpa harus diminta. Di tengah
kesibukan masing-masing, kehadiran Surya masih menjadi bagian yang membuat
hari-harinya terasa lebih hangat.
Namun, di balik kedekatan itu, Surya
mulai menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan.
Bukan sebuah rahasia besar yang
langsung mengubah segalanya. Bukan pula kebohongan yang dapat dengan mudah
dibuktikan. Yang tumbuh di dalam dirinya justru sebuah harapan yang perlahan
mengambil tempat semakin besar: keinginan untuk memanfaatkan peluang yang
mungkin terbuka melalui keluarga Imelda.
Ia belum meminta uang kepada Hendra
Yuliana. Ia belum menerima bantuan keuangan dari keluarga itu. Bahkan, rencana
usahanya sendiri belum cukup matang untuk dijadikan dasar sebuah kerja sama.
Akan tetapi, dalam pikirannya,
kedekatannya dengan Imelda telah membuka kemungkinan yang sebelumnya tidak ia
miliki.
Dan sejak saat itu, ia mulai melihat
hubungannya dari dua arah yang berbeda.
Di satu sisi, ada Imelda, perempuan
yang perlahan ia cintai dengan perasaan yang tidak sepenuhnya dapat ia
kendalikan. Di sisi lain, ada peluang untuk mengubah keadaan hidupnya, peluang
yang membuatnya sulit membedakan antara keinginan untuk berhasil dan godaan
untuk memperoleh jalan yang lebih mudah.
Surya ingin mempercayai dirinya
sendiri bahwa ia masih dapat menjaga keduanya.
Ia hanya belum menyadari bahwa
keinginan tersebut akan menuntut sesuatu yang semakin sulit ia berikan:
kejujuran sepenuhnya.
Pagi itu, Surya duduk di sebuah warung
sederhana sambil memperhatikan layar telepon genggamnya. Sebuah pesan dari
kenalannya mengenai peluang usaha kembali muncul.
Pembicaraan mereka sebelumnya belum
menghasilkan keputusan. Masih ada sejumlah perhitungan yang perlu diperbaiki,
kebutuhan modal yang harus diperjelas, dan risiko yang belum sepenuhnya dapat
dipastikan. Kesempatan itu memang masih terbuka, tetapi tidak ada jaminan bahwa
Surya akan mampu memanfaatkannya.
Ia membaca pesan tersebut dua kali,
kemudian meletakkan telepon di atas meja.
Pikirannya bergerak jauh melampaui
keadaan yang sedang dihadapinya.
Ia membayangkan bagaimana kehidupannya
akan berubah apabila rencana itu berhasil. Ia dapat memiliki usaha yang lebih
mapan, membangun masa depan dengan lebih percaya diri, dan membuktikan kepada
banyak orang bahwa dirinya bukan seseorang yang hanya pandai bermimpi.
Tetapi setiap kali ia kembali
menghitung apa yang dibutuhkan untuk mencapai semua itu, ia selalu berhadapan
dengan kenyataan yang sama.
Modalnya terbatas. Rencananya belum
sempurna. Pengalamannya masih perlu dikembangkan.
Ia tidak kekurangan keinginan. Ia
kekurangan kesiapan.
Surya mengusap wajahnya, lalu kembali
menatap telepon genggamnya. Nama Imelda muncul dalam daftar percakapan. Ia
teringat bahwa perempuan itu pernah menawarkan untuk membantunya mencari sudut
pandang lain ketika ia menghadapi persoalan pekerjaan.
Imelda tidak pernah menjanjikan uang.
Ia tidak pernah mengatakan akan meminta ayahnya membantu Surya. Namun, Surya
mengetahui bahwa Hendra memiliki pengalaman dalam dunia usaha dan jaringan yang
lebih luas daripada dirinya.
Pikiran itu terus berputar.
Ia dapat meminta nasihat kepada
Hendra. Hal itu bukan sesuatu yang salah. Ia juga tidak harus merasa rendah
diri hanya karena membutuhkan pandangan dari orang yang lebih berpengalaman.
Namun, di balik keinginan untuk
memperoleh nasihat tersebut, ada harapan lain yang tidak mudah ia akui.
Ia berharap pembicaraan itu dapat
membuka kesempatan yang lebih besar.
Surya menarik napas panjang.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa
selama tidak meminta sesuatu secara langsung, ia belum melakukan kesalahan. Ia
hanya sedang mempertimbangkan kemungkinan. Ia hanya ingin mencari jalan untuk
memperbaiki kehidupan.
Pembenaran itu terdengar masuk akal.
Sayangnya, ia tidak bertanya kepada
dirinya sendiri mengapa kemungkinan tersebut menjadi begitu penting justru
setelah ia menjalin hubungan dengan Imelda.
Menjelang siang, Imelda
menghubunginya.
“Surya, kamu sedang sibuk?”
“Tidak terlalu. Ada apa, Melda?”
“Aku cuma ingin tahu kabarmu. Kemarin
kamu bilang sedang memikirkan rencana usaha. Bagaimana perkembangannya?”
Surya memandang catatan kecil di
samping gelasnya.
“Masih dalam proses. Ada beberapa hal
yang harus kuperhitungkan lagi.”
“Bagus kalau kamu tidak terburu-buru.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu kamu ingin segera
melihat hasilnya. Tapi, menurutku, lebih baik berjalan sedikit lambat daripada
mengambil keputusan yang justru membuatmu kesulitan.”
Surya tersenyum tipis.
“Kamu selalu punya cara untuk membuat
orang berpikir lebih tenang.”
“Karena aku ingin kamu berhasil, bukan
sekadar cepat sampai.”
Kalimat itu membuat Surya terdiam.
Ia mengenal ketulusan Imelda.
Perempuan itu tidak pernah menuntutnya menjadi orang kaya. Ia tidak pernah
membandingkan kehidupannya dengan kehidupan keluarga Yuliana. Bahkan, ketika
Surya bercerita tentang keterbatasannya, Imelda tidak pernah membuatnya merasa
rendah diri.
Bagi Imelda, kesungguhan seseorang
jauh lebih penting daripada kemewahan yang dapat dipamerkan.
Justru karena itulah Surya merasa
semakin sulit menjelaskan apa yang sedang berlangsung di dalam pikirannya.
“Kalau kamu membutuhkan pendapat orang
lain, kamu bisa membicarakannya dengan Ayah,” ujar Imelda. “Beliau punya
pengalaman. Siapa tahu ada hal yang bisa kamu pelajari.”
Surya menegakkan tubuhnya.
“Menurutmu, Ayahmu tidak keberatan?”
“Kenapa harus keberatan? Kamu kan
ingin meminta pendapat, bukan memaksanya memberikan sesuatu.”
Surya terdiam beberapa saat.
Imelda melanjutkan, “Yang penting,
kamu menjelaskan rencanamu apa adanya. Kalau ada bagian yang belum siap,
katakan saja belum siap. Tidak ada gunanya terlihat hebat kalau akhirnya kamu
sendiri kesulitan menjalankannya.”
Surya menelan ludah.
Kata-kata itu begitu sederhana, tetapi
terasa seperti menyentuh bagian dirinya yang paling ia lindungi.
Ia tahu Imelda tidak sedang
menyindirnya. Perempuan itu bahkan tidak mengetahui bahwa ia telah
mempertimbangkan kemungkinan untuk mendekati keluarganya melalui hubungan
mereka.
“Aku akan memikirkannya,” jawab Surya.
“Baiklah. Aku percaya kamu bisa
menentukan langkah yang tepat.”
Setelah percakapan berakhir, Surya
tidak segera beranjak dari tempat duduknya.
Ia merasa disayangi, tetapi sekaligus
merasa sedang menyembunyikan sesuatu dari orang yang menyayanginya.
Imelda telah memberinya ruang untuk
berbicara secara terbuka. Ia tidak menuntut Surya tampil sempurna. Ia hanya
menginginkan kejujuran.
Namun, Surya masih lebih takut
kehilangan pandangan baik Imelda terhadap dirinya daripada menghadapi kenyataan
tentang apa yang sebenarnya ia inginkan.
Ia memilih diam.
Dan diam yang semula terasa aman mulai
berubah menjadi beban.
Sore harinya, Fajar Ramadhan datang
menemui Surya.
Fajar mengenal Surya jauh sebelum nama
Imelda masuk ke dalam kehidupannya. Ia mengetahui bagaimana sahabatnya itu
sering merasa tertinggal ketika melihat orang lain mencapai keberhasilan lebih
cepat. Ia juga memahami bahwa keinginan Surya untuk memperbaiki keadaan hidup
bukan sesuatu yang muncul tanpa alasan.
Namun, Fajar mulai melihat perubahan
dalam cara Surya berbicara tentang masa depan.
Dahulu, Surya lebih banyak membahas
pekerjaan yang dapat ia lakukan dengan kemampuan sendiri. Belakangan,
pembicaraannya semakin sering mengarah pada siapa yang mungkin dapat
membantunya, siapa yang memiliki jaringan luas, dan siapa yang dapat membuka
kesempatan lebih besar.
“Bagaimana rencana usahamu?” tanya
Fajar setelah mereka duduk.
“Masih kupikirkan.”
“Sudah ada perhitungan yang lebih jelas?”
“Belum semuanya.”
Fajar mengangguk pelan.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
Surya tidak langsung menjawab.
“Aku sedang mempertimbangkan untuk
meminta pendapat ayah Imelda.”
Fajar menatapnya.
“Meminta pendapat?”
“Iya. Beliau punya pengalaman. Aku pikir
tidak ada salahnya berdiskusi.”
“Kalau memang itu tujuanmu, tentu
tidak ada yang salah.”
Surya mengangkat wajahnya.
“Tetapi?”
Fajar menghela napas.
“Tetapi aku ingin kamu jujur kepada
dirimu sendiri. Apakah kamu benar-benar hanya ingin meminta pendapat, atau kamu
berharap hubunganmu dengan Imelda akan membuatmu lebih mudah memperoleh
kesempatan?”
Surya mengerutkan kening.
“Kamu pikir aku mendekati Imelda hanya
karena keluarganya?”
“Aku tidak mengatakan semua perasaanmu
palsu.”
“Lalu kenapa kamu terus mempermasalahkan
ini?”
“Karena aku melihat bagaimana kamu
mulai menghitung keuntungan dari hubungan itu.”
Surya terdiam.
Fajar tidak meninggikan suara. Ia
tidak berusaha mempermalukan sahabatnya. Justru ketenangannya membuat perkataan
itu sulit diabaikan.
“Aku tahu kamu ingin mengubah
hidupmu,” lanjut Fajar. “Aku mendukungmu. Tetapi jangan sampai kamu membangun
harapan bisnis di atas kepercayaan seorang perempuan yang bahkan tidak tahu apa
yang sedang kamu rencanakan.”
“Aku belum meminta uang kepadanya.”
“Aku tahu.”
“Aku juga belum meminta apa pun kepada
keluarganya.”
“Aku juga tahu.”
Surya menatap Fajar dengan kesal.
“Kalau begitu, apa yang sebenarnya
kamu takutkan?”
Fajar menjawab dengan tegas, “Aku
takut kamu menunggu sampai semuanya menjadi terlalu jauh untuk mengakui
alasanmu yang sebenarnya.”
Kalimat itu membuat Surya kehilangan
jawaban.
Ia ingin membantah. Ia ingin
mengatakan bahwa dirinya masih memegang kendali dan belum melakukan sesuatu
yang merugikan siapa pun.
Namun, di dalam hati, ia tahu bahwa persoalannya
bukan semata-mata tentang uang yang sudah atau belum diterima.
Persoalannya adalah niat yang mulai ia
sembunyikan.
“Aku hanya ingin mendapatkan
kesempatan,” kata Surya akhirnya.
“Kalau begitu, carilah kesempatan
dengan cara yang benar. Kamu boleh meminta nasihat, mengajukan rencana, atau
membangun kerja sama. Tetapi jangan membuat Imelda percaya bahwa hubungan
kalian tidak memiliki kepentingan lain apabila kamu sendiri masih menyimpan
harapan yang berbeda.”
Surya menunduk.
Fajar melanjutkan, “Kamu tidak harus
menjadi orang kaya untuk pantas dicintai. Tetapi kamu harus bertanggung jawab
atas cara kamu memperlakukan orang yang mencintaimu.”
Tidak ada jawaban setelah itu.
Percakapan mereka berakhir dengan
suasana yang lebih sunyi daripada ketika dimulai. Fajar tidak memaksa Surya
mengakui sesuatu yang belum siap diakuinya. Ia hanya meninggalkan peringatan
yang mungkin akan kembali terdengar ketika Surya harus menghadapi akibat dari
pilihannya sendiri.
Surya tahu sahabatnya tidak sedang
menghalangi masa depannya.
Yang membuatnya tidak nyaman adalah
kemungkinan bahwa Fajar benar.
Beberapa hari kemudian, Surya kembali
berkunjung ke rumah keluarga Yuliana.
Kunjungan itu berlangsung sederhana.
Ratna menyambutnya dengan ramah, sedangkan Hendra berbincang dengannya mengenai
pekerjaan dan keadaan usaha secara umum.
Tidak ada pertanyaan yang membuat
Surya merasa terpojok. Tidak ada pula pembicaraan mengenai uang atau tawaran
kerja sama.
Namun, ketika percakapan beralih pada
pentingnya menyusun rencana sebelum memulai usaha, Surya kembali merasakan
kegelisahan yang sama.
“Orang yang ingin memulai usaha harus
mengenali kemampuan dirinya sendiri,” kata Hendra. “Jangan hanya menghitung
kemungkinan keuntungan. Risiko dan kemampuan menanggung kerugian juga harus dipertimbangkan.”
Surya mengangguk.
“Betul, Pak.”
“Kalau rencananya belum matang, tidak
perlu malu mengakuinya. Lebih baik memperbaiki perhitungan daripada memberikan
gambaran seolah-olah semuanya sudah siap.”
Surya menatap Hendra.
Lelaki itu berbicara dengan tenang,
seolah sedang menyampaikan nasihat umum. Tidak ada tanda bahwa ia mencurigai
maksud Surya. Tidak ada alasan bagi Surya untuk merasa sedang diselidiki.
Namun, justru sikap terbuka itu
membuat Surya semakin menyadari bahwa ia memiliki kesempatan untuk berbicara
jujur.
Ia bisa menceritakan rencana usahanya.
Ia bisa mengatakan bahwa modalnya terbatas. Ia bisa meminta pendapat tanpa
mengharapkan sesuatu yang belum tentu diberikan.
Tetapi ia juga tahu bahwa apabila ia
mulai berbicara, ia harus bersedia menerima kemungkinan bahwa Hendra tidak akan
menawarkan apa pun selain nasihat.
Dan ia takut menghadapi kemungkinan
tersebut.
Bukan karena nasihat tidak berguna,
melainkan karena diam-diam ia berharap mendapatkan lebih banyak.
Pembicaraan sore itu berlanjut pada
hal-hal lain. Surya tetap bersikap sopan dan menjawab setiap pertanyaan dengan
baik. Dari luar, ia tidak berbeda dari lelaki yang selama ini dikenal keluarga
Yuliana.
Ketika berpamitan, Hendra berkata,
“Kalau suatu saat kamu ingin berdiskusi tentang rencana usahamu, siapkan saja
bahan-bahannya. Kita bisa membicarakannya dengan baik.”
Surya tersenyum.
“Terima kasih, Pak. Saya akan
mempertimbangkannya.”
Ia pulang dengan membawa kesempatan
yang nyata untuk berdiskusi, tetapi tanpa jaminan bahwa kesempatan itu akan
berubah menjadi bantuan.
Dalam perjalanan, ia kembali
memikirkan nasihat Hendra.
Jangan memberikan gambaran seolah-olah
semuanya sudah siap.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi
menyentuh persoalan yang lebih luas daripada urusan bisnis.
Bukankah selama ini ia juga sedang
berusaha memberikan gambaran tertentu kepada Imelda?
Gambaran tentang lelaki yang tulus,
mandiri, dan tidak memiliki kepentingan tersembunyi dalam hubungan mereka.
Surya menghela napas.
Ia tidak ingin kehilangan Imelda.
Namun, ia juga belum bersedia melepaskan harapan yang tumbuh dari kedekatannya
dengan keluarga perempuan itu.
Ia masih percaya dapat mengatur
keduanya tanpa harus mengungkapkan seluruh isi pikirannya.
Keyakinan itulah yang membuatnya
semakin sulit melihat bahaya yang sedang mendekat.
Malam itu, Imelda mengirim pesan
kepadanya.
Bagaimana harimu?
Surya membaca pesan tersebut, lalu
membalas bahwa semuanya berjalan baik.
Imelda kemudian menanyakan apakah ia
sudah memutuskan langkah selanjutnya untuk rencana usahanya.
Surya mengetik beberapa kalimat,
menghapusnya, kemudian mengetik kembali.
Ia hampir menulis bahwa dirinya sedang
mempertimbangkan untuk meminta waktu berdiskusi dengan Hendra. Namun, ia
mengurungkan niat itu.
Belum ada pembicaraan yang pasti,
pikirnya. Tidak ada gunanya menceritakan sesuatu yang belum terjadi.
Akhirnya, ia menjawab bahwa rencananya
masih dalam pertimbangan dan ia akan memberi kabar apabila sudah ada
perkembangan.
Jawaban itu tidak sepenuhnya salah.
Akan tetapi, Surya tahu bahwa ia sengaja tidak menceritakan seluruh pikirannya
kepada Imelda.
Imelda membalas dengan singkat,
menyemangatinya agar tidak terburu-buru.
Surya menatap pesan tersebut cukup
lama.
Ia teringat bagaimana perempuan itu
selalu berusaha membuatnya merasa cukup sebagai dirinya sendiri. Imelda tidak
pernah memintanya menjadi seseorang yang lebih kaya atau lebih berkuasa. Ia
hanya ingin Surya jujur mengenai siapa dirinya, apa yang diinginkannya, dan
bagaimana ia berencana menjalani hidup.
Namun, Surya masih mengukur dirinya melalui
sesuatu yang berbeda.
Ia ingin berhasil secepat mungkin. Ia
ingin membuktikan bahwa dirinya mampu. Ia ingin menghapus perasaan tertinggal
yang selama ini mengganggunya.
Tanpa sadar, ia mulai menganggap
kejujuran sebagai risiko yang dapat menghambat tujuannya.
Ia tidak menyadari bahwa justru sikap
itulah yang dapat menghancurkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada
peluang usaha yang sedang dikejarnya.
Kepercayaan Imelda.
Surya akhirnya membuka percakapan
dengan Hendra dan mulai menyusun pesan untuk meminta waktu berdiskusi tentang
rencana usahanya.
Ia membaca kembali kalimat yang telah
ditulisnya. Permintaannya terdengar wajar dan sopan. Ia tidak meminta dana,
tidak pula menyampaikan harapan mengenai kerja sama.
Ia hanya ingin berbicara.
Namun, di dalam hatinya, Surya
mengetahui bahwa ia berharap pembicaraan itu menjadi pintu menuju sesuatu yang
lebih besar.
Setelah beberapa saat, ia mengirim
pesan tersebut.
Tidak ada jawaban langsung. Surya
meletakkan teleponnya dan bersandar di kursi.
Ia belum tahu bagaimana Hendra akan
menanggapi permintaannya. Ia juga belum mengetahui apakah pertemuan itu akan
menghasilkan sesuatu yang berguna bagi rencana usahanya.
Tetapi satu hal telah berubah.
Untuk pertama kalinya, ambisinya tidak
lagi hanya berada di dalam pikirannya sendiri. Ia mulai membawa hubungan
pribadinya dengan Imelda ke dalam ruang yang berhubungan dengan kepentingan
masa depannya.
Langkah itu belum menjadi sebuah
kesalahan yang sepenuhnya terwujud. Meminta pendapat seseorang yang lebih
berpengalaman bukanlah tindakan yang salah. Mencari peluang dan berusaha
memperbaiki keadaan hidup juga bukan sesuatu yang patut disalahkan.
Yang menjadi persoalan adalah bagian
yang belum berani ia ungkapkan: harapannya untuk mendapatkan keuntungan dari
kedekatan tersebut, sementara Imelda masih mempercayai hubungan mereka sebagai
ikatan yang dibangun atas dasar ketulusan.
Surya mematikan layar teleponnya.
Ia masih mencintai Imelda, setidaknya
dengan perasaan yang kini mulai tumbuh lebih dalam daripada rencana awalnya.
Namun, perasaan itu belum membuatnya berani menempatkan kejujuran di atas
kepentingannya sendiri.
Ia masih ingin mempertahankan senyum
Imelda.
Ia masih ingin mendengar perempuan itu
mengatakan bahwa ia percaya kepadanya.
Dan ia masih ingin mengejar masa depan
yang dibayangkannya.
Tetapi ia memilih untuk tidak
memperlihatkan bahwa ketiga keinginan itu mulai saling bertentangan.
Di mata Imelda, Surya masih lelaki
yang sama, seseorang yang sedang berjuang membangun masa depan dan layak
mendapatkan dukungan.
Di dalam diri Surya, sebuah
perhitungan diam-diam terus berlangsung, membandingkan risiko kehilangan cinta
dengan kemungkinan memperoleh kesempatan.
Senyumannya belum berubah.
Kata-katanya masih terdengar meyakinkan. Perhatiannya masih terasa tulus.
Namun, di balik semua itu, sebuah
retakan mulai terbentuk.
Retakan yang belum terlihat oleh
Imelda, tetapi perlahan mengubah cara Surya memandang kepercayaan yang telah
diberikan kepadanya.
Dan sering kali, sebuah hubungan tidak
mulai hancur ketika dua orang berhenti saling mencintai.
Hubungan itu mulai kehilangan
pijakannya ketika salah satu dari mereka memilih menyembunyikan kebenaran demi
mempertahankan sesuatu yang ingin dimilikinya.
BAB IX
PERINGATAN YANG DIABAIKAN
Pesan yang dikirim Surya Pratama
kepada Hendra Yuliana malam itu tidak langsung mendapat balasan.
Surya sebenarnya telah memperkirakan
hal tersebut. Ia tahu Hendra memiliki kesibukan dan tidak mungkin selalu
memeriksa telepon setiap saat. Namun, setiap kali layar ponselnya menyala, ia
tetap berharap nama Hendra muncul di sana.
Bukan karena ia sekadar menunggu
jawaban seorang calon pemberi nasihat. Di balik keinginannya berdiskusi tentang
usaha, tersimpan harapan yang lebih besar: ia ingin menemukan jalan untuk
mengembangkan kehidupannya melalui kesempatan yang mungkin terbuka dari
keluarga Imelda.
Ia telah melangkah satu tahap lebih
jauh.
Dan setelah mengambil langkah itu, ia
semakin sulit berpura-pura bahwa hubungan dengan Imelda sama sekali tidak
berkaitan dengan ambisinya.
Pagi berikutnya, Surya memeriksa
ponselnya sebelum memulai kegiatan. Belum ada balasan. Ia mencoba mengalihkan
perhatian dengan membaca kembali catatan usahanya, tetapi pikirannya terus
kembali pada pesan tersebut.
Menjelang siang, sebuah notifikasi
akhirnya muncul.
Hendra membalas dengan singkat dan
sopan. Ia bersedia mendengarkan penjelasan Surya, tetapi meminta agar Surya
menyiapkan gambaran rencana usaha secara jelas, termasuk kebutuhan modal,
perkiraan risiko, serta kemampuan yang sudah dimilikinya.
Surya membaca pesan itu dua kali.
Tidak ada tawaran modal. Tidak ada
janji kerja sama. Hendra hanya memberikan kesempatan untuk berbicara.
Namun, bagi Surya, kesempatan tersebut
terasa seperti pintu yang mulai terbuka.
Ia segera membalas ucapan terima kasih
dan menyatakan kesediaannya menyiapkan bahan pembicaraan. Setelah itu, ia duduk
lebih lama di depan meja, memikirkan bagaimana menyusun rencana yang dapat
meyakinkan Hendra.
Ia tahu bahwa rencana usahanya masih
memiliki banyak kekurangan. Beberapa perhitungan belum selesai, sementara
sejumlah kebutuhan belum dapat dipastikan. Akan tetapi, ia khawatir jika
menunggu sampai semuanya sempurna, kesempatan itu akan berlalu.
Surya mulai memilih bagian-bagian yang
menurutnya paling menarik untuk ditonjolkan.
Ia tidak bermaksud mengubah angka
secara sembarangan. Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.
Ia hanya ingin menyampaikan sisi terbaik dari rencana tersebut agar Hendra
melihat bahwa dirinya memiliki kesungguhan.
Namun, ada perbedaan antara menyajikan
rencana secara meyakinkan dan menyembunyikan kelemahan yang justru perlu
diketahui sebelum sebuah keputusan dibuat.
Perbedaan itu mulai kabur dalam
pikirannya.
Dua hari kemudian, Surya menemui Fajar
Ramadhan di sebuah warung sederhana yang biasa mereka kunjungi.
Ia membawa beberapa lembar catatan dan
sebuah rancangan rencana usaha. Fajar semula mengira Surya hanya ingin meminta
pendapat seperti yang pernah dilakukannya sebelumnya. Namun, setelah mengetahui
bahwa Hendra telah bersedia meluangkan waktu untuk berdiskusi, Fajar mulai
memeriksa catatan tersebut dengan lebih teliti.
“Jadi, kamu benar-benar akan
membicarakan rencana ini dengan Pak Hendra?” tanyanya.
Surya mengangguk.
“Beliau bersedia mendengarkan. Aku
pikir ini kesempatan yang bagus.”
“Kalau memang begitu, kamu harus
datang dengan persiapan yang benar-benar matang.”
“Aku sedang menyusunnya.”
Fajar membalik salah satu lembar
catatan. Ia menemukan beberapa perkiraan biaya, tetapi belum melihat penjelasan
yang cukup mengenai dasar perhitungan dan kemungkinan kerugian.
“Bagian ini dari mana angkanya?”
tanyanya.
Surya menjelaskan secara singkat.
“Ini masih perkiraan.”
“Kalau masih perkiraan, tuliskan
dengan jelas bahwa angka ini belum pasti. Jangan sampai orang yang membaca
menganggap semuanya sudah diperhitungkan.”
“Aku tahu.”
Fajar menunjuk bagian lain.
“Lalu, kalau usaha ini tidak berjalan
sesuai rencana, bagaimana kamu akan menanggung kerugiannya?”
Surya menyandarkan tubuhnya.
“Itu yang masih kupikirkan.”
“Berarti persoalannya belum selesai.”
“Aku tidak datang untuk langsung
menjalankan usaha besok pagi, Fajar. Aku hanya ingin meminta pendapat.”
“Kalau begitu, tidak ada alasan untuk
membuat rencanamu terlihat lebih matang daripada keadaan sebenarnya.”
Surya terdiam. Ia merasa Fajar terlalu
banyak menyoroti kekurangan, padahal ia sedang berusaha mencari jalan keluar
dari keadaan yang selama ini membuatnya frustrasi.
“Aku sudah cukup lama berada di tempat
yang sama,” katanya. “Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa mengubah hidupku.”
“Aku mengerti keinginanmu.”
“Kalau aku terus menunggu sampai
semuanya benar-benar pasti, kapan aku bisa mulai?”
Fajar meletakkan catatan itu di atas
meja.
“Tidak ada usaha yang sepenuhnya bebas
dari risiko. Tetapi mengambil risiko berbeda dengan mengabaikan risiko. Kamu
boleh berani, Surya, asalkan kamu tahu apa yang sedang kamu pertaruhkan.”
Surya memalingkan wajah sebentar.
“Aku tidak sedang mempertaruhkan
apa-apa.”
Fajar menatapnya dengan serius.
“Benarkah?”
Pertanyaan itu membuat Surya kembali
menoleh.
Fajar tidak langsung melanjutkan. Ia
tahu bahwa yang sedang mereka bicarakan bukan hanya persoalan perhitungan
usaha.
“Aku sudah melihat kamu semakin dekat
dengan keluarga Imelda,” katanya akhirnya. “Sekarang kamu ingin membicarakan
peluang usaha dengan ayahnya. Aku tidak melarangmu. Tetapi kamu harus jujur
kepada dirimu sendiri tentang alasan kamu mengambil langkah itu.”
Surya menghela napas panjang.
“Kenapa setiap kali aku ingin maju,
kamu selalu menghubungkannya dengan Imelda?”
“Karena aku melihat bagaimana semuanya
mulai terhubung.”
“Aku hanya meminta nasihat. Apa itu
salah?”
“Tidak.”
“Lalu, apa masalahnya?”
Fajar menatap sahabatnya tanpa
meninggikan suara.
“Masalahnya bukan pada siapa yang kamu
temui. Masalahnya ada pada apa yang kamu harapkan dari pertemuan itu, dan apakah
orang yang membukakan pintu untukmu mengetahui harapan tersebut.”
Surya tidak menjawab.
Ia tahu Fajar tidak sepenuhnya keliru.
Namun, ia juga tidak ingin mengakui bahwa harapannya telah berkembang melampaui
sekadar mendapatkan nasihat.
Dalam pikirannya, selama ia tidak
meminta uang secara langsung, ia masih berada di wilayah yang dapat dibenarkan.
Ia merasa berhak mencari kesempatan dari mana pun, termasuk melalui hubungan
yang sedang dibangunnya.
Fajar mengambil napas, lalu berbicara
lebih pelan.
“Kalau kamu ingin berhasil, buktikan
bahwa kamu mampu membangun sesuatu dengan kemampuanmu sendiri. Kalau Pak Hendra
kemudian memberikan saran atau mengenalkanmu kepada orang lain, terimalah
sebagai kesempatan belajar. Tetapi jangan menjadikan Imelda alasan agar
keluarganya merasa harus membantumu.”
Surya mengumpulkan kembali
lembar-lembar catatannya.
“Aku tahu apa yang kulakukan.”
Fajar tidak membantah lagi.
Ia melihat perubahan kecil pada wajah
sahabatnya. Surya tidak lagi mendengarkan seperti seseorang yang sedang
mempertimbangkan nasihat. Ia mulai mendengarkan seperti seseorang yang sedang
mencari alasan untuk menolak nasihat tersebut.
Dan bagi Fajar, itulah hal yang paling
mengkhawatirkan.
Di sisi lain, Imelda Yuliana menjalani
hari-harinya tanpa mengetahui percakapan yang berlangsung di warung itu.
Ia hanya mengetahui bahwa Surya sedang
menyusun rencana usaha dan telah mendapat kesempatan untuk berbicara dengan
ayahnya. Ketika Surya menceritakan hal tersebut, Imelda menyambutnya dengan
gembira.
“Aku senang Ayah bersedia mendengarkan
rencanamu,” katanya ketika mereka bertemu.
Surya tersenyum.
“Aku juga. Aku berharap bisa
mendapatkan banyak masukan.”
“Kalau kamu membutuhkan waktu untuk
menyiapkan bahan pembicaraan, gunakan sebaik-baiknya. Jangan merasa harus
menunjukkan hasil yang sempurna.”
Surya memandangnya.
“Kamu tidak khawatir kalau ternyata
rencanaku belum cukup baik?”
Imelda menggeleng.
“Tidak semua rencana harus langsung
berhasil. Yang penting, kamu tahu apa yang sedang kamu kerjakan dan bersedia memperbaikinya
kalau ada kekurangan.”
Jawaban itu membuat Surya terdiam
sesaat.
Ia tahu Imelda tidak sedang menuntut
keberhasilan darinya. Perempuan itu tidak meminta agar ia menjadi kaya, tidak
menuntut kehidupan mewah, dan tidak menjadikan pekerjaannya sebagai ukuran
nilai dirinya.
Justru sikap itulah yang seharusnya
membuat Surya merasa aman untuk berbicara jujur.
Namun, ia khawatir kejujuran yang
terlalu lengkap akan memperlihatkan sesuatu yang selama ini berusaha
disembunyikannya: bahwa ia mulai memandang hubungan mereka sebagai salah satu
jalan untuk mencapai kehidupan yang diinginkan.
“Aku akan berusaha mempersiapkannya
dengan baik,” jawab Surya.
Imelda tersenyum.
“Aku percaya kamu bisa belajar dari
prosesnya.”
Ia lalu menceritakan rencananya sendiri
untuk beberapa hari ke depan. Surya mendengarkan, tetapi sebagian pikirannya
masih tertuju pada pertemuan dengan Hendra.
Imelda menyadari bahwa laki-laki itu
beberapa kali tampak melamun.
“Kamu masih memikirkan rencana
usahamu?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Kalau terlalu banyak yang dipikirkan,
jangan lupa beristirahat.”
Surya tertawa kecil.
“Kamu seperti selalu tahu kapan aku
sedang banyak pikiran.”
“Karena kamu sering terlihat berbeda
kalau sedang memikirkan sesuatu.”
Surya tersenyum, tetapi di dalam hatinya
muncul kegelisahan.
Ia mulai memahami bahwa semakin dekat
seseorang dengannya, semakin besar pula kemungkinan orang itu menyadari
perubahan sikapnya. Selama ini, ia mengandalkan perhatian dan kata-kata yang
tepat untuk membuat Imelda merasa dipahami.
Kini, ia mulai menyadari bahwa
kedekatan juga dapat membuat seseorang melihat bagian-bagian yang selama ini ia
tutupi.
Ia mengalihkan pembicaraan dengan
menanyakan kegiatan Imelda. Perempuan itu menjawab tanpa curiga, lalu kembali
bercerita seperti biasa.
Bagi Imelda, tidak ada alasan untuk
menganggap kesibukan Surya sebagai sesuatu yang mencurigakan. Ia hanya berharap
laki-laki itu tidak membebani dirinya sendiri dengan keinginan untuk segera
berhasil.
Ia belum tahu bahwa Surya sedang
menghadapi pilihan yang bukan semata-mata tentang usaha.
Pilihan itu menyangkut kejujuran.
Pada malam berikutnya, Ratna Yuliana
memperhatikan Imelda yang sedang membantu merapikan beberapa dokumen keluarga
di ruang tengah.
“Bagaimana kabar Surya?” tanyanya.
“Baik, Bu. Dia sedang menyiapkan
rencana usaha. Ayah sudah bersedia mendengarkan penjelasannya.”
Ratna mengangguk.
“Bagus kalau dia punya semangat untuk
memperbaiki kehidupannya.”
Imelda tersenyum.
“Aku juga senang. Dia terlihat lebih
bersemangat.”
Ratna merapikan dokumen di hadapannya
sebelum melanjutkan.
“Semoga dia juga bisa bersikap tenang
dalam mengambil keputusan. Keinginan untuk berhasil itu baik, tetapi
kadang-kadang orang terlalu sibuk mengejar tujuan sampai lupa memikirkan cara
mencapainya.”
Imelda memandang ibunya.
“Apakah Ibu meragukan Surya?”
Ratna segera menggeleng.
“Bukan begitu, Nak. Ibu tidak sedang
menilai dia buruk. Ibu hanya berharap kamu tidak merasa harus menyelesaikan
semua persoalan yang sedang dihadapinya.”
Imelda menunduk sebentar, kemudian
tersenyum kecil.
“Aku tidak merasa terbebani, Bu. Aku
hanya ingin mendukungnya.”
“Ibu tahu. Mendukung orang yang kita
sayangi bukan kesalahan. Tetapi dukungan yang baik juga membutuhkan batas yang
sehat.”
Ratna menatap putrinya dengan lembut.
“Kamu boleh mendengarkan, memberi
semangat, dan membantu mencari jalan keluar. Namun, keputusan hidupnya tetap
harus menjadi tanggung jawabnya sendiri.”
Imelda mengangguk pelan.
Ia memahami maksud ibunya. Selama ini,
ia memang ingin menjadi seseorang yang dapat diandalkan oleh orang yang
dicintainya. Ia percaya bahwa hubungan tidak hanya tentang menerima
kebahagiaan, tetapi juga tentang hadir ketika keadaan sedang sulit.
Namun, ia tidak pernah berniat
menggantikan tanggung jawab Surya.
“Aku akan mengingatnya, Bu.”
Ratna mengusap bahu putrinya.
“Ibu hanya ingin kamu tetap menjadi
dirimu sendiri ketika mencintai seseorang.”
Kalimat itu membuat Imelda terdiam.
Ia belum melihat hubungan mereka
sebagai sesuatu yang membahayakan dirinya. Ia masih percaya bahwa Surya
memiliki niat baik dan sedang berusaha membangun masa depan.
Namun, nasihat ibunya mengingatkannya
bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk
menilai keadaan secara jernih.
Malam itu, Imelda menyimpan nasihat
tersebut dalam pikirannya tanpa merasa perlu mengambil kesimpulan apa pun.
Ia belum mempunyai alasan untuk
menjauh dari Surya.
Ia hanya ingin hubungan mereka tumbuh
dengan baik.
Hari pertemuan Surya dengan Hendra
akhirnya tiba.
Surya datang dengan pakaian rapi dan
membawa catatan yang telah disiapkannya. Ia berusaha menenangkan diri selama
perjalanan. Ia ingin terlihat sebagai seseorang yang serius, bukan laki-laki
yang hanya datang dengan harapan mendapatkan pertolongan.
Hendra menyambutnya dengan ramah, lalu
mempersilakannya duduk.
“Silakan jelaskan rencana yang ingin
kamu bicarakan,” kata Hendra.
Surya mulai menerangkan gagasan
usahanya. Ia menjelaskan peluang yang dilihatnya, kebutuhan yang telah
diperhitungkan, serta beberapa langkah yang menurutnya dapat dilakukan untuk
memulai.
Hendra mendengarkan tanpa memotong
pembicaraan.
Sesekali ia mengajukan pertanyaan
mengenai biaya, kemungkinan pasar, dan kemampuan Surya menjalankan rencana itu.
Beberapa pertanyaan dapat dijawab dengan baik. Namun, ada pula bagian yang
belum dapat dijelaskan Surya secara terperinci.
Hendra tidak mempermalukannya.
“Menurut saya, gagasan ini masih bisa
dipelajari,” katanya setelah Surya selesai. “Tetapi ada beberapa bagian yang
harus kamu perjelas sebelum mengambil keputusan.”
Surya mengangguk.
“Bagian mana yang paling perlu saya
perbaiki, Pak?”
“Pertama, dasar perhitunganmu. Kamu
harus bisa menjelaskan dari mana perkiraan biaya dan pendapatan itu berasal.
Kedua, kamu perlu mengetahui risiko yang mungkin muncul. Ketiga, kamu harus
menyiapkan rencana apabila hasilnya tidak sesuai harapan.”
Surya mencatat setiap masukan.
“Baik, Pak. Saya akan memperbaikinya.”
Hendra kemudian meletakkan dokumen
tersebut di atas meja.
“Satu hal lagi. Jangan membangun
rencana berdasarkan bantuan yang belum tentu kamu peroleh. Hitunglah
kemampuanmu berdasarkan keadaan yang benar-benar kamu miliki.”
Surya mengangkat wajah.
Kalimat itu disampaikan dengan nada
biasa, tetapi terasa menyentuh bagian yang selama ini berusaha dihindarinya.
Hendra melanjutkan.
“Kalau nanti ada orang yang bersedia
bekerja sama atau memberikan dukungan, itu bisa menjadi pertimbangan tambahan.
Tetapi kamu harus tetap tahu apa yang bisa kamu lakukan tanpa bergantung pada
orang lain.”
Surya mengangguk sekali lagi.
“Baik, Pak. Saya mengerti.”
Ia tidak meminta modal. Ia tidak
menyebut nama Imelda sebagai alasan untuk memperoleh bantuan. Pertemuan itu
berlangsung sesuai tujuan yang disampaikan sejak awal: membicarakan rencana
usaha dan menerima masukan.
Namun, dalam hati Surya, ia merasa
kecewa karena tidak memperoleh jalan keluar yang lebih cepat.
Ia datang dengan harapan menemukan
peluang yang dapat mempercepat langkahnya. Ia pulang dengan daftar pekerjaan
yang harus diselesaikan sendiri.
Hendra mengantarnya sampai ke depan
rumah.
“Pelajari dulu semua masukannya. Tidak
perlu terburu-buru.”
“Terima kasih banyak atas waktunya,
Pak.”
“Sama-sama. Saya berharap kamu
mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang.”
Surya berpamitan dengan sopan.
Tidak ada sikap dingin dari Hendra.
Tidak ada penolakan terhadap dirinya sebagai pasangan Imelda. Hendra hanya
menempatkan rencana usaha itu pada kedudukan yang semestinya: sebuah gagasan
yang perlu diuji sebelum layak dijalankan.
Tetapi bagi Surya yang sedang mencari
jalan cepat, kehati-hatian itu terasa seperti hambatan.
Ia belum menyadari bahwa justru pada
saat itulah ia memperoleh peringatan yang paling jelas.
Dalam perjalanan pulang, Surya
menerima telepon dari Fajar.
“Bagaimana pertemuanmu dengan Pak
Hendra?” tanya Fajar.
“Berjalan baik. Beliau memberi
beberapa masukan.”
“Bagus. Apa rencanamu selanjutnya?”
“Aku harus memperbaiki banyak hal.”
“Berarti kamu sudah tahu bagian yang
perlu dikerjakan.”
Surya tidak segera menjawab.
Fajar kemudian bertanya, “Apakah
beliau menawarkan bantuan?”
“Tidak. Beliau hanya memberi saran.”
“Kalau begitu, kamu punya kesempatan
untuk memperbaiki rencanamu tanpa terbebani janji dari siapa pun.”
Surya menarik napas.
“Aku berharap bisa mendapatkan lebih
dari sekadar saran.”
Kalimat itu terucap begitu saja.
Fajar terdiam beberapa saat.
“Lebih seperti apa?”
Surya menyadari bahwa ia telah
mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Ia berusaha
mengoreksi perkataannya.
“Maksudku, aku berharap ada peluang
kerja sama.”
“Kalau memang ada dasar yang kuat,
kerja sama bisa dibicarakan. Tetapi kalau kamu sendiri belum bisa menjelaskan
rencanamu dengan lengkap, apa yang bisa kamu tawarkan kepada orang lain?”
Surya merasa tersinggung.
“Tidak semua orang punya kesempatan
yang sama, Fajar.”
“Aku tahu.”
“Orang yang punya modal bisa bergerak
lebih cepat. Orang yang tidak punya apa-apa harus bekerja berkali-kali lebih
keras hanya untuk mendapatkan kesempatan yang sama.”
Fajar tidak menyangkal keadaan
tersebut.
“Memang tidak semua orang memulai dari
tempat yang sama. Aku juga tidak mengatakan bahwa kamu harus menerima keadaanmu
begitu saja. Kamu boleh mencari bantuan, mencari mitra, dan membangun jaringan.
Tetapi jangan sampai keinginanmu mengubah keadaan membuatmu mengabaikan
kepercayaan orang yang dekat denganmu.”
Surya terdiam.
Fajar melanjutkan dengan suara yang
lebih lembut.
“Aku pernah melihat orang kehilangan
banyak hal karena terlalu ingin segera berhasil. Awalnya mereka hanya
membenarkan satu kebohongan kecil. Setelah itu, mereka harus menutupi
kebohongan berikutnya agar kebohongan pertama tidak terbongkar.”
Surya menggenggam ponselnya lebih
erat.
“Kamu menganggap aku seperti itu?”
“Aku tidak mengatakan kamu sudah
melakukan semuanya. Aku hanya tidak ingin kamu mulai berjalan ke arah sana.”
Surya memandang jalan di hadapannya.
Ia mengetahui bahwa Fajar sedang
berusaha memperingatkannya. Ia juga memahami bahwa peringatan itu tidak
sepenuhnya tanpa alasan.
Namun, ia tidak ingin mengakui bahwa
ambisinya telah membuatnya semakin mudah mencari pembenaran.
“Aku bisa menjaga semuanya tetap
baik,” katanya akhirnya.
Fajar menjawab dengan tenang.
“Semoga kamu benar-benar bisa.”
Percakapan berakhir tanpa
pertengkaran. Fajar tidak memutus persahabatan mereka, dan Surya tidak menolak
nasihat itu secara terang-terangan.
Tetapi setelah telepon ditutup, Surya
justru merasa harus membuktikan bahwa ia dapat mencapai tujuannya tanpa
kehilangan hubungan dengan Imelda.
Ia menganggap kedua hal itu masih
dapat berjalan bersama selama ia cukup pandai mengendalikan keadaan.
Ia tidak memahami bahwa masalahnya
bukan sekadar kemampuan menjaga rahasia.
Masalahnya adalah ia mulai terbiasa
membuat keputusan dengan menyisihkan kebenaran yang mungkin tidak disukai orang
lain.
Malam itu, Imelda mengirim pesan
kepada Surya untuk menanyakan hasil pertemuannya dengan Hendra.
Surya menjelaskan bahwa pertemuan
berjalan baik dan ia memperoleh beberapa masukan yang berguna.
Imelda membalas dengan gembira.
Syukurlah. Berarti
kamu punya bahan untuk memperbaiki rencanamu.
Surya mengetik jawaban, lalu berhenti.
Ia ingin bercerita bahwa ia sempat
berharap Hendra menawarkan peluang yang lebih besar. Ia ingin mengungkapkan
kekecewaannya karena belum menemukan jalan keluar yang cepat.
Namun, ia mengurungkan niat tersebut.
Ia tidak ingin Imelda melihatnya sebagai seseorang yang terlalu berharap pada
keluarganya.
Akhirnya, ia hanya menulis bahwa
dirinya akan mempelajari kembali rencana usaha itu.
Imelda membaca pesan tersebut dan
merasa lega. Ia tidak mengetahui bahwa ada bagian dari pertemuan yang sengaja
tidak diceritakan Surya, bukan karena bagian itu sangat rahasia, melainkan
karena Surya tidak ingin memperlihatkan isi hatinya yang sesungguhnya.
Ia kemudian mengirim pesan lain.
Jangan lupa
istirahat. Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya dalam satu malam.
Surya membaca pesan itu cukup lama.
Ada ketulusan dalam perhatian Imelda
yang tidak dapat ia sangkal. Perempuan itu tidak meminta sesuatu sebagai
imbalan. Ia tidak memaksanya berhasil dan tidak menuntut agar Surya memenuhi
standar tertentu.
Ia hanya ingin Surya baik-baik saja.
Untuk sesaat, Surya ingin membalas
dengan jujur. Ia ingin mengatakan bahwa ia merasa tertinggal, bahwa ia takut
gagal, dan bahwa ia mulai memikirkan jalan-jalan yang mungkin tidak akan
disetujuinya jika mengetahui seluruh alasan di baliknya.
Tetapi keberanian itu hanya bertahan
sebentar.
Ia kembali memilih jawaban yang paling
aman.
Terima kasih,
Imelda. Aku akan baik-baik saja.
Imelda membalas dengan sebuah ungkapan
sederhana yang menunjukkan bahwa ia percaya.
Surya meletakkan ponselnya.
Ia menyadari bahwa kepercayaan Imelda
masih utuh. Fajar telah memperingatkannya. Hendra telah memberinya nasihat yang
jelas. Ratna, tanpa menuduh siapa pun, telah mengingatkan putrinya tentang
pentingnya batas dalam sebuah hubungan.
Peringatan datang dari berbagai arah,
dengan cara yang berbeda.
Namun, Surya masih menganggap bahwa
dirinya mampu menentukan seberapa jauh ia akan melangkah dan kapan ia harus
berhenti.
Ia tidak ingin kehilangan Imelda. Ia
juga tidak ingin melepaskan ambisinya.
Karena itulah, ia mulai mencari cara
untuk mempertahankan keduanya, sekalipun cara tersebut menuntutnya
menyembunyikan lebih banyak hal.
Di dalam pikirannya, ia masih percaya
bahwa semuanya dapat dikendalikan.
Ia belum memahami bahwa kebohongan
tidak selalu membesar karena seseorang merencanakan kejahatan besar sejak awal.
Terkadang, kebohongan tumbuh karena seseorang berulang kali memilih jalan yang
terasa paling mudah, lalu menggunakan pilihan sebelumnya sebagai alasan untuk
membuat pilihan berikutnya.
Malam semakin larut.
Surya menutup catatan usahanya tanpa
menyelesaikan semua kekurangan yang ditunjukkan Hendra. Ia berjanji kepada
dirinya sendiri untuk memperbaikinya nanti.
Untuk sekarang, ia ingin mencari
kesempatan lain.
Kesempatan yang mungkin membawanya
lebih dekat kepada kehidupan yang selama ini ia impikan.
Ia tidak menyadari bahwa semakin jauh
ia mengejar kesempatan tanpa berani memeriksa niatnya sendiri, semakin besar
kemungkinan ia akan kehilangan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh
keberhasilan apa pun.
Kepercayaan Imelda masih berada di tangannya.
Tetapi untuk pertama kalinya, Surya
mulai memperlakukannya bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dijaga, melainkan
juga sebagai sesuatu yang dapat membantunya membuka jalan.
Dan ketika kepercayaan mulai dipandang
sebagai sarana untuk mencapai tujuan, seseorang mungkin masih terlihat
mencintai dengan tulus di mata orang lain.
Namun, di dalam dirinya, batas antara
cinta dan kepentingan telah mulai kabur.
Surya telah mendengar peringatan itu.
Ia hanya belum bersedia
mengindahkannya.
BAB X
KEBOHONGAN YANG SEMAKIN DALAM
Hujan turun sejak sore ketika Surya
Pratama menerima sebuah telepon yang telah ditunggunya selama beberapa hari.
Ia sedang duduk di sebuah warung
ketika nama kenalannya muncul di layar ponsel. Percakapan mereka berlangsung
singkat, tetapi cukup untuk mengubah suasana hatinya. Peluang usaha yang sempat
dibicarakan sebelumnya ternyata belum tertutup. Pihak yang berkepentingan masih
bersedia mempertimbangkan kerja sama, asalkan Surya dapat menunjukkan kesiapan
dan meyakinkan mereka bahwa rencana tersebut layak dijalankan.
Surya menatap air hujan yang mengalir
di tepi jalan.
Kesempatan itu kembali terbuka.
Namun, ia belum memiliki modal yang
cukup. Rencana usahanya juga belum benar-benar matang seperti yang diharapkan.
Ia membutuhkan waktu untuk memperbaiki perhitungan, sementara pihak yang
menawarkan peluang tersebut menginginkan kepastian dalam waktu yang tidak
terlalu lama.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa
kesempatan yang selama ini dicarinya justru dapat berlalu ketika ia mulai melihatnya
dari dekat.
Ia membuka catatan di ponselnya.
Angka-angka yang tersimpan di sana tidak berubah. Kebutuhan tetap lebih besar
daripada kemampuan yang dimilikinya.
Surya mengusap wajahnya.
Ia teringat nasihat Hendra, peringatan
Fajar, dan pesan Imelda yang selalu menyuruhnya agar tidak terburu-buru
mengambil keputusan.
Semua orang seolah meminta dirinya
bersabar.
Sementara itu, ia merasa hidup tidak
pernah memberinya cukup waktu untuk mengejar ketertinggalan.
Ia kemudian membuka daftar kontak dan
menemukan nama Imelda.
Jarinya berhenti di atas layar.
Surya tahu bahwa Imelda mungkin
bersedia mendengarkan persoalannya. Perempuan itu tidak pernah menertawakan
kesulitannya, apalagi membuatnya merasa rendah karena keadaan ekonomi.
Namun, justru karena Imelda begitu
mudah percaya, Surya mulai membayangkan kemungkinan yang sebelumnya hanya
berani dipikirkannya sekilas.
Bagaimana jika ia menceritakan bahwa
peluang usaha tersebut membutuhkan dukungan lebih besar?
Bagaimana jika ia meminta Imelda
membantu mempertemukannya kembali dengan Hendra?
Ia belum berniat meminta uang secara
langsung. Ia hanya ingin membuka jalan agar pembicaraan mengenai kerja sama
dapat berlangsung lebih jauh.
Setidaknya, itulah pembenaran yang ia
bangun untuk dirinya sendiri.
Surya memasukkan ponselnya ke saku. Ia
belum siap menghubungi Imelda. Ia ingin menyusun kata-kata terlebih dahulu,
mencari cara agar keinginannya terdengar sebagai kebutuhan seorang laki-laki
yang sedang berjuang, bukan sebagai usaha memanfaatkan hubungan.
Hujan semakin deras.
Dan di tengah suara air yang jatuh
tanpa henti, Surya mulai menyadari bahwa ia tidak lagi sekadar mencari
kesempatan. Ia sedang mencari cara untuk membuat orang lain melihat
kebutuhannya tanpa mengetahui seluruh alasan di baliknya.
Keesokan harinya, Surya menemui
Imelda.
Mereka duduk berhadapan di sebuah
tempat yang tidak terlalu ramai. Imelda memperhatikan wajah Surya yang terlihat
lebih lelah daripada biasanya.
“Kamu kurang tidur?” tanyanya.
“Sedikit. Ada beberapa hal yang harus
kupikirkan.”
“Masih tentang rencana usahamu?”
Surya mengangguk.
“Peluangnya ternyata masih terbuka,
tetapi ada beberapa hal yang harus segera dipastikan.”
Imelda meletakkan gelasnya.
“Kalau memang belum siap, bukankah
lebih baik kamu menghitung semuanya sekali lagi?”
“Masalahnya, kesempatan seperti ini
tidak selalu datang.”
“Aku mengerti. Tetapi kalau kamu
mengambil keputusan hanya karena takut kehilangan kesempatan, kamu bisa saja
mendapatkan masalah yang lebih besar.”
Surya memandangnya. Ia tahu jawaban
itu masuk akal, tetapi bukan jawaban yang ingin didengarnya.
“Aku tidak bisa terus menunggu sampai
semuanya sempurna, Mel.”
“Aku tidak meminta kamu menunggu
sampai sempurna.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin kamu tahu apa yang
sedang kamu lakukan. Kalau kamu yakin dengan rencanamu, jelaskan risikonya.
Kalau masih ada yang belum pasti, akui bahwa itu belum pasti.”
Imelda mengucapkan kalimat tersebut
tanpa nada menggurui. Ia berbicara sebagai seseorang yang sungguh-sungguh ingin
melihat orang yang dicintainya berhasil tanpa harus mengorbankan ketenangan
hidupnya.
Namun, Surya justru merasa seperti
sedang dihadapkan pada sesuatu yang tidak ingin ia perlihatkan.
Ia terdiam, kemudian menunduk.
“Aku hanya takut kembali gagal.”
Nada suaranya terdengar lebih lemah.
Imelda melunak. Ia meraih tangan Surya
di atas meja.
“Aku tahu kamu ingin mengubah
keadaanmu. Aku juga tahu kamu sudah berusaha. Tetapi kegagalan bukan berarti
hidupmu berhenti.”
Surya membiarkan tangan itu
menggenggam tangannya.
Untuk sesaat, ia benar-benar merasakan
ketenangan. Tidak ada tuntutan dari Imelda, tidak ada perbandingan dengan orang
lain, dan tidak ada penghinaan terhadap keadaannya.
Hanya perhatian yang sederhana.
Perhatian itu membuatnya merasa
bersalah.
Namun, rasa bersalah tersebut tidak
bertahan cukup lama untuk mengubah keputusannya.
“Ada satu hal yang ingin kutanyakan,”
kata Surya kemudian.
“Apa?”
“Menurutmu, kalau seseorang ingin
mengembangkan usaha, apakah salah jika dia meminta bantuan kepada orang yang
lebih berpengalaman?”
Imelda menggeleng.
“Tentu tidak. Selama dia menjelaskan
maksudnya dengan jujur dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.”
Surya mengangguk perlahan.
“Kalau orang itu keluargamu sendiri?”
Imelda tidak langsung menjawab. Ia
mencoba memahami arah pembicaraan tersebut.
“Kalau maksudmu Ayah, kamu boleh
berdiskusi dengannya. Ayah bisa memberikan pendapat. Tetapi soal bantuan atau
kerja sama, semuanya harus dibicarakan dengan jelas.”
Surya mengalihkan pandangan.
“Ya. Aku hanya bertanya.”
Imelda memperhatikan wajahnya beberapa
detik lebih lama.
“Surya, kalau ada sesuatu yang ingin
kamu sampaikan kepadaku, katakan saja. Kamu tidak harus mencari cara agar aku
memberikan jawaban tertentu.”
Kalimat itu membuat Surya merasa
dadanya menegang.
Ia hampir saja menjelaskan semuanya.
Hampir saja ia mengakui bahwa dirinya sedang mempertimbangkan untuk meminta
Imelda membantu membuka jalan kepada Hendra.
Namun, ia takut pengakuan tersebut
akan mengubah cara Imelda memandangnya.
“Aku tidak sedang menyembunyikan
apa-apa,” jawabnya.
Kata-kata itu keluar begitu cepat.
Imelda melepaskan genggamannya
perlahan.
Ia tidak marah. Ia hanya memandang
Surya dengan ekspresi yang sulit ditafsirkan.
“Baiklah,” katanya akhirnya.
Percakapan beralih pada hal lain,
tetapi sesuatu telah berubah. Bukan karena Imelda menemukan kebohongan yang
jelas, melainkan karena ia mulai merasakan bahwa ada bagian dari pembicaraan
Surya yang selalu berhenti tepat sebelum mencapai inti persoalan.
Ia belum mempunyai bukti untuk
menuduh.
Ia juga belum ingin mencurigai orang
yang dicintainya hanya karena perasaan yang belum dapat dijelaskan.
Maka, ia memilih diam.
Surya mengira diamnya Imelda berarti
persoalan telah selesai.
Padahal, bagi Imelda, diam adalah cara
untuk memberi kesempatan kepada seseorang agar berkata jujur atas kemauannya
sendiri.
Beberapa hari kemudian, Surya
mengambil keputusan yang kelak akan disesalinya.
Ia menghubungi kenalannya dan
menyampaikan bahwa dirinya sedang menyiapkan langkah untuk memenuhi kebutuhan
usaha. Ia ingin mempertahankan peluang tersebut agar tidak jatuh ke tangan
orang lain.
Kenalannya bertanya apakah Surya sudah
memiliki kepastian mengenai dukungan yang dibutuhkan.
Surya menjawab bahwa ia sedang
menjajaki beberapa kemungkinan.
Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong.
Ia memang sedang mempertimbangkan beberapa kemungkinan, termasuk kemungkinan
melibatkan keluarga Imelda dalam pembicaraan usaha.
Tetapi ia sengaja membiarkan lawan
bicaranya menyimpulkan bahwa peluang dukungan tersebut sudah cukup dekat.
Ia ingin terlihat siap.
Ia ingin terlihat memiliki jaringan.
Dan ia ingin menghindari kesan bahwa
dirinya belum mempunyai sesuatu yang dapat ditawarkan.
Setelah percakapan itu, Surya
menyimpan ponselnya dan mencoba meyakinkan diri bahwa ia belum menjanjikan apa
pun. Ia hanya sedang menjaga peluang agar tetap terbuka.
Namun, ia tahu bahwa jawabannya telah
menciptakan kesan yang lebih kuat daripada kenyataan.
Kesadaran itu tidak membuatnya mundur.
Ia justru berpikir bahwa selama ia
mampu menyelesaikan persoalan modal dan perencanaan dalam waktu dekat, tidak
ada yang perlu dikhawatirkan.
Ia kembali membuka catatan usahanya,
lalu menyusun pesan untuk Hendra.
Kali ini, ia tidak langsung meminta
pertemuan. Ia memilih mengirimkan ucapan terima kasih atas masukan yang telah
diberikan, disertai penjelasan bahwa dirinya sedang memperbaiki rencana.
Ia berharap Hendra melihat
kesungguhannya dan bersedia membuka pembicaraan lebih jauh di kemudian hari.
Pesan itu terkirim.
Surya meletakkan ponselnya dan
menunggu.
Ia tidak tahu apakah Hendra akan
menjawab dengan saran lain, menawarkan pertemuan, atau sekadar mengucapkan
terima kasih. Namun, ia sudah mulai menggantungkan harapannya pada respons
tersebut.
Dalam pikirannya, hubungan dengan
Imelda kini telah menjadi bagian dari rencana yang lebih besar.
Ia tidak pernah mengatakannya kepada
perempuan itu.
Dan justru karena tidak pernah
mengatakannya, ia merasa masih dapat menjaga hubungan mereka tetap seperti
semula.
Sementara itu, Fajar semakin sulit
menenangkan pikirannya.
Ia tidak mengetahui seluruh langkah
Surya. Ia juga tidak memiliki bukti bahwa sahabatnya telah melakukan sesuatu
yang merugikan Imelda. Tetapi dari percakapan-percakapan mereka sebelumnya,
Fajar melihat bahwa Surya mulai lebih sering membicarakan akses, jaringan, dan
peluang yang mungkin diperoleh melalui keluarga Yuliana.
Fajar akhirnya memutuskan untuk
berbicara langsung.
Mereka bertemu pada sore hari, ketika
Surya baru selesai mengurus beberapa keperluan.
“Aku ingin bertanya sesuatu,” kata
Fajar.
Surya menatapnya.
“Apa lagi?”
“Kamu sebenarnya ingin mendapatkan apa
dari hubunganmu dengan Imelda?”
Surya langsung mengerutkan dahi.
“Apa maksudmu?”
“Aku bertanya dengan serius.”
“Aku mencintainya.”
Fajar mengangguk, tetapi tidak segera
menjawab.
“Aku tidak mengatakan kamu tidak punya
perasaan kepadanya. Aku hanya ingin tahu apakah perasaan itu masih menjadi
alasan utama kamu mempertahankan hubungan kalian.”
Surya berdiri dari tempat duduknya.
“Kamu tidak berhak mengatur
perasaanku.”
“Aku tidak mengatur perasaanmu. Aku
bertanya tentang keputusan yang kamu ambil.”
“Karena aku ingin memperbaiki hidupku,
bukan berarti aku tidak mencintainya.”
“Kalau begitu, jangan membuat cinta
menjadi jalan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa kamu peroleh dengan
cara lain.”
Surya menatap Fajar tajam.
“Kamu selalu menganggap aku punya niat
buruk.”
“Aku berharap kamu tidak punya niat
itu.”
“Lalu kenapa kamu terus
mengulanginya?”
Fajar terdiam sejenak. Ia kemudian
berdiri, menghadapi Surya tanpa berusaha mengintimidasi sahabatnya.
“Karena aku mengenalmu cukup lama
untuk tahu bahwa kamu sedang mencari pembenaran atas sesuatu yang sebenarnya
membuatmu gelisah.”
Surya mengepalkan tangan.
“Aku sedang berusaha. Apa salahnya
jika aku ingin hidup lebih baik?”
“Tidak ada yang salah dengan
keinginanmu untuk berhasil. Yang salah adalah jika kamu membuat seseorang
percaya bahwa kamu mendekatinya hanya karena cinta, sementara diam-diam kamu
juga menghitung apa yang bisa kamu dapatkan dari keluarganya.”
Kata-kata itu menghantam Surya lebih
keras daripada yang ingin ia akui.
Ia memalingkan wajah. Untuk sesaat, ia
merasa Fajar telah melihat terlalu jauh ke dalam pikirannya.
Namun, alih-alih mengakui kebenaran
yang tersirat dalam perkataan itu, Surya memilih membela diri.
“Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya
terjadi antara aku dan Imelda.”
“Mungkin aku tidak tahu semuanya.
Tetapi aku tahu kamu mulai sulit membedakan antara meminta kesempatan dan
memanfaatkan kedekatan.”
Surya mengambil barang-barangnya.
“Aku tidak membutuhkan ceramahmu.”
Fajar tidak menahannya.
“Aku juga tidak ingin menceramahimu,
Surya. Aku hanya tidak ingin suatu hari nanti kamu datang kepadaku dengan
penyesalan karena merasa semua ini terjadi begitu saja.”
Surya berhenti sesaat, tetapi tidak
berbalik.
“Jaga urusanmu sendiri, Fajar.”
Ia kemudian pergi.
Fajar berdiri seorang diri. Ia merasa
sedih, bukan karena pendapatnya ditolak, melainkan karena Surya kini tampak
lebih sibuk mempertahankan pembenaran daripada memeriksa apakah peringatannya
memang perlu didengarkan.
Persahabatan mereka belum berakhir.
Tetapi untuk pertama kalinya, Fajar
merasa tidak lagi mudah menjangkau hati sahabatnya.
Pada malam yang sama, Imelda menerima
pesan dari Nadia Permatasari.
Nadia mengajaknya bertemu keesokan
harinya. Ada beberapa hal yang ingin mereka bicarakan secara langsung.
Mereka akhirnya bertemu di sebuah
tempat yang cukup tenang. Setelah membicarakan kegiatan masing-masing, Nadia
mulai menanyakan hubungan Imelda dengan Surya.
“Bagaimana keadaan kalian belakangan
ini?”
Imelda tersenyum kecil.
“Masih baik.”
“Benar-benar baik?”
Imelda menatap sahabatnya.
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
Nadia tidak langsung menjawab. Ia
tidak ingin menciptakan masalah yang tidak memiliki dasar.
“Aku hanya merasa kamu lebih banyak
memikirkan sesuatu akhir-akhir ini.”
Imelda terdiam.
Ia sebenarnya telah beberapa kali mengingat
kembali percakapannya dengan Surya. Tidak ada kebohongan yang dapat ia tunjuk
secara pasti. Tidak ada bukti bahwa Surya sedang mempermainkannya.
Tetapi ada beberapa momen yang terasa
berbeda.
Surya sering mengatakan bahwa dirinya
baik-baik saja, padahal wajahnya menunjukkan kegelisahan. Ia juga mulai
berbicara tentang masa depan dengan cara yang lebih tertutup, seolah ada
sesuatu yang ingin dicapai tetapi tidak ingin dibicarakan secara lengkap.
“Aku tidak tahu bagaimana
menjelaskannya,” kata Imelda akhirnya. “Aku tidak merasa dia melakukan sesuatu
yang buruk. Hanya saja, kadang-kadang aku merasa ada bagian dari ceritanya yang
tidak benar-benar dia sampaikan.”
Nadia mendengarkan dengan saksama.
“Apakah kamu pernah bertanya
kepadanya?”
“Pernah. Dia bilang tidak ada yang
disembunyikan.”
“Lalu, bagaimana perasaanmu setelah
itu?”
Imelda menunduk.
“Aku ingin percaya. Tetapi aku juga
tidak ingin mengabaikan apa yang kurasakan.”
Nadia mengangguk pelan.
“Menurutku, kamu tidak harus langsung
mengambil kesimpulan. Perasaan tidak nyaman bukan bukti bahwa seseorang
bersalah. Tetapi kamu juga tidak harus memaksa diri untuk merasa tenang kalau
memang ada sesuatu yang belum kamu pahami.”
Imelda memandang sahabatnya.
“Aku takut kalau aku terlalu curiga,
aku justru merusak hubungan yang sedang kami bangun.”
“Dan aku takut kamu terlalu sibuk
menjaga hubungan sampai lupa bahwa dirimu sendiri juga harus merasa aman di
dalamnya.”
Kalimat itu membuat Imelda terdiam
cukup lama.
Nadia meraih tangan sahabatnya.
“Aku tidak meminta kamu meninggalkan
Surya. Aku juga tidak mengatakan dia pasti menyembunyikan sesuatu yang buruk.
Aku hanya ingin kamu tetap memperhatikan bagaimana dia bersikap, bukan hanya
bagaimana dia berbicara.”
Imelda mengangguk.
Ia merasa lega karena Nadia tidak
memaksanya memilih antara percaya dan curiga. Sahabatnya memberinya ruang untuk
mengamati keadaan tanpa harus segera memutuskan apa pun.
Mereka kemudian melanjutkan percakapan
tentang hal-hal lain.
Namun, ketika pulang, Imelda membawa
satu pemikiran yang sulit diabaikan: mungkin kepercayaan tidak berarti berhenti
bertanya. Mungkin kepercayaan justru membutuhkan keberanian untuk mengajukan
pertanyaan ketika ada sesuatu yang tidak lagi terasa selaras.
Dua hari setelah pertemuan itu,
sesuatu terjadi yang membuat kegelisahan Imelda semakin nyata.
Sore itu, Surya menghubunginya dan
mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan sebuah urusan mendadak. Ia meminta agar
mereka mengubah jadwal pertemuan yang sebelumnya telah disepakati.
Imelda tidak keberatan.
“Baiklah. Semoga urusanmu lancar,”
jawabnya.
Surya mengucapkan terima kasih, lalu
mengakhiri percakapan.
Tidak lama kemudian, Imelda menerima
telepon dari seseorang yang dikenalnya melalui kegiatan sosial. Orang tersebut
menanyakan apakah Surya masih berencana menghadiri sebuah pertemuan yang pernah
dibicarakan bersama beberapa kenalan.
Imelda terkejut.
“Pertemuan apa?” tanyanya.
Orang itu menjelaskan secara singkat
bahwa Surya sebelumnya pernah menyatakan minat untuk hadir dalam sebuah
pembicaraan mengenai peluang usaha. Ia hanya ingin memastikan apakah Surya jadi
datang, sebab beberapa orang lain telah menyesuaikan waktu.
Imelda mengatakan bahwa ia tidak
mengetahui rencana tersebut.
Setelah telepon berakhir, ia
memandangi ponselnya.
Ia tidak tahu apakah pertemuan itu
berkaitan dengan urusan mendadak yang disampaikan Surya. Ia juga tidak tahu
apakah Surya sengaja tidak menceritakannya atau sekadar belum sempat
menjelaskan.
Belum ada dasar untuk menuduh.
Namun, ada satu hal yang membuatnya
merasa tidak nyaman: Surya baru saja mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan
sebuah urusan, tetapi ketika Imelda bertanya dalam pikirannya tentang urusan
tersebut, ia menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui apa yang
sedang dikerjakan laki-laki itu.
Ia mencoba mengingat percakapan mereka
beberapa hari terakhir.
Surya pernah menyebut bahwa ia sedang
mempertimbangkan sejumlah peluang. Ia juga mengatakan bahwa semuanya belum
pasti. Kini, ternyata ada pembicaraan lain yang tidak pernah ia ceritakan
secara lengkap.
Mungkin itu hal yang biasa.
Mungkin Surya memang belum merasa
perlu membicarakannya.
Tetapi mengapa ia selalu mengetahui
persoalan Surya hanya setelah sesuatu terjadi, bukan ketika laki-laki itu
sedang memutuskan langkahnya?
Imelda menutup mata sejenak.
Ia tidak ingin membiarkan pikirannya
berkembang menjadi prasangka. Ia masih mencintai Surya, dan perasaan itu
membuatnya ingin memberi penjelasan yang baik bagi setiap hal yang belum
dipahaminya.
Namun, ia juga tidak ingin
terus-menerus menjadi orang yang harus menebak-nebak.
Malam itu, ia memutuskan untuk
berbicara langsung dengan Surya.
Surya datang menemui Imelda keesokan
harinya. Ia mengira pertemuan itu akan berlangsung seperti biasa. Namun, sejak
awal, ia merasakan bahwa Imelda memiliki sesuatu yang ingin disampaikan.
“Kamu kelihatan ingin membicarakan
sesuatu,” katanya.
Imelda mengangguk.
“Aku ingin bertanya tentang rencana
usahamu.”
Surya berusaha tetap tenang.
“Kenapa?”
“Kemarin aku menerima telepon dari
seseorang yang menanyakan apakah kamu akan menghadiri sebuah pertemuan mengenai
peluang usaha. Aku baru tahu bahwa kamu sedang mempertimbangkan pertemuan itu.”
Surya terdiam sesaat.
Ia tidak menyangka informasi tersebut
akan sampai kepada Imelda melalui orang lain.
“Pertemuan itu belum pasti,” jawabnya.
“Aku tidak mempermasalahkan apakah
kamu jadi datang atau tidak. Aku hanya ingin tahu mengapa aku baru mendengarnya
dari orang lain.”
Surya menatap Imelda.
“Aku belum menganggapnya penting untuk
diceritakan.”
Imelda menerima jawaban itu, tetapi
tidak segera mengangguk.
“Kalau memang belum penting, aku bisa
mengerti. Tetapi belakangan ini, ada beberapa hal tentangmu yang baru kuketahui
setelah orang lain membicarakannya.”
Surya merasakan ketegangan mulai
menjalar di tubuhnya.
“Jadi, sekarang kamu mulai mencurigai
aku?”
Imelda menggeleng.
“Aku sedang berusaha memahami apa yang
terjadi. Itu berbeda dengan menuduhmu.”
“Kalau kamu percaya kepadaku,
seharusnya kamu tidak mempermasalahkan hal-hal seperti ini.”
Imelda menatapnya lebih dalam.
“Justru karena aku percaya kepadamu,
aku ingin bisa bertanya tanpa membuatmu merasa sedang diserang.”
Surya tidak menjawab.
Imelda melanjutkan, kali ini dengan
suara yang lebih pelan.
“Aku tidak pernah meminta kamu
menceritakan setiap hal yang kamu lakukan. Aku tahu kamu punya urusan sendiri.
Aku hanya ingin ketika kamu bercerita kepadaku, aku tidak harus bertanya-tanya
apakah masih ada bagian penting yang sengaja kamu tinggalkan.”
Surya merasa seolah-olah perempuan itu
telah menyentuh sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
Ia ingin mengatakan bahwa Imelda tidak
memahami tekanan yang sedang dihadapinya. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya
hanya berusaha mencari jalan keluar, bahwa ia tidak pernah berniat menyakiti
perempuan itu, dan bahwa semua yang dilakukannya belum tentu berakhir buruk.
Namun, ia tidak dapat mengucapkan
semuanya tanpa membuka bagian dari pikirannya yang selama ini ia lindungi.
Akhirnya, ia memilih bertahan dengan
jawaban yang paling mudah.
“Tidak ada yang perlu kamu
khawatirkan, Imelda. Aku hanya sedang berusaha memperbaiki keadaan.”
Imelda menghela napas.
“Aku berharap kamu benar-benar
mengatakan yang sebenarnya.”
Surya segera menyahut.
“Aku mengatakan yang sebenarnya.”
Jawaban itu keluar dengan tegas.
Terlalu tegas.
Imelda terdiam. Ia memperhatikan wajah
laki-laki yang dicintainya, mencari sesuatu yang dapat menenangkan
kegelisahannya. Ia ingin menemukan keyakinan yang sama seperti ketika mereka
pertama kali saling mengenal.
Tetapi kali ini, ia tidak menemukannya
dengan mudah.
“Aku ingin percaya kepadamu, Surya,”
katanya. “Tetapi aku tidak ingin kepercayaanku membuatku berhenti melihat
sesuatu yang mungkin perlu kubicarakan denganmu.”
Surya mengalihkan pandangan.
“Jadi, apa yang harus kulakukan supaya
kamu percaya?”
Imelda menatapnya dengan sedih.
“Aku tidak membutuhkan kamu melakukan
sesuatu hanya untuk membuatku percaya. Aku membutuhkan kamu jujur, bahkan
ketika kejujuran itu tidak membuatmu terlihat sempurna.”
Kalimat itu menggantung di antara
mereka.
Surya tidak segera menjawab. Untuk
sesaat, ia merasakan dorongan kuat untuk mengakui bahwa ia memang sedang
mencari kesempatan melalui hubungan mereka. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya
belum meminta uang, belum membuat janji kerja sama, dan belum melakukan sesuatu
yang menurutnya tidak dapat diperbaiki.
Namun, ia takut pengakuan itu akan
mengubah seluruh hubungan mereka.
Ia takut Imelda akan melihatnya
sebagai laki-laki yang berbeda dari sosok yang selama ini dikenalnya.
Maka, sekali lagi, ia memilih diam
tentang kebenaran yang paling penting.
“Aku tidak ingin kita bertengkar hanya
karena urusan pekerjaan,” katanya.
Imelda menunduk.
“Aku juga tidak ingin bertengkar.”
“Kalau begitu, jangan terlalu
memikirkan hal ini.”
Imelda mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kalinya, kalimat itu
terasa menyakitkan baginya. Ia tidak sedang mencari pertengkaran. Ia hanya
ingin memahami orang yang selama ini dipercaya.
Namun, Surya telah mengubah
pertanyaannya menjadi seolah-olah persoalan itu muncul karena Imelda terlalu
banyak berpikir.
“Aku tidak sedang mencari masalah,
Surya,” katanya. “Aku sedang berusaha menjaga hubungan kita.”
Surya terdiam.
Imelda melanjutkan, “Aku bisa menerima
kalau rencanamu belum berhasil. Aku bisa menerima kalau kamu sedang kesulitan.
Aku bahkan bisa menerima kalau kamu belum tahu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya.
Tetapi aku tidak tahu bagaimana harus bersikap kalau aku tidak bisa membedakan
mana yang kamu ceritakan dengan jujur dan mana yang kamu pilih agar aku tidak
bertanya lagi.”
Surya merasa dadanya sesak.
Ia tahu bahwa Imelda tidak menuntut
kekayaan atau keberhasilan. Yang diminta perempuan itu justru sesuatu yang
selama ini ia anggap paling mudah diberikan: kejujuran.
Dan justru itulah yang tidak mampu ia
berikan sepenuhnya.
“Aku tidak pernah berniat
menyakitimu,” katanya akhirnya.
Imelda menatapnya lama.
“Aku ingin mempercayai kalimat itu.”
Tidak ada teriakan setelahnya. Tidak
ada keputusan untuk berpisah. Imelda tidak meninggalkan tempat itu dengan
kemarahan, dan Surya tidak berusaha menahannya dengan janji-janji besar.
Mereka hanya duduk dalam keheningan
yang terasa jauh lebih berat daripada pertengkaran.
Sebab untuk pertama kalinya, Imelda
mulai menyadari bahwa cinta saja tidak selalu mampu menghilangkan keraguan yang
tumbuh akibat ketidakjelasan.
Dan Surya mulai menyadari bahwa
kebohongan tidak harus terbongkar untuk menimbulkan luka. Terkadang, kebohongan
telah melukai hubungan bahkan ketika orang yang dibohongi belum mengetahui
seluruh kebenarannya.
Malam itu, Surya kembali duduk seorang
diri.
Ia membuka percakapan dengan Imelda
dan membaca ulang beberapa pesan terakhir mereka. Tidak ada kata-kata kasar.
Tidak ada ancaman. Tidak ada tuduhan langsung.
Namun, ia dapat merasakan perubahan
yang tidak bisa ia abaikan.
Imelda masih berbicara dengan lembut,
tetapi kelembutan itu tidak lagi membuatnya merasa aman seperti sebelumnya.
Kini, setiap pertanyaan terasa seperti kesempatan bagi kebenaran untuk muncul.
Surya menyesali percakapan mereka,
tetapi bukan sepenuhnya karena ia telah membuat Imelda gelisah. Sebagian
dirinya justru menyesal karena ia mulai kehilangan kendali atas apa yang
diketahui perempuan itu.
Pikiran tersebut membuatnya takut
terhadap dirinya sendiri.
Ia tahu bahwa jika ia berhenti
sekarang, ia masih dapat menjelaskan sebagian besar keadaannya. Ia masih dapat
mengakui bahwa rencana usahanya belum matang, bahwa ia sedang mencari peluang,
dan bahwa ia mulai berharap pada jaringan keluarga Imelda.
Pengakuan itu mungkin akan membuat
Imelda kecewa.
Mungkin hubungan mereka akan menjadi
lebih sulit.
Tetapi setidaknya, ia tidak perlu
terus menyusun cerita untuk mempertahankan gambaran yang telah dibangunnya.
Surya memandangi layar ponselnya.
Ia hampir mengirim pesan untuk meminta
bertemu kembali dan menjelaskan semuanya.
Namun, sebelum mengetik, ia teringat
bahwa pihak yang menawarkan peluang usaha masih menunggu kepastian. Ia teringat
keinginannya untuk mengubah hidup, rasa takutnya kembali gagal, dan kesempatan
yang menurutnya terlalu berharga untuk dilepaskan.
Ia kemudian menutup percakapan dengan
Imelda.
Bukan karena ia tidak memiliki
kesempatan untuk jujur.
Melainkan karena ia belum bersedia
menanggung akibat dari kejujuran itu.
Di tempat lain, Imelda juga masih
terjaga. Ia membaca pesan terakhir Surya, lalu meletakkan ponselnya di samping
tempat tidur.
Ia masih mencintai laki-laki itu.
Ia masih mengingat perhatian-perhatian
kecil yang pernah membuatnya merasa istimewa. Ia masih ingin percaya bahwa
hubungan mereka dapat tumbuh menjadi sesuatu yang baik.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia mulai
memahami bahwa mempertahankan cinta tidak berarti harus membungkam setiap
pertanyaan yang muncul di dalam hati.
Ia tidak ingin menjatuhkan hukuman
sebelum mengetahui kebenaran.
Ia juga tidak ingin berpura-pura bahwa
semuanya baik-baik saja.
Malam itu, dua orang yang masih
memiliki perasaan satu sama lain tidur dengan kegelisahan berbeda.
Surya takut kehilangan kepercayaan
yang selama ini memberinya ruang untuk bergerak.
Imelda takut kehilangan hubungan yang
selama ini diyakininya dibangun di atas ketulusan.
Di antara keduanya, kebohongan yang
semula kecil mulai membentuk jarak.
Jarak itu belum cukup besar untuk
memisahkan mereka.
Namun, ia telah cukup lebar untuk
membuat setiap kata terasa perlu diperiksa kembali.
Dan ketika seseorang mulai
menyembunyikan kebenaran demi mempertahankan cinta, ia mungkin tidak segera
kehilangan orang yang dicintainya.
Ia hanya sedang menunda saat ketika
orang itu akhirnya mengetahui bahwa cinta yang dipertahankannya telah berubah
menjadi sesuatu yang tidak lagi sepenuhnya dapat dipercaya.
BAB XI
TERBONGKARNYA SANDIWARA CINTA
Ada kebenaran yang tidak datang
melalui pengakuan.
Ia muncul dari percakapan yang tidak
sengaja terdengar, dari kalimat yang terucap tanpa pertimbangan, atau dari dua
cerita yang selama ini berdiri sendiri, tetapi tiba-tiba menunjukkan bahwa
keduanya tidak mungkin sama-sama benar.
Bagi Imelda Yuliana, kebenaran itu
datang pada suatu sore yang semula tidak memiliki arti istimewa.
Ia sedang berada di luar rumah ketika
Nadia Permatasari menghubunginya. Suara sahabatnya terdengar berbeda dari biasanya.
Tidak ada basa-basi panjang, tidak ada cerita ringan tentang kegiatan
sehari-hari.
“Mel, kamu sedang di mana?” tanya
Nadia.
“Aku sedang dalam perjalanan pulang.
Kenapa?”
“Aku perlu bertemu denganmu. Ada
sesuatu yang ingin kusampaikan langsung.”
Imelda menghentikan langkahnya
sejenak.
“Apakah ada masalah?”
“Aku belum ingin menyimpulkan apa-apa.
Aku hanya ingin kamu mendengarkan sesuatu dan menilainya sendiri.”
Jawaban itu membuat Imelda terdiam.
Ia mengenal Nadia cukup lama untuk
mengetahui bahwa sahabatnya tidak mudah mengucapkan kalimat seperti itu tanpa
alasan. Namun, ia juga tidak ingin buru-buru membayangkan sesuatu yang buruk
tentang Surya.
“Baiklah. Kita bertemu di tempat
biasa.”
Setelah percakapan berakhir, Imelda
melanjutkan perjalanan dengan pikiran yang mulai dipenuhi pertanyaan.
Belakangan ini, hubungannya dengan
Surya memang tidak lagi terasa setenang sebelumnya. Mereka masih berkomunikasi,
masih bertukar kabar, dan masih berusaha meluangkan waktu untuk bertemu. Namun,
ada sesuatu yang tertinggal setiap kali mereka berbicara tentang pekerjaan dan
masa depan.
Sebuah bagian yang tidak pernah
benar-benar dijelaskan.
Imelda berharap pertemuannya dengan
Nadia tidak akan memperburuk keadaan.
Ia belum mengetahui bahwa sore itu
akan mengubah cara pandangnya terhadap hubungan yang selama ini ia pertahankan.
Nadia telah menunggu ketika Imelda
tiba.
Di atas meja terdapat sebuah ponsel
dan beberapa catatan kecil. Nadia tidak langsung menjelaskan maksudnya. Ia
mempersilakan Imelda duduk, kemudian memastikan bahwa sahabatnya siap
mendengarkan.
“Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak
datang untuk menyuruhmu meninggalkan Surya,” katanya.
Imelda menatapnya.
“Lalu, apa yang terjadi?”
Nadia menarik napas.
“Beberapa hari lalu, aku bertemu
dengan seorang kenalan yang pernah terlibat dalam pembicaraan mengenai peluang
usaha yang sedang dijajaki Surya.”
Imelda mulai memperhatikan dengan
lebih serius.
“Kenalanmu mengenal Surya?”
“Dia pernah mendengar nama Surya dalam
pembicaraan itu. Aku tidak tahu seluruh persoalannya, tetapi ketika kami
berbicara, ada satu hal yang membuatku ingin memastikan sesuatu.”
Nadia menjelaskan bahwa dalam
percakapan tersebut, kenalannya menyebut Surya sebagai seseorang yang sedang
berusaha mendapatkan dukungan melalui hubungan dengan keluarga seorang
perempuan yang berasal dari keluarga berada.
Nadia tidak langsung menyebut nama
Imelda. Ia juga tidak ingin menjadikan satu kalimat yang didengarnya sebagai
bukti bahwa Surya memang memiliki niat buruk.
Namun, ketika ia menanyakan lebih lanjut,
kenalannya menjelaskan bahwa Surya pernah membicarakan kemungkinan memperoleh
akses kepada orang-orang yang memiliki pengalaman dan kemampuan finansial untuk
mendukung rencana usahanya.
“Dia tidak mengatakan bahwa Surya
sudah mendapatkan uang,” kata Nadia. “Dia juga tidak mengatakan bahwa ada
kesepakatan yang sudah terjadi. Tetapi cara dia menceritakan hubungan Surya
dengan keluarga itu membuatku teringat kepadamu.”
Imelda tidak segera menjawab.
Ia berusaha memahami setiap kata yang
baru didengarnya. Selama ini, Surya memang pernah membicarakan peluang usaha,
dan ia sendiri tidak pernah melarang laki-laki itu mencari nasihat dari
ayahnya.
Yang membuatnya gelisah bukanlah
keinginan Surya untuk maju.
Yang membuatnya gelisah adalah
kemungkinan bahwa hubungan mereka dipandang dari sudut yang berbeda oleh orang
yang selama ini ia cintai.
“Apakah kenalanmu tahu namaku?”
tanyanya.
“Tidak ketika pertama kali bercerita.
Aku juga tidak menyebut namamu. Aku hanya bertanya apakah dia mengetahui adanya
hubungan pribadi antara Surya dan keluarga yang dimaksud.”
“Lalu?”
“Dia mengatakan bahwa yang
diketahuinya sebatas pembicaraan mengenai peluang dan jaringan. Dia tidak bisa
memastikan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Surya.”
Nadia berhenti sejenak.
“Aku tidak ingin kamu mengambil
keputusan hanya berdasarkan cerita orang lain. Karena itu, aku ingin kamu
memeriksa semuanya sendiri.”
Imelda menatap permukaan meja.
Ada bagian dari dirinya yang ingin
langsung menolak kemungkinan tersebut. Ia ingin mengatakan bahwa Surya tidak
mungkin menjalin hubungan dengannya hanya untuk mendapatkan sesuatu dari
keluarganya.
Namun, ia teringat percakapan mereka
beberapa hari sebelumnya.
Ia teringat bagaimana Surya menegaskan
bahwa tidak ada yang disembunyikan, padahal setiap kali ia bertanya tentang
rencana usaha, selalu ada bagian yang tidak dijelaskan secara utuh.
Untuk pertama kalinya, berbagai
kejadian kecil itu mulai membentuk sebuah pola yang tidak nyaman.
“Terima kasih sudah memberitahuku,”
katanya pelan.
Nadia menggenggam tangannya.
“Apa pun yang nanti kamu temukan,
jangan merasa harus memutuskan semuanya hari ini. Dengarkan fakta, tanyakan
langsung kepadanya, dan beri dirimu waktu untuk memahami.”
Imelda mengangguk.
Ia belum siap menyebut Surya sebagai
pembohong.
Tetapi ia juga tidak dapat lagi
menganggap kegelisahannya sebagai sesuatu yang tidak berarti.
Pada malam yang sama, Fajar Ramadhan
menghadapi persoalan yang selama ini berusaha dihindarinya.
Ia baru saja menyelesaikan urusannya
ketika menerima pesan dari seorang kenalan yang pernah membicarakan peluang
usaha bersama Surya. Kenalan itu menanyakan apakah Fajar mengetahui
perkembangan rencana tersebut.
Fajar menjawab bahwa ia hanya
mengetahui Surya sedang mempertimbangkan beberapa peluang.
Percakapan kemudian berlanjut.
Kenalannya menyebut bahwa Surya pernah
memberikan kesan bahwa ia memiliki jalan untuk menjangkau seseorang dari
keluarga yang mampu memberikan dukungan. Orang tersebut tidak menyatakan bahwa
bantuan telah disepakati, tetapi ia merasa Surya berbicara seolah-olah dukungan
itu tinggal menunggu waktu.
Fajar membaca pesan tersebut dengan
wajah tegang.
Ia tidak terkejut sepenuhnya.
Sebelumnya, ia telah memperingatkan Surya agar tidak menjadikan hubungannya
dengan Imelda sebagai sarana memperoleh keuntungan. Namun, ia berharap
peringatan itu cukup untuk membuat sahabatnya berhenti sebelum melangkah
terlalu jauh.
Kini, ia tidak lagi dapat menganggap
persoalan tersebut sekadar kekhawatiran.
Fajar menghubungi Surya.
“Besok kita perlu bicara,” katanya
ketika panggilan tersambung.
“Kenapa lagi?”
“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya
sedang kamu lakukan.”
Surya terdengar menghela napas.
“Kalau kamu masih ingin membahas soal
Imelda dan usaha, aku tidak punya waktu untuk itu.”
“Justru karena kamu tidak pernah mau
membicarakannya dengan jujur, persoalannya semakin rumit.”
“Aku sudah menjelaskan semuanya.”
“Belum, Surya. Kamu hanya menjelaskan
bagian yang membuatmu terlihat benar.”
Hening sejenak.
Fajar kemudian melanjutkan dengan
suara tegas.
“Aku tidak akan ikut campur dalam hubungan
kalian. Tetapi kalau kamu sudah memberikan kesan kepada orang lain bahwa kamu
bisa mendapatkan dukungan melalui keluarga Imelda, kamu harus menjelaskan apa
yang sebenarnya kamu maksud.”
Surya tidak langsung menjawab.
“Siapa yang mengatakan itu kepadamu?”
Fajar menyadari bahwa pertanyaan
tersebut justru memperkuat kekhawatirannya.
“Apakah itu yang paling penting
sekarang? Siapa yang bercerita, atau apakah kamu memang sedang menggunakan
hubunganmu dengan Imelda untuk membuka jalan?”
“Jangan menuduhku tanpa bukti.”
“Aku sedang bertanya kepadamu.”
“Dan aku tidak berkewajiban
menjelaskan setiap urusanku kepadamu.”
Fajar menutup mata sesaat.
Ia masih ingin percaya bahwa Surya
akan memilih berkata jujur. Ia tidak ingin mengakhiri persahabatan mereka
dengan pertengkaran, tetapi ia juga tidak ingin terus melindungi seseorang yang
mulai menggunakan kepercayaan orang lain sebagai alasan untuk membenarkan
tindakannya.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kalau kamu
merasa tidak melakukan sesuatu yang salah, jelaskan dengan jujur kepada Imelda.
Jangan biarkan dia mengetahui semuanya dari orang lain.”
Surya tidak menjawab.
Fajar mengakhiri panggilan dengan
perasaan berat.
Ia tahu, setelah percakapan itu, Surya
mungkin akan semakin menjauh darinya. Namun, ia tidak dapat terus berpura-pura
bahwa diam adalah bentuk kesetiaan.
Terkadang, menjadi sahabat berarti
berani mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh orang yang kita
sayangi.
Dan terkadang, peringatan terakhir
justru datang ketika seseorang sudah terlalu jauh berjalan ke arah yang salah.
Keesokan harinya, Imelda meminta Surya
bertemu.
Pesannya singkat.
Surya, aku ingin
kita berbicara dengan jujur. Ada beberapa hal yang perlu kutanyakan langsung
kepadamu.
Surya membaca pesan itu beberapa kali.
Ia mengetahui bahwa percakapan yang
selama ini ditakutinya akhirnya datang juga. Ia tidak tahu apa yang telah
didengar Imelda, tetapi ia mulai menduga bahwa sesuatu telah sampai kepadanya
melalui orang lain.
Ia membalas bahwa dirinya bersedia
bertemu.
Sepanjang hari, Surya berusaha
menyusun jawaban. Ia meyakinkan diri bahwa ia belum meminta uang kepada Imelda
atau keluarganya. Ia belum menerima bantuan finansial, belum membuat
kesepakatan kerja sama, dan belum menggunakan nama Hendra untuk menandatangani
perjanjian apa pun.
Dalam pikirannya, semua itu merupakan
alasan yang cukup untuk membela diri.
Ia sengaja tidak memikirkan pertanyaan
yang lebih mendasar: apakah sejak awal ia telah membiarkan Imelda percaya bahwa
dirinya mendekati perempuan itu semata-mata karena cinta, sementara ia juga
menyimpan harapan untuk memperoleh keuntungan dari hubungan tersebut?
Pertanyaan itu jauh lebih sulit
dijawab.
Maka, ketika waktu pertemuan tiba,
Surya datang dengan keputusan untuk menyangkal segala sesuatu yang menurutnya
belum terbukti.
Imelda telah menunggu di tempat yang
mereka sepakati.
Ketika Surya tiba, ia tidak
menyambutnya dengan senyum seperti biasanya. Ia tetap mempersilakan Surya
duduk, tetapi ada ketegangan yang tidak dapat disembunyikan dari wajahnya.
“Ada apa, Mel?” tanya Surya.
Imelda menatapnya.
“Aku ingin bertanya tentang hubungan
kita.”
Surya berusaha mempertahankan
ketenangannya.
“Silakan.”
“Apakah sejak awal kamu mendekatiku
karena benar-benar ingin mengenalku, atau karena kamu melihat sesuatu yang bisa
kamu dapatkan dari keluargaku?”
Pertanyaan itu membuat Surya terdiam.
Untuk sesaat, ia tidak mampu menemukan
jawaban yang tepat. Ia tidak menyangka Imelda akan mengajukan pertanyaan
tersebut secara langsung.
“Apa maksudmu?”
“Aku mendengar bahwa kamu pernah
membicarakan kemungkinan mendapatkan dukungan usaha melalui hubunganmu dengan
keluarga seorang perempuan dari keluarga berada.”
Surya menatapnya.
“Siapa yang mengatakan itu?”
Imelda menggeleng perlahan.
“Jangan mulai dengan menanyakan siapa
yang bercerita. Aku sedang bertanya kepadamu.”
Surya menarik napas.
“Mel, aku memang sedang berusaha
membangun usaha. Aku juga pernah mempertimbangkan untuk berdiskusi dengan
ayahmu. Tetapi itu bukan berarti aku mendekatimu hanya untuk mendapatkan uang.”
“Apakah kamu pernah berharap hubungan
kita bisa membantumu memperoleh kesempatan dari keluargaku?”
Surya terdiam lagi.
Pertanyaan itu tidak memberinya ruang
yang mudah untuk mengelak. Ia memang pernah memikirkan kemungkinan tersebut. Ia
telah membayangkan bahwa kedekatannya dengan Imelda dapat membawanya lebih
dekat kepada orang-orang yang memiliki pengalaman, jaringan, dan kemampuan
finansial.
Namun, ia belum pernah menyampaikan
pikiran itu secara terbuka.
“Aku ingin memperbaiki hidupku,”
katanya akhirnya. “Aku pikir tidak salah kalau aku berharap bisa mendapatkan
kesempatan yang lebih baik.”
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa
keinginanmu untuk maju itu salah.”
“Lalu kenapa kamu menanyakannya
seolah-olah aku melakukan kejahatan?”
Imelda menarik napas panjang.
“Karena aku ingin tahu apakah kamu
melihatku sebagai seseorang yang kamu cintai atau sebagai jalan menuju sesuatu
yang kamu inginkan.”
Surya memalingkan wajah.
“Aku mencintaimu.”
Imelda menunggu kelanjutan kalimat
itu.
Namun, Surya tidak segera menambahkan
apa pun.
“Kalau begitu, mengapa kamu tidak
pernah menceritakan kepadaku bahwa kamu mulai memikirkan kemungkinan
mendapatkan dukungan melalui keluargaku?” tanya Imelda.
Surya berusaha menjawab.
“Aku belum meminta bantuan apa pun.”
“Aku tahu.”
“Aku juga belum mendapatkan uang dari
keluargamu.”
“Aku tidak mengatakan kamu sudah
menerima uang.”
“Lalu apa yang sebenarnya kamu
tuduhkan kepadaku?”
Imelda menatapnya dengan mata yang
mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak sedang menghitung uang yang
belum kamu terima. Aku sedang mencoba memahami niat yang selama ini tidak
pernah kamu ceritakan.”
Surya terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari
bahwa semua pembelaan yang telah disiapkannya tidak menjawab pertanyaan utama
Imelda.
Ia hanya berusaha membuktikan bahwa
dirinya belum melakukan sesuatu yang secara kasatmata dapat dianggap sebagai
penipuan. Ia tidak menjawab apakah ia telah membangun hubungan mereka dengan
menyimpan kepentingan yang sengaja tidak diperlihatkan.
Imelda melanjutkan dengan suara
bergetar.
“Aku tidak pernah memintamu menjadi orang
kaya, Surya. Aku tidak pernah meminta kamu memiliki usaha besar, rumah mewah,
atau kehidupan yang sempurna. Aku hanya ingin seseorang yang bisa kupercaya.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu tahu, mengapa kamu tidak
jujur sejak awal?”
Surya menunduk.
Ia ingin mengatakan bahwa perasaannya
kepada Imelda tidak sepenuhnya palsu. Ia ingin menjelaskan bahwa ada saat-saat
ketika ia benar-benar merasa bahagia bersamanya, ketika ia menikmati percakapan
mereka, dan ketika ia tidak sedang memikirkan uang atau peluang apa pun.
Semua itu benar.
Tetapi ada kebenaran lain yang juga
tidak dapat disangkal: sejak awal, ia memang tertarik pada kehidupan yang
berada di sekitar Imelda. Ketertarikan itu bukan sesuatu yang muncul setelah
mereka saling mencintai. Ia telah ada ketika Surya memutuskan bahwa perempuan
itu layak didekati.
Dan selama ini, ia membiarkan Imelda
mengenal dirinya tanpa mengetahui bagian tersebut.
“Aku tidak tahu bagaimana
menjelaskannya,” kata Surya.
Imelda mengusap air mata yang mulai
jatuh.
“Itulah yang membuatku takut. Kamu
selalu punya jawaban ketika aku bertanya tentang hal-hal kecil. Tetapi ketika
aku menanyakan sesuatu yang benar-benar penting, kamu selalu mengatakan tidak
tahu bagaimana menjelaskannya.”
Surya meraih tangannya.
“Mel, dengarkan aku. Aku tidak pernah
bermaksud membuatmu terluka.”
Imelda tidak langsung menarik
tangannya, tetapi ia juga tidak menggenggam tangan Surya seperti biasanya.
“Aku ingin percaya bahwa kamu tidak
bermaksud menyakitiku. Tetapi niat baik saja tidak cukup kalau kamu terus menyembunyikan
sesuatu.”
Surya merasa kehilangan kata-kata.
Pada saat yang sama, Fajar akhirnya
mengambil keputusan untuk tidak lagi membiarkan persoalan itu berputar dalam
dugaan.
Ia menghubungi Surya dan meminta izin
untuk bertemu dengan Imelda, bukan untuk mempermalukan sahabatnya, melainkan
untuk memastikan bahwa perempuan itu tidak terus berada dalam ketidakjelasan.
Surya menolak.
“Jangan libatkan Imelda dalam urusan
kita,” katanya.
Fajar menjawab dengan tenang.
“Imelda sudah menjadi bagian dari
persoalan ini sejak kamu mulai membawa hubungan kalian ke dalam rencana
usahamu.”
“Aku bisa menjelaskan sendiri
kepadanya.”
“Kalau begitu, jelaskan semuanya.
Jangan hanya bagian yang menurutmu aman untuk diceritakan.”
Surya terdiam.
Fajar melanjutkan, “Aku tidak ingin
membuka rahasiamu. Tetapi aku juga tidak akan berbohong jika Imelda bertanya
tentang sesuatu yang memang kuketahui.”
Surya merasa marah sekaligus takut.
Ia tidak ingin Fajar berbicara kepada
Imelda karena ia tahu sahabatnya dapat menjelaskan bagaimana
peringatan-peringatan sebelumnya telah ia abaikan.
“Aku tidak menyangka kamu akan
melakukan ini kepadaku,” katanya.
Fajar terdiam sejenak sebelum
menjawab.
“Aku juga tidak pernah menyangka bahwa
suatu hari aku harus memilih antara melindungi perasaanmu dan membiarkan orang
lain tetap berada dalam ketidaktahuan.”
Panggilan itu berakhir.
Fajar tidak merasa menang. Ia justru
merasa sedih karena persahabatan yang telah berlangsung lama kini berdiri di
ambang keretakan.
Namun, ia tahu bahwa kesetiaan tidak
dapat diukur hanya dari kesediaan seseorang menutupi kesalahan sahabatnya.
Sore itu, Imelda kembali menghubungi
Nadia.
Ia menceritakan percakapannya dengan
Surya, termasuk bagaimana laki-laki itu terus menegaskan bahwa dirinya belum
menerima uang atau bantuan dari keluarga Yuliana.
Nadia mendengarkan tanpa memotong.
“Menurutmu, apakah dia berbohong?”
tanya Imelda pada akhirnya.
Nadia tidak langsung menjawab.
“Aku tidak bisa memastikan seluruh isi
hatinya. Tetapi dari apa yang kamu ceritakan, ada satu hal yang jelas: dia
belum menjawab pertanyaan yang paling penting bagimu.”
Imelda menunduk.
“Aku ingin dia berkata jujur, meskipun
kejujuran itu menyakitkan.”
“Dan kamu berhak meminta kejujuran
itu.”
“Tetapi bagaimana jika sebagian dari
perasaannya memang tulus?”
Nadia memandang sahabatnya dengan
lembut.
“Perasaan seseorang bisa rumit, Mel.
Mungkin dia punya perasaan kepadamu sekaligus memiliki kepentingan lain. Tetapi
keberadaan perasaan tidak otomatis menghapus dampak dari kebohongan.”
Imelda merasakan air matanya kembali
mengalir.
Ia tidak ingin menerima kenyataan itu.
Ia ingin dunia memiliki jawaban yang lebih sederhana: seseorang mencintai atau
tidak mencintai, seseorang jujur atau berbohong.
Namun, kenyataan yang sedang
dihadapinya jauh lebih menyakitkan.
Bisa jadi Surya memang memiliki
perasaan kepadanya.
Bisa jadi ada momen ketika laki-laki
itu benar-benar bahagia bersamanya.
Tetapi jika perasaan tersebut tumbuh
berdampingan dengan kepentingan yang disembunyikan, Imelda harus menghadapi
pertanyaan yang jauh lebih berat daripada sekadar apakah dirinya dicintai.
Ia harus bertanya apakah cinta itu
cukup jujur untuk dipercaya.
Malam itu, Surya tidak dapat tidur.
Percakapannya dengan Imelda terus
terulang dalam pikirannya. Ia mengingat tatapan perempuan itu ketika bertanya
tentang motifnya, cara suaranya bergetar, dan tangannya yang tidak lagi
membalas genggamannya.
Ia ingin menghubungi Imelda, meminta
maaf, dan meyakinkannya bahwa hubungan mereka masih berarti.
Namun, ia tidak tahu bagaimana meminta
maaf tanpa mengakui sesuatu yang selama ini ia hindari.
Jika ia mengatakan bahwa sejak awal
dirinya juga tertarik pada keadaan ekonomi keluarga Yuliana, Imelda mungkin
akan mempertanyakan seluruh perjalanan mereka. Pertemuan pertama,
perhatian-perhatian kecil, janji di KP3, dan makan malam bersama keluarga dapat
berubah makna di mata perempuan itu.
Surya takut kehilangan semua kenangan
tersebut.
Ia juga takut kehilangan kesempatan
yang selama ini dikejarnya.
Di situlah ia akhirnya berhadapan
dengan kenyataan yang paling tidak ingin diterimanya: ia ingin mempertahankan
kepercayaan Imelda tanpa membuka seluruh alasan yang membuatnya mendekati
perempuan itu.
Ia ingin dimaafkan tanpa harus
menghadapi sepenuhnya apa yang telah ia sembunyikan.
Surya duduk di tepi tempat tidur,
menatap ponselnya yang tidak kunjung berbunyi.
Ia mulai menyusun pesan panjang untuk
Imelda. Dalam pesan itu, ia menulis bahwa dirinya mencintai Imelda, bahwa ia
sedang berusaha memperbaiki kehidupan, dan bahwa ia tidak pernah berniat
memanfaatkan siapa pun.
Ia membaca kembali kalimat-kalimat
tersebut.
Semuanya terdengar meyakinkan.
Namun, ia menyadari bahwa pesan itu
masih berisi pembelaan. Ia lebih banyak menjelaskan alasan dirinya bertindak
daripada mengakui dampak tindakannya terhadap Imelda.
Surya menghapus pesan tersebut.
Ia mencoba menulis lagi.
Kali ini, ia hanya mengetik:
Mel, aku ingin kita
bicara lagi. Ada hal-hal yang seharusnya sejak awal kujelaskan kepadamu.
Ia menatap kalimat itu cukup lama.
Kemudian, ia mengirimkannya.
Di tempat lain, Imelda menerima pesan
tersebut ketika sedang duduk seorang diri. Ia membaca kalimat itu berulang
kali, berusaha memahami apa yang mungkin akan dikatakan Surya jika mereka
bertemu lagi.
Ia tidak segera membalas.
Bukan karena ingin menghukum Surya
dengan diam, melainkan karena ia membutuhkan waktu untuk mengumpulkan
keberanian menghadapi jawaban yang mungkin akan mengubah hidupnya.
Ia masih mencintai laki-laki itu.
Perasaan tersebut belum hilang hanya
karena sebuah kecurigaan mulai menemukan dasar.
Tetapi cinta yang masih tersisa tidak
dapat lagi membuatnya menutup mata.
Imelda akhirnya meletakkan ponselnya
dan memandang keluar jendela.
Malam Kuala Kapuas terasa sunyi. Tidak
ada yang berubah pada jalan-jalan yang biasa mereka lewati, tidak ada yang
berubah pada tempat-tempat yang menyimpan kenangan mereka.
Namun, di dalam hati Imelda, sesuatu
telah runtuh.
Bukan seluruh cintanya.
Melainkan keyakinannya bahwa ia telah
mengenal Surya sepenuhnya.
Ia mulai memahami bahwa orang yang
paling dekat dengan kita pun dapat menyimpan bagian dirinya yang tidak pernah
kita kenal. Dan terkadang, yang paling menyakitkan bukanlah kenyataan bahwa
seseorang memiliki kekurangan, melainkan kenyataan bahwa ia membiarkan kita
mencintai gambaran dirinya yang tidak utuh.
Sementara itu, Surya menunggu jawaban
yang belum datang.
Ia masih berharap dapat menyelamatkan
hubungan mereka. Ia masih ingin percaya bahwa kata-kata yang tepat dapat
memperbaiki keadaan.
Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai
menyadari bahwa persoalan mereka tidak lagi dapat diselesaikan hanya dengan
senyuman, perhatian, atau janji baru.
Sandiwara yang selama ini ia bangun
mulai terbuka.
Dan di balik semua alasan yang masih
ingin ia pertahankan, ada satu kenyataan yang semakin sulit disangkal: Imelda
tidak pernah meminta kekayaan darinya.
Perempuan itu hanya meminta kejujuran.
Tetapi justru kejujuran itulah yang
paling lama ia tunda.
BAB XII
AKU MASIH MENCINTAIMU
Malam itu, Imelda Yuliana duduk
sendirian di tepi tempat tidurnya. Lampu kamar menyala redup, sementara layar
ponsel di tangannya sesekali memancarkan cahaya. Sejak percakapannya dengan
Surya berakhir tanpa jawaban yang benar-benar memuaskan, pikirannya seperti
berjalan tanpa arah.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia
tanyakan. Namun, setiap kali mencoba menyusun pertanyaan, ia kembali dihadapkan
pada satu kenyataan yang sulit diterima: laki-laki yang selama ini ia percayai
ternyata menyimpan bagian dari dirinya yang tidak pernah ia ketahui.
Imelda membuka galeri foto di
ponselnya.
Di sana ada beberapa foto bersama
Surya. Tidak banyak, tetapi cukup untuk mengembalikan berbagai kenangan yang
pernah membuatnya tersenyum. Ada foto ketika mereka menikmati waktu bersama di
sekitar Kota Air, ada gambar sederhana yang diambil tanpa persiapan, dan ada
pula foto yang mengingatkannya pada sore ketika Surya pernah bercerita tentang
impian-impian yang ingin ia wujudkan.
Imelda berhenti pada sebuah foto yang
memperlihatkan mereka berdiri berdekatan. Wajah Surya tampak tenang. Senyumnya
terlihat begitu alami sehingga sulit bagi Imelda untuk percaya bahwa laki-laki
itu mungkin telah menyimpan perhitungan sejak awal perkenalan mereka.
Ia memperbesar foto itu, lalu
mengembalikannya ke ukuran semula.
“Apakah semuanya hanya sandiwara?”
bisiknya.
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban
dari siapa pun. Namun, justru karena tidak ada jawaban, pertanyaan tersebut
terus berputar di dalam kepalanya.
Imelda tidak pernah meminta Surya
menjadi laki-laki kaya. Ia juga tidak pernah menuntut agar Surya memiliki usaha
besar, kendaraan mewah, atau kedudukan yang dapat dibanggakan di hadapan orang
lain.
Yang ia inginkan sederhana. Seorang
laki-laki yang mau berjalan bersamanya, berbicara jujur ketika menghadapi
kesulitan, dan tidak menjadikan perasaan sebagai alat untuk mendapatkan
sesuatu.
Jika Surya sejak awal mengatakan bahwa
dirinya sedang berusaha mencari peluang usaha dan berharap dapat memperoleh
nasihat dari ayahnya, Imelda mungkin tidak akan mempermasalahkannya. Ayahnya
mengenal dunia usaha. Memberikan saran kepada seseorang yang ingin berkembang
bukanlah hal yang aneh.
Namun, Surya tidak memilih jalan itu.
Ia memilih menyimpan maksudnya
sendiri, membiarkan Imelda percaya bahwa hubungan mereka tumbuh tanpa
kepentingan lain. Ketika kesempatan untuk mendekati keluarga Yuliana muncul,
Surya tidak segera menghentikan langkahnya. Ia justru membiarkan hubungan itu
semakin dekat.
Di situlah luka Imelda bermula.
Bukan semata-mata karena Surya
memiliki keinginan untuk memperbaiki kehidupannya, melainkan karena ia tidak
pernah diberi kesempatan untuk mengetahui kebenaran secara utuh.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Surya muncul di
layar.
Mel, aku tahu kamu
kecewa. Aku tidak akan memaksamu untuk langsung percaya lagi. Aku hanya ingin
kamu memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya dengan jujur. Kalau kamu
bersedia, aku ingin bertemu dan bicara baik-baik.
Imelda membaca pesan itu berulang
kali.
Jarinya bergerak hendak membalas,
tetapi kemudian berhenti. Ia ingin menanyakan mengapa Surya baru meminta
kesempatan untuk jujur setelah kebohongannya mulai diketahui. Ia juga ingin
mengatakan bahwa dirinya lelah menjadi orang yang harus terus mencari jawaban
dari hal-hal yang seharusnya dapat disampaikan dengan terbuka.
Namun, di balik semua kemarahan itu,
ada sesuatu yang belum hilang.
Ia masih ingin mendengar suara Surya.
Masih ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati laki-laki itu.
Bahkan, sebagian kecil dari dirinya masih berharap bahwa penjelasan Surya akan
membuat semua yang kini terasa rumit menjadi sedikit lebih mudah dipahami.
Harapan itulah yang membuatnya takut.
Sebab, jika ia masih mencintai Surya,
apakah ia akan kembali memaafkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh diabaikan?
Imelda meletakkan ponsel di atas meja.
Ia tidak membalas malam itu.
Ia membutuhkan waktu untuk membedakan
antara kerinduan dan kepercayaan, dua hal yang selama ini tumbuh berdampingan,
tetapi kini terasa sangat berbeda.
Keesokan harinya, Nadia Permatasari
datang menemui Imelda.
Nadia tidak langsung menanyakan
perkembangan hubungannya dengan Surya. Ia mengenal sahabatnya itu cukup baik
untuk memahami bahwa tidak semua luka perlu dibicarakan begitu seseorang baru
saja mengalaminya.
Mereka duduk di ruang keluarga. Ratna
Yuliana sempat menyapa dari arah dapur, kemudian membiarkan keduanya berbicara
dengan tenang.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Nadia
akhirnya.
Imelda tersenyum tipis. “Menurutmu,
bagaimana keadaan seseorang yang masih mencintai orang yang membuatnya kecewa?”
Nadia tidak segera menjawab.
“Mungkin dia sedang berusaha memahami
dua hal yang bertentangan,” katanya kemudian. “Hatinya masih ingin bertahan,
tetapi pikirannya mulai mempertanyakan apakah hubungan itu masih aman
untuknya.”
Imelda menunduk.
“Itulah yang kurasakan. Aku marah
kepadanya, Nadia. Aku kecewa. Tetapi ketika mengingat semuanya, aku tidak bisa
mengatakan bahwa aku sudah tidak mencintainya.”
“Perasaan tidak selalu hilang ketika
kita mengetahui kesalahan seseorang.”
“Lalu, apa artinya kalau aku masih
mencintainya?”
“Artinya kamu masih memiliki perasaan.
Bukan berarti kamu harus menerima semua yang telah dia lakukan.”
Imelda memandang sahabatnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa
seperti sesuatu yang selama ini tidak berani ia ucapkan kepada dirinya sendiri.
“Aku terus mengingat saat-saat ketika
dia memperhatikanku,” ujar Imelda. “Ketika aku lelah, dia bertanya apakah aku
sudah makan. Ketika aku bercerita tentang masalahku, dia mendengarkan. Ketika
kami berbicara tentang masa depan, dia tampak sungguh-sungguh. Aku tidak tahu
harus memandang semua itu sebagai apa sekarang.”
“Jangan buru-buru menganggap setiap
kenangan baik sebagai kebohongan,” jawab Nadia. “Kita tidak tahu persis apa
yang dia rasakan pada setiap saat itu. Bisa saja ada perhatian yang memang
tulus. Bisa saja ada bagian dari dirinya yang benar-benar menyayangimu. Tetapi
itu tidak menghapus kenyataan bahwa dia juga menyembunyikan maksud yang penting
dari hubungan kalian.”
Imelda menarik napas perlahan.
“Kalau begitu, bagaimana aku bisa
mengetahui mana yang benar?”
“Kamu mungkin tidak akan mendapatkan
jawaban untuk setiap kenangan. Yang bisa kamu nilai sekarang adalah bagaimana
dia menghadapi kebenaran setelah semuanya terbuka. Apakah dia berani mengakui
kesalahannya tanpa mencari pembenaran? Apakah dia menghormati perasaanmu ketika
kamu membutuhkan waktu? Dan apakah tindakannya nanti sesuai dengan
perkataannya?”
Imelda terdiam cukup lama.
Selama ini ia terbiasa menilai Surya
dari hal-hal yang terlihat. Perhatian kecil, kata-kata yang menenangkan, dan
kesediaannya menemani dalam berbagai kesempatan. Ia mengira semua itu sudah
cukup untuk mengenal seseorang.
Kini ia menyadari bahwa mengenal
seseorang juga berarti melihat bagaimana orang itu bertindak ketika kejujuran
menuntutnya membayar harga.
“Aku takut kalau aku memberinya
kesempatan, aku akan terluka lagi,” katanya.
Nadia mengangguk.
“Ketakutan itu wajar. Tetapi
keputusanmu tidak harus dibuat hari ini. Kamu tidak wajib langsung
memaafkannya, dan kamu juga tidak harus langsung mengakhiri semuanya hanya
karena orang lain menganggap itulah keputusan paling tepat.”
“Bagaimana jika aku terlalu lama
bertahan karena masih mencintainya?”
“Kalau suatu hari kamu memutuskan
bertahan, pastikan itu bukan karena kamu takut kehilangan. Dan kalau kamu
memilih pergi, pastikan itu bukan semata-mata karena ingin membalas rasa
sakitmu. Apa pun keputusanmu, kamu harus bisa menerimanya tanpa mengkhianati
dirimu sendiri.”
Imelda memalingkan wajah ke jendela.
Di luar, hari berjalan seperti biasa.
Orang-orang menjalani kesibukan masing-masing, seolah tidak ada yang berubah di
dalam dirinya. Namun, bagi Imelda, sesuatu telah bergeser. Ia tidak lagi dapat
memandang hubungan itu dengan keyakinan yang sama.
Bukan berarti cintanya telah habis.
Ia hanya mulai memahami bahwa cinta
pun membutuhkan batas agar seseorang tidak kehilangan dirinya sendiri.
Pada sore harinya, Surya duduk
sendirian di sebuah warung sederhana. Secangkir kopi berada di hadapannya,
tetapi sejak tadi hampir tidak tersentuh.
Ia telah mengirim pesan kepada Imelda
dan belum menerima jawaban. Beberapa kali ia membuka percakapan mereka, membaca
pesan terakhir yang dikirimkannya, lalu menutupnya kembali.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa
waktu terakhir, ia tidak yakin apakah kata-kata yang biasanya mudah ia susun
masih dapat membantunya.
Ia tahu dirinya telah melakukan
kesalahan. Namun, mengakui kesalahan di dalam hati ternyata jauh lebih mudah
daripada menyampaikannya kepada orang yang telah ia lukai.
Fajar Ramadhan datang dan duduk di
hadapannya.
“Sudah bicara dengan Imelda?”
tanyanya.
“Belum. Aku mengirim pesan, tetapi dia
belum membalas.”
Fajar memperhatikan wajah temannya
itu.
“Apa yang akan kamu katakan kalau dia
bersedia bertemu?”
Surya mengusap wajahnya. “Aku akan
menjelaskan semuanya.”
“Benar-benar semuanya?”
Surya terdiam.
Fajar tidak perlu menambahkan banyak
kata untuk membuatnya memahami maksud pertanyaan itu.
“Aku tahu aku salah,” ujar Surya
akhirnya.
“Kesalahan yang mana?”
Surya menatapnya dengan tidak nyaman.
“Jangan membuatku mengulang semuanya,
Jar.”
“Aku bukan ingin menyudutkanmu. Aku
hanya ingin kamu berhenti menyebut kesalahanmu secara umum. Kamu mendekati
Imelda ketika kamu tahu keluarganya memiliki kedudukan dan kemampuan ekonomi
yang baik. Kamu membiarkan kedekatan itu tumbuh sambil memikirkan kemungkinan
mendapatkan peluang dari ayahnya. Ketika dia mulai bertanya, kamu tidak
menjelaskan semuanya secara terbuka.”
Surya menunduk.
“Begitulah kenyataannya.”
“Kalau kamu mengakuinya, jangan
kemudian menjadikan perasaanmu sebagai alasan untuk membenarkan tindakanmu.”
Surya mengangkat kepala.
“Aku memang awalnya melihat kesempatan
itu. Aku tidak akan menyangkalnya lagi. Tetapi setelah mengenal Imelda lebih
dekat, semuanya tidak sesederhana yang kubayangkan.”
“Apa maksudmu?”
“Aku mulai menyayanginya. Aku
menikmati waktu bersamanya. Aku senang ketika dia bercerita kepadaku. Aku
merasa tenang ketika berada di dekatnya. Semua itu bukan sesuatu yang bisa
kuatur sesuka hati.”
Fajar mendengarkan tanpa menyela.
“Lalu, kenapa kamu tidak berhenti
ketika menyadari bahwa hubungan itu mulai berarti bagimu?” tanyanya.
Surya tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu justru membawa
pikirannya kembali kepada berbagai kesempatan ketika ia sebenarnya bisa memilih
jalan yang berbeda. Ia bisa menjelaskan rencana usahanya secara terbuka. Ia
bisa mengatakan kepada Imelda bahwa dirinya berharap memperoleh nasihat dari
Hendra. Ia juga bisa menerima kemungkinan bahwa Imelda tidak akan menyukai
ambisi dan caranya memandang hubungan mereka.
Namun, ia tidak melakukan semua itu.
Ia ingin mendapatkan keduanya: cinta
Imelda dan peluang yang mungkin terbuka melalui keluarganya.
“Aku takut kehilangan kesempatan,”
jawab Surya pelan. “Dan aku takut kehilangan Imelda.”
Fajar menghela napas.
“Jadi, kamu mempertahankan kebohongan
karena takut kehilangan sesuatu yang kamu inginkan.”
Surya tidak membantah.
“Aku tidak pernah meminta uang kepada
ayahnya,” katanya setelah beberapa saat. “Aku juga belum menerima bantuan apa
pun dari keluarganya.”
“Aku tahu. Dan aku tidak mengatakan
bahwa kamu sudah menerima uang atau melakukan transaksi apa pun. Tetapi
persoalannya bukan hanya uang. Kamu membiarkan Imelda mempercayai hubungan
kalian sebagai sesuatu yang tumbuh dengan jujur, sementara kamu menyimpan
kepentingan yang tidak pernah kamu jelaskan.”
Surya memandang kopi di hadapannya.
Ia ingin mengatakan bahwa hidup telah
mengajarinya untuk selalu mencari kesempatan. Ia ingin menjelaskan bahwa
dirinya tidak dilahirkan dengan kemudahan yang sama seperti Imelda. Ia juga
ingin mengakui betapa sulitnya melihat orang lain bergerak maju sementara
dirinya masih berjuang menentukan arah.
Semua itu benar menurut pengalamannya.
Namun, ia mulai memahami bahwa keadaan
sulit tidak otomatis memberinya hak untuk menggunakan perasaan orang lain demi
mempercepat langkahnya.
“Aku tidak tahu apakah dia masih mau
mendengarkanku,” katanya.
“Itu haknya untuk menentukan.”
“Kalau dia pergi, aku akan kehilangan
dia.”
“Dan kalau dia bertahan, kamu tidak
bisa menganggap semuanya kembali seperti semula. Kepercayaan yang rusak tidak
pulih hanya karena kamu berhasil menjelaskan alasanmu.”
Surya mengusap kedua tangannya.
“Apa yang harus kulakukan?”
“Berhenti mencoba mengendalikan
hasilnya. Katakan yang sebenarnya. Setelah itu, biarkan Imelda menentukan apa
yang terbaik baginya.”
Fajar tidak mengatakan bahwa Surya
harus menyerah. Ia juga tidak menjanjikan bahwa kejujuran akan menyelamatkan
hubungan tersebut.
Ia hanya mengingatkan bahwa ada akibat
yang harus diterima ketika seseorang terlalu lama menyembunyikan kebenaran.
Surya terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia mulai
mempertimbangkan kemungkinan bahwa penyesalan tidak selalu berakhir dengan
kesempatan kedua.
Malam itu, Imelda akhirnya membalas
pesan Surya.
Besok kita bertemu.
Aku ingin mendengar penjelasanmu. Tolong, kali ini jangan ada yang kamu
sembunyikan.
Surya membaca pesan itu dengan
perasaan yang sulit dijelaskan. Ada kelegaan karena Imelda bersedia bertemu,
tetapi juga kecemasan karena ia tahu bahwa pertemuan tersebut mungkin menjadi
kesempatan terakhir baginya untuk berbicara tanpa kepura-puraan.
Ia membalas singkat.
Baik, Mel. Aku akan
menjawab pertanyaanmu sejujur mungkin.
Setelah mengirim pesan itu, Surya
meletakkan ponselnya.
Ia sadar bahwa dirinya tidak dapat
lagi mengandalkan senyum, perhatian, atau kalimat-kalimat yang selama ini
membuat Imelda merasa aman. Kali ini, ia harus berhadapan dengan sesuatu yang
selama ini berusaha dihindarinya: kenyataan tentang dirinya sendiri.
Keesokan harinya, mereka bertemu di
sebuah tempat yang cukup tenang di Kuala Kapuas.
Imelda datang lebih dahulu. Ia memilih
tempat duduk yang menghadap ke arah luar, membiarkan pandangannya sesekali
mengikuti orang-orang yang berlalu-lalang.
Ketika Surya datang, ia melihat
laki-laki itu berjalan dengan langkah yang tidak setegas biasanya. Senyumnya
muncul sekilas, tetapi segera menghilang ketika ia melihat wajah Imelda.
“Terima kasih sudah mau bertemu,” kata
Surya.
Imelda mengangguk. “Aku datang karena
masih ada hal yang perlu kudengar langsung darimu.”
Surya duduk di hadapannya.
Untuk beberapa saat, keduanya tidak
berbicara. Ada jarak yang terasa aneh di antara mereka. Mereka pernah duduk
berdekatan tanpa kehabisan bahan percakapan, tetapi sekarang setiap kata seolah
harus melewati pertimbangan panjang sebelum diucapkan.
Imelda akhirnya membuka percakapan.
“Aku ingin bertanya sekali lagi. Sejak
awal kamu mendekatiku, apakah kamu memang sudah memikirkan keluargaku sebagai
jalan untuk mendapatkan peluang usaha?”
Surya menatapnya.
Ia sempat ingin menjawab dengan
kalimat yang lebih halus. Ia ingin mengatakan bahwa pertemuan mereka terjadi
secara alami, bahwa dirinya memang tertarik kepada Imelda, dan bahwa semua yang
tumbuh di antara mereka tidak dapat disederhanakan menjadi kepentingan.
Namun, ia tahu jawaban semacam itu
hanya akan mengulangi kesalahan yang sama.
“Ya,” jawabnya akhirnya. “Aku memang
memikirkan hal itu.”
Imelda menahan napas.
Meskipun telah menduga jawabannya,
mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan.
“Sejak awal?”
“Ketika aku mengetahui siapa
keluargamu, aku tahu bahwa kamu berasal dari keluarga yang memiliki kemampuan
dan jaringan usaha. Aku mulai melihat kemungkinan bahwa kedekatan denganmu bisa
membawaku mengenal orang-orang yang mungkin dapat membuka peluang untukku.”
Imelda memandangnya tanpa berkedip.
“Jadi, ketika kamu mendekatiku, kamu
sudah memikirkan kemungkinan itu?”
“Ya.”
“Lalu, kapan kamu mulai benar-benar
mencintaiku?”
Pertanyaan tersebut membuat Surya
terdiam lebih lama.
Ia tidak memiliki tanggal yang pasti.
Tidak ada satu peristiwa yang dapat ia tunjuk sebagai saat ketika perasaannya
berubah dari ketertarikan yang penuh perhitungan menjadi sesuatu yang lebih
dalam.
“Aku tidak tahu kapan tepatnya,”
jawabnya. “Awalnya aku memang memiliki maksud lain. Tetapi setelah kita semakin
dekat, aku mulai menikmati kebersamaan kita. Aku mulai memikirkanmu bukan hanya
ketika memikirkan peluang usaha. Aku peduli ketika kamu sedang lelah. Aku
senang mendengar ceritamu. Ada saat-saat ketika aku benar-benar ingin berada di
dekatmu, tanpa memikirkan apa yang bisa kudapatkan.”
Imelda menunduk sebentar.
Sebagian dari dirinya ingin
mempercayai kalimat itu. Ia mengenali beberapa hal yang disebutkan Surya, sebab
ia pun merasakan kedekatan yang sama selama hubungan mereka berlangsung.
Namun, ada pertanyaan lain yang tidak
bisa ia abaikan.
“Kalau perasaanmu benar-benar tumbuh,
mengapa kamu tidak pernah mengatakan kepadaku tentang maksudmu yang
sebenarnya?”
Surya mengatupkan bibirnya.
“Karena aku takut kamu akan menjauh.”
“Jadi, kamu tahu bahwa aku mungkin
tidak akan menerima caramu, tetapi kamu tetap memilih menyembunyikannya?”
“Ya.”
“Apakah kamu menganggap aku tidak
cukup mampu memahami keadaanmu sehingga kamu harus menentukan sendiri apa yang
boleh kuketahui?”
“Bukan begitu, Mel.”
“Lalu bagaimana?”
Surya menghela napas panjang.
“Aku ingin kamu tetap melihatku
sebagai laki-laki yang bisa kamu percaya. Aku tidak ingin kamu menganggapku
sedang memanfaatkan hubungan kita. Aku pikir aku bisa mencari peluang usahaku
sendiri tanpa harus menjelaskan semua yang ada di pikiranku.”
Imelda menggeleng perlahan.
“Itulah yang membuatku terluka, Surya.
Kamu ingin aku percaya kepadamu, tetapi kamu sendiri memilih bagian mana dari
dirimu yang boleh kukenal. Kamu ingin aku menerima kesulitanmu, tetapi kamu
tidak memberiku kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang kamu
kejar.”
Surya tidak menjawab.
“Aku tidak pernah melarangmu mencari
peluang usaha,” lanjut Imelda. “Aku tidak pernah mengatakan bahwa kamu harus
memiliki kekayaan yang sama dengan keluargaku. Kalau kamu ingin meminta nasihat
kepada Ayah, aku tidak akan menganggap itu sesuatu yang memalukan. Tetapi kamu
harus jujur. Kamu tidak bisa membiarkan aku percaya bahwa hubungan kita
sepenuhnya tentang cinta ketika sejak awal kamu juga melihatnya sebagai
kesempatan.”
“Aku tahu aku salah.”
“Sekarang kamu tahu. Tetapi dulu,
ketika kamu masih bisa memilih untuk jujur, kamu tidak melakukannya.”
Kalimat itu membuat Surya menundukkan
kepala.
Ia ingin memohon agar Imelda memahami
keadaannya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berniat membuat
perempuan itu menderita. Akan tetapi, ia mulai menyadari bahwa niat untuk tidak
menyakiti seseorang tidak cukup jika tindakan yang dipilih justru membuka jalan
menuju luka.
“Aku tidak bisa mengubah bagaimana
semuanya dimulai,” katanya. “Aku juga tidak bisa meminta kamu menganggap
kesalahanku sebagai sesuatu yang kecil. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa
perasaanku kepadamu bukan sepenuhnya kebohongan.”
Imelda memandang laki-laki itu lama
sekali.
“Masalahnya, aku tidak tahu lagi
bagaimana membedakan bagian yang tulus dari bagian yang kamu rencanakan.”
Surya merasakan dadanya sesak.
“Aku berharap suatu hari kamu bisa
melihatnya.”
“Dan aku berharap sejak awal kamu
memberiku kesempatan untuk melihatnya dengan jujur.”
Tidak ada jawaban yang dapat
mempertemukan kedua harapan itu.
Mereka duduk berhadapan, membawa
kenyataan yang sama tetapi merasakannya dengan cara yang berbeda. Surya mulai
memahami apa yang mungkin hilang darinya. Imelda sedang berusaha menerima bahwa
seseorang dapat memiliki perasaan kepadanya sekaligus melakukan sesuatu yang
melukai kepercayaannya.
Keduanya tidak sedang membicarakan
uang yang berpindah tangan. Tidak ada bantuan keuangan dari keluarga Yuliana
yang telah diterima Surya, dan tidak ada kesepakatan usaha yang berhasil mereka
bangun bersama. Yang kini mereka hadapi adalah sesuatu yang lebih mendasar:
niat yang disembunyikan, harapan yang dibiarkan tumbuh di atas pemahaman yang
tidak utuh, dan kepercayaan yang telah kehilangan pijakannya.
“Apa yang kamu inginkan sekarang?”
tanya Imelda.
Surya menatapnya.
“Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku
ingin kamu memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa berubah.”
Imelda menarik napas perlahan.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa
melakukannya.”
“Aku tidak akan memaksamu.”
“Jangan hanya mengatakan itu karena
kamu takut kehilangan aku. Kalau kamu sungguh-sungguh ingin berubah, lakukan
karena kamu tahu apa yang salah dalam dirimu, bukan semata-mata agar aku
kembali.”
Surya terdiam. Kali ini, ia tidak
mencoba membantah.
Imelda berdiri setelah beberapa saat.
Surya ikut berdiri, tetapi tidak berusaha menahan tangannya.
“Mel,” panggilnya sebelum perempuan
itu beranjak.
Imelda berhenti.
“Aku masih mencintaimu,” kata Surya.
“Aku tahu kata-kata itu mungkin tidak cukup berarti sekarang. Tetapi aku ingin
kamu tahu bahwa aku tidak ingin kehilanganmu.”
Imelda memejamkan mata sejenak.
Kalimat itu menyentuh bagian dirinya
yang masih menyimpan kasih sayang. Ia ingin memeluk Surya seperti dahulu,
ketika ia percaya bahwa laki-laki itu adalah tempat yang aman untuk berbagi
cerita. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, ia tidak sanggup mengucapkan
janji yang belum tentu dapat ia tepati.
“Aku juga masih mencintaimu, Surya,”
jawabnya pelan.
Surya menatapnya dengan mata yang
mulai berkaca-kaca.
“Tetapi aku sedang berusaha memahami
apakah aku masih bisa mempercayaimu,” lanjut Imelda. “Dan aku belum menemukan
jawabannya.”
Ia kemudian melangkah pergi.
Surya tetap berdiri di tempatnya. Ia
tidak mengejar, tidak pula memanggil Imelda untuk kedua kalinya. Untuk pertama
kalinya, ia membiarkan perempuan itu pergi tanpa berusaha mengatur bagaimana
pertemuan mereka harus berakhir.
Imelda berjalan menjauh dengan langkah
yang terasa berat.
Air matanya akhirnya jatuh ketika ia
telah cukup jauh dari tempat mereka berbicara. Ia menyekanya dengan punggung
tangan, tetapi air mata lain segera menyusul.
Ia tidak menangis karena baru
mengetahui bahwa Surya memiliki ambisi. Ia menangis karena masih menyayangi
seseorang yang kini membuatnya meragukan kenangannya sendiri.
Cinta itu belum mati.
Namun, untuk pertama kalinya, Imelda
tidak lagi tahu apakah cinta tersebut masih dapat menjadi alasan untuk
bertahan.
Malam harinya, Imelda berbicara dengan
Ratna di ruang keluarga.
Ratna tidak langsung bertanya tentang
isi percakapan Imelda dan Surya. Ia hanya duduk di samping putrinya, menunggu
sampai Imelda sendiri membuka pembicaraan.
“Aku sudah mendengar penjelasannya,
Bu,” kata Imelda.
“Bagaimana perasaanmu setelah
mendengarnya?”
Imelda tersenyum getir.
“Aku merasa lebih memahami apa yang
sebenarnya terjadi, tetapi tidak merasa lebih tenang.”
Ratna mengangguk pelan.
“Kadang-kadang, mengetahui kebenaran
tidak langsung membuat hati kita merasa lega.”
“Dia mengakui bahwa sejak awal dia
melihat keluargaku sebagai kesempatan. Katanya, perasaannya kemudian tumbuh
dengan sungguh-sungguh. Aku ingin percaya bahwa itu mungkin terjadi, Bu. Tetapi
aku tidak tahu apakah aku sedang mempercayai kenyataan atau hanya berharap
bahwa semua yang pernah kurasakan bersamanya memang tulus.”
Ratna menggenggam tangan putrinya.
“Kamu tidak harus memutuskan hari
ini.”
“Tapi aku takut, Bu. Kalau aku
bertahan, aku takut mengabaikan kesalahannya. Kalau aku pergi, aku takut suatu
hari menyesal karena ternyata masih ada sesuatu yang baik di antara kami.”
“Tidak ada keputusan yang bisa
menjamin kamu tidak akan merasakan penyesalan sama sekali. Yang terpenting
adalah kamu tidak membuat keputusan hanya karena takut kehilangan seseorang.”
Imelda menatap ibunya.
“Apakah Ibu pernah berada dalam
keadaan seperti ini?”
Ratna tersenyum tipis.
“Setiap hubungan memiliki ujian yang
berbeda. Ibu tidak akan mengatakan bahwa Ibu tahu persis apa yang kamu rasakan.
Tetapi Ibu tahu satu hal: kamu tidak bisa membangun masa depan hanya dengan
mengandalkan kenangan baik. Kamu juga harus melihat bagaimana seseorang
memperlakukanmu ketika keadaan menjadi sulit.”
Imelda kembali menunduk.
“Aku masih mencintainya, Bu.”
Ratna mengusap punggung tangan
putrinya.
“Ibu tahu.”
“Seandainya aku sudah tidak
mencintainya, mungkin keputusan ini akan lebih mudah.”
“Mungkin. Tetapi kamu tidak perlu
memaksa dirimu berhenti mencintai seseorang hanya agar bisa mengambil
keputusan. Perasaanmu boleh tetap ada. Kamu hanya perlu memastikan bahwa
perasaan itu tidak membuatmu mengabaikan apa yang kamu butuhkan untuk menjalani
hidup dengan tenang.”
Air mata kembali memenuhi mata Imelda.
Ratna menarik putrinya ke dalam
pelukan. Tidak ada nasihat panjang setelah itu. Ia membiarkan Imelda menangis,
sebab ia tahu bahwa terkadang seseorang tidak membutuhkan jawaban untuk setiap
persoalan. Ia hanya membutuhkan ruang untuk mengakui bahwa dirinya sedang
terluka.
Beberapa saat kemudian, Hendra Yuliana
masuk ke ruang keluarga. Ia melihat putrinya yang baru saja menyeka air mata,
lalu duduk di kursi seberang.
“Ayah tidak akan menentukan
pilihanmu,” katanya. “Hubungan itu milikmu, dan kamu yang akan menjalani akibat
dari keputusanmu.”
Imelda mengangguk.
“Aku tahu, Yah.”
“Tetapi ada satu hal yang ingin Ayah
tegaskan. Keluarga kita tidak akan menggunakan uang atau peluang usaha untuk
menyelesaikan persoalan hubungan kalian. Kalau Surya ingin membangun usaha, dia
harus menyiapkan rencana yang jelas dan bertanggung jawab atas pilihannya
sendiri. Kalau dia ingin menjalin hubungan denganmu, dia harus memahami bahwa
hubungan itu tidak bisa dijadikan jalan untuk memperoleh keuntungan.”
“Aku mengerti.”
“Ayah tidak mengatakan bahwa seseorang
yang berasal dari keluarga sederhana tidak pantas mendekatimu. Bukan itu
persoalannya. Yang Ayah khawatirkan adalah ketika seseorang tidak jujur tentang
maksudnya sendiri.”
Hendra berhenti sejenak, memberi
kesempatan kepada putrinya untuk mencerna kata-katanya.
“Namun, Ayah juga tidak ingin kamu
mengambil keputusan hanya untuk membuktikan bahwa kamu kuat. Kamu boleh
bersedih. Kamu boleh membutuhkan waktu. Tetapi jangan sampai kamu mengorbankan
ketenanganmu hanya karena merasa bahwa cinta harus selalu dipertahankan.”
Imelda menahan air matanya.
“Bagaimana jika aku masih ingin
memberinya kesempatan, Yah?”
“Kalau itu yang kamu pilih, kamu harus
tahu apa yang sedang kamu pertaruhkan dan apa yang perlu berubah. Kesempatan
bukan berarti kamu harus langsung melupakan semuanya. Dan kesempatan bukan
jaminan bahwa dia akan berubah.”
Hendra menatap putrinya dengan lembut.
“Begitu pula sebaliknya. Jika suatu
hari kamu memilih pergi, itu bukan berarti kamu gagal mencintai seseorang.
Terkadang, kita harus menerima bahwa perasaan saja tidak cukup untuk membuat
dua orang berjalan ke arah yang sama.”
Imelda mengangguk perlahan.
Malam itu, ia tidak memperoleh
keputusan dari ayah atau ibunya. Namun, ia merasa sedikit lebih lega karena
tidak ada seorang pun yang memaksanya untuk segera menentukan akhir dari
hubungannya.
Untuk sementara, ia diizinkan menjadi
seseorang yang sedang terluka—tanpa harus berpura-pura sudah kuat.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam
ketidakpastian.
Surya tidak lagi mengirim pesan
berulang kali seperti yang mungkin dilakukannya pada masa lalu. Ia mengirim
satu pesan pada pagi hari untuk menanyakan keadaan Imelda, lalu menghormati
ketika perempuan itu hanya menjawab singkat.
Ia mulai memahami bahwa permintaan
maaf tidak boleh berubah menjadi tuntutan agar orang yang disakiti segera
memberikan pengampunan.
Di sisi lain, ia juga harus menghadapi
dirinya sendiri.
Peluang usaha yang sempat menjadi
pusat pikirannya masih belum memberikan kepastian. Rencana yang ia susun belum
cukup matang, dan ia belum memiliki modal yang dibutuhkan. Hendra tidak
menjanjikan bantuan, sementara Imelda tidak lagi menjadi tempat yang dapat ia
datangi untuk mencari ketenangan tanpa memikirkan kesalahan yang telah
dilakukannya.
Pada beberapa malam, Surya kembali
teringat kepada masa ketika ia pertama kali mengetahui nama Imelda Yuliana.
Saat itu, ia melihat peluang. Ia merasa telah menemukan jalan yang mungkin
membawanya lebih dekat kepada kehidupan yang diinginkannya.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa langkah
yang semula dianggapnya sebagai strategi akan membawanya pada perasaan yang
begitu rumit.
Ia memang mulai mencintai Imelda.
Namun, ia juga tahu bahwa perasaan itu tumbuh di dalam hubungan yang sejak awal
tidak ia bangun dengan kejujuran sepenuhnya.
Kini ia harus menerima kemungkinan
bahwa cinta yang tumbuh kemudian tidak dapat menghapus cara hubungan itu
dimulai.
Sementara itu, Imelda berusaha kembali
menjalani rutinitasnya. Ia membantu ibunya, menyelesaikan pekerjaan yang
tertunda, dan sesekali bertemu Nadia. Ia tidak ingin seluruh hidupnya berhenti
hanya karena persoalan hubungan.
Akan tetapi, pada saat-saat tertentu,
ingatan tentang Surya tetap datang tanpa diundang.
Ketika melihat sesuatu yang pernah
mereka bicarakan, ia teringat kepada laki-laki itu. Ketika ponselnya berbunyi,
ada bagian dari dirinya yang masih berharap nama Surya muncul di layar. Dan
ketika malam menjadi terlalu sunyi, ia kembali memikirkan apakah seseorang
dapat mencintai dengan tulus sekaligus menyimpan kepentingan yang menyakitkan.
Ia tidak menemukan jawaban yang mudah.
Satu hal yang mulai ia pahami adalah
bahwa ia tidak harus menyangkal perasaannya hanya karena kecewa. Ia boleh
mengakui bahwa Surya pernah membuatnya bahagia. Ia boleh merindukan kebersamaan
mereka. Ia bahkan boleh berharap bahwa laki-laki itu benar-benar belajar dari
kesalahannya.
Namun, semua itu tidak mewajibkannya
untuk kembali seperti dahulu.
Cinta bukan alasan untuk menyerahkan
seluruh keputusan kepada seseorang yang telah melukai kepercayaan.
Pada suatu sore, Surya mengirim pesan
kembali.
Mel, aku tidak ingin
mendesakmu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sedang memikirkan semua yang
kamu sampaikan. Aku sadar bahwa aku tidak bisa meminta kepercayaanmu kembali
hanya dengan mengatakan bahwa aku menyesal.
Imelda membaca pesan tersebut cukup
lama.
Kali ini, ia tidak segera membalas. Ia
meletakkan ponsel di sampingnya dan memandang langit yang perlahan berubah
warna.
Ia tahu bahwa Surya sedang berusaha
menyampaikan sesuatu yang berbeda. Namun, ia juga mengerti bahwa perubahan
tidak dapat dinilai hanya dari satu pesan, sebagaimana kepercayaan tidak dapat
dibangun hanya melalui satu percakapan.
Setelah beberapa saat, ia mengambil
ponselnya.
Terima kasih sudah
memahami bahwa aku membutuhkan waktu. Aku belum tahu keputusan apa yang akan
kuambil. Aku juga tidak ingin memberikan janji yang belum bisa kupastikan.
Pesan itu terkirim.
Surya membacanya dengan dada yang
terasa berat. Ia ingin bertanya apakah masih ada harapan baginya. Namun, ia
mengurungkan niat itu. Ia mulai memahami bahwa pertanyaan semacam itu hanya
akan memindahkan beban kecemasannya kepada Imelda.
Untuk pertama kalinya, ia mencoba
menerima bahwa dirinya tidak berhak meminta kepastian dari seseorang yang masih
berusaha menyembuhkan luka akibat perbuatannya.
Beberapa waktu kemudian, Imelda
kembali membuka percakapan mereka. Ia menatap nama Surya di layar ponsel, lalu
mengunci layar tanpa mengirim pesan lain.
Di dalam hatinya, ia masih menyimpan
cinta. Perasaan itu belum pergi, belum pula berubah menjadi kebencian. Namun,
ia tidak lagi ingin membiarkan cinta menjadi satu-satunya dasar untuk
menentukan masa depannya.
Ia membutuhkan kejujuran yang tidak
harus dipancing dengan pertanyaan. Ia membutuhkan kepercayaan yang tidak
membuatnya terus-menerus meragukan apa yang didengarnya. Ia membutuhkan
hubungan yang memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri, bukan hubungan
yang mengharuskannya menutup mata demi mempertahankan kenangan.
Dan jika semua itu tidak lagi mungkin
bersama Surya, ia harus belajar menerima kenyataan tersebut.
Imelda belum siap mengucapkan selamat
tinggal. Tetapi ia juga belum sanggup mengatakan bahwa semuanya dapat
diperbaiki.
Ia tahu, pada akhirnya, akan ada
percakapan yang tidak bisa terus ditunda. Percakapan tentang apa yang masih
tersisa di antara mereka, tentang apa yang telah hilang, dan tentang apakah dua
orang yang masih saling mencintai dapat melanjutkan perjalanan setelah salah
satunya meruntuhkan kepercayaan yang telah dibangun.
Dalam pikirannya, satu tempat kembali
muncul: KP3, tempat mereka pernah mengucapkan janji dan membayangkan masa depan
bersama.
Dahulu, tempat itu menyimpan harapan.
Kini, tempat yang sama mungkin menjadi saksi bagi keputusan yang paling sulit
dalam hidupnya.
Imelda memejamkan mata.
“Aku masih mencintaimu, Surya,”
bisiknya. “Tetapi aku tidak tahu apakah aku masih bisa mempercayaimu.”
Kalimat itu tidak mengakhiri hubungan
mereka.
Namun, untuk pertama kalinya, Imelda
berani mengakui bahwa cinta dan keputusan untuk bertahan bukanlah hal yang
sama.
Dan ketika senja perlahan turun di
Kota Air, ia mulai menyiapkan dirinya untuk menghadapi jawaban yang selama ini
paling ia takuti—bukan jawaban tentang apakah ia masih mencintai Surya,
melainkan apakah ia harus melepaskan laki-laki yang masih dicintainya demi
menyelamatkan dirinya sendiri.
BAB XIII
PERPISAHAN DI TEPIAN KAPUAS
Senja turun perlahan di Kota Air.
Langit di atas Sungai Kapuas berubah
warna, dari biru yang mulai memudar menjadi jingga keemasan. Permukaan air
memantulkan cahaya sore yang bergerak mengikuti riak sungai. Di kejauhan,
kehidupan kota tetap berjalan. Orang-orang datang dan pergi, kendaraan
melintas, dan percakapan terdengar dari berbagai arah.
Tidak ada yang istimewa bagi
orang-orang yang sedang menikmati sore itu.
Namun, bagi Imelda Yuliana, senja kali
ini terasa berbeda.
Ia berdiri di kawasan KP3 Kuala
Kapuas, tempat yang menyimpan salah satu kenangan paling berarti dalam
hubungannya dengan Surya Pratama. Di tempat itulah mereka pernah berbicara
tentang masa depan. Di tempat itu pula Surya pernah meyakinkannya bahwa cinta
tidak seharusnya diukur dari kekayaan, kedudukan, atau apa yang dapat diberikan
seseorang kepada pasangannya.
Dahulu, Imelda mendengarkan kata-kata
itu dengan hati yang tenang.
Sekarang, setiap kalimat yang pernah
diucapkan Surya seolah kembali kepadanya dengan makna yang berbeda.
Ia datang bukan untuk mengenang masa
lalu. Ia datang karena tidak ingin terus hidup di antara pertanyaan yang tidak
selesai.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Surya muncul di layar.
Mel, aku sudah
sampai. Aku menunggumu di tempat kita biasa duduk.
Imelda membaca pesan itu, kemudian
memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Ia menarik napas panjang sebelum
melangkah.
Setiap langkah terasa seperti membawa
dirinya mendekati sesuatu yang sejak beberapa hari terakhir berusaha ia
hindari. Ia tahu apa yang perlu dibicarakan. Ia tahu bahwa Surya mungkin akan
kembali meminta kesempatan. Ia juga tahu bahwa hatinya sendiri belum sepenuhnya
siap menerima kemungkinan bahwa pertemuan ini akan menjadi yang terakhir.
Tetapi ada saat ketika seseorang harus
berhenti menunda keputusan hanya karena takut menghadapi rasa sakit.
Dan bagi Imelda, saat itu telah tiba.
Surya berdiri ketika melihat Imelda
datang.
Untuk beberapa detik, ia hanya
memandang perempuan yang selama ini menjadi bagian penting dalam hari-harinya.
Ia memperhatikan wajah yang dikenalnya, langkah yang dahulu selalu ia tunggu,
dan tatapan yang kini tidak lagi memberikan ketenangan seperti sebelumnya.
“Terima kasih sudah datang, Mel,”
katanya.
Imelda mengangguk.
Mereka duduk berhadapan.
Di antara keduanya terbentang jarak
yang tidak terlalu jauh, tetapi terasa lebih lebar daripada apa pun yang pernah
memisahkan mereka. Dahulu, mereka bisa duduk berjam-jam tanpa merasa kehabisan
bahan percakapan. Kini, bahkan untuk memulai satu kalimat pun, keduanya harus
mengumpulkan keberanian.
Surya mencoba tersenyum.
“Kamu terlihat lelah.”
Imelda menatapnya.
“Surya, jangan mulai dengan menanyakan
keadaanku seolah-olah kita sedang bertemu seperti biasa.”
Senyum Surya perlahan menghilang.
“Aku hanya ingin tahu bagaimana
keadaanmu.”
“Aku tahu. Dulu, pertanyaan seperti
itu selalu membuatku merasa diperhatikan. Sekarang, aku bahkan tidak tahu
bagaimana harus menanggapinya.”
Surya menunduk.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan
suara keras. Tidak ada bentakan atau kemarahan yang meledak-ledak. Namun,
justru ketenangan Imelda membuatnya merasa bahwa sesuatu yang jauh lebih besar
sedang terjadi.
“Mel, aku tidak datang untuk
berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja,” katanya. “Aku datang karena aku
ingin memperbaiki apa yang sudah kurusak.”
Imelda mengalihkan pandangan ke arah
sungai.
“Menurutmu, apa yang sudah kamu
rusak?”
Surya terdiam sejenak.
“Kepercayaanmu.”
“Hanya itu?”
“Dan perasaanmu. Aku sudah membuatmu
terluka.”
Imelda kembali menatapnya.
“Lalu, bagaimana dengan caramu memulai
hubungan ini? Bagaimana dengan semua hal yang tidak pernah kamu ceritakan
kepadaku? Bagaimana dengan kenyataan bahwa kamu melihat keluargaku sebagai
peluang ketika aku mengira kamu mendekatiku karena ingin mengenalku?”
Surya mengatupkan bibir.
“Aku tidak bisa menyangkalnya.”
“Dulu, kamu bisa mengatakan banyak hal
kepadaku. Kamu bisa berbicara tentang kejujuran, tentang kesederhanaan, tentang
bagaimana seseorang seharusnya membangun kehidupan dengan usahanya sendiri. Aku
mempercayai semua itu karena aku pikir kamu benar-benar memegang nilai-nilai
tersebut.”
Imelda berhenti sejenak. Ia berusaha
mengendalikan getaran suaranya.
“Ternyata, ketika kamu berhadapan
dengan kesempatan yang kamu inginkan, kamu justru melakukan hal yang
bertentangan dengan semua yang pernah kamu katakan.”
Surya menatapnya dengan mata yang
mulai memerah.
“Aku tahu, Mel.”
“Tidak. Aku tidak yakin kamu
benar-benar tahu.”
Imelda menarik napas, lalu
melanjutkan.
“Kalau kamu tahu, kamu pasti mengerti
mengapa ini begitu menyakitkan. Aku tidak pernah malu dengan keadaanmu. Aku
tidak pernah meminta kamu menjadi orang kaya. Aku tidak pernah menuntut kamu
memberikan sesuatu yang tidak kamu miliki. Aku hanya ingin menjadi seseorang
yang kamu pilih dengan jujur.”
Suara Imelda mulai bergetar.
“Apakah itu terlalu sulit untuk kamu
lakukan?”
Surya menundukkan kepala.
“Tidak,” jawabnya pelan. “Seharusnya
tidak.”
“Lalu, mengapa kamu tidak
melakukannya?”
Pertanyaan itu menggantung di antara
mereka.
Surya membuka mulut, tetapi tidak ada
jawaban yang segera keluar. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya takut
tertinggal, takut hidupnya tidak pernah berubah, dan takut kesempatan yang
datang kepadanya akan berlalu begitu saja. Ia ingin mengatakan bahwa semua ambisinya
berawal dari keinginan untuk memperbaiki nasib.
Namun, semakin lama ia memikirkannya,
semakin ia menyadari bahwa alasan-alasan tersebut tidak dapat mengubah
kenyataan.
Ia telah memilih.
Ia telah mengetahui bahwa Imelda
mempercayainya, tetapi ia tetap menyembunyikan maksud yang penting bagi
hubungan mereka. Ia telah melihat ketulusan perempuan itu, tetapi tidak segera
menghentikan langkahnya ketika menyadari bahwa hubungan mereka mulai bercampur
dengan kepentingan pribadinya.
“Aku terlalu ingin mengubah hidupku
dengan cepat,” katanya akhirnya. “Aku melihat kesempatan, lalu membiarkan
diriku berpikir bahwa aku bisa mendapatkan semuanya tanpa harus kehilangan apa
pun.”
Imelda menatapnya dengan mata
berkaca-kaca.
“Dan aku termasuk sesuatu yang ingin kamu
dapatkan?”
Surya langsung menggeleng.
“Bukan begitu maksudku.”
“Tetapi itulah yang terjadi, Surya.
Kamu ingin tetap memiliki aku, sekaligus mempertahankan kesempatan yang kamu
lihat melalui keluargaku. Kamu tidak ingin memilih antara ambisimu dan kejujuranmu.
Jadi, kamu membiarkan aku tidak mengetahui semuanya.”
Surya terdiam.
Kali ini, ia tidak menemukan kalimat
yang dapat membantahnya.
Imelda mengusap air mata yang mulai
jatuh di pipinya.
“Aku terus bertanya kepada diriku
sendiri apakah semua perhatianmu hanya sandiwara. Apakah ketika kamu menanyakan
kabarku, kamu benar-benar peduli? Apakah ketika kamu mendengarkan ceritaku,
kamu benar-benar ingin memahamiku? Apakah ketika kamu mengatakan bahwa kamu
mencintaiku, kamu sedang berbicara dari hatimu atau sedang berusaha
mempertahankan sesuatu yang kamu anggap menguntungkan?”
Ia berhenti. Napasnya menjadi tidak
teratur.
“Aku lelah, Surya. Aku lelah harus
memeriksa kembali setiap kenangan hanya untuk mencari tahu bagian mana yang
bisa kupercaya.”
Surya menatap perempuan itu dengan
rasa bersalah yang semakin sulit disembunyikan.
“Mel, aku tidak akan mengatakan bahwa
semua yang pernah kita jalani adalah kebohongan. Aku memang memiliki maksud
yang salah ketika pertama kali mendekatimu. Tetapi perasaanku kemudian berubah.
Aku sungguh-sungguh menyayangimu.”
Imelda memejamkan mata.
Kalimat itu adalah sesuatu yang ingin
ia dengar sejak awal. Namun, ketika akhirnya mendengarnya, ia justru merasa
semakin hancur.
Sebab, bagian dari dirinya masih ingin
mempercayai Surya.
Ia masih mengingat bagaimana laki-laki
itu pernah membuatnya tertawa ketika harinya terasa berat. Ia masih mengingat
percakapan panjang mereka, perhatian-perhatian kecil yang tidak pernah ia
minta, dan saat-saat ketika ia merasa tidak perlu berpura-pura menjadi siapa
pun di hadapan Surya.
Mungkin memang ada perasaan yang
sungguh-sungguh di antara mereka.
Mungkin Surya benar-benar mencintainya
pada saat-saat tertentu.
Tetapi bagaimana ia dapat hidup dengan
kemungkinan bahwa cinta itu tumbuh berdampingan dengan kepentingan yang sejak
awal disembunyikan?
Imelda membuka mata.
“Kalau kamu benar-benar mencintaiku
sekarang, mengapa kamu baru mengatakan semuanya setelah aku mulai mengetahui
kebenarannya?”
Surya tidak menjawab.
“Kenapa bukan ketika aku masih percaya
sepenuhnya kepadamu? Kenapa bukan ketika kita masih bisa membicarakan apa saja
tanpa aku harus merasa bahwa ada sesuatu yang sengaja kamu sembunyikan?”
Surya menatap tangannya sendiri.
“Karena aku pengecut,” katanya
akhirnya. “Aku takut kehilanganmu. Aku terus berpikir bahwa kalau aku tidak
mengatakan semuanya, aku masih punya waktu untuk memperbaiki keadaan. Aku pikir
aku bisa menyelesaikan urusan usahaku, lalu membuktikan bahwa aku memang mampu
membangun kehidupan yang lebih baik.”
Ia mengangkat wajahnya.
“Tetapi aku tahu sekarang bahwa aku
hanya sedang mencari alasan untuk menunda kejujuran. Aku tidak punya pembelaan
yang bisa membuat tindakanku menjadi benar.”
Imelda menangis tanpa suara.
Pengakuan itu seharusnya membuatnya
merasa lebih lega. Setidaknya, untuk pertama kalinya, Surya tidak lagi mencoba
menghindari inti persoalan. Namun, kejujuran yang datang terlambat tidak selalu
membawa kedamaian.
Ada kebenaran yang, ketika akhirnya
diucapkan, justru memastikan bahwa sesuatu tidak lagi dapat kembali seperti
dahulu.
Matahari semakin rendah.
Cahaya senja menyentuh permukaan
Sungai Kapuas, menciptakan kilau yang bergerak mengikuti arus. Beberapa orang
berjalan tidak jauh dari tempat mereka duduk. Kehidupan terus berlangsung,
tidak peduli bahwa dua orang sedang berusaha menerima akhir dari sesuatu yang
pernah mereka anggap sebagai masa depan.
Surya memandang Imelda.
“Apakah kamu sudah tidak mencintaiku
lagi?”
Pertanyaan itu membuat Imelda terdiam.
Ia ingin menjawab dengan cepat, tetapi
tidak ada jawaban sederhana yang mampu menggambarkan isi hatinya.
“Kalau aku sudah tidak mencintaimu,
mungkin aku tidak akan sesakit ini,” katanya.
Surya menelan ludah.
“Kalau begitu, kita masih bisa
memperbaiki hubungan ini, Mel. Aku bisa berubah. Aku akan membuktikannya kepadamu.
Aku tidak akan lagi membawa urusan usahaku ke dalam hubungan kita. Aku tidak
akan meminta apa pun kepada keluargamu. Aku akan membangun semuanya dengan
caraku sendiri.”
Imelda menatapnya lama.
“Apakah kamu mendengar apa yang baru
saja kamu katakan?”
Surya mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
“Kamu kembali menawarkan masa depan.
Kamu kembali mengatakan apa yang akan kamu lakukan. Tetapi masalah kita
sekarang bukan hanya tentang apakah kamu bisa membangun usaha sendiri atau
tidak.”
Imelda menyeka air matanya.
“Masalahnya adalah aku tidak tahu
bagaimana mempercayai kata-katamu lagi.”
Surya menunduk.
“Aku akan berusaha mendapatkan
kepercayaanmu kembali.”
“Bagaimana caranya?”
“Aku akan membuktikannya lewat
tindakan.”
“Berapa lama, Surya? Berapa lama aku harus
menunggu sampai aku tidak lagi meragukan setiap perkataanmu? Berapa lama aku
harus meyakinkan diriku bahwa kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu lagi?”
Surya tidak mampu menjawab.
“Aku tidak sedang meminta kamu
memberikan jaminan bahwa kamu tidak akan pernah melakukan kesalahan,” lanjut
Imelda. “Aku tahu setiap orang bisa salah. Aku pun bukan manusia yang sempurna.
Tetapi aku membutuhkan hubungan yang membuatku merasa bahwa ketika ada masalah,
kita bisa menghadapinya bersama-sama dengan jujur.”
Ia menatap Surya dengan air mata yang
terus mengalir.
“Aku tidak ingin menjadi perempuan
yang terus-menerus bertanya apakah dirinya benar-benar dicintai. Aku tidak
ingin menjadi seseorang yang harus mencari bukti untuk mempercayai orang yang
katanya mencintainya.”
Surya meraih tangan Imelda secara
perlahan.
Imelda membiarkan tangan itu menyentuh
tangannya, tetapi tidak membalas genggamannya.
“Mel, tolong. Jangan akhiri semuanya
sekarang. Beri aku waktu. Aku tahu aku tidak pantas meminta banyak hal darimu,
tetapi jangan pergi seperti ini.”
Imelda menatap tangan mereka.
Dahulu, genggaman itu membuatnya
merasa aman. Ia pernah membayangkan bahwa selama mereka saling menggenggam,
segala kesulitan akan terasa lebih ringan.
Kini, tangan yang sama justru
membuatnya menyadari betapa sulitnya melepaskan seseorang yang masih dicintai.
“Aku tidak ingin pergi, Surya,”
bisiknya.
Surya mengangkat wajah dengan harapan
yang muncul kembali.
Namun, kalimat berikutnya membuat
harapan itu perlahan runtuh.
“Aku ingin kita kembali seperti
dahulu. Aku ingin bisa mendengar suaramu tanpa mengingat semua kebohongan itu.
Aku ingin bertemu denganmu tanpa bertanya-tanya apakah ada maksud lain di balik
setiap perhatianmu. Aku ingin percaya lagi ketika kamu mengatakan bahwa kamu
mencintaiku.”
Imelda menarik tangannya perlahan.
“Tetapi aku tidak bisa memaksa diriku
untuk kembali menjadi perempuan yang sama setelah mengetahui semuanya.”
Surya memandangnya tanpa berkedip.
“Kalau kamu membutuhkan waktu, aku
akan menunggu.”
Imelda menggeleng.
“Ini bukan hanya tentang waktu.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Seandainya aku tahu, mungkin semuanya
tidak akan sesulit ini.”
Suara Imelda pecah. Ia menutup
wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menahan tangis yang sejak tadi ia
kendalikan.
Surya ingin memeluknya. Ia ingin
mendekat dan menenangkan perempuan yang pernah menjadi tempatnya menemukan
ketenteraman. Namun, ia tidak berani melakukannya.
Ia menyadari bahwa kedekatan yang
dahulu diterima dengan sukarela kini membutuhkan izin yang tidak lagi bisa ia
anggap sebagai sesuatu yang pasti.
Untuk pertama kalinya, Surya merasakan
bahwa kehilangan seseorang tidak selalu dimulai ketika orang itu benar-benar
pergi. Kadang-kadang, kehilangan dimulai ketika seseorang masih duduk di
hadapan kita, tetapi tidak lagi dapat mempercayai kita seperti sebelumnya.
Setelah tangisnya sedikit mereda,
Imelda kembali memandang Surya.
“Ada satu hal yang ingin kutanyakan.”
Surya mengangguk.
“Kalau sejak awal kamu tidak
mengetahui siapa keluargaku, kalau aku bukan anak dari keluarga yang memiliki
kemampuan ekonomi seperti sekarang, apakah kamu akan tetap mendekatiku?”
Surya terdiam.
Ia tahu bahwa jawaban yang jujur tidak
akan mudah diucapkan. Ia juga tahu bahwa jawaban yang salah akan semakin
memperdalam luka Imelda.
“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya.
“Aku tidak bisa mengubah kenyataan tentang bagaimana aku mulai mengenalmu. Aku
tidak bisa mengatakan dengan pasti apa yang akan kulakukan dalam keadaan yang
berbeda.”
Imelda mengangguk perlahan.
Jawaban itu menyakitkan, tetapi ia menghargai
bahwa Surya tidak mencoba menciptakan kepastian palsu hanya untuk
menenangkannya.
“Setidaknya, sekarang kamu tidak
berusaha memberikan jawaban yang menurutmu ingin kudengar.”
Surya menatapnya dengan wajah penuh
penyesalan.
“Aku berharap bisa mengulang semuanya
dari awal.”
“Aku juga pernah berharap begitu.”
“Kalau kita bisa memulai lagi, aku
akan melakukan semuanya dengan cara yang berbeda.”
Imelda tersenyum tipis di antara air
matanya.
“Masalahnya, kita tidak bisa kembali
ke awal, Surya. Kita hanya bisa menghadapi apa yang sudah terjadi.”
Surya memalingkan wajah.
Di hadapannya terbentang sungai yang
terus bergerak. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana tindakannya
akan terlihat ketika seluruh alasan yang ia simpan akhirnya dihadapkan kepada
orang yang dicintainya.
Selama ini, ia selalu mengira bahwa
selama dirinya belum meminta uang atau menerima bantuan, ia belum benar-benar
melampaui batas. Ia menganggap pikirannya tentang peluang usaha sebagai sesuatu
yang dapat ia kendalikan tanpa perlu dibicarakan kepada Imelda.
Sekarang ia mengerti bahwa
persoalannya tidak berhenti pada tindakan yang telah atau belum ia lakukan.
Ia telah membiarkan Imelda mengambil
keputusan tentang hubungan mereka tanpa mengetahui seluruh maksud yang ia bawa
ke dalamnya.
Ia telah membiarkan perempuan itu
mencintai seseorang yang tidak sepenuhnya ia kenal.
Dan ketika kebenaran mulai terbuka,
Surya baru menyadari bahwa hal yang paling berharga tidak selalu dapat
diperoleh kembali dengan usaha yang lebih keras.
“Mel,” katanya lirih. “Aku benar-benar
menyesal.”
Imelda mengangguk. Air matanya kembali
jatuh.
“Aku percaya kamu menyesal.”
Surya menatapnya, seolah menunggu
kelanjutan kalimat itu.
“Tetapi penyesalanmu tidak otomatis
membuatku mampu bertahan.”
Kalimat itu menjadi sesuatu yang tidak
pernah ingin didengar Surya, tetapi tidak dapat ia sangkal.
Senja semakin redup.
Imelda berdiri. Ia memandang Sungai
Kapuas untuk terakhir kalinya sebelum kembali menatap Surya.
“Aku pernah membayangkan bahwa suatu
hari kita akan kembali ke tempat ini dan tertawa mengingat bagaimana hubungan
kita dimulai,” katanya. “Aku membayangkan kita akan mengenang masa-masa sulit
yang pernah kamu lalui, lalu merasa bangga karena kita berhasil melewatinya
bersama.”
Surya berdiri perlahan.
“Aku juga pernah membayangkan itu.”
“Dulu, ketika kamu bercerita tentang
impianmu, aku ingin menjadi orang yang mendukungmu. Aku ingin melihatmu
berhasil. Aku ingin kamu bisa membangun kehidupan yang kamu inginkan tanpa
harus merasa rendah diri di hadapanku atau keluargaku.”
Imelda menelan tangis.
“Aku tidak pernah menginginkan
laki-laki yang sempurna. Aku hanya ingin seseorang yang tidak membuatku merasa
bodoh karena telah mempercayainya.”
Surya memejamkan mata.
“Maafkan aku, Mel.”
“Aku ingin memaafkanmu.”
Surya membuka mata.
“Tetapi aku belum tahu apakah
memaafkanmu berarti aku harus tetap bersamamu.”
Harapan yang sempat muncul di wajah
Surya kembali meredup.
Imelda melanjutkan dengan suara yang
semakin pelan.
“Aku tidak ingin membencimu. Aku tidak
ingin menghapus semua kenangan baik yang pernah kita miliki. Aku juga tidak
ingin berpura-pura bahwa kamu tidak pernah berarti dalam hidupku. Kamu pernah
membuatku bahagia, Surya. Dan aku tidak akan menyangkal itu hanya karena
sekarang aku terluka.”
Ia berhenti sejenak.
“Tetapi aku juga tidak bisa terus
bertahan hanya karena aku mengingat kebahagiaan itu.”
Surya menggeleng perlahan.
“Jangan katakan itu, Mel.”
“Kenapa? Karena kamu tidak ingin
mendengarnya?”
“Karena aku masih mencintaimu.”
Imelda memandangnya dengan mata basah.
“Aku juga masih mencintaimu.”
Untuk sesaat, keduanya hanya saling
memandang.
Dua kalimat itu seharusnya menjadi
alasan untuk tetap bersama. Setidaknya, begitulah yang selalu dibayangkan
Imelda. Selama dua orang masih saling mencintai, mereka akan menemukan jalan
untuk memperbaiki keadaan.
Namun, di hadapan Surya, ia mulai
memahami bahwa cinta tidak selalu menyelesaikan persoalan yang diciptakan oleh
pilihan seseorang.
Cinta dapat membuat seseorang bertahan
menghadapi kesulitan. Cinta dapat memberi kekuatan untuk memaafkan. Tetapi
cinta tidak dapat menggantikan kejujuran yang telah diabaikan, dan tidak dapat
memaksa kepercayaan tumbuh kembali hanya karena dua orang takut kehilangan satu
sama lain.
Imelda mengusap pipinya.
“Aku tidak ingin mengucapkan selamat
tinggal sambil membencimu. Aku tidak ingin perpisahan kita menjadi sesuatu yang
harus kuingat dengan kemarahan seumur hidup.”
Surya mulai menangis.
“Jadi, kamu benar-benar ingin
mengakhiri hubungan kita?”
Imelda tidak segera menjawab.
Ia memandang laki-laki di
hadapannya—laki-laki yang masih dicintainya, yang pernah membuatnya merasa
istimewa, dan yang kini berdiri dengan penyesalan yang tidak mampu
mengembalikan keadaan mereka seperti semula.
Kemudian, dengan suara yang hampir
berbisik, ia berkata, “Aku tidak ingin kehilanganmu. Tetapi aku tidak bisa
terus kehilangan ketenanganku hanya untuk mempertahankan kita.”
Surya menunduk dalam-dalam.
“Berarti selama ini aku tidak cukup
baik untukmu.”
Imelda menggeleng cepat.
“Jangan mengubah persoalan ini menjadi
tentang siapa yang lebih baik atau lebih buruk. Aku tidak meninggalkanmu karena
kamu tidak sekaya keluargaku. Aku tidak meninggalkanmu karena usahamu belum
berhasil. Aku tidak pernah mengukur nilai dirimu dari semua itu.”
Ia melangkah mendekat, tetapi tetap
menjaga jarak.
“Aku sedang berusaha menerima bahwa
orang yang kucintai telah menyembunyikan sesuatu yang sangat penting dariku.
Aku tidak tahu apakah suatu hari aku bisa mempercayaimu lagi. Dan aku tidak
ingin menjanjikan sesuatu yang saat ini tidak sanggup kuberikan.”
Surya menangis tanpa berusaha
menyembunyikannya.
“Aku seharusnya jujur sejak awal.”
“Ya,” jawab Imelda. “Seharusnya
begitu.”
“Aku seharusnya tidak membiarkanmu
mencintaiku tanpa mengetahui maksudku.”
Imelda memejamkan mata. Kalimat itu terasa
seperti pengakuan terakhir atas sesuatu yang selama ini ia coba pahami.
“Ya, Surya.”
“Aku tidak tahu bagaimana memperbaiki
semuanya.”
Imelda membuka mata.
“Mungkin memang tidak semua hal bisa
kembali seperti semula.”
Mereka berdiri berhadapan ketika senja
perlahan menghilang.
Tidak ada teriakan. Tidak ada tuduhan
baru. Tidak ada janji besar yang diucapkan untuk terakhir kalinya. Yang tersisa
hanyalah dua orang yang akhirnya melihat hubungan mereka sebagaimana
adanya—sebuah kisah yang pernah dipenuhi harapan, tetapi kini tidak lagi
memiliki pijakan kepercayaan yang cukup kuat untuk diteruskan.
Imelda mengambil tasnya.
Surya melihat gerakan itu dan mendadak
merasa bahwa waktu yang selama ini ia anggap masih tersedia telah habis.
“Mel, tunggu.”
Imelda berhenti.
“Aku tahu aku tidak berhak memintamu
tetap tinggal. Tetapi kalau suatu hari kamu mengingatku, aku berharap kamu
tidak hanya mengingat kesalahanku.”
Imelda menatapnya.
“Aku akan mengingat semuanya, Surya.
Hal-hal baik yang pernah kita jalani, juga alasan mengapa aku harus pergi.”
Surya terdiam.
Imelda mengulurkan tangan, bukan untuk
menggenggam tangannya seperti dahulu, melainkan untuk menyentuh lengannya
sebentar. Sentuhan itu begitu singkat, tetapi membawa lebih banyak perasaan
daripada yang mampu mereka ucapkan.
“Aku sungguh-sungguh pernah bahagia
bersamamu,” katanya.
Surya menangis semakin dalam.
“Maafkan aku karena akhirnya membuat
kebahagiaan itu menjadi sesuatu yang menyakitkan untuk kamu kenang.”
Imelda menarik tangannya.
Ia ingin memeluk Surya untuk terakhir
kalinya. Ia ingin membiarkan dirinya menangis di dada laki-laki itu, seperti
yang mungkin akan dilakukannya jika semua ini tidak pernah terjadi.
Namun, ia tahu bahwa pelukan itu dapat
membuat langkahnya semakin sulit.
Maka, ia hanya menatap Surya selama
beberapa detik.
“Selamat tinggal, Surya.”
Dua kata itu keluar dengan susah
payah.
Surya tidak menjawab. Bibirnya
bergerak, tetapi suaranya tertahan oleh tangis.
Imelda berbalik.
Ia melangkah meninggalkan KP3, membawa
hati yang terasa seperti tertinggal di belakang. Beberapa kali ia hampir
berhenti. Ada dorongan kuat untuk menoleh, untuk memastikan bahwa Surya masih
berdiri di tempat yang sama, untuk mencari satu alasan lagi agar ia bisa
kembali.
Namun, ia terus berjalan.
Bukan karena ia sudah tidak mencintai
Surya.
Justru karena ia masih mencintainya,
ia tahu bahwa keputusan itu akan jauh lebih sulit jika terus ditunda.
Di belakangnya, Surya tetap berdiri di
tepi sungai.
Ia menyaksikan sosok Imelda semakin
jauh hingga akhirnya menghilang di antara orang-orang yang berlalu-lalang. Ia
tidak mengejar. Ia tidak lagi memiliki kalimat yang dapat mengubah keputusan
perempuan itu.
Sungai Kapuas terus mengalir, membawa
pantulan cahaya terakhir senja.
Di tempat yang dahulu menyimpan janji,
Surya akhirnya memahami harga dari sesuatu yang selama ini ia anggap dapat
dipertahankan dengan kata-kata.
Ia telah memperoleh kedekatan yang
diinginkannya, tetapi tidak menjaga kejujuran yang membuat kedekatan itu
berarti.
Ia telah mencintai Imelda, tetapi
membiarkan ambisinya tumbuh di dalam hubungan yang seharusnya dibangun dengan
keterbukaan.
Dan ketika akhirnya ia berani mengakui
kesalahannya, perempuan yang masih dicintainya tidak lagi sanggup tinggal.
Malam itu, Imelda tiba di rumah dengan
mata sembap.
Ratna yang sedang menunggu di ruang
keluarga segera berdiri. Ia tidak bertanya apa yang terjadi, sebab ia dapat
membaca kesedihan di wajah putrinya.
Imelda mendekat, lalu memeluk ibunya
erat-erat.
“Bu,” bisiknya, “aku sudah berpisah
dengan Surya.”
Ratna memeluknya tanpa berkata-kata.
Tangis Imelda pecah. Ia menangis
seperti seseorang yang baru saja kehilangan masa depan yang selama ini
dibayangkannya. Bukan hanya kehilangan seorang laki-laki, melainkan juga
kehilangan kemungkinan tentang kehidupan yang pernah ia harapkan bersama
laki-laki itu.
“Aku masih mencintainya, Bu,” katanya
di sela tangis. “Aku masih mencintainya, tetapi aku tidak bisa lagi merasa
tenang bersamanya.”
Ratna mengusap rambut putrinya.
“Tidak apa-apa, Nak. Kamu tidak harus
berhenti mencintainya malam ini.”
Imelda menggeleng dalam pelukan
ibunya.
“Aku pikir kalau kami masih saling
mencintai, kami akan bisa memperbaiki semuanya.”
“Kadang-kadang, cinta membuat kita
ingin mencoba sekali lagi. Tetapi kamu juga harus mendengarkan apa yang
dirasakan hatimu ketika kamu berada di dalam hubungan itu.”
“Aku takut besok aku akan menyesal.”
“Kalau kamu sedih besok, menangislah.
Kalau kamu merindukannya, akui bahwa kamu merindukannya. Kamu tidak perlu
menyangkal semua itu. Tetapi jangan langsung menganggap kesedihan sebagai bukti
bahwa keputusanmu salah.”
Imelda terdiam, mendengarkan suara
ibunya yang lembut.
“Keputusan yang benar pun bisa terasa
menyakitkan,” lanjut Ratna. “Terutama ketika keputusan itu mengharuskan kita
melepaskan sesuatu yang masih kita sayangi.”
Imelda memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak hubungan
itu mulai retak, ia tidak berusaha terlihat kuat. Ia membiarkan dirinya
menangis sampai tubuhnya lelah, membiarkan semua kenangan yang selama ini ia
tahan muncul satu per satu.
Malam semakin larut.
Namun, rasa kehilangan tidak ikut
mereda.
Di kamar, Imelda membuka ponselnya.
Nama Surya masih tersimpan di dalam daftar percakapan. Tidak ada pesan baru. Ia
menatap nama itu cukup lama sebelum meletakkan ponselnya kembali.
Ia tidak menghapus foto-foto mereka.
Ia belum sanggup melakukannya.
Ia juga tidak memblokir nomor Surya.
Ia tidak ingin membuat keputusan tambahan ketika hatinya masih begitu rapuh.
Untuk malam itu, ia hanya ingin
beristirahat.
Sebelum mematikan lampu, Imelda
memandang ke luar jendela. Langit telah gelap, dan senja yang menjadi saksi
perpisahan mereka sudah lama menghilang.
Air matanya kembali jatuh.
“Semoga suatu hari nanti aku bisa
mengingatmu tanpa merasa sesakit ini,” bisiknya.
Kemudian ia berbaring, memeluk bantal,
dan mencoba memejamkan mata.
Ia belum tahu bagaimana hari esok akan
dijalani. Ia belum tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan
ketenangannya. Ia juga belum tahu apakah suatu hari nanti ia akan mampu
memaafkan Surya sepenuhnya.
Namun, satu hal telah ia putuskan.
Ia tidak akan kembali hanya karena
rindu.
Sebab, kali ini, ia ingin belajar
mencintai dirinya sendiri dengan keberanian yang sama seperti ketika ia pernah
mencintai Surya.
Dan di tepi Sungai Kapuas, janji yang
dahulu mereka ucapkan telah berakhir—bukan karena cinta itu tidak pernah ada,
melainkan karena cinta yang pernah ada tidak cukup kuat untuk menyelamatkan
kepercayaan yang telah mereka kehilangan.
BAB XIV
KETIKA SANDIWARA BERAKHIR
Pagi pertama setelah perpisahan itu
terasa lebih panjang daripada biasanya.
Surya Pratama terbangun ketika cahaya
matahari mulai menembus celah jendela kamarnya. Ia membuka mata, memandang
langit-langit, lalu meraih ponsel yang tergeletak di samping tempat tidur.
Tidak ada pesan dari Imelda.
Ia sudah mengetahui kemungkinan itu
sejak meninggalkan KP3 kemarin sore. Ia tahu Imelda membutuhkan jarak. Ia tahu
perempuan itu telah mengambil keputusan yang tidak mudah. Namun, mengetahui
sesuatu tidak serta-merta membuat seseorang siap menerimanya.
Surya membuka percakapan mereka.
Pesan terakhir yang ia kirim beberapa
hari sebelumnya masih ada di sana. Di antara pesan-pesan itu tersimpan
percakapan ringan yang dahulu terasa biasa: pertanyaan tentang kesibukan,
cerita tentang hari yang melelahkan, dan kalimat sederhana yang sering mereka
kirim sebelum tidur.
Ia membaca semuanya perlahan.
Dulu, ia tidak pernah membayangkan
bahwa percakapan-percakapan sederhana itu suatu hari akan terasa seperti pintu
menuju kehidupan yang tidak lagi dapat dimasukinya.
Jarinya bergerak membuka kolom pesan.
Mel, aku minta maaf.
Ia berhenti.
Kalimat itu sudah berkali-kali ia
ucapkan. Apa yang dapat diperbaiki dengan mengulanginya sekali lagi?
Ia menghapus pesan tersebut.
Kemudian ia mencoba menulis kalimat
lain.
Aku merindukanmu.
Kali ini, ia tidak segera
menghapusnya. Ia memandang kalimat itu cukup lama, sampai akhirnya menyadari
bahwa kerinduannya bukanlah sesuatu yang perlu segera ditanggung oleh Imelda.
Perempuan itu telah meminta ruang untuk memulihkan dirinya. Mengirim pesan
hanya untuk meredakan kesepiannya sendiri mungkin akan kembali menjadikan
perasaan Imelda sebagai tempat berlindung bagi dirinya.
Surya mengunci ponsel.
Ia duduk di tepi tempat tidur,
menundukkan kepala, lalu mengusap wajahnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian
lama, ia tidak memiliki rencana yang dapat membuat keadaan terasa berada di
bawah kendalinya.
Tidak ada kalimat yang dapat ia susun
untuk meyakinkan Imelda. Tidak ada pertemuan yang dapat ia atur agar perempuan
itu kembali tersenyum kepadanya. Tidak ada janji yang bisa ia tawarkan untuk
memastikan bahwa hubungan mereka akan pulih.
Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri
dan kenyataan yang selama ini ia hindari.
Ia telah kehilangan Imelda bukan
karena perempuan itu menuntut terlalu banyak, melainkan karena ia tidak menjaga
sesuatu yang paling mendasar dalam hubungan mereka.
Kepercayaan.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya,
Surya mulai memahami bahwa ia tidak dapat meminta orang lain menanggung akibat
dari pilihannya hanya karena ia sendiri merasa menyesal.
Di rumah keluarga Yuliana, Imelda juga
terbangun dengan perasaan yang tidak jauh berbeda.
Ia tidak langsung bangkit dari tempat
tidur. Ia memandang tirai jendela yang bergerak pelan, mendengarkan suara-suara
pagi dari luar rumah, dan mencoba menerima kenyataan bahwa hari baru telah
datang meskipun sebagian hatinya masih tertinggal di senja kemarin.
Ia tidak lagi memiliki kewajiban untuk
menunggu pesan Surya.
Tidak ada janji pertemuan yang harus
ia persiapkan. Tidak ada kabar tentang kesibukan Surya yang perlu ia dengarkan.
Tidak ada percakapan tentang rencana masa depan yang harus ia tanggapi dengan
harapan.
Seharusnya semua itu membuatnya merasa
lebih bebas.
Namun, kebebasan yang datang setelah
kehilangan tidak selalu terasa seperti kelegaan. Terkadang, kebebasan justru
menghadirkan kesunyian yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.
Imelda duduk dan meraih ponselnya.
Tanpa sadar, ia membuka percakapan Surya.
Tidak ada pesan baru.
Ia meletakkan ponsel kembali, lalu
menarik napas panjang.
“Kenapa aku masih menunggunya?”
gumamnya.
Ia tidak benar-benar mengharapkan
jawaban.
Barangkali karena perasaan tidak
mengikuti keputusan secepat pikiran. Barangkali karena hatinya masih terbiasa
dengan kehadiran seseorang yang kemarin telah ia lepaskan. Atau mungkin karena
bagian dari dirinya masih berharap Surya akan menemukan cara untuk memperbaiki
sesuatu yang telah mereka rusak.
Namun, ia segera mengingat kembali
percakapan mereka di KP3.
Ia mengingat bagaimana Surya mengakui
bahwa dirinya memang melihat keluarga Yuliana sebagai peluang. Ia mengingat
bahwa Surya juga mengatakan perasaannya kemudian tumbuh dengan sungguh-sungguh.
Dan ia mengingat betapa sulitnya menentukan bagian mana dari hubungan itu yang
dapat ia percaya tanpa harus mengabaikan kenyataan yang menyakitkan.
Imelda memejamkan mata.
Ia tidak ingin mengubah semua kenangan
baik menjadi kebencian. Ia juga tidak ingin menggunakan kenangan baik untuk
membenarkan sesuatu yang telah melukainya.
Ia harus belajar membiarkan dua
kenyataan itu hidup berdampingan: Surya pernah membuatnya bahagia, dan Surya
juga telah merusak kepercayaannya.
Keduanya benar.
Dan menerima keduanya mungkin
merupakan langkah pertama untuk berhenti menyiksa dirinya sendiri dengan
pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban pasti.
Beberapa hari kemudian, Surya bertemu
Fajar Ramadhan.
Mereka duduk di sebuah warung
sederhana yang dahulu sering menjadi tempat mereka berbincang tentang
kehidupan, pekerjaan, dan berbagai rencana yang ingin diwujudkan. Tempat itu
masih sama. Meja-mejanya masih tersusun sederhana, suara percakapan pengunjung
tetap terdengar, dan secangkir kopi masih mengepulkan uap di hadapan mereka.
Namun, Surya tidak lagi berbicara
dengan semangat seperti sebelumnya.
Fajar memperhatikannya beberapa saat
sebelum bertanya, “Bagaimana keadaanmu?”
Surya tersenyum hambar.
“Menurutmu?”
“Aku tidak akan berpura-pura tidak
tahu apa yang terjadi. Tetapi aku juga tidak ingin menganggap semua persoalanmu
selesai hanya karena hubunganmu dengan Imelda sudah berakhir.”
Surya mengaduk kopinya.
“Aku merasa kehilangan semuanya.”
“Benarkah semuanya?”
Surya mengangkat wajah.
“Aku kehilangan Imelda. Aku kehilangan
kesempatan untuk membangun hubungan yang selama ini kuinginkan. Aku juga merasa
usahaku belum membawa hasil seperti yang kuharapkan.”
Fajar mengangguk perlahan.
“Aku mengerti kamu sedang kecewa.
Tetapi jangan mencampuradukkan semua hal itu. Hubunganmu dengan Imelda berakhir
karena persoalan kepercayaan. Rencana usahamu belum berhasil karena masih ada
hal-hal yang harus kamu benahi. Keduanya memang terjadi dalam hidupmu sekarang,
tetapi kamu tidak bisa menyelesaikan keduanya dengan cara yang sama.”
Surya terdiam.
“Aku dulu berpikir kalau aku berhasil
membangun usaha dan memperbaiki keadaan ekonomiku, semuanya akan menjadi lebih
mudah,” katanya. “Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi seseorang yang
lebih baik.”
“Keinginan untuk memperbaiki
kehidupanmu bukan kesalahan.”
“Tetapi caraku salah.”
“Ya.”
Jawaban Fajar yang singkat membuat
Surya menunduk.
Fajar tidak bermaksud
mempermalukannya. Ia hanya tidak ingin memberikan penghiburan yang mengaburkan
kenyataan.
“Kamu tahu apa yang paling membuatku
khawatir sejak awal?” lanjut Fajar. “Bukan karena kamu ingin berhasil. Aku juga
ingin berhasil. Kita semua ingin kehidupan yang lebih baik. Tetapi kamu mulai
melihat hubungan dengan Imelda sebagai jalan yang mungkin mempercepat
tujuanmu.”
Surya mengusap kedua tangannya.
“Aku tidak pernah menerima uang dari
keluarganya.”
“Aku tahu. Dan aku tidak mengatakan
kamu sudah menerima uang atau melakukan transaksi dengan mereka. Namun, apakah
menurutmu seseorang baru bisa melukai kepercayaan ketika uang sudah berpindah
tangan?”
Surya menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Kamu membiarkan Imelda percaya bahwa
hubungan kalian tumbuh tanpa kepentingan yang kamu sembunyikan. Ketika kamu
mulai memikirkan keluarganya sebagai peluang, kamu tidak memberikan kesempatan
kepadanya untuk mengetahui maksud itu. Kamu ingin dia tetap percaya, sementara
kamu sendiri tidak memberikan seluruh kebenaran.”
Surya memandang ke luar warung.
Ia tidak lagi mencoba membela diri. Ia
mulai menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk menghitung apa yang belum
dilakukannya sehingga mengabaikan pilihan-pilihan yang sudah ia ambil.
Ia memang belum meminta uang kepada
Hendra. Ia memang belum menerima bantuan usaha dari keluarga Yuliana. Namun, ia
telah membiarkan kedekatan dengan Imelda tumbuh sementara dirinya menyimpan
perhitungan yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
“Aku ingin mengulang semuanya,”
katanya.
Fajar menarik napas.
“Kita tidak bisa mengulang masa lalu,
Surya. Yang bisa kamu lakukan adalah memastikan bahwa kamu tidak mengulangi
kesalahan yang sama.”
“Bagaimana kalau Imelda tidak pernah
memaafkanku?”
“Itu haknya.”
“Bagaimana kalau dia tidak pernah mau
kembali?”
Fajar menatapnya dengan tenang.
“Kamu harus belajar menerima itu
juga.”
Surya menunduk. Matanya terasa panas,
tetapi ia menahan tangisnya.
Selama ini, ia selalu menganggap
keberhasilan sebagai sesuatu yang dapat diperjuangkan selama ia menemukan
strategi yang tepat. Jika satu jalan tertutup, ia akan mencari jalan lain. Jika
satu kesempatan gagal, ia akan menyusun rencana berikutnya.
Namun, hubungan manusia bukanlah
persoalan yang selalu dapat diselesaikan dengan strategi.
Imelda bukan peluang yang dapat ia
usahakan kembali sampai berhasil. Ia adalah seseorang yang memiliki hak untuk
menentukan apakah hubungan itu masih layak dipertahankan.
“Aku baru memahami semuanya setelah
terlambat,” ujar Surya.
Fajar mengangguk.
“Kalau begitu, jangan sia-siakan
pemahaman itu hanya dengan menyesali apa yang sudah terjadi.”
Hari-hari berikutnya tidak langsung
membawa perubahan besar dalam kehidupan Surya.
Ia masih harus menghadapi rencana
usahanya yang belum matang. Ia masih harus memikirkan bagaimana memperbaiki
keadaan ekonominya. Ia juga masih harus menerima kenyataan bahwa hubungan
dengan Imelda tidak lagi menjadi tempatnya berbagi harapan.
Namun, ada satu hal yang mulai
berubah: ia tidak lagi mencari jalan pintas untuk menghindari rasa tidak
nyaman.
Ketika kembali memeriksa rencana
usahanya, ia menemukan sejumlah perhitungan yang belum cukup kuat. Dahulu, ia
cenderung melihat kekurangan itu sebagai masalah yang dapat diatasi kemudian,
terutama jika ada orang yang bersedia membantunya membuka jalan.
Kini, ia mencoba menilainya dengan
lebih jujur.
Ia memisahkan apa yang benar-benar
mampu ia lakukan dari apa yang baru ia harapkan. Ia mulai memahami bahwa
keinginan besar tidak otomatis membuat sebuah rencana layak dijalankan. Ia
harus memiliki perhitungan yang jelas, memahami risikonya, dan menerima kemungkinan
bahwa sebagian rencana perlu ditunda.
Perubahan itu tidak membuat
kehidupannya tiba-tiba menjadi mudah. Ia belum memperoleh keberhasilan yang
diimpikannya. Tidak ada seseorang yang datang membawa modal atau menjanjikan
jalan cepat menuju masa depan yang lebih baik.
Tetapi untuk pertama kalinya, Surya
mencoba berjalan tanpa menjadikan hubungan pribadi sebagai bagian dari
perhitungannya.
Ia mulai bertanya kepada dirinya
sendiri apakah ia benar-benar menginginkan usaha yang sedang direncanakannya, atau
hanya ingin segera mencapai kedudukan yang membuatnya merasa tidak tertinggal
dari orang lain.
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa
mengukur kemajuan melalui apa yang dapat dilihat orang lain. Ia ingin memiliki
sesuatu yang dapat dibanggakan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu
mengubah keadaan. Ia ingin merasa bahwa perjuangannya tidak sia-sia.
Semua keinginan itu masih ada.
Namun, perlahan ia memahami bahwa
keberhasilan yang dibangun dengan mengorbankan kejujuran dapat membuat
seseorang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada hasil yang
dikejarnya.
Ia pernah mengira bahwa masalahnya
adalah kekurangan modal, keterbatasan kesempatan, dan keadaan hidup yang tidak
selalu berpihak kepadanya.
Sekarang ia harus berani melihat
persoalan lain yang lebih dekat: caranya mengambil keputusan ketika keinginan
bertemu dengan kesempatan.
Ia tidak dapat mengubah masa lalu. Ia
juga tidak dapat menuntut Imelda kembali hanya karena dirinya mulai memahami
kesalahan.
Yang dapat ia lakukan hanyalah
memperbaiki cara hidupnya, tanpa menjadikan perubahan itu sebagai alat untuk
mendapatkan sesuatu dari perempuan yang telah ia lukai.
Sementara itu, Imelda mulai kembali
menata hari-harinya.
Pada awalnya, ia melakukan semuanya dengan
perasaan yang masih rapuh. Ia kembali membantu Ratna menyelesaikan berbagai
urusan keluarga, berbincang dengan ayahnya, dan bertemu Nadia ketika
membutuhkan teman untuk berbagi cerita.
Ada hari ketika ia merasa lebih
tenang.
Ada pula hari ketika sebuah kenangan
kecil membuatnya kembali menangis.
Pernah suatu sore, ketika sedang
membereskan barang-barang di kamarnya, ia menemukan sebuah benda sederhana yang
mengingatkannya pada salah satu pertemuan mereka. Ia berhenti bekerja, memegang
benda itu cukup lama, lalu duduk di tepi tempat tidur.
Ingatan tentang Surya datang begitu
jelas.
Ia teringat cara laki-laki itu
berbicara, bagaimana ia pernah menertawakan hal-hal kecil, dan bagaimana
dirinya dahulu tidak merasa perlu menyembunyikan kegembiraan ketika menerima
pesan darinya.
Imelda menangis.
Ia tidak merasa bersalah karena masih
merindukan Surya. Ia juga tidak lagi memaksa dirinya untuk segera berhenti
memikirkan laki-laki itu.
Namun, setelah tangisnya mereda, ia
menyimpan benda tersebut kembali ke tempatnya.
Ia tidak membuangnya. Ia hanya tidak
ingin setiap kenangan menjadi alasan untuk kembali mempertanyakan keputusan
yang telah diambilnya.
Beberapa hari kemudian, Nadia datang
menemaninya.
“Kamu terlihat sedikit lebih tenang,”
kata Nadia.
“Kadang-kadang,” jawab Imelda. “Tetapi
ada saat-saat ketika aku masih merasa seolah-olah semuanya baru terjadi
kemarin.”
“Itu tidak aneh.”
“Aku pernah berpikir bahwa setelah
berpisah, aku akan langsung merasa lebih baik karena tidak perlu lagi
menghadapi kebohongan itu. Ternyata tidak sesederhana itu.”
Nadia mengangguk.
“Karena kamu bukan hanya meninggalkan
masalah. Kamu juga meninggalkan sesuatu yang pernah membuatmu bahagia.”
Imelda memandang sahabatnya.
“Aku masih mengingat banyak hal baik
tentang dia. Aku masih percaya bahwa ada saat-saat ketika dia benar-benar
menyayangiku. Tetapi aku juga tahu bahwa perasaan itu tidak membuat apa yang
dilakukannya menjadi benar.”
“Itu berarti kamu mulai melihat
hubungan kalian dengan lebih utuh.”
“Aku tidak ingin membencinya, Nadia.
Aku takut kalau aku membenci dia, aku akan menghabiskan terlalu banyak waktu
untuk membawa kemarahan itu ke mana-mana.”
“Kamu tidak harus membenci seseorang
agar bisa menjaga jarak darinya.”
Imelda tersenyum tipis.
Kalimat itu terasa seperti sesuatu
yang perlahan mulai ia pahami.
Selama ini, ia mengira bahwa
melepaskan seseorang berarti harus menghapus semua perasaan yang pernah ada.
Kini, ia mulai menyadari bahwa ia dapat mengakui rasa sayang tanpa harus
kembali menjalin hubungan.
Ia dapat mengingat Surya tanpa harus
menghubunginya.
Ia dapat mengakui bahwa hubungan itu
pernah berarti tanpa harus menyangkal alasan mengapa hubungan tersebut
berakhir.
Dan ia dapat berharap Surya menjadi
orang yang lebih baik tanpa menjadikan dirinya sendiri sebagai bagian dari
proses perubahan itu.
“Aku ingin kembali merasa tenang,”
kata Imelda.
“Kalau begitu, berikan dirimu
kesempatan untuk pulih. Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh perasaanmu dalam
satu hari.”
Imelda mengangguk.
Untuk pertama kalinya setelah
perpisahan, ia merasa bahwa masa depannya tidak harus segera memiliki jawaban.
Ia boleh menjalani hari demi hari, mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, dan
membiarkan dirinya tumbuh tanpa harus menentukan kapan seluruh luka itu akan
hilang.
Suatu sore, Hendra melihat Imelda
duduk sendirian di teras rumah.
Putrinya sedang membaca sesuatu di
ponsel, tetapi tatapannya beberapa kali terhenti pada layar tanpa benar-benar
memperhatikan apa yang dibacanya.
Hendra duduk di kursi di sebelahnya.
“Masih memikirkan Surya?” tanyanya.
Imelda tersenyum kecil.
“Kadang-kadang, Yah.”
“Apakah itu membuatmu ingin kembali
kepadanya?”
Imelda berpikir sebelum menjawab.
“Aku tidak tahu apakah aku ingin
kembali. Ada bagian dari diriku yang masih merindukannya. Tetapi aku juga ingat
bagaimana rasanya ketika aku mulai meragukan semua yang dia katakan.”
Hendra mengangguk.
“Tidak ada yang salah dengan mengingat
seseorang yang pernah berarti dalam hidupmu.”
“Aku takut suatu hari nanti aku akan
menyesal karena tidak memberinya kesempatan lagi.”
“Penyesalan adalah sesuatu yang
mungkin datang setelah banyak keputusan. Tetapi kamu tidak bisa menjalani hidup
hanya dengan menghindari kemungkinan menyesal.”
Imelda memandang ayahnya.
“Bagaimana kalau sebenarnya dia bisa
berubah?”
“Dia memang bisa berubah. Setiap orang
memiliki kesempatan untuk belajar dari kesalahannya. Tetapi perubahan Surya
adalah tanggung jawabnya sendiri. Kamu tidak harus kembali ke dalam hubungan
itu untuk membuktikan bahwa kamu percaya manusia bisa menjadi lebih baik.”
Imelda terdiam.
Hendra melanjutkan dengan nada tenang.
“Kalau suatu hari dia menjadi orang
yang lebih jujur dan bertanggung jawab, itu sesuatu yang baik bagi dirinya.
Namun, perubahan itu tidak otomatis menghapus apa yang telah terjadi di antara
kalian.”
“Aku mengerti, Yah.”
“Dan Ayah ingin kamu mengingat satu
hal lagi. Kamu tidak perlu membuktikan bahwa keputusanmu benar dengan cara
membenci Surya atau berharap dia gagal. Kamu cukup menjalani hidupmu dengan
baik.”
Imelda merasakan dadanya menghangat.
Selama beberapa hari terakhir, ia
terlalu sibuk memikirkan apakah perpisahan itu merupakan keputusan yang tepat.
Ia mengulang percakapan di KP3 dalam pikirannya, membayangkan jawaban-jawaban
yang berbeda, dan bertanya-tanya apakah semuanya akan berakhir lain jika Surya
memilih jujur sejak awal.
Kini, ia mulai menerima bahwa tidak
ada gunanya terus hidup dalam kemungkinan yang tidak pernah terjadi.
Ia tidak dapat mengubah pilihan Surya.
Ia juga tidak dapat mengubah dirinya
menjadi seseorang yang tidak pernah terluka.
Yang dapat ia lakukan adalah menerima
apa yang telah terjadi dan memutuskan bagaimana ia ingin melanjutkan hidupnya.
Beberapa hari setelah percakapannya
dengan Fajar, Surya kembali membuka ponselnya.
Ia menemukan nama Imelda di dalam
daftar kontak dan menatapnya cukup lama.
Ada banyak hal yang masih ingin ia
katakan. Ia ingin meminta maaf sekali lagi. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya
sedang berusaha memperbaiki cara berpikirnya. Ia ingin memberi tahu bahwa ia
mulai memahami mengapa Imelda memilih pergi.
Namun, kali ini ia mencoba memikirkan
sesuatu yang berbeda.
Apakah pesan itu akan membantu Imelda,
atau hanya membuat dirinya merasa sedikit lebih baik?
Ia tidak dapat memastikan jawabannya.
Akhirnya, ia meletakkan ponsel tanpa
mengirim apa pun.
Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti
Imelda akan bersedia berbicara lagi dengannya. Ia tidak tahu apakah perempuan
itu masih menyimpan perasaan yang sama. Ia bahkan tidak tahu apakah dirinya
akan memperoleh kesempatan untuk menjelaskan perubahan yang sedang ia usahakan.
Untuk pertama kalinya, ia mencoba
menerima bahwa tidak semua hal harus ia ketahui sekarang.
Ia pernah mendekati Imelda karena
melihat kemungkinan memperoleh sesuatu dari hubungan mereka. Ia kemudian jatuh
cinta, tetapi tidak segera menghentikan cara berpikir yang telah membawanya ke
dalam hubungan itu. Ketika kebenaran terbuka, ia berharap perasaan yang tumbuh
belakangan dapat menyelamatkannya dari akibat pilihan awalnya.
Kini ia memahami bahwa cinta bukanlah
penghapus kesalahan.
Jika ia benar-benar ingin berubah, ia
harus melakukannya meskipun Imelda tidak kembali.
Ia harus belajar menghargai seseorang
tanpa menghitung manfaat yang mungkin diperolehnya. Ia harus belajar
menyampaikan kebenaran sebelum kebohongan membuat keadaan semakin rumit. Ia
juga harus menerima bahwa menjadi lebih baik tidak selalu berarti mendapatkan
kembali apa yang pernah hilang.
Surya menghela napas panjang.
Ia belum menjadi orang yang sepenuhnya
berbeda. Penyesalan tidak mengubah seluruh watak seseorang dalam hitungan hari.
Ambisi, rasa takut, dan keinginannya untuk berhasil masih menjadi bagian dari
dirinya.
Namun, kini ia tidak bisa lagi
berpura-pura bahwa semua persoalan itu berasal dari keadaan di luar dirinya.
Ada sesuatu yang harus ia benahi dari
dalam.
Dan perjalanan itu harus dimulai tanpa
janji bahwa Imelda akan menunggunya di akhir.
Pada suatu senja, Imelda kembali
mengingat KP3.
Ia tidak datang ke sana. Ia hanya
membayangkan tempat itu, permukaan sungai yang memantulkan cahaya matahari, dan
percakapan terakhir yang mengakhiri hubungan mereka.
Dahulu, ia mengira janji adalah
sesuatu yang dapat melindungi cinta dari segala kesulitan.
Sekarang, ia memahami bahwa janji
hanya memiliki arti ketika seseorang bersedia menjalankannya dengan kejujuran.
Surya pernah berjanji untuk mencintainya.
Ia pun pernah berjanji dalam hati untuk mendampingi laki-laki itu menghadapi
masa-masa sulit.
Namun, hubungan mereka tidak berakhir
karena Imelda menolak kesulitan atau karena Surya belum berhasil membangun
kehidupan yang diinginkannya. Hubungan itu berakhir karena mereka tidak lagi
berdiri di atas pemahaman yang sama tentang kejujuran.
Imelda menarik napas panjang.
Ia masih merindukan Surya. Mungkin
untuk beberapa waktu ke depan, perasaan itu akan tetap datang pada saat-saat
yang tidak terduga.
Tetapi ia tidak lagi menganggap
kerinduan sebagai perintah untuk kembali.
Ia mulai memahami bahwa melepaskan
bukan berarti menganggap semua yang pernah terjadi tidak berarti. Melepaskan
berarti berhenti memaksa sesuatu untuk tetap hidup ketika cara mempertahankannya
justru membuat diri sendiri semakin terluka.
Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti
ia akan benar-benar memaafkan Surya tanpa menyimpan rasa sakit.
Ia juga tidak tahu apakah mereka akan
kembali bertemu dalam keadaan yang berbeda.
Namun, ia tidak ingin menggantungkan
ketenangannya pada kemungkinan-kemungkinan itu.
Hidupnya masih panjang. Ada banyak hal
yang perlu ia kerjakan, banyak hubungan yang perlu ia jaga, dan banyak bagian
dari dirinya yang perlu ia kenali kembali setelah sekian lama menempatkan
hubungan mereka sebagai salah satu pusat kehidupannya.
Ia akan menjalani semuanya perlahan.
Bukan untuk membuktikan bahwa ia lebih
kuat daripada Surya.
Bukan untuk membuat laki-laki itu
menyesali keputusannya.
Melainkan karena ia berhak memiliki
kehidupan yang tidak terus-menerus ditentukan oleh luka masa lalu.
Malam itu, Surya duduk sendirian di
kamarnya.
Ia tidak lagi membuka percakapan
Imelda berulang kali. Ponselnya terletak di atas meja, sementara sebuah buku
catatan terbuka di hadapannya. Di dalamnya, ia mulai menuliskan hal-hal yang
perlu ia perbaiki dalam rencana usaha dan kehidupannya sendiri.
Tidak ada kalimat tentang bagaimana
cara mendapatkan kembali Imelda.
Tidak ada rencana untuk mendekati
Hendra melalui hubungan pribadi.
Tidak ada janji bahwa setelah
berhasil, semua orang akan melihat dirinya sebagai laki-laki yang berbeda.
Ia hanya menuliskan apa yang perlu
dikerjakan, apa yang belum mampu ia lakukan, dan apa yang harus ia pelajari
sebelum melangkah lebih jauh.
Untuk pertama kalinya, ia mencoba
menyusun masa depan tanpa menjadikan seseorang sebagai jalan pintas menuju
keberhasilan.
Di luar, malam semakin larut.
Surya menutup buku catatannya, lalu
duduk diam.
Ia masih merindukan Imelda. Ia masih
menyesali apa yang telah dilakukannya. Dan ia tahu bahwa ada kemungkinan
penyesalan itu akan tinggal jauh lebih lama daripada yang ia harapkan.
Namun, ia tidak lagi ingin menggunakan
rasa bersalah sebagai alasan untuk terus mengetuk pintu yang telah ditutup oleh
seseorang yang berhak melindungi dirinya sendiri.
Ia harus menerima akibat dari
pilihannya.
Bukan karena ia tidak lagi mencintai
Imelda, melainkan karena jika cinta itu memang pernah berarti, ia harus belajar
menghormati keputusan perempuan tersebut.
Di tempat lain, Imelda mulai menjalani
malam dengan ketenangan yang masih rapuh, tetapi perlahan tumbuh.
Keduanya berada di jalan yang berbeda.
Tidak ada yang dapat memastikan apakah
jalan itu akan kembali mempertemukan mereka. Tidak ada pula janji bahwa waktu
akan menghapus semua luka.
Namun, satu hal mulai menjadi jelas
bagi mereka berdua: hubungan yang telah berakhir tidak harus menjadikan seluruh
kehidupan seseorang ikut berakhir.
Imelda harus belajar hidup tanpa
Surya.
Surya harus belajar menjadi lebih
jujur tanpa berharap Imelda akan kembali.
Dan di antara dua kehidupan yang kini
berjalan terpisah, sandiwara yang pernah mengaburkan kebenaran itu akhirnya
kehilangan tempatnya.
Yang tersisa bukan lagi janji untuk
saling memiliki.
Melainkan tanggung jawab untuk
menerima apa yang telah terjadi, keberanian untuk memperbaiki diri, dan
kesediaan untuk melangkah maju tanpa memaksa masa lalu kembali menjadi masa
depan.
Ketika sandiwara berakhir, tidak semua
orang mendapatkan apa yang diinginkannya.
Tetapi mungkin, dari sanalah mereka
akhirnya memiliki kesempatan untuk melihat diri sendiri dengan lebih jujur.
BAB XV
MEMILIH DIRI SENDIRI
Pagi itu, Imelda Yuliana berdiri di
depan cermin kamarnya lebih lama daripada biasanya.
Ia memperhatikan wajahnya sendiri.
Tidak ada perubahan besar yang dapat dilihat orang lain. Wajahnya masih sama,
rambutnya masih tertata seperti biasa, dan matanya masih menyimpan kelembutan
yang selama ini menjadi bagian dari dirinya.
Namun, ada sesuatu yang perlahan
berubah di dalam hati.
Beberapa minggu terakhir telah
mengajarkannya bahwa kehilangan tidak selalu datang dalam bentuk kepergian
seseorang. Ada pula kehilangan yang terjadi ketika kita menyadari bahwa sesuatu
yang selama ini kita yakini ternyata tidak sepenuhnya seperti yang kita
bayangkan.
Imelda pernah kehilangan keyakinan
terhadap hubungan yang dijalaninya bersama Surya. Ia pernah mempertanyakan
kenangannya sendiri, meragukan ketulusan yang dahulu terasa begitu nyata, dan
menyalahkan dirinya karena tidak lebih cepat menyadari bahwa ada kepentingan
yang disembunyikan di balik kedekatan mereka.
Namun, semakin lama ia memikirkan
semuanya, semakin ia memahami bahwa mempercayai seseorang bukanlah sebuah
kesalahan.
Yang salah adalah ketika kepercayaan
itu tidak dijaga oleh orang yang menerimanya.
Ia tidak perlu menghukum dirinya
sendiri hanya karena pernah mencintai dengan tulus.
Imelda menarik napas panjang, lalu
merapikan rambutnya.
Hari itu, ia ingin memulai sesuatu
yang sederhana: menjalani kehidupannya tanpa terus-menerus menoleh ke belakang
untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terjawab
seluruhnya.
Ia masih mencintai Surya dalam cara
yang sulit dijelaskan. Perasaan itu tidak menghilang hanya karena hubungan
mereka telah berakhir. Kadang-kadang, ia masih teringat suaranya. Sesekali, ia
masih membayangkan bagaimana jika mereka dahulu mengambil keputusan yang
berbeda.
Tetapi sekarang, ia tidak lagi
menganggap semua bayangan itu sebagai alasan untuk kembali.
Ia mulai memahami bahwa seseorang
dapat tetap menyimpan kasih sayang kepada orang lain, sekaligus mengakui bahwa
kebersamaan dengan orang tersebut tidak lagi menjadi pilihan yang baik bagi
dirinya.
Mencintai seseorang tidak berarti
harus mengorbankan ketenangan sendiri.
Dan melepaskan seseorang tidak berarti
seluruh cinta yang pernah diberikan menjadi sia-sia.
Hari-hari berikutnya, Imelda berusaha
mengembalikan perhatian kepada hal-hal yang selama ini sempat terabaikan.
Ia menghabiskan lebih banyak waktu
bersama Ratna, berbincang dengan Hendra, dan kembali menikmati kegiatan
sederhana yang dahulu sering ia lakukan tanpa beban. Ia tidak memaksakan
dirinya untuk selalu terlihat bahagia. Jika suatu hari ia merasa sedih, ia
membiarkan kesedihan itu hadir tanpa menganggapnya sebagai kemunduran.
Nadia tetap menjadi salah satu orang
yang paling dekat dengannya.
Pada suatu sore, mereka duduk bersama
sambil menikmati minuman hangat. Percakapan mereka mengalir dari hal-hal ringan
hingga persoalan yang selama ini menjadi beban Imelda.
“Aku mulai merasa lebih baik,” ujar
Imelda.
Nadia tersenyum. “Aku senang
mendengarnya.”
“Tetapi bukan berarti aku sudah
melupakan semuanya. Ada hari-hari ketika aku masih memikirkan Surya.
Kadang-kadang aku masih bertanya-tanya apakah dia benar-benar mencintaiku.”
“Apakah kamu merasa harus menemukan
jawaban itu agar bisa melanjutkan hidup?”
Imelda berpikir sejenak.
“Dulu, iya. Aku merasa harus tahu
apakah semua yang pernah kami jalani benar-benar tulus. Aku ingin memastikan
bahwa aku tidak salah menilai setiap kenangan.”
“Lalu sekarang?”
“Sekarang aku mulai menyadari bahwa mungkin
aku tidak akan pernah mengetahui semuanya dengan pasti. Aku hanya tahu apa yang
dia akui, apa yang dia sembunyikan, dan bagaimana semua itu memengaruhi
kepercayaanku.”
Nadia mengangguk.
“Itu sudah menjadi bagian penting dari
kenyataan yang kamu hadapi.”
Imelda memandang ke luar.
“Aku tidak ingin terus hidup dengan
mencoba menebak-nebak isi hati seseorang. Kalau suatu hari aku mencintai orang
lain, aku ingin bisa menjalani hubungan dengan lebih tenang. Aku ingin
berbicara secara terbuka, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan tidak merasa
harus mencari kebenaran di balik setiap kalimat.”
“Itu keinginan yang wajar.”
“Aku juga tidak ingin menjadi orang
yang selalu curiga hanya karena pernah terluka. Aku tidak mau kesalahan Surya
membuatku kehilangan kemampuan untuk percaya kepada orang lain.”
Nadia tersenyum lembut.
“Berarti kamu tidak hanya sedang
berusaha melupakan seseorang. Kamu sedang belajar memahami apa yang kamu
butuhkan dari sebuah hubungan.”
Imelda mengangguk perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia memandang
masa lalu tanpa merasa harus memenangkan pertarungan melawannya. Ia tidak perlu
membuktikan bahwa Surya sepenuhnya buruk agar keputusannya berpisah menjadi
benar. Ia juga tidak perlu membuktikan bahwa dirinya tidak lagi mencintai Surya
agar dapat melanjutkan hidup.
Ia hanya perlu jujur kepada dirinya
sendiri.
Hubungan mereka pernah memberinya
kebahagiaan, tetapi pada akhirnya juga menempatkannya dalam keadaan yang tidak
lagi dapat ia jalani dengan tenang.
Itu sudah cukup untuk menjelaskan
mengapa ia memilih pergi.
Di sisi lain Kota Air, Surya Pratama
sedang menghadapi kehidupan yang tidak lagi dapat ia jalani dengan cara lama.
Ia tidak tiba-tiba menjadi orang yang
sempurna setelah kehilangan Imelda. Ambisinya masih ada. Keinginannya untuk
memperbaiki keadaan ekonomi juga belum hilang. Sesekali, ia masih merasa iri
ketika melihat orang lain mencapai keberhasilan yang belum dapat diraihnya.
Namun, ia mulai belajar mengenali
perasaan-perasaan itu tanpa membiarkannya menjadi alasan untuk mengambil jalan
pintas.
Rencana usaha yang dahulu ia harapkan
dapat segera membawanya menuju kehidupan yang lebih baik masih membutuhkan
banyak pembenahan. Ia kembali memeriksa perhitungan, menimbang risiko, dan
mengakui bagian-bagian yang belum dikuasainya.
Ia tidak lagi menganggap nasihat
sebagai pengganti modal atau mengira bahwa kedekatan dengan seseorang dapat
menyelesaikan persoalan yang seharusnya ia tangani sendiri.
Perubahan itu berlangsung perlahan.
Ada saat ketika ia merasa frustrasi.
Ada pula saat ketika ia hampir kembali pada cara berpikir lama, membayangkan
bahwa jika dahulu ia berhasil memperoleh dukungan dari keluarga Yuliana,
mungkin kehidupannya sekarang akan berbeda.
Namun, setiap kali pikiran itu muncul,
ia berusaha mengingat kembali percakapannya dengan Imelda di KP3.
Ia mengingat pertanyaan perempuan itu
tentang kejujuran. Ia mengingat bagaimana Imelda tidak pernah mempersoalkan
bahwa dirinya belum berhasil membangun usaha besar. Yang dipersoalkan adalah
mengapa ia membiarkan hubungan mereka menjadi tempat bagi kepentingan yang
tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
Surya akhirnya mengerti bahwa
persoalannya bukan sekadar gagal mendapatkan kesempatan.
Persoalannya adalah ia pernah
menganggap kepercayaan seseorang sebagai sesuatu yang dapat dipertahankan
selama ia mampu memberikan penjelasan yang meyakinkan.
Ia baru memahami bahwa kepercayaan
tidak dibangun dengan kemampuan menyusun kata-kata. Kepercayaan dibangun
melalui kesediaan untuk mengatakan kebenaran, terutama ketika kebenaran itu mungkin
membuat seseorang menjauh.
Pada suatu malam, Fajar datang
menemuinya.
“Kamu masih memikirkan Imelda?”
tanyanya.
Surya mengangguk.
“Masih.”
“Apakah kamu ingin menghubunginya?”
“Kadang-kadang. Aku ingin mengatakan
bahwa aku mulai memahami semuanya. Aku ingin dia tahu bahwa aku sedang berusaha
memperbaiki diri.”
Fajar memandangnya.
“Apakah kamu ingin dia mengetahui itu
karena kamu berharap dia kembali?”
Surya terdiam cukup lama.
“Dulu, mungkin iya. Aku ingin dia
melihat bahwa aku bisa berubah, lalu memberiku kesempatan lagi.”
“Dan sekarang?”
Surya menatap meja di hadapannya.
“Sekarang aku mulai menyadari bahwa
kalau aku hanya berubah agar dia kembali, berarti aku masih menjadikan dirinya
sebagai tujuan dari semua yang kulakukan. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan
itu.”
Fajar mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, lanjutkan perubahanmu
tanpa harus mengumumkannya kepada siapa pun.”
Surya tersenyum tipis.
“Aku tidak tahu apakah suatu hari
nanti aku akan benar-benar menjadi orang yang lebih baik.”
“Tidak ada yang bisa menjamin itu.
Yang bisa kamu lakukan adalah terus memilih dengan lebih jujur, termasuk ketika
pilihan itu tidak memberimu keuntungan langsung.”
Surya mengangguk.
Untuk pertama kalinya, ia tidak
bertanya apakah Imelda akan kembali. Ia juga tidak meminta Fajar meyakinkannya
bahwa semuanya masih mungkin diperbaiki.
Ia mulai menerima bahwa perubahan
dirinya adalah tanggung jawab yang harus dijalani, bukan janji yang dapat
ditukarkan dengan kesempatan kedua.
Dan mungkin, itulah pelajaran yang
paling sulit baginya: memperbaiki diri tanpa menjadikan hasilnya sebagai
tuntutan kepada orang yang pernah ia lukai.
Beberapa waktu kemudian, Imelda duduk
bersama kedua orang tuanya di ruang keluarga.
Pembicaraan mereka berlangsung santai.
Hendra menceritakan kesibukan yang sedang dihadapinya, sementara Ratna sesekali
menambahkan pendapat. Imelda mendengarkan dan ikut menanggapi.
Di tengah percakapan, Hendra memandang
putrinya.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Imelda tersenyum.
“Lebih baik, Yah.”
“Apakah kamu masih memikirkan
persoalan kemarin?”
“Kadang-kadang. Tetapi aku tidak lagi
memikirkannya sepanjang hari.”
Hendra mengangguk.
“Ayah senang kamu mulai menemukan
ketenanganmu sendiri.”
Imelda menunduk sebentar, kemudian
berkata, “Aku juga mulai mengerti bahwa Ayah tidak pernah bermaksud melarangku
mencintai Surya.”
“Tidak pernah, Nak. Ayah hanya ingin
kamu bisa melihat hubungan itu dengan jernih.”
“Aku tahu sekarang.”
Hendra menatap putrinya dengan penuh
perhatian.
“Kalau suatu hari nanti kamu bertemu
seseorang lagi, jangan biarkan pengalaman ini membuatmu menutup hati. Tetapi
jangan pula merasa harus memberikan kepercayaan sepenuhnya sebelum kamu
mengenal orang itu dengan baik.”
Imelda mengangguk.
“Aku akan berusaha.”
Ratna tersenyum.
“Kamu tidak harus menjadi orang yang
berbeda setelah mengalami kekecewaan. Kamu hanya perlu membawa pelajaran dari
pengalaman itu agar dapat membuat keputusan yang lebih baik.”
Imelda memandang kedua orang tuanya.
Selama beberapa waktu, ia merasa bahwa
perpisahan dengan Surya telah merenggut sebagian dirinya. Ia merasa lebih
berhati-hati, lebih mudah teringat pada hal-hal yang menyakitkan, dan lebih
sulit menikmati kebahagiaan tanpa memikirkan kemungkinan kehilangan.
Namun, perlahan ia menyadari bahwa
pengalaman itu tidak harus menentukan seluruh masa depannya.
Ia masih dapat menjadi perempuan yang
hangat. Ia masih dapat mempercayai orang lain. Ia masih dapat mencintai dengan
tulus tanpa harus mengabaikan batas-batas yang penting bagi dirinya.
Ia tidak ingin menjadikan luka sebagai
tembok yang memisahkannya dari dunia.
Ia ingin menjadikannya pengingat bahwa
ketulusan harus berjalan bersama penghargaan terhadap diri sendiri.
Pada suatu sore yang cerah, Imelda
keluar rumah untuk menikmati udara Kota Air.
Ia tidak memiliki tujuan yang istimewa.
Ia hanya ingin berjalan sebentar, memberi ruang bagi pikirannya, dan menikmati
suasana tanpa terus-menerus menghubungkan setiap tempat dengan kenangan bersama
Surya.
Ketika melintasi kawasan yang
mengingatkannya pada masa lalu, langkahnya sempat melambat.
Ia teringat pertemuan pertama mereka,
percakapan-percakapan yang membuat keduanya semakin dekat, dan janji yang
pernah mereka ucapkan di KP3.
Untuk sesaat, dadanya kembali terasa
sesak.
Namun, kali ini ia tidak memaksa
dirinya berjalan lebih cepat untuk menghindari kenangan itu. Ia membiarkan
ingatan tersebut hadir, menerima kesedihan yang menyertainya, lalu menarik
napas panjang.
Ia pernah bahagia bersama Surya.
Ia pernah terluka karena Surya.
Dan sekarang, ia sedang belajar hidup
tanpa menjadikan salah satu dari dua kenyataan itu sebagai seluruh cerita
tentang dirinya.
Imelda melanjutkan langkah.
Di sekelilingnya, Kota Air tetap
menjalani kehidupan sehari-hari. Orang-orang sibuk dengan urusannya, percakapan
terdengar dari berbagai arah, dan waktu bergerak sebagaimana mestinya.
Dunia tidak berhenti ketika
hubungannya berakhir.
Ia pun tidak harus berhenti.
Ada masa depan yang belum ia kenal.
Ada pekerjaan dan tanggung jawab yang menantinya. Ada hubungan dengan keluarga
dan sahabat yang masih dapat ia rawat. Ada pula kemungkinan-kemungkinan baru
yang tidak perlu ia buru-buru cari jawabannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian
lama, ia merasa tidak harus segera mengetahui ke mana seluruh perjalanan
hidupnya akan membawanya.
Ia cukup melangkah.
Satu hari demi satu hari.
Surya juga kembali melewati
hari-harinya dengan cara yang berbeda.
Ia masih mengingat Imelda ketika senja
tiba. Ia masih sesekali bertanya-tanya bagaimana keadaan perempuan itu. Namun,
ia tidak lagi menganggap kerinduan sebagai alasan untuk menghubunginya.
Ia menghormati keputusan Imelda,
meskipun keputusan itu menyakitkan baginya.
Pada suatu malam, ia membuka buku
catatan yang berisi rencana usaha dan berbagai hal yang ingin diperbaikinya. Ia
membaca kembali catatan-catatan itu, lalu menambahkan satu kalimat di halaman
terakhir.
Jangan mengorbankan
kejujuran demi mendapatkan sesuatu yang belum tentu menjadi milikmu.
Ia memandang kalimat itu cukup lama.
Kalimat tersebut tidak membuat seluruh
kesalahannya terhapus. Tidak pula mengembalikan hubungan yang telah berakhir.
Namun, ia ingin menjadikannya pengingat ketika suatu hari nanti ambisi kembali
membuatnya tergoda untuk mengambil jalan yang keliru.
Ia tidak tahu apakah suatu saat akan
bertemu Imelda lagi. Jika itu terjadi, ia tidak ingin datang dengan tuntutan
atau membawa daftar perubahan yang harus membuat perempuan itu percaya
kepadanya.
Ia hanya ingin menjadi seseorang yang
mampu berdiri di hadapan orang lain tanpa harus menyembunyikan maksudnya.
Jika kelak ada orang yang mempercayainya,
ia ingin menjaga kepercayaan itu dengan lebih baik.
Jika suatu saat ia mencintai seseorang
lagi, ia ingin memulainya dengan kejujuran, bukan dengan strategi.
Dan jika ia kembali menghadapi
kegagalan, ia ingin belajar menerimanya tanpa mencari jalan keluar melalui
perasaan orang lain.
Surya menutup buku catatannya.
Ia masih memiliki perjalanan panjang.
Ia belum mengetahui apakah usahanya akan berhasil, apakah kehidupan ekonominya
akan berubah seperti yang ia harapkan, atau berapa lama ia membutuhkan waktu
untuk berdamai dengan kehilangan Imelda.
Namun, ia tidak lagi menunggu
keberhasilan untuk mulai memperbaiki dirinya.
Perubahan itu harus dimulai dari
keputusan-keputusan kecil yang diambilnya sekarang.
Waktu perlahan membawa Imelda dan Surya
menuju kehidupan yang berbeda.
Tidak ada kabar besar tentang mereka.
Tidak ada pertemuan dramatis yang tiba-tiba mengubah keadaan. Tidak ada pula
janji baru yang membuat keduanya kembali terikat.
Imelda terus belajar menerima dirinya
sendiri, sedangkan Surya berusaha membangun hidupnya dengan cara yang lebih
bertanggung jawab.
Mereka mungkin masih sesekali
mengingat satu sama lain. Bagaimanapun, hubungan yang pernah dijalani dengan
sungguh-sungguh tidak selalu lenyap begitu saja setelah perpisahan.
Namun, kenangan itu perlahan tidak
lagi menjadi pusat kehidupan mereka.
Imelda tidak lagi menghabiskan malam
untuk mencari jawaban atas setiap pertanyaan tentang Surya. Surya pun mulai
berhenti membayangkan bahwa perubahan dirinya harus berakhir dengan kembalinya
perempuan itu.
Keduanya belajar menerima batas dari
apa yang dapat mereka kendalikan.
Imelda tidak dapat mengubah pilihan
yang pernah dibuat Surya.
Surya tidak dapat menentukan bagaimana
Imelda akan mengenang hubungan mereka.
Mereka hanya dapat bertanggung jawab
atas langkah masing-masing.
Pada akhirnya, Imelda memahami bahwa
memilih diri sendiri bukan berarti menganggap dirinya lebih penting daripada
orang lain. Itu berarti menghormati batas yang dibutuhkan agar ia dapat hidup
dengan tenang, tanpa harus terus-menerus mengorbankan kejujuran dan
keyakinannya demi mempertahankan sebuah hubungan.
Sementara itu, Surya mulai memahami
bahwa mencintai seseorang tidak cukup hanya dengan memiliki perasaan. Cinta
juga membutuhkan keberanian untuk berkata jujur, kesediaan untuk bertanggung
jawab, dan kerendahan hati untuk menerima ketika orang yang dicintai memilih
pergi.
Mereka tidak memperoleh akhir yang
pernah dibayangkan.
Imelda tidak mendapatkan masa depan
bersama laki-laki yang dahulu ia percayai. Surya tidak mendapatkan kesempatan
kedua yang begitu ia inginkan.
Tetapi kehidupan tidak selalu
memberikan apa yang diharapkan seseorang. Terkadang, kehidupan justru
memperlihatkan sesuatu yang perlu dipahami sebelum seseorang dapat melangkah
lebih jauh.
Bagi Imelda, pelajaran itu adalah
bahwa ia dapat mencintai tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Bagi Surya, pelajaran itu adalah bahwa
ambisi tidak boleh menghapus kejujuran, dan penyesalan tidak boleh berubah
menjadi tuntutan kepada orang yang telah disakiti.
Mereka pernah berjalan beriringan.
Mereka pernah membayangkan masa depan
yang sama.
Kini, mereka berjalan sendiri-sendiri,
membawa kenangan yang tidak seluruhnya indah, tetapi juga tidak perlu dihapus
agar kehidupan dapat berlanjut.
Dan ketika suatu hari nanti mereka
mengingat kisah itu, mungkin mereka akan memahami bahwa hubungan mereka bukan
hanya tentang cinta yang gagal dipertahankan.
Kisah itu juga tentang seseorang yang
belajar melepaskan, seseorang yang belajar bertanggung jawab, dan dua hati yang
harus menerima bahwa tidak semua perasaan dapat diselamatkan dengan cara tetap
bersama.
Di Kota Air, kehidupan terus bergerak.
Sungai Kapuas tetap mengalir, senja
kembali datang, dan malam berganti pagi.
Sementara itu, Imelda Yuliana mulai
menemukan ketenangannya kembali.
Ia tidak lagi menunggu Surya untuk
merasa utuh.
Ia tidak lagi membutuhkan jawaban dari
masa lalu untuk melangkah ke masa depan.
Ia masih mampu mencintai, masih mampu
berharap, dan masih memiliki keberanian untuk menjalani hidup.
Kali ini, ia melangkah bukan untuk
mengejar seseorang.
Ia melangkah untuk kembali menemukan
dirinya sendiri.
EPILOG
KOTA AIR DAN HATI YANG KEMBALI UTUH
Hari-hari terus berjalan setelah
Imelda Yuliana memutuskan untuk melanjutkan hidupnya tanpa Surya Pratama.
Tidak ada perubahan besar yang terjadi
dalam semalam. Tidak ada pagi ketika ia terbangun lalu mendapati seluruh
kesedihan telah menghilang. Pemulihan datang dengan cara yang lebih sederhana,
melalui hari-hari biasa yang perlahan mengajarinya menerima kenyataan.
Ada pagi ketika ia bangun dengan
perasaan ringan. Ada pula malam ketika sebuah kenangan tiba-tiba muncul dan
membuat dadanya terasa sesak. Kadang-kadang, ia masih teringat percakapan
mereka, perhatian kecil yang pernah diberikan Surya, atau janji yang dahulu terdengar
begitu meyakinkan.
Namun, seiring waktu, kenangan itu
tidak lagi selalu membuatnya ingin kembali.
Ia mulai dapat mengingat tanpa harus
mencari alasan untuk menghubungi. Ia mulai dapat merindukan tanpa merasa harus
mengubah keputusannya. Dan ia mulai memahami bahwa melanjutkan hidup bukan
berarti melupakan semua yang pernah terjadi.
Ada hal-hal yang tetap tinggal di
dalam ingatan, tetapi tidak harus terus-menerus menguasai hati.
Pada hari-hari berikutnya, Imelda
kembali menjalani rutinitasnya. Ia menghabiskan waktu bersama Ratna, berbincang
dengan Hendra, dan sesekali bertemu Nadia untuk menikmati sore sambil bertukar
cerita. Ia kembali tertawa tanpa merasa bersalah, menikmati hal-hal kecil tanpa
harus membandingkannya dengan masa ketika Surya masih berada di sisinya.
Suatu sore, ketika mereka duduk
bersama, Nadia memperhatikan perubahan pada sahabatnya itu.
“Kamu kelihatan lebih tenang
sekarang,” katanya.
Imelda tersenyum kecil. “Mungkin
karena aku sudah berhenti memaksa diriku mencari jawaban untuk semua hal.”
“Apakah kamu sudah benar-benar
melupakannya?”
Imelda menggeleng pelan.
“Tidak. Aku rasa aku tidak harus
melupakan semuanya. Surya pernah menjadi bagian penting dalam hidupku. Aku
pernah bahagia bersamanya, dan aku juga pernah sangat terluka karenanya.”
“Lalu bagaimana kamu memandangnya
sekarang?”
Imelda terdiam sesaat sebelum
menjawab.
“Sebagai seseorang yang pernah
kucintai, tetapi tidak lagi harus berjalan bersamaku.”
Nadia tidak segera menanggapi. Ia
hanya menggenggam tangan Imelda sebentar, membiarkan jawaban itu menemukan
tempatnya sendiri.
Bagi Imelda, kalimat tersebut bukan
tanda bahwa seluruh perasaannya telah lenyap. Itu adalah pengakuan bahwa ia
tidak lagi harus mempertahankan sebuah hubungan hanya karena pernah memberikan
begitu banyak cinta di dalamnya.
Ia telah belajar bahwa masa lalu boleh
dikenang tanpa harus diulang.
Di rumah keluarga Yuliana, Ratna
melihat putrinya mulai kembali menikmati kehidupan dengan caranya sendiri.
Suatu pagi, ketika mereka sedang
menyiapkan sarapan, Ratna bertanya apakah Imelda masih sering memikirkan Surya.
“Kadang-kadang, Bu,” jawab Imelda
jujur. “Tetapi sekarang aku tidak lagi merasa harus melakukan sesuatu setiap
kali mengingatnya.”
Ratna menoleh kepadanya.
“Dulu, setiap kali aku merindukannya,
aku selalu merasa mungkin seharusnya aku memberinya kesempatan lagi. Aku
berpikir, kalau perasaanku masih ada, mungkin hubungan itu masih bisa
diselamatkan.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku mengerti bahwa perasaan
saja tidak cukup. Aku bisa merindukannya tanpa harus kembali ke keadaan yang
membuatku kehilangan ketenangan.”
Ratna tersenyum lembut.
“Ibu tidak pernah ingin kamu berhenti
mencintai. Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa dirimu juga layak mendapatkan cinta
yang baik.”
Imelda meraih tangan ibunya.
“Terima kasih karena Ibu tidak pernah
memaksaku mengambil keputusan tertentu.”
“Karena yang akan menjalani hidupmu
adalah kamu, Nak. Kami hanya bisa mendampingi dan mengingatkan.”
Perkataan itu menetap di hati Imelda.
Ia menyadari bahwa selama ini
orang-orang yang benar-benar menyayanginya tidak pernah meminta dirinya menjadi
seseorang yang tidak lagi memiliki perasaan. Mereka tidak menuntutnya membenci
Surya, menghapus kenangan, atau berpura-pura kuat setiap saat.
Mereka hanya memberinya ruang untuk
pulih.
Dan dari ruang itulah ia perlahan
menemukan keberanian untuk kembali menjalani hidup.
Sementara itu, Surya mulai membangun
hari-harinya dengan pemahaman yang berbeda.
Perjalanan tersebut tidak selalu
mudah. Ia masih menghadapi keterbatasan yang sama, masih harus menyusun rencana
usaha dengan cermat, dan masih harus menerima bahwa keberhasilan tidak datang
hanya karena seseorang menginginkannya dengan sungguh-sungguh.
Ada kesempatan yang belum berhasil ia
raih. Ada rencana yang harus ia perbaiki. Ada pula keputusan yang
mengharuskannya mengakui bahwa ia belum cukup siap untuk melangkah lebih jauh.
Dahulu, keadaan seperti itu mudah
membuatnya merasa tertinggal. Ia ingin segera membuktikan bahwa dirinya mampu
mencapai sesuatu yang besar. Keinginan itu pernah membuatnya melihat kedekatan
dengan Imelda sebagai jalan yang mungkin mempercepat langkahnya.
Kini, ia mulai belajar membedakan
antara berusaha memperbaiki kehidupan dan memaksakan diri memperoleh hasil
dengan cara apa pun.
Ia lebih berhati-hati dalam
menyampaikan rencana. Ia belajar mengakui keterbatasan perhitungannya dan tidak
lagi memberi kesan bahwa suatu dukungan telah tersedia ketika hal itu belum
pasti. Jika seseorang hanya menawarkan nasihat, ia belajar menerimanya sebagai
nasihat, bukan sebagai janji bantuan.
Perubahan itu mungkin tampak kecil
bagi orang lain. Tidak ada keberhasilan besar yang dapat ia banggakan. Tidak
ada pencapaian yang tiba-tiba menghapus kesalahan masa lalunya.
Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai
mengukur kemajuan bukan hanya dari apa yang berhasil diperolehnya, melainkan
juga dari cara ia berusaha mendapatkannya.
Pada suatu kesempatan, Fajar kembali
berbincang dengannya.
“Bagaimana rencanamu sekarang?” tanya
Fajar.
“Masih banyak yang harus diperbaiki.”
“Setidaknya kamu tahu bagian mana yang
belum siap.”
Surya tersenyum tipis.
“Dulu, aku ingin semuanya berjalan
cepat. Aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya mencapai tujuan sampai
lupa mempertanyakan apakah caraku benar.”
“Dan sekarang?”
“Aku masih ingin berhasil. Keinginan
itu tidak hilang. Tetapi aku tidak ingin lagi menjadikan orang lain sebagai
jalan pintas untuk mencapai sesuatu.”
Fajar mengangguk.
“Itu baru permulaan.”
“Aku tahu.”
Surya menunduk sebentar, kemudian
melanjutkan, “Aku juga mulai mengerti bahwa meminta maaf tidak membuat akibat
dari kesalahan langsung hilang. Aku bisa menyesal, tetapi orang yang terluka
tetap berhak menentukan apakah ia ingin memberiku kesempatan atau tidak.”
Fajar tidak memberikan pujian
berlebihan.
“Yang penting, kamu benar-benar
menjalankannya. Bukan hanya memahaminya ketika sedang menyesal.”
Surya menerima perkataan itu.
Ia tidak tahu apakah dirinya akan
selalu mampu mengambil keputusan yang benar. Ia juga tidak dapat memastikan
bahwa penyesalan hari ini akan membuatnya kebal terhadap kesalahan pada masa
mendatang.
Namun, ia ingin terus belajar
mengenali saat ambisi mulai mengalahkan kejujuran. Ia ingin berani berhenti
sebelum kebohongan kecil berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Dan ia mulai memahami bahwa perubahan
yang sungguh-sungguh tidak membutuhkan penonton.
Imelda tidak harus mengetahuinya.
Tidak ada kewajiban baginya untuk menyaksikan proses tersebut, apalagi
memberikan penghargaan atasnya.
Surya harus melakukannya karena ia
bertanggung jawab atas kehidupan yang sedang dibangunnya sendiri.
Waktu berlalu, membawa mereka semakin
jauh dari hari ketika hubungan itu berakhir.
Kota Kuala Kapuas tetap menjadi tempat
mereka menjalani kehidupan masing-masing. Sungai Kapuas terus mengalir,
aktivitas warga berlangsung sebagaimana biasa, dan senja datang silih berganti
tanpa mengetahui bahwa di antara orang-orang yang melewati hari-harinya, ada
dua manusia yang sedang belajar berdamai dengan masa lalu.
Bagi Imelda, kota itu menyimpan banyak
kenangan. Ada tempat yang mengingatkannya pada pertemuan pertama, jalan yang
pernah mereka lalui bersama, dan sudut-sudut yang dahulu menjadi saksi
percakapan panjang mereka.
Namun, tempat-tempat itu tidak lagi
hanya menjadi milik kenangan tentang Surya.
Kota itu juga menyimpan cerita tentang
keluarganya, persahabatannya dengan Nadia, dukungan Ratna dan Hendra, serta
perjalanan dirinya untuk menemukan kembali ketenangan.
Suatu sore, Imelda kembali melewati
kawasan KP3 Kuala Kapuas.
Ia tidak datang untuk menunggu siapa
pun. Tidak ada janji yang ingin ia hidupkan kembali. Ia hanya ingin menikmati
suasana dan membiarkan dirinya berada di tempat yang dahulu memiliki arti
begitu besar bagi hubungan mereka.
Untuk beberapa saat, ia berhenti dan
memandang sekeliling.
KP3 mengingatkannya pada janji yang
pernah mereka ucapkan. Dahulu, ia datang ke tempat itu dengan keyakinan bahwa
cinta dan kepercayaan akan membawa mereka menuju masa depan yang sama.
Kemudian, di tempat yang sama, ia harus mengakui bahwa perasaan yang masih
tersisa tidak cukup untuk mempertahankan hubungan yang telah kehilangan
kejujuran.
Kini, ia berdiri di sana sebagai
seseorang yang berbeda.
Bukan karena ia tidak lagi memiliki
luka, melainkan karena luka itu tidak lagi menentukan seluruh cara ia memandang
kehidupan.
Imelda teringat wajah Surya pada hari
perpisahan mereka. Ia masih dapat merasakan kesedihan yang pernah memenuhi
dadanya. Namun, ia tidak lagi ingin mengulang percakapan itu dalam pikirannya,
mencari kalimat yang mungkin dapat mengubah akhir cerita.
Ia telah mengatakan apa yang perlu
dikatakannya.
Ia telah mengambil keputusan yang
menurutnya harus diambil.
Dan sekarang, ia berhak melanjutkan
hidup.
Imelda mengalihkan pandangan ke arah
sungai. Cahaya sore memantul di permukaan air, bergerak bersama arus yang tidak
pernah benar-benar berhenti.
Ia tersenyum kecil.
Tidak semua janji menjadi kenyataan.
Tidak semua cinta berakhir dengan kebersamaan. Namun, sebuah kisah yang tidak
bertahan selamanya tidak serta-merta kehilangan arti.
Ada pelajaran yang hanya dapat
dipahami setelah seseorang berani meninggalkan sesuatu yang pernah sangat
dicintainya.
Bagi Imelda, pelajaran itu adalah
keberanian untuk menjaga dirinya sendiri tanpa harus membenci orang yang pernah
dicintainya.
Ia kemudian melanjutkan langkah,
meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang lebih tenang.
KP3 tetap berada di sana, menyimpan
cerita tentang janji dan perpisahan. Tetapi kehidupan Imelda tidak lagi
berhenti pada salah satu sudut kenangan itu.
Masih ada hari esok yang menunggunya.
Surya juga menyadari bahwa waktu tidak
menghapus masa lalu, tetapi dapat mengubah cara seseorang memandangnya.
Ada malam ketika ia masih mengingat
Imelda. Ada saat ketika ia ingin mengetahui apakah perempuan itu telah
menemukan kebahagiaan. Namun, ia tidak lagi menggunakan rasa ingin tahu
tersebut sebagai alasan untuk mengganggu kehidupan yang sedang dibangun Imelda.
Ia menghormati jarak yang telah
dipilih perempuan itu.
Tidak ada pesan yang dikirimkannya
untuk meminta kabar. Tidak ada perantaraan teman yang digunakan untuk mencari
tahu apakah Imelda masih menyimpan perasaan. Ia tidak ingin menjadikan rasa
rindunya sebagai beban baru bagi seseorang yang telah berusaha menemukan
ketenangan.
Ia juga berhenti menjadikan
kemungkinan untuk kembali bersama Imelda sebagai ukuran keberhasilan perubahan
dirinya.
Mungkin suatu hari nanti ia akan
mengingat perempuan itu dengan rasa terima kasih karena pernah mengenalnya.
Mungkin ia akan menyesali beberapa pilihannya untuk waktu yang lama. Namun,
penyesalan itu tidak harus membuatnya terus hidup di tempat yang sama.
Ia harus belajar menerima bahwa ada
akibat yang tidak dapat dibatalkan.
Kepercayaan yang pernah rusak tidak
selalu dapat dipulihkan oleh orang yang merusaknya. Kesempatan yang telah
hilang tidak selalu datang kembali. Dan seseorang yang telah memilih pergi
tidak memiliki kewajiban untuk menunggu sampai kita menjadi lebih baik.
Pemahaman itu tidak membuat Surya
merasa ringan setiap saat.
Sebaliknya, terkadang ia harus
menanggung rasa malu ketika mengingat bagaimana ia membiarkan ambisi memengaruhi
caranya memperlakukan Imelda. Ia harus menerima bahwa niatnya tidak seluruhnya
dapat dibenarkan hanya karena pada akhirnya ia juga memiliki perasaan yang
sungguh-sungguh.
Ia pernah mencintai Imelda, tetapi ia
juga pernah menyembunyikan sesuatu yang penting darinya.
Kedua kenyataan itu dapat hidup
berdampingan.
Menerima hal tersebut adalah bagian
dari tanggung jawab yang harus ia jalani.
Pada suatu senja, Surya duduk sendiri
dan memandang langit yang mulai berubah warna. Ia teringat kalimat yang pernah ditulisnya
di buku catatan: jangan mengorbankan kejujuran demi mendapatkan sesuatu yang
belum tentu menjadi milikmu.
Kini, ia memahami kalimat itu dengan
lebih dalam.
Kejujuran bukan hanya tentang tidak
mengatakan kebohongan. Kejujuran juga berarti tidak sengaja membiarkan orang
lain mempercayai gambaran yang keliru tentang diri kita. Kejujuran berarti
berani menyampaikan maksud, menerima risiko dari keterbukaan, dan tidak
menggunakan perasaan orang lain untuk melindungi kepentingan pribadi.
Surya belum menjadi manusia yang
sempurna.
Namun, ia mulai mengerti arah
perubahan yang harus ditempuhnya.
Dan untuk saat ini, itu sudah menjadi
langkah awal yang nyata.
Hari-hari selanjutnya membawa Imelda
pada ketenangan yang tidak lagi bergantung pada kehadiran seseorang.
Ia tidak menutup kemungkinan untuk
mencintai lagi suatu hari nanti. Tetapi ia juga tidak terburu-buru mencari
pengganti Surya, seolah-olah kekosongan dalam hidupnya harus segera diisi oleh
orang lain.
Ia ingin mengenal dirinya lebih baik.
Ia ingin memahami hal-hal yang
membuatnya bahagia, batas-batas yang harus dijaganya, dan nilai-nilai yang
tidak ingin dikorbankannya dalam sebuah hubungan. Ia ingin tetap menjadi
perempuan yang mampu memberi kasih sayang, tetapi juga berani berbicara ketika
sesuatu terasa tidak benar.
Ia tidak ingin hidup dalam kecurigaan.
Namun, ia juga tidak ingin kembali
mengabaikan keraguan yang muncul hanya karena takut kehilangan seseorang.
Bagi Imelda, kedewasaan bukan berarti
tidak pernah salah menilai orang lain. Kedewasaan adalah kesediaan untuk
belajar ketika kenyataan memperlihatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan
harapan.
Ia telah belajar dari Surya.
Ia juga telah belajar dari dirinya
sendiri.
Dan ia tidak perlu mengubah seluruh
masa lalunya menjadi sesuatu yang buruk agar dapat menghargai dirinya yang
sekarang.
Pada suatu pagi, ketika cahaya
matahari memasuki kamarnya, Imelda membuka jendela dan membiarkan udara segar
masuk. Ia berdiri sejenak, memandang hari yang baru dimulai.
Tidak ada pesan khusus yang
ditunggunya.
Tidak ada janji yang harus
dipertahankannya.
Tidak ada pula jawaban dari masa lalu
yang harus ia peroleh sebelum dapat melangkah.
Ia hanya memiliki hari itu, dengan
segala kemungkinan yang belum diketahuinya.
Imelda tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian
lama, senyum itu tidak ditujukan kepada seseorang agar ia tetap tinggal. Senyum
itu hadir karena ia mulai merasa nyaman dengan kehidupannya sendiri.
Ia telah mencintai.
Ia telah kehilangan.
Ia telah menangis dan mempertanyakan
banyak hal.
Tetapi ia tidak kehilangan seluruh
dirinya.
Hatinya tidak kembali utuh karena
semua luka menghilang. Hatinya kembali utuh karena ia tidak lagi membiarkan
luka itu mengambil alih seluruh ruang dalam hidupnya.
Ia tidak perlu membenci Surya untuk
memilih jalan yang berbeda. Ia tidak perlu menghapus kenangan untuk menerima
bahwa hubungan mereka telah selesai. Dan ia tidak perlu menunggu seseorang
datang menyelamatkannya agar dapat merasa bahagia.
Ia dapat melangkah dengan kekuatannya
sendiri, sambil tetap menerima kasih sayang dari keluarga dan sahabat yang
mendampinginya.
Di luar sana, Kota Air terus bergerak
bersama waktu.
Sungai Kapuas tetap mengalir, membawa
pantulan cahaya dari langit yang berubah setiap hari. Senja akan kembali
datang, malam akan berlalu, dan pagi akan membuka kesempatan baru bagi siapa
pun yang masih bersedia melanjutkan perjalanan.
Di kota itulah Imelda pernah mengenal
cinta yang membuatnya berharap. Di kota yang sama, ia belajar bahwa harapan
tidak boleh membuat seseorang kehilangan harga diri dan ketenangan batinnya.
Sementara Surya harus menjalani
jalannya sendiri, belajar bertanggung jawab atas pilihan yang pernah dibuatnya.
Mereka tidak kembali bersama.
Mereka tidak mengulang janji yang
sama.
Kisah mereka berakhir bukan karena
seluruh perasaan telah hilang, melainkan karena Imelda memilih untuk tidak lagi
mempertahankan hubungan yang tidak dapat ia jalani dengan kepercayaan yang
utuh.
Dan mungkin, pada suatu hari nanti,
ketika kenangan itu kembali hadir, keduanya akan dapat mengenangnya tanpa harus
berharap waktu berputar ke belakang.
Imelda akan mengingat bahwa ia pernah
mencintai dengan tulus.
Surya akan mengingat bahwa ketulusan
seseorang bukanlah sesuatu yang boleh dimanfaatkan.
Masing-masing akan membawa pelajaran
itu ke dalam kehidupan yang masih terbentang di hadapan mereka.
Sebab, pada akhirnya, tidak semua
kisah cinta ditakdirkan berakhir dengan dua orang yang tetap bersama.
Ada kisah yang berakhir dengan
perpisahan, tetapi meninggalkan pelajaran tentang kejujuran.
Ada cinta yang tidak berhasil
dipertahankan, tetapi mengajarkan keberanian untuk melepaskan.
Dan ada hati yang pernah retak,
kemudian menemukan kembali keutuhannya bukan karena seseorang kembali,
melainkan karena pemiliknya berani berdiri, menerima kenyataan, dan memilih
untuk terus hidup.
Di Kota Air, sungai terus mengalir
menuju muaranya.
Begitu pula kehidupan.
Tidak semua yang pernah singgah harus
menetap. Tidak semua yang pernah dijanjikan dapat menjadi kenyataan. Namun,
setiap perjalanan tetap dapat memberi makna bagi mereka yang bersedia belajar
darinya.
Imelda Yuliana telah memilih jalannya.
Ia memilih ketenangan tanpa menyangkal
bahwa dirinya pernah terluka. Ia memilih masa depan tanpa berpura-pura bahwa
masa lalu tidak pernah berarti. Ia memilih dirinya sendiri, bukan karena ia
berhenti mencintai, melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa dirinya pun
layak dicintai dengan kejujuran.
Dan ketika senja kembali menyelimuti
Kota Air, Imelda tidak lagi memandangnya sebagai akhir dari sesuatu yang ingin
ia pertahankan.
Ia memandangnya sebagai bagian dari
perjalanan.
Sebuah perjalanan yang pernah
memberinya cinta, mengajarkannya kehilangan, dan pada akhirnya membawanya
pulang kepada dirinya sendiri.
TAMAT











