PROLOG
Kuala Kapuas dikenal orang sebagai Kota Air.
Sebuah kota kecil di tepian sungai Kapuas yang tumbuh bersama arus, hidup
bersama pasang surut, dan menyimpan lebih banyak cerita dari pada yang tampak
di permukaannya.
Di pagi hari, kabut tipis sering menggantung di atas
air Sungai Kapuas Murung.
Perahu, perahu kecil melintas pelan, membelah bayangan langit yang jatuh di
permukaan sungai.
Di kejauhan, Dermaga Danau Mare menjadi saksi orang, orang yang datang
dan pergi membawa harapan mereka masing, masing.
Tak jauh dari sana, berdiri Dermaga KP3, yang
kini berubah menjadi salah satu ikon wisata air Kota Kuala Kapuas.
Setiap sore, lampu, lampu kecil di tepian sungai mulai menyala, memantulkan
cahaya ke air yang tenang.
Anak, anak berlarian di pinggirannya.
Pasangan muda duduk diam menikmati senja.
Sementara di seberangnya, Rumah Jabatan Bupati Kapuas berdiri anggun di
tepian sungai, menjadi pusat berbagai aktivitas pemerintahan, rapat daerah, dan
keputusan, keputusan besar yang mengatur kehidupan banyak orang.
Namun tidak semua kisah besar lahir dari ruang rapat.
Sebagian justru tumbuh diam, diam di antara langkah
kaki di atas dermaga kayu.
Di antara suara air yang memukul tiang, tiang pelabuhan.
Dan di antara dua hati yang dipertemukan oleh kebetulan yang tak pernah mereka
rencanakan.
Iskandar tidak pernah percaya pada cinta yang datang
tiba, tiba.
Baginya, cinta adalah sesuatu yang tumbuh perlahan, seperti air yang mengikis
batu, pelan, tetapi pasti.
Sampai pada suatu sore, di bawah langit jingga Kuala
Kapuas, ia melihat seorang perempuan berdiri sendiri di ujung Dermaga KP3.
Perempuan itu tidak sedang menunggu siapa - siapa.
Namun entah mengapa, sejak detik pertama melihatnya, Iskandar merasa seolah
seluruh hidupnya sedang menunggu perempuan itu datang.
Namanya adalah Nayla.
Dan sejak pertemuan itu, Iskandar mulai memahami satu
hal yang tak pernah diajarkan siapa pun kepadanya:
bahwa cinta terkadang hadir bukan untuk dimiliki,
melainkan hanya untuk dikenang seumur hidup.
Karena di Kota Air yang tenang itu,
ia akan belajar bahwa luka terdalam bukan berasal dari perpisahan.
Melainkan dari kenyataan bahwa
cinta bisa datang begitu indah… tepat ketika waktunya salah.
BAB 1
Senja di Dermaga KP3
Sore di Kuala Kapuas selalu datang dengan cara yang
berbeda.
Tidak pernah tergesa, gesa.
Tidak pernah benar, benar diam.
Ia turun perlahan di atas permukaan sungai seperti
selembar kain jingga yang dibentangkan langit, memantulkan warna keemasan di
atas air yang tenang. Riak, riak kecil bergerak pelan mengikuti arus, membawa
bayangan rumah, rumah panggung yang berdiri di tepian, juga suara mesin ces
yang lalu lalang mengantar orang, orang pulang sebelum malam benar, benar
turun.
Di Kota Air itu, senja bukan hanya pergantian waktu.
Senja adalah cara kota mengingat dirinya sendiri.
Iskandar berdiri di ujung Dermaga KP3, kedua
tangannya masuk ke saku celana, memandang jauh ke arah sungai yang membelah
kota. Angin lembut berembus dari arah air, membawa aroma khas sungai bercampur
kayu basah dari tiang, tiang dermaga yang mulai menua.
Sudah hampir tiga bulan ia kembali ke Kuala Kapuas.
Setelah bertahun, tahun meninggalkan kota kecil itu
demi kuliah dan pekerjaan di Banjarmasin, pada akhirnya Iskandar kembali juga.
Bukan karena ia benar, benar ingin pulang, melainkan karena hidup sering kali
membawa seseorang kembali ke tempat yang dulu ingin ia tinggalkan.
Ayahnya hanya seorang pengusaha kecil.
Dan ibunya yang seorang ibu rumah tangga, memintanya
pulang.
Tidak dengan tangisan.
Tidak dengan paksaan.
Hanya dengan satu kalimat sederhana yang membuat
Iskandar tak sanggup menolak.
"Nak, rumah ini terlalu sepi kalau kamu tidak ada."
Makapun memutuskan
untuk pulang.
Meninggalkan hiruk, pikuk kota besar.
Meninggalkan ambisi yang sempat ia kejar.
Meninggalkan kehidupan yang dulu ia pikir adalah masa depannya.
Dan kini, setiap sore, ia sering berdiri di dermaga ini
seperti seseorang yang sedang mencoba berdamai dengan masa lalu.
Di belakangnya, kawasan tepian sungai mulai ramai.
Anak, anak kecil berlarian sambil tertawa.
Pasangan muda duduk di bangku kayu menikmati pemandangan.
Pedagang kaki lima menyalakan lampu kecil di gerobak mereka.
Aroma jagung bakar bercampur kopi hitam menyeruak pelan di udara.
Dari kejauhan, lampu di sekitar Rumah Jabatan Bupati
Kapuas mulai menyala satu per satu, memantul indah di permukaan sungai.
Bangunan itu tampak tenang, berdiri anggun di tepi air seperti penjaga malam
yang tak pernah tidur.
Kuala Kapuas masih sama seperti yang ia ingat.
Tenang.
Ramah.
Dan diam, diam menyimpan banyak hal yang tak pernah diceritakan.
Namun ada sesuatu yang berbeda sore itu.
Sesuatu yang membuat Iskandar, tanpa sadar, mengangkat
wajahnya dari sungai.
Di ujung dermaga sebelah selatan, seorang perempuan
berdiri sendirian.
Tidak terlalu jauh.
Hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Perempuan itu mengenakan blouse putih sederhana dengan
rok panjang berwarna biru muda. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan
tergerai, bergerak pelan tertiup angin sungai. Tangannya bertumpu ringan di
pagar besi dermaga, sementara matanya menatap jauh ke arah air seperti sedang
mencari sesuatu yang tak terlihat.
Atau mungkin seseorang yang tak datang.
Iskandar tidak tahu mengapa ia memperhatikannya begitu
lama.
Mungkin karena cara perempuan itu berdiri.
Mungkin karena wajahnya yang teduh.
Mungkin karena sorot matanya yang terlihat seperti menyimpan kesedihan.
Atau mungkin karena untuk pertama kalinya sejak pulang
ke kota ini, ada sesuatu yang membuat hatinya berhenti terasa kosong.
Perempuan itu menoleh.
Mata mereka bertemu.
Hanya beberapa detik.
Tapi cukup lama untuk membuat Iskandar lupa bagaimana caranya bernapas dengan
normal.
Perempuan itu segera mengalihkan pandangan, seolah
pertemuan mata tadi tidak pernah terjadi.
Namun Iskandar masih diam di tempatnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa waktu
benar, benar melambat.
Suara sungai seperti menjauh.
Keramaian di belakangnya menghilang.
Bahkan angin pun terasa berhenti sesaat.
Yang tersisa hanya satu hal.
Perempuan itu.
Iskandar menghela napas pelan, mencoba menertawakan
dirinya sendiri.
Mustahil.
Ia bukan remaja yang mudah jatuh hati hanya karena satu
tatapan singkat.
Ia sudah terlalu dewasa untuk hal, hal seperti itu.
Namun anehnya, semakin ia mencoba mengalihkan
pandangan, semakin sulit ia berhenti memperhatikan perempuan tersebut.
Lalu tiba - tiba,
Sebuah map kecil di tangan perempuan itu terlepas.
Beberapa lembar kertas beterbangan tertiup angin.
Sebagian jatuh ke lantai dermaga.
Sebagian hampir terbang ke arah sungai.
Refleks, Iskandar bergerak cepat.
Ia melangkah dan menangkap salah satu lembar sebelum
jatuh ke air, lalu memungut beberapa lainnya yang berserakan di lantai kayu.
Perempuan itu menoleh cepat.
Wajahnya terlihat terkejut.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Suara itu lembut.
Lebih lembut daripada yang Iskandar bayangkan.
Ia menyerahkan kertas, kertas itu padanya.
“Kalau sedikit terlambat, mungkin sudah hanyut ke sungai.”
Perempuan itu tersenyum kecil.
Dan saat itulah, sesuatu di dalam dada Iskandar terasa
berubah.
Senyum itu sederhana.
Tapi entah mengapa terasa seperti sesuatu yang sudah
lama ia tunggu tanpa pernah ia sadari.
“Kadang,” perempuan itu berkata sambil merapikan
kertasnya, “yang hanyut bukan cuma kertas.”
Iskandar menatapnya sesaat.
Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang lebih dalam
dari sekadar percakapan biasa.
“Apa maksudnya?” tanyanya.
Perempuan itu menoleh ke arah sungai lagi.
Tatapannya kembali jauh.
“Kadang,” katanya pelan, “yang paling mudah hilang
justru yang paling ingin kita simpan.”
Iskandar terdiam.
Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Perempuan itu lalu menoleh lagi, kali ini dengan senyum
tipis yang seolah ingin menghapus suasana serius tadi.
“Saya Nayla.”
Iskandar sedikit terlambat menyadari bahwa ia harus
menjawab.
“Iskandar.”
Nayla mengangguk pelan.
“Senang bertemu dengan Anda, Iskandar.”
Lalu perempuan itu berjalan pergi.
Begitu saja.
Meninggalkan Iskandar berdiri sendiri di dermaga,
dengan jantung yang tiba, tiba berdetak lebih cepat daripada seharusnya.
Ia menatap punggung perempuan itu sampai menghilang di
antara lampu, lampu sore Kuala Kapuas.
Dan tanpa ia sadari,
senja di Kota Air hari itu bukan hanya membawa satu pertemuan.
Ia membawa awal dari sebuah cerita
yang kelak akan mengubah hidupnya.
Sebab Iskandar belum tahu,
bahwa perempuan bernama Nayla itu
akan menjadi alasan mengapa ia memahami
bahwa tidak semua cinta datang
untuk menetap.
Sebagian datang
hanya untuk meninggalkan luka
yang tak pernah benar, benar sembuh.
BAB 2
Perempuan di Tepi
Air
Malam turun perlahan di Kuala Kapuas.
Lampu, lampu di sepanjang tepian sungai mulai
memantulkan cahaya kuning ke permukaan air yang bergerak tenang. Dari kejauhan,
suara mesin perahu kecil masih terdengar sesekali, memecah sunyi yang datang
bersama angin malam.
Namun sejak pertemuan singkat di Dermaga KP3 sore tadi,
ada sesuatu yang terasa berbeda bagi Iskandar.
Kota itu masih sama.
Sungainya masih sama.
Langitnya masih sama.
Tetapi hatinya tidak.
Sejak pulang ke Kuala Kapuas tiga bulan lalu, hari, harinya
selalu berjalan nyaris serupa. Pagi membantu ibunya di rumah. Siang
menyelesaikan pekerjaan administrasi di kantor konsultan tempat ia baru
diterima bekerja. Sore berjalan sendiri ke tepian sungai. Malam kembali pulang
dengan kepala penuh pikiran yang tak pernah benar, benar selesai.
Semuanya terasa datar.
Teratur.
Dan hening.
Sampai sore tadi.
Sampai perempuan bernama Nayla itu muncul seperti
kalimat pertama dari cerita yang tidak pernah ia rencanakan.
Iskandar duduk di ruang tamu rumah kayu yang terletak
di jalan Jenderal A. Yani, sambil menatap secangkir kopi yang sudah dingin.
Televisi menyala tanpa benar, benar ia tonton. Di luar jendela, suara serangga
malam bersahutan di antara pohon rambai di halaman.
“Dari tadi kopi itu dilihat terus. Mau diminum atau
diajak bicara?”
Suara ibunya membuat Iskandar menoleh.
Bu Ratna berdiri di ambang pintu dapur sambil membawa
piring kecil berisi pisang goreng hangat. Wajah perempuan berusia enam puluh
tahun itu masih menyimpan kelembutan yang sama seperti sejak kecil dulu.
Iskandar tersenyum tipis.
“Lagi capek saja, Bu.”
Ibunya duduk di kursi seberang.
“Capek atau sedang memikirkan seseorang?”
Iskandar hampir tersedak walau belum sempat minum.
“Memangnya kelihatan?”
Ibunya tertawa kecil.
“Kalau anak ibu sendiri, tentu kelihatan.”
Iskandar hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. Ia
tahu percuma berbohong pada perempuan yang telah mengenalnya seumur hidup itu.
“Cuma ketemu seseorang di dermaga,” katanya akhirnya.
Ibunya mengangkat alis.
“Perempuan?”
Iskandar diam.
Dan diamnya sudah cukup sebagai jawaban.
Bu Ratna tersenyum lebih lebar.
“Namanya?”
Iskandar ragu sejenak, lalu menjawab pelan.
“Nayla.”
Nama itu terasa asing sekaligus dekat saat keluar dari
bibirnya.
Seolah baru mengucapkannya saja sudah cukup membuat
dada Iskandar terasa berbeda.
Ibunya memperhatikan wajah anaknya cukup lama, lalu
berkata dengan suara lembut.
“Kadang orang datang bukan karena kebetulan, Kandar.”
Iskandar menunduk menatap kopi dinginnya.
“Kadang juga cuma kebetulan yang kita buat terlalu
berarti.”
Bu Ratna tak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis seperti seseorang yang tahu sesuatu yang belum
diketahui orang lain.
Keesokan paginya, Kuala Kapuas disambut langit mendung.
Awan kelabu menggantung rendah di atas sungai. Udara
terasa lebih sejuk dari biasanya. Dari dapur rumah, aroma nasi kuning buatan
ibunya memenuhi ruangan.
Namun pikiran Iskandar tetap tertinggal di satu tempat.
Dermaga KP3.
Ia bahkan tidak mengerti kenapa.
Ia hanya bertemu Nayla beberapa menit.
Tak lebih dari percakapan singkat.
Tak ada janji.
Tak ada alasan untuk bertemu lagi.
Tapi sepanjang pagi, wajah perempuan itu terus muncul
di pikirannya.
Cara matanya menatap sungai.
Cara rambutnya tertiup angin.
Cara ia mengatakan:
"Kadang yang paling mudah hilang justru yang
paling ingin kita simpan."
Kalimat itu masih terngiang.
Dan entah mengapa, Iskandar merasa perempuan itu bukan
sekadar orang asing biasa.
Sore harinya, tanpa banyak berpikir, langkah Iskandar
membawanya kembali ke Dermaga KP3.
Ia sendiri tak ingin mengakui alasan sebenarnya.
Ia hanya bilang pada dirinya bahwa ia ingin menikmati
senja.
Padahal jauh di dalam hatinya, ia tahu ia sedang
berharap.
Berharap perempuan itu ada di sana.
Berharap takdir cukup baik untuk mempertemukan mereka
sekali lagi.
Angin sore bertiup lembut ketika Iskandar sampai di
tepian dermaga. Beberapa wisatawan local tampak sibuk berfoto dengan latar
sungai. Anak, anak kecil tertawa sambil memberi makan ikan di pinggir
pelataran. Di kejauhan, perahu motor melintas perlahan.
Ia memandang ke ujung dermaga.
Kosong.
Tak ada Nayla.
Iskandar menghela napas pelan, sedikit menertawakan
dirinya sendiri.
Tentu saja.
Kuala Kapuas memang kota kecil.
Tapi tidak sekecil itu hingga dua orang bisa terus bertemu begitu saja.
Ia hendak berbalik ketika matanya menangkap sosok yang
dikenalnya.
Di bawah pohon ketapang di sisi dermaga, dekat penjual
es kelapa muda, perempuan itu berdiri sambil memegang buku kecil di tangannya.
Nayla.
Jantung Iskandar langsung berdetak sedikit lebih cepat.
Perempuan itu belum melihatnya.
Ia sedang membaca sesuatu sambil sesekali menatap sungai.
Untuk sesaat Iskandar hanya berdiri diam.
Merasa aneh karena satu orang asing bisa mengubah ritme
napasnya hanya dalam dua hari.
Lalu seperti merasakan seseorang memperhatikannya,
Nayla menoleh.
Mata mereka bertemu lagi.
Dan kali ini, Nayla tersenyum lebih dulu.
“Sepertinya kita bertemu lagi.”
Kalimat sederhana itu terdengar jauh lebih hangat
daripada seharusnya.
Iskandar mendekat perlahan.
“Mungkin Kuala Kapuas memang tidak terlalu besar.”
Nayla tersenyum tipis.
“Atau mungkin sungai memang suka mempertemukan orang.”
Iskandar menatap wajah perempuan itu lebih jelas
dibanding kemarin.
Di bawah cahaya sore, wajah Nayla terlihat tenang.
Tidak mencolok, tidak berlebihan, tetapi justru itu yang membuatnya sulit
diabaikan.
“Apa Anda sering ke sini?” tanya Iskandar.
Nayla mengangguk.
“Kalau sedang ingin menenangkan pikiran.”
“Berhasil?”
Nayla memandang sungai.
“Kadang iya. Kadang malah justru makin banyak yang
dipikirkan.”
Jawaban itu membuat Iskandar tersenyum kecil.
“Berarti kita sama.”
Nayla menoleh.
“Kenapa?”
“Karena saya juga datang ke sini untuk alasan yang
sama.”
Perempuan itu menatap Iskandar beberapa detik, seolah
mencoba membaca sesuatu dari wajahnya.
Lalu untuk pertama kalinya, senyum Nayla terlihat benar,
benar tulus.
Dan saat itu, Iskandar merasa sore di Kota Air menjadi
jauh lebih indah daripada biasanya.
Tanpa ia sadari,
ia sedang berdiri di ambang sesuatu
yang akan mengubah hidupnya perlahan.
Karena kadang,
cinta tidak datang dengan suara gaduh.
Ia datang pelan,
seperti riak kecil di permukaan air—
hampir tak terlihat,
namun cukup kuat
untuk mengubah arah hati seseorang selamanya.
BAB 3
Kota yang Menyimpan
Rahasia
Sejak pertemuan kedua itu, ada sesuatu yang berubah
dalam hari, hari Iskandar.
Bukan perubahan besar yang langsung terlihat.
Bukan pula sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah.
Hanya perasaan samar bahwa setiap sore kini memiliki
alasan untuk ditunggu.
Kuala Kapuas tetap berjalan seperti biasanya.
Pagi dimulai dengan suara pedagang sayur yang melintas di gang, gang kecil.
Siang dipenuhi hiruk pikuk kendaraan di sekitar Jalan Tambun Bungai.
Malam turun bersama lampu, lampu tepian sungai yang memantul di air.
Namun bagi Iskandar, kota itu seolah mulai
memperlihatkan wajah yang berbeda.
Dan anehnya, semua itu berawal dari satu orang.
Nayla.
“Jadi benar, akhirnya kau jatuh hati juga?”
Suara itu disertai tawa pendek yang sangat dikenalnya.
Iskandar menggeleng sambil menyesap kopi hitamnya.
Malam itu ia duduk di warung kopi kecil di dekat
bundaran kota bersama Edo, sahabatnya sejak sekolah dasar yang tinggal
di Jalan Jenderal A. Yani. Sejak kecil, Edo adalah satu, satunya orang
yang selalu bisa membaca isi kepala Iskandar bahkan sebelum ia bicara.
“Belum tentu,” jawab Iskandar datar.
Edo tertawa.
“Kalau belum tentu, kenapa dari tadi kau menatap jalan terus seperti tokoh
utama sinetron?”
Iskandar menoleh tajam.
“Bisa diam tidak?”
“Tidak.”
Jawaban itu datang cepat sekali.
Edo menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu sambil menatap
Iskandar dengan senyum penuh arti.
“Namanya siapa?”
Iskandar diam beberapa detik sebelum menjawab pelan.
“Nayla.”
Edo mengangguk pelan seolah sedang menilai nama itu.
“Cantik?”
Iskandar tak langsung menjawab.
Ia justru menatap ke arah jalan di luar warung, ke kendaraan yang lalu lalang
di bawah lampu kota.
“Bukan soal cantik.”
“Lalu?”
Iskandar menghela napas pelan.
“Entahlah... dia seperti seseorang yang sedang
menyimpan banyak hal.”
Edo mengangkat alis.
“Wah, berat sekali. Baru dua kali ketemu sudah membaca jiwa orang.”
Iskandar tersenyum tipis.
“Makanya aku malas cerita sama kau.”
“Karena aku selalu benar.”
“Karena kau terlalu banyak bicara.”
Mereka tertawa kecil.
Sudah lama Iskandar tidak merasakan malam sesantai itu.
Sejak ayahnya sibuk bekerja, banyak hal dalam dirinya ikut berubah. Ia menjadi
lebih diam. Lebih sering menyimpan semuanya sendiri.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian
lama, ia merasa seperti dirinya yang dulu.
Dan itu karena Nayla.
Dua hari kemudian, Iskandar kembali bertemu sahabat
lain.
Kali ini di sebuah bengkel kecil dekat Jalan Seroja,
tempat Ridwan, teman semasa SMP, bekerja membantu usaha keluarganya.
Ridwan berbeda dengan Edo.
Jika Edo banyak bicara, Ridwan justru tipe orang yang
mendengar lebih banyak daripada berbicara.
Setelah mendengar cerita Iskandar, Ridwan hanya
tersenyum kecil sambil mengelap tangannya dengan kain lap.
“Kadang kota kecil begini memang aneh,” katanya.
“Aneh bagaimana?”
Ridwan menatap jalan di depan bengkel.
“Orang bisa bertahun, tahun hidup di tempat yang sama
tanpa benar, benar bertemu siapa pun yang berarti.”
Ia lalu menoleh pada Iskandar.
“Lalu tiba, tiba seseorang datang, dan semuanya
berubah.”
Iskandar terdiam.
Karena untuk pertama kalinya, ia merasa ada orang lain
yang mengerti perasaannya.
Tak lama kabar itu menyebar di antara lingkaran kecil
sahabat lamanya.
Di sebuah malam akhir pekan, mereka berkumpul di
pelataran Taman Kota.
Ada Anggun, teman semasa SMA yang tinggal di Jalan
Tambun Bungai, perempuan ceria yang sejak dulu paling suka menggoda
Iskandar.
Ada Sahrul, sahabat semasa SMP yang tinggal di Jalan
Melati, dekat kompleks pasar.
Ada juga Rara, teman semasa SMA yang rumahnya di
Jalan Seroja belakang Hotel Danau Mare, yang sejak dulu dikenal paling
peka membaca suasana.
Sementara Lukman, sahabat mereka yang kini
tinggal di Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai, hanya ikut melalui
panggilan video karena jarak yang tak memungkinkan sering datang ke kota.
“Jadi sekarang Iskandar sudah mulai jatuh cinta?” kata
Anggun sambil tertawa kecil.
“Belum,” sahut Iskandar cepat.
Rara menatapnya sambil tersenyum samar.
“Kalau belum, biasanya orang tidak akan menyangkal
secepat itu.”
Sahrul ikut tertawa.
“Benar juga.”
Di layar ponsel, suara Lukma terdengar dari video call.
“Aku baru beberapa menit ikut, tapi sudah tahu dia
pasti serius.”
“Dari mana kau tahu?” tanya Iskandar.
Lukma tersenyum.
“Karena selama ini kau selalu bicara logika. Sekarang kau bicara perasaan.”
Suasana langsung hening beberapa detik.
Bahkan Iskandar sendiri tak bisa membantah.
Karena tanpa sadar, mereka benar.
Ia memang berubah.
Dan perubahan itu terjadi terlalu cepat.
Malam semakin larut.
Satu per satu sahabatnya pulang.
Tinggal Iskandar sendiri duduk di Taman Kota,
memandangi lampu, lampu kota yang menari di jalan raya .
Dari seberangnya, bangunan Rumah Sakit Dr.H.Soemarno
Sostroatmojo tampak samar diterpa cahaya malam.
Di smpingnya simpang jalan Patih Rumbih, masih ramai kendaraan melintas, seperti
menyimpan rahasia yang tak ingin dibagi pada siapa pun.
Iskandar menatap jalan yang masih terang.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya
sendiri:
mengapa seseorang yang baru dua kali ia temui
bisa terasa begitu dekat?
Mengapa seorang asing
bisa terasa seperti seseorang
yang sudah lama dikenalnya?
Dan mengapa,
di kota yang selama ini terasa biasa,
semua mendadak menjadi berbeda?
Ia tidak tahu jawabannya.
Namun jauh di dalam hatinya,
Iskandar mulai merasakan satu hal
yang perlahan tumbuh tanpa bisa dihentikan.
Perasaan yang tenang,
namun berbahaya.
Karena kadang,
cinta tidak datang seperti badai.
Ia datang seperti air sungai,
diam,
perlahan,
namun tanpa sadar
sudah memenuhi seluruh hati.
BAB 4
Hujan di Danau Mare
Sore itu langit Kuala Kapuas tampak murung sejak siang.
Awan kelabu menggantung rendah di atas kota, seolah
menahan hujan yang sejak tadi menunggu waktu untuk jatuh. Angin dari arah
sungai berembus lebih dingin dari biasanya, membawa aroma air yang khas,
bercampur wangi tanah basah dari halaman, halaman rumah di sekitar tepian kota.
Iskandar berdiri di depan cermin kecil kamarnya untuk
ketiga kalinya.
Ia sendiri tidak tahu kenapa.
Kemeja biru muda yang dikenakannya sebenarnya
sederhana.
Rambutnya juga sudah rapi.
Sepatu hitamnya bahkan sudah terlalu bersih untuk sekadar berjalan di tepian
sungai.
Namun entah mengapa ia tetap merasa ada yang kurang.
Dari luar kamar, suara ibunya terdengar.
“Kalau mau ketemu orang, jangan terlalu lama di depan
kaca. Nanti orangnya keburu pulang.”
Iskandar langsung menoleh.
“Ibu dengar dari mana?”
Bu Ratna tersenyum dari balik pintu.
“Dari wajahmu.”
Iskandar hanya menghela napas.
“Belum tentu dia datang.”
Ibunya mengangguk santai.
“Kalau begitu kenapa parfum ayahmu ikut dipakai?”
Iskandar spontan menunduk mencium lengannya sendiri.
Bu Ratna tertawa kecil.
“Pergilah. Jangan buat perempuan menunggu. Kalau memang perempuan.”
“Ibu ini...” gumam Iskandar sambil mengambil kunci
motor.
Tawa ibunya masih terdengar sampai ia keluar rumah.
Tujuan Iskandar sore itu sebenarnya tidak jelas.
Ia hanya ingin berjalan.
Atau setidaknya itulah alasan yang ia berikan pada
dirinya sendiri.
Padahal sejak pagi, pesan singkat dari Nayla terus
terngiang di kepalanya.
"Kalau sore sempat, saya biasanya di sekitar Danau
Mare."
Pesan sederhana.
Tanpa ajakan langsung.
Tanpa kepastian.
Namun cukup untuk membuat Iskandar menghabiskan hampir
setengah jam memilih baju.
Ketika ia tiba di sekitar Dermaga Danau Mare,
suasana sore terlihat lebih tenang dari biasanya. Beberapa pengunjung duduk di
bangku kayu sambil menikmati pemandangan. Penjual minuman dingin sibuk melayani
anak, anak muda yang datang berpasangan.
Dan di dekat pagar besi yang menghadap sungai, Nayla
berdiri sendirian.
Mengenakan cardigan krem tipis dengan rambut yang
diikat longgar.
Memandang air seperti kebiasaannya.
Jantung Iskandar kembali melakukan hal menyebalkan yang
sama:
berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Ia mendekat perlahan.
“Kalau tahu saya datang, seharusnya saya tidak perlu
pura, pura kebetulan lewat.”
Nayla menoleh, lalu tertawa kecil.
“Jadi tadi itu pura, pura?”
“Lumayan.”
“Buruk sekali aktingnya.”
“Memang bukan bakat saya.”
Senyum Nayla kali ini lebih lepas.
Dan Iskandar menyadari sesuatu:
ia mulai menyukai suara tawa perempuan itu.
Bukan karena keras.
Bukan karena manis.
Tapi karena tawa itu terdengar seperti sesuatu yang
jarang keluar.
Seperti sesuatu yang berharga.
Mereka berdiri berdampingan memandang sungai.
Beberapa detik.
Lalu beberapa menit.
Aneh, tapi tak ada rasa canggung.
Seolah diam di antara mereka justru terasa nyaman.
“Apa semua orang di Kuala Kapuas suka diam?” tanya
Nayla tiba, tiba.
Iskandar menoleh.
“Maksudnya?”
“Setiap kali saya bertemu Anda, Anda selalu lebih
banyak melihat sungai daripada bicara.”
Iskandar tersenyum.
“Mungkin karena sungai tidak pernah memotong pembicaraan.”
Nayla mengangguk pelan.
“Itu masuk akal.”
“Dan Anda?” tanya Iskandar.
“Kenapa selalu ke sungai?”
Nayla memandang air yang bergerak perlahan.
“Karena air tidak pernah bertanya kenapa seseorang sedih.”
Jawaban itu membuat Iskandar menoleh lebih serius.
Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh,
“ISKANDAR!”
Suara keras dari belakang membuat keduanya menoleh
bersamaan.
Edo datang sambil membawa dua gelas es kelapa muda,
dengan wajah penuh kemenangan seperti baru menang undian.
“Wah,” katanya sambil menatap Nayla dan Iskandar
bergantian.
“Jadi ini alasan kau menolak ajakan ngopi.”
Iskandar menutup mata sebentar.
“Edo, kau selalu muncul di saat yang salah ya?”
“Bukan salah,” jawab Edo santai.
“Ini namanya sahabat yang peduli.”
Lalu dengan percaya diri ia menoleh ke Nayla.
“Halo. Saya Edo. Teman kecil yang sudah terlalu lama
menyelamatkan hidup orang ini.”
Nayla menahan tawa.
“Nayla.”
Edo mengangguk cepat.
“Oh, jadi ini Nayla.”
Iskandar langsung menatap tajam.
“Kenapa pakai kata ini?”
Edo pura, pura tidak mendengar.
Ia menyerahkan satu gelas kelapa ke Iskandar.
Lalu satu lagi justru ke Nayla.
“Silakan. Gratis. Dibeli pakai uang Iskandar.”
Nayla tertawa.
Kali ini lebih jelas.
Dan Iskandar sadar:
ia rela membayar satu gerobak es kelapa
asal bisa mendengar tawa itu lagi.
Hujan turun tiba, tiba.
Seperti biasa di kota sungai.
Awalnya hanya rintik kecil.
Lalu dalam hitungan detik berubah menjadi hujan deras.
“Cepat!” kata Nayla.
Mereka bertiga berlari kecil menuju teras samping
bangunan tua dekat dermaga.
Edo yang berlari paling belakang tiba lebih dulu karena
mendorong Iskandar.
“Silakan duluan, pengantin sungai.”
“Diam kau,” gerutu Iskandar.
Nayla tertawa lagi sampai bahunya sedikit berguncang.
Mereka berdiri di bawah atap sempit.
Sangat sempit.
Terlalu sempit untuk tiga orang.
Edo melirik kanan, kiri lalu mengangguk bijak.
“Sepertinya saya harus pergi.”
“Ke mana?” tanya Iskandar.
“Ke tempat yang lebih tidak mengganggu.”
“Kalau kau keluar hujan.”
“Lebih baik basah daripada merusak suasana.”
Sebelum Iskandar sempat menarik kerah bajunya, Edo
sudah berlari sambil tertawa.
Meninggalkan mereka berdua.
Sendiri.
Di bawah suara hujan.
Untuk sesaat, hanya ada suara air jatuh di atap seng
dan gemuruh lembut sungai.
Nayla menatap hujan di depan mereka.
“Teman Anda lucu.”
“Kadang.”
Iskandar tersenyum.
“Kadang juga menyebalkan.”
“Dia sangat sayang pada Anda.”
Iskandar sedikit terdiam.
Ia tak menyangka Nayla bisa menangkap itu begitu cepat.
“Ya,” katanya pelan.
“Dia memang begitu.”
Nayla tersenyum tipis.
“Beruntung punya teman seperti itu.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Iskandar merasa:
mungkin Nayla sedang mengatakan sesuatu yang lebih
dalam.
Mungkin tentang kesepian.
Mungkin tentang kehilangan.
Mungkin tentang sesuatu yang belum ingin ia ceritakan.
Hujan semakin deras.
Angin meniup rintiknya hingga sebagian mengenai tangan
Nayla.
Refleks, Iskandar menggeser posisi sedikit lebih dekat
agar tubuhnya menahan percikan hujan.
Nayla menoleh.
Mata mereka bertemu lagi.
Jarak mereka kini sangat dekat.
Terlalu dekat.
Untuk pertama kalinya, Iskandar bisa melihat jelas:
ada kesedihan samar di balik mata perempuan itu.
Kesedihan yang tidak cocok dengan senyumnya.
Dan justru itulah yang membuat Nayla terasa semakin
sulit dijelaskan.
“Iskandar...” suara Nayla pelan.
“Ya?”
Nayla memandangnya beberapa detik sebelum bertanya:
“Kalau seseorang datang di hidup kita... tapi waktunya
salah... menurut Anda, orang itu sebaiknya dipertahankan atau dilepaskan?”
Jantung Iskandar seperti berhenti sesaat.
Ia tidak tahu apakah itu pertanyaan biasa.
Atau pertanyaan yang sebenarnya ditujukan pada dirinya.
Hujan terus turun.
Dan di bawah langit mendung Kuala Kapuas,
untuk pertama kalinya,
Iskandar mulai merasa
bahwa perempuan ini
membawa lebih dari sekadar rasa suka.
Ia membawa rahasia.
Dan mungkin,
luka.
BAB 5
Di Antara Hujan dan
Rahasia Kota
Pertanyaan Nayla masih menggantung di udara.
Di antara suara hujan.
Di antara bau kayu basah.
Di antara jarak yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan.
Iskandar menatap perempuan di hadapannya, mencoba
mencari apakah pertanyaan itu hanya sekadar percakapan ringan, atau justru
sesuatu yang jauh lebih dalam.
Namun wajah Nayla tetap tenang.
Terlalu tenang.
Seperti permukaan sungai yang terlihat damai, padahal
di bawahnya menyimpan arus yang tak pernah terlihat.
“Kalau menurut saya…” Iskandar akhirnya menjawab pelan.
“Kadang seseorang bukan datang untuk dipertahankan.”
Nayla menatapnya.
“Lalu?”
Iskandar tersenyum tipis, meski sebenarnya dadanya
sendiri terasa sesak oleh kalimat yang ia ucapkan.
“Mungkin dia datang untuk mengubah hidup kita.”
Nayla diam.
Tatapannya kembali jatuh ke hujan di depan mereka.
Dan untuk beberapa detik, hanya ada suara air yang
turun dari langit Kuala Kapuas.
“Jawaban Anda terlalu dewasa,” katanya kemudian.
Iskandar tertawa kecil.
“Itu pujian atau sindiran?”
“Sedikit keduanya.”
Untuk pertama kalinya sore itu, mereka tertawa bersama.
Tawa kecil.
Sederhana.
Tapi cukup untuk membuat suasana yang sempat berat berubah hangat.
Dan Iskandar mulai sadar,
di balik kesedihan yang dibawa Nayla,
perempuan itu juga menyimpan sisi yang membuat siapa pun ingin tinggal lebih
lama.
Setelah hujan reda, langit sore berubah menjadi lebih
jernih.
Matahari yang hampir tenggelam memantulkan warna
keemasan di atas sungai. Jalanan kota yang basah memantulkan lampu kendaraan
yang mulai menyala satu per satu.
Mereka berjalan perlahan meninggalkan dermaga.
“Biasanya setelah hujan saya suka jalan kaki,” kata
Nayla.
“Kota terasa lebih tenang.”
“Kalau begitu saya ikut.”
“Kenapa?”
“Takut Anda hanyut.”
Nayla menoleh lalu tertawa kecil.
“Lucu juga ternyata.”
“Jarang ada yang sadar.”
Mereka berjalan menuju kawasan pertokoan Sanjaya,
salah satu pusat keramaian kecil di Kuala Kapuas yang selalu hidup menjelang
senja. Di sana deretan toko berdiri rapat:
toko ponsel dengan lampu terang memajang casing warna, warni,
counter aksesoris penuh earphone dan charger,
toko pakaian dengan manekin yang berdiri kaku di balik kaca,
serta beberapa toko sparepart motor yang aroma oli dan karet barunya terasa
sampai ke trotoar.
Lampu neon dari papan nama toko memantul di jalan yang
masih basah.
Nayla berhenti di depan sebuah toko ponsel.
“Kadang saya suka heran,” katanya.
“Di kota kecil seperti ini, toko handphone lebih banyak daripada toko buku.”
Iskandar mengangguk.
“Karena orang sekarang lebih suka mengisi baterai ponsel daripada isi kepala.”
Nayla menoleh cepat.
“Kamu sering bicara seperti itu?”
“Kata ibu saya, terlalu sering.”
Nayla tertawa pelan.
“Pantas temanmu tadi bilang kamu sebenarnya lucu.”
“Edo terlalu banyak membocorkan rahasia.”
“Masih ada rahasia lain?”
Iskandar berpikir sejenak.
“Ada.”
“Apa?”
“Saya sebenarnya lebih gugup dari yang kelihatan.”
Nayla menatapnya beberapa detik.
Seolah ingin memastikan apakah ia bercanda atau serius.
Dan anehnya, Iskandar sendiri tidak tahu jawabannya.
Mereka terus berjalan memutar balik hingga sampai ke Jalan
Jenderal Sudirman, kawasan yang lebih ramai. Deretan toko emas berjajar
dengan etalase berkilau di bawah lampu putih terang. Kalung, cincin, gelang,
semuanya memantulkan cahaya seperti potongan kecil mimpi yang dijual dalam
kaca.
Di sisi lain jalan, beberapa toko perlengkapan sekolah
masih buka. Tas, buku tulis, dan seragam sekolah tergantung rapi di depan toko.
Di dekat persimpangan berdiri bangunan Bank Mandiri, yang menjadi salah
satu penanda pusat kota.
Suasana jalan malam itu terasa hidup.
Motor berlalu, lalang.
Orang, orang saling menyapa.
Pedagang kaki lima mulai membuka lapak.
Anak, anak muda duduk di pinggir trotoar sambil tertawa.
Kuala Kapuas memang bukan kota besar.
Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa dekat.
Dan malam itu,
Iskandar merasa untuk pertama kalinya
ia melihat kotanya sendiri
dengan cara yang berbeda.
Karena Nayla berjalan di sampingnya.
Mereka berhenti di depan toko emas Hasanah took mas terbesar
di sudut jalan.
Nayla menatap etalase berisi cincin, cincin berkilau.
“Dulu waktu kecil,” katanya pelan,
“saya pernah berpikir hidup orang dewasa itu sederhana.”
Iskandar menoleh.
“Kenapa?”
“Karena saya pikir orang dewasa tinggal memilih siapa
yang mereka cintai.”
Iskandar diam.
Lampu toko memantulkan bayangan wajah mereka di kaca.
“Ternyata?” tanya Iskandar pelan.
Nayla tersenyum kecil.
Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Ternyata yang paling sulit justru mencintai orang yang
tepat di waktu yang tepat.”
Kalimat itu membuat langkah Iskandar terasa berhenti.
Karena untuk pertama kalinya,
ia merasa Nayla tidak sedang berbicara tentang hidup secara umum.
Ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri.
Dan mungkin...
tentang seseorang yang sudah ada sebelum Iskandar datang.
Sebelum ia sempat bertanya,
sebuah suara terdengar dari seberang jalan.
“Nayla!”
Seorang perempuan melambaikan tangan dari depan toko
alat tulis.
Usianya tak jauh dari Nayla.
Berhijab lembut dengan wajah ramah.
Nayla menoleh.
“Oh, Dinda.”
Perempuan itu menghampiri sambil tersenyum.
Matanya sempat melirik Iskandar.
Lalu senyumnya berubah nakal.
“Oh... jadi ini alasan kamu sulit diajak keluar akhir, akhir
ini?”
Nayla langsung terlihat salah tingkah.
“Dinda!”
Iskandar menahan senyum.
Dinda mengulurkan tangan.
“Saya Dinda. Teman Nayla.”
“Iskandar.”
Dinda mengangguk cepat.
“Sudah lama kenal?”
“Belum,” jawab Nayla cepat.
“Baru beberapa kali,” jawab Iskandar bersamaan.
Mereka saling menoleh.
Dinda tertawa.
“Jawabannya beda, tapi wajah kalian sama, sama gugup.”
Nayla menutup wajah sebentar.
“Dinda, tolong jangan mulai.”
Iskandar justru tertawa pelan.
Dan entah kenapa,
melihat Nayla salah tingkah
adalah hal paling manis yang ia lihat malam itu.
Setelah Dinda pamit pulang, suasana di antara mereka
berubah sedikit.
Lebih canggung.
Tapi juga lebih dekat.
Mereka kembali berjalan perlahan di trotoar yang mulai
sepi.
“Maaf soal Dinda,” kata Nayla.
“Tidak apa.”
Iskandar tersenyum.
“Teman Anda mirip Edo.”
“Berisik?”
“Tidak tahu kapan harus diam.”
Nayla tertawa lagi.
Lalu untuk sesaat,
mereka sama, sama diam.
Namun kali ini,
diam itu terasa berbeda.
Lebih hangat.
Lebih dalam.
Dan tanpa Iskandar sadari,
di tengah lampu kota kecil Kuala Kapuas,
di antara toko, toko dan suara malam,
sesuatu di hatinya mulai tumbuh
lebih jauh dari sekadar ketertarikan.
Karena malam itu,
ia mulai memahami satu hal:
kadang kota yang kecil
bisa menyimpan cerita besar.
Dan kadang,
di antara keramaian yang sederhana,
seseorang bisa hadir
lalu perlahan menjadi alasan
mengapa hati tak lagi ingin pulang sendirian.
BAB 6
Malam di Bundaran
Besar
Malam di Kuala Kapuas selalu punya caranya sendiri
untuk membuat orang enggan pulang.
Setelah meninggalkan kawasan Jalan Jenderal Sudirman,
langkah Iskandar dan Nayla tanpa sadar membawa mereka ke Bundaran Besar
Kuala Kapuas, salah satu titik paling dikenal di kota itu. Bundaran itu
berdiri di tengah perempatan besar, seperti jantung kecil yang menjaga denyut
kota tetap hidup.
Di sisi kanan dan kirinya terbentang taman, taman kota
dengan rumput yang tertata rapi. Lampu, lampu taman menyala lembut, menerangi
jalan setapak yang biasa dipakai anak muda berjalan santai di malam hari.
Tak jauh dari sana ada angkringan kuliner dan berdiri Taman
Bacaan Asmin, tempat beberapa anak duduk membaca sambil sesekali tertawa
kecil. Di seberangnya tampak Rumah Makan Wong Solo, masih ramai oleh
pengunjung. Lampu merah Indomaret menyala terang di sudut jalan,
sementara dari kejauhan bangunan Kantor Polres Kapuas berdiri kokoh di
salah satu sisi perempatan.
Dari bundaran itu, jalan, jalan besar seolah membelah
arah kehidupan:
ke selatan menuju pusat kota,
ke timur menuju Banjarmasin,
ke utara menuju Mantangai,
dan ke barat menuju Palangkaraya.
Empat arah.
Empat kemungkinan.
Empat jalan yang bisa membawa seseorang ke tempat berbeda.
Iskandar memandang bundaran itu sesaat.
Entah kenapa, malam itu tempat itu terasa seperti
simbol hidupnya sendiri.
Dan mungkin,
hidup Nayla juga.
“Tempat ini indah ya,” kata Nayla pelan.
Iskandar menoleh.
“Bundaran?”
Nayla mengangguk.
“Bukan karena besar. Tapi karena rasanya seperti semua orang di kota ini pasti
pernah lewat sini.”
Iskandar tersenyum.
“Kalau di kota besar, orang mungkin melewati tempat seperti ini tanpa peduli.”
“Kalau di kota kecil?”
“Di kota kecil...” Iskandar menatap lampu taman.
“Setiap tempat punya cerita.”
Nayla menoleh menatapnya.
“Dan kamu?”
“Saya?”
“Punya cerita di sini?”
Iskandar tertawa kecil.
“Banyak. Salah satunya pernah jatuh dari sepeda di situ.”
Ia menunjuk trotoar dekat taman.
Nayla menahan tawa.
“Serius?”
“Sangat memalukan.”
“Kenapa?”
“Karena yang lihat satu sekolah.”
Nayla tertawa lepas.
Dan sekali lagi,
Iskandar merasa bahwa mendengar tawa Nayla
adalah sesuatu yang diam, diam mulai ia tunggu.
Mereka duduk di bangku taman dekat bundaran.
Di depan mereka, pedagang kaki lima berjejer menjual
jagung bakar, sate, pentol, dan es tebu. Aroma makanan bercampur udara malam
membuat suasana kota terasa hidup dengan cara yang sederhana.
Nayla membeli dua tusuk sate telur puyuh.
Satu disodorkan ke Iskandar.
“Untuk apa ini?”
“Supaya pembicaraanmu tidak terlalu serius.”
“Jadi saya terlalu serius?”
“Sangat.”
Iskandar menerima sate itu.
“Baik. Mulai sekarang saya akan berusaha lebih santai.”
Nayla tersenyum.
“Bagus.”
Belum sempat Iskandar menggigit sate itu,
“WOOOYYY!”
Suara keras datang dari arah belakang.
Iskandar hampir menjatuhkan tusuk sate.
Dari balik taman, tiba, tiba muncul Edo, Ridwan,
Anggun, Sahrul, Rara, bahkan di layar tablet yang dibawa Anggun, wajah Lukma
muncul lewat video call.
Mereka semua berdiri sambil tersenyum seperti baru
selesai merencanakan sesuatu yang berbahaya.
Iskandar menatap mereka satu per satu.
Lalu menutup mata.
Pelan.
“Aku mau pindah kota.”
Edo langsung tertawa paling keras.
“Belum sempat. Kami sudah menemukanmu duluan.”
Nayla menatap mereka bingung.
Lalu menoleh ke Iskandar.
“Mereka semua...?”
“Musibah kolektif,” jawab Iskandar datar.
Anggun maju sambil tersenyum manis.
“Halo, aku Anggun.”
“Saya Nayla.”
Rara ikut mendekat.
“Akhirnya ketemu juga.”
Nayla mengerutkan kening kecil.
“Akhirnya?”
Rara menatap Iskandar lalu tersenyum tipis.
“Karena beberapa hari terakhir nama kamu lebih sering muncul daripada berita
kota.”
“Rara...” gumam Iskandar.
Sahrul tertawa.
“Dia bahkan salah parkir tadi gara, gara melamun.”
Ridwan menambahkan dengan tenang.
“Dan hampir transfer uang ke nomor yang salah.”
Edo mengangguk.
“Karena pikirannya bukan di rekening.”
Nayla menutup mulut menahan tawa.
Sementara Iskandar merasa harga dirinya perlahan
menghilang di taman kota.
Namun kejutan belum selesai.
“Kalau sahabatmu boleh muncul,” suara lembut terdengar
dari belakang Nayla,
“masa sahabat Nayla tidak?”
Nayla menoleh cepat.
Di sana berdiri Dinda, bersama dua perempuan
lain:
Mira, sahabat kampus Nayla yang pendiam,
dan Lina, teman kerjanya yang terkenal ceplas, ceplos.
Dinda melambaikan tangan ceria.
“Kami kebetulan lewat.”
Iskandar melirik.
“Bohong.”
Dinda mengangguk.
“Iya memang.”
Nayla langsung tertawa sambil memegang dahi.
“Ya Tuhan...”
Kini mereka duduk melingkar di taman.
Dua kelompok sahabat.
Dua orang yang sama, sama salah tingkah.
Dan malam yang berubah jauh lebih ramai dari rencana awal.
“Jadi,” kata Lina sambil menatap Iskandar,
“kamu serius atau hanya hobi jalan sore?”
Iskandar hampir tersedak minum.
Nayla menatap Lina.
“Lina!”
Apa yang lucu,
semua justru menunggu jawaban.
Edo bahkan bersandar santai.
“Nah ini saya juga mau tahu.”
Iskandar memandang semua wajah di sekelilingnya.
Lalu menatap Nayla.
Nayla terlihat salah tingkah.
Tapi tidak mengalihkan pandangan.
Untuk beberapa detik,
suasana mendadak terasa hening.
Meskipun kendaraan tetap lewat.
Meskipun suara pedagang tetap terdengar.
Meskipun lampu kota tetap menyala.
Bagi Iskandar,
yang tersisa hanya Nayla.
Ia tersenyum kecil.
Lalu menjawab pelan.
“Kalau hanya jalan sore, saya tidak mungkin hafal warna
cardigan yang dia pakai hari pertama.”
Suasana langsung meledak.
“WOOOO!”
“ASTAGA!”
“Parah!”
“Iskandar ternyata bisa romantis!”
Nayla membeku.
Pipinya perlahan memerah.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu,
Nayla tidak tahu harus menjawab apa.
Namun di tengah tawa itu,
mata Dinda menangkap sesuatu.
Sebuah mobil hitam melambat di seberang jalan.
Berhenti sesaat.
Lalu kembali berjalan.
Dinda menatap mobil itu sedikit lebih lama.
Wajahnya berubah.
Iskandar yang menyadarinya bertanya pelan.
“Kenapa?”
Dinda menoleh cepat.
“Tidak... mungkin cuma salah lihat.”
Tapi Nayla yang duduk di sebelahnya
langsung kehilangan senyum.
Tangannya menggenggam erat ujung tas di pangkuannya.
Iskandar melihat perubahan itu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
ia merasa bahwa
di balik tawa,
di balik cahaya taman,
di balik semua kebahagiaan kecil yang baru mulai tumbuh,
ada sesuatu yang sedang mengikuti mereka.
Sesuatu dari masa lalu Nayla.
Sesuatu yang belum selesai.
Dan mungkin,
sesuatu yang bisa merusak semuanya
sebelum benar, benar dimulai.
BAB 7
Mobil Hitam di
Simpang Kota
Tawa di taman Bundaran Besar perlahan mereda.
Namun Iskandar masih menangkap perubahan kecil di wajah
Nayla.
Beberapa detik sebelumnya perempuan itu tertawa lepas,
pipinya memerah karena godaan teman, teman mereka. Tetapi sejak mobil hitam itu
melintas di seberang jalan, senyum itu seolah menghilang begitu saja.
Bukan perubahan yang mudah disadari semua orang.
Hanya seseorang yang memperhatikan sungguh, sungguh
yang akan melihatnya.
Dan tanpa sadar,
Iskandar memang sudah mulai memperhatikan Nayla terlalu dalam.
“Lho, kok tiba, tiba sunyi?” Edo memecah suasana.
“Padahal saya belum sempat pidato.”
Sahrul langsung menyahut.
“Kalau kau pidato, kita pulang semua.”
“Kurang ajar.”
Anggun tertawa.
“Bukan kurang ajar. Itu realistis.”
Suasana kembali mencair.
Beberapa orang tertawa lagi.
Namun Iskandar melihat Nayla hanya tersenyum tipis.
Tidak seperti sebelumnya.
Dan entah mengapa,
itu cukup membuat dadanya ikut tidak tenang.
Tak lama kemudian, hujan gerimis turun lagi.
Tidak deras.
Hanya butiran kecil yang jatuh lembut di bawah lampu taman.
“Sepertinya langit ikut baper,” kata Rara.
Edo mengangguk serius.
“Karena dua manusia ini belum jadian.”
Iskandar menatap tajam.
“Edo.”
“Apa? Saya mewakili rakyat.”
“Rakyat siapa?”
“Rakyat yang penasaran.”
Nayla tertawa kecil, meski kali ini tawanya terdengar
lebih pelan.
Dinda yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
“Sudah malam. Nayla, kita pulang saja.”
Nayla menoleh.
“Sekarang?”
Dinda mengangguk pelan.
Tatapannya memberi sesuatu yang hanya dipahami Nayla.
Iskandar melihat itu.
Ada sesuatu yang tidak dikatakan.
Dan justru karena itu,
ia semakin merasa ada hal yang belum ia tahu.
Mereka semua berjalan ke area parkir dekat Indomaret
di sudut bundaran.
Lampu jalan memantulkan cahaya di aspal yang basah.
Kendaraan masih lalu lalang dari empat arah jalan besar: dari arah
Palangkaraya, Banjarmasin, Mantangai, dan pusat kota.
Di kejauhan, suara klakson terdengar bersahutan.
Kota kecil itu tetap hidup,
meski malam semakin larut.
Saat Nayla hendak masuk ke mobil Dinda, ia menoleh ke
Iskandar.
Untuk sesaat, mereka saling diam.
“Terima kasih malam ini,” kata Nayla pelan.
Iskandar tersenyum.
“Untuk apa?”
Nayla berpikir sejenak.
Lalu menjawab:
“Karena membuat kota ini terasa lebih hangat.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup untuk membuat semua sahabat di belakang
Iskandar saling menatap heboh seperti penonton drama yang mendapat adegan favorit.
Edo bahkan berbisik terlalu keras.
“Kalau bukan cinta, saya pensiun dari dunia perjodohan.”
Iskandar hampir menyikutnya.
Nayla mendengar.
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
senyum di wajahnya kembali muncul.
Kecil.
Tapi tulus.
Lalu mobil Dinda perlahan menjauh meninggalkan
bundaran.
Dan Iskandar tetap berdiri memandang lampu belakang
mobil itu
sampai benar, benar hilang di tikungan.
“Sudah pergi, bukan pindah negara.”
Suara Edo membuat Iskandar menoleh.
Semua sahabatnya masih berdiri di belakang.
Ridwan tersenyum tipis.
“Wajahmu seperti orang habis kehilangan dompet.”
“Lebih parah,” kata Anggun.
“Dia kehilangan fokus.”
Sahrul tertawa.
“Sejak tiga hari lalu.”
Rara yang sejak tadi diam menatap Iskandar lebih
serius.
“Kamu juga lihat kan?”
Iskandar menoleh.
“Lihat apa?”
Rara melipat tangan.
“Wajah Nayla berubah waktu mobil hitam itu lewat.”
Suasana langsung sedikit hening.
Karena ternyata bukan hanya Iskandar yang menyadarinya.
Ridwan mengangguk pelan.
“Aku juga lihat.”
Edo yang biasanya bercanda ikut serius.
“Nomor mobilnya sempat kelihatan?”
Iskandar menggeleng.
“Tidak.”
Rara menghela napas.
“Semoga cuma kebetulan.”
“Tapi kalau bukan?” tanya Iskandar.
Tak ada yang langsung menjawab.
Hanya suara kendaraan yang melintas di simpang kota.
Lukma dari layar tablet akhirnya berkata pelan,
“Kalau seseorang terlihat bahagia, lalu tiba, tiba ketakutan hanya karena
melihat satu mobil…”
Ia menatap Iskandar dari layar.
“Biasanya ada seseorang di masa lalunya yang belum
benar, benar pergi.”
Kalimat itu membuat malam mendadak terasa lebih dingin.
Setelah semua pulang,
Iskandar memilih berjalan kaki sendiri melewati trotoar bundaran.
Lampu, lampu taman masih menyala.
Penjual kaki lima mulai membereskan dagangan.
Suara radio dari warung kopi kecil terdengar samar dari kejauhan.
Ia berhenti di dekat Taman Bacaan Asmin.
Beberapa buku masih tertata di rak kecil.
Sebagian halaman bergerak tertiup angin malam.
Iskandar duduk di bangku kayu.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Nayla,
perasaannya bercampur dengan sesuatu yang lain.
Bukan hanya suka.
Bukan hanya penasaran.
Tapi kekhawatiran.
Karena kini ia mulai yakin:
Nayla bukan sekadar perempuan yang menyukai sungai dan hujan.
Ada sesuatu yang sedang ia hindari.
Seseorang yang mungkin masih mengejarnya.
Dan yang lebih membuat Iskandar takut,
tanpa sadar,
ia mulai merasa ingin melindungi perempuan itu.
Padahal ia bahkan belum benar, benar mengenalnya.
Di tempat lain,
di dalam mobil yang melaju pelan menuju rumah,
Nayla menatap keluar jendela.
Lampu, lampu kota memantul di kaca.
Dinda yang menyetir meliriknya sebentar.
“Itu mobil yang sama,” katanya pelan.
Nayla diam.
Dinda menggenggam setir lebih erat.
“Dia kembali.”
Masih diam.
“Nayla... kamu harus cerita ke Iskandar.”
Nayla menutup mata perlahan.
“Belum.”
“Kalau dia tahu dari orang lain?”
Nayla menatap gelap di luar jendela.
Lalu berkata lirih,
nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Aku takut dia pergi kalau tahu.”
Dan di dalam mobil yang terus melaju di malam Kuala
Kapuas,
Nayla akhirnya sadar satu hal yang paling berbahaya,
ia mulai takut kehilangan seseorang
yang seharusnya belum masuk terlalu jauh ke dalam hatinya.
BAB 8
Jalan yang Menyimpan
Jawaban
Pagi di Kuala Kapuas datang bersama cahaya yang lembut.
Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika Iskandar sudah
terbangun, meskipun semalam ia hampir tidak benar, benar tidur. Bayangan wajah
Nayla, perubahan ekspresinya saat melihat mobil hitam itu, dan kalimat terakhir
Dinda terus berputar di kepalanya seperti lagu yang menolak selesai.
Kadang seseorang datang begitu cepat,
hingga hati belum sempat siap,
namun rasa sudah terlanjur tumbuh terlalu jauh.
Iskandar duduk di teras rumah sambil memegang secangkir
kopi, memandang jalan kecil di depan rumah yang mulai ramai oleh warga yang
beraktivitas.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia terlalu
berlebihan.
Bahwa mungkin mobil itu memang hanya kebetulan.
Bahwa mungkin Nayla hanya lelah.
Bahwa mungkin ia sendiri yang mulai terlalu peduli.
Namun jauh di dalam hatinya,
Iskandar tahu satu hal:
ia tidak bisa lagi berpura, pura bahwa Nayla hanyalah
seseorang yang kebetulan ia temui.
“Kalau wajahmu lebih muram sedikit lagi, tetangga bisa
mengira kamu habis ditolak lamaran.”
Suara ibunya membuat Iskandar menoleh.
Bu Ratna meletakkan sepiring pisang goreng di meja kecil
teras, lalu duduk di sampingnya.
“Belum sampai situ, Bu.”
Ibunya tersenyum.
“Belum, atau belum berani?”
Iskandar menghela napas.
“Ibu ini kenapa selalu tahu?”
“Karena dari kecil, kalau kamu sedang memikirkan
sesuatu, kamu pasti minum kopi dua gelas sebelum jam delapan.”
Iskandar menatap dua cangkir kosong di meja.
Lalu tertawa kecil sendiri.
Ibunya benar.
Selalu begitu.
“Kalau memang dia penting,” kata Bu Ratna lembut,
“jangan cuma dipikirkan. Kadang orang tidak butuh orang yang paling sempurna.
Kadang mereka hanya butuh orang yang mau tetap tinggal.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa,
pagi itu terasa seperti nasihat yang datang tepat di saat yang dibutuhkan.
Menjelang siang, Iskandar mengendarai motornya
menyusuri Jalan Tambun Bungai.
Jalan itu termasuk salah satu ruas utama di Kuala
Kapuas. Di kiri kanan, berjejer perumahan warga yang teduh, dengan halaman
kecil yang dipenuhi tanaman bunga. Di beberapa sudut tampak toko sembako,
warung kecil, dan jebih jauh lagi apotek murah yang ramai didatangi
warga.
Iskandar melambatkan motornya di dekat Simpang Patih
Rumbih, tempat berdirinya Bank BPD Kalteng. Di seberangnya tampak
lapangan luas dengan Stadion Panunjung Tarung dan GOR Panunjung
Tarung, yang siang itu terlihat lengang, hanya beberapa anak muda duduk di
tribun.
Tak jauh dari sana, kawasan STAI Kuala Kapuas
mulai ramai oleh mahasiswa yang keluar masuk kampus.
Lebih ke depan, kubah megah Masjid Agung Kuala
Kapuas berdiri anggun di bawah langit siang, menjadi penanda yang tak
pernah gagal menarik pandangan siapa pun yang melintas.
Tak jauh dari sana Percetakan Zoe Printing, tempat
spanduk dan undangan sering dikerjakan warga kota di sebelahnya ada berdiri
bangunan Kantor Kodim, kokoh dengan pagar rapi, sementara di sisi jalan
lain tampak took bangunan, hingga sampai ke simpang camuh yang sekarang menjadi
jalan simpang adipura.
Kota itu tidak besar.
Tapi justru karena itu,
setiap sudut terasa punya cerita.
Dan hari itu,
Iskandar merasa semua jalan di kota kecil ini
seakan sedang membawanya menuju sesuatu.
Kemudia dari simpang adipura iskandar balik lagi menuju
arah dalam kota Ia berhenti di depan sebuah toko buku kecil dekat gerbang pintu
masuk kampus STAI Kuala Kapuas.
Bukan karena perlu membeli apa pun.
Hanya karena ia melihat seseorang yang dikenalnya.
Nayla.
Perempuan itu berdiri di depan rak alat tulis sambil
memeriksa beberapa buku catatan. Rambutnya diikat sederhana. Ia mengenakan
blouse biru muda dengan cardigan putih.
Dan seperti biasa,
hanya dengan melihatnya,
hari Iskandar terasa berubah.
Ia masuk perlahan.
Nayla menoleh.
Mata mereka bertemu.
Lalu senyum kecil itu muncul lagi.
“Kebetulan sekali.”
Iskandar mengangkat alis.
“Kalau terlalu sering, masih bisa disebut kebetulan?”
Nayla menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Mungkin tidak.”
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup membuat Iskandar sulit menyembunyikan senyumnya sendiri.
“Apa kamu sering ke sini?” tanya Iskandar.
Nayla mengangguk sambil memegang buku.
“Saya suka membeli buku tulis walaupun belum tentu dipakai.”
“Kenapa?”
“Karena saya suka halaman kosong.”
Iskandar mengernyit.
“Itu terdengar seperti kalimat yang punya makna tersembunyi.”
Nayla tertawa kecil.
“Mungkin.”
“Dan maknanya?”
Nayla menatap buku di tangannya.
“Kadang halaman kosong terasa lebih jujur daripada
hidup seseorang.”
Kalimat itu lagi, lagi terdengar indah,
tapi menyisakan sesuatu yang tak selesai.
Seperti semua tentang Nayla.
Selalu ada sesuatu yang belum ia ceritakan.
Mereka keluar dari toko bersama.
Di depan toko, pedagang es tebu berdiri di bawah payung
hijau.
Beberapa mahasiswa lewat sambil bercanda.
Suara azan zuhur dari Masjid Agung terdengar lembut dari kejauhan.
Kota terasa damai.
Terlalu damai.
Sampai sebuah suara memanggil dari seberang jalan.
“Iskandar!”
Mereka menoleh.
Ternyata Anggun berdiri di depan toko sembako sambil
membawa map besar.
Ia menatap Nayla.
Lalu Iskandar.
Lalu Nayla lagi.
Dan tanpa aba, aba, senyum jahil langsung muncul di
wajahnya.
“Oh.
Jadi rapat penting yang kamu bilang ternyata begini bentuknya?”
Iskandar memejamkan mata.
“Kenapa semua temanku muncul di waktu yang tidak tepat?”
Anggun mendekat sambil tertawa.
“Karena Tuhan tahu hidupmu terlalu sepi.”
Nayla menahan tawa.
Anggun menatap Nayla dengan ramah.
“Halo, saya Anggun. Teman lama yang sering jadi korban curhat dia.”
Nayla tersenyum.
“Nayla.”
Anggun mengangguk kecil.
“Ya, saya sudah dengar.”
“Dari siapa?” tanya Nayla.
“Dari seluruh kota.”
Iskandar menatap kosong.
“Besok saya pindah ke Banjarmasin.”
Anggun tertawa makin keras.
Namun saat itulah,
senyum di wajah Anggun perlahan memudar.
Matanya tertuju ke arah jalan.
Sebuah mobil hitam melambat di seberang jalan.
Mobil yang sama.
Iskandar langsung menoleh.
Nayla membeku.
Dan untuk kedua kalinya,
di tengah kota yang ramai,
di siang yang terang,
sesuatu dari masa lalu Nayla
muncul kembali di hadapan mereka.
Kali ini,
lebih dekat.
Dan Iskandar mulai sadar,
apa pun yang sedang disembunyikan Nayla,
mungkin jauh lebih besar
daripada yang ia bayangkan.
BAB 9
Seseorang dari Masa
Lalu
Mobil hitam itu berhenti di seberang jalan.
Mesinnya tetap menyala.
Kacanya gelap.
Dan entah kenapa, meskipun siang Kuala Kapuas terasa hangat, udara di sekitar
Iskandar mendadak terasa jauh lebih dingin.
Di antara suara kendaraan yang lewat di Jalan Tambun
Bungai, suara azan yang masih samar dari Masjid Agung, dan langkah
orang, orang yang keluar masuk toko, hanya satu hal yang kini terasa nyata—
wajah Nayla yang tiba, tiba pucat.
Iskandar belum pernah melihat perempuan itu kehilangan
ketenangannya seperti itu.
Tangan Nayla yang tadi memegang buku catatan perlahan
gemetar.
“Nayla?” suara Iskandar pelan.
Nayla tidak langsung menjawab.
Matanya hanya tertuju ke mobil itu.
Anggun yang berdiri di samping Iskandar ikut menatap,
lalu berbisik,
“Itu mobil yang sama?”
Iskandar mengangguk pelan.
Sebelum siapa pun sempat bergerak, pintu mobil terbuka.
Seorang pria turun.
Tinggi.
Kemeja hitam.
Wajah tegas.
Usianya mungkin awal tiga puluhan.
Tatapannya langsung menuju Nayla.
Bukan tatapan orang asing.
Bukan tatapan kebetulan.
Tatapan seseorang yang merasa masih punya hak.
Iskandar bisa merasakannya bahkan dari jauh.
Pria itu melangkah menyeberang jalan perlahan.
Dan setiap langkahnya seperti membawa sesuatu yang tak
terlihat:
masa lalu.
“Nayla.”
Suara pria itu tenang.
Terlalu tenang.
Namun justru itu yang membuat suasana semakin tidak
nyaman.
Nayla menunduk sebentar sebelum akhirnya mengangkat
wajah.
“Aldebar.”
Iskandar menangkap nama itu.
Aldebar.
Nama yang terdengar asing,
tapi langsung terasa seperti ancaman.
Anggun melirik Iskandar.
Iskandar diam.
Namun rahangnya menegang.
Pria bernama Aldebar itu menatap Nayla cukup lama
sebelum akhirnya melirik ke arah Iskandar.
Tatapan itu singkat.
Tapi cukup untuk menyampaikan banyak hal.
Lalu ia tersenyum tipis.
Senyum yang terlalu rapi untuk terasa tulus.
“Sudah lama saya cari kamu.”
Nayla menggenggam buku di tangannya lebih erat.
“Untuk apa?”
Aldebar tertawa kecil.
“Untuk bicara. Itu saja.”
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
Jawaban Nayla terdengar lembut.
Tapi tegas.
Iskandar terkejut.
Karena ini pertama kalinya ia melihat Nayla berbicara setegas itu.
Aldebar menghela napas.
“Masih marah?”
Nayla menatapnya.
“Bukan marah.”
“Lalu?”
Nayla terdiam beberapa detik.
Dan saat akhirnya bicara, suaranya jauh lebih pelan.
“Saya hanya lelah.”
Kalimat itu sederhana.
Namun Iskandar merasa ada luka panjang di baliknya.
Suasana di trotoar seolah berubah.
Orang, orang tetap berjalan.
Mahasiswa tetap lalu lalang.
Pedagang tetap memanggil pembeli.
Namun bagi Iskandar,
dunia seakan menyempit hanya pada tiga orang itu.
Dirinya.
Nayla.
Dan pria dari masa lalu yang tiba, tiba muncul tanpa diundang.
Aldebar menatap Nayla lebih lembut.
“At least beri saya kesempatan menjelaskan.”
Nayla menggeleng.
“Sudah terlambat.”
Kalimat itu membuat dada Iskandar bergetar aneh.
Karena ada sesuatu tentang cara Nayla mengucapkannya,
seolah ia pernah benar, benar mencintai pria itu.
Dan entah kenapa,
pikiran itu membuat sesuatu di hati Iskandar terasa nyeri.
Bukan karena ia berhak cemburu.
Ia bahkan belum punya hak apa pun.
Namun rasa itu tetap datang.
Diam, diam.
Menyakitkan.
Aldebar lalu menoleh pada Iskandar.
“Teman baru?”
Sebelum Nayla menjawab,
Iskandar lebih dulu mengulurkan tangan.
“Iskandar.”
Aldebar memandang tangan itu beberapa detik.
Lalu menyambutnya.
Genggaman mereka singkat.
Namun cukup untuk membuat Iskandar tahu:
pria ini bukan orang yang mudah.
Tatapan Aldebar tetap tenang.
Tapi matanya tajam.
Seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia mau.
“Senang kenal,” kata Aldebar.
Meski nadanya sama sekali tidak terdengar begitu.
Iskandar tersenyum tipis.
“Begitu juga.”
Anggun yang berdiri di samping hampir tersedak melihat
suasana mendadak seperti duel tanpa musik.
Ia pelan, pelan mundur,
mengambil ponsel,
dan mengirim pesan cepat ke grup sahabat:
“KUMPUL SEKARANG. DRAMA BESAR.”
Aldebar kembali menatap Nayla.
“Kita bicara sebentar?”
Nayla diam.
Iskandar menoleh padanya.
Ia ingin berkata jangan.
Ingin menahan.
Ingin melindungi.
Tapi ia sadar,
ia belum punya hak untuk itu.
Dan justru itulah yang paling menyiksa.
Akhirnya Nayla mengangguk kecil.
“Hanya sebentar.”
Mereka berjalan langkah menjauh ,
ke bawah pohon di dekat trotoar depan Bank BPD Kalteng.
Iskandar tetap berdiri di tempat, tak lama kemudian
melangkah mengikuti dengan jarak yang agak jauh di ikuti oleh anggun.
Namun matanya tak pernah lepas dari Nayla.
Anggun menatapnya.
“Kamu baik, baik saja?”
Iskandar tersenyum tipis.
“Belum tahu.”
Dari kejauhan,
Iskandar tidak bisa mendengar percakapan mereka.
Tapi ia bisa melihat wajah Nayla.
Awalnya datar.
Lalu terkejut.
Lalu sedih.
Kemudian,
air mata.
Satu tetes kecil jatuh di pipi Nayla.
Dan bagi Iskandar,
melihat itu rasanya jauh lebih menyakitkan
daripada jika luka itu ada di dirinya sendiri.
Tanpa sadar,
kakinya melangkah.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Namun sebelum ia sampai,
Nayla sudah berbalik.
Ia meninggalkan Aldebar begitu saja.
Dan berjalan cepat menuju Iskandar.
Langsung.
Tanpa ragu.
Sampai akhirnya ia berhenti tepat di depan Iskandar,
menatapnya dengan mata yang masih basah.
Untuk beberapa detik,
mereka hanya saling diam.
Lalu Nayla berkata pelan,
“Bisa antar saya pergi dari sini?”
Iskandar tidak bertanya apa, apa.
Tidak bertanya siapa Aldebar.
Tidak bertanya apa yang terjadi.
Tidak bertanya kenapa matanya menangis.
Ia hanya menjawab satu kalimat:
“Ke mana pun.”
Dan untuk pertama kalinya,
di tengah kota Kuala Kapuas yang siang itu ramai,
Nayla menatap Iskandar
seperti seseorang yang baru saja menemukan tempat untuk merasa aman.
Dari kejauhan,
Aldebar melihat semuanya.
Cara Nayla berjalan menuju Iskandar.
Cara Iskandar berdiri di sisinya.
Cara mereka saling menatap.
Rahangnya menegang.
Dan untuk pertama kalinya,
ia menyadari sesuatu yang tidak ia perhitungkan:
Nayla mungkin benar, benar mulai membuka hatinya untuk
orang lain.
Sementara di sisi lain jalan,
di balik pagar stadion,
Edo, Ridwan, Rara, dan Sahrul baru tiba sambil terengah.
Edo melihat ke arah Iskandar,
lalu ke arah pria asing itu.
“Wah,” katanya pelan.
“Kita telat masuk episode penting.”
Rara menatap serius.
“Bukan.”
Matanya tertuju ke wajah Nayla yang masih menahan
tangis.
“Kita baru masuk bagian paling berbahaya.”
Dan tanpa seorang pun benar, benar menyadari,
cinta yang baru mulai tumbuh di antara Iskandar dan Nayla
kini tidak lagi hanya tentang perasaan.
Tapi juga tentang masa lalu
yang belum selesai.
BAB 10
Ke Mana Pun
“Ke mana pun.”
Dua kata itu keluar begitu saja dari mulut Iskandar.
Sederhana.
Pendek.
Namun bagi Nayla, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang sudah lama tidak
ia dengar dari siapa pun—
sebuah tempat untuk tidak menjelaskan apa, apa,
dan tetap diterima.
Nayla menatap Iskandar beberapa detik.
Matanya masih basah.
Namun untuk pertama kalinya sejak Aldebar muncul,
napasnya perlahan terasa lebih tenang.
Tanpa berkata apa, apa lagi,
Iskandar mengambil helm cadangan dari motornya dan menyerahkannya.
“Pakai.”
Nayla menerimanya pelan.
Tangannya sempat menyentuh tangan Iskandar.
Singkat.
Sangat singkat.
Namun cukup membuat jantung Iskandar kembali berdetak
dengan cara yang tak masuk akal.
Dari belakang,
Edo berbisik ke Ridwan.
“Kalau begini saya merestui.”
Ridwan menatap tanpa ekspresi.
“Memang siapa yang minta restu?”
Rara memukul pelan lengan Edo.
“Diam dulu. Ini bukan waktunya.”
Sahrul justru mengangguk.
“Justru ini waktu terbaik untuk diam.”
Edo menoleh.
“Kenapa semua orang menyuruh saya diam?”
“Karena itu mukjizat,” jawab Anggun yang baru datang
menyusul.
Iskandar menstarter motor.
Nayla duduk di belakangnya.
Awalnya menjaga jarak.
Seperti orang yang masih ragu.
Lalu motor mulai bergerak meninggalkan Simpang Patih
Rumbih, melewati Bank BPD Kalteng, menyusuri jalan yang membelah
kota.
Mereka melewati Kantor Ketenagakerjaan.
Lampu siang mulai redup oleh awan mendung.
Beberapa anak bermain bola di lapangan kecil samping Kantorl Telkom.
Pedagang minuman mulai membuka lapak di pinggir jalan.
Kuala Kapuas tetap seperti biasanya.
Namun bagi Iskandar,
semuanya terasa berbeda.
Karena untuk pertama kalinya,
Nayla ada di belakangnya.
Dan beberapa detik kemudian,
saat motor sedikit berbelok,
tangan Nayla perlahan memegang sisi kemejanya.
Iskandar nyaris lupa cara bernapas.
Ia tidak menoleh.
Tidak berkata apa, apa.
Tapi senyum kecil tak bisa ia tahan.
Karena kadang,
hal paling sederhana,
seperti seseorang memilih berpegangan,
bisa terasa jauh lebih besar dari yang seharusnya.
Mereka terus melaju melewati Jalan Tambun Bungai.
Angin membawa aroma hujan.
Deretan rumah, rumah.
Toko sembako.
Apotek kecil.
Percetakan.
Warung kopi.
Semua berlalu seperti latar yang perlahan menghilang.
Nayla tetap diam.
Namun genggamannya di kemeja Iskandar tidak dilepaskan.
Dan entah kenapa,
diam itu justru terasa seperti percakapan paling jujur
yang pernah mereka miliki.
“Kalau terus diam begini,” kata Iskandar akhirnya,
“orang bisa mengira saya sedang menculik.”
Nayla yang sejak tadi murung
akhirnya tertawa kecil.
Tawa yang pelan.
Tapi cukup membuat Iskandar merasa lega.
“Memangnya wajah saya seperti korban penculikan?”
“Sedikit.”
“Jahat.”
“Realistis.”
Nayla menggeleng pelan.
“Kenapa kamu selalu mencoba melucu di saat aneh?”
Iskandar tersenyum sambil tetap menatap jalan.
“Karena kadang orang yang sedang ingin menangis justru
butuh alasan kecil untuk tertawa.”
Nayla terdiam.
Jari, jarinya di kemeja Iskandar menggenggam sedikit
lebih erat.
Dan tanpa Iskandar lihat,
mata Nayla kembali berkaca, kaca.
Bukan karena sedih.
Tapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ada seseorang yang mencoba mengerti tanpa memaksa.
“Berhenti di sana,” kata Nayla pelan.
Iskandar memperlambat motor.
Mereka tiba di tama kota, dekat bundaran kecil,
tak jauh dari jalan menuju arah jalna A.Yani.
Tempat itu lebih sepi.
Hanya ada bangku kayu tua,
beberapa pohon,
dan suara air yang mengalir tenang.
Bukan tempat ramai.
Justru itu yang membuatnya terasa damai.
Mereka duduk berdampingan.
Angin sore bergerak lembut.
Daun, daun bergesekan.
Air sungai memantulkan langit yang mulai berubah kelabu.
Beberapa menit,
tak ada yang bicara.
Lalu Nayla berkata pelan.
“Maaf.”
Iskandar menoleh.
“Untuk apa?”
“Karena kamu jadi ikut dalam sesuatu yang bukan
urusanmu.”
Iskandar tersenyum tipis.
“Mungkin saya memang suka ikut campur.”
Nayla menoleh.
“Kamu selalu begini?”
“Begini bagaimana?”
“Baik kepada orang yang belum terlalu kamu kenal.”
Iskandar berpikir sejenak.
Lalu menjawab jujur.
“Tidak.”
Nayla menatapnya.
“Lalu kenapa ke saya?”
Untuk pertama kalinya,
Iskandar tidak langsung punya jawaban.
Karena jawaban yang ada di kepalanya terlalu jujur.
Karena sejak pertama melihat Nayla di dermaga,
hatinya memang sudah terasa berbeda.
Karena setiap kali melihat perempuan itu tersenyum,
ia merasa ingin menjaga senyum itu tetap ada.
Karena setiap kali melihat perempuan itu sedih,
ia merasa ikut terluka.
Namun Iskandar hanya berkata pelan,
“Karena saya tidak suka melihat kamu menangis.”
Kalimat itu membuat Nayla terdiam.
Lama.
Sampai suara sungai menjadi satu, satunya yang terdengar.
Dan perlahan,
Nayla menundukkan kepala.
Air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini,
bukan air mata ketakutan.
Melainkan air mata seseorang
yang terlalu lama kuat sendirian,
hingga lupa rasanya
saat ada orang lain yang peduli.
“Aldebar mantan saya.”
Akhirnya kalimat itu keluar.
Iskandar diam.
Mendengarkan.
Nayla menatap air sungai.
“Seseorang yang dulu pernah saya pikir akan jadi rumah.”
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
“Lalu?”
Nayla tersenyum pahit.
“Ternyata tidak semua rumah aman untuk ditinggali.”
Iskandar menoleh pelan.
“Apa dia menyakitimu?”
Nayla tidak langsung menjawab.
Namun diamnya sudah lebih dari cukup.
Dan untuk pertama kalinya,
sesuatu dalam diri Iskandar berubah.
Bukan hanya rasa suka.
Bukan hanya rasa ingin dekat.
Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam,
keinginan untuk melindungi.
Di saat yang sama,
di tempat parkir seberang jalan,
mobil hitam itu masih berhenti.
Aldebar duduk di balik kemudi.
Menatap dari kejauhan.
Tangannya mengepal di atas setir.
Karena untuk pertama kalinya,
ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan:
Nayla menangis...
di hadapan pria lain.
Dan lebih menyakitkan lagi,
pria itu membuat Nayla merasa aman.
Di taman kota,
tanpa menyadari ada mata yang mengawasi,
Nayla menoleh pada Iskandar.
Suaranya sangat pelan ketika ia bertanya,
“Kalau seseorang datang setelah hati kita hancur...”
“apakah kita masih boleh percaya lagi?”
Iskandar menatapnya.
Lalu menjawab dengan suara yang sama lembutnya.
“Kalau orang itu datang dengan tulus...”
“mungkin bukan hati kamu yang harus takut.”
“mungkin justru dia yang harus hati, hati.”
Nayla mengernyit kecil.
“Hati, hati kenapa?”
Iskandar tersenyum.
“Karena bisa jadi dia jatuh terlalu dalam.”
Untuk pertama kalinya,
di tengah suara taman kota Kuala Kapuas,
Nayla tersenyum sambil menangis.
Dan saat itulah,
tanpa perlu diucapkan,
mereka berdua mulai sadar,
yang tumbuh di antara mereka
bukan lagi sekadar kebetulan.
BAB 11
Malam di City Mall
Senja di taman kota perlahan berubah menjadi malam.
Langit Kuala Kapuas mulai gelap, namun sisa warna
jingga masih tertinggal tipis di ufuk barat. Angin dari sungai berembus pelan
membawa dingin yang lembut, sementara suara kendaraan masih mengalun seperti
musik yang hanya dimengerti oleh mereka yang sedang memikirkan seseorang.
Nayla duduk diam di samping Iskandar.
Setelah sekian lama menyimpan semuanya sendiri,
akhirnya ia mengucapkan satu nama dari masa lalunya.
Aldebar.
Nama yang sejak tadi menggantung di antara mereka.
Namun anehnya, setelah mengatakannya, Nayla justru
merasa sedikit lebih ringan.
Bukan karena lukanya hilang.
Tetapi karena untuk pertama kalinya,
ada seseorang yang mendengar tanpa memaksa.
Iskandar tidak bertanya terlalu jauh.
Tidak memaksa penjelasan.
Tidak mencoba menjadi pahlawan.
Ia hanya duduk di sana.
Dan kadang,
kehadiran seperti itu jauh lebih berarti daripada ribuan nasihat.
“Kalau terus diam begini,” kata Iskandar sambil menatap
sungai,
“nanti saya benar, benar dikira penculik profesional.”
Nayla menoleh.
Lalu tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Karena dari tadi saya membawa perempuan menangis ke
tempat sepi.”
Nayla akhirnya tertawa.
Tawa kecil yang muncul di sela sisa air mata.
“Cara bercandamu aneh.”
“Setidaknya berhasil.”
Nayla mengangguk pelan.
“Sedikit.”
Iskandar tersenyum.
“Lumayan.”
Malam itu, di tengah dingin sungai,
senyum kecil itu terasa seperti kemenangan kecil bagi Iskandar.
Karena ia mulai sadar:
ia tidak butuh Nayla selalu bahagia.
Ia hanya ingin menjadi alasan
kenapa perempuan itu bisa tersenyum lagi.
“Lapar?” tanya Iskandar tiba, tiba.
Nayla mengangkat alis.
“Kenapa tiba, tiba?”
“Karena menurut pengalaman saya, orang yang habis
menangis biasanya butuh makan.”
“Itu teori dari mana?”
“Dari ibu saya.”
“Dan ibumu selalu benar?”
Iskandar berpikir sejenak.
“Hampir selalu.”
Nayla tertawa pelan.
“Baiklah. Sedikit lapar.”
Iskandar berdiri.
“Kalau begitu saya tahu tempat yang cocok.”
“Ke mana?”
Iskandar menatapnya.
Lalu tersenyum kecil.
“Tempat yang cukup ramai supaya kamu tidak merasa
sedang diculik.”
Motor Iskandar melaju perlahan menyusuri kota malam.
Mereka melewati kembali Jalan Tambun Bungai,
lampu toko satu per satu mulai menyala. Warung sembako kecil masih buka. Di
depan Masjid Agung, beberapa orang masih duduk santai setelah salat, Apotek
murah di sudut jalan terlihat ramai. Malam Kuala Kapuas tidak pernah benar, benar
ramai seperti kota besar.
Namun justru itu yang membuatnya terasa akrab.
Dari belakang, Nayla kali ini memegang lebih mantap
sisi kemeja Iskandar.
Bukan karena takut jatuh.
Bukan karena jalan rusak.
Mungkin karena tanpa sadar,
ia mulai merasa aman.
Dan Iskandar merasakan itu.
Ia tidak berkata apa, apa.
Karena kadang,
diam lebih jujur daripada kata, kata.
Mereka melewati jalan simpang camuh atau simpang
adipura menuku ke Jalan Pemuda.
Lampu, lampu jalan memantul di aspal yang sedikit basah
sisa hujan sore. Kendaraan lalu lalang lebih ramai di kawasan itu. Beberapa
keluarga terlihat berjalan santai di trotoar. Anak, anak muda duduk di pinggir
jalan sambil bercanda.
Di kejauhan, sebuah bangunan besar mulai terlihat
terang.
Megah.
Modern.
Mencolok di antara bangunan kota yang lain.
City Mall Kuala Kapuas.
Bangunan itu berdiri seperti wajah baru kota,
simbol bahwa Kuala Kapuas terus tumbuh tanpa kehilangan dirinya.
Kaca depannya memantulkan cahaya malam.
Tulisan besar di atas gedung bersinar terang.
Di halaman depannya, lampu taman menghiasi area parkir yang dipenuhi mobil dan
motor.
Nayla menatap bangunan itu.
“Wah...”
Iskandar menoleh sedikit.
“Kenapa?”
“Saya belum pernah ke sini malam, malam.”
Iskandar tersenyum.
“Kalau begitu malam ini pertama.”
Nayla menatap punggung Iskandar beberapa detik.
Entah kenapa,
kalimat sederhana itu terdengar lebih dalam dari seharusnya.
Di dalam mall, udara dingin langsung menyambut mereka.
Suasana jauh berbeda dari jalanan kota.
Lampu terang.
Suara musik pelan.
Aroma kopi dari kafe.
Anak, anak berlari kecil.
Pasangan muda berjalan berdampingan.
Beberapa keluarga sibuk memilih barang.
Bagi kota seperti Kuala Kapuas,
City Mall bukan hanya pusat belanja.
Ia sudah menjadi semacam tempat baru untuk merasa bahwa
kota kecil ini pun bisa menyimpan suasana modern.
Nayla berjalan pelan sambil melihat sekeliling.
“Kenapa?” tanya Iskandar.
“Tidak apa.”
“Wajah kamu seperti sedang masuk negara lain.”
Nayla tertawa kecil.
“Sedikit.”
“Kalau begitu saya pemandu wisatanya.”
“Bayarannya mahal?”
Iskandar berpura, pura berpikir.
“Cukup satu senyum.”
Nayla menatapnya.
Lalu tersenyum.
“Begini?”
Iskandar diam beberapa detik.
Lalu menjawab jujur.
“Ya. Tapi itu terlalu mahal ternyata.”
Nayla tertawa.
Kali ini lebih lepas.
Dan untuk sesaat,
masa lalu seperti tidak ikut masuk bersama mereka.
Mereka berhenti di sebuah kedai kopi kecil di lantai
dasar.
Iskandar memesan dua minuman.
Nayla memilih roti panggang.
Mereka duduk di dekat kaca besar yang menghadap jalan malam Kuala Kapuas.
Di luar, lampu kota terlihat tenang.
Di dalam, dunia terasa hangat.
Nayla memandang Iskandar.
“Kenapa kamu baik sekali ke saya?”
Pertanyaan itu datang tiba, tiba.
Iskandar terdiam.
Jari, jarinya memutar gelas kopi pelan.
Karena sebenarnya,
ia sendiri mulai takut pada jawabannya.
Namun malam itu,
entah kenapa,
ia tidak ingin terus bersembunyi.
Iskandar mengangkat wajah.
Menatap Nayla.
Lalu berkata pelan,
“Karena sejak pertama kali melihat kamu di dermaga...”
“saya merasa seperti sudah mengenal kamu jauh sebelum kita bertemu.”
Nayla terdiam.
Suasana di antara mereka mendadak berubah.
Suara mall masih ada.
Orang, orang masih lalu lalang.
Musik masih terdengar.
Tapi bagi mereka,
waktu seperti melambat.
Dan di balik kaca City Mall yang memantulkan lampu
kota,
dua orang yang awalnya hanya dipertemukan kebetulan,
perlahan mulai berdiri
di ambang sesuatu
yang tidak bisa lagi disebut biasa.
Namun di seberang jalan,
di balik kaca mobil hitam yang terparkir,
sepasang mata masih memperhatikan.
Diam.
Dingin.
Dan penuh sesuatu
yang belum selesai.
BAB 12
Cahaya di Balik Kaca
Malam di City Mall Kuala Kapuas terasa hangat.
Lampu, lampu di dalam gedung memantulkan cahaya lembut
pada meja kaca kecil tempat Iskandar dan Nayla duduk berhadapan. Di sekeliling
mereka, suara langkah kaki, denting sendok, dan percakapan pengunjung bercampur
menjadi latar yang samar.
Namun bagi Iskandar,
dunia malam itu terasa mengecil.
Hanya ada satu meja.
Satu perempuan.
Dan satu kalimat yang baru saja ia ucapkan.
"Sejak pertama kali melihat kamu di
dermaga..."
"saya merasa seperti sudah mengenal kamu jauh sebelum kita
bertemu."
Kalimat itu masih menggantung di udara.
Dan Iskandar sendiri baru sadar,
ia baru saja mengatakan sesuatu yang selama ini bahkan belum berani ia akui
pada dirinya sendiri.
Nayla menatapnya.
Lama.
Bukan tatapan terkejut.
Bukan pula tatapan takut.
Melainkan tatapan seseorang yang sedang mencoba percaya
pada sesuatu yang sudah lama tidak berani ia rasakan.
“Kamu selalu bicara seperti itu ke semua perempuan?”
Akhirnya Nayla bertanya pelan.
Iskandar tersenyum kecil.
“Kalau saya bilang tidak, kedengarannya seperti bohong?”
“Sedikit.”
“Kalau saya bilang cuma ke satu orang?”
Nayla mengangkat alis.
“Satu orang?”
Iskandar mengangguk.
“Dan orangnya sedang duduk di depan saya.”
Nayla langsung menunduk,
menyembunyikan senyum yang gagal ia tahan.
Untuk pertama kalinya,
Iskandar melihat Nayla benar, benar malu.
Dan jujur saja,
itu jauh lebih berbahaya
daripada semua yang pernah ia bayangkan.
Karena saat itu,
Iskandar tahu:
ia sudah jatuh terlalu jauh.
“Ini tidak adil,” gumam Nayla pelan.
Iskandar menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena saya datang ke sini ingin melupakan sesuatu.”
“Lalu?”
Nayla menghela napas kecil.
“Sekarang malah memikirkan orang lain.”
Jantung Iskandar nyaris lupa cara bekerja.
Ia menatap Nayla.
Namun Nayla justru menatap cangkir kopinya sendiri,
seolah baru sadar apa yang baru saja ia ucapkan.
Mereka berdua sama, sama diam.
Dan diam itu kali ini bukan canggung.
Diam itu terasa seperti pengakuan kecil
yang belum sepenuhnya berani diberi nama.
“Kalau begitu,” kata Iskandar pelan,
“saya harus minta maaf?”
Nayla menoleh.
“Untuk apa?”
“Karena tanpa sengaja mengganggu pikiran seseorang.”
Nayla tersenyum.
“Belum tentu mengganggu.”
“Lalu?”
Nayla menatapnya.
Matanya lembut.
Namun ada sesuatu di dalamnya yang belum sepenuhnya tenang.
“Mungkin... datang terlalu cepat.”
Kalimat itu tidak menyakitkan.
Namun cukup untuk membuat Iskandar mengerti:
hati Nayla belum sepenuhnya pulih.
Dan cinta,
seindah apa pun,
tetap butuh waktu.
Sebelum suasana menjadi terlalu serius,
sebuah suara tiba, tiba terdengar dari belakang.
“Maaf, boleh saya ganggu sebentar?”
Mereka menoleh bersamaan.
Seorang anak kecil berdiri di samping meja.
Mungkin umur tujuh tahun.
Membawa beberapa tangkai mawar merah kecil.
“Bang,” katanya polos,
“belikan bunga buat kakak itu.
Biar kakaknya senyum terus.”
Iskandar menatap anak itu.
Lalu menatap Nayla.
Lalu anak itu lagi.
Nayla langsung menahan tawa.
“Ini jebakan ya?” bisik Iskandar.
Anak kecil itu menggeleng serius.
“Ini rezeki.”
Nayla tertawa.
Dan kali ini,
tawa itu benar, benar lepas.
Tanpa banyak bicara,
Iskandar mengambil satu tangkai mawar dan membayarnya.
Anak kecil itu tersenyum puas.
“Semoga cepat jadian.”
Lalu pergi begitu saja.
Nayla menutup wajahnya sambil tertawa.
“Ya Tuhan…”
Iskandar ikut tertawa.
“Saya curiga seluruh kota sedang bekerja sama.”
“Bisa jadi.”
“Termasuk anak kecil tadi.”
“Termasuk.”
Iskandar menyerahkan bunga kecil itu.
“Ini.”
Nayla menatap mawar itu.
Lalu menatap Iskandar.
“Untuk apa?”
“Supaya saya tidak dimarahi semesta karena menolak
takdir.”
Nayla memegang bunga itu perlahan.
Dan untuk beberapa detik,
tatapan mereka bertemu begitu dekat,
begitu tenang,
hingga Iskandar hampir lupa bahwa dunia di sekitar mereka masih bergerak.
Di luar kaca mall,
hujan mulai turun lagi.
Rintik, rintik kecil membasahi jalan Jalan Pemuda.
Lampu kendaraan memantul di aspal.
Kota kecil itu terlihat lebih indah di bawah hujan malam.
Nayla memandang keluar jendela.
“Kapuas cantik saat hujan.”
Iskandar menoleh.
“Kamu lebih cantik waktu tersenyum.”
Nayla langsung menoleh cepat.
“Kamu memang tidak bisa berhenti ya?”
“Tidak sejak kenal kamu.”
Nayla menatapnya lama.
Lalu tersenyum kecil.
Namun senyum itu perlahan memudar.
Karena di balik kaca,
di seberang parkiran,
mobil hitam itu masih ada.
Masih diam.
Masih menunggu.
Dan Nayla melihatnya.
Jari, jarinya perlahan menggenggam mawar kecil itu
lebih erat.
Iskandar mengikuti arah pandangnya.
Lalu melihat mobil itu.
Kembali.
Untuk ketiga kalinya.
Suasana hangat di meja mereka seolah retak seketika.
Iskandar menoleh pada Nayla.
“Dia terus mengikuti kamu?”
Nayla tidak langsung menjawab.
Dan diam itu sudah cukup.
Iskandar merasakan sesuatu dalam dirinya berubah.
Bukan marah.
Bukan cemburu.
Lebih seperti naluri.
Naluri seseorang
yang tak suka melihat orang yang mulai ia sayangi
terus hidup dalam ketakutan.
Nayla menatap gelas kopinya.
Suaranya nyaris berbisik.
“Saya tidak mau kamu ikut terseret.”
Iskandar menatapnya serius.
“Kalau saya memang sudah terlanjur ikut?”
Nayla mengangkat wajah.
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
mata mereka bertemu tanpa candaan,
tanpa tawa,
tanpa pelarian.
Hanya dua hati
yang perlahan sadar
bahwa perasaan yang tumbuh di antara mereka
mungkin jauh lebih besar
daripada yang siap mereka hadapi.
Di dalam mobil hitam,
Aldebar memandang ke arah mereka.
Tangannya mengepal di atas setir.
Karena malam itu,
ia akhirnya melihat sesuatu yang paling ia takutkan:
Nayla tidak hanya sedang dekat dengan pria lain.
Nayla mulai terlihat bahagia.
Dan bagi seseorang yang belum siap kehilangan,
tidak ada yang lebih berbahaya
daripada melihat orang yang dulu mencintainya
mulai tersenyum
untuk orang lain.
BAB 13
Di Tengah Riuh Pasar
Melati
Hujan turun semakin rapat di luar City Mall.
Butiran air membasahi kaca besar gedung itu, membuat
cahaya lampu di Jalan Pemuda tampak berpendar lembut seperti lukisan
malam yang bergerak pelan. Di dalam kedai kopi, suasana masih hangat, tetapi
tatapan Nayla yang kembali gelisah membuat Iskandar tahu,
malam mereka belum benar, benar tenang.
Mobil hitam itu masih ada.
Masih diam.
Masih menunggu di seberang parkiran.
Iskandar tidak langsung menanyakannya lagi.
Ia mulai memahami satu hal:
tidak semua luka harus dibuka saat itu juga.
Kadang yang dibutuhkan seseorang bukan pertanyaan,
melainkan seseorang yang mau tetap tinggal.
“Kita pindah tempat?”
Nayla menoleh.
“Ke mana?”
Iskandar tersenyum tipis.
“Ke tempat yang lebih hidup.”
“Supaya?”
“Supaya pikiran kamu tidak terus melihat ke belakang.”
Nayla memandangnya sesaat.
Lalu untuk pertama kalinya sejak tadi,
ia tersenyum kecil.
Dan Iskandar merasa,
senyum itu masih worth fighting for.
Beberapa menit kemudian motor Iskandar melaju pelan
menuju kawasan Pasar Melati, salah satu pusat pertokoan dan pasar
tradisional yang cukup ramai di Kuala Kapuas.
Mereka melewati jalan yang mulai padat.
Lampu, lampu toko menyala terang.
Suara kendaraan bercampur dengan percakapan warga.
Aroma buah segar bercampur dengan wangi masakan dari warung sekitar.
Pasar Melati hanya ramai pada waktu pagi.
Bukan pasar malam seperti di kawasan Pertokoan
Sanjaya,
melainkan kawasan pasar lengkap yang menjadi denyut kebutuhan warga kota:
toko sembako,
toko pakaian,
toko perlengkapan rumah,
toko alat tulis,
kios buah,
hingga deretan warung makan yang selalu ramai.
Di sisi kiri jalan, toko buah berjejer dengan tumpukan
jeruk, apel, semangka, pisang, dan anggur yang tersusun rapi di bawah lampu
kuning.
Di sisi kanan, beberapa warung kuliner menjual soto, bakso, sate, gorengan, dan
es campur.
Suasana itu membuat kota kecil terasa hangat.
Dan tanpa sadar,
membuat Nayla sedikit lebih tenang.
“Tempat seperti ini saya suka,” kata Nayla sambil
memandang sekitar.
Iskandar menoleh.
“Kenapa?”
“Karena di tempat seperti ini, hidup terasa nyata.”
“Di mall tidak nyata?”
Nayla tersenyum.
“Di mall orang terlihat berusaha bahagia.”
“Di pasar seperti ini, orang terlihat apa adanya.”
Iskandar memandang para pedagang yang sibuk.
Ibu, ibu menawar harga.
Anak, anak berlarian.
Pedagang buah tertawa dengan pelanggan tetap.
Warung kecil penuh cerita sederhana.
Ia mengangguk pelan.
“Kamu selalu melihat hal yang tidak dilihat orang lain
ya?”
Nayla menoleh.
“Begitu juga kamu.”
“Kalau saya?”
“Kamu selalu tahu kapan seseorang sedang berusaha
terlihat kuat.”
Kalimat itu membuat Iskandar diam.
Karena untuk pertama kalinya,
Nayla melihat dirinya
sedalam ia melihat Nayla.
Mereka berhenti di sebuah kios buah.
Seorang ibu penjual tersenyum ramah.
“Mau cari apa, Nak?”
Iskandar menunjuk mangga.
“Yang manis.”
Ibu itu menatap Nayla,
lalu tersenyum penuh arti.
“Kalau buat yang manis di sebelah, yang ini cocok.”
Nayla langsung menahan tawa.
Iskandar menutup mata sebentar.
“Kenapa semua orang di kota ini suka ikut campur?”
Nayla berbisik pelan.
“Mungkin wajahmu terlalu jujur.”
“Wajah saya kenapa?”
“Wajah orang yang sedang jatuh hati.”
Kali ini Iskandar benar, benar terdiam.
Nayla justru tertawa kecil melihat ekspresinya.
“Sekarang kamu yang diam.”
Iskandar menghela napas.
“Tidak adil.”
“Sedikit.”
Untuk pertama kalinya malam itu,
Nayla terlihat benar, benar menikmati kebersamaan itu.
Dan Iskandar tahu,
ia mulai jatuh lebih jauh lagi.
Setelah membeli potongan mangga dan jeruk dingin,
mereka berjalan ke deretan kuliner.
Mereka duduk di warung kecil dekat toko kelontong.
Lampu sederhana menggantung di atas meja.
Suara sendok beradu.
Aroma sate ayam memenuhi udara.
Nayla mencoba sambal terlalu banyak.
Dan beberapa detik kemudian,
wajahnya langsung berubah.
“Pedas?” tanya Iskandar.
Nayla mengangguk cepat.
Iskandar tertawa.
“Sudah saya bilang.”
“Diam.”
“Minum.”
Ia menyodorkan teh dinginnya.
Nayla menatap gelas itu.
Lalu menatap Iskandar.
“Kamu dulu.”
“Kenapa?”
“Takut kamu bohong.”
Iskandar minum sedikit.
Lalu menyerahkan kembali.
Nayla meminumnya pelan.
Dan entah kenapa,
hal kecil itu terasa jauh lebih intim
daripada yang seharusnya.
Mereka berdua sama, sama menyadarinya.
Namun sama, sama memilih diam.
Di kejauhan,
Ridwan yang baru keluar dari toko perlengkapan motor bersama Sahrul melihat
mereka.
Sahrul menatap.
“Minum satu gelas?”
Ridwan mengangguk tenang.
“Berbahaya.”
“Kenapa?”
Ridwan menjawab singkat.
“Karena Iskandar tidak pernah membiarkan orang lain minum dari gelasnya.”
Sahrul terdiam.
“Wah...”
“Berarti ini serius.”
Ridwan menatap mereka lagi.
“Lebih dari yang dia sendiri sadari.”
Namun suasana hangat itu tidak bertahan lama.
Di ujung jalan,
dekat deretan toko buah,
mobil hitam itu kembali terlihat.
Parkir.
Diam.
Mengawasi.
Kali ini Iskandar melihatnya lebih dulu.
Senyumnya perlahan hilang.
Nayla mengikuti arah pandangnya.
Tubuhnya langsung menegang.
Keramaian pasar tetap berjalan.
Orang, orang tetap berbelanja.
Pedagang tetap memanggil pelanggan.
Tapi di antara mereka berdua,
malam mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Iskandar menatap Nayla.
Suaranya rendah.
“Sudah cukup.”
Nayla menoleh.
“Cukup apa?”
Iskandar memandang mobil itu,
lalu kembali menatap mata Nayla.
“Cukup kamu takut sendirian.”
Dan di tengah sunyi Pasar Melati,
di antara pertokoan, kios buah, dan aroma kuliner,
Nayla melihat sesuatu di mata Iskandar
yang belum pernah ia lihat sebelumnya,
bukan hanya rasa suka.
Melainkan seseorang
yang mulai siap berdiri
di sisinya.
BAB 14
Hujan di Simpang
Melati
Kalimat Iskandar menggantung di antara mereka.
"Cukup kamu takut sendirian."
Suara itu tidak keras.
Tidak dramatis.
Namun justru karena diucapkan dengan tenang,
kalimat itu terasa jauh lebih dalam.
Nayla menatap Iskandar beberapa detik.
Di sekeliling mereka, Pasar Melati tetap hidup
seperti biasa, setiap pagi hari.
Suara pedagang memanggil pembeli.
Bunyi plastik belanja.
Aroma sate dan gorengan.
Lampu pertokoan yang memantul di jalan yang mulai basah oleh gerimis.
Namun bagi Nayla,
untuk sesaat,
semua suara itu seperti menjauh.
Karena sudah lama sekali
tidak ada seseorang yang mengatakan kalimat seperti itu padanya.
Bukan karena iba.
Bukan karena penasaran.
Bukan karena ingin tahu.
Tapi karena tulus.
Dan justru itu yang paling berbahaya bagi hatinya.
“Nayla.”
Suara berat dari belakang membuat mereka berdua
menoleh.
Aldebar.
Pria itu kini berdiri beberapa meter dari mereka.
Tanpa ekspresi.
Tanpa senyum.
Namun sorot matanya jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Ia berjalan mendekat,
membuat suasana di sekitar mereka berubah pelan, pelan menjadi tegang.
Iskandar berdiri.
Refleks.
Tanpa berpikir.
Dan posisi tubuhnya tanpa sadar
sedikit bergeser ke depan Nayla.
Gerakan kecil.
Namun cukup untuk membuat Nayla diam.
Karena untuk pertama kalinya,
ada seseorang yang berdiri di depannya
seolah berkata tanpa kata:
aku di sini.
Aldebar menghentikan langkahnya.
Tatapannya jatuh pada Iskandar.
Lalu pada Nayla.
Lalu kembali pada Iskandar.
“Sepertinya saya mengganggu.”
Nada bicaranya tenang.
Terlalu tenang.
Iskandar menatap balik.
“Kalau tahu mengganggu, harusnya dari tadi berhenti.”
Nayla menoleh cepat.
Ia tidak menyangka Iskandar akan bicara seberani itu.
Aldebar tersenyum tipis.
Senyum yang dingin.
“Ini urusan saya dengan Nayla.”
Iskandar tidak bergeming.
“Kalau dia tidak nyaman, itu bukan cuma urusan kamu lagi.”
Suasana di sekitar mereka perlahan berubah.
Beberapa orang mulai melirik.
Penjual buah berhenti menyusun jeruk.
Pedagang sate melambatkan kipasnya.
Bahkan seorang ibu penjual gorengan ikut menatap dengan rasa penasaran khas
kota kecil.
Karena di kota seperti Kuala Kapuas,
keributan kecil bisa terasa seperti siaran langsung nasional.
Aldebar menatap Nayla.
“Kamu sekarang sembunyi di belakang orang lain?”
Nayla menggenggam tasnya lebih erat.
Namun kali ini ia tidak mundur.
Ia menatap Aldebar lurus.
“Bukan.”
“Saya hanya tidak mau bicara dengan orang yang tidak pernah mau mendengar.”
Kalimat itu membuat Aldebar terdiam sesaat.
Untuk pertama kalinya,
pria itu terlihat kehilangan kata.
Iskandar menoleh kecil pada Nayla.
Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa hangat.
Karena malam itu,
Nayla tidak lagi hanya terlihat rapuh.
Ia juga mulai terlihat berani.
Aldebar menghela napas.
“Kamu pikir saya datang untuk menyakiti kamu?”
Nayla tertawa kecil.
Tapi tawanya pahit.
“Bukannya itu yang selalu kamu lakukan?”
Kalimat itu seperti memukul udara di antara mereka.
Iskandar tidak tahu cerita lengkapnya.
Namun satu hal kini jelas:
yang Nayla rasakan bukan sekadar luka lama.
Itu luka yang masih hidup.
Hujan mulai turun lebih deras.
Gerimis kecil berubah menjadi titik, titik air yang
jatuh di lampu jalan.
Orang, orang mulai berteduh di bawah kanopi toko.
Sebagian pedagang menutup barang dagangan.
Aroma tanah basah bercampur dengan wangi makanan dari kios sekitar.
Namun tak satu pun dari mereka bertiga bergerak.
Karena kadang,
hujan bukan hal yang membuat seseorang menggigil.
Kadang masa lalu jauh lebih dingin.
“Dengar saya sekali saja, Nayla.”
Aldebar melangkah satu langkah.
Iskandar langsung bergerak sedikit maju.
Nayla memegang lengan Iskandar pelan.
Sentuhan itu singkat.
Namun cukup membuat Iskandar berhenti.
Nayla menggeleng kecil.
Seolah berkata:
biar saya sendiri.
Lalu Nayla menatap Aldebar.
“Saya sudah terlalu lama mendengar.”
“Sekarang giliran saya berhenti.”
Aldebar menatapnya lama.
Wajahnya berubah.
Bukan marah.
Lebih seperti seseorang
yang baru sadar
bahwa ia benar, benar sedang kehilangan sesuatu.
“Karena dia?”
Aldebar menatap Iskandar.
Nayla diam.
Dan diam itu justru terasa seperti jawaban.
Jantung Iskandar berdetak lebih keras.
Bukan karena bangga.
Bukan karena menang.
Justru karena ia tahu,
hatinya kini benar, benar masuk terlalu jauh.
Aldebar tersenyum miris.
“Kamu bahkan belum tahu siapa dia sebenarnya.”
Kalimat itu bukan ditujukan pada Nayla.
Tapi pada Iskandar.
Mata Nayla langsung membesar.
“Jangan.”
Namun Aldebar tetap menatap Iskandar.
“Kamu pikir kamu sedang menolong dia?”
“Kamu bahkan tidak tahu kenapa dia pergi.”
“Nayla.”
Iskandar menoleh pelan.
“Apa maksud dia?”
Nayla terlihat pucat.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu,
Nayla terlihat benar, benar takut.
Bukan pada Aldebar.
Tapi pada kemungkinan
Iskandar mengetahui sesuatu tentang dirinya.
Dan itu jauh lebih menyakitkan untuk dilihat.
Hujan turun makin deras.
Lampu pertokoan Pasar Melati berpendar di jalan basah.
Orang, orang masih mengintip dari balik kios.
Kota kecil itu tetap menjadi saksi diam.
Dan di tengah hujan,
di simpang kecil pasar,
masa lalu Nayla akhirnya mulai mengetuk pintu
yang selama ini ia kunci rapat.
Iskandar menatap Nayla.
Bukan dengan marah.
Bukan dengan curiga.
Hanya dengan satu pertanyaan sederhana.
“Kamu mau saya tetap di sini?”
Nayla menatap matanya.
Dan untuk pertama kalinya,
air matanya jatuh bukan karena takut.
Melainkan karena seseorang
memberinya pilihan
untuk tidak sendirian.
Pelan,
Nayla menggenggam tangan Iskandar.
Erat.
Lalu berbisik lirih—
“Jangan pergi.”
Dan di tengah hujan Pasar Melati,
untuk pertama kalinya,
Iskandar sadar bahwa
yang ia rasakan pada Nayla
bukan lagi sekadar rasa ingin melindungi.
Karena malam itu,
tanpa sempat ia cegah,
hatinya sudah memilih.
BAB 15
Rahasia yang
Tertahan
Hujan turun semakin deras di atas Pasar Melati.
Air menetes dari kanopi pertokoan.
Lampu, lampu toko memantul di jalan yang basah.
Suara kendaraan yang lewat terdengar samar bercampur dengan bunyi rintik hujan
dan bisik, bisik orang yang diam, diam memperhatikan.
Namun bagi Iskandar,
malam itu hanya ada satu hal yang terasa nyata—
tangan Nayla yang menggenggam tangannya.
Erat.
Dan kalimat lirih yang baru saja keluar dari bibir
perempuan itu:
"Jangan pergi."
Dua kata sederhana.
Namun cukup untuk membuat semua keraguan di dalam hati
Iskandar mendadak hilang.
Karena kadang,
seseorang tidak perlu mengatakan “tetaplah bersamaku.”
Kadang cukup dengan “jangan pergi,”
dan hati sudah mengerti semuanya.
Aldebar melihat tangan mereka.
Tatapannya berubah.
Untuk pertama kalinya sejak ia muncul,
ketenangannya retak.
Ia menatap Nayla.
Lalu tersenyum kecil.
Namun kali ini senyumnya penuh luka.
“Jadi sekarang kamu memilih dia?”
Nayla menggeleng pelan.
“Saya sedang memilih diri saya sendiri.”
Kalimat itu membuat Iskandar menoleh.
Dan entah kenapa,
mendengar Nayla berkata seperti itu
membuat ia semakin ingin memahami perempuan itu lebih dalam.
Karena di balik wajah lembutnya,
ternyata Nayla menyimpan keberanian
yang bahkan ia sendiri baru mulai temukan.
Aldebar tertawa kecil.
Tawa pahit.
“Setelah semuanya?”
Nayla menatap lurus.
“Justru karena semuanya.”
Hening.
Hanya hujan.
Dan suasana yang terasa semakin berat.
“Baik.”
Aldebar mengangguk pelan.
Seolah menerima.
Namun sebelum berbalik,
ia menatap Iskandar sekali lagi.
“Kamu kelihatan seperti orang baik.”
Iskandar tidak menjawab.
Aldebar melanjutkan,
“Masalahnya… orang baik biasanya paling hancur kalau tahu kenyataan.”
“Nayla.”
Suara Iskandar pelan.
Tapi tegas.
“Kalau memang ada yang harus saya tahu…”
“biar saya dengar dari dia.”
Aldebar menatap Iskandar beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
Kali ini,
lebih seperti seseorang yang sadar
ia benar, benar kalah.
Ia menoleh pada Nayla.
“Kalau suatu hari dia pergi setelah tahu semuanya…”
“jangan salahkan siapa, siapa.”
Setelah itu,
Aldebar berbalik.
Berjalan menembus hujan.
Masuk ke mobil hitamnya.
Dan beberapa detik kemudian,
mobil itu perlahan menghilang dari ujung jalan,
meninggalkan genangan air
dan sisa masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.
Namun meski Aldebar sudah pergi,
Nayla tidak langsung melepaskan tangan Iskandar.
Ia justru menggenggamnya lebih erat.
Tubuhnya gemetar kecil.
Bukan karena dingin.
Tapi karena setelah sekian lama,
ia akhirnya benar, benar menutup satu pintu dari hidupnya.
Dan menutup pintu lama,
ternyata tetap menyakitkan,
meski yang ada di baliknya hanya luka.
“Nayla.”
Iskandar menatapnya lembut.
“Kita pergi dari sini dulu.”
Nayla mengangguk.
Mereka berjalan ke bawah kanopi toko,
masih berdampingan.
Masih diam.
Masih sama, sama memikirkan terlalu banyak hal.
Di belakang mereka,
ibu penjual buah berbisik pada penjual sate.
“Kayaknya ini bukan sekadar mantan.”
Penjual sate mengangguk serius.
“Ini sudah level sinetron.”
Mereka berdua saling diam.
Lalu kembali bekerja seperti tidak terjadi apa, apa.
Karena begitulah kota kecil.
Orang bisa ikut khawatir,
lalu tetap melayani pembeli dengan tenang.
Iskandar dan Nayla berhenti di depan toko yang sudah
hampir tutup.
Hujan masih turun di depan mereka.
Lampu toko obat di seberang jalan berkedip redup.
Aroma kopi dari warung kecil bercampur udara basah.
Suasana malam tiba, tiba terasa sunyi,
meski pasar masih ramai.
Nayla akhirnya melepaskan tangan Iskandar.
Namun rasa hangatnya masih tertinggal.
“Maaf.”
Iskandar menoleh.
“Untuk apa?”
“Karena hidup saya ternyata lebih rumit dari yang
kelihatan.”
Iskandar tersenyum kecil.
“Kalau hidup terlalu sederhana, biasanya membosankan.”
Nayla menatapnya.
Bibirnya sempat tersenyum.
Namun matanya masih menyimpan beban.
“Kamu tidak seharusnya masuk terlalu jauh.”
“Sayangnya saya sudah telat.”
Nayla menghela napas pelan.
“Kenapa?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tapi Iskandar tahu,
yang Nayla tanyakan bukan soal hujan.
Bukan soal Aldebar.
Bukan soal malam ini.
Yang Nayla tanyakan adalah:
kenapa kamu tetap tinggal?
Iskandar menatap hujan di depan mereka.
Lalu berkata pelan.
“Karena sejak ketemu kamu…”
“saya selalu merasa kalau saya pergi sekarang…”
“saya akan menyesal.”
Nayla terdiam.
Hujan masih turun.
Lampu, lampu kota memantul di matanya.
Dan untuk beberapa detik,
ia hanya memandang Iskandar seperti sedang mencari
apakah laki, laki di depannya benar, benar serius.
Yang membuatnya takut,
jawabannya iya.
“Aldebar bukan orang jahat,” kata Nayla akhirnya.
Iskandar diam.
Mendengarkan.
“Dia hanya…”
Nayla tersenyum pahit.
“terlalu mencintai dengan cara yang salah.”
Iskandar mengangguk pelan.
“Dan saya…”
suara Nayla mengecil,
“terlalu lama bertahan di tempat yang seharusnya sudah saya tinggalkan.”
Kalimat itu membuat dada Iskandar terasa sesak.
Karena ia tahu:
tidak semua luka datang dari dibenci.
Kadang,
luka justru datang
dari dicintai dengan cara yang salah.
Nayla menunduk.
“Ada hal yang belum kamu tahu tentang saya.”
Iskandar tidak menjawab.
“Dan kalau kamu tahu…”
suara Nayla nyaris berbisik,
“mungkin kamu akan mengerti kenapa saya takut.”
Iskandar menatapnya lembut.
“Kalau kamu belum siap cerita sekarang, tidak apa, apa.”
Nayla menoleh.
“Kamu tidak penasaran?”
Iskandar tersenyum tipis.
“Sangat.”
“Lalu?”
“Tapi saya lebih takut kalau saya memaksa.”
“dan kamu malah menjauh.”
Nayla terdiam.
Lalu untuk pertama kalinya malam itu,
air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini bukan karena luka lama.
Melainkan karena seseorang
akhirnya memilih memahami
tanpa menuntut penjelasan.
Tanpa sadar,
Nayla melangkah lebih dekat.
Jarak di antara mereka kini tinggal beberapa inci.
Hanya suara hujan.
Hanya lampu kota.
Hanya dua orang
yang sama, sama mulai takut
karena perasaan mereka tumbuh terlalu cepat.
Nayla menatap mata Iskandar.
Lalu berbisik sangat pelan,
“Kalau saya cerita semuanya…”
“kamu masih akan tinggal?”
Iskandar menatapnya.
Dan sebelum ia menjawab,
dari ujung jalan terdengar suara motor berhenti mendadak.
“WOI!”
Suara Edo menggema dari kejauhan.
Disusul Ridwan, Rara, Anggun, dan Sahrul yang datang
tergesa, gesa sambil basah kuyup.
Edo menatap mereka berdua.
Lalu menatap jarak yang terlalu dekat itu.
Mata Edo membesar.
“Ya ampun.”
“Kami datang di timing yang salah ya?”
Nayla langsung mundur.
Wajahnya memerah.
Iskandar menutup mata pelan.
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
ia benar, benar ingin mendorong sahabatnya sendiri ke tengah hujan.
BAB 16
Jalan A. Yani dan
Tawa yang Menyelamatkan
“Ya ampun.
Kami datang di timing yang salah ya?”
Suara Edo menggantung di bawah kanopi toko seperti
petir kecil yang datang di saat paling tidak tepat.
Nayla refleks mundur satu langkah.
Wajahnya memerah.
Iskandar menutup mata pelan sambil menghela napas panjang.
Sahrul yang berdiri di belakang Edo langsung menyikut
temannya.
“Mulutmu itu bisa libur sehari tidak?”
Edo mengangkat bahu.
“Saya cuma jujur.”
Ridwan yang paling tenang justru menatap Iskandar.
“Wajahmu seperti ingin mengubur orang.”
“Karena memang ada niat,” jawab Iskandar datar.
Nayla yang tadi hampir menangis justru menahan tawa.
Dan anehnya,
di tengah suasana yang sempat begitu berat,
kehadiran para sahabat itu membuat semuanya berubah.
Tidak sepenuhnya lebih mudah.
Tapi cukup untuk membuat napas terasa lebih ringan.
Kadang,
orang, orang yang paling berisik
justru yang diam, diam datang
untuk menyelamatkan suasana.
“Kalian ngapain ke sini?” tanya Iskandar.
Anggun melipat tangan.
“Pertanyaan yang salah.”
Rara mengangguk.
“Yang benar: kenapa kalian malah menghilang?”
Edo menunjuk Iskandar.
“Kami pikir kau diculik.”
Sahrul menambahkan,
“Lalu setelah lihat posisi tadi…”
“ternyata bukan kamu yang diculik.”
Nayla spontan menunduk sambil tertawa kecil.
Iskandar menatap langit.
“Kalau aku pindah kota, kalian jangan cari.”
“Tidak usah,” jawab Ridwan.
“Kota ini terlalu kecil.”
Semua tertawa.
Termasuk Nayla.
Dan Iskandar sadar,
sudah beberapa kali malam ini
senyum Nayla kembali muncul
karena orang, orang yang selalu membuat hidupnya berisik.
Hujan mulai mereda.
Hanya tersisa gerimis tipis di lampu, lampu toko Pasar
Melati.
Jalanan masih basah.
Pantulan cahaya dari etalase toko membuat malam terlihat lebih hidup.
Edo menatap Nayla sambil tersenyum.
“Kami mau ambil suasana baru.”
“Jalan sedikit ke arah Jalan Jenderal A. Yani, ikut?”
Nayla menoleh ke Iskandar.
Seolah menunggu.
Iskandar mengangguk kecil.
“Kalau kamu mau.”
Nayla tersenyum.
“Boleh.”
Jawaban sederhana itu membuat Edo langsung berbisik ke
Anggun,
“Fix.”
“Sudah masuk tahap saling menunggu jawaban.”
Anggun mengangguk.
“Parah.”
Iskandar hanya menatap mereka datar.
Namun dalam hati,
ia tahu mereka tidak salah.
Beberapa menit kemudian,
mereka berjalan bersama menuju Jalan Jenderal A. Yani.
Malam di jalan itu masih ramai.
Lampu, lampu pertokoan menyala terang.
Warung kopi dipenuhi pelanggan.
Motor keluar masuk.
Pedagang kaki lima mulai ramai di trotoar.
Suara musik dari beberapa toko bercampur dengan suara orang bercakap.
Jalan itu memang selalu hidup.
Di sepanjang sisi jalan,
berdiri toko pakaian,
counter ponsel,
toko roti,
mini market,
hingga kios kecil yang menjual minuman dingin dan camilan.
Rumah, rumah tua berdiri berdampingan dengan bangunan
baru.
Mobil lalu, lalang pelan.
Lampu kendaraan membelah aspal basah.
Dan aroma kopi dari warung pinggir jalan terasa hangat di udara malam.
Kuala Kapuas mungkin kota kecil.
Tapi di malam seperti itu,
Jalan A. Yani terasa seperti nadi kota
yang tak pernah benar, benar tidur.
Edo dan Sahrul sengaja berjalan lebih depan.
Ridwan dan Anggun sibuk mengobrol di belakang.
Rara bersama Nayla beberapa langkah di samping.
Dan entah bagaimana,
semua itu terasa terlalu teratur untuk disebut kebetulan.
Iskandar menoleh.
“Kalian sengaja ya?”
Ridwan tanpa menoleh menjawab,
“Iya.”
Nayla tertawa kecil.
“Teman, teman kamu unik.”
“Bahasa halus dari merepotkan.”
“Tidak.”
Nayla tersenyum.
“Mereka sayang sama kamu.”
Kalimat itu membuat Iskandar menoleh.
“Dari mana kamu tahu?”
Nayla melihat ke depan,
ke arah sahabat, sahabat Iskandar yang sengaja memberi ruang.
“Karena orang yang benar, benar peduli…”
“selalu tahu kapan harus mendekat dan kapan harus mundur.”
Iskandar diam.
Karena untuk kesekian kalinya,
Nayla selalu bisa melihat hal yang tidak dikatakan orang lain.
Mereka berhenti di sebuah warung kopi kecil di pinggir
jalan.
Lampu kuning menggantung sederhana.
Beberapa kursi plastik tertata.
Aroma kopi hitam bercampur hujan yang baru reda.
Edo langsung duduk.
“Saya lapar karena ikut drama orang.”
Sahrul mengangguk.
“Kami semua korban emosional.”
Anggun menatap Nayla.
“Maaf ya, mereka memang begini.”
Nayla tersenyum.
“Justru seru.”
Edo menatap Iskandar.
“Dengar itu.”
“Akhirnya ada yang menerima kami.”
“Bukan.”
Ridwan menyeruput kopi.
“Dia menerima kamu karena sedang bahagia.”
Semua langsung menoleh ke Nayla.
Nayla hampir tersedak minumnya.
“Ridwan!”
Ridwan mengangkat bahu.
“Saya hanya observasi.”
Iskandar tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya,
ia melihat Nayla tertawa di tengah lingkaran sahabatnya
seolah perempuan itu sudah lama menjadi bagian dari hidup mereka.
Padahal baru beberapa hari.
Namun beberapa orang memang datang
bukan untuk terasa baru.
Mereka datang
seperti seseorang yang diam, diam sudah lama ditunggu.
Di sela tawa,
Iskandar memperhatikan Nayla.
Bagaimana perempuan itu tersenyum.
Bagaimana matanya kembali hidup.
Bagaimana untuk sesaat,
bayangan Aldebar tak lagi terlihat di wajahnya.
Dan malam itu,
di tengah ramainya Jalan Jenderal A. Yani,
di antara lampu toko dan aroma kopi,
Iskandar mulai mengerti satu hal:
kadang cinta tidak datang seperti badai.
Kadang ia datang seperti kota kecil di malam hari.
Pelan.
Hangat.
Dan tanpa sadar,
menjadi tempat yang ingin kita pulangi.
Namun saat Nayla bangkit hendak ke meja kasir,
ponselnya yang terletak di meja tiba, tiba menyala.
Satu pesan masuk.
Dari nomor yang tidak disimpan.
Hanya satu kalimat pendek.
“Kamu belum cerita semuanya ke dia.”
Wajah Nayla langsung berubah.
Tangan yang tadi memegang gelas
perlahan gemetar.
Iskandar yang duduk di sampingnya langsung menyadari.
“Nayla?”
Nayla menatap layar ponsel.
Wajahnya perlahan pucat.
Dan di tengah tawa sahabat, sahabat yang masih
terdengar,
malam yang tadi terasa hangat
kembali berubah dingin.
BAB 17
Pesan di Tengah
Keramaian
Suara tawa di warung kopi Jalan Jenderal A. Yani
masih terdengar.
Edo masih berdebat soal siapa yang harus membayar.
Sahrul bersikeras bahwa orang yang paling banyak bicara seharusnya yang
traktir.
Rara hanya menggeleng sambil tertawa.
Ridwan tetap tenang seperti biasa.
Anggun sibuk mengaduk kopi yang sebenarnya sudah dingin.
Semua tampak biasa.
Semua tampak hangat.
Namun di sisi meja yang lain,
dunia Nayla mendadak berhenti.
Di layar ponselnya hanya ada satu kalimat.
“Kamu belum cerita semuanya ke dia.”
Nomor tidak dikenal.
Tanpa nama.
Tanpa penjelasan.
Tapi Nayla tahu siapa yang mengirimnya.
Aldebar.
Tangannya perlahan gemetar.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi,
Iskandar melihat ketakutan yang jauh lebih besar
daripada saat mereka bertemu di pasar.
Bukan takut karena dikejar.
Melainkan takut karena sesuatu yang disimpan
tak lagi bisa terus disembunyikan.
“Nayla?”
Suara Iskandar pelan.
Nayla buru, buru mematikan layar.
Terlambat.
Iskandar sudah melihat perubahan wajahnya.
“Tidak apa, apa,” kata Nayla cepat.
Iskandar menatapnya.
Lama.
Lalu berkata pelan,
“Kalau wajah kamu lebih pucat sedikit lagi, Edo bisa pingsan karena merasa
saingannya bukan manusia.”
Edo yang mendengar dari ujung meja langsung menoleh.
“Siapa saingan saya?”
Sahrul menepuk bahunya.
“Kesadaran.”
Semua tertawa.
Termasuk Nayla,
meski hanya sebentar.
Dan Iskandar sadar:
bahkan saat Nayla mencoba tersenyum,
matanya masih menyimpan sesuatu yang belum selesai.
“Aku ke luar sebentar.”
Nayla berdiri.
Iskandar refleks ikut berdiri.
“Mau ditemani?”
Nayla menggeleng pelan.
“Sebentar saja.”
Namun baru beberapa langkah,
Rara menatap Iskandar.
“Pergi.”
Iskandar menoleh.
“Kenapa?”
Rara menatap lurus.
“Karena dari tadi dia terlihat kuat.”
“Padahal sebenarnya tidak.”
Iskandar diam.
Ridwan menambahkan singkat,
“Kadang orang tidak bilang minta ditemani.”
“Tapi berharap kamu tetap datang.”
Edo mengangguk.
“Lihat?”
“Bahkan saya tahu itu.”
Sahrul langsung menatap.
“Mustahil.”
Edo menunjuk dada.
“Hati saya sensitif.”
“Tidak,” jawab Anggun datar.
“Kamu hanya kepo.”
Nayla yang hampir sampai pintu
sempat tersenyum kecil mendengar itu.
Dan Iskandar tahu,
sahabat, sahabatnya memang sering berisik,
tapi malam ini,
mereka tidak salah.
Di luar warung,
udara malam masih dingin oleh sisa hujan.
Lampu toko di sepanjang Jalan Jenderal A. Yani
memantulkan cahaya di jalan basah.
Beberapa motor lewat pelan.
Warung kaki lima masih ramai.
Orang, orang duduk di trotoar sambil minum kopi.
Kota kecil itu tetap hidup,
meski malam makin larut.
Nayla berdiri di dekat tiang lampu,
memandang layar ponselnya yang gelap.
Ia tahu Iskandar datang bahkan sebelum mendengar
langkahnya.
“Katanya sebentar.”
Iskandar berdiri di sampingnya.
Nayla tersenyum tipis.
“Kamu memang tidak bisa diam ya?”
“Tidak kalau soal kamu.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Terlalu jujur.
Dan membuat Nayla tak langsung sanggup menatapnya.
“Dia masih menghubungi kamu?”
Iskandar bertanya pelan.
Nayla diam beberapa saat.
Lalu mengangguk.
“Kenapa?”
Nayla menghela napas.
Karena ia tahu,
cepat atau lambat,
malam ini memang akan sampai pada titik itu.
“Karena dia takut.”
“Takut kehilangan?”
Nayla menatap lampu jalan.
Lalu menjawab lirih.
“Takut rahasia saya sampai ke orang lain.”
Iskandar menoleh.
“Rahasia?”
Nayla menggigit bibir bawahnya pelan.
Di kejauhan,
suara klakson mobil terdengar.
Lampu toko kelontong di seberang berkedip.
Aroma roti bakar dari gerobak kecil lewat bersama angin.
Malam Kuala Kapuas tetap indah.
Namun di dalam hati Nayla,
semuanya terasa seperti di tepi jurang.
“Kalau saya cerita…”
Suara Nayla nyaris seperti bisikan.
“Kamu mungkin akan mengerti kenapa dia bilang kamu bisa
pergi.”
Iskandar tidak langsung menjawab.
Ia hanya berdiri di sana.
Menunggu.
Dan bagi Nayla,
sikap itu justru jauh lebih menenangkan
daripada semua kalimat penghiburan.
Karena Iskandar tidak memaksa.
Ia hanya hadir.
Nayla akhirnya mengangkat wajah.
Mata mereka bertemu.
“Aldebar bukan hanya mantan saya.”
Iskandar diam.
Nayla menarik napas panjang.
Lalu mengucapkan kalimat yang selama ini
selalu terasa terlalu berat untuk keluar.
“Dia tunangan saya.”
Dunia seolah mendadak sunyi.
Bukan karena jalanan berhenti.
Bukan karena kota berubah.
Tapi karena bagi Iskandar,
semua suara mendadak menjauh.
Hanya tersisa satu kalimat itu.
Dia tunangan saya.
Beberapa detik,
Iskandar tidak berkata apa, apa.
Nayla menunduk.
Ia sudah tahu.
Sudah menduga.
Sudah menyiapkan kemungkinan terburuk.
Bahwa laki, laki di depannya
mungkin akan mundur sekarang.
Bahwa semua yang mulai tumbuh
mungkin berhenti malam ini.
Bahwa mungkin Aldebar benar,
tidak semua orang siap tinggal
setelah tahu kenyataannya.
“Apa kamu masih mencintainya?”
Pertanyaan Iskandar pelan.
Tidak marah.
Tidak menuduh.
Tidak menyakitkan.
Justru itu yang membuat Nayla hampir menangis.
Ia menggeleng.
Pelan.
“Tidak.”
“Yang saya takutkan bukan kehilangan dia.”
“Lalu?”
Nayla menatapnya.
Air mata perlahan jatuh lagi.
“Yang saya takutkan…”
“kamu melihat saya berbeda.”
Kalimat itu membuat dada Iskandar sesak.
Karena di balik semua rahasia itu,
ternyata yang Nayla takutkan bukan masa lalunya.
Tapi kehilangan dirinya.
Iskandar menatap Nayla lama.
Lalu perlahan,
ia mengulurkan tangan.
Menghapus satu tetes air mata di pipi Nayla.
Sangat pelan.
Sangat hati, hati.
Seolah Nayla adalah sesuatu yang terlalu rapuh untuk disakiti lagi.
Nayla membeku.
Dan dengan suara yang hampir tenggelam oleh malam,
Iskandar berkata,
“Saya memang melihat kamu berbeda.”
Nayla menahan napas.
Dan untuk sesaat,
hatinya terasa jatuh.
Sampai Iskandar melanjutkan.
“Bukan lebih buruk.”
“Justru lebih berani dari yang saya kira.”
Mata Nayla langsung basah.
Karena kadang,
yang menyembuhkan seseorang
bukan ketika masa lalunya diterima.
Tapi ketika luka yang dibawanya
tidak membuat orang lain pergi.
Dari dalam warung,
Edo mengintip dari balik kaca.
“Wah.”
“Ini serius banget.”
Sahrul ikut mengintip.
“Jangan ganggu.”
Ridwan menyeruput kopi.
“Untuk pertama kalinya dalam hidup…”
“Edo tahu kapan harus diam.”
Edo menoleh.
“Saya tersentuh.”
Anggun menghela napas.
“Jangan rusak momen.”
Dan di bawah lampu jalan Jenderal A. Yani,
di tengah ramainya kota kecil yang tak pernah benar, benar tidur,
dua orang yang sama, sama terluka
mulai menyadari,
kadang cinta datang bukan untuk menghapus masa lalu.
Kadang cinta datang
untuk tetap tinggal
meski sudah tahu semuanya.
BAB 18
Rumah di Jalan Trans
Malam di Jalan Jenderal A. Yani masih ramai.
Lampu pertokoan memantul di jalan yang basah.
Suara motor sesekali melintas.
Warung kopi di trotoar masih penuh.
Dan dari balik kaca warung, sahabat, sahabat Iskandar masih pura, pura tidak
memperhatikan,
meski sebenarnya semua mata sesekali melirik ke arah mereka.
Namun bagi Nayla,
dunia malam itu terasa jauh lebih sunyi.
Karena setelah sekian lama,
akhirnya ada seseorang
yang tidak mundur setelah tahu sebagian dari hidupnya.
Dan itu justru membuat hatinya jauh lebih takut.
“Aku harus pulang.”
Suara Nayla pelan.
Iskandar menatapnya.
“Sekarang?”
Nayla mengangguk.
“Kalau terlalu malam, Mama pasti khawatir.”
“Mama tahu kamu keluar?”
“Tahu.”
Nayla tersenyum kecil.
“Tapi Mama tidak tahu saya pulang dengan cerita serumit ini.”
Iskandar menatapnya beberapa detik.
Lalu bertanya pelan,
“Mau saya antar?”
Nayla sempat diam.
Lalu mengangguk pelan.
Dan jawaban sederhana itu,
entah kenapa,
terasa lebih dalam daripada yang terlihat.
Beberapa menit kemudian,
motor Iskandar melaju meninggalkan pusat kota.
Mereka melewati kawasan menuju jalan trans arah
Mantangai, jalan yang menghubungkan pusat pemerintahan dengan wilayah luar
kota.
Malam semakin tenang di kawasan itu.
Di sisi kiri jalan tampak kompleks perumahan
yang tertata rapi.
Di kejauhan berdiri megah kawasan Kantor Bupati Kapuas, lampunya masih
menyala redup meski aktivitas kantor sudah selesai.
Beberapa kendaraan dinas terparkir.
Pohon, pohon di tepi jalan bergoyang pelan tertiup angin malam.
Wilayah itu berbeda dari pusat kota.
Lebih tenang.
Lebih teduh.
Dan terasa seperti tempat orang, orang pulang.
Nayla duduk di belakang Iskandar tanpa banyak bicara.
Namun kali ini,
tangannya tidak hanya memegang ujung kemeja Iskandar.
Tangannya perlahan melingkar di sisi pinggangnya.
Iskandar hampir kehilangan fokus.
Bukan karena jalan.
Bukan karena malam.
Tapi karena sentuhan kecil itu terasa seperti
kepercayaan
yang diberikan pelan, pelan.
“Kamu diam.”
Suara Nayla terdengar pelan dari belakang.
Iskandar tersenyum.
“Saya sedang berusaha tetap sadar.”
“Kenapa?”
“Karena kalau begini terus, saya bisa lupa jalan
pulang.”
Nayla tertawa kecil.
“Ternyata kamu masih sempat bercanda.”
“Kalau saya serius terus, kamu takut.”
Nayla diam beberapa detik.
Lalu berbisik pelan,
“Mungkin sekarang tidak.”
Iskandar tidak menjawab.
Namun malam itu,
jalan menuju rumah Nayla terasa jauh lebih pendek
daripada yang seharusnya.
Mereka berhenti di sebuah rumah sederhana namun asri,
di kawasan perumahan depan jalur menuju kantor pemerintahan.
Pagar putih kecil.
Halaman dengan tanaman bunga.
Lampu teras menyala hangat.
Dan suara televisi samar terdengar dari dalam rumah.
Rumah itu tidak besar.
Namun terasa damai.
Nayla turun perlahan dari motor.
Lalu menatap rumahnya.
“Ini rumah saya.”
Iskandar mengangguk.
“Bagus.”
Nayla tersenyum kecil.
“Mama bilang rumah tidak harus besar.”
“Asal nyaman untuk pulang.”
Kalimat itu membuat Iskandar diam.
Karena entah kenapa,
malam ini banyak hal sederhana dari Nayla
yang terasa terlalu dalam.
Belum sempat Nayla membuka pagar,
pintu rumah terbuka.
Seorang perempuan paruh baya keluar ke teras.
Wajahnya lembut.
Sorot matanya hangat.
Namun tetap penuh ketegasan khas seorang ibu.
“Mama belum tidur?” tanya Nayla.
Perempuan itu menatap Nayla.
Lalu matanya berpindah pada Iskandar.
Beliau tersenyum kecil.
“Kalau anak perempuan belum pulang, ibu mana bisa
tidur?”
Nayla tersenyum salah tingkah.
“Ma...”
Perempuan itu turun satu langkah ke teras.
“Mama pikir tadi hujan deras.”
“Ternyata yang datang malah tamu.”
Wajah Nayla langsung memerah.
“Ma, ini...”
Iskandar segera turun dari motor.
Merapikan jaket.
Lalu menunduk sopan.
“Malam, Bu.”
“Saya Iskandar.”
Ibu Nayla menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum ramah.
“Saya ibunya Nayla.”
“Silakan jangan berdiri di pagar seperti orang mau melamar mendadak.”
Nayla langsung menutup wajah.
“Mama!”
Iskandar nyaris tersedak oleh napasnya sendiri.
Dan dari dalam rumah,
terdengar suara laki, laki paruh baya.
“Siapa, Mah?”
Seorang pria keluar sambil memakai kacamata baca.
Wajah tenang.
Sorot matanya tajam namun bersahabat.
Ayah Nayla.
Beliau memandang Iskandar.
Lalu menoleh ke Nayla.
Lalu kembali ke Iskandar.
“Malam, malam begini antar anak saya?”
“Berarti orang baik...”
“atau nekat.”
Nayla langsung menghela napas.
“Papa…”
Iskandar tersenyum gugup.
“Mungkin dua, duanya, Pak.”
Hening dua detik.
Lalu ayah Nayla tertawa kecil.
“Bagus.”
“Setidaknya jujur.”
Nayla menatap kedua orang tuanya.
“Mama, Papa, jangan begitu.”
Ibunya tersenyum.
“Kami hanya ingin tahu siapa yang membuat anak kami pulang sambil tersenyum.”
Nayla langsung terdiam.
Karena ia baru sadar,
sepanjang perjalanan pulang,
ia memang tersenyum.
Dan itu rupanya terlihat.
Ayah Nayla menatap Iskandar.
“Kamu kerja di mana, Nak?”
“Di Kuala Kapuas juga, Pak.”
“Rumah?”
“Di jalan Jendral A. Yani, Pak.”
Ayah Nayla mengangguk pelan.
“Teman lama?”
Iskandar menoleh ke Nayla.
Lalu tersenyum kecil.
“Belum lama kenal, Pak.”
Ibunya langsung menimpali lembut,
“Kalau belum lama tapi sudah diantar sampai rumah...”
“biasanya hati yang duluan kenal.”
“Ma!”
Nayla benar, benar ingin menghilang malam itu.
Iskandar menunduk,
menahan senyum yang tidak bisa lagi disembunyikan.
Namun beberapa detik kemudian,
ibu Nayla menatap putrinya lebih lama.
Senyumnya perlahan memudar.
“Nayla.”
Nada suaranya berubah lembut.
“Kamu menangis?”
Nayla langsung terdiam.
Iskandar ikut menegang.
Ayah Nayla menatap lebih serius.
“Kenapa?”
Malam yang tadinya hangat
mendadak berubah pelan.
Karena untuk pertama kalinya,
kedua orang tua Nayla melihat sesuatu
yang selama ini berusaha disembunyikan putrinya—
bahwa di balik senyum malam itu,
masih ada luka
yang belum benar, benar selesai.
Nayla menunduk.
“Tidak apa, apa, Ma.”
Ibunya melangkah mendekat.
“Mama tahu wajah anak Mama.”
Ayahnya ikut berdiri diam.
Tatapan beliau bergeser pada Iskandar.
Bukan curiga.
Tapi penuh pertanyaan.
Iskandar merasa dadanya mendadak berat.
Karena ia sadar,
malam ini bukan hanya tentang dirinya dan Nayla lagi.
Melainkan tentang sebuah keluarga
yang mulai melihat
bahwa hati anak perempuan mereka
sedang berada
di persimpangan yang baru.
BAB 19
Di Teras yang Tenang
Udara malam di kawasan jalan trans arah Mantangai
terasa lebih sunyi dibanding pusat kota.
Lampu halaman rumah, rumah memantulkan cahaya lembut di
jalan yang masih basah oleh sisa hujan. Dari kejauhan, bangunan Kantor
Bupati Kapuas berdiri tenang dalam gelap malam, seperti penjaga bisu yang
menyaksikan setiap orang pulang pada hidupnya masing, masing.
Namun di teras rumah Nayla,
malam justru terasa semakin berat.
Karena satu hal sederhana yang tidak bisa disembunyikan
seorang ibu:
mata anaknya yang habis menangis.
“Nayla.”
Ibunya menatap lembut.
“Kamu kenapa?”
Nayla menunduk.
Jari, jarinya menggenggam tali tasnya erat.
“Tidak apa, apa, Ma.”
Kalimat itu terlalu cepat.
Terlalu biasa.
Dan justru karena itu,
terdengar seperti kebohongan yang sudah sering diucapkan.
Ayah Nayla yang sejak tadi diam akhirnya bicara.
“Kalau memang tidak apa, apa…”
“kenapa suara kamu seperti orang menahan sesuatu?”
Nayla terdiam.
Iskandar berdiri sedikit canggung di dekat motor.
Ia merasa seperti masuk ke halaman cerita yang belum sepenuhnya ia pahami.
Namun pergi saat itu juga juga terasa salah.
Dan seolah memahami itu,
ibunda Nayla menoleh padanya.
“Iskandar…”
“Ya, Bu?”
“Masuk dulu.”
“Jangan berdiri di luar seperti tamu yang habis dimarahi.”
Nayla langsung menoleh.
“Ma…”
Ibunya tersenyum kecil.
“Kalau dia sudah mengantar sampai rumah, masa cuma sampai pagar.”
Ayah Nayla mengangguk pelan.
“Benar.”
“Kalau niatnya baik, pintu rumah tidak pernah tertutup.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa,
membuat dada Iskandar terasa hangat.
Beberapa menit kemudian,
mereka duduk di ruang tamu sederhana yang nyaman.
Sofa cokelat tua.
Rak buku kecil di sudut ruangan.
Foto keluarga terpajang di dinding.
Aroma teh hangat memenuhi ruangan.
Rumah itu terasa seperti rumah yang benar, benar dihuni
dengan cinta.
Bukan mewah.
Tapi penuh rasa pulang.
Iskandar duduk tegak,
sedikit terlalu sopan.
Nayla duduk di samping ibunya.
Sementara ayahnya duduk di kursi seberang,
menatap dengan tenang namun tajam.
Suasana mendadak seperti sidang keluarga.
Dan Iskandar sadar:
menghadapi Aldebar tadi ternyata jauh lebih mudah.
Ayah Nayla membuka percakapan lebih dulu.
“Jadi…”
“Iskandar kenal Nayla dari mana?”
Nayla langsung menyela.
“Papa…”
Namun ayahnya mengangkat tangan pelan.
“Papa cuma bertanya.”
Iskandar menatap Nayla sebentar.
Lalu menjawab jujur.
“Dari dermaga, Pak.”
“Dermaga?”
“Di sekitar kawasan sungai.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Romantis juga ternyata.”
Nayla memejamkan mata.
“Ma…”
Ayahnya justru bertanya datar,
“Lalu setelah itu langsung sering bertemu?”
Iskandar tersenyum tipis.
“Entah sengaja atau tidak, Pak.”
“Sepertinya kota ini terlalu kecil.”
Ayah Nayla menatap beberapa detik.
Lalu mengangguk kecil.
“Jawaban yang aman.”
Iskandar hampir tersenyum gugup.
Ibunda Nayla menatap putrinya.
“Kamu nyaman dengan dia?”
Nayla terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun bagi Nayla,
jawabannya jauh lebih rumit.
Karena nyaman,
adalah sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Nayla menoleh pada Iskandar.
Lalu menjawab pelan.
“Iya.”
Hanya satu kata.
Namun cukup membuat seluruh ruangan ikut diam.
Karena ibu Nayla melihat cara putrinya menjawab.
Ayah Nayla melihat cara Iskandar menatap putrinya.
Dan Iskandar sendiri baru sadar,
betapa besar arti jawaban sederhana itu.
Ibunya menggenggam tangan Nayla.
“Sudah lama Mama tidak lihat kamu pulang setenang ini.”
Nayla menunduk.
Ayah Nayla menatap putrinya lebih dalam.
Lalu suaranya melembut.
“Aldebar datang lagi?”
Ruangan mendadak sunyi.
Iskandar menoleh pada Nayla.
Nayla tidak langsung menjawab.
Namun mata yang perlahan basah itu
sudah cukup memberi jawaban.
Ibunya menghela napas panjang.
Sedih.
Lelah.
Namun bukan terkejut.
Seolah mereka sudah lama tahu
hari seperti ini akan datang.
“Dia mengikuti saya malam ini,” kata Nayla pelan.
Ibunya memejamkan mata.
Ayahnya menunduk sebentar.
Lalu ayah Nayla menatap Iskandar.
“Dan kamu ada di sana?”
Iskandar mengangguk.
“Iya, Pak.”
“Dia membuat masalah?”
“Tidak sampai begitu.”
Iskandar berhenti sebentar.
“Tapi Nayla ketakutan.”
Kalimat itu membuat ibunda Nayla menggenggam tangan
anaknya lebih erat.
Karena terkadang,
hal paling menyakitkan bagi orang tua
bukan melihat anaknya menangis.
Tapi mengetahui anaknya sudah terlalu sering menangis
sendirian.
Ibunya menatap Nayla.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Nayla tersenyum pahit.
“Karena Mama sudah terlalu banyak khawatir.”
“Nak,” suara ibunya lembut,
“orang tua memang diciptakan untuk khawatir.”
Ayah Nayla mengangguk.
“Yang tidak kami mau…”
“adalah kamu memikul semuanya sendirian.”
Nayla akhirnya menunduk.
Air matanya jatuh lagi.
Dan malam itu,
untuk pertama kalinya,
bukan hanya di depan Iskandar,
Nayla juga mulai jujur
di depan rumahnya sendiri.
Iskandar duduk diam.
Ia merasa seperti menjadi saksi
sesuatu yang sangat pribadi.
Namun ketika Nayla menangis,
tanpa sadar matanya bertemu dengan Iskandar.
Dan yang membuat Nayla terdiam adalah:
Iskandar tidak terlihat tidak nyaman.
Tidak terlihat ragu.
Ia hanya menatapnya dengan cara yang sama seperti tadi,
tetap tinggal.
Ayah Nayla akhirnya menatap Iskandar.
“Kalau boleh saya bertanya satu hal.”
“Silakan, Pak.”
Ayah Nayla menatap lurus.
“Kamu tahu keadaan Nayla belum sederhana.”
“Lalu kenapa masih mau ada di dekat dia?”
Nayla langsung menoleh.
Ibunya ikut diam.
Dan untuk pertama kalinya,
seluruh ruangan menunggu jawaban Iskandar.
Iskandar sempat terdiam.
Bukan karena tidak tahu.
Tapi karena untuk pertama kalinya,
ia harus mengucapkan sesuatu
yang bahkan belum sempat ia akui sepenuhnya pada dirinya sendiri.
Ia menatap Nayla.
Lalu menjawab pelan.
“Karena sejak saya kenal Nayla…”
“saya merasa kalau saya mundur sekarang…”
“saya akan menyesal seumur hidup.”
Ruangan hening.
Nayla menahan napas.
Ibunya perlahan tersenyum.
Dan ayah Nayla menatap Iskandar cukup lama.
Sampai akhirnya beliau berkata singkat,
“Jawaban berbahaya.”
Iskandar menelan ludah.
“Kenapa, Pak?”
Ayah Nayla bersandar pelan.
Lalu menatap putrinya.
“Karena biasanya…”
“laki, laki yang bicara seperti itu…”
“benar, benar serius.”
Nayla menunduk,
menyembunyikan pipi yang mulai memerah.
Namun sebelum suasana menjadi terlalu hangat,
ponsel Nayla kembali bergetar di atas meja.
Satu pesan baru masuk.
Kali ini dari nomor yang sama.
Dan ketika layar menyala,
semua orang di ruangan melihatnya.
“Besok pagi aku datang. Kita harus selesaikan
semuanya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ibu Nayla memucat.
Ayah Nayla menatap layar.
Iskandar menegang.
Dan untuk pertama kalinya,
malam di rumah yang tadi terasa hangat
berubah menjadi awal dari sesuatu
yang tak bisa lagi dihindari.
BAB 20
Pagi yang Datang
Terlalu Cepat
Malam di rumah Nayla yang semula hangat mendadak
berubah dingin.
Tak ada lagi suara canda.
Tak ada lagi senyum kecil yang sejak tadi perlahan tumbuh.
Yang tersisa hanya cahaya layar ponsel di atas meja
dan satu kalimat yang terasa seperti ancaman.
“Besok pagi aku datang. Kita harus selesaikan
semuanya.”
Suasana ruang tamu seketika membeku.
Ibunda Nayla menatap putrinya dengan wajah cemas.
Ayah Nayla menghela napas panjang sambil melepas kacamata.
Sementara Iskandar duduk diam,
merasakan sesuatu yang sejak tadi pelan, pelan tumbuh—
akhirnya berubah menjadi konflik yang nyata.
Karena malam itu,
masa lalu Nayla tidak lagi hanya mengintai dari kejauhan.
Masa lalu itu
akan datang ke rumahnya sendiri.
“Apa maksudnya ini?”
Suara ayah Nayla tenang.
Namun justru itu yang membuat Nayla tahu,
beliau sedang menahan banyak hal.
Nayla menunduk.
Jarinya gemetar kecil.
“Papa…”
Ayahnya menatap lembut,
namun tegas.
“Papa tanya baik, baik.”
“Dia mau datang untuk apa?”
Nayla menggigit bibir bawahnya.
Lalu dengan suara pelan,
ia berkata,
“Aldebar tidak mau menerima pembatalan pertunangan.”
Ruangan seketika sunyi.
Iskandar menoleh cepat.
Meskipun ia sudah tahu Aldebar adalah tunangan Nayla,
mendengar kata pembatalan
membuat semuanya terasa jauh lebih rumit.
Ibunya memegang tangan Nayla.
“Sudah sejauh itu?”
Air mata Nayla jatuh pelan.
“Iya, Ma.”
Ayah Nayla berdiri perlahan.
Beliau berjalan ke jendela,
memandang halaman rumah yang basah.
Dari luar terdengar suara malam yang pelan.
Angin.
Daun bergerak.
Dan kota yang masih terjaga dalam diam.
“Nayla.”
Beliau tetap membelakangi.
“Kenapa kamu tidak cerita dari awal?”
Nayla menatap punggung ayahnya.
Karena untuk pertama kalinya,
ia mendengar nada kecewa dalam suara itu.
Bukan marah.
Lebih menyakitkan dari itu.
Kecewa karena anaknya memilih memikul semuanya sendiri.
“Karena Nayla pikir bisa selesai sendiri.”
Ayahnya menutup mata sebentar.
Lalu berbalik.
“Tidak semua luka harus kamu hadapi sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun Nayla justru menangis lebih keras.
Karena kadang,
yang paling menyakitkan
bukan masa lalu yang datang kembali,
melainkan sadar bahwa selama ini
ia terlalu lama diam.
Iskandar duduk tanpa banyak bicara.
Ia tahu ini bukan tempatnya mengambil alih.
Bukan waktunya menjadi pahlawan.
Namun ketika Nayla menangis,
naluri dalam dirinya berkata sebaliknya.
Ia ingin berdiri.
Ingin berkata sesuatu.
Ingin melindungi.
Tapi ia juga tahu,
beberapa perang
harus tetap menjadi milik keluarga.
Ibunda Nayla menatap Iskandar pelan.
“Maaf kamu jadi ikut melihat semua ini.”
Iskandar segera menggeleng.
“Tidak apa, apa, Bu.”
Ayah Nayla menoleh padanya.
Tatapan beliau tenang,
namun kini lebih serius.
“Kamu tahu apa yang sedang kamu masuki?”
Pertanyaan itu langsung menghantam dada Iskandar.
Karena jujur,
jawabannya:
belum sepenuhnya.
Namun ia tahu satu hal.
Ia menatap Nayla.
Lalu berkata pelan,
“Saya tahu Nayla tidak seharusnya menghadapi ini
sendirian.”
Ayah Nayla menatapnya cukup lama.
Lalu mengangguk kecil.
Bukan karena setuju.
Tapi karena beliau mulai melihat
bahwa laki, laki di depannya
tidak datang sekadar singgah.
Namun justru itu yang membuat Nayla panik.
“Tidak.”
Semua menoleh padanya.
Nayla berdiri.
Wajahnya pucat.
“Iskandar tidak boleh ikut.”
Iskandar mengernyit.
“Kenapa?”
Nayla menatapnya dengan mata basah.
“Karena ini masalah saya.”
“Dan Aldebar bukan orang yang akan berhenti dengan tenang.”
“Justru karena itu, ”
“Tidak!”
Nada suara Nayla meninggi untuk pertama kalinya.
Semua terdiam.
Nayla sendiri terkejut mendengar suaranya.
Ia menatap Iskandar,
dan suaranya berubah lirih.
“Saya tidak mau kamu ikut terluka karena saya.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali hening.
Karena untuk pertama kalinya,
semua orang melihat dengan jelas—
ketakutan Nayla bukan hanya pada Aldebar.
Tapi pada kemungkinan
orang yang baru saja masuk ke hidupnya
ikut hancur karena dirinya.
Iskandar berdiri pelan.
“Nayla.”
Perempuan itu menggeleng.
“Jangan.”
“Kamu tidak bisa terus melindungi semua orang sendirian.”
“Dan kamu tidak harus menyelamatkan saya.”
Kalimat itu keluar cepat.
Terlalu cepat.
Dan sesaat kemudian,
wajah Nayla berubah.
Karena ia sadar,
kalimat itu terdengar seperti menolak.
Padahal sebenarnya,
yang ia rasakan justru sebaliknya.
Ia takut.
Takut Iskandar tinggal terlalu dekat.
Takut hatinya percaya.
Dan lebih takut lagi
kalau nanti Iskandar pergi.
Mata Iskandar terluka.
Sangat kecil.
Namun cukup untuk terlihat.
Dan Nayla langsung menyesal.
“Iskandar, saya bukan, ”
“Tapi saya mau.”
Nayla terdiam.
Iskandar menatapnya.
Suaranya tetap tenang.
“Saya tidak sedang mencoba menyelamatkan kamu.”
“Saya cuma tidak mau pura, pura tidak peduli.”
Nayla membeku.
Karena kadang,
yang membuat hati seseorang goyah
bukan kata “aku cinta kamu.”
Kadang justru kalimat sederhana seperti:
aku tidak bisa pura, pura tidak peduli.
Ayah Nayla memperhatikan mereka berdua.
Lalu menarik napas panjang.
“Baik.”
Semua menoleh.
“Besok pagi kalau dia datang…”
“kita hadapi bersama.”
Ibunda Nayla mengangguk pelan.
Nayla menatap ayahnya.
“Papa…”
Ayahnya menatap putrinya.
“Sudah cukup.”
“Papa tidak mau kamu takut di rumah sendiri.”
Kalimat itu membuat Nayla menangis lagi.
Karena untuk pertama kalinya,
ia tidak lagi merasa sendirian.
Malam semakin larut.
Jam dinding menunjukkan hampir tengah malam.
Iskandar akhirnya berdiri hendak pamit.
“Saya pulang dulu, Pak… Bu.”
Ibunda Nayla mengangguk lembut.
“Hati, hati di jalan.”
Ayah Nayla menatapnya.
“Besok datang lagi.”
Iskandar sedikit terkejut.
“Pak?”
Ayah Nayla menatap lurus.
“Kalau memang mau tetap di dekat anak saya…”
“jangan hanya hadir saat suasana mudah.”
Nayla langsung menatap ayahnya.
Iskandar diam beberapa detik.
Lalu menjawab mantap,
“Iya, Pak.”
Saat Iskandar melangkah ke teras,
Nayla menyusul ke luar.
Malam terasa sunyi.
Lampu halaman menerangi wajah mereka.
Beberapa detik,
tak ada yang bicara.
Sampai Nayla berbisik pelan,
“Maaf.”
Iskandar menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena hidup saya ternyata serumit ini.”
Iskandar tersenyum kecil.
“Kalau sederhana, mungkin saya tidak akan bertahan sejauh ini.”
Nayla hampir tertawa.
Namun matanya kembali basah.
“Kalau besok semuanya berubah…”
Iskandar memotong pelan.
“Saya datang.”
Nayla menatapnya.
“Kalau kamu bilang jangan?”
Iskandar tersenyum.
“Saya tetap datang.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
di tengah udara dingin jalan trans,
di depan rumah yang mulai dipenuhi kecemasan,
Nayla merasa sesuatu yang jauh lebih menakutkan
daripada masa lalunya sendiri,
ia mulai benar, benar berharap
pada seseorang.
BAB 21
Pagi yang Membawa
Luka Lama
Malam berlalu terlalu cepat.
Bagi Nayla,
malam itu nyaris tidak terasa seperti malam.
Ia hanya seperti jeda pendek
sebelum sesuatu yang sudah lama dihindari
akhirnya datang mengetuk pintu rumahnya sendiri.
Di luar,
langit Kuala Kapuas masih pucat ketika pagi mulai turun perlahan.
Udara di kawasan jalan trans arah Mantangai
terasa sejuk.
Embun masih menempel di daun, daun halaman.
Dari kejauhan, bangunan Kantor Bupati Kapuas tampak tenang dalam cahaya
pagi.
Beberapa kendaraan dinas mulai lewat pelan.
Kota perlahan bangun.
Namun di dalam rumah Nayla,
tak satu pun benar, benar tidur nyenyak.
Ibunda Nayla sudah duduk di meja makan sejak subuh.
Secangkir teh hangat di depannya mulai dingin.
Sesekali beliau menatap pintu.
Sesekali menatap putrinya.
Nayla duduk diam.
Wajahnya pucat.
Matanya sembab.
Tangannya sejak tadi memegang gelas yang tak pernah diminum.
Ayah Nayla membaca koran pagi,
namun halaman yang sama tak pernah dibalik.
Karena semua orang di rumah itu tahu,
mereka sedang menunggu.
“Kalau kamu tidak siap…”
ibunya berkata pelan,
“kita bisa bicara nanti saja.”
Nayla menggeleng.
“Tidak, Ma.”
Ayah Nayla menurunkan koran.
“Cepat atau lambat memang harus selesai.”
Nayla menatap ayahnya.
“Papa marah?”
Ayahnya diam beberapa detik.
Lalu menjawab jujur,
“Papa lebih sedih karena kamu menanggung semuanya
sendirian.”
Kalimat itu membuat Nayla menunduk.
Karena ternyata,
yang paling berat bukan menghadapi masa lalu.
Tapi melihat orang yang mencintainya
ikut terluka
karena diamnya sendiri.
Pukul delapan lewat sedikit.
Suara motor berhenti di depan rumah.
Nayla refleks menoleh ke jendela.
Jantungnya berdegup keras.
Namun yang turun bukan Aldebar.
Iskandar.
Dengan kemeja sederhana,
wajah sedikit tegang,
dan tatapan yang sama seperti semalam,
datang karena memang ingin tetap tinggal.
Ibunda Nayla tersenyum kecil.
“Dia benar, benar datang.”
Ayah Nayla melirik jam dinding.
“Tepat waktu.”
Nayla menatap ke luar jendela.
Dan tanpa sadar,
napasnya yang sejak tadi berat
sedikit terasa lega.
Karena seseorang benar, benar menepati janjinya.
Beberapa detik kemudian,
Iskandar berdiri di depan pintu.
“Malam—”
Ia berhenti.
Lalu tersenyum gugup.
“Eh... pagi, Pak. Bu.”
Ibunda Nayla tertawa kecil.
“Masuk dulu, Nak.”
Iskandar masuk.
Matanya langsung mencari Nayla.
Dan ketika tatapan mereka bertemu,
tak satu pun bicara.
Namun Nayla tahu,
ia tidak sendirian lagi.
“Sudah sarapan?” tanya ibunda Nayla.
Iskandar menggeleng.
“Belum, Bu.”
Ibunya langsung berdiri.
“Bagus.”
“Kalau mau ikut tegang, minimal perut jangan kosong.”
Untuk pertama kalinya pagi itu,
Nayla tersenyum kecil.
Iskandar menoleh.
Dan melihat senyum itu
membuat ia merasa datang ke rumah ini
adalah keputusan yang benar.
Belum sempat suasana mencair,
suara mobil berhenti terdengar dari depan rumah.
Kali ini berbeda.
Bukan suara motor.
Bukan suara biasa.
Mobil hitam itu.
Semua langsung diam.
Nayla membeku.
Jari, jarinya perlahan mencengkeram ujung meja.
Ibunya memegang tangan putrinya.
Ayah Nayla berdiri perlahan.
Dan Iskandar refleks menoleh ke pintu.
Karena pagi itu,
masa lalu benar, benar datang.
Pintu mobil terbuka.
Aldebar turun.
Dengan kemeja gelap.
Wajah tenang.
Namun tatapan yang masih sama,
seperti seseorang yang belum siap kehilangan.
Ia berdiri di depan pagar rumah Nayla.
Menatap ke arah pintu.
Dan untuk sesaat,
udara pagi terasa jauh lebih dingin.
“Dia berani datang juga,” gumam ayah Nayla.
Nayla berbisik pelan,
“Papa…”
Ayahnya menoleh.
“Tidak.”
“Kali ini biar Papa yang bicara.”
Beliau melangkah menuju pintu.
Namun sebelum sempat membukanya,
suara Iskandar terdengar.
“Pak.”
Ayah Nayla menoleh.
Iskandar berdiri.
Wajahnya tenang,
meski jantungnya sendiri berdetak keras.
“Kalau Bapak izinkan…”
“saya tetap di sini.”
Ayah Nayla menatapnya lama.
Lalu mengangguk kecil.
“Jangan ikut bicara kalau belum perlu.”
Iskandar mengangguk.
“Iya, Pak.”
Pintu rumah dibuka.
Udara pagi langsung masuk bersama aroma tanah basah.
Aldebar berdiri di depan.
Tatapan matanya langsung menemukan Nayla di dalam rumah.
Lalu berhenti pada Iskandar.
Sangat sebentar.
Namun cukup untuk membuat suasana berubah.
“Pagi, Om.”
Aldebar menunduk sopan pada ayah Nayla.
Ayah Nayla berdiri tegak di depan pintu.
“Pagi.”
“Kamu datang terlalu pagi untuk orang yang tidak diundang.”
Aldebar tersenyum tipis.
“Saya hanya ingin bicara.”
“Dengan siapa?”
Aldebar menatap Nayla.
“Dengan Nayla.”
Ayah Nayla tidak bergeser.
“Bicara di sini.”
Suasana langsung menegang.
Ibunda Nayla berdiri di belakang putrinya.
Iskandar berdiri beberapa langkah di samping.
Dan Nayla merasa tubuhnya kembali dingin.
Karena semua yang selama ini ia hindari
akhirnya berdiri tepat di depan rumahnya sendiri.
Aldebar menarik napas.
“Nayla.”
“Saya cuma ingin satu jawaban.”
Nayla tidak menjawab.
Aldebar melanjutkan,
“Kamu benar, benar mau membatalkan semuanya?”
Ruangan mendadak sunyi.
Tak ada suara selain detak jam dinding
dan napas yang terasa terlalu keras.
Nayla menatap pria yang dulu pernah ia percaya.
Pria yang dulu pernah ia pikir
akan menjadi rumahnya.
Namun sekarang,
yang tersisa hanya rasa lelah.
“Nayla.”
Suara Aldebar melembut.
“Lihat saya.”
Pelan,
Nayla mengangkat wajah.
Dan untuk pertama kalinya,
ia berkata tanpa gemetar.
“Iya.”
Satu kata.
Pendek.
Namun cukup untuk menghancurkan
semua yang masih tersisa di wajah Aldebar.
Aldebar terdiam.
Tatapannya berubah.
Bukan marah.
Belum.
Lebih seperti seseorang
yang baru saja mendengar
hal yang paling tidak ingin ia dengar.
Ia menatap Nayla.
Lalu suaranya berubah pelan.
“Karena dia?”
Tatapan Aldebar bergeser ke Iskandar.
Ruangan langsung terasa lebih sempit.
Dan untuk pertama kalinya,
konflik yang selama ini hanya berputar di bayangan,
akhirnya mulai mencari arah
untuk meledak.
BAB 22
Nama yang Disebut di
Pagi Hari
Pertanyaan Aldebar menggantung di ruang tamu.
“Karena dia?”
Tatapannya tajam menembus ke arah Iskandar.
Tak ada lagi nada lembut.
Tak ada lagi wajah tenang.
Yang tersisa hanya seseorang
yang mulai kehilangan kendali
karena melihat kenyataan di depan matanya.
Di belakang Iskandar,
Nayla langsung menegang.
Ibunda Nayla menggenggam tangan putrinya.
Ayah Nayla berdiri di depan pintu seperti batas terakhir
antara masa lalu dan rumah ini.
Dan Iskandar,
untuk pertama kalinya,
merasakan bahwa dirinya benar, benar sudah masuk
ke dalam cerita yang bukan miliknya sejak awal.
Namun anehnya,
ia tidak ingin mundur.
“Nayla.”
Suara Aldebar kali ini lebih berat.
“Kamu batalkan pertunangan kita…”
“karena laki, laki yang baru kamu kenal beberapa hari?”
Nayla membuka mulut,
namun Iskandar lebih dulu melangkah setengah langkah maju.
“Jangan.”
Suara Nayla cepat.
Semua menoleh.
Nayla menatap Iskandar.
Matanya memohon.
Bukan karena ia tidak ingin dibela.
Tapi karena ia tahu,
sekali Iskandar masuk lebih jauh,
semuanya akan berubah.
Dan ia belum siap melihat orang lain ikut terluka
karena dirinya.
Ayah Nayla menatap Aldebar tajam.
“Kamu datang untuk mencari jawaban.”
“Bukan mencari keributan.”
Aldebar menahan napas.
Lalu menunduk kecil.
“Maaf, Om.”
“Tapi saya berhak tahu.”
Ibunda Nayla akhirnya bicara.
“Berhak tahu apa?”
“Kalau anak saya sudah tidak bahagia?”
Aldebar menoleh pada beliau.
Wajahnya retak untuk pertama kalinya.
“Saya sayang sama Nayla, Tante.”
Nayla menutup mata.
Karena kalimat itu,
sayangnya,
adalah hal yang paling menyakitkan.
“Kadang itu masalahnya.”
Suara Nayla lirih.
Semua menoleh padanya.
Nayla mengangkat wajah.
Matanya basah,
namun kali ini suaranya jauh lebih kuat.
“Kamu selalu bilang kamu sayang.”
“Tapi kamu tidak pernah benar, benar bertanya apa saya baik, baik saja.”
Aldebar membeku.
Nayla melanjutkan,
“Semua harus sesuai cara kamu.”
“Semua harus sesuai keinginan kamu.”
“Dan setiap kali saya ingin bicara…”
“kamu selalu bilang saya terlalu sensitif.”
Ruangan menjadi sunyi.
Karena pagi itu,
untuk pertama kalinya,
semua yang selama ini hanya tinggal di dalam hati Nayla
akhirnya keluar.
Aldebar menatapnya tak percaya.
“Jadi sekarang saya yang salah?”
Nayla tertawa kecil.
Tawa yang justru terdengar lebih menyakitkan dari
tangis.
“Lihat?”
“Bahkan sekarang pun…”
“yang kamu dengar cuma tentang dirimu sendiri.”
Kalimat itu menghantam tepat di tengah ruangan.
Ibunda Nayla menunduk.
Ayah Nayla memejamkan mata pelan.
Dan Iskandar,
yang sejak tadi diam,
akhirnya benar, benar memahami,
luka Nayla bukan karena cinta yang hilang.
Tapi karena terlalu lama
tidak didengar.
Aldebar menatap Iskandar lagi.
“Dan kamu?”
“Kamu pikir kamu mengerti dia?”
Iskandar tidak langsung menjawab.
Ia menatap Nayla dulu.
Lalu berkata tenang,
“Tidak.”
Semua menoleh.
“Saya belum mengerti semuanya.”
“Tapi saya tahu satu hal.”
Aldebar menatap tajam.
“Apa?”
Iskandar menjawab pelan.
“Dia takut saat kamu datang.”
Ruangan kembali hening.
Tak ada yang menyela.
Karena kadang,
satu kalimat jujur
lebih tajam daripada seribu pembelaan.
Aldebar menatap Nayla.
Dan untuk pertama kalinya,
ia benar, benar melihat.
Bukan hanya perempuan yang ia cintai.
Tapi perempuan yang kini berdiri
dengan tubuh tegang,
mata basah,
dan jari gemetar
hanya karena dirinya hadir.
Dan itu jauh lebih menyakitkan
daripada penolakan.
“Saya tidak pernah mau bikin kamu takut.”
Suara Aldebar mengecil.
Nayla menatapnya.
“Tidak semua luka dibuat dengan niat jahat.”
Kalimat itu membuat Aldebar seperti kehilangan pijakan.
Karena untuk pertama kalinya,
ia sadar:
mencintai seseorang
tidak selalu berarti membuatnya merasa aman.
Dan mungkin selama ini,
ia terlalu sibuk mempertahankan Nayla
sampai lupa mendengarkan Nayla.
Namun rasa sadar
tidak selalu datang bersama penerimaan.
Tatapan Aldebar perlahan kembali dingin.
“Kalau begitu…”
“kenapa kamu tidak bilang dari dulu?”
Nayla menjawab lirih,
“Karena saya takut.”
“Takut apa?”
Nayla menatapnya.
Air matanya jatuh.
“Takut kamu tidak akan membiarkan saya pergi.”
Kalimat itu seperti memukul seluruh ruangan.
Ibunda Nayla menutup mulut.
Ayah Nayla mengepalkan tangan.
Dan Iskandar merasakan sesuatu dalam dadanya menegang.
Karena pagi itu,
konflik mereka bukan lagi tentang cinta.
Tapi tentang kebebasan.
Aldebar mundur setengah langkah.
Wajahnya berubah.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Lebih seperti seseorang
yang baru sadar
bahwa orang yang dicintainya
ternyata selama ini merasa terpenjara.
Ia tertawa kecil.
Namun tawanya kosong.
“Jadi selama ini…”
“kamu cuma bertahan karena takut?”
Nayla tidak menjawab.
Karena diamnya
sudah menjadi jawaban paling jujur.
Beberapa detik,
tak ada yang bergerak.
Lalu Aldebar menatap Iskandar.
“Dan kamu.”
“Kamu pikir setelah ini semuanya selesai?”
Iskandar menatap balik.
“Tidak.”
Aldebar sedikit terkejut.
Iskandar melanjutkan,
“Saya tahu ini tidak sederhana.”
“Tapi saya juga tahu…”
“dia berhak tenang.”
Aldebar menatapnya lama.
Dua laki, laki berdiri saling berhadapan.
Bukan hanya karena perempuan yang sama.
Tapi karena cara yang berbeda
dalam mencintai perempuan itu.
Satu ingin memiliki.
Satu hanya ingin menjaga.
Aldebar tersenyum tipis.
Namun kali ini,
senyumnya menyimpan sesuatu yang membuat udara berubah.
“Kalau begitu…”
“jaga dia baik, baik.”
Nayla mengernyit.
Ibunya ikut menatap.
Tapi sebelum siapa pun sempat bicara,
Aldebar menoleh pada Nayla.
Lalu berkata sangat pelan,
“Karena tidak semua yang kamu tahu tentang saya…”
“adalah hal paling buruk yang belum kamu hadapi.”
Wajah Nayla langsung pucat.
Iskandar menoleh cepat.
“Nayla?”
Namun Aldebar sudah berbalik.
Melangkah keluar rumah.
Masuk ke mobilnya.
Dan beberapa detik kemudian,
mobil hitam itu pergi meninggalkan halaman.
Meninggalkan keheningan.
Meninggalkan luka lama.
Dan meninggalkan satu kalimat
yang membuat Nayla gemetar.
“Nayla.”
Suara Iskandar pelan.
Namun Nayla tidak menjawab.
Karena di balik kalimat terakhir Aldebar,
ada sesuatu yang hanya Nayla yang mengerti.
Sesuatu yang selama ini
belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Dan pagi itu,
tepat ketika satu konflik seolah selesai,
konflik yang lain
justru mulai terbuka.
BAB 23
Rahasia yang Belum
Selesai
Suara mobil Aldebar menghilang perlahan dari halaman
rumah.
Namun kalimat terakhirnya
masih tertinggal di udara seperti bayangan yang tidak ikut pergi.
“Tidak semua yang kamu tahu tentang saya adalah hal
paling buruk yang belum kamu hadapi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Tak ada yang bergerak.
Tak ada yang bicara.
Hanya suara jam dinding
yang terdengar jauh lebih keras dari biasanya.
Dan di tengah ruang tamu itu,
Nayla berdiri membeku.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
“Nayla.”
Ibunya berdiri cepat.
“Mama…”
Namun sebelum sempat menyentuh putrinya,
lutut Nayla melemah.
Tubuhnya hampir jatuh
kalau Iskandar tidak lebih dulu menahan bahunya.
“Nayla!”
Suara Iskandar panik.
Nayla memejamkan mata.
Napasnya tidak beraturan.
Tangannya dingin.
Bukan karena Aldebar pergi.
Tapi karena satu kalimat itu
membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat.
Pintu yang tidak pernah benar, benar ia ceritakan.
Ibunda Nayla langsung memegang wajah anaknya.
“Nayla, lihat Mama.”
Ayah Nayla berdiri kaku.
Wajah beliau yang biasanya tenang
akhirnya memperlihatkan kecemasan yang nyata.
“Bawa duduk dulu.”
Iskandar membantu Nayla duduk di sofa.
Tangannya masih gemetar.
Dan untuk pertama kalinya,
Iskandar merasa takut
bukan karena seseorang datang mengganggu.
Tapi karena ia sadar,
masih ada bagian dari Nayla
yang belum ia tahu.
Dan bagian itu
jauh lebih gelap dari yang ia bayangkan.
Beberapa menit,
tak seorang pun bicara.
Ibunda Nayla mengusap punggung putrinya.
Ayah Nayla berdiri di dekat jendela.
Iskandar duduk tak jauh,
menunggu.
Karena kadang,
diam adalah satu, satunya cara
untuk memberi seseorang ruang
agar berani bicara.
Akhirnya Nayla membuka mata.
Air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini bukan tangis seperti semalam.
Tangis ini lebih tua.
Lebih dalam.
Lebih lama disimpan.
“Ada apa?”
Suara Iskandar pelan.
Nayla menoleh.
Matanya merah.
Tatapannya kosong.
Ia menatap ibunya.
Lalu ayahnya.
Lalu kembali ke Iskandar.
Dan dengan suara nyaris berbisik,
ia berkata,
“Aldebar tahu sesuatu tentang saya.”
Ayah Nayla langsung menoleh.
Wajah beliau berubah.
Ibunda Nayla menggenggam tangan Nayla lebih erat.
“Nak…”
Nayla menutup mata.
Dan Iskandar sadar:
kedua orang tua Nayla tahu.
Atau setidaknya,
mereka tahu sebagian.
“Papa…”
Suara Nayla pecah.
“Sudah waktunya ya?”
Ayah Nayla memejamkan mata.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Satu kata itu
membuat dada Iskandar terasa berat.
Karena untuk pertama kalinya,
ia melihat:
bahkan orang tua Nayla
sudah lama hidup
dengan rahasia yang sama.
Iskandar menatap Nayla.
“Rahasia apa?”
Nayla menunduk.
Tangannya gemetar di pangkuan.
“Saya pernah...”
ia berhenti,
seolah kata, kata itu terlalu berat.
Ibunya mengusap bahunya lembut.
“Tidak apa, apa.”
Nayla menarik napas panjang.
Lalu akhirnya berkata,
“Tiga tahun lalu…”
“saya pernah hampir menikah dengan Aldebar.”
Iskandar terdiam.
Ia memang tahu mereka bertunangan.
Tapi ada sesuatu dari cara Nayla mengatakannya
yang membuat ia tahu,
itu belum semuanya.
“Seminggu sebelum akad…”
Suara Nayla bergetar.
“Saya kehilangan bayi.”
Ruangan mendadak sunyi total.
Iskandar membeku.
Ibunda Nayla menangis pelan.
Ayah Nayla menunduk,
seolah luka lama itu
masih sama menyakitkannya.
Dan Iskandar,
yang sejak tadi merasa sudah memahami sebagian hidup Nayla,
akhirnya sadar,
ia baru menyentuh permukaannya.
Nayla menatap kosong ke depan.
“Waktu itu…”
“Saya bahkan belum sempat memberi tahu banyak orang.”
Air matanya jatuh tanpa suara.
“Hanya keluarga.”
“Dan Aldebar.”
Iskandar tidak bergerak.
Karena beberapa luka
tidak bisa langsung disentuh dengan kata, kata.
“Saya pikir setelah itu…”
Nayla tersenyum pahit.
“semuanya akan berubah.”
Ibunya menutup mulut menahan tangis.
Nayla melanjutkan,
“Dan memang berubah.”
“Tapi bukan menjadi lebih baik.”
Iskandar menatapnya.
“Aldebar berubah?”
Nayla mengangguk.
“Awalnya dia baik.”
“Sangat baik.”
“Terlalu baik.”
Ia tertawa kecil.
Tawa yang nyaris menyakitkan.
“Lalu rasa bersalah itu pelan, pelan berubah.”
“Menjadi apa?” tanya Iskandar pelan.
Nayla menatapnya.
“Menjadi cara untuk menahan saya tetap tinggal.”
Ruangan terasa semakin berat.
“Dia selalu bilang…”
suara Nayla mengecil,
“saya tidak boleh pergi.”
“Karena kami sama, sama kehilangan.”
“Karena kalau saya pergi…”
“berarti semua rasa sakit itu sia, sia.”
Iskandar mengepalkan tangan.
Karena ia mulai mengerti.
Bukan kekerasan.
Bukan bentakan.
Bukan luka yang terlihat.
Tapi luka yang jauh lebih sunyi:
seseorang yang terus mengikat orang lain
dengan rasa bersalah.
“Kenapa kamu tidak cerita?”
Iskandar bertanya pelan.
Nayla menatapnya.
Matanya penuh lelah.
“Karena saya malu.”
“Untuk apa?”
Nayla menangis.
“Karena kadang saya merasa…”
“mungkin semua memang salah saya.”
Kalimat itu menghantam dada Iskandar
lebih keras dari apa pun pagi itu.
Karena yang paling kejam dari luka
bukan ketika seseorang disakiti.
Tapi ketika ia mulai percaya
bahwa dirinya pantas disakiti.
“Tidak.”
Suara Iskandar tegas.
Semua menoleh.
Iskandar menatap Nayla.
Matanya penuh sesuatu
yang bahkan ia sendiri tidak sempat sembunyikan lagi.
“Jangan pernah bilang itu lagi.”
Nayla membeku.
“Bukan salah kamu.”
“Bukan kehilangan itu.”
“Dan bukan karena kamu ingin berhenti terluka.”
Nayla menatapnya.
Air matanya jatuh lebih deras.
Karena kadang,
yang paling dibutuhkan seseorang
bukan solusi.
Tapi seseorang
yang menolak membiarkan dirinya
terus menyalahkan diri sendiri.
Ayah Nayla menghela napas panjang.
Lalu akhirnya berkata,
“Itu sebabnya Aldebar masih merasa punya hak.”
“Karena dia tahu luka itu.”
“Dan selama ini Nayla selalu takut menghadapi masa lalu itu.”
Ibunda Nayla menatap Iskandar.
“Dan sekarang kamu tahu semuanya.”
Ruangan kembali sunyi.
Karena pertanyaan yang tidak diucapkan
menggantung di sana:
Apakah Iskandar masih akan tetap tinggal?
Iskandar menatap Nayla.
Perempuan itu duduk dengan mata basah,
wajah rapuh,
dan rahasia yang akhirnya terbuka.
Bukan perempuan sempurna.
Bukan cerita sederhana.
Bukan cinta yang mudah.
Namun justru karena itu,
hati Iskandar terasa semakin jatuh.
Ia menghela napas pelan.
Lalu berkata,
“Saya tidak tahu bagaimana cara menghapus luka itu.”
Nayla menahan napas.
“Tapi kalau kamu izinkan…”
“saya bisa belajar menemani.”
Nayla menutup mulutnya sendiri,
menahan tangis yang kembali pecah.
Dan di ruang tamu rumah kecil itu,
di pagi yang seharusnya menghancurkan segalanya,
sesuatu justru mulai tumbuh lebih dalam,
bukan karena cinta yang mudah.
Tapi karena seseorang memilih tinggal
setelah tahu semuanya.
BAB 24
Senja di Dermaga KP3
Setelah pagi yang terasa seperti membuka luka lama,
siang di rumah Nayla berlalu dalam keheningan yang aneh.
Tidak lagi seberat tadi.
Namun juga belum benar, benar ringan.
Ibunda Nayla beberapa kali memaksa Iskandar makan
siang.
Ayah Nayla mulai berbicara lebih santai,
meski sorot matanya masih penuh pertimbangan.
Sementara Nayla,
untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
terlihat lelah karena akhirnya berhenti pura, pura kuat.
Dan justru karena suasana itu mulai terlalu serius,
sore harinya ponsel Iskandar bergetar.
Pesan masuk dari Edo.
“Kalau kalian selesai jadi tokoh utama sinetron, datang
ke KP3. Kami lapar.”
Disusul pesan kedua.
“Dan Ridwan bilang suasana kalian terlalu berat. Kota
Kapuas butuh komedi.”
Iskandar menatap layar.
Lalu tanpa sadar tertawa kecil.
Nayla yang duduk di teras menoleh.
“Kenapa?”
Iskandar menunjukkan ponselnya.
Nayla membaca.
Lalu untuk pertama kalinya sejak pagi,
ia benar, benar tertawa.
“Pergilah sebentar,” kata ibunda Nayla.
Nayla menoleh.
“Ma?”
Ibunya tersenyum lembut.
“Kamu butuh bernapas.”
Ayah Nayla yang sedang membaca koran ikut mengangguk.
“Dan kalau terus di rumah…”
“yang tegang bukan cuma kamu, kami juga.”
“Pa…”
Ayahnya menatap datar.
“Papa tua.”
“Bukan patung.”
Iskandar menahan senyum.
Nayla akhirnya menghela napas kecil.
“Baik.”
Dan menjelang senja,
mereka berdua menuju salah satu tempat yang mulai menjadi wajah baru kota itu—
Dermaga KP3,
ikon wisata air dan kuliner
di Kuala Kapuas.
Senja turun indah di tepian sungai.
Langit berubah jingga keemasan.
Permukaan air memantulkan cahaya seperti kaca bergerak.
Lampu, lampu kecil di sepanjang dermaga mulai menyala satu per satu.
Orang, orang duduk santai di bangku tepi sungai.
Anak, anak berlari kecil.
Penjual makanan mulai ramai melayani pembeli.
Aroma ikan bakar,
sate,
jagung manis,
dan kopi hitam
bercampur dengan angin sungai yang lembut.
Di kejauhan,
kapal kecil melintas perlahan di atas air.
Dan di tengah kota air itu,
Dermaga KP3
memang terasa seperti tempat
di mana orang datang
bukan hanya untuk melihat senja,
tapi untuk mengistirahatkan hati.
“WOI!”
Suara Edo terdengar lebih dulu daripada wajahnya.
Mereka menoleh.
Edo melambaikan tangan dari dekat warung kuliner.
Di sampingnya sudah ada Ridwan, Anggun, Rara, Sahrul,
bahkan Lukman yang kebetulan datang dari Mantangai sore itu.
“Lama amat,” seru Sahrul.
“Kami hampir tua menunggu.”
Ridwan menatap Iskandar.
“Lebih tepatnya Edo hampir menghabiskan semua makanan.”
Edo mengangguk.
“Karena saya support mental teman dengan cara makan.”
Anggun langsung menatap.
“Itu bukan support.”
“Itu rakus.”
Nayla tertawa pelan.
Dan mendengar tawa itu,
semua sahabat Iskandar saling melirik diam, diam.
Karena mereka tahu:
senyum itu
sudah lama tidak muncul dari Nayla.
Mereka duduk di pinggir dermaga,
menghadap sungai.
Lampu, lampu mulai memantul di air.
Suasana ramai namun hangat.
Musik pelan dari warung kopi terdengar samar.
Sesekali perahu kecil melintas,
membelah bayangan senja di sungai Kapuas.
Nayla duduk di samping Iskandar.
Tanpa sadar,
jarak di antara mereka semakin tipis.
Dan seperti biasa,
sahabat, sahabat Iskandar langsung memperhatikan.
Edo menatap mereka.
Lalu berbisik terlalu keras.
“Fix.”
“Mereka sekarang duduknya sudah level pasangan resmi.”
Nayla hampir tersedak minuman.
Iskandar menatap datar.
“Kalau mulutmu bisa disewakan, kota ini bisa punya pengeras suara gratis.”
Rara tertawa.
“Edo memang dari dulu tidak bisa lihat suasana romantis.”
Edo mengangguk serius.
“Bisa.”
“Tapi saya dibayar.”
Anggun memukul lengan Edo.
“Diam.”
Lukma yang baru datang dari Sriwidadi menatap Nayla
ramah.
“Senang akhirnya ketemu.”
“Dari cerita mereka, saya kira Mbak Nayla ini tokoh legenda.”
Nayla tersenyum.
“Kenapa legenda?”
Sahrul menjawab cepat.
“Karena Iskandar yang biasanya susah dicari…”
“sekarang lebih mudah dicari kalau ada kamu.”
Nayla menoleh ke Iskandar.
Alisnya terangkat.
Iskandar menghela napas.
“Saya punya teman terlalu banyak.”
Ridwan menyeruput kopi.
“Dan terlalu jujur.”
Di tengah tawa,
Edo tiba, tiba berdiri.
“Baik.”
“Karena suasana terlalu haru…”
“saya punya permainan.”
Sahrul langsung menghela napas.
“Kenapa saya sudah takut?”
Edo mengangkat tangan.
“Setiap orang harus menyebut satu kesan pertama tentang orang di sebelahnya.”
Anggun langsung menggeleng.
“Jangan.”
“Terlambat.”
“Dimulai dari Nayla.”
Nayla tertawa kaget.
“Saya?”
Edo mengangguk mantap.
“Kesan pertama tentang Iskandar.”
Semua langsung diam.
Bahkan angin sungai seperti ikut menunggu.
Iskandar menoleh.
“Edo, saya bisa dorong kamu ke sungai.”
“Jawab dulu.”
Nayla menatap Iskandar sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
“Kesan pertama saya…”
Ia berhenti.
Mata semua orang membesar.
Nayla melanjutkan pelan.
“Dia terlihat seperti orang yang pendiam.”
“Tapi ternyata…”
“hatinya berisik.”
Semua langsung heboh.
“WOOOOOO!”
Edo hampir menjatuhkan kursi.
Rara menutup wajah sambil tertawa.
Anggun memukul meja.
Sahrul sampai batuk.
Ridwan menatap langit,
seolah menyerahkan semuanya pada takdir.
Iskandar sendiri hanya diam,
namun telinganya memerah.
“Sekarang Iskandar!” teriak Edo.
“Tidak mau.”
“Wajib.”
“Tidak.”
“Kalau tidak jawab, traktir.”
Iskandar menatap tajam.
Lalu menyerah.
Ia menoleh pada Nayla.
Untuk beberapa detik,
senja di KP3 terasa sunyi.
Lalu Iskandar berkata pelan,
“Kesan pertama saya…”
Ia tersenyum tipis.
“Dia terlihat kuat.”
“Padahal ternyata…”
“dia cuma terlalu lama sendirian.”
Suasana mendadak berubah.
Kali ini tak ada yang bercanda.
Karena kalimat itu terlalu jujur.
Dan Nayla menatap Iskandar
dengan mata yang perlahan basah.
Edo langsung berdiri.
“Oke saya salah.”
“Kita tidak butuh permainan lagi.”
“Kita butuh tisu.”
Semua tertawa.
Termasuk Nayla.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai,
tawa Nayla terdengar utuh.
Bukan sekadar sopan.
Bukan sekadar menutupi luka.
Tapi tawa seseorang
yang mulai merasa aman.
Namun di tengah suasana hangat itu,
Ridwan yang sejak tadi diam
mendadak menatap ke arah parkiran dermaga.
Wajahnya berubah.
“Is.”
Iskandar menoleh.
“Apa?”
Ridwan tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap ke arah sebuah mobil hitam
yang baru saja berhenti di ujung dermaga.
Mobil yang terasa terlalu familiar.
Dan saat Iskandar mengikuti arah pandangnya,
dadanya langsung menegang.
Karena di tengah senja indah Dermaga KP3,
masa lalu itu
ternyata belum benar, benar pergi.
BAB 25
Bayangan di Ujung
Senja
Tawa yang tadi memenuhi Dermaga KP3 perlahan
meredup.
Suara gelas.
Aroma kopi.
Musik pelan dari warung kuliner.
Lampu, lampu senja yang mulai menyala di sepanjang tepian sungai.
Semua masih sama.
Namun suasana di meja mereka berubah
saat sebuah mobil hitam
berhenti di ujung area parkir dermaga.
Ridwan menatap lurus ke arah sana.
Raut wajahnya yang biasanya tenang
kini terlihat berbeda.
“Is…”
Iskandar menoleh.
Dan seketika ia tahu,
bukan hanya Nayla yang mengenali mobil itu.
Nayla yang duduk di samping Iskandar perlahan menegang.
Jari, jarinya menggenggam ujung kursi.
Napasnya tertahan.
Wajahnya perlahan pucat.
Ibunya mungkin tidak ada di sana.
Ayahnya tidak ikut.
Namun ketakutan yang tadi pagi masih terasa
langsung kembali
dalam hitungan detik.
“Nayla.”
Suara Iskandar pelan.
Nayla tidak menjawab.
Karena dari kejauhan,
pintu mobil itu mulai terbuka.
Dan Aldebar turun perlahan.
Masih dengan wajah yang sama.
Masih dengan tatapan yang sama.
Namun kali ini,
ada sesuatu yang jauh lebih dingin.
Edo yang tadinya memegang tusuk sate menoleh.
Lalu berbisik,
“Wah.”
“Ini bukan drama.”
“Ini sudah season dua.”
Anggun langsung menyikutnya.
“Diam.”
“Tapi benar.”
“Edo.”
“Baik.”
“Saya diam.”
“Tapi lapar.”
Rara menutup wajah menahan tawa gugup.
Bahkan di tengah situasi seperti itu,
Edo tetap berhasil terdengar tidak masuk akal.
Dan justru itu,
sedikit menahan kepanikan yang mulai tumbuh.
Aldebar berjalan pelan menuju mereka.
Langkahnya tenang.
Tidak tergesa.
Tidak kasar.
Namun justru itu yang membuat suasana terasa lebih tidak nyaman.
Karena beberapa orang
tidak perlu meninggikan suara
untuk membuat orang lain takut.
Mereka cukup datang.
Dan seluruh ruang langsung berubah.
“Astaga…”
Sahrul berbisik.
“Dia nyari lokasi pakai radar ya?”
Ridwan tanpa menoleh menjawab,
“Atau dari tadi memang mengikuti.”
Kalimat itu membuat Iskandar menegang.
Nayla langsung menunduk.
Karena jauh di dalam dirinya,
ia tahu:
itu mungkin benar.
Aldebar berhenti beberapa langkah dari meja.
Tatapannya pertama kali bukan ke Iskandar.
Tapi ke Nayla.
Seolah orang lain di sana
tidak benar, benar penting.
“Nayla.”
Hanya satu nama.
Namun suara itu cukup
membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
“Kalau mau bicara,” kata Iskandar tenang,
“jangan di sini.”
Aldebar akhirnya menoleh.
Tatapan dua laki, laki itu bertemu
untuk kedua kalinya.
Namun kali ini berbeda.
Pagi tadi mereka berada di rumah.
Di bawah aturan keluarga.
Di ruang yang masih tertahan.
Sekarang mereka berdiri di ruang terbuka.
Dan senja di dermaga
tiba, tiba terasa seperti tempat
yang terlalu sempit untuk dua hati yang saling bertahan.
Aldebar tersenyum tipis.
“Kamu cepat sekali.”
“Baru sehari sudah jadi penjaga.”
Edo pelan, pelan berbisik pada Sahrul,
“Kalimatnya bagus.”
“Tapi menyeramkan.”
Sahrul menjawab,
“Sekali, sekali mulutmu benar.”
Edo terharu.
“Akhirnya saya dihargai.”
Anggun menatap keduanya.
“Kalian bisa serius satu menit?”
“Tidak.”
jawab mereka bersamaan.
Nayla yang tegang
justru hampir tertawa karena itu.
Dan Aldebar melihat semuanya.
Ia melihat Nayla hampir tersenyum
di dekat Iskandar.
Dan itu,
lebih menyakitkan daripada apa pun.
“Kamu terlihat bahagia.”
Suara Aldebar pelan.
Nayla mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya,
Aldebar melihat sesuatu
yang belum pernah ia lihat selama berbulan, bulan terakhir:
cahaya kecil di mata Nayla.
Bukan karena dirinya.
Melainkan karena orang lain.
“Nayla.”
Suara Aldebar melembut.
“Kamu benar, benar mau seperti ini?”
Nayla menggenggam tangannya sendiri.
“Aldebar…”
“Jawab saya.”
Nada suara itu membuat Iskandar langsung berdiri.
Namun Nayla lebih dulu berkata,
“Jangan bicara seperti itu lagi.”
Aldebar terdiam.
Nayla menatapnya.
Matanya basah,
tapi tidak lagi serapuh kemarin.
“Saya sudah terlalu lama takut sama suara kamu.”
Angin sungai berhembus pelan.
Lampu, lampu di atas air mulai menyala.
Dan seluruh meja terdiam.
Karena untuk pertama kalinya,
Nayla tidak menunduk.
Aldebar tertawa kecil.
Tawa tanpa hangat.
“Jadi sekarang kamu berani?”
“Karena dia ada di samping kamu?”
Iskandar melangkah maju.
“Cukup.”
Aldebar menoleh.
Tatapannya tajam.
“Kamu mau ikut campur lagi?”
Iskandar tidak mundur.
“Saya tidak suka lihat dia ketakutan.”
Aldebar tersenyum miring.
“Dan kamu pikir kamu bisa menyelamatkan dia?”
“Tidak.”
Jawaban Iskandar cepat.
Semua menoleh.
“Saya tidak sedang menyelamatkan dia.”
“Saya cuma berdiri di tempat yang selama ini kosong.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Bahkan Edo sampai lupa makan.
Dan itu hampir mustahil.
Aldebar menatap Iskandar cukup lama.
Lalu tertawa pelan.
“Bagus.”
“Sekarang saya mengerti.”
Tatapannya bergeser ke Nayla.
“Kamu bukan memilih dia.”
“Kamu hanya memilih siapa pun
yang membuatmu bisa lari dari saya.”
Kalimat itu seperti pisau kecil.
Nayla langsung pucat.
Karena di balik tuduhan itu,
ada bagian kecil dari dirinya
yang diam, diam takut
kalau kalimat itu benar.
“Nayla.”
Suara Iskandar pelan.
Ia menoleh padanya.
Dan Iskandar hanya berkata satu kalimat.
“Lihat saya.”
Nayla menatapnya.
Di tengah keramaian dermaga.
Di tengah bau kopi.
Di tengah lampu senja di sungai.
Di tengah semua orang yang memperhatikan.
Iskandar berkata sangat pelan.
“Kamu tidak sedang lari.”
“Kamu sedang berani.”
Air mata Nayla jatuh seketika.
Karena tidak ada seorang pun
yang pernah mengatakan itu padanya sebelumnya.
Aldebar melihat semuanya.
Melihat cara Nayla menangis.
Melihat cara Iskandar menatapnya.
Melihat sesuatu yang akhirnya tak bisa ia pungkiri.
Ia sudah terlambat.
Namun beberapa orang,
saat sadar kehilangan,
justru menjadi lebih berbahaya.
Aldebar mengangguk pelan.
“Baik.”
Nada suaranya terlalu tenang.
Terlalu tenang.
Dan justru itu membuat Ridwan berdiri.
“Is.”
Iskandar menoleh sedikit.
“Apa?”
Ridwan menatap Aldebar.
Lalu berkata pelan,
“Orang yang terlalu tenang setelah kalah…”
“biasanya belum selesai.”
Suasana langsung berubah.
Aldebar tersenyum tipis.
Lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat tipis dari
dalam jaketnya.
Ia meletakkannya di atas meja.
Tepat di depan Nayla.
“Kalau begitu…”
“mungkin dia memang harus tahu.”
Nayla menatap amplop itu.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
Tangannya gemetar hebat.
Dan untuk pertama kalinya,
Iskandar melihat ketakutan Nayla
bukan karena Aldebar mendekat,
melainkan karena sesuatu
yang ada di dalam amplop itu.
BAB 26
Amplop di Atas Meja
Senja di Dermaga KP3 yang tadi hangat perlahan
berubah dingin.
Lampu, lampu gantung di sepanjang area kuliner mulai
menyala.
Pantulan cahaya bergetar di permukaan sungai.
Aroma kopi dan ikan bakar masih memenuhi udara.
Namun di meja kecil dekat pagar dermaga itu,
tak ada lagi yang terasa indah.
Karena sebuah amplop cokelat
terbaring diam di atas meja.
Dan wajah Nayla mendadak pucat
seperti seseorang yang baru melihat
masa lalunya sendiri dibuka paksa.
“Nayla?”
Suara Iskandar pelan.
Nayla tidak menjawab.
Tatapannya hanya tertuju pada amplop itu.
Tangannya gemetar.
Bibirnya sedikit terbuka,
namun tak ada suara yang keluar.
Dan itu saja
sudah cukup membuat Iskandar mengerti,
isi amplop itu
bukan sesuatu yang kecil.
Edo yang biasanya paling berisik
kali ini ikut diam.
Ia menatap Sahrul.
Sahrul menatap balik.
Untuk pertama kalinya dalam hidup,
mereka berdua sepakat:
ini bukan waktu bercanda.
Aldebar menatap Nayla.
Nada suaranya tetap tenang.
“Saya tidak mau buka di sini.”
“Tapi kamu memaksa saya datang sejauh ini.”
“Aldebar…”
Suara Nayla pecah.
“Jangan.”
Satu kata.
Lirih.
Namun penuh ketakutan.
Dan justru itu
membuat semua orang di meja itu
semakin tegang.
Iskandar menatap Aldebar tajam.
“Apa isi itu?”
Aldebar tersenyum kecil.
“Sesuatu yang seharusnya dia ceritakan dari awal.”
Nayla langsung menggeleng.
“Jangan…”
Iskandar menoleh cepat pada Nayla.
Untuk pertama kalinya,
ia melihat bukan hanya luka di mata Nayla,
tapi rasa takut
yang jauh lebih dalam daripada sebelumnya.
Takut kehilangan.
Bukan masa lalu.
Tapi orang yang sedang berdiri di sampingnya sekarang.
Ridwan berdiri pelan.
“Kalau niatmu mempermalukan dia…”
“lebih baik berhenti sekarang.”
Aldebar menoleh.
Tatapannya dingin.
“Ini bukan urusan kalian.”
Edo akhirnya ikut berdiri.
“Mulai sekarang jadi urusan kami.”
Sahrul menoleh kaget.
“Kamu serius?”
Edo mengangguk.
“Saya memang lucu.”
“Tapi bukan berarti saya tidak punya batas.”
Anggun menatap Edo sebentar.
Lalu berbisik,
“Akhirnya ada juga.”
Edo menoleh.
“Sakit ya tidak dipercaya.”
Dalam keadaan seperti itu,
kalimat Edo terdengar absurd.
Namun justru itu membuat suasana
tak sepenuhnya runtuh.
Aldebar menatap Iskandar lagi.
“Kamu mau tahu siapa dia sebenarnya?”
Iskandar tidak menjawab.
Karena matanya kini justru tertuju pada Nayla.
Perempuan itu menunduk.
Bahunya bergetar.
Matanya penuh air.
Dan saat itulah Iskandar sadar,
apa pun isi amplop itu,
Nayla takut bukan karena rahasianya terbuka.
Tapi karena ia takut
cara Iskandar memandangnya akan berubah.
“Apa itu?”
Suara Iskandar lebih tenang dari sebelumnya.
Aldebar menunjuk amplop itu.
“Dokumen rumah sakit.”
“Dan surat yang tidak pernah dia tunjukkan.”
Nayla langsung memejamkan mata.
Ibunya tidak ada di sana.
Ayahnya juga tidak.
Namun malam itu,
luka yang seharusnya tinggal di rumah
ikut terbuka di tengah tempat ramai.
Rara menatap Nayla.
“Nay…”
Nayla tak bergerak.
Lalu dengan suara sangat kecil,
ia berkata,
“Jangan dibuka.”
Semua terdiam.
Aldebar menatap Iskandar.
“Lihat?”
“Dia sendiri tidak berani.”
Iskandar perlahan menarik napas.
Lalu ia mengambil amplop itu.
Nayla langsung menoleh.
Wajahnya panik.
“Jangan…”
Suara itu nyaris hancur.
Bukan marah.
Bukan melarang.
Tapi seperti seseorang
yang benar, benar takut
kehilangan satu, satunya hal baik
yang baru saja datang.
Iskandar memegang amplop itu beberapa detik.
Lalu,
tanpa membukanya,
ia meletakkannya kembali di atas meja.
Semua menatap.
Aldebar mengernyit.
“Kamu tidak mau tahu?”
Iskandar menatap lurus.
“Saya mau.”
“Tapi bukan dari kamu.”
Hening.
Angin sungai berhembus pelan.
Lampu, lampu senja memantul di mata Nayla yang basah.
Dan untuk pertama kalinya,
Aldebar terlihat benar, benar kehilangan kendali.
“Kamu bodoh.”
Suara Aldebar tajam.
“Mungkin.”
Jawab Iskandar tenang.
“Tapi saya tidak mau jadi orang
yang memaksa seseorang membuka luka
hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu.”
Tak ada yang bicara.
Bahkan pengunjung di meja sebelah
diam, diam mulai memperhatikan.
Karena drama itu
tak lagi terdengar seperti pertengkaran biasa.
Itu terdengar seperti
pertarungan dua cara mencintai.
Aldebar tertawa pendek.
“Kamu pikir itu cinta?”
Iskandar tidak menjawab.
Aldebar menunjuk Nayla.
“Kamu bahkan belum tahu
bahwa setelah kehilangan bayi itu…”
“dia tidak bisa, ”
“CUKUP!”
Suara Nayla pecah keras.
Semua membeku.
Nayla berdiri.
Tubuhnya gemetar.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Untuk pertama kalinya,
Nayla berteriak.
Dan suara itu
lebih menyakitkan
daripada semua tangisnya.
“Aku bilang cukup.”
Ia menatap Aldebar.
Bukan dengan takut.
Bukan lagi.
Tapi dengan luka yang akhirnya berubah jadi keberanian.
“Kamu boleh marah.”
“Kamu boleh benci.”
“Tapi jangan lagi pakai luka saya
untuk menghukum saya.”
Kalimat itu mengguncang meja.
Edo sampai menelan ludah.
Ridwan menunduk.
Rara ikut menangis.
Anggun menggenggam tangan Nayla.
Karena akhirnya,
perempuan yang selama ini diam
mulai melawan.
Aldebar menatap Nayla.
Dan untuk pertama kalinya,
tak ada jawaban yang keluar.
Karena semua orang di sana melihat,
bukan hanya Iskandar,
bahwa yang berdiri di depan mereka
bukan perempuan yang sama seperti dulu.
Nayla yang sekarang
sudah tidak ingin hidup
di bawah bayang, bayang rasa bersalah.
“Aku kehilangan anak itu juga.”
Suara Aldebar akhirnya pecah.
Sunyi.
“Aku juga hancur.”
“Aku juga tidak pernah sembuh.”
Mata Nayla basah.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
Nayla menangis.
“Karena kita sama, sama terluka…”
“tapi hanya aku yang terus diminta tinggal di luka itu.”
Kalimat itu membuat Aldebar terdiam total.
Dan untuk pertama kalinya,
tak ada lagi pembelaan yang tersisa.
Beberapa detik,
tak ada suara.
Hanya sungai.
Hanya lampu senja.
Hanya orang, orang yang mendadak merasa
sedang menyaksikan sesuatu
yang terlalu pribadi.
Lalu Aldebar menatap Iskandar.
Dan berkata pelan,
“Kalau begitu…”
“sekarang giliran kamu.”
Iskandar mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Aldebar tersenyum tipis.
Senyum yang membuat bulu kuduk merinding.
“Luka yang dia bawa…”
“tidak berhenti di masa lalu.”
“Lihat saja nanti.”
Nayla langsung memucat.
“Jangan…”
Namun Aldebar sudah mundur satu langkah.
Dan sebelum pergi,
ia menatap Nayla sekali lagi.
“Kalau suatu hari dia juga pergi…”
“kamu akan ingat saya pernah bilang.”
Setelah itu,
ia berbalik meninggalkan meja.
Meninggalkan amplop.
Meninggalkan senja.
Dan meninggalkan ketakutan baru
yang jauh lebih besar.
Karena kali ini,
bukan hanya masa lalu yang datang kembali.
Tapi ancaman bahwa
masa lalu itu
bisa menghancurkan masa depan
yang baru saja mulai tumbuh.
BAB 27
Setelah Senja Pergi
Tak seorang pun langsung bergerak setelah Aldebar
pergi.
Suara langkahnya menghilang di antara deretan warung
kuliner.
Lalu suara mesin mobil terdengar.
Dan beberapa detik kemudian,
mobil hitam itu meninggalkan area Dermaga KP3
bersama sisa senja yang mulai tenggelam.
Namun kalimat terakhirnya
masih tertinggal seperti kabut tipis di udara.
“Luka yang dia bawa tidak berhenti di masa lalu.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
yang terasa menyesakkan bukan kehadiran Aldebar.
Tapi kepergiannya.
Lampu, lampu di dermaga kini menyala penuh.
Pantulan cahaya di sungai bergerak pelan.
Pengunjung lain mulai kembali pada meja masing, masing,
meski beberapa masih melirik diam, diam.
Namun di meja kecil dekat pagar itu,
waktu seperti berhenti.
Nayla masih berdiri.
Tubuhnya gemetar.
Air matanya belum berhenti.
Sementara amplop cokelat itu
masih tergeletak di tengah meja,
diam,
namun terasa lebih berat daripada batu.
“Nay…”
Rara berdiri lebih dulu,
lalu memeluk Nayla tanpa banyak kata.
Nayla tidak langsung membalas.
Tapi beberapa detik kemudian,
bahunya runtuh.
Dan tangis yang sejak tadi ditahan
akhirnya pecah.
Tangis yang bukan lagi tentang Aldebar.
Bukan hanya tentang masa lalu.
Melainkan tentang kelelahan
karena terlalu lama kuat sendirian.
Anggun mengusap mata sendiri.
“Kalau aku nangis juga,
berarti kita satu meja bubar.”
Edo yang sejak tadi diam menatap kosong ke arah mobil
yang pergi.
Lalu berkata pelan,
“Saya mau marah…
tapi tiba, tiba tidak lucu.”
Sahrul menepuk pundaknya.
“Bagus.”
“Akhirnya kamu manusia.”
Edo menoleh.
“Jangan hina saya di saat emosional.”
Untuk pertama kalinya,
candaan itu terdengar rapuh.
Namun justru karena itu,
Nayla tersenyum kecil di sela tangisnya.
Dan semua orang di sana tahu,
kadang orang yang paling berisik
justru yang paling tulus bertahan.
Iskandar belum menyentuh amplop itu.
Ia hanya menatap Nayla.
Menunggu.
Karena malam ini,
ia sadar satu hal penting:
tidak semua luka harus langsung ditanya.
Kadang,
yang dibutuhkan seseorang
bukan jawaban.
Tapi waktu.
“Nayla.”
Suara Iskandar pelan.
Nayla mengangkat wajah.
Matanya merah.
Pipinya basah.
Dan saat melihat cara Iskandar menatapnya,
tidak takut,
tidak berubah,
tidak menjauh,
air mata Nayla justru jatuh lebih deras.
“Kenapa kamu masih di sini?”
Pertanyaan itu keluar nyaris seperti bisikan.
Iskandar menatapnya lama.
Lalu menjawab sederhana.
“Karena saya belum selesai.”
Nayla mengerutkan dahi.
“Selesai apa?”
Iskandar tersenyum kecil.
“Membuktikan kalau tidak semua orang pergi.”
Ruangan di dalam hati Nayla
seolah runtuh perlahan.
Karena kadang,
yang paling membuat seseorang hancur
bukan ditinggalkan.
Tapi ketika ia mulai percaya
bahwa seseorang benar, benar akan tinggal.
Ridwan akhirnya duduk kembali.
Tatapannya jatuh pada amplop.
“Sekarang pertanyaannya…”
“itu mau diapakan?”
Semua menoleh.
Amplop itu kini seperti pusat dari semuanya.
Benda kecil.
Namun membawa terlalu banyak kemungkinan.
Sahrul menatap Iskandar.
“Jangan dibuka di sini.”
Anggun mengangguk.
“Setuju.”
Edo mengangkat tangan.
“Kalau dibuka sekarang,
saya takut saya pingsan.
Dan saya belum bayar makanan.”
Rara menatap datar.
“Kamu memang tidak pernah gagal jadi aneh.”
Edo mengangguk.
“Itu bakat.”
Untuk pertama kalinya,
Iskandar tersenyum tipis.
Karena bahkan di tengah situasi seperti itu,
sahabat, sahabatnya tetap menemukan cara
menjaga semuanya agar tidak runtuh.
Nayla menatap amplop itu.
Wajahnya kembali tegang.
“Buang saja.”
Semua diam.
Iskandar menoleh.
“Kamu yakin?”
Nayla menggigit bibir.
“Kalau dibuka…”
“semuanya bisa berubah.”
Kalimat itu membuat dada Iskandar berat.
Karena sebenarnya,
ia sudah tahu.
Yang Nayla takutkan
bukan isi amplop itu.
Tapi kemungkinan
bahwa setelah tahu semuanya,
Iskandar akan melihatnya berbeda.
“Kalau tidak dibuka?”
Tanya Ridwan pelan.
Nayla menunduk.
Air matanya jatuh lagi.
“Berarti saya terus takut.”
Dan malam itu,
untuk pertama kalinya,
Nayla mengakui sesuatu
yang selama ini tak pernah ia ucapkan:
ia lelah hidup
dengan rasa takut.
Iskandar menarik napas panjang.
Lalu ia mengambil amplop itu.
Nayla refleks memegang tangannya.
“Jangan.”
Suara Nayla pecah.
Sentuhan itu lembut,
namun penuh panik.
Dan untuk beberapa detik,
tak ada yang bergerak.
Hanya tangan Nayla di tangan Iskandar.
Hanya mata mereka yang saling menatap.
Hanya malam yang mendadak terasa terlalu sunyi.
“Nayla.”
Suara Iskandar sangat pelan.
“Kalau kamu bilang berhenti…”
“saya berhenti.”
Mata Nayla langsung basah lagi.
Karena untuk pertama kalinya,
ada seseorang yang benar, benar
memberinya pilihan.
Bukan memaksa.
Bukan menuntut.
Bukan memegang kendali.
Hanya bertanya.
Dan menunggu.
Nayla menutup mata.
Tangannya masih menggenggam tangan Iskandar.
Lalu sangat pelan,
ia melepaskannya.
Bukan karena ia siap.
Tapi karena ia tidak ingin lagi
terus hidup dikejar masa lalu.
Saat membuka mata,
ia menatap Iskandar.
Dan dengan suara gemetar,
ia berkata,
“Buka.”
Lampu, lampu di atas sungai bergoyang pelan.
Angin malam berhembus tipis.
Dan seluruh meja mendadak diam.
Karena mereka semua tahu,
setelah amplop itu dibuka,
tak ada satu pun dari mereka
yang akan kembali ke malam sebelumnya.
BAB 28
Isi yang Tidak
Pernah Diceritakan
Suasana di Dermaga KP3 berubah sunyi.
Tak ada lagi suara tawa.
Tak ada lagi candaan Edo.
Tak ada lagi obrolan ringan tentang makanan atau lampu senja.
Yang terdengar hanya:
suara air sungai yang pelan,
gesekan kursi,
dan napas beberapa orang
yang sama, sama menahan tegang.
Di tengah meja,
di bawah cahaya lampu kuning dermaga,
amplop cokelat itu terasa seperti
membawa seluruh masa lalu Nayla
ke malam yang seharusnya indah.
Dan di hadapan semua orang,
Iskandar perlahan membuka segel amplop itu.
Nayla menunduk.
Tangannya saling menggenggam erat.
Jari, jarinya dingin.
Bibirnya pucat.
Ia tidak berani melihat.
Karena beberapa rahasia
bukan menakutkan karena belum diketahui.
Tapi karena setelah dibuka,
tak akan pernah bisa disimpan kembali.
Iskandar mengeluarkan isi amplop itu perlahan.
Bukan satu lembar.
Ada beberapa dokumen.
Foto kecil.
Dan satu surat yang sudah agak kusut.
Ridwan menatap dari samping.
Rara menahan napas.
Anggun memegang tangan Nayla.
Sahrul mendadak diam.
Edo bahkan lupa dengan gelas es tehnya.
Semua menunggu.
Lembar pertama adalah
dokumen rumah sakit.
Iskandar membaca cepat.
Nama pasien:
Nayla Azzahra
Tanggal: 21 April 2023
tiga tahun lalu.
Diagnosa:
komplikasi kehamilan dan trauma fisik.
Iskandar berhenti.
Tatapannya perlahan berubah.
Karena satu kalimat di bagian bawah
membuat jantungnya menegang.
“Pasien datang dalam kondisi perdarahan akibat benturan
pada bagian abdomen.”
Iskandar mengangkat wajah perlahan.
Menatap Nayla.
Nayla menutup mata.
Air mata langsung jatuh.
Karena akhirnya,
rahasia yang paling ia kubur
tidak lagi tersembunyi.
“Apa maksud benturan?”
Suara Rara nyaris berbisik.
Tak ada yang menjawab.
Sampai Iskandar membuka lembar kedua.
Dan di sana,
terdapat catatan tambahan dari dokter.
“Pasien tampak mengalami tekanan psikologis berat dan
menunjukkan tanda, tanda ketakutan terhadap pasangan.”
Malam di dermaga mendadak terasa jauh lebih dingin.
“Nayla…”
Suara Iskandar nyaris tak terdengar.
Nayla menggeleng.
Jangan.
Seolah itu satu, satunya yang mampu ia katakan.
Namun semuanya
sudah terlanjur terbuka.
Edo menatap Iskandar.
“Is…”
Untuk pertama kalinya,
suara Edo kehilangan seluruh humornya.
Karena sekarang,
ini bukan lagi kisah cinta rumit.
Ini jauh lebih gelap.
Iskandar membuka surat terakhir.
Tulisan tangan.
Tinta sedikit pudar.
Kalimat pertama langsung membuat napasnya tertahan.
“Kalau suatu hari sesuatu terjadi padaku,
mungkin ini satu, satunya cara seseorang tahu bahwa aku sebenarnya takut.”
Iskandar menatap tulisan itu.
Lalu membaca lebih jauh.
Itu tulisan Nayla.
Ditulis bertahun, tahun lalu.
Dan setiap katanya
terasa seperti luka yang ditulis perlahan.
“Aldebar tidak pernah memukulku seperti orang lain
bayangkan.
Ia hanya sekali mendorongku saat kami bertengkar.
Tapi satu kali itu cukup membuat semuanya berubah.”
Nayla menangis semakin keras.
Anggun langsung memeluknya.
Rara ikut menutup mulut menahan tangis.
Sementara Iskandar membaca dengan tangan gemetar.
“Ia menangis setelah itu.
Meminta maaf berhari, hari.
Bilang ia tidak sengaja.
Bilang ia juga kehilangan.
Bilang ia tidak akan mengulangi.”
Ridwan memejamkan mata.
Sahrul menunduk.
Karena mereka semua tahu,
kadang luka terbesar
bukan berasal dari kebencian.
Melainkan dari seseorang
yang menyakiti
lalu menangis seolah ia korban juga.
Iskandar lanjut membaca.
“Yang paling membuatku takut bukan saat ia mendorongku.
Tapi saat aku mulai percaya bahwa mungkin semua memang salahku.”
Tangan Iskandar mengepal.
Lampu dermaga memantul di matanya.
Namun di dalam dadanya,
sesuatu mulai berubah menjadi amarah.
Bukan karena cemburu.
Bukan karena masa lalu.
Tapi karena perempuan yang sekarang duduk di depannya,
ternyata pernah terluka
jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Nayla akhirnya menutup wajahnya.
“Saya tidak mau kamu tahu seperti ini…”
Suara itu hancur.
Iskandar menatapnya.
Matanya penuh luka.
“Kenapa kamu simpan sendiri?”
Nayla tertawa kecil di sela tangis.
Tawa yang menyakitkan.
“Karena saya malu.”
“Untuk apa?”
Nayla menatapnya.
“Karena saya masih sempat mencintainya
setelah semuanya.”
Kalimat itu membuat seluruh meja diam.
Karena itulah luka paling rumit:
ketika seseorang tahu ia pernah disakiti,
namun sebagian hatinya
masih sempat berharap.
“Bukan salah kamu.”
Iskandar berkata pelan.
Nayla menggeleng.
“Kamu tidak mengerti.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Mata Nayla membesar.
Karena tidak ada nada marah.
Tidak ada jijik.
Tidak ada perubahan.
Hanya satu hal:
ia ingin tetap mendengar.
Nayla menatap sungai yang gelap.
Lalu akhirnya berkata,
“Malam itu kami bertengkar.”
“Karena saya bilang saya ingin menunda pernikahan.”
Ia menarik napas panjang.
“Dia marah.”
“Saya mundur.”
“Lalu saya jatuh.”
Suaranya pecah.
“Setelah itu…”
“bayi kami tidak selamat.”
Air mata kembali jatuh.
“Dan sejak hari itu…”
“saya tidak pernah tahu
siapa yang lebih saya benci,
dia…
atau diri saya sendiri.”
Tak ada yang bisa langsung menjawab.
Karena beberapa luka
terlalu besar untuk ditenangkan dengan cepat.
Dan malam itu,
misteri yang selama ini menggantung
akhirnya berubah menjadi kebenaran.
Aldebar bukan hanya masa lalu Nayla.
Ia adalah luka
yang selama ini hidup diam, diam
di dalam dirinya.
Namun saat Iskandar hendak menutup surat itu,
satu lembar kecil terjatuh dari dalam amplop.
Foto.
Ukuran kecil.
Sudutnya sedikit sobek.
Iskandar mengambilnya.
Lalu wajahnya berubah.
Ridwan ikut menoleh.
“Is…”
“Apa itu?”
Iskandar menatap foto itu cukup lama.
Lalu perlahan mengangkatnya ke arah cahaya.
Dan malam itu,
di bawah lampu Dermaga KP3,
misteri itu justru menjadi lebih gelap.
Karena di dalam foto itu,
bukan hanya Nayla dan Aldebar yang terlihat.
Ada seseorang lain berdiri di belakang mereka.
Seseorang yang sangat dikenal Iskandar.
Dan orang itu adalah,
ayah Iskandar sendiri.
BAB 29
Wajah di Dalam Foto
Angin malam di Dermaga KP3 mendadak terasa lebih
dingin.
Suara sungai masih mengalir pelan.
Lampu, lampu di tepian air tetap memantul indah.
Pengunjung lain masih tertawa di kejauhan.
Warung, warung masih melayani pembeli.
Namun di meja kecil dekat pagar itu,
dunia Iskandar seolah berhenti.
Karena di tangannya,
di dalam foto kecil yang baru jatuh dari amplop itu,
terdapat satu wajah
yang seharusnya tidak ada di sana.
Wajah yang terlalu ia kenal.
Wajah yang sejak kecil menjadi rumah baginya.
Ayahnya sendiri.
“Is?”
Ridwan menatap perubahan wajah sahabatnya.
Sahrul ikut mendekat.
“Kenapa?”
Namun Iskandar tak langsung menjawab.
Tangannya membeku.
Matanya terpaku.
Napasnya tertahan.
Karena dalam foto itu,
Nayla dan Aldebar berdiri di depan sebuah gedung rumah sakit.
Wajah Nayla tampak pucat.
Aldebar memegang bahunya.
Dan di belakang mereka,
sedikit buram,
namun jelas,
seorang pria berpeci hitam
sedang berbicara dengan dokter.
Pria itu adalah
Haji Rahman.
Ayah Iskandar.
“Ya Allah…”
Rara menutup mulut.
Anggun menatap tak percaya.
Edo bahkan sampai berdiri.
“Sebentar.”
“Kenapa ayahmu ada di situ?”
Tidak ada yang bisa menjawab.
Karena pertanyaan itu
bukan hanya mengejutkan mereka.
Pertanyaan itu
menghantam Iskandar lebih keras
daripada apa pun malam itu.
Nayla yang sejak tadi menangis
perlahan mengangkat wajah.
Melihat foto di tangan Iskandar.
Lalu wajahnya langsung berubah.
Bukan kaget.
Tapi seperti seseorang
yang baru sadar
rahasia yang dikubur terlalu dalam
akhirnya menemukan jalan keluar sendiri.
“Nayla…”
Suara Iskandar serak.
Tangannya gemetar saat memperlihatkan foto itu.
“Kenapa ayah saya ada di sini?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun bagi Nayla,
itu seperti pintu
yang selama ini ia takut buka.
Nayla menunduk.
Air matanya jatuh satu per satu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
tatapan Iskandar bukan hanya penuh kasih.
Ada luka di sana.
Luka karena merasa
ada sesuatu yang selama ini
tak pernah diceritakan padanya.
“Nayla.”
Suara Iskandar kali ini lebih pelan.
“Jawab saya.”
Nayla menutup mata.
Karena ia tahu,
setelah ini,
tidak ada lagi jalan kembali.
“Itu…”
Suaranya nyaris tak keluar.
“Ayahmu…”
Ia berhenti.
Mencoba bernapas.
Namun justru tangisnya semakin pecah.
Ibunya tidak ada di sana.
Ayahnya juga tidak.
Dan malam itu,
ia harus mengucapkan sendiri
hal yang selama ini
tak pernah sanggup ia katakan.
“Ayahmu yang membawa saya ke rumah sakit malam itu.”
Semua membeku.
Tak ada suara.
Bahkan Edo tak lagi bergerak.
Karena satu kalimat itu
langsung mengubah semuanya.
Iskandar menatapnya tak percaya.
“Apa?”
Nayla mengangguk pelan.
“Malam itu…”
“saya keluar rumah sendirian.”
Air matanya jatuh.
“Saya berjalan ke jalan besar.”
“Saya tidak tahu harus ke mana.”
“Saya hanya ingin pergi.”
Ridwan menunduk.
Rara memegang tangan Nayla.
Anggun ikut menahan napas.
Nayla melanjutkan.
“Lalu saya pingsan di pinggir jalan.”
Ia menatap Iskandar.
Matanya penuh rasa bersalah.
“Dan orang yang menemukan saya…”
“ayahmu.”
Dada Iskandar terasa sesak.
Karena mendadak,
seluruh malam itu
berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
Bukan hanya tentang Nayla.
Bukan hanya tentang Aldebar.
Tapi tentang keluarganya sendiri.
“Kenapa…”
suara Iskandar berat,
“kenapa saya tidak pernah tahu?”
Nayla menatap kosong ke sungai.
“Karena ayahmu minta saya diam.”
Semua menoleh.
Edo sampai spontan berseru,
“HAH?”
Anggun langsung menyikutnya.
Namun kali ini,
tak ada yang bisa menyalahkan reaksi itu.
Karena semua orang sama terkejutnya.
“Ayah saya?”
Suara Iskandar meninggi.
“Kenapa?”
Nayla menggigit bibir.
Lalu berbisik,
“Karena ayahmu mengenal ayah Aldebar.”
Malam itu,
suasana di dermaga
benar, benar berubah.
Ridwan langsung mengernyit.
“Tunggu.”
“Sejak kapan?”
Nayla menjawab pelan.
“Mereka sahabat lama.”
Iskandar membeku.
Karena sepanjang hidupnya,
ayahnya memang pernah beberapa kali
menyebut nama keluarga Aldebar.
Namun hanya sepintas.
Tak pernah penting.
Tak pernah berarti.
Sampai malam ini.
“Setelah saya dibawa ke rumah sakit…”
Nayla menunduk,
“ayahmu yang menelepon keluarga saya.”
“Lalu?”
Nayla menatap Iskandar.
Dan itulah bagian yang paling berat.
“Beliau bilang…”
“kalau masalah ini tersebar…”
“dua keluarga bisa hancur.”
Iskandar mematung.
“Beliau bilang saya harus istirahat.”
“Beliau bilang Aldebar menyesal.”
“Beliau bilang semuanya bisa diperbaiki.”
Suara Nayla pecah.
“Dan saya…”
“saya terlalu lemah waktu itu untuk melawan.”
Air matanya jatuh deras.
“Saya pikir diam adalah cara paling mudah.”
Iskandar tak tahu harus merasakan apa.
Marah?
Sedih?
Kecewa?
Karena pria yang selama ini ia hormati,
ternyata pernah menjadi bagian
dari rahasia yang menghancurkan Nayla.
Meskipun mungkin niatnya baik.
Meskipun mungkin untuk melindungi.
Tetapi tetap saja,
diam kadang bisa melukai
sama dalamnya dengan kesalahan.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
Iskandar bertanya lagi.
Dan kali ini,
pertanyaan itu terdengar seperti luka.
Nayla menatapnya.
Matanya merah.
“Karena saya takut.”
“Takut apa?”
Nayla menjawab dengan suara yang hampir hilang.
“Takut kamu akan melihat ayahmu berbeda.”
“Dan lebih takut lagi…”
“kamu akan melihat saya sebagai masalah.”
Kalimat itu membuat Iskandar menutup mata.
Karena justru malam ini,
yang ia rasakan bukan Nayla sebagai masalah.
Tapi dirinya sendiri
yang ternyata begitu dekat
dengan luka yang tak pernah ia tahu.
Edo pelan, pelan duduk.
Lalu bergumam,
“Ini bukan lagi drama cinta.”
“Ini sudah drama keluarga.”
Sahrul menatapnya.
“Kali ini saya setuju.”
Untuk pertama kalinya,
tak ada satu pun dari mereka
yang bisa menganggap semuanya ringan.
Iskandar memegang foto itu erat.
Tangannya gemetar.
Ia menatap wajah ayahnya di foto.
Lalu menatap Nayla.
Dan untuk beberapa detik,
Nayla benar, benar takut.
Takut bahwa akhirnya
inilah titik
di mana Iskandar mulai menjauh.
Namun yang dilakukan Iskandar justru berbeda.
Ia melangkah mendekat.
Duduk di depan Nayla.
Lalu dengan suara pelan,
namun penuh luka,
ia berkata,
“Kenapa kamu pikir…”
“saya akan meninggalkan kamu
karena kesalahan yang bukan milikmu?”
Nayla menatapnya.
Air matanya jatuh.
Dan malam itu,
untuk pertama kalinya,
ia sadar sesuatu yang paling menakutkan:
ia sudah mencintai laki, laki itu
lebih dalam
daripada yang ingin ia akui.
Namun sebelum Nayla sempat menjawab,
ponsel Iskandar di atas meja
tiba, tiba bergetar.
Semua menoleh.
Layar menyala terang.
Satu nama muncul di sana.
Ayah.
Dan malam di Dermaga KP3
belum selesai
mengguncang hidup mereka.
BAB 30
Telepon dari Masa
yang Diam
Ponsel di atas meja terus bergetar.
Satu nama menyala di layar,
membelah suasana malam yang sudah terlalu sesak.
Ayah.
Lampu dermaga memantul di permukaan layar.
Suara sungai tetap mengalir.
Namun di dada Iskandar,
semuanya terasa berhenti.
Ia hanya menatap nama itu.
Seolah malam yang tadi hanya tentang Nayla,
mendadak berubah menjadi tentang dirinya juga.
“Angkat.”
Ridwan berkata pelan.
Iskandar masih diam.
Nayla menatapnya dengan mata basah.
Di dalam tatapan itu ada banyak hal:
takut,
cemas,
dan satu hal yang paling menyakitkan,
rasa bersalah.
Seolah ia merasa
malam ini
telah menyeret Iskandar
masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
“Kalau kamu mau…”
suara Nayla lirih,
“jangan diangkat.”
Semua menoleh.
Nayla menggigit bibir.
Air matanya jatuh.
“Saya tidak mau hidup kamu ikut rusak karena saya.”
Kalimat itu
membuat dada Iskandar sesak.
Karena bahkan di saat seperti ini,
Nayla masih lebih takut
menjadi beban
daripada kehilangan dirinya sendiri.
Ponsel itu terus bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu Iskandar menarik napas panjang.
Dan mengangkat telepon itu.
“Halo.”
Suara Iskandar terdengar berat.
Di ujung sana,
suara pria tua yang sangat ia kenal
terdengar pelan.
“Is…”
“kamu di mana?”
Iskandar menatap foto di tangannya.
“Di KP3.”
Beberapa detik hening.
Lalu suara ayahnya berubah.
“Kamu sudah tahu ya?”
Malam itu,
kalimat paling sederhana
justru terasa paling menghancurkan.
Karena Iskandar tidak perlu bertanya lagi.
Ayahnya memang tahu.
Sejak awal.
Tatapan Nayla langsung jatuh.
Sementara Iskandar memejamkan mata.
“Kenapa Ayah tidak pernah cerita?”
Suara itu bukan marah.
Justru lebih menyakitkan dari itu.
Kecewa.
Suara seseorang
yang baru sadar
bahwa rumahnya sendiri
pernah menyimpan rahasia.
Di ujung telepon,
ayahnya menghela napas panjang.
“Karena Ayah pikir itu cara terbaik.”
Iskandar tertawa kecil.
Tawa yang kosong.
“Cara terbaik untuk siapa?”
Tak ada jawaban.
Dan justru diam itu
menjadi jawaban yang paling berat.
“Ayah hanya ingin tidak ada keluarga yang hancur.”
Iskandar menatap Nayla.
Lalu berkata pelan,
“Tapi Nayla sudah hancur duluan.”
Semua di meja itu terdiam.
Karena kalimat itu
akhirnya mengucapkan sesuatu
yang selama ini tak pernah dikatakan siapa pun.
Di seberang telepon,
suara ayahnya terdengar lebih lirih.
“Iskandar.”
“Bawa Nayla pulang.”
“Ayah mau bicara.”
Iskandar menegang.
“Kenapa sekarang?”
Karena suara ayahnya kali ini
terdengar berbeda.
Bukan hanya menyesal.
Tapi takut.
Dan itu membuat bulu kuduk Iskandar merinding.
“Ada sesuatu yang belum kamu tahu.”
Kalimat itu membuat Nayla mengangkat kepala.
“Apa maksud Ayah?”
Namun suara di telepon menjawab perlahan—
“Yang terjadi malam itu…”
“bukan seperti yang Nayla ingat.”
Semua membeku.
“Apa?”
Suara Nayla hampir hilang.
Iskandar berdiri.
“Ayah, maksud Ayah apa?”
Namun sebelum jawaban datang,
telepon mendadak terputus.
Layar kembali gelap.
Dan di tengah suara malam yang tiba, tiba sunyi,
tak satu pun dari mereka bisa bernapas lega.
Karena ternyata,
rahasia malam itu
masih belum selesai.
“Apa maksudnya bukan seperti yang aku ingat?”
Suara Nayla gemetar.
Ia menatap Iskandar.
Wajahnya pucat.
Jari, jarinya dingin.
“Is…”
“apa maksudnya?”
Untuk pertama kalinya,
Iskandar tidak tahu harus menjawab apa.
Karena sekarang,
bukan hanya cinta mereka yang diuji.
Tapi seluruh kebenaran
yang selama ini menjadi dasar rasa bersalah Nayla.
“Jangan pergi.”
Nayla tiba, tiba berdiri.
Semua menoleh.
Ia menatap Iskandar dengan mata penuh air.
“Kalau kamu pergi malam ini…”
“saya takut kamu tidak akan kembali.”
Kalimat itu membuat semua sahabat terdiam.
Karena itulah pertama kalinya
Nayla benar, benar mengucapkan
ketakutan paling jujur dalam hatinya.
Bukan tentang Aldebar.
Bukan tentang masa lalu.
Tapi tentang Iskandar.
Iskandar menatapnya lama.
Lampu, lampu dermaga memantul di air.
Angin malam meniup lembut rambut Nayla.
Suara musik dari warung jauh terdengar samar.
Dan di tengah kota air yang tenang,
hati mereka justru berada di puncak badai.
“Nayla…”
Suara Iskandar pelan.
“Kalau saya tidak pergi…”
“kita tidak akan pernah tahu semuanya.”
Air mata Nayla jatuh.
“Tapi kalau kamu pergi…”
“bagaimana kalau semuanya berubah?”
Pertanyaan itu begitu sederhana.
Namun terasa seperti pisau.
Karena sesungguhnya,
itulah ketakutan terbesar dalam cinta:
bukan kehilangan masa lalu.
Tapi kehilangan seseorang
tepat ketika hati mulai percaya.
Edo menunduk.
Rara ikut menangis.
Anggun menggenggam tangan Nayla.
Ridwan memandang sungai diam, diam.
Tak satu pun dari mereka
pernah melihat Nayla serapuh ini.
Karena perempuan yang selama ini selalu diam
akhirnya menunjukkan:
bahwa cinta yang datang terlambat
bisa terasa jauh lebih menakutkan.
Iskandar melangkah mendekat.
Sangat dekat.
Cukup dekat
hingga Nayla bisa mendengar napasnya.
Dengan lembut,
Iskandar menghapus air mata di pipi Nayla.
Lalu berkata pelan,
“Kalau setelah tahu semuanya…”
“saya tetap memilih kembali…”
Ia menatap mata Nayla.
“Apakah kali ini kamu mau berhenti takut?”
Nayla menangis.
Karena pertanyaan itu
jauh lebih menakutkan
daripada semua rahasia.
Sebab untuk menjawabnya,
ia harus mengakui sesuatu
yang sejak awal terus ia hindari.
Nayla menatap Iskandar.
Lalu dengan suara bergetar,
nyaris seperti bisikan,
ia akhirnya berkata,
“Aku sudah terlanjur mencintaimu.”
Semua di meja itu membeku.
Bahkan Iskandar sendiri.
Karena setelah semua luka,
semua rahasia,
semua ketakutan,
kalimat itu akhirnya keluar juga.
Bukan di tempat yang sempurna.
Bukan di waktu yang mudah.
Tapi justru di puncak kekacauan.
Air mata Nayla jatuh semakin deras.
“Dan itu yang paling aku takutkan.”
Karena untuk pertama kalinya,
ia tidak takut pada masa lalu.
Ia takut
kalau Iskandar menjadi orang berikutnya
yang harus ia relakan pergi.
Iskandar menatapnya.
Diam.
Lama.
Lalu ia memeluk Nayla
di tengah lampu, lampu dermaga,
di tengah sahabat, sahabat yang terdiam,
di tengah malam kota Kapuas yang perlahan larut.
Dan di dekat telinga Nayla,
Iskandar berbisik,
“Kalau begitu…”
“tunggu saya kembali.”
Nayla memejamkan mata.
Karena kadang,
puncak sebuah cinta
bukan ketika dua orang akhirnya bersama.
Melainkan saat keduanya sadar,
mereka saling mencintai
tepat ketika keadaan
mungkin memisahkan mereka.
Di kejauhan,
air sungai Kapuas terus mengalir.
Tenang.
Gelap.
Menyimpan rahasia.
Dan malam itu,
di bawah langit Kuala Kapuas,
cinta mereka akhirnya lahir,
justru di waktu
yang mungkin paling salah.
EPILOG
Ketika Cinta
Menemukan Jalannya
Malam di Dermaga KP3 berakhir
bukan dengan jawaban.
Melainkan dengan janji.
Sebuah janji sederhana
yang diucapkan pelan
di tengah lampu, lampu sungai
dan udara kota air yang lembut.
“Tunggu saya kembali.”
Dan bagi Nayla,
kalimat itu jauh lebih menenangkan
daripada seribu kepastian.
Karena selama hidupnya,
ia terlalu sering mendengar orang berkata jangan pergi.
Namun hanya Iskandar
yang berkata:
“Saya akan kembali.”
Malam itu Iskandar benar, benar pergi.
Bukan untuk meninggalkan.
Melainkan untuk menghadapi
semua hal yang selama ini
diam di belakang hidup mereka.
Ia pulang ke rumahnya
di kawasan jalan Jenderal A. Yani,
membawa foto kecil,
dokumen lama,
dan hati yang tak lagi sama.
Di ruang tamu rumah yang sejak kecil terasa akrab,
untuk pertama kalinya
ia duduk berhadapan dengan ayahnya
bukan sebagai anak kecil,
melainkan sebagai laki, laki
yang sedang menuntut kebenaran.
Dan malam itu,
semua yang selama bertahun, tahun dikubur
akhirnya terbuka.
Ayah Iskandar memang mengenal keluarga Aldebar.
Bukan sekadar kenal.
Mereka pernah seperti saudara.
Sahabat lama.
Rekan usaha.
Keluarga yang saling percaya.
Dan malam ketika Nayla ditemukan,
ayah Iskandar tidak hanya melihat seorang gadis pingsan.
Beliau melihat kemungkinan
dua keluarga bisa saling menghancurkan.
Karena ternyata,
yang menyebabkan Nayla jatuh malam itu
bukan hanya pertengkaran.
Ada seseorang lain
yang selama ini tak pernah disebut.
Seseorang yang datang malam itu
dengan amarah
karena urusan keluarga.
Dan orang itu,
adalah kakak Aldebar sendiri.
Pertengkaran di rumah itu
jauh lebih besar
daripada yang Nayla ingat.
Dan karena trauma,
sebagian ingatan Nayla
terkunci oleh rasa sakit.
Aldebar memang bersalah
karena membiarkan semuanya terjadi.
Karena diam.
Karena tidak melindungi.
Karena setelah itu
ia memilih rasa bersalah
sebagai cara menahan Nayla tetap tinggal.
Namun satu hal yang paling berat,
selama ini,
Aldebar juga hidup
dengan rasa bersalah yang sama.
Ketika Iskandar mendengar semuanya,
ia tidak langsung marah.
Ia hanya duduk diam.
Karena kadang,
yang paling sulit diterima
bukan kebohongan.
Tapi kenyataan bahwa
orang, orang yang kita cintai
kadang membuat keputusan salah
karena mereka juga takut.
“Ayah salah.”
Hanya itu yang dikatakan ayahnya.
Suara seorang pria tua
yang akhirnya lelah
menyimpan rahasia terlalu lama.
“Ayah pikir diam bisa menyelamatkan semua orang.”
“Ternyata justru membuat semuanya lebih terluka.”
Iskandar menatap ayahnya.
Dan untuk pertama kalinya,
ia tidak melihat seorang ayah yang selalu benar.
Ia melihat seorang manusia.
Yang juga pernah salah.
Pagi harinya,
sebelum matahari benar, benar tinggi,
Iskandar berdiri di depan rumah Nayla.
Rumah itu masih sama.
Halaman kecil.
Udara pagi.
Embun di daun.
Suara burung dari pepohonan.
Dan jalan trans yang mulai ramai oleh kendaraan menuju pusat kota.
Namun kali ini,
Iskandar datang
bukan membawa pertanyaan.
Ia datang membawa jawaban.
Nayla membuka pintu.
Wajahnya masih sembab.
Matanya seperti seseorang
yang semalaman tidak tidur.
Dan saat melihat Iskandar berdiri di sana,
hal pertama yang ia lakukan bukan bicara.
Ia hanya menatap.
Seolah memastikan
bahwa laki, laki itu benar, benar kembali.
“Kamu datang.”
Suara Nayla nyaris seperti bisikan.
Iskandar tersenyum kecil.
“Saya bilang saya kembali.”
Dan kalimat sederhana itu
membuat mata Nayla langsung basah.
Mereka duduk di teras rumah.
Tak ada sahabat.
Tak ada keramaian.
Tak ada suara kota selain pagi yang pelan.
Hanya mereka berdua.
Dan kebenaran yang akhirnya
tidak lagi berdiri di antara mereka.
Iskandar menceritakan semuanya.
Pelan.
Hati, hati.
Tanpa menyembunyikan apa pun.
Dan saat cerita itu selesai,
Nayla hanya diam.
Air matanya jatuh perlahan.
Bukan karena luka baru.
Melainkan karena untuk pertama kalinya,
ia tahu satu hal penting:
selama ini,
ia memikul rasa bersalah
yang bahkan bukan sepenuhnya miliknya.
“Aku capek, Is.”
Suara Nayla lirih.
“Saya tahu.”
“Aku capek takut.”
Iskandar menggenggam tangannya.
“Kalau begitu…”
“kita pelan, pelan belajar berhenti.”
Nayla menatapnya.
“Kalau aku jatuh lagi?”
Iskandar tersenyum lembut.
“Berarti giliran saya yang menangkap.”
Dan Nayla akhirnya tertawa
di tengah air matanya sendiri.
Tawa kecil.
Namun jauh lebih jujur
daripada semua senyumnya selama ini.
Beberapa bulan kemudian,
Kuala Kapuas tetap menjadi kota air.
Sungainya tetap mengalir.
Senjanya tetap indah.
Bundaran besar tetap ramai.
Pasar tetap hidup.
Dan Dermaga KP3
tetap menjadi tempat
orang datang untuk mencari tenang.
Namun bagi Nayla,
kota itu tak lagi terasa seperti tempat
yang menyimpan luka.
Melainkan tempat
di mana hatinya
akhirnya menemukan jalan pulang.
Aldebar memilih pergi ke luar kota.
Bukan karena kalah.
Bukan karena membenci.
Melainkan karena untuk pertama kalinya,
ia sadar:
mencintai seseorang
kadang berarti
berhenti memintanya tinggal.
Dan meski terlambat,
itu tetap bentuk cinta.
Sedangkan Iskandar dan Nayla,
mereka tidak langsung menjadi kisah sempurna.
Karena cinta yang lahir dari luka
tidak pernah berjalan tanpa bekas.
Ada hari, hari ketika Nayla masih takut.
Ada malam, malam ketika Iskandar masih diam terlalu lama.
Ada masa ketika bayangan lama
datang tanpa diundang.
Namun kali ini,
mereka tidak lagi berjalan sendiri.
Dan kadang,
cinta bukan tentang
siapa yang datang lebih dulu.
Bukan pula tentang
siapa yang paling lama tinggal.
Kadang,
cinta hanyalah tentang
siapa yang tetap memilih bertahan
setelah mengetahui semuanya.
Suatu sore,
mereka kembali duduk di Dermaga KP3.
Matahari tenggelam perlahan.
Langit memantul di sungai.
Lampu, lampu mulai menyala.
Angin lembut menyentuh wajah mereka.
Nayla menatap air
lalu bertanya pelan,
“Kalau waktu itu aku tidak datang ke hidup kamu?”
Iskandar menoleh.
Tersenyum.
“Bukan kamu yang datang di waktu salah.”
Nayla menatapnya.
Iskandar menggenggam tangannya,
lalu berkata,
“Cuma saya yang terlambat mengenali
bahwa kamu adalah rumah.”
Sungai di Kapuas masih mengalir seperti biasanya.
Dermaga Danau Mare masih ramai oleh langkah, langkah
orang yang datang dan pergi.
Lampu, lampu di Dermaga KP3 masih memantulkan cahaya ke permukaan air yang
tenang.
Dan Rumah Jabatan Bupati masih berdiri di tepi sungai, menjadi saksi kota yang
terus bergerak ke depan.
Namun bagi Iskandar,
Kuala Kapuas tidak lagi hanya tentang sebuah kota.
Kota itu telah berubah menjadi tempat
di mana ia pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati,
lalu belajar melepaskannya tanpa pernah benar, benar pergi.
Karena ada cinta yang memang ditakdirkan untuk tinggal.
Dan ada pula cinta yang hanya datang sebentar,
untuk mengajarkan bahwa tidak semua yang indah harus dimiliki.
Di kota yang dikenal sebagai Kota Air ,Aman, Indah,
dan Ramah,
Iskandar akhirnya memahami satu hal:
bahwa terkadang, cinta terindah adalah cinta yang datang...
tepat di waktu yang salah.
Dan di kota air yang tenang itu,
di antara luka yang pernah hampir menghancurkan segalanya,
cinta akhirnya tidak lagi terasa seperti kesalahan.
Karena pada akhirnya,
cinta selalu menemukan jalannya sendiri.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar