Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Senin, 20 April 2026

NOVELET PENJAGA TELAGA CEBONG NEGERI ATAS AWAN

 

NOVELET

PENJAGA TELAGA CEBONG NEGERI ATAS AWAN

Ketika cinta tak bisa dimiliki, kadang ia hadir hanya untuk menunjukkan arah pulang.

 

Oleh: Slamet Riyadi


PROLOG — Panggilan dari Negeri Kabut

Tidak semua perjalanan dimulai oleh langkah.

Sebagian dimulai oleh cerita.

Dan sebagian lainnya dimulai oleh luka yang bahkan belum sempat terjadi.

Di sebuah desa kecil bernama Awan Biru, yang bersandar tenang di lereng Gunung Sumbing, hidup seorang pemuda bernama Aditya, lelaki sederhana yang selama hidupnya tak pernah benar, benar pergi jauh dari tanah tempat ia dilahirkan. Hari, harinya dipenuhi aroma tanah basah, embun pagi, dan langit pegunungan yang setiap sore turun memeluk desa dengan kabut tipis.

Bagi orang lain, Awan Biru hanyalah desa kecil yang sunyi.

Namun bagi Aditya, desa itu adalah rumah yang terlalu akrab hingga terkadang terasa sempit bagi mimpinya sendiri.

Malam itu, seperti biasa, para lelaki desa berkumpul di gardu tua dekat jalan menanjak menuju kebun kopi. Angin gunung berembus pelan, menyentuh lampu, lampu redup yang menggantung di tiang bambu. Suara jangkrik menjadi latar dari obrolan panjang yang tak pernah benar, benar penting, tentang panen, cuaca, harga sayur, dan sesekali tentang masa lalu.

Namun malam itu berbeda.

Karena malam itu Hermansyah dan Joko baru pulang dari perjalanan mereka ke dataran tinggi Dieng.

Mereka bercerita tentang sebuah desa di atas awan.

Tentang Desa Sembungan, sebuah desa kecil di Kecamatan Kejajar, Wonosobo, yang berdiri lebih dari dua ribu meter di atas permukaan laut. Sebuah tempat yang menurut mereka terlalu indah untuk dipercaya.

Mereka bercerita tentang:

·                Bukit Sikunir, tempat matahari lahir dari lautan awan

·                Air Terjun Sikarim, yang jatuh dari tebing hijau seperti tirai langit

·                dan Telaga Cebong, yang airnya memantulkan cahaya seperti kaca perak di bawah kabut pagi

Joko menatap jauh ke kegelapan sebelum berkata pelan,

“Kadang tempat paling indah bukan diciptakan untuk dimiliki… hanya untuk dikenang.”

Aditya yang sejak tadi diam mulai memperhatikan.

Namun yang membuat seluruh tubuhnya tiba, tiba terasa dingin adalah saat Hermansyah menambahkan satu cerita lain.

Cerita yang diucapkannya nyaris seperti bisikan.

“Warga sana percaya,” katanya pelan, “di Telaga Cebong ada seorang perempuan yang menjaga airnya. Cantik. Rambutnya panjang. Kadang muncul di pagi yang terlalu sunyi. Dan siapa pun yang melihat matanya… pulangnya tak pernah sama lagi.”

Orang, orang di gardu tertawa.

Sebagian menganggap itu hanya legenda pegunungan.

Sebagian lain menganggap Hermansyah terlalu banyak minum kopi.

Tetapi Aditya tidak ikut tertawa.

Sebab entah mengapa, ketika mendengar cerita itu, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa seperti pernah mengenal perempuan itu.

Seolah, olah cerita itu bukan sedang didengarnya untuk pertama kali.

Melainkan sedang diingat kembali.

Malam itu setelah semua orang pulang, Aditya masih duduk sendirian di gardu. Menatap kabut yang perlahan turun dari puncak Sumbing. Angin malam membawa dingin yang menusuk kulit, tetapi bukan itu yang membuat tubuhnya gemetar.

Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Sesuatu yang terasa seperti panggilan.

Dan tanpa ia sadari,
sejak malam itulah,
hidup Aditya perlahan mulai berjalan menuju sebuah perjalanan
yang akan mengubah segalanya.

Bukan hanya tentang cinta.

Tetapi tentang kehilangan.

Tentang takdir.

Dan tentang seorang perempuan
yang tak pernah benar, benar berasal dari dunia yang sama.

BAB 1 — Mimpi Tentang Perempuan di Atas Awan

Malam di Desa Awan Biru selalu datang dengan cara yang berbeda.

Ia tidak sekadar turun bersama gelap, tetapi merayap perlahan dari lereng Gunung Sumbing, menyusup di sela, sela pohon pinus, lalu menggantung tenang di atas atap rumah, rumah kayu tua yang berjajar di kaki bukit. Kabut tipis turun seperti selendang putih yang dilayangkan langit, membungkus desa kecil itu dalam sunyi yang nyaris sakral.

Dari beranda rumah panggung milik orang tuanya, Aditya duduk sendiri memandang lembah yang mulai tenggelam dalam remang. Di tangannya, secangkir kopi hitam telah kehilangan uapnya sejak lama, namun lelaki muda itu tak juga meminumnya.

Pikirannya melayang jauh.

Sangat jauh.

Ke sebuah tempat yang belum pernah ia datangi, namun terasa begitu akrab di dalam hatinya.

Sembungan.

Nama itu masih terngiang jelas di telinganya.

Sudah hampir seminggu berlalu sejak Hermansyah dan Joko bercerita panjang di gardu ronda tentang desa tertinggi di Pulau Jawa itu. Tentang sebuah kampung kecil di dataran tinggi Dieng yang seolah berdiri di atas langit. Tentang pagi yang dipenuhi kabut seperti salju. Tentang telaga kecil yang airnya memantulkan cahaya seperti serpihan kaca. Tentang bukit yang memperlihatkan matahari terbit paling indah yang pernah mereka lihat sepanjang hidup.

Namun dari semua cerita itu, ada satu bagian yang paling sulit dihapus dari benaknya.

Tentang seorang perempuan.

Hermansyah saat itu tertawa kecil sebelum berkata dengan suara setengah berbisik, seolah takut didengar angin malam.

“Di sana,” katanya, “ada yang bilang kadang muncul perempuan cantik di pinggir Telaga Cebong. Rambutnya panjang. Bajunya putih. Kalau dia menatap seseorang, orang itu bisa pulang dengan hati yang tak pernah utuh lagi.”

Semua orang di gardu ronda tertawa mendengar cerita itu.

Semua kecuali Aditya.

Entah mengapa, sejak mendengar kisah itu, hatinya seperti disentuh sesuatu yang tak kasatmata.

Sejak malam itu, tidurnya tak lagi benar, benar tenang.

Dan malam ini, untuk ketiga kalinya dalam seminggu, mimpi itu datang lagi.

Aditya berdiri di tepi sebuah telaga yang tenang.

Udara dingin menusuk sampai ke tulang. Kabut putih menggantung rendah di atas permukaan air. Di kejauhan, siluet perbukitan terlihat samar seperti lukisan yang belum selesai.

Air telaga itu begitu bening.

Terlalu bening.

Sampai ia bisa melihat bayangan langit di dalamnya.

Lalu seseorang berdiri di seberang sana.

Seorang perempuan.

Rambut hitamnya panjang tergerai sampai pinggang, bergerak pelan disentuh angin. Kulitnya pucat diterpa cahaya rembulan. Matanya menatap lurus ke arah Aditya, dalam dan tenang seperti menyimpan rahasia berabad, abad.

Perempuan itu tersenyum.

Senyum yang begitu lembut hingga membuat dada Aditya sesak oleh rasa yang tak bisa dijelaskan.

Ia ingin melangkah mendekat.

Namun kakinya seperti tertanam di tanah.

Perempuan itu mengangkat tangan perlahan.

Lalu dengan suara yang nyaris seperti bisikan angin, ia berkata,

“Datanglah…”

Aditya terdiam.

Jantungnya berdebar.

Perempuan itu kembali berbisik.

“Aku menunggumu.”

Kabut tiba, tiba bergerak menebal.

Membungkus sosok perempuan itu.

Dan dalam hitungan detik, ia menghilang.

Meninggalkan riak kecil di permukaan air.

Aditya terbangun dengan napas memburu.

Keningnya basah oleh keringat dingin.

Ia menoleh ke jendela kamarnya.

Langit masih gelap.

Hanya suara jangkrik dan desir angin gunung yang terdengar samar dari luar rumah.

Beberapa detik ia hanya duduk diam di ranjang, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya mimpi.

Hanya bunga tidur.

Tidak lebih.

Namun dadanya masih terasa sesak.

Dan yang lebih membuatnya gelisah adalah satu hal:

wajah perempuan itu terasa begitu nyata.

Terlalu nyata untuk sekadar mimpi.

Aditya mengusap wajahnya perlahan lalu menatap telapak tangannya sendiri. Entah kenapa, ia merasa seolah tadi benar, benar hampir menyentuh sesuatu yang selama ini tak pernah bisa dijelaskan oleh akal.

Pintu kamarnya diketuk pelan.

“Masih bangun?”

Suara ibunya terdengar lembut dari luar.

Aditya menarik napas panjang.

“Sudah bangun, Bu.”

Ibunya membuka pintu sedikit, lalu menatap anak lelakinya dengan sorot penuh khawatir.

“Kamu akhir, akhir ini sering gelisah. Ada yang kamu pikirkan?”

Aditya tersenyum tipis.

Ia sendiri tak tahu bagaimana menjelaskan bahwa hatinya sedang dipanggil oleh tempat yang belum pernah ia datangi.

“Tidak apa, apa, Bu. Mungkin cuma kecapekan.”

Ibunya menatapnya beberapa saat, seolah tahu jawaban itu tak sepenuhnya jujur.

Namun perempuan paruh baya itu hanya mengangguk kecil.

“Kalau ada apa, apa, cerita.”

Aditya mengangguk.

Setelah ibunya pergi, ia kembali menatap keluar jendela.

Kabut tipis turun di lereng gunung.

Sama seperti dalam mimpinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aditya merasa bahwa mungkin ada tempat yang memanggil seseorang bukan dengan suara,

melainkan dengan rindu yang tak diketahui asalnya.

Pagi datang perlahan bersama cahaya pucat dari timur.

Desa Awan Biru terbangun dalam udara dingin yang menggigit. Suara ayam, aroma kayu bakar, dan embun yang menggantung di daun kopi menjadi pemandangan biasa bagi penduduk desa.

Namun tidak bagi Aditya pagi itu.

Ia berdiri di tepi kebun milik ayahnya sambil menatap puncak Gunung Sumbing yang diselimuti kabut.

Dalam hatinya, satu keputusan mulai tumbuh.

Perlahan.

Tapi pasti.

Ia harus pergi ke Sembungan.

Bukan sekadar untuk melihat negeri di atas awan yang diceritakan Hermansyah.

Bukan sekadar untuk membuktikan cerita lama tentang perempuan penjaga telaga.

Melainkan karena jauh di dalam dirinya,
ia merasa ada bagian dari hidupnya
yang sedang menunggu di sana.

Dan entah kenapa,
untuk pertama kalinya,
Aditya tidak takut.

Ia justru merasa
sedang berjalan menuju takdirnya sendiri.

Di kejauhan, angin gunung berembus pelan.

Membawa bisikan samar yang hanya bisa didengar oleh hati yang sedang mencari.

“Datanglah…”

BAB 2 — Perjalanan Menuju Negeri Atas Awan

Keputusan itu akhirnya benar, benar diucapkan Aditya dua hari kemudian.

Bukan di gardu ronda.
Bukan pula kepada teman, temannya terlebih dahulu.

Melainkan kepada dirinya sendiri.

Di depan cermin kecil yang tergantung di dinding kamarnya, Aditya memandang wajahnya yang tampak lebih pucat dari biasanya. Matanya menyimpan sesuatu yang baru, sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami.

Kerinduan pada tempat yang belum pernah ia datangi.

Ia menghela napas panjang.

Lalu berkata pelan, nyaris seperti berjanji kepada seseorang yang tak terlihat.

“Aku akan datang.”

Kalimat itu sederhana.

Namun sejak kata, kata itu terucap, hidupnya seperti mulai bergerak ke arah yang tak bisa lagi dihentikan.

Pagi keberangkatan datang bersama kabut yang lebih tebal dari biasanya.

Desa Awan Biru masih setengah tertidur ketika empat sahabat itu berkumpul di depan warung kecil dekat pertigaan desa.

Aditya datang paling awal, membawa tas ransel sederhana berisi pakaian, kamera pinjaman, buku catatan kecil, dan harapan yang belum sempat diberi nama.

Tak lama kemudian, Amat Junior muncul sambil membawa dua tas besar sekaligus.

Aditya mengernyit.

“Mat, kita cuma tiga hari.”

Amat Junior mengangguk serius.

“Iya. Yang satu baju. Yang satu makanan.”

Guntur yang baru datang langsung tertawa kecil.

“Kamu mau wisata atau pindahan rumah?”

Amat mengangkat dagu bangga.

“Pengalaman mengajarkan satu hal penting.”

“Apa?”

“Di tempat dingin, cinta boleh gagal… tapi perut jangan sampai kosong.”

Jojon yang datang terakhir hampir tersandung batu karena tertawa terlalu keras.

Suasana pagi yang semula dingin perlahan mencair oleh tawa mereka.

Dan seperti itulah persahabatan mereka selalu bekerja,
mengubah perjalanan biasa menjadi sesuatu yang akan dikenang.

Ibu Aditya berdiri di depan rumah sambil memeluk selendang.

Wajahnya menyimpan kecemasan yang berusaha ia sembunyikan.

“Kamu yakin mau pergi sejauh itu?”

Aditya mengangguk pelan.

“Cuma beberapa hari, Bu.”

Ibunya menatap mata anaknya lama.

Seorang ibu kadang bisa melihat hal yang bahkan anaknya sendiri belum mengerti.

“Kamu bukan cuma mau jalan, jalan, kan?”

Pertanyaan itu membuat Aditya terdiam.

Beberapa saat ia tak menjawab.

Lalu ia hanya tersenyum kecil.

“Mungkin aku cuma ingin mencari sesuatu.”

Ibunya mengusap lengan anaknya lembut.

“Kadang yang kita cari jauh, jauh justru sudah ada dekat kita.”

Aditya tersenyum tipis, meski hatinya tahu:
kali ini yang memanggilnya memang bukan sesuatu yang dekat.

Sebelum berangkat, ibunya menyelipkan syal rajut tua ke tangannya.

“Dingin di atas sana.”

Aditya menerima syal itu sambil menahan sesuatu yang tiba, tiba terasa hangat di dadanya.

“Terima kasih, Bu.”

Perjalanan dari lereng Sumbing menuju Wonosobo memakan waktu berjam, jam.

Mereka berganti kendaraan kecil menuju terminal kota, lalu melanjutkan dengan bus antarkota yang mulai menanjak menuju dataran tinggi.

Sepanjang perjalanan, Amat Junior tak berhenti bicara.

Kadang tentang perempuan.

Kadang tentang kopi.

Kadang tentang teori anehnya bahwa perempuan cantik di pegunungan biasanya lebih berbahaya daripada jurang.

“Kenapa?” tanya Jojon penasaran.

Amat menatap jauh keluar jendela.

“Karena jurang cuma bikin jatuh sekali.”

“Kalau perempuan?”

“Bisa bikin jatuh berkali, kali.”

Guntur menggeleng pelan.

“Sejak kapan kamu jadi filsuf?”

Amat tersenyum bangga.

“Sejak dua kali ditinggal pas sayang, sayangnya.”

Mereka kembali tertawa.

Namun di tengah tawa itu, Aditya justru lebih banyak diam.

Matanya menatap keluar jendela.

Perbukitan hijau mulai berubah.
Kabut semakin rapat.
Udara semakin dingin.
Jalan semakin menanjak.

Dan entah kenapa,
setiap kilometer terasa seperti sedang membawanya lebih dekat
kepada sesuatu yang telah lama menunggunya.

Ketika mereka tiba di kawasan Dieng, matahari mulai condong ke barat.

Udara dingin langsung menyambut begitu pintu bus terbuka.

Jojon menggigil hebat.

“Ya Tuhan… ini dingin atau kulkas rusak?”

Amat langsung mengenakan dua jaket sekaligus.

“Kalau begini, saya bisa membeku sebelum jatuh cinta.”

Guntur menggeleng sambil tersenyum kecil.

“Belum juga sampai.”

Mereka kemudian naik bus wisata kecil yang menuju Desa Sembungan.

Bus itu sempit.
Kaca jendelanya sedikit berembun.
Penumpangnya tak banyak.

Dan di sanalah semuanya mulai berubah.

Aditya duduk di dekat jendela, menatap pemandangan luar yang mulai diselimuti kabut sore.

Lalu saat bus berhenti di tikungan berikutnya,
seorang perempuan naik.

Langkahnya pelan.
Wajahnya tertutup syal tipis.
Rambutnya panjang tergerai di balik jaket krem.
Matanya bening.

Aditya terdiam.

Waktu seperti melambat.

Perempuan itu duduk dua kursi di depannya.

Dan sepanjang perjalanan,
Aditya tak bisa memalingkan pandangannya.

Amat yang menyadarinya menyikut pelan.

“Wah.”

Aditya menoleh.

“Apa?”

Amat menyeringai.

“Belum sampai desa, sudah kena.”

Guntur ikut melirik lalu tersenyum kecil.

“Minimal kali ini manusia.”

Aditya mengabaikan mereka.

Namun dalam diam,
untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai,
ia merasa mungkin takdir sedang mulai membuka jalannya.

Bus perlahan memasuki Desa Sembungan.

Kabut turun tipis di antara rumah, rumah penduduk.
Lampu, lampu kecil mulai menyala.
Udara dingin menampar lembut wajah mereka.

Desa itu tampak seperti lukisan yang hidup.

Perempuan itu berdiri.

Aditya ikut berdiri diam, diam.

Namun sebelum ia sempat berkata apa pun,
seorang pria datang dari luar bus.

Pria itu tersenyum.
Mengulurkan tangan.
Perempuan itu membalas senyum hangat.

Lalu menggandeng tangan pria itu.

Suaminya.

Aditya terpaku.

Amat yang melihat langsung menepuk bahunya.

“Innalillahi.”

Jojon ikut menghela napas.

“Baru lima belas menit.”

Guntur menahan senyum.

“Rekor patah hati tercepat.”

Aditya hanya menatap kosong ketika perempuan itu berjalan menjauh bersama suaminya di tengah kabut sore.

Sesuatu di dalam dadanya jatuh,
meski bahkan belum sempat tumbuh.

Dan anehnya,
di saat yang sama,
ia merasa bahwa perempuan itu memang bukan alasan sebenarnya ia datang sejauh ini.

Karena jauh di balik kabut desa itu,
hatinya tahu.

ada seseorang lain
yang benar, benar sedang menunggunya.

Aditya menoleh ke arah telaga yang tampak samar dari kejauhan.

Permukaan airnya memantulkan cahaya senja.

Tenang.

Diam.

Namun entah mengapa,
dari tempatnya berdiri,
ia merasa seperti melihat bayangan putih
sesaat berdiri di tepi air.

Memandangnya.

Lalu menghilang bersama kabut.

Aditya menahan napas.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di negeri atas awan itu,
jantungnya berdebar bukan karena perjalanan.

Melainkan karena firasat.

Bahwa kisah yang sesungguhnya
baru saja dimulai.

BAB 3 — Desa di Atas Langit

Malam pertama di Desa Sembungan datang lebih cepat daripada yang dibayangkan Aditya.

Begitu matahari tenggelam di balik perbukitan Dieng, kabut turun perlahan seperti tirai putih yang ditarik langit untuk menutup dunia. Rumah, rumah penduduk yang tadi tampak jelas mulai samar, hanya menyisakan cahaya lampu kuning yang berpendar lembut dari balik jendela kayu.

Desa itu terasa sunyi.

Bukan sunyi yang menakutkan.

Melainkan sunyi yang seperti menyimpan sesuatu.

Aditya berdiri di depan penginapan kecil tempat mereka bermalam. Tangannya masuk ke saku jaket, sementara napasnya berubah menjadi embun tipis di udara. Ia memandang jauh ke arah telaga yang tadi sempat dilihatnya dari bus.

Permukaan air itu nyaris tak terlihat.

Hanya samar.

Seolah menyatu dengan langit.

Amat Junior keluar sambil memeluk dirinya sendiri.

“Kalau dinginnya begini terus,” katanya sambil menggigil, “saya bisa pulang jadi es batu.”

Jojon langsung menyahut,
“Kalau kamu jadi es batu, bisa dijual ke warung.”

Amat melotot.
“Teman macam apa kalian ini?”

Guntur tertawa kecil dari belakang.
“Teman yang realistis.”

Tawa mereka memecah dingin sesaat.

Namun Aditya tetap diam.

Tatapannya masih tertuju ke arah telaga.

Sebab sejak turun dari bus tadi, perasaan aneh itu tak juga hilang.

Perasaan seperti sedang diawasi.

Bukan oleh manusia.

Tetapi oleh sesuatu yang lembut,
diam,
dan tak terlihat.

Penginapan yang mereka tempati milik seorang perempuan tua bernama Mbah Laras.

Rumahnya sederhana, berdinding kayu dengan lantai yang sedikit berderit saat diinjak. Di ruang tengah tergantung beberapa foto lama Bukit Sikunir, Telaga Cebong, dan desa Sembungan puluhan tahun silam ketika jalanan masih berupa tanah.

Mbah Laras menyuguhkan teh panas dengan aroma serai.

“Jarang ada tamu dari jauh datang bukan saat musim ramai,” katanya sambil tersenyum.

Amat langsung menerima gelas pertama.
“Kalau musim ramai, harga kamarnya naik ya, Mbah?”

Guntur menendang kaki Amat pelan di bawah meja.

Mbah Laras justru tertawa kecil.
“Kamu lucu.”

Amat tersenyum bangga.
“Akhirnya ada yang mengakui.”

Jojon berbisik,
“Biasanya orang bilang aneh.”

Mereka kembali tertawa.

Namun saat Aditya menyebut nama Telaga Cebong, senyum Mbah Laras berubah samar.

“Kalian mau ke sana besok?” tanya perempuan tua itu.

Aditya mengangguk.
“Iya.”

Mbah Laras menatap wajah Aditya beberapa detik lebih lama dibanding yang lain.

Tatapan yang aneh.

Seolah ia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

“Kalau ke telaga,” katanya pelan,
“jangan terlalu lama saat senja.”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Jojon menelan ludah.
“Kenapa, Mbah?”

Mbah Laras mengaduk tehnya perlahan.
“Karena tidak semua yang tinggal di sana suka dilihat manusia.”

Amat yang tadi santai langsung berhenti minum.
“Kalau begitu kita pagi saja.”

Guntur tersenyum tipis.
“Cerita lama?”

Mbah Laras tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Aditya.

Lalu berkata pelan,

“Kadang cerita lama memilih orang baru.”

Aditya terdiam.

Kalimat itu menempel di kepalanya jauh lebih lama daripada yang seharusnya.

Malam semakin larut.

Angin dingin menyusup melalui celah jendela kayu.
Jojon sudah tertidur dengan selimut menutupi kepala.
Amat mendengkur kecil di kasur sebelah.
Guntur masih membaca buku kecil di bawah lampu redup.

Namun Aditya tak bisa memejamkan mata.

Ia berdiri di dekat jendela.

Di luar sana, kabut bergerak perlahan di antara pepohonan.

Dan dari kejauhan,
telaga itu terlihat seperti mata gelap
yang tak pernah benar, benar tertutup.

Ada dorongan aneh di dalam dirinya.

Dorongan yang tak bisa dijelaskan.

Tanpa sadar,
ia mengenakan jaket,
lalu melangkah keluar penginapan sendirian.

Desa Sembungan di malam hari terasa seperti dunia yang berbeda.

Langkah kaki Aditya terdengar pelan di jalan batu.
Lampu, lampu rumah memudar satu per satu.
Hanya suara angin dan dedaunan yang saling bersentuhan.

Ia terus berjalan.

Seolah kakinya tahu arah
meski pikirannya tidak.

Sampai akhirnya,
ia tiba di tepi Telaga Cebong.

Permukaan air tampak hitam.
Diam.
Nyaris tanpa riak.

Kabut tipis melayang rendah di atasnya.

Aditya berdiri terpaku.

Jantungnya berdetak perlahan.

Lalu,

ia melihat seseorang.

Di seberang telaga.

Seorang perempuan berdiri diam dalam balutan putih.

Rambut panjangnya tergerai.
Tubuhnya samar tertutup kabut.
Wajahnya tak terlihat jelas.

Namun Aditya tahu.

Ia tahu siapa perempuan itu.

Perempuan yang sama
yang datang di mimpinya.

Napasnya tertahan.

“Sekar…”

Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya,
meski ia sendiri tak pernah merasa mengenalnya.

Perempuan itu perlahan menoleh.

Meski terpisah jarak,
Aditya merasa mata mereka bertemu.

Dan untuk sesaat,
seluruh dunia seolah berhenti bernapas.

Perempuan itu tersenyum.

Senyum yang sama
seperti dalam mimpinya.

Lalu dengan suara yang nyaris tak terdengar,
ia berkata,

“Akhirnya kau datang.”

Kabut tiba, tiba bergerak.

Angin dingin berembus keras.

Aditya menutup mata sesaat.

Dan ketika ia membukanya kembali,

perempuan itu sudah tidak ada.

Hanya permukaan telaga yang kembali tenang.

Seolah tak pernah ada siapa pun di sana.

“Aditya!”

Suara Guntur terdengar dari belakang.

Aditya menoleh cepat.

Guntur berdiri beberapa meter di belakang dengan napas sedikit memburu.

“Kamu ngapain malam, malam di sini sendirian?”

Aditya masih terpaku menatap telaga.

“Aku melihat seseorang.”

Guntur memandang sekeliling.
Tak ada siapa, siapa.

“Hanya kabut,” katanya tenang.

Aditya menggeleng.
“Bukan.”

Guntur menatap sahabatnya lama.

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai,
ia melihat sesuatu yang berbeda di wajah Aditya.

Bukan sekadar penasaran.

Tetapi perasaan seseorang
yang baru saja menemukan sesuatu
yang selama ini tanpa sadar ia cari.

Dan itu membuat Guntur merasa tidak tenang.

Saat mereka kembali ke penginapan,
Aditya menoleh sekali lagi ke arah telaga.

Kabut masih bergulung pelan di atas air.

Namun kini ia tahu satu hal.

Cerita Hermansyah bukan sekadar legenda.

Dan perempuan dalam mimpinya
bukan lagi hanya bunga tidur.

Karena malam itu,
di desa yang berdiri di atas langit,
Aditya sadar,

hatinya baru saja mulai jatuh
kepada seseorang
yang bahkan mungkin bukan manusia.

BAB 4 — Gadis di Tepi Telaga

Pagi di Desa Sembungan datang dengan cara yang nyaris tidak masuk akal.

Bukan dengan cahaya yang tiba, tiba memenuhi langit, melainkan dengan warna, warna lembut yang perlahan menetes dari ufuk timur. Kabut yang semalam menutupi desa sedikit demi sedikit terangkat, memperlihatkan lereng, lereng hijau yang basah oleh embun.

Dari kejauhan terdengar suara ayam kampung.
Aroma kayu bakar mulai keluar dari dapur rumah, rumah warga.
Udara dingin menusuk, tetapi justru menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Aditya berdiri di depan penginapan dengan tangan menggenggam gelas teh panas.

Namun pikirannya masih tertinggal di telaga semalam.

Tentang perempuan itu.

Tentang senyum itu.

Tentang suara lirih yang masih terngiang di telinganya.

“Akhirnya kau datang.”

Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan:
fakta bahwa ia melihat perempuan itu,
atau kenyataan bahwa hatinya justru merasa tenang saat melihatnya.

“Kalau dari tadi melamun terus, tehnya bisa jadi es.”

Suara Amat Junior membuyarkan lamunannya.

Aditya menoleh.

Amat berdiri sambil mengenakan dua jaket dan satu kupluk tebal yang membuat kepalanya terlihat seperti bola wol.

Jojon yang baru keluar langsung tertawa.

“Mat, kamu kayak bakpao pakai helm.”

Amat mendengus.
“Ini namanya bertahan hidup.”

Guntur keluar terakhir sambil membawa kamera.

“Kita berangkat sekarang kalau mau ke Sikunir sebelum ramai.”

Mereka pun berjalan menyusuri jalan desa.

Di kiri, kanan, rumah, rumah penduduk tampak sederhana dengan kebun kentang dan carica yang membentang. Beberapa warga menyapa ramah, sementara anak, anak kecil berlarian mengejar ayam di jalan setapak.

Semua tampak biasa.

Namun tidak bagi Aditya.

Karena sejak melangkah keluar penginapan, matanya tanpa sadar terus mencari satu wajah.

Wajah yang mungkin hanya sempat muncul sesaat.

Atau mungkin memang tak seharusnya ia lihat.

Mereka melewati jalan menurun menuju Telaga Cebong terlebih dahulu sebelum mendaki ke Bukit Sikunir.

Dan di sanalah langkah Aditya mendadak terhenti.

Di tepi telaga.

Berdiri sendirian di dekat rerumputan basah.

Seorang perempuan.

Rambut hitam panjangnya dibiarkan jatuh melewati bahu.
Selendang putih melingkar lembut di lehernya.
Gaun abu, abu muda yang dikenakannya bergerak perlahan tertiup angin.

Ia sedang memandang permukaan air.

Seolah telah lama berada di sana.

Seolah memang sedang menunggu seseorang.

Jantung Aditya langsung berdetak lebih cepat.

Guntur yang menyadari perubahan wajah sahabatnya ikut menoleh.

Namun sebelum ia sempat bertanya,
Aditya sudah berjalan lebih dulu.

“Dit…” panggil Guntur pelan.

Aditya tidak menjawab.

Ia terus melangkah menuju perempuan itu.

Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, perempuan itu perlahan menoleh.

Dan dunia seakan berhenti sesaat.

Wajahnya jauh lebih indah daripada dalam mimpi.

Bukan indah yang mencolok.

Tetapi indah yang tenang.

Seperti pagi yang tak pernah terburu, buru.

Matanya bening, namun di dalamnya tersimpan sesuatu yang terlalu dalam untuk dibaca.

Perempuan itu tersenyum kecil.

“Kau datang lagi.”

Suara itu sama.

Aditya hampir lupa bernapas.

“Kita... pernah bertemu?” tanyanya pelan.

Perempuan itu menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum samar.

“Mungkin.”
“Di tempat yang tidak kau ingat.”

Jawaban itu membuat bulu kuduk Aditya meremang.

Namun anehnya,
ia tidak merasa takut.

Justru seperti sedang berdiri di hadapan seseorang
yang telah lama dikenalnya.

“Namamu siapa?” tanya Aditya.

Perempuan itu memandang permukaan telaga sebentar sebelum menjawab.

“Sekar.”

Aditya menunggu.

“Sekar siapa?”

Perempuan itu kembali menatapnya.

Lalu berkata lembut,

“Sekar Tanjung.”

Nama itu jatuh begitu saja ke dalam hati Aditya.

Seperti hujan pertama
yang menyentuh tanah kering.

Dari kejauhan, Amat Junior memperhatikan sambil menganga.

“Wah…”

Jojon ikut melongok.
“Cantik banget.”

Amat langsung berbisik,
“Fix. Kita resmi jadi obat nyamuk.”

Guntur tidak tertawa.

Tatapannya justru tajam mengamati perempuan itu.

Sebab ada sesuatu yang aneh.

Pagi itu tanah di sekitar telaga masih basah oleh embun.

Jejak kaki Aditya terlihat jelas.

Namun jejak perempuan itu,

tidak ada.

“Kamu dari mana?” tanya Aditya.

Sekar tersenyum kecil.
“Aku tinggal di sekitar sini.”

“Sendirian?”

Sekar tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap telaga.

“Kadang seseorang tidak pernah benar, benar sendiri
jika tempat itu sudah menjadi rumahnya.”

Aditya tidak benar, benar mengerti.

Namun sebelum ia sempat bertanya lagi,
Sekar memandangnya dengan sorot yang lembut.

“Kau datang dari jauh.”

Aditya mengangguk.
“Dari lereng Sumbing.”

Mata Sekar sedikit berubah.

“Sumbing...”

Ia mengucapkan nama gunung itu seolah mengenalinya.

Aditya tersenyum kecil.
“Kamu tahu?”

Sekar mengangguk pelan.
“Gunung yang menyimpan kabut paling setia.”

Aditya terdiam.

Tak ada orang yang pernah menggambarkan desanya seindah itu.

Dan entah mengapa,
mendengar Sekar menyebut kampungnya,
dadanya terasa hangat.

“Aditya!”

Suara Amat Junior terdengar dari kejauhan.

“Kita mau naik atau mau pindah domisili di telaga?”

Aditya menoleh malu.

Sekar tertawa kecil.

Tawa itu ringan.

Lembut.

Namun cukup untuk membuat dunia di sekitar Aditya terasa berubah.

“Kau harus pergi dengan teman, temanmu,” kata Sekar.

Aditya mengangguk, meski sebenarnya ia tak ingin pergi.

“Bisa bertemu lagi?”

Sekar memandangnya lama.

Lalu tersenyum samar.

“Kalau kabut mengizinkan.”

Sebelum Aditya sempat berkata apa pun,
Sekar melangkah mundur perlahan.

Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.

Kabut tipis bergerak melewati tubuhnya.

Dan ketika kabut itu tersibak,

Sekar sudah tidak ada.

Aditya terpaku.

“Dit!”

Amat datang sambil menepuk bahunya.

“Ngapain bengong? Cewek cantik gitu biasanya minta Instagram, bukan ditinggal melamun.”

Aditya masih menatap tempat Sekar tadi berdiri.

“Aku...”

Ia tak tahu harus menjelaskan apa.

Guntur datang paling belakang.
Tatapannya langsung menuju tanah.

Jejak kaki Aditya ada.

Tetapi tempat Sekar berdiri tetap bersih.

Tanpa bekas.

Tanpa tanda.

Seolah sejak tadi
tak pernah ada siapa pun di sana.

Guntur menatap sahabatnya dengan wajah mulai gelisah.

Namun Aditya justru tersenyum untuk pertama kalinya sejak tiba di Sembungan.

Karena di dalam hatinya,
ia tahu satu hal.

Perjalanan ini
tak lagi sekadar tentang wisata.

Dan perempuan bernama Sekar Tanjung itu—

baru saja membuka pintu
menuju kisah yang tak akan pernah bisa ia lupakan.

BAB 5 — Obat Nyamuk Bernama Sahabat

Pendakian menuju Bukit Sikunir pagi itu seharusnya menjadi perjalanan biasa.

Jalur batu yang menanjak.
Tangga, tangga tanah yang lembap.
Kabut yang bergerak perlahan di sela semak.
Dan deretan wisatawan yang datang mengejar matahari.

Namun bagi tiga orang sahabat Aditya, pagi itu terasa sangat berbeda.

Bukan karena pemandangan.

Melainkan karena sejak dari tepi telaga tadi, Aditya berjalan seperti orang yang tubuhnya ikut naik ke bukit, tetapi jiwanya tertinggal di bawah bersama seorang gadis bernama Sekar.

Amat Junior yang berjalan di belakang langsung menggeleng.

“Bahaya.”

Jojon menoleh.
“Apa?”

Amat menunjuk Aditya yang terus tersenyum sendiri.

“Itu gejala awal.”

“Gejala apa?”

“Gejala orang yang baru jatuh cinta.”

Guntur yang mendengar hanya menarik napas panjang.

“Belum tentu.”

Amat melirik tajam.
“Kalau orang jalan sambil senyum sendiri bukan jatuh cinta namanya apa?”

Jojon menjawab cepat,
“Masuk angin?”

Amat spontan menepuk jidat.

“Kenapa saya berteman dengan kalian?”

Mereka bertiga tertawa kecil.

Sementara Aditya yang berjalan beberapa langkah di depan bahkan tidak sadar dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan.

Ia masih memikirkan satu nama.

Sekar Tanjung.

Nama itu seperti terus berputar di kepalanya, mengisi ruang, ruang sunyi yang selama ini tak pernah ia sadari kosong.

Langit perlahan berubah jingga saat mereka tiba di puncak Bukit Sikunir.

Kabut di bawah mulai terbelah.
Lautan awan terbentang luas.
Puncak, puncak gunung muncul seperti pulau, pulau di tengah samudra putih.

Orang, orang mulai berdiri diam.

Tak ada yang benar, benar siap menghadapi indahnya pagi dari tempat setinggi itu.

Matahari perlahan muncul dari balik cakrawala.

Dan seketika,
seluruh langit seperti terbakar warna emas.

Jojon sampai membuka mulut.

“Ya Allah…”

Amat mengangguk pelan.

“Kalau gagal move on di tempat beginian, wajar sih.”

Guntur tersenyum kecil.
“Untuk sekali ini, saya setuju.”

Namun ketika mereka menoleh,
Aditya tidak sedang memandang matahari.

Ia justru menatap sisi lain bukit.

Seolah sedang mencari seseorang.

Amat menghela napas panjang.

“Sudah parah.”

“Dit.”

Aditya menoleh.

Amat menyodorkan roti.

“Makan.”

Aditya mengernyit.
“Aku nggak lapar.”

Amat memasukkan roti itu ke tangan Aditya.

“Orang jatuh cinta biasanya lupa makan.”

“Terus?”

“Saya tidak mau teman saya pingsan romantis di gunung.”

Jojon tertawa.
“Bayangin aja headline, nya.”

“Apa?”

“Pemuda dari Sumbing tumbang karena cinta di Dieng.”

Mereka bertiga tertawa.

Aditya akhirnya ikut tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, suasana di wajahnya sedikit kembali normal.

Guntur duduk di sampingnya.
“Cantik ya?”

Aditya menatap matahari sebentar.
“Iya.”

Guntur melirik.
“Saya bukan ngomongin pemandangan.”

Aditya terdiam.

Lalu tersenyum kecil.

“Dia berbeda.”

Amat langsung menyahut dari belakang.
“Kalimat klasik orang yang sedang menuju patah hati.”

Aditya melempar roti ke arah Amat.
“Diam.”

Mereka kembali tertawa.

Dan untuk sesaat,
persahabatan mereka terasa hangat
di tengah dinginnya negeri atas awan.

Setelah turun dari Bukit Sikunir, mereka melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Sikarim.

Jalan menuju air terjun dipenuhi kebun sayur bertingkat yang hijau.
Udara semakin dingin.
Suara air mulai terdengar dari kejauhan.

Ketika air terjun itu akhirnya terlihat, semuanya terdiam.

Air jatuh dari tebing tinggi.
Putih.
Jernih.
Membentuk kabut halus di sekitarnya.

“Ini indah banget...” bisik Aditya.

Amat memotret sambil berkata,
“Kalau pulang nanti saya upload dengan caption:
mencari healing, bukan feeling.”

Jojon langsung tertawa keras.
“Feeling malah datang sendiri.”

Aditya hanya menggeleng sambil tersenyum.

Namun di balik semua itu,
pikirannya tetap kembali kepada Sekar.

Tentang cara gadis itu memandangnya.

Tentang suaranya.

Tentang kalimatnya.

“Kalau kabut mengizinkan.”

Semakin ia mencoba menganggap semuanya kebetulan,
semakin hatinya justru merasa bahwa pertemuan itu bukan sesuatu yang biasa.

Saat mereka duduk beristirahat di batu besar dekat air terjun, Guntur tiba, tiba bertanya.

“Aditya.”

“Hm?”

“Kamu yakin perempuan tadi benar, benar warga sini?”

Aditya menoleh.
“Maksudmu?”

Guntur menatap lurus.
“Saya tanya beberapa orang waktu kalian bicara tadi.”

Aditya mulai serius.
“Lalu?”

“Tidak ada yang kenal nama Sekar Tanjung.”

Suasana mendadak berubah.

Amat berhenti makan.

Jojon ikut diam.

Aditya mencoba tertawa kecil.
“Mungkin mereka tidak tahu.”

Guntur menggeleng.
“Desa sekecil ini? Nama orang biasanya semua kenal.”

Amat langsung menimpali pelan,
“Bisa juga dia pendatang.”

Jojon mengangguk cepat.
“Iya. Bisa jadi wisatawan.”

Namun Guntur menatap Aditya lebih dalam.

“Aditya...”
“Waktu dia berdiri di telaga tadi...”
“Tanahnya basah.”

Aditya diam.

Guntur melanjutkan pelan.

“Tapi tidak ada jejak kakinya.”

Suara air terjun mendadak terasa jauh.

Aditya menatap sahabatnya beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

“Kalian terlalu banyak dengar cerita mistis.”

Amat mengangguk cepat.
“Iya sih, tapi cerita mistis kadang gratis.”

Jojon menelan ludah.
“Jangan ngomong gitu.”

Aditya berdiri.
“Sudahlah.”

Ia mencoba terlihat tenang.

Namun jauh di dalam dadanya,
kata, kata Guntur mulai menyusup
ke tempat yang sebelumnya hanya dipenuhi rasa rindu.

Dan untuk pertama kalinya,
di balik rasa jatuh cinta itu,
muncul sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tipis.

Sesuatu yang dingin.

Ketakutan.

Menjelang sore mereka kembali ke Telaga Cebong.

Kabut mulai turun perlahan.
Air telaga memantulkan langit pucat.
Angin bergerak lembut di antara ilalang.

Aditya berjalan sedikit menjauh dari teman, temannya.

Matanya mencari.

Dan benar saja.

Di tepi telaga,
di tempat yang sama seperti pagi tadi,
Sekar berdiri menunggunya.

Rambut panjangnya bergerak tertiup angin.
Senyumnya lembut.
Matanya tenang.

Seolah ia tahu
Aditya pasti akan kembali.

Jantung Aditya berdegup keras.

Dari kejauhan, Amat menepuk bahu Guntur.

“Selesai.”

“Apa?”

“Kita resmi jadi obat nyamuk kelas nasional.”

Jojon mengangguk pelan.
“Dan saya mulai takut.”

Karena kali ini,
mereka semua melihatnya.

Sekar benar, benar ada.

Namun entah mengapa,
hanya Aditya yang terlihat bahagia.

Sementara ketiga sahabatnya mulai sadar—

mungkin yang sedang mendekati sahabat mereka
bukan sekadar cinta.

Melainkan sesuatu
yang jauh lebih rumit
daripada yang mereka bayangkan.

BAB 6 — Rahasia di Balik Kilau Telaga

Senja turun perlahan di Telaga Cebong.

Langit yang semula biru mulai berubah menjadi jingga pucat, lalu perlahan memerah seperti luka yang belum benar, benar sembuh. Permukaan air telaga tampak tenang, memantulkan warna langit dengan cara yang begitu sempurna hingga sulit dibedakan mana dunia yang nyata dan mana bayangan.

Aditya melangkah mendekati Sekar.

Di belakangnya, Amat Junior, Guntur, dan Jojon memilih berhenti beberapa meter dari bibir telaga. Bukan karena ingin memberi ruang, melainkan karena ada sesuatu di udara sore itu yang membuat mereka enggan mendekat lebih jauh.

Udara tiba, tiba terasa lebih dingin.

Terlalu dingin.

Bahkan untuk ukuran Dieng.

Sekar menatap Aditya dengan senyum kecil.

“Kau datang lagi.”

Aditya menahan senyum yang tanpa sadar muncul di wajahnya.

“Sepertinya aku memang harus datang.”

Sekar memandangnya lama.

Seolah ingin memastikan sesuatu di dalam mata pemuda itu.

“Atau mungkin,” katanya lirih,
“kau memang tak pernah punya pilihan selain datang.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun entah kenapa, dada Aditya terasa bergetar pelan.

Dari kejauhan Amat berbisik.

“Saya nggak suka kalimat begitu.”

Jojon mengangguk cepat.
“Saya juga.”

Guntur menatap tajam ke arah Sekar.

“Ada yang aneh.”

Amat menoleh.
“Dari tadi juga aneh.”

“Bukan.”
Guntur mempersempit pandangan.
“Lihat air telaganya.”

Amat dan Jojon ikut memperhatikan.

Permukaan air telaga yang tenang itu memantulkan bayangan langit.

Memantulkan bayangan pepohonan.

Memantulkan bayangan Aditya.

Tetapi—

bayangan Sekar tidak terlihat.

Amat langsung merinding.
“Ya Allah…”

Jojon refleks mundur selangkah.
“Saya mau pulang.”

Guntur tetap diam.

Tatapannya semakin serius.

Dan untuk pertama kalinya,
ia mulai takut bahwa legenda yang mereka dengar
mungkin bukan sekadar cerita wisata.

Sekar berjalan perlahan menyusuri tepian telaga.

Aditya mengikuti di sampingnya.

Langkah mereka pelan.
Nyaris seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal.

“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Sekar.

Aditya tersenyum kecil.
“Awalnya cuma ingin melihat tempat ini.”

“Sekarang?”

Aditya menatapnya.
“Sekarang aku sendiri tidak tahu.”

Sekar menunduk.
Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah.

“Kadang manusia datang jauh, jauh,” katanya pelan,
“bukan untuk menemukan tempat.”
“Tapi untuk menemukan bagian dari dirinya yang hilang.”

Aditya menatap wajahnya.

“Dan kamu?”
“Bagian itu?”

Sekar berhenti berjalan.

Ia memandang telaga.

Air yang semula tenang tiba, tiba beriak kecil meski angin tak bergerak.

“Aku bukan sesuatu yang bisa kau temukan,” bisiknya.
“Aku hanya sesuatu yang mungkin harus kau lepaskan.”

Aditya tidak mengerti.

Namun justru karena itu,
rasa ingin tahunya semakin besar.

Dan perlahan,
perasaan itu tumbuh menjadi sesuatu
yang lebih dalam dari sekadar penasaran.

Mereka berhenti di sebuah batu besar di tepi telaga.

Sekar duduk di sana.

Gaunnya menyentuh rerumputan basah.
Tangan putihnya menyentuh permukaan air.

Dan saat ujung jarinya menyentuh telaga,
air itu memantulkan cahaya kecil.

Berkilau.

Seperti serpihan bintang jatuh ke dalam air.

Aditya terpaku.

“Bagaimana kamu melakukannya?”

Sekar tersenyum tipis.

“Telaga ini menyimpan banyak hal.”

“Seperti apa?”

Sekar menatap air.

“Kenangan.”
“Harapan.”
“Dan hati manusia yang datang dengan cinta.”

Aditya menelan napas pelan.

“Apa telaga ini juga menyimpan hatiku?”

Sekar menoleh perlahan.

Tatapannya lembut.
Namun ada kesedihan yang samar di dalamnya.

“Bisa jadi.”

Aditya tak sadar sejak kapan jantungnya mulai berdetak seperti ini.

Duduk di samping gadis yang baru dikenalnya,
tetapi terasa seperti seseorang
yang telah lama menunggunya.

Dari kejauhan Amat sudah gelisah.

“Kita harus ganggu nggak?”

Jojon menggeleng cepat.
“Jangan. Saya takut.”

Guntur masih menatap lurus.
“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena saya ingin tahu.”
“Dia sebenarnya siapa.”

Amat memandang sahabatnya.
“Kalau ternyata bukan manusia?”

Guntur terdiam.

Lalu menjawab pelan,

“Justru itu yang saya takutkan.”

“Aditya.”

Suara Sekar lembut.

“Hm?”

“Kalau suatu hari kau harus memilih…”
“antara cinta dan rumahmu…”

Sekar menatap mata Aditya dalam, dalam.

“Mana yang akan kau pilih?”

Aditya terdiam.

Pertanyaan itu datang terlalu tiba, tiba.

Namun entah mengapa,
ia menjawab jujur.

“Dulu mungkin aku akan memilih cinta.”

Sekar menatapnya.

“Sekarang?”

Aditya memandang desa kecil di kejauhan.
Lalu kembali menatap Sekar.

“Aku belum tahu.”

Sekar tersenyum.
Senyum yang indah,
namun entah kenapa terasa sedih.

“Jawaban itu akan mengubah hidupmu.”

Angin tiba, tiba berembus.

Kabut turun lebih cepat dari biasanya.

Dari kejauhan suara Mbah Laras terngiang dalam ingatan:

“Jangan terlalu lama di telaga saat senja.”

“Dit!”

Suara Guntur memanggil keras.

“Sudah mau malam!”

Aditya menoleh sebentar.

Saat ia kembali menatap Sekar,

gadis itu sudah berdiri.

Kabut mulai menyelimuti tubuhnya perlahan.

Aditya panik.
“Tunggu.”

Sekar tersenyum.

“Kita akan bertemu lagi.”

“Kapan?”

Sekar menatap langit yang mulai gelap.

“Ketika kabut memilih turun untukmu.”

Lalu ia mundur selangkah.

Kabut bergerak.

Dan dalam sekejap,
Sekar menghilang.

Begitu saja.

Tanpa suara.

Tanpa jejak.

Tanpa bayangan.

Meninggalkan Aditya berdiri sendiri di tepi telaga.

Dengan jantung yang tak lagi sama seperti sebelumnya.

Amat datang paling dulu.

“Dit…”
“Kamu nggak apa, apa?”

Aditya masih memandang tempat Sekar tadi berdiri.

“Dia nyata.”

Guntur berdiri di sampingnya.
Wajahnya serius.

“Justru itu masalahnya.”

Aditya menoleh.

“Maksudmu?”

Guntur menunjuk permukaan air telaga.

“Kalau dia nyata…”
“Kenapa telaga ini tidak pernah memantulkan bayangannya?”

Aditya menatap air.

Dan untuk pertama kalinya,
ia melihat sendiri apa yang sejak tadi coba diabaikannya.

Di permukaan air itu,
hanya ada bayangan dirinya.

Tidak ada Sekar.

Tidak pernah ada.

Aditya membeku.

Sementara angin malam bergerak pelan di atas telaga,
membawa dingin yang perlahan masuk ke dalam hatinya.

Karena sore itu,
untuk pertama kalinya,
cinta yang baru tumbuh di dalam dirinya
mulai diselimuti oleh satu pertanyaan
yang jauh lebih menakutkan dari patah hati:

Siapa sebenarnya Sekar Tanjung?

BAB 7 — Cinta yang Tumbuh di Ketinggian

Sejak senja itu, sesuatu di dalam diri Aditya berubah.

Ia masih tertawa saat Amat Junior melontarkan candaan.
Masih berjalan bersama Guntur dan Jojon menyusuri desa.
Masih memotret pemandangan seperti wisatawan biasa.

Tetapi hatinya tidak lagi sepenuhnya berada di sana.

Sebagian dari dirinya tertinggal di tepi Telaga Cebong—
bersama seorang gadis yang datang tanpa jejak
dan pergi tanpa bayangan.

Malam itu, ketika ketiga sahabatnya sudah terlelap oleh dingin pegunungan, Aditya justru masih terjaga di dekat jendela penginapan.

Kabut turun perlahan di luar.

Dan tanpa ia sadari,
senyumnya muncul sendiri.

Guntur yang ternyata belum tidur memandang dari ranjang seberang.

“Kamu tersenyum sendiri lagi.”

Aditya menoleh.
“Ya?”

“Iya.”
Guntur menutup bukunya.
“Dan itu mulai mengkhawatirkan.”

Aditya tertawa kecil.

Namun tawanya berbeda.

Lebih ringan.

Lebih hidup.

Seperti seseorang yang baru menemukan alasan untuk merasa bahagia tanpa tahu apakah ia seharusnya bahagia.

Keesokan paginya, Aditya kembali ke telaga.

Sendirian.

Ia tidak memberitahu siapa pun.

Hanya mengenakan jaket, membawa kamera kecil, lalu berjalan pelan menembus kabut pagi yang masih menggantung di jalan setapak desa.

Telaga Cebong pagi itu tampak lebih tenang.

Permukaannya bening.
Embun masih menempel di rumput.
Burung, burung kecil sesekali terbang rendah di atas air.

Dan seperti seseorang yang memang sudah menunggunya,
Sekar sudah berdiri di sana.

Seolah ia tahu Aditya akan datang.

“Kau datang lebih pagi.”

Sekar tersenyum.

Aditya mendekat sambil mengangguk.
“Aku takut kamu menghilang lagi.”

Sekar menatapnya beberapa saat.
Lalu berkata pelan,

“Aku memang selalu menghilang.”

Jawaban itu seharusnya terdengar menyakitkan.

Namun entah kenapa,
cara Sekar mengatakannya justru terdengar seperti luka lama yang telah terlalu lama disimpan sendiri.

Aditya memandangnya.

Untuk pertama kalinya,
ia melihat bukan hanya kecantikan di wajah gadis itu—
tetapi juga kesepian.

Kesepian yang begitu dalam,
seolah sudah hidup di matanya sejak ratusan tahun lalu.

Mereka berjalan mengelilingi tepian telaga.

Tak ada percakapan panjang.
Tak ada pertanyaan besar.
Hanya langkah pelan dan diam yang terasa nyaman.

Kadang Sekar menunjuk bunga liar yang tumbuh di antara rerumputan.
Kadang ia tersenyum melihat burung kecil minum di tepian air.
Kadang ia hanya memandang kabut seolah sedang membaca sesuatu di dalamnya.

Aditya belum pernah merasa sedamai itu bersama siapa pun.

“Kenapa kamu selalu sendiri?” tanya Aditya akhirnya.

Sekar menatap air.

“Karena tak semua yang tinggal di dunia ini bisa benar, benar pergi.”

Aditya mengernyit.
“Maksudnya?”

Sekar tersenyum tipis.
“Kadang seseorang terikat pada tempat.”
“Seperti akar yang tak bisa meninggalkan tanah.”

Aditya diam.

Ia tidak mengerti sepenuhnya.

Namun ia merasa Sekar sedang menceritakan dirinya sendiri.

Di penginapan, tiga sahabat mulai curiga.

Amat Junior membuka selimut sambil melirik ranjang kosong.

“Hilangkan satu orang.”

Jojon yang masih mengantuk mengucek mata.
“Siapa?”

“Aditya.”

Jojon langsung duduk.
“Pergi ke mana?”

Amat mengangkat alis.
“Kalau bukan ke telaga, berarti saya salah jurusan hidup.”

Guntur yang sejak tadi diam langsung berdiri.

“Kita cari.”

Amat menatapnya.
“Buat apa?”

Guntur menatap jendela.

“Karena saya mulai merasa dia bukan sedang jatuh cinta.”

Jojon menelan ludah.
“Terus?”

Guntur menjawab pelan.

“Dia seperti sedang ditarik.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Di tepi telaga, Aditya duduk di atas batu besar.
Sekar duduk di sampingnya.

Jarak mereka sangat dekat.

Terlalu dekat untuk dua orang yang baru saling mengenal.

Aditya memandang air.
“Kalau aku pulang nanti…”

Sekar menoleh.
“Ya?”

“Apakah aku masih bisa bertemu kamu?”

Sekar tidak langsung menjawab.

Ia memandang langit pagi yang pucat.

Lalu berkata sangat pelan,

“Tidak semua yang indah diciptakan untuk tinggal.”

Kalimat itu menusuk lembut ke dada Aditya.

Namun sebelum rasa sedih itu sempat tumbuh,
Sekar mengangkat tangan perlahan.

Ia menunjuk permukaan air telaga.

“Lihat.”

Aditya menatap air.

Permukaan telaga yang tadi tenang mulai berkilau.

Seperti ribuan cahaya kecil menari di dalam air.

Bukan pantulan matahari.
Bukan pantulan langit.

Tetapi cahaya yang seolah muncul dari dalam telaga itu sendiri.

Aditya menahan napas.

“Indah sekali…”

Sekar tersenyum.

“Telaga ini hanya menunjukkan keindahannya pada orang yang datang dengan hati yang jujur.”

Aditya menoleh menatapnya.

“Kalau begitu…”
“Kenapa ia menunjukkannya padaku?”

Sekar memandangnya lama.

Sangat lama.

Lalu menjawab lirih,

“Karena hatimu terlalu mudah percaya.”

Jawaban itu membuat dada Aditya bergetar oleh sesuatu yang tak bisa ia namai.

Dari balik pepohonan, Guntur, Amat, dan Jojon diam, diam memperhatikan.

Amat sampai menutup mulut.
“Ya Tuhan… cantik banget.”

Jojon berbisik,
“Dia benar, benar ada…”

Guntur tidak menjawab.

Tatapannya justru tertuju pada tanah.

Jejak kaki Aditya terlihat jelas.

Tetapi di sampingnya—

tetap tidak ada jejak milik Sekar.

Sama sekali.

Bulu kuduk Guntur meremang.

Dan saat itu juga ia tahu,
apa pun yang sedang terjadi pada sahabatnya,
ini bukan kisah cinta biasa.

Sekar berdiri perlahan.

Kabut tipis mulai turun kembali.

“Aku harus pergi.”

Aditya ikut berdiri.
“Kenapa setiap kali aku mulai mengenalmu, kamu selalu pergi?”

Sekar menatap matanya.

Karena untuk sesaat,
wajah gadis itu terlihat sangat rapuh.

“Agar kau tidak terlalu terlambat untuk melupakan.”

Aditya menatapnya bingung.

“Aku tidak mau melupakan.”

Sekar tersenyum.

Senyum yang indah,
tetapi penuh luka.

“Suatu hari…”
“kau mungkin harus.”

Sebelum Aditya sempat menahan,
Sekar melangkah mundur.

Kabut menyelimuti tubuhnya.

Dan sekali lagi,
ia menghilang bersama angin.

Meninggalkan Aditya sendiri
dengan perasaan yang semakin dalam.

Ketika Aditya berbalik,
ia terkejut melihat ketiga sahabatnya berdiri tak jauh di belakang.

Amat langsung mengangkat tangan.

“Kami bukan mengintip.”
“Kami cuma kebetulan sangat penasaran.”

Jojon mengangguk.
“Dan sangat takut.”

Aditya menghela napas.
“Kalian dari tadi di situ?”

Guntur maju selangkah.

Tatapannya serius.

“Dit.”
“Kamu harus jujur.”

Aditya menatapnya.
“Jujur soal apa?”

Guntur menelan napas pelan.

“Sejak bertemu dia…”
“kamu masih yakin ini hanya soal cinta?”

Aditya terdiam.

Ia ingin menjawab iya.

Namun jauh di dalam hatinya,
ia mulai sadar,

perasaannya kepada Sekar
telah tumbuh terlalu cepat.

Terlalu dalam.

Dan mungkin,
terlalu mustahil.

Sementara di atas telaga,
kabut pagi bergerak perlahan.

Menyimpan rahasia
yang belum siap dibuka sepenuhnya.

Dan tanpa disadari Aditya,
cinta yang tumbuh di ketinggian itu
perlahan mulai membawanya
menuju luka
yang jauh lebih tinggi dari langit itu sendiri.

BAB 8 — Bayangan yang Tak Punya Jejak

Sejak pagi itu, suasana di antara mereka mulai berubah.

Bukan antara Aditya dan Sekar.

Melainkan antara Aditya dan sahabat, sahabatnya sendiri.

Amat Junior masih berusaha melucu seperti biasa.
Jojon masih mencoba menertawakan rasa takutnya sendiri.
Namun Guntur tak lagi bisa menyembunyikan kegelisahan di wajahnya.

Sebab semakin lama,
ia merasa sahabatnya bukan sedang jatuh cinta.

Aditya seperti sedang tenggelam.

Dan yang paling menakutkan—
ia tenggelam dengan wajah bahagia.

Mereka berjalan kembali ke penginapan menjelang siang.

Jalan desa yang tadi terasa indah kini justru dipenuhi diam yang tak nyaman.

Amat beberapa kali membuka mulut untuk bercanda,
lalu menutupnya lagi.

Akhirnya Jojon yang bicara lebih dulu.

“Dit…”

Aditya menoleh.
“Hm?”

Jojon menggaruk tengkuk.
“Itu perempuan…”

Amat menyela cepat.
“Cantik sekali.”

Guntur melirik tajam.
“Bukan itu.”

Amat langsung diam.

Guntur menatap Aditya lurus.

“Kamu sadar tidak…”
“dia tidak pernah meninggalkan jejak.”

Aditya berhenti berjalan.

Kabut tipis melintas di antara mereka.

“Apa maksudmu?”

Guntur menunjuk jalan tanah yang basah oleh embun.

“Setiap kali kamu berjalan bersamanya…”
“jejak kakimu selalu ada.”

Ia menelan napas.

“Tapi jejak dia tidak pernah ada.”

Aditya terdiam.

Ia ingin membantah.
Namun ingatannya langsung kembali pada tepian telaga.

Pada tanah basah yang kosong.

Pada air yang tak pernah memantulkan bayangan Sekar.

Amat mencoba mencairkan suasana.
“Mungkin dia ringan.”

Jojon melirik.
“Seringan arwah?”

Amat langsung menepuk mulut Jojon.
“Jangan ngomong gitu!”

Namun kata itu terlanjur jatuh di udara.

Dan untuk pertama kalinya,
Aditya merasakan sesuatu yang dingin
menyusup ke dalam dadanya.

Siang itu mereka makan di warung kecil milik warga dekat kebun kentang.

Warung sederhana dengan meja kayu,
mie rebus panas,
tempe goreng,
dan teh manis yang mengepul di udara dingin.

Tetapi tak satu pun dari mereka benar, benar menikmati makanan.

Aditya lebih banyak diam.

Matanya menatap keluar jendela.

Seolah berharap Sekar muncul di antara kabut.

Amat memperhatikan sahabatnya dengan cemas.

“Dit.”

Aditya menoleh.

“Kalau boleh jujur…”

Aditya mengangkat alis.
“Kenapa?”

Amat menghela napas.
“Saya belum pernah lihat kamu begini.”

“Begini bagaimana?”

Amat tersenyum tipis.
“Seperti orang yang akhirnya menemukan sesuatu.”
“Sekaligus kehilangan sesuatu.”

Aditya tak menjawab.

Karena untuk pertama kalinya,
ia mulai merasa Amat mungkin benar.

Malamnya, Guntur memutuskan mencari jawaban sendiri.

Diam, diam ia keluar dari penginapan ketika semua orang mulai tidur.

Ia menuju rumah Mbah Laras.

Lampu di rumah tua itu masih menyala redup.

Perempuan tua itu tampak tidak terkejut melihatnya.

“Dari tadi saya menunggu kamu datang,” katanya pelan.

Guntur terdiam.
“Mbah tahu?”

Mbah Laras tersenyum tipis.

“Orang yang datang dengan wajah seperti kamu biasanya sedang mencari jawaban.”

Guntur duduk di bangku kayu.

“Mbah…”
“Siapa sebenarnya perempuan di telaga itu?”

Angin di luar berembus pelan.

Lama sekali Mbah Laras tidak menjawab.

Lalu ia berkata sangat lirih,

“Dulu…”
“orang, orang sini menyebutnya penjaga air.”

Bulu kuduk Guntur langsung berdiri.

“Penjaga?”

Mbah Laras mengangguk.

“Tidak semua telaga hanya berisi air.”
“Kadang ada tempat yang menyimpan jiwa.”

Guntur menelan ludah.

“Namanya Sekar Tanjung?”

Mbah Laras menatapnya lama.

“Jadi dia menyebut namanya.”

Guntur diam.

Mbah Laras menarik napas panjang.

“Sudah puluhan tahun…”
“kadang ada orang yang melihat perempuan itu.”
“Selalu sama.”
“Selalu cantik.”
“Selalu datang dalam kabut.”

“Lalu?”

Mbah Laras memandang jendela.

“Orang yang hatinya terlalu dalam kepadanya…”
“biasanya pulang dengan luka yang tidak pernah benar, benar sembuh.”

Suara kayu rumah berderit pelan.

Dan malam itu,
untuk pertama kalinya,
Guntur benar, benar takut pada sesuatu
yang tak bisa dijelaskan logika.

Sementara itu, Aditya kembali bermimpi.

Ia berdiri di tepi telaga.

Sekar ada di sana.

Kali ini lebih dekat.

Sangat dekat.

Matanya menatap Aditya seperti menyimpan ribuan kata yang tak bisa diucapkan.

“Kenapa kamu datang kepadaku?” tanya Aditya.

Sekar tersenyum sedih.

“Aku tidak datang.”

Aditya mengernyit.
“Lalu?”

Sekar mengangkat tangan.
Menyentuh dada Aditya perlahan.

“Kau yang datang kepadaku.”

Aditya terdiam.

“Kenapa aku?”

Sekar menatapnya dalam.

“Karena hanya orang yang terluka yang bisa melihatku.”

Aditya hendak bertanya lagi.

Namun tiba, tiba air telaga beriak hebat.

Kabut bergerak liar.

Wajah Sekar perlahan berubah sendu.

Lalu ia berbisik,

“Jangan terlalu mencintaiku…”

Aditya terbangun mendadak.

Napasnya memburu.

Dadanya terasa sesak.

Dan untuk pertama kalinya,
mimpi itu tidak lagi terasa seperti bunga tidur.

Tetapi seperti peringatan.

Pagi berikutnya, Guntur langsung mendatangi Aditya.

Wajahnya serius.

“Kita harus bicara.”

Aditya yang masih setengah mengantuk menatapnya.
“Kenapa?”

Guntur duduk di tepi ranjang.

“Perempuan itu bukan manusia.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tanpa jeda.

Tanpa pelan, pelan.

Amat yang sedang minum teh langsung tersedak.

Jojon mematung sambil memegang roti.

Ruangan mendadak sunyi.

Aditya menatap Guntur lama.

Lalu tertawa kecil.

“Kamu serius?”

Guntur mengangguk.
“Saya bertemu Mbah Laras semalam.”

Wajah Aditya berubah.

“Apa katanya?”

Guntur menatap sahabatnya lurus.

“Dia penjaga Telaga Cebong.”

Udara pagi yang dingin mendadak terasa jauh lebih dingin.

Namun bukannya takut,
Aditya justru berdiri perlahan.

Matanya kosong.

Lalu ia berkata pelan,

“Kalau itu benar…”

Ia menatap keluar jendela,
ke arah telaga yang tertutup kabut.

“Mungkin itu sebabnya aku tidak bisa berhenti memikirkannya.”

Amat menatap Guntur.
Jojon menatap Aditya.

Dan saat itulah mereka sadar:

yang paling berbahaya bukan jika Sekar benar, benar gaib.

Tetapi karena Aditya
mungkin tetap akan mencintainya
meski tahu kenyataan itu.

Di luar jendela,
kabut pagi turun pelan ke atas Telaga Cebong.

Dan jauh di balik putih yang menggantung itu,
sebuah sosok perempuan berdiri diam.

Memandang ke arah penginapan.

Dengan mata yang menyimpan
kesedihan
yang bahkan belum sempat dipahami oleh siapa pun.

BAB 9 — Senja yang Mengajarkan Rindu

Pagi itu Desa Sembungan tampak lebih hidup dari hari, hari sebelumnya.

Kabut yang biasanya menggantung rendah perlahan terangkat, memperlihatkan rumah, rumah kecil yang berjejer di lereng bukit. Di jalan utama desa, beberapa warga sibuk menata dagangan di depan rumah. Aroma mie rebus, jagung bakar, dan kopi panas bercampur dengan udara dingin yang turun dari bukit.

Wisatawan mulai berdatangan.

Ada pasangan muda yang sibuk berfoto dengan latar Telaga Cebong.
Ada rombongan mahasiswa yang tertawa keras sambil membawa kamera.
Ada keluarga kecil yang menggandeng anak, anak mereka menuju jalur Bukit Sikunir.

Desa kecil itu perlahan berubah menjadi panggung kehidupan.

Namun bagi Aditya, di tengah ramai orang, orang itu,
ia justru merasa semakin sepi.

Karena sejak semalam,
ia tak bisa melupakan ucapan Guntur.

“Perempuan itu bukan manusia.”

Kalimat itu masih berputar di kepalanya.

Tetapi yang lebih mengganggu bukan rasa takut.

Melainkan kenyataan bahwa meski mendengar itu,
hatinya tetap ingin bertemu Sekar.

“Mas, kopi panasnya.”

Suara seorang ibu pemilik warung membuyarkan lamunannya.

Aditya menoleh dan menerima cangkir kecil itu.

Ibu itu tersenyum ramah.
“Dari kemarin sering melamun di situ.”

Aditya tersenyum kikuk.
“Kelihatan ya, Bu?”

“Kelihatan sekali.”

Amat Junior yang duduk di sebelah langsung menyambar,
“Sejak datang ke sini, teman saya jatuh cinta sama udara dingin, Bu.”

Ibu itu tertawa kecil.
“Biasanya bukan udara dingin yang bikin orang susah tidur di Sembungan.”

Aditya menoleh.
“Maksudnya?”

Ibu itu tersenyum samar.
“Kadang desa ini membuat orang ingin tinggal lebih lama.”

Lalu ia pergi melayani pembeli lain.

Namun entah kenapa,
kalimat sederhana itu terasa seperti menyimpan makna lain.

Di dekat warung, beberapa wisatawan sedang berbincang.

“Sunrise tadi bagus banget ya.”
“Iya, tapi katanya kalau sore di telaga lebih mistis.”
“Aku dengar ada legenda perempuan penjaga telaga.”

Aditya spontan menoleh.

Guntur yang duduk di depannya langsung memperhatikan perubahan wajah sahabatnya.

“Jangan bilang kamu mau ke sana lagi.”

Aditya terdiam.

Amat langsung menghela napas.
“Waduh.”

Jojon menutup mata.
“Saya sudah firasat.”

Guntur menatap tajam.
“Dit, dengarkan saya.”
“Kita datang ke sini buat belajar wisata.”
“Bukan untuk jatuh cinta dengan sesuatu yang belum tentu bisa kamu bawa pulang.”

Aditya menatap cangkir kopinya.

Uap hangat naik pelan.

Lalu ia menjawab lirih,
“Aku tidak tahu kenapa.”
“Tapi setiap kali dekat dia…”
“rasanya seperti aku sedang pulang.”

Amat langsung diam.

Jojon ikut terdiam.

Karena untuk pertama kalinya,
mereka mendengar nada dalam suara Aditya
yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Nada seseorang
yang benar, benar sedang jatuh cinta.

Menjelang sore, desa mulai lebih ramai.

Para wisatawan berjalan menuju telaga.
Anak, anak kecil berlarian di jalan desa.
Pedagang menjajakan mie ongklok dan teh purwaceng hangat.
Suara tawa memenuhi udara dingin.

Aditya berjalan sendirian ke Telaga Cebong.

Di sepanjang jalan,
beberapa warga menyapa ramah.

“Dari mana, Mas?”

“Dari Temanggung?”

Aditya tersenyum.
“Dari lereng Sumbing.”

Seorang bapak tua yang sedang memperbaiki pagar menoleh.
“Sumbing?”

Aditya mengangguk.

Bapak itu memandangnya lama.

Lalu berkata pelan,
“Gunung kadang mengirim orang ke gunung lain bukan tanpa alasan.”

Aditya terdiam.

Sebelum sempat bertanya,
bapak itu kembali bekerja seolah tak berkata apa, apa.

Kalimat itu membuat langkah Aditya terasa lebih berat.

Saat tiba di telaga,
senja mulai turun.

Wisatawan masih ramai.

Beberapa berdiri di pinggir air mengambil gambar.
Pasangan muda saling berpelukan sambil berfoto.
Anak, anak melempar batu kecil ke permukaan telaga.

Semua tampak biasa.

Sampai Aditya melihatnya.

Sekar berdiri di bawah pohon tua di sisi telaga.

Di antara orang, orang ramai,
hanya Aditya yang seolah langsung melihatnya.

Seperti matanya selalu tahu harus mencari ke mana.

Hari itu Sekar mengenakan kain putih lembut dengan selendang biru pucat.

Rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angin.

Dan saat mata mereka bertemu,
keramaian di sekitar seolah lenyap.

Yang tersisa hanya mereka berdua.

“Kau datang lagi.”

Suara Sekar lembut seperti biasanya.

Aditya berdiri di depannya.

“Kalau aku tidak datang…”

Ia menatap mata Sekar.
“Rasanya ada yang hilang.”

Sekar tersenyum.

Namun kali ini senyumnya menyimpan kesedihan yang lebih jelas.

“Jangan membuat aku merasa bersalah.”

Aditya mengernyit.
“Karena apa?”

Sekar menunduk.
“Karena membiarkanmu datang terlalu jauh.”

Aditya tidak memahami maksudnya.

Namun untuk pertama kalinya,
ia berani mendekat lebih dekat.

Sangat dekat.

“Sekar…”

Sekar mengangkat wajahnya.

Aditya menatap mata gadis itu lama.

“Apa yang sebenarnya terjadi antara kita?”

Sekar diam.

Hanya angin yang bergerak di antara mereka.

Lalu dengan suara yang hampir seperti bisikan,
Sekar berkata,

“Mungkin takdir sedang bermain terlalu kejam.”

Kalimat itu membuat dada Aditya terasa sesak.

Di kejauhan, Amat, Guntur, dan Jojon diam, diam memperhatikan dari warung kecil.

Amat menatap dengan wajah serius.
“Ini sudah bukan main, main.”

Jojon mengangguk pelan.
“Saya ikut sedih.”

Guntur tetap diam.

Tatapannya tak lepas dari Sekar.

Sebab di tengah banyak wisatawan di sekitar telaga,
tak satu pun terlihat menoleh ke arah Sekar.

Seolah hanya Aditya yang bisa melihatnya.

Dan itu membuat tengkuk Guntur merinding.

“Sekar…”

Aditya mengucapkan nama itu pelan.

“Apa?”

“Kalau aku meminta kamu tetap tinggal…”

Sekar menatapnya.

“Apakah kamu mau?”

Untuk beberapa detik,
Sekar hanya diam.

Matanya bergetar pelan.
Seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin menjawab.

Namun akhirnya ia tersenyum tipis.

“Jangan meminta hal yang tidak mungkin.”

Aditya menahan napas.

“Kenapa tidak mungkin?”

Sekar memandang telaga.

Permukaan air berkilau diterpa cahaya senja.

“Karena ada cinta…”
“yang memang hanya diciptakan untuk singgah.”

Aditya merasa kata, kata itu seperti pisau lembut.

Tidak melukai dengan cepat.

Tetapi perlahan masuk ke dalam hati.

Tanpa sadar,
Aditya mengulurkan tangan.

Tangannya menyentuh jemari Sekar.

Dingin.

Sangat dingin.

Bukan dingin udara pegunungan.

Tetapi dingin yang membuat jantungnya bergetar.

Sekar sedikit terkejut.
Namun ia tidak menarik tangannya.

Untuk sesaat,
mereka hanya saling memandang.

Kabut tipis turun perlahan di permukaan telaga.
Suara wisatawan memudar.
Suara angin menjadi samar.

Dan di tengah keramaian dunia,
mereka seperti berada di ruang yang hanya milik mereka berdua.

Sekar berbisik pelan.

“Jangan tatap aku seperti itu.”

Aditya menatap lebih dalam.
“Seperti apa?”

Sekar tersenyum sendu.

“Seperti seseorang yang bisa membuatku ingin menjadi manusia.”

Kalimat itu menghantam dada Aditya lebih keras daripada apa pun.

Dan sebelum ia sempat menjawab,
Sekar perlahan menarik tangannya.

Satu langkah mundur.

Lalu satu lagi.

Kabut mulai menelan tubuhnya.

Aditya panik.
“Sekar!”

Sekar menatapnya untuk terakhir kali sore itu.

Ada air yang nyaris jatuh di sudut matanya.

Lalu ia berkata,

“Kalau kau terus mencintaiku… yang hancur bukan hanya hatimu.”

Dan di tengah cahaya senja,
Sekar menghilang.

Meninggalkan Aditya berdiri sendiri
di tepi telaga.

Dengan tangan yang masih menyimpan dingin jemari perempuan
yang tak pernah benar, benar bisa ia miliki.

Di belakangnya,
Amat menghela napas pelan.

Jojon menunduk.

Dan Guntur menatap sahabatnya dengan perasaan yang tak bisa lagi disembunyikan.

Karena kini mereka semua tahu,

ini bukan lagi sekadar kisah perjalanan.

Bukan sekadar legenda wisata.

Ini adalah cinta yang perlahan tumbuh
di tempat yang seharusnya tak pernah mempertemukan dua dunia.

Dan setiap cinta seperti itu,
hampir selalu berakhir dengan luka.

BAB 10 — Dua Dunia yang Tak Bisa Bersatu

Malam turun perlahan di Desa Sembungan.

Lampu, lampu rumah penduduk mulai menyala satu per satu di antara kabut, seperti kunang, kunang yang tersesat di lereng pegunungan. Suara tawa wisatawan yang tadi memenuhi jalan desa perlahan menghilang, digantikan oleh desir angin dingin yang turun dari Bukit Sikunir.

Namun di dalam kamar penginapan kecil itu,
tak ada satu pun dari mereka yang benar, benar tenang.

Amat Junior duduk bersandar sambil memeluk lutut.

Jojon berkali, kali menatap jendela seperti takut ada seseorang berdiri di luar.

Dan Guntur hanya diam,
memandang Aditya yang sejak pulang dari telaga tak mengucapkan sepatah kata pun.

Aditya duduk di tepi ranjang.

Tatapannya kosong.

Tangannya masih menggenggam jemari sendiri—
seolah masih merasakan dingin sentuhan Sekar.

“Dit…”

Suara Amat terdengar hati, hati.

Aditya tak menoleh.

Amat melanjutkan,
“Kalau mau jujur…”
“kami takut.”

Ruangan hening.

Jojon menimpali pelan,
“Saya bukan takut sama hantu.”
“Saya takut kamu benar, benar jatuh.”

Aditya tersenyum tipis.

Namun senyum itu bukan senyum bahagia.

Lebih seperti seseorang
yang tahu dirinya sedang menuju sesuatu
yang tak bisa ia hentikan lagi.

Guntur maju selangkah.

“Dia bilang apa tadi?”

Aditya menatap lantai.

Lalu berkata pelan,

“Dia bilang kalau aku terus mencintainya…”
“yang hancur bukan cuma hatiku.”

Amat menelan ludah.

Jojon langsung merinding.

Guntur memejamkan mata sesaat.

Karena kalimat itu terdengar bukan seperti ancaman.

Tetapi seperti peringatan.

Malam semakin larut.

Ketika yang lain akhirnya tertidur,
Aditya kembali mendengar suara itu.

Lembut.

Sangat pelan.

Seperti bisikan angin di balik jendela.

“Aditya…”

Ia membuka mata.

Jantungnya berdegup keras.

Suara itu terdengar lagi.

“Datanglah…”

Aditya berdiri perlahan.

Langkahnya nyaris tanpa suara.

Seolah tubuhnya bergerak sendiri.

Tanpa membangunkan siapa pun,
ia keluar dari penginapan.

Dan berjalan menuju telaga.

Kabut malam menutupi hampir seluruh desa.

Langit gelap tanpa bulan.
Hanya cahaya samar dari rumah, rumah jauh.
Udara dingin menusuk sampai ke tulang.

Tetapi Aditya terus berjalan.

Karena di tengah kabut itu,
ia bisa melihat sosok putih berdiri di tepi air.

Sekar.

Malam itu ia tampak berbeda.

Lebih pucat.
Lebih rapuh.
Namun justru lebih indah.

Seperti sesuatu yang terlalu sempurna untuk hidup di dunia manusia.

“Kau memanggilku,” kata Aditya.

Sekar tersenyum kecil.
“Aku berharap kau tidak datang.”

“Kenapa?”

Sekar memandang telaga.

Karena malam itu,
untuk pertama kalinya,
wajah gadis itu terlihat benar, benar sedih.

“Karena semakin dekat kau padaku…”
“semakin sulit bagimu untuk pergi.”

Aditya mendekat.

“Kalau begitu jangan suruh aku pergi.”

Sekar menutup mata sesaat.

Kalimat itu jelas melukai sesuatu di dalam dirinya.

Di penginapan, Guntur terbangun mendadak.

Ranjang Aditya kosong.

Ia langsung berdiri.

“Bangun!”

Amat kaget.
“Hah? Gempa?”

“Aditya hilang.”

Jojon hampir jatuh dari ranjang.
“Saya bilang juga!”

Mereka bertiga langsung berlari keluar.

Di tepi telaga,
Aditya berdiri sangat dekat dengan Sekar.

Malam membuat dunia di sekitar mereka terasa jauh.

Tak ada suara.
Tak ada manusia lain.
Hanya kabut.
Hanya air.
Hanya dua hati yang mulai saling menyakiti.

“Aku tidak peduli siapa kamu,” kata Aditya.

Sekar menatapnya.
“Jangan.”

“Aku serius.”

“Jangan.”

“Aku tidak peduli kamu manusia atau bukan.”

Suara Aditya bergetar.
“Aku hanya tahu…”
“setiap kali aku dekat kamu…”
“aku merasa seperti menemukan seseorang yang selama ini hilang dari hidupku.”

Sekar memandangnya.

Dan untuk pertama kalinya,
air mata jatuh dari mata gadis itu.

Satu tetes.

Bening.

Lalu menghilang sebelum sempat menyentuh tanah.

“Jangan katakan itu.”

“Kenapa?”

Karena kali ini suara Sekar ikut bergetar.

“Karena aku sudah terlalu lama sendiri…”
“dan aku mulai ingin mempercayaimu.”

Kalimat itu membuat dada Aditya terasa sesak.

Ia melangkah lebih dekat.

“Lalu kenapa kita tidak bisa bersama?”

Sekar menatap matanya.

Tatapan itu penuh luka yang tak pernah diceritakan.

Lalu dengan suara yang nyaris patah,
ia berkata,

“Karena aku bukan milik dunia tempatmu pulang.”

Saat itu Guntur, Amat, dan Jojon tiba di tepian telaga.

Mereka berhenti mendadak.

Karena untuk pertama kalinya,
mereka melihat Sekar dengan mata kepala sendiri.

Berdiri di hadapan Aditya.

Nyata.

Namun tubuhnya samar diselimuti kabut.

Jojon langsung gemetar.
“Ya Allah…”

Amat bahkan tak bisa bercanda.

Sementara Guntur hanya bisa menatap tak percaya.

Legenda itu ternyata benar.

Aditya menggeleng pelan.

“Kalau aku memilih tinggal?”

Sekar menatapnya terkejut.

“Jangan pernah mengatakan itu.”

“Kenapa?”

“Karena tempat ini tidak memintamu mati.”
“Tempat ini memintamu hidup.”

Aditya membeku.

Sekar mengangkat tangan.
Menyentuh dada Aditya perlahan.

Jantung Aditya berdetak sangat cepat.

“Cintamu bukan untuk tinggal di sini.”
“Cintamu untuk dibawa pulang.”

“Aku tidak mau pulang tanpa kamu.”

Sekar menutup mata.

Air matanya jatuh lagi.

Dan dengan suara paling lirih,
ia berkata,

“Itulah sebabnya cinta kita tak pernah seharusnya dimulai.”

Kabut tiba, tiba bergerak lebih tebal.

Angin berembus kencang.

Air telaga beriak tanpa sebab.

Sekar mundur selangkah.

Aditya mencoba meraih tangannya.

Namun jemarinya hanya menyentuh udara dingin.

“Sekar!”

Sekar menatapnya untuk terakhir kali malam itu.

Senyumnya sangat lembut.

Sangat sedih.

Dan sangat indah.

“Jangan cintai aku terlalu dalam, Aditya.”
“Karena aku tidak akan pernah bisa ikut pulang.”

Lalu tubuhnya perlahan larut ke dalam kabut.

Menyatu dengan malam.

Menghilang dari dunia manusia.

Meninggalkan Aditya berdiri sendiri di tepi telaga,
dengan hati yang mulai mengerti
bahwa cinta paling menyakitkan
adalah cinta yang bahkan sejak awal
sudah tahu
tak akan pernah bisa bersatu.

Guntur berjalan mendekat perlahan.

Ia menaruh tangan di bahu sahabatnya.

Namun Aditya tidak bergerak.

Ia masih menatap kabut di atas air.

Dengan mata yang mulai basah.

Dan untuk pertama kalinya,
bukan hanya hatinya yang jatuh.

Tetapi seluruh hidupnya
perlahan mulai pecah
di negeri atas awan itu.

BAB 11 — Cinta yang Kandas di Atas Awan

Pagi datang tanpa benar, benar membawa terang.

Kabut turun lebih tebal dari biasanya di Desa Sembungan. Rumah, rumah penduduk yang semalam masih tampak samar kini hampir lenyap ditelan putih. Jalan, jalan kecil di antara kebun kentang terlihat basah oleh embun, seolah seluruh desa baru saja menangis diam, diam sepanjang malam.

Aditya duduk sendiri di bangku kayu depan penginapan.

Matanya merah.

Bukan karena kurang tidur.

Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
ia merasakan bagaimana rasanya mencintai sesuatu
yang bahkan tak bisa ia sentuh sepenuhnya.

Di tangannya masih tergenggam syal pemberian ibunya.

Namun dingin pagi itu tak berasal dari udara.

Ia datang dari dalam dada.

Amat Junior keluar sambil membawa dua gelas kopi.

Tanpa banyak bicara, ia duduk di samping Aditya dan menyodorkan satu gelas.

Aditya menerimanya.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Sampai akhirnya Amat berkata pelan,

“Kalau saya bercanda sekarang…”
“mungkin kamu marah.”

Aditya tersenyum tipis.
“Mungkin.”

Amat mengangguk.
“Ya sudah. Hari ini saya serius.”

Aditya melirik.
“Tumben.”

Amat menarik napas panjang.

“Dit…”
“nggak semua yang indah itu ditakdirkan buat kita.”

Kalimat sederhana itu justru terasa lebih berat daripada nasihat panjang.

Aditya menatap kabut di depan mereka.

“Masalahnya…”
“aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.”

Amat menepuk bahunya pelan.

“Justru itu yang bikin berat.”

Tak lama kemudian Guntur dan Jojon ikut keluar.

Mereka berempat duduk diam menghadap kabut.

Seperti empat orang yang sedang menunggu sesuatu,
meski mereka sendiri tak tahu apa.

Jojon yang biasanya paling takut justru bicara lebih dulu.

“Kalau boleh jujur…”

Semua menoleh.

Jojon menelan ludah.
“Saya kasihan sama kalian berdua.”

Aditya mengernyit.
“Kalian berdua?”

Jojon mengangguk pelan.
“Kamu dan dia.”

Guntur menatap Jojon.
“Kamu juga merasakannya?”

Jojon menatap telaga di kejauhan.
“Waktu dia lihat Aditya semalam…”
“itu bukan tatapan makhluk yang mau mencelakai.”

Amat ikut diam.

Karena untuk pertama kalinya,
mereka semua menyadari sesuatu yang sama.

Sekar mungkin bukan manusia.

Tetapi rasa yang ia simpan
terlihat sangat manusia.

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan.

Siang itu, desa kembali ramai.

Wisatawan berdatangan seperti biasa.
Anak, anak kecil berlari di dekat warung.
Pedagang menawarkan jagung bakar.
Suara tawa memenuhi jalan, jalan sempit.

Namun bagi Aditya,
keramaian justru terasa seperti suara yang sangat jauh.

Ia berjalan sendiri menyusuri desa.

Beberapa warga menyapanya.

Seorang nenek penjual carica tersenyum.
“Mas dari kemarin sering ke telaga ya?”

Aditya mengangguk pelan.

Nenek itu memandang wajahnya lama.

Lalu berkata,
“Kadang tempat tertentu memang bisa mengambil hati orang.”

Aditya tersenyum hambar.
“Kalau hatinya tidak bisa diambil kembali?”

Nenek itu tersenyum samar.
“Berarti hati itu memang bukan untuk dibawa pulang.”

Aditya terdiam.

Rasanya seolah seluruh desa
mengetahui sesuatu
yang belum siap ia terima.

Sore harinya,
Aditya kembali ke Telaga Cebong.

Sendirian.

Langit pucat.
Kabut turun perlahan.
Air telaga diam seperti cermin.

Ia berdiri di tempat biasa.

Menunggu.

Lama.

Sangat lama.

Sampai akhirnya suara lembut itu datang dari belakang.

“Kau keras kepala.”

Aditya menutup mata sesaat.

Lalu berbalik.

Sekar berdiri di sana.

Hari itu wajahnya lebih sendu dari biasanya.

Dan justru karena itu,
ia terlihat lebih indah.

Aditya menatapnya lama.

“Kamu tahu aku akan datang.”

Sekar mengangguk.
“Aku berharap kau tidak.”

Aditya tertawa pahit.
“Kamu selalu bilang begitu.”
“Tapi kamu tetap datang.”

Sekar terdiam.

Karena kali ini,
ia tak punya jawaban.

Aditya melangkah mendekat.

“Aku cuma mau satu jawaban.”

Sekar memandangnya.
“Apa?”

“Apa kamu juga merasakan hal yang sama?”

Angin berhenti.

Kabut seolah ikut diam.

Sekar menatap mata Aditya sangat lama.

Dan dalam tatapan itu,
Aditya akhirnya melihat semuanya.

Kesepian.
Kerinduan.
Takut.
Dan cinta yang selama ini berusaha disembunyikan.

Air mata Sekar perlahan jatuh.

Untuk pertama kalinya,
ia tak menghindar lagi.

“Iya.”

Satu kata.

Sangat pelan.

Namun cukup untuk menghancurkan seluruh pertahanan Aditya.

“Aku mencintaimu.”

Kalimat itu akhirnya keluar dari bibir Aditya.

Jujur.
Lurus.
Tanpa sisa.

Sekar menutup matanya.

Seolah kalimat itu adalah sesuatu
yang selama ini ingin ia dengar,
tetapi paling ia takutkan.

“Jangan.”

“Kenapa?”

Sekar membuka mata.
Tatapannya bergetar.

“Karena aku juga mulai mencintaimu.”

Kalimat itu membuat dunia seperti berhenti.

Dan justru karena itulah,
semuanya terasa semakin mustahil.

Aditya mengangkat tangannya perlahan.

Kali ini,
Sekar tidak menghindar.

Jemari mereka saling bertemu.

Dingin.
Lembut.
Rapuh.

Namun cukup nyata
untuk membuat air mata jatuh dari mata Aditya.

“Kalau kita saling mencintai…”
“kenapa kita harus berpisah?”

Sekar menggigit bibirnya menahan tangis.

“Karena cinta tidak selalu berarti memiliki.”

Aditya menggeleng.
“Itu kalimat paling menyakitkan yang pernah aku dengar.”

Sekar tersenyum sedih.

“Dan itu satu, satunya kebenaran yang kupunya.”

Di kejauhan, Guntur, Amat, dan Jojon melihat dari jauh.

Tak satu pun mendekat.

Karena mereka tahu,
beberapa rasa sakit
harus dihadapi sendiri.

Amat menunduk.
“Saya nggak nyangka bisa sesedih ini.”

Jojon mengusap matanya.
“Saya ikut mau nangis.”

Guntur hanya diam.

Karena kini ia tahu:
yang paling tragis bukan ketika manusia jatuh cinta pada sesuatu yang gaib.

Tetapi ketika cinta itu ternyata saling.

Sekar perlahan melepaskan tangannya.

“Besok pagi…”

Ia menatap langit yang mulai gelap.

“Aku harus pergi.”

Aditya membeku.
“Pergi ke mana?”

Sekar tersenyum pilu.
“Ke tempat di mana kau tak bisa ikut.”

Aditya menahan napas.
“Jangan.”

Sekar menggeleng pelan.

“Ini sudah terlalu jauh.”

Air mata Aditya jatuh tanpa bisa dicegah.

“Sekali saja…”
“minta aku berhenti mencintaimu.”

Sekar ikut menangis.

Lalu dengan suara patah ia berkata,

“Kalau aku bisa…”
“aku sudah melakukannya sejak pertama kali melihatmu.”

Dan kalimat itu
menghancurkan Aditya sepenuhnya.

Kabut turun lebih tebal.

Sekar mundur perlahan.

Matanya tak lepas dari Aditya.

Seolah ia juga tak ingin pergi.

Namun beberapa takdir
tetap berjalan
meski dua hati memintanya berhenti.

“Besok saat matahari terbit,” bisik Sekar,
“datanglah ke Bukit Sikunir.”

Aditya menatapnya dengan mata basah.
“Kenapa?”

Sekar tersenyum dengan luka yang indah.

“Karena ada perpisahan…”
“yang hanya pantas disaksikan oleh langit.”

Lalu seperti biasa,
kabut menelan tubuhnya perlahan.

Meninggalkan Aditya sendiri
di tepi telaga.

Dengan cinta yang akhirnya terucap,
dan justru karena itu
mulai benar, benar kandas
di negeri atas awan.

BAB 12 — Perpisahan di Puncak Matahari

Malam setelah pertemuan itu menjadi malam terpanjang dalam hidup Aditya.

Ia tidak tidur.

Bukan karena tidak bisa.

Tetapi karena ia tahu—
jika ia memejamkan mata,
waktu akan berjalan lebih cepat menuju pagi.

Dan pagi kali ini
adalah sesuatu yang paling ingin ia hindari.

Di luar jendela penginapan, kabut terus bergerak pelan di antara rumah, rumah warga Desa Sembungan. Lampu, lampu kecil di kejauhan berpendar samar seperti bintang yang jatuh ke bumi. Sesekali terdengar suara wisatawan yang baru pulang dari warung, suara tawa anak muda, dan langkah kaki penduduk yang menutup pintu rumah mereka sebelum dingin semakin tajam.

Namun di dalam kamar kecil itu,
hanya ada sunyi.

Sunyi yang terlalu penuh oleh rasa.

Amat Junior pura, pura tidur.
Jojon benar, benar tidak bisa tidur.
Dan Guntur hanya memandang langit, langit kamar.

Tak satu pun dari mereka tahu harus berkata apa.

Karena kadang,
rasa sakit terbesar bukan datang dari kehilangan.

Tetapi dari melihat seseorang
yang tak bisa kita selamatkan
dari hatinya sendiri.

Sekitar pukul empat pagi,
Aditya berdiri perlahan.

Ia mengenakan jaketnya.

Tanpa bicara.

Namun sebelum ia membuka pintu,
suara Guntur terdengar dari belakang.

“Kami ikut.”

Aditya menoleh.

Amat sudah duduk sambil merapikan kupluk.
Jojon masih setengah gemetar.
Guntur berdiri paling belakang dengan wajah tenang.

“Aku mau sendiri,” kata Aditya lirih.

Guntur menggeleng.
“Tidak untuk yang ini.”

Amat menepuk bahu Aditya.
“Kalau patah hati, minimal jangan sendirian.”

Jojon mengangguk.
“Walaupun saya sebenarnya takut.”

Untuk pertama kalinya sejak semalam,
Aditya tersenyum kecil.

Karena di tengah semua luka itu,
ia sadar satu hal:

beberapa orang datang sebagai cinta.

Dan beberapa lainnya tetap tinggal sebagai rumah.

Mereka berjalan menuju Bukit Sikunir dalam gelap.

Lampu, lampu kecil dari senter wisatawan terlihat berkelip di jalur pendakian.
Suara langkah kaki.
Suara napas.
Suara angin dingin yang menuruni bukit.

Beberapa wisatawan dari kota berjalan di depan mereka.

“Cepat, nanti sunrise, nya kelewatan!”
“Foto di atas pasti keren.”
“Dieng memang luar biasa ya.”

Dunia tetap berjalan seperti biasa.

Orang, orang tetap tertawa.
Tetap berfoto.
Tetap mengejar keindahan.

Tak seorang pun tahu bahwa di antara keramaian itu,
ada seseorang yang sedang berjalan menuju perpisahan paling sunyi dalam hidupnya.

Ketika mereka sampai di puncak,
langit masih gelap kebiruan.

Orang, orang mulai berkumpul.
Beberapa memasang tripod.
Beberapa saling berpelukan mengusir dingin.
Pedagang kopi kecil menawarkan minuman hangat.

“Teh panas, Mas?”
“Kopi purwaceng?”

Amat hampir refleks membeli,
namun Guntur menahannya pelan.

Karena mereka semua tahu:
pagi ini bukan tentang wisata.

Pagi ini tentang sesuatu yang jauh lebih rapuh.

Aditya berdiri di pinggir bukit,
memandang lautan awan yang membentang di bawah.

Angin dingin menerpa wajahnya.

Namun yang membuat tubuhnya gemetar
bukan udara.

Melainkan perasaan bahwa setelah matahari terbit,
hidupnya tak akan pernah sama lagi.

“Aditya.”

Suara itu datang begitu lembut.

Namun di tengah ramai manusia,
hanya Aditya yang langsung menoleh.

Sekar berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Hari itu ia mengenakan gaun putih sederhana.
Rambut panjangnya tergerai tertiup angin.
Wajahnya pucat,
namun begitu indah
hingga membuat seluruh cahaya pagi terasa redup.

Tak seorang pun wisatawan menoleh.

Tak seorang pun menyadari kehadirannya.

Hanya Aditya.

Hanya dia.

Aditya mendekat perlahan.

Mereka berdiri sangat dekat.
Begitu dekat hingga napas dingin mereka saling bertemu.

“Aku datang,” bisik Aditya.

Sekar tersenyum pilu.
“Aku tahu.”

“Mengapa harus di sini?”

Sekar memandang cakrawala.

“Karena tidak ada tempat yang lebih indah untuk mengucapkan selamat tinggal.”

Kalimat itu membuat dada Aditya seperti diremas pelan.

Ia menggeleng.
“Jangan.”

Sekar menatapnya.
Matanya sudah basah.

“Aditya...”
“dengarkan aku.”

“Aku tidak mau mendengar.”

“Untuk sekali ini saja.”

Suara Sekar bergetar.

Dan Aditya akhirnya diam.

Matahari mulai muncul perlahan dari balik awan.

Cahaya emas menyentuh wajah mereka.

Kabut bergerak pelan.

Langit berubah warna menjadi jingga lembut.

Sekar menatap Aditya dengan mata penuh cinta yang tak lagi ia sembunyikan.

“Aku tidak pernah meminta bertemu denganmu.”

Air mata Aditya jatuh.

Sekar melanjutkan,

“Namun sejak pertama kali kau datang ke telaga…”
“aku tahu hatiku yang sepi terlalu lama…”
“akhirnya menemukan seseorang.”

Aditya menggenggam tangan Sekar.

Dingin.

Namun kini dingin itu justru terasa akrab.

“Kalau begitu kenapa kita tidak melawan takdir?”

Sekar tersenyum sedih.

“Karena aku sudah mencoba.”

Aditya terdiam.
“Apa?”

Sekar menunduk.

“Setiap kali aku datang menemuimu…”
“aku sedang melawan sesuatu yang seharusnya tak boleh kulanggar.”

Angin bertiup lebih kencang.

Kabut bergerak di sekitar kaki mereka.

Dan untuk pertama kalinya,
Aditya melihat tubuh Sekar perlahan mulai memudar.

“Sekar…”

Suara Aditya patah.

Sekar menggenggam tangannya lebih erat.

“Dengarkan aku.”
“Cinta tidak selalu datang untuk tinggal.”
“Kadang cinta datang untuk membangunkan seseorang.”

Aditya menangis.
“Aku tidak mau dibangunkan seperti ini.”

Sekar ikut menangis.

“Aku tahu.”

Matahari naik sedikit lebih tinggi.

Cahaya pagi menembus tubuh Sekar yang perlahan semakin samar.

“Pulanglah.”

Aditya menggeleng kuat.
“Tidak.”

“Pulanglah ke Awan Biru.”

“Aku mau tetap di sini.”

Sekar tersenyum lembut.

“Tidak.”
“Karena hatimu bukan diciptakan untuk mati di sini.”
“Hatimu diciptakan untuk membangun tempat yang kau tinggalkan.”

Aditya menatapnya bingung.

Sekar mengangkat tangan.
Menyentuh dada Aditya.

“Bangun desamu.”
“Jadikan lereng Sumbing seindah tempat ini.”
“Buat orang datang bukan hanya untuk melihat kabut—”
“tetapi untuk merasakan rumah.”

Aditya menangis semakin keras.

“Aku cuma ingin kamu.”

Sekar memejamkan mata.

Lalu berkata dengan suara paling pelan,

“Dan aku justru mencintaimu terlalu dalam untuk membiarkanmu tinggal.”

Di kejauhan,
Amat menunduk.
Jojon mengusap matanya.
Dan Guntur berdiri diam,
menyadari bahwa tak ada yang lebih menyakitkan
daripada melihat dua hati saling mencintai
namun tak diberi dunia yang sama.

Tubuh Sekar semakin transparan.

Kabut mulai menelan gaunnya.

Aditya panik.
“Jangan pergi!”

Sekar tersenyum melalui air mata.

“Aku tidak pergi.”

“Lalu?”

Sekar menatap mata Aditya dalam, dalam.

“Aku hanya kembali ke tempat
di mana kau tak bisa mengikutiku.”

Air mata Aditya jatuh tanpa henti.

Sekar mengusap pipinya perlahan.

Sentuhan dingin itu lembut seperti embun pagi.

“Kalau suatu hari kabut turun di Sumbing...”
“dan kau merasa tidak sendiri...”

Sekar tersenyum.

“Itu mungkin aku.”

Lalu perlahan,
di tengah cahaya matahari pertama,
Sekar Tanjung menghilang.

Larut bersama kabut pagi.

Meninggalkan Aditya berdiri sendiri di puncak.

Dengan tangan kosong.

Dengan hati yang patah.

Dan dengan cinta yang tak pernah sempat selesai.

Di sekeliling mereka,
wisatawan bersorak melihat matahari terbit.

Mereka bertepuk tangan.
Mereka tertawa.
Mereka berfoto.

Tak seorang pun tahu bahwa di tempat seindah itu,
seseorang baru saja kehilangan
hal paling berharga
yang tak pernah benar, benar ia miliki.

Dan di puncak negeri atas awan itu,
Aditya akhirnya mengerti—

ada cinta
yang memang datang bukan untuk dimiliki,

melainkan untuk mengubah hidup seseorang
selamanya.

BAB 13 — Luka yang Dibawa Pulang

Setelah pagi itu,
Dieng tidak lagi terasa sama.

Kabut masih turun seperti biasa.
Telaga Cebong masih berkilau saat matahari menyentuh permukaannya.
Bukit Sikunir masih dipenuhi wisatawan yang berebut menangkap cahaya pagi.
Warga desa masih menjajakan mie hangat dan teh purwaceng di depan rumah, rumah kecil mereka.

Segalanya tetap indah.

Tetapi bagi Aditya,
keindahan itu kini terasa seperti sesuatu
yang terlalu mahal untuk dipandang lama.

Karena setiap sudut desa itu
menyimpan seseorang
yang tak lagi bisa ia temui.

Hari kepulangan mereka tiba.

Pagi itu Desa Sembungan diselimuti kabut tipis yang turun perlahan seperti tirai putih yang menutup sebuah panggung setelah pertunjukan terakhir selesai.

Aditya berdiri di dekat mobil travel yang akan membawa mereka turun menuju Wonosobo.

Tangannya menggenggam ransel.
Namun matanya terus memandang ke arah telaga.

Seolah ada bagian dari dirinya
yang tertinggal di sana.

Amat Junior berdiri di sampingnya sambil menghela napas.

“Kalau dilihat dari wajahmu…”
“seperti bukan mau pulang.”

Aditya tersenyum tipis.

“Memang tidak.”

Amat terdiam.

Untuk pertama kalinya,
ia tidak punya candaan yang cukup ringan
untuk mengangkat luka sahabatnya.

Beberapa warga yang sempat mereka kenal selama di desa datang mengantar.

Ibu pemilik warung tersenyum sambil menyerahkan bungkusan kecil.

“Ini carica buat oleh, oleh.”

Aditya menerimanya.
“Terima kasih, Bu.”

Ibu itu menatapnya lama.
Lalu berkata pelan,

“Kadang orang datang ke sini membawa penasaran.”
“Pulang membawa cerita.”

Aditya memandangnya.
“Kalau pulangnya membawa kehilangan?”

Ibu itu tersenyum lembut.

“Berarti gunung sedang menitipkan pelajaran.”

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa seperti menyentuh sesuatu yang belum sempat sembuh.

Di dekat mobil, seorang bapak pengemudi lokal yang sejak awal mengantar mereka ikut bicara.

“Mas dari Sumbing ya?”

Aditya mengangguk.

Bapak itu tersenyum.
“Bagus.”
“Gunung paham bahasa gunung.”

Aditya mengernyit.
“Maksudnya?”

Bapak itu menatap kabut di kejauhan.

“Kadang kita pergi jauh…”
“supaya tahu apa yang sebenarnya harus kita bangun di rumah sendiri.”

Guntur yang mendengar menoleh pelan.

Karena kalimat itu persis seperti pesan yang diberikan Sekar.

Dan saat itu,
ia mulai sadar,

mungkin kehadiran Sekar bukan hanya tentang cinta.

Mungkin sejak awal,
ada sesuatu yang ingin disampaikan
melalui patah hati itu.

Sebelum masuk ke mobil,
Aditya menoleh sekali lagi.

Ke arah Telaga Cebong.

Kabut pagi bergerak pelan di atas permukaan air.

Dan untuk sesaat,

ia melihat sosok perempuan berdiri di tepi telaga.

Gaun putih.
Rambut panjang.
Senyum yang sendu.

Sekar.

Aditya membeku.

Amat menoleh.
“Kenapa?”

Namun ketika Aditya berkedip,
sosok itu sudah hilang.

Hanya kabut.
Hanya air.
Hanya sunyi.

Aditya menunduk pelan.

Lalu masuk ke mobil
tanpa mengatakan apa pun.

Karena beberapa perpisahan
tak perlu diucapkan lagi.

Perjalanan turun menuju Wonosobo terasa jauh lebih panjang.

Jalan berkelok.
Kebun, kebun kentang.
Lembah berkabut.
Pohon, pohon cemara yang berdiri diam di sisi jalan.

Namun sepanjang perjalanan,
Aditya lebih banyak diam.

Ia memandangi jendela.

Membiarkan desa itu perlahan menjauh.

Dan bersama itu,
sesuatu di dalam dirinya terasa ikut tertarik pergi.

Jojon yang duduk di belakang akhirnya berbisik.

“Dia masih lihat ya?”

Amat menjawab pelan.
“Bukan.”
“Dia masih merasa.”

Guntur menatap Aditya dari samping.

Karena mereka semua tahu:
yang tertinggal bukan tubuh.

Melainkan hati.

Ketika mobil berhenti di terminal kecil Wonosobo,
hiruk pikuk kota langsung menyambut.

Pedagang menawarkan makanan.
Suara klakson bersahutan.
Wisatawan turun membawa koper.
Anak, anak kecil berlari mengejar balon.

Dunia kembali ramai.

Kembali biasa.

Namun bagi Aditya,
keramaian justru terasa kosong.

Ia berjalan di antara banyak orang,
tetapi merasa seperti seseorang
yang baru saja kehilangan satu, satunya hal
yang membuat dunia terasa hidup.

Dalam bus perjalanan pulang,
Amat duduk di sampingnya.

Beberapa lama mereka hanya diam.

Sampai akhirnya Amat bertanya pelan,

“Kalau bisa diulang…”
“kamu masih mau ketemu dia?”

Aditya menatap jalan di luar jendela.

Pohon, pohon lewat seperti bayangan.

Lalu ia menjawab tanpa ragu.

“Iya.”

Amat menghela napas.
“Padahal kamu tahu akhirnya begini?”

Aditya tersenyum kecil.
Ada luka di dalam senyum itu.

“Beberapa orang…”
“lebih baik pernah datang sebentar…”
“daripada tidak pernah hadir sama sekali.”

Amat menunduk.

Karena kalimat itu
terlalu jujur untuk dibantah.

Malam mulai turun saat mereka memasuki jalur menuju lereng Gunung Sumbing.

Udara berubah familiar.
Jalan, jalan sempit desa mulai terlihat.
Lampu rumah penduduk menyala di kejauhan.
Kabut tipis turun di antara pepohonan pinus.

Dan ketika mobil memasuki Desa Awan Biru,
Aditya menatap lereng gunung tempat ia dibesarkan.

Untuk pertama kalinya,
ia melihat desanya dengan mata yang berbeda.

Bukan lagi sekadar tempat pulang.

Tetapi tempat yang selama ini
menunggu untuk dihidupkan.

Ia teringat suara Sekar.

“Bangun desamu.”
“Buat orang datang untuk merasakan rumah.”

Dada Aditya terasa sesak lagi.

Namun kali ini,
di balik luka itu,
muncul sesuatu yang baru.

Sebuah tujuan.

Malam itu,
setelah semua orang pulang ke rumah masing, masing,
Aditya berdiri sendiri di lereng kecil belakang rumahnya.

Dari sana,
lampu, lampu desa terlihat seperti bintang yang jatuh di kaki gunung.

Kabut turun perlahan.

Angin dingin menyentuh wajahnya.

Dan di tengah sunyi itu,
ia berbisik pelan,

“Aku pulang.”

Angin berembus lembut.

Seolah seseorang menjawab dari kejauhan.

Aditya menutup mata.

Air matanya jatuh sekali lagi.

Bukan karena ia masih ingin mengejar Sekar.

Tetapi karena ia akhirnya sadar,

beberapa cinta memang tidak datang
untuk tinggal di hati.

Mereka datang
untuk mengubah arah hidup seseorang.

Dan malam itu,
di lereng Gunung Sumbing,
Aditya mulai memahami
bahwa luka yang dibawanya pulang
mungkin akan menjadi awal
dari sesuatu
yang jauh lebih besar
daripada kehilangan.

BAB 14 — Pesan dari Negeri Atas Awan

Hari, hari pertama setelah pulang,
Desa Awan Biru terasa berbeda bagi Aditya.

Padahal sebenarnya tidak ada yang berubah.

Kabut pagi masih turun perlahan di antara rumah, rumah kayu.
Anak, anak kecil masih berangkat sekolah sambil berlari di jalan tanah.
Para petani masih memanggul cangkul menuju ladang.
Suara ayam dan burung masih menyambut matahari dari balik lereng Gunung Sumbing.

Semua tetap sama.

Tetapi hati Aditya tidak lagi sama.

Ia berjalan melewati jalan desa yang selama ini akrab,
namun untuk pertama kalinya
ia benar, benar melihatnya.

Bukan hanya sebagai tempat kelahirannya.

Melainkan sebagai tempat
yang diam, diam menyimpan keindahan
yang belum pernah diperjuangkan.

Pagi itu,
Aditya duduk di gardu bambu dekat kebun kopi bersama Amat Junior, Guntur, dan Jojon.

Mereka memandang hamparan lereng yang hijau.

Kabut turun tipis.
Matahari baru naik.
Udara dingin menyusup pelan.

Amat menggigit singkong goreng sambil melirik sahabatnya.

“Jadi sekarang gimana?”

Aditya menoleh.
“Gimana apanya?”

Amat mengangkat alis.
“Kamu mau terus galau sampai tua?”

Jojon langsung menimpali,
“Kalau iya, saya pindah tongkrongan.”

Untuk pertama kalinya sejak pulang,
Aditya tertawa kecil.

Meski masih ada luka di matanya,
tawa itu terasa lebih hidup.

Guntur menatapnya serius.

“Bukan soal melupakan.”
“Tapi soal apa yang mau kamu lakukan setelah ini.”

Aditya terdiam.

Lalu matanya kembali memandang lereng di depan mereka.

Kebun, kebun kecil.
Jalur setapak.
Pohon, pohon tua.
Kabut yang turun seperti selendang.

Dan tiba, tiba,
ia melihat semuanya seperti melihat Dieng untuk pertama kalinya.

Hanya saja kali ini—
itu rumahnya sendiri.

“Aku mau membangun wisata di sini.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Amat hampir tersedak.
“Hah?”

Jojon menatap.
“Serius?”

Aditya mengangguk pelan.

“Kenapa orang harus jauh, jauh ke tempat lain…”
“kalau desa kita juga punya keindahan?”

Mereka semua diam.

Karena untuk pertama kalinya,
mereka melihat luka di mata Aditya
berubah menjadi sesuatu yang lain.

Harapan.

“Wisata seperti apa?” tanya Guntur.

Aditya menatap lereng gunung.

“Jalur sunrise.”
“Gardu pandang.”
“Warung kopi di atas kabut.”
“Camping ground.”
“Dan tempat di mana orang datang bukan hanya untuk foto…”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi untuk merasa pulang.”

Amat memandangnya lama.
Lalu tersenyum.

“Nah.”
“Ini baru teman saya.”

Jojon ikut mengangguk.
“Lebih baik patah hati daripada patah akal.”

Amat langsung menepuk bahunya.
“Kalimatmu jelek sekali.”

Mereka tertawa kecil.

Dan untuk pertama kalinya,
patah hati itu tidak hanya melahirkan kesedihan.

Tetapi arah.

Namun tidak semua orang menyambut gagasan itu.

Saat Aditya mulai membicarakan rencana wisata kepada beberapa warga,
respon yang ia terima justru beragam.

Sebagian mendukung.
Sebagian meragukan.
Sebagian menertawakan.

Di balai kecil desa,
seorang warga tua menggeleng.

“Wisata?”
“Di desa ini?”

Yang lain ikut menyahut.

“Orang datang ke sini mau lihat apa?”
“Jalan rusak?”
“Kabut doang?”

Beberapa orang tertawa kecil.

Aditya diam sejenak.

Namun kali ini,
ia tidak mundur.

Karena ia sudah pernah kehilangan sesuatu
yang lebih menyakitkan
daripada ditertawakan.

Ia berdiri.

Lalu berkata pelan namun tegas,

“Orang datang ke Dieng bukan hanya karena pemandangan.”
“Mereka datang karena tempat itu punya cerita.”
“Punya rasa.”
“Punya jiwa.”

Ruangan mulai tenang.

Aditya melanjutkan.

“Dan desa kita juga punya itu.”
“Kita hanya belum pernah percaya.”

Suasana balai desa mendadak sunyi.

Beberapa warga mulai saling memandang.

Karena yang berbicara di depan mereka hari itu
bukan lagi Aditya yang dulu.

Tetapi seseorang
yang pulang dengan cara pandang baru.

Setelah pertemuan itu,
sedikit demi sedikit dukungan mulai datang.

Anak, anak muda desa ikut tertarik.
Beberapa petani bersedia meminjamkan lahan.
Ibu, ibu mulai membicarakan warung kopi sederhana.
Pemuda karang taruna mulai membantu membersihkan jalur.

Dan tanpa disadari,
sebuah mimpi kecil mulai tumbuh.

Amat Junior menjadi bagian promosi.

“Biar saya yang bikin slogan.”

Jojon langsung bertanya.
“Apa slogannya?”

Amat berdehem.

“Datang karena pemandangan, pulang karena kenangan.”

Jojon menatap.
“Lumayan.”

Guntur mengangguk.
“Untuk sekali ini, tidak buruk.”

Aditya tersenyum.

Karena untuk pertama kalinya,
rasa sakit di dadanya
tidak hanya terasa sebagai kehilangan.

Tetapi juga tenaga.

Malam itu,
Aditya kembali berdiri sendirian di lereng desa.

Kabut turun perlahan.
Lampu, lampu rumah menyala di bawah.
Angin dingin bergerak pelan di antara pohon pinus.

Ia memandang langit lama.

Lalu berbisik,

“Aku mulai.”

Tak ada jawaban.

Hanya suara angin.

Namun tiba, tiba,
kabut di depannya bergerak perlahan.

Membentuk bayangan samar seorang perempuan.

Gaun putih.
Rambut panjang.
Senyum yang sangat ia kenal.

Sekar.

Aditya membeku.

Sosok itu tidak berkata apa, apa.

Hanya memandangnya dengan mata lembut.
Mata yang sama seperti di tepi telaga.

Lalu perlahan,
bayangan itu menghilang bersama kabut.

Meninggalkan satu rasa hangat di dada Aditya.

Bukan luka.

Bukan rindu.

Melainkan keyakinan.

Bahwa cinta yang kandas di negeri atas awan itu
tidak benar, benar pergi.

Ia hanya berubah bentuk.

Menjadi cahaya kecil
yang kini menuntun langkahnya pulang.

Dan malam itu,
untuk pertama kalinya sejak kehilangan Sekar,
Aditya tidak menangis.

Karena akhirnya ia mengerti,

kadang seseorang hadir dalam hidup kita
bukan untuk tinggal selamanya,

melainkan untuk meninggalkan pesan
yang akan mengubah seluruh masa depan.

BAB 15 — Bangkit dari Luka

Musim berganti perlahan di Desa Awan Biru.

Kabut yang dulu hanya dianggap biasa,
kini mulai dipandang berbeda oleh warga.
Jalur setapak yang sebelumnya sepi,
pelan, pelan dibersihkan.
Bambu, bambu tua ditebang lalu disusun menjadi pagar sederhana.
Kayu, kayu bekas diubah menjadi gardu pandang kecil di lereng.

Dan di tengah semua itu,
Aditya bekerja tanpa banyak bicara.

Setiap pagi sebelum matahari muncul,
ia sudah berada di atas bukit.

Setiap sore saat orang lain pulang,
ia masih memandangi lereng
sambil membayangkan sesuatu
yang belum bisa dilihat orang lain.

Sebuah tempat
yang lahir dari patah hati.

“Kalau dipikir, pikir…”
Amat Junior menancapkan bambu ke tanah.
“Ini pertama kalinya saya lihat orang patah hati malah rajin kerja.”

Jojon yang sedang mengecat papan tertawa.
“Biasanya patah hati itu rebahan.”

Guntur yang sedang mengukur jalur menimpali,
“Karena tidak semua orang hancur dengan cara yang sama.”

Aditya tersenyum kecil.

Lalu berkata pelan,

“Kadang ada luka…”
“yang justru membuat orang sadar harus hidup untuk apa.”

Mereka bertiga diam.

Karena mereka tahu,
yang sedang dibangun Aditya bukan sekadar tempat wisata.

Tetapi cara baru
untuk berdamai dengan kehilangan.

Dalam beberapa minggu,
kabar tentang tempat itu mulai menyebar.

Anak, anak muda desa mengunggah foto kabut pagi.
Amat membuat akun media sosial sederhana.
Jojon memasang papan kayu bertuliskan:

“Lereng Sekar — Negeri Kecil di Atas Awan.”

Saat melihat nama itu,
Guntur menatap Aditya.

“Kamu yakin?”

Aditya memandang papan itu lama.

Lalu mengangguk.

“Aku tidak ingin melupakan.”
“Aku hanya ingin mengubah rasa sakitnya.”

Guntur tak berkata apa, apa lagi.

Karena kadang,
cinta yang gagal
tak harus dibuang.

Kadang ia hanya perlu
diberi tempat yang baru.

Namun perjuangan tidak mudah.

Sebagian warga masih meragukan.

“Paling seminggu ramai.”
“Habis itu sepi lagi.”
“Anak muda cuma semangat di awal.”

Bahkan kepala dusun sempat bertanya,
“Kalau gagal bagaimana?”

Aditya menjawab tenang.

“Setidaknya kita pernah mencoba melihat desa ini dengan cara berbeda.”

Jawaban itu sederhana.

Namun perlahan,
justru itulah yang membuat beberapa warga mulai ikut percaya.

Ibu, ibu mulai membuka warung kopi.
Pemuda desa membantu membuat spot foto.
Anak, anak kecil menawarkan hasil kebun.
Beberapa bapak memperbaiki akses jalan.

Desa yang dulu hanya diam di kaki gunung
perlahan mulai bergerak.

Dan yang paling mengejutkan,
mereka bergerak bersama.

Pagi pertama tempat itu dibuka,
langit justru mendung.

Kabut turun tebal.
Angin dingin menusuk.
Tak satu pun kendaraan terlihat sampai matahari hampir terbit.

Amat mulai gelisah.
“Waduh.”
“Jangan, jangan nggak ada yang datang.”

Jojon menatap jalan kosong.
“Saya sudah siap malu.”

Guntur tetap diam,
meski wajahnya ikut tegang.

Aditya berdiri memandang lereng.

Tenang.

Sangat tenang.

Entah karena ia benar, benar yakin,
atau karena setelah kehilangan Sekar,
tak ada lagi yang terasa lebih menakutkan dari gagal.

Lalu dari kejauhan terdengar suara motor.

Satu.

Kemudian dua.

Lalu beberapa mobil kecil.

Beberapa wisatawan muda turun sambil membawa kamera.

“Ini tempat yang viral itu ya?”
“Katanya sunrise, nya bagus.”
“Wah kabutnya keren banget!”

Amat langsung menoleh ke Jojon.
“Kita resmi.”

Jojon hampir melompat.
“Beneran datang!”

Tak lama,
semakin banyak orang berdatangan.

Ada pasangan muda.
Ada rombongan mahasiswa.
Ada keluarga kecil.
Ada fotografer.

Dan untuk pertama kalinya,
lereng sunyi itu dipenuhi suara tawa.

Suara langkah.
Suara kehidupan.

Seorang wisatawan perempuan menghampiri Aditya.

“Mas, ini yang bikin tempat ini?”

Aditya tersenyum kecil.
“Bukan sendiri.”

Perempuan itu memandang hamparan kabut.

“Indah sekali.”
“Rasanya seperti tempat yang punya cerita.”

Aditya menatap jauh ke lereng.

Lalu menjawab pelan,

“Memang punya.”

Perempuan itu tersenyum,
lalu pergi.

Dan untuk pertama kalinya,
Aditya bisa mengucapkan itu
tanpa hatinya runtuh.

Matahari perlahan muncul dari balik kabut.

Cahaya keemasan menyentuh lereng.
Kabut bergerak seperti lautan putih.
Pohon, pohon pinus berdiri diam.
Suara kagum wisatawan memenuhi udara pagi.

Beberapa orang bertepuk tangan.

Sama seperti pagi di Sikunir.

Dan mendadak,
Aditya teringat segalanya.

Telaga.
Kabut.
Sekar.
Perpisahan.

Semua kembali sekejap.

Namun kali ini,
yang datang bukan hanya sedih.

Melainkan syukur.

Karena jika ia tidak pernah patah,
ia mungkin tak akan pernah sampai di titik ini.

Di tengah keramaian itu,
angin bertiup lembut.

Kabut tipis bergerak di ujung gardu pandang.

Dan di sana,
untuk sesaat,
Aditya melihat sosok itu lagi.

Gaun putih.
Rambut panjang.
Senyum tenang.

Sekar.

Berdiri di antara kabut pagi.

Memandangnya dari jauh.

Bukan dengan kesedihan.

Melainkan dengan kebanggaan.

Air mata Aditya jatuh pelan.

Namun kali ini,
ia tidak merasa hancur.

Ia justru tersenyum.

Sangat pelan.

Karena akhirnya ia mengerti,

Sekar tidak datang
untuk tinggal dalam hidupnya.

Ia datang
untuk mengubahnya.

“Dit!”

Suara Amat memanggil dari belakang.

“Kamu ngapain senyum sendiri?”

Aditya mengusap matanya cepat.
“Tidak apa, apa.”

Jojon mendekat.
“Jangan bilang lihat dia lagi.”

Aditya menatap kabut yang kini kosong.

Lalu tersenyum kecil.

“Bukan.”
“Cuma merasa…”
“akhirnya aku menepati janji.”

Guntur menatapnya lama.

Dan tanpa perlu bertanya,
ia tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.

Pagi itu,
di lereng kecil Desa Awan Biru,
Aditya akhirnya bangkit dari luka
yang dulu hampir menghancurkannya.

Bukan dengan melupakan.

Bukan dengan mengganti.

Tetapi dengan menjadikan cinta yang kandas
sebagai alasan
untuk menciptakan sesuatu yang hidup.

Dan sejak hari itu,
orang, orang yang datang ke tempat itu
hanya melihat pemandangan indah.

Namun hanya Aditya yang tahu,

bahwa di balik kabut pagi yang lembut,
ada satu cinta yang tak pernah benar, benar pergi,
dan diam, diam tetap tinggal
di negeri kecil
yang lahir dari hatinya sendiri.

EPILOG — Cintaku Kandas di Negeri Atas Awan

Beberapa bulan berlalu.

Nama Lereng Sekar perlahan dikenal orang.

Awalnya hanya dari unggahan foto sederhana.
Dari cerita wisatawan yang datang lalu bercerita kepada temannya.
Dari video pendek tentang kabut pagi yang turun di antara pohon pinus.
Dari secangkir kopi hangat yang diminum sambil menunggu matahari muncul dari balik lereng.

Lalu orang, orang mulai berdatangan.

Tidak ramai sekaligus.

Tetapi cukup
untuk membuat Desa Awan Biru yang dulu sunyi
perlahan menemukan denyut baru.

Warung, warung kecil mulai hidup.
Hasil kebun mulai lebih mudah terjual.
Anak, anak muda yang dulu ingin pergi ke kota
mulai percaya bahwa desa mereka pun bisa memberi harapan.

Dan di tengah perubahan itu,
nama Aditya mulai disebut dengan cara yang berbeda.

Bukan lagi sebagai pemuda yang suka berkhayal.

Tetapi sebagai seseorang
yang pulang membawa luka,
lalu mengubah luka itu menjadi jalan.

Suatu pagi,
seorang wartawan dari kota datang mewawancarai Aditya.

Mereka duduk di gardu kayu sederhana,
ditemani kabut tipis dan kopi panas.

Wartawan itu bertanya,

“Mas Aditya, apa yang menginspirasi tempat ini?”

Aditya terdiam cukup lama.

Matanya menatap hamparan awan yang mengalir pelan di bawah lereng.

Ia tersenyum tipis.

Lalu menjawab,

“Cinta yang tidak sempat saya miliki.”

Wartawan itu tertawa kecil,
mengira itu hanya jawaban puitis.

Namun Aditya tidak menjelaskan apa, apa.

Karena ada beberapa kisah
yang terlalu suci untuk dijelaskan
kepada orang yang hanya ingin menulis berita.

Amat Junior kini sibuk mengurus media sosial wisata.

Jojon mengelola warung kopi kecil di dekat gardu.
Guntur membantu menata jalur trekking agar lebih aman.

Mereka masih sama seperti dulu.
Masih saling mengejek.
Masih saling tertawa.
Masih menjadi tempat pulang satu sama lain.

Suatu sore,
saat pengunjung mulai sepi,
mereka duduk bersama memandang langit jingga.

Amat menyeruput kopi.
“Kalau dipikir, pikir…”
“kita dulu hampir pulang bawa trauma.”

Jojon mengangguk.
“Saya masih trauma.”

Guntur tersenyum tipis.
“Tapi akhirnya tidak sia, sia.”

Amat melirik Aditya.
“Kalau boleh jujur…”
“saya kadang masih nggak percaya semua itu benar terjadi.”

Aditya memandang kabut di kejauhan.

Lalu berkata pelan,

“Kadang saya juga.”

Mereka semua tertawa kecil.

Namun di dalam hati masing, masing,
mereka tahu—
beberapa perjalanan memang terlalu aneh
untuk disebut kebetulan.

Malam hari,
setelah semua pengunjung pulang,
Aditya sering berjalan sendirian ke gardu paling ujung.

Di sana,
angin terasa lebih dingin.
Kabut lebih dekat.
Dan suara dunia terasa jauh.

Ia tidak lagi datang untuk menangis.

Ia hanya datang
untuk mengingat.

Karena kini ia paham,
melupakan bukan satu, satunya cara untuk sembuh.

Kadang seseorang bisa tetap hidup
di dalam kenangan,
tanpa lagi melukai.

Malam itu,
bulan menggantung pucat di atas Gunung Sumbing.

Kabut turun perlahan,
menyelimuti lereng seperti selendang putih.

Aditya berdiri diam
dengan tangan di saku jaket.

Lalu seperti dulu,
angin berembus lembut.

Dan di ujung gardu,
sosok itu muncul sekali lagi.

Sekar.

Berdiri dalam diam.
Gaun putihnya bergerak pelan.
Rambut panjangnya jatuh lembut.
Wajahnya tenang seperti cahaya yang tidak pernah benar, benar padam.

Aditya tidak terkejut lagi.

Ia hanya tersenyum.

“Aku sudah menepati janjiku.”

Sekar menatap sekeliling.
Lampu, lampu kecil desa.
Warung sederhana.
Kabut yang menari.
Suara tawa samar dari bawah.

Lalu ia menatap Aditya.

Senyumnya kali ini berbeda.

Bukan sedih.

Bukan perpisahan.

Melainkan damai.

Seolah ia tahu,
luka itu akhirnya telah menemukan maknanya.

“Apa kamu bahagia?” tanya Aditya pelan.

Sekar tidak menjawab dengan kata, kata.

Ia hanya mengangguk pelan.

Lalu mengangkat tangan,
menyentuh udara di depan dada Aditya,
tepat di tempat hatinya berada.

Sentuhan itu tetap dingin.

Tetapi kali ini,
dingin itu tidak lagi terasa menyakitkan.

Justru hangat.

Seperti seseorang
yang datang bukan untuk membuat luka,
melainkan untuk mengucapkan:

semuanya sudah baik, baik saja.

Air mata jatuh di sudut mata Aditya.

Namun ia tersenyum.

Karena untuk pertama kalinya,
ia tidak lagi merasa kehilangan.

Kabut mulai bergerak lagi.

Tubuh Sekar perlahan memudar.

Aditya menatapnya tanpa mencoba menahan.

Karena kini ia tahu,
beberapa cinta memang tidak diciptakan
untuk dimiliki.

Sebagian hanya datang
untuk mengajarkan manusia
bahwa hati yang patah pun
masih bisa menumbuhkan sesuatu yang indah.

Sebelum menghilang,
Sekar tersenyum sekali lagi.

Dan untuk terakhir kalinya,
suara lembut itu terdengar di antara angin.

“Terima kasih sudah mencintaiku.”

Lalu ia lenyap bersama kabut.

Meninggalkan langit.
Meninggalkan sunyi.
Meninggalkan cinta yang tak pernah benar, benar pergi.

Aditya berdiri lama di sana.

Memandang tempat kosong
yang dulu pernah menjadi luka terdalamnya.

Kini bukan lagi rasa sakit yang ia rasakan.

Melainkan kedamaian.

Karena akhirnya ia mengerti—

cinta yang kandas di negeri atas awan
tidak selalu berakhir sebagai kesedihan.

Kadang,
ia justru menjadi alasan
seseorang menemukan jalan pulang
kepada dirinya sendiri.

Dan sejak malam itu,
setiap kali kabut turun di Lereng Sekar,
orang, orang hanya melihat pemandangan yang indah.

Tetapi Aditya tahu,

di antara putih yang bergerak pelan itu,
ada satu cinta
yang tak pernah benar, benar hilang.

Ia hanya berubah
menjadi bagian dari langit,
bagian dari kabut,
dan bagian dari hatinya
untuk selamanya.

TAMAT

 

 

0 komentar:

Posting Komentar