PROLOG — Panggilan dari
Negeri Kabut
Tidak semua perjalanan dimulai oleh langkah.
Sebagian dimulai oleh cerita.
Dan sebagian lainnya dimulai oleh luka yang bahkan belum
sempat terjadi.
Di sebuah desa kecil bernama Awan Biru, yang bersandar
tenang di lereng Gunung Sumbing, hiduplah seorang pemuda bernama Aditya. Ia
adalah lelaki sederhana dengan pundak yang sedikit membungkuk karena kebiasaan
menunduk saat berpikir, kulit sawo matang yang dihanguskan matahari pagi, dan
mata yang terlalu tenang untuk anak muda seusianya.
Sepanjang dua puluh dua tahun hidupnya, Aditya tak pernah
benar-benar pergi jauh dari tanah tempat ia dilahirkan. Dunianya adalah desa
itu. Hari-harinya dipenuhi aroma tanah basah setelah hujan, embun pagi yang
membasahi ujung daun kopi, dan langit pegunungan yang setiap sore turun memeluk
desa dengan kabut tipis berwarna susu. Ia tumbuh besar dalam pelukan gunung,
dan seperti kebanyakan anak desa lainnya, ia belajar bahwa cinta pertama
biasanya adalah rumah itu sendiri.
Bagi orang lain, Awan Biru hanyalah desa kecil yang sunyi, salah
satu titik di peta yang mudah terlewat jika kendaraan melaju terlalu cepat.
Namun bagi Aditya, desa itu adalah rumah yang terlalu akrab hingga terkadang
terasa sempit bagi mimpinya sendiri. Ada hari-hari ketika ia duduk di beranda
dan memandang ke arah timur, ke arah gunung-gunung lain di kejauhan, dan
bertanya-tanya apakah ada dunia di luar sana yang menunggunya.
Malam itu, seperti biasa, para lelaki desa berkumpul di
gardu tua dekat jalan menanjak menuju kebun kopi. Gardu itu terbuat dari bambu
dan kayu jati tua yang sudah menghitam dimakan usia. Lampu minyak tanah yang
menggantung di tiang tengah berkedip-kedip setiap kali angin gunung berembus,
membuat bayangan orang-orang yang duduk bersila di tikar pandan
bergoyang-goyang seperti wayang.
Angin gunung berembus pelan, membawa dingin yang menusuk
perlahan hingga ke sumsum. Suara jangkrik dan katak sawah menjadi latar dari
obrolan panjang yang tak pernah benar-benar penting, tentang panen kopi yang
tahun ini gagal karena hama, tentang cuaca yang sulit ditebak, tentang harga
sayur yang anjlok di pasar, dan sesekali tentang masa lalu yang dikenang sambil
tertawa kecil.
Namun malam itu berbeda.
Karena malam itu, dua warga desa bernama Hermansyah dan
Joko baru pulang beberapa waktu yang lalu dari perjalanan mereka ke dataran
tinggi Dieng. Wajah mereka masih kemerahan kedinginan, dan dari cara mereka
bercerita, dengan tangan yang sibuk menggambar sesuatu di udara dan mata yang
berbinar-binar, semua orang bisa menebak bahwa mereka baru saja menyaksikan
sesuatu yang luar biasa.
Mereka bercerita tentang sebuah desa di atas awan.
Tentang Desa Sembungan, sebuah desa kecil di Kecamatan
Kejajar, Wonosobo, yang berdiri lebih dari dua ribu meter di atas permukaan
laut auat tepatnya 2.306 mpdl. Sebuah tempat yang menurut mereka terlalu indah
untuk dipercaya oleh akal sehat.
Mereka bercerita tentang Bukit Sikunir, tempat matahari
lahir dari lautan awan, di mana setiap pagi, kabut putih membentang seperti
permadani raksasa, dan cahaya pertama menyembul dari balik Gunung Merbabu
seperti telur emas yang baru pecah. Mereka bercerita tentang Air Terjun
Sikarim, yang jatuh dari tebing hijau setinggi seratus meter seperti tirai
langit yang tak pernah berhenti bergerak. Dan tentang Telaga Cebong, yang
airnya jernih seperti kaca perak di bawah kabut pagi, memantulkan langit dengan
cara yang begitu sempurna hingga kadang orang sulit membedakan mana yang nyata
dan mana bayangan.
Joko menatap jauh ke kegelapan di luar gardu sebelum
berkata pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam desir angin malam.
"Kadang tempat paling indah bukan diciptakan untuk
dimiliki… hanya untuk dikenang."
Aditya, yang sejak tadi duduk di sudut gardu dengan diam,
mulai memperhatikan. Bukan karena cerita tentang keindahan alam, meski itu juga
menarik. Namun yang membuat seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa dingin, merinding
dari ujung rambut hingga telapak kaki, adalah saat Hermansyah menambahkan satu
cerita lain.
Cerita yang diucapkannya nyaris seperti bisikan, seolah
takut didengar oleh sesuatu yang bersembunyi di balik kabut.
"Warga sana percaya," katanya pelan, matanya
menyapu wajah semua orang yang hadir, "di Telaga Cebong ada seorang
perempuan yang menjaga airnya. Cantik. Rambutnya panjang hitam sampai pinggang.
Kulitnya putih pucat seperti tidak pernah disentuh matahari. Kadang muncul di
pagi yang terlalu sunyi, ketika kabut paling tebal, ketika udara paling dingin.
Dan siapa pun yang melihat matanya… pulangnya tak pernah sama lagi."
Suasana di gardu mendadak berubah.
Orang-orang yang tadinya tertawa mulai diam. Seorang bapak
paruh baya mengusap lengannya yang merinding. Yang lain tertawa kecil, tapi
tawa yang dipaksakan, tawa yang coba menutupi sesuatu yang tidak nyaman.
Sebagian menganggap itu hanya legenda pegunungan. Cerita
pengantar tidur yang diwariskan turun-temurun, dibumbui oleh imajinasi dan
udara dingin yang terlalu pekat.
Sebagian lain menganggap Hermansyah terlalu banyak minum
kopi hingga kepalanya kemasukan angin.
Tetapi Aditya tidak ikut tertawa.
Sebab entah mengapa, ketika mendengar cerita itu, ada
sesuatu di dalam dadanya yang terasa seperti pernah mengenal perempuan itu.
Seperti ada ingatan lama yang tersimpan di tempat paling tersembunyi di dalam
hatinya, dan cerita itu baru saja membuka pintunya.
Seolah-olah cerita itu bukan sedang didengarnya untuk
pertama kali. Melainkan sedang diingat kembali. Dari mimpi yang lupa. Dari
kehidupan yang lain. Dari sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh logika.
Malam itu, setelah semua orang pulang, setelah suara
langkah kaki menjauh, setelah lampu-lampu di gardu dimatikan satu per satu,
setelah desa kembali tenggelam dalam sunyi, Aditya masih duduk sendirian di
bangku bambu yang dingin. Ia menatap kabut yang perlahan turun dari puncak
Sumbing, bergerak seperti makhluk hidup yang merayap di antara pohon-pohon
pinus.
Angin malam membawa dingin yang menusuk kulit hingga ke
tulang, tetapi bukan itu yang membuat tubuhnya gemetar.
Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Sesuatu yang terasa seperti panggilan.
Seperti suara yang hanya bisa didengar oleh hati yang
sedang mencari.
Dan tanpa ia sadari, sejak malam itulah, hidup Aditya
perlahan mulai berjalan menuju sebuah perjalanan yang akan mengubah segalanya.
Bukan hanya tentang cinta. Tetapi tentang kehilangan. Tentang takdir yang tak
bisa ditawar. Dan tentang seorang perempuan yang tak pernah benar-benar berasal
dari dunia yang sama.
________________________________________
BAB 1 — Mimpi Tentang Perempuan di
Atas Awan
Malam di Desa Awan Biru selalu datang dengan cara yang
berbeda.
Ia tidak sekadar turun bersama gelap, seperti kebanyakan
malam di tempat lain. Tidak. Malam di sini merayap perlahan dari lereng Gunung
Sumbing, menyusup di sela-sela pohon pinus yang berusia puluhan tahun, lalu
menggantung tenang di atas atap-atap rumah kayu tua yang berjajar rapi di kaki
bukit. Kabut tipis turun seperti selendang putih yang dilayangkan oleh langit,
membungkus desa kecil itu dalam sunyi yang nyaris sacral, seperti tempat yang
sedang berdoa sebelum tidur.
Dari beranda rumah panggung milik orang tuanya, Aditya
duduk sendiri. Punggungnya bersandar pada tiang kayu yang sudah sedikit lapuk.
Satu kakinya ditekuk di atas papan lantai, kaki yang lain menjuntai bebas.
Matanya memandang lembah yang perlahan tenggelam dalam remang, warna-warna
hijau kebun mulai memudar menjadi abu-abu, lalu hitam pekat.
Di tangannya, secangkir kopi hitam telah kehilangan uapnya
sejak lama. Permukaan kopinya sudah dingin, lapisan tipis minyak kopi
mengambang seperti pecahan pelangi yang nyaris mati. Namun lelaki muda itu tak
juga meminumnya. Tangannya hanya menggenggam cangkir itu, merasakan dingin
perlahan merambat dari keramik ke telapak tangannya.
Pikirannya melayang jauh.
Sangat jauh.
Ke sebuah tempat yang belum pernah ia datangi, namun terasa
begitu akrab di dalam hatinya, seperti lagu yang pernah ia dengar di masa kecil
dan kemudian lupa, lalu tiba-tiba terdengar lagi setelah bertahun-tahun.
Sembungan.
Nama itu masih terngiang jelas di telinganya, seperti gema
yang tak mau pergi. Sudah hampir seminggu berlalu sejak Hermansyah dan Joko
bercerita panjang di gardu ronda tentang desa tertinggi di Pulau Jawa itu.
Tentang sebuah kampung kecil di dataran tinggi Dieng yang seolah berdiri di
atas langit. Tentang pagi yang dipenuhi kabut setebal salju, tentang telaga
kecil yang airnya memantulkan cahaya seperti serpihan kaca yang tersebar di
permukaan bumi.
Namun dari semua cerita itu, ada satu bagian yang paling
sulit dihapus dari benaknya. Seperti noda tinta di kain putih yang tak bisa
dibersihkan dengan air biasa.
Tentang seorang perempuan.
Hermansyah saat itu tertawa kecil, tawa yang aneh, tawa
yang tidak benar-benar lucu, sebelum berkata dengan suara setengah berbisik,
seolah takut didengar oleh angin malam yang berkeliaran di luar gardu. Matanya
menyapu wajah semua orang, lalu berhenti di suatu titik kosong di udara, seolah
sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Di sana," katanya, "ada
yang bilang kadang muncul perempuan cantik di pinggir Telaga Cebong. Rambutnya
panjang hitam, bajunya putih seperti kabut pagi. Kalau dia menatap seseorang,
orang itu bisa pulang dengan hati yang tak pernah utuh lagi."
Semua orang di gardu ronda tertawa mendengar cerita itu.
Tawa yang keras, tawa yang sengaja dibuat untuk menutupi rasa tidak nyaman.
Beberapa orang bahkan menambahkan candaan, tentang perempuan cantik di gunung,
tentang orang yang terlalu percaya mitos, tentang lelaki yang mudah tergoda
oleh cerita-cerita lama.
Semua kecuali Aditya.
Diam-diam, tanpa ia sadari, jari-jarinya menggenggam
cangkir kopi lebih erat. Entah mengapa, sejak mendengar kisah itu, hatinya
seperti disentuh oleh sesuatu yang tak kasatmata. Seperti ada tangan dingin
yang meraba dadanya dari dalam, mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak
tahu namanya.
Sejak malam itu, tidurnya tak lagi benar-benar tenang.
Dan malam ini, untuk ketiga kalinya dalam seminggu, mimpi
itu datang lagi.
________________________________________
Aditya berdiri di tepi sebuah telaga yang tenang.
Udara dingin menusuk sampai ke tulang, dingin yang berbeda
dari biasanya, dingin yang hidup, dingin yang bernapas. Kabut putih menggantung
rendah di atas permukaan air, bergerak perlahan seperti tirai yang ditarik oleh
tangan tak terlihat. Di kejauhan, siluet perbukitan terlihat samar-samar
seperti lukisan cat air yang belum selesai, garis-garisnya kabur,
warna-warnanya bercampur tanpa batas yang jelas.
Air telaga itu begitu bening.
Terlalu bening.
Sampai ia bisa melihat bayangan langit di dalamnya, awan
putih yang bergerak lambat, dan di baliknya, sesuatu yang terasa seperti mata raksasa
yang menatapnya dari dasar air.
Lalu seseorang berdiri di seberang sana.
Seorang perempuan.
Rambut hitamnya panjang tergerai sampai pinggang, bergerak
pelan disentuh angin yang tidak terasa oleh Aditya. Rambut itu mengalun lembut
seperti rumput laut di dasar samudra. Kulitnya pucat, bukan pucat karena sakit,
tetapi pucat seperti cahaya bulan yang jatuh di atas salju. Pucat yang
bercahaya. Matanya hitam pekat, dalam, dan tenang seperti menyimpan rahasia
berabad-abad yang tak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Perempuan itu tersenyum.
Senyum yang begitu lembut hingga membuat dada Aditya sesak
oleh rasa yang tak bisa dijelaskan, sesak seperti orang yang akan menangis
tetapi tidak tahu mengapa, sesak seperti seseorang yang sedang merindukan
sesuatu yang bahkan tidak pernah ia miliki.
Ia ingin melangkah mendekat.
Namun kakinya seperti tertanam di tanah. Tertahan oleh
akar-akar tak terlihat yang tumbuh dari telapak kakinya dan menjalar ke dalam
bumi.
Perempuan itu mengangkat tangan perlahan, tangannya putih,
jemarinya lentik, seperti pahatan dari gading yang sempurna.
Lalu dengan suara yang nyaris seperti bisikan angin, suara
yang terasa seperti dingin yang berbicara, ia berkata,
"Datanglah…"
Aditya terdiam.
Jantungnya berdebar, bukan debaran biasa, tetapi debaran
yang terasa sampai ke ujung jari, sampai ke ubun-ubun, sampai ke setiap sel
dalam tubuhnya.
Perempuan itu kembali berbisik, bibirnya hampir tidak
bergerak.
"Aku menunggumu."
Kabut tiba-tiba bergerak menebal. Membungkus sosok
perempuan itu. Membungkus tubuhnya yang putih, rambutnya yang panjang,
senyumnya yang lembut.
Dan dalam hitungan detik, ia menghilang.
Meninggalkan riak kecil di permukaan air, riak yang
membesar, lalu melingkar, lalu tenang kembali.
Aditya ingin berteriak. Ia ingin berlari. Ia ingin
menyeberangi telaga itu meski harus berenang melawan air sedingin es.
Namun mulutnya tidak bisa terbuka.
Dan sebelum ia sempat melakukan apa pun,
ia terbangun.
________________________________________
Aditya terbangun dengan napas memburu, seperti orang yang
baru saja berlari sekilometer. Keningnya basah oleh keringat dingin, bantalnya
sedikit lembap. Jantungnya masih berdebar cepat, seperti burung kecil yang
berusaha keluar dari sangkar tulang rusuknya.
Ia menoleh ke jendela kamarnya.
Langit masih gelap pekat. Tak ada tanda-tanda matahari akan
segera terbit. Hanya suara jangkrik yang sesekali berhenti, lalu mulai lagi,
dan desir angin gunung yang terdengar samar dari luar rumah, angin yang membawa
aroma tanah basah dan daun pinus.
Beberapa detik ia hanya duduk diam di ranjang, punggungnya
bersandar pada dinding kayu yang dingin, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu
hanya mimpi. Hanya bunga tidur. Hanya hasil dari cerita Hermansyah yang terlalu
meresap ke dalam pikirannya.
Tidak lebih.
Namun dadanya masih terasa sesak. Seperti ada yang menekan
dari dalam. Dan yang lebih membuatnya gelisah adalah satu hal:
wajah perempuan itu terasa begitu nyata.
Terlalu nyata untuk sekadar mimpi.
Bibirnya. Matanya. Caranya tersenyum. Semuanya terukir
begitu jelas di ingatannya, seperti foto yang ditempel di dinding kamarnya
sejak bertahun-tahun lalu.
Aditya mengusap wajahnya perlahan dengan kedua telapak
tangan, lalu menatap telapak tangannya sendiri di bawah cahaya rembulan yang
masuk lewat celah jendela. Entah kenapa, ia merasa seolah tadi benar-benar
hampir menyentuh sesuatu yang selama ini tak pernah bisa dijelaskan oleh akal.
"Aku menunggumu."
Suara itu masih terngiang. Lembut. Dingin. Namun anehnya,
terasa hangat di saat yang bersamaan.
Pintu kamarnya diketuk pelan. Dua kali. Lembut.
"Masih Tidur?"
Suara ibunya terdengar lembut dari balik pintu, suara yang
familiar sejak kecil, suara yang selalu menjadi penanda bahwa ia tidak
sendirian di dunia ini.
Aditya menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak
jantungnya yang masih belum sepenuhnya normal.
"Sudah bangun, Bu."
Ibunya membuka pintu sedikit, hanya selebar kepala, lalu
menatap anak lelakinya dengan sorot penuh khawatir. Di tangannya ia memegang
segelas air hangat, tetapi dari caranya berdiri di ambang pintu, Aditya tahu
ibunya tidak datang hanya untuk mengantarkan minuman.
"Kamu akhir-akhir ini sering gelisah. Ada yang kamu
pikirkan?" suara ibunya lembut, namun ada nada yang tidak bisa dibohongi, seorang
ibu selalu tahu ketika anaknya sedang tidak baik-baik saja.
Aditya tersenyum tipis. Senyum yang ia pakai untuk
menyembunyikan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.
Ia sendiri tak tahu bagaimana menjelaskan bahwa hatinya
sedang dipanggil oleh tempat yang belum pernah ia datangi, bahwa mimpinya
dihantui oleh perempuan yang bahkan ia tidak kenal, bahwa ada sesuatu di dalam
dadanya yang berbisik setiap malam, pergilah, pergilah, seseorang menunggumu
di sana.
"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin cuma kecapekan."
Ibunya menatapnya beberapa saat lebih lama dari yang seharusnya.
Mata perempuan paruh baya itu menyapu wajah Aditya, dahi yang lembap, mata yang
sedikit sembab, tangan yang masih menggenggam erat selimut. Seperti seorang
detektif yang sedang membaca petunjuk di tempat kejadian.
Namun akhirnya ia hanya mengangguk kecil. Mungkin ia
memutuskan untuk percaya. Atau mungkin ia hanya memilih untuk tidak bertanya
lebih jauh karena takut akan jawabannya.
"Kalau ada apa-apa, cerita. Ibu cuma di dapur."
Aditya mengangguk.
Setelah ibunya pergi, setelah suara langkah kaki melunak di
lorong, setelah pintu tertutup perlahan, ia kembali menatap keluar jendela.
Kabut tipis turun di lereng gunung. Bergerak pelan.
Diam-diam. Seperti sesuatu yang sedang merayap mendekat.
Sama seperti dalam mimpinya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aditya merasa
bahwa mungkin ada tempat yang memanggil seseorang bukan dengan suara, bukan
dengan kata-kata, bukan dengan teriakan, melainkan dengan rindu yang tak
diketahui asalnya. Rindu yang muncul begitu saja, tanpa sebab, tanpa alasan,
tanpa ingatan yang bisa ia lacak.
________________________________________
Pagi datang perlahan bersama cahaya pucat dari timur, cahaya
yang masih malu-malu, yang belum berani menampakkan seluruh dirinya. Warna
langit berubah dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu biru keabu-abuan, lalu
jingga pucat di ufuk timur.
Desa Awan Biru terbangun dalam udara dingin yang menggigit
hingga ke ujung hidung. Suara ayam jantan bersahutan dari rumah ke rumah. Aroma
kayu bakar mulai mengepul dari cerobong-cerobong dapur, asap tipis yang
membumbung tinggi lalu bercampur dengan kabut pagi. Embun menggantung di setiap
daun kopi, setiap helai rumput, setiap bilah ilalang di lereng bukit.
Pemandangan biasa bagi penduduk desa.
Namun tidak bagi Aditya pagi itu.
Ia berdiri di tepi kebun milik ayahnya—tanah seluas
setengah hektar yang ditanami kopi arabika dan beberapa pohon alpukat tua.
Tangannya memegang cangkul yang tidak pernah benar-benar ia gunakan. Matanya
menatap puncak Gunung Sumbing yang diselimuti kabut—puncak yang selama dua puluh
dua tahun ia lihat setiap hari, namun pagi ini terasa berbeda.
Ada sesuatu di udara pagi itu. Sesuatu yang menggelitik.
Seperti ada suara yang tidak bisa didengar telinga, tetapi
bisa dirasakan oleh hati.
Dalam hatinya, satu keputusan mulai tumbuh. Perlahan. Tak
terburu-buru. Seperti akar yang menjalar di dalam tanah, tidak terlihat, namun
semakin lama semakin kuat.
Ia harus pergi ke Sembungan.
Bukan sekadar untuk melihat negeri di atas awan yang
diceritakan Hermansyah. Bukan sekadar untuk membuktikan cerita lama tentang
perempuan penjaga telaga yang katanya bisa menghancurkan hati siapa pun yang
menatap matanya.
Melainkan karena jauh di dalam dirinya, ia merasa ada
bagian dari hidupnya yang sedang menunggu di sana. Seperti ada bab dalam buku
kehidupannya yang sengaja dikosongkan, dan ia harus pergi ke tempat itu untuk
mengisinya.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Aditya tidak takut.
Ia justru merasa, dengan keyakinan yang tidak bisa ia
jelaskan, dengan perasaan yang tidak bisa ia buktikan dengan logika, bahwa ia
sedang berjalan menuju takdirnya sendiri.
________________________________________
Di kejauhan, angin gunung berembus pelan.
Membawa bisikan samar yang hanya bisa didengar oleh hati
yang sedang mencari.
"Datanglah…"
BAB 2 — Perjalanan Menuju Negeri Atas
Awan
Keputusan itu akhirnya benar-benar diucapkan Aditya dua
hari kemudian.
Bukan di gardu ronda. Bukan pula kepada teman-temannya
terlebih dahulu. Tidak. Ia mengucapkannya kepada dirinya sendiri, di malam
hari, di kamar yang gelap, saat semua orang sudah terlelap dan hanya suara
jangkrik yang setia menemaninya.
Di depan cermin kecil yang tergantung di dinding kamarnya, cermin
bundar dengan bingkai kayu yang sudah mulai mengelupas catnya, Aditya memandang
wajahnya. Wajah yang tampak lebih pucat dari biasanya. Matanya menyimpan
sesuatu yang baru, sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami. Bukan
kegelisahan. Bukan ketakutan. Melainkan semacam kepasrahan yang
aneh, seperti orang yang tahu bahwa ia tidak punya pilihan lain selain pergi.
Kerinduan pada tempat yang belum pernah ia datangi.
Itulah yang paling aneh. Bagaimana mungkin seseorang
merindukan sesuatu yang belum pernah ia sentuh, belum pernah ia lihat, belum
pernah ia injak? Namun rindu itu nyata. Ia terasa di dadanya, menetap di sana
seperti tamu yang tidak mau pergi, menggerogoti dari dalam.
Ia menghela napas panjang, napas yang terasa lebih berat
dari biasanya, seperti ada beban tak terlihat yang menekan paru-parunya.
Lalu berkata pelan, nyaris seperti berjanji kepada seseorang
yang tak terlihat di balik cermin, kepada angin malam yang menyusup lewat celah
jendela, kepada dirinya sendiri.
"Aku akan datang."
Kalimat itu sederhana. Hanya tiga kata. Namun sejak
kata-kata itu terucap, hidupnya seperti mulai bergerak ke arah yang tak bisa
lagi dihentikan. Seperti roda yang sudah menggelinding menuruni bukit.
________________________________________
Pagi keberangkatan datang bersama kabut yang lebih tebal
dari biasanya, kabut yang seolah sengaja turun lebih rendah, lebih rapat, lebih
lambat, seperti ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan
kata-kata.
Desa Awan Biru masih setengah tertidur ketika empat sahabat
itu berkumpul di depan warung kecil dekat pertigaan desa. Warung itu milik Mbah
Karyo, terbuat dari bambu dan kayu, dengan atap rumbia yang sudah berlumut di
beberapa sudut. Di dalamnya, lampu minyak masih menyala redup, dan aroma kopi
tubruk mulai tercium samar.
Aditya datang paling awal, seperti biasa. Ia membawa tas
ransel sederhana, ransel biru tua yang sudah usang, dengan beberapa tambalan di
bagian bawah. Di dalamnya: tiga potong pakaian, kamera pinjaman dari pamannya,
buku catatan kecil berwarna coklat, sebuah pulpen, dan harapan yang belum
sempat diberi nama.
Ia berdiri di depan warung, menunggu. Angin pagi menyentuh
wajahnya, membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di kejauhan, Gunung
Sumbing masih tertutup kabut, hanya samar-samar terlihat seperti raksasa yang
sedang tidur.
Tak lama kemudian, Amat Junior muncul sambil membawa dua
tas besar sekaligus. Satu tas ransel besar berwarna hijau tentara, dan satu tas
jinjing bermotif kotak-kotak yang terlihat seperti tas piknik. Wajahnya
berseri-seri, seolah ia sedang berangkat ke pesta, bukan ke perjalanan darat
yang melelahkan.
Aditya mengernyitkan dahi. Ia menunjuk tas jinjing itu
dengan dagunya.
"Mat, kita cuma tiga hari."
Amat Junior mengangguk serius. Terlalu serius, seperti
seorang diplomat yang sedang menjelaskan perjanjian perdamaian.
"Iya. Yang satu baju. Yang satu makanan."
Dengan penuh keyakinan, ia membuka sedikit resleting tas
jinjing itu, memperlihatkan isinya: roti tawar dua bungkus, mie instan setengah
karton, beberapa bungkus keripik, dua botol saus sambal, dan satu toples
kerupuk bawang.
Guntur yang baru datang, dengan langkah pelan, wajah tenang,
dan satu tas ransel kecil yang tampak jauh lebih masuk akal, langsung tertawa
kecil. Tawanya pendek, seperti batuk yang tertahan.
"Kamu mau wisata atau pindahan rumah?"
Amat mengangkat dagu dengan bangga, seolah baru saja
memenangkan debat.
"Pengalaman mengajarkan satu hal penting."
"Apa?" tanya Jojon yang datang terakhir, hampir
tersandung batu karena terburu-buru, ranselnya yang kebesaran bergoyang-goyang
di punggungnya seperti rumah siput yang tak stabil.
Amat menatap mereka satu per satu, lalu berkata dengan
suara lantang, penuh wibawa:
"Di tempat dingin, cinta boleh gagal… tapi perut
jangan sampai kosong."
Jojon, yang sedang berusaha menyeimbangkan ranselnya,
hampir terjungkal karena tertawa terlalu keras. Ia tertawa sampai matanya
berair, sampai bahunya berguncang, sampai ranselnya nyaris lepas.
Suasana pagi yang semula dingin dan tegang perlahan mencair
oleh tawa mereka. Tawa yang hangat, tawa yang familiar, tawa yang sudah
menemani mereka sejak kecil, saat bermain bola di lapangan kering, saat
mengerjakan PR bersama di teras rumah, saat tertidur di gardu ronda setelah
begadang semalaman.
Dan seperti itulah persahabatan mereka selalu bekerja, mengubah
perjalanan biasa menjadi sesuatu yang akan dikenang bertahun-tahun kemudian,
ketika usia telah menua dan rambut telah memutih.
________________________________________
Ibu Aditya berdiri di depan rumah sambil memeluk selendang
tipis ke bahunya, selendang rajut warna krem yang sudah puluhan tahun menemani
dinginnya pagi-pagi di lereng Sumbing. Wajahnya menyimpan kecemasan yang
berusaha ia sembunyikan di balik senyum tipis. Namun Aditya mengenal ibunya
terlalu baik. Ia bisa melihat kerutan halus di kening itu, cara bibir ibunya
sedikit mengerucut, cara jari-jari ibunya memegang selendang itu lebih erat
dari biasanya.
"Kamu yakin mau pergi sejauh itu?"
Suaranya lembut, tetapi ada getar di ujung kata-katanya. Seorang
ibu dan anak laki-lakinya, mereka memiliki ikatan yang aneh. Ibu tahu kapan
anaknya berbohong, dan anak tahu kapan ibunya takut.
Aditya mengangguk pelan. Ia tidak bisa berkata banyak. Jika
ia membuka mulut terlalu lebar, mungkin suaranya akan bergetar, mungkin ia akan
mengatakan sesuatu yang akan menyakiti hatinya sendiri.
"Hanya beberapa hari, Bu."
Ibunya menatap mata anaknya lama. Seorang ibu kadang bisa
melihat hal yang bahkan anaknya sendiri belum mengerti. Ia bisa membaca
kegelisahan yang tidak diucapkan, bisa merasakan luka yang bahkan belum
terjadi.
"Kamu bukan cuma mau jalan-jalan, kan?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun pertanyaan sederhana
seringkali adalah yang paling sulit dijawab.
Aditya terdiam. Beberapa saat ia tak menjawab. Angin pagi
bergerak di antara mereka, membawa daun-daun kering yang berputar-putar pelan
di atas tanah.
Lalu ia hanya tersenyum kecil. Senyum yang tidak meyakinkan
siapa pun, terutama dirinya sendiri.
"Mungkin aku cuma ingin mencari sesuatu."
Ibunya tidak bertanya lebih jauh. Mungkin ia tahu bahwa
anaknya sedang berada di ambang sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata. Mungkin ia merasakan bahwa perjalanan ini lebih besar dari sekadar
liburan. Mungkin ia hanya memilih untuk percaya, seperti yang selalu ia
lakukan.
Ia mengusap lengan anaknya lembut, usapan yang hangat,
usapan yang mengingatkan Aditya pada masa kecilnya, saat ia jatuh dari pohon
jambu dan ibunya mengusap lututnya yang berdarah dengan air kelapa.
"Kadang yang kita cari jauh-jauh justru sudah ada
dekat kita."
Kalimat itu terdengar seperti nasihat tua yang diwariskan
dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak. Namun Aditya hanya tersenyum tipis, meski
hatinya tahu: kali ini yang memanggilnya memang bukan sesuatu yang dekat. Yang
memanggilnya adalah sesuatu yang berada di seberang gunung, di atas awan, di
tempat yang bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sebelum berangkat, ibunya menyelipkan syal rajut tua ke
tangan Aditya. Syal itu berwarna abu-abu kecoklatan, sedikit kusut di beberapa
bagian, dan masih tercium aroma kapur barus dari lemari tua.
"Dingin di atas sana," kata ibunya pelan.
Aditya menerima syal itu sambil menahan sesuatu yang tiba-tiba
terasa hangat di dadanya, sesuatu yang seperti air mata yang tidak mau keluar,
seperti tangisan yang tidak berani bersuara.
"Terima kasih, Bu."
________________________________________
Perjalanan dari lereng Sumbing menuju Wonosobo memakan
waktu berjam-jam. Mereka berganti kendaraan tiga kali: dari ojek desa ke
terminal kecil di kecamatan, dari terminal kecil ke bus antarkota di kota
kabupaten, dan dari bus antarkota ke bus kecil yang akan membawa mereka ke
dataran tinggi.
Di dalam bus antarkota yang menanjak pelan meninggalkan
keramaian kota, jendela-jendela mulai berkabut oleh perbedaan suhu. Di luar,
pemandangan berubah: sawah-sawah hijau mulai digantikan oleh kebun teh yang
membentang tak berujung, lalu perlahan berubah menjadi hutan pinus yang lebat
dan rimbang.
Amat Junior tidak berhenti bicara sepanjang perjalanan.
Kadang tentang perempuan, tentang cinta pertamanya yang menikah dengan orang
lain, tentang gebetan barunya yang katanya "beda dari yang lain",
tentang teorinya bahwa perempuan lebih suka laki-laki yang bisa masak. Kadang
tentang kopi, tentang mana kopi terenak yang pernah ia coba, tentang cara
menyeduh kopi yang benar, tentang perbedaan kopi arabika dan robusta yang ia
jelaskan dengan penuh keyakinan meski sebenarnya ia hanya membaca dari
internet.
Kadang tentang teori anehnya bahwa perempuan cantik di
pegunungan biasanya lebih berbahaya daripada jurang.
"Kenapa?" tanya Jojon penasaran, sambil mengunyah
keripik yang dibagikan Amat.
Amat menatap jauh keluar jendela, ke arah bukit-bukit yang
mulai tertutup kabut, dengan ekspresi seorang filsuf yang baru menemukan makna
hidup.
"Karena jurang cuma bikin jatuh sekali."
"Kalau perempuan?" tanya Guntur dari kursi
sebelah, tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca, sebuah novel tipis
bersampul lusuh.
"Bisa bikin jatuh berkali-kali," jawab Amat
dengan nada dramatis. "Jatuh cinta, jatuh hati, jatuh bangun, jatuh
miskin..."
Guntur menggeleng pelan. "Sejak kapan kamu jadi
filsuf?"
Amat tersenyum bangga, memperlihatkan gigi depannya yang
agak maju ke depan. "Sejak dua kali ditinggal pas sayang-sayangnya."
Mereka kembali tertawa. Tawa yang menggema di dalam bus
yang mulai sepi, tawa yang membuat beberapa penumpang lain menoleh dengan
senyum tipis.
Namun di tengah tawa itu, Aditya justru lebih banyak diam.
Matanya tidak lepas dari jendela. Perbukitan hijau yang ia lihat setiap hari
mulai berubah, warnanya lebih gelap, bentuknya lebih terjal, udaranya lebih
dingin. Kabut semakin rapat, seperti kain kasa putih yang direntangkan di
antara pepohonan. Jalan semakin menanjak, berkelok-kelok seperti ular yang
sedang beristirahat.
Dan entah kenapa, setiap kilometer terasa seperti sedang
membawanya lebih dekat, bukan hanya ke sebuah desa, tetapi ke sesuatu yang
telah lama menunggunya. Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tetapi bisa ia
rasakan di dadanya, berdenyut pelan seperti detak jantung kedua.
________________________________________
Ketika mereka tiba di kawasan Dieng, matahari mulai condong
ke barat. Langit berubah menjadi jingga keemasan, dan bayangan pepohonan
memanjang seperti jari-jari raksasa yang menyentuh tanah.
Udara dingin langsung menyambut begitu pintu bus terbuka.
Dingin yang berbeda dari dingin di Sumbing, lebih tajam, lebih menusuk, seperti
ribuan jarum kecil yang menusuk kulit.
Jojon menggigil hebat, giginya bergemeretuk seperti orang
yang baru sadar dari pingsan.
"Ya Tuhan… ini dingin atau kulkas rusak?"
Amat langsung mengenakan dua jaket sekaligus, jaket jeans
di dalam, jaket bulu palsu di luar, ditambah satu syal tebal yang melilit lehernya
tiga kali. Kepalanya yang terbungkus kupluk rajut membuatnya terlihat seperti
manusia salju versi murah.
"Kalau begini, saya bisa membeku sebelum jatuh
cinta," gumamnya.
Guntur menggeleng sambil tersenyum kecil. "Belum juga
sampai."
Mereka kemudian naik bus wisata kecil yang akan mengantar
mereka ke Desa Sembungan. Bus itu sempit, hanya muat sekitar dua belas orang, dengan
jok yang terbuat dari kulit sintetis yang sudah retak di beberapa tempat. Kaca
jendelanya sedikit berembun, sehingga pemandangan di luar terlihat buram
seperti lukisan impresionis yang kabur. Penumpangnya tak banyak: beberapa
wisatawan asing dengan ransel besar, sepasang suami istri tua yang tertidur
sambil saling bersandar, dan seorang ibu dengan anak kecil yang rewel karena
kedinginan.
Dan di sanalah semuanya mulai berubah.
Aditya duduk di dekat jendela, di kursi paling belakang.
Matanya menatap pemandangan luar yang mulai diselimuti kabut sore. Pepohonan
pinus berdiri di kiri-kanan jalan, batangnya yang tinggi dan lurus seperti
barisan tentara yang sedang berjaga. Sesekali ia melihat rumah-rumah penduduk
dengan atap seng yang berwarna coklat karatan, asap tipis mengepul dari
cerobong dapur.
Lalu saat bus berhenti di tikungan berikutnya, di sebuah
halte kecil yang hanya berupa papan kayu bertuliskan "Sembungan 5
km", seorang perempuan naik.
Langkahnya pelan, hampir seperti tidak ingin mengganggu
siapa pun. Wajahnya tertutup syal tipis berwarna krem, hanya matanya yang
terlihat, bening, jernih, dengan sorot yang sulit dijelaskan. Rambutnya
panjang, hitam, tergerai di balik jaket krem yang dikenakannya. Tubuhnya
ramping, agak kurus, tetapi ada sesuatu dalam caranya berdiri yang membuat
orang menoleh.
Matanya bening, terlalu bening, seperti air Telaga Cebong
yang diceritakan Hermansyah.
Aditya terdiam.
Waktu seperti melambat. Suara mesin bus menjadi samar.
Suara penumpang lain menjadi kabur. Yang ia dengar hanyalah detak jantungnya
sendiri, yang tiba-tiba berdebar lebih cepat dari biasanya.
Perempuan itu duduk dua kursi di depannya, di bangku kosong
di sebelah jendela yang sama. Dari belakang, Aditya bisa melihat garis
rahangnya yang lembut, cara ia menyelipkan rambut ke belakang telinga, cara
jemarinya yang lentik memegang ujung syal.
Dan sepanjang perjalanan menuju Sembungan, Aditya tak bisa
memalingkan pandangannya. Ia seperti terhipnotis. Seperti ada magnet tak
terlihat yang menarik matanya ke arah perempuan itu, dan ia tidak punya
kekuatan untuk melawan.
Amat yang menyadarinya menyikut pelan, sengaja, dengan siku
kirinya yang tajam.
"Wah."
Aditya menoleh, sedikit tersentak. "Apa?"
Amat menyeringai, alisnya naik turun seperti ulat yang
sedang joget. "Belum sampai desa, sudah kena."
Guntur ikut melirik ke arah perempuan itu, lalu tersenyum
kecil, senyum yang tahu-tahu saja, senyum yang membuat Aditya merasa seperti
sedang diadili.
"Minimal kali ini manusia," kata Guntur pelan.
Aditya mengabaikan mereka. Namun dalam diam, untuk pertama
kalinya sejak perjalanan dimulai, ia merasa mungkin takdir sedang mulai membuka
jalannya. Atau mungkin ini hanya kebetulan. Atau mungkin ini adalah awal dari
sesuatu yang tidak akan pernah ia duga.
________________________________________
Bus perlahan memasuki Desa Sembungan.
Kabut turun tipis di antara rumah-rumah penduduk, rumah-rumah
kayu dengan dinding papan yang dicat warna-warna pastel, atap seng yang
berkarat di beberapa bagian, dan halaman yang ditanami bunga-bunga liar.
Lampu-lampu kecil mulai menyala di beberapa rumah, berpendar kuning di tengah
kabut sore yang mulai turun lebih cepat. Udara dingin menampar lembut wajah
mereka, membawa aroma tanah basah, kayu bakar, dan sesuatu yang lain, aroma
yang tidak bisa ia kenali, tetapi terasa akrab.
Desa itu tampak seperti lukisan yang hidup. Seperti tempat
yang sengaja diciptakan oleh seseorang yang sangat paham arti keindahan.
Perempuan itu berdiri. Ia merapikan syalnya, mengambil tas
kecil dari lantai bus, dan berjalan menuju pintu keluar.
Aditya ikut berdiri diam-diam. Ia tidak tahu apa yang
mendorongnya. Mungkin rasa penasaran. Mungkin sesuatu yang lebih dalam. Mungkin
hanya keinginan untuk mendengar suara perempuan itu, sekali saja.
Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, sebelum ia sempat
melangkah lebih dari dua langkah, seorang pria datang dari luar bus. Pria itu
tinggi, sedikit lebih tua dari Aditya, dengan jaket hitam dan senyum yang
hangat. Ia mengulurkan tangan, tangan yang besar, yang kasar, yang jelas
terbiasa dengan kerja fisik.
Perempuan itu membalas senyum hangat, senyum yang berbeda
dari senyumnya saat sendirian. Senyum yang lebih lebar, lebih riang,
lebih hidup.
Lalu ia menggandeng tangan pria itu.
Suaminya.
Aditya terpaku.
Ia berdiri di tangga bus, setengah jalan keluar, dengan
tangan masih memegang pegangan besi yang dingin. Angin sore menerpa wajahnya,
tetapi yang ia rasakan bukan dingin. Yang ia rasakan adalah sesuatu yang jatuh
di dalam dadanya, sesuatu yang bahkan belum sempat tumbuh, tetapi sudah mati
sebelum lahir.
Amat yang melihat langsung menepuk bahunya pelan. Wajah
Amat yang biasanya penuh candaan berubah menjadi serius, seperti seorang
pendeta yang sedang menghibur jemaatnya yang patah hati.
"Innalillahi," bisik Amat, dengan nada setengah
bercanda setengah sungguhan.
Jojon ikut menghela napas panjang, lalu menatap Aditya
dengan ekspresi iba yang berlebihan. "Baru lima belas menit."
Guntur menahan senyum, senyum yang jelas-jelas sedang
berusaha tidak tertawa. "Rekor patah hati tercepat."
Aditya hanya menatap kosong ketika perempuan itu berjalan
menjauh bersama suaminya di tengah kabut sore, di antara lampu-lampu desa yang
mulai menyala satu per satu. Sesuatu di dalam dadanya jatuh, pecah, dan hancur,
meski bahkan belum sempat tumbuh menjadi apa pun.
Dan anehnya, di saat yang sama, ia merasa bahwa perempuan
itu memang bukan alasan sebenarnya ia datang sejauh ini. Perasaannya hancur,
tetapi hancurnya aneh, seperti bangunan yang runtuh tetapi tidak menimbulkan
debu. Seperti luka yang tidak berdarah.
Karena jauh di balik kabut desa itu, di balik rumah-rumah
kayu, di balik pepohonan pinus yang menjulang, di balik senja yang mulai
memerah, hatinya tahu: ada seseorang lain yang benar-benar sedang menunggunya.
Seseorang yang belum ia temui. Seseorang yang namanya bahkan belum pernah ia
dengar, tetapi sudah terasa seperti doa yang lama tidak dipanjatkan.
________________________________________
Aditya menoleh ke arah telaga yang tampak samar dari
kejauhan. Dari tempatnya berdiri, telaga itu terlihat seperti cermin raksasa yang
diletakkan di tengah lembah, permukaannya memantulkan cahaya senja, jingga dan
ungu bercampur menjadi satu, seperti cat air yang ditumpahkan di atas kanvas.
Tenang.
Diam.
Namun entah mengapa, dari tempatnya berdiri, ia merasa
seperti melihat bayangan putih sesaat berdiri di tepi air. Bayangan seorang
perempuan dengan gaun putih dan rambut panjang yang bergerak pelan. Bayangan yang
menatapnya dari seberang telaga, menembus kabut, menembus jarak, menembus
waktu.
Lalu bayangan itu menghilang bersama kabut yang bergerak.
Aditya menahan napas. Jantungnya berdebar, bukan debaran
biasa, tetapi debaran yang terasa di seluruh tubuh, dari ujung rambut hingga
ujung kaki.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di negeri atas awan
itu, jantungnya berdebar bukan karena perjalanan, bukan karena kecelakaan di
bus, bukan karena perempuan cantik yang ternyata sudah bersuami.
Melainkan karena firasat.
Firasat bahwa kisah yang sesungguhnya, kisah yang akan
mengubah hidupnya, kisah yang akan ia kenang hingga rambutnya memutih, kisah
yang akan ia ceritakan kepada anak cucunya kelak, baru saja dimulai.
________________________________________
BAB 3 — Desa di Atas Langit
Malam pertama di Desa Sembungan datang lebih cepat daripada
yang dibayangkan Aditya.
Begitu matahari tenggelam di balik perbukitan Dieng, tenggelam
seperti bola api yang perlahan ditelan bumi, meninggalkan sisa-sisa cahaya
jingga yang memudar menjadi ungu, lalu biru tua, lalu hitam pekat, kabut turun
perlahan seperti tirai putih yang ditarik oleh langit untuk menutup panggung
dunia. Rumah-rumah penduduk yang tadi tampak jelas mulai samar, kehilangan
bentuk, kehilangan garis, hanya menyisakan cahaya lampu kuning yang berpendar
lembut dari balik jendela kayu.
Desa itu terasa sunyi.
Bukan sunyi yang menakutkan, bukan sunyi seperti di kuburan
tengah malam, bukan sunyi yang membuat bulu kuduk berdiri. Melainkan sunyi yang
seperti menyimpan sesuatu. Sunyi yang tebal dan lembut, seperti selimut yang
ditarik hingga menutupi seluruh desa, membuat semua orang yang berada di
dalamnya merasa terlindungi dan terisolasi pada saat yang bersamaan.
Aditya berdiri di depan penginapan kecil tempat mereka
bermalam, sebuah rumah kayu berlantai dua dengan teras kecil di depan, beberapa
pot bunga yang layu karena dingin, dan satu ayunan bambu yang berderit setiap
kali tertiup angin. Tangannya masuk ke saku jaket, sementara napasnya berubah
menjadi embun tipis di udara, embun yang muncul dan hilang dalam hitungan
detik, seperti sesuatu yang terlalu rapuh untuk bertahan lama.
Ia memandang jauh ke arah telaga yang tadi sempat
dilihatnya dari bus. Permukaan air itu nyaris tak terlihat di tengah kegelapan.
Hanya samar, seperti noda hitam di atas kain hitam, seperti cermin yang tidak
memantulkan apa pun. Seolah telaga itu menyatu dengan langit, menyatu dengan
kabut, menyatu dengan kegelapan itu sendiri.
Amat Junior keluar dari penginapan sambil memeluk dirinya
sendiri, kedua lengannya melingkar erat di dadanya, bahunya sedikit naik ke
arah telinga, seperti orang yang sedang berusaha menjadi sekecil mungkin agar
dingin tidak menemukannya.
"Kalau dinginnya begini terus," katanya sambil
menggigil, suaranya bergetar seperti daun yang ditiup angin, "saya bisa
pulang jadi es batu."
Jojon yang menyusul dari belakang langsung menyahut, tanpa
berpikir, seperti refleks.
"Kalau kamu jadi es batu, bisa dijual ke warung."
Amat melotot, matanya membulat, alisnya bertaut, bibirnya
sedikit maju ke depan dalam ekspresi tersinggung yang dibuat-buat.
"Teman macam apa kalian ini?"
Guntur tertawa kecil dari belakang, tawanya pendek, hangat,
seperti api unggun yang baru dinyalakan.
"Teman yang realistis."
Tawa mereka memecah dingin sesaat, menggema di jalan desa
yang sepi, membuat beberapa lampu rumah di kejauhan seolah berkedip mendengar
suara mereka.
Namun Aditya tetap diam. Tatapannya masih tertuju ke arah
telaga. Sebab sejak turun dari bus tadi, sejak kakinya menginjak tanah Desa Sembungan
untuk pertama kalinya, perasaan aneh itu tak juga hilang. Bahkan semakin kuat.
Perasaan seperti sedang diawasi.
Bukan oleh manusia. Bukan oleh mata-mata yang bersembunyi
di balik jendela. Tetapi oleh sesuatu yang lembut, diam, dan tak terlihat.
Sesuatu yang tidak berwujud tetapi terasa nyata, seperti tangan yang menyentuh
pundaknya dari jauh, seperti bisikan yang tidak terdengar tetapi bisa dirasakan
getarannya di dada.
________________________________________
Penginapan yang mereka tempati milik seorang perempuan tua
bernama Mbah Laras. Usianya sudah di atas tujuh puluh, wajahnya keriput,
rambutnya putih semua, matanya sayu tetapi tajam, seperti mata seseorang yang
telah melihat terlalu banyak hal dalam hidupnya.
Rumahnya sederhana, sangat sederhana. Berdinding kayu jati
tua yang sudah menghitam dimakan usia, dengan lantai papan yang sedikit
berderit setiap kali diinjak, seperti tangisan pelan dari masa lalu. Di ruang
tengah tergantung beberapa foto lama: foto Bukit Sikunir ketika masih belum ada
wisatawan, foto Telaga Cebong sebelum pagar-pagar beton didirikan, foto Desa
Sembungan puluhan tahun silam ketika jalanan masih berupa tanah dan belum ada
aliran listrik.
Di sudut ruangan, ada sebuah rak kayu berisi beberapa buku
tua, lilin-lilin kecil, dan satu benda yang menarik perhatian Aditya: sebuah
patung kayu kecil berbentuk perempuan, dengan ukiran yang sederhana tetapi
anehnya terasa hidup. Wajahnya tidak jelas, hanya garis-garis kasar yang membentuk
mata, hidung, dan bibir, tetapi ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang membuat
Aditya ingin terus memandang.
Mbah Laras menyuguhkan teh panas dengan aroma serai yang
kuat, aroma yang langsung menguar ke seluruh ruangan, menghangatkan hidung,
menghangatkan tenggorokan, menghangatkan dada. Tangannya yang keriput dan sedikit
gemetar menuangkan air panas ke dalam cangkir-cangkir tanah liat, dengan
hati-hati, seperti seseorang yang sudah melakukan ritual yang sama ribuan kali.
"Jarang ada tamu dari jauh datang bukan saat musim
ramai," katanya sambil tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang
tinggal beberapa.
Amat langsung menerima gelas pertama, terlalu cepat,
seperti orang yang takut kehilangan sesuatu. Ia meniup-niup tehnya, lalu
menyesap kecil, matanya menyipit menikmati kehangatan yang menyebar dari
tenggorokan ke seluruh tubuh.
"Kalau musim ramai, harga kamarnya naik ya,
Mbah?"
Guntur menendang kaki Amat pelan di bawah meja, tendangan
yang tidak terlihat, tetapi cukup keras untuk membuat Amat meringis.
Mbah Laras justru tertawa kecil. Tawanya renyah, seperti
kerikil yang digesekkan.
"Kamu lucu."
Amat tersenyum bangga, seperti anak kecil yang mendapat
pujian.
"Akhirnya ada yang mengakui."
Jojon berbisik ke arah Guntur, cukup keras agar semua orang
bisa mendengar.
"Biasanya orang bilang aneh."
Mereka kembali tertawa, tawa yang menggema di ruang tamu
yang sempit, membuat foto-foto lama di dinding seolah ikut bergoyang.
Namun saat Aditya menyebut nama Telaga Cebong, suasana
berubah. Senyum Mbah Laras tidak hilang, tetapi berubah, menjadi lebih tipis,
lebih hati-hati, seperti seseorang yang sedang memutuskan apakah akan
mengatakan sesuatu atau tidak.
"Kalian mau ke sana besok?" tanya perempuan tua
itu pelan, matanya tidak lagi menatap semua orang, tetapi tertuju pada Aditya.
Aditya mengangguk. "Iya."
Mbah Laras menatap wajah Aditya beberapa detik lebih lama
dibanding yang lain, tatapan yang aneh, tatapan yang tidak biasa, tatapan yang
seperti sedang membaca sesuatu di balik wajahnya. Tatapan yang membuat Aditya
merasa telanjang, seperti seluruh pikirannya terbuka dan dibaca satu per satu.
Seolah ia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang
lain.
"Kalau ke telaga," katanya pelan, nyaris
berbisik, "jangan terlalu lama saat senja."
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Bahkan api di perapian
seolah berkedip mendengar kata-kata itu.
Jojon menelan ludah, bunyi kluk yang
terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
"Kenapa, Mbah?"
Mbah Laras mengaduk tehnya perlahan, sendok kecil itu
berputar di dalam cangkir, menciptakan pusaran kecil yang menenangkan sekaligus
mencemaskan.
"Karena tidak semua yang tinggal di sana suka dilihat
manusia."
Amat yang tadi santai, yang tadi masih bisa bercanda, yang
tadi masih bisa tertawa, langsung berhenti minum. Cangkirnya terhenti di depan
bibirnya, setengah jalan, seperti pesawat yang tiba-tiba kehilangan mesin.
"Kalau begitu kita pagi saja," katanya cepat,
terlalu cepat.
Guntur tersenyum tipis, senyum yang tidak meyakinkan.
"Cerita lama?"
Mbah Laras tidak langsung menjawab. Ia menatap Aditya
sekali lagi, tatapan yang sama, tatapan yang membawa firasat.
Lalu berkata pelan, dengan suara yang seperti berasal dari
tempat yang sangat dalam.
"Kadang cerita lama memilih orang baru."
Aditya terdiam. Kalimat itu menempel di kepalanya jauh lebih
lama daripada yang seharusnya, seperti lidi yang tersangkut di pakaian, seperti
duri yang masuk ke dalam kulit. Ia tidak bisa mengabaikannya, tidak bisa
melupakannya, tidak bisa berpura-pura tidak mendengar.
________________________________________
Malam semakin larut.
Angin dingin menyusup melalui celah-celah jendela kayu, celah-celah
kecil yang tidak terlihat tetapi cukup lebar untuk membiarkan udara dingin
masuk, membawa aroma tanah dan daun-daun basah. Jojon sudah tertidur dengan
selimut menutupi seluruh kepalanya, hanya menyisakan lubang kecil untuk
bernapas, seperti orang yang takut diganggu oleh sesuatu di kegelapan. Amat mendengkur
kecil di kasur sebelah, dengkur yang ritmis, pelan, seperti lagu tidur yang
tidak disengaja.
Guntur masih membaca buku kecil di bawah lampu redup, lampu
minyak yang menyala samar, membuat bayangannya bergoyang di dinding seperti
hantu yang baik hati.
Namun Aditya tak bisa memejamkan mata.
Ia berdiri di dekat jendela, keningnya menempel pada kaca
dingin, matanya memandang ke luar. Di luar sana, kabut bergerak perlahan di
antara pepohonan pinus, bergerak seperti sesuatu yang hidup, seperti makhluk
putih yang merayap dari satu tempat ke tempat lain. Dan dari kejauhan, telaga
itu terlihat seperti mata gelap yang tak pernah benar-benar tertutup, mata
raksasa yang selalu terjaga, selalu melihat, selalu menunggu.
Ada dorongan aneh di dalam dirinya. Dorongan yang tak bisa
dijelaskan dengan akal sehat. Dorongan yang seperti suara di dalam kepalanya,
berbisik terus-menerus, tidak bisa diabaikan.
Pergilah. Pergilah ke sana. Dia menunggumu.
Tanpa sadar, ia mengenakan jaket, jaket tebal pemberian
ayahnya, lalu melangkah keluar penginapan sendirian. Kakinya bergerak tanpa
komando dari otaknya, seperti sudah tahu arah yang harus dituju.
________________________________________
Desa Sembungan di malam hari terasa seperti dunia yang
berbeda, seperti alam paralel, seperti dimensi lain yang berdampingan dengan
dunia manusia tetapi tidak pernah bersentuhan. Langit di atasnya gelap, tanpa
bintang, tanpa bulan, hanya kabut tebal yang menutupi segalanya, seperti atap rumah
yang terlalu rendah.
Langkah kaki Aditya terdengar pelan di jalan batu, jalan
yang tidak rata, dengan batu-batu kecil yang licin oleh embun. Lampu-lampu
rumah memudar satu per satu di belakangnya, semakin kecil, semakin redup,
hingga akhirnya hanya tinggal titik-titik kecil kuning di kejauhan.
Hanya suara angin dan dedaunan yang saling bersentuhan, suara wisss yang
pelan, seperti bisikan ribuan mulut yang tidak terlihat.
Ia terus berjalan.
Seolah kakinya tahu arah meski pikirannya tidak.
Seolah ada tali tak terlihat yang menariknya maju, maju,
terus maju.
Sampai akhirnya, ia tiba di tepi Telaga Cebong.
________________________________________
Permukaan air tampak hitam. Hitam pekat, seperti tinta yang
tidak pernah kering. Diam. Nyaris tanpa riak, seperti air mati, seperti cermin
yang tidak pernah bergerak. Kabut tipis melayang rendah di atasnya, bergerak
perlahan, seperti jiwa-jiwa yang tidak bisa pergi.
Aditya berdiri terpaku. Jantungnya berdetak perlahan, terlalu
perlahan, seperti waktu sedang melambat, seperti seluruh alam semesta sedang
berhenti untuk menyaksikan sesuatu.
Lalu,
ia melihat seseorang.
Di seberang telaga.
Seorang perempuan berdiri diam dalam balutan putih, putih
seperti kabut, putih seperti salju, putih seperti cahaya bulan yang jatuh di
atas air. Rambut panjangnya tergerai, hitam pekat, kontras dengan putih
gaunnya, bergerak pelan ditiup angin yang tidak terasa oleh Aditya. Tubuhnya
samar, setengah nyata, setengah bayangan, tertutup kabut yang terus bergerak di
sekitarnya.
Wajahnya tak terlihat jelas, hanya garis samar, seperti
lukisan yang kabur karena hujan. Namun Aditya tahu.
Ia tahu siapa perempuan itu.
Perempuan yang sama yang datang di mimpinya.
Perempuan yang sama yang berdiri di seberang telaga dalam
tidurnya malam-malam sebelumnya.
Perempuan yang sama yang membuatnya merasa rindu pada
sesuatu yang belum pernah ia miliki.
Napasnya tertahan. Dadanya sesak. Matanya tidak bisa
berkedip.
"Sekar…"
Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya, tanpa ia
pikirkan, tanpa ia rencanakan, tanpa ia tahu dari mana asalnya. Seperti nama
yang sudah lama tersimpan di lidahnya, menunggu waktu yang tepat untuk
diucapkan.
Meski ia sendiri tak pernah merasa mengenalnya.
Perempuan itu perlahan menoleh, gerakannya lambat, seperti
tarian yang dipelankan, seperti film yang diputar dalam gerak lambat.
Meski terpisah jarak, terpisah oleh puluhan meter air gelap
dan kabut yang terus bergerak, Aditya merasa mata mereka bertemu. Matanya
bertemu dengan mata yang tidak bisa ia lihat dengan jelas, tetapi bisa ia rasakan
dengan seluruh tubuhnya.
Dan untuk sesaat, seluruh dunia seolah berhenti bernapas.
Perempuan itu tersenyum.
Senyum yang sama seperti dalam mimpinya, lembut, hangat,
tetapi menyimpan kesedihan yang dalam, seperti senyum seseorang yang sudah
terlalu lama menunggu.
Lalu dengan suara yang nyaris tak terdengar, suara yang
seperti bisikan angin, seperti desir daun kering, seperti suara yang berasal
dari tempat yang sangat jauh, ia berkata,
"Akhirnya kau datang."
Kabut tiba-tiba bergerak, bergerak cepat, seperti ditarik
oleh tangan tak terlihat. Angin dingin berembus keras, menerpa wajah Aditya,
membuat matanya perih, membuat jaketnya berkibar.
Ia menutup mata sesaat, hanya sesaat, hanya sekedipan.
Dan ketika ia membukanya kembali,
perempuan itu sudah tidak ada.
Hanya permukaan telaga yang kembali tenang.
Seolah tak pernah ada siapa pun di sana.
Seolah semuanya hanya halusinasi.
Seolah mimpinya telah mengikuti dirinya ke dunia nyata.
________________________________________
"Aditya!"
Suara Guntur terdengar dari belakang, suara yang terkejut,
suara yang sedikit terengah-engah, seperti orang yang baru saja berlari.
Aditya menoleh cepat.
Guntur berdiri beberapa meter di belakangnya, dengan napas
sedikit memburu, wajahnya pucat diterpa dingin, matanya menyapu sekeliling
dengan waspada.
"Kamu ngapain malam-malam di sini sendirian?"
Aditya masih terpaku menatap telaga. Mulutnya terbuka
sedikit, ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-katanya tidak mau keluar.
"Aku melihat seseorang."
Guntur memandang sekeliling, ke kiri, ke kanan, ke arah
kabut yang bergerak pelan. Tak ada siapa-siapa. Tak ada jejak. Tak ada suara
selain angin.
"Hanya kabut," katanya tenang, tenang yang
dibuat-buat, tenang yang coba menutupi kegelisahan.
Aditya menggeleng. Keras.
"Bukan."
Guntur menatap sahabatnya lama, sangat lama, seperti baru
pertama kali melihat wajah Aditya. Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan
dimulai, ia melihat sesuatu yang berbeda di wajah Aditya. Bukan sekadar
penasaran. Bukan sekadar kelelahan. Bukan sekadar kegembiraan seorang
wisatawan.
Tetapi perasaan seseorang yang baru saja menemukan sesuatu
yang selama ini tanpa sadar ia cari, sesuatu yang ia tidak tahu namanya, tetapi
ketika ia menemukannya, ia langsung tahu bahwa inilah yang ia cari sepanjang
hidupnya.
Dan itu membuat Guntur merasa tidak tenang.
Sangat tidak tenang.
________________________________________
Saat mereka kembali ke penginapan, berjalan melewati jalan
batu yang sama, melewati kabut yang sama, melewati rumah-rumah yang sama, Aditya
menoleh sekali lagi ke arah telaga.
Kabut masih bergulung pelan di atas air, bergulung seperti
asap, seperti mimpi yang belum selesai.
Namun kini ia tahu satu hal.
Cerita Hermansyah bukan sekadar legenda.
Dan perempuan dalam mimpinya bukan lagi hanya bunga tidur.
Karena malam itu, di desa yang berdiri di atas langit, di
tepi telaga yang sunyi, di tengah kabut yang dingin, Aditya sadar bahwa hatinya
baru saja mulai jatuh. Jatuh kepada seseorang yang bahkan mungkin bukan
manusia. Jatuh kepada sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa ia miliki.
Dan anehnya, hal yang paling aneh dari semuanya, ia tidak
takut.
Ia justru merasa seperti baru saja mulai hidup.
________________________________________
BAB 4 — Gadis di Tepi Telaga
Pagi di Desa Sembungan datang dengan cara yang nyaris tidak
masuk akal, cara yang tidak bisa dijelaskan oleh jam atau kalender atau logika.
Bukan dengan cahaya yang tiba-tiba memenuhi langit, seperti
di kota-kota besar yang terburu-buru. Tidak. Pagi di sini datang dengan
warna-warna lembut yang perlahan menetes dari ufuk timur, seperti cat air yang
ditumpahkan di atas kanvas basah, menyebar pelan, meresap satu per satu.
Pertama, langit berubah dari hitam pekat menjadi biru tua
yang pekat, biru seperti samudra terdalam. Lalu biru tua itu perlahan memudar
menjadi biru keabu-abuan, seperti langit yang sedang sakit. Kemudian, dari ufuk
timur, muncul semburat jingga pucat, semburat yang semakin terang, semakin
lebar, seperti luka yang menganga di langit. Dan akhirnya, ketika semburat
jingga itu mencapai puncaknya, matahari muncul, bulat, merah, seperti telur
yang baru pecah, mengirimkan sinarnya yang pertama ke seluruh desa.
Kabut yang semalam menutupi desa sedikit demi sedikit
terangkat, bukan hilang, tetapi naik ke atas, seperti tirai yang ditarik ke
atas panggung, memperlihatkan lereng-lereng hijau yang basah oleh embun,
pepohonan pinus yang berdiri tegak, dan rumah-rumah kayu yang mulai berasap.
Dari kejauhan terdengar suara ayam kampong, bersahutan,
riuh, seperti paduan suara yang tidak terlatih tetapi merdu. Aroma kayu bakar
mulai keluar dari dapur rumah-rumah warga, aroma yang hangat, yang familiar,
yang mengingatkan Aditya pada rumahnya di Awan Biru.
Udara dingin menusuk, dingin yang tajam, yang menusuk
hidung, yang membuat telinga terasa seperti digigit serangga, tetapi justru
menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Ketenangan seperti setelah hujan
deras, ketika dunia berhenti sejenak untuk bernapas.
Aditya berdiri di depan penginapan dengan tangan
menggenggam gelas teh panas, teh pahit dengan aroma jahe, yang mengepul tipis
di udara pagi. Namun pikirannya masih tertinggal di telaga semalam. Tentang
perempuan itu. Tentang senyum itu. Tentang suara lirih yang masih terngiang di
telinganya, seperti lagu yang tidak bisa ia lupakan.
"Akhirnya kau datang."
Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan: fakta bahwa ia
melihat perempuan itu di dunia nyata, bukan di mimpi, atau kenyataan bahwa
hatinya justru merasa tenang saat melihatnya. Tenang seperti orang yang
akhirnya pulang setelah perjalanan panjang.
________________________________________
"Kalau dari tadi melamun terus, tehnya bisa jadi
es."
Suara Amat Junior membuyarkan lamunannya, suara yang ceria,
terlalu ceria untuk pagi sedingin ini.
Aditya menoleh. Amat berdiri sambil mengenakan dua jaket
dan satu kupluk tebal berwarna merah marun yang membuat kepalanya terlihat
seperti bola wol besar yang diletakkan di atas tubuh manusia. Selendangnya
melilit leher tiga kali, dan tangannya memegang sekantong plastik berisi pisang
goreng yang masih mengepul.
Jojon yang baru keluar, dengan rambut acak-acakan, mata
masih sayu, dan jaket yang terbalik, langsung tertawa begitu melihat Amat.
"Mat, kamu kayak bakpao pakai helm."
Amat mendengus, dengusan yang dibuat-buat, dengusan yang
sudah menjadi ciri khasnya.
"Ini namanya bertahan hidup."
Guntur keluar terakhir, dengan kamera tua tergantung di
lehernya, wajahnya tenang seperti biasa, tetapi matanya sedikit sembab karena
kurang tidur.
"Kita berangkat sekarang kalau mau ke Sikunir sebelum
ramai."
Mereka pun berjalan menyusuri jalan desa, jalan setapak
yang terbuat dari batu-batu sungai yang disusun tidak rapi, dengan
rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-selanya. Di kiri-kanan, rumah-rumah
penduduk tampak sederhana, dinding kayu yang tidak dicat, atap seng yang
berkarat, halaman yang ditanami bunga-bunga liar dan beberapa pohon carica yang
mulai berbuah. Kebun kentang membentang di lereng-lereng bukit, dengan barisan
tanaman yang rapi seperti pasukan yang sedang berbaris.
Beberapa warga menyapa ramah, "Mari, Mas, sarapan
dulu?", sementara anak-anak kecil berlarian mengejar ayam di jalan
setapak, dengan tawa riang yang menggema di antara pepohonan.
Semua tampak biasa. Semuanya seperti desa-desa lain di
pegunungan Jawa.
Namun tidak bagi Aditya.
Karena sejak melangkah keluar penginapan, sejak kakinya
menyentuh jalan desa yang becek oleh embun, matanya tanpa sadar terus mencari
satu wajah. Wajah yang mungkin hanya sempat muncul sesaat, atau mungkin memang
tidak akan pernah ia lihat lagi di siang hari bolong.
________________________________________
Mereka melewati jalan menurun menuju Telaga Cebong terlebih
dahulu sebelum mendaki ke Bukit Sikunir. Jalannya sedikit curam, dengan anak
tangga dari batu yang licin oleh lumut. Di kiri-kanan, ilalang tumbuh tinggi,
bergoyang-goyang setiap kali angin bertiup.
Dan di sanalah langkah Aditya mendadak terhenti.
Di tepi telaga. Berdiri sendirian di dekat rerumputan basah
yang masih mengkilap oleh embun pagi.
Seorang perempuan.
Rambut hitam panjangnya dibiarkan jatuh melewati bahu, jatuh
seperti air terjun kecil yang tidak pernah berhenti, bergerak pelan setiap kali
ia menoleh. Selendang putih melingkar lembut di lehernya, selendang yang sama
seperti dalam mimpi, seperti yang ia lihat semalam. Gaun abu-abu muda yang
dikenakannya, sederhana, tanpa motif, tanpa hiasan, bergerak perlahan tertiup
angin pagi, seperti bendera yang dikibarkan dengan lembut.
Ia sedang memandang permukaan air. Tidak bergerak. Hanya
berdiri. Seolah telah lama berada di sana. Seolah memang sedang menunggu
seseorang.
Jantung Aditya langsung berdetak lebih cepat, berdebar
seperti genderang perang, seperti kereta api yang melaju kencang, seperti
sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Guntur yang menyadari perubahan wajah sahabatnya ikut menoleh,
ia melihat wajah Aditya yang mendadak pucat, matanya yang membulat, napasnya
yang tertahan.
Namun sebelum ia sempat bertanya, Aditya sudah berjalan
lebih dulu. Langkahnya cepat, seperti orang yang takut kehilangan sesuatu jika
ia berjalan terlalu lambat.
"Dit…" panggil Guntur pelan, tetapi suaranya
tenggelam oleh deburan darah di telinga Aditya.
Aditya tidak menjawab. Ia terus melangkah menuju perempuan
itu, melewati rumput basah yang membasahi ujung celananya, melewati batu-batu
kecil yang berserakan, melewati kabut tipis yang masih menggantung di atas
telaga.
________________________________________
Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, lima, empat,
tiga, perempuan itu perlahan menoleh.
Dan dunia seakan berhenti sesaat.
Wajahnya jauh lebih indah daripada dalam mimpi.
Bukan indah yang mencolok, bukan indah seperti bintang film
atau model majalah. Bukan. Indahnya adalah indah yang tenang. Indah seperti
pagi yang tak pernah terburu-buru, seperti air telaga yang tenang tanpa riak,
seperti kabut yang turun perlahan di atas bukit.
Kulitnya putih, putih pucat, seperti susu yang dituang ke
dalam cangkir porselen. Matanya hitam pekat, dalam, tetapi tidak gelap, matanya
seperti sumur tua yang airnya jernih, menyimpan banyak rahasia tetapi tetap
bening. Bibirnya tipis, sedikit pucat, tetapi ketika ia tersenyum, dan ia
tersenyum saat itu, bibir itu berubah menjadi merah muda, seperti bunga yang
mekar di pagi hari.
Perempuan itu tersenyum kecil.
"Kau datang lagi."
Suara itu sama, lembut, pelan, seperti bisikan yang hanya
bisa didengar oleh orang yang paling dekat. Suara yang membuat bulu kuduk
Aditya merinding, tetapi anehnya juga membuatnya merasa tenang.
Aditya hampir lupa bernapas. Ia berdiri di hadapannya,
hanya beberapa langkah, tetapi merasa seperti berada di ujung dunia.
"Kita... pernah bertemu?" tanyanya pelan, suaranya
serak, seperti orang yang baru bangun tidur, seperti orang yang baru saja
menangis.
Perempuan itu menatapnya beberapa detik, detik yang terasa
seperti tahun, seperti dekade, seperti era yang berlalu.
Lalu tersenyum samar.
"Mungkin."
"Di tempat yang tidak kau ingat."
Jawaban itu membuat bulu kuduk Aditya meremang, merinding
dari ujung rambut hingga ujung kaki. Namun anehnya, ia tidak merasa takut.
Tidak seperti yang seharusnya ia rasakan ketika seseorang mengatakan hal aneh
kepadanya. Justru sebaliknya. Ia merasa seperti sedang berdiri di hadapan seseorang
yang telah lama dikenalnya, seseorang yang mungkin ia kenal dalam kehidupan
lain, di waktu lain, di dunia lain.
"Namamu siapa?" tanya Aditya, suaranya masih
serak, tetapi lebih stabil sekarang.
Perempuan itu memandang permukaan telaga sebentar sebelum
menjawab, memandang air yang tenang, memandang bayangannya sendiri yang tidak
terlihat.
"Sekar."
Aditya menunggu. Ia tahu pasti bahwa nama itu hanya
setengah dari jawaban.
"Sekar siapa?"
Perempuan itu kembali menatapnya. Matanya menatap mata
Aditya, lurus, tanpa ragu, tanpa takut. Lalu berkata lembut, dengan suara yang
seperti melodi yang perlahan.
"Sekar Tanjung."
Nama itu jatuh begitu saja ke dalam hati Aditya. Jatuh
seperti batu ke dalam sumur, seperti hujan pertama yang menyentuh tanah kering
setelah musim kemarau panjang, seperti cahaya yang masuk ke ruangan gelap.
Sekar Tanjung.
Ia tidak tahu mengapa, tetapi nama itu terasa begitu akrab
di lidahnya, seperti nama yang sudah sering ia ucapkan dalam doa yang tidak
pernah ia panjatkan.
________________________________________
Dari kejauhan, Amat Junior memperhatikan sambil menganga, mulutnya
terbuka, pisang gorengnya setengah jalan ke mulut, berhenti di udara.
"Wah…"
Jojon ikut melongok dari balik bahu Amat, matanya membulat,
alisnya naik.
"Cantik banget."
Amat langsung berbisik, bisik yang keras, bisik yang
sebenarnya bisa didengar oleh semua orang dalam radius sepuluh meter.
"Fix. Kita resmi jadi obat nyamuk."
Guntur tidak tertawa. Tatapannya justru tajam mengamati
perempuan itu, mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki, mengamati caranya
berdiri, caranya bergerak, caranya menatap Aditya.
Sebab ada sesuatu yang aneh.
Pagi itu tanah di sekitar telaga masih basah oleh embun, sangat
basah, seperti baru saja diguyur hujan. Jejak kaki Aditya yang baru datang
terlihat jelas, bekas sepatu gunungnya tercetak dalam di tanah lembap.
Namun jejak perempuan itu,
tidak ada.
Tidak ada bekas telapak kaki. Tidak ada bekas sandal. Tidak
ada bekas apa pun. Seolah ia tidak pernah berjalan di tanah itu. Seolah ia
muncul begitu saja dari udara.
Guntur menelan ludah. Dadanya terasa sesak.
________________________________________
"Kamu dari mana?" tanya Aditya, suaranya sudah
lebih tenang sekarang, tetapi matanya masih tidak bisa lepas dari wajah Sekar.
Sekar tersenyum kecil, senyum yang sama, senyum yang
membuat hati Aditya terasa seperti dipegang oleh tangan yang lembut.
"Aku tinggal di sekitar sini."
"Sendirian?"
Sekar tidak langsung menjawab. Ia justru menatap telaga, menatap
air yang tenang, menatap kabut yang bergerak pelan di atasnya. Ada sesuatu di
matanya ketika ia menatap air itu, sesuatu yang seperti rindu, seperti
kesedihan, seperti kenangan yang terlalu berat untuk diingat.
"Kadang seseorang tidak pernah benar-benar sendiri
jika tempat itu sudah menjadi rumahnya."
Aditya tidak benar-benar mengerti, tidak sepenuhnya. Namun
ada sesuatu dalam kalimat itu yang menyentuh hatinya, yang membuatnya merasa
bahwa Sekar sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam dari sekadar
tempat tinggal.
Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, Sekar memandangnya
dengan sorot yang lembut, sorot yang seperti sinar matahari pagi, hangat tetapi
tidak menyilaukan.
"Kau datang dari jauh."
Aditya mengangguk. "Dari lereng Sumbing."
Mata Sekar sedikit berubah, ada sesuatu di sana, sesuatu
yang bergerak cepat lalu menghilang, seperti kilat yang menyambar di langit
yang cerah. Matanya membesar sedikit, alisnya naik sepersekian sentimeter.
"Sumbing…"
Ia mengucapkan nama gunung itu seolah mengenalinya. Seolah
nama itu pernah akrab di bibirnya, di masa lalu yang sangat jauh.
Aditya tersenyum kecil, senyum yang tulus, senyum yang
tidak perlu dibuat-buat.
"Kamu tahu?"
Sekar mengangguk pelan, anggukan yang lambat, yang terasa
berat.
"Gunung yang menyimpan kabut paling setia."
Aditya terdiam. Tak ada orang yang pernah menggambarkan
desanya seindah itu. Tak ada orang yang pernah menyebut Gunung Sumbing dengan
cara seperti itu, sebagai sesuatu yang hidup, sesuatu yang memiliki kesetiaan,
sesuatu yang bisa menyimpan rahasia.
Dan entah mengapa, mendengar Sekar menyebut kampung halamannya,
dadanya terasa hangat, hangat seperti minuman jahe di malam dingin, hangat
seperti pelukan ibunya, hangat seperti sesuatu yang sudah lama tidak ia
rasakan.
________________________________________
"Aditya!"
Suara Amat Junior terdengar dari kejauhan, suara yang
memecah kebisuan, suara yang mengingatkan Aditya bahwa ia tidak sendirian di
dunia ini.
"Kita mau naik atau mau pindah domisili di
telaga?"
Aditya menoleh malu, wajahnya sedikit memerah, meski tidak
tahu apakah karena malu atau karena dingin.
Sekar tertawa kecil.
Tawa itu ringan. Lembut. Seperti suara lonceng kecil yang
digoyang pelan, seperti air yang mengalir di atas batu-batu sungai.
Namun cukup untuk membuat dunia di sekitar Aditya terasa
berubah, seperti semua warna menjadi lebih cerah, seperti semua suara menjadi
lebih merdu, seperti semua dingin menjadi lebih hangat.
"Kau harus pergi dengan teman-temanmu," kata
Sekar, suaranya lembut, tetapi ada nada yang tidak bisa ia kenali di dalamnya.
Mungkin keikhlasan. Mungkin kesedihan. Mungkin keduanya.
Aditya mengangguk, meski sebenarnya ia tak ingin pergi.
Sebenarnya ia ingin duduk di tepi telaga ini bersama Sekar sepanjang hari,
mendengarkannya berbicara tentang gunung dan kabut dan kesetiaan.
"Bisa bertemu lagi?"
Sekar memandangnya lama, sangat lama, seperti sedang
menghafal wajahnya, seperti sedang menyimpannya di dalam memori yang tidak akan
pernah bisa dihapus.
Lalu tersenyum samar, senyum yang sama, senyum yang membuat
Aditya merasa seperti sedang berada di ambang sesuatu yang besar.
"Kalau kabut mengizinkan."
Sebelum Aditya sempat berkata apa pun, sebelum ia sempat
bertanya apa maksudnya, sebelum ia sempat meminta penjelasan, Sekar melangkah
mundur perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kabut tipis bergerak melewati tubuhnya, bergerak seperti
tangan-tangan tak terlihat yang menariknya ke belakang.
Dan ketika kabut itu tersibak,
Sekar sudah tidak ada.
Aditya terpaku.
Ia berdiri di tepi telaga, sendirian, dengan kabut yang
masih bergerak di depannya, dengan air yang masih tenang di sampingnya, dengan
nama Sekar Tanjung yang masih terngiang di kepalanya.
________________________________________
"Dit!"
Amat datang sambil menepuk bahunya, tepukan yang terlalu keras,
yang membuat Aditya sedikit tersentak.
"Ngapain bengong? Cewek cantik gitu biasanya minta
Instagram, bukan ditinggal melamun."
Aditya masih menatap tempat Sekar tadi berdiri, tempat yang
sekarang kosong, hanya ilalang dan rumput basah dan kabut yang bergerak.
"Aku…"
Ia tak tahu harus menjelaskan apa. Bagaimana menjelaskan
bahwa perempuan itu tiba-tiba menghilang? Bagaimana menjelaskan bahwa ia merasa
seperti baru saja bertemu seseorang yang sudah lama ia cari? Bagaimana
menjelaskan bahwa namanya Sekar Tanjung dan nama itu terasa
seperti rumah?
Guntur datang paling belakang. Langkahnya pelan. Wajahnya
serius.
Tatapannya langsung menuju tanah, tanah basah di sekitar
tempat Sekar berdiri tadi.
Jejak kaki Aditya ada, bekas sepatu gunungnya tercetak
jelas, dalam, tidak bisa diabaikan.
Tetapi tempat Sekar berdiri,
tetap bersih.
Tanpa bekas.
Tanpa tanda.
Seolah sejak tadi tak pernah ada sia pun di sana.
Guntur menatap sahabatnya dengan wajah mulai gelisah, gelisah
yang nyata, gelisah yang tidak bisa disembunyikan di balik senyum atau candaan.
Namun Aditya justru tersenyum, untuk pertama kalinya sejak
tiba di Sembungan, ia tersenyum dengan tulus, tanpa beban, tanpa rasa sakit.
Karena di dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Perjalanan ini tak lagi sekadar tentang wisata.
Dan perempuan bernama Sekar Tanjung itu,
baru saja membuka pintu menuju kisah yang tak akan pernah
bisa ia lupakan, sepanjang hidupnya.
BAB 5 — Obat Nyamuk Bernama Sahabat
Pendakian menuju Bukit Sikunir pagi itu seharusnya menjadi
perjalanan biasa.
Jalur batu yang menanjak, batu-batu andesit yang disusun
tidak rapi oleh warga setempat puluhan tahun lalu, beberapa sudah longgar,
beberapa sudah ditumbuhi lumut hijau licin. Tangga-tangga tanah yang lembap
oleh embun malam, meninggalkan bekas telapak sepatu di setiap pijakan. Kabut
yang bergerak perlahan di sela-sela semak ilalang dan pakis-pakisan yang tumbuh
liar di pinggir jalan. Dan deretan wisatawan yang datang mengejar matahari, dengan
kamera tergantung di leher, termos kopi di tas, dan harapan akan foto sempurna
untuk diunggah ke media sosial.
Namun bagi tiga orang sahabat Aditya, pagi itu terasa
sangat berbeda.
Bukan karena pemandangan. Bukan karena udara yang dingin
menusuk. Bukan karena jalur pendakian yang terasa lebih berat dari biasanya.
Melainkan karena sejak dari tepi telaga tadi, sejak
pertemuan dengan perempuan bernama Sekar Tanjung, Aditya berjalan seperti orang
yang tubuhnya ikut naik ke bukit, tetapi jiwanya tertinggal di bawah. Jiwanya
tertinggal di tepi telaga itu, bersama senyum lembut dan nama yang terasa asing
namun akrab di lidah.
Langkah kakinya otomatis, naik, naik, terus naik, tetapi
matanya kosong, seperti tidak benar-benar melihat apa yang ada di depannya.
Mulutnya sesekali tersenyum sendiri, tanpa sebab, tanpa alasan, seperti orang
yang sedang mengingat lelucon yang sangat lucu.
Amat Junior yang berjalan di belakang langsung menggeleng.
Gelengan lambat, penuh makna, seperti seorang dokter yang baru saja
mendiagnosis penyakit langka pada pasiennya.
"Bahaya."
Jojon yang berjalan di sampingnya menoleh, sedikit
terengah-engah karena tanjakan.
"Apa?"
Amat menunjuk Aditya yang terus tersenyum sendiri di depan
mereka, menunjuk dengan dagu, seperti kebiasaan orang desa ketika menunjukkan
sesuatu tanpa mengangkat tangan.
"Itu gejala awal."
"Gejala apa?"
"Gejala orang yang baru jatuh cinta."
Jojon mengerjap. "Jatuh cinta sama siapa? Perempuan
tadi?"
Amat mengangkat kedua alisnya, lalu menurunkannya perlahan,
seperti seorang pesulap yang sedang melakukan gerakan dramatis.
"Siapa lagi? Sama batu?"
Guntur yang mendengar hanya menarik napas panjang, napas
yang terdengar seperti orang yang menahan sabar, seperti orang yang sudah
terlalu sering melihat hal-hal bodoh dilakukan oleh teman-temannya.
"Belum tentu."
Amat melirik tajam, lirikan yang penuh tantangan.
"Kalau orang jalan sambil senyum sendiri bukan jatuh
cinta namanya apa?"
Jojon menjawab cepat, tanpa berpikir, seperti refleks.
"Masuk angin?"
Amat spontan menepuk jidatnya sendiri, plak, keras,
hingga meninggalkan bekas merah di dahinya.
"Kenapa saya berteman dengan kalian?"
Mereka bertiga tertawa kecil, tawa yang menggema di antara
pepohonan pinus, membuat beberapa burung kecil terbang berhamburan dari
dahan-dahan.
Sementara Aditya yang berjalan beberapa langkah di depan
bahkan tidak sadar dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan. Ia masih
memikirkan satu nama. Satu nama yang terus berputar di kepalanya, mengisi
ruang-ruang sunyi yang selama ini tak pernah ia sadari kosong.
Sekar Tanjung.
Nama itu seperti lagu yang tidak bisa ia lupakan. Seperti
doa yang tidak sengaja ia ucapkan berulang-ulang. Seperti sesuatu yang sudah
lama tersimpan di dalam dadanya, dan baru sekarang keluar.
________________________________________
Langit perlahan berubah dari biru keabu-abuan menjadi
jingga pucat, lalu jingga keemasan—saat mereka tiba di puncak Bukit Sikunir.
Kabut di bawah mulai terbelah, terbelah seperti tirai yang
ditarik, memperlihatkan lautan awan yang terbentang luas di bawah kaki. Putih.
Berombak. Bergerak perlahan seperti samudra yang tidak pernah tenang.
Puncak-puncak gunung, Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing, muncul seperti
pulau-pulau di tengah samudra putih, terapung-apung seolah tidak terikat oleh
gravitasi.
Orang-orang mulai berdiri diam. Ada yang membuka mulut
tanpa suara. Ada yang mengangkat kamera tetapi tidak jadi memotret. Ada yang
hanya menatap, menatap, dan terus menatap.
Tak ada yang benar-benar siap menghadapi indahnya pagi dari
tempat setinggi itu.
Matahari perlahan muncul dari balik cakrawala, pertama
hanya setitik, seperti bara api kecil di ufuk timur. Lalu membesar, membesar,
hingga setengah lingkaran. Cahayanya keemasan, hangat, menusuk, tetapi tidak
menyakitkan. Dan seketika, seluruh langit seperti terbakar, terbakar oleh warna
emas, jingga, merah, dan ungu di tepi-tepinya.
Jojon sampai membuka mulut, mulutnya terbuka lebar, seperti
orang yang baru sadar bahwa selama ini ia hanya melihat foto-foto sunrise di
internet, dan sekarang ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
"Ya Allah…"
Amat mengangguk pelan, anggukan yang lambat, penuh
penghayatan, seperti seorang kritikus seni yang sedang menilai mahakarya.
"Kalau gagal move on di tempat beginian, wajar
sih."
Guntur tersenyum kecil, senyum yang jarang muncul, senyum
yang hanya keluar ketika ia benar-benar terkesan.
"Untuk sekali ini, saya setuju."
Namun ketika mereka menoleh, ketika mereka ingin berbagi
momen itu dengan sahabatnya, Aditya tidak sedang memandang matahari.
Ia justru menatap sisi lain bukit.
Menatap ke arah barat. Ke arah Telaga Cebong yang
tersembunyi di balik kabut. Seolah sedang mencari seseorang. Seolah berharap
melihat sesosok putih berdiri di antara pepohonan.
Amat menghela napas panjang, napas yang keluar dari lubung
hidungnya seperti kepulan asap rokok.
"Sudah parah."
________________________________________
"Dit."
Aditya menoleh. Matanya masih sedikit kosong, seperti baru
saja terbangun dari tidur panjang.
Amat menyodorkan roti, roti tawar yang sudah diolesi selai
cokelat, sedikit penyok karena terhimpit di dalam tas.
"Makan."
Aditya mengernyit. "Aku nggak lapar."
Amat memasukkan roti itu ke tangan Aditya, memaksanya,
dengan cara yang lembut tetapi tidak bisa ditolak.
"Orang jatuh cinta biasanya lupa makan."
"Terus?"
Amat menatapnya serius, serius seperti seorang ibu yang
sedang menasihati anaknya yang bandel.
"Saya tidak mau teman saya pingsan romantis di
gunung."
Jojon yang mendengar tertawa, tertawa sampai bahunya
berguncang, sampai ranselnya yang kebesaran bergoyang-goyang.
"Bayangin aja headline-nya."
"Apa?"
Jojon berdehem, lalu berkata dengan suara seorang pembaca
berita TV:
"Pemuda dari Sumbing tumbang karena cinta di
Dieng."
Mereka bertiga tertawa, tertawa keras, tertawa sampai mata
berair, tertawa sampai beberapa wisatawan lain menoleh heran.
Aditya akhirnya ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak
tadi, sejak pertemuan dengan Sekar, suasana di wajahnya sedikit kembali normal.
Senyum yang tidak dibuat-buat. Senyum yang lahir karena ia sadar bahwa ia
dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya, meskipun cara mereka
menunjukkan kepedulian itu kadang konyol.
Guntur duduk di sampingnya di atas batu besar yang dingin,
dengan lumut tipis di permukaannya. Ia menatap matahari yang kini sudah naik
lebih tinggi, tetapi matanya bicara kepada Aditya.
"Cantik ya?"
Aditya menatap matahari sebentar, menyipitkan mata karena
silau, lalu menjawab pelan.
"Iya."
Guntur melirik, lirikan pendek, tajam, seperti pisau yang
baru diasah.
"Saya bukan ngomongin pemandangan."
Aditya terdiam. Ia tahu Guntur sedang berbicara tentang
Sekar. Ia tahu Guntur sedang bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di
tepi telaga tadi. Ia tahu Guntur sedang mengkhawatirkannya dengan cara yang
tidak akan pernah diakuinya.
Lalu Aditya tersenyum kecil, senyum yang jujur, senyum yang
tidak berusaha menyembunyikan apa pun.
"Dia berbeda."
Amat yang mendengar langsung menyahut dari belakang, tanpa
melihat, tanpa tahu konteks, tetapi dengan keyakinan penuh seperti seorang
peramal.
"Kalimat klasik orang yang sedang menuju patah
hati."
Aditya melempar roti ke arah Amat, lemparan yang akurat,
tepat mengenai dada Amat, membuat roti itu jatuh ke pangkuannya.
"Diam."
Mereka kembali tertawa. Tawa yang hangat di tengah
dinginnya puncak bukit. Tawa yang mengingatkan mereka bahwa persahabatan adalah
satu-satunya obat yang tidak perlu resep dokter.
Dan untuk sesaat, persahabatan mereka terasa lebih hangat
dari matahari pagi yang baru lahir.
________________________________________
Setelah turun dari Bukit Sikunir, setelah puas berfoto,
setelah menghabiskan bekal yang dibawa Amat, setelah Jojon hampir terpeleset
tiga kali, mereka melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Sikarim.
Jalan menuju air terjun dipenuhi kebun sayur bertingkat, kentang,
wortel, kubis, terhampar di lereng-lereng bukit seperti permadani hijau yang
disulam dengan warna-warna berbeda. Petani-petani dengan topi caping dan
keranjang bambu di punggung terlihat sibuk di antara barisan tanaman, sesekali
melambaikan tangan ketika rombongan wisatawan lewat.
Udara semakin dingin, semakin dingin dari di puncak
Sikunir. Mungkin karena lembah, mungkin karena air, mungkin karena pepohonan
yang lebih rimbun. Suara air mulai terdengar dari kejauhan, gemericik yang
pelan, lalu berubah menjadi gemuruh yang semakin keras seiring langkah mereka
mendekat.
Ketika air terjun itu akhirnya terlihat, di balik pepohonan
pinus yang menjulang, di balik kabut tipis yang bergerak pelan, semuanya
terdiam.
Air jatuh dari tebing hijau setinggi lebih dari seratus
meter. Jatuh dengan deras, dengan suara gemuruh yang menggema di seluruh
lembah. Putih. Berbusa. Bercahaya di bawah sinar matahari yang menembus
celah-celah dedaunan. Percikan airnya membentuk kabut halus di sekitarnya,
menerpa wajah siapa pun yang mendekat, meninggalkan rasa dingin yang
menyegarkan.
"Ini indah banget…" bisik Aditya, bisik yang
nyaris tak terdengar, tetapi cukup keras untuk didengar oleh ketiga sahabatnya.
Amat memotret, berkali-kali, dari berbagai sudut, dengan
ekspresi serius seperti fotografer professional, sambil berkata,
"Kalau pulang nanti saya upload dengan caption: mencari
healing, bukan feeling."
Jojon langsung tertawa keras, tertawa sampai terdengar
seperti lolongan serigala kecil.
"Feeling malah datang sendiri."
Aditya hanya menggeleng sambil tersenyum, senyum yang
lelah, senyum yang lega, senyum orang yang sedang menikmati keindahan tanpa
perlu berpikir terlalu keras.
Namun di balik semua itu, di balik gemericik air dan tawa
sahabat-sahabatnya, pikirannya tetap kembali kepada Sekar. Tentang cara gadis
itu memandangnya, seperti sedang membaca sesuatu di balik matanya, seperti
sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang bahkan tidak ia ucapkan. Tentang
suaranya, lembut, pelan, tetapi anehnya terasa seperti gema dari tempat yang
sangat jauh. Tentang kalimatnya, "kalau kabut mengizinkan", sebuah
kalimat yang sederhana tetapi terasa seperti janji sekaligus ancaman.
Semakin ia mencoba menganggap semuanya kebetulan, bahwa
pertemuan di tepi telaga itu hanya kebetulan, bahwa nama Sekar Tanjung hanya
kebetulan, bahwa perasaan aneh di dadanya hanya kebetulan, semakin hatinya
justru merasa bahwa pertemuan itu bukan sesuatu yang biasa.
Bukan sesuatu yang kebetulan.
Bukan sesuatu yang bisa dijelaskan oleh logika.
________________________________________
Saat mereka duduk beristirahat di batu besar dekat air
terjun, batu yang pipih, sedikit licin oleh lumut, tetapi cukup luas untuk
empat orang duduk bersila, Guntur tiba-tiba bertanya.
"Aditya."
Aditya yang sedang memandang air terjun menoleh perlahan.
"Hm?"
Guntur tidak menatapnya. Matanya justri tertuju pada ujung
sepatunya yang basah oleh percikan air.
"Kamu yakin perempuan tadi benar-benar warga
sini?"
Suasana berubah. Amat yang sedang mengunyah keripik
berhenti bergerak. Jojon yang sedang menyesap teh dari termos ikut diam. Hanya
suara air terjun yang tetap setia mengisi keheningan.
Aditya mencoba tersenyum. "Maksudmu?"
Guntur mengangkat wajahnya. Matanya menatap lurus ke mata
Aditya, lurus, tanpa berkedip.
"Saya tanya beberapa orang waktu kalian bicara
tadi."
Aditya mulai serius. Wajahnya yang tadi santai perlahan
mengeras, seperti tanah liat yang mulai mengering.
"Lalu?"
Guntur menarik napas panjang, napas yang seperti
mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang tidak mudah.
"Tidak ada yang kenal nama Sekar Tanjung."
Udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih dingin.
Dingin yang berbeda dari dinginnya air terjun. Dingin yang merayap dari dalam.
Amat yang tadinya berhenti mengunyah, kini menelan
keripiknya dengan susah payah, seperti ada yang tersangkut di tenggorokan.
Jojon ikut diam. Wajahnya pucat, mungkin karena dingin,
mungkin karena takut.
Aditya mencoba tertawa kecil, tawa yang terdengar
dipaksakan, tawa yang tidak sampai ke matanya.
"Mungkin mereka tidak tahu."
Guntur menggeleng, gelengan pelan, tetapi tegas.
"Desa sekecil ini? Penduduknya cuma beberapa ratus.
Nama orang biasanya semua kenal. Semua."
Amat langsung menimpali pelan, suaranya setengah berbisik,
seperti orang yang sedang membicarakan sesuatu yang tidak boleh didengar oleh
dinding.
"Bisa juga dia pendatang."
Jojon mengangguk cepat, terlalu cepat, seperti orang yang
sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya. Bisa jadi wisatawan. Atau orang kota yang lagi
liburan."
Namun Guntur tidak bergeming. Matanya masih tertuju pada
Aditya. Dan ketika ia melanjutkan bicara, suaranya lebih pelan, lebih
hati-hati, seperti seseorang yang sedang berjalan di atas kaca tipis.
"Aditya…"
"Waktu dia berdiri di telaga tadi… tanahnya basah.
Sangat basah. Bekas sepatumu jelas sekali."
Ia berhenti sejenak. Menelan ludah. Lalu melanjutkan.
"Tapi tidak ada jejak kakinya. Satupun."
Suara air terjun mendadak terasa jauh. Seperti suara itu
berasal dari ujung dunia, sementara mereka berada di ruang hampa yang sunyi.
Aditya menatap sahabatnya beberapa detik. Lalu tertawa
kecil, tawa yang dibuat-buat, tawa yang coba menutupi kegelisahan yang mulai
merayap di dadanya.
"Kalian terlalu banyak dengar cerita mistis."
Amat mengangguk cepat, terlalu cepat, seperti orang yang
sedang berusaha membuang rasa takutnya dengan menyetujui apa pun.
"Iya sih, tapi cerita mistis kadang gratis."
Jojon menelan ludah, bunyi kluk yang terdengar
keras di keheningan.
"Jangan ngomong gitu. Nanti beneran."
Aditya berdiri, gerakannya tiba-tiba, seperti orang yang
ingin mengakhiri percakapan.
"Sudahlah."
Ia mencoba terlihat tenang. Ia mencoba berjalan ke arah air
terjun dengan langkah yang mantap. Namun jauh di dalam dadanya, kata-kata
Guntur mulai menyusup, menyusup ke tempat yang sebelumnya hanya dipenuhi rasa
rindu, rasa penasaran, rasa ingin tahu.
Dan untuk pertama kalinya, di balik rasa jatuh cinta yang
baru tumbuh itu, muncul sesuatu yang lain. Sesuatu yang tipis. Sesuatu yang
dingin. Sesuatu yang seperti bayangan di balik cermin.
Ketakutan.
________________________________________
Menjelang sore mereka kembali ke Telaga Cebong.
Kabut mulai turun perlahan, turun seperti tirai putih yang
ditarik dari atas, menutupi desa sedikit demi sedikit. Suara-suara siang
perlahan memudar, digantikan oleh sunyi yang hanya diisi oleh desir angin dan
suara air telaga yang nyaris tak terdengar.
Air telaga memantulkan langit pucat, langit yang mulai
berubah warna dari biru keabu-abuan menjadi ungu muda di ufuk barat. Angin
bergerak lembut di antara ilalang yang tumbuh di tepian, membuat mereka
bergoyang seperti orang-orang yang sedang berdoa.
Aditya berjalan sedikit menjauh dari teman-temannya.
Langkahnya pelan, sengaja, seperti orang yang tidak ingin mengganggu sesuatu
yang rapuh.
Matanya mencari.
Dan benar saja.
Di tepi telaga, di tempat yang sama seperti pagi tadi, di
bawah pohon tua yang ranting-rantingnya menjuntai hampir menyentuh permukaan
air, Sekar berdiri menunggunya.
Rambut panjangnya bergerak tertiup angina, bergerak lembut,
seperti rumput laut di dasar samudra. Gaun putihnya berkibar pelan, membuatnya
terlihat seperti patung yang hidup, seperti lukisan yang bernapas. Senyumnya
lembut, senyum yang sama, senyum yang membuat Aditya merasa seperti sedang
diterima di tempat yang paling aman di dunia. Matanya tenang, tenang seperti
air telaga, tenang seperti langit tanpa badai.
Seolah ia tahu Aditya pasti akan kembali.
Seolah ia sudah menunggu sejak pagi.
Seolah ia tidak pernah pergi.
Jantung Aditya berdegup keras, berdebar seperti genderang,
seperti kereta api, seperti ombak yang menghantam karang.
Dari kejauhan, Amat menepuk bahu Guntur, bukan tepukan
biasa, tetapi tepukan yang berarti, tepukan yang mengatakan kita lihat
saja nanti.
"Selesai."
"Apa?" tanya Guntur, meskipun ia tahu jawabannya.
Amat menghela napas panjang, napas yang terasa seperti
menyerah pada takdir.
"Kita resmi jadi obat nyamuk kelas nasional."
Jojon mengangguk pelan, anggukan yang tidak bersemangat,
anggukan orang yang sudah pasrah.
"Dan saya mulai takut."
Karena kali ini, tidak seperti pagi, tidak seperti
sebelumnya, mereka semua melihatnya. Ketiga sahabat itu melihat Sekar dengan
mata kepala sendiri. Berdiri di tepi telaga. Nyata. Hidup. Bukan bayangan.
Bukan halusinasi. Bukan kabut yang berbentuk.
Sekar benar-benar ada.
Namun entah mengapa, hanya Aditya yang terlihat bahagia.
Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar, langkahnya ringan seperti orang yang
sedang berjalan di atas awan.
Sementara ketiga sahabatnya, Amat, Jojon, Guntur, hanya
bisa berdiri di kejauhan, dengan hati yang mulai diliputi firasat. Bukan
firasat biasa. Firasat yang berat. Firasat yang seperti tangan dingin yang
menekan dada mereka dari dalam.
Karena mereka mulai sadar, mungkin yang sedang mendekati
sahabat mereka bukan sekadar cinta. Bukan sekadar rasa suka. Bukan sekadar
ketertarikan biasa.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit, jauh lebih aneh,
jauh lebih menakutkan daripada yang mereka bayangkan.
________________________________________
BAB 6 — Rahasia di Balik Kilau Telaga
Senja turun perlahan di Telaga Cebong, seperti lukisan yang
sedang dibuat oleh tangan yang paling sabar, sapuan demi sapuan, warna demi
warna.
Langit yang semula biru pucat mulai berubah menjadi jingga
pucat di ufuk barat, lalu perlahan memerah, memerah seperti luka yang belum
benar-benar sembuh, memerah seperti malu yang tidak bisa disembunyikan.
Awan-awan tipis di kejauhan berubah menjadi ungu dan emas, seperti sisa-sisa
kemewahan dari istana raja yang runtuh.
Permukaan air telaga tampak tenang, sangat tenang, terlalu
tenang, memantulkan warna langit dengan cara yang begitu sempurna hingga sulit
dibedakan mana dunia yang nyata dan mana bayangan. Kadang-kadang, ketika kabut
bergerak perlahan di atasnya, batas antara air dan langit menjadi kabur, dan
orang yang memandang bisa merasa seperti sedang berdiri di tepi kehampaan.
Aditya melangkah mendekati Sekar. Setiap langkahnya terasa
ringan, ringan seperti tidak menginjak tanah, ringan seperti sedang berjalan di
atas mimpi.
Di belakangnya, Amat Junior, Guntur, dan Jojon memilih
berhenti beberapa meter dari bibir telaga. Bukan karena ingin memberi ruang, meskipun
itu juga alasan. Bukan karena mereka tidak ingin mengganggu, meskipun itu juga
benar.
Melainkan karena ada sesuatu di udara sore itu yang membuat
mereka enggan mendekat lebih jauh. Sesuatu yang tidak bisa mereka lihat, tetapi
bisa mereka rasakan. Sesuatu yang seperti lapisan tak terlihat di antara mereka
dan pasangan yang sedang berbicara di tepi air.
Udara tiba-tiba terasa lebih dingin. Terlalu dingin. Bahkan
untuk ukuran Dieng yang terkenal dengan dinginnya yang menggigit. Dingin yang
menusuk sampai ke tulang, sampai ke sumsum, sampai ke bagian terdalam dari
tubuh yang biasanya tidak merasakan apa pun.
Sekar menatap Aditya dengan senyum kecil, senyum yang sama,
tetapi kali ini ada sesuatu di dalamnya yang berbeda. Mungkin lebih hangat.
Mungkin lebih sedih. Mungkin keduanya.
"Kau datang lagi."
Aditya menahan senyum yang tanpa sadar muncul di wajahnya, senyum
yang tidak bisa ia kendalikan, senyum yang muncul begitu saja seperti refleks.
"Sepertinya aku memang harus datang."
Sekar memandangnya lama, sangat lama, seperti ingin
memastikan sesuatu, seperti sedang memeriksa apakah pemuda di depannya ini
nyata atau hanya bayangan.
"Atau mungkin," katanya lirih, suaranya hampir
tenggelam dalam desir angin sore, "kau memang tak pernah punya pilihan
selain datang."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa, dada
Aditya terasa bergetar, bergetar pelan, seperti senar gitar yang dipetik,
seperti suara yang tidak bisa didengar tetapi bisa dirasakan.
________________________________________
Dari kejauhan, Amat berbisik, bisikan yang nyaring, bisikan
yang sebenarnya tidak perlu karena tidak ada orang lain di sekitar mereka.
"Saya nggak suka kalimat begitu."
Jojon mengangguk cepat, terlalu cepat, seperti burung yang
mematuk makanan.
"Saya juga."
Guntur menatap tajam ke arah Sekar, matanya menyipit,
dahinya berkerut, bibirnya mengerucut.
"Ada yang aneh."
Amat menoleh. "Dari tadi juga aneh. Semuanya aneh.
Dari pertama kali kita lihat dia, aneh."
"Bukan."
Guntur tidak mengalihkan pandangannya dari Sekar. Matanya
tetap tertuju pada sosok putih di tepi telaga itu, seperti sedang membaca
sesuatu yang tidak bisa dibaca oleh orang lain.
"Lihat air telaganya."
Amat dan Jojon ikut memperhatikan. Mereka menunduk, menatap
permukaan air telaga yang tenang di depan mereka.
Permukaan air itu memantulkan bayangan langit, langit
jingga yang perlahan memerah, awan-awan tipis yang bergerak lambat. Memantulkan
bayangan pepohonan, pohon-pohon pinus yang menjulang di kejauhan, ilalang yang
bergoyang di tepian. Memantulkan bayangan Aditya, wajahnya yang teduh, tubuhnya
yang ramping, jaket biru tuanya.
Tetapi,
bayangan Sekar tidak terlihat.
Tidak ada.
Air telaga itu, yang jernih, yang bening, yang memantulkan
segala sesuatu dengan sempurna, seperti menolak untuk memantulkan sosok
perempuan itu. Seolah Sekar tidak memiliki bayangan. Seolah ia tidak
cukup nyata untuk dipantulkan oleh air.
Amat langsung merinding, merinding dari ujung rambut hingga
ujung kaki, hingga bulu-bulu di lengannya berdiri semua.
"Ya Allah…"
Jojon refleks mundur selangkah, mundur seperti ada yang
mendorong dadanya, mundur seperti tanah di bawah kakinya tiba-tiba terasa tidak
aman.
"Saya mau pulang. Sekarang. Saya tidak bercanda."
Guntur tetap diam. Tatapannya semakin serius. Matanya tidak
berkedip. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai takut bahwa legenda yang
mereka dengar dari Hermansyah, legenda tentang perempuan penjaga telaga,
tentang siapa pun yang melihat matanya pulangnya tak pernah sama lagi, mungkin
bukan sekadar cerita wisata yang dibumbui untuk menarik pengunjung.
Mungkin itu nyata.
Mungkin semuanya nyata.
________________________________________
Sekar berjalan perlahan menyusuri tepian telaga, melangkah
dengan kaki telanjang di atas rumput basah, tetapi tidak meninggalkan jejak.
Tidak merusak setetes embun pun. Seolah tubuhnya tidak memiliki berat, seolah
ia hanya berjalan di atas lapisan tipis udara.
Aditya mengikuti di sampingnya. Jarak mereka hanya
sejengkal, cukup dekat untuk mendengar napasnya, cukup dekat untuk merasakan
dingin yang terpancar dari tubuhnya, tetapi tidak cukup dekat untuk menyentuh.
Langkah mereka pelan. Nyaris seperti dua orang yang sudah
lama saling mengenal, yang tidak perlu banyak bicara untuk merasa nyaman, yang
tidak perlu bertatapan untuk saling mengerti.
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Sekar, suaranya
lembut, seperti bertanya kepada anak kecil tentang mimpinya.
Aditya tersenyum kecil, senyum yang jujur, senyum yang
tidak perlu dibuat-buat.
"Awalnya cuma ingin melihat tempat ini. Kata
teman-temanku, Dieng itu indah."
"Sekarang?"
Aditya menatapnya, menatap wajah yang tenang itu, mata yang
dalam itu, rambut yang bergerak ditiup angin itu.
"Sekarang aku sendiri tidak tahu."
Sekar menunduk. Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian
wajahnya, seperti tirai yang sengaja ditutup untuk menyembunyikan sesuatu.
"Kadang manusia datang jauh-jauh," katanya pelan,
suaranya nyaris seperti bisikan, "bukan untuk menemukan tempat."
Aditya menunggu.
"Tapi untuk menemukan bagian dari dirinya yang
hilang."
Aditya menatap wajahnya, menatap dengan seksama, seperti
ingin membaca sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata itu.
"Dan kamu?" tanyanya pelan. "Kamu bagian
dari sesuatu yang hilang?"
Sekar berhenti berjalan. Kaki telanjangnya berhenti di tepi
rumput, tepat di batas antara daratan dan air.
Ia memandang telaga, memandang air yang tenang, yang jernih,
yang memantulkan segalanya kecuali dirinya. Air yang semula tenang tiba-tiba
beriak kecil, beriak meski angin tak bergerak, beriak seperti ada sesuatu di
bawah permukaan yang sedang bergerak.
"Aku bukan sesuatu yang bisa kau temukan,"
bisiknya, bisikan yang begitu pelan hingga Aditya harus mendekat untuk
mendengarnya. "Aku hanya sesuatu yang mungkin harus kau lepaskan."
Aditya tidak mengerti. Tidak sepenuhnya. Namun justru
karena ketidakmengertian itulah, rasa ingin tahunya semakin besar. Dan
perlahan, tanpa ia sadari, perasaan itu tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam
dari sekadar penasaran.
Rasa itu tumbuh menjadi keyakinan.
Keyakinan bahwa perempuan di depannya ini menyimpan
rahasia, rahasia yang tidak akan diceritakan oleh siapa pun, rahasia yang mungkin
hanya bisa ditemukan oleh orang yang benar-benar berani mendekat.
________________________________________
Mereka berhenti di sebuah batu besar di tepi telaga, batu
yang pipih, lebar, seperti meja alami yang diletakkan oleh alam di tempat yang
paling tepat. Batu itu berwarna abu-abu gelap, dengan lumut tipis di beberapa
sudut, dan sedikit hangat karena terpapar sinar matahari sore.
Sekar duduk di sana, duduk dengan anggun, seperti seorang
ratu yang sedang beristirahat di singgasananya. Gaun putihnya menyentuh
rerumputan basah di sekitarnya, tetapi tidak menjadi basah. Seolah gaun itu
juga tidak terpengaruh oleh air, seperti tubuhnya sendiri.
Tangan putihnya menyentuh permukaan air, jemarinya yang
lentik menyentuh air telaga dengan lembut, seperti menyentuh sesuatu yang
sangat berharga.
Dan saat ujung jarinya menyentuh telaga, air itu
memantulkan cahaya kecil. Bukan pantulan biasa. Bukan pantulan matahari. Bukan
pantulan langit.
Cahaya itu keluar dari dalam air itu sendiri, berkilau,
seperti serpihan bintang yang jatuh ke dalam telaga dan berserakan di dasar
air.
Aditya terpaku. Matanya membulat. Mulutnya terbuka sedikit.
"Bagaimana kamu melakukannya?"
Sekar tersenyum tipis, senyum yang tahu, senyum yang sudah
memperkirakan pertanyaan itu akan muncul.
"Telaga ini menyimpan banyak hal."
"Seperti apa?"
Sekar menatap air, menatap dalam-dalam, seperti bisa
melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
"Kenangan. Harapan. Dan hati manusia yang datang
dengan cinta."
Aditya menelan napas pelan, menelan seperti ada yang
mengganjal di tenggorokannya.
"Apa telaga ini juga menyimpan hatiku?"
Sekar menoleh perlahan, gerakannya lambat, seperti dalam
mimpi. Tatapannya lembut, sangat lembut, seperti pandangan seorang ibu kepada
anaknya yang baru lahir.
Namun ada kesedihan yang samar di dalamnya. Kesedihan yang
tidak bisa disembunyikan, tidak peduli seberapa dalam ia berusaha
menyembunyikannya.
"Bisa jadi."
Aditya tak sadar sejak kapan jantungnya mulai berdetak
seperti ini, cepat, keras, tidak teratur. Duduk di samping gadis yang baru
dikenalnya, tetapi terasa seperti seseorang yang telah lama menunggunya.
Seperti seseorang yang sudah ia cari sepanjang hidupnya, tanpa pernah tahu
bahwa ia sedang mencarinya.
________________________________________
Dari kejauhan Amat sudah gelisah, gelisah seperti ayam yang
melihat elang di atas langit. Ia mondar-mandir di tempat, tangannya sibuk
memegang ponsel lalu memasukkannya ke saku lalu mengeluarkannya lagi.
"Kita harus ganggu nggak?"
Jojon menggeleng cepat, terlalu cepat, seperti orang yang
sedang berusaha menghindari sesuatu yang sangat menakutkan.
"Jangan. Saya takut. Saya sudah lihat air tidak
memantulkan bayangannya. Saya sudah lihat dia tidak berbekas. Saya sudah cukup.
Saya mau pulang."
Guntur masih menatap lurus ke arah Sekar. Matanya tidak
berkedip. Dadanya naik turun perlahan, seperti orang yang sedang menahan napas
di dalam air.
"Tidak."
"Kenapa?"
Guntur menjawab pelan, suaranya datar, tanpa emosi, tetapi
justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.
"Karena saya ingin tahu."
Amat menatap sahabatnya. "Tahu apa?"
Guntur menoleh, menatap Amat dengan mata yang tidak biasa,
mata yang seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang
lain.
"Dia sebenarnya siapa."
Amat memandang Guntur lama, lama sekali, seperti baru
pertama kali melihat wajah sahabatnya. Lalu bertanya pelan, suaranya bergetar
sedikit.
"Kalau ternyata bukan manusia?"
Guntur terdiam. Ia menoleh kembali ke arah Sekar, ke arah
Aditya yang duduk di sampingnya dengan wajah bahagia yang tidak pernah ia lihat
sebelumnya.
Lalu menjawab pelan, sangat pelan, seperti sedang
mengucapkan doa yang tidak ingin didengar oleh siapa pun.
"Justru itu yang saya takutkan."
________________________________________
"Aditya."
Suara Sekar lembut, lembut seperti embusan angin malam,
lembut seperti air yang mengalir di atas kerikil.
"Hm?" Aditya menoleh, wajahnya masih dipenuhi
senyum yang tidak bisa ia hilangkan.
"Kalau suatu hari kau harus memilih… antara cinta dan
rumahmu…"
Sekar menatap mata Aditya dalam-dalam, menatap seperti
sedang mencari sesuatu di sana, seperti sedang menguji apakah pemuda ini layak
untuk mengetahui rahasia yang selama ini ia simpan.
"Mana yang akan kau pilih?"
Aditya terdiam.
Pertanyaan itu datang terlalu tiba-tiba, seperti petir di
siang bolong, seperti hujan di musim kemarau. Ia belum siap. Ia belum pernah
memikirkan hal seperti itu. Selama dua puluh dua tahun hidupnya, pilihan
terberat yang pernah ia hadapi hanyalah antara kopi atau teh, antara pulang
cepat atau begadang di gardu, antara membantu ayah di kebun atau mengerjakan
tugas kuliah yang sudah menumpuk.
Namun entah mengapa, ia menjawab jujur. Tanpa berpikir
panjang. Tanpa memfilter.
"Dulu mungkin aku akan memilih cinta."
Sekar menatapnya—menatap dengan mata yang tidak berkedip,
menatap seperti sedang menunggu kelanjutan kalimat itu.
"Sekarang?"
Aditya memandang desa kecil di kejauhan desa Sembungan yang
mulai gelap, dengan lampu-lampu kuning yang mulai menyala satu per satu seperti
bintang yang jatuh ke bumi. Lalu ia kembali menatap Sekar, menatap wajah yang
pucat itu, mata yang dalam itu, rambut yang bergerak itu.
"Aku belum tahu."
Sekar tersenyum.
Senyum yang indah, sangat indah, seperti bunga yang mekar
di tengah malam, seperti cahaya yang muncul di tengah kegelapan.
Namun entah kenapa, senyum itu terasa sedih. Sedih seperti
perpisahan yang belum terjadi. Sedih seperti sesuatu yang indah yang tahu bahwa
ia tidak akan bertahan lama.
"Jawaban itu akan mengubah hidupmu."
Angin tiba-tiba berembus, lebih kencang dari sebelumnya,
membawa dingin yang menusuk, membawa aroma tanah basah dan daun-daun kering.
Kabut turun lebih cepat dari biasanya, turun seperti
dinding putih yang dibangun di sekeliling telaga, menutup mereka dari dunia
luar.
Dari kejauhan, suara Mbah Laras terngiang dalam ingatan Aditya,
seperti gema dari mimpi yang tidak bisa ia lupakan:
"Jangan terlalu lama di telaga saat senja."
________________________________________
"Dit!"
Suara Guntur memanggil keras, suara yang memecah lamunan,
suara yang membawa Aditya kembali ke dunia nyata.
"Sudah mau malam! Kita harus segera pulang!"
Aditya menoleh sebentar, hanya sebentar, hanya untuk
memastikan bahwa teman-temannya masih ada di belakangnya, bahwa ia tidak
sendirian di dunia ini.
Saat ia kembali menatap Sekar,
gadis itu sudah berdiri.
Gaun putihnya berkibar. Rambut panjangnya bergerak.
Matanya, matanya yang dalam, yang hitam, yang menyimpan ribuan rahasia, menatap
Aditya dengan lembut. Sangat lembut.
Kabut mulai menyelimuti tubuhnya perlahan, perlahan,
seperti selimut yang ditarik oleh tangan yang lembut, seperti tirai yang
ditutup di akhir pertunjukan.
Aditya panik. Dadanya terasa sesak. Tangannya terangkat,
ingin meraih, ingin menahan, ingin mencegah apa pun yang akan terjadi.
"Tunggu."
Sekar tersenyum, senyum yang sama, senyum yang akan terus
ia ingat meskipun usianya seratus tahun nanti.
"Kita akan bertemu lagi."
"Kapan?"
Sekar menatap langit yang mulai gelap, langit tanpa
bintang, tanpa bulan, hanya kabut tebal yang menutupi segalanya.
"Ketika kabut memilih turun untukmu."
Lalu ia mundur selangkah. Kemudian satu langkah lagi.
Kabut bergerak, bergerak cepat, seperti ditarik oleh tangan
raksasa yang tidak terlihat, seperti ditiup oleh angin dari dimensi lain.
Dan dalam sekejap, sekejap yang begitu singkat sehingga
hampir tidak terasa, Sekar menghilang.
Begitu saja.
Tanpa suara.
Tanpa jejak.
Tanpa bayangan.
Meninggalkan Aditya berdiri sendiri di tepi telaga. Dengan
jantung yang tidak lagi sama seperti sebelumnya. Dengan hati yang mulai terluka
tanpa sebab yang jelas.
________________________________________
Amat datang paling dulu, berlari kecil, napasnya
terengah-engah, wajahnya pucat.
"Dit… kamu nggak apa-apa?"
Aditya masih memandang tempat Sekar tadi berdiri, tempat
yang sekarang hanya ilalang dan kabut dan kegelapan yang mulai merayap.
"Dia nyata."
Guntur berdiri di sampingnya. Wajahnya serius, sangat
serius, seperti seorang detektif yang baru menemukan petunjuk penting.
"Justru itu masalahnya."
Aditya menoleh, menatap Guntur dengan mata yang mulai
berkaca-kaca, tetapi belum menangis.
"Maksudmu?"
Guntur menunjuk permukaan air telaga, air yang masih
tenang, masih bening, masih memantulkan langit malam yang mulai gelap.
"Kalau dia nyata…"
Ia berhenti sejenak. Menelan ludah. Lalu melanjutkan,
suaranya bergetar sedikit.
"Kenapa telaga ini tidak pernah memantulkan
bayangannya?"
Aditya menatap air.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sendiri apa yang
sejak tadi coba diabaikannya, apa yang sejak tadi ia paksa untuk tidak ia
lihat, untuk tidak ia percaya, untuk tidak ia pikirkan.
Di permukaan air itu, hanya ada bayangan dirinya sendiri.
Wajahnya yang pucat. Tubuhnya yang berdiri kaku. Jaket biru tuanya.
Tidak ada Sekar.
Tidak pernah ada.
Aditya membeku. Tubuhnya seperti berubah menjadi batu.
Dadanya seperti berubah menjadi es. Hatinya seperti berubah menjadi sesuatu
yang terlalu rapuh untuk disentuh.
Sementara angin malam bergerak pelan di atas telaga, membawa
dingin yang perlahan masuk ke dalam hatinya, masuk ke dalam tulang-tulangnya,
masuk ke dalam setiap sel tubuhnya.
Karena sore itu, untuk pertama kalinya, cinta yang baru
tumbuh di dalam dirinya mulai diselimuti oleh satu pertanyaan yang jauh lebih
menakutkan dari patah hati, yang jauh lebih mengerikan dari kehilangan:
Siapa sebenarnya Sekar Tanjung?
________________________________________
BAB 7 — Cinta yang Tumbuh di
Ketinggian
Sejak senja itu,sejak pertanyaan itu pertama kali muncul di
kepalanya, sejak ketiga sahabatnya mulai memandangnya dengan mata penuh
kekhawatiran, sejak air telaga itu menolak memantulkan bayangan perempuan yang
ia cintai, sesuatu di dalam diri Aditya berubah.
Ia masih tertawa saat Amat Junior melontarkan
candaan-candaan konyolnya, tentang perempuan, tentang kopi, tentang teori aneh
bahwa jatuh cinta di gunung lebih berbahaya daripada hipotermia. Ia masih
berjalan bersama Guntur dan Jojon menyusuri desa, masih membeli jagung bakar di
warung pinggir jalan, masih memotret pemandangan seperti wisatawan biasa yang
sedang menikmati liburan.
Tetapi hatinya tidak lagi sepenuhnya berada di sana.
Sebagian dari dirinya, bagian yang paling dalam, paling
lembut, paling mudah terluka, tertinggal di tepi Telaga Cebong. Tertinggal
bersama seorang gadis bernama Sekar Tanjung, yang datang tanpa jejak dan pergi
tanpa bayangan. Tertinggal bersama senyum yang terlalu lembut untuk menjadi
nyata, bersama mata yang terlalu dalam untuk menjadi manusia biasa.
Malam itu, ketika ketiga sahabatnya sudah terlelap oleh
dingin pegunungan, terlelap dengan selimut menutupi kepala, dengan dengkur yang
bergantian seperti paduan suara yang tidak harmonis, Aditya justru masih
terjaga.
Ia duduk di dekat jendela penginapan, kamar yang gelap,
hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk lewat celah jendela. Tangannya
memegang syal rajut pemberian ibunya, syal yang sudah tua, yang sudah kusut,
yang masih tercium aroma kapur barus dari lemari kayu di rumahnya.
Di luar, kabut turun perlahan, turun seperti air terjun
putih yang bergerak lambat, membungkus desa dalam sunyi yang sakral.
Dan tanpa ia sadari, senyumnya muncul sendiri. Senyum yang
tidak ia undang. Senyum yang muncul begitu saja ketika ia mengingat wajah
Sekar, suara Sekar, cara Sekar memanggil namanya.
Guntur yang ternyata belum tidur, yang hanya berbaring
dengan mata terbuka, memandang langit-langit kamar yang terbuat dari kayu jati
tua, memandang dari ranjang seberang.
"Kamu tersenyum sendiri lagi."
Aditya menoleh. Wajahnya sedikit kemerahan, malu karena
ketahuan, malu karena ternyata ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari
sahabatnya yang paling tajam pengamatannya.
"Ya?"
"Iya." Guntur menutup bukunya, buku tipis
bersampul lusuh yang tidak pernah ia lepaskan selama perjalanan. Ia duduk di
ranjang, punggungnya bersandar pada dinding kayu yang dingin. "Dan itu
mulai mengkhawatirkan."
Aditya tertawa kecil, tawa yang pelan, tawa yang tidak
mengganggu tidur Amat dan Jojon yang mendengkur di ranjang sebelah.
Namun tawanya berbeda. Tidak seperti biasanya. Tidak
seperti tawa di gardu ronda, tidak seperti tawa saat bercanda di warung kopi.
Tawanya lebih ringan, lebih hidup, lebih... bahagia.
Seperti seseorang yang baru menemukan alasan untuk merasa
bahagia, tanpa tahu apakah ia seharusnya bahagia, tanpa tahu apakah kebahagiaan
itu akan bertahan lama, tanpa tahu apakah kebahagiaan itu nyata atau hanya
ilusi.
Guntur menatapnya lama. Tidak mengatakan apa-apa. Hanya
menatap.
Karena di dalam hati, ia tahu: sahabatnya sedang jatuh
cinta. Jatuh cinta pada sesuatu yang mungkin tidak bisa ia jelaskan, tidak bisa
ia pegang, tidak bisa ia bawa pulang.
Dan itu, lebih dari apa pun, adalah hal yang paling
menakutkan.
________________________________________
Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar terbit,
sebelum ayam-ayam kampung mulai bersahutan, sebelum kabut pagi terangkat dari
lembah, Aditya kembali ke telaga.
Sendirian.
Ia tidak memberitahu siapa pun. Tidak membangunkan Amat
yang mendengkur keras. Tidak membangunkan Jojon yang berguling-guling di
ranjang sempitnya. Tidak membangunkan Guntur yang tidur dengan satu mata
terbuka seperti penjaga malam.
Ia hanya mengenakan jaket, jaket tebal pemberian ayahnya,
yang sedikit kebesaran, yang sudah pudar warnanya, mengambil kamera kecil dari
meja, lalu berjalan pelan menembus kabut pagi.
Jalan setapak menuju telaga pagi itu terasa berbeda, lebih
sunyi, lebih misterius, lebih seperti jalan menuju dunia lain. Kabut bergerak
di sekelilingnya seperti makhluk hidup yang mengawasi setiap langkahnya. Embun
masih menempel di setiap daun, di setiap rumput, di setiap batu, membuat
semuanya terlihat seperti baru saja dicuci oleh tangan yang sangat lembut.
Burung-burung kecil sesekali terbang rendah di atas
kepalanya, kicauan mereka terdengar seperti bisikan-bisikan pendek yang tidak
bisa ia pahami.
Ketika ia tiba di tepi telaga, kabut pagi masih tebal.
Permukaan air telaga tenang, sangat tenang, seperti cermin yang diletakkan di
atas meja kayu. Embun masih menempel di rumput-rumput di tepian, berkilau
seperti berlian-berlian kecil yang tersebar di tanah.
Dan seperti seseorang yang memang sudah menunggunya, seperti
seseorang yang tahu bahwa ia akan datang, seperti seseorang yang tidak pernah
benar-benar pergi meskipun tampak menghilang,
Sekar sudah berdiri di sana.
Gaun putihnya bergerak pelan ditiup angin pagi. Rambut
panjangnya jatuh lembut di bahunya. Wajahnya tenang, tenang seperti air telaga,
tenang seperti langit tanpa awan.
Ia tersenyum ketika melihat Aditya.
"Kau datang lebih pagi."
Aditya mendekat sambil mengangguk, anggukan kecil, anggukan
yang terasa berat karena dadanya sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia
jelaskan.
"Aku takut kamu menghilang lagi."
Sekar menatapnya beberapa saat, menatap dengan mata yang
lembut, dengan mata yang seperti sedang membaca isi hati pemuda di depannya.
Lalu berkata pelan, sangat pelan, seperti sedang
mengucapkan rahasia yang tidak boleh didengar oleh siapa pun.
"Aku memang selalu menghilang."
Jawaban itu seharusnya terdengar menyakitkan. Seharusnya
membuat Aditya mundur. Seharusnya membuatnya berpikir ulang tentang
perasaannya.
Namun entah kenapa, cara Sekar mengatakannya, dengan suara
yang lembut, dengan mata yang jujur, dengan senyum yang tidak menyembunyikan
apa pun, justru terdengar seperti luka lama yang telah terlalu lama disimpan
sendiri.
Aditya memandangnya, memandang dengan seksama, dengan hati
yang terbuka, dengan perasaan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat bukan hanya
kecantikan di wajah gadis itu, bukan hanya kulit putih pucat, bukan hanya
rambut hitam panjang, bukan hanya mata yang dalam seperti samudra.
Ia juga melihat kesepian.
Kesepian yang begitu dalam, begitu tua, begitu berat, seolah
sudah hidup di mata itu sejak ratusan tahun lalu, sejak sebelum Aditya lahir,
sejak sebelum desa ini berdiri, sejak sebelum telaga ini terbentuk.
Kesepian yang tidak bisa diobati oleh apa pun, kecuali
mungkin oleh kehadiran seseorang yang benar-benar melihatnya.
________________________________________
Mereka berjalan mengelilingi tepian telaga, berjalan
perlahan, tanpa tujuan, tanpa arah. Hanya berjalan. Hanya menikmati keberadaan
satu sama lain.
Tak ada percakapan panjang. Tak ada pertanyaan besar. Hanya
langkah pelan dan diam yang terasa nyaman, diam yang tidak perlu diisi dengan
kata-kata, diam yang justru berbicara lebih keras daripada seribu kalimat.
Kadang Sekar menunjuk bunga liar yang tumbuh di antara rerumputan,
bunga kecil berwarna ungu, dengan kelopak yang tipis seperti kertas dan
tersenyum. Kadang ia tersenyum melihat burung kecil minum di tepian air, burung
dengan bulu kecoklatan dan paruh pendek, yang tidak takut pada mereka. Kadang
ia hanya memandang kabut, memandang dengan tatapan kosong, seolah sedang
membaca sesuatu di dalamnya, seolah kabut itu adalah buku yang berisi cerita
tentang hidupnya.
Aditya belum pernah merasa sedamai itu bersama siapa pun.
Belum pernah. Dalam dua puluh dua tahun hidupnya, tidak ada satu momen pun yang
terasa setenang ini, setenang berjalan di samping Sekar, di tepi telaga yang
sunyi, di bawah kabut yang turun perlahan.
"Kenapa kamu selalu sendiri?" tanya Aditya
akhirnya, suaranya pelan, tidak ingin mengganggu kedamaian yang rapuh itu.
Sekar menatap air, menatap telaga yang tidak mau
memantulkan bayangannya.
"Karena tak semua yang tinggal di dunia ini bisa
benar-benar pergi."
Aditya mengernyit. "Maksudnya?"
Sekar tersenyum tipis, senyum yang tahu, senyum yang sudah
terlalu sering mengucapkan kalimat-kalimat seperti ini kepada dirinya sendiri.
"Kadang seseorang terikat pada tempat. Seperti akar
yang tak bisa meninggalkan tanah."
Aditya diam. Ia tidak mengerti sepenuhnya, tidak mengerti
apa yang dimaksud dengan terikat pada tempat, tidak mengerti mengapa seseorang
tidak bisa pergi jika ia mau pergi.
Namun ia merasa Sekar sedang menceritakan dirinya sendiri.
Ia merasa bahwa setiap kata yang keluar dari mulut Sekar adalah
potongan-potongan kecil dari teka-teki yang belum bisa ia selesaikan.
Dan ia ingin sekali menyelesaikannya.
________________________________________
Di penginapan, tiga sahabat mulai curiga.
Amat Junior membuka selimut selimut tebal yang ia pinjam
dari Mbah Laras, lalu melirik ke ranjang kosong di sebelahnya. Ranjang itu
kosong. Rapi. Selimutnya dilipat, bantalnya diletakkan di atasnya.
"Hilang satu orang."
Jojon yang masih mengantuk, yang masih setengah sadar, yang
matanya masih berat untuk dibuka, mengucek matanya dengan tangan kanannya.
"Siapa?"
Amat menghela napas, napas panjang, napas orang yang sudah
terbiasa dengan kejutan-kejutan tidak menyenangkan dari sahabatnya.
"Aditya."
Jojon langsung duduk, duduk tegak, seperti ada pegas di
punggungnya yang tiba-tiba terlepas.
"Pergi ke mana?"
Amat mengangkat alis, satu alis naik, satu alis turun,
seperti tanda tanya yang hidup.
"Kalau bukan ke telaga, berarti saya salah jurusan
hidup."
Guntur yang sejak tadi diam, yang sudah bangun lebih awal,
yang sudah duduk di tepi ranjang dengan buku di tangannya tetapi tidak
benar-benar membaca, langsung berdiri.
"Kita cari."
Amat menatapnya, menatap dengan mata yang penuh pertanyaan.
"Buat apa? Dia sudah dewasa. Dia bisa menjaga dirinya
sendiri."
Guntur menatap jendela, menatap kabut pagi yang masih tebal
di luar, yang seolah sengaja turun untuk menyembunyikan sesuatu.
"Karena saya mulai merasa dia bukan sedang jatuh
cinta."
Jojon menelan ludah, bunyi kluk yang
keras, yang terdengar di ruangan yang sunyi.
"Terus?"
Guntur menjawab pelan, sangat pelan, seperti sedang
mengucapkan sesuatu yang tidak ingin ia percayai sendiri.
"Dia seperti sedang ditarik."
Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Bukan dingin biasa.
Dingin yang berbeda. Dingin yang seperti berasal dari dalam dinding, dari dalam
lantai, dari dalam udara itu sendiri.
________________________________________
Di tepi telaga, Aditya duduk di atas batu besar, batu yang
sama seperti kemarin, batu yang pipih dan lebar dan sedikit hangat oleh sinar
matahari pagi.
Sekar duduk di sampingnya.
Jarak mereka sangat dekat, terlalu dekat untuk dua orang
yang baru saling mengenal, terlalu dekat untuk dua orang yang berasal dari
dunia yang berbeda.
Terlalu dekat untuk hati yang sedang berusaha melindungi
dirinya sendiri.
Aditya memandang air, memandang telaga yang tenang, yang
bening, yang memantulkan bayangannya tetapi tidak memantulkan bayangan Sekar.
"Kalau aku pulang nanti…"
Sekar menoleh. Wajahnya tenang, tetapi matanya, matanya
berbicara. Matanya mengatakan bahwa ia sudah tahu apa yang akan ditanyakan
Aditya, dan ia sudah tahu jawabannya.
"Ya?"
Aditya menatapnya, menatap langsung ke matanya, ke mata
yang hitam pekat itu, ke mata yang menyimpan ribuan rahasia.
"Apakah aku masih bisa bertemu kamu?"
Sekar tidak langsung menjawab. Ia memandang langit pagi
yang pucat, langit yang mulai berubah warna dari abu-abu menjadi biru muda,
dengan awan-awan tipis yang bergerak lambat seperti domba-domba yang sedang
merumput.
Lalu berkata sangat pelan, sangat pelan, seperti sedang
berbisik kepada angin.
"Tidak semua yang indah diciptakan untuk
tinggal."
Kalimat itu menusuk lembut ke dada Aditya, menusuk seperti
jarum yang sangat halus, tidak meninggalkan luka tetapi meninggalkan rasa sakit
yang aneh. Rasa sakit yang tidak bisa ia gambarkan, tidak bisa ia jelaskan,
tidak bisa ia bagikan kepada siapa pun.
Namun sebelum rasa sedih itu sempat tumbuh, sebelum rasa
sakit itu sempat menyebar ke seluruh dadanya, Sekar mengangkat tangan perlahan.
Ia menunjuk permukaan air telaga.
"Lihat."
Aditya menatap air, menatap dengan mata yang masih
berkaca-kaca, dengan hati yang masih berdenyut sakit.
Permukaan telaga yang tadi tenang mulai berkilau. Berkilau
seperti ribuan cahaya kecil menari di dalam air, cahaya keemasan, keperakan,
kebiruan, berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
Bukan pantulan matahari. Bukan pantulan langit. Bukan
pantulan apa pun yang ada di atas air.
Tetapi cahaya yang seolah muncul dari dalam telaga itu
sendiri, dari dasar air yang paling dalam, dari tempat yang tidak pernah
tersentuh oleh cahaya matahari.
Aditya menahan napas, napasnya tertahan di dadanya, seperti
takut mengganggu keajaiban yang sedang terjadi di depan matanya.
"Indah sekali…"
Sekar tersenyum, senyum yang bangga, senyum seperti seorang
ibu yang menunjukkan anaknya yang paling cantik.
"Telaga ini hanya menunjukkan keindahannya pada orang
yang datang dengan hati yang jujur."
Aditya menoleh menatapnya, menatap wajah yang bercahaya
oleh sinar pagi, menatap mata yang berbinar oleh cahaya telaga.
"Kalau begitu… kenapa ia menunjukkannya padaku?"
Sekar memandangnya lama. Sangat lama. Lalu menjawab lirih, lirih
seperti doa, lirih seperti harapan yang tidak berani diucapkan keras-keras.
"Karena hatimu terlalu mudah percaya."
Jawaban itu membuat dada Aditya bergetar, bergetar oleh
sesuatu yang tak bisa ia namai. Bukan cinta. Bukan rindu. Bukan takut. Bukan
sedih.
Tapi sesuatu di antara semuanya. Sesuatu yang hanya bisa
dirasakan oleh orang yang pernah berdiri di tepi jurang dan memilih untuk tetap
melangkah maju.
________________________________________
Dari balik pepohonan, di balik batang-batang pinus yang
tebal, di balik semak-semak ilalang yang tinggi, Guntur, Amat, dan Jojon
diam-diam memperhatikan.
Mereka tidak sengaja mencari. Sebenarnya mereka hanya ingin
memastikan bahwa Aditya baik-baik saja. Tapi ketika mereka sampai di tepian
telaga, mereka melihatnya. Melihat mereka berdua. Duduk di atas batu. Berbicara
pelan. Tersenyum.
Amat sampai menutup mulut, menutup dengan kedua telapak
tangannya, seperti anak kecil yang melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia
lihat.
"Ya Tuhan… cantik banget."
Jojon berbisik, bisikan yang nyaring, bisikan yang tidak
perlu karena mereka cukup jauh.
"Dia benar-benar ada…"
Guntur tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju pada
tanah, tanah di sekitar tempat Sekar duduk.
Jejak kaki Aditya terlihat jelas, bekas sepatu gunungnya
tercetak dalam di tanah lembap, dari tempat ia berdiri hingga tempat ia duduk.
Tetapi di sampingnya, tepat di samping bekas sepatu Aditya,
tetap tidak ada jejak milik Sekar.
Sama sekali.
Seperti tidak pernah ada yang duduk di sana. Seperti Sekar
hanyalah bayangan yang tidak memiliki berat, tidak memiliki bentuk, tidak
memiliki jejak.
Bulu kuduk Guntur meremang, meremang seperti ada serangga
dingin yang merayap di punggungnya.
Dan saat itu juga ia tahu, dengan keyakinan yang tidak bisa
ia jelaskan, dengan perasaan yang tidak bisa ia buktikan dengan logika:
apa pun yang sedang terjadi pada sahabatnya, ini bukan
kisah cinta biasa.
Ini adalah sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang lebih
besar. Sesuatu yang mungkin sudah ditulis sebelum mereka semua lahir.
________________________________________
Sekar berdiri perlahan, gerakannya lambat, seperti air yang
mengalir, seperti kabut yang bergerak.
Kabut tipis mulai turun kembali, turun seperti tirai yang
ditutup perlahan, menandakan bahwa pertunjukan akan segera berakhir.
"Aku harus pergi."
Aditya ikut berdiri, tergesa-gesa, seperti takut kehilangan
sesuatu jika ia bergerak terlalu lambat.
"Kenapa setiap kali aku mulai mengenalmu, kamu selalu
pergi?"
Sekar menatap matanya, menatap dengan mata yang lembut,
dengan mata yang basah meskipun tidak ada air mata yang jatuh.
Karena untuk sesaat, wajah gadis itu terlihat sangat rapuh.
Sangat rapuh seperti bunga yang baru mekar tetapi tahu bahwa ia akan layu
sebelum matahari terbenam.
"Agar kau tidak terlalu terlambat untuk
melupakan."
Aditya menatapnya bingung, bingung seperti anak kecil yang
mendengar kata-kata dewasa yang tidak ia mengerti.
"Aku tidak mau melupakan. Aku tidak ingin melupakan.
Aku tidak akan pernah bisa melupakan."
Sekar tersenyum.
Senyum yang indah, sangat indah, seperti cahaya bulan di
tengah malam yang gelap, seperti bintang yang paling terang di langit yang
paling pekat.
Tetapi senyum itu penuh luka. Penuh luka yang sudah berusia
sangat tua, yang sudah tidak bisa diobati oleh apa pun, yang hanya bisa
ditutupi oleh senyum.
"Suatu hari… kau mungkin harus."
Sebelum Aditya sempat menahan, sebelum ia sempat meraih, sebelum
ia sempat berkata apa pun, Sekar melangkah mundur.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Kabut menyelimuti tubuhnya, menyelimuti seperti selimut
putih yang ditarik oleh tangan yang lembut, seperti kabut yang selama ini
menjadi rumahnya.
Dan sekali lagi, ia menghilang bersama angin.
Meninggalkan Aditya sendiri.
Dengan perasaan yang semakin dalam. Dengan luka yang
semakin lebar. Dengan cinta yang semakin mustahil untuk dihentikan.
________________________________________
Ketika Aditya berbalik, ketika ia akhirnya sadar bahwa ia
tidak sendirian di tepi telaga itu, ia terkejut melihat ketiga sahabatnya
berdiri tak jauh di belakang.
Amat langsung mengangkat tangan, kedua tangannya terangkat
seperti orang yang sedang menyerah kepada polisi.
"Kami bukan mengintip. Kami cuma kebetulan sangat
penasaran."
Jojon mengangguk, mengangguk cepat, seperti burung yang
sedang mematuk makanan.
"Dan sangat takut."
Aditya menghela napas, napas yang berat, napas yang keluar
dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam.
"Kalian dari tadi di situ?"
Guntur maju selangkah. Tatapannya serius, sangat serius,
seperti seorang ayah yang akan menanyakan sesuatu yang sangat penting kepada
anaknya.
"Dit. Kamu harus jujur."
Aditya menatapnya, menatap mata sahabatnya yang paling tua,
yang paling bijak, yang paling jarang berbicara tetapi selalu berbicara ketika
paling dibutuhkan.
"Jujur soal apa?"
Guntur menelan napas pelan, menelan seperti sedang
mempersiapkan diri untuk melompat dari tebing yang tinggi.
"Sejak bertemu dia… kamu masih yakin ini hanya soal
cinta?"
Aditya terdiam.
Ia ingin menjawab iya. Ia ingin mengatakan bahwa ini hanya
cinta biasa, cinta yang tumbuh seperti bunga di musim hujan, cinta yang akan
mekar lalu layu seperti cinta-cinta lainnya.
Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai sadar, mulai sadar
dengan rasa sakit yang aneh itu, mulai sadar dengan perasaan yang tidak bisa ia
namai itu, mulai sadar dengan firasat yang selama ini ia abaikan.
Perasaannya kepada Sekar telah tumbuh terlalu cepat.
Terlalu dalam. Dan mungkin, terlalu mustahil untuk disebut cinta biasa.
Sementara di atas telaga, kabut pagi bergerak perlahan, bergerak
seperti rahasia yang tidak bisa diucapkan, bergerak seperti jawaban yang tidak
ingin didengar oleh siapa pun.
Menyimpan rahasia yang belum siap dibuka sepenuhnya.
Dan tanpa disadari Aditya, cinta yang tumbuh di ketinggian
itu, cinta yang lahir di antara kabut dan air dan senyum yang terlalu lembut, perlahan
mulai membawanya menuju luka yang jauh lebih dalam dari apa pun yang pernah ia
bayangkan.
Luka yang bahkan lebih tinggi dari langit itu sendiri.
BAB 8 — Bayangan yang Tak Punya Jejak
Sejak pagi itu, sejak ketiga sahabatnya menyaksikan sendiri
bagaimana air telaga menolak memantulkan bayangan Sekar, sejak mereka melihat
dengan mata kepala sendiri bahwa perempuan itu tidak meninggalkan jejak di
tanah basah, suasana di antara mereka mulai berubah.
Bukan antara Aditya dan Sekar. Hubungan mereka justru
semakin dalam, semakin intens, seperti dua arus sungai yang bertemu dan tidak
bisa lagi dipisahkan.
Melainkan antara Aditya dan sahabat-sahabatnya sendiri.
Amat Junior masih berusaha melucu seperti biasa, masih
melontarkan candaan tentang cinta dan dingin, tentang patah hati dan mie
instan, tentang segala hal yang tidak penting untuk menutupi kegelisahan yang
mulai menggerogoti dadanya. Jojon masih mencoba menertawakan rasa takutnya
sendiri, masih memaksakan tawa setiap kali kabut turun terlalu cepat, setiap
kali angin malam berembus terlalu kencang.
Namun Guntur, Guntur yang diam, Guntur yang selalu
memperhatikan, Guntur yang tidak pernah kehilangan akal, tak lagi bisa
menyembunyikan kegelisahan di wajahnya. Kerutan di dahinya semakin dalam.
Tatapannya semakin sering kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak
bisa dipecahkan.
Sebab semakin lama, ia merasa sahabatnya bukan sedang jatuh
cinta.
Aditya seperti sedang tenggelam, tenggelam dalam lautan
perasaan yang terlalu dalam untuk seorang manusia biasa. Dan yang paling
menakutkan, yang paling mengerikan, yang paling tidak bisa ia terima: Aditya
tenggelam dengan wajah bahagia.
Seperti orang yang tersesat di gurun tetapi mengira ia
sedang berjalan menuju surga.
________________________________________
Mereka berjalan kembali ke penginapan menjelang siang, setelah
puas berfoto di Telaga Cebong, setelah Aditya menghabiskan terlalu banyak waktu
hanya untuk berdiri diam di tepi air, setelah Guntur berkali-kali menarik
tangan sahabatnya agar tidak terus menatap ke tempat kosong.
Jalan desa yang tadi pagi terasa indah, dengan kabut tipis
yang bergerak di antara pepohonan, dengan suara ayam dan burung yang
bersahutan, kini justru dipenuhi diam yang tak nyaman. Diam yang tebal, diam
yang seperti selimut basah yang menutupi mereka berempat.
Amat beberapa kali membuka mulut untuk bercanda, mengangkat
alis, menyiapkan punchline, lalu menutupnya lagi, karena melihat wajah Guntur
yang terlalu serius dan wajah Aditya yang terlalu melamun.
Akhirnya Jojon yang bicara lebih dulu. Jojon yang biasanya
paling pendiam, paling penakut, paling tidak inisiatif.
"Dit…"
Aditya menoleh. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa senyum
dari pertemuannya dengan Sekar pagi tadi.
"Hm?"
Jojon menggaruk tengkuknya—garukan yang gugup, garukan yang
membuat rambutnya semakin acak-acakan.
"Itu perempuan…"
Amat menyela cepat, terlalu cepat, seperti takut Jojon
mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.
"Cantik sekali."
Guntur melirik tajam, lirikan yang tajam seperti pecahan
kaca, yang langsung membuat Amat menutup mulutnya.
"Bukan itu."
Amat langsung diam. Ia tahu Guntur sedang serius. Ia tahu
Guntur tidak sedang dalam suasana hati untuk bercanda.
Guntur menatap Aditya lurus, lurus ke matanya, tidak
berkedip, tidak bergerak.
"Kamu sadar tidak… dia tidak pernah meninggalkan
jejak."
Aditya berhenti berjalan. Langkahnya yang tadi mantap
mendadak terhenti, seperti ada tembok tak terlihat di depannya.
Kabut tipis melintas di antara mereka, bergerak lambat,
seperti ingin memisahkan mereka satu per satu.
"Apa maksudmu?"
Guntur menunjuk jalan tanah yang basah oleh embun pagi, jalan
setapak yang becek, dengan bekas-bekas telapak sepatu dan sandal yang
berserakan.
"Setiap kali kamu berjalan bersamanya… jejak kakimu
selalu ada."
Ia menelan ludah, menelan dengan susah payah, seperti ada
yang mengganjal di tenggorokannya.
"Tapi jejak dia tidak pernah ada."
Aditya terdiam. Ia ingin membantah. Ia ingin mengatakan
bahwa Guntur salah, bahwa Guntur terlalu paranoid, bahwa semua ini hanya
kebetulan yang bisa dijelaskan oleh sains.
Namun ingatannya langsung kembali pada tepian telaga
kemarin. Pada tanah basah yang hanya menunjukkan bekas sepatunya sendiri. Pada
rumput yang tertekuk hanya di tempat ia berdiri, sementara di tempat Sekar
berdiri, rumput-rumput itu tetap tegak seperti tidak pernah diinjak.
Pada air telaga yang jernih, yang bening, yang memantulkan
segala sesuatu dengan sempurna, kecuali bayangan Sekar.
Amat mencoba mencairkan suasana, mencoba dengan caranya
yang khas, caranya yang kadang berhasil, kadang gagal.
"Mungkin dia ringan."
Jojon melirik, lirikan yang penuh makna, lirikan yang
mengatakan kamu serius?
"Seringan arwah?"
Amat langsung menepuk mulut Jojon, plak, keras,
hingga Jojon terhuyung mundur satu langkah.
"Jangan ngomong gitu!"
Namun kata itu terlanjur jatuh di udara. Kata itu melayang
di antara mereka, tidak bisa ditarik kembali, tidak bisa dihapus, tidak bisa
dipungkiri.
Arwah.
Dan untuk pertama kalinya, Aditya merasakan sesuatu yang
dingin, sesuatu yang sangat dingin, menyusup ke dalam dadanya. Dingin yang
berbeda dari dinginnya Dieng. Dingin yang berasal dari dalam, dari tempat yang
paling dalam di hatinya, dari tempat yang selama ini ia tutup rapat-rapat.
________________________________________
Siang itu mereka makan di warung kecil milik warga dekat
kebun kentang.
Warung itu sangat sederhana, hanya sebuah gubuk kayu
beratap rumbia, dengan tiga meja kayu yang sudah lapuk, dan beberapa kursi
plastik warna-warni yang sudah pudar. Di dindingnya tergantung tulisan tangan
di kertas karton: "Mie Rebus Rp 10.000, Teh Panas Rp 5.000, Kopi Tubruk Rp
7.000."
Mereka memesan mie rebus panas, semangkuk mie kuning dengan
kuah kaldu ayam, ditambah irisan sawi dan telur rebus, ditaburi bawang goreng
dan seledri. Tempe goreng yang renyah di luar, lembut di dalam. Teh manis yang
mengepul di udara dingin, dengan aroma jahe yang menghangatkan tenggorokan.
Tetapi tak satu pun dari mereka benar-benar menikmati
makanan.
Aditya lebih banyak diam. Matanya menatap keluar jendela, jendela
kayu tanpa kaca, hanya teralis besi, yang memperlihatkan kebun kentang di seberang
jalan. Seolah berharap Sekar muncul di antara barisan tanaman itu, berjalan di
antara kabut siang yang mulai menipis.
Amat memperhatikan sahabatnya dengan cemas, cemas yang
tidak bisa ia sembunyikan di balik senyum atau candaan.
"Dit."
Aditya menoleh, perlahan, seperti orang yang baru sadar
bahwa ia tidak sendirian.
"Kalau boleh jujur…"
Aditya mengangkat alis, sedikit, hanya sedikit, tanda bahwa
ia mendengarkan.
"Kenapa?"
Amat menghela napas, napas panjang, napas yang seperti
sudah ia tahan sejak pagi.
"Saya belum pernah lihat kamu begini."
"Begini bagaimana?"
Amat tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya,
senyum yang sedih.
"Seperti orang yang akhirnya menemukan sesuatu.
Sekaligus kehilangan sesuatu."
Kata-kata Amat itu menggantung di udara, tidak terjawab,
tidak terbalas. Aditya hanya menatap cangkir tehnya, teh yang sudah setengah
dingin, permukaannya yang tenang seperti telaga di pagi hari.
Karena untuk pertama kalinya, ia mulai merasa Amat mungkin
benar.
________________________________________
Malamnya, ketika dingin semakin menusuk dan kabut semakin
tebal, Guntur memutuskan mencari jawaban sendiri.
Diam-diam, tanpa memberi tahu siapa pun, tanpa membangunkan
Amat yang mendengkur dengan mulut terbuka, tanpa membangunkan Jojon yang berguling-guling
di ranjang sempit, ia keluar dari penginapan. Langkahnya pelan, hati-hati,
seperti kucing yang berjalan di atas pagar.
Ia menuju rumah Mbah Laras, rumah kayu tua di ujung desa,
dengan lampu minyak yang masih menyala redup di terasnya.
Lampu di rumah tua itu masih menyala, kuning, redup,
berkedip-kedip setiap kali angin bertiup. Dari kejauhan, Guntur bisa melihat
bayangan perempuan tua itu bergerak di balik jendela.
Perempuan tua itu tampak tidak terkejut melihatnya. Seolah
sudah tahu bahwa akan ada yang datang malam itu. Seolah sudah menunggu.
"Kulihat dari tadi kamu mondar-mandir di depan
rumah," kata Mbah Laras pelan, suaranya serak tetapi jelas, seperti suara
orang yang sudah terbiasa berbicara dengan angin malam. "Mau bertanya
sesuatu, Nak?"
Guntur terdiam sejenak, menyusun kata-kata, memilih
pertanyaan yang paling tepat.
"Mbah tahu?"
Mbah Laras tersenyum tipis, senyum yang tua, senyum yang
sudah melihat terlalu banyak hal dalam hidupnya.
"Orang yang datang dengan wajah seperti kamu biasanya sedang
mencari jawaban. Bukan sekadar penasaran. Bukan sekadar ingin tahu. Tapi
mencari jawaban yang selama ini tidak berani kamu tanyakan."
Guntur duduk di bangku kayu di teras, bangku yang sudah
usang, dengan permukaan yang halus karena puluhan tahun diduduki. Di depannya,
kabut bergerak perlahan di antara pepohonan.
"Mbah… siapa sebenarnya perempuan di telaga itu?"
Angin di luar berembus pelan, pelan tetapi dingin, dingin
yang menusuk hingga ke tulang. Lampu minyak di teras berkedip, membuat bayangan
mereka berdua bergoyang di dinding kayu.
Lama sekali Mbah Laras tidak menjawab. Matanya yang sayu
menatap kabut di kejauhan, seolah sedang membaca sesuatu yang tidak bisa
dilihat oleh mata biasa.
Lalu ia berkata sangat lirih, lirih seperti bisikan, lirih
seperti rahasia yang tidak boleh didengar oleh telinga yang tidak berhak.
"Dulu… orang-orang sini menyebutnya penjaga air."
Bulu kuduk Guntur langsung berdiri, berdiri seperti ada
serangga dingin yang merayap di punggungnya, dari leher hingga pinggang.
"Penjaga?"
Mbah Laras mengangguk, anggukan lambat, anggukan yang
terasa berat.
"Tidak semua telaga hanya berisi air. Kadang ada
tempat yang menyimpan jiwa. Jiwa yang tidak bisa pergi. Jiwa yang terikat pada
tempat itu karena suatu sebab. Sebab yang hanya diketahui oleh langit dan
bumi."
Guntur menelan ludah, menelan dengan susah payah, seperti
ada yang mengganjal di tenggorokannya.
"Namanya Sekar Tanjung?"
Mbah Laras menatapnya lama, sangat lama, dengan mata yang
tajam, dengan mata yang seperti sedang mengintip ke dalam jiwanya.
"Jadi dia menyebut namanya."
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Guntur diam, tidak mengangguk, tidak menggeleng. Hanya
diam.
Mbah Laras menarik napas panjang, napas yang seperti
menarik udara dari tempat yang sangat dalam.
"Sudah puluhan tahun… kadang ada orang yang melihat
perempuan itu. Selalu sama. Selalu cantik. Selalu datang dalam kabut. Selalu di
tepi telaga yang sama, di waktu yang sama, di musim yang sama."
Guntur menunggu, menunggu dengan napas tertahan.
"Lalu?"
Mbah Laras memandang jendela, memandang ke arah telaga yang
tersembunyi di balik kabut malam.
"Orang yang hatinya terlalu dalam kepadanya… biasanya
pulang dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh."
Suara kayu rumah berderit pelan, berderit seperti tangisan
tua, seperti keluhan dari masa lalu yang tidak bisa dilupakan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Guntur
benar-benar takut pada sesuatu yang tak bisa dijelaskan logika.
________________________________________
Sementara Guntur berbicara dengan Mbah Laras di rumah kayu
tua itu, Aditya kembali bermimpi.
Mimpi yang sama. Tapi berbeda,
Ia berdiri di tepi telaga, telaga yang sama, dengan air
yang sama tenangnya, dengan kabut yang sama putihnya. Langit di atasnya gelap, gelap
tanpa bintang, tanpa bulan, hanya kegelapan pekat yang seperti beludru hitam
yang direntangkan tanpa ujung.
Sekar ada di sana. Kali ini lebih dekat. Sangat dekat.
Hanya sejengkal di depannya.
Matanya menatap Aditya seperti menyimpan ribuan kata yang
tak bisa diucapkan, seperti perpustakaan yang terbakar, di mana semua buku
berisi cerita tentang mereka berdua, tetapi tidak ada yang sempat dibaca.
"Kenapa kamu datang kepadaku?" tanya Aditya, suaranya
bergema di ruang mimpi yang sunyi, bergema seperti suara di dalam gua.
Sekar tersenyum sedih, senyum yang sudah terlalu sering ia
lihat, tetapi tidak pernah membuatnya terbiasa.
"Aku tidak datang."
Aditya mengernyit, bingung, seperti anak kecil yang
mendengar kalimat dewasa.
"Lalu?"
Sekar mengangkat tangan, tangannya yang putih, jemarinya
yang lentik, menyentuh dada Aditya perlahan. Tepat di tempat jantungnya
berdetak.
"Kau yang datang kepadaku."
Aditya terdiam. Dadanya terasa hangat oleh sentuhan itu, hangat
tetapi aneh, hangat seperti api yang tidak membakar.
"Kenapa aku?"
Sekar menatapnya dalam, sangat dalam, seperti sedang
mencari sesuatu di dasar matanya, seperti sedang menggali kenangan yang
terkubur di dalam sana.
"Karena hanya orang yang terluka yang bisa
melihatku."
Aditya hendak bertanya lagi, bertanya apa maksudnya,
bertanya mengapa ia terluka, bertanya luka apa yang dimaksud.
Namun tiba-tiba air telaga beriak hebat, beriak seperti ada
sesuatu yang naik dari dasar air, seperti ada raksasa yang terbangun dari
tidurnya. Kabut bergerak liar, bergerak seperti badai putih, seperti angin
topan yang terbuat dari awan.
Wajah Sekar perlahan berubah sendu, sendu seperti senja
sebelum hujan, seperti daun yang mulai menguning sebelum gugur.
Lalu ia berbisik, bisikan yang begitu pelan hingga Aditya
harus mendekatkan telinganya.
"Jangan terlalu mencintaiku…"
Aditya terbangun mendadak.
Napasnya memburu, memburu seperti orang yang baru saja
berlari maraton, seperti orang yang baru saja selamat dari tenggelam. Dadanya
terasa sesak, sesak seperti ada batu besar yang diletakkan di atasnya.
Keningnya basah oleh keringat dingin, bantalnya basah, seprai di bawahnya
basah.
Ia duduk di ranjang, punggungnya bersandar pada dinding
kayu yang dingin, matanya terbuka lebar menatap kegelapan kamar.
Dan untuk pertama kalinya, mimpi itu tidak lagi terasa
seperti bunga tidur. Tidak lagi terasa seperti lamunan yang tidak berarti.
Mimpi itu terasa seperti peringatan.
Peringatan dari seseorang yang tidak bisa menyampaikannya
secara langsung. Peringatan dari tempat yang tidak memiliki kata-kata.
Peringatan dari masa depan yang mungkin akan terjadi.
________________________________________
Pagi berikutnya, sebelum matahari sempat menampakkan
wajahnya di balik Gunung Sumbing, Guntur langsung mendatangi Aditya.
Wajahnya serius, sangat serius, lebih serius dari biasanya.
Matanya merah, seperti kurang tidur. Rambutnya acak-acakan, seperti habis
bergadang semalaman.
"Kita harus bicara."
Aditya yang masih setengah mengantuk, yang baru saja
selesai bermimpi buruk, yang baru saja meminum segelas air putih untuk
menenangkan jantungnya yang masih berdebar cepat—menatap Guntur dengan heran.
"Kenapa? Ada apa?"
Guntur duduk di tepi ranjang, ranjang Aditya yang sempit,
dengan kasur tipis dan selimut yang sudah kusut.
Wajahnya sangat dekat dengan wajah Aditya. Matanya menatap
lurus ke mata Aditya. Tidak berkedip. Tidak bergerak.
"Perempuan itu bukan manusia."
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa jeda, tanpa
pelan-pelan, tanpa persiapan. Jatuh seperti batu besar ke dalam kolam yang
tenang, menciptakan riak yang tidak bisa dihentikan.
Amat yang sedang minum teh di sudut ruangan langsung
tersedak, huk... huk... huk, tehnya tumpah sedikit di bajunya, tetapi ia
tidak peduli. Matanya membulat seperti telur.
Jojon mematung sambil memegang roti, roti tawar yang
setengah jalan ke mulutnya, berhenti di udara, tidak naik, tidak turun.
Ruangan mendadak sunyi. Sunyi seperti kuburan. Sunyi
seperti telaga di malam hari.
Aditya menatap Guntur lama, sangat lama, seperti baru
pertama kali melihat wajah sahabatnya, seperti tidak percaya bahwa sahabatnya
bisa mengatakan hal seperti itu.
Lalu ia tertawa kecil. Tawa yang dipaksakan. Tawa yang
tidak sampai ke matanya.
"Kamu serius?"
Guntur mengangguk, anggukan yang tegas, anggukan yang tidak
terbantahkan.
"Saya bertemu Mbah Laras semalam."
Wajah Aditya berubah. Senyumnya perlahan memudar, seperti
kabut yang terkena sinar matahari. Matanya yang tadi masih setengah mengantuk
kini terbuka lebar.
"Apa katanya?"
Guntur menatap sahabatnya lurus, lurus ke matanya, tidak
berkedip, tidak bergerak.
"Dia penjaga Telaga Cebong."
Udara pagi yang dingin mendadak terasa jauh lebih dingin, dingin
yang menusuk hingga ke sumsum tulang, dingin yang membuat bulu kuduk meremang,
dingin yang seperti berasal dari dalam ruangan itu sendiri.
Namun bukannya takut, bukannya mundur, bukannya ragu, Aditya
justru berdiri perlahan. Ia berdiri dari ranjangnya, kakinya mencari sandal,
lalu ia berjalan ke jendela.
Matanya kosong. Kosong seperti telaga di malam hari. Kosong
seperti langit tanpa bintang.
Lalu ia berkata pelan, sangat pelan, seperti sedang berbicara
kepada dirinya sendiri, seperti sedang mengucapkan doa yang tidak ingin
didengar oleh siapa pun.
"Kalau itu benar…"
Ia menatap keluar jendela, ke arah telaga yang tertutup
kabut pagi, ke arah tempat Sekar biasa berdiri, ke arah tempat ia merasa paling
hidup dalam beberapa hari terakhir.
"Mungkin itu sebabnya aku tidak bisa berhenti
memikirkannya."
Amat menatap Guntur, menatap dengan mata yang penuh tanya,
penuh takut, penuh kekhawatiran. Jojon menatap Aditya, menatap dengan mata yang
iba, dengan mata yang seperti sedang melihat seseorang yang sedang berjalan
menuju jurang.
Dan saat itulah mereka sadar, ketiganya sadar pada saat
yang bersamaan, tanpa perlu saling bertatapan, tanpa perlu berkata apa pun.
Yang paling berbahaya bukan jika Sekar benar-benar gaib.
Bukan jika Sekar benar-benar penjaga telaga. Bukan jika Sekar benar-benar bukan
manusia.
Yang paling berbahaya adalah karena Aditya, Aditya yang
keras kepala, Aditya yang tidak pernah mudah menyerah, Aditya yang hatinya terlalu
besar untuk ukuran tubuhnya,
Aditya mungkin tetap akan mencintainya meski tahu kenyataan
itu.
________________________________________
Di luar jendela, kabut pagi turun pelan ke atas Telaga
Cebong, turun seperti air terjun putih yang bergerak lambat, seperti tirai yang
ditutup perlahan di akhir babak pertama pertunjukan.
Dan jauh di balik putih yang menggantung itu, jauh di balik
kabut yang tebal, di balik pepohonan pinus yang menjulang, di balik dingin yang
menusuk, seorang sosok perempuan berdiri diam.
Memandang ke arah penginapan.
Memandang ke arah Aditya.
Dengan mata yang menyimpan kesedihan yang bahkan belum sempat
dipahami oleh sia pun, kesedihan yang sudah berusia puluhan tahun, kesedihan
yang sudah menjadi bagian dari dirinya, kesedihan yang tidak bisa ia lepaskan
meskipun ia sangat ingin.
Dan diam-diam, tanpa suara, tanpa kata, ia berbisik kepada
angin:
"Maafkan aku… karena membuatmu mencintaiku."
________________________________________
BAB 9 — Senja yang Mengajarkan Rindu
Pagi itu, meskipun langit cerah dan kabut tidak setebal
hari-hari sebelumnya, suasana di Desa Sembungan terasa berbeda. Tidak ada yang
bisa menjelaskan mengapa. Mungkin karena udara terlalu dingin. Mungkin karena
angin terlalu kencang. Mungkin karena ada sesuatu di udara yang tidak bisa
dilihat tetapi bisa dirasakan, sesuatu yang seperti kesedihan yang belum
datang, seperti air mata yang belum jatuh.
Wisatawan mulai berdatangan seperti biasa, rombongan demi
rombongan turun dari bus-bus kecil, dengan kamera tergantung di leher, dengan
topi dan kacamata hitam, dengan semangat berfoto di tempat-tempat yang sudah
mereka lihat di media sosial.
Ada pasangan muda yang sibuk berfoto dengan latar Telaga
Cebong, perempuan dengan gaun panjang berwarna pastel, laki-laki dengan kemeja
flanel, bergantian menjadi fotografer untuk satu sama lain. Ada rombongan
mahasiswa yang tertawa keras sambil membawa kamera dan tripod, saling dorong,
saling ejek, seperti anak-anak yang baru dibebaskan dari ruang kuliah. Ada
keluarga kecil, ayah, ibu, dua anak perempuan, yang menggandeng anak-anak
mereka menuju jalur Bukit Sikunir, dengan tas ransel yang penuh bekal dan
termos air panas.
Desa kecil itu perlahan berubah menjadi panggung kehidupan,
panggung di mana setiap orang menjadi aktor dalam cerita mereka masing-masing,
dengan latar belakang gunung, kabut, dan telaga yang tenang.
Namun bagi Aditya, di tengah ramainya orang-orang yang
berlalu lalang di sekitarnya, ia justru merasa semakin sepi.
Karena sejak semalam, sejak Guntur mengatakan kata-kata
itu, "Dia penjaga Telaga Cebong", ia tak bisa melupakan
ucapan itu. Kata-kata itu masih berputar di kepalanya, berputar seperti kaset
yang macet, berputar seperti air dalam pusaran yang tidak bisa berhenti.
Tetapi yang lebih mengganggu, yang lebih menyiksa, yang
lebih membuatnya tidak bisa tidur semalaman, bukan rasa takut. Bukan rasa
cemas. Bukan rasa was-was.
Melainkan kenyataan bahwa meski mendengar itu, meski tahu
bahwa Sekar mungkin bukan manusia, meski tahu bahwa air telaga tidak
memantulkan bayangannya, meski tahu bahwa jejak kakinya tidak pernah ada,
hatinya tetap ingin bertemu Sekar.
Bahkan lebih. Hatinya semakin ingin bertemu Sekar. Seperti
ada sesuatu yang menariknya, seperti ada tali tak terlihat yang mengikat
dadanya ke telaga itu, ke kabut itu, ke perempuan itu.
________________________________________
"Mas, kopi panasnya."
Suara seorang ibu pemilik warung, perempuan paruh baya
dengan kerudung coklat, wajah bulat, senyum ramah, membuyarkan lamunan Aditya.
Aditya menoleh dan menerima cangkir kecil itu, cangkir
keramik putih dengan tulisan "Dieng" yang sudah mulai pudar. Uap
panas naik dari permukaan kopi, membawa aroma yang khas, aroma yang tidak bisa
ia temukan di tempat lain.
Ibu itu tersenyum ramah, senyum yang hangat, senyum yang
seperti sinar matahari pagi.
"Dari kemarin sering melamun di situ."
Aditya tersenyum kikuk, senyum yang malu-malu, senyum orang
yang ketahuan.
"Kelihatan ya, Bu?"
"Kelihatan sekali." Ibu itu tertawa kecil, tawa
yang renyah, tawa yang seperti kerikil yang digesekkan. "Mas lagi galau,
ya? Biasanya anak muda kalau ke Dieng sendirian gitu..."
Amat Junior yang duduk di sebelah langsung menyambar, menyambar
seperti elang yang menangkap mangsa.
"Sejak datang ke sini, teman saya jatuh cinta sama
udara dingin, Bu."
Ibu itu tertawa kecil, tawa yang hangat, tawa yang ikhlas.
"Biasanya bukan udara dingin yang bikin orang susah
tidur di Sembungan."
Aditya menoleh, menoleh dengan rasa penasaran yang
tiba-tiba muncul.
"Maksudnya?"
Ibu itu tersenyum samar, senyum yang tahu, senyum yang
seperti sedang menyimpan rahasia.
"Kadang desa ini membuat orang ingin tinggal lebih
lama."
Lalu ia pergi melayani pembeli lain, tanpa memberi
kesempatan kepada Aditya untuk bertanya lebih lanjut.
Namun entah kenapa, kalimat sederhana itu, kalimat yang
mungkin hanya basa-basi, kalimat yang mungkin tidak bermaksud apa-apa, terasa
seperti menyimpan makna lain. Makna yang hanya bisa dipahami oleh orang yang
sedang berada di ambang keputusan besar.
________________________________________
Di dekat warung, beberapa wisatawan sedang berbincang, duduk
di bangku panjang kayu, dengan segelas teh hangat di tangan masing-masing.
"Sunrise tadi bagus banget ya," kata seorang
perempuan dengan jaket pink. "Foto-fotoku bagus semua."
"Iya, tapi katanya kalau sore di telaga lebih
mistis," sahut temannya, laki-laki berambut gondrong dengan kamera besar
di pangkuannya.
"Aku dengar ada legenda perempuan penjaga telaga.
Cantik katanya. Tapi kalau dilihat, bisa bawa sial."
Aditya spontan menoleh. Matanya tertuju pada rombongan
wisatawan itu, telinganya menajam seperti kucing yang mendengar suara tikus.
Guntur yang duduk di depannya langsung memperhatikan
perubahan wajah sahabatnya, cara Aditya memegang cangkir kopinya yang mendadak
kencang, cara matanya yang menyipit, cara napasnya yang tertahan.
"Jangan bilang kamu mau ke sana lagi."
Aditya terdiam. Ia tidak menjawab. Tapi diamnya adalah
jawaban.
Amat langsung menghela napas, napas panjang, napas pasrah.
"Waduh."
Jojon menutup mata, menutup dengan kedua telapak tangannya,
seperti sedang menonton film horor dan adegan paling menakutkan akan muncul.
"Saya sudah firasat. Sejak kita sampai di sini, saya
sudah firasat."
Guntur menatap tajam, menatap Aditya dengan mata yang penuh
peringatan.
"Dit, dengarkan saya. Kita datang ke sini buat belajar
wisata. Buat lihat-lihat. Buat foto-foto. Bukan untuk jatuh cinta dengan
sesuatu yang belum tentu bisa kamu bawa pulang."
Aditya menatap cangkir kopinya, kopi hitam yang sudah
setengah habis, permukaannya yang tenang seperti telaga. Uap hangat naik pelan,
membawa aroma pahit yang familiar.
Lalu ia menjawab lirih, lirih seperti orang yang sedang
mengaku kepada dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu kenapa. Tapi setiap kali dekat dia…
rasanya seperti aku sedang pulang."
Amat langsung diam. Jojon ikut terdiam. Bahkan Guntur, yang
mulutnya sudah setengah terbuka untuk membantah, menutupnya kembali.
Karena untuk pertama kalinya, mereka mendengar nada dalam
suara Aditya yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Nada yang jujur. Nada
yang rentan. Nada yang tidak bisa dipalsukan.
Nada seseorang yang benar-benar sedang jatuh cinta.
________________________________________
Menjelang sore, desa mulai lebih ramai, lebih ramai dari
pagi, lebih ramai dari siang. Mungkin karena suhu sedikit lebih hangat. Mungkin
karena matahari tidak terlalu terik. Mungkin karena semua orang ingin menikmati
senja di Dieng.
Para wisatawan berjalan menuju telaga, berjalan
berpasangan, berkelompok, sendirian. Anak-anak kecil berlarian di jalan desa, berlarian
dengan sandal jepit yang bunyinya cetak-cetak-cetak, mengejar bola
plastik yang bergulung ke mana-mana. Pedagang menjajakan mie ongklok dan teh
purwaceng hangat dari gerobak-gerobak dorong mereka.
Suara tawa memenuhi udara dingin, tawa yang riang, tawa
yang bebas, tawa orang-orang yang sedang liburan dan tidak memikirkan apa-apa
selain menikmati waktu.
Aditya berjalan sendirian ke Telaga Cebong, berjalan
perlahan, seperti orang yang tidak ingin terburu-buru menuju takdirnya.
Di sepanjang jalan, beberapa warga menyapa ramah, menyapa
seperti sudah mengenalnya lama, padahal baru beberapa hari.
"Dari mana, Mas?"
"Dari Temanggung?"
Aditya tersenyum, senyum yang ramah, senyum yang tulus.
"Dari lereng Sumbing."
Seorang bapak tua yang sedang memperbaiki pagar bambu di
depan rumahnya menoleh, menoleh dengan gerakan lambat, seperti orang yang sudah
tidak terburu-buru oleh apa pun di dunia ini.
Bapak itu memandang Aditya lama, sangat lama, dengan mata
yang sayu, dengan mata yang seperti sedang mengingat sesuatu.
"Sumbing?"
Aditya mengangguk.
Bapak itu memandangnya sekali lagi, memandang dari ujung
rambut hingga ujung kaki, seperti sedang menilai, seperti sedang mengukur.
Lalu berkata pelan, sangat pelan, seperti sedang berbicara
kepada dirinya sendiri.
"Gunung kadang mengirim orang ke gunung lain bukan
tanpa alasan."
Aditya terdiam. Ia ingin bertanya, bertanya apa maksudnya,
bertanya mengapa bapak itu berkata seperti itu, bertanya apakah bapak itu juga
tahu tentang Sekar.
Namun sebelum sempat bertanya, bapak itu kembali bekerja, kembali
memaku bilah-bilah bambu ke tiang pagar, seolah tidak berkata apa-apa, seolah
tidak terjadi percakapan apa pun.
Kalimat itu, kalimat sederhana yang keluar dari mulut
seorang bapak tua yang tidak dikenal, membuat langkah Aditya terasa lebih
berat. Lebih berat seperti ada beban tak terlihat yang diletakkan di pundaknya.
________________________________________
Saat tiba di telaga, senja mulai turun, senja yang indah,
senja yang seperti lukisan, senja yang membuat siapa pun yang melihatnya ingin
berhenti sejenak dan hanya diam.
Wisatawan masih ramai, masih berdatangan, masih berfoto,
masih tertawa. Beberapa berdiri di pinggir air, mengambil gambar dengan latar
belakang gunung yang mulai gelap. Pasangan muda saling berpelukan sambil
berfoto, dengan senyum bahagia yang tidak perlu dibuat-buat. Anak-anak melempar
batu kecil ke permukaan telaga, menciptakan riak-riak kecil yang melingkar lalu
menghilang.
Semua tampak biasa. Semua tampak normal. Semua tampak
seperti hari-hari biasa di tempat wisata.
Sampai Aditya melihatnya.
Sekar berdiri di bawah pohon tua di sisi telaga, pohon
beringin besar dengan akar-akar yang menjuntai ke air, pohon yang sudah berusia
ratusan tahun, pohon yang menyaksikan lebih banyak senja daripada siapa pun di
desa itu.
Di antara orang-orang ramai, di antara puluhan wisatawan
yang lalu lalang, di antara suara tawa dan teriakan dan gemericik air, hanya
Aditya yang seolah langsung melihatnya. Seolah matanya sudah terlatih untuk
mencari, seolah hatinya sudah terprogram untuk menemukan.
Seolah ia dan Sekar terhubung oleh sesuatu yang tidak
terlihat, oleh benang tipis yang direntangkan oleh takdir, oleh tali yang tidak
bisa diputus oleh jarak atau waktu atau dunia.
Hari itu Sekar mengenakan kain putih lembut dengan
selendang biru pucat, biru seperti langit pagi, biru seperti air telaga di
kedalaman tertentu. Rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angina, bergerak
seperti rumput laut, seperti tarian yang tidak bersuara.
Dan saat mata mereka bertemu, saat mata Aditya bertemu
dengan mata Sekar, mata hitam pekat yang menyimpan ribuan rahasia itu,
keramaian di sekitar seolah lenyap.
Suara-suara memudar. Warna-warna memudar. Waktu berhenti.
Yang tersisa hanya mereka berdua. Hanya Aditya dan Sekar.
Hanya dua hati yang tidak seharusnya bertemu, tetapi bertemu juga.
________________________________________
"Kau datang lagi."
Suara Sekar lembut seperti biasanya, lembut seperti kapas,
lembut seperti sutra, lembut seperti sesuatu yang tidak ingin melukai siapa
pun.
Aditya berdiri di depannya, berdiri dengan jarak yang cukup
untuk melihat setiap detail wajahnya, tetapi tidak cukup untuk menyentuhnya.
"Kalau aku tidak datang…"
Ia menatap mata Sekar, menatap dalam-dalam, seperti ingin
masuk ke dalamnya, seperti ingin tinggal di sana selamanya.
"Rasanya ada yang hilang."
Sekar tersenyum, senyum yang sama, senyum yang membuat
Aditya merasa seperti sedang diterima, seperti sedang diizinkan untuk
mencintai.
Namun kali ini, senyumnya menyimpan kesedihan yang lebih
jelas, kesedihan yang tidak bisa disembunyikan, kesedihan yang seperti air yang
naik dari dasar sumur, tidak bisa ditahan, tidak bisa dihentikan.
"Jangan membuat aku merasa bersalah."
Aditya mengernyit, bingung, tidak mengerti.
"Karena apa?"
Sekar menunduk, menundukkan wajahnya, sehingga rambut
panjangnya jatuh menutupi pipinya.
"Karena membiarkanmu datang terlalu jauh."
Aditya tidak memahami maksudnya. Tidak sepenuhnya. Namun
untuk pertama kalinya, ia berani mendekat lebih dekat. Sangat dekat. Hanya
sejengkal. Cukup untuk merasakan dingin yang terpancar dari tubuh Sekar, dingin
yang aneh, dingin yang tidak seperti dingin manusia, dingin yang membuatnya
ingin memeluk, meskipun ia tahu mungkin tidak akan pernah bisa.
"Sekar…"
Sekar mengangkat wajahnya. Matanya, matanya yang hitam
pekat, yang dalam, yang menyimpan ribuan rahasia, menatap Aditya. Ada sesuatu
di sana. Sesuatu yang tidak bisa ia baca. Sesuatu yang seperti air mata yang
tidak mau jatuh.
Aditya menatap mata gadis itu lama, sangat lama, seperti
sedang membaca buku yang paling ingin ia mengerti, tetapi bahasanya asing.
"Apa yang sebenarnya terjadi antara kita?"
Sekar diam.
Hanya angin yang bergerak di antara mereka, angin yang
dingin, angin yang membawa aroma tanah basah dan daun-daun pinus.
Lalu dengan suara yang hampir seperti bisikan, suara yang
nyaris tidak terdengar di antara suara ombak kecil dan suara wisatawan di
kejauhan, Sekar berkata,
"Mungkin takdir sedang bermain terlalu kejam."
Kalimat itu menghantam dada Aditya lebih keras daripada apa
pun, lebih keras daripada pukulan, lebih keras daripada jatuh dari ketinggian,
lebih keras daripada kehilangan sesuatu yang paling berharga.
________________________________________
Di kejauhan, Amat, Guntur, dan Jojon diam-diam
memperhatikan dari warung kecil di pinggir jalan, duduk di bangku kayu yang
sempit, dengan segelas teh yang sudah dingin di tangan masing-masing.
Amat menatap dengan wajah serius, serius seperti orang yang
sedang menonton film drama yang paling menyayat hati.
"Ini sudah bukan main-main."
Jojon mengangguk pelan, anggukan yang lambat, anggukan yang
seperti mengiyakan sesuatu yang berat.
"Saya ikut sedih."
Guntur tetap diam. Tatapannya tak lepas dari Sekar, dari
sosok putih yang berdiri di tepi telaga itu, dari gaun yang berkibar pelan,
dari rambut panjang yang bergerak seperti air.
Sebab di tengah banyak wisatawan di sekitar telaga, di
tengah puluhan orang yang berlalu lalang, yang berfoto, yang tertawa, yang
berpelukan, tak satu pun terlihat menoleh ke arah Sekar.
Tak satu pun.
Seolah hanya Aditya yang bisa melihatnya. Seolah Sekar
hanya nyata untuk Aditya. Seolah ia adalah hantu yang hanya bisa dilihat oleh
satu orang di seluruh dunia.
Dan itu, lebih dari apa pun, lebih dari jejak yang hilang,
lebih dari bayangan yang tidak terpantul, membuat tengkuk Guntur merinding.
Merinding seperti ada tangan dingin yang menyentuhnya dari
belakang.
________________________________________
"Sekar…"
Aditya mengucapkan nama itu pelan, pelan seperti sedang
berdoa, pelan seperti sedang mengucapkan sesuatu yang sakral.
Sekar menatapnya. Matanya, matanya yang hitam, yang dalam, berkaca-kaca.
"Apa?"
"Kalau aku meminta kamu tetap tinggal…"
Aditya berhenti sejenak. Dadanya sesak. Kata-kata itu
terasa berat di lidahnya, seperti mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya
diucapkan.
"Apakah kamu mau?"
Untuk beberapa detik, detik yang terasa seperti tahun,
seperti dekade, seperti era yang berlalu, Sekar hanya diam.
Matanya bergetar pelan, bergetar seperti daun yang ditiup
angin, seperti air telaga yang terkena riak.
Seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin menjawab, yang
ingin berteriak iya, yang ingin berlari ke dalam pelukan Aditya dan
tidak pernah pergi.
Namun akhirnya ia tersenyum tipis, senyum yang pahit,
senyum yang seperti obat yang tidak manis.
"Jangan meminta hal yang tidak mungkin."
Aditya menahan napas, menahan seperti sedang menahan
tangis, seperti sedang menahan sesuatu yang akan pecah jika tidak ditahan.
"Kenapa tidak mungkin?"
Sekar memandang telaga, memandang air yang tenang, yang
jernih, yang tidak mau memantulkan bayangannya. Permukaan air berkilau diterpa
cahaya senja, cahaya yang jingga, yang keemasan, yang seperti madu yang dituang
di atas permukaan kaca.
"Karena ada cinta… yang memang hanya diciptakan untuk
singgah."
Aditya merasa kata-kata itu seperti pisau, bukan pisau yang
tajam, bukan pisau yang melukai dengan cepat. Tetapi pisau yang tumpul, yang
melukai perlahan, yang masuk ke dalam hati sedikit demi sedikit, menciptakan
luka yang tidak terlihat tetapi terasa setiap saat.
________________________________________
Tanpa sadar, tanpa berpikir, tanpa merencanakan, tanpa
mempertimbangkan risiko, Aditya mengulurkan tangan.
Tangannya, tangan yang kasar, yang terbiasa memegang
cangkul dan memetik kopi, tangan yang tidak pernah lembut, menyentuh jemari
Sekar.
Dingin.
Sangat dingin.
Bukan dingin udara pegunungan, bukan dingin yang biasa ia
rasakan setiap pagi di lereng Sumbing, bukan dingin yang bisa diatasi dengan
jaket tebal atau secangkir kopi panas.
Dingin yang berbeda. Dingin yang seperti berasal dari
tempat yang tidak pernah tersentuh matahari. Dingin yang membuat jantungnya
bergetar, membuat bulu kuduknya berdiri, membuat seluruh tubuhnya menggigil.
Sekar sedikit terkejut, matanya membesar sedikit, alisnya
naik sedikit.
Namun ia tidak menarik tangannya.
Ia membiarkan jemari mereka bersentuhan. Membiarkan
dinginnya bertemu dengan hangatnya Aditya. Membiarkan sesuatu yang tidak
mungkin terjadi, terjadi untuk sesaat.
Untuk sesaat, hanya sesaat, hanya beberapa detik yang
terasa seperti keabadian, mereka hanya saling memandang.
Kabut tipis turun perlahan di permukaan telaga, turun
seperti tirai yang ditutup perlahan, seperti malam yang datang dengan bisikan.
Suara wisatawan memudar, menjadi samar, menjadi kabur,
menjadi seperti suara dari dunia lain.
Suara angin menjadi samar, seperti bisikan yang tidak bisa
didengar, seperti doa yang tidak bisa diucapkan.
Dan di tengah keramaian dunia, di tengah puluhan orang yang
tertawa dan berfoto dan menikmati senja, mereka seperti berada di ruang yang
hanya milik mereka berdua. Ruang yang tidak bisa dimasuki oleh siapa pun. Ruang
yang hanya ada selama mereka saling memandang.
Sekar berbisik pelan, sangat pelan, seperti sedang
mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh angin.
"Jangan tatap aku seperti itu."
Aditya menatap lebih dalam, menatap ke dalam matanya, ke
dalam jiwanya, ke dalam rahasia yang selama ini ia simpan.
"Seperti apa?"
Sekar tersenyum sendu, senyum yang indah tetapi
menyakitkan, senyum seperti bunga yang mekar di tengah badai.
"Seperti seseorang yang bisa membuatku ingin menjadi
manusia."
Kalimat itu menghantam dada Aditya lebih keras daripada apa
pun, lebih keras daripada pukulan, lebih keras daripada jatuh, lebih keras
daripada kehilangan.
Karena untuk pertama kalinya, Sekar mengakui bahwa ia bukan
manusia. Untuk pertama kalinya, ia membuka pintu yang selama ini ia kunci
rapat-rapat.
Dan sebelum Aditya sempat menjawab, sebelum ia sempat
mengatakan bahwa ia tidak peduli, bahwa ia akan tetap mencintai Sekar meskipun
ia bukan manusia, bahwa tidak ada yang bisa menghentikannya,
Sekar perlahan menarik tangannya.
Satu langkah mundur.
Lalu satu lagi.
Kabut mulai menelan tubuhnya, menelan seperti lautan putih
yang tidak pernah kering, seperti tangan-tangan tak terlihat yang menariknya
kembali ke dunianya.
Aditya panic, panik seperti orang yang akan kehilangan
sesuatu yang paling berharga.
"Sekar!"
Sekar menatapnya untuk terakhir kali sore itu, menatap
dengan mata yang basah, dengan mata yang berlinang meskipun tidak ada air mata
yang jatuh.
Ada air yang nyaris jatuh di sudut matanya, air yang
bening, air yang seperti embun pagi, air yang mungkin adalah air mata pertama
yang pernah ia tumpahkan dalam ratusan tahun.
Lalu ia berkata, dengan suara yang patah, dengan suara yang
seperti kaca yang retak, dengan suara yang tidak akan pernah bisa dilupakan
oleh Aditya seumur hidupnya.
"Kalau kau terus mencintaiku… yang hancur bukan hanya
hatimu."
Dan di tengah cahaya senja, di tengah jingga yang memudar
menjadi ungu, di tengah kabut yang turun semakin tebal, di tengah dunia yang
terus berjalan tanpa peduli pada dua hati yang sedang hancur,
Sekar menghilang.
Meninggalkan Aditya berdiri sendiri di tepi telaga.
Dengan tangan yang masih menyimpan dingin jemari perempuan
yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Dengan hati yang mulai retak, retak seperti tanah di musim
kemarau, retak seperti kaca yang jatuh dari ketinggian.
Dan dengan cinta yang semakin dalam, semakin kuat, semakin
mustahil untuk dihentikan.
________________________________________
Di belakangnya, Amat menghela napas pelan, napas yang
seperti angin yang keluar dari gua yang dalam.
Jojon menunduk, menundukkan kepalanya, menyembunyikan
matanya yang mulai berkaca-kaca.
Dan Guntur menatap sahabatnya dengan perasaan yang tak bisa
lagi disembunyikan, perasaan yang campur aduk, antara takut dan iba, antara
marah dan sedih.
Karena kini mereka semua tahu, dengan kepastian yang tidak
bisa dibantah, dengan keyakinan yang tidak bisa digoyahkan:
ini bukan lagi sekadar kisah perjalanan. Bukan sekadar
legenda wisata. Bukan sekadar cerita yang bisa dilupakan setelah pulang.
Ini adalah cinta yang perlahan tumbuh di tempat yang
seharusnya tak pernah mempertemukan dua dunia, dunia manusia dan dunia yang
tidak bisa dijelaskan oleh logika.
Dan setiap cinta seperti itu, setiap cinta yang lahir dari
pertemuan yang mustahil, setiap cinta yang dipelihara oleh rahasia dan kabut
dan senja yang sunyi,
hampir selalu berakhir dengan luka.
Luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh.
________________________________________
BAB 10 — Dua Dunia yang Tak Bisa
Bersatu
Malam turun perlahan di Desa Sembungan, turun seperti
beludru hitam yang direntangkan di atas langit, menutupi bintang-bintang satu
per satu, menyembunyikan bulan di balik kabut yang semakin tebal.
Lampu-lampu rumah penduduk mulai menyala satu per satu di
antara kabut, kuning, redup, berkedip-kedip seperti kunang-kunang yang tersesat
di lereng pegunungan. Suara tawa wisatawan yang tadi memenuhi jalan desa
perlahan menghilang, digantikan oleh desir angin dingin yang turun dari Bukit
Sikunir, angin yang membawa aroma tanah basah dan daun-daun kering.
Namun di dalam kamar penginapan kecil itu, kamar kayu
dengan dinding yang berderit setiap kali angin bertiup, dengan jendela yang
tidak bisa ditutup rapat sehingga dingin selalu bisa masuk, tak ada satu pun
dari mereka yang benar-benar tenang.
Amat Junior duduk bersandar di dinding, punggungnya
menempel pada kayu dingin, lututnya ditekuk, tangannya memeluk lutut itu
erat-erat seperti sedang memeluk sesuatu yang paling berharga. Matanya terbuka,
menatap langit-langit kamar yang terbuat dari papan kayu, dengan
retakan-retakan kecil yang seperti urat-urat tua.
Jojon berkali-kali menatap jendela, menatap kabut yang
bergerak di luar, menatap bayangan pepohonan yang bergoyang, seperti takut ada
seseorang berdiri di luar, menatap mereka dari balik kaca.
Dan Guntur hanya diam, duduk di tepi ranjang, punggungnya
sedikit membungkuk, tangannya menggenggam buku yang tidak pernah ia buka sejak
tadi malam. Matanya tidak fokus. Pikirannya jauh. Jauh di telaga. Jauh pada
perempuan bernama Sekar Tanjung.
Aditya duduk di tepi ranjang di ranjang yang sama, di
tempat yang sama sejak mereka check-in. Tatapannya kosong, kosong seperti
telaga di malam hari, kosong seperti langit tanpa bintang. Tangannya masih
menggenggam jemari sendiri seolah masih merasakan dingin sentuhan Sekar, seolah
tidak ingin melepaskan dingin itu meskipun dingin itu menyakitkan.
________________________________________
"Dit…"
Suara Amat terdengar hati-hati, hati-hati seperti orang
yang berjalan di atas lantai kaca, takut retak, takut pecah.
Aditya tak menoleh. Matanya tetap menatap lantai, lantai
papan yang sudah usang, dengan serat-serat kayu yang seperti peta dari negeri
yang tidak dikenal.
Amat melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, dengan
suara yang lebih lembut dari biasanya.
"Kalau mau jujur… kami takut."
Ruangan hening. Sunyi. Hanya suara angin di luar yang
sesekali bersiul di sela-sela bilah bambu.
Jojon menimpali pelan, pelan seperti orang yang sedang
mengaku di gereja.
"Saya bukan takut sama hantu."
Ia berhenti sejenak. Menelan ludah. Lalu melanjutkan.
"Saya takut kamu benar-benar jatuh."
Aditya tersenyum tipis, senyum yang tidak bahagia, senyum
yang seperti luka yang tidak berdarah.
Namun senyum itu bukan senyum bahagia, bukan senyum orang
yang sedang jatuh cinta, bukan senyum orang yang sedang menikmati kebahagiaan.
Lebih seperti seseorang yang tahu dirinya sedang menuju
sesuatu yang tak bisa ia hentikan lagi, seperti orang yang sudah melihat air
terjun di depannya tetapi tidak bisa menghentikan perahunya, seperti orang yang
sudah mendengar suara kereta api di kejauhan tetapi kakinya terpaku di rel.
Guntur maju selangkah, satu langkah kecil, tetapi terasa
seperti lompatan besar. Ia berdiri di depan Aditya, menatap lurus ke matanya
yang kosong.
"Dia bilang apa tadi?"
Aditya menatap lantai, menatap serat-serat kayu yang
seperti sungai-sungai kecil yang kering.
Lalu berkata pelan—sangat pelan, seperti sedang mengulang
kalimat yang tidak ingin ia ingat.
"Dia bilang kalau aku terus mencintainya… yang hancur
bukan cuma hatiku."
Amat menelan ludah, bunyi kluk yang keras,
yang terdengar di ruangan yang sunyi.
Jojon langsung merinding, merinding seperti ada serangga
dingin yang merayap di punggungnya.
Guntur memejamkan mata sesaat, memejam seperti sedang
berdoa, seperti sedang meminta kekuatan untuk mengatakan sesuatu yang sulit.
Karena kalimat itu, kalimat yang keluar dari mulut Aditya
dengan suara yang patah, dengan mata yang basah, terdengar bukan seperti
ancaman. Bukan seperti peringatan dari perempuan yang ingin menakuti.
Tetapi seperti pengakuan. Seperti kebenaran yang tidak
ingin diakui oleh siapa pun. Seperti fakta yang sudah tertulis di batu sejak
ribuan tahun lalu, menunggu seseorang untuk membacanya.
Cinta mereka tidak akan berakhir bahagia.
________________________________________
Malam semakin larut, semakin gelap, semakin dingin, semakin
sunyi. Kabut di luar semakin tebal, tebal seperti dinding putih yang memisahkan
desa dari seluruh dunia. Angin bertiup lebih kencang, membuat pepohonan pinus
bergoyang, membuat daun-daun kering berterbangan.
Ketika yang lain akhirnya tertidur, ketika dengkur Amat
mulai terdengar teratur, ketika Jojon berguling-guling di ranjangnya dengan
selimut menutupi kepala, ketika Guntur akhirnya menutup buku yang tidak pernah
ia baca dan memejamkan mata, Aditya kembali mendengar suara itu.
Suara itu datang dari jauh, jauh seperti dari ujung desa,
jauh seperti dari balik kabut, jauh seperti dari dunia lain.
Lembut. Sangat pelan. Seperti bisikan angin di balik
jendela, seperti suara yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa, tetapi bisa
dirasakan oleh hati yang sedang merindu.
"Aditya…"
Ia membuka mata. Jantungnya berdegup keras, berdebar
seperti genderang perang, seperti ombak yang menghantam karang.
Suara itu terdengar lagi, lebih jelas, lebih dekat.
"Datanglah…"
Aditya berdiri perlahan, perlahan seperti orang yang baru
sadar dari pingsan, seperti orang yang baru bangun dari mimpi panjang.
Langkahnya nyaris tanpa suara—kaki telanjangnya menyentuh lantai kayu yang
dingin, membuat papan-papan itu berderit pelan.
Seolah tubuhnya bergerak sendiri, seolah ada yang
menggerakkannya dari dalam, seolah ia hanyalah boneka yang talinya ditarik oleh
seseorang yang tidak terlihat.
Tanpa membangunkan siapa pun, tanpa menyalakan lampu, tanpa
mengambil jaket, tanpa apa pun, ia keluar dari penginapan.
Dan berjalan menuju telaga.
________________________________________
Kabut malam menutupi hampir seluruh desa, menutupi seperti
selimut putih yang tebal, seperti dinding yang tidak bisa ditembus. Langit
gelap tanpa bulan gelap seperti samudra di kedalaman paling bawah, gelap seperti
mata yang tertutup rapat. Hanya cahaya samar dari rumah-rumah jauh, kuning,
redup, berkedip-kedip seperti bintang-bintang yang sekarat.
Udara dingin menusuk sampai ke tulang, dingin yang tajam,
dingin yang seperti pisau kecil yang menyayat kulit setiap kali angin bertiup.
Tetapi Aditya terus berjalan. Kakinya terus melangkah, melewati
jalan batu yang licin oleh embun, melewati pepohonan pinus yang bergoyang
seperti hantu, melewati rumah-rumah penduduk yang gelap dan sunyi.
Karena di tengah kabut itu, di tengah putih yang tebal, di
tengah dingin yang menusuk, ia bisa melihat sosok putih berdiri di tepi air.
Sekar.
Malam itu ia tampak berbeda, lebih pucat dari biasanya,
lebih rapuh dari biasanya, lebih seperti sesuatu yang akan hancur jika
disentuh. Gaun putihnya berkibar pelan, rambut panjangnya bergerak seperti air,
matanya, matanya yang hitam, yang dalam, menatap Aditya dengan lembut.
Namun justru lebih indah. Indah seperti sesuatu yang
terlalu sempurna untuk hidup di dunia manusia, seperti bunga yang mekar di
tengah malam, seperti bintang jatuh yang tidak pernah menyentuh tanah.
"Kau memanggilku," kata Aditya, suaranya serak,
suaranya seperti orang yang baru saja bangun tidur.
Sekar tersenyum kecil, senyum yang sedih, senyum yang
seperti air mata yang tidak mau jatuh.
"Aku berharap kau tidak datang."
"Kenapa?"
Sekar memandang telaga, memandang air yang tenang, yang
hitam, yang tidak memantulkan apa pun.
Karena malam itu, untuk pertama kalinya, wajah gadis itu
terlihat benar-benar sedih. Sedih seperti langit sebelum hujan badai. Sedih
seperti lautan sebelum tsunami. Sedih seperti sesuatu yang indah yang tahu
bahwa ia akan segera berakhir.
"Karena semakin dekat kau padaku… semakin sulit bagimu
untuk pergi."
Aditya mendekat, mendekat dengan langkah yang mantap,
dengan hati yang bulat.
"Kalau begitu jangan suruh aku pergi."
Sekar menutup mata sesaat, menutup seperti sedang menahan
sesuatu, seperti sedang mengumpulkan kekuatan.
Kalimat itu, kalimat sederhana yang keluar dari mulut
Aditya dengan suara yang jujur, dengan mata yang tidak berbohong, jelas melukai
sesuatu di dalam dirinya. Melukai sesuatu yang sudah lama tidak terluka.
Melukai sesuatu yang sudah ia kira mati.
________________________________________
Di penginapan, Guntur terbangun mendadak, terbangun seperti
ada yang memanggil namanya, seperti ada tangan yang menyentuh pundaknya.
Ia menoleh ke ranjang Aditya.
Kosong.
Ranjang itu kosong. Selimutnya terlipat rapi. Bantalnya
diletakkan di atasnya. Seolah tidak pernah ada yang tidur di sana.
Guntur langsung berdiri, berdiri seperti tentara yang
mendengar sirine perang.
"Bangun!"
Amat kaget, kaget seperti orang yang tertidur di
perpustakaan lalu tiba-tiba alarm kebakaran berbunyi.
"Hah? Gempa?"
"Aditya hilang."
Jojon hampir jatuh dari ranjang, hampir jatuh seperti orang
yang didorong dari belakang.
"Saya bilang juga! Saya sudah bilang dari
kemarin!"
Mereka bertiga langsung berlari keluar, berlari tanpa
jaket, tanpa sepatu yang rapi, tanpa mempedulikan dingin yang menusuk.
Berlari menuju telaga.
________________________________________
Di tepi telaga, Aditya berdiri sangat dekat dengan Sekar, sangat
dekat hingga napas mereka bercampur, sangat dekat hingga ia bisa melihat setiap
bulu mata Sekar yang panjang dan hitam, sangat dekat hingga ia bisa mendengar
sesuatu yang mungkin adalah detak jantung, meskipun ia tidak yakin apakah Sekar
memiliki jantung.
Malam membuat dunia di sekitar mereka terasa jauh, jauh
seperti mimpi, jauh seperti cerita yang tidak nyata. Tak ada suara. Tak ada
manusia lain. Hanya kabut. Hanya air. Hanya dua hati yang mulai saling
menyakiti.
"Aku tidak peduli siapa kamu," kata Aditya, suaranya
tegas, suaranya tidak goyah.
Sekar menatapnya, menatap dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan."
"Aku serius."
"Jangan."
"Aku tidak peduli kamu manusia atau bukan."
Suara Aditya bergetar, bergetar seperti senar gitar yang
dipetik terlalu keras.
"Aku hanya tahu… setiap kali aku dekat kamu… aku
merasa seperti menemukan seseorang yang selama ini hilang dari hidupku."
Sekar memandangnya, memandang dengan mata yang basah,
dengan mata yang seperti akan menangis kapan saja.
Dan untuk pertama kalinya, air mata jatuh dari mata gadis
itu.
Satu tetes.
Bening.
Berkilau di bawah cahaya bulan yang samar.
Lalu menghilang, menghilang sebelum sempat menyentuh tanah,
menghilang seperti tidak pernah ada, seperti air mata dari dunia yang tidak
nyata.
"Jangan katakan itu."
"Kenapa?"
Karena kali ini suara Sekar ikut bergetar, bergetar seperti
orang yang sedang menahan tangis, seperti orang yang sedang berusaha sekuat
tenaga untuk tidak hancur.
"Karena aku sudah terlalu lama sendiri… dan aku mulai
ingin mempercayaimu."
Kalimat itu, kalimat yang keluar dari mulut Sekar dengan
suara yang patah, dengan air mata yang jatuh, membuat dada Aditya terasa sesak.
Sesak seperti ada batu besar di atasnya. Sesak seperti tidak bisa bernapas.
Ia melangkah lebih dekat, sangat dekat hingga tubuh mereka
hampir bersentuhan.
"Lalu kenapa kita tidak bisa bersama?"
Sekar menatap matanya, menatap dengan tatapan yang penuh
luka, luka yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun, luka yang sudah ia
simpan selama ratusan tahun, luka yang hanya bisa ia tunjukkan kepada orang
yang benar-benar ia percaya.
Lalu dengan suara yang nyaris patah, nyaris tidak
terdengar, nyaris seperti bisikan terakhir sebelum kematian, ia berkata,
"Karena aku bukan milik dunia tempatmu pulang."
________________________________________
Saat itu, tepat saat kalimat itu terucap, tepat saat luka
itu menjadi nyata, Guntur, Amat, dan Jojon tiba di tepian telaga.
Mereka berhenti mendadak, berhenti seperti melihat tembok
di depan mereka, berhenti seperti ada yang menahan.
Karena untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya dalam
hidup mereka, untuk pertama kalinya dengan mata kepala sendiri, untuk pertama
kalinya tanpa keraguan sedikit pun,
mereka melihat Sekar.
Berdiri di hadapan Aditya.
Nyata.
Hidup.
Bukan bayangan. Bukan halusinasi. Bukan kabut yang
berbentuk.
Namun tubuhnya, tubuh yang putih, yang ramping, yang anggun
itu, samar diselimuti kabut. Samar seperti sesuatu yang tidak sepenuhnya ada.
Samar seperti perbatasan antara nyata dan mimpi.
Jojon langsung gemetar, gemetar seperti daun yang ditiup
angin, seperti orang yang kedinginan, seperti orang yang sedang demam.
"Ya Allah…"
Amat bahkan tak bisa bercanda. Mulutnya terbuka, tetapi tidak
ada suara yang keluar. Lidahnya seperti membeku. Pikirannya seperti kosong.
Sementara Guntur hanya bisa menatap, menatap tak percaya,
menatap dengan mata yang terbuka lebar, menatap dengan dada yang naik turun
cepat.
Legenda itu, legenda yang mereka dengar dari Hermansyah di
gardu ronda, legenda yang mereka anggap hanya cerita pengantar tidur, legenda
yang mereka tertawakan karena terlalu absurd untuk dipercaya,
ternyata benar.
Sekar bukan manusia.
Dan Aditya, Aditya yang bodoh, Aditya yang keras kepala, Aditya
yang hatinya terlalu besar, jatuh cinta padanya.
________________________________________
Aditya menggeleng pelan, menggeleng seperti tidak mau
menerima, seperti tidak mau percaya, seperti tidak mau menyerah.
"Kalau aku memilih tinggal?"
Sekar menatapnya terkejut, terkejut seperti mendengar
sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan, terkejut seperti seseorang yang
diberitahu bahwa dunia akan berakhir besok.
"Jangan pernah mengatakan itu."
"Kenapa?"
Sekar menggigit bibirnya, bibir yang pucat, bibir yang
hampir tidak berwarna.
"Karena tempat ini tidak memintamu mati. Tempat ini
memintamu hidup."
Aditya membeku, membeku seperti patung, seperti pohon yang
membeku di musim dingin.
Sekar mengangkat tangan, tangannya yang putih, jemarinya
yang lentik, menyentuh dada Aditya perlahan. Tepat di tempat jantungnya
berdetak.
Jantung Aditya berdetak sangat cepat, cepat seperti burung
kolibri, cepat seperti genderang perang, cepat seperti sesuatu yang akan
meledak.
"Cintamu bukan untuk tinggal di sini. Cintamu untuk dibawa
pulang."
"Aku tidak mau pulang tanpa kamu."
Sekar menutup mata, menutup seperti sedang berdoa, seperti
sedang memohon kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Air matanya jatuh lagi, jatuh lebih banyak kali ini, jatuh
seperti hujan, jatuh seperti air terjun kecil yang tidak bisa dihentikan.
Dan dengan suara paling lirih, paling lembut, paling patah,
paling tidak berdaya yang pernah ia keluarkan dalam ratusan tahun hidupnya, ia
berkata,
"Itulah sebabnya cinta kita tak pernah seharusnya
dimulai."
________________________________________
Kabut tiba-tiba bergerak lebih tebal, bergerak seperti ada
badai yang datang, seperti ada sesuatu yang marah. Angin berembus kencang, kencang
hingga pohon-pohon pinus bergoyang hebat, hingga dedaunan beterbangan, hingga
jaket Aditya berkibar liar.
Air telaga beriak tanpa sebab, beriak seperti ada gempa di
dasar air, seperti ada raksasa yang terbangun.
Sekar mundur selangkah, mundur seperti ditarik oleh
kekuatan yang tidak bisa ia lawan.
Aditya mencoba meraih tangannya, meraih dengan tangan yang
gemetar, dengan jari-jari yang berusaha menggenggam sesuatu yang terus menjauh.
Namun jemarinya hanya menyentuh udara dingin, udara kosong,
udara yang tidak membawa apa-apa.
"Sekar!"
Sekar menatapnya untuk terakhir kali malam itu, menatap
dengan mata yang basah, dengan mata yang penuh cinta, dengan mata yang seperti
sedang mengucapkan selamat tinggal.
Senyumnya sangat lembut, sangat lembut seperti kapas,
seperti sutra, seperti sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
Sangat sedih, sangat sedih seperti lagu perpisahan, seperti
puisi tentang kehilangan, seperti sesuatu yang indah yang tahu bahwa ia akan
segera berakhir.
Dan sangat indah, sangat indah seperti matahari terbit di
Bukit Sikunir, seperti kabut pagi di Telaga Cebong, seperti sesuatu yang
diciptakan oleh Tuhan hanya untuk dilihat sekali seumur hidup.
"Jangan cintai aku terlalu dalam, Aditya. Karena aku
tidak akan pernah bisa ikut pulang."
Lalu tubuhnya perlahan larut ke dalam kabut, larut seperti
gula dalam air, seperti salju yang mencair, seperti mimpi yang memudar saat
bangun tidur.
Menyatu dengan malam.
Menghilang dari dunia manusia.
Meninggalkan Aditya berdiri sendiri di tepi telaga.
Dengan hati yang mulai mengerti, mulai mengerti dengan
sakit yang luar biasa, dengan luka yang tidak bisa diobati, dengan kesadaran
yang menghancurkan,
bahwa cinta paling menyakitkan adalah cinta yang bahkan
sejak awal sudah tahu tak akan pernah bisa bersatu.
Cinta yang lahir dari pertemuan dua dunia yang berbeda.
Cinta yang tumbuh di antara kabut dan air dan senyum yang
terlalu lembut.
Cinta yang harus kandas sebelum sempat berbuah.
________________________________________
Guntur berjalan mendekat perlahan, perlahan seperti orang
yang berjalan di atas kaca, takut retak, takut pecah.
Ia menaruh tangan di bahu sahabatnya, tangan yang hangat,
tangan yang ingin mengatakan aku di sini, kamu tidak sendirian.
Namun Aditya tidak bergerak.
Ia masih menatap kabut di atas air, menatap tempat Sekar
menghilang, menatap kehampaan yang dulu dihuni oleh cintanya.
Dengan mata yang mulai basah, mulai basah seperti tanah
sebelum hujan, seperti daun sebelum embun.
Dan untuk pertama kalinya, bukan hanya hatinya yang jatuh.
Tetapi seluruh hidupnya, seluruh masa depannya, seluruh
mimpinya, seluruh harapannya,
perlahan mulai pecah.
Pecah seperti kaca yang jatuh dari ketinggian.
Pecah seperti telaga yang retak.
Pecah di negeri atas awan itu.
BAB 11 — Cinta yang Kandas di Atas
Awan
Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang.
Bukan karena matahari tidak terbit, matahari tetap terbit
seperti biasa di ufuk timur, bulat dan merah, seperti telur yang baru pecah.
Bukan karena langit tidak berubah warna, langit tetap berubah dari hitam pekat
menjadi biru keabu-abuan, lalu jingga pucat, lalu keemasan.
Namun bagi Aditya, pagi itu terasa seperti malam yang
berkepanjangan. Seperti kegelapan yang tidak pernah benar-benar pergi, seperti
dingin yang tidak pernah benar-benar mencair.
Kabut turun lebih tebal dari biasanya di Desa Sembungan, turun
seperti dinding putih yang dibangun di sekeliling desa, memisahkan mereka dari
seluruh dunia. Rumah-rumah penduduk yang semalam masih tampak samar kini hampir
lenyap ditelan putih, hanya atap-atap seng yang sesekali muncul seperti
pulau-pulau kecil di lautan kabut. Jalan-jalan kecil di antara kebun kentang
terlihat basah oleh embun, basah seperti baru saja menangis, basah seperti
seisi desa ikut merasakan kesedihan yang tidak bisa diucapkan.
Aditya duduk sendiri di bangku kayu depan penginapan, bangku
yang sama yang ia gunakan setiap pagi, bangku yang menghadap ke arah telaga,
bangku yang kini terasa dingin meskipun ia sudah duduk di sana sejak sebelum
matahari terbit.
Matanya merah, bukan merah karena kurang tidur, bukan merah
karena debu atau alergi. Merah seperti orang yang baru saja selesai menangis.
Merah seperti matahari senja. Merah seperti luka yang masih basah.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, untuk pertama
kalinya dalam dua puluh dua tahun, Aditya merasakan bagaimana rasanya mencintai
sesuatu yang bahkan tak bisa ia sentuh sepenuhnya. Mencintai sesuatu yang hadir
hanya di antara kabut dan senja, yang datang tanpa jejak dan pergi tanpa pamit,
yang membuatnya merasa utuh dan hancur pada saat yang bersamaan.
Di tangannya masih tergenggam syal pemberian ibunya, syal
rajut tua berwarna abu-abu kecoklatan, sedikit kusut di beberapa bagian, masih
tercium aroma kapur barus dari lemari kayu di rumahnya. Syal itu hangat. Hangat
seperti pelukan ibunya. Hangat seperti kenangan tentang rumah.
Namun dingin pagi itu tidak berasal dari udara. Dingin pagi
itu berasal dari dalam dada, dari tempat yang dulu hangat oleh cinta, yang kini
kosong seperti ruangan yang ditinggalkan penghuninya.
________________________________________
Amat Junior keluar sambil membawa dua gelas kopi, kopi
tubruk hitam pekat, dengan ampas yang masih mengendap di dasar gelas. Uap panas
naik dari permukaan kopi, membawa aroma pahit yang familiar, aroma yang biasa
menghangatkan pagi-pagi dingin di lereng gunung.
Tanpa banyak bicara, tanpa candaan, tanpa senyum, tanpa
alis naik turun, ia duduk di samping Aditya dan menyodorkan satu gelas.
Aditya menerimanya. Tangannya sedikit gemetar, gemetar
seperti daun yang ditiup angin, gemetar seperti orang yang sedang menahan
sesuatu yang terlalu berat.
Beberapa saat mereka hanya diam. Hanya suara angin dan
kabut yang bergerak. Hanya detak jantung yang berdetak tidak beraturan.
Sampai akhirnya Amat berkata pelan, pelan seperti tidak
ingin mengganggu kesunyian, pelan seperti sedang berbicara kepada dirinya
sendiri.
"Kalau saya bercanda sekarang… mungkin kamu
marah."
Aditya tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke
matanya, senyum yang seperti luka yang tertutup perban.
"Mungkin."
Amat mengangguk, anggukan yang lambat, anggukan yang
seperti mengiyakan sesuatu yang berat.
"Ya sudah. Hari ini saya serius."
Aditya melirik, melirik sekilas, melirik dengan mata yang
masih merah.
"Tumben."
Amat menarik napas panjang, napas yang seperti menarik
udara dari tempat yang sangat dalam, napas yang seperti mempersiapkan diri
untuk mengatakan sesuatu yang sulit.
"Dit… nggak semua yang indah itu ditakdirkan buat
kita."
Kalimat sederhana itu, kalimat yang mungkin sudah pernah ia
dengar ratusan kali dari orang tuanya, dari guru-gurunya, dari tetua di
desanya, justru terasa lebih berat daripada nasihat panjang mana pun. Lebih
berat seperti batu yang diletakkan di atas dada. Lebih berat seperti kata-kata
yang tidak ingin didengar tetapi harus diterima.
Aditya menatap kabut di depan mereka, kabut yang bergerak
perlahan, kabut yang seperti tirai yang tidak pernah terbuka sepenuhnya.
"Masalahnya… aku tidak pernah merasa seperti ini
sebelumnya."
Amat menepuk bahunya pelan, tepukan yang hangat, tepukan
yang seperti mengatakan aku di sini, aku mengerti, kamu tidak sendirian.
"Justru itu yang bikin berat."
________________________________________
Tak lama kemudian Guntur dan Jojon ikut keluar, keluar
dengan langkah yang pelan, dengan wajah yang masih mengantuk tetapi mata yang
sudah sadar, dengan hati yang berat meskipun pagi baru saja dimulai.
Mereka berempat duduk diam menghadap kabut, duduk berjejer
di bangku kayu yang sempit, bahu-membahu seperti burung yang bertengger di
kawat listrik, menunggu hujan reda.
Seperti empat orang yang sedang menunggu sesuatu, sesuatu
yang tidak akan datang, sesuatu yang sudah pergi, sesuatu yang tidak bisa
dikejar.
Jojon yang biasanya paling takut, yang biasanya paling
cepat panik, yang biasanya paling ingin pulang, justru bicara lebih dulu.
Suaranya pelan, sedikit serak, seperti orang yang baru saja bangun tidur tetapi
pikirannya sudah terjaga sejak lama.
"Kalau boleh jujur…"
Semua menoleh, Amat, Guntur, bahkan Aditya.
Jojon menelan ludah, menelan seperti ada yang mengganjal di
tenggorokannya.
"Saya kasihan sama kalian berdua."
Aditya mengernyit, bingung, tidak mengerti.
"Kalian berdua?"
Jojon mengangguk pelan, anggukan yang lambat, anggukan yang
seperti mengiyakan sesuatu yang berat.
"Kamu dan dia."
Guntur menatap Jojon, menatap dengan mata yang tajam,
dengan mata yang seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat.
"Kamu juga merasakannya?"
Jojon menatap telaga di kejauhan, telaga yang tertutup
kabut, telaga yang tenang, telaga yang menyimpan rahasia yang tidak akan pernah
diceritakan kepada siapa pun.
"Waktu dia lihat Aditya semalam… itu bukan tatapan
makhluk yang mau mencelakai."
Ia berhenti sejenak, berhenti seperti sedang mengumpulkan
kata-kata, seperti sedang mencari cara untuk mengatakan sesuatu yang sulit.
"Tatapan itu… tatapan orang yang sedang kehilangan.
Tatapan orang yang tahu bahwa apa yang ia cintai tidak akan pernah bisa ia
miliki."
Amat ikut diam. Jojon yang biasanya penakut, yang biasanya
hanya diam dan mengangguk, tiba-tiba berbicara seperti seorang filsuf. Seperti
seseorang yang telah melihat terlalu banyak kesedihan dalam hidupnya.
Karena untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya sejak
perjalanan ini dimulai, mereka semua menyadari sesuatu yang sama, sesuatu yang
selama ini coba mereka abaikan, sesuatu yang selama ini coba mereka lupakan,
sesuatu yang selama ini coba mereka sangkal.
Sekar mungkin bukan manusia. Sekar mungkin penjaga telaga.
Sekar mungkin makhluk dari dunia yang berbeda.
Tetapi rasa yang ia simpan, rasa yang ia coba sembunyikan
di balik senyum lembut, di balik mata yang dalam, di balik kabut yang selalu
menyelimutinya,
rasa itu terlihat sangat manusia.
Sangat nyata.
Sangat menyakitkan.
Dan justru itu, justru kemanusiaan dalam makhluk yang bukan
manusia, justru cinta dalam hati yang mungkin tidak seharusnya memiliki hati, yang
membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan.
________________________________________
Siang itu, desa kembali ramai, ramai seperti biasanya,
ramai seperti tidak terjadi apa-apa. Wisatawan berdatangan seperti biasa, rombongan
demi rombongan turun dari bus, dengan kamera dan topi dan kacamata hitam.
Anak-anak kecil berlari di dekat warung, berlarian dengan sandal jepit yang
bunyinya cetak-cetak, mengejar bola plastik yang bergulung ke
mana-mana. Pedagang menawarkan jagung bakar dan mie ongklok dan teh purwaceng
hangat dengan suara yang lantang dan ramah.
Suara tawa memenuhi jalan-jalan sempit, tawa yang riang,
tawa yang bebas, tawa orang-orang yang sedang berlibur dan tidak memikirkan
apa-apa selain menikmati waktu.
Namun bagi Aditya, keramaian justru terasa seperti suara
yang sangat jauh, seperti suara dari dunia lain, seperti suara yang tidak bisa
ia jangkau, seperti suara yang hanya membuatnya merasa lebih sendirian.
Ia berjalan sendiri menyusuri desa, berjalan tanpa tujuan,
tanpa arah, hanya berjalan karena tidak bisa diam di penginapan, hanya berjalan
karena duduk diam membuatnya terus mengingat.
Beberapa warga menyapanya, menyapa seperti sudah
mengenalnya lama, seperti sudah menganggapnya bagian dari desa.
Seorang nenek penjual carica, perempuan tua dengan kerudung
putih, wajah keriput, gigi yang tinggal beberapa, tersenyum dari balik meja
kayunya yang sederhana.
"Mas dari kemarin sering ke telaga ya?"
Aditya tersenyum hambar, senyum yang dipaksakan, senyum
yang tidak sampai ke matanya.
"Kelihatan ya, Bu?"
Nenek itu memandang wajahnya lama, sangat lama, dengan mata
yang sayu, dengan mata yang seperti sudah melihat terlalu banyak hal dalam
hidupnya.
Lalu berkata pelan, sangat pelan, seperti sedang berbicara
kepada cucunya sendiri.
"Kadang tempat tertentu memang bisa mengambil hati
orang."
Aditya tersenyum hambar lagi, senyum yang sama, senyum yang
tidak bisa menyembunyikan apa pun.
"Kalau hatinya tidak bisa diambil kembali?"
Nenek itu tersenyum samar, senyum yang tua, senyum yang
bijak, senyum yang seperti mengatakan aku tahu apa yang kau rasakan.
"Berarti hati itu memang bukan untuk dibawa
pulang."
Aditya terdiam. Rasanya seolah seluruh desa, seolah setiap
orang yang ia temui, setiap kata yang ia dengar, setiap senyum yang ia lihat, mengetahui
sesuatu yang belum siap ia terima.
________________________________________
Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke barat dan
langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan, Aditya kembali ke Telaga
Cebong.
Sendirian.
Ia tidak memberitahu siapa pun. Tidak membangunkan Amat
yang sedang tidur siang dengan mulut terbuka. Tidak membangunkan Jojon yang
sedang membantu Mbah Laras di dapur. Tidak membangunkan Guntur yang sedang
membaca buku di teras.
Ia hanya berdiri, mengambil jaket, dan berjalan.
Langit pucat, pucat seperti wajah Sekar, pucat seperti
kabut pagi, pucat seperti sesuatu yang kehilangan warnanya. Kabut turun
perlahan, turun seperti air terjun putih yang bergerak lambat, seperti tirai
yang ditutup di akhir pertunjukan. Air telaga diam seperti cermin, diam seperti
tidak pernah bergerak, diam seperti menunggu sesuatu, diam seperti tahu bahwa
ia sedang ditunggu.
Ia berdiri di tempat biasa, di tepi telaga, di dekat batu
besar tempat mereka duduk kemarin, di tempat yang sudah ia anggap sebagai tempat
mereka.
Menunggu.
Lama. Sangat lama.
Sampai matahari hampir tenggelam, sampai langit berubah
menjadi ungu, sampai kabut semakin tebal, sampai ia hampir menyerah.
Sampai akhirnya suara lembut itu datang dari belakang, suara
yang sama, suara yang selalu ia rindukan, suara yang seperti bisikan angin,
seperti desir daun kering, seperti suara yang berasal dari tempat yang sangat
jauh.
"Kau keras kepala."
Aditya menutup mata sesaat, menutup seperti sedang berdoa,
seperti sedang bersyukur, seperti sedang mengucap terima kasih kepada Tuhan
karena ia masih diberi kesempatan untuk mendengar suara itu sekali lagi.
Lalu berbalik.
Sekar berdiri di sana, berdiri di antara kabut sore, di
antara ilalang yang bergoyang, di antara cahaya jingga yang semakin memudar.
Hari itu wajahnya lebih sendu dari biasanya, lebih pucat,
lebih rapuh, lebih seperti sesuatu yang akan pecah jika disentuh. Matanya lebih
dalam, lebih gelap, lebih menyimpan rahasia yang tidak ingin ia ceritakan.
Dan justru karena itu, justru karena kesenduan itu, justru
karena kerapuhan itu, justru karena rahasia yang tidak bisa ia ceritakan itu, ia
terlihat lebih indah. Indah seperti bunga yang mekar di tengah malam, indah
seperti bintang jatuh yang tidak pernah menyentuh tanah, indah seperti sesuatu
yang diciptakan hanya untuk dilihat sekali seumur hidup.
Aditya menatapnya lama, sangat lama, seperti ingin
menghafal setiap detail wajahnya, seperti ingin menyimpannya di dalam memori
yang tidak akan pernah bisa dihapus.
"Kamu tahu aku akan datang."
Sekar mengangguk, anggukan yang pelan, anggukan yang
seperti pasrah.
"Aku berharap kau tidak."
Aditya tertawa pahit, tawa yang pendek, tawa yang tidak
mengandung kebahagiaan, tawa yang seperti air mata yang keluar dari mulut.
"Kamu selalu bilang begitu. Tapi kamu tetap
datang."
Sekar terdiam.
Karena kali ini, ia tak punya jawaban.
Karena kali ini, ia tahu Aditya benar.
________________________________________
Aditya melangkah mendekat, mendekat dengan langkah yang
mantap, dengan hati yang bulat, dengan tekad yang tidak bisa digoyahkan oleh
apa pun.
"Aku cuma mau satu jawaban."
Sekar memandangnya, memandang dengan mata yang lembut,
dengan mata yang seperti sedang mempersiapkan diri untuk pukulan.
"Apa?"
Aditya menatap matanya, menatap dalam-dalam, menatap ke
dalam jiwa yang mungkin tidak memiliki jiwa, menatap ke dalam hati yang mungkin
tidak seharusnya memiliki hati.
"Apa kamu juga merasakan hal yang sama?"
Angin berhenti. Kabut seolah ikut diam. Air telaga berhenti
beriak. Burung-burung berhenti berkicau. Seluruh dunia seolah berhenti
bernapas, menunggu jawaban yang akan mengubah segalanya.
Sekar menatap mata Aditya sangat lama, sangat lama, seperti
sedang membaca seluruh hidupnya di sana, seperti sedang melihat masa lalu dan
masa depan dalam satu tatapan.
Dan dalam tatapan itu, dalam diam yang panjang itu, dalam
hening yang nyaris tak tertahankan itu, Aditya akhirnya melihat semuanya.
Kesepian. Kesepian yang begitu dalam, begitu tua, begitu
berat, seperti samudra yang tidak pernah melihat cahaya matahari.
Kerinduan. Kerinduan yang tidak pernah bisa ia penuhi,
kerinduan yang seperti pohon yang tumbuh di tanah kering, berusaha hidup
meskipun tidak mendapat air.
Takut. Takut yang begitu besar, takut akan sesuatu yang
tidak bisa ia kendalikan, takut akan cinta yang mungkin akan menghancurkannya.
Dan cinta. Cinta yang selama ini berusaha disembunyikan, di
balik senyum lembut, di balik mata yang dalam, di balik kabut yang selalu
menyelimutinya. Cinta yang tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Cinta yang
mustahil. Cinta yang menyakitkan.
Air mata Sekar perlahan jatuh, jatuh seperti hujan, jatuh
seperti air terjun kecil yang tidak bisa dihentikan, jatuh seperti sesuatu yang
selama ini ditahan dan kini tidak bisa ditahan lagi.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menghindar lagi. Untuk
pertama kalinya, ia tidak menyembunyikan apa pun. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan
Aditya melihat semuanya, kekacauan di dalam hatinya, luka yang tidak pernah
sembuh, cinta yang selama ini ia sangkal.
"Iya."
Satu kata. Sangat pelan. Hampir tidak terdengar. Seperti
bisikan yang hanya bisa didengar oleh orang yang paling dekat.
Namun cukup, lebih dari cukup, untuk menghancurkan seluruh
pertahanan Aditya. Untuk membuat jendela-jendela yang selama ini ia jaga ketat
terbuka lebar. Untuk membuat air mata yang selama ini ia tahan jatuh tanpa bisa
dicegah.
________________________________________
"Aku mencintaimu."
Kalimat itu akhirnya keluar dari bibir Aditya, keluar
dengan suara yang bergetar, dengan mata yang basah, dengan hati yang terbuka
lebar.
Jujur. Lurus. Tanpa sisa. Tanpa syarat. Tanpa takut.
Sekar menutup matanya, menutup seperti sedang menahan
sesuatu, seperti sedang mengumpulkan kekuatan, seperti sedang berdoa kepada
Tuhan yang mungkin tidak mendengar doanya.
Seolah kalimat itu adalah sesuatu yang selama ini ingin ia
dengar, sesuatu yang ia nantikan sejak pertama kali ia melihat Aditya di tepi
telaga itu, sesuatu yang ia takutkan sejak pertama kali ia merasakan hatinya
berdetak untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun.
"Jangan."
"Kenapa?"
Sekar membuka mata, membuka dengan mata yang basah, dengan
mata yang merah, dengan mata yang seperti kaca yang retak.
"Karena aku juga mulai mencintaimu."
Kalimat itu, kalimat yang keluar dari mulut Sekar dengan
suara yang patah, dengan air mata yang jatuh, dengan seluruh tubuh yang
gemetar, membuat dunia seperti berhenti. Membuat waktu berhenti. Membuat
segalanya berhenti.
Dan justru karena itulah, justru karena cinta itu saling
bertemu, justru karena dua hati yang berbeda dunia ini saling mencintai, semuanya
terasa semakin mustahil. Semakin berat. Semakin menyakitkan.
________________________________________
Aditya mengangkat tangannya perlahan, perlahan seperti
takut merusak sesuatu yang rapuh, seperti takut mengusir sesuatu yang indah.
Kali ini, Sekar tidak menghindar.
Kali ini, ia membiarkan jemari Aditya menyentuh pipinya, pipi
yang dingin, pipi yang seperti es, pipi yang tidak pernah merasakan hangatnya
sentuhan manusia selama ratusan tahun.
Jemari mereka saling bertemu, bertemu di udara dingin,
bertemu di antara kabut yang bergerak, bertemu di antara dua dunia yang tidak
seharusnya bersentuhan.
Dingin. Lembut. Rapuh.
Namun cukup nyata, cukup nyata untuk membuat air mata jatuh
dari mata Aditya, cukup nyata untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat,
cukup nyata untuk membuatnya percaya bahwa cinta ini nyata meskipun segalanya
mustahil.
"Kalau kita saling mencintai… kenapa kita harus
berpisah?"
Sekar menggigit bibirnya menahan tangis, bibir yang pucat,
bibir yang hampir tidak berwarna, bibir yang gemetar seperti daun yang ditiup
angin.
"Karena cinta tidak selalu berarti memiliki."
Aditya menggeleng, menggeleng kuat, menggeleng seperti
tidak mau menerima, menggeleng seperti anak kecil yang mendengar kata tidak untuk
pertama kalinya.
"Itu kalimat paling menyakitkan yang pernah aku
dengar."
Sekar tersenyum sedih, senyum yang indah tetapi
menyakitkan, senyum seperti bunga yang mekar di tengah badai, senyum seperti
cahaya yang muncul di tengah kegelapan sebelum padam selamanya.
"Dan itu satu-satunya kebenaran yang kupunya."
________________________________________
Di kejauhan, Guntur, Amat, dan Jojon melihat dari balik pepohonan,
melihat dari kejauhan, tidak berani mendekat, tidak berani mengganggu.
Tak satu pun mendekat. Tak satu pun berteriak. Tak satu pun
memanggil nama Aditya.
Karena mereka tahu, karena mereka sudah cukup dewasa, sudah
cukup bijak, sudah cukup melihat penderitaan dalam hidup mereka, bahwa beberapa
rasa sakit harus dihadapi sendiri.
Beberapa luka tidak bisa diobati oleh teman. Beberapa air
mata tidak bisa dihapus oleh candaan. Beberapa kehilangan harus dirasakan sendirian,
di tepi telaga, di bawah kabut, di antara dua dunia yang tidak bisa bersatu.
Amat menunduk, menundukkan kepalanya, menyembunyikan
matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Saya nggak nyangka bisa sesedih ini."
Jojon mengusap matanya, mengusap dengan punggung tangan,
mengusap seperti orang yang sedang menyembunyikan tangisan.
"Saya ikut mau nangis."
Guntur hanya diam. Ia berdiri tegak, tangannya di saku
jaket, matanya menatap ke arah Aditya dan Sekar.
Karena kini ia tahu, karena kini ia akhirnya mengerti, yang
paling tragis bukan ketika manusia jatuh cinta pada sesuatu yang gaib. Bukan
ketika seseorang mencintai makhluk yang tidak bisa ia sentuh, tidak bisa ia
bawa pulang, tidak bisa ia miliki.
Yang paling tragis adalah ketika cinta itu ternyata saling.
Ketika dua hati, dari dua dunia yang berbeda, dari dua takdir yang bertolak
belakang, saling mencintai dengan segenap keberadaan mereka, tetapi tidak bisa
bersatu.
Itulah tragedi sejati.
________________________________________
Sekar perlahan melepaskan tangannya, melepaskan jemarinya
dari genggaman Aditya, melepaskan dengan lembut, dengan perlahan, dengan berat.
"Besok pagi…"
Ia menatap langit yang mulai gelap, langit tanpa bintang,
tanpa bulan, hanya kabut tebal yang menutupi segalanya.
"Aku harus pergi."
Aditya membeku, membeku seperti patung, seperti pohon yang
membeku di musim dingin, seperti sesuatu yang berhenti hidup.
"Pergi ke mana?"
Sekar tersenyum pilu, senyum yang pahit, senyum seperti
obat yang tidak manis, senyum seperti perpisahan yang tidak ingin diucapkan.
"Ke tempat di mana kau tak bisa ikut."
Aditya menahan napas, menahan seperti sedang menahan
tangis, seperti sedang menahan sesuatu yang akan pecah jika tidak ditahan.
"Jangan."
Sekar menggeleng pelan, gelengan yang lambat, gelengan yang
seperti mengatakan aku tidak punya pilihan.
"Ini sudah terlalu jauh."
Air mata Aditya jatuh tanpa bisa dicegah, jatuh seperti
hujan, jatuh seperti air terjun, jatuh seperti sesuatu yang selama ini ia tahan
dan kini tidak bisa ia tahan lagi.
"Sekali saja… minta aku berhenti mencintaimu."
Sekar ikut menangis, menangis dengan suara yang tertahan,
dengan bahu yang bergetar, dengan seluruh tubuh yang gemetar seperti daun yang
akan jatuh.
Lalu dengan suara yang patah, suara yang seperti kaca yang
retak, suara yang seperti sesuatu yang hancur, ia berkata,
"Kalau aku bisa… aku sudah melakukannya sejak pertama
kali melihatmu."
Dan kalimat itu, kalimat yang keluar dari mulut Sekar
dengan air mata yang mengalir deras, dengan suara yang nyaris tidak terdengar,
dengan hati yang hancur berkeping-keping,
menghancurkan Aditya sepenuhnya.
________________________________________
Kabut turun lebih tebal, turun seperti dinding yang
dibangun di sekeliling mereka, memisahkan mereka dari dunia, memisahkan mereka
dari waktu.
Sekar mundur perlahan, mundur seperti ditarik oleh kekuatan
yang tidak bisa ia lawan, mundur seperti arus sungai yang membawanya pergi,
mundur seperti takdir yang tidak bisa ia tolak.
Matanya tak lepas dari Aditya, matanya yang basah, matanya
yang merah, matanya yang seperti sedang mengucapkan selamat tinggal untuk yang
terakhir kalinya.
Seolah ia juga tidak ingin pergi. Seolah ia juga ingin
berlari ke arah Aditya dan tidak pernah pergi. Seolah ia juga ingin berteriak
bahwa ia akan melawan takdir, bahwa ia akan mengabaikan aturan, bahwa ia akan
memilih cinta meskipun harus hancur.
Namun beberapa takdir, beberapa aturan, beberapa batasan
antara dunia, tetap berjalan meski dua hati memintanya berhenti.
"Besok saat matahari terbit," bisik Sekar, bisikan yang begitu pelan, begitu
lembut, begitu rapuh, "datanglah ke Bukit Sikunir."
Aditya menatapnya dengan mata basah, mata yang sudah tidak
bisa lagi menahan air mata, mata yang sudah menyerah pada kesedihan.
"Kenapa?"
Sekar tersenyum dengan luka yang indah, senyum yang seperti
cahaya terakhir sebelum padam, senyum yang seperti napas terakhir sebelum mati,
senyum yang akan dikenang oleh Aditya seumur hidupnya.
"Karena ada perpisahan… yang hanya pantas disaksikan
oleh langit."
Lalu seperti biasa, seperti yang selalu terjadi, seperti
yang selalu ia takutkan, kabut menelan tubuhnya perlahan. Menelan gaun
putihnya, menelan rambut panjangnya, menelan senyumnya, menelan matanya yang
basah.
Meninggalkan Aditya sendiri di tepi telaga.
Dengan cinta yang akhirnya terucap, terucap dengan jujur,
dengan tulus, dengan seluruh hati.
Dan justru karena itu—justru karena cinta itu sudah
terucap, sudah diakui, sudah tidak bisa ditarik kembali,
cinta itu mulai benar-benar kandas.
Kandas di negeri atas awan.
Kandas di tepi telaga yang sunyi.
Kandas di antara kabut yang tidak pernah berhenti turun.
________________________________________
BAB 12 — Perpisahan di Puncak Matahari
Malam setelah pertemuan itu, malam setelah kata aku
mencintaimu terucap untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya, menjadi
malam terpanjang dalam hidup Aditya.
Ia tidak tidur.
Bukan karena tidak bisa. Bukan karena dingin yang menusuk,
bukan karena angin yang bertiup kencang, bukan karena suara-suara aneh di luar
jendela.
Tetapi karena ia tahu, ia tahu dengan kepastian yang tidak
bisa ia pungkiri, ia tahu dengan keyakinan yang tidak bisa ia goyahkan, jika ia
memejamkan mata, waktu akan berjalan lebih cepat menuju pagi.
Dan pagi kali ini, pagi yang akan datang dengan matahari
terbit di Bukit Sikunir, pagi yang akan membawa Sekar pergi untuk selamanya, adalah
sesuatu yang paling ingin ia hindari dalam hidupnya.
Di luar jendela penginapan, di luar kaca yang buram oleh
embun, di luar kabut yang terus bergerak, kabut terus bergerak pelan di antara
rumah-rumah warga Desa Sembungan. Bergerak seperti makhluk hidup yang tidak
bisa tidur, bergerak seperti jiwa-jiwa yang tidak bisa tenang, bergerak seperti
waktu yang tidak bisa berhenti.
Lampu-lampu kecil di kejauhan berpendar samar, kuning,
redup, berkedip-kedip seperti bintang yang jatuh ke bumi, seperti kunang-kunang
yang tersesat di lereng gunung. Sesekali terdengar suara wisatawan yang baru
pulang dari warung, tawa yang riang, tawa yang bebas, tawa orang-orang yang
tidak tahu bahwa di suatu tempat, seseorang sedang mempersiapkan diri untuk kehilangan.
Suara langkah kaki penduduk yang menutup pintu rumah mereka
sebelum dingin semakin tajam, kletak, kletak, satu per satu,
seperti detak jantung yang semakin lambat menjelang kematian.
Namun di dalam kamar kecil itu, kamar kayu dengan dinding
yang berderit setiap kali angin bertiup, dengan jendela yang tidak bisa ditutup
rapat sehingga dingin selalu bisa masuk, hanya ada sunyi.
Sunyi yang terlalu penuh oleh rasa.
Sunyi yang tidak bisa diisi oleh kata-kata.
Sunyi yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah
kehilangan.
Amat Junior pura-pura tidur, memejamkan mata tetapi
napasnya tidak teratur, sesekali membuka mata sedikit untuk memastikan Aditya
masih di sana. Jojon benar-benar tidak bisa tidur, berguling-guling di ranjang
sempit, menarik selimut ke atas lalu mendorongnya ke bawah lagi, seperti orang
yang sedang demam. Dan Guntur hanya memandang langit-langit kamar, memandang
retakan-retakan kayu di atas sana, memandang bayangan lampu yang bergoyang,
memandang kegelapan yang tidak pernah benar-benar gelap.
Tak satu pun dari mereka tahu harus berkata apa.
Karena kadang, rasa sakit terbesar bukan datang dari
kehilangan itu sendiri. Bukan dari perpisahan, bukan dari air mata, bukan dari
kenangan yang tidak bisa dilupakan.
Tetapi dari melihat seseorang, seseorang yang kita cintai,
seseorang yang kita sayangi, seseorang yang sudah kita anggap sebagai keluarga,
yang tak bisa kita selamatkan dari hatinya sendiri.
Yang tak bisa kita lindungi dari luka yang akan datang.
Yang tak bisa kita tolong meskipun kita ingin sekali.
________________________________________
Sekitar pukul empat pagi, ketika langit masih gelap pekat,
ketika bintang-bintang masih bersinar di kejauhan, ketika kabut paling tebal
dan udara paling dingin, Aditya berdiri perlahan.
Ia berdiri dari ranjangnya dengan gerakan yang pelan,
seperti orang yang takut membangunkan siapa pun, seperti orang yang ingin pergi
tanpa ada yang tahu.
Ia mengenakan jaketnya, jaket tebal pemberian ayahnya, yang
sedikit kebesaran, yang sudah pudar warnanya. Ia mengambil syal pemberian
ibunya, syal rajut tua berwarna abu-abu kecoklatan, yang masih tercium aroma
kapur barus. Ia memakai sepatu gunungnya, sepatu yang sudah usang, dengan sol
yang mulai tipis di beberapa bagian.
Tanpa bicara.
Namun sebelum ia membuka pintu, sebelum tangannya menyentuh
kenop pintu kayu yang dingin, suara Guntur terdengar dari belakang.
Suara yang tenang. Suara yang tidak terkejut. Suara yang
sudah menduga bahwa ini akan terjadi.
"Kami ikut."
Aditya menoleh, menoleh dengan mata yang merah, dengan
wajah yang pucat, dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan.
Amat sudah duduk, duduk di ranjangnya dengan rambut
acak-acakan, dengan kupluk merah marun yang sudah ia kenakan, dengan mata yang
masih mengantuk tetapi tekad yang sudah bulat.
Jojon masih setengah gemetar, tangannya memegang jaket
dengan gemetar, bibirnya sedikit menggigil, matanya menunjukkan ketakutan yang
nyata. Namun ia tetap berdiri.
Guntur berdiri paling belakang, berdiri dengan tenang,
dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun, tetapi matanya, matanya mengatakan
bahwa ia tidak akan membiarkan Aditya pergi sendirian.
"Aku mau sendiri," kata Aditya lirih, lirih
seperti orang yang tidak ingin didengar, lirih seperti orang yang sedang
memohon.
Guntur menggeleng, menggeleng pelan tetapi tegas.
"Tidak untuk yang ini."
Amat menepuk bahu Aditya, tepukan yang hangat, tepukan yang
seperti mengatakan kita bersamamu.
"Kalau patah hati, minimal jangan sendirian."
Jojon mengangguk, mengangguk cepat, seperti burung yang
mematuk makanan.
"Walaupun saya sebenarnya takut. Sangat takut. Tapi
saya tetap ikut."
Untuk pertama kalinya sejak semalam, sejak kata-kata perpisahan
itu terucap di tepi telaga, Aditya tersenyum kecil. Senyum yang kecil, senyum
yang rapuh, senyum yang seperti cahaya di tengah kegelapan.
Karena di tengah semua luka itu, di tengah semua kesedihan
yang hampir menghancurkannya, di tengah semua air mata yang tidak bisa ia tahan
lagi, ia sadar satu hal:
beberapa orang datang sebagai cinta. Cinta yang membuat
jantung berdebar, cinta yang membuat dunia terasa indah, cinta yang membuat
hidup terasa berarti.
Dan beberapa lainnya tetap tinggal sebagai rumah. Rumah
yang tidak pernah pergi, rumah yang selalu menerima, rumah yang menjadi tempat
pulang ketika cinta menghancurkan segalanya.
________________________________________
Mereka berjalan menuju Bukit Sikunir dalam gelap, gelap
yang pekat, gelap yang seperti beludru hitam yang direntangkan di atas langit,
gelap yang hanya diterangi oleh senter-senter kecil dari wisatawan lain yang
juga ingin melihat matahari terbit.
Lampu-lampu kecil dari senter wisatawan terlihat berkelip di
jalur pendakian, kelip seperti kunang-kunang, seperti bintang yang jatuh ke
bumi, seperti harapan-harapan kecil yang berusaha bertahan di tengah kegelapan.
Suara langkah kaki, kresek, kresek, kresek,
di atas batu-batu andesit yang licin oleh embun, di atas tanah yang basah oleh
air malam.
Suara napas, terengah-engah karena tanjakan, karena udara
tipis, karena dingin yang menusuk paru-paru.
Suara angin dingin yang menuruni bukit, wisss, wisss, wisss,
membawa aroma tanah basah dan daun-daun pinus.
Beberapa wisatawan dari kota berjalan di depan mereka, berjalan
cepat, bersemangat, seperti tidak sabar untuk melihat keindahan yang sudah
mereka dengar dari cerita orang lain.
"Cepat, nanti sunrise-nya kelewatan!"
"Foto di atas pasti keren banget!"
"Dieng memang luar biasa ya!"
Dunia tetap berjalan seperti biasa. Orang-orang tetap
tertawa. Tetap berfoto. Tetap mengejar keindahan. Tetap hidup seolah tidak ada
yang salah.
Tak seorang pun tahu, tak seorang pun dari mereka, tak
seorang pun dari wisatawan yang berjalan di depan atau di belakang, bahwa di
antara keramaian itu, ada seseorang yang sedang berjalan menuju perpisahan
paling sunyi dalam hidupnya.
Perpisahan yang tidak akan pernah ia ceritakan kepada siapa
pun.
Perpisahan yang akan ia bawa pulang ke lereng Sumbing dan
ia simpan di dalam dadanya sampai kapan pun.
________________________________________
Ketika mereka sampai di puncak, langit masih gelap
kebiruan, biru tua seperti samudra di kedalaman paling bawah, biru seperti
langit sebelum fajar, biru seperti sesuatu yang menunggu untuk terbit.
Orang-orang mulai berkumpul, berkumpul di tepi-tepi tebing,
di batu-batu besar, di gardu pandang kayu yang sederhana. Beberapa memasang
tripod, mengatur kamera, mempersiapkan diri untuk menangkap momen sempurna.
Beberapa saling berpelukan mengusir dingin, berpelukan dengan pasangan, dengan
teman, dengan keluarga. Beberapa hanya berdiri diam, menatap ke arah timur,
menunggu.
Pedagang kopi kecil menawarkan minuman hangat dari gerobak
dorongnya, kopi tubruk, teh jahe, susu jahe, dengan uap panas yang mengepul di
udara dingin.
"Teh panas, Mas?"
"Kopi purwaceng, hangatkan badan!"
Amat hampir refleks membeli, refleks seperti biasanya,
refleks yang sudah menjadi kebiasaan, refleks yang mengatakan kopi
adalah solusi untuk segalanya.
Namun Guntur menahannya pelan, tangan Guntur menyentuh
lengan Amat, menahan, mencegah.
Karena mereka semua tahu, karena mereka semua sudah paham
tanpa perlu dikatakan, pagi ini bukan tentang wisata. Pagi ini bukan tentang
foto. Pagi ini bukan tentang menikmati sunrise.
Pagi ini tentang sesuatu yang jauh lebih rapuh.
Pagi ini tentang perpisahan.
________________________________________
Aditya berdiri di pinggir bukit, di tempat yang paling
ujung, di batu yang menjorok ke luar, di tempat yang memberikan pemandangan
terluas lautan awan di bawahnya.
Ia memandang lautan awan yang membentang di bawah, putih,
bergelombang, bergerak perlahan seperti samudra yang tidak pernah tenang.
Puncak-puncak gunung, Merbabu, Merapi, Sindoro, muncul seperti pulau-pulau di
tengah lautan putih, terapung-apung seolah tidak terikat oleh gravitasi.
Angin dingin menerpa wajahnya, dingin yang tajam, dingin
yang seperti pisau kecil yang menyayat kulit, dingin yang membuat matanya
perih.
Namun yang membuat tubuhnya gemetar, yang membuat tangannya
bergetar, yang membuat bibirnya menggigil, yang membuat jantungnya berdebar
tidak beraturan, bukan udara.
Bukan angin.
Bukan dingin.
Melainkan perasaan bahwa setelah matahari terbit, setelah
cahaya keemasan itu menyentuh puncak bukit, setelah kabut perlahan terangkat, setelah
dunia kembali terang,
hidupnya tak akan pernah sama lagi.
________________________________________
"Aditya."
Suara itu datang begitu lembut, lembut seperti kapas,
lembut seperti sutra, lembut seperti sesuatu yang tidak ingin melukai siapa
pun.
Namun di tengah ramai manusia di tengah puluhan wisatawan
yang berbicara, tertawa, berbisik, hanya Aditya yang langsung menoleh.
Hanya Aditya.
Seolah telinganya sudah terlatih untuk mendengar suara itu,
seolah hatinya sudah terprogram untuk merespons, seolah ia dan Sekar terhubung
oleh benang tak terlihat yang tidak bisa diputus oleh jarak atau kebisingan.
Sekar berdiri beberapa langkah di belakangnya, berdiri di
antara kabut pagi yang masih tebal, di antara ilalang yang bergoyang, di antara
cahaya fajar yang mulai memerah.
Hari itu ia mengenakan gaun putih sederhana, sederhana
seperti biasanya, putih seperti kabut, putih seperti salju, putih seperti sesuatu
yang akan segera pergi. Rambut panjangnya tergerai tertiup angina, bergerak
seperti rumput laut, seperti tarian yang tidak bersuara, seperti sesuatu yang
indah tetapi menyedihkan.
Wajahnya pucat, lebih pucat dari biasanya, pucat seperti
bulan, pucat seperti kertas, pucat seperti sesuatu yang kehabisan warna.
Namun begitu indah, sangat indah, hingga seluruh cahaya
pagi terasa redup di sampingnya. Hingga matahari yang akan terbit terasa
seperti lampu kecil di samping bulan purnama.
Tak seorang pun wisatawan menoleh. Tak seorang pun
menyadari kehadirannya. Tak seorang pun melihat gaun putih yang berkibar,
rambut panjang yang bergerak, wajah pucat yang bercahaya.
Hanya Aditya.
Hanya dia.
________________________________________
Aditya mendekat perlahan, perlahan seperti berjalan di atas
kaca, takut retak, takut pecah, takut semuanya hancur jika ia bergerak terlalu
cepat.
Mereka berdiri sangat dekat, sangat dekat, hanya sejengkal,
hanya sejauh napas yang terembus, hanya sejauh tangan yang terulur.
Begitu dekat hingga napas dingin mereka saling bertemu, napas
Aditya yang hangat, napas Sekar yang dingin, bercampur di udara pagi seperti
dua dunia yang bersentuhan untuk terakhir kalinya.
"Aku datang," bisik Aditya, bisikan yang pelan,
bisikan yang seperti doa, bisikan yang seperti harapan terakhir.
Sekar tersenyum pilu, senyum yang indah tetapi menyakitkan,
senyum seperti bunga yang mekar di tengah badai, senyum seperti cahaya yang
muncul di tengah kegelapan sebelum padam selamanya.
"Aku tahu."
"Mengapa harus di sini?"
Sekar memandang cakrawala, memandang ke arah timur, ke arah
matahari yang akan segera terbit, ke arah lautan awan yang mulai berubah warna
dari putih menjadi emas.
"Karena tidak ada tempat yang lebih indah untuk
mengucapkan selamat tinggal."
Kalimat itu, kalimat yang keluar dari mulut Sekar dengan
suara yang lembut, dengan senyum yang rapuh, membuat dada Aditya seperti
diremas pelan. Diremas oleh tangan tak terlihat, tangan yang tidak bisa ia
lawan, tangan yang terbuat dari takdir dan kenyataan dan semua hal yang tidak
bisa ia ubah.
Ia menggeleng, menggeleng seperti anak kecil yang tidak mau
mendengar kabar buruk, menggeleng seperti orang yang sedang berusaha menolak
kenyataan.
"Jangan."
Sekar menatapnya, menatap dengan mata yang lembut, dengan
mata yang basah, dengan mata yang seperti sedang mengucapkan selamat tinggal
untuk yang terakhir kalinya.
"Aditya… dengarkan aku."
"Aku tidak mau mendengar."
"Untuk sekali ini saja."
Suara Sekar bergetar, bergetar seperti daun yang ditiup
angin, bergetar seperti orang yang sedang menahan tangis.
Dan Aditya, Aditya yang keras kepala, Aditya yang tidak
pernah mau mendengar nasihat, Aditya yang hatinya terlalu besar untuk ukuran
tubuhnya, akhirnya diam.
Karena ia tahu, kali ini ia tidak punya pilihan.
________________________________________
Matahari mulai muncul perlahan dari balik awan, pertama
hanya setitik, seperti bara api kecil di ufuk timur. Lalu membesar, membesar,
hingga setengah lingkaran.
Cahaya keemasan menyentuh wajah mereka, wajah Aditya yang
pucat, wajah Sekar yang lebih pucat, menyentuh seperti sapuan kuas yang lembut,
seperti sentuhan terakhir dari seseorang yang akan pergi.
Kabut bergerak pelan, bergerak seperti tirai yang ditarik,
memperlihatkan lautan awan di bawah, memperlihatkan lembah-lembah hijau,
memperlihatkan dunia yang terus berjalan tanpa peduli pada dua hati yang sedang
hancur.
Langit berubah warna menjadi jingga lembut, jingga seperti
jeruk, seperti api, seperti warna yang paling hangat di antara semua warna,
tetapi pagi ini terasa dingin.
Sekar menatap Aditya dengan mata penuh cinta yang tak lagi
ia sembunyikan, cinta yang selama ini ia pendam, cinta yang selama ini ia
sangkal, cinta yang selama ini ia takutkan.
Cinta yang kini ia tunjukkan dengan seluruh keberadaannya.
"Aku tidak pernah meminta bertemu denganmu."
Air mata Aditya jatuh, jatuh seperti hujan, jatuh seperti
air terjun, jatuh seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
Sekar melanjutkan, dengan suara yang semakin pelan, semakin
lembut, semakin rapuh.
"Namun sejak pertama kali kau datang ke telaga… sejak
pertama kali aku melihatmu berdiri di tepi air dengan mata yang penuh rasa
ingin tahu… aku tahu hatiku yang sepi terlalu lama… akhirnya menemukan
seseorang."
Aditya menggenggam tangan Sekar, menggenggam erat,
menggenggam seperti tidak ingin melepaskan, menggenggam seperti memegang
sesuatu yang paling berharga di dunia.
Dingin. Sekar tetap dingin. Dingin yang aneh, dingin yang
tidak seperti manusia, dingin yang membuat jantung Aditya bergetar setiap kali
ia merasakannya.
Namun kini dingin itu justru terasa akrab, akrab seperti
rumah, akrab seperti sesuatu yang sudah ia kenal sejak lama, akrab seperti
cinta yang tidak perlu dijelaskan.
"Kalau begitu kenapa kita tidak melawan takdir?"
Sekar tersenyum sedih, senyum yang pahit, senyum seperti
obat yang tidak manis, senyum seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya
sejak awal.
"Karena aku sudah mencoba."
Aditya terdiam, terdiam seperti terkena pukulan, seperti
mendengar sesuatu yang tidak ia duga.
"Apa?"
Sekar menunduk, menundukkan wajahnya, sehingga rambut
panjangnya jatuh menutupi pipinya, menyembunyikan air matanya yang terus jatuh.
"Setiap kali aku datang menemuimu… setiap kali aku
berdiri di tepi telaga, menunggumu datang… setiap kali aku menyentuh tanganmu,
merasakan hangat yang tidak pernah aku rasakan dalam ratusan tahun…"
Ia mengangkat wajahnya. Matanya, matanya yang hitam, yang
dalam, yang menyimpan ribuan rahasia, menatap Aditya.
"Aku sedang melawan sesuatu yang seharusnya tak boleh
kulanggar."
Angin bertiup lebih kencang, kencang hingga jaket Aditya
berkibar, hingga rambut Sekar beterbangan, hingga kabut bergerak liar di
sekeliling mereka.
Dan untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya di siang
hari, di depan mata Aditya yang terbuka lebar,
Aditya melihat tubuh Sekar perlahan mulai memudar.
Tidak seperti biasanya, tidak perlahan seperti larut dalam
kabut, tidak seperti saat ia pergi di senja hari.
Tubuhnya mulai transparan. Seperti kaca yang buram. Seperti
bayangan yang kehilangan cahaya. Seperti sesuatu yang tidak akan bertahan lama.
________________________________________
"Sekar…"
Suara Aditya patah, patah seperti ranting yang patah
tertiup angin, patah seperti hati yang hancur, patah seperti sesuatu yang tidak
bisa diperbaiki lagi.
Sekar menggenggam tangannya lebih erat, lebih erat dari
sebelumnya, lebih erat seperti takut kehilangan, lebih erat seperti ingin
menyatu.
"Dengarkan aku."
Aditya tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya mengalir
deras. Punggung hidungnya perih. Dadanya sesak seperti akan meledak.
"Cinta tidak selalu datang untuk tinggal."
Sekar berbicara dengan suara yang semakin pelan, pelan
seperti bisikan, pelan seperti doa, pelan seperti sesuatu yang hanya bisa
didengar oleh hati.
"Kadang cinta datang untuk membangunkan seseorang.
Untuk membuatnya sadar bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari sekadar
bertahan hidup. Untuk mengajarkannya bahwa hati yang patah pun masih bisa
tumbuh."
Aditya menangis, menangis seperti anak kecil, menangis
tanpa malu, menangis dengan seluruh tubuh yang gemetar.
"Aku tidak mau dibangunkan seperti ini."
Sekar ikut menangis, menangis dengan suara yang tertahan,
dengan bahu yang bergetar, dengan air mata yang jatuh di pipinya yang pucat.
"Aku tahu."
________________________________________
Matahari naik sedikit lebih tinggi, naik seperti sesuatu
yang tidak bisa dihentikan, seperti waktu yang terus berjalan, seperti
kehidupan yang terus berlangsung meskipun hati sedang hancur.
Cahaya pagi menembus tubuh Sekar yang perlahan semakin
samar, semakin transparan, semakin seperti bayangan, semakin seperti mimpi yang
akan segera berakhir.
"Pulanglah."
Aditya menggeleng kuat, menggeleng seperti orang yang
kerasukan, seperti orang yang tidak mau mendengar, seperti orang yang akan mati
jika ia mendengar kata itu.
"Tidak."
"Pulanglah ke Awan Biru."
"Aku mau tetap di sini. Aku tidak mau pulang tanpa
kamu. Aku lebih baik mati di sini daripada pulang dan hidup tanpamu."
Sekar tersenyum lembut, lembut seperti sinar matahari pagi,
lembut seperti belaian ibu, lembut seperti sesuatu yang akan selalu ia ingat.
"Tidak. Karena hatimu bukan diciptakan untuk mati di
sini. Hatimu diciptakan untuk membangun tempat yang kau tinggalkan."
Aditya menatapnya bingung, bingung seperti anak kecil yang
mendengar kata-kata dewasa, bingung seperti orang yang tidak mengerti mengapa
harus terjadi seperti ini.
Sekar mengangkat tangan, tangannya yang putih, jemarinya
yang lentik, menyentuh dada Aditya. Tepat di tempat jantungnya berdetak.
"Bangun desamu. Jadikan lereng Sumbing seindah tempat
ini. Buat orang datang bukan hanya untuk melihat kabut… tetapi untuk merasakan
rumah."
Aditya menangis semakin keras, semakin keras seperti badai,
seperti hujan deras, seperti sesuatu yang tidak bisa berhenti.
"Aku cuma ingin kamu. Aku tidak butuh yang lain. Aku
tidak butuh desa. Aku tidak butuh wisata. Aku cuma ingin kamu."
Sekar memejamkan mata, memejam seperti sedang berdoa,
seperti sedang memohon kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Lalu berkata dengan suara paling pelan, paling lembut,
paling rapuh, paling tidak berdaya yang pernah ia keluarkan dalam ratusan tahun
hidupnya.
"Dan aku justru mencintaimu terlalu dalam untuk
membiarkanmu tinggal."
________________________________________
Di kejauhan, Amat menunduk, menundukkan kepalanya,
menyembunyikan matanya yang sudah tidak bisa menahan air mata.
Jojon mengusap matanya, mengusap dengan lengan jaketnya,
mengusap dengan punggung tangan, tetapi air mata terus mengalir.
Dan Guntur berdiri diam, berdiri seperti patung, seperti
pohon, seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak. Dadanya naik turun cepat.
Matanya berkaca-kaca.
Karena ia menyadari, karena ia akhirnya mengerti, bahwa tak
ada yang lebih menyakitkan daripada melihat dua hati saling mencintai, saling
menginginkan, saling membutuhkan, tetapi tidak diberi dunia yang sama untuk
bersatu.
________________________________________
Tubuh Sekar semakin transparan, semakin seperti kaca,
semakin seperti bayangan, semakin seperti sesuatu yang akan segera lenyap.
Kabut mulai menelan gaun putihnya, menelan seperti lautan
putih yang tidak pernah kering, seperti tangan-tangan tak terlihat yang
menariknya kembali ke dunianya.
Aditya panic, panik seperti orang yang akan kehilangan
segalanya, panik seperti orang yang melihat dunianya runtuh di depan mata.
"Jangan pergi!"
Sekar tersenyum melalui air mata, senyum yang indah, senyum
yang menyakitkan, senyum yang akan diingat oleh Aditya sampai kapan pun.
"Aku tidak pergi."
"Lalu?"
"Aku hanya kembali ke tempat di mana kau tak bisa
mengikutiku."
Air mata Aditya jatuh tanpa henti, jatuh seperti hujan di
musim penghujan, jatuh seperti air terjun yang tidak pernah kering, jatuh
seperti sesuatu yang tidak memiliki akhir.
Sekar mengusap pipinya perlahan, mengusap dengan jemarinya
yang dingin, dengan tangannya yang hampir tidak terlihat, dengan sentuhan yang
lembut seperti embun pagi.
"Kalau suatu hari kabut turun di Sumbing… dan kau
merasa tidak sendiri…"
Ia tersenyum, senyum yang terakhir, senyum yang paling
indah, senyum yang seperti cahaya sebelum padam.
"Itu mungkin aku."
________________________________________
Lalu perlahan, sangat perlahan, seperti air yang mengalir,
seperti kabut yang bergerak, seperti mimpi yang memudar saat bangun tidur,
di tengah cahaya matahari pertama yang menyentuh puncak
Bukit Sikunir, di tengah lautan awan yang membentang di bawah kaki, di tengah
angin pagi yang dingin menusuk,
Sekar Tanjung menghilang.
Larut bersama kabut pagi.
Menyatu dengan langit.
Menjadi bagian dari awan.
Meninggalkan Aditya berdiri sendiri di puncak bukit.
Dengan tangan kosong, kosong seperti tidak pernah memegang
apa pun, kosong seperti tidak pernah ada yang ia cintai.
Dengan hati yang patah, patah seperti kaca yang jatuh,
patah seperti ranting yang patah, patah seperti sesuatu yang tidak bisa
diperbaiki lagi.
Dan dengan cinta yang tak pernah sempat selesai, cinta yang
terucap tetapi tidak pernah terwujud, cinta yang tumbuh tetapi tidak pernah
berbuah, cinta yang kandas di negeri atas awan.
________________________________________
Di sekeliling mereka, wisatawan bersorak melihat matahari
terbit, bersorak seperti tidak ada yang salah, bersorak seperti dunia sedang
baik-baik saja, bersorak seperti mereka tidak menyadari bahwa di tempat seindah
itu, seseorang baru saja kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya.
Mereka bertepuk tangan. Mereka tertawa. Mereka berfoto.
Mereka berpelukan. Mereka mengucap syukur karena diberi kesempatan melihat
keindahan pagi.
Tak seorang pun tahu, tak seorang pun dari mereka, tak
seorang pun dari wisatawan yang lalu lalang di sekitarnya, bahwa di antara
mereka, ada seorang pemuda dari lereng Sumbing yang sedang berdiri dengan hati
hancur berkeping-keping.
Tak seorang pun tahu bahwa air mata yang jatuh di pipinya
bukan karena dingin atau angin atau debu.
Tak seorang pun tahu bahwa ia baru saja kehilangan cinta
pertamanya, cinta yang mungkin tidak akan pernah ia temukan lagi di dunia mana
pun.
Dan di puncak negeri atas awan itu, di tempat yang paling
indah di Pulau Jawa, di tempat yang dikunjungi ribuan orang setiap tahun untuk
melihat matahari terbit,
Aditya akhirnya mengerti.
Mengerti dengan luka yang begitu dalam, dengan kesedihan
yang begitu berat, dengan kepasrahan yang begitu total.
Bahwa ada cinta yang memang datang bukan untuk dimiliki.
Bukan untuk disimpan.
Bukan untuk dibawa pulang.
Melainkan untuk mengubah hidup seseorang, untuk
mengajarkannya arti kehilangan, untuk membangunkan dari tidur panjang, untuk
menunjukkan arah pulang,
selamanya.
________________________________________
BAB 13 — Luka yang Dibawa Pulang
Setelah pagi itu, setelah matahari terbit di Bukit Sikunir,
setelah kabut perlahan terangkat, setelah Sekar menghilang bersama cahaya
pertama, Dieng tidak lagi terasa sama bagi Aditya.
Kabut masih turun seperti biasa, turun setiap pagi dan
sore, turun seperti tirai yang tidak pernah lelah, turun seperti kebiasaan yang
tidak bisa diubah. Telaga Cebong masih berkilau saat matahari menyentuh
permukaannya, berkilau seperti berlian, seperti bintang yang jatuh ke bumi,
seperti kenangan yang tidak mau pudar. Bukit Sikunir masih dipenuhi wisatawan
yang berebut menangkap cahaya pagi, berebut seperti tidak ada hari esok,
seperti tidak ada yang lebih penting dari foto sempurna.
Warga desa masih menjajakan mie hangat dan teh purwaceng di
depan rumah-rumah kecil mereka, masih dengan senyum ramah, dengan tawaran yang
hangat, dengan keramahan yang tidak pernah berubah.
Segalanya tetap indah. Segalanya tetap seperti biasa.
Segalanya tetap berjalan seolah tidak ada yang berubah.
Tetapi bagi Aditya, keindahan itu kini terasa seperti
sesuatu yang terlalu mahal untuk dipandang lama. Seperti lukisan yang terlalu
indah tetapi menyimpan kenangan menyakitkan di baliknya. Seperti lagu yang
terlalu merdu tetapi liriknya tentang kehilangan.
Karena setiap sudut desa itu, setiap batu di tepi telaga,
setiap ilalang yang bergoyang, setiap kabut yang turun, setiap senja yang
datang, menyimpan seseorang yang tak lagi bisa ia temui.
Menyimpan senyum yang tak akan pernah ia lihat lagi.
Menyimpan suara yang tak akan pernah ia dengar lagi.
Menyimpan nama yang tak akan pernah ia ucapkan kepada siapa
pun, tetapi akan selalu ia bisikkan dalam doanya setiap malam.
Sekar.
________________________________________
Hari kepulangan mereka tiba, hari yang tidak pernah ingin
Aditya alami, hari yang datang terlalu cepat meskipun ia sudah tahu sejak awal
bahwa ini akan terjadi.
Pagi itu Desa Sembungan diselimuti kabut tipis yang turun
perlahan, turun seperti tirai putih yang ditutup setelah pertunjukan terakhir
selesai, seperti selimut yang ditarik untuk menutupi sesuatu yang tidak ingin
dilihat, seperti air mata yang jatuh perlahan dari langit.
Aditya berdiri di dekat mobil travel yang akan membawa
mereka turun menuju Wonosobo, mobil tua berwarna putih kusam, dengan kursi yang
sedikit robek di beberapa tempat, dengan mesin yang bergetar setiap kali
dihidupkan.
Tangannya menggenggam ransel, ransel biru tua yang sudah
usang, dengan beberapa tambalan di bagian bawah, yang membawa pakaian kotor dan
kenangan yang terlalu berat.
Namun matanya, matanya yang merah, matanya yang sembab,
matanya yang seperti tidak bisa berkedip, terus memandang ke arah telaga.
Ke arah kabut yang bergerak di atas air.
Ke arah tempat Sekar biasa berdiri.
Ke arah tempat ia merasa paling hidup dalam beberapa hari
terakhir.
Seolah ada bagian dari dirinya, bagian yang paling penting,
bagian yang paling lembut, bagian yang paling hidup, yang tertinggal di sana.
Tertinggal di tepi telaga itu, bersama senyum yang terakhir, bersama cinta yang
kandas, bersama perpisahan yang tidak pernah ia inginkan.
Amat Junior berdiri di sampingnya sambil menghela napas, napas
panjang, napas berat, napas orang yang sudah melihat terlalu banyak kesedihan
dalam waktu singkat.
"Kalau dilihat dari wajahmu… sepertinya bukan mau
pulang."
Aditya tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke
matanya, senyum yang seperti luka yang tertutup perban.
"Memang tidak."
Amat terdiam. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, untuk
pertama kalinya sejak mereka bertiga memutuskan untuk ikut Aditya ke Dieng, ia
tidak punya candaan yang cukup ringan untuk mengangkat luka sahabatnya.
Tidak ada kata-kata yang bisa menghibur.
Tidak ada lelucon yang bisa membuatnya tertawa.
Tidak ada nasihat yang bisa membuatnya lupa.
Karena beberapa luka, beberapa kehilangan, beberapa
perpisahan, tidak bisa diobati oleh apa pun selain waktu.
Dan waktu, bagi seseorang yang sedang patah hati, berjalan
sangat lambat.
________________________________________
Beberapa warga yang sempat mereka kenal selama di desa, yang
menyapa mereka setiap pagi, yang tersenyum setiap kali mereka lewat, yang sudah
seperti keluarga meskipun baru beberapa hari, datang mengantar.
Ibu pemilik warung, perempuan paruh baya dengan kerudung
coklat, wajah bulat, senyum ramah yang selalu hangat, tersenyum sambil
menyerahkan bungkusan kecil. Bungkusan kertas minyak coklat, diikat dengan
karet gelang, berisi sesuatu yang masih hangat.
"Ini carica buat oleh-oleh. Biar kangen sama
Dieng."
Aditya menerimanya, menerima dengan tangan yang sedikit
gemetar, dengan hati yang berat.
"Terima kasih, Bu."
Ibu itu menatapnya lama, sangat lama, dengan mata yang
sayu, dengan mata yang seperti sedang membaca sesuatu di balik wajahnya.
Lalu berkata pelan, sangat pelan, seperti sedang memberikan
nasihat terakhir kepada anaknya yang akan merantau jauh.
"Kadang orang datang ke sini membawa penasaran. Pulang
membawa cerita."
Aditya memandangnya, memandang dengan mata yang masih
basah, dengan hati yang masih hancur.
"Kalau pulangnya membawa kehilangan?"
Ibu itu tersenyum lembut, lembut seperti sinar matahari
pagi, lembut seperti belaian ibu, lembut seperti sesuatu yang tidak akan pernah
ia lupakan.
"Berarti gunung sedang menitipkan pelajaran."
Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana. Namun terasa
seperti menyentuh sesuatu yang belum sempat sembuh, sesuatu yang masih
berdarah, sesuatu yang masih perih, sesuatu yang tidak ingin disentuh oleh
siapa pun.
________________________________________
Di dekat mobil, seorang bapak pengemudi lokal yang sejak
awal mengantar mereka, bapak dengan wajah tua keriput, gigi yang tinggal
beberapa, mata yang sayu tetapi tajam, ikut bicara.
Ia berdiri dengan tangan di saku jaket, memandang kabut di
kejauhan, memandang seperti sedang mengingat sesuatu.
"Mas dari Sumbing ya?"
Aditya mengangguk, anggukan yang pelan, anggukan yang
seperti tidak punya energi.
Bapak itu tersenyum, senyum yang hangat, senyum yang bijak,
senyum yang seperti sudah melihat banyak hal dalam hidupnya.
"Bagus. Gunung paham bahasa gunung."
Aditya mengernyit, bingung, tidak mengerti.
"Maksudnya?"
Bapak itu menatap kabut di kejauhan, menatap bukit-bukit
yang tertutup putih, menatap puncak-puncak gunung yang samar, menatap seperti
sedang berbicara dengan sesuatu yang tidak terlihat.
"Kadang kita pergi jauh… supaya tahu apa yang
sebenarnya harus kita bangun di rumah sendiri."
Guntur yang mendengar menoleh pelan, menoleh dengan mata
yang berbinar, dengan wajah yang sedikit berubah.
Karena kalimat itu, kalimat yang keluar dari mulut seorang
bapak tua pengemudi local, persis seperti pesan yang diberikan Sekar.
Pesan tentang membangun desa.
Pesan tentang membuat orang datang untuk merasakan rumah.
Pesan tentang mengubah luka menjadi sesuatu yang hidup.
Dan saat itu, untuk pertama kalinya sejak pagi itu, Guntur
mulai sadar, mulai sadar dengan kejelasan yang menyakitkan, mulai sadar dengan
kepastian yang tidak bisa ia pungkiri,
bahwa kehadiran Sekar dalam hidup Aditya bukan hanya tentang
cinta. Bukan hanya tentang pertemuan dua hati yang berbeda dunia. Bukan hanya
tentang kisah romantis yang tragis.
Mungkin sejak awal, sejak pertama kali Aditya mendengar
cerita tentang perempuan di telaga, sejak pertama kali ia memutuskan pergi ke
Dieng, sejak pertama kali ia berdiri di tepi Telaga Cebong,
ada sesuatu yang ingin disampaikan.
Ada pesan yang ingin diberikan.
Ada pelajaran yang ingin diajarkan.
Melalui patah hati. Melalui kehilangan. Melalui cinta yang
tidak pernah sempat bersatu.
________________________________________
Sebelum masuk ke mobil, sebelum kakinya menginjak pijakan
besi yang dingin, sebelum pintu mobil ditutup untuk terakhir kalinya, Aditya
menoleh sekali lagi.
Ke arah Telaga Cebong.
Kabut pagi bergerak pelan di atas permukaan air, bergerak
seperti tirai yang ditarik perlahan, seperti air terjun putih yang bergerak
lambat, seperti sesuatu yang sedang mengucapkan selamat tinggal.
Dan untuk sesaat, hanya sesaat, hanya sekejap, hanya satu
kedipan mata,
ia melihat sosok perempuan berdiri di tepi telaga.
Gaun putih.
Rambut panjang.
Senyum yang sendu.
Sekar.
Aditya membeku, membeku seperti patung, seperti pohon,
seperti sesuatu yang berhenti hidup.
Amat menoleh, menoleh karena melihat Aditya tiba-tiba
berhenti.
"Kenapa?"
Namun ketika Aditya berkedip, ketika ia membuka matanya
kembali setelah sekian detik terhipnotis,
sosok itu sudah hilang.
Hanya kabut. Hanya air. Hanya sunyi. Hanya ilalang yang
bergoyang ditiup angin.
Aditya menunduk pelan, menunduk seperti sedang berdoa,
seperti sedang mengucap terima kasih, seperti sedang mengucapkan selamat
tinggal untuk yang terakhir kalinya.
Lalu masuk ke mobil.
Tanpa mengatakan apa pun.
Karena beberapa perpisahan, beberapa selamat tinggal,
beberapa kenangan, tak perlu diucapkan lagi. Tak perlu dijelaskan. Tak perlu
dibagikan kepada siapa pun.
Cukup disimpan di dalam hati. Disimpan di tempat yang
paling dalam. Disimpan di sana, bersama luka yang tidak akan pernah benar-benar
sembuh, tetapi juga tidak akan pernah ia buang.
________________________________________
Perjalanan turun menuju Wonosobo terasa jauh lebih panjang
dari perjalanan naik kemarin.
Jalan berkelok, berkelok seperti ular yang sedang
beristirahat, berkelok seperti sungai yang mencari jalan ke laut, berkelok
seperti takdir yang tidak pernah lurus.
Kebun-kebun kentang membentang di lereng-lereng bukit, hijau,
rapi, seperti permadani yang disulam oleh tangan yang sabar.
Lembah berkabut, kabut yang turun dari atas, yang bergerak
perlahan, yang seperti ingin mengikuti mobil mereka sampai ke kota.
Pohon-pohon cemara yang berdiri diam di sisi jalan, tinggi,
tegak, seperti barisan tentara yang sedang berjaga, seperti saksi bisu dari
segala sesuatu yang terjadi di negeri atas awan ini.
Namun sepanjang perjalanan, sepanjang mobil bergerak
perlahan menuruni jalan yang berkelok, melewati desa-desa kecil, melewati
kebun-kebun teh, melewati hutan pinus, Aditya lebih banyak diam.
Ia memandangi jendela, memandangi pemandangan yang berlalu
di balik kaca, memandangi kabut yang semakin menipis seiring turunnya
kendaraan, memandangi dunia yang perlahan kembali ke kehidupan biasa.
Membiarkan desa itu, Sembungan, Dieng, negeri di atas awan
itu, perlahan menjauh. Semakin kecil di kaca spion. Semakin kabur di balik
kabut. Semakin seperti mimpi yang tidak nyata.
Dan bersama itu, sesuatu di dalam dirinya terasa ikut
tertarik pergi, tertarik seperti ada tali yang menghubungkan hatinya ke telaga
itu, ke kabut itu, ke perempuan itu.
Tali yang tidak bisa ia putus. Tali yang mungkin akan tetap
terhubung seumur hidupnya.
Jojon yang duduk di belakang akhirnya berbisik, berbisik
kepada Amat, tetapi cukup keras untuk didengar oleh semua orang di dalam mobil
yang sunyi.
"Dia masih lihat ya?"
Amat bertanya pelan—pelan seperti tidak ingin mengganggu,
pelan seperti sedang membisikkan rahasia.
"Bukan. Dia masih merasa."
Guntur menatap Aditya dari samping, menatap dengan mata
yang penuh iba, dengan hati yang ikut sakit.
Karena mereka semua tahu, Amat, Jojon, Guntur, bahwa yang
tertinggal bukan tubuh. Bukan ransel. Bukan kamera. Bukan kenangan yang bisa
disimpan dalam foto.
Yang tertinggal adalah hati.
Hati yang tidak bisa dibawa pulang karena ia sudah
diberikan kepada seseorang yang tidak bisa ia ikuti.
________________________________________
Ketika mobil berhenti di terminal kecil Wonosobo, terminal
dengan lantai yang licin, dengan pedagang asongan yang berteriak-teriak, dengan
hiruk pikuk yang menyambut mereka seperti dunia yang tidak peduli dengan
kesedihan, hiruk pikuk kota langsung menyambut.
Pedagang menawarkan makanan, "Pisang goreng, Mas!
Mendoan, Mas! Kopi susu, Mas!"—dengan suara yang lantang, dengan senyum
yang lelah, dengan harapan untuk mendapatkan seribu rupiah.
Suara klakson bersahutan, tin... tin... tin..., dari
angkutan kota yang saling mendahului, dari bus-bus yang akan segera berangkat,
dari sepeda motor yang menyelinap di antara kemacetan.
Wisatawan turun membawa koper, koper besar, koper kecil,
ransel, tas jinjing, dengan wajah yang lelah tetapi puas, dengan tangan yang
menggenggam oleh-oleh, dengan hati yang penuh cerita untuk diceritakan di
rumah.
Anak-anak kecil berlari mengejar balon, balon merah, balon
kuning, balon biru, dengan tawa yang riang, dengan kaki yang cepat, dengan
dunia yang masih sederhana dan tidak rumit.
Dunia kembali ramai. Kembali biasa. Kembali seperti tidak
terjadi apa-apa.
Namun bagi Aditya, keramaian justru terasa kosong, kosong
seperti ruangan yang ditinggalkan penghuninya, kosong seperti panggung setelah
pertunjukan selesai, kosong seperti hatinya yang baru saja dikosongkan oleh
seseorang yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Ia berjalan di antara banyak orang, di antara puluhan,
ratusan orang yang lalu lalang, yang sibuk dengan urusan masing-masing, yang
tidak tahu bahwa ia baru saja kehilangan cinta pertama dan mungkin terakhir
dalam hidupnya,
tetapi merasa seperti seseorang yang baru saja kehilangan
satu-satunya hal yang membuat dunia terasa hidup.
________________________________________
Dalam bus perjalanan pulang, bus antarkota yang akan
membawa mereka kembali ke lereng Sumbing, ke Desa Awan Biru, ke rumah, Amat
duduk di sampingnya.
Beberapa lama mereka hanya diam. Hanya mendengar suara
mesin bus yang bergemuruh, suara penumpang lain yang mengobrol, suara anak
kecil yang menangis di kursi belakang.
Sampai akhirnya Amat bertanya pelan, pelan seperti tidak
ingin mengganggu, pelan seperti sedang bertanya tentang sesuatu yang sangat
pribadi.
"Kalau bisa diulang… kamu masih mau ketemu dia?"
Aditya menatap jalan di luar jendela, jalan yang berlubang,
jalan yang berkelok, jalan yang akan membawanya pulang ke rumah yang mungkin
tidak akan pernah terasa sama lagi.
Pohon-pohon lewat seperti bayangan, pohon pinus, pohon
kelapa, pohon pisang, berlalu begitu saja, seperti waktu yang terus berjalan
tanpa peduli pada siapa pun.
Lalu ia menjawab tanpa ragu, tanpa keraguan, tanpa
penyesalan, tanpa air mata meskipun matanya berkaca-kaca.
"Iya."
Amat menghela napas, napas yang berat, napas yang seperti
pasrah, napas yang seperti mengiyakan sesuatu yang tidak bisa diubah.
"Padahal kamu tahu akhirnya begini?"
Aditya tersenyum kecil, senyum yang kecil, senyum yang
rapuh, senyum yang seperti cahaya di tengah kegelapan.
"Beberapa orang… lebih baik pernah datang sebentar…
daripada tidak pernah hadir sama sekali."
Amat menunduk, menundukkan kepalanya, menyembunyikan
matanya yang mulai basah.
Karena kalimat itu, kalimat yang keluar dari mulut Aditya
dengan suara yang tenang, dengan mata yang jujur, dengan hati yang masih
berdarah,
terlalu jujur untuk dibantah.
Terlalu nyata untuk diabaikan.
Terlalu indah untuk disesali.
________________________________________
Malam mulai turun, malam yang gelap, malam yang dingin,
malam yang seperti beludru hitam yang direntangkan di atas langit, saat mereka
memasuki jalur menuju lereng Gunung Sumbing.
Udara berubah familiar, berubah seperti sesuatu yang sudah
ia kenal sejak kecil, seperti sesuatu yang selalu ia hirup setiap pagi, seperti
sesuatu yang menjadi tanda bahwa ia hampir tiba di rumah.
Jalan-jalan sempit desa mulai terlihat, jalan tanah yang
berbatu, jalan yang berlubang di sana-sini, jalan yang hanya dilewati oleh
sepeda motor dan mobil-mobil kecil.
Lampu rumah penduduk menyala di kejauhan, kuning, redup,
berkedip-kedip seperti kunang-kunang, seperti bintang yang jatuh ke bumi,
seperti harapan-harapan kecil yang masih bertahan.
Kabut tipis turun di antara pepohonan pinus, turun seperti
tirai yang ditarik perlahan, seperti selendang yang dilayangkan langit, seperti
sambutan hangat dari gunung yang merindukan kepulangan anaknya.
Dan ketika mobil memasuki Desa Awan Biru, desa kecil yang
sunyi, desa yang bersandar di lereng Gunung Sumbing, desa yang selama dua puluh
dua tahun menjadi rumahnya,
Aditya menatap lereng gunung tempat ia dibesarkan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat desanya dengan mata yang
berbeda, bukan lagi sebagai tempat pulang yang biasa, bukan lagi sebagai titik
di peta yang mudah terlewat, bukan lagi sebagai desa kecil yang tidak pernah
berubah.
Tetapi sebagai tempat yang selama ini, selama dua puluh dua
tahun ia hidup di sana, selama dua puluh dua tahun ia menghirup udara yang
sama, selama dua puluh dua tahun ia memandang pemandangan yang sama,
menunggu untuk dihidupkan.
Menunggu untuk dibangun.
Menunggu untuk dijadikan sesuatu yang lebih dari sekadar
tempat tinggal.
Ia teringat suara Sekar, suara yang lembut, suara yang
seperti bisikan angin, suara yang akan selalu ia dengar di dalam kepalanya
meskipun bertahun-tahun telah berlalu.
"Bangun desamu. Jadikan lereng Sumbing seindah tempat
ini. Buat orang datang bukan hanya untuk melihat kabut… tetapi untuk merasakan
rumah."
Dada Aditya terasa sesak lagi, sesak seperti ada batu besar
di atasnya, sesak seperti tidak bisa bernapas, sesak seperti kenangan yang
terlalu berat untuk diingat tetapi tidak bisa ia lupakan.
Namun kali ini, untuk pertama kalinya sejak pagi di Bukit
Sikunir, sejak Sekar menghilang bersama cahaya matahari pertama, di balik luka
itu, di balik kesedihan itu, di balik air mata yang masih menggenang di
matanya,
muncul sesuatu yang baru.
Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang rapuh. Sesuatu yang
seperti tunas yang baru muncul dari tanah yang hangus terbakar.
Sebuah tujuan.
________________________________________
Malam itu, setelah semua orang pulang ke rumah
masing-masing, setelah Amat melambaikan tangan dari sepeda motornya, setelah
Jojon berteriak "sampai besok!", setelah Guntur menepuk bahunya untuk
terakhir kalinya, Aditya berdiri sendiri di lereng kecil belakang rumahnya.
Lereng yang sama yang ia pandangi setiap pagi. Lereng yang
sama yang ia lalui setiap hari. Lereng yang sama yang selama ini hanya ia
anggap sebagai latar belakang kehidupannya.
Dari sana, lampu-lampu desa terlihat seperti bintang yang
jatuh di kaki gunung, kuning, redup, berkelap-kelip, seperti kunang-kunang yang
tersesat di kegelapan.
Kabut turun perlahan, turun seperti tirai yang ditarik,
seperti selendang yang dilayangkan langit, seperti pelukan lembut dari gunung
yang merindukannya.
Angin dingin menyentuh wajahnya, dingin yang familiar,
dingin yang ia kenal sejak kecil, dingin yang tidak lagi menusuk karena ia
sudah terbiasa.
Dan di tengah sunyi itu, di tengah desa yang tertidur, di
tengah gunung yang berbisik, di tengah malam yang gelap, ia berbisik pelan.
"Aku pulang."
Hanya dua kata. Sederhana. Tidak dramatis.
Namun terasa seperti doa. Terasa seperti janji. Terasa
seperti permulaan dari sesuatu yang baru.
Angin berembus lembut, lembut seperti bisikan, lembut
seperti belaian, lembut seperti seseorang yang menjawab dari kejauhan.
Aditya menutup mata, menutup seperti sedang berdoa, seperti
sedang mengucap syukur, seperti sedang mengucapkan terima kasih.
Air matanya jatuh sekali lagi, jatuh di pipinya yang
dingin, jatuh di tanah desa yang ia cintai, jatuh di tempat ia dilahirkan dan
dibesarkan.
Bukan karena ia masih ingin mengejar Sekar, bukan karena ia
masih berharap bahwa suatu hari nanti ia akan melihatnya lagi di tepi telaga,
bahwa kabut akan membawanya kembali, bahwa mimpi itu akan menjadi nyata.
Tetapi karena ia akhirnya sadar, akhirnya mengerti,
akhirnya menerima dengan segenap hati yang hancur,
bahwa beberapa cinta memang tidak datang untuk tinggal di
hati.
Mereka tidak datang untuk dimiliki.
Mereka tidak datang untuk disimpan.
Mereka tidak datang untuk dibawa pulang.
Mereka datang, hadir sebentar, singgah sekilas, menyentuh
hati lalu pergi,
untuk mengubah arah hidup seseorang.
Untuk membangunkan dari tidur panjang.
Untuk menunjukkan bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari
sekadar bertahan hidup.
Dan malam itu, di lereng Gunung Sumbing, di Desa Awan Biru,
di rumah yang selama ini ia anggap biasa,
Aditya mulai memahami.
Memahami bahwa luka yang dibawanya pulang dari negeri di
atas awan, luka yang begitu dalam, luka yang begitu berat, luka yang hampir
menghancurkannya,
mungkin akan menjadi awal.
Awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Awal dari sesuatu yang akan mengubah desanya.
Awal dari sesuatu yang akan membuat nama Sekar Tanjung
tidak hanya dikenang sebagai legenda di Telaga Cebong, tetapi sebagai alasan
mengapa seorang pemuda dari lereng Sumbing memutuskan untuk membangun mimpinya
di atas tanah kelahirannya.
Dan tanpa ia sadari, tanpa ia ketahui, tanpa ia lihat
dengan mata kepala sendiri,
di kejauhan, di balik kabut yang turun dari puncak Gunung
Sumbing, seorang sosok perempuan berdiri diam.
Gaun putih.
Rambut panjang.
Senyum yang damai.
Sekar.
Ia menatap Aditya dari jauh, menatap dengan mata yang penuh
cinta, dengan hati yang ikut hancur, dengan kesedihan yang tidak akan pernah ia
tunjukkan.
Lalu dengan suara yang hanya bisa didengar oleh angin
malam, ia berbisik:
"Selamat jalan, cintaku."
BAB 14 — Pesan dari Negeri Atas Awan
Hari-hari pertama setelah pulang, Desa Awan Biru terasa
berbeda bagi Aditya.
Padahal sebenarnya tidak ada yang berubah. Kabut pagi masih
turun perlahan di antara rumah-rumah kayu, turun seperti tirai putih yang
ditarik oleh tangan yang lembut, menyembunyikan puncak Gunung Sumbing di
baliknya. Anak-anak kecil masih berangkat sekolah sambil berlari di jalan
tanah, dengan seragam yang sedikit kebesaran, dengan tas yang bergoyang-goyang
di punggung, dengan tawa yang riang seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan
di dunia ini. Para petani masih memanggul cangkul menuju lading, dengan topi
caping, dengan keringat di dahi, dengan langkah yang mantap meskipum hari masih
pagi.
Suara ayam dan burung masih menyambut matahari dari balik
lereng, bersahutan, riuh, seperti paduan suara yang tidak terlatih tetapi
merdu. Aroma tanah basah dan kopi yang baru dipetik masih menguar di udara, aroma
yang familiar, aroma yang sudah ia hirup sejak lahir, aroma yang selama ini ia
anggap biasa.
Semua tetap sama. Semua tetap seperti sebelum ia pergi.
Seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti ia tidak pernah pergi ke Dieng, tidak
pernah bertemu perempuan di tepi telaga, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah
kehilangan.
Tetapi hati Aditya tidak lagi sama.
Ia berjalan melewati jalan desa yang selama ini akrab, jalan
tanah yang berbatu, yang berlubang di sana-sini, yang dilalui oleh sepeda motor
dan mobil-mobil kecil—namun untuk pertama kalinya ia benar-benar melihatnya.
Bukan hanya sebagai tempat kelahirannya. Bukan hanya sebagai titik di peta yang
mudah terlewat. Bukan hanya sebagai desa kecil yang tidak pernah berubah.
Melainkan sebagai tempat yang diam-diam menyimpan
keindahan, keindahan yang selama ini tidak pernah ia sadari, keindahan yang
selama ini ia lewati setiap hari tanpa pernah berhenti untuk menikmatinya,
keindahan yang mungkin selama ini menunggu untuk diperjuangkan.
________________________________________
Pagi itu, pagi yang cerah, dengan kabut yang tidak terlalu
tebal, dengan matahari yang bersinar hangat di balik pepohonan pinus, Aditya
duduk di gardu bambu dekat kebun kopi bersama Amat Junior, Guntur, dan Jojon.
Gardu itu sederhana, hanya bambu yang dianyam, atap rumbia
yang sudah mulai rapuh, lantai tanah yang sedikit lembap. Namun dari tempat
itu, pemandangan lereng terbentang luas, hamparan kebun kopi yang hijau, lembah
yang dalam, dan di kejauhan, puncak Gunung Sumbing yang diselimuti kabut tipis.
Mereka memandang hamparan lereng yang hijau, hijau seperti
zamrud, hijau seperti warna yang paling menenangkan di dunia, hijau seperti
sesuatu yang hidup dan bernapas. Kabut turun tipis, turun seperti tirai yang
tidak pernah benar-benar tertutup, seperti selendang yang dilayangkan langit.
Matahari baru naik, masih rendah, masih merah, masih seperti telur yang baru
pecah. Udara dingin menyusup pelan, dingin yang familiar, dingin yang sudah
menjadi bagian dari hidup mereka sejak kecil.
Amat menggigit singkong goring, singkong yang renyah di
luar, lembut di dalam, dengan taburan gula merah yang meleleh di lidah, sambil
melirik sahabatnya.
"Jadi sekarang gimana?"
Aditya menoleh, menoleh dengan gerakan yang lambat, seperti
orang yang baru sadar dari lamunan panjang.
"Gimana apanya?"
Amat mengangkat alis, satu alis naik, satu alis turun,
seperti tanda tanya yang hidup.
"Kamu mau terus galau sampai tua?"
Jojon yang sedang menyedot teh panas langsung menimpali, menimpali
dengan mulut yang masih penuh, dengan suara yang sedikit cadel.
"Kalau iya, saya pindah tongkrongan."
Untuk pertama kalinya sejak pulang dari Dieng, sejak pagi
di Bukit Sikunir, sejak Sekar menghilang bersama cahaya matahari pertama, Aditya
tertawa kecil. Tawa yang kecil, tawa yang rapuh, tawa yang seperti cahaya di
tengah kegelapan.
Meski masih ada luka di matanya, luka yang dalam, luka yang
masih berdarah, luka yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh, tawa
itu terasa lebih hidup. Lebih nyata. Lebih seperti dirinya yang dulu.
Guntur menatapnya serius, serius seperti biasa, serius
seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.
"Bukan soal melupakan. Tapi soal apa yang mau kamu
lakukan setelah ini."
Aditya terdiam. Matanya kembali menatap lereng di depan
mereka, lereng yang hijau, lereng yang tenang, lereng yang selama dua puluh dua
tahun menjadi latar belakang hidupnya.
Kebun-kebun kecil. Jalur setapak. Pohon-pohon tua. Kabut
yang turun seperti selendang. Rumah-rumah kayu yang berasap. Anak-anak yang
berlarian.
Dan tiba-tiba, ia melihat semuanya seperti melihat Dieng
untuk pertama kalinya. Seperti ia baru pertama kali menyadari bahwa tempat ini,
tempat yang selama ini ia anggap biasa, tempat yang selama ini ia lewati tanpa
pernah benar-benar melihat, memiliki keindahannya sendiri.
Hanya saja kali ini, kali ini berbeda.
Itu rumahnya sendiri.
________________________________________
"Aku mau membangun wisata di sini."
Kalimat itu keluar begitu saja, keluar dari mulutnya tanpa
direncanakan, tanpa dipikirkan, tanpa dipertimbangkan. Keluar seperti air yang
mengalir, seperti angin yang bertiup, seperti sesuatu yang sudah lama terpendam
dan akhirnya menemukan jalan keluar.
Amat hampir tersedak, singkong gorengnya nyaris masuk ke
saluran pernapasan. Ia terbatuk-batuk, matanya berair, tangannya memukul-mukul
dadanya sendiri.
"Hah?"
Jojon menatap, menatap dengan mata yang membulat, dengan
mulut yang terbuka sedikit, dengan ekspresi seperti baru mendengar bahwa bulan
akan jatuh ke bumi.
"Serius?"
Aditya mengangguk pelan, anggukan yang tenang, anggukan
yang mantap, anggukan yang seperti sudah lama ia pertimbangkan meskipun baru
saja ia ucapkan.
"Kenapa orang harus jauh-jauh ke tempat lain… kalau
desa kita juga punya keindahan?"
Mereka semua diam. Amat berhenti mengunyah. Jojon berhenti
menyesap teh. Guntur menutup bukunya yang sejak tadi tidak benar-benar ia baca.
Karena untuk pertama kalinya, mereka melihat luka di mata
Aditya, luka yang dalam, luka yang masih basah, luka yang baru beberapa hari
lalu, berubah menjadi sesuatu yang lain.
Bukan kesedihan. Bukan kepahitan. Bukan penyesalan.
Harapan.
Harapan yang kecil. Harapan yang rapuh. Harapan yang
seperti tunas yang baru muncul dari tanah yang hangus terbakar.
Namun harapan tetap harapan.
________________________________________
"Wisata seperti apa?" tanya Guntur, suaranya
tenang, suaranya yang selalu menjadi penyeimbang di antara mereka berempat.
Aditya menatap lereng gunung, menatap dengan mata yang
berbinar, dengan hati yang mulai berdetak lebih cepat.
"Jalur sunrise. Gardu pandang. Warung kopi di atas
kabut. Camping ground. Spot-spot foto."
Ia berhenti sejenak, berhenti seperti sedang mengumpulkan
kata-kata, seperti sedang mencari cara untuk mengatakan sesuatu yang sulit.
"Dan tempat di mana orang datang bukan hanya untuk
foto…"
Ia menatap mereka satu per satu, Amat, Jojon, Guntur.
"Tapi untuk merasa pulang."
Amat memandangnya lama, sangat lama, seperti baru pertama
kali melihat wajah sahabatnya, seperti sedang menilai apakah ini benar-benar
Aditya atau orang lain yang menyamar.
Lalu ia tersenyum, senyum yang lebar, senyum yang tulus,
senyum yang sudah lama tidak ia tunjukkan.
"Nah. Ini baru teman saya."
Jojon ikut mengangguk, mengangguk dengan antusias, dengan
semangat yang tiba-tiba muncul.
"Lebih baik patah hati daripada patah akal."
Amat langsung menepuk bahu Jojon, tepukan yang keras,
tepukan yang membuat Jojon terhuyung sedikit.
"Kalimatmu jelek sekali. Tapi semangatmu saya
hargai."
Mereka tertawa kecil, tawa yang hangat, tawa yang familiar,
tawa yang seperti kembali ke masa-masa ketika hidup masih sederhana dan tidak
serumit sekarang.
Dan untuk pertama kalinya, patah hati itu tidak hanya
melahirkan kesedihan. Tidak hanya melahirkan air mata. Tidak hanya melahirkan
luka yang tidak bisa sembuh.
Patah hati itu melahirkan arah.
________________________________________
Namun tidak semua orang menyambut gagasan itu dengan
hangat. Tidak semua orang melihat keindahan desa mereka seperti Aditya
melihatnya.
Saat Aditya mulai membicarakan rencana wisata kepada
beberapa warga, di kantor desa, di warung kopi, di gardu ronda, di sela-sela
kebun, respon yang ia terima justru beragam.
Sebagian mendukung, kebanyakan anak muda, mereka yang
pernah merantau ke kota dan melihat bagaimana tempat lain bisa hidup dari
pariwisata, mereka yang bosan dengan desa yang itu-itu saja.
Sebagian meragukan, mereka yang sudah terlalu lama hidup
dalam keterbatasan, yang sudah terlalu sering kecewa dengan janji-janji
perubahan, yang sudah kehilangan harapan bahwa desa mereka bisa menjadi lebih
dari sekadar tempat tinggal.
Sebagian menertawakan, tertawa dengan suara yang keras,
dengan tawa yang seperti cambuk, dengan tawa yang mengatakan kamu masih
muda, kamu belum tahu apa-apa.
Di balai kecil desa, balai kayu dengan lantai papan yang
berderit, dengan papan pengumuman yang sudah usang, dengan lampu minyak yang
berkedip-kedip, seorang warga tua menggeleng. Gelengan yang lambat, gelengan
yang penuh makna, gelengan yang seperti mengatakan sudahlah, jangan
buang-buang waktu.
"Wisata? Di desa ini?"
Yang lain ikut menyahut, dengan suara yang sinis, dengan
senyum yang miring, dengan tatapan yang meremehkan.
"Orang datang ke sini mau lihat apa? Jalan rusak?
Kabut doang? Sawah? Kebun kopi? Yang mereka lihat di kota sudah lebih
bagus."
Beberapa orang tertawa kecil, tawa yang tidak ramah, tawa
yang seperti duri, tawa yang membuat Aditya merasa kecil.
Aditya diam sejenak. Dadanya terasa sesak, bukan sesak seperti
saat kehilangan Sekar, tetapi sesak yang berbeda. Sesak karena ia sadar bahwa
membangun mimpi tidak semudah membayangkannya. Sesak karena ia sadar bahwa
tidak semua orang akan mendukungnya. Sesak karena ia sadar bahwa ia mungkin
akan sendirian dalam perjuangan ini.
Namun kali ini, ia tidak mundur.
Karena ia sudah pernah kehilangan sesuatu yang lebih
berharga daripada sekadar ditertawakan. Ia sudah pernah kehilangan cinta yang
tidak akan pernah kembali. Ia sudah pernah merasakan sakit yang begitu dalam sehingga
tidak ada lagi yang terasa lebih menakutkan.
________________________________________
Ia berdiri, berdiri dari kursi kayu yang dingin, berdiri
dengan tegap, berdiri seperti tentara yang siap berperang.
Lalu berkata pelan namun tegas, tegas seperti paku yang
ditancapkan ke kayu, tegas seperti suara yang tidak bisa diabaikan.
"Orang datang ke Dieng bukan hanya karena
pemandangan."
Ruangan mulai tenang, suara tawa perlahan menghilang,
bisik-bisik pelan berhenti, semua mata tertuju padanya.
"Mereka datang karena tempat itu punya cerita. Punya
rasa. Punya jiwa."
Ia memandang sekeliling, memandang wajah-wajah yang tadi
menertawakannya, wajah-wajah yang meragukannya, wajah-wajah yang sudah terlalu
lama hidup dalam kepasrahan.
"Dan desa kita juga punya itu. Kita hanya belum pernah
percaya."
Suasana balai desa mendadak sunyi. Sunyi seperti telaga di
malam hari. Sunyi seperti kabut yang turun tanpa suara. Sunyi seperti sesuatu
yang baru saja berubah.
Beberapa warga mulai saling memandang, memandang dengan
mata yang berbeda, dengan ekspresi yang berbeda, dengan pikiran yang mungkin
baru pertama kali terbersit di benak mereka.
Karena yang berbicara di depan mereka hari itu, yang
berdiri dengan suara yang mantap, dengan mata yang berbinar, dengan keyakinan
yang tidak bisa digoyahkan, bukan lagi Aditya yang dulu.
Bukan pemuda pendiam yang hanya tersenyum ketika diajak
bicara.
Bukan pemuda yang lebih banyak diam di gardu ronda.
Bukan pemuda yang tidak pernah berani bermimpi.
Tetapi seseorang yang pulang dengan cara pandang baru, cara
pandang yang lahir dari luka, cara pandang yang ditempa oleh kehilangan, cara
pandang yang diajarkan oleh seorang perempuan dari negeri di atas awan.
________________________________________
Setelah pertemuan itu, setelah kata-katanya menggantung di
udara balai desa, setelah beberapa warga pulang dengan pikiran yang berbeda,
setelah sebagian kecil mulai percaya, sedikit demi sedikit dukungan mulai
datang.
Perlahan. Seperti tetesan air yang mengikis batu. Seperti
akar yang menjalar di dalam tanah. Seperti kabut yang turun tanpa terburu-buru.
Anak-anak muda desa ikut tertarik, mereka yang selama ini
merasa tidak ada masa depan di desa, yang berencana merantau ke kota, yang
mengira bahwa satu-satunya cara untuk sukses adalah meninggalkan kampung
halaman, mulai bertanya, mulai membantu, mulai bermimpi.
Beberapa petani bersedia meminjamkan lahan, lahan yang
selama ini hanya ditanami sayur, yang hasilnya tidak seberapa, yang mungkin
lebih berharga jika dijadikan tempat wisata.
Ibu-ibu mulai membicarakan warung kopi sederhana, kopi dari
kebun mereka sendiri, gorengan dari dapur mereka sendiri, keramahan yang sudah
menjadi ciri khas mereka sejak dulu.
Pemuda karang taruna mulai membantu membersihkan jalur, membabat
rumput, menata batu, membuat pagar sederhana dari bambu.
Dan tanpa disadari, tanpa terburu-buru, tanpa drama, tanpa
perayaan besar, sebuah mimpi kecil mulai tumbuh. Tumbuh di tanah yang selama
ini kering oleh keraguan. Tumbuh di desa yang selama ini hanya diam di kaki
gunung. Tumbuh dari luka seorang pemuda yang hancur hatinya di negeri atas
awan.
________________________________________
Amat Junior menjadi bagian promosi, dengan antusiasme yang
menggebu-gebu, dengan semangat yang tidak pernah padam, dengan ide-ide yang
kadang masuk akal kadang tidak.
"Biar saya yang bikin slogan."
Jojon langsung bertanya, bertanya dengan nada curiga,
karena pengalaman mengajarkan bahwa slogan Amat biasanya terlalu panjang atau
terlalu aneh.
"Apa slogannya?"
Amat berdehem, berdehem seperti pembawa acara di panggung
besar, mengatur posisi duduk, meluruskan punggung.
"Datang karena pemandangan, pulang karena
kenangan."
Jojon menatap, menatap dengan mata yang menyipit, dengan
ekspresi yang seperti sedang menilai apakah ini layak atau tidak.
"Lumayan."
Guntur mengangguk, anggukan yang pelan, anggukan yang
jarang ia berikan untuk ide-ide Amat.
"Untuk sekali ini, tidak buruk."
Amat tersenyum bangga, tersenyum seperti baru saja
memenangkan lomba, seperti baru saja membuktikan bahwa ia tidak hanya bisa
bercanda.
Aditya tersenyum. Senyum yang kecil. Senyum yang tidak lagi
terasa sakit. Senyum yang seperti sinar matahari pagi setelah hujan semalaman.
Karena untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya sejak
pagi di Bukit Sikunir, sejak Sekar menghilang bersama cahaya matahari pertama,
sejak ia pulang dengan hati hancur berkeping-keping,
rasa sakit di dadanya tidak hanya terasa sebagai
kehilangan.
Tidak hanya sebagai luka yang berdarah.
Tidak hanya sebagai kenangan yang menyakitkan.
Tetapi juga sebagai tenaga.
Tenaga untuk bangun pagi-pagi.
Tenaga untuk bekerja tanpa lelah.
Tenaga untuk bermimpi lagi.
________________________________________
Malam itu, setelah seharian bekerja membersihkan jalur,
setelah berkeringat dan pegal di sekujur tubuh, setelah Amat pulang dengan mata
mengantuk dan Jojon mengeluh punggungnya sakit, Aditya kembali berdiri
sendirian di lereng desa.
Tempat yang sama. Lereng yang sama. Di belakang rumahnya,
di bawah pohon pinus tua yang sudah ada sejak ia kecil.
Kabut turun perlahan, turun seperti tirai putih yang
ditarik oleh tangan yang lembut, seperti selendang yang dilayangkan langit,
seperti pelukan dari gunung yang merindukannya.
Lampu-lampu rumah menyala di bawah, kuning, redup,
berkedip-kedip seperti kunang-kunang, seperti bintang yang jatuh ke bumi,
seperti harapan-harapan kecil yang masih bertahan.
Angin dingin bergerak pelan di antara pohon pinus, bergerak
seperti bisikan, seperti nyanyian, seperti sesuatu yang tidak bisa didengar
tetapi bisa dirasakan.
Ia memandang langit lama, lama sekali, seperti mencari
sesuatu di antara bintang-bintang yang samar, seperti berdoa kepada Tuhan yang
mungkin sedang mendengarkan.
Lalu berbisik, bisikan yang pelan, bisikan yang seperti
doa, bisikan yang seperti janji.
"Aku mulai."
Tak ada jawaban. Hanya suara angin. Hanya suara daun pinus
yang bergesekan. Hanya suara jangkrik di kejauhan.
Namun tiba-tiba, tiba-tiba seperti keajaiban, seperti
mukjizat, seperti sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika,
kabut di depannya bergerak perlahan.
Bergerak seperti ada yang menggerakkannya. Bergerak seperti
ada tangan tak terlihat yang sedang membentuk sesuatu. Bergerak seperti seorang
pelukis yang sedang melukis di kanvas putih.
Membentuk bayangan samar seorang perempuan.
Gaun putih.
Rambut panjang.
Senyum yang sangat ia kenal.
Sekar.
Aditya membeku, membeku seperti patung, seperti pohon,
seperti sesuatu yang berhenti bernapas.
Sosok itu tidak berkata apa-apa. Tidak bergerak. Tidak
mendekat. Hanya berdiri di antara kabut, hanya memandangnya dengan mata yang
lembut, mata yang sama seperti di tepi telaga, mata yang sama seperti di Bukit
Sikunir, mata yang sama yang akan selalu ia ingat meskipun usianya seratus
tahun nanti.
Mata yang mengatakan aku bangga padamu.
Mata yang mengatakan kamu kuat.
Mata yang mengatakan cintaku tidak sia-sia.
Lalu perlahan, sangat perlahan, seperti mimpi yang memudar
saat bangun tidur, seperti kabut yang terangkat oleh sinar matahari, bayangan
itu menghilang.
Meninggalkan satu rasa hangat di dada Aditya.
Bukan luka. Bukan rindu. Bukan kesedihan.
Melainkan keyakinan.
Keyakinan bahwa cinta yang kandas di negeri atas awan itu, cinta
yang tidak pernah sempat ia miliki, cinta yang tidak pernah sempat ia bawa
pulang, cinta yang hanya singgah sebentar di hidupnya,
tidak benar-benar pergi.
Ia hanya berubah bentuk.
Berubah menjadi cahaya kecil di dalam dadanya.
Berubah menjadi alasan untuk bangun setiap pagi.
Berubah menjadi mimpi yang ia kejar setiap hari.
Menjadi bagian dari setiap batu yang ia letakkan, setiap
jalur yang ia bersihkan, setiap kabut yang ia sapa.
Menjadi sesuatu yang akan ia kenang seumur hidupnya, tetapi
tidak lagi membuatnya menangis.
________________________________________
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kehilangan
Sekar, untuk pertama kalinya sejak pagi di Bukit Sikunir, untuk pertama kalinya
sejak ia pulang dengan hati yang hancur berkeping-keping,
Aditya tidak menangis.
Matanya kering. Dadanya tenang. Hatinya damai.
Karena akhirnya ia mengerti, akhirnya ia menerima, akhirnya
ia berdamai dengan takdir yang tidak bisa ia ubah.
Bahwa kadang seseorang hadir dalam hidup kita, hadir
seperti kabut, hadir seperti senja, hadir seperti mimpi yang indah, bukan untuk
tinggal selamanya.
Bukan untuk dimiliki.
Bukan untuk dibawa pulang.
Melainkan untuk meninggalkan pesan.
Pesan yang akan mengubah seluruh masa depan.
Pesan yang akan membuat kita menjadi versi terbaik dari
diri kita sendiri.
Pesan yang akan kita bawa sampai akhir hayat, dan akan kita
ceritakan kepada anak cucu kita kelak, tentang cinta pertama yang tidak pernah
kita miliki, tetapi mengajarkan kita segalanya tentang kehidupan.
________________________________________
BAB 15 — Bangkit dari Luka
Musim berganti perlahan di Desa Awan Biru, berlalu seperti
halaman buku yang dibalik satu per satu, seperti kabut yang turun dan naik tanpa
terburu-buru, seperti waktu yang berjalan tanpa peduli pada siapa pun.
Kabut yang dulu hanya dianggap biasa, yang hanya menjadi
latar belakang kehidupan sehari-hari, yang hanya membuat pakaian basah dan
jalan licin, kini mulai dipandang berbeda oleh warga. Bukan lagi sebagai
gangguan, bukan lagi sebagai sesuatu yang menyebalkan, tetapi sebagai keindahan yang
selama ini tidak mereka sadari.
Jalur setapak yang sebelumnya sepi, yang hanya dilalui oleh
petani yang pergi ke kebun, yang hanya menjadi jalan pintas bagi anak-anak
sekolah, pelan-pelan dibersihkan. Dibatasi dengan bambu. Diberi tanda dengan
kayu. Dijadikan sesuatu yang layak untuk dilalui oleh orang-orang dari jauh.
Bambu-bambu tua ditebang lalu disusun menjadi pagar
sederhana, pagar yang tidak kokoh tetapi cantik, pagar yang tidak mahal tetapi
membuat tempat itu terasa lebih terawat, pagar yang menjadi batas antara kebun
dan jalur wisata.
Kayu-kayu bekas diubah menjadi gardu pandang kecil di
lereng, gardu sederhana dengan atap rumbia, dengan bangku dari balok kayu yang
belum dihaluskan, dengan pemandangan lembah dan Gunung Sumbing yang tidak perlu
dihias karena sudah sempurna dengan sendirinya.
Dan di tengah semua itu, di tengah hiruk pikuk persiapan,
di tengah debat tentang rute terbaik, di tengah pertengkaran kecil tentang
pembagian hasil, Aditya bekerja tanpa banyak bicara.
Setiap pagi sebelum matahari muncul, ketika langit masih
gelap pekat, ketika bintang-bintang masih bersinar, ketika kabut paling tebal
dan udara paling dingin, ia sudah berada di atas bukit. Sendirian. Memeriksa
jalur. Memperbaiki pagar yang rusak. Menata batu-batu yang bergeser.
Setiap sore saat orang lain pulang, saat petani kembali ke
rumah dengan cangkul di pundak, saat anak-anak berlarian pulang sekolah, saat
ibu-ibu mulai menyalakan api di dapur, ia masih memandangi lereng sambil
membayangkan sesuatu yang belum bisa dilihat orang lain.
Sebuah tempat yang lahir dari patah hati.
Sebuah tempat yang dibangun dari air mata.
Sebuah tempat yang didirikan di atas tanah yang dulu hanya
ia anggap biasa.
________________________________________
"Kalau dipikir-pikir…"
Amat Junior menancapkan bambu ke tanah, bambu setinggi dua
meter, yang akan menjadi tiang pagar di tepi jalur. Keringat mengalir di
dahinya. Bajunya basah meskipun udara dingin.
"Ini pertama kalinya saya lihat orang patah hati malah
rajin kerja."
Jojon yang sedang mengecat papan, papan kayu bekas yang
akan dijadikan papan nama, tertawa kecil. Kuasnya bergerak naik turun,
meninggalkan jejak cat coklat di kayu yang sudah mulai lapuk.
"Biasanya patah hati itu rebahan. Nonton TV sambil
makan keripik. Nangis di kamar. Nggak mandi berhari-hari."
Guntur yang sedang mengukur jalur, dengan meteran panjang
yang ujungnya dipegang oleh batu, menimpali tanpa menoleh.
"Karena tidak semua orang hancur dengan cara yang
sama."
Aditya tersenyum kecil, senyum yang kecil, senyum yang
tidak lagi terasa sakit, senyum yang seperti sinar matahari pagi setelah hujan
semalaman.
Lalu berkata pelan, pelan seperti sedang berbicara kepada
dirinya sendiri, seperti sedang merenungkan sesuatu yang dalam.
"Kadang ada luka… yang justru membuat orang sadar
harus hidup untuk apa."
Mereka bertiga diam. Tidak ada yang menyahut. Tidak ada
yang bercanda. Tidak ada yang memecah kesunyian itu.
Karena mereka tahu, karena mereka sudah cukup dewasa, sudah
cukup bijak, sudah cukup mengenal Aditya untuk tahu, yang sedang dibangun
Aditya bukan sekadar tempat wisata.
Bukan sekadar gardu pandang.
Bukan sekadar jalur setapak.
Bukan sekadar papan nama.
Tetapi cara baru, cara yang ia pelajari dari seorang
perempuan di negeri atas awan, cara yang lahir dari cinta yang kandas, cara
yang ditempa oleh kehilangan yang hampir menghancurkannya,
untuk berdamai dengan kehilangan.
________________________________________
Dalam beberapa minggu, dalam waktu yang singkat tetapi
terasa seperti tahun, kabar tentang tempat itu mulai menyebar.
Bukan karena iklan di televisi. Bukan karena baliho di
pinggir jalan. Bukan karena poster yang ditempel di tempat-tempat ramai.
Tetapi dari mulut ke mulut. Dari cerita ke cerita. Dari
unggahan ke unggahan.
Anak-anak muda desa mengunggah foto kabut pagi, foto yang
diambil dengan kamera ponsel sederhana, tanpa filter, tanpa editan, tetapi
keindahannya tidak perlu disempurnakan karena alam sudah melakukannya.
Amat membuat akun media sosial sederhana, dengan nama
"Lereng Sekar", dengan foto profil pemandangan kabut, dengan bio yang
berbunyi: "Tempat di mana kabut turun lebih dulu daripada
matahari."
Jojon memasang papan kayu bertuliskan, tulisan tangan,
dengan cat yang sedikit belepotan, dengan huruf yang tidak sejajar tetapi terasa
lebih hangat dari papan cetak,
"Lereng Sekar — Negeri Kecil di Atas Awan."
Saat melihat nama itu, saat membaca tulisan itu di papan
kayu yang masih basah oleh cat, Guntur menatap Aditya. Tatapan yang lama.
Tatapan yang penuh pertanyaan.
"Kamu yakin?"
Aditya memandang papan itu lama, lama sekali, seperti
sedang membaca sesuatu yang tidak tertulis di sana, seperti sedang mengingat
seseorang yang tidak bisa ia lihat.
Lalu mengangguk, anggukan yang pelan, anggukan yang mantap,
anggukan yang seperti mengatakan ini sudah bukan lagi tentang dia, ini
tentang aku.
"Aku tidak ingin melupakan. Aku hanya ingin mengubah
rasa sakitnya."
Guntur tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menepuk bahu
Aditya, tepukan yang hangat, tepukan yang seperti mengatakan aku
mengerti.
Karena kadang, cinta yang gagal, cinta yang kandas, cinta yang
tidak pernah sempat bersatu, tak harus dibuang. Tak harus dilupakan. Tak harus
dihapus dari ingatan.
Kadang ia hanya perlu diberi tempat yang baru. Tempat yang
lebih lapang. Tempat yang lebih terang. Tempat di mana ia bisa berubah bentuk
menjadi sesuatu yang lebih berguna daripada sekadar kenangan yang menyakitkan.
________________________________________
Namun perjuangan tidak mudah, tidak semudah yang
dibayangkan Aditya, tidak semudah yang digambarkan dalam mimpi-mimpinya.
Sebagian warga masih meragukan, masih menertawakan dari
balik jendela, masih berbisik-bisik di warung kopi, masih menggeleng setiap
kali melihat anak-anak muda sibuk membersihkan jalur.
"Paling seminggu ramai. Habis itu sepi lagi. Orang
kota cepat bosan."
"Anak muda cuma semangat di awal. Nanti kalau capek,
ditinggal lagi."
"Buang-buang waktu. Lebih baik fokus nanam
sayur."
Bahkan kepala dusun, bapak tua dengan kumis tebal, dengan
suara berat, dengan kewibawaan yang tidak perlu dipertanyakan, sempat bertanya
di suatu sore, di teras rumahnya yang sederhana, sambil menyesap kopi pahit.
"Kalau gagal bagaimana?"
Aditya menjawab tenang, tenang seperti air telaga, tenang
seperti kabut yang turun tanpa terburu-buru, tenang seperti seseorang yang
sudah kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya sehingga tidak ada lagi
yang perlu ditakutkan.
"Setidaknya kita pernah mencoba melihat desa ini
dengan cara berbeda."
Jawaban itu sederhana. Tidak berapi-api. Tidak penuh janji.
Tidak bombastis.
Namun perlahan, satu per satu, sedikit demi sedikit,
seperti tetesan air yang mengikis batu, jawaban itulah yang membuat beberapa
warga mulai ikut percaya.
Bukan karena mereka yakin Aditya akan berhasil.
Tetapi karena mereka melihat bahwa pemuda ini, pemuda yang
dulu pendiam, yang dulu tidak pernah berbicara banyak, yang dulu hanya
tersenyum ketika diajak bicara, telah berubah.
Dan perubahan itu, lebih dari apa pun, adalah bukti bahwa
apa yang ia perjuangkan adalah sesuatu yang nyata.
________________________________________
Ibu-ibu mulai membuka warung kopi, warung sederhana di
depan rumah, dengan meja dari kayu bekas, dengan kursi dari bambu, dengan kopi
dari kebun mereka sendiri yang diseduh dengan cara tradisional.
Pemuda desa membantu membuat spot foto, bingkai dari
ranting pohon, ayunan dari tali dan papan, gardu pandang di tempat-tempat
dengan pemandangan terbaik.
Anak-anak kecil menawarkan hasil kebun, carica, kentang,
wortel, dengan senyum malu-malu, dengan harga yang tidak mahal, dengan
keramahan yang tidak bisa diajarkan di sekolah.
Beberapa bapak memperbaiki akses jalan, menambal lubang,
membersihkan batu, membuat jalan setapak yang aman untuk dilalui wisatawan.
Desa yang dulu hanya diam di kaki gunung, yang dulu hanya
dikenal sebagai titik di peta yang mudah terlewat, yang dulu hanya menjadi
tempat tinggal bagi mereka yang tidak punya pilihan lain,
perlahan mulai bergerak.
Bergerak seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang.
Bergerak seperti tanah yang mulai subur setelah musim
kemarau.
Bergerak seperti sesuatu yang selama ini terpendam,
akhirnya keluar ke permukaan.
Dan yang paling mengejutkan, yang paling tidak terduga,
yang paling membahagiakan bagi Aditya, mereka bergerak bersama.
Bukan sendiri-sendiri. Bukan saling mendahului. Bukan
dengan iri hati.
Tetapi bersama. Seperti keluarga besar yang akhirnya sadar
bahwa mereka memiliki tujuan yang sama.
________________________________________
Pagi pertama tempat itu dibuka, pagi yang dinanti-nanti,
pagi yang dipersiapkan selama berminggu-minggu, pagi yang akan menentukan
apakah mimpi ini akan hidup atau mati—langit justru mendung.
Mendung kelabu, kelabu seperti abu, kelabu seperti
kesedihan, kelabu seperti sesuatu yang akan menangis.
Kabut turun tebal, tebal seperti dinding putih, tebal
seperti tidak ada celah, tebal seperti alam sedang tidak ingin menunjukkan
wajahnya.
Angin dingin menusuk, dingin yang tajam, dingin yang
seperti pisau kecil yang menyayat kulit, dingin yang membuat orang ingin tetap
di dalam selimut.
Tak satu pun kendaraan terlihat sampai matahari hampir
terbit. Jalan desa yang sudah dibersihkan, yang sudah ditata, yang sudah siap
menyambut pengunjung, masih sepi. Sepi seperti kuburan. Sepi seperti telaga di
malam hari. Sepi seperti hati yang baru saja kehilangan.
Amat mulai gelisah, gelisah seperti ayam yang melihat elang
di langit, gelisah seperti orang yang taruhannya terlalu besar.
"Waduh. Jangan-jangan nggak ada yang datang."
Jojon menatap jalan kosong, jalan yang membentang dari desa
ke lereng, jalan yang tidak dilalui oleh satu pun kendaraan.
"Saya sudah siap malu."
Guntur tetap diam, diam seperti biasanya, meski wajahnya
ikut tegang. Tangannya di saku jaket. Matanya menyipit ke arah jalan. Dadanya
naik turun lebih cepat dari biasanya.
Aditya berdiri memandang lereng, berdiri di gardu pandang
tertinggi, di tempat yang ia pilih sendiri, di tempat yang menurutnya memiliki
pemandangan terbaik.
Tenang. Sangat tenang. Tenang seperti air telaga. Tenang
seperti kabut yang tidak pernah terburu-buru. Tenang seperti seseorang yang
sudah kehilangan segalanya sehingga tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.
Entah karena ia memang benar-benar yakin, yakin dengan
keyakinan yang tidak bisa dijelaskan, yakin dengan perasaan yang tidak bisa
dibuktikan dengan data, atau karena setelah kehilangan Sekar, setelah hatinya
hancur berkeping-keping di Bukit Sikunir, setelah ia pulang dengan luka yang
tidak akan pernah benar-benar sembuh,
tak ada lagi yang terasa lebih menakutkan dari gagal.
Gagal hanya sekadar gagal.
Tidak ada yang mati.
Tidak ada yang pergi selamanya.
Tidak ada yang hilang tidak akan kembali.
________________________________________
Lalu dari kejauhan, dari balik kabut yang tebal, dari balik
tikungan jalan yang berkelok, dari balik pepohonan pinus yang menjulang, terdengar
suara motor.
Satu.
Kemudian dua.
Lalu beberapa mobil kecil.
Mobil-mobil dengan plat nomor dari berbagai kota, Semarang,
Yogyakarta, Solo, bahkan Jakarta, berhenti satu per satu di pinggir jalan desa
yang sempit.
Beberapa wisatawan muda turun sambil membawa kamera, kamera
besar dengan lensa panjang, kamera saku, kamera ponsel. Wajah mereka masih
mengantuk, rambut masih acak-acakan, jaket masih belum rapi.
"Ini tempat yang viral itu ya?"
"Katanya sunrise-nya bagus. Lebih bagus dari Sikunir
katanya."
"Wah kabutnya keren banget! Ayo foto!"
Amat langsung menoleh ke Jojon, menoleh dengan mata yang
membulat, dengan mulut yang terbuka, dengan ekspresi yang seperti baru melihat
keajaiban.
"Kita resmi."
Jojon hampir melompat, melompat seperti anak kecil yang
baru diberi hadiah, melompat seperti orang yang tidak bisa menahan kegembiraan.
"Beneran datang! Beneran ada yang datang!"
Tak lama, semakin banyak orang berdatangan. Dari sepeda
motor, dari mobil, dari bus kecil. Ada pasangan muda, bergandengan tangan,
dengan senyum yang bahagia, dengan kamera yang siap menjepret. Ada rombongan
mahasiswa, dengan jaket almamater, dengan tas ransel besar, dengan tawa yang
riang. Ada keluarga kecil, ayah, ibu, dua anak, dengan bekal dari rumah, dengan
termos air panas, dengan semangat liburan yang tidak bisa padam.
Ada fotografer professional, dengan rompi penuh kantong,
dengan tripod di pundak, dengan ekspresi serius yang hanya dimengerti oleh
sesama fotografer.
Dan untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya dalam
sejarah Desa Awan Biru, lereng sunyi itu dipenuhi suara tawa. Suara langkah.
Suara kehidupan.
________________________________________
Seorang wisatawan perempuan, muda, dengan jaket biru,
dengan rambut pendek, dengan mata yang penuh rasa ingin tahu, menghampiri
Aditya.
Ia berdiri di depan Aditya, tersenyum ramah, bertanya
dengan suara yang hangat.
"Mas, ini yang bikin tempat ini?"
Aditya tersenyum kecil, senyum yang tidak lagi terasa
sakit, senyum yang tidak lagi dipaksakan, senyum yang lahir dari rasa bangga
yang sederhana.
"Bukan sendiri. Banyak warga yang bantu."
Perempuan itu memandang hamparan kabut, kabut yang mulai
terangkat perlahan, yang mulai memperlihatkan lembah di bawah, yang mulai
membiarkan sinar matahari masuk.
"Indah sekali. Rasanya seperti tempat yang punya
cerita."
Aditya menatap jauh ke lereng, menatap kabut yang bergerak,
menatap matahari yang mulai muncul, menatap dunia yang terus berjalan.
Lalu menjawab pelan, sangat pelan, seperti sedang berbicara
kepada seseorang yang tidak bisa ia lihat.
"Memang punya."
Perempuan itu tersenyum, senyum yang ramah, senyum yang
tidak tahu apa-apa tentang cerita di balik tempat ini, senyum yang hanya
menikmati keindahan tanpa harus tahu luka apa yang melahirkannya.
Lalu ia pergi, berjalan ke gardu pandang, mengambil kamera,
mengatur fokus, mengabadikan momen.
Dan untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya sejak
pulang dari Dieng, sejak Sekar menghilang bersama cahaya matahari pertama, Aditya
bisa mengucapkan kalimat itu.
"Tempat yang punya cerita."
Mengucapkannya tanpa hatinya runtuh.
Mengucapkannya tanpa dadanya sesak.
Mengucapkannya tanpa air mata yang mengalir.
________________________________________
Matahari perlahan muncul dari balik kabut, pertama hanya
setitik, seperti bara api kecil di ufuk timur. Lalu membesar, membesar, hingga
setengah lingkaran.
Cahaya keemasan menyentuh lereng, menyentuh kebun kopi,
menyentuh pepohonan pinus, menyentuh wajah-wajah wisatawan yang menunggu dengan
sabar.
Kabut bergerak seperti lautan putih, bergelombang,
bergerak, seperti samudra yang tidak pernah tenang, seperti sesuatu yang hidup
dan bernapas.
Pohon-pohon pinus berdiri diam, tegak seperti barisan
tentara, seperti saksi bisu dari segala sesuatu yang terjadi di lereng ini.
Suara kagum wisatawan memenuhi udara pagi, wow, indah
sekali, gila keren banget, suara-suara yang tulus, suara-suara
yang tidak dibuat-buat, suara-suara orang yang sedang menyaksikan keindahan
untuk pertama kalinya.
Beberapa orang bertepuk tangan, bertepuk seperti di konser,
seperti di bioskop setelah film bagus usai, seperti di gereja setelah khotbah
yang mengharukan.
Sama seperti pagi di Sikunir. Sama seperti pagi ketika
Sekar menghilang. Sama seperti pagi yang mengubah hidupnya selamanya.
Dan mendadak, tiba-tiba seperti kilat, seperti sambaran
petir di siang bolong, Aditya teringat segalanya.
Telaga. Kabut. Sekar. Perpisahan. Bukit Sikunir. Matahari
terbit. Gaun putih. Rambut panjang. Senyum yang terakhir.
Semua kembali sekejap, kembali seperti banjir, seperti air
bah, seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan.
Namun kali ini, kali ini berbeda, yang datang bukan hanya
sedih. Bukan hanya luka. Bukan hanya air mata yang tertahan.
Melainkan syukur.
Syukur yang aneh. Syukur yang tidak masuk akal. Syukur yang
lahir dari kesadaran bahwa jika ia tidak pernah patah hati, jika ia tidak
pernah kehilangan Sekar, jika ia tidak pernah merasakan sakit yang begitu
dalam, ia mungkin tidak akan pernah sampai di titik ini.
Mungkin tidak akan pernah melihat desanya dengan cara baru.
Mungkin tidak akan pernah membangun tempat ini.
Mungkin tidak akan pernah berdiri di sini, di lereng yang
ia cintai, menyaksikan orang-orang menikmati keindahan yang selama ini
tersembunyi.
________________________________________
Di tengah keramaian itu, di tengah suara tawa dan kagum, di
tengah orang-orang yang berlalu lalang, di tengah wisatawan yang sibuk berfoto,
angin bertiup lembut.
Lembut seperti bisikan. Lembut seperti belaian. Lembut
seperti seseorang yang menyentuh pundaknya dari jauh.
Kabut tipis bergerak di ujung gardu pandang, bergerak
seperti tirai yang dibuka perlahan, seperti sesuatu yang sedang memperlihatkan
diri.
Dan di sana, di antara kabut yang bergerak, di antara putih
yang tipis, di antara sinar matahari yang mulai hangat,
untuk sesaat, hanya sesaat, hanya satu kedipan mata,
Aditya melihat sosok itu lagi.
Gaun putih.
Rambut panjang.
Senyum tenang.
Sekar.
Berdiri di antara kabut pagi. Berdiri di ujung gardu
pandang. Berdiri di tempat yang paling indah di lereng ini.
Memandangnya dari jauh. Bukan dengan kesedihan, bukan
dengan mata yang basah, bukan dengan senyum yang pilu, bukan dengan tatapan
perpisahan.
Melainkan dengan kebanggaan.
Kebanggaan yang tenang. Kebanggaan yang tulus. Kebanggaan
yang seperti seorang guru melihat muridnya berhasil.
Air mata Aditya jatuh pelan, jatuh di pipinya yang dingin,
jatuh di jaket yang ia kenakan, jatuh di tanah yang ia cintai.
Namun kali ini, kali ini berbeda, ia tidak merasa hancur.
Ia tidak merasa seperti kehilangan.
Ia tidak merasa seperti ada yang mati di dalam dirinya.
Ia justru tersenyum. Sangat pelan. Sangat lembut. Sangat
seperti cahaya matahari pagi.
Karena akhirnya ia mengerti, akhirnya ia menerima, akhirnya
ia berdamai dengan takdir yang tidak bisa ia ubah,
bahwa Sekar tidak datang untuk tinggal dalam hidupnya.
Ia datang untuk mengubahnya.
Mengubah cara pandangnya.
Mengubah arah hidupnya.
Mengubah dirinya menjadi seseorang yang lebih baik.
________________________________________
"Dit!"
Suara Amat memanggil dari belakang, suara yang keras, suara
yang riang, suara yang seperti tidak ada yang salah.
"Kamu ngapain senyum sendiri?"
Aditya mengusap matanya cepat, mengusap dengan punggung
tangan, mengusap dengan lengan jaket, menyembunyikan air mata yang masih basah.
"Tidak apa-apa."
Jojon mendekat, mendekat dengan langkah yang hati-hati,
dengan ekspresi yang curiga.
"Jangan bilang lihat dia lagi."
Aditya menatap kabut yang kini kosong, kosong seperti tidak
pernah ada siapa pun, kosong seperti bayangan yang pergi bersama sinar
matahari.
Lalu tersenyum kecil, senyum yang kecil, senyum yang damai,
senyum yang tidak lagi menyembunyikan luka.
"Bukan. Cuma merasa… akhirnya aku menepati
janji."
Guntur menatapnya lama, sangat lama, seperti sedang membaca
sesuatu di balik wajahnya, seperti sedang mencari tahu apakah sahabatnya
benar-benar baik-baik saja.
Dan tanpa perlu bertanya, tanpa perlu berkata apa pun, tanpa
perlu mendengar penjelasan, ia tahu.
Ia tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.
Kepada perempuan di telaga.
Kepada Sekar Tanjung.
Kepada cinta yang kandas di negeri atas awan.
________________________________________
Pagi itu, pagi yang cerah, pagi yang hangat, pagi yang
dipenuhi tawa wisatawan dan kabut yang perlahan terangkat,
di lereng kecil Desa Awan Biru, di tempat yang kini bernama
Lereng Sekar, di tempat yang dibangun dari patah hati dan air mata dan mimpi
yang tidak mau mati,
Aditya akhirnya bangkit dari luka.
Bangkit seperti matahari yang terbit setelah malam yang
panjang.
Bangkit seperti kabut yang terangkat setelah hujan.
Bangkit seperti sesuatu yang mati, lalu hidup kembali.
Bukan dengan melupakan, bukan dengan menghapus Sekar dari
ingatannya, bukan dengan berpura-pura bahwa cinta itu tidak pernah ada, bukan
dengan menutup hati untuk selamanya.
Bukan dengan mengganti, bukan dengan mencari pengganti,
bukan dengan melompat ke pelukan orang lain, bukan dengan berpura-pura bahwa ia
sudah sembuh.
Tetapi dengan menjadikan cinta yang kandas, cinta yang
tidak pernah sempat ia miliki, cinta yang hanya singgah sebentar di hidupnya,
cinta yang mengajarkannya arti kehilangan,
sebagai alasan.
Alasan untuk menciptakan sesuatu yang hidup.
Alasan untuk membangun sesuatu yang abadi.
Alasan untuk bangun setiap pagi dan tersenyum, meskipun
hatinya masih menyimpan luka.
________________________________________
Dan sejak hari itu, sejak pagi pertama wisatawan datang ke
Lereng Sekar, sejak nama desanya mulai dikenal orang, sejak mimpi yang dibangun
dari patah hati mulai menjadi nyata,
orang-orang yang datang ke tempat itu hanya melihat
pemandangan indah.
Hanya melihat kabut yang turun di antara pepohonan pinus.
Hanya melihat matahari yang terbit dari balik Gunung
Sumbing.
Hanya melihat hamparan kebun kopi yang hijau.
Hanya melihat gardu pandang sederhana dari bambu dan kayu
bekas.
Hanya melihat warung kopi kecil yang dikelola ibu-ibu desa.
Hanya melihat tempat wisata baru yang instagramable, yang
cocok untuk foto liburan, yang bisa jadi bahan cerita di media sosial.
Namun hanya Aditya yang tahu, hanya Aditya yang merasakan,
hanya Aditya yang mengerti, bahwa di balik kabut pagi yang lembut, di balik
angin yang berhembus pelan, di balik senyum yang ia tunjukkan kepada wisatawan,
ada satu cinta yang tak pernah benar-benar pergi.
Cinta yang tetap tinggal di antara kabut.
Cinta yang berubah menjadi bagian dari setiap batu yang ia
letakkan, setiap jalur yang ia bersihkan, setiap gardu yang ia bangun.
Cinta yang menjadi bisikan lembut setiap kali angin bertiup
dari arah timur.
Cinta yang menjadi alasan mengapa ia memilih untuk tidak
melupakan, tetapi merangkul.
Cinta yang kandas di negeri atas awan, tetapi berakar di
lereng Sumbing, tumbuh menjadi sesuatu yang indah, dan akan terus hidup selama
masih ada kabut yang turun di desa itu.
________________________________________
EPILOG — Cintaku Kandas di Negeri Atas
Awan
Beberapa bulan berlalu. Mungkin setahun. Mungkin lebih.
Waktu berjalan seperti sungai yang tidak pernah berhenti mengalir, membawa
hari-hari berlalu tanpa terasa, membawa musim berganti dari hujan ke kemarau,
dari kemarau ke hujan, seperti siklus yang tidak pernah lelah.
Nama Lereng Sekar perlahan dikenal orang, dikenal bukan
karena iklan di televisi, bukan karena baliho di pinggir jalan, bukan karena
selebritas yang mempromosikannya.
Awalnya hanya dari unggahan foto sederhana, foto kabut pagi
yang diambil dengan kamera ponsel, foto matahari terbit dari balik Gunung
Sumbing, foto gardu pandang sederhana dengan latar belakang lembah hijau.
Dari cerita wisatawan yang datang lalu bercerita kepada
temannya, "Kamu harus ke sana, sunrise-nya lebih bagus dari Dieng, dan
orang-orangnya ramah sekali."
Dari video pendek tentang kabut pagi yang turun di antara
pohon pinus, video yang diunggah ke media sosial, yang dilihat oleh ribuan
orang, yang membuat banyak orang bertanya, "Di mana itu? Tempatnya
bagus banget."
Dari secangkir kopi hangat yang diminum sambil menunggu
matahari muncul dari balik lereng, kopi yang diseduh oleh ibu-ibu desa, dengan
gula aren dari kebun sendiri, dengan aroma yang tidak bisa ditemukan di tempat
lain.
Lalu orang-orang mulai berdatangan. Tidak ramai sekaligus, tidak
seperti Malioboro atau Kuta atau tempat-tempat wisata lain yang penuh sesak
setiap akhir pekan.
Tetapi cukup, cukup untuk membuat Desa Awan Biru yang dulu
sunyi, yang dulu hanya dikenal oleh penduduknya sendiri, yang dulu tidak pernah
dikunjungi siapa pun,
perlahan menemukan denyut baru.
Warung-warung kecil mulai hidup, mulai dipenuhi pembeli,
mulai mendapatkan penghasilan, mulai bisa membeli kebutuhan yang sebelumnya
hanya bisa diimpikan.
Hasil kebun mulai lebih mudah terjual, kentang, wortel,
kopi, carica, tanpa harus dibawa ke pasar kota, tanpa harus dijual dengan harga
murah kepada tengkulak.
Anak-anak muda yang dulu ingin pergi ke kota, yang mengira
bahwa satu-satunya cara untuk sukses adalah meninggalkan kampung halaman, yang
mengira bahwa desa ini tidak punya masa depan,
mulai percaya bahwa desa mereka pun bisa memberi harapan.
Mulai percaya bahwa mereka tidak perlu pergi jauh-jauh
untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Mulai percaya bahwa rumah bisa menjadi
tempat yang paling menjanjikan.
Dan di tengah perubahan itu, di tengah hiruk pikuk
wisatawan yang datang dan pergi, di tengah kabut yang masih setia turun setiap
pagi, di tengah desa yang perlahan bangun dari tidur panjangnya,
nama Aditya mulai disebut dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi sebagai pemuda yang suka berkhayal, bukan
sebagai anaknya Pak RT yang pendiam, bukan sebagai seseorang yang lebih banyak
diam di gardu ronda.
Tetapi sebagai seseorang yang pulang membawa luka,
lalu mengubah luka itu menjadi jalan.
________________________________________
Suatu pagi, pagi yang cerah, dengan kabut yang tidak
terlalu tebal, dengan matahari yang bersinar hangat, seorang wartawan dari kota
datang mewawancarai Aditya.
Wartawan itu perempuan muda, dengan jaket jurnalistik,
dengan buku catatan di tangan, dengan pulpen yang selalu siap. Matanya tajam.
Tanyanya cepat. Seperti orang yang terbiasa mencari berita di mana pun.
Mereka duduk di gardu kayu sederhana, gardu pandang
tertinggi di Lereng Sekar, tempat favorit Aditya, tempat yang memberikan
pemandangan terbaik dari seluruh lereng.
Ditemani kabut tipis yang bergerak di kejauhan, kabut yang
seperti tirai putih yang tidak pernah benar-benar tertutup, kabut yang menjadi
saksi bisu dari segala sesuatu yang terjadi di lereng ini.
Ditemani kopi panas, kopi hitam pekat dari kebun Aditya
sendiri, diseduh oleh ibunya, dengan aroma yang tidak perlu dijelaskan dengan
kata-kata.
Wartawan itu bertanya, dengan nada ingin tahu, dengan mata
yang berbinar, dengan pulpen yang siap mencatat.
"Mas Aditya, apa yang menginspirasi tempat ini? Apa
yang membuat Anda memutuskan untuk membangun wisata di desa ini?"
Aditya terdiam cukup lama. Matanya menatap hamparan awan
yang mengalir pelan di bawah lereng, putih, bergelombang, seperti lautan yang
tidak pernah tenang, seperti sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata.
Ia tersenyum tipis, senyum yang kecil, senyum yang damai,
senyum yang seperti cahaya matahari pagi.
Lalu menjawab, dengan suara yang tenang, dengan mata yang
jujur, dengan hati yang tidak lagi berdarah.
"Cinta yang tidak sempat saya miliki."
Wartawan itu tertawa kecil, tertawa seperti orang yang
mendengar lelucon, tertawa seperti orang yang mengira itu hanya jawaban puitis
untuk membuat wawancara lebih menarik.
Ia mengira Aditya hanya bercanda. Mengira itu hanya gaya
bicara anak muda yang ingin terdengar filosofis. Mengira tidak ada makna di
balik kata-kata itu.
Namun Aditya tidak menjelaskan apa-apa. Ia hanya tersenyum.
Karena ada beberapa kisah, beberapa cinta, beberapa kehilangan, beberapa
perpisahan, yang terlalu suci untuk dijelaskan kepada orang yang hanya ingin
menulis berita.
Terlalu pribadi untuk dibagikan.
Terlalu suci untuk dijadikan bahan bacaan orang lain di
koran atau media sosial.
Cukup disimpan di dalam hati. Disimpan di tempat yang
paling dalam. Disimpan di sana, bersama kabut yang turun setiap pagi, bersama
nama yang tidak akan pernah ia lupakan, bersama cinta yang kandas di negeri
atas awan tetapi berakar di lereng Sumbing.
________________________________________
Amat Junior kini sibuk mengurus media sosial wisata, mengunggah
foto, membalas komentar, membuat konten-konten kreatif yang kadang lucu kadang
norak, tetapi selalu berhasil menarik perhatian.
Jojon mengelola warung kopi kecil di dekat gardu, kopi dari
kebun sendiri, gorengan dari dapur sendiri, senyum dari hati yang tulus.
Warungnya sederhana, tetapi selalu ramai.
Guntur membantu menata jalur trekking agar lebih aman, memperbaiki
pagar yang rusak, membersihkan batu yang licin, memasang papan penunjuk arah.
Ia bekerja dengan tenang, tanpa banyak bicara, seperti biasanya.
Mereka masih sama seperti dulu, masih saling mengejek,
masih saling tertawa, masih menjadi tempat pulang satu sama lain. Persahabatan
mereka tidak berubah, meskipun hidup mereka berubah.
Suatu sore, sore yang cerah, dengan langit jingga keemasan,
dengan kabut yang mulai turun perlahan, saat pengunjung mulai sepi, saat warung
mulai tutup, saat desa mulai kembali ke kesunyiannya,
mereka duduk bersama memandang langit jingga. Duduk
berjejer di gardu pandang tertinggi, bahu-membahu seperti burung yang
bertengger di kawat listrik, menunggu matahari terbenam.
Amat menyeruput kopi, kopi hitam pekat, tanpa gula, seperti
yang selalu ia pesan, lalu berkata dengan nada melamun.
"Kalau dipikir-pikir… kita dulu hampir pulang bawa
trauma."
Jojon mengangguk, mengangguk cepat, seperti burung yang
mematuk makanan.
"Saya masih trauma. Sampai sekarang kalau lihat kabut
tebal, saya merinding."
Guntur tersenyum tipis, senyum yang jarang muncul, senyum
yang hanya keluar ketika ia benar-benar merasa hangat.
"Tapi akhirnya tidak sia-sia."
Amat melirik Aditya, melirik dengan mata yang penuh makna,
dengan senyum yang sedikit nakal.
"Kalau boleh jujur… saya kadang masih nggak percaya
semua itu benar-benar terjadi."
Aditya memandang kabut di kejauhan, kabut yang bergerak
pelan, kabut yang seperti tirai yang tidak pernah benar-benar tertutup, kabut
yang menjadi saksi bisu dari segala sesuatu yang terjadi di lereng ini.
Lalu berkata pelan, sangat pelan, seperti sedang berbicara
kepada dirinya sendiri.
"Kadang saya juga."
Mereka semua tertawa kecil, tawa yang hangat, tawa yang
familiar, tawa yang seperti kembali ke masa-masa ketika hidup masih sederhana
dan tidak serumit sekarang.
Namun di dalam hati masing-masing, di dalam tempat yang
paling dalam, di dalam ruang yang hanya bisa dimasuki oleh diri mereka sendiri,
mereka tahu.
Beberapa perjalanan, beberapa pertemuan, beberapa
kehilangan, beberapa cinta, memang terlalu aneh untuk disebut kebetulan.
Terlalu misterius untuk dijelaskan oleh logika.
Terlalu sakral untuk dianggap biasa.
________________________________________
Malam hari, setelah semua pengunjung pulang, setelah
warung-warung tutup, setelah desa kembali sunyi seperti biasanya, Aditya sering
berjalan sendirian ke gardu paling ujung.
Gardu yang berada di tempat tertinggi. Gardu yang menghadap
langsung ke arah timur. Gardu yang menjadi tempat favoritnya untuk mengingat.
Di sana, di gardu yang sederhana, dengan atap rumbia yang
sudah mulai rapuh, dengan bangku kayu yang sudah using, angin terasa lebih
dingin. Dingin yang tajam, dingin yang seperti pisau kecil yang menyayat kulit,
tetapi anehnya ia merasa nyaman.
Kabut lebih dekat, lebih dekat seperti bisa ia sentuh,
seperti bisa ia raih, seperti bisa ia peluk.
Dan suara dunia terasa jauh, jauh seperti dari dunia lain,
jauh seperti suara yang tidak perlu ia dengar, jauh seperti kesibukan yang
tidak perlu ia ikuti.
Ia tidak lagi datang untuk menangis, tidak lagi datang
dengan mata basah, tidak lagi datang dengan hati hancur, tidak lagi datang
dengan pertanyaan mengapa yang tidak pernah terjawab.
Ia hanya datang untuk mengingat.
Mengingat bahwa ia pernah mencintai.
Mengingat bahwa ia pernah kehilangan.
Mengingat bahwa ia pernah hancur, tetapi ia bangkit.
Karena kini ia paham, kini ia mengerti, kini ia menerima
dengan segenap hati yang pernah hancur, bahwa melupakan bukan satu-satunya cara
untuk sembuh.
Bahwa luka tidak harus dihapus agar tidak terasa sakit.
Bahwa kenangan tidak harus dibuang agar tidak mengganggu.
Kadang seseorang bisa tetap hidup di dalam kenangan, bisa
tetap tinggal di dalam hati, bisa tetap menjadi bagian dari setiap kabut yang
turun dan setiap senja yang datang,
tanpa lagi melukai.
Tanpa lagi membuat menangis.
Tanpa lagi membuat bertanya-tanya bagaimana jika.
________________________________________
Malam itu, malam yang gelap, dengan bulan yang menggantung
pucat di atas Gunung Sumbing, dengan bintang-bintang yang bersinar seperti titik-titik
kecil di kanvas hitam, kabut turun perlahan.
Turun seperti tirai yang ditarik perlahan.
Turun seperti selendang yang dilayangkan langit.
Turun seperti pelukan dari gunung yang merindukan anaknya.
Menyelimuti lereng seperti selimut putih yang hangat, yang
melindungi desa dari dingin yang lebih menusuk.
Aditya berdiri diam, berdiri di gardu paling ujung, dengan
tangan di saku jaket, dengan mata menatap kabut yang bergerak.
Lalu seperti dulu, seperti yang selalu terjadi ketika ia
sendirian di tempat ini, seperti yang selalu terjadi ketika malam sepi dan
kabut turun, angin berembus lembut.
Lembut seperti bisikan. Lembut seperti belaian. Lembut
seperti seseorang yang menyentuh pundaknya dari jauh.
Dan di ujung gardu, di tempat yang sama, di tempat yang
selalu ia pandangi, di tempat yang menjadi saksi dari semua perjalanannya, sosok
itu muncul sekali lagi.
Sekar.
Berdiri dalam diam. Gaun putihnya bergerak pelan, bergerak
seperti rumput laut, seperti tarian yang tidak bersuara, seperti sesuatu yang
indah tetapi rapuh. Rambut panjangnya jatuh lembut, jatuh seperti air terjun
kecil yang tidak pernah berhenti, seperti sutra hitam yang mengalir. Wajahnya
tenang, tenang seperti cahaya bulan, tenang seperti kabut pagi, tenang seperti
sesuatu yang tidak pernah terburu-buru.
Tenang seperti cahaya yang tidak pernah benar-benar padam, cahaya
yang tetap menyala meskipun ditinggalkan, meskipun tidak pernah dijaga,
meskipun hanya sendirian di tengah kegelapan.
Aditya tidak terkejut lagi. Jantungnya tidak berdebar
kencang seperti dulu. Matanya tidak basah seperti dulu. Tangannya tidak gemetar
seperti dulu.
Ia hanya tersenyum, senyum yang tenang, senyum yang damai,
senyum yang seperti mengatakan aku baik-baik saja.
"Aku sudah menepati janjiku."
Sekar menatap sekeliling, menatap desa yang mulai terang
oleh lampu-lampu kecil, menatap warung-warung sederhana yang masih menyala,
menatap gardu pandang yang dibangun dari bambu dan kayu bekas, menatap kabut
yang menari di antara pepohonan pinus.
Suara tawa samar dari bawah, tawa wisatawan yang masih
berkumpul di warung, tawa anak-anak yang berlarian di jalan desa, tawa yang
menjadi bukti bahwa desa ini hidup.
Lalu ia menatap Aditya, menatap dengan mata yang lembut,
dengan mata yang basah tetapi tidak menangis, dengan mata yang seperti sedang
mengucapkan terima kasih.
Senyumnya kali ini berbeda. Bukan sedih. Bukan perpisahan.
Bukan senyum yang menyembunyikan luka.
Melainkan damai
Damai seperti telaga di pagi hari. Damai seperti kabut yang
tidak terburu-buru. Damai seperti seseorang yang akhirnya bisa melepaskan.
Seolah ia tahu, seolah ia sudah melihat dari jauh, seolah
ia sudah mendengar dari bisikan angina, bahwa luka itu akhirnya telah menemukan
maknanya.
Bahwa cinta yang kandas itu tidak sia-sia.
Bahwa ia tidak datang ke hidup Aditya hanya untuk
meninggalkan luka, tetapi untuk meninggalkan sesuatu yang abadi.
________________________________________
"Apa kamu bahagia?" tanya Aditya pelan, pelan
seperti tidak ingin mengganggu, pelan seperti sedang bertanya tentang sesuatu
yang sangat penting.
Sekar tidak menjawab dengan kata-kata. Ia tidak perlu.
Jawabannya sudah terpancar dari matanya, dari cahaya yang tenang di sana, dari
kedamaian yang tidak perlu dijelaskan.
Ia hanya mengangguk pelan, anggukan yang kecil, anggukan
yang seperti mengatakan aku baik-baik saja.
Lalu mengangkat tangan, tangannya yang putih, jemarinya yang
lentik, tangan yang dulu dingin seperti es, menyentuh udara di depan dada
Aditya.
Tepat di tempat hatinya berada. Tepat di tempat luka itu
dulu tinggal. Tepat di tempat kenangan tentang dirinya bersemayam.
Sentuhan itu tetap dingin, dingin yang sama seperti dulu,
dingin yang seperti tidak pernah tersentuh matahari, dingin yang membuat bulu
kuduk berdiri.
Tetapi kali ini, kali ini berbeda, dingin itu tidak lagi
terasa menyakitkan. Tidak lagi seperti pisau yang menyayat. Tidak lagi seperti
luka yang menganga.
Justru hangat.
Hangat seperti pelukan. Hangat seperti kabin di tengah
badai salju. Hangat seperti seseorang yang datang bukan untuk membuat luka,
melainkan untuk mengucapkan:
Semuanya sudah baik-baik saja.
Kamu sudah cukup berjuang.
Aku bangga padamu.
Air mata jatuh di sudut mata Aditya, jatuh perlahan, jatuh
tanpa rasa sakit, jatuh seperti hujan pertama setelah musim kemarau panjang.
Namun ia tersenyum, tersenyum dengan air mata yang masih
mengalir, tersenyum dengan hati yang masih menyimpan luka tetapi tidak lagi
terasa perih.
Karena untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya sejak
pagi di Bukit Sikunir, sejak Sekar menghilang bersama cahaya matahari pertama, ia
tidak lagi merasa kehilangan.
Ia merasa utuh.
________________________________________
Kabut mulai bergerak lagi, bergerak seperti tirai yang akan
ditutup, seperti panggung yang akan mengakhiri pertunjukan, seperti waktu yang
mengatakan ini sudah cukup.
Tubuh Sekar perlahan memudar, perlahan seperti kabut yang
terangkat oleh sinar matahari, seperti mimpi yang memudar saat bangun tidur,
seperti sesuatu yang indah yang tahu bahwa ia harus pergi.
Aditya menatapnya tanpa mencoba menahan, tanpa
berteriak jangan pergi, tanpa meraih tangannya, tanpa memohon untuk
tinggal.
Karena kini ia tahu, kini ia mengerti, kini ia menerima
dengan segenap hati yang pernah hancur dan kini sembuh, bahwa beberapa cinta
memang tidak diciptakan untuk dimiliki.
Tidak untuk disimpan. Tidak untuk dibawa pulang. Tidak
untuk selamanya.
Sebagian hanya datang, hadir sebentar, singgah sekilas,
menyentuh hati lalu pergi, untuk mengajarkan manusia bahwa hati yang patah pun
masih bisa menumbuhkan sesuatu yang indah.
Sebelum menghilang, sebelum kabut menelan seluruh tubuhnya,
sebelum gaun putihnya larut dalam putih yang lebih besar, sebelum ia kembali ke
dunia yang tidak bisa diikuti oleh manusia,
Sekar tersenyum sekali lagi.
Senyum yang terakhir. Senyum yang paling indah. Senyum yang
seperti cahaya sebelum padam, seperti bintang jatuh yang melintas di langit
malam, seperti sesuatu yang diciptakan hanya untuk dilihat sekali seumur hidup.
Dan untuk terakhir kalinya, untuk terakhir kalinya dalam
kehidupan Aditya di dunia ini, suara lembut itu terdengar di antara angin.
Suara yang seperti bisikan, seperti doa, seperti harapan
yang tidak pernah mati.
"Terima kasih sudah mencintaiku."
Lalu ia lenyap bersama kabut.
Lenyap seperti tidak pernah ada.
Lenyap seperti mimpi yang indah.
Meninggalkan langit. Meninggalkan sunyi. Meninggalkan cinta
yang tak pernah benar-benar pergi.
________________________________________
Aditya berdiri lama di sana—berdiri di gardu paling ujung,
berdiri di tempat yang menjadi saksi dari semua perjalanannya, berdiri di
tempat yang dulu ia gunakan untuk menangis, kini untuk tersenyum.
Memandang tempat kosong yang dulu pernah menjadi luka
terdalamnya, tempat di mana Sekar berdiri, tempat di mana ia mengucapkan
selamat tinggal, tempat di mana ia belajar bahwa cinta tidak selalu harus
dimiliki untuk menjadi bermakna.
Kini bukan lagi rasa sakit yang ia rasakan. Bukan lagi sesak
di dada. Bukan lagi air mata yang tidak bisa berhenti.
Melainkan kedamaian.
Kedamaian seperti telaga di pagi hari. Kedamaian seperti
kabut yang turun tanpa suara. Kedamaian seperti seseorang yang akhirnya
berdamai dengan takdir.
Karena akhirnya ia mengerti, akhirnya ia menerima, akhirnya
ia sadar dengan segenap hati yang pernah hancur dan kini utuh kembali,
bahwa cinta yang kandas di negeri atas awan tidak selalu
berakhir sebagai kesedihan.
Tidak selalu berakhir dengan air mata.
Tidak selalu berakhir dengan luka yang tidak sembuh.
Kadang, ia justru menjadi alas an, menjadi awal, menjadi
titik balik, seseorang menemukan jalan pulang.
Pulang kepada dirinya sendiri.
Pulang kepada mimpinya.
Pulang kepada desa yang ia cintai.
________________________________________
Dan sejak malam itu, sejak senyum terakhir Sekar, sejak
bisikan terakhir yang terbawa angin, sejak ia berdamai dengan kehilangan untuk
terakhir kalinya,
setiap kali kabut turun di Lereng Sekar, setiap kali angin
berhembus dari arah timur, setiap kali matahari terbit dari balik Gunung
Sumbing,
orang-orang hanya melihat pemandangan yang indah.
Hanya melihat kabut yang bergerak seperti lautan putih.
Hanya melihat hamparan kebun kopi yang hijau.
Hanya melihat gardu pandang sederhana dari bambu dan kayu
bekas.
Hanya melihat tempat wisata baru yang instagramable, yang
cocok untuk foto liburan, yang bisa jadi bahan cerita di media sosial.
Tetapi Aditya tahu, hanya Aditya yang merasakan, hanya
Aditya yang mengerti,
bahwa di antara putih yang bergerak pelan itu, di antara
kabut yang turun setiap pagi, di antara angin yang berhembus lembut,
ada satu cinta yang tak pernah benar-benar hilang.
Cinta yang tidak lagi terlihat, tidak lagi terdengar, tidak
lagi bisa disentuh.
Namun tetap ada.
Tetap tinggal.
Tetap menjadi bagian dari langit, bagian dari kabut, bagian
dari setiap napas yang ia ambil setiap pagi.
Berubah menjadi cahaya kecil di dalam dadanya.
Berubah menjadi alasan untuk bangun setiap pagi.
Berubah menjadi mimpi yang ia kejar setiap hari.
Berubah menjadi bagian dari setiap batu yang ia letakkan,
setiap jalur yang ia bersihkan, setiap kabut yang ia sapa.
Dan akan tetap hidup, selama kabut masih turun di lereng
Sumbing, selama matahari masih terbit dari balik gunung, selama desa itu masih
berdiri,
di dalam hatinya.
Untuk selamanya.
***SELESAI***







0 komentar:
Posting Komentar