PROLOG
Bisikan Angin dan Akar yang Mengingat
Pada masa ketika tanah Jawa masih menyimpan lebih banyak
rahasia daripada yang mampu diungkap oleh seluruh akal manusia yang bersatu;
ketika kabut yang turun dari puncak gunung bukanlah sekadar gejala alam melainkan
selimut sutra bagi dunia yang tak kasatmata, menyembunyikan wajah-wajah yang
lebih tua dari kerajaan mana pun; ketika gunung-gung berdiri bukan hanya
sebagai bentang bumi melainkan sebagai penjaga keseimbangan jagat raya yang
napasnya teratur seperti detak jantung ibu pertiwi, di sanalah, di antara dua
zaman yang belum diberi nama, kisah ini bermula.
Gunung Sumbing, dengan punggungnya yang menjulang ke langit
seperti singgasana raksasa yang tak pernah diduduki, telah lama dikenal sebagai
tempat berdiamnya kekuatan-kekuatan yang tak terucapkan. Para leluhur berbisik
di malam hari, ketika anak-anak telah terlelap, bahwa angin yang berhembus dari
lerengnya tidak sekadar membawa dingin yang menusuk tulang, tetapi juga
bisikan, bisikan yang berisi nasihat, peringatan, dan kadang-kadang, janji.
Bisikan yang hanya dapat didengar oleh mereka yang hatinya telah ditempa oleh
kesunyian yang panjang, oleh mereka yang telah duduk di tepi jurang antara
dunia dan akhirat, antara sadar dan mimpi, antara hidup dan makna.
Di antara dua bukit yang berdiri seperti gerbang purba yang
dijaga oleh waktu itu sendiri, terdapat sebuah tanah yang belum bernama. Belum
ada lidah manusia yang mengucapkannya, belum ada aksara yang mencatatnya. Tanah
itu tidak kosong, ia hidup. Ia bernafas dalam diam, seperti raksasa yang
tertidur dengan satu mata terbuka. Ia menyimpan jejak langkah makhluk-makhluk
yang tak terlihat, makhluk yang lebih tua dari pohon-pohon tertua, lebih bijak
dari manusia paling arif. Tanah itu menunggu. Menunggu dengan kesabaran yang
absolut, karena waktu bukanlah musuhnya melainkan temannya. Ia menunggu
seseorang yang cukup berani untuk memahami, bukan menaklukkan.
Seseorang yang datang dengan tangan kosong dan hati penuh.
Dan pada suatu masa yang ditentukan oleh takdir, ketika
bintang-bintang membentuk formasi yang belum pernah dilihat sebelumnya, ketika
laut selatan bergemuruh dengan irama yang tidak biasa, seseorang itu datang.
Ia bukan raja yang membawa pasukan dan gajah perang. Bukan
pula panglima yang dielu-elukan dengan sorak sorai. Ia hanyalah seorang abdi
dalem dari Kesultanan Pajang, seorang lelaki yang memilih berjalan menjauh dari
kekuasaan di saat orang lain berebut mendekatinya, berebut mencium lutut
penguasa baru, berebut sepotong kecil dari kue ambisi yang mulai membusuk.
Namanya: Ki Lurah Jayabaya.
Namun para bijak pandai tahu bahwa nama hanyalah sebutan,
label yang ditempelkan oleh orang tua kepada anaknya tanpa memahami isi di
balik label itu. Yang menjadikan seseorang abadi bukanlah namanya yang diukir
di batu, melainkan langkahnya. Langkah yang mengandung niat. Langkah yang
meninggalkan jejak makna di bumi yang diinjaknya.
Langkah Jayabaya meninggalkan istana yang mulai retak oleh
intrik.
Langkahnya menembus hutan yang lebat seperti tirai beludru hijau.
Langkahnya mengguncang batas tipis antara dunia manusia dan dunia yang lebih
tua dari peradaban itu sendiri, dunia yang tidak pernah tidur, yang hanya
menunggu.
Kisah ini bukan sekadar catatan perjalanan dari satu titik
ke titik lain.
Ia adalah tentang pengorbanan yang tak selalu terlihat, seperti akar yang
menguatkan pohon dari bawah tanah.
Tentang keyakinan yang diuji hingga batas paling sunyi, hingga seseorang tidak
tahu lagi mana yang benar dan mana yang hanya dia inginkan benar.
Tentang manusia yang belajar bahwa hidup bukan untuk menguasai, bukan untuk
menaklukkan gunung, mengeringkan sungai, atau membabat hutan, melainkan
untuk menjaga keseimbangan.
Dan tentang sebuah desa yang lahir bukan dari ambisi seorang pemimpin,
melainkan dari doa, darah yang tertumpah sebagai tumbal, dan perjanjian yang
tak tertulis di atas kertas, tetapi terukir di dalam hati alam itu sendiri.
Dengarkanlah, karena angin masih membawa kisah ini.
Tutuplah mata Anda, karena kabut biru akan menunjukkan jalannya. Dan bersiaplah,
karena perjalanan ini panjang, dan di ujungnya, tidak ada mahkota, hanya
sekuntum bunga yang mekar di tanah yang dijaga.
BAB I
Senja yang Retak di Pajang
Langit Pajang sore itu tidak seperti biasanya.
Bukan karena warna jingga yang menggantung di ufuk barat
itu berbeda, memang selalu jingga setiap senja. Namun jingga kali ini redup,
seperti matahari sendiri menahan cahayanya, menarik kembali sinarnya sedikit
demi sedikit, enggan menjadi saksi bagi sesuatu yang perlahan runtuh di
bawahnya. Awan-awan tipis menggantung tanpa arah, bergerak pelan seperti
pikiran manusia yang diliputi keraguan, tidak tahu harus ke mana, tidak berani
memutuskan.
Angin berembus lirih, namun membawa aroma yang ganjil.
Campuran antara harum dupa istana yang masih mengepul dari pemujaan, tanah
basah setelah hujan singkat siang tadi, dan sesuatu yang tak dapat
dijelaskan. Sesuatu yang tidak kasatmata, namun menusuk hingga ke dalam
dada, menggigit jantung, membuat bulu kuduk merinding tanpa sebab yang jelas.
Angin itu berbisik, dan bisikannya tidak menyenangkan.
Di serambi belakang keraton, tempat yang biasanya sunyi
karena terlupakan, tempat para abdi rendah duduk melepas lelah, Ki Lurah
Jayabaya berdiri sendiri. Tangannya terlipat di depan dada dengan jari-jari
yang tidak bergerak. Pandangannya jauh menembus cakrawala, melewati tembok
istana, melewati sawah dan ladang, hingga ke garis tipis di mana langit bertemu
bumi. Namun sejatinya ia tidak sedang melihat langit dengan
mata kepalanya. Ia sedang membaca. Membaca tanda-tanda yang
terhampar di hadapannya, huruf-huruf yang ditulis oleh alam dengan tinta cahaya
dan bayangan.
Tanda-tanda yang tidak semua orang mampu mengerti.
Tanda-tanda yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang hatinya telah lama
ditempa oleh kesunyian, bukan kesunyian yang kosong, melainkan kesunyian yang
penuh, yang berisi, seperti gua yang gelap namun dipenuhi oleh suara tetesan
air yang membentuk stalaktit selama ribuan tahun.
Langkah kaki pelan, hampir tidak terdengar, namun terasa,
muncul di belakangnya.
"Ki Lurah sudah mendengar kabar itu?" Suara itu
milik Raka Wening, tenang, dalam, seperti air sumur yang tidak pernah tersentuh
angin. Namun di dalam ketenangannya itu, menyimpan kegelisahan yang tidak
biasa. Ada getar kecil di ujung kata-katanya, seperti dawai gamelan yang
dipetik terlalu keras.
Jayabaya tidak segera menjawab. Ia membiarkan pertanyaan
itu menggantung di udara, bergabung dengan aroma ganjil dan keheningan yang
tidak biasa. Ia menarik napas panjang. Sangat panjang. Dalam. Seolah ia ingin
mengisi seluruh ruang batinnya dengan sisa-sisa ketenangan yang masih tersisa
di tanah Pajang, sebelum semuanya benar-benar sirna.
"Aku tidak hanya mendengarnya," jawabnya
akhirnya. Suaranya rendah namun tegas, seperti akar pohon beringin yang
mencengkeram tanah. "Aku merasakannya... bahkan sebelum kabar itu sampai
ke telinga siapa pun."
Raka Wening menunduk. Dalam hati, ia tidak terkejut. Tidak
sedikit pun. Jayabaya memang bukan orang biasa. Ia adalah salah satu dari
sedikit manusia yang tidak hanya melihat apa yang tampak di
permukaan, tetapi juga merasakan apa yang tersembunyi di
baliknya. Ia membaca getaran yang tidak terdeteksi oleh indra biasa, menangkap
bisikan yang tidak terdengar oleh telinga umum.
"Sejak kapan, Ki Lurah, merasakannya?" tanya Raka
Wening lagi, suaranya lebih pelan, seperti orang yang takut membangunkan
sesuatu yang tidur.
Jayabaya mengalihkan pandangannya dari langit ke
pohon-pohon di kejauhan. Daun-daunnya bergerak, namun tidak seirama dengan arah
angin. Ada yang melawan, ada yang diam, ada yang berputar-putar seperti
linglung.
"Sejak burung-burung mulai terbang lebih rendah dari
biasanya," kata Jayabaya. "Sejak mereka tidak lagi bernyanyi di pagi
hari, hanya berkokok pendek seperti peringatan. Sejak angin berubah arah tanpa
sebab, seharusnya dari timur, tetapi kemarin ia berembus dari utara, dan hari
ini dari barat daya, seperti bingung sendiri. Dan sejak... malam-malam menjadi
terlalu sunyi. Terlalu sunyi, Raka. Bahkan untuk sebuah kerajaan yang sedang
berduka. Jangkrik tidak bersuara. Anjing tidak menggonggong. Hanya suara
langkah prajurit yang mondar-mandir, dan itu tidak menenangkan."
Raka Wening terdiam. Ia memahami. Ia memahami setiap kata
yang keluar dari mulut Jayabaya, karena ia sendiri merasakan hal yang sama.
Kabar wafatnya Sultan bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin. Ia
adalah retakan pertama. Retakan pada dinding yang selama ini
menahan tekanan dari luar dan dari dalam. Retakan yang, jika tidak segera
ditahan, akan menjalar... membelah... dan pada akhirnya menghancurkan seluruh
struktur yang telah dibangun puluhan tahun.
"Pajang akan berubah," ujar Jayabaya. Matanya
tidak berkedip.
"Atau hancur," sahut Raka Wening pelan, hampir
berbisik.
Sunyi menggantung di antara mereka. Namun sunyi itu tidak
kosong. Ia dipenuhi oleh suara-suara yang tak terucapkan, kecurigaan yang
tumbuh subur di hati para bangsawan, ambisi yang menggeliat seperti ular di
dalam sarang, ketakutan yang merayap seperti kabut di pagi buta. Semua itu ada,
terasa, meskipun tidak ada yang mengatakannya dengan lantang.
Di kejauhan, dari balik tembok keraton, suara langkah
prajurit terdengar lebih sering dari biasanya. Tidak lagi teratur seperti
sebelumnya. Dulu langkah mereka seirama, seperti satu tubuh yang bergerak. Kini
ada yang cepat, ada yang lambat, ada yang berhenti tiba-tiba lalu berjalan
lagi. Tidak lagi mencerminkan ketertiban dan disiplin. Melainkan kegelisahan yang
mencoba disembunyikan.
"Ki Lurah..." Raka Wening melangkah maju setengah
langkah. "Akan tetap di sini?"
Pertanyaan itu sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk
situasi sekompleks ini. Namun di dalam kesederhanaannya, ia mengandung
segalanya. Pertanyaan itu adalah pintu. Dan jawaban Jayabaya akan menentukan apakah
pintu itu terbuka atau tertutup selamanya.
Jayabaya tidak menjawab segera. Ia tersenyum tipis. Bukan
senyum bahagia. Bukan pula senyum sinis. Itu adalah senyum seseorang yang telah
menerima keputusan yang berat, yang telah menimbang segala kemungkinan, dan
telah sampai pada kesimpulan yang tidak dapat diubah lagi.
"Tidak semua tempat layak dipertahankan, Raka,"
ujarnya. Suaranya pelan, tetapi setiap suku kata jatuh seperti batu ke dalam
air, menciptakan riak yang tak terbatas. "Dan tidak semua kepergian adalah
bentuk pelarian. Terkadang, kepergian adalah bentuk kesetiaan yang paling
tinggi, kesetiaan pada diri sendiri, pada kebenaran yang kita yakini, pada
sesuatu yang lebih besar dari sekadar istana dan takhta."
Ia menoleh perlahan. Matanya menatap Raka Wening
dalam-dalam. Bukan sekadar menatap wajah, tetapi menembus hingga ke dalam jiwa.
"Aku tidak lari dari tanggung jawab. Aku lari menuju tanggung jawab yang
lebih besar, yang tidak diberikan oleh raja mana pun, tetapi oleh alam semesta
sendiri."
Raka Wening mengangkat wajahnya. Ada sesuatu dalam
kata-kata itu. Sesuatu yang tidak hanya menjelaskan... tetapi juga memanggil.
Seperti genderang perang yang terdengar dari kejauhan, menggetarkan tulang,
membangkitkan sesuatu yang selama ini tertidur.
"Paduka akan pergi," katanya pelan. Bukan
pertanyaan lagi. Kini menjadi pernyataan.
Jayabaya tidak menyangkal. "Bukan karena aku ingin
meninggalkan Pajang, Raka. Pajang adalah tanah kelahiranku, tempat aku belajar,
tempat aku mengabdi. Tetapi aku tidak ingin menjadi bagian dari kehancurannya.
Aku tidak ingin mati perlahan-lahan di dalam tembok yang sama, sementara di
luar sana, dunia masih luas dan masih menyimpan rahasia yang belum
terjamah."
"Ke mana, K Lurah?" suara Raka Wening bergetar.
Bukan ketakutan. Tetapi kegembiraan yang tertahan. Atau mungkin kegelisahan.
Sulit dibedakan.
Jayabaya menatap ke arah barat, ke arah gunung-gunung yang
mulai diselimuti kabut senja. "Ke arah di mana bisikan itu berasal. Ke
tempat di mana tanah belum bernama, tetapi sudah berdenyut menunggu. Ke lereng
Sumbing, mungkin. Atau lebih jauh lagi. Aku sendiri belum tahu dengan pasti.
Tetapi aku tahu bahwa aku harus mulai berjalan."
Angin berembus lebih kencang. Bukan angin biasa. Angin ini
dingin, menusuk, tetapi tidak membawa kesejukan. Ia membawa keputusan.
Seolah alam semesta sendiri mendengar kata-kata Jayabaya dan memberikan
persetujuannya dengan cara yang paling primitif.
Di kejauhan, di balik tembok istana, seseorang menjatuhkan
gelas. Pecahannya berserakan di lantai batu. Seorang dayang menjerit kecil.
Kemudian sunyi lagi.
Dan di saat itulah, tanpa disadari oleh siapa pun di istana
yang sibuk dengan duka dan intrik mereka, sebuah perjalanan besar telah
dimulai. Bukan dengan tabuhan terompet atau doa bersama. Tidak dengan upacara pelepasan
atau tangisan perpisahan. Hanya dengan dua orang yang berdiri di serambi
belakang, dengan angin yang berembus, dan dengan hati yang telah bulat.
Perjalanan yang tidak hanya akan mengubah nasib satu orang.
Bukan hanya nasib rombongan kecil yang akan mengikutinya.
Tetapi akan melahirkan sebuah dunia baru.
Sebuah desa.
Sebuah legenda.
Dan sebuah warisan yang akan bertahan lebih lama dari batu dan baja.
BAB II
Api yang Menyala di Balik Dukacita
Langit Pajang belum sepenuhnya gelap ketika kabar wafatnya
Sultan Hadi Wijaya menyebar ke seluruh penjuru istana. Bukan seperti api yang
menjalar perlahan, melainkan seperti air bah yang tiba-tiba menerobos tanggul, deras,
tak terbendung, dan menghanyutkan segala kepastian yang selama ini menjadi
pegangan.
Tangisan terdengar. Dari pendopo depan hingga dapur, dari
kamar para selir hingga bilik abdi dalem paling rendah. Namun tangisan itu...
tidak murni. Telinga yang peka, telinga seperti Jayabaya, dapat mendengar
sesuatu di balik isak tangis itu. Sesuatu yang lebih sunyi dari tangisan, lebih
dingin dari air mata, dan lebih berbahaya dari amarah yang meledak-ledak.
Ambisi.
Ambisi tidak selalu berwajah garang dengan mata melotot dan
suara menggelegar. Seringkali, ia justru paling berbahaya ketika menyamar
sebagai duka, ketika ia bersembunyi di balik jubah kepedihan, ketika ia
berbisik di sela-sela doa untuk almarhum.
Para bangsawan mulai berkumpul dalam lingkar-lingkar kecil
di sudut-sudut istana yang remang-remang. Di sela-sela tirai sutra, di balik
pilar kayu jati, di taman yang mulai layu karena tidak dirawat. Bisikan-bisikan
pelan berubah menjadi rencana-rencana yang diucapkan dengan napas tertahan.
Rencana berubah menjadi perhitungan-perhitungan dingin tentang siapa yang akan
duduk di singgasana, siapa yang akan mendapat jabatan, siapa yang akan
disingkirkan, dan siapa yang akan dihabisi.
Raka Wening berdiri di balik tiang kayu besar yang usianya
mungkin lebih tua dari kerajaan itu sendiri. Kayu itu gelap, lembap, berlumut
tipis di bagian bawahnya. Dari balik tiang itu, ia memperhatikan semuanya tanpa
suara. Matanya bergerak perlahan dari satu lingkar ke lingkar lain, menangkap
gerak bibir, membaca bahasa tubuh, menyimpulkan niat yang coba disembunyikan.
Lingkar pertama, di
dekat pintu timur: tiga orang bangsawan menengah, wajah mereka berkerut bukan
karena duka tetapi karena perhitungan. Satu di antaranya menggerak-gerakkan jari
seperti menghitung sesuatu, mungkin pasukan, mungkin emas, mungkin nyawa.
Lingkar kedua, di
bawah pohon asem yang rindang: dua orang panglima yang berpura-pura berduka
dengan menunduk dalam-dalam, tetapi sesekali saling melirik dengan mata yang
berbicara lebih keras dari seribu kata.
Lingkar ketiga, di
serambi utara yang gelap: seorang patih dengan jubah hitam, berdiri sendiri
namun dikelilingi oleh bayang-bayang pengawal pribadinya. Ia tidak berbicara.
Ia hanya tersenyum. Dan senyum itu, Raka Wening merasa dingin menjalari
punggungnya, senyum itu adalah yang paling berbahaya dari semuanya.
"Duka yang terlalu cepat berubah menjadi hasrat...
adalah awal dari kehancuran," gumam
Raka Wening dalam hati. Bibirnya tidak bergerak, tetapi pikirannya berbicara
lantang.
Tiba-tiba, langkah cepat mendekat. Suara sandal kayu yang
menepak lantai batu dengan ritme yang tidak sabar. Raka Wening tidak perlu
menoleh, ia sudah mengenali langkah itu.
Gagak Panji muncul dari balik lorong dengan wajah tegang.
Keningnya berkerut dalam, bibirnya mengerucut seperti orang yang menahan
sesuatu yang ingin ia ludahkan. Napasnya sedikit tersengal, bukan karena lelah
berjalan, tetapi karena beban berita yang ia bawa.
"Keadaan tidak baik," katanya tanpa basa-basi.
Tidak ada salam. Tidak ada pembukaan. Dalam situasi seperti ini, basa-basi
hanya membuang waktu, dan waktu adalah sesuatu yang mulai menipis.
Jayabaya, yang sejak tadi berdiri mematung di serambi
belakang, menoleh sedikit. Hanya sedikit. Matanya masih setengah terpejam,
seperti kucing yang sedang tidak terganggu. Namun Raka Wening tahu, Jayabaya
tidak pernah tidak waspada.
"Kapan keadaan benar-benar baik," jawab Jayabaya
pelan, "di tempat yang dipenuhi ambisi?"
Gagak Panji menghela napas panjang. Bukan helaan lega.
Helaan yang keluar dari paru-paru yang terasa sempit, seperti orang yang baru
sadar bahwa ia terjebak di ruangan tanpa jendela. "Malam ini, atau besok
pagi paling lambat... akan ada yang bergerak. Aku merasakannya. Bukan hanya
satu. Beberapa sekaligus. Mereka seperti serigala yang menunggu sampai pemimpin
kawanan jatuh."
"Aku juga merasakannya," kata Jayabaya. Suaranya
datar. Tidak ada emosi. Namun justru ketiadaan emosi itulah yang paling
mengkhawatirkan. "Perbedaan antara kita, Gagak Panji, adalah kau
merasakannya dengan nalurimu, sedangkan aku... aku sudah melihatnya dalam
mimpiku tiga malam berturut-turut."
Gagak Panji menegang. "Apa yang Ki Lurah lihat?"
Jayabaya akhirnya membuka matanya lebar-lebar. Matanya
dalam, hitam, seperti sumur tanpa dasar. "Darah. Bukan darah musuh. Darah
saudara. Aku melihat orang-orang yang kemarin masih makan dari nasi yang sama,
hari ini saling menusuk dari belakang. Aku melihat tahta yang lebih merah dari
kain beludru. Aku melihat... akhir dari Pajang sebagai sesuatu yang kita
kenal."
Ia berdiri. Perlahan. Gerakannya tidak tergesa, tetapi
setiap gerakan terasa seperti keputusan yang telah lama dipikirkan,
dimatangkan, dan akhirnya diambil. Ia melipat tangannya kembali, tetapi kini
lebih erat. Seolah ia sedang memeluk dirinya sendiri, atau mungkin memeluk
keputusan yang baru saja ia bulatkan.
"Kita tidak punya tempat lagi di sini," katanya.
Matanya menatap Raka Wening, lalu Gagak Panji, bergantian. "Pajang yang
kita kenal, yang damai, yang teratur, yang menghormati Sultan dan menghormati
hokum, sudah mati bersama Sultan. Yang tersisa sekarang hanyalah mayat yang masih
bergerak, dan mayat-mayat itu saling memakan satu sama lain."
"Dan kita?" suara Gagak Panji serak. "Apa
yang harus kita lakukan?"
"Kita pergi," kata Jayabaya. Dua kata. Pendek.
Namun beratnya seperti gunung yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
Raka Wening yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara.
Suaranya pelan, tetapi jelas. "Tidak semua akan mengerti, Ki Lurah. Banyak
yang akan menyebut kita pengecut. Banyak yang akan berkata bahwa kita lari dari
medan pertempuran."
Jayabaya tersenyum. Lagi-lagi senyum itu. Senyum yang tidak
bisa dibaca. "Biarkan mereka berkata apa pun. Mulut mereka adalah milik
mereka, tetapi kaki ini adalah milikku. Dan aku tidak akan membiarkan kakiku
membawaku ke dalam kuburan yang sama dengan orang-orang yang bunuh diri karena
ambisi."
"Berapa banyak yang akan ikut?" tanya Gagak
Panji. Matanya menyipit, seperti sedang menghitung dalam hati, menimbang siapa
yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak.
Jayabaya menatap ke kejauhan, ke arah barat, ke arah gelap
yang mulai menyelimuti ujung langit. "Tidak banyak. Dan tidak perlu
banyak. Sebuah perahu tidak perlu seribu pendayung untuk menyeberangi lautan.
Ia perlu pendayung yang tahu ke mana ia berlayar."
"Kenapa tidak banyak?" desak Gagak Panji.
"Bukankah lebih banyak lebih aman?"
"Karena perjalanan ini bukan tentang jumlah,"
jawab Jayabaya. Suaranya menjadi lebih dalam, lebih berat, seperti orang yang
mengucapkan sesuatu yang telah ia renungkan selama berbulan-bulan.
"Perjalanan ini tentang keyakinan. Dan keyakinan tidak bisa dibagi terlalu
banyak. Semakin banyak orang, semakin banyak keraguan. Semakin banyak keraguan,
semakin besar kemungkinan kita hancur sebelum sampai."
Raka Wening mengangguk pelan. Ia mengerti. Ia mengerti
sepenuhnya. Dalam perjalanan ke tempat yang belum bernama, ke tempat yang
bahkan peta pun tidak memilikinya, yang dibutuhkan bukanlah pasukan,
melainkan hati yang sama. Hati yang sudah bulat. Hati yang
tidak akan berubah arah meskipun badai menerjang.
Dan di tengah hiruk-pikuk istana yang mulai retak oleh duka
palsu dan ambisi sejati, keputusan itu menguat. Bukan seperti api yang
membakar, tetapi seperti akar yang menancap. Diam-diam. Perlahan. Namun tidak
bisa dicabut lagi.
Keputusan untuk pergi.
Keputusan untuk meninggalkan segalanya, gelar, harta, keamanan, dan kepastian.
Keputusan untuk berjalan... menuju sesuatu yang belum diketahui, belum dijamah,
belum diberi nama.
Dan ketika malam benar-benar turun, ketika obor-obor
dinyalakan di sepanjang koridor istana, ketika bayang-bayang mulai bergerak sendiri
di dinding-dinding batu, Jayabaya sudah tidak ada di serambi belakang. Ia sudah
masuk ke dalam kamarnya yang sempit, mulai membereskan barang-barang yang akan
ia bawa. Hanya yang penting. Hanya yang esensial.
Sehelai kain putih untuk sembahyang.
Sebuah keris pusaka yang tidak pernah ia gunakan untuk melukai siapa pun.
Dan sebuah buku kecil berisi catatan-catatan tentang mimpi-mimpinya, mimpi yang
selama ini ia pendam karena tidak ada yang mau mendengarkan.
Itu saja.
Karena perjalanan panjang tidak membutuhkan beban yang banyak.
Yang dibutuhkan hanyalah kaki yang kuat... dan hati yang tidak pernah menoleh
ke belakang.
BAB
III
Sumpah Sunyi Seorang Abdi Dalem
Malam turun perlahan di atas tanah Pajang. Bukan seperti
tirai yang diturunkan sekaligus, tetapi seperti kabut yang merayap dari kaki
gunung, sedikit demi sedikit, diam-diam, hingga tiba-tiba semuanya tertutup.
Langit menjadi kelam tanpa bintang, seolah alam pun memilih menutup wajahnya
dari apa yang sedang terjadi di dalam tembok istana. Tidak ingin melihat. Tidak
ingin menjadi saksi.
Di sebuah ruangan kecil yang hanya diterangi satu lampu
minyak, lampu yang sumbunya sudah mulai menghitam dan nyalanya bergetar setiap
kali angin menerobos celah pintu, Ki Lurah Jayabaya duduk bersila. Karpet tipis
di bawahnya sudah usang, warnanya pudar, tetapi ia tidak peduli. Kenyamanan
bukan lagi prioritas.
Di hadapannya, tergeletak sebilah keris. Bukan keris
sembarangan. Keris ini telah mengikuti kakeknya, ayahnya, dan kini ia sendiri.
Bilahnya tidak panjang, tetapi lekukannya mengandung filosofi yang tidak semua
orang paham. Keris ini bukan untuk menusuk atau menebas. Ia adalah saksi. Saksi
bisu dari sumpah-sumpah yang diucapkan oleh leluhurnya, dan malam ini, ia akan
menjadi saksi untuk sumpah yang baru.
Raka Wening, Gagak Panji, Lembu Seta, Kerta, Mardika, dan
kini dua orang baru yang belum disebut namanya—Karti (istri Raka
Wening) dan Wulandari (istri Gagak Panji) serta Bayu (anak
laki-laki Gagak Panji yang berusia sembilan tahun) dan Ratih (anak
perempuan Raka Wening yang berusia tujuh tahun)—duduk melingkar di sekeliling
Jayabaya. Wajah-wajah mereka diterangi cahaya temaram lampu minyak, menciptakan
bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding. Ada juga Nyai
Ageng Suryaningsih, istri Ki Lurah Jayabaya sendiri, seorang perempuan
dengan sorot mata yang teduh namun penuh tekad. Di pangkuannya, Putri,
bayi perempuannya yang baru berusia setahun, tertidur pulas tanpa tahu bahwa
ayahnya sedang memutuskan nasib mereka semua.
Tidak ada yang berbicara. Semua menunggu.
Jayabaya membuka matanya. Perlahan. Matanya menjelajahi
satu per satu wajah yang hadir. Wajah Raka Wening yang tenang namun dalam;
wajah Gagak Panji yang tegang seperti busur yang siap dilepaskan; wajah Lembu
Seta yang bulat dan polos; wajah Kerta dan Mardika yang sulit dibaca; dan
kemudian wajah-wajah para istri dan anak-anak.
“Malam ini,” ujar Jayabaya perlahan. Suaranya tidak keras,
tetapi setiap kata terukir di udara. “Kita tidak sekadar memutuskan untuk
pergi.”
Ia berhenti sejenak.
“Kita memutuskan untuk melepaskan.”
Sunyi. Sangat sunyi.
“Melepaskan kedudukan,” lanjut Jayabaya. Jarinya menyentuh
keris di hadapannya. “Melepaskan nama baik yang selama ini kita bangun.
Melepaskan kenyamanan tempat tidur yang kering dan atap yang tidak bocor. Melepaskan...
kemungkinan untuk kembali. Karena kita mungkin tidak akan pernah kembali. Dan
jika kita kembali, kita tidak akan pernah menjadi orang yang sama.”
Nyai Ageng Suryaningsih, yang sedari tadi diam, menghela
napas pelan. Ia mengusap rambut Putri yang masih tertidur di pangkuannya. “Aku
tidak menyesal, Kakang,” katanya, matanya menatap Jayabaya. “Sejak aku menerima
pinanganmu, aku tahu bahwa aku tidak hanya menikahi seorang abdi dalem. Aku
menikahi seorang pejalan. Dan pejalan tidak akan pernah diam di satu tempat
untuk selamanya. Aku siap. Putri juga akan siap.”
Karti, istri Raka Wening, menggenggam erat tangan suaminya.
Wajahnya pucat, tetapi matanya jernih. “Raka sudah bilang padaku tentang
mimpi-mimpinya. Tentang gunung. Tentang kabut biru. Awalnya aku takut, tapi
kalau takut adalah harga yang harus dibayar untuk melihat sesuatu yang baru...
maka aku akan membayarnya.”
Ratih, gadis kecil berusia tujuh tahun itu, menatap
ayahnya, Raka Wening. “Ayah, apakah di tempat yang baru nanti ada sungai? Aku ingin
bermain air.”
Raka Wening tersenyum, meskipun matanya berkaca-kaca. “Ada,
Nak. Sungai yang jernih. Dan mungkin juga kupu-kupu.”
Bayu, anak Gagak Panji yang berusia sembilan tahun, tidak
bertanya apa pun. Ia hanya menggenggam keris kecil mainan pemberian ayahnya.
Matanya berbinar. Baginya, ini adalah petualangan terbesar dalam hidupnya. Ia
tidak tahu tentang intrik istana, tentang pengkhianatan, tentang kematian.
Baginya, berjalan ke tempat yang belum pernah ia lihat adalah mimpi yang
menjadi nyata.
Gagak Panji meletakkan tangannya di kepala Bayu. “Anak
lelaki harus tahu bagaimana menjaga keluarganya,” katanya pelan, lebih kepada
dirinya sendiri. “Dan kadang, menjaga berarti pergi.”
Wulandari, istrinya, hanya mengangguk. Ia perempuan yang
pendiam, tetapi ketegarannya sudah teruji. Ia tidak akan meratap di depan umum.
Air matanya akan ia tumpahkan nanti, di malam-malam sunyi ketika semua sudah
tidur.
Lembu Seta yang masih muda itu menelan ludah. “Apakah jalan
di luar sana lebih baik, Ki Lurah?” tanyanya. Suaranya sedikit bergetar.
Jayabaya tersenyum tipis. “Tidak,” jawabnya. Satu kata.
Jujur.
Semua terdiam.
“Jalan di luar sana tidak lebih baik. Ia lebih keras. Lebih
lapar. Lebih dingin. Ada hutan yang mungkin tidak pernah tidur. Ada
makhluk-makhluk yang tidak kita kenal. Ada malam-malam yang panjang tanpa api.
Ada rasa sakit yang tidak kita bayangkan sebelumnya,” lanjut Jayabaya.
“Tapi ia lebih jujur.”
Kalimat itu jatuh pelan. Namun terasa seperti palu yang
memukul landasan.
“Di sini, kita hidup di antara topeng. Tersenyum kepada
orang yang kita benci. Membungkuk kepada orang yang kita tahu akan menusuk kita
dari belakang. Di sini, kejujuran adalah kemewahan yang tidak mampu kita beli.
Di luar sana, mungkin kita akan kelaparan. Mungkin kita akan kelelahan. Mungkin
kita akan mati sebelum menemukan apa yang kita cari. Tapi setidaknya... kita
mati sebagai diri kita sendiri.”
Bayu mendengarkan dengan saksama. Ia belum sepenuhnya
mengerti, tetapi ia merasakan bahwa ayahnya, dan Ki Lurah, dan semua orang
dewasa di ruangan ini sedang memutuskan sesuatu yang sangat penting.
“Aku bersumpah,” suara Jayabaya berubah. Lebih dalam. Lebih
berat. “Aku bersumpah di hadapan keris leluhurku, di hadapan kalian yang hadir
di sini, di hadapan istri dan anak-anakku, dan di hadapan alam semesta yang
maha luas, bahwa aku tidak akan menggunakan hidup ini untuk mempertahankan
sesuatu yang lahir dari ambisi. Aku memilih jalan sunyi. Jalan yang mungkin
tidak dimengerti, tetapi benar menurut hati yang bersih.”
Ia menunduk. Dahi hampir menyentuh keris.
“Aku bersumpah... akan menjaga tanah yang aku diami, di
mana pun itu, dengan segenap kemampuan. Bukan untuk menguasainya, tetapi untuk
melindunginya. Bukan untuk mengambil, tetapi untuk memberi.”
Satu per satu, yang lain menunduk.
Gagak Panji menggenggam tangannya erat.
Raka Wening memejamkan mata. Bibirnya bergerak pelan,
berdoa.
Lembu Seta menangis. Diam-diam.
Karti dan Wulandari saling berpandangan. Tidak ada
kata-kata. Tetapi dalam pandangan itu ada persetujuan.
Dan Nyai Ageng Suryaningsih... ia tersenyum. Ia mencium
kening Putri, bayinya. “Kita akan baik-baik saja,” bisiknya. “Ayahmu bukan
orang sembarangan. Dan kita... kita akan membantunya.”
Dan malam itu, di ruangan kecil dengan lampu minyak yang
hampir padam, di tengah istana yang mulai bergolak oleh intrik dan
pengkhianatan, sumpah tidak hanya diucapkan oleh para lelaki. Para istri dan
anak-anak yang hadir, dengan kesadaran mereka sendiri, ikut mengamini. Mereka
tidak hanya mengikuti. Mereka memilih.
BAB IV
Bayang-Bayang yang Mengikuti
Kepergian, bahkan yang paling sunyi sekalipun, tidak pernah
benar-benar sunyi.
Selalu ada mata yang mengawasi dari balik celah pintu.
Selalu ada telinga yang mendengar bisikan yang tidak seharusnya didengar.
Selalu ada bayang-bayang yang mengikuti, terkadang dari jauh, terkadang begitu
dekat sehingga napasnya terasa di tengkuk.
Dan di dalam istana Pajang yang mulai membusuk oleh intrik,
keheningan justru menjadi tanda paling jelas bahwa sesuatu sedang bergerak di
baliknya. Keheningan adalah topeng. Dan di balik topeng itu, ada wajah-wajah
yang tidak sabar untuk menunjukkan taring mereka.
Di sebuah lorong panjang yang hanya diterangi oleh obor-obor
yang berjarak tidak teratur, sebagian sudah padam, sebagian lagi hampir mati,
menciptakan lorong gelap-gelap terang seperti ular raksasa yang bersisik, seorang
bangsawan muda berdiri diam. Jubahnya dari sutra hitam, tidak berhiaskan apa
pun. Tidak ada bordir emas, tidak ada permata. Kesederhanaan yang disengaja.
Kesederhanaan yang berteriak lebih keras daripada kemewahan yang mencolok.
Matanya tajam. Tidak seperti mata orang kebanyakan yang
sayu atau waspada. Matanya seperti mata burung pemangsa di malam hari, gelap,
fokus, dan tidak berkedip. Pandangannya dingin, seperti angin yang turun dari
puncak gunung di tengah malam.
Ia adalah Raden Purbaya. Bukan nama yang asing di istana.
Tetapi juga bukan nama yang sering disebut dalam percakapan santai. Ia adalah
bayangan. Ia hadir tetapi tidak terlihat. Ia mendengar tetapi tidak pernah
tercatat sebagai saksi.
Dan ia tahu segalanya.
"Ia pergi begitu saja?" gumamnya. Suaranya tidak
lebih dari bisikan, tetapi di lorong yang sunyi, bisikan itu bergema seperti
suara di dalam gua.
Seorang pengawal di sampingnya, seorang lelaki tua dengan
satu mata buta, wajahnya penuh keriput seperti peta dari medan perang yang tak
terhitung jumlahnya, menunduk dalam-dalam. "Tidak banyak yang tahu, Gusti.
Ia pergi diam-diam. Tidak ada pemberitahuan. Tidak ada perpisahan. Hanya...
menghilang. Seperti kabut pagi yang tidak kembali."
Raden Purbaya tersenyum tipis. Senyum yang tidak
menghangatkan apa pun. Senyum yang terasa seperti pisau yang baru diasah.
"Tidak ada orang seperti Jayabaya yang pergi begitu
saja tanpa alasan. Orang seperti dia tidak menghilang. Ia memilih untuk
tidak terlihat. Ada perbedaan besar di antara keduanya."
Ia melangkah perlahan. Sandalnya yang terbuat dari kayu
hitam menepak lantai batu dengan ritme yang teratur, tik, tik, tik, seperti
detak jam yang menghitung mundur sesuatu.
"Ikuti mereka."
Pengawal tua itu mengangkat wajahnya. Satu matanya yang
masih sehat menyipit. "Sampai mana, Gusti?"
Raden Purbaya berhenti. Ia tidak menoleh. Ia tetap
menghadap ke depan, ke lorong gelap yang seolah tidak berujung.
"Sampai kita tahu... apa yang sebenarnya ia cari.
Bukan hanya tempat tujuan. Bukan hanya rute perjalanan. Tapi mengapa.
Mengapa seorang abdi dalem dengan masa depan cerah, yang bisa saja menjadi
penasihat raja berikutnya, memilih meninggalkan segalanya dan berjalan ke dalam
hutan seperti seorang petapa gila."
Pengawal itu mengangguk. "Baik, Gusti. Aku akan
mengirim bayangan terbaik."
"Bukan bayangan terbaik," potong Raden Purbaya.
Suaranya tajam, seperti cambuk. "Kirim bayangan yang paling tidak
terlihat. Karena jika Jayabaya menyadari bahwa ia diikuti... dia akan
berubah. Dan aku ingin melihatnya sebagaimana adanya. Bukan sebagaimana ia
ingin terlihat."
Pengawal itu membungkuk lagi, lalu menghilang ke dalam
gelap. Tidak ada suara langkah. Tidak ada suara napas. Hanya keheningan yang
tiba-tiba terasa lebih tebal.
Raden Purbaya tetap berdiri di lorong itu. Matanya menatap
ke depan, ke arah barat, ke arah di mana Jayabaya melangkahkan kaki pertamanya
meninggalkan Pajang.
"Ki Lurah Jayabaya," bisiknya. "Kau pikir
kau bisa lari dari takdir? Takdir tidak pernah lari. Ia hanya berjalan di
jalannya sendiri. Dan cepat atau lambat... kau akan bertemu dengannya."
Ia tertawa kecil. Tertawa yang tidak mengandung humor.
Tertawa yang dingin, seperti es yang retak.
Dan malam itu... bayang-bayang mulai bergerak.
Mengikuti dari jarak aman.
Mengintai dari balik pepohonan.
Mengamati setiap langkah, setiap hentakan, setiap napas.
Menunggu saat yang tepat.
Karena di balik setiap perjalanan yang sunyi, selalu ada
yang diam-diam mengawasi.
Dan di balik setiap mimpi tentang kebebasan, selalu ada yang ingin membelenggu.
BAB V
Titah yang Tak Pernah Sampai
Rombongan kecil itu telah meninggalkan batas terakhir
Pajang, batas yang tidak ditandai oleh tembok atau gerbang, tetapi oleh
perubahan tanah dan udara. Tanah di sini lebih keras, lebih kering, seolah
tidak pernah disentuh oleh air mata atau keringat para petani. Udara di sini
lebih tipis, lebih bebas, tetapi juga lebih asing.
Mereka berjalan dalam diam. Sepatu-sepatu kulit yang sudah
usang menginjak kerikil dan tanah kering, menciptakan suara berderak yang
menjadi satu-satunya irama perjalanan. Tidak ada yang berbicara. Pikiran
masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri, mengingat apa yang ditinggalkan,
membayangkan apa yang akan dihadapi, berdoa kepada Tuhan yang mungkin tidak
lagi sama di luar sana.
Matahari belum sepenuhnya naik ketika suara langkah tergesa
terdengar dari belakang.
"Tunggu! Tunggu!"
Semua menoleh serentak. Seorang utusan, pakaiannya masih
rapi, tidak seperti mereka yang sudah mulai lusuh, berlari dengan napas
terengah-engah. Wajahnya merah, keringat membasahi dahi dan pelipisnya,
membasahi kain ikat kepalanya. Ia pasti berlari cukup jauh. Mungkin dari
istana. Mungkin dari gerbang terakhir. Atau mungkin dari tempat persembunyian
di antara semak-semak.
"Ki... Ki Lurah..." utusan itu terhuyung, hampir
jatuh, tetapi berhasil menahan dirinya dengan bertumpu pada lututnya.
"Titah... dari dalam."
Dari dalam. Bukan dari istana. Bukan dari pejabat
resmi. Dari dalam. Kata-kata itu sengaja dipilih. Dan Jayabaya,
dengan segala kepekaannya, langsung menangkap makna tersiratnya. Dari
dalam bisa berarti dari keraton. Bisa juga berarti dari lingkaran
dalam yang tidak terlihat oleh publik. Bisa juga berarti... dari seseorang yang
tidak berani menunjukkan wajahnya.
Utusan itu menyerahkan sebuah gulungan kain kecil. Kainnya putih,
tetapi tidak murni putih, ada bercak-bercak kuning karena usia, atau mungkin
karena sesuatu yang lain. Gulungan itu diikat dengan tali tipis dari serat
pohon. Tidak ada segel lilin. Tidak ada cap kerajaan. Hanya sebuah gulungan
sederhana yang, dengan cara yang aneh, terasa lebih berat dari ukurannya.
Jayabaya menerimanya.
Perlahan.
Dengan tatapan yang sulit dibaca.
Tangannya tidak gemetar, tetapi jari-jarinya bergerak pelan, meraba kain itu,
merasakan teksturnya, mungkin merasakan energi yang masih tertinggal di
dalamnya.
Ia membuka ikatannya.
Lalu membuka gulungan itu.
Kosong.
Tidak ada tulisan. Tidak ada aksara. Tidak ada gambar.
Hanya kain putih, atau agak putih, yang terbentang di hadapannya, tanpa sepatah
kata pun, tanpa satu tanda pun.
Namun tidak sepenuhnya kosong.
Di sudut kain, hampir tidak terlihat jika tidak
diperhatikan dengan saksama, ada sebuah simbol samar. Bukan digambar dengan
tinta, tetapi seolah ditekan ke dalam serat kain, seperti cap
yang tidak menggunakan tinta. Lingkaran yang terputus. Sebuah garis melengkung
yang tidak bertemu dengan ujungnya. Lingkaran yang patah. Tidak sempurna. Tidak
utuh.
Raka Wening yang berdiri di samping Jayabaya ikut melihat.
Wajahnya langsung berubah. Bukan pucat karena takut, tetapi tegang seperti
dawai yang ditarik terlalu kencang.
"Ini bukan tulisan manusia," katanya pelan.
Suaranya nyaris berbisik, tetapi di keheningan pagi itu, bisikan itu terdengar
oleh semua. "Ini... ini tanda. Tanda dari sesuatu yang tidak berwujud.
Atau dari seseorang yang sudah tidak lagi di dunia ini."
Jayabaya menggenggam kain itu erat. Tangannya tidak
gemetar, tetapi urat-urat di punggung tangannya menonjol, menunjukkan tekanan
yang ia berikan. Matanya berubah. Lebih dalam. Lebih jauh. Seolah ia sedang
membaca sesuatu yang tidak tertulis, menangkap pesan yang tidak terucap.
"Kalau begitu... ini bukan perintah," katanya
akhirnya. Suaranya rendah, seperti gemuruh yang jauh di dalam perut bumi.
"Tidak ada yang memerintah kita. Tidak ada yang melarang kita. Tidak ada
yang menawari kita."
Ia menarik napas. Panjang.
"Ini peringatan."
Gagak Panji yang sedari tadi diam, dengan tangan tetap
berada di dekat gagang pedangnya, menatap Jayabaya dengan dahi berkerut.
"Dari siapa, Ki Lurah? Siapa yang mengirim ini? Dan untuk apa?"
Jayabaya tidak menjawab segera. Ia menatap kain putih itu
lagi. Lingkaran yang terputus. Simbol yang sederhana namun mengandung makna
yang tidak sederhana. Ia sudah pernah melihat simbol ini sebelumnya. Dalam
mimpi. Dalam tapa. Dalam keheningan yang paling dalam.
"Ini dari Mbah Kakung," katanya
akhirnya. Suaranya pelan, tetapi semua yang mendengar langsung merinding. Mbah
Kakung. Bukan nama. Itu adalah sebutan untuk leluhur yang sudah puluhan tahun
meninggal. Leluhur yang semasa hidupnya dikenal sebagai penjaga ilmu.
Ilmu yang tidak diajarkan di pesantren atau di istana. Ilmu yang diturunkan
dari mulut ke telinga, dari hati ke hati, hanya kepada mereka yang dianggap
layak.
Raka Wening menunduk lebih dalam. "Berarti... mereka
tahu. Mereka tahu bahwa kita akan pergi. Bahkan sebelum kita
memutuskannya."
Jayabaya mengangguk pelan. "Waktu tidak linear bagi
mereka, Raka. Bagi mereka, masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah satu.
Mereka sudah melihat perjalanan ini... bahkan sebelum kita lahir."
Gagak Panji menghela napas. "Dan apa maksud peringatan
ini? Apakah mereka melarang kita? Menyuruh kita kembali?"
Jayabaya menggenggam kain itu lagi. Ia meremasnya pelan,
lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya, dekat dengan dadanya. "Mereka
tidak melarang. Mereka tidak menyuruh. Mereka hanya... mengingatkan.
Bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Bahwa ada harga yang harus dibayar.
Bahwa tidak semua dari kita akan sampai."
Ia menoleh ke depan. Ke arah hutan yang mulai terbuka di
hadapan mereka. Pepohonan berdiri seperti barisan prajurit yang tidak bergerak.
Di antara celah-celahnya, gelap mengintai.
"Dan kita sudah memilih untuk tetap berjalan,"
katanya. "Mundur bukan lagi pilihan. Kembali bukan lagi opsi. Satu-satunya
arah adalah ke depan. Ke mana pun itu membawa."
Langkah kembali dimulai. Kaki-kaki yang lelah kembali
melangkah. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang bertanya lagi. Kain putih
dengan lingkaran patah itu sudah berbicara. Dan mereka semua mendengarnya.
Di belakang mereka... Pajang perlahan menghilang. Bukan
hanya sebagai tempat dengan tembok dan gerbangnya. Tetapi sebagai masa
lalu. Sebagai diri-diri lama yang mereka tinggalkan bersama dengan sandal
usang dan pakaian lusuh.
Di depan mereka... hutan membuka mulutnya.
Dan di dalam mulut itu, ada cerita yang belum ditulis.
Ada ujian yang belum dihadapi.
Dan ada takdir yang belum dipertemukan.
BAB VI
Perpisahan Tanpa Tangis
Fajar menyingsing di batas terakhir Pajang dengan cahaya
pucat yang terasa asing. Seolah matahari pun tidak sepenuhnya hadir pagi itu, ia
hanya mengirim bayangannya, sinarnya yang redup, tanpa kehangatan yang biasa.
Langit berwarna abu-abu kebiruan, seperti logam yang belum dipoles. Awan-awan
menggantung rendah, berat, seolah sedang menahan tangis yang tidak berani keluar.
Rombongan besar yang terdiri dari laki-laki, perempuan dan
anak-anak itu berhenti sejenak di sebuah tanah lapang yang menjadi garis tak
kasatmata antara masa lalu dan masa depan. Tanah ini tidak istimewa. Hanya
hamparan rumput ilalang yang mulai mengering, beberapa batu besar yang
ditumbuhi lumut, dan sebuah pohon asam tua yang batangnya bengkok seperti orang
tua yang membungkuk karena usia. Namun semua yang berdiri di sana merasakannya,
tanah ini adalah batas. Batas antara Pajang yang mereka kenal dan dunia
yang belum mereka jamah.
Tidak ada upacara. Tidak ada doa bersama yang dipimpin oleh
penghulu. Tidak ada sesaji yang ditaburkan. Tidak ada salam perpisahan yang
diucapkan dengan suara lantang. Tidak ada tangis. Bahkan tidak ada isak.
Hanya napas yang berat... dan langkah yang harus
diteruskan.
Gagak Panji menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Ia
tidak melihat sesuatu yang istimewa, hanya jalan setapak yang mereka lalui,
pepohonan yang bergoyang pelan, dan kabut tipis yang mulai naik dari tanah. Namun
matanya tidak melihat itu. Matanya melihat masa lalu. Rumah-rumah
tempat ia dibesarkan. Wajah-wajah yang mungkin tidak akan pernah ia lihat lagi.
Meja-meja tempat ia makan bersama keluarganya. Dan, yang paling berat, makam
ibunya yang tidak sempat ia taburi bunga sebelum pergi.
"Apakah kita benar-benar tidak akan kembali?"
tanyanya pelan. Bukan kepada siapa pun secara spesifik. Lebih kepada dirinya
sendiri. Atau kepada angin.
Jayabaya berdiri di sampingnya. Tidak terlalu dekat, tetapi
cukup dekat untuk didengar.
"Kembali bukan soal arah, Gagak Panji," katanya.
Suaranya lembut, seperti orang yang sedang menjelaskan sesuatu kepada anak
kecil yang masih bingung. "Kembali adalah soal siapa diri
kita setelah berjalan. Apakah kita masih orang yang sama? Apakah kita masih
menginginkan hal yang sama? Apakah rumah itu masih rumah bagi
kita, atau sudah berubah menjadi sekadar bangunan yang dulu kita
tinggali?"
Gagak Panji tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Tangannya
yang kekar, tangan yang biasa menggenggam pedang dan mengangkat beban berat, kini
terasa kosong. Hampa.
Raka Wening, yang berdiri beberapa langkah di belakang,
menutup matanya sejenak. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia sudah memutuskan
untuk tidak melakukannya. Sebaliknya, ia merasakan sesuatu yang tertinggal, bukan
di tanah Pajang yang mulai menjauh, tetapi di dalam dirinya sendiri. Ada
sesuatu yang terputus. Seperti tali yang mengikatnya pada kehidupan
lama, tiba-tiba saja lepas.
"Ada yang terputus," bisiknya. Matanya masih
terpejam. Wajahnya tenang, tetapi garis di antara alisnya menunjukkan
konsentrasi yang dalam.
"Memang harus," jawab Jayabaya. Suaranya tegas,
seperti orang yang memotong sesuatu dengan pisau. "Karena yang kita cari
tidak akan pernah bisa ditemukan jika kita masih terikat. Ikatannya harus
dipotong. Satu per satu. Rantai ke masa lalu harus dilepaskan. Bukan karena
kita tidak bersyukur, tetapi karena kita tidak bisa membawa beban yang terlalu
banyak ke dalam perjalanan yang panjang."
Lembu Seta yang masih muda itu mengusap matanya dengan
lengan bajunya. Bukan menangis. Hanya... berkeringat, katanya dalam hati. Namun
semua orang tahu. Ada air mata yang berhasil ia tahan. Ada isak yang ia telan
kembali ke dalam tenggorokannya.
"Ki Lurah," suaranya parau. "Apa yang kita
cari sebenarnya? Aku sudah ikut sejauh ini, tetapi kadang aku lupa... apa
tujuan kita? Ke mana kita pergi? Dan untuk apa?"
Jayabaya menatapnya. Matanya dalam, tetapi tidak
menghakimi. "Kita mencari tempat, Lembu Seta. Bukan tempat
yang ditandai di peta, karena peta tidak pernah jujur. Kita mencari tempat di
mana kita bisa hidup tanpa topeng. Tempat di mana kita bisa membuka
hati tanpa takut ditikam. Tempat di mana air tidak berubah menjadi racun karena
intrik manusia. Tempat di mana kita bisa menjadi, bukan menjadi
raja atau abdi atau bangsawan atau budak, tetapi menjadi manusia."
Lembu Seta mengangguk pelan. Tidak sepenuhnya mengerti,
tetapi cukup untuk merasa bahwa ia sedang mengikuti sesuatu yang penting.
Satu per satu, mereka melangkah. Kaki-kaki yang sama yang
kemarin masih berjalan di koridor istana, kini menginjak tanah yang tidak
pernah mereka kenal. Tidak ada yang menoleh lagi. Setelah beberapa langkah,
bahkan keinginan untuk menoleh pun hilang. Digantikan oleh keinginan
untuk melihat ke depan, meskipun apa yang ada di depan masih gelap
dan tidak berbentuk.
Dan saat kaki terakhir meninggalkan batas itu, kaki seorang
pengikut bernama Kerta yang paling lambat, paling ragu, Pajang tidak lagi
menjadi bagian dari mereka.
Bukan karena mereka membencinya.
Bukan karena mereka melupakannya.
Tetapi karena mereka memilih untuk menjadi sesuatu yang lain.
Dan pilihan itu, seberat apa pun, adalah milik mereka sepenuhnya.
BAB VII
Pertemuan yang Ditakdirkan
Jalan tanah membentang panjang di hadapan mereka, tidak
beraspal, tidak berbatu, hanya tanah kering yang retak-retak oleh panas
matahari. Di kiri dan kanan, semak belukar dan pepohonan mulai rapat,
seolah-olah hutan sedang membuka mulutnya perlahan-lahan, menunggu mereka masuk
ke dalam perutnya.
Langit siang terasa lebih luas dari biasanya. Mungkin
karena tidak ada tembok yang membatasi. Mungkin karena tidak ada atap yang
menutupi. Namun meskipun lebih luas, langit itu juga terasa lebih sunyi.
Tidak ada suara burung. Tidak ada suara angin yang berembus. Hanya suara
langkah mereka sendiri yang berderak di atas tanah kering, dan suara napas yang
mulai terengah-engah.
Mereka sudah berjalan beberapa jam ketika tiba-tiba, di
tengah jalan yang sepi itu, mereka melihat sesosok.
Seorang pemuda berdiri.
Diam.
Seolah ia sudah berdiri di sana sejak pagi, atau mungkin sejak malam
sebelumnya. Atau mungkin sejak lama sekali, menunggu seseorang yang belum tentu
datang.
Pakaiannya sederhana. Kain polos, tidak bercorak, lusuh di
beberapa bagian. Tidak ada senjata di pinggangnya. Tidak ada tas di punggungnya.
Ia tidak membawa apa pun. Hanya dirinya sendiri. Dan matanya, matanya tenang,
tetapi ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang membuat orang
yang melihatnya berhenti sejenak, mempertanyakan apa yang mereka lihat.
Rombongan itu berhenti.
Gagak Panji langsung menempatkan diri di depan, tangannya meraih gagang pedang.
Tidak menghunus, tetapi siap. Bukan karena ia melihat ancaman, tetapi karena ia
tidak melihat apa pun yang bisa dijelaskan, dan hal-hal yang tidak bisa
dijelaskan seringkali lebih berbahaya daripada yang terlihat jelas.
Pemuda itu tidak bergerak. Ia hanya menatap mereka. Satu
per satu. Lalu matanya berhenti pada Jayabaya.
"Namaku Jatmiko," katanya. Suaranya tenang, tidak
tinggi, tidak rendah. Suara yang tidak berusaha mengesankan siapa pun. Tetapi
di dalam ketenangannya, ada tekad. Tekad yang sudah mengendap lama,
mungkin bertahun-tahun, dan baru sekarang keluar. "Aku ingin ikut."
Gagak Panji menatapnya tajam. Matanya menyipit, seperti
sedang menilai apakah pemuda ini ancaman atau bukan. "Kau tahu ke mana
kami pergi?"
Jatmiko menggeleng pelan. Tidak malu. Tidak ragu.
"Tidak."
"Lalu kenapa ikut?" desak Gagak Panji. Suaranya
sedikit keras, seperti orang yang sedang menguji.
Jatmiko tersenyum tipis. Senyum yang tidak menunjukkan
kegembiraan, tetapi kelegaan. Seperti orang yang akhirnya menemukan
kata-kata yang selama ini ia cari. "Karena aku tahu ke mana aku tidak ingin
kembali."
Jawaban itu menggantung di udara. Sederhana. Namun setiap
orang yang mendengarnya merasakan ada sesuatu yang bergetar di dalam dada
mereka. Sesuatu yang mereka rasakan sendiri tetapi tidak pernah bisa mereka
ucapkan dengan begitu tepat.
Jayabaya melangkah mendekat. Ia tidak terburu-buru.
Langkahnya pelan, seperti orang yang tidak ingin menakuti burung yang baru
hinggap. Ia berhenti beberapa langkah di depan Jatmiko, lalu menatap mata
pemuda itu. Lama. Sangat lama.
Seolah ia sedang membaca sesuatu yang
tidak terlihat.
Seolah ia sedang mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar.
Seolah ia sedang merasakan sesuatu yang tidak bisa diraba.
"Perjalanan ini tidak menjanjikan apa-apa,
Jatmiko," kata Jayabaya akhirnya. Suaranya lembut, tetapi tidak seperti
orang yang merayu. Lembut seperti orang yang sedang mengatakan kebenaran yang
pahit. "Tidak keselamatan. Tidak kemuliaan. Tidak ada jaminan bahwa besok
kita masih hidup. Tidak ada janji bahwa kita akan menemukan apa yang kita
cari."
Jatmiko mengangguk. Tanpa ragu. "Aku tidak mencari
itu."
"Lalu apa yang kau cari?" suara Jayabaya menjadi
lebih pelan, seperti bisikan. Namun di dalam keheningan siang itu, bisikan itu
terdengar oleh semua.
Jatmiko menarik napas. Dalam. Panjang. Seperti orang yang
hendak menyelam ke dalam lautan yang dalam. "Arti," katanya.
Satu kata. Lima huruf. Namun beratnya seperti gunung.
Jayabaya tersenyum. Bukan senyum bahagia, tetapi
senyum pengakuan. Senyum yang mengatakan, "Aku tahu. Aku
merasakan hal yang sama."
"Arti tidak diberikan, Jatmiko. Arti ditemukan.
Dan untuk menemukannya, kau harus berjalan. Jauh. Melewati rasa lelah, rasa
lapar, rasa takut, rasa putus asa. Tidak ada yang bisa memberikannya kepadamu.
Bahkan aku tidak bisa."
"Aku tahu," kata Jatmiko. Suaranya tidak berubah.
Masih tenang. Masih penuh tekad.
Jayabaya menatapnya sekali lagi. Lalu mengangguk. “Kalau
begitu... berjalanlah bersama kami.”
Jatmiko melangkah. Ia langsung bergabung dengan barisan, di
samping Lembu Seta yang masih muda. Namun matanya sesaat tertuju pada rombongan
di belakang. Ia melihat Nyai Ageng Suryaningsih menggendong Putri. Ia melihat
Karti menuntun Ratih. Ia melihat Wulandari berjalan di samping Bayu.
“Ki Lurah...” Jatmiko berbisik, matanya tidak lepas dari
sosok perempuan yang menggendong bayi itu. “Apakah itu... Nyai?”
Jayabaya mengangguk. “Ia istriku, Jatmiko. Namanya Nyai
Ageng Suryaningsih. Dan bayi itu adalah Putri, anak kami.”
Jatmiko terdiam. Sesuatu bergerak di dalam hatinya. Selama
ini ia hanya membayangkan perjalanan ini sebagai rombongan laki-laki yang
tangguh. Melihat seorang ibu dengan bayinya, seorang gadis kecil, seorang istri
yang setia... itu mengubah segalanya. Itu membuat perjalanan ini terasa lebih
nyata. Lebih berat. Dan lebih bermakna.
“Mengapa Nyai ikut, Ki Lurah?” tanyanya pelan.
Jayabaya tersenyum. “Karena rumah bukanlah tempat, Jatmiko.
Rumah adalah di mana hatimu berada. Dan hati Nyai ada di sisiku. Juga hati
Putri. Juga hati setiap istri dan anak yang ikut. Mereka tidak membebani
perjalanan. Mereka adalah alasan kita berjalan. Kita mencari tempat yang aman
bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi untuk mereka. Untuk anak-anak.
Untuk generasi yang akan datang.”
Jatmiko mengangguk. Ia menatap Ratih yang melompat-lompat
kecil di samping ibunya, tidak lelah, tidak takut, hanya penasaran. Ia menatap
Bayu yang berjalan tegak di samping Gagak Panji, sesekali memegang keris
mainannya. Ia menatap Putri yang tertidur di gendongan ibunya, tidak tahu bahwa
ia sedang meninggalkan satu dunia dan memasuki dunia yang lain.
“Aku mengerti, Ki Lurah,” kata Jatmiko. “Kita tidak
berjalan untuk diri kita sendiri.”
“Kita berjalan untuk mereka yang belum bisa berjalan,” kata
Jayabaya. “Dan untuk mereka yang akan berjalan setelah kita.”
Dan barisan pun berjalan lagi.
Kini bertambah satu.
Namun beban tidak bertambah.
Karena kadang-kadang, menemukan seseorang yang mencari hal yang sama, membuat
beban terasa lebih ringan.
BAB VIII
Jejak yang Mengikuti
Hutan mulai menutup jalan. Pepohonan menjulang tinggi,
batang-batangnya gelap dan lembap, dipenuhi lumut dan tanaman rambat yang
menggantung seperti tirai-tirai hijau. Ranting-rantingnya saling bersilang di
atas kepala mereka, seperti tangan-tangan tua yang saling berpegangan,
membentuk kanopi yang tebal, menghalangi sebagian besar sinar matahari.
Cahaya yang tersisa hanya menembus dalam garis-garis tipis,
garis-garis emas yang jatuh ke tanah hutan, menerangi debu-debu yang bertebangan
di udara. Garis-garis itu tidak stabil; mereka bergerak ketika awan di atas
bergerak, atau ketika angin menggoyang dedaunan, menciptakan ilusi bahwa hutan
itu hidup dan bernafas.
Udara menjadi lembap. Berat. Dan diam. Tidak
ada suara burung. Tidak ada suara serangga. Bahkan suara langkah mereka sendiri
terasa tertelan oleh sesuatu yang lebih besar, lebih tua, dan lebih sunyi.
Malam turun lebih cepat di dalam hutan. Tidak seperti di
padang terbuka, di mana senja masih memberi waktu untuk bersiap. Di dalam
hutan, gelap datang seperti tirai yang dijatuhkan sekaligus—sekejap masih
terang, sekejap kemudian semuanya hitam.
Mereka berhenti di sebuah tempat yang agak terbuka, di mana
pepohonan sedikit renggang. Api unggun dinyalakan dengan susah payah, kayu-kayunya
lembap, sulit menyala, dan asapnya tebal seperti kabut. Namun akhirnya api
menyala, kecil tetapi cukup, menciptakan lingkaran cahaya yang menjadi batas
antara mereka dan gelap di luar.
Namun nyala api itu tidak stabil.
Ia bergetar.
Berkedip-kedip.
Seperti sedang takut.
Seperti sedang merasakan sesuatu yang tidak berani ia ungkapkan.
Raka Wening yang sedang duduk bersila, dengan mata setengah
terpejam, tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. Bukan karena terkejut. Tetapi
karena merasakan. Ia menoleh ke kiri, ke kanan, lalu ke belakang,
seolah sedang mencari sesuatu yang tidak bisa ia lihat tetapi bisa ia rasakan.
"Ada yang mengikuti kita," katanya pelan.
Suaranya tidak keras, tetapi setiap orang yang mendengarnya langsung merinding.
Semua terdiam. Bahkan kayu bakar yang berderak pun seolah
berhenti, ikut mendengar.
Gagak Panji langsung menggenggam gagang senjatanya
erat-erat. Matanya menyapu kegelapan di luar lingkaran api. Namun ia tidak
melihat apa pun. Hanya bayangan pohon yang bergoyang pelan, dan kabut tipis
yang mulai naik dari tanah.
"Dari mana?" tanyanya. Suaranya tegang.
Raka Wening tidak segera menjawab. Ia memejamkan mata lagi,
seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa.
Wajahnya berkerut, berkonsentrasi. Kemudian matanya terbuka lagi.
"Bukan dari arah," katanya akhirnya.
Suaranya aneh. Seperti orang yang sedang mencoba menjelaskan warna kepada orang
buta. "Bukan dari timur, bukan dari barat, bukan dari utara, bukan dari
selatan. Ia... di antara. Di antara pepohonan. Di antara kegelapan.
Di antara napas kita."
Angin berhenti.
Tiba-tiba.
Seolah alam semesta menahan napas.
Suara serangga, yang sejak tadi tidak ada, tetap tidak ada.
Bahkan suara jangkrik, yang biasanya tidak pernah absen di malam hari,
menghilang. Yang tersisa hanya keheningan total. Keheningan yang tebal.
Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menutupi seluruh tubuh,
menekan, mencekik.
Dan di antara gelap itu...
di antara pepohonan yang batangnya hitam seperti tinta...
di antara kabut yang mulai menebal...
sepasang mata merah menyala.
Bukan mata manusia. Terlalu besar. Terlalu terang.
Terlalu dingin. Mata itu tidak berkedip. Ia hanya melihat.
Melihat mereka semua satu per satu, seolah sedang menghitung, menilai, memilih.
Diam.
Mengawasi.
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas. Bahkan
Gagak Panji, yang tangannya sudah di gagang pedang, tidak berani menghunus.
Ada sesuatu dalam tatapan mata merah itu yang membuatnya
sadar, bahwa di hadapan makhluk ini, senjata manusia tidak berarti apa-apa.
Lalu, perlahan, mata itu bergerak.
Menyapu dari kiri ke kanan.
Lalu...
lenyap.
Seperti lilin yang ditiup.
Seperti mimpi yang hilang saat bangun.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada suara ranting patah.
Tidak ada jejak di tanah.
Hanya rasa.
Rasa bahwa mereka tidak sendiri.
Rasa bahwa mereka sedang diawasi.
Rasa bahwa hutan ini tidak pernah tidur, dan di dalam kegelapannya, ada
makhluk-makhluk yang tidak ingin diganggu, tetapi juga tidak segan-segan
mengganggu.
Malam itu, tidak ada yang tidur nyenyak.
Api unggun dijaga tetap menyala hingga pagi.
Dan ketika fajar akhirnya datang, semua orang bersyukur tanpa mengucapkannya.
Karena mereka selamat melewati satu malam.
Satu malam dari sekian banyak malam yang akan datang.
BAB IX
Perempuan dari Kabut
Hari ketiga di dalam hutan.
Hujan turun tanpa peringatan. Tidak seperti biasanya yang
diawali dengan mendung gelap dan angin kencang. Di sini, di dalam hutan yang lebat,
hujan datang begitu saja, tiba-tiba langit yang tadinya masih terlihat sedikit
biru di antara celah-celah dedaunan, berubah menjadi kelabu, lalu air jatuh
deras seperti ada yang membuka keran raksasa di atas kepala mereka.
Air jatuh tidak perlahan, tetapi deras, seperti
cambuk-cambuk cair yang memukul daun, memukul tanah, memukul tubuh mereka.
Dalam hitungan detik, semua orang basah kuyup. Pakaian yang tadinya kering
menjadi lembap dan lengket di kulit. Rambut-rambut basah menempel di dahi dan
pipi. Air mengalir dari ujung hidung dan dagu, menciptakan tetesan-tetesan
kecil yang jatuh ke tanah.
Hujan menutup pandangan seperti tirai. Tidak mungkin
melihat lebih dari beberapa langkah ke depan. Semua menjadi kabur, menjadi
abu-abu, menjadi satu antara langit, hutan, dan tanah.
Tanah menjadi licin. Sangat licin. Setiap langkah harus
diatur dengan hati-hati, karena satu langkah yang salah bisa menyebabkan
tergelincir dan jatuh ke jurang yang tidak terlihat di balik semak-semak.
Langkah menjadi berat.
Napas menjadi tersengal.
Dan kedinginan mulai merayap masuk ke dalam tulang.
Rombongan berhenti di bawah pohon besar. Pohon ini berbeda
dari yang lain, lebih tua, lebih besar, akar-akarnya muncul ke permukaan tanah
seperti ular-ular raksasa yang membatu. Batangnya sangat lebar, mungkin butuh
sepuluh orang berpegangan tangan untuk mengelilinginya. Di bawah pohon ini,
hujan tidak begitu deras. Masih ada tetesan-tetesan yang menembus dedaunan,
tetapi tidak sebanyak di luar.
Mereka beristirahat. Melepas lelah. Mengatur napas.
Beberapa orang mencoba memeras air dari pakaian mereka, meskipun sia-sia karena
hujan belum berhenti.
Dan di sanalah...
di tengah hujan yang masih deras...
di antara kabut yang mulai naik dari tanah karena percikan air...
ia muncul.
Seorang perempuan.
Berdiri di antara kabut dan hujan.
Seolah ia lahir dari keduanya.
Wajahnya samar. Tidak karena kabut, tetapi karena ia
sendiri yang samar. Seperti gambar yang digambar dengan tinta yang
terlalu encer, ada, tetapi tidak jelas. Bisa dilihat, tetapi sulit diingat.
Namun matanya...
Matanya tajam.
Tajam seperti belati.
Tajam seperti mata elang yang melihat mangsa dari ketinggian.
Dan mata itu menatap mereka semua.
Satu per satu.
Tanpa terburu-buru.
Tanpa ekspresi.
"Tanah ini tidak menerima tamu sembarangan,"
katanya.
Suaranya tidak keras.
Tetapi terasa menggema.
Seolah bukan hanya telinga yang mendengarnya, tetapi juga tulang, juga darah,
juga jiwa.
Semua terdiam. Bahkan Gagak Panji, yang biasanya cepat
bereaksi, kali ini hanya bisa berdiri membatu. Tangannya yang biasa menggenggam
pedang, kini menggenggam udara kosong.
Jayabaya melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Tidak
tergesa. Tidak takut. Ia berhenti di depan perempuan itu, cukup dekat untuk
melihat bahwa perempuan itu tidak basah. Air hujan jatuh ke
arahnya, tetapi tidak membasahinya. Seolah ada perisai tak terlihat di
sekeliling tubuhnya.
"Kami tidak datang untuk merusak," kata Jayabaya.
Suaranya tenang, seperti biasa. Tidak bergetar. Tidak meninggi.
Perempuan itu tersenyum.
Tipis.
Hampir tidak terlihat.
Tetapi ada.
Dan senyum itu mengandung sesuatu.
Sesuatu yang sulit dijelaskan.
Sesuatu antara ejekan dan penghargaan.
"Semua yang datang ke sini... selalu mengatakan
itu," katanya. "Setiap manusia, dengan kapaknya, dengan apinya,
dengan ambisinya, selalu berkata, 'Aku tidak datang untuk merusak.' Tapi
lihatlah ke belakang kalian. Lihatlah jejak yang kalian tinggalkan. Tanah yang
terinjak. Daun yang teroyak. Ranting yang patah. Apakah itu bukan
kerusakan?"
Jatmiko, yang berdiri di belakang Jayabaya, menelan ludah.
Tenggorokannya terasa kering, meskipun ia baru saja minum air hujan.
"Lalu..." suaranya serak, "kenapa mereka tidak kembali?
Orang-orang yang datang sebelumnya?"
Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah Jatmiko.
Matanya menyipit. Seperti sedang membaca sesuatu di wajah pemuda itu.
"Karena hutan ini tidak menolak mereka," katanya perlahan.
Setiap kata diucapkan dengan hati-hati, seperti orang yang menuangkan madu dari
kendi. "Hutan ini... mengubah mereka. Mengubah keinginan
mereka. Mengubah ketakutan mereka. Mengubah tujuan mereka. Beberapa menjadi
bagian dari tanah ini. Beberapa menjadi bagian dari kita. Dan
beberapa... tidak pernah ditemukan."
Hujan semakin deras.
Kabut menebal.
Dan ketika mereka berkedip, sekejap, hanya sekejap, perempuan itu sudah tidak
ada.
Seperti ia tidak pernah ada.
Seperti ia hanya ilusi yang diciptakan oleh hujan dan kabut dan kelelahan.
Namun semua orang di sana tahu.
Ia pernah ada.
Ia nyata.
Dan ia baru saja memberi mereka peringatan.
Jayabaya berdiri diam di tempatnya, menatap ke arah di mana
perempuan itu berdiri. Hujan membasahi seluruh tubuhnya, tetapi ia tidak
bergerak. Ia hanya berdiri, seperti pohon, seperti batu, seperti sesuatu yang
sedang berpikir.
"Ki Lurah," suara Raka Wening dari belakang.
"Siapa dia?"
Jayabaya tidak menoleh. Matanya tetap lurus ke depan, ke
arah kabut yang mulai menelan segalanya.
"Kita akan tahu," katanya pelan. "Cepat atau
lambat. Karena dia bukan sekadar lewat. Dia menunggu. Dan kita...
akan menemuinya lagi."
BAB X
Pertanda dari Langit
Malam itu, setelah hujan reda, langit terbuka.
Bukan seperti biasa, di mana awan-awan perlahan menghilang
dan bintang-bintang muncul satu per satu. Malam itu, awan tersibak.
Tiba-tiba. Seperti tirai yang ditarik dengan kasar, memperlihatkan apa yang
selama ini tersembunyi di baliknya.
Dan di langit yang baru terbuka itu, sebuah cahaya
melintas.
Cepat.
Namun terang.
Terang seperti sekejap matahari di tengah malam.
Terang seperti kilat yang tidak diikuti guntur.
Terang seperti pesan yang ditulis dengan api di atas kanvas
hitam.
Garis cahaya itu membelah kegelapan dari timur laut ke
barat daya, meninggalkan jejak yang perlahan memudar, seperti kenangan yang
mulai dilupakan.
Raka Wening, yang sedang berjaga di tepi perkemahan,
langsung tersungkur. Bukan karena jatuh, tetapi karena bersujud.
Dahinya menyentuh tanah yang masih basah oleh hujan. Bibirnya bergerak cepat,
membisikkan doa-doa yang tidak terdengar oleh orang lain.
"Itu bukan bintang jatuh," katanya setelah
beberapa saat. Suaranya bergetar. Bukan karena takut, tetapi karena kagum.
Karena takjub. Karena ia sadar bahwa ia baru saja menyaksikan
sesuatu yang tidak semua orang diberi kesempatan untuk melihat.
"Itu... tanda. Tanda dari yang di atas. Tanda dari leluhur.
Tanda bahwa kita... tidak salah memilih jalan."
Jayabaya berdiri di sampingnya. Ia tidak bersujud. Ia
hanya menatap langit, dengan mata yang tidak berkedip. Matanya
mengikuti jejak cahaya yang perlahan memudar, hingga akhirnya lenyap sama
sekali, meninggalkan langit yang kembali gelap, dengan bintang-bintang yang
mulai muncul satu per satu.
"Ke arah mana?" tanya Jayabaya. Suaranya tenang.
Tidak emosional. Namun di dalam ketenangan itu, ada konsentrasi yang
luar biasa.
Raka Wening mengangkat kepalanya dari tanah. Ia memejamkan
mata sejenak, merasakan, mengingat, memastikan. Kemudian ia mengangkat tangan
kanannya dan menunjuk.
"Ke sana," katanya. Menunjuk ke arah
barat daya. Ke arah gunung-gunung yang di siang hari terlihat samar di
kejauhan. Ke arah lereng Sumbing.
Sunyi.
Namun kali ini... sunyi itu terasa berbeda.
Bukan sunyi yang menekan, yang mencekik, yang membuat bulu kuduk berdiri.
Sunyi itu terasa memanggil.
Seperti suara yang tidak terdengar tetapi dirasakan.
Seperti tangan yang tidak terlihat tetapi menarik.
Seperti rumah yang belum pernah dikunjungi tetapi sudah
dirindukan.
Jayabaya mengangguk. Perlahan. Dengan penuh kesadaran.
"Kalau begitu... kita tidak lagi berjalan tanpa
arah," katanya.
Ia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Menuju ke
arah barat daya. Menuju ke arah di mana cahaya itu jatuh. Menuju ke arah di
mana sesuatu menunggu.
Dan yang lain mengikutinya.
Tidak lagi hanya karena keyakinan buta.
Tidak lagi hanya karena mereka tidak punya tempat lain untuk pergi.
Tetapi karena mereka telah melihat tanda.
Mereka telah mendengar panggilan.
Dan mereka memilih untuk menjawab.
Perjalanan pun berlanjut...
menuju sesuatu yang lebih besar dari apa pun yang mereka
bayangkan.
Menuju sesuatu yang akan mengubah mereka selamanya.
Menuju takdir yang tidak bisa dihindari.
BAB XI
Sungai yang Menolak
Pagi itu, setelah malam yang penuh pertanda, kabut belum
sepenuhnya terangkat ketika rombongan tiba di tepi sebuah sungai.
Sungai itu tidak lebar. Mungkin hanya selebar sepuluh
langkah orang dewasa. Namun ada sesuatu pada sungai itu yang
membuat semua orang berhenti tanpa perlu diperintahkan.
Airnya tampak tenang.
Terlalu tenang.
Tenang seperti muka kaca yang tidak pernah disentuh angin.
Tenang seperti orang yang sedang menahan napas.
Tenang seperti penjaga yang sedang mengamati.
Permukaannya halus seperti cermin, namun tidak memantulkan
bayangan langit dengan sempurna. Seolah ada sesuatu yang
menghalangi pantulan itu... sesuatu yang hidup di bawahnya.
Sesuatu yang bergerak perlahan, tanpa menciptakan riak, tanpa meninggalkan
jejak.
Tidak ada suara. Sungai yang biasanya mengalir dengan
gemericik yang menenangkan, di sini diam. Airnya bergerak, tetapi
tanpa suara. Seolah suara adalah hak istimewa yang tidak diberikan kepada
sungai ini.
Lembu Seta, yang masih muda dan penuh semangat, melangkah
maju. Kakinya yang sudah lelah berjalan di tanah kering, kini melihat air dan
merasa haus. Haus yang bukan hanya di tenggorokan, tetapi di
seluruh tubuh.
"Airnya dangkal," katanya, mencoba meyakinkan
dirinya sendiri. Suaranya sedikit terlalu keras untuk suasana yang sunyi itu,
seperti batu yang dilempar ke kolam yang tenang.
Ia menuruni tepian yang landai. Tanah di tepi sungai itu
berbeda, lebih lembap, lebih gelap, berbau anyir seperti tanah yang jarang
terkena sinar matahari. Kakinya yang bersandal kayu menyentuh air.
Dingin.
Bukan dingin biasa. Bukan dinginnya air gunung yang
menyegarkan. Ini dingin yang merayap. Dingin yang naik dari telapak
kaki, ke betis, ke lutut, ke paha, seperti sesuatu yang sedang
mencari jalan masuk ke dalam tubuh. Dingin yang tidak hanya membekukan daging,
tetapi juga perasaan.
"Aneh..." gumam Lembu Seta. Ia menggigil, tetapi
ia pikir itu hanya karena airnya dingin. "Tidak apa-apa. Hanya air."
Satu langkah lagi.
Kakinya yang kedua menyentuh air.
Dan tiba-tiba, tarikan.
Bukan arus. Arus terlihat, tetapi ini bukan arus.
Ini seperti tangan yang tak terlihat, yang menggenggam
pergelangan kakinya, lalu menarik ke bawah, ke tengah, ke
dalam.
"Ki Lurah!" teriak Lembu Seta.
Tubuhnya terseret. Bukan oleh gelombang, karena tidak ada
gelombang. Bukan oleh pusaran, karena tidak ada pusaran. Ia hanya bergerak ke
tengah sungai, seolah-olah sungai itu sendiri yang memindahkannya,
seperti tangan raksasa yang menggeser bidak di papan catur.
Namun air tidak beriak.
Tidak ada gelombang.
Permukaan sungai tetap tenang, seperti cermin, seperti kaca, seperti mata yang
sedang mengamati dengan dingin.
Hanya gerakan yang tidak terlihat... namun kuat.
Kuat seperti tali yang ditarik oleh sepuluh kuda.
Kuat seperti takdir yang tidak bisa dilawan.
Gagak Panji segera melompat hendak menolong. Tangannya
sudah terulur, kakinya sudah melompat ke arah air,
Namun Jayabaya mengangkat tangannya.
Cepat.
Tegas.
"Jangan!"
Semua terhenti.
Gagak Panji membeku di udara, satu kakinya masih di tanah, satu kaki sudah
mengarah ke air.
Jayabaya melangkah perlahan ke tepi. Tidak tergesa. Tidak
panik. Matanya tidak melihat Lembu Seta yang mulai panik di tengah sungai,
tetapi melihat sungai itu sendiri. Melihat airnya.
Melihat permukaannya yang tenang.
Ia berlutut.
Lututnya menyentuh tanah lembap di tepi sungai.
Ia mengambil segenggam tanah.
Tanah hitam. Lembap. Berbau anyir.
Ia menutup mata.
Bibirnya bergerak pelan.
Bukan mantra yang keras dan menggelegar.
Bukan pula doa yang panjang dan rumit.
Hanya bisikan.
Bisikan yang begitu pelan sehingga bahkan orang yang berdiri di sampingnya
tidak bisa mendengar apa yang diucapkan.
Namun bisikan itu... mengandung keteguhan.
Keteguhan yang tidak bisa diukur dengan kata-kata.
Keteguhan yang lahir dari keyakinan yang telah diuji ribuan
kali.
Ia menaburkan tanah itu ke dalam air.
Segenggam tanah hitam.
Jatuh ke permukaan sungai yang tenang.
Sejenak...
tidak terjadi apa-apa.
Air tetap tenang.
Lembu Seta masih tercebur di tengah, mulai kehabisan napas, mulai panik.
Lalu...
permukaan air bergetar.
Pelan.
Seperti daun yang digoyang angin.
Seperti hati yang berdebar.
Kemudian, terbelah.
Bukan terbelah seperti Laut Merah dalam kisah Nabi Musa.
Tidak ada dinding air di kiri dan kanan. Tetapi arus yang tak terlihat
itu... melemah. Perlahan. Seperti tangan yang melepaskan
genggamannya, satu jari demi satu jari.
Lembu Seta terlepas.
Ia terhempas ke tepi, bukan karena ombak, tetapi karena dorongan lembut,
seperti tangan tak terlihat yang mendorongnya ke tempat yang aman.
Ia jatuh di tanah, basah kuyup, napasnya tersengal-sengal.
Wajahnya pucat, bibirnya kebiruan. Ia menggigil hebat, tetapi ia hidup.
Semua terdiam.
Tidak ada yang bersorak.
Tidak ada yang berteriak lega.
Mereka hanya diam, menatap sungai yang kembali tenang, seperti
tidak terjadi apa-apa.
Jayabaya membuka mata.
Ia masih berlutut di tepi sungai.
Tangannya masih terulur, jari-jarinya masih menyentuh air.
"Ini bukan sungai," katanya pelan. Suaranya tidak
keras, tetapi terdengar oleh semua. "Ini batas. Batas antara
dunia manusia dan dunia yang lebih tua. Dan batas ini... tidak bisa dilewati
begitu saja."
Raka Wening menunduk. Wajahnya pucat, tetapi matanya
tenang. "Dan kita baru saja diizinkan melewatinya,"
katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Jayabaya mengangguk. "Iya. Kita diizinkan. Tapi izin
tidak datang gratis. Ada harga yang harus dibayar. Dan kita
belum membayarnya."
Ia berdiri.
Menatap sungai itu sekali lagi.
Lalu berbalik.
"Bawa Lembu Seta. Kita lanjutkan perjalanan."
Tidak ada yang membantah.
Mereka mengangkat Lembu Seta yang masih menggigil, meletakkannya di atas tandu
darurat yang dibuat dari ranting dan kain.
Dan mereka berjalan lagi.
Meninggalkan sungai yang tenang itu di belakang mereka.
Tapi tidak ada yang berani menoleh.
BAB XII
Pertapa Penjaga Batas
Mereka belum jauh dari sungai, mungkin baru sekitar seratus
atau dua ratus langkah, cukup jauh untuk tidak lagi mendengar suara air, tetapi
cukup dekat sehingga aroma anyir tanah tepi sungai masih tertinggal di pakaian
mereka, ketika seorang lelaki tua muncul di antara pepohonan.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada suara ranting patah.
Tidak ada suara napas.
Tidak ada tanda kehadiran sebelumnya.
Ia hanya... ada.
Seolah ia selalu ada di sana, dari sejak awal, dari sejak sebelum hutan ini
ada, dan baru sekarang memutuskan untuk menampakkan diri.
Tubuhnya kurus. Sangat kurus. Kulitnya keriput dan gelap
seperti kulit kayu. Jari-jarinya panjang dan kurus, dengan kuku yang panjang
dan melengkung seperti cakar burung. Matanya... matanya dalam.
Sangat dalam. Seperti sumur yang tidak pernah kering, seperti gua yang tidak
pernah terang, seperti lubang di mana semua rahasia alam
semesta disembunyikan.
Sorot matanya tajam.
Tajam seperti belati yang diasah selama seribu tahun.
Tajam seperti matahari di tengah hari.
Tajam seperti kebenaran yang tidak bisa dibantah.
Ia memandang mereka.
Satu per satu.
Lama.
Seolah ia sedang membaca.
Bukan membaca wajah, tetapi membaca jiwa.
Membaca niat.
Membaca masa lalu.
Membaca takdir.
"Kalian melintasi batas tanpa izin," katanya.
Suaranya tidak keras. Tetapi setiap suku kata terasa seperti getaran yang
menjalar dari tanah, naik ke kaki, ke tulang, ke gigi. Suara yang tidak hanya
didengar, tetapi dirasakan.
Gagak Panji bersiaga. Tangannya bergerak ke gagang pedang,
tetapi tidak menghunus. Ada sesuatu dalam tatapan lelaki tua
itu yang membuat Gagak Panji sadar bahwa pedangnya, sehebat apa pun, tidak akan
berguna di sini.
"Siapa engkau?" tanya Gagak Panji. Suaranya
berusaha tegas, tetapi ada getar kecil di ujung kata-katanya.
Lelaki tua itu tidak menjawab. Ia tidak memalingkan
pandangannya. Matanya tetap tertuju pada Jayabaya. Seolah-olah hanya Jayabaya
yang nyata di antara mereka semua. Seolah yang lain hanyalah
bayangan, hanyalah ilusi, hanyalah pengiring yang tidak
penting.
"Engkau yang memimpin mereka," katanya. Bukan
pertanyaan. Pernyataan.
Jayabaya mengangguk. Tidak rendah hati berlebihan, tidak sombong.
Hanya mengakui. "Kami tidak datang untuk menantang, Ki. Kami
datang untuk mencari."
"Mencari apa?" suara lelaki tua itu tidak
berubah. Masih datar. Masih dalam. Namun ada penasaran di
dalamnya. Penasaran yang tidak berusaha disembunyikan.
"Tempat..." Jayabaya berhenti sejenak, mencari
kata yang tepat. "...yang bisa kami jaga tanpa merusaknya."
Lelaki tua itu tersenyum.
Tipis.
Senyum yang tidak menghangatkan.
Senyum yang dingin, seperti angin dari puncak gunung di tengah
malam.
"Semua manusia mengatakan itu," katanya.
"Setiap orang yang datang ke sini, dengan mata penuh mimpi dan hati penuh
harap, selalu mengatakan hal yang sama. 'Aku ingin menjaga. Aku tidak ingin
merusak.' Tapi kata-kata tidak pernah cukup."
Ia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Kaki
telanjangnya menyentuh tanah, tetapi tidak meninggalkan jejak. Seolah ia terlalu
ringan untuk menginjak bumi, atau seolah bumi enggan mencatat
kehadirannya.
"Tanah tidak mendengar kata-kata, manusia,"
katanya, kini berdiri hanya beberapa langkah dari Jayabaya. "Tanah membaca
niat. Tanah merasakan getaran. Tanah tahu apakah
kau datang dengan tangan terbuka atau dengan tangan yang menggenggam belati di
balik punggung."
Sunyi.
Angin berembus pelan.
Daun-daun berguguran dari pepohonan, jatuh perlahan seperti air mata yang
enggan jatuh.
"Namaku Ki Tunggul Wasesa," katanya akhirnya.
Suaranya berubah. Tidak lagi dingin. Menjadi... berat. Berat
seperti batu yang dipindahkan dari tempatnya. "Penjaga batas yang tidak
kalian lihat. Penjaga antara dunia yang kalian kenal dan dunia yang lebih tua
dari kerajaan kalian."
Raka Wening, yang sedari tadi diam, menunduk hormat. Bukan
karena takut, tetapi karena menghormati. Ada aura pada
lelaki tua itu yang membuat hormat adalah satu-satunya respons yang masuk akal.
"Lalu... apakah kami diizinkan melanjutkan, Ki
Tunggul?" tanya Raka Wening pelan.
Ki Tunggul tidak menjawab segera. Ia menatap mereka satu
per satu lagi. Kali ini lebih lama. Lebih dalam. Seolah ia sedang menimbang.
Menimbang di timbangan yang tidak terlihat, dengan anak timbangan yang tidak
kasatmata.
"Melanjutkan boleh," katanya
akhirnya. "Tapi ingat, semakin dalam kalian melangkah ke dalam hutan ini,
semakin sedikit yang bisa kembali. Bukan karena hutan ini
jahat. Hutan ini adil. Ia memberi sesuai dengan apa yang kalian
bawa. Jika kalian membawa niat baik, kalian akan mendapat kebaikan. Jika kalian
membawa niat busuk... kalian akan menjadi pupuk bagi akar-akar
pohon."
Ia menatap Jayabaya langsung ke mata.
"Dan kau, pemimpin mereka... kau akan diuji paling berat. Karena kau yang
membawa mereka. Dan tanggung jawab ada di pundakmu."
Jayabaya tidak gentar. Tidak menunduk. Tidak memalingkan
muka. Ia menatap balik Ki Tunggul dengan mata yang sama dalamnya, sama
tenangnya.
"Kami tidak mencari jalan kembali, Ki Tunggul,"
katanya. Suaranya pelan, tetapi tegas seperti palu yang memukul landasan.
"Kami sudah memutuskan. Dan keputusan tidak bisa diubah hanya karena
ketakutan."
Ki Tunggul tersenyum lagi. Kali ini, senyum yang berbeda.
Bukan senyum dingin, bukan senyum mengejek. Senyum penghargaan.
"Kalau begitu... berjalanlah."
Dan ia menghilang.
Begitu saja.
Seperti lilin yang ditiup.
Seperti kabut yang diusir matahari.
Seperti mimpi yang berakhir saat kita membuka mata.
Tidak ada suara.
Tidak ada asap.
Tidak ada apa pun.
Hanya pepohonan yang bergoyang pelan, dan dedaunan yang masih berjatuhan satu
per satu.
Lembu Seta, yang masih terbaring di tandu, menggigil. Bukan
karena kedinginan lagi. Tetapi karena rasa yang ditinggalkan oleh
kehadiran Ki Tunggul Wasesa, rasa bahwa mereka baru saja diukur, dinilai,
dan diizinkan untuk melanjutkan.
"Ki Lurah," bisik Jatmiko, yang sejak tadi tidak
berani bersuara. "Siapa sebenarnya lelaki itu?"
Jayabaya tidak menjawab. Ia hanya berjalan. Melangkah maju.
Menembus pepohonan yang mulai rapat lagi.
Dan yang lain mengikuti.
Dengan langkah yang sedikit lebih berat.
Karena mereka tahu—kini mereka tidak hanya berjalan di hutan.
Mereka berjalan di wilayah yang dijaga.
Dan setiap langkah akan dihitung.
BAB XIII
Penjaga yang Tak Terlihat
Malam itu terasa berbeda.
Lebih sunyi dari malam-malam sebelumnya.
Lebih dalam.
Seperti bukan hanya kegelapan yang turun, tetapi sesuatu yang lain,
sesuatu yang lebih berat, lebih tua, lebih hidup.
Api unggun menyala kecil. Kayu-kayu yang mereka kumpulkan sebagian
besar masih lembap, sehingga nyala apinya tidak berani membesar. Api itu
seperti makhluk yang ketakutan, meringkuk di tengah lingkaran batu,
berkedip-kedip setiap kali angin berembus.
Jatmiko duduk sendiri agak terpisah dari yang lain. Bukan
karena ia tidak ingin dekat, tetapi karena ia merasa perlu
sendiri. Ia memandang gelap di hadapannya, gelap yang tidak bisa ditembus oleh
mata manusia, gelap yang seolah berbentuk, yang seolah bergerak,
yang seolah melihat balik.
"Aku merasa... kita diawasi," katanya pelan.
Suaranya nyaris berbisik, tetapi di keheningan malam itu, semua orang
mendengarnya.
Raka Wening, yang duduk bersila di dekat api, mengangguk.
Matanya tertutup, tetapi wajahnya tidak tenang. Ada konsentrasi di
sana. Konsentrasi orang yang sedang mendengarkan sesuatu yang
tidak bisa didengar oleh telinga biasa.
"Bukan hanya satu," katanya. Matanya terbuka.
"Banyak. Mereka ada di antara pepohonan. Mereka ada di
dalam kabut. Mereka ada di dalam diam itu
sendiri."
Gagak Panji menggenggam gagang pedangnya. Tidak menghunus,
tetapi memegang. Seperti orang yang memegang sesuatu yang
memberinya keberanian. "Apakah mereka mengancam?"
Raka Wening menggeleng pelan. "Tidak. Mereka mengamati.
Mereka ingin tahu. Siapa kita. Kenapa kita datang. Apa yang kita cari."
Tiba-tiba, angin berputar.
Bukan angin biasa yang berembus dari satu arah.
Angin ini berputar seperti pusaran kecil, di tengah-tengah perkemahan, di
antara mereka semua.
Daun-daun kering beterbangan.
Debu naik ke udara.
Dan di tengah pusaran itu... kabut tipis turun.
Kabut yang tidak dingin.
Kabut yang hangat.
Kabut yang berbau seperti tanah setelah hujan, seperti bunga yang mekar di
malam hari, seperti sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata.
Dan di antara kabut itu... sosok perempuan muncul
kembali.
Nyi Sekar Tunjung.
Namun kini ia tidak berdiri di kejauhan. Ia ada di
tengah-tengah mereka, di dalam lingkaran api, seolah ia berhak berada di sana.
Wajahnya masih samar, tetapi matanya, matanya masih setajam sebelumnya. Dan
kali ini, ia tersenyum. Senyum yang tidak bisa dibaca. Senyum yang
bisa berarti apa saja.
"Kalian berjalan terlalu jauh untuk tidak mengerti,"
katanya. Suaranya tidak keras, tetapi menggema di dalam dada
setiap orang yang mendengarnya.
Jayabaya berdiri. Tidak tergesa. Tidak takut. Ia hanya
berdiri, menghadap perempuan itu, dengan tangan di samping badan. Tidak
bersikap defensif. Tidak ofensif. Hanya hadir.
"Mengerti apa?" tanyanya. Suaranya tenang,
seperti biasa.
Perempuan itu melangkah mendekat. Langkahnya tidak
menyentuh tanah. Kakinya bergerak, tetapi tidak ada bekas di tanah. Seolah
ia berjalan di atas udara, atau di atas sesuatu yang
tidak terlihat oleh mata manusia.
Ia berhenti di depan Jayabaya. Jarak hanya satu langkah.
Cukup dekat untuk melihat bahwa kulitnya berkilau tipis,
seperti permukaan air yang terkena sinar bulan. Cukup dekat untuk mencium
baunya, baunga melati, tanah basah, dan sesuatu yang lebih tua
dari keduanya.
"Bahwa dunia ini tidak hanya milik kalian,"
katanya. Matanya menatap Jayabaya lurus ke mata. "Bahwa di bawah kaki
kalian, ada dunia lain. Dunia yang tidak kalian lihat, tetapi hidup.
Dunia yang tidak kalian dengar, tetapi bersuara. Dunia yang tidak
kalian sentuh, tetapi merasakan setiap langkah kalian."
Ia berpaling. Matanya kini menatap Jatmiko, yang masih
duduk di pinggir, yang wajahnya pucat pasi.
"Dan tidak semua yang kalian lihat... adalah
milik dunia kalian."
Jatmiko gemetar. Bukan karena takut, tetapi karena merasa.
Merasa bahwa perempuan itu sedang berbicara kepada-nya, bukan
hanya tentang-nya. "Lalu... apa yang harus kami lakukan?"
suaranya serak, seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk.
Nyi Sekar tersenyum lagi.
Senyum yang lebih lembut kali ini.
Senyum yang hampir bisa disebut iba.
"Belajar diam," katanya.
Dua kata.
Sederhana.
Namun mengandung lautan makna.
"Belajar mendengar tanpa suara. Belajar melihat tanpa
mata. Belajar merasakan tanpa tangan. Karena di dunia ini... suara seringkali
hanya kebisingan. Mata seringkali hanya jendela yang tertutup. Tangan
seringkali hanya alat untuk mengambil."
Ia menatap mereka semua.
Sekali lagi.
Lama.
Seolah ia sedang merekam wajah mereka ke dalam ingatan yang
tidak akan pernah pudar.
"Dan ketika kalian sudah belajar diam... kalian
akan mendengar. Mendengar apa yang selama ini berbisik di telinga
kalian, tetapi tidak pernah kalian dengarkan."
Dan dalam sekejap, ia menghilang.
Seperti kabut yang diusir sinar matahari.
Seperti mimpi yang lenyap saat kita membuka mata.
Seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada, tetapi
meninggalkan bekas yang tidak bisa dihapus.
Menyisakan sunyi.
Sunyi yang lebih berat dari sebelumnya.
Sunyi yang berisi.
Sunyi yang berbicara.
Malam itu, tidak ada yang tidur.
Mereka hanya duduk, diam, dan mencoba mendengar.
Seperti yang dikatakan Nyi Sekar Tunjung.
Mencoba belajar diam.
BAB XIV
Desa yang Bernafas
Menjelang siang, setelah berjalan melewati malam tanpa
tidur, melewati pagi yang diselimuti kabut tebal, melewati rasa lapar yang
mulai menggerogoti perut, mereka menemukan sebuah pemukiman.
Itu muncul tiba-tiba. Di antara pepohonan yang lebat,
tiba-tiba ada lahan terbuka. Di lahan terbuka itu, berdiri
rumah-rumah sederhana. Rumah panggung dengan dinding bambu, atap rumbia yang
sudah menghitam karena usia. Ukurannya tidak besar, tetapi jumlahnya cukup
banyak, mungkin dua puluh atau tiga puluh rumah, cukup untuk sebuah desa kecil.
Rumah-rumah itu berdiri.
Pintunya terbuka.
Beberapa pintu terbuka lebar, seperti sedang mengundang masuk.
Beberapa pintu terbuka setengah, seperti orang yang ragu-ragu.
Peralatan rumah tangga tergeletak di halaman, kendi, cobek, lesung, ayakan.
Pakaian tergantung di jemuran, sudah kering, menunggu untuk diambil.
Namun...
tidak ada manusia.
Tidak ada suara. Tidak ada tawa anak-anak. Tidak ada suara
ayam berkokok. Tidak ada asap dari dapur. Tidak ada tanda kehidupan,
padahal semua peralatan dan pakaian menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal
di sini baru saja pergi. Mungkin kemarin. Mungkin pagi ini.
"Ini seperti ditinggalkan..." gumam Gagak Panji.
Matanya menyapu seluruh pemukiman, dari ujung ke ujung. "Tapi
ditinggalkan tergesa-gesa. Lihat, ada periuk yang masih tertutup.
Ada beras yang tercecer di lantai. Seolah mereka pergi tanpa sempat membereskan
apa pun."
Mereka masuk.
Langkah kaki mereka yang berderak di tanah kering terdengar asing di tempat
yang sunyi ini. Setiap langkah terasa seperti pelanggaran, seperti
suara yang tidak seharusnya ada.
Mereka memeriksa satu per satu rumah.
Semua sama.
Pintu terbuka.
Peralatan tergeletak.
Tapi tidak ada manusia.
Tidak ada mayat.
Tidak ada tanda kekerasan.
Tidak ada darah.
Tidak ada bekas perkelahian.
Hanya kepergian.
Kepergian yang misterius.
Kepergian yang sunyi.
Matahari mulai turun ketika mereka selesai memeriksa semua
rumah. Mereka memutuskan untuk bermalam di desa itu. Rumah-rumah kosong menawarkan
atap yang lebih baik daripada langit terbuka. Lantai kayu yang kering
menawarkan tempat tidur yang lebih nyaman daripada tanah yang lembap.
Mereka membagi tugas. Beberapa orang mengumpulkan kayu
untuk api unggun. Beberapa orang mencari sumber air. Beberapa orang
membersihkan salah satu rumah yang paling besar untuk dijadikan tempat
berkumpul.
Malam turun.
Api unggun dinyalakan di halaman desa.
Mereka makan dalam diam, makanan seadanya yang mereka bawa, yang mulai menipis.
Dan ketika malam semakin larut...
ketika api unggun mulai mengecil...
ketika semua orang mulai merasa kantuk...
suara langkah terdengar.
Tak... tak... tak...
Langkah kaki di lantai kayu.
Dari salah satu rumah yang kosong.
Semua menegang.
Gagak Panji berdiri, tangannya di gagang pedang.
Mereka menoleh ke arah suara itu.
Tak... tak... tak...
Langkah kaki mendekat.
Namun tidak ada sosok.
Hanya suara.
Suara langkah di lantai kayu yang kosong.
Kemudian, bisikan.
Bisikan-bisikan pelan.
Tidak jelas kata-katanya.
Seperti orang yang sedang mengobrol di ruangan sebelah.
Tidak keras, tetapi ada.
Lalu, tawa.
Tawa pelan.
Tawa seorang perempuan.
Atau beberapa perempuan.
Sulit dibedakan.
Seolah desa itu... kembali hidup.
Seolah orang-orang yang meninggalkannya... kembali.
Namun tidak dalam bentuk yang bisa dilihat.
Hanya dalam bentuk suara.
Dalam bentuk bayangan yang bergerak di balik dinding bambu.
Dalam bentuk kehadiran yang tidak kasatmata, tetapi terasa.
Jatmiko menutup telinganya dengan kedua tangan. Matanya
terpejam rapat-rapat. Tubuhnya gemetar.
"Ini tidak nyata... ini tidak nyata..." ulangnya
seperti mantra.
Jayabaya berdiri di tengah halaman. Ia tidak menutup
telinga. Ia tidak menutup mata. Ia mendengarkan. Ia melihat.
Ia merasakan.
Matanya tajam.
Ia memandang rumah-rumah kosong itu.
Ia memandang pintu-pintu yang terbuka.
Ia memandang kegelapan di antara rumah-rumah itu.
"Justru terlalu nyata," katanya.
Suaranya pelan, tetapi terdengar oleh semua. "Desa ini tidak ditinggalkan.
Desa ini dihuni. Dihuni oleh mereka yang tidak bisa pergi.
Atau tidak mau pergi. Atau... tidak bisa dilihat."
Raka Wening yang sedari tadi diam, tiba-tiba bersuara.
"Para leluhur... Ki Lurah? Atau... korban?"
Jayabaya menggeleng pelan. "Bukan korban. Bukan juga
leluhur dalam arti yang biasa. Mereka adalah... penghuni lain.
Dunia yang berbeda, di tempat yang sama. Kita yang memasuki wilayah
mereka. Bukan mereka yang memasuki wilayah kita."
Malam itu, suara-suara itu terus terdengar.
Langkah.
Bisikan.
Tawa.
Kadang-kadang, suara tangisan.
Kadang-kadang, suara orang memanggil nama yang tidak dikenal.
Tidak ada yang tidur.
Mereka hanya duduk, berpegangan, berdoa dalam hati.
Menunggu pagi.
Dan ketika fajar akhirnya datang, ketika sinar pertama
matahari menyentuh atap-atap rumbia, suara-suara itu berhenti.
Seperti rekaman yang dimatikan.
Seperti mimpi yang berakhir.
Desa kembali sunyi.
Kosong.
Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kita pergi," kata Jayabaya. Suaranya tegas.
Tidak ada tawar-menawar.
Tidak ada yang membantah.
Mereka bergegas membereskan barang-barang mereka.
Meninggalkan desa itu tanpa menoleh ke belakang.
Dan ketika mereka sudah berada di luar batas desa, ketika pepohonan mulai
menutup kembali jalan di belakang mereka, Jatmiko berbisik,
"Ki Lurah... desa itu... bernapas."
Jayabaya tidak menjawab.
Ia hanya terus berjalan.
Matanya lurus ke depan.
Ke arah barat daya.
Ke arah di mana cahaya itu jatuh.
Ke arah di mana tujuan menunggu.
BAB XV
Mimpi yang Menjadi Jalan
Malam berikutnya, setelah meninggalkan desa yang bernapas,
Jayabaya mengambil keputusan yang membuat semua orang terkejut. Ia akan
bertapa. Sendiri. Tanpa api. Tanpa suara. Tanpa ditemani siapa pun. Di tengah
hutan yang gelap, di mana bayang-bayang makhlus halus masih berkeliaran, di
mana akar-akar pohon seolah-olah bergerak sendiri.
"Ki Lurah, apakah ini saat yang tepat?" tanya
Raka Wening, suaranya penuh kekhawatiran. "Hutan ini tidak bersahabat.
Kita baru saja melihat desa yang dihuni oleh... mereka yang tidak kasatmata.
Dan Ki Lurah ingin bertapa sendirian?"
Jayabaya tersenyum tipis. "Justru karena itulah aku
harus bertapa, Raka. Kita tidak bisa terus berjalan tanpa petunjuk.
Kita hanya mengandalkan firasat dan mimpi-mimpi yang terputus-putus. Kita
perlu kepastian, bukan kepastian yang diberikan oleh peta, karena
peta tidak ada. Tapi kepastian yang diberikan oleh alam semesta."
Gagak Panji melangkah maju. "Setidaknya izinkan aku
menemani, Ki Lurah. Aku bisa berjaga dari kejauhan. Jika ada bahaya, aku
bisa..."
"Tidak," potong Jayabaya tegas, namun lembut.
"Kali ini aku harus sendiri. Kehadiran siapa pun, sekecil apa
pun, akan mengganggu. Doaku tidak akan tembus jika ada napas manusia lain di
sekitarku."
Ia memandang satu per satu wajah pengikutnya. Wajah-wajah
yang lelah, cemas, tapi penuh kesetiaan. "Kalian beristirahat di sini.
Jaga api unggun tetap menyala. Jangan ikuti aku. Jangan cari aku. Aku akan kembali
sebelum fajar menyingsing, atau mungkin tidak kembali sama sekali. Jika aku
tidak kembali, maka kalian harus memutuskan sendiri: kembali ke Pajang, atau
terus berjalan tanpa aku."
"Ki Lurah!" seru Lembu Seta, yang masih pucat
karena kejadian di sungai. "Jangan katakan itu! Kami tidak akan
bisa..."
"Kalian bisa," potong Jayabaya lagi.
Matanya menatap Lembu Seta dengan lembut namun tegas. "Jangan pernah
berpikir bahwa kalian lemah tanpa aku. Kekuatan kalian ada di dalam hati kalian
sendiri. Aku hanya penunjuk arah. Tapi kalianlah yang harus melangkah."
Ia lalu berbalik. Tanpa menungjawab lagi, ia melangkah ke
dalam gelap. Langkahnya pelan, tenang, seperti orang yang berjalan di halaman
rumahnya sendiri, bukan di hutan yang asing dan mengancam.
Gagak Panji ingin mengikuti, tapi Raka Wening menarik
tangannya. "Biarkan," bisik Raka Wening. "Dia tahu apa yang dia
lakukan."
Jayabaya berjalan cukup jauh dari perkemahan, mungkin
sekitar setengah jam perjalanan dengan langkah santai, hingga ia menemukan
sebuah tempat yang terasa berbeda. Sebuah pohon tua, sangat
tua, dengan akar-akar yang muncul ke permukaan tanah seperti ular-ular raksasa
yang membatu. Batangnya sangat lebar, berkerut-kerut, dipenuhi lumut dan jamur.
Di bawah pohon itu, tanahnya kering, aneh, karena di sekitarnya
tanah basah oleh embun malam. Seolah pohon itu menyerap semua
kelembapan di sekitarnya, atau seolah ada kekuatan yang
melindungi tanah di bawahnya dari basah.
Jayabaya duduk bersila di bawah pohon itu. Ia meletakkan
keris pusakanya di hadapannya, ujungnya mengarah ke timur. Ia menutup mata. Ia
mengatur napas. Perlahan, napasnya menjadi panjang, dalam, teratur.
Ia melepaskan segalanya.
Pikiran tentang Pajang.
Pikiran tentang istana.
Pikiran tentang para pengikutnya.
Pikiran tentang rasa lapar, rasa haus, rasa lelah.
Pikiran tentang dirinya sendiri.
Yang tersisa hanyalah kesadaran. Kesadaran
murni, tanpa bentuk, tanpa warna, tanpa suara. Seperti lautan yang tenang di
bawah permukaannya yang bergelombang.
Dan di dalam kesunyian yang sempurna itu...
di antara desiran angin yang tidak berani keras...
di antara gemerisik daun yang seolah-olah berbisik...
Jayabaya melihat.
Bukan dengan mata kepalanya, matanya tertutup rapat. Ia
melihat dengan mata batin. Dan apa yang ia lihat bukanlah gambar
statis, tetapi penglihatan yang hidup, yang bergerak, yang
bernapas.
Ia melihat gunung. Gunung yang menjulang
tinggi, dengan puncak yang tertutup awan. Gunung itu tidak seperti gunung
biasa, ia berdenyut. Seperti jantung raksasa yang tertanam di dalam
bumi. Denyutnya teratur, pelan, tetapi kuat. Sangat kuat. Setiap
denyut mengirim getaran yang menjalar ke seluruh tubuh Jayabaya, membuat
tulang-tulangnya bergetar.
Ia melihat dua bukit. Dua bukit yang berdiri di
kiri dan kanan, seperti gerbang purba. Bukit-bukit itu tidak simetris, yang
kiri lebih curam, yang kanan lebih landai. Namun keduanya terhubung oleh
sesuatu yang tidak terlihat. Seperti benang tak kasatmata yang menarik keduanya
bersama-sama, menjadikan mereka satu dalam fungsi:
sebagai penjaga.
Dan di antara dua bukit itu...
di tanah yang diapit oleh keduanya...
ada kabut.
Kabut biru.
Bukan biru langit, bukan biru laut.
Biru yang hidup.
Biru yang berubah-ubah, dari biru muda ke biru tua, dari biru keunguan ke biru
kehijauan, seperti warna yang tidak pernah diam, yang selalu bergerak, yang
selalu bernafas.
Kabut itu menyelimuti tanah di antara bukit-bukit itu.
Menyembunyikan apa pun yang ada di bawahnya. Namun Jayabaya tahu, di
bawah kabut itu, ada sesuatu. Sesuatu yang menunggu.
Sesuatu yang memanggil.
Dan kemudian, suara.
Bukan suara yang didengar dengan telinga. Suara yang dirasakan.
Suara yang masuk bukan melalui gendang telinga, tetapi melalui pori-pori,
melalui kulit, melalui hati.
"Di sanalah tempatmu."
Suara itu tidak keras. Tetapi jelas. Jelas
seperti air di sungai yang mengalir di musim kemarau. Jelas seperti suara ibu
yang memanggil anaknya di tengah keramaian.
"Di sanalah tempat yang kau cari. Bukan untuk kau
kuasai. Bukan untuk kau miliki. Tetapi untuk kau jaga. Untuk
kau lindungi. Untuk kau hidupi dengan niat yang tulus."
Jayabaya ingin bertanya. Ingin menjawab. Ingin berbicara.
Tetapi mulutnya tidak bisa bergerak. Lidahnya terasa kaku. Suara itu lebih
besar darinya. Lebih besar dari apa pun yang pernah ia temui.
"Jalan ke sana tidak mudah. Akan ada ujian. Akan ada
pengorbanan. Akan ada air mata dan darah. Apakah kau siap, Ki Lurah
Jayabaya?"
Dalam mimpinya, atau dalam penglihatannya, Jayabaya menunduk.
Bukan karena takut. Bukan karena terpaksa. Tetapi karena sadar.
Sadar bahwa ia sedang berbicara dengan sesuatu yang lebih
tinggi darinya. Sesuatu yang tidak bisa ia taklukkan, tidak bisa ia tipu, tidak
bisa ia bohongi.
"Aku siap," jawabnya
dalam hati. Karena mulutnya tidak bisa bergerak, ia menjawab dengan jiwanya.
"Maka berjalanlah. Dan ingatlah: kau tidak sendirian.
Ada yang berjalan di sampingmu, meskipun kau tidak melihatnya. Ada yang menjaga
punggungmu, meskipun kau tidak merasakannya. Dan ketika kau merasa paling
sendirian... di situlah kau paling dekat dengan Kami."
Suara itu mulai memudar.
Kabut biru mulai menipis.
Gunung dan bukit-bukit mulai kabur.
Jayabaya terbangun.
Ia membuka matanya. Napasnya berat, dadanya naik turun
dengan cepat. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, bukan keringat biasa,
tetapi keringat yang dingin, seperti keringat orang yang baru sadar
dari mimpi buruk.
Namun hatinya...
hatinya tenang.
Tenang seperti air di telaga yang tidak pernah tersentuh angin.
Tenang karena ia tahu.
Tahu ke mana ia harus pergi.
Tahu apa yang harus ia lakukan.
Tahu bahwa perjalanan ini tidak sia-sia.
Ia memandang ke timur. Kabut tipis mulai naik dari tanah,
pertanda fajar akan segera tiba. Ia sudah bertapa semalaman. Atau mungkin
lebih? Ia tidak tahu. Waktu terasa relatif di alam mimpi.
Ia berdiri. Kaki terasa sedikit kaku, tetapi tidak lelah.
Sebaliknya, ia merasa segar. Lebih segar dari sebelumnya. Seolah
mimpi itu telah mengisi ulang tenaganya.
Ia mengambil kerisnya, menyarungkannya kembali, lalu
berjalan kembali ke arah perkemahan.
Ketika ia tiba, semua orang masih terjaga. Mereka duduk
melingkar di sekitar api unggun yang sudah mengecil, wajah-wajah cemas menatap
ke arah gelap dari mana Jayabaya muncul.
"Ki Lurah!" seru Raka Wening, berdiri dengan
cepat. "Ki Lurah selamat! Kami sudah hampir putus asa. Ki Lurah pergi
terlalu lama."
"Berapa lama?" tanya Jayabaya.
"Tiga hari, Ki Lurah," jawab Gagak Panji.
Suaranya serak, matanya sembab. Mungkin ia tidak tidur selama tiga hari itu.
"Kami sudah mau mencari Ki Lurah, tapi Raka Wening melarang. Katanya Ki
Lurah harus ditemukan sendiri, tidak boleh diganggu."
Jayabaya terkejut. Tiga hari? Ia merasa hanya beberapa jam.
Namun ia tidak menunjukkan keterkejutannya. Ia hanya mengangguk.
"Kita sudah dekat," katanya. Suaranya tenang,
tetapi ada kekuatan baru di dalamnya. Kekuatan yang tidak ada
sebelumnya. "Aku melihat tujuan kita. Gunung Sumbing. Dua
bukit yang berdiri seperti gerbang. Dan tanah di antaranya, tanah yang diliputi
kabut biru. Di sanalah tempat kita."
Raka Wening menatap Jayabaya dengan mata berbinar. "Ki
Lurah melihat sesuatu."
Jayabaya mengangguk. "Bukan sesuatu, Raka. Tujuan.
Kita tidak lagi berjalan dalam gelap. Sekarang kita punya arah."
Ia menatap ke barat daya, ke arah gunung yang samar-samar
terlihat di kejauhan. "Kita lanjutkan perjalanan. Dan mulai sekarang,
setiap langkah kita adalah doa. Setiap napas kita adalah ikhtiar.
Dan setiap hentakan kaki kita adalah sumpah, bahwa kita akan
menjaga tanah itu, apa pun risikonya."
Dan sejak saat itu, perjalanan mereka tidak lagi sekadar
berjalan.
Ia menjadi penuntunan.
Ia menjadi takdir.
Dan setiap orang di rombongan itu merasakannya.
Ada beban yang terangkat dari pundak mereka.
Dan ada tujuan yang kini terlihat, samar, tetapi nyata.
BAB XVI
Ujian Kesetiaan
Hari-hari berikutnya terasa lebih panjang dari biasanya. Bukan
karena jarak yang bertambah, secara fisik, mereka mungkin hanya berjalan
beberapa kilometer setiap hari. Tetapi waktu itu sendiri
terasa mengental, seperti madu yang mengalir lambat di musim dingin. Setiap
langkah seolah menguras tidak hanya tenaga fisik, tetapi juga keyakinan.
Setiap desahan napas terasa seperti mengeluarkan sebagian kecil dari jiwa.
Perbekalan mulai menipis. Beras yang mereka bawa dari
Pajang, yang tadinya cukup untuk dua minggu, kini hanya tersisa untuk tiga atau
empat hari lagi, padahal perjalanan masih panjang. Air semakin sulit ditemukan.
Sungai-sungai yang mereka lewati airnya keruh atau terasa pahit, tidak layak
minum. Mereka harus mengandalkan air hujan yang mereka tampung di daun-daun
lebar, atau air dari tetesan pagi yang mengembun di dedaunan.
Dan jalan yang mereka lalui semakin liar,
seolah tidak pernah disentuh manusia sebelumnya. Tidak ada lagi bekas jejak
kaki, tidak ada lagi bekas tebasan parang. Hanya hutan yang perawan,
hutan yang belum pernah ditaklukkan, yang masih memegang rahasia-rahasia yang
tidak ingin dibagikan kepada manusia.
Di suatu malam yang dingin, dingin yang menusuk hingga ke
sumsum tulang, dingin yang membuat gigi bergemeletuk meskipun mereka sudah
berdesakan di dekat api unggun, ketika api unggun hanya menyisakan bara merah
yang berdenyut-denyut seperti jantung yang sekarat, salah seorang pengikut
akhirnya bersuara.
"Ki Lurah..."
Suaranya bergetar. Bukan karena dingin, tetapi karena sesuatu yang
telah lama dipendam dan kini tidak bisa ditahan lagi. Ia adalah Kerta, salah
satu dari dua pengikut yang ikut sejak dari Pajang. Kerta adalah pria paruh
baya, tidak terlalu berani, tidak terlalu pintar, tetapi setia.
Namun kesetiaan pun memiliki batasnya.
Semua menoleh ke arah suara itu. Wajah Kerta diterangi oleh
bara api yang merah, wajah yang lelah, yang kusut, yang matanya sembab karena
kurang tidur dan terlalu banyak berpikir.
"Apakah kita benar-benar tahu ke mana kita
pergi?"
Pertanyaan itu sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk situasi
yang rumit ini. Namun pertanyaan itu terasa seperti pisau. Pisau
yang membelah keheningan, membelah udara malam yang dingin, membelah keyakinan yang
selama ini mereka bangun bersama.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Karena sebenarnya... semua memikirkan hal yang sama.
Mereka hanya tidak berani mengucapkannya.
Dan Kerta, dengan segala keterbatasannya, adalah orang yang paling jujur malam
itu.
Jayabaya membuka mata perlahan. Ia tidak sedang tidur, ia
hanya diam, merenung, mungkin berdoa dalam hati. Matanya beralih ke
arah Kerta. Tidak marah. Tidak kecewa. Hanya memandang.
"Tidak," jawab Jayabaya. Suaranya tenang, datar,
seperti orang yang mengatakan bahwa langit itu biru atau bahwa air itu basah.
Sunyi yang mengikuti jawaban itu seketika berubah menjadi tegang.
Bukan sunyi yang kosong, tetapi sunyi yang penuh, penuh dengan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak terucap, dengan keraguan-keraguan yang selama
ini dipendam, dengan ketakutan-ketakutan yang kini mulai merayap keluar dari
persembunyiannya.
Kerta menelan ludah. "Tapi... Ki Lurah... kita sudah
berjalan berminggu-minggu. Kita melewati sungai yang hampir menenggelamkan
Lembu Seta. Kita bertemu dengan makhluk-makhluk yang tidak bisa kita jelaskan.
Kita melihat desa yang dihuni oleh bayang-bayang. Dan Ki Lurah sendiri... tidak
tahu ke mana kita pergi?"
Jayabaya tidak tersinggung. Ia hanya menghela napas pelan.
"Aku tidak tahu dengan pasti, Kerta. Aku tidak punya peta. Aku
tidak punya petunjuk yang tertulis. Aku hanya punya mimpi, dan
mimpi, seperti kau tahu, bisa menipu."
Ia menunduk sejenak, memandang bara api yang masih
berdenyut. "Tetapi aku tahu apa yang kita tinggalkan. Aku
tahu bahwa di Pajang, kita meninggalkan intrik, pengkhianatan, dan kematian
perlahan-lahan. Aku tahu bahwa di sana, kita bukan siapa-siapa, bukan karena
kita tidak berharga, tetapi karena sistem di sana menghancurkan nilai-nilai
kemanusiaan."
Ia mengangkat wajahnya. Matanya menatap semua orang,
bergantian. "Dan aku tahu bahwa di sini, di hutan ini, meskipun kita
lapar, meskipun kita lelah, meskipun kita takut... kita bebas.
Bebas untuk menjadi diri kita sendiri. Bebas untuk memilih. Bebas untuk salah,
tetapi salah karena pilihan kita sendiri, bukan karena dipaksa."
Gagak Panji menghela napas panjang. Tangannya, yang sejak
tadi menggenggam gagang pedang, kini ia lepaskan. Ia menggosokkan kedua telapak
tangannya, mencoba menghangatkan diri. "Kadang, Ki Lurah, aku bertanya...
apakah keyakinan cukup untuk melawan ketakutan? Karena setiap
malam, ketika aku memejamkan mata, aku melihat wajah-wajah yang kita
tinggalkan. Aku mendengar suara istriku... anakku... Aku bertanya-tanya apakah
mereka baik-baik saja. Dan aku takut, Ki Lurah. Bukan takut mati.
Tapi takut... mati tanpa makna."
Jayabaya menatap Gagak Panji. Matanya lembut.
"Keyakinan tidak melawan ketakutan, Gagak Panji. Ia berjalan
bersama ketakutan. Seperti dua sisi mata uang yang sama. Tidak ada
keberanian tanpa ketakutan. Tidak ada keyakinan tanpa keraguan. Yang membedakan
bukanlah ada atau tidak adanya ketakutan,
tetapi apa yang kita lakukan ketika ketakutan itu
datang."
Ia mengambil sepotong kayu kecil dan menusuk-nusuk bara
api, membuat percikan-percikan kecil naik ke udara. "Kita takut. Tapi kita
tetap berjalan. Itulah keyakinan. Bukan perasaan bahwa semuanya
akan baik-baik saja. Itu hanya harapan. Keyakinan adalah tindakan di
tengah ketidakpastian. Keyakinan adalah melangkah meskipun
kaki gemetar."
Api unggun berderak pelan, seolah setuju dengan kata-kata
Jayabaya. Bara-bara merah berdenyut seperti jantung yang berdetak, memberi kehangatan
yang tipis tetapi cukup untuk mengusir dingin yang paling menusuk.
Dan malam itu, meskipun ketakutan tidak hilang, meskipun
keraguan masih bersarang di hati masing-masing, kesetiaan mereka
diuji. Bukan oleh musuh yang datang dengan senjata. Bukan oleh makhluk halus
yang muncul dari kabut. Tetapi oleh hati mereka sendiri, oleh
pertanyaan-pertanyaan kecil yang berbisik di telinga setiap malam, "Apakah
ini benar? Apakah ini sepadan? Apakah kita tidak sebaiknya kembali?"
Kerta tidak bertanya lagi. Ia hanya menunduk, menggenggam
tangannya sendiri, dan berusaha tidur. Namun matanya tetap terbuka, menatap
bara api yang perlahan padam.
Dan di sudut lain lingkaran, Jatmiko yang masih muda itu
menggigil, bukan karena dingin, tetapi karena sesuatu yang ia
rasakan di dalam dadanya. Sesuatu yang mirip dengan keyakinan,
tetapi belum cukup kuat untuk disebut begitu. Sesuatu yang mirip dengan harapan,
tetapi belum cukup terang untuk menerangi kegelapan.
Ia hanya bisa diam.
Dan berdoa.
Kepada Tuhan yang mungkin sama, mungkin berbeda, di hutan yang penuh rahasia
ini.
BAB XVII
Tumbal yang Ditolak Alam
Keesokan harinya, setelah berjalan melewati hutan yang
semakin rapat, mereka tiba di sebuah lembah sempit. Lembah itu dikelilingi oleh
tebing-tebing terjal yang ditumbuhi lumut dan tanaman rambat. Udara di tempat
itu terasa berat. Sangat berat. Seperti ada sesuatu yang menekan
dari segala arah, bukan tekanan fisik, tetapi tekanan psikis,
tekanan yang membuat kepala terasa pusing, membuat dada terasa sesak, membuat
pikiran menjadi kacau.
Bahkan burung-burung tidak ada yang bernyanyi di lembah
itu. Bahkan serangga tidak bersuara. Yang ada hanya keheningan yang
mencekik, keheningan yang berbeda dari keheningan biasa. Keheningan ini aktif,
seperti sedang menunggu, seperti sedang memperhatikan.
Salah seorang pengikut, Mardika, yang bersama Kerta ikut
sejak dari Pajang, mulai gelisah. Wajahnya pucat, matanya liar, keringat
mengalir di pelipisnya meskipun udara tidak panas. Tangannya gemetar.
"Ki Lurah," suaranya serak, "tempat ini...
tidak bersahabat. Aku merasakannya. Ada sesuatu di sini. Sesuatu
yang marah. Atau sesuatu yang kelaparan."
Ia membuka buntalannya, mengeluarkan seekor hewan
kecil, seekor ayam hutan yang ia tangkap beberapa hari lalu, yang ia simpan
untuk keadaan darurat. Ayam itu masih hidup, kepalanya terikat, matanya melotot
ketakutan.
"Kita harus memberi sesuatu," katanya.
Matanya tidak lagi waras, atau mungkin justru terlalu waras, terlalu takut untuk
berpikir jernih. "Tempat seperti ini... tidak bisa kita lewati begitu
saja. Kita harus memberi tumbal. Supaya kita selamat.
Supaya kita diizinkan."
Raka Wening yang mendengar itu langsung berdiri. Wajahnya
berubah tegas. "Tidak, Mardika. Jangan. Tidak semua tempat
menerima cara seperti itu. Apalagi tumbal darah. Itu adalah cara lama,
cara yang keliru, cara yang justru akan menyakiti hubungan
kita dengan alam."
Mardika tidak mendengarkan. Ketakutan telah menguasainya
sepenuhnya. Ia mulai menyiapkan ritual, batu-batu disusun
melingkar, daun-daun tertentu diletakkan di tengah, dan ayam hutan itu ia
pegang erat-erat, siap disembelih.
"Kita harus!" teriaknya. "Aku tidak
mau mati di sini! Aku tidak mau menjadi pupuk bagi
pohon-pohon ini! Lebih baik aku memberi sedikit, daripada kita semua dihabisi!"
Gagak Panji maju hendak merebut ayam itu dari tangan
Mardika, tetapi Jayabaya mengangkat tangannya. "Biarkan," katanya
pelan. "Biarkan dia belajar. Beberapa pelajaran harus
dirasakan sendiri, tidak bisa diajarkan dengan kata-kata."
Mardika mulai berdoa, doa yang kacau, doa yang
lahir dari ketakutan, bukan dari ketulusan. Tangannya gemetar saat ia
mengangkat pisau kecil yang ia bawa.
Ia hampir menyembelih ayam itu,
Ketika tiba-tiba,
ANGIN BERPUSAR.
Bukan angin biasa. Angin ini keras, sangat
keras, seperti tangan raksasa yang memukul lembah itu dari segala arah
sekaligus. Daun-daun beterbangan, ranting-ranting patah, debu dan pasir naik ke
udara, menyengat mata, menyumbat hidung.
Api yang baru saja mereka nyalakan untuk ritual itu, padam.
Seketika. Seperti ditiup oleh napas raksasa.
Langit yang tadinya cerah berubah gelap.
Mendung hitam muncul entah dari mana, menggantung rendah di atas lembah itu,
seolah-olah langit sendiri sedang cemberut.
Dan suara menggelegar.
Gemuruh yang tidak seperti guntur.
Gemuruh yang berasal dari tanah.
Gemuruh yang membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar.
Getaran yang naik dari telapak kaki, ke tulang kering, ke lutut, ke tulang
pinggul, ke tulang belakang, hingga ke gigi-geligi.
Dan dari balik pepohonan, dari balik kabut yang tiba-tiba
muncul, dari balik sesuatu yang tidak terlihat...
Ki Tunggul Wasesa muncul.
Lelaki tua itu tidak berjalan, ia melayang,
atau setidaknya itulah yang terlihat. Kakinya tidak menyentuh tanah, tetapi ia
bergerak maju dengan kecepatan yang tidak wajar. Matanya menyala—bukan
menyala seperti api, tetapi menyala seperti bara yang panas,
merah, mengancam.
"BERHENTI!"
Suaranya menggema. Bukan hanya di telinga,
tetapi di dada, di perut, di kepala. Suara
yang membuat jantung berdegup lebih kencang, membuat paru-paru terasa sesak,
membuat segala sesuatu dalam diri manusia berhenti.
Mardika membeku.
Tangannya yang memegang pisau berhenti di udara.
Ayam hutan itu terlepas dari genggamannya, bukan karena Mardika melepaskannya,
tetapi karena sesuatu yang melepaskannya, dan lari terbirit-birit
ke dalam semak, menghilang.
Ki Tunggul Wasesa kini berdiri di hadapan Mardika. Jarak
hanya satu langkah. Matanya menatap Mardika dengan tatapan yang membakar,
bukan membakar kulit, tetapi membakar jiwa.
"Alam tidak menerima persembahan yang
lahir dari ketakutan!" suaranya menggema lagi, kali ini lebih
keras, lebih menghakimi. "Persembahan yang lahir dari
ketakutan adalah kotor. Ia mengandung getaran negatif.
Ia mencemari hubungan antara manusia dan alam. Ia bukan hadiah.
Ia adalah penghinaan!"
Mardika jatuh berlutut. Tubuhnya gemetar hebat. Air matanya
mengalir deras, bukan karena sedih, tetapi karena takut, takut yang
luar biasa, takut yang melumpuhkan.
"Ampun... ampun, Ki... aku tidak tahu... aku hanya
ingin selamat..."
Ki Tunggul menatapnya lama. Kemudian matanya beralih ke
Jayabaya, yang berdiri tenang di belakang, tidak ikut campur.
"Kau biarkan ini terjadi?" tanya
Ki Tunggul, nada suaranya tajam.
Jayabaya mengangguk pelan. "Kadang manusia harus merasakan sendiri
konsekuensi dari ketakutannya, Ki Tunggul. Aku bisa melarangnya, tapi
laranganku tidak akan mengubah ketakutannya. Ia harus mengalami sendiri
bahwa cara itu salah."
Ki Tunggul menghela napas. Panjang. Seperti orang yang
menghela beban berat dari pundaknya. "Kau beruntung, Jayabaya.
Jika aku dalam suasana hati yang berbeda, aku akan mengusir kalian
semua dari lembah ini. Tapi aku melihat niat baik di hatimu.
Niat yang tulus. Maka kali ini, aku beri peringatan."
Ia menatap semua orang yang hadir. "Jika kalian datang
dengan takut, maka kalian akan ditolak. Jika kalian
datang dengan ketakutan dan kebencian, kalian
akan dihancurkan. Jika kalian datang dengan ketulusan dan kerendahan
hati, maka alam akan membuka jalannya. Ingat itu!"
Ia menatap Mardika sekali lagi. "Dan kau, belajarlah. Jangan
ulangi kesalahan ini. Atau lain kali, aku tidak akan memperingatkan.
Aku akan menghabisi."
Ia melangkah mundur.
Lalu menghilang.
Seketika.
Seperti tidak pernah ada.
Lembah itu kembali tenang. Langit kembali cerah. Angin
berhenti. Hanya tanah yang masih bergetar sedikit, seperti gempa kecil yang
perlahan mereda.
Mardika masih berlutut di tanah, menangis tersedu-sedu. Ia
tidak jadi memberikan tumbal. Ayam hutan itu sudah tidak terlihat. Dan ia selamat,
tetapi selamat dengan pelajaran yang tidak akan pernah ia
lupakan.
Jayabaya mendekati Mardika. Ia meletakkan tangannya di
pundak pria itu dengan lembut.
"Kesalahan kecil... bisa berakibat besar, Mardika.
Tapi kesalahan juga bisa menjadi guru terbaik, jika kita mau
belajar."
Mardika mengangguk, masih terisak. "Maaf, Ki Lurah...
maaf... aku hampir merusak segalanya..."
"Kau tidak merusak apa pun," kata Jayabaya.
"Kau hanya hampir merusak. Dan itu sudah cukup untuk
menjadi peringatan bagi kita semua."
Ia berdiri, menatap yang lain. "Kita lanjutkan. Dan
mulai sekarang, tidak ada tumbal darah. Tidak ada ritual yang lahir
dari ketakutan. Kita datang dengan tangan kosong, tetapi
dengan hati yang bersih. Itulah satu-satunya 'persembahan' yang
alam terima."
Dan mereka berjalan lagi, meninggalkan lembah sempit itu di
belakang. Namun tidak ada yang melupakan apa yang terjadi. Tidak ada yang
melupakan tatapan mata Ki Tunggul Wasesa yang menyala seperti bara.
Dan mereka mengerti, kesalahan kecil, di dunia
yang dijaga ini, bisa berakibat sangat besar.
BAB XVIII
Bayangan di Balik Api
Malam kembali turun. Tidak seperti malam-malam sebelumnya
yang gelap oleh kabut atau hujan, malam ini terang. Terang oleh
bulan, bulan purnama, atau hampir purnama, yang menggantung di langit seperti
perak yang dipoles, membanjiri hutan dengan cahaya keperakan yang pucat namun
ajaib.
Api unggun dinyalakan, bukan karena mereka membutuhkan
penerangan (cahaya bulan cukup terang), tetapi karena mereka membutuhkan kehangatan.
Malam di ketinggian mulai terasa dingin, dingin yang merayap masuk ke dalam
tulang, dingin yang membuat jari-jari tangan dan kaki terasa kebas.
Mereka duduk melingkar di sekitar api, masing-masing sibuk
dengan pikirannya sendiri. Lembu Seta sudah pulih dari kejadian di sungai,
meskipun ia masih sering menggigil tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Mardika
duduk terpisah, masih tampak malu dan bersalah atas kejadian di lembah. Kerta
duduk di sampingnya, sesekali menepuk pundaknya, memberi dukungan diam-diam.
Jatmiko duduk tidak jauh dari Jayabaya. Pemuda itu sedang
memandang api dengan mata yang tampak kosong, tetapi sebenarnya ia sedang memperhatikan sesuatu.
Sesuatu yang aneh.
"Ki Lurah..." bisiknya, suaranya pelan, nyaris
tidak terdengar.
Jayabaya yang sedang memejamkan mata membuka matanya
perlahan. "Ada apa, Jatmiko?"
Jatmiko menunjuk ke tanah—ke area di sekitar api unggun, di
mana cahaya api menciptakan bayang-bayang dari tubuh mereka.
Bayang-bayang itu bergerak-gerak mengikuti gerakan api yang berkedip-kedip.
"Lihat bayang-bayang itu, Ki Lurah... jumlahnya."
Jayabaya menunduk, memperhatikan.
Biasanya, dengan sepuluh orang yang duduk melingkar, seharusnya
ada sepuluh bayangan, masing-masing satu per orang. Namun malam itu, di tanah
yang diterangi oleh api unggun dan cahaya bulan, bayang-bayang itu
lebih banyak.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Sembilan.
Sepuluh.
Sebelas.
Dua belas.
Tiga belas.
Tiga belas bayangan.
Ratih, gadis kecil putri Raka Wening, meremas ujung kain
ibunya. Matanya yang bulat menatap bayang-bayang aneh di tanah. “Ibu...
bayangan itu bergerak sendiri,” bisiknya. Suaranya nyaris tak terdengar, tetapi
di dalam keheningan, semua mendengar.
Karti, ibunya, menarik Ratih lebih dekat. “Jangan takut,
Nak. Itu hanya... mereka sedang melihat kita. Mereka penasaran.”
“Apakah mereka jahat?” tanya Ratih, matanya berkaca-kaca.
Bayu, anak Gagak Panji, yang sedari tadi diam, tiba-tiba
bersuara. “Ayah bilang, makhluk hutan tidak selalu jahat. Mereka jahat kalau
kita berbuat jahat dulu.” Ia menatap bayang-bayang itu dengan mata berani,
meskipun tangannya gemetar. “Kita tidak berbuat jahat, kan, Ayah?”
Gagak Panji menghela napas. Ia menepuk kepala Bayu. “Kita
datang untuk meminta izin, Nak. Bukan untuk merusak. Jadi, mudah-mudahan mereka
tidak akan mengganggu.”
Bayang-bayang itu berhenti bergerak. Seolah mendengar
percakapan mereka. Seolah meresapi kata-kata polos dari mulut anak-anak.
Nyai Ageng Suryaningsih, yang menggendong Putri, berbisik
pelan. “Kita harus tetap tenang, Karti. Anak-anak melihat kita. Jika kita
takut, mereka akan lebih takut.”
Ia mulai bersenandung. Lagu tidur yang biasa ia nyanyikan
untuk Putri. Lagu yang lembut, yang menenangkan. Perlahan, Ratih mulai rileks.
Bayu duduk bersila, mencoba meniru ketenangan ayahnya.
Dan bayang-bayang itu... perlahan menjauh.
Tidak menghilang, tetapi menjauh. Memberi ruang. Seolah
lagu Nyai Ageng Suryaningsih telah berbicara dalam bahasa yang mereka mengerti.
Bahasa kelembutan. Bahasa ketenangan.
Malam itu, tidak ada yang tidur nyenyak. Namun mereka
bertahan. Dan anak-anak belajar bahwa di dunia ini, ketakutan bisa diredakan
dengan lagu, dan keberanian bisa ditularkan dari orang tua kepada anak.
Dan ketika fajar akhirnya tiba, bayang-bayang itu lenyap.
Seperti tidak pernah ada.
Menyisakan pertanyaan yang tidak terjawab.
Dan ketakutan yang tidak sepenuhnya hilang.
BAB XIX
Jejak yang Menghilang
Pagi hari membawa kelegaan, meskipun hanya sesaat. Setelah
malam yang mencekam dengan bayang-bayang yang bergerak sendiri, sinar matahari
terasa seperti rahmat, rahmat yang membuat mereka kembali percaya
bahwa dunia ini masih normal, bahwa mereka masih hidup,
bahwa malam yang gelap dan penuh misteri itu hanya mimpi.
Namun kelegaan itu sirna ketika mereka mulai berjalan dan
melihat tanah.
Di tanah lembap, mungkin bekas genangan air hujan semalam, terlihat jejak.
Jejak besar. Sangat besar. Lebih besar dari telapak tangan orang dewasa, lebih
besar dari telapak kaki manusia mana pun. Jejak itu dalam, seperti
kaki makhluk itu sangat berat, seperti bumi ini tertekan oleh
kehadirannya.
Jejak harimau.
Atau setidaknya, itulah yang paling mirip.
Empat jari di depan, satu bantalan telapak besar di belakang, cakar-cakar yang
jelas terukir di tanah.
Namun tidak biasa.
Lebih dalam dari jejak harimau biasa.
Lebih panjang, jarak antara satu jejak dan jejak berikutnya sangat
jauh, seolah makhluk itu melompat atau melayang daripada
berjalan.
Dan di ujung setiap jari, ada bekas cakar yang
tidak seperti cakar harimau, cakar itu terlalu panjang,
terlalu melengkung, seperti cakar burung raksasa, bukan cakar
kucing besar.
"Ini bukan harimau biasa," gumum Gagak Panji,
berlutut di samping jejak itu. Jarinya menyentuh tepi jejak, merasakan tanah
yang masih lembab, yang berarti jejak itu baru. Mungkin
dibuat tadi malam. Atau mungkin beberapa jam yang lalu. Atau
mungkin... saat mereka sedang tidur.
"Makhluk ini besar," lanjut Gagak
Panji. "Lebih besar dari harimau mana pun yang pernah aku lihat. Dan lihat
ini, jarak antara jejak ini dengan jejak berikutnya hampir lima meter.
Makhluk ini tidak berjalan. Ia melompat. Atau terbang
rendah. Atau..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Karena tidak ada
kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang ia bayangkan.
Raka Wening mendekati jejak itu. Ia tidak menyentuhnya,
tetapi ia menutup mata dan merasakan. Tangannya
bergerak perlahan di atas jejak itu, seperti sedang meraba sesuatu yang tidak
terlihat.
"Aura-nya... dingin," katanya.
Matanya terbuka. "Bukan dingin biasa. Dingin yang tidak alami.
Dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Makhluk ini bukan dari dunia
kita sepenuhnya. Ia setengah di sini, setengah di
tempat lain."
Jayabaya berdiri di samping mereka, memperhatikan jejak itu
tanpa berkata-kata. Matanya menyusuri jejak-jejak itu, jejak itu datang dari
arah timur, lalu berbelok ke utara, lalu menghilang.
Menghilang.
Begitu saja.
Di tengah jalan, di antara dua pohon, jejak itu putus.
Seolah makhluk itu tiba-tiba terbang.
Atau lenyap.
Atau masuk ke dimensi lain.
Raka Wening berlutut di tempat di mana jejak itu menghilang.
Ia menyentuh tanah di sana, tanah yang kering, tidak lembap seperti
di tempat jejak sebelumnya. Tidak ada bekas lompatan. Tidak ada bekas sayap.
Tidak ada apa pun.
"Ini bukan makhluk biasa, Ki Lurah," kata Raka
Wening, suaranya pelan tetapi tegas. "Ini penjaga.
Mungkin penjaga yang paling tua di hutan ini. Atau
mungkin penjelmaan dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar
binatang."
Jayabaya mengangguk perlahan. Matanya tidak lagi melihat
jejak, tetapi melihat ke arah barat daya—ke arah gunung yang mulai terlihat
lebih jelas, ke arah tujuan mereka.
"Kita sudah memasuki wilayah penjaga,"
katanya. "Penjaga yang tidak hanya satu. Ada yang terlihat seperti
Ki Tunggul Wasesa. Ada yang setengah terlihat seperti Nyi
Sekar Tunjung. Dan ada yang tidak terlihat sama sekali—atau hanya
memilih untuk muncul sebagai jejak di tanah, sebagai bisikan di
angin, sebagai bayangan di balik api."
Angin berembus pelan.
Dingin.
Dan untuk pertama kalinya, semua orang di rombongan itu merasakan hal
yang sama.
Mereka sedang diawasi.
Bukan hanya oleh satu atau dua makhluk.
Tetapi oleh seluruh hutan.
Setiap pohon.
Setiap daun.
Setiap batu.
Setiap kabut.
Setiap bayangan.
Semuanya melihat.
Semuanya mendengar.
Semuanya menilai.
Dan mereka, sepuluh manusia yang tersesat di hutan ini, hanyalah tamu.
Tamu yang diizinkan masuk, tetapi belum diterima.
Tamu yang setiap langkahnya diperhatikan, setiap napasnya dihitung,
setiap niatnya dibaca.
Mereka berjalan lagi.
Namun kali ini, setiap orang lebih berhati-hati.
Setiap langkah lebih pelan.
Setiap suara lebih rendah.
Karena mereka tahu, di hutan ini, tidak ada yang pribadi.
Semuanya terlihat.
Semuanya terdengar.
Semuanya tercatat.
BAB XX
Peta dari Mimpi
Malam itu, Raka Wening bermimpi.
Ia tidak tahu persis kapan ia tertidur. Yang ia ingat, ia
sedang duduk bersila di dekat api unggun, matanya terpejam, pikirannya berusaha
untuk kosong, seperti yang diajarkan oleh Jayabaya. Namun entah
bagaimana, kelelahan mengalahkannya. Tubuhnya yang letih, pikirannya yang
penat, dan dingin yang merayap, semuanya bersekongkol untuk menjatuhkannya ke
dalam tidur.
Dan di dalam tidurnya itu, ia melihat.
Ia melihat sebuah jalur.
Bukan jalur di peta, karena peta tidak ada. Jalur ini hidup.
Ia terbuat dari cahaya. Cahaya yang lembut, keemasan, seperti sinar
matahari di sore hari yang menyusup melalui celah-celah dedaunan. Jalur cahaya
itu berliku-liku, naik turun mengikuti kontur tanah yang tidak
terlihat, menghindari pohon-pohon besar, melewati sungai-sungai kecil, menembus
lembah-lembah sempit.
Namun jelas.
Sangat jelas.
Seperti jalan setapak yang diterangi oleh ribuan kunang-kunang.
Seperti panggilan yang tidak bisa diabaikan.
Raka Wening mengikuti jalur cahaya itu
dalam mimpinya. Ia melayang, tidak berjalan. Ia melihat hutan dari atas, dari
ketinggian burung yang terbang. Ia melihat gunung Sumbing yang
menjulang, dengan puncaknya yang tertutup awan. Ia melihat dua bukit yang
berdiri seperti gerbang, seperti yang dikatakan Jayabaya. Dan di antara dua
bukit itu, ia melihat kabut biru, kabut yang berdenyut,
kabut yang hidup, kabut yang menunggu.
Jalur cahaya itu berakhir di kabut biru
itu.
Tepat di tengah-tengahnya.
Di tanah yang belum bernama.
Di tanah yang akan menjadi desa.
Lalu Raka Wening terbangun.
Ia duduk dengan napas tersengal-sengal, dadanya naik turun,
keringat mengalir di sekujur tubuhnya meskipun malam itu dingin. Matanya terbuka
lebar, melihat ke sekeliling, api unggun masih menyala kecil, teman-temannya
masih tidur atau setengah tidur, semuanya normal.
Namun di dalam kepalanya, gambar itu masih
jelas.
Jalur cahaya.
Gunung.
Dua bukit.
Kabut biru.
Ia segera bangkit, mencari sepotong kayu, dan menggambar di
tanah. Dengan ujung kayu yang hangus oleh api, ia menggoreskan garis-garis, garis
yang membentuk peta. Peta yang tidak pernah ia lihat sebelumnya,
tetapi terukir di dalam memorinya seolah-olah ia telah
menghafalnya selama bertahun-tahun.
"Bangunkan semua orang," katanya kepada Lembu
Seta yang kebetulan terbangun karena suara. "Aku harus menunjukkan ini
kepada Ki Lurah."
Beberapa saat kemudian, semua orang berkumpul di sekitar
gambar di tanah. Api unggun ditambahi kayu, menyala lebih terang, menerangi
goresan-goresan hitam di tanah coklat.
"Ini jalan kita," kata Raka Wening.
Jarinya menunjuk garis-garis yang ia buat. "Ini sungai yang kita lewati, yang
hampir menenggelamkan Lembu Seta. Ini lembah sempit di mana Mardika hampir
melakukan ritual. Dan ini... ini adalah arah yang harus kita
ambil selanjutnya."
Ia menunjuk sebuah garis yang berliku-liku ke arah barat
daya, melewati simbol-simbol yang ia buat untuk pohon, bukit, dan sungai.
Gagak Panji mengernyit, menatap gambar itu dengan skeptis.
"Dari mana kau tahu semua ini, Raka? Kau belum pernah ke sini sebelumnya.
Kita semua belum pernah."
Raka Wening menatap Gagak Panji dengan mata yang dalam.
Matanya tidak lagi seperti mata manusia biasa, ada cahaya di
dalamnya, cahaya yang tidak berasal dari api unggun.
"Karena aku tidak membuatnya," jawab
Raka Wening. Suaranya pelan, tetapi tegas. "Aku menerimanya.
Dalam mimpi. Dari mereka, dari penjaga, dari leluhur, dari alam
semesta. Aku hanya media. Aku hanya kertas yang
ditulisi. Yang membuat ini... bukan aku."
Semua terdiam.
Mereka menatap peta sederhana di tanah itu, garis-garis yang goyah,
simbol-simbol yang kasar, tetapi jelas dalam arah dan
maksudnya.
Jayabaya tersenyum tipis. Ia menatap Raka Wening, lalu
menatap peta itu, lalu menatap ke arah barat daya, ke arah gunung yang
samar-samar terlihat di kejauhan.
"Kalau begitu... kita tidak lagi berjalan sendiri,"
kata Jayabaya. "Kita berjalan dengan panduan. Bukan peta dari
kertas, tetapi peta dari mimpi. Bukan petunjuk dari manusia, tetapi
petunjuk dari yang di atas."
Ia berdiri, menatap semua pengikutnya. "Mulai
sekarang, setiap langkah kita bukan hanya berdasarkan pilihan kita.
Tetapi juga penuntunan. Dengarkan hati kalian. Rasakan tanah di
bawah kaki kalian. Perhatikan angin yang berembus. Karena semuanya berbicara.
Semuanya memberi tahu. Dan tugas kita adalah mendengarkan."
Malam itu, mereka tidur lebih nyenyak daripada malam-malam
sebelumnya.
Karena mereka tahu—mereka tidak tersesat.
Mereka dipandu.
Dan di ujung panduan itu, ada tujuan yang menunggu.
BAB XXI
Gunung yang Memanggil
Kabut pagi perlahan terangkat. Seperti tirai tebal yang
ditarik perlahan-lahan oleh tangan tak terlihat, kabut itu menipis, terus
menipis, hingga akhirnya luluh oleh sinar matahari yang mulai
hangat.
Dan untuk pertama kalinya, setelah berminggu-minggu
berjalan melewati hutan yang lebat, lembah yang gelap, dan sungai-sungai yang
misterius, mereka melihatnya dengan jelas.
Gunung Sumbing.
Menjulang tinggi.
Sangat tinggi.
Puncaknya tertutup awan, bukan awan biasa, tetapi awan yang berbentuk
aneh, seperti mahkota yang tidak simetris, seperti sesuatu yang
sengaja disembunyikan. Lereng-lerengnya curam, ditumbuhi pepohonan yang rapat
hingga ketinggian tertentu, lalu di atasnya hanya bebatuan dan kabut.
Namun yang paling mengesankan bukanlah tingginya.
Bukan pula bentuknya yang megah.
Melainkan perasaannya.
Gunung itu diam.
Diam seperti batu.
Diam seperti patung.
Diam seperti sesuatu yang sedang menahan napas.
Namun di dalam keheningannya, gunung itu terasa
hidup.
Seperti raksasa yang tertidur, dengan denyut nadi yang pelan tetapi kuat.
Seperti penjaga yang tidak pernah tidur, yang hanya merem tetapi
tetap melihat.
Jatmiko menahan napas. Dadanya terasa sesak, bukan karena
sakit, tetapi karena takjub. Karena kagum. Karena
ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan
kata-kata.
"Seolah... ia melihat kita,"
bisiknya. Matanya tidak berkedip, terpaku pada gunung yang menjulang di
kejauhan. "Seolah ia tahu kita datang. Seolah ia telah
menunggu."
Jayabaya berdiri di sampingnya. Ia juga menatap gunung itu,
tetapi tatapannya berbeda. Bukan tatapan kagum seperti Jatmiko.
Bukan tatapan takut seperti beberapa pengikut lainnya. Tatapan Jayabaya adalah
tatapan pengakuan. Seperti dua orang tua yang saling mengenal
setelah berpuluh-puluh tahun berpisah.
"Bukan melihat, Jatmiko," kata
Jayabaya pelan. Matanya tetap lurus ke depan, ke puncak gunung yang tertutup
awan. "Ia menilai. Ia melihat bukan dengan mata, tetapi
dengan hati. Ia membaca bukan dengan pikiran, tetapi dengan jiwa.
Ia tahu siapa kita, dari mana kita datang, dan apa yang kita
cari, bahkan sebelum kita sendiri mengetahuinya."
Angin turun dari arah gunung.
Dingin.
Menyengat.
Membawa bau tanah basah, bau dedaunan yang membusuk, bau sesuatu yang
lebih tua dari semua itu.
Namun angin itu juga membawa sesuatu yang
lain.
Sesuatu yang sulit dijelaskan.
Seperti panggilan.
Seperti undangan.
Seperti tantangan.
Raka Wening, yang berdiri tidak jauh dari Jayabaya,
tiba-tiba tersentak. Ia merasakan angin itu masuk ke dalam dadanya,
masuk ke dalam hatinya, dan berbisik sesuatu yang tidak bisa ia
dengar dengan telinga, tetapi bisa ia rasakan dengan seluruh
keberadaannya.
"Ia memanggil kita, Ki Lurah,"
katanya. Suaranya bergetar. "Bukan dengan suara. Tetapi dengan keheningan-nya.
Bukan dengan tangan. Tetapi dengan kehadiran-nya."
Jayabaya mengangguk. "Iya, Raka. Ia memanggil. Dan
kita... harus menjawab."
Ia melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Menuju arah gunung.
Menuju arah panggilan itu.
Dan sejak saat itu, mereka tidak lagi sekadar mendekat.
Mereka dipanggil.
Dan setiap orang di rombongan itu merasakannya.
Ada tali tak terlihat yang menarik mereka ke depan.
Ada kekuatan yang lebih besar dari keinginan mereka sendiri
yang mendorong mereka untuk terus berjalan.
Gunung Sumbing tidak hanya menjulang di hadapan mereka.
Ia hadir di dalam diri mereka.
Dan mereka tahu, apapun yang menunggu di lerengnya, mereka
harus menghadapinya.
BAB XXII
Gerbang Dua Bukit
Perjalanan dari tempat mereka melihat gunung untuk pertama
kalinya hingga ke kaki bukit memakan waktu dua hari. Dua hari yang melelahkan,
melewati tanjakan-tanjakan terjal, melewati sungai-sungai kecil yang airnya
dingin dan jernih, melewati semak-semak berduri yang mengoyak pakaian dan
kulit.
Namun akhirnya, mereka sampai di sebuah celah
sempit.
Dua bukit berdiri di kiri dan kanan.
Tinggi.
Sunyi.
Seperti penjaga purba yang tidak pernah tidur, yang tidak
pernah berkedip, yang tidak pernah salah dalam menjalankan
tugasnya.
Bukit di sebelah kiri lebih curam, hampir vertikal, dengan
tebing batu yang licin dan ditumbuhi lumut. Bukit di sebelah kanan lebih
landai, tetapi tidak kalah mengesankan, lerengnya dipenuhi oleh pohon-pohon
besar yang akar-akarnya menjalar keluar dari tanah seperti urat-urat raksasa.
Di antara kedua bukit itu, ada sebuah celah.
Celah yang tidak lebar, mungkin hanya cukup untuk dua orang berjalan
berdampingan. Celah itu gelap, meskipun matahari sedang
tinggi-tingginya. Seolah cahaya tidak berani masuk ke sana.
Seolah celah itu adalah mulut dari sesuatu yang lebih besar,
yang menunggu untuk menelan siapa pun yang berani melangkah
masuk.
Saat mereka melangkah masuk ke dalam celah itu...
angin berhenti.
Tiba-tiba.
Seperti ada yang menekan tombol pause pada alam semesta.
Suara hilang.
Langkah kaki mereka yang tadinya berderak di tanah kering, tiba-tiba tidak
bersuara. Seperti suara mereka ditelan oleh sesuatu.
Seperti celah itu adalah ruang hampa di mana suara tidak bisa merambat.
Dunia seakan membeku.
Pepohonan di luar celah masih bergoyang, mereka bisa melihatnya. Daun-daun
bergerak. Tapi tidak ada angin yang mereka rasakan. Seolah
mereka berada di dalam gelembung yang terisolasi dari dunia
luar.
Jatmiko merinding.
Bulu di tengkuknya berdiri.
Dadanya terasa sesak, seperti ada yang duduk di atasnya.
"Ini... bukan tempat biasa," bisiknya. Namun
bisikannya tidak terdengar oleh orang di sampingnya, meskipun
jarak hanya sejengkal. Suaranya mati di udara, seperti ikan yang berusaha
bernapas di darat.
Ki Tunggul Wasesa muncul kembali.
Kali ini, ia tidak keluar dari balik pepohonan atau dari
kabut. Ia tiba-tiba ada di hadapan mereka, di tengah celah,
seolah ia telah menunggu di sana sejak awal. Tubuhnya yang
kurus dan tua itu tampak lebih besar di dalam celah yang
sempit ini. Atau mungkin celah itu yang mengecil di
sekelilingnya.
"Ini gerbang," katanya.
Suaranya tidak mati. Suaranya menggema di dalam
celah, memantul dari dinding-dinding batu, menciptakan gema yang
berulang-ulang. "Gerbang antara dunia yang kalian kenal... dan dunia
yang lebih tua. Gerbang yang memisahkan manusia
dari yang bukan manusia. Gerbang yang menyaring siapa yang
boleh masuk dan siapa yang harus pulang."
Ia menatap mereka satu per satu. Matanya yang dalam itu
bergerak perlahan, seperti lampu sorot yang menyorot setiap wajah.
"Yang masuk ke sini... tidak akan keluar
sebagai orang yang sama," lanjutnya. Suaranya tidak keras, tetapi
setiap kata terasa seperti batu yang dilempar ke kolam yang
tenang, riaknya menyebar, menyentuh setiap orang, masuk ke dalam hati mereka.
"Kalian mungkin berubah. Mungkin menjadi lebih baik.
Mungkin menjadi lebih buruk. Mungkin menjadi sesuatu yang
sama sekali berbeda. Tapi kalian tidak akan menjadi orang
yang sama seperti ketika kalian melangkah masuk."
Gagak Panji menggenggam tangannya. Bukan karena takut, ia
sudah terlalu sering berhadapan dengan maut untuk takut. Tetapi karena sesuatu yang
lebih dalam dari ketakutan. Sesuatu yang mirip dengan kerinduan,
atau penyesalan, atau harapan yang tidak terucap.
"Lalu kenapa kita tetap masuk, Ki
Tunggul?" tanyanya. Suaranya tegar, tetapi ada getar di ujungnya.
Jayabaya yang berdiri di depan, tidak menoleh. Ia tetap
memandang lurus ke dalam celah, ke dalam gelap yang menganga
di hadapannya. Namun ia menjawab, bukan untuk Gagak Panji, tetapi untuk semua.
"Karena kita tidak lagi mencari jalan kembali."
Ia melangkah maju.
Satu langkah.
Lalu langkah berikutnya.
Tubuhnya mulai ditelan oleh gelap.
Dan satu per satu, yang lain mengikutinya.
Raka Wening.
Gagak Panji.
Lembu Seta.
Jatmiko.
Kerta.
Mardika.
Dan yang lain.
Mereka melangkah masuk ke dalam celah, ke dalam gerbang itu,
meninggalkan cahaya matahari di belakang mereka. Dan ketika orang terakhir
melangkah masuk, celah itu bergetar pelan, lalu menutup,
bukan secara fisik, tetapi secara metafisik. Seolah dunia
di belakang mereka sudah tidak lagi dapat dijangkau.
Mereka sekarang berada di sisi lain.
Dan tidak ada jalan mundur.
BAB XXIII
Tanah yang Berdenyut
Di dalam lembah yang diapit oleh dua bukit itu, lembah yang
selama ini hanya mereka lihat dalam mimpi dan penglihatan, tanah terasa berbeda.
Saat diinjak, tanah itu tidak terasa padat seperti tanah
biasa. Ia terasa kenyal, seperti daging yang masih hidup,
seperti sesuatu yang bernapas di bawah telapak kaki mereka.
Setiap langkah terasa seperti melangkah di atas jantung raksasa
yang berdetak pelan.
Lembu Seta berhenti. Ia menunduk, menyentuh tanah dengan
telapak tangannya. Tanah itu hangat, hangat seperti kulit manusia,
tidak dingin seperti tanah biasanya. Dan ketika telapak tangannya menyentuh
tanah itu, ia merasakan getaran. Getaran yang teratur, pelan, tetapi kuat.
Seperti detak jantung.
"Aku merasakannya," katanya. Suaranya bergetar.
"Tanah ini... berdenyut. Seperti hidup. Seperti
ia bukan tanah mati, tetapi makhluk hidup yang
sedang tidur."
Ia menarik tangannya dengan cepat, seolah takut tangannya
akan ditelan oleh tanah itu. Namun tanah itu tidak berubah. Ia
tetap hangat, tetap berdenyut, tetap hidup.
Raka Wening memejamkan mata. Ia mendengarkan dengan
seluruh tubuhnya, bukan hanya dengan telinga. Dan apa yang ia dengar,
atau rasakan, membuatnya terkesima.
"Tanah ini hidup, Ki Lurah," katanya,
matanya terbuka. "Bukan kiasan. Bukan metafora. Ia benar-benar
hidup. Ia memiliki kesadaran. Mungkin bukan kesadaran seperti
manusia, tetapi kesadaran, kesadaran yang merasa,
yang mengingat, yang menilai."
Jayabaya berdiri tenang di tengah lembah itu. Ia tidak
menyentuh tanah. Ia tidak menutup mata. Ia hanya berdiri, dengan
kaki terbuka selebar bahu, tangan di samping badan, dan merasakan.
"Ia bukan sekadar tempat," kata
Jayabaya akhirnya. Suaranya pelan, tetapi di dalam lembah yang sunyi itu,
setiap kata terukir di udara. "Ia penjaga.
Penjaga terakhir. Penjaga yang paling tua. Yang mengizinkan atau melarang berdasarkan
apa yang ia baca dari hati manusia yang datang."
Ia menatap ke sekeliling lembah. Tanah di sini tidak rata, ada
bukit-bukit kecil, ada cekungan-cekungan, ada batu-batu besar yang tersebar
seperti papan catur raksasa. Namun semuanya terasa teratur, teratur
dalam kekacauan yang disengaja, seperti pola yang
hanya bisa dibaca oleh mereka yang mengerti.
"Kita tidak sedang menjelajah, Raka,"
lanjut Jayabaya. "Kita sedang diuji. Setiap langkah kita,
setiap napas kita, setiap getaran hati kita, semuanya dibaca.
Semuanya dicatat. Semuanya dinilai. Dan tanah ini
akan memutuskan apakah kita layak tinggal di
sini, atau apakah kita harus pergi, dengan cara baik-baik atau
dengan cara tidak baik."
Untuk pertama kalinya, mereka semua merasakan beban
yang sama.
Beban untuk membuktikan bahwa mereka layak.
Bukan dengan kekuatan senjata.
Bukan dengan kekayaan.
Bukan dengan ilmu tinggi.
Tetapi dengan ketulusan hati.
Dengan niat yang bersih.
Dengan kesediaan untuk menjaga, bukan menguasai.
Dan di lembah yang berdenyut itu, mereka berdiri dalam
diam, merasakan uji coba yang baru saja dimulai.
BAB XXIV
Sumber Kehidupan
Di tengah lembah, tersembunyi di balik bebatuan besar dan
pepohonan yang rimbun, mereka menemukan mata air.
Airnya jernih.
Sangat jernih.
Jernih seperti kaca, seperti kristal, seperti ketulusan itu
sendiri.
Bahkan ketika mereka melihat ke dalamnya, mereka bisa melihat dasar yang
berkerikil halus, tanpa sedikit pun lumpur atau kotoran.
Airnya tenang.
Tidak mengalir seperti sungai, tetapi tidak tergenang seperti rawa.
Ia ada.
Ia berada di sana, di cekungan batu alami, seperti telaga
kecil yang ditempatkan dengan sengaja oleh tangan-tangan tak
terlihat.
Dan air itu mengalir tanpa henti.
Meskipun tidak terlihat sumbernya, meskipun tidak ada sungai yang masuk atau
keluar, permukaan air itu tetap.
Tidak berkurang.
Tidak bertambah.
Seolah ia dipelihara oleh sesuatu yang lebih besar dari
hukum fisika yang dikenal manusia.
Semua orang bergegas.
Mereka berlutut di tepi mata air, menciduk air dengan telapak tangan,
meminumnya dengan lahap. Airnya segar, sangat segar, seperti air
yang baru turun dari langit, seperti air yang belum pernah disentuh oleh
manusia sebelumnya. Air itu mendinginkan tenggorokan yang
kering, menyegarkan tubuh yang lelah, menenangkan pikiran
yang kusut.
Mereka membasuh wajah, membasuh tangan, membasuh kaki yang
lecet dan melepuh. Air itu terasa seperti rahmat, seperti hadiah,
seperti jawaban dari doa-doa yang mereka panjatkan selama
berminggu-minggu.
Namun Jayabaya tidak langsung mendekat.
Ia berdiri agak jauh, menatap mata air itu dengan mata
yang dalam, dalam seperti sumur, dalam seperti penghayatan yang
tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tangannya di samping badan, tidak
bergerak. Ia hanya memandang.
"Ini bukan sekadar air," katanya
akhirnya. Suaranya pelan, tetapi semua orang yang sedang minum dan membasuh
diri langsung berhenti.
Gagak Panji mengerutkan dahi. "Lalu apa, Ki Lurah? Ini
jelas air. Kita meminumnya. Kita merasakannya di tenggorokan. Ini nyata."
Jayabaya menggeleng pelan. "Nyata tidak
berarti biasa, Gagak Panji. Ada yang nyata tetapi
biasa, seperti batu di pinggir jalan. Ada yang nyata tetapi luar
biasa, seperti... titipan."
Ia melangkah mendekati mata air. Perlahan. Dengan penuh
hormat. Ia berlutut di tepinya, tidak seperti yang lain yang berlutut dengan
tergesa-gesa, tetapi dengan perlahan, seperti seseorang yang
akan bersujud di tempat suci.
Ia menyentuh air itu.
Bukan menciduk.
Bukan meminum.
Hanya menyentuh.
Dengan ujung jarinya.
Dengan hati-hati.
"Air ini dititipkan," katanya.
Matanya tidak melihat air, tetapi melihat ke dalam air, ke
dasar yang jernih, ke kerikil-kerikil halus, ke sesuatu yang
bersinar samar di kedalaman. "Dititipkan oleh penjaga untuk penjaga berikutnya.
Dititipkan bukan untuk dimiliki, tetapi untuk dijaga.
Dititipkan sebagai sumber kehidupan, tetapi juga sebagai uji,
apakah kita akan mengambil dengan rakus, atau menghormati dengan
penuh syukur."
Semua terdiam.
Mereka memandang air di telapak tangan mereka, air yang tadinya terasa biasa,
kini terasa berat.
Berat dengan makna.
Berat dengan amanah.
Raka Wening mengangguk pelan. "Jika kita
mengambil tanpa menghormati... ia akan berhenti memberi.
Bukan karena airnya habis, tetapi karena hubungan kita dengan
sumbernya terputus. Dan ketika hubungan itu terputus... air ini
akan berubah menjadi biasa lagi. Atau bahkan menjadi
racun."
Jayabaya berdiri. Ia menatap semua pengikutnya. "Mulai
sekarang, setiap kali kita mengambil air dari sumber ini, kita harus mengucap
syukur. Bukan dengan kata-kata kosong, tetapi dengan hati yang
tulus. Dan kita harus menjaga sumber ini, tidak mencemarinya,
tidak merusaknya, tidak mengambil lebih dari yang kita butuhkan."
Ia menunjuk ke arah mata air. "Karena jika kita menjaga sumber
ini, ia akan menjaga kita. Jika kita menghormatinya,
ia akan memberi tanpa batas. Tapi jika kita merusaknya...
maka kita bukan penjaga. Kita perusak. Dan
perusak tidak pantas tinggal di tanah ini."
Sejak saat itu, setiap kali mereka mengambil air dari mata
air, mereka melakukannya dengan ritual sederhana, berlutut,
menunduk, berbisik terima kasih kepada alam, kepada penjaga, kepada yang
maha memberi.
Dan air itu terus mengalir.
Jernih.
Sejuk.
Memberi kehidupan.
Seperti janji yang ditepati.
BAB XXV
Wahyu di Tengah Sunyi
Malam itu, setelah mereka cukup istirahat dan mengisi
perbekalan air dari mata air, Jayabaya memisahkan diri.
Ia tidak memberi tahu ke mana ia pergi. Ia hanya berdiri,
merapikan pakaiannya yang lusuh, mengambil keris pusakanya, lalu berjalan ke
arah barat, ke arah di mana lembah semakin dalam, di mana pepohonan
semakin jarang, di mana kabut biru semakin tebal.
"Ki Lurah...?" panggil Raka Wening, nada khawatir
dalam suaranya.
Jayabaya tidak menoleh. Ia hanya melambaikan tangan pelan,
isyarat bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia tidak perlu
diikuti.
"Tunggu sampai aku kembali," katanya tanpa
menoleh. "Jika aku tidak kembali dalam tiga hari... maka kalian harus
memutuskan sendiri."
Ia berjalan.
Dan kabut biru menelannya.
Perlahan.
Seperti lautan yang menelan kapal.
Seperti mimpi yang menelan orang yang terjaga.
Jayabaya berjalan ke sebuah titik yang
terasa berbeda.
Ia tidak tahu persis bagaimana ia menemukannya. Mungkin kakinya sendiri
yang membawanya. Mungkin tanah itu menuntunnya.
Mungkin sesuatu di dalam dirinya yang tahu ke
mana ia harus pergi.
Titik itu adalah sebuah tanah lapang kecil
di tengah lembah, dikelilingi oleh batu-batu besar yang berdiri dalam
lingkaran, seperti megalitikum, seperti tempat pemujaan kuno,
seperti altar yang tidak pernah disentuh oleh tangan manusia
selama ribuan tahun.
Di tengah lingkaran batu itu, ada sebuah batu datar,
datar seperti meja, tetapi tidak terlalu besar, hanya cukup untuk satu orang
duduk bersila. Batu itu hitam, hitam pekat, seperti batu yang
pernah terbakar atau seperti batu yang menyerap semua
cahaya di sekitarnya.
Jayabaya duduk di atas batu itu.
Ia meletakkan kerisnya di hadapannya.
Ia menutup mata.
Ia melepaskan.
Satu hari.
Dua hari.
Tiga hari.
Tanpa makan.
Tanpa minum.
Tanpa bicara.
Tanpa bergerak.
Hanya napas.
Dan kesadaran.
Kesadaran yang semakin dalam, semakin jernih,
semakin luas, seperti danau yang tenang yang memantulkan seluruh
langit, seperti cermin yang tidak pernah berdebu.
Pada malam ketiga...
angin berhenti.
Bukan berhenti seperti biasa, ketika angin reda dan udara menjadi diam.
Angin berhenti secara total.
Seolah alam semesta berhenti bernapas.
Seolah waktu berhenti berdetak.
Seolah segala sesuatu membeku dalam keheningan yang mutlak.
Dan di dalam keheningan yang mutlak itu...
suara itu datang.
Bukan suara yang didengar dengan telinga, karena telinga
sudah tidak berfungsi di dunia yang membeku.
Suara itu masuk melalui jalan lain.
Melalui hati.
Melalui jiwa.
Melalui inti terdalam dari keberadaan Jayabaya.
"Ki Lurah Jayabaya..."
Suara itu tidak asing.
Ia pernah mendengarnya dalam mimpi, dalam penglihatan, dalam bisikan-bisikan yang
tidak jelas di batas antara sadar dan tidur.
"Kau telah berjalan jauh. Kau telah melewati sungai
yang menolak. Kau telah melewati hutan yang menguji. Kau telah melewati lembah
yang menilai. Dan kini kau berada di tanah yang berdenyut, tanah
yang menunggu. Tanah yang memilih. Tanah yang memanggilmu."
Jayabaya ingin menjawab, tetapi mulutnya tidak bisa
bergerak.
Ia menjawab dengan hatinya.
"Aku di sini. Aku mendengar. Aku siap."
"Apa yang kau cari, Jayabaya?"
"Tempat, Yang Maha Mengetahui. Tempat yang bisa kami
jaga. Tempat yang bisa kami lindungi. Tempat di mana kami bisa hidup tanpa
topeng, tanpa ambisi, tanpa pengkhianatan. Tempat di mana kami
bisa menjadi manusia—bukan abdi, bukan bangsawan, bukan budak,
tetapi manusia yang merdeka dalam tanggung jawab."
Suara itu diam sejenak.
Seolah merenungkan jawaban Jayabaya.
Seolah menimbang apakah jawaban itu tulus atau
hanya omong kosong.
"Tanah ini... bukan tanah biasa," suara itu akhirnya berbicara lagi. "Tanah
ini adalah pusat. Pusat keseimbangan. Pusat antara dunia atas dan dunia
bawah. Pusat antara yang kasatmata dan yang tidak. Tanah
ini menyimpan energi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan
jika kau dan pengikutmu layak, tanah ini akan memberi. Memberi
kehidupan. Memberi perlindungan. Memberi makna. Tapi jika kau tidak
layak... tanah ini akan menghancurkan. Menghancurkan tanpa ampun. Tanpa
sisa. Tanpa jejak."
Jayabaya tidak gentar.
"Aku menerima risiko itu," jawabnya dalam hati. "Kami
semua menerimanya. Sejak pertama kali melangkahkan kaki meninggalkan Pajang,
kami sudah tahu bahwa jalan ini tidak menjanjikan keselamatan. Tapi
kami memilih jalan ini. Dan kami akan menempuhnya sampai
akhir, apa pun yang terjadi."
Suara itu bergetar.
Getaran yang hangat.
Getaran yang mirip dengan persetujuan.
Getaran yang mirip dengan restu.
"Maka tinggallah, Ki Lurah Jayabaya. Tinggallah
di tanah ini. Jadilah penjaga. Tapi ingat..."
Suara itu menjadi lebih berat.
Lebih tegas.
Lebih mengikat.
"...jangan pernah menguasai. Tanah ini tidak bisa
dimiliki. Ia hanya bisa dijaga. Ia bukan milikmu. Bukan milik anak cucumu.
Ia milik alam. Milik leluhur. Milik yang lebih tua dari manusia.
Kau hanyalah pengurus. Pengurus yang diberi amanah. Jika kau lupa... jika
kau atau keturunanmu mulai merasa memiliki... tanah ini
akan mengambil kembali apa yang telah diberikannya. Dan itu tidak
akan menyenangkan."
Air mata Jayabaya jatuh.
Perlahan.
Bukan karena sedih.
Bukan karena takut.
Tetapi karena haru.
Karena lega.
Karena syukur.
Ia tersungkur.
Dahinya menyentuh batu hitam yang dingin.
Sekujur tubuhnya gemetar.
"Aku menerima, Yang Maha Mengetahui," bisiknya, kali ini dengan suara fisik, bukan hanya
dalam hati. "Aku menerima amanah ini. Aku akan menjaga. Aku tidak
akan menguasai. Aku bersumpah... demi keris leluhurku, demi napas yang masih
kukandung, demi seluruh jiwa raga."
Keheningan kembali.
Namun keheningan kali ini berbeda.
Tidak mencekik.
Tidak membekukan.
Keheningan yang damai.
Keheningan seperti pelukan.
Keheningan seperti rumah.
Jayabaya tetap tersungkur di atas batu hitam itu, menangis
dalam diam, merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata mengalir masuk ke dalam dirinya—sesuatu yang mengisi kekosongan
yang selama ini ia rasakan, sesuatu yang menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang selama ini ia pendam.
Ketika ia akhirnya bangkit, entah berapa jam
kemudian, entah berapa hari kemudian, ia tidak tahu, wajahnya berubah.
Bukan perubahan fisik.
Tetapi perubahan aura.
Perubahan cahaya di matanya.
Perubahan ketenangan di wajahnya.
Ia lebih tenang.
Lebih dalam.
Lebih mantap.
Seperti pohon yang akarnya kini telah menancap ke dalam tanah,
tidak akan goyah oleh badai apa pun.
Ia kembali ke perkemahan dengan langkah yang ringan,
ringan seperti tidak membawa beban apa pun, meskipun sebenarnya ia membawa
beban terbesar: amanah untuk menjaga tanah yang berdenyut itu.
Raka Wening, yang sedang berjaga di tepi perkemahan,
langsung melihat perubahan itu. Ia tidak perlu bertanya.
Ia tahu.
"Ki Lurah menerima Wangsit," katanya.
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Jayabaya mengangguk. "Ini bukan tempat biasa, Raka.
Ini amanah. Amanah dari yang lebih tua dari kita. Amanah yang harus
kita jaga seumur hidup kita, dan kita wariskan kepada
generasi berikutnya dengan cara yang benar."
Ia menatap ke sekeliling lembah—lembah yang kini tidak lagi
asing, tidak lagi mengancam. Lembah yang kini terasa seperti rumah.
"Perjalanan kita berakhir di
sini," katanya. "Tapi kisah kita... baru
dimulai."
BAB XXVI
Perpecahan yang Tak Terelakkan
Keputusan untuk menetap tidak serta-merta
membawa ketenangan.
Justru di sanalah, ketika mereka berhenti berjalan, ketika
mereka mulai membuka lahan, ketika mereka mulai membangun, ujian baru dimulai.
Ujian yang lebih berat dari sungai yang menolak, lebih menakutkan dari
bayang-bayang di balik api, lebih menguras daripada perjalanan berminggu-minggu
melewati hutan.
Ujian itu bernama: ketidaksabaran, keraguan,
dan perbedaan visi.
Sebagian dari mereka mulai ragu.
"Tempat ini terlalu sunyi," kata
seorang pengikut, Kerta, yang sejak kejadian di lembah bersama Mardika, menjadi
semakin gelisah. Matanya selalu bergerak, selalu melihat ke belakang,
selalu takut ada sesuatu yang mengintai. "Dan
terlalu hidup... dengan cara yang tidak kita mengerti.
Aku merasa tidak nyaman. Aku merasa tidak
diterima. Aku merasa bahwa tanah ini... mempermainkan kita."
Gagak Panji menatap tajam. Matanya menyipit, bibirnya
mengerucut. "Kita sudah memilih, Kerta. Kita sudah berjalan
berminggu-minggu. Kita sudah melewati sungai, hutan, lembah, dan gerbang. Kita
sudah sampai. Dan sekarang kau mau mundur?"
"Kau yang memilih, Gagak Panji,"
sahut Kerta, suaranya meninggi. Bukan karena marah, tetapi karena tegang.
Karena takut yang sudah terlalu lama dipendam. "Tidak
semua dari kami yakin. Aku ikut karena aku percaya pada
Ki Lurah. Tapi sekarang... setelah semua yang kita lihat... aku tidak
tahu lagi. Aku tidak tahu apakah ini jalan yang benar atau jalan
menuju kematian."
Ketegangan merambat seperti api di semak
kering.
Beberapa pengikut lainnya mulai berbisik.
Bisikan-bisikan yang tadinya pelan, kini mulai keras.
Keraguan yang tadinya hanya bisikan hati, kini mulai diucapkan.
Jayabaya tidak langsung bicara.
Ia diam.
Ia membiarkan kata-kata itu keluar, seperti racun yang harus
terlihat sebelum disembuhkan. Ia duduk di atas sebongkah batu, tangan di
pangkuan, mata tertutup. Ia mendengarkan.
Mendengarkan Kerta yang terus mengeluh.
Mendengarkan bisikan-bisikan yang mulai menyebar.
Mendengarkan keretakan yang mulai terbentuk di antara mereka
yang tadinya padu.
"Jika ada yang ingin pergi..."
akhirnya Jayabaya berkata, suaranya pelan tetapi tegas.
"Pergilah tanpa rasa bersalah."
Semua terdiam.
Mata mereka tertuju pada Jayabaya.
"Tempat ini tidak memaksa siapa pun
tinggal," lanjutnya. Matanya terbuka, menatap satu per satu. "Tempat
ini memilih. Dan kalian juga memilih. Jika kalian
merasa bahwa ini bukan tempat kalian, maka pergilah. Kembalilah
ke Pajang. Atau pergilah ke tempat lain. Tapi jangan tinggal
di sini dengan keraguan di hati, karena keraguan itu akan
meracuni kita semua."
Malam
itu...
beberapa orang benar-benar pergi.
Kerta dan Mardika pergi
Namun kali ini, kepergian mereka membawa konsekuensi yang
lebih pahit. Mereka tidak pergi sendirian. Mereka membujuk Nur,
adik ipar Karti, dan Jarot, sepupu Wulandari, untuk ikut. Mereka
yang tadinya ragu, kini semakin ragu.
“Kita tidak bisa terus begini,” kata Kerta di hadapan semua
orang sebelum pergi. Matanya menatap Jayabaya, lalu beralih ke Nyai Ageng
Suryaningsih yang menggendong Putri. “Lihat, Nyai. Ada bayi di sini. Apakah ini
tempat yang pantas untuk bayi? Hutan yang penuh makhluk halus? Malam yang
mencekik? Tanah yang berdenyut seperti jantung? Kita tidak sedang membangun
desa. Kita sedang berjalan menuju kematian.”
Nyai Ageng tidak menjawab. Ia hanya menatap Kerta dengan
tatapan yang sulit dibaca. Bukan marah. Bukan benci. Hanya... iba.
“Putri lahir di Pajang, Kerta,” katanya akhirnya. “Tapi dia
akan tumbuh di sini. Di tanah yang bebas. Di udara yang tidak tercemar intrik.
Apakah itu pantas? Aku rasa ya. Lebih pantas daripada tumbuh di istana yang
penuh dengan ular-ular bermahkota.”
Kerta menggeleng. “Kalian gila. Semuanya gila.”
Ia berbalik. Mardika mengikuti. Nur dan Jarot, setelah
menatap wajah-wajah keluarga mereka yang tersisa, memilih untuk pergi juga.
Karti, istri Raka Wening, menangis melihat adiknya pergi.
“Nur! Jangan! Ini masih keluarga kita!”
Nur berhenti sejenak. Ia menatap kakaknya dengan mata yang
berkaca-kaca. “Maafkan aku, Kak. Aku tidak sekuat kalian. Aku takut. Aku tidak
ingin mati di hutan ini.”
Ia berlari menyusul Kerta.
Wulandari hanya diam. Jarot adalah sepupunya, tetapi ia
tidak menangis. Ia sudah menduga. Tidak semua orang punya keyakinan yang sama.
Dan di jalan ini, keyakinan adalah segalanya.
Malam itu...
beberapa orang benar-benar pergi.
Kerta, Mardika, Nur, Jarot.
Mereka masuk ke dalam kabut.
Mereka berjalan ke arah timur.
Mereka tidak pernah kembali.
Yang tersisa hanyalah enam orang dewasa, satu
pemuda dan dua anak-anak serta satu balita .
Jayabaya.
Nyai Ageng Suryaningsih.
Raka Wening.
Karti.
Gagak Panji.
Wulandari.
Jatmiko (yang kini dianggap sebagai keluarga).
Dan dua anak: Bayu dan Ratih.
Putri, bayi yang masih dalam gendongan.
Sepuluh jiwa.
Untuk memulai sebuah desa.
BAB XXVII
Malam Tirakat
Yang tersisa, tujuh
orang, dua anak-anak dan satu
balta duduk melingkar.
Tanpa api.
Tanpa suara.
Hanya napas.
Malam itu, Jayabaya memimpin tirakat.
Tirakat bukan sekadar berdiam diri.
Tirakat adalah perjumpaan dengan diri sendiri.
Tirakat adalah membuka semua pintu hati, pintu ketakutan, pintu
keraguan, pintu penyesalan, pintu harapan, dan membiarkan semuanya
keluar, tanpa melawan, tanpa menolak, tanpa berusaha mengendalikan.
"Kita tidak akan bergerak malam
ini," kata Jayabaya. "Kita tidak akan bicara. Kita tidak
akan makan. Kita tidak akan minum. Kita hanya
akan duduk. Dan merasakan. Merasakan tanah di bawah
kita. Merasakan udara di sekitar kita. Merasakan diri kita sendiri."
Mereka duduk.
Dalam diam.
Dalam gelap, karena tanpa api, hanya cahaya bulan yang tembus kabut
tipis, cahaya keperakan yang pucat, yang membuat bayang-bayang panjang dan aneh
di tanah.
Waktu berjalan lambat.
Sangat lambat.
Setiap detik terasa seperti setahun.
Setiap menit terasa seperti abad.
Pikiran mulai berisik.
Kenangan datang bergelombang.
Ketakutan muncul seperti hantu.
Keraguan berbisik seperti ular.
Jatmiko merasakan semua itu.
Ia ingin bangkit.
Ia ingin berlari.
Ia ingin berteriak.
Tetapi ia tidak bisa.
Bukan karena tubuhnya lumpuh.
Tetapi karena ia memilih untuk duduk.
Ia memilih untuk bertahan.
Ia memilih untuk menghadapi semua yang
datang, tanpa melawan, tanpa lari.
Dan di dalam diam itu...
di dalam tirakat yang panjang...
masing-masing berhadapan dengan dirinya sendiri.
Berhadapan dengan bayang-bayang yang selama ini mereka
hindari.
Berhadapan dengan kebenaran yang selama ini mereka bungkus
dengan alasan-alasan manis.
Gagak Panji menangis dalam diam.
Ia ingat istrinya.
Ia ingat anaknya.
Ia ingat rumah yang ditinggalkan.
Dan untuk pertama kalinya, ia mengakui bahwa ia rindu,
bukan rindu yang lembut, tetapi rindu yang menyiksa, yang membuat
dadanya terasa seperti diremas-remas.
Lembu Seta gemetar.
Ia ingat saat ia hampir tenggelam di sungai.
Ia ingat rasa air yang dingin dan menarik itu.
Ia ingat ketakutan yang luar biasa saat ia merasa tidak
bisa bernapas.
Dan untuk pertama kalinya, ia mengakui bahwa ia takut
mati, bukan takut dalam arti biasa, tetapi takut yang paralysing,
takut yang membuat ia ingin kembali ke masa sebelum semua ini
dimulai.
Raka Wening diam.
Ia yang paling tenang di antara mereka, tetapi di dalam diamnya, ia merasakan sesuatu
yang berbeda. Ia merasakan panggilan. Panggilan yang
tidak bisa ia jelaskan. Panggilan yang membuatnya yakin bahwa
ia berada di tempat yang benar, meskipun semua indranya
mengatakan sebaliknya.
Jayabaya duduk seperti patung.
Ia tidak menangis.
Ia tidak gemetar.
Ia hanya duduk.
Tidak melakukan apa pun.
Tidak memikirkan apa pun.
Hanya menjadi.
Dan di dalam keberadaan murni itu, ia merasakan, merasakan kesatuan dengan
tanah, dengan kabut, dengan gunung, dengan segala sesuatu.
Malam itu berlalu.
Lambat.
Sangat lambat.
Tetapi akhirnya berlalu.
Ketika fajar datang, dengan cahaya merah keemasan yang
menyapu lembah, mereka bangun dari tirakat mereka. Tubuh
mereka lelah, pikiran mereka letih, tetapi hati mereka...
hati mereka lebih ringan.
Seperti beban yang telah diangkat.
Seperti luka yang telah dibersihkan.
Seperti jalan yang kini terlihat lebih jelas.
"Kita masih di sini," kata
Jayabaya, suaranya pelan tetapi penuh. "Kita masih bersama.
Dan kita masih punya tujuan. Mari kita mulai."
Dan mereka mulai membangun.
Bukan rumah.
Bukan desa.
Tetapi diri mereka sendiri, diri yang baru, diri yang telah
ditempa oleh tirakat, diri yang siap untuk menjaga.
BAB XXVIII
Penglihatan yang Menggetarkan
Malam berikutnya, setelah malam tirakat yang melelahkan,
setelah mereka mulai membuka lahan kecil untuk berkebun, setelah mereka mulai
merasa sedikit lebih akrab dengan tanah yang berdenyut itu, Raka
Wening kembali bermimpi.
Dan mimpinya kali ini lebih jelas.
Lebih hidup.
Lebih menggetarkan daripada mimpi-mimpi sebelumnya.
Ia melihat sebuah desa.
Bukan desa seperti yang ia tinggalkan di Pajang, desa yang padat, kotor, penuh
dengan orang-orang yang sibuk dengan urusannya sendiri.
Desa ini berbeda.
Rumah-rumahnya sederhana. Dinding bambu, atap
rumbia, tidak berornamen, tidak berhias. Namun setiap rumah terasa
hidup, seolah bambu itu ditanam dengan doa, seolah rumbia
itu dianyam dengan niat, seolah setiap serat kayu
itu mengingat sumpah yang diucapkan.
Anak-anak berlari.
Tawa mereka murni, tawa yang tidak mengandung kepalsuan, tawa yang
lahir dari kegembiraan yang sederhana: bermain kejar-kejaran di
halaman, mengejar kupu-kupu, melompat-lompat di atas batu.
Asap dapur mengepul.
Bukan asap yang tebal dan hitam, tetapi asap tipis keabu-abuan yang harum,
harum kayu bakar, harum masakan sederhana, harum kehangatan.
Dan di tengah desa itu...
sebatang pohon beringin besar berdiri.
Pohon itu sangat besar. Lebih besar dari pohon
beringin mana pun yang pernah ia lihat. Batangnya lebar, mungkin
butuh dua belas orang berpegangan tangan untuk mengelilinginya.
Akar-akarnya menjalar keluar, seperti ular-ular raksasa yang
membatu, memeluk tanah, mencengkeram bumi, menjadi
satu dengan tanah itu.
Di bawah pohon beringin itu, ada sesepuh duduk.
Wajahnya samar, tidak jelas, tetapi aura-nya terasa.
Aura ketenangan.
Aura kebijaksanaan.
Aura yang sudah tua, yang sudah melihat banyak hal, yang
sudah melewati banyak ujian.
Dan Raka Wening tahu, entah bagaimana ia tahu,
bahwa sesepuh itu adalah Jayabaya.
Jayabaya yang tua.
Jayabaya yang rambutnya putih, yang wajahnya penuh keriput,
tetapi matanya masih tajam, bahkan lebih tajam
dari sekarang.
Raka Wening terbangun.
Napasnya tersengal-sengal.
Dadanya naik turun.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
"I-i-itu..." ucapnya, suaranya bergetar.
"Aku melihat... aku melihat masa depan..."
Jayabaya yang sedang duduk tidak jauh dari sana, menatap
Raka Wening dengan mata yang dalam. "Atau kemungkinan,
Raka. Mimpi tidak selalu menunjukkan apa yang pasti terjadi. Mimpi
menunjukkan salah satu kemungkinan, salah satu cabang dari
pohon takdir. Tergantung pada pilihan kita, kemungkinan itu
bisa terjadi atau tidak."
Namun dalam hati Jayabaya, ia tahu.
Ia tahu bahwa mimpi Raka Wening bukan mimpi biasa.
Itu adalah wangsit.
Wangsit yang menguatkan.
Wangsit bahwa desa yang mereka bangun akan hidup.
Bahwa anak-anak akan berlari di halamannya.
Bahwa asap dapur akan mengepul.
Bahwa pohon beringin akan tumbuh besar, menjadi saksi dan penjaga.
Dan di dalam hati Jayabaya, tumbuh keyakinan baru.
Keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan tidak sia-sia.
Bahwa pengorbanan mereka, rasa lapar, rasa lelah, rasa takut,
dan kehilangan, akan berbuah.
Mungkin tidak hari ini.
Mungkin tidak besok.
Mungkin tidak dalam hidup mereka.
Tapi suatu hari nanti.
Dan itu sudah cukup.
BAB XXIX
Tumbangnya Yang Lemah
Tubuh mulai menyerah.
Perjalanan panjang, kurang tidur, kurang makan, cuaca yang tidak
menentu, dan stres mental karena terus-menerus berada di
ambang ketakutan, semuanya berkonspirasi untuk meruntuhkan yang
paling lemah di antara mereka.
Dan yang paling lemah itu adalah Lembu Seta.
Lembu Seta masih muda.
Masih polos.
Masih belum terbiasa dengan penderitaan.
Ia ikut dalam rombongan karena idealism, karena ia percaya pada
Jayabaya, karena ia ingin menjadi bagian dari sesuatu
yang besar.
Tetapi idealismenya tidak cukup untuk melawan penyakit.
Ia jatuh sakit.
Demam tinggi.
Sangat tinggi.
Tubuhnya panas seperti bara, tetapi gemetar seperti
kedinginan.
Matanya sayu, tidak fokus, kadang-kadang melotot seperti
melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang lain.
Tidak ada obat.
Tidak ada penawar.
Hanya doa.
Dan harapan.
Mereka melakukan apa yang mereka bisa.
Jayabaya meracik ramuan dari daun-daunan yang ia kenal, daun
yang pahit, yang baunya menyengat, dan menyuruh Lembu Seta meminumnya.
Raka Wening membaca doa-doa, memohon kepada Yang Kuasa
untuk menyelamatkan pemuda itu.
Gagak Panji menjaga api unggun tetap menyala, mengusir dingin
malam yang bisa memperparah penyakit.
Namun fajar datang tanpa keajaiban.
Lembu Seta meninggal.
Tidak dengan teriakan.
Tidak dengan rintihan.
Dengan diam.
Dengan tenang.
Seperti lilin yang padam karena sumbunya habis.
Ia pergi.
Sunyi.
Tanpa nama yang diabadikan dalam prasasti.
Tanpa tombak yang ditancapkan di pusaranya.
Tanpa upacara yang megah.
Hanya enam orang yang duduk melingkar di
sekeliling jasadnya, diam, menangis dalam hati,
dan merasakan kehilangan yang nyata.
Jayabaya menutup mata Lembu Seta.
Dengan lembut.
Dengan kasih sayang.
Seperti seorang ayah yang menutup mata anaknya yang tertidur.
"Ia tidak hilang, Lembu Seta," bisik
Jayabaya. Air matanya jatuh, untuk pertama kalinya sejak perjalanan
dimulai. "Kau menjadi bagian dari tanah ini.
Darahmu menyirami akar-akar pohon. Tulangmu menyuburkan tanah
yang berdenyut. Dan nama-mu... akan hidup dalam setiap
hembusan angin yang berembus dari lereng Sumbing."
Mereka memakamkannya di bawah pohon
yang tidak ditebang.
Pohon yang besar, tua, dengan akar-akar yang menjalar seperti ular.
Mereka menggali lubang di antara akar-akar itu.
Mereka membaringkan Lembu Seta di sana, dengan wajah menghadap
ke barat, ke arah gunung, ke arah panggilan yang belum sempat
ia jawab sepenuhnya.
Mereka menutup lubang itu dengan tanah, dengan daun-daunan,
dengan doa.
Dan sejak saat itu...
kesedihan menjadi bagian dari perjalanan.
Bukan kesedihan yang melumpuhkan, tetapi kesedihan yang menguatkan.
Kesedihan yang mengingatkan mereka bahwa hidup itu fana.
Kesedihan yang mengingatkan mereka bahwa setiap hari adalah hadiah.
Kesedihan yang mengingatkan mereka bahwa tujuan mereka, membangun
desa, menjaga tanah, hidup dalam keseimbangan, harus dicapai, tidak
hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk Lembu Seta, dan
untuk semua yang telah gugur di jalan ini.
Lembu Seta pergi.
Tapi ia tidak dilupakan.
Dan dalam kenangan itu, ia tetap hidup.
Sebagai pahlawan tanpa nama.
Sebagai martir pertama dari desa yang belum lahir.
BAB XXX
Bayangan Rondo Alas
Kematian Lembu Seta meninggalkan luka.
Namun hutan tidak peduli dengan luka
manusia.
Hutan tetap berjalan.
Malam tetap turun.
Kabut tetap datang.
Dan malam itu, setelah pemakaman, setelah kesedihan
yang mentah masih terasa di dada, kabut turun lebih
tebal dari biasanya.
Bukan kabut biasa.
Kabut ini dingin.
Dingin seperti kematian.
Dingin seperti tangisan.
Dingin seperti sesuatu yang lapar dan datang
untuk makan.
Dan di balik kabut itu...
ia muncul.
Nyi Rondo Alas.
Perempuan dari kabut.
Perempuan dengan mata tajam seperti belati.
Perempuan dengan tubuh yang menyatu dengan bayangan hutan,
yang bergerak seperti kabut, yang berbicara seperti
angin.
Namun kali ini, ia tidak berdiri di
kejauhan.
Ia ada di tengah-tengah mereka.
Di dalam lingkaran api unggun.
Seolah ia berhak berada di sana.
Seolah ia bukan tamu, tetapi tuan rumah.
"Kalian tinggal di tanah ku,"
katanya.
Suaranya tidak keras.
Tetapi menggema di dada setiap orang yang mendengarnya.
Gema yang menggetarkan tulang.
Gema yang membuat jantung berdegup lebih kencang.
Semua membeku.
Bahkan Gagak Panji, yang biasanya cepat bereaksi, kali ini hanya bisa duduk diam,
tangannya terpaku di pangkuan, tidak bisa bergerak ke gagang
pedang.
Jayabaya berdiri.
Perlahan.
Tanpa tergesa.
Ia menghadap Nyi Rondo Alas dengan tenang.
Tidak takut.
Tidak sombong.
Hanya hadir.
"Kami tidak datang untuk mengambil,
Nyi Rondo," kata Jayabaya. Suaranya pelan, tetapi tegas.
"Kami datang untuk meminta izin. Kami
ingin hidup berdampingan. Kami ingin menjaga tanah
ini, bukan merusaknya. Kami ingin menjadi bagian dari
keseimbangan, bukan pengganggu."
Nyi Rondo Alas tersenyum.
Tipis.
Senyum yang tidak hangat.
Senyum yang dingin, seperti es, seperti pisau yang
baru diasah.
"Semua manusia yang datang ke sini...
selalu mengatakan itu," katanya. "Mereka datang dengan
kata-kata manis. Mereka berjanji untuk menjaga. Mereka bersumpah untuk
tidak merusak. Tapi apa yang terjadi? Mereka mulai menebang
pohon. Mereka mulai berburu hewan. Mereka mulai mengambil lebih
dari yang mereka butuhkan. Dan ketika mereka sudah merasa kuat,
mereka lupa janji mereka. Mereka mulai menguasai.
Mereka mulai merasa memiliki. Dan pada saat
itu... aku yang datang untuk mengingatkan.
Dan aku tidak pernah lembut."
Ia melangkah mendekat.
Langkahnya tidak bersuara.
Tidak ada bekas di tanah.
Seolah ia melayang.
Seolah ia bukan makhluk fisik.
"Kalian telah kehilangan satu
orang," katanya, matanya menatap kuburan Lembu Seta yang masih segar.
"Itu baru permulaan. Tanah ini tidak murah.
Ia meminta harga. Dan harga itu bisa berupa nyawa. Bisa berupa air
mata. Bisa berupa sesuatu yang
lebih berharga dari nyawa. Apakah kalian siap membayarnya?"
Jayabaya tidak bergeming.
"Kami tidak tahu harga yang akan diminta, Nyi Rondo. Tapi
kami tahu bahwa kami siap. Kami sudah melepaskan segalanya,
kedudukan, nama, kenyamanan, bahkan kemungkinan untuk kembali. Apa
pun harga yang diminta... kami akan membayarnya, selama harga
itu adil dan tidak melanggar sumpah kami
untuk menjaga."
Nyi Rondo Alas menatap Jayabaya.
Lama.
Sangat lama.
Seolah ia membaca isi hati Jayabaya.
Seolah ia menguji apakah kata-kata Jayabaya tulus atau
hanya manis di bibir.
"Tanah ini tidak bisa dimiliki bersama tanpa harga,
Jayabaya," katanya akhirnya. Suaranya berubah, tidak lagi
dingin, tetapi menjadi berat, seperti orang yang mengumumkan sesuatu
yang tidak bisa diubah. "Kau dan pengikutmu boleh
tinggal. Tapi setiap tahun, kalian harus memberi.
Memberi sesuatu yang berharga. Bukan tumbal darah,
aku benci tumbal darah. Tetapi sesuatu yang keluar dari hati kalian. Pengorbanan yang nyata. Keringat. Air
mata. Doa. Kesetiaan. Itulah harga
yang harus kalian bayar."
Sunyi.
Angin berhenti.
Api unggun berkedip, seolah takut.
"Dan aku akan mengawasi,"
lanjut Nyi Rondo Alas. "Aku akan melihat setiap langkah
kalian. Aku akan mendengar setiap bisikan kalian. Aku
akan merasakan setiap getaran hati kalian. Jika kalian konsisten...
jika kalian tetap setia pada sumpuh kalian... maka aku
akan menerima kalian sebagai penjaga di tanah
ini. Tapi jika kalian ingkar..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ia tidak perlu.
Semua orang di sana tahu apa yang tersirat.
Ia menghilang.
Seperti kabut yang diusir angin.
Seperti mimpi yang luntur saat bangun.
Namun kehadirannya... tertinggal.
Seperti bau tanah basah.
Seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar
pergi.
Jayabaya duduk kembali.
Ia diam.
Ia merenung.
Ia berdoa dalam hati.
Dan di dalam hatinya, ia bersumpah, bukan
sumpah baru, tetapi penguatan dari sumpah lama—bahwa ia dan
pengikutnya akan menjaga tanah ini, membayar harga
yang diminta, dan tidak pernah ingkar.
Karena mereka tahu, konsekuensi dari pengingkaran tidak
hanya akan menimpa mereka, tetapi juga desa yang
akan lahir, dan generasi yang akan datang setelah mereka.
Dan itu adalah beban yang
tidak bisa mereka pikul.
Beban yang harus dihindari dengan kesetiaan yang mutlak.
BAB XXXI
Tebasan Pertama
Pagi datang dengan keputusan yang tidak bisa ditunda lagi.
Setelah berminggu-minggu berjalan, setelah melewati ujian
demi ujian, setelah kehilangan Lembu Seta, setelah mendapat izin bersyarat dari
Nyi Rondo Alas, kini tiba saatnya untuk melakukan sesuatu yang
paling mendasar: membuka tanah.
Kayu harus ditebang.
Bambu harus dipotong.
Lahan harus dibersihkan.
Tempat harus dibuka, bukan untuk dikuasai, tetapi untuk ditinggali dengan
hormat.
Namun tidak ada satu pun tangan yang bergerak tanpa ragu.
Mereka berdiri di tepi hutan, di batas antara pohon-pohon
lebat dan tanah lapang yang akan mereka jadikan desa. Gagak Panji memegang
kapak di tangan kanannya. Kapak itu sudah diasah semalam, bilahnya mengkilap,
siap memotong. Namun tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi
karena sadar bahwa tebasan pertama ini akan mengubah
segalanya.
"Kalau tidak kita mulai… kita tidak akan pernah hidup di
sini," kata Gagak Panji, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada
orang lain. Suararnya serak, seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan
hatinya sendiri. "Kita tidak bisa terus-menerus tidur di tanah terbuka,
berlindung di bawah pohon, makan buah-buahan dan umbi-umbian. Kita butuh rumah.
Kita butuh desa."
Jayabaya berdiri di sampingnya, diam. Ia tidak memberi
perintah. Ia tidak melarang. Ia hanya hadir, menjadi saksi.
Gagak Panji mengangkat kapaknya. Napasnya dalam. Ia menatap
pohon di hadapannya, pohon kayu keras, tidak terlalu besar, mungkin berusia
sepuluh tahun. Pohon itu biasa saja, tidak ada yang istimewa.
Daunnya hijau, batangnya lurus, kulitnya kasar. Namun di mata Gagak Panji,
pohon itu bukan sekadar pohon. Ia adalah makhluk hidup.
Ia adalah tetangga. Ia adalah salah satu penghuni asli tanah
ini.
"Maafkan aku," bisik Gagak Panji kepada pohon
itu. "Aku tidak melakukannya karena benci. Aku melakukannya
karena kami butuh. Kami akan menggantikan dengan
menanam yang baru. Kami akan menghormatimu dengan tidak
menyia-nyiakan satu bagian pun dari tubuhmu."
Ia mengayunkan kapak.
"Tak!"
Suara kayu terbelah menggema di lembah yang sunyi. Suara
itu keras, seperti suara genderang perang, seperti suara pengumuman kepada
seluruh alam bahwa manusia telah datang dan akan
tinggal.
Serpihan kayu berhamburan.
Pohon itu bergetar.
Daun-daunnya bergoyang, bukan karena angin, tetapi karena guncangan dari
tebasan pertama.
Gagak Panji mengayun lagi.
"Tak!"
Dan lagi.
"Tak!"
Dan lagi.
"Tak!"
Setiap tebasan terasa seperti dosa, atau
setidaknya seperti pelanggaran terhadap sesuatu yang suci.
Namun Gagak Panji terus mengayun, karena ia tahu bahwa tanpa
tebasan ini, mereka tidak akan pernah bisa membangun.
Pohon itu mulai goyah.
Serat-serat kayunya menjerit, bukan jeritan yang bisa didengar
telinga, tetapi jeritan yang dirasakan oleh hati yang peka.
Dan ketika pohon itu akhirnya roboh, dengan suara gemerisik
daun-daun yang terakhir, dengan suara dahan-dahan yang patah, dengan
suara benturan dengan tanah,
sesuatu yang lain ikut terbangun.
Angin berhenti.
Seketika.
Seperti ada yang menekan tombol.
Burung-burung yang tadinya masih berkicau di kejauhan—menghilang.
Suara mereka padam, seolah ditelan oleh keheningan
yang tiba-tiba.
Hutan... menjadi sunyi.
Sunyi yang mencekik.
Sunyi yang berat, seperti selimut basah yang menutupi seluruh
lembah.
Sunyi yang berisi, berisi dengan ketidaksetujuan,
dengan kemarahan, dengan peringatan.
Raka Wening berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar,
"Kita membangunkan sesuatu…"
Jayabaya tidak menjawab. Ia hanya menatap pohon yang roboh
itu, menatap getah yang mengalir dari pangkal batang yang terputus, getah
yang kental dan putih, seperti susu, seperti air
mata.
"Tebasan pertama adalah yang paling berat,"
kata Jayabaya akhirnya. "Bukan karena pohonnya keras. Tetapi karena dengan
tebasan pertama, kita menyatakan kepada alam bahwa kita akan
tinggal. Dan alam akan merespons. Responsnya belum tentu ramah."
Ia menatap Gagak Panji. "Sekarang, kita tidak
bisa berhenti. Jika kita berhenti setelah satu pohon, itu sia-sia.
Pohon itu mati tanpa tujuan. Kita harus melanjutkan.
Kita harus membangun. Dan kita harus menebang secukupnya,
tidak lebih, tidak kurang."
Gagak Panji mengangguk. Keringat bercucuran di dahinya,
bercampur dengan debu kayu dan mungkin juga air mata yang
tidak sempat jatuh.
Mereka melanjutkan.
Pohon demi pohon.
Bambu demi bambu.
Lahan mulai terbuka.
Cahaya matahari mulai masuk ke tempat yang tadinya gelap.
Namun setiap tebasan terasa seperti luka.
Dan setiap luka terasa seperti hutang, hutang yang harus
dibayar dengan sesuatu, entah kapan, entah bagaimana.
BAB XXXII
Amarah yang Bangkit
Malam itu… hutan tidak lagi diam.
Setelah seharian menebang pohon dan membuka lahan, mereka
kelelahan. Tubuh-tubuh yang tidak terbiasa dengan kerja fisik berat itu
terasa remuk. Otot-otot terasa luka. Telapak tangan melepuh karena
bergesekan dengan gagang kapak dan parang.
Mereka duduk di sekitar api unggun, api yang malam ini
sengaja mereka besarkan, bukan hanya untuk kehangatan, tetapi juga untuk penerangan dan perlindungan.
Karena mereka merasa, tanpa perlu dikatakan, bahwa malam ini
akan berbeda.
Dan benar saja.
Suara terdengar dari segala arah.
Bukan suara yang biasa.
Bukan suara angin.
Bukan suara daun bergoyang.
Bukan suara binatang malam.
Suara itu… aneh.
Suara jeritan—jeritan yang pelan, seperti orang yang
menahan sakit.
Suara bisikan—bisikan yang tidak jelas kata-katanya, tetapi terasa mengancam.
Suara sesuatu yang berlari di antara
pepohonan—cepat, tetapi tanpa suara langkah, hanya desiran yang
membuat bulu kuduk berdiri.
Dan sesuatu itu banyak.
Mereka tidak bisa melihatnya, tetapi mereka merasakannya.
Merasa gerakan di sekeliling mereka.
Merasa mata yang mengawasi dari balik gelap.
Merasa napas yang tidak manusiawi, napas yang dingin,
napas yang berbau tanah dan daun busuk.
Api unggun membesar tanpa disentuh.
Tiba-tiba.
Kayu-kayu yang tadinya menyala biasa, tiba-tiba menyala lebih besar,
seperti ada yang meniupnya, atau seperti api itu sendiri takut dan
berusaha memperbesar dirinya untuk mengusir sesuatu.
Bayangan bergerak liar.
Bayangan mereka, yang seharusnya mengikuti gerakan tubuh mereka, kini bergerak
sendiri. Ada yang memanjang, ada yang memendek, ada
yang berputar-putar, ada yang terlepas dari tubuh
dan berdiri sendiri di tanah.
Jatmiko menjerit, bukan karena sakit, tetapi
karena terkejut melihat bayangannya sendiri terlepas dan berlari ke
arah gelap.
Dan di tengah kekacauan itu…
di tengah api yang membesar sendiri…
di tengah bayangan yang bergerak liar…
di tengah jeritan dan bisikan yang memenuhi malam…
Nyi Rondo Alas muncul.
Ia tidak berjalan dari kejauhan.
Ia terbentuk dari kabut.
Perlahan.
Seperti tinta yang menyebar di air, seperti wujud yang merakit dirinya
sendiri dari ketiadaan.
Wajahnya tidak lagi samar.
Kali ini, ia menampakkan diri dengan jelas, terlalu
jelas.
Kulitnya putih pucat, seperti orang yang tidak pernah terkena sinar
matahari. Rambutnya hitam legam, panjang, menjuntai hingga ke
pinggang, bergerak-gerak seperti ular kecil meskipun tidak ada angin. Matanya…
matanya menyala. Bukan menyala seperti api, tetapi menyala
seperti bara yang panas, merah, mengancam.
Dan ketika ia bicara, suaranya bukan suara
satu orang.
Suaranya adalah paduan suara, suara perempuan, suara laki-laki,
suara anak-anak, suara orang tua, suara angin, suara air,
suara tanah, suara pohon, semua menjadi satu dalam getaran yang mengguncang alam
semesta kecil di lembah itu.
"TANAH INI HIDUP!"
Teriakannya menggema.
Batu-batu kecil bergetar.
Tanah di bawah kaki mereka berdenyut lebih keras dari
sebelumnya.
Api unggun meledak, bukan meledak seperti bom, tetapi menyemburkan percikan
ke segala arah, seperti marah.
"DAN KALIAN MELUKAINYA!"
Nyi Rondo Alas melangkah maju. Setiap langkahnya meninggalkan
bekas di tanah, bekas hangus, seperti tanah yang terbakar oleh
sesuatu yang sangat panas. Namun tidak ada api. Hanya amarah yang membara.
Gagak Panji bersiap. Tangannya meraih gagang
pedang, dan kali ini ia menghunusnya. Bilah baja berkilat di bawah
cahaya api yang liar. Ia berdiri di depan Jayabaya, menghadang Nyi Rondo Alas.
"Jangan mendekat!" bentaknya.
Suaranya berusaha tegas, tetapi ada getar di ujungnya. "Kami tidak bermaksud merusak!
Kami hanya membuka lahan untuk tinggal! Kami
akan menanam pohon baru! Kami akan menjaga!"
Nyi Rondo Alas tertawa.
Tawa yang tidak lucu.
Tawa yang dingin, yang menyedihkan, yang menakutkan.
Tawa yang menggema di antara pepohonan, membuat burung-burung
malam terbang berhamburan.
"MENANAM POHON BARU?" ulangnya, dengan nada ejekan. "KALIAN
TEBANG POHON YANG SUDAH RATUSAN TAHUN HIDUP DI SINI, MENYERAP ENERGI DARI TANAH
INI, MENJADI SAKSI DARI RIBUAN MUSIM, DAN KALIAN PIKIR KALIAN BISA MENGGANTINYA
DENGAN BIBIT KECIL YANG KALIAN TANAM? BIBIT ITU AKAN MEMBUTUHKAN RATUSAN TAHUN
UNTUK MENJADI SEPERTI POHON YANG KALIAN TEBANG! APAKAH KALIAN AKAN HIDUP SELAMA
ITU? APAKAH KALIAN AKAN BERTANGGUNG JAWAB SELAMA ITU?"
Gagak Panji diam.
Ia tidak bisa menjawab.
Karena Nyi Rondo Alas benar.
Jayabaya melangkah maju. Ia meletakkan tangannya di bahu
Gagak Panji, menekan perlahan, isyarat agar ia menurunkan pedangnya.
Gagak Panji menurunkan pedangnya, tetapi
tidak menyarungkannya. Ia tetap waspada.
Jayabaya berdiri di hadapan Nyi Rondo Alas. Jarak hanya
satu langkah. Ia bisa merasakan dingin yang memancar dari
tubuh perempuan itu, dingin yang bukan dingin fisik, tetapi
dingin yang membekukan jiwa.
"Kami tidak bermaksud merusak,
Nyi Rondo," kata Jayabaya. Suararnya pelan, tetapi jernih,
seperti air di sungai yang tenang. "Kami tahu bahwa
setiap pohon yang kami tebang adalah kehilangan. Kami tahu bahwa
kami tidak bisa menggantikan dalam waktu
singkat. Tapi kami juga tahu bahwa tanpa pohon-pohon itu,
kami tidak bisa membangun tempat tinggal.
Kami tidak bisa bercocok tanam. Kami tidak bisa bertahan
hidup."
"MAKA JANGAN TINGGAL DI SINI!" potong Nyi
Rondo Alas, suaranya menggelegar. "PERGILAH!
KEMBALILAH KE DUNIA MANUSIA! DI SANA KALIAN BISA MENEBANG POHON SEBANYAK YANG
KALIAN MAU! DI SANA TIDAK ADA YANG MENGAWASI! DI SANA KALIAN BISA MERUSAK
SEpuas-puasnya!"
"Tidak," kata Jayabaya. Satu kata. Namun tegas.
Nyi Rondo Alas menggeram, bukan geraman
manusia, tetapi geraman binatang buas, geraman yang membuat bulu
kuduk berdiri.
"Kami tidak ingin kembali ke dunia
manusia," lanjut Jayabaya. "Karena di dunia manusia, kami bukan penjaga.
Kami hanyalah perusak lain yang tidak sadar sedang
merusak. Di sini, kami sadar. Di sini, kami belajar. Di
sini, kami memohon untuk diizinkan tinggal,
bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kesediaan untuk menjaga
keseimbangan."
"KESEIMBANGAN?" Nyi Rondo Alas tertawa lagi,
lebih keras, lebih pahit. "MANUSIA TIDAK PERNAH BISA
MENJAGA KESEIMBANGAN! MANUSIA HANYA BISA MENGAMBIL! MENGAMBIL! MENGAMBIL!
SAMPAI TIDAK ADA YANG TERSISA! DAN KETIKA ALAM MARAH, MEREKA MENYALAHKAN ALAM!
MEREKA MENYALAHKAN MAKHLUK HALUS! MEREKA TIDAK PERNAH MENYALAHKAN DIRI
SENDIRI!"
Jayabaya diam.
Ia membiarkan amarah itu keluar.
Karena ia tahu bahwa amarah Nyi Rondo Alas bukan tanpa
alasan.
Ia tahu bahwa selama ribuan tahun, manusia telah melakukan
apa yang dikatakan Nyi Rondo Alas.
Ia tahu bahwa sebagai manusia, ia mewakili spesies
yang seringkali menjadi perusak.
Namun ia juga tahu bahwa tidak
semua manusia seperti itu.
Dan ia harus membuktikan bahwa ia berbeda.
"Kami tidak bisa membuktikan dengan
kata-kata, Nyi Rondo," kata Jayabaya akhirnya. "Kami hanya bisa membuktikan dengan perbuatan.
Biarkan kami tinggal. Biarkan kami membangun. Biarkan
kami menunjukkan bahwa manusia bisa menjadi penjaga.
Dan jika suatu saat kami gagal... jika kami ingkar...
maka habiskan kami. Jangan beri ampun. Kami terima."
Sunyi.
Api unggun kembali ke ukuran semula.
Bayangan-bayangan berhenti bergerak liar.
Jeritan dan bisikan mereda.
Nyi Rondo Alas menatap satu per satu. Matanya yang menyala
merah itu berhenti pada Ratih dan Bayu yang bersembunyi di balik rok ibu
mereka.
“Anak-anak... kalian membawa anak-anak ke tanah ini?”
suaranya berubah. Tidak lagi marah, tetapi... heran. “Manusia biasanya hanya
membawa ambisi. Tapi kalian membawa anak-anak. Darah daging. Masa depan.”
Nyai Ageng Suryaningsih melangkah maju. Ia tidak menunduk.
Ia tidak gemetar. Ia berdiri di hadapan Nyi Rondo Alas dengan Putri di
gendongannya.
“Kami membawa anak-anak karena kami ingin mereka tumbuh di
tanah yang kami jaga, Nyi Rondo,” katanya. Suaranya tegas, tidak bergetar.
“Kami tidak datang untuk merusak dan pergi. Kami datang untuk tinggal. Untuk
membangun. Untuk membesarkan generasi yang akan melanjutkan menjaga. Jika tanah
ini menerima kami, maka anak-anak ini akan menjadi penjaga berikutnya.”
Nyi Rondo Alas terdiam. Ia menatap Putri, bayi yang masih
merah itu, yang terbangun karena suara dan sekarang menatapnya dengan mata
polos tanpa rasa takut.
Bayi itu tertawa.
Tawa kecil yang renyah.
Tawa yang tidak mengandung kebohongan.
Tawa yang hanya bisa dimiliki oleh makhluk yang belum
mengenal ambisi.
Dan tawa itu... meluluhkan sesuatu di dalam diri Nyi Rondo
Alas. Sesuatu yang telah beku selama ribuan tahun.
“Anak-anak... adalah harapan,” bisiknya. “Bahkan bagi
makhluk seperti aku, anak-anak adalah harapan.”
Ia menghilang.
Seperti kabut yang luluh oleh sinar matahari.
Seperti amarah yang mereda karena dengarkan.
Malam itu, mereka tidak tidur.
Mereka hanya duduk, diam, dan bernafas.
Merasa syukur bahwa mereka masih hidup.
Dan takut akan masa depan yang tidak
pasti.
BAB XXXIII
Ritual Penyeimbang
Kejadian dengan Nyi Rondo Alas malam itu menyisakan
luka.
Bukan luka fisik, tetapi luka spiritual, luka
pada hubungan antara manusia dan alam, luka yang harus
disembuhkan sebelum lebih parah.
Ki Tunggul Wasesa muncul di tengah
kekacauan, atau lebih tepat, ia telah ada di sana sejak awal,
tetapi memilih untuk tidak ikut campur sampai
saat yang tepat. Kini, ketika amarah Nyi Rondo Alas mulai mereda,
ketika manusia mulai merasakan beratnya kesalahan mereka,
Ki Tunggul melangkah maju.
"Hentikan," katanya. Suaranya tidak keras,
tetapi tegas. Seperti gong yang dipukul sekali, getarannya menghentikan semua
gerakan, semua suara, semua pikiran.
Semua membeku.
Bahkan Nyi Rondo Alas, yang sedang dalam proses menghilang, berhenti.
Ia menatap Ki Tunggul dengan mata yang masih menyala, tetapi
tidak melawan.
Ki Tunggul duduk bersila di tanah.
Di tengah-tengah antara manusia dan Nyi Rondo Alas.
Di tengah-tengah antara dunia yang kasatmata dan dunia
yang tidak.
Di tengah-tengah amarah dan ketakutan.
Ia menutup mata.
Tangannya diletakkan di atas lutut, telapak tangan menghadap ke atas.
Ia mulai berbicara, bukan dengan suara keras, tetapi dengan bisikan yang dalam,
bisikan yang bergetar, bisikan yang menjembatani dua
dunia.
"Kalian membuka tanah ini tanpa keseimbangan,"
katanya, matanya masih tertutup. "Kalian datang dengan
niat baik, tetapi cara kalian keliru. Kalian
menebang pohon tanpa meminta izin. Kalian membuka lahan tanpa
upacara. Kalian mengambil tanpa memberi.
Itulah mengapa amarah bangkit."
Jayabaya duduk.
Ia mencontoh Ki Tunggul.
Bersila.
Tangan di lutut.
Telapak tangan menghadap ke atas.
Raka Wening menyusul.
Lalu Gagak Panji.
Lalu Jatmiko.
Lalu pengikut setia yang tak bernama itu.
Mereka duduk melingkar, mengelilingi Ki Tunggul,
membentuk lingkaran yang simbolis, lingkaran persatuan,
lingkaran doa, lingkaran permohonan.
"Tanpa darah," kata Ki Tunggul.
"Tanpa pengorbanan hewan. Tanpa sesaji yang
berbau ketakutan. Hanya doa. Hanya keheningan.
Hanya niat tulus untuk memperbaiki apa yang
telah rusak."
Ia mulai berdoa.
Bukan dalam bahasa Jawa yang dikenal sehari-hari.
Bukan dalam bahasa Sansekerta yang kuno.
Bahasa itu… lebih tua.
Lebih tua dari kerajaan mana pun.
Lebih tua dari peradaban.
Bahasa yang hampir dilupakan, tetapi masih diingat oleh penjaga
batas seperti Ki Tunggul.
Dan satu per satu, mereka mengikuti.
Tidak dengan kata-kata yang sama, karena mereka tidak tahu bahasa itu.
Tetapi dengan hati yang sama.
Dengan niat yang sama.
Dengan getaran yang sama.
Mereka memohon maaf kepada tanah yang
telah mereka luka.
Kepada pohon-pohon yang telah mereka tebang.
Kepada makhluk-makhluk yang terusir dari tempat tinggal mereka.
Kepada alam semesta yang menjadi saksi.
Api unggun berubah warna.
Perlahan.
Dari merah-oranye menjadi kebiruan.
Biru seperti kabut yang menyelimuti lembah.
Biru seperti warna ketenangan.
Biru seperti penerimaan.
Angin perlahan mereda.
Jeritan dan bisikan yang tadinya memenuhi malam, kini menjadi sunyi.
Sunyi yang damai.
Sunyi yang penuh.
Sunyi yang memaafkan.
Dan amarah hutan… mulai surut.
Seperti air laut yang mundur setelah badai.
Seperti demam yang turun setelah obat diminum.
Seperti luka yang mulai mengering.
Ki Tunggul membuka matanya.
Ia menatap Jayabaya.
"Kau beruntung, Jayabaya. Hutan ini masih mau
mendengar. Masih mau memberi kesempatan. Tidak semua hutan
sebaik ini. Tidak semua penjaga sepengertian Nyi Rondo Alas. Jika kau melakukan
hal yang sama di hutan lain... kau dan pengikutmu mungkin sudah menjadi
pupuk."
Jayabaya menunduk. "Kami belajar, Ki
Tunggul. Dan kami berterima kasih atas kesempatan ini."
"Jangan ucapkan terima kasih,"
potong Ki Tunggul. "Tunjukkan dengan perbuatan.
Jaga keseimbangan. Jangan serakah. Jangan merusak.
Itulah satu-satunya terima kasih yang alam terima."
Ia berdiri.
"Dan mulai sekarang, setiap kali kalian akan menebang
pohon, minta izin terlebih dahulu. Setiap kali kalian
akan mengambil sesuatu dari alam, ucap syukur. Setiap kali kalian
akan membangun sesuatu, selaraskan dengan alam, bukan melawannya."
Ia melangkah mundur.
"Karena keseimbangan adalah hukum tertinggi di
tanah ini. Dan pelanggaran terhadap keseimbangan... akan dibayar dengan mahal."
Ia menghilang.
Seperti kabut yang diusir angin.
Seperti guru yang pergi setelah memberi
pelajaran.
Malam itu, mereka duduk lebih lama.
Merasa kehadiran Ki Tunggul masih terasa.
Merasa beratnya amanah yang diberikan.
Dan berjanji dalam hati, tidak akan mengulangi kesalahan.
BAB XXXIV
Pohon yang Menangis
Keesokan harinya, mereka melanjutkan pembukaan
lahan. Namun kali ini, mereka melakukannya dengan cara yang berbeda.
Sebelum menebang pohon, mereka meminta izin.
Raka Wening memimpin doa singkat, memohon kepada roh pohon untuk mengizinkan mereka mengambil kayunya
untuk kebutuhan hidup. Mereka menjelaskan bahwa
mereka tidak serakah, bahwa mereka hanya akan menebang secukupnya,
dan bahwa mereka akan menanam pohon baru sebagai pengganti.
Setelah berdoa, mereka menunggu.
Menunggu tanda.
Jika angin berembus lembut, itu tanda izin.
Jika angin kencang atau berputar-putar, itu tanda
penolakan.
Maka mereka akan mencari pohon lain.
Hari itu, mereka menebang tiga pohon.
Semua memberi izin.
Atau setidaknya, itulah yang mereka rasakan.
Namun pada pohon keempat… sesuatu yang ganjil terjadi.
Pohon itu tua. Sangat tua. Batangnya besar,
kulitnya berkerut-kerut seperti wajah orang yang sudah
melewati ribuan musim. Akar-akarnya menjalar jauh,
seperti urat yang menghubungkannya dengan jantung bumi.
Mereka berdoa.
Mereka meminta izin.
Angin berembus, tidak lembut, tidak kencang. Angin yang
aneh, angin yang berputar-putar di sekitar pohon itu,
seperti sesuatu yang ragu-ragu.
Gagak Panji mengangkat kapak.
Ia menebas.
"Tak!"
Darah? Tidak. Tapi getah yang mengalir
dari bekas tebasan itu berwarna merah.
Merah seperti darah.
Merah seperti warna kehidupan.
Merah seperti warna peringatan.
"Ki Lurah!" seru Gagak Panji, mundur selangkah.
"Ini... ini darah?"
Jayabaya mendekat. Ia menyentuh getah
merah itu dengan ujung jarinya. Ia merasakannya, getah itu hangat,
seperti darah yang baru keluar dari luka. Ia menciumnya, baunya anyir,
seperti besi, seperti kehidupan.
"Ini bukan pohon biasa," kata
Jayabaya. Suaranya pelan, tetapi tegas. "Pohon ini... menangis."
Lembu Seta, yang dalam bayangan masih hadir, tidak ada
lagi. Tapi Jatmiko yang masih muda itu merinding.
"Pohon... menangis, Ki Lurah?"
Jayabaya mengangguk. "Beberapa pohon bukan
sekadar pohon. Mereka adalah rumah bagi makhluk halus.
Mereka adalah saksi dari peristiwa-peristiwa besar. Mereka
adalah penjaga yang tidak bergerak. Dan ketika
pohon seperti itu ditebang... ia menangis. Bukan dengan
suara, tetapi dengan getah. Getah yang berwarna merah seperti
darah."
Gagak Panji menjatuhkan kapaknya.
Bunyi klaar di tanah kering. "Apa yang harus kita
lakukan, Ki Lurah? Hentikan? Atau lanjutkan?"
Jayabaya diam sejenak.
Ia merenung.
Ia merasakan.
Ia mendengarkan, bukan dengan telinga, tetapi dengan hati.
"Tidak semua harus ditebang,"
katanya akhirnya. "Pohon ini... kita biarkan. Ia memprotes.
Ia menolak untuk ditebang. Dan kita harus menghormati penolakannya."
Ia menyentuh batang pohon itu. Telapak tangannya menempel di
kulit kayu yang kasar. Ia menutup mata. Ia berbisik, bukan
doa, tetapi permohonan maaf. Permohonan maaf atas luka yang
telah mereka sebabkan, meskipun hanya satu tebasan.
"Maafkan kami," bisik Jayabaya. "Kami salah memilih.
Kami tidak akan menebangmu. Hiduplah.
Teruslah menjaga tanah ini. Dan kami... akan menjaga
bersamamu."
Getah merah itu berhenti mengalir.
Perlahan.
Seperti luka yang mulai mengering.
Seperti air mata yang berhenti karena ada
yang menghibur.
Jayabaya membuka mata. "Pohon ini tetap di
sini. Rumah-rumah kita akan kita bangun di sekitarnya. Ia akan
menjadi bagian dari desa kita. Ia akan menjadi pengingat bahwa
kita tidak bisa sembarangan mengambil dari
alam."
Gagak Panji mengangguk. "Baik, Ki Lurah."
Dan sejak saat itu, pohon tua itu berdiri di tengah desa
yang sedang dibangun.
Ia menjadi pusat.
Ia menjadi saksi.
Ia menjadi pengingat bahwa setiap tindakan
memiliki konsekuensi, dan bahwa keseimbangan adalah segalanya.
BAB XXXV
Kabut yang Menyesatkan
Pembangunan desa berjalan lambat. Bukan karena
mereka malas, tetapi karena mereka berhati-hati. Setiap bambu yang dipotong,
setiap kayu yang ditebang, setiap batu yang dipindahkan, semuanya dilakukan
dengan izin dan rasa syukur.
Namun kabut… kabut tidak pernah benar-benar pergi.
Kabut adalah penghuni tetap lembah ini. Ia
datang setiap sore, menghilang setiap pagi, tetapi kembali lagi
di malam hari. Kabut adalah selimut, kabut adalah penyembunyi,
kabut adalah penjaga.
Dan suatu malam, kabut itu berbeda.
Lebih tebal dari biasanya.
Lebih dingin.
Lebih hidup.
Kabut itu bergerak, bukan bergerak karena angin, tetapi bergerak dengan
sendirinya, seperti makhluk yang berjalan,
yang mencari, yang menyesatkan.
Jatmiko sedang berjalan ke tepi hutan
untuk mengumpulkan kayu bakar. Ia tidak membawa
lentera, cahaya bulan cukup terang, atau setidaknya itulah yang ia kira.
Tiba-tiba, kabut itu menelannya.
Ia tidak bisa melihat apa pun.
Hanya putih.
Putih di depan, putih di belakang, putih di kiri, putih di kanan, putih di
atas, putih di bawah.
Seolah ia terperangkap di dalam bola kapas raksasa.
"Ki Lurah?" panggilnya. Suaranya teredam,
seperti orang yang berteriak di dalam ruangan berlapis kain.
Tidak ada jawaban.
Hanya kabut.
Dan keheningan.
Jatmiko berjalan. Ia tidak tahu ke mana ia
berjalan. Kakinya bergerak sendiri, seolah ditarik oleh
sesuatu, atau seolah tanah di bawahnya bergerak, membawanya
ke arah yang tidak ia kehendaki.
Dan kemudian… ia mendengar suara.
"Miko… pulanglah…"
Suara itu lembut.
Suara perempuan.
Suara yang sangat dikenalnya.
"Ibu?" bisik Jatmiko. Matanya berkaca-kaca.
"Ibu? Apakah itu ibu?"
"Miko… pulanglah… ibu kangen…"
Suara itu datang dari depan. Dari dalam
kabut. Dari arah yang tidak jelas, tetapi terasa nyata.
Jatmiko berjalan ke arah suara itu.
Lebih cepat.
Lebih tergesa.
"Bu! Aku di sini! Aku..."
Ia hampir berlari.
Kakinya menyentuh tanah yang terasa berbeda, lebih longgar,
lebih gembur, seperti tanah di tepi jurang.
Satu langkah lagi.
Tepat sebelum jatuh,
Sebuah tangan menariknya.
Keras.
Kuat.
Menyakitkan.
Jatmiko tersentak.
Kabut itu menghilang, tidak sekaligus, tetapi perlahan,
seperti tirai yang ditarik.
Ia melihat di mana ia berada.
Ia berdiri di tepi jurang.
Jurang yang dalam.
Dasar jurang itu tidak terlihat, ditelan oleh kegelapan.
Batu-batu kecil terlepas dari tempatnya dan jatuh,
Jatmiko tidak mendengar suara benturannya. Jurang itu terlalu
dalam.
"Sadar!" bentak Gagak Panji. Tangannya yang menarik Jatmiko
masih menggenggam erat lengan pemuda itu. Wajah Gagak
Panji pucat, bukan karena takut, tetapi karena marah dan lega sekaligus.
"Kau hampir mati, Nak! Kau hampir terjun ke
jurang!"
Jatmiko jatuh berlutut.
Tubuhnya gemetar.
Air matanya mengalir.
"Bu... aku mendengar suara ibu... dia memanggilku... dia menyuruhku
pulang..."
Gagak Panji menghela napas.
Ia melepaskan genggamannya, lalu menepuk pundak
Jatmiko, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat pemuda
itu merasa didukung.
"Itu bukan ibumu, Jatmiko.
Ibumu jauh di Pajang. Atau mungkin... ibumu
sudah tidak di sana? Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, suara
itu bukan ibumu. Itu kabut. Kabut menyesatkan.
Kabut memanggil dengan suara orang yang paling kita rindukan,
paling kita takut kehilangan, paling kita ingin bertemu.
Dan jika kau mengikuti suara itu... kau akan mati. Jatuh ke
jurang. Tersesat di hutan. Hilang tanpa
jejak."
Jayabaya mendekat. Ia berdiri di depan Jatmiko, menatap
pemuda itu dengan mata yang dalam.
"Musuh terbesar bukan di luar,
Jatmiko," kata Jayabaya. Suaranya lembut, tetapi tegas.
"Bukan Nyi Rondo Alas. Bukan Ki Tunggul Wasesa. Bukan kabut. Bukan hutan.
Musuh terbesar adalah di dalam dirimu sendiri. Kerinduanmu.
Ketakutanmu. Penyesalanmu. Semua itu bisa dipakai oleh kekuatan
lain untuk menyesatkanmu. Maka kenalilah dirimu
sendiri. Kuasailah pikiranmu. Jangan biarkan emosimu membutakan akal
sehatmu."
Jatmiko mengangguk, masih terisak. "Aku...
aku akan belajar, Ki Lurah. Aku akan berusaha."
Malam itu, mereka mengikat Jatmiko dengan
tali, bukan karena mereka tidak percaya padanya, tetapi
untuk melindunginya dari dirinya sendiri. Dan Jatmiko tidak
menolak. Ia tahu bahwa ia hampir mati.
Ia tahu bahwa ia masih lemah. Dan ia bersedia untuk dilindungi.
Dan malam itu, mereka semua belajar satu
pelajaran baru: bahwa di hutan ini, musuh tidak selalu datang
dengan wujud menakutkan. Seringkali, ia datang dengan wujud
yang paling kita cintai.
BAB XXXVI
Retak yang Membelah Jiwa
Pagi datang tanpa kehangatan.
Setelah kejadian dengan kabut yang menyesatkan, Jatmiko
duduk sendiri, agak terpisah dari yang lain. Matanya kosong, menatap ke arah
jurang yang kemarin hampir menelannya. Tangannya menggenggam erat sepotong
kain, mungkin sisa dari pakaian ibunya yang ia bawa dari Pajang, mungkin hanya
kain biasa yang ia jadikan talisman.
"Suara itu masih ada," katanya lirih,
tanpa menoleh. Bukan kepada siapa pun secara spesifik. Hanya mengatakan.
Raka Wening, yang duduk tidak jauh darinya, menatap Jatmiko
dengan mata prihatin. "Karena ia berasal dari
dalam dirimu, Jatmiko. Suara itu bukan entitas luar yang datang dan pergi.
Ia adalah bagian dari dirimu. Ia adalah kerinduanmu.
Ia adalah ketakutanmu. Ia adalah sesuatu yang belum kamu selesaikan."
Jatmiko menggeleng pelan. "Tapi aku tidak bisa menghilangkannya,
Raka. Aku sudah berusaha. Aku sudah berdoa. Aku
sudah bertapa seperti yang diajarkan Ki Lurah. Tapi suara
itu tetap ada. Setiap malam, ketika aku tutup mata,
ia berbisik. 'Pulanglah, Miko. Pulanglah.'"
Raka Wening mendekat. Ia duduk di samping Jatmiko, tidak
terlalu dekat, tetapi cukup untuk memberi kehangatan.
"Kamu tidak bisa menghilangkan kerinduan,
Jatmiko. Kerinduan bukan penyakit yang bisa diobati. Kerinduan
adalah bekas dari cinta. Dan cinta... tidak bisa dihilangkan.
Ia hanya bisa ditempatkan. Ditaruh di ruang yang tepat di
dalam hati, sehingga ia tidak mengganggu kehidupanmu
sehari-hari."
Jatmiko menoleh. Matanya basah. "Bagaimana
caranya, Raka? Aku tidak tahu."
Raka Wening tersenyum tipis. "Kamu belajar.
Sedikit demi sedikit. Setiap hari. Setiap malam. Kamu akui bahwa
kamu rindu. Kamu akui bahwa kamu sakit.
Kamu akui bahwa kamu ingin pulang. Tapi
setelah mengakuinya... kamu lepaskan. Kamu biarkan kerinduan
itu ada, tetapi kamu tidak membiarkannya mengendalikan tindakanmu.
Kamu tetap di sini. Kamu tetap membangun.
Kamu tetap berjalan maju."
Di sisi lain perkemahan, bisikan mulai
terdengar lagi.
Bukan bisikan dari hutan.
Bukan bisikan dari kabut.
Bisikan dari manusia.
Dua pengikut yang tersisa, selain mereka berlima, mulai berbisik satu
sama lain. Wajah mereka cemas, mata mereka gelisah.
Mereka takut. Bukan takut pada hutan, tetapi takut pada masa
depan yang tidak pasti. Takut bahwa mereka tidak
akan pernah bisa kembali. Takut bahwa mereka telah
membuat kesalahan besar dengan mengikuti Jayabaya.
"Semua ini salah," bisik salah satu
dari mereka, pengikut setia yang tidak bernama itu, yang selama ini diam,
tetapi kini mulai bicara. "Tempat ini tidak menerima
kita. Lihat apa yang terjadi, Lembu Seta mati. Jatmiko hampir mati.
Kita diancam oleh Nyi Rondo Alas. Dikontrol oleh
Ki Tunggul. Disesatkan oleh kabut. Ini bukan tempat
untuk manusia. Ini tempat untuk makhluk halus."
Pengikut lainnya mengangguk. "Mungkin Ki Lurah salah.
Mungkin ini bukan tanah yang dijanjikan. Mungkin kita harus
kembali sebelum semua mati."
Retak itu… mulai nyata.
Retak di antara mereka yang yakin dan mereka yang ragu.
Retak yang melebar setiap hari.
Retak yang, jika tidak ditambal, akan membelah rombongan
kecil itu menjadi dua.
Jayabaya mendengar bisikan itu.
Ia tidak bereaksi.
Ia tidak marah.
Ia hanya diam, merenung, dan berdoa.
Karena ia tahu bahwa keraguan adalah bagian dari
perjalanan.
Dan tidak semua orang kuat untuk terus
berjalan.
BAB XXXVII
Pengkhianatan yang Tumbuh Diam-Diam
Malam tanpa bulan.
Gelap pekat.
Bintang-bintang tertutup awan.
Api unggun sengaja dikecilkan, bukan karena kayu habis, tetapi
karena mereka ingin tidur lebih awal, menghemat tenaga
untuk pembangunan desa esok hari.
Atau setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh
sebagian besar dari mereka.
Namun dua bayangan bergerak menjauh dari
perkemahan.
Perlahan.
Diam-diam.
Seperti tikus yang merayap di kegelapan, takut ketahuan.
Dua pengikut yang ragu itu, sebut
saja lima dan Kala, berjalan ke arah timur.
Ke arah di mana mereka berpikir Pajang berada. Atau setidaknya
ke arah di mana mereka berharap ada jalan keluar dari
lembah yang mencekik ini.
"Kita tidak bisa terus begini,"
bisik lima. Suaranya tertahan, seperti orang yang berbicara di
dalam sumur. "Setiap hari kita bekerja keras. Setiap malam
kita takut. Lembu Seta mati. Siapa selanjutnya?
Aku? Kau? Jatmiko? Atau bahkan Ki Lurah sendiri?"
Kala mengangguk, meskipun di gelap, gerakannya nyaris
tidak terlihat. "Aku setuju. Tapi... ke mana kita akan
pergi? Kita tidak tahu jalan kembali. Hutan ini membingungkan.
Kabut menyesatkan. Kita bisa tersesat dan mati lebih
cepat."
lima berhenti. Ia menatap Kala dengan mata
yang berkilat, bukan karena cahaya, tetapi karena tekad yang keras.
"Aku sudah berpikir tentang
itu," katanya. "Kita tidak bisa kembali ke
Pajang sendiri. Kita tidak tahu jalannya. Tapi
kita bisa minta tolong... kepada penguasa hutan."
Kala terkejut. "Maksudmu... Nyi
Rondo Alas? Atau Ki Tunggul Wasesa? Mereka bukan sekutu
kita! Mereka mengancam kita!"
"Tepat," kata lima. "Mereka mengancam kita
karena kita bersama Jayabaya. Tapi jika kita menyerahkan
diri... jika kita berjanji untuk tidak merusak
hutan... jika kita bersedia menjadi pengikut mereka...
mungkin mereka akan membiarkan kita hidup. Bahkan
mungkin membantu kita keluar dari hutan
ini."
Kala diam.
Ia merenung.
Ia menimbang.
"Bagaimana jika itu jebakan?"
tanyanya akhirnya.
Panglima menghela napas. "Lebih baik mencoba daripada mati di
sini, Kala. Mati perlahan-lahan karena kelaparan, ketakutan,
atau dimakan oleh makhluk-makhluk hutan. Setidaknya
dengan menyerah, kita punya kesempatan. Kesempatan untuk hidup. Kesempatan untuk kembali."
Malam itu…
kesepakatan gelap terjalin.
Mereka berdua memutuskan untuk menghubungi Nyi
Rondo Alas, atau makhluk lain yang berkuasa di
hutan ini, dan menawarkan sesuatu.
Apa yang mereka tawarkan?
Informasi.
Kelemahan Jayabaya.
Rencana pembangunan desa.
Segala sesuatu yang mereka tahu tentang rombongan kecil itu.
Mereka berpikir itu adalah cara untuk selamat.
Mereka tidak tahu bahwa pengkhianatan adalah luka yang tidak bisa disembuhkan.
Dan bahwa di hutan ini, luka seperti itu dibaca oleh
tanah, oleh kabut, oleh segala sesuatu yang hidup.
Tanpa diketahui oleh lima dan Kala, di balik pepohonan, sepasang
mata merah menyala.
Mengawasi.
Mendengar.
Mencatat.
Dan ketika mereka kembali ke
perkemahan, berpura-pura bahwa mereka hanya buang air di
semak-semak, mata merah itu sudah tidak ada.
Namun pengetahuan tentang pengkhianatan itu telah
tersebar.
Di antara akar-akar pohon.
Di antara tetesan embun.
Di antara bisikan angin malam.
BAB XXXVIII
Wabah Kedua
Kejadian dengan Jatmiko dan kabut yang menyesatkan hanyalah
awal.
Beberapa hari kemudian, tubuh mulai melemah lagi.
Namun kali ini lebih cepat, lebih ganas.
Bukan hanya satu orang.
Semua merasakannya.
Jayabaya.
Raka Wening.
Gagak Panji.
Jatmiko.
lima.
Kala.
Semua merasa lelah yang tidak
biasa. Bukan lelah karena kerja fisik. Lelah yang menyerang dari dalam,
lelah yang membuat tulang terasa remuk, lelah yang membuat pikiran
terasa kabur, lelah yang membuat semangat terasa luntur.
Dan yang paling mengkhawatirkan: air.
Air dari mata air yang tadinya jernih dan segar,
kini terasa pahit.
Pahit seperti empedu.
Pahit seperti obat yang salah.
Pahit seperti peringatan.
Lembu Seta sudah tidak ada.
Tapi Lembu Seta meninggal karena demam, demam yang
mungkin wajar di hutan.
Kali ini, belum ada yang meninggal.
Tapi semua merasakan gejala yang sama.
Perut mual.
Kepala pusing.
Tubuh lemas.
Mata kabur.
"Airnya beracun," kata Gagak Panji,
memuntahkan air yang baru saja ia minum. Wajahnya pucat,
bibirnya kebiruan. "Atau mungkin dikirim racun.
Atau mungkin... kita yang tidak layak meminumnya."
Raka Wening berlutut di tepi mata air.
Ia menyentuh air itu dengan ujung jarinya, lalu menjilatnya.
Pahit. Sama pahitnya dengan yang dirasakan semua orang.
"Ini bukan racun biasa," kata
Raka Wening, matanya tertutup, berkonsentrasi. "Ini peringatan.
Alam tidak meracuni kita. Alam tidak kejam.
Tapi alam merespons. Dan respons ini... adalah respons
terhadap sesuatu yang tidak beres di antara
kita."
Jayabaya duduk di tepi mata air. Ia diam.
Ia merenung. Ia mencoba merasakan, bukan dengan
panca indra, tetapi dengan hatinya.
"Ada pengkhianatan," katanya
akhirnya. Suaranya pelan, tetapi semua orang mendengar.
"Bukan pengkhianatan kepada saya. Tetapi pengkhianatan kepada tanah
ini. Kepada sumpah kita. Seseorang di antara kita...
telah berbicara dengan musuh. Telah memberi
informasi. Telah menjual rahasia kita dengan harapan untuk selamat."
Sunyi.
Sunyi yang mencekik.
Mata semua orang beralih ke lima dan Kala.
Bukan karena mereka tahu.
Tetapi karena mereka merasa.
Merasa getaran salah dari kedua orang itu.
Merasa beban yang tidak biasa di pundak
mereka.
Merasa sesuatu yang busuk.
lima pucat.
Kala gemetar.
Mereka tidak bisa menyangkal.
Karena di tanah yang berdenyut ini, kebohongan tidak
bisa bersembunyi.
Jayabaya menatap mereka berdua.
Tidak dengan marah.
Tidak dengan benci.
Hanya dengan sakit, sakit karena dikhianati oleh
orang yang ia anggap saudara.
"Kalian bicara dengan Nyi Rondo
Alas," kata Jayabaya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
lima jatuh berlutut. "Ki Lurah... ampun...
kami takut... kami tidak ingin mati... kami hanya ingin selamat...
kami pikir... jika kami berbaik dengan penguasa
hutan... mereka akan membantu kami..."
"Dan apa yang kalian tawarkan?" tanya
Jayabaya. Suaranya masih pelan, tetapi tegas.
"Apa yang kalian janjikan kepada mereka?"
Kala menangis. "Informasi... tentang rencana pembangunan...
tentang kelemahan Ki Lurah... tentang jumlah pengikut...
tentang semuanya, Ki Lurah... ampun... kami tidak tahu
bahwa ini akan begini... kami pikir ini cara untuk selamat..."
Jayabaya menutup mata.
Napasnya dalam.
Ia merasakan sakit yang luar biasa.
Bukan sakit fisik.
Sakit karena kepercayaan yang dikhianati.
Sakit karena saudara yang berubah menjadi musuh.
"Kalian tidak mengkhianati saya,
lima, Kala," katanya akhirnya. Matanya terbuka. "Kalian mengkhianati tanah
ini. Kalian mengkhianati sumpah yang kita
ucapkan bersama. Kalian mengkhianati Lembu Seta yang
gugur di jalan ini. Kalian mengkhianati diri kalian sendiri."
Ia berdiri.
"Kalian bukan lagi bagian dari
kita. Pergilah. Jauh. Jangan kembali. Jangan mencoba menjelaskan.
Jangan memohon maaf. Pergi."
lima dan Kala terisak.
Mereka merangkak.
Mereka memohon.
Tapi Jayabaya tidak bergeming.
Akhirnya, mereka berdiri.
Mereka berjalan ke arah timur, ke arah yang sama dengan
arah yang dulu diambil Kerta dan Mardika.
Mereka masuk ke dalam kabut.
Dan mereka tidak pernah kembali.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada
mereka.
Apakah mereka selamat?
Apakah mereka dimakan hutan?
Apakah mereka berhasil keluar dan kembali ke
Pajang?
Tidak ada yang tahu.
Yang tersisa hanyalah empat orang.
Jayabaya.
Raka Wening.
Gagak Panji.
Jatmiko.
Empat orang.
Untuk menjaga tanah yang berdenyut.
Untuk membangun desa yang dijanjikan.
Untuk membuktikan bahwa manusia bisa menjadi penjaga.
Dan meskipun jumlah mereka semakin sedikit, keyakinan mereka
justru semakin mengeras.
Seperti besi yang ditempa, yang setelah melalui api dan palu,
menjadi lebih kuat.
Bukan lebih banyak.
Tetapi lebih kuat.
BAB XXXIX
Doa di Bawah Petir
Setelah lima dan Kala pergi, sesuatu berubah
di lembah itu.
Bukan perubahan fisik.
Perubahan atmosfer.
Udara menjadi lebih berat.
Langit menjadi lebih kelabu.
Seolah alam sedang marah, bukan kepada Jayabaya dan yang tersisa,
tetapi kepada pengkhianatan yang telah terjadi. Alam merasa dikhianati,
meskipun yang berkhianat bukanlah Jayabaya, tetapi anak buahnya. Namun
dalam kesatuan rombongan, dosa satu
adalah dosa semua. Itulah hukum di tanah yang
berdenyut ini.
Dan sebagai puncak dari kemarahan alam
itu, badai datang.
Bukan badai biasa.
Badai ini mengguncang lembah.
Angin bertiup kencang, merobek daun-daun dari pohon, merobohkan
ranting-ranting, membuat api unggun padam dalam sekejap.
Hujan turun deras, bukan tetesan, tetapi guyuran,
seperti air terjun yang dilepaskan dari langit.
Dan yang paling mengerikan: petir.
Petir menyambar berulang kali.
Dekat.
Sangat dekat.
Pohon-pohon di sekitar perkemahan tersambar dan terbakar,
meskipun hujan deras.
Bau ozon dan hangus memenuhi udara.
"Ki Lurah! Kita harus berteduh!"
teriak Gagak Panji, suaranya nyaris tidak terdengar di antara
gemuruh guntur dan desiran angin.
Jayabaya tidak bergerak.
Ia berdiri di tengah badai.
Di tengah hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.
Di tengah angin yang mengoyak pakaiannya.
Di tengah petir yang menyambar di sekelilingnya.
Ia menatap langit.
Matanya tidak berkedip.
Air hujan mengalir di wajahnya, tetapi ia tidak menghapusnya.
"Jika ini ujian… aku menerimanya,"
katanya. Suaranya tidak keras, tetapi jelas, seolah
badai itu mendengar dan memberi ruang bagi
suaranya. "Jika ini hukuman atas pengkhianatan anak
buahku... aku menerimanya. Jika ini cara alam
untuk mengusir kami... kami tidak akan pergi.
Kami akan bertahan. Kami akan membuktikan bahwa
kami layak."
Petir menyambar sangat dekat.
Hanya beberapa meter dari tempat Jayabaya berdiri.
Tanah bergetar.
Telinga terasa sakit karena suara ledakan.
Namun Jayabaya tidak bergeming.
Ia tidak meminta keselamatan.
Ia tidak meminta ampun.
Ia tidak meminta badai berhenti.
Ia meminta keseimbangan.
"Jika kami bersalah, hukum kami. Jika
kami benar, beri kami kekuatan. Itu saja. Itu yang
kami minta."
Dan langit… menjawab.
Bukan dengan badai berhenti.
Tetapi dengan gemuruh panjang.
Gemuruh yang tidak seperti guntur.
Gemuruh yang dalam, yang bergetar di tanah,
yang mengguncang tulang.
Gemuruh yang terasa seperti persetujuan.
Atau setidaknya, seperti pengakuan bahwa doa Jayabaya didengar.
Badai itu berlangsung semalaman.
Hujan tidak berhenti.
Angin tidak mereda.
Petir terus menyambar.
Namun ketika fajar datang…
badai itu berhenti.
Seketika.
Seperti tidak pernah terjadi.
Langit cerah.
Matahari bersinar.
Burung-burung berkicau.
Dan di tengah-tengah perkemahan yang basah dan berantakan,
Jayabaya masih berdiri.
Lelah.
Basah.
Gemetar.
Tapi masih berdiri.
"Badai itu bukan untuk menghancurkan kita,"
katanya kepada Raka Wening, Gagak Panji, dan Jatmiko yang berteduh di
balik batu besar. "Badai itu membersihkan kita.
Membersihkan sisa-sisa pengkhianatan. Membersihkan keraguan.
Membersihkan ketakutan. Sekarang... kita mulai lagi.
Dengan hati yang baru."
Mereka mengangguk.
Tidak ada yang bicara.
Mereka hanya merasa, bahwa setelah badai, selalu
ada pelangi.
Dan di lembah yang berdenyut ini, pelangi itu adalah kesempatan
kedua.
Kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka layak.
BAB XL
Gugurnya yang Setia
Badai telah berlalu.
Namun bekasnya masih terasa.
Tanah basah.
Udara lembab.
Dan yang paling berat: tubuh mulai menyerah lagi.
Bukan karena wabah.
Bukan karena racun.
Tetapi karena usaha.
Karena kerja keras yang tidak kenal lelah.
Karena pengorbanan yang terus menerus.
Dan kali ini, yang gugur bukanlah orang
yang ragu atau pengkhianat.
Yang gugur adalah orang yang paling setia.
Yang paling diam.
Yang paling bekerja tanpa banyak bicara.
Pengikut setia yang tidak bernama itu.
Sejak awal, ia diam.
Ia tidak pernah mengeluh.
Ia tidak pernah protes.
Ia tidak pernah bertanya "ke mana" atau
"kenapa".
Ia hanya mengikuti.
Ia hanya bekerja.
Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan, dan lebih dari
itu.
Namun tubuhnya tidak sekuat hatinya.
Ia jatuh sakit.
Demam.
Batuk.
Lemas.
Tidak ada obat.
Tidak ada penawar.
Hanya doa.
Dan harapan.
Mereka melakukan apa pun yang mereka bisa.
Jayabaya meracik ramuan.
Raka Wening berdoa.
Gagak Panji menjaga api.
Jatmiko mengganti kain kompres di dahinya.
Namun fajar datang tanpa keajaiban.
Ia meninggal.
Sunyi.
Tanpa nama yang diabadikan.
Tanpa upacara.
Tanpa tangisan keras.
Hanya sunyi.
Jayabaya berlutut di samping jasadnya.
Ia menutup mata pengikut setia itu.
Ia berbisik, bukan doa panjang, tetapi kata-kata perpisahan yang sederhana.
"Kau tidak pernah bertanya,
Saudaraku. Kau tidak pernah mengeluh. Kau hanya bekerja dan mengabdi.
Tanpamu, kita mungkin sudah hancur sebelum
sampai di sini. Kau adalah fondasi yang tidak terlihat.
Dan meskipun nama-mu tidak tercatat di batu, nama-mu tercatat di hati kami.
Di hati tanah ini. Di hati desa yang akan
lahir."
Air matanya jatuh.
Pertama kali sejak Lembu Seta meninggal.
"Kau tidak pergi, Saudaraku. Kau menjadi bagian dari
tanah ini. Darahmu menyirami akar-akar pohon. Tulangmu menyuburkan tanah
yang berdenyut. Dan setiap kali angin berembus dari lereng
Sumbing... kau yang berbisik."
Mereka memakamkannya di samping Lembu
Seta.
Di bawah pohon tua yang tidak ditebang.
Dua pusara sederhana.
Dua pahlawan tanpa nama.
Dua martir dari desa yang belum lahir.
Dan sejak saat itu…
kesedihan menjadi bagian dari setiap hari.
Bukan kesedihan yang melumpuhkan.
Tetapi kesedihan yang mengingatkan.
Mengingatkan bahwa hidup itu fana.
Mengingatkan bahwa pengorbanan itu nyata.
Mengingatkan bahwa tujuan mereka, membangun desa, menjaga tanah,
hidup dalam keseimbangan, harus dicapai.
Untuk Lembu Seta.
Untuk pengikut setia yang tak bernama itu.
Untuk semua yang telah gugur.
Dan mereka yang tersisa, Jayabaya, Raka
Wening, Gagak Panji, Jatmiko, berjanji dalam hati.
Berjanji untuk terus berjalan.
Berjanji untuk tidak menyerah.
Berjanji untuk menjaga tanah ini sampai titik darah
penghabisan.
BAB XLI
Terbukanya Tabir
Beberapa malam setelah pemakaman pengikut setia itu, ketika
kesedihan masih mentah dan luka masih berdarah, sesuatu terjadi.
Malam datang tanpa angin.
Api unggun menyala kecil, mereka sengaja tidak membesarkannya,
karena mereka tidak ingin menarik perhatian makhluk-makhluk
hutan.
Namun suasana terasa berat.
Seolah sesuatu sedang menunggu untuk terungkap.
Seolah tabir antara dunia manusia dan dunia lain menipis.
Seolah rahasia akan dibuka.
Tiba-tiba…
langkah kaki terdengar dari balik gelap.
Bukan langkah biasa.
Langkah itu tergesa-gesa.
Langkah itu gemetar.
Langkah itu takut.
Dua sosok muncul dari balik pepohonan.
lima dan Kala.
Mereka yang pergi beberapa hari lalu.
Mereka yang diusir karena pengkhianatan.
Namun mereka tidak sendiri.
Kabut mengikuti mereka.
Lebih pekat dari kabut biasa.
Lebih hidup.
Lebih mengancam.
Kabut itu bergerak seperti ular raksasa,
meliuk-liuk di belakang lima dan Kala, seolah mendorong mereka,
atau mengejar mereka, atau menuntun mereka, sulit
dibedakan.
Gagak Panji langsung berdiri. Tangannya meraih gagang
pedang. Matanya tajam, memindai gelap di belakang kedua pengkhianat
itu.
"Kalian kembali…" katanya dingin.
Bukan sambutan. Bukan juga pertanyaan. Tuduhan.
lima jatuh berlutut. Tubuhnya gemetar hebat.
Wajahnya pucat seperti mayat. Matanya sayu, tidak
fokus, seperti orang yang tidak tidur selama berhari-hari.
"Ki... Ki Lurah... kami minta ampun..."
suaranya parau, seperti orang yang berteriak terlalu
keras atau menangis terlalu lama. "Kami... tidak bisa keluar...
hutan ini tidak melepaskan kami... kami berjalan dan berjalan...
tetapi selalu kembali ke sini... selalu kembali ke lembah ini...
seolah tanah ini menahan kami..."
Kala tidak bisa bicara. Ia hanya menangis,
terisak-isak, wajahnya basah oleh air mata dan kotor oleh
tanah.
Sebelum Jayabaya bisa menjawab atau Gagak
Panji bisa bereaksi, kabut itu bergerak.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Seperti tangan raksasa yang mencengkeram lima
dan Kala dari belakang.
Mereka tertarik ke belakang, bukan tertarik secara
fisik, tetapi ditarik oleh kekuatan yang tidak
terlihat.
Dan dari balik kabut itu, Nyi Rondo Alas muncul.
Ia tidak berdiri di tanah.
Ia melayang.
Rambutnya yang hitam panjang bergerak seperti ular, meskipun
tidak ada angin.
Matanya menyala merah, seperti bara, seperti api yang lapar.
Ia tersenyum.
Senyum yang tidak ramah.
Senyum yang dingin, yang kejam, yang penuh
kemenangan.
"Manusia selalu punya celah," katanya. Suaranya kembali menjadi paduan
suara, banyak suara menjadi satu, menggetarkan, mengerikan. "Mereka bicara tentang kesetiaan,
tentang pengorbanan, tentang menjaga. Tapi
ketika takut datang, mereka lari.
Ketika kesempatan datang, mereka berkhianat.
Itulah manusia. Tidak bisa diharapkan."
lima dan Kala gemetar di hadapannya.
Mereka tidak bisa bergerak.
Seolah kaki mereka terpaku di tanah.
Seolah mulut mereka terkunci.
"Ampuni kami..." bisik lima, suaranya nyaris
tidak terdengar. "Kami tidak bermaksud... kami hanya ingin selamat..."
Nyi Rondo Alas tertawa.
Tawa yang tidak mengandung humor.
Tawa yang mengerikan, yang menggema di lembah,
yang membuat burung-buru malam terbang berhamburan.
"Selamat? Kalian tidak akan selamat.
Kalian telah mengkhianati saudara kalian sendiri.
Kalian telah menjual informasi kepada musuh. Dan di tanah
ini... pengkhianatan tidak diampuni. Tidak oleh
manusia. Tidak oleh alam. Tidak oleh aku."
Kabut itu menelan lima dan Kala.
Perlahan.
Seperti pasir hisap yang menarik korban ke
dalam.
Mereka berteriak, teriakan takut, teriakan nyeri,
teriakan penyesalan yang terlambat.
Kemudian diam.
Seketika.
Seperti suara mereka ditelan oleh kegelapan.
Ketika kabut itu beredar…
lima dan Kala tidak ada.
Tidak ada jasad.
Tidak ada darah.
Tidak ada bekas.
Hanya tanah yang sedikit lebih basah dari
sekitarnya.
Hanya bau anyir yang perlahan hilang.
Semua terdiam.
Bahkan Gagak Panji, yang tangannya masih memegang gagang pedang, tidak bergerak.
Ia tahu bahwa melawan Nyi Rondo Alas di saat seperti ini sama
saja dengan bunuh diri.
Jayabaya menutup mata.
Napasnya dalam.
Ia merasakan sakit yang lain, bukan
sakit karena kehilangan, tetapi sakit karena melihat sesama
manusia dihabisi di hadapannya, meskipun mereka bersalah.
"Pengkhianatan… selalu dibayar,"
katanya pelan. Suaranya tidak menghakimi. Hanya mengakui fakta.
"Cepat atau lambat. Dengan cara yang kadang tidak
kita duga."
Nyi Rondo Alas menatap Jayabaya.
Matanya yang menyala itu berkedip, mungkin karena penasaran,
mungkin karena penghargaan.
"Kau tidak melindungi mereka, Jayabaya.
Kau tidak membela mereka. Kau hanya diam.
Itu keputusan yang bijak. Karena
mereka tidak pantas dibela.
Mereka telah memilih jalannya sendiri.
Dan aku hanya menjalankan hukum tanah ini."
Jayabaya tidak menjawab.
Ia hanya duduk kembali.
Ia mengambil sepotong kayu dan melemparkannya ke
api unggun.
Api itu berderak, menyala lebih terang sejenak, lalu kembali ke
ukuran semula.
Nyi Rondo Alas menghilang.
Perlahan.
Seperti kabut yang menguap.
Meninggalkan keheningan yang berat.
Dan malam itu, keempat orang yang tersisa, Jayabaya, Raka
Wening, Gagak Panji, Jatmiko, duduk dalam diam.
Mereka tidak berbicara tentang apa yang baru saja terjadi.
Mereka tidak perlu.
Semua melihat.
Semua mendengar.
Semua merasakan.
Dan mereka tahu, di tanah ini, tidak
ada tempat untuk pengkhianatan.
Hukumannya langsung.
Tidak ada banding.
Tidak ada ampun.
BAB XLII
Pertempuran Tanpa Senjata
Setelah kejadian dengan lima dan Kala, hubungan antara
manusia yang tersisa dan Nyi Rondo Alas mencapai titik kritis.
Bukan lagi toleransi yang tipis.
Bukan lagi saling mengawasi dari jarak aman.
Sekarang, ketegangan itu nyata, terasa, mencekik.
Nyi Rondo Alas datang setiap malam.
Ia tidak lagi menyembunyikan diri di balik kabut.
Ia datang dengan wujud penuh, wajah pucat, rambut
panjang bergerak sendiri, mata menyala merah.
Ia berdiri di tepi perkemahan, menatap mereka
berempat dengan tatapan yang mengadili.
Dan setiap malam, dialog yang sama
terulang.
"Kalian masih di sini," katanya, bukan pertanyaan, tetapi pernyataan dengan
nada tidak percaya.
"Kami masih di sini," jawab
Jayabaya, selalu dengan suara yang sama tenangnya.
"Kalian tidak takut?"
"Kami takut. Tapi ketakutan tidak menghentikan
kami."
"Kalian tidak lelah?"
"Kami lelah. Tapi kami terus bekerja."
"Kalian tidak menyesal?"
"Kami menyesal karena kehilangan saudara.
Kami tidak menyesal karena datang ke
sini."
Malam itu, dialog itu berubah.
Nyi Rondo Alas tidak berdiri di tepi
perkemahan.
Ia melangkah masuk.
Ia berdiri di hadapan Jayabaya.
Jarak hanya satu langkah.
Dingin dari tubuhnya terasa seperti embun beku di
kulit.
"Aku sudah sabar, Jayabaya," katanya. Suaranya tidak lagi paduan
suara. Kembali menjadi suara satu perempuan, suara yang lelah,
suara yang frustrasi, suara yang hampir putus
asa. "Aku sudah memberi kalian kesempatan. Aku
sudah melihat kalian bekerja. Aku sudah melihat kalian berkorban.
Tapi aku masih belum yakin.
Aku masih merasa bahwa kehadiran kalian
adalah ancaman. Bahwa suatu hari nanti, kalian
atau keturunan kalian akan lupa janji
dan merusak tanah ini."
Jayabaya menatap matanya.
Tidak mengalihkan pandangan.
Tidak berkedip.
"Kami tidak bisa meyakinkan kau
dengan kata-kata, Nyi Rondo. Kami hanya bisa meyakinkan dengan perbuatan.
Dan perbuatan... butuh waktu. Bertahun-tahun. Puluhan
tahun. Mungkin ratusan tahun. Tapi kami bersedia menunggu.
Kami bersedia membuktikan setiap hari."
"Aku tidak punya ratusan tahun,
Jayabaya!" sentaknya.
Matanya berkobar. "Aku telah menunggu ribuan
tahun untuk menemukan manusia yang bisa dipercaya!
Dan setiap kali, aku kecewa! Setiap kali,
mereka berkhianat! Setiap kali, mereka merusak!
Aku lelah, Jayabaya! Lelah!"
Air mata mengalir dari mata Nyi Rondo
Alas.
Air mata yang berwarna merah.
Seperti darah.
Seperti lava.
Seperti amarah yang mencair.
Jayabaya diam.
Ia tidak menyentuh Nyi Rondo Alas, menyentuhnya bisa berarti kematian.
Ia tidak menghibur dengan kata-kata, kata-kata manusia mungkin sia-sia di
telinga makhluk setua Nyi Rondo Alas.
Ia hanya duduk.
Ia membuka tangannya.
Telapak tangan menghadap ke atas.
Sebagai isyarat bahwa ia tidak membawa senjata.
Sebagai isyarat bahwa ia datang dengan tangan
kosong.
Sebagai isyarat bahwa ia siap menerima apa
pun, ampunan atau hukuman.
"Kami tidak ingin menang,
Nyi Rondo," kata Jayabaya. Suaranya pelan, tetapi jelas,
seperti air yang mengalir di atas batu. "Kami tidak ingin mengalahkan kau.
Kami tidak ingin menguasai tanah ini.
Kami hanya ingin diterima. Diterima sebagai bagian dari
keseimbangan. Diterima sebagai penjaga—bukan penguasa."
"Dan jika tanah ini menolak?" tanya Nyi Rondo Alas. Suaranya bergetar—bukan
karena marah, tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang
mirip dengan harapan, tetapi takut untuk diakui.
"Kami akan pergi," jawab Jayabaya.
Tanpa ragu. Tanpa tawar-menawar. "Kami akan mencari tempat
lain. Kami tidak akan memaksa. Kami tidak akan melawan.
Karena melawan alam sama saja dengan bunuh
diri. Dan kami datang ke sini untuk hidup,
bukan untuk mati."
Sunyi panjang.
Dua dunia saling berhadapan.
Manusia dan bukan manusia.
Fana dan abadi.
Lemah dan kuat.
Tanpa senjata.
Tanpa teriakan.
Tanpa darah.
Namun pertempuran itu nyata.
Pertempuran hati melawan hati.
Pertempuran niat melawan niat.
Pertempuran keyakinan melawan kekecewaan.
Nyi Rondo Alas menatap Jayabaya.
Lama.
Sangat lama.
Kemudian, perlahan…
matanya yang menyala merah meredu.
Tidak padam, tetapi menjadi redup, seperti bara
yang mulai dingin.
"Kau benar-benar berbeda, Jayabaya," bisiknya. Suaranya nyaris tidak terdengar,
bahkan oleh Jayabaya yang berdiri hanya satu langkah di hadapannya. "Aku belum pernah
bertemu manusia sepertimu. Manusia yang tidak meminta. Manusia
yang tidak menuntut. Manusia
yang hanya ingin diterima."
Ia melangkah mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
"Aku belum bisa memberi jawaban malam
ini," katanya. "Aku harus berpikir.
Aku harus berkonsultasi dengan yang lain, dengan Ki Tunggul
Wasesa, dengan penjaga lainnya, dengan alam itu sendiri.
Tapi... satu hal
yang aku akui... kalian tidak seperti manusia lain."
Ia menghilang.
Perlahan.
Seperti kabut yang menguap.
Meninggalkan keheningan yang berbeda, bukan
keheningan yang mencekik, tetapi keheningan yang penuh kemungkinan.
Raka Wening menghela napas.
Gagak Panji melepaskan genggamannya pada gagang pedang, tanpa
ia sadari, ia telah menggenggamnya erat selama percakapan
berlangsung.
Jatmiko menangis diam-diam, bukan karena takut, tetapi
karena lega.
Jayabaya duduk kembali.
Ia diam.
Ia merenung.
Ia berdoa.
Dan di dalam hatinya, ia berharap, berharap
bahwa pintu yang mulai terbuka malam
ini tidak akan tertutup lagi.
Berharap bahwa keseimbangan yang mereka cari akhirnya tercapai.
Berharap bahwa pengorbanan Lembu Seta, pengikut setia yang tak
bernama itu, dan bahkan Panglima dan Kala, tidak sia-sia.
BAB XLIII
Penyerahan yang Membebaskan
Malam berikutnya, Nyi Rondo Alas kembali.
Namun kali ini, kehadirannya berbeda.
Ia tidak datang dengan amarah.
Ia tidak datang dengan ancaman.
Ia datang dengan kerendahan hati yang aneh,
aneh karena makhluk setua dan sekuat Nyi Rondo Alas jarang menunjukkan kerendahan
hati.
"Aku telah berbicara dengan Ki Tunggul
Wasesa," katanya.
Suaranya normal, suara satu perempuan, tanpa gema, tanpa paduan
suara. "Dan dengan yang lain. Penjaga hutan.
Penjaga air. Penjaga gunung. Penjaga tanah.
Kami telah bermusyawarah."
Jayabaya berdiri.
Ia menghadap Nyi Rondo Alas dengan hormat.
Tangan di samping badan.
Kepala sedikit menunduk.
"Kami mendengarkan, Nyi Rondo."
"Keputusan tidak mudah," lanjut Nyi Rondo Alas. "Sebagian dari
kami menolak kehadiran manusia.
Mereka berkata bahwa pengalaman ribuan
tahun cukup untuk membuktikan bahwa
manusia tidak bisa dipercaya. Mereka berkata bahwa kalian akan pulang atau mati,
dan generasi berikutnya akan lupa janji.
Mereka berkata bahwa lebih
baik mengusir kalian sekarang daripada menyesal nanti."
Jayabaya diam. Ia menerima kata-kata
itu tanpa membantah.
"Namun aku dan Ki Tunggul berpendapat lain," lanjut Nyi Rondo Alas. "Kami melihat sesuatu pada
dirimu, Jayabaya. Sesuatu yang jarang kami lihat pada
manusia. Kesungguhan. Ketulusan. Kesediaan untuk melepaskan. Kesediaan untuk berkorban. Kesediaan untuk diam dan mendengar,
bukan bicara dan memerintah."
Ia berhenti sejenak.
Matanya yang tidak lagi menyala itu menatap Jayabaya
dengan lembut, lembut yang aneh, lembut yang hampir ibu.
"Kami memutuskan untuk memberi kalian kesempatan," katanya. "Kesempatan untuk tinggal.
Kesempatan untuk membangun. Kesempatan untuk membuktikan bahwa
manusia bisa menjadi penjaga. Tapi... dengan syarat."
"Kami menerima syarat apa pun, Nyi
Rondo," kata Jayabaya. Tanpa bertanya apa syaratnya. Karena ia tahu bahwa syarat dari penjaga seperti
Nyi Rondo Alas tidak akan pernah tidak adil.
"Kau belum tahu syaratnya," kata Nyi Rondo Alas, hampir tersenyum. "Syaratnya berat.
Syaratnya mungkin tidak bisa kamu penuhi.
Syaratnya bisa membunuhmu."
"Kami tetap menerima."
Nyi Rondo Alas menghela napas.
Panjang.
Seperti orang yang lelah tetapi lega.
"Syaratnya ini: Kau,
Jayabaya, harus bersedia menjadi penghubung. Penghubung
antara dunia manusia dan dunia kami. Penghubung
yang menjelaskan kepada manusia tentang aturan tanah
ini. Penghubung yang menyampaikan keluhan alam
kepada manusia ketika mereka melanggar. Penghubung
yang menjaga agar keseimbangan tidak rusak."
Jayabaya diam.
Itu bukan syarat yang berat.
Itu adalah apa yang sudah ia lakukan.
"Kedua," lanjut
Nyi Rondo Alas, "Kau harus mengajarkan cara ini
kepada generasi berikutnya. Anak-anak yang lahir di desa
ini harus tahu bagaimana menghormati alam.
Mereka harus tahu bahwa tanah ini bukan milik mereka.
Mereka harus tahu bahwa
mereka hanya penjaga sementara.
Jika generasi berikutnya lupa... aku tidak akan memberi kesempatan kedua."
"Kami akan mengajarkan,"
kata Jayabaya. "Dengan sekuat tenaga."
"Ketiga," Nyi
Rondo Alas menatap Jayabaya dengan mata yang dalam. "Kau harus bersedia...
untuk tidak kembali ke dunia manusia. Selamanya. Desa ini
adalah rumahmu sekarang. Kuburanmu akan berada di
sini. Anak-cucumu akan berada di
sini. Kau tidak bisa keluar dari lembah ini
dan kembali ke kehidupan lama. Jalan ke
belakang telah kututup. Apakah kau siap?"
Jayabaya tersenyum.
Senyum yang lega.
Senyum yang bahagia, untuk pertama kalinya sejak perjalanan
dimulai.
"Aku telah melepaskan dunia
manusia sejak pertama kali melangkahkan kaki meninggalkan
Pajang, Nyi Rondo. Kembali bukan lagi pilihan. Maju adalah satu-satunya arah.
Dan maju... membawaku ke sini. Ke tanah ini.
Ke desa ini. Ke rumah ini."
"Maka aku terima penyerahanmu,
Jayabaya," kata Nyi Rondo
Alas. Suaranya berubah, menjadi lebih hangat,
lebih manusiawi. "Kau telah menyerahkan diri,
bukan kepada aku, tetapi kepada alam.
Dan penyerahan yang tulus seperti itu... membebaskan.
Membebaskan kau dari ketakutan. Membebaskan kau dari keraguan.
Membebaskan kau dari ambisi."
Ia melangkah maju.
Ia mengulurkan tangannya.
Telapak tangan terbuka.
"Selamat datang di tanah ini, Ki Lurah
Jayabaya. Selamat datang di rumah barumu. Selamat datang di Desa
Awan Biru, meskipun desa
itu belum berdiri sepenuhnya. Tapi ia akan berdiri.
Dengan doa kami. Dengan kerja kalian.
Dengan keseimbangan yang kita jaga bersama."
Jayabaya menerima uluran tangan itu.
Ia menyentuh telapak tangan Nyi Rondo Alas.
Dingin.
Tapi dingin yang tidak menusuk.
Dingin yang seperti air dari mata air, dingin yang menyegarkan.
Dingin yang membawa kedamaian.
"Terima kasih, Nyi Rondo Alas," kata Jayabaya.
Air matanya jatuh. "Kami tidak akan mengecewakan."
Nyi Rondo Alas tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang mengandung harapan.
Senyum yang mungkin pertama kali dalam ribuan
tahun.
Ia melepaskan genggaman tangannya.
Lalu menghilang.
Perlahan.
Seperti kabut yang menguap di bawah sinar matahari.
Namun kehadirannya tetap terasa.
Seperti pelukan yang hangat.
Seperti doa yang dikabulkan.
Seperti rumah yang telah lama dirindukan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidur dengan nyenyak.
Tanpa jaga.
Tanpa takut.
Tanpa bayang-bayang yang mengintai.
Karena mereka telah diterima.
Dan penerimaan itu adalah hadiah yang paling
berharga.
BAB XLIV
Tanah yang Menerima
Pagi datang dengan cahaya berbeda.
Lebih hangat.
Lebih hidup.
Lebih bersahabat.
Burung kembali bersuara, bukan kicauan
yang takut atau tergesa-gesa, tetapi kicauan
yang merdu, yang penuh sukacita, yang menyambut fajar.
Air mengalir jernih di mata air, tidak
lagi pahit, tetapi manis, seperti air yang diberkati.
Angin berembus lembut, membawa aroma bunga yang tidak
dikenal, aroma tanah basah, aroma kehidupan.
Raka Wening tersenyum.
Ia menghirup udara pagi itu dalam-dalam.
"Kita diterima, Ki Lurah," katanya. Suaranya tenang,
tetapi penuh kegembiraan yang tertahan.
"Tanah ini... menerima kita."
Gagak Panji menghela napas panjang.
Seolah beban sebesar gunung terangkat dari
pundaknya.
"Akhirnya," katanya. Hanya satu kata. Tapi kata itu mengandung segala rasa,
lega, bahagia, haru, syukur.
Jatmiko menangis.
Bukan sedih.
Bukan takut.
Menangis karena terharu.
Karena setelah berbulan-bulan berjalan, setelah melewati sungai yang
menolak, hutan yang menguji, lembah yang
menilai, kabut yang menyesatkan, badai yang
mengancam, dan pengkhianatan yang menyayat hati, akhirnya mereka sampai.
Bukan sampai di tempat yang nyaman.
Bukan sampai di rumah yang mewah.
Tetapi sampai di tanah yang menerima mereka.
Tanah yang berdenyut.
Tanah yang hidup.
Tanah yang menjadi rumah.
Jayabaya berdiri di tengah lembah.
Ia menatap ke sekeliling.
Pepohonan yang rindang.
Mata air yang jernih.
Gunung Sumbing yang menjulang di kejauhan.
Dua bukit yang berdiri seperti gerbang.
"Ini bukan kita yang menaklukkan tanah
ini," katanya. Suaranya pelan, tetapi jelas,
terdengar oleh tiga orang yang tersisa. "Kita yang diizinkan. Diizinkan untuk tinggal. Diizinkan untuk menjaga. Diizinkan untuk menjadi bagian dari keseimbangan."
Ia berlutut.
Ia menyentuh tanah dengan kedua telapak tangannya.
Tanah itu hangat.
Tanah itu berdenyut.
Tanah itu seperti jantung.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima
kasih, Ibu Pertiwi. Terima kasih, para leluhur. Terima
kasih, penjaga yang tak terlihat. Terima
kasih, Nyi Rondo Alas. Terima kasih, Ki Tunggul Wasesa.
Terima kasih, alam semesta. Kami tidak akan mengecewakan."
Dan sejak saat itu, pembangunan desa
berjalan dengan lancar.
Bukan tanpa tantangan.
Bukan tanpa kelelahan.
Tetapi dengan keyakinan yang baru.
Keyakinan bahwa mereka bekerja bukan untuk diri
sendiri, tetapi untuk keseimbangan.
Keyakinan bahwa setiap pohon yang ditebang akan diganti.
Keyakinan bahwa setiap batu yang dipindahkan akan dihormati.
Keyakinan bahwa desa ini akan menjadi contoh, bahwa
manusia bisa hidup berdampingan dengan
alam, bukan berlawanan dengannya.
BAB XLV
Rumah Pertama
Kayu dikumpulkan.
Bambu dipotong.
Ikat-ikatan dirangkai.
Pondasi digali.
Tidak ada keserakahan.
Tidak ada tergesa-gesa.
Setiap langkah dilakukan dengan hati-hati, dengan doa,
dengan rasa syukur.
Seolah tanah itu diajak bicara.
Seolah setiap bambu yang dipotong adalah sahabat yang mengizinkan dirinya digunakan.
Seolah setiap ikatan yang dibuat adalah janji untuk menjaga.
Dan akhirnya…
sebuah rumah berdiri.
Bukan rumah yang besar.
Bukan rumah yang mewah.
Hanya empat dinding bambu, atap rumbia, lantai tanah
yang dipadatkan.
Sederhana.
Sangat sederhana.
Namun penuh makna.
Raka Wening memandang rumah itu lama.
Matanya berkaca-kaca.
"Ini bukan sekadar tempat
tinggal, Ki Lurah," katanya. Suaranya bergetar.
"Ini awal. Awal dari kehidupan baru. Awal
dari desa. Awal dari peradaban yang memilih untuk hidup
berbeda."
Jayabaya mengangguk.
Ia berjalan ke pintu rumah itu.
Ia menyentuh tiang bambu yang masih hijau.
Ia menutup mata.
"Doakan, para leluhur," bisiknya.
"Doakan, penjaga yang tak terlihat.
Doakan, alam semesta. Semoga rumah ini menjadi tempat yang penuh
berkah. Semoga setiap orang yang tinggal di sini selalu
ingat untuk menjaga, bukan menguasai.
Semoga desa ini menjadi pelita di
tengah kegelapan—kegelapan ambisi, kegelapan keserakahan,
kegelapan manusia yang lupa diri."
Ia membuka mata.
Ia masuk ke dalam rumah itu.
Langkahnya terdengar di lantai tanah yang dipadatkan.
Ia duduk di sudut ruangan.
Ia diam.
Ia merasakan.
Rumah itu kecil.
Rumah itu sederhana.
Tapi rumah itu terasa seperti istana.
Istana hati.
Istana keseimbangan.
Istana kedamaian.
Gagak Panji, Raka Wening, dan Jatmiko mengikuti masuk.
Mereka duduk melingkar di lantai tanah.
Tidak ada meja.
Tidak ada kursi.
Tidak ada perabot.
Hanya mereka berempat.
Hanya hati mereka.
Hanya niat mereka.
"Mulai hari ini," kata Jayabaya, suaranya pelan tetapi tegas,
"kita bukan lagi pengembara. Kita bukan lagi abdi
dalem Pajang. Kita bukan lagi siapa pun yang dulu.
Kita adalah warga Desa Awan Biru. Desa yang belum lengkap.
Desa yang masih dibangun. Tapi desa yang sudah hidup.
Hidup di hati kita. Hidup di tanah ini. Hidup
di keseimbangan yang kita jaga bersama."
Mereka menunduk.
Mereka berdoa dalam hati.
Mereka bersyukur.
Dan di luar rumah, kabut biru turun
perlahan.
Menyelimuti lembah.
Seperti selimut yang hangat.
Seperti pelukan dari alam.
Seperti berkat dari yang maha kuasa.
Desa Awan Biru telah lahir.
Bukan dengan terompet.
Bukan dengan upacara.
Bukan dengan pesta.
Dengan doa.
Dengan keringat.
Dengan air mata.
Dengan darah.
Dengan pengorbanan.
Dengan kesetiaan.
Dan ia akan tumbuh.
Perlahan.
Seperti pohon beringin yang ditanam dengan niat.
Seperti mata air yang terus mengalir.
Seperti keseimbangan yang terjaga.
BAB XLVI
Nama yang Turun dari Langit
Kabut biru turun perlahan di atas pemukiman yang baru
dibangun, masih hanya satu rumah, tetapi sudah ada lahan yang dibuka untuk
rumah-rumah berikutnya. Kabut itu tidak dingin, tidak menyesatkan.
Kabut itu lembut, hangat, seperti selimut yang melindungi.
Jayabaya berdiri di puncak bukit kecil, menatap ke arah
desa yang mulai hidup. Angin menyapu rambutnya yang mulai beruban,
bukan karena usia, tetapi karena beban. Cahaya senja menyoroti wajahnya
yang lelah namun penuh ketenangan, ketenangan yang tidak bisa dipalsukan,
ketenangan yang lahir dari keyakinan yang telah diuji.
Raka Wening berdiri di sampingnya, menahan napas.
Matanya terpaku pada kabut biru yang turun dan membentuk pola yang tidak
biasa, pola yang mirip dengan aksara,
tetapi bukan aksara yang dikenal.
"Apa itu… dari langit, Ki Lurah?" tanyanya,
suaranya berbisik, takut mengganggu sesuatu.
Jayabaya menutup mata sejenak, membiarkan
angin menyentuh kulitnya, membiarkan kabut biru membelai wajahnya.
Ia merasakan sesuatu, sesuatu yang besar,
sesuatu yang agung, sesuatu yang turun dari atas dan masuk ke
dalam dadanya.
"Ini bukan sekadar kabut, Raka,"
katanya perlahan. Matanya masih tertutup. "Ini jawaban…
dari yang lebih tua dari kita. Dari alam.
Dari leluhur. Dari yang maha kuasa. Mereka telah melihat usaha kita.
Mereka telah menyaksikan pengorbanan kita.
Dan kini… mereka memberi nama."
Tiba-tiba, sebuah cahaya lembut menembus
kabut.
Cahaya itu tidak menyilaukan.
Cahaya itu hangat, seperti sinar matahari di pagi hari,
seperti sentuhan ibu kepada anaknya.
Cahaya itu membentuk awan, bukan awan sungguhan,
tetapi bayangan awan yang menunduk, menyapa, memberkati.
Lalu, perlahan, cahaya itu menyatu menjadi tulisan di
langit.
Tulisan yang terbentuk dari cahaya dan kabut.
Tulisan yang membaca:
"Awan Biru"
Bukan aksara Jawa.
Bukan aksara Sansekerta.
Bukan aksara apa pun yang dikenal manusia.
Namun semua yang melihatnya mengerti.
Mengerti artinya.
Mengerti maknanya.
Mengerti bahwa itulah nama desa
mereka.
"Awan Biru…" bisik Jatmiko, matanya basah.
"Desa kita bernama Awan Biru."
Gagak Panji diam. Ia tidak bisa
berkata-kata. Ia hanya menunduk, merasakan getaran sakral yang masuk ke
dalam tulang-tulangnya.
Jayabaya tersungkur.
Ia bersujud di puncak bukit itu.
Dahinya menyentuh tanah.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih, alam.
Terima kasih, leluhur. Terima kasih, yang maha kuasa. Nama ini
akan kami jaga. Desa ini akan kami pelihara. Keseimbangan ini
akan kami lestarikan."
Ia bangkit.
Ia menatap Raka Wening, Gagak Panji, Jatmiko.
"Bukan kita yang memilih nama
itu," katanya. "Melainkan takdir… dan alam memberikannya kepada
kita. Kita tidak bisa sombong. Kita tidak bisa merasa memiliki.
Nama ini adalah amanah. Amanah untuk menjaga. Amanah
untuk hidup dalam keseimbangan. Amanah
untuk mengingatkan generasi berikutnya bahwa
mereka bukan pemilik, tetapi penjaga sementara."
Raka Wening menunduk. "Kami mengerti,
Ki Lurah."
Mereka turun dari bukit.
Mereka kembali ke desa.
Dan ketika mereka sampai, kabut biru masih menyelimuti lembah,
bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai berkat.
Seperti selimut yang melindungi.
Seperti bendera yang menyatakan kepemilikan,
bukan kepemilikan manusia, tetapi kepemilikan alam.
Desa Awan Biru telah lahir.
Bukan dengan darah.
Bukan dengan kekerasan.
Tetapi dengan doa, pengorbanan, kesetiaan,
dan nama yang turun dari langit.
BAB XLVII
Pohon Beringin
Keesokan harinya, di pusat desa, di tanah lapang yang
sengaja dibiarkan kosong, tidak dibangun apa pun, Jayabaya menggali lubang.
Lubang itu tidak besar. Hanya cukup untuk bibit pohon.
Seluruh warga desa berkumpul. Jayabaya, Nyai Ageng, Raka
Wening, Karti, Gagak Panji, Wulandari, Jatmiko, dan kedua anak-anak: Bayu dan
Ratih. Putri masih digendong ibunya.
Jayabaya menanam bibit beringin.
Bibit kecil.
Setinggi lutut.
“Ini bukan sekadar pohon, Saudara-saudaraku,” katanya. “Ini
janji. Janji kita pada desa. Janji kita pada alam. Janji kita pada generasi
yang akan datang.”
Ia menatap Bayu dan Ratih. “Kalian, anak-anak, akan melihat
pohon ini tumbuh besar. Kalian akan bermain di bawahnya. Kalian akan bercerita
tentang pohon ini kepada anak-anak kalian nanti. Dan kalian harus ingatkan
mereka bahwa pohon ini ditanam dengan doa, dengan keringat, dengan air mata,
dan dengan darah saudara-saudara kita yang telah gugur.”
Bayu mengangguk serius. Ratih tersenyum, matanya berbinar.
“Boleh aku membantu menutup tanahnya, Ki Lurah?” tanya
Bayu.
Jayabaya tersenyum. “Mari.”
Bayu menyekop tanah dengan hati-hati, menutupi akar bibit
beringin. Ratih ikut membantu dengan tangannya yang mungil. Mereka tertawa
ketika tanah mengenai sepatu mereka.
Dan di bawah pohon beringin yang baru ditanam itu, untuk
pertama kalinya, terdengar tawa anak-anak di Desa Awan Biru.
Angin berembus lembut.
Dedaunan bibit beringin itu bergetar, seperti mengangguk,
seperti menerima janji, seperti bersumpah balik bahwa
ia akan tumbuh dan menjaga desa ini selamanya.
"Apakah pohon ini akan selalu ada, Ki
Lurah?" tanya Jatmiko, bukan dengan nada polos seperti
dulu, tetapi dengan nada haru, dengan mata basah.
Jayabaya tersenyum, menepuk pundak Jatmiko
yang telah dewasa, bukan dewasa dalam usia, tetapi
dewasa dalam jiwa, setelah melewati ujian demi ujian.
"Selama kita menjaga, ia akan ada.
Dan ketika kita pergi, ketika kita tidak lagi berada di
dunia ini, pohon ini akan tetap ada. Ia akan
menjadi saksi. Saksi bahwa kita pernah di sini.
Bahwa kita pernah berjuang. Bahwa kita pernah mencintai tanah
ini. Bukan untuk menguasai, tetapi untuk menjaga."
Ia menatap bibit itu sekali lagi.
"Dan mudah-mudahan, generasi berikutnya akan mengingat pesan itu. Mudah-mudahan mereka tidak lupa. Mudah-mudahan mereka tetap setia."
BAB XLVIII
Ujian Terakhir
Malam berikutnya... Nyi Rondo Alas dan Ki Tunggul Wasesa
datang.
“Satu ujian terakhir,” kata Ki Tunggul.
Semua menegang.
“Ujian terakhir adalah waktu. Puluhan, ratusan tahun dari
sekarang. Ketika kau tidak lagi berada, Jayabaya. Ketika anak-cucumu yang
memimpin desa ini. Akankah mereka ingat sumpah? Itulah ujian terakhir.”
Nyai Ageng Suryaningsih melangkah maju. Ia menatap Ki
Tunggul. “Kami akan mengajarkan mereka, Ki Tunggul. Kami akan ceritakan kisah
ini setiap malam. Kami akan tanamkan nilai ini sejak mereka masih dalam
kandungan. Dan ketika kami tidak lagi di sini, anak-anak kami akan
mewariskannya kepada anak-anak mereka.”
Ia menatap Bayu dan Ratih. “Bukan hanya dengan kata-kata.
Tetapi dengan teladan. Mereka sudah melihat sendiri bagaimana kami berjuang.
Mereka sudah merasakan sendiri bagaimana alam menguji. Itu tidak akan mereka
lupakan.”
Ki Tunggul mengangguk. “Semoga.”
Mereka menghilang.
Perlahan.
Seperti kabut yang menguap.
Meninggalkan keheningan yang damai.
Dan sejak saat itu, Desa Awan Biru bukan lagi sekedar pemukiman manusia.
Ia adalah bagian dari alam.
Ia adalah saudara bagi penjaga tak terlihat.
Ia adalah contoh bahwa keseimbangan bisa terjadi.
BAB XLIX
Warisan
Pagi datang dengan cahaya yang berbeda.
Cahaya yang lebih hangat.
Cahaya yang lebih penuh harapan.
Burung kembali bersuara, kicauan
yang merdu, yang menyambut fajar dengan sukacita.
Sungai tetap jernih, mengalir tanpa henti,
memberi kehidupan.
Mata air tetap sejuk, manis, memberkati.
Rumah-rumah bambu berdiri rapi, masih
hanya beberapa, tetapi lahan telah dibuka untuk lebih banyak.
Anak-anak, belum ada, tetapi suatu hari akan
ada, dalam bayangan, mereka tertawa di
halaman, bermain kejar-kejaran, belajar dari alam.
Wanita dan lelaki mengurus ladang dan ternak,
masih sederhana, tetapi cukup untuk bertahan hidup.
Jayabaya mengumpulkan semua pengikutnya, kini
hanya tiga orang, tetapi mereka adalah inti,
mereka adalah pendiri, mereka adalah sesepuh pertama.
"Desa ini bukan milik kita,"
katanya. Suaranya pelan, tetapi jelas, terdengar oleh
semua. "Dia titipan. Titipan alam. Titipan leluhur.
Titipan penjaga tak terlihat. Dan titipan bagi generasi yang
akan datang."
Ia menatap Raka Wening.
"Kau, Raka, akan menjadi penjaga ilmu. Ajarkan anak-anak tentang keseimbangan. Ajarkan mereka membaca tanda-tanda alam. Ajarkan mereka berdoa dengan hati,
bukan dengan bibir."
Ia menatap Gagak Panji.
"Kau, Gagak Panji, akan menjadi penjaga keamanan. Bukan dengan kekerasan,
tetapi dengan kewaspadaan. Lindungi desa
dari ancaman luar, tetapi ingat bahwa ancaman terbesar seringkali datang dari dalam.
Dari keserakahan. Dari kelalaian. Dari lupa."
Ia menatap Jatmiko, pemuda yang kini telah dewasa,
yang telah melewati ujian, yang telah membuktikan kesetiaannya.
"Kau, Jatmiko, akan menjadi penjaga cerita. Tuliskan semua yang
terjadi. Ceritakan kepada anak-anak. Ceritakan kepada cucu-cucu. Ceritakan kepada generasi berikutnya.
Agar mereka tidak lupa. Agar mereka tahu darimana mereka berasal.
Agar mereka tahu berapa banyak pengorbanan yang telah diberikan untuk
desa ini."
Jatmiko menunduk. "Aku akan lakukan,
Ki Lurah. Aku akan tuliskan setiap kata. Aku
akan hafalkan setiap kejadian. Aku
akan pastikan bahwa cerita ini hidup."
Jayabaya mengangguk.
Ia menatap ketiganya.
Ia tersenyum, senyum yang lelah, tetapi penuh kebahagiaan.
"Jagalah… jangan pernah untuk menguasai.
Jangan biarkan ambisi merusak apa yang telah diberikan. Keseimbangan adalah segalanya. Tanpa keseimbangan,
desa ini akan hancur. Tanpa keseimbangan,
kalian akan kehilangan rumah. Tanpa keseimbangan,
kalian akan kembali menjadi pengembara yang kehilangan arah."
Semua menunduk.
Merasakan berat dan makna kata-kata itu.
Desa Awan Biru telah lahir, tidak hanya dari tanah dan rumah,
tetapi dari sumpah, pengorbanan, dan keyakinan.
Dari darah Lembu Seta.
Dari kesetiaan pengikut yang tak bernama.
Dari pengkhianatan yang ditebus dengan kematian.
Dari doa yang tak putus-putusnya.
Dari keseimbangan yang dijaga setiap hari.
BAB L
Sesepuh Awan Biru
Waktu berjalan.
Desa Awan Biru tumbuh.
Bayu, anak Gagak Panji, tumbuh menjadi pemuda yang tangkas.
Ia belajar membaca jejak hewan dari ayahnya, dan belajar membaca tanda-tanda
alam dari Raka Wening. Ia jatuh cinta pada Dewi, putri seorang
pendatang yang kemudian menetap di desa. Mereka menikah dan dikaruniai dua
orang anak: Jaka dan Wulan.
Ratih, putri Raka Wening, tumbuh menjadi perempuan yang
bijaksana. Ia mewarisi ketenangan ayahnya dan kelembutan ibunya. Ia menikah
dengan Jatmiko, pemuda yang dulu nyaris tewas karena kabut menyesatkan, yang
kini telah menjadi penjaga cerita desa. Mereka dikaruniai seorang putra: Sena.
Putri, anak bungsu Jayabaya dan Nyai Ageng, tumbuh menjadi
perempuan pemberani. Ia tidak pernah mengenal Pajang. Ia lahir di perjalanan,
tetapi ia besar di Desa Awan Biru. Ia menikah dengan seorang pemuda dari desa
tetangga, dan mereka dikaruniai tiga orang anak.
Di bawah pohon beringin yang kini telah besar dan rindang,
Jayabaya yang sudah renta sering duduk bersandar di akar pohon. Ia melihat
anak-anak desa bermain. Ia melihat Bayu dan Ratih yang kini telah dewasa,
dengan anak-anak mereka sendiri. Ia melihat Desa Awan Biru yang terus hidup.
Pada suatu sore, ketika kabut biru turun, Jatmiko mendekati
Jayabaya. “Ki Lurah, aku telah menuliskan semua kisah ini. Tinta dari getah
pohon, kertas dari kulit kayu. Aku akan menyimpannya di bawah pohon beringin
ini, dalam kotak kayu yang kedap air. Semoga anak-cucu kita bisa membacanya
suatu hari nanti.”
Jayabaya tersenyum. “Kau melakukan tugasmu dengan baik,
Jatmiko. Sekarang, tugasmu adalah mengajarkan Sena, anakmu, untuk melanjutkan. Agar
cerita ini tidak putus.”
Ia menatap Sena, bocah laki-laki berusia tujuh tahun yang
sedang berlari mengejar kupu-kupu bersama Jaka dan Wulan. “Mereka adalah masa
depan, Jatmiko. Bukan kita. Merekalah yang akan menjaga desa ini setelah kita
tiada. Berdoalah agar mereka tidak lupa. Berdoalah agar mereka tetap setia.”
Matahari terbenam di balik Gunung Sumbing.
Langit berwarna jingga.
Kabut biru turun.
Jayabaya menutup mata.
Ia tidak lagi terbangun.
Kepergiannya tidak heboh. Tidak ada tangisan histeris. Hanya
kesunyian yang penuh hormat. Bayu, Ratih, Putri, Jatmiko, dan semua warga desa
berkumpul di bawah pohon beringin. Mereka tidak menangis. Mereka tersenyum.
Karena mereka tahu, Jayabaya tidak pergi. Ia menjadi kabut. Ia menjadi angin.
Ia menjadi denyut tanah yang mereka pijak setiap hari.
Nyai Ageng Suryaningsih, yang telah menua, duduk di samping
jasad suaminya. Ia menggenggam tangan Jayabaya yang sudah dingin. “Kau sudah
menepati janjimu, Kakang,” bisiknya. “Kau sudah menjaga kami. Sekarang, biar
kami yang menjaga.”
Ia menatap anak-anak dan cucu-cucunya. “Kalian ingat semua
yang diajarkan Ki Lurah?”
“Ingat, Nyai,” jawab mereka serempak.
“Jangan pernah lupa. Hidup bukan untuk menguasai. Hidup
adalah untuk menjaga.”
EPILOG
Awan yang Tak Pernah Pergi
Awan yang Tak Pernah Pergi
Desa Awan Biru menjadi legenda.
Pohon beringin tumbuh besar, sangat besar. Akarnya menancap
dalam ke bumi, cabangnya menaungi desa. Di bawah pohon itu, Jatmiko menyimpan
kotak kayu berisi naskah kisah Ki Lurah Jayabaya.
Generasi berganti.
Bayu menjadi sesepuh desa setelah Jayabaya. Ia mewariskan
ilmunya kepada Jaka, anaknya.
Ratih menjadi penjaga keseimbangan, mewariskan
ketenangannya kepada Sena, anaknya.
Putri menjadi penghubung antara desa dan makhluk halus,
seperti ibunya.
Naskah kisah itu dibaca oleh anak-cucu mereka. Diceritakan
di malam hari. Dinyanyikan dalam tembang-tembang.
Dan setiap kali ada yang mulai lupa, setiap kali ada yang
mulai serakah, desa itu akan mengingatkan. Kadang dengan kabut yang turun lebih
tebal. Kadang dengan suara angin yang berbisik. Kadang dengan mimpi yang aneh.
Kisah Ki Lurah Jayabaya tidak pernah mati. Ia hidup dalam
setiap helai daun beringin. Dalam setiap tetes air dari mata air. Dalam setiap
langkah anak-anak yang bermain di halaman.
Desa Awan Biru tidak besar.
Tidak kaya.
Tidak terkenal.
Tapi ia kuat.
Kuat karena ia tidak melupakan.
Kuat karena ia menjaga.
Kuat karena ia hidup dalam keseimbangan.
Dan angin yang berembus dari lereng Sumbing, kabut biru
yang turun setiap senja, air mata air yang mengalir jernih, semuanya berbisik
satu nama:
Jayabaya.
Ki Lurah Jayabaya.
Sang Penjaga.
Sang Pendiri.
Sang Awan yang Tak Pernah Pergi.
Bersama Nyai Ageng Suryaningsih.
Bersama Raka Wening dan Karti.
Bersama Gagak Panji dan Wulandari.
Bersama Jatmiko, Bayu, Ratih, dan Putri.
Bersama anak-cucu mereka.
Bersama semua yang memilih untuk menjaga, bukan menguasai.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar