Malam itu, Kanor Desa Awan Biru tidak
seperti biasanya.
Lampu neon yang menggantung di
langit-langit berpendar pucat, seolah kelelahan menyaksikan terlalu banyak
rapat yang tak kunjung selesai. Lampu itu sebenarnya sudah dua kali diganti, pertama
karena mati total, kedua karena kedip-kedipnya mengganggu pandangan, tapi tetap
saja, cahayanya tidak pernah benar-benar terang. Seperti musyawarah desa itu
sendiri: selalu ada yang redup, selalu ada yang tidak terlihat.
Kipas angin tua di sudut ruangan
berputar pelan, mengaduk udara hangat yang jenuh dengan sisa-sisa perdebatan
dari agenda sebelumnya. Kipas itu sudah berusia entah berapa tahun. Ada yang
bilang sejak kantor desa pertama kali dibangun. Ada yang bilang itu hibah dari
proyek bantuan entah negara mana. Yang jelas, suaranya kini lebih keras
daripada putarannya, sebuah metafora yang tidak sengaja tentang bagaimana rapat
desa sering kali lebih banyak bunyi daripada gerak.
Kursi-kursi plastik berderet tidak
rapi di ruangan berukuran sekitar delapan kali sepuluh meter itu. Beberapa
menghadap ke depan, setia pada panggung utama tempat Pak Kades berdiri.
Beberapa miring ke kanan atau ke kiri, seolah sedang mendengarkan bisikan dari
tetangga sebelah. Dan beberapa lagi, yang paling malang, duduk menghadap ke
belakang, menjadi korban dari mereka yang datang terlambat dan hanya menemukan
tempat tersisa di barisan paling ujung.
Dinding kantor desa tidak pernah
benar-benar bersih. Cat putih yang dulu sempat membanggakan diri kini
mengelupas di sana-sini, memperlihatkan tembok abu-abu di bawahnya. Papan
pengumuman yang tergantung di samping panggung dipenuhi selebaran yang sudah
menguning, sosialisasi posyandu, undangan rapat RT, pengumuman lowongan kerja
yang kadaluwarsa tiga bulan lalu, dan selebaran hilangnya tiga ekor kambing
milik Pak RT 03.
Udara di dalam ruangan terasa berat,
bukan hanya karena panas, tetapi karena terlalu banyak kata yang sudah
diucapkan sepanjang rapat. Kata-kata tentang jalan desa yang bocor lagi, tentang
sumur bor yang airnya mulai keruh, tentang bantuan pupuk yang belum juga turun.
Kata-kata yang sama, diulang setiap bulan, dengan nada yang sama, dengan wajah
yang sama, dan dengan hasil yang juga sama: ditunda, dibahas lagi, atau jika
sangat beruntung dilimpahkan ke rapat berikutnya.
Di luar, malam sudah cukup pekat.
Lampu jalan yang jumlahnya hanya tiga di seluruh desa itu menyala redup,
menerangi jalan tanah yang berdebu. Suara jangkrik dan sesekali gonggongan
anjing terdengar saling bersahutan, seolah mengadakan rapat mereka sendiri.
Langit di atas Desa Awan Biru malam itu bertabur bintang, tanpa sedikit pun
awan meski namanya "Awan Biru", sebuah ironi kecil yang tidak pernah
dijelaskan siapa pun, seperti banyak ironi lain di desa ini.
Dan di dalam kator desa, di tengah
semua kegaduhan yang biasa itu, duduk seorang pemuda yang tidak biasa.
"Baik, kita lanjut ke agenda
berikutnya…"
Suara Ibu Yuni, Sekretaris Desa yang
sudah dua puluh tahun memegang jabatan itu, terdengar formal, tapi kali ini
sedikit berbeda. Ada getar kecil di ujung kalimatnya, seperti seseorang yang
sedang memegang sesuatu yang terlalu panas untuk ditahan, tapi terlalu penting
untuk dilepaskan.
Ibu Yuni berdiri di samping Pak Kades
Iwan, di panggung kecil setinggi dua anak tangga yang terbuat dari kayu. Di
tangannya, selembar kertas bergetar pelan. Bukan gemetar karena takut, Ibu Yuni
tidak mudah takut. Beliau sudah menghadapi puluhan demonstrasi warga yang tidak
puas dengan pembagian bantuan, sudah berkali-kali menjadi penengah ketika dua
RT bertikai soal batas wilayah, dan sudah terlalu sering menjadi orang terakhir
yang masih tersenyum ketika rapat bubar dalam keadaan ricuh.
Tapi kali ini, kertas di tangannya
bergetar.
Bukan karena takut.
Tapi karena bingung.
Karena isi kertas itu tidak seperti
yang biasa ia baca. Bukan proposal jalan. Bukan proposal pembangunan pos
kamling. Bukan juga proposal bantuan sembako.
Ibu Yuni sempat berhenti sejenak.
Menunduk, membaca ulang baris pertama judul itu. Lalu mengernyit. Lalu membaca
lagi, seolah-olah matanya sedang mempermainkannya.
Ia menoleh ke arah Pak Kades Iwan yang
sedang duduk di kursi kayu agak ke belakang, memegang termos kopi tua yang
setia menemaninya di setiap rapat.
"Ini… yakin dibacakan?"
bisik Ibu Yuni pelan, nyaris tak terdengar di tengah suara kipas dan dengung
obrolan warga yang belum selesai.
Pak Kades Iwan mengernyit. Alisnya
yang tebal, seperti ulat yang sedang merayap, bertemu di tengah.
"Kenapa? Ada yang salah dengan
berkasnya? Formatnya tidak sesuai? Itu kan sudah diperiksa sama Yunita."
Bukan tanpa alasan Pak Kades bertanya
begitu. Selama ini, Yunita, perempuan muda yang duduk rapi di barisan depan
dengan map biru di tangannya, adalah penjaga gerbang utama semua berkas yang
masuk ke kantor desa. Setiap proposal, setiap surat, setiap dokumen resmi,
selalu melewati meja Yunita terlebih dahulu. Dan Yunita terkenal dengan satu
hal: tidak ada yang lolos dari pengawasannya. Jika ada satu titik salah, satu
format yang tidak sesuai, satu tanda tangan yang kurang, berkas itu akan kembali
ke pengirimnya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, lengkap dengan
stempel merah "REVISI" yang membuat jantung siapa pun berdegup
kencang.
Jadi ketika Pak Kades mendengar bahwa
ada keraguan di suara Ibu Yuni, insting pertamanya adalah: mungkin ada
kesalahan teknis. Mungkin formatnya salah. Mungkin tidak ada materai. Mungkin
tidak dilengkapi lampiran.
Bukan.
Bukan itu.
"Bukan soal format, Pak,"
bisik Ibu Yuni lagi, suaranya semakin pelan, semakin hati-hati, seperti sedang
membawa kabar yang tidak ingin didengar siapa pun. "Ini soal…
isinya."
Pak Kades Iwan mengernyit lebih dalam.
Ulat di dahinya kini hampir membentuk huruf V terbalik.
"Isinya? Proposal jalan desa mana
lagi yang isinya masalah? Bukannya kita sudah sepakat untuk prioritas pembangunan
drainase dulu?"
Ibu Yuni menggeleng pelan. Kepalanya
yang sudah disisir rapi dengan jepit rambut sederhana itu bergerak seperti
orang yang sedang mencoba menolak kenyataan.
"Bukan jalan desa, Pak."
Pak Kades terdiam.
"Bukan drainase?"
"Bukan."
"Bukan pos kamling?"
"Bukan, Pak."
"Lalu apa?"
Ibu Yuni menarik napas panjang.
Dadanya naik turun. Ia menatap kertas itu sekali lagi, seolah memberi dirinya
satu detik terakhir untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Bahwa
kertas itu nyata. Bahwa kata-kata di atasnya nyata. Bahwa ini benar-benar
terjadi di kantor desa, di malam hari, di hadapan puluhan warga yang masih
sibuk dengan obrolan mereka sendiri.
"Ini proposal…" bisik Ibu
Yuni, dan suaranya hampir putus di tengah kalimat, "pengajuan perasaan,
Pak."
Pak Kades Iwan yang sedang mengangkat
termos kopi ke mulutnya, tiba-tiba berhenti.
Termos itu menggantung di udara,
setengah jalan antara meja dan bibirnya.
"Perasaan?" ulangnya,
seperti tidak percaya dengan telinganya sendiri.
Ibu Yuni mengangguk. Pelan. Pasti.
"Perasaan, Pak. Seperti yang Ibu
katakan."
Pak Kades Iwan menurunkan termosnya
perlahan. Diletakkan di meja dengan suara 'klak' pelan yang nyaris tak
terdengar. Lalu ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, gerakan yang biasa
ia lakukan ketika sedang berpikir keras, atau ketika sedang mencoba menahan
diri untuk tidak marah.
"Perasaan…" ulangnya lagi,
kali ini lebih pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Ibu Yuni.
"Perasaan siapa?"
Ibu Yuni menelan ludah.
"Bayu Andika, Pak. Pemuda RT
02."
Pak Kades Iwan menutup matanya
sejenak.
Lalu membukanya lagi.
Dan kemudian, untuk pertama kalinya
dalam dua puluh tahun memimpin rapat desa, Pak Kades Iwan tidak tahu harus
berkata apa.
Di sudut ruangan, Bayu Andika duduk
diam.
Tidak seperti biasanya.
Biasanya, di setiap rapat desa, Bayu
adalah orang yang paling mudah dikenali. Bukan karena penampilannya yang
mencolok, ia hanya pemuda berusia dua puluh enam tahun dengan tinggi sedang,
rambut yang kadang sedikit berantakan, dan kemeja lengan panjang yang selalu
digulung hingga siku. Bukan karena suaranya yang keras, ia justru berbicara
dengan nada yang tenang, bahkan kadang terlalu tenang untuk ukuran seorang
pemuda yang penuh idealisme.
Tapi karena ia selalu duduk di tempat
yang sama: sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap ke lapangan desa, di
kursi yang kakinya sedikit goyang karena satu baut yang lepas. Dan karena ia
selalu berbicara. Bukan banyak bicara dalam artian cerewet, tapi ia selalu
punya sesuatu untuk dikatakan. Ketika yang lain diam, Bayu angkat bicara.
Ketika yang lain setuju begitu saja, Bayu bertanya 'kenapa'. Ketika yang lain
puas dengan jawaban yang itu-itu saja, Bayu menggali lebih dalam.
Dosen-dosennya dulu di universitas, ketika
ia masih kuliah di jurusan Sosiologi sebelum akhirnya memutuskan kembali ke
desa, sering bilang bahwa Bayu memiliki "rasa tidak puas yang
produktif". Ia tidak mudah menerima sesuatu hanya karena itu sudah menjadi
kebiasaan. Ia selalu ingin tahu alasan di balik setiap keputusan. Ia percaya
bahwa diskusi adalah jalan menuju kebenaran atau setidaknya menuju kesepakatan
yang paling tidak merugikan.
Tapi malam itu, Bayu tidak seperti
biasanya.
Tidak ada senyum tipis yang biasa
menghiasi wajahnya ketika seseorang melontarkan argumen konyol. Tidak ada
gelengan kepala pelan ketika Pak Sugeng memulai lagi pidatonya tentang
"generasi muda yang kurang kerjaan". Tidak ada tangan yang terangkat
untuk interupsi ketika Santoso mulai bicara melingkar-lingkar seperti ular yang
sedang mabuk.
Malam itu, Bayu hanya duduk.
Tangannya, yang biasanya bergerak
aktif saat berdebat, membentuk gestur di udara seolah sedang melukis argument, kini
saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Jari-jarinya saling mengunci,
seperti sedang berdoa, atau seperti sedang berusaha menahan sesuatu agar tidak
meledak.
Matanya, yang biasanya tajam, menatap
pembicara dengan fokus seorang pengamat, kini menunduk ke lantai. Lantai balai
desa yang terbuat dari semen, dengan retak-retak halus di beberapa bagian,
tiba-tiba menjadi pemandangan yang paling menarik di dunia.
Ia tidak bergerak.
Hampir tidak bernapas.
Seolah ia tahu… sesuatu akan terjadi.
Seolah ia sudah menghitung semua
kemungkinan, dan sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan mundur. Bahwa apa
pun yang akan terjadi malam ini, entah tawa, entah kemarahan, entah kebodohan
terbesar dalam hidupnya atau langkah paling berani yang pernah ia ambil, ia
sudah siap.
Atau setidaknya ia ingin terlihat
siap.
Karena di dalam dadanya, jantung Bayu
Andika berdegup seperti genderang perang. Kencang. Keras. Menghentak.
Dan di dalam kepalanya, satu kalimat
berulang terus:
"Ini gila. Tapi ini harus
dilakukan."
Di barisan depan, Yunita duduk tegak
seperti biasa.
"Seperti biasa" bagi Yunita
bukan sekadar frasa. Itu adalah filosofi hidup. Karena sejak kecil, Yunita
belajar bahwa dunia ini berjalan di atas aturan. Ayahnya, seorang pensiunan
pegawai negeri, selalu mengajarkan bahwa keteraturan adalah pangkal kedamaian.
Ibunya, seorang guru SD, selalu menekankan bahwa disiplin adalah kunci
kesuksesan.
Dan Yunita, sejak duduk di bangku SD,
sejak menjadi juara kelas, sejak menjadi ketua OSIS, sejak lulus dengan
predikat cumlaude, sejak bekerja di kantor desa dan dalam tiga bulan langsung
diakui sebagai pegawai paling efisien, adalah bukti hidup dari ajaran itu.
Keteraturan bekerja.
Disiplin membuahkan hasil.
Aturan ada untuk dipatuhi.
Maka tidak mengherankan jika Yunita
selalu duduk di barisan depan dalam setiap rapat. Bukan karena ia ingin
terlihat, tapi karena dari sana ia bisa mencatat dengan paling baik. Map biru
di tangannya, map yang sama yang ia gunakan selama tiga tahun terakhir, dengan
isi yang selalu rapi, selalu terstruktur, selalu siap sedia, terbuka di
pangkuannya. Pena hitam dengan tinta gel yang tidak pernah macet, karena ia
selalu membawa cadangan, terjepit di antara jari-jarinya.
Penampilannya seperti biasa: rambut
hitam panjang diikat ke belakang dengan gaya sederhana, tidak pernah mengubah
model karena model rambut bukanlah prioritas. Kemeja putih polos tanpa motif, karena
motif dianggap mengganggu fokus. Rok pensil hitam selutut. Sepatu flat hitam
yang tidak pernah bersuara saat ia berjalan.
Tidak ada yang berlebihan dari
penampilan Yunita. Tidak ada yang kurang. Semuanya pas. Semuanya sesuai.
Tapi malam itu, di balik semua
keteraturan itu, ada sesuatu yang berbeda.
Bukan di penampilannya. Bukan di
caranya duduk. Bukan di cara ia memegang pena.
Tapi di hatinya.
Hatinya, yang biasanya tenang, yang
biasanya teratur seperti arsip-arsip di mejanya, tiba-tiba berdegup tidak
karuan.
Ia tidak tahu kenapa.
Tidak ada alasan logis.
Rapat malam itu agenda resminya adalah
pembahasan rutin: perkembangan program desa digital, laporan keuangan bulanan,
dan persiapan kegiatan Karang Taruna. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang
perlu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Tapi ada firasat.
Firasat yang tidak bisa ia jelaskan.
Seperti ketika langit mendung sebelum
hujan, tidak ada tanda yang jelas, tapi tubuh tahu. Ada perubahan tekanan
udara, ada getaran halus di tanah, ada sesuatu yang berubah di atmosfer meski
mata tidak melihat apa-apa.
Yunita merasakan itu.
Dan tanpa sadar, matanya, yang
seharusnya fokus pada panggung, pada Pak Kades, pada agenda yang akan dibahas, sesekali
melirik ke sudut ruangan.
Ke arah kursi dengan kaki goyang itu.
Ke arah pemuda yang biasanya banyak
bicara, tapi malam ini diam membisu.
Ke arah Bayu Andika.
Yunita tidak tahu mengapa matanya
terus tertarik ke sana. Ia sudah berusaha fokus. Sudah berusaha mengingatkan
dirinya bahwa ini adalah rapat, bukan tempat untuk melamun. Sudah berusaha menarik
napas dalam-dalam dan berkata pada dirinya sendiri: "Yunita, kamu
profesional. Kamu punya tugas. Jangan terganggu."
Tapi tetap saja.
Setiap beberapa detik, matanya kembali
ke sudut itu.
Seolah ada magnet tak terlihat.
Seolah ada sesuatu yang harus ia
lihat, meski ia tidak tahu apa.
Seolah ada pesan yang belum sampai,
tapi sudah mulai terasa.
"Baik," kata Ibu Yuni
akhirnya.
Suaranya terdengar lebih mantap
sekarang, meski masih ada getar kecil di ujung-ujung kata. Ia telah mengambil
keputusan, setelah berbisik-bisik dengan Pak Kades, setelah menerima anggukan
pelan dari atasannya itu, setelah menarik napas tiga kali dan menghembuskannya
perlahan.
Ia akan membacakan.
Karena itu tugasnya.
Karena tidak ada yang lebih mengerikan
dalam birokrasi desa selain mengabaikan berkas yang sudah masuk. Karena begitu
berkas diterima, ia harus diproses. Itu aturan. Itu prosedur. Itu yang selama
dua puluh tahun ia lakukan.
Maka Ibu Yuni berdiri sedikit lebih
tegak. Tangannya yang masih memegang kertas itu dinaikkan sedikit, sejajar
dengan dadanya. Matanya menatap ke arah peserta rapat, wajah-wajah yang sudah
dikenalnya selama bertahun-tahun, wajah-wajah yang biasanya ia lihat dengan
tenang, tapi malam ini terasa seperti lautan yang tidak bisa diprediksi.
Ia menarik napas panjang.
Panjang sekali, seperti sedang
mempersiapkan paru-parunya untuk menyelam ke dalam air dingin.
Dan mulai membaca.
"Agenda tambahan…"
Jeda.
"Proposal Pengajuan
Perasaan…"
Ia berhenti di situ.
Membiarkan kata-kata itu menggantung
di udara, seperti bau menyengat yang butuh waktu untuk menyebar.
Sunyi.
Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Dan kemudian—
"HAH?!"
Suara itu pecah dari berbagai sudut
ruangan sekaligus, seperti gelombang yang datang dari segala arah.
"Proposal apa?!" teriak Pak
Eko dari barisan belakang, tubuhnya yang tambun setengah bangkit dari kursi.
"Pengajuan… apa tadi?!"
sahut Ibu Ratna, yang sejak tadi mengantuk, kini mendadak segar seperti habis
minum kopi tiga cangkir.
"Ini serius?!" suara Pak
Sugeng terdengar paling keras, paling tidak percaya, paling... tersinggung,
seolah-olah proposal itu adalah penghinaan pribadi terhadap seluruh nilai-nilai
kesopanan yang ia jaga.
Tawa mulai terdengar.
Awalnya kecil. Seperti bisikan.
Seperti angin yang baru mulai bertiup.
Lalu membesar. Seperti api yang
menjalar ke tumpukan kayu kering.
Beberapa orang tertawa terbahak-bahak,
menepuk paha tetangga di sampingnya. Beberapa menutup mulut dengan tangan,
berusaha sopan tapi gagal. Beberapa hanya menggeleng-gelengkan kepala, sambil
mengusap air mata yang mulai terbentuk di sudut mata karena terlalu banyak
tertawa.
Di belakang, Jojon sudah menutup
mulutnya dengan kedua telapak tangan, menahan tawa yang hampir meledak keluar
seperti gunung berapi yang tidak bisa lagi ditahan. Bahunya naik turun. Matanya
berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena terlalu menahan ledakan tawa yang
ingin pecah.
"Ini bukan rapat… ini
tontonan," bisiknya pada Hermansyah di sampingnya, dengan suara yang
tercekat-cekat karena tawa. "Besok kalau ada yang tanya, aku akan bilang:
aku menyaksikan sejarah."
Sementara itu, Yunita membeku.
Tangannya yang memegang pena perlahan
berhenti bergerak. Pena itu masih terjepit di antara jari telunjuk dan jari
tengahnya, tapi ujungnya tidak lagi menyentuh kertas. Catatan yang sedetik lalu
ia tulis dengan rapi tentang agenda sebelumnya, kini berhenti di tengah
kalimat.
Ia tidak perlu melihat isi lengkap
proposal itu.
Ia tidak perlu mendengar kelanjutan
pembacaan Ibu Yuni.
Ia tahu.
Ia tahu siapa yang membuatnya.
Bukan karena ia membaca draftnya
sebelumnya. Bukan karena ada yang memberitahunya. Tapi karena ia mengenal
tulisan itu. Ia sudah terlalu sering membaca laporan-laporan yang ditulis oleh
pemuda itu, laporan yang selalu sedikit berbeda dari yang lain, selalu punya
gaya bahasa yang khas, selalu menyelipkan opini di antara fakta, selalu
membuatnya antara kesal dan kagum pada saat yang bersamaan.
Dan karena ia tahu, mungkin sudah lama
tahu, bahwa suatu hari, pemuda itu akan melakukan sesuatu yang tidak biasa.
Yunita tidak pernah membayangkan akan
seperti ini.
Tapi di dalam hatinya yang paling
dalam di bagian yang tidak pernah ia akui bahkan pada dirinya sendiri, ia tahu.
Bayu Andika tidak pernah melakukan
sesuatu dengan cara biasa.
Dan malam itu, ia membuktikannya.
Perlahan, seperti air yang meresap ke
dalam tanah, semua mata mulai beralih ke satu arah.
Ke sudut ruangan.
Ke kursi dengan kaki goyang.
Ke seseorang yang masih duduk diam,
dengan tangan saling menggenggam, dengan mata menunduk ke lantai.
"Bayu…"
"Ini kamu ya?"
"Kamu serius?!"
Suara-suara itu datang bertubi-tubi,
seperti hujan batu. Ada yang masih tertawa, ada yang mulai penasaran, ada yang
sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan.
Bayu tidak langsung menjawab.
Ia membiarkan semua suara itu datang.
Membiarkan semua tatapan itu menghujani dirinya. Membiarkan ruangan yang
tadinya sunyi kini bergemuruh dengan tanya.
Ia mengangkat wajahnya pelan.
Satu per satu, ia menatap orang-orang
di ruangan itu. Pak Eko yang masih setengah berdiri. Ibu Ratna yang kini duduk
dengan kedua tangan di dada, seperti sedang menonton sinetron. Pak Sugeng yang
wajahnya merah padam karena menahan emosi. Jojon yang masih tertawa meski sudah
berusaha berhenti.
Lalu matanya berhenti pada satu orang.
Yunita.
Yunita menunduk.
Tidak berani menatap balik.
Bayu tersenyum kecil, senyum yang
tidak ada yang bisa memastikan apakah itu senyum percaya diri atau senyum gugup
yang disamarkan.
Lalu ia berdiri.
Kursinya bergeser ke belakang dengan
suara seret yang keras di lantai semen.
"Iya, Pak," katanya.
Suaranya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja meledakkan bom
di tengah rapat desa. "Saya yang membuat."
Ruangan kembali hening.
Tapi kali ini… bukan karena bingung.
Kali ini, semua orang mulai menyadari
sesuatu: bahwa tidak ada senyum malu di wajah Bayu. Tidak ada gelagat orang
yang ketahuan bercanda. Tidak ada tanda-tanda bahwa ini adalah leluasan yang
keliru.
Ini serius.
Bayu Andika, pemuda idealis yang
selalu berdebat tentang jalan desa dan anggaran pembangunan, baru saja mengajukan
proposal cinta. Di forum rapat desa. Di hadapan puluhan orang. Dengan format
yang sama seperti proposal pembangunan drainase.
Ini bukan sekadar candaan.
Ini adalah sesuatu yang belum pernah
terjadi di Desa Awan Biru sepanjang sejarah.
Dan di depan, Pak Kades Iwan
menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kayu. Tangannya menyilang di dada.
Matanya menatap Bayu dengan campuran heran, penasaran, dan mungkin, sedikit
kagum. Karena meskipun ini di luar nalar, ia tidak bisa tidak menghargai
keberanian pemuda itu.
"Kamu tahu ini forum apa?"
tanya Pak Kades. Suaranya tidak marah. Tidak juga bercanda. Hanya… ingin tahu.
Bayu mengangguk.
"Forum desa, Pak."
"Dan kamu bawa… itu?"
Bayu tersenyum kecil lagi. Senyum yang
sama. Misterius. Menggoda. Seperti orang yang tahu bahwa ia melakukan sesuatu
yang gila, tapi ia bangga dengan kegilaan itu.
"Karena saya pikir… kalau sesuatu
itu penting, harus disampaikan dengan serius."
Pak Kades Iwan mengangguk pelan. Tidak
setuju. Tidak juga menolak. Hanya… menerima.
"Lanjutkan," katanya.
Beberapa orang saling pandang.
Sebagian masih ingin tertawa, karena ini lucu, tidak bisa dipungkiri. Sebagian
mulai berpikir, mungkin ini tidak sesederhana yang terlihat. Sebagian lain
hanya diam, menunggu, seperti penonton yang tidak tahu apakah ini drama atau
komedi.
Yunita menunduk lebih dalam.
Jantungnya berdegup lebih cepat dari
biasanya.
Jauh lebih cepat.
Dan di dalam dadanya, ada perasaan
aneh yang tidak bisa ia beri nama. Bukan marah. Bukan malu. Bukan senang.
Tapi sesuatu di antaranya.
Sesuatu yang membuat ia ingin berlari
keluar ruangan, tapi juga membuat ia ingin tetap duduk, ingin mendengar, ingin
tahu apa yang akan dikatakan Bayu selanjutnya.
"Dan kenapa harus di sini?"
tanya Pak Kades lagi.
Bayu terdiam sejenak.
Matanya, yang sedetik tadi menatap ke
depan, ke arah panggung, kini beralih. Perlahan. Dengan sengaja.
Menatap Yunita.
Langsung ke arah Yunita.
Yunita merasakan tatapan itu meski ia
tidak menengok. Ada panas di pipinya. Ada getar di sekujur tubuhnya. Ada
sesuatu yang membuatnya ingin menghilang, tapi juga ingin tetap ada.
Bayu menjawab. Pelan. Jelas.
"Karena saya tidak ingin
main-main."
Kalimat itu menggantung di udara.
Sederhana.
Tapi berat.
Tidak ada yang langsung membalas.
Tidak ada yang tertawa lagi.
Untuk pertama kalinya sepanjang rapat
malam itu, mungkin untuk pertama kalinya sepanjang sejarah rapat desa, forum
yang biasanya penuh suara, penuh perdebatan, penuh dengan orang-orang yang
tidak pernah kehabisan kata-kata…
Kehilangan kata-kata.
Pak Eko yang tadinya setengah berdiri,
kini duduk kembali.
Ibu Ratna yang tadinya menyilangkan
tangan di dada, kini menurunkannya.
Pak Sugeng yang tadinya wajahnya merah
padam, kini. untuk pertama kalinya, diam.
Dan di tengah keheningan itu, Bayu
Andika berdiri tegak.
Bukan sebagai pemuda yang malu.
Bukan sebagai orang yang ketahuan.
Tapi sebagai seseorang yang telah
mengambil keputusan.
Dan siap menghadapi apa pun yang akan
terjadi.
Keheningan itu tidak bertahan lama.
Karena dari sinilah semuanya dimulai.
Perdebatan.
Tawa.
Sindiran.
Keputusan.
Dan sebuah perjalanan yang tidak
pernah direncanakan, tentang seorang pemuda yang mencoba menyusun cinta dengan
cara yang terlalu rapi, dan seorang perempuan yang berusaha menjaga hati agar
tidak ikut berantakan.
Tapi itu semua masih akan datang.
Malam itu, di Kantor Desa Awan Biru,
yang terjadi hanyalah sebuah kejutan.
Sebuah kejutan yang akan menjadi
cerita yang diceritakan dari mulut ke mulut, dari warung kopi ke warung kopi,
dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Malam itu, Desa Awan Biru mencatat
sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam buku administrasi mana pun:
Bahwa cinta…
Untuk pertama kalinya…
Resmi masuk ke dalam agenda rapat
desa.
Dan tidak ada satu pun dari mereka
yang tahu, baik Pak Kades yang termenung di kursinya, maupun Ibu Yuni yang
masih memegang kertas bergetar, maupun Jojon yang masih tertawa di sudut
ruangan, maupun Yunita yang jantungnya berdegup kencang, maupun Bayu yang
berdiri dengan keberanian yang hampir pecah, bahwa keputusan yang akan diambil
nanti, tidak hanya akan menentukan nasib sebuah proposal…
Tapi juga dua hati yang belum sempat
saling memahami.
Sebuah kisah pun dimulai.
BAB 1: Pemuda, Mimpi,
dan Secangkir Kopi
Pagi di Desa Awan Biru selalu datang
dengan cara yang sederhana.
Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan
bermotor yang saling mendahului. Tidak ada suara klakson yang memecah
ketenangan. Tidak ada aroma polusi yang menyengat hidung.
Yang ada hanyalah suara ayam berkokok
yang bersahutan dari berbagai penjuru dari kandang milik Pak RT 01, dari
belakang rumah Bu Lulu, dari halaman rumah Pak Kades yang meskipun sudah tua,
ayam-ayamnya tetap setia membangunkan desa setiap pagi. Suara-suara itu seperti
orkestra alam yang tidak pernah absen, tidak pernah terlambat, dan tidak pernah
meminta bayaran.
Kabut tipis masih menggantung di
antara pepohonan karet yang berbaris rapi di sepanjang jalan utama desa. Kabut
itu seperti selimut lembut yang belum benar-benar ditarik, membuat segalanya
tampak sedikit misterius, sedikit basah, dan sedikit seperti mimpi yang masih
setengah terjaga. Daun-daun karet yang basah oleh embun meneteskan air ke
tanah, menciptakan irama kecil yang hanya bisa didengar jika seseorang cukup
sabar untuk diam.
Dan aroma tanah basah, aroma yang
tidak bisa ditiru oleh parfum termahal sekalipun, menguar lembut, seperti
cerita lama yang terus diceritakan kembali, dari generasi ke generasi, tanpa
pernah bosan.
Ini adalah pagi di Desa Awan Biru.
Pagi yang sama selama puluhan tahun.
Pagi yang membuat siapa pun yang
merantau, pada akhirnya akan merindukannya.
Namun bagi Bayu Andika, pagi bukan
sekadar awal hari.
Bagi Bayu, pagi adalah waktu untuk
berpikir.
Dan kadang, terlalu sering, menurut
teman-temannya, ia berpikir terlalu banyak.
"Yu! Ngopi dulu, jangan mikir
terus, nanti cepat tua!"
Suara itu berasal dari warung kecil di
tikungan RT 02. Warung milik Mbah Karyo, seorang lelaki tua berusia tujuh puluh
tahun yang tubuhnya sudah mulai membungkuk, tapi matanya masih tajam seperti
elang. Mbah Karyo sudah membuka warung ini sejak sebelum desa ini punya listrik.
Dulu warungnya hanya berupa meja kayu di bawah pohon rindang. Kini, sudah ada
atap seng, beberapa bangku kayu, dan satu etalase kaca yang berisi aneka
jajanan, meskipun yang paling laku tetaplah kopi.
Warung Mbah Karyo bukan sekadar tempat
minum kopi.
Itu adalah pusat informasi desa,
tempat di mana berita paling cepat menyebar. Itu adalah ruang diskusi, tempat
di mana para pemuda berdebat tentang politik nasional seolah-olah mereka
anggota DPR. Itu adalah ruang keluh kesah, tempat di mana para petani
mengeluhkan harga pupuk yang naik terus, dan para ibu mengeluhkan tingkah laku
anak-anak mereka. Dan kadang,, pada malam-malam tertentu, itu adalah ruang
untuk melupakan kenyataan, diiringi kopi hangat dan cerita-cerita lama yang
tidak pernah habis.
Bayu datang dengan langkah santai.
Kakinya yang bersandal jepit menapaki jalan tanah yang masih sedikit becek
karena embun pagi. Ia mengenakan kaos oblong lengan pendek berwarna abu-abu, yang
sudah mulai pudar karena terlalu sering dicuci dan celana panjang kain hitam
yang sedikit kusut di bagian lutut, karena ia biasa duduk bersila.
Rambutnya masih acak-acakan. Matanya
masih sedikit sayu. Tanda-tanda seseorang yang baru bangun tidur dan belum
benar-benar siap menghadapi dunia.
"Seperti biasa, Mbah. Kopi hitam,
tanpa gula."
Mbah Karyo tersenyum tipis. Senyum
yang sudah ia latih selama puluhan tahun melayani pelanggan—ramah, tapi tidak
berlebihan. Hangat, tapi tetap menjaga jarak.
"Pahit terus hidupmu itu,
Yu."
Bayu duduk di bangku kayu yang sudah
mulai lapuk. Bangku itu sudah berwarna coklat tua, dengan serat kayu yang mulai
mengelupas di beberapa bagian. Tapi bangku itu kokoh. Sudah bertahan puluhan
tahun, sama seperti warungnya. Sama seperti Mbah Karyo.
"Biar seimbang, Mbah," jawab
Bayu sambil menyandarkan punggungnya ke tiang kayu yang menopang atap seng.
"Dunia sudah terlalu manis dengan janji-janji rapat."
Mbah Karyo tertawa kecil. Tawanya
serak, seperti suara kayu tua yang digesek.
"Janji-janji rapat emang manis,
Yu. Tapi nggak pernah ada yang beneran jadi kenyataan."
"Makanya saya minum pahit, Mbah.
Biar sadar."
Belum sempat Mbah Karyo membalas,
suara tawa pecah dari sudut warung.
"Wah, mulai lagi
filosofinya!"
Bambang, sahabat Bayu sejak SD, yang
kini bekerja sebagai fotografer lepas dan videografer dadakan untuk acara-acara
desa, datang sambil membawa kamera kecil yang selalu menggantung di lehernya.
Kamera itu sudah usang, dengan selotip hitam di beberapa bagian, tapi Bambang
merawatnya seperti anak sendiri. Ia tidak pernah pergi ke mana pun tanpa kamera
itu, seolah-olah takut kehilangan momen berharga yang tidak akan pernah
terulang.
"Kalau kamu jadi penulis, laku
itu," lanjut Bambang sambil duduk di samping Bayu. Ia meletakkan kameranya
dengan hati-hati di atas meja kayu yang juga sudah lapuk, lalu menyandarkan
tubuhnya ke tiang yang sama. "Daripada jadi aktivis rapat yang tiap minggu
marah-marah."
Bayu mengangkat alis. Satu alisnya naik,
yang lain tetap di tempat, ekspresi khasnya ketika ia sedang akan melontarkan
balasan pedas.
"Setidaknya aku marah karena
peduli," katanya santai. "Bukan karena konten."
Bambang tertawa. "Lah, peduli
juga bisa jadi konten, Yu!"
Bayu tersenyum. "Konten tanpa
keberanian cuma jadi hiburan. Dan desa ini sudah terlalu banyak hiburan
murahan."
"Kamu tuh," Bambang menunjuk
Bayu dengan jari telunjuknya, "kalau diajak santai, malah jadi debat. Awas
nanti cepet pikun."
"Justru dengan debat aku mencegah
kepikunan," balas Bayu tanpa jeda. "Kamu yang berhenti debat, nanti
otakmu dipakai buat apa? Cuma untuk mengingat letak kamera?"
Mbah Karyo tertawa lagi dari balik
meja. "Wah, baru pagi sudah panas begini. Nanti siang bisa kebakaran
desa."
Jojon muncul tiba-tiba, seperti biasa,
tanpa suara, tanpa peringatan, seolah-olah ia lahir dari udara tipis. Tubuhnya
kurus, hampir kurus sekali, dengan rambut yang selalu sedikit berantakan
meskipun sudah diolesi gel. Ia adalah pemilik kanal YouTube "Dunia
Jojon" yang kontennya tidak pernah jelas temanya. Kadang vlog, kadang
prank, kadang review makanan, kadang liputan acara desa. Yang jelas, subscriber-nya
sedikit, tapi ia tidak pernah menyerah.
"Eh, pada ngapain?" tanyanya
sambil duduk di bangku seberang, langsung mengambil posisi seperti sedang
syuting. Tangannya yang bebas langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana
pendeknya, celana pendek yang sama yang ia kenakan hampir setiap hari, dengan
motif kotak-kotak yang sudah pudar.
"Ngopi," jawab Bambang
singkat.
"Ngomongin apa?"
"Filsafat hidup," sahut Bayu
tanpa ekspresi.
Jojon mengernyit. "Filsafat hidup
jam segini? Nggak keburu sarapan dulu?"
"Filsafat itu nggak kenal waktu,
Jon," Bayu menatap Jojon dengan mata setengah menyipit. "Justru pagi
hari adalah waktu terbaik untuk merenungkan keberadaan. Karena di pagi hari,
antara sadar dan mimpi masih tipis. Kadang kita nggak tahu apakah kita benar-benar
hidup atau hanya karakter dalam mimpi seseorang."
Jojon membelalakkan mata. "Anjir,
Bayu. Aku baru bangun tidur, otakku masih setengah mati. Jangan diajak mikir
berat-berat."
Bambang tertawa. "Makanya jangan
tanya-tanya kalau belum siap."
"Tapi serius," Jojon
mencondongkan tubuh ke depan, "lo nggak capek jadi orang paling serius di
desa ini? Semua orang santai-santai, lo malah mikirin masa depan desa, ngurusin
proposal ini itu, debat sama Pak Kades... buat apa sih?"
Bayu menyesap kopinya pelan-pelan. Kopi
hitam pekat itu pahit, seperti biasa. Pahit yang ia nikmati, bukan karena ia
suka pahit, tapi karena pahit mengingatkannya bahwa hidup tidak selalu manis dan
tidak perlu selalu manis untuk berarti.
"Biar desa ini nggak mati,
Jon," jawabnya akhirnya. "Kamu lihat sendiri, pemuda di sini makin
sedikit. Yang pinter pada merantau. Yang kreatif pada pindah kota. Yang tersisa
cuma yang... ya gitu deh."
"Yang gitu apanya?" Jojon
mengernyit.
"Yang cuma bisa nyeletuk di
warung kopi tanpa aksi nyata."
Jojon terdiam. Ia tahu itu sindiran
untuknya. Tapi ia memilih untuk tidak ambil pusing—karena begitulah Jojon.
"Gue nyeletuk juga buat konten,
Yu," katanya sambil tersenyum lebar. "Konten tuh butuh interaksi.
Interaksi butuh orang. Orang butuh hiburan. Jadi... ya, gue berkontribusi
secara tidak langsung."
Bayu menggeleng pelan, tapi senyumnya
tidak hilang. "Kamu itu alasanmu muter-muter, Jon. Bikin pusing."
"Yang penting nggak buntu,"
Jojon berdecak bangga.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki
terdengar dari arah jalan. Langkah kaki yang khas, pasti, teratur, tidak
tergesa-gesa tapi juga tidak lambat.
Nadya.
Nadya adalah satu-satunya perempuan di
antara kelompok pemuda yang sering nongkrong di warung Mbah Karyo. Tapi jangan
salah, ia bukanlah "salah satu dari mereka" dalam artian ikut-ikutan.
Nadya adalah sosok yang berdiri sendiri. Ia bekerja sebagai asisten
administrasi di kantor kecamatan, dan sering kali menjadi jembatan antara desa
dan kecamatan. Ia tahu seluk-beluk birokrasi lebih baik daripada siapa pun di
desa ini—mungkin lebih baik dari Yunita sekalipun, meskipun ia tidak akan
pernah mengakuinya.
Ia datang dengan membawa map. Map
coklat yang selalu ia bawa ke mana-mana, berisi dokumen-dokumen yang tidak
pernah ia buka di depan umum, karena isinya rahasia dinas, atau mungkin karena
isinya hanya daftar belanja dan coretan-coretan iseng, tidak ada yang tahu
pasti.
Nadya duduk di sebelah Bayu tanpa
permisi, seperti biasa. Ia tidak pernah meminta izin untuk duduk di mana pun, karena
ia percaya bahwa dunia ini milik semua orang, dan kursi kosong adalah undangan
untuk diduduki.
"Kamu tahu nggak, tadi pagi
Yunita nyari kamu," katanya sambil membuka map-nya, pura-pura sibuk
mencari sesuatu padahal ia hanya ingin menyampaikan pesan itu dengan santai.
Bayu yang tadinya santai, menyesap
kopi, bersandar di tiang kayu, dengan ekspresi datar, tiba-tiba terdiam.
Hanya sekejap.
Tapi cukup untuk dilihat oleh Bambang
yang jeli, dan cukup untuk dicatat oleh Jojon yang mulai menyadari bahwa ini
adalah momen yang layak diabadikan.
"Ngapain?" tanya Bayu.
Suaranya berusaha datar, tapi ada nada yang sedikit naik di akhir kata.
"Katanya ada berkas yang harus
direvisi," jawab Nadya tanpa mengangkat wajah dari map-nya. "Berkas
proposal kegiatan pemuda yang kamu ajukan minggu lalu."
Bayu menghela napas. Lega? Atau
kecewa? Tidak ada yang tahu.
Bambang langsung menyikut pelan lengan
Bayu. Sikutannya kecil, tapi penuh makna—seperti kode rahasia antara dua
sahabat yang sudah saling mengenal sejak masih belajar berhitung.
"Berkas atau alasan, Yu?"
bisik Bambang dengan senyum menyeringai.
Jojon langsung mengangkat ponselnya.
"Konten nih! 'Pemuda Desa yang Suka Rahasia'!"
Bayu menoleh ke arah Jojon dengan
tatapan tajam. "Kalau kameranya nggak segera kamu turunkan, besok aku
laporin ke Pak Kades kalau kamu ngerekam rapat tanpa izin."
Jojon langsung menurunkan ponselnya
dengan cepat. "Siap, komandan. Gak usah marah-marah."
Tawa pecah di warung itu.
Tapi di balik tawa itu, Bayu tidak
bisa mengalihkan pikirannya dari nama yang baru saja disebut.
Yunita.
Nama itu selalu punya cara sendiri
untuk membuat suasana di dalam kepala Bayu berubah.
Dari yang tadinya penuh argumen,
logika, dan hitam-putih...
Menjadi penuh kemungkinan.
Penuh tanya.
Penuh warna-warna yang tidak pernah ia
pelajari di bangku kuliah.
Ia menyesap kopinya lagi, lebih dalam
kali ini. Kopi pahit itu terasa berbeda. Bukan karena kopinya berubah, tapi
karena lidahnya sedang sibuk memikirkan hal lain.
Yunita nyari aku, pikirnya. Padahal revisi bisa lewat email. Bisa
lewat WA. Bisa lewat siapa pun.
Kenapa harus cari langsung?
Atau...
Mungkin Bambang benar?
Mungkin ini bukan sekadar revisi?
Bayu menggeleng pelan, mencoba
mengusir pikiran-pikiran itu. Tapi seperti biasa, begitu Yunita masuk ke
kepalanya, ia sulit dikeluarkan.
Kantor Desa Awan Biru tidak besar.
Bangunannya terbuat dari batu bata
yang dicat putih, dengan atap genteng merah yang mulai ditumbuhi lumut di
beberapa bagian. Di depan kantor, ada halaman yang cukup luas, sering digunakan
untuk upacara hari kemerdekaan atau pertemuan warga jika balai desa tidak cukup
menampung.
Di dalamnya, ada lima meja, satu untuk
Pak Kades, satu untuk Ibu Yuni (Sekdes), satu untuk Yunita (administrasi), satu
untuk Si Amat (IT dan kearsipan), dan satu meja kosong yang kadang digunakan
oleh tamu atau pegawai tidak tetap.
Tumpukan berkas ada di mana-mana. Di
atas meja, di rak, di lantai dekat lemari arsip. Printer—sebuah mesin tua yang
bunyinya seperti orang batuk, berbunyi setiap beberapa menit, mengeluarkan
kertas demi kertas yang entah untuk apa. Dan sesekali, nada dering telepon, telepon
kabel yang masih tersisa dari era 90-an, memecah kesunyian dengan nada yang
sudah tidak asing lagi.
Suasana kantor selalu sama setiap
hari.
Tapi hari ini, bagi Yunita, terasa
sedikit berbeda.
Ia duduk di mejanya, rapi seperti
biasa. Kemeja putih, rambut diikat ke belakang dengan gaya sederhana, tidak
pernah berubah, karena perubahan adalah musuh efisiensi. Ekspresinya sulit
ditebak, tidak marah, tidak senang, tidak sedih. Hanya... datar. Seperti danau
yang tenang di permukaan, tapi siapa tahu apa yang ada di kedalamannya?
"Bayu, ini revisinya belum
sesuai," katanya tanpa menoleh.
Ia tahu Bayu sudah masuk. Ia bisa mendengar
langkah kakinya dari jauh, langkah yang tidak tergesa-gesa, sedikit berat,
seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu sambil berjalan.
Bayu berdiri di depannya. Sedikit
canggung. Tangannya, yang biasanya bergerak aktif saat berdebat—kini terlipat
di dada, atau di saku celana, atau sesekali menggaruk belakang lehernya—tanda
bahwa ia sedang gugup, meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya.
"Bagian mana yang salah,
Yun?"
Yunita menunjuk beberapa bagian di
berkas itu dengan ujung pena-nya. Gerakannya cepat, tepat, tanpa keraguan.
"Formatnya. Kamu terlalu banyak
menambahkan opini pribadi. Proposal itu harus faktual, objektif, dan
terstruktur. Ini bukan esai."
Bayu tersenyum. Senyum yang ia simpan
khusus untuk momen-momen seperti ini, ketika ia ingin mengatakan sesuatu yang
sedikit nyeleneh, tapi tetap ingin didengar.
"Kalau semua harus sesuai format,
terus di mana letak manusianya?"
Yunita akhirnya menatapnya.
Matanya, coklat gelap, dengan sorot
yang tajam seperti pisau bedah, menembus Bayu. Tidak dengan marah, tidak dengan
benci, tapi dengan sesuatu yang lebih mengerikan: analisis.
"Di dalam aturan, Bayu. Justru
supaya tidak semrawut."
"Kadang yang terlalu rapi itu
malah bikin kita nggak berani jujur," balas Bayu pelan. Tidak berdebat.
Hanya... menyampaikan. Seperti orang yang menuangkan isi hati tanpa
mengharapkan balasan.
Yunita terdiam sejenak.
Ada jeda.
Jeda yang terasa lebih panjang dari
biasanya.
Jeda di mana Yunita memikirkan
kata-kata itu. Memikirkannya lebih dalam daripada yang seharusnya.
Memikirkannya sampai hampir, hampir saja, membuat ia lupa bahwa ini adalah
urusan pekerjaan.
Tapi hanya hampir.
Lalu ia kembali menunduk, berpura-pura
fokus pada berkas. Padahal pikirannya mulai tidak fokus. Padahal huruf-huruf di
kertas itu mulai menari-nari, membentuk wajah seseorang.
"Perbaiki dulu," katanya,
suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya. "Nanti kita bahas
lagi."
Bayu mengangguk. Ia mengambil berkas
itu dari meja Yunita, jari-jari mereka hampir bersentuhan—tapi Yunita menarik
tangannya lebih cepat dari yang diperlukan.
Bayu tidak bergerak.
Ia masih berdiri di sana, memegang
berkas itu, seolah-olah berkas itu adalah sesuatu yang lebih berharga daripada
sekadar kertas.
"Yun..." panggilnya pelan.
Yunita tidak mengangkat wajah. Tapi ia
tidak menyela. Itu sudah lebih dari cukup.
"Kamu pernah nggak sih, ingin
melakukan sesuatu tanpa mikir aturan?"
Yunita tidak langsung menjawab.
Pena di tangannya berhenti bergerak.
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa
lebih berat.
Lalu, setelah jeda yang panjang, jeda
yang membuat Bayu hampir menyesal telah bertanya—Yunita menjawab.
"Pernah."
Satu kata.
Tapi cukup untuk membuat jantung Bayu
berdegup lebih cepat.
Ia menatap Yunita, menunggu
kelanjutan.
Tapi tidak ada kelanjutan.
Yunita hanya duduk di sana, dengan
wajah yang tetap datar, dengan tangan yang masih memegang pena, dengan mata
yang masih menunduk ke kertas.
Seolah-olah kata "pernah"
itu tidak berarti apa-apa.
Tapi Bayu tahu.
Itu berarti segalanya.
Sore hari, warung Mbah Karyo kembali
ramai.
Langit mulai berubah warna, dari biru
terang menjadi jingga keemasan, seperti lukisan yang sedang dikerjakan oleh
pelukis paling sabar di dunia. Matahari yang hendak tenggelam menyembunyikan
diri di balik bukit-bukit di sebelah barat, meninggalkan sisa-sisa cahaya yang
hangat dan lembut.
Angin sore berhembus pelan, membawa
aroma kopi yang lebih hangat dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan, karena
kopi di sore hari selalu terasa lebih nikmat daripada di pagi hari.
Bayu duduk diam.
Ia tidak banyak bicara sejak tiba. Ia
hanya duduk di bangku favoritnya, yang di sudut, menghadap ke jalan, sehingga
ia bisa melihat siapa pun yang lewat. Cangkir kopinya sudah setengah kosong.
Dingin. Tapi ia tidak peduli.
"Ini bukan soal berkas lagi,
kan?" tanya Bambang yang duduk di sampingnya.
Bayu menghela napas panjang. Napas
yang keluar dari paru-paru terdengar berat, seperti orang yang sedang menghela
beban yang tidak terlihat.
"Bang... menurutmu, kalau kita
suka sama seseorang, harus gimana?"
Bambang yang sedang menyesap kopinya,
tiba-tiba tersedak.
"Wah, ini baru topik
serius!" serunya setelah berhasil mengendalikan batuknya. Matanya berbinar.
Ini adalah topik yang selama ini ia tunggu-tunggu dari Bayu, pemuda yang
terlalu sibuk dengan idealisme desa sampai lupa bahwa ia juga manusia dengan
perasaan.
Jojon langsung mengeluarkan ponselnya,
refleks, seperti orang yang mendengar suara sirine dan langsung mencari sumber
kebakaran.
"Konten lagi nih! 'Konseling
Cinta ala Warung Kopi'!"
"Serius, Jon!" bentak Bayu.
Tapi nadanya tidak marah. Lebih seperti setengah tertawa, setengah pasrah.
"Ini bukan buat konten."
Jojon menurunkan ponselnya sedikit, tapi
tidak dimasukkan ke saku. "Loh, justru karena bukan buat konten, itu
konten terbaik! Otentik! Real! Tanpa rekayasa!"
"Nanti kalau videonya viral, aku
minta separuh," sahut Bambang sambil tertawa.
Bayu menggeleng. "Kalian ini
nggak bisa serius."
Nadya yang sejak tadi diam, duduk di
bangku seberang, sesekali menyesap kopinya yang sudah dingin—akhirnya ikut
bicara. Suaranya tenang, seperti biasa. Tidak berlebihan. Tidak terlalu pelan.
Pas.
"Ya bilang aja. Sederhana."
Bayu menggeleng. "Nggak
sesederhana itu."
"Kenapa?" tanya Nadya.
Matanya menatap Bayu dengan serius. Nadya tidak pernah bercanda tentang urusan
hati. Mungkin karena ia tahu bahwa hati bukanlah bahan lelucon.
Bayu menatap cangkir kopinya. Kopi
hitam yang sudah dingin dan pahit itu seperti cermin, memantulkan wajahnya yang
sedang bingung.
"Karena aku nggak mau asal. Aku
mau jelas. Terarah. Nggak main-main."
Bambang menyeringai. Seringainya
lebar, sampai terlihat gusi depannya yang sedikit maju ke depan.
"Jangan-jangan kamu mau bikin
proposal lagi?"
Bayu terdiam.
Tidak menjawab.
Tidak menggeleng.
Tidak mengangguk.
Hanya diam.
Semua orang di warung itu, Bambang,
Jojon, Nadya, bahkan Mbah Karyo yang sedang mengelap gelas di balik meja, langsung
saling pandang.
Ada keheningan yang tidak biasa.
Keheningan yang membuat bulu kuduk
merinding.
"Eh..." Jojon memecah
keheningan dengan suara yang sedikit bergetar antara takut dan penasaran.
"Kamu serius?"
Bayu tersenyum kecil.
Senyum yang sama dengan senyumnya di
balai desa malam itu.
Senyum misterius.
Senyum orang yang tahu bahwa ia sedang
merencanakan sesuatu yang gila.
"Kalau sesuatu itu penting,
kenapa nggak dipersiapkan dengan baik?"
Bambang menepuk jidatnya. Bunyi 'plak'
terdengar keras di sore yang tenang.
"Ini orang beda memang..."
Jojon mengangkat ponselnya lagi. Kali
ini dengan niat yang lebih serius.
"Gue rekam ini. Biar jadi bukti
sejarah. Suatu hari nanti, kalau Bayu jadi orang terkenal, video ini bakal
ditayangkan di TV nasional."
"Kalau aku jadi orang gila, video
itu bakal diputar di rumah sakit jiwa," balas Bayu tanpa ekspresi.
Tawa pecah lagi.
Tapi di balik tawa itu, Nadya
memperhatikan Bayu dengan seksama.
Ia melihat sesuatu yang tidak dilihat
oleh Bambang dan Jojon.
Ia melihat ketegasan di mata Bayu.
Ketegasan yang jarang dimiliki oleh
pemuda seusianya.
Dan ia tahu, karena Nadya adalah
pengamat yang baik, bahwa Bayu Andika tidak sedang bercanda.
Malam mulai turun di Desa Awan Biru.
Lampu-lampu rumah menyala satu per
satu, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Suara jangkrik mulai mendominasi,
menggantikan suara burung yang sudah beristirahat. Sesekali, suara tokek dari
balik genteng menambah irama malam yang tidak pernah berubah.
Di kamarnya yang sederhana, berukuran
tiga kali empat meter, dengan dinding bata yang tidak diplester, dan atap seng
yang berbunyi 'tek tek tek' ketika hujan turun, Bayu duduk di depan meja kecil.
Meja itu sebenarnya bukan meja
belajar. Itu adalah meja kayu bekas yang dulu digunakan ibunya untuk menjahit.
Kini, setelah ibunya meninggal dua tahun lalu, meja itu menjadi tempat Bayu
menulis, membaca, dan malam itu merencanakan sesuatu yang belum pernah ia
rencanakan sebelumnya.
Sebuah kertas kosong terbentang di
depannya.
Kertas HVS biasa, bukan kertas
proposal. Tapi bagi Bayu, kertas ini lebih berharga dari kertas apa pun yang
pernah ia gunakan untuk menulis proposal desa.
Ia menggenggam pena.
Pena murah yang bisa dibeli di warung
mana pun.
Tapi tangannya... tangannya sedikit
gemetar.
Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Bayu, kamu sudah berdiri di depan
puluhan orang untuk berdebat tentang anggaran desa. Kamu sudah berdebat dengan
Pak Kades sampai tengah malam. Kamu sudah melawan bupati dalam rapat
koordinasi. Tapi sekarang... kamu gemetar karena akan menulis sesuatu di
kertas?
Ia menarik napas dalam-dalam.
Lalu mulai menulis.
Perlahan.
Seperti sedang mengukir sesuatu di
batu.
"Proposal Pengajuan Perasaan
kepada Saudari Yunita."
Ia berhenti sejenak.
Membaca ulang.
Tersenyum sendiri.
"Mungkin ini gila..."
gumamnya. Suaranya nyaris tak terdengar di atas suara jangkrik di luar.
Tapi tangannya kembali bergerak.
Menulis.
Menyusun.
Merangkai sesuatu yang belum pernah
dilakukan orang lain sebelumnya.
Bukan karena ia ingin terkenal.
Bukan karena ia ingin aneh.
Tapi karena ia percaya, dengan segenap
hati idealisnya, bahwa jika sesuatu itu penting, ia harus diperlakukan dengan
serius.
Termasuk cinta.
Termasuk perasaan.
Termasuk keinginan untuk membangun
sesuatu yang nyata dengan seseorang yang selama ini hanya ia lihat dari
kejauhan, di balik meja kerja, di balik tumpukan berkas, di balik tembok
keteraturan yang ia bangun sendiri.
Di luar, angin malam berhembus pelan.
Seolah membawa pesan bahwa sesuatu
yang sederhana...
Akan segera berubah menjadi sesuatu
yang luar biasa.
Dan Bayu belum tahu,
Bahwa langkah kecil malam itu
Akan mengguncang seluruh Desa Awan
Biru.
BAB 2: Yunita dan Dunia
yang Terlalu Rapi
Pagi di kantor Desa Awan Biru selalu
dimulai dengan suara yang sama.
Ketikan keyboard dari meja Si Amat, yang
meskipun sudah berkali-kali diganti, tetap berbunyi seperti mesin tik jaman
dulu karena tuts-tutsnya yang sudah longgar. Gesekan map dari meja Yunita, map-map
yang setiap pagi ia buka dan tutup dengan gerakan yang begitu efisien sehingga
terlihat seperti tarian yang sudah dilatih ribuan kali. Dan suara napas
orang-orang yang sudah terlalu terbiasa dengan rutinitas, napas yang terdengar
berat, bukan karena lelah, tapi karena bosan.
Tapi bukan hanya suara.
Ada juga aroma.
Aroma kertas tua dari lemari arsip
yang jarang dibuka. Aroma tinta printer yang masih segar dari dokumen-dokumen
yang baru dicetak. Dan aroma kopi, kopi instan murah yang diseduh di cangkir
plastik, diminum oleh pegawai yang butuh kafein untuk bertahan hingga siang.
Di tengah semua itu, Yunita adalah
pusat keteraturan.
"Surat keluar bulan ini harus
diarsipkan ulang. Yang kemarin masih ada yang salah penomoran," ucapnya
tegas. Tidak keras. Tidak berteriak. Tapi tegas, seperti pisau yang memotong
dengan presisi.
Si Amat, pemuda kurus berkacamata
tebal yang selalu terlihat seperti akan mati karena alergi debu setiap kali
membuka lemari arsip, langsung mengangguk cepat. Terlalu cepat. Seperti orang
yang tidak benar-benar mendengar tapi takut dimarahi.
"Iya, Mbak Yunita. Ini lagi saya
cek ulang."
"Jangan cek ulang nanti. Cek
sekarang. Kalau menunda, nanti numpuk. Kalau numpuk, nanti salah lagi. Kalau
salah lagi, nanti kita ulang dari awal. Buang-buang waktu."
Si Amat mengangguk lagi. Kali ini
lebih lambat. Lebih sadar.
"Iya, Mbak. Sekarang."
Di meja lain, Ibu Lulu, Kaur Keuangan
yang sudah berusia lima puluh tahun tapi masih terlihat segar seperti mentimun,
mengintip sambil tersenyum tipis. Senyum yang sudah puluhan tahun ia pakai
untuk menghadapi berbagai macam karakter manusia.
"Kalau Yunita sudah bicara,
berarti tidak ada toleransi ya..."
Yunita hanya membalas dengan senyum
kecil. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum formal. Senyum yang
mengatakan: saya tidak sedang marah, saya hanya sedang bekerja.
Bukan karena ingin terlihat ramah, tapi
karena ia tahu, terlalu serius pun kadang membuat suasana jadi kaku. Dan
suasana yang kaku tidak produktif. Ketidakproduktifan adalah musuh utama
Yunita.
Namun bagi Yunita, keteraturan bukan
sekadar kebiasaan.
Bukan sekadar preferensi.
Bukan sekadar cara kerja.
Itu adalah cara ia menjaga hidupnya
tetap terkendali.
Karena Yunita tahu, mungkin lebih tahu
dari siapa pun di desa itu, bahwa di luar keteraturan, ada kekacauan. Di luar
aturan, ada ketidakpastian. Di luar prosedur, ada luka-luka lama yang tidak
pernah benar-benar sembuh.
Ayahnya, pensiunan PNS yang sekarang
menghabiskan waktu dengan bercocok tanam di belakang rumah, adalah orang yang
mengajarkan pentingnya aturan. "Dengan aturan, hidup jadi jelas,"
katanya dulu. "Kamu tahu batasnya. Kamu tahu hak dan kewajibanmu. Kamu
tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak."
Ibunya, guru SD yang pensiun dua tahun
lalu, mengajarkan bahwa disiplin adalah kunci. "Tidak ada yang instan di
dunia ini," katanya. "Semua butuh proses. Semua butuh ketekunan.
Semua butuh disiplin."
Dan Yunita, putri semata wayang yang
tidak pernah mengecewakan orang tuanya, mengamalkan ajaran itu dengan sempurna.
Terlalu sempurna, mungkin.
Tapi tidak ada yang berani mengatakan
itu padanya.
Kecuali satu orang.
Seorang pemuda yang selalu membawa
opini ke mana-mana, termasuk ke dalam berkas-berkas yang seharusnya netral.
Seorang pemuda yang membuat Yunita
antara kesal dan penasaran setiap kali ia membuka pintu kantor.
Seorang pemuda yang namanya kini
tertulis di pojok kanan atas map biru di mejanya.
Di balik meja kerjanya, Yunita membuka
satu map berwarna biru.
Biru tua. Warna favoritnya, karena
biru adalah warna yang tenang, tidak mencolok, tapi tegas. Biru adalah warna
langit yang tak terbatas, tapi juga warna seragam sekolah yang disiplin.
Nama di pojok kanan atas tertulis
jelas:
Bayu Andika.
Tulisan tangan yang tidak rapi, tidak
seperti tulisan Yunita yang rapi seperti cetakan komputer. Tulisan Bayu
cenderung miring ke kanan, dengan huruf-huruf yang kadang menyambung, kadang
tidak, seolah-olah tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
Yunita berhenti sejenak.
Matanya menatap nama itu lebih lama
dari yang diperlukan.
Entah kenapa, setiap membaca nama itu,
ada sesuatu yang berbeda.
Bukan kesal, meskipun sering kali ia
mengeluh tentang gaya penulisan Bayu yang terlalu banyak opini.
Bukan juga senang, meskipun ia tidak
bisa memungkiri bahwa ada kehangatan aneh setiap kali pemuda itu tersenyum
padanya.
Tapi sesuatu yang sulit dijelaskan.
Sesuatu yang tidak masuk dalam
kategori-kategori rapi yang biasa ia gunakan.
"Kenapa sih dia selalu nulis
dengan gaya seperti ini..." gumamnya pelan. Hanya untuk dirinya sendiri.
Tidak ada yang mendengar, karena semua orang sibuk dengan pekerjaannya
masing-masing.
Ia membaca ulang isi berkas.
Latar belakang: bahwa pemuda desa
perlu wadah untuk mengembangkan kreativitas di bidang digital...
Yunita mengernyit.
Terlalu banyak opini pribadi.
Seharusnya langsung ke inti:
kebutuhan, tujuan, manfaat, dan rencana anggaran.
Tapi dia malah menulis paragraf demi
paragraf tentang "pentingnya adaptasi" dan "ancaman
ketertinggalan digital"...
Yunita menghela napas.
Terlalu jujur.
Terlalu... Bayu.
Ia menutup map itu perlahan.
Lalu bersandar di kursinya, sesuatu
yang jarang ia lakukan, karena bersandar adalah postur orang yang sedang
beristirahat, dan Yunita tidak pernah benar-benar beristirahat saat bekerja.
"Kalau semua orang seperti dia,
mungkin kantor ini sudah jadi tempat diskusi, bukan tempat kerja,"
pikirnya.
Tapi di sudut hatinya, ada satu
kalimat yang tak bisa ia bantah:
Justru karena Bayu berbeda... ia jadi
sulit diabaikan.
Dan itu, lebih dari apa pun, yang
mengganggu Yunita.
Bukan karena ia benci perbedaan.
Tapi karena perbedaan membuatnya
bertanya-tanya.
Dan bertanya-tanya adalah awal dari
ketidakpastian.
Dan ketidakpastian adalah musuh
terbesarnya.
Menjelang siang, pintu kantor sedikit
terbuka.
Bukan suara ketukan, Bayu tidak pernah
mengetuk pintu. Ia hanya membukanya perlahan, dengan gerakan yang santai,
seolah-olah kantor desa adalah rumah keduanya.
"Permisi."
Suara itu.
Yunita tidak langsung menoleh, tapi ia
tahu siapa yang datang.
Ia bisa mengenali suara itu dari
kejauhan. Suara yang tenang, sedikit dalam, dengan nada yang kadang terkesan
meremehkan, tapi tidak pernah benar-benar meremehkan. Hanya... santai. Terlalu
santai untuk ukuran kantor yang penuh tekanan.
"Masuk saja, Bayu."
Bayu melangkah masuk dengan santai,
seperti biasa. Langkah kakinya tidak tergesa-gesa. Tangannya, satu di saku
celana, satu lagi memegang map, bergerak alami.
Tapi hari itu, entah kenapa, ia
terlihat sedikit lebih rapi.
Bajunya, kemeja lengan panjang
berwarna biru muda, disetrika. Tidak terlalu rapi, tapi tidak kusut. Rambutnya,
yang biasanya acak-acakan, kali ini sedikit dirapikan. Mungkin dengan sisir.
Mungkin hanya dengan air. Tapi ada usaha di sana. Usaha yang tidak bisa tidak
diperhatikan oleh Yunita yang jeli.
Kenapa dia rapi hari ini? pikir Yunita. Apakah ada acara? Atau...
Ia tidak menyelesaikan pikirannya.
"Kamu nyari aku?" tanya Bayu
sambil berdiri di depan meja Yunita.
Yunita langsung menyodorkan berkas.
"Ini revisinya belum
sesuai."
Bayu menerima berkas itu. Membuka
sejenak. Membaca. Lalu duduk tanpa diminta, di kursi yang biasanya digunakan
untuk tamu, tepat di samping meja Yunita.
"Bagian mana lagi yang salah, Bu
Sekdes masa depan?"
Yunita menatap tajam.
Tatapan yang bisa membuat pegawai lain
gemetar.
Tapi Bayu hanya tersenyum.
"Kalau kamu tidak serius, lebih
baik tidak usah duduk di sini," kata Yunita. Suaranya dingin. Tidak marah.
Tapi dingin, seperti udara di dalam kulkas.
Bayu tertawa kecil.
"Justru aku serius, Yun."
Suasana tiba-tiba berubah.
Hening.
Bukan hening yang biasa, hening karena
tidak ada yang bicara.
Tapi hening yang berat. Seperti ada
sesuatu yang menggantung di udara, sesuatu yang tidak terlihat tapi bisa
dirasakan.
Yunita menunduk.
Pura-pura membaca berkas lain.
Padahal pikirannya mulai tidak fokus.
Padahal huruf-huruf di kertas itu
mulai kabur.
Bayu membuka berkasnya lagi. Membaca
revisi yang ditandai oleh Yunita dengan stabilo kuning, stabilo favoritnya yang
selalu ia gunakan untuk menandai kesalahan.
"Mungkin aku memang terlalu
banyak menulis yang tidak perlu," katanya pelan. Bukan mengalah. Tapi
mengakui.
Yunita menjawab singkat. "Bukan
tidak perlu. Tapi tidak pada tempatnya."
Bayu mengangguk pelan.
"Jadi... semua harus pada
tempatnya?"
"Iya."
"Kalau perasaan?"
Yunita terdiam.
Bayu melanjutkan. Suaranya lebih pelan
sekarang. Lebih hati-hati. Seperti orang yang berjalan di atas kaca.
"Perasaan juga harus sesuai
tempat?"
Yunita menarik napas panjang.
Napas yang ia gunakan untuk
menenangkan diri.
Napas yang ia gunakan untuk
mengingatkan dirinya bahwa ia adalah pegawai profesional, bahwa ini adalah
urusan pekerjaan, bahwa tidak ada ruang untuk hal-hal lain di sini.
"Kita sedang bicara pekerjaan,
Bayu."
"Tapi hidup nggak cuma soal
pekerjaan, kan?"
Yunita akhirnya menatapnya.
Tatapan yang tidak lagi sekaku
biasanya.
Ada sedikit... goyah.
Sedikit retak di dinding yang selama
ini ia bangun.
"Aku tahu kamu ingin apa,"
katanya pelan. Suaranya hampir berbisik. Hampir tidak terdengar. "Tapi
tidak semua hal harus dibicarakan sekarang."
Bayu tersenyum tipis.
"Berarti masih ada 'nanti'?"
Yunita tidak menjawab.
Ia menunduk lagi.
Tapi kali ini, untuk pertama kalinya,
ia tidak langsung mengalihkan pembicaraan.
Ia membiarkan pertanyaan itu
menggantung.
Membiarkan Bayu menatapnya tanpa ia
balas.
Membiarkan sesuatu yang tidak bisa ia
beri nama itu... ada di antara mereka.
Siang itu, suasana kantor sedikit
berubah.
Jojon muncul dengan kamera kecilnya, tanpa
permisi, tanpa undangan, seperti biasa.
"Konten hari ini: 'Pegawai Desa
Paling Disiplin vs Pemuda Paling Banyak Opini'!"
Yunita menoleh. Matanya menyipit.
"Keluar kamu dari sini!"
serunya. Setengah kesal. Setengah tertawa.
Semua orang tertawa.
Bahkan Yunita... tanpa sadar ikut
tersenyum.
Tersenyum sungguhan.
Tersenyum yang sampai ke mata.
Tersenyum yang jarang ia tunjukkan di
depan umum.
Bayu memperhatikan senyum itu.
Dan untuk sesaat, ia lupa bahwa ia
sedang memegang berkas revisi.
Lupa bahwa ia sedang berdiri di kantor
desa.
Lupa bahwa ada orang-orang di
sekitarnya.
Ia hanya melihat senyum itu.
Dan berpikir: Aku ingin
melihat senyum itu lagi.
Di luar kantor, di bangku panjang di
bawah pohon rindang, Hermansyah dan Herman sedang berdiskusi serius atau
setidaknya berusaha terlihat serius.
Hermansyah adalah kakak tertua dari
kelompok pemuda itu. Usianya tiga puluh tahun, sudah menikah, dan memiliki satu
anak yang masih balita. Ia bekerja sebagai petani seperti kebanyakan orang di
desa ini, tapi ia juga aktif di Karang Taruna. Wajahnya selalu serius, jarang
tersenyum, tapi hatinya lembut. Ia adalah tipe orang yang tidak banyak bicara,
tapi ketika ia bicara, semua orang mendengar.
Herman, adiknya, berbeda. Herman
adalah kebalikan dari Hermansyah. Ia cerewet, suka bercanda, dan tidak pernah
serius. Tapi ia setia. Ia selalu ada ketika dibutuhkan. Ia adalah tipe sahabat
yang akan menemani Anda minum kopi sampai larut malam hanya untuk mendengar
keluhan Anda, meskipun ia tidak akan memberi solusi apa pun.
"Menurutmu, Bayu itu cocok nggak
sama Yunita?" tanya Herman sambil mengunyah permen jeli yang ia beli dari
warung Mbah Karyo.
Hermansyah mengangkat bahu.
"Kalau cocok sih cocok... tapi
caranya itu lho, yang bikin ribet."
"Kenapa?"
"Karena dia terlalu mikir.
Padahal cinta itu kadang butuh nekat."
Herman mengangguk-angguk. "Nekat
kayak apa?"
Hermansyah menatap adiknya.
"Nekat kayak berani bilang langsung. Bukan bikin proposal."
"Wah, kalau Bayu mah beda. Dia
tuh orangnya idealis. Semua harus terencana. Termasuk cinta."
"Ya, itu masalahnya,"
Hermansyah menghela napas. "Cinta itu nggak bisa direncanakan. Cinta itu
terjadi begitu saja. Tiba-tiba. Nggak pakai konsep."
Herman berpikir sejenak. "Tapi
kalau Bayu bikin proposal, kan jadi jelas. Nggak ada yang perlu
ditebak-tebak."
"Justru dengan proposal, jadi
nggak ada kejutan. Padahal kejutan itu bagian dari cinta."
"Kamu ini terlalu puitis, Mas.
Udah ah, makan permen."
Hermansyah tersenyum kecil,
jarang-jarang dan mengambil permen dari tangan Herman.
"Yang jelas," katanya sambil
mengunyah, "apapun yang terjadi, desa ini bakal rame."
Sore hari, kantor mulai sepi.
Satu per satu pegawai pulang, ada yang
naik motor, ada yang jalan kaki, ada yang dijemput keluarga. Lampu-lampu
dimatikan satu per satu. Hanya tersisa lampu meja di sudut ruangan.
Yunita masih duduk di mejanya.
Map biru itu masih terbuka di
depannya.
Ia membaca ulang proposal Bayu.
Bukan proposal kegiatan pemuda yang
sedang direvisi.
Tapi proposal yang lain.
Proposal yang ia simpan di laci
mejanya, tanpa sepengetahuan siapa pun.
Proposal yang tidak pernah ia laporkan
kepada Pak Kades.
Proposal yang membuat ia terjaga
semalaman ketika pertama kali membaca draft-nya.
"Proposal Pengajuan Perasaan
kepada Saudari Yunita."
Yunita membacanya perlahan.
Satu per satu kata.
Satu per satu kalimat.
Seperti sedang menikmati sesuatu yang
tidak boleh ia nikmati.
"Latar Belakang: bahwa perasaan
suka dapat muncul secara alami tanpa dapat direncanakan, namun dapat dikelola
dengan keseriusan..."
Ia tersenyum kecil.
"Tujuan: menjalin hubungan yang
serius, saling mendukung, dan berpotensi menuju masa depan bersama..."
Ia menggeleng pelan.
"Manfaat: meningkatkan
kebahagiaan individu..."
Ia berhenti di sana.
Matanya mulai berkaca.
Kenapa sih dia harus menulis seperti
ini?
Kenapa tidak langsung bilang saja?
Kenapa harus repot-repot membuat
proposal yang hanya akan membuat segalanya jadi rumit?
Tapi di dalam hatinya yang paling
dalam, ia tahu jawabannya.
Karena Bayu adalah Bayu.
Karena Bayu tidak pernah melakukan
sesuatu dengan cara biasa.
Karena Bayu percaya bahwa cinta, jika
sungguh-sungguh, harus diperlakukan dengan serius.
Serius seperti proposal desa.
Serius seperti rapat anggaran.
Serius seperti mimpi-mimpi besar yang
ingin ia wujudkan.
Yunita menutup map itu perlahan.
Lalu menyimpannya kembali di laci.
Terkunci.
Rapi.
Seperti biasanya.
Tapi perasaannya... tidak serapi itu.
Perasaannya berantakan.
Dan untuk pertama kalinya, Yunita
tidak tahu bagaimana cara merapikannya.
Di luar kantor, Bayu berdiri menatap
langit sore.
Langit Awan Biru selalu punya warna
yang berbeda setiap hari.
Kadang jingga terang.
Kadang merah muda.
Kadang ungu.
Seperti lukisan yang tidak pernah
selesai.
"Gimana?" tanya Bambang yang
tiba-tiba muncul dari belakang. Kamera di lehernya sudah dimatikan. Kameranya
hanya hidup ketika ada momen dan momen ini, menurut Bambang, bukan untuk
kamera. Ini untuk sahabat.
Bayu menghela napas.
"Belum ditolak..."
"Berarti masih ada harapan
dong!"
Bayu tersenyum kecil.
"Iya... tapi aku rasa, ini baru
awal."
Ia tidak tahu bahwa di dalam ruangan,
seseorang sedang membaca kata-katanya lebih dari sekadar berkas.
Dan Yunita pun belum sadar,
Bahwa dunia yang selama ini ia jaga
tetap rapi...
Perlahan mulai berubah.
Bukan karena kekacauan.
Tapi karena seseorang yang berani...
Membawa perasaan ke dalamnya.
BAB 3: Rapat yang Tak
Pernah Singkat
Balai Desa Awan Biru siang itu sudah
penuh sebelum rapat dimulai.
Biasanya, rapat dijadwalkan pukul
14.00, dan peserta akan mulai datang sekitar pukul 14.15, karena di Desa Awan
Biru, seperti di banyak desa lain di Indonesia, "tepat waktu" adalah
konsep yang fleksibel. Tapi hari itu, pukul 13.45, kursi-kursi plastik sudah
hampir penuh.
Bukan karena agenda rapat yang
penting.
Bukan karena ada proyek besar yang
akan diumumkan.
Tapi karena kabar telah menyebar.
Kabar tentang proposal.
Kabar tentang Bayu Andika.
Kabar tentang cinta yang masuk agenda.
Dan di Desa Awan Biru, tidak ada yang
lebih menarik daripada gosip.
Kursi plastik berderet tidak rapi.
Beberapa menghadap ke depan, bagi mereka yang serius mengikuti rapat. Beberapa
lagi miring, seperti ikut mencerminkan arah pembicaraan yang tak pernah lurus.
Beberapa kursi bahkan diletakkan berhadapan, seolah-olah pemiliknya sudah siap
untuk berdebat.
Di pojok ruangan, Si Amat sibuk dengan
laptopnya, sebuah laptop bekas yang sudah berusia lima tahun, dengan layar yang
retak di pojok kanan, tapi masih bisa digunakan asalkan tidak dimatikan terlalu
sering.
"Sound sudah nyala, Pak!"
teriaknya sambil mengetuk mikrofon.
"Tes... tes..." suara
menggema, sedikit sumbang, seperti orang yang sedang bernyanyi di dalam kaleng.
"Kurangi bass-nya, Mat! Ini
rapat, bukan konser dangdut!" celetuk Pak Edi dari belakang.
Tawa kecil mulai terdengar.
Suasana mulai hidup.
Tapi ada sesuatu yang berbeda di udara
siang itu.
Ada ketegangan.
Ada antisipasi.
Ada rasa penasaran yang tidak bisa
dijelaskan.
Di barisan depan, Yunita duduk dengan
map di tangannya.
Seperti biasa, rapi, fokus, dan siap
mencatat.
Tapi matanya... matanya tidak setenang
biasanya.
Ia melirik ke sekeliling ruangan.
Melihat wajah-wajah yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Ada yang tersenyum
padanya, senyum yang penuh arti, seolah-olah mereka tahu sesuatu yang ia tidak
tahu. Ada yang mengangguk, anggukan kecil yang seperti mengatakan "kamu
kuat, ya." Ada juga yang menatapnya dengan rasa ingin tahu yang tidak
disembunyikan.
Yunita menarik napas.
Kenapa semua orang seperti tahu
sesuatu? pikirnya. Padahal belum
ada yang diumumkan. Padahal proposal itu belum dibacakan di forum.
Tapi desa adalah desa.
Kabar tidak pernah menunggu undangan
resmi.
Tak lama kemudian, Bayu Andika masuk.
Ia tidak datang dengan langkah percaya
diri seperti biasanya. Tidak ada senyum menggoda. Tidak ada sapaan santai
kepada teman-temannya.
Ia masuk dengan tenang.
Memilih duduk agak ke samping, tidak
terlalu depan, tapi juga tidak ingin terlihat menghindar.
"Tumben agak tenang," bisik
Hermansyah di sampingnya.
Bayu tersenyum tipis.
"Lagi pengen dengar dulu."
"Wah, bahaya itu. Kalau kamu
diam, biasanya nanti meledak."
Bayu tidak menjawab.
Ia hanya menatap ke depan.
Ke arah panggung.
Ke arah di mana Ibu Yuni dan Pak Kades
akan segera duduk.
Ke arah di mana Yunita duduk dengan
map di tangannya.
Rapat dimulai.
Pak Kades Iwan berdiri di depan,
suaranya tegas tapi santai, gaya khasnya yang sudah dikenal selama
bertahun-tahun. Ia tidak perlu mikrofon. Suaranya sudah cukup keras untuk didengar
seluruh ruangan.
"Baik, kita mulai rapat hari ini.
Agenda pertama: pembahasan kegiatan pemuda dan pengembangan desa digital."
Semua langsung fokus.
Bambang terlihat antusias. Ia langsung
mengangkat tangan, tidak sabar, seperti murid SD yang tahu jawaban.
"Pak, saya ingin menyampaikan
progres Ruang Komunitas Digital Desa (RKDD). Kita sudah mulai pelatihan dasar
editing untuk anak-anak muda."
"Bagus itu," sahut Pak
Kades. "Tapi anggarannya bagaimana?"
Semua langsung menoleh ke Ibu Lulu, Kaur
Keuangan yang selalu menjadi sasaran setiap kali anggaran disebut.
Ibu Lulu tersenyum tipis, senyum yang
sudah menjadi senjata utamanya dalam menghadapi berbagai tuntutan.
"Kalau anggaran sih ada,"
katanya sambil mengatur posisi duduknya. "Asal tidak semua mau dibuat
program tanpa perencanaan jelas."
Bayu mengangkat tangan.
Ia tidak menunggu dipersilakan, karena
ia tahu, jika ia menunggu, diskusi akan berlarut-larut tanpa arah.
"Pak, justru ini penting. Desa
kita harus mulai adaptasi. Jangan terus-terusan konvensional."
"Interupsi!" seru Santoso
dari belakang, seperti biasa, dengan suara yang lebih keras dari yang
diperlukan.
"Silakan," kata Pak Kades.
"Adaptasi boleh. Tapi jangan
sampai melupakan budaya. Anak-anak sekarang terlalu sibuk dengan HP. Malas
gotong royong. Malas ke sawah. Malas bersosialisasi."
"Lho, Pak," sahut Bambang,
"justru kita arahkan supaya HP mereka jadi produktif. Bukan buat main game
atau scrolling TikTok."
"Produktif bagaimana? Bikin
konten-konten nggak jelas kayak Jojon?" Pak Sugeng ikut menyelip, sekaligus
menyindir.
Jojon yang sedang asyik merekam,
langsung menurunkan ponselnya.
"Lho, konten saya jelas, Pak.
Edukatif."
"Edukatif apanya?" sahut Pak
Sugeng.
"Ya... mengajarkan bahwa hidup
itu nggak selalu serius."
Tawa pecah.
Perdebatan mulai menghangat.
Dan di tengah semua itu, Yunita
mencatat dengan rapi.
Tapi matanya, sesekali, melirik ke
arah Bayu.
Bayu terlihat serius.
Tidak seperti biasanya yang cepat
menyela.
Ia mendengarkan.
Mencatat di dalam pikirannya.
Menunggu momen yang tepat.
"Cukup!" suara Pak Kades
akhirnya meninggi.
Tidak marah. Tapi tegas. Suara yang
membuat semua orang langsung diam.
"Kita bukan mau berdebat tanpa
arah. Kita cari solusi."
Yunita segera mencatat poin-poin
penting.
Tapi di sela-sela itu, ia melirik lagi
ke arah Bayu.
Bayu mengangguk pelan.
Seolah setuju dengan Pak Kades.
Seolah ia sudah siap untuk bagian
selanjutnya.
"Selanjutnya, kita bahas kegiatan
Karang Taruna," lanjut Pak Kades.
Hermansyah berdiri. Ia tidak perlu
mengangkat tangan, karena semua sudah tahu bahwa ia adalah ketua Karang Taruna.
"Kami ingin membuat kegiatan
pemuda yang lebih kreatif, Pak. Termasuk diskusi terbuka dan pelatihan."
"Diskusi lagi?" celetuk
Sugeng. "Jangan-jangan nanti cuma jadi tempat debat seperti ini."
Semua tertawa.
Termasuk Bayu, meskipun tawanya kecil.
"Pak, diskusi itu penting,"
kata Bayu akhirnya. Suaranya tenang. Tidak berdebat. Hanya menjelaskan.
"Tapi yang lebih penting adalah hasilnya."
"Nah, itu dia," sahut Pak
Eko. "Selama ini diskusi panjang, tapi hasilnya kadang tidak jelas. Cuma
jadi ajang curhat."
Bayu menatap sekeliling ruangan.
Matanya bergerak perlahan dari satu
wajah ke wajah lain.
Lalu berhenti pada Yunita.
Hanya sebentar.
Tapi cukup untuk membuat Yunita
merasakan sesuatu.
"Makanya, mungkin kita perlu cara
baru," lanjut Bayu.
"Cara baru seperti apa?"
tanya Yunita tiba-tiba.
Semua langsung diam.
Termasuk Bayu.
Termasuk Pak Kades.
Termasuk Ibu Yuni.
Semua orang menatap Yunita.
Karena Yunita jarang bicara di rapat.
Ia lebih suka mencatat. Lebih suka mendengar. Lebih suka berada di balik layar.
Tapi kali ini, ia bertanya.
Dan pertanyaannya langsung ke Bayu.
Bayu menatap Yunita sejenak.
Lalu menjawab pelan.
"Cara yang lebih... jujur."
Suasana hening beberapa detik.
"Jujur bagaimana maksudnya?"
tanya Pak Kades.
Bayu tersenyum kecil.
"Kadang kita terlalu sibuk dengan
prosedur, sampai lupa apa yang sebenarnya ingin kita capai."
"Wah, mulai lagi
filsafatnya," bisik Herman ke Hermansyah.
Tawa kecil terdengar.
Tapi kali ini, tidak semua tertawa.
Sebagian mulai merenung.
Termasuk Pak Kades.
Termasuk Ibu Yuni.
Termasuk, mungkin, Yunita.
Di sudut ruangan, Anto mengangkat
tangan.
Anto, pemuda yang katanya bisa membaca
garis tangan dan meramal masa depan, meskipun tidak ada yang pernah benar-benar
melihatnya meramal dengan akurat. Ia sering dianggap aneh, tapi ia juga sering
dianggap "orang yang punny wangsit", entah benar atau hanya gosip,
tidak ada yang peduli.
"Saya boleh bicara?"
"Silakan," kata Pak Kades.
Anto berdiri dengan gaya percaya diri,
gaya yang ia tiru dari pembawa acara di televisi.
"Saya ini memang bukan orang
kantor. Tapi saya lihat, masalah kita itu bukan kurang rapat... tapi kebanyakan
mikir."
Semua tertawa.
"Kadang, keputusan itu harus
cepat. Jangan semua dibahas sampai berputar-putar. Kayak bubur, lama-lama jadi
eneg."
Bayu mengangguk pelan.
Seolah menemukan sekutu.
Seolah Anto, dengan segala
keanehannya, baru saja mengatakan sesuatu yang selama ini ia pikirkan.
"Setuju," kata Bayu.
"Tapi cepat bukan berarti asal. Cepat tetap harus berdasarkan pertimbangan
yang matang."
"Nah, itu dia," sahut Anto.
"Matang itu beda dengan lama. Ada yang lama tapi masih mentah. Ada yang
cepat tapi matang."
"Kamu ini lagi masak sayur atau
lagi rapat desa?" celetuk Jojon.
Tawa kembali pecah.
Tapi kali ini, Pak Kades ikut
tersenyum.
"Jangan terlalu banyak bercanda,
nanti rapatnya nggak selesai-selesai," katanya.
Rapat semakin panas.
Dan semakin absurd.
Dari pembahasan desa digital, melebar
ke kebiasaan anak muda.
Dari kebiasaan anak muda, melebar ke masalah
komunikasi antar warga.
Dari komunikasi antar warga, melebar
ke keluhan pribadi tentang tetangga yang suka memutar musik terlalu keras
malam-malam.
"Ini rapat atau curhat massal
sih?" bisik Jojon pada Evita.
Evita menahan tawa.
"Tunggu aja, nanti ada yang
curhat soal jodoh."
Tepat setelah Evita bicara, Ibu Yuni
berdiri.
"Maaf, Pak. Saya ingin membacakan
agenda tambahan."
Semua langsung diam.
Ini saatnya.
Yunita mengepal tangannya di bawah
meja.
Bayu menarik napas dalam-dalam.
Pak Kades mengangguk.
"Silakan, Bu Yuni."
Ibu Yuni berdiri.
Tangannya, yang sudah memegang kertas
itu sejak awal rapat, kini terangkat.
Dan dengan suara yang jelas, jelas
sekali, seperti orang yang sudah memutuskan untuk tidak ragu lagi, ia mulai
membaca.
"Agenda tambahan... Proposal
Pengajuan Perasaan kepada Saudari Yunita dari Saudara Bayu Andika."
Sunyi.
Total.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang bernapas.
Seolah-olah waktu berhenti.
Lalu, seperti bom yang meledak,
ruangan meledak dalam tawa, teriakan, dan decak kagum.
"Apa?!"
"Serius?!"
"Ini gila!"
Bayu tetap duduk.
Yunita tetap duduk.
Tapi di dalam hati mereka, ada gempa
yang tidak terlihat.
Yunita akhirnya angkat bicara.
Suasana langsung hening.
"Ini memang tidak biasa,"
katanya pelan, tapi jelas. Setiap kata terdengar seperti diukir di atas batu.
"Dan saya tidak pernah meminta ini dibahas di forum."
Ia menatap Bayu sekilas.
Tatapan yang singkat.
Tapi penuh dengan sesuatu yang tidak
bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Tapi... karena sudah terjadi,
saya minta kita tetap menjaga batas."
Sunyi.
Bayu menatap Yunita.
Ada sesuatu dalam tatapannya, antara
harap dan takut.
Antara keyakinan dan keraguan.
Antara "aku mencintaimu" dan
"maafkan aku".
"Baik," kata Pak Kades
akhirnya.
Ia berdiri.
Menatap seluruh ruangan.
"Karena ini adalah hal yang belum
pernah terjadi sebelumnya, saya minta kita semua berpikir dengan kepala
dingin."
Ia berhenti sejenak.
"Kita akan lanjutkan pembahasan
ini di rapat berikutnya. Saya minta semua pihak tidak menyebarkan ini ke luar
forum sebelum ada keputusan resmi."
Tapi semua tahu.
Keputusan resmi atau tidak, kabar ini
sudah menyebar lebih cepat dari api di musim kemarau.
Rapat ditutup.
Orang-orang mulai keluar.
Tapi tidak ada yang benar-benar pergi.
Semua masih bergerombol,
berbisik-bisik, bertukar pendapat.
Bayu berdiri.
Ia berjalan keluar.
Tidak menoleh.
Tidak melihat siapa pun.
Yunita tetap duduk di tempatnya.
Map biru di tangannya tergenggam erat.
Ia tidak mengikuti Bayu.
Tapi di dalam hatinya, ia ingin.
Ia ingin berlari mengejar.
Ingin bertanya.
Ingin tahu.
Tapi ia tidak bergerak.
Karena Yunita tidak pernah berlari
mengejar siapa pun.
Dan itu, mungkin, adalah kesalahan
terbesarnya.
Di luar kantor desa, langit mulai
berwarna jingga.
Orang-orang keluar dengan berbagai
ekspresi, lelah, lega, atau masih ingin berdebat.
Bayu berjalan pelan.
Langkahnya tidak tergesa.
"Yu!" panggil Bambang dari
belakang.
Bayu berhenti. Tidak menoleh.
"Gimana menurutmu rapat
tadi?"
Bayu tersenyum kecil.
"Seperti biasa..."
"Panjang?"
"Bukan. Rumit."
Tak jauh dari situ, Yunita berdiri
sendiri.
Memegang mapnya.
Bayu mendekat, tanpa sadar, atau
mungkin dengan sengaja.
"Capek?" tanyanya.
Yunita mengangguk pelan.
"Seperti biasa."
Bayu tersenyum.
"Kita selalu ada di forum yang
sama... tapi kadang seperti punya dunia yang beda ya."
Yunita menatapnya.
"Justru itu yang bikin
menarik."
Bayu sedikit terkejut.
"Menarik?"
Yunita mengangguk kecil.
"Tapi juga... berbahaya."
"Kenapa?"
"Karena kalau terlalu jauh...
kita bisa tidak saling mengerti."
Bayu terdiam.
Lalu berkata pelan.
"Kalau begitu... kita cari cara
supaya bisa saling mengerti."
Yunita tidak langsung menjawab.
Namun kali ini, ia tidak pergi.
Ia hanya berdiri di sana.
Bersama Bayu.
Di bawah langit senja.
Dan itu, bagi mereka berdua, sudah
lebih dari cukup.
BAB 4: Proposal yang
Tidak Biasa
Malam di Desa Awan Biru selalu punya
dua wajah.
Yang pertama, tenang, dengan suara
jangkrik yang berirama, angin yang berhembus pelan di sela pepohonan karet, dan
langit yang bertabur bintang tanpa polusi cahaya. Wajah ini biasanya muncul setelah
pukul 21.00, ketika sebagian besar warga sudah masuk ke dalam rumah, menonton
televisi, atau bersiap tidur.
Yang kedua, rame, tapi hanya di satu
tempat: Warung Mbah Karyo. Wajah ini mulai terlihat sekitar pukul 19.00, ketika
kopi mulai diseduh, kursi-kursi mulai terisi, dan cerita-cerita mulai mengalir.
Di sinilah desa benar-benar hidup, bukan di balai desa, bukan di kantor, tapi
di warung kopi sederhana dengan atap seng dan bangku kayu.
Dan malam itu, wajah kedua sedang
menang.
Warung Mbah Karyo lebih ramai dari
biasanya. Mungkin karena kabar tentang proposal sudah menyebar. Mungkin karena
semua orang ingin mendengar langsung dari Bayu. Atau mungkin karena tidak ada
acara lain yang lebih menarik di desa itu malam ini.
Bayu duduk di tempat favoritnya, sudut
yang menghadap ke jalan, sehingga ia bisa melihat siapa pun yang lewat. Tapi
malam itu, ia tidak benar-benar memperhatikan jalan. Matanya tertuju pada
cangkir kopi di depannya.
"Jadi kesimpulannya..." kata
Bambang sambil menyeruput kopi, suaranya terdengar sengau karena kopi masih
panas. "Kamu mau menyatakan cinta... tapi pakai konsep?"
Bayu Andika duduk di depan mereka,
menatap kosong ke arah lampu warung yang sedikit berkedip. Lampu itu sebenarnya
bukan lampu, hanya bohlam 10 watt yang digantung dengan kabel seadanya. Tapi
cahayanya cukup untuk menerangi wajah-wajah yang penuh rasa ingin tahu.
"Bukan konsep," jawab Bayu
pelan. "Tapi perencanaan."
Jojon langsung tertawa terbahak-bahak.
"Perencanaan?! Ini cinta, Yu, bukan pembangunan jalan desa!"
"Lah, justru karena penting,
harus direncanakan dengan matang," sahut Bayu santai. Ia mengambil cangkir
kopinya, menyesap pelan, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan yang
terukur.
"Kamu itu kalau mau bilang suka,
ya bilang aja. Nggak usah pakai proposal segala. Ntar malah ditolak,"
tambah Jojon sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Justru karena takut ditolak, aku
mau persiapan matang," balas Bayu tanpa mengubah ekspresinya.
Hermansyah yang dari tadi diam,
akhirnya ikut bicara. Suaranya dalam, seperti biasa, suara yang membuat orang
cenderung diam dan mendengar.
"Pertanyaannya sederhana: kamu
suka sama Yunita, kan?"
Bayu tidak langsung menjawab.
Ia menatap cangkir kopinya.
Lama.
Seolah-olah kopi hitam pekat itu bisa
memberinya jawaban.
Lalu ia mengangguk pelan.
"Iya."
Sunyi sejenak.
Bambang bersiul pelan. Jojon
menurunkan ponselnya, untuk pertama kalinya malam itu. Nadya yang duduk di
sudut, diam tapi memperhatikan.
"Ya sudah, bilang saja!"
seru Nadya spontan, sesuatu yang jarang terjadi, karena Nadya jarang spontan.
Bayu menggeleng.
"Nggak sesederhana itu."
"Kenapa lagi?" tanya
Bambang.
Bayu menarik napas panjang. Dadanya
naik turun. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, gerakan yang
biasa ia lakukan ketika sedang mengumpulkan pikiran.
"Aku nggak mau cuma bilang 'aku
suka kamu' terus selesai. Aku mau jelas... ke mana arahnya, bagaimana
rencananya, apa tujuannya."
Jojon mengangkat tangan seperti murid
SD yang ingin bertanya.
"Pak, ini cinta atau visi-misi
calon kepala desa?"
Tawa pecah.
Bahkan Mbah Karyo yang sedang mengelap
gelas di balik meja ikut tersenyum.
Tapi Bayu tidak tertawa.
Ia serius.
"Kalian anggap aku aneh,"
katanya pelan. "Tapi coba pikir. Berapa banyak orang yang pacaran tanpa
tujuan jelas, putus, lalu nyesel? Berapa banyak yang asal bilang suka, tapi
nggak tahu mau dibawa ke mana? Berapa banyak yang main-main karena nggak pernah
serius dari awal?"
Bambang yang tadinya tertawa, kini
berhenti.
Jojon yang tadinya ingin melontarkan
candaan lagi, ikut diam.
Nadya menunduk.
"Yang aku lakukan," lanjut
Bayu, "mungkin aneh. Mungkin konyol. Mungkin jadi bahan tertawaan se-desa.
Tapi setidaknya... aku serius."
Mbah Karyo yang sejak tadi
mendengarkan dari balik meja, ikut menyela.
Suaranya serak, tua, tapi masih jelas.
"Yu... dulu zaman saya, kalau
suka ya tinggal bilang. Nggak pakai proposal. Nggak pakai perencanaan. Nggak
pakai visi-misi segala."
Bayu tersenyum.
"Zaman sekarang beda, Mbah."
Mbah Karyo mengangguk pelan. Matanya
yang keruh karena usia, tapi masih tajam, menatap Bayu dengan penuh arti.
"Iya, beda... tapi hati manusia
tetap sama."
Bayu terdiam.
"Kamu bisa bikin proposal setebal
buku novel, tapi kalau hati kamu nggak berani, percuma," lanjut Mbah
Karyo. "Kamu bisa tulis semua rencana semenarik mungkin, tapi kalau kamu
nggak siap ditolak, ya sama saja bohong."
Bayu menunduk.
Mbah Karyo mendekat. Diletakkan secangkir
kopi baru di depan Bayu, karena yang lama sudah dingin.
"Yang penting itu bukan
proposalnya, Yu. Yang penting itu keberanianmu."
Bayu mengangguk pelan.
"Makanya aku buat proposal, Mbah.
Biar keberanianku nggak setengah-setengah."
Mbah Karyo tertawa kecil.
"Kamu ini keras kepala, ya."
"Iya, Mbah. Makanya saya belum
menikah."
Semua tertawa.
Malam semakin larut.
Satu per satu orang mulai pulang.
Bambang sudah pamit setengah jam yang
lalu, disusul Hermansyah dan Herman. Jojon masih bertahan, sesekali merekam,
sesekali hanya diam. Nadya sudah pergi lebih awal, ia tidak pernah suka
begadang.
Tapi Bayu masih duduk di warung.
Cangkirnya yang ketiga sudah setengah
kosong.
Mbah Karyo mendekat.
"Pulang, Yu. Sudah malam."
"Sebentar lagi, Mbah."
Mbah Karyo duduk di sampingnya. Lelaki
tua itu menghela napas, napas yang terdengar seperti angin yang melewati
celah-celah bambu tua.
"Kamu serius mau bikin
proposal?"
Bayu mengangguk.
"Iya, Mbah."
"Beneran?"
"Iya."
"Lengkap?"
"Iya. Latar belakang, tujuan,
manfaat, bahkan rencana anggaran."
Mbah Karyo menatap Bayu dengan tatapan
yang tidak bisa diartikan.
"Rencana anggaran buat apa?"
Bayu tersenyum. "Buat kencan,
Mbah."
Mbah Karyo tertawa, tertawa keras,
sampai terdengar sampai ke rumah-rumah terdekat.
"Kamu ini benar-benar aneh,
Yu."
"Makanya saya belum laku,
Mbah."
Mbah Karyo menggeleng-gelengkan
kepala.
"Ini bakal jadi sejarah desa
sih..."
Bayu tersenyum tipis.
"Semoga jadi sejarah yang indah,
Mbah. Bukan sejarah yang memalukan."
Mbah Karyo tidak menjawab.
Ia hanya berdiri, berjalan kembali ke
balik meja, dan mulai membersihkan gelas-gelas yang tersisa.
Tapi di dalam hatinya, lelaki tua itu
berdoa, untuk pemuda keras kepala yang duduk di warungnya malam itu.
Semoga beruntung, Yu.
Kamu akan membutuhkannya.
Di kamar kecilnya, Bayu duduk di depan
meja kayu yang sudah mulai usang.
Lampu belajar, lampu neon kecil yang
pernah ia beli di toko buku di kota, menyala redup. Cahayanya cukup untuk menerangi
meja, tapi tidak cukup untuk menerangi seluruh kamar. Bayu menyukai suasana
seperti ini, redup, tenang, hanya suara jangkrik dari luar.
Di depannya, selembar kertas kosong
terbentang.
Kertas HVS biasa.
Tapi terasa lebih berat dari biasanya.
Ia memutar-mutar pena di tangannya.
Pilot Hitam, pena murah yang bisa
dibeli di mana saja.
Tapi tangannya... tangannya gemetar.
Ia tertawa pada dirinya sendiri.
Bayu, kamu sudah berdebat dengan
camat. Kamu sudah melawan kepala dinas. Kamu sudah presentasi di depan pejabat
kabupaten.
Tapi sekarang kamu gemetar karena
selembar kertas?
Ia menarik napas dalam-dalam.
"Gila nggak ya ini..."
gumamnya.
Suaranya nyaris tak terdengar di atas
suara jangkrik.
Ia teringat wajah Yunita.
Cara dia berbicara, tegas, tidak pernah
bertele-tele.
Cara dia menatap, tajam, seperti bisa
menembus dinding.
Cara dia tersenyum, jarang, tapi
ketika ia tersenyum, dunia terasa lebih indah.
Cara dia selalu mencoba menjaga
semuanya tetap rapi, seolah-olah jika ada satu hal yang berantakan, seluruh
hidupnya akan hancur.
Bayu tersenyum kecil.
"Ya sudah... kalau aku beda, biar
sekalian beda."
Ia mulai menulis.
"PROPOSAL PENGAJUAN
PERASAAN"
Kepada: Saudari Yunita
Dari: Bayu Andika
Tanggal: [tanggal hari itu]
Perihal: Pengajuan perasaan serius
untuk tujuan hubungan jangka panjang
Ia berhenti sejenak.
Menghela napas.
Lalu melanjutkan.
Latar Belakang:
Bahwa perasaan suka dapat muncul
secara alami tanpa dapat direncanakan, namun dapat dikelola dengan keseriusan.
Bahwa perasaan tersebut telah
berlangsung dalam periode waktu yang cukup untuk dipertimbangkan secara matang
(kurang lebih 1 tahun, 3 bulan, dan 7 hari, sejak pertama kali melihat Saudari
Yunita sedang mengarsip berkas sambil tersenyum kecil pada sebuah surat masuk,
dan saya sadar bahwa saya tidak hanya melihat seorang pegawai administrasi,
tapi seseorang yang ingin saya kenali lebih dalam).
Bahwa perasaan tersebut bukan
didasarkan pada ketertarikan fisik semata, melainkan pada kekaguman terhadap
etos kerja, integritas, dan cara Saudari Yunita memperlakukan setiap orang
dengan hormat, termasuk orang-orang yang sering diabaikan oleh birokrasi desa.
Bayu tersenyum sendiri.
"Ini kalau dibaca Pak Kades, bisa
disahkan langsung kayaknya..."
Ia lanjut menulis.
Tujuan:
Menjalin hubungan yang serius, saling
mendukung, dan berpotensi menuju masa depan bersama (dengan catatan: masa depan
yang dimaksud adalah masa depan yang dibangun atas dasar kesepakatan bersama,
bukan paksaan atau ekspektasi sepihak).
Manfaat:
1.
Meningkatkan kebahagiaan
individu (dengan asumsi perasaan berbalas; jika tidak, manfaat ini hanya
berlaku sepihak dan proposal dianggap gugur).
2.
Menciptakan sinergi
emosional yang dapat meningkatkan produktivitas kerja (karena tidak ada lagi
perasaan canggung di kantor).
3.
Berkontribusi terhadap
stabilitas sosial (minimal di lingkup pribadi, maksimal di lingkup desa jika
hubungan ini menginspirasi pasangan lain untuk lebih serius dalam menjalin
hubungan).
Bayu tertawa kecil.
"Poin tiga ini agak maksa
sih..."
Tapi ia tetap menulis.
Penutup:
Demikian proposal ini saya buat dengan
penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari pihak mana pun.
Saya menyadari bahwa cara ini tidak
biasa. Saya menyadari bahwa ini mungkin terasa konyol bagi sebagian orang. Tapi
saya percaya bahwa perasaan yang sungguh-sungguh layak diperjuangkan dengan
cara yang sungguh-sungguh.
Jika Saudari Yunita berkenan menerima,
saya akan sangat bersyukur.
Jika tidak, saya akan menerima dengan
lapang dada, meskipun hati saya mungkin butuh waktu untuk sembuh.
Hormat saya,
Bayu Andika
Bayu meletakkan pena.
Membaca ulang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu tersenyum.
"Gila," gumamnya. "Ini
benar-benar gila."
Tapi ia tidak membuang kertas itu.
Ia melipatnya rapi.
Memasukkannya ke dalam map.
Dan menyimpannya di laci meja.
Besok, ia akan memberikannya pada Yunita.
Atau mungkin lusa.
Atau mungkin...
Tapi ia sudah memutuskan.
Tidak ada mundur.
Di luar, angin malam berhembus pelan.
Seolah membawa doa.
Keesokan paginya, warung Mbah Karyo
kembali ramai.
Bahkan lebih ramai dari biasanya.
"Mana?" tanya Jojon tidak
sabar. Ia sudah duduk sejak pukul 07.00, padahal biasanya ia baru datang pukul
09.00.
Bayu mengeluarkan beberapa lembar
kertas.
Bambang langsung merebutnya, tidak
sabar.
Membaca keras-keras.
"'Latar Belakang: bahwa perasaan
suka dapat muncul secara alami...'"
Ia berhenti.
Membaca lagi.
"'...telah berlangsung selama 1
tahun, 3 bulan, dan 7 hari, sejak pertama kali melihat Saudari Yunita sedang
mengarsip berkas sambil tersenyum kecil...'"
Tawa meledak.
"YA AMPUN!" teriak Bambang.
"Kamu hitung sampai hari?! Gila lu, Yu!"
"ITU LUCU BANGET!" Jojon
sampai menepuk meja.
"Manfaat: meningkatkan
kebahagiaan individu..." lanjut Bambang sambil tertawa. "'...dengan
asumsi perasaan berbalas; jika tidak, manfaat ini hanya berlaku sepihak dan
proposal dianggap gugur.'"
"BAYUUUU!" Jojon hampir
jatuh dari kursinya. "KAMU INI APOTEKER APA APA SIH?!"
Nadya menutup wajahnya dengan kedua
tangan, bukan karena malu, tapi karena menahan tawa yang hampir meledak.
"Gue nggak kuat," kata Nadya
antara tertawa dan terisak. "Gue nggak kuat, Yu."
Hermansyah menggeleng-gelengkan
kepala, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.
"Kalau Yunita baca ini, dia
bingung mau ketawa atau marah."
"Yang penting jelas," kata
Bayu santai. Padahal di dalam hatinya, ia gugup setengah mati.
"Jelas sih jelas," kata
Bambang sambil mengusap air mata. "Tapi ini... gila. Ini benar-benar
gila."
"Kamu nggak takut ditolak?"
tanya Jojon.
Bayu mengangkat bahu.
"Takut. Tapi lebih takut nggak
pernah mencoba."
Semua terdiam sejenak.
"Wah," kata Bambang pelan.
"Itu baru kalimat yang beneran serius."
Bayu tersenyum.
Tapi senyumnya langsung hilang ketika
ia mendengar suara dari belakang.
"Jelas apanya?"
Semua langsung diam.
Beku.
Seperti patung.
Perlahan, sangat perlahan, mereka
menoleh.
Yunita.
Ia berdiri di sana, membawa map biru
yang tidak pernah lepas dari tangannya, dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Tidak marah. Tidak tersenyum. Tidak sedih. Hanya... datar. Seperti danau tanpa
riak.
Tapi di matanya, ada sesuatu.
Api kecil yang tidak terlihat oleh
orang lain.
Tapi Bayu melihatnya.
Bayu selalu melihatnya.
"Yun... ini..." Bayu
tergagap. Jarang-jarang. Bayu jarang tergagap.
Jojon langsung menyembunyikan kertas
di balik punggungnya, gerakan refleks, seperti anak kecil yang ketahuan
mengambil permen.
"Ini cuma... eh... draft kegiatan
pemuda!"
Yunita mengangkat alis.
Satu alis.
Ekspresi yang membuat siapapun yang
melihatnya langsung merasa bersalah, meskipun tidak melakukan kesalahan apa
pun.
"Kegiatan apa?"
Sunyi.
Bambang berbisik pelan pada Bayu, tapi
bisikannya terlalu keras untuk ukuran bisikan.
"Ini kalau lolos, kamu legenda,
Yu..."
Bayu tidak menjawab.
Ia hanya menatap Yunita.
Yunita melangkah mendekat.
Langkahnya pelan.
Pasti.
Seperti predator yang mendekati
mangsanya.
"Boleh saya lihat?"
Semua saling pandang.
Bayu menarik napas panjang.
Napas terpanjang dalam hidupnya.
Lalu mengulurkan kertas itu.
"Silakan."
Yunita menerimanya.
Membaca perlahan.
Satu baris.
Dua baris.
Tiga baris.
Wajahnya tidak berubah.
Tapi suasana... berubah total.
Semua menahan napas.
Bahkan Mbah Karyo yang sedang menyeduh
kopi, berhenti bergerak.
Beberapa detik yang terasa seperti
beberapa tahun.
Lalu Yunita menutup kertas itu.
Menatap Bayu.
"Ini... serius?"
Bayu mengangguk.
"Iya."
Sunyi lagi.
Lalu Yunita berkata pelan, sangat
pelan, hanya cukup untuk didengar oleh orang-orang di meja itu.
"Kamu ini... aneh."
Jojon hampir tertawa, tapi langsung
ditahan oleh tatapan Yunita.
Bayu tersenyum kecil.
"Aku tahu."
Yunita menatapnya lebih lama.
Lebih dalam.
Seolah sedang mencari sesuatu di balik
mata Bayu.
"Aneh... tapi kamu niat."
Kalimat itu membuat semua orang saling
pandang.
Maksudnya apa?
Apakah itu penolakan?
Apakah itu penerimaan?
Atau hanya pernyataan netral?
Tidak ada yang tahu.
Yunita mengembalikan kertas itu.
"Perbaiki dulu formatnya,"
katanya singkat.
Lalu ia berbalik dan pergi.
Langkahnya sama seperti saat datang.
Pelan.
Pasti.
Tanpa menoleh.
Beberapa detik hening.
Lalu...
"PERBAIKI FORMAT?!" teriak
Bambang.
Tawa meledak lebih keras dari
sebelumnya.
Bahkan Mbah Karyo tertawa sampai air matanya
keluar.
"Aih, Bayu," kata Jojon
sambil terisak antara tertawa. "Dia minta revisi! Kayak proposal
beneran!"
Bayu hanya tersenyum.
Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu
yang berbeda.
Ia tidak ditolak.
Belum.
Yunita tidak mengatakan 'tidak'.
Yunita hanya mengatakan 'perbaiki
format'.
Itu berarti, mungkin, masih ada
harapan.
Atau mungkin itu hanya cara Yunita
untuk menghindari jawaban langsung.
Tapi Bayu memilih untuk percaya pada
yang pertama.
Ia memilih untuk percaya bahwa ada
kemungkinan.
Dan di Desa Awan Biru, di mana
kepastian adalah barang langka dan harapan adalah satu-satunya mata uang yang tidak
pernah kehilangan nilainya,
Itu sudah lebih dari cukup.
Tanpa ia sadari...
Proposal itu tidak hanya akan dibaca
Yunita.
Tapi juga... seluruh desa.
BAB 5: Ketika Cinta
Masuk Agenda
Kantor Desa Awan Biru siang itu terasa
berbeda.
Biasanya, rapat dimulai dengan obrolan
ringan, kadang tentang harga cabai yang naik, kadang tentang sinetron yang
tayang tadi malam, kadang tentang tetangga yang baru saja punya cucu. Ada tawa
kecil, ada candaan, ada kursi-kursi yang digeser dengan suara seret di lantai
semen.
Tapi kali ini...
Ada sesuatu yang beredar lebih cepat
dari undangan resmi.
Sebuah dokumen.
Bukan tentang jalan desa.
Bukan tentang anggaran.
Bukan juga tentang program
pembangunan.
Tapi tentang... cinta.
"Mat, itu benar ya?" bisik
Herman sambil melirik laptop Si Amat.
Amat terlihat gelisah. Jari-jarinya
mengetik dengan cepat, mungkin mencari sesuatu, mungkin hanya pura-pura sibuk.
Kacamatanya yang tebal membuat matanya terlihat lebih besar dari biasanya, dan
saat itu, matanya terlihat seperti sedang ketakutan.
"Jangan tanya aku, aku cuma
nerima file..."
"File apa?" tanya Guntur
penasaran. Tubuhnya yang besar mendekat, membuat Amat semakin gelisah.
Amat menelan ludah.
"Judulnya... 'Proposal Pengajuan
Perasaan'..."
"HAH?!"
Suara itu langsung menarik perhatian
beberapa orang.
Guntur tertawa keras. Herman ikut
tertawa. Beberapa orang lain yang mendengar mulai mendekat.
"Cinta-cintaan? Di kantor
desa?" tanya Pak RT 02 yang kebetulan lewat.
"Ini mah sejarah," sahut
Herman. "Desa kita masuk buku rekor."
Di meja depan, Yunita membuka map
seperti biasa.
Tapi matanya sempat berhenti sejenak
saat melihat satu berkas yang terasa... tidak biasa.
Map biru.
Biru tua.
Warna favoritnya.
Tapi ada satu map yang tidak ia
kenali.
Ia membukanya.
Judul proposal.
Proposal Pengajuan Perasaan.
Ia tahu.
Itu milik Bayu.
Tapi bagaimana bisa sampai di sini?
Ia menyimpannya di laci.
Terkunci.
Tidak ada yang tahu.
Ia menarik napas pelan.
"Kenapa bisa sampai sini..."
gumamnya.
Pertanyaan yang tidak akan terjawab, karena
laci kantor desa tidak pernah benar-benar aman, dan kunci laci hanyalah simbol,
bukan perlindungan.
"Baik, kita mulai rapat hari
ini," suara Pak Kades Iwan terdengar tegas.
Semua mulai duduk rapi, atau
setidaknya berusaha terlihat rapi. Kursi-kursi digeser. Tenggorokan
dibersihkan. Map-map dibuka.
"Agenda pertama..." lanjut
Pak Kades.
Namun sebelum ia selesai, Pak Eko
berdehem.
"Pak, ada satu berkas tambahan
yang masuk pagi ini."
Pak Kades mengangkat alis.
"Berkas apa?"
Pak Eko terlihat ragu.
Ia melirik ke arah Yunita.
Yunita diam.
Wajahnya datar.
Tapi tangannya, di bawah meja, telah
mengepal.
"Silakan dibacakan saja,"
kata Pak Kades akhirnya.
Suasana tiba-tiba hening.
Bukan hening biasa.
Hening yang tegang.
Seperti sebelum badai.
Ibu Yuni (Sekdes) berdiri. Tangannya
mengambil kertas yang diberikan Pak Eko.
Ia membaca judulnya pelan...
Namun cukup keras untuk didengar semua
orang.
"Proposal... Pengajuan...
Perasaan..."
Sunyi.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu,
"HAHAHAHA!"
Ruangan meledak.
"Ini serius?!" teriak Pak
Sugeng, wajahnya merah padam, bukan karena malu, tapi karena menahan tawa yang
tidak bisa ditahan.
"Siapa yang buat ini?!"
tanya Pak Edi sambil menepuk paha tetangganya.
"Ini rapat desa atau acara
lawak?!" sahut Santoso sambil tertawa terbahak-bahak.
Suara tumpang tindih.
Tawa bercampur decak kagum.
Di sudut ruangan, Jojon sudah hampir
tidak bisa menahan tawa. Bahunya naik turun. Matanya berkaca-kaca.
"Ini konten terbaik sepanjang
sejarah..." bisiknya pada Evita.
Evita hanya bisa menggeleng-gelengkan
kepala, antara malu dan ikut tertawa.
Sementara itu, Bayu Andika hanya bisa
menunduk.
Wajahnya memerah.
Bukan karena malu sepenuhnya, ia sudah
mempersiapkan diri untuk momen ini.
Tapi karena ia tidak pernah menyangka
akan sejauh ini.
Ia mengira proposal itu hanya akan
sampai ke Yunita.
Ia mengira hanya mereka berdua yang
akan tahu.
Tapi sekarang...
Seluruh desa tahu.
Seluruh desa tertawa.
Seluruh desa menatapnya.
"Siapa yang mengajukan ini?"
tanya Pak Kades, mencoba serius, meskipun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Perlahan...
Bayu mengangkat tangan.
Semua langsung menoleh.
"Lho... Bayu?!"
"Kamu serius, Yu?!"
"Ini bukan bercanda kan?!"
Bayu berdiri.
"Pak, saya yang membuat."
Sunyi kembali.
Tapi kali ini, sunyi yang berbeda.
Sunyi yang penuh rasa hormat, atau
setidaknya, penuh rasa ingin tahu.
Yunita menunduk.
Tangannya menggenggam map lebih erat
dari biasanya.
Ia tidak berani melihat ke arah Bayu.
Tidak berani melihat ke arah siapa
pun.
Karena jika ia melihat, ia mungkin
akan menangis.
Bukan karena malu.
Bukan karena marah.
Tapi karena... ia tidak tahu harus
merasa apa.
Ada sesuatu yang hangat di dadanya.
Ada sesuatu yang membuat ia ingin
tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan.
Ada sesuatu yang membuat ia ingin berlari
ke arah Bayu dan memeluknya, tapi juga ingin memukulnya karena telah membuat
situasi serumit ini.
Tapi ia tidak melakukan apa pun.
Ia hanya duduk.
Diam.
Menunduk.
"Baik... kita dengarkan dulu,"
kata Pak Kades.
Semua langsung lebih diam, meski
beberapa masih menahan tawa.
Ibu Yuni mulai membaca isi proposal
itu.
"Latar Belakang: bahwa perasaan
suka dapat muncul secara alami..."
Beberapa orang mulai berbisik.
"...namun dapat dikelola dengan
keseriusan..."
"Wah, rapi juga ya..." gumam
Ibu Ratna.
"...Tujuan: menjalin hubungan
serius..."
"Ini kayak proposal kegiatan
beneran!" sahut Pak Edi.
"...Manfaat: meningkatkan
kebahagiaan individu..."
"Wah, ini cinta atau proyek
pembangunan?" celetuk Santoso.
Tawa kembali pecah.
Namun kali ini, tidak semua tertawa.
Sebagian mulai... berpikir.
Sebagian mulai melihat Bayu dengan
cara yang berbeda.
Bukan sebagai pemuda aneh yang bikin
proposal cinta.
Tapi sebagai pemuda yang berani.
Yang berbeda.
Yang mungkin, mungkin saja, sedang
melakukan sesuatu yang benar.
"Cukup!" kata Pak Kades.
Suaranya tegas.
Tidak marah.
Tapi tegas.
"Kita tidak bisa menjadikan ini
sekadar bahan tertawaan."
Suasana kembali tenang.
"Pertanyaannya," lanjutnya,
"apakah ini pantas dibahas dalam forum desa?"
Ruangan hening.
Semua berpikir.
"Tidak pantas!" seru Sugeng
tegas. "Ini urusan pribadi! Urusan hati! Nggak ada hubungannya dengan
pembangunan desa!"
"Eh, tapi kalau sudah masuk ke
forum, berarti sudah jadi urusan bersama dong," sahut Santoso santai.
"Lho, jangan begitu! Nanti semua
orang bawa urusan pribadi ke rapat!"
"Ini bisa jadi contoh
buruk!" tambah Pak Eko.
"Atau malah contoh
keberanian!" balas Herman.
Perdebatan mulai memanas.
Di tengah keributan, Anto berdiri.
"Saya mau bicara!"
Semua langsung diam, karena semua
tahu, kalau Anto bicara, pasti ada yang aneh.
"Saya sudah lihat garis tangan
Bayu..." katanya serius.
Semua langsung tertawa.
"Belum kamu lihat juga!"
sahut Jojon.
"Tapi saya bisa rasa,"
lanjut Anto, tidak terganggu dengan tawa. "Ini cinta yang jalannya tidak
mudah. Banyak gangguan... termasuk dari kita semua."
Beberapa orang saling pandang.
Ada yang tertawa.
Ada juga yang mulai merasa tersindir.
"Maksud saya," lanjut Anto,
"jangan kita jadi penghalang. Kalau memang dia berani, ya kita hargai.
Kalau tidak, ya sudah. Tapi jangan diolok-olok."
Sunyi.
"Wah, Anto," kata Bambang
pelan. "Kamu serius banget hari ini."
Anto mengangkat bahu.
"Sesekali serius nggak apa-apa.
Nanti juga kembali aneh."
Tawa kecil.
Sementara itu, Yunita masih diam.
Hingga akhirnya,
"Saya mau bicara."
Semua langsung menoleh.
Yunita berdiri.
"Ini memang tidak biasa,"
katanya pelan, tapi jelas. Setiap kata terukur. Setiap suku kata jatuh dengan
berat.
Ia menatap Bayu sekilas.
Hanya sekilas.
Tapi cukup untuk membuat Bayu
merasakan sesuatu.
"Dan saya tidak pernah meminta
ini dibahas di forum."
Ia berhenti sejenak.
Menarik napas.
"Tapi... karena sudah terjadi,
saya minta kita tetap menjaga batas."
Sunyi.
"Jangan jadikan ini tontonan.
Jangan jadikan ini bahan gosip. Jangan lupa bahwa di balik proposal ini... ada
perasaan seseorang."
Yunita duduk kembali.
Tangannya gemetar.
Tapi wajahnya tetap datar.
Ia tidak menangis.
Ia tidak akan menangis.
Tidak di depan umum.
Tidak pernah.
"Baik," kata Pak Kades
akhirnya.
"Kita putuskan dengan
musyawarah."
Semua kembali tegang.
"Apakah proposal ini akan:
diterima, ditolak, atau dikembalikan sebagai urusan pribadi?"
"Ditolak!" seru beberapa
orang.
"Dikembalikan saja!"
"Jangan dibahas lagi!"
Suara bercampur.
Bayu berdiri diam.
Untuk pertama kalinya... ia tidak
punya argumen.
Ia hanya berdiri.
Menerima.
Yunita menatap ke depan.
Namun matanya sedikit berkaca.
"Baik," kata Pak Kades.
"Kita akan bahas lebih lanjut dan
putuskan secara mufakat."
Beberapa orang mengangguk.
Beberapa menghela napas.
Rapat dilanjutkan... tapi tidak ada
yang benar-benar fokus lagi.
Semua pikiran tertinggal pada satu
hal:
Proposal cinta yang terlalu serius
untuk dianggap bercanda...
Dan terlalu aneh untuk dianggap biasa.
BAB 6: Forum yang Kehilangan
Arah
Kantor Desa Awan Biru sore itu kembali
penuh.
Bukan karena agenda pembangunan.
Bukan karena pembagian bantuan.
Tapi karena satu hal yang tidak pernah
tercantum dalam undangan resmi:
Lanjutan pembahasan... proposal cinta.
"Ini sudah di luar nalar,"
gumam Pak Eko sambil membuka catatan.
"Luar nalar atau luar
kebiasaan?" sahut Santoso santai.
"Dua-duanya!" jawab Pak Eko
cepat.
Suasana ruangan berbeda dari biasanya.
Lebih tegang. Lebih penuh antisipasi. Lebih seperti menonton pertandingan final
daripada menghadiri rapat desa.
Di sudut ruangan, Jojon sudah siap
dengan kameranya. Ponselnya terpasang pada tripod kecil, peralatan baru yang ia
beli setelah menyadari bahwa konten rapat desa ternyata sangat laris.
"Episode lanjutan nih. Judulnya:
'Cinta yang Diperdebatkan Negara'," bisiknya ke Evita.
Evita menahan tawa. "Kalau kamu
viral, jangan lupa traktir ya."
"Viral atau tidak, yang penting
dokumentasi sejarah."
"Sejarah apa?"
"Sejarah pertama kalinya cinta
masuk agenda rapat desa."
Rapat dimulai lebih cepat dari
biasanya.
Pak Kades Iwan terlihat lebih serius.
Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada candaan pembuka seperti biasa. Ia
langsung mengambil posisi di depan panggung, memegang mikrofon, dan memulai.
"Kita lanjutkan pembahasan
kemarin. Saya minta semua tetap fokus."
Namun kalimat itu terdengar seperti
formalitas.
Karena semua orang tahu, fokus bukan
hal yang mudah di Desa Awan Biru.
Apalagi dengan agenda seperti ini.
"Baik," lanjut Pak Kades,
"kita mulai dari pandangan umum."
Langsung, beberapa tangan terangkat.
Sugeng berdiri pertama.
Wajahnya merah padam, bukan karena
malu, tapi karena semangat. Sugeng selalu semangat ketika ia merasa sedang
membela kebenaran.
"Saya tetap pada pendapat saya.
Ini tidak pantas. Kalau dibiarkan, nanti semua orang bawa urusan pribadi ke
forum!"
"Lho, Pak Sugeng," sahut
Santoso santai, tidak pernah terintimidasi oleh suara keras Sugeng.
"Bukannya selama ini banyak juga yang bawa masalah pribadi ke rapat?"
Tawa kecil terdengar.
Sugeng sedikit tersinggung. "Itu
beda!"
"Bedanya di mana?" Santoso
tersenyum tipis, senyum yang sudah menjadi senjata utamanya dalam setiap debat.
"Yang ini cuma lebih jujur saja."
"Jujur? Ini bukan jujur, ini
tidak tahu tempat!"
"Atau mungkin," potong Bayu
tiba-tiba, suaranya tenang, "ini justru karena terlalu tahu tempat, tapi
tempatnya yang salah."
Semua menoleh ke Bayu.
"Ini desa, Pak. Tempat kita
bermusyawarah. Tempat kita menyelesaikan masalah bersama. Kalau ada warga yang
punya masalah, dia bawa ke sini. Itu yang saya lakukan."
"Tapi ini masalah pribadi!"
bantah Sugeng.
"Semua masalah pada awalnya
pribadi, Pak. Sampai kemudian menjadi masalah bersama."
Ruangan hening.
"Kamu ini..." Sugeng
menggeleng-gelengkan kepala, "kamu ini keterlaluan."
"Maaf kalau saya keterlaluan,
Pak. Tapi saya hanya jujur."
"Interupsi!" seru Ibu Lulu.
Semua langsung menoleh.
"Sebagai Kaur Keuangan, saya
hanya ingin memastikan satu hal," katanya tenang.
"Apakah proposal ini ada
anggarannya?"
Ruangan hening...
Lalu meledak dalam tawa.
"Kalau ada, mungkin bisa kita
masukkan di perubahan APBDes!" celetuk Pak Edi.
"Program: Penguatan Hubungan
Personal Berbasis Administrasi," tambah Jojon sambil tertawa.
"Poin-poinnya: kencan pertama,
kencan kedua, sampai kencan kesekian," sahut Herman.
"Cukup!" Pak Kades meninggikan
suara. Tapi ia juga tersenyum, tidak bisa menahan diri.
"Kita serius sedikit."
"Iya, Pak. Serius," kata Ibu
Lulu, masih dengan senyum tipisnya. "Tapi kalau memang tidak ada anggaran,
ya jangan dibahas terlalu lama. Buang-buang waktu."
"Bu Lulu ini selalu
praktis," kata Pak Kades sambil menggeleng.
"Ya, Pak. Karena uang desa bukan
untuk cinta-cintaan."
Tawa kembali.
Tapi kali ini, lebih ringan.
Di tengah keramaian itu, Yunita tetap
diam.
Ia mencatat.
Tapi pikirannya tidak sepenuhnya di
sana.
Pena di tangannya bergerak otomatis, mencatat
poin-poin yang tidak benar-benar ia baca.
Sesekali, ia melirik ke arah Bayu.
Bayu duduk tenang.
Tidak seperti biasanya.
Tidak ada gerakan tangan yang
bersemangat.
Tidak ada argumen yang dilontarkan
dengan cepat.
Ia hanya duduk.
Mendengarkan.
Menunggu.
Yunita bertanya-tanya: apa yang ada di
pikirannya sekarang?
Apakah ia menyesal?
Apakah ia takut?
Apakah ia masih yakin dengan apa yang
ia lakukan?
Ataukah ia sedang menghitung hari, menunggu
semua ini berlalu?
Yunita tidak tahu.
Dan untuk pertama kalinya, ia
menyadari bahwa meskipun ia bisa membaca berkas-berkas dengan sempurna, ia
tidak bisa membaca hati Bayu.
"Baik, kita serius sedikit,"
kata Pak Kades akhirnya.
Suasana kembali tenang.
"Pertanyaan utama: apakah forum
ini berhak memutuskan sesuatu yang bersifat pribadi?"
Hermansyah berdiri.
"Menurut saya, tidak. Tapi karena
sudah terlanjur masuk, kita harus menyelesaikannya dengan bijak."
"Bijak itu seperti apa?"
tanya Herman.
"Ya... jangan sampai
mempermalukan, tapi juga jangan dibiarkan jadi kebiasaan."
"Setuju," sahut Pak Eko.
"Kita hargai keberanian Bayu, tapi kita juga harus jaga batas."
"Bataspun perlu
dimusyawarahkan," tambah Santoso.
"Lho, batas kok
dimusyawarahkan?" celetuk Jojon.
"Ya, supaya jelas. Jangan sampai
ada yang salah paham."
"Ini desa, bukan
pengadilan."
"Desa juga butuh aturan."
Perdebatan mulai berputar-putar.
Seperti biasa.
Tiba-tiba, suara Anto terdengar lagi.
"Saya punya solusi!"
Semua langsung menoleh.
Anto berdiri dengan gaya percaya diri,
seperti pesulap yang akan mengeluarkan trik terbaiknya.
"Kenapa tidak kita buat voting
saja?" katanya serius.
"Voting?" ulang Pak Kades.
"Iya. Setuju atau tidak. Seperti
pemilihan."
Jojon langsung nyeletuk, "Ini
cinta apa pilkades, To?!"
Tawa kembali pecah.
"Voting itu demokratis,"
lanjut Anto, tidak terpengaruh.
"Tapi cinta bukan soal suara
terbanyak," sahut Bambang.
"Kalau begitu, bagaimana?"
"Ya dikembalikan ke yang
bersangkutan. Biar mereka yang memutuskan."
"Setuju!" seru beberapa
orang.
"Tidak setuju!" seru yang
lain.
Suasana mulai ricuh.
"Tuan-tuan, ibu-ibu..."
suara Ibu Yuni tiba-tiba memotong.
Semua diam.
Ibu Yuni jarang bicara di rapat. Ia
lebih suka di belakang layar, mengatur administrasi, memastikan semua berjalan
sesuai prosedur. Tapi ketika ia bicara, semua orang mendengar.
"Ini sudah berlarut-larut,"
katanya pelan. "Dan saya rasa kita lupa satu hal."
Ia menatap ke arah Bayu, lalu ke arah
Yunita.
"Ada dua orang yang perasaannya
sedang kita perdebatkan. Tapi apakah kita pernah bertanya pada mereka? Apa yang
mereka inginkan? Apa yang mereka rasakan?"
Sunyi.
"Bayu sudah bicara. Ia sudah
menyampaikan niatnya. Tapi Yunita... apakah kita sudah mendengar dari
Yunita?"
Semua menoleh ke Yunita.
Yunita tidak bergerak.
Wajahnya datar.
Tapi di matanya... ada sesuatu.
"Ibu Yuni benar," kata Pak
Kades. "Yunita, kamu mau bicara?"
Yunita berdiri.
Perlahan.
Seperti pohon yang tumbuh dari tanah.
Ia menatap sekeliling ruangan.
Menatap wajah-wajah yang sudah ia
kenal bertahun-tahun.
Wajah-wajah yang sekarang menatapnya
dengan penuh rasa ingin tahu.
"Saya tidak pernah meminta
ini," katanya pelan.
Suaranya tidak bergetar.
Ia sudah berlatih.
"Saya tidak pernah meminta
perasaan saya dibahas di depan umum. Saya tidak pernah meminta menjadi pusat
perhatian seperti ini."
Ia berhenti.
Menarik napas.
"Tapi karena sudah terjadi...
saya akan bicara."
Ia menatap Bayu.
Langsung.
Tanpa menghindar.
"Bayu, saya menghargai
keberanianmu. Saya menghargai ketulusanmu. Tapi..."
Ia berhenti lagi.
Ini bagian tersulit.
"...saya tidak bisa menjawab di
sini. Di depan semua orang. Ini bukan tempatnya."
Bayu mengangguk pelan.
"I know."
"Perasaan tidak bisa diputuskan
dengan musyawarah," lanjut Yunita. "Perasaan tidak bisa di-voting.
Perasaan hanya bisa... dirasakan."
Ia duduk kembali.
Tangannya gemetar.
Tapi ia tidak menangis.
Ia tidak akan menangis.
Tidak di sini.
Tidak sekarang.
Ruangan hening.
Untuk waktu yang lama.
Pak Kades berdiri.
"Baik," katanya pelan.
"Saya rasa kita sudah terlalu jauh."
Ia menatap seluruh ruangan.
"Ini bukan lagi soal proposal.
Tapi soal batas, mantara urusan pribadi dan urusan bersama."
Ia berhenti sejenak.
Lalu berkata tegas:
"Dan kita akan mengambil
keputusan... secara mufakat."
Suasana kembali tegang.
Namun kali ini, bukan karena lucu.
Tapi karena semua tahu, keputusan itu
akan menentukan bukan hanya nasib proposal...
Tapi juga hubungan dua orang.
Dan mungkin, mungkin juga, akan
mengubah cara desa ini memandang cinta, perasaan, dan segala hal yang tidak
bisa diatur dengan aturan.
Di luar, matahari mulai tenggelam.
Langit Desa Awan Biru berubah menjadi
jingga keemasan.
Sementara di dalam balai desa,
Sebuah keputusan sedang menunggu untuk
lahir.
BAB 7: Ditolak Secara
Resmi
Kantor Desa Awan Biru mendadak terasa
lebih sempit.
Padahal kursinya masih sama.
Orang-orangnya juga sama. Bahkan lampu neon yang menggantung di langit-langit
masih berpendar dengan cahaya pucat yang sama seperti malam-malam sebelumnya.
Kipas angin tua di sudut ruangan masih berputar dengan suara yang sama, berisik,
tapi tidak pernah cukup kuat untuk mendinginkan ruangan.
Tapi suasananya... berbeda.
Tidak ada lagi tawa lepas seperti
kemarin. Tidak ada lagi celetukan ringan yang membuat ruangan bergemuruh. Tidak
ada lagi bisik-bisik di antara kursi-kursi plastik yang berderit.
Yang ada hanya... hening yang berat.
Hening seperti sebelum badai.
Tapi badai sudah lewat.
Yang tersisa hanya kehancuran.
Di depan, Pak Kades Iwan berdiri
dengan selembar kertas di tangannya. Kertas yang sama yang sudah beberapa hari
terakhir menjadi bahan perdebatan seluruh desa. Kertas yang sudah difotokopi
entah berapa kali, yang sudah dibaca oleh hampir setiap orang di desa ini, yang
sudah menjadi legenda sebelum keputusannya dibacakan.
Kertas itu kini terlihat lebih lusuh.
Mungkin karena sering dipegang. Mungkin karena sering dibaca berulang-ulang.
Atau mungkin karena kertas itu sendiri, seperti manusia, lelah dengan semua
keributan yang ditimbulkannya.
"Baik," suara Pak Kades
terdengar lebih pelan dari biasanya. Tidak ada ketegasan yang biasa ia
tunjukkan saat memimpin rapat. Tidak ada wewenang yang menggelegar. Hanya suara
seorang lelaki tua yang lelah, yang ingin segera mengakhiri semua ini.
"Setelah mempertimbangkan semua
pendapat..."
Semua mata tertuju ke depan.
Bahkan Jojon, yang biasanya sibuk
dengan kameranya, kini hanya diam. Ponselnya tergeletak di pangkuan, layar
masih menyala, tapi ia tidak lagi merekam. Ia hanya menatap, seperti yang lain.
Di barisan samping, Bayu Andika
berdiri tegak.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Seolah ia sudah menyiapkan diri untuk
apa pun yang akan terjadi. Seolah ia sudah berlatih di depan cermin berulang
kali, mengatakan pada dirinya sendiri: apapun hasilnya, kamu harus
tetap berdiri. Kamu harus tetap tegar. Kamu tidak boleh menangis. Tidak boleh terlihat
lemah.
Tapi di dalam dadanya, jantungnya
berdegup seperti genderang perang yang akan segera berhenti.
Sementara di barisan depan, Yunita
duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat di atas pangkuannya.
Jari-jarinya saling mengunci, seperti sedang berdoa, seperti sedang menahan
sesuatu agar tidak meledak.
Ia menatap ke meja.
Tidak berani melihat ke arah Bayu.
Karena jika ia melihat, ia mungkin
akan berdiri. Mungkin akan berlari. Mungkin akan melakukan sesuatu yang tidak
bisa ia kendalikan.
Dan Yunita tidak suka kehilangan
kendali.
"Dengan ini," lanjut Pak
Kades, "forum musyawarah Desa Awan Biru memutuskan..."
Satu detik terasa seperti satu menit.
Satu menit terasa seperti satu jam.
Bayu menarik napas pelan.
Yunita menggenggam tangannya lebih erat.
"...Proposal Pengajuan Perasaan
dari Saudara Bayu Andika..."
Bayu menutup matanya sejenak.
"...DITOLAK secara mufakat."
Sunyi.
Bukan sunyi yang biasa.
Bukan sunyi karena tidak ada suara.
Tapi sunyi karena semua suara mati di
tengah jalan.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada komentar.
Tidak ada celetukan.
Hanya suara kipas angin tua yang berputar
pelan di langit-langit, seolah-olah kipas itulah satu-satunya yang masih hidup
di ruangan itu.
Pak Sugeng yang kemarin paling keras
menolak, kini diam. Mulutnya setengah terbuka, seperti ingin mengatakan
sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
Ibu Lulu menunduk, jari-jarinya sibuk
memainkan ujung map, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan karena ia adalah tipe
orang yang tangannya selalu tenang.
Pak Eko mengusap wajahnya dengan
telapak tangan, seperti sedang mencerna berita yang tidak ia duga, meskipun
sebenarnya ia sendiri yang memilih menolak.
Bahkan Anto, yang biasanya punya komentar
aneh untuk setiap situasi, hanya diam. Matanya tertuju pada Bayu, seolah-olah
ia sedang membaca garis tangan dari kejauhan.
Di sudut ruangan, Jojon menunduk.
Untuk pertama kalinya sepanjang
kariernya sebagai content creator dadakan, ia tidak ingin merekam apa pun.
Ia hanya diam.
Memandangi ponselnya yang layarnya
masih menyala.
Lalu tanpa suara, ia menekan tombol
stop.
Rekaman berhenti.
Tidak ada konten hari ini.
Bayu tersenyum kecil.
Bukan senyum bahagia. Bukan juga
senyum dipaksakan yang dibuat-buat. Tapi senyum seseorang yang sedang mencoba
tetap berdiri. Senyum seseorang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri
bahwa ini tidak seburuk yang ia bayangkan. Senyum seseorang yang hatinya
hancur, tapi kepalanya masih memerintahkan mulut untuk membentuk lengkungan.
"Baik, Pak," katanya pelan.
Suaranya tidak bergetar.
Ia sudah berlatih.
"Saya terima."
Kalimat itu sederhana.
Tiga kata.
Dua belas huruf.
Tapi terasa berat.
Seberat gunung.
Seberat seluruh beban yang ia pikul
sejak pertama kali ia memutuskan untuk menulis proposal itu.
Yunita akhirnya mengangkat wajahnya.
Matanya bertemu dengan Bayu.
Dan di dalam tatapan itu, ada sesuatu
yang tidak bisa diucapkan oleh forum mana pun.
Ada maaf.
Ada terima kasih.
Ada rasa bersalah.
Ada keinginan untuk berlari dan
memeluk.
Ada juga kesedihan yang mendalam, kesedihan
karena sesuatu yang belum sempat dimulai, harus berakhir di sini, di ruangan
ini, di hadapan orang-orang yang tidak mengerti.
"Maaf, Bayu," bisik Yunita.
Hanya gerakan bibir.
Hampir tidak terdengar.
Tapi Bayu melihat.
Bayu selalu melihat.
Ia mengangguk kecil.
Tersenyum lagi.
Senyum yang sama.
Senyum yang membuat Yunita ingin
menangis.
"Dengan alasan," lanjut Pak
Kades, membaca dari kertas yang sama, meskipun semua orang sudah tahu isinya,
karena sudah dibahas berulang kali, "bahwa hal tersebut merupakan ranah
pribadi dan tidak sesuai untuk diputuskan dalam forum desa..."
Beberapa orang mengangguk.
Terlambat.
Karena keputusan sudah diambil.
Tidak ada yang bisa diubah.
"Rapat kita tutup," kata Pak
Kades.
Biasanya, setelah kalimat itu,
orang-orang langsung berdiri. Ada yang berbicara dengan suara keras, ada yang
tertawa, ada yang bergerombol membentuk kelompok kecil untuk melanjutkan
diskusi.
Tapi tidak kali ini.
Semua bangkit... dalam diam.
Seperti pasukan yang kalah perang.
Seperti jamaah yang baru selesai
menguburkan jenazah.
Di luar balai desa, langit mulai
gelap.
Matahari sudah benar-benar tenggelam
di balik bukit-bukit di sebelah barat. Yang tersisa hanya sisa-sisa cahaya
jingga di ufuk, seperti kenangan yang perlahan memudar.
Angin malam berhembus lebih dingin
dari biasanya.
Atau mungkin hanya perasaan.
Bayu berjalan keluar tanpa banyak
bicara.
Langkahnya pelan, tapi pasti.
Ia tidak menoleh.
Tidak melihat ke belakang.
Tidak mencari siapa pun.
Ia hanya berjalan.
Menuju jalan setapak yang menuju ke
rumahnya.
Menuju kamar kecil dengan meja kayu
bekas jahitan ibunya.
Menuju kegelapan yang akan
menyambutnya.
"Yu..."
Suara Bambang terdengar dari belakang.
Bayu berhenti.
Tidak menoleh.
"Maaf ya..." kata Bambang
lirih.
Suaranya terdengar seperti orang yang
sedang menahan tangis.
Bambang jarang menangis. Bambang
adalah tipe orang yang selalu tertawa, selalu bercanda, selalu mengubah situasi
serius menjadi lelucon. Tapi malam itu, ia tidak bisa.
Bayu menggeleng.
"Bukan salah kamu."
"Ini semua... jadi terlalu
besar," lanjut Bambang.
Ia berjalan mendekat, berdiri di
samping Bayu.
Mereka berdua menatap ke arah jalan
yang gelap.
Lampu jalan yang hanya tiga buah di
seluruh desa itu menyala redup, seperti mata yang hampir tertutup.
"Bukan salah siapa pun,"
kata Bayu pelan. "Aku yang membesarkannya."
Sunyi sejenak.
Hanya suara jangkrik dan angin.
"Kalau kamu bisa ulang..."
tanya Bambang pelan, "kamu tetap akan bikin proposal itu?"
Bayu terdiam.
Ia menatap langit yang gelap.
Bintang-bintang mulai bermunculan satu
per satu.
Seolah-olah alam sedang mengingatkan
bahwa meskipun gelap, selalu ada cahaya.
Lalu ia menjawab pelan.
"Iya."
Bambang terkejut.
"Serius?"
Bayu mengangguk.
"Karena setidaknya... aku pernah
berani."
Ia berbalik menghadap Bambang.
Tersenyum.
Senyum yang berbeda dari sebelumnya.
Senyum yang lebih... lega.
"Aku nggak akan pernah tahu
hasilnya kalau aku nggak mencoba. Aku nggak akan pernah bisa tidur nyenyak
kalau aku cuma diam dan tidak melakukan apa-apa. Mungkin ini salah. Mungkin ini
konyol. Mungkin ini jadi bahan tertawaan se-desa."
Ia berhenti.
Menarik napas.
"Tapi aku sudah mencoba. Dan itu
lebih baik daripada diam dan menyesal."
Bambang menatap Bayu lama.
Lalu ia mengangguk.
"Kamu ini benar-benar beda,
Yu."
"Makanya aku ditolak."
"Bukan karena kamu beda. Karena
mereka belum siap."
Bayu tertawa kecil.
"Kamu ini sekarang jadi filosof,
Bang."
"Kamu yang membuatku jadi
filosof."
Mereka berdua tertawa.
Tawa kecil di tengah malam yang gelap.
Tawa yang menghangatkan sedikit.
Di sisi lain, Yunita berdiri di teras
kantor desa.
Sendirian.
Lampu kantor sudah dimatikan. Hanya
tersisa lampu teras yang menyala redup, cukup untuk menerangi wajahnya yang
pucat.
Ia memegang map biru di tangannya.
Map yang sama yang selama ini ia
gunakan.
Tapi kali ini, map itu terasa lebih
berat.
Seperti berisi sesuatu yang tidak bisa
ia lepaskan.
Ibu Yuni mendekat.
Langkahnya pelan, seperti orang yang
tidak ingin mengganggu, tapi juga tidak ingin membiarkan seseorang sendirian
dalam kesedihan.
"Kamu tidak apa-apa?"
Yunita tersenyum tipis.
"Aku harusnya tanya itu ke
Bayu..."
Ibu Yuni mengangguk pelan.
"Kadang, yang terlihat kuat...
justru yang paling terluka."
Yunita menunduk.
"Ibu tahu..."
"Aku tahu."
"Mengapa aku merasa bersalah, Bu?
Padahal aku tidak melakukan apa-apa."
Ibu Yuni diam sejenak.
"Kadang, perasaan bersalah tidak
butuh alasan. Ia datang begitu saja."
"Tapi aku tidak menolaknya. Aku
hanya... aku hanya tidak bisa menjawab di sini. Di depan semua orang."
"Itu yang membuatmu bersalah.
Karena kamu tahu dia berani, tapi kamu belum bisa membalas keberaniannya."
Yunita terdiam.
"Ibu, apakah aku salah?"
Ibu Yuni menggeleng.
"Kamu tidak salah. Bayu juga
tidak salah. Yang salah adalah cara kita semua memperlakukan cinta seolah-olah
ia harus melalui prosedur."
Yunita menatap Ibu Yuni.
"Apa yang harus aku lakukan, Bu?"
Ibu Yuni tersenyum.
"Itu bukan pertanyaan untukku.
Itu pertanyaan untuk hatimu."
Di kejauhan, Yunita melihat Bayu
berjalan menjauh.
Bersama Bambang.
Tanpa menoleh.
Ia ingin berteriak.
Ingin memanggil.
Ingin berlari.
Tapi kakinya tidak bergerak.
Ia hanya berdiri.
Memandang.
Membiarkan Bayu pergi.
"Kamu bisa mengejarnya,"
kata Ibu Yuni pelan.
Yunita menggeleng.
"Tidak, Bu. Tidak malam
ini."
"Kenapa?"
"Karena aku belum siap. Dan dia
juga belum siap."
Ibu Yuni mengangguk.
"Tapi ingat, Yun. Kesempatan tidak
datang dua kali."
Yunita tidak menjawab.
Ia hanya menatap ke arah jalan yang
gelap.
Ke arah di mana Bayu telah menghilang.
Ke arah di mana hatinya ikut pergi.
Malam itu, Warung Mbah Karyo tidak
seramai biasanya.
Beberapa kursi kosong.
Tidak ada tawa keras.
Tidak ada suara orang berdebat.
Hanya Mbah Karyo yang duduk di balik
meja, mengelap gelas yang sama sejak setengah jam yang lalu.
Bayu duduk di tempat biasa.
Cangkir kopinya masih panas, baru
diseduh.
Tapi tidak disentuh.
Ia hanya menatapnya.
Seperti sedang mencari sesuatu di
dalam cairan hitam pekat itu.
"Minum dulu, Yu," kata Mbah
Karyo pelan.
Bayu mengangguk.
Tapi tetap diam.
"Kadang..." kata Mbah Karyo
sambil duduk di sampingnya.
Kursi kayu tua itu berderit menerima
beban.
"...yang paling menyakitkan bukan
ditolak."
Bayu menoleh pelan.
"Tapi ketika sesuatu yang
harusnya sederhana... jadi rumit."
Bayu tersenyum tipis.
"Seperti kopi ini ya, Mbah...
harusnya tinggal diminum."
Mbah Karyo ikut tersenyum.
"Iya. Tapi kamu malah bikin
laporan dulu sebelum minum."
Bayu tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak keputusan
itu dibacakan.
"Laporannya ditolak, Mbah."
"Ya, kopinya jadi dingin."
Mereka berdua tertawa.
Tawa kecil di malam yang sunyi.
"Tapi kamu nggak menyesal,
kan?" tanya Mbah Karyo.
Bayu menggeleng.
"Nggak, Mbah."
"Bagus. Laki-laki sejati tidak
menyesali keberaniannya."
"Mbah, saya nangis di
dalam."
"Itu wajar. Laki-laki sejati juga
boleh menangis. Asal jangan terlalu lama."
Bayu mengangguk.
"Baik, Mbah."
Ia akhirnya mengambil cangkir kopinya.
Menyesap.
Pahit.
Seperti biasa.
Tapi kali ini, pahitnya terasa
berbeda.
Pahit yang menyegarkan.
Pahit yang mengingatkan bahwa ia masih
hidup.
Di rumahnya, Yunita duduk di depan
meja.
Map biru itu masih ada di tangannya.
Ia membukanya.
Membaca kembali.
"Tujuan: menjalin hubungan yang
serius, saling mendukung, dan berpotensi menuju masa depan bersama..."
Matanya mulai berkaca.
"Manfaat: meningkatkan
kebahagiaan individu..."
Ia tidak bisa membaca lebih lanjut.
Pandangannya kabur.
Air mata, yang sejak tadi ia tahan,
yang sejak rapat ia pendam, yang sejak pertama kali mendengar proposal itu
dibacakan ia usahakan untuk tidak jatuh, kini akhirnya tumpah.
Pertama kali dalam bertahun-tahun.
Yunita menangis.
Ia menangis untuk Bayu.
Untuk dirinya sendiri.
Untuk sesuatu yang belum sempat
dimulai.
Untuk keberanian yang dihancurkan oleh
aturan.
Untuk perasaan yang harus mati sebelum
sempat hidup.
"Kenapa harus seperti
ini..." bisiknya.
Suaranya tersendat.
"Kenapa... semua harus... serumit
ini..."
Ia menutup map itu perlahan.
Lalu menyandarkan kepalanya di atas
meja.
Bahunya naik turun.
Ia tidak lagi peduli jika ada yang
mendengar.
Tidak lagi peduli jika ada yang
melihat.
Untuk malam ini, ia membiarkan dirinya
rapuh.
Untuk malam ini, ia membiarkan dirinya
menjadi manusia.
Bukan pegawai desa.
Bukan putri yang selalu sempurna.
Bukan perempuan yang selalu menjaga
keteraturan.
Tapi hanya Yunita.
Perempuan yang hatinya hancur.
Dan untuk pertama kalinya...
Ia tidak memikirkan aturan.
Tidak memikirkan forum.
Tidak memikirkan apa kata orang.
Ia hanya memikirkan satu hal:
Bayu.
Dan di malam yang sama,
Di dua tempat yang berbeda,
Dua orang merasakan hal yang sama:
Kehilangan sesuatu...
Yang bahkan belum sempat benar-benar
dimulai.
BAB 8: Jarak di Antara
Dua Hati
Pagi di Desa Awan Biru tetap datang
seperti biasa.
Ayam berkokok.
Kabut tipis menggantung di antara
pepohonan karet.
Aroma tanah basah masih menguar
lembut.
Dan aktivitas warga berjalan seperti
tidak pernah terjadi apa-apa.
Ibu-ibu pergi ke pasar dengan keranjang
di tangan.
Bapak-bapak berangkat ke sawah dengan
cangkul di pundak.
Anak-anak berlarian ke sekolah dengan
tas yang sedikit terlalu besar untuk tubuh mereka.
Tapi bagi beberapa orang...
Hari itu terasa berbeda.
Warung Mbah Karyo tidak seramai
biasanya.
Bangku kayu yang biasanya penuh,
kadang sampai kelebihan orang, kini hanya diisi beberapa orang.
Suara tawa masih ada, tapi tidak lagi
sekeras dulu.
Seperti radio yang volumenya
dipelankan.
Di sudut, Bayu Andika duduk sendiri.
Kopi di depannya sudah dingin.
Tidak disentuh.
Ia hanya duduk.
Menatap kosong ke arah jalan.
Seolah-olah mencari sesuatu yang tidak
akan pernah datang.
"Yu..." panggil Bambang
pelan sambil duduk di sebelahnya.
Ia tidak membawa kameranya hari ini.
Kamera itu tergantung di dinding kamarnya,
pertama kalinya dalam sejarah.
Bambang datang hanya dengan dirinya
sendiri.
Tanpa alat.
Tanpa topeng.
"Kamu sudah dua hari nggak ke
kantor desa," kata Bambang.
Bayu mengangguk kecil.
"Lagi nggak pengen ke sana."
"Karena Yunita?"
Bayu tersenyum tipis.
"Bukan cuma itu... tapi iya,
salah satunya."
Sunyi sejenak.
"Rasanya aneh ya," lanjut
Bayu pelan.
"Bang, dulu aku sering cari
alasan buat ke kantor. Padahal berkas yang mau dikumpulin cuma satu lembar.
Tapi aku bisa bolak-balik tiga kali sehari. Aku bilang 'revisi', padahal cuma
pengen liat dia."
Bambang tersenyum kecil.
"Dan sekarang?"
"Dan sekarang... malah cari
alasan buat nggak ke sana. Padahal berkasku numpuk. Padahal ada yang harus
ditandatangani. Tapi... aku nggak sanggup."
Bambang tidak langsung menjawab.
Ia mengambil cangkir kopi yang sudah
dingin itu.
Menuangkannya ke tanah.
Lalu memanggil Mbah Karyo untuk
membuat yang baru.
"Kadang," katanya akhirnya,
"yang berubah bukan tempatnya... tapi perasaan kita terhadap tempat
itu."
Bayu mengangguk.
"Dan perasaan itu... nggak bisa
dimusyawarahkan ya..."
Bambang tersenyum.
"Iya. Sayangnya nggak ada forum
buat itu."
Mbah Karyo datang membawa dua cangkir
kopi baru.
Asap mengepul.
Wanginya menghangatkan sedikit.
"Minum, Yu," kata Mbah
Karyo. "Jangan disia-siakan. Kopi ini juga punya perasaan."
Bayu tersenyum.
"Kopi punya perasaan, Mbah?"
"Iya. Kalau tidak dihargai, ia
jadi pahit."
"Bukannya memang sudah pahit,
Mbah?"
"Pahit itu natural. Tapi ada
pahit yang menyegarkan, ada juga pahit yang menyakitkan. Tergantung yang
minum."
Bayu mengambil cangkir itu.
Menyesap.
Pahit.
Tapi kali ini, ia merasakan sedikit
hangat.
Di sisi lain desa, kantor desa tetap
berjalan seperti biasa.
Berkas menumpuk.
Printer berbunyi dengan suara batuknya
yang khas.
Telepon berdering sesekali.
Dan rutinitas tidak pernah menunggu
siapa pun.
Yunita duduk di mejanya.
Seperti biasa.
Tapi ada yang berbeda.
Ia lebih diam.
Lebih sering menatap kosong ke arah monitor,
yang sebenarnya tidak menampilkan apa pun yang menarik.
Lebih sering menghela napas tanpa
alasan.
Lebih sering memainkan pena di antara
jari-jarinya, tanpa menulis apa pun.
"Yun..." panggil Ibu Lulu
pelan.
Yunita tersadar.
"Iya, Bu?"
"Kamu tidak apa-apa?"
Yunita tersenyum tipis.
Senyum yang sudah menjadi default-nya
beberapa hari terakhir.
"Baik, Bu."
Ibu Lulu mengangguk, tapi jelas ia
tidak sepenuhnya percaya.
Ia sudah terlalu lama mengenal Yunita.
Sudah terlalu lama melihat perempuan
muda itu bekerja dengan disiplin dan semangat.
Dan ia tahu bahwa "baik"
yang diucapkan Yunita bukanlah "baik" yang sesungguhnya.
"Kadang," kata Ibu Lulu
sambil duduk di kursi di samping meja Yunita, "kita terlalu sibuk terlihat
kuat... sampai lupa kalau kita juga manusia."
Yunita menunduk.
Tangannya menggenggam pena lebih erat.
"Kalau kamu mau cerita..."
lanjut Ibu Lulu, "nggak semua harus disimpan sendiri. Aku bukan ibu
kandungmu. Tapi aku cukup tua untuk jadi ibu bagimu."
Yunita menarik napas panjang.
Napas yang terasa berat.
"Ternyata... lebih sulit dari
yang aku kira, Bu."
"Yang mana?"
Yunita terdiam sejenak.
Ia mengumpulkan kata-kata.
Menyusunnya seperti ia menyusun
berkas.
Tapi kali ini, kata-kata tidak mudah
diatur.
"Menjaga jarak... dari seseorang
yang sebenarnya tidak ingin kita jauhi."
Ibu Lulu tersenyum lembut.
"Itu bukan soal jarak, Yun..."
"Terus?"
"Itu soal hati yang belum siap
melepaskan."
Yunita menatap Ibu Lulu.
Matanya mulai berkaca, tapi ia tahan.
Ia tidak akan menangis di kantor.
Tidak akan.
"Apakah aku harus melepaskan,
Bu?"
Ibu Lulu menggeleng.
"Itu bukan untuk aku jawab. Itu
untuk hatimu."
"Tapi hati aku bingung, Bu."
"Itu wajar. Hati memang sering
bingung. Tapi ia juga selalu tahu jawabannya. Kamu hanya perlu berani
mendengarnya."
Sore hari, langit Desa Awan Biru
kembali berwarna jingga.
Seperti biasa.
Seperti tidak ada yang berubah.
Anak-anak, Maya, Mahendra, dan Gito, berlari
di halaman balai desa dengan tawa lepas.
Mereka bermain kejar-kejaran.
Tanpa beban.
Tanpa pikiran rumit.
Tanpa proposal.
Tanpa forum.
Tanpa cinta yang harus diputuskan
bersama.
Bayu berdiri tidak jauh dari mereka.
Memperhatikan.
Ada senyum kecil di wajahnya, senyum
yang tulus, bukan senyum formal, bukan senyum yang ia pakai untuk
menyembunyikan luka.
"Bang Bayu kenapa murung?"
tanya Maya polos.
Ia berhenti berlari dan berdiri di
depan Bayu, tangan di pinggang, kepala mendongak.
Bayu tersenyum kecil.
"Nggak murung... cuma lagi
mikir."
"Mikir apa?"
Bayu terdiam sejenak.
Ia menatap langit jingga.
Lalu menjawab pelan.
"Kadang, sesuatu yang kita
inginkan... nggak selalu bisa kita dapatkan."
Mahendra yang ikut mendekat
mengernyit.
"Kalau nggak dapat, ya cari
lagi."
Gito ikut menimpali, "Atau bilang
lagi sampai dapat!"
Bayu tertawa kecil.
"Sederhana ya..."
Maya mengangguk mantap.
"Iya. Orang dewasa aja yang suka
bikin ribet."
Bayu terdiam.
Kalimat itu sederhana...
Tapi terasa menampar.
Orang dewasa aja yang suka bikin
ribet.
Anak-anak tahu caranya: suka ya
bilang, nggak suka ya bilang, kalau ditolak ya cari lagi.
Tapi orang dewasa...
Orang dewasa bikin proposal.
Orang dewasa bahas di forum.
Orang dewasa voting.
Orang dewasa bikin cinta jadi rumit.
"Kalian benar," kata Bayu
akhirnya.
"Tentu saja kami benar,"
kata Maya dengan percaya diri. "Kami kan anak-anak."
Bayu tertawa.
Tertawa sungguhan.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa
hari.
Malamnya, warung Mbah Karyo kembali
menjadi tempat pelarian.
Namun kali ini, Bayu tidak banyak
bicara.
Ia hanya duduk.
Mendengarkan.
Kadang tersenyum.
Kadang mengangguk.
Bambang, Jojon, Hermansyah, dan Herman
sudah berkumpul.
Nadya juga dating, meskipun biasanya
ia tidak suka begadang.
"Yu," kata Hermansyah,
suaranya dalam dan serius, "kamu mau sampai kapan begini?"
Bayu mengangkat bahu.
"Nggak tahu."
"Kalau kamu diam terus, ya
semuanya juga ikut diam."
Bayu menatap cangkir kopinya.
"Kadang diam itu... lebih jujur
daripada bicara."
"Jujur ke siapa?"
Bayu tidak langsung menjawab.
Ia memutar-mutar cangkir kopinya.
Lalu menjawab pelan.
"Ke diri sendiri."
Hermansyah menghela napas.
"Bayu, aku sudah menikah. Aku
punya anak. Aku tahu sedikit tentang cinta."
Semua diam.
Hermansyah jarang bicara panjang.
Tapi ketika ia bicara, semua orang
mendengar.
"Cinta itu nggak butuh diam.
Cinta butuh gerak. Cinta butuh aksi. Kalau kamu diam, cinta mati. Kalau cinta
mati, yang tersisa cuma kenangan. Dan kenangan nggak bisa menghangatkan
malam-malam dingin seperti ini."
Bayu menatap Hermansyah.
"Jadi, aku harus apa?"
"Ya berani lagi. Berani terus.
Sampai suatu hari kamu sadar bahwa cinta nggak butuh proposal. Cinta cuma butuh
dua orang yang sama-sama berani."
Bayu terdiam.
"Kamu ditolak forum, bukan
ditolak Yunita," lanjut Hermansyah. "Ingat itu."
Di waktu yang sama, di kamarnya,
Yunita duduk di depan meja.
Map biru itu masih ada.
Masih sama.
Masih utuh.
Ia membukanya lagi.
Entah sudah berapa kali.
"Manfaat: meningkatkan
kebahagiaan individu..."
Yunita tersenyum tipis, tapi matanya
berkaca.
"Menciptakan sinergi
emosional..."
Ia menggeleng pelan.
"Berkontribusi terhadap
stabilitas sosial..."
Ia tertawa kecil.
"Bayu... kamu ini benar-benar
aneh."
Ia menutup map itu perlahan.
Lalu bersandar di kursi.
Menatap langit-langit kamarnya yang
retak di beberapa bagian.
"Tapi aku merindukan
keanehanmu," bisiknya.
Suaranya hampir tidak terdengar.
"Kenapa baru aku sadar
sekarang?"
Di luar, angin malam berhembus pelan.
Seolah membawa sesuatu yang tidak
terlihat,
Rasa rindu yang tidak diucapkan.
Di dua tempat yang berbeda,
Bayu menatap langit dari beranda
rumahnya.
Bintang-bintang bertaburan.
Indah.
Tapi terasa jauh.
Yunita menatap meja dari kamarnya.
Map biru itu masih terbuka.
Kata-kata Bayu masih terpampang.
Perlahan, ia mengambil pena.
Di sudut kertas proposal itu, di
tempat yang tidak akan terlihat kecuali jika seseorang benar-benar mencari, ia
menulis satu kalimat kecil:
Aku belum bilang tidak.
Lalu ia menutup map itu.
Menyimpannya di laci.
Terkunci.
Tapi kali ini, ia tidak menyembunyikan
kuncinya.
Ia meletakkannya di atas meja.
Di tempat yang mudah dijangkau.
Seolah-olah ia sudah siap.
Seolah-olah ia hanya menunggu.
Tanpa kata.
Tanpa pertemuan.
Namun dengan perasaan yang sama:
Masih saling memikirkan...
Tapi tidak tahu harus kembali lewat
jalan yang mana.
Desa Awan Biru tetap hidup seperti
biasa.
Rapat tetap ada.
Diskusi tetap berjalan.
Tawa tetap terdengar.
Tapi di antara semua itu...
Ada dua hati yang memilih diam,
Bukan karena tidak ingin bicara,
Tapi karena takut... semuanya akan
kembali rumit.
BAB 9: Memahami yang
Sederhana
Pagi itu, Desa Awan Biru terasa lebih
hangat.
Matahari muncul perlahan di balik
pepohonan karet, menyinari jalan tanah yang masih basah oleh embun. Cahaya
keemasan menyebar lembut, seperti selimut yang ditarik perlahan dari bumi.
Suasana tenang... tapi tidak lagi
terasa kosong.
Seolah-olah, ada sesuatu yang mulai
berubah, meski belum terlihat jelas.
Seperti tanah yang mulai retak sebelum
benih berkecambah.
Seperti langit yang mulai berubah
warna sebelum hujan turun.
Seperti hati yang mulai siap sebelum
cinta datang.
Bayu terbangun lebih awal dari
biasanya.
Ia tidak tahu mengapa.
Mungkin karena suara ayam yang lebih
keras dari biasanya.
Atau mungkin karena ia tidak bisa
tidur nyenyak setelah apa yang terjadi.
Atau mungkin, mungkin saja, karena
alam sedang memberinya tanda.
Ia duduk di tepi tempat tidurnya.
Memandangi kamar yang masih gelap.
Hanya cahaya pagi yang menyelinap
melalui celah-celah jendela.
"Ingin kopi," gumamnya.
Ia berdiri.
Mencuci muka.
Mengenakan kaos yang sama seperti
kemarin.
Dan berjalan menuju warung Mbah Karyo.
Di halaman kantor desa, anak-anak
kembali bermain.
Maya, Mahendra, dan Gito, trio yang
tidak pernah terpisahkan, berlari sambil tertawa, memainkan sesuatu yang bagi
mereka sangat penting...
Meskipun bagi orang dewasa mungkin
terlihat sepele.
"Bang Bayu!" teriak Maya.
Bayu yang sedang duduk di bangku kayu
di pinggir halaman menoleh.
"Iya?"
"Main sama kami!"
Bayu tersenyum kecil.
"Main apa?"
"Main kejar-kejaran! Yang kalah
harus jujur!"
Bayu mengernyit.
"Jujur tentang apa?"
Mahendra menjawab cepat, "Ya apa
saja! Pokoknya nggak boleh bohong!"
Gito mengangguk-angguk. "Iya!
Nggak boleh bohong! Kalau bohong, kena sanksi!"
"Sanksinya apa?" tanya Bayu
penasaran.
"Dielus kepalanya sama
Maya!" seru Gito.
Maya mengangguk bangga. "Iya.
Elusan kepalaku sakti. Bisa bikin orang jujur."
Bayu tertawa pelan.
"Permainan anak-anak kok berat
juga ya..."
Namun entah kenapa... ia ikut berdiri.
Bergabung.
Berlarian.
Tertawa.
Mengejar dan dikejar.
Untuk beberapa saat...
Ia lupa tentang rapat, proposal, dan
semua kerumitan yang sempat memenuhi pikirannya.
Ia hanya berlari.
Hanya tertawa.
Hanya menjadi dirinya sendiri.
Bukan Bayu yang idealis.
Bukan Bayu yang selalu punya argumen.
Bukan Bayu yang proposalnya ditolak.
Tapi Bayu yang sederhana.
Bayu yang hanya ingin bahagia.
Hingga akhirnya, ia kalah.
Mahendra yang paling cepat
menangkapnya.
"HAHA! KENA!" teriak
Mahendra sambil menarik lengan Bayu.
"Nah! Sekarang Bang Bayu harus
jujur!" seru Gito sambil melompat-lompat.
Maya berdiri di depan Bayu dengan
tangan di pinggang, pose komandannya.
"Jujur apa?" tanya Bayu
masih terengah-engah.
Maya menatap Bayu dengan mata yang
tajam, terlalu tajam untuk anak seusianya.
"Bang Bayu masih suka sama Kak
Yunita nggak?"
Sunyi.
Bayu terdiam.
Anak-anak lain berhenti bergerak.
Mereka menunggu.
Bayu menatap Maya.
Lalu menatap Mahendra dan Gito.
Lalu menatap langit pagi yang biru
cerah.
Lalu...
"Iya," jawabnya pelan.
Bukan bisikan.
Tapi juga bukan teriakan.
Hanya pernyataan.
Sederhana.
Jujur.
Anak-anak saling pandang.
Lalu tersenyum.
"Ya sudah," kata Maya
santai.
"Kalau suka, bilang lagi
saja."
Bayu menghela napas kecil.
"Kalau sesederhana itu..."
"Memang sesederhana itu,"
potong Mahendra.
"Yang bikin susah itu orang
dewasa."
Bayu tersenyum.
Dan kali ini... bukan sekadar senyum.
Ada sesuatu yang mulai terasa ringan.
Seperti beban yang diangkat dari
pundaknya.
Seperti pintu yang terbuka setelah
lama tertutup.
Seperti pagi yang cerah setelah malam
yang panjang.
Di tempat lain, di dalam kantor desa,
Yunita sedang merapikan berkas.
Tapi tangannya berhenti saat melihat
satu map yang sudah terlalu sering ia buka.
Map biru.
Biru tua.
Warna favoritnya.
Ia duduk perlahan.
Membukanya lagi.
Membaca lagi.
"Latar belakang... tujuan...
manfaat..."
Ia menggeleng pelan.
"Kenapa semuanya harus dijelaskan
ya..." gumamnya.
Ia teringat satu hal,
Cara Bayu berbicara tanpa naskah.
Bukan dengan kata-kata yang disiapkan,
bukan dengan argumen yang dirancang, tapi dengan suara yang keluar dari hati.
Cara Bayu tersenyum tanpa rencana.
Bukan senyum formal, bukan senyum diplomatis,
tapi senyum yang tulus, senyum yang membuat orang di sekitarnya ikut tersenyum.
Cara Bayu... menjadi dirinya sendiri.
Tanpa topeng.
Tanpa takut dihakimi.
Tanpa peduli apa kata orang.
Yunita menutup map itu.
Kali ini... lebih mantap.
"Yang aku butuhkan... bukan
penjelasan," bisiknya pelan.
"Tapi kejujuran."
Ia berdiri.
Map biru itu masih di tangannya.
Ia menatapnya lama.
Lalu, untuk pertama kalinya, ia tidak
menyimpannya di laci.
Ia meletakkannya di atas meja.
Di tempat yang terbuka.
Di tempat yang terlihat.
Di tempat yang siap.
Di luar kantor, Ibu Yuni memperhatikan
dari kejauhan.
Ia melihat Yunita berdiri di dekat
jendela.
Memandang map biru itu.
Tersenyum kecil.
Ibu Yuni tersenyum juga.
"Sepertinya... ada yang mulai
mengerti," gumamnya.
Pak Kades Iwan yang kebetulan lewat,
menoleh.
"Mengerti apa, Bu?"
Ibu Yuni menatap Pak Kades.
"Bahwa cinta tidak perlu
dimusyawarahkan, Pak."
Pak Kades terdiam.
Lalu mengangguk pelan.
"Ya... mungkin kita semua belajar
sesuatu dari kejadian ini."
"Iya, Pak. Bahwa terkadang, yang
paling sederhana adalah yang paling benar."
Sore hari, warung Mbah Karyo kembali
hidup.
Namun suasananya berbeda.
Lebih ringan.
Seperti orang-orang yang baru saja
selesai mengangkut beban berat dari pundak mereka.
Bayu datang.
Duduk seperti biasa.
"Wah, sudah kembali ke dunia
perkopian," kata Mbah Karyo sambil tersenyum.
Bayu mengangguk.
"Sudah waktunya, Mbah."
"Sudah selesai mikirnya?"
Bayu tersenyum kecil.
"Belum selesai... tapi sudah
lebih jelas."
Bambang datang, langsung duduk.
"Gimana, Yu?"
Bayu menatap ke depan.
Ke arah jalan yang mulai gelap.
Ke arah kantor desa yang mulai
menyalakan lampu.
"Kayaknya... selama ini aku
terlalu ribet."
"Baru sadar?" sahut Jojon
yang tiba-tiba muncul.
Tawa kecil terdengar.
"Aku terlalu ingin semuanya
sempurna," lanjut Bayu.
"Padahal... yang penting itu
jujur."
"Terus?" tanya Bambang.
Bayu menarik napas panjang.
"Kalau aku masih punya
kesempatan... aku mau ulang semuanya."
"Dengan proposal baru?"
tanya Jojon sambil menyeringai.
Bayu menggeleng.
"Tanpa proposal."
Semua terdiam sejenak.
"Wah..." kata Hermansyah
pelan.
"Ini baru Bayu yang
sebenarnya."
"Yang dulu mana?" tanya
Herman.
"Yang dulu terlalu banyak mikir.
Yang ini mulai berani bertindak."
Bayu tersenyum.
"Kalian ini lebay."
"Kami serius," kata Bambang.
"Iya, kamu sudah berubah,"
tambah Nadya.
"Berubah jadi apa?"
"Jadi lebih... manusia."
Bayu tertawa.
"Sebelumnya aku robot?"
"Sebelumnya kamu terlalu idealis
sampai lupa kalau kamu juga punya perasaan."
Bayu terdiam.
"Ya... mungkin kalian
benar."
Di waktu yang sama, Yunita berjalan
pulang.
Langkahnya pelan.
Namun tidak lagi ragu.
Tidak lagi seperti orang yang berjalan
di atas es.
Tapi seperti orang yang berjalan di
tanah yang kokoh.
Di tangannya, tidak ada map.
Tidak ada berkas.
Tidak ada apa-apa.
Hanya pikirannya...
Yang kini jauh lebih sederhana.
Ia berhenti sejenak di bawah pohon
besar dekat perempatan jalan.
Menatap langit senja yang mulai
berubah warna.
Dari biru menjadi jingga.
Dari jingga menjadi ungu.
Dari ungu menjadi gelap.
"Kalau dia datang lagi..."
bisiknya pelan.
"Jangan lewat proposal. Jangan
lewat forum. Jangan lewat orang lain."
Ia menarik napas.
"Datang saja. Langsung. Seperti
dulu."
"Sebelum semua ini rumit."
Angin sore berhembus pelan.
Seolah membawa pesan...
Yang belum disampaikan, tapi sudah
mulai dipahami.
Dan di Desa Awan Biru,
Dua orang yang sempat menjauh
Kini mulai berjalan... ke arah yang
sama.
Bukan dengan rencana.
Bukan dengan forum.
Tapi dengan satu hal yang paling
sederhana:
Keberanian untuk jujur.
BAB 10: Tanpa Proposal,
Tanpa Forum
Sore itu, Desa Awan Biru terlihat
lebih tenang dari biasanya.
Langit berwarna jingga keemasan, seperti
lukisan yang sedang dikerjakan oleh pelukis paling sabar di dunia. Warna
jingganya tidak terlalu terang, tidak terlalu redup. Pas. Seperti keseimbangan
antara harapan dan kenyataan.
Angin berhembus pelan, membawa aroma
tanah dan daun yang mulai gugur. Aroma yang mengingatkan bahwa musim akan
berganti, bahwa tidak ada yang abadi, bahwa setiap akhir adalah awal dari
sesuatu yang baru.
Tidak ada rapat.
Tidak ada suara perdebatan.
Tidak ada agenda.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa
minggu, semuanya terasa cukup.
Di bawah pohon besar dekat kantor
desa, pohon beringin yang sudah berusia puluhan tahun, yang akarnya menjalar ke
mana-mana seperti urat nadi desa itu sendiri—Yunita berdiri sendirian.
Tangannya kosong.
Tidak ada map.
Tidak ada berkas.
Tidak ada pena.
Tidak ada catatan.
Seolah ia sedang menunggu sesuatu,
Atau seseorang.
Ia memandang ke arah jalan setapak
yang menghubungkan kantor desa dengan rumah-rumah warga. Jalan tanah yang
berdebu, yang setiap hari dilalui oleh orang-orang dengan urusannya
masing-masing.
Jalan yang sama yang biasa dilalui
Bayu setiap pagi menuju kantor desa.
Jalan yang sama yang tidak ia lalui
selama beberapa hari terakhir.
"Di mana kamu, Bayu?"
bisiknya pelan.
Langkah kaki terdengar pelan dari
kejauhan.
Bukan langkah tergesa-gesa.
Bukan juga langkah ragu-ragu.
Tapi langkah orang yang sudah tahu ke
mana ia akan pergi.
Bayu Andika datang.
Tidak tergesa.
Tidak ragu.
Namun juga tidak membawa apa pun.
Tidak ada map.
Tidak ada berkas.
Tidak ada proposal.
Hanya dirinya sendiri.
Hanya Bayu.
Ia berhenti beberapa meter dari
Yunita.
Mereka saling berhadapan.
Sunyi.
Angin berhembus di antara mereka,
membawa dedaunan kering yang berguguran.
Biasanya, Bayu akan bicara dulu.
Dengan candaan, dengan ide, atau
dengan kalimat panjang yang penuh argumen.
Tapi kali ini... tidak.
Ia hanya berdiri.
Menatap Yunita.
Seolah-olah ia sedang mengumpulkan
keberanian yang tersisa.
"Aku..." Bayu akhirnya
membuka suara.
Lalu berhenti.
Tersenyum kecil.
"Aku lupa kata-katanya,
Yun."
Yunita menatapnya.
"Ada yang mau kamu
sampaikan?"
Bayu mengangguk.
"Iya... tapi kali ini nggak pakai
proposal."
Yunita tersenyum tipis.
"Syukurlah."
Mereka sama-sama tertawa kecil.
Suasana mencair.
Seperti es yang meleleh di bawah sinar
matahari.
Seperti dinding yang runtuh setelah
sekian lama berdiri.
Bayu menarik napas panjang.
Seolah mengumpulkan sesuatu yang
selama ini ia simpan terlalu dalam.
"Yun..." katanya pelan.
"Aku nggak punya kata-kata rapi
lagi."
Yunita tidak menyela.
Ia hanya mendengar.
Dengan sepenuh hati.
"Aku juga nggak punya latar
belakang, tujuan, atau manfaat yang bisa aku tulis."
Ia tersenyum.
"Yang aku punya cuma satu, perasaan
yang sama sejak dulu."
Angin sore berhembus pelan.
Membawa keheningan yang justru terasa
hangat.
"Aku suka kamu," lanjut
Bayu.
"Sederhana. Nggak ada tambahan.
Nggak ada lampiran."
Yunita menunduk sebentar.
Bukan karena ragu.
Tapi karena menahan sesuatu yang
hampir jatuh dari matanya.
"Aku tahu... caraku kemarin
salah."
"Aku terlalu mempersulit sesuatu
yang seharusnya cukup dengan keberanian."
Yunita mengangkat wajahnya.
Menatap Bayu dengan lebih lembut dari
sebelumnya.
"Tapi kalau kamu tanya
sekarang..." kata Bayu.
"Aku tetap mau mencoba."
Sunyi.
Yunita melangkah sedikit mendekat.
Tidak terlalu dekat.
Tapi cukup untuk menghapus jarak yang
sempat ada.
"Bayu..." katanya pelan.
"Iya?"
"Kamu tahu nggak... kenapa aku
marah waktu itu?"
Bayu menggeleng.
"Bukan karena proposalnya,"
lanjut Yunita.
"Tapi karena kamu membawa sesuatu
yang seharusnya cuma antara kita... jadi milik banyak orang."
Bayu menunduk.
"Maaf."
"Bukan itu yang aku
butuhkan."
Bayu menatapnya.
"Aku butuh kamu mengerti,"
lanjut Yunita.
"Bahwa aku bukan tidak menghargai
keberanianmu. Aku hanya... aku hanya belum siap."
"Belum siap untuk apa?"
"Belum siap untuk membuka hatiku
di depan umum. Belum siap untuk menjadi tontonan. Belum siap untuk perasaanku
dinilai oleh orang-orang yang tidak mengerti."
Bayu mengangguk.
"Aku mengerti sekarang."
"Tapi..." Yunita tersenyum
kecil.
"Aku juga salah."
Bayu menatapnya.
"Aku terlalu sibuk menjaga
semuanya tetap rapi... sampai lupa kalau hati nggak selalu bisa diatur."
Sunyi sejenak.
"Dan sekarang?" tanya Bayu
pelan.
Yunita tidak langsung menjawab.
Ia menatap langit yang mulai meredup.
Bintang pertama mulai muncul di ufuk
timur.
Lalu kembali menatap Bayu.
"Sekarang..." katanya pelan.
"Aku ingin mencoba sesuatu yang
tidak rapi."
Bayu tersenyum.
"Seperti apa?"
Yunita mengangkat bahu kecil.
"Seperti... ini."
Ia tidak mengatakan "iya".
Tidak juga mengatakan
"tidak".
Namun langkah kecilnya yang
mendekat...
Sudah lebih dari cukup.
Bayu menghela napas lega.
Bukan karena semuanya pasti.
Tapi karena... akhirnya semuanya
jujur.
"Iya?" tanyanya, masih tidak
percaya.
"Iya," jawab Yunita.
"Benar-benar iya?"
"Bayu, kalau kamu tanya sekali
lagi, aku bisa berubah pikiran."
Bayu tertawa.
"Baik. Aku berhenti
bertanya."
Mereka berdua tertawa.
Tawa yang lama tidak terdengar.
Tawa yang membuat mereka lupa pada
semua kerumitan.
Tawa yang membuat mereka sadar bahwa
ini, ini yang mereka butuhkan.
Bukan proposal.
Bukan forum.
Bukan persetujuan.
Tapi ini.
Dua orang yang saling jujur.
Di kejauhan, Bambang, Jojon, dan
Hermansyah mengintip dari balik pohon.
"Gimana?" bisik Jojon.
"Kayaknya... berhasil,"
jawab Bambang pelan.
"Tanpa proposal?" tanya
Hermansyah.
Bambang tersenyum.
"Iya... tanpa proposal."
Mereka saling pandang.
Lalu tertawa kecil.
"Akhirnya," kata Jojon.
"Desa ini punya cerita
bahagia."
"Jangan viralin dulu," pesan
Bambang.
"Aku tahu. Biar mereka bahagia
dulu."
"Kontennya nanti?"
"Kontennya nanti. Sekarang
saatnya kita pergi sebelum mereka lihat kita."
Mereka bertiga berjalan mundur
perlahan.
Menghilang di balik rimbunan pohon.
Meninggalkan dua orang yang sedang
memulai sesuatu yang baru.
Di bawah langit senja Desa Awan Biru,
Tidak ada forum.
Tidak ada keputusan bersama.
Tidak ada suara mayoritas.
Yang ada hanya dua orang...
Yang akhirnya memilih untuk jujur.
Dan untuk pertama kalinya,
Cinta tidak dibahas.
Tidak diperdebatkan.
Tidak diputuskan.
Cinta... hanya dijalani.
EPILOG: Cinta Bukan
Agenda Rapat
Desa Awan Biru tetap seperti biasa.
Pagi datang dengan suara ayam dan
kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan karet. Siang diisi dengan
aktivitas yang tak pernah benar-benar selesai, ibu-ibu pergi ke pasar,
bapak-bapak ke sawah, anak-anak ke sekolah. Dan sore... selalu pulang dengan
warna jingga yang setia, seolah-olah alam tidak pernah bosan melukis
pemandangan yang sama setiap hari.
Di kantor desa, rapat masih
berlangsung.
Kursi-kursi plastik masih berderit.
Perdebatan masih terjadi.
Dan kata "musyawarah" masih
menjadi jalan utama untuk mengambil keputusan.
"Setuju?"
"Belum tentu!"
"Interupsi!"
Suara-suara itu masih sama.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar
berubah.
Seolah-olah proposal cinta yang
mengguncang desa beberapa waktu lalu hanyalah mimpi.
Namun di antara semua itu...
Ada satu hal yang perlahan berbeda.
Di sudut ruangan, Yunita masih duduk
dengan map di tangannya.
Rapi.
Teratur.
Seperti biasa.
Namun kini, sesekali ia tersenyum...
tanpa alasan yang tercatat di berkas mana pun.
Tersenyum ketika ia mengingat sesuatu.
Tersenyum ketika ia membaca nama
tertentu di berkas masuk.
Tersenyum ketika ia melihat seseorang
memasuki ruangan.
Di luar balai desa, Bayu Andika
berdiri bersama pemuda lain.
Masih berdiskusi.
Masih berpendapat.
Masih menjadi dirinya yang kritis.
Namun kini, ia tidak lagi memaksakan
semua hal untuk harus dipahami bersama.
Ia lebih banyak mendengar.
Lebih banyak tersenyum.
Lebih banyak... bahagia.
Warung Mbah Karyo tetap ramai setiap
malam.
Tawa masih pecah.
Cerita masih mengalir.
Dan di antara cangkir kopi yang mengepul...
Kisah "proposal cinta" masih
sesekali menjadi bahan candaan.
"Yu, bikin proposal lagi
nggak?" goda Jojon.
Bayu hanya tertawa.
"Yang ini... cukup dua orang saja
yang tahu."
Semua ikut tertawa.
"Kata Yunita sih, dia masih
simpan proposal itu," kata Bambang.
"Disimpan di mana?"
"Di laci mejanya. Dikasih
kunci."
"Wah, berarti sudah jadi barang
berharga," sahut Jojon.
"Lebih berharga dari konten
kamu," timpal Herman.
"Kontenku juga berharga!"
"Berharga buat apa?"
"Buat... ya... buat aku."
Tawa kembali pecah.
Di meja yang sama, Yunita duduk di
samping Bayu.
Tidak banyak bicara.
Tidak perlu.
Karena kini, tidak semua hal harus
dijelaskan.
Tidak semua perasaan harus dituangkan
dalam proposal.
Tidak semua rencana harus ditulis
dengan rapi.
Kadang, cukup dengan duduk bersama.
Cukup dengan tersenyum.
Cukup dengan saling mengerti.
"Kopi kamu sudah dingin,"
kata Bayu.
"Tidak apa-apa."
"Kamu suka kopi dingin?"
"Aku suka apa pun yang ada di
depanku."
Bayu tersenyum.
"Kamu puitis hari ini."
"Kamu yang membuatku jadi
puitis."
Mereka berdua tertawa.
Mbah Karyo yang melihat dari balik
meja, hanya tersenyum.
"Ih, mba Yunita mesem-mesem
sendiri," celetuk Gito yang kebetulan lewat.
Yunita langsung memasang wajah serius.
"Nggak."
"Iya, saya lihat!"
"Nggak. Kamu salah lihat."
"Ah, mba Yunita
malu-maluin."
Gito berlari sambil tertawa.
Yunita menggeleng.
"Anak-anak sekarang..."
"Jujur," sambung Bayu.
"Terlalu jujur."
"Itu yang kita butuhkan, kan?
Kejujuran."
Yunita menatap Bayu.
"Iya. Kejujuran."
Di kejauhan, anak-anak masih berlari,
Maya, Mahendra, dan Gito, dengan tawa
yang sama seperti dulu.
Tanpa beban.
Tanpa rumit.
Seolah mengingatkan bahwa hidup...
sebenarnya sederhana.
Mereka tidak pernah repot dengan
proposal.
Tidak pernah ribut dengan forum.
Tidak pernah pusing dengan aturan.
Ketika mereka suka, mereka bilang.
Ketika mereka tidak suka, mereka juga
bilang.
Ketika mereka ditolak, mereka cari
yang lain.
Sederhana.
Dan mungkin memang benar,
Yang membuat segalanya terasa berat
Bukanlah keadaan...
Melainkan cara manusia memahaminya.
Desa Awan Biru tidak pernah berhenti
bermusyawarah.
Karena itulah cara mereka menjaga
kebersamaan.
Namun dari sebuah kejadian yang tak
biasa,
Mereka belajar satu hal yang tidak
tertulis dalam notulen mana pun:
Tidak semua hal harus diputuskan
bersama.
Ada hal-hal yang cukup dipahami oleh
hati.
Ada keputusan yang tidak membutuhkan
suara terbanyak.
Dan ada perasaan...
Yang tidak bisa diwakilkan oleh siapa
pun.
Bayu pernah mencoba menjelaskan cinta
dengan kata-kata rapi.
Yunita pernah mencoba menjaga semuanya
tetap teratur.
Namun pada akhirnya...
Mereka menemukan bahwa yang paling
berarti bukanlah penjelasan,
Melainkan kejujuran.
Karena cinta...
Tidak lahir dari forum.
Tidak tumbuh dari perdebatan.
Dan tidak membutuhkan persetujuan.
Cinta hanya butuh dua hal:
Keberanian untuk mengungkapkan...
Dan ketulusan untuk menerima.
Malam itu, di Warung Mbah Karyo—
Bayu dan Yunita duduk bersama.
Bukan sebagai pemuda dengan proposal.
Bukan sebagai pegawai desa dengan
aturan.
Tapi sebagai dua manusia yang saling
memilih.
"Masa depan kita belum jelas,
Yun," kata Bayu.
"Iya."
"Kita belum tahu akan ke
mana."
"Iya."
"Apakah kamu takut?"
Yunita menatap Bayu.
"Takut. Tapi bersamamu, rasa
takut itu terasa lebih ringan."
Bayu tersenyum.
"Itu kalimat paling romantis yang
pernah kamu ucapkan."
"Jangan biasakan. Aku tidak suka
romantis-romantisan."
"Tapi kamu melakukannya dengan
baik."
"Karena kamu membuatku seperti
ini."
Mereka berdua tertawa.
Mbah Karyo dari balik meja hanya
menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak muda zaman
sekarang..."
"Gimana, Mbah?" tanya Bayu.
"Bikin malu orang tua."
"Lho, kenapa?"
"Karena dulu aku juga gitu."
Semua tertawa.
Di bawah langit Desa Awan Biru,
Di antara tawa, rapat, dan secangkir
kopi,
Dua hati akhirnya memahami sesuatu
yang sederhana:
Bahwa cinta bukan untuk dibahas...
Melainkan untuk dijalani.
Dan ketika suatu hari nanti, ada
pemuda lain yang ingin melakukan hal gila seperti Bayu,
Atau ketika ada perempuan lain yang
terlalu teratur seperti Yunita,
Semoga mereka ingat cerita ini.
Bahwa cinta tidak perlu proposal.
Tidak perlu forum.
Tidak perlu persetujuan siapa pun.
Cinta hanya perlu dua hal:
Keberanian.
Dan kejujuran.
Sisanya?
Sisanya akan berjalan dengan
sendirinya.
—SELESAI—







0 komentar:
Posting Komentar