Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Sabtu, 11 April 2026

Novel Proposal Cinta yang Ditolak Musyawarah

 


 PROLOG: Antara Cinta dan Forum

Malam itu, Kanor Desa Awan Biru tidak seperti biasanya.

Lampu neon yang menggantung di langit-langit berpendar pucat, seolah kelelahan menyaksikan terlalu banyak rapat yang tak kunjung selesai. Lampu itu sebenarnya sudah dua kali diganti, pertama karena mati total, kedua karena kedip-kedipnya mengganggu pandangan, tapi tetap saja, cahayanya tidak pernah benar-benar terang. Seperti musyawarah desa itu sendiri: selalu ada yang redup, selalu ada yang tidak terlihat.

Kipas angin tua di sudut ruangan berputar pelan, mengaduk udara hangat yang jenuh dengan sisa-sisa perdebatan dari agenda sebelumnya. Kipas itu sudah berusia entah berapa tahun. Ada yang bilang sejak kantor desa pertama kali dibangun. Ada yang bilang itu hibah dari proyek bantuan entah negara mana. Yang jelas, suaranya kini lebih keras daripada putarannya, sebuah metafora yang tidak sengaja tentang bagaimana rapat desa sering kali lebih banyak bunyi daripada gerak.

Kursi-kursi plastik berderet tidak rapi di ruangan berukuran sekitar delapan kali sepuluh meter itu. Beberapa menghadap ke depan, setia pada panggung utama tempat Pak Kades berdiri. Beberapa miring ke kanan atau ke kiri, seolah sedang mendengarkan bisikan dari tetangga sebelah. Dan beberapa lagi, yang paling malang, duduk menghadap ke belakang, menjadi korban dari mereka yang datang terlambat dan hanya menemukan tempat tersisa di barisan paling ujung.

Dinding kantor desa tidak pernah benar-benar bersih. Cat putih yang dulu sempat membanggakan diri kini mengelupas di sana-sini, memperlihatkan tembok abu-abu di bawahnya. Papan pengumuman yang tergantung di samping panggung dipenuhi selebaran yang sudah menguning, sosialisasi posyandu, undangan rapat RT, pengumuman lowongan kerja yang kadaluwarsa tiga bulan lalu, dan selebaran hilangnya tiga ekor kambing milik Pak RT 03.

Udara di dalam ruangan terasa berat, bukan hanya karena panas, tetapi karena terlalu banyak kata yang sudah diucapkan sepanjang rapat. Kata-kata tentang jalan desa yang bocor lagi, tentang sumur bor yang airnya mulai keruh, tentang bantuan pupuk yang belum juga turun. Kata-kata yang sama, diulang setiap bulan, dengan nada yang sama, dengan wajah yang sama, dan dengan hasil yang juga sama: ditunda, dibahas lagi, atau jika sangat beruntung dilimpahkan ke rapat berikutnya.

Di luar, malam sudah cukup pekat. Lampu jalan yang jumlahnya hanya tiga di seluruh desa itu menyala redup, menerangi jalan tanah yang berdebu. Suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing terdengar saling bersahutan, seolah mengadakan rapat mereka sendiri. Langit di atas Desa Awan Biru malam itu bertabur bintang, tanpa sedikit pun awan meski namanya "Awan Biru", sebuah ironi kecil yang tidak pernah dijelaskan siapa pun, seperti banyak ironi lain di desa ini.

Dan di dalam kator desa, di tengah semua kegaduhan yang biasa itu, duduk seorang pemuda yang tidak biasa.

"Baik, kita lanjut ke agenda berikutnya…"

Suara Ibu Yuni, Sekretaris Desa yang sudah dua puluh tahun memegang jabatan itu, terdengar formal, tapi kali ini sedikit berbeda. Ada getar kecil di ujung kalimatnya, seperti seseorang yang sedang memegang sesuatu yang terlalu panas untuk ditahan, tapi terlalu penting untuk dilepaskan.

Ibu Yuni berdiri di samping Pak Kades Iwan, di panggung kecil setinggi dua anak tangga yang terbuat dari kayu. Di tangannya, selembar kertas bergetar pelan. Bukan gemetar karena takut, Ibu Yuni tidak mudah takut. Beliau sudah menghadapi puluhan demonstrasi warga yang tidak puas dengan pembagian bantuan, sudah berkali-kali menjadi penengah ketika dua RT bertikai soal batas wilayah, dan sudah terlalu sering menjadi orang terakhir yang masih tersenyum ketika rapat bubar dalam keadaan ricuh.

Tapi kali ini, kertas di tangannya bergetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena bingung.

Karena isi kertas itu tidak seperti yang biasa ia baca. Bukan proposal jalan. Bukan proposal pembangunan pos kamling. Bukan juga proposal bantuan sembako.

Ibu Yuni sempat berhenti sejenak. Menunduk, membaca ulang baris pertama judul itu. Lalu mengernyit. Lalu membaca lagi, seolah-olah matanya sedang mempermainkannya.

Ia menoleh ke arah Pak Kades Iwan yang sedang duduk di kursi kayu agak ke belakang, memegang termos kopi tua yang setia menemaninya di setiap rapat.

"Ini… yakin dibacakan?" bisik Ibu Yuni pelan, nyaris tak terdengar di tengah suara kipas dan dengung obrolan warga yang belum selesai.

Pak Kades Iwan mengernyit. Alisnya yang tebal, seperti ulat yang sedang merayap, bertemu di tengah.

"Kenapa? Ada yang salah dengan berkasnya? Formatnya tidak sesuai? Itu kan sudah diperiksa sama Yunita."

Bukan tanpa alasan Pak Kades bertanya begitu. Selama ini, Yunita, perempuan muda yang duduk rapi di barisan depan dengan map biru di tangannya, adalah penjaga gerbang utama semua berkas yang masuk ke kantor desa. Setiap proposal, setiap surat, setiap dokumen resmi, selalu melewati meja Yunita terlebih dahulu. Dan Yunita terkenal dengan satu hal: tidak ada yang lolos dari pengawasannya. Jika ada satu titik salah, satu format yang tidak sesuai, satu tanda tangan yang kurang, berkas itu akan kembali ke pengirimnya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, lengkap dengan stempel merah "REVISI" yang membuat jantung siapa pun berdegup kencang.

Jadi ketika Pak Kades mendengar bahwa ada keraguan di suara Ibu Yuni, insting pertamanya adalah: mungkin ada kesalahan teknis. Mungkin formatnya salah. Mungkin tidak ada materai. Mungkin tidak dilengkapi lampiran.

Bukan.

Bukan itu.

"Bukan soal format, Pak," bisik Ibu Yuni lagi, suaranya semakin pelan, semakin hati-hati, seperti sedang membawa kabar yang tidak ingin didengar siapa pun. "Ini soal… isinya."

Pak Kades Iwan mengernyit lebih dalam. Ulat di dahinya kini hampir membentuk huruf V terbalik.

"Isinya? Proposal jalan desa mana lagi yang isinya masalah? Bukannya kita sudah sepakat untuk prioritas pembangunan drainase dulu?"

Ibu Yuni menggeleng pelan. Kepalanya yang sudah disisir rapi dengan jepit rambut sederhana itu bergerak seperti orang yang sedang mencoba menolak kenyataan.

"Bukan jalan desa, Pak."

Pak Kades terdiam.

"Bukan drainase?"

"Bukan."

"Bukan pos kamling?"

"Bukan, Pak."

"Lalu apa?"

Ibu Yuni menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Ia menatap kertas itu sekali lagi, seolah memberi dirinya satu detik terakhir untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Bahwa kertas itu nyata. Bahwa kata-kata di atasnya nyata. Bahwa ini benar-benar terjadi di kantor desa, di malam hari, di hadapan puluhan warga yang masih sibuk dengan obrolan mereka sendiri.

"Ini proposal…" bisik Ibu Yuni, dan suaranya hampir putus di tengah kalimat, "pengajuan perasaan, Pak."

Pak Kades Iwan yang sedang mengangkat termos kopi ke mulutnya, tiba-tiba berhenti.

Termos itu menggantung di udara, setengah jalan antara meja dan bibirnya.

"Perasaan?" ulangnya, seperti tidak percaya dengan telinganya sendiri.

Ibu Yuni mengangguk. Pelan. Pasti.

"Perasaan, Pak. Seperti yang Ibu katakan."

Pak Kades Iwan menurunkan termosnya perlahan. Diletakkan di meja dengan suara 'klak' pelan yang nyaris tak terdengar. Lalu ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, gerakan yang biasa ia lakukan ketika sedang berpikir keras, atau ketika sedang mencoba menahan diri untuk tidak marah.

"Perasaan…" ulangnya lagi, kali ini lebih pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Ibu Yuni. "Perasaan siapa?"

Ibu Yuni menelan ludah.

"Bayu Andika, Pak. Pemuda RT 02."

Pak Kades Iwan menutup matanya sejenak.

Lalu membukanya lagi.

Dan kemudian, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun memimpin rapat desa, Pak Kades Iwan tidak tahu harus berkata apa.

 

Di sudut ruangan, Bayu Andika duduk diam.

Tidak seperti biasanya.

Biasanya, di setiap rapat desa, Bayu adalah orang yang paling mudah dikenali. Bukan karena penampilannya yang mencolok, ia hanya pemuda berusia dua puluh enam tahun dengan tinggi sedang, rambut yang kadang sedikit berantakan, dan kemeja lengan panjang yang selalu digulung hingga siku. Bukan karena suaranya yang keras, ia justru berbicara dengan nada yang tenang, bahkan kadang terlalu tenang untuk ukuran seorang pemuda yang penuh idealisme.

Tapi karena ia selalu duduk di tempat yang sama: sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap ke lapangan desa, di kursi yang kakinya sedikit goyang karena satu baut yang lepas. Dan karena ia selalu berbicara. Bukan banyak bicara dalam artian cerewet, tapi ia selalu punya sesuatu untuk dikatakan. Ketika yang lain diam, Bayu angkat bicara. Ketika yang lain setuju begitu saja, Bayu bertanya 'kenapa'. Ketika yang lain puas dengan jawaban yang itu-itu saja, Bayu menggali lebih dalam.

Dosen-dosennya dulu di universitas, ketika ia masih kuliah di jurusan Sosiologi sebelum akhirnya memutuskan kembali ke desa, sering bilang bahwa Bayu memiliki "rasa tidak puas yang produktif". Ia tidak mudah menerima sesuatu hanya karena itu sudah menjadi kebiasaan. Ia selalu ingin tahu alasan di balik setiap keputusan. Ia percaya bahwa diskusi adalah jalan menuju kebenaran atau setidaknya menuju kesepakatan yang paling tidak merugikan.

Tapi malam itu, Bayu tidak seperti biasanya.

Tidak ada senyum tipis yang biasa menghiasi wajahnya ketika seseorang melontarkan argumen konyol. Tidak ada gelengan kepala pelan ketika Pak Sugeng memulai lagi pidatonya tentang "generasi muda yang kurang kerjaan". Tidak ada tangan yang terangkat untuk interupsi ketika Santoso mulai bicara melingkar-lingkar seperti ular yang sedang mabuk.

Malam itu, Bayu hanya duduk.

Tangannya, yang biasanya bergerak aktif saat berdebat, membentuk gestur di udara seolah sedang melukis argument, kini saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Jari-jarinya saling mengunci, seperti sedang berdoa, atau seperti sedang berusaha menahan sesuatu agar tidak meledak.

Matanya, yang biasanya tajam, menatap pembicara dengan fokus seorang pengamat, kini menunduk ke lantai. Lantai balai desa yang terbuat dari semen, dengan retak-retak halus di beberapa bagian, tiba-tiba menjadi pemandangan yang paling menarik di dunia.

Ia tidak bergerak.

Hampir tidak bernapas.

Seolah ia tahu… sesuatu akan terjadi.

Seolah ia sudah menghitung semua kemungkinan, dan sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan mundur. Bahwa apa pun yang akan terjadi malam ini, entah tawa, entah kemarahan, entah kebodohan terbesar dalam hidupnya atau langkah paling berani yang pernah ia ambil, ia sudah siap.

Atau setidaknya ia ingin terlihat siap.

Karena di dalam dadanya, jantung Bayu Andika berdegup seperti genderang perang. Kencang. Keras. Menghentak.

Dan di dalam kepalanya, satu kalimat berulang terus:

"Ini gila. Tapi ini harus dilakukan."

 

Di barisan depan, Yunita duduk tegak seperti biasa.

"Seperti biasa" bagi Yunita bukan sekadar frasa. Itu adalah filosofi hidup. Karena sejak kecil, Yunita belajar bahwa dunia ini berjalan di atas aturan. Ayahnya, seorang pensiunan pegawai negeri, selalu mengajarkan bahwa keteraturan adalah pangkal kedamaian. Ibunya, seorang guru SD, selalu menekankan bahwa disiplin adalah kunci kesuksesan.

Dan Yunita, sejak duduk di bangku SD, sejak menjadi juara kelas, sejak menjadi ketua OSIS, sejak lulus dengan predikat cumlaude, sejak bekerja di kantor desa dan dalam tiga bulan langsung diakui sebagai pegawai paling efisien, adalah bukti hidup dari ajaran itu.

Keteraturan bekerja.

Disiplin membuahkan hasil.

Aturan ada untuk dipatuhi.

Maka tidak mengherankan jika Yunita selalu duduk di barisan depan dalam setiap rapat. Bukan karena ia ingin terlihat, tapi karena dari sana ia bisa mencatat dengan paling baik. Map biru di tangannya, map yang sama yang ia gunakan selama tiga tahun terakhir, dengan isi yang selalu rapi, selalu terstruktur, selalu siap sedia, terbuka di pangkuannya. Pena hitam dengan tinta gel yang tidak pernah macet, karena ia selalu membawa cadangan, terjepit di antara jari-jarinya.

Penampilannya seperti biasa: rambut hitam panjang diikat ke belakang dengan gaya sederhana, tidak pernah mengubah model karena model rambut bukanlah prioritas. Kemeja putih polos tanpa motif, karena motif dianggap mengganggu fokus. Rok pensil hitam selutut. Sepatu flat hitam yang tidak pernah bersuara saat ia berjalan.

Tidak ada yang berlebihan dari penampilan Yunita. Tidak ada yang kurang. Semuanya pas. Semuanya sesuai.

Tapi malam itu, di balik semua keteraturan itu, ada sesuatu yang berbeda.

Bukan di penampilannya. Bukan di caranya duduk. Bukan di cara ia memegang pena.

Tapi di hatinya.

Hatinya, yang biasanya tenang, yang biasanya teratur seperti arsip-arsip di mejanya, tiba-tiba berdegup tidak karuan.

Ia tidak tahu kenapa.

Tidak ada alasan logis.

Rapat malam itu agenda resminya adalah pembahasan rutin: perkembangan program desa digital, laporan keuangan bulanan, dan persiapan kegiatan Karang Taruna. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang perlu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Tapi ada firasat.

Firasat yang tidak bisa ia jelaskan.

Seperti ketika langit mendung sebelum hujan, tidak ada tanda yang jelas, tapi tubuh tahu. Ada perubahan tekanan udara, ada getaran halus di tanah, ada sesuatu yang berubah di atmosfer meski mata tidak melihat apa-apa.

Yunita merasakan itu.

Dan tanpa sadar, matanya, yang seharusnya fokus pada panggung, pada Pak Kades, pada agenda yang akan dibahas, sesekali melirik ke sudut ruangan.

Ke arah kursi dengan kaki goyang itu.

Ke arah pemuda yang biasanya banyak bicara, tapi malam ini diam membisu.

Ke arah Bayu Andika.

Yunita tidak tahu mengapa matanya terus tertarik ke sana. Ia sudah berusaha fokus. Sudah berusaha mengingatkan dirinya bahwa ini adalah rapat, bukan tempat untuk melamun. Sudah berusaha menarik napas dalam-dalam dan berkata pada dirinya sendiri: "Yunita, kamu profesional. Kamu punya tugas. Jangan terganggu."

Tapi tetap saja.

Setiap beberapa detik, matanya kembali ke sudut itu.

Seolah ada magnet tak terlihat.

Seolah ada sesuatu yang harus ia lihat, meski ia tidak tahu apa.

Seolah ada pesan yang belum sampai, tapi sudah mulai terasa.

 

"Baik," kata Ibu Yuni akhirnya.

Suaranya terdengar lebih mantap sekarang, meski masih ada getar kecil di ujung-ujung kata. Ia telah mengambil keputusan, setelah berbisik-bisik dengan Pak Kades, setelah menerima anggukan pelan dari atasannya itu, setelah menarik napas tiga kali dan menghembuskannya perlahan.

Ia akan membacakan.

Karena itu tugasnya.

Karena tidak ada yang lebih mengerikan dalam birokrasi desa selain mengabaikan berkas yang sudah masuk. Karena begitu berkas diterima, ia harus diproses. Itu aturan. Itu prosedur. Itu yang selama dua puluh tahun ia lakukan.

Maka Ibu Yuni berdiri sedikit lebih tegak. Tangannya yang masih memegang kertas itu dinaikkan sedikit, sejajar dengan dadanya. Matanya menatap ke arah peserta rapat, wajah-wajah yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun, wajah-wajah yang biasanya ia lihat dengan tenang, tapi malam ini terasa seperti lautan yang tidak bisa diprediksi.

Ia menarik napas panjang.

Panjang sekali, seperti sedang mempersiapkan paru-parunya untuk menyelam ke dalam air dingin.

Dan mulai membaca.

"Agenda tambahan…"

Jeda.

"Proposal Pengajuan Perasaan…"

Ia berhenti di situ.

Membiarkan kata-kata itu menggantung di udara, seperti bau menyengat yang butuh waktu untuk menyebar.

Sunyi.

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Dan kemudian—

"HAH?!"

Suara itu pecah dari berbagai sudut ruangan sekaligus, seperti gelombang yang datang dari segala arah.

"Proposal apa?!" teriak Pak Eko dari barisan belakang, tubuhnya yang tambun setengah bangkit dari kursi.

"Pengajuan… apa tadi?!" sahut Ibu Ratna, yang sejak tadi mengantuk, kini mendadak segar seperti habis minum kopi tiga cangkir.

"Ini serius?!" suara Pak Sugeng terdengar paling keras, paling tidak percaya, paling... tersinggung, seolah-olah proposal itu adalah penghinaan pribadi terhadap seluruh nilai-nilai kesopanan yang ia jaga.

Tawa mulai terdengar.

Awalnya kecil. Seperti bisikan. Seperti angin yang baru mulai bertiup.

Lalu membesar. Seperti api yang menjalar ke tumpukan kayu kering.

Beberapa orang tertawa terbahak-bahak, menepuk paha tetangga di sampingnya. Beberapa menutup mulut dengan tangan, berusaha sopan tapi gagal. Beberapa hanya menggeleng-gelengkan kepala, sambil mengusap air mata yang mulai terbentuk di sudut mata karena terlalu banyak tertawa.

Di belakang, Jojon sudah menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, menahan tawa yang hampir meledak keluar seperti gunung berapi yang tidak bisa lagi ditahan. Bahunya naik turun. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena terlalu menahan ledakan tawa yang ingin pecah.

"Ini bukan rapat… ini tontonan," bisiknya pada Hermansyah di sampingnya, dengan suara yang tercekat-cekat karena tawa. "Besok kalau ada yang tanya, aku akan bilang: aku menyaksikan sejarah."

Sementara itu, Yunita membeku.

Tangannya yang memegang pena perlahan berhenti bergerak. Pena itu masih terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, tapi ujungnya tidak lagi menyentuh kertas. Catatan yang sedetik lalu ia tulis dengan rapi tentang agenda sebelumnya, kini berhenti di tengah kalimat.

Ia tidak perlu melihat isi lengkap proposal itu.

Ia tidak perlu mendengar kelanjutan pembacaan Ibu Yuni.

Ia tahu.

Ia tahu siapa yang membuatnya.

Bukan karena ia membaca draftnya sebelumnya. Bukan karena ada yang memberitahunya. Tapi karena ia mengenal tulisan itu. Ia sudah terlalu sering membaca laporan-laporan yang ditulis oleh pemuda itu, laporan yang selalu sedikit berbeda dari yang lain, selalu punya gaya bahasa yang khas, selalu menyelipkan opini di antara fakta, selalu membuatnya antara kesal dan kagum pada saat yang bersamaan.

Dan karena ia tahu, mungkin sudah lama tahu, bahwa suatu hari, pemuda itu akan melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Yunita tidak pernah membayangkan akan seperti ini.

Tapi di dalam hatinya yang paling dalam di bagian yang tidak pernah ia akui bahkan pada dirinya sendiri, ia tahu.

Bayu Andika tidak pernah melakukan sesuatu dengan cara biasa.

Dan malam itu, ia membuktikannya.

 

Perlahan, seperti air yang meresap ke dalam tanah, semua mata mulai beralih ke satu arah.

Ke sudut ruangan.

Ke kursi dengan kaki goyang.

Ke seseorang yang masih duduk diam, dengan tangan saling menggenggam, dengan mata menunduk ke lantai.

"Bayu…"

"Ini kamu ya?"

"Kamu serius?!"

Suara-suara itu datang bertubi-tubi, seperti hujan batu. Ada yang masih tertawa, ada yang mulai penasaran, ada yang sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan.

Bayu tidak langsung menjawab.

Ia membiarkan semua suara itu datang. Membiarkan semua tatapan itu menghujani dirinya. Membiarkan ruangan yang tadinya sunyi kini bergemuruh dengan tanya.

Ia mengangkat wajahnya pelan.

Satu per satu, ia menatap orang-orang di ruangan itu. Pak Eko yang masih setengah berdiri. Ibu Ratna yang kini duduk dengan kedua tangan di dada, seperti sedang menonton sinetron. Pak Sugeng yang wajahnya merah padam karena menahan emosi. Jojon yang masih tertawa meski sudah berusaha berhenti.

Lalu matanya berhenti pada satu orang.

Yunita.

Yunita menunduk.

Tidak berani menatap balik.

Bayu tersenyum kecil, senyum yang tidak ada yang bisa memastikan apakah itu senyum percaya diri atau senyum gugup yang disamarkan.

Lalu ia berdiri.

Kursinya bergeser ke belakang dengan suara seret yang keras di lantai semen.

"Iya, Pak," katanya. Suaranya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja meledakkan bom di tengah rapat desa. "Saya yang membuat."

Ruangan kembali hening.

Tapi kali ini… bukan karena bingung.

Kali ini, semua orang mulai menyadari sesuatu: bahwa tidak ada senyum malu di wajah Bayu. Tidak ada gelagat orang yang ketahuan bercanda. Tidak ada tanda-tanda bahwa ini adalah leluasan yang keliru.

Ini serius.

Bayu Andika, pemuda idealis yang selalu berdebat tentang jalan desa dan anggaran pembangunan, baru saja mengajukan proposal cinta. Di forum rapat desa. Di hadapan puluhan orang. Dengan format yang sama seperti proposal pembangunan drainase.

Ini bukan sekadar candaan.

Ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi di Desa Awan Biru sepanjang sejarah.

Dan di depan, Pak Kades Iwan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kayu. Tangannya menyilang di dada. Matanya menatap Bayu dengan campuran heran, penasaran, dan mungkin, sedikit kagum. Karena meskipun ini di luar nalar, ia tidak bisa tidak menghargai keberanian pemuda itu.

"Kamu tahu ini forum apa?" tanya Pak Kades. Suaranya tidak marah. Tidak juga bercanda. Hanya… ingin tahu.

Bayu mengangguk.

"Forum desa, Pak."

"Dan kamu bawa… itu?"

Bayu tersenyum kecil lagi. Senyum yang sama. Misterius. Menggoda. Seperti orang yang tahu bahwa ia melakukan sesuatu yang gila, tapi ia bangga dengan kegilaan itu.

"Karena saya pikir… kalau sesuatu itu penting, harus disampaikan dengan serius."

Pak Kades Iwan mengangguk pelan. Tidak setuju. Tidak juga menolak. Hanya… menerima.

"Lanjutkan," katanya.

Beberapa orang saling pandang. Sebagian masih ingin tertawa, karena ini lucu, tidak bisa dipungkiri. Sebagian mulai berpikir, mungkin ini tidak sesederhana yang terlihat. Sebagian lain hanya diam, menunggu, seperti penonton yang tidak tahu apakah ini drama atau komedi.

Yunita menunduk lebih dalam.

Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

Jauh lebih cepat.

Dan di dalam dadanya, ada perasaan aneh yang tidak bisa ia beri nama. Bukan marah. Bukan malu. Bukan senang.

Tapi sesuatu di antaranya.

Sesuatu yang membuat ia ingin berlari keluar ruangan, tapi juga membuat ia ingin tetap duduk, ingin mendengar, ingin tahu apa yang akan dikatakan Bayu selanjutnya.

"Dan kenapa harus di sini?" tanya Pak Kades lagi.

Bayu terdiam sejenak.

Matanya, yang sedetik tadi menatap ke depan, ke arah panggung, kini beralih. Perlahan. Dengan sengaja.

Menatap Yunita.

Langsung ke arah Yunita.

Yunita merasakan tatapan itu meski ia tidak menengok. Ada panas di pipinya. Ada getar di sekujur tubuhnya. Ada sesuatu yang membuatnya ingin menghilang, tapi juga ingin tetap ada.

Bayu menjawab. Pelan. Jelas.

"Karena saya tidak ingin main-main."

Kalimat itu menggantung di udara.

Sederhana.

Tapi berat.

Tidak ada yang langsung membalas.

Tidak ada yang tertawa lagi.

Untuk pertama kalinya sepanjang rapat malam itu, mungkin untuk pertama kalinya sepanjang sejarah rapat desa, forum yang biasanya penuh suara, penuh perdebatan, penuh dengan orang-orang yang tidak pernah kehabisan kata-kata…

Kehilangan kata-kata.

Pak Eko yang tadinya setengah berdiri, kini duduk kembali.

Ibu Ratna yang tadinya menyilangkan tangan di dada, kini menurunkannya.

Pak Sugeng yang tadinya wajahnya merah padam, kini. untuk pertama kalinya, diam.

Dan di tengah keheningan itu, Bayu Andika berdiri tegak.

Bukan sebagai pemuda yang malu.

Bukan sebagai orang yang ketahuan.

Tapi sebagai seseorang yang telah mengambil keputusan.

Dan siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

 

Keheningan itu tidak bertahan lama.

Karena dari sinilah semuanya dimulai.

Perdebatan.

Tawa.

Sindiran.

Keputusan.

Dan sebuah perjalanan yang tidak pernah direncanakan, tentang seorang pemuda yang mencoba menyusun cinta dengan cara yang terlalu rapi, dan seorang perempuan yang berusaha menjaga hati agar tidak ikut berantakan.

Tapi itu semua masih akan datang.

Malam itu, di Kantor Desa Awan Biru, yang terjadi hanyalah sebuah kejutan.

Sebuah kejutan yang akan menjadi cerita yang diceritakan dari mulut ke mulut, dari warung kopi ke warung kopi, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Malam itu, Desa Awan Biru mencatat sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam buku administrasi mana pun:

Bahwa cinta…

Untuk pertama kalinya…

Resmi masuk ke dalam agenda rapat desa.

Dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu, baik Pak Kades yang termenung di kursinya, maupun Ibu Yuni yang masih memegang kertas bergetar, maupun Jojon yang masih tertawa di sudut ruangan, maupun Yunita yang jantungnya berdegup kencang, maupun Bayu yang berdiri dengan keberanian yang hampir pecah, bahwa keputusan yang akan diambil nanti, tidak hanya akan menentukan nasib sebuah proposal…

Tapi juga dua hati yang belum sempat saling memahami.

Sebuah kisah pun dimulai.


BAB 1: Pemuda, Mimpi, dan Secangkir Kopi

Pagi di Desa Awan Biru selalu datang dengan cara yang sederhana.

Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan bermotor yang saling mendahului. Tidak ada suara klakson yang memecah ketenangan. Tidak ada aroma polusi yang menyengat hidung.

Yang ada hanyalah suara ayam berkokok yang bersahutan dari berbagai penjuru dari kandang milik Pak RT 01, dari belakang rumah Bu Lulu, dari halaman rumah Pak Kades yang meskipun sudah tua, ayam-ayamnya tetap setia membangunkan desa setiap pagi. Suara-suara itu seperti orkestra alam yang tidak pernah absen, tidak pernah terlambat, dan tidak pernah meminta bayaran.

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan karet yang berbaris rapi di sepanjang jalan utama desa. Kabut itu seperti selimut lembut yang belum benar-benar ditarik, membuat segalanya tampak sedikit misterius, sedikit basah, dan sedikit seperti mimpi yang masih setengah terjaga. Daun-daun karet yang basah oleh embun meneteskan air ke tanah, menciptakan irama kecil yang hanya bisa didengar jika seseorang cukup sabar untuk diam.

Dan aroma tanah basah, aroma yang tidak bisa ditiru oleh parfum termahal sekalipun, menguar lembut, seperti cerita lama yang terus diceritakan kembali, dari generasi ke generasi, tanpa pernah bosan.

Ini adalah pagi di Desa Awan Biru.

Pagi yang sama selama puluhan tahun.

Pagi yang membuat siapa pun yang merantau, pada akhirnya akan merindukannya.

Namun bagi Bayu Andika, pagi bukan sekadar awal hari.

Bagi Bayu, pagi adalah waktu untuk berpikir.

Dan kadang, terlalu sering, menurut teman-temannya, ia berpikir terlalu banyak.

 

"Yu! Ngopi dulu, jangan mikir terus, nanti cepat tua!"

Suara itu berasal dari warung kecil di tikungan RT 02. Warung milik Mbah Karyo, seorang lelaki tua berusia tujuh puluh tahun yang tubuhnya sudah mulai membungkuk, tapi matanya masih tajam seperti elang. Mbah Karyo sudah membuka warung ini sejak sebelum desa ini punya listrik. Dulu warungnya hanya berupa meja kayu di bawah pohon rindang. Kini, sudah ada atap seng, beberapa bangku kayu, dan satu etalase kaca yang berisi aneka jajanan, meskipun yang paling laku tetaplah kopi.

Warung Mbah Karyo bukan sekadar tempat minum kopi.

Itu adalah pusat informasi desa, tempat di mana berita paling cepat menyebar. Itu adalah ruang diskusi, tempat di mana para pemuda berdebat tentang politik nasional seolah-olah mereka anggota DPR. Itu adalah ruang keluh kesah, tempat di mana para petani mengeluhkan harga pupuk yang naik terus, dan para ibu mengeluhkan tingkah laku anak-anak mereka. Dan kadang,, pada malam-malam tertentu, itu adalah ruang untuk melupakan kenyataan, diiringi kopi hangat dan cerita-cerita lama yang tidak pernah habis.

Bayu datang dengan langkah santai. Kakinya yang bersandal jepit menapaki jalan tanah yang masih sedikit becek karena embun pagi. Ia mengenakan kaos oblong lengan pendek berwarna abu-abu, yang sudah mulai pudar karena terlalu sering dicuci dan celana panjang kain hitam yang sedikit kusut di bagian lutut, karena ia biasa duduk bersila.

Rambutnya masih acak-acakan. Matanya masih sedikit sayu. Tanda-tanda seseorang yang baru bangun tidur dan belum benar-benar siap menghadapi dunia.

"Seperti biasa, Mbah. Kopi hitam, tanpa gula."

Mbah Karyo tersenyum tipis. Senyum yang sudah ia latih selama puluhan tahun melayani pelanggan—ramah, tapi tidak berlebihan. Hangat, tapi tetap menjaga jarak.

"Pahit terus hidupmu itu, Yu."

Bayu duduk di bangku kayu yang sudah mulai lapuk. Bangku itu sudah berwarna coklat tua, dengan serat kayu yang mulai mengelupas di beberapa bagian. Tapi bangku itu kokoh. Sudah bertahan puluhan tahun, sama seperti warungnya. Sama seperti Mbah Karyo.

"Biar seimbang, Mbah," jawab Bayu sambil menyandarkan punggungnya ke tiang kayu yang menopang atap seng. "Dunia sudah terlalu manis dengan janji-janji rapat."

Mbah Karyo tertawa kecil. Tawanya serak, seperti suara kayu tua yang digesek.

"Janji-janji rapat emang manis, Yu. Tapi nggak pernah ada yang beneran jadi kenyataan."

"Makanya saya minum pahit, Mbah. Biar sadar."

Belum sempat Mbah Karyo membalas, suara tawa pecah dari sudut warung.

"Wah, mulai lagi filosofinya!"

Bambang, sahabat Bayu sejak SD, yang kini bekerja sebagai fotografer lepas dan videografer dadakan untuk acara-acara desa, datang sambil membawa kamera kecil yang selalu menggantung di lehernya. Kamera itu sudah usang, dengan selotip hitam di beberapa bagian, tapi Bambang merawatnya seperti anak sendiri. Ia tidak pernah pergi ke mana pun tanpa kamera itu, seolah-olah takut kehilangan momen berharga yang tidak akan pernah terulang.

"Kalau kamu jadi penulis, laku itu," lanjut Bambang sambil duduk di samping Bayu. Ia meletakkan kameranya dengan hati-hati di atas meja kayu yang juga sudah lapuk, lalu menyandarkan tubuhnya ke tiang yang sama. "Daripada jadi aktivis rapat yang tiap minggu marah-marah."

Bayu mengangkat alis. Satu alisnya naik, yang lain tetap di tempat, ekspresi khasnya ketika ia sedang akan melontarkan balasan pedas.

"Setidaknya aku marah karena peduli," katanya santai. "Bukan karena konten."

Bambang tertawa. "Lah, peduli juga bisa jadi konten, Yu!"

Bayu tersenyum. "Konten tanpa keberanian cuma jadi hiburan. Dan desa ini sudah terlalu banyak hiburan murahan."

"Kamu tuh," Bambang menunjuk Bayu dengan jari telunjuknya, "kalau diajak santai, malah jadi debat. Awas nanti cepet pikun."

"Justru dengan debat aku mencegah kepikunan," balas Bayu tanpa jeda. "Kamu yang berhenti debat, nanti otakmu dipakai buat apa? Cuma untuk mengingat letak kamera?"

Mbah Karyo tertawa lagi dari balik meja. "Wah, baru pagi sudah panas begini. Nanti siang bisa kebakaran desa."

 

Jojon muncul tiba-tiba, seperti biasa, tanpa suara, tanpa peringatan, seolah-olah ia lahir dari udara tipis. Tubuhnya kurus, hampir kurus sekali, dengan rambut yang selalu sedikit berantakan meskipun sudah diolesi gel. Ia adalah pemilik kanal YouTube "Dunia Jojon" yang kontennya tidak pernah jelas temanya. Kadang vlog, kadang prank, kadang review makanan, kadang liputan acara desa. Yang jelas, subscriber-nya sedikit, tapi ia tidak pernah menyerah.

"Eh, pada ngapain?" tanyanya sambil duduk di bangku seberang, langsung mengambil posisi seperti sedang syuting. Tangannya yang bebas langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana pendeknya, celana pendek yang sama yang ia kenakan hampir setiap hari, dengan motif kotak-kotak yang sudah pudar.

"Ngopi," jawab Bambang singkat.

"Ngomongin apa?"

"Filsafat hidup," sahut Bayu tanpa ekspresi.

Jojon mengernyit. "Filsafat hidup jam segini? Nggak keburu sarapan dulu?"

"Filsafat itu nggak kenal waktu, Jon," Bayu menatap Jojon dengan mata setengah menyipit. "Justru pagi hari adalah waktu terbaik untuk merenungkan keberadaan. Karena di pagi hari, antara sadar dan mimpi masih tipis. Kadang kita nggak tahu apakah kita benar-benar hidup atau hanya karakter dalam mimpi seseorang."

Jojon membelalakkan mata. "Anjir, Bayu. Aku baru bangun tidur, otakku masih setengah mati. Jangan diajak mikir berat-berat."

Bambang tertawa. "Makanya jangan tanya-tanya kalau belum siap."

"Tapi serius," Jojon mencondongkan tubuh ke depan, "lo nggak capek jadi orang paling serius di desa ini? Semua orang santai-santai, lo malah mikirin masa depan desa, ngurusin proposal ini itu, debat sama Pak Kades... buat apa sih?"

Bayu menyesap kopinya pelan-pelan. Kopi hitam pekat itu pahit, seperti biasa. Pahit yang ia nikmati, bukan karena ia suka pahit, tapi karena pahit mengingatkannya bahwa hidup tidak selalu manis dan tidak perlu selalu manis untuk berarti.

"Biar desa ini nggak mati, Jon," jawabnya akhirnya. "Kamu lihat sendiri, pemuda di sini makin sedikit. Yang pinter pada merantau. Yang kreatif pada pindah kota. Yang tersisa cuma yang... ya gitu deh."

"Yang gitu apanya?" Jojon mengernyit.

"Yang cuma bisa nyeletuk di warung kopi tanpa aksi nyata."

Jojon terdiam. Ia tahu itu sindiran untuknya. Tapi ia memilih untuk tidak ambil pusing—karena begitulah Jojon.

"Gue nyeletuk juga buat konten, Yu," katanya sambil tersenyum lebar. "Konten tuh butuh interaksi. Interaksi butuh orang. Orang butuh hiburan. Jadi... ya, gue berkontribusi secara tidak langsung."

Bayu menggeleng pelan, tapi senyumnya tidak hilang. "Kamu itu alasanmu muter-muter, Jon. Bikin pusing."

"Yang penting nggak buntu," Jojon berdecak bangga.

 

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah jalan. Langkah kaki yang khas, pasti, teratur, tidak tergesa-gesa tapi juga tidak lambat.

Nadya.

Nadya adalah satu-satunya perempuan di antara kelompok pemuda yang sering nongkrong di warung Mbah Karyo. Tapi jangan salah, ia bukanlah "salah satu dari mereka" dalam artian ikut-ikutan. Nadya adalah sosok yang berdiri sendiri. Ia bekerja sebagai asisten administrasi di kantor kecamatan, dan sering kali menjadi jembatan antara desa dan kecamatan. Ia tahu seluk-beluk birokrasi lebih baik daripada siapa pun di desa ini—mungkin lebih baik dari Yunita sekalipun, meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya.

Ia datang dengan membawa map. Map coklat yang selalu ia bawa ke mana-mana, berisi dokumen-dokumen yang tidak pernah ia buka di depan umum, karena isinya rahasia dinas, atau mungkin karena isinya hanya daftar belanja dan coretan-coretan iseng, tidak ada yang tahu pasti.

Nadya duduk di sebelah Bayu tanpa permisi, seperti biasa. Ia tidak pernah meminta izin untuk duduk di mana pun, karena ia percaya bahwa dunia ini milik semua orang, dan kursi kosong adalah undangan untuk diduduki.

"Kamu tahu nggak, tadi pagi Yunita nyari kamu," katanya sambil membuka map-nya, pura-pura sibuk mencari sesuatu padahal ia hanya ingin menyampaikan pesan itu dengan santai.

Bayu yang tadinya santai, menyesap kopi, bersandar di tiang kayu, dengan ekspresi datar, tiba-tiba terdiam.

Hanya sekejap.

Tapi cukup untuk dilihat oleh Bambang yang jeli, dan cukup untuk dicatat oleh Jojon yang mulai menyadari bahwa ini adalah momen yang layak diabadikan.

"Ngapain?" tanya Bayu. Suaranya berusaha datar, tapi ada nada yang sedikit naik di akhir kata.

"Katanya ada berkas yang harus direvisi," jawab Nadya tanpa mengangkat wajah dari map-nya. "Berkas proposal kegiatan pemuda yang kamu ajukan minggu lalu."

Bayu menghela napas. Lega? Atau kecewa? Tidak ada yang tahu.

Bambang langsung menyikut pelan lengan Bayu. Sikutannya kecil, tapi penuh makna—seperti kode rahasia antara dua sahabat yang sudah saling mengenal sejak masih belajar berhitung.

"Berkas atau alasan, Yu?" bisik Bambang dengan senyum menyeringai.

Jojon langsung mengangkat ponselnya. "Konten nih! 'Pemuda Desa yang Suka Rahasia'!"

Bayu menoleh ke arah Jojon dengan tatapan tajam. "Kalau kameranya nggak segera kamu turunkan, besok aku laporin ke Pak Kades kalau kamu ngerekam rapat tanpa izin."

Jojon langsung menurunkan ponselnya dengan cepat. "Siap, komandan. Gak usah marah-marah."

Tawa pecah di warung itu.

Tapi di balik tawa itu, Bayu tidak bisa mengalihkan pikirannya dari nama yang baru saja disebut.

Yunita.

Nama itu selalu punya cara sendiri untuk membuat suasana di dalam kepala Bayu berubah.

Dari yang tadinya penuh argumen, logika, dan hitam-putih...

Menjadi penuh kemungkinan.

Penuh tanya.

Penuh warna-warna yang tidak pernah ia pelajari di bangku kuliah.

Ia menyesap kopinya lagi, lebih dalam kali ini. Kopi pahit itu terasa berbeda. Bukan karena kopinya berubah, tapi karena lidahnya sedang sibuk memikirkan hal lain.

Yunita nyari aku, pikirnya. Padahal revisi bisa lewat email. Bisa lewat WA. Bisa lewat siapa pun.

Kenapa harus cari langsung?

Atau...

Mungkin Bambang benar?

Mungkin ini bukan sekadar revisi?

Bayu menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu. Tapi seperti biasa, begitu Yunita masuk ke kepalanya, ia sulit dikeluarkan.

 

Kantor Desa Awan Biru tidak besar.

Bangunannya terbuat dari batu bata yang dicat putih, dengan atap genteng merah yang mulai ditumbuhi lumut di beberapa bagian. Di depan kantor, ada halaman yang cukup luas, sering digunakan untuk upacara hari kemerdekaan atau pertemuan warga jika balai desa tidak cukup menampung.

Di dalamnya, ada lima meja, satu untuk Pak Kades, satu untuk Ibu Yuni (Sekdes), satu untuk Yunita (administrasi), satu untuk Si Amat (IT dan kearsipan), dan satu meja kosong yang kadang digunakan oleh tamu atau pegawai tidak tetap.

Tumpukan berkas ada di mana-mana. Di atas meja, di rak, di lantai dekat lemari arsip. Printer—sebuah mesin tua yang bunyinya seperti orang batuk, berbunyi setiap beberapa menit, mengeluarkan kertas demi kertas yang entah untuk apa. Dan sesekali, nada dering telepon, telepon kabel yang masih tersisa dari era 90-an, memecah kesunyian dengan nada yang sudah tidak asing lagi.

Suasana kantor selalu sama setiap hari.

Tapi hari ini, bagi Yunita, terasa sedikit berbeda.

Ia duduk di mejanya, rapi seperti biasa. Kemeja putih, rambut diikat ke belakang dengan gaya sederhana, tidak pernah berubah, karena perubahan adalah musuh efisiensi. Ekspresinya sulit ditebak, tidak marah, tidak senang, tidak sedih. Hanya... datar. Seperti danau yang tenang di permukaan, tapi siapa tahu apa yang ada di kedalamannya?

"Bayu, ini revisinya belum sesuai," katanya tanpa menoleh.

Ia tahu Bayu sudah masuk. Ia bisa mendengar langkah kakinya dari jauh, langkah yang tidak tergesa-gesa, sedikit berat, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu sambil berjalan.

Bayu berdiri di depannya. Sedikit canggung. Tangannya, yang biasanya bergerak aktif saat berdebat—kini terlipat di dada, atau di saku celana, atau sesekali menggaruk belakang lehernya—tanda bahwa ia sedang gugup, meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya.

"Bagian mana yang salah, Yun?"

Yunita menunjuk beberapa bagian di berkas itu dengan ujung pena-nya. Gerakannya cepat, tepat, tanpa keraguan.

"Formatnya. Kamu terlalu banyak menambahkan opini pribadi. Proposal itu harus faktual, objektif, dan terstruktur. Ini bukan esai."

Bayu tersenyum. Senyum yang ia simpan khusus untuk momen-momen seperti ini, ketika ia ingin mengatakan sesuatu yang sedikit nyeleneh, tapi tetap ingin didengar.

"Kalau semua harus sesuai format, terus di mana letak manusianya?"

Yunita akhirnya menatapnya.

Matanya, coklat gelap, dengan sorot yang tajam seperti pisau bedah, menembus Bayu. Tidak dengan marah, tidak dengan benci, tapi dengan sesuatu yang lebih mengerikan: analisis.

"Di dalam aturan, Bayu. Justru supaya tidak semrawut."

"Kadang yang terlalu rapi itu malah bikin kita nggak berani jujur," balas Bayu pelan. Tidak berdebat. Hanya... menyampaikan. Seperti orang yang menuangkan isi hati tanpa mengharapkan balasan.

Yunita terdiam sejenak.

Ada jeda.

Jeda yang terasa lebih panjang dari biasanya.

Jeda di mana Yunita memikirkan kata-kata itu. Memikirkannya lebih dalam daripada yang seharusnya. Memikirkannya sampai hampir, hampir saja, membuat ia lupa bahwa ini adalah urusan pekerjaan.

Tapi hanya hampir.

Lalu ia kembali menunduk, berpura-pura fokus pada berkas. Padahal pikirannya mulai tidak fokus. Padahal huruf-huruf di kertas itu mulai menari-nari, membentuk wajah seseorang.

"Perbaiki dulu," katanya, suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya. "Nanti kita bahas lagi."

Bayu mengangguk. Ia mengambil berkas itu dari meja Yunita, jari-jari mereka hampir bersentuhan—tapi Yunita menarik tangannya lebih cepat dari yang diperlukan.

Bayu tidak bergerak.

Ia masih berdiri di sana, memegang berkas itu, seolah-olah berkas itu adalah sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar kertas.

"Yun..." panggilnya pelan.

Yunita tidak mengangkat wajah. Tapi ia tidak menyela. Itu sudah lebih dari cukup.

"Kamu pernah nggak sih, ingin melakukan sesuatu tanpa mikir aturan?"

Yunita tidak langsung menjawab.

Pena di tangannya berhenti bergerak.

Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih berat.

Lalu, setelah jeda yang panjang, jeda yang membuat Bayu hampir menyesal telah bertanya—Yunita menjawab.

"Pernah."

Satu kata.

Tapi cukup untuk membuat jantung Bayu berdegup lebih cepat.

Ia menatap Yunita, menunggu kelanjutan.

Tapi tidak ada kelanjutan.

Yunita hanya duduk di sana, dengan wajah yang tetap datar, dengan tangan yang masih memegang pena, dengan mata yang masih menunduk ke kertas.

Seolah-olah kata "pernah" itu tidak berarti apa-apa.

Tapi Bayu tahu.

Itu berarti segalanya.

 

Sore hari, warung Mbah Karyo kembali ramai.

Langit mulai berubah warna, dari biru terang menjadi jingga keemasan, seperti lukisan yang sedang dikerjakan oleh pelukis paling sabar di dunia. Matahari yang hendak tenggelam menyembunyikan diri di balik bukit-bukit di sebelah barat, meninggalkan sisa-sisa cahaya yang hangat dan lembut.

Angin sore berhembus pelan, membawa aroma kopi yang lebih hangat dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan, karena kopi di sore hari selalu terasa lebih nikmat daripada di pagi hari.

Bayu duduk diam.

Ia tidak banyak bicara sejak tiba. Ia hanya duduk di bangku favoritnya, yang di sudut, menghadap ke jalan, sehingga ia bisa melihat siapa pun yang lewat. Cangkir kopinya sudah setengah kosong. Dingin. Tapi ia tidak peduli.

"Ini bukan soal berkas lagi, kan?" tanya Bambang yang duduk di sampingnya.

Bayu menghela napas panjang. Napas yang keluar dari paru-paru terdengar berat, seperti orang yang sedang menghela beban yang tidak terlihat.

"Bang... menurutmu, kalau kita suka sama seseorang, harus gimana?"

Bambang yang sedang menyesap kopinya, tiba-tiba tersedak.

"Wah, ini baru topik serius!" serunya setelah berhasil mengendalikan batuknya. Matanya berbinar. Ini adalah topik yang selama ini ia tunggu-tunggu dari Bayu, pemuda yang terlalu sibuk dengan idealisme desa sampai lupa bahwa ia juga manusia dengan perasaan.

Jojon langsung mengeluarkan ponselnya, refleks, seperti orang yang mendengar suara sirine dan langsung mencari sumber kebakaran.

"Konten lagi nih! 'Konseling Cinta ala Warung Kopi'!"

"Serius, Jon!" bentak Bayu. Tapi nadanya tidak marah. Lebih seperti setengah tertawa, setengah pasrah. "Ini bukan buat konten."

Jojon menurunkan ponselnya sedikit, tapi tidak dimasukkan ke saku. "Loh, justru karena bukan buat konten, itu konten terbaik! Otentik! Real! Tanpa rekayasa!"

"Nanti kalau videonya viral, aku minta separuh," sahut Bambang sambil tertawa.

Bayu menggeleng. "Kalian ini nggak bisa serius."

Nadya yang sejak tadi diam, duduk di bangku seberang, sesekali menyesap kopinya yang sudah dingin—akhirnya ikut bicara. Suaranya tenang, seperti biasa. Tidak berlebihan. Tidak terlalu pelan. Pas.

"Ya bilang aja. Sederhana."

Bayu menggeleng. "Nggak sesederhana itu."

"Kenapa?" tanya Nadya. Matanya menatap Bayu dengan serius. Nadya tidak pernah bercanda tentang urusan hati. Mungkin karena ia tahu bahwa hati bukanlah bahan lelucon.

Bayu menatap cangkir kopinya. Kopi hitam yang sudah dingin dan pahit itu seperti cermin, memantulkan wajahnya yang sedang bingung.

"Karena aku nggak mau asal. Aku mau jelas. Terarah. Nggak main-main."

Bambang menyeringai. Seringainya lebar, sampai terlihat gusi depannya yang sedikit maju ke depan.

"Jangan-jangan kamu mau bikin proposal lagi?"

Bayu terdiam.

Tidak menjawab.

Tidak menggeleng.

Tidak mengangguk.

Hanya diam.

Semua orang di warung itu, Bambang, Jojon, Nadya, bahkan Mbah Karyo yang sedang mengelap gelas di balik meja, langsung saling pandang.

Ada keheningan yang tidak biasa.

Keheningan yang membuat bulu kuduk merinding.

"Eh..." Jojon memecah keheningan dengan suara yang sedikit bergetar antara takut dan penasaran. "Kamu serius?"

Bayu tersenyum kecil.

Senyum yang sama dengan senyumnya di balai desa malam itu.

Senyum misterius.

Senyum orang yang tahu bahwa ia sedang merencanakan sesuatu yang gila.

"Kalau sesuatu itu penting, kenapa nggak dipersiapkan dengan baik?"

Bambang menepuk jidatnya. Bunyi 'plak' terdengar keras di sore yang tenang.

"Ini orang beda memang..."

Jojon mengangkat ponselnya lagi. Kali ini dengan niat yang lebih serius.

"Gue rekam ini. Biar jadi bukti sejarah. Suatu hari nanti, kalau Bayu jadi orang terkenal, video ini bakal ditayangkan di TV nasional."

"Kalau aku jadi orang gila, video itu bakal diputar di rumah sakit jiwa," balas Bayu tanpa ekspresi.

Tawa pecah lagi.

Tapi di balik tawa itu, Nadya memperhatikan Bayu dengan seksama.

Ia melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh Bambang dan Jojon.

Ia melihat ketegasan di mata Bayu.

Ketegasan yang jarang dimiliki oleh pemuda seusianya.

Dan ia tahu, karena Nadya adalah pengamat yang baik, bahwa Bayu Andika tidak sedang bercanda.

 

Malam mulai turun di Desa Awan Biru.

Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Suara jangkrik mulai mendominasi, menggantikan suara burung yang sudah beristirahat. Sesekali, suara tokek dari balik genteng menambah irama malam yang tidak pernah berubah.

Di kamarnya yang sederhana, berukuran tiga kali empat meter, dengan dinding bata yang tidak diplester, dan atap seng yang berbunyi 'tek tek tek' ketika hujan turun, Bayu duduk di depan meja kecil.

Meja itu sebenarnya bukan meja belajar. Itu adalah meja kayu bekas yang dulu digunakan ibunya untuk menjahit. Kini, setelah ibunya meninggal dua tahun lalu, meja itu menjadi tempat Bayu menulis, membaca, dan malam itu merencanakan sesuatu yang belum pernah ia rencanakan sebelumnya.

Sebuah kertas kosong terbentang di depannya.

Kertas HVS biasa, bukan kertas proposal. Tapi bagi Bayu, kertas ini lebih berharga dari kertas apa pun yang pernah ia gunakan untuk menulis proposal desa.

Ia menggenggam pena.

Pena murah yang bisa dibeli di warung mana pun.

Tapi tangannya... tangannya sedikit gemetar.

Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.

Bayu, kamu sudah berdiri di depan puluhan orang untuk berdebat tentang anggaran desa. Kamu sudah berdebat dengan Pak Kades sampai tengah malam. Kamu sudah melawan bupati dalam rapat koordinasi. Tapi sekarang... kamu gemetar karena akan menulis sesuatu di kertas?

Ia menarik napas dalam-dalam.

Lalu mulai menulis.

Perlahan.

Seperti sedang mengukir sesuatu di batu.

"Proposal Pengajuan Perasaan kepada Saudari Yunita."

Ia berhenti sejenak.

Membaca ulang.

Tersenyum sendiri.

"Mungkin ini gila..." gumamnya. Suaranya nyaris tak terdengar di atas suara jangkrik di luar.

Tapi tangannya kembali bergerak.

Menulis.

Menyusun.

Merangkai sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya.

Bukan karena ia ingin terkenal.

Bukan karena ia ingin aneh.

Tapi karena ia percaya, dengan segenap hati idealisnya, bahwa jika sesuatu itu penting, ia harus diperlakukan dengan serius.

Termasuk cinta.

Termasuk perasaan.

Termasuk keinginan untuk membangun sesuatu yang nyata dengan seseorang yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan, di balik meja kerja, di balik tumpukan berkas, di balik tembok keteraturan yang ia bangun sendiri.

Di luar, angin malam berhembus pelan.

Seolah membawa pesan bahwa sesuatu yang sederhana...

Akan segera berubah menjadi sesuatu yang luar biasa.

Dan Bayu belum tahu,

Bahwa langkah kecil malam itu

Akan mengguncang seluruh Desa Awan Biru.


BAB 2: Yunita dan Dunia yang Terlalu Rapi

Pagi di kantor Desa Awan Biru selalu dimulai dengan suara yang sama.

Ketikan keyboard dari meja Si Amat, yang meskipun sudah berkali-kali diganti, tetap berbunyi seperti mesin tik jaman dulu karena tuts-tutsnya yang sudah longgar. Gesekan map dari meja Yunita, map-map yang setiap pagi ia buka dan tutup dengan gerakan yang begitu efisien sehingga terlihat seperti tarian yang sudah dilatih ribuan kali. Dan suara napas orang-orang yang sudah terlalu terbiasa dengan rutinitas, napas yang terdengar berat, bukan karena lelah, tapi karena bosan.

Tapi bukan hanya suara.

Ada juga aroma.

Aroma kertas tua dari lemari arsip yang jarang dibuka. Aroma tinta printer yang masih segar dari dokumen-dokumen yang baru dicetak. Dan aroma kopi, kopi instan murah yang diseduh di cangkir plastik, diminum oleh pegawai yang butuh kafein untuk bertahan hingga siang.

Di tengah semua itu, Yunita adalah pusat keteraturan.

"Surat keluar bulan ini harus diarsipkan ulang. Yang kemarin masih ada yang salah penomoran," ucapnya tegas. Tidak keras. Tidak berteriak. Tapi tegas, seperti pisau yang memotong dengan presisi.

Si Amat, pemuda kurus berkacamata tebal yang selalu terlihat seperti akan mati karena alergi debu setiap kali membuka lemari arsip, langsung mengangguk cepat. Terlalu cepat. Seperti orang yang tidak benar-benar mendengar tapi takut dimarahi.

"Iya, Mbak Yunita. Ini lagi saya cek ulang."

"Jangan cek ulang nanti. Cek sekarang. Kalau menunda, nanti numpuk. Kalau numpuk, nanti salah lagi. Kalau salah lagi, nanti kita ulang dari awal. Buang-buang waktu."

Si Amat mengangguk lagi. Kali ini lebih lambat. Lebih sadar.

"Iya, Mbak. Sekarang."

Di meja lain, Ibu Lulu, Kaur Keuangan yang sudah berusia lima puluh tahun tapi masih terlihat segar seperti mentimun, mengintip sambil tersenyum tipis. Senyum yang sudah puluhan tahun ia pakai untuk menghadapi berbagai macam karakter manusia.

"Kalau Yunita sudah bicara, berarti tidak ada toleransi ya..."

Yunita hanya membalas dengan senyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum formal. Senyum yang mengatakan: saya tidak sedang marah, saya hanya sedang bekerja.

Bukan karena ingin terlihat ramah, tapi karena ia tahu, terlalu serius pun kadang membuat suasana jadi kaku. Dan suasana yang kaku tidak produktif. Ketidakproduktifan adalah musuh utama Yunita.

Namun bagi Yunita, keteraturan bukan sekadar kebiasaan.

Bukan sekadar preferensi.

Bukan sekadar cara kerja.

Itu adalah cara ia menjaga hidupnya tetap terkendali.

Karena Yunita tahu, mungkin lebih tahu dari siapa pun di desa itu, bahwa di luar keteraturan, ada kekacauan. Di luar aturan, ada ketidakpastian. Di luar prosedur, ada luka-luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Ayahnya, pensiunan PNS yang sekarang menghabiskan waktu dengan bercocok tanam di belakang rumah, adalah orang yang mengajarkan pentingnya aturan. "Dengan aturan, hidup jadi jelas," katanya dulu. "Kamu tahu batasnya. Kamu tahu hak dan kewajibanmu. Kamu tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak."

Ibunya, guru SD yang pensiun dua tahun lalu, mengajarkan bahwa disiplin adalah kunci. "Tidak ada yang instan di dunia ini," katanya. "Semua butuh proses. Semua butuh ketekunan. Semua butuh disiplin."

Dan Yunita, putri semata wayang yang tidak pernah mengecewakan orang tuanya, mengamalkan ajaran itu dengan sempurna.

Terlalu sempurna, mungkin.

Tapi tidak ada yang berani mengatakan itu padanya.

Kecuali satu orang.

Seorang pemuda yang selalu membawa opini ke mana-mana, termasuk ke dalam berkas-berkas yang seharusnya netral.

Seorang pemuda yang membuat Yunita antara kesal dan penasaran setiap kali ia membuka pintu kantor.

Seorang pemuda yang namanya kini tertulis di pojok kanan atas map biru di mejanya.

 

Di balik meja kerjanya, Yunita membuka satu map berwarna biru.

Biru tua. Warna favoritnya, karena biru adalah warna yang tenang, tidak mencolok, tapi tegas. Biru adalah warna langit yang tak terbatas, tapi juga warna seragam sekolah yang disiplin.

Nama di pojok kanan atas tertulis jelas:

Bayu Andika.

Tulisan tangan yang tidak rapi, tidak seperti tulisan Yunita yang rapi seperti cetakan komputer. Tulisan Bayu cenderung miring ke kanan, dengan huruf-huruf yang kadang menyambung, kadang tidak, seolah-olah tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Yunita berhenti sejenak.

Matanya menatap nama itu lebih lama dari yang diperlukan.

Entah kenapa, setiap membaca nama itu, ada sesuatu yang berbeda.

Bukan kesal, meskipun sering kali ia mengeluh tentang gaya penulisan Bayu yang terlalu banyak opini.

Bukan juga senang, meskipun ia tidak bisa memungkiri bahwa ada kehangatan aneh setiap kali pemuda itu tersenyum padanya.

Tapi sesuatu yang sulit dijelaskan.

Sesuatu yang tidak masuk dalam kategori-kategori rapi yang biasa ia gunakan.

"Kenapa sih dia selalu nulis dengan gaya seperti ini..." gumamnya pelan. Hanya untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang mendengar, karena semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Ia membaca ulang isi berkas.

Latar belakang: bahwa pemuda desa perlu wadah untuk mengembangkan kreativitas di bidang digital...

Yunita mengernyit.

Terlalu banyak opini pribadi.

Seharusnya langsung ke inti: kebutuhan, tujuan, manfaat, dan rencana anggaran.

Tapi dia malah menulis paragraf demi paragraf tentang "pentingnya adaptasi" dan "ancaman ketertinggalan digital"...

Yunita menghela napas.

Terlalu jujur.

Terlalu... Bayu.

Ia menutup map itu perlahan.

Lalu bersandar di kursinya, sesuatu yang jarang ia lakukan, karena bersandar adalah postur orang yang sedang beristirahat, dan Yunita tidak pernah benar-benar beristirahat saat bekerja.

"Kalau semua orang seperti dia, mungkin kantor ini sudah jadi tempat diskusi, bukan tempat kerja," pikirnya.

Tapi di sudut hatinya, ada satu kalimat yang tak bisa ia bantah:

Justru karena Bayu berbeda... ia jadi sulit diabaikan.

Dan itu, lebih dari apa pun, yang mengganggu Yunita.

Bukan karena ia benci perbedaan.

Tapi karena perbedaan membuatnya bertanya-tanya.

Dan bertanya-tanya adalah awal dari ketidakpastian.

Dan ketidakpastian adalah musuh terbesarnya.

 

Menjelang siang, pintu kantor sedikit terbuka.

Bukan suara ketukan, Bayu tidak pernah mengetuk pintu. Ia hanya membukanya perlahan, dengan gerakan yang santai, seolah-olah kantor desa adalah rumah keduanya.

"Permisi."

Suara itu.

Yunita tidak langsung menoleh, tapi ia tahu siapa yang datang.

Ia bisa mengenali suara itu dari kejauhan. Suara yang tenang, sedikit dalam, dengan nada yang kadang terkesan meremehkan, tapi tidak pernah benar-benar meremehkan. Hanya... santai. Terlalu santai untuk ukuran kantor yang penuh tekanan.

"Masuk saja, Bayu."

Bayu melangkah masuk dengan santai, seperti biasa. Langkah kakinya tidak tergesa-gesa. Tangannya, satu di saku celana, satu lagi memegang map, bergerak alami.

Tapi hari itu, entah kenapa, ia terlihat sedikit lebih rapi.

Bajunya, kemeja lengan panjang berwarna biru muda, disetrika. Tidak terlalu rapi, tapi tidak kusut. Rambutnya, yang biasanya acak-acakan, kali ini sedikit dirapikan. Mungkin dengan sisir. Mungkin hanya dengan air. Tapi ada usaha di sana. Usaha yang tidak bisa tidak diperhatikan oleh Yunita yang jeli.

Kenapa dia rapi hari ini? pikir Yunita. Apakah ada acara? Atau...

Ia tidak menyelesaikan pikirannya.

"Kamu nyari aku?" tanya Bayu sambil berdiri di depan meja Yunita.

Yunita langsung menyodorkan berkas.

"Ini revisinya belum sesuai."

Bayu menerima berkas itu. Membuka sejenak. Membaca. Lalu duduk tanpa diminta, di kursi yang biasanya digunakan untuk tamu, tepat di samping meja Yunita.

"Bagian mana lagi yang salah, Bu Sekdes masa depan?"

Yunita menatap tajam.

Tatapan yang bisa membuat pegawai lain gemetar.

Tapi Bayu hanya tersenyum.

"Kalau kamu tidak serius, lebih baik tidak usah duduk di sini," kata Yunita. Suaranya dingin. Tidak marah. Tapi dingin, seperti udara di dalam kulkas.

Bayu tertawa kecil.

"Justru aku serius, Yun."

Suasana tiba-tiba berubah.

Hening.

Bukan hening yang biasa, hening karena tidak ada yang bicara.

Tapi hening yang berat. Seperti ada sesuatu yang menggantung di udara, sesuatu yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan.

Yunita menunduk.

Pura-pura membaca berkas lain.

Padahal pikirannya mulai tidak fokus.

Padahal huruf-huruf di kertas itu mulai kabur.

Bayu membuka berkasnya lagi. Membaca revisi yang ditandai oleh Yunita dengan stabilo kuning, stabilo favoritnya yang selalu ia gunakan untuk menandai kesalahan.

"Mungkin aku memang terlalu banyak menulis yang tidak perlu," katanya pelan. Bukan mengalah. Tapi mengakui.

Yunita menjawab singkat. "Bukan tidak perlu. Tapi tidak pada tempatnya."

Bayu mengangguk pelan.

"Jadi... semua harus pada tempatnya?"

"Iya."

"Kalau perasaan?"

Yunita terdiam.

Bayu melanjutkan. Suaranya lebih pelan sekarang. Lebih hati-hati. Seperti orang yang berjalan di atas kaca.

"Perasaan juga harus sesuai tempat?"

Yunita menarik napas panjang.

Napas yang ia gunakan untuk menenangkan diri.

Napas yang ia gunakan untuk mengingatkan dirinya bahwa ia adalah pegawai profesional, bahwa ini adalah urusan pekerjaan, bahwa tidak ada ruang untuk hal-hal lain di sini.

"Kita sedang bicara pekerjaan, Bayu."

"Tapi hidup nggak cuma soal pekerjaan, kan?"

Yunita akhirnya menatapnya.

Tatapan yang tidak lagi sekaku biasanya.

Ada sedikit... goyah.

Sedikit retak di dinding yang selama ini ia bangun.

"Aku tahu kamu ingin apa," katanya pelan. Suaranya hampir berbisik. Hampir tidak terdengar. "Tapi tidak semua hal harus dibicarakan sekarang."

Bayu tersenyum tipis.

"Berarti masih ada 'nanti'?"

Yunita tidak menjawab.

Ia menunduk lagi.

Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, ia tidak langsung mengalihkan pembicaraan.

Ia membiarkan pertanyaan itu menggantung.

Membiarkan Bayu menatapnya tanpa ia balas.

Membiarkan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama itu... ada di antara mereka.

 

Siang itu, suasana kantor sedikit berubah.

Jojon muncul dengan kamera kecilnya, tanpa permisi, tanpa undangan, seperti biasa.

"Konten hari ini: 'Pegawai Desa Paling Disiplin vs Pemuda Paling Banyak Opini'!"

Yunita menoleh. Matanya menyipit.

"Keluar kamu dari sini!" serunya. Setengah kesal. Setengah tertawa.

Semua orang tertawa.

Bahkan Yunita... tanpa sadar ikut tersenyum.

Tersenyum sungguhan.

Tersenyum yang sampai ke mata.

Tersenyum yang jarang ia tunjukkan di depan umum.

Bayu memperhatikan senyum itu.

Dan untuk sesaat, ia lupa bahwa ia sedang memegang berkas revisi.

Lupa bahwa ia sedang berdiri di kantor desa.

Lupa bahwa ada orang-orang di sekitarnya.

Ia hanya melihat senyum itu.

Dan berpikir: Aku ingin melihat senyum itu lagi.

 

Di luar kantor, di bangku panjang di bawah pohon rindang, Hermansyah dan Herman sedang berdiskusi serius atau setidaknya berusaha terlihat serius.

Hermansyah adalah kakak tertua dari kelompok pemuda itu. Usianya tiga puluh tahun, sudah menikah, dan memiliki satu anak yang masih balita. Ia bekerja sebagai petani seperti kebanyakan orang di desa ini, tapi ia juga aktif di Karang Taruna. Wajahnya selalu serius, jarang tersenyum, tapi hatinya lembut. Ia adalah tipe orang yang tidak banyak bicara, tapi ketika ia bicara, semua orang mendengar.

Herman, adiknya, berbeda. Herman adalah kebalikan dari Hermansyah. Ia cerewet, suka bercanda, dan tidak pernah serius. Tapi ia setia. Ia selalu ada ketika dibutuhkan. Ia adalah tipe sahabat yang akan menemani Anda minum kopi sampai larut malam hanya untuk mendengar keluhan Anda, meskipun ia tidak akan memberi solusi apa pun.

"Menurutmu, Bayu itu cocok nggak sama Yunita?" tanya Herman sambil mengunyah permen jeli yang ia beli dari warung Mbah Karyo.

Hermansyah mengangkat bahu.

"Kalau cocok sih cocok... tapi caranya itu lho, yang bikin ribet."

"Kenapa?"

"Karena dia terlalu mikir. Padahal cinta itu kadang butuh nekat."

Herman mengangguk-angguk. "Nekat kayak apa?"

Hermansyah menatap adiknya. "Nekat kayak berani bilang langsung. Bukan bikin proposal."

"Wah, kalau Bayu mah beda. Dia tuh orangnya idealis. Semua harus terencana. Termasuk cinta."

"Ya, itu masalahnya," Hermansyah menghela napas. "Cinta itu nggak bisa direncanakan. Cinta itu terjadi begitu saja. Tiba-tiba. Nggak pakai konsep."

Herman berpikir sejenak. "Tapi kalau Bayu bikin proposal, kan jadi jelas. Nggak ada yang perlu ditebak-tebak."

"Justru dengan proposal, jadi nggak ada kejutan. Padahal kejutan itu bagian dari cinta."

"Kamu ini terlalu puitis, Mas. Udah ah, makan permen."

Hermansyah tersenyum kecil, jarang-jarang dan mengambil permen dari tangan Herman.

"Yang jelas," katanya sambil mengunyah, "apapun yang terjadi, desa ini bakal rame."

 

Sore hari, kantor mulai sepi.

Satu per satu pegawai pulang, ada yang naik motor, ada yang jalan kaki, ada yang dijemput keluarga. Lampu-lampu dimatikan satu per satu. Hanya tersisa lampu meja di sudut ruangan.

Yunita masih duduk di mejanya.

Map biru itu masih terbuka di depannya.

Ia membaca ulang proposal Bayu.

Bukan proposal kegiatan pemuda yang sedang direvisi.

Tapi proposal yang lain.

Proposal yang ia simpan di laci mejanya, tanpa sepengetahuan siapa pun.

Proposal yang tidak pernah ia laporkan kepada Pak Kades.

Proposal yang membuat ia terjaga semalaman ketika pertama kali membaca draft-nya.

"Proposal Pengajuan Perasaan kepada Saudari Yunita."

Yunita membacanya perlahan.

Satu per satu kata.

Satu per satu kalimat.

Seperti sedang menikmati sesuatu yang tidak boleh ia nikmati.

"Latar Belakang: bahwa perasaan suka dapat muncul secara alami tanpa dapat direncanakan, namun dapat dikelola dengan keseriusan..."

Ia tersenyum kecil.

"Tujuan: menjalin hubungan yang serius, saling mendukung, dan berpotensi menuju masa depan bersama..."

Ia menggeleng pelan.

"Manfaat: meningkatkan kebahagiaan individu..."

Ia berhenti di sana.

Matanya mulai berkaca.

Kenapa sih dia harus menulis seperti ini?

Kenapa tidak langsung bilang saja?

Kenapa harus repot-repot membuat proposal yang hanya akan membuat segalanya jadi rumit?

Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ia tahu jawabannya.

Karena Bayu adalah Bayu.

Karena Bayu tidak pernah melakukan sesuatu dengan cara biasa.

Karena Bayu percaya bahwa cinta, jika sungguh-sungguh, harus diperlakukan dengan serius.

Serius seperti proposal desa.

Serius seperti rapat anggaran.

Serius seperti mimpi-mimpi besar yang ingin ia wujudkan.

Yunita menutup map itu perlahan.

Lalu menyimpannya kembali di laci.

Terkunci.

Rapi.

Seperti biasanya.

Tapi perasaannya... tidak serapi itu.

Perasaannya berantakan.

Dan untuk pertama kalinya, Yunita tidak tahu bagaimana cara merapikannya.

 

Di luar kantor, Bayu berdiri menatap langit sore.

Langit Awan Biru selalu punya warna yang berbeda setiap hari.

Kadang jingga terang.

Kadang merah muda.

Kadang ungu.

Seperti lukisan yang tidak pernah selesai.

"Gimana?" tanya Bambang yang tiba-tiba muncul dari belakang. Kamera di lehernya sudah dimatikan. Kameranya hanya hidup ketika ada momen dan momen ini, menurut Bambang, bukan untuk kamera. Ini untuk sahabat.

Bayu menghela napas.

"Belum ditolak..."

"Berarti masih ada harapan dong!"

Bayu tersenyum kecil.

"Iya... tapi aku rasa, ini baru awal."

Ia tidak tahu bahwa di dalam ruangan, seseorang sedang membaca kata-katanya lebih dari sekadar berkas.

Dan Yunita pun belum sadar,

Bahwa dunia yang selama ini ia jaga tetap rapi...

Perlahan mulai berubah.

Bukan karena kekacauan.

Tapi karena seseorang yang berani...

Membawa perasaan ke dalamnya.


BAB 3: Rapat yang Tak Pernah Singkat

Balai Desa Awan Biru siang itu sudah penuh sebelum rapat dimulai.

Biasanya, rapat dijadwalkan pukul 14.00, dan peserta akan mulai datang sekitar pukul 14.15, karena di Desa Awan Biru, seperti di banyak desa lain di Indonesia, "tepat waktu" adalah konsep yang fleksibel. Tapi hari itu, pukul 13.45, kursi-kursi plastik sudah hampir penuh.

Bukan karena agenda rapat yang penting.

Bukan karena ada proyek besar yang akan diumumkan.

Tapi karena kabar telah menyebar.

Kabar tentang proposal.

Kabar tentang Bayu Andika.

Kabar tentang cinta yang masuk agenda.

Dan di Desa Awan Biru, tidak ada yang lebih menarik daripada gosip.

Kursi plastik berderet tidak rapi. Beberapa menghadap ke depan, bagi mereka yang serius mengikuti rapat. Beberapa lagi miring, seperti ikut mencerminkan arah pembicaraan yang tak pernah lurus. Beberapa kursi bahkan diletakkan berhadapan, seolah-olah pemiliknya sudah siap untuk berdebat.

Di pojok ruangan, Si Amat sibuk dengan laptopnya, sebuah laptop bekas yang sudah berusia lima tahun, dengan layar yang retak di pojok kanan, tapi masih bisa digunakan asalkan tidak dimatikan terlalu sering.

"Sound sudah nyala, Pak!" teriaknya sambil mengetuk mikrofon.

"Tes... tes..." suara menggema, sedikit sumbang, seperti orang yang sedang bernyanyi di dalam kaleng.

"Kurangi bass-nya, Mat! Ini rapat, bukan konser dangdut!" celetuk Pak Edi dari belakang.

Tawa kecil mulai terdengar.

Suasana mulai hidup.

Tapi ada sesuatu yang berbeda di udara siang itu.

Ada ketegangan.

Ada antisipasi.

Ada rasa penasaran yang tidak bisa dijelaskan.

 

Di barisan depan, Yunita duduk dengan map di tangannya.

Seperti biasa, rapi, fokus, dan siap mencatat.

Tapi matanya... matanya tidak setenang biasanya.

Ia melirik ke sekeliling ruangan. Melihat wajah-wajah yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Ada yang tersenyum padanya, senyum yang penuh arti, seolah-olah mereka tahu sesuatu yang ia tidak tahu. Ada yang mengangguk, anggukan kecil yang seperti mengatakan "kamu kuat, ya." Ada juga yang menatapnya dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan.

Yunita menarik napas.

Kenapa semua orang seperti tahu sesuatu? pikirnya. Padahal belum ada yang diumumkan. Padahal proposal itu belum dibacakan di forum.

Tapi desa adalah desa.

Kabar tidak pernah menunggu undangan resmi.

Tak lama kemudian, Bayu Andika masuk.

Ia tidak datang dengan langkah percaya diri seperti biasanya. Tidak ada senyum menggoda. Tidak ada sapaan santai kepada teman-temannya.

Ia masuk dengan tenang.

Memilih duduk agak ke samping, tidak terlalu depan, tapi juga tidak ingin terlihat menghindar.

"Tumben agak tenang," bisik Hermansyah di sampingnya.

Bayu tersenyum tipis.

"Lagi pengen dengar dulu."

"Wah, bahaya itu. Kalau kamu diam, biasanya nanti meledak."

Bayu tidak menjawab.

Ia hanya menatap ke depan.

Ke arah panggung.

Ke arah di mana Ibu Yuni dan Pak Kades akan segera duduk.

Ke arah di mana Yunita duduk dengan map di tangannya.

 

Rapat dimulai.

Pak Kades Iwan berdiri di depan, suaranya tegas tapi santai, gaya khasnya yang sudah dikenal selama bertahun-tahun. Ia tidak perlu mikrofon. Suaranya sudah cukup keras untuk didengar seluruh ruangan.

"Baik, kita mulai rapat hari ini. Agenda pertama: pembahasan kegiatan pemuda dan pengembangan desa digital."

Semua langsung fokus.

Bambang terlihat antusias. Ia langsung mengangkat tangan, tidak sabar, seperti murid SD yang tahu jawaban.

"Pak, saya ingin menyampaikan progres Ruang Komunitas Digital Desa (RKDD). Kita sudah mulai pelatihan dasar editing untuk anak-anak muda."

"Bagus itu," sahut Pak Kades. "Tapi anggarannya bagaimana?"

Semua langsung menoleh ke Ibu Lulu, Kaur Keuangan yang selalu menjadi sasaran setiap kali anggaran disebut.

Ibu Lulu tersenyum tipis, senyum yang sudah menjadi senjata utamanya dalam menghadapi berbagai tuntutan.

"Kalau anggaran sih ada," katanya sambil mengatur posisi duduknya. "Asal tidak semua mau dibuat program tanpa perencanaan jelas."

Bayu mengangkat tangan.

Ia tidak menunggu dipersilakan, karena ia tahu, jika ia menunggu, diskusi akan berlarut-larut tanpa arah.

"Pak, justru ini penting. Desa kita harus mulai adaptasi. Jangan terus-terusan konvensional."

"Interupsi!" seru Santoso dari belakang, seperti biasa, dengan suara yang lebih keras dari yang diperlukan.

"Silakan," kata Pak Kades.

"Adaptasi boleh. Tapi jangan sampai melupakan budaya. Anak-anak sekarang terlalu sibuk dengan HP. Malas gotong royong. Malas ke sawah. Malas bersosialisasi."

"Lho, Pak," sahut Bambang, "justru kita arahkan supaya HP mereka jadi produktif. Bukan buat main game atau scrolling TikTok."

"Produktif bagaimana? Bikin konten-konten nggak jelas kayak Jojon?" Pak Sugeng ikut menyelip, sekaligus menyindir.

Jojon yang sedang asyik merekam, langsung menurunkan ponselnya.

"Lho, konten saya jelas, Pak. Edukatif."

"Edukatif apanya?" sahut Pak Sugeng.

"Ya... mengajarkan bahwa hidup itu nggak selalu serius."

Tawa pecah.

Perdebatan mulai menghangat.

Dan di tengah semua itu, Yunita mencatat dengan rapi.

Tapi matanya, sesekali, melirik ke arah Bayu.

Bayu terlihat serius.

Tidak seperti biasanya yang cepat menyela.

Ia mendengarkan.

Mencatat di dalam pikirannya.

Menunggu momen yang tepat.

 

"Cukup!" suara Pak Kades akhirnya meninggi.

Tidak marah. Tapi tegas. Suara yang membuat semua orang langsung diam.

"Kita bukan mau berdebat tanpa arah. Kita cari solusi."

Yunita segera mencatat poin-poin penting.

Tapi di sela-sela itu, ia melirik lagi ke arah Bayu.

Bayu mengangguk pelan.

Seolah setuju dengan Pak Kades.

Seolah ia sudah siap untuk bagian selanjutnya.

"Selanjutnya, kita bahas kegiatan Karang Taruna," lanjut Pak Kades.

Hermansyah berdiri. Ia tidak perlu mengangkat tangan, karena semua sudah tahu bahwa ia adalah ketua Karang Taruna.

"Kami ingin membuat kegiatan pemuda yang lebih kreatif, Pak. Termasuk diskusi terbuka dan pelatihan."

"Diskusi lagi?" celetuk Sugeng. "Jangan-jangan nanti cuma jadi tempat debat seperti ini."

Semua tertawa.

Termasuk Bayu, meskipun tawanya kecil.

"Pak, diskusi itu penting," kata Bayu akhirnya. Suaranya tenang. Tidak berdebat. Hanya menjelaskan. "Tapi yang lebih penting adalah hasilnya."

"Nah, itu dia," sahut Pak Eko. "Selama ini diskusi panjang, tapi hasilnya kadang tidak jelas. Cuma jadi ajang curhat."

Bayu menatap sekeliling ruangan.

Matanya bergerak perlahan dari satu wajah ke wajah lain.

Lalu berhenti pada Yunita.

Hanya sebentar.

Tapi cukup untuk membuat Yunita merasakan sesuatu.

"Makanya, mungkin kita perlu cara baru," lanjut Bayu.

"Cara baru seperti apa?" tanya Yunita tiba-tiba.

Semua langsung diam.

Termasuk Bayu.

Termasuk Pak Kades.

Termasuk Ibu Yuni.

Semua orang menatap Yunita.

Karena Yunita jarang bicara di rapat. Ia lebih suka mencatat. Lebih suka mendengar. Lebih suka berada di balik layar.

Tapi kali ini, ia bertanya.

Dan pertanyaannya langsung ke Bayu.

Bayu menatap Yunita sejenak.

Lalu menjawab pelan.

"Cara yang lebih... jujur."

Suasana hening beberapa detik.

"Jujur bagaimana maksudnya?" tanya Pak Kades.

Bayu tersenyum kecil.

"Kadang kita terlalu sibuk dengan prosedur, sampai lupa apa yang sebenarnya ingin kita capai."

"Wah, mulai lagi filsafatnya," bisik Herman ke Hermansyah.

Tawa kecil terdengar.

Tapi kali ini, tidak semua tertawa.

Sebagian mulai merenung.

Termasuk Pak Kades.

Termasuk Ibu Yuni.

Termasuk, mungkin, Yunita.

 

Di sudut ruangan, Anto mengangkat tangan.

Anto, pemuda yang katanya bisa membaca garis tangan dan meramal masa depan, meskipun tidak ada yang pernah benar-benar melihatnya meramal dengan akurat. Ia sering dianggap aneh, tapi ia juga sering dianggap "orang yang punny wangsit", entah benar atau hanya gosip, tidak ada yang peduli.

"Saya boleh bicara?"

"Silakan," kata Pak Kades.

Anto berdiri dengan gaya percaya diri, gaya yang ia tiru dari pembawa acara di televisi.

"Saya ini memang bukan orang kantor. Tapi saya lihat, masalah kita itu bukan kurang rapat... tapi kebanyakan mikir."

Semua tertawa.

"Kadang, keputusan itu harus cepat. Jangan semua dibahas sampai berputar-putar. Kayak bubur, lama-lama jadi eneg."

Bayu mengangguk pelan.

Seolah menemukan sekutu.

Seolah Anto, dengan segala keanehannya, baru saja mengatakan sesuatu yang selama ini ia pikirkan.

"Setuju," kata Bayu. "Tapi cepat bukan berarti asal. Cepat tetap harus berdasarkan pertimbangan yang matang."

"Nah, itu dia," sahut Anto. "Matang itu beda dengan lama. Ada yang lama tapi masih mentah. Ada yang cepat tapi matang."

"Kamu ini lagi masak sayur atau lagi rapat desa?" celetuk Jojon.

Tawa kembali pecah.

Tapi kali ini, Pak Kades ikut tersenyum.

"Jangan terlalu banyak bercanda, nanti rapatnya nggak selesai-selesai," katanya.

 

Rapat semakin panas.

Dan semakin absurd.

Dari pembahasan desa digital, melebar ke kebiasaan anak muda.

Dari kebiasaan anak muda, melebar ke masalah komunikasi antar warga.

Dari komunikasi antar warga, melebar ke keluhan pribadi tentang tetangga yang suka memutar musik terlalu keras malam-malam.

"Ini rapat atau curhat massal sih?" bisik Jojon pada Evita.

Evita menahan tawa.

"Tunggu aja, nanti ada yang curhat soal jodoh."

Tepat setelah Evita bicara, Ibu Yuni berdiri.

"Maaf, Pak. Saya ingin membacakan agenda tambahan."

Semua langsung diam.

Ini saatnya.

Yunita mengepal tangannya di bawah meja.

Bayu menarik napas dalam-dalam.

Pak Kades mengangguk.

"Silakan, Bu Yuni."

Ibu Yuni berdiri.

Tangannya, yang sudah memegang kertas itu sejak awal rapat, kini terangkat.

Dan dengan suara yang jelas, jelas sekali, seperti orang yang sudah memutuskan untuk tidak ragu lagi, ia mulai membaca.

"Agenda tambahan... Proposal Pengajuan Perasaan kepada Saudari Yunita dari Saudara Bayu Andika."

Sunyi.

Total.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang bernapas.

Seolah-olah waktu berhenti.

Lalu, seperti bom yang meledak, ruangan meledak dalam tawa, teriakan, dan decak kagum.

"Apa?!"

"Serius?!"

"Ini gila!"

Bayu tetap duduk.

Yunita tetap duduk.

Tapi di dalam hati mereka, ada gempa yang tidak terlihat.

 

Yunita akhirnya angkat bicara.

Suasana langsung hening.

"Ini memang tidak biasa," katanya pelan, tapi jelas. Setiap kata terdengar seperti diukir di atas batu. "Dan saya tidak pernah meminta ini dibahas di forum."

Ia menatap Bayu sekilas.

Tatapan yang singkat.

Tapi penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

"Tapi... karena sudah terjadi, saya minta kita tetap menjaga batas."

Sunyi.

Bayu menatap Yunita.

Ada sesuatu dalam tatapannya, antara harap dan takut.

Antara keyakinan dan keraguan.

Antara "aku mencintaimu" dan "maafkan aku".

"Baik," kata Pak Kades akhirnya.

Ia berdiri.

Menatap seluruh ruangan.

"Karena ini adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, saya minta kita semua berpikir dengan kepala dingin."

Ia berhenti sejenak.

"Kita akan lanjutkan pembahasan ini di rapat berikutnya. Saya minta semua pihak tidak menyebarkan ini ke luar forum sebelum ada keputusan resmi."

Tapi semua tahu.

Keputusan resmi atau tidak, kabar ini sudah menyebar lebih cepat dari api di musim kemarau.

Rapat ditutup.

Orang-orang mulai keluar.

Tapi tidak ada yang benar-benar pergi.

Semua masih bergerombol, berbisik-bisik, bertukar pendapat.

Bayu berdiri.

Ia berjalan keluar.

Tidak menoleh.

Tidak melihat siapa pun.

Yunita tetap duduk di tempatnya.

Map biru di tangannya tergenggam erat.

Ia tidak mengikuti Bayu.

Tapi di dalam hatinya, ia ingin.

Ia ingin berlari mengejar.

Ingin bertanya.

Ingin tahu.

Tapi ia tidak bergerak.

Karena Yunita tidak pernah berlari mengejar siapa pun.

Dan itu, mungkin, adalah kesalahan terbesarnya.

 

Di luar kantor desa, langit mulai berwarna jingga.

Orang-orang keluar dengan berbagai ekspresi, lelah, lega, atau masih ingin berdebat.

Bayu berjalan pelan.

Langkahnya tidak tergesa.

"Yu!" panggil Bambang dari belakang.

Bayu berhenti. Tidak menoleh.

"Gimana menurutmu rapat tadi?"

Bayu tersenyum kecil.

"Seperti biasa..."

"Panjang?"

"Bukan. Rumit."

Tak jauh dari situ, Yunita berdiri sendiri.

Memegang mapnya.

Bayu mendekat, tanpa sadar, atau mungkin dengan sengaja.

"Capek?" tanyanya.

Yunita mengangguk pelan.

"Seperti biasa."

Bayu tersenyum.

"Kita selalu ada di forum yang sama... tapi kadang seperti punya dunia yang beda ya."

Yunita menatapnya.

"Justru itu yang bikin menarik."

Bayu sedikit terkejut.

"Menarik?"

Yunita mengangguk kecil.

"Tapi juga... berbahaya."

"Kenapa?"

"Karena kalau terlalu jauh... kita bisa tidak saling mengerti."

Bayu terdiam.

Lalu berkata pelan.

"Kalau begitu... kita cari cara supaya bisa saling mengerti."

Yunita tidak langsung menjawab.

Namun kali ini, ia tidak pergi.

Ia hanya berdiri di sana.

Bersama Bayu.

Di bawah langit senja.

Dan itu, bagi mereka berdua, sudah lebih dari cukup.


BAB 4: Proposal yang Tidak Biasa

Malam di Desa Awan Biru selalu punya dua wajah.

Yang pertama, tenang, dengan suara jangkrik yang berirama, angin yang berhembus pelan di sela pepohonan karet, dan langit yang bertabur bintang tanpa polusi cahaya. Wajah ini biasanya muncul setelah pukul 21.00, ketika sebagian besar warga sudah masuk ke dalam rumah, menonton televisi, atau bersiap tidur.

Yang kedua, rame, tapi hanya di satu tempat: Warung Mbah Karyo. Wajah ini mulai terlihat sekitar pukul 19.00, ketika kopi mulai diseduh, kursi-kursi mulai terisi, dan cerita-cerita mulai mengalir. Di sinilah desa benar-benar hidup, bukan di balai desa, bukan di kantor, tapi di warung kopi sederhana dengan atap seng dan bangku kayu.

Dan malam itu, wajah kedua sedang menang.

Warung Mbah Karyo lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena kabar tentang proposal sudah menyebar. Mungkin karena semua orang ingin mendengar langsung dari Bayu. Atau mungkin karena tidak ada acara lain yang lebih menarik di desa itu malam ini.

Bayu duduk di tempat favoritnya, sudut yang menghadap ke jalan, sehingga ia bisa melihat siapa pun yang lewat. Tapi malam itu, ia tidak benar-benar memperhatikan jalan. Matanya tertuju pada cangkir kopi di depannya.

"Jadi kesimpulannya..." kata Bambang sambil menyeruput kopi, suaranya terdengar sengau karena kopi masih panas. "Kamu mau menyatakan cinta... tapi pakai konsep?"

Bayu Andika duduk di depan mereka, menatap kosong ke arah lampu warung yang sedikit berkedip. Lampu itu sebenarnya bukan lampu, hanya bohlam 10 watt yang digantung dengan kabel seadanya. Tapi cahayanya cukup untuk menerangi wajah-wajah yang penuh rasa ingin tahu.

"Bukan konsep," jawab Bayu pelan. "Tapi perencanaan."

Jojon langsung tertawa terbahak-bahak. "Perencanaan?! Ini cinta, Yu, bukan pembangunan jalan desa!"

"Lah, justru karena penting, harus direncanakan dengan matang," sahut Bayu santai. Ia mengambil cangkir kopinya, menyesap pelan, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan yang terukur.

"Kamu itu kalau mau bilang suka, ya bilang aja. Nggak usah pakai proposal segala. Ntar malah ditolak," tambah Jojon sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Justru karena takut ditolak, aku mau persiapan matang," balas Bayu tanpa mengubah ekspresinya.

Hermansyah yang dari tadi diam, akhirnya ikut bicara. Suaranya dalam, seperti biasa, suara yang membuat orang cenderung diam dan mendengar.

"Pertanyaannya sederhana: kamu suka sama Yunita, kan?"

Bayu tidak langsung menjawab.

Ia menatap cangkir kopinya.

Lama.

Seolah-olah kopi hitam pekat itu bisa memberinya jawaban.

Lalu ia mengangguk pelan.

"Iya."

Sunyi sejenak.

Bambang bersiul pelan. Jojon menurunkan ponselnya, untuk pertama kalinya malam itu. Nadya yang duduk di sudut, diam tapi memperhatikan.

"Ya sudah, bilang saja!" seru Nadya spontan, sesuatu yang jarang terjadi, karena Nadya jarang spontan.

Bayu menggeleng.

"Nggak sesederhana itu."

"Kenapa lagi?" tanya Bambang.

Bayu menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, gerakan yang biasa ia lakukan ketika sedang mengumpulkan pikiran.

"Aku nggak mau cuma bilang 'aku suka kamu' terus selesai. Aku mau jelas... ke mana arahnya, bagaimana rencananya, apa tujuannya."

Jojon mengangkat tangan seperti murid SD yang ingin bertanya.

"Pak, ini cinta atau visi-misi calon kepala desa?"

Tawa pecah.

Bahkan Mbah Karyo yang sedang mengelap gelas di balik meja ikut tersenyum.

Tapi Bayu tidak tertawa.

Ia serius.

"Kalian anggap aku aneh," katanya pelan. "Tapi coba pikir. Berapa banyak orang yang pacaran tanpa tujuan jelas, putus, lalu nyesel? Berapa banyak yang asal bilang suka, tapi nggak tahu mau dibawa ke mana? Berapa banyak yang main-main karena nggak pernah serius dari awal?"

Bambang yang tadinya tertawa, kini berhenti.

Jojon yang tadinya ingin melontarkan candaan lagi, ikut diam.

Nadya menunduk.

"Yang aku lakukan," lanjut Bayu, "mungkin aneh. Mungkin konyol. Mungkin jadi bahan tertawaan se-desa. Tapi setidaknya... aku serius."

Mbah Karyo yang sejak tadi mendengarkan dari balik meja, ikut menyela.

Suaranya serak, tua, tapi masih jelas.

"Yu... dulu zaman saya, kalau suka ya tinggal bilang. Nggak pakai proposal. Nggak pakai perencanaan. Nggak pakai visi-misi segala."

Bayu tersenyum.

"Zaman sekarang beda, Mbah."

Mbah Karyo mengangguk pelan. Matanya yang keruh karena usia, tapi masih tajam, menatap Bayu dengan penuh arti.

"Iya, beda... tapi hati manusia tetap sama."

Bayu terdiam.

"Kamu bisa bikin proposal setebal buku novel, tapi kalau hati kamu nggak berani, percuma," lanjut Mbah Karyo. "Kamu bisa tulis semua rencana semenarik mungkin, tapi kalau kamu nggak siap ditolak, ya sama saja bohong."

Bayu menunduk.

Mbah Karyo mendekat. Diletakkan secangkir kopi baru di depan Bayu, karena yang lama sudah dingin.

"Yang penting itu bukan proposalnya, Yu. Yang penting itu keberanianmu."

Bayu mengangguk pelan.

"Makanya aku buat proposal, Mbah. Biar keberanianku nggak setengah-setengah."

Mbah Karyo tertawa kecil.

"Kamu ini keras kepala, ya."

"Iya, Mbah. Makanya saya belum menikah."

Semua tertawa.

 

Malam semakin larut.

Satu per satu orang mulai pulang.

Bambang sudah pamit setengah jam yang lalu, disusul Hermansyah dan Herman. Jojon masih bertahan, sesekali merekam, sesekali hanya diam. Nadya sudah pergi lebih awal, ia tidak pernah suka begadang.

Tapi Bayu masih duduk di warung.

Cangkirnya yang ketiga sudah setengah kosong.

Mbah Karyo mendekat.

"Pulang, Yu. Sudah malam."

"Sebentar lagi, Mbah."

Mbah Karyo duduk di sampingnya. Lelaki tua itu menghela napas, napas yang terdengar seperti angin yang melewati celah-celah bambu tua.

"Kamu serius mau bikin proposal?"

Bayu mengangguk.

"Iya, Mbah."

"Beneran?"

"Iya."

"Lengkap?"

"Iya. Latar belakang, tujuan, manfaat, bahkan rencana anggaran."

Mbah Karyo menatap Bayu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

"Rencana anggaran buat apa?"

Bayu tersenyum. "Buat kencan, Mbah."

Mbah Karyo tertawa, tertawa keras, sampai terdengar sampai ke rumah-rumah terdekat.

"Kamu ini benar-benar aneh, Yu."

"Makanya saya belum laku, Mbah."

Mbah Karyo menggeleng-gelengkan kepala.

"Ini bakal jadi sejarah desa sih..."

Bayu tersenyum tipis.

"Semoga jadi sejarah yang indah, Mbah. Bukan sejarah yang memalukan."

Mbah Karyo tidak menjawab.

Ia hanya berdiri, berjalan kembali ke balik meja, dan mulai membersihkan gelas-gelas yang tersisa.

Tapi di dalam hatinya, lelaki tua itu berdoa, untuk pemuda keras kepala yang duduk di warungnya malam itu.

Semoga beruntung, Yu.

Kamu akan membutuhkannya.

 

Di kamar kecilnya, Bayu duduk di depan meja kayu yang sudah mulai usang.

Lampu belajar, lampu neon kecil yang pernah ia beli di toko buku di kota, menyala redup. Cahayanya cukup untuk menerangi meja, tapi tidak cukup untuk menerangi seluruh kamar. Bayu menyukai suasana seperti ini, redup, tenang, hanya suara jangkrik dari luar.

Di depannya, selembar kertas kosong terbentang.

Kertas HVS biasa.

Tapi terasa lebih berat dari biasanya.

Ia memutar-mutar pena di tangannya.

Pilot Hitam, pena murah yang bisa dibeli di mana saja.

Tapi tangannya... tangannya gemetar.

Ia tertawa pada dirinya sendiri.

Bayu, kamu sudah berdebat dengan camat. Kamu sudah melawan kepala dinas. Kamu sudah presentasi di depan pejabat kabupaten.

Tapi sekarang kamu gemetar karena selembar kertas?

Ia menarik napas dalam-dalam.

"Gila nggak ya ini..." gumamnya.

Suaranya nyaris tak terdengar di atas suara jangkrik.

Ia teringat wajah Yunita.

Cara dia berbicara, tegas, tidak pernah bertele-tele.

Cara dia menatap, tajam, seperti bisa menembus dinding.

Cara dia tersenyum, jarang, tapi ketika ia tersenyum, dunia terasa lebih indah.

Cara dia selalu mencoba menjaga semuanya tetap rapi, seolah-olah jika ada satu hal yang berantakan, seluruh hidupnya akan hancur.

Bayu tersenyum kecil.

"Ya sudah... kalau aku beda, biar sekalian beda."

Ia mulai menulis.

"PROPOSAL PENGAJUAN PERASAAN"

Kepada: Saudari Yunita

Dari: Bayu Andika

Tanggal: [tanggal hari itu]

Perihal: Pengajuan perasaan serius untuk tujuan hubungan jangka panjang

Ia berhenti sejenak.

Menghela napas.

Lalu melanjutkan.

Latar Belakang:

Bahwa perasaan suka dapat muncul secara alami tanpa dapat direncanakan, namun dapat dikelola dengan keseriusan.

Bahwa perasaan tersebut telah berlangsung dalam periode waktu yang cukup untuk dipertimbangkan secara matang (kurang lebih 1 tahun, 3 bulan, dan 7 hari, sejak pertama kali melihat Saudari Yunita sedang mengarsip berkas sambil tersenyum kecil pada sebuah surat masuk, dan saya sadar bahwa saya tidak hanya melihat seorang pegawai administrasi, tapi seseorang yang ingin saya kenali lebih dalam).

Bahwa perasaan tersebut bukan didasarkan pada ketertarikan fisik semata, melainkan pada kekaguman terhadap etos kerja, integritas, dan cara Saudari Yunita memperlakukan setiap orang dengan hormat, termasuk orang-orang yang sering diabaikan oleh birokrasi desa.

Bayu tersenyum sendiri.

"Ini kalau dibaca Pak Kades, bisa disahkan langsung kayaknya..."

Ia lanjut menulis.

Tujuan:

Menjalin hubungan yang serius, saling mendukung, dan berpotensi menuju masa depan bersama (dengan catatan: masa depan yang dimaksud adalah masa depan yang dibangun atas dasar kesepakatan bersama, bukan paksaan atau ekspektasi sepihak).

Manfaat:

1.              Meningkatkan kebahagiaan individu (dengan asumsi perasaan berbalas; jika tidak, manfaat ini hanya berlaku sepihak dan proposal dianggap gugur).

2.              Menciptakan sinergi emosional yang dapat meningkatkan produktivitas kerja (karena tidak ada lagi perasaan canggung di kantor).

3.              Berkontribusi terhadap stabilitas sosial (minimal di lingkup pribadi, maksimal di lingkup desa jika hubungan ini menginspirasi pasangan lain untuk lebih serius dalam menjalin hubungan).

Bayu tertawa kecil.

"Poin tiga ini agak maksa sih..."

Tapi ia tetap menulis.

Penutup:

Demikian proposal ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari pihak mana pun.

Saya menyadari bahwa cara ini tidak biasa. Saya menyadari bahwa ini mungkin terasa konyol bagi sebagian orang. Tapi saya percaya bahwa perasaan yang sungguh-sungguh layak diperjuangkan dengan cara yang sungguh-sungguh.

Jika Saudari Yunita berkenan menerima, saya akan sangat bersyukur.

Jika tidak, saya akan menerima dengan lapang dada, meskipun hati saya mungkin butuh waktu untuk sembuh.

Hormat saya,

Bayu Andika

Bayu meletakkan pena.

Membaca ulang.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu tersenyum.

"Gila," gumamnya. "Ini benar-benar gila."

Tapi ia tidak membuang kertas itu.

Ia melipatnya rapi.

Memasukkannya ke dalam map.

Dan menyimpannya di laci meja.

Besok, ia akan memberikannya pada Yunita.

Atau mungkin lusa.

Atau mungkin...

Tapi ia sudah memutuskan.

Tidak ada mundur.

Di luar, angin malam berhembus pelan.

Seolah membawa doa.


Keesokan paginya, warung Mbah Karyo kembali ramai.

Bahkan lebih ramai dari biasanya.

"Mana?" tanya Jojon tidak sabar. Ia sudah duduk sejak pukul 07.00, padahal biasanya ia baru datang pukul 09.00.

Bayu mengeluarkan beberapa lembar kertas.

Bambang langsung merebutnya, tidak sabar.

Membaca keras-keras.

"'Latar Belakang: bahwa perasaan suka dapat muncul secara alami...'"

Ia berhenti.

Membaca lagi.

"'...telah berlangsung selama 1 tahun, 3 bulan, dan 7 hari, sejak pertama kali melihat Saudari Yunita sedang mengarsip berkas sambil tersenyum kecil...'"

Tawa meledak.

"YA AMPUN!" teriak Bambang. "Kamu hitung sampai hari?! Gila lu, Yu!"

"ITU LUCU BANGET!" Jojon sampai menepuk meja.

"Manfaat: meningkatkan kebahagiaan individu..." lanjut Bambang sambil tertawa. "'...dengan asumsi perasaan berbalas; jika tidak, manfaat ini hanya berlaku sepihak dan proposal dianggap gugur.'"

"BAYUUUU!" Jojon hampir jatuh dari kursinya. "KAMU INI APOTEKER APA APA SIH?!"

Nadya menutup wajahnya dengan kedua tangan, bukan karena malu, tapi karena menahan tawa yang hampir meledak.

"Gue nggak kuat," kata Nadya antara tertawa dan terisak. "Gue nggak kuat, Yu."

Hermansyah menggeleng-gelengkan kepala, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

"Kalau Yunita baca ini, dia bingung mau ketawa atau marah."

"Yang penting jelas," kata Bayu santai. Padahal di dalam hatinya, ia gugup setengah mati.

"Jelas sih jelas," kata Bambang sambil mengusap air mata. "Tapi ini... gila. Ini benar-benar gila."

"Kamu nggak takut ditolak?" tanya Jojon.

Bayu mengangkat bahu.

"Takut. Tapi lebih takut nggak pernah mencoba."

Semua terdiam sejenak.

"Wah," kata Bambang pelan. "Itu baru kalimat yang beneran serius."

Bayu tersenyum.

Tapi senyumnya langsung hilang ketika ia mendengar suara dari belakang.

"Jelas apanya?"

 

Semua langsung diam.

Beku.

Seperti patung.

Perlahan, sangat perlahan, mereka menoleh.

Yunita.

Ia berdiri di sana, membawa map biru yang tidak pernah lepas dari tangannya, dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tidak marah. Tidak tersenyum. Tidak sedih. Hanya... datar. Seperti danau tanpa riak.

Tapi di matanya, ada sesuatu.

Api kecil yang tidak terlihat oleh orang lain.

Tapi Bayu melihatnya.

Bayu selalu melihatnya.

"Yun... ini..." Bayu tergagap. Jarang-jarang. Bayu jarang tergagap.

Jojon langsung menyembunyikan kertas di balik punggungnya, gerakan refleks, seperti anak kecil yang ketahuan mengambil permen.

"Ini cuma... eh... draft kegiatan pemuda!"

Yunita mengangkat alis.

Satu alis.

Ekspresi yang membuat siapapun yang melihatnya langsung merasa bersalah, meskipun tidak melakukan kesalahan apa pun.

"Kegiatan apa?"

Sunyi.

Bambang berbisik pelan pada Bayu, tapi bisikannya terlalu keras untuk ukuran bisikan.

"Ini kalau lolos, kamu legenda, Yu..."

Bayu tidak menjawab.

Ia hanya menatap Yunita.

Yunita melangkah mendekat.

Langkahnya pelan.

Pasti.

Seperti predator yang mendekati mangsanya.

"Boleh saya lihat?"

Semua saling pandang.

Bayu menarik napas panjang.

Napas terpanjang dalam hidupnya.

Lalu mengulurkan kertas itu.

"Silakan."

Yunita menerimanya.

Membaca perlahan.

Satu baris.

Dua baris.

Tiga baris.

Wajahnya tidak berubah.

Tapi suasana... berubah total.

Semua menahan napas.

Bahkan Mbah Karyo yang sedang menyeduh kopi, berhenti bergerak.

Beberapa detik yang terasa seperti beberapa tahun.

Lalu Yunita menutup kertas itu.

Menatap Bayu.

"Ini... serius?"

Bayu mengangguk.

"Iya."

Sunyi lagi.

Lalu Yunita berkata pelan, sangat pelan, hanya cukup untuk didengar oleh orang-orang di meja itu.

"Kamu ini... aneh."

Jojon hampir tertawa, tapi langsung ditahan oleh tatapan Yunita.

Bayu tersenyum kecil.

"Aku tahu."

Yunita menatapnya lebih lama.

Lebih dalam.

Seolah sedang mencari sesuatu di balik mata Bayu.

"Aneh... tapi kamu niat."

Kalimat itu membuat semua orang saling pandang.

Maksudnya apa?

Apakah itu penolakan?

Apakah itu penerimaan?

Atau hanya pernyataan netral?

Tidak ada yang tahu.

Yunita mengembalikan kertas itu.

"Perbaiki dulu formatnya," katanya singkat.

Lalu ia berbalik dan pergi.

Langkahnya sama seperti saat datang.

Pelan.

Pasti.

Tanpa menoleh.

 

Beberapa detik hening.

Lalu...

"PERBAIKI FORMAT?!" teriak Bambang.

Tawa meledak lebih keras dari sebelumnya.

Bahkan Mbah Karyo tertawa sampai air matanya keluar.

"Aih, Bayu," kata Jojon sambil terisak antara tertawa. "Dia minta revisi! Kayak proposal beneran!"

Bayu hanya tersenyum.

Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbeda.

Ia tidak ditolak.

Belum.

Yunita tidak mengatakan 'tidak'.

Yunita hanya mengatakan 'perbaiki format'.

Itu berarti, mungkin, masih ada harapan.

Atau mungkin itu hanya cara Yunita untuk menghindari jawaban langsung.

Tapi Bayu memilih untuk percaya pada yang pertama.

Ia memilih untuk percaya bahwa ada kemungkinan.

Dan di Desa Awan Biru, di mana kepastian adalah barang langka dan harapan adalah satu-satunya mata uang yang tidak pernah kehilangan nilainya,

Itu sudah lebih dari cukup.

Tanpa ia sadari...

Proposal itu tidak hanya akan dibaca Yunita.

Tapi juga... seluruh desa.


BAB 5: Ketika Cinta Masuk Agenda

Kantor Desa Awan Biru siang itu terasa berbeda.

Biasanya, rapat dimulai dengan obrolan ringan, kadang tentang harga cabai yang naik, kadang tentang sinetron yang tayang tadi malam, kadang tentang tetangga yang baru saja punya cucu. Ada tawa kecil, ada candaan, ada kursi-kursi yang digeser dengan suara seret di lantai semen.

Tapi kali ini...

Ada sesuatu yang beredar lebih cepat dari undangan resmi.

Sebuah dokumen.

Bukan tentang jalan desa.

Bukan tentang anggaran.

Bukan juga tentang program pembangunan.

Tapi tentang... cinta.

"Mat, itu benar ya?" bisik Herman sambil melirik laptop Si Amat.

Amat terlihat gelisah. Jari-jarinya mengetik dengan cepat, mungkin mencari sesuatu, mungkin hanya pura-pura sibuk. Kacamatanya yang tebal membuat matanya terlihat lebih besar dari biasanya, dan saat itu, matanya terlihat seperti sedang ketakutan.

"Jangan tanya aku, aku cuma nerima file..."

"File apa?" tanya Guntur penasaran. Tubuhnya yang besar mendekat, membuat Amat semakin gelisah.

Amat menelan ludah.

"Judulnya... 'Proposal Pengajuan Perasaan'..."

"HAH?!"

Suara itu langsung menarik perhatian beberapa orang.

Guntur tertawa keras. Herman ikut tertawa. Beberapa orang lain yang mendengar mulai mendekat.

"Cinta-cintaan? Di kantor desa?" tanya Pak RT 02 yang kebetulan lewat.

"Ini mah sejarah," sahut Herman. "Desa kita masuk buku rekor."

 

Di meja depan, Yunita membuka map seperti biasa.

Tapi matanya sempat berhenti sejenak saat melihat satu berkas yang terasa... tidak biasa.

Map biru.

Biru tua.

Warna favoritnya.

Tapi ada satu map yang tidak ia kenali.

Ia membukanya.

Judul proposal.

Proposal Pengajuan Perasaan.

Ia tahu.

Itu milik Bayu.

Tapi bagaimana bisa sampai di sini?

Ia menyimpannya di laci.

Terkunci.

Tidak ada yang tahu.

Ia menarik napas pelan.

"Kenapa bisa sampai sini..." gumamnya.

Pertanyaan yang tidak akan terjawab, karena laci kantor desa tidak pernah benar-benar aman, dan kunci laci hanyalah simbol, bukan perlindungan.

 

"Baik, kita mulai rapat hari ini," suara Pak Kades Iwan terdengar tegas.

Semua mulai duduk rapi, atau setidaknya berusaha terlihat rapi. Kursi-kursi digeser. Tenggorokan dibersihkan. Map-map dibuka.

"Agenda pertama..." lanjut Pak Kades.

Namun sebelum ia selesai, Pak Eko berdehem.

"Pak, ada satu berkas tambahan yang masuk pagi ini."

Pak Kades mengangkat alis.

"Berkas apa?"

Pak Eko terlihat ragu.

Ia melirik ke arah Yunita.

Yunita diam.

Wajahnya datar.

Tapi tangannya, di bawah meja, telah mengepal.

"Silakan dibacakan saja," kata Pak Kades akhirnya.

 

Suasana tiba-tiba hening.

Bukan hening biasa.

Hening yang tegang.

Seperti sebelum badai.

Ibu Yuni (Sekdes) berdiri. Tangannya mengambil kertas yang diberikan Pak Eko.

Ia membaca judulnya pelan...

Namun cukup keras untuk didengar semua orang.

"Proposal... Pengajuan... Perasaan..."

Sunyi.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu,

"HAHAHAHA!"

Ruangan meledak.

"Ini serius?!" teriak Pak Sugeng, wajahnya merah padam, bukan karena malu, tapi karena menahan tawa yang tidak bisa ditahan.

"Siapa yang buat ini?!" tanya Pak Edi sambil menepuk paha tetangganya.

"Ini rapat desa atau acara lawak?!" sahut Santoso sambil tertawa terbahak-bahak.

Suara tumpang tindih.

Tawa bercampur decak kagum.

Di sudut ruangan, Jojon sudah hampir tidak bisa menahan tawa. Bahunya naik turun. Matanya berkaca-kaca.

"Ini konten terbaik sepanjang sejarah..." bisiknya pada Evita.

Evita hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, antara malu dan ikut tertawa.

 

Sementara itu, Bayu Andika hanya bisa menunduk.

Wajahnya memerah.

Bukan karena malu sepenuhnya, ia sudah mempersiapkan diri untuk momen ini.

Tapi karena ia tidak pernah menyangka akan sejauh ini.

Ia mengira proposal itu hanya akan sampai ke Yunita.

Ia mengira hanya mereka berdua yang akan tahu.

Tapi sekarang...

Seluruh desa tahu.

Seluruh desa tertawa.

Seluruh desa menatapnya.

"Siapa yang mengajukan ini?" tanya Pak Kades, mencoba serius, meskipun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Perlahan...

Bayu mengangkat tangan.

Semua langsung menoleh.

"Lho... Bayu?!"

"Kamu serius, Yu?!"

"Ini bukan bercanda kan?!"

Bayu berdiri.

"Pak, saya yang membuat."

Sunyi kembali.

Tapi kali ini, sunyi yang berbeda.

Sunyi yang penuh rasa hormat, atau setidaknya, penuh rasa ingin tahu.

 

Yunita menunduk.

Tangannya menggenggam map lebih erat dari biasanya.

Ia tidak berani melihat ke arah Bayu.

Tidak berani melihat ke arah siapa pun.

Karena jika ia melihat, ia mungkin akan menangis.

Bukan karena malu.

Bukan karena marah.

Tapi karena... ia tidak tahu harus merasa apa.

Ada sesuatu yang hangat di dadanya.

Ada sesuatu yang membuat ia ingin tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan.

Ada sesuatu yang membuat ia ingin berlari ke arah Bayu dan memeluknya, tapi juga ingin memukulnya karena telah membuat situasi serumit ini.

Tapi ia tidak melakukan apa pun.

Ia hanya duduk.

Diam.

Menunduk.

 

"Baik... kita dengarkan dulu," kata Pak Kades.

Semua langsung lebih diam, meski beberapa masih menahan tawa.

Ibu Yuni mulai membaca isi proposal itu.

"Latar Belakang: bahwa perasaan suka dapat muncul secara alami..."

Beberapa orang mulai berbisik.

"...namun dapat dikelola dengan keseriusan..."

"Wah, rapi juga ya..." gumam Ibu Ratna.

"...Tujuan: menjalin hubungan serius..."

"Ini kayak proposal kegiatan beneran!" sahut Pak Edi.

"...Manfaat: meningkatkan kebahagiaan individu..."

"Wah, ini cinta atau proyek pembangunan?" celetuk Santoso.

Tawa kembali pecah.

Namun kali ini, tidak semua tertawa.

Sebagian mulai... berpikir.

Sebagian mulai melihat Bayu dengan cara yang berbeda.

Bukan sebagai pemuda aneh yang bikin proposal cinta.

Tapi sebagai pemuda yang berani.

Yang berbeda.

Yang mungkin, mungkin saja, sedang melakukan sesuatu yang benar.

 

"Cukup!" kata Pak Kades.

Suaranya tegas.

Tidak marah.

Tapi tegas.

"Kita tidak bisa menjadikan ini sekadar bahan tertawaan."

Suasana kembali tenang.

"Pertanyaannya," lanjutnya, "apakah ini pantas dibahas dalam forum desa?"

Ruangan hening.

Semua berpikir.

"Tidak pantas!" seru Sugeng tegas. "Ini urusan pribadi! Urusan hati! Nggak ada hubungannya dengan pembangunan desa!"

"Eh, tapi kalau sudah masuk ke forum, berarti sudah jadi urusan bersama dong," sahut Santoso santai.

"Lho, jangan begitu! Nanti semua orang bawa urusan pribadi ke rapat!"

"Ini bisa jadi contoh buruk!" tambah Pak Eko.

"Atau malah contoh keberanian!" balas Herman.

Perdebatan mulai memanas.

 

Di tengah keributan, Anto berdiri.

"Saya mau bicara!"

Semua langsung diam, karena semua tahu, kalau Anto bicara, pasti ada yang aneh.

"Saya sudah lihat garis tangan Bayu..." katanya serius.

Semua langsung tertawa.

"Belum kamu lihat juga!" sahut Jojon.

"Tapi saya bisa rasa," lanjut Anto, tidak terganggu dengan tawa. "Ini cinta yang jalannya tidak mudah. Banyak gangguan... termasuk dari kita semua."

Beberapa orang saling pandang.

Ada yang tertawa.

Ada juga yang mulai merasa tersindir.

"Maksud saya," lanjut Anto, "jangan kita jadi penghalang. Kalau memang dia berani, ya kita hargai. Kalau tidak, ya sudah. Tapi jangan diolok-olok."

Sunyi.

"Wah, Anto," kata Bambang pelan. "Kamu serius banget hari ini."

Anto mengangkat bahu.

"Sesekali serius nggak apa-apa. Nanti juga kembali aneh."

Tawa kecil.

 

Sementara itu, Yunita masih diam.

Hingga akhirnya,

"Saya mau bicara."

Semua langsung menoleh.

Yunita berdiri.

"Ini memang tidak biasa," katanya pelan, tapi jelas. Setiap kata terukur. Setiap suku kata jatuh dengan berat.

Ia menatap Bayu sekilas.

Hanya sekilas.

Tapi cukup untuk membuat Bayu merasakan sesuatu.

"Dan saya tidak pernah meminta ini dibahas di forum."

Ia berhenti sejenak.

Menarik napas.

"Tapi... karena sudah terjadi, saya minta kita tetap menjaga batas."

Sunyi.

"Jangan jadikan ini tontonan. Jangan jadikan ini bahan gosip. Jangan lupa bahwa di balik proposal ini... ada perasaan seseorang."

Yunita duduk kembali.

Tangannya gemetar.

Tapi wajahnya tetap datar.

Ia tidak menangis.

Ia tidak akan menangis.

Tidak di depan umum.

Tidak pernah.

 

"Baik," kata Pak Kades akhirnya.

"Kita putuskan dengan musyawarah."

Semua kembali tegang.

"Apakah proposal ini akan: diterima, ditolak, atau dikembalikan sebagai urusan pribadi?"

"Ditolak!" seru beberapa orang.

"Dikembalikan saja!"

"Jangan dibahas lagi!"

Suara bercampur.

Bayu berdiri diam.

Untuk pertama kalinya... ia tidak punya argumen.

Ia hanya berdiri.

Menerima.

Yunita menatap ke depan.

Namun matanya sedikit berkaca.

"Baik," kata Pak Kades.

"Kita akan bahas lebih lanjut dan putuskan secara mufakat."

Beberapa orang mengangguk.

Beberapa menghela napas.

Rapat dilanjutkan... tapi tidak ada yang benar-benar fokus lagi.

Semua pikiran tertinggal pada satu hal:

Proposal cinta yang terlalu serius untuk dianggap bercanda...

Dan terlalu aneh untuk dianggap biasa.


BAB 6: Forum yang Kehilangan Arah

Kantor Desa Awan Biru sore itu kembali penuh.

Bukan karena agenda pembangunan.

Bukan karena pembagian bantuan.

Tapi karena satu hal yang tidak pernah tercantum dalam undangan resmi:

Lanjutan pembahasan... proposal cinta.

"Ini sudah di luar nalar," gumam Pak Eko sambil membuka catatan.

"Luar nalar atau luar kebiasaan?" sahut Santoso santai.

"Dua-duanya!" jawab Pak Eko cepat.

Suasana ruangan berbeda dari biasanya. Lebih tegang. Lebih penuh antisipasi. Lebih seperti menonton pertandingan final daripada menghadiri rapat desa.

Di sudut ruangan, Jojon sudah siap dengan kameranya. Ponselnya terpasang pada tripod kecil, peralatan baru yang ia beli setelah menyadari bahwa konten rapat desa ternyata sangat laris.

"Episode lanjutan nih. Judulnya: 'Cinta yang Diperdebatkan Negara'," bisiknya ke Evita.

Evita menahan tawa. "Kalau kamu viral, jangan lupa traktir ya."

"Viral atau tidak, yang penting dokumentasi sejarah."

"Sejarah apa?"

"Sejarah pertama kalinya cinta masuk agenda rapat desa."

 

Rapat dimulai lebih cepat dari biasanya.

Pak Kades Iwan terlihat lebih serius. Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada candaan pembuka seperti biasa. Ia langsung mengambil posisi di depan panggung, memegang mikrofon, dan memulai.

"Kita lanjutkan pembahasan kemarin. Saya minta semua tetap fokus."

Namun kalimat itu terdengar seperti formalitas.

Karena semua orang tahu, fokus bukan hal yang mudah di Desa Awan Biru.

Apalagi dengan agenda seperti ini.

"Baik," lanjut Pak Kades, "kita mulai dari pandangan umum."

Langsung, beberapa tangan terangkat.

Sugeng berdiri pertama.

Wajahnya merah padam, bukan karena malu, tapi karena semangat. Sugeng selalu semangat ketika ia merasa sedang membela kebenaran.

"Saya tetap pada pendapat saya. Ini tidak pantas. Kalau dibiarkan, nanti semua orang bawa urusan pribadi ke forum!"

"Lho, Pak Sugeng," sahut Santoso santai, tidak pernah terintimidasi oleh suara keras Sugeng. "Bukannya selama ini banyak juga yang bawa masalah pribadi ke rapat?"

Tawa kecil terdengar.

Sugeng sedikit tersinggung. "Itu beda!"

"Bedanya di mana?" Santoso tersenyum tipis, senyum yang sudah menjadi senjata utamanya dalam setiap debat. "Yang ini cuma lebih jujur saja."

"Jujur? Ini bukan jujur, ini tidak tahu tempat!"

"Atau mungkin," potong Bayu tiba-tiba, suaranya tenang, "ini justru karena terlalu tahu tempat, tapi tempatnya yang salah."

Semua menoleh ke Bayu.

"Ini desa, Pak. Tempat kita bermusyawarah. Tempat kita menyelesaikan masalah bersama. Kalau ada warga yang punya masalah, dia bawa ke sini. Itu yang saya lakukan."

"Tapi ini masalah pribadi!" bantah Sugeng.

"Semua masalah pada awalnya pribadi, Pak. Sampai kemudian menjadi masalah bersama."

Ruangan hening.

"Kamu ini..." Sugeng menggeleng-gelengkan kepala, "kamu ini keterlaluan."

"Maaf kalau saya keterlaluan, Pak. Tapi saya hanya jujur."

 

"Interupsi!" seru Ibu Lulu.

Semua langsung menoleh.

"Sebagai Kaur Keuangan, saya hanya ingin memastikan satu hal," katanya tenang.

"Apakah proposal ini ada anggarannya?"

Ruangan hening...

Lalu meledak dalam tawa.

"Kalau ada, mungkin bisa kita masukkan di perubahan APBDes!" celetuk Pak Edi.

"Program: Penguatan Hubungan Personal Berbasis Administrasi," tambah Jojon sambil tertawa.

"Poin-poinnya: kencan pertama, kencan kedua, sampai kencan kesekian," sahut Herman.

"Cukup!" Pak Kades meninggikan suara. Tapi ia juga tersenyum, tidak bisa menahan diri.

"Kita serius sedikit."

"Iya, Pak. Serius," kata Ibu Lulu, masih dengan senyum tipisnya. "Tapi kalau memang tidak ada anggaran, ya jangan dibahas terlalu lama. Buang-buang waktu."

"Bu Lulu ini selalu praktis," kata Pak Kades sambil menggeleng.

"Ya, Pak. Karena uang desa bukan untuk cinta-cintaan."

Tawa kembali.

Tapi kali ini, lebih ringan.

 

Di tengah keramaian itu, Yunita tetap diam.

Ia mencatat.

Tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.

Pena di tangannya bergerak otomatis, mencatat poin-poin yang tidak benar-benar ia baca.

Sesekali, ia melirik ke arah Bayu.

Bayu duduk tenang.

Tidak seperti biasanya.

Tidak ada gerakan tangan yang bersemangat.

Tidak ada argumen yang dilontarkan dengan cepat.

Ia hanya duduk.

Mendengarkan.

Menunggu.

Yunita bertanya-tanya: apa yang ada di pikirannya sekarang?

Apakah ia menyesal?

Apakah ia takut?

Apakah ia masih yakin dengan apa yang ia lakukan?

Ataukah ia sedang menghitung hari, menunggu semua ini berlalu?

Yunita tidak tahu.

Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa meskipun ia bisa membaca berkas-berkas dengan sempurna, ia tidak bisa membaca hati Bayu.

 

"Baik, kita serius sedikit," kata Pak Kades akhirnya.

Suasana kembali tenang.

"Pertanyaan utama: apakah forum ini berhak memutuskan sesuatu yang bersifat pribadi?"

Hermansyah berdiri.

"Menurut saya, tidak. Tapi karena sudah terlanjur masuk, kita harus menyelesaikannya dengan bijak."

"Bijak itu seperti apa?" tanya Herman.

"Ya... jangan sampai mempermalukan, tapi juga jangan dibiarkan jadi kebiasaan."

"Setuju," sahut Pak Eko. "Kita hargai keberanian Bayu, tapi kita juga harus jaga batas."

"Bataspun perlu dimusyawarahkan," tambah Santoso.

"Lho, batas kok dimusyawarahkan?" celetuk Jojon.

"Ya, supaya jelas. Jangan sampai ada yang salah paham."

"Ini desa, bukan pengadilan."

"Desa juga butuh aturan."

Perdebatan mulai berputar-putar.

Seperti biasa.

 

Tiba-tiba, suara Anto terdengar lagi.

"Saya punya solusi!"

Semua langsung menoleh.

Anto berdiri dengan gaya percaya diri, seperti pesulap yang akan mengeluarkan trik terbaiknya.

"Kenapa tidak kita buat voting saja?" katanya serius.

"Voting?" ulang Pak Kades.

"Iya. Setuju atau tidak. Seperti pemilihan."

Jojon langsung nyeletuk, "Ini cinta apa pilkades, To?!"

Tawa kembali pecah.

"Voting itu demokratis," lanjut Anto, tidak terpengaruh.

"Tapi cinta bukan soal suara terbanyak," sahut Bambang.

"Kalau begitu, bagaimana?"

"Ya dikembalikan ke yang bersangkutan. Biar mereka yang memutuskan."

"Setuju!" seru beberapa orang.

"Tidak setuju!" seru yang lain.

Suasana mulai ricuh.

 

"Tuan-tuan, ibu-ibu..." suara Ibu Yuni tiba-tiba memotong.

Semua diam.

Ibu Yuni jarang bicara di rapat. Ia lebih suka di belakang layar, mengatur administrasi, memastikan semua berjalan sesuai prosedur. Tapi ketika ia bicara, semua orang mendengar.

"Ini sudah berlarut-larut," katanya pelan. "Dan saya rasa kita lupa satu hal."

Ia menatap ke arah Bayu, lalu ke arah Yunita.

"Ada dua orang yang perasaannya sedang kita perdebatkan. Tapi apakah kita pernah bertanya pada mereka? Apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka rasakan?"

Sunyi.

"Bayu sudah bicara. Ia sudah menyampaikan niatnya. Tapi Yunita... apakah kita sudah mendengar dari Yunita?"

Semua menoleh ke Yunita.

Yunita tidak bergerak.

Wajahnya datar.

Tapi di matanya... ada sesuatu.

"Ibu Yuni benar," kata Pak Kades. "Yunita, kamu mau bicara?"

 

Yunita berdiri.

Perlahan.

Seperti pohon yang tumbuh dari tanah.

Ia menatap sekeliling ruangan.

Menatap wajah-wajah yang sudah ia kenal bertahun-tahun.

Wajah-wajah yang sekarang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

"Saya tidak pernah meminta ini," katanya pelan.

Suaranya tidak bergetar.

Ia sudah berlatih.

"Saya tidak pernah meminta perasaan saya dibahas di depan umum. Saya tidak pernah meminta menjadi pusat perhatian seperti ini."

Ia berhenti.

Menarik napas.

"Tapi karena sudah terjadi... saya akan bicara."

Ia menatap Bayu.

Langsung.

Tanpa menghindar.

"Bayu, saya menghargai keberanianmu. Saya menghargai ketulusanmu. Tapi..."

Ia berhenti lagi.

Ini bagian tersulit.

"...saya tidak bisa menjawab di sini. Di depan semua orang. Ini bukan tempatnya."

Bayu mengangguk pelan.

"I know."

"Perasaan tidak bisa diputuskan dengan musyawarah," lanjut Yunita. "Perasaan tidak bisa di-voting. Perasaan hanya bisa... dirasakan."

Ia duduk kembali.

Tangannya gemetar.

Tapi ia tidak menangis.

Ia tidak akan menangis.

Tidak di sini.

Tidak sekarang.

 

Ruangan hening.

Untuk waktu yang lama.

Pak Kades berdiri.

"Baik," katanya pelan. "Saya rasa kita sudah terlalu jauh."

Ia menatap seluruh ruangan.

"Ini bukan lagi soal proposal. Tapi soal batas, mantara urusan pribadi dan urusan bersama."

Ia berhenti sejenak.

Lalu berkata tegas:

"Dan kita akan mengambil keputusan... secara mufakat."

Suasana kembali tegang.

Namun kali ini, bukan karena lucu.

Tapi karena semua tahu, keputusan itu akan menentukan bukan hanya nasib proposal...

Tapi juga hubungan dua orang.

Dan mungkin, mungkin juga, akan mengubah cara desa ini memandang cinta, perasaan, dan segala hal yang tidak bisa diatur dengan aturan.

Di luar, matahari mulai tenggelam.

Langit Desa Awan Biru berubah menjadi jingga keemasan.

Sementara di dalam balai desa,

Sebuah keputusan sedang menunggu untuk lahir.


BAB 7: Ditolak Secara Resmi

Kantor Desa Awan Biru mendadak terasa lebih sempit.

Padahal kursinya masih sama. Orang-orangnya juga sama. Bahkan lampu neon yang menggantung di langit-langit masih berpendar dengan cahaya pucat yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Kipas angin tua di sudut ruangan masih berputar dengan suara yang sama, berisik, tapi tidak pernah cukup kuat untuk mendinginkan ruangan.

Tapi suasananya... berbeda.

Tidak ada lagi tawa lepas seperti kemarin. Tidak ada lagi celetukan ringan yang membuat ruangan bergemuruh. Tidak ada lagi bisik-bisik di antara kursi-kursi plastik yang berderit.

Yang ada hanya... hening yang berat.

Hening seperti sebelum badai.

Tapi badai sudah lewat.

Yang tersisa hanya kehancuran.

Di depan, Pak Kades Iwan berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Kertas yang sama yang sudah beberapa hari terakhir menjadi bahan perdebatan seluruh desa. Kertas yang sudah difotokopi entah berapa kali, yang sudah dibaca oleh hampir setiap orang di desa ini, yang sudah menjadi legenda sebelum keputusannya dibacakan.

Kertas itu kini terlihat lebih lusuh. Mungkin karena sering dipegang. Mungkin karena sering dibaca berulang-ulang. Atau mungkin karena kertas itu sendiri, seperti manusia, lelah dengan semua keributan yang ditimbulkannya.

"Baik," suara Pak Kades terdengar lebih pelan dari biasanya. Tidak ada ketegasan yang biasa ia tunjukkan saat memimpin rapat. Tidak ada wewenang yang menggelegar. Hanya suara seorang lelaki tua yang lelah, yang ingin segera mengakhiri semua ini.

"Setelah mempertimbangkan semua pendapat..."

Semua mata tertuju ke depan.

Bahkan Jojon, yang biasanya sibuk dengan kameranya, kini hanya diam. Ponselnya tergeletak di pangkuan, layar masih menyala, tapi ia tidak lagi merekam. Ia hanya menatap, seperti yang lain.

Di barisan samping, Bayu Andika berdiri tegak.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Seolah ia sudah menyiapkan diri untuk apa pun yang akan terjadi. Seolah ia sudah berlatih di depan cermin berulang kali, mengatakan pada dirinya sendiri: apapun hasilnya, kamu harus tetap berdiri. Kamu harus tetap tegar. Kamu tidak boleh menangis. Tidak boleh terlihat lemah.

Tapi di dalam dadanya, jantungnya berdegup seperti genderang perang yang akan segera berhenti.

Sementara di barisan depan, Yunita duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Jari-jarinya saling mengunci, seperti sedang berdoa, seperti sedang menahan sesuatu agar tidak meledak.

Ia menatap ke meja.

Tidak berani melihat ke arah Bayu.

Karena jika ia melihat, ia mungkin akan berdiri. Mungkin akan berlari. Mungkin akan melakukan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Dan Yunita tidak suka kehilangan kendali.

"Dengan ini," lanjut Pak Kades, "forum musyawarah Desa Awan Biru memutuskan..."

Satu detik terasa seperti satu menit.

Satu menit terasa seperti satu jam.

Bayu menarik napas pelan.

Yunita menggenggam tangannya lebih erat.

"...Proposal Pengajuan Perasaan dari Saudara Bayu Andika..."

Bayu menutup matanya sejenak.

"...DITOLAK secara mufakat."

 

Sunyi.

Bukan sunyi yang biasa.

Bukan sunyi karena tidak ada suara.

Tapi sunyi karena semua suara mati di tengah jalan.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada komentar.

Tidak ada celetukan.

Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit, seolah-olah kipas itulah satu-satunya yang masih hidup di ruangan itu.

Pak Sugeng yang kemarin paling keras menolak, kini diam. Mulutnya setengah terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.

Ibu Lulu menunduk, jari-jarinya sibuk memainkan ujung map, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan karena ia adalah tipe orang yang tangannya selalu tenang.

Pak Eko mengusap wajahnya dengan telapak tangan, seperti sedang mencerna berita yang tidak ia duga, meskipun sebenarnya ia sendiri yang memilih menolak.

Bahkan Anto, yang biasanya punya komentar aneh untuk setiap situasi, hanya diam. Matanya tertuju pada Bayu, seolah-olah ia sedang membaca garis tangan dari kejauhan.

Di sudut ruangan, Jojon menunduk.

Untuk pertama kalinya sepanjang kariernya sebagai content creator dadakan, ia tidak ingin merekam apa pun.

Ia hanya diam.

Memandangi ponselnya yang layarnya masih menyala.

Lalu tanpa suara, ia menekan tombol stop.

Rekaman berhenti.

Tidak ada konten hari ini.

Bayu tersenyum kecil.

Bukan senyum bahagia. Bukan juga senyum dipaksakan yang dibuat-buat. Tapi senyum seseorang yang sedang mencoba tetap berdiri. Senyum seseorang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini tidak seburuk yang ia bayangkan. Senyum seseorang yang hatinya hancur, tapi kepalanya masih memerintahkan mulut untuk membentuk lengkungan.

"Baik, Pak," katanya pelan.

Suaranya tidak bergetar.

Ia sudah berlatih.

"Saya terima."

 

Kalimat itu sederhana.

Tiga kata.

Dua belas huruf.

Tapi terasa berat.

Seberat gunung.

Seberat seluruh beban yang ia pikul sejak pertama kali ia memutuskan untuk menulis proposal itu.

Yunita akhirnya mengangkat wajahnya.

Matanya bertemu dengan Bayu.

Dan di dalam tatapan itu, ada sesuatu yang tidak bisa diucapkan oleh forum mana pun.

Ada maaf.

Ada terima kasih.

Ada rasa bersalah.

Ada keinginan untuk berlari dan memeluk.

Ada juga kesedihan yang mendalam, kesedihan karena sesuatu yang belum sempat dimulai, harus berakhir di sini, di ruangan ini, di hadapan orang-orang yang tidak mengerti.

"Maaf, Bayu," bisik Yunita.

Hanya gerakan bibir.

Hampir tidak terdengar.

Tapi Bayu melihat.

Bayu selalu melihat.

Ia mengangguk kecil.

Tersenyum lagi.

Senyum yang sama.

Senyum yang membuat Yunita ingin menangis.

"Dengan alasan," lanjut Pak Kades, membaca dari kertas yang sama, meskipun semua orang sudah tahu isinya, karena sudah dibahas berulang kali, "bahwa hal tersebut merupakan ranah pribadi dan tidak sesuai untuk diputuskan dalam forum desa..."

Beberapa orang mengangguk.

Terlambat.

Karena keputusan sudah diambil.

Tidak ada yang bisa diubah.

"Rapat kita tutup," kata Pak Kades.

Biasanya, setelah kalimat itu, orang-orang langsung berdiri. Ada yang berbicara dengan suara keras, ada yang tertawa, ada yang bergerombol membentuk kelompok kecil untuk melanjutkan diskusi.

Tapi tidak kali ini.

Semua bangkit... dalam diam.

Seperti pasukan yang kalah perang.

Seperti jamaah yang baru selesai menguburkan jenazah.

 

Di luar balai desa, langit mulai gelap.

Matahari sudah benar-benar tenggelam di balik bukit-bukit di sebelah barat. Yang tersisa hanya sisa-sisa cahaya jingga di ufuk, seperti kenangan yang perlahan memudar.

Angin malam berhembus lebih dingin dari biasanya.

Atau mungkin hanya perasaan.

Bayu berjalan keluar tanpa banyak bicara.

Langkahnya pelan, tapi pasti.

Ia tidak menoleh.

Tidak melihat ke belakang.

Tidak mencari siapa pun.

Ia hanya berjalan.

Menuju jalan setapak yang menuju ke rumahnya.

Menuju kamar kecil dengan meja kayu bekas jahitan ibunya.

Menuju kegelapan yang akan menyambutnya.

"Yu..."

Suara Bambang terdengar dari belakang.

Bayu berhenti.

Tidak menoleh.

"Maaf ya..." kata Bambang lirih.

Suaranya terdengar seperti orang yang sedang menahan tangis.

Bambang jarang menangis. Bambang adalah tipe orang yang selalu tertawa, selalu bercanda, selalu mengubah situasi serius menjadi lelucon. Tapi malam itu, ia tidak bisa.

Bayu menggeleng.

"Bukan salah kamu."

"Ini semua... jadi terlalu besar," lanjut Bambang.

Ia berjalan mendekat, berdiri di samping Bayu.

Mereka berdua menatap ke arah jalan yang gelap.

Lampu jalan yang hanya tiga buah di seluruh desa itu menyala redup, seperti mata yang hampir tertutup.

"Bukan salah siapa pun," kata Bayu pelan. "Aku yang membesarkannya."

Sunyi sejenak.

Hanya suara jangkrik dan angin.

"Kalau kamu bisa ulang..." tanya Bambang pelan, "kamu tetap akan bikin proposal itu?"

Bayu terdiam.

Ia menatap langit yang gelap.

Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu.

Seolah-olah alam sedang mengingatkan bahwa meskipun gelap, selalu ada cahaya.

Lalu ia menjawab pelan.

"Iya."

Bambang terkejut.

"Serius?"

Bayu mengangguk.

"Karena setidaknya... aku pernah berani."

Ia berbalik menghadap Bambang.

Tersenyum.

Senyum yang berbeda dari sebelumnya.

Senyum yang lebih... lega.

"Aku nggak akan pernah tahu hasilnya kalau aku nggak mencoba. Aku nggak akan pernah bisa tidur nyenyak kalau aku cuma diam dan tidak melakukan apa-apa. Mungkin ini salah. Mungkin ini konyol. Mungkin ini jadi bahan tertawaan se-desa."

Ia berhenti.

Menarik napas.

"Tapi aku sudah mencoba. Dan itu lebih baik daripada diam dan menyesal."

Bambang menatap Bayu lama.

Lalu ia mengangguk.

"Kamu ini benar-benar beda, Yu."

"Makanya aku ditolak."

"Bukan karena kamu beda. Karena mereka belum siap."

Bayu tertawa kecil.

"Kamu ini sekarang jadi filosof, Bang."

"Kamu yang membuatku jadi filosof."

Mereka berdua tertawa.

Tawa kecil di tengah malam yang gelap.

Tawa yang menghangatkan sedikit.

 

Di sisi lain, Yunita berdiri di teras kantor desa.

Sendirian.

Lampu kantor sudah dimatikan. Hanya tersisa lampu teras yang menyala redup, cukup untuk menerangi wajahnya yang pucat.

Ia memegang map biru di tangannya.

Map yang sama yang selama ini ia gunakan.

Tapi kali ini, map itu terasa lebih berat.

Seperti berisi sesuatu yang tidak bisa ia lepaskan.

Ibu Yuni mendekat.

Langkahnya pelan, seperti orang yang tidak ingin mengganggu, tapi juga tidak ingin membiarkan seseorang sendirian dalam kesedihan.

"Kamu tidak apa-apa?"

Yunita tersenyum tipis.

"Aku harusnya tanya itu ke Bayu..."

Ibu Yuni mengangguk pelan.

"Kadang, yang terlihat kuat... justru yang paling terluka."

Yunita menunduk.

"Ibu tahu..."

"Aku tahu."

"Mengapa aku merasa bersalah, Bu? Padahal aku tidak melakukan apa-apa."

Ibu Yuni diam sejenak.

"Kadang, perasaan bersalah tidak butuh alasan. Ia datang begitu saja."

"Tapi aku tidak menolaknya. Aku hanya... aku hanya tidak bisa menjawab di sini. Di depan semua orang."

"Itu yang membuatmu bersalah. Karena kamu tahu dia berani, tapi kamu belum bisa membalas keberaniannya."

Yunita terdiam.

"Ibu, apakah aku salah?"

Ibu Yuni menggeleng.

"Kamu tidak salah. Bayu juga tidak salah. Yang salah adalah cara kita semua memperlakukan cinta seolah-olah ia harus melalui prosedur."

Yunita menatap Ibu Yuni.

"Apa yang harus aku lakukan, Bu?"

Ibu Yuni tersenyum.

"Itu bukan pertanyaan untukku. Itu pertanyaan untuk hatimu."

 

Di kejauhan, Yunita melihat Bayu berjalan menjauh.

Bersama Bambang.

Tanpa menoleh.

Ia ingin berteriak.

Ingin memanggil.

Ingin berlari.

Tapi kakinya tidak bergerak.

Ia hanya berdiri.

Memandang.

Membiarkan Bayu pergi.

"Kamu bisa mengejarnya," kata Ibu Yuni pelan.

Yunita menggeleng.

"Tidak, Bu. Tidak malam ini."

"Kenapa?"

"Karena aku belum siap. Dan dia juga belum siap."

Ibu Yuni mengangguk.

"Tapi ingat, Yun. Kesempatan tidak datang dua kali."

Yunita tidak menjawab.

Ia hanya menatap ke arah jalan yang gelap.

Ke arah di mana Bayu telah menghilang.

Ke arah di mana hatinya ikut pergi.

 

Malam itu, Warung Mbah Karyo tidak seramai biasanya.

Beberapa kursi kosong.

Tidak ada tawa keras.

Tidak ada suara orang berdebat.

Hanya Mbah Karyo yang duduk di balik meja, mengelap gelas yang sama sejak setengah jam yang lalu.

Bayu duduk di tempat biasa.

Cangkir kopinya masih panas, baru diseduh.

Tapi tidak disentuh.

Ia hanya menatapnya.

Seperti sedang mencari sesuatu di dalam cairan hitam pekat itu.

"Minum dulu, Yu," kata Mbah Karyo pelan.

Bayu mengangguk.

Tapi tetap diam.

"Kadang..." kata Mbah Karyo sambil duduk di sampingnya.

Kursi kayu tua itu berderit menerima beban.

"...yang paling menyakitkan bukan ditolak."

Bayu menoleh pelan.

"Tapi ketika sesuatu yang harusnya sederhana... jadi rumit."

Bayu tersenyum tipis.

"Seperti kopi ini ya, Mbah... harusnya tinggal diminum."

Mbah Karyo ikut tersenyum.

"Iya. Tapi kamu malah bikin laporan dulu sebelum minum."

Bayu tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak keputusan itu dibacakan.

"Laporannya ditolak, Mbah."

"Ya, kopinya jadi dingin."

Mereka berdua tertawa.

Tawa kecil di malam yang sunyi.

"Tapi kamu nggak menyesal, kan?" tanya Mbah Karyo.

Bayu menggeleng.

"Nggak, Mbah."

"Bagus. Laki-laki sejati tidak menyesali keberaniannya."

"Mbah, saya nangis di dalam."

"Itu wajar. Laki-laki sejati juga boleh menangis. Asal jangan terlalu lama."

Bayu mengangguk.

"Baik, Mbah."

Ia akhirnya mengambil cangkir kopinya.

Menyesap.

Pahit.

Seperti biasa.

Tapi kali ini, pahitnya terasa berbeda.

Pahit yang menyegarkan.

Pahit yang mengingatkan bahwa ia masih hidup.

 

Di rumahnya, Yunita duduk di depan meja.

Map biru itu masih ada di tangannya.

Ia membukanya.

Membaca kembali.

"Tujuan: menjalin hubungan yang serius, saling mendukung, dan berpotensi menuju masa depan bersama..."

Matanya mulai berkaca.

"Manfaat: meningkatkan kebahagiaan individu..."

Ia tidak bisa membaca lebih lanjut.

Pandangannya kabur.

Air mata, yang sejak tadi ia tahan, yang sejak rapat ia pendam, yang sejak pertama kali mendengar proposal itu dibacakan ia usahakan untuk tidak jatuh, kini akhirnya tumpah.

Pertama kali dalam bertahun-tahun.

Yunita menangis.

Ia menangis untuk Bayu.

Untuk dirinya sendiri.

Untuk sesuatu yang belum sempat dimulai.

Untuk keberanian yang dihancurkan oleh aturan.

Untuk perasaan yang harus mati sebelum sempat hidup.

"Kenapa harus seperti ini..." bisiknya.

Suaranya tersendat.

"Kenapa... semua harus... serumit ini..."

Ia menutup map itu perlahan.

Lalu menyandarkan kepalanya di atas meja.

Bahunya naik turun.

Ia tidak lagi peduli jika ada yang mendengar.

Tidak lagi peduli jika ada yang melihat.

Untuk malam ini, ia membiarkan dirinya rapuh.

Untuk malam ini, ia membiarkan dirinya menjadi manusia.

Bukan pegawai desa.

Bukan putri yang selalu sempurna.

Bukan perempuan yang selalu menjaga keteraturan.

Tapi hanya Yunita.

Perempuan yang hatinya hancur.

Dan untuk pertama kalinya...

Ia tidak memikirkan aturan.

Tidak memikirkan forum.

Tidak memikirkan apa kata orang.

Ia hanya memikirkan satu hal:

Bayu.

Dan di malam yang sama,

Di dua tempat yang berbeda,

Dua orang merasakan hal yang sama:

Kehilangan sesuatu...

Yang bahkan belum sempat benar-benar dimulai.


BAB 8: Jarak di Antara Dua Hati

Pagi di Desa Awan Biru tetap datang seperti biasa.

Ayam berkokok.

Kabut tipis menggantung di antara pepohonan karet.

Aroma tanah basah masih menguar lembut.

Dan aktivitas warga berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Ibu-ibu pergi ke pasar dengan keranjang di tangan.

Bapak-bapak berangkat ke sawah dengan cangkul di pundak.

Anak-anak berlarian ke sekolah dengan tas yang sedikit terlalu besar untuk tubuh mereka.

Tapi bagi beberapa orang...

Hari itu terasa berbeda.

Warung Mbah Karyo tidak seramai biasanya.

Bangku kayu yang biasanya penuh, kadang sampai kelebihan orang, kini hanya diisi beberapa orang.

Suara tawa masih ada, tapi tidak lagi sekeras dulu.

Seperti radio yang volumenya dipelankan.

Di sudut, Bayu Andika duduk sendiri.

Kopi di depannya sudah dingin.

Tidak disentuh.

Ia hanya duduk.

Menatap kosong ke arah jalan.

Seolah-olah mencari sesuatu yang tidak akan pernah datang.

 

"Yu..." panggil Bambang pelan sambil duduk di sebelahnya.

Ia tidak membawa kameranya hari ini.

Kamera itu tergantung di dinding kamarnya, pertama kalinya dalam sejarah.

Bambang datang hanya dengan dirinya sendiri.

Tanpa alat.

Tanpa topeng.

"Kamu sudah dua hari nggak ke kantor desa," kata Bambang.

Bayu mengangguk kecil.

"Lagi nggak pengen ke sana."

"Karena Yunita?"

Bayu tersenyum tipis.

"Bukan cuma itu... tapi iya, salah satunya."

Sunyi sejenak.

"Rasanya aneh ya," lanjut Bayu pelan.

"Bang, dulu aku sering cari alasan buat ke kantor. Padahal berkas yang mau dikumpulin cuma satu lembar. Tapi aku bisa bolak-balik tiga kali sehari. Aku bilang 'revisi', padahal cuma pengen liat dia."

Bambang tersenyum kecil.

"Dan sekarang?"

"Dan sekarang... malah cari alasan buat nggak ke sana. Padahal berkasku numpuk. Padahal ada yang harus ditandatangani. Tapi... aku nggak sanggup."

Bambang tidak langsung menjawab.

Ia mengambil cangkir kopi yang sudah dingin itu.

Menuangkannya ke tanah.

Lalu memanggil Mbah Karyo untuk membuat yang baru.

"Kadang," katanya akhirnya, "yang berubah bukan tempatnya... tapi perasaan kita terhadap tempat itu."

Bayu mengangguk.

"Dan perasaan itu... nggak bisa dimusyawarahkan ya..."

Bambang tersenyum.

"Iya. Sayangnya nggak ada forum buat itu."

Mbah Karyo datang membawa dua cangkir kopi baru.

Asap mengepul.

Wanginya menghangatkan sedikit.

"Minum, Yu," kata Mbah Karyo. "Jangan disia-siakan. Kopi ini juga punya perasaan."

Bayu tersenyum.

"Kopi punya perasaan, Mbah?"

"Iya. Kalau tidak dihargai, ia jadi pahit."

"Bukannya memang sudah pahit, Mbah?"

"Pahit itu natural. Tapi ada pahit yang menyegarkan, ada juga pahit yang menyakitkan. Tergantung yang minum."

Bayu mengambil cangkir itu.

Menyesap.

Pahit.

Tapi kali ini, ia merasakan sedikit hangat.

 

Di sisi lain desa, kantor desa tetap berjalan seperti biasa.

Berkas menumpuk.

Printer berbunyi dengan suara batuknya yang khas.

Telepon berdering sesekali.

Dan rutinitas tidak pernah menunggu siapa pun.

Yunita duduk di mejanya.

Seperti biasa.

Tapi ada yang berbeda.

Ia lebih diam.

Lebih sering menatap kosong ke arah monitor, yang sebenarnya tidak menampilkan apa pun yang menarik.

Lebih sering menghela napas tanpa alasan.

Lebih sering memainkan pena di antara jari-jarinya, tanpa menulis apa pun.

"Yun..." panggil Ibu Lulu pelan.

Yunita tersadar.

"Iya, Bu?"

"Kamu tidak apa-apa?"

Yunita tersenyum tipis.

Senyum yang sudah menjadi default-nya beberapa hari terakhir.

"Baik, Bu."

Ibu Lulu mengangguk, tapi jelas ia tidak sepenuhnya percaya.

Ia sudah terlalu lama mengenal Yunita.

Sudah terlalu lama melihat perempuan muda itu bekerja dengan disiplin dan semangat.

Dan ia tahu bahwa "baik" yang diucapkan Yunita bukanlah "baik" yang sesungguhnya.

"Kadang," kata Ibu Lulu sambil duduk di kursi di samping meja Yunita, "kita terlalu sibuk terlihat kuat... sampai lupa kalau kita juga manusia."

Yunita menunduk.

Tangannya menggenggam pena lebih erat.

"Kalau kamu mau cerita..." lanjut Ibu Lulu, "nggak semua harus disimpan sendiri. Aku bukan ibu kandungmu. Tapi aku cukup tua untuk jadi ibu bagimu."

Yunita menarik napas panjang.

Napas yang terasa berat.

"Ternyata... lebih sulit dari yang aku kira, Bu."

"Yang mana?"

Yunita terdiam sejenak.

Ia mengumpulkan kata-kata.

Menyusunnya seperti ia menyusun berkas.

Tapi kali ini, kata-kata tidak mudah diatur.

"Menjaga jarak... dari seseorang yang sebenarnya tidak ingin kita jauhi."

Ibu Lulu tersenyum lembut.

"Itu bukan soal jarak, Yun..."

"Terus?"

"Itu soal hati yang belum siap melepaskan."

Yunita menatap Ibu Lulu.

Matanya mulai berkaca, tapi ia tahan.

Ia tidak akan menangis di kantor.

Tidak akan.

"Apakah aku harus melepaskan, Bu?"

Ibu Lulu menggeleng.

"Itu bukan untuk aku jawab. Itu untuk hatimu."

"Tapi hati aku bingung, Bu."

"Itu wajar. Hati memang sering bingung. Tapi ia juga selalu tahu jawabannya. Kamu hanya perlu berani mendengarnya."

 

Sore hari, langit Desa Awan Biru kembali berwarna jingga.

Seperti biasa.

Seperti tidak ada yang berubah.

Anak-anak, Maya, Mahendra, dan Gito, berlari di halaman balai desa dengan tawa lepas.

Mereka bermain kejar-kejaran.

Tanpa beban.

Tanpa pikiran rumit.

Tanpa proposal.

Tanpa forum.

Tanpa cinta yang harus diputuskan bersama.

Bayu berdiri tidak jauh dari mereka.

Memperhatikan.

Ada senyum kecil di wajahnya, senyum yang tulus, bukan senyum formal, bukan senyum yang ia pakai untuk menyembunyikan luka.

"Bang Bayu kenapa murung?" tanya Maya polos.

Ia berhenti berlari dan berdiri di depan Bayu, tangan di pinggang, kepala mendongak.

Bayu tersenyum kecil.

"Nggak murung... cuma lagi mikir."

"Mikir apa?"

Bayu terdiam sejenak.

Ia menatap langit jingga.

Lalu menjawab pelan.

"Kadang, sesuatu yang kita inginkan... nggak selalu bisa kita dapatkan."

Mahendra yang ikut mendekat mengernyit.

"Kalau nggak dapat, ya cari lagi."

Gito ikut menimpali, "Atau bilang lagi sampai dapat!"

Bayu tertawa kecil.

"Sederhana ya..."

Maya mengangguk mantap.

"Iya. Orang dewasa aja yang suka bikin ribet."

Bayu terdiam.

Kalimat itu sederhana...

Tapi terasa menampar.

Orang dewasa aja yang suka bikin ribet.

Anak-anak tahu caranya: suka ya bilang, nggak suka ya bilang, kalau ditolak ya cari lagi.

Tapi orang dewasa...

Orang dewasa bikin proposal.

Orang dewasa bahas di forum.

Orang dewasa voting.

Orang dewasa bikin cinta jadi rumit.

"Kalian benar," kata Bayu akhirnya.

"Tentu saja kami benar," kata Maya dengan percaya diri. "Kami kan anak-anak."

Bayu tertawa.

Tertawa sungguhan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.

 

Malamnya, warung Mbah Karyo kembali menjadi tempat pelarian.

Namun kali ini, Bayu tidak banyak bicara.

Ia hanya duduk.

Mendengarkan.

Kadang tersenyum.

Kadang mengangguk.

Bambang, Jojon, Hermansyah, dan Herman sudah berkumpul.

Nadya juga dating, meskipun biasanya ia tidak suka begadang.

"Yu," kata Hermansyah, suaranya dalam dan serius, "kamu mau sampai kapan begini?"

Bayu mengangkat bahu.

"Nggak tahu."

"Kalau kamu diam terus, ya semuanya juga ikut diam."

Bayu menatap cangkir kopinya.

"Kadang diam itu... lebih jujur daripada bicara."

"Jujur ke siapa?"

Bayu tidak langsung menjawab.

Ia memutar-mutar cangkir kopinya.

Lalu menjawab pelan.

"Ke diri sendiri."

Hermansyah menghela napas.

"Bayu, aku sudah menikah. Aku punya anak. Aku tahu sedikit tentang cinta."

Semua diam.

Hermansyah jarang bicara panjang.

Tapi ketika ia bicara, semua orang mendengar.

"Cinta itu nggak butuh diam. Cinta butuh gerak. Cinta butuh aksi. Kalau kamu diam, cinta mati. Kalau cinta mati, yang tersisa cuma kenangan. Dan kenangan nggak bisa menghangatkan malam-malam dingin seperti ini."

Bayu menatap Hermansyah.

"Jadi, aku harus apa?"

"Ya berani lagi. Berani terus. Sampai suatu hari kamu sadar bahwa cinta nggak butuh proposal. Cinta cuma butuh dua orang yang sama-sama berani."

Bayu terdiam.

"Kamu ditolak forum, bukan ditolak Yunita," lanjut Hermansyah. "Ingat itu."

 

Di waktu yang sama, di kamarnya, Yunita duduk di depan meja.

Map biru itu masih ada.

Masih sama.

Masih utuh.

Ia membukanya lagi.

Entah sudah berapa kali.

"Manfaat: meningkatkan kebahagiaan individu..."

Yunita tersenyum tipis, tapi matanya berkaca.

"Menciptakan sinergi emosional..."

Ia menggeleng pelan.

"Berkontribusi terhadap stabilitas sosial..."

Ia tertawa kecil.

"Bayu... kamu ini benar-benar aneh."

Ia menutup map itu perlahan.

Lalu bersandar di kursi.

Menatap langit-langit kamarnya yang retak di beberapa bagian.

"Tapi aku merindukan keanehanmu," bisiknya.

Suaranya hampir tidak terdengar.

"Kenapa baru aku sadar sekarang?"

Di luar, angin malam berhembus pelan.

Seolah membawa sesuatu yang tidak terlihat,

Rasa rindu yang tidak diucapkan.

 

Di dua tempat yang berbeda,

Bayu menatap langit dari beranda rumahnya.

Bintang-bintang bertaburan.

Indah.

Tapi terasa jauh.

Yunita menatap meja dari kamarnya.

Map biru itu masih terbuka.

Kata-kata Bayu masih terpampang.

Perlahan, ia mengambil pena.

Di sudut kertas proposal itu, di tempat yang tidak akan terlihat kecuali jika seseorang benar-benar mencari, ia menulis satu kalimat kecil:

Aku belum bilang tidak.

Lalu ia menutup map itu.

Menyimpannya di laci.

Terkunci.

Tapi kali ini, ia tidak menyembunyikan kuncinya.

Ia meletakkannya di atas meja.

Di tempat yang mudah dijangkau.

Seolah-olah ia sudah siap.

Seolah-olah ia hanya menunggu.

Tanpa kata.

Tanpa pertemuan.

Namun dengan perasaan yang sama:

Masih saling memikirkan...

Tapi tidak tahu harus kembali lewat jalan yang mana.

Desa Awan Biru tetap hidup seperti biasa.

Rapat tetap ada.

Diskusi tetap berjalan.

Tawa tetap terdengar.

Tapi di antara semua itu...

Ada dua hati yang memilih diam,

Bukan karena tidak ingin bicara,

Tapi karena takut... semuanya akan kembali rumit.


BAB 9: Memahami yang Sederhana

Pagi itu, Desa Awan Biru terasa lebih hangat.

Matahari muncul perlahan di balik pepohonan karet, menyinari jalan tanah yang masih basah oleh embun. Cahaya keemasan menyebar lembut, seperti selimut yang ditarik perlahan dari bumi.

Suasana tenang... tapi tidak lagi terasa kosong.

Seolah-olah, ada sesuatu yang mulai berubah, meski belum terlihat jelas.

Seperti tanah yang mulai retak sebelum benih berkecambah.

Seperti langit yang mulai berubah warna sebelum hujan turun.

Seperti hati yang mulai siap sebelum cinta datang.

Bayu terbangun lebih awal dari biasanya.

Ia tidak tahu mengapa.

Mungkin karena suara ayam yang lebih keras dari biasanya.

Atau mungkin karena ia tidak bisa tidur nyenyak setelah apa yang terjadi.

Atau mungkin, mungkin saja, karena alam sedang memberinya tanda.

Ia duduk di tepi tempat tidurnya.

Memandangi kamar yang masih gelap.

Hanya cahaya pagi yang menyelinap melalui celah-celah jendela.

"Ingin kopi," gumamnya.

Ia berdiri.

Mencuci muka.

Mengenakan kaos yang sama seperti kemarin.

Dan berjalan menuju warung Mbah Karyo.

 

Di halaman kantor desa, anak-anak kembali bermain.

Maya, Mahendra, dan Gito, trio yang tidak pernah terpisahkan, berlari sambil tertawa, memainkan sesuatu yang bagi mereka sangat penting...

Meskipun bagi orang dewasa mungkin terlihat sepele.

"Bang Bayu!" teriak Maya.

Bayu yang sedang duduk di bangku kayu di pinggir halaman menoleh.

"Iya?"

"Main sama kami!"

Bayu tersenyum kecil.

"Main apa?"

"Main kejar-kejaran! Yang kalah harus jujur!"

Bayu mengernyit.

"Jujur tentang apa?"

Mahendra menjawab cepat, "Ya apa saja! Pokoknya nggak boleh bohong!"

Gito mengangguk-angguk. "Iya! Nggak boleh bohong! Kalau bohong, kena sanksi!"

"Sanksinya apa?" tanya Bayu penasaran.

"Dielus kepalanya sama Maya!" seru Gito.

Maya mengangguk bangga. "Iya. Elusan kepalaku sakti. Bisa bikin orang jujur."

Bayu tertawa pelan.

"Permainan anak-anak kok berat juga ya..."

Namun entah kenapa... ia ikut berdiri.

Bergabung.

Berlarian.

Tertawa.

Mengejar dan dikejar.

Untuk beberapa saat...

Ia lupa tentang rapat, proposal, dan semua kerumitan yang sempat memenuhi pikirannya.

Ia hanya berlari.

Hanya tertawa.

Hanya menjadi dirinya sendiri.

Bukan Bayu yang idealis.

Bukan Bayu yang selalu punya argumen.

Bukan Bayu yang proposalnya ditolak.

Tapi Bayu yang sederhana.

Bayu yang hanya ingin bahagia.

 

Hingga akhirnya, ia kalah.

Mahendra yang paling cepat menangkapnya.

"HAHA! KENA!" teriak Mahendra sambil menarik lengan Bayu.

"Nah! Sekarang Bang Bayu harus jujur!" seru Gito sambil melompat-lompat.

Maya berdiri di depan Bayu dengan tangan di pinggang, pose komandannya.

"Jujur apa?" tanya Bayu masih terengah-engah.

Maya menatap Bayu dengan mata yang tajam, terlalu tajam untuk anak seusianya.

"Bang Bayu masih suka sama Kak Yunita nggak?"

Sunyi.

Bayu terdiam.

Anak-anak lain berhenti bergerak.

Mereka menunggu.

Bayu menatap Maya.

Lalu menatap Mahendra dan Gito.

Lalu menatap langit pagi yang biru cerah.

Lalu...

"Iya," jawabnya pelan.

Bukan bisikan.

Tapi juga bukan teriakan.

Hanya pernyataan.

Sederhana.

Jujur.

Anak-anak saling pandang.

Lalu tersenyum.

"Ya sudah," kata Maya santai.

"Kalau suka, bilang lagi saja."

Bayu menghela napas kecil.

"Kalau sesederhana itu..."

"Memang sesederhana itu," potong Mahendra.

"Yang bikin susah itu orang dewasa."

Bayu tersenyum.

Dan kali ini... bukan sekadar senyum.

Ada sesuatu yang mulai terasa ringan.

Seperti beban yang diangkat dari pundaknya.

Seperti pintu yang terbuka setelah lama tertutup.

Seperti pagi yang cerah setelah malam yang panjang.

 

Di tempat lain, di dalam kantor desa,

Yunita sedang merapikan berkas.

Tapi tangannya berhenti saat melihat satu map yang sudah terlalu sering ia buka.

Map biru.

Biru tua.

Warna favoritnya.

Ia duduk perlahan.

Membukanya lagi.

Membaca lagi.

"Latar belakang... tujuan... manfaat..."

Ia menggeleng pelan.

"Kenapa semuanya harus dijelaskan ya..." gumamnya.

Ia teringat satu hal,

Cara Bayu berbicara tanpa naskah.

Bukan dengan kata-kata yang disiapkan, bukan dengan argumen yang dirancang, tapi dengan suara yang keluar dari hati.

Cara Bayu tersenyum tanpa rencana.

Bukan senyum formal, bukan senyum diplomatis, tapi senyum yang tulus, senyum yang membuat orang di sekitarnya ikut tersenyum.

Cara Bayu... menjadi dirinya sendiri.

Tanpa topeng.

Tanpa takut dihakimi.

Tanpa peduli apa kata orang.

Yunita menutup map itu.

Kali ini... lebih mantap.

"Yang aku butuhkan... bukan penjelasan," bisiknya pelan.

"Tapi kejujuran."

Ia berdiri.

Map biru itu masih di tangannya.

Ia menatapnya lama.

Lalu, untuk pertama kalinya, ia tidak menyimpannya di laci.

Ia meletakkannya di atas meja.

Di tempat yang terbuka.

Di tempat yang terlihat.

Di tempat yang siap.

 

Di luar kantor, Ibu Yuni memperhatikan dari kejauhan.

Ia melihat Yunita berdiri di dekat jendela.

Memandang map biru itu.

Tersenyum kecil.

Ibu Yuni tersenyum juga.

"Sepertinya... ada yang mulai mengerti," gumamnya.

Pak Kades Iwan yang kebetulan lewat, menoleh.

"Mengerti apa, Bu?"

Ibu Yuni menatap Pak Kades.

"Bahwa cinta tidak perlu dimusyawarahkan, Pak."

Pak Kades terdiam.

Lalu mengangguk pelan.

"Ya... mungkin kita semua belajar sesuatu dari kejadian ini."

"Iya, Pak. Bahwa terkadang, yang paling sederhana adalah yang paling benar."

 

Sore hari, warung Mbah Karyo kembali hidup.

Namun suasananya berbeda.

Lebih ringan.

Seperti orang-orang yang baru saja selesai mengangkut beban berat dari pundak mereka.

Bayu datang.

Duduk seperti biasa.

"Wah, sudah kembali ke dunia perkopian," kata Mbah Karyo sambil tersenyum.

Bayu mengangguk.

"Sudah waktunya, Mbah."

"Sudah selesai mikirnya?"

Bayu tersenyum kecil.

"Belum selesai... tapi sudah lebih jelas."

Bambang datang, langsung duduk.

"Gimana, Yu?"

Bayu menatap ke depan.

Ke arah jalan yang mulai gelap.

Ke arah kantor desa yang mulai menyalakan lampu.

"Kayaknya... selama ini aku terlalu ribet."

"Baru sadar?" sahut Jojon yang tiba-tiba muncul.

Tawa kecil terdengar.

"Aku terlalu ingin semuanya sempurna," lanjut Bayu.

"Padahal... yang penting itu jujur."

"Terus?" tanya Bambang.

Bayu menarik napas panjang.

"Kalau aku masih punya kesempatan... aku mau ulang semuanya."

"Dengan proposal baru?" tanya Jojon sambil menyeringai.

Bayu menggeleng.

"Tanpa proposal."

Semua terdiam sejenak.

"Wah..." kata Hermansyah pelan.

"Ini baru Bayu yang sebenarnya."

"Yang dulu mana?" tanya Herman.

"Yang dulu terlalu banyak mikir. Yang ini mulai berani bertindak."

Bayu tersenyum.

"Kalian ini lebay."

"Kami serius," kata Bambang.

"Iya, kamu sudah berubah," tambah Nadya.

"Berubah jadi apa?"

"Jadi lebih... manusia."

Bayu tertawa.

"Sebelumnya aku robot?"

"Sebelumnya kamu terlalu idealis sampai lupa kalau kamu juga punya perasaan."

Bayu terdiam.

"Ya... mungkin kalian benar."

 

Di waktu yang sama, Yunita berjalan pulang.

Langkahnya pelan.

Namun tidak lagi ragu.

Tidak lagi seperti orang yang berjalan di atas es.

Tapi seperti orang yang berjalan di tanah yang kokoh.

Di tangannya, tidak ada map.

Tidak ada berkas.

Tidak ada apa-apa.

Hanya pikirannya...

Yang kini jauh lebih sederhana.

Ia berhenti sejenak di bawah pohon besar dekat perempatan jalan.

Menatap langit senja yang mulai berubah warna.

Dari biru menjadi jingga.

Dari jingga menjadi ungu.

Dari ungu menjadi gelap.

"Kalau dia datang lagi..." bisiknya pelan.

"Jangan lewat proposal. Jangan lewat forum. Jangan lewat orang lain."

Ia menarik napas.

"Datang saja. Langsung. Seperti dulu."

"Sebelum semua ini rumit."

Angin sore berhembus pelan.

Seolah membawa pesan...

Yang belum disampaikan, tapi sudah mulai dipahami.

Dan di Desa Awan Biru,

Dua orang yang sempat menjauh

Kini mulai berjalan... ke arah yang sama.

Bukan dengan rencana.

Bukan dengan forum.

Tapi dengan satu hal yang paling sederhana:

Keberanian untuk jujur.


BAB 10: Tanpa Proposal, Tanpa Forum

Sore itu, Desa Awan Biru terlihat lebih tenang dari biasanya.

Langit berwarna jingga keemasan, seperti lukisan yang sedang dikerjakan oleh pelukis paling sabar di dunia. Warna jingganya tidak terlalu terang, tidak terlalu redup. Pas. Seperti keseimbangan antara harapan dan kenyataan.

Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan daun yang mulai gugur. Aroma yang mengingatkan bahwa musim akan berganti, bahwa tidak ada yang abadi, bahwa setiap akhir adalah awal dari sesuatu yang baru.

Tidak ada rapat.

Tidak ada suara perdebatan.

Tidak ada agenda.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, semuanya terasa cukup.

Di bawah pohon besar dekat kantor desa, pohon beringin yang sudah berusia puluhan tahun, yang akarnya menjalar ke mana-mana seperti urat nadi desa itu sendiri—Yunita berdiri sendirian.

Tangannya kosong.

Tidak ada map.

Tidak ada berkas.

Tidak ada pena.

Tidak ada catatan.

Seolah ia sedang menunggu sesuatu,

Atau seseorang.

Ia memandang ke arah jalan setapak yang menghubungkan kantor desa dengan rumah-rumah warga. Jalan tanah yang berdebu, yang setiap hari dilalui oleh orang-orang dengan urusannya masing-masing.

Jalan yang sama yang biasa dilalui Bayu setiap pagi menuju kantor desa.

Jalan yang sama yang tidak ia lalui selama beberapa hari terakhir.

"Di mana kamu, Bayu?" bisiknya pelan.

 

Langkah kaki terdengar pelan dari kejauhan.

Bukan langkah tergesa-gesa.

Bukan juga langkah ragu-ragu.

Tapi langkah orang yang sudah tahu ke mana ia akan pergi.

Bayu Andika datang.

Tidak tergesa.

Tidak ragu.

Namun juga tidak membawa apa pun.

Tidak ada map.

Tidak ada berkas.

Tidak ada proposal.

Hanya dirinya sendiri.

Hanya Bayu.

Ia berhenti beberapa meter dari Yunita.

Mereka saling berhadapan.

Sunyi.

Angin berhembus di antara mereka, membawa dedaunan kering yang berguguran.

Biasanya, Bayu akan bicara dulu.

Dengan candaan, dengan ide, atau dengan kalimat panjang yang penuh argumen.

Tapi kali ini... tidak.

Ia hanya berdiri.

Menatap Yunita.

Seolah-olah ia sedang mengumpulkan keberanian yang tersisa.

"Aku..." Bayu akhirnya membuka suara.

Lalu berhenti.

Tersenyum kecil.

"Aku lupa kata-katanya, Yun."

Yunita menatapnya.

"Ada yang mau kamu sampaikan?"

Bayu mengangguk.

"Iya... tapi kali ini nggak pakai proposal."

Yunita tersenyum tipis.

"Syukurlah."

Mereka sama-sama tertawa kecil.

Suasana mencair.

Seperti es yang meleleh di bawah sinar matahari.

Seperti dinding yang runtuh setelah sekian lama berdiri.

 

Bayu menarik napas panjang.

Seolah mengumpulkan sesuatu yang selama ini ia simpan terlalu dalam.

"Yun..." katanya pelan.

"Aku nggak punya kata-kata rapi lagi."

Yunita tidak menyela.

Ia hanya mendengar.

Dengan sepenuh hati.

"Aku juga nggak punya latar belakang, tujuan, atau manfaat yang bisa aku tulis."

Ia tersenyum.

"Yang aku punya cuma satu, perasaan yang sama sejak dulu."

Angin sore berhembus pelan.

Membawa keheningan yang justru terasa hangat.

"Aku suka kamu," lanjut Bayu.

"Sederhana. Nggak ada tambahan. Nggak ada lampiran."

Yunita menunduk sebentar.

Bukan karena ragu.

Tapi karena menahan sesuatu yang hampir jatuh dari matanya.

"Aku tahu... caraku kemarin salah."

"Aku terlalu mempersulit sesuatu yang seharusnya cukup dengan keberanian."

Yunita mengangkat wajahnya.

Menatap Bayu dengan lebih lembut dari sebelumnya.

"Tapi kalau kamu tanya sekarang..." kata Bayu.

"Aku tetap mau mencoba."

Sunyi.

Yunita melangkah sedikit mendekat.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup untuk menghapus jarak yang sempat ada.

 

"Bayu..." katanya pelan.

"Iya?"

"Kamu tahu nggak... kenapa aku marah waktu itu?"

Bayu menggeleng.

"Bukan karena proposalnya," lanjut Yunita.

"Tapi karena kamu membawa sesuatu yang seharusnya cuma antara kita... jadi milik banyak orang."

Bayu menunduk.

"Maaf."

"Bukan itu yang aku butuhkan."

Bayu menatapnya.

"Aku butuh kamu mengerti," lanjut Yunita.

"Bahwa aku bukan tidak menghargai keberanianmu. Aku hanya... aku hanya belum siap."

"Belum siap untuk apa?"

"Belum siap untuk membuka hatiku di depan umum. Belum siap untuk menjadi tontonan. Belum siap untuk perasaanku dinilai oleh orang-orang yang tidak mengerti."

Bayu mengangguk.

"Aku mengerti sekarang."

"Tapi..." Yunita tersenyum kecil.

"Aku juga salah."

Bayu menatapnya.

"Aku terlalu sibuk menjaga semuanya tetap rapi... sampai lupa kalau hati nggak selalu bisa diatur."

Sunyi sejenak.

"Dan sekarang?" tanya Bayu pelan.

 

Yunita tidak langsung menjawab.

Ia menatap langit yang mulai meredup.

Bintang pertama mulai muncul di ufuk timur.

Lalu kembali menatap Bayu.

"Sekarang..." katanya pelan.

"Aku ingin mencoba sesuatu yang tidak rapi."

Bayu tersenyum.

"Seperti apa?"

Yunita mengangkat bahu kecil.

"Seperti... ini."

Ia tidak mengatakan "iya".

Tidak juga mengatakan "tidak".

Namun langkah kecilnya yang mendekat...

Sudah lebih dari cukup.

Bayu menghela napas lega.

Bukan karena semuanya pasti.

Tapi karena... akhirnya semuanya jujur.

"Iya?" tanyanya, masih tidak percaya.

"Iya," jawab Yunita.

"Benar-benar iya?"

"Bayu, kalau kamu tanya sekali lagi, aku bisa berubah pikiran."

Bayu tertawa.

"Baik. Aku berhenti bertanya."

Mereka berdua tertawa.

Tawa yang lama tidak terdengar.

Tawa yang membuat mereka lupa pada semua kerumitan.

Tawa yang membuat mereka sadar bahwa ini, ini yang mereka butuhkan.

Bukan proposal.

Bukan forum.

Bukan persetujuan.

Tapi ini.

Dua orang yang saling jujur.

 

Di kejauhan, Bambang, Jojon, dan Hermansyah mengintip dari balik pohon.

"Gimana?" bisik Jojon.

"Kayaknya... berhasil," jawab Bambang pelan.

"Tanpa proposal?" tanya Hermansyah.

Bambang tersenyum.

"Iya... tanpa proposal."

Mereka saling pandang.

Lalu tertawa kecil.

"Akhirnya," kata Jojon.

"Desa ini punya cerita bahagia."

"Jangan viralin dulu," pesan Bambang.

"Aku tahu. Biar mereka bahagia dulu."

"Kontennya nanti?"

"Kontennya nanti. Sekarang saatnya kita pergi sebelum mereka lihat kita."

Mereka bertiga berjalan mundur perlahan.

Menghilang di balik rimbunan pohon.

Meninggalkan dua orang yang sedang memulai sesuatu yang baru.

Di bawah langit senja Desa Awan Biru,

Tidak ada forum.

Tidak ada keputusan bersama.

Tidak ada suara mayoritas.

Yang ada hanya dua orang...

Yang akhirnya memilih untuk jujur.

Dan untuk pertama kalinya,

Cinta tidak dibahas.

Tidak diperdebatkan.

Tidak diputuskan.

Cinta... hanya dijalani.


EPILOG: Cinta Bukan Agenda Rapat

Desa Awan Biru tetap seperti biasa.

Pagi datang dengan suara ayam dan kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan karet. Siang diisi dengan aktivitas yang tak pernah benar-benar selesai, ibu-ibu pergi ke pasar, bapak-bapak ke sawah, anak-anak ke sekolah. Dan sore... selalu pulang dengan warna jingga yang setia, seolah-olah alam tidak pernah bosan melukis pemandangan yang sama setiap hari.

Di kantor desa, rapat masih berlangsung.

Kursi-kursi plastik masih berderit.

Perdebatan masih terjadi.

Dan kata "musyawarah" masih menjadi jalan utama untuk mengambil keputusan.

"Setuju?"

"Belum tentu!"

"Interupsi!"

Suara-suara itu masih sama.

Seolah waktu tidak pernah benar-benar berubah.

Seolah-olah proposal cinta yang mengguncang desa beberapa waktu lalu hanyalah mimpi.

Namun di antara semua itu...

Ada satu hal yang perlahan berbeda.

 

Di sudut ruangan, Yunita masih duduk dengan map di tangannya.

Rapi.

Teratur.

Seperti biasa.

Namun kini, sesekali ia tersenyum... tanpa alasan yang tercatat di berkas mana pun.

Tersenyum ketika ia mengingat sesuatu.

Tersenyum ketika ia membaca nama tertentu di berkas masuk.

Tersenyum ketika ia melihat seseorang memasuki ruangan.

Di luar balai desa, Bayu Andika berdiri bersama pemuda lain.

Masih berdiskusi.

Masih berpendapat.

Masih menjadi dirinya yang kritis.

Namun kini, ia tidak lagi memaksakan semua hal untuk harus dipahami bersama.

Ia lebih banyak mendengar.

Lebih banyak tersenyum.

Lebih banyak... bahagia.

 

Warung Mbah Karyo tetap ramai setiap malam.

Tawa masih pecah.

Cerita masih mengalir.

Dan di antara cangkir kopi yang mengepul...

Kisah "proposal cinta" masih sesekali menjadi bahan candaan.

"Yu, bikin proposal lagi nggak?" goda Jojon.

Bayu hanya tertawa.

"Yang ini... cukup dua orang saja yang tahu."

Semua ikut tertawa.

"Kata Yunita sih, dia masih simpan proposal itu," kata Bambang.

"Disimpan di mana?"

"Di laci mejanya. Dikasih kunci."

"Wah, berarti sudah jadi barang berharga," sahut Jojon.

"Lebih berharga dari konten kamu," timpal Herman.

"Kontenku juga berharga!"

"Berharga buat apa?"

"Buat... ya... buat aku."

Tawa kembali pecah.

 

Di meja yang sama, Yunita duduk di samping Bayu.

Tidak banyak bicara.

Tidak perlu.

Karena kini, tidak semua hal harus dijelaskan.

Tidak semua perasaan harus dituangkan dalam proposal.

Tidak semua rencana harus ditulis dengan rapi.

Kadang, cukup dengan duduk bersama.

Cukup dengan tersenyum.

Cukup dengan saling mengerti.

"Kopi kamu sudah dingin," kata Bayu.

"Tidak apa-apa."

"Kamu suka kopi dingin?"

"Aku suka apa pun yang ada di depanku."

Bayu tersenyum.

"Kamu puitis hari ini."

"Kamu yang membuatku jadi puitis."

Mereka berdua tertawa.

Mbah Karyo yang melihat dari balik meja, hanya tersenyum.

"Ih, mba Yunita mesem-mesem sendiri," celetuk Gito yang kebetulan lewat.

Yunita langsung memasang wajah serius.

"Nggak."

"Iya, saya lihat!"

"Nggak. Kamu salah lihat."

"Ah, mba Yunita malu-maluin."

Gito berlari sambil tertawa.

Yunita menggeleng.

"Anak-anak sekarang..."

"Jujur," sambung Bayu.

"Terlalu jujur."

"Itu yang kita butuhkan, kan? Kejujuran."

Yunita menatap Bayu.

"Iya. Kejujuran."

 

Di kejauhan, anak-anak masih berlari,

Maya, Mahendra, dan Gito, dengan tawa yang sama seperti dulu.

Tanpa beban.

Tanpa rumit.

Seolah mengingatkan bahwa hidup... sebenarnya sederhana.

Mereka tidak pernah repot dengan proposal.

Tidak pernah ribut dengan forum.

Tidak pernah pusing dengan aturan.

Ketika mereka suka, mereka bilang.

Ketika mereka tidak suka, mereka juga bilang.

Ketika mereka ditolak, mereka cari yang lain.

Sederhana.

Dan mungkin memang benar,

Yang membuat segalanya terasa berat

Bukanlah keadaan...

Melainkan cara manusia memahaminya.

 

Desa Awan Biru tidak pernah berhenti bermusyawarah.

Karena itulah cara mereka menjaga kebersamaan.

Namun dari sebuah kejadian yang tak biasa,

Mereka belajar satu hal yang tidak tertulis dalam notulen mana pun:

Tidak semua hal harus diputuskan bersama.

Ada hal-hal yang cukup dipahami oleh hati.

Ada keputusan yang tidak membutuhkan suara terbanyak.

Dan ada perasaan...

Yang tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun.

Bayu pernah mencoba menjelaskan cinta dengan kata-kata rapi.

Yunita pernah mencoba menjaga semuanya tetap teratur.

Namun pada akhirnya...

Mereka menemukan bahwa yang paling berarti bukanlah penjelasan,

Melainkan kejujuran.

 

Karena cinta...

Tidak lahir dari forum.

Tidak tumbuh dari perdebatan.

Dan tidak membutuhkan persetujuan.

Cinta hanya butuh dua hal:

Keberanian untuk mengungkapkan...

Dan ketulusan untuk menerima.

Malam itu, di Warung Mbah Karyo—

Bayu dan Yunita duduk bersama.

Bukan sebagai pemuda dengan proposal.

Bukan sebagai pegawai desa dengan aturan.

Tapi sebagai dua manusia yang saling memilih.

"Masa depan kita belum jelas, Yun," kata Bayu.

"Iya."

"Kita belum tahu akan ke mana."

"Iya."

"Apakah kamu takut?"

Yunita menatap Bayu.

"Takut. Tapi bersamamu, rasa takut itu terasa lebih ringan."

Bayu tersenyum.

"Itu kalimat paling romantis yang pernah kamu ucapkan."

"Jangan biasakan. Aku tidak suka romantis-romantisan."

"Tapi kamu melakukannya dengan baik."

"Karena kamu membuatku seperti ini."

Mereka berdua tertawa.

Mbah Karyo dari balik meja hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"Anak muda zaman sekarang..."

"Gimana, Mbah?" tanya Bayu.

"Bikin malu orang tua."

"Lho, kenapa?"

"Karena dulu aku juga gitu."

Semua tertawa.

 

Di bawah langit Desa Awan Biru,

Di antara tawa, rapat, dan secangkir kopi,

Dua hati akhirnya memahami sesuatu yang sederhana:

Bahwa cinta bukan untuk dibahas...

Melainkan untuk dijalani.

Dan ketika suatu hari nanti, ada pemuda lain yang ingin melakukan hal gila seperti Bayu,

Atau ketika ada perempuan lain yang terlalu teratur seperti Yunita,

Semoga mereka ingat cerita ini.

Bahwa cinta tidak perlu proposal.

Tidak perlu forum.

Tidak perlu persetujuan siapa pun.

Cinta hanya perlu dua hal:

Keberanian.

Dan kejujuran.

Sisanya?

Sisanya akan berjalan dengan sendirinya.

—SELESAI—

 

0 komentar:

Posting Komentar