DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari
Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari
EPISODE 2: ANCAMAN INVESTOR
1. Fajar di Lembah
Harapan
Matahari belum sepenuhnya muncul ketika Raka membuka
matanya. Kabut pagi masih menyelimuti Lembah Harapan dengan rapat, membuat
segalanya tampak seperti dunia lain—dunia di mana waktu berjalan lebih lambat,
di mana suara lebih jernih, dan di mana pikiran lebih jernih.
Raka tidak ingat persis kapan ia tertidur. Yang ia ingat,
semalam ia duduk di tepi sungai bersama Kiano dan Kiara. Kiano berbaring di
pangkuannya, matanya yang sayu menatap ke arah timur di mana bulan purnama
perlahan naik. Kiara duduk di sampingnya, sesekali menjilati tangan ayahnya,
sesekali menatap Raka dengan rasa ingin tahu yang mendalam.
Mereka tidak bicara. Tidak perlu. Di antara mereka,
kata-kata sudah tidak diperlukan lagi. Ada pemahaman yang lebih dalam dari
sekadar bahasa. Pemahaman yang terbangun dari bertahun-tahun kebersamaan, dari
suka dan duka yang mereka lalui bersama.
Kini, Kiano sudah pergi. Mungkin kembali ke tempat
persembunyiannya di balik pohon beringin tua yang akarnya menjulur ke tanah
seperti ular raksasa. Tapi Kiara masih ada, duduk setia di sampingnya, matanya
yang hitam pekat menatap ke arah timur di mana langit mulai berubah warna dari
hitam kelam menjadi biru tua, lalu ungu, lalu merah jambu.
Raka mengelus kepala Kiara. Bulunya yang cokelat kemerahan
terasa hangat di tangannya yang dingin oleh embun pagi. Kiara mendekat,
menyandarkan kepalanya di pundak Raka, seperti yang sering dilakukan Kiano,
seperti yang sering dilakukan Kai Muda, seperti yang sering dilakukan Kai.
Ada sesuatu yang abadi dalam persahabatan ini, pikir Raka. Sesuatu yang melewati waktu,
melewati kematian, melewati segalanya.
"Kiara," katanya pelan, suaranya serak oleh
dingin. "Hari ini kita akan mulai berjuang. Ada orang yang mau mengambil
rumah kita. Rumah kalian. Rumah yang sudah dijaga oleh kakekmu, oleh ayahmu,
oleh kita semua selama ini."
Kiara menggerakkan telinganya. Ia tidak mengerti kata-kata
Raka, tapi ia mengerti nada suaranya. Ada ketegangan di sana. Ada keseriusan.
Ada tekad yang membara.
Raka bangkit perlahan, merasakan kakinya yang sedikit kaku
oleh dingin dan posisi duduk yang terlalu lama. Jaketnya basah oleh embun,
rambutnya lepek, tapi ia tidak peduli.
"Aku harus pulang," katanya sambil menepuk-nepuk
celananya dari daun-daun kering yang menempel. "Banyak yang harus
dilakukan. Kita punya waktu satu minggu. Satu minggu untuk membuktikan bahwa
hutan ini lebih berharga dari sekadar tempat membangun resor."
Ia berjalan menyusuri sungai, meninggalkan Lembah Harapan
yang masih terlelap dalam kabut. Di belakangnya, Kiara tetap duduk di
tempatnya, menatap kepergiannya dengan mata yang bijaksana—jauh lebih bijaksana
dari usianya. Seekor burung tekukur berkicau di kejauhan, suaranya sayup-sayup
terdengar, seperti berbisik sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh telinga
manusia.
Sepanjang perjalanan pulang, Raka memikirkan strategi. Satu
minggu. Hanya satu minggu untuk membuktikan bahwa konservasi bisa menghasilkan
uang. Satu minggu untuk meyakinkan warga yang sudah mulai tergiur janji manis
Sugiarto. Satu minggu untuk menyelamatkan hutan yang sudah mereka jaga selama
bertahun-tahun.
Ia teringat perkataan Sugiarto kemarin. Suara pria gemuk
dengan kumis tipis itu masih terngiang di kepalanya.
"Ekowisata? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk
menghasilkan 50 miliar?"
Raka mengepalkan tangannya. Sugiarto memang benar.
Ekowisata tidak bisa langsung menghasilkan uang sebesar itu. Tapi bukan berarti
tidak bisa menghasilkan sama sekali. Dan bukan berarti nilai hutan hanya diukur
dari uang.
Ia mempercepat langkahnya. Kakinya yang basah oleh embun
terasa dingin, tapi ia terus berjalan. Di atas kepalanya, langit mulai berubah
warna menjadi biru jernih. Hari baru telah dimulai.
2. Sarapan yang Tegang
Raka sampai di rumah ketika aroma nasi uduk mulai menyebar
dari dapur. Bu Tani sudah bangun sejak subuh, seperti biasa, memasak untuk
keluarga dan untuk tetangga yang membutuhkan. Ia percaya bahwa berbagi makanan
adalah bentuk ibadah yang paling sederhana.
"Ra, kamu dari mana?" tanya Bu Tani ketika Raka
masuk melalui pintu belakang. Matanya menyipit melihat jaket basah dan rambut
lepek anaknya. "Dari hutan? Pagi-pagi sudah ke hutan?"
Raka tersenyum. "Dari Lembah Harapan, Bu. Ketemu
Kiara."
Bu Tani menggeleng-geleng, tapi tidak marah. Ia sudah
terbiasa. Sejak kecil, Raka selalu lebih memilih hutan daripada rumah. Dulu ia
khawatir. Sekarang, ia hanya pasrah.
"Nasi uduk sudah jadi. Ayam goreng, tempe orek, sambal
terasi. Sarapan dulu."
Raka duduk di meja makan, mengambil nasi dan lauk seadanya.
Tapi ia tidak berselera. Pikirannya masih di hutan, di Sugiarto, di ancaman
yang membayangi.
Bu Tani duduk di seberangnya, memperhatikan anaknya yang
hanya memainkan nasi di piring.
"Ra, kamu nggak makan?" Suaranya lembut, tapi ada
kekhawatiran di sana.
Raka mendongak. "Aku makan, Bu. Cuma... mikir."
"Mikirin pengusaha itu?"
Raka mengangguk.
Bu Tani meletakkan sendoknya. Ia menarik kursinya lebih
dekat, tangannya yang keriput meraih tangan Raka.
"Nak, Ibu tahu kamu khawatir. Ibu dengar dari
tetangga, kemarin di balai desa ada debat besar. Kamu dan Wati sama Bejo lawan
pengusaha itu. Katanya warga sampai terpecah."
Raka menghela napas panjang. "Iya, Bu. Banyak warga
yang tergiur janjinya. Mereka butuh kerjaan. Butuh uang. Aku mengerti. Tapi
kalau hutan ini rusak, semuanya akan hilang. Kancil-kancil akan pergi. Mata air
akan kering. Tanah akan longsor. Semua yang sudah kita bangun selama ini akan
hancur."
Tangannya yang memegang sendok mulai gemetar. Bukan karena
takut, tapi karena emosi yang tertahan. "Aku tidak tahu harus bagaimana,
Bu. Sugiarto punya uang. Punya pengaruh. Aku hanya punya mimpi dan sedikit
ilmu. Apakah itu cukup?"
Bu Tani tidak menjawab. Ia hanya memegang tangan Raka lebih
erat. Tangannya yang keriput dan penuh urat terasa hangat, seperti saat Raka
kecil dulu, ketika ia jatuh dari pohon jambu dan menangis di pangkuan ibunya.
"Ra, Ibu tidak sekolah tinggi. Ibu tidak tahu banyak
tentang konservasi, tentang hutan, tentang kancil. Tapi Ibu tahu satu
hal."
"Apa, Bu?"
"Waktu kamu kecil, kamu pernah bilang pada Ibu, 'Bu,
Kai mengajarkan aku bahwa alam itu seperti ibu. Kalau kita baik padanya, dia
akan baik pada kita. Kalau kita jahat, dia akan marah.' Ibu tidak lupa
kata-kata itu. Dan Ibu percaya, kamu tidak akan mengecewakan alam."
Raka menatap ibunya. Matanya berkaca-kaca.
"Kamu dulu bisa menyelamatkan hutan ini waktu masih
kecil. Sekarang kamu sudah dewasa, punya ilmu, punya pengalaman. Pasti
bisa."
Dari dalam rumah, Pak Tani keluar dengan langkah tertatih.
Ia sudah mendengar percakapan mereka dari kamar.
"Ra, ayah juga percaya sama kamu," katanya sambil
duduk di kursi bambu di teras. "Dulu, waktu kamu kecil, ayah pikir
hanyalah bagaimana panen padi, bagaimana bayar utang, bagaimana biaya
sekolahmu. Ayah nggak peduli sama kancil, sama hutan." Ia berhenti,
menghela napas. Tangannya yang kasar dan penuh kapalan—sisa dari puluhan tahun
membajak sawah—memegang erat lututnya. "Tapi kamu mengajarkan ayah, bahwa
alam ini kalau dijaga, dia akan menjaga kita. Sekarang, ayah percaya sama
kamu."
Raka berdiri, menghampiri ayahnya, dan memeluknya erat.
"Makasih, Yah. Aku nggak akan mengecewakan."
Pak Tani menepuk punggungnya berulang-ulang, seperti yang
selalu ia lakukan saat Raka kecil. "Ayah tahu, Nak. Ayah tahu."
Handy talkie Raka berderak. Suara Wati terdengar, agak
tergesa, seperti biasa. Wati selalu tergesa-gesa kalau sedang panik.
"Ra, lo sudah bangun? Cepat ke markas! Ada yang harus
kita bahas. Guntur baru dapat info dari Pak Jarwo. Sugiarto sudah mulai
bagi-bagi amplop ke warga."
Raka melepas pelukannya. Wajahnya berubah tegang.
"Sugiarto mulai bergerak."
Ia mencium tangan ayah dan ibunya, lalu berlari
meninggalkan rumah.
3. Markas Penuh Stres
Ketika Raka tiba di markas, Wati sudah duduk di depan
laptop dengan kening berkerut dalam. Kacamatanya bertengger di ujung hidung,
jari-jarinya mengetik cepat di keyboard. Di meja di sampingnya, secangkir kopi
hitam sudah dingin sejak dua jam lalu.
Bejo berdiri di dekat papan tulis, menggambar sesuatu yang
tidak jelas dengan spidol warna-warni. Ia menggambar pohon, sungai, kancil, dan
panah-panah yang menghubungkan semuanya dengan cara yang hanya ia yang
mengerti.
Guntur dan Pak Jarwo duduk di kursi bambu dengan wajah
tegang. Guntur memegang map cokelat yang sama yang ia bawa kemarin, tapi kali
ini lebih tebal. Pak Jarwo memegang golok tuanya di pangkuan, jari-jarinya yang
keriput memainkan gagang kayu itu seperti rosario.
Raka mengambil kursi kosong di tengah lingkaran. "Kita
mulai. Apa yang sudah kita punya?"
Wati memutar laptopnya. Di layar, sebuah presentasi dengan
judul "Proyek Ekowisata Bojong Sari: Model Konservasi Berbasis
Masyarakat" terbuka. Slide pertama adalah foto titik Beringin di
pagi hari, dengan kancil-kancil yang minum di bak air.
"Aku sudah menyusun konsep dasar," kata Wati.
Matanya merah, tanda kurang tidur. "Ekowisata berbasis masyarakat.
Pengunjung bisa trekking ke hutan dengan pemandu warga. Ada tiga jalur yang
sudah kita identifikasi: jalur pendek ke titik Beringin, jalur menengah ke
Lembah Harapan, dan jalur panjang ke Tebing Merah."
Ia klik ke slide berikutnya. Foto-foto Lembah Harapan,
Tebing Merah, dan berbagai spot indah di hutan Manoreh.
"Pengunjung juga bisa belajar tentang kancil dan
konservasi. Aku sudah siapkan materi edukasi untuk anak-anak dan dewasa. Ada
sesi pengamatan satwa, sesi menanam pohon, sesi belajar jejak kaki, dan sesi
mendongeng tentang sejarah konservasi Bojong Sari."
Klik. Slide berikutnya menunjukkan foto makanan
tradisional.
"Untuk kuliner, Bejo akan mengelola restoran sederhana
dengan menu dari bahan-bahan lokal. Pengunjung bisa makan di titik Beringin
atau di homestay warga. Ada juga paket memasak bersama untuk yang
tertarik."
Klik. Foto homestay sederhana dengan halaman bunga.
"Untuk akomodasi, kita bisa memanfaatkan homestay
warga. Ada 15 rumah yang sudah siap. Harga terjangkau, tapi pengalaman
autentik. Pengunjung bisa tinggal bersama warga, belajar tentang kehidupan
desa, dan tentu saja, menikmati keramahan Bojong Sari."
Wati berhenti, menarik napas. "Perkiraan pendapatan
awal, 50 pengunjung per bulan, masing-masing menghabiskan 500 ribu untuk paket
lengkap. Total 25 juta per bulan. 300 juta per tahun. Belum termasuk penjualan
produk lokal seperti makanan olahan, kerajinan tangan, suvenir, dan
lain-lain."
Bejo bersiul pelan. "300 juta per tahun. Lumayan. Bisa
buat beli traktor baru buat Pak Tani."
"Tapi itu perkiraan awal," kata Wati cepat.
"Kalau berkembang, bisa 10 kali lipat. Tapi butuh waktu. 3-5 tahun untuk
mulai stabil. Itu pun kalau pemasaran bagus dan promosi jalan."
Guntur menggeleng. "Kita nggak punya waktu. Sugiarto
kasih waktu seminggu. Seminggu untuk membuktikan konservasi lebih menguntungkan
dari resor."
Pak Jarwo yang dari tadi diam, angkat bicara. Suaranya
berat, dalam, seperti gemuruh dari dalam gua.
"Kita nggak bisa lawan Sugiarto dengan angka-angka di
kertas. Dia punya uang nyata. Dia bisa kasih amplop ke warga sekarang juga. Aku
dengar, tadi pagi Dani dan beberapa warga lain sudah dikasih 500 ribu. Cuma
untuk tanda tangan dukungan."
Wati mengepalkan tangan. "Itu namanya sogok!"
"Kita nggak bisa buktikan, Ti. Mereka bilang itu
sumbangan. Lagipula, warga yang terima uang pasti akan membela Sugiarto. Mau
bukti apa pun, mereka akan bilang resor lebih baik."
Suasana markas hening. Keheningan yang berat, seperti udara
sebelum badai.
Raka berdiri, berjalan ke papan tulis. Ia mengambil spidol
merah dari tangan Bejo, lalu mulai menulis. Tiga kata besar: HARI INI.
BESOK. SELAMANYA.
"Pak Jarwo benar," katanya, memandang spidol di
tangannya. "Kita tidak bisa melawan Sugiarto dengan angka-angka di kertas.
Dia punya uang nyata. Kita? Masih ngitung potensi."
Ia menulis di bawah kata HARI INI.
"Sugiarto bisa kasih uang sekarang. Warga bisa dapat amplop
hari ini juga. Itu keuntungan dia."
Di bawah BESOK.
"Tapi uang itu habis. Besok, atau lusa, atau minggu
depan, amplop itu sudah dipakai beli beras, beli susu, beli keperluan
sehari-hari. Habis. Lalu apa? Warga kembali ke titik nol."
Ia menulis di bawah SELAMANYA.
"Ekowisata tidak memberi uang cepat. Tapi dia memberi
penghasilan yang berkelanjutan. Bulan ini, bulan depan, tahun depan, selama
hutan masih ada. Selamanya."
Ia meletakkan spidol, menatap mereka satu per satu.
"Itu yang harus kita tunjukkan pada warga. Bukan angka. Tapi masa
depan."
Bejo yang dari tadi diam, tiba-tiba berdiri. "Gue
punya ide."
Semua menoleh.
Bejo mengambil spidol merah dari Raka. Dengan gerakan
dramatis, ia menggambar sebuah piring besar di papan tulis.
"Gue buat acara makan bersama. Di hutan. Makanan dari
bahan-bahan lokal, disajikan dengan gaya restoran bintang lima. Kita undang
semua warga. Dan kita kasih tahu, ini adalah contoh dari yang bisa kita
hasilkan kalau ekowisata jalan."
Wati mengerutkan kening. "Acara makan? Itu bisa
yakinkan warga?"
Bejo tersenyum lebar, senyum yang sama ketika ia masih
kecil dan berhasil mencuri pisang goreng dari dapur tanpa ketahuan.
"Lo lupa siapa gue? Gue koki terkenal. Namaku sudah
dikenal sampai Jakarta, Bandung, Jogja. Orang akan datang kalau gue masak. Dan
setelah mereka makan enak, mereka akan dengar cerita kita tentang hutan,
tentang kancil, tentang konservasi. Gue jamin, perut kenyang, hati
terbuka."
Ia menunjuk ke piring raksasa di papan tulis.
"Bayangkan: nasi liwet dengan ayam bakar, rendang
daging sapi, opor ayam kampung, pepes ikan nila, sayur asem segar, sambal
terasi, lalapan mentah. Semua dari bahan-bahan desa sendiri. Disajikan di tepi
hutan, ditemani kicauan burung, ditemani pemandangan pohon beringin yang megah,
dan mungkin kancil-kancil yang lewat di kejauhan."
Ia menutup mata, seperti sedang membayangkan.
"Warga akan merasakan sendiri. Mereka akan tahu, bahwa
hutan ini bukan hanya tempat pohon dan hewan. Hutan ini adalah sumber
kehidupan. Sumber makanan. Sumber kebanggaan."
Pak Jarwo tersenyum. "Jo, lo dulu nggak sepintar
ini."
Bejo membusungkan dada. "Gue kan sekarang koki. Koki
harus pintar meracik, bukan hanya bumbu, tapi juga hati orang."
Mereka tertawa. Ketegangan sedikit reda.
Raka mengangguk. "Jo benar. Kita buat acara. Tapi
bukan hanya makan. Kita buat pameran kecil. Wati, siapkan materi edukasi
tentang kancil dan konservasi. Guntur, siapkan homestay dan produk lokal. Pak
Jarwo, siapkan jalur trekking mini. Tunjukkan pada warga, bahwa kita sudah
punya sesuatu yang nyata. Bukan hanya mimpi."
4. Menyebarkan Undangan
Sore harinya, Raka mulai berkeliling desa. Ia tidak hanya
mengundang warga yang pro konservasi, tapi juga yang pro Sugiarto. Termasuk
Dani, pemuda yang paling vokal menentang mereka kemarin.
Matahari mulai condong ke barat ketika Raka sampai di rumah
Dani. Rumah itu terletak di ujung desa, di pinggir sawah yang sedang tidak
digarap karena kemarau. Dindingnya dari anyaman bambu yang sudah bolong di
beberapa tempat, atapnya dari seng berkarat yang sudah bolong juga, dilihat
dari cahaya yang masuk menembus lubang-lubang kecil di atas.
Di halaman, seorang wanita muda—istri Dani—sedang menjemur
pakaian anak-anak. Dua balita berlarian di antara jemuran, tertawa riang dengan
suara yang memecah kesunyian sore. Seorang bayi perempuan digendong di pinggang
wanita itu, sesekali menangis, sesekali tertidur.
"Permisi," sapa Raka dari pagar bambu yang sudah
miring.
Wanita itu menoleh. Wajahnya lelah, keringat membasahi
pelipisnya, tapi ia tersenyum ramah. "Raka, ya? Anaknya Pak Tani?"
"Iya, Bu. Saya cari Dani. Ada di rumah?"
"Dani di belakang, sedang memperbaiki motor. Raka,
masuk dulu."
Raka masuk ke halaman. Balita laki-laki yang lebih besar
mendekat, menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Nama kamu siapa?" tanya Raka.
"Rian," jawab bocah itu lirih.
"Rian, kamu sudah makan?"
Rian menggeleng. Mamanya menyela dari belakang.
"Belum, Mas. Dani belum dapat kerjaan. Jadi kadang makan cuma sekali
sehari."
Raka merasakan dadanya sesak. Ia merogoh saku jaketnya,
mengambil beberapa lembar uang. "Bu, ini untuk beli makan anak-anak."
Wanita itu menggeleng. "Nggak usah, Mas. Dani nggak
suka dikasihani."
"Ini bukan kasihan, Bu. Ini utang. Nanti kalau Dani
sudah punya kerjaan, bisa dikembalikan."
Wanita itu ragu, tapi akhirnya menerima. Matanya basah.
"Makasih, Mas. Tuhan berkati."
Raka berjalan ke belakang rumah. Dani sedang jongkok di
samping sepeda motor butut, mesinnya terbuka, kabel-kabel berantakan.
"Dani," sapa Raka.
Dani menoleh. Wajahnya kaget, lalu berubah masam. "Lo,
Raka. Mau apa?"
Raka duduk di bangku kayu dekat Dani. "Gue mau undang
lo dan keluarga ke acara makan bersama, Sabtu ini di titik Beringin."
Dani berhenti memegang kabel. "Acara apa?"
"Makan bersama. Bejo yang masak. Semua warga diundang.
Gratis."
Dani mendengus. "Bejo? Koki terkenal itu? Masak
gratis?"
"Iya, Dan. Gratis. Bawa keluarga, bawa anak-anak.
Cukup datang."
Dani menatap Raka dengan curiga. Matanya menyipit, seperti
sedang membaca sesuatu di balik wajah Raka.
"Ini nggak ada maksud terselubung? Mau paksa kita
dukung kalian? Lawan Sugiarto?"
Raka menggeleng. "Nggak, Dan. Gue cuma ingin semua
warga merasakan apa yang bisa kita hasilkan dari hutan. Makanan dari
bahan-bahan desa, disajikan di tepi hutan, ditemani kicauan burung dan mungkin
kancil-kancil yang lewat. Gue cuma ingin lo lihat, bahwa hutan ini punya nilai
lebih dari sekadar tempat bangun resor."
Dani diam. Tangannya yang berminyak berhenti bergerak. Ia
menatap mesin motor yang terbuka, lalu ke arah rumahnya di mana anak-anaknya
berlarian, lalu kembali ke Raka.
"Lo tahu, Ra, hidup gue susah." Suaranya berat,
seperti menahan sesuatu. "Istri gue nganggur, anak gue tiga, yang paling
besar baru tiga tahun. Gue cari kerja ke mana-mana, nggak ada yang mau.
Akhirnya gue kerja serabutan, kadang dapat, kadang nggak. Minggu lalu, anak gue
yang bungsu sakit. Gue nggak punya uang buat beli obat. Untung Bu Juminten
pinjamin."
Ia menunjuk ke sepeda motor butut di depannya. "Ini
satu-satunya yang gue punya. Buat cari kerja. Sekarang mogok. Nggak tahu gue
perbaiki sendiri, bisa atau nggak."
Raka diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Uang yang ia
berikan tadi mungkin hanya cukup untuk beberapa hari. Lalu apa? Dani akan
kembali ke titik nol.
"Lo lihat, Ra. Ketika Sugiarto datang, kasih amplop,
kasih janji kerjaan, gue langsung tertarik. Siapa yang nggak? 500 ribu itu
banyak buat gue. Bisa beli beras buat seminggu, beli susu buat anak-anak. Dan
kalau resor jadi, gue bisa kerja di sana. Mungkin gue nggak kaya, tapi
setidaknya ada penghasilan tetap."
Ia menatap Raka. Matanya berkaca-kaca.
"Lo bilang konservasi, ekowisata. Gue dengar. Tapi
kapan? Berapa lama gue harus nunggu? Anak-anak gue butuh makan sekarang."
Raka menatap Dani. Ia melihat dirinya sendiri sepuluh tahun
lalu, saat ia masih kecil dan khawatir ayahnya tidak bisa panen karena sawah
diserang kancil. Dulu, ia juga hanya memikirkan hari ini. Besok? Lusa? Tidak
ada yang tahu.
"Dan, gue nggak bisa janji ekowisata akan sukses
besok. Tapi gue bisa janji, gue akan berusaha. Dan gue nggak akan lupa sama lo.
Kalau acara Sabtu ini berhasil, lo akan jadi bagian dari itu. Lo bisa kerja di
dapur Bejo, atau jadi pemandu, atau apa pun yang lo mau. Bukan sebagai buruh,
tapi sebagai mitra."
Dani menatapnya lama. "Lo serius?"
"Sumpah demi Kai."
Dani tersenyum tipis. "Kai? Kancil itu? Lo sumpah
pakai nama kancil?"
Raka tersenyum. "Kai lebih dari sekadar kancil, Dan.
Dia keluarga. Dia guru. Dan dia tidak pernah mengingkari janji."
Dani mengulurkan tangan. "Baik. Gue datang. Tapi gue
nggak janji mau dukung kalian."
Raka menjabat tangannya. Jabatan yang kaku, tapi hangat.
"Cukup datang, Dan. Itu saja."
5. Wati dan Klinik
Darurat
Sementara Raka berkeliling mengundang warga, Wati sibuk di
klinik hewan sederhana yang baru ia dirikan di samping rumah orang tuanya.
Klinik itu masih sangat sederhana—bangunan bambu berukuran 4x4 meter dengan
lantai tanah, atap daun kelapa yang baru diganti, dan peralatan seadanya. Tapi
bagi Wati, ini adalah awal dari mimpinya.
Hari itu, Wati kedatangan pasien pertama: seekor kambing
betina milik Bu Juminten, janda tua yang tinggal sendirian di ujung desa.
Kambing itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya. Susunya dijual ke
tetangga setiap pagi, anak-anaknya dijual setahun sekali untuk biaya hidup.
Tapi tiga hari terakhir, kambing itu tidak mau makan dan susunya tidak keluar.
Wati membuka pintu bambu kliniknya ketika Bu Juminten
datang dengan kambing yang dituntun perlahan. Wajah Bu Juminten pucat, matanya
sembab, sepertinya sudah semalaman tidak tidur.
"Ti, tolong lihat kambing Ibu," katanya dengan
suara bergetar. "Sudah tiga hari nggak mau makan. Susunya juga nggak
keluar. Ibu khawatir."
Wati mempersilakan Bu Juminten masuk. Kambing itu
ditambatkan di tiang bambu yang sudah disediakan. Wati memeriksa dengan
saksama—mata, hidung, mulut, perut, suhu tubuh.
Perut kambing itu kembung, keras seperti drum. Matanya
sayu, kelopaknya setengah tertutup. Napasnya cepat dan pendek-pendek. Bulunya
kusam dan rontok di beberapa tempat.
"Bu Juminten, kambingnya dikasih makan apa akhir-akhir
ini?"
Bu Juminten berpikir. "Daun-daun dari kebun, Ti.
Rumput, daun singkong, kadang dedaunan dari pinggir hutan."
"Dari pinggir hutan? Mungkin ada tanaman yang
mengandung pestisida dari kebun tetangga?"
Bu Juminten menggeleng. "Nggak tahu, Ti. Ibu cari
dedaunan di mana pun ada. Yang penting kambingnya makan."
Wati menghela napas. "Ini kemungkinan keracunan, Bu.
Mungkin kambingnya makan daun yang mengandung pestisida atau bahan kimia lain.
Tapi masih bisa ditolong."
Ia membuka kotak P3K-nya. Di dalamnya ada beberapa botol
obat, suntikan, kapas, dan perban. Ia mengambil satu botol kecil berisi cairan
bening, lalu mengisi suntikan dengan hati-hati.
"Bu, ini obat penawar. Aku suntik sekarang, nanti sore
dicek lagi. Jangan kasih makan dulu, hanya air putih. Besok pagi kalau sudah
mulai membaik, baru kasih rumput halus sedikit demi sedikit."
Wati menyuntikkan obat ke pembuluh darah kambing itu dengan
gerakan yang lembut tapi pasti. Kambing itu mengembik pelan, tubuhnya gemetar
sebentar, lalu tenang.
"Sudah, Bu. Sekarang kambingnya butuh istirahat. Kalau
bisa, dibawa pulang, dikasih alas jerami yang kering, dan jangan
diganggu."
Bu Juminten menatap Wati dengan mata berkaca-kaca.
"Ti, berapa bayarnya? Ibu cuma punya uang sepuluh ribu."
Wati tersenyum. "Gratis, Bu. Klinik ini gratis untuk
warga. Nanti kalau sudah punya uang, boleh bayar seikhlasnya. Tapi sekarang,
gratis."
Bu Juminten menangis. "Kamu baik banget, Ti. Tuhan
berkati kamu."
Ia memeluk Wati erat-erat. Tubuhnya yang kecil dan kurus
bergetar. Wati membalas pelukan itu, merasakan hangatnya kasih sayang seorang
ibu yang sudah kehilangan segalanya kecuali seekor kambing.
"Bu Juminten, nanti Sabtu ada acara makan bersama di
titik Beringin. Bejo yang masak. Ibu ikut, ya. Bawa kambingnya juga kalau sudah
sehat. Biar senang."
Bu Juminten tersenyum. "Pasti, Ti. Ibu datang. Ibu
nggak akan lewatkan acara yang istimewa ini."
6. Bejo dan Dapur
Lapangan
Di halaman rumahnya, Bejo sibuk mempersiapkan peralatan
masak untuk acara Sabtu nanti. Ia sudah memesan bahan-bahan dari Guntur: beras
merah organik dari sawah Pak Tani, ayam kampung dari peternakan Pak Joko, ikan
nila dari kolam warga, sayuran dari kebun Bu Tini, dan bumbu-bumbu dari pasar
desa.
"Opor ayam: 5 ekor ayam, santan 10 liter, bumbu halus:
bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, jahe, kunyit, lengkuas, serai,
daun jeruk, daun salam..." Bejo menghitung dengan jari sambil mencatat di
buku resepnya yang tebal.
"Rendang daging: 3 kg daging sapi, santan kental 5
liter, bumbu halus: bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, lengkuas, kunyit,
kemiri, ketumbar, jinten, pala, kayu manis, cengkeh, serai, daun jeruk, daun
kunyit..."
Ia terus mencatat, sesekali mengoreksi jumlah, sesekali
mencoret dan mengganti.
"Jo!" panggil pamannya dari dalam rumah.
"Ada yang cari kamu!"
Bejo masuk. Di ruang tamu sederhana dengan sofa bambu dan
meja kayu jati tua, seorang pria muda berdiri dengan ragu. Wajahnya
dikenal—Dani. Tapi ekspresinya berbeda dari kemarin. Tidak ada amarah. Tidak
ada ketegangan. Hanya rasa ingin tahu dan sedikit harap.
"Dani? Lo ke sini?" Bejo terkejut.
Dani tampak gugup. Tangannya meremas-remas ujung kaos
oblongnya yang sudah lusuh. "Jo, gue... gue mau tanya. Acara Sabtu itu,
gue boleh bantu?"
Bejo mengerjapkan mata. "Bantu? Maksud lo?"
Dani menunduk. "Gue... gue nggak enak sama Raka.
Kemarin gue keras banget. Tapi gue juga mikir, kalau resor itu jadi, gue cuma
jadi buruh. Kerja kasar, digaji pas-pasan. Mungkin gue bisa dapat 2-3 juta
sebulan. Cukup buat makan, tapi nggak lebih."
Ia mengangkat wajahnya. Matanya yang lelah kini berbinar.
"Tapi kalau acara Sabtu itu berhasil, mungkin...
mungkin ada masa depan di sini. Mungkin gue bisa punya sesuatu yang lebih dari
sekadar jadi buruh."
Bejo menatap Dani lama. Ia teringat masa lalu, saat mereka
masih kecil, Dani adalah salah satu anak yang paling sering diejek karena
bajunya yang bolong. Tapi Dani tidak pernah mengeluh. Ia selalu tersenyum,
selalu membantu, selalu berbagi meski ia sendiri tidak punya apa-apa.
"Dan, lo ingat dulu? Waktu kita kecil, lo sering kasih
gue jambu dari pohon depan rumah lo. Padahal pohon itu satu-satunya yang
berbuah."
Dani tersenyum tipis. "Lo masih ingat?"
"Selamanya, Dan. Selamanya."
Bejo memeluk Dani. "Lo selalu bisa bantu. Di dapur gue
selalu butuh tangan tambahan. Dan bukan cuma untuk acara ini, tapi untuk
selamanya."
Dani tersenyum lebar. Matanya basah. "Makasih,
Jo."
7. Malam Sebelum Acara
Hari Jumat malam, sehari sebelum acara. Di markas, Tim
Detektif Dewasa berkumpul untuk pengecekan terakhir. Mereka semua lelah, tapi
semangat. Raka dengan mata merah karena kurang tidur. Wati dengan tangan yang
masih bau obat dari klinik. Bejo dengan apron yang masih penuh noda kecap.
Guntur dengan map dokumen yang hampir meledak. Pak Jarwo dengan golok tua di
pinggangnya.
Guntur melaporkan logistik. "Bahan makanan semua sudah
siap. Ayam 10 ekor, daging 5 kg, ikan 10 kg, sayuran 20 kg, beras 25 kg,
bumbu-bumbu lengkap. Kursi dan meja pinjam dari balai desa, 100 kursi, 20 meja.
Tenda sudah dipasang di titik Beringin, ukuran 10x15 meter, cukup untuk 150
orang."
Pak Jarwo melaporkan lokasi. "Area pengunjung sudah
dipagar dengan bambu sementara. Jalur menuju titik Beringin sudah dibersihkan
dari ranting dan duri. Kancil-kancil kita pindahkan sementara ke Lembah
Harapan, biar nggak terganggu keramaian. Tapi Kiara minta tetap di titik
Beringin. Kayaknya dia nggak mau pergi."
Raka tersenyum. "Biarkan Kiara di sana. Dia bagian
dari keluarga."
Wati melaporkan materi edukasinya. "Papan informasi
sudah dipasang di beberapa titik. Ada tentang kancil, tentang hutan, tentang
sejarah konservasi Bojong Sari. Aku juga siapkan lembaran untuk dibagikan. Dan
satu lagi..." Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah buku kecil
setebal 20 halaman, dengan sampul berwarna hijau muda bergambar pohon beringin
dan kancil.
"Ini apa?" tanya Raka.
"Buku saku untuk pengunjung. Berisi peta hutan,
informasi satwa, tips trekking, dan cerita-cerita tentang Kai dan Tim
Penyelidik Cilik."
Bejo mengambil buku itu, membalik-balik halaman. "Wah,
Ti, lo beneran bikin ini? Keren banget!"
Wati tersenyum malu. "Aku kerjain semalaman. Semoga
berguna."
Bejo melaporkan menunya. "Opor ayam, rendang daging,
ayam bakar, pepes ikan, sayur asem, sambal terasi, lalapan, dan nasi liwet.
Cukup untuk 150 porsi. Cadangan 50 porsi kalau ada tamu tak terduga."
"Tamu tak terduga?" Raka mengernyit.
Bejo tersenyum misterius. "Kita nggak tahu. Mungkin
ada yang datang dari luar desa. Atau mungkin..." Ia menunjuk ke arah
hutan. "Kiara dan kawanannya."
Mereka tertawa.
Raka berdiri, berjalan ke papan tulis. Ia menulis satu kata
besar: BESOK.
"Besok adalah hari penting. Kita akan buktikan, bahwa
konservasi bukan musuh pembangunan. Konservasi adalah pembangunan yang
sebenarnya. Yang berkelanjutan. Yang abadi."
Ia menatap mereka satu per satu.
"Kita sudah mempersiapkan semua. Kita sudah bekerja
keras. Sekarang, saatnya menunjukkan pada warga, bahwa kita punya sesuatu yang
nyata. Bukan hanya mimpi. Bukan hanya angka di kertas. Tapi sesuatu yang bisa
mereka rasakan, mereka cicipi, mereka nikmati."
Bejo berdiri. "Dan yang paling penting, sesuatu yang
bisa mereka banggakan."
Pak Jarwo berdiri. "Kita akan menang."
Wati berdiri. "Kita akan menang."
Guntur berdiri. "Kita akan menang."
Raka mengulurkan tangannya. Mereka meletakkan tangan di
atasnya.
"Untuk Bojong Sari," kata Raka.
"Untuk Bojong Sari," jawab mereka serempak.
8. Fajar di Titik
Beringin
Sabtu pagi, titik Beringin berubah menjadi dapur raksasa.
Bejo sudah ada di sana sejak jam 3 pagi, mempersiapkan api unggun untuk
memasak. Ia datang dengan truk kecil berisi peralatan masak lengkap—kompor
besar, panci raksasa, wajan besi, kuali tanah liat, dan puluhan peralatan kecil
lainnya.
Dani datang jam 4 pagi, membawa istri dan anak-anaknya. Ia
langsung membantu Bejo menyalakan api, memotong sayuran, membersihkan ayam, dan
mengaduk bumbu.
"Jo, ini bawangnya sudah diiris," kata Dani
sambil menyerahkan baskom berisi bawang merah dan bawang putih.
"Bagus, Dan. Sekarang tumis bumbu rendang. Api sedang,
jangan gosong."
Dani mengaduk bumbu dalam wajan besar. Aroma bawang dan
rempah mulai menyebar, memenuhi udara pagi yang masih dingin.
Istrinya membantu mencuci beras untuk nasi liwet. Anak-anak
mereka berlarian di antara pepohonan, tertawa riang, sesekali berhenti untuk
mengamati kancil-kancil yang mulai bermunculan di kejauhan.
Wati datang jam 5 pagi, membawa papan-papan informasi yang
belum sempat dipasang kemarin. Ia memasangnya di sepanjang jalur menuju titik
Beringin, memastikan setiap pengunjung bisa membaca dan belajar.
Guntur datang jam 6 pagi, membawa kursi dan meja tambahan.
Pak Jarwo datang dengan bambu-bambu untuk pagar sementara.
Raka datang terakhir, sekitar jam 7 pagi. Ia membawa buku
catatan lusuhnya dan secangkir kopi hitam dari rumah.
"Bagaimana persiapan?" tanyanya.
Bejo mengacungkan jempol. "Semua siap. Makanan 70
persen. Nasi liwet sudah di kuali, tinggal mateng. Opor ayam sudah meresap.
Rendang masih diaduk, butuh waktu 2 jam lagi. Ayam bakar nanti siang baru
dibakar."
Wati menunjukkan papan-papan informasi. "Semua sudah
terpasang. Materi edukasi siap dibagikan."
Guntur menunjukkan meja dan kursi. "100 kursi sudah
siap. Cadangan 50."
Pak Jarwo menunjukkan pagar bambu. "Area pengunjung
aman. Kancil-kancil tidak akan terganggu."
Raka menghela napas lega. "Bagus. Sekarang kita tunggu
warga datang."
9. Warga Berdatangan
Jam 8 pagi, warga mulai berdatangan. Mereka datang dengan
keluarga, membawa tikar, membawa anak-anak, membawa rasa ingin tahu. Ada yang
masih ragu, ada yang antusias, ada yang penasaran.
Bu Juminten datang dengan kambingnya yang sudah mulai
sehat. Kambing itu berjalan di sampingnya, mengembik pelan, seolah ikut senang.
"Bu Juminten, silakan duduk di depan," kata Raka
sambil mempersilakan. "Kambingnya bisa ditambat di pohon sana. Ada rumput
segar."
Bu Juminten tersenyum. "Makasih, Nak."
Pak Joko datang dengan kursi rodanya, didorong istrinya. Ia
mengenakan batik terbaiknya, rambutnya disisir rapi.
"Pak Joko, di sini kursi khusus," kata Wati
sambil mengarahkan ke tempat yang teduh dekat pohon beringin.
Pak Joko tersenyum. "Ti, kamu makin cantik. Kapan
nyusul Raka?"
Wati tersipu. "Pak Joko, jangan gitu."
Pak Joko tertawa. "Nanti kalian bertiga harus segera
menikah. Biar desa kita punya penerus."
Pak Tani dan Bu Tani datang bersama tetangga-tetangga.
Mereka duduk di tengah, dekat dengan panggung kecil tempat Raka akan bicara.
Mbah Kades datang paling akhir, dengan tongkatnya. Ia
berjalan perlahan, ditemani cucunya yang masih kecil. Ia duduk di kursi
kehormatan yang disediakan, matanya berbinar melihat keramaian yang tercipta di
tengah hutan yang dulu ia jaga.
Jam 9 pagi, titik Beringin sudah penuh. Hampir seluruh
warga Bojong Sari hadir. Mereka duduk di kursi dan tikar yang sudah disediakan,
menikmati udara segar hutan, mendengar kicauan burung, melihat kancil-kancil
yang sesekali lewat di kejauhan.
Di sudut, Dani dan istrinya duduk bersama anak-anak mereka.
Dani memandang sekeliling dengan perasaan campur aduk. Ia melihat Pak Tani dan
Bu Tani yang tersenyum, Pak Joko yang bangga, Bu Juminten yang bahagia, dan
anak-anak yang tertawa riang.
"Ini bagus," bisik istrinya.
Dani mengangguk. "Iya. Ini bagus."
10. Aroma yang Menggoda
Jam 10 pagi, aroma masakan Bejo mulai menyebar. Aroma opor
ayam dengan santan kental dan rempah-rempah. Aroma rendang daging yang meresap,
dengan bumbu yang pekat dan daging yang empuk. Aroma ayam bakar dengan kecap
manis dan sedikit gosong di pinggirnya. Aroma pepes ikan yang dibungkus daun
pisang, dengan kemangi dan tomat yang segar.
Semua mata tertuju pada dapur lapangan yang mengepul.
Anak-anak mulai gelisah, menanyakan kapan makan.
"Sebentar lagi," kata Bejo sambil membalik ayam
bakar. "Rendang masih perlu diaduk. Opor masih perlu diaduk. Nasi liwet
sudah mateng, tinggal disajikan."
Dani membantu mengaduk rendang dengan hati-hati. Tangannya
pegal, tapi ia tidak berhenti. "Jo, ini baunya enak banget."
Bejo tersenyum bangga. "Ini rahasia keluarga. Nanti
gue kasih resep."
Jam 11 pagi, semua makanan siap. Bejo berdiri di depan
dapur, memandangi ratusan warga yang menunggu.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudaraku!" teriaknya.
"Ini bukan sekadar makan bersama. Ini adalah contoh dari apa yang bisa
kita hasilkan dari hutan kita. Semua bahan makanan ini dari desa kita sendiri.
Ayam dari Pak Joko, ikan dari kolam warga, beras dari sawah Pak Tani, sayur
dari kebun Bu Tini, bumbu dari pasar desa. Kita bisa menghasilkan sesuatu yang
luar biasa tanpa merusak alam."
Ia menunjuk ke arah hutan. "Lihat di sana.
Kancil-kancil masih bebas berkeliaran. Burung-burung masih bernyanyi. Sungai
masih jernih. Ini adalah kekayaan kita yang sebenarnya. Kalau kita jaga, dia
akan memberi kita makan. Selamanya."
Ia berhenti, menatap satu per satu wajah warga.
"Ada yang bilang, ekowisata tidak bisa memberi uang
cepat. Itu benar. Tapi uang cepat akan habis cepat. Yang kita bangun di sini
bukan hanya uang. Tapi masa depan. Masa depan anak-anak kita. Masa depan
cucu-cucu kita. Masa depan Bojong Sari."
Ia mengangkat tangannya. "Mari makan!"
Warga bertepuk tangan. Antrean panjang terbentuk. Raka,
Wati, Guntur, Pak Jarwo, Dani, dan beberapa relawan membagikan makanan. Semua
mendapat porsi yang sama: nasi liwet, opor ayam, rendang daging, ayam bakar,
pepes ikan, sayur asem, sambal terasi, lalapan.
Mereka duduk bersama, menikmati hidangan yang disajikan di
tengah hutan yang mereka cintai. Anak-anak makan dengan lahap, orang dewasa
tersenyum puas. Suasana hangat menyelimuti titik Beringin.
Kiara datang dari balik semak, duduk di kejauhan, matanya
menatap keramaian dengan rasa ingin tahu. Bejo mengambil beberapa potong
lalapan dan mendekat.
"Ini, Kiara. Buat kamu."
Kiara mendekat, mengambil lalapan itu, dan makan dengan
tenang di depan Bejo.
Warga yang melihat tersenyum. Ada yang mengambil ponsel,
memotret momen itu.
"Ini yang harus kita jaga," kata Pak Joko dari
kursi rodanya. "Bukan hanya makanan enak. Tapi hubungan kita dengan
alam."
11. Perubahan Hati
Setelah makan, Raka berdiri di depan. Ia tidak membawa
microphone, hanya buku catatan lusuhnya—buku yang sama yang ia bawa sejak masih
kecil.
"Saudara-saudaraku, terima kasih sudah datang. Terima
kasih sudah makan bersama kami. Saya tidak akan berpidato panjang. Saya hanya
ingin bertanya: apakah kalian menikmati makanan ini?"
Semua menjawab serempak. "Iya!"
"Apakah kalian menikmati suasana di sini? Udara segar,
pepohonan, kicauan burung?"
"Iya!"
"Nah, semua ini adalah hasil dari hutan yang kita jaga
selama ini. Kalau hutan ini rusak, kita tidak akan bisa makan enak seperti ini
di tempat yang indah seperti ini. Kita akan kehilangan segalanya."
Ia berhenti, menatap satu per satu wajah warga.
"Saya tahu, banyak dari kalian yang butuh kerjaan.
Butuh uang. Saya mengerti. Tapi percayalah, ada cara lain. Ekowisata, kuliner,
kerajinan tangan, semua bisa dikembangkan tanpa merusak hutan. Dan hasilnya
akan lebih berkelanjutan, untuk anak cucu kita."
Dani berdiri dari tempat duduknya. Semua menoleh.
Dani menatap Raka, lalu menatap warga. Tangannya gemetar,
suaranya bergetar, tapi ia tetap maju.
"Gue... gue mau bilang sesuatu."
Ia mengambil napas panjang.
"Kemarin gue marah-marah. Gue dukung pengusaha itu.
Karena gue pikir, itu satu-satunya jalan. Gue butuh uang buat anak-anak gue.
Buat istri gue. Buat hidup gue."
Ia menunjuk ke arah hutan.
"Tapi hari ini, gue lihat sendiri apa yang bisa kita
hasilkan. Gue makan enak, gue lihat anak gue senang main di hutan, gue lihat
istri gue tersenyum. Ini... ini lebih berharga daripada amplop yang dikasih
Sugiarto."
Ia menatap Raka. Matanya berkaca-kaca.
"Ra, gue minta maaf. Dan gue mau bantu. Apa pun yang
kalian butuh, gue siap."
Raka memeluk Dani. "Makasih, Dan."
Warga bertepuk tangan. Banyak yang terharu. Bu Juminten
menangis. Pak Joko tersenyum bangga. Mbah Kades mengangguk-angguk, matanya
berkaca-kaca.
Dani tidak berhenti di situ. Ia menatap warga yang masih
ragu.
"Saudara-saudara, gue bukan siapa-siapa. Gue cuma
pengangguran yang hampir putus asa. Tapi gue lihat sesuatu di sini. Sesuatu
yang nggak bisa dibeli dengan uang. Hutan ini bukan cuma tempat pohon dan
hewan. Hutan ini rumah kita. Tempat anak-anak kita bermain. Tempat cucu-cucu
kita nanti akan bermain. Kalau kita jual, kita jual masa depan mereka."
Ia mengangkat tangannya.
"Saya, Dani, menyatakan: Saya menolak resor Sugiarto.
Saya memilih Bojong Sari. Saya memilih hutan. Saya memilih masa depan."
Tepuk tangan bergemuruh. Warga yang tadinya ragu, mulai
mengikuti. Satu per satu mereka berdiri, mengangkat tangan, menyatakan
dukungan.
Raka, Wati, Bejo, Guntur, Pak Jarwo, mereka hanya bisa
tersenyum. Air mata bahagia mengalir di pipi mereka.
12. Janji di Bawah Pohon
Beringin
Acara selesai menjelang sore. Warga pulang dengan perut
kenyang dan hati hangat. Mereka membawa pulang cerita tentang makanan enak,
tentang hutan yang indah, tentang kancil-kancil yang lewat di kejauhan. Dan
tentang masa depan yang mungkin.
Raka, Wati, Bejo, Guntur, dan Pak Jarwo duduk di bawah
pohon beringin. Mereka lelah, tapi bahagia.
"Kita berhasil," kata Bejo.
"Belum," kata Raka. "Sugiarto masih ada. Dia
punya uang. Dia punya pengaruh. Tapi setidaknya, sekarang kita punya waktu.
Warga mulai mengerti."
Wati memandang ke arah hutan yang mulai gelap. "Kiara
datang."
Dari balik semak, Kiara keluar. Ia mendekat, duduk di
samping Raka, menyandarkan kepalanya di pangkuannya.
Raka mengelus kepala Kiara. "Kita akan menang, Kiara.
Kita akan menang."
Kiano tidak datang. Mungkin terlalu lelah. Tapi dari
kejauhan, di balik pepohonan, dua mata tua memandang mereka dengan penuh harap.
Kiano tahu, generasi penerusnya ada di tangan yang tepat.
Pak Jarwo yang duduk di samping, tiba-tiba berkata,
"Dani berubah."
Raka mengangguk. "Dani melihat sesuatu yang lebih
berharga dari uang."
"Apa itu?"
"Masa depan. Masa depan anak-anaknya. Masa depan
Bojong Sari."
Mereka diam, menikmati sore yang mulai gelap. Di kejauhan,
suara burung tekukur mulai terdengar, menyambut malam.
Guntur membuka map cokelatnya. "Dani dan beberapa
warga lain sudah mencabut dukungan mereka. Sugiarto sekarang hanya punya
beberapa pendukung. Kita menang."
Belum. Tapi mereka sudah di jalan yang benar.
Matahari terbenam di ufuk barat, meninggalkan sisa cahaya
jingga yang tembus di sela-sela dedaunan. Titik Beringin perlahan sunyi. Hanya
suara jangkrik dan gemericik sungai yang terdengar.
Tapi di hati mereka, ada nyala api yang mulai membara. Api
harapan. Api perjuangan. Api yang tidak akan padam oleh siapa pun, termasuk
Sugiarto dengan uang dan pengaruhnya.
Raka memandang langit yang mulai gelap. Bintang pertama
muncul di ufuk timur. Ia teringat kata-kata ibunya pagi tadi: "Kamu dulu
bisa menyelamatkan hutan ini waktu masih kecil. Sekarang kamu sudah dewasa,
punya ilmu, punya pengalaman. Pasti bisa."
"Iya, Bu. Aku pasti bisa."
Kiara menggerakkan telinganya, setuju.
BERSAMBUNG KE EPISODE 3:
KIARA DAN GENERASI BARU











