Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Rabu, 25 Maret 2026

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 6: PERJUANGAN TERAKHIR KIANO

 


DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI

Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari

Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari

EPISODE 6: PERJUANGAN TERAKHIR KIANO


Bagian 1: Firasat di Pagi Hari

Pagi itu, langit Bojong Sari cerah seperti baru saja dicuci. Biru jernih tanpa setitik awan. Matahari mulai menampakkan ujungnya di balik puncak Manoreh, menyinari desa dengan cahaya keemasan yang hangat. Burung-burung berkicau riang di pohon-pohon randu dan bambu. Suara ayam berkokok bersahutan dari kandang ke kandang. Udara pagi masih dingin, membawa aroma tanah basah dan dedaunan segar setelah hujan tiga hari yang lalu.

Tapi Raka tidak merasakan keindahan itu.

Ia duduk di teras rumahnya, tangan memegang cangkir kopi yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Kopi hitam pahit tanpa gula—kesukaannya sejak kecil. Bu Tani selalu menyeduhnya dengan cara yang sama setiap pagi, menuangkan air panas perlahan ke dalam cangkir keramik tua bergambar pemandangan gunung, membiarkan ampasnya mengendap di dasar, lalu menyajikannya dengan sepotong gula aren di piring kecil. Tapi pagi ini, gula aren itu tidak ia sentuh. Kopi yang dulu selalu ia nikmati dengan lahap, kini terasa hambar di lidahnya. Bukan karena Bu Tani salah meracik, tapi karena pikirannya tidak di sini.

Matanya tertuju pada hutan di kejauhan—pada puncak Manoreh yang masih diselimuti kabut tipis. Kabut itu bergerak perlahan, seperti makhluk hidup yang sedang bernapas. Kadang menebal, menutupi seluruh puncak, kadang menipis, memperlihatkan tebing-tebing curam yang menjulang. Raka bisa melihat garis-garis tebing itu dengan jelas, mengingat setiap lekuknya. Ia sudah hafal sejak kecil, sejak Kai masih hidup, sejak Kai Muda masih muda, sejak Kiano masih kecil dan suka berlari-lari di Lembah Harapan.

Tapi pagi ini, puncak itu terasa jauh. Terasa asing. Seperti ada sesuatu yang hilang.

Bu Tani keluar dari dapur dengan sepotong pisang goreng di piring kecil. Pisang goreng itu masih mengepul, hangat, baru saja diangkat dari wajan. Aroma gula aren dan minyak kelapa menyebar ke seluruh teras, bercampur dengan aroma kopi yang sudah dingin. Bu Tani meletakkan piring di samping cangkir kopi, lalu berdiri sebentar, menatap anaknya. Rambutnya yang putih semua disanggul rapi di belakang kepala, wajahnya yang keriput menyimpan bekas-bekas senyum yang pernah ia berikan sepanjang hidupnya. Tapi pagi ini, senyum itu tidak ada.

"Ra, kamu belum makan," katanya, duduk di kursi bambu di samping Raka. Kursi itu sudah sangat tua, kakinya pernah patah dan disambung dengan tali rafia oleh Pak Tani bertahun-tahun lalu. Setiap kali diduduki, kursi itu berderit pelan, seperti sedang bercerita tentang masa lalu. "Kopinya sudah dingin. Ibu ganti yang baru?"

Raka menggeleng pelan. Gerakannya lambat, seperti orang yang kehabisan energi. "Nggak usah, Bu. Aku nggak haus."

"Tapi kamu belum makan. Pisang gorengnya nanti dingin."

"Nanti, Bu. Nanti aku makan."

Bu Tani tidak memaksa. Ia tahu anaknya sedang tidak ingin diganggu. Tapi sebagai seorang ibu, ia tidak bisa diam. Tangannya yang keriput dan penuh urat menyentuh dahi Raka, merasakan suhu tubuhnya. Dingin. Tidak demam. Tapi ada sesuatu yang lebih dingin di sana.

"Kiano?" tanyanya pelan.

Raka mengangguk. Suarara parau, seperti orang yang baru bangun tidur atau baru saja menangis. "Sejak kebakaran, aku nggak lihat dia. Kiara juga jadi pendiam. Setiap aku tanya, dia cuma diam atau lari ke dalam hutan. Kayak... kayak ada yang disembunyikan."

Bu Tani menghela napas. Napas yang panjang, berat, seperti membawa beban yang tidak terlihat. Ia menggenggam tangan Raka. Tangannya yang keriput terasa hangat, seperti saat Raka kecil dulu, ketika ia jatuh dari pohon jambu dan menangis di pangkuan ibunya. Dulu, pelukan ibunya bisa menyembuhkan segalanya. Luka di lutut, luka di siku, luka di hati. Tapi pagi ini, Raka merasa tidak ada yang bisa menyembuhkan lukanya.

"Ra, Kiano sudah sangat tua. Jauh lebih tua dari Kai Muda waktu dia pergi. Jauh lebih tua dari Kai. Mungkin... mungkin dia hanya ingin pergi dengan tenang. Tanpa ribut. Tanpa tangisan. Tanpa kita semua yang panik. Seperti orang tua yang ingin pamit dengan damai, tanpa membuat yang ditinggalkan terlalu sedih."

Raka menoleh. Matanya yang cokelat terang—warna yang sama dengan mata ayahnya—kini merah, basah. Ia berusaha menahan tangis, tapi suaranya sudah bergetar. "Tapi Bu, aku belum siap. Belum. Aku baru pulang. Aku baru sempat bertemu dia. Belum sempat ngobrol banyak. Belum sempat bilang terima kasih. Belum sempat..."

Ia tidak bisa melanjutkan. Suaranya tersendat. Kata-kata tercekat di tenggorokan, seperti duri yang tidak bisa dikeluarkan. Bu Tani memeluknya. Tangannya yang keriput mengelus rambut Raka, seperti dulu ketika ia masih kecil dan menangis karena kehilangan mainan.

"Nak, tidak ada yang pernah siap. Kai pergi, kamu masih kecil. Kamu menangis berhari-hari. Ibu ingat, kamu duduk di bawah pohon jambu, menangis, memanggil-manggil Kai. Ibu pikir kamu tidak akan pernah berhenti menangis. Tapi akhirnya kamu kuat. Kai Muda pergi, kamu masih remaja. Ibu ingat, kamu diam berhari-hari, tidak mau bicara, tidak mau makan. Ibu pikir kamu akan seperti itu selamanya. Tapi akhirnya kamu pergi ke Jakarta, belajar, menjadi hebat. Sekarang Kiano, kamu sudah dewasa. Tapi perasaan kehilangan tetap sama. Tidak pernah ada yang siap. Tapi kita harus ikhlas. Kiano sudah memberi kita lebih dari yang bisa kita balas. Dia menunggu sepuluh tahun. Dia menunggu kamu pulang. Dia menunggu Kiara dewasa. Sekarang, mungkin sudah waktunya."

Dari dalam rumah, Pak Tani keluar dengan langkah tertatih. Ia sudah mendengar percakapan mereka dari kamar. Kakinya yang dulu kuat membajak sawah berjam-jam, kini hanya mampu berjalan pelan dengan bantuan tongkat kayu jati yang sudah aus gagangnya. Di tangannya, ia membawa sebuah bungkusan kecil berisi nasi dan lauk—nasi uduk dengan ayam goreng, tempe orek, dan sambal terasi. Masakan yang sama yang dulu ia bawa untuk Raka ketika ia masih kecil dan ikut ke sawah.

"Ra, ayah dengar kamu mau ke hutan. Bawa ini. Jangan sampai kelaparan." Ia menyerahkan bungkusan itu, tangannya yang gemetar oleh usia. "Dan..." ia berhenti, menatap anaknya lama. Ada sesuatu di matanya yang tidak pernah Raka lihat sebelumnya. Kesedihan yang dalam, seperti orang yang sudah kehilangan terlalu banyak. "Kalau kamu bertemu Kiano, sampaikan salam ayah. Katakan pada dia, ayah berterima kasih. Sudah menjaga hutan ini. Sudah menjaga anak ayah. Sudah menjaga desa ini. Ayah tidak akan lupa."

Raka menerima bungkusan itu. Tangannya yang muda dan kuat terasa lemah di hadapan tangan ayahnya yang keriput dan gemetar. Ia mencium tangan ayahnya, lalu tangan ibunya. "Makasih, Yah. Makasih, Bu."

Ia berdiri, melangkah keluar pagar bambu yang sudah reyot. Pagar itu dulu dibuat oleh kakeknya, dari bambu yang diambil dari hutan. Sekarang, bambu itu sudah berwarna cokelat tua, retak di sana-sini, beberapa bilahnya sudah patah dan diganti dengan yang baru. Tapi bentuknya masih sama. Masih kokoh. Masih berdiri.

Raka berjalan menuju hutan. Kakinya terasa berat, langkahnya lambat. Ia tidak berlari seperti biasa. Pagi ini, ia ingin menikmati setiap langkah. Setiap pohon yang ia lewati. Setiap dedaunan yang bergeser di bawah kakinya. Setiap suara burung yang ia dengar. Karena ia tidak tahu, apakah Kiano masih ada untuk menikmati semua ini.

Ia melewati rumah Pak Joko yang dulu megah dengan tembok bata dan atap genteng, kini sudah direnovasi menjadi lebih sederhana, lebih ramah lingkungan. Pak Joko sudah tiada dua tahun lalu, meninggalkan warisan berupa kebun sayur organik yang dikelola warga. Ia melewati rumah Bu Juminten yang dulu kecil dan reyot, kini sudah diperbaiki dengan bantuan program konservasi. Bu Juminten sudah tiada setahun lalu, menyusul kambing kesayangannya yang mati lebih dulu. Ia melewati warung kopi RASA yang dulu ramai dengan obrolan para petani, kini dikelola oleh Darmo Jr dengan lebih modern, tapi tetap mempertahankan kursi-kursi bambu dan meja kayu jati tua yang sudah berusia puluhan tahun.

Semua berubah. Semua berlalu. Tapi hutan ini tetap. Pohon-pohon ini tetap. Dan Kiano, sahabatnya, mungkin juga akan berlalu.


Bagian 2: Titik Beringin yang Sunyi

Raka sampai di titik Beringin setengah jam kemudian. Pohon beringin itu masih berdiri kokoh, akarnya yang menjulur ke tanah seperti ular raksasa, batangnya yang besar membutuhkan sepuluh orang dewasa untuk memeluknya, daun-daunnya yang rimbun menaungi seluruh area. Pohon ini sudah ada sejak zaman Kai. Mungkin sejak sebelum Kai lahir. Mungkin sejak sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di Bukit Manoreh.

Bak air di bawahnya penuh, airnya jernih, beberapa ekor kancil sedang minum dengan tenang. Mereka tidak terganggu dengan kehadiran Raka. Mereka sudah terbiasa. Raka adalah teman. Raka adalah keluarga.

Serai wangi di pagar hijau tumbuh subur, daunnya segar, aromanya menyegarkan. Pagar ini dibuat setelah konflik dengan Pak Rasmin, sebagai solusi agar kancil tidak masuk ke sawah. Serai wangi tidak disukai kancil, baunya terlalu tajam, rasanya terlalu pedas. Tapi bagi manusia, serai wangi adalah bumbu dapur yang berharga. Pak Rasmin sekarang setiap hari memanen serai wangi, menjualnya ke pasar, mendapat penghasilan tambahan.

Tapi Kiano tidak ada.

Raka duduk di bawah pohon beringin, di tempat yang biasa diduduki Kiano. Tempat yang dulu diduduki Kai Muda. Tempat yang dulu diduduki Kai. Tanah di bawahnya sudah padat, rata, seperti kursi alami yang terbentuk dari bertahun-tahun diduduki. Raka meletakkan tangannya di tanah itu, merasakan dinginnya, merasakan teksturnya. Di sinilah Kiano duduk setiap pagi, menatap matahari terbit, menatap desa di bawah, menatap hutan yang ia jaga.

Ia ingat pertama kali ia melihat Kiano. Waktu itu Kiano masih kecil, baru beberapa minggu lepas dari induknya. Ia berlari-lari kecil di Lembah Harapan, jatuh bangun, tapi selalu bangkit lagi. Kai Muda, ayah Kiano, duduk di tepi sungai, menatap anaknya dengan bangga. Wati yang pertama kali menemukan Kiano, saat ia sedang memeriksa tanaman obat di pinggir sungai. "Ra, ada kancil kecil!" teriaknya. Mereka berlari mendekat, Kiano ketakutan, lari ke arah ayahnya. Tapi Kai Muda tidak melindunginya. Ia justru mendorong Kiano ke arah mereka. "Kenalkan, ini anakku. Namanya Kiano. Jaga dia."

Sejak itu, Kiano menjadi bagian dari hidup mereka.

Raka berdiri. Ia harus ke Lembah Harapan. Mungkin Kiano ada di sana. Mungkin ia hanya sedang beristirahat di tempat favoritnya. Mungkin ia hanya lelah dan butuh waktu sendiri.

Ia berjalan menyusuri sungai, melewati padang rumput yang mulai hijau, melewati tebing tempat dulu ia dan Bejo hampir jatuh. Ia ingat Kiano kecil, berlari-lari di padang rumput ini, mengejar kupu-kupu, berguling-guling di rumput, sesekali berhenti untuk menjilati tangan Raka. Ia ingat Kai Muda duduk di tepi sungai, matanya yang bijaksana mengawasi anaknya, sesekali tersenyum—sebisanya kancil tersenyum.

Di Lembah Harapan, Kiara sedang duduk di tepi sungai. Sendirian. Biasanya, ia ditemani kawanannya. Tapi pagi ini, hanya Kiara. Ia tidak bergerak, tidak minum, tidak makan. Hanya diam, menatap air yang mengalir. Matanya sayu, telinganya turun, tubuhnya tidak bergerak seperti patung. Air sungai mengalir di depannya, jernih, dingin, membawa dedaunan kering yang jatuh dari pohon-pohon besar. Dedaunan itu berputar-putar di permukaan air, lalu terbawa arus, menghilang di balik tikungan.

"Kiara," panggil Raka pelan, duduk di sampingnya.

Kiara menoleh. Matanya basah. Bukan basah karena air sungai. Basah karena air mata.

"Kiara, aku cari Kiano ke mana-mana. Di titik Beringin, di titik Sungai, di titik Batu, di Tebing Merah. Tidak ada. Aku sudah cek semua tempat favoritnya. Tidak ada. Kamu tahu di mana ayahmu?"

Kiara menunduk. Tubuhnya gemetar. Bulu di punggungnya berdiri, seperti kedinginan, tapi udara pagi tidak sedingin itu. Ini bukan kedinginan fisik. Ini ketakutan. Ini kesedihan. Ini kehilangan yang belum bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

"Kiara... aku tahu dia sakit. Aku tahu dia sudah sangat tua. Tapi aku belum siap. Aku belum..."

Kiara mendekat, menyandarkan kepalanya di pundak Raka. Seperti memeluk. Seperti menangis. Tubuhnya yang muda bergetar, bulunya yang cokelat kemerahan terasa hangat di leher Raka. Tapi ada dingin di sana. Dingin yang tidak bisa dihangatkan oleh apa pun.

"Aku tahu di mana ayahku," katanya lewat bahasa tubuh. Telinganya bergerak perlahan, kepalanya menunduk, matanya tertutup. Bahasa tubuh ini sudah ia kenal sejak kecil, sejak Kai masih hidup, sejak Kai Muda masih muda, sejak Kiano masih kecil. Setiap gerakan, setiap kedipan mata, setiap gerakan telinga, semuanya punya arti. "Tapi dia tidak ingin ditemukan. Dia bilang, dia ingin pergi dengan tenang. Tanpa ribut. Tanpa tangisan. Tanpa kita semua yang panik. Dia bilang, dia tidak ingin kita sedih. Dia bilang, dia ingin kita mengingatnya dengan senyum, bukan dengan air mata."

Raka memeluknya. "Kiara, aku harus bertemu dia. Aku harus pamit. Aku harus bilang terima kasih. Untuk semuanya. Untuk sepuluh tahun menunggu. Untuk menjaga hutan. Untuk menjaga kawanan. Untuk menjaga kamu. Aku harus."

Kiara mengangkat kepalanya. Matanya menatap Raka lama. Matanya yang hitam pekat, seperti cermin yang memantulkan kesedihan Raka sendiri. Lalu, perlahan, ia berdiri.

"Ikuti aku."


Bagian 3: Perjalanan ke Puncak Bukit Manoreh

Kiara berjalan ke arah timur laut. Bukan ke titik Beringin, bukan ke Lembah Harapan, bukan ke Tebing Merah. Tapi ke arah yang tidak pernah Raka kunjungi. Ke arah puncak Bukit Manoreh.

Raka mengikuti. Jalannya terjal, berbatu, dengan semak-semak yang jarang dilalui manusia. Belum pernah ada yang membuat jalur ke sini. Tidak ada papan petunjuk, tidak ada tangga, tidak ada tali pengaman. Hanya tanah, batu, dan semak belukar yang lebat. Kiara berjalan di depan, sesekali menoleh, memastikan Raka masih mengikuti. Langkahnya tidak cepat, tapi pasti. Seperti sudah hafal jalan ini sejak kecil. Seperti sering ke sini.

"Kiara, kamu sering ke sini?" tanya Raka sambil mendaki tebing kecil. Tangannya mencari pegangan di bebatuan yang tajam, kakinya mencari pijakan di tanah yang licin.

Kiara menoleh. "Ayah sering membawaku ke sini. Sejak aku masih kecil, sejak aku baru bisa berjalan. Setiap bulan purnama, kami datang. Ayah bilang, ini tempat yang tenang. Tempat untuk merenung. Tempat untuk berdoa. Tempat untuk mengingat."

"Untuk mengingat?"

"Iya. Kakek Kai Muda dulu suka ke sini. Buyut Kai juga. Mereka datang ke sini setiap bulan purnama. Untuk berdoa. Untuk bersyukur. Untuk meminta kekuatan. Untuk mengingat bahwa mereka bagian dari alam, bukan penguasanya. Untuk mengingat bahwa mereka harus menjaga, bukan merusak."

Raka tertegun. Ia tidak pernah tahu. Selama ini, ia mengira ritual bulan purnama hanya dilakukan di padang rumput dekat Lembah Harapan. Tempat di mana Kai dulu memimpin ritual, di mana Kai Muda dulu memimpin ritual, di mana Kiano dulu memimpin ritual. Ternyata, ada tempat lain yang lebih sakral. Tempat yang hanya diketahui oleh pemimpin. Tempat yang hanya boleh dikunjungi oleh mereka yang memahami arti sebenarnya dari kepemimpinan.

Mereka terus berjalan. Medan semakin berat. Kiara memanjat batu-batu besar dengan lincah, sementara Raka harus merangkak di beberapa tempat, mencari celah di antara bebatuan untuk meletakkan kaki dan tangan. Tangannya lecet, bajunya basah oleh keringat, kakinya pegal. Keringat mengucur deras di keningnya, membasahi matanya, membuat penglihatan kabur. Beberapa kali ia hampir terpeleset, hampir jatuh ke jurang yang dalam. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus mendaki, terus mengikuti Kiara yang berjalan di depan.

Setelah hampir dua jam, mereka sampai. Di puncak Bukit Manoreh, di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjulur ke tanah seperti ular raksasa, terbaring Kiano.


Bagian 4: Di Bawah Pohon Beringin Tua

Pohon beringin di puncak bukit ini berbeda dengan pohon beringin di titik Beringin. Lebih tua, lebih besar, lebih kokoh. Batangnya mungkin butuh dua puluh orang dewasa untuk memeluknya. Akarnya menjulur ke segala arah, ada yang masuk ke dalam tanah, ada yang keluar lagi di tempat lain, membentuk lengkungan-lengkungan alami yang bisa digunakan sebagai tempat berteduh. Daun-daunnya rimbun menutupi seluruh area, menciptakan kanopi yang lebat, hanya sedikit sinar matahari yang bisa menembus. Udara di bawah pohon ini sejuk, lembab, seperti di dalam gua.

Raka berlari. Ia tidak peduli dengan kelelahan, tidak peduli dengan tangan yang lecet, tidak peduli dengan kaki yang pegal. Ia berlari, berlutut di samping Kiano.

"Kiano!"

Kiano membuka mata. Matanya sayu, redup, seperti lampu yang kehabisan minyak. Bulu di sekeliling matanya yang dulu cokelat kemerahan, kini putih semua. Tapi begitu melihat Raka, matanya berbinar. Seperti ada api kecil yang menyala di sana. Seperti ada kehidupan yang tersisa. Ia menggerakkan telinganya, perlahan, seperti sedang mengumpulkan tenaga. Seperti tersenyum. Seperti berkata, "Kau datang."

Raka memeluknya. Tubuh Kiano sudah sangat kurus. Tulang-tulangnya teraba di bawah bulu putih yang kusam. Bulu itu dulu tebal dan mengilap, seperti bulu Kai Muda, seperti bulu Kai. Sekarang, bulu itu tipis dan kering, seperti daun yang jatuh di musim kemarau. Napasnya berat, pendek-pendek, seperti orang yang baru saja berlari jauh. Dadanya naik turun dengan susah payah. Setiap kali ia bernapas, terdengar suara desisan pelan, seperti angin yang berbisik.

"Kiano... kenapa kamu di sini? Kenapa tidak di Lembah Harapan? Kenapa tidak di titik Beringin? Kami cari kamu ke mana-mana. Aku khawatir. Kiara khawatir. Wati khawatir. Bejo khawatir. Semua khawatir. Pak Rasmin tanya. Bu Kasinem tanya. Topan tanya. Dani tanya. Semua tanya."

Kiano menatapnya. Matanya yang redup, masih bisa menyampaikan banyak hal. Masih bisa tersenyum. Masih bisa menenangkan.

"Aku ingin di sini. Di tempat yang tenang. Di tempat yang dulu sering dikunjungi Kai Muda. Di tempat yang dulu sering dikunjungi Kai. Di tempat yang dulu sering dikunjungi leluhurku. Mereka datang ke sini setiap bulan purnama. Duduk di bawah pohon ini. Menatap langit yang penuh bintang. Menatap desa di bawah sana. Menatap hutan yang gelap. Mereka berdoa. Mereka bersyukur. Mereka meminta kekuatan. Aku ingin pergi dari sini. Dari tempat yang suci. Dari tempat yang tenang. Dari tempat yang damai. Dari tempat yang sama dengan mereka."

Raka memeluknya lebih erat. "Kiano... kamu sakit? Kenapa tidak bilang? Kenapa tidak panggil aku? Aku bisa bawa kamu ke klinik. Wati bisa merawat kamu. Wati dokter hewan. Dia pasti bisa. Dia sudah menyembuhkan banyak hewan. Kambing Bu Juminten, ayam Pak Joko, kucing Bu Kasinem. Dia pasti bisa menyembuhkan kamu."

Kiano menggeleng pelan. Gerakannya lemah, nyaris tidak terlihat. Hanya getaran kecil di kepalanya yang menyentuh tangan Raka.

"Bukan sakit, Ra. Hanya tua. Hanya lelah. Hanya ingin istirahat. Aku sudah hidup sangat lama. Lebih lama dari yang seharusnya. Aku sudah melihat Kai Muda pergi. Aku sudah melihat Kai pergi. Aku sudah melihat kalian pergi ke kota. Aku sudah menunggu kalian pulang. Aku sudah melihat Kiara lahir. Aku sudah melihat Kiara tumbuh. Aku sudah melihat Kiara menjadi pemimpin. Aku sudah melihat hutan ini terbakar dan pulih. Aku sudah melihat kemarau dan hujan. Aku sudah melihat semuanya. Sekarang, semuanya sudah. Aku bisa pergi dengan tenang."

Raka menangis. Air matanya jatuh, menetes di bulu putih Kiano. Bulu itu basah, menjadi gelap di tempat yang terkena air mata. Air matanya mengalir deras, tidak bisa ditahan lagi. Ia sudah menahan sejak pagi. Sejak ia bangun dengan perasaan aneh. Sejak ia tidak mendengar suara Kiano di pagi hari. Sejak ia melihat Kiara duduk sendirian di tepi sungai. Sekarang, tangisnya pecah.

"Tapi aku belum siap, Kiano. Aku belum. Aku baru pulang. Aku baru sempat bertemu kamu. Aku baru sempat ngobrol. Aku baru sempat melihat kamu di titik Beringin, di Lembah Harapan, di tempat-tempat favoritmu. Aku belum sempat..."

Kiano mengangkat kepalanya. Dengan sisa tenaganya, ia menjilati air mata di pipi Raka. Lidahnya kasar, kering, tapi hangat. Masih hangat. Masih ada kehidupan di sana.

"Tidak ada yang pernah siap, Ra. Kai pergi, kamu masih kecil. Kau menangis berhari-hari. Ibu kamu cerita, kamu duduk di bawah pohon jambu, memanggil-manggil Kai. Kamu tidak mau makan, tidak mau minum, tidak mau bicara. Tapi akhirnya kamu kuat. Kai Muda pergi, kamu masih remaja. Kau menangis di makamnya, kamu diam berhari-hari. Tapi akhirnya kamu pergi ke Jakarta, belajar, menjadi hebat. Sekarang aku pergi, kamu sudah dewasa. Kau akan menangis. Kau akan sedih. Kau akan kehilangan. Tapi kau akan kuat. Kau akan terus menjaga hutan ini. Kau akan terus menjaga Kiara. Kau akan terus menjaga semua yang sudah kita bangun bersama. Aku percaya pada kamu. Aku selalu percaya."


Bagian 5: Memanggil Wati dan Bejo

Raka mengeluarkan ponselnya. Tangan gemetar, susah menekan tombol. Layar ponsel basah oleh air mata, membuatnya sulit melihat. Angin di puncak bukit cukup kencang, membuat tangannya semakin sulit mengendalikan ponsel. Tapi akhirnya tersambung.

"Wati... ke puncak Bukit Manoreh. Sisi timur. Cepat."

"Ra? Kenapa? Suaramu kenapa? Kamu nangis? Ada apa? Kamu di mana? Kamu sakit? Kamu..."

"Kiano... Kiano di sini. Dia... dia mau..."

Wati tidak menunggu selesai. Ia langsung mematikan ponsel dan berlari. Di rumahnya, ia sedang membantu ibunya memasak sayur asem untuk makan siang. Tangannya masih memegang daun melinjo ketika ponsel berdering. Begitu mendengar suara Raka, daun melinjo itu jatuh. Ia tidak sempat ganti baju, tidak sempat pakai sepatu. Hanya sandal jepit di kakinya. Ia berlari keluar rumah, meninggalkan ibunya yang bingung.

"Ti, kamu ke mana? Sayurnya belum selesai!"

"Nggak sempat, Bu! Darurat!"

Ia berlari melewati jalan desa, melewati titik Beringin, melewati sungai, melewati tebing. Sandal jepitnya lepas di suatu tempat, mungkin di sungai, mungkin di tebing. Ia tidak peduli. Kakinya telanjang, menginjak tanah, menginjak batu, menginjak ranting-ranting kering. Kakinya terluka, berdarah, tapi ia tidak merasakan apa-apa. Ia hanya terus berlari.

Bejo sedang di dapur restorannya ketika ponselnya berdering. Ia baru saja selesai memasak nasi liwet untuk menu siang. Tangannya masih basah, masih bau bawang dan minyak. Ia mengangkat ponsel dengan siku, karena tangannya kotor.

"Jo, ke puncak Bukit Manoreh sisi timur. Kiano... Kiano mau pergi."

Bejo tidak menjawab. Ia meletakkan sendok, mematikan kompor, melepas celemek, dan berlari. Ia tidak sempat memberitahu karyawannya, tidak sempat menutup restoran. Pintu restoran terbuka lebar, kompor masih menyala di beberapa tungku, wajan masih berisi rendang yang setengah matang. Seorang karyawannya berteriak dari belakang, "Chef, mau ke mana? Rendangnya belum diangkat!"

Bejo tidak menjawab. Ia sudah berlari jauh.

Mereka tiba hampir bersamaan. Wati dengan napas tersengal, rambut kusut, mata merah. Sandal jepitnya sudah tidak ada, kakinya telanjang, basah oleh tanah dan embun, terluka oleh batu dan ranting. Bejo dengan tubuh basah keringat, tangan masih bau bawang, wajah pucat seperti orang habis sakit. Bajunya basah, rambutnya basah, matanya merah.

Mereka berlutut di samping Kiano. Tidak ada yang bicara. Hanya menangis.


Bagian 6: Cerita di Bawah Pohon Beringin

Matahari mulai naik, menyinari puncak Bukit Manoreh dengan cahaya keemasan. Sinar matahari menembus celah-celah daun pohon beringin, menciptakan pola-pola cahaya yang indah di tanah. Angin sepoi bertiup, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Burung-burung mulai berkicau, menyambut hari yang cerah. Di kejauhan, terlihat puncak-puncak bukit lain, hijau, segar, seperti lukisan yang tidak pernah selesai.

Mereka duduk di bawah pohon beringin, di samping Kiano yang terbaring lemah. Tidak ada yang bicara. Tidak perlu. Kiano membuka mata. Matanya yang redup, tiba-tiba terang. Seperti ada api kecil yang menyala di sana. Seperti ada matahari kecil di dalam matanya.

"Raka," panggilnya.

Raka mendekat. "Ya, Kiano?"

"Aku ingin bercerita. Tentang kakekku. Tentang Kai Muda."

Raka terkejut. Kiano tidak pernah bercerita tentang Kai Muda. Selama ini, ia hanya diam, menjaga, memimpin. Tidak pernah mengungkit masa lalu. Tidak pernah bercerita tentang masa kecilnya, tentang ayahnya, tentang kakeknya. Tidak pernah. Mungkin ia ingin menyimpan semua kenangan itu untuk dirinya sendiri. Atau mungkin ia menunggu waktu yang tepat.

"Kakekku, Kai Muda, dulu sering membawaku ke sini. Ke puncak bukit ini. Setiap bulan purnama, kami datang. Kami duduk di bawah pohon beringin ini. Menatap langit yang penuh bintang. Menatap desa di bawah sana. Menatap hutan yang gelap. Di sinilah dia bercerita tentang Kai. Tentang kalian. Tentang persahabatan yang indah. Tentang bagaimana kalian menyelamatkan hutan. Tentang bagaimana kalian menyelamatkan kawanan. Tentang bagaimana kalian tidak pernah menyerah, meskipun semua orang dewasa sudah menyerah. Tentang bagaimana kalian bertiga, masih kecil, berani masuk hutan sendirian."

Raka memegang kepalanya. "Kiano..."

"Dia bilang, 'Kiano, suatu saat nanti, kamu akan bertemu dengan mereka. Dengan Raka, Wati, Bejo. Mereka bukan manusia biasa. Mereka istimewa. Mereka punya hati yang besar. Mereka punya tekad yang kuat. Mereka tidak akan pernah meninggalkan kita. Jaga mereka. Seperti aku menjaga Kai. Seperti Kai menjaga aku. Mereka sahabat kita. Mereka keluarga. Mereka tidak akan pernah meninggalkan kita, dan kita tidak boleh meninggalkan mereka.'"

Raka menangis. "Kiano..."

"Aku menunggu lama. Tahun berganti. Musim berganti. Kemarau datang, hujan datang. Kai Muda pergi. Aku menjadi pemimpin. Aku menjaga hutan. Aku menjaga kawanan. Aku menjaga Kiara. Tapi aku selalu menunggu. Menunggu kalian pulang. Setiap pagi, aku ke titik Beringin. Setiap sore, aku ke Lembah Harapan. Setiap malam, aku ke puncak bukit ini. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Tidak pernah lelah. Tidak pernah putus asa. Karena aku tahu, kalian akan kembali. Kai Muda bilang begitu. Kai juga bilang begitu."

Matanya berbinar.

"Dan kalian pulang. Kalian datang. Kalian membawa Kiara. Kalian menyelamatkan hutan. Kalian menyelamatkan kawanan. Kalian menyelamatkan desa. Kalian menyelamatkan semuanya. Kalian tidak mengecewakan. Kalian tidak pernah mengecewakan. Aku bisa pergi dengan tenang. Aku bisa bertemu Kai Muda. Aku bisa bertemu Kai. Mereka pasti menunggu. Mereka pasti sudah lama menunggu."


Bagian 7: Wati Bercerita

Wati duduk di samping Kiano. Tangannya yang biasa memeriksa hewan sakit dengan tegas dan pasti, kini lembut mengelus kepala kancil tua itu. Jari-jarinya yang lincah, yang biasa memegang jarum suntik dan alat bedah, kini bergerak lambat, penuh kasih, mengusap bulu putih yang kusam.

"Kiano, aku ingat waktu pertama kali aku melihatmu. Waktu itu kamu masih kecil, baru beberapa minggu lepas dari indukmu. Aku sedang memeriksa tanaman obat di pinggir sungai Lembah Harapan. Tiba-tiba aku melihat gerakan di balik semak. Aku kira ular. Aku hampir lari. Tapi ternyata kamu. Kamu lari-lari kecil, jatuh bangun, tapi selalu bangkit lagi. Bulumu masih tipis, kakimu masih goyah, matamu masih sayu. Tapi kamu sudah berani menjelajah."

Kiano menggerakkan telinganya. Seperti mengingat.

"Kai Muda, ayahmu, duduk di tepi sungai, menatapmu dengan bangga. Dia tidak melindungimu, tidak menghalangimu. Dia membiarkan kamu jatuh, membiarkan kamu bangkit sendiri. Aku bertanya padanya, 'Kenapa Ayah tidak membantu?' Dia menjawab, 'Dia harus belajar sendiri. Dia harus jatuh sendiri. Dia harus bangkit sendiri. Itu satu-satunya cara dia menjadi kuat.'"

Wati menangis. "Dan kamu kuat, Kiano. Kamu menjadi pemimpin yang hebat. Kamu menjaga hutan ini. Kamu menjaga kawanan. Kamu menjaga kami. Kai Muda pasti bangga. Kai pasti bangga. Aku bangga menjadi bagian dari hidupmu."

Kiano menjilati tangannya. Lidahnya lemah, tapi penuh kasih.

"Kamu sudah menjagaku, Ti. Kamu sudah menjagaku dengan baik. Kamu sudah menjadi dokter hewan yang hebat. Kamu sudah menyembuhkan banyak hewan. Kamu sudah menyelamatkan banyak nyawa. Aku bangga. Kai Muda pasti bangga. Kai pasti bangga. Aku bangga menjadi bagian dari hidupmu. Aku bangga dipanggil sahabatmu."


Bagian 8: Bejo Bercerita

Bejo duduk di samping Kiano. Tangannya yang biasa memotong sayuran dengan lincah, meracik bumbu dengan presisi, mengaduk rendang dengan sabar, kini gemetar mengelus punggung kancil tua itu. Ia tidak pernah bisa menahan tangis. Dari kecil, ia selalu yang paling mudah menangis. Waktu Kai pergi, ia menangis paling keras. Waktu Kai Muda pergi, ia menangis paling lama. Sekarang Kiano pergi, ia menangis paling sedih.

"Kiano, lo ingat waktu gue pertama kali masak buat lo? Waktu itu gue masih kecil, baru belajar masak nasi goreng. Ibu gue ngajarin. 'Jo, tumis bawang dulu, terus kasih telur, terus kasih nasi, terus kasih kecap.' Gue ikutin. Tapi gue kasih kecap terlalu banyak. Nasi gorengnya hitam. Tapi gue kasih ke lo."

Kiano menggerakkan telinganya. Seperti tertawa.

"Lo makan, lo langsung muntah. Gue kira lo sakit. Gue panik. 'Kiano, Kiano, kenapa lo? Lo keracunan? Lo mau mati? Jangan mati, Kiano! Gue masih butuh lo! Siapa lagi yang mau nemenin gue masak?' Ternyata, nasi goreng gue terlalu asin. Dan terlalu manis. Dan terlalu pahit. Pokoknya nggak enak. Gue coba sendiri, gue juga muntah."

Bejo tertawa di antara tangisnya. "Lo muntahin, tapi lo jilat tangan gue. Lo maafin gue. Lo nggak marah. Lo cuma diam, lihat gue, lalu jilat tangan gue. Sejak itu, gue belajar masak yang enak. Buat lo. Buat semua. Buat yang datang. Lo yang pertama kali mengajarkan gue, bahwa masak itu bukan soal enak. Masak itu soal hati."

Ia memeluk Kiano. "Kiano, gue janji. Gue akan terus masak. Masak yang enak. Buat lo. Buat Kiara. Buat kawanan lo. Buat semua yang datang. Lo boleh pergi, tapi gue akan terus masak. Untuk mengenang lo. Untuk membuat lo bangga. Untuk membuat semua orang yang datang merasakan kehangatan yang lo berikan."

Kiano menjilati tangannya. Lidahnya lemah, tapi penuh kasih.

"Kamu koki terbaik, Jo. Masakanmu selalu enak. Aku rindu. Aku rindu nasi liwetmu. Aku rindu rendangmu. Aku rindu sambal terasimu. Aku rindu lalapanmu. Tapi aku sudah tidak bisa makan lagi. Maaf. Terima kasih untuk semua masakanmu. Aku akan rindu. Aku akan rindu setiap kali kamu memasak untukku."


Bagian 9: Kiara Bercerita

Kiara masih menyandarkan kepalanya di leher ayahnya. Tidak bergerak. Tidak bicara. Hanya menangis. Air matanya jatuh, menetes di bulu putih ayahnya, jatuh di tanah yang kering, jatuh di hati semua yang melihat. Kiano menjilati kepalanya. Lidahnya lemah, tapi penuh kasih.

"Kiara, ayah ingin bercerita. Tentang kamu. Tentang hari pertama kamu lahir."

Kiara mengangkat kepalanya. Matanya basah.

"Kamu lahir di musim kemarau. Waktu itu, hutan sedang sulit. Air sedikit, makanan sedikit. Ayah khawatir. Ayah khawatir kamu tidak akan selamat. Ayah khawatir kamu akan lemah. Ayah khawatir kamu tidak akan bisa menjadi pemimpin. Ayah berdoa. Ayah berdoa setiap hari. Di titik Beringin, di Lembah Harapan, di puncak bukit ini. 'Tolong, jaga anakku. Tolong, beri dia kekuatan. Tolong, buat dia kuat.'"

Kiara menangis lagi.

"Tapi kamu kuat. Kamu lahir dengan selamat. Kamu kecil, lemah, matamu masih tertutup. Tapi kamu sudah kuat. Ayah tahu, sejak hari pertama, sejak kamu membuka mata untuk pertama kalinya, sejak kamu menatap ayah dengan mata yang masih sayu, ayah tahu, kamu akan menjadi pemimpin yang hebat. Lebih hebat dari ayah. Lebih hebat dari kakek. Lebih hebat dari buyut."

"Ayah ingat, waktu kamu pertama kali belajar jalan. Kamu jatuh bangun, seperti ayah dulu. Kamu jatuh, menangis, bangkit, jatuh lagi, menangis lagi, bangkit lagi. Tapi kamu tidak menyerah. Kamu terus mencoba. Sampai akhirnya kamu bisa berdiri. Sampai akhirnya kamu bisa berjalan. Sampai akhirnya kamu bisa berlari. Ayah bangga. Ayah menangis melihatmu berlari untuk pertama kalinya. Menangis haru. Menangis bahagia."

"Ayah juga ingat, waktu kamu pertama kali memimpin kawanan. Kamu ragu, kamu takut. Kamu tidak percaya diri. Kamu pikir kamu tidak bisa. Tapi kamu tidak mundur. Kamu berdiri, menatap mereka, dan berkata, 'Ikuti aku.' Mereka mengikuti. Sejak itu, mereka percaya. Sejak itu, kamu menjadi pemimpin. Sejak itu, tidak ada yang meragukanmu. Ayah bangga. Ayah bangga menjadi ayahmu."

Kiano menatap Kiara. Matanya redup, tapi masih bersinar. Masih ada cinta di sana. Masih ada harapan. Masih ada kepercayaan.

"Kiara, ayah akan pergi. Tapi ayah tidak akan pergi jauh. Ayah akan selalu di sini. Di hutan ini. Di pohon beringin ini. Di angin yang membawa aroma dedaunan. Di air sungai yang mengalir jernih. Di setiap napas yang kau ambil. Di setiap langkah yang kau ambil. Di setiap keputusan yang kau buat. Ayah tidak akan pernah pergi. Ayah tidak akan pernah meninggalkanmu. Ayah akan selalu menjagamu. Dari tempat yang lebih baik."


Bagian 10: Matahari di Puncak Bukit

Matahari tepat di atas kepala. Panasnya tidak menyengat, karena pohon beringin tua itu menaungi mereka semua. Daun-daunnya rimbun, akarnya besar, batangnya kokoh. Pohon ini sudah ada sejak zaman Kai. Mungkin sejak sebelum Kai lahir. Mungkin sejak sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di Bukit Manoreh. Pohon ini telah menyaksikan banyak hal. Telah menyaksikan Kai lahir, tumbuh, menjadi pemimpin, dan pergi. Telah menyaksikan Kai Muda lahir, tumbuh, menjadi pemimpin, dan pergi. Telah menyaksikan Kiano lahir, tumbuh, menjadi pemimpin, dan sekarang akan pergi.

Kiano membuka mata. Matanya yang redup, tiba-tiba berbinar. Sangat terang. Seperti matahari yang keluar dari balik awan. Seperti bulan purnama yang bersinar di tengah malam. Seperti bintang yang jatuh di ufuk timur.

"Kai..." bisiknya.

Raka terkejut. "Kiano?"

"Kai datang. Dia berdiri di samping pohon itu. Di bawah pohon beringin. Dia tersenyum. Dia memanggilku. Dia bilang, 'Kiano, ke sini. Aku sudah menunggu. Sudah lama.'"

Raka memandang ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pohon, hanya langit, hanya angin.

"Dan Kai Muda. Dia di samping Kai. Dia juga tersenyum. Dia juga memanggilku. 'Kiano, ke sini. Kita sudah menunggu. Sudah lama. Jangan menunggu lebih lama lagi. Kemarilah.'"

Kiano mencoba bangkit. Tubuhnya yang lemah, tidak mampu. Raka memeluknya.

"Kiano, jangan pergi. Belum. Aku belum siap. Kami belum siap. Kiara belum siap. Belum. Masih banyak yang harus kita lakukan. Masih banyak yang harus kita jaga. Masih banyak."

Kiano menatapnya. Matanya yang redup, masih bisa tersenyum. Masih bisa menenangkan. Masih bisa menguatkan.

"Tidak ada yang pernah siap, Ra. Kai pergi, kamu belum siap. Kai Muda pergi, kamu belum siap. Sekarang aku pergi, kamu belum siap. Tapi aku harus pergi. Ini sudah waktunya. Mereka sudah menunggu. Mereka sudah lama menunggu. Aku tidak boleh membuat mereka menunggu lebih lama lagi."

Ia menatap Kiara. Matanya yang redup, masih bisa menyampaikan cinta.

"Jaga kawananmu. Jaga hutan ini. Jaga mereka. Raka, Wati, Bejo. Mereka sahabatmu. Mereka keluarga. Mereka tidak akan pernah meninggalkanmu. Jangan pernah tinggalkan mereka. Jangan pernah. Mereka butuh kamu. Seperti aku butuh mereka."

Kiara mengangguk. Air matanya jatuh.

Kiano menatap Wati.

"Terima kasih sudah menjagaku. Terima kasih sudah menyembuhkanku. Kamu dokter hewan terbaik. Kai Muda pasti bangga. Kai pasti bangga. Aku bangga menjadi bagian dari hidupmu. Aku bangga dipanggil sahabatmu."

Wati memegang kepalanya. "Kiano..."

Kiano menatap Bejo.

"Terima kasih sudah memasak untukku. Masakanmu selalu enak. Aku rindu. Tapi aku sudah tidak bisa makan lagi. Maaf. Terima kasih untuk semua masakanmu. Aku akan rindu. Aku akan rindu setiap kali kamu memasak untukku."

Bejo memeluknya. "Kiano..."

Kiano menatap Raka. Matanya yang redup, tiba-tiba terang. Sangat terang. Seperti matahari yang keluar dari balik awan. Seperti bulan purnama yang bersinar di tengah malam. Seperti bintang yang jatuh di ufuk timur.

"Raka... terima kasih sudah menjadi sahabatku. Terima kasih sudah menemaniku. Terima kasih sudah menjaga hutan ini. Terima kasih sudah menjaga Kiara. Terima kasih sudah pulang. Aku menunggu sepuluh tahun. Sepuluh tahun yang panjang. Tapi semua terasa singkat karena aku tahu kamu akan kembali. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku akan menunggumu di sana. Di tempat yang tenang. Di tempat yang damai. Di tempat yang indah. Di tempat di mana aku bisa berlari lagi."

Raka memeluknya. "Kiano... aku juga tidak akan pernah melupakanmu. Selamanya. Sampai kapan pun. Sampai kita bertemu lagi di sana. Di tempat yang tenang. Di tempat yang damai. Di tempat yang indah. Di tempat di mana kita bisa berlari bersama."


Bagian 11: Detik Terakhir

Kiano memejamkan mata. Napasnya lambat, dalam, teratur. Tidak seperti orang yang sekarat. Seperti orang yang sedang tidur nyenyak setelah lelah seharian. Dadanya naik turun perlahan, tenang, damai. Tidak ada lagi suara desisan dari napasnya. Tidak ada lagi getaran di tubuhnya. Hanya ketenangan yang sempurna.

"Aku ingin bercerita satu lagi," katanya. Matanya masih tertutup.

Raka mendekat. "Cerita apa, Kiano?"

"Tentang mimpi. Mimpi yang aku impikan semalam."

Mereka diam. Menunggu.

"Aku mimpi berlari. Berlari di padang rumput yang luas. Rumputnya hijau, segar, basah oleh embun. Bunga-bunga bermekaran di mana-mana. Warnanya merah, kuning, ungu, putih. Aroma bunga menyebar di udara. Di kejauhan, ada pohon beringin besar. Lebih besar dari pohon di titik Beringin. Lebih besar dari pohon di puncak bukit ini. Di bawah pohon itu, Kai duduk. Kai Muda di sampingnya. Mereka tersenyum. Mereka memanggilku. 'Kiano, ke sini. Lari. Kejar kami.'"

Ia membuka mata. Matanya yang redup, kini terang. Sangat terang.

"Aku berlari. Aku berlari mengejar mereka. Dan aku bisa. Aku bisa mengejar. Aku tidak lagi tua. Aku tidak lagi lemah. Aku tidak lagi sakit. Aku muda lagi. Aku kuat lagi. Aku bisa berlari. Kakiku ringan, dadaku penuh udara, mataku terang. Aku berlari, dan mereka menunggu. Kai tertawa. Kai Muda melambai. Mereka menunggu. Mereka tidak sabar."

Raka menangis. "Kiano..."

"Aku senang, Ra. Aku senang bisa berlari lagi. Aku senang bisa bertemu mereka lagi. Aku senang tidak lagi sendiri. Aku senang tidak lagi menunggu. Aku senang..."

Napasnya terputus. Matanya terpejam. Dadanya tidak bergerak. Kepalanya jatuh, lemah, di pangkuan Raka. Lidahnya yang tadi menjilat, kini diam. Telinganya yang tadi bergerak, kini diam. Ekornya yang tadi bergoyang, kini diam.

Kiano pergi.


Bagian 12: Keheningan di Puncak Bukit

Raka memeluknya. "Kiano... Kiano... Kiano..."

Ia tidak bisa berkata lain. Hanya nama Kiano yang keluar dari mulutnya. Berulang-ulang. Seperti mantra. Seperti doa. Seperti harapan agar kancil tua itu membuka mata lagi. Seperti harapan agar semua ini hanya mimpi. Seperti harapan agar ia bisa membangunkan Kiano dan mereka bisa berlari bersama lagi di Lembah Harapan.

Wati menangis. Tangisnya pecah, tidak bisa ditahan lagi. Ia memeluk Kiano, memeluk Raka, memeluk Kiara. Ia tidak peduli dengan bajunya yang basah, tidak peduli dengan rambutnya yang kusut, tidak peduli dengan kakinya yang telanjang dan kotor dan berdarah. Ia hanya ingin memeluk. Memeluk semua yang masih tersisa.

Bejo menangis. Ia tidak bisa berkata-kata. Hanya air mata yang jatuh. Jatuh di bulu putih Kiano. Jatuh di tanah yang kering. Jatuh di hati semua yang melihat. Ia ingat Kiano kecil yang suka ikut ke dapur, duduk di sampingnya, menunggu masakan matang. Ia ingat Kiano menjilati tangannya setiap kali ia marah. Ia ingat Kiano selalu ada. Selalu.

Kiara menjerit. Suara lengkingan panjang, melengking, memecah kesunyian puncak bukit. Suara itu bergema dari tebing ke tebing, dari lembah ke lembah, dari hutan ke hutan. Kawanan kancil yang berkumpul di Lembah Harapan mendengar. Mereka menunduk, memberi hormat. Mereka tahu. Pemimpin mereka telah pergi.

Matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan menyinari puncak Bukit Manoreh. Angin sepoi bertiup, membawa aroma dedaunan dan tanah basah. Burung-burung mulai kembali ke sarang, suara mereka sayup-sayup terdengar, seperti lagu perpisahan. Di kejauhan, awan mulai berubah warna menjadi jingga, merah, ungu. Senja akan segera tiba.

Mereka duduk di samping Kiano. Tidak bergerak. Tidak bicara. Hanya menangis.

Raka memegang kepala Kiano. "Kiano, kamu sudah menunggu sepuluh tahun. Kamu sudah menunggu aku pulang. Kamu sudah menunggu Kiara dewasa. Kamu sudah menunggu hutan ini aman. Sekarang, pergilah. Bertemulah dengan Kai. Bertemulah dengan Kai Muda. Mereka pasti menunggu. Mereka pasti sudah tidak sabar."

Ia meletakkan tangannya di dada Kiano.

"Selamat jalan, sahabatku. Selamat jalan. Sampai kita bertemu lagi di padang rumput yang luas. Sampai kita bisa berlari bersama lagi. Sampai kita bisa tertawa bersama lagi. Sampai kita bisa menikmati senja bersama lagi. Selamat jalan."


Bagian 13: Membawa Kiano Pulang

Matahari mulai terbenam. Mereka harus membawa Kiano pulang. Tidak boleh ditinggalkan di puncak bukit. Harus dikubur di samping Kai dan Kai Muda, di bawah pohon beringin di titik Beringin. Di tempat di mana mereka biasa duduk bersama. Di tempat di mana mereka biasa menikmati pagi. Di tempat di mana mereka biasa menyaksikan matahari terbit.

Raka menggendong Kiano. Tubuhnya yang dulu ringan, kini terasa berat. Bukan berat fisik. Berat kenangan. Berat perjalanan yang mereka lalui bersama. Berat persahabatan yang tidak akan pernah berakhir. Berat cinta yang tidak akan pernah pudar.

Wati berjalan di sampingnya. "Kiano, kita akan bawa kamu pulang. Ke titik Beringin. Ke tempat kamu dulu suka duduk. Di samping kakekmu. Di samping buyutmu. Kamu akan beristirahat di sana. Tenang. Damai. Bersama mereka. Bersama keluarga yang sudah menunggu."

Bejo di belakang. "Kiano, gue janji. Gue akan terus masak. Gue akan terus jaga hutan. Gue akan terus jaga Kiara. Gue akan terus jaga semua yang lo titip. Lo nggak usah khawatir. Lo istirahat aja. Gue akan buat semua yang lo mau. Gue akan buat nasi liwet kesukaan lo. Gue akan buat rendang kesukaan lo. Gue akan buat sambal terasi kesukaan lo. Gue akan taruh di makam lo. Setiap hari. Setiap minggu. Setiap bulan. Lo nggak usah khawatir. Lo nggak usah lapar di sana."

Kiara di depan, memimpin jalan. Matanya masih basah, tapi tidak menangis. Kancil tidak menangis seperti manusia. Tapi ia berjalan tegak. Ia pemimpin. Ia harus kuat. Untuk kawanannya. Untuk hutan. Untuk ayahnya.

Perjalanan pulang terasa panjang. Mereka melewati Lembah Harapan. Kancil-kancil berkumpul, menunduk, memberi hormat. Mereka tahu. Mereka tahu pemimpin mereka telah pergi. Mereka akan merindukannya. Mereka akan mengingatnya. Mereka akan melanjutkan perjuangannya.

Mereka melewati titik Batu. Bak air masih penuh, airnya jernih. Kancil-kancil yang sedang minum, berhenti, menunduk.

Mereka melewati titik Sungai. Sungai yang kemarin kering, kini mengalir lagi. Airnya jernih, dingin, membawa dedaunan kering.

Mereka sampai di titik Beringin. Matahari sudah terbenam. Gelap, tapi bulan purnama mulai naik, menerangi pohon beringin yang megah. Cahaya bulan menyinari makam-makam di bawahnya, membuatnya tampak bercahaya.

Di bawah pohon itu, dua makam berjajar. Kai. Kai Muda. Kini, Kiano akan bergabung dengan mereka.


Bagian 14: Mengubur Kiano

Raka, Wati, dan Bejo menggali tanah di samping makam Kai Muda. Mereka menggali dengan tangan, seperti dulu. Tanahnya gembur, dicampur akar-akar halus dan dedaunan kering. Setiap genggaman tanah yang mereka angkat, terasa berat. Bukan berat fisik. Berat kenangan.

"Aku ingat Kiano," kata Bejo sambil menggali. Tangannya gemetar, tanah menempel di kuku, di sela-sela jari. "Waktu dia masih kecil, dia suka ikut aku ke mana-mana. Aku masak, dia duduk di samping. Aku makan, dia minta jatah. Aku lagi marah, dia diem aja, cuma liatin aku. Dia selalu ada. Di setiap langkahku. Di setiap hariku. Di setiap masakanku."

"Aku ingat Kiano," kata Wati. "Waktu dia pertama kali memimpin kawanan. Dia ragu, dia takut. Dia pikir dia tidak bisa. Tapi dia tidak mundur. Dia berdiri, menatap mereka, dan berkata, 'Ikuti aku.' Mereka mengikuti. Sejak itu, dia menjadi pemimpin yang hebat. Sejak itu, tidak ada yang meragukannya. Sejak itu, dia menjadi teladan bagi semua."

Raka tidak bicara. Ia hanya menggali, terus menggali, sampai lubang itu cukup dalam. Cukup untuk menampung tubuh Kiano yang sudah kurus, yang sudah ringan seperti dedaunan kering. Cukup untuk menjadi tempat istirahat terakhirnya.

Mereka mengangkat tubuh Kiano dengan hati-hati. Meletakkannya di dalam lubang, perlahan, penuh hormat.

Raka meletakkan setangkai bunga di dadanya. Bunga liar yang tumbuh di puncak Bukit Manoreh, tempat Kiano menghabiskan hari terakhirnya. Bunga yang sama yang dulu ia petik untuk Kai. Untuk Kai Muda. Sekarang untuk Kiano.

"Selamat jalan, Kiano," bisik Raka. "Sampaikan salamku pada Kai. Pada Kai Muda. Katakan pada mereka, aku akan menjaga Kiara. Aku akan menjaga hutan. Aku akan menjaga semua yang sudah kalian titipkan. Aku tidak akan mengecewakan. Aku tidak akan pernah melupakan."

Wati meletakkan segenggam tanah di atas tubuh Kiano. "Terima kasih sudah menunggu kami. Terima kasih sudah menjaga semuanya. Terima kasih sudah menjadi sahabat. Istirahatlah. Kami akan menjaganya. Kami akan menjaga semuanya."

Bejo meletakkan segenggam tanah juga. "Kiano, lo sahabat terbaik. Aku akan merindukan lo. Tapi aku tahu, lo sekarang lagi berlari. Berlari di padang rumput yang luas, bersama Kai, bersama Kai Muda. Lo pasti bahagia di sana. Semoga lo bahagia. Sampai kita bertemu lagi."

Mereka menimbun lubang itu dengan tanah, dengan daun, dengan bunga. Di atasnya, mereka menancapkan sebatang pohon beringin kecil—anakan dari pohon beringin besar di atasnya. Simbol bahwa kehidupan terus berlanjut. Bahwa kematian bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang baru.


Bagian 15: Kiara di Makam Ayahnya

Kiara berdiri di samping makam ayahnya. Tidak bergerak. Tidak menangis. Hanya diam.

Raka duduk di sampingnya. "Kiara, kamu tidak sendiri. Kami di sini. Kami akan selalu di sini. Untuk kamu. Untuk kawananmu. Untuk hutan ini."

Kiara menatapnya. Matanya basah.

"Aku tahu. Aku tidak sendiri. Aku punya kawanan. Aku punya hutan. Aku punya kalian. Aku punya kenangan. Aku punya cinta."

Ia menyandarkan kepalanya di pundak Raka.

"Tapi aku akan merindukannya. Setiap hari. Setiap kali aku ke titik Beringin. Setiap kali aku ke Lembah Harapan. Setiap kali aku ke puncak bukit. Aku akan merindukannya. Aku akan merindukan suaranya. Aku akan merindukan jilatannya. Aku akan merindukan kehadirannya. Aku akan merindukan nasihatnya. Aku akan merindukan pelukannya."

Raka memeluknya. "Kita semua akan merindukannya, Kiara. Tapi dia tidak akan pergi. Dia akan selalu di sini. Di hutan ini. Di pohon beringin ini. Di angin yang membawa aroma dedaunan. Di air sungai yang mengalir jernih. Di setiap napas yang kau ambil. Di setiap langkah yang kau ambil. Di setiap keputusan yang kau buat. Dia tidak akan pernah pergi. Dia tidak akan pernah meninggalkanmu."


Bagian 16: Pak Jarwo Datang

Pak Jarwo datang dari balik semak. Ia sudah mendengar kabar dari warga. Ia tidak bisa datang lebih cepat karena kakinya sudah tidak kuat. Tapi ia datang. Dengan tongkat, dengan langkah tertatih, dengan napas tersengal. Ia datang. Karena Kiano adalah sahabatnya. Karena Kiano adalah bagian dari hidupnya. Karena ia harus memberi penghormatan terakhir.

Ia duduk di samping makam Kiano, meletakkan tangannya di tanah. Tanah itu masih basah, masih baru, masih berbau.

"Kiano... saya sudah tua. Saya tidak akan lama lagi. Tapi saya senang, saya sempat melihatmu menjadi pemimpin yang hebat. Saya senang, saya sempat melihat Kiara tumbuh dewasa. Saya senang, hutan ini masih aman. Terima kasih sudah menjaga semuanya. Terima kasih sudah menjaga kami. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup kami. Terima kasih sudah menjadi sahabat. Saya tidak akan lupa. Saya tidak akan pernah lupa."

Ia menatap Raka, Wati, Bejo.

"Anak-anak, Kiano pergi. Tapi Kiara ada. Kawanan ada. Hutan ada. Kita harus terus menjaga. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti. Jangan pernah lupa apa yang diajarkan Kiano. Jangan pernah lupa apa yang diajarkan Kai Muda. Jangan pernah lupa apa yang diajarkan Kai. Mereka mengajarkan kita untuk menjaga. Mereka mengajarkan kita untuk mencintai. Mereka mengajarkan kita untuk tidak pernah menyerah."

Raka mengangguk. "Kami tidak akan menyerah, Pak. Janji. Kami akan terus menjaga. Untuk mereka. Untuk kalian. Untuk anak cucu kita. Selamanya. Sampai kapan pun. Sampai hutan ini tetap hijau. Sampai kancil-kancil ini tetap berlari. Sampai generasi berikutnya mengerti apa yang sudah kita perjuangkan."


Bagian 17: Warga Datang

Kabar tentang kepergian Kiano menyebar cepat. Warga Bojong Sari datang satu per satu. Mereka datang dengan bunga, dengan doa, dengan kenangan. Mereka datang dengan air mata, dengan senyum, dengan harapan. Mereka datang karena Kiano bukan hanya kancil. Kiano adalah bagian dari desa. Kiano adalah bagian dari keluarga. Kiano adalah bagian dari hidup mereka.

Pak Rasmin datang dengan langkah berat, menunduk di depan makam. "Kiano, saya minta maaf. Dulu saya marah sama kancil. Saya mau usir kalian. Saya mau pasang jerat. Tapi kamu mengajarkan saya, bahwa alam bukan musuh. Alam adalah saudara. Terima kasih. Saya tidak akan lupa. Saya akan terus menjaga pagar hijau. Saya akan terus menjaga sawah. Saya akan terus menjaga hutan. Untuk kamu. Untuk Kiara. Untuk anak cucu saya."

Bu Kasinem datang dengan bunga dari kebunnya. Kunyit, jahe, kencur, temulawak. Bunga-bunga yang biasa ia panen untuk jamu. "Kiano, terima kasih sudah menjaga hutan. Terima kasih sudah menjaga tanaman obat. Terima kasih sudah menjaga Kiara. Saya tidak akan lupa. Saya akan terus menanam. Untuk kamu. Untuk Kiara. Untuk semua. Tanaman obat akan terus tumbuh. Jamu akan terus ada. Kamu akan selalu diingat."

Topan datang dengan bambu. Ia membuat pagar kecil di sekitar makam. "Kiano, saya janji. Saya akan menjaga hutan ini. Saya akan menjaga bambu. Saya akan menjaga sungai. Untuk kamu. Untuk Kiara. Untuk anak cucu saya. Saya tidak akan mengecewakan. Bambu akan terus tumbuh. Sungai akan terus mengalir. Kamu akan selalu di sini."

Dani datang dengan anak-anaknya. Rian, anak yang paling besar, bertanya, "Ayah, Kiano ke mana?"

Dani memeluk anaknya. "Kiano pergi ke surga, Nak. Dia akan bertemu dengan kakeknya. Dan buyutnya. Mereka akan bahagia di sana. Mereka akan berlari bersama di padang rumput yang luas."

Rian tidak mengerti. Tapi ia melihat ayahnya menangis, jadi ia ikut menangis. "Aku akan merindukan Kiano, Yah."

Dani memeluknya lebih erat. "Kita semua akan merindukannya, Nak. Tapi dia tidak akan pergi. Dia akan selalu di sini. Di hutan ini. Di pohon beringin ini. Di angin yang membawa aroma dedaunan. Di air sungai yang mengalir jernih. Di setiap napas yang kau ambil. Dia tidak akan pernah pergi."


Bagian 18: Malam di Titik Beringin

Malam itu, bulan purnama bersinar terang. Raka, Wati, Bejo, dan Kiara duduk di bawah pohon beringin di titik Beringin. Di samping mereka, tiga makam berjajar. Kai, Kai Muda, Kiano.

"Kita sudah melalui banyak hal," kata Raka.

"Iya. Dari kecil sampai sekarang. Dari Kai sampai Kiano. Dari kebakaran sampai banjir. Dari konflik sampai perdamaian."

"Kai, Kai Muda, Kiano... mereka sudah pergi. Tapi mereka meninggalkan kita dengan Kiara. Mereka meninggalkan kita dengan kenangan. Mereka meninggalkan kita dengan cinta."

Bejo memandang langit. "Kiano pasti lihat kita dari sana. Lihat Kiara. Lihat kita. Dia pasti bangga. Dia pasti tersenyum. Dia pasti tidak sabar menunggu kita."

Wati tersenyum. "Kita akan jaga Kiara. Kita akan jaga hutan ini. Untuk mereka. Untuk anak cucu kita. Untuk semua yang datang setelah kita. Kita akan pastikan mereka tidak kecewa. Kita akan pastikan mereka bangga."

Kiara mendekat, menyandarkan kepalanya di tengah-tengah mereka. Tiga manusia dan satu kancil, di bawah sinar bulan purnama, di kaki Bukit Manoreh.

Raka meletakkan tangannya di kepala Kiara. "Kiano, Kai Muda, Kai... kami akan menjaga Kiara. Kami akan menjaga hutan ini. Kami akan menjaga semua yang sudah kalian titipkan. Selamanya. Sampai kapan pun. Sampai kita bertemu lagi di padang rumput yang luas. Sampai kita bisa berlari bersama lagi. Sampai kita bisa tertawa bersama lagi."

Kiara menggerakkan telinganya. Seperti setuju. Seperti berjanji. Seperti berterima kasih.

Angin malam berdesir lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Suara jangkrik mulai terdengar, menyambut malam yang sunyi. Di kejauhan, seekor burung hantu bersuara, sayup-sayup, seperti lagu tidur untuk hutan yang mulai terlelap. Bulan purnama bersinar terang, menerangi makam-makam di bawah pohon beringin, menerangi wajah-wajah yang masih menangis, menerangi hati-hati yang masih berduka.


Bagian 19: Fajar di Lembah Harapan

Keesokan paginya, Raka, Wati, Bejo, dan Kiara pergi ke Lembah Harapan. Kiara memimpin jalan, seperti biasa. Tapi kali ini, ia berjalan di depan. Tidak ada lagi yang harus mengekor. Tidak ada lagi yang harus dilindungi. Ia adalah pemimpin.

Di Lembah Harapan, kawanan kancil berkumpul. Mereka menunggu Kiara. Menunggu pemimpin mereka. Menunggu arahan. Menunggu keputusan. Menunggu untuk melanjutkan perjalanan.

Kiara berdiri di tepi sungai. Menatap kawanannya. Matanya yang basah, kini terang. Matanya yang sayu, kini tegas. Ia mengangkat kepalanya, menatap satu per satu wajah yang hadir.

"Ikuti aku," katanya lewat bahasa tubuh. "Kita akan menjaga hutan ini. Seperti yang diajarkan ayahku. Seperti yang diajarkan kakekku. Seperti yang diajarkan buyutku. Selamanya. Kita tidak akan pernah menyerah. Kita tidak akan pernah berhenti. Kita tidak akan pernah lupa. Kita tidak akan pernah mengecewakan."

Kawanan kancil mengikuti. Mereka berlari ke titik Beringin, ke titik Sungai, ke titik Batu, ke Tebing Merah. Mereka berlari di bawah sinar matahari pagi, di hutan yang mulai hijau, di tanah yang basah oleh embun.

Kiara berlari di depan. Matanya terang, kakinya kuat, dadanya penuh udara. Ia tidak lagi muda. Tapi ia tidak lagi ragu. Ia adalah pemimpin. Ia adalah Kiara. Cahaya yang terang.


Bagian 20: Janji di Kaki Bukit

Raka, Wati, dan Bejo duduk di tepi sungai Lembah Harapan. Memandangi Kiara dan kawanannya yang berlarian di padang rumput.

"Kita sudah dewasa," kata Raka.

"Iya. Dan kita sudah kehilangan banyak. Kai, Kai Muda, Kiano. Mereka semua sudah pergi. Tapi mereka meninggalkan kita dengan banyak hal. Kenangan, pelajaran, cinta, persahabatan."

"Tapi kita masih bersama. Kita masih di sini. Kita masih menjaga."

Bejo tersenyum. "Kita akan selalu bersama. Sampai kapan pun. Sampai kita tua. Sampai kita punya anak. Sampai kita punya cucu. Sampai hutan ini tetap hijau. Sampai kancil-kancil ini tetap berlari. Sampai generasi berikutnya mengerti apa yang sudah kita perjuangkan."

Wati memandang Kiara. "Kiara akan baik-baik saja. Dia pemimpin hebat. Seperti Kiano. Seperti Kai Muda. Seperti Kai. Dia akan menjaga. Dia akan melanjutkan. Dia tidak akan mengecewakan."

Kiara berlari ke arah mereka, menjilati tangan mereka satu per satu, lalu berlari lagi. Ia tidak perlu berkata apa-apa. Kehadirannya sudah cukup. Kehadirannya adalah janji. Janji bahwa ia akan menjaga. Janji bahwa ia tidak akan menyerah. Janji bahwa ia akan selalu di sini.

Raka tersenyum. "Kita harus menjaga. Untuk Kiara. Untuk kawanan. Untuk hutan. Untuk semua yang sudah pergi. Untuk semua yang akan datang. Selamanya. Sampai kapan pun. Sampai kita bertemu lagi dengan mereka di padang rumput yang luas. Sampai kita bisa berlari bersama lagi. Sampai kita bisa tertawa bersama lagi."

Mereka duduk bersama, menikmati pagi yang cerah. Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan terus berlanjut. Kematian bukan akhir. Kematian adalah awal dari sesuatu yang baru. Kiara, pemimpin baru. Hutan, rumah baru. Dan mereka, penjaga. Selamanya.


BERSAMBUNG KE EPISODE 7: KIARA DEWASA

 

0 komentar:

Posting Komentar