DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari
Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari
EPISODE 4: KONFLIK DENGAN WARGA
1. Suara dari Warung
Kopi
Pagi itu, Raka baru saja menyesap kopi hitam buatan ibunya
ketika ponselnya berdering keras di atas meja. Nama Wati muncul di layar dengan
nada dering khusus yang mereka sepakati untuk keadaan darurat—suara lengkingan
kancil yang direkam Bejo bertahun-tahun lalu.
"Ra, cepat ke warung RASA! Ada keributan besar! Pak
Rasmin membawa puluhan orang! Mereka mau protes ke balai desa!"
Raka tidak sempat bertanya lebih lanjut. Ia langsung
berdiri, hampir menjatuhkan cangkir kopinya. Bu Tani yang sedang mengupas
bawang di dapur menoleh kaget.
"Ra, kamu ke mana? Belum sarapan!"
"Nggak sempat, Bu! Ada darurat!"
Ia berlari meninggalkan rumah, melewati jalan desa yang
mulai ramai dengan aktivitas pagi. Di depan rumah Pak Joko, beberapa orang
berhenti dan menatap ke arah warung kopi dengan wajah penasaran. Dari kejauhan,
suara orang-orang yang berbicara dengan nada tinggi sudah terdengar jelas,
seperti pasar yang tiba-tiba berubah menjadi arena debat.
Warung kopi "RASA"—yang kini dikelola oleh Darmo
Jr setelah ayahnya pensiun—tidak pernah serumit ini. Biasanya, pagi hari di
warung kopi diisi dengan obrolan santai tentang cuaca, harga gabah, atau gosip
artis di televisi yang dipasang di pojok ruangan. Tapi pagi ini, suasananya
berbeda.
Ketika Raka sampai, ia melihat kerumunan orang di depan
warung. Bukan hanya duduk-duduk santai di kursi kayu yang sudah berusia puluhan
tahun itu, tapi berdiri, berkelompok, dengan tangan yang kadang terangkat
tinggi, kadang menunjuk-nunjuk ke arah balai desa. Ada yang wajahnya merah
padam, ada yang matanya melotot, ada yang meremas-remas ujung bajunya dengan
gemas. Seorang ibu-ibu memukul-mukul telapak tangannya dengan punggung tangan
yang lain, seperti sedang menahan amarah yang hampir meledak.
Di tengah kerumunan, Wati sudah berdiri di atas bangku
kayu, mencoba menenangkan. Rambutnya yang panjang sebahu sedikit kusut, seperti
baru bangun tidur dan langsung lari ke sini. Tapi suaranya tenggelam oleh
teriakan yang saling tumpang tindih, seperti ombak yang pecah di karang.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, dengarkan saya sebentar!"
teriak Wati, tapi suaranya terkalahkan oleh Pak Rasmin yang berdiri di depan
rombongan.
"Sudah! Cukup! Kami tidak mau dengar penjelasan! Kami
mau bertemu Pak Kades! Kami mau protes!"
Bejo sudah ada di sana, berdiri di samping Wati dengan
tangan bersilang di dada. Wajahnya yang biasanya ceria dan penuh senyum, hari
ini tegang seperti tali biola yang siap putus. Ia tidak membawa apron koki
seperti biasanya, hanya kaos oblong polos dan celana pendek. Kaki kirinya masih
memakai sandal jepit, yang kanan copot di suatu tempat entah di mana.
"Ada apa?" tanya Raka sambil menyusup ke tengah
kerumunan, mendorong bahu demi bahu dengan sopan tapi tegas.
Seorang pria paruh baya langsung menoleh. Wajahnya
dikenali—Pak Rasmin, salah satu petani yang sawahnya berada di pinggir hutan,
tepat di sebelah timur titik Beringin. Dulu, ketika program konservasi baru
dimulai, Pak Rasmin adalah salah satu pendukung paling vokal. Ia sering datang
ke rapat-rapat desa, duduk di barisan depan, mengangguk-angguk setiap kali Raka
menjelaskan pentingnya menjaga hutan. Tapi hari ini, wajahnya merah padam oleh
amarah. Urat di lehernya menonjol, tangannya yang keriput mengepal-ngepal di
udara seperti sedang meninju sesuatu yang tidak terlihat.
"Raka! Kamu tepat datang!" teriaknya, suaranya
parau seperti orang yang sudah berteriak sejak subuh. "Ini yang harus kamu
jelaskan! Anak buahmu, Dani, melarang warga masuk ke hutan! Katanya untuk
konservasi! Padahal sejak dulu, sejak zaman kakek kita, sejak zaman nenek
moyang kita, kita bebas masuk ke hutan! Mau cari kayu bakar, mau cari rumput
untuk ternak, mau ambil bambu untuk perbaiki rumah, bebas! Tidak ada yang
melarang!"
Dani yang berdiri di sisi lain kerumunan, langsung
membantah. Ia baru saja datang, wajahnya masih mengantuk tapi matanya sudah
menyala. Tangannya memegang selembar kertas yang tampak kusut, mungkin
peraturan yang ia bawa dari markas.
"Bukan melarang, Pak!" suaranya tidak kalah
keras, hampir memecah gendang telinga Raka yang berdiri di antara mereka.
"Saya hanya minta warga tidak masuk ke kawasan inti! Itu sudah aturan dari
tim konservasi! Kawasan inti hanya untuk penelitian dan perlindungan satwa! Di
peta sudah jelas, Pak! Saya bisa tunjukkan!"
Ia mengacungkan kertas itu, tapi Pak Rasmin tidak mau
melihat. Ia mendorong tangan Dani dengan kasar, membuat kertas itu jatuh ke
tanah basah bekas hujan semalam.
"Aturan? Aturan siapa?" bentak seorang ibu-ibu
dari belakang kerumunan. Bu Kasinem, pedagang jamu keliling yang sudah puluhan
tahun mengambil tanaman obat dari pinggir hutan. Ia mendorong maju tubuhnya
yang kecil tapi berisi, tas jamu di bahunya bergoyang-goyang. Wajahnya yang
biasanya ramah dan selalu tersenyum ketika menawarkan jamu di depan rumah, kini
berubah menjadi singa betina yang mempertahankan anaknya. "Kami sudah
puluhan tahun ambil jamu dari hutan! Kakek saya, buyut saya, semua ambil dari
hutan! Sekarang dilarang? Hutan ini milik siapa? Milik kalian? Milik
pemerintah? Milik kancil?"
"Milik kita semua, Bu!" teriak seseorang dari
belakang.
"Tapi kenapa kita dilarang masuk?" teriak yang
lain.
Suasana semakin memanas. Beberapa warga lain mulai ikut
bersuara. Ada yang setuju dengan Pak Rasmin, ada yang membela Raka dan tim
konservasi. Kelompok pro dan kontra mulai terbentuk dengan jelas, seperti dua
kubu yang siap bertempur. Seorang pemuda dengan rambut cepak—anak Bu
Kasinem—berdiri di samping ibunya, mengepalkan tangan. Beberapa petani lain
mulai merapat, membentuk barisan di belakang Pak Rasmin. Di sisi lain, Guntur
dan beberapa pemuda desa yang pro konservasi berdiri di dekat Wati dan Bejo,
siap melindungi.
Raka mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, seperti
wasit yang mencoba memisahkan dua petinju yang sedang bertarung.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, dengarkan saya sebentar! Hanya
sebentar!"
Teriakan mereda, tapi tidak berhenti. Masih ada
bisik-bisik, desas-desus, tatapan curiga yang saling lempar. Seorang ibu-ibu di
belakang menarik-narik baju tetangganya, berbisik sesuatu yang tidak terdengar
tapi jelas membuat tetangganya menggeleng-gelengkan kepala.
Raka mengambil napas panjang. Dadanya naik turun. Ia
menatap satu per satu wajah yang hadir. Ada yang ia kenal sejak kecil, ada yang
baru ia lihat setelah sepuluh tahun pergi. Semua punya cerita, semua punya
kepentingan, semua punya hak untuk didengar.
"Pak Rasmin, Bu Kasinem, dan semuanya. Tidak ada yang
melarang warga masuk ke hutan. Tidak ada. Tapi kita harus membagi zona. Zona
pemanfaatan untuk warga—di sana kalian bisa ambil kayu bakar, ambil rumput,
ambil tanaman obat. Zona inti untuk konservasi—di sana tidak boleh ada
aktivitas manusia, kecuali penelitian dan patroli. Itu sudah kita sepakati
bersama sejak program konservasi dimulai. Itu hasil musyawarah desa.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, semuanya hadir waktu itu. Termasuk Bapak dan Ibu."
Pak Rasmin tidak terima. Tangannya yang gemetar karena
emosi menunjuk ke arah Raka, jari telunjuknya hampir menyentuh dada Raka.
"Sepakati? Siapa yang sepakati? Saya tidak pernah
diajak rapat! Saya tidak pernah dimintai pendapat! Yang rapat cuma
kalian-kalian saja! Orang-orang 'penting'! Yang punya kedekatan sama Pak Kades!
Yang punya akses ke dana pemerintah! Kami yang kecil-kecil ini cuma disuruh
nurut! Disuruh tanda tangan! Tidak diberi kesempatan bicara!"
Bejo yang dari tadi diam, akhirnya tidak tahan. Ia
melangkah maju, dadanya membusung, matanya menyala. Suaranya yang biasanya
lembut ketika menjelaskan resep masakan, kini berubah menjadi gemuruh yang
menggetarkan.
"Pak Rasmin, dulu waktu program konservasi dimulai,
Bapak hadir di rapat! Saya ingat, Bapak duduk di barisan kedua, dekat jendela!
Bapak setuju! Bahkan Bapak yang usul supaya zona pemanfaatan dibuat dekat
dengan desa, biar warga tidak perlu jauh-jauh masuk ke hutan! Saya tidak lupa,
Pak! Saya tidak lupa karena Bapak bicara dengan suara lantang, sampai semua
orang di balai desa itu mendengar!"
Pak Rasmin terdiam. Wajahnya berubah beberapa kali—dari
marah menjadi terkejut, dari terkejut menjadi ragu, dari ragu menjadi malu.
Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Bejo menatapnya dengan mata
yang tidak berkedip, seperti sedang menunggu pengakuan.
Seorang ibu-ibu di belakang Pak Rasmin berbisik,
"Benar, Min. Saya juga ingat. Waktu itu Bapak yang usul. Bapak bilang,
'Jangan susah-susah warga masuk ke dalam. Buat zona di pinggir saja.'"
Pak Rasmin menunduk. Tangannya yang tadi mengepal, kini
lemas di samping tubuhnya. Tapi segera ia mengangkat wajah lagi, kali ini
dengan ekspresi yang lebih lunak tapi tetap keras.
"Itu dulu! Sekarang beda! Dulu hutan masih luas, kayu
masih banyak, rumput masih subur, bambu masih tumbuh di mana-mana. Sekarang?
Semua dibatasi! Yang boleh masuk cuma turis yang bayar! Yang boleh ambil hasil
hutan cuma kalian, tim konservasi! Kami? Hanya boleh lihat dari kejauhan!
Dilarang, dilarang, dilarang!"
Wati turun dari bangku kayu. Ia berjalan mendekati Pak
Rasmin dengan langkah pelan, tangannya di depan dada seperti sedang menenangkan
anak kecil yang tantrum. Suaranya lembut, tapi tegas.
"Pak, tidak benar. Turis juga dibatasi. Mereka hanya
bisa masuk dengan pemandu, hanya di jalur yang sudah ditentukan. Itu untuk
keselamatan mereka sendiri, juga untuk keselamatan satwa. Kalau turis bebas
masuk, mereka bisa tersesat di hutan yang luas ini. Bisa jatuh ke jurang. Bisa
diganggu hewan liar. Pak Rasmin tidak mau ada turis yang celaka di desa kita,
kan? Itu akan merusak nama baik Bojong Sari."
Pak Rasmin terdiam lagi. Wati melanjutkan.
"Dan soal hasil hutan, tim konservasi tidak pernah
melarang warga mengambil kayu bakar, rumput, atau bambu di zona pemanfaatan.
Tidak pernah. Silakan tanya Dani. Silakan tanya warga yang lain. Setiap hari,
warga masih ambil kayu bakar di sana. Setiap hari, Bu Kasinem masih ambil jamu
di kebunnya."
Bu Kasinem mendengus. Wajahnya berubah masam. "Kebun?
Kebun mana? Tanaman obat di zona pemanfaatan sudah mulai berkurang, Ti. Mungkin
karena terlalu banyak yang ambil. Atau mungkin karena musim kemarau. Saya tidak
tahu. Yang saya tahu, penghasilan saya turun. Anak saya, yang baru lulus SMA,
tidak bisa kuliah karena tidak ada biaya."
Suaranya bergetar. Ia menunjuk ke arah anaknya yang berdiri
di sampingnya, pemuda cepak dengan wajah masih lugu.
"Anak saya ini pintar. Nilainya bagus. Diterima di
universitas negeri. Tapi saya tidak punya uang. Saya berhutang ke sana kemari,
tidak ada yang bisa. Saya berharap dari jualan jamu. Tapi jamu saya tidak laku
karena bahan baku berkurang. Saya mau ke hutan, dilarang. Saya mau cari tanaman
obat di tempat lain, tidak ada."
Bu Kasinem menangis. Tangisnya pecah di tengah kerumunan
yang tadinya ramai, kini menjadi sunyi. Anaknya memeluk ibunya, matanya
berkaca-kaca.
Wati mendekat, memegang tangan Bu Kasinem. "Bu, saya
minta maaf. Kami tidak tahu."
"Kamu tidak tahu?" Bu Kasinem melepaskan tangan
Wati. Matanya merah, tapi api kemarahan masih menyala. "Kamu tidak tahu
karena kamu tidak pernah datang. Kamu sibuk dengan klinik hewan. Sibuk dengan
kancil. Sibuk dengan turis. Lupa sama warga."
Kata-kata itu menusuk. Wati mundur selangkah, seperti
ditampar.
2. Akar Masalah
Setelah hampir satu jam berdebat di depan warung kopi,
kerumunan mulai bubar. Tidak ada kesepakatan. Pak Rasmin dan pendukungnya pergi
dengan wajah masih merah, berbisik-bisik satu sama lain. Bu Kasinem melenggang
pergi dengan tas jamu di tangan, sesekali menoleh dengan tatapan yang sulit
diartikan—marah, kecewa, atau mungkin harapan yang belum padam.
Raka, Wati, Bejo, Dani, dan Pak Jarwo duduk di meja warung
yang sudah sepi. Darmo Jr menyodorkan kopi tanpa diminta. Wajahnya ikut tegang,
tangannya sedikit gemetar saat meletakkan cangkir.
"Ini baru permulaan," kata Pak Jarwo. Ia sudah
tua, rambutnya putih semua, jalannya lambat, tapi pengalamannya membaca situasi
masih tajam. Matanya menyipit ke arah kerumunan yang mulai menjauh, ke arah Pak
Rasmin yang berjalan dengan langkah mantap namun berat. "Saya tahu
tipe-tipe seperti Pak Rasmin. Mereka tidak akan diam. Mereka akan cari dukungan
lebih banyak. Akan ajak warga lain. Akan bawa masalah ini ke tingkat yang lebih
tinggi kalau tidak segera diselesaikan."
Dani mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Wajahnya
lelah, kusut, seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. "Tapi apa
yang mereka mau sebenarnya? Bukannya kita sudah buat zona pemanfaatan? Bukannya
mereka masih bisa ambil kayu bakar dan rumput? Saya sendiri yang jaga di pos,
saya lihat mereka masih ambil setiap hari. Tidak ada yang saya larang, kecuali
masuk ke kawasan inti. Itu pun karena aturan."
Bejo yang duduk di samping Dani, menepuk pundaknya.
"Bukan hanya itu masalahnya, Dan. Mereka merasa tidak dilibatkan. Selama
ini, kita yang membuat keputusan. Kita yang menentukan zona. Kita yang mengatur
siapa boleh masuk, siapa tidak. Mereka hanya diberi tahu, bukan diajak
bicara."
Raka memutar cangkir kopinya, melihat ampas hitam yang
turun ke dasar. Ia teringat kata-kata Mbah Gandul, sesepuh desa yang jarang
bicara tapi selalu tepat sasaran. "Kalian lupa bahwa perubahan tidak bisa
datang dari atas. Perubahan harus datang dari bawah. Dari warga sendiri."
"Kita harus bicara dengan mereka," kata Raka
akhirnya. Suaranya pelan, tapi mantap. "Bukan hanya Pak Rasmin dan Bu
Kasinem, tapi semua warga. Kita harus dengar keluhan mereka. Kita harus cari
solusi bersama."
Wati yang sejak tadi diam, mengangkat wajah. Matanya
sembab, bekas tangis yang ia tahan. "Rapat warga?"
"Rapat warga. Tapi bukan rapat biasa. Bukan rapat di
balai desa dengan podium dan microphone, di mana kita bicara dan mereka dengar.
Itu yang selama ini kita lakukan. Dan lihat hasilnya."
Pak Jarwo mengangguk. "Kamu benar. Rapat besar hanya
akan membuat mereka semakin marah. Mereka akan merasa digurui."
Raka menatap mereka bergantian. "Kita datang ke rumah
mereka. Satu per satu. Duduk di teras mereka. Minum kopi atau jamu yang mereka
sodorkan. Dengar keluhan mereka. Cari tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan.
Bukan apa yang kita pikir mereka butuhkan."
Bejo menghela napas. "Itu butuh waktu. Banyak waktu.
Kita tidak bisa selesaikan dalam sehari."
"Tidak masalah. Kita punya waktu. Yang penting kita
mulai."
Dani mengangguk. "Gue siap. Gue yang akan mulai. Gue
yang kenal Pak Rasmin lebih dekat. Sawah gue dulu juga di pinggir hutan,
sebelum gue jual. Gue paham perasaan mereka."
3. Kunjungan ke Rumah
Pak Rasmin
Sore harinya, langit berwarna jingga kemerahan. Raka, Wati,
Bejo, Dani, dan Pak Jarwo berjalan menuju rumah Pak Rasmin. Rumah itu terletak
di pinggir desa, di ujung jalan setapak yang berkelok-kelok di antara sawah
yang mulai menguning. Di kiri kanan, padi-padi bergoyang lembut ditiup angin
sore, seolah ikut mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan.
Rumah Pak Rasmin sederhana, berdinding anyaman bambu yang
sudah berwarna cokelat tua karena usia, atap seng yang sudah berkarat di
beberapa bagian. Di beberapa tempat, anyaman bambu sudah bolong, memperlihatkan
kegelapan di dalam. Di halaman depan, beberapa ekor ayam berkeliaran,
mematuk-matuk tanah yang kering. Seekor kambing tua tertambat di pohon jambu
biji yang sudah tidak berbuah, mengembik pelan seperti menyapa.
Pak Rasmin sedang duduk di teras, di kursi bambu yang sudah
miring karena satu kakinya patah. Tangannya yang keriput memegang cangkir kopi,
tapi tidak diminum. Matanya menerawang ke arah sawahnya yang membentang hingga
ke tepi hutan. Di ujung sana, pohon-pohon besar mulai tampak gelap, seperti
tembok yang memisahkan desa dari dunia lain.
"Pak Rasmin," sapa Raka dari pagar bambu yang
sudah miring, beberapa bilahnya patah dan diikat dengan tali rafia.
Pak Rasmin menoleh. Wajahnya berubah, dari datar menjadi
masam. Ada kerutan baru di dahinya yang tidak ada pagi ini. "Kamu lagi.
Mau apa? Mau ceramah soal hutan lagi? Saya sudah dengar cukup pagi ini. Saya
tidak mau dengar lagi."
Raka membuka pagar dan masuk tanpa menunggu izin. Wati,
Bejo, Dani, dan Pak Jarwo mengikuti di belakang. Mereka duduk di kursi bambu
yang disediakan, beberapa di antaranya terpaksa mengambil posisi jongkok karena
kursi tidak cukup.
"Kami bukan mau ceramah, Pak. Kami mau dengar."
"Dengar apa?"
"Dengar keluhan Bapak. Dengar apa yang Bapak butuhkan.
Kami sadar, selama ini kami mungkin terlalu sibuk dengan konservasi, lupa
mendengar suara warga. Kami minta maaf."
Pak Rasmin terdiam. Ia menatap Raka lama, seperti menilai
apakah anak muda ini sungguh-sungguh atau hanya basa-basi. Matanya bergerak dari
Raka ke Wati, ke Bejo, ke Dani, lalu ke Pak Jarwo. Kemudian ia menunduk,
memandangi cangkir kopinya yang sudah dingin.
Wati duduk di kursi bambu di samping Pak Rasmin. Tangannya
yang hangat meraih tangan Pak Rasmin yang dingin dan keriput.
"Pak, ceritakan saja. Apa yang membuat Bapak marah?
Apa yang membuat Bapak merasa dirugikan? Kami di sini untuk mendengar. Kami
tidak akan membantah. Kami tidak akan memotong. Kami hanya akan
mendengar."
Pak Rasmin menghela napas panjang. Napas yang berat,
seperti membawa beban puluhan tahun. Tangannya yang memegang cangkir kopi mulai
bergetar. Kopi di dalam cangkir bergoyang-goyang, nyaris tumpah.
"Saya punya sawah di pinggir hutan. Tiga hektar.
Warisan dari orang tua saya. Dari kakek saya. Dari buyut saya. Mereka membuka
lahan ini dengan cangkul dan parang, dengan keringat dan air mata, dengan doa
dan harapan. Setiap hari, saya merawat sawah itu dengan tangan sendiri. Tidak
pernah minta bantuan siapa-siapa. Tidak pernah minta pupuk dari pemerintah.
Tidak pernah minta bibit dari desa. Saya hanya mengandalkan hujan, mengandalkan
tanah, mengandalkan apa yang diberikan alam."
Ia berhenti, matanya berkaca-kaca. Tangannya yang keriput
mengusap wajah, menyeka sesuatu yang tidak ingin dilihat orang.
"Sekarang..." Suaranya bergetar. "Sekarang,
kancil-kancil itu sering masuk ke sawah saya. Mereka makan padi yang baru
tumbuh. Mereka injak-injak tanaman yang baru saya tanam dengan susah payah.
Mereka rusak pematang yang saya buat dengan tangan sendiri. Saya sudah lapor ke
tim konservasi. Sudah tiga kali saya lapor. Katanya akan dipasang pagar. Tapi
sampai sekarang belum ada. Tidak ada."
Raka menunduk. Ia ingat laporan itu. Laporan yang masuk ke
mejanya tiga bulan lalu. Laporan yang ia baca sekilas, lalu ia tumpuk dengan
laporan lain. Laporan yang ia anggap tidak terlalu penting karena ada prioritas
lain: pemasangan kamera jebak di Lembah Harapan, perbaikan jalur ekowisata yang
rusak terkena banjir, pelatihan pemandu wisata baru. Laporan Pak Rasmin selalu
tertunda. Selalu. Dan sekarang, kemarahan itu meledak.
"Maaf, Pak. Itu kelalaian kami. Saya minta maaf."
Pak Rasmin tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap
cangkir kopi yang sudah dingin. Tangannya yang bergetar semakin keras.
"Bukan hanya itu," lanjutnya, suaranya lirih,
seperti angin yang berbisik. "Saya dulu bisa ambil kayu bakar dari hutan.
Cukup untuk masak, cukup untuk menghangatkan badan di malam hari. Sekarang,
dilarang. Saya dulu bisa ambil rumput untuk kambing. Kambing ini satu-satunya
yang saya punya. Setiap hari, saya cari rumput di pinggir hutan. Sekarang,
dilarang. Saya dulu bisa ambil bambu untuk perbaiki rumah. Atap saya bocor di
sana sini, pagar saya roboh, kursi saya patah. Saya butuh bambu untuk
memperbaiki semuanya. Sekarang, dilarang."
Suaranya meninggi. Tangannya yang tadinya bergetar, kini
mengepal. Cangkir kopi di tangannya nyaris pecah.
"Saya tahu, hutan harus dijaga. Saya tahu, kancil
harus dilindungi. Saya tahu, turis harus dilayani. Tapi saya juga punya hidup.
Saya juga butuh makan. Saya juga punya anak cucu yang harus saya beri makan,
yang harus saya kasih tempat tinggal, yang harus saya jaga. Apakah itu salah?
Apakah saya tidak punya hak?"
Dani yang duduk di samping Pak Rasmin, meletakkan tangannya
di pundak pria tua itu. Tangannya yang masih muda, masih kuat, tapi tidak tahu
harus berkata apa.
"Pak, saya mengerti. Dulu, waktu saya masih punya
sawah di pinggir hutan, saya juga sering diganggu kancil. Kadang saya marah.
Kadang saya mau pasang jerat. Tapi Raka datang, menjelaskan, meyakinkan. Saya
akhirnya paham. Kancil tidak punya pilihan. Mereka juga butuh hidup. Mereka
tidak tahu mana sawah milik manusia, mana hutan milik mereka. Yang mereka tahu,
ada makanan di sana, mereka makan. Itu saja."
Pak Rasmin menatap Dani. Matanya tajam. "Kamu sekarang
sudah kaya, Dan. Punya kerjaan di restoran Bejo. Punya penghasilan tetap.
Gampang bilang begitu."
Dani tidak tersinggung. Ia malah tersenyum.
"Tidak, Pak. Saya tidak kaya. Gaji saya cukup untuk
makan, untuk anak-anak, untuk istri. Tapi saya punya harapan. Saya lihat,
ekowisata ini akan berkembang. Desa kita akan maju. Sawah Bapak tidak akan
diganggu kancil lagi kalau pagar sudah dipasang. Kayu bakar masih bisa diambil
di zona pemanfaatan. Rumput masih ada. Bambu masih ada. Hanya perlu diatur,
Pak. Agar tidak habis. Agar anak cucu kita masih bisa ambil."
Pak Rasmin tidak menjawab. Ia hanya menunduk lagi.
4. Keluhan Bu Kasinem
Dari rumah Pak Rasmin, mereka melanjutkan perjalanan ke
rumah Bu Kasinem. Rumahnya lebih kecil, lebih sederhana, di gang sempit yang
hanya bisa dilalui satu orang. Dindingnya dari anyaman bambu yang sudah lapuk,
atapnya dari daun kelapa yang sudah kering dan bolong di sana sini. Cahaya
matahari masuk menembus lubang-lubang itu, menciptakan pola-pola cahaya di
lantai tanah yang lembab.
Bu Kasinem sedang meracik jamu di dapur belakang. Aroma
jahe, kencur, kunyit, dan rempah-rempah lain menyambut mereka sejak di pintu.
Aroma yang familiar, aroma yang mengingatkan Raka pada masa kecilnya, ketika Bu
Kasinem masih muda dan langsing, berkeliling desa dengan bakul di kepala,
menjajakan jamu dengan suara merdu.
"Bu Kasinem," sapa Raka dari pintu anyaman bambu
yang terbuka.
Bu Kasinem menoleh. Wajahnya yang tadinya datar, berubah
masam begitu melihat Raka. Tapi tidak seperti pagi, tidak ada amarah di matanya.
Hanya kelelahan.
"Masuk. Duduk. Saya tidak punya kopi. Hanya
jamu."
Mereka masuk dan duduk di ruang tamu sempit, beralas tikar
pandan yang sudah mulai lapuk. Di dinding, tergantung berbagai ramuan jamu
dalam plastik-plastik kecil, digantung dengan tali rafia. Ada yang sudah lama,
berdebu. Ada yang baru, masih basah. Bu Kasinem menyodorkan gelas jamu kuning
hangat untuk masing-masing.
"Ini jamu kunyit asem. Buat menghangatkan badan. Juga
buat nyegah masuk angin. Pagi-pagi udah ribut, badan jadi masuk angin."
Wati menerima dengan hati-hati, menyesap perlahan.
"Wah, enak, Bu. Lebih enak dari yang dulu."
Bu Kasinem tersenyum tipis. "Resep turun-temurun. Dari
nenek saya. Dulu, nenek saya ambil kunyit, jahe, kencur, semua dari hutan. Saya
juga begitu. Dari kecil, saya ikut nenek ke hutan. Nenek saya ajarin mana
tanaman obat, mana yang beracun. Mana yang boleh diambil, mana yang harus
dibiarkan. Mana yang sudah siap panen, mana yang masih harus ditunggu."
Matanya menerawang, seolah melihat sesuatu yang tidak bisa
dilihat orang lain.
"Hutan adalah sekolah saya. Hutan adalah pasar saya.
Hutan adalah hidup saya. Saya tidak pernah sekolah. Tidak bisa baca tulis. Tapi
saya tahu nama-nama tanaman dalam bahasa Latin. Saya tahu khasiat setiap akar,
setiap daun, setiap batang. Saya tahu kapan harus mengambil, kapan harus
berhenti, kapan harus menanam kembali. Nenek saya ajarin semua itu."
Ia menunduk. Tangannya yang keriput memainkan ujung
sarungnya.
"Sekarang, anak saya tidak bisa ikut ke hutan. Kata
tim konservasi, kawasan inti tidak boleh dimasuki. Saya paham. Saya tidak
protes soal kawasan inti. Tapi di zona pemanfaatan, tanaman obat mulai
berkurang. Mungkin karena terlalu banyak yang ambil. Atau mungkin karena musim
kemarau. Saya tidak tahu. Yang saya tahu, penghasilan saya turun. Setiap hari,
saya hanya bisa jualan sedikit. Kadang tidak laku sama sekali. Anak saya, yang
baru lulus SMA, tidak bisa kuliah karena tidak ada biaya."
Air matanya jatuh. Ia menyeka dengan ujung sarungnya,
kasar, cepat, seperti tidak ingin dilihat orang.
"Saya tidak marah sama kalian. Saya hanya kecewa. Saya
pikir, kalian anak-anak desa yang dulu saya kenal, yang dulu suka beli jamu
saya waktu masih kecil, tidak akan lupa sama warga. Ternyata, saya salah.
Kalian lupa. Kalian sibuk dengan kancil, dengan turis, dengan penelitian,
dengan segala macam yang saya tidak mengerti. Lupa sama orang yang dulu memberi
kalian jamu waktu kalian sakit."
Bejo yang sejak tadi diam, menunduk. "Bu, saya minta
maaf. Saya masih ingat, waktu kecil, setiap kali saya sakit, Ibu yang selalu
datang ke rumah dengan jamu kunyit asem. Saya sembuh karena jamu Ibu. Saya
tidak lupa."
Bu Kasinem menatap Bejo. Matanya berkaca-kaca.
"Kamu masih ingat?"
"Selamanya, Bu. Selamanya."
Bejo memegang tangan Bu Kasinem. Tangannya yang kasar,
penuh kapalan, bekas memarut kunyit dan memeras jahe selama puluhan tahun.
"Bu, saya janji. Saya akan bantu. Saya akan bicara
dengan tim. Saya akan minta dibuat kebun tanaman obat di zona pemanfaatan.
Bibit dari hutan, ditanam di lahan yang sudah ditentukan. Bu Kasinem dan
penjual jamu lain bisa mengelola kebun itu, tanpa harus masuk ke hutan dalam.
Bagaimana, Bu?"
Bu Kasinem menatap Bejo. Matanya berbinar, tapi segera
redup. "Bantuan? Selama ini, siapa yang mau bantu? Saya cuma dilarang,
tidak pernah diberi solusi."
Raka yang dari tadi diam, membuka buku catatannya.
"Bu, saya catat usulan ini. Kebun tanaman obat. Saya akan diskusikan
dengan tim. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan. Saya janji, tidak akan
seperti janji pagar Pak Rasmin yang tertunda-tunda."
Bu Kasinem tersenyum tipis. "Janji? Saya dengar janji
itu sudah berkali-kali."
Raka menatap matanya. "Saya tidak akan ingkar, Bu.
Saya sumpah demi Kai."
Bu Kasinem terkejut. "Demi Kai? Kancil itu? Kamu
sumpah pakai nama kancil?"
Raka tersenyum. "Kai lebih dari sekadar kancil, Bu.
Dia keluarga. Dia guru. Dia sahabat. Dan dia tidak pernah mengingkari
janji."
Bu Kasinem menatap Raka lama. Lalu tertawa kecil.
"Kamu ini, Nak. Dulu suka beli jamu saya, sekarang jadi orang penting.
Tapi masih sama, ya. Masih keras kepala."
5. Keluhan Petani Lain
Dari rumah Bu Kasinem, mereka mengunjungi petani-petani
lain yang sawahnya berada di pinggir hutan. Satu per satu, mereka duduk di
teras, mendengar keluhan, mencatat, berjanji untuk mencari solusi.
Topan, petani muda yang sawahnya di dekat sungai,
menceritakan masalahnya dengan suara keras dan tangan yang terus bergerak.
"Sawah saya di dekat sungai. Setiap musim hujan,
sungai meluap. Sawah saya kebanjiran. Dulu, sebelum hutan dijaga ketat, saya
bisa ambil bambu dari hutan untuk bikin tanggul darurat. Saya butuh bambu
banyak, untuk menahan air. Setelah banjir surut, bambu itu bisa saya pakai lagi
tahun depan. Tapi sekarang, saya dilarang ambil bambu. Tanggul saya rusak,
sawah saya kebanjiran, padi saya gagal panen. Dua tahun berturut-turut. Saya
sudah hampir bangkrut. Istri saya minta cerai. Anak saya minta berhenti
sekolah."
Sarip, petani yang punya kebun sayur di lereng bukit,
bercerita dengan suara lirih, matanya sayu.
"Saya punya kebun sayur di lereng bukit. Tanahnya
subur, sayuran tumbuh bagus. Tapi kancil sering masuk, makan sayuran saya.
Bayam, kangkung, sawi, semuanya habis. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kancil
dilindungi. Saya yang rugi. Saya sudah coba pasang pagar bambu, tapi kancil
bisa lompat. Saya coba pasang jaring, tapi kancil bisa robohkan. Saya coba
tanam tanaman yang tidak disukai kancil, tapi mereka tetap datang. Saya sudah
hampir menyerah. Mungkin saya harus jual kebun ini, pindah ke kota, cari kerja
jadi buruh."
Mbah Gandul, sesepuh desa yang sudah tidak bisa berjalan
jauh, didorong cucunya ke teras rumah. Ia tidak bicara panjang. Hanya satu
kalimat yang membuat semua terdiam.
"Dulu, sebelum ada program konservasi, kami bisa hidup
berdampingan dengan hutan. Kami ambil kayu secukupnya, ambil bambu secukupnya,
ambil rumput secukupnya. Hutan tetap subur, hewan tetap ada. Sekarang, aturan
terlalu ketat. Kami merasa tidak dipercaya. Kami merasa dianggap musuh."
6. Malam Perenungan
Malam harinya, Raka, Wati, Bejo, Dani, Guntur, dan Pak
Jarwo berkumpul di markas. Mereka duduk melingkar di lantai bambu, di antara
peta-peta yang tergantung di dinding dan foto-foto kancil yang terpajang rapi.
Di papan tulis, Raka menuliskan semua keluhan yang didengar.
Pak Rasmin:
kancil masuk sawah, pagar belum dipasang, kayu bakar dan rumput terbatas,
merasa tidak dilibatkan.
Bu Kasinem:
tanaman obat berkurang, penghasilan turun, anak tidak bisa kuliah, merasa
dianggap musuh.
Topan: banjir, butuh bambu
untuk tanggul, aturan terlalu ketat.
Sarip: kancil masuk kebun,
tidak bisa berbuat apa-apa.
Mbah Gandul:
merasa tidak dipercaya, aturan terlalu ketat, warga tidak dilibatkan.
"Itu hanya sebagian," kata Raka. "Masih
banyak yang belum sempat bicara. Saya dengar dari Dani, ada warga yang
diam-diam masuk ke kawasan inti untuk ambil kayu. Ada yang mulai pasang jerat
lagi, meskipun dilarang. Ada yang marah-marah di warung kopi setiap pagi."
Guntur menghela napas. "Kita harus cari solusi cepat.
Kalau tidak, konflik bisa meluas. Bisa ada bentrok. Bisa ada warga yang
ditangkap polisi karena masuk kawasan terlarang. Bisa ada kancil yang mati
karena jerat. Saya tidak mau itu terjadi."
Bejo berdiri, berjalan ke papan tulis. Ia mengambil spidol
merah, mulai menulis dengan tulisan besar yang tidak terlalu rapi tapi jelas.
"Gue punya usul. Untuk Pak Rasmin dan petani lain yang
sawahnya diganggu kancil: kita buat pagar permanen di batas hutan. Bukan pagar
bambu biasa yang gampang dijebol, tapi pagar dengan jalur hijau. Tanaman yang
tidak disukai kancil, seperti serai wangi atau tanaman berduri. Kancil akan
menghindar, tapi ekosistem tetap terjaga. Tanaman ini juga bisa dipanen warga
untuk dijual. Jadi ada manfaat ekonomi."
Wati menambahkan, "Untuk Bu Kasinem dan penjual jamu
lain: kita buat kebun tanaman obat di zona pemanfaatan. Bibit dari hutan,
ditanam di lahan yang sudah ditentukan. Bu Kasinem dan penjual jamu lain bisa
mengelola kebun itu, tanpa harus masuk ke hutan dalam. Mereka bisa menanam,
merawat, memanen, dan menjual. Penghasilan mereka akan meningkat, dan hutan
tetap terjaga."
Dani yang biasanya diam, ikut bersuara. "Untuk Topan
dan petani yang butuh bambu untuk tanggul: kita buat aturan pengambilan bambu
secara terbatas. Setiap keluarga bisa ambil sejumlah bambu per tahun, dengan
catatan harus menanam bibit bambu baru sebagai gantinya. Jadi, hutan tidak
kehabisan bambu. Dan warga tidak perlu masuk ke kawasan inti untuk mencari
bambu."
Pak Jarwo mengangguk. "Untuk Mbah Gandul dan warga
yang merasa tidak dipercaya: kita bentuk forum konservasi desa yang anggotanya
bukan hanya tim konservasi, tapi juga warga. Semua keputusan harus dibahas
bersama. Tidak ada lagi keputusan sepihak. Warga bisa usul, bisa protes, bisa
memberi masukan. Mereka akan merasa memiliki program ini. Mereka akan merasa
menjadi bagian, bukan musuh."
Raka menulis semua usulan itu di papan tulis dengan spidol
biru. Tulisannya rapi, teratur, seperti peta yang ia buat untuk jalur
ekowisata.
"Ini bagus. Tapi kita harus presentasikan pada warga.
Jangan sampai mereka merasa ini hanya usulan kita, tanpa melibatkan mereka.
Kita undang semua warga. Kita presentasikan usulan ini. Kita minta masukan.
Kita revisi bersama. Lalu kita jalankan."
"Kapan?" tanya Guntur.
"Lusa. Kita undang semua warga. Kita adakan rapat di
balai desa. Tapi kali ini, kita tidak bicara dari podium. Kita duduk bersama.
Kita dengar mereka bicara. Kita baru bicara setelah semua selesai."
7. Mengundang Mbah
Gandul
Sebelum rapat besar, Raka memutuskan untuk menemui Mbah
Gandul. Mbah Gandul adalah sesepuh desa yang dihormati. Usianya sudah 90 tahun
lebih, matanya rabun, pendengarannya mulai berkurang, tapi pikirannya masih
jernih. Jika ia mendukung, warga lain akan ikut. Jika ia menolak, sulit bagi
mereka untuk mendapatkan dukungan.
Mbah Gandul tinggal di rumah sederhana di ujung desa, dekat
dengan makam desa. Rumahnya kecil, berdinding kayu jati tua yang sudah hitam
dimakan usia, atap sirap yang sudah berlumut, halaman yang ditumbuhi berbagai
tanaman obat. Di depan rumah, sebuah bangku panjang dari kayu jati, tempat Mbah
Gandul biasa duduk di pagi dan sore hari.
Raka, Wati, dan Bejo datang dengan hati-hati. Mereka tahu,
Mbah Gandul adalah orang yang dihormati, tapi juga pendiam. Tidak suka
basa-basi. Tidak suka omong kosong.
"Permisi, Mbah," sapa Raka dari pagar kayu yang
sudah lapuk.
Mbah Gandul sedang duduk di bangku panjang, matanya
terpejam, tangannya memegang tasbih yang diputar perlahan. Ia membuka mata,
menatap mereka dengan mata yang sayu tapi masih tajam.
"Masuklah. Sudah saya dengar kalian akan datang. Pak
Rasmin cerita tadi."
Mereka masuk dan duduk di kursi bambu yang disediakan. Raka
membuka pembicaraan.
"Mbah, kami minta maaf. Selama ini kami mungkin
terlalu sibuk dengan konservasi, lupa bahwa konservasi tidak akan berhasil
tanpa dukungan warga. Lupa bahwa warga juga punya kebutuhan. Lupa bahwa warga
juga punya hak."
Mbah Gandul tersenyum tipis. Senyum yang tidak menunjukkan
emosi, hanya kebijaksanaan.
"Kalian tidak perlu minta maaf. Tugas kalian berat.
Saya mengerti. Saya sudah melihat perjalanan kalian sejak masih kecil. Dari Tim
Penyelidik Cilik, sampai sekarang. Kalian sudah berbuat banyak untuk desa ini.
Hutan ini hijau kembali. Kancil-kancil hidup damai. Turis datang, ekonomi
meningkat. Itu semua berkat kalian."
Raka menunduk. "Tapi Mbah, kami dengar keluhan warga.
Banyak yang merasa tidak dilibatkan. Banyak yang merasa dirugikan. Kami ingin
memperbaiki. Kami ingin melibatkan warga dalam setiap keputusan."
Mbah Gandul mengangguk. "Itu baik. Itu yang saya
tunggu. Tapi kalian harus tahu, masalahnya bukan hanya soal aturan. Bukan hanya
soal pagar, soal kebun, soal bambu. Masalahnya adalah rasa tidak percaya. Warga
merasa kalian lebih peduli pada kancil daripada pada mereka. Warga merasa
kalian lebih sibuk dengan turis daripada dengan tetangga sendiri. Warga merasa
kalian sudah menjadi orang asing di desa sendiri."
Wati menunduk. "Itu salah kami, Mbah. Kami terlalu
fokus pada program. Lupa bahwa program itu untuk warga."
Mbah Gandul menatap Wati. Matanya lembut.
"Bukan salah kalian. Kalian muda, idealis. Itu baik.
Tapi kalian lupa satu hal: perubahan tidak bisa datang dari atas. Perubahan
harus datang dari bawah. Dari warga sendiri. Kalian tidak bisa memaksa warga
untuk peduli pada kancil. Kalian harus membuat mereka peduli. Kalian tidak bisa
memaksa warga untuk melindungi hutan. Kalian harus membuat mereka merasa bahwa
hutan adalah milik mereka."
Raka bertanya, "Apa yang harus kami lakukan,
Mbah?"
Mbah Gandul menghela napas. "Dengar. Bukan hanya
dengan telinga, tapi dengan hati. Jangan hanya datang saat ada masalah.
Datanglah saat tidak ada masalah. Duduklah bersama. Makan bersama.
Bercengkerama. Biarkan warga merasa bahwa kalian adalah bagian dari mereka,
bukan penguasa yang datang memberi perintah."
Ia menatap mereka bergantian.
"Kalian sudah dewasa. Sudah berilmu. Tapi kalian lupa
satu hal: ilmu tanpa hati hanya akan membuat jarak. Kalian pandai bicara
tentang konservasi, tentang ekosistem, tentang satwa langka. Tapi kalian lupa
bicara dengan hati. Dengan warga. Dengan tetangga. Dengan orang-orang yang dulu
membesarkan kalian."
Raka, Wati, Bejo menunduk. Tidak ada yang bisa menjawab.
8. Rapat Besar di Balai
Desa
Lusa, balai desa penuh sesak. Hampir seluruh warga Bojong
Sari hadir. Bukan hanya yang pro konservasi, tapi juga yang kontra. Pak Rasmin
datang dengan wajah masih tegang, tapi duduk di barisan depan. Bu Kasinem
datang dengan tas jamunya, siap berjualan setelah rapat. Topan, Sarip, Mbah
Gandul, semuanya hadir. Bahkan anak-anak kecil ikut, duduk di pangkuan orang
tua mereka, mata mereka berbinar-binar melihat keramaian.
Raka berdiri di depan. Tidak ada podium, tidak ada
microphone. Ia hanya berdiri di tengah lingkaran, seperti dulu ketika ia masih
kecil dan menjadi pemimpin Tim Penyelidik Cilik.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudaraku. Hari ini
kita berkumpul bukan untuk debat. Bukan untuk saling menyalahkan. Bukan untuk
menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Hari ini kita berkumpul untuk
mencari solusi bersama. Untuk duduk bersama, bicara bersama, makan bersama, dan
menemukan jalan yang terbaik untuk kita semua."
Ia menatap satu per satu wajah yang hadir.
"Kami mendengar keluhan Bapak-bapak, Ibu-ibu. Pak
Rasmin, soal kancil yang masuk sawah, soal pagar yang belum dipasang, soal kayu
bakar dan rumput yang terbatas. Bu Kasinem, soal tanaman obat yang berkurang,
soal penghasilan yang turun, soal anak yang tidak bisa kuliah. Topan, soal
banjir dan kebutuhan bambu untuk tanggul. Sarip, soal kancil yang masuk kebun.
Mbah Gandul, soal rasa tidak percaya, soal warga yang tidak dilibatkan."
Ia mengambil papan tulis kecil yang dibawa Bejo. Papan itu
sudah penuh dengan tulisan, warna-warni.
"Ini usulan kami. Bukan keputusan final. Bukan
keputusan dari tim konservasi. Ini usulan. Kami ingin Bapak-bapak, Ibu-ibu,
ikut memberi masukan. Ikut merevisi. Ikut memutuskan. Karena ini adalah desa
kita. Hutan kita. Masa depan kita."
Ia mulai menjelaskan satu per satu.
"Usulan pertama: pagar hijau di batas hutan. Bukan
pagar bambu biasa, tapi pagar dengan tanaman yang tidak disukai kancil, seperti
serai wangi atau tanaman berduri. Kancil akan menghindar, sawah Bapak-bapak
aman. Tanaman ini juga bisa dipanen untuk dijual. Pak Rasmin dan petani lain
bisa ikut menanam dan merawat. Pendapatan tambahan."
Tepuk tangan kecil dari beberapa warga.
"Usulan kedua: kebun tanaman obat di zona pemanfaatan.
Bibit dari hutan, ditanam di lahan yang sudah ditentukan. Bu Kasinem dan
penjual jamu lain bisa mengelola kebun itu. Menanam, merawat, memanen, menjual.
Tanpa harus masuk ke hutan dalam. Penghasilan meningkat, hutan tetap
terjaga."
Bu Kasinem yang duduk di barisan ketiga, mengangguk pelan.
"Usulan ketiga: pengambilan bambu secara terbatas.
Setiap keluarga bisa ambil sejumlah bambu per tahun. Tapi harus menanam bibit
bambu baru sebagai gantinya. Jadi, hutan tidak kehabisan bambu. Topan bisa
ambil bambu untuk tanggul. Warga lain bisa ambil untuk perbaiki rumah. Semua
terpenuhi, hutan tetap lestari."
Topan mengangkat tangan. "Setuju! Saya siap tanam
bibit!"
"Usulan keempat: forum konservasi desa. Anggotanya
bukan hanya tim konservasi, tapi juga warga. Pak Rasmin, Bu Kasinem, Topan,
Sarip, semuanya bisa ikut. Semua keputusan dibahas bersama. Tidak ada lagi
keputusan sepihak. Warga bisa usul, bisa protes, bisa memberi masukan. Forum
ini yang akan mengawasi semua program. Bukan kami."
Mbah Gandul yang duduk di kursi kehormatan, tersenyum.
Warga mulai berbisik-bisik. Ada yang mengangguk, ada yang
masih ragu. Seorang pemuda di barisan belakang berdiri.
"Usulan kalian bagus. Tapi bagaimana dengan realisasi?
Selama ini, banyak usulan yang hanya jadi janji. Pagar Pak Rasmin sampai
sekarang belum dipasang. Kebun Bu Kasinem belum ada. Aturan bambu masih kabur.
Kami tidak mau janji. Kami mau bukti."
Pak Rasmin berdiri. Wajahnya masih tegang, tapi matanya
tidak lagi marah.
"Saya setuju. Janji tanpa bukti hanya omong kosong.
Saya sudah cukup mendengar janji."
Raka mengangguk. "Pak Rasmin benar. Janji tanpa bukti
hanya omong kosong. Karena itu, kami tidak akan membuat janji. Kami akan
membuat jadwal. Hari ini, kita sepakati usulan ini. Besok, kita mulai kerja.
Minggu depan, pagar hijau mulai dipasang. Minggu depan juga, kebun tanaman obat
mulai ditanam. Forum konservasi desa akan dibentuk minggu ini, dengan anggota
dari warga. Bukan dari tim konservasi."
Seorang ibu-ibu dari belakang bertanya, "Siapa yang
memilih anggota forum? Kami atau kalian?"
Wati menjawab. "Warga yang memilih. Kami hanya
fasilitator. Kami tidak punya hak pilih. Tidak punya hak veto. Kami hanya
membantu menjalankan keputusan forum."
Ibu itu mengangguk puas.
Mbah Gandul berdiri. Dibantu cucunya, ia berdiri dengan
susah payah. Semua diam.
"Anak-anakku, saya sudah tua. Saya tidak akan banyak
bicara. Tapi saya lihat, ada perubahan di sini. Bukan perubahan aturan. Bukan
perubahan program. Tapi perubahan hati. Kalian mau mendengar. Kalian mau
melibatkan warga. Kalian mau duduk bersama, makan bersama, bicara bersama. Itu
yang kami butuhkan. Bukan pagar, bukan kebun, bukan bambu. Tapi rasa memiliki.
Rasa bahwa ini desa kita. Hutan kita. Masa depan kita."
Ia menatap Raka.
"Nak Raka, kamu sudah dewasa. Kamu sudah berilmu. Tapi
yang lebih penting, kamu punya hati. Jangan pernah kehilangan itu."
9. Pembentukan Forum
Konservasi Desa
Seminggu kemudian, pemilihan anggota Forum Konservasi Desa
dilaksanakan. Warga berkumpul di balai desa, antusiasme tinggi. Ada yang
mencalonkan diri, ada yang dicalonkan tetangga. Pak Rasmin mencalonkan diri,
dan terpilih sebagai perwakilan petani dengan suara bulat. Bu Kasinem terpilih
sebagai perwakilan penjual jamu. Topan terpilih sebagai perwakilan pemuda.
Sarip terpilih sebagai perwakilan petani sayur. Mbah Gandul diminta menjadi
penasihat, meski ia tidak mau duduk di kursi kepengurusan.
"Sudah tua, Mbah. Cukup memberi nasihat dari
rumah."
Raka, Wati, Bejo, dan Dani menjadi fasilitator. Mereka
tidak punya hak pilih, tidak punya hak veto. Mereka hanya membantu menjalankan
keputusan forum.
Pertemuan pertama forum digelar di balai desa keesokan
harinya. Pak Rasmin duduk di kursi ketua, dengan wajah masih kaku, tapi ada
senyum kecil yang tersembunyi di sudut bibirnya. Bu Kasinem di sampingnya,
sudah siap dengan buku catatan yang baru dibeli—buku tulis bergambar kancil,
hadiah dari Bejo. Topan di sisi lain, penuh semangat, tangannya sudah siap
mengacung setiap kali ada yang perlu diputuskan.
"Pertama," kata Pak Rasmin, suaranya lantang,
"pagar hijau. Kita mulai minggu depan. Siapa yang mau ikut kerja
bakti?"
Topan mengangkat tangan. "Saya dan pemuda desa siap.
Saya sudah koordinasi dengan teman-teman. Mereka setuju."
"Bagus. Saya akan koordinasi dengan petani. Kita bagi
zona. Setiap petani bertanggung jawab di sawahnya masing-masing."
"Kedua, kebun tanaman obat. Bu Kasinem, bisa
koordinasi dengan warga yang punya lahan di zona pemanfaatan?"
Bu Kasinem mengangguk. "Saya sudah bicara dengan
beberapa warga. Mereka bersedia. Lahan di pinggir hutan, dekat sungai, cukup
subur. Kita bisa mulai minggu depan juga."
"Ketiga, aturan pengambilan bambu. Kita buat kuota per
keluarga per tahun. Saya usul, 20 batang per tahun. Cukup untuk perbaiki rumah
dan bikin tanggul. Setiap ambil bambu, harus menanam 5 bibit baru. Jadi hutan
tidak kehabisan."
Seorang warga bertanya, "Siapa yang catat kuota?"
"Kita," jawab Pak Rasmin tegas. "Forum.
Bukan tim konservasi. Kita yang catat, kita yang awasi. Karena ini hutan kita.
Bambu kita. Masa depan kita."
Tepuk tangan bergemuruh. Raka, Wati, Bejo, dan Dani hanya
tersenyum dari belakang.
10. Kerja Bakti Memasang
Pagar Hijau
Minggu berikutnya, kerja bakti memasang pagar hijau
dimulai. Puluhan warga berkumpul di batas hutan, membawa cangkul, arit, bibit
serai wangi, dan tanaman berduri. Pak Rasmin memimpin di depan, tangannya yang
keriput mencangkul tanah dengan semangat yang tidak kalah dengan pemuda.
Raka, Wati, dan Bejo ikut bekerja. Mereka tidak memimpin,
tidak memberi instruksi. Mereka hanya ikut, seperti warga lain. Melepas baju,
memakai caping, mencangkul bersama.
"Pak Rasmin, istirahat dulu," kata Raka sambil
menyodorkan air minum dalam teko tanah liat.
Pak Rasmin menerima, tersenyum. Keringat membasahi seluruh
wajahnya, bajunya basah, capingnya miring. Tapi matanya berbinar.
"Dulu, saya pikir kalian anak-anak kota yang tidak
tahu kerja keras. Ternyata kalian bisa juga. Kuat juga mencangkul."
Raka tertawa. "Kami juga anak desa, Pak. Dulu waktu
kecil, saya ikut ayah ke sawah setiap liburan. Ayah saya petani, sama seperti
Bapak."
Pak Rasmin menatapnya. "Iya, saya ingat. Dulu, Bapakmu
sering cerita tentang kamu. Katanya kamu lebih suka ke hutan daripada ke sawah.
Katanya kamu suka baca buku di bawah pohon beringin. Saya pikir, anak ini aneh.
Ternyata, kamu jadi orang penting."
Raka tersenyum. "Saya tidak penting, Pak. Sama seperti
Bapak. Petani. Penjaga hutan. Sama saja. Kita semua penjaga."
Di sebelah, Bu Kasinem menanam bibit jahe dan kunyit di
lahan yang sudah disiapkan. Bejo membantu menutup lubang dengan tanah,
tangannya yang biasa memotong sayuran kini kotor oleh lumpur.
"Bu, nanti kalau panen, Bu Kasinem yang jual ya?"
tanya Bejo.
Bu Kasinem tersenyum lebar. "Nanti saya kasih gratis
untuk kalian. Sebagai ucapan terima kasih. Tapi jangan minta banyak-banyak.
Saya juga mau jual."
Bejo tertawa. "Saya bayar, Bu. Nanti saya beli banyak.
Buat bahan baku restoran. Saya mau buat menu jamu tradisional. Mungkin bisa
jadi daya tarik turis."
Bu Kasinem terkejut. "Jamu untuk turis? Mereka
suka?"
"Suka sekali, Bu. Mereka suka yang alami. Yang
tradisional. Yang punya cerita."
Topan dan pemuda desa sibuk membawa bibit dari desa ke
lokasi penanaman. Dani membantu mengangkut dengan sepeda motornya,
berulang-ulang bolak-balik.
"Dan, lo tidak sibuk di restoran?" tanya Bejo.
"Dikasih libur sama lo. Katanya bantu kerja
bakti."
Bejo tertawa. "Itu bukan libur. Itu tugas."
Dani ikut tertawa. "Tugas yang menyenangkan."
Di kejauhan, Kiara dan kawanan kancil mengamati dari balik
semak. Mereka tidak mendekat, tapi juga tidak pergi. Mereka tahu, manusia
sedang bekerja untuk mereka. Untuk semua.
11. Kebun Tanaman Obat
Dua minggu kemudian, kebun tanaman obat mulai menunjukkan
hasil. Jahe, kunyit, kencur, temulawak, semua tumbuh subur. Bu Kasinem dan
penjual jamu lain bergiliran merawat kebun, mencabut rumput liar, memupuk
dengan pupuk kandang, menyiram setiap pagi dan sore.
Wati datang berkunjung suatu sore. Bu Kasinem sedang duduk
di pinggir kebun, memandangi tanamannya dengan bangga.
"Bu, ini bagus," kata Wati sambil duduk di
sampingnya.
Bu Kasinem tersenyum. "Alhamdulillah. Sekarang saya
tidak perlu masuk ke hutan dalam. Cukup di sini. Tanaman obatnya lebih
terjamin, karena kita rawat bersama. Tidak perlu khawatir dicuri orang. Tidak
perlu khawatir ditebang liar."
"Penghasilan Bu Kasinem bagaimana?"
Bu Kasinem menghitung dengan jari. "Meningkat. Dulu,
saya hanya bisa jualan di desa. Sekitar 20-30 ribu sehari. Sekarang, turis yang
datang juga beli. Mereka suka jamu tradisional. Kata mereka, ini warisan budaya
yang harus dilestarikan. Mereka beli banyak. Sekali jualan bisa dapat 100-150
ribu. Sebulan, hampir 3 juta."
Matanya berbinar. "Anak saya bisa kuliah sekarang.
Saya sudah daftar. Semester depan, dia masuk universitas. Jurusan biologi.
Katanya mau belajar tentang tanaman obat. Jadi ilmuwan seperti kalian."
Wati memegang tangannya. "Itu bagus, Bu. Saya turut
bahagia."
Bu Kasinem menatap Wati. Matanya berkaca-kaca.
"Ti, dulu saya marah sama kalian. Saya kecewa. Saya
pikir kalian lupa sama warga. Maafkan saya."
Wati memeluknya. "Tidak perlu minta maaf, Bu. Kami
yang harusnya minta maaf. Karena terlalu lama tidak mendengar. Terlalu lama
tidak datang. Terlalu lama lupa bahwa warga adalah bagian terpenting dari
konservasi."
12. Forum Berjalan
Forum Konservasi Desa berjalan dengan baik. Setiap bulan,
mereka mengadakan pertemuan di balai desa. Pak Rasmin memimpin dengan tegas, Bu
Kasinem dengan lembut, Topan dengan semangat. Raka, Wati, Bejo, dan Dani hanya
duduk di belakang, sesekali memberi saran jika diminta.
"Bulan ini," lapor Pak Rasmin, "pagar hijau
sudah selesai 80 persen. Serai wangi tumbuh subur. Kancil mulai menghindar.
Laporan dari petani, serangan ke sawah menurun drastis. Hampir tidak ada
lagi."
Tepuk tangan.
"Kebun tanaman obat juga berjalan baik. Penghasilan Bu
Kasinem dan penjual jamu lain meningkat 50 persen. Beberapa warga lain mulai
tertarik menanam tanaman obat di pekarangan rumah. Mereka jual ke turis, atau
ke Bejo untuk restoran."
Tepuk tangan lagi.
"Pengambilan bambu terkontrol. Setiap keluarga yang
ambil bambu, sudah menanam bibit baru. Saya catat, bulan ini ada 15 keluarga ambil
bambu. Mereka sudah menanam 75 bibit baru. Hutan tidak kehabisan bambu."
Tepuk tangan meriah.
Pak Rasmin menatap Raka yang duduk di belakang. "Nak
Raka, ada yang ingin disampaikan?"
Raka berdiri. "Tidak, Pak. Forum sudah berjalan dengan
baik. Kami hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah mau bekerja
sama. Terima kasih sudah mau menjaga hutan bersama. Terima kasih sudah mau
mendengar satu sama lain."
Pak Rasmin tersenyum. "Terima kasih juga, Nak. Karena
kalian tidak pernah menyerah pada kami. Karena kalian mau datang ke rumah kami,
duduk di teras kami, minum kopi kami, mendengar keluhan kami. Itu yang membuat
kami percaya."
Bu Kasinem menambahkan, "Dan karena kalian mau
memegang janji. Pagar Pak Rasmin jadi. Kebun saya jadi. Aturan bambu jelas. Itu
yang kami butuhkan. Bukan janji. Tapi bukti."
13. Kiara dan Kawanan
Suatu sore, Raka, Wati, dan Bejo duduk di titik Beringin
bersama Kiara. Kawanan kancil berkeliaran di sekitar mereka, tenang, tidak
takut. Kiara sudah semakin dewasa, bulunya yang cokelat kemerahan mengilap di
bawah sinar matahari sore. Matanya tajam, tapi tetap hangat.
"Lihat mereka," kata Wati. "Semakin banyak.
Populasi meningkat 20 persen tahun ini."
Raka mengangguk. "Karena hutan aman. Karena warga
menjaga. Karena tidak ada lagi konflik."
Bejo mengelus Kiara. "Karena Pak Rasmin dan Bu Kasinem
sekarang jadi penjaga hutan yang paling rajin. Saya lihat, Pak Rasmin setiap
pagi jalan ke batas hutan, memeriksa pagar hijau. Bu Kasinem setiap sore ke
kebun tanaman obat. Mereka bangga. Mereka merasa memiliki."
Kiara menyandarkan kepalanya di pundak Raka.
"Kiara, kamu sudah jadi pemimpin hebat. Kamu berhasil
menyatukan kawanan. Kamu berhasil menjaga hutan. Kiano pasti bangga."
Kiara menggerakkan telinganya. Seperti tersenyum.
Pak Jarwo datang dari balik semak, duduk di samping mereka.
Golok tuanya di pinggang, rambutnya putih semua, jalannya lambat, tapi matanya
masih tajam.
"Anak-anak, saya dengar forum konservasi berjalan
baik. Pak Rasmin jadi ketua. Bu Kasinem jadi sekretaris. Topan jadi koordinator
lapangan. Saya senang. Saya sudah tua. Tidak bisa banyak berbuat. Tapi saya
lihat, generasi baru sudah siap."
Raka menatap Pak Jarwo. "Kami hanya fasilitator, Pak.
Biarkan warga yang memimpin. Biarkan warga yang menjaga hutan mereka sendiri.
Kami hanya membantu."
"Itu yang benar. Itu yang saya ajarkan dulu.
Konservasi bukan tentang melindungi hutan dari manusia. Tapi tentang mengajak
manusia untuk melindungi hutan bersama. Kalau warga merasa memiliki, mereka
akan menjaga. Kalau warga merasa diabaikan, mereka akan merusak."
Mereka diam, menikmati sore yang tenang. Burung-burung
mulai kembali ke sarang, suara mereka sayup-sayup terdengar. Sungai mengalir
tenang, airnya jernih, membawa dedaunan kering yang jatuh dari pohon-pohon
besar. Di kejauhan, Pak Rasmin sedang berjalan di pinggir hutan, memeriksa
pagar hijau. Bu Kasinem sedang memanen kunyit di kebun. Topan sedang mengukur
bambu yang akan diambil untuk tanggul.
Semua bekerja. Semua menjaga. Semua merasa memiliki.
14. Pelajaran dari
Konflik
Malam harinya, Raka, Wati, dan Bejo duduk di markas. Mereka
sudah jarang berkumpul di sini sejak forum konservasi dibentuk. Tapi malam ini,
mereka ingin merenungkan semua yang terjadi.
"Kita belajar banyak dari konflik ini," kata
Raka. Tangannya memegang buku catatan lusuh yang sudah ia bawa sejak masih
kecil. Halaman-halamannya penuh coretan, sketsa, catatan, dan kenangan.
"Apa?" tanya Bejo. Ia duduk bersila di lantai
bambu, memainkan sendok kayu yang biasa ia gunakan untuk mengaduk rendang.
"Pertama, konservasi tidak bisa berhasil tanpa
dukungan warga. Kita bisa punya ilmu setinggi langit, bisa punya dana sebanyak
apapun, bisa punya teknologi secanggih apapun. Tapi kalau warga tidak
mendukung, semua akan gagal. Warga akan masuk hutan diam-diam. Warga akan
pasang jerat. Warga akan protes, akan marah, akan melawan. Tidak ada konservasi
yang berhasil dengan memaksa."
Wati mengangguk. Ia duduk di kursi bambu, kakinya
diselonjorkan, memandang foto-foto kancil yang terpajang di dinding. Foto Kai,
Kai Muda, Kiano, Kiara. Empat generasi.
"Kedua, kita harus mendengar. Bukan hanya dengan
telinga, tapi dengan hati. Keluhan warga bukan penghalang. Keluhan warga adalah
peta menuju solusi. Kalau Pak Rasmin tidak marah, kita tidak akan tahu sawahnya
diganggu kancil. Kalau Bu Kasinem tidak marah, kita tidak akan tahu tanaman
obatnya berkurang. Kalau Topan tidak marah, kita tidak akan tahu dia butuh
bambu. Marah mereka adalah cara mereka bicara. Tugas kita mendengar."
Bejo menambahkan, "Ketiga, kita tidak bisa memimpin sendiri.
Kita harus percaya pada warga. Biarkan mereka yang memimpin. Biarkan mereka
yang memutuskan. Biarkan mereka yang mengawasi. Kita hanya fasilitator. Karena
ini desa mereka. Hutan mereka. Masa depan mereka."
Raka tersenyum. "Dan yang paling penting, kita belajar
bahwa konflik tidak selalu buruk. Konflik bisa menjadi awal dari dialog. Awal
dari pemahaman. Awal dari kebersamaan. Tanpa konflik dengan Pak Rasmin, mungkin
kita tidak akan pernah duduk di teras rumahnya, minum kopi yang sudah dingin,
mendengar keluhannya. Tanpa konflik dengan Bu Kasinem, mungkin kita tidak akan
pernah merasakan jamu kunyit asem yang hangat, dan mendengar cerita tentang
neneknya yang mengajarkan tanaman obat."
Mereka diam, merenungkan kata-kata itu.
Handy talkie berderak. Suara Guntur terdengar, agak
tergesa. "Ra, ada rapat forum besok. Pak Rasmin minta kalian hadir.
Katanya ada usulan baru."
Raka mengambil handy talkie. "Siap, Guntur. Kita
hadir. Usulan apa?"
"Nanti saja. Katanya kejutan."
Mereka tertawa.
15. Kiara di Balai Desa
Keesokan harinya, rapat forum digelar di balai desa.
Suasana hangat, berbeda dari rapat-rapat sebelumnya. Warga datang dengan
senyum, bukan dengan wajah tegang. Anak-anak ikut, berlarian di antara
kursi-kursi kayu. Ibu-ibu membawa makanan kecil untuk dijual. Bapak-bapak
membawa kopi dari warung.
Pak Rasmin membuka rapat. Suaranya lantang, penuh semangat.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya punya usulan. Selama ini,
kita hanya bicara soal konservasi di dalam ruangan. Di balai desa, di markas,
di warung kopi. Padahal, yang kita bicarakan adalah hutan. Rumah kita. Rumah
kancil-kancil kita."
Ia menatap Raka.
"Nak Raka, apakah Kiara bisa diajak ke sini? Biar
warga melihat langsung. Biar warga tahu, bahwa kancil bukan musuh. Mereka
saudara kita. Mereka keluarga besar Bojong Sari."
Raka terkejut. "Kiara? Di balai desa?"
"Iya. Saya tahu ini tidak biasa. Saya tahu ini pertama
kali. Tapi saya ingin warga melihat. Bahwa kancil bisa hidup berdampingan
dengan manusia. Bahwa mereka bukan ancaman. Bahwa mereka bagian dari kita."
Raka menatap Wati dan Bejo. Mereka mengangguk.
"Baik, Pak. Saya coba."
Raka, Wati, dan Bejo berjalan ke Lembah Harapan. Kiara
sedang duduk di tepi sungai, ditemani beberapa kancil lain. Air sungai mengalir
jernih, daun-daun kering bertebaran di permukaan. Burung-burung berkicau di
kejauhan.
"Kiara, ada yang minta ketemu kamu."
Kiara menatap Raka. Matanya bertanya.
"Mau ikut ke desa? Ada warga yang ingin
berkenalan."
Kiara diam. Ia belum pernah ke desa. Ia lahir di hutan,
besar di hutan, belajar menjadi pemimpin di hutan. Desa adalah dunia lain.
Dunia yang tidak ia kenal. Tapi ia melihat mata Raka. Ada permintaan di sana.
Ada kepercayaan. Ada harapan.
Perlahan, Kiara berdiri.
Mereka berjalan ke desa. Kiara di samping Raka, diikuti
oleh Wati dan Bejo. Kancil-kancil lain tidak ikut. Hanya Kiara. Pemimpin
mereka. Perwakilan mereka.
Warga yang melihat di jalan, berhenti, menatap dengan
takjub. Ada yang mundur, ada yang diam, ada yang tersenyum. Seorang anak kecil
menjerit kegirangan. "Kancil! Kancil!" Ibunya menutup mulutnya, takut
Kiara lari. Tapi Kiara tidak lari. Ia hanya berjalan, tenang, seperti Raka.
Di balai desa, warga sudah berkumpul. Pintu dibuka lebar.
Kiara masuk, perlahan, menatap sekeliling. Matanya yang tajam menilai, waspada.
Warga yang duduk di barisan depan, mundur sedikit. Ada yang terkesiap, ada yang
berbisik, ada yang memegang dada. Tapi Pak Rasmin tetap duduk.
Kiara mendekati Pak Rasmin. Ia mengendus tangannya yang
keriput dan penuh kapalan. Lalu menundukkan kepala.
Pak Rasmin terkejut. Tangannya gemetar. Perlahan, ia
mengelus kepala Kiara.
"Kamu... kamu Kiara?"
Kiara menggerakkan telinganya.
Pak Rasmin menangis. Air mata pria tua itu jatuh, membasahi
pipinya yang keriput.
"Maafkan saya, Kiara. Maafkan saya yang dulu mau usir
kalian. Maafkan saya yang marah-marah, yang protes, yang mau pasang jerat. Saya
tidak tahu. Saya hanya tahu sawah saya rusak. Saya tidak tahu bahwa kalian juga
butuh hidup. Saya tidak tahu bahwa kalian juga punya keluarga, punya anak,
punya pemimpin seperti kamu."
Kiara menjilati tangannya. Hangat.
Bu Kasinem menangis. Topan menunduk, matanya berkaca-kaca.
Mbah Gandul tersenyum.
16. Damai di Kaki Bukit
Rapat forum selesai tanpa agenda formal. Warga justru lebih
banyak bertanya tentang Kiara, tentang kancil, tentang hutan. Raka, Wati, dan
Bejo menjawab satu per satu. Pak Rasmin dan Bu Kasinem ikut menjelaskan dari
perspektif warga.
"Kancil itu pemalu," kata Pak Rasmin, tangannya
masih mengelus Kiara. "Mereka tidak akan ganggu kalau tidak diganggu.
Mereka tidak akan masuk sawah kalau ada makanan di hutan. Mereka tidak akan
rusak tanaman kalau ada pagar."
Bu Kasinem menambahkan, "Dan mereka juga punya
perasaan. Lihat Kiara. Dia tahu kita sedang bicara. Dia tahu kita sedang
berdamai."
Sore itu, Kiara pulang ke hutan. Diikuti oleh Raka, Wati,
Bejo, dan beberapa warga yang penasaran.
Di titik Beringin, Kiara berhenti. Ia menatap ke arah desa,
lalu ke arah hutan, lalu ke arah Raka.
"Terima kasih," katanya
lewat bahasa tubuh. "Terima kasih sudah memperjuangkan kami.
Terima kasih sudah tidak menyerah pada manusia."
Raka mengelus kepalanya. "Kami tidak menyerah pada
siapa pun, Kiara. Kami hanya ingin semua hidup berdampingan. Manusia dan
kancil. Desa dan hutan. Bersama."
Kiara menggerakkan telinganya. Lalu, perlahan, ia berlari ke
dalam hutan, diikuti kawanannya.
Warga yang menyaksikan, terdiam. Ada yang menangis. Ada
yang tersenyum. Ada yang memeluk tetangganya.
Mbah Gandul, yang ikut didorong cucunya ke titik Beringin,
berkata lirih.
"Ini yang saya tunggu. Bukan kemenangan manusia. Bukan
kemenangan kancil. Tapi kemenangan kebersamaan. Kemenangan hati."
Pak Rasmin berdiri di samping Raka. "Nak Raka, saya
minta maaf. Untuk semuanya. Untuk kemarahan saya. Untuk protes saya. Untuk
kata-kata kasar saya."
Raka tersenyum. "Tidak perlu minta maaf, Pak. Kita
semua sedang belajar. Belajar menjadi lebih baik. Belajar mendengar. Belajar
berdampingan."
Matahari terbenam di ufuk barat, meninggalkan sisa cahaya
jingga yang tembus di sela-sela dedaunan. Di kaki Bukit Manoreh, manusia dan
alam mulai menemukan jalan untuk hidup berdampingan. Bukan tanpa konflik. Bukan
tanpa perdebatan. Tapi dengan hati yang terbuka, dan tekad untuk bersama.
BERSAMBUNG KE EPISODE 5:
KEBAKARAN HUTAN KEMBALI







0 komentar:
Posting Komentar