DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari
Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari
EPISODE 5: KEBAKARAN HUTAN KEMBALI
1. Langit yang Berbeda
Pagi itu, Raka terbangun dengan perasaan yang tidak biasa.
Bukan firasat buruk seperti saat Kiano pergi, tapi sesuatu yang lebih samar,
lebih kabur, seperti suara yang tidak bisa ia tangkap namun terus mengganggu
pikirannya. Ia duduk di tepi tempat tidur, memejamkan mata, mencoba merasakan
apa yang salah.
Di luar, langit berwarna jingga kemerahan. Bukan jingga
cerah seperti matahari terbit, tapi jingga kusam seperti senja yang tertahan.
Aneh. Sangat aneh.
Ia turun ke dapur. Bu Tani sudah menyiapkan sarapan—nasi
uduk dengan ayam goreng dan tempe orek. Aroma santan dan daun pandan memenuhi
ruangan, tapi Raka tidak berselera. Ia hanya mengambil segelas teh hangat dan
duduk di teras. Teh itu terasa pahit di lidahnya, meski Bu Tani selalu
menyeduhnya dengan gula aren secukupnya.
"Ra, kamu nggak makan?" tanya Bu Tani dari dapur.
Tangannya yang keriput masih sibuk membungkus nasi untuk tetangga yang sedang
sakit.
"Sebentar, Bu. Masih ngantuk."
Bu Tani tidak percaya. Ia meletakkan centong nasi, berjalan
ke teras, dan duduk di samping Raka. Matanya yang sudah rabun menatap wajah
anaknya.
"Kamu bukan ngantuk, Ra. Ada yang mengganggu
pikiranmu. Ibu kenal kamu. Dari kecil, kalau kamu diam-diam gini, pasti ada
sesuatu."
Raka tersenyum tipis. Ibunya memang selalu bisa membaca
pikirannya. "Langitnya aneh, Bu."
Bu Tani menengadah. Wajahnya berubah serius. "Iya.
Sejak kemarin warnanya kayak gini. Ayahmu bilang, mungkin ada kebakaran di
gunung sebelah."
"Tapi kemarau belum sepanjang ini biasanya, Bu. Tahun
lalu, hujan sudah turun di bulan Oktober. Sekarang sudah November, belum setetes
pun."
Bu Tani menghela napas. Tangannya yang keriput menggenggam
tangan Raka. "Nak, alam sedang marah. Ibu tidak tahu kenapa. Tapi Ibu
yakin, kamu dan teman-temanmu akan tahu. Kalian yang paling paham soal
hutan."
Pak Tani keluar dengan langkah tertatih, duduk di kursi
bambu di samping Raka. Ia sudah mendengar percakapan mereka dari dalam kamar.
Wajahnya yang tua dan penuh kerutan tampak lebih lelah dari biasanya.
"Ayah dengar dari radio, ada kebakaran hutan di
beberapa tempat. Di gunung sebelah selatan, di hutan lindung dekat kota, bahkan
di Kalimantan katanya. Asapnya sampai ke sini, terbawa angin musim
kemarau."
Raka menoleh cepat. "Kebakaran hutan? Di mana saja,
Yah?"
Pak Tani menghitung dengan jari. "Di gunung sebelah
selatan, jauh dari sini. Tapi angin musim kemarau kan dari selatan ke utara.
Asapnya bisa terbawa. Itu sebabnya langit jadi kayak gini. Bukan awan, tapi
asap."
Raka merasa dadanya berdebar. Kebakaran hutan. Kata-kata
itu membawa kembali kenangan lama. Kenangan yang ia pikir sudah terkubur.
Kebakaran besar dua belas tahun lalu, yang hampir menghanguskan Hutan Manoreh.
Kebakaran yang membuat ia, Wati, dan Bejo berlarian menyelamatkan Kai Muda dan
kawanannya. Kebakaran yang mengajarkan mereka bahwa hutan yang mereka cintai
tidak abadi. Bahwa dalam hitungan jam, puluhan tahun kehidupan bisa lenyap.
Ia ingat panasnya api yang mendekat, pekatnya asap yang
mencekik, paniknya kancil-kancil yang berlarian tak tentu arah. Ia ingat Kai
Muda yang berdiri di atas batu, mencoba menenangkan kawanannya, matanya yang
cemas tapi tetap bijaksana. Ia ingat peluh bercampur air mata, kelelahan yang
nyaris mengalahkan mereka. Dan ia ingat hujan yang turun di saat genting,
menyelamatkan mereka semua.
"Yah, aku ke hutan."
Pak Tani menatapnya. "Belum sarapan?"
"Nanti, Yah. Aku mau cek dulu. Ada yang tidak
beres."
Bu Tani bangkit, mengambil bungkusan nasi dari dapur.
"Bawa ini. Makan di perjalanan. Jangan sampai kelaparan."
Raka menerima bungkusan itu, mencium tangan ibu dan
ayahnya, lalu berlari meninggalkan rumah.
2. Kekeringan yang
Mengkhawatirkan
Sepanjang perjalanan menuju titik Beringin, Raka sudah
mulai melihat tanda-tanda yang tidak biasa. Daun-daun berguguran lebih banyak
dari biasanya, menutupi tanah seperti permadani kering yang rapuh.
Rumput-rumput di pinggir jalan setapak menguning, kering, rapuh. Ketika ia
menginjaknya, rumput-rumput itu hancur seperti debu.
Tanah retak-retak, haus akan air. Retakan-retakan itu
lebar, dalam, seperti luka di kulit bumi yang tidak kunjung sembuh. Beberapa
retakan bahkan cukup besar untuk memasukkan jari tangan. Raka ingat, dua belas
tahun lalu, tanah juga retak seperti ini sebelum kebakaran besar terjadi.
Ia mempercepat langkah. Keringat sudah membasahi
punggungnya meski baru berjalan setengah jam. Udara terasa panas dan kering,
seperti di dalam oven. Tidak ada angin. Tidak ada kicauan burung. Hanya
keheningan yang mencekam.
Di titik Beringin, ia melihat pemandangan yang sama. Bak
air yang biasanya penuh hingga meluap, kini tinggal setengah. Airnya keruh,
bercampur lumpur, tidak lagi jernih seperti biasanya. Serai wangi yang ditanam
sebagai pagar hijau layu, daunnya menggulung, ujungnya kecokelatan. Beberapa
pohon kecil di sekitarnya mulai meranggas, batangnya kering, kulitnya
mengelupas seperti orang yang terbakar matahari.
Wati sudah ada di sana. Ia duduk di bawah pohon beringin,
memandangi bak air yang menipis. Rambutnya yang panjang sebahu diikat ke
belakang dengan karet gelang merah—warna kesukaannya. Wajahnya tegang, bibirnya
mengerucut, tangannya menggenggam buku catatan kecil yang selalu ia bawa.
"Ra, ini mengkhawatirkan," katanya begitu melihat
Raka datang. Suaranya pelan, hampir berbisik, seperti takut sesuatu yang ia
ucapkan akan menjadi kenyataan.
Raka duduk di sampingnya. "Sudah berapa lama?"
Wati membuka buku catatannya. "Seminggu ini. Setiap
hari airnya berkurang. Senin masih tiga perempat, Selasa tinggal setengah, Rabu
mulai keruh, Kamis berkurang lagi, Jumat seperti ini. Aku sudah lapor ke forum.
Pak Rasmin bilang sumur-sumur di desa juga mulai kering. Beberapa warga sudah
kesulitan dapat air bersih."
Raka mengusap wajahnya. Tangannya terasa kasar oleh debu
yang menempel di kulit. "Kita harus siapkan cadangan. Lembah Harapan masih
aman?"
Wati menggeleng pelan. "Masih aman, tapi debit air
sungainya turun drastis. Aku cek kemarin, airnya tinggal setengah dari
biasanya. Kiara dan kawanan masih bisa minum di sana, tapi kalau kemarau terus
begini..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak perlu. Mereka berdua
tahu apa yang akan terjadi. Lembah Harapan adalah sumber air terakhir di hutan
ini. Jika itu kering, maka semuanya akan kering. Kancil-kancil akan kelaparan,
akan mati, akan punah. Dan Bojong Sari akan kehilangan segalanya.
Bejo datang dengan langkah tergesa. Wajahnya merah,
keringat membasahi keningnya, bajunya basah di bagian dada dan ketiak. Ia
membawa termos kopi dan beberapa bungkus makanan yang terbungkus daun
pisang—kebiasaannya yang tidak pernah berubah. Sejak kecil, Bejo selalu membawa
makanan ke mana pun ia pergi.
"Gue lihat dari jalan, bak air udah setengah,"
katanya sambil duduk, mengatur napas. Dadanya naik turun, napasnya tersengal.
"Ini parah. Biasanya air masih penuh sampai Desember. Gue masih ingat,
dulu waktu kita kecil, bak ini selalu penuh meskipun kemarau panjang.
Sekarang..."
Pak Jarwo muncul dari balik semak. Jalannya lambat, kakinya
yang sudah tidak kuat lagi membuat langkahnya terseok-seok. Golok tua di
pinggangnya berayun pelan, gagang kayunya sudah hitam oleh usia. Tapi matanya
masih tajam, masih waspada, masih melihat hal-hal yang tidak dilihat orang
lain.
"Anak-anak, saya baru dari hutan bagian timur.
Kondisinya lebih parah. Sungai-sungai kecil mulai kering. Tanah retak di
mana-mana. Daun-daun berguguran seperti musim gugur. Saya belum pernah lihat
begini sejak... sejak kebakaran besar dulu."
Raka berdiri. "Kita harus periksa semua titik. Bak air
di titik Beringin, titik Sungai, titik Batu. Lembah Harapan. Tebing Merah. Kita
harus tahu persis kondisi air di seluruh hutan. Jangan sampai ada
kejutan."
Wati berdiri. "Aku ke titik Sungai."
Bejo berdiri. "Aku ke titik Batu."
Pak Jarwo berdiri. "Saya ke Lembah Harapan. Cek Kiara
dan kawanan."
Raka mengangguk. "Aku ke Tebing Merah. Itu yang paling
rawan. Dulu di sanalah api pertama kali muncul. Kalau sampai kering total, bisa
jadi sumber api baru. Kita kumpul di markas sore ini. Laporkan semuanya. Jangan
ada yang ditutup-tutupi."
Mereka berpencar. Raka berjalan sendiri ke timur, menuju
Tebing Merah.
3. Tebing Merah yang
Mengering
Perjalanan ke Tebing Merah memakan waktu hampir dua jam.
Jalannya terjal, berbatu, dengan semak-semak kering yang mudah patah. Raka
berjalan sendirian, ditemani hanya oleh pikiran-pikirannya yang gelisah. Di
kepalanya, kenangan-kenangan lama bergulir seperti film yang diputar cepat.
Ia ingat pertama kali ia ke sini, bersama Kai Muda. Waktu
itu, Tebing Merah basah, lembab, dengan uap panas yang keluar dari celah-celah
batu. Kai Muda berdiri di atas batu besar, matanya menerawang, seperti melihat
sesuatu yang tidak bisa dilihat manusia. Malam itu, Kai Muda bermimpi tentang
api biru yang muncul dari dalam tanah. Mimpi yang kemudian menjadi kenyataan.
Mimpi yang menyelamatkan kawanan kancil dari kematian.
Ia ingat bagaimana mereka menemukan retakan-retakan baru
yang mengeluarkan gas berbahaya. Bagaimana mereka mengevakuasi kawanan kancil
yang tersesat. Bagaimana mereka menutup akses ke lembah itu, memperingatkan
warga untuk tidak mendekat.
Sekarang? Kering. Tidak ada uap. Tidak ada kelembaban.
Batu-batu merah itu tampak pucat, seperti kehilangan darah, seperti luka yang
mengering. Dulu, batu-batu ini berkilau karena air rembesan yang terus
mengalir. Sekarang, mereka kusam, berdebu, retak.
Raka duduk di atas batu besar yang sama yang dulu diduduki
Kai Muda. Ia memandangi lembah di bawahnya. Dulu, lembah ini hijau, subur,
menjadi rumah bagi kelompok kancil yang tersesat. Dulu, di sini ada sungai
kecil yang mengalir jernih, rumput-rumput yang lebat, bunga-bunga liar yang
bermekaran. Dulu, kancil-kancil itu berlarian riang, tidak pernah takut pada
manusia karena mereka belum pernah melihat manusia.
Sekarang, lembah itu kering, retak-retak, seperti kulit tua
yang mengelupas. Tidak ada air. Tidak ada rumput. Tidak ada bunga. Tidak ada
jejak kancil. Tidak ada jejak kehidupan. Hanya debu. Hanya kehampaan. Hanya
kenangan yang perlahan pudar.
Raka mengeluarkan buku catatannya. Halaman kosong terakhir.
Ia menulis dengan tangan yang sedikit gemetar.
Tebing Merah, 15 November. Laporan kondisi:
1. Tidak ada air. Sungai kering total. Tidak ada genangan.
Tidak ada rembesan.
*2. Tidak ada uap dari celah-celah batu. Retakan-retakan
lama tidak mengeluarkan uap panas seperti dulu. Mungkin aktivitas geothermal
menurun drastis. Atau mungkin ini pertanda yang lebih buruk.*
*3. Vegetasi mati. Pohon-pohon kecil mati semua.
Rumput-rumput kering, hancur seperti debu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.*
4. Tidak ada jejak hewan. Kancil, kijang, babi hutan, semua
tidak ada. Mungkin mereka sudah pindah ke tempat yang masih ada air. Mungkin
mereka sudah mati.
5. Udara panas, kering, seperti di dalam oven. Tidak ada
angin. Tidak ada suara burung. Hanya keheningan yang mencekam.
Kesimpulan: Tebing Merah kering total. Tidak ada
tanda-tanda kehidupan. Ini adalah zona mati. Jika kemarau terus berlanjut, zona
mati ini akan meluas. Ke Lembah Harapan. Ke titik Beringin. Ke desa.
Ia menutup buku catatannya, memandangi lembah itu untuk
terakhir kalinya. Langit di atasnya berwarna jingga kusam, seperti luka lama
yang tidak kunjung sembuh. Asap dari kebakaran di gunung sebelah mulai menebal,
membuat matahari tampak seperti piringan merah yang redup.
"Kita akan kehilangan hutan ini kalau tidak ada
hujan," bisiknya. Suaranya parau, seperti baru bangun tidur. "Dan
hujan tidak akan datang kalau hutan ini hilang."
Ponselnya berdering. Wati.
"Ra, titik Sungai kering total. Bak air kosong. Sungai
tidak mengalir. Hanya ada genangan kecil, itupun keruh dan bau. Tidak ada jejak
hewan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan."
Raka menghela napas. "Titik Batu?"
"Bejo belum lapor. Tapi aku khawatir. Kalau titik
Sungai sudah kering, titik Batu mungkin juga."
"Aku segera ke markas. Kumpul di sana. Kita harus buat
rencana."
4. Laporan di Markas
Sore harinya, mereka berkumpul di markas. Markas yang dulu
penuh dengan tawa dan canda, kini sunyi. Wajah-wajah tegang, lelah, penuh
kekhawatiran. Bejo datang paling akhir, wajahnya pucat, bajunya basah oleh
keringat.
"Titik Batu... masih ada air," katanya sambil
duduk, mengatur napas. Tangannya gemetar saat mengambil botol air minum.
Wati menghela napas lega. "Syukurlah."
Bejo menggeleng. "Tunggu dulu. Masih ada air, tapi
tinggal sedikit. Mungkin cukup untuk seminggu. Seminggu lagi, kalau tidak
hujan, kering."
Keheningan menyelimuti ruangan. Seminggu. Hanya seminggu.
Setelah itu, titik Batu akan mati seperti titik Sungai, seperti Tebing Merah.
Pak Jarwo melaporkan Lembah Harapan. Suaranya berat,
seperti membawa beban yang tidak terlihat.
"Lembah Harapan masih aman. Air sungai masih mengalir,
tapi debitnya turun 50 persen. Dulu, air sungai bisa sampai ke sini," ia
menunjuk ke betisnya. "Sekarang, hanya sampai mata kaki. Kiara dan kawanan
masih bisa minum, tapi mereka mulai gelisah. Beberapa kancil mulai keluar dari
lembah, mencari air ke tempat lain. Ada yang ke titik Beringin, ada yang ke
titik Batu, ada yang ke desa."
Raka terkejut. "Ke desa?"
"Iya. Tadi pagi, saya lihat tiga ekor kancil di
pinggir desa, dekat sumur Pak Rasmin. Mereka haus. Sumur Pak Rasmin masih ada
air, meski sedikit. Mereka minum di sana."
Wati menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca.
"Mereka... mereka datang ke desa? Padahal mereka takut pada manusia."
Pak Jarwo mengangguk. "Takut, tapi haus lebih
menakutkan. Mereka tidak punya pilihan."
Raka mengepalkan tangannya. "Ini sudah darurat. Kita
harus bertindak."
Guntur yang ikut hadir, mengangkat tangan. "Apa yang
bisa kita lakukan? Kita tidak bisa memanggil hujan."
Suasana hening lagi. Tidak ada yang bisa menjawab.
Pak Jarwo yang sudah sangat tua, bersuara. "Kita bisa
menyiapkan cadangan air. Membawa air dari Lembah Harapan ke titik-titik yang
kering. Tapi itu hanya solusi sementara. Akar masalahnya adalah kemarau
panjang. Dan kemarau panjang terjadi karena perubahan iklim. Karena hutan di
mana-mana ditebang. Karena bumi semakin panas. Karena kita manusia terlalu
serakah."
Dani yang juga hadir, bertanya dengan suara lirih.
"Apa yang bisa warga lakukan? Kami bukan ilmuwan. Kami tidak bisa
menghentikan perubahan iklim. Kami hanya petani, penjual jamu, tukang bangunan.
Apa yang bisa kami lakukan?"
Raka berdiri. Ia berjalan ke papan tulis, mengambil spidol
merah, menulis satu kata besar: MENJAGA.
"Kita bisa menjaga hutan ini. Hutan yang sehat bisa
mengundang hujan. Pohon-pohon mengeluarkan uap air, membentuk awan, menurunkan
hujan. Itu sudah terbukti secara ilmiah. Kalau hutan ini rusak, hujan tidak
akan datang. Kalau hutan ini lestari, hujan akan turun. Itu yang bisa kita
lakukan. Menjaga. Bersama."
Ia menatap satu per satu wajah yang hadir.
"Dan kita tidak sendirian. Ada Kiara. Ada kawanan
kancil. Ada hutan yang selama ini menjaga kita. Sekarang giliran kita menjaga
mereka."
5. Pertemuan Forum
Darurat
Malam harinya, Pak Rasmin mengadakan pertemuan forum
darurat. Balai desa penuh sesak, lebih dari biasanya. Warga datang dengan
wajah-wajah tegang, berbisik-bisik, saling bertukar kabar. Suasana seperti di
pengadilan, di mana setiap orang menunggu vonis yang akan menentukan nasib
mereka.
Seorang ibu-ibu di barisan belakang berdiri. "Sumur
saya mulai kering. Sudah tiga hari ini, airnya cuma setengah ember. Tidak cukup
untuk masak, apalagi mandi."
Seorang petani dari pinggir desa ikut bersuara. "Sawah
saya retak-retak. Padi yang baru tumbuh mulai menguning. Kalau tidak hujan
minggu ini, gagal panen."
Seorang pemuda yang beternak kambing, mengangkat tangan.
"Kambing saya tidak mau makan. Rumput kering semua. Saya cari ke
mana-mana, tidak ada yang hijau. Mereka cuma bisa minum, itupun susah."
Pak Rasmin berdiri di depan. Wajahnya yang biasanya tegas,
kini tampak tua. Garis-garis di dahinya semakin dalam, matanya sayu, bahunya
merunduk seperti tidak kuat menahan beban.
"Saudara-saudara, kita sedang menghadapi musim kemarau
terpanjang dalam sepuluh tahun terakhir. Saya sudah cek sumur-sumur desa. 70
persen sudah kering. Sisanya hanya berair sedikit, tidak cukup untuk semua
warga."
Suasana hening. Sunyi. Seperti di dalam gua. Beberapa ibu
mulai menangis pelan. Seorang kakek memejamkan mata, bibirnya bergerak-gerak
seperti sedang berdoa.
"Saya sudah bicara dengan tim konservasi. Mereka punya
cadangan air di Lembah Harapan. Air sungai masih mengalir, meski debitnya
turun. Kita bisa ambil air dari sana untuk kebutuhan sehari-hari."
Seorang warga bertanya, "Air itu untuk manusia atau
untuk kancil?" Suaranya tajam, seperti pisau yang siap memotong.
Pak Rasmin menjawab dengan tegas. Matanya tidak berkedip,
suaranya tidak bergetar. "Untuk semua. Untuk manusia, untuk kancil, untuk
hewan-hewan lain. Kita akan berbagi. Kita akan mengatur jadwal pengambilan air.
Pagi untuk manusia, siang untuk hewan ternak, sore untuk satwa liar. Malam
untuk cadangan."
Warga berbisik-bisik. Ada yang mengangguk, ada yang masih
ragu.
Seorang ibu-ibu angkat bicara. "Bagaimana dengan
Kiara? Apakah dia akan terganggu dengan keramaian?"
Raka yang duduk di barisan depan, menjawab. "Kiara dan
kawanan akan dipindahkan sementara ke area yang lebih aman. Ada lembah kecil di
sebelah barat Lembah Harapan, masih ada air, dan lebih terlindung. Kami akan
pastikan mereka tidak terganggu."
Bu Kasinem berdiri. "Saya usul, kita hemat air. Jangan
mencuci pakaian setiap hari. Cukup seminggu sekali. Mandi dengan air bekas.
Siram tanaman dengan air bekas cucian beras. Kita harus hemat. Tidak ada yang
tahu kapan hujan akan turun."
Topan berdiri. "Saya dan pemuda desa siap bertugas
mengangkut air dari Lembah Harapan. Kita buat jadwal, kita bagi tugas. Tidak
ada yang boleh ambil air sendiri-sendiri. Semua lewat forum."
Pak Rasmin mengangguk. "Setuju. Mulai besok, kita buat
posko di pinggir hutan. Setiap keluarga bisa ambil air sesuai jadwal. Siapa
yang tidak ikut aturan, akan dikenakan sanksi. Kita tidak bisa egois. Ini
darurat."
Warga mulai mencatat di buku, di telapak tangan, di
ingatan. Mereka paham. Ini bukan saatnya untuk bersaing. Ini saatnya untuk
bersatu.
6. Titik Api Pertama
Tiga hari kemudian, kabar buruk datang dari pos perbatasan.
Guntur menelepon Raka dengan suara panik, nyaris menjerit.
"Ra, ada titik api di hutan bagian selatan! Dekat
Tebing Merah! Asap sudah mulai terlihat dari tadi pagi!"
Raka yang sedang memeriksa bak air di titik Beringin,
langsung berdiri. Ponselnya nyaris terjatuh. Ia tidak sempat menjawab, langsung
berlari sambil memanggil Wati dan Bejo lewat handy talkie.
"Titik api di selatan! Dekat Tebing Merah! Cepat ke
pos perbatasan! Pakai kendaraan apa pun!"
Mereka bertiga berlari sekencang-kencangnya. Raka memimpin
di depan, kakinya yang panjang melangkah lebar, melewati semak-semak kering
yang mudah patah. Wati mengikuti di belakang, napasnya tersengal, rambutnya
yang diikat terurai karena kencangnya berlari. Bejo yang paling berat badannya,
tertinggal sedikit, tapi ia terus berusaha.
Di pos perbatasan, Guntur sudah menunggu dengan teropong.
Wajahnya pucat, tangannya gemetar menunjuk ke arah selatan. Keringat membasahi
seluruh wajahnya, bajunya basah.
"Di sana. Di balik tebing. Asap sudah mulai terlihat
dari tadi pagi. Aku kira hanya kabut, tapi setelah kuamati, itu asap. Asap
tebal, hitam. Api sudah mulai membakar."
Raka mengambil teropong. Di balik Tebing Merah, gumpalan
asap hitam mengepul. Belum besar, tapi jelas. Api sudah mulai membakar
semak-semak kering yang tidak pernah tersentuh air selama berbulan-bulan.
Asapnya membumbung tinggi, terbawa angin ke utara, menuju Lembah Harapan.
"Kita harus padamkan sekarang. Sebelum membesar.
Sebelum sampai ke Lembah Harapan."
Guntur menggeleng. "Tapi air terbatas, Ra. Bak-bak air
di titik selatan kosong. Satu-satunya sumber air adalah Lembah Harapan.
Jaraknya jauh. Butuh waktu berjam-jam untuk bawa air ke sana. Api akan membesar
sebelum kita sampai."
Pak Jarwo yang tiba di belakang mereka, berkata dengan
suara tenang. Pengalamannya sebagai pemburu dan penjaga hutan selama puluhan
tahun membuatnya tahu persis apa yang harus dilakukan.
"Kita tidak bisa padamkan dengan air. Terlalu jauh.
Terlalu sedikit. Kita buat sekat. Tebang pohon di sekitar api, buat jalur
kosong, biar api tidak menyebar. Itu satu-satunya cara."
Raka mengangguk. "Pak Jarwo benar. Cepat kumpulkan
warga. Bawa kapak, parang, gergaji. Semua yang bisa menebang pohon. Kita tidak
punya banyak waktu."
7. Melawan Api
Dalam hitungan jam, puluhan warga berkumpul di pos
perbatasan. Mereka datang dengan apa yang mereka punya: kapak, parang, gergaji,
bahkan ada yang membawa cangkul dan sabit. Tidak ada yang seragam, tidak ada
yang terlatih. Tapi mereka datang. Semua datang.
Pak Rasmin memimpin barisan, dengan kapak besar di
pundaknya. Kapak itu sudah berusia puluhan tahun, gagang kayunya hitam oleh
keringat dan minyak, bilahnya masih tajam karena selalu diasah setiap pagi. Ia
berdiri di depan, menatap warga dengan mata berkobar.
"Saudara-saudara, hutan kita terbakar. Api di selatan,
dekat Tebing Merah. Kalau tidak segera dihentikan, api akan menyebar ke Lembah
Harapan. Ke titik Beringin. Ke desa kita. Kita tidak boleh membiarkan itu
terjadi. Kita lawan!"
Bu Kasinem datang dengan dua ember besar berisi air minum,
digendong dengan pikulan di bahunya yang sudah bungkuk. "Saya bawa air
untuk para pekerja. Jangan sampai kehausan. Kita butuh tenaga."
Topan membawa pemuda-pemuda desa, masing-masing dengan
parang di tangan. "Kami siap, Pak! Tunjuk arahnya!"
Raka membagi tim. Ia menunjuk peta yang digambar kasar di
tanah dengan ranting.
"Tim pertama di bawah pimpinan Pak Jarwo, bertugas
menebang pohon di sisi barat api. Tim kedua di bawah pimpinan Guntur, di sisi
timur. Tim ketiga di bawah pimpinan saya sendiri, di sisi utara, dekat dengan
Lembah Harapan. Kita tidak punya banyak waktu. Api akan membesar. Angin bertiup
dari selatan ke utara, menuju Lembah Harapan. Kalau sampai ke sana, habislah
hutan kita. Kancil-kancil kita. Semua yang sudah kita jaga selama ini."
Mereka berangkat. Perjalanan ke lokasi api memakan waktu
hampir dua jam. Udara semakin panas, asap semakin tebal. Beberapa warga
batuk-batuk, mata mereka perih, air mata mengalir tanpa bisa dikendalikan. Tapi
mereka terus berjalan. Tidak ada yang berbalik.
Di lokasi, api sudah membakar beberapa hektar. Pohon-pohon
kecil hangus, hanya menyisakan abu. Rumput-rumput kering lenyap dalam sekejap.
Api merambat cepat, ditiup angin kering dari selatan, menjilat apa pun yang
bisa terbakar. Suaranya seperti ribuan ular yang mendesis, menakutkan,
memekakkan telinga.
"Kerja!" teriak Pak Jarwo.
Mereka mulai menebang pohon. Kapak berayun, gergaji
berderit, parang berdesis. Pohon-pohon tumbang satu per satu, ditarik ke
samping, disusun rapi. Jalur kosong mulai terbentuk, perlahan, meter demi
meter.
Raka bekerja tanpa henti. Kapak di tangannya naik turun,
memotong batang pohon yang tidak terlalu besar. Setiap ayunan mengeluarkan
keringat baru, setiap hentakan membuat tangannya semakin lecet. Keringat
bercucuran, membasahi bajunya, membasahi matanya. Ia tidak peduli. Ia terus
bekerja.
"Ra, istirahat!" teriak Bejo dari kejauhan.
Suaranya nyaris tenggelam oleh deru api.
"Tidak! Api semakin dekat!"
Benar. Api sudah mulai mendekati jalur yang mereka buat.
Panasnya terasa menyengat, seperti membakar kulit. Asapnya mencekik, membuat
napas pendek dan sesak. Beberapa warga mulai mundur, batuk-batuk, mata mereka
perih, kepala mereka pusing.
"Jangan mundur!" teriak Pak Rasmin. Kapaknya
masih berayun, tidak berhenti meski tangannya sudah lecet berdarah. "Kita
harus selesaikan! Rumah kita! Hutan kita! Kancil-kancil kita!"
Wati yang membawa air untuk para pekerja, berlari ke depan.
Ia membasahi kain yang ia bawa, membagikan pada yang kehabisan napas.
"Tutup hidung dan mulut kalian dengan kain basah!
Jangan hirup asap! Kalau sudah tidak kuat, mundur ke belakang, istirahat,
gantian dengan yang lain!"
8. Kiara Membantu
Tiba-tiba, dari balik semak, Kiara muncul. Ia berlari ke
arah Raka, menjilati tangannya yang lecet, lalu berlari ke arah api.
"Kiara! Jangan!" teriak Raka. Jantungnya berdebar
kencang, takut Kiara terbakar.
Tapi Kiara tidak berhenti. Ia berlari ke arah yang
berlawanan, menuju Lembah Harapan. Wati yang melihat, tiba-tiba mengerti.
Matanya membelalak, mulutnya terbuka.
"Dia mau ambil air! Dia tahu!"
Kiara kembali dengan bulu basah. Ia berguling-guling di
tanah dekat api, membasahi rumput-rumput kering dengan bulunya yang basah.
Kancil-kancil lain mengikuti. Mereka bergantian berlari ke Lembah Harapan,
membasahi bulu mereka, lalu berguling-guling di dekat api.
Api yang tadinya merambat cepat, mulai melambat.
Rumput-rumput basah tidak mudah terbakar. Jalur kosong yang dibuat warga,
ditambah dengan usaha kancil-kancil itu, akhirnya menghentikan laju api.
"BERHASIL!" teriak Bejo. Suaranya pecah,
bercampur tangis.
Warga berpelukan, menangis, tertawa. Ada yang berlutut di
tanah, bersyukur. Ada yang memeluk tetangganya, tidak mau melepaskan. Ada yang
hanya terdiam, menatap api yang mulai padam, tidak percaya mereka selamat.
Raka berlari ke arah Kiara yang kelelahan. Kiara terbaring
di tanah, bulunya basah dan kotor, matanya sayu, napasnya berat. Raka
memeluknya.
"Kiara... kamu hebat. Kamu menyelamatkan hutan. Kamu
menyelamatkan kami."
Kiara menjilati tangannya. Lidahnya kasar, hangat, basah.
Matanya lelah, tapi bangga.
Pak Rasmin yang menyaksikan, menangis. Air mata pria tua
itu jatuh, membasahi pipinya yang keriput. Ia berlutut di samping Kiara,
mengelus kepalanya dengan tangan yang gemetar.
"Kancil... kancil itu membantu kita. Mereka tidak
lari. Mereka tidak takut. Mereka balik membantu. Saya... saya minta maaf,
Kiara. Maafkan saya yang dulu mau usir kalian. Maafkan saya yang marah-marah.
Maafkan saya yang mau pasang jerat."
Bu Kasinem ikut berlutut, memeluk Kiara. "Maafkan saya
juga, Kiara. Maafkan saya yang dulu marah karena tanaman obat berkurang. Saya
tidak tahu bahwa kalian juga butuh hidup. Saya tidak tahu bahwa kalian juga
punya keluarga. Saya tidak tahu bahwa kalian sebaik ini."
Kiara menggerakkan telinganya. Seperti memaafkan. Seperti
mengucapkan terima kasih.
9. Malam di Lembah
Harapan
Setelah api padam, mereka berkumpul di Lembah Harapan.
Tubuh lelah, tangan lecet, mata perih, tapi hati lega. Kiara dan kawanan kancil
duduk di sekitar mereka, seolah ikut beristirahat, ikut bersyukur.
Pak Jarwo yang sudah sangat tua, duduk di tepi sungai,
memandangi air yang mengalir pelan. Airnya sudah mulai surut lagi, tapi masih
cukup untuk malam ini. Ia mengambil air dengan telapak tangannya, meminumnya
perlahan.
"Kita selamat," katanya. Suaranya lirih, seperti
angin yang berbisik. "Hutan ini selamat. Tapi ini baru awal. Musim kemarau
masih panjang. Api bisa datang lagi. Kita harus siap."
Raka duduk di sampingnya. "Kita akan siap, Pak.
Patroli setiap hari. Awasi titik-titik rawan. Dan kita harus pastikan cadangan
air cukup."
Bejo membagikan makanan yang ia bawa—nasi liwet, ayam
bakar, sambal terasi, lalapan. Ia membawa banyak, cukup untuk semua warga yang
hadir. Tangan-tangan lelah meraih makanan, memakannya perlahan, menikmati
setiap suap.
Wati memandang Kiara yang berbaring di samping Raka.
"Kiara, kamu hari ini menyelamatkan kami. Bukan hanya hutan, tapi kami
semua. Terima kasih."
Kiara menggerakkan telinganya. Seperti tersenyum.
Bu Kasinem mengambil kunyit dari kebunnya, memarutnya,
mencampurnya dengan air hangat. "Ini jamu untuk kalian. Untuk melepas
lelah. Untuk mengembalikan tenaga." Ia menyodorkan cangkir-cangkir jamu
kuning ke para pekerja. Mereka menerima, meminumnya dengan syukur.
Malam itu, mereka tidur di Lembah Harapan. Berbaring di
rumput yang mulai menghijau lagi, di bawah pohon-pohon besar yang selamat dari
api, ditemani suara sungai yang mengalir pelan dan kicauan burung malam yang
sayup-sayup. Tidak ada yang bicara. Tidak perlu. Mereka sudah selamat. Untuk
hari ini.
10. Patroli Harian
Keesokan harinya, forum konservasi memutuskan untuk
mengadakan patroli harian. Pak Rasmin berdiri di depan balai desa, mengumumkan
jadwal dengan suara lantang.
"Bergiliran. Setiap hari, dua orang warga dan satu
anggota tim konservasi akan berjalan keliling hutan, memeriksa titik-titik
rawan, memastikan tidak ada titik api baru. Siapa yang tidak hadir, akan
diganti. Siapa yang tidak bertanggung jawab, akan dikenakan sanksi. Ini bukan
main-main. Hidup kita tergantung pada hutan ini."
Bu Kasinem berdiri. "Saya ikut. Saya tahu hutan ini.
Saya tahu di mana titik-titik rawan. Saya akan tunjukkan."
Topan berdiri. "Saya dan pemuda desa siap. Kami akan
bergiliran. Tidak ada yang boleh libur."
Pak Rasmin mengangguk. "Bagus. Sekarang, siapa yang
pertama?"
Raka, Wati, dan Bejo bergantian memimpin patroli. Mereka
membawa peta, kompas, handy talkie, dan air minum. Setiap hari, mereka berjalan
berjam-jam, memeriksa setiap sudut, setiap celah, setiap lembah.
Hari pertama, Raka memimpin. "Titik Beringin
aman," lapornya. "Bak air masih setengah. Serai wangi mulai tumbuh
lagi. Tidak ada tanda-tanda api."
Hari kedua, Wati memimpin. "Titik Sungai masih kering.
Tidak ada perubahan. Tapi tidak ada titik api baru."
Hari ketiga, Bejo memimpin. "Titik Batu masih aman.
Air masih ada, meski sedikit. Tidak ada tanda-tanda bahaya."
Hari keempat, Pak Jarwo memimpin. "Tebing Merah masih
kering. Tidak ada titik api baru. Tapi saya temukan jejak kancil. Mungkin
mereka mulai kembali."
Setiap laporan disambut dengan lega. Tapi mereka tahu,
bahaya belum berlalu. Api bisa datang kapan saja. Yang mereka butuhkan adalah
hujan. Hujan yang tidak kunjung turun.
11. Titik Api Kedua
Hari kelima, kabar buruk datang lagi. Topan yang berpatroli
di hutan bagian barat, menemukan titik api baru. Suaranya di handy talkie
terdengar panik, nyaris menjerit.
"Di dekat sungai kering! Api sudah lumayan besar!
Cepat datang!"
Raka, Wati, dan Bejo berlari. Pak Rasmin mengumpulkan
warga. Mereka berangkat dengan peralatan seadanya, tanpa persiapan, tanpa
pemanasan.
Kali ini, api lebih dekat dengan desa. Hanya beberapa ratus
meter dari pemukiman. Asap sudah terlihat dari balai desa. Warna hitam pekat,
membumbung tinggi, menakutkan.
"Kita harus cepat!" teriak Raka. "Kalau
sampai ke desa, rumah-rumah bisa terbakar! Keluarga kita di sana!"
Mereka bekerja seperti kemarin. Menebang pohon, membuat
jalur kosong, membasahi rumput-rumput kering. Tapi kali ini, api lebih besar.
Angin lebih kencang. Air lebih sedikit. Warga yang ikut lebih sedikit, karena
beberapa masih kelelahan dari kebakaran sebelumnya.
Kiara datang lagi. Dengan kawanannya, mereka
berguling-guling di dekat api, membasahi tanah, memperlambat laju api. Tapi
tidak cukup. Api tetap merambat. Mendekati desa. Mendekati rumah-rumah warga.
Pak Rasmin berteriak, suaranya serak oleh asap,
"Evakuasi! Suruh warga di pinggir hutan pindah! Bawa barang-barang
berharga!"
Warga panik. Ada yang berlari, ada yang menangis, ada yang
kebingungan tidak tahu harus membawa apa. Seorang ibu-ibu memeluk anaknya,
berlari ke arah balai desa. Seorang kakek berteriak-teriak mencari cucunya yang
hilang. Suasana kacau balau.
Bu Kasinem memimpin evakuasi. Ia berdiri di tengah jalan,
menenangkan warga, mengarahkan mereka ke balai desa. "Tenang! Jangan
panik! Ikuti saya! Bawa hanya yang penting! Jangan kembali ke rumah!"
Topan dan pemuda desa membantu warga tua yang tidak bisa
berjalan cepat. Mereka menggotong nenek-nenek, memapah kakek-kakek, menggendong
anak-anak kecil. Ada yang menangis, ada yang diam ketakutan, ada yang terus
berdoa.
Di hutan, Raka, Wati, Bejo, Pak Jarwo, Dani, dan beberapa
warga lain terus berjuang. Tubuh mereka lelah, tangan mereka lecet berdarah,
mata mereka perih oleh asap, napas mereka pendek dan sesak. Tapi mereka tidak
berhenti.
"Kita tidak bisa menyerah!" teriak Raka. Kapaknya
masih berayun, meski tangannya sudah tidak terasa lagi. "Kita harus
selamatkan desa!"
12. Hujan Turun
Dan tiba-tiba, langit menjadi gelap. Bukan karena asap.
Karena awan. Awan hitam bergulung dari utara, membawa angin dingin yang tidak
terduga. Angin yang lembab, basah, seperti mencium bau air dari kejauhan.
Semua berhenti. Kapak berhenti berayun. Parang berhenti
berdesis. Kaki berhenti berlari. Mereka menengadah ke langit, tidak percaya.
Mulut terbuka, mata berkedip, napas tertahan.
Tetes.
Satu tetes jatuh di pipi Raka. Dingin. Segar. Seperti
ciuman dari langit.
Tetes. Tetes. Tetes.
Hujan. Hujan mulai turun. Perlahan, seperti ragu-ragu. Lalu
deras, seperti air bah yang tertahan. Lalu menjadi hujan lebat yang membasahi
seluruh hutan, seluruh desa, seluruh yang terbakar dan yang hampir terbakar.
Api mendesis, mengepulkan asap putih, lalu padam satu per
satu. Asap hitam yang tadinya membumbung, berubah menjadi abu-abu, lalu putih,
lalu lenyap. Tanah yang retak-retak mulai basah, lumpur terbentuk, air mengalir
di sela-sela bebatuan.
Warga berteriak kegirangan. Mereka menari di bawah hujan,
menangis, tertawa, berpelukan. Anak-anak berlarian, menjulurkan lidah,
menangkap air hujan. Ibu-ibu menengadah, membiarkan air membasahi wajah mereka.
Bapak-bapak berlutut, bersyukur.
"Hujan! Hujan!" teriak Bejo. Ia berlari-lari,
melompat-lompat, seperti anak kecil yang baru belajar jalan.
Raka memandang ke langit. Air hujan membasahi wajahnya,
bercampur dengan air matanya. Ia menengadah, membiarkan air itu masuk ke
mulutnya, ke tenggorokannya, ke paru-parunya. Segar. Hidup.
"Terima kasih," bisiknya. Suaranya pecah, lirih,
hanya untuk dirinya sendiri. "Terima kasih."
Kiara berlari ke arahnya, melompat-lompat kecil, menjilati
tangannya yang lecet, menjilati wajahnya yang basah. Ia juga senang. Ia juga
bersyukur. Matanya berbinar, telinganya tegak, ekornya bergerak-gerak.
Pak Rasmin berlutut di tanah, menangis. Air hujan bercampur
air matanya, mengalir di pipinya yang keriput, menetes ke tanah yang mulai
basah. "Hujan... hujan datang... Allahuakbar... Alhamdulillah..."
Bu Kasinem memeluk anaknya yang baru lulus SMA. "Kamu
bisa kuliah sekarang. Hujan datang. Sawah tidak akan gagal. Kebun tidak akan
kering. Tanaman obat akan tumbuh lagi. Semua akan baik-baik saja."
Topan tertawa terbahak-bahak. "Bambu! Bambu akan
tumbuh lagi! Tanggul bisa diperbaiki! Sawah tidak akan kebanjiran! Kita
selamat!"
13. Hujan Tak Berhenti
Hujan turun selama tiga hari. Tidak berhenti. Tidak
berhenti. Air sungai mulai naik, mengalir deras, membersihkan abu dan lumpur.
Bak-bak air penuh, meluap, mengalir ke tanah yang haus. Tanah yang retak-retak
menjadi basah, subur, siap ditanami.
Rumput-rumput mulai hijau kembali. Tunas-tunas baru muncul
dari tanah yang hangus. Daun-daun segar muncul di cabang-cabang yang kemarin
meranggas. Serai wangi yang layu, kini segar kembali, daunnya hijau, akarnya
kuat.
Kiara dan kawanan kancil bermain di Lembah Harapan,
berlarian di bawah hujan, berguling-guling di lumpur, menikmati air yang
melimpah. Anak-anak kancil yang lahir di musim kemarai, kini belajar berenang
di sungai yang mengalir deras.
Pak Rasmin berjalan di pinggir hutan, memeriksa pagar hijau.
Serai wangi yang kemarin layu, kini segar kembali, daunnya hijau, akarnya kuat.
Ia memetik sehelai, mencium aromanya, tersenyum.
Bu Kasinem memanen kunyit di kebun. Kunyitnya besar-besar,
segar, siap dijadikan jamu. Ia membawa pulang sekeranjang, memarutnya,
mencampurnya dengan madu, menyeduhnya untuk keluarga.
Topan mengukur bambu yang akan diambil untuk tanggul.
Bambu-bambu tua masih kokoh, yang baru mulai tumbuh. Ia menghitung,
merencanakan, mempersiapkan.
14. Syukuran di Balai
Desa
Malam harinya, warga mengadakan syukuran di balai desa.
Bukan syukuran besar dengan tumpeng dan hidangan mewah. Tapi syukuran
sederhana, dengan nasi liwet, ayam bakar, sambal terasi, dan lalapan. Makanan
yang sama yang dimasak Bejo saat kebakaran.
Pak Rasmin berdiri di depan. Wajahnya tidak lagi tegang,
tidak lagi tua. Matanya berbinar, senyumnya lebar, suaranya lantang.
"Saudara-saudara, kita selamat. Hutan kita selamat.
Desa kita selamat. Tapi ini bukan karena kita. Ini karena alam. Karena Tuhan.
Karena Kiara dan kawanannya yang membantu kita melawan api."
Ia menatap Raka, Wati, Bejo yang duduk di barisan depan.
"Dan karena anak-anak kita yang tidak pernah menyerah.
Yang terus menjaga, terus berjuang, terus percaya bahwa hutan ini harus
lestari. Raka, Wati, Bejo... kalian adalah pahlawan kita."
Raka berdiri. Ia tidak membawa buku catatan, tidak membawa
peta. Hanya membawa hati.
"Kami hanya melakukan tugas kami, Pak. Yang
sebenarnya, kalian semua yang berjuang. Pak Rasmin yang memimpin evakuasi. Bu
Kasinem yang menenangkan warga. Topan yang membantu warga tua. Dani yang tidak
lelah membawa air. Semua warga yang ikut menebang pohon, membuat jalur,
memadamkan api. Kita semua. Bersama."
Ia memandang Kiara yang duduk di sampingnya.
"Dan Kiara. Yang tidak takut, yang tidak lari, yang
balik membantu. Kiara mengajarkan kita bahwa alam bukan musuh. Alam adalah
saudara. Kalau kita jaga, dia akan jaga kita. Kalau kita cintai, dia akan
cintai kita."
Tepuk tangan bergemuruh. Kiara menggerakkan telinganya,
seperti tersenyum.
15. Kiara di Balai Desa
Pak Rasmin punya usul. "Kiara harus diundang ke
syukuran ini. Dia pahlawan kita. Dia keluarga kita."
Raka tersenyum. "Kiara tidak suka keramaian, Pak. Tapi
saya coba."
Ia berjalan ke Lembah Harapan. Kiara sedang duduk di tepi
sungai, ditemani kawanannya. Bulunya basah, bersih, mengilap. Air sungai
mengalir deras di depannya, membawa dedaunan kering yang jatuh dari pohon-pohon
besar.
"Kiara, ada syukuran di desa. Untuk merayakan hujan.
Untuk berterima kasih pada semua yang membantu. Kamu diundang."
Kiara menatap Raka. Matanya bertanya.
"Tidak perlu takut. Semua orang sayang kamu. Pak
Rasmin sayang kamu. Bu Kasinem sayang kamu. Semua warga sayang kamu. Kamu
pahlawan mereka."
Kiara berdiri. Ia mengikuti Raka ke desa.
Di balai desa, warga menyambutnya dengan tepuk tangan.
Tidak ada yang berteriak, tidak ada yang berlari mendekat. Mereka hanya
tersenyum, melambai, memberi hormat. Beberapa menangis. Beberapa berlutut.
Beberapa hanya diam, takjub.
Kiara berjalan ke tengah. Ia menatap satu per satu wajah yang
hadir. Lalu, perlahan, menundukkan kepala. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Penghormatan tertinggi.
Pak Rasmin menangis. Bu Kasinem menangis. Topan menangis.
Semua menangis.
Raka mengelus kepala Kiara. "Kamu pahlawan, Kiara.
Bukan hanya karena menyelamatkan hutan. Tapi karena menyatukan kami. Manusia
dan alam. Desa dan hutan. Bersama."
Kiara menggerakkan telinganya. Seperti tersenyum.
16. Janji di Bawah Hujan
Malam itu, hujan masih turun. Gerimis, lembut, seperti
bisikan dari langit. Raka, Wati, Bejo, dan Kiara duduk di bawah pohon beringin
di titik Beringin. Pohon itu basah, daun-daunnya bergemerisik ditiup angin,
akar-akarnya yang besar menyerap air dengan lahap.
"Kita selamat," kata Raka.
"Iya. Tapi ini baru awal. Musim kemarau masih panjang.
Api bisa datang lagi."
"Tapi kita siap. Sekarang kita punya pengalaman. Kita
punya warga yang peduli. Kita punya Kiara."
Kiara menyandarkan kepalanya di pundak Raka. Bulunya yang
basah terasa dingin, tapi hangat di hati.
Wati memandang langit yang masih mendung. "Semoga
hujan ini bertahan lama. Semoga cukup untuk mengisi sungai, mengisi bak,
mengisi tanah. Semoga cukup untuk semua."
Bejo tersenyum. "Semoga. Tapi kalau tidak, kita siap.
Kita akan jaga hutan ini. Sampai kapan pun. Sampai hujan datang. Sampai kemarau
berlalu. Sampai anak cucu kita bisa melihat kancil berlarian di hutan yang
hijau."
Mereka diam, menikmati hujan gerimis yang membasahi wajah
mereka. Di kejauhan, lampu-lampu desa mulai menyala satu per satu. Rumah-rumah
yang kemarin terancam api, kini hangat dan aman. Asap dari dapur-dapur
mengepul, bau nasi matang dan sayur tumis menyebar di udara.
Pak Jarwo datang dari balik semak, duduk di samping mereka.
Golok tuanya di pinggang, rambutnya basah, bajunya basah, tapi matanya masih
tajam. Masih waspada. Masih melihat masa depan.
"Anak-anak, saya sudah tua. Saya tidak akan lama lagi.
Tapi saya lihat, hutan ini akan aman. Karena kalian. Karena Kiara. Karena warga
yang sekarang sudah peduli."
Raka memegang tangannya. Tangannya yang keriput, penuh
kapalan, bekas luka-luka lama dari masa lalunya sebagai pemburu. "Pak
Jarwo, Bapak masih panjang umur. Masih banyak yang harus Bapak ajarkan."
Pak Jarwo tersenyum. "Saya sudah ajarkan semua. Ilmu
membaca jejak, ilmu membaca hutan, ilmu membaca hati. Sekarang giliran kalian
yang mengajarkan generasi berikutnya. Anak-anak kalian nanti. Cucu-cucu kalian
nanti. Biarkan mereka juga punya sahabat kancil."
Kiara menggerakkan telinganya. Seperti setuju.
Malam itu, di bawah pohon beringin yang basah oleh hujan,
di kaki Bukit Manoreh, mereka berjanji. Janji untuk terus menjaga, terus
berjuang, terus percaya bahwa hutan ini akan lestari. Selamanya.
BERSAMBUNG KE EPISODE 6:
PERJUANGAN TERAKHIR KIANO







0 komentar:
Posting Komentar