Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Rabu, 25 Maret 2026

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 8: MISTERI HEWAN MATI

 

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI

Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari

Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari

EPISODE 8: MISTERI HEWAN MATI


Bagian 1: Fajar yang Mencekam

Pagi itu, langit Bojong Sari tidak seperti biasanya. Bukan karena cerah atau mendung. Bukan karena hujan atau kemarau. Tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Udara terasa lebih berat, lebih dingin, lebih sunyi. Burung-burung yang biasanya berkicau riang sejak pukul lima pagi, kini diam. Ayam-ayam yang biasanya berkokok bersahutan, kini terdiam. Anjing-anjing yang biasanya menggonggong menyambut fajar, kini hanya merengek pelan di dalam kandang, ekor mereka terselip di antara kaki, tubuh mereka menggigil meskipun udara tidak sedingin itu. Seperti ada sesuatu yang mengancam. Seperti ada sesuatu yang salah. Seperti alam sedang memberi peringatan.

Raka terbangun dengan perasaan gelisah. Ia duduk di tepi tempat tidur, mencoba menangkap firasat yang mengganggu pikirannya. Di luar, langit masih gelap, tapi sudah ada cahaya tipis di ufuk timur—cahaya pucat yang tidak seperti biasanya, lebih kelabu daripada jingga, lebih suram daripada cerah. Ia mendengar suara burung hantu di kejauhan. Biasanya, burung hantu berhenti bersuara sebelum subuh, seolah-olah mereka tahu bahwa malam telah berakhir dan pagi akan segera tiba. Tapi pagi ini, burung hantu itu masih bersuara. Terus-menerus. Melengking panjang. Seperti ratapan. Seperti peringatan. Seperti tangisan.

Ia turun dari tempat tidur, berjalan ke jendela. Lantai kayu berderit pelan di bawah telapak kakinya. Di luar, desa masih gelap. Lampu-lampu rumah belum ada yang menyala. Hanya sesekali terlihat senter berkelap-kelip dari arah kandang Pak Rasmin, seperti kunang-kunang yang kelaparan. Raka mengernyitkan dahi. Pak Rasmin biasanya bangun jam setengah lima, setelah azan subuh. Sekarang masih jam empat. Terlalu pagi. Jauh terlalu pagi untuk seorang petani yang sudah terbiasa dengan rutinitas selama puluhan tahun.

Ia mendengar suara dari luar. Bukan suara manusia. Suara hewan. Suara kambing Pak Rasmin yang mengembik tidak biasa. Bukan embikan lapar atau haus. Tapi embikan ketakutan. Suara yang hanya keluar ketika mereka merasakan bahaya. Raka merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia tidak tahu kenapa, tapi nalurinya mengatakan ada sesuatu yang sangat salah.

Handy talkie-nya berderak. Suara Guntur terdengar parau, seperti orang yang baru bangun tidur, tapi ada nada panik di sana—nada yang tidak pernah Raka dengar dari Guntur sejak kebakaran besar dua belas tahun lalu.

"Ra, Ra, bangun! Ada yang tidak beres! Cepat! Aku di titik Sungai! Kamu harus lihat ini!"

Raka langsung berganti pakaian. Tangannya bergerak cepat, tapi terasa berat, seperti sedang berenang di air kental. Ia mengambil senter—senter tua yang dulu selalu ia bawa ke mana-mana, senter yang pernah menerangi jejak-jejak kancil di malam hari, senter yang pernah menyelamatkan mereka dari kegelapan hutan. Ia tidak sempat sarapan, tidak sempat minum, tidak sempat mencium tangan ibunya yang masih tidur di kamar sebelah.

Ia berlari keluar, melompati pagar bambu yang sudah reyot, dan berlari menuju jalan desa. Di jalan, ia berpapasan dengan Wati yang juga berlari dari arah rumahnya. Wati masih mengenakan daster biru muda yang ia pakai tidur, rambutnya yang panjang sebahu terurai kusut, kakinya telanjang. Sandal jepitnya tertinggal di rumah—ia tidak sempat memakainya. Mereka bertemu di perempatan jalan, dekat pohon beringin kecil yang dulu ditanam untuk mengenang Kai. Sama-sama terengah-engah, sama-sama panik.

"Kau dengar?" tanya Wati, suaranya terputus-putus karena napas yang masih tersengal.

"Guntur telepon. Ada temuan di titik Sungai. Suaranya... aku belum pernah dengar Guntur sepanik itu."

"Apa yang ditemukan?"

"Tidak tahu. Dia tidak bilang. Dia hanya suruh kita cepat ke sana."

Mereka berlari bersama menuju titik Sungai. Di belakang mereka, Bejo menyusul dengan napas tersengal, wajahnya merah padam, bajunya basah oleh keringat meskipun udara pagi masih dingin. Ia baru saja turun dari sepeda motornya yang diparkir terburu-buru di pinggir jalan, helm masih menggantung di lengan, sepatu kanan tertukar dengan kiri.

"Tunggu! Gue juga ikut! Jangan tinggalin gue!"

Mereka bertiga berlari melewati jalan desa yang masih gelap, melewati sawah-sawah yang sunyi, melewati pinggir hutan yang mulai terlihat samar-samar di kejauhan. Senter mereka menerangi jalan setapak yang becek oleh embun malam, menerangi jejak-jejak kaki hewan yang melintas di kegelapan, menerangi dedaunan basah yang bergoyang lembut ditiup angin pagi.

Sesampainya di titik Sungai, mereka melihat kerumunan kecil. Guntur berdiri di tepi sungai, di sampingnya Pak Rasmin yang masih mengenakan sarung dan kaos oblong, Topan yang baru saja tiba dari arah ladang, dan beberapa warga lain yang tinggal di sekitar hutan. Mereka berdiri melingkar, diam, tidak bergerak, seperti patung yang ketakutan.

Di tanah, di bawah sinar senter yang menerangi dari berbagai arah, tampak sesosok tubuh. Bukan manusia. Bukan kancil. Bukan babi hutan. Tapi seekor kijang. Kijang jantan, dengan tanduk kecil yang baru mulai tumbuh, bulu cokelat kemerahan yang dulu mengilap kini kusam, kaki yang dulu kuat dan lincah kini kaku. Terbaring di tanah basah, tidak bergerak. Matanya terbuka lebar—terlalu lebar—seolah sedang melihat sesuatu yang mengerikan sebelum ajal menjemputnya. Lidahnya menjulur ke luar, berwarna kebiruan, kering. Mulutnya berbusa, busa putih yang sudah mengering, meninggalkan bekas seperti garam di sekitar bibir. Di sekelilingnya, rumput-rumput yang kemarin masih hijau segar, kini kering dan layu, seperti terkena sesuatu yang beracun. Tanah di sekitarnya berubah warna menjadi keabu-abuan, tidak ada cacing yang bergerak, tidak ada semut yang lalu-lalang. Area itu mati.

"Ini yang keempat," kata Guntur, suaranya bergetar, tangannya yang memegang senter gemetar hingga cahayanya bergetar di atas bangkai kijang.

Raka mengerutkan kening. "Keempat? Maksudmu, ini yang keempat?"

"Ya. Sejak seminggu lalu, ini hewan keempat yang ditemukan mati dengan cara yang sama. Pertama, dua ekor kancil. Ditemukan Pak Rasmin di pinggir sawah, dekat dengan aliran air dari hutan. Mereka terbaring bersebelahan, seolah sedang minum bersama sebelum ajal menjemput. Kedua, seekor babi hutan. Ditemukan Topan di dekat titik Batu, setengah badan terendam air sungai. Ketiga, kijang betina, ditemukan di Lembah Harapan—syukurlah Kiara dan Kirana sedang tidak di sana. Sekarang ini yang keempat. Semua mati dengan cara yang sama. Kaku, berbusa, tidak ada luka. Seperti keracunan. Seperti mereka minum air yang sama. Seperti ada racun yang mengalir di sungai kita."

Wati berlutut di samping bangkai kijang itu. Ia sudah lupa bahwa ia masih mengenakan daster, bahwa kakinya telanjang, bahwa rambutnya kusut. Tangannya yang terlatih—tangan yang telah memeriksa ratusan hewan di kliniknya—bergerak dengan hati-hati, dengan teliti, dengan kesabaran yang ia pelajari selama bertahun-tahun. Ia membuka kelopak mata kijang itu, menyorotkan senter ke dalam, memeriksa pembuluh darah yang pecah di sekitar iris. Ia membuka mulutnya, mengambil sampel busa yang mengering di sudut bibir, memasukkannya ke dalam kantong plastik kecil yang ia ambil dari saku daster. Ia memeriksa bulu di sekeliling leher, di ketiak, di perut—tidak ada bekas gigitan, tidak ada bekas cakaran, tidak ada bekas jerat. Ia memeriksa kuku, memeriksa telapak kaki, memeriksa ekor—semuanya utuh. Ia menekan perut kijang itu, merasakan kerasnya otot yang kejang, merasakan kembung yang tidak wajar.

"Ini racun," katanya akhirnya, suaranya pelan tapi pasti. Tangannya yang tadi memeriksa, kini berhenti, menggenggam erat kantong plastik berisi sampel busa. "Saya yakin. Ini pasti racun. Tapi racun apa, saya belum tahu. Perlu diuji di laboratorium. Tapi dari ciri-cirinya—kaku, berbusa, mata terbuka lebar, tidak ada luka—ini adalah racun saraf. Racun yang menyerang sistem pernapasan, melumpuhkan otot, menyebabkan kematian dalam hitungan menit. Sangat cepat. Sangat mematikan. Dan sangat berbahaya."

Pak Rasmin yang berdiri di samping, wajahnya pucat di bawah sinar senter, tangannya yang keriput gemetar memegang senter. "Racun? Dari mana? Tidak ada pabrik di sini. Tidak ada tambang. Tidak ada limbah. Tidak ada industri. Hutan kita bersih. Air kita jernih. Selama puluhan tahun, tidak pernah ada kejadian seperti ini. Tidak pernah. Kakek saya, buyut saya, mereka tidak pernah melihat hewan mati seperti ini. Ini... ini tidak wajar."

"Bisa dari tumbuhan beracun," kata Topan, suaranya serak. Ia dulu pernah belajar tentang tanaman obat dari Bu Kasinem, tentang mana yang bisa dimakan dan mana yang beracun. "Ada beberapa jenis tumbuhan yang getahnya bisa membunuh hewan dalam waktu singkat. Tapi... tumbuhan itu tidak tumbuh di sini. Tidak di hutan kita. Aku sudah kenal hutan ini sejak kecil. Tidak ada tumbuhan seperti itu."

"Atau dari... manusia," kata Guntur. Suaranya lirih, nyaris berbisik, seperti takut kata-katanya sendiri akan menjadi kenyataan.

Semua orang diam. Kata-kata Guntur menggantung di udara pagi yang dingin, menggantung di antara pepohonan yang sunyi, menggantung di hati mereka masing-masing. Manusia. Mungkin saja. Mungkin ada yang sengaja menaruh racun. Mungkin ada yang tidak senang dengan kancil. Mungkin ada yang dendam pada program konservasi. Mungkin ada yang ingin membasmi mereka. Mungkin... mungkin saja.

Raka berdiri. "Kita harus selidiki. Bawa bangkai ini ke klinik Wati. Kita uji. Cari tahu racun apa. Dan kita harus cari sumbernya. Sebelum lebih banyak hewan yang mati. Sebelum kancil-kancil kita yang jadi korban. Sebelum Kiara dan Kirana dalam bahaya. Sebelum racun ini sampai ke manusia."


Bagian 2: Klinik Hewan di Tengah Malam

Klinik hewan milik Wati terletak di pinggir desa, tidak jauh dari rumahnya. Bangunannya sederhana—dinding bata putih yang sudah mulai kusam oleh usia dan hujan, atap genteng merah yang beberapa di antaranya sudah retak, halaman kecil dengan beberapa pot tanaman obat yang ditanam oleh Bu Kasinem sebagai tanda terima kasih. Di depan, papan kayu bertuliskan: "Klinik Hewan Bojong Sari - Drh. Wati, Gratis untuk Warga". Papan itu sudah dipasang sejak Wati membuka klinik sepuluh tahun lalu, dan hingga kini masih tegak, meskipun catnya sudah mulai mengelupas.

Tapi malam itu—pagi itu, sebenarnya, karena matahari belum terbit—klinik itu berubah menjadi laboratorium forensik darurat. Lampu-lampu di dalam dinyalakan semua, menerangi setiap sudut ruangan yang biasanya tenang dan sunyi. Meja periksa stainless steel yang biasa digunakan untuk memeriksa kambing dan ayam, kini menjadi tempat pembaringan terakhir bagi kijang malang itu.

Wati membawa bangkai kijang itu ke ruang periksa dengan tangannya sendiri, menolak bantuan dari siapa pun. Ia meletakkannya di atas meja stainless steel dengan hati-hati, seolah-olah hewan itu masih hidup dan hanya sedang tidur. Lampu di atas meja menyala terang, menerangi tubuh kijang yang sudah kaku dengan detail yang menyakitkan—setiap helai bulu, setiap lipatan kulit, setiap goresan kecil di kaki yang mungkin terjadi saat ia masih hidup dan berlari di hutan.

Raka, Bejo, Guntur, dan Pak Rasmin berdiri di sekitar, menunggu dengan cemas. Mereka tidak duduk. Tidak ada kursi yang cukup, tapi juga tidak ada yang mau duduk. Mereka hanya berdiri, diam, tangan di saku atau bersilang di dada, mata tertuju pada Wati yang bergerak dengan cepat dan terampil di antara tabung-tabung reaksi dan alat-alat medis.

Wati mengambil sampel darah dari vena di leher kijang itu, menariknya perlahan dengan jarum suntik yang panjang. Darahnya sudah menggumpal, berwarna gelap, hampir hitam. Ia memasukkannya ke dalam tabung kecil, memberi label: "Kijang 4, titik Sungai, 15 November". Ia mengambil sampel cairan dari mulut, dari hidung, dari mata, dari telinga. Masing-masing dimasukkan ke dalam tabung terpisah, masing-masing diberi label dengan tulisan tangan yang rapi. Ia mengambil sampel bulu dari beberapa bagian tubuh—punggung, perut, leher, ekor. Ia mengambil sampel jaringan dari perut, dari hati, dari ginjal. Dengan pisau bedah yang steril, ia memotong jaringan sekecil ujung jari, memasukkannya ke dalam botol berisi larutan pengawet. Semua sampel dimasukkan ke dalam kotak pendingin berwarna biru yang biasa ia gunakan untuk mengirim sampel ke laboratorium di kota.

Semua ini akan ia kirim ke laboratorium untuk diuji. Tapi itu butuh waktu. Berhari-hari, mungkin berminggu-minggu, tergantung antrean dan jarak. Sementara itu, hewan-hewan terus mati. Setiap pagi, ada laporan baru. Setiap pagi, ada bangkai baru. Setiap pagi, ketakutan baru.

"Kita tidak bisa menunggu," kata Raka, membaca pikiran Wati yang terpancar dari kerutan di dahinya. "Kita harus cari sumber racunnya sekarang. Di hutan. Hari ini juga."

"Tapi hutan luas," kata Guntur, suaranya lelah. "Bisa di mana saja. Bisa di sungai, di padang rumput, di dekat pemukiman. Bisa di titik Beringin, di titik Batu, di Lembah Harapan, di Tebing Merah. Kita tidak tahu. Kita tidak punya petunjuk."

Pak Rasmin yang dari tadi diam, tiba-tiba angkat bicara. Suaranya pelan, tapi tegas, seperti orang yang sudah lama menyimpan rahasia dan kini memutuskan untuk membaginya.

"Saya tahu di mana harus mulai."

Semua menoleh. Pak Rasmin berdiri di samping meja periksa, tangannya yang keriput memegang erat ujung sarungnya yang masih basah oleh embun.

"Beberapa hari sebelum kancil pertama mati, saya lihat orang asing di pinggir hutan. Dua orang. Mereka datang dari arah jalan setapak yang menghubungkan desa kita dengan desa seberang. Saya sedang memeriksa pagar hijau di dekat titik Beringin, waktu itu sekitar jam empat sore, matahari masih tinggi. Mereka lewat tidak jauh dari tempat saya. Mereka membawa tas besar—tas ransel gunung, warna hijau tua, penuh sekali, seperti berisi perlengkapan berat. Mereka berjalan cepat, tidak seperti wisatawan yang biasanya santai, menikmati pemandangan, berfoto-foto. Mereka berjalan ke arah timur. Ke arah Tebing Merah."

Raka terkejut. Matanya membelalak. "Orang asing? Tidak lapor ke Pak Kades? Tidak lapor ke tim konservasi? Pak, ini penting!"

Pak Rasmin menunduk, wajahnya bersemu malu. "Saya pikir mereka wisatawan. Kita sering kedatangan wisatawan, kan? Dari kota, dari luar negeri, bahkan. Mereka datang untuk melihat hutan, melihat kancil, melihat program konservasi kita. Saya pikir ini biasa. Saya pikir tidak perlu dilaporkan. Tapi sekarang saya ingat... mereka tidak membawa kamera. Tidak membawa peta. Tidak seperti wisatawan biasa. Mereka hanya berjalan cepat, seperti sedang mencari sesuatu. Seperti sedang menuju ke suatu tempat yang sudah mereka ketahui. Seperti sudah pernah ke sini sebelumnya."

Bejo mengepalkan tangan, buku-buku jarinya memutih karena menahan emosi. "Mereka mungkin pemburu. Atau... penebar racun. Mereka sengaja datang untuk merusak. Untuk membunuh. Untuk menghancurkan apa yang sudah kita bangun selama ini."

Wati berdiri, melepas sarung tangan karetnya dengan gerakan yang tegas. Di wajahnya tidak ada lagi kelelahan, yang ada adalah tekad yang membara. "Kita harus ke Tebing Merah. Besok pagi. Sebelum matahari terlalu tinggi. Kita cari jejak. Kita cari sumber racun. Kita cari tahu siapa mereka dan apa yang mereka lakukan di hutan kita."

Raka mengangguk, matanya menatap ke arah timur, ke arah Tebing Merah yang masih gelap di kejauhan. "Siapkan perlengkapan. Kita berangkat subuh. Bawa kamera, handy talkie, air minum, dan makanan. Dan jangan lupa bawa masker—kalau racun itu masih ada di udara, kita tidak boleh menghirupnya. Ini bukan main-main. Nyawa kita juga dalam bahaya."


Bagian 3: Fajar di Tebing Merah

Subuh masih gelap ketika Raka, Wati, Bejo, dan Guntur berkumpul di pos perbatasan. Langit timur masih hitam pekat, hanya sesekali terlihat kilatan cahaya pucat di ufuk, seperti janji yang belum ditepati. Kabut tipis menyelimuti hutan, membuat pepohonan tampak seperti hantu-hantu raksasa yang berdiri diam menunggu. Udara dingin menusuk tulang, menusuk paru-paru, membuat napas berubah menjadi uap putih yang melayang sebentar sebelum menghilang.

Pak Rasmin sudah menunggu dengan senter di tangan. Wajahnya tegang, matanya sembab—sepertinya semalaman tidak tidur. Ia mengganti sarung dengan celana panjang, kaos oblong dengan jaket lusuh yang sudah ia pakai sejak puluhan tahun lalu. Di pinggangnya, sebuah golok tua tergantung—golok yang dulu ia gunakan untuk membabat rumput di sawah, yang sekarang ia gunakan untuk menjaga hutan.

"Kita berangkat," katanya.

Mereka berjalan ke arah timur, menuju Tebing Merah. Jalannya terjal, berbatu, dengan semak-semak yang lebat dan berduri. Tidak ada jalan setapak yang jelas—hanya jejak-jejak hewan yang kadang terlihat, hanya tebangan-tebangan kecil yang dibuat oleh pencari kayu. Senter mereka menerangi jalan yang tidak pernah mereka lalui dalam gelap, menerangi akar-akar pohon yang menjulur seperti jari-jari yang siap mencengkeram, menerangi semak-semak yang tampak seperti makhluk hidup yang sedang mengintai.

Pak Rasmin berjalan di depan, memimpin dengan langkah mantap yang tidak terpengaruh oleh usianya yang sudah lanjut. Ia sudah puluhan tahun mengenal hutan ini. Ia tahu setiap tikungan, setiap batu, setiap pohon. Ia tahu di mana tanah licin, di mana akar yang bisa membuat tersandung, di mana ranting yang bisa mencederai mata. Ia berjalan tanpa ragu, tanpa melihat ke belakang, seolah-olah ia bisa melihat dalam gelap.

"Inilah tempatnya," kata Pak Rasmin, berhenti di sebuah lapangan kecil dekat tebing. "Di sinilah saya melihat mereka. Mereka duduk di bawah pohon itu. Membuka tas besar. Mengeluarkan botol-botol—banyak botol, puluhan, mungkin ratusan. Mereka memeriksa satu per satu, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam. Lalu mereka berjalan ke arah sungai. Ke arah aliran air yang menuju ke titik Sungai. Saya pikir mereka hanya wisatawan yang sedang melakukan penelitian. Saya pikir tidak ada yang perlu dicurigai."

Raka menyorotkan senter ke tanah. Di sana, di tanah yang masih basah oleh embun, tercetak jejak-jejak sepatu. Bukan sepatu warga. Sepatu boot dengan sol tebal, pola khas yang dalam dan lebar—pola yang biasa ditemukan pada sepatu gunung profesional. Jejak itu masih jelas, masih dalam, tidak terkikis oleh hujan atau angin. Mungkin baru beberapa hari. Mungkin baru semalam. Mungkin mereka masih ada di sini.

"Ini jejak mereka," katanya. "Masih jelas. Masih baru. Mereka mungkin sudah ke sini beberapa kali. Mungkin mereka masih akan kembali."

Mereka mengikuti jejak itu. Jejak itu menuju ke arah sungai kecil yang mengalir dari Tebing Merah, sungai yang airnya jernih dan dingin, sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi hewan-hewan di hutan ini. Di tepi sungai, mereka menemukan sesuatu yang membuat jantung mereka berhenti sejenak.

Botol-botol plastik. Bukan botol bekas minuman kemasan yang biasa dibuang wisatawan. Tapi botol-botol kecil berwarna cokelat tua, seperti botol obat atau botol bahan kimia. Beberapa masih utuh, tertutup rapat, berisi cairan bening yang tidak berbau. Beberapa sudah terbuka, tergeletak di tanah, isinya tumpah meresap ke dalam tanah yang kemudian berubah warna menjadi keabu-abuan. Beberapa sudah kosong, mungkin sudah dituangkan ke dalam sungai.

Wati mengambil salah satu botol yang masih utuh, mengendusnya dengan hati-hati—tidak berbau. Lalu ia menuangkan sedikit ke telapak tangannya. Cairan itu dingin, seperti air biasa, tidak berwarna, tidak berbau. Tapi ketika ia membiarkannya mengering di kulitnya, beberapa detik kemudian kulitnya terasa gatal, lalu mati rasa, seperti disuntik obat bius. Ia segera membilas tangannya dengan air dari botol minum yang dibawa Bejo.

"Ini racun," katanya, suaranya bergetar. "Racun yang sangat kuat. Tidak berbau, tidak berwarna, larut dalam air. Mereka menuangkannya ke sungai. Sungai ini mengalir ke titik Sungai, ke titik Batu, ke Lembah Harapan. Semua hewan yang minum dari sungai ini akan mati. Kancil, kijang, babi hutan, semua akan mati. Dan jika ini terus berlanjut, jika racun ini mengendap di tanah, jika racun ini meresap ke dalam tanaman... manusia juga bisa terkena. Kita juga bisa mati."

Pak Rasmin mengepalkan tangan. "Siapa yang tega melakukan ini? Kancil-kancil itu tidak pernah menyakiti siapa pun. Mereka hanya ingin hidup. Mereka hanya ingin minum. Mereka hanya ingin..."

"Kita harus bawa ini ke polisi," potong Raka, suaranya tegas. Ia mengeluarkan kantong plastik dari sakunya, memasukkannya botol-botol itu satu per satu. "Dan kita harus cari tahu siapa yang melakukan ini. Sebelum mereka kembali. Sebelum lebih banyak hewan mati. Sebelum Kiara dan Kirana jadi korban. Sebelum terlambat."


Bagian 4: Warga Mulai Panik

Kabar tentang hewan-hewan yang mati karena racun menyebar cepat. Lebih cepat dari api di musim kemarau. Lebih cepat dari banjir di musim hujan. Dalam hitungan jam, seluruh desa sudah membicarakannya. Di warung kopi, di balai desa, di sawah, di ladang, di pasar, di rumah-rumah, di mana-mana orang berbicara dengan suara berbisik, dengan wajah tegang, dengan mata penuh ketakutan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

"Ada yang meracuni hewan-hewan kita," kata seorang warga kepada tetangganya, suaranya lirih seperti sedang membocorkan rahasia negara.

"Siapa yang berani? Apa tujuan mereka?" tetangganya bertanya, matanya melotot.

"Mungkin pemburu. Atau orang yang tidak suka dengan program konservasi. Atau... orang dari luar. Mungkin dari kota. Mungkin dari perusahaan yang ingin mengambil alih hutan kita."

Bu Kasinem yang sedang berjualan jamu di pasar, mendengar bisik-bisik itu dari para pelanggannya. Seorang ibu-ibu yang biasa membeli jamu kunyit asem setiap pagi, tiba-tiba bertanya dengan suara gemetar, "Bu Kasinem, benar ada yang meracuni kancil-kancil? Katanya sudah empat ekor mati. Katanya ada racun di sungai. Katanya air tidak aman diminum."

Bu Kasinem tidak menjawab. Ia langsung menutup dagangannya, memasukkan botol-botol jamu ke dalam keranjang, membayar sewa lapaknya, dan berjalan cepat menuju rumah Raka. Tas jamunya yang biasa ia gendong di bahu, terjatuh dua kali di jalan karena tangannya gemetar. Ia harus tahu kebenarannya. Ia harus tahu apakah Kiara dan Kirana selamat. Ia harus tahu apakah hutan yang ia cintai masih aman.

"Raka, benar ada yang meracuni hewan?" tanyanya begitu tiba di teras rumah Raka. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar, air mata sudah mulai mengalir di pipinya yang keriput.

Raka yang sedang duduk di teras bersama Wati dan Bejo, menghela napas panjang. Ia sudah mendengar kabar itu sejak tadi pagi. Ia sudah melihat botol-botol racun itu dengan matanya sendiri. Ia sudah merasakan mati rasa di telapak tangannya setelah menyentuh cairan itu.

"Iya, Bu. Kami menemukan botol-botol racun di Tebing Merah. Ada orang yang sengaja menuangkannya ke sungai. Mungkin sudah beberapa hari. Mungkin sejak seminggu lalu. Mungkin sejak kancil pertama ditemukan mati."

Bu Kasinem menangis. Tangisnya pecah, tidak bisa ditahan lagi. Ia duduk di kursi bambu yang disediakan, tubuhnya yang kecil gemetar. "Kancil-kancil kita... Kiara... Kirana... apakah mereka selamat? Apakah mereka minum air itu? Apakah mereka... apakah mereka..."

Wati segera mendekat, memegang tangan Bu Kasinem yang dingin dan gemetar. "Kiara dan Kirana masih aman, Bu. Mereka jarang ke titik Sungai. Mereka lebih suka di Lembah Harapan. Air di Lembah Harapan masih bersih, masih aman. Kami sudah membawakan air bersih dari desa untuk mereka. Mereka tidak minum air sungai yang terkontaminasi."

Bu Kasinem lega, tapi tidak sepenuhnya. "Tapi kita tidak tahu berapa lama air di Lembah Harapan masih aman. Racun itu bisa mengalir ke mana saja. Bisa ke sungai, bisa ke tanah, bisa ke tanaman. Bu Kasinem mengambil tanaman obat di dekat sungai. Bu Kasinem takut... Bu Kasinem takut racun itu meresap ke dalam tanaman, meresap ke dalam jamu yang Bu Kasinem jual, meresap ke dalam tubuh orang yang meminumnya."

Raka memegang bahu Bu Kasinem. "Kita akan cari tahu, Bu. Kita akan laporkan ke polisi. Kita akan buktikan bahwa ini kejahatan. Kita akan tangkap pelakunya. Kita tidak akan membiarkan mereka lepas. Kita tidak akan membiarkan mereka merusak hutan kita. Kita tidak akan membiarkan mereka membunuh kancil-kancil kita. Kita tidak akan membiarkan mereka membahayakan warga."


Bagian 5: Kiara yang Gelisah

Di Lembah Harapan, Kiara duduk di tepi sungai. Ia menatap air yang mengalir, tapi tidak minum. Ada sesuatu yang aneh. Air ini dulu jernih dan segar, dingin di lidah, menyegarkan di tenggorokan. Kini, meskipun masih jernih, ada bau yang tidak ia kenal. Bau yang mengganggu instingnya. Bau yang membuat bulu di punggungnya berdiri. Bau yang tidak alami. Bau yang berbahaya.

Kirana, anaknya yang masih kecil, berlari-lari di padang rumput, mengejar kupu-kupu, berguling-guling di rumput hijau, tertawa dengan lengkingan kecil yang lucu. Ia tidak menyadari bahaya yang mengintai. Ia masih kecil, masih polos, masih belum tahu bahwa dunia tidak selalu baik. Masih belum tahu bahwa ada orang yang ingin menyakitinya. Masih belum tahu bahwa ada racun yang mengalir di sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan mereka.

Kiara memanggilnya dengan suara lengkingan pelan.

"Kirana, ke sini. Jangan minum air sungai dulu."

Kirana berlari mendekat, menatap ibunya dengan heran. Matanya yang hitam pekat berbinar-binar, bulunya yang cokelat kemerahan mengilap di bawah sinar matahari pagi.

"Kenapa, Bu? Airnya jernih. Aku haus. Aku ingin minum."

"Tidak tahu. Tapi ada yang tidak beres. Air ini berbeda. Aku tidak tahu apa yang salah, tapi aku bisa merasakannya. Kita tunggu Raka datang. Dia akan memberitahu kita. Dia akan membawakan air bersih dari desa. Dia tidak akan membiarkan kita haus."

Kirana duduk di samping ibunya, menyandarkan kepalanya di pundak Kiara. Tubuhnya yang kecil hangat, bulunya yang halus lembut di kulit Kiara.

"Bu, aku takut. Kenapa ada yang mau menyakiti kita? Apa kita pernah berbuat jahat? Apa kita pernah merusak sesuatu? Apa kita pernah menyakiti manusia?"

Kiara menjilati kepalanya. Lidahnya yang hangat mengusap bulu Kirana yang lembut, memberikan ketenangan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Tidak, Nak. Kita tidak pernah berbuat jahat. Kita hanya hidup. Kita hanya makan. Kita hanya minum. Kita hanya menjaga hutan ini. Seperti yang diajarkan kakekmu. Seperti yang diajarkan buyutmu. Tapi ada manusia yang tidak mengerti. Ada manusia yang takut pada kita. Ada manusia yang benci pada kita. Ada manusia yang ingin menghancurkan apa yang tidak mereka pahami."

"Kenapa mereka benci pada kita, Bu?"

"Aku tidak tahu, Nak. Mungkin karena mereka tidak tahu. Mungkin karena mereka tidak mau belajar. Mungkin karena mereka lebih memilih takut daripada mengerti. Tapi tidak semua manusia seperti itu. Ada Raka, ada Wati, ada Bejo. Mereka sahabat kita. Mereka melindungi kita. Mereka tidak akan membiarkan kita celaka."

Dari balik pohon, Raka muncul. Ia berjalan cepat, menghampiri Kiara dan Kirana. Wajahnya tegang, tapi matanya tenang. Di tangannya, ia membawa jeriken air bersih dari desa—air yang aman, air yang tidak terkontaminasi racun.

"Kiara, ada kabar buruk. Ada orang yang menaruh racun di sungai. Beberapa hewan sudah mati. Kalian jangan minum air sungai dulu. Saya bawakan air dari desa. Ini aman. Ini bersih. Ini untuk kalian."

Kiara menatap Raka. Matanya yang hitam pekat, seperti cermin yang memantulkan semua yang terjadi.

"Aku tahu. Aku sudah menciumnya. Aku tidak minum. Aku menunggu. Aku tahu kamu akan datang."

Raka mengelus kepalanya, merasakan bulu lembut di bawah telapak tangannya, merasakan kehangatan tubuh Kiara yang masih hidup, masih sehat, masih selamat.

"Kamu pintar, Kiara. Kamu selamatkan dirimu dan Kirana. Kita akan cari tahu siapa pelakunya. Kita tidak akan biarkan mereka lepas. Kita tidak akan biarkan mereka kembali. Kita tidak akan biarkan mereka menyakiti kalian lagi."

Ia menatap Kirana yang masih kecil, yang masih belum mengerti apa yang terjadi, yang masih berlari-lari di padang rumput seolah tidak ada bahaya mengancam.

"Kirana, kamu harus patuh pada ibumu. Jangan minum air sungai. Jangan makan rumput di dekat sungai. Nanti saya bawakan makanan dari desa. Sayuran segar dari kebun Bu Kasinem. Daun-daun kesukaanmu. Janji."

Kirana mengangguk, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti. Ia hanya tahu bahwa Raka adalah teman. Raka adalah keluarga. Raka tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya.


Bagian 6: Mencari Jejak ke Kota

Keesokan harinya, Raka, Wati, dan Bejo berangkat ke kota. Mereka membawa botol-botol racun yang ditemukan di Tebing Merah—sebanyak lima botol yang masih utuh, masing-masing dibungkus dengan plastik dan dimasukkan ke dalam tas ransel dengan hati-hati. Mereka juga membawa sampel darah dan jaringan dari hewan-hewan yang mati—empat set sampel, masing-masing diberi label dengan tulisan rapi: "Kancil 1, titik Sungai", "Kancil 2, titik Sungai", "Babi Hutan, titik Batu", "Kijang, titik Sungai". Semua disimpan dalam kotak pendingin biru yang biasa digunakan Wati untuk mengirim sampel ke laboratorium.

Perjalanan ke kota memakan waktu hampir tiga jam. Mereka naik angkutan umum—mikroblet tua yang berderak-derak setiap kali melewati jalan berlubang, yang joknya robek dan isinya penuh sesak. Mereka bergantian berdiri dan duduk, bergantian mengantuk dan terjaga, bergantian membayangkan apa yang akan terjadi. Di dalam tas mereka, botol-botol racun itu terbungkus rapi, seperti barang bukti yang berharga, seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Di kantor polisi, mereka diterima oleh seorang perwira muda bernama Ipda Andika. Wajahnya masih muda—mungkin baru beberapa tahun lulus dari akademi—tapi matanya tajam, tangannya cekatan, suaranya tegas. Ia memeriksa laporan yang ditulis Raka dengan teliti, membaca setiap kata, setiap kalimat, setiap detail.

"Jadi, ada yang meracuni hewan di desa kalian?" tanyanya, matanya tidak lepas dari berkas laporan.

"Iya, Pak. Ini buktinya." Raka mengeluarkan botol-botol racun dan sampel darah. "Kami menemukan botol-botol ini di tepi sungai, di kawasan hutan lindung. Ada jejak sepatu orang asing. Warga melihat dua orang masuk ke hutan beberapa hari sebelum kejadian. Mereka membawa tas besar. Mereka menuju ke arah sungai. Mereka mungkin sudah beberapa kali ke sana. Mungkin mereka masih akan kembali."

Ipda Andika mengamati botol-botol itu dengan saksama. Ia memegangnya dengan sarung tangan karet, memutarnya di bawah cahaya lampu, membaca label yang sudah luntur. "Kami akan kirim sampel ini ke laboratorium. Butuh waktu untuk menguji. Mungkin satu minggu, mungkin dua minggu, tergantung antrean. Tapi dari ciri-cirinya—botol kecil berwarna cokelat, cairan bening, tidak berbau—ini mungkin racun yang biasa digunakan oleh pemburu liar. Racun saraf. Sangat berbahaya. Tidak hanya untuk hewan, tapi juga untuk manusia."

Wati bertanya, matanya tajam, suaranya tegas. "Pak, apakah mungkin ini terkait dengan jaringan pemburu liar yang dulu pernah kami tangkap? Bos Gito? Dulu, waktu kami masih kecil, kami membantu menangkap jaringan yang mencoba mencuri kancil. Bos Gito adalah dalangnya. Dia ditangkap, diadili, dipenjara. Tapi mungkin dia masih punya jaringan di luar. Mungkin dia masih bisa memberi perintah dari dalam."

Ipda Andika mengernyitkan dahi, mengingat-ingat. "Bos Gito? Yang dulu ditangkap karena kasus perdagangan satwa langka? Kasus yang cukup besar, melibatkan pembeli dari luar negeri? Saya ingat membaca berkasnya. Dia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Itu sudah... berapa tahun lalu?"

"Lima belas tahun, Pak. Dia mungkin sudah bebas. Atau mungkin bebas bersyarat. Atau mungkin dia punya koneksi di luar yang tetap aktif."

Ipda Andika mengangguk. "Kami akan selidiki. Tapi kalian harus hati-hati. Kalau memang mereka, mereka tidak akan ragu untuk menyakiti kalian juga. Mereka sudah pernah merasakan kekalahan dari kalian. Mereka pasti dendam. Mereka pasti ingin balas. Jaga desa kalian. Laporkan setiap kejadian aneh. Jangan ambil risiko. Kalau melihat orang asing, jangan lawan sendiri. Langsung hubungi kami."


Bagian 7: Pulang dengan Berat

Perjalanan pulang dari kota terasa lebih berat dari berangkat. Bukan karena jalan yang macet atau angkutan yang lebih penuh. Tapi karena pikiran yang penuh. Penuh dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Penuh dengan kekhawatiran yang tidak bisa diredakan. Penuh dengan bayangan tentang racun, tentang hewan-hewan yang mati, tentang Kiara dan Kirana yang dalam bahaya, tentang desa yang mungkin menjadi target berikutnya.

Bejo yang biasanya banyak bicara—yang biasanya bercerita tentang resep baru, tentang restoran yang sedang ramai, tentang pelanggan yang memuji masakannya—kali ini diam. Ia duduk di kursi belakang mikroblet, memandangi pemandangan di luar jendela dengan mata kosong. Sawah-sawah yang hijau membentang luas, bukit-bukit yang menjulang dengan tebing-tebing curam, puncak Manoreh yang diselimuti kabut tipis. Semua itu indah. Tapi di balik keindahan itu, ada ancaman yang mengintai. Ada racun yang mengalir di sungai. Ada kematian yang menunggu.

"Jo, kamu diam saja," kata Wati, menoleh ke belakang. "Biasanya kamu cerewet. Dari subuh sampai malam, dari dapur sampai hutan, dari urusan masak sampai urusan desa. Kamu selalu punya komentar. Sekarang kenapa?"

Bejo tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Gue mikir. Kalau racun itu menyebar ke Lembah Harapan, Kiara dan Kirana bisa mati. Kawanan kancil bisa mati. Semua yang sudah kita bangun selama ini—puluhan tahun, dari kita masih kecil sampai sekarang—bisa hancur dalam semalam. Gue nggak tega bayangin itu. Gue nggak bisa bayangin Lembah Harapan tanpa Kiara. Gue nggak bisa bayangin titik Beringin tanpa kancil. Gue nggak bisa bayangin hutan ini mati."

Raka menoleh ke belakang, matanya menatap Bejo dengan lembut. "Makanya kita harus cegah. Kita harus jaga. Kita harus pastikan racun itu tidak sampai ke Lembah Harapan. Kita harus pastikan mereka yang bertanggung jawab ditangkap. Kita harus pastikan tidak ada lagi hewan yang mati. Kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh putus asa. Kita sudah melewati banyak hal yang lebih sulit dari ini. Kebakaran, banjir, longsor, pemburu. Kita selalu selamat. Kali ini juga akan selamat."

"Tapi bagaimana caranya?" tanya Bejo, suaranya lirih, nyaris tak terdengar di atas deru mesin mikroblet. "Hutan luas. Sungai banyak. Racun bisa datang dari mana saja. Mereka bisa menuangkan racun di hulu, dan kita tidak akan pernah tahu sampai hewan-hewan mati. Kita tidak bisa memantau setiap meter sungai. Kita tidak bisa menutup seluruh hutan."

Wati menjawab, suaranya tegas, penuh keyakinan yang tidak dimilikinya beberapa jam lalu. "Kita buat posko di setiap titik air. Kita pantau setiap hari. Kita ambil sampel air, kita uji. Kalau ada yang mencurigakan, kita segera laporkan. Kita pasang kamera jebak di titik-titik rawan. Di Tebing Merah, di titik Sungai, di titik Batu. Kalau ada orang asing masuk, kita akan tahu. Kita akan punya bukti. Kita akan bisa menangkap mereka."

Guntur yang ikut dalam perjalanan, duduk di samping Bejo, menambahkan, "Dan kita minta bantuan warga. Siapa pun yang melihat orang asing, segera lapor. Siapa pun yang melihat botol-botol aneh, segera lapor. Siapa pun yang melihat hewan mati, segera lapor. Kita tidak bisa sendiri. Tapi bersama, kita bisa. Kita sudah buktikan."

Bejo mengangguk, matanya mulai berbinar lagi. "Kita lakukan itu. Kita buat posko. Kita pasang kamera. Kita libatkan warga. Kita tangkap mereka. Kita selamatkan Kiara. Kita selamatkan Kirana. Kita selamatkan hutan. Kita tidak akan menyerah. Kita tidak akan kalah."


Bagian 8: Posko di Setiap Titik Air

Kembali di desa, Raka segera mengumpulkan warga. Balai desa penuh sesak malam itu, lebih penuh dari biasanya. Lampu petromak menyala terang di setiap sudut, menerangi wajah-wajah tegang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tidak ada yang tertawa, tidak ada yang bercanda, tidak ada yang berbisik-bisik tentang gosip atau kabar angin. Semua serius. Semua fokus. Semua siap mendengar.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudaraku," Raka memulai, suaranya lantang, menggema di ruangan yang sunyi. "Kita sedang dalam bahaya. Ada orang yang sengaja menebar racun di hutan kita. Hewan-hewan mati. Kancil-kancil kita terancam. Kiara dan Kirana terancam. Kawanan yang sudah kita jaga selama puluhan tahun terancam. Kita tidak bisa tinggal diam. Kita tidak boleh menyerah. Kita harus bertindak."

Pak Rasmin berdiri, suaranya tegas, matanya menyala. "Apa yang harus kita lakukan? Katakan saja. Kami siap. Kami tidak akan membiarkan mereka merusak hutan kita. Kami tidak akan membiarkan mereka membunuh kancil-kancil kita. Kami tidak akan membiarkan mereka menghancurkan apa yang sudah kita bangun bersama."

Raka mengeluarkan peta yang sudah ia siapkan—peta besar Hutan Manoreh yang ia gambar sendiri bertahun-tahun lalu, yang terus ia perbaharui setiap kali menemukan jalur baru, setiap kali menemukan sumber air baru, setiap kali menemukan tempat baru yang perlu dijaga. Peta itu sudah lusuh, sudah banyak tambalan, sudah penuh dengan coretan-coretan. Tapi itu adalah peta yang paling akurat, peta yang tidak dimiliki siapa pun, peta yang menjadi hasil dari puluhan tahun menjelajahi hutan.

"Kita buat posko di setiap titik air. Titik Beringin, titik Sungai, titik Batu, Lembah Harapan, Tebing Merah. Setiap hari, dua orang bertugas mengambil sampel air, mengamati sekitar, melaporkan kejadian aneh. Kita pasang kamera jebak di titik-titik rawan. Kita pantau siapa saja yang masuk hutan. Kita catat setiap jejak yang mencurigakan. Kita laporkan setiap keanehan."

Topan mengangkat tangan, suaranya mantap, matanya penuh semangat. "Saya siap jaga di titik Sungai. Saya sudah hafal daerah itu sejak kecil. Saya tahu setiap tikungan, setiap batu, setiap pohon. Saya tahu kalau ada yang tidak beres. Saya tahu kalau ada yang aneh."

Bu Kasinem berdiri, suaranya lantang meskipun tubuhnya kecil, matanya berbinar meskipun air mata masih mengalir di pipinya. "Saya siap jaga di titik Batu. Saya sering ke sana ambil tanaman obat. Saya tahu di mana biasanya kancil minum, di mana biasanya babi hutan berkubang, di mana biasanya kijang mencari makan. Saya tahu kalau ada yang tidak beres. Saya tahu kalau ada racun di air."

Dani berdiri, suaranya penuh keyakinan, matanya tidak berkedip. "Saya siap jaga di Lembah Harapan. Saya akan pastikan Kiara dan Kirana aman. Saya akan pastikan mereka tidak minum air yang terkontaminasi. Saya akan bawakan air bersih dari desa setiap hari. Saya tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada mereka. Janji."

Guntur berdiri, suaranya tegas, matanya menatap semua warga. "Saya siap koordinasi. Saya akan hubungi polisi setiap hari, laporkan perkembangan. Saya akan catat semua temuan, semua kejadian, semua yang mencurigakan. Saya akan pastikan tidak ada yang terlewat. Saya akan pastikan kita punya bukti yang cukup untuk menangkap mereka."

Raka mengangguk, matanya menatap satu per satu wajah yang hadir. Wajah-wajah yang sudah dikenalnya sejak kecil, wajah-wajah yang telah berubah seiring waktu, wajah-wajah yang sekarang penuh dengan tekad. "Bagus. Kita mulai besok pagi. Dan ingat, jangan sendiri. Selalu berdua. Selalu bawa handy talkie. Selalu bawa senter. Kalau ada yang mencurigakan, jangan ambil risiko. Jangan lawan sendiri. Langsung lapor. Kita tidak tahu siapa mereka, apa yang mereka bawa, apa yang mereka mampu lakukan. Keselamatan kalian yang utama. Hutan bisa dijaga, kancil bisa dilindungi, tapi nyawa tidak bisa diganti."


Bagian 9: Hari Pertama Penjagaan

Pagi-pagi buta, ketika langit timur masih gelap dan bintang-bintang masih terlihat, para penjaga sudah berangkat ke posko masing-masing. Pak Rasmin dan Topan ke titik Sungai, membawa senter, handy talkie, dan botol sampel. Bu Kasinem dan Dani ke titik Batu, membawa keranjang kecil berisi makanan dan air minum. Guntur dan beberapa pemuda ke Lembah Harapan, membawa jeriken air bersih untuk Kiara dan Kirana. Raka, Wati, dan Bejo ke titik Beringin, membawa perlengkapan lengkap—kamera jebak, handy talkie, botol sampel, dan bekal untuk seharian.

Di titik Beringin, suasana masih sunyi. Pohon beringin besar itu berdiri kokoh, akarnya menjulur ke tanah seperti ular raksasa, daun-daunnya rimbun menaungi seluruh area. Bak air di bawahnya masih penuh, airnya jernih, tidak ada yang aneh. Beberapa ekor kancil sedang minum dengan tenang, tidak terganggu dengan kedatangan mereka. Mereka tidak tahu bahwa ada bahaya yang mengintai. Mereka tidak tahu bahwa ada racun yang mengalir di sungai-sungai lain. Mereka hanya minum, hidup, menikmati pagi yang cerah.

Wati mengambil sampel air dari bak, memasukkannya ke dalam tabung. "Ini akan kita uji setiap hari. Kalau ada perubahan warna atau bau, kita langsung laporkan. Kalau ada hewan mati di sekitar, kita langsung selidiki. Kalau ada yang mencurigakan, kita langsung tindak."

Bejo memasang kamera jebak di beberapa titik—di pohon dekat bak air, di semak-semak di pinggir sungai, di jalur setapak yang biasa dilalui warga. "Kamera ini akan merekam siapa pun yang lewat. Kalau ada orang asing, kita akan tahu. Kalau ada yang menaruh racun, kita akan tahu. Kalau ada yang mencurigakan, kita akan punya bukti."

Raka duduk di bawah pohon beringin, memandangi hutan yang mulai terang. Sinar matahari pagi mulai menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola cahaya yang indah di tanah. Burung-burung mulai berkicau, menyambut hari yang baru. Tapi di balik keindahan itu, ada ancaman yang mengintai. Ada racun yang mengalir. Ada kematian yang menunggu.

Pikirannya melayang ke Kiara dan Kirana, ke kawanan kancil yang bergantung pada mereka, ke hutan yang harus mereka jaga. Ia berdoa—kepada Tuhan, kepada Kai, kepada Kai Muda, kepada Kiano—semoga tidak ada yang lebih buruk terjadi. Semoga mereka bisa menemukan pelaku sebelum terlambat. Semoga Kiara dan Kirana selamat. Semoga hutan ini tetap hijau.

Handy talkie-nya berderak. Suara Guntur terdengar.

"Ra, Lembah Harapan aman. Kiara dan Kirana di sini. Mereka minum air yang kita bawa dari desa. Tidak ada yang aneh. Air sungai masih jernih, tidak ada bau, tidak ada hewan mati. Kami akan pantau terus."

"Bagus. Laporkan setiap jam. Kalau ada yang aneh, langsung telepon."

"Laporan dari titik Sungai, Pak Rasmin: aman. Air jernih, tidak ada bau, tidak ada jejak orang asing. Tidak ada hewan mati. Semua normal."

"Laporan dari titik Batu, Bu Kasinem: aman. Air jernih, tidak ada bau, tidak ada jejak orang asing. Tanaman obat tumbuh normal. Tidak ada yang aneh."

Raka menghela napas lega. Hari pertama berjalan lancar. Tapi mereka tahu, ini baru awal. Pelaku mungkin sudah pergi. Atau mungkin mereka sedang menunggu. Atau mungkin mereka akan kembali. Kapan saja. Di mana saja. Mereka harus siap.


Bagian 10: Temuan di Titik Batu

Hari ketiga penjagaan, ketika semua orang mulai berharap bahwa ancaman telah berlalu, Bu Kasinem menemukan sesuatu. Ia sedang mengambil sampel air di titik Batu, seperti biasa, ketika matanya menangkap sesuatu yang mengambang di permukaan sungai. Sebuah botol plastik. Bukan botol bekas minuman kemasan yang biasa dibuang sembarangan. Tapi botol kecil berwarna cokelat tua, sama persis dengan botol yang ditemukan di Tebing Merah. Botol itu mengapung pelan di arus sungai, terbawa dari hulu, mungkin dari tempat yang lebih dalam, dari tempat yang belum pernah mereka jelajahi.

Dengan tangan gemetar, Bu Kasinem mengambil botol itu dari air. Botol itu dingin, basah, tapi masih utuh. Masih setengah penuh dengan cairan bening. Tidak berbau. Tidak berwarna. Seperti air biasa. Tapi Bu Kasinem tahu, ini bukan air biasa. Ini racun. Racun yang telah membunuh kancil-kancil itu. Racun yang mungkin masih akan membunuh lebih banyak lagi.

Ia segera membungkus botol itu dengan daun pisang yang ia bawa, memasukkannya ke dalam keranjangnya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengambil handy talkie dari saku bajunya.

"Ra, ada temuan di titik Batu! Botol seperti kemarin! Masih ada isinya! Masih setengah penuh! Masih baru! Mungkin baru saja dibuang! Mungkin pelakunya masih di sekitar sini!"

Raka yang sedang di titik Beringin, langsung berdiri. Jantungnya berdebar kencang, tapi ia berusaha tenang. "Jangan sentuh! Jangan dibuka! Jangan dicium! Bu Kasinem, segera menjauh dari sungai! Jangan biarkan air mengenai kulit Bapak! Kami segera ke sana!"

Raka, Wati, dan Bejo berlari. Mereka meninggalkan perlengkapan di titik Beringin, hanya membawa handy talkie dan senter. Mereka berlari melewati jalan setapak yang sudah mereka hafal sejak kecil, melewati sungai yang airnya masih jernih, melewati tebing yang terjal. Kaki mereka terasa ringan meskipun jantung berdebar kencang. Mereka harus cepat. Mereka harus tahu. Mereka harus bertindak.

Mereka tiba di titik Batu dalam waktu kurang dari setengah jam. Bu Kasinem masih berdiri di tepi sungai, wajahnya pucat, tangannya masih gemetar memegang keranjang berisi botol racun. Di sampingnya, Dani berdiri dengan golok di tangan, matanya waspada menatap ke arah hulu sungai.

"Saya ambil sampel air tadi pagi," kata Bu Kasinem, suaranya bergetar, matanya basah. "Semua normal. Air jernih, tidak ada bau, tidak ada yang aneh. Tapi tiba-tiba saya lihat botol ini mengapung di sungai. Mungkin baru saja dibuang. Atau terbawa arus dari hulu. Atau mungkin... mungkin pelakunya masih di sekitar sini. Mungkin mereka melihat saya. Mungkin mereka masih menunggu."

Wati mengambil botol itu dari keranjang Bu Kasinem, memeriksanya dengan saksama. Botol yang sama. Warna yang sama. Ukuran yang sama. Cairan bening yang tidak berbau. Tidak berwarna. Sama persis dengan botol yang ditemukan di Tebing Merah.

"Ini racun yang sama," katanya, suaranya tegas, matanya tajam. "Mereka masih menebar. Mereka tidak berhenti. Mereka terus mencoba. Mungkin mereka sudah ke sini beberapa kali. Mungkin mereka akan kembali. Mungkin mereka tidak akan berhenti sampai semua kancil mati. Sampai hutan ini mati. Sampai kita menyerah."

Raka mengepalkan tangan. "Mereka tidak akan berhenti. Mereka tidak akan menyerah. Mereka dendam. Mereka ingin balas. Tapi kita juga tidak akan berhenti. Kita juga tidak akan menyerah. Kita akan tangkap mereka. Kita akan buktikan bahwa mereka tidak bisa mengalahkan kita."

"Tapi bagaimana caranya?" tanya Bejo, suaranya putus asa. "Hutan luas. Sungai panjang. Mereka bisa datang kapan saja. Mereka bisa menebar racun di mana saja. Kita tidak bisa menjaga setiap meter sungai. Kita tidak bisa memantau setiap titik air."

Raka berpikir keras. Matanya tertuju pada kamera jebak yang dipasang di dekat sungai, kamera yang merekam setiap gerakan, setiap bayangan, setiap yang lewat.

"Kamera! Kita lihat rekaman kamera! Mungkin mereka terekam! Mungkin kita bisa lihat wajah mereka! Mungkin kita bisa tahu siapa mereka!"

Mereka berlari ke posko, mengambil kartu memori dari kamera jebak. Raka memasangnya di laptop yang dibawa Wati—laptop tua yang sudah berusia puluhan tahun, yang masih menyala meskipun sering mati sendiri. Jari-jari mereka gemetar, mata mereka menatap layar dengan tegang, napas mereka tertahan.

Rekaman pertama: pagi hari, Bu Kasinem mengambil sampel air. Rekaman kedua: siang hari, beberapa ekor kancil minum. Rekaman ketiga: sore hari, seorang pemuda desa lewat, mungkin sedang mencari kayu bakar. Rekaman keempat: malam hari, gelap, hanya suara jangkrik dan sesekali suara burung hantu.

Lalu rekaman kelima: dini hari, sekitar jam 2 pagi. Dua bayangan muncul dari balik pohon. Mereka berjalan cepat, membawa tas besar di punggung. Mereka berhenti di tepi sungai, mengeluarkan botol-botol dari tas, menuangkan cairan ke air. Cairan itu tidak berwarna, tidak berbau, tidak terlihat. Tapi mereka tahu, racun itu sedang mengalir ke sungai. Racun itu sedang menuju ke titik-titik air lainnya. Racun itu sedang membunuh.

"ITU MEREKA!" teriak Bejo.

Raka memperbesar gambar. Wajah mereka tidak jelas, topeng hitam menutupi. Tapi postur tubuh, cara berjalan, pakaian—semua terekam dengan cukup jelas. Mereka tinggi, kurus, bergerak dengan sigap. Seperti sudah pernah ke hutan ini sebelumnya. Seperti sudah tahu persis di mana harus menaruh racun. Seperti sudah merencanakan ini sejak lama.

"Kita bawa ini ke polisi," kata Raka. "Mereka pasti bisa identifikasi. Mereka punya database. Mereka punya teknologi. Mereka punya jaringan. Kita tidak akan menangkap mereka sendirian. Tapi dengan bukti ini, polisi bisa membantu. Dengan bukti ini, mereka tidak akan bisa kabur."


Bagian 11: Identifikasi Pelaku

Ipda Andika menerima rekaman video itu dengan serius. Ia memutar ulang berkali-kali, memperbesar, memperkecil, menganalisis setiap frame, setiap gerakan, setiap detail. Matanya tidak berkedip, tangannya mencatat di buku catatan kecil.

"Dua orang," katanya. "Pria. Tinggi sekitar 170-175 cm. Berat sekitar 60-70 kg. Cara berjalan salah satu agak pincang di kaki kanan. Mungkin cedera lama. Atau mungkin kebiasaan. Yang satu lagi berjalan normal, tapi ada kebiasaan menunduk sedikit, seperti sedang mencari sesuatu di tanah."

Ia mengambil telepon, menghubungi rekan di bagian identifikasi. Setelah berbincang sebentar, ia menutup telepon.

"Kami akan lacak. Tapi butuh waktu. Mungkin beberapa hari. Mungkin seminggu. Mungkin lebih. Tapi kami akan temukan mereka. Sementara itu, kalian harus tetap waspada. Mereka mungkin akan kembali. Mereka mungkin tidak akan berhenti sampai ditangkap. Mereka mungkin akan mencoba lagi. Di tempat lain. Di waktu lain. Dengan cara lain."

Raka mengangguk. "Kami siap, Pak. Kami sudah pasang posko di setiap titik air. Kami pantau setiap hari. Kami ambil sampel air setiap pagi. Kami laporkan setiap kejadian aneh. Tapi kami butuh bantuan. Kalau mereka datang lagi, kami tidak bisa melawan sendiri. Mereka mungkin bersenjata. Mereka mungkin berbahaya. Mereka mungkin tidak segan menyakiti kami."

Ipda Andika tersenyum. "Saya akan kirim dua orang anggota untuk berjaga di desa kalian. Mereka akan membantu patroli. Mereka akan membantu mengamankan titik-titik rawan. Tapi ingat, jangan ambil risiko. Kalau melihat mereka, jangan lawan sendiri. Laporkan pada kami. Kami yang akan menangani. Keselamatan kalian yang utama."


Bagian 12: Malam Penuh Ketegangan

Kembali di desa, suasana mencekam. Dua anggota polisi yang dikirim Ipda Andika tiba sore harinya. Mereka langsung berkeliling desa, memeriksa titik-titik rawan, berkoordinasi dengan warga, memasang pita pembatas di area yang dicurigai. Warga yang biasanya duduk santai di teras setelah maghrib, kali ini memilih tinggal di dalam rumah. Pintu dikunci, jendela ditutup, lampu dimatikan. Hanya sesekali terlihat senter berkelap-kelip dari arah pos ronda.

Raka, Wati, dan Bejo tidak tidur malam itu. Mereka duduk di posko titik Beringin, ditemani Kiara yang juga tidak bisa tidur. Kiara datang dengan Kirana, mencari perlindungan. Kirana masih kecil, masih belum mengerti apa yang terjadi, masih tidur nyenyak di pangkuan ibunya.

"Kiara, kamu tidak usah takut," kata Raka sambil mengelus kepalanya. "Kami di sini. Polisi di sini. Warga di sini. Kami akan jaga kalian. Kami tidak akan biarkan apa pun terjadi pada kalian. Janji."

Kiara menatap Raka. Matanya yang hitam pekat, seperti cermin yang memantulkan semua yang terjadi.

"Aku tidak takut. Aku hanya khawatir. Kirana masih kecil. Dia belum mengerti. Dia belum tahu bahwa ada orang yang ingin menyakiti kita. Dia belum tahu bahwa ada racun di sungai. Dia belum tahu bahwa dunia ini tidak selalu aman."

Raka memandang Kirana yang tidur di pangkuan Kiara, napasnya teratur, bulunya yang cokelat kemerahan berkilau di bawah sinar bulan.

"Kirana akan baik-baik saja. Kita akan pastikan itu. Kita akan jaga dia. Kita akan lindungi dia. Kita tidak akan biarkan apa pun terjadi padanya. Kita tidak akan biarkan dia terluka. Kita tidak akan biarkan dia ketakutan."

Dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki. Raka menyorotkan senter. Pak Rasmin dan Topan datang membawa termos kopi dan makanan—nasi liwet, ayam bakar, sambal terasi, lalapan. Mereka duduk di samping Raka, meletakkan makanan di atas daun pisang.

"Kami kira kalian belum makan," kata Pak Rasmin sambil duduk. "Mari makan dulu. Besok masih panjang. Besok mungkin akan lebih sulit. Besok mungkin akan lebih berat. Besok mungkin akan lebih berbahaya. Tapi kita akan hadapi bersama."

Mereka makan bersama di bawah pohon beringin, ditemani Kiara dan Kirana yang tidur. Suasana sunyi, hanya suara jangkrik dan desir angin. Pak Rasmin duduk di samping Raka, tangannya yang keriput memegang cangkir kopi.

"Pak Rasmin," kata Raka. "Apa Bapak tidak takut? Mereka mungkin datang lagi. Mereka mungkin membawa senjata. Mereka mungkin lebih banyak. Mereka mungkin lebih berbahaya. Mereka mungkin tidak segan menyakiti kita."

Pak Rasmin tersenyum. "Takut? Tentu. Siapa yang tidak takut? Saya takut. Tapi saya lebih takut kalau kancil-kancil kita mati. Lebih takut kalau Kiara dan Kirana mati. Lebih takut kalau hutan ini rusak. Lebih takut kalau apa yang sudah kita bangun selama ini hancur. Saya sudah tua. Tidak apa-apa kalau saya mati. Tapi mereka masih muda. Kiara masih muda. Kirana masih kecil. Mereka harus hidup. Mereka harus terus menjaga hutan ini. Mereka harus menjadi warisan untuk anak cucu kita."

Raka menatap Pak Rasmin. Pria yang dulu keras dan kasar, yang dulu membawa puluhan warga protes ke balai desa, yang dulu marah-marah setiap kali kancil masuk sawah. Kini, ia duduk di sampingnya, menjaga hutan, menjaga kancil, menjaga apa yang sudah mereka bangun bersama.

"Bapak berubah, Pak. Dulu Bapak marah-marah soal kancil. Sekarang Bapak yang paling vokal melindungi mereka. Apa yang membuat Bapak berubah?"

Pak Rasmin tertawa kecil. "Saya belajar, Nak. Saya belajar dari kalian. Dari Kiara. Dari Kiano. Dari Kai. Mereka mengajarkan bahwa persahabatan tidak mengenal batas. Bahwa cinta tidak mengenal spesies. Bahwa kita semua bagian dari alam yang sama. Kalau kita tidak menjaga, siapa lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?"


Bagian 13: Penyergapan

Malam ketiga penjagaan, datang juga yang ditunggu-tunggu. Kamera jebak di titik Batu menangkap dua bayangan bergerak mendekati sungai. Di posko, alarm berbunyi—suara sederhana dari bel yang dipasang di kamera, dihubungkan ke handy talkie. Raka yang sedang berjaga, langsung bangkit. Jantungnya berdebar kencang, tapi ia berusaha tenang.

"Mereka datang! Titik Batu! Cepat! Jangan biarkan mereka kabur!"

Wati, Bejo, Guntur, Pak Rasmin, dan dua anggota polisi segera bergerak. Mereka berlari dalam kegelapan, senter menyala, handy talkie aktif. Kiara ikut, berlari di samping Raka, matanya tajam, telinganya tegak, ekornya bergoyang. Ia tidak takut. Ia tidak akan lari. Ia akan melindungi hutan ini. Untuk Kirana. Untuk kawanan. Untuk semua yang sudah pergi.

Di titik Batu, dua bayangan itu sedang sibuk menuangkan racun ke sungai. Mereka tidak tahu bahwa kamera telah merekam mereka. Mereka tidak tahu bahwa alarm telah berbunyi. Mereka tidak tahu bahwa pasukan sudah mengepung. Mereka terlalu fokus pada botol-botol di tangan mereka, terlalu asyik dengan misi mereka, terlalu percaya diri bahwa mereka tidak akan ketahuan.

"GERAK! JANGAN BERGERAK! POLISI!" teriak Ipda Andika yang ikut menyergap.

Dua bayangan itu terkejut. Mereka mencoba lari, melempar botol-botol yang masih tersisa, berlari ke arah hutan yang gelap. Tapi Kiara lebih cepat. Ia melompat ke depan, menghadang jalan mereka. Matanya menyala di bawah sinar bulan, telinganya tegak, ekornya bergoyang. Ia berdiri tegak, tidak takut, tidak bergeming. Ia adalah Kiara. Ia adalah penjaga hutan. Ia tidak akan membiarkan mereka lepas.

"KIARA! MUNDUR!" teriak Raka. Tapi Kiara tidak bergerak. Ia berdiri di depan kedua pemburu itu, menatap mereka dengan mata penuh keberanian, dengan tubuh yang siap melindungi, dengan nyali yang tidak dimiliki banyak manusia.

Salah satu pemburu mengeluarkan pisau dari balik jaketnya. Pisau itu berkilau di bawah sinar bulan, tajam, panjang, mematikan. "Minggir, hewan! Atau aku akan..."

Kiara tidak bergerak. Ia tetap berdiri, matanya tidak berkedip, tubuhnya tidak bergeming. Ia tidak takut pada pisau. Ia tidak takut pada manusia. Ia hanya takut pada satu hal: hutan ini rusak, kawanannya mati, anaknya terluka. Dan untuk melindungi itu, ia rela mati.

Pemburu itu mengayunkan pisau. Tapi Kiara melompat, menghindar dengan lincah, lalu menyeruduk perutnya dengan keras. Pemburu itu jatuh, pisau terlepas dari tangannya, tubuhnya terguling di tanah basah.

Yang lain mencoba lari, berlari ke arah hutan, berharap kegelapan menyelamatkannya. Tapi Pak Rasmin sudah menghadang. Dengan kapak di tangan, ia berdiri di depan, tidak bergerak, tidak bergeming.

"BERHENTI! KALAU TIDAK, KAPAK INI AKAN MELAYANG! SAYA SUDAH TUA! SAYA TIDAK TAKUT MATI! TAPI SAYA TIDAK AKAN BIARKAN KALIAN MERUSAK HUTAN KAMI!"

Pemburu itu berhenti. Ia melihat kapak di tangan Pak Rasmin, melihat mata pria tua yang menyala, melihat tekad yang tidak akan goyah. Ia menyerah.

Polisi langsung mengamankan mereka. Memborgol tangan mereka, memeriksa tas mereka, menemukan puluhan botol racun yang masih tersisa. Semua disita sebagai barang bukti.

Raka berlari ke arah Kiara. "Kiara! Kamu baik-baik saja? Dia tidak melukaimu? Pisau itu tidak mengenai? Kamu tidak terluka? Kamu tidak apa-apa?"

Kiara menjilati tangannya. Lidahnya yang hangat mengusap kulit Raka yang dingin oleh keringat malam.

"Aku baik-baik saja. Aku tidak takut. Aku harus melindungi hutan ini. Untuk Kirana. Untuk kawanan. Untuk kalian. Untuk semua yang sudah pergi. Untuk semua yang akan datang."

Raka memeluknya. "Kamu hebat, Kiara. Kiano pasti bangga. Kai Muda pasti bangga. Kai pasti bangga. Kami semua bangga."


Bagian 14: Interogasi dan Pengakuan

Dua pemburu itu dibawa ke balai desa. Lampu petromak menyala terang, menerangi wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi. Ternyata, mereka bukan orang asing. Mereka adalah mantan karyawan Bos Gito, jaringan pemburu liar yang dulu pernah ditangkap oleh Tim Penyelidik Cilik. Mereka sudah beberapa kali masuk penjara, sudah beberapa kali keluar, sudah beberapa kali kembali ke jalan yang salah.

"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Ipda Andika, suaranya tegas, matanya tajam.

Mereka diam. Mulut terkunci, mata menunduk, tubuh gemetar. Tidak ada yang berani bicara. Tidak ada yang berani mengaku.

"Bos Gito sudah di penjara. Tidak mungkin dia menyuruh dari sana. Siapa dalangnya? Siapa yang membayar kalian? Siapa yang memberi kalian racun? Siapa yang memberi kalian informasi tentang hutan ini?"

Mereka masih diam. Pak Rasmin yang tidak sabar, berdiri. Wajahnya merah padam, tangannya mengepal, suaranya menggelegar.

"Kalian tahu apa yang kalian lakukan? Racun itu tidak hanya membunuh kancil. Racun itu bisa membunuh manusia. Anak-anak kita. Cucu-cucu kita. Istri kita. Suami kita. Semua yang minum air dari sungai itu. Apakah kalian tega? Apakah kalian tidak punya hati? Apakah kalian tidak punya keluarga? Apakah kalian tidak takut Tuhan?"

Salah satu pemburu mengangkat kepala. Matanya merah, suaranya bergetar. "Kami tidak tahu. Kami hanya disuruh. Bos memberi uang. Banyak. Kami butuh uang. Istri saya sakit. Anak saya butuh biaya sekolah. Rumah saya mau disita. Kami tidak punya pilihan. Kami hanya menjalankan perintah. Kami tidak tahu racun itu seberapa berbahaya. Kami tidak tahu racun itu bisa membunuh manusia. Kami tidak tahu..."

"Bos siapa?" desak Ipda Andika, suaranya tidak meninggi, tapi semakin tajam.

"Bos... Bos Gito. Meskipun dia di penjara, dia masih punya jaringan. Dia masih bisa memberi perintah. Dia masih bisa mengirim uang. Dia masih bisa mengatur segalanya dari dalam. Dia bilang, 'Hancurkan hutan itu. Hancurkan kancil-kancil itu. Hancurkan desa itu. Hancurkan apa yang sudah mereka bangun. Biar mereka tahu siapa yang berkuasa. Biar mereka tahu bahwa tidak ada yang bisa melawan Bos Gito.'"

Raka mengepalkan tangan. "Bos Gito. Lagi-lagi Bos Gito. Dulu dia mau menangkap kancil. Sekarang dia mau membunuh mereka. Apa tidak cukup? Apa dia tidak kapok? Apa dia tidak takut? Apa dia tidak tahu bahwa kejahatan akan selalu terungkap?"

Ipda Andika berdiri. "Kami akan urus ini. Bos Gito mungkin di penjara, tapi kami bisa perpanjang hukumannya. Kami bisa tambah pasal. Kami bisa buat dia tidak bisa keluar lagi. Jaringannya akan kami bongkar. Mereka tidak akan bisa berbuat lagi. Mereka tidak akan bisa mengancam lagi. Mereka tidak akan bisa merusak lagi."


Bagian 15: Kiara dan Kirana di Lembah Harapan

Setelah penyergapan, suasana di Bojong Sari kembali tenang. Racun-racun yang tersisa di sungai dibersihkan oleh warga. Mereka bergotong royong mengalirkan air bersih dari Lembah Harapan, membilas sungai yang terkontaminasi, menanam tanaman yang bisa menyerap racun. Bu Kasinem membawa bibit tanaman obat dari kebunnya, menanam di sepanjang tepi sungai, berharap akar-akarnya bisa menyerap sisa-sisa racun yang mungkin masih mengendap.

Kiara dan Kirana kembali ke Lembah Harapan. Air sungai sudah bersih lagi, jernih dan segar. Tidak ada bau aneh. Tidak ada warna aneh. Tidak ada kematian. Kirana berlari-lari di padang rumput, mengejar kupu-kupu, berguling-guling di lumpur, tertawa dengan lengkingan kecil yang lucu. Ia tidak tahu bahwa dunia pernah hampir berakhir untuknya. Ia tidak tahu bahwa ada orang yang ingin menyakitinya. Ia tidak tahu bahwa ibunya pernah berhadapan dengan pisau demi melindunginya.

Kiara duduk di tepi sungai, menatap anaknya dengan penuh cinta. Raka, Wati, dan Bejo duduk di sampingnya.

"Kiara, kamu selamat," kata Raka. "Kirana selamat. Kawanan selamat. Hutan selamat. Semua selamat. Kita berhasil. Kita menang."

Kiara menatapnya. Matanya yang hitam pekat, seperti cermin yang memantulkan semua yang telah terjadi.

"Karena kalian. Karena kalian tidak menyerah. Karena kalian terus berjuang. Karena kalian tidak takut. Aku tidak akan lupa. Aku tidak akan pernah lupa."

Wati mengelus kepalanya. "Kami juga tidak akan lupa. Ini pelajaran berharga. Bahwa kejahatan bisa datang kapan saja. Bahwa kita harus selalu waspada. Bahwa kita harus selalu bersatu. Bahwa kita tidak boleh menyerah. Bahwa kita harus terus menjaga."

Bejo membuka bungkusan makanan. "Ini untuk Kirana. Sayuran segar dari kebun Bu Kasinem. Daun-daun kesukaannya. Biar dia kuat. Biar dia cepat besar. Biar dia bisa menjaga hutan ini seperti ibunya, seperti kakeknya, seperti buyutnya."

Kirana berlari mendekat, makan dengan lahap. Kiara tersenyum.


Bagian 16: Pelajaran dari Racun

Malam harinya, Raka, Wati, dan Bejo duduk di markas. Mereka merenungkan semua yang terjadi—dari hari pertama ditemukannya bangkai kijang, hingga penyergapan di titik Batu, hingga Kiara yang berani menghadang pemburu dengan pisau. Mereka lelah, tapi hati mereka lega.

"Kita belajar banyak dari kejadian ini," kata Raka.

"Apa?" tanya Bejo.

"Pertama, kejahatan tidak pernah tidur. Bos Gito sudah di penjara puluhan tahun, tapi jaringannya masih aktif. Mereka masih berusaha menghancurkan hutan kita. Mereka masih berusaha membunuh kancil-kancil kita. Mereka masih berusaha membalas dendam. Kita harus selalu waspada. Kita tidak boleh lengah. Kita tidak boleh menganggap bahwa kejahatan telah berakhir."

Wati mengangguk. "Kedua, kita tidak bisa sendiri. Kita butuh warga, butuh polisi, butuh semua orang. Tanpa kerja sama, tanpa kebersamaan, tanpa saling percaya, kita tidak akan bisa menangkap mereka. Pak Rasmin yang dulu membenci kancil, kini menjadi garda terdepan. Bu Kasinem yang dulu hanya sibuk berjualan, kini menjadi mata-mata di titik Batu. Topan yang dulu putus asa, kini menjadi koordinator pemuda. Dani yang dulu mendukung Sugiarto, kini menjadi penjaga Lembah Harapan. Semua bersatu. Semua bergerak. Semua melindungi."

"Ketiga," Bejo menambahkan, "Kiara luar biasa. Dia berani menghadang pemburu itu. Dia tidak takut. Dia tidak lari. Dia melindungi hutan ini. Seperti Kiano. Seperti Kai Muda. Seperti Kai. Dia adalah penerus yang pantas. Dia adalah pemimpin yang sejati. Dia adalah penjaga yang tidak pernah lelah."

Raka tersenyum. "Dan yang paling penting, kita belajar bahwa alam tidak akan pernah menyerah. Meskipun diracun, meskipun dirusak, meskipun dihancurkan, dia akan pulih. Dengan bantuan kita. Dengan cinta kita. Dengan perjuangan kita. Air sungai yang keruh akan kembali jernih. Tanaman yang mati akan tumbuh kembali. Hewan yang lari akan kembali. Hutan yang terbakar akan hijau lagi. Karena alam tidak pernah menyerah. Dan kita juga tidak akan menyerah."

Handy talkie berderak. Suara Guntur terdengar. "Ra, besok ada rapat evaluasi di balai desa. Pak Rasmin minta kalian hadir. Katanya ada usulan baru. Katanya penting. Katanya jangan sampai terlambat."

"Siap, Guntur. Kita hadir. Kita akan datang. Kita akan dengar. Kita akan bicara. Kita akan rencanakan masa depan."


Bagian 17: Rapat Evaluasi

Keesokan harinya, balai desa penuh sesak. Warga datang dengan wajah lega, tapi masih ada sisa ketegangan di mata mereka. Mereka duduk di kursi-kursi kayu yang disusun rapi, berbisik-bisik, saling bertukar cerita, saling menguatkan. Lampu petromak menyala terang di setiap sudut, menerangi wajah-wajah yang sudah dikenal sejak kecil.

Pak Rasmin berdiri di depan, memimpin rapat. Suaranya lantang, matanya menyala, tangannya mengepal.

"Saudara-saudara, kita selamat. Hutan kita selamat. Kancil-kancil kita selamat. Kiara dan Kirana selamat. Semua selamat. Tapi ini bukan akhir. Kita harus belajar dari kejadian ini. Kita harus lebih waspada. Kita harus lebih bersatu. Kita harus lebih kuat. Kita tidak boleh membiarkan ini terjadi lagi."

Ia menatap Raka, Wati, Bejo.

"Usulan saya, kita bentuk tim keamanan hutan. Anggotanya dari warga, polisi, dan tim konservasi. Tugasnya: patroli rutin, memantau titik-titik rawan, dan menindak tegas siapa pun yang mencoba merusak hutan kita. Tim ini akan selalu siaga. Tim ini akan selalu bergerak. Tim ini tidak akan pernah tidur."

Tepuk tangan bergemuruh. Warga berdiri, bertepuk, bersorak.

Bu Kasinem berdiri, suaranya lirih tapi tegas. "Saya usul, kita tanam tanaman obat di sekitar sungai. Tanaman yang bisa menyerap racun. Tanaman yang bisa membersihkan air. Tanaman yang bisa melindungi kita. Saya sudah bicara dengan beberapa warga. Mereka siap membantu. Mereka siap menanam. Mereka siap merawat."

Topan berdiri, suaranya mantap. "Saya usul, kita buat aturan baru. Setiap orang yang masuk hutan harus lapor ke posko. Setiap orang yang membawa botol atau bahan kimia harus diperiksa. Setiap orang yang mencurigakan harus dilaporkan. Kita tidak mau kejadian ini terulang. Kita tidak mau ada korban lagi. Kita tidak mau ada racun lagi."

Pak Rasmin mengangguk. "Semua usulan bagus. Kita akan bahas lebih lanjut. Tapi satu hal yang pasti: kita tidak akan membiarkan siapa pun merusak hutan kita. Kita tidak akan membiarkan siapa pun membunuh kancil-kancil kita. Kita tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan apa yang sudah kita bangun bersama. Kita berjanji. Kita bertekad. Kita bersumpah."

Tepuk tangan bergemuruh lagi. Warga bersalaman, berpelukan, tersenyum.


Bagian 18: Kiara dan Kirana di Makam Kiano

Setelah rapat, Raka, Wati, Bejo, Kiara, dan Kirana pergi ke titik Beringin. Mereka duduk di bawah pohon beringin, di samping makam Kai, Kai Muda, dan Kiano. Sinar bulan purnama menyinari makam-makam itu, membuatnya tampak bercahaya, membuatnya tampak hidup, membuatnya tampak hadir di antara mereka.

"Kiano, kami selamat," kata Raka. "Kiara selamat. Kirana selamat. Hutan selamat. Semua selamat. Kami berjanji, kami tidak akan biarkan ini terjadi lagi. Kami akan menjaga. Kami akan melindungi. Kami tidak akan menyerah."

Kiara menyandarkan kepalanya di pundak Raka. Kirana di sampingnya, meniru ibunya. Mereka diam, menikmati malam yang tenang.

Wati meletakkan bunga di makam Kiano. "Kiano, kamu pasti lihat dari sana. Kiara berani. Dia menghadang pemburu itu. Dia tidak takut. Dia melindungi hutan. Dia seperti kamu. Seperti kakekmu. Seperti buyutmu. Dia adalah penerus yang pantas. Dia adalah pemimpin yang sejati."

Bejo meletakkan makanan di makam. "Kiano, ini masakan kesukaanmu. Sayuran segar dari kebun Bu Kasinem. Daun-daun yang kamu suka. Makanlah di sana. Jangan khawatir. Kami akan jaga Kiara. Kami akan jaga Kirana. Kami akan jaga hutan ini. Selamanya. Sampai kita bertemu lagi."

Kiara menggerakkan telinganya. Seperti tersenyum. Seperti berterima kasih. Seperti berjanji.


Bagian 19: Generasi Baru Belajar

Beberapa minggu kemudian, Melati dan Klub Sahabat Alam belajar tentang racun. Wati menjadi guru mereka hari itu. Ia membawa botol-botol kosong bekas racun—botol yang sudah dibersihkan, sudah aman—menunjukkan pada anak-anak cara mengenali, cara menghindari, cara melaporkan.

"Ini racun," kata Wati, memegang botol kecil berwarna cokelat. "Tidak berbau, tidak berwarna. Sangat berbahaya. Jika kalian menemukan botol seperti ini di hutan, jangan sentuh. Jangan buka. Jangan cium. Laporkan pada orang dewasa. Pada Raka, pada saya, pada Pak Rasmin, pada siapa pun. Jangan coba-coba sendiri. Jangan coba-coba memberanikan diri. Ini bukan main-main."

Melati mengangkat tangan, matanya penuh rasa ingin tahu. "Bu Wati, bagaimana kalau racun itu masuk ke sungai? Bagaimana kalau hewan-hewan minum? Bagaimana kalau airnya mengalir ke desa? Bagaimana kalau kita yang minum?"

"Kita harus segera melaporkan. Kita harus mengalirkan air bersih. Kita harus membersihkan sungai. Kita harus menanam tanaman yang bisa menyerap racun. Dan yang paling penting, kita harus menangkap pelakunya. Jangan biarkan mereka lepas. Jangan biarkan mereka mengulangi perbuatannya. Jangan biarkan mereka merusak hutan kita."

Anak-anak mencatat dengan saksama. Raka yang mendengar, tersenyum. Generasi baru belajar. Generasi baru siap. Generasi baru akan menjaga. Generasi baru tidak akan menyerah. Generasi baru tidak akan kalah.


Bagian 20: Selamanya

Tahun berganti. Musim silih berganti. Racun yang pernah mengancam hutan, kini hanya kenangan. Hutan Manoreh semakin hijau. Sungai-sungai mengalir jernih. Kancil-kancil berlarian di padang rumput. Burung-burung berkicau riang. Alam pulih. Kehidupan kembali.

Kiara semakin dewasa. Kirana semakin besar. Melati dan Klub Sahabat Alam semakin aktif. Raka, Wati, Bejo, mereka tidak lagi muda. Rambut mereka mulai memutih. Langkah mereka mulai lambat. Tapi hati mereka masih muda. Masih penuh semangat. Masih penuh cinta. Masih penuh tekad.

Suatu sore, di titik Beringin, Raka duduk di bawah pohon beringin. Di sampingnya, Kiara dan Kirana. Di depannya, makam Kai, Kai Muda, Kiano. Di kejauhan, Melati dan Klub Sahabat Alam sedang belajar jejak.

"Kita sudah melalui banyak hal," kata Raka.

"Iya. Dari kecil sampai tua. Dari Kai sampai Kirana. Dari kebakaran sampai racun. Dari konflik sampai perdamaian. Dari putus asa sampai penuh harap."

"Kai, Kai Muda, Kiano, Pak Jarwo, ayah... mereka sudah pergi. Tapi mereka meninggalkan kita dengan Kiara. Dengan Kirana. Dengan generasi baru. Dengan Melati. Dengan Klub Sahabat Alam. Mereka tidak akan pernah dilupakan. Mereka akan selalu dikenang. Mereka akan selalu di hati."

Bejo tersenyum. "Dan kita akan terus menjaga. Sampai kapan pun. Sampai kita tidak bisa lagi. Sampai kita pergi menyusul mereka. Tapi sebelum itu, kita akan menjaga. Kita akan mengajar. Kita akan memberi contoh. Kita akan memastikan bahwa apa yang sudah kita bangun tidak akan runtuh. Kita akan memastikan bahwa hutan ini tetap hijau. Kita akan memastikan bahwa kancil-kancil ini tetap berlari."

Wati memandang Kiara dan Kirana. "Kiara, kamu akan baik-baik saja. Kirana akan baik-baik saja. Hutan ini akan baik-baik saja. Karena ada generasi baru. Melati dan teman-temannya. Mereka akan menjaga. Mereka akan meneruskan. Mereka tidak akan mengecewakan. Mereka tidak akan menyerah. Mereka tidak akan kalah."

Kiara menggerakkan telinganya. "Aku tahu. Aku tidak takut. Aku punya kalian. Aku punya Kirana. Aku punya hutan. Aku punya semuanya. Aku punya persahabatan. Aku punya cinta. Aku punya segalanya."

Matahari terbenam di ufuk barat, meninggalkan sisa cahaya jingga yang tembus di sela-sela dedaunan. Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan terus berlanjut. Kejahatan bukan akhir. Racun bukan akhir. Kematian bukan akhir. Semua adalah awal dari sesuatu yang baru. Kiara, pemimpin dewasa. Kirana, generasi baru. Melati, penerus. Dan mereka, penjaga. Selamanya.

Raka memandang ke arah hutan. "Kai, Kai Muda, Kiano, Pak Jarwo, ayah... kami akan menjaga. Sampai kapan pun. Sampai kami tidak bisa. Sampai generasi berikutnya mengambil alih. Tapi kami tidak akan pergi. Kami akan selalu di sini. Di hutan ini. Di pohon beringin ini. Di angin yang membawa aroma dedaunan. Di air sungai yang mengalir jernih. Di setiap napas yang kalian ambil. Di setiap langkah yang kalian ambil. Di setiap keputusan yang kalian buat. Kami tidak akan pernah pergi. Kami tidak akan pernah meninggalkan. Kami tidak akan pernah melupakan. Selamanya."

Kiara menyandarkan kepalanya di pundak Raka. Kirana di sampingnya, meniru ibunya.

Mereka duduk bersama, menikmati senja yang indah. Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan tidak pernah berakhir. Ia terus hidup, terus tumbuh, terus menginspirasi. Selamanya.


BERSAMBUNG KE EPISODE 9: MELAWAN PENCEMARAN

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar