DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI
Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari
Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari
EPISODE 7: KIARA DEWASA
Bagian 1: Fajar yang
Berbeda di Bojong Sari
Dua tahun telah berlalu sejak kepergian Kiano. Dua tahun
yang panjang bagi mereka yang ditinggalkan, tapi singkat bagi alam yang terus
berputar. Pagi itu, Bojong Sari bangun dalam suasana yang berbeda dari
biasanya. Bukan suasana duka seperti dua tahun lalu ketika Kiano ditemukan
terbaring lemah di puncak bukit. Bukan suasana tegang seperti ketika kebakaran
hutan melanda. Bukan suasana sibuk seperti saat panen raya. Ini adalah suasana
yang jarang dirasakan warga Bojong Sari dalam beberapa tahun terakhir. Suasana
penuh persiapan untuk sesuatu yang besar, sesuatu yang istimewa, sesuatu yang
belum pernah terjadi dalam sejarah desa ini.
Dari balai desa, terdengar suara palu memaku panggung kayu
yang bergema di antara rumah-rumah warga. Topan dan para pemuda desa sudah
bekerja sejak subuh, ketika langit timur masih berwarna ungu kemerahan dan
kabut pagi masih menggantung rendah di atas sawah. Suara palu itu ritmis,
seperti detak jantung desa yang berdegup kencang menanti hari istimewa.
Berselang-seling dengan suara palu, terdengar suara ibu-ibu yang sibuk memasak
di dapur umum yang didirikan di samping balai desa. Aroma bawang goreng,
santan, dan rempah-rempah menyebar ke seluruh penjuru desa, membangunkan warga
yang masih terlelap, mengingatkan mereka bahwa hari ini bukan hari biasa.
Anak-anak kecil sudah berlarian sejak jam enam pagi,
membawa bendera-bendera kecil berwarna-warni yang dibuat oleh Bu Kasinem dari
kain perca. Mereka berlari dari satu rumah ke rumah lain, membagikan bendera
itu kepada setiap warga yang mereka temui. "Bu, ini bendera untuk Kiara!
Bu, pasang di depan rumah, ya!" teriak seorang anak laki-laki dengan
rambut kusut dan senyum lebar. Ibu-ibu yang menerima bendera itu tersenyum,
lalu memasangnya di pagar rumah, di pintu, di jendela. Dalam hitungan jam,
seluruh desa berubah menjadi lautan warna-warni.
Raka berdiri di teras rumahnya, memandangi langit yang
cerah tanpa setitik awan. Pagi ini, ia tidak merasa gelisah seperti dua tahun
lalu saat ia mencari Kiano ke puncak bukit. Tidak ada firasat buruk yang
mengganggu pikirannya. Yang ada hanya rasa syukur yang dalam, rasa tenang yang
sudah lama tidak ia rasakan sejak ia kembali ke Bojong Sari. Dua tahun telah
berlalu, dan luka di hatinya perlahan sembuh. Bukan karena ia melupakan
Kiano—ia tidak akan pernah bisa melupakan kancil tua yang setia menunggu
sepuluh tahun itu. Tapi karena ia belajar bahwa kepergian bukan akhir
segalanya. Kiano mungkin telah pergi, tapi Kiara ada. Kiano mungkin telah
tiada, tapi ajarannya hidup. Kiano mungkin tidak lagi berlari di Lembah
Harapan, tapi ia berlari di hati mereka.
Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi yang
masih dingin. Udara itu membawa aroma tanah basah dari kebun di belakang rumah,
aroma dedaunan dari hutan di kejauhan, aroma bunga-bunga yang mekar di halaman
rumah Mbah Kades, dan sedikit aroma asap dari dapur umum. Semua aroma itu
bercampur menjadi satu, menciptakan wewangian khas Bojong Sari yang tidak akan
pernah ia temukan di tempat lain.
Bu Tani keluar dari dapur dengan dua piring nasi uduk di
tangan. Nasi uduk pagi ini istimewa—bukan hanya lauk biasa yang ia masak setiap
hari. Ada ayam goreng yang renyah dengan kunyit dan ketumbar, tempe orek yang
manis pedas dengan potongan cabai hijau dan merah, sambal terasi yang aromanya
tajam menggugah selera, dan lalapan segar dari kebun belakang rumah. Ia
meletakkan satu piring di depan Raka, satu lagi di kursi kosong di
sampingnya—kursi yang dulu biasa diduduki Pak Tani setiap pagi sebelum ia pergi
setahun lalu.
"Ra, sarapan dulu. Hari ini kamu harus makan banyak.
Nanti acaranya panjang." Suara Bu Tani lembut, tapi ada nada tegas di
sana. Ia tahu anaknya sering lupa makan kalau sedang sibuk atau terlalu banyak
pikiran.
Raka tersenyum, mengambil piring itu dengan kedua tangan.
"Iya, Bu. Ini banyak sekali."
"Banyak sedikit tidak apa. Yang penting kamu
kuat." Bu Tani duduk di sampingnya, di kursi bambu yang sudah berusia
puluhan tahun. Usianya sudah 70 tahun lebih, rambutnya putih semua, jalannya
lambat dan kadang terseok, punggungnya mulai membungkuk, wajahnya dipenuhi
kerutan yang bercerita tentang perjalanan panjang hidupnya. Tapi matanya masih
tajam, masih hangat, masih bisa membaca pikiran anaknya tanpa perlu kata-kata.
Setahun yang lalu, Pak Tani menyusul Kiano. Ia pergi dengan
tenang di pagi hari, setelah semalam berbincang dengan Raka tentang masa lalu,
tentang masa depan, tentang hutan yang harus dijaga. Ia meninggalkan Bu Tani
sendirian di rumah yang mulai sepi, tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia tetap
memasak setiap pagi seperti biasa, tetap merawat kebun di belakang rumah dengan
penuh kasih, tetap tersenyum pada setiap tetangga yang lewat, tetap menyediakan
kursi kosong di sampingnya untuk Pak Tani yang tidak akan pernah kembali.
"Bu, hari ini Kiara akan diresmikan. Sebagai Penjaga
Hutan. Pak Rasmin yang usul. Katanya, sudah saatnya warga mengakui jasa Kiara
dan kawanannya."
Bu Tani mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Sudah
seharusnya. Kiara sudah banyak membantu. Waktu kebakaran dulu, dia dan
kawanannya yang membantu memadamkan api. Mereka berguling-guling di tanah
basah, membasahi rumput-rumput kering, memperlambat api sampai kita bisa
membuat jalur kosong. Waktu banjir, mereka yang memberi tahu warga lebih dulu
dengan berlarian ke desa, memekik-memekik sampai warga keluar rumah. Waktu ada
pemburu, mereka yang mengusir dengan kawanan yang besar, membuat pemburu itu ketakutan
dan lari. Mereka bukan hewan biasa. Mereka keluarga."
Raka memandang ibunya. Matanya yang cokelat terang, warna
yang sama dengan mata ayahnya, kini basah. "Bu, aku kangen sama
Kiano."
Bu Tani memegang tangannya. Tangannya yang keriput dan
penuh urat itu terasa hangat, seperti saat Raka kecil dulu, ketika ia jatuh
dari pohon jambu dan menangis di pangkuan ibunya. Dulu, pelukan ibunya bisa
menyembuhkan segalanya. Luka di lutut, luka di siku, luka di hati. Tapi hari
ini, tidak ada yang perlu disembuhkan. Hanya ada kerinduan yang manis.
"Ibu juga, Ra. Tapi Kiano sudah bahagia di sana.
Bersama Kai, bersama Kai Muda, bersama ayahmu. Mereka pasti sedang tertawa
bersama. Mereka pasti sedang menonton kita dari sana. Mereka pasti bangga
melihat Kiara dewasa, melihat Kirana lahir, melihat desa ini maju, melihat
hutan ini hijau."
Dari dalam rumah, terdengar suara langkah kaki tertatih
yang sudah sangat dikenal. Mbah Kades—yang kini usianya sudah 80 tahun lebih,
rambutnya putih seperti kapas, wajahnya penuh kerutan seperti peta yang
menceritakan perjalanan panjang hidupnya—keluar dengan tongkat kayu jati yang
sudah aus gagangnya. Ia tidak lagi sekuat dulu, tidak lagi bisa berjalan jauh
tanpa bantuan, tidak lagi bisa hadir di setiap acara desa. Tapi hari ini ia bersikeras
datang. Ia ingin melihat Kiara diresmikan. Ia ingin menjadi saksi sejarah. Ia
ingin, sebelum waktunya tiba, melihat bahwa perjuangan yang ia mulai puluhan
tahun lalu bersama Tim Penyelidik Cilik, bersama Kai, bersama Kai Muda, bersama
Kiano, tidak sia-sia.
Cucunya, seorang gadis remaja bernama Melati, berjalan di
sampingnya dengan sabar. Melati berusia 14 tahun, tinggi semampai dengan rambut
panjang yang diikat ke belakang, wajahnya yang bulat dan pipinya yang merona
selalu tersenyum. Ia adalah ketua Klub Sahabat Alam, organisasi anak-anak yang
didirikan oleh Raka, Wati, dan Bejo untuk meneruskan semangat Tim Penyelidik
Cilik. Di tangannya, ia memegang sebuah buku kecil yang ia buat
sendiri—kumpulan gambar dan cerita tentang Kai, Kai Muda, Kiano, Kiara, dan Tim
Penyelidik Cilik. Ia ingin memberikannya pada Kiara sebagai hadiah.
"Raka, kamu sudah siap?" tanya Mbah Kades,
suaranya parau tapi masih lantang.
Raka berdiri, memberi hormat dengan sikap yang sopan.
"Mbah, sudah. Acara jam berapa?"
"Jam sembilan. Semua warga sudah berkumpul. Pak Rasmin
sudah sibuk dari subuh mengatur kursi dan panggung. Bu Kasinem sudah menyiapkan
jamu untuk semua tamu yang datang. Topan dan pemuda desa sudah memasang tenda
dan menghias balai desa dengan bendera dan bunga. Dani sudah membantu Bejo di
dapur sejak jam tiga pagi, menyiapkan makanan untuk ratusan orang."
Raka tersenyum. "Semua sibuk, Mbah."
Mbah Kades duduk di kursi bambu yang disediakan, melepaskan
napas panjang. "Sudah seharusnya. Ini hari penting. Bukan hanya untuk
Kiara. Tapi untuk kita semua. Untuk mengingat bahwa kita bisa hidup
berdampingan dengan alam. Untuk mengingat bahwa kancil bukan musuh. Untuk
mengingat bahwa Kai, Kai Muda, Kiano, mereka semua sudah berjasa untuk desa
ini. Mereka menjaga hutan. Mereka menjaga keseimbangan. Mereka menjaga kita.
Sekarang, giliran kita yang menjaga mereka. Giliran kita yang mengakui jasa
mereka. Giliran kita yang meneruskan perjuangan mereka."
Ia menatap Raka.
"Nak, kamu dan teman-temanmu sudah memulai semuanya.
Sekarang, kalian harus menyelesaikan. Bukan dengan perang, bukan dengan
konflik, tapi dengan cinta. Dengan pengakuan. Dengan kebersamaan. Seperti yang
diajarkan Kai. Seperti yang diajarkan Kai Muda. Seperti yang diajarkan
Kiano."
Raka mengangguk. "Kami tidak akan mengecewakan, Mbah.
Janji."
Mbah Kades tersenyum. "Aku tahu. Aku percaya."
Bagian 2: Wati di Klinik
Hewan
Di seberang desa, di klinik hewan sederhana yang kini sudah
menjadi bangunan permanen, Wati sedang memeriksa pasien terakhir sebelum acara.
Klinik ini dulu hanya bangunan bambu berukuran 4x4 meter dengan lantai tanah
dan atap daun kelapa. Sekarang, ia telah berkembang menjadi bangunan bata
permanen dengan lantai keramik putih, ruang tunggu yang nyaman dengan
kursi-kursi kayu, ruang periksa yang bersih dengan peralatan modern, dan bahkan
ruang rawat inap kecil untuk hewan-hewan yang membutuhkan perawatan intensif.
Di depan klinik, sebuah papan kayu jati bertuliskan: "Klinik Hewan Bojong
Sari - Drh. Wati, Gratis untuk Warga".
Klinik ini sudah terkenal hingga ke luar desa. Warga dari
desa tetangga sering datang membawa hewan peliharaan mereka yang sakit. Ada
yang membawa kambing, ayam, sapi, kucing, anjing, bahkan burung dan kelinci.
Wati menangani semuanya dengan sabar, dengan ilmu yang ia pelajari di bangku kuliah,
dengan pengalaman yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun, dengan cinta yang ia
miliki untuk semua makhluk hidup.
Tapi pagi ini, Wati tidak sedang memeriksa kambing atau
ayam. Ia sedang memeriksa Kiara.
Kiara datang ke klinik sejak subuh, ketika langit timur
masih gelap dan bintang-bintang masih terlihat. Ia datang sendirian, tanpa
kawanan, tanpa Kirana yang masih kecil. Ia berjalan pelan dari Lembah Harapan,
melewati titik Beringin yang sunyi, melewati sungai yang airnya masih gelap
oleh malam, melewati jalan setapak yang sudah ia hafal sejak kecil. Ia tampak
gelisah, tidak seperti biasanya. Telinganya yang biasanya tegak, kini turun.
Ekornya yang biasanya bergoyang, kini diam. Matanya yang biasanya tajam, kini
sayu.
Wati memeriksanya dengan saksama. Suhu tubuh: normal.
Denyut jantung: normal. Pernapasan: normal. Bulu: bersih, mengilap. Mata:
jernih. Telinga: bersih. Tidak ada luka. Tidak ada tanda-tanda penyakit. Tidak
ada yang sakit. Tapi Kiara tetap gelisah.
"Kiara, kamu kenapa? Sakit? Atau cuma gugup?"
tanya Wati sambil mengelus kepalanya dengan lembut. Tangannya yang biasa
memegang jarum suntik dan alat bedah dengan tegas dan pasti, kini bergerak
lambat, penuh kasih.
Kiara menatap Wati. Matanya yang hitam pekat, seperti
cermin yang memantulkan kegelisahan yang tidak bisa ia ungkapkan. Perlahan, ia
menggerakkan telinganya, berbicara dengan bahasa tubuh yang sudah mereka pahami
sejak kecil.
"Aku tidak sakit. Aku hanya... tidak biasa. Hari ini
semua warga berkumpul. Untukku. Mereka bilang aku Penjaga Hutan. Mereka bilang
aku akan diresmikan. Mereka bilang ini hari penting. Aku tidak tahu apa itu.
Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mengerti mengapa
mereka melakukan semua ini untukku. Aku hanya Kiara. Aku hanya melakukan apa yang
diajarkan ayahku. Apa yang diajarkan kakekku. Apa yang diajarkan buyutku. Aku
hanya menjaga hutan, seperti yang mereka lakukan. Aku hanya menjaga kawanan,
seperti yang mereka lakukan. Aku hanya menjadi diriku sendiri. Apakah itu
istimewa?"
Wati tersenyum. Matanya yang cokelat kehijauan—warna langka
yang diwarisi dari ibunya—berkaca-kaca. Ia mengingat kata-kata yang pernah
diucapkan Raka bertahun-tahun lalu. Kata-kata yang kini ia ulang untuk Kiara.
"Kiara, kamu pantas mendapatkannya. Kamu sudah menjaga
hutan ini. Kamu sudah menjaga kawanan. Kamu sudah menjaga kami. Waktu
kebakaran, kamu yang memimpin kawananmu berguling-guling di tanah basah,
memperlambat api, memberi kami waktu untuk membuat jalur kosong. Waktu banjir,
kamu yang berlari ke desa, memekik-memekik, membangunkan warga yang tertidur,
menyelamatkan mereka dari air bah. Waktu ada pemburu, kamu yang berdiri di
depan kawananmu, menatap mereka dengan mata tajam, mengusir mereka dengan
keberanian yang tidak dimiliki banyak manusia. Itu sebabnya warga ingin
mengucapkan terima kasih. Tidak ada yang perlu ditakuti. Tidak ada yang perlu
dikhawatirkan."
Kiara menatapnya lama. Matanya yang tadinya sayu, mulai
berbinar. Telinganya yang tadinya turun, mulai tegak. Ekornya yang tadinya
diam, mulai bergoyang.
"Aku tidak takut. Aku hanya... merindukan ayahku. Hari
ini, aku ingin dia ada di sini. Melihat aku. Menemaniku. Memberi aku semangat.
Berkata padaku bahwa aku bisa. Hari ini, aku ingin mendengar suaranya,
merasakan jilatannya, melihat senyumnya. Hari ini, aku ingin dia bangga
padaku."
Wati memeluknya. Memeluk leher Kiara yang hangat, merasakan
detak jantungnya yang cepat, merasakan bulunya yang lembut di pipinya.
"Kiano pasti bangga, Kiara. Dia pasti melihatmu dari
sana. Dari puncak bukit, dari pohon beringin, dari tempat yang indah di mana
dia sekarang berlari bersama Kai dan Kai Muda. Dia pasti tersenyum. Dia pasti
tidak sabar menunggu kita. Dia pasti bangga menjadi ayahmu."
Dari pintu klinik, Bejo masuk dengan tergesa. Wajahnya
merah, keringat membasahi keningnya, bajunya berlumuran kecap dan minyak,
tangannya masih bau bawang—aroma yang tidak pernah hilang dari jari-jarinya
sejak ia menjadi koki. Ia tidak sempat ganti baju, tidak sempat mandi, tidak
sempat sarapan. Ia langsung berlari dari dapur umum ke klinik begitu mendengar
Kiara sudah datang.
"Ti, Kiara di sini? Acara sebentar lagi. Pak Rasmin
minta Kiara segera ke balai desa. Semua warga sudah berkumpul. Melati dan
teman-temannya sudah siap dengan bendera. Bu Kasinem sudah menyiapkan jamu
untuk 200 orang. Topan sudah selesai memasang tenda. Dani dan anak buahnya
sudah mulai menyajikan makanan. Semua menunggu Kiara."
Wati mengangguk, melepas pelukannya. "Kiara siap. Dia
hanya gugup. Tapi sekarang dia sudah tenang."
Bejo mendekat, duduk di samping Kiara. Tangannya yang masih
bau bawang mengelus kepala kancil itu dengan lembut.
"Kiara, lo nggak usah takut. Semua orang sayang sama
lo. Pak Rasmin sayang. Bu Kasinem sayang. Topan sayang. Dani sayang. Mbah Kades
sayang. Melati sayang. Semua warga sayang. Mereka nggak akan melakukan apa-apa
yang bikin lo nggak nyaman. Mereka cuma mau bilang terima kasih. Itu aja."
Kiara menjilati tangannya. Lidahnya yang kasar terasa
hangat di kulit Bejo yang masih bau bawang.
"Aku tahu. Aku tidak takut. Aku hanya tidak biasa dengan
keramaian. Aku lebih suka di hutan. Di Lembah Harapan. Di titik Beringin. Di
puncak bukit. Bersama kawanan. Bersama Kirana. Tapi hari ini, aku akan datang.
Untuk mereka. Untuk ayah. Untuk kalian."
Bejo tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. "Itu dia
Kiara. Pemimpin sejati. Berani keluar dari zona nyaman. Berani melakukan
sesuatu yang belum pernah dilakukan. Berani menjadi teladan."
Ia berdiri, membantu Kiara bangkit. Wati mengambil kain
bersih, mengelap bulu Kiara yang masih basah oleh air dari sungai. Ia
menyisirnya dengan lembut, merapikan setiap helai bulu yang kusut.
"Kiara, kamu harus tampil cantik hari ini. Ini hari
istimewa. Semua orang akan melihatmu. Semua orang akan mengagumimu. Kamu harus
menunjukkan bahwa kamu adalah pemimpin yang hebat. Seperti ayahmu. Seperti
kakekmu. Seperti buyutmu."
Kiara berdiri tegak. Matanya terang, telinganya tegak,
ekornya bergoyang pelan. Ia tidak lagi gugup. Ia tidak lagi gelisah. Ia adalah
Kiara. Ia adalah pemimpin. Ia adalah Penjaga Hutan Bojong Sari.
Bagian 3: Pak Rasmin dan
Bu Kasinem di Balai Desa
Di balai desa, Pak Rasmin sibuk mengatur kursi-kursi kayu
yang disusun rapi di halaman. Puluhan kursi sudah terisi warga yang datang
lebih awal, sejak jam tujuh pagi, ketika matahari baru mulai meninggi dan kabut
masih menyelimuti sawah-sawah di kejauhan. Ibu-ibu duduk di barisan depan,
membawa tikar dan bekal, siap menikmati acara seharian penuh. Bapak-bapak di
belakang, duduk dengan kaki diselonjorkan, sesekali menyesap kopi yang mereka
bawa dari rumah. Anak-anak berlarian di antara kursi, suara tawa dan jeritan
mereka memecah kesunyian pagi, sesekali berhenti untuk mengambil permen yang
dibagikan Bu Kasinem dari keranjang rotan di tangannya.
Bu Kasinem berdiri di dekat pintu balai desa, menyambut
setiap tamu yang datang dengan segelas jamu kunyit asem. Ia sudah tidak lagi
menjual jamu keliling seperti dulu, ketika setiap pagi ia berjalan kaki dari
rumah ke rumah dengan bakul di kepala dan tas jamu di pinggang. Sekarang, ia
memiliki toko jamu kecil di depan rumahnya, yang ramai dikunjungi wisatawan
yang datang ke Bojong Sari. Toko itu sederhana, hanya rak-rak kayu yang berisi
botol-botol jamu dalam berbagai ukuran, tapi selalu penuh pembeli. Tapi hari
ini, ia tidak menjual. Ia membagikan jamu gratis. Untuk semua yang hadir. Untuk
Kiara. Untuk warga. Untuk persahabatan.
"Silakan, Bu. Ini jamu kunyit asem. Untuk kesehatan.
Untuk kebahagiaan. Untuk Kiara." Suaranya lantang, ramah, seperti dulu
ketika ia masih muda dan langsing dan berkeliling desa dengan suara merdu
menjajakan jamu.
Seorang ibu-ibu menerima jamu itu dengan senyum. "Bu
Kasinem, Kiara benar-benar datang? Kancil itu? Di balai desa?"
Bu Kasinem tertawa, suaranya nyaring dan menular.
"Iya, Bu. Kiara akan datang. Dia sudah janji. Dia tidak akan ingkar. Kiara
bukan kancil biasa. Dia pemimpin. Dia sahabat. Dia keluarga. Dia tidak akan
mengecewakan kita."
"Tapi kancil di balai desa? Tidak biasa. Sejak kapan
kancil mau datang ke keramaian seperti ini? Biasanya mereka lari begitu melihat
manusia."
Bu Kasinem tersenyum. Matanya yang sudah mulai rabun
berbinar. "Memang tidak biasa. Tapi Kiara bukan kancil biasa. Dia sudah
membuktikan. Waktu kebakaran, dia dan kawanannya yang membantu memadamkan api.
Waktu banjir, mereka yang memberi tahu warga lebih dulu. Waktu ada pemburu,
mereka yang mengusir. Mereka tidak lari. Mereka balik membantu. Mereka tidak
takut pada manusia. Mereka percaya pada kita. Sekarang, giliran kita yang
percaya pada mereka. Giliran kita yang menunjukkan bahwa kita juga sahabat
mereka."
Pak Rasmin yang mendengar percakapan itu, berhenti mengatur
kursi. Ia berdiri tegak, mengusap keringat di dahinya, lalu berjalan mendekat.
Wajahnya yang dulu sering masam dan penuh kerutan karena amarah, kini teduh,
tenang, dipenuhi senyum yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun. Pak Rasmin,
petani yang sawahnya dulu sering diganggu kancil, yang dulu paling keras
menentang program konservasi, yang dulu pernah membawa puluhan warga untuk
protes ke balai desa, kini menjadi pendukung paling vokal Kiara.
"Bu Kasinem benar. Kiara bukan kancil biasa. Dia sudah
membuktikan. Waktu kebakaran, dia yang pertama kali muncul membantu. Aku ingat,
waktu itu aku sudah putus asa. Api sudah dekat dengan desa. Asap sudah pekat.
Aku pikir, inilah akhir dari Bojong Sari. Tapi tiba-tiba Kiara muncul. Dia
berlari ke arah api, berguling-guling di tanah basah, membasahi rumput-rumput
kering. Kawanannya mengikuti. Mereka tidak takut. Mereka terus berguling, terus
membasahi tanah, terus memperlambat api sampai kita bisa membuat jalur kosong.
Tanpa mereka, mungkin desa kita sudah hangus."
Seorang bapak-bapak di barisan belakang bertanya, suaranya
lantang, memotong percakapan. "Pak Rasmin, dulu Bapak yang paling keras
menentang kancil. Bapak yang membawa warga protes ke balai desa. Bapak yang
marah-marah setiap kali ada kancil masuk sawah. Sekarang, Bapak yang paling
vokal mendukung Kiara. Kenapa bisa berubah? Apa yang membuat Bapak berubah
pikiran?"
Pak Rasmin tersenyum. Ia berjalan ke arah bapak itu, duduk
di kursi kosong di sampingnya. Tangannya yang keriput dan penuh kapalan—bekas
puluhan tahun mencangkul di sawah—diletakkan di pangkuan.
"Saya belajar, Pak. Saya belajar bahwa kancil bukan
musuh. Mereka hanya ingin hidup, sama seperti kita. Saya belajar bahwa sawah
saya bukan milik saya sendiri. Sawah saya adalah bagian dari hutan, bagian dari
alam, bagian dari ekosistem yang lebih besar. Saya belajar bahwa jika saya
menjaga hutan, hutan akan menjaga sawah saya. Jika saya menjaga kancil, kancil
tidak akan merusak tanaman saya."
Ia berhenti, menatap ke arah hutan yang hijau di kejauhan.
"Saya belajar dari Kiara. Dari Kiano. Dari Kai Muda.
Dari Kai. Mereka mengajarkan bahwa persahabatan tidak mengenal batas. Bahwa
cinta tidak mengenal spesies. Bahwa kita semua bagian dari alam yang sama.
Bahwa jika kita saling menjaga, kita semua akan selamat. Jika kita saling
memusuhi, kita semua akan binasa."
Ia berdiri, kembali ke kursi-kursi yang belum diatur.
"Sekarang, saya bukan hanya petani. Saya juga penjaga.
Saya menjaga pagar hijau. Saya menjaga sawah. Saya menjaga hutan. Saya menjaga
kancil. Untuk Kiara. Untuk Kirana. Untuk anak cucu saya. Untuk generasi
mendatang."
Tepuk tangan bergemuruh. Bu Kasinem menyeka air matanya
dengan ujung sarung. Pak Rasmin yang dulu kasar dan keras, kini lembut dan
bijaksana. Perubahan yang tidak pernah mereka bayangkan.
Bagian 4: Topan dan
Pemuda Desa di Belakang Balai
Di belakang balai desa, Topan dan pemuda desa sedang sibuk
memasang tenda tambahan. Pengunjung yang datang ternyata lebih banyak dari
perkiraan. Bukan hanya warga Bojong Sari, tapi juga dari desa-desa tetangga,
bahkan dari kota kecamatan. Kabar tentang peresmian Kiara sebagai Penjaga Hutan
telah menyebar luas, dibawa oleh mulut ke mulut, dibawa oleh wisatawan yang
pernah datang ke Bojong Sari, dibawa oleh berita di media sosial yang diunggah
oleh Melati dan teman-temannya.
"Topan, tendanya kurang! Kita perlu satu lagi! Mungkin
dua!" teriak seorang pemuda dari kejauhan, suaranya nyaris tenggelam oleh
suara palu dan obrolan warga.
Topan mengusap keringat di dahinya. Keringat mengucur
deras, membasahi bajunya yang sudah basah sejak subuh. "Ambil cadangan di
gudang! Ada tiga tenda di sana! Cepat! Sebentar lagi acara dimulai!"
Pemuda itu berlari. Topan melanjutkan memasang tenda dengan
tangannya yang terampil. Dulu, ia hanya petani sayur yang sawahnya sering
kebanjiran setiap musim hujan. Ia putus asa, hampir menyerah, hampir menjual
kebunnya dan pindah ke kota. Tapi Raka datang, menjelaskan tentang konservasi,
tentang pentingnya menjaga hutan, tentang cara mengatasi banjir dengan menanam
bambu di pinggir sungai. Topan belajar. Topan berubah. Sekarang, ia adalah
ketua pemuda desa, pemimpin kelompok tani, dan koordinator lapangan forum
konservasi. Bambu yang dulu ia ambil dari hutan untuk tanggul darurat, kini ia
tanam kembali di pinggir sungai. Ribuan bibit bambu telah ia tanam bersama
pemuda desa. Sungai yang dulu sering meluap, kini tenang. Sawah yang dulu
sering kebanjiran, kini aman.
"Topan, istirahat dulu!" panggil istrinya dari
balik tenda. Ia membawa segelas air dan sepotong pisang goreng yang masih
hangat, baru saja diangkat dari wajan. Aroma gula aren dan minyak kelapa
menyebar di udara.
Topan menerima dengan senyum, tangannya yang kotor oleh
tanah dan debu menyeka keringat di kening. "Belum sempat sarapan. Sibuk dari
subuh."
"Iya, saya tahu. Makanya saya bawakan. Makan dulu.
Nanti kenyang, baru kerja lagi." Suara istrinya lembut, penuh perhatian.
Topan makan pisang goreng itu dengan lahap, menikmati
setiap gigitan. "Kamu lihat Kiara? Sudah datang?"
"Belum. Tadi Wati bilang, Kiara masih di klinik.
Mungkin sebentar lagi. Dia gugup, kata Wati. Tidak biasa dengan
keramaian."
"Semoga dia tidak gugup. Ini pertama kalinya kancil
datang ke balai desa. Bisa jadi pengalaman menegangkan. Tapi Kiara pasti bisa.
Dia pemimpin. Dia sudah biasa menghadapi hal-hal yang lebih sulit dari ini.
Kebakaran, banjir, pemburu. Ini hanya keramaian. Tidak ada yang perlu
ditakuti."
Istrinya tertawa, duduk di sampingnya. "Kamu saja yang
gugup. Kiara pasti tenang. Dia sudah terbiasa dengan manusia. Dia sudah
terbiasa dengan keramaian kecil di titik Beringin. Hari ini hanya lebih besar.
Tapi esensinya sama. Warga ingin bertemu, ingin berterima kasih, ingin
bersahabat."
Dari kejauhan, terdengar suara riuh. Warga mulai bertepuk
tangan, bersorak, berteriak kegirangan.
"Mereka datang!" teriak seorang pemuda.
Topan berdiri, menatap ke arah jalan desa.
Bagian 5: Kehadiran
Kiara yang Dinanti
Kiara datang bersama Raka, Wati, dan Bejo. Mereka berjalan
dari arah klinik hewan, melewati jalan desa yang sudah dipenuhi warga sejak
pagi. Jalan itu dulu tanah becek yang berlubang di mana-mana, kini sudah
beraspal mulus dengan lampu penerangan di kiri kanan. Rumah-rumah warga yang
dulu sederhana dengan dinding anyaman bambu dan atap seng, kini banyak yang
sudah direnovasi menjadi lebih bagus, dengan cat warna-warni dan taman kecil di
depan. Tapi semua itu tidak penting bagi Kiara. Yang penting adalah orang-orang
yang berdiri di pinggir jalan, menatapnya dengan mata penuh haru, dengan senyum
di bibir, dengan air mata di pipi.
Kiara berjalan di tengah, di samping Raka. Ia tidak lari,
tidak bersembunyi, tidak menunduk. Ia berjalan tegak, matanya lurus ke depan,
telinganya tegak, ekornya bergoyang pelan. Ia adalah pemimpin. Ia harus
menunjukkan bahwa ia tidak takut. Ia harus menunjukkan bahwa ia adalah bagian
dari mereka. Ia harus menunjukkan bahwa persahabatan antara manusia dan kancil
itu nyata.
Warga yang melihat, bertepuk tangan. Suara tepuk tangan itu
bergemuruh, menggema di antara rumah-rumah, naik ke langit, sampai ke puncak
Bukit Manoreh. Ada yang menangis, ada yang tersenyum, ada yang berlutut, ada
yang hanya diam takjub. Seorang ibu-ibu tua memeluk cucunya, berkata,
"Lihat, Nak. Itu Kiara. Penjaga hutan kita. Sahabat kita." Anak-anak
kecil menjerit kegirangan, melompat-lompat, melambai-lambaikan bendera kecil
yang mereka buat. "Kancil! Kancil! Kiara! Kiara!" Seorang bapak-bapak
yang dulu pernah marah-marah karena sawahnya dirusak kancil, kini menunduk,
memberi hormat.
Pak Rasmin berdiri di depan balai desa, menyambut Kiara
dengan tangan terbuka, dengan senyum lebar, dengan air mata yang tidak bisa ia
tahan. Ia sudah menunggu sejak subuh. Ia sudah menyiapkan sambutan berulang
kali. Tapi melihat Kiara berjalan mendekat, semua kata-kata yang ia siapkan
lupa. Yang tersisa hanya perasaan haru yang membanjiri dadanya.
"Selamat datang, Kiara. Selamat datang di
rumahmu." Suaranya bergetar, matanya basah, tangannya gemetar.
Kiara berhenti di depannya. Ia menatap Pak Rasmin lama.
Matanya yang hitam pekat, seperti cermin yang memantulkan perjalanan panjang
mereka. Ia ingat, dulu Pak Rasmin pernah marah, pernah membawa warga protes,
pernah menuduh kancil sebagai musuh. Ia ingat, dulu Pak Rasmin pernah memasang
jerat di pinggir sawah, pernah membawa kapak ke hutan, pernah berteriak-teriak
di balai desa. Tapi ia juga ingat, Pak Rasmin berubah. Pak Rasmin belajar. Pak
Rasmin menjadi sahabat. Pak Rasmin sekarang menjaga pagar hijau, menjaga sawah,
menjaga hutan, menjaga kancil.
Perlahan, Kiara menundukkan kepala. Sekali. Penghormatan yang
sederhana, tapi penuh makna.
Pak Rasmin menangis. Ia tidak bisa menahan lagi. Ia
berlutut, mengelus kepala Kiara dengan tangan yang gemetar. Tangannya yang
keriput dan penuh kapalan itu, yang dulu memegang kapak untuk menebang pohon,
kini lembut mengelus bulu cokelat kemerahan Kiara.
"Terima kasih, Kiara. Terima kasih sudah menjaga hutan
ini. Terima kasih sudah menjaga kami. Terima kasih sudah menjadi sahabat.
Terima kasih sudah mengajarkan kami arti persahabatan. Terima kasih sudah
mengajarkan kami arti kebersamaan. Terima kasih sudah mengajarkan kami arti
cinta."
Bu Kasinem datang dengan segelas jamu. Jamu kunyit asem,
resep turun-temurun dari neneknya, yang dulu ia ambil dari hutan, yang kini ia
tanam di kebun. Ia berlutut di samping Pak Rasmin, menyodorkan gelas itu pada
Kiara.
"Kiara, ini jamu. Untukmu. Untuk kesehatan. Untuk
kebahagiaan. Untuk perjalananmu ke depan. Untuk menjaga hutan ini. Untuk
menjaga kami. Untuk menjaga semua yang sudah dititipkan. Minumlah, Kiara.
Semoga kamu panjang umur. Semoga kamu selalu sehat. Semoga kamu selalu
bahagia."
Kiara menjilati tangan Bu Kasinem. Lidahnya yang kasar
terasa hangat di kulit Bu Kasinem yang keriput. Bu Kasinem menangis, memeluk
leher Kiara.
Topan datang dengan sebatang bambu kecil yang diukir indah.
Bambu itu diukir dengan gambar kancil, pohon beringin, matahari, dan manusia
bergandengan tangan. Ukiran yang rumit, yang memakan waktu berminggu-minggu,
yang ia kerjakan setiap malam setelah lelah bekerja di sawah.
"Kiara, ini untukmu. Tanda bahwa kamu bagian dari desa
ini. Bagian dari keluarga besar Bojong Sari. Tanda bahwa kita berjanji untuk
menjaga hutan ini bersama. Tanda bahwa kita berjanji untuk menjaga
kancil-kancil ini bersama. Tanda bahwa kita berjanji untuk menjaga persahabatan
ini selamanya."
Kiara menerima bambu itu dengan mulutnya, lalu
meletakkannya di tanah di depan Pak Rasmin. Seperti menerima janji. Seperti
berjanji untuk menjaga.
Raka berdiri di samping Kiara, memandang semua warga yang
hadir. Wajah-wajah yang dikenalnya sejak kecil. Pak Rasmin yang dulu keras,
kini lembut. Bu Kasinem yang dulu sibuk berjualan, kini menjadi pemimpin kebun
tanaman obat. Topan yang dulu putus asa, kini menjadi pemimpin pemuda. Dani
yang dulu mendukung Sugiarto, kini menjadi pengusaha sukses dengan restoran
organik. Guntur yang dulu pemuda desa biasa, kini menjadi kepala desa yang
bijaksana. Mbah Kades yang dulu memimpin dengan tongkat, kini hanya bisa
tersenyum dari kursi kehormatan. Melati yang dulu masih kecil, kini menjadi
pemimpin generasi baru.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudaraku. Hari ini
kita berkumpul bukan untuk merayakan sesuatu yang besar. Tapi untuk mengucapkan
terima kasih. Terima kasih pada Kiara, yang telah menjaga hutan ini. Terima
kasih pada Kiano, yang telah mengajarkan Kiara. Terima kasih pada Kai Muda,
yang telah menjaga keseimbangan. Terima kasih pada Kai, yang telah memulai
semuanya."
Ia menatap Kiara.
"Kiara bukan hanya kancil. Dia sahabat. Dia keluarga.
Dia penjaga. Dan mulai hari ini, kita resmi mengakuinya sebagai Penjaga Hutan
Bojong Sari. Penjaga yang tidak pernah lelah. Penjaga yang tidak pernah
menyerah. Penjaga yang tidak pernah berhenti menjaga. Selamanya."
Tepuk tangan bergemuruh. Kiara menggerakkan telinganya.
Seperti tersenyum. Seperti berterima kasih. Seperti berjanji.
Bagian 6: Melati dan
Generasi Muda yang Bersinar
Di barisan paling depan, Melati duduk dengan mata berbinar.
Gadis remaja berusia 14 tahun itu adalah cucu Mbah Kades, ketua Klub Sahabat
Alam, penerus semangat Tim Penyelidik Cilik. Rambutnya yang panjang sebahu
diikat ke belakang dengan pita merah—warna kesukaan Kai, kata Raka. Wajahnya
yang bulat dengan pipi merona selalu tersenyum, bahkan di saat-saat sulit
sekalipun. Ia mengenakan seragam Klub Sahabat Alam—kaos hijau dengan gambar
kancil di dada, celana cokelat, dan sepatu gunung yang sudah usang.
Klub Sahabat Alam didirikan oleh Raka, Wati, dan Bejo dua
tahun lalu, setelah kepergian Kiano. Mereka ingin meneruskan semangat Tim
Penyelidik Cilik. Mereka ingin mengajarkan generasi muda tentang hutan, tentang
satwa, tentang konservasi. Mereka ingin memastikan bahwa apa yang mereka bangun
tidak akan runtuh setelah mereka tiada. Anggotanya sudah puluhan anak, dari
usia 7 hingga 15 tahun. Mereka rutin belajar tentang hutan, tentang satwa,
tentang konservasi. Mereka diajari membaca jejak, mengamati burung, menanam
pohon, membersihkan sungai, dan yang terpenting: mencintai alam. Dan Kiara
adalah idola mereka. Kiara adalah bukti bahwa persahabatan antara manusia dan
alam itu mungkin. Kiara adalah bukti bahwa cinta tidak mengenal batas.
"Melati, kamu nggak mau maju? Sekarang giliran warga
yang sudah dewasa. Nanti giliran kita, kan?" bisik temannya di sebelah,
seorang anak laki-laki dengan rambut cepak dan kacamata bulat.
Melati menggeleng, matanya tetap tertuju pada Kiara.
"Nanti. Sekarang giliran orang dewasa. Mereka yang memulai semuanya.
Mereka yang berjuang puluhan tahun. Mereka yang pantas mendapat penghormatan
pertama. Kita nanti. Kita masih punya banyak waktu."
"Tapi kamu sudah menyiapkan sesuatu, kan? Buku itu?
Yang kamu buat selama berbulan-bulan?"
Melati tersenyum, tangannya memegang erat buku kecil yang
ia buat sendiri. "Sudah. Nanti lihat saja. Aku akan memberikannya pada
Kiara. Sebagai hadiah. Sebagai janji. Sebagai awal dari perjalanan kita."
Di tangannya, ia memegang sebuah buku kecil berukuran saku.
Sampulnya dari kertas cokelat tebal, dihiasi dengan gambar yang ia gambar
sendiri: pohon beringin besar dengan akar menjulur, tiga anak kecil dan seekor
kancil duduk di bawahnya, matahari bersinar di atas. Di sampul itu, ia menulis
dengan tinta emas: "Kai, Kiano, Kiara: Kisah Persahabatan antara
Manusia dan Alam".
Buku itu berisi puluhan halaman gambar dan cerita tentang
Kai, Kai Muda, Kiano, Kiara, dan Tim Penyelidik Cilik. Ia menulisnya sendiri, menggambarnya
sendiri, menjilidnya sendiri, selama berbulan-bulan. Ia mewawancarai Raka,
Wati, Bejo, Pak Rasmin, Bu Kasinem, Topan, Dani, Mbah Kades, bahkan Pak Jarwo
sebelum ia pergi. Ia mengumpulkan foto-foto lama, sketsa-sketsa yang dibuat
Raka saat masih kecil, catatan-catatan yang ditulis Wati dalam jurnalnya. Ia
ingin semua anak di Bojong Sari, dan mungkin di seluruh Indonesia, tahu. Bahwa
hutan ini berharga. Bahwa kancil ini berharga. Bahwa persahabatan antara
manusia dan alam itu indah. Bahwa mereka harus menjaga. Bahwa mereka harus
meneruskan. Bahwa mereka tidak boleh melupakan.
Mbah Kades yang duduk di sampingnya, menatap cucunya dengan
bangga. Matanya yang sudah rabun dan sayu, masih bisa melihat cahaya di mata
Melati. Cahaya yang sama yang dulu ia lihat di mata Raka, Wati, Bejo, ketika
mereka masih kecil dan nekat masuk hutan sendirian.
"Kamu akan menjadi penerus mereka, Nak. Raka, Wati,
Bejo, mereka sudah dewasa. Tugas mereka hampir selesai. Sekarang giliran
generasi muda seperti kamu. Seperti teman-temanmu di Klub Sahabat Alam. Kalian
yang akan menjaga hutan ini. Kalian yang akan menjaga kancil ini. Kalian yang
akan menjaga persahabatan ini. Apakah kamu siap?"
Melati memegang tangan kakeknya. Tangan yang keriput dan
dingin, yang pernah memimpin desa ini selama puluhan tahun, yang pernah
menggenggam tangan Raka saat masih kecil, yang pernah menepuk pundak Wati saat
ia lulus SMA, yang pernah memeluk Bejo saat ibunya meninggal. Tangan yang
sekarang lemah, tapi masih hangat.
"Aku siap, Kek. Kami siap. Janji. Kami akan menjaga.
Seperti Raka, Wati, Bejo. Seperti Kai. Seperti Kai Muda. Seperti Kiano. Seperti
Kiara. Kami tidak akan mengecewakan."
Mbah Kades tersenyum. "Aku tahu. Aku percaya."
Bagian 7: Dani dan
Keluarganya yang Bersyukur
Di barisan tengah, Dani duduk bersama istrinya dan ketiga
anaknya. Rian, anak tertua yang kini berusia 8 tahun, duduk di pangkuan
ayahnya, matanya tertuju pada Kiara yang berdiri di depan balai desa. Rian
sudah besar, sudah masuk sekolah dasar, sudah bisa membaca dan menulis, sudah
mulai bertanya tentang banyak hal. Wajahnya mirip Dani dulu, sebelum ia
berubah. Tapi matanya berbeda. Matanya jernih, penuh rasa ingin tahu, tidak ada
kesedihan di sana.
"Ayah, Kiara cantik," bisik Rian, matanya
berbinar-binar.
Dani tersenyum, memeluk anaknya. "Iya, Nak. Dia
cantik. Dia juga baik. Dia sahabat ayah. Dia yang mengajarkan ayah bahwa tidak
ada yang tidak bisa berubah. Bahwa kesalahan bukan akhir. Bahwa tobat itu
indah."
"Kenapa dia bisa jadi sahabat ayah?" Rian menatap
ayahnya, menunggu jawaban.
Dani menghela napas panjang. Ia mengingat masa lalu, masa
ketika ia masih muda dan bodoh, ketika ia masih mudah marah, ketika ia masih
mudah putus asa, ketika ia mendukung Sugiarto, ketika ia mau menjual hutan
untuk uang cepat. Ia mengingat masa ketika ia duduk di tepi sungai Lembah
Harapan, sendirian, putus asa, tidak tahu harus berbuat apa. Ia mengingat Kiara
datang, duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di pundaknya, diam,
menemani. Ia tidak bicara, tapi Dani merasa tidak sendirian. Sejak itu, ia
belajar. Bahwa kita tidak perlu bicara untuk menjadi sahabat. Cukup hadir.
Cukup ada.
"Dulu, ayah pernah marah. Ayah pernah kecewa. Ayah
pernah putus asa. Ayah tidak tahu harus berbuat apa. Ayah pikir, satu-satunya
jalan adalah uang. Uang cepat. Uang banyak. Ayah pikir, dengan uang, semua
masalah selesai. Ayah dukung Sugiarto. Ayah mau bangun resor. Ayah mau jual
hutan."
Rian mendengarkan dengan saksama, matanya tidak berkedip.
"Tapi Kiara datang. Dia duduk di samping ayah, diam,
menemani. Dia tidak bicara, tapi ayah merasa tidak sendirian. Dia tidak memberi
nasihat, tapi ayah merasa tenang. Dia tidak memberi uang, tapi ayah merasa
kaya. Sejak itu, ayah belajar. Bahwa kebahagiaan bukan tentang uang. Bahwa
persahabatan lebih berharga dari harta. Bahwa hutan ini lebih berharga dari
resor. Bahwa kancil ini lebih berharga dari segalanya."
Rian tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia melihat ayahnya
tersenyum, matanya berkaca-kaca, jadi ia ikut tersenyum.
Istri Dani memegang tangan suaminya. Tangannya yang lembut
dan hangat, yang selalu ada untuknya, yang tidak pernah meninggalkannya meski
di saat-saat paling sulit.
"Kamu sudah berubah, Dan. Dulu kamu sering marah.
Sekarang, kamu sabar. Dulu kamu mudah putus asa. Sekarang, kamu tegar. Dulu
kamu tidak punya harapan. Sekarang, kamu punya mimpi. Kiara mengubahmu. Raka,
Wati, Bejo mengubahmu. Hutan ini mengubahmu."
Dani menatap istrinya. "Bukan mereka yang mengubahku,
Sayang. Aku yang memilih untuk berubah. Mereka hanya menunjukkan jalan. Mereka
hanya memberi kesempatan. Mereka hanya percaya bahwa aku bisa. Dan karena
mereka percaya, aku percaya pada diriku sendiri."
Bagian 8: Guntur dan Pak
Jarwo yang Terakhir
Di barisan belakang, Guntur duduk di samping Pak Jarwo. Pak
Jarwo sudah sangat tua. Usianya 70 tahun lebih, rambutnya putih semua, jalannya
tidak bisa lagi tanpa tongkat, matanya mulai rabun, telinganya mulai berat.
Tapi hari ini, ia bersikeras datang. Ia ingin melihat Kiara diresmikan. Ia
ingin menjadi saksi sejarah. Ia ingin, sebelum waktunya tiba, melihat bahwa
perjuangan yang ia mulai sebagai pemburu, yang ia lanjutkan sebagai penjaga,
tidak sia-sia.
"Pak Jarwo, Bapak tidak capek? Acaranya masih lama.
Mungkin sampai siang. Kalau Bapak lelah, saya antar pulang saja. Nanti saya
ceritakan semuanya," tanya Guntur, suaranya lembut, penuh perhatian.
Pak Jarwo menggeleng. Tangannya yang keriput dan gemetar
memegang erat tongkat kayu jati yang sudah aus gagangnya. "Tidak. Ini hari
bahagia. Saya tidak mau melewatkannya. Saya sudah menunggu lama. Puluhan tahun.
Sejak Kai masih hidup. Sejak kalian masih kecil. Sejak desa ini masih
sederhana. Saya ingin melihat Kiara diresmikan. Saya ingin menjadi saksi. Saya
ingin, sebelum saya pergi, tahu bahwa semua yang saya lakukan tidak
sia-sia."
Guntur tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Dulu, Bapak
pemburu. Yang paling ditakuti di hutan. Yang paling hebat memburu hewan.
Sekarang, Bapak penjaga hutan paling disegani. Yang paling dihormati. Yang
paling dicintai. Perubahan yang luar biasa."
Pak Jarwo tertawa kecil. Suaranya parau, seperti angin yang
berdesir di antara pepohonan. "Dulu saya bodoh. Saya pikir hutan untuk
diambil. Saya pikir hewan untuk diburu. Saya pikir alam adalah musuh. Sekarang
saya tahu, hutan untuk dijaga. Hewan untuk dilindungi. Alam adalah saudara.
Saya bersyukur, masih diberi umur panjang. Masih bisa melihat Kiara dewasa.
Masih bisa melihat kawanan kancil berkembang. Masih bisa melihat hutan ini
hijau. Masih bisa melihat kalian semua bahagia."
Ia menatap Kiara yang berdiri di depan balai desa,
dikelilingi warga yang memberinya hormat.
"Kiara mirip Kiano. Mirip Kai Muda. Mirip Kai. Matanya
sama. Tatapannya sama. Bijaksana. Tenang. Penuh cinta. Dia akan menjadi
pemimpin yang hebat. Lebih hebat dari pendahulunya. Karena dia tidak sendiri.
Dia punya kalian. Dia punya Melati. Dia punya generasi baru. Dia punya masa
depan."
Guntur memegang tangannya. "Bapak masih panjang umur,
Pak. Masih banyak yang harus Bapak lihat. Kirana, anak Kiara, akan besar. Dia
akan belajar berjalan, berlari, memimpin. Dia akan menjadi pemimpin baru. Bapak
harus melihat itu. Bapak harus menjadi saksi."
Pak Jarwo menggeleng. "Saya sudah cukup. Saya sudah
lihat semuanya. Dari Kai, sampai Kiara. Dari kalian kecil, sampai kalian
dewasa. Dari desa yang sederhana, sampai desa yang maju. Dari hutan yang hampir
mati, sampai hutan yang hidup kembali. Saya sudah cukup. Sekarang, giliran
kalian. Giliran Melati. Giliran generasi baru."
Bagian 9: Bejo dan Dapur
Umum yang Ramai
Di dapur umum yang didirikan di samping balai desa, Bejo
sibuk mengatur penyajian makanan. Dapur itu sederhana—hanya beberapa meja
panjang yang ditutupi daun pisang, beberapa tungku dari batu bata, beberapa
wajan besar yang mengepul. Tapi aromanya luar biasa. Aroma nasi liwet dengan
santan dan daun salam. Aroma rendang daging yang meresap dengan bumbu yang
pekat. Aroma ayam bakar dengan kecap manis dan sedikit gosong di pinggirnya.
Aroma sayur asem yang segar dengan kacang panjang, jagung, dan melinjo. Aroma
sambal terasi yang tajam dan menggugah selera. Aroma lalapan segar dari kebun
warga.
Bejo sudah menyiapkan semuanya sejak subuh, sejak sebelum
matahari terbit, sejak langit masih gelap. Tapi tetap merasa ada yang kurang.
Ia ingin semuanya sempurna. Untuk Kiara. Untuk warga. Untuk hari yang istimewa
ini. Untuk mengucapkan terima kasih pada Kiara yang telah menjaga hutan. Untuk
merayakan persahabatan yang sudah berlangsung puluhan tahun. Untuk mengingat
bahwa mereka semua bagian dari alam yang sama.
"Jo, nasi liwetnya sudah habis!" teriak Dani dari
depan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara warga yang makan dan berbincang.
Bejo panik. "Sudah habis? Baru 100 porsi?"
"Iya. Tamu banyak. Mungkin 200 orang lebih. Mungkin
300. Semua desa tetangga datang. Bahkan dari kota kecamatan. Mereka ingin
melihat Kiara. Mereka ingin merayakan bersama."
Bejo menghela napas, tapi tersenyum. "Gue siapin
cadangan. Ada 50 porsi lagi di dapur. Ambil saja. Dan kalau masih kurang, gue
akan masak lagi. Tidak masalah. Yang penting semua kenyang. Yang penting semua
bahagia. Yang penting semua bisa merayakan bersama."
Dani berlari. Bejo melanjutkan mengaduk rendang di wajan
besar. Aroma rempah memenuhi seluruh dapur, bercampur dengan aroma nasi liwet,
ayam bakar, sayur asem, sambal terasi. Tangannya yang lincah mengaduk rendang
dengan sabar, memastikan bumbu meresap sempurna, memastikan daging empuk,
memastikan kuahnya kental dan pekat.
"Jo, kamu tidak ikut acara?" tanya salah satu
karyawannya, seorang pemuda desa yang rajin membantu di dapur.
Bejo menggeleng, matanya tetap tertuju pada rendang di
wajan. "Nanti. Aku masih sibuk di sini. Lagipula, gue sudah lihat Kiara
dari kejauhan. Itu cukup. Yang penting dia bahagia. Yang penting warga bahagia.
Yang penting semua bisa merayakan bersama."
"Tapi ini hari penting. Kiara diresmikan. Semua warga
hadir. Pak Rasmin sambutan. Bu Kasinem bagi jamu. Topan dan pemuda desa sibuk.
Melati dan teman-temannya sudah siap dengan hadiah. Semua menunggu Kiara. Semua
ingin melihat Kiara. Semua ingin merayakan bersama."
Bejo tersenyum. Matanya yang bulat dan polos, yang dulu
sering membuatnya menjadi bahan ledekan, kini bijaksana. "Gue sudah punya
cara sendiri untuk merayakan. Masak untuk semua orang. Membuat mereka kenyang.
Membuat mereka bahagia. Itu cara gue. Itu hadiah gue untuk Kiara. Untuk warga.
Untuk hari ini."
Karyawannya tertawa. "Chef memang unik. Dari dulu
begitu. Dulu waktu masih kecil, Chef juga lebih suka masak daripada main.
Sekarang juga sama. Masak untuk semua orang. Membuat mereka bahagia dengan
makanan."
Bejo tidak menjawab. Ia hanya terus mengaduk rendang, menikmati
aroma yang menyebar, membayangkan Kiara makan dengan lahap, membayangkan warga
tersenyum, membayangkan persahabatan yang terus berlanjut.
Bagian 10: Melati Maju
dengan Hadiahnya
Setelah semua sambutan dari Pak Rasmin, Bu Kasinem, Topan,
Dani, Guntur, dan Raka, acara dilanjutkan dengan penampilan dari generasi muda.
Melati berdiri dari barisan depan, membawa buku kecil yang ia pegang erat sejak
pagi. Ia berjalan ke depan, sedikit gugup, jantungnya berdebar kencang,
tangannya berkeringat, kakinya terasa goyah. Tapi matanya mantap. Ia adalah
cucu Mbah Kades. Ia adalah ketua Klub Sahabat Alam. Ia adalah penerus Tim
Penyelidik Cilik. Ia tidak boleh mengecewakan.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudaraku. Saya Melati.
Cucu Mbah Kades. Saya ketua Klub Sahabat Alam. Saya mewakili generasi muda
Bojong Sari. Saya mewakili anak-anak yang akan meneruskan perjuangan ini. Saya
mewakili mereka yang akan menjaga hutan ini setelah kalian semua tiada."
Ia menatap Kiara yang berdiri di depan.
"Kiara, aku punya hadiah untukmu. Buku ini. Berisi
cerita tentang kakekmu, Kiano. Tentang kakeknya, Kai Muda. Tentang buyutnya,
Kai. Dan tentang persahabatan mereka dengan Raka, Wati, Bejo. Tentang bagaimana
mereka menyelamatkan hutan ini. Tentang bagaimana mereka menjaga keseimbangan.
Tentang bagaimana mereka tidak pernah menyerah."
Ia membuka buku itu, menunjukkan gambar-gambar yang ia buat
dengan tangan sendiri, dengan pensil warna dan cat air, dengan hati yang penuh
cinta.
"Aku menulis ini karena aku ingin anak-anak seusia aku
tahu. Bahwa hutan ini berharga. Bahwa kancil ini berharga. Bahwa persahabatan
antara manusia dan alam itu indah. Bahwa mereka harus menjaga. Bahwa mereka
harus meneruskan. Bahwa mereka tidak boleh melupakan."
Ia berjalan mendekati Kiara, berlutut di depannya,
menyerahkan buku itu dengan kedua tangan.
"Kiara, aku akan menjaga. Aku janji. Aku akan menjadi
seperti Raka, Wati, Bejo. Aku akan menjaga hutan ini. Aku akan menjaga
kawananmu. Aku akan menjaga anakmu. Aku akan menjaga semua yang sudah
dititipkan. Aku tidak akan mengecewakan."
Kiara menerima buku itu dengan mulutnya, dengan lembut,
dengan hati-hati. Ia menatap Melati lama. Matanya yang hitam pekat, seperti
cermin yang memantulkan janji yang baru saja diucapkan. Lalu, perlahan, ia
menundukkan kepala. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Penghormatan tertinggi.
Melati menangis. Air matanya jatuh, membasahi pipinya yang
merona. Ia memeluk Kiara, memeluk lehernya yang hangat, merasakan bulunya yang
lembut di pipinya, merasakan detak jantungnya yang tenang.
Warga bertepuk tangan. Tidak ada yang kering mata. Mbah
Kades menangis. Raka menangis. Wati menangis. Bejo menangis. Pak Rasmin
menangis. Bu Kasinem menangis. Topan menangis. Dani menangis. Semua menangis.
Bagian 11: Kiara Bicara
dengan Hening
Setelah semua sambutan dan hadiah, Kiara berdiri di depan.
Ia tidak bisa bicara seperti manusia. Tidak bisa mengucapkan kata-kata dengan
mulutnya. Tidak bisa menyusun kalimat dengan suaranya. Tapi ia bisa berbicara
dengan bahasa tubuh, dengan gerakan telinga, dengan tatapan mata. Dan semua
yang hadir mengerti. Karena mereka sudah belajar selama bertahun-tahun. Karena
mereka sudah menjadi sahabat. Karena mereka sudah menjadi keluarga.
Kiara menatap satu per satu wajah yang hadir. Pak Rasmin
yang dulu keras, kini lembut. Bu Kasinem yang dulu sibuk berjualan, kini
menjadi pemimpin kebun tanaman obat. Topan yang dulu putus asa, kini menjadi
pemimpin pemuda. Dani yang dulu mendukung Sugiarto, kini menjadi pengusaha
sukses. Guntur yang dulu pemuda desa biasa, kini menjadi kepala desa yang
bijaksana. Mbah Kades yang dulu memimpin dengan tongkat, kini hanya bisa
tersenyum dari kursi kehormatan. Melati yang dulu masih kecil, kini menjadi
pemimpin generasi baru.
Ia menatap Raka, Wati, Bejo. Sahabatnya. Keluarganya.
Penjaganya. Yang tidak pernah meninggalkannya. Yang selalu ada untuknya. Yang
selalu percaya padanya.
Lalu ia menundukkan kepala. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Penghormatan tertinggi.
Kemudian ia mengangkat kepalanya. Matanya terang,
telinganya tegak, ekornya bergoyang pelan.
"Aku tidak bisa bicara seperti kalian. Tapi aku ingin
kalian tahu. Aku akan menjaga hutan ini. Seperti yang diajarkan ayahku. Seperti
yang diajarkan kakekku. Seperti yang diajarkan buyutku. Aku tidak akan pernah
menyerah. Aku tidak akan pernah berhenti. Aku tidak akan pernah lupa."
Ia menatap Raka.
"Raka, terima kasih sudah menjadi sahabatku. Terima
kasih sudah menjaga ayahku. Terima kasih sudah menjaga kakekku. Terima kasih
sudah menjaga buyutku. Terima kasih sudah pulang. Aku tidak akan melupakanmu. Sampai
kapan pun. Sampai kita bertemu lagi di padang rumput yang luas."
Ia menatap Wati.
"Wati, terima kasih sudah menyembuhkanku. Terima kasih
sudah menjaga kawananku. Terima kasih sudah menjadi dokter yang baik. Aku tidak
akan melupakanmu. Sampai kapan pun. Sampai kita bertemu lagi di tepi sungai
yang jernih."
Ia menatap Bejo.
"Bejo, terima kasih sudah memasak untukku. Masakanmu
selalu enak. Aku akan rindu. Tapi aku tahu, kamu akan terus memasak. Aku tidak
akan melupakanmu. Sampai kapan pun. Sampai kita bertemu lagi di dapur yang
hangat."
Ia menatap Melati.
"Melati, terima kasih untuk bukumu. Aku akan
menjaganya. Aku akan memberikannya pada anakku. Agar mereka tahu. Agar mereka
ingat. Agar mereka menjaga. Aku tidak akan melupakanmu. Sampai kapan pun. Sampai
kita bertemu lagi di hutan yang hijau."
Ia menatap semua warga.
"Terima kasih untuk semuanya. Untuk persahabatan.
Untuk kepercayaan. Untuk cinta. Aku akan menjaga. Selamanya. Sampai hutan ini
tetap hijau. Sampai sungai ini tetap mengalir. Sampai kancil-kancil ini tetap
berlari. Sampai generasi berikutnya mengerti apa yang sudah kita
perjuangkan."
Warga bertepuk tangan. Tidak ada yang kering mata. Kiara
menggerakkan telinganya. Seperti tersenyum. Seperti berterima kasih. Seperti
berjanji.
Bagian 12: Makan Bersama
yang Menyatukan
Setelah acara, warga makan bersama. Bejo dan timnya
menyajikan nasi liwet, rendang, ayam bakar, sayur asem, sambal terasi, dan
lalapan. Semua makan bersama, duduk lesehan di halaman balai desa, di atas
tikar pandan yang disediakan ibu-ibu. Tidak ada sekat antara kaya dan miskin,
antara tua dan muda, antara pejabat desa dan rakyat biasa, antara manusia dan
kancil.
Kiara duduk di samping Raka, Wati, dan Bejo. Ia tidak makan
nasi, tidak makan rendang, tidak makan ayam. Tapi ia makan lalapan dan sayuran
segar yang disediakan Bejo khusus untuknya. Bejo sudah menyiapkan piring khusus
berisi daun-daun kesukaan Kiara, sayuran segar dari kebun, dan buah-buahan yang
ia suka.
"Kiara, kamu suka?" tanya Bejo, matanya berbinar.
Kiara menggerakkan telinganya. Seperti tersenyum. Seperti
berkata, "Enak. Terima kasih, Jo."
Bejo tersenyum bangga. "Gue akan terus masak untuk lo.
Setiap hari. Setiap minggu. Setiap bulan. Selamanya. Sampai gue tidak bisa
masak lagi. Sampai gue tidak bisa berdiri lagi. Sampai gue pergi menyusul Kai,
Kai Muda, Kiano. Tapi sebelum itu, gue akan masak. Terus. Untuk lo. Untuk
Kirana. Untuk anak-anak lo. Untuk generasi baru. Selamanya."
Kiara menjilati tangannya. Lidahnya yang kasar terasa
hangat di kulit Bejo yang masih bau bawang.
Di meja sebelah, Pak Rasmin duduk bersama Bu Kasinem,
Topan, Dani, dan keluarganya. Mereka tertawa, bercerita, mengenang masa lalu,
merencanakan masa depan.
"Pak Rasmin, dulu Bapak marah-marah soal kancil.
Sampai bawa warga protes ke balai desa. Sampai mau pasang jerat di sawah.
Sekarang, Bapak yang paling vokal mendukung Kiara. Malah jadi ketua forum
konservasi. Malah jadi penjaga pagar hijau. Malah jadi sahabat kancil.
Perubahan yang luar biasa," ledek Bu Kasinem, matanya berbinar.
Pak Rasmin tertawa, suaranya lantang, lepas. "Iya.
Saya dulu bodoh. Saya hanya melihat sawah saya. Saya tidak melihat hutan. Saya
hanya melihat kerugian saya. Saya tidak melihat kebutuhan mereka. Saya hanya
melihat hari ini. Saya tidak melihat masa depan. Tapi sekarang saya sudah
belajar. Saya sudah melihat. Saya sudah mengerti. Hutan ini bukan hanya milik
kita. Sawah ini bukan hanya milik saya. Kancil ini bukan musuh. Mereka
saudara."
Topan menambahkan, "Saya juga dulu sering marah soal
banjir. Saya pikir itu salah hutan. Saya pikir itu salah kancil. Saya pikir itu
salah alam. Ternyata, salah saya sendiri. Saya tidak menjaga sungai. Saya tidak
menanam bambu. Saya tidak peduli pada hutan. Sekarang, saya belajar. Banjir
bukan karena alam. Banjir karena kita tidak menjaga. Karena kita serakah.
Karena kita lupa bahwa alam perlu dijaga."
Dani mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Saya dulu
juga. Saya dukung Sugiarto. Saya mau resor. Saya mau uang cepat. Saya pikir,
dengan uang, semua masalah selesai. Ternyata, saya salah. Uang cepat habis
cepat. Resor tidak akan memberi kami kebahagiaan. Hutan ini yang memberi. Hutan
ini yang memberi kehidupan. Hutan ini yang memberi masa depan."
Mereka tertawa bersama, menikmati makanan, menikmati
kebersamaan, menikmati persahabatan yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Bagian 13: Sore di Titik
Beringin
Setelah acara selesai dan warga mulai pulang, Raka, Wati,
Bejo, dan Kiara berjalan ke titik Beringin. Mereka duduk di bawah pohon
beringin, di samping makam Kai, Kai Muda, dan Kiano. Bulan purnama mulai naik,
cahaya peraknya menyinari makam-makam itu, membuatnya tampak bercahaya,
membuatnya tampak hidup.
"Kita sudah melalui banyak hal," kata Raka,
matanya menatap makam-makam di depannya.
"Iya. Dari kecil sampai sekarang. Dari Kai sampai
Kiara. Dari kebakaran sampai banjir. Dari konflik sampai perdamaian. Dari putus
asa sampai penuh harap."
"Kai, Kai Muda, Kiano... mereka sudah pergi. Tapi
mereka meninggalkan kita dengan Kiara. Mereka meninggalkan kita dengan
kenangan. Mereka meninggalkan kita dengan cinta."
Bejo memandang langit, matanya mencari bintang yang paling
terang. "Mereka pasti lihat kita dari sana. Lihat Kiara. Lihat kita. Lihat
Melati. Lihat generasi baru. Mereka pasti bangga. Mereka pasti tersenyum.
Mereka pasti tidak sabar menunggu kita."
Wati tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Kita akan jaga
Kiara. Kita akan jaga hutan ini. Untuk mereka. Untuk anak cucu kita. Untuk
semua yang datang setelah kita. Untuk Melati. Untuk Kirana. Untuk generasi baru
yang akan meneruskan."
Kiara mendekat, menyandarkan kepalanya di tengah-tengah
mereka. Tiga manusia dan satu kancil, di bawah sinar bulan purnama, di kaki
Bukit Manoreh.
Raka meletakkan tangannya di kepala Kiara. "Kiano, Kai
Muda, Kai... kami akan menjaga Kiara. Kami akan menjaga hutan ini. Kami akan menjaga
semua yang sudah kalian titipkan. Selamanya. Sampai kita bertemu lagi. Di
padang rumput yang luas. Di tempat di mana kita bisa berlari bersama. Di tempat
di mana kita bisa tertawa bersama. Di tempat di mana persahabatan ini tidak
akan pernah berakhir."
Kiara menggerakkan telinganya. Seperti setuju. Seperti
berjanji. Seperti mengucapkan terima kasih.
Angin malam berdesir lembut, membawa aroma tanah basah dan
dedaunan. Suara jangkrik mulai terdengar, menyambut malam yang sunyi. Di
kejauhan, seekor burung hantu bersuara, sayup-sayup, seperti lagu tidur untuk
hutan yang mulai terlelap. Bulan purnama bersinar terang, menerangi makam-makam
di bawah pohon beringin, menerangi wajah-wajah yang masih menangis, menerangi
hati-hati yang masih berduka, menerangi janji-janji yang baru saja diucapkan.
Bagian 14: Melati dan
Klub Sahabat Alam
Beberapa minggu kemudian, Klub Sahabat Alam mengadakan
kegiatan rutin mereka. Kali ini, mereka belajar tentang jejak hewan di hutan.
Melati memimpin, dengan Raka, Wati, dan Bejo sebagai pembimbing. Mereka
berjalan menyusuri hutan, mengamati tanah, mencari jejak-jejak yang tertinggal.
"Kalian lihat ini?" tanya Melati, berjongkok di
tanah basah, menunjuk jejak yang tercetak jelas. "Ini jejak kancil. Lihat,
bentuknya seperti hati terbalik. Dua kuku di depan. Ukurannya kecil, sekitar
3-4 sentimeter. Ini jejak Kiara, mungkin. Atau Kirana. Masih baru. Mungkin
semalam lewat sini."
Anak-anak mengamati dengan saksama. Mereka mencatat di
buku, menggambar jejak, mengukur panjang dan lebar, menulis keterangan.
"Dan ini," Melati menunjuk jejak lain, lebih
besar, lebih bulat, dengan bekas cakar yang jelas. "Ini jejak babi hutan.
Lebih besar, lebih bulat, dengan bekas cakar di depan. Mereka biasanya mencari
umbi-umbian di tanah. Mereka menggali tanah dengan moncongnya, mencari
akar-akaran yang bisa dimakan."
Seorang anak bertanya, matanya penuh rasa ingin tahu.
"Melati, kenapa kita harus belajar jejak? Kenapa kita harus tahu jejak
kancil, jejak babi hutan, jejak hewan-hewan lain? Apa pentingnya?"
Melati tersenyum. Matanya yang jernih berbinar.
"Karena jejak adalah cerita. Jejak memberi tahu kita, hewan apa yang
lewat, ke mana mereka pergi, apa yang mereka lakukan, apakah mereka sehat,
apakah mereka dalam bahaya. Dengan belajar jejak, kita bisa menjaga mereka.
Kita tahu di mana mereka berada. Kita tahu apa yang mereka butuhkan. Kita tahu
kapan mereka membutuhkan pertolongan. Kita tahu kapan mereka dalam
bahaya."
Anak-anak mengangguk, mencatat dengan saksama.
Raka yang mendengar, tersenyum. Ia ingat dirinya sendiri,
waktu masih kecil, belajar jejak bersama Kai. Waktu itu, ia baru berusia 11
tahun, baru pertama kali masuk hutan, baru pertama kali bertemu kancil, baru
pertama kali belajar bahwa alam bukan musuh. Sekarang, giliran generasi baru
yang belajar. Giliran Melati yang mengajar. Giliran anak-anak ini yang akan
menjadi penerus.
Bagian 15: Kirana
Belajar Berlari
Di Lembah Harapan, Kirana belajar berlari. Anak Kiara yang
masih kecil itu sudah mulai berani menjelajah, meninggalkan sisi ibunya, berlari-lari
kecil di padang rumput, jatuh bangun, tapi selalu bangkit lagi. Kiara duduk di
tepi sungai, menatap anaknya dengan bangga, dengan cinta, dengan harapan.
"Kirana, hati-hati! Jangan terlalu jauh!" panggil
Kiara dengan bahasa tubuh, telinganya tegak, matanya waspada.
Kirana menoleh, menjawab dengan lengkingan kecil. "Aku
bisa, Bu! Aku kuat! Aku tidak takut!"
Kiara tersenyum. Ia ingat dirinya sendiri, waktu masih
kecil, belajar berlari di padang rumput yang sama, di bawah pengawasan Kiano.
Ia ingat jatuh bangun, menangis, bangkit lagi. Ia ingat Kiano tersenyum,
menjilati lukanya, memberinya semangat. Sekarang, gilirannya yang tersenyum.
Gilirannya yang menjilati luka. Gilirannya yang memberi semangat.
Dari balik pohon, Raka, Wati, dan Bejo muncul. Mereka
datang membawa makanan untuk Kiara dan Kirana. Mereka duduk di tepi sungai,
menikmati sore yang cerah.
"Kirana sudah besar," kata Wati, matanya
mengamati anak kancil yang berlari-lari.
"Iya. Sebentar lagi dia akan belajar memimpin.
Sebentar lagi dia akan menggantikan Kiara. Sebentar lagi generasi baru akan
lahir."
Bejo membuka bungkusan makanan. "Ini untuk Kirana.
Sayuran lembut, mudah dicerna. Biar dia kuat. Biar dia cepat besar."
Kiara menjilati tangannya. "Terima kasih, Jo.
Terima kasih untuk semuanya."
Mereka duduk bersama, menikmati sore yang cerah. Di kaki
Bukit Manoreh, kehidupan terus berlanjut. Generasi baru lahir. Persahabatan
terus berjalan. Harapan terus tumbuh. Selamanya.
Bagian 16: Pak Jarwo dan
Wasiatnya
Di rumahnya yang sederhana, Pak Jarwo terbaring lemah.
Usianya sudah tidak muda lagi. Ia tahu, waktunya tidak lama. Tapi ia tidak
takut. Ia sudah siap. Ia sudah melihat semuanya. Ia sudah cukup.
Guntur duduk di sampingnya, memegang tangannya yang keriput
dan dingin. "Pak Jarwo, jangan bicara begitu. Bapak masih kuat. Bapak
masih panjang umur. Masih banyak yang harus Bapak lihat. Kirana akan besar.
Kirana akan belajar memimpin. Bapak harus melihat itu. Bapak harus menjadi
saksi."
Pak Jarwo tersenyum, matanya sayu, tapi tenang.
"Sudah, Nak. Saya sudah cukup. Saya sudah lihat semuanya. Dari Kai, sampai
Kiara. Dari kalian kecil, sampai kalian dewasa. Dari desa yang sederhana,
sampai desa yang maju. Dari hutan yang hampir mati, sampai hutan yang hidup
kembali. Saya sudah cukup."
Ia menatap ke luar jendela, ke arah hutan yang hijau.
"Saya hanya ingin berpesan. Jaga hutan ini. Jaga
Kiara. Jaga Kirana. Jaga kawanan. Jangan sampai ada yang rusak. Jangan sampai
ada yang hilang. Jangan sampai ada yang punah. Ini warisan. Untuk anak cucu
kita. Untuk generasi mendatang. Untuk mereka yang akan datang setelah
kita."
Guntur menangis, matanya basah, suaranya bergetar.
"Saya janji, Pak. Saya akan menjaga. Kami semua akan menjaga. Raka, Wati,
Bejo, Melati, semua akan menjaga. Bapak tidak usah khawatir. Bapak istirahat
saja. Bapak sudah lelah. Bapak sudah berjuang cukup."
Pak Jarwo mengangguk. "Dan sampaikan salam saya pada
Raka, Wati, Bejo. Pada Kiara. Pada Kirana. Pada semua. Saya pamit. Saya akan
bertemu dengan Kai. Dengan Kai Muda. Dengan Kiano. Mereka pasti menunggu."
Ia memejamkan mata. Napasnya lambat, dalam, teratur. Lalu
berhenti.
Guntur menangis. Berita menyebar cepat. Seluruh desa
berkabung. Pak Jarwo, mantan pemburu yang tobat menjadi penjaga hutan paling
disegani, telah pergi.
Bagian 17: Pemakaman Pak
Jarwo
Pak Jarwo dimakamkan di pemakaman desa, di samping istrinya
yang telah tiada lebih dulu. Seluruh warga hadir. Raka, Wati, Bejo, Kiara, Pak
Rasmin, Bu Kasinem, Topan, Dani, Guntur, Mbah Kades, Melati, semua datang.
Tidak ada yang tidak hadir. Tidak ada yang tidak memberi penghormatan terakhir.
Raka berdiri di depan makam, memegang segenggam tanah.
Tangannya yang muda dan kuat gemetar.
"Pak Jarwo, dulu Bapak pemburu. Bapak yang paling
ditakuti di hutan. Bapak yang paling hebat memburu hewan. Tapi Bapak berubah.
Bapak menjadi penjaga hutan yang paling setia. Bapak mengajarkan kami, bahwa
setiap orang bisa berubah. Bahwa kesalahan bukan akhir. Bahwa tobat itu indah.
Bahwa tidak ada yang tidak mungkin."
Ia meletakkan tanah di atas makam.
"Bapak mengajarkan kami membaca jejak. Bapak
mengajarkan kami membaca hutan. Bapak mengajarkan kami membaca hati. Bapak
mengajarkan bahwa hutan bukan untuk diambil, tapi untuk dijaga. Bahwa hewan
bukan untuk diburu, tapi untuk dilindungi. Bahwa alam bukan musuh, tapi saudara.
Terima kasih, Pak. Kami tidak akan lupa. Kami akan meneruskan."
Wati meletakkan bunga di makam. Bunga dari kebunnya, dari
kebun tanaman obat yang ia rawat bersama Bu Kasinem.
"Pak Jarwo, Bapak akan kami rindukan. Tapi Bapak akan
selalu di sini. Di hutan ini. Di jejak-jejak yang Bapak ajarkan. Di pohon-pohon
yang Bapak jaga. Di sungai-sungai yang Bapak bersihkan. Di hati kami. Bapak
tidak akan pernah pergi."
Bejo meletakkan makanan di makam. Nasi liwet, rendang,
sambal terasi, lalapan. Masakan kesukaan Pak Jarwo, yang selalu ia minta setiap
kali Bejo memasak.
"Pak, ini masakan kesukaan Bapak. Nasi liwet, rendang,
sambal terasi. Makanlah di sana. Jangan kelaparan. Jangan lupa makan. Jangan
lupa istirahat. Jangan terlalu lelah menjaga hutan di sana. Bapak sudah cukup.
Bapak sudah berjuang cukup. Sekarang, istirahatlah."
Kiara mendekat, menundukkan kepala di depan makam. Sekali.
Dua kali. Tiga kali. Penghormatan tertinggi. Penghormatan terakhir.
Angin sepoi bertiup, membawa aroma dedaunan dan tanah
basah. Pak Jarwo telah pergi. Tapi ajarannya hidup. Jejaknya tidak akan pernah
hilang. Kisahnya tidak akan pernah dilupakan.
Bagian 18: Melati dan
Janjinya
Setelah pemakaman, Melati duduk di samping makam Pak Jarwo.
Ia membawa bukunya, membuka halaman terakhir, menulis dengan pensil.
"Pak Jarwo, aku tidak sempat mengenal Bapak dengan
baik. Aku masih kecil ketika Bapak sudah tua. Tapi aku mendengar cerita-cerita
tentang Bapak. Dari Raka, dari Wati, dari Bejo. Bapak adalah pemburu yang
berubah menjadi penjaga. Bapak adalah bukti bahwa setiap orang bisa berubah.
Bahwa kesalahan bukan akhir. Bahwa tobat itu indah."
Ia berhenti, matanya berkaca-kaca.
"Aku akan menjadi seperti Bapak. Aku akan menjadi
penjaga. Aku akan menjaga hutan ini. Aku akan menjaga kancil ini. Aku akan
menjaga semua yang sudah Bapak jaga. Aku tidak akan mengecewakan. Aku
janji."
Ia menutup bukunya, berdiri, berjalan meninggalkan makam.
Di depannya, hutan membentang hijau. Di belakangnya, desa yang tenang. Di dalam
hatinya, janji yang tidak akan pernah pudar.
Bagian 19: Kiara dan
Kirana di Puncak Bukit
Suatu pagi, Kiara mengajak Kirana ke puncak Bukit Manoreh.
Perjalanan yang dulu ia lalui bersama Kiano, yang dulu Kiano lalui bersama Kai
Muda, yang dulu Kai Muda lalui bersama Kai. Perjalanan yang panjang, terjal,
berbatu, tapi penuh makna.
"Bu, ini tempat apa?" tanya Kirana, matanya
mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu.
Kiara duduk di bawah pohon beringin tua, tempat yang dulu
diduduki Kiano, yang dulu diduduki Kai Muda, yang dulu diduduki Kai.
"Ini tempat suci, Nak. Tempat di mana kakekmu, Kiano,
menghabiskan hari terakhirnya. Tempat di mana kakeknya, Kai Muda, dulu berdoa.
Tempat di mana buyutnya, Kai, dulu merenung. Tempat di mana leluhur kita datang
setiap bulan purnama. Untuk berdoa. Untuk bersyukur. Untuk meminta kekuatan.
Untuk mengingat bahwa kita bagian dari alam, bukan penguasanya. Untuk mengingat
bahwa kita harus menjaga, bukan merusak."
Kirana duduk di samping ibunya, menyandarkan kepalanya di
pundak Kiara.
"Bu, aku akan menjaga. Aku janji. Seperti Ibu menjaga.
Seperti Kakek menjaga. Seperti Buyut menjaga. Aku tidak akan
mengecewakan."
Kiara tersenyum, menjilati kepala anaknya. "Aku tahu.
Aku percaya."
Bagian 20: Selamanya
Tahun berganti. Musim silih berganti. Kirana tumbuh besar. Ia
belajar berjalan, berlari, memimpin. Kiara mengajarinya, seperti Kiano
mengajari Kiara, seperti Kai Muda mengajari Kiano, seperti Kai mengajari Kai
Muda.
Raka, Wati, Bejo, mereka tidak lagi muda. Rambut mereka
mulai memutih. Langkah mereka mulai lambat. Tapi hati mereka masih muda. Masih
penuh semangat. Masih penuh cinta. Mereka masih sering ke hutan. Masih duduk di
titik Beringin, di Lembah Harapan, di puncak Bukit Manoreh. Masih berbincang
dengan Kiara, dengan Kirana, dengan kawanan kancil.
Suatu sore, di titik Beringin, Raka duduk di bawah pohon
beringin. Di sampingnya, Kiara dan Kirana. Di depannya, makam Kai, Kai Muda,
Kiano, Pak Jarwo, Pak Tani. Di kejauhan, Melati dan Klub Sahabat Alam sedang
belajar jejak.
"Kita sudah melalui banyak hal," kata Raka.
"Iya. Dari kecil sampai tua. Dari Kai sampai Kirana.
Dari kebakaran sampai perdamaian. Dari konflik sampai persahabatan."
"Kai, Kai Muda, Kiano, Pak Jarwo, ayah... mereka sudah
pergi. Tapi mereka meninggalkan kita dengan Kiara. Dengan Kirana. Dengan generasi
baru. Dengan Melati. Dengan Klub Sahabat Alam."
Bejo tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Dan kita akan
terus menjaga. Sampai kapan pun. Sampai kita tidak bisa lagi. Sampai kita pergi
menyusul mereka. Tapi sebelum itu, kita akan menjaga. Kita akan mengajar. Kita
akan memberi contoh. Kita akan memastikan bahwa apa yang sudah kita bangun
tidak akan runtuh."
Wati memandang Kiara dan Kirana. "Kiara, kamu akan
baik-baik saja. Kirana akan baik-baik saja. Hutan ini akan baik-baik saja.
Karena ada generasi baru. Melati dan teman-temannya. Mereka akan menjaga.
Mereka akan meneruskan. Mereka tidak akan mengecewakan."
Kiara menggerakkan telinganya. "Aku tahu. Aku
tidak takut. Aku punya kalian. Aku punya Kirana. Aku punya hutan. Aku punya
semuanya. Aku punya persahabatan. Aku punya cinta. Aku punya segalanya."
Matahari terbenam di ufuk barat, meninggalkan sisa cahaya
jingga yang tembus di sela-sela dedaunan. Di kaki Bukit Manoreh, persahabatan
terus berlanjut. Kematian bukan akhir. Kematian adalah awal dari sesuatu yang
baru. Kiara, pemimpin dewasa. Kirana, generasi baru. Melati, penerus. Dan
mereka, penjaga. Selamanya.
Raka memandang ke arah hutan. "Kai, Kai Muda, Kiano,
Pak Jarwo, ayah... kami akan menjaga. Sampai kapan pun. Sampai kami tidak bisa.
Sampai generasi berikutnya mengambil alih. Tapi kami tidak akan pergi. Kami
akan selalu di sini. Di hutan ini. Di pohon beringin ini. Di angin yang membawa
aroma dedaunan. Di air sungai yang mengalir jernih. Di setiap napas yang kalian
ambil. Di setiap langkah yang kalian ambil. Di setiap keputusan yang kalian
buat. Kami tidak akan pernah pergi. Kami tidak akan pernah meninggalkan. Kami
tidak akan pernah melupakan. Selamanya."
Kiara menyandarkan kepalanya di pundak Raka. Kirana di
sampingnya, meniru ibunya.
Mereka duduk bersama, menikmati senja yang indah. Di kaki
Bukit Manoreh, persahabatan tidak pernah berakhir. Ia terus hidup, terus
tumbuh, terus menginspirasi. Selamanya.
BERSAMBUNG KE EPISODE 8: MISTERI HEWAN MATI






0 komentar:
Posting Komentar