Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Rabu, 25 Maret 2026

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 1: KEMBALI UNTUK SELAMANYA

 


DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI

Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari

Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari

EPISODE 1: KEMBALI UNTUK SELAMANYA


1. Kereta Senja dari Stasiun Gambir

Kereta Argo Parahyangan melaju kencang meninggalkan Jakarta yang mulai gelap. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di kejauhan, lalu perlahan-lahan menghilang digantikan oleh hamparan gelap sawah dan bukit yang hanya diterangi oleh bulan sabit tipis. Di dalam gerbong eksekutif nomor 7, tiga orang dewasa muda duduk berdampingan di kursi menghadap ke depan. Masing-masing dari mereka membawa ransel besar dan koper yang nyaris meledak oleh buku, pakaian, dan oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman.

Raka duduk di dekat jendela. Ia mengenakan kemeja flanel merah marun yang sedikit kusut karena perjalanan panjang dari kampusnya di Dramaga, Bogor, ke Stasiun Gambir, lalu naik kereta ini. Di pangkuannya, sebuah ransel hitam penuh dengan jurnal penelitian dan buku-buku tentang konservasi hutan tropis. Tangannya yang kekar—hasil dari bertahun-tahun menjelajah hutan untuk penelitian—sesekali menyentuh ransel itu, memastikan semuanya masih ada. Di jari manisnya, tidak ada cincin. Belum. Ada terlalu banyak yang harus dikerjakan sebelum memikirkan itu.

Wajahnya yang sekarang lebih matang dari sepuluh tahun lalu masih menyisakan sedikit kekanak-kanakan di senyumnya. Kumis tipis mulai tumbuh di bibir atas, dan ia sengaja membiarkannya tumbuh—mengingatkan pada ayahnya yang selalu berkumis tipis setiap pagi sebelum pergi ke sawah. Matanya yang cokelat terang, satu-satunya yang tidak berubah, menatap ke luar jendela dengan penuh kerinduan.

Di kejauhan, langit mulai berubah warna. Dari biru tua menjadi kehitaman, lalu tiba-tiba, di antara kabut tipis yang menyelimuti lereng, sebuah puncak gunung muncul. Puncak Manoreh. Bentuknya masih sama seperti sepuluh tahun lalu: menjulang dengan tebing-tebing curam di sisi timur, hutan lebat di sisi barat, dan di puncaknya, pohon-pohon besar yang selalu diselimuti kabut. Raka teringat pertama kali ia melihat puncak itu dari kereta, sepuluh tahun lalu, saat ia masih remaja dengan ransel kecil berisi buku catatan dan mimpi besar.

"Masih sama," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Wati yang duduk di sebelahnya menoleh. Ia baru saja selesai membaca buku tentang penyakit kulit pada satwa liar, dan kacamatanya masih bertengger di ujung hidung. Rambutnya yang panjang sebahu dibiarkan terurai, hanya sedikit dijepit di belakang telinga. Di telinga kiri, sebuah anting-anting kecil berbentuk kancil bergantung—hadiah dari Bejo saat mereka lulus SMA dulu.

"Apa yang masih sama, Ra?" tanyanya, meletakkan buku di pangkuan.

"Manoreh." Raka menunjuk ke luar jendela. "Lihat, di antara kabut itu. Masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Tidak berubah."

Wati mengikuti telunjuk Raka. Matanya yang cokelat kehijauan—warna langka yang diwarisi dari ibunya—menyipit mencari. Lalu ia tersenyum. Puncak Manoreh memang masih sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda.

"Bukan Manoreh yang sama, Ra," katanya pelan. "Kita yang berubah."

Kata-kata itu menggantung di udara. Raka menoleh, menatap Wati. Di bawah lampu remang kereta, wajah Wati tampak lebih dewasa dari yang ia ingat. Dulu, Wati selalu menjadi yang paling berani di antara mereka bertiga. Saat Raka ragu, Wati yang mendorong. Saat Bejo takut, Wati yang menenangkan. Dan saat Raka diam-diam menyukainya—masa-masa canggung remaja yang sudah lama berlalu—Wati adalah orang pertama yang bisa membaca pikirannya.

Sepuluh tahun. Sepuluh tahun mereka berpisah mengejar mimpi masing-masing. Raka ke Bogor, mempelajari hutan. Wati ke Bandung, mempelajari hewan. Bejo ke Jogja, mempelajari rasa. Dan di sini, di kereta yang membawa mereka pulang, semuanya terasa seperti baru kemarin.

"Lo benar," kata Raka akhirnya. "Kita yang berubah."

Di seberang mereka, Bejo yang sejak tadi asyik mengunyah permen jahe buatan sendiri, menyela. "Gue setuju sama Wati." Ia mengunyah permen dengan suara keras. Badannya yang dulu gembul sudah lenyap, digantikan oleh postur tinggi tegap dengan otot-otot yang terbentuk dari bertahun-tahun mengangkat panci dan wajan di dapur restoran. Tapi matanya masih sama: bulat, polos, dan selalu lapar. "Dulu kita cuma tiga bocah nakal yang suka main ke hutan. Sekarang..." Ia menghitung dengan jari. "Raka ahli konservasi hutan lulusan IPB, Wati dokter hewan lulusan Unpad, gue koki selebritis lulusan ISI Jogja." Ia tertawa kecil, suaranya masih sama seperti dulu—nyaring dan menular. "Tapi gue masih inget, dulu gue paling takut sama hantu di Lembah Terlarang."

Raka ikut tertawa. "Itu mah ajag, Jo. Bukan hantu."

"Ya tahu sekarang. Dulu mana tahu. Lo inget gak, waktu kita pertama kali denger suara tangisan dari dalam gua, gue langsung lari tunggang-langgang sampai jatuh ke sungai?"

"Lo yang jatuh ke sungai, gue yang nolong lo." Raka menggeleng-geleng. "Baju gue basah semua. Pulang-pulang dimarahin ibu."

"Tapi kan Kiano selamat," Wati menyela, ikut tersenyum. "Anak ajag itu selamat. Jaya dan Kecil. Mereka sekarang udah besar."

Bejo mengangguk. "Gue masih inget, Jaya yang jantan punya belang di dahi. Kecil yang betina lebih kecil dari Jaya, tapi lebih galak."

Mereka bertiga terdiam sejenak, membiarkan kenangan mengalir. Sepuluh tahun terasa panjang, tapi di saat-saat seperti ini, semuanya terasa seperti baru kemarin. Pertemuan pertama dengan Kai di bawah pohon beringin. Perjalanan ke Lembah Harapan bersama Kai Muda. Kebakaran hutan yang hampir menghanguskan segalanya. Longsor yang mengubur setengah desa. Dan perpisahan dengan Kai Muda di ujung senja, saat kancil tua itu pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan Kiano yang masih muda sebagai pemimpin baru.

Kereta terus melaju. Lampu-lampu stasiun kecil mulai bermunculan di kejauhan. Stasiun Cipeundeuy. Stasiun Cibatu. Stasiun Leles. Setiap stasiun membawa mereka lebih dekat ke rumah. Raka merasakan dadanya berdegup lebih kencang. Di stasiun terakhir, Bojong Sari, semua yang ia rindukan akan menanti. Orang tuanya yang sudah tua. Warga desa yang setia menunggu. Hutan Manoreh yang hijau dan rimbun. Dan Kiano... Kiano yang pasti sudah menunggu di bawah pohon beringin, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali Raka pulang.

"Kita hampir sampai," kata Wati, seolah membaca pikirannya.

"Iya," jawab Raka. "Kita hampir sampai."

2. Kedatangan yang Dinanti

Stasiun Bojong Sari tidak lagi seperti yang mereka tinggalkan sepuluh tahun lalu. Bangunan kecil sederhana dengan atap seng itu kini telah berubah menjadi stasiun permanen dengan dinding bata bercat hijau muda, lantai keramik putih bersih, dan papan nama besar yang terbuat dari kayu jati, bertuliskan: "Stasiun Bojong Sari — Desa Konservasi" dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Di depan stasiun, sebuah taman kecil dengan bangku-bangku kayu dan lampu taman yang menyala hangat. Tempat parkir yang rapi dengan mobil-mobil wisatawan berpelat B, D, dan F terparkir di beberapa sudut.

Tapi hal yang tidak berubah—yang mungkin tidak akan pernah berubah—adalah sambutan warganya.

Begitu pintu kereta terbuka, suara riuh rendah langsung menyambut mereka. Bukan suara petugas stasiun yang mengumumkan kedatangan, tapi suara warga Bojong Sari yang sudah menunggu sejak siang.

"RAKA! WATI! BEJO!"

Raka baru saja menginjakkan kaki di peron ketika sebuah sosok tua berlari—sebisa mungkin berlari untuk usianya—menghampiri. Pak Kades. Atau sekarang, lebih sering dipanggil Mbah Kades oleh warga. Usianya sudah 70 tahun lebih, rambutnya putih semua, kumisnya lebat dan panjang, jalannya agak bungkuk, tapi matanya masih tajam dan penuh semangat.

Di belakang Mbah Kades, barisan warga berjejer rapi. Ada Pak Tani dan Bu Tani yang sudah sangat tua—Bu Tani sekarang memakai tongkat, rambutnya putih semua, tapi senyumnya masih sama seperti dulu. Ada Pak Joko yang kini duduk di kursi roda, didorong oleh istrinya, Bu Joko. Usia dan penyakit telah membuatnya lumpuh, tapi semangatnya untuk menyambut anak-anak desa yang pulang tidak pernah pudar. Ada Pak Jarwo, yang usianya sudah 60 tahun lebih, tubuhnya masih tegap, golok tua di pinggang masih setia menemani. Rambutnya sudah memutih, tapi tangannya masih kuat, dan tatapannya masih tajam seperti saat ia masih menjadi pemburu.

Dan di barisan paling depan, tepat di depan pintu keluar, berdiri Pak Tani dan Bu Tani.

Bu Tani menangis begitu melihat Raka turun dari kereta. Tangannya yang keriput gemetar, menutup mulut, berusaha menahan isak. Pak Tani berdiri di sampingnya, diam, tapi matanya basah. Ia berusaha tegar, seperti yang selalu ia lakukan sepanjang hidupnya. Sebagai petani, ia belajar bahwa kadang yang terbaik adalah diam dan membiarkan alam bekerja.

Raka berlari. Koper dan ranselnya ditinggal begitu saja di peron. Ia memeluk ibunya erat-erat, merasakan tubuh kecil dan rapuh yang dulu begitu kuat membesarkannya.

"Bu... Ibu..." suaranya bergetar.

Bu Tani memeluknya balik, tangannya yang keriput mengelus rambut Raka seperti dulu, saat Raka masih kecil dan menangis karena jatuh dari pohon jambu.

"Nak... ibu kangen banget." Suaranya parau, lirih, seperti angin sore yang berbisik di antara pepohonan. "Setiap hari ibu liat foto kamu. Setiap malam ibu doain. Sekarang... sekarang kamu pulang."

Raka memeluk ibunya lebih erat. Ia bisa merasakan tulang-tulang kecil di punggung ibunya. Bu Tani sudah sangat kurus. Jauh lebih kurus dari yang ia ingat.

"Aku pulang, Bu. Untuk selamanya."

Kata-kata itu keluar begitu saja. Untuk selamanya. Raka sendiri tidak tahu apakah ia benar-benar bisa mewujudkannya. Tapi di pelukan ibunya, di bawah langit Bojong Sari yang mulai gelap, rasanya mungkin. Rasanya semua mungkin.

Pak Tani yang dari tadi berdiri di samping, akhirnya bergerak. Ia meletakkan tangannya yang kasar dan penuh kapalan di pundak Raka.

"Nak, ayah bangga sama kamu." Suaranya dalam, berat, seperti biasanya. Tapi ada getar di sana. "Ayah selalu bangga."

Raka melepaskan pelukannya dari ibunya, lalu memeluk ayahnya. Tubuh Pak Tani masih tegap, meski usianya sudah 60 tahun. Tapi Raka bisa merasakan bahwa ayahnya sudah tidak sekuat dulu. Bahunya yang dulu bisa memikul beratus-ratus kilo gabah, kini terasa sedikit merunduk.

"Yah, aku pulang. Aku nggak akan pergi lagi."

Pak Tani tidak menjawab. Ia hanya menepuk-nepuk punggung Raka, berulang-ulang, seperti ia selalu lakukan saat Raka kecil dan terbangun dari mimpi buruk.

Di samping mereka, Wati dan Bejo juga disambut pelukan. Wati memeluk ibunya yang sudah tua, tangis pecah di antara mereka. Wati adalah anak tunggal, dan meninggalkan orang tuanya sendirian di desa selama sepuluh tahun adalah beban berat yang selalu ia bawa di pundaknya.

"Bu... maafin Wati. Maaf lama pulang."

Ibunya hanya menggeleng, menangis, dan terus memeluk.

Bejo berdiri agak di pinggir. Ibunya sudah meninggal dua tahun lalu, ketika ia sedang sibuk membangun restoran di Jogja. Ia pulang terlambat. Hanya sempat melihat ibunya terbujur kaku di kamar depan, dengan senyum di bibirnya yang sudah tidak bernyawa. Ia tidak menangis saat itu. Tidak sampai sekarang.

Tapi melihat Raka dan Wati dipeluk orang tua mereka, ada sesuatu di dadanya yang terasa sesak.

Seorang pria tua mendekatinya. Paman Bejo, adik ibunya, yang selama ini merawat rumah mereka.

"Jo, kamu pulang." Suaranya lirih.

Bejo memeluk pamannya. "Gue pulang, Pah. Untuk selamanya."

Untuk selamanya. Kata yang sama. Mungkin mereka bertiga sudah sepakat tanpa bicara. Sepuluh tahun cukup lama. Sudah waktunya pulang.

Mbah Kades yang dari tadi menunggu dengan sabar, akhirnya maju. Ia memeluk mereka bertiga bergantian, lama dan erat.

"Anak-anakku... kalian pulang. Akhirnya."

Kata-kata Mbah Kades sederhana, tapi ada bobot di sana. Bobot sepuluh tahun penantian. Bobot harapan yang selama ini ia gantungkan pada tiga anak kecil yang dulu nekat masuk hutan sendirian.

"Kami pulang, Mbah. Untuk selamanya."

Mbah Kades tersenyum. Matanya basah, tapi ia tidak menangis. Ia sudah terlalu tua untuk menangis. Yang ia lakukan hanyalah menatap mereka satu per satu, seperti seorang kakek yang melihat cucu-cucunya tumbuh dewasa.

"Kalian sekarang udah gede. Udah jadi orang hebat." Ia menoleh ke Pak Jarwo yang berdiri di belakang. "Jarwo, lihat anak-anak kita. Dulu kamu yang ajarin mereka soal hutan. Sekarang mereka lebih hebat dari kamu."

Pak Jarwo maju. Wajahnya yang keras dan penuh bekas luka—sisa-sisa masa lalunya sebagai pemburu—tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.

"Gue dulu bilang, kalian akan jadi penerus gue. Dan sekarang..." Ia menggeleng, tak percaya. "Kalian jadi lebih hebat dari gue."

Bejo memeluk Pak Jarwo. "Pak, tanpa Bapak, kami nggak akan sampai di sini."

Pak Jarwo hanya diam. Tapi tangannya yang kasar dan penuh kapalan menepuk-nepuk punggung Bejo dengan lembut.

3. Kejutan di Balai Desa

Setelah melepas rindu yang cukup lama, Mbah Kades mengajak mereka bertiga ke balai desa. "Ada kejutan," katanya dengan senyum misterius.

Balai desa Bojong Sari kini sudah sangat berbeda. Bangunan lama yang dulu beratap seng dan berdinding papan, kini sudah direnovasi menjadi gedung pertemuan yang cukup megah. Dindingnya dari bata bercat putih, atapnya dari genteng tanah liat, dan di depannya, sebuah taman kecil dengan air mancur dari bambu. Tapi ada satu hal yang tidak berubah, dan itu membuat Raka berhenti melangkah.

Di depan balai desa, tepat di taman itu, berdiri sebuah patung perunggu. Patung tiga anak kecil dan seekor kancil. Tiga anak itu sedang duduk, satu mengelus kepala kancil, dua lainnya memegang buku catatan. Di bawah patung, tertulis dalam aksara Jawa dan Latin: "Tim Penyelidik Cilik — Pahlawan Konservasi Bojong Sari".

Raka berdiri di depan patung itu, memandang wajah-wajah perunggu yang sangat dikenalnya. Dirinya, Wati, Bejo. Dan kancil itu... Kai. Pasti Kai.

"Kita dulu," katanya lirih.

Wati berdiri di sampingnya, ikut memandang patung itu. "Lucu ya, lihat diri sendiri jadi patung."

Bejo terkekeh di belakang. "Gue dulu gendut. Sekarang kurus. Orang yang bikin patung itu pasti kaget kalau lihat gue sekarang."

Mereka tertiga tertawa. Tapi tawa mereka lirih, penuh haru.

"Masuk, yuk. Ada yang mau lihat kalian," kata Mbah Kades dari pintu balai desa.

Mereka masuk. Di dalam, balai desa sudah penuh sesak. Warga Bojong Sari—tua, muda, anak-anak—duduk di kursi-kursi kayu yang disusun rapi. Di depan, sebuah panggung kecil dengan mikrofon dan beberapa kursi untuk tamu kehormatan.

Guntur, yang kini menjadi kepala desa baru, berdiri di panggung. Rambutnya mulai beruban, perutnya sedikit buncit, tapi semangatnya masih sama seperti dulu saat ia masih menjadi pemuda desa yang suka main ke hutan.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, warga Bojong Sari yang saya hormati. Hari ini kita kedatangan tamu istimewa." Ia tersenyum, menatap Raka, Wati, dan Bejo yang baru masuk. "Tapi bukan tamu. Mereka adalah anak desa kita. Mereka adalah pahlawan kita. Raka, Wati, Bejo."

Tepuk tangan bergemuruh. Puluhan pasang tangan bertepuk, anak-anak kecil berteriak kegirangan, ibu-ibu menyeka air mata.

"Mereka pergi sepuluh tahun lalu sebagai remaja penuh mimpi. Kini mereka kembali sebagai orang dewasa dengan ilmu dan pengalaman. Raka, ahli konservasi hutan lulusan Institut Pertanian Bogor." Tepuk tangan. "Wati, dokter hewan lulusan Universitas Padjadjaran." Tepuk tangan. "Bejo, koki terkenal lulusan Institut Seni Indonesia Jogja." Tepuk tangan paling keras, diselingi siulan dan teriakan.

"Dan mereka memilih pulang. Untuk membangun desa kita."

Tepuk tangan semakin keras. Raka, Wati, dan Bejo naik ke panggung. Raka berdiri di depan, tidak menggunakan mikrofon. Suaranya lantang, seperti biasa.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara-saudaraku..." Ia berhenti, menatap satu per satu wajah yang hadir. Wajah-wajah yang dikenalnya sejak kecil. "Sepuluh tahun lalu, kami pergi dengan satu janji: akan kembali dan membangun Bojong Sari. Hari ini, kami tepati janji itu."

Ia mengambil napas panjang. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia tetap tegap.

"Kami tidak datang dengan tangan kosong. Rencana sudah kami susun. Raka akan membangun pusat penelitian konservasi hutan. Tempat belajar bagi generasi muda, tempat penelitian bagi ilmuwan, tempat wisata edukasi bagi siapa pun yang ingin belajar tentang hutan dan satwa liar."

Ia menunjuk Wati. "Wati akan membuka klinik hewan gratis. Untuk hewan-hewan liar yang sakit, untuk hewan peliharaan warga yang membutuhkan, untuk semua makhluk hidup yang membutuhkan pertolongan."

Wati mengangguk, tersenyum.

Raka menunjuk Bejo. "Bejo akan membuka restoran organik. Dengan bahan-bahan dari desa sendiri, dikelola oleh warga sendiri, dan keuntungannya untuk konservasi hutan."

Bejo mengangkat kedua tangan, seperti pesilat yang menang. "Dan gratis untuk yang ulang tahun!" teriaknya.

Semua tertawa. Suasana yang tadinya haru, menjadi hangat.

"Bukan untuk kami," lanjut Raka. "Untuk desa kita. Untuk generasi mendatang. Untuk hutan yang sudah menjaga kita selama ini."

Tepuk tangan bergemuruh lagi. Guntur maju dan memeluk mereka bertiga. Mbah Kades dari kursi kehormatan hanya mengangguk, bangga. Pak Tani dan Bu Tani menangis di kursi mereka. Pak Jarwo tersenyum, matanya berkaca-kaca.

4. Pertemuan dengan Kiano

Acara di balai desa selesai menjelang maghrib. Raka, Wati, dan Bejo tidak bisa menunggu lebih lama. Mereka harus ke hutan. Harus bertemu dengan Kiano.

Sepanjang jalan menuju hutan, mereka melihat banyak perubahan. Jalur setapak yang dulu hanya tanah becek kini sudah diperkeras dengan batu dan kayu. Papan-papan petunjuk terpasang rapi di setiap persimpangan, dengan tulisan yang jelas: "Jalur Wisata - Titik Beringin 500 m", "Kawasan Konservasi - Dilarang Masuk Tanpa Pemandu", "Hormati Satwa Liar - Jangan Memberi Makan".

Di beberapa titik, bangku-bangku kayu didirikan untuk wisatawan yang lelah. Tempat sampah dari bambu tersedia di setiap sudut. Semuanya rapi, terawat, dan yang terpenting: tidak merusak keindahan alami hutan.

"Ini luar biasa," kata Wati sambil mengamati sekeliling. "Dulu kita nggak punya ini."

"Guntur yang ngurus," kata Bejo. "Dia kerja keras banget. Program ekowisata mulai jalan lima tahun lalu. Sekarang sudah lumayan maju."

Raka mengangguk bangga. "Desa kita benar-benar berubah."

Tapi ketika mereka masuk lebih dalam, meninggalkan jalur wisata dan memasuki kawasan konservasi, hutan masih sama seperti dulu. Pepohonan besar, rimbun, dengan kanopi yang menutupi langit. Udara sejuk dan lembab. Suara burung berkicau di kejauhan. Bau tanah basah dan daun-daun kering.

"Mari kita ke titik Beringin," kata Raka.

Mereka berjalan cepat. Kaki mereka masih ingat setiap tikungan, setiap akar pohon yang menjulang, setiap batu yang licin. Ini hutan mereka. Rumah mereka.

Sesampainya di titik Beringin, mereka berhenti.

Pohon beringin itu masih berdiri kokoh. Lebih besar dari sepuluh tahun lalu. Akar-akarnya yang menjulur ke tanah seperti ular raksasa. Dahan-dahannya yang lebar membentuk kanopi yang teduh. Di bawahnya, bak air dari bambu masih terisi penuh. Beberapa ekor kancil sedang minum dengan tenang. Mereka tidak takut pada manusia.

Tapi Kiano tidak ada.

Raka bersiul pelan. Siulan khas yang dulu sering mereka gunakan untuk memanggil Kiano. Suara siulan itu bergema di antara pepohonan.

Beberapa detik berlalu. Sunyi. Hanya suara angin dan kicauan burung.

Lalu, dari balik semak-semak di sebelah timur, terdengar gemerisik. Ranting-ranting patah. Daun-daun bergeser. Dan kemudian, seekor kancil tua keluar dari kegelapan.

Kiano. Sekarang ia sudah sangat tua. Bulunya putih hampir seluruhnya, hanya tersisa sedikit cokelat kemerahan di punggungnya. Matanya sayu, tapi masih tajam. Tubuhnya kurus, tulang-tulangnya mulai terlihat. Jalannya lambat, sedikit pincang di kaki kanan—bekas luka dari jerat pemburu dulu, yang tidak pernah benar-benar sembuh sempurna.

Tapi begitu melihat mereka, matanya berbinar. Binar yang sama seperti sepuluh tahun lalu saat ia masih muda dan lincah.

Kiano berjalan mendekat, perlahan. Ia mengendus kaki Raka, lalu Wati, lalu Bejo. Lama. Seperti memastikan bahwa mereka sungguh-sungguh ada. Bukan mimpi. Bukan bayangan.

Matanya berkaca-kaca. Lalu, dengan sisa tenaganya, ia menyandarkan kepala di pangkuan Raka.

Raka berlutut, memeluk Kiano. Tubuh kancil tua itu terasa ringan. Tulang-tulangnya nyaris teraba di bawah bulu yang kusam.

"Kiano... aku pulang. Kami pulang. Janji."

Kiano menjilati tangannya. Lidahnya kasar dan kering, seperti amplas. Tapi hangat.

"Aku menunggumu," kata bahasa tubuhnya. "Sepuluh tahun aku menunggu."

Wati ikut berlutut, memeluk Kiano dari samping. "Maaf, Kiano. Maaf lama."

Bejo berdiri di belakang, mengelus kepala Kiano. Jari-jarinya yang dulu gemuk, kini panjang dan lincah—jari seorang koki yang terbiasa memotong sayuran dan meracik bumbu. Tapi sentuhannya masih sama lembutnya.

"Kiano udah tua banget," katanya pelan. "Kayak kakeknya dulu."

Mereka duduk di bawah pohon beringin. Tidak banyak bicara. Menikmati kebersamaan yang sudah lama dinanti. Kiano berbaring di pangkuan Raka, matanya terpejam. Napasnya berat, tapi teratur. Sesekali ia membuka mata, menatap mereka, lalu tersenyum—sebisanya kancil tersenyum.

5. Kiara, Generasi Baru

Mereka duduk cukup lama di bawah pohon beringin. Matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya jingga yang tembus di sela-sela dedaunan. Udara mulai dingin. Kiano yang sejak tadi berbaring di pangkuan Raka, tiba-tiba membuka mata lebar-lebar. Telinganya tegak, seperti mendengar sesuatu.

Dari balik semak-semak di sebelah barat, muncul seekor kancil muda. Bulunya cokelat kemerahan, mengilap seperti tembaga yang baru digosok. Matanya hitam pekat, tajam, penuh kewaspadaan. Gerakannya lincah, tapi tidak terburu-buru. Ia mendekat dengan langkah hati-hati, menunduk, mengendus tanah, lalu mengangkat kepala, mengamati tiga manusia yang duduk di bawah pohon.

"Ini..." Raka menoleh ke Kiano.

Kiano membuka mata, menatap kancil muda itu dengan penuh kasih. Ia menggerakkan telinganya—perlahan, seperti sedang menjelaskan sesuatu.

"Ini Kiara. Anakku."

Kiara. Nama yang indah. Seperti cahaya.

Kiara mendekat, masih ragu. Ia mengendus-endus dari kejauhan, matanya bergantian menatap Raka, Wati, dan Bejo. Ada sesuatu di matanya yang tidak ada pada kancil lain: rasa ingin tahu. Ia tidak hanya waspada, ia juga penasaran. Siapa mereka? Mengapa ayahnya begitu dekat dengan mereka?

Raka tersenyum. Perlahan, tanpa gerakan tiba-tiba, ia mengulurkan tangan.

"Hei, Kiara. Aku teman. Aku teman kakekmu. Teman ayahmu."

Kiara mundur selangkah. Tapi tidak lari. Hanya mundur, menatap, mengamati.

Wati menirukan. Ia merendahkan tubuhnya, membuat dirinya sekecil mungkin. Dengan suara lembut, ia bersiul pelan—siulan yang dulu sering ia gunakan untuk memanggil kancil-kancil saat mereka masih kecil.

"Kiara... sini. Kita teman."

Perlahan, Kiara maju. Satu langkah. Dua langkah. Ia mengendus udara. Bau Raka, Wati, Bejo. Bau yang asing, tapi tidak mengancam. Bau yang... familiar. Seperti aroma yang ia kenal dari ayahnya, dari kakeknya, dari cerita-cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Kiara mendekat. Ia mengendus tangan Raka. Sekali. Dua kali. Lalu, dengan hati-hati, ia menjilati ujung jari Raka.

Raka tersenyum. "Kiara... kamu akan jadi pemimpin hebat. Seperti ayahmu. Seperti kakekmu. Seperti buyutmu."

Kiano yang terbaring di pangkuan Raka, menggerakkan telinganya dengan bangga. "Dia masa depan kita. Aku sudah tua. Sebentar lagi... aku akan menyusul ayah dan kakekku."

Raka memegang kepala Kiano. "Jangan bicara begitu, Kiano. Masih panjang."

Kiano menggeleng pelan. "Aku tahu. Tapi aku tenang. Karena kalian kembali. Karena Kiara punya kalian."

Kiara yang mendengar itu, mendekati ayahnya. Ia menjilati wajah Kiano, berulang-ulang, seperti memberi semangat. Kiano menjawab dengan jilatan yang lemah, penuh kasih.

Wati mengelus kepala Kiara. "Kami akan jaga dia, Kiano. Janji."

Bejo duduk di samping Kiara. "Kiano, lo lihat nanti. Kiara akan jadi pemimpin yang hebat. Kayak lo. Kayak kakek lo."

Kiano menatap mereka bergantian. Matanya berkata: "Terima kasih, sahabatku. Untuk semuanya."

6. Malam Perenungan

Malam harinya, setelah makan malam bersama orang tua dan warga yang masih bertamu ke rumah, Raka duduk di teras rumahnya. Rumah orang tuanya sudah direnovasi, lebih besar, dengan halaman yang ditanami bunga-bunga dan tanaman obat. Tapi pohon jambu di samping rumah masih ada. Masih sama. Masih berbuah setiap musim hujan.

Pak Tani dan Bu Tani sudah tidur. Mereka sudah tua, lekas lelah. Tapi kebahagiaan melihat anaknya pulang membuat mereka tersenyum dalam tidur. Raka sempat mengintip ke kamar mereka sebelum duduk di teras. Ibunya memeluk bantal, seperti memeluk anaknya dulu. Ayahnya tidur telentang, mendengkur pelan, tangan kanannya menggenggam foto lama—foto keluarga saat Raka masih kecil, dengan latar belakang sawah yang hijau.

Raka memandangi langit malam. Bintang-bintang terang, bulan sabit tipis. Udara sejuk, suara jangkrik merdu. Ini Bojong Sari. Rumahnya.

Wati datang dari arah jalan, membawa dua gelas kopi. Ia sudah berganti pakaian, memakai daster sederhana berwarna biru muda. Rambutnya yang panjang diikat ke belakang, wajahnya segar setelah mandi.

"Nggak bisa tidur?" tanyanya sambil duduk di samping Raka.

Raka tersenyum, menerima kopi. "Lo juga?"

Mereka duduk berdampingan. Kopi hitam tubruk, gula aren sedikit, hangat di tangan. Wati membawanya dalam gelas keramik tua—gelas yang dulu sering mereka gunakan saat rapat di markas.

"Ti, kita sudah dewasa. Kita punya mimpi besar. Tapi gue... gue kadang takut."

Wati menyesap kopinya, tidak terburu-buru. "Takut apa?"

"Gagal. Kita sudah di titik ini. Pulang dengan segudang rencana. Tapi kalau gagal?" Raka memutar gelas kopinya, memandang ampas yang turun ke dasar. "Kita sudah janji sama warga. Janji sama Mbah Kades. Janji sama orang tua. Kalau gagal..."

"Ra, lo ingat dulu?" Wati memotong. Suaranya tenang, seperti air sungai yang mengalir. "Waktu kita kecil, kita juga takut. Takut masuk hutan, takut ketemu kancil, takut gagal. Tapi kita lakukan."

Raka mengangguk. "Iya."

"Dan kita berhasil."

Raka tersenyum. "Karena kita bersama."

Wati menatapnya. Di bawah sinar bulan, matanya berbinar. "Karena kita bersama."

Mereka diam, menikmati kopi dan malam yang tenang. Kenangan-kenangan lama mengalir di antara mereka. Pertama kali bertemu Kai. Pertama kali masuk Lembah Harapan. Pertama kali Kai Muda lahir. Pertama kali mereka harus berpisah.

"Gue kangen masa-masa itu," kata Raka lirih.

"Gue juga. Tapi masa depan juga menarik. Kita bisa membangun banyak hal."

Raka menghela napas. "Iya. Gue cuma... gue nggut mau mengecewakan mereka."

"Kita nggak akan mengecewakan mereka, Ra. Kita sudah buktikan."

Tiba-tiba, dari balik pagar, Bejo muncul. Ia membawa bungkusan plastik yang mengepul.

"Gue kira lo berdua lagi mesra-mesraan. Ternyata ngopi." Wajahnya menyeringai.

Wati melempar sandal. "Jo! Ngapain lo ngintip!"

Bejo menghindar dengan lincah—sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan sepuluh tahun lalu. "Gue nggak ngintip! Gue juga nggak bisa tidur. Lihat lampu rumah lo nyala, gue dateng." Ia membuka bungkusan plastik itu. Di dalamnya, nasi goreng dengan telur mata sapi dan kerupuk udang. "Gue masak buat kita bertiga. Makanan khas masa kecil."

Mereka bertiga duduk melingkar di teras, menikmati nasi goreng Bejo yang—harus diakui—jauh lebih enak dari nasi goreng buatan mereka dulu. Rasa bawang dan kecap meresap sempurna, telur mata sapi masih setengah matang, kerupuk udang masih renyah.

"Jo, ini enak banget," puji Wati.

Bejo tersenyum bangga. "Gue kan koki. Ini mah makanan sederhana."

Raka melahap habis piringnya. "Gue kangen makanan kampung."

Mereka tertawa. Suasana hangat menyelimuti.

Bejo menatap langit. "Gue juga mikirin sesuatu."

"Apa?" tanya Wati.

"Restoran gue. Apa orang sini suka makanan organik? Makanan organik itu mahal. Orang sini terbiasa dengan makanan sederhana. Jangan-jangan restoran gue cuma buat turis."

Raka mengangguk. "Lo bener, Jo. Kita harus pikirkan itu. Semua proyek kita harus memberdayakan warga, bukan hanya menarik turis."

Wati menambahkan, "Klinik hewan gue juga. Harus gratis atau murah. Nggak semua warga mampu."

Mereka bertiga diam, merenung. Rencana besar, tantangan besar.

Bejo memecah keheningan. "Tapi kita bisa, kan? Dulu kita bisa selamatin hutan. Masa sekarang nggak bisa bikin restoran sama klinik?"

Raka tersenyum. "Lo benar, Jo. Kita bisa."

Wati mengangkat gelas kopinya. "Untuk Bojong Sari."

Raka dan Bejo ikut mengangkat gelas. "Untuk Bojong Sari."

Mereka bersulang di bawah sinar bulan.

7. Kabar dari Luar

Keesokan paginya, Raka baru saja selesai sarapan ketika Guntur datang dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya tegang, keringat di dahi. Di tangannya, ia membawa map tebal berwarna cokelat.

"Ra, ada kabar nggak enak."

Raka yang sedang menikmati kopi, langsung berdiri. "Ada apa, Guntur?"

Mereka duduk di teras. Guntur membuka map itu. Isinya: dokumen perizinan, peta kawasan, proposal investasi, dan foto-foto aerial Hutan Manoreh dari sisi timur.

"Ada pengusaha dari Jakarta. Namanya Sugiarto. Dia mau bangun resor mewah di pinggir hutan. Katanya investasi besar, akan kasih kerja banyak warga." Guntur menyerahkan dokumen itu pada Raka. "Dia sudah mulai lobi beberapa warga. Bahkan sudah ada yang tanda tangan pernyataan dukungan."

Raka membaca dokumen itu dengan saksama. Matanya menyipit. Proposal itu tebal, penuh dengan angka-angka besar, gambar-gambar arsitektur yang mewah, dan janji-janji manis. Kolam renang infinity dengan pemandangan hutan. Villa-villa bergaya minimalis dengan teras kaca. Restoran mewah dengan chef dari Jakarta. Lapangan kerja untuk 200 warga.

"Resor mewah? Di pinggir hutan?" Raka menggeleng. "Itu berarti akan merusak ekosistem. Jalan baru, bangunan, limbah... semua akan mengganggu kancil."

Wati yang baru datang, ikut membaca dokumen itu. "Ini berbahaya. Buffer zone hutan konservasi tidak boleh dibangun bangunan permanen. Apalagi resor mewah dengan limbah cair dan padat."

"Tapi warga banyak yang tergiur, Ra," kata Guntur. "Mereka lihat angka besar. 50 miliar investasi. 200 lapangan kerja. Itu angka yang sulit ditolak buat desa kecil seperti kita."

Bejo datang dengan nasi goreng di tangan—sarapan keduanya. "Wah, dari tadi gue denger. Ini serius banget."

Raka meletakkan dokumen itu. "Kita harus hadapi ini. Tapi kita nggak bisa asal tolak. Kita harus punya alternatif. Buktikan bahwa konservasi bisa menghasilkan lebih banyak dan lebih berkelanjutan."

8. Pertemuan dengan Sugiarto

Siang harinya, Sugiarto datang ke balai desa. Ia datang dengan rombongan besar: dua asisten pribadi, seorang arsitek, seorang pengacara, dan seorang manajer proyek. Mobil-mobil hitamnya berjejer di depan balai desa, membuat warga yang lewat berhenti dan memandang.

Sugiarto sendiri adalah pria paruh baya, sekitar 50 tahun, tubuh gemuk dengan perut buncit yang susah disembunyikan oleh kemeja batik cokelatnya. Wajahnya bulat, kumis tipis, rambut disisir rapi ke belakang dengan minyak. Di jari-jarinya yang gemuk, beberapa cincin emas melingkar. Ia tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih untuk usianya.

"Selamat siang, warga Bojong Sari." Suaranya berat, terbiasa memberi perintah. "Saya Sugiarto, pengusaha dari Jakarta. Saya punya rencana besar untuk desa ini."

Ia membuka peta besar yang dibentangkan asistennya. Peta itu menunjukkan Hutan Manoreh dan sekitarnya, dengan area berwarna merah di pinggir hutan—lokasi yang akan dibangun resor.

"Saya akan membangun resor mewah di pinggir hutan kalian. Kolam renang, restoran, villa-villa mewah. Investasi 50 miliar. Akan membuka lapangan kerja untuk 200 warga."

Warga mulai berbisik-bisik. Mata mereka berbinar. 50 miliar. 200 lapangan kerja. Angka-angka yang tidak pernah mereka bayangkan.

"Tidak hanya itu," lanjut Sugiarto, semakin percaya diri. "Saya juga akan membangun sekolah kejuruan perhotelan. Anak-anak kalian bisa belajar jadi koki, jadi pramusaji, jadi manajer hotel. Bisa kerja di Jakarta, Bali, bahkan luar negeri."

Bisik-bisik semakin keras. Wajah-wajah berseri-seri.

Raka yang duduk di barisan depan, berdiri.

"Pak Sugiarto, maaf saya potong."

Sugiarto menatapnya, alis terangkat. "Kamu siapa?"

"Saya Raka. Anak desa ini. Ahli konservasi hutan."

Senyum Sugiarto sedikit mengecil. "O, anak muda. Silakan, silakan. Saya dengar pendapat."

Raka maju ke depan. Ia tidak membawa peta atau dokumen. Hanya buku catatan kecil yang sudah lusuh—buku yang sama yang ia bawa sejak masih kecil.

"Pak Sugiarto, rencana Bapak memang menarik. Tapi apakah Bapak tahu, hutan ini adalah kawasan konservasi yang sudah ditetapkan pemerintah? Di sini hidup puluhan kancil jawa yang dilindungi. Spesies yang hampir punah."

Sugiarto tersenyum, masih percaya diri. "Kami sudah hitung, Nak. Resor akan dibangun di pinggir, tidak masuk ke hutan."

"Pinggir hutan adalah buffer zone. Wilayah penyangga. Menurut undang-undang konservasi, buffer zone boleh dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi, tapi tidak boleh ada bangunan permanen yang mengganggu ekosistem. Resor Bapak—dengan kolam renang, restoran, villa—itu bukan bangunan permanen biasa. Itu akan menghasilkan limbah cair dan padat yang bisa mencemari sungai. Jalan akses baru akan memecah habitat satwa. Kebisingan dan cahaya dari resor akan mengganggu siklus hidup kancil yang aktif di malam hari."

Sugiarto masih tersenyum, tapi matanya mulai dingin. "Nak, pembangunan dan konservasi bisa berjalan beriringan. Saya sudah berpengalaman. Proyek saya di Puncak, di Lembang, semuanya sukses."

Raka tidak mundur. "Dengan hormat, Pak, pengalaman Bapak di tempat lain belum tentu cocok di sini. Hutan Manoreh adalah rumah bagi kancil jawa. Kalau terganggu, mereka bisa pindah atau mati. Itu tidak bisa diganti dengan uang."

9. Perdebatan Memanas

Warga mulai terpecah. Di barisan belakang, seorang pemuda berdiri. Namanya Dani, anak salah satu petani yang sawahnya sempat rusak akibat banjir tahun lalu. Wajahnya masih muda, tapi matanya lelah.

"Saya setuju Pak Sugiarto!" teriaknya. "Kita butuh kerjaan! Saya nganggur dua tahun! Anak saya butuh susu! Istri saya butuh beras! Saya nggak peduli sama kancil!"

Beberapa warga lain mengangguk setuju. Mereka berdiri, bergabung dengan Dani.

"Kita juga!" teriak seorang ibu-ibu. "Anak saya lulus SMA, nggak bisa kuliah karena nggak ada biaya. Kalau ada kerjaan, dia bisa sekolah!"

Pak Joko yang duduk di kursi roda, ikut angkat suara. "Saya dulu juga mau bangun pabrik di sini. Tapi anak-anak ini yang melarang. Lihat sekarang, desa kita maju tanpa pabrik. Saya percaya sama Raka!"

"Pak Joko sudah kaya!" bantah Dani. "Bapak nggak ngerti kami yang miskin!"

Suasana memanas. Dua kubu mulai terlihat jelas. Yang pro pembangunan, dan yang pro konservasi.

Wati berdiri. Suaranya lantang, memotong keramaian.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, dengarkan saya!"

Semua menoleh.

"Saya Wati, dokter hewan. Saya tahu apa yang terjadi jika habitat kancil terganggu. Mereka bisa stres, berhenti berkembang biak, bahkan mati. Kancil jawa sudah hampir punah. Kita tidak boleh jadi penyebab kepunahan mereka."

Bejo ikut berdiri. "Gue Bejo. Gue juga anak desa ini. Gue setuju kita butuh lapangan kerja. Tapi jangan dengan mengorbankan hutan. Masih banyak cara lain. Pariwisata berbasis konservasi, misalnya. Ekowisata. Itu bisa kasih kerja tanpa merusak alam."

Sugiarto tertawa kecil. Tawanya dingin. "Anak-anak muda, kalian mungkin punya idealisme tinggi. Tapi uang tidak datang dari idealisme. Ekowisata? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan 50 miliar? Berapa banyak lapangan kerja yang bisa diciptakan? Saya punya uang sekarang. Siap bangun sekarang. Kalian? Masih mimpi."

Raka menatap Sugiarto tajam. "Pak, kami datang bukan dengan idealisme kosong. Kami datang dengan ilmu, pengalaman, dan rencana nyata. Kami akan buktikan, konservasi bisa mendatangkan uang lebih banyak dan lebih berkelanjutan daripada resor mewah Bapak."

10. Dukungan dari Pak Jarwo

Saat perdebatan mencapai puncak, Pak Jarwo berdiri dari kursinya di barisan depan. Ia sudah tua, jalannya tertatih, tapi suaranya masih lantang. Golok tua di pinggangnya berayun perlahan.

"Saudara-saudara!"

Semua diam. Pak Jarwo adalah sesepuh, mantan pemburu yang tobat menjadi penjaga hutan paling disegani. Ucapannya punya bobot yang tidak dimiliki siapa pun.

"Dulu, saya pemburu. Saya lihat hutan kita hampir habis. Hewan-hewan hampir punah. Saya lihat kancil-kancil mati. Saya lihat anak-anak mereka kelaparan." Ia berhenti, menatap satu per satu wajah warga. "Tapi kemudian ada tiga anak kecil. Raka, Wati, Bejo. Mereka yang menyelamatkan hutan ini. Mereka yang mengajarkan kita arti menjaga alam."

Ia menatap Sugiarto. "Pak Sugiarto, saya hormat niat Bapak. Tapi hutan ini bukan hanya milik kita. Ini milik anak cucu kita. Kalau rusak, tidak bisa diperbaiki. Saya lebih percaya pada anak-anak desa saya yang sudah membuktikan diri."

Warga mulai berbisik-bisik. Banyak yang mengangguk setuju. Kata-kata Pak Jarwo menyentuh hati mereka.

Sugiarto tersenyum tipis, tapi matanya dingin. "Baiklah. Saya lihat perdebatan ini belum selesai. Saya akan memberi waktu seminggu. Cari investor lain? Buktikan bahwa konservasi bisa mendatangkan uang. Kalau tidak..." Ia merapikan kemejanya. "Saya yakin warga akan memilih tawaran saya."

Ia pergi bersama rombongannya. Mobil-mobil hitamnya melaju meninggalkan balai desa, meninggalkan warga yang terbelah antara harapan dan kekhawatiran.

11. Rapat Tim

Malam harinya, markas Tim Detektif—yang kini sudah menjadi kantor konservasi modern dengan dinding bambu dan peralatan canggih—penuh sesak. Raka, Wati, Bejo, Guntur, Pak Jarwo, dan beberapa warga yang pro konservasi duduk melingkar.

Raka membuka rapat. "Kita punya satu minggu. Satu minggu untuk membuktikan bahwa konservasi lebih menguntungkan daripada resor."

"Itu tidak mudah," kata Guntur. "Sugiarto punya uang. Punya pengaruh. Dia sudah mulai bagi-bagi amplop ke warga."

"Amplop?" Wati terkejut.

"Iya. Ada yang dapat 500 ribu, ada yang dapat 1 juta. Cuma untuk tanda tangan dukungan. Dani dan yang lain sudah tanda tangan."

Bejo mengepalkan tangan. "Buset! Itu namanya sogok!"

"Kita nggak bisa buktikan, Jo. Mereka bilang itu sumbangan."

Pak Jarwo menghela napas. "Ini berat. Tapi kita nggak bisa nyerah."

Wati membuka laptopnya. "Aku punya data. Penelitian dari kampus menunjukkan, ekowisata berbasis konservasi bisa menghasilkan pendapatan 2-3 kali lipat dari wisata biasa dalam jangka panjang. Tapi butuh waktu. 3-5 tahun untuk mulai stabil."

"Warga butuh uang sekarang," kata Guntur.

Raka berdiri, berjalan ke papan tulis. Ia menggambar sketsa sederhana: hutan, sungai, desa, dan tanda panah yang menghubungkan semuanya.

"Kita buat proyek percontohan. Ekowisata skala kecil. Libatkan warga. Tunjukkan hasilnya dalam waktu singkat."

"Tapi satu minggu terlalu pendek," kata Bejo.

"Kita kerjakan secepat mungkin. Guntur, kamu urus perizinan dan koordinasi dengan warga yang mau ikut. Pak Jarwo, bantu pilih jalur ekowisata yang aman dan menarik. Wati, siapkan program edukasi untuk turis. Bejo, siapkan konsep kuliner lokal. Aku akan urus pemasaran dan jaringan investor."

Mereka mengangguk. Ini berat, tapi harus dilakukan.

12. Pertemuan dengan Kiara

Sebelum tidur, Raka pergi ke Lembah Harapan sendirian. Ia ingin berbicara dengan Kiara. Entah kenapa, ia merasa Kiara bisa mengerti.

Lembah Harapan masih sama seperti dulu. Sungai jernih mengalir, pepohonan rindang, bunga-bunga liar bermekaran. Di tepi sungai, Kiara duduk sendirian. Kiano tidak ada. Mungkin sudah terlalu lelah untuk keluar malam.

Raka duduk di samping Kiara.

"Kiara, kita dalam masalah. Ada orang yang mau bangun resor di pinggir hutan. Kalau itu terjadi, rumah kalian akan terganggu."

Kiara menatapnya. Matanya tajam, seperti bertanya.

"Aku akan berjuang. Janji. Tapi aku butuh kalian. Butuh Kiano, butuh kamu."

Kiara mendekat, menyandarkan kepalanya di pundak Raka. Seperti Kiano dulu. Seperti Kai Muda dulu. Seperti Kai dulu.

Raka mengelus kepala Kiara. Bulunya halus, masih muda, masih kuat.

"Kita akan menang, Kiara. Kita akan menang."

Dari balik semak, Kiano keluar perlahan. Ia berjalan mendekat, lalu berbaring di samping Raka. Matanya menatap Kiara dengan penuh kasih.

"Aku tenang," katanya lewat bahasa tubuh. "Kiara akan baik-baik saja. Karena kalian di sini."

Raka memegang kepala Kiano dan Kiara bergantian. "Kita akan jaga hutan ini. Untuk kalian. Untuk generasi kalian. Untuk anak cucu kita."

Kiano menggerakkan telinganya, setuju. Kiara menirukan.

Malam itu, di Lembah Harapan, di bawah sinar bulan purnama yang mulai meninggi, generasi baru bersatu. Kiano yang tua, Kiara yang muda, dan Raka yang kembali. Mereka akan berjuang. Untuk hutan, untuk kancil, untuk Bojong Sari. Selamanya.


BERSAMBUNG KE EPISODE 2: ANCAMAN INVESTOR


 

0 komentar:

Posting Komentar