Novelet
Serial Abunawas Edisi I: Kecerdikan Akal dan Logika
Episode
4: Timbangan Keadilan yang Tak Pernah Seimbang
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG: PERKARA YANG MEMBINGUNGKAN
Di penghujung musim semi, ketika angin sejuk dari
pegunungan utara mulai berhembus melintasi lembah Sungai Tigris, membawa aroma
bunga almond dan tanah basah yang baru diguyur hujan, istana Baghdad yang megah
itu kedatangan tamu yang tidak biasa. Bukan utusan dari negeri seberang dengan
membawa peti-peti emas dan permata. Bukan panglima perang yang baru pulang dari
medan pertempuran dengan membawa kabar kemenangan. Bukan pula para penyair yang
ingin membacakan syair-syair pujian untuk Baginda Raja. Tamu yang datang kali
ini adalah dua orang rakyat biasa, berpakaian sederhana, dengan wajah yang
sama-sama tegang, sama-sama letih, sama-sama dipenuhi oleh sesuatu yang lebih
berat dari beban apa pun yang pernah mereka pikul seumur hidup: sebuah sengketa
yang tidak kunjung menemukan ujung penyelesaian.
Yang pertama adalah seorang lelaki paruh baya dengan tubuh
kurus, janggut tipis yang sudah memutih di beberapa bagian, mata sayu yang
menunjukkan banyak malam tanpa tidur, dan tangan kasar yang penuh kapalan—tanda
bahwa ia adalah seorang pekerja keras, mungkin petani, mungkin pedagang kecil,
mungkin pengrajin yang setiap hari membanting tulang untuk menghidupi
keluarganya. Ia datang dengan pakaian yang sudah lusuh di ujung lengan dan
kerahnya, tetapi masih bersih dan terawat, seperti orang yang berusaha menjaga
harga dirinya meskipun keadaan tidak selalu berpihak padanya. Namanya, menurut
catatan yang disampaikan oleh penjaga gerbang, adalah Umar bin Salim, seorang
pedagang kurma dari pasar kecil di pinggiran Baghdad.
Yang kedua adalah seorang lelaki yang lebih muda, tubuhnya
lebih gemuk, wajahnya lebih merah, matanya lebih tajam, dan senyumnya—senyum
yang ia coba tunjukkan kepada setiap orang yang ia temui—terlalu cepat, terlalu
lebar, terlalu… dipaksakan. Ia datang dengan pakaian yang lebih bagus, meskipun
bukan dari sutra atau bahan mahal, tetapi terlihat baru, mungkin baru dibeli
untuk acara ini, mungkin baru dipinjam dari tetangga, mungkin baru dicuri—tidak
ada yang tahu. Namanya adalah Hasan bin Ali, seorang pedagang tekstil kecil
yang kiosnya tidak jauh dari kios Umar di pasar yang sama.
Perkara yang mereka bawa ke istana, perkara yang telah
membuat para hakim di pengadilan distrik saling berdebat tanpa hasil, perkara
yang telah membuat tetangga-tetangga di pasar terbelah menjadi dua kubu,
perkara yang telah membuat para penjaga pasar menggeleng-gelengkan kepala
dengan kebingungan yang tulus, adalah sebuah kantong emas.
Bukan kantong emas biasa. Kantong itu terbuat dari kulit
domba yang dijahit dengan benang sutra berwarna merah, di bagian depannya
dihiasi dengan sulaman kecil berbentuk bulan sabit yang konon merupakan ciri
khas seorang saudagar kaya dari Basra yang meninggal beberapa tahun lalu tanpa
meninggalkan ahli waris. Kantong itu berisi lima puluh keping emas—bukan jumlah
yang sangat besar untuk ukuran istana, tetapi jumlah yang sangat besar untuk
ukuran rakyat biasa. Lima puluh keping emas bisa membeli sebuah rumah kecil di
pinggiran Baghdad, bisa menghidupi sebuah keluarga selama dua tahun, bisa
menjadi modal untuk memulai usaha baru, bisa mengubah nasib seseorang
sepenuhnya.
Dan kantong emas itu, menurut pengakuan kedua belah pihak,
ditemukan di pasar. Ditemukan di lorong sempit antara kios Umar dan kios Hasan.
Ditemukan pada hari Jumat, ketika pasar sedang paling ramai. Ditemukan oleh
keduanya secara bersamaan—atau setidaknya itulah yang mereka klaim.
Umar bersumpah bahwa kantong emas itu adalah miliknya,
bahwa ia menemukannya terlebih dahulu, bahwa tangannya sudah menyentuh kantong
itu sebelum Hasan sempat mendekat, bahwa emas-emas itu adalah hasil tabungannya
selama sepuluh tahun, bahwa ia sengaja menyimpannya dalam kantong kulit domba
berjahit benang sutra merah yang ia beli dari seorang saudagar tua di Basra,
bahwa sulaman bulan sabit itu adalah lambang keluarganya, bahwa ia mengenali kantong
itu karena ia sendiri yang menjahit benang merah di bagian ujungnya setelah
benang asli putus, bahwa ia bisa menunjukkan di mana letak jahitannya yang
tidak sempurna karena tangannya yang gemetar ketika itu terjadi.
Hasan bersumpah bahwa kantong emas itu adalah miliknya,
bahwa ia menemukannya terlebih dahulu, bahwa matanya sudah melihat kantong itu
sebelum Umar sempat membungkuk, bahwa emas-emas itu adalah hasil warisan dari
pamannya yang meninggal di Basra, bahwa pamannya adalah seorang saudagar kaya
yang terkenal dengan kantong kulit domba berjahit benang sutra merah dengan
sulaman bulan sabit, bahwa ia sendiri yang meminta pamannya untuk menambahkan
jahitan benang merah di bagian ujung karena benang asli sering putus, bahwa ia
bisa menunjukkan di mana letak jahitan itu karena ia sendiri yang dulu duduk di
samping pamannya ketika seorang penjahit tua—yang sudah meninggal
sekarang—mengerjakannya.
Kedua cerita itu sama-sama masuk akal. Kedua bukti itu
sama-sama kuat. Kedua saksi yang mereka hadirkan—tetangga-tetangga di pasar
yang melihat mereka bertengkar di lorong sempit itu—memberikan kesaksian yang
saling bertentangan. Ada yang mengatakan bahwa Umar-lah yang pertama kali
membungkuk. Ada yang mengatakan bahwa Hasan-lah yang pertama kali berteriak. Ada
yang mengatakan bahwa mereka membungkuk bersamaan. Ada yang mengatakan bahwa
mereka tidak melihat apa-apa karena terlalu sibuk melayani pembeli.
Para hakim di pengadilan distrik telah menghabiskan waktu
berminggu-minggu untuk memeriksa perkara ini. Mereka telah menimbang barang
bukti, memeriksa saksi, membandingkan kesaksian, mencari kelemahan dalam cerita
kedua belah pihak. Tidak ada yang ditemukan. Tidak ada kelemahan. Tidak ada
kontradiksi. Tidak ada kebohongan yang terdeteksi. Kedua orang itu bersumpah
dengan penuh keyakinan, dengan mata yang jujur, dengan suara yang tidak
bergetar. Mereka berdua yakin bahwa kantong emas itu milik mereka. Mereka
berdua bersedia bersumpah di atas Al-Qur'an. Mereka berdua bersedia menjalani
ujian cobaan—dicelupkan ke dalam sungai, disuruh memegang besi panas, apa pun
yang diminta.
Para hakim bingung. Mereka tidak pernah menghadapi perkara
seperti ini. Biasanya, dalam sengketa kepemilikan, selalu ada kelemahan di
salah satu pihak. Ada saksi yang kontradiksi. Ada bukti yang tidak konsisten.
Ada cerita yang berubah-ubah. Ada tanda-tanda kebohongan yang bisa dideteksi.
Tapi tidak dalam perkara ini. Kedua orang ini, dengan cara yang sangat
membingungkan, memiliki cerita yang sama-sama kuat, bukti yang sama-sama
meyakinkan, keyakinan yang sama-sama dalam.
Setelah berminggu-minggu kebingungan, setelah berhari-hari
membolak-balik perkara tanpa menemukan titik terang, setelah bermalam-malam
begadang untuk mencari celah yang tidak pernah ditemukan, para hakim akhirnya
mengambil keputusan yang tidak populer: mereka mengirim perkara ini ke istana.
Mereka mengirim kedua orang yang bersengketa, kantong emas yang menjadi
rebutan, semua saksi yang bisa dihadirkan, semua bukti yang bisa dikumpulkan,
semua catatan persidangan yang telah berlangsung—semuanya dikirim ke istana, ke
hadapan Baginda Raja Harun Al-Rasyid sendiri, dengan sebuah catatan pendek yang
ditulis dengan tangan gemetar oleh ketua majelis hakim: "Ya
Baginda, kami telah berusaha sekuat tenaga, tetapi keadilan di perkara ini berada
di luar jangkauan kami. Kami menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan
Baginda."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menerima laporan itu dengan
ekspresi yang sulit dibaca. Ia membaca catatan dari para hakim, membaca berkas
perkara yang tebal, membaca kesaksian-kesaksian yang saling bertentangan,
membaca bukti-bukti yang sama-sama kuat. Ia menatap kedua orang yang berlutut
di hadapannya dengan mata yang tajam. Ia mendengarkan mereka mengulangi sumpah
dan keyakinan mereka dengan suara yang sama-sama mantap. Ia mengamati gerak-gerik
mereka, ekspresi mereka, nada suara mereka, bahasa tubuh mereka—semua yang bisa
ia amati dari singgasananya yang tinggi.
Dan setelah semua itu, ia sampai pada kesimpulan yang sama
dengan para hakim: ia tidak bisa memutuskan.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid, Amirul Mukminin, Pemimpin
Orang-Orang Beriman, yang telah memerintah kekhalifahan terbesar di dunia
selama bertahun-tahun, yang telah memutuskan ribuan perkara, yang telah
menghadapi berbagai macam intrik dan kebohongan dari para pejabatnya sendiri,
tidak bisa memutuskan siapa pemilik sebenarnya dari sebuah kantong emas yang
ditemukan di lorong sempit antara dua kios di pasar kecil di pinggiran Baghdad.
Ia tidak malu mengakuinya. Karena ia tahu bahwa keadilan
bukan tentang kekuasaan. Keadilan bukan tentang seberapa tinggi singgasananya
atau seberapa luas kekhalifahannya. Keadilan adalah tentang kebenaran. Dan
kebenaran, kadang-kadang, bersembunyi di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh
kekuasaan. Kebenaran, kadang-kadang, hanya bisa ditemukan oleh orang-orang yang
tidak pernah belajar tentang hukum, tetapi belajar tentang kehidupan.
Kebenaran, kadang-kadang, hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang tidak
terbiasa melihat dunia dari ketinggian singgasana, tetapi dari ketinggian…
sebuah kedai pinggiran.
Maka, pada suatu pagi, ketika sinar matahari mulai masuk
melalui jendela-jendela istana yang menghadap ke timur, menciptakan pola-pola
cahaya keemasan di lantai marmer putih, Harun Al-Rasyid memanggil Jafar,
Wazirnya yang setia, yang sudah berdiri di sampingnya sejak pagi dengan wajah
yang juga bingung, juga gelisah, juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Jafar," kata Baginda Raja, suaranya tenang
tetapi ada nada yang tidak biasa di dalamnya, nada yang sudah sangat dikenali
oleh Jafar—nada yang berarti bahwa Baginda Raja sedang memikirkan seseorang
yang sama dengan yang selalu ia pikirkan ketika menghadapi masalah yang tidak
bisa dipecahkan oleh akal biasa.
"Baginda?" Jafar mendekat, setengah tahu apa yang
akan keluar dari mulut Baginda Raja, setengah berharap bahwa kali ini mungkin
berbeda, mungkin Baginda Raja akan memanggil seorang hakim dari negeri
seberang, atau seorang ahli hukum dari Universitas Al-Azhar di Mesir, atau
seorang tabib yang pandai membaca karakter manusia dari urat nadi dan warna
kulit.
"Panggil Abu Nawas," kata Harun Al-Rasyid.
Jafar menghela napas. Tidak berbeda. Tidak pernah berbeda.
Setiap kali ada masalah yang tidak bisa dipecahkan, selalu Abu Nawas. Mahkota
hilang? Abu Nawas. Cermin retak? Abu Nawas. Pencuri bayangan di pasar malam?
Abu Nawas. Dan sekarang, sengketa kantong emas yang membuat para hakim terbaik
di Baghdad menyerah? Abu Nawas lagi.
"Baginda," kata Jafar, mencoba untuk terlihat
tidak terlalu putus asa, "apakah tidak ada hakim lain yang bisa—"
"Jafar," potong Baginda Raja Harun Al-Rasyid
dengan suara yang masih tenang tetapi tidak bisa dibantah, "kita sudah
memiliki hakim-hakim terbaik. Mereka sudah berusaha. Mereka sudah menyerah.
Sekarang, kita butuh sesuatu yang tidak dimiliki oleh hakim mana pun di dunia
ini."
"Apa, Baginda?"
"Kecerdikan. Akal yang tidak terikat oleh hukum.
Logika yang tidak terbelenggu oleh aturan. Dan yang paling penting, Jafar,
kemampuan untuk melihat kebenaran di tempat yang tidak pernah dilihat oleh
orang lain. Kemampuan untuk… tertawa di tengah keseriusan. Karena
kadang-kadang, Jafar, kebenaran yang paling tersembunyi justru muncul ketika
manusia lengah. Dan manusia paling lengah ketika… ia tertawa."
Jafar tidak bisa membantah. Ia hanya bisa mengangguk,
membungkuk, dan berjalan keluar untuk mengirim utusan ke kedai-kedai di
pinggiran Baghdad, ke tempat-tempat di mana Abu Nawas biasanya bersembunyi dari
urusan dunia, ke tempat-tempat di mana seorang pelawak yang bijaksana sedang
menikmati kurma dan air tajin sambil menunggu panggilan berikutnya—karena ia
sudah tahu bahwa panggilan itu akan datang. Ia selalu tahu.
BAB 1: DUA KEBENARAN YANG BERTABRAKAN
Abu Nawas datang ke istana dengan jubah lusuh yang sama,
sandal aus yang sama, sorban yang dililit dengan malas yang sama, dan senyum
misterius yang sama. Ia tidak terburu-buru. Ia tidak tergesa-gesa. Ia berjalan
dari kedai pinggiran ke gerbang istana dengan langkah yang santai, seperti
orang yang sedang berjalan-jalan di taman, bukan seperti orang yang dipanggil
oleh raja terkuat di dunia untuk memecahkan masalah yang tidak bisa dipecahkan
oleh para hakim terbaik.
Di tangannya, ia membawa sekantong kecil kurma—kurma
Sukkari, bukan dari kebun Baginda Raja kali ini, karena jatah mingguannya sudah
habis tiga hari lalu dan ia belum sempat meminta tambahan. Kurma itu ia beli
dari pedagang kurma di dekat kedainya, dengan harga yang cukup mahal untuk
ukuran kantongnya, tetapi ia tidak keberatan. Kurma, baginya, adalah investasi.
Kurma adalah bahan bakar bagi otaknya. Kurma adalah senjata paling ampuh dalam
perang melawan kebingungan. Tanpa kurma, pikirannya tidak akan bekerja. Dengan
kurma, tidak ada teka-teki yang tidak bisa dipecahkan.
Di ruang pertemuan pribadi Baginda Raja, Harun Al-Rasyid
sudah menunggu dengan jubah pagi berwarna putih, tanpa mahkota, tanpa
perhiasan, hanya dengan sorban sederhana yang melilit kepalanya. Di hadapannya,
di lantai marmer putih, berlutut dua orang lelaki dengan pakaian sederhana,
dengan wajah yang sama-sama tegang, sama-sama letih, sama-sama dipenuhi oleh
sesuatu yang lebih berat dari beban apa pun yang pernah mereka pikul. Di antara
mereka, di atas bantal beludru merah yang sengaja disediakan, terletak sebuah
kantong kulit domba berjahit benang sutra merah, dengan sulaman bulan sabit di
bagian depannya, mengilap di bawah cahaya matahari pagi yang masuk melalui
jendela.
Di samping mereka, berdiri beberapa orang
saksi—tetangga-tetangga di pasar yang kebetulan melihat kejadian itu,
masing-masing dengan versi cerita yang berbeda, masing-masing dengan keyakinan
yang sama kuatnya, masing-masing dengan kebingungan yang sama dalamnya. Di
belakang mereka, duduk beberapa orang hakim yang menyerahkan perkara ini ke
istana, dengan wajah yang masih merah karena malu, dengan mata yang masih sayu
karena begadang berminggu-minggu, dengan tangan yang masih gemetar karena belum
pernah gagal seperti ini sebelumnya.
Abu Nawas masuk dengan langkah santai, tidak berlutut,
tidak bersujud, hanya membungkuk sedikit sebagai tanda hormat—sebuah keberanian
yang sudah menjadi ciri khasnya dan sudah dimaafkan oleh Baginda Raja sejak
lama. Ia duduk bersila di lantai marmer, di samping bantal beludru merah yang
berisi kantong emas itu, mengambil kurma dari kantongnya, dan memasukkannya ke
mulut dengan nikmat.
"Baginda," katanya setelah menelan kurma pertama,
"saya dengar ada perkara yang membingungkan. Dua orang. Satu kantong emas.
Dua kebenaran yang sama kuat. Dua keyakinan yang sama dalam. Dua sumpah yang
sama mantap. Dan para hakim, yang telah memeriksa perkara ini berminggu-minggu,
tidak bisa memutuskan siapa yang benar. Benarkah itu?"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Benar, Abu
Nawas. Aku sendiri sudah mendengarkan mereka. Aku sendiri sudah membaca semua
berkas. Aku sendiri sudah memeriksa semua bukti. Dan aku… aku juga tidak bisa
memutuskan. Kebenaran di perkara ini, Abu Nawas, memiliki dua wajah. Dua wajah
yang sama persis. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang bisa membedakan."
Abu Nawas mengambil kurma kedua, memutarnya di antara
jari-jarinya, menatapnya dengan saksama, seperti seorang ahli permata yang
sedang memeriksa keaslian berlian.
"Baginda," katanya, "kebenaran tidak
memiliki dua wajah. Kebenaran hanya memiliki satu wajah. Tapi kadang-kadang,
kebenaran itu bersembunyi. Bersembunyi di balik keyakinan. Bersembunyi di balik
emosi. Bersembunyi di balik… ketakutan. Dan ketika kebenaran bersembunyi, yang
terlihat adalah bayangannya. Dua bayangan. Atau lebih. Tapi bayangan, Baginda,
bukanlah kebenaran. Bayangan hanyalah… ilusi."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan,
lalu menoleh ke arah kedua lelaki yang berlutut di hadapannya. Matanya bergerak
dari satu ke yang lain, perlahan, tenang, tanpa terburu-buru, seperti mata
seorang pelukis yang sedang mengamati modelnya sebelum mulai melukis.
"Tuan Umar," katanya kepada lelaki yang lebih
tua, yang lebih kurus, yang matanya lebih sayu, yang tangannya lebih kasar.
"Tuan adalah pedagang kurma, katanya? Di pasar kecil di pinggiran
Baghdad?"
Umar mengangguk, suaranya serak karena kelelahan dan kurang
tidur. "Benar, Tuan. Aku berjualan kurma di pasar itu sudah lima belas
tahun. Sejak anakku masih kecil. Sekarang ia sudah punya anak sendiri."
"Lima belas tahun," Abu Nawas mengulangi,
suaranya penuh kekaguman. "Lama sekali. Tuan pasti sudah mengenal pasar
itu seperti telapak tangan Tuan sendiri. Setiap lorong, setiap kios, setiap
pedagang, setiap pembeli yang datang. Lima belas tahun, Tuan Umar. Itu waktu
yang panjang. Waktu yang cukup untuk… mengubah seseorang."
Ia berhenti sejenak, mengambil kurma lain, memasukkannya ke
mulut.
"Dan Tuan Hasan," katanya kepada lelaki yang
lebih muda, yang lebih gemuk, yang matanya lebih tajam, yang senyumnya terlalu
cepat. "Tuan adalah pedagang tekstil, katanya? Juga di pasar yang sama?
Berapa lama Tuan berjualan di sana?"
Hasan mengangkat kepalanya, mencoba tersenyum, tetapi
senyumnya tidak sampai ke matanya. "Tiga tahun, Tuan. Aku baru tiga tahun
berjualan di pasar itu. Sebelumnya aku berkeliling, dari pasar ke pasar, dari
kota ke kota. Tapi tiga tahun lalu aku memutuskan untuk menetap."
"Tiga tahun," Abu Nawas mengulangi, suaranya
masih penuh kekaguman, tetapi ada nada lain di dalamnya yang sulit
diidentifikasi. "Cukup lama untuk mengenal tetangga-tetangga. Cukup lama
untuk… membuat kenangan. Cukup lama untuk… merindukan sesuatu."
Ia berdiri, berjalan perlahan mengelilingi kedua lelaki itu,
seperti singa yang sedang mengitari mangsanya sebelum menerkam—tetapi bukan
dengan niat menerkam, hanya dengan niat mengamati.
"Sekarang," katanya, "saya ingin mendengar
cerita Tuan berdua. Langsung dari mulut Tuan. Bukan dari berkas. Bukan dari
catatan hakim. Bukan dari kesaksian orang lain. Tapi dari Tuan sendiri.
Ceritakan semuanya. Dari awal. Dari Tuan melihat kantong emas itu. Sampai Tuan
berdua bertengkar. Sampai Tuan dibawa ke pengadilan. Sampai Tuan di sini, di
hadapan Baginda Raja. Ceritakan semuanya. Jangan disembunyikan. Jangan
ditambahi. Jangan dikurangi. Ceritakan… seperti Tuan bercerita kepada teman
lama di kedai kopi. Ceritakan… seperti Tuan bercerita kepada diri Tuan sendiri
di malam hari, ketika tidak ada yang mendengar."
Umar berbicara lebih dulu. Suaranya berat, lambat, seperti
aliran sungai yang tidak pernah terburu-buru. Matanya sayu, menerawang ke suatu
tempat di kejauhan, ke suatu waktu di masa lalu yang tidak akan pernah kembali.
"Tuan, hari itu hari Jumat. Pasar sedang paling ramai.
Aku sedang melayani pembeli, seorang wanita tua yang selalu datang setiap pekan
untuk membeli kurma untuk anak-anaknya. Ia banyak bertanya. Kurma dari mana?
Manisnya bagaimana? Harganya berapa? Aku sibuk menjelaskan, sibuk menimbang,
sibuk menerima uang dan memberi kembalian. Di sebelah kiosku, Hasan juga sedang
sibuk. Ada beberapa pembeli yang melihat-lihat kainnya. Tidak terlalu ramai,
tetapi cukup untuk membuatnya sibuk."
Ia berhenti, menelan ludah, melanjutkan.
"Ketika pembeli itu pergi, aku melihat sesuatu di
lorong antara kiosku dan kios Hasan. Sebuah kantong. Kantong kulit domba,
dengan benang sutra merah, dengan sulaman bulan sabit. Aku langsung tahu itu
kantong pamanku. Pamanku yang meninggal di Basra. Pamanku yang dulu memberiku
kantong ini sebelum ia meninggal. Pamanku yang selalu mengatakan, 'Simpan
kantong ini, Umar. Kantong ini akan membawa keberuntungan.'"
Ia mengusap matanya dengan tangan kasar yang penuh kapalan.
"Aku membungkuk mengambilnya. Tanganku sudah menyentuh
kantong itu ketika Hasan berteriak dari belakang, 'Itu milikku! Aku yang
melihatnya lebih dulu!' Kami bertengkar. Kami saling tarik. Kami saling klaim.
Orang-orang mulai berkerumun. Mereka melihat, mereka mendengar, mereka tidak
tahu siapa yang benar. Mereka hanya melihat dua orang yang saling berteriak,
saling menuduh, saling mempertahankan sesuatu yang sama-sama mereka
yakini."
Ia menunduk, suaranya nyaris berbisik.
"Aku tahu ini milikku, Tuan. Aku tahu. Karena aku
sendiri yang menjahit benang merah di bagian ujungnya. Benang asli putus
beberapa tahun lalu. Aku menjahitnya sendiri, dengan tangan gemetar, karena
saat itu aku sedang sakit. Jahitanku tidak rapi. Tidak seperti jahitan
penjahit. Ada yang longgar, ada yang terlalu kencang. Aku bisa menunjukkan di
mana letaknya. Aku bisa membuktikannya."
Hasan berbicara setelah Umar selesai. Suaranya cepat,
tajam, seperti aliran sungai yang deras setelah hujan. Matanya menyala, tidak
sayu, tidak menerawang, tetapi fokus, seperti mata seorang pejuang yang sedang
mempersiapkan diri untuk pertempuran.
"Tuan, jangan percaya semua yang ia katakan. Ia bisa
saja tahu tentang jahitan itu karena ia melihat kantong itu di kiosku. Ia bisa
saja melihatnya ketika ia lewat. Ia bisa saja mengintip ketika aku tidak ada.
Ia bisa saja… mencuri."
Umar mendongak, matanya merah. "Aku tidak mencuri! Aku
tidak pernah mencuri! Aku sudah lima belas tahun berdagang di pasar itu, tidak
pernah ada yang menuduhku mencuri!"
Hasan tidak menggubris. Ia terus berbicara, suaranya
semakin cepat.
"Tuan, aku yang menemukan kantong itu. Aku yang
melihatnya pertama kali. Aku sedang melayani pembeli, seorang lelaki yang
membeli kain untuk baju pernikahan anaknya. Di sela-sela melayani, aku melihat
kantong itu tergeletak di lorong. Aku langsung tahu itu kantong pamanku. Pamanku
yang meninggal di Basra. Pamanku yang memberiku kantong ini sebagai
kenang-kenangan sebelum ia pergi. Pamanku yang selalu berkata, 'Simpan kantong
ini, Hasan. Ini adalah satu-satunya warisan yang bisa kuberikan padamu.'"
Suaranya bergetar, tetapi ia melanjutkan.
"Aku hendak mengambilnya ketika Umar tiba-tiba
membungkuk dan mengambilnya lebih dulu. Aku berteriak, 'Itu milikku!' Ia tidak
mau mengembalikan. Kami bertengkar. Kami saling tarik. Orang-orang berkerumun.
Mereka tidak tahu siapa yang benar. Mereka hanya melihat dua orang yang saling
berteriak. Tapi aku tahu ini milikku, Tuan. Aku tahu. Karena aku sendiri yang
duduk di samping pamanku ketika kantong ini dibuat. Aku melihat penjahitnya,
seorang lelaki tua dengan mata rabun, menjahit benang sutra merah itu satu per
satu. Aku ingat bagaimana ia memasukkan jarum, bagaimana ia menarik benang,
bagaimana ia mengikat ujungnya. Aku bisa menunjukkan di mana letak jahitan yang
rapi, yang dibuat oleh penjahit profesional, bukan oleh pedagang kurma yang
tangannya gemetar karena sakit."
Ia menatap Abu Nawas dengan mata yang menantang.
"Tuan, aku tidak akan berbohong di hadapan Baginda
Raja. Aku tidak akan bersumpah palsu. Kantong ini milikku. Warisan pamanku.
Satu-satunya yang ia tinggalkan untukku."
Abu Nawas tidak menjawab segera. Ia berdiri di antara kedua
lelaki itu, di antara dua kebenaran yang bertabrakan, di antara dua keyakinan
yang sama kuat, di antara dua sumpah yang sama mantap. Ia mengambil kurma dari
kantongnya, memasukkannya ke mulut, mengunyah perlahan, menikmati setiap serat,
setiap butir gula, setiap lapisan rasa yang tersembunyi di balik manisnya.
"Baginda," katanya akhirnya, menoleh ke arah Baginda
Raja Harun Al-Rasyid yang duduk di singgasananya dengan wajah yang tidak bisa
dibaca, "saya dengar kedua cerita ini. Saya dengar kedua keyakinan ini.
Saya dengar kedua sumpah ini. Dan saya sampai pada satu kesimpulan."
"Kesimpulan apa?" tanya Baginda Raja Harun
Al-Rasyid, suaranya tenang tetapi ada nada penasaran di dalamnya.
Abu Nawas tersenyum. "Bahwa keadilan tidak selalu bisa
ditemukan di dalam perkataan. Bahwa kebenaran tidak selalu bisa didengar dengan
telinga. Bahwa kadang-kadang, kita harus mencari di tempat yang tidak pernah
kita cari sebelumnya. Di tempat yang… tidak terduga."
Ia berjalan perlahan menuju bantal beludru merah yang
berisi kantong emas itu, mengambilnya dengan hati-hati, memutarnya di
tangannya, mengamati setiap jahitan, setiap sulaman, setiap detail yang mungkin
bisa memberikan petunjuk.
"Tuan Umar, Tuan Hasan," katanya, "saya akan
meminta izin Baginda Raja untuk membawa kantong ini. Hanya sebentar. Hanya
untuk… memeriksanya. Di tempat yang lebih tenang. Di tempat yang lebih jujur.
Di tempat yang tidak ada yang melihat. Di tempat yang… tidak ada yang
mendengar."
Ia menoleh ke arah Baginda Raja.
"Baginda, izinkan saya membawa kantong ini ke ruang
lain. Saya janji, tidak akan lama. Saya hanya perlu… berbicara dengannya.
Kantong ini, Baginda, mungkin bisa memberikan jawaban yang tidak bisa diberikan
oleh manusia."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat alis. "Kau
ingin berbicara dengan kantong emas?"
"Bukan dengan kantong emasnya, Baginda. Tapi dengan…
jahitannya. Dengan benangnya. Dengan… kebenaran yang tersembunyi di dalamnya.
Karena kadang-kadang, Baginda, benda mati bisa berbicara lebih jujur daripada
manusia. Benda mati tidak punya alasan untuk berbohong. Benda mati tidak punya
kepentingan untuk menipu. Benda mati hanya… ada. Dan dari keberadaannya, kita
bisa membaca kebenaran."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid terdiam sejenak. Kemudian ia
mengangguk.
"Bawa, Abu Nawas. Tapi jangan lama. Aku ingin perkara
ini selesai hari ini. Sebelum matahari terbenam."
BAB 2: TIMBANGAN YANG MENYESATKAN
Abu Nawas membawa kantong emas itu ke ruang kecil di dekat
perpustakaan istana, sebuah ruangan yang jarang digunakan, dengan dinding bata
merah, lantai marmer yang sudah retak di beberapa tempat, dan jendela kecil
yang menghadap ke taman dalam. Ia duduk di kursi kayu yang sudah goyang,
meletakkan kantong itu di atas meja kecil di hadapannya, dan mengamatinya
dengan saksama.
Ia tidak membuka kantong itu. Ia tidak menghitung emas di
dalamnya. Ia tidak menimbangnya. Ia tidak melakukan hal-hal yang akan dilakukan
oleh para hakim—memeriksa berat emas, membandingkan dengan standar, mencari
tanda-tanda kepemilikan yang bisa diidentifikasi. Ia melakukan sesuatu yang
lebih sederhana. Sesuatu yang lebih mendasar. Sesuatu yang tidak pernah
terpikirkan oleh para hakim, karena mereka terlalu sibuk dengan hukum, terlalu
sibuk dengan bukti, terlalu sibuk dengan prosedur.
Ia mengamati jahitannya.
Dengan mata yang teliti, dengan jari yang lembut, dengan
kesabaran yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang, ia memeriksa setiap
benang, setiap simpul, setiap jahitan yang menyatukan kantong kulit domba itu.
Ia melihat benang sutra merah yang dijahit di bagian ujung, yang menjadi pusat
perdebatan kedua belah pihak. Ia melihat jahitan yang rapi di satu sisi, dan
jahitan yang tidak rapi di sisi lain. Ia melihat bahwa jahitan yang rapi dibuat
oleh tangan yang terampil, tangan seorang penjahit profesional yang sudah
bertahun-tahun bekerja dengan jarum dan benang. Ia melihat bahwa jahitan yang
tidak rapi dibuat oleh tangan yang gemetar, tangan seorang yang mungkin sedang
sakit, atau mungkin sedang tidak fokus, atau mungkin sedang… tidak terbiasa
dengan pekerjaan menjahit.
Ia melihat bahwa kedua jenis jahitan itu ada di kantong
yang sama. Jahitan rapi di bagian atas, jahitan tidak rapi di bagian bawah.
Keduanya menggunakan benang yang sama, warna yang sama, ketebalan yang sama.
Keduanya tampak asli, bukan tambahan, bukan palsu, bukan rekayasa. Keduanya
adalah bagian dari kantong itu.
Abu Nawas tersenyum. Ia mengambil kurma dari kantongnya,
memasukkannya ke mulut, mengunyah perlahan.
"Kantong ini," gumamnya, "memiliki dua
cerita. Cerita dari penjahit profesional yang membuatnya dengan rapi. Dan
cerita dari seseorang yang memperbaikinya dengan tangan gemetar. Dua cerita.
Dua jahitan. Dua… kebenaran."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap taman dalam yang
hijau dengan air mancurnya yang mengalir tenang. Di kejauhan, ia bisa melihat
dua orang lelaki yang sedang menunggu di ruang pertemuan, duduk di kursi yang
disediakan, dengan wajah yang sama-sama tegang, sama-sama letih, sama-sama
penuh harap.
"Tapi kebenaran yang mana?" gumamnya.
"Kebenaran Umar yang mengatakan bahwa ia menjahit sendiri bagian yang
putus? Atau kebenaran Hasan yang mengatakan bahwa ia melihat penjahitnya
menjahit kantong itu dari awal? Keduanya bisa benar. Keduanya bisa salah.
Keduanya bisa… jujur. Tapi kejujuran, wahai kantong emas, tidak selalu sama
dengan kebenaran. Seseorang bisa jujur tentang apa yang ia yakini, tetapi apa
yang ia yakini belum tentu benar. Seseorang bisa bersumpah dengan penuh
keyakinan, tetapi keyakinannya bisa keliru. Itulah yang membuat perkara ini
sulit. Bukan karena ada yang berbohong. Tapi karena… mungkin… keduanya jujur.
Keduanya yakin. Keduanya… tidak tahu bahwa mereka bisa salah."
Ia kembali ke meja, mengambil kantong itu, memasukkannya ke
dalam saku jubahnya yang lapang.
"Sudah waktunya untuk ujian," gumamnya.
"Ujian yang tidak akan diikuti oleh orang yang benar-benar yakin. Ujian
yang hanya akan diikuti oleh orang yang… ragu. Dan di antara dua keyakinan yang
sama kuat, ragu adalah… petunjuk."
BAB 3: LOGIKA DI BALIK EMOSI
Ketika Abu Nawas kembali ke ruang pertemuan pribadi Baginda
Raja, suasana sudah berubah. Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di
singgasananya dengan jari-jari yang mengetuk-ngetuk lengan singgasana dengan
irama yang lambat—tanda bahwa kesabarannya mulai menipis. Umar dan Hasan duduk
di kursi yang disediakan, dengan wajah yang semakin tegang, semakin letih,
semakin putus asa. Para saksi sudah dipersilakan pulang, karena Abu Nawas
memintanya. Para hakim juga sudah dipersilakan pulang, karena Abu Nawas
memintanya. Hanya Jafar yang masih berdiri di samping Baginda Raja, dengan
wajah yang tidak kalah tegang dari kedua orang yang bersengketa.
"Abu Nawas," kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid
ketika Abu Nawas masuk, "kau sudah hampir satu jam di ruang itu. Apa yang
kau lakukan dengan kantong emas itu? Apakah kau memeriksanya? Apakah kau
menemukan petunjuk? Apakah kau bisa memutuskan siapa pemiliknya?"
Abu Nawas tersenyum. Ia berjalan ke tengah ruangan, berdiri
di antara Umar dan Hasan, mengeluarkan kantong itu dari sakunya, dan
meletakkannya di atas bantal beludru merah yang masih setia menunggu di lantai
marmer.
"Baginda," katanya, "saya sudah memeriksa
kantong ini. Saya sudah mengamati jahitannya. Saya sudah merenungkan cerita
kedua belah pihak. Dan saya sampai pada satu kesimpulan."
Harun Al-Rasyid mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kesimpulan apa?"
Abu Nawas berjalan mendekati singgasana, berdiri tepat di
hadapan Baginda Raja, dan berkata dengan suara yang cukup keras untuk didengar
oleh semua orang di ruangan itu:
"Kesimpulan saya, Baginda, adalah bahwa keadilan tidak
bisa ditemukan dengan menimbang emas. Keadilan tidak bisa ditemukan dengan
memeriksa jahitan. Keadilan tidak bisa ditemukan dengan mendengarkan kesaksian.
Keadilan tidak bisa ditemukan dengan… melihat."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengerutkan kening. "Lalu
bagaimana?"
Abu Nawas tersenyum. "Keadilan, Baginda, bisa ditemukan
dengan… merelakan. Dengan membiarkan kebenaran muncul dengan sendirinya. Dengan
memberi ruang bagi hati untuk berbicara, bukan hanya mulut. Dengan…
ujian."
Ia berbalik menghadap Umar dan Hasan.
"Tuan Umar, Tuan Hasan," katanya, "saya akan
mengajukan satu usulan. Satu usulan yang mungkin terdengar aneh. Satu usulan
yang mungkin tidak akan kalian sukai. Tapi usulan ini, jika kalian berdua
jujur, tidak akan menjadi masalah. Jika kalian berdua jujur, kalian akan
menerimanya dengan lapang dada. Jika salah satu dari kalian tidak jujur… usulan
ini akan menjadi bumerang yang akan menghantamnya sendiri."
Umar dan Hasan saling berpandangan. Keduanya tegang.
Keduanya waspada. Keduanya tidak tahu apa yang akan keluar dari mulut Abu
Nawas.
"Usulan saya," lanjut Abu Nawas, "adalah
ini: kantong emas ini akan saya letakkan di sini, di atas bantal beludru ini.
Kalian berdua akan pulang ke rumah masing-masing. Kalian akan tidur. Kalian
akan berpikir. Kalian akan merenung. Dan besok pagi, kalian akan kembali ke
sini. Kalian akan duduk di hadapan Baginda Raja, dan kalian akan… merelakan
kantong ini. Kalian berdua akan mengatakan bahwa kantong ini bukan milik
kalian. Kalian berdua akan mengatakan bahwa kalian tidak tahu siapa pemiliknya.
Kalian berdua akan… mengalah."
Ruangan itu sunyi. Sunyi yang begitu dalam hingga suara
tetesan air dari air mancur di taman terdengar jelas.
Umar dan Hasan saling berpandangan dengan mata terbelalak.
Kemudian, bersamaan, mereka berteriak.
"Tidak mungkin!" seru Umar, matanya merah,
suaranya parau. "Aku tidak akan mengalah! Kantong ini milikku! Aku tidak
akan merelakannya!"
"Mustahil!" seru Hasan, suaranya tinggi, matanya
menyala. "Aku yang lebih berhak! Aku yang menemukannya lebih dulu! Aku
tidak akan mengalah!"
Abu Nawas tidak terkejut. Ia sudah menduga reaksi ini. Ia
tersenyum, mengangkat tangannya untuk menenangkan mereka.
"Tenang, tenang," katanya. "Saya tidak
meminta kalian untuk mengalah selamanya. Saya hanya meminta kalian untuk
mengalah… untuk sementara. Untuk satu malam. Untuk membiarkan kantong ini
berada di sini, di istana, tanpa ada yang mengklaimnya. Untuk membiarkan hati
kalian berbicara. Untuk membiarkan kebenaran muncul dengan sendirinya."
Umar dan Hasan masih tegang, tetapi mereka tidak lagi
berteriak.
"Tuan Umar," kata Abu Nawas, menatap lelaki tua
yang kurus itu dengan mata yang lembut, "apakah Tuan yakin kantong ini
milik Tuan?"
"Yakin," jawab Umar tanpa ragu.
"Apakah Tuan bersedia membuktikannya?"
"Dengan sumpah. Dengan ujian cobaan. Dengan apa
pun."
"Baik. Dan Tuan Hasan," Abu Nawas menatap lelaki
yang lebih muda itu, "apakah Tuan yakin kantong ini milik Tuan?"
"Yakin," jawab Hasan dengan suara yang sama
mantapnya.
"Apakah Tuan bersedia membuktikannya?"
"Dengan sumpah. Dengan ujian cobaan. Dengan apa
pun."
Abu Nawas mengangguk. "Bagus. Kalian berdua sama-sama
yakin. Kalian berdua sama-sama bersedia membuktikan. Tapi ada satu
masalah."
"Apa?" tanya mereka bersamaan.
"Kalian berdua tidak bisa membuktikan. Para hakim
sudah berusaha. Baginda Raja sudah berusaha. Saya sendiri sudah berusaha. Tidak
ada bukti yang cukup untuk memenangkan salah satu dari kalian. Tidak ada bukti
yang cukup untuk mengalahkan yang lain. Kalian berdua memiliki cerita yang sama
kuat. Kalian berdua memiliki keyakinan yang sama dalam. Kalian berdua… sama-sama
benar. Atau sama-sama salah. Tidak ada yang tahu."
Ia berjalan di antara mereka, suaranya menjadi lebih pelan,
lebih dalam, lebih… menyentuh.
"Tapi ada satu hal yang bisa membedakan kalian. Bukan
bukti. Bukan saksi. Bukan jahitan. Tapi… hati. Hati yang jujur. Hati yang rela.
Hati yang… tidak takut kehilangan."
Ia berhenti, menatap mereka bergantian.
"Karena, Tuan-tuan, orang yang benar-benar memiliki
sesuatu tidak perlu takut kehilangannya untuk sementara. Orang yang benar-benar
yakin tidak perlu takut untuk mengalah sejenak. Orang yang benar-benar jujur
tidak perlu takut untuk… membiarkan kebenaran berbicara sendiri."
Ruangan itu sunyi lagi. Umar dan Hasan saling berpandangan.
Ada sesuatu yang berubah di mata mereka. Bukan keyakinan yang goyah. Bukan sumpah
yang batal. Tapi… keraguan. Keraguan kecil yang mulai menggerogoti dinding
pertahanan yang selama ini mereka bangun.
"Besok pagi," kata Abu Nawas, "kita akan
bertemu lagi. Kita akan melihat siapa yang benar-benar rela. Siapa yang
benar-benar yakin. Siapa yang benar-benar… jujur. Sekarang, pulanglah.
Istirahatlah. Berpikirlah. Dan ingat: keadilan bukan tentang siapa yang paling
keras bersuara. Tapi tentang siapa yang paling jujur dalam diam."
BAB 4: UJIAN YANG TAK TERDUGA
Keesokan paginya, ketika matahari baru saja terbit di ufuk
timur, menyinari kubah-kubah emas istana dengan cahaya keemasan yang lembut,
Umar dan Hasan sudah duduk di ruang pertemuan pribadi Baginda Raja. Mereka
datang lebih awal dari yang diminta. Mereka tidak bisa tidur semalaman. Mata
mereka merah karena begadang, wajah mereka pucat karena berpikir, tangan mereka
gemetar karena… takut? Karena ragu? Karena harap? Tidak ada yang tahu.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid sudah duduk di singgasananya,
dengan jubah putih sederhana, tanpa mahkota, tanpa perhiasan. Di sampingnya,
Jafar berdiri dengan setangkai kertas di tangannya—catatan dari Abu Nawas yang
diberikan tadi malam, berisi petunjuk untuk persidangan hari ini. Di tengah
ruangan, di atas bantal beludru merah, kantong emas itu masih setia menunggu, berkilau
di bawah cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela.
Abu Nawas belum datang. Umar dan Hasan menunggu dengan
gelisah. Mereka bertanya-tanya: apa yang akan dilakukan Abu Nawas hari ini? Apa
ujian yang akan diberikan? Apakah mereka akan diminta bersumpah lagi? Apakah
mereka akan diminta menjalani ujian cobaan? Apakah mereka akan diminta membagi
kantong emas itu menjadi dua? Apakah mereka akan diminta…
Pintu terbuka. Abu Nawas masuk dengan langkah santai, jubah
lusuh yang sama, sandal aus yang sama, senyum misterius yang sama. Di
tangannya, tidak ada kurma kali ini. Mungkin jatah mingguannya sudah
benar-benar habis. Atau mungkin ia sengaja tidak membawa kurma karena hari ini
adalah hari yang serius. Atau mungkin ia lupa. Tidak ada yang tahu.
"Baginda," katanya setelah membungkuk hormat,
"selamat pagi. Semoga Baginda dalam keadaan sehat dan bahagia."
"Selamat pagi, Abu Nawas," jawab Baginda Raja Harun
Al-Rasyid. "Aku sehat. Tapi bahagia? Aku belum bisa bahagia sebelum
perkara ini selesai. Jadi, cepatlah. Apa ujian yang akan kau berikan kepada
kedua orang ini?"
Abu Nawas berjalan ke tengah ruangan, berdiri di antara
Umar dan Hasan, menatap mereka bergantian dengan mata yang tajam tetapi lembut.
"Tuan Umar, Tuan Hasan," katanya, "semalam
saya meminta kalian untuk berpikir. Untuk merenung. Untuk membiarkan hati
kalian berbicara. Sekarang, saya ingin tahu: apa yang kalian putuskan? Apakah
kalian bersedia merelakan kantong emas ini untuk sementara? Apakah kalian
bersedia mengalah sejenak? Apakah kalian bersedia… membiarkan kebenaran
berbicara sendiri?"
Umar dan Hasan saling berpandangan. Keduanya tegang.
Keduanya ragu. Tapi keduanya juga… keras kepala.
"Tuan Abu Nawas," kata Umar, suaranya serak,
"aku sudah berpikir semalaman. Aku sudah merenung. Aku sudah membiarkan
hatiku berbicara. Dan hatiku mengatakan: kantong ini milikku. Aku tidak akan
merelakannya. Aku tidak akan mengalah. Aku akan membuktikan bahwa ini milikku,
dengan cara apa pun yang Tuan minta."
Hasan mengangguk setuju. "Aku juga, Tuan. Hatiku
mengatakan kantong ini milikku. Aku tidak akan merelakannya. Aku tidak akan
mengalah. Aku akan membuktikan bahwa ini milikku."
Abu Nawas tidak terkejut. Ia tersenyum.
"Baik," katanya. "Kalian berdua tidak mau
mengalah. Kalian berdua tidak mau merelakan. Kalian berdua ingin membuktikan.
Kalian berdua yakin. Kalian berdua… siap untuk ujian."
Ia berjalan ke bantal beludru merah, mengambil kantong emas
itu, dan memegangnya di tangannya.
"Ujian saya sederhana," katanya. "Saya akan
meletakkan kantong ini di sini, di lantai, di antara kalian. Kalian akan
berdiri. Kalian akan berjalan. Kalian akan… merelakannya."
Umar dan Hasan mengerutkan kening.
"Merelakannya?"
"Ya. Merelakannya. Saya ingin kalian berjalan
meninggalkan ruangan ini. Saya ingin kalian pulang ke rumah masing-masing. Saya
ingin kalian membiarkan kantong ini di sini, tanpa ada yang mengklaimnya, tanpa
ada yang mengambilnya, tanpa ada yang menyentuhnya. Saya ingin kalian…
merelakannya."
Umar dan Hasan terdiam. Mereka saling berpandangan. Mereka
tidak mengerti.
"Tuan," kata Hasan, suaranya tajam, "apa
maksudnya? Kita disuruh pulang? Kantongnya dibiarkan di sini? Lalu siapa yang
akan mendapatkannya?"
"Tidak ada yang mendapatkannya," kata Abu Nawas.
"Kantong ini akan tetap di sini. Di istana. Sampai pemiliknya yang
sebenarnya datang mencarinya."
"Tapi kami adalah pemiliknya!" seru Umar dan
Hasan bersamaan.
"Apakah kalian yakin?" tanya Abu Nawas, matanya
menatap mereka bergantian dengan tajam. "Jika kalian benar-benar yakin,
kalian tidak perlu takut meninggalkannya. Jika kalian benar-benar yakin, kalian
tahu bahwa kantong ini akan tetap menjadi milik kalian, di mana pun ia berada.
Jika kalian benar-benar yakin, kalian tidak perlu… merebutnya. Kalian tidak
perlu… bertengkar. Kalian tidak perlu… bersumpah. Karena keyakinan sejati, Tuan-tuan,
tidak membutuhkan bukti. Keyakinan sejati tidak membutuhkan pengakuan orang
lain. Keyakinan sejati tidak membutuhkan… kantong emas di tangan."
Ia meletakkan kantong itu di lantai, di antara mereka.
"Sekarang, pulanglah. Berpikirlah. Dan besok pagi,
kalian akan kembali ke sini. Kalian akan duduk di hadapan Baginda Raja. Dan
kalian akan mengatakan… apa yang kalian rasakan. Bukan apa yang kalian yakini.
Bukan apa yang kalian inginkan. Tapi apa yang kalian… rasakan."
BAB 5: KEJUJURAN DALAM KERAGUAN
Umar dan Hasan pulang dengan langkah yang berat. Mereka
tidak berbicara satu sama lain. Mereka tidak saling berpandangan. Mereka hanya
berjalan, masing-masing dengan pikirannya sendiri, masing-masing dengan
keraguannya sendiri, masing-masing dengan pertanyaan yang sama: apakah aku
benar-benar pemilik kantong emas ini?
Malam itu, di rumahnya yang sederhana di pinggiran Baghdad,
Umar duduk di serambi rumahnya, menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang.
Istrinya, Fatimah, seorang wanita tua dengan wajah keriput dan mata yang selalu
penuh kasih, duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang kasar.
"Umar," katanya lembut, "apa yang kau
pikirkan?"
Umar tidak menjawab. Ia hanya menatap bintang-bintang,
matanya sayu, pikirannya jauh.
"Apakah kau masih memikirkan kantong emas itu?"
tanya Fatimah.
Umar menghela napas. "Fatimah, aku tidak tahu lagi.
Aku dulu yakin. Sangat yakin. Aku bersumpah demi Allah bahwa kantong itu
milikku. Aku bersedia menjalani ujian cobaan. Aku bersedia memegang besi panas.
Aku bersedia dicelupkan ke sungai. Tapi sekarang… sekarang aku tidak tahu
lagi."
"Mengapa?"
"Karena Abu Nawas. Karena ujiannya. Karena ia
memintaku untuk merelakan. Untuk mengalah. Untuk meninggalkan kantong itu di
istana. Dan aku… aku tidak bisa. Aku tidak bisa merelakannya. Aku tidak bisa
mengalah. Aku tidak bisa meninggalkannya. Dan itu… itu membuatku
bertanya-tanya. Apakah aku benar-benar yakin? Atau aku hanya… takut kehilangan?
Takut kehilangan emas? Takut kehilangan kesempatan? Takut kehilangan… sesuatu
yang mungkin bukan milikku?"
Fatimah menggenggam tangannya lebih erat. "Umar, aku
tidak tahu apakah kantong itu milikmu atau bukan. Tapi aku tahu satu hal: kau
adalah orang yang jujur. Selama tiga puluh tahun aku menikah denganmu, tidak
pernah kulihat kau berbohong. Tidak pernah kulihat kau mengambil hak orang
lain. Tidak pernah kulihat kau… serakah. Jika kau mengatakan kantong itu
milikmu, aku percaya. Tapi jika kau ragu… mungkin itu pertanda. Mungkin itu…
kebenaran."
Umar menunduk. Air matanya jatuh.
Di tempat lain, di rumah sewaan yang lebih kecil di lorong
yang lebih sempit, Hasan duduk sendirian di kamarnya yang gelap. Ia tidak
menyalakan lampu. Ia tidak membuka jendela. Ia hanya duduk di lantai, bersandar
di dinding, dengan mata terbuka lebar di kegelapan. Pikirannya berputar-putar,
tidak bisa berhenti, tidak bisa tenang, tidak bisa… jujur.
Ia mengingat kembali hari itu. Hari ketika ia melihat
kantong emas itu tergeletak di lorong antara kiosnya dan kios Umar. Ia ingat
bagaimana jantungnya berdetak kencang. Ia ingat bagaimana matanya terbelalak.
Ia ingat bagaimana tangannya gemetar. Ia ingat bagaimana ia berteriak,
"Itu milikku!" sebelum ia sempat berpikir. Sebelum ia sempat
bertanya. Sebelum ia sempat… jujur pada dirinya sendiri.
Apakah kantong itu benar-benar miliknya? Apakah ia
benar-benar memiliki kantong dengan benang sutra merah dan sulaman bulan sabit?
Apakah pamannya benar-benar memberinya kantong seperti itu? Ya. Ya, pamannya
memberinya kantong. Kantong kulit domba dengan benang sutra merah dan sulaman
bulan sabit. Tapi kantong yang mana? Yang ini? Atau yang lain? Ia tidak tahu.
Ia tidak ingat. Ia sudah terlalu lama menyimpan kenangan itu. Terlalu lama.
Terlalu… kabur.
Ia mengingat kembali ujian Abu Nawas. Ujian untuk
merelakan. Ujian untuk mengalah. Ujian untuk meninggalkan kantong itu di
istana. Dan ia menyadari bahwa ia tidak bisa. Ia tidak bisa merelakan. Ia tidak
bisa mengalah. Ia tidak bisa meninggalkan. Bukan karena kantong itu miliknya.
Tapi karena… ia takut kehilangan. Takut kehilangan emas. Takut kehilangan
kesempatan. Takut kehilangan… sesuatu yang mungkin bukan miliknya.
Air matanya jatuh. Air mata yang tidak bisa ia tahan lagi.
BAB 6: SANDIWARA KEHILANGAN
Keesokan paginya, ketika matahari sudah cukup tinggi di
langit Baghdad, menyinari istana dengan cahaya yang terang dan hangat, Umar dan
Hasan kembali duduk di ruang pertemuan pribadi Baginda Raja. Mereka datang
tepat waktu, tidak lebih awal seperti kemarin, karena mereka sudah kehilangan
semangat untuk datang lebih awal. Mereka duduk di kursi yang sama, di tempat
yang sama, dengan wajah yang sama-sama lelah, sama-sama pucat, sama-sama…
kosong.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid sudah menunggu. Abu Nawas
sudah menunggu. Kantong emas itu masih setia di atas bantal beludru merah,
tidak berubah, tidak berkurang, tidak bertambah. Hanya ada di sana, diam,
menunggu, seperti kebenaran yang tidak pernah terburu-buru.
"Tuan Umar, Tuan Hasan," kata Abu Nawas setelah
membungkuk hormat kepada Baginda Raja, "selamat pagi. Semoga kalian sudah
berpikir semalaman. Semoga kalian sudah merenung. Semoga kalian sudah…
menemukan jawaban."
Umar dan Hasan tidak menjawab. Mereka hanya menunduk.
"Sekarang," lanjut Abu Nawas, "saya akan
melakukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan mengejutkan kalian. Sesuatu yang
mungkin akan membuat kalian marah. Sesuatu yang mungkin akan… menguji kalian.
Untuk terakhir kalinya."
Ia berjalan ke bantal beludru merah, mengambil kantong emas
itu, dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya. Umar dan Hasan mendongak, mata
mereka mengikuti gerakan tangan Abu Nawas dengan penuh perhatian.
"Kantong ini," kata Abu Nawas, "akan saya
bawa keluar. Saya akan berjalan ke taman. Saya akan berjalan ke air mancur.
Saya akan berjalan ke kolam. Dan saya akan… menghilangkannya. Saya akan
melemparkannya ke dalam kolam. Saya akan menyembunyikannya di tempat yang tidak
akan pernah ditemukan. Saya akan… membuatnya lenyap."
Umar dan Hasan terkejut. Mereka hampir berdiri dari kursi
mereka.
"Apa?!" seru Hasan, suaranya tinggi, matanya
menyala. "Kau tidak bisa! Itu milikku!"
Umar juga terkejut, tetapi ia tidak berteriak. Ia hanya
duduk di kursinya, diam, dengan mata yang kosong, dengan tangan yang gemetar.
Abu Nawas tidak bergerak. Ia berdiri di tengah ruangan,
dengan kantong emas di sakunya, menatap kedua lelaki itu bergantian.
"Tuan Hasan," katanya, "mengapa Tuan marah?
Apakah karena kantong itu milik Tuan? Atau karena Tuan takut kehilangan sesuatu
yang Tuan yakini sebagai milik Tuan? Atau karena Tuan takut… kehilangan
kesempatan?"
Hasan terdiam. Ia duduk kembali, napasnya memburu, matanya
masih menyala tetapi ada keraguan di baliknya.
"Tuan Umar," Abu Nawas menatap lelaki tua yang
kurus itu, "mengapa Tuan diam? Apakah karena Tuan yakin kantong itu milik
Tuan, sehingga Tuan tidak takut? Atau karena Tuan… sudah tidak yakin
lagi?"
Umar tidak menjawab. Ia hanya menunduk, bahunya bergetar.
Abu Nawas menghela napas. Ia mengeluarkan kantong itu dari
sakunya, meletakkannya kembali di atas bantal beludru merah, dan duduk di kursi
di antara Umar dan Hasan.
"Tuan-tuan," katanya, "saya tidak akan menghilangkan
kantong ini. Saya tidak akan melemparkannya ke kolam. Saya tidak akan
menyembunyikannya. Saya hanya ingin melihat reaksi kalian. Reaksi spontan.
Reaksi yang tidak bisa dipalsukan. Reaksi yang keluar dari hati, bukan dari
pikiran. Dan dari reaksi itu, saya belajar sesuatu."
Ia menatap Hasan.
"Tuan Hasan, ketika saya mengatakan akan menghilangkan
kantong ini, Tuan marah. Tuan berteriak. Tuan berdiri. Tuan bersikeras bahwa
kantong ini milik Tuan. Itu adalah reaksi seseorang yang takut kehilangan. Tapi
ketakutan, Tuan Hasan, bukanlah bukti kepemilikan. Pencuri juga takut
kehilangan barang curiannya. Orang yang tidak jujur juga takut kehilangan
sesuatu yang bukan haknya. Ketakutan hanyalah… ketakutan. Bukan
kebenaran."
Hasan menunduk, tidak bisa menjawab.
Abu Nawas menatap Umar.
"Tuan Umar, ketika saya mengatakan akan menghilangkan
kantong ini, Tuan diam. Tuan tidak berteriak. Tuan tidak marah. Tuan hanya
duduk di kursi, dengan mata kosong, dengan tangan gemetar. Itu adalah reaksi
seseorang yang sudah… tidak yakin lagi. Seseorang yang sudah… meragukan dirinya
sendiri. Seseorang yang sudah… mulai jujur pada hatinya."
Umar mengangkat kepalanya. Matanya merah, basah, tetapi
jujur.
"Tuan Abu Nawas," katanya, suaranya parau,
"aku… aku tidak yakin lagi. Aku sudah berpikir semalaman. Aku sudah
merenung. Aku sudah bertanya pada isteriku. Dan aku sadar… aku tidak yakin. Aku
pikir kantong itu milikku. Aku pikir aku yang menjahit benang merah di
ujungnya. Tapi sekarang… sekarang aku tidak tahu. Mungkin aku salah. Mungkin
kantong itu bukan milikku. Mungkin aku hanya… menginginkan. Mungkin aku hanya…
takut kehilangan."
Ia menunduk, air matanya jatuh.
"Tuan, aku rela. Aku rela melepaskan kantong ini. Aku
tidak akan mengklaimnya lagi. Aku tidak akan bersumpah lagi. Aku tidak akan…
bertengkar lagi. Biarlah kantong ini menjadi milik siapa pun yang sebenarnya
berhak. Aku sudah lelah. Aku sudah… jujur."
BAB 7: TAWA YANG MENYINGKAP KEBENARAN
Ruangan itu sunyi. Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di
singgasananya dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Jafar berdiri di sampingnya
dengan mulut terbuka sedikit, terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Hasan
duduk di kursinya dengan wajah pucat, tidak percaya bahwa Umar—yang selama ini
menjadi lawannya yang paling keras—tiba-tiba mengalah.
Abu Nawas berdiri, berjalan ke arah Hasan, dan duduk di
kursi di hadapannya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Hasan dengan
mata yang lembut, mata yang tidak menghakimi, mata yang… mengerti.
"Tuan Hasan," katanya akhirnya, "Tuan Umar
sudah mengalah. Ia sudah merelakan. Ia sudah mengatakan bahwa ia tidak yakin
lagi. Sekarang, bagaimana dengan Tuan? Apakah Tuan masih yakin? Apakah Tuan
masih bersikeras? Apakah Tuan masih… mau membuktikan?"
Hasan terdiam. Ia menatap Umar yang menunduk, menatap
kantong emas yang tergeletak di atas bantal beludru merah, menatap Abu Nawas
yang tersenyum padanya dengan senyum yang tidak bisa ia baca.
"Tuan," katanya, suaranya bergetar, "aku…
aku juga tidak yakin. Aku sudah berpikir semalaman. Aku sudah merenung. Aku
sudah bertanya pada diriku sendiri. Dan aku sadar… aku tidak ingat. Aku tidak
ingat apakah kantong ini yang diberikan pamanku. Aku tidak ingat apakah jahitan
ini yang kulihat ketika penjahit itu bekerja. Aku hanya… ingin. Aku ingin
kantong ini milikku. Aku ingin emas ini milikku. Aku ingin… hidupku lebih
baik."
Ia menunduk, air matanya jatuh.
"Tapi aku tidak tahu, Tuan. Aku tidak tahu apakah ini
benar-benar milikku. Atau aku hanya… menginginkannya. Aku hanya… tergoda.
Tergoda oleh emas. Tergoda oleh kesempatan. Tergoda oleh… kehidupan yang lebih
baik."
Abu Nawas mengangguk. Ia berdiri, berjalan ke tengah
ruangan, dan tertawa. Tertawa yang keras, tertawa yang bebas, tertawa yang
membuat semua orang menoleh.
"Baginda!" serunya. "Saya rasa perkara ini
sudah selesai!"
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangkat alis.
"Selesai? Bagaimana bisa selesai? Mereka berdua sudah mengalah. Mereka
berdua sudah mengatakan bahwa mereka tidak yakin. Tapi siapa pemilik kantong
emas itu? Masih belum jelas."
Abu Nawas tersenyum. "Baginda, justru itulah
kejelasannya. Mereka berdua tidak yakin. Mereka berdua tidak tahu apakah
kantong itu milik mereka. Mereka berdua mengaku bahwa mereka mungkin salah.
Mereka berdua… jujur. Jujur tentang keraguan mereka. Jujur tentang
ketidaktahuan mereka. Jujur tentang… kelemahan mereka."
Ia berjalan mendekati singgasana, berdiri tepat di hadapan
Baginda Raja.
"Baginda, perkara ini bukan tentang siapa yang
memiliki kantong emas itu. Perkara ini tentang siapa yang berani jujur. Tentang
siapa yang berani mengakui bahwa ia bisa salah. Tentang siapa yang berani…
merelakan."
Ia berbalik menghadap Umar dan Hasan.
"Tuan Umar, Tuan Hasan, kalian berdua telah
menunjukkan kejujuran. Kalian berdua telah menunjukkan kerendahan hati. Kalian
berdua telah menunjukkan bahwa kalian lebih menghargai kebenaran daripada emas.
Dan itu, Tuan-tuan, adalah hal yang lebih berharga dari lima puluh keping
emas."
Ia berjalan ke bantal beludru merah, mengambil kantong itu,
dan memegangnya di tangannya.
"Kantong ini," katanya, "tidak akan saya berikan
kepada salah satu dari kalian. Bukan karena kalian tidak pantas. Tapi karena
tidak ada yang benar-benar tahu siapa pemiliknya. Kantong ini akan saya
serahkan kepada Baginda Raja. Baginda Raja yang akan memutuskan apa yang harus
dilakukan dengan emas ini. Mungkin untuk membangun jembatan. Mungkin untuk
menggali sumur. Mungkin untuk memberi makan orang miskin. Mungkin untuk…
mengajarkan pelajaran kepada kita semua."
Ia meletakkan kantong itu di hadapan Baginda Raja Harun
Al-Rasyid.
"Baginda, saya serahkan keputusan ini kepada Baginda.
Tapi saya mohon, jangan hukum mereka. Mereka sudah cukup dihukum oleh keraguan
mereka sendiri. Mereka sudah cukup menderita oleh ketidakpastian mereka
sendiri. Mereka sudah cukup… belajar."
BAB 8: RAHASIA DI BALIK KESERAKAHAN
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengambil kantong emas itu
dari atas bantal beludru merah dengan gerakan yang lambat, penuh pertimbangan,
seperti seorang hakim yang sedang memegang benda yang akan menentukan nasib dua
manusia. Jari-jarinya yang panjang dan terawat—jari-jari seorang raja yang
tidak pernah bekerja keras seperti rakyatnya, tetapi telah bekerja keras dalam
urusan pemerintahan selama bertahun-tahun—meraba permukaan kulit domba yang
kasar, merasakan setiap jahitan, setiap sulaman, setiap detail yang telah
menjadi pusat perdebatan berhari-hari.
Ia menatap kantong itu lama. Matanya yang hitam pekat, mata
yang telah melihat ribuan perkara, ribuan kebohongan, ribuan kebenaran, mata
yang telah dilatih selama bertahun-tahun untuk membedakan yang palsu dari yang
asli, yang jujur dari yang curang—matanya tidak menemukan apa pun yang
mencurigakan. Kantong itu hanyalah kantong. Kulit domba biasa. Benang sutra
biasa. Jahitan biasa. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang membedakan. Tidak
ada yang bisa menjadi petunjuk.
Kemudian ia meletakkannya di sampingnya, di atas meja perak
kecil yang selalu setia menemani singgasananya, meja yang telah menyaksikan
begitu banyak keputusan penting, begitu banyak perkara yang diputuskan, begitu
banyak nasib yang ditentukan. Meja itu, pikirnya, mungkin lebih bijaksana
darinya. Meja itu hanya diam, tidak pernah terburu-buru, tidak pernah ragu,
tidak pernah salah. Meja itu hanya… ada. Dan dari keberadaannya, ia bisa
belajar sesuatu tentang kesabaran.
"Umar, Hasan," katanya, suaranya tenang tetapi
berat, seperti guntur di kejauhan yang tidak pernah benar-benar datang, tetapi
selalu ada di sana, mengingatkan. "Aku telah mendengar semuanya. Aku telah
melihat semuanya. Aku telah belajar dari semuanya. Dan aku sampai pada satu
kesimpulan."
Ia berdiri dari singgasananya. Gerakannya lambat, tidak
tergesa-gesa, seperti aliran sungai yang tenang di musim kemarau. Ia berjalan
mendekati mereka, langkah demi langkah, dengan irama yang teratur, dengan
ketukan sandalnya yang terdengar jelas di keheningan ruangan. Umar dan Hasan
menunduk lebih dalam. Mereka tidak berani mengangkat kepala. Mereka tidak
berani menatap mata Baginda Raja. Mereka hanya bisa mendengarkan, menunggu,
berharap.
"Kalian berdua," lanjut Harun Al-Rasyid, berhenti
di tengah-tengah antara Umar dan Hasan, seperti penyeimbang yang sempurna di
antara dua sisi timbangan yang selama ini tidak pernah seimbang, "adalah
orang yang jujur. Mungkin kalian tidak sempurna. Mungkin kalian tergoda oleh
emas. Mungkin kalian hampir terjerumus ke dalam kebohongan. Tapi pada akhirnya,
kalian memilih kejujuran. Pada akhirnya, kalian memilih kerendahan hati. Pada
akhirnya, kalian memilih… kebenaran."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke
dalam hati kedua lelaki yang berlutut di hadapannya. Umar mulai menangis. Bukan
isak tangis yang keras, bukan ratapan yang memilukan, hanya air mata yang
mengalir diam-diam di pipinya yang keriput, membasahi janggut tipis yang sudah
memutih di beberapa bagian. Hasan juga menangis, tetapi tangisnya berbeda.
Tangisnya adalah tangis seorang yang lega, seorang yang baru saja terbebas dari
beban yang selama ini menghimpit dadanya, seorang yang akhirnya bisa bernapas
lega setelah sekian lama menahan napas.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berjalan ke arah Umar. Ia
berhenti tepat di hadapannya, hanya beberapa langkah jaraknya. Umar bisa
merasakan kehadiran Baginda Raja. Bukan kehadiran yang menekan, bukan kehadiran
yang menakutkan, tetapi kehadiran yang… hangat. Seperti matahari yang menyinari
setelah hujan. Seperti api unggun di malam yang dingin. Seperti… keadilan yang
sesungguhnya.
"Umar," kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid,
suaranya menjadi lebih lembut, lebih personal, seperti seorang ayah yang
berbicara dengan anaknya, bukan seorang raja yang berbicara dengan rakyatnya.
"Kau telah menunjukkan bahwa kau lebih menghargai kejujuran daripada harga
diri. Kau telah menunjukkan bahwa kau lebih menghargai kedamaian daripada
kemenangan. Kau telah menunjukkan bahwa kau lebih menghargai… kebenaran
daripada emas."
Umar mengangkat kepalanya. Matanya merah, basah, tetapi tidak
lagi dipenuhi oleh kebingungan dan ketakutan seperti sebelumnya. Ada kejernihan
di sana. Ada kedamaian. Ada… kejujuran.
"Baginda," katanya, suaranya serak,
terputus-putus, seperti orang yang baru saja bangun dari mimpi buruk yang
panjang, "aku… aku tidak pantas. Aku hampir berbohong. Aku hampir
bersumpah palsu. Aku hampir… mengambil hak orang lain. Jika bukan karena Abu
Nawas, jika bukan karena ujiannya, jika bukan karena… keraguannya yang ia tanam
di hatiku, mungkin aku masih bersikeras. Mungkin aku masih bersumpah. Mungkin
aku masih… berbohong."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid menggeleng. "Tapi kau
tidak berbohong, Umar. Pada akhirnya, kau memilih kejujuran. Pada akhirnya, kau
memilih untuk meragukan dirimu sendiri. Pada akhirnya, kau memilih untuk…
mengalah. Dan itu, Umar, adalah pilihan yang lebih berat daripada bersikeras.
Lebih berat daripada bersumpah. Lebih berat daripada… bertengkar."
Ia menepuk pundak Umar dengan lembut. Tangan seorang raja
yang tidak pernah menepuk pundak rakyatnya dengan cara seperti ini—bukan
tepukan yang merendahkan, bukan tepukan yang menghakimi, tetapi tepukan yang…
mengakui. Mengakui keberanian. Mengakui kejujuran. Mengakui… kemanusiaan.
Ia berjalan ke Hasan. Hasan masih menunduk, bahunya
bergetar, tangannya yang gemuk menggenggam erat ujung jubahnya yang baru—jubah
yang ia beli khusus untuk persidangan ini, jubah yang sekarang basah oleh air
matanya.
"Hasan," kata Harun Al-Rasyid, suaranya sama
lembutnya, sama personalnya. "Kau juga telah menunjukkan hal yang sama.
Kau telah menunjukkan bahwa kau lebih menghargai kejujuran daripada keinginan.
Kau telah menunjukkan bahwa kau lebih menghargai kedamaian daripada
keserakahan. Kau telah menunjukkan bahwa kau lebih menghargai… kebenaran
daripada emas."
Hasan mengangkat kepalanya dengan perlahan, seperti bunga
yang mekar setelah musim kemarau panjang. Matanya merah, bengkak karena
menangis, tetapi di sana, di balik merah dan bengkak itu, ada sesuatu yang
baru. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Sesuatu yang… jujur.
"Baginda," katanya, suaranya nyaris berbisik,
seperti orang yang baru pertama kali belajar berbicara setelah sekian lama
hanya berteriak, "aku… aku tidak tahu apakah kantong itu milikku atau
bukan. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar mengingatnya atau hanya…
menginginkannya. Aku hanya tahu bahwa aku tergoda. Aku tergoda oleh emas. Aku
tergoda oleh kesempatan. Aku tergoda oleh… kehidupan yang lebih baik. Dan
godaan itu, Baginda, hampir membuatku kehilangan… diriku sendiri."
Ia menunduk lagi, air matanya jatuh ke lantai marmer putih
yang dingin.
"Tapi Abu Nawas… Abu Nawas membuatku sadar. Abu Nawas
membuatku bertanya pada diriku sendiri. Abu Nawas membuatku… meragukan. Dan
keraguan itu, Baginda, adalah hadiah terbesar yang pernah aku terima. Karena
dengan keraguan, aku bisa jujur. Dengan keraguan, aku bisa mengaku. Dengan
keraguan, aku bisa… menjadi diriku sendiri."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. Ia tidak menepuk
pundak Hasan seperti yang ia lakukan pada Umar, tetapi ia melakukan sesuatu
yang lebih berarti. Ia berlutut. Ia berlutut di hadapan Hasan, sehingga mata
mereka sejajar, sehingga Hasan tidak perlu mendongak, sehingga mereka bisa
berbicara sebagai manusia yang sederajat.
Hasan terkejut. Ia hampir pingsan melihat Baginda Raja
berlutut di hadapannya. Umar juga terkejut. Jafar, yang berdiri di samping
singgasana dengan setangkai kertas di tangannya, hampir menjatuhkan
kertas-kertas itu. Abu Nawas, yang duduk di sudut ruangan dengan kurma di
tangannya, tersenyum. Ia sudah menduga ini. Ia sudah mengenal Baginda Raja
cukup lama untuk tahu bahwa Baginda Raja Harun Al-Rasyid adalah raja yang tidak
pernah takut untuk merendahkan dirinya demi kebenaran.
"Hasan," kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid,
suaranya sangat lembut, sangat manusiawi, seperti suara seorang sahabat yang
sedang menghibur sahabatnya yang sedang bersedih, "aku tidak akan
menghakimimu. Aku tidak akan menghukummu. Aku tidak akan menganggapmu pencuri
atau pembohong. Karena kau bukan pencuri. Kau bukan pembohong. Kau hanyalah
manusia. Manusia yang tergoda. Manusia yang berkeinginan. Manusia yang… lemah.
Dan kelemahan, Hasan, bukanlah dosa. Kelemahan adalah… pelajaran."
Air mata Hasan mengalir semakin deras. Ia tidak bisa
berkata-kata. Ia hanya bisa menunduk, menangis, bersyukur.
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri kembali. Ia berjalan
ke singgasananya, duduk dengan sikap seorang raja yang bijaksana, yang tidak
pernah tergesa-gesa, yang tidak pernah terburu-buru dalam mengambil keputusan.
"Karena itu," katanya, suaranya kembali tegas,
kembali resmi, tetapi tidak kehilangan kelembutannya, "aku tidak akan
menghukum kalian. Aku tidak akan memenjarakan kalian. Aku tidak akan mendenda
kalian. Aku hanya akan… memberi kalian pelajaran."
Ia menunjuk ke arah kantong emas yang terletak di
sampingnya di atas meja perak kecil.
"Emas ini akan aku gunakan untuk membangun sumur di
pasar kalian. Sumur yang akan memberi air bersih bagi semua pedagang dan
pembeli. Setiap kali kalian minum dari sumur itu, kalian akan ingat bahwa
kejujuran lebih berharga dari emas. Setiap kali kalian melihat orang lain minum
dari sumur itu, kalian akan ingat bahwa kedamaian lebih berharga dari
kemenangan. Setiap kali kalian mendengar suara air yang mengalir, kalian akan
ingat bahwa kebenaran… akan selalu menemukan jalannya."
Umar dan Hasan menunduk dalam-dalam. Air mata mereka
mengalir, tetapi kali ini bukan air mata penyesalan. Bukan air mata ketakutan.
Bukan air mata keputusasaan. Air mata syukur. Air mata lega. Air mata…
kejujuran.
"Baginda," kata Umar, suaranya masih serak tetapi
lebih jelas, lebih tegas, seperti orang yang baru saja sembuh dari penyakit
yang berkepanjangan, "aku tidak akan pernah melupakan ini. Aku tidak akan
pernah melupakan bahwa Baginda memberi aku kesempatan untuk jujur. Aku tidak
akan pernah melupakan bahwa Baginda tidak menghukumku meskipun aku hampir
berbohong. Aku akan menjadi pedagang yang jujur, Baginda. Aku akan menjadi
tetangga yang baik. Aku akan menjadi… manusia yang lebih baik."
"Aku juga, Baginda," kata Hasan, suaranya masih
bergetar tetapi ada kekuatan di dalamnya, kekuatan yang tidak pernah ia miliki
sebelumnya, kekuatan yang lahir dari kejujuran. "Aku akan menjadi pedagang
yang jujur. Aku tidak akan lagi tergoda oleh emas. Aku tidak akan lagi
mengklaim sesuatu yang bukan hakku. Aku akan… belajar. Belajar dari
kesalahanku. Belajar dari… keraguanku."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid mengangguk. "Bagus. Itu
yang ingin kudengar. Sekarang, pulanglah. Kembalilah ke pasar. Kembalilah ke
kios kalian. Kembalilah menjadi pedagang yang jujur. Dan ingat: kejujuran
adalah modal yang tidak pernah bangkrut. Kejujuran adalah keuntungan yang tidak
pernah berkurang. Kejujuran adalah… kekayaan sejati."
Umar dan Hasan berdiri dengan susah payah—lutut mereka
sakit karena berlutut terlalu lama, tetapi hati mereka ringan seperti tidak
pernah terasa sebelumnya. Mereka membungkuk dalam-dalam, sekali lagi, untuk
terakhir kalinya, lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang
lebih ringan dari sebelumnya, dengan hati yang lebih tenang dari sebelumnya,
dengan pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan.
BAB 9: KEADILAN TANPA KEKERASAN
Setelah pintu ruangan tertutup di belakang Umar dan Hasan,
setelah langkah kaki mereka yang mulai ringan itu tidak lagi terdengar di
koridor marmer yang panjang, Baginda Raja Harun Al-Rasyid duduk di
singgasananya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia menatap kantong emas yang
masih tergeletak di atas meja perak di sampingnya, menatapnya dengan mata yang
tidak lagi mencari petunjuk, tidak lagi mencari kebenaran, tetapi merenungkan
sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang telah ia pelajari hari ini. Sesuatu yang
tidak pernah ia pelajari dari buku-buku hukum, dari nasihat para hakim, dari
wejangan para menteri.
Jafar masih berdiri di sampingnya, dengan setangkai kertas
yang sudah tidak lagi ia genggam erat. Kertas-kertas itu kini tergeletak di
atas meja, tidak berguna lagi. Tidak ada yang perlu dicatat. Tidak ada yang
perlu dilaporkan. Perkara sudah selesai. Bukan dengan vonis, bukan dengan
hukuman, bukan dengan kemenangan salah satu pihak. Tetapi dengan cara yang
lebih halus. Dengan cara yang lebih… manusiawi.
"Jafar," kata Harun Al-Rasyid tanpa menoleh,
suaranya tenang tetapi ada nada yang tidak biasa di dalamnya, nada yang jarang
ia tunjukkan di depan siapa pun, bahkan di depan Jafar yang telah menjadi
sahabatnya sejak kecil, "panggil Abu Nawas. Aku ingin berbicara dengannya.
Sendirian."
Jafar mengangguk, membungkuk, dan berjalan keluar. Beberapa
saat kemudian, Abu Nawas masuk dengan langkah santai yang sama seperti
biasanya, dengan jubah lusuh yang sama, dengan senyum misterius yang sama. Tapi
kali ini, ia tidak langsung duduk. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap
Baginda Raja dengan mata yang berbeda. Mata yang tidak lagi main-main. Mata
yang serius. Mata yang… mengerti.
"Abu Nawas," kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid,
"duduklah. Aku tidak ingin kau berdiri di hadapanku seperti seorang
pengacara yang sedang menunggu vonis. Duduklah di sini, di hadapanku, seperti
seorang teman duduk di hadapan temannya."
Abu Nawas duduk bersila di lantai marmer, di tempat yang
sama di mana ia duduk ketika pertama kali datang, di tempat yang sama di mana
ia meletakkan kurma-kurma yang ia makan satu per satu, di tempat yang sama di
mana ia mendengarkan cerita-cerita Umar dan Hasan dengan sabar. Ia tidak
mengambil kurma kali ini. Mungkin sudah habis. Atau mungkin ia sengaja tidak
membawanya karena ia tahu bahwa percakapan kali ini tidak membutuhkan kurma.
Percakapan kali ini membutuhkan… kejujuran.
"Abu Nawas," Baginda Raja Harun Al-Rasyid
memulai, suaranya rendah, seperti orang yang sedang berbicara pada dirinya
sendiri, "aku ingin tahu. Bukan sebagai raja. Bukan sebagai hakim. Tapi
sebagai… manusia. Sebagai manusia yang hari ini belajar sesuatu yang tidak
pernah ia pelajari sebelumnya."
Ia berhenti sejenak, mengumpulkan pikirannya, mencari
kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
"Bagaimana kau bisa tahu, Abu Nawas? Bagaimana kau
bisa tahu bahwa mereka akan mengalah? Bagaimana kau bisa tahu bahwa mereka akan
jujur? Bagaimana kau bisa tahu bahwa kebenaran akan muncul? Apakah kau seorang
peramal yang bisa melihat masa depan? Apakah kau seorang pesulap yang bisa
membaca pikiran? Apakah kau seorang nabi yang mendapat ilham dari langit?"
Abu Nawas tersenyum. Senyum yang berbeda dari senyumnya
yang biasa. Senyum yang tidak main-main. Senyum yang… bijaksana.
"Baginda," katanya, suaranya pelan tetapi jelas,
"saya bukan peramal. Saya tidak bisa melihat masa depan. Saya bukan
pesulap. Saya tidak bisa membaca pikiran. Saya bukan nabi. Saya tidak mendapat
ilham dari langit. Saya hanya… seorang yang suka duduk di kedai pinggiran,
makan kurma, minum air tajin, dan mengamati manusia. Manusia yang tertawa,
manusia yang menangis, manusia yang marah, manusia yang bahagia, manusia yang
jujur, manusia yang berbohong. Dan dari pengamatan itu, Baginda, saya belajar
satu hal: bahwa pada akhirnya, manusia akan memilih kejujuran. Pada akhirnya,
manusia akan memilih kedamaian. Pada akhirnya, manusia akan memilih…
kebenaran."
Harun Al-Rasyid mengerutkan kening. "Tapi bagaimana
jika mereka tidak memilih? Bagaimana jika mereka tetap bersikeras? Bagaimana
jika mereka tetap berbohong? Bagaimana jika mereka lebih memilih emas daripada
kejujuran? Bagaimana jika mereka lebih memilih kemenangan daripada kedamaian?
Bagaimana jika mereka lebih memilih… kebohongan daripada kebenaran?"
Abu Nawas tidak menjawab segera. Ia menatap Baginda Raja
dengan mata yang dalam, mata yang telah melihat banyak hal, mata yang tidak
mudah terkejut oleh apa pun.
"Baginda," katanya akhirnya, "saya tidak
tahu. Saya hanya… berharap. Saya berharap bahwa pada akhirnya, manusia akan
memilih kejujuran. Saya berharap bahwa pada akhirnya, manusia akan memilih
kedamaian. Saya berharap bahwa pada akhirnya, manusia akan memilih… kebenaran.
Tapi jika mereka tidak memilih, Baginda, saya punya rencana lain. Rencana yang
lebih keras. Rencana yang lebih menyakitkan. Rencana yang… tidak akan bisa
dihadapi oleh orang yang tidak jujur."
Harun Al-Rasyid mencondongkan tubuhnya ke depan, penasaran.
"Rencana apa?"
Abu Nawas tersenyum. Senyum yang misterius, senyum yang
membuat Harun Al-Rasyid merasa bahwa lelaki kurus di hadapannya ini menyimpan
ribuan rahasia di balik jubah lusuhnya.
"Baginda, saya akan memanggil seorang penjahit.
Penjahit yang bisa menentukan mana jahitan yang dibuat oleh tangan yang gemetar
karena sakit, dan mana jahitan yang dibuat oleh tangan yang gemetar karena…
takut ketahuan."
Harun Al-Rasyid mengangkat alis. "Apa bedanya? Gemetar
tetaplah gemetar. Tidak ada yang bisa membedakan."
"Ada, Baginda. Tangan yang gemetar karena sakit,
Baginda, akan meninggalkan pola yang tidak teratur. Kadang kencang, kadang
longgar, kadang miring, kadang lurus. Tidak ada konsistensi. Seperti jalan
setapak di padang pasir yang diterpa angin. Tidak ada arah yang jelas. Tidak
ada tujuan yang pasti. Hanya… gemetar."
Ia mengambil sesuatu dari sakunya—bukan kurma kali ini,
tetapi sepotong kain kecil dengan jahitan yang tidak rapi, mungkin contoh yang
ia minta dari seorang penjahit di pasar untuk keperluan ini.
"Tapi tangan yang gemetar karena takut ketahuan,
Baginda, akan meninggalkan pola yang berbeda. Gemetar hanya pada saat-saat
tertentu. Pada saat-saat kritis. Pada saat-saat ketika ia takut kesalahannya
terlihat. Seperti sungai yang berkelok-kelok menghindari batu besar. Berusaha
terlihat lurus, tetapi sebenarnya… berbelok."
Ia meletakkan kain itu di lantai di hadapan Baginda Raja,
menunjukkan jahitan-jahitan yang berbeda.
"Dan seorang penjahit yang baik, Baginda, yang sudah
puluhan tahun bekerja dengan jarum dan benang, yang sudah melihat ribuan jenis
jahitan, yang sudah merasakan ribuan jenis kain, bisa membaca pola itu. Bisa
melihat kebenaran di balik jahitan. Bisa membedakan mana yang sakit dan mana
yang takut. Bisa… melihat siapa yang jujur dan siapa yang berbohong."
Harun Al-Rasyid mengambil kain itu, memeriksanya dengan
saksama. Ia tidak bisa melihat perbedaannya. Baginya, semua jahitan itu sama.
Tidak rapi. Tidak konsisten. Hanya… jahitan biasa.
"Aku tidak bisa melihat perbedaannya, Abu Nawas,"
katanya jujur.
Abu Nawas tersenyum. "Karena Baginda bukan penjahit,
Baginda. Baginda adalah raja. Dan raja, Baginda, tidak perlu menjadi penjahit.
Raja cukup menjadi… raja. Raja yang bijaksana. Raja yang adil. Raja yang…
mendengarkan. Mendengarkan penjahit yang tahu tentang jahitan. Mendengarkan
petani yang tahu tentang tanah. Mendengarkan nelayan yang tahu tentang laut.
Mendengarkan… pelawak yang tahu tentang manusia."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tertawa. Tawa yang keras, tawa
yang bebas, tawa yang sudah lama tidak terdengar di ruangan ini. "Kau
benar, Abu Nawas. Aku tidak perlu menjadi penjahit. Aku hanya perlu…
mendengarkan. Mendengarkan orang yang lebih tahu. Mendengarkan orang yang lebih
berpengalaman. Mendengarkan orang yang… lebih bijaksana."
Ia meletakkan kain itu kembali, menatap Abu Nawas dengan
mata yang berbeda. Mata yang tidak lagi melihatnya sebagai pelawak. Mata yang
melihatnya sebagai… guru.
"Tapi untungnya," lanjut Abu Nawas, "saya
tidak perlu memanggil penjahit. Karena mereka memilih jujur. Mereka memilih
damai. Mereka memilih… kebenaran. Dan itu, Baginda, adalah kemenangan terbesar.
Bukan kemenangan salah satu pihak atas pihak lain. Tapi kemenangan kejujuran
atas kebohongan. Kemenangan kerendahan hati atas kesombongan. Kemenangan…
kedamaian atas pertengkaran."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid berdiri, berjalan ke jendela
yang menghadap ke timur, di mana matahari pagi mulai meninggi di balik
menara-menara istana. Ia menatap langit Baghdad yang cerah, biru, tanpa awan.
Langit yang sama yang disaksikan oleh kakeknya, ayahnya, dan dirinya sendiri
selama bertahun-tahun. Langit yang menjadi saksi bisu dari semua yang terjadi
di istana ini. Semua intrik. Semua kebohongan. Semua keadilan. Semua
ketidakadilan.
"Abu Nawas," katanya, suaranya rendah, seperti
orang yang sedang berbicara dengan jiwanya sendiri, "aku telah menjadi
raja selama bertahun-tahun. Aku telah memutuskan ribuan perkara. Aku telah
menghukum ribuan orang. Aku telah memberi ampun kepada ribuan orang. Tapi hari
ini… hari ini aku belajar sesuatu yang tidak pernah aku pelajari
sebelumnya."
Ia berbalik menghadap Abu Nawas.
"Aku belajar bahwa keadilan tidak perlu kekerasan. Aku
belajar bahwa kebenaran tidak perlu teriakan. Aku belajar bahwa kejujuran tidak
perlu sumpah. Aku belajar bahwa kadang-kadang, yang paling berkuasa bukanlah
pedang, bukanlah hukum, bukanlah hukuman, tetapi… kesabaran. Kesabaran untuk
menunggu. Kesabaran untuk mendengar. Kesabaran untuk… membiarkan kebenaran
muncul dengan sendirinya."
Abu Nawas berdiri, membungkuk dalam-dalam, lebih dalam dari
biasanya, lebih dalam dari yang pernah ia lakukan di hadapan Baginda Raja.
"Baginda," katanya, "saya hanya seorang pelawak
yang suka kurma. Saya tidak mengajarkan apa pun. Saya hanya… membantu. Membantu
kebenaran menemukan jalannya. Membantu keadilan menemukan bentuknya. Membantu
manusia… menemukan dirinya sendiri. Tapi Baginda, Baginda yang memutuskan.
Baginda yang memberi maaf. Baginda yang… menjadi raja yang bijaksana. Dan
kebijaksanaan, Baginda, adalah hadiah yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun.
Kebijaksanaan harus ditemukan sendiri. Dan hari ini, Baginda telah
menemukannya."
Baginda Raja Harun Al-Rasyid tersenyum. Senyum yang tulus.
Senyum yang jarang ia tunjukkan di depan para pejabat istana, tetapi sering ia
tunjukkan ketika berbicara dengan Abu Nawas.
"Kau benar, Abu Nawas. Aku telah menemukannya. Aku
telah menemukan bahwa timbangan yang paling adil bukan di tangan hakim, tapi di
dalam hati manusia. Di dalam hati yang berani jujur. Di dalam hati yang berani
mengaku salah. Di dalam hati yang berani… merelakan."
BAB 10: PELAJARAN BAGI ISTANA DAN RAKYAT
Beberapa pekan kemudian, di pasar kecil di pinggiran
Baghdad, di lorong sempit antara kios Umar dan kios Hasan, suasana berubah.
Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi tuduhan, tidak ada lagi pertengkaran.
Yang ada adalah suara palu yang memukul batu, suara sekop yang menggali tanah,
suara orang-orang yang bekerja bersama-sama, bukan untuk diri mereka sendiri,
tetapi untuk semua orang.
Sejak pagi buta, Umar dan Hasan sudah berada di lorong itu,
di tempat di mana kantong emas ditemukan, di tempat di mana mereka bertengkar,
di tempat di mana mereka hampir kehilangan segalanya—kejujuran, persahabatan,
harga diri. Kini, mereka bekerja bersama, membangun sesuatu yang akan menjadi
pengingat bagi mereka dan semua orang yang lewat. Sebuah sumur.
Bukan sumur biasa. Sumur itu tidak besar, tidak megah,
tidak dihiasi dengan ukiran atau permata. Sumur itu sederhana, dari batu bata
merah yang disusun rapi dengan campuran kapur dan pasir yang diaduk oleh
tangan-tangan yang tidak terbiasa dengan pekerjaan kasar—tangan Umar yang kurus
dan penuh kapalan, tangan Hasan yang gemuk dan masih lembut—tetapi dikerjakan
dengan hati yang tulus. Bibir sumur dari batu padas yang dihaluskan, dengan
timba dari kayu jati yang dipesan khusus dari tukang kayu di pasar utara, dan
tali dari serat kurma yang dianyam oleh para wanita di sekitar pasar.
Di atasnya, sebuah papan kayu kecil, tidak lebih besar dari
telapak tangan orang dewasa, ditancapkan dengan paku besi yang sudah berkarat.
Di papan itu, ditulis dengan tinta hitam yang tidak mudah luntur, oleh seorang
penulis kaligrafi yang dipanggil khusus dari istana atas perintah Baginda Raja,
kalimat yang singkat tetapi dalam: "Sumur Kejujuran. Dibangun dari
emas yang direlakan, untuk mengingatkan bahwa kebenaran lebih berharga dari
harta."
Setiap pagi, sebelum pasar mulai ramai, sebelum para
pedagang membuka kios dan para pembeli mulai berdatangan, Umar dan Hasan
mengambil air dari sumur itu bersama-sama. Mereka tidak lagi bertengkar. Mereka
tidak lagi saling menuduh. Mereka menjadi tetangga yang baik, sahabat yang
baik, manusia yang… lebih baik.
Suatu pagi, ketika matahari baru saja terbit di ufuk timur,
menyinari pasar dengan cahaya keemasan yang lembut, Umar dan Hasan duduk di
tepi sumur itu, dengan dua gayung air dingin di tangan mereka. Mereka baru saja
selesai menggali tanah untuk memperdalam sumur—pekerjaan tambahan yang mereka
lakukan tanpa diminta, karena mereka ingin sumur itu tidak pernah kering, tidak
pernah kehabisan air, tidak pernah kehabisan… pelajaran.
"Umar," kata Hasan, menyesap air dari gayungnya,
"kau tahu, aku sudah lama tidak merasa setenang ini. Aku sudah lama tidak
bisa tidur nyenyak. Tapi sejak sumur ini dibangun, sejak kita berdamai, sejak
aku… jujur, aku bisa tidur. Aku bisa tertawa. Aku bisa… hidup."
Umar tersenyum. Wajahnya yang keriput menjadi lebih cerah,
matanya yang sayu menjadi lebih bersinar.
"Hasan, aku juga. Aku sudah lima belas tahun berdagang
di pasar ini. Aku sudah melihat banyak hal. Aku sudah mengalami banyak hal.
Tapi tidak ada yang lebih berat dari… kebohongan. Tidak ada yang lebih
menyakitkan dari… kepalsuan. Tidak ada yang lebih melelahkan dari…
berpura-pura. Sejak aku jujur, sejak aku mengaku bahwa aku tidak yakin, sejak
aku… merelakan, aku merasa seperti terbebas dari belenggu yang selama ini
mengikatku."
Ia menyesap airnya, merasakan dinginnya menyegarkan
tenggorokan.
"Kau tahu, Hasan, aku sudah lupa kapan terakhir kali
aku minum air yang rasanya seenak ini. Air dari sumur ini… rasanya berbeda.
Rasanya… jujur. Rasanya… damai. Rasanya… seperti ampunan."
Hasan mengangguk. "Aku juga merasakannya, Umar. Air
ini tidak lebih dingin dari air sumur lain. Tidak lebih jernih. Tidak lebih
segar. Tapi rasanya… rasanya seperti kebenaran. Rasanya seperti… kelegaan.
Rasanya seperti… pulang."
Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan pagi yang baru
saja mulai diramaikan oleh suara-suara pedagang yang membuka kios, suara
gerobak yang berderit, suara anak-anak yang berlarian.
"Umar," kata Hasan lagi, "kau pernah
bertanya pada dirimu sendiri, setelah semua ini, apa yang sebenarnya kau
inginkan dari kantong emas itu?"
Umar berpikir sejenak. "Aku ingin hidupku lebih baik,
Hasan. Aku ingin isteriku tidak perlu khawatir tentang besok. Aku ingin
anak-anakku bisa sekolah. Aku ingin… tidak perlu susah lagi. Tapi sekarang…
sekarang aku sadar bahwa emas tidak akan memberiku semua itu. Emas hanya akan memberiku…
kecemasan. Kecemasan karena takut kehilangan. Kecemasan karena takut dicuri.
Kecemasan karena takut… ketahuan."
Ia menatap sumur yang mereka bangun bersama.
"Tapi sumur ini, Hasan, sumur ini memberi sesuatu yang
tidak bisa diberikan oleh emas. Sumur ini memberi… kedamaian. Setiap kali aku
minum dari sumur ini, aku ingat bahwa aku bisa jujur. Setiap kali aku melihat
orang lain minum dari sumur ini, aku ingat bahwa aku bisa damai. Setiap kali
aku mendengar suara air yang mengalir, aku ingat bahwa kebenaran… akan selalu
menemukan jalannya."
Hasan tersenyum. "Kau bijak, Umar. Lebih bijak dari
yang aku kira."
"Aku tidak bijak, Hasan. Aku hanya… belajar. Belajar
dari Abu Nawas. Belajar dari Baginda Raja. Belajar dari… sumur ini."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang ringan. Tawa yang bebas.
Tawa yang tidak perlu disembunyikan. Tawa yang… jujur.
Di kejauhan, dari arah istana, terdengar suara tawa Baginda
Raja Harun Al-Rasyid. Tawa yang bergema di pagi Baghdad, tawa yang membawa
kedamaian bagi kota yang selalu haus akan keadilan. Abu Nawas, yang sedang
duduk di Kedai Al-Farabi di pinggiran kota, mendengar tawa itu meskipun
jaraknya jauh. Tawa Baginda Raja, pikirnya, adalah barometer Baghdad. Jika
Baginda Raja tertawa, berarti semuanya baik-baik saja. Jika Baginda Raja diam,
berarti ada badai yang akan datang. Dan pagi ini, Baginda Raja tertawa. Pagi
ini, Baghdad baik-baik saja.
Ia mengambil kurma dari mangkuk di hadapannya—kurma Sukkari
dari kebun pribadi Baginda Raja, jatah mingguan yang baru saja ia ambil kemarin—dan
memasukkannya ke mulut dengan nikmat.
"Tuan Abu Nawas," kata seorang pemuda yang duduk
di meja sebelah, seorang pedagang kecil yang baru saja membuka kios di pasar
dekat sumur kejujuran, "saya dengar Tuan yang memutuskan perkara kantong
emas itu. Saya dengar Tuan yang membuat Umar dan Hasan berdamai. Saya dengar
Tuan yang… mengajarkan keadilan tanpa kekerasan."
Abu Nawas tersenyum. "Saya tidak memutuskan apa pun,
Nak. Saya hanya… membantu. Membantu mereka melihat. Membantu mereka berpikir.
Membantu mereka… jujur. Keputusan ada di tangan mereka. Kejujuran ada di hati
mereka. Keadilan ada di… Baginda Raja."
Pemuda itu mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya mengerti.
"Tuan, apakah keadilan selalu seperti itu? Selalu lembut? Selalu sabar?
Selalu… tanpa kekerasan?"
Abu Nawas mengambil kurma lain, memutarnya di antara
jari-jarinya seperti pesulap memutar koin.
"Nak," katanya, "keadilan tidak selalu
lembut. Ada kalanya keadilan harus tegas. Ada kalanya keadilan harus keras. Ada
kalanya keadilan harus… memenggal. Tapi sebelum sampai di sana, Nak, keadilan
harus diberi kesempatan. Kesempatan untuk berbicara. Kesempatan untuk didengar.
Kesempatan untuk… meresap. Karena keadilan yang dipaksakan, Nak, bukanlah
keadilan. Keadilan yang dipaksakan adalah… kekerasan. Dan kekerasan, Nak, hanya
melahirkan kekerasan baru."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Tapi keadilan yang lahir dari kesadaran, Nak, dari
kerelaan, dari kejujuran… keadilan seperti itu akan bertahan lama. Akan
mengakar dalam. Akan memberi buah yang manis. Seperti sumur yang mereka bangun,
Nak. Sumur itu tidak dibangun dengan paksaan. Sumur itu dibangun dengan
kerelaan. Dengan kejujuran. Dengan… kesadaran. Dan airnya, Nak, airnya akan
mengalir terus. Tidak pernah kering. Tidak pernah habis. Tidak pernah…
kehilangan rasa."
Pemuda itu tersenyum. "Terima kasih, Tuan. Saya
belajar banyak hari ini."
"Jangan belajar dari saya, Nak. Belajarlah dari sumur
itu. Belajarlah dari Umar dan Hasan. Belajarlah dari… kejujuran."
EPILOG: TIMBANGAN DALAM HATI
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan
cahaya keemasan menyinari Sungai Tigris, menciptakan pantulan yang berkilau
seperti emas cair di permukaan air yang tenang, Abu Nawas duduk di Kedai
Al-Farabi, di tempat favoritnya di sudut ruangan. Di depannya, segelas air
tajin dingin yang masih segar, semangkok kurma Sukkari yang mengilap seperti
batu akik—jatah mingguan yang baru saja ia ambil dari istana pagi ini—dan
sebotol kecil anggur yang ia sembunyikan di balik jubahnya, meskipun ia sudah
berjanji pada Jafar untuk tidak minum anggur di tempat umum. Janji, pikirnya,
adalah sesuatu yang mulia. Tapi anggur, pikirnya, juga sesuatu yang mulia. Dan
terkadang, dua hal yang mulia bisa berdampingan dengan damai.
Ia tidak sendirian. Di bangku di hadapannya, duduk Wazir
Jafar, yang datang dengan pakaian biasa tanpa atribut kebesaran, berusaha untuk
tidak dikenali oleh pengunjung lain—meskipun semua orang di kedai itu sudah
tahu bahwa lelaki tampan dengan jubah sederhana itu adalah Wazir terkuat di
kekhalifahan. Jafar tampak lebih santai dari biasanya, lebih tenang, lebih…
bahagia. Mungkin karena perkara Umar dan Hasan sudah selesai. Mungkin karena
Baginda Raja tertawa lagi. Mungkin karena… ia juga belajar sesuatu dari perkara
ini.
"Abu Nawas," kata Jafar sambil menyesap air tajin
yang ia pesan agar tidak mencolok—meskipun air tajin di kedai ini tidak pernah
seenak air tajin di istana, tetapi ia tidak keberatan, "aku masih
penasaran dengan satu hal. Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sejak persidangan
itu selesai."
Abu Nawas mengambil kurma, melemparkannya ke mulut, dan
mengunyah dengan malas. "Apa, Wazirku yang mulia? Apakah tentang Umar?
Tentang Hasan? Tentang sumur? Tentang Baginda Raja yang berlutut di hadapan
Hasan? Karena itu, Wazir, adalah pemandangan yang tidak akan pernah kau
lupakan, bukan? Baginda Raja berlutut. Baginda Raja, Amirul Mukminin, Pemimpin
Orang-Orang Beriman, berlutut di hadapan seorang pedagang kecil yang hampir
berbohong. Itu, Wazir, adalah keadilan yang tidak pernah diajarkan di
sekolah-sekolah hukum."
Jafar tersenyum. "Bukan itu, Abu Nawas. Aku sudah
menerima bahwa Baginda Raja adalah raja yang tidak biasa. Aku sudah menerima
bahwa keadilan bisa datang dalam berbagai bentuk. Tapi ada satu hal yang masih
menggangguku."
"Apa?"
"Ujian yang kau berikan kepada Umar dan Hasan. Ujian
untuk merelakan. Ujian untuk mengalah. Ujian untuk meninggalkan kantong emas
itu di istana. Bagaimana kau tahu bahwa itu akan berhasil? Bagaimana kau tahu
bahwa mereka akan jujur? Bagaimana kau tahu bahwa mereka tidak akan tetap
bersikeras? Bagaimana kau tahu bahwa mereka tidak akan lebih memilih emas
daripada kejujuran? Bagaimana kau tahu bahwa mereka tidak akan…
berbohong?"
Abu Nawas tidak menjawab segera. Ia mengambil kurma lagi,
memutarnya di antara jari-jarinya seperti pesulap memutar koin, menikmati
teksturnya yang lembut, aromanya yang manis, kehadirannya yang menenangkan.
"Wazir," katanya akhirnya, "saya tidak tahu.
Saya hanya… percaya. Percaya bahwa pada akhirnya, manusia akan memilih kejujuran.
Percaya bahwa pada akhirnya, hati nurani akan menang. Percaya bahwa pada
akhirnya, kebenaran akan muncul. Seperti air yang selalu mencari jalan ke
bawah. Seperti api yang selalu menjulang ke atas. Seperti… kebenaran yang
selalu berusaha keluar dari kegelapan."
Ia melemparkan kurma itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
"Tapi Wazir, jika mereka tidak jujur, saya punya
rencana cadangan. Saya sudah mempersiapkannya sejak awal. Sejak saya pertama
kali melihat kantong itu. Sejak saya pertama kali mendengar cerita mereka.
Sejak saya pertama kali merasakan bahwa perkara ini tidak akan selesai dengan
bukti atau saksi."
Jafar mencondongkan tubuhnya ke depan, penasaran.
"Rencana cadangan? Apa?"
Abu Nawas mendekat, menurunkan suaranya menjadi nyaris
berbisik, seperti seorang komplotan yang sedang membagi rahasia terbesar.
"Wazir, saya akan memanggil seorang penjahit. Penjahit
yang bisa menentukan mana jahitan yang dibuat oleh tangan yang gemetar karena
sakit, dan mana jahitan yang dibuat oleh tangan yang gemetar karena… takut
ketahuan."
Jafar mengerutkan kening. "Apa bedanya? Gemetar
tetaplah gemetar. Tidak ada yang bisa membedakan. Tidak ada penjahit di dunia
ini yang bisa membedakan."
"Ada, Wazir. Penjahit yang sudah puluhan tahun bekerja
dengan jarum dan benang. Penjahit yang sudah melihat ribuan jenis jahitan.
Penjahit yang sudah merasakan ribuan jenis kain. Penjahit yang… tangannya
sendiri sudah gemetar karena usia, tetapi matanya masih tajam seperti
elang."
Ia mengeluarkan sepotong kain kecil dari sakunya—kain yang
sama yang ia tunjukkan kepada Baginda Raja beberapa pekan lalu, kain dengan dua
jenis jahitan yang berbeda.
"Lihat, Wazir. Ini jahitan tangan yang gemetar karena
sakit. Lihat polanya. Tidak teratur. Kadang kencang, kadang longgar, kadang
miring, kadang lurus. Tidak ada konsistensi. Seperti langkah orang yang
berjalan di atas pasir yang bergerak. Tidak tahu ke mana arahnya. Tidak tahu
kapan akan berhenti."
Ia menunjukkan bagian lain dari kain itu.
"Dan ini, Wazir, jahitan tangan yang gemetar karena
takut ketahuan. Lihat polanya. Gemetar hanya pada saat-saat tertentu. Pada
saat-saat kritis. Pada saat-saat ketika ia takut kesalahannya terlihat. Seperti
sungai yang berkelok-kelok menghindari batu besar. Berusaha terlihat lurus,
tetapi sebenarnya… berbelok."
Jafar mengambil kain itu, memeriksanya dengan saksama. Ia
tidak bisa melihat perbedaannya. Baginya, semua jahitan itu sama. Tidak rapi.
Tidak konsisten. Hanya… jahitan biasa.
"Aku tidak bisa melihat perbedaannya, Abu Nawas,"
katanya jujur.
Abu Nawas tersenyum. "Karena Wazir bukan penjahit,
Wazir. Wazir adalah wazir. Dan wazir, Wazir, tidak perlu menjadi penjahit.
Wazir cukup menjadi… wazir. Wazir yang bijaksana. Wazir yang adil. Wazir yang…
mendengarkan. Mendengarkan penjahit yang tahu tentang jahitan. Mendengarkan
petani yang tahu tentang tanah. Mendengarkan nelayan yang tahu tentang laut.
Mendengarkan… pelawak yang tahu tentang manusia."
Jafar tertawa. "Kau benar, Abu Nawas. Aku tidak perlu
menjadi penjahit. Aku hanya perlu… mendengarkan. Mendengarkan orang yang lebih
tahu. Mendengarkan orang yang lebih berpengalaman. Mendengarkan orang yang…
lebih bijaksana."
Ia meletakkan kain itu kembali, menatap Abu Nawas dengan
mata yang berbeda. Mata yang tidak lagi melihatnya sebagai pelawak. Mata yang
melihatnya sebagai… guru.
"Tapi untungnya," lanjut Abu Nawas, "saya
tidak perlu memanggil penjahit. Karena mereka memilih jujur. Mereka memilih
damai. Mereka memilih… kebenaran. Dan itu, Wazir, adalah kemenangan terbesar.
Bukan kemenangan salah satu pihak atas pihak lain. Tapi kemenangan kejujuran
atas kebohongan. Kemenangan kerendahan hati atas kesombongan. Kemenangan…
kedamaian atas pertengkaran."
Jafar mengangkat mangkuk air tajinnya. "Untuk
kejujuran, Abu Nawas. Untuk kedamaian. Untuk… kebenaran."
Abu Nawas mengangkat mangkuk air tajinnya—setelah dengan
cepat menyembunyikan botol anggur di balik jubahnya, karena ia tidak ingin
Jafar melihat bahwa ia hampir melanggar janji.
"Untuk kejujuran, Wazir. Dan untuk kurma Sukkari yang
manisnya pas."
Mereka menyesap minuman mereka bersama, menikmati
keheningan sore yang mulai merambat masuk melalui jendela-jendela kedai yang
terbuka. Di luar, matahari mulai terbenam di ufuk barat, mencelupkan langit
dalam warna jingga, merah, dan ungu, seperti lukisan raksasa yang tidak pernah
selesai.
"Abu Nawas," kata Jafar lagi setelah beberapa
saat, "kau tahu, aku belajar banyak dari perkara ini. Aku belajar bahwa
keadilan tidak selalu bisa diukur dengan timbangan. Bahwa kebenaran tidak
selalu bisa dilihat dengan mata. Bahwa kejujuran tidak selalu bisa diucapkan
dengan kata-kata. Tapi semua itu ada. Di dalam hati. Di dalam kerelaan. Di
dalam… kejujuran."
Abu Nawas mengangguk. "Wazir, timbangan yang paling
adil bukan di tangan hakim, tapi di dalam hati manusia. Di dalam hati yang
berani jujur. Di dalam hati yang berani mengaku salah. Di dalam hati yang
berani… merelakan. Karena hakim bisa salah, Wazir. Timbangan bisa keliru. Bukti
bisa dipalsukan. Saksi bisa berbohong. Tapi hati nurani, Wazir, hati nurani
tidak pernah salah. Hati nurani selalu tahu. Hati nurani selalu… jujur."
Ia mengambil kurma terakhir di mangkuk, melemparkannya ke
udara, dan menangkapnya dengan mulut.
"Dan itulah mengapa, Wazir, saya tidak perlu memanggil
penjahit. Saya tidak perlu membedakan jahitan. Saya tidak perlu mencari bukti.
Karena hati nurani mereka sudah berbicara. Karena keraguan sudah mereka
rasakan. Karena kejujuran sudah mereka pilih. Dan ketika seseorang memilih
kejujuran, Wazir, tidak ada bukti yang lebih kuat dari itu. Tidak ada saksi
yang lebih jujur dari itu. Tidak ada… keadilan yang lebih sempurna dari
itu."
Jafar tersenyum. "Kau bijak, Abu Nawas. Lebih bijak
dari semua hakim di Baghdad. Lebih bijak dari semua menteri di istana. Lebih
bijak dari… aku."
Abu Nawas tertawa. "Jangan katakan itu, Wazir. Nanti
Baginda Raja mendengar. Dan jika Baginda Raja mendengar, beliau akan
mengangkatku menjadi hakim. Dan jika beliau mengangkatku menjadi hakim, saya
harus memakai jubah hakim yang panas dan tidak nyaman. Saya harus duduk di
kursi tinggi yang keras dan tidak enak. Saya harus mendengarkan orang-orang
bertengkar sepanjang hari tanpa bisa tertawa. Dan itu, Wazir, adalah hukuman
yang lebih berat daripada dipenggal kepalanya."
Jafar tertawa. "Kau benar, Abu Nawas. Menjadi hakim
adalah hukuman yang berat. Lebih baik kau tetap menjadi pelawak. Lebih baik kau
tetap duduk di kedai ini, makan kurma, minum air tajin, dan tertawa. Karena
tawamu, Abu Nawas, adalah keadilan yang tidak perlu dipaksakan. Tawamu adalah
kebenaran yang tidak perlu dibuktikan. Tawamu adalah… kejujuran yang tidak
perlu diucapkan."
Di luar kedai, matahari telah sepenuhnya terbenam,
meninggalkan langit yang mulai dipenuhi bintang-bintang. Bintang-bintang yang
bersinar terang, seolah-olah ikut tersenyum melihat dunia di bawahnya. Di
kejauhan, dari arah istana, terdengar suara tawa Baginda Raja Harun
Al-Rasyid—tawa yang bergema di senja Baghdad, tawa yang membawa kedamaian bagi
kota yang selalu haus akan keadilan, tawa yang mengingatkan semua orang bahwa
di tengah kekuasaan yang berat, di tengah intrik yang rumit, di tengah
kebohongan yang bersembunyi di balik senyum, masih ada ruang untuk tawa. Masih
ada ruang untuk kejujuran. Masih ada ruang untuk… timbangan dalam hati.
Abu Nawas mendengar tawa itu, dan tersenyum. Ia menyesap
air tajinnya, mengambil kurma terakhir—yang ternyata masih tersisa satu butir
di dasar mangkuk—melemparkannya ke udara, dan menangkapnya dengan mulut.
"Timbangan yang paling adil," gumamnya sambil
mengunyah, "bukan di tangan hakim. Tapi di dalam hati manusia. Di dalam
hati yang berani jujur. Di dalam hati yang berani mengaku salah. Di dalam hati
yang berani… merelakan. Karena timbangan bisa berkarat. Hakim bisa mati. Hukum
bisa berubah. Tapi hati nurani, wahai saudara-saudaraku, hati nurani akan
selalu ada. Hati nurani akan selalu berbicara. Hati nurani akan selalu…
menuntun."
Ia memanggil pelayan kedai untuk yang ketiga kalinya malam
itu.
"Nak, tambah kurma satu mangkuk. Dan air tajin satu
gelas. Saya sedang merenungkan sesuatu yang sangat berat: apakah keadilan lebih
mudah ditegakkan dengan timbangan atau dengan hati? Apakah kebenaran lebih
mudah ditemukan dengan mata atau dengan nurani? Apakah kejujuran lebih mudah
diucapkan dengan kata-kata atau dengan diam? Ini teka-teki yang tidak kalah
pentingnya dari sengketa kantong emas di istana. Dan saya, Nak, tidak akan bisa
tidur sebelum teka-teki ini terjawab."
Pelayan itu tertawa, bergegas mengambil pesanan.
Dan di luar, di kejauhan, tawa Baginda Raja masih bergema,
mengingatkan semua orang bahwa keadilan tidak perlu kekerasan. Bahwa kebenaran
tidak perlu teriakan. Bahwa kejujuran tidak perlu sumpah. Bahwa timbangan yang
paling adil adalah timbangan dalam hati. Timbangan yang tidak pernah berkarat.
Timbangan yang tidak pernah salah. Timbangan yang tidak pernah… kehilangan
keseimbangan.
Abu Nawas menyesap air tajinnya, tersenyum, dan memejamkan
mata.
"Timbangan dalam hati," gumamnya. "Itu lebih
ringan dari emas. Tapi jauh lebih berat untuk ditepis. Itu lebih kecil dari
telapak tangan. Tapi bisa menimbang seluruh dunia. Itu lebih diam dari bisikan.
Tapi suaranya bisa menggetarkan langit. Itu… keadilan sejati. Itu… kebenaran
hakiki. Itu… kejujuran mutlak."
Ia membuka matanya, menatap bintang-bintang yang bersinar
di luar jendela kedai.
"Dan kita semua, Nak, memiliki timbangan itu. Di dalam
hati. Di dalam nurani. Di dalam… diri kita sendiri. Yang perlu kita lakukan
hanyalah… mendengarkannya. Mendengarkan ketika ia berbicara. Mendengarkan
ketika ia memanggil. Mendengarkan ketika ia… menuntun. Karena timbangan itu,
Nak, tidak pernah salah. Timbangan itu selalu tahu. Timbangan itu selalu…
jujur."
TAMAT
Kata Bijak dari Abu Nawas:
"Keadilan bukan tentang siapa yang paling keras
bersuara, tetapi siapa yang paling jujur dalam diam. Kebenaran bukan tentang
siapa yang paling banyak bukti, tetapi siapa yang paling berani mengaku salah.
Kejujuran bukan tentang siapa yang paling sering bersumpah, tetapi siapa yang
paling rela melepaskan. Karena timbangan yang paling adil bukan di tangan
hakim, tapi di dalam hati manusia. Di dalam hati yang berani jujur. Di dalam
hati yang berani mengaku salah. Di dalam hati yang berani… merelakan."
—Abu Nawas, di Kedai Al-Farabi, pinggiran Baghdad











