Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Kamis, 23 April 2026

Jejak Waktu, Langit yang Mulai Retak

 


 
 

TRILOGI ROMAN EPIK

JEJAK WAKTU


JILID KEDUA

Jejak Waktu, Langit yang Mulai Retak

"Kadang pengkhianatan terbesar bukan menghancurkan cinta, tetapi mencuri waktu yang seharusnya menjadi milik dua orang."


Oleh: Slamet Riyadi


Prolog

Kota yang Menelan Langkah


Tahun 1985.

Tujuh tahun telah berlalu sejak Danang meninggalkan desa. Tujuh tahun sejak ia berdiri di pinggir jalan desa yang sunyi, memegang pita biru di tangan, menyaksikan mobil tua yang membawa Kirana menghilang di tikungan. Tujuh tahun sejak ibunya meninggal di kursi bambu dengan senyum di bibir. Tujuh tahun sejak Sastrowiryo pergi tanpa pamit, tanpa kabar, tanpa jejak. Tujuh tahun sejak masa kecilnya berakhir di tepi Sungai Kapuas.

Danang sekarang berusia empat belas tahun. Ia tidak lagi anak kecil kurus yang mudah ditindas oleh Surya. Waktu dan kerasnya kehidupan di kota telah mengubahnya. Tubuhnya yang dulu kecil dan kurus, kini mulai tumbuh tinggi. Bahunya mulai melebar, meskipun tidak sebidan Sastrowiryo. Tangannya yang dulu mungil dan lembut, kini kasar, penuh kapalan, dengan bekas luka kecil di sana-sini akibat pekerjaan kasar yang ia lakukan untuk bertahan hidup.

Wajahnya yang dulu polos dan penuh rasa ingin tahu, kini lebih tegas. Tulang pipinya yang dulu terlalu menonjol kini lebih proporsional dengan wajahnya yang mulai dewasa. Rahangnya yang dulu masih bulat seperti anak-anak, kini mulai membentuk garis yang lebih tegas, lebih maskulin. Matanya yang dulu terlalu gelap dan terlalu dalam untuk anak seusianya, kini semakin gelap, semakin dalam, seperti sumur yang tidak pernah mencapai dasar.

Tapi yang paling berubah adalah matanya. Matanya tidak lagi penuh rasa ingin tahu seperti dulu. Tidak lagi berbinar-binar ketika melihat sesuatu yang baru. Matanya kini lebih tenang, lebih waspada, lebih seperti orang yang sudah terlalu sering dikecewakan oleh kehidupan. Matanya seperti air danau yang gelap, yang permukaannya datar tetapi di dalamnya menyimpan kedalaman yang tidak terlihat.

Danang tidak pernah kembali ke desa sejak kepergiannya. Ia tidak tahu apa yang terjadi di sana. Ia tidak tahu apakah Surya masih tinggal di desa itu. Ia tidak tahu apakah rumahnya masih berdiri atau sudah roboh dimakan usia. Ia tidak tahu apakah tetangga-tetangganya masih mengingatnya, masih membicarakannya, masih membisikkan aib keluarganya di setiap kesempatan.

Ia tidak ingin tahu.

Ia ingin melupakan.

Melupakan desa.

Melupakan sungai.

Melupakan pohon waru.

Melupakan rumah panggung dengan tiang kayu ulin yang mulai lapuk.

Melupakan ibunya yang meninggal di kursi bambu.

Melupakan ayah tirinya yang pergi tanpa pamit.

Melupakan ayah kandungnya yang tidak pernah ia kenal.

Melupakan Kirana.

Tapi ia tidak bisa melupakan Kirana.

Pita biru itu masih ia simpan. Di dalam kotak kayu kecil yang ia buat sendiri dari potongan kayu bekas. Kotak yang ia letakkan di dasar kopernya, di antara baju-baju lusuh dan buku-buku bekas yang ia kumpulkan dari pasar loak. Pita yang warnanya kini hampir putih, birunya hampir hilang seluruhnya, hanya tersisa sedikit di serat-serat kain yang masih tersisa.

Ia tidak pernah membuka kotak itu. Tidak pernah. Sudah bertahun-tahun ia tidak membukanya. Karena ia takut. Takut bahwa jika ia membuka kotak itu, jika ia melihat pita itu lagi, jika ia mengingat Kirana lagi, ia akan hancur. Ia akan teringat pada janji di tepi sungai. Ia akan teringat pada genggaman tangan Kirana. Ia akan teringat pada kata-kata Kirana: "Aku akan kembali."

Dan ia tidak bisa menunggu lagi.

Ia sudah lelah menunggu.


Kereta kayu tua berhenti perlahan di stasiun kecil pinggir kota. Lokomotifnya mengeluarkan suara mendesis seperti naga yang kelelahan, seperti raksasa yang menghembuskan napas terakhirnya setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Uap putih mengepul dari cerobong asap, membubung ke langit pagi yang masih kelabu, membawa bau batu bara yang menyengat, bau yang sudah sangat akrab di hidung Danang setelah bertahun-tahun naik turun kereta antar kota.

Suara peluit panjang memecah pagi, seperti tangisan logam yang memanggil pulang, seperti ratapan dari dunia lain yang tidak bisa dimengerti manusia. Seorang kondektur tua dengan seragam coklat yang sudah kusam dan lusuh, berteriak-teriak dari gerbong paling depan, memberitahu para penumpang bahwa kereta akan berhenti di stasiun ini selama lima belas menit sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.

"Stasiun Purwokerto! Stasiun Purwokerto! Kereta akan berhenti selama lima belas menit! Penumpang yang turun di sini, segera turun! Penumpang yang melanjutkan perjalanan, jangan kemana-mana!"

Orang-orang turun dengan tas lusuh dan wajah lelah. Ada yang membawa karung beras di pundak, tubuh mereka membungkuk karena beban. Ada yang membawa ayam hidup dalam keranjang bambu, ayam-ayam itu berkotek-kotek, kepalanya mendongak-dongak, seperti sedang protes karena perjalanan yang terlalu lama. Ada yang membawa bayi yang menangis karena kaget oleh suara kereta, suara tangis bayi itu nyaring, menusuk telinga, mengganggu penumpang lain yang sudah lelah.

Ada yang hanya membawa diri mereka sendiri, dengan koper tua yang sudah tidak layak pakai, yang gagangnya terlepas, yang kulitnya mengelupas, yang sudutnya bolong, tetapi masih mereka bawa karena itu satu-satunya harta yang tersisa.

Di antara mereka, Danang Wiratama melangkah turun dengan sebuah koper tua di tangan. Koper itu milik Sastrowiryo, atau mantan ayah tirinya, atau seseorang yang pernah ia panggil "Bapak" selama bertahun-tahun. Koper dari kulit sintetis berwarna coklat tua, dengan gesper kuningan yang sudah berkarat, yang sulit dibuka karena karatnya sudah mengeras. Di sudut kanan bawah, ada inisial "SW" yang sudah hampir hilang karena gesekan, hanya terlihat seperti coretan tak berarti.

Usianya sekarang sembilan belas tahun. Lima tahun telah berlalu sejak ia pertama kali meninggalkan desa. Lima tahun sejak ia menjadi anak perantauan. Lima tahun sejak ia belajar bahwa hidup di kota tidak semudah yang ia bayangkan. Lima tahun sejak ia belajar bahwa uang tidak mudah didapat, bahwa pekerjaan tidak mudah dicari, bahwa manusia tidak selalu baik, bahwa dunia tidak adil.

Lima tahun yang melelahkan. Lima tahun yang mengajarkannya banyak hal. Lima tahun yang membentuknya menjadi lelaki yang sekarang berdiri di peron stasiun ini, dengan koper tua di tangan, dengan wajah lelah, dengan hati yang masih menyimpan luka lama.

Ia berdiri sejenak di peron, memandang kota yang asing di hadapannya.

Ini bukan kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Ini kota kecil di Jawa Tengah, dengan populasi yang tidak terlalu padat, dengan hiruk-pikuk yang tidak terlalu membingungkan, dengan penduduk yang masih ramah dan belum terlalu terpengaruh oleh modernisasi. Tapi bagi Danang, yang terbiasa dengan desa yang hanya berpenduduk beberapa ratus orang, kota ini sudah terasa sangat besar, sangat ramai, sangat menakutkan.

Lampu-lampu mulai menyala satu per satu di kejauhan, meskipun hari masih pagi. Lampu neon yang berwarna putih kebiruan, yang terangnya menyilaukan mata, sangat berbeda dengan lampu minyak yang redup dan hangat yang biasa ia gunakan di desa. Lampu-lampu itu berkedip-kedip, bergantian menyala dan mati, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.

Suara kendaraan bercampur teriakan pedagang kaki lima yang menawarkan makanan dan minuman. "Sate! Sate kambing muda! Masih hangat!" "Gudeg! Gudeg khas Solo! Enak! Murah!" "Es dawet! Es dawet segar! Pelepas dahaga!" "Kopi! Kopi hitam panas! Kopi tubruk khas Jawa!"

Aroma kopi, asap rokok, knalpot, dan tanah basah bercampur menjadi satu bau yang khas. Bau kota. Bau kehidupan yang berjalan terlalu cepat. Bau yang membuat Danang merasa pusing, merasa sesak, merasa bahwa ia tidak cocok di sini. Tapi ia tidak punya pilihan. Desa sudah tidak lagi menjadi rumah. Desa hanya kenangan yang menyakitkan. Desa adalah tempat ia kehilangan segalanya.

Kota terasa hidup. Terlalu hidup. Danang menarik napas panjang. Udara kota berbeda dengan udara desa. Di desa, udara terasa bersih, segar, membawa bau tanah dan daun-daun basah, bau yang menenangkan, yang membuat ia merasa aman, yang membuat ia merasa bahwa dunia ini masih baik. Di sini, udara terasa berat, penuh partikel debu dan asap, seperti sedang menghirup sejarah ribuan orang yang lalu lalang di tempat yang sama, seperti sedang menghirup keputusasaan ribuan orang yang datang ke kota dengan harapan tetapi pulang dengan kekecewaan.

"Selamat datang di tempat orang kehilangan dirinya sendiri," kata sebuah suara dari belakangnya.

Danang menoleh.

Seorang pemuda sebaya berdiri sambil tersenyum. Rambutnya sedikit panjang, tidak terlalu rapi, tidak terlalu berantakan, seperti rambut orang yang tidak punya waktu untuk ke salon tetapi juga tidak mau terlihat kusut. Kemejanya lengan pendek, warna biru muda, dengan kerah yang sedikit kusut, digulung sampai siku, memperlihatkan lengan yang kecoklatan karena terik matahari. Celananya kain, warna coklat muda, dengan lipatan setrika yang masih terlihat di bagian depan, meskipun sudah mulai pudar karena sering dicuci.

Matanya tajam tetapi ramah, seperti mata orang yang sudah terbiasa membaca karakter orang lain hanya dengan sekali lihat, seperti mata pedagang yang sudah terbiasa menawar dan ditawar. Matanya bergerak cepat dari ujung rambut Danang yang ikal dan tidak pernah rapi, ke kopernya yang tua dan lusuh, ke sepatunya yang bolong di bagian jempol.

"Aku Arman," katanya sambil mengulurkan tangan. Jabatannya kuat, tegas, seperti orang yang percaya diri, seperti orang yang tidak takut pada siapa pun, seperti orang yang sudah terbiasa berjabat tangan dengan orang asing. "Teman sepupu kau. Sepupuku, Budi, yang kerja di percetakan itu. Dia bilang kau butuh pekerjaan. Dia bilang kau orangnya jujur. Dia bilang kau bisa dipercaya."

Danang menyambut tangan itu. "Danang. Danang Wiratama."

Arman tersenyum lebar. Senyum yang mudah, alami, seperti ia tersenyum kepada semua orang, seperti ia tidak pernah punya masalah dengan siapa pun, seperti ia tidak pernah menyimpan dendam atau kebencian. "Danang Wiratama," ulangnya, seperti sedang mencicipi nama itu di lidahnya. "Nama yang bagus. Nama Jawa. Berarti 'unggul' dan 'beriman', ya? Orang tua kau pasti punya harapan besar padamu."

Danang tersenyum tipis. Ia tidak ingin membicarakan orang tuanya. Ia tidak ingin membicarakan masa lalunya. Ia ingin memulai hidup baru di kota ini. Ia ingin menjadi orang baru. Ia ingin melupakan semua yang terjadi di desa.

"Aku dengar kau dari desa di tepi Sungai Kapuas," kata Arman, sambil berjalan di samping Danang menuju pintu keluar stasiun. "Jauh sekali. Naik kereta berapa hari?"

"Tiga hari," jawab Danang singkat. "Naik kereta api dari Pontianak ke Jakarta, terus dari Jakarta ke Purwokerto. Numpang di stasiun. Tidur di bangku. Kadang tidak tidur sama sekali."

Arman mengangguk-angguk, seperti mengerti, meskipun ia mungkin tidak benar-benar mengerti. Ia tumbuh di kota. Ia tidak pernah mengalami perjalanan tiga hari dengan kereta kayu yang lambat, dengan tempat duduk yang keras, dengan bau keringat dan asap rokok dan makanan basi yang bercampur menjadi satu. Ia tidak pernah mengalami tidur di bangku stasiun dengan koper sebagai bantal, dengan ketakutan bahwa kopernya akan dicuri, dengan dingin yang menusuk tulang, dengan suara kereta yang datang dan pergi sepanjang malam.

"Mulai hari ini, kau bukan anak sungai lagi, Danang," kata Arman, sambil menepuk pundak Danang. Tepukan yang ramah, seperti tepukan seorang kakak pada adiknya. "Mulai hari ini, kau anak kota. Anak perantauan. Anak yang harus berjuang untuk hidup. Anak yang tidak punya siapa-siapa selain dirinya sendiri."

Danang menoleh ke arah keramaian kota. Orang-orang berlalu lalang dengan kecepatan yang membuatnya pusing. Becak, sepeda motor, mobil tua, semua bergerak dalam ritme yang tidak bisa ia pahami. Pedagang kaki lima berteriak-teriak menawarkan dagangan mereka. Ibu-ibu dengan keranjang belanja di tangan, berjalan cepat, menghindari genangan air di jalan. Anak-anak sekolah dengan seragam putih merah, berlarian, tertawa, mengejar satu sama lain.

Ia belum tahu.

Bahwa kota ini akan mempertemukannya kembali dengan masa lalu yang paling ingin ia lupakan.

Bahwa di kota ini, ia akan menemukan Kirana.

Bahwa di kota ini, ia akan jatuh cinta untuk kedua kalinya.

Bahwa di kota ini, ia akan kehilangan Kirana untuk kedua kalinya.

Bahwa di kota ini, ia akan belajar bahwa pengkhianatan bisa datang dari orang yang paling ia percayai.

Bahwa di kota ini, ia akan belajar bahwa cinta tidak selalu cukup untuk membuat dua orang bersatu.

Bahwa di kota ini, ia akan belajar bahwa waktu, sejauh apa pun kita berlari, pada akhirnya akan selalu menemukan cara untuk membuat kita berhadapan dengan apa yang kita tinggalkan.

Bab 1

Lelaki yang Membawa Pita Biru

Kamar kos Danang kecil. Sangat kecil. Hanya cukup untuk satu ranjang sempit dengan kasur tipis yang sudah kempes di beberapa bagian, seperti perut orang yang kelaparan. Sebuah meja kayu yang kakinya tidak rata sehingga harus dialasi dengan potongan kardus di salah satu sisi agar tidak goyang setiap kali ia menulis. Dan sebuah jendela kecil yang menghadap gang sempit, yang hanya bisa terbuka setengah karena engselnya sudah berkarat, yang kacanya buram karena debu dan kotoran yang menempel bertahun-tahun tidak dibersihkan.

Dinding kamar terbuat dari papan kayu tipis yang tidak kedap suara. Danang bisa mendengar tetangga di sebelah kanan yang batuk sepanjang malam, batuk kering yang mengganggu, yang membuat Danang sulit tidur. Tetangga di sebelah kiri yang bertengkar setiap jam sembilan malam tepat, seperti sudah dijadwalkan, seperti itu adalah rutinitas malam mereka. Suami istri itu bertengkar tentang uang, tentang anak-anak, tentang mertua, tentang segala hal yang bisa dipertengkarkan. Dan tetangga di atas yang sepertinya suka memindahkan furnitur di tengah malam, suara kursi diseret, suara meja dipindahkan, suara barang-barang jatuh, yang membuat Danang bertanya-tanya apa yang sebenarnya mereka lakukan di sana.

Kamar itu sebenarnya lebih mirip kandang daripada kamar. Dulu, mungkin itu adalah gudang penyimpanan beras atau sayuran. Lantainya semen, kasar, dingin, tidak beralas apa pun selain tikar plastik tipis yang dibeli Danang di pasar seharga seribu rupiah. Dindingnya tidak bercat, hanya bata merah yang dibiarkan terbuka, dengan coretan-coretan bekas penumpang sebelumnya, nama-nama, tanggal-tanggal, kata-kata kotor, gambar-gambar tidak senonoh.

Tapi bagi Danang, yang terbiasa tidur di lantai kayu yang berderit di rumah panggung desanya, kamar ini sudah lebih dari cukup. Setidaknya ia punya tempat untuk pulang setelah seharian bekerja. Setidaknya ia punya atap di atas kepala, meskipun atap itu dari asbes yang bocor di beberapa tempat. Setidaknya ia tidak perlu lagi mendengar bisikan-bisikan tetangga tentang siapa ayah kandungnya, tentang ibunya yang hamil di luar nikah, tentang keluarganya yang bermasalah.

"Kamar ini kecil, ya," kata Arman sambil melihat-lihat kamar kos Danang. Ia berdiri di ambang pintu, tidak masuk, karena kamar itu terlalu sempit untuk dua orang. "Tapi murah. Hanya lima belas ribu sebulan. Termasuk listrik dan air. Lumayan untuk anak perantauan seperti kau."

Danang mengangguk. Ia meletakkan kopernya di atas ranjang, membuka gesper kuningan yang berkarat dengan susah payah. Koper itu terbuka dengan suara berderit, seperti engsel pintu yang sudah lama tidak dibuka, seperti suara sesuatu yang bangun setelah tidur panjang.

Di dalam koper itu, beberapa baju lusuh. Kemeja lengan panjang yang sudah kusam, warnanya pudar karena sering dicuci dengan sabun colek yang keras. Celana kain dua potong, satu warna hitam, satu warna coklat muda, keduanya sudah tambal sulam di bagian lutut dan saku. Jaket tipis warna abu-abu yang sudah lusuh, yang ia beli di pasar loak seharga dua ribu rupiah, yang masih ia simpan meskipun sudah tidak muat karena tubuhnya sudah bertambah besar.

Sebuah buku tulis lama berisi catatan-catatan kecil yang ia tulis selama bertahun-tahun. Catatan tentang desa, tentang sungai, tentang pohon waru, tentang Kirana. Catatan yang ia tulis ketika rindu, ketika sedih, ketika sendirian. Catatan yang tidak pernah ia baca ulang, karena ia takut jika ia membacanya, ia akan menangis, dan ia tidak mau menangis.

Sebuah foto hitam putih ibunya yang masih muda, sebelum sakit, sebelum lelah mengubah wajahnya. Foto yang ia curi dari album keluarga sebelum pergi dari desa. Foto yang sudah menguning di tepi-tepinya, yang sudah sedikit robek di sudut kanan bawah, yang masih ia simpan meskipun setiap kali ia melihatnya, hatinya terasa sesak.

Ratih dalam foto itu tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang tidak pernah ia lihat di kehidupan nyata. Senyum yang mengatakan bahwa dulu, sebelum segalanya menjadi rumit, sebelum ia hamil di luar nikah, sebelum ia menikah dengan Sastrowiryo, sebelum ia sakit, sebelum ia meninggal, ia pernah bahagia. Ia pernah menjadi perempuan muda yang cantik dan penuh harapan.

Dan di sudut koper, terbungkus kain putih bersih yang selalu ia ganti setiap bulan, ada sebuah kotak kayu kecil. Kotak yang ia buat sendiri dari potongan kayu bekas peti kemasan. Kotak yang ia amplas sampai halus, yang ia poles dengan minyak kelapa agar mengkilap. Kotak yang ia simpan di dasar kopernya, di tempat yang paling aman, di tempat yang tidak akan mudah ditemukan orang lain.

Arman yang berdiri di pintu, yang ternyata belum pulang, tertawa kecil ketika melihat Danang membuka koper dan mengeluarkan kotak kayu itu.

"Kau membawa benda perempuan, Danang?" tanya Arman sambil tersenyum. Matanya menatap kotak kayu itu dengan rasa ingin tahu, dengan rasa penasaran, dengan sedikit rasa iri yang tidak ia sadari.

Danang cepat menutup kotak itu. Terlalu cepat. Seperti anak kecil yang ketahuan mencuri kue. Wajahnya yang tadinya tenang, tiba-tiba memerah. Telinganya terasa panas. Jantungnya berdebar lebih cepat. Tangannya yang memegang kotak itu gemetar sedikit.

"Bukan urusanmu, Arman," jawab Danang, suaranya sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia berusaha terlihat tenang, berusaha terlihat seperti tidak ada yang istimewa dengan kotak itu, tetapi gagal. Wajahnya yang merah sudah mengkhianatinya.

Arman mengangkat kedua tangannya, seperti menyerah, seperti mengaku kalah. "Baiklah, baiklah. Rahasia. Aku tidak akan tanya lagi. Aku tidak akan lihat lagi. Aku tidak akan peduli lagi. Terserah kau mau simpan apa di kotak itu. Terserah kau mau bawa ke mana pun. Itu hak kau."

Ia tersenyum, tetapi matanya penasaran. Matanya bergerak dari tangan Danang yang menggenggam erat kotak itu, ke wajah Danang yang berusaha terlihat biasa saja tetapi gagal, ke koper tua yang masih terbuka, ke baju-baju lusuh di dalamnya, ke foto hitam putih Ratih yang tersenyum.

"Apa itu foto ibumu?" tanya Arman, menunjuk ke foto yang tergeletak di atas tumpukan baju.

Danang mengangguk. "Ibu. Sudah meninggal. Waktu aku masih kecil."

"Maaf," kata Arman cepat. "Aku tidak tahu. Aku tidak bermaksud..."

"Tidak apa," potong Danang. "Sudah lama. Aku sudah ikhlas."

Arman tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk, berpura-pura percaya, meskipun ia tahu bahwa Danang tidak ikhlas. Tidak ada anak yang ikhlas ditinggal mati ibunya di usia yang masih sangat muda. Tidak ada anak yang ikhlas tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Tidak ada anak yang ikhlas sendirian di dunia tanpa siapa pun yang benar-benar peduli padanya.


Malam pertama di kota, setelah Arman pamit pulang, Danang duduk di ranjang sempitnya. Ranjang besi dengan kasur tipis yang sudah kempes, yang pegasnya sudah muncul di beberapa tempat, yang menusuk punggungnya setiap kali ia bergerak.

Matanya menatap koper tua yang masih terbuka di lantai. Di dalamnya, baju-baju lusuh, celana tambal sulam, jaket tipis, buku catatan, foto ibunya, dan di sudut paling dasar, kotak kayu kecil yang menyimpan pita biru.

Ia meraih kotak itu.

Tangannya gemetar.

Ia sudah bertahun-tahun tidak membuka kotak ini.

Bertahun-tahun tidak melihat pita itu.

Bertahun-tahun tidak mengingat Kirana.

Ia membuka kotak itu perlahan.

Jari-jarinya yang kaku karena kerja keras, yang kapalan karena mengangkat barang-barang berat di dermaga, yang terluka karena kertas dan pisau di percetakan, membuka tutup kotak dengan hati-hati, seperti sedang membuka peti harta karun yang terkubur selama berabad-abad, seperti sedang membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Di dalam kotak itu, pita rambut biru.

Warnanya mulai pudar. Biru langit yang dulu cerah dan segar, kini menjadi biru keabu-abuan, seperti langit sebelum hujan, seperti langit yang sedang murung. Kainnya mulai rapuh di beberapa bagian, tipis seperti sayap capung, hampir tembus pandang. Tali karetnya sudah kendor, tidak lagi elastis seperti dulu, sudah putus di satu sisi dan diikat ulang dengan benang jahit biasa.

Tapi kenangannya masih utuh. Masih segar. Masih tajam.

Danang memandang benda itu lama.

Matanya tidak berkedip.

Pikirannya terbang melintasi waktu, melintasi tujuh tahun, melintasi jarak antara desa dan kota, antara masa kecil dan masa remaja, antara Danang yang dulu dan Danang yang sekarang.

Ia kembali ke tepi sungai.

Ke pohon waru tua.

Ke seorang gadis kecil dengan rambut panjang yang diikat karet gelang merah.

Ke seorang gadis kecil yang mengangkat jari kelingkingnya dan berjanji akan kembali.

"Danang, aku akan kembali. Aku janji. Aku akan kembali."

"Kapan?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku akan kembali. Suatu hari nanti. Aku janji."

Danang memejamkan mata.

Air matanya jatuh.

Pertama setetes.

Lalu dua tetes.

Lalu tiga tetes.

Lalu tidak bisa dihitung lagi.

Ia tidak berusaha menyembunyikannya.

Tidak ada yang melihat.

Tidak ada yang peduli.

Ia hanya seorang anak perantauan di kamar kos yang sempit, di kota yang tidak dikenalnya, menangis sendirian di malam hari, memegang pita biru yang dulu milik seorang gadis yang mungkin sudah melupakannya.

"Kirana," bisiknya. "Di mana kau sekarang? Apa kau masih ingat janji kita? Apa kau masih ingat aku? Apa kau masih menyimpan pita merah itu? Apa kau masih... apa kau masih..."

Ia tidak bisa melanjutkan.

Tangisnya pecah.

Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.

Ia menangis seperti remaja yang kehilangan cinta pertamanya.

Ia menangis seperti lelaki yang sendirian di dunia tanpa siapa pun yang benar-benar peduli padanya.

Ia menangis untuk Kirana.

Untuk ibunya.

Untuk masa kecilnya.

Untuk semua yang telah hilang.

Untuk semua yang tidak akan pernah kembali.


Malam itu, di kota yang tidak dikenalnya, di kamar sempit yang dingin, di ranjang yang kasurnya kempes dan pegasnya menusuk punggung, Danang tidur dengan satu nama yang masih tinggal diam-diam di dadanya.

Kirana.

Nama yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras selama bertahun-tahun.

Nama yang ia simpan seperti rahasia, seperti harta karun, seperti sesuatu yang terlalu berharga untuk dibagikan kepada siapa pun.

Nama yang menjadi alasan mengapa ia tidak pernah bisa benar-benar mencintai perempuan lain.

Nama yang menjadi alasan mengapa ia selalu merasa ada yang kurang, ada yang hilang, ada yang tidak lengkap dalam hidupnya.

Nama yang menjadi alasan mengapa ia masih hidup, mengapa ia masih berjuang, mengapa ia masih bertahan di kota yang keras dan kejam ini.

Nama yang akan muncul kembali, seperti hantu yang tidak pernah benar-benar mati, tepat ketika ia mulai merasa aman, tepat ketika ia mulai bisa melupakan, tepat ketika ia mulai bisa menerima bahwa ia akan sendirian selamanya.

Bab 2

Toko Buku di Sudut Jalan

Tahun 1987. Dua tahun telah berlalu sejak Danang pertama kali menginjakkan kaki di kota Purwokerto. Dua tahun sejak ia tidur di kamar kos sempit dengan kasur kempes dan pegas menusuk punggung. Dua tahun sejak ia menangis sendirian di malam pertama, memegang pita biru milik Kirana. Dua tahun sejak ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan kuat, bahwa ia akan bertahan, bahwa ia akan membuktikan bahwa anak haram dari desa tepi sungai bisa sukses di kota.

Danang sekarang berusia enam belas tahun. Tubuhnya yang dulu kurus kering mulai berisi, meskipun tidak gemuk. Bahunya semakin lebar, bidang, seperti bahu Sastrowiryo meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah. Tangannya yang dulu mungil dan lembut, kini besar, kasar, penuh kapalan, dengan urat-urat biru yang terlihat jelas di punggung tangan. Jari-jarinya panjang, lentik, seperti jari pemain piano, tetapi kuku-kukunya pendek dan hitam karena kotoran, tidak terawat.

Wajahnya semakin dewasa. Tulang pipinya yang dulu terlalu menonjol kini proporsional dengan bentuk wajahnya yang mulai membentuk garis tegas. Rahangnya kotak, maskulin, memberikan kesan ketegasan dan kekerasan. Alisnya tebal, hampir menyatu di tengah, seperti alis Sastrowiryo. Matanya masih sama: gelap, dalam, seperti lubang sumur tua yang tidak pernah mencapai dasar. Matanya yang dulu penuh rasa ingin tahu, kini lebih tenang, lebih waspada, lebih seperti orang yang sudah terlalu sering dikecewakan.

Danang bekerja di sebuah percetakan kecil milik Pak Suryanto. Percetakan itu terletak di gang sempit di belakang pasar, tersembunyi di antara toko-toko lain yang sama usangnya. Gang itu hanya cukup untuk satu mobil, itupun jika mobilnya tidak terlalu lebar. Dinding-dinding di kiri kanan gang dipenuhi coretan-coretan dan poster-poster usang yang mengelupak. Bau pesing dan sampah kadang tercium dari selokan yang mampet di ujung gang.

Percetakan itu bernama "Suryanto Printing", sebuah nama yang terlalu megah untuk ukuran usahanya. Bangunannya hanya satu ruangan, berukuran sekitar enam kali delapan meter, dengan dinding bata tidak bercat yang sudah menghitam karena usia dan debu tinta. Lantainya semen, kasar, penuh noda tinta hitam dan merah dan biru yang sudah mengering dan tidak bisa dibersihkan lagi. Langit-langitnya tinggi, dengan rangka kayu yang sudah lapuk, dan atap seng yang bocor di beberapa tempat.

Di dalam percetakan itu, ada dua mesin cetak manual tua yang sudah berusia puluhan tahun. Mesin cetak pertama untuk koran dan majalah, mesin cetak kedua untuk buku dan brosur. Mesin-mesin itu terbuat dari besi tua, berat, berkarat di beberapa tempat, tetapi masih berfungsi dengan baik jika dirawat dengan benar. Suaranya keras, menggelegar, seperti suara kereta api yang lewat, seperti suara ribuan genderang yang ditabuh bersamaan. Setiap kali mesin itu dijalankan, seluruh ruangan bergetar, lantai bergetar, dinding bergetar, bahkan gelas di meja ikut bergerak.

Pekerjaan Danang sederhana. Membantu menyusun huruf-huruf timah untuk mesin cetak manual. Huruf-huruf itu kecil, seukuran ujung jari, terbuat dari timah yang sudah meleleh dan dicetak dalam berbagai ukuran dan jenis font. Setiap huruf memiliki cekungan di bagian belakang, tempat di mana ia akan diletakkan di rak penyusun. Tugas Danang adalah mengambil huruf-huruf itu satu per satu dari kotak penyimpanan yang besar, menyusunnya dalam baris-baris sesuai dengan naskah yang akan dicetak, lalu memasukkannya ke dalam mesin cetak.

Pekerjaan itu membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Satu huruf salah, satu baris terbalik, satu spasi kelebihan, maka seluruh halaman harus diulang dari awal. Danang sudah beberapa kali membuat kesalahan di awal-awal bekerja, dan Pak Suryanto memarahinya dengan keras. Tapi Danang cepat belajar. Ia tidak mau dianggap bodoh. Ia tidak mau dianggap tidak berguna. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa.

Selain menyusun huruf, Danang juga bertugas mengangkat kertas-kertas berat dari gudang ke ruang cetak. Kertas-kertas itu dalam bentuk rim, beratnya bisa mencapai lima belas kilogram per rim. Danang harus mengangkatnya, menumpuknya di samping mesin cetak, lalu memotongnya sesuai ukuran yang diinginkan pelanggan. Pekerjaan ini menguras tenaga, membuat otot-otot lengannya terasa sakit setiap malam, tetapi Danang tidak pernah mengeluh. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaan kasar. Ia sudah terbiasa dengan rasa sakit.

Membersihkan mesin-mesin tua yang penuh dengan tinta kering dan debu juga menjadi tugasnya. Setiap hari Jumat sore, setelah semua pekerjaan selesai, Danang harus membersihkan mesin cetak dengan kain lap dan minyak tanah. Tinta kering yang menempel di sela-sela mesin harus digosok dengan sikat besi sampai bersih. Debu yang menumpuk di bawah mesin harus disapu dan dibuang. Pekerjaan ini kotor, bau, melelahkan, tetapi Danang melakukannya dengan teliti, dengan kesabaran, dengan kebanggaan bahwa ia bertanggung jawab atas mesin-mesin itu.

Dan sesekali, ketika tukang antar sakit atau libur, Danang diminta mengantarkan pesanan ke pelanggan. Ia akan mengayuh sepeda tua pemberian Pak Suryanto, sepeda onthel warna hitam dengan rem tromol yang sudah tidak terlalu berfungsi, dan ban yang sudah botak di beberapa tempat. Ia akan menyusuri jalan-jalan di kota Purwokerto, melewati pasar, melewati sekolah, melewati rumah-rumah penduduk, melewati toko-toko, melewati sungai kecil yang mengalir di belakang kota. Pekerjaan ini yang paling ia sukai, karena ia bisa melihat kota, bisa merasakan kehidupan, bisa lupa sejenak pada semua masalah yang ia bawa.


Pak Suryanto, pemilik percetakan, adalah lelaki tua berperut buncit dengan kumis tebal yang selalu ia keriting dengan lilin. Setiap pagi, ia akan menghabiskan waktu setidaknya lima belas menit di depan cermin untuk merapikan kumisnya, melilitkan ujung-ujungnya dengan jari, mengoleskan lilin, lalu menekannya agar bentuknya sempurna. Hasilnya, dua ujung kumisnya melengkung ke atas seperti tanduk kerbau kecil, memberinya penampilan yang eksentrik tetapi menggemaskan.

Umurnya sudah mendekati enam puluh tahun, tetapi semangatnya masih seperti orang muda. Ia datang ke percetakan setiap pagi pukul enam, lebih awal dari semua karyawannya. Ia akan membuka pintu, menyalakan lampu, menyiapkan mesin cetak, dan membuat kopi hitam pekat untuk dirinya sendiri. Kopi hitam tanpa gula, tanpa susu, tanpa apa pun, hanya kopi bubuk kasar yang diseduh dengan air panas, lalu dibiarkan ampasnya mengendap di dasar cangkir.

"Kopi tubruk," katanya suatu pagi ketika Danang bertanya mengapa ia tidak menyaring ampasnya. "Kopi sejati tidak perlu disaring, Nak. Ampasnya adalah bagian dari rasa. Seperti kehidupan. Pahit, getir, tetapi itulah yang membuatnya nyata."

Suaranya keras, seperti suara komandan di lapangan tembak, seperti suara sersan yang melatih tentara baru. Ia terbiasa memberi perintah, terbiasa diikuti, terbiasa tidak dibantah. Tapi hatinya lembut. Danang sudah beberapa kali melihatnya diam-diam memberi uang kepada pengemis yang lewat di depan percetakan, atau membelikan makanan untuk anak jalanan yang tidur di emperan toko sebelah.

Ia jarang membayar Danang dengan uang. Lebih sering dengan makanan. Setiap hari, ia akan menyuruh Danang membeli nasi bungkus dari warung di ujung gang, dua bungkus, satu untuk Danang, satu untuk dirinya. "Makan dulu, Nak. Kerja dengan perut kosong tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali sakit maag," katanya sambil menyodorkan uang receh.

Kadang ia membayar Danang dengan pakaian bekas yang masih layak pakai. "Ini baju keponakanku. Sudah tidak muat. Masih bagus. Kau bisa pakai," katanya sambil melempar bungkusan ke arah Danang. Baju-baju itu memang masih bagus, tidak tambal sulam, tidak lusuh, bahkan ada yang masih berlabel toko.

Kadang ia membayar Danang dengan izin untuk tidur di ruang belakang percetakan jika Danang tidak ingin pulang ke kamar kosnya yang sunyi. Ruang belakang itu kecil, hanya berisi kasur bekas yang dilapisi terpal, dan satu lemari kayu tua yang berisi peralatan cetak yang sudah tidak terpakai. Tapi bagi Danang, ruang itu lebih nyaman daripada kamar kosnya. Setidaknya ia tidak sendirian. Setidaknya ia bisa mendengar suara mesin cetak yang bekerja, suara yang menenangkan, suara yang mengingatkannya bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih punya pekerjaan, bahwa ia masih berguna.

"Kau anak yang rajin, Danang," kata Pak Suryanto suatu pagi, sambil menyeduh kopi hitam pekat di cangkir keramik yang sudah retak di pinggirnya. Cangkir itu sudah menemani Pak Suryanto selama dua puluh tahun, sejak ia pertama kali membuka percetakan ini. Retak di pinggirnya terjadi ketika ia menjatuhkannya lima tahun lalu, tetapi ia tidak mau membuangnya. "Sayang kau tidak sekolah tinggi-tinggi. Dengan otak kau yang encer, kau bisa jadi sarjana. Bisa jadi insinyur. Bisa jadi arsitek. Bisa jadi apa saja."

Danang tersenyum tipis. "Sekolah tidak menjamin apa-apa, Pak. Banyak sarjana nganggur. Banyak orang pintar yang jadi pengangguran. Yang penting kerja keras dan tidak menyerah."

Pak Suryanto tertawa keras. Tawanya menggema di ruang percetakan yang sempit, bergema di antara mesin-mesin cetak yang diam, bergema di antara tumpukan kertas yang menjulang. "Kau terlalu muda untuk bicara seperti itu, Danang. Tapi mungkin kau benar. Mungkin sekolah memang tidak menjamin apa-apa. Tapi pengetahuan, Nak, pengetahuan menjamin segalanya. Baca buku. Banyak-banyak baca buku. Jangan hanya bekerja. Jangan hanya mengejar uang. Bacalah. Belajarlah. Karena buku adalah jendela dunia. Buku adalah guru yang tidak pernah marah. Buku adalah teman yang tidak pernah mengkhianati."

Danang mengangguk. Ia tidak punya uang untuk membeli buku. Ia tidak punya waktu untuk membaca buku. Ia bekerja dari pagi sampai sore, kadang sampai malam jika ada pesanan yang harus segera diselesaikan. Tapi ia menyimpan nasihat Pak Suryanto di dalam hatinya. Suatu hari nanti, ketika ia punya cukup uang, ketika ia punya cukup waktu, ia akan membaca. Ia akan belajar. Ia akan menjadi seseorang yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kuat secara intelektual.


Suatu siang di bulan Mei, ketika hujan mulai turun tipis-tipis, Pak Suryanto memberikan sebuah amplop coklat berisi pesanan.

"Ini, Danang. Antarkan ini ke toko buku di Jalan Veteran. Pemiliknya langganan lama. Namanya Bu Lastri. Jangan sampai basah. Hujan sudah mulai turun. Bungkus amplop ini dengan plastik. Kau tahu di mana plastik itu? Di laci meja belakang. Yang warna hitam itu. Jangan pakai yang warna putih. Yang putih bolong."

Danang mengangguk. Ia mengambil amplop coklat itu, memasukkannya ke dalam tas kainnya yang lusuh, lalu membungkus tas itu dengan plastik hitam yang ia temukan di laci meja belakang. Plastik itu besar, cukup untuk menutupi seluruh tas, tetapi tidak cukup tebal. Ia berharap hujan tidak terlalu deras.

Ia mengayuh sepeda onthelnya perlahan, melewati gang sempit di belakang pasar, melewati jalan aspal yang mulai rusak, melewati perempatan yang ramai, melewati jembatan kecil di atas sungai. Hujan masih turun, tidak deras, hanya gerimis, tetapi cukup untuk membasahi bajunya, cukup untuk membuat rambutnya basah, cukup untuk membuatnya menggigil kedinginan.

Jalan Veteran terletak di pusat kota, tidak terlalu jauh dari percetakan, sekitar dua puluh menit dengan sepeda. Di sepanjang jalan, ia melihat toko-toko, rumah-rumah, kantor-kantor, sekolah-sekolah. Ia melihat orang-orang berlalu lalang dengan payung di tangan, dengan jas hujan di badan, dengan koran di atas kepala. Ia melihat anak-anak sekolah yang berlarian, tertawa, mengejar satu sama lain, tidak peduli pada hujan, tidak peduli pada basah, tidak peduli pada masa depan.

Toko buku itu kecil. Sangat kecil. Hanya satu ruangan dengan rak-rak kayu yang dipenuhi buku-buku bekas. Dari luar, toko itu hampir tidak terlihat, tersembunyi di antara warung kopi dan toko kelontong yang menjual sembako dan mainan anak-anak. Hanya papan kayu kecil bergambar buku terbuka yang menandakan bahwa di sana ada toko buku. Papan itu sudah usang, warnanya pudar, gambar bukunya sudah hampir tidak terlihat, tetapi masih tergantung di atas pintu, seperti bendera yang tidak mau diturunkan meskipun sudah robek.

Pintu kayunya setengah terbuka. Aroma kertas tua, aroma seperti perpustakaan kuno, aroma yang mengingatkan Danang pada buku-buku pelajaran sekolahnya dulu, yang selalu ia baca berulang kali karena tidak punya buku lain. Aroma yang membuatnya rindu pada masa kecil, pada desa, pada sekolah, pada guru-guru yang baik, pada teman-teman yang sekarang mungkin sudah lupa padanya.

Danang memarkir sepedanya di depan toko, menguncinya dengan gembok kecil yang selalu ia bawa di saku celana. Ia mengambil tas kainnya, memeriksa apakah amplop di dalamnya masih kering, lalu berjalan menuju pintu.

"Permisi!" serunya, sambil mengetuk pintu kayu yang setengah terbuka.

Tidak ada jawaban.

"Permisi, Bu Lastri!" serunya lagi, lebih keras.

Masih tidak ada jawaban.

Ia mendorong pintu perlahan. Pintu itu terbuka dengan suara berderit, seperti suara yang keluar dari mulut orang tua yang sudah lama tidak bicara. Ia melangkah masuk.

Di dalam toko itu, rak-rak kayu penuh dengan buku. Buku-buku bekas dengan sampul yang sudah lusuh, dengan halaman yang sudah menguning, dengan bau yang khas, bau kertas tua, bau tinta yang sudah pudar, bau kenangan dari masa lalu. Buku-buku itu ditata dengan rapi, berdasarkan genre, berdasarkan penulis, berdasarkan ukuran. Buku novel di rak kiri, buku puisi di rak kanan, buku sejarah di rak belakang, buku anak-anak di rak paling bawah, buku agama di rak paling atas, dekat dengan langit-langit.

Di sudut ruangan, ada meja kayu besar yang berfungsi sebagai kasir. Di atas meja itu, berserakan buku-buku, kwitansi, pulpen, penggaris, gunting, lem, dan secangkir kopi yang sudah dingin. Sebuah radio tua merek National dengan kenop-kenop besar yang sudah longgar, diletakkan di sudut meja, menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia tahun delapan puluhan. Suaranya pelan, sayu, seperti suara dari masa lalu, seperti suara kenangan yang tidak bisa dilupakan.

"Chrisye," bisik Danang, mendengar suara penyanyi itu. "Lagu 'Anak Sekolah'."

Ia tersenyum. Ia ingat lagu itu. Dulu, ketika ia masih kecil, lagu itu sering diputar di radio desa. Kirana suka menyanyikannya. Kirana suka menari-nari kecil ketika lagu itu diputar. Kirana suka memaksa Danang untuk ikut bernyanyi, meskipun Danang tidak bisa bernyanyi.

"Anak sekolah, anak sekolah, hai kawanku, anak sekolah..."

Kirana tertawa. Kirana berputar-putar. Kirana jatuh ke rumput. Kirana tertawa lagi.

Danang menggelengkan kepala, mengusir kenangan itu. Ia tidak boleh mengingat Kirana. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan Kirana. Ia sudah berusaha selama dua tahun. Ia tidak boleh gagal sekarang.

"Permisi!" serunya lagi, berusaha fokus pada tujuannya.

Tiba-tiba, di antara rak buku, seorang perempuan muncul.

Bukan Bu Lastri. Bukan pemilik toko yang tua dan gemuk yang digambarkan Pak Suryanto. Bukan perempuan paruh baya dengan rambut keriting dan kacamata tebal.

Seorang perempuan muda.

Remaja.

Sebaya dengannya.

Mungkin enam belas tahun. Mungkin tujuh belas tahun.

Rambutnya panjang, hitam, tergerai di punggung, sedikit bergelombang di ujung, seperti air terjun yang tenang, seperti sungai di musim kemarau. Tidak diikat, tidak dijepit, hanya dibiarkan tergerai, bebas, seperti tidak peduli pada aturan, seperti tidak peduli pada apa kata orang. Sehelai rambut jatuh di wajahnya, menutupi sedikit pipi kirinya, dan ia menyapunya dengan gerakan yang lembut, yang anggun, yang membuat Danang lupa bernapas.

Kebaya sederhana warna biru muda, dengan motif bunga kecil yang hampir tidak terlihat dari kejauhan. Kebaya yang longgar, tidak terlalu ketat, tidak terlalu terbuka, sopan tetapi tetap feminin. Kain batik yang melilit di pinggang, dengan warna yang senada dengan kebaya, biru muda dengan motif parang yang rumit, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibuat.

Kulitnya putih bersih, bersinar, seperti porselen, seperti bulan purnama di malam yang cerah. Lesung pipit di pipi kirinya, kecil, manis, muncul setiap kali ia tersenyum. Dan saat itu, ia tersenyum. Senyum yang ramah, senyum yang menyambut, senyum yang membuat orang yang menerimanya merasa dihargai, merasa diterima, merasa bahwa mereka penting.

Matanya.

Mata itu.

Mata yang coklat kehijauan.

Mata yang berbinar-binar.

Mata yang seperti bintang di langit malam.

Mata yang sama.

Mata yang dulu menatapnya dari balik jendela mobil yang perlahan menjauh.

Mata yang sama yang basah oleh air mata perpisahan.

Mata yang sama yang berjanji akan kembali.

Kirana.

Bukan lagi gadis kecil di tepi sungai dengan rambut ekor kuda dan kaki penuh lumpur.

Bukan lagi gadis kecil yang berlari di tengah hujan dengan payung terbalik.

Bukan lagi gadis kecil yang menggenggam tangannya dan berjanji tidak akan pergi.

Kini ia tumbuh menjadi perempuan muda yang bahkan waktu pun tak berhasil menghapus dari ingatan Danang. Wajahnya lebih matang, lebih dewasa, tetapi masih memiliki kemiripan dengan gadis kecil yang dulu. Lesung pipit di pipi kirinya masih ada, meskipun kini hanya muncul ketika ia tersenyum lebar. Matanya masih sama, sehidup itu, secerah itu, sedalam itu.

Rambutnya lebih panjang, lebih hitam, lebih berkilau. Tubuhnya lebih tinggi, lebih berisi, lebih seperti perempuan dewasa. Gerakannya lebih anggun, lebih sadar, seperti ia tahu bahwa ia cantik dan ia tidak perlu berusaha keras untuk menunjukkannya.

Kirana menatapnya lama.

Matanya bergerak dari ujung rambut Danang yang masih ikal dan tidak pernah rapi, ke matanya yang masih terlalu gelap dan terlalu dalam, ke rahangnya yang kini lebih tegas, ke bahunya yang lebih lebar, ke tangannya yang lebih besar, ke sepatunya yang bolong di bagian jempol.

Ia melihat semua perubahan.

Dan ia tersenyum.

Senyum yang sama.

Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.

Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.

Senyum yang telah ia simpan di memorinya selama bertahun-tahun, seperti foto yang ia simpan di dompet, seperti pita biru yang ia simpan di kotak kayu.

Senyum yang sekarang, setelah sekian lama, setelah dua tahun di kota yang sama tanpa pernah bertemu, setelah ribuan malam sendirian di kamar kos yang sempit, akhirnya ia lihat lagi.

"Danang?" suara Kirana pelan, hampir tidak percaya, seperti orang yang sedang bermimpi, seperti orang yang tidak yakin apakah yang ia lihat nyata atau hanya khayalan.

Danang tidak bisa menjawab.

Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Tenggorokannya terasa kering, seperti ada yang mengganjal di sana, seperti ada duri yang tidak bisa ditelan, tidak bisa dimuntahkan.

Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang diletakkan di atasnya, seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya.

Jantungnya berdebar kencang, begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya di telinga, hingga ia merasa dadanya akan meledak, hingga ia harus berpegangan pada rak buku di sampingnya agar tidak jatuh.

"Kirana," akhirnya ia berkata. Suaranya serak, seperti suara orang yang tidak minum seharian, seperti suara orang yang baru bangun tidur, seperti suara orang yang kehabisan air mata. "Kau... kau di sini? Di kota ini? Selama ini? Selama dua tahun?"

Kirana mengangguk. Matanya basah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membentuk lapisan tipis yang membuat matanya terlihat berkilauan di bawah cahaya lampu neon yang redup.

"Aku pindah ke sini dua tahun lalu, Danang. Tepat setelah... tepat setelah kita berpisah di desa. Ayah dapat pekerjaan di sini. Di kantor pos. Kami pindah ke rumah dinas di Jalan Merdeka. Tidak jauh dari sini. Hanya lima belas menit naik becak."

"Kenapa... kenapa kau tidak mencari aku?" tanya Danang, suaranya masih serak, masih bergetar, masih seperti suara orang yang sedang menahan tangis. "Kenapa kau tidak memberi kabar? Kenapa kau diam saja? Aku menunggumu. Aku menunggu surat. Aku menunggu kabar. Aku menunggu kau kembali. Tapi tidak ada. Tidak ada apa-apa."

Kirana menunduk.

Air matanya jatuh.

Setetes.

Dua tetes.

Tiga tetes.

Jatuh ke kebaya biru mudanya, meninggalkan bercak-bercak basah yang perlahan melebar.

"Aku tidak tahu di mana kau, Danang," bisiknya, suaranya pecah, tangisnya keluar. "Aku kembali ke desa setahun yang lalu. Aku mencari kau. Tapi rumahmu kosong. Rumahmu sudah tidak terawat. Ibu... Ibu mu sudah... sudah..."

Ia tidak bisa melanjutkan.

Tangisnya pecah.

Ia menangis di depan Danang.

Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Menangis bukan karena ia lemah.

Menangis karena ia rindu.

Menangis karena ia kehilangan.

Menangis karena ia tidak tahu bahwa Danang juga di kota ini, di kota yang sama, selama dua tahun, tanpa pernah bertemu.

"Mak sudah meninggal, Kirana," kata Danang, suaranya datar, kosong, seperti orang yang sudah kehabisan air mata, seperti orang yang sudah terlalu sering dilukai hingga tidak bisa lagi merasakan sakit. "Dua minggu setelah kau pergi. Mak meninggal di kursi bambu. Di ruang tengah. Waktu aku pulang dari mengantarmu."

Kirana menangis lebih keras.

Ia tidak bisa berkata apa-apa.

Ia hanya bisa menangis.

Menangis di hadapan Danang.

Menangis karena ia tahu bahwa Danang sendirian.

Menangis karena ia tahu bahwa Danang tidak punya siapa-siapa.

Menangis karena ia tahu bahwa Danang membutuhkannya, tetapi ia tidak ada.

"Dan Bapak... Bapak juga pergi," lanjut Danang. Suaranya masih datar, masih kosong, tetapi ada getaran di ujung kata-katanya, getaran yang menunjukkan bahwa ia masih menyimpan luka, bahwa ia masih sakit, bahwa ia belum sembuh. "Pergi tanpa pamit. Pagi-pagi sebelum matahari terbit. Tidak bilang ke mana. Tidak bilang kapan kembali. Tidak pernah kembali."

Kirana terisak.

Ia tidak bisa membayangkan.

Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan ibu dan ayah dalam waktu yang bersamaan.

Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya sendirian di dunia pada usia yang masih sangat muda.

Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya harus bertahan hidup tanpa siapa pun yang peduli.

"Danang... aku... aku minta maaf..." bisik Kirana di antara isaknya. "Aku seharusnya... aku seharusnya mencari kau lebih awal... aku seharusnya tidak menunggu setahun... aku seharusnya..."

"Tidak usah, Kirana," potong Danang. "Sudah terjadi. Tidak bisa diubah. Yang penting sekarang... yang penting kita bertemu. Di sini. Di kota ini. Setelah dua tahun."

Kirana mengangkat kepalanya.

Matanya bertemu dengan mata Danang.

Mata yang basah.

Mata yang merah.

Mata yang penuh dengan kesedihan dan penyesalan dan kerinduan.

"Kau tinggal di mana, Danang?" tanyanya. "Kau bekerja di mana? Kau sekolah? Kau punya teman? Kau... kau baik-baik saja?"

Danang tersenyum.

Senyum yang pahit.

Senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Aku baik-baik saja, Kirana. Aku bekerja di percetakan. Punya kamar kos di dekat pasar. Tidak mewah. Tapi cukup. Aku tidak sekolah. Tidak punya uang. Tapi aku belajar sendiri. Baca buku. Banyak baca buku. Pak Suryanto, majikanku, sering pinjami aku buku."

Kirana mengangguk.

Ia masih menangis.

Tapi senyum mulai muncul di bibirnya.

Senyum yang lega.

Senyum yang bersyukur.

Senyum yang mengatakan bahwa ia senang Danang baik-baik saja, bahwa ia senang Danang masih hidup, bahwa ia senang mereka bertemu lagi.

"Danang," panggilnya pelan.

"Ya?"

"Aku... aku senang kita bertemu lagi. Aku kira... aku kira kau sudah melupakanku. Aku kira... aku kira kau sudah... sudah..."

"Tidak, Kirana," potong Danang. "Aku tidak pernah melupakanmu. Tidak pernah. Selama dua tahun. Selama di kota ini. Selama di kamar kos yang sempit. Selama bekerja di percetakan. Aku tidak pernah melupakanmu."

Kirana tersenyum.

Senyum yang sama.

Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.

Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.

Senyum yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.

"Aku juga, Danang," bisiknya. "Aku juga tidak pernah melupakanmu."

Di luar, hujan mulai reda.

Langit mulai cerah.

Matahari mulai muncul dari balik awan.

Dan di dalam toko buku kecil di sudut Jalan Veteran, dua orang yang pernah dipisahkan oleh waktu dan jarak dan takdir, bertemu lagi.

Dan mereka tidak tahu bahwa pertemuan ini, meskipun terlihat seperti kebetulan, sebenarnya adalah awal dari babak baru dalam luka mereka.

Babak yang akan menguji cinta mereka.

Babak yang akan mengajarkan mereka tentang pengkhianatan.

Babak yang akan membuat mereka kehilangan satu sama lain lagi.

Tapi untuk saat ini, untuk sore itu, untuk beberapa menit yang berharga, mereka hanya dua remaja yang saling menatap, yang saling tersenyum, yang saling bersyukur bahwa mereka masih hidup, bahwa mereka masih di sini, bahwa mereka masih bersama.

Bab 3

Percakapan Setelah Bertahun-Tahun

Mereka duduk di kedai kopi kecil di seberang toko buku. Kedai itu bernama "Kopi Mbah Darmo", sebuah warung sederhana dengan tenda plastik biru yang sudah pudar warnanya karena terlalu sering terkena sinar matahari dan air hujan. Tenda itu terbuat dari terpal plastik tebal yang diikat dengan tali tambang ke tiang-tiang bambu di sekelilingnya. Di beberapa tempat, terpal itu sudah robek, ditambal dengan lakban hitam yang mulai mengelupas.

Di bawah tenda itu, ada beberapa meja kayu dan kursi plastik warna-warni. Meja-meja kayu itu sudah tua, penuh dengan goresan dan noda kopi yang tidak bisa dibersihkan. Kakinya tidak rata, ada yang dialasi potongan kardus, ada yang dialasi batu kerikil, ada yang hanya dibiarkan goyang dan pengunjung harus berhati-hati agar kopi tidak tumpah. Kursi-kursi plastiknya warna merah, kuning, hijau, biru, seperti pelangi yang jatuh ke tanah dan berubah menjadi tempat duduk.

Dinding kedai hanya terpal plastik yang kadang berkibar ditiup angin, tidak memberikan perlindungan yang cukup dari panas matahari atau dinginnya hujan. Tetapi bagi para pelanggan setianya, itu bukan masalah. Mereka datang bukan untuk kenyamanan, tetapi untuk kopi. Kopi hitam pekat yang diseduh dengan air mendidih, tanpa gula, tanpa susu, tanpa apa pun. Kopi yang pahit, getir, tetapi membuat ketagihan. Kopi yang seperti kehidupan itu sendiri.

"Cik, pesanannya dua kopi hitam pekat, satu dengan gula, satu tanpa gula, ya! Jangan lupa roti bakarnya dua porsi! Kejunya banyakin!" teriak Kirana kepada pelayan kedai, seorang perempuan muda dengan rambut pendek dan celemek kotor yang melilit di pinggangnya.

"Ya, Mbak! Dua kopi hitam! Satu gula satu tanpa gula! Dua roti bakar keju! Sebentar ya!" jawab pelayan itu dari dalam kedai, di balik meja kayu yang berfungsi sebagai dapur dan kasir sekaligus.

Danang duduk di kursi plastik warna biru yang sudah pudar, menghadap ke arah toko buku di seberang jalan. Dari tempat ini, ia bisa melihat pintu toko buku yang setengah terbuka, rak-rak buku di dalamnya, dan sesekali bayangan Bu Lastri yang mondar-mandir di antara rak-rak itu. Tapi matanya tidak tertuju pada toko buku. Matanya tertuju pada Kirana yang duduk di hadapannya.

Kirana duduk di kursi plastik warna merah yang sedikit goyang karena salah satu kakinya lebih pendek. Ia tidak peduli. Ia hanya duduk, sesekali menggeser kursinya agar lebih stabil, sesekali tersenyum pada Danang, sesekali memandang ke arah jalan, melihat orang-orang lalu lalang, melihat becak-becak yang berhenti menunggu penumpang, melihat anak-anak yang bermain kejar-kejaran di trotoar.

"Kopi hitam satu dengan gula, satu tanpa gula!" pelayan itu datang dengan nampan aluminium yang penyok di beberapa tempat. Di atas nampan itu, dua cangkir keramik putih dengan pinggiran biru, dan dua piring kecil berisi roti bakar yang masih mengepulkan uap panas.

"Ini yang dengan gula, Mbak," katanya sambil meletakkan satu cangkir di depan Kirana. "Ini yang tanpa gula, Mas," katanya sambil meletakkan cangkir lain di depan Danang. "Roti bakarnya dua porsi, ya. Kejunya sudah banyak. Selamat menikmati."

"Terima kasih, Mbak Rini," kata Kirana sambil tersenyum. "Nanti saya bayar."

"Ya, Mbak. Santai saja. Mbah Darmo bilang, Mbak Kirana pelanggan setia. Boleh bayar nanti." Pelayan itu pergi, meninggalkan mereka berdua di meja yang goyang.

Mereka berdua terdiam.

Cangkir-cangkir tipis mengeluarkan uap. Uap putih tipis naik ke udara, membawa aroma kopi hitam yang kuat, yang pahit, yang getir, yang seperti kenangan yang tidak bisa dilupakan. Aroma kopi hitam pekat, yang bagi Danang adalah aroma rumah, aroma masa kecil, aroma ibunya yang setiap pagi menyeduh kopi di dapur sebelum memasak nasi.

Aroma kopi hitam bercampur dengan aroma roti bakar yang masih hangat, dengan aroma keju yang meleleh di atas roti, dengan aroma mentega yang digosokkan di permukaan roti hingga meresap ke dalam pori-porinya. Aroma yang membuat perut Danang keroncongan, mengingatkannya bahwa ia belum makan sejak sarapan pagi.

Kirana mengambil roti bakar, memotongnya menjadi dua bagian dengan pisau kecil yang disediakan di meja, lalu menyodorkan separuhnya ke Danang. "Makan dulu, Danang. Kau pasti lapar. Dari tadi perutmu bunyi terus."

Danang tersenyum malu. "Kau dengar?"

"Siapa yang tidak dengar? Perutmu bunyi seperti genderang perang." Kirana tertawa. Tawa yang sama seperti dulu. Ringan. Ceria. Membuat sesuatu di dada Danang terasa hangat sekaligus nyeri. Hangat karena masih ada. Nyeri karena pernah hilang. "Makan. Nanti kita bicara. Aku juga belum makan siang. Tadi sibuk banget di toko. Bu Lastri minta tolong rapiin rak buku belakang. Buku-buku sejarah itu berantakan sekali. Ada yang jatuh, ada yang terbalik, ada yang sampulnya lepas. Aku jadi lupa makan."

Danang mengambil roti bakar itu. Roti panggang dengan permukaan renyah keemasan, dilumuri mentega yang masih mengkilap, ditaburi gula pasir kasar, lalu ditutup dengan keju cheddar yang meleleh karena panas. Ia menggigitnya perlahan. Rotinya renyah di luar, lembut di dalam, mentega dan gula dan keju bercampur menjadi satu rasa yang manis, gurih, asin, seperti hidup itu sendiri.

"Ini enak," katanya sambil mengunyah. "Roti bakarnya enak. Kejunya banyak. Manisnya pas. Tidak terlalu manis, tidak terlalu hambar."

"Iya. Mbah Darmo jago bikin roti bakar. Sudah tiga puluh tahun jualan di sini. Dari masih pakai gerobak dorong, sampai sekarang punya kedai begini. Kata orang, roti bakarnya Mbah Darmo yang terenak se-Purwokerto. Bahkan ada yang datang dari Banyumas, dari Cilacap, dari Kebumen, hanya untuk makan roti bakar di sini."

"Mbah Darmo siapa? Pemilik kedai?"

"Lelaki tua itu. Yang duduk di pojok sana. Di kursi bambu. Yang sedang merokok sambil baca koran." Kirana menunjuk ke arah pojok kedai, di mana seorang lelaki tua dengan kumis tebal dan rambut putih duduk sendirian, memegang koran Kompas edisi pagi, sesekali mengisap rokok kretek yang mengepulkan asap tipis ke udara. "Dia baik. Suka memberi diskon untuk pelanggan setia. Kadang kalau aku lupa bawa uang, dia bilang 'Bayar nanti saja, Mbak. Tidak usah buru-buru.'"

Danang mengangguk. Ia memandang lelaki tua itu. Mbah Darmo. Wajahnya penuh kerutan, kerutan yang seperti peta yang mencatat setiap tahun yang telah ia lalui, setiap suka dan duka yang ia alami, setiap pelanggan yang datang dan pergi. Matanya masih jernih, masih tajam, masih bisa membaca koran tanpa kacamata. Tangannya yang keriput gemetar sedikit ketika memegang rokok, tetapi stabil ketika memegang koran.

"Sudah dua tahun kau di kota ini, Kirana?" tanya Danang setelah menelan roti bakarnya. Ia mengambil cangkir kopinya, menyesap sedikit, merasakan pahitnya kopi hitam tanpa gula yang membakar tenggorokannya. Pahit. Getir. Tapi membuatnya sadar. Membuatnya terjaga. Membuatnya tidak bisa lari dari kenyataan.

Kirana mengangguk. Ia juga mengambil cangkirnya, menyesap kopi susu yang manis, yang hangat, yang membuatnya merasa nyaman, merasa aman, merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Dua tahun, tiga bulan, dan... delapan belas hari. Tepatnya."

Danang mengangkat alis. "Kau hitung?"

"Setiap hari, Danang. Aku menghitung setiap hari. Sejak kita berpisah di desa. Sejak aku naik ke mobil itu. Sejak kau berdiri di pinggir jalan dengan pita biru di tangan." Mata Kirana berkaca-kaca, tetapi ia tidak menangis. Ia sudah terlalu sering menangis. Ia sudah lelah menangis. "Aku ingin kembali. Aku ingin mencari kau. Tapi ayahku... ayahku bilang kita harus fokus dulu pada kehidupan baru di kota. Ayahku bilang kita harus beradaptasi dulu. Ayahku bilang..."

"Ayahmu bilang apa?" tanya Danang.

Kirana menunduk. Jari-jarinya yang lentik dan putih memutar-mutar ujung rambutnya yang panjang, kebiasaannya ketika gugup atau sedih. "Ayahku bilang... ayahku bilang aku harus melupakan masa lalu. Ayahku bilang aku harus fokus pada sekolah. Ayahku bilang aku tidak boleh membuang waktu untuk sesuatu yang tidak pasti. Ayahku bilang..."

"Dia bilang kau tidak boleh dekat dengan anak haram sepertiku?" potong Danang. Suaranya dingin, tidak marah, tidak sedih, hanya datar. Datar seperti orang yang sudah menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah cukup baik untuk orang lain.

Kirana mengangkat kepalanya cepat. Matanya membesar. "Tidak, Danang! Bukan itu! Ayahku tidak pernah bilang seperti itu! Ayahku hanya... ayahku hanya khawatir. Ayahku tahu tentang... tentang apa yang terjadi di desa. Ayahku tahu tentang tuduhan. Ayahku tahu tentang... tentang ayah kandungmu. Ayahku hanya ingin melindungiku. Ayahku hanya..."

"Kau tidak perlu menjelaskan, Kirana," potong Danang lagi. Suaranya masih dingin, tetapi ada sedikit kelembutan di sana, sedikit pengertian, sedikit penerimaan. "Aku mengerti. Ayahmu benar. Aku bukan orang yang baik untukmu. Aku anak haram. Aku anak pembakar gudang. Aku anak yang tidak punya masa depan. Aku..."

"Jangan bilang begitu, Danang!" Kirana memotong, suaranya keras, tegas, seperti saat ia membela Danang di depan Surya di halaman sekolah dulu. Matanya menyala, tidak lagi sayu, tidak lagi berkaca-kaca. "Jangan bilang kau tidak punya masa depan! Jangan bilang kau tidak baik untukku! Jangan bilang kau anak haram! Aku tidak peduli dengan semua itu! Aku peduli dengan kau! Aku peduli dengan Danang! Aku peduli dengan anak laki-laki yang duduk di akar pohon waru dan melempar batu ke sungai! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menggambar bunga kuning di buku gambarnya! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menampar Surya di halaman sekolah karena ia menghina ibuku! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menangis di depan ibunya karena takut kehilangan segalanya!"

Danang terdiam.

Ia tidak tahu harus berkata apa.

Tidak ada yang pernah bicara seperti itu padanya.

Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa ia berharga, bahwa ia penting, bahwa ia dicintai.

Sejak ibunya meninggal, sejak Sastrowiryo pergi, sejak ia meninggalkan desa, ia hidup sendirian. Ia bekerja. Ia makan. Ia tidur. Ia bangun. Ia bekerja lagi. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang bertanya kabar. Tidak ada yang mengatakan "Aku peduli padamu."

Kecuali Kirana.

Kirana selalu ada.

Kirana selalu peduli.

Kirana selalu menjadi rumah baginya.

"Kenapa kau melakukan semua itu, Kirana?" tanya Danang, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Kenapa kau peduli padaku? Kenapa kau membelaku? Kenapa kau menungguku? Kenapa kau tidak menyerah saja? Kenapa kau..."

"Karena aku mencintaimu, Danang."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa direncanakan.

Tanpa dipersiapkan.

Tanpa dipertimbangkan.

Seperti air yang mengalir dari mata air.

Seperti hujan yang jatuh dari langit.

Seperti napas yang keluar dari paru-paru.

Danang terdiam.

Seluruh tubuhnya membeku.

Cangkir di tangannya hampir jatuh, tetapi ia menggenggamnya erat-erat, sampai buku-buku jarinya memutih.

Matanya membesar.

Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Dadanya terasa sesak, seperti ada yang meremas jantungnya perlahan-lahan.

Kirana juga terdiam.

Wajahnya merah padam.

Ia tidak bermaksud mengatakan itu.

Ia tidak bermaksud mengungkapkan perasaannya.

Ia tidak bermaksud membuat situasi menjadi canggung.

Tapi kata-kata itu keluar.

Kata-kata yang selama ini ia pendam.

Kata-kata yang selama ini ia sembunyikan.

Kata-kata yang selama ini ia takut untuk diucapkan.

Kata-kata yang sekarang menggantung di udara di antara mereka, berat, tidak bisa ditarik kembali, tidak bisa dihapus, tidak bisa diabaikan.

Mata mereka bertemu.

Mata Danang yang gelap, yang dalam, yang seperti lubang sumur tua.

Mata Kirana yang coklat kehijauan, yang berbinar-binar, yang seperti bintang di langit malam.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Hanya suara angin yang berhembus, menggerakkan tenda plastik biru di atas mereka.

Hanya suara orang-orang yang lalu lalang di jalan, becak-becak yang berhenti menunggu penumpang, anak-anak yang bermain kejar-kejaran di trotoar.

Hanya suara Mbah Darmo yang batuk-batuk kecil di pojok kedai, suara koran yang dibalik halamannya, suara rokok yang diisap dan ditiupkan kembali ke udara.

"Maaf, Danang," bisik Kirana, suaranya hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari alam lain, seperti suara dari dunia yang berbeda. "Aku... aku tidak bermaksud... aku hanya... maaf."

"Tidak usah minta maaf, Kirana," kata Danang akhirnya. Suaranya masih pelan, tetapi tidak lagi dingin. Ada kehangatan di sana. Ada kelembutan. Ada sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun kecuali Kirana. "Aku juga."

Kirana menatapnya. "Juga apa?"

Danang tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya. Senyum yang hanya ia simpan untuk Kirana. "Aku juga mencintaimu, Kirana. Sejak dulu. Sejak kita di tepi sungai. Sejak kau memberikan bunga kuning itu padaku. Sejak kau menggenggam tanganku di pondok sawah. Sejak kau berdiri di tengah kerumunan dan membelaku di depan Surya. Sejak kau datang ke rumahku di tengah hujan untuk membawakan obat untuk ibuku. Sejak kau memberikan pita biru itu padaku dan berjanji akan kembali."

Kirana menangis.

Ia tidak bisa menahan air matanya lagi.

Air matanya jatuh.

Membasahi pipinya.

Membasahi kebaya biru mudanya.

Membasahi roti bakar yang masih tersisa di piringnya.

"Danang," bisiknya di antara isak tangisnya. "Kenapa kau tidak bilang dari dulu? Kenapa kau diam saja? Kenapa kau membiarkan aku menunggu bertahun-tahun? Kenapa kau..."

"Aku takut, Kirana," potong Danang. Suaranya bergetar. Tangannya yang memegang cangkir kopi gemetar. "Aku takut kau tidak merasakan hal yang sama. Aku takut kau hanya menganggapku teman. Aku takut kau akan pergi jika aku jujur. Aku takut kehilanganmu. Aku takut..."

"Kau tidak akan kehilangan aku, Danang," kata Kirana, suaranya tegas, yakin, penuh keyakinan. "Aku janji. Aku tidak akan pergi. Aku akan selalu di sini. Untukmu. Untuk kita."

Danang menatap Kirana.

Matanya basah.

Ia ingin percaya.

Ia ingin percaya pada janji itu.

Ia ingin percaya bahwa Kirana tidak akan pergi.

Ia ingin percaya bahwa mereka bisa bersama.

Ia ingin percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk mengatasi semua rintangan.

Tapi ia sudah belajar bahwa janji adalah hal paling rapuh di dunia.

Bahwa janji bisa pecah seperti kaca.

Bahwa janji bisa hilang seperti kabut pagi.

Bahwa janji, seindah apa pun, tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran.

Bahwa janji, sekuat apa pun, tidak akan pernah bisa melindungi mereka dari dunia yang kejam.

"Kirana," panggilnya pelan.

"Ya?"

"Aku... aku senang kita bertemu lagi. Di sini. Di kota ini. Setelah dua tahun. Setelah semua yang terjadi. Aku senang kau masih... kau masih peduli padaku."

Kirana tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang. Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia. Senyum yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.

"Aku juga, Danang. Aku juga."

Di luar kedai, matahari mulai condong ke barat. Langit mulai berwarna jingga keemasan. Awan-awan tipis berarak perlahan, seperti domba-domba yang sedang merumput di padang rumput biru. Burung-burung mulai pulang ke sarangnya, terbang berkelompok di atas atap-atap rumah, sesekali menukik ke bawah, sesekali terbang tinggi ke langit.

Danang dan Kirana duduk berdampingan di kedai kopi kecil itu, di tengah hiruk-pikuk kota Purwokerto yang mulai sibuk dengan aktivitas sore. Mereka bicara tentang banyak hal. Tentang desa yang sudah berubah. Tentang orang-orang yang telah pergi. Tentang Mbah Joyo yang meninggal dua tahun lalu dalam tidurnya. Tentang Mak Tonah yang masih sehat meskipun usianya sudah sembilan puluh tahun. Tentang Sastrowiryo yang tidak pernah kembali. Tentang Ratih yang meninggal dengan senyum di bibir. Tentang Surya yang pindah ke Jakarta bersama keluarganya setelah kebakaran itu. Tentang Bima yang sekarang bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Tentang desa yang mulai berubah, rumah-rumah kayu berganti semen, jalan-jalan tanah berganti aspal, sawah-sawah mulai berubah menjadi perumahan.

Mereka juga bicara tentang masa kini. Tentang pekerjaan Danang di percetakan. Tentang toko buku tempat Kirana bekerja. Tentang kamar kos Danang yang sempit dan pengap. Tentang rumah dinas Kirana di Jalan Merdeka yang besar tetapi dingin. Tentang Pak Suryanto yang baik hati tetapi pelit. Tentang Bu Lastri yang cerewet tetapi perhatian. Tentang Mbah Darmo yang kopinya enak tetapi roti bakarnya lebih enak.

Mereka bicara tentang masa depan. Tentang mimpi-mimpi mereka. Tentang cita-cita mereka. Tentang apa yang ingin mereka capai. Tentang apa yang ingin mereka lakukan. Tentang apa yang ingin mereka jadi.

"Aku ingin buka toko buku sendiri, Danang," kata Kirana, matanya berbinar-binar. "Toko buku yang besar. Dengan rak-rak kayu yang bagus. Dengan lampu-lampu yang terang. Dengan kursi-kursi nyaman untuk pengunjung yang ingin membaca di tempat. Aku ingin menjual buku-buku bagus. Buku-buku yang menginspirasi. Buku-buku yang mengubah hidup orang."

"Kau pasti bisa, Kirana," kata Danang. "Kau orang yang pintar. Kau orang yang rajin. Kau orang yang tidak pernah menyerah. Aku yakin suatu hari nanti kau akan punya toko buku sendiri. Toko buku terbesar di Purwokerto. Mungkin di seluruh Jawa Tengah."

Kirana tertawa. "Kau melebih-lebihkan, Danang."

"Aku tidak. Aku serius."

"Baiklah. Kalau kau bilang begitu, aku percaya. Tapi kau harus janji sesuatu."

"Apa?"

"Kalau aku punya toko buku nanti, kau harus datang. Setiap hari. Membaca buku-buku di tokoku. Gratis. Tidak usah bayar."

Danang tersenyum. "Janji."

"Janji?"

"Janji."

Mereka mengangkat jari kelingking masing-masing.

Jari kecil yang kurus dan kasar milik Danang.

Jari kecil yang lentik dan putih milik Kirana.

Jari kecil yang pernah terpisah selama bertahun-tahun, kini bersatu lagi.

Mereka mengaitkan jari kelingking mereka.

Seperti dulu.

Di tepi sungai.

Di bawah pohon waru.

Di sore yang hujan.

"Janji," bisik mereka bersamaan.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, setelah semua yang terjadi, setelah semua luka dan air mata dan kesepian, Danang merasa bahwa ia tidak sendirian.

Bahwa ia memiliki seseorang.

Bahwa ia memiliki Kirana.

Bahwa ia memiliki rumah.

Bab 4

Arman Melihat Sesuatu

Malam itu, ketika Danang kembali ke kamar kosnya setelah seharian bekerja di percetakan dan setelah berjam-jam berbincang dengan Kirana di kedai kopi, Arman sudah menunggu di depan pintu.

Bulan purnama bersinar terang di langit, memancarkan cahaya keperakan yang lembut, yang membuat dunia terlihat seperti mimpi, seperti lukisan cat air yang indah tetapi tidak nyata. Bintang-bintang berkedip-kedip di sekitarnya, seperti anak-anak yang mengelilingi ibu mereka, seperti pengawal yang menjaga raja mereka. Cahaya bulan masuk melalui celah-celah atap seng yang bocor, menciptakan pola-pola cahaya di lantai semen yang kasar, seperti peta dari dunia lain, seperti kode rahasia yang tidak bisa dibaca.

Arman duduk di kursi kayu di depan kamar kos Danang. Kursi itu adalah kursi tunggal yang sudah tua, dengan sandaran yang longgar dan kaki yang patah di satu sisi, ditopang oleh tumpukan batu bata agar tidak roboh. Biasanya kursi itu digunakan oleh pemilik kos, Bu Tuminem, untuk duduk-duduk di sore hari sambil mengupas bawang atau membersihkan sayuran. Tapi malam itu, Arman duduk di sana, dengan kaki disilangkan, dengan tangan di saku celana, dengan senyum di bibir.

"Lama sekali kau, Danang," kata Arman sambil berdiri. Ia menjulurkan tangannya, menyodorkan sebuah bungkusan kecil yang dibungkus kertas koran. "Ini untukmu. Aku beli sate kambing di depan pasar. Masih hangat. Tadi aku lewat depan percetakan, Pak Suryanto bilang kau sudah pulang. Tapi kau tidak ada di sini. Aku tunggu hampir satu jam."

Danang mengambil bungkusan itu. Kertas korannya sudah sedikit basah oleh minyak dan bumbu kacang, tetapi masih utuh. Bau sate kambing yang harum, dengan bumbu kacang yang kental dan kecap manis yang pekat, langsung menyengat di hidungnya. Perutnya yang tadinya kenyang karena roti bakar di kedai kopi, tiba-tiba keroncongan lagi.

"Makasih, Arman," kata Danang sambil membuka pintu kamarnya. "Masuk. Maaf, kamarnya sempit. Kursinya cuma satu. Kau duduk di ranjang saja. Aku di kursi."

Arman masuk ke kamar kos Danang. Kamar itu masih sama seperti dua tahun lalu. Sempit. Pengap. Dinding bata merah tanpa cat. Lantai semen yang kasar dan dingin. Ranjang besi dengan kasur tipis yang sudah kempes. Meja kayu yang kakinya tidak rata, dialasi potongan kardus. Jendela kecil yang menghadap gang sempit, dengan kaca buram yang tidak bisa melihat apa pun selain bayangan samar-samar orang yang lewat.

Tapi ada beberapa perubahan kecil. Di sudut ruangan, ada rak kayu kecil yang terbuat dari potongan-potongan kayu bekas, disusun tidak rapi, tetapi cukup kuat untuk menahan beberapa buku. Buku-buku bekas yang Danang beli dari pasar loak atau pinjam dari Pak Suryanto atau toko buku Kirana. Buku-buku dengan sampul yang lusuh, dengan halaman yang menguning, dengan bau khas kertas tua.

Di dinding, ada poster Bob Marley yang sudah robek di sudut kanan bawah, ditempel dengan lem kertas yang sudah mengering dan mengelupas di beberapa tempat. Poster itu diberikan Arman pada ulang tahun Danang yang pertama di kota ini. "Kau harus kenal Bob Marley, Danang. Musiknya bagus. Liriknya dalam. Bisa bikin kau lupa masalah," kata Arman waktu itu.

Danang tidak pernah benar-benar mendengarkan musik Bob Marley. Ia tidak punya tape recorder. Ia tidak punya kaset. Ia hanya memiliki poster itu. Dan setiap malam, sebelum tidur, ia memandang wajah Bob Marley dengan rambut gimbalnya, dengan senyumnya yang khas, dengan mata yang sayu tetapi penuh semangat, dan ia bertanya-tanya apa arti lagu-lagu yang dinyanyikan lelaki itu.

"Kau habis dari mana, Danang?" tanya Arman sambil duduk di ranjang. Kasur itu berderit di bawah berat badannya, seperti mengeluh, seperti protes. "Pak Suryanto bilang kau mengantar pesanan ke toko buku di Jalan Veteran. Tapi itu tadi siang. Sekarang sudah malam. Sudah hampir jam delapan. Perjalanan dari toko buku ke sini cuma dua puluh menit dengan sepeda."

Danang duduk di kursi kayu di hadapan Arman. Kursi itu juga berderit, tetapi lebih karena usia daripada karena berat badan Danang yang kurus. Ia membuka bungkusan sate kambing, mengambil tiga tusuk, menyerahkan dua tusuk pada Arman.

"Kau makan dulu," kata Arman sambil menolak. "Itu untukmu. Aku sudah makan di rumah."

"Aku juga sudah makan," kata Danang. "Tadi di kedai kopi. Roti bakar keju. Kirana yang traktir."

"Kirana?"

Danang tersenyum. Senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Senyum yang membuat seluruh wajahnya berubah, dari yang biasanya dingin dan keras, menjadi lembut dan hangat. Senyum yang hanya muncul ketika ia memikirkan Kirana.

"Teman lama," katanya. "Dari desa. Dulu kita tetangga. Sahabat kecil. Kami berpisah waktu aku masih kecil. Dia pindah ke kota. Dan hari ini, aku bertemu dia lagi. Di toko buku itu. Ternyata dia bekerja di sana. Sebagai asisten. Membantu Bu Lastri, pemilik toko."

Arman mengangguk. Matanya yang tajam, yang sudah terbiasa membaca orang sejak pertemuan pertama, menatap Danang dengan intens. Ia melihat sesuatu. Sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat pada Danang sebelumnya.

"Kau senang sekali, Danang," kata Arman. "Wajahmu bersinar. Matamu berbinar. Seperti... seperti orang yang baru jatuh cinta."

Danang tersenyum malu. Ia menunduk, memandang sate kambing di tangannya, memutar-mutar tusuk bambu itu di antara jari-jarinya. "Bukan begitu, Arman. Kirana hanya teman. Teman lama. Sahabat kecil. Tidak lebih."

"Kau bohong," kata Arman. "Aku kenal kau, Danang. Sudah dua tahun kita berteman. Aku bisa membaca wajahmu. Aku bisa membaca matamu. Aku bisa membaca hatimu. Kau tidak pernah tersenyum seperti itu. Tidak pernah. Selama dua tahun kau di kota ini, kau tidak pernah tersenyum seperti itu. Tidak sekali pun. Bahkan ketika Pak Suryanto memberi kau bonus, kau hanya tersenyum tipis. Bahkan ketika kau berhasil menyusun huruf dengan sempurna tanpa kesalahan, kau hanya mengangguk puas. Tapi hari ini, ketika kau bicara tentang Kirana, wajahmu berubah. Matamu berbinar. Senyummu... senyummu seperti anak kecil yang baru diberi permen."

Danang tidak menjawab. Ia hanya makan sate kambingnya, mengunyah perlahan, menikmati rasa daging yang empuk, bumbu kacang yang gurih, kecap manis yang pekat. Tapi lidahnya tidak merasakan apa-apa. Pikirannya terlalu sibuk. Hatinya terlalu berdebar.

"Danang," panggil Arman.

"Hmm?"

"Kau harus hati-hati."

Danang mengangkat kepala. "Maksudmu?"

Arman menghela napas panjang. Ia berdiri dari ranjang, berjalan ke jendela kecil, memandang ke luar, ke gang sempit yang gelap, ke langit yang penuh bintang, ke bulan purnama yang bersinar terang. "Perempuan. Cinta. Perasaan. Semua itu bisa membuat kau senang, tapi juga bisa membuat kau hancur. Aku sudah melihat banyak temanku yang hancur karena cinta. Ada yang putus sekolah. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang bunuh diri. Ada yang gila."

"Aku tidak akan seperti mereka, Arman."

"Kau tidak tahu, Danang. Cinta itu buta. Cinta itu tidak rasional. Cinta itu bisa membuat orang melakukan hal-hal bodoh. Hal-hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Kau adalah orang yang cerdas. Kau adalah orang yang rasional. Kau adalah orang yang tidak mudah terpengaruh perasaan. Tapi ketika cinta datang, semua itu bisa berubah. Kau bisa menjadi orang yang berbeda. Orang yang tidak kau kenali."

Danang terdiam.

Ia memikirkan kata-kata Arman.

Apakah ia sudah berubah?

Apakah ia sudah berbeda sejak bertemu Kirana?

Apakah ia sudah menjadi orang yang tidak ia kenali?

Mungkin.

Ya, mungkin.

Sejak bertemu Kirana sore ini, sejak mendengar suaranya, sejak melihat senyumnya, sejak mendengar kata-kata "Aku mencintaimu, Danang", ia merasa seperti terbang. Seperti melayang di atas awan. Seperti berada di dunia yang berbeda. Dunia yang hanya berisi dia dan Kirana. Dunia yang tidak ada masalah, tidak ada luka, tidak ada air mata.

"Kau jatuh cinta padanya, Danang," kata Arman. Bukan pertanyaan. Pernyataan. Fakta. "Aku bisa melihatnya dari matamu. Dari caramu menyebut namanya. Dari caramu tersenyum ketika bicara tentang dia. Kau jatuh cinta. Dan itu berbahaya."

"Kenapa berbahaya?" tanya Danang.

"Karena cinta bisa membuat kau lupa pada diri sendiri. Lupa pada tujuanmu. Lupa pada masa depanmu. Lupa pada semua yang telah kau perjuangkan selama ini. Kau datang ke kota ini untuk bekerja, untuk bertahan hidup, untuk membuktikan bahwa kau bisa sukses meskipun tanpa orang tua, meskipun tanpa uang, meskipun tanpa pendidikan. Bukan untuk jatuh cinta."

"Aku tidak lupa, Arman. Aku masih ingat tujuanku. Aku masih ingat mengapa aku di sini. Tapi... tapi Kirana berbeda. Kirana adalah bagian dari masa laluku. Kirana adalah satu-satunya orang yang percaya padaku ketika semua orang meragukanku. Kirana adalah satu-satunya orang yang membelaku ketika semua orang menuduhku. Kirana adalah... Kirana adalah rumahku."

Arman menatap Danang.

Matanya yang tajam, yang biasanya ramah dan mudah tersenyum, kini serius. Sangat serius. Tidak ada senyum di bibirnya. Tidak ada kerutan di dahinya. Hanya tatapan. Tatapan yang seperti sedang menimbang, sedang menghitung, sedang merencanakan sesuatu.

"Kau yakin dia orang yang tepat, Danang?" tanya Arman. "Kau yakin dia tidak akan menyakitimu? Kau yakin dia akan setia? Kau yakin dia tidak akan pergi seperti orang-orang lain?"

Danang terdiam.

Ia tidak bisa menjawab.

Ia tidak yakin.

Ia tidak tahu.

Ia hanya tahu bahwa ia mencintai Kirana.

Ia hanya tahu bahwa ia ingin bersama Kirana.

Ia hanya tahu bahwa tanpa Kirana, hidupnya terasa kosong, terasa hampa, terasa tidak berarti.

"Aku tidak yakin, Arman," kata Danang akhirnya. "Tapi aku ingin mencoba. Aku ingin percaya. Aku ingin berharap. Aku ingin... aku ingin bahagia. Untuk sekali saja. Aku ingin bahagia."

Arman tidak menjawab.

Ia hanya berdiri di depan jendela, memandang bulan, memandang bintang, memandang langit yang luas, yang tidak terbatas, yang penuh misteri.

Di dalam hatinya, ada sesuatu yang berubah.

Sesuatu yang tidak ia sadari.

Sesuatu yang tumbuh perlahan-lahan, seperti benih yang ditanam di tanah yang subur, seperti api yang mulai membara di bawah abu.

Iri.

Iri pada Danang.

Iri pada kebahagiaan Danang.

Iri pada cinta Danang.

Iri pada Kirana.

Perempuan yang membuat Danang tersenyum seperti itu.

Perempuan yang membuat Danang lupa pada semua masalahnya.

Perempuan yang menjadi rumah bagi Danang.

Perempuan yang tidak pernah ia lihat, tidak pernah ia kenal, tetapi sudah ia benci.

"Arman," panggil Danang.

Arman menoleh. Wajahnya berubah. Kembali tersenyum. Kembali ramah. Kembali seperti Arman yang dikenal semua orang. "Ya?"

"Kau kenapa diam? Kau marah?"

"Tidak. Aku hanya berpikir."

"Pikir apa?"

Arman berjalan kembali ke ranjang, duduk di samping Danang. Ia menepuk pundak Danang, seperti kakak yang menghibur adik, seperti teman yang memberi semangat.

"Aku hanya berpikir bahwa kau berhak bahagia, Danang. Setelah semua yang kau alami, setelah semua yang kau lalui, kau berhak bahagia. Jika Kirana bisa membuatmu bahagia, maka aku mendukungmu. Aku akan membantumu. Aku akan menjagamu. Aku akan memastikan tidak ada yang menyakitimu."

Danang tersenyum. "Makasih, Arman. Kau sahabat baik."

Arman tersenyum balik. "Tugas sahabat, Danang."

Tapi di dalam hatinya, di tempat yang paling gelap, di tempat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, Arman berkata pada dirinya sendiri:

"Kenapa dia? Kenapa bukan aku? Kenapa perempuan itu memilih dia, bukan aku? Kenapa Danang selalu mendapatkan apa yang aku inginkan? Kenapa Danang yang miskin, yang tidak punya apa-apa, yang anak haram, yang tidak berpendidikan, bisa mendapatkan cinta, sementara aku? Aku yang kaya, aku yang berpendidikan, aku yang punya masa depan, aku yang baik, aku yang selalu ada untuknya, mengapa aku tidak pernah cukup?"

Ia tidak mengatakan kata-kata itu keras-keras.

Ia hanya menyimpannya di dalam hati.

Menyimpannya seperti menyimpan racun.

Racun yang suatu hari nanti akan keluar.

Racun yang akan menghancurkan segalanya.

Racun yang akan mengubah Danang, Kirana, dan dirinya sendiri, selamanya.

Bab 5

Senja yang Membuka Luka Lama

Tiga bulan setelah pertemuan di toko buku, Danang dan Kirana semakin dekat.

Setiap hari, setelah Danang selesai bekerja di percetakan, ia akan mengayuh sepeda onthelnya yang tua dan berkarat menuju toko buku di Jalan Veteran. Perjalanan yang hanya dua puluh menit itu terasa seperti perjalanan menuju surga. Setiap pedal yang ia kayuh, setiap tikungan yang ia lewati, setiap lampu merah yang ia tunggu, semua terasa ringan, terasa indah, terasa berarti, karena di ujung perjalanan itu, Kirana menunggu.

Kirana akan menunggunya di depan toko buku, duduk di kursi kayu kecil yang biasa digunakan Bu Lastri untuk beristirahat di sore hari. Kursi itu sederhana, terbuat dari kayu jati tua dengan sandaran yang diukir bunga-bunga kecil, bantalan dari kain perca yang sudah kusam, tetapi bagi Danang, kursi itu adalah singgasana, dan Kirana adalah ratu yang duduk di atasnya.

"Kau datang, Danang," kata Kirana setiap kali melihat Danang memarkir sepedanya di depan toko. Matanya akan berbinar, senyumnya akan merekah, lesung pipitnya akan muncul, dan Danang akan merasa bahwa semua lelahnya selama seharian bekerja hilang seketika.

"Aku janji, Kirana. Aku akan datang setiap hari. Aku tidak akan ingkar janji."

Mereka akan berjalan bersama menyusuri trotoar Jalan Veteran, melewati toko-toko yang mulai tutup, melewati warung-warung yang mulai membuka lapak untuk makan malam, melewati rumah-rumah penduduk yang mulai menyalakan lampu. Kadang mereka berpegangan tangan, kadang tidak, tetapi selalu ada jarak yang sengaja mereka jaga, jarak yang lahir dari rasa malu, dari ketidakpastian, dari pertanyaan "Apakah kita pacaran?" yang tidak pernah mereka ucapkan tetapi selalu hadir di antara mereka.

Sesekali mereka mampir ke kedai kopi Mbah Darmo, memesan roti bakar keju dan kopi hitam, lalu duduk berjam-jam, berbicara tentang segala hal, dari hal-hal kecil seperti cuaca dan harga cabai, hingga hal-hal besar seperti mimpi dan masa depan dan cita-cita.

"Danang, kau tahu? Hari ini ada pelanggan yang lucu banget," kata Kirana suatu sore, matanya berbinar-binar, tangannya bergerak-gerak seperti sedang menggambarkan sesuatu yang sangat menarik. "Dia datang ke toko, mukanya serius banget, kayak orang mau beli buku seribu halaman. Aku pikir dia mau beli ensiklopedia atau kamus bahasa Sansekerta atau buku filsafat karangan Aristoteles. Tapi ternyata dia cari buku resep masakan. Resep masakan untuk pemula yang baru belajar masak. Katanya, dia baru menikah dan istrinya tidak bisa masak. Jadi dia yang harus masak untuk istrinya."

Danang tertawa. "Lucu juga. Suami yang masak untuk istri."

"Iya. Biasanya kan istri yang masak untuk suami. Tapi ini suami yang masak untuk istri. Aku jadi berpikir, mungkin suatu hari nanti, kalau aku menikah, aku juga ingin suami yang bisa masak. Jadi aku tidak perlu repot-repot belajar masak."

"Kau tidak bisa masak, Kirana?"

Kirana cemberut. "Bisa sih. Sedikit. Nasi goreng, mie goreng, telur dadar. Itu saja. Lauk-pauk yang rumit-rumit, aku tidak bisa. Ibu tidak pernah mengajariku. Ibu terlalu sibuk bekerja. Jadi aku belajar sendiri. Tapi hasilnya... yah, bisa dimakan. Tidak enak, tetapi bisa dimakan."

"Mungkin suatu hari nanti kau akan bisa. Belajar dari buku resep yang dibeli pelanggan lucu itu."

"Kau mau jadi kelinci percobaanku, Danang? Aku masak, kau yang mencicipi."

"Siap, Mbak Kirana. Asal tidak diracun."

Mereka berdua tertawa. Tawa mereka bergema di kedai kopi yang mulai sepi, menggema di antara meja-meja kayu yang kosong, menggema di antara kursi-kursi plastik yang berwarna-warni.


Kadang mereka tidak pergi ke mana-mana. Hanya duduk di dalam toko buku, di lantai yang dingin, di antara rak-rak kayu yang penuh dengan buku. Kirana akan membaca puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono atau Chairil Anwar atau W.S. Rendra, dengan suara yang lembut, dengan intonasi yang tepat, dengan penghayatan yang dalam.

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana," Kirana membaca puisi Sapardi, matanya menatap Danang, "dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada."

Danang mendengarkan. Ia tidak mengerti puisi. Ia tidak pernah belajar puisi di sekolah. Ia tidak pernah membaca buku puisi. Tapi ketika Kirana membacakan puisi untuknya, kata-kata itu terasa indah, terasa dalam, terasa seperti sedang berbicara langsung kepada hatinya.

"Itu bagus, Kirana. Puisi siapa?"

"Sapardi. Penyair terkenal. Kau harus baca puisi-puisinya, Danang. Bagus-bagus. Bikin hati terasa hangat. Bikin hati terasa tersentuh."

"Aku tidak punya buku puisinya."

"Pinjam saja di sini. Bu Lastri tidak keberatan. Asal jangan lama-lama. Dan jangan robek. Dan jangan kotor. Dan jangan lipat halamannya. Dan jangan bawa ke luar toko."

Danang tertawa. "Banyak sekali aturannya."

"Harus. Buku itu berharga. Buku adalah jendela dunia. Buku adalah teman yang tidak pernah mengkhianati. Buku adalah harta yang tidak bisa dicuri."

"Kau seperti Pak Suryanto. Suka memberi nasihat tentang buku."

"Pak Suryanto siapa? Majikanmu?"

"Iya. Dia bilang, buku adalah jendela dunia. Buku adalah guru yang tidak pernah marah. Buku adalah teman yang tidak pernah mengkhianati."

"Wah, Pak Suryanto pintar. Aku suka dia. Suatu hari nanti, aku ingin bertemu dia."

"Kau akan suka. Dia baik. Agak pelit, tapi baik. Dia suka memberi nasihat. Kadang nasihatnya panjang banget. Sampai satu jam. Sampai aku mengantuk. Tapi nasihatnya selalu bermanfaat."

"Kau beruntung punya majikan seperti dia."

"Aku tahu. Aku bersyukur."


Kadang mereka berjalan ke sungai kecil di belakang kota. Sungai itu tidak seindah Sungai Kapuas di desa. Airnya keruh, penuh sampah, baunya tidak sedap. Tidak ada pohon waru dengan akar yang menjuntai ke air. Tidak ada nelayan yang melempar jala. Tidak ada anak-anak yang bermain air. Hanya air kotor yang mengalir lambat, dan sampah-sampah plastik yang tersangkut di bebatuan.

Tapi bagi Danang dan Kirana, sungai itu adalah pengganti. Pengganti sungai di desa yang tidak bisa mereka kunjungi lagi. Pengganti kenangan masa kecil yang tidak bisa mereka ulang. Pengganti rumah yang tidak lagi mereka miliki.

Mereka akan duduk di tepi sungai, di atas bebatuan besar yang licin karena lumut, memandang air yang mengalir, mendengar suara air yang membentur batu, merasakan angin sore yang berhembus pelan, membawa bau sampah dan air kotor, tetapi juga membawa kenangan-kenangan lama.

"Aku rindu sungai di desa, Danang," kata Kirana suatu sore, matanya sayu, suaranya pelan, seperti bisikan. "Aku rindu airnya yang jernih. Aku rindu ikannya yang banyak. Aku rindu pohon waru yang rindang. Aku rindu akar-akar besar yang menjuntai ke air. Aku rindu tempat kita duduk dulu. Aku rindu... aku rindu masa kecil kita."

Danang mengangguk. "Aku juga, Kirana. Aku juga rindu. Tapi kita tidak bisa kembali. Desa sudah berubah. Sungai sudah berubah. Kita sudah berubah. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengingat. Mengingat dan bersyukur bahwa kita pernah memilikinya."

"Apa kau masih ingat janji kita, Danang?"

"Janji apa?"

"Janji di tepi sungai. Janji dengan jari kelingking. Janji bahwa kita akan berteman selamanya. Janji bahwa kita tidak akan saling melupakan. Janji bahwa kita akan selalu bersama."

Danang tersenyum. "Aku ingat, Kirana. Aku ingat setiap kata. Aku ingat setiap detail. Aku ingat warna pita biru di rambutmu. Aku ingat bau sabun kelapa di rambutmu. Aku ingat hangatnya tanganmu ketika menggenggam tanganku. Aku ingat suaramu ketika kau bilang 'Aku akan kembali.' Aku ingat semuanya."

"Dan kau masih mau memegang janji itu?"

"Selamanya, Kirana. Aku akan memegang janji itu selamanya."

Kirana menangis.

Ia menangis bukan karena sedih.

Ia menangis karena bahagia.

Karena bahagia bahwa Danang masih ingat.

Karena bahagia bahwa Danang masih peduli.

Karena bahagia bahwa Danang masih mau.

Karena bahagia bahwa mereka masih bersama.

Meskipun tidak di desa.

Meskipun tidak di tepi sungai.

Meskipun tidak di bawah pohon waru.

Tapi bersama.

Di kota yang sama.

Di sungai yang berbeda.

Di waktu yang berbeda.

Tapi bersama.


Suatu sore di bulan Agustus, ketika langit berwarna jingga keemasan yang begitu indah, yang seperti lukisan cat minyak karya pelukis terkenal, Danang dan Kirana berjalan di tepi sungai kecil di belakang kota. Langit di barat berwarna jingga tua, kemerahan di bagian bawah, kekuningan di bagian atas, seperti matahari yang sedang demam tinggi, seperti dunia yang sedang terbakar perlahan-lahan.

Matahari hampir tenggelam. Hanya setengah lingkaran yang tersisa di ufuk barat, seperti mata yang setengah tertutup, seperti dunia yang sedang mengantuk. Awan-awan di sekitarnya berwarna merah muda, ungu, keemasan, seperti sedang berpesta, seperti sedang merayakan keindahan yang akan segera berakhir.

Burung-burung terbang di atas sungai, terbang rendah, hampir menyentuh permukaan air, seperti sedang bercermin, seperti sedang melihat bayangan mereka sendiri. Sesekali mereka menukik ke bawah, menangkap ikan kecil yang muncul ke permukaan, lalu terbang lagi, membawa mangsa di paruh mereka.

"Danang," panggil Kirana, suaranya pelan, lembut, seperti angin sore yang berhembus.

"Iya, Kirana?"

"Apa kau bahagia? Sekarang. Di sini. Bersamaku."

Danang menatap Kirana.

Wajahnya yang cantik di bawah sinar matahari sore. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar ditiup angin, seperti bendera yang berkibar di tiang, seperti ombak yang bergerak di laut. Matanya yang coklat kehijauan memantulkan cahaya matahari, seperti batu permata yang berkilauan, seperti air sungai yang jernih.

"Aku bahagia, Kirana. Sangat bahagia. Mungkin ini saat paling bahagia dalam hidupku. Sejak... sejak ibuku masih hidup."

Kirana tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang membuat Danang lupa pada semua masalah yang sedang menghantam hidupnya. Senyum yang menjadi rumah baginya di tengah badai.

"Aku juga bahagia, Danang. Sangat bahagia. Mungkin ini saat paling bahagia dalam hidupku. Sejak... sejak kita masih kecil di desa."

Mereka berdua terdiam.

Matahari semakin tenggelam.

Langit semakin gelap.

Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.

"Danang," panggil Kirana lagi.

"Ya?"

"Ada yang ingin aku tanyakan. Tapi aku takut. Aku takut kau marah. Aku takut kau kecewa. Aku takut kau... kau pergi."

Danang mengernyit. "Tanya saja, Kirana. Aku tidak akan marah. Aku tidak akan kecewa. Aku tidak akan pergi. Janji."

Kirana menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Tangannya yang berada di pangkuan, menggenggam ujung kebayanya, memilin-milin kain itu dengan gelisah.

"Apa kau... apa kau masih mencari ayah kandungmu, Danang?"

Danang terdiam.

Wajahnya berubah.

Senyumnya hilang.

Matanya yang tadinya hangat, tiba-tiba menjadi dingin. Dingin seperti es. Dingin seperti air sungai di pagi hari.

"Kenapa kau tanya itu, Kirana?"

Kirana menunduk. "Aku hanya... aku hanya ingin tahu. Aku hanya peduli padamu. Aku hanya ingin membantu. Aku hanya..."

"Aku tidak butuh bantuan, Kirana," potong Danang, suaranya dingin, tajam, seperti pisau. "Aku tidak butuh ayah. Aku sudah hidup tanpa ayah selama bertahun-tahun. Aku bisa hidup tanpa ayah selamanya. Aku tidak butuh lelaki itu. Aku tidak butuh siapa pun."

"Danang..."

"Dia meninggalkan ibuku ketika ibuku hamil. Dia pergi tanpa pamit. Dia tidak pernah kembali. Dia tidak pernah mengirim kabar. Dia tidak pernah peduli. Dia tidak pernah mengaku. Dia tidak pernah meminta maaf. Dia tidak pernah..."

Suara Danang pecah.

Tangisnya keluar.

Ia tidak bisa melanjutkan.

Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya naik turun, tangisnya tertahan tetapi terdengar.

Kirana memeluknya.

Ia memeluk Danang erat-erat.

Seperti dulu.

Seperti ketika mereka masih kecil.

Seperti ketika Danang menangis di dapur setelah pertengkaran orang tuanya.

Seperti ketika Danang menangis di beranda setelah mengetahui bahwa Sastrowiryo bukan ayah kandungnya.

Seperti ketika Danang menangis di pinggir jalan desa ketika ia pergi.

"Maaf, Danang," bisik Kirana di telinga Danang. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya... aku hanya ingin kau tahu bahwa kau tidak sendirian. Bahwa aku di sini. Bahwa aku akan selalu di sini. Bahwa aku akan membantumu mencari ayah kandungmu, jika kau mau. Bahwa aku akan mendukungmu apa pun keputusanmu. Bahwa aku..."

"Tidak usah, Kirana," kata Danang, suaranya masih basah oleh tangis, tetapi tidak lagi dingin. "Aku tidak mau mencari dia. Aku tidak peduli. Aku sudah punya keluarga. Aku punya ibu. Meskipun ibu sudah meninggal. Aku punya ayah tiri. Meskipun dia pergi. Aku punya kau. Meskipun... meskipun aku tidak tahu apa hubungan kita."

"Kita adalah kita, Danang. Tidak perlu diberi nama. Tidak perlu diberi label. Kita adalah kita. Dua orang yang saling peduli. Dua orang yang saling mencintai. Dua orang yang saling membutuhkan. Itu sudah cukup."

Danang mengangkat kepalanya.

Ia menatap Kirana.

Matanya masih basah.

Tapi ada senyum di bibirnya.

Senyum yang lemah, tetapi tulus.

"Terima kasih, Kirana."

"Tugas... tugas pacar?"

Danang terkejut. "Pacar?"

Kirana tersenyum malu. Wajahnya merah padam. "Iya. Pacar. Kalau kau mau. Kalau kau tidak mau, ya sudah. Kita tetap teman. Tidak apa."

"Aku mau, Kirana. Aku mau."

"Serius?"

"Serius. Aku sudah mencintaimu sejak kecil. Aku sudah menunggumu sejak kau pergi. Aku sudah memimpikanmu setiap malam. Aku sudah..."

Kirana mencium pipi Danang.

Cepat.

Ringan.

Seperti kupu-kupu yang hinggap di bunga.

Seperti daun yang jatuh ke tanah.

Seperti mimpi yang tidak nyata.

Danang terdiam.

Seluruh tubuhnya membeku.

Pipinya terasa hangat.

Bekas ciuman Kirana masih terasa di kulitnya.

"Aku juga mencintaimu, Danang," bisik Kirana. "Sejak dulu. Sejak kita di tepi sungai. Sejak kau melempar batu ke air. Sejak kau menggambar bunga kuning di buku gambarmu. Sejak kau menampar Surya karena menghina ibuku. Sejak kau menangis di depanku. Sejak kau bilang 'Aku takut kehilangan semuanya.' Sejak saat itu, Danang. Sejak saat itu, aku tahu. Aku tahu bahwa kau adalah orang yang aku tunggu. Aku tahu bahwa kau adalah orang yang aku cintai. Aku tahu bahwa kau adalah rumahku."

Danang tidak bisa berkata apa-apa.

Ia hanya memeluk Kirana.

Memeluknya erat-erat.

Seperti tidak ingin melepaskan.

Seperti takut Kirana akan pergi.

Seperti takut ini hanya mimpi.

"Ini mimpi, Kirana?" bisiknya.

"Tidak, Danang. Ini nyata. Kita nyata. Cinta kita nyata."

Danang memejamkan mata.

Ia ingin waktu berhenti.

Ia ingin momen ini berlangsung selamanya.

Ia ingin Kirana tetap di pelukannya.

Ia ingin kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.

Tapi di kejauhan, di balik kegelapan malam yang mulai turun, di balik pohon-pohon yang mulai gelap, di balik sungai yang mengalir, seseorang berdiri.

Arman.

Ia datang untuk menjemput Danang, seperti biasa.

Ia ingin mengajak Danang makan malam di warung langganan mereka.

Tapi ketika ia sampai di tepi sungai, ia melihat mereka.

Danang dan Kirana.

Berpelukan.

Di bawah sinar matahari sore.

Di tepi sungai yang keruh.

Ia berhenti.

Ia tidak bergerak.

Ia tidak bersuara.

Ia hanya berdiri.

Memandang.

Dari kejauhan.

Dari balik kegelapan yang mulai menyelimuti.

Matanya tidak berkedip.

Wajahnya tidak berekspresi.

Tangannya yang memegang payung, gemetar.

Di dalam hatinya, ada sesuatu yang tumbuh.

Bukan marah.

Bukan benci.

Bukan sakit.

Tapi iri.

Iri yang perlahan berubah menjadi bahaya.

Iri yang perlahan berubah menjadi racun.

Iri yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan.

Dan tanpa Danang ketahui, tanpa Kirana sadari, malam itu, di tepi sungai kecil yang keruh, di bawah senja yang mulai gelap, sesuatu yang berbahaya mulai tumbuh di hati Arman.

Sesuatu yang akan menghancurkan mereka bertiga.

Sesuatu yang akan mencuri kebahagiaan mereka.

Sesuatu yang akan mengubah cinta menjadi luka.

Sesuatu yang akan mengubah sahabat menjadi musuh.

Bab 6

Tatapan yang Tidak Sengaja Berubah

Hari-hari setelah pertemuan di tepi sungai, setelah ciuman di pipi yang mengubah segalanya, setelah kata-kata "Aku juga mencintaimu" yang terucap di senja yang indah, Danang dan Kirana semakin sering bersama. Bukan hanya setiap sore, tetapi juga setiap pagi sebelum bekerja, setiap akhir pekan, setiap waktu luang yang mereka miliki. Seperti dua magnet yang tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa berdiri sendiri, seperti dua burung yang terbang bersama di langit yang luas.

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Danang akan mengayuh sepeda onthelnya menuju rumah dinas Kirana di Jalan Merdeka. Perjalanan yang memakan waktu hampir empat puluh menit itu ia tempuh dengan semangat yang tidak pernah pudar, dengan energi yang tidak pernah habis, dengan kebahagiaan yang tidak pernah berkurang. Ia akan berhenti di depan pasar pagi, membeli jajan untuk Kirana, kadang pisang goreng, kadang getuk, kadang lupis, kadang bubur kacang hijau. Jajanan yang masih hangat, yang masih mengepulkan uap, yang bau harumnya membuat orang yang lewat menoleh.

"Pagi, Kirana!" serunya dari depan pagar rumah dinas yang tinggi, pagar besi hitam dengan ornamen-ornamen bunga yang sudah berkarat di beberapa tempat.

Kirana akan keluar dengan wajah masih mengantuk, rambut masih kusut, baju tidur masih melekat di tubuhnya. Matanya masih sayu, belum benar-benar terbuka, seperti mata kucing yang baru bangun tidur. Tapi ketika ia melihat Danang, ketika ia melihat senyum Danang, ketika ia melihat bungkusan-bungkusan jajan di tangan Danang, matanya akan langsung berbinar, wajahnya akan langsung cerah, senyumnya akan langsung merekah.

"Kau datang, Danang. Aku kira kau tidak jadi datang. Hujan tadi malam deras sekali. Aku kira jalanan banjir."

"Aku janji, Kirana. Aku akan datang setiap pagi. Hujan, banjir, badai, aku akan tetap datang. Karena kau menungguku. Karena aku tidak mau kau kecewa."

Kirana tersenyum. Senyum yang membuat jantung Danang berdebar kencang, yang membuat lututnya terasa lemas, yang membuat ia lupa pada semua lelahnya.

"Ayo, masuk. Ibu sudah membuat kopi. Ayah sudah pergi ke kantor. Kita sarapan dulu. Nanti kau terlambat kerja."

"Tidak apa. Pak Suryanto maklum. Dia tahu aku punya... punya..."

"Punya pacar?" sambung Kirana, matanya nakal, senyumnya menggoda.

Danang tersenyum malu. "Iya. Punya pacar."

Mereka berdua tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas, tawa yang seperti anak kecil yang bermain kejar-kejaran di halaman sekolah. Tawa yang membuat pagi terasa lebih cerah, yang membuat hari terasa lebih indah, yang membuat hidup terasa lebih berarti.


Tapi kebahagiaan mereka tidak luput dari perhatian.

Arman, yang selama ini menjadi sahabat Danang, yang selama ini selalu ada untuk Danang, yang selama ini menjadi tempat Danang berkeluh kesah, mulai berubah.

Bukan berubah drastis. Tidak tiba-tiba menjadi jahat. Tidak tiba-tiba membenci Danang. Berubah perlahan, seperti air yang mendidih di atas api kecil, seperti rumput yang tumbuh di sela-sela batu, seperti warna daun yang berubah di musim kemarau.

Ia masih datang ke kamar kos Danang setiap malam. Masih membawa sate kambing atau nasi goreng atau bakso. Masih duduk di ranjang sempit Danang, berbicara tentang banyak hal, tertawa tentang hal-hal lucu, mengeluh tentang pekerjaan yang melelahkan.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Cara ia memandang Danang.

Cara ia memandang Kirana.

Cara ia memandang dunia.

Semua berubah.

Suatu sore, ketika Danang sedang menemani Kirana di toko buku, membantu merapikan rak-rak yang berantakan, menata buku-buku berdasarkan abjad, membersihkan debu-debu yang menempel di sampul, Arman datang.

Ia datang dengan alasan ingin membeli buku. "Aku butuh buku tentang mesin, Danang. Aku ingin belajar memperbaiki mesin sendiri. Biar tidak perlu ke bengkel terus. Mahal."

Tapi Danang tahu itu bukan alasan sebenarnya. Ia sudah cukup lama berteman dengan Arman untuk bisa membaca bahasa tubuhnya, untuk bisa merasakan ketika Arman sedang tidak jujur. Matanya. Matanya berbohong. Matanya mengatakan sesuatu yang berbeda dari kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Silakan, Arman. Rak buku teknik di pojok sana. Di sebelah rak buku kedokteran. Di samping rak buku pertanian. Kau cari saja. Aku masih sibuk di sini."

Arman mengangguk. Ia berjalan menuju rak buku teknik, tetapi matanya tidak tertuju pada buku. Matanya tertuju pada Kirana.

Kirana sedang duduk di meja kasir, menghitung uang hasil penjualan hari ini, mencatatnya di buku besar, melipat uang-uang kertas berdasarkan nominalnya. Tangannya yang lentik dan putih bergerak lincah, memisahkan uang lima ribuan, sepuluh ribuan, dua puluh ribuan. Matanya fokus, tidak terganggu oleh kehadiran Arman, tidak menyadari bahwa ia sedang ditatap.

Arman berdiri di depan rak buku teknik, tetapi ia tidak mengambil buku apa pun. Ia hanya berdiri, memegang rak kayu di depannya, memandang Kirana dari kejauhan. Matanya tidak berkedip. Wajahnya tidak berekspresi. Tangannya yang memegang rak kayu, mulai gemetar.

"Arman, kau tidak jadi beli buku?" tanya Danang dari belakang.

Arman terkejut. Ia menoleh cepat, terlalu cepat. Wajahnya memerah, seperti orang yang ketahuan mencuri, seperti orang yang ketahuan berbohong.

"Eh... iya, aku... aku tidak jadi. Bukunya tidak ada yang cocok. Mungkin lain kali."

"Kau yakin? Aku bisa tanya Bu Lastri. Mungkin ada di gudang. Buku-buku lama kadang disimpan di belakang."

"Tidak usah, Danang. Tidak usah repot-repot. Aku cari di toko lain saja. Terima kasih."

Arman pergi.

Ia berjalan cepat meninggalkan toko buku, hampir berlari, seperti orang yang dikejar sesuatu, seperti orang yang takut ketahuan.

Danang memandang sahabatnya pergi. Ia mengernyit. Ada yang aneh. Ada yang tidak beres. Tapi ia tidak tahu apa. Ia hanya merasakan firasat tidak enak di dadanya. Firasat yang mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang buruk. Sesuatu yang akan mengubah segalanya.

"Teman kau, Danang?" tanya Kirana dari meja kasir, matanya masih fokus pada uang di tangannya.

"Iya. Arman. Sahabatku. Sejak aku pertama datang ke kota ini. Dia yang menjemputku di stasiun. Dia yang mencarikan kamar kos untukku. Dia yang mengajarkanku banyak hal tentang kota ini. Dia baik. Dia perhatian. Dia..."

"Dia memandangku aneh, Danang."

Danang berhenti bicara. "Maksudmu?"

Kirana mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Danang. "Aku tidak tahu. Mungkin aku salah. Mungkin aku terlalu peka. Tapi tadi, ketika dia berdiri di depan rak buku teknik, dia tidak melihat buku. Dia melihat aku. Matanya... matanya seperti... seperti..."

"Seperti apa?"

Kirana terdiam. Ia memikirkan kata yang tepat. Kata yang tidak terlalu keras, tidak terlalu kasar, tidak terlalu menuduh. "Seperti dia sedang menghitung sesuatu. Seperti dia sedang merencanakan sesuatu. Seperti dia sedang... aku tidak tahu, Danang. Aku hanya merasa tidak nyaman."

Danang menatap ke arah pintu, ke arah Arman pergi. "Arman baik, Kirana. Dia tidak akan melakukan hal-hal jahat. Dia sahabatku. Dia seperti kakak bagiku. Dia..."

"Kadang, Danang, orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling berbahaya. Karena kita tidak pernah curiga. Karena kita tidak pernah waspada. Karena kita tidak pernah siap."

Danang tidak menjawab.

Ia hanya memandang kosong ke arah pintu.

Firasatnya semakin kuat.

Sesuatu akan terjadi.

Dan ia tidak tahu bagaimana mencegahnya.


Malam itu, Arman tidak datang ke kamar kos Danang.

Biasanya, ia akan datang sekitar jam tujuh malam, membawa makanan, duduk di ranjang, berbicara tentang banyak hal. Tapi malam ini, tidak ada. Hanya kesunyian. Hanya kehampaan. Hanya Danang sendirian di kamar sempitnya, dengan dinding bata merah tanpa cat, dengan lantai semen yang dingin, dengan jendela kecil yang menghadap gang sempit.

Danang berbaring di ranjangnya, memandang langit-langit yang gelap, mendengar suara tetangga di sebelah kanan yang batuk-batuk, tetangga di sebelah kiri yang bertengkar, tetangga di atas yang memindahkan furnitur.

Ia memegang pita biru di tangannya.

Pita yang sudah hampir putih.

Pita yang kainnya sudah rapuh.

Pita yang menjadi satu-satunya kenangan dari masa lalunya.

"Kirana," bisiknya. "Aku janji akan melindungimu. Aku janji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Aku janji akan menjagamu. Aku janji akan mencintaimu. Sampai mati."

Ia memejamkan mata.

Ia berdoa.

"Tuhan, tolong jaga Kirana. Tolong lindungi dia. Tolong jauhkan dia dari bahaya. Tolong jangan biarkan siapa pun menyakitinya. Tolong... tolong jaga cinta kami."

Tapi doanya tidak didengar.

Atau didengar, tetapi tidak dijawab.

Karena di tempat lain, di kamar kosnya yang lebih besar, yang lebih rapi, yang lebih nyaman, Arman duduk di ranjangnya, memandang tembok di depannya, memikirkan Kirana.

Rambutnya yang panjang dan hitam.

Matanya yang coklat kehijauan.

Lesung pipitnya yang manis.

Senyumnya yang hangat.

Tawanya yang riang.

Suaranya yang lembut.

Kirana.

Perempuan yang tidak pernah ia kenal.

Perempuan yang baru ia lihat hari ini.

Perempuan yang sudah ia benci dan cintai pada saat yang bersamaan.

"Kenapa kau memilih dia, Kirana?" bisiknya. "Kenapa bukan aku? Aku lebih baik dari dia. Aku lebih kaya dari dia. Aku lebih pintar dari dia. Aku lebih tampan dari dia. Aku lebih... aku lebih pantas untukmu."

Ia berdiri.

Berjalan ke jendela.

Memandang bulan yang bersinar terang di langit.

"Danang tidak pantas untukmu, Kirana. Dia anak haram. Dia tidak punya masa depan. Dia tidak punya pendidikan. Dia tidak punya uang. Dia tidak punya apa-apa. Aku yang pantas untukmu. Aku. Bukan dia."

Tangannya mengepal.

Matanya menyala.

Ada api di sana.

Api yang akan membakar segalanya.

Api yang akan menghancurkan persahabatan.

Api yang akan menghancurkan cinta.

Api yang akan menghancurkan mereka bertiga.

"Aku akan mendapatkannya, Kirana," bisiknya. "Aku akan mendapatkamu. Dengan atau tanpa restu Danang. Dengan atau tanpa persetujuanmu. Aku akan mendapatkamu. Karena aku pantas. Karena aku lebih baik. Karena aku lebih layak."

Ia tersenyum.

Senyum yang dingin.

Senyum yang penuh dengan rencana.

Senyum yang seperti ular yang siap menerkam.

Senyum yang mengatakan bahwa ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Bab 7

Rumah Kirana yang Tidak Lagi Hangat

Tiga bulan kemudian, Danang mulai sering diundang ke rumah Kirana. Bukan undangan resmi dengan surat atau kartu, tetapi undangan lisan yang diucapkan Kirana setiap kali mereka bertemu.

"Danang, main ke rumahku yuk. Ibu masak rendang. Enak banget. Kau harus coba."

"Danang, ayahku beli TV baru. Ada layar warna. Besar sekali. Ayo lihat."

"Danang, hari ini aku beli kaset lagu-lagu Chrisye. Ayo dengar bareng. Di rumahku. Nanti malam."

Danang tidak pernah menolak. Ia selalu datang, meskipun harus mengayuh sepeda onthelnya hampir satu jam dari kamar kosnya ke rumah dinas di Jalan Merdeka. Ia selalu datang, meskipun kadang hujan turun deras, meskipun kadang ban sepedanya bocor, meskipun kadang ia kehabisan uang untuk membeli bensin lampu minyak untuk penerangan.

Rumah dinas itu besar. Sangat besar. Dindingnya putih bersih dengan ornamen-ornamen klasik bergaya kolonial Belanda. Pilar-pilar kayunya tinggi menjulang, dengan ukiran-ukiran halus yang menunjukkan kemewahan masa lalu, ketika Belanda masih menguasai Indonesia, ketika pejabat-pejabat Belanda tinggal di rumah-rumah megah seperti ini. Ukiran-ukiran itu menggambarkan bunga-bunga dan daun-daun dan hewan-hewan mitologi, yang sulit dipahami maknanya tetapi indah dipandang.

Halaman depannya luas, ditumbuhi rumput yang terawat, rumput gajah yang hijau segar, yang setiap minggu dipotong oleh tukang kebun bernama Mamat, lelaki tua dengan topi caping dan sabit di tangan. Ada beberapa pohon mangga di halaman itu, pohon-pohon besar yang rindang, yang buahnya manis dan lebat setiap musim hujan. Ada juga pohon rambutan, pohon jambu air, pohon belimbing, dan pohon bunga kamboja yang bunganya putih kekuningan dengan wangi yang khas.

Lampu gantung kristal kecil menggantung di ruang tamu, berkilauan setiap kali terkena cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar dengan kaca-kaca berwarna. Lampu itu mahal, sangat mahal, mungkin seharga pendapatan Danang setahun. Lampu itu adalah hadiah dari seorang kolega ayah Kirana yang bekerja di Jakarta, yang konon dibeli dari toko perhiasan terkenal di pusat kota.

Sofa beludru merah marun, dengan bantal-bantal tebal yang empuk, dengan ukiran kayu di bagian lengan dan kakinya, diletakkan di sudut ruang tamu, menghadap ke arah jendela. Sofa itu terlalu besar untuk ruang tamu, tetapi pemilik rumah tidak peduli. Yang penting mahal. Yang penting mewah. Yang penting orang yang datang terkesan.

Meja kopi dari kayu jati dengan ukiran halus, dengan permukaan yang mengkilap karena sering dipoles dengan lilin, diletakkan di tengah-tengah ruangan. Di atas meja itu, selalu ada vas bunga segar, bunga mawar merah atau bunga krisan putih atau bunga sedap malam yang wanginya memenuhi seluruh ruangan. Vas itu juga mahal, terbuat dari kristal bening dengan ukiran-ukiran halus di permukaannya.

Namun semakin sering Danang datang, semakin sering ia menginjakkan kaki di rumah megah itu, semakin ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang mengganjal di dadanya setiap kali ia melewati pintu masuk, setiap kali ia duduk di sofa beludru merah, setiap kali ia menatap lampu gantung kristal yang berkilauan.

Rumah itu indah. Sangat indah. Seperti istana mini di tengah kota yang kumuh, seperti surga kecil di tengah neraka besar. Dinding putih, pilar-pilar tinggi, ukiran-ukiran indah, lampu kristal, sofa beludru, meja jati, vas bunga. Semua serba indah. Serba mewah. Serba sempurna.

Tetapi tidak hangat.

Tidak ada tawa. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi, seperti perpustakaan di malam hari, seperti gereja di hari biasa, seperti makam di tengah malam. Suara yang terdengar hanya suara langkah kaki di lantai marmer, suara pintu yang dibuka dan ditutup, suara jam dinding yang berdetak, suara napas orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Tidak ada aroma masakan yang menggugah selera. Dapur di rumah itu bersih, sangat bersih, seperti tidak pernah digunakan. Semua peralatan masak tersusun rapi di lemari-lemari kaca, panci, wajan, spatula, pisau, semua mengkilap, semua bebas debu. Tapi tidak ada aroma bawang, tidak ada aroma rempah, tidak ada aroma masakan yang biasa menggugah selera Danang ketika ia masih tinggal di desa bersama ibunya.

Tidak ada foto keluarga di dinding. Dinding-dinding di rumah itu kosong, hanya cat putih bersih tanpa hiasan. Tidak ada foto pernikahan ayah dan ibu Kirana. Tidak ada foto Kirana ketika masih bayi. Tidak ada foto keluarga ketika berlibur. Tidak ada foto apa pun. Hanya kehampaan. Hanya kekosongan. Hanya dinding putih yang dingin dan tidak bersahabat.

Tidak ada tanda bahwa di rumah ini pernah hidup kebahagiaan. Tidak ada mainan anak-anak yang berserakan di lantai. Tidak ada buku-buku cerita yang tertumpuk di meja. Tidak ada coretan-coretan di dinding yang dibuat oleh anak kecil. Tidak ada bekas-bekas kehidupan. Hanya keindahan yang dingin. Hanya kesempurnaan yang hampa. Hanya rumah yang seperti hotel, tempat orang singgah sementara sebelum pergi lagi.

"Rumahmu besar sekali, Kirana," kata Danang suatu sore, ketika ia duduk di sofa beludru merah, memegang cangkir kopi yang disajikan oleh pembantu rumah tangga bernama Yati, perempuan muda dengan wajah cemberut dan celemek kotor. "Tapi... tapi sepi."

Kirana tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang sudah sering Danang lihat akhir-akhir ini, senyum yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, ada sesuatu yang tidak ingin dibicarakan, ada sesuatu yang terlalu sakit untuk diungkapkan.

"Iya. Sepi. Ayah sibuk kerja. Ibu sibuk arisan. Aku sibuk di toko buku. Jadi rumah ini hanya tempat tidur. Tidak lebih."

"Tidak ada adik?"

"Tidak. Aku anak tunggal. Ayah dan Ibu hanya punya aku. Mereka sudah tua. Ibu hampir tidak bisa punya anak lagi. Jadi ya... hanya aku."

"Kau tidak kesepian?"

Kirana terdiam.

Ia memandang ke luar jendela, ke arah halaman yang luas, ke arah pohon-pohon mangga yang rindang, ke arah rumput yang terawat, ke arah langit yang biru.

"Aku kesepian, Danang," katanya akhirnya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Sangat kesepian. Sejak kecil. Sejak aku bisa berpikir. Sejak aku sadar bahwa rumahku hanya tempat kosong tanpa cinta."

Danang menatap Kirana.

Ia tidak tahu harus berkata apa.

Ia tidak bisa membayangkan.

Ia tumbuh di rumah panggung yang kecil, yang dindingnya retak, yang lantainya berderit, yang atapnya bocor. Tapi di rumah itu, ada ibunya. Ada ibunya yang memasak nasi goreng setiap pagi. Ada ibunya yang membangunkannya dengan suara lembut. Ada ibunya yang tersenyum meskipun lelah. Ada ibunya yang memeluknya ketika ia menangis.

Rumah Kirana besar, indah, mewah. Tapi tidak ada ibu yang memasak. Tidak ada ibu yang membangunkan. Tidak ada ibu yang tersenyum. Tidak ada ibu yang memeluk.

"Kirana," panggil Danang.

"Ya?"

"Aku... aku tidak bisa membayangkan. Tapi aku mengerti. Aku juga kesepian. Sejak ibu meninggal. Sejak bapak pergi. Sejak aku tinggal sendiri di kamar kos yang sempit. Aku juga kesepian."

Mereka berdua terdiam.

Hanya suara jam dinding yang berdetak.

Hanya suara angin yang berhembus.

Hanya suara daun-daun yang bergesekan.

"Tapi sekarang kita tidak sendirian lagi, Kirana," kata Danang, memegang tangan Kirana. Tangannya yang kasar dan keras, memegang tangan Kirana yang lembut dan lentik. "Kita punya satu sama lain. Kita punya cinta. Kita punya masa depan."

Kirana tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang sampai ke matanya. Senyum yang membuat Danang lupa pada semua masalah yang sedang menghantam hidupnya.

"Iya, Danang. Kita punya satu sama lain."


Suatu sore, ketika Danang sedang asyik membaca buku di ruang tamu, menunggu Kirana yang sedang mandi dan berganti pakaian, pintu depan terbuka.

Seorang perempuan setengah baya masuk.

Perempuan itu masih tampak muda meskipun usianya sudah setengah abad lebih. Wajahnya terawat, dengan kulit putih bersih tanpa kerutan, dengan riasan tipis yang membuatnya terlihat anggun dan elegan. Rambutnya disanggul rapi, disemat dengan tusuk konde berlapis emas, dengan hiasan bunga melati segar di samping kanannya. Pakaiannya selalu bersih dan tidak pernah kusut, kebaya brokat warna krem dengan motif bunga-bunga kecil, kain batik tulis dengan warna senada, sepatu kulit hitam dengan hak rendah.

Namun matanya dingin. Matanya selalu dingin. Matanya seperti es, seperti kaca, seperti air yang membeku di musim dingin. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada kasih sayang. Tidak ada cinta. Hanya dingin. Hanya penilaian. Hanya penghakiman.

Itu adalah ibu Kirana. Nyonya Dewi Ratnasari, perempuan kelahiran Surakarta dari keluarga priyayi yang masih memegang teguh adat istiadat Jawa. Perempuan yang tumbuh dengan keyakinan bahwa status sosial adalah segalanya, bahwa uang adalah segalanya, bahwa penampilan adalah segalanya. Perempuan yang tidak pernah belajar bahwa cinta lebih penting dari uang, bahwa kebahagiaan lebih penting dari status, bahwa ketulusan lebih penting dari penampilan.

Matanya langsung menatap Danang. Bukan tatapan biasa. Tatapan yang penuh dengan penilaian. Tatapan yang seperti sedang menghitung, sedang menimbang, sedang memutuskan. Matanya bergerak dari ujung rambut Danang yang ikal dan tidak pernah rapi, ke bajunya yang lusuh dan tambal sulam, ke sepatunya yang bolong di bagian jempol, ke tangannya yang kasar dan penuh kapalan.

"Siapa ini, Kirana?" suaranya tegas, dingin, seperti suara komandan yang tidak terbiasa dibantah.

Kirana yang baru saja keluar dari kamar, dengan rambut masih basah, dengan pakaian santai, langsung terdiam. Wajahnya berubah pucat. Tangannya gemetar.

"Ini Danang, Bu. Teman lama. Dari desa. Kami... kami berteman sejak kecil. Dulu di desa."

"Teman lama?" Nyonya Dewi mendekat, berdiri di depan Danang, menatapnya dari atas ke bawah. "Teman lama yang mana? Apakah keluarga Sastrowiryo itu?"

Kirana membeku. "Ibu tahu?"

"Tahu. Aku tahu semuanya, Kirana. Aku tahu tentang kebakaran gudang. Aku tahu tentang tuduhan. Aku tahu tentang... tentang ayah kandungnya. Aku tahu semua. Dan aku tidak senang anakku bergaul dengan anak seperti itu."

"Bu..."

"Jangan 'Bu' terus. Aku tidak ingin anakku dekat-dekat dengan anak haram. Aku tidak ingin anakku dicemarkan oleh pergaulan dengan orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya. Aku tidak ingin..."

"Bu, cukup!" potong Kirana, suaranya keras, tegas, seperti saat ia membela Danang di depan Surya dulu. Matanya menyala. Tangannya mengepal. "Jangan bicara seperti itu tentang Danang. Jangan. Dia baik. Dia jujur. Dia pekerja keras. Dia..."

"Dia anak haram, Kirana. Tidak punya ayah. Ibunya hamil di luar nikah. Itu fakta. Kau tidak bisa mengubah fakta."

Kirana menangis.

Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Ia hanya bisa menangis.

Menangis di depan ibunya.

Menangis di depan Danang.

Menangis karena ia tahu bahwa ibunya tidak akan pernah berubah.

Danang berdiri.

Ia berjalan ke arah pintu.

"Danang, jangan pergi!" teriak Kirana.

Danang berhenti. Ia menoleh. Matanya bertemu dengan mata Kirana. Mata yang basah. Mata yang merah. Mata yang penuh dengan kesedihan dan ketakutan.

"Aku pulang dulu, Kirana. Besok kita bertemu di toko buku."

"Danang..."

"Aku tidak ingin membuat masalah dengan ibumu. Aku tidak ingin membuatmu susah. Aku pergi dulu."

Ia pergi.

Meninggalkan rumah megah itu.

Meninggalkan Kirana yang menangis.

Meninggalkan Nyonya Dewi yang tersenyum puas.

Di luar, hujan mulai turun.

Gerimis.

Pelan.

Sayu.

Seperti langit ikut menangis.

Seperti alam ikut bersedih.

Danang mengayuh sepedanya perlahan, tidak tergesa-gesa, meskipun hujan mulai membasahi bajunya, meskipun rambutnya mulai basah, meskipun air mata mulai mengalir di pipinya.

Ia tidak tahu bahwa pertemuan dengan ibu Kirana adalah awal dari segalanya.

Awal dari penderitaan.

Awal dari air mata.

Awal dari kehilangan.

Awal dari pengkhianatan.

Tapi ia tidak menyesal.

Ia tidak menyesal mencintai Kirana.

Ia tidak menyesal berjuang untuk Kirana.

Ia tidak menyesal memilih Kirana.

Meskipun harus berhadapan dengan ibu yang dingin, dengan status yang berbeda, dengan dunia yang tidak merestui.

Karena cinta, pikir Danang, tidak pernah meminta izin.

Cinta datang begitu saja.

Tanpa diundang.

Tanpa permisi.

Tanpa peduli pada status, pada uang, pada asal-usul.

Cinta datang.

Dan ketika cinta datang, yang bisa kita lakukan hanyalah menerima.

Atau menolak.

Dan Danang memilih menerima.

Meskipun konsekuensinya berat.

Meskipun jalannya terjal.

Meskipun ujungnya mungkin tidak bahagia.

Ia memilih menerima.

Karena cinta.

Karena Kirana.

Karena mereka.

Bab 8

Surat Tanpa Nama

Suatu pagi di bulan September, ketika musim kemarau mulai berganti dengan musim hujan, ketika langit mulai sering mendung dan angin mulai bertiup kencang, Kirana menemukan sebuah amplop coklat di bawah pintu rumahnya.

Amplop itu tidak ada yang mengantar. Tidak ada tukang pos yang lewat. Tidak ada tetangga yang melihat siapa yang meletakkannya. Tidak ada suara langkah kaki di halaman. Tidak ada suara sepeda motor yang berhenti di depan pagar. Amplop itu begitu saja muncul, seperti sihir, seperti peringatan dari alam lain, seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.

Kirana menemukannya ketika ia hendak berangkat ke toko buku, pagi-pagi buta sebelum matahari terbit, ketika kabut masih menutupi desa, ketika udara masih dingin menusuk tulang. Ia membuka pintu depan, berniat mengambil koran yang biasanya diantar oleh tukang koron setiap pukul lima pagi. Tapi koran itu tidak ada. Yang ada hanyalah amplop coklat, tergeletak di lantai teras, di antara pot-pot bunga yang mulai layu karena jarang disiram.

Amplop itu tidak terlalu besar, seukuran amplop surat biasa, tetapi terasa berat ketika ia memegangnya. Kertasnya tebal, berkualitas baik, tidak seperti amplop murahan yang biasa dijual di warung-warung. Di bagian depan amplop, tertulis namanya: "Kirana Prameswari". Tulisan tangan, huruf kapital semua, seperti orang yang sengaja menyamarkan tulisannya agar tidak mudah dikenali. Tulisannya rapi, terlatih, seperti tulisan orang yang terbiasa menulis surat.

Tidak ada alamat pengirim. Tidak ada nama. Tidak ada identitas apa pun. Hanya namanya. Hanya amplop coklat. Hanya rahasia.

Tangannya gemetar saat membukanya. Jari-jarinya yang lentik dan putih, yang biasa memegang buku-buku dengan hati-hati, kini gemetar seperti daun yang ditiup angin. Ia merobek amplop itu perlahan, tidak ingin merusak isinya, meskipun ia sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya.

Kertas di dalamnya tipis, murah, seperti kertas yang biasa dijual di warung-warung kecil, warna putih kusam dengan garis-garis biru tipis seperti buku tulis sekolah. Kertas itu dilipat menjadi dua, kemudian dilipat lagi menjadi empat, sehingga mudah dimasukkan ke dalam amplop.

Kirana membuka lipatan itu dengan hati-hati, jari-jarinya yang gemetar berusaha meratakan kertas yang sudah kusut karena terlipat terlalu lama.

Tulisan di dalamnya tangan kasar, huruf kapital semua, seperti orang yang sengaja menyamarkan tulisannya, seperti orang yang tidak ingin dikenali. Setiap huruf ditulis dengan tekanan yang keras, menembus kertas, meninggalkan bekas di balik kertas.

Isi surat itu pendek. Hanya beberapa baris. Tetapi setiap kata terasa seperti pisau, seperti belati, seperti racun yang menyebar perlahan di dalam tubuh.

"JANGAN ULANGI KESALAHAN MASA LALU. ANAK LELAKI MISKIN ITU TIDAK AKAN PERNAH PANTAS UNTUKMU. KAU AKAN MENYESAL. KELUARGAMU AKAN MENYESAL. SEMUA ORANG AKAN MENYESAL."

Kirana membaca surat itu sekali. Dua kali. Tiga kali. Sepuluh kali.

Wajahnya memucat. Wajahnya berubah menjadi putih seperti kertas amplop itu, seperti kapur, seperti orang yang sedang sakit parah. Bibirnya gemetar. Tangannya yang memegang surat mulai gemetar hebat, seperti orang yang kedinginan, seperti orang yang ketakutan.

Surat itu jatuh ke lantai.

Jatuh ke teras ubin yang dingin.

Jatuh di antara pot-pot bunga yang mulai layu.

Kirana memungutnya. Tangannya masih gemetar. Ia membaca lagi. Membaca berulang-ulang. Berharap kata-katanya berubah. Berharap ini hanya mimpi. Berharap ada yang salah.

Tapi tidak. Kata-katanya tetap sama. Tetap tajam. Tetap menyakitkan.

"Siapa yang menulis ini?" bisiknya. "Siapa yang tahu tentang Danang? Siapa yang tahu tentang masa lalu? Siapa yang tidak ingin kita bersama?"

Ia melihat ke kiri dan ke kanan, ke halaman yang sunyi, ke jalan yang masih sepi, ke rumah-rumah tetangga yang pintunya masih tertutup. Tidak ada siapa pun. Hanya kabut pagi yang mulai menipis. Hanya angin yang berhembus pelan. Hanya burung-burung yang mulai berkicau di atas pohon mangga.

Ia memasukkan surat itu ke dalam saku bajunya.

Ia tidak pergi ke toko buku.

Ia kembali ke dalam rumah, menutup pintu, berlari ke kamarnya, menangis di atas bantal.


Malamnya, Kirana menemui Danang di tepi sungai kecil di belakang kota. Tempat yang biasa mereka kunjungi ketika ingin berbicara berdua tanpa gangguan. Tempat yang sunyi, yang gelap, yang hanya diterangi oleh cahaya bulan dan bintang-bintang.

Langit malam itu gelap, tanpa bintang. Awan tebal menutupi bulan, tidak ada cahaya yang menembus. Hanya kegelapan. Kegelapan yang pekat. Kegelapan yang seperti masa depan mereka. Angin bertiup dingin, seperti angin yang membawa kabar buruk, seperti angin yang membawa kematian.

Kirana duduk di atas batu besar yang licin karena lumut, memeluk lututnya, menggigil kedinginan. Matanya merah, bengkak, seperti habis menangis berjam-jam. Wajahnya pucat, lesi, tidak bersemangat seperti biasanya.

Danang duduk di sampingnya, meraih tangannya, menggenggamnya erat-erat. "Ada apa, Kirana? Dari tadi menelepon ke percetakan, suruh aku datang ke sini. Katanya penting. Katanya darurat. Ada apa?"

Kirana mengeluarkan surat itu dari sakunya. Tangannya gemetar ketika memberikannya pada Danang. "Ini. Aku dapat ini pagi tadi. Di bawah pintu rumahku. Tidak ada yang mengantar. Tidak ada yang tahu. Tiba-tiba ada."

Danang mengambil surat itu. Ia membacanya. Sekali. Dua kali. Rahangnya mengeras. Matanya yang tadinya tenang, kini berubah menjadi gelap, penuh amarah yang ditahan. Tangannya yang memegang surat itu mengepal, meremas kertas tipis itu hingga hampir robek, hingga kusut, hingga tidak berbentuk lagi.

"Siapa yang kirim?" tanyanya. Suaranya dingin, seperti es, seperti air sungai di pagi hari.

Kirana menggeleng. Matanya basah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku tidak tahu, Danang. Tidak ada nama. Tidak ada alamat. Tidak ada identitas. Hanya tulisan kapital. Hanya ancaman. Hanya..."

"Ancaman? Ini bukan ancaman, Kirana. Ini peringatan. Seseorang tidak ingin kita bersama. Seseorang tidak merestui hubungan kita. Seseorang..."

"Siapa, Danang? Siapa yang tidak ingin kita bersama? Ibu? Apakah ibu yang menulis ini? Apakah ibu yang mengirim surat ini?"

Danang terdiam.

Ia memikirkan kemungkinan itu.

Ibu Kirana.

Nyonya Dewi Ratnasari.

Perempuan dengan mata dingin, dengan suara tegas, dengan sikap angkuh. Perempuan yang jelas-jelas tidak menyukainya. Perempuan yang jelas-jelas tidak merestui hubungan mereka. Perempuan yang jelas-jelas akan melakukan apa pun untuk memisahkan mereka.

"Mungkin," kata Danang akhirnya. "Mungkin ibumu. Tapi kita tidak bisa menuduh tanpa bukti. Kita harus mencari tahu dulu. Kita harus..."

"Bagaimana kita mencari tahu, Danang? Tidak ada petunjuk. Tidak ada sidik jari. Tidak ada alamat. Hanya kertas dan amplop. Hanya itu."

Danang menatap surat itu lagi.

Ia membaca berulang-ulang.

Mencoba mengenali tulisan itu.

Mencoba mengingat apakah ia pernah melihat tulisan seperti itu sebelumnya.

Tapi tidak ada.

Tidak ada yang familiar.

Tidak ada yang pernah ia lihat.

"JANGAN ULANGI KESALAHAN MASA LALU."

Kata-kata itu.

"Kesalahan masa lalu."

Apa maksudnya?

Kesalahan apa?

Masa lalu siapa?

Apakah ini tentang ibunya? Tentang kehamilan di luar nikah? Tentang ayah kandung Danang yang pergi? Tentang aib yang tidak boleh terulang?

Atau tentang hal lain?

Tentang sesuatu yang tidak ia ketahui?

Tentang sesuatu yang disembunyikan orang lain?

"Kirana," panggil Danang.

"Ya?"

"Kau percaya padaku?"

Kirana menatap Danang. Matanya yang basah, yang merah, yang penuh ketakutan, menatap lurus ke mata Danang yang gelap, yang dalam, yang seperti lubang sumur tua.

"Aku percaya padamu, Danang. Aku selalu percaya padamu. Sejak kita kecil. Sejak pertama kita bertemu. Sejak kau melempar batu ke sungai. Sejak kau menggambar bunga kuning di buku gambarmu. Aku percaya padamu."

"Kalau begitu, jangan takut. Kita hadapi ini bersama. Siapa pun yang mengirim surat ini, apa pun tujuannya, kita tidak akan biarkan dia menghancurkan kita. Kita akan buktikan bahwa cinta kita lebih kuat dari kebencian. Kita akan buktikan bahwa kita pantas bersama. Kita akan buktikan bahwa..."

Kirana memeluk Danang.

Ia memeluknya erat-erat.

Seperti tidak ingin melepaskan.

Seperti takut kehilangan.

Seperti takut surat itu adalah awal dari segalanya.

"Danang, aku takut," bisiknya di telinga Danang. "Aku takut kehilanganmu lagi. Aku takut surat ini adalah awal dari... dari sesuatu yang buruk. Aku takut..."

"Aku tidak akan pergi, Kirana. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji. Aku akan selalu di sini. Untukmu. Untuk kita."

Danang menggenggam tangan Kirana.

Menggenggamnya erat-erat.

Seperti berjanji.

Seperti bersumpah.

Seperti berdoa.

"Kita akan melewati ini bersama, Kirana. Aku, kau, dan cinta kita. Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Tidak ada surat. Tidak ada ancaman. Tidak ada ibu. Tidak ada siapa pun."

Kirana mengangguk.

Ia masih menangis.

Tapi senyum mulai muncul di bibirnya.

Senyum yang lemah.

Senyum yang tidak secerah biasanya.

Tapi senyum.

Senyum yang mengatakan bahwa ia percaya.

Senyum yang mengatakan bahwa ia berharap.

Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak sendirian.


Di kejauhan, di balik kegelapan malam, di balik pohon-pohon yang gelap, di balik sungai yang mengalir, seseorang berdiri.

Arman.

Ia datang untuk mencari Danang, seperti biasa.

Ia ingin mengajak Danang makan malam di warung langganan mereka.

Tapi ketika ia sampai di tepi sungai, ia melihat mereka.

Danang dan Kirana.

Berpelukan.

Di bawah kegelapan malam.

Di tepi sungai yang keruh.

Ia berhenti.

Ia tidak bergerak.

Ia tidak bersuara.

Ia hanya berdiri.

Memandang.

Dari kejauhan.

Dari balik kegelapan yang semakin pekat.

Matanya tidak berkedip.

Wajahnya tidak berekspresi.

Tangannya yang memegang payung, gemetar.

Di dalam sakunya, ada amplop coklat.

Amplop yang sama.

Amplop yang berisi surat tanpa nama.

Amplop yang ia letakkan di bawah pintu rumah Kirana pagi ini.

Ia tersenyum.

Senyum yang dingin.

Senyum yang penuh dengan rencana.

Senyum yang mengatakan bahwa ini baru awal.

Senyum yang mengatakan bahwa ia akan melakukan lebih banyak lagi.

Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak akan berhenti sampai Kirana menjadi miliknya.

"Selamat malam, Danang. Selamat malam, Kirana," bisiknya. "Semoga kalian bahagia. Karena kebahagiaan kalian tidak akan lama lagi. Aku akan pastikan itu."

Ia berbalik.

Berjalan menjauh.

Menghilang di balik kegelapan.

Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan di tepi sungai.

Meninggalkan racun yang ia tanam.

Racun yang akan tumbuh.

Racun yang akan membunuh.

Racun yang akan menghancurkan segalanya.

Bab 9

Hujan yang Membuka Perasaan

Malam itu, hujan turun deras.

Bukan hujan biasa. Bukan hujan gerimis yang pelan dan sayu seperti biasanya. Bukan hujan sore yang mengguyur sebentar lalu reda. Ini hujan yang turun dengan kemarahan, dengan amarah, dengan keputusasaan. Seperti langit sedang melampiaskan semua yang selama ini ia pendam. Seperti Tuhan sedang menangis dan tidak peduli siapa yang basah.

Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa, butir-butirnya besar dan keras, menghantam atap-atap seng dan asbes dengan suara seperti ribuan genderang yang ditabuh bersamaan. Angin bertiup kencang, menderu di antara celah-celah dinding, membuat daun-daun pohon bergoyang liar, membuat ranting-ranting patah dan jatuh ke tanah. Sesekali kilat menyambar di kejauhan, diikuti gemuruh yang mengguncang tanah, yang membuat jendela-jendela bergetar, yang membuat orang-orang yang masih terjaga melompat kaget.

Hujan yang membuat orang enggan keluar rumah. Hujan yang membuat orang lebih memilih berdiam diri di dalam, berselimut tebal, menikmati secangkir teh hangat sambil mendengar suara air yang jatuh dari atap. Hujan yang membuat orang malas melakukan apa pun selain tidur atau bermalas-malasan.

Tapi Kirana tidak bisa berdiam diri.

Ia terjebak di percetakan.

Ia datang sore tadi untuk mengantar pesanan buku yang sudah selesai dicetak. Bu Lastri menyuruhnya mengambil buku-buku pelajaran sekolah yang dipesan oleh yayasan pendidikan di kecamatan sebelah. "Ambil saja, Kirana. Biar tidak usah diantar. Lumayan, kau bisa ketemu Danang," kata Bu Lastri sambil tersenyum, matanya berbinar-binar, seperti tahu sesuatu yang tidak diketahui Kirana.

Kirana tersenyum malu. "Bu Lastri, jangan begitu. Aku ke sana karena pekerjaan, bukan karena..."

"Iya, iya. Karena pekerjaan. Tentu saja. Aku percaya."

Kirana menghela napas. Bu Lastri memang suka menggoda. Sejak tahu bahwa Kirana dekat dengan Danang, ia tidak pernah berhenti menggoda. "Kapan kau mau nikah, Kirana?" "Ajak Danang ke sini, Bi. Aku mau kenalan." "Danang itu anak baik, Kirana. Jangan lepaskan."

Tapi ketika ia hendak pulang, hujan sudah terlalu deras untuk dilalui. Jalanan di depan percetakan sudah berubah menjadi sungai kecil yang mengalir deras, air setinggi mata kaki, membawa lumpur dan sampah dan daun-daun kering. Becak tidak mau jalan. Andong tidak mau lewat. Bahkan sepeda motor pun mogok karena air masuk ke knalpot.

"Hujan deras sekali, Mbak," kata Pak Suryanto sambil memandang ke luar jendela, ke arah hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Wajahnya yang tua dan penuh kerutan itu terlihat khawatir. "Sebaiknya Mbak tunggu dulu. Nanti kalau hujan reda, Mbak bisa pulang. Atau kalau tidak reda-reda, Mbak bisa tidur di sini. Di ruang belakang ada kasur. Tidak bagus, tapi cukup untuk tidur."

"Terima kasih, Pak. Tapi aku tidak enak. Aku sudah merepotkan."

"Tidak repot, Mbak. Kamar belakang memang sering dipakai Danang kalau dia tidak pulang ke kos. Dia sudah biasa. Mbak juga pasti bisa."

Kirana tersenyum. "Baik, Pak. Kalau begitu aku tunggu dulu."

Pak Suryanto mengangguk. Ia berjalan ke ruang belakang, mengambil selimut tipis dan bantal kempes, lalu memberikannya pada Kirana. "Ini, Mbak. Kalau dingin, pakai ini. Kopi di termos masih hangat. Ambil saja. Jangan sungkan."

"Terima kasih, Pak Suryanto. Bapak baik sekali."

"Ah, biasa. Mbak kan calon menantu Danang."

Kirana tertawa. "Belum, Pak. Masih jauh."

"Ya sudah, nanti. Yang penting Mbak nyaman."

Pak Suryanto masuk ke ruang belakang, menutup pintu, meninggalkan Kirana sendirian di ruang percetakan yang gelap dan sunyi.


Danang sedang menyusun huruf-huruf timah di meja kerjanya, di sudut ruangan yang paling dekat dengan jendela, tempat cahaya lampu minyak masih cukup terang untuk melihat. Tangannya yang besar dan kasar bergerak lincah, mengambil huruf-huruf kecil dari kotak kayu, menyusunnya dalam baris-baris, membentuk kata-kata, membentuk kalimat-kalimat, membentuk halaman-halaman yang akan dicetak besok pagi.

Keningnya berkeringat. Tangannya hitam oleh tinta dan debu. Bajunya basah oleh keringat. Matanya sayu, lelah, karena sudah bekerja sejak pagi tanpa istirahat yang cukup.

"Danang," panggil Kirana pelan.

Danang menoleh. Matanya yang sayu tiba-tiba berbinar ketika melihat Kirana. "Kirana? Kau masih di sini? Aku kira kau sudah pulang. Hujan sudah reda sedikit."

"Tidak. Masih deras. Aku tidak bisa pulang. Jalanan banjir. Becak tidak mau jalan. Andong tidak mau lewat. Aku... aku mungkin tidur di sini. Pak Suryanto sudah mengizinkan."

Danang tersenyum. "Kau bisa tidur di ruang belakang. Ada kasur. Tidak nyaman, tapi cukup untuk tidur. Aku sering tidur di sana kalau tidak pulang ke kos."

"Aku tidak mau tidur sendiri, Danang. Aku takut."

Danang mengernyit. "Takut apa? Di sini aman. Pak Suryanto di ruang belakang. Aku di sini. Tidak ada yang jahat."

"Bukan takut pencuri, Danang. Aku takut... aku takut gelap. Aku takut sendirian. Aku takut..."

Kirana tidak melanjutkan.

Ia hanya menunduk.

Memandang lantai semen yang kasar.

Memandang bayangannya sendiri yang bergoyang-goyang karena cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip.

Danang berdiri.

Ia berjalan mendekati Kirana.

Duduk di sampingnya.

Di lantai yang dingin.

Di ruang percetakan yang gelap.

Di tengah hujan yang masih deras.

"Kirana," panggilnya pelan.

Kirana mengangkat kepalanya.

Matanya bertemu dengan mata Danang.

Mata yang gelap.

Mata yang dalam.

Mata yang seperti lubang sumur tua.

Tapi ada kehangatan di sana.

Ada kelembutan.

Ada cinta.

"Kau tidak sendirian, Kirana. Aku di sini. Aku akan menemanimu. Sampai hujan reda. Sampai kau bisa pulang. Sampai kau tidak takut lagi."

Kirana tersenyum.

Senyum yang lemah.

Senyum yang tidak secerah biasanya.

Tapi senyum.

"Aku mau ke ruang belakang, Danang. Tapi temani aku. Aku tidak mau sendirian."

"Baik. Aku temani kau."

Mereka berjalan ke ruang belakang.

Ruang itu kecil, sangat kecil, hanya cukup untuk satu kasur tipis yang sudah kempes di beberapa tempat, satu meja kayu kecil yang kakinya tidak rata, dan satu lemari kayu tua yang berisi peralatan cetak yang sudah tidak terpakai. Dindingnya bata merah tanpa cat, lantainya semen kasar dan dingin, langit-langitnya tinggi dengan rangka kayu yang sudah lapuk.

Kirana duduk di kasur.

Danang duduk di lantai, bersandar di dinding, di samping kasur.

Mereka berdua terdiam.

Hanya suara hujan yang terdengar.

Hujan yang masih deras.

Hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Suara air jatuh dari atap seng, membentuk genangan di halaman.

Suara angin yang menderu, menggerakkan daun-daun pohon.

Suara sesekali kilat yang menyambar, diikuti gemuruh yang mengguncang tanah.

"Danang," panggil Kirana pelan.

"Ya?"

"Apa kau masih ingat waktu kita berteduh di pondok sawah? Waktu hujan deras seperti ini? Waktu kita masih kecil? Waktu kita berlarian basah-basahan? Waktu kau memegang tanganku agar aku tidak jatuh?"

Danang tersenyum. "Aku ingat, Kirana. Aku ingat semua. Aku ingat bagaimana kau tertawa ketika kakimu terpeleset di lumpur. Aku ingat bagaimana kau memarahiku karena perahumu tersangkut di ranting. Aku ingat bagaimana kau menggenggam tanganku dan berkata, 'Kalau semua pergi, aku tetap di sini.'"

Kirana menangis.

Ia menangis bukan karena sedih.

Ia menangis karena bahagia.

Karena bahagia bahwa Danang masih ingat.

Karena bahagia bahwa Danang masih peduli.

Karena bahagia bahwa mereka masih bersama.

Meskipun tidak di desa.

Meskipun tidak di pondok sawah.

Meskipun tidak di bawah pohon waru.

Tapi bersama.

Di ruang belakang percetakan yang sempit.

Di tengah hujan yang deras.

Di tengah malam yang gelap.

"Danang, aku takut," bisik Kirana.

"Takut apa?"

"Aku takut kita tidak akan bersama selamanya. Aku takut surat itu adalah pertanda. Aku takut ada yang akan memisahkan kita. Aku takut..."

"Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Kirana. Aku akan melawan siapa pun yang mencoba. Aku akan berjuang untuk kita. Aku tidak akan menyerah."

"Tapi ibuku..."

"Aku akan meyakinkan ibumu. Aku akan membuktikan bahwa aku pantas untukmu. Aku akan bekerja keras. Aku akan sekolah. Aku akan menjadi seseorang. Aku akan..."

"Danang..."

"Ya?"

"Aku mencintaimu."

Danang terdiam.

Jantungnya berdebar kencang.

Wajahnya terasa panas.

Tangannya gemetar.

"Aku juga mencintaimu, Kirana. Lebih dari apa pun di dunia ini."

Kirana meraih tangan Danang.

Tangannya yang lembut dan lentik, menggenggam tangan Danang yang kasar dan keras.

"Danang, aku kedinginan. Bisa tidak... bisa tidak kau duduk di sini? Di sampingku? Di kasur? Aku butuh kehangatan."

Danang ragu.

Ia tidak mau mengambil risiko.

Ia tidak mau melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.

Ia tidak mau merusak harga diri Kirana.

Tapi Kirana membutuhkannya.

Kirana kedinginan.

Kirana takut.

Kirana ingin ia di sampingnya.

"Baik," kata Danang akhirnya.

Ia berdiri dari lantai.

Duduk di kasur.

Di samping Kirana.

Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

Kirana bisa merasakan hangatnya tubuh Danang.

Danang bisa mencium wangi rambut Kirana, wangi sabun kelapa yang murah tetapi harum, yang selalu membuatnya tenang.

"Danang," bisik Kirana.

"Ya?"

"Aku... aku ingin kau memelukku."

Danang terdiam.

Jantungnya berdebar lebih kencang.

Tangannya gemetar.

"Kirana, aku..."

"Tolong, Danang. Aku kedinginan. Aku takut. Aku butuh kau."

Danang menghela napas.

Ia tidak bisa menolak.

Ia tidak mau menolak.

Ia melingkarkan tangannya di pinggang Kirana.

Memeluknya.

Perlahan.

Lembut.

Hangat.

Kirana bersandar di dada Danang.

Ia memejamkan mata.

Ia merasakan detak jantung Danang yang berdebar kencang.

Ia merasakan hangatnya tubuh Danang yang mengusir dingin.

Ia merasakan aman.

Ia merasakan nyaman.

Ia merasakan pulang.

"Danang," bisiknya.

"Hmm?"

"Aku ingin kita bersama selamanya."

"Kita akan bersama selamanya, Kirana. Aku janji."

"Janji?"

"Janji."

Mereka berpelukan di kasur tipis yang kempes, di ruang belakang percetakan yang sempit, di tengah hujan yang masih deras, di tengah malam yang gelap.

Mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.

Mereka hanya berpelukan.

Hanya saling menghangatkan.

Hanya saling menguatkan.

Tapi bagi mereka, itu sudah cukup.

Itu sudah lebih dari cukup.

Karena cinta tidak selalu tentang fisik.

Cinta tidak selalu tentang nafsu.

Cinta tidak selalu tentang memiliki.

Cinta adalah tentang kehadiran.

Cinta adalah tentang kehangatan.

Cinta adalah tentang rasa aman.

Dan malam itu, di ruang belakang percetakan yang sempit, di tengah hujan yang deras, Danang dan Kirana saling memiliki.

Bukan secara fisik.

Tapi secara hati.

Secara jiwa.

Secara cinta.

Bab 10

Lelaki yang Mendengar dari Balik Pintu

Hujan masih turun deras ketika Arman sampai di percetakan.

Ia datang untuk menjemput Danang, seperti biasa. Setiap malam, setelah Danang selesai bekerja, Arman akan datang dengan sepeda motornya yang sudah tua dan berisik, membawa helm cadangan untuk Danang, lalu mereka akan pergi ke warung langganan di ujung jalan, makan bakso atau sate atau nasi goreng, berbicara tentang banyak hal, tertawa tentang hal-hal lucu, mengeluh tentang pekerjaan yang melelahkan.

Itu sudah menjadi rutinitas mereka selama dua tahun terakhir. Sejak Danang pertama kali datang ke kota ini. Sejak Arman menjemputnya di stasiun. Sejak Arman mencarikan kamar kos untuknya. Sejak Arman menjadi sahabatnya, keluarganya, rumahnya.

Tapi malam ini berbeda.

Arman tidak datang dengan semangat seperti biasanya. Ia tidak bersiul-siul kecil di jalan. Ia tidak tertawa sendiri memikirkan lelucon yang akan ia ceritakan pada Danang. Ia datang dengan wajah muram, dengan pikiran kacau, dengan hati yang gelisah.

Ia sudah tahu bahwa Danang tidak pulang ke kamar kos. Ia sudah mampir ke sana, mengetuk pintu, memanggil nama Danang, tetapi tidak ada jawaban. Bu Tuminem, pemilik kos, bilang Danang belum pulang. "Mungkin masih di percetakan, Nak. Hari ini ada pesanan banyak. Mungkin lembur."

Arman mengangguk. Ia berterima kasih pada Bu Tuminem, lalu berbalik, menuju percetakan.

Sepanjang jalan, pikirannya melayang pada Kirana.

Pada senyumnya.

Pada tawanya.

Pada matanya yang coklat kehijauan.

Pada lesung pipit di pipi kirinya.

Pada rambut panjang hitamnya yang tergerai di punggung.

"Kenapa kau memilih Danang, Kirana?" bisiknya di dalam hati. "Kenapa bukan aku? Aku lebih baik dari dia. Aku lebih kaya. Aku lebih pintar. Aku lebih tampan. Aku lebih... aku lebih pantas untukmu."

Ia menghela napas.

Ia menggelengkan kepala.

Ia berusaha mengusir pikiran-pikiran itu.

Tapi tidak bisa.

Pikiran itu terus muncul.

Terus mengganggu.

Terus menyiksa.


Ketika Arman sampai di percetakan, hujan masih deras. Ia memarkir sepeda motornya di depan pintu, di bawah atap seng yang bocor, sehingga air masih menetes ke jas hujannya. Ia melepas helm, mengibaskan rambutnya yang basah, lalu berjalan ke pintu.

Pintu percetakan sudah terkunci dari dalam. Arman mengernyit. Biasanya, jika Danang masih bekerja, pintu tidak pernah dikunci. Pak Suryanto percaya pada Danang. Pak Suryanto tahu Danang anak baik. Pak Suryanto tidak takut Danang mencuri atau merusak barang-barang di percetakan.

"Danang!" teriak Arman sambil mengetuk pintu keras-keras. "Danang, buka pintu! Aku Arman!"

Tidak ada jawaban.

"Danang!" teriaknya lagi, lebih keras.

Masih tidak ada jawaban.

Arman mengelilingi bangunan, mencari jendela yang tidak terkunci, mencari celah untuk masuk. Di sisi belakang bangunan, ia menemukan sebuah jendela kecil yang tidak tertutup rapat. Jendela itu menghadap ke ruang belakang, ruang tempat Pak Suryanto menyimpan barang-barang lama, ruang tempat Danang kadang tidur jika tidak pulang ke kos.

Arman mendekati jendela itu.

Ia mendongak.

Ia melihat ke dalam.

Dan ia membeku.

Di dalam ruang belakang yang sempit, dengan dinding bata merah tanpa cat, dengan lantai semen yang kasar, dengan satu kasur tipis yang sudah kempes di beberapa tempat, Danang dan Kirana sedang berpelukan.

Bukan pelukan biasa. Pelukan yang erat. Pelukan yang hangat. Pelukan yang penuh cinta. Danang duduk di kasur, bersandar di dinding, tangannya melingkar di pinggang Kirana. Kirana duduk di pangkuan Danang, kepalanya bersandar di dada Danang, matanya terpejam, bibirnya tersenyum.

Mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Mereka hanya berpelukan. Hanya saling menghangatkan. Hanya saling menguatkan. Tapi bagi Arman, pemandangan itu seperti pisau yang menusuk jantungnya, seperti belati yang menyayat hatinya, seperti racun yang membakar darahnya.

"Dasar..." bisiknya, suaranya penuh amarah. "Dasar... dasar..."

Ia tidak bisa melanjutkan.

Ia terlalu marah.

Terlalu kecewa.

Terlalu sakit.

Ia mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya, meninggalkan bekas setengah bulan yang akan ia lihat besok pagi. Giginya menggigit bibir bawahnya, menggigitnya keras-keras sampai ia merasakan rasa logam di lidahnya, rasa darah.

"Danang," bisiknya, "kau sahabatku. Tapi kau... kau mengambil Kirana dariku. Padahal aku... aku juga mencintainya. Sejak pertama aku melihatnya. Sejak pertama dia tersenyum padaku. Sejak pertama..."

Ia tidak melanjutkan.

Ia hanya berdiri di depan jendela, di tengah hujan yang masih deras, di tengah malam yang gelap, memandang Danang dan Kirana yang berpelukan, memandang kebahagiaan yang tidak ia miliki, memandang cinta yang tidak ia rasakan.

Air matanya jatuh.

Bercampur dengan air hujan.

Tidak ada yang membedakan.

Tidak ada yang tahu.

Ia menangis di tengah hujan.

Menangis karena kecewa.

Menangis karena sakit.

Menangis karena iri.

Menangis karena cinta.

"Kau akan menyesal, Danang," bisiknya. "Kau akan menyesal telah mengambil Kirana dariku. Aku akan membuatmu menyesal. Aku akan memisahkan kalian. Aku akan menghancurkan kebahagiaan kalian. Aku akan..."

Ia berbalik.

Berjalan menjauh.

Meninggalkan jendela itu.

Meninggalkan percetakan itu.

Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan.

Sepeda motornya menyala dengan suara berisik, mengganggu ketenangan malam, mengganggu suara hujan yang turun. Ia melaju kencang, melewati genangan air yang memercik ke mana-mana, melewati tikungan-tikungan tajam tanpa mengurangi kecepatan, melewati lampu merah tanpa berhenti.

Ia tidak peduli.

Ia tidak takut mati.

Ia sudah mati.

Matinya di depan jendela itu.

Matinya ketika melihat Danang dan Kirana berpelukan.

Matinya ketika sadar bahwa ia tidak akan pernah memiliki Kirana.


Di dalam percetakan, Danang dan Kirana tidak tahu apa-apa.

Mereka masih berpelukan di kasur tipis yang kempes, di ruang belakang yang sempit, di tengah hujan yang masih deras. Mereka masih merasakan hangatnya satu sama lain. Mereka masih merasakan cinta.

"Danang," bisik Kirana.

"Ya?"

"Apa kita akan begini selamanya? Berpelukan. Saling menghangatkan. Saling menguatkan."

"Kita akan begini selamanya, Kirana. Tidak harus berpelukan. Tapi saling memiliki. Saling mencintai. Saling menjaga. Itu yang terpenting."

Kirana tersenyum.

Ia mengangkat kepalanya dari dada Danang.

Ia menatap Danang.

Matanya yang coklat kehijauan berbinar-binar di bawah cahaya lampu minyak yang redup.

"Danang, aku ingin kau tahu sesuatu."

"Apa?"

"Aku tidak pernah mencintai siapa pun selain kau. Sejak kecil. Sejak pertama kita bertemu di tepi sungai. Sejak kau melempar batu ke air. Sejak kau menggambar bunga kuning di buku gambarmu. Aku hanya mencintai kau. Tidak ada yang lain."

Danang tersenyum. "Aku juga, Kirana. Aku juga hanya mencintai kau. Tidak ada yang lain. Tidak akan pernah ada yang lain."

Mereka berdua terdiam.

Hanya suara hujan yang terdengar.

Hujan yang mulai reda.

Hujan yang mulai berhenti.

"Danang, aku ingin kau janji sesuatu."

"Apa?"

"Janji bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku. Janji bahwa kau akan selalu di sisiku. Janji bahwa kau akan selalu mencintaiku. Sampai kapan pun. Sampai mati."

Danang mengangkat jari kelingkingnya.

Jari yang kurus dan kasar.

Jari yang sama yang dulu ia angkat di tepi sungai, ketika ia berjanji pada Kirana bahwa ia akan menunggunya.

"Janji, Kirana. Aku janji. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu di sisimu. Aku akan selalu mencintaimu. Sampai kapan pun. Sampai mati."

Kirana mengangkat jari kelingkingnya.

Jari yang lentik dan putih.

Jari yang sama yang dulu ia angkat di tepi sungai, ketika ia berjanji pada Danang bahwa ia akan kembali.

"Janji, Danang. Aku janji. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu di sisimu. Aku akan selalu mencintaimu. Sampai kapan pun. Sampai mati."

Jari kelingking mereka bertaut.

Seperti dulu.

Di tepi sungai.

Di bawah pohon waru.

Di sore yang hujan.

"Janji," bisik mereka bersamaan.

Dan di luar, hujan berhenti.

Langit mulai cerah.

Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.

Bulan mulai bersinar terang.

Seperti alam ikut bahagia.

Seperti alam ikut merestui.

Seperti alam ikut bersaksi bahwa dua insan yang saling mencintai telah berjanji untuk setia selamanya.

Tapi mereka tidak tahu bahwa di balik kegelapan malam, di balik pohon-pohon yang basah, di balik genangan air yang memantulkan cahaya bulan, seseorang masih berdiri.

Arman.

Ia tidak pergi.

Ia hanya berhenti di tikungan, mematikan mesin sepeda motornya, lalu kembali ke percetakan dengan berjalan kaki.

Ia ingin memastikan.

Ia ingin melihat lagi.

Ia ingin menyakiti hatinya lagi.

Dan ketika ia sampai di jendela itu lagi, ketika ia melihat Danang dan Kirana berpelukan lagi, ketika ia melihat jari kelingking mereka bertaut, ia tersenyum.

Senyum yang dingin.

Senyum yang penuh dengan rencana.

Senyum yang seperti ular yang siap menerkam.

"Janji?" bisiknya. "Janji yang indah. Tapi janji tidak akan bertahan lama. Aku akan pastikan itu. Aku akan hancurkan janji kalian. Aku akan hancurkan cinta kalian. Aku akan hancurkan kalian."

Ia berbalik.

Berjalan menjauh.

Menghilang di balik kegelapan.

Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan.

Meninggalkan kebahagiaan yang akan segera berakhir.

Meninggalkan cinta yang akan segera hancur.

Bab 11

Lelaki yang Mulai Mendekat Diam-Diam

Sejak malam di percetakan, sejak ia melihat Danang dan Kirana berpelukan di kasur tipis yang kempes, sejak ia menyaksikan jari kelingking mereka bertaut di bawah cahaya lampu minyak yang redup, sejak ia mendengar bisikan "Janji" yang keluar dari bibir mereka berdua, Arman berubah.

Tidak drastis.

Tidak mencolok.

Tidak seperti orang yang tiba-tiba menjadi jahat dalam semalam.

Justru terlalu halus untuk langsung disadari.

Terlalu pintar untuk langsung ditebak.

Terlalu sabar untuk langsung diketahui.

Ia tetap datang ke kamar kos Danang setiap malam, seperti biasa. Masih membawa sate kambing atau nasi goreng atau bakso, masih duduk di ranjang sempit yang kasurnya sudah semakin kempes, masih berbicara tentang banyak hal, masih tertawa tentang hal-hal lucu, masih mengeluh tentang pekerjaan yang melelahkan.

Tapi ada sesuatu dalam caranya memandang Danang yang berbeda. Bukan lagi tatapan sahabat yang tulus, yang penuh kasih, yang tanpa pamrih. Tapi tatapan yang penuh perhitungan, yang penuh rencana, yang seperti sedang mempelajari kelemahan lawan sebelum menyerang.

Danang tidak menyadari.

Danang terlalu sibuk dengan Kirana.

Terlalu bahagia dengan cintanya.

Terlalu buta oleh kebahagiaan.

"Arman, kau tahu? Hari ini Kirana masak untukku. Rendang. Enak banget. Dagingnya empuk. Bumbunya meresap. Pedasnya pas. Aku makan tiga porsi. Kirana sampai kaget. Katanya, 'Kau bisa sakit perut, Danang.' Tapi aku tidak sakit. Aku kuat. Aku sudah biasa makan banyak."

Arman tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Bagus, Danang. Kau beruntung punya pacar yang bisa masak. Aku tidak pernah punya pacar. Tidak ada yang mau. Aku jelek. Aku miskin. Aku tidak berpendidikan."

"Kau tidak jelek, Arman. Kau tidak miskin. Kau berpendidikan. Kau lulusan STM. Kau bisa kerja di bengkel. Kau punya masa depan. Kau hanya belum ketemu orang yang tepat. Sabar. Nanti juga ketemu."

"Seperti kau ketemu Kirana?"

Danang tersenyum malu. "Iya. Seperti aku ketemu Kirana."

Arman tertawa. Tawa yang keras, yang riuh, yang seperti tawa orang yang sedang bahagia. Tapi di dalam hatinya, di tempat yang paling gelap, di tempat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, ia berkata pada dirinya sendiri:

"Kau tidak pantas untuk Kirana, Danang. Kau tidak pantas untuk bahagia. Kau tidak pantas untuk dicintai. Aku yang pantas. Aku. Bukan kau."


Ia mulai sering datang ke toko buku.

Bukan karena ada keperluan.

Bukan karena ingin membeli buku.

Tapi karena ia tahu Kirana akan ada di sana setiap sore.

Setiap hari, sekitar jam empat sore, ketika toko buku mulai sepi, ketika Bu Lastri pergi sholat Ashar atau ke pasar untuk membeli sayur, Arman akan datang. Ia akan masuk dengan senyum ramah, dengan sapaan hangat, dengan sikap yang tidak mencurigakan.

"Halo, Mbak Kirana. Apa kabar? Sehat?"

Kirana yang sedang merapikan rak buku atau menghitung uang di meja kasir, akan menoleh dan tersenyum. "Halo, Mas Arman. Kabar baik. Mas Arman sendiri? Masih sibuk di bengkel?"

"Sibuk, Mbak. Banyak pelanggan yang antre. Motor mereka mogok karena hujan. Tapi aku sempatkan diri ke sini. Ingin beli buku. Buku tentang mesin. Aku ingin belajar lebih dalam. Biar tidak kalah dengan montir-montir lain."

"Silakan, Mas. Rak buku teknik di pojok sana. Di sebelah rak buku kedokteran. Di samping rak buku pertanian. Buku-bukunya bagus-bagus. Ada yang baru datang minggu lalu. Langsung laris. Habis dalam dua hari. Tapi Bu Lastri sudah pesan lagi. Mungkin minggu depan datang."

"Terima kasih, Mbak."

Arman akan berjalan ke rak buku teknik, tetapi matanya tidak tertuju pada buku. Matanya tertuju pada Kirana. Pada setiap gerakannya. Pada setiap senyumnya. Pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Ia akan berdiri di depan rak buku teknik, memegang buku, membuka-buka halamannya, tetapi tidak membaca. Pikirannya terlalu sibuk. Hatinya terlalu berdebar. Matanya terlalu terpesona.

Setelah beberapa menit, ia akan kembali ke meja kasir dengan sebuah buku di tangan. Buku yang ia ambil secara acak, tidak peduli judulnya, tidak peduli isinya, yang penting ada buku yang akan ia beli.

"Ini, Mbak. Aku ambil ini."

Kirana akan mengambil buku itu, mencatatnya di buku besar, menghitung harganya, lalu memberitahu Arman.

"Itu lima ribu rupiah, Mas."

"Ini, Mbak. Sepuluh ribu. Kembaliannya simpan saja. Buat infak atau sedekah. Atau buat jajan Mbak Kirana."

Kirana tersenyum. "Terima kasih, Mas Arman. Bapak baik sekali."

"Tidak baik, Mbak. Biasa saja. Aku hanya ingin berbagi. Lagipula, Mbak Kirana sudah banyak membantu aku. Membantu aku menemukan buku-buku yang aku butuhkan. Membantu aku belajar. Membantu aku..."

Ia berhenti.

Ia tidak melanjutkan.

Ia hanya tersenyum.

Senyum yang hangat.

Senyum yang ramah.

Senyum yang tidak mencurigakan.

Tapi di dalam hatinya, ia berkata:

"Suatu hari nanti, Mbak Kirana, kau akan menjadi milikku. Suatu hari nanti, kau akan tersenyum hanya untukku. Suatu hari nanti, kau akan mencintaiku, bukan Danang. Aku akan pastikan itu."


Ia mulai membantu Kirana di toko buku.

Bukan karena disuruh.

Bukan karena diminta.

Tapi karena ia ingin dekat dengan Kirana.

Ia ingin menjadi bagian dari kehidupan Kirana.

Ia ingin membuat Kirana terbiasa dengan kehadirannya.

"Mb, aku bantu angkat kardus ini. Berat. Nanti Mbak Kirana sakit punggung."

"Mas Arman, tidak usah. Aku biasa kok. Setiap hari angkat kardus. Sudah kuat."

"Tidak, Mb. Biar aku saja. Laki-laki yang harusnya angkat barang berat. Perempuan cukup merapikan rak buku. Menjaga kasir. Melayani pelanggan."

Kirana tertawa. "Mas Arman, kuno sekali. Sekarang sudah zaman modern. Perempuan bisa apa saja. Perempuan bisa kerja. Perempuan bisa angkat barang berat. Perempuan bisa..."

"Iya, Mb. Aku tahu. Tapi biarkan aku membantu. Aku ikhlas. Aku senang bisa membantu Mbak Kirana."

Kirana menghela napas. "Baiklah, Mas. Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Nanti sakit."

"Siap, Mb. Aku kuat. Aku sudah biasa angkat barang berat di bengkel. Mesin motor, mesin mobil, semua aku angkat sendiri."

Arman akan mengangkat kardus-kardus berat berisi buku-buku baru dari gudang di belakang toko, membawanya ke ruang depan, menatanya di rak-rak yang sudah disediakan. Ia akan melakukannya dengan semangat, dengan senyum, dengan sikap yang tidak kenal lelah.

Ia akan membantu Kirana membersihkan rak-rak buku yang berdebu, mengambil buku-buku yang jatuh, menyusunnya kembali berdasarkan abjad atau genre atau ukuran. Ia akan melakukannya dengan teliti, dengan sabar, dengan penuh perhatian.

Ia akan membantu Kirana melayani pelanggan ketika toko sedang ramai, mengambil buku-buku yang diminta pelanggan, menghitung harga, membungkusnya dengan kertas koran, memberikan kembalian. Ia akan melakukannya dengan ramah, dengan sopan, dengan senyum yang membuat pelanggan merasa dihargai.

"Mas Arman, kau baik sekali," kata Kirana suatu sore, setelah Arman selesai membantu membereskan toko. "Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu."

"Tidak usah dibalas, Mb. Aku ikhlas. Aku senang."

"Tapi aku tidak enak. Kau bekerja keras di bengkel seharian, lalu datang ke sini, membantu aku lagi. Kau pasti lelah."

"Tidak lelah, Mb. Lelah aku hilang ketika melihat Mbak Kirana tersenyum."

Kirana terdiam.

Wajahnya memerah.

Ia tidak tahu harus berkata apa.

Ia hanya menunduk, memandang lantai, memandang ubin-ubin yang mulai retak.

"Mas Arman, jangan bicara seperti itu. Aku... aku punya Danang. Danang pacarku. Aku tidak bisa..."

"Aku tahu, Mb. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya... aku hanya senang melihat Mbak Kirana bahagia. Aku hanya ingin Mbak Kirana selalu tersenyum. Aku hanya..."

"Mas Arman, tolong..."

"Maaf, Mb. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok."

Arman pergi.

Ia berjalan cepat meninggalkan toko buku, hampir berlari, seperti orang yang ketakutan, seperti orang yang malu, seperti orang yang tidak ingin ditolak.

Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum.

Ia tersenyum karena ia tahu bahwa ia sudah mulai masuk ke dalam hati Kirana.

Ia tersenyum karena ia tahu bahwa Kirana mulai merasa tidak enak padanya.

Ia tersenyum karena ia tahu bahwa Kirana mulai membandingkannya dengan Danang.

Danang yang sibuk bekerja di percetakan, yang tidak pernah punya waktu untuk Kirana, yang tidak pernah membantu Kirana di toko buku, yang tidak pernah membawakan hadiah untuk Kirana.

Dan Arman yang selalu ada untuk Kirana, yang selalu membantu Kirana, yang selalu membawakan hadiah untuk Kirana.

"Suatu hari nanti, Kirana, kau akan sadar," bisiknya. "Kau akan sadar bahwa aku lebih baik dari Danang. Kau akan sadar bahwa aku yang pantas untukmu. Kau akan sadar bahwa cintaku lebih tulus dari cintanya."


Danang tidak tahu apa-apa.

Ia terlalu sibuk bekerja.

Terlalu sibuk menyusun huruf-huruf timah di percetakan.

Terlalu sibuk mengangkat kertas-kertas berat dari gudang ke ruang cetak.

Terlalu sibuk membersihkan mesin-mesin tua yang penuh dengan tinta kering dan debu.

Ia tidak tahu bahwa Arman, sahabatnya, orang yang ia percayai, orang yang ia anggap seperti kakak, orang yang selalu ada untuknya, sedang mendekati Kirana diam-diam.

Ia tidak tahu bahwa Arman, sahabatnya, sedang menanam benih-benih keraguan di hati Kirana.

Ia tidak tahu bahwa Arman, sahabatnya, sedang merencanakan sesuatu.

Sesuatu yang akan menghancurkan cintanya.

Sesuatu yang akan menghancurkan persahabatannya.

Sesuatu yang akan menghancurkan hidupnya.

"Danang, kau kenapa melamun?" tanya Pak Suryanto dari belakang.

Danang tersentak. "Eh... tidak, Pak. Aku hanya... aku hanya berpikir."

"Pikir apa? Tentang Kirana?"

Danang tersenyum malu. "Iya, Pak. Tentang Kirana."

Pak Suryanto tertawa. "Wajar, Nak. Kau sedang jatuh cinta. Pikiran selalu melayang ke yang dicintai. Tapi jangan sampai mengganggu pekerjaan. Pesanan harus selesai hari ini. Pelanggan sudah menunggu."

"Baik, Pak. Aku akan fokus."

Danang kembali menyusun huruf-huruf timah.

Tangannya bergerak lincah.

Matanya fokus pada huruf-huruf kecil itu.

Tapi pikirannya masih melayang.

Melayang ke Kirana.

Melayang ke senyumnya.

Melayang ke tawanya.

Melayang ke matanya yang coklat kehijauan.

"Kirana," bisiknya. "Aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Sampai mati."

Ia tidak tahu bahwa cintanya akan diuji.

Bahwa cintanya akan dihancurkan.

Bahwa cintanya akan direbut oleh orang yang paling ia percayai.

Bab 12

Ibunda yang Menolak Masa Lalu

Malam Minggu itu, Kirana dipanggil ibunya ke ruang tamu.

Ruang tamu yang besar dengan lampu gantung kristal yang berkilauan, yang cahayanya memantul ke mana-mana seperti berlian-berlian kecil yang bertebaran di langit-langit. Sofa beludru merah yang tidak pernah diduduki siapa pun kecuali tamu penting, tamu-tamu yang datang dengan mobil mewah dan kemeja batik dan sepatu kulit mengkilap. Meja kayu jati dengan ukiran halus yang rumit, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibuat oleh pengrajin di Jepara, yang harganya mungkin setara dengan pendapatan Danang setahun.

Tirai-tirai tebal dari beludru merah marun menggantung di jendela-jendela besar, menghalangi cahaya dari luar, membuat ruangan terasa seperti ruang sidang pengadilan, seperti ruang rapat dewan direksi, seperti ruang tahta seorang ratu. Vas-vas bunga dari kristal bening diletakkan di sudut-sudut ruangan, berisi bunga-bunga segar yang diganti setiap hari oleh pembantu rumah tangga, bunga mawar merah, bunga krisan putih, bunga lili kuning, yang wanginya memenuhi seluruh ruangan.

Lantai marmer putih mengkilap, seperti cermin raksasa yang memantulkan bayangan siapa pun yang berjalan di atasnya. Kirana bisa melihat bayangannya sendiri ketika ia berjalan, kaki telanjangnya yang kecil dan putih, kebaya biru muda yang ia kenakan, rambut panjangnya yang tergerai di punggung. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas air, seperti sedang berjalan di atas kaca, seperti sedang berjalan di atas sesuatu yang indah tetapi dingin dan tidak bersahabat.

Ibunya duduk tegak di sofa, seperti ratu yang sedang menghadap rakyatnya, seperti hakim yang sedang menghakimi terdakwa, seperti guru yang sedang menghukum murid yang nakal. Wajahnya dingin, tanpa senyum, tanpa ekspresi, tanpa perasaan. Matanya tajam, meneliti setiap gerakan Kirana, meneliti setiap ekspresi di wajahnya, meneliti setiap ketukan jantung di dadanya.

"Duduk, Kirana," kata Nyonya Dewi, suaranya tegas, dingin, seperti perintah yang tidak bisa dibantah.

Kirana duduk di seberangnya, di sofa yang sama, tetapi di ujung yang berlawanan, sejauh mungkin dari ibunya. Tangannya gemetar, tetapi ia berusaha menyembunyikannya dengan melipat tangan di pangkuan, dengan menggenggam erat-erat ujung kebayanya.

"Aku dengar kau dekat dengan pemuda percetakan itu, Kirana," kata Nyonya Dewi, matanya menatap lurus ke mata Kirana, tidak berkedip, tidak bergerak.

Kirana menahan napas. Dadanya terasa sesak. "Danang teman lama, Bu. Kami berteman sejak kecil. Dulu di desa. Waktu kita masih tinggal di sana. Waktu ayah masih bertugas di kecamatan. Waktu..."

"Aku tidak butuh cerita masa lalu, Kirana," potong Nyonya Dewi, suaranya semakin dingin, semakin tajam, seperti pisau yang digerinda. "Aku butuh penjelasan. Apa hubunganmu dengan pemuda itu?"

Kirana menunduk. Ia tidak berani menatap mata ibunya. Ia takut. Takut apa yang akan ia lihat di sana. Takut apa yang akan ia rasakan. Takut apa yang akan ia dengar.

"Danang... Danang pacarku, Bu."

Nyonya Dewi terdiam.

Ruangan mendadak sunyi.

Hanya suara jam dinding yang berdetak.

Hanya suara napas Kirana yang mulai memburu.

Hanya suara detak jantungnya yang berdebar kencang.

"Apa katamu?" suara Nyonya Dewi akhirnya keluar, lebih pelan, tetapi lebih berbahaya. Seperti suara ular sebelum menerkam. Seperti suara badai sebelum menghancurkan.

"Danang pacarku, Bu. Kami saling mencintai. Kami sudah berjanji untuk bersama. Kami..."

"Berhenti, Kirana. Jangan lanjutkan."

Nyonya Dewi berdiri.

Ia berjalan ke jendela, membuka tirai tebal, memandang ke luar, ke halaman yang luas, ke pohon-pohon mangga yang rindang, ke rumput yang terawat, ke langit malam yang gelap tanpa bintang.

"Kau tahu siapa dia, Kirana?" suara Nyonya Dewi masih pelan, masih dingin, tetapi ada getaran di sana, getaran yang menunjukkan bahwa ia sedang menahan amarah, sedang menahan emosi, sedang menahan sesuatu yang mungkin akan meledak kapan saja.

"Dia Danang, Bu. Danang Wiratama. Anak dari Ratih dan Sastrowiryo. Teman kecilku. Aku sudah kenal dia sejak..."

"Aku tidak bertanya siapa namanya, Kirana. Aku bertanya apakah kau tahu siapa dia. Apakah kau tahu latar belakangnya. Apakah kau tahu masa lalunya. Apakah kau tahu aib keluarganya."

Kirana terdiam.

Ia tahu.

Ia tahu semua.

Ia tahu bahwa Danang bukan anak kandung Sastrowiryo.

Ia tahu bahwa Ratih hamil di luar nikah.

Ia tahu bahwa ayah kandung Danang adalah penari ketoprak yang pergi tanpa pamit.

Ia tahu bahwa Danang dituduh membakar gudang beras keluarga Surya.

Ia tahu bahwa seluruh desa membisikkan aib keluarga Danang.

Ia tahu semua.

Tapi ia tidak peduli.

Ia tidak pernah peduli.

Yang ia peduli hanyalah Danang.

Danang yang baik.

Danang yang jujur.

Danang yang pekerja keras.

Danang yang tidak pernah menyerah.

Danang yang selalu tersenyum meskipun hidupnya berat.

Danang yang ia cintai.

"Kau diam, Kirana. Berarti kau tahu," kata Nyonya Dewi, berbalik, menatap Kirana dengan mata yang penuh kemenangan. "Kau tahu bahwa dia anak haram. Kau tahu bahwa ibunya hamil di luar nikah. Kau tahu bahwa ayah kandungnya kabur. Kau tahu bahwa dia dituduh membakar gudang. Kau tahu semua. Tapi kau tetap memilih dia. Kenapa, Kirana? Kenapa kau membuang-buang masa depanmu untuk anak haram seperti dia?"

Kirana mengangkat kepalanya.

Matanya merah.

Air mata mulai menggenang.

Tapi ia tidak menangis.

Ia tidak akan menangis di depan ibunya.

Ia tidak akan memberi kepuasan pada ibunya untuk melihatnya menangis.

"Karena aku mencintainya, Bu. Karena dia baik. Karena dia jujur. Karena dia pekerja keras. Karena dia tidak pernah menyerah. Karena dia..."

"Karena dia apa, Kirana? Karena dia miskin? Karena dia tidak punya pendidikan? Karena dia tidak punya masa depan? Karena dia hanya pekerja rendahan di percetakan? Karena dia tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu?"

Kirana menangis.

Ia tidak bisa menahan lagi.

Air matanya jatuh.

Membasahi pipinya.

Membasahi kebaya biru mudanya.

Membasahi harapannya.

"Bu, tolong..."

"Tolong apa, Kirana? Tolong restui hubungan kau dengan anak haram itu? Tidak. Aku tidak akan pernah merestui. Aku tidak akan pernah mengizinkan. Aku tidak akan pernah membiarkan anakku hancur masa depannya karena cinta yang buta."

"Bu, cinta tidak buta. Cinta itu..."

"Cinta itu buta, Kirana. Cinta membuat orang tidak melihat kenyataan. Cinta membuat orang lupa pada akal sehat. Cinta membuat orang melakukan hal-hal bodoh. Seperti yang ibu lakukan dulu. Seperti yang ibu alami dulu. Ibu tidak ingin kau mengulangi kesalahan ibu."

Kirana terkejut.

Ia menatap ibunya.

Matanya membesar.

"Bu... ibu juga... ibu juga pernah..."

Nyonya Dewi menunduk.

Untuk pertama kalinya, wajahnya yang dingin itu retak.

Ada kesedihan di sana.

Ada penyesalan.

Ada luka lama yang belum sembuh.

"Ibu juga pernah mencintai lelaki miskin, Kirana," bisiknya, suaranya lirih, hampir tidak terdengar. "Ibu juga pernah berjuang untuk cinta. Ibu juga pernah melawan orang tua. Ibu juga pernah percaya bahwa cinta bisa mengatasi segalanya."

"Lalu, Bu? Kenapa ibu..."

"Karena cinta tidak cukup, Kirana. Cinta tidak bisa mengatasi segalanya. Cinta tidak bisa membayar utang. Cinta tidak bisa memberi makan anak. Cinta tidak bisa membeli rumah. Cinta tidak bisa menyekolahkan anak. Cinta hanya... cinta hanya perasaan. Dan perasaan bisa berubah. Perasaan bisa hilang. Perasaan bisa... perasaan bisa..."

Nyonya Dewi tidak melanjutkan.

Ia menangis.

Untuk pertama kalinya, Kirana melihat ibunya menangis.

Ibunya yang selalu tegas.

Ibunya yang selalu dingin.

Ibunya yang selalu angkuh.

Ibunya yang selalu tampak sempurna.

Menangis.

"Bu..." Kirana berdiri, berjalan mendekati ibunya, meraih tangannya.

Nyonya Dewi tidak menolak.

Ia membiarkan Kirana memegang tangannya.

Tangannya yang halus, yang terawat, yang tidak pernah kasar karena bekerja, terasa dingin, terasa gemetar.

"Ibu tidak ingin kau mengalami apa yang ibu alami, Kirana," bisik Nyonya Dewi, suaranya terputus-putus karena tangis. "Ibu tidak ingin kau menderita. Ibu tidak ingin kau kecewa. Ibu tidak ingin kau... ibu tidak ingin kau menyesal."

"Tapi Bu, Danang tidak seperti itu. Danang baik. Danang jujur. Danang pekerja keras. Danang..."

"Kata ibu juga dulu, Kirana. Kakek dan nenek juga melarang. Tapi ibu tidak mendengarkan. Ibu memilih lelaki itu. Ibu kabur dari rumah. Ibu tinggal bersamanya. Ibu... ibu hamil di luar nikah."

Kirana terkejut.

Ia melepaskan tangan ibunya.

Ia mundur selangkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Matanya membesar.

Mulutnya terbuka.

Tidak ada suara yang keluar.

"Ibu... ibu hamil di luar nikah? Dengan siapa, Bu?"

Nyonya Dewi menunduk.

Ia tidak bisa menjawab.

Ia hanya menangis.

Menangis di hadapan anaknya.

Menangis karena rahasia yang selama ini ia pendam, yang selama ini ia sembunyikan, yang selama ini ia kubur dalam-dalam, akhirnya terungkap.

"Dengan siapa, Bu?" desak Kirana, suaranya keras, tegas, tidak seperti biasanya.

"Tidak usah kau tahu, Kirana. Yang penting, ibu tidak ingin kau mengulangi kesalahan ibu. Ibu tidak ingin kau hamil di luar nikah. Ibu tidak ingin kau menjadi aib keluarga. Ibu tidak ingin..."

"Jadi semua ini tentang aib, Bu? Bukan tentang kebahagiaanku? Bukan tentang cintaku? Bukan tentang masa depanku? Hanya tentang aib? Hanya tentang apa kata orang? Hanya tentang status? Hanya tentang..."

"Kirana, jangan..."

"Aku tidak peduli dengan aib, Bu! Aku tidak peduli dengan apa kata orang! Aku tidak peduli dengan status! Aku hanya peduli dengan Danang! Aku hanya peduli dengan cintaku! Aku hanya peduli dengan kebahagiaanku!"

Kirana berlari keluar ruangan.

Meninggalkan ibunya yang menangis.

Meninggalkan rumah megah yang dingin.

Meninggalkan semua yang selama ini mengikatnya.

Ia berlari ke kamarnya, membanting pintu, menangis di atas ranjang.

Menangis untuk Danang.

Menangis untuk ibunya.

Menangis untuk dirinya sendiri.

Menangis untuk cinta yang terhalang.

Menangis untuk masa depan yang tidak pasti.

Bab 13

Bayangan dari Masa Kecil

Tahun 1988. Danang sekarang berusia tujuh belas tahun. Dua tahun telah berlalu sejak ia bertemu kembali dengan Kirana di toko buku. Dua tahun sejak mereka berjanji untuk bersama. Dua tahun sejak Arman mulai berubah. Dua tahun sejak surat tanpa nama pertama muncul. Dua tahun sejak ibu Kirana melarang hubungan mereka.

Dua tahun yang penuh dengan suka dan duka. Dua tahun yang penuh dengan tawa dan air mata. Dua tahun yang penuh dengan harapan dan kekecewaan. Dua tahun yang membuat Danang semakin dewasa, semakin kuat, semakin tabah, tetapi juga semakin lelah, semakin rapuh, semakin dekat dengan batas kesabarannya.

Dua tahun yang mengajarkannya bahwa cinta tidak semudah yang ia bayangkan. Bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang perjuangan. Bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang pengorbanan. Bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang melepaskan.

Danang sekarang bekerja lebih keras dari sebelumnya. Tidak hanya di percetakan, tetapi juga di dermaga pada malam hari, membantu bongkar muat barang dari kapal-kapal yang datang dari Jakarta dan Surabaya. Tubuhnya yang dulu kurus kini berotot, kekar, penuh dengan bekas-bekas kerja keras. Bahunya yang dulu sempit kini lebar, bidang, mampu mengangkat karung-karung beras yang beratnya puluhan kilogram.

Wajahnya yang dulu polos kini lebih tegas, lebih dewasa, lebih keras. Garis-garis di keningnya mulai tampak, meskipun usianya baru tujuh belas tahun. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap karena kurang tidur. Matanya yang dulu gelap dan dalam, kini semakin gelap, semakin dalam, seperti sumur tua yang tidak pernah mencapai dasar, seperti lubang hitam di angkasa yang menyerap semua cahaya.

Ia tidak pernah mengeluh. Ia tidak pernah berhenti. Ia tidak pernah menyerah. Ia bekerja dari pagi sampai malam, dari senin sampai minggu, dari awal bulan sampai akhir bulan. Ia menabung setiap rupiah yang ia dapatkan, menyimpannya di celengan bambu yang ia buat sendiri, berharap suatu hari nanti ia bisa membuka usaha sendiri, bisa menyekolahkan diri sendiri, bisa membahagiakan Kirana.

"Danang, kau bekerja terlalu keras," kata Pak Suryanto suatu sore, ketika melihat Danang hampir pingsan karena kelelahan. Wajah Danang pucat, bibirnya kering, matanya sayu, tubuhnya gemetar. "Istirahat dulu. Jangan paksakan diri. Nanti kau sakit."

"Tidak apa, Pak. Aku kuat. Aku sudah biasa."

"Kuat? Lihat wajahmu. Pucat seperti mayat. Kau makan? Kau tidur? Kau..."

"Aku makan, Pak. Aku tidur. Aku baik-baik saja."

Pak Suryanto menghela napas. Ia tahu Danang berbohong. Ia tahu Danang tidak makan. Ia tahu Danang tidak tidur. Ia tahu Danang memaksakan diri. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Danang keras kepala. Danang tidak mau dibantu. Danang ingin membuktikan bahwa ia bisa.

"Kirana tahu kau begini?" tanya Pak Suryanto.

Danang tersenyum tipis. "Kirana tidak perlu tahu, Pak. Kirana cukup tahu bahwa aku baik-baik saja. Kirana cukup tahu bahwa aku bahagia. Kirana cukup tahu bahwa aku mencintainya."

Pak Suryanto menggeleng. "Kau ini, Danang. Kau ini..."

Ia tidak melanjutkan. Ia hanya berjalan ke ruang belakang, mengambil selimut dan bantal, lalu memberikannya pada Danang. "Tidur dulu. Satu jam. Aku jagain toko. Nanti kau bangun, kita lanjut kerja."

"Pak, aku tidak..."

"Tidur, Danang! Itu perintah!"

Danang tidak bisa membantah. Ia mengambil selimut dan bantal itu, membawanya ke ruang belakang, merebahkan diri di kasur tipis yang kempes. Matanya terpejam. Pikirannya melayang. Ia memikirkan Kirana. Memikirkan senyumnya. Memikirkan tawanya. Memikirkan matanya yang coklat kehijauan.

"Kirana," bisiknya. "Aku akan membahagiakanmu. Aku janji. Aku akan bekerja keras. Aku akan sekolah. Aku akan menjadi seseorang. Aku akan..."

Ia tertidur.


Suatu sore, ketika Danang sedang mengantar pesanan ke restoran besar di pusat kota, ia mendengar suara yang sangat dikenalnya. Suara yang membuat masa kecilnya kembali seperti mimpi buruk, seperti hantu yang tidak pernah benar-benar mati, seperti luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

"Wah, Danang. Jadi benar itu kau. Aku kira aku salah lihat. Ternyata kau. Setelah bertahun-tahun. Setelah sekian lama."

Danang berhenti.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Ia menoleh.

Surya Baskara berdiri di sana.

Kini ia jauh berbeda dari anak kecil yang dulu menindas Danang di halaman sekolah. Anak kecil yang dulu suka menginjak perahu daun, yang dulu suka memanggil Danang "anak haram", yang dulu suka menuduh Danang membakar gudang ayahnya. Kini ia tumbuh menjadi pemuda yang tampan, percaya diri, kaya raya.

Setelan rapi warna abu-abu muda, jas yang disetrika tanpa kerutan sedikit pun, dengan kancing-kancing berlapis emas yang berkilauan terkena sinar matahari. Dasi sutra merah marun, dengan motif batik yang rumit, yang harganya mungkin setara dengan pendapatan Danang sebulan. Jam tangan Rolex emas melingkar di pergelangan tangan kirinya, berkilauan setiap kali terkena cahaya, seperti mata ular yang siap memakan mangsanya.

Sepatu kulit hitam mengkilap, sepatu buatan Italia yang mungkin harganya lebih mahal dari seluruh pakaian yang pernah Danang miliki seumur hidup. Sepatu yang tidak pernah terkena lumpur, tidak pernah terkena debu, tidak pernah terkena hujan. Sepatu yang hanya dipakai untuk berjalan di karpet merah dan lantai marmer.

Rambutnya disisir rapi ke samping, dengan minyak rambut yang membuatnya mengkilap dan wangi. Kumis tipis mulai tumbuh di bibir atasnya, memberinya kesan dewasa, maskulin, berwibawa. Kulitnya putih bersih, terawat, tidak pernah terkena sinar matahari langsung. Wajahnya bulat, tembem, tanda bahwa ia tidak pernah kelaparan, tidak pernah kekurangan, tidak pernah menderita.

Tetapi senyum sinisnya tetap sama.

Senyum yang sama ketika ia menginjak perahu daun Danang di halaman sekolah.

Senyum yang sama ketika ia menuduh Danang membakar gudang ayahnya.

Senyum yang sama ketika ia memanggil Danang "anak haram" di depan semua anak.

Senyum yang sama ketika ia membisikkan rahasia tentang ayah kandung Danang.

Senyum yang tidak berubah.

Senyum yang tetap sinis.

Senyum yang tetap sombong.

Senyum yang tetap merendahkan.

"Sudah lama, Surya," kata Danang. Suaranya dingin, datar, tidak menunjukkan emosi. Matanya tenang, tidak gentar, tidak takut.

Surya tertawa pendek. Tawa yang dibuat-buat, seperti orang yang sedang menonton pertunjukan yang tidak lucu, seperti orang yang sedang berpura-pura terhibur. "Kota ini kecil sekali, Danang. Bahkan masa lalu pun bisa ikut pindah. Siapa sangka kita bertemu di sini? Di restoran mewah ini. Di pusat kota. Kau yang dulu tinggal di gubuk reot di tepi sungai, sekarang bisa masuk ke restoran seperti ini?"

"Aku hanya mengantar pesanan, Surya. Bukan makan di sini."

"Oh, benar. Kau masih pekerja rendahan. Masih mengantar pesanan. Masih bekerja kasar. Masih tidak punya pendidikan. Masih tidak punya masa depan. Seperti dulu. Tidak berubah."

Danang tidak menjawab. Ia hanya memandang Surya dengan tatapan kosong, tatapan yang tidak menunjukkan apa pun, tatapan yang membuat Surya tidak nyaman.

Surya berjalan mendekat. Kini ia berdiri hanya satu langkah dari Danang. Aroma parfum mahal menyengat di hidung Danang, aroma yang seperti bunga-bunga eksotis dari Prancis, yang harganya mungkin setara dengan pendapatan Danang sebulan.

"Kau tahu, Danang?" kata Surya, suaranya pelan, seperti bisikan, tetapi penuh dengan kebencian. "Aku tidak pernah lupa apa yang kau lakukan padaku. Tamparanmu di halaman sekolah. Itu sangat mempermalukanku. Aku tidak bisa melupakannya. Sampai sekarang."

"Aku juga tidak lupa apa yang kau lakukan padaku, Surya. Kau menghina ibuku. Kau memanggilku anak haram. Kau menuduhku membakar gudang ayahmu. Kau membuat seluruh desa membenciku."

"Itu semua benar, Danang. Kau memang anak haram. Ibumu memang hamil di luar nikah. Ayah kandungmu memang penari ketoprak yang kabur. Kau memang mencurigakan. Kau memang..."

"Surya, cukup."

"Belum cukup, Danang. Aku belum selesai."

Surya mendekat lebih dekat. Kini jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Danang bisa merasakan napas Surya di wajahnya, bau bawang dan daging dari makan siangnya.

"Aku dengar kau dekat dengan Kirana," bisik Surya. "Perempuan itu. Yang dulu membelamu. Yang dulu memanggilku pengecut. Yang dulu..."

"Jangan sebut namanya, Surya."

"Kenapa? Takut dia tahu siapa dirimu sebenarnya? Takut dia tahu masa lalumu? Takut dia tahu bahwa kau anak haram? Takut dia tahu bahwa ibumu..."

Danang mengepal tangan. Buku-buku jarinya memutih. Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Dadanya naik turun dengan napas yang berat. Matanya menyala, seperti bara api yang tertutup abu, masih panas meskipun tidak terlihat.

Surya tersenyum. Senyum kemenangan. Senyum yang mengatakan bahwa ia menang, bahwa ia berhasil, bahwa ia telah menemukan kelemahan Danang dan menusuknya tepat di tempat yang paling sakit.

"Kau selalu lupa, Danang," kata Surya, suaranya santai, seperti sedang berbicara tentang cuaca, seperti sedang mengomentari harga beras di pasar. "Di dunia seperti ini, asal-usul lebih penting daripada cinta. Uang lebih penting daripada perasaan. Status lebih penting daripada hati. Kau tidak akan pernah cukup baik untuk Kirana. Tidak peduli seberapa keras kau berusaha. Tidak peduli seberapa banyak kau bekerja. Tidak peduli seberapa banyak uang kau kumpulkan. Kau akan tetap menjadi anak haram. Anak haram selamanya."

Ia menepuk bahu Danang pelan. Tepukan yang terlihat akrab, seperti tepukan seorang teman lama, tetapi terasa seperti belati yang ditusukkan ke bahu.

"Selamat berjuang, Danang. Kau akan membutuhkan banyak keberuntungan."

Surya pergi.

Ia berjalan ke dalam restoran, disambut oleh pramusaji yang membungkuk hormat, dipersilakan duduk di meja VIP, dilayani dengan penuh perhatian.

Danang berdiri di depan restoran, memandang Surya yang duduk di meja VIP, tertawa dengan teman-temannya, menikmati makanan mahal yang disajikan di piring-piring porselen berlapis emas.

Ia tidak marah.

Ia tidak benci.

Ia hanya lelah.

Lelah hidup di dunia di mana uang dan status lebih penting daripada kerja keras dan ketulusan.

Lelah hidup di dunia di mana masa lalu lebih penting daripada masa depan.

Lelah hidup di dunia di mana ia harus terus membuktikan bahwa ia pantas, bahwa ia cukup baik, bahwa ia layak dicintai.

"Danang, kau kenapa?" tanya Kirana ketika Danang kembali ke toko buku sore itu. Wajah Danang pucat, matanya sayu, tangannya gemetar.

"Tidak apa, Kirana. Aku hanya... aku hanya bertemu seseorang dari masa lalu."

"Siapa?"

"Surya."

Kirana terdiam. Wajahnya berubah pucat. Matanya membesar. Tangannya gemetar.

"Surya? Surya Baskara? Anak saudagar beras itu? Yang dulu..."

"Iya. Dia. Dia sekarang kaya raya. Punya restoran. Punya mobil mewah. Punya segalanya."

"Apa yang dia katakan padamu, Danang?"

Danang tersenyum pahit. "Hal-hal yang biasa. Bahwa aku anak haram. Bahwa aku tidak pantas untukmu. Bahwa aku tidak akan pernah cukup baik. Bahwa..."

"Danang, jangan dengarkan dia. Dia hanya iri. Dia hanya dendam. Dia hanya..."

"Aku tahu, Kirana. Aku tidak peduli. Yang penting kau. Yang penting kita. Yang penting cinta kita."

Kirana memeluk Danang.

Ia memeluknya erat-erat.

Seperti tidak ingin melepaskan.

Seperti takut kehilangan.

Seperti takut masa lalu akan merenggut kebahagiaan mereka lagi.

"Danang, aku janji tidak akan pergi. Aku janji tidak akan meninggalkanmu. Aku janji akan selalu di sisimu. Apa pun yang terjadi. Siapa pun yang datang. Aku akan tetap di sini."

Danang memejamkan mata.

Ia ingin percaya.

Ia ingin percaya pada janji itu.

Tapi ia sudah belajar bahwa janji adalah hal paling rapuh di dunia.

Bahwa janji bisa pecah seperti kaca.

Bahwa janji bisa hilang seperti kabut pagi.

Bahwa janji, seindah apa pun, tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran.

"Kirana," bisiknya.

"Ya?"

"Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Danang. Lebih dari apa pun di dunia ini."

Mereka berpelukan di toko buku yang sunyi, di antara rak-rak kayu yang penuh dengan buku, di bawah lampu neon yang redup, di sore yang mulai gelap.

Mereka tidak tahu bahwa Surya bukan satu-satunya musuh yang harus mereka hadapi.

Mereka tidak tahu bahwa musuh yang sebenarnya lebih dekat.

Musuh yang tidur di kamar yang sama.

Musuh yang makan di meja yang sama.

Musuh yang tertawa dengan tawa yang sama.

Musuh yang dipanggil "sahabat".

Bab 14

Kebenaran yang Tidak Pernah Selesai

Malam itu, setelah pertemuan dengan Surya di restoran, setelah kata-kata pedas yang menusuk hati, setelah senyum sinis yang masih terbayang di matanya, Danang duduk sendirian di tepi sungai kecil di belakang kota. Tempat yang biasa ia kunjungi bersama Kirana. Tempat yang menjadi saksi bisu cinta mereka. Tempat yang kini terasa sunyi, terasa dingin, terasa asing.

Langit malam itu gelap, tanpa bintang. Awan tebal menutupi bulan, tidak ada cahaya yang menembus. Hanya kegelapan. Kegelapan yang pekat. Kegelapan yang seperti masa depannya. Angin bertiup dingin, menusuk tulang, membuatnya menggigil meskipun ia memakai jaket tebal.

Ia memandang air sungai yang keruh, yang mengalir lambat, yang membawa sampah-sampah plastik dan daun-daun kering. Ia memandang bayangannya sendiri di permukaan air, bayangan yang terdistorsi, bayangan yang tidak jelas, bayangan yang seperti dirinya yang tidak pernah benar-benar tahu siapa dirinya.

"Danang, aku ikut, ya."

Danang menoleh. Kirana berdiri di belakangnya, dengan wajah cemas, dengan mata khawatir, dengan tangan yang gemetar memegang ujung kebayanya.

"Kirana? Kau tahu aku di sini?"

"Aku mampir ke percetakan. Pak Suryanto bilang kau sudah pulang. Tapi kau tidak ada di kos. Aku tahu kau pasti di sini. Di tempat kita biasa bertemu."

Kirana duduk di samping Danang, di atas batu besar yang licin karena lumut. Ia meraih tangan Danang, menggenggamnya erat-erat. Tangannya yang kecil dan lentik, terasa hangat di telapak tangan Danang yang dingin.

"Ada yang ingin kutanyakan, Danang," kata Kirana, suaranya pelan, lembut, seperti bisikan.

Danang menatapnya. Dadanya terasa sesak. Ia sudah bisa menebak pertanyaan apa yang akan keluar. Pertanyaan yang selama ini ia takutkan. Pertanyaan yang membuatnya lari dari desa, dari masa lalu, dari dirinya sendiri. Pertanyaan yang selalu ia hindari, selalu ia pendam, selalu ia kubur dalam-dalam.

"Apa, Kirana?"

Kirana ragu. Bibirnya gemetar. Matanya menatap Danang dengan campuran kasih sayang dan ketakutan. Lalu akhirnya ia berkata, "Apakah benar... apakah benar Surya tidak berbohong? Apakah benar Bapakmu bukan ayah kandungmu? Apakah benar ayah kandungmu adalah penari ketoprak yang pergi? Apakah benar..."

Danang tidak menjawab.

Ia hanya memandang sungai.

Memandang air yang keruh.

Memandang bayangannya yang terdistorsi.

Keheningan di antara mereka lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Keheningan yang berbicara lebih keras dari seribu kata.

Keheningan yang mengkonfirmasi semua ketakutan Kirana.

Keheningan yang mengatakan bahwa semua yang dikatakan Surya adalah benar.

Kirana tahu.

Ia tahu dari keheningan Danang.

Ia tahu dari wajah Danang yang pucat.

Ia tahu dari mata Danang yang kosong.

Ia tahu dari tangan Danang yang gemetar.

"Danang," bisik Kirana, suaranya pecah, air matanya mulai jatuh. "Kenapa kau tak pernah cerita?"

Danang menatap air sungai. Air yang mengalir terus, tidak pernah berhenti, tidak pernah melihat ke belakang. Air yang seperti hidupnya, terus mengalir, terus bergerak, tidak pernah berhenti meskipun lelah, meskipun sakit, meskipun ingin berhenti.

"Karena aku capek menjadi cerita orang, Kirana," katanya akhirnya, suaranya pelan, datar, tanpa emosi, seperti orang yang sudah kehabisan air mata, seperti orang yang sudah terlalu sering dilukai hingga tidak bisa lagi merasakan sakit. "Karena aku capek dilihat dengan tatapan kasihan. Karena aku capek menjadi anak haram di mata semua orang. Karena aku capek..."

"Tapi aku bukan orang lain, Danang. Aku Kirana. Aku temanmu. Aku... aku kekasihmu. Aku orang yang mencintaimu. Aku berhak tahu. Aku seharusnya tahu. Aku..."

"Kau tahu sekarang, Kirana. Kau tahu semuanya. Aku anak haram. Ayah kandungku penari ketoprak yang kabur. Ibunya hamil di luar nikah. Bapak yang membesarkanku bukan ayah kandungku. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya masa depan. Aku tidak pantas untukmu. Aku..."

"Jangan bilang begitu, Danang!" potong Kirana, suaranya keras, tegas, seperti saat ia membela Danang di depan Surya di halaman sekolah dulu. Matanya menyala, tidak lagi sayu, tidak lagi berkaca-kaca. "Jangan bilang kau tidak pantas untukku! Jangan bilang kau tidak punya masa depan! Jangan bilang kau anak haram! Aku tidak peduli dengan semua itu! Aku peduli dengan kau! Aku peduli dengan Danang! Aku peduli dengan anak laki-laki yang duduk di akar pohon waru dan melempar batu ke sungai! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menggambar bunga kuning di buku gambarnya! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menampar Surya di halaman sekolah karena ia menghina ibuku! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menangis di depan ibunya karena takut kehilangan segalanya! Aku peduli denganmu, Danang!"

Danang menatap Kirana.

Matanya basah.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Ia tidak ingin menangis.

Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menangis di depan Kirana.

Ia sudah berjanji bahwa ia akan kuat, bahwa ia tidak akan menunjukkan kelemahan, bahwa ia tidak akan membebani Kirana dengan masalahnya.

Tapi air mata itu tetap keluar.

Mengalir di pipinya yang kasar.

Jatuh ke tanah.

Membasahi batu besar yang licin.

"Kirana, aku takut," bisiknya, suaranya pecah, tangisnya keluar. "Aku takut kau pergi. Aku takut kau meninggalkanku seperti orang-orang lain. Aku takut kau... kau malu padaku. Aku takut kau..."

"Aku tidak akan pergi, Danang. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan malu padamu. Aku bangga padamu. Kau kuat. Kau pekerja keras. Kau tidak pernah menyerah. Kau tidak pernah mengeluh. Kau berjuang sendiri tanpa bantuan siapa pun. Kau..."

"Tapi ibumu..."

"Aku akan bicara dengan ibuku. Aku akan meyakinkan dia. Aku akan membuktikan bahwa kau pantas untukku. Aku akan..."

"Dan Surya..."

"Surya? Surya tidak ada apa-apanya. Dia hanya anak kaya yang sombong. Dia iri padamu. Dia dendam padamu. Dia ingin menghancurkan kita. Tapi kita tidak akan biarkan dia menang. Kita akan buktikan bahwa cinta kita lebih kuat dari kebenciannya."

Danang memeluk Kirana.

Ia memeluknya erat-erat.

Seperti tidak ingin melepaskan.

Seperti takut kehilangan.

Seperti takut ini hanya mimpi.

"Kirana, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tidak tahu apakah kita akan bersama selamanya. Tapi yang aku tahu, saat ini, di sini, bersama kau, aku bahagia. Aku bahagia karena kau di sampingku. Aku bahagia karena kau mencintaiku. Aku bahagia karena kau menerima aku apa adanya. Terima kasih, Kirana. Terima kasih untuk semuanya."

Kirana tersenyum.

Senyum yang sama.

Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.

Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia.

Senyum yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.

"Tugas kekasih, Danang. Tugas kekasih."

Mereka berpelukan di tepi sungai yang keruh, di bawah langit yang gelap tanpa bintang, di tengah angin yang dingin menusuk tulang.

Mereka tidak tahu bahwa kebenaran yang baru saja terungkap hanyalah awal.

Bahwa masih ada kebenaran lain yang lebih menyakitkan.

Bahwa masih ada rahasia lain yang lebih gelap.

Bahwa masih ada luka lain yang lebih dalam.

Kebenaran tentang ayah kandung Danang.

Kebenaran tentang Sastrowiryo.

Kebenaran tentang Mandor Jalil.

Kebenaran tentang surat-surat tanpa nama.

Kebenaran tentang Arman.

Semua kebenaran itu akan terungkap suatu hari nanti.

Suatu hari ketika mereka tidak siap.

Suatu hari ketika kebahagiaan mereka sedang puncak-puncaknya.

Suatu hari ketika mereka merasa aman.

Dan kebenaran itu akan menghancurkan mereka.

Menghancurkan cinta mereka.

Menghancurkan persahabatan mereka.

Menghancurkan hidup mereka.

Tapi untuk malam itu, untuk malam di tepi sungai yang keruh, untuk malam di bawah langit yang gelap, mereka hanya dua remaja yang saling mencintai, yang saling menguatkan, yang saling berjanji untuk tidak pernah berpisah.

Dan itu sudah cukup.

Itu sudah lebih dari cukup.

Bab 15

Benih Pengkhianatan

Beberapa hari setelah pertemuan di tepi sungai, setelah kebenaran tentang ayah kandung Danang terungkap, setelah air mata dan pelukan dan janji yang diucapkan di bawah langit gelap, Arman sengaja menemui Kirana sendirian.

Ia datang ke toko buku di sore hari, saat toko sedang sepi. Tidak ada pelanggan. Hanya Kirana yang sedang merapikan rak-rak buku di bagian belakang, menyusun buku-buku yang berantakan karena anak-anak kecil yang main-main saat orang tua mereka berbelanja. Suara radio tua merek National yang diletakkan di atas meja kasir menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia tahun delapan puluhan, suaranya pelan, sayu, seperti suara dari masa lalu.

Arman masuk dengan langkah pelan, tidak ingin mengganggu, tidak ingin terlihat mencurigakan. Ia membawa sebuah bungkusan kecil yang dibungkus kertas minyak coklat, bungkusan yang masih hangat, yang mengeluarkan aroma harum pisang goreng dan gula merah.

"Halo, Mbak Kirana," sapanya, suaranya ramah, hangat, seperti biasa.

Kirana menoleh. Wajahnya sedikit terkejut, tetapi segera tersenyum. "Mas Arman? Kau tidak kerja? Bukannya bengkel buka sampai sore?"

"Jam istirahat, Mb. Aku mampir dulu ke sini. Ingin beli buku. Tapi sebelumnya, ini untuk Mbak Kirana." Arman mengulurkan bungkusan kecil itu. "Pisang goreang. Masih hangat. Aku beli di depan pasar. Langganan. Enak. Renyah. Manisnya pas."

Kirana ragu sejenak. Tangannya tidak segera menerima bungkusan itu. "Mas Arman, kau selalu saja membawakan sesuatu untukku. Aku jadi tidak enak. Aku belum bisa membalas kebaikanmu."

"Tidak usah dibalas, Mb. Aku ikhlas. Aku senang bisa membuat Mbak Kirana senang." Arman tersenyum. Senyum yang tulus, yang hangat, yang tidak mencurigakan. "Lagipula, ini hanya pisang goreng. Murah. Tidak seberapa. Bukan emas atau permata."

Kirana menghela napas. Ia menerima bungkusan itu, membukanya perlahan. Pisang goreng berwarna keemasan, dengan taburan wijen di atasnya, masih mengepulkan uap panas. Aromanya harum, menggugah selera.

"Terima kasih, Mas Arman. Kau baik sekali."

"Tidak baik, Mb. Biasa saja."

Mereka duduk di kursi kecil dekat jendela, kursi kayu yang biasa digunakan Bu Lastri untuk beristirahat di sore hari. Di luar, hujan mulai turun tipis, gerimis, membasahi jalanan, membuat udara terasa segar. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, pedagang kaki lima cepat-cepat menutup dagangan mereka dengan terpal plastik.

Arman memutar cangkir kopinya perlahan. Kopi hitam pekat tanpa gula yang ia pesan dari warung sebelah. Kopi yang pahit, getir, seperti hatinya saat ini. Kirana memesan teh manis hangat, dengan jahe dan serai, yang mengepulkan uap wangi.

"Mbak Kirana," panggil Arman, suaranya pelan, hati-hati, seperti sedang memilih kata-kata yang tidak akan menyakiti.

"Ya, Mas Arman?"

"Kau tahu, Danang sangat mencintaimu."

Kirana tersenyum. "Aku tahu, Mas. Aku juga mencintainya."

"Tapi kadang cinta tidak cukup, Mbak."

Kirana menatap Arman. Matanya bertanya, bingung, tidak mengerti maksud kata-kata itu. "Maksud Mas Arman?"

Arman menghela napas panjang. Ia memandang ke luar jendela, ke arah hujan yang mulai reda, ke arah orang-orang yang mulai keluar dari tempat berteduh mereka, ke arah langit yang mulai cerah.

"Danang hidup dengan masa lalu yang belum selesai, Mbak. Ia membawa luka yang tidak pernah sembuh. Ia lari dari desa karena tidak bisa menghadapi kenyataan. Ia lari dari masa lalunya. Ia lari dari dirinya sendiri."

Ia menatap Kirana dalam. Matanya yang tajam, yang biasanya ramah dan mudah tersenyum, kini serius. Sangat serius. Tidak ada senyum di bibirnya. Tidak ada kerutan di dahinya. Hanya tatapan. Tatapan yang seperti sedang membuka hati Kirana, sedang membaca pikirannya, sedang mencari kelemahannya.

"Dan orang seperti dia, Mbak, bisa menghancurkan siapa pun yang terlalu dekat dengannya. Bukan karena ia jahat. Bukan karena ia sengaja. Tapi karena luka yang ia bawa terlalu besar untuk tidak mempengaruhi orang di sekitarnya. Luka itu akan menular. Luka itu akan merambat. Luka itu akan melukai siapa pun yang mencoba mendekat."

Kirana mengernyit. Alisnya yang tipis bertaut. Wajahnya berubah sedikit, ada keraguan di sana, ada kegelisahan, ada pertanyaan yang mulai tumbuh di hatinya.

"Kenapa kau bilang begitu, Mas Arman?"

Arman menatapnya lama. Lalu berkata sangat pelan, suaranya hampir tidak terdengar di antara suara hujan yang mulai reda, tetapi setiap kata terdengar jelas di telinga Kirana, seperti paku yang dipukulkan ke kayu, seperti belati yang menusuk daging.

"Karena aku tidak mau melihatmu ikut tenggelam bersamanya, Mbak Kirana. Karena aku tidak mau melihatmu hancur karena cinta yang buta. Karena aku tidak mau melihatmu menyesal di kemudian hari. Karena aku..."

Ia berhenti.

Ia tidak melanjutkan.

Ia hanya menunduk, memandang cangkir kopinya yang sudah dingin, memandang ampas kopi yang mengendap di dasar cangkir, memandang bayangannya sendiri yang terdistorsi di permukaan kopi yang hitam pekat.

Kirana terdiam.

Wajahnya pucat.

Dadanya terasa sesak.

Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, sesuatu yang seperti ingin keluar, tetapi ia tahan.

"Mas Arman, aku tahu kau hanya peduli padaku. Aku tahu kau hanya ingin yang terbaik untukku. Tapi Danang... Danang tidak seperti yang kau bayangkan. Danang baik. Danang jujur. Danang pekerja keras. Danang..."

"Danang juga manusia, Mbak. Danang juga punya kelemahan. Danang juga punya batas. Danang juga bisa jatuh. Danang juga bisa hancur. Dan ketika Danang hancur, kau yang akan terkena imbasnya. Kau yang akan ikut hancur. Kau yang akan..."

"Mas Arman, cukup."

Kirana berdiri.

Tangannya gemetar.

Cangkir tehnya hampir jatuh, tetapi ia pegang erat-erat.

"Mas Arman, aku menghargai kepedulianmu. Aku berterima kasih atas nasihatmu. Tapi aku tidak bisa... aku tidak bisa meninggalkan Danang. Aku mencintainya. Aku sudah berjanji untuk bersamanya. Aku tidak bisa mengingkari janji."

Arman juga berdiri.

Ia berjalan mendekati Kirana.

Kini ia berdiri hanya satu lengan di depannya.

Jarak yang dekat.

Terlalu dekat.

"Kirana," panggilnya, tidak lagi "Mbak Kirana". Suaranya berubah. Tidak lagi ramah. Tidak lagi hangat. Ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang seperti kerinduan. Sesuatu yang seperti cinta. Sesuatu yang seperti keputusasaan. "Aku juga mencintaimu."

Kirana membeku.

Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu.

Matanya membesar.

Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

"Aku mencintaimu, Kirana," ulang Arman, suaranya lebih tegas, lebih yakin, lebih berani. "Sejak pertama aku melihatmu di toko ini. Sejak pertama kau tersenyum padaku. Sejak pertama kau memanggil namaku. Aku mencintaimu. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Aku tidak bisa berpura-pura lagi. Aku..."

"Mas Arman, jangan..." Kirana mundur selangkah, dua langkah, tiga langkah. Tangannya mencari pegangan, menemukan rak buku di belakangnya, ia berpegangan erat-erat agar tidak jatuh.

"Aku tahu kau mencintai Danang. Aku tahu kau sudah berjanji padanya. Tapi aku juga punya hak untuk mencintaimu. Aku juga punya hak untuk memperjuangkanmu. Aku juga punya hak untuk..."

"Tidak, Mas Arman. Tidak. Aku hanya mencintai Danang. Aku tidak bisa mencintai orang lain. Aku tidak bisa..."

"Kau tidak tahu, Kirana. Kau tidak tahu apa yang aku rasakan. Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai bersama orang lain. Kau tidak tahu bagaimana rasanya..."

Kirana menangis.

Ia tidak bisa menahan lagi.

Air matanya jatuh.

Membasahi pipinya.

Membasahi kebaya biru mudanya.

Membasahi harapannya.

"Mas Arman, tolong... tolong jangan lakukan ini. Kau sahabat Danang. Kau sahabatku. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua. Aku tidak ingin..."

"Kau tidak akan kehilangan aku, Kirana. Aku akan selalu di sini. Untukmu. Menunggumu. Mencintaimu. Sampai kapan pun. Sampai kau sadar bahwa aku yang pantas untukmu, bukan Danang."

Arman pergi.

Ia berjalan cepat meninggalkan toko buku, hampir berlari, seperti orang yang ketakutan, seperti orang yang malu, seperti orang yang tidak ingin ditolak.

Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum.

Ia tersenyum karena ia tahu bahwa ia sudah menanam benih.

Benih keraguan.

Benih kebencian.

Benih pengkhianatan.

Benih yang akan tumbuh.

Benih yang akan meracuni hati Kirana.

Benih yang akan menghancurkan cinta Kirana pada Danang.

Benih yang akan membuat Kirana berpikir, "Mungkin Arman benar. Mungkin Danang tidak pantas untukku. Mungkin aku harus memilih Arman."

"Selamat tinggal, Kirana," bisiknya. "Sampai kita bertemu lagi. Dan ketika kita bertemu lagi, kau akan menjadi milikku. Aku akan pastikan itu."


Kirana duduk di lantai toko buku, di antara rak-rak kayu yang penuh dengan buku, menangis.

Ia menangis untuk Danang.

Ia menangis untuk Arman.

Ia menangis untuk dirinya sendiri.

Ia menangis untuk cinta yang rumit.

Ia menangis untuk persahabatan yang mulai retak.

Ia menangis untuk masa depan yang tidak pasti.

"Tuhan," bisiknya, "tolong aku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mencintai Danang. Tapi Arman... Arman juga baik. Arman juga peduli padaku. Arman juga... aku tidak tahu. Aku bingung. Aku..."

Ia tidak melanjutkan.

Ia hanya menangis.

Menangis di toko buku yang sunyi.

Menangis di antara rak-rak kayu yang penuh dengan buku.

Menangis di bawah lampu neon yang redup.

Menangis di sore yang mulai gelap.

Ia tidak tahu bahwa benih yang ditanam Arman telah mulai tumbuh.

Bahwa keraguan telah mulai masuk ke dalam hatinya.

Bahwa cintanya pada Danang mulai tergoyahkan.

Bahwa ia mulai membandingkan Danang dengan Arman.

Danang yang sibuk bekerja, yang tidak pernah punya waktu untuknya, yang tidak pernah membawakan hadiah, yang tidak pernah mengatakan kata-kata manis.

Arman yang selalu ada untuknya, yang selalu membawakan pisang goreng, yang selalu mengatakan kata-kata manis, yang selalu membuatnya merasa istimewa.

"Siapa yang sebenarnya mencintaiku?" bisiknya. "Siapa yang tulus? Siapa yang pantas? Siapa yang..."

Ia tidak bisa menjawab.

Ia hanya bisa menangis.

Menangis karena bingung.

Menangis karena takut.

Menangis karena cinta.

Bab 16

Retak Pertama di Mata Kirana

Sejak percakapan dengan Arman di toko buku, sejak kata-kata "Aku juga mencintaimu" yang keluar dari mulut sahabat Danang, sejak benih keraguan ditanam di hatinya, Kirana mulai berubah.

Bukan berubah drastis. Tidak tiba-tiba menjadi dingin. Tidak tiba-tiba menjauh. Berubah perlahan, seperti air yang mendidih di atas api kecil, seperti rumput yang tumbuh di sela-sela batu, seperti warna daun yang berubah di musim kemarau.

Ia masih bertemu Danang setiap hari. Masih pergi ke toko buku setiap sore. Masih duduk di kedai kopi Mbah Darmo setiap akhir pekan. Masih berjalan di tepi sungai kecil setiap malam Minggu. Masih tersenyum. Masih tertawa. Masih bercerita tentang banyak hal.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Cukup untuk membuat Danang merasakannya.

Cukup untuk membuat Danang bertanya-tanya.

Cukup untuk membuat Danang gelisah.

Ia mulai lebih sering diam. Bukan diam yang nyaman seperti dulu, ketika mereka bisa duduk berjam-jam tanpa bicara, hanya menikmati keberadaan satu sama lain. Bukan diam yang penuh dengan pengertian, yang tidak perlu diisi dengan kata-kata. Tapi diam yang penuh dengan pikiran yang tidak diucapkan. Diam yang membuat Danang bertanya-tanya, apa yang salah? Apa yang ia lakukan? Apa yang berubah?

Ia mulai lebih sering menunduk. Bukan menunduk karena malu atau karena sedang memikirkan sesuatu, tetapi menunduk seperti sedang berusaha menghindari tatapan seseorang, seperti sedang menyembunyikan sesuatu, seperti sedang tidak ingin dilihat.

Ia mulai lebih lama membalas tatapan Danang. Seolah sedang mencari jawaban yang tidak kunjung ia temukan. Seolah sedang mencoba memutuskan apakah ia masih bisa percaya. Seolah sedang menimbang-nimbang, apakah Danang masih pantas untuk dicintai.

Ia mulai lebih sering melamun. Matanya kosong, menembus Danang, menembus dinding, menembus waktu, menembus ruang. Pikirannya jauh, di tempat yang tidak bisa dijangkau Danang. Pikirannya sibuk dengan sesuatu yang tidak ingin ia bagikan.

"Kirana, kau kenapa?" tanya Danang suatu sore, ketika mereka duduk di kedai kopi Mbah Darmo, menunggu pesanan roti bakar dan kopi hitam yang biasa mereka pesan. Meja kayu di depan mereka sudah tua, penuh dengan goresan dan noda kopi yang tidak bisa dibersihkan. Kursi plastik tempat mereka duduk berwarna merah dan biru, sudah pudar, sudah retak di beberapa tempat.

Kirana yang sedang memandang kosong ke arah jalan, tersentak. Ia menoleh cepat, terlalu cepat. Matanya yang sayu, yang kosong, tiba-tiba fokus pada Danang.

"Eh? Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya... aku hanya lelah. Hari ini toko ramai. Banyak pelanggan. Bu Lastri minta tolong ini itu. Aku jadi kelelahan."

"Kau bohong, Kirana." Suara Danang pelan, lembut, tidak menuduh, tidak memojokkan. Hanya pernyataan. Fakta. Kebenaran.

Kirana terdiam. Ia menunduk. Memandang meja kayu di depannya, memandang goresan-goresan yang tidak berarti, memandang noda kopi yang sudah mengering.

"Kau selalu tahu kalau aku bohong, Danang," bisiknya.

Danang menatapnya. Matanya yang gelap, yang dalam, yang seperti lubang sumur tua, menatap wajah Kirana yang pucat, yang lesi, yang tidak bercahaya seperti biasanya.

"Karena aku mengenalmu, Kirana. Aku mengenalmu sejak kita kecil. Aku tahu setiap ekspresimu. Aku tahu setiap gerakanmu. Aku tahu setiap nada bicaramu. Aku tahu kapan kau bahagia, kapan kau sedih, kapan kau marah, kapan kau takut, kapan kau berbohong."

Kirana menunduk lebih dalam.

Air matanya jatuh.

Setetes.

Dua tetes.

Tiga tetes.

Jatuh ke meja kayu, membasahi goresan-goresan yang tidak berarti, membasahi noda kopi yang sudah mengering.

"Danang, aku... aku takut."

"Takut apa?"

Kirana memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, matanya basah, merah, seperti habis menangis berjam-jam.

"Takut bahwa semakin aku mengenalmu, semakin aku sadar betapa besar luka yang hidup di dalam dirimu. Dan luka seperti itu, Danang, bisa menyeret siapa pun yang mencintaimu. Bisa membuat orang yang mencintaimu ikut tenggelam. Bisa menghancurkan bukan hanya satu orang, tetapi dua orang sekaligus."

Danang terdiam.

Kata-kata itu menusuk hatinya.

Kata-kata itu seperti pisau yang tajam.

Kata-kata itu seperti belati yang menyayat.

Kata-kata itu seperti racun yang menyebar perlahan di dalam tubuhnya.

Ia tahu.

Ia tahu bahwa ia membawa luka.

Ia tahu bahwa ia tidak pernah benar-benar sembuh.

Ia tahu bahwa luka itu akan selalu ada, akan selalu menganga, akan selalu berdarah, tidak peduli seberapa keras ia berusaha menutupinya.

Tapi ia tidak tahu bahwa luka itu bisa menular.

Ia tidak tahu bahwa luka itu bisa melukai orang yang dicintainya.

Ia tidak tahu bahwa cintanya bisa menjadi racun bagi Kirana.

"Kirana," panggilnya pelan.

Kirana mengangkat kepalanya.

Matanya bertemu dengan mata Danang.

Mata yang basah.

Mata yang merah.

Mata yang penuh dengan ketakutan.

"Aku tidak akan menyakitimu, Kirana. Aku berjanji. Aku akan menjaga diriku sendiri. Aku akan menjaga lukaku. Aku tidak akan biarkan lukaku melukaimu. Aku..."

"Kau tidak bisa menjanjikan itu, Danang. Luka tidak pernah meminta izin. Luka datang kapan saja. Luka keluar ketika kau tidak siap. Luka melukai tanpa kau sadari."

"Tapi aku akan berusaha, Kirana. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Aku akan..."

"Kadang berusaha tidak cukup, Danang. Kadang cinta tidak cukup. Kadang..."

Kirana tidak melanjutkan.

Ia hanya menunduk.

Menangis.

Menangis karena ia tidak tahu harus berkata apa.

Menangis karena ia tidak tahu harus berbuat apa.

Menangis karena ia mencintai Danang, tetapi juga takut pada cintanya.

Danang meraih tangan Kirana.

Tangannya yang kasar dan keras, menggenggam tangan Kirana yang lembut dan lentik.

"Kirana, dengarkan aku."

Kirana mengangkat kepalanya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini. Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah. Tapi aku tahu satu hal: aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Tidak peduli apa pun yang terjadi. Tidak peduli siapa pun yang datang. Tidak peduli berapa banyak rintangan yang menghadang. Aku akan tetap mencintaimu. Sampai mati."

Kirana menangis lebih keras.

Ia membalas genggaman Danang.

Genggaman yang erat.

Genggaman yang hangat.

Genggaman yang mengatakan bahwa ia masih mencintai Danang.

Genggaman yang mengatakan bahwa ia masih percaya pada Danang.

Genggaman yang mengatakan bahwa ia tidak ingin kehilangan Danang.

"Danang, aku juga mencintaimu. Tapi aku... aku bingung. Aku takut. Aku..."

"Takut apa, Kirana? Katakan padaku. Aku akan membantu. Aku akan melindungimu. Aku akan..."

"Tidak, Danang. Kau tidak bisa membantu. Ini masalahku. Ini masalah yang harus aku selesaikan sendiri. Aku hanya... aku butuh waktu. Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku butuh waktu untuk..."

"Untuk apa, Kirana?"

Kirana tidak menjawab.

Ia hanya menunduk.

Menangis.

Menangis dalam diam.

Danang tidak memaksa.

Ia hanya duduk di samping Kirana, memegang tangannya, menemani dalam diam.

Ia tidak tahu bahwa Kirana sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.

Bergulat dengan keraguan yang ditanam oleh Arman.

Bergulat dengan perasaan bersalah karena ia mulai membandingkan Danang dengan Arman.

Bergulat dengan pertanyaan, "Siapa yang benar-benar mencintaiku? Siapa yang pantas untukku? Siapa yang harus aku pilih?"

"Kirana," panggil Danang pelan.

"Ya?"

"Apa kau masih mencintaiku?"

Kirana mengangkat kepalanya.

Ia menatap Danang.

Matanya yang basah, yang merah, menatap lurus ke mata Danang yang gelap, yang dalam.

"Aku masih mencintaimu, Danang. Aku akan selalu mencintaimu. Tapi..."

"Tapi apa?"

Kirana menghela napas.

"Aku takut kita tidak cukup kuat, Danang. Aku takut cinta kita tidak cukup kuat. Aku takut..."

"Cinta kita cukup kuat, Kirana. Aku yakin. Kau juga harus yakin."

Kirana tersenyum.

Senyum yang lemah.

Senyum yang tidak secerah biasanya.

Tapi senyum.

"Kau selalu optimis, Danang."

"Kau selalu pesimis, Kirana."

Mereka berdua tersenyum.

Tersenyum di tengah kebingungan.

Tersenyum di tengah ketakutan.

Tersenyum di tengah cinta yang mulai retak.

Tapi mereka tidak tahu bahwa retakan itu akan semakin lebar.

Bahwa retakan itu akan menjadi celah.

Bahwa celah itu akan menjadi jurang.

Bahwa jurang itu akan memisahkan mereka.

Selamanya.

Bab 17

Kata-Kata yang Ditanam dalam Diam

Arman semakin dekat.

Bukan dengan Danang. Hubungan mereka masih baik. Mereka masih bekerja bersama di percetakan pada siang hari, Danang menyusun huruf timah sementara Arman kadang membantu mengantar pesanan jika tukang antar sedang sakit atau libur. Mereka masih makan bersama di warung langganan setiap malam, bercerita tentang hari mereka, tertawa tentang hal-hal lucu, mengeluh tentang bos yang galak dan pelanggan yang rewel. Mereka masih berbagi cerita tentang mimpi dan cita-cita, tentang masa depan yang ingin mereka raih, tentang perempuan-perempuan yang mereka kagumi.

Arman masih menjadi sahabat Danang.

Atau setidaknya, itulah yang Danang yakini.

Tapi dengan Kirana, Arman semakin dekat.

Bukan dekat secara fisik. Tidak ada sentuhan. Tidak ada pelukan. Tidak ada berduaan di tempat gelap. Arman terlalu pintar untuk itu. Ia tahu persis di mana batasnya. Ia tahu persis apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ia tahu persis bagaimana cara mendekati seorang perempuan tanpa menimbulkan kecurigaan.

Ia semakin sering datang ke toko buku. Bukan karena ada keperluan. Bukan karena ingin membeli buku. Tapi karena ia tahu Kirana akan ada di sana setiap sore, dari jam empat sampai jam enam, sebelum Bu Lastri tutup dan pulang ke rumah.

Setiap hari, sekitar jam empat sore, ketika toko buku mulai sepi, ketika Bu Lastri pergi sholat Ashar atau ke pasar untuk membeli sayur, Arman akan datang. Ia akan masuk dengan senyum ramah, dengan sapaan hangat, dengan sikap yang tidak mencurigakan.

"Halo, Mbak Kirana. Apa kabar? Sehat?"

Kirana yang sedang merapikan rak buku atau menghitung uang di meja kasir, akan menoleh dan tersenyum. Senyum yang ramah, tetapi tidak lagi seperti dulu. Ada jarak di sana. Ada ketidaknyamanan. Ada perasaan bersalah yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Baik, Mas Arman. Mas Arman sendiri? Masih sibuk?"

"Sibuk, Mba. Tapi aku selalu sempatkan diri untuk mampir ke sini. Untuk melihat Mbak Kirana. Untuk..."

"Mas Arman, tolong..."

"Maaf, Mba. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku hanya..."

Arman tidak melanjutkan. Ia hanya tersenyum. Senyum yang lembut, yang hangat, yang membuat orang yang menerimanya merasa dihargai, merasa istimewa, merasa dicintai.

Setiap kali ia datang, ia selalu membawa sesuatu. Kadang pisang goreng dari langganan di depan pasar. Kadang getuk atau lupis atau bubur kacang hijau dari pedagang yang lewat. Kadang hanya segelas es dawet atau es campur atau es kelapa muda. Kadang setangkai bunga melati yang ia petik dari kebun belakang rumahnya, yang wanginya semerbak, yang membuat ruangan terasa lebih hidup.

"Ini untuk Mbak Kirana. Aku beli tadi. Masih hangat. Aku tahu Mbak Kirana suka pisang goreng."

"Mas Arman, kau tidak perlu repot-repot. Aku bisa beli sendiri."

"Aku tidak repot, Mba. Aku senang. Aku senang bisa membuat Mbak Kirana senang."

Kirana tidak bisa menolak. Setiap kali ia mencoba menolak, Arman akan memaksa dengan halus, dengan cara yang tidak membuatnya merasa tertekan, dengan cara yang membuatnya merasa bersalah jika tetap menolak.

"Baiklah, Mas. Terima kasih. Lain kali jangan repot-repot lagi, ya."

"Baik, Mba. Lain kali aku tidak akan repot-repot. Aku hanya akan membawakan yang lebih enak."

Kirana menghela napas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa menerima, tersenyum, dan berterima kasih.


Setiap kali ia datang, ia selalu membantu. Membantu merapikan rak-rak buku yang berantakan, membantu menata buku-buku baru yang datang dari penerbit, membantu membersihkan debu-debu yang menempel di sampul buku, membantu mengepel lantai yang kotor karena sepatu pelanggan.

"Mas Arman, kau tidak usah membantu. Aku bisa sendiri."

"Aku tahu, Mba. Tapi aku ingin membantu. Biarkan aku. Aku ikhlas. Aku senang."

Kirana tidak bisa menolak. Setiap kali ia mencoba menolak, Arman akan tetap melakukannya, dengan senyum, dengan semangat, dengan kerelaan yang tulus.

"Baiklah, Mas. Tapi jangan terlalu memaksakan diri."

"Aku tidak memaksakan diri, Mba. Aku senang. Aku senang bisa dekat dengan Mbak Kirana. Aku senang bisa..."

"Mas Arman..."

"Maaf, Mba. Aku tidak bermaksud..."

Arman tidak melanjutkan. Ia hanya tersenyum, lalu kembali bekerja, membersihkan rak-rak buku, menata buku-buku, mengepel lantai.


Setiap kali ia datang, ia selalu berbicara tentang Danang.

Bukan untuk menghina. Bukan untuk menjatuhkan. Bukan untuk menjelekkan.

Tetapi dengan cara yang lebih halus.

Dengan cara yang membuat Kirana berpikir.

Dengan cara yang membuat Kirana mulai membandingkan.

"Danang bekerja keras sekali, ya, Mba. Dari pagi sampai malam. Dari senin sampai minggu. Kadang aku kasihan melihatnya. Badannya kurus. Matanya cekung. Kayak kurang tidur. Kayak kurang makan. Aku khawatir suatu hari nanti dia jatuh sakit. Atau pingsan di tempat kerja. Atau lebih parah lagi."

Kirana terdiam. Ia memikirkan kata-kata Arman. Apakah Danang benar-benar bekerja terlalu keras? Apakah Danang benar-benar tidak makan? Apakah Danang benar-benar tidak tidur? Apakah Danang benar-benar mengabaikan kesehatannya?

"Danang memang pekerja keras, Mas. Itu salah satu hal yang aku kagumi darinya. Dia tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah mengeluh. Dia..."

"Tapi kadang kerja keras tanpa diimbangi istirahat yang cukup itu berbahaya, Mba. Tubuh manusia ada batasnya. Danang bisa sakit. Danang bisa... aku tidak mau berpikir yang macam-macam. Tapi aku khawatir."

"Aku juga khawatir, Mas. Tapi Danang tidak mau mendengarkan. Setiap kali aku bilang untuk istirahat, dia bilang 'Tidak apa. Aku kuat. Aku biasa.'"

"Itu dia. Danang terlalu keras kepala. Terlalu memaksakan diri. Terlalu..."

Arman tidak melanjutkan. Ia hanya menghela napas. Menghela napas panjang, penuh makna, penuh arti, penuh pesan tersirat.


"Apa kau tahu, Mba? Danang itu orangnya pendiam. Dia tidak pernah cerita tentang masa lalunya. Tentang keluarganya. Tentang desanya. Tentang ayah kandungnya. Tentang ibunya. Tentang... tentang semua yang membuatnya menjadi dirinya sekarang."

Kirana mengangguk. "Aku tahu, Mas. Danang memang pendiam. Tapi aku mengerti. Dia tidak suka membicarakan masa lalu. Masa lalu menyakitkan baginya."

"Tapi bukankah seharusnya orang yang saling mencintai saling terbuka? Bukankah seharusnya tidak ada rahasia di antara mereka? Bukankah seharusnya..."

"Setiap orang punya cara masing-masing untuk menghadapi masa lalunya, Mas. Danang mungkin belum siap. Atau mungkin dia tidak ingin membebani aku dengan masalahnya."

"Tapi bukankah justru dengan berbagi, beban menjadi lebih ringan? Bukankah dengan bercerita, luka menjadi lebih mudah disembuhkan? Bukankah dengan..."

"Mas Arman, kenapa kau bertanya seperti ini? Kenapa kau..."

Arman tersenyum. Senyum yang lembut, yang hangat, yang tidak mencurigakan. "Aku hanya peduli, Mba. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Danang. Dan untuk Mbak Kirana. Aku hanya..."

Ia tidak melanjutkan. Ia hanya menghela napas lagi. Menghela napas panjang, penuh makna, penuh arti, penuh pesan tersirat.


"Apa kau tidak lelah, Mba? Menunggu Danang yang selalu sibuk? Menunggu Danang yang tidak pernah punya waktu untukmu? Menunggu Danang yang selalu memprioritaskan pekerjaan daripada kebahagiaanmu?"

Kirana terdiam.

Pertanyaan itu menusuk hatinya.

Pertanyaan itu membuka luka yang selama ini ia pendam.

Pertanyaan itu mengingatkannya pada malam-malam yang ia lewati sendirian, menunggu Danang yang lembur di percetakan, menunggu Danang yang bekerja di dermaga, menunggu Danang yang tidak pernah punya waktu untuknya.

"Danang bekerja untuk masa depan kita, Mas. Dia ingin memberikan yang terbaik untukku. Dia ingin..."

"Tapi apa kau bahagia, Mba? Apa kau bahagia menunggu? Apa kau bahagia sendirian? Apa kau bahagia..."

"Mas Arman, tolong..."

"Maaf, Mba. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya..."

Arman tidak melanjutkan. Ia hanya meraih tangan Kirana. Tangannya yang hangat, yang lembut, yang tidak kasar seperti tangan Danang, menggenggam tangan Kirana yang dingin.

Kirana terkejut. Ia menarik tangannya. Cepat. Keras. "Mas Arman, jangan..."

"Maaf, Mba. Aku tidak bermaksud. Aku hanya..."

Arman tersenyum. Senyum yang lembut, yang hangat, yang tidak mencurigakan. Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum puas. Ia tahu bahwa ia telah berhasil. Ia tahu bahwa ia telah menanam keraguan di hati Kirana. Ia tahu bahwa Kirana mulai mempertanyakan hubungannya dengan Danang.

"Selamat tinggal, Mba. Sampai jumpa besok."

Arman pergi.

Meninggalkan Kirana yang bingung.

Meninggalkan Kirana yang gelisah.

Meninggalkan Kirana yang mulai meragukan cintanya pada Danang.


"Kirana, kau kenapa akhir-akhir ini?" tanya Danang suatu malam, ketika mereka duduk di tepi sungai kecil di belakang kota. "Kau jadi pendiam. Kau jadi jauh. Kau jadi..."

Kirana tidak menjawab. Ia hanya memandang sungai yang keruh, memandang air yang mengalir lambat, memandang sampah-sampah plastik yang tersangkut di bebatuan.

"Danang, apa kita bahagia?" tanyanya akhirnya.

Danang mengernyit. "Maksudmu?"

"Apa kita bahagia? Apa kau bahagia denganku? Apa aku bahagia denganmu? Apa kita..."

"Kirana, apa yang terjadi? Kenapa kau bertanya seperti ini?"

Kirana menghela napas. "Aku hanya... aku hanya berpikir. Apa hubungan kita akan bertahan? Apa cinta kita cukup kuat? Apa kita..."

"Cinta kita cukup kuat, Kirana. Aku yakin. Kau juga harus yakin."

"Tapi kadang yakin tidak cukup, Danang. Kadang cinta tidak cukup. Kadang..."

"Kirana, tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa ada yang mengganggumu? Apa ada yang..."

"Tidak ada, Danang. Tidak ada yang menggangguku. Aku hanya... aku hanya lelah. Aku hanya butuh istirahat. Aku hanya..."

Kirana tidak melanjutkan. Ia hanya menunduk. Menangis. Menangis dalam diam.

Danang memeluknya.

Ia memeluk Kirana erat-erat.

Seperti tidak ingin melepaskan.

Seperti takut kehilangan.

Seperti takut Kirana akan pergi.

"Kirana, aku akan membahagiakanmu. Aku janji. Aku akan bekerja keras. Aku akan sekolah. Aku akan menjadi seseorang. Aku akan..."

"Danang, cukup. Aku tidak butuh semua itu. Aku hanya butuh kau. Aku hanya butuh kau di sampingku. Aku hanya butuh..."

"Tapi aku tidak bisa memberikan apa-apa sekarang, Kirana. Aku miskin. Aku tidak punya pendidikan. Aku tidak punya masa depan. Aku..."

"Aku tidak butuh harta, Danang. Aku tidak butuh pendidikan. Aku tidak butuh masa depan. Aku hanya butuh kau. Aku hanya butuh cintamu. Aku hanya butuh..."

"Tapi ibumu..."

"Aku akan bicara dengan ibuku. Aku akan meyakinkan dia. Aku akan..."

"Dan Surya..."

"Surya tidak ada apa-apanya. Aku tidak peduli dengan Surya. Aku hanya peduli dengan kau. Aku hanya peduli dengan kita."

Mereka berpelukan di tepi sungai yang keruh, di bawah langit yang gelap tanpa bintang, di tengah angin yang dingin menusuk tulang.

Mereka tidak tahu bahwa benih yang ditanam Arman telah tumbuh.

Bahwa keraguan telah bersarang di hati Kirana.

Bahwa cinta mereka mulai retak.

Bahwa retakan itu akan semakin lebar.

Bahwa suatu hari nanti, retakan itu akan menjadi jurang yang tidak bisa diseberangi.

Bab 18

Surya Menawarkan Kehancuran

Sementara itu, di tempat lain, di sisi kota yang berbeda, Surya Baskara sedang merencanakan sesuatu.

Bukan rencana biasa. Bukan rencana untuk memperluas bisnis keluarganya. Bukan rencana untuk membuka cabang restoran baru. Bukan rencana untuk membeli mobil mewah atau rumah megah. Bukan rencana untuk liburan ke luar negeri atau membeli perhiasan mahal untuk perempuan simpanannya.

Rencana yang lebih gelap.

Rencana yang lebih kejam.

Rencana yang lebih berbahaya.

Rencana untuk menghancurkan Danang.

Bukan karena ia benci pada Danang. Bukan karena ia dendam pada Danang karena tamparan di halaman sekolah dulu. Bukan karena ia iri pada Danang karena Danang memiliki Kirana. Bukan karena ia masih menyimpan sakit hati karena tuduhan kebakaran gudang yang tidak pernah terbukti.

Tapi karena ia bisa.

Karena ia punya uang.

Karena ia punya kekuasaan.

Karena ia punya koneksi.

Karena ia terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan.

Karena ia tidak pernah belajar bahwa tidak semua hal bisa dibeli dengan uang.

Surya sekarang berusia delapan belas tahun. Ia sudah lulus dari SMA swasta terbaik di Purwokerto, dengan nilai yang biasa-biasa saja, tetapi itu tidak penting karena ayahnya sudah menyiapkan posisi untuknya di perusahaan keluarga. Ia akan menjadi direktur suatu hari nanti. Ia akan mewarisi seluruh kekayaan ayahnya. Ia akan menjadi pengusaha sukses tanpa perlu bekerja keras, tanpa perlu berpendidikan tinggi, tanpa perlu menjadi orang baik.

Ia sudah memiliki segalanya. Uang. Mobil. Rumah. Perempuan. Kekuasaan. Nama baik. Status. Segalanya.

Tapi ia masih belum puas.

Ia masih menyimpan dendam pada Danang.

Dendam yang sudah bertahun-tahun ia pendam.

Dendam yang tidak pernah ia lupakan.

Dendam yang terus ia pelihara, seperti api yang dijaga agar tidak padam, seperti tanaman yang disiram setiap hari agar tetap hidup.

"Danang Wiratama," bisiknya suatu malam, sambil duduk di ruang kerjanya yang mewah, di kursi kulit hitam yang empuk, di belakang meja kayu jati yang besar. Di tangannya, segelas wiski mahal dari Skotlandia, berwarna keemasan, dengan es batu yang berbunyi klinking setiap kali ia menggoyangkan gelas. "Kau pikir kau bisa lolos dari masa lalu? Kau pikir kau bisa hidup bahagia dengan Kirana? Kau pikir kau bisa melupakan semua yang terjadi? Tidak, Danang. Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia. Aku tidak akan membiarkanmu melupakan. Aku akan membuatmu menderita. Aku akan membuatmu menyesal. Aku akan..."

Ia tidak melanjutkan. Ia hanya tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang penuh dengan rencana. Senyum yang seperti ular yang siap menerkam.


Suatu malam, di sebuah kedai gelap di pinggir kota, Surya menemui Arman.

Kedai itu terletak di gang sempit di belakang pasar, tersembunyi di antara toko-toko lain yang sama usangnya. Tidak ada papan nama. Tidak ada lampu terang. Hanya satu bola lampu 5 watt yang menggantung di langit-langit, memberikan cahaya yang redup, yang membuat segala sesuatu terlihat seperti mimpi buruk.

Dinding kedai itu terbuat dari papan kayu yang sudah lapuk, dengan cat yang mengelupas di sana-sini. Lantainya tanah, becek, bau arak dan rokok dan keringat bercampur menjadi satu bau yang menyengat. Meja-meja kayu yang dipakai pelanggan sudah tua, penuh dengan goresan dan noda minuman, kakinya tidak rata, ada yang dialasi batu bata, ada yang hanya dibiarkan goyang.

Pelanggannya adalah orang-orang pinggiran. Pekerja kasar. Kuli angkut. Pengangguran. Preman. Perempuan-perempuan malam dengan riasan tebal dan pakaian seksi. Orang-orang yang tidak punya apa-apa, yang tidak punya masa depan, yang tidak punya harapan.

Tempat yang tidak pernah dikunjungi orang-orang baik. Tempat yang tidak pernah dimasuki oleh orang-orang seperti Surya. Tapi malam itu, Surya ada di sana. Duduk di sudut ruangan yang paling gelap, dengan jas mahalnya yang menyala di antara kegelapan, dengan jam tangan Rolex yang berkilauan setiap kali terkena cahaya, dengan sepatu kulit Italia yang mengkilap.

Ia memesan minuman. Arak. Minuman keras yang murah, yang rasanya menyengat di tenggorokan, yang baunya seperti obat, yang membuat orang mabuk dengan cepat. Ia tidak meminumnya. Ia hanya memegang gelas itu, memutar-mutarnya di antara jari-jarinya, menikmati aroma yang tidak enak itu.

"Kau datang," kata Surya ketika Arman masuk ke kedai. Arman mengenakan jaket lusuh dan celana jeans belel, wajahnya pucat, matanya sayu. Ia duduk di hadapan Surya, di kursi kayu yang goyang, di meja yang penuh dengan noda minuman.

"Apa yang kau mau, Surya?" tanya Arman, suaranya datar, tidak bersemangat. "Kenapa kau minta aku datang ke tempat ini? Tempat gelap. Tempat kotor. Tempat..."

"Aku punya tawaran untukmu, Arman."

"Tawaran apa?"

Surya tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang penuh dengan rencana. Senyum yang seperti ular yang siap menerkam. "Kau mencintai Kirana, bukan?"

Arman terkejut. Matanya membesar. Wajahnya memerah. "Apa... apa maksudmu? Aku tidak..."

"Jangan bohong, Arman. Aku bisa melihatnya dari matamu. Aku bisa mendengarnya dari caramu bicara tentang dia. Aku bisa merasakannya dari caramu..."

"Bagaimana kau tahu?"

Surya tertawa kecil. Tawa yang dingin. Tawa yang tidak lucu. "Aku punya banyak mata di kota ini, Arman. Aku punya banyak informan. Aku tahu banyak hal. Termasuk perasaanmu pada Kirana. Termasuk usahamu untuk mendekatinya. Termasuk kegagalanmu untuk merebutnya dari Danang."

Arman menunduk. Ia tidak bisa membantah. Ia tahu Surya benar. Ia tahu Surya tahu segalanya. Ia tahu Surya sudah mengawasinya.

"Aku bisa membantumu, Arman," kata Surya, suaranya pelan, seperti bisikan, tetapi penuh dengan janji. "Aku bisa membantu merebut Kirana dari Danang. Aku bisa membantu menghancurkan hubungan mereka. Aku bisa membantu..."

"Kenapa kau mau membantu aku? Apa untungnya bagi kau?"

Surya tersenyum lagi. Senyum yang sama. Senyum yang dingin. Senyum yang penuh dengan rencana. "Aku juga punya dendam pada Danang, Arman. Dendam lama. Dendam yang belum selesai. Aku ingin melihatnya hancur. Aku ingin melihatnya menderita. Aku ingin melihatnya kehilangan segalanya. Termasuk Kirana."

Arman terdiam.

Ia memikirkan tawaran Surya.

Tawaran yang berbahaya.

Tawaran yang bisa menghancurkan persahabatannya dengan Danang.

Tawaran yang bisa menghancurkan cintanya pada Kirana.

Tawaran yang bisa menghancurkan dirinya sendiri.

Tapi ia juga memikirkan Kirana.

Kirana yang cantik.

Kirana yang baik.

Kirana yang lembut.

Kirana yang selalu tersenyum padanya.

Kirana yang selalu berterima kasih padanya.

Kirana yang selalu menerima pisang goreng darinya.

Kirana yang selalu...

"Baik," kata Arman akhirnya, suaranya tegas, penuh keyakinan. "Aku setuju. Aku akan bekerja sama denganmu. Apa yang harus aku lakukan?"

Surya tersenyum puas.

Ia mengambil sesuatu dari sakunya.

Sebuah amplop coklat.

Amplop yang sama.

Amplop yang berisi surat tanpa nama.

Amplop yang pernah ia letakkan di bawah pintu rumah Kirana.

"Ini," kata Surya, menyerahkan amplop itu pada Arman. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan."

Arman mengambil amplop itu.

Tangannya gemetar.

Ia tahu isinya.

Ia tahu konsekuensinya.

Ia tahu bahwa setelah ini, tidak ada yang bisa kembali.

"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Arman.

Surya mengangguk. "Percayalah. Aku sudah merencanakan semuanya. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah menghitung semua kemungkinan. Ini akan berhasil. Kirana akan meninggalkan Danang. Danang akan hancur. Dan kau akan mendapatkan Kirana."

"Tapi bagaimana dengan Danang? Dia sahabatku. Dia..."

"Kau sudah memilih, Arman. Kau sudah memutuskan. Kau sudah berkomitmen. Tidak ada jalan mundur. Sekarang kau harus maju. Apapun risikonya. Apapun konsekuensinya."

Arman menghela napas.

Ia memasukkan amplop itu ke dalam sakunya.

Ia berdiri.

"Baik. Aku akan lakukan."

Ia berbalik.

Berjalan meninggalkan kedai.

Meninggalkan Surya yang tersenyum puas.

Meninggalkan Danang yang tidak tahu apa-apa.

Meninggalkan Kirana yang akan segera hancur.

Meninggalkan persahabatan yang akan segera berakhir.

Meninggalkan cinta yang akan segera mati.


Surya tetap duduk di kedai itu.

Ia memanggil pelayan. Memesan arak lagi. Menuangkannya ke dalam gelas. Meminumnya dalam satu tegukan. Arak itu panas di tenggorokannya, membakar kerongkongannya, membuat matanya berair.

Ia tersenyum.

Senyum kemenangan.

Senyum yang mengatakan bahwa ia menang.

Senyum yang mengatakan bahwa Danang akan hancur.

Senyum yang mengatakan bahwa dendamnya akan terbalas.

"Selamat malam, Danang," bisiknya. "Selamat malam, Kirana. Selamat malam, Arman. Semoga kalian bahagia. Karena kebahagiaan kalian tidak akan lama lagi. Aku akan pastikan itu."

Ia berdiri.

Ia membayar minumannya.

Ia berjalan ke luar.

Mobil mewahnya menunggu di depan.

Supir pribadinya membukakan pintu.

Ia masuk ke dalam mobil.

Duduk di kursi kulit yang empuk.

Mobil itu melaju pelan meninggalkan gang sempit.

Meninggalkan kedai gelap.

Meninggalkan Arman yang sudah pergi.

Meninggalkan Danang yang tidak tahu apa-apa.

Meninggalkan Kirana yang akan segera menerima surat palsu.

Bab 19

Malam Surat Palsu

Tiga hari setelah pertemuan di kedai gelap, setelah Arman menerima amplop coklat dari Surya, setelah ia berkomitmen untuk menghancurkan kebahagiaan sahabatnya sendiri, Kirana menerima surat.

Surat itu diletakkan di bawah pintu rumahnya, sama seperti surat sebelumnya. Amplop coklat. Ukuran sedang. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Kertasnya tebal, berkualitas baik, tidak seperti amplop murahan yang biasa dijual di warung-warung. Di bagian depan amplop, tertulis namanya: "Kirana Prameswari". Tulisan tangan rapi, huruf kapital semua, seperti orang yang sengaja menyamarkan tulisannya.

Tidak ada cap pos. Tidak ada perangko. Tidak ada alamat pengirim. Tidak ada identitas apa pun. Hanya namanya. Hanya amplop coklat. Hanya rahasia yang akan menghancurkan cintanya.

Kirana menemukan surat itu ketika ia hendak pergi ke toko buku, pagi-pagi buta sebelum matahari terbit, ketika kabut masih menutupi desa, ketika udara masih dingin menusuk tulang. Ia membuka pintu depan, berniat mengambil koran yang biasanya diantar oleh tukang koran setiap pukul lima pagi. Tapi koran itu tidak ada. Yang ada hanyalah amplop coklat, tergeletak di lantai teras, di antara pot-pot bunga yang mulai layu karena jarang disiram.

Ia membeku sejenak.

Jantungnya berdegup kencang.

Dadanya terasa sesak.

Tangannya gemetar.

Ia tahu surat ini.

Ia pernah menerima surat seperti ini.

Surat tanpa nama.

Surat tanpa pengirim.

Surat yang berisi ancaman.

Surat yang berisi peringatan.

Surat yang berisi kebencian.

"JANGAN ULANGI KESALAHAN MASA LALU. ANAK LE LAKI MISKIN ITU TIDAK AKAN PERNAH PANTAS UNTUKMU."

Itu isi surat pertama.

Surat yang membuatnya takut.

Surat yang membuatnya gelisah.

Surat yang membuatnya meragukan cintanya pada Danang.

Dan sekarang, surat kedua datang.

Apa isinya?

Ancaman lagi?

Peringatan lagi?

Kebencian lagi?

Atau sesuatu yang lebih buruk?

Sesuatu yang lebih kejam?

Sesuatu yang akan menghancurkannya?

Ia memungut amplop itu.

Tangannya gemetar.

Ia membawanya masuk ke dalam rumah.

Berjalan ke kamarnya.

Menutup pintu.

Duduk di ranjang.

Membuka amplop itu perlahan.

Jari-jarinya yang lentik dan putih, yang biasa memegang buku-buku dengan hati-hati, yang biasa membalik halaman-halaman dengan lembut, kini gemetar seperti daun yang ditiup angin, seperti orang yang ketakutan, seperti orang yang tahu bahwa hidupnya akan berubah setelah membaca surat ini.

Ia merobek amplop itu.

Perlahan.

Hati-hati.

Seperti sedang membuka peti mati.

Seperti sedang membuka luka lama.

Seperti sedang membuka pintu menuju neraka.

Kertas di dalamnya tipis, murah, seperti kertas yang biasa dijual di warung-warung kecil, warna putih kusam dengan garis-garis biru tipis seperti buku tulis sekolah. Kertas itu dilipat menjadi dua, kemudian dilipat lagi menjadi empat, sehingga mudah dimasukkan ke dalam amplop.

Kirana membuka lipatan itu dengan hati-hati.

Jari-jarinya yang gemetar berusaha meratakan kertas yang sudah kusut karena terlipat terlalu lama.

Tulisan di dalamnya rapi.

Huruf kapital semua.

Sama seperti surat pertama.

Tapi ada yang berbeda.

Tulisan ini lebih rapi.

Lebih terlatih.

Lebih seperti tulisan orang yang terbiasa menulis.

Dan yang lebih penting, tulisan ini mirip dengan tulisan Danang.

Sangat mirip.

Sama persis.

Sampai-sampai Kirana yang sudah mengenal tulisan Danang sejak kecil, yang sudah hafal setiap lengkungan hurufnya, yang sudah tahu persis bagaimana Danang menulis huruf "D" dengan lingkaran yang tidak sempurna, bagaimana Danang menulis huruf "a" dengan ekor yang terlalu panjang, bagaimana Danang menulis huruf "n" dengan garis yang putus di tengah, tidak bisa membedakannya.

Matanya membesar.

Mulutnya terbuka.

Napasnya terhenti.

Isi surat itu pendek. Hanya beberapa baris. Tetapi setiap kata terasa seperti pisau, seperti belati, seperti racun yang menyebar perlahan di dalam tubuhnya.

"KIRANA, AKU CAPEK. AKU CAPEK BERJUANG. AKU CAPEK MELAWAN. AKU CAPEK MENUNGGU. AKU CAPEK MENGHARAP. MUNGKIN KITA MEMANG TIDAK DITAKDIRKAN BERSAMA. MUNGKIN DARI AWAL KITA MEMANG HANYA KENANGAN. MAAF. DANANG."

Kirana membaca surat itu sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Sepuluh kali.

Dua puluh kali.

Seratus kali.

Berharap bahwa jika ia baca cukup sering, kata-kata itu akan berubah.

Berharap bahwa ini hanya mimpi buruk.

Berharap bahwa ada kesalahan.

Berharap bahwa surat ini bukan dari Danang.

Berharap bahwa Danang tidak mungkin menulis surat seperti ini.

Berharap bahwa Danang tidak mungkin meninggalkannya.

Tapi tidak.

Kata-katanya tetap sama.

Tetap tajam.

Tetap menyakitkan.

Tetap menghancurkan.

"MUNGKIN KITA MEMANG TIDAK DITAKDIRKAN BERSAMA."

"MUNGKIN DARI AWAL KITA MEMANG HANYA KENANGAN."

"MAAF."

"Danang."

Surat itu jatuh dari tangannya.

Jatuh ke lantai.

Jatuh ke karpet wol berwarna krem yang tebal dan empuk.

Jatuh di antara kaki ranjang dan lemari.

Kirana tidak memungutnya.

Ia hanya duduk di ranjang.

Memandang kosong ke depan.

Memandang tembok yang putih.

Memandang jendela yang terbuka.

Memandang langit yang mulai cerah.

Matanya kosong.

Pikirannya kosong.

Hatinya kosong.

Tidak ada tangis.

Tidak ada air mata.

Tidak ada isakan.

Hanya kekosongan.

Kekosongan yang lebih menakutkan daripada amarah apa pun.

Kekosongan yang seperti lubang hitam di angkasa.

Kekosongan yang seperti kematian.

"Danang," bisiknya, suaranya pelan, hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari alam lain, seperti suara dari dunia yang berbeda. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau..."

Ia tidak melanjutkan.

Ia tidak bisa melanjutkan.

Ia hanya duduk.

Duduk di ranjang.

Memandang kosong.

Berjam-jam.

Sampai matahari meninggi.

Sampai ibunya mengetuk pintu.

Sampai pembantunya memanggil untuk sarapan.

Sampai dunia di luar tetap berputar.

Sampai ia sadar bahwa Danang benar-benar meninggalkannya.


Malam itu, Kirana tidak pergi ke toko buku.

Ia tidak pergi ke mana pun.

Ia hanya duduk di kamarnya.

Memandang surat itu.

Membacanya berulang-ulang.

Berharap ada penjelasan.

Berharap ada maaf.

Berharap ada "aku bercanda".

Tapi tidak ada.

Hanya kata-kata itu.

Kata-kata yang menghancurkan.

Kata-kata yang mengakhiri segalanya.

"Kirana, buka pintu! Ibu bawakan makan malam!" suara Nyonya Dewi dari luar pintu.

"Tidak usah, Bu. Aku tidak lapar."

"Kau belum makan sejak pagi. Kau harus makan. Kau bisa sakit."

"Tidak usah, Bu. Aku tidak mau makan. Aku hanya ingin sendiri."

Nyonya Dewi menghela napas.

Ia meletakkan nampan berisi makanan di depan pintu.

Berbalik.

Berjalan menjauh.

Meninggalkan Kirana sendirian dengan surat itu.

Sendirian dengan rasa sakit.

Sendirian dengan kehancuran.


Sementara itu, di tempat lain, di kamar kosnya yang sempit, Danang tidak tahu apa-apa.

Ia bekerja seperti biasa.

Ia menyusun huruf-huruf timah.

Ia mengangkat kertas-kertas berat.

Ia membersihkan mesin-mesin tua.

Ia mengantar pesanan ke pelanggan.

Ia makan nasi bungkus di warung.

Ia pulang ke kos.

Ia mandi.

Ia tidur.

Ia tidak tahu bahwa Kirana sedang menangis.

Ia tidak tahu bahwa surat palsu telah menghancurkan cinta mereka.

Ia tidak tahu bahwa sahabatnya telah mengkhianatinya.

Ia tidak tahu bahwa Surya telah berhasil.

Ia tidak tahu bahwa dunianya akan segera runtuh.

"Danang, kau kenapa melamun?" tanya Pak Suryanto dari belakang.

Danang tersentak. "Eh... tidak, Pak. Aku hanya... aku hanya berpikir tentang Kirana."

"Kirana? Ada apa dengan Kirana?"

"Aku tidak tahu, Pak. Aku tidak bisa menghubunginya. Telepon di toko buku tidak diangkat. Aku mampir ke rumahnya, tapi pembantunya bilang Kirana tidak mau bertemu siapa pun. Aku bingung. Aku khawatir."

Pak Suryanto menghela napas. "Mungkin Kirana sedang sakit, Nak. Atau sedang ada masalah. Beri dia waktu. Nanti dia akan hubungi kau."

"Tapi Pak, aku..."

"Bersabar, Nak. Cinta butuh kesabaran. Cinta butuh pengertian. Cinta butuh..."

"Aku tahu, Pak. Tapi aku..."

"Percaya pada Kirana, Nak. Dia perempuan baik. Dia tidak akan meninggalkan kau begitu saja."

Danang mengangguk.

Ia kembali bekerja.

Tapi pikirannya tetap pada Kirana.

Pada senyumnya.

Pada tawanya.

Pada matanya yang coklat kehijauan.

Pada janji mereka.

Pada cinta mereka.

Ia tidak tahu bahwa janji itu akan segera berakhir.

Bahwa cinta itu akan segera mati.

Bahwa Kirana akan segera pergi dari hidupnya.

Bab 20

Hujan yang Memisahkan

Dua hari setelah surat palsu itu diterima Kirana, Danang datang ke rumahnya.

Hujan turun deras malam itu. Bukan hujan biasa. Bukan hujan gerimis yang pelan dan sayu. Bukan hujan sore yang mengguyur sebentar lalu reda. Ini hujan yang turun dengan kemarahan, dengan amarah, dengan keputusasaan. Seperti langit sedang melampiaskan semua yang selama ini ia pendam. Seperti Tuhan sedang menangis dan tidak peduli siapa yang basah.

Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa, butir-butirnya besar dan keras, menghantam atap-atap rumah dengan suara seperti ribuan genderang yang ditabuh bersamaan. Angin bertiup kencang, menderu di antara celah-celah dinding, membuat pohon-pohon di halaman bergoyang liar, membuat ranting-ranting patah dan jatuh ke tanah. Sesekali kilat menyambar di kejauhan, diikuti gemuruh yang mengguncang tanah, yang membuat jendela-jendela bergetar, yang membuat orang-orang yang masih terjaga melompat kaget.

Danang berdiri di depan pagar rumah Kirana, basah kuyup. Tubuhnya yang kekar dan berotot, yang terbiasa dengan kerja keras dan hujan dan panas, menggigil kedinginan. Rambutnya yang ikal dan tidak pernah rapi, basah menempel di dahi, di pipi, di leher. Air mengalir dari ujung rambutnya, jatuh ke bahunya, ke bajunya, ke tanah. Bajunya yang tipis dan lusuh basah, menempel di kulitnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kurus tetapi berotot.

Sepatu bolongnya basah, penuh lumpur. Kaus kakinya basah, dingin, tidak nyaman. Tapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah Kirana. Yang ia pedulikan hanyalah menjenguk Kirana. Yang ia pedulikan hanyalah memastikan bahwa Kirana baik-baik saja.

"Kirana!" teriaknya dari depan pagar, suaranya nyaris tak terdengar di tengah derasnya hujan dan kencangnya angin. "Kirana, buka pintu! Aku Danang!"

Tidak ada jawaban.

"Kirana! Aku tahu kau di dalam! Buka pintu! Kita bicara!"

Masih tidak ada jawaban.

Danang membuka pagar besi hitam yang tinggi. Pagar itu berat, berkarat di beberapa tempat, tetapi ia mendorongnya dengan kuat. Ia berjalan melewati halaman yang basah, melewati rumput yang becek, melewati genangan air yang menggenang di mana-mana. Air hujan setinggi mata kakinya, dingin, lumpur, membuat langkahnya berat.

Ia menaiki tangga menuju teras rumah. Tangga marmer putih yang licin karena air hujan, membuatnya hampir jatuh beberapa kali, tetapi ia berpegangan pada pegangan besi yang dingin dan basah. Ia sampai di depan pintu utama, pintu kayu jati besar dengan ukiran-ukiran rumit yang menggambarkan bunga-bunga dan daun-daun dan hewan-hewan mitologi.

Ia mengetuk pintu.

Keras.

"Kirana! Buka pintu! Aku tahu kau di dalam! Aku mau bicara denganmu!"

Pintu terbuka.

Bukan Kirana.

Pembantu rumah tangga, Yati, perempuan muda dengan wajah cemberut dan celemek kotor, berdiri di ambang pintu. Matanya menatap Danang dengan sinis, dengan tidak suka, dengan kebencian.

"Mbak Kirana tidak mau bertemu siapa pun, Mas. Pulanglah. Basah-basah. Nanti sakit."

"Yati, tolong. Aku harus bicara dengan Kirana. Ini penting. Tolong panggilkan dia."

"Tidak bisa, Mas. Mbak Kirana sudah bilang. Dia tidak mau bertemu siapa pun. Khususnya Mas Danang."

Danang terdiam.

Kata-kata itu menusuk hatinya.

Kata-kata itu seperti pisau.

Kata-kata itu seperti belati.

Kata-kata itu seperti racun.

"Yati, tolong..."

"Pulanglah, Mas. Mbak Kirana tidak mau melihat Mas. Mbak Kirana sudah muak dengan Mas. Mbak Kirana sudah..."

"Yati, cukup!"

Suara Kirana dari dalam.

Yati menyingkir.

Kirana muncul di balik pintu.

Wajahnya pucat.

Matanya merah, bengkak, seperti habis menangis berjam-jam.

Rambutnya kusut, tidak disisir.

Bajunya kusut, tidak berganti sejak kemarin.

Ia memegang sesuatu di tangannya.

Surat itu.

Surat palsu.

Surat yang ditulis Arman.

Surat yang menghancurkan hatinya.

"Kau mau bicara, Danang?" suara Kirana dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari air hujan. Lebih dingin dari angin malam. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada cinta. Tidak ada kasih sayang. Hanya dingin. Hanya kebencian. Hanya kekecewaan.

"Kirana, apa yang terjadi? Kenapa kau tidak mengangkat telepon? Kenapa kau tidak mau bertemu aku? Kenapa kau..."

"Kau bertanya apa yang terjadi, Danang?" Kirana mengangkat surat itu, mengibas-ngibaskannya di depan wajah Danang. "Ini yang terjadi. Surat ini. Surat dari kau. Surat yang mengatakan bahwa kau capek. Surat yang mengatakan bahwa kau menyerah. Surat yang mengatakan bahwa kita hanya kenangan."

Danang mengernyit. Ia meraih surat itu, membacanya. Sekali. Dua kali. Wajahnya berubah. Dari bingung menjadi marah. Dari marah menjadi takut. Dari takut menjadi putus asa.

"Kirana, aku tidak pernah menulis surat ini," katanya, suaranya tegas, yakin, tidak ada keraguan. "Aku tidak pernah menulis surat seperti ini. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku capek. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku menyerah. Aku tidak pernah mengatakan bahwa kita hanya kenangan. Aku tidak pernah..."

"Jangan bohong, Danang!" potong Kirana, suaranya keras, tajam, seperti pisau. Matanya menyala, bukan dengan cinta, tetapi dengan amarah. "Aku tahu tulisan kau! Aku hafal tulisan kau! Aku sudah mengenal tulisan kau sejak kita kecil! Ini tulisan kau! Tidak mungkin orang lain yang menulis!"

"Kirana, aku tidak..."

"Kau selalu bilang kau mencintaiku. Kau selalu bilang kau tidak akan meninggalkanku. Kau selalu bilang kita akan bersama selamanya. Tapi lihat kenyataannya, Danang! Kau menulis surat ini! Kau mengatakan bahwa kau capek! Kau mengatakan bahwa kau menyerah! Kau mengatakan bahwa kita hanya kenangan!"

"Kirana, aku tidak pernah menulis surat itu! Aku bersumpah! Aku tidak pernah!"

"Jangan sumpah, Danang! Sumpah tidak akan mengubah apa pun! Surat ini sudah cukup! Aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun! Aku tidak mau melihat kau lagi! Aku tidak mau..."

Kirana menangis.

Ia tidak bisa melanjutkan.

Tangisnya pecah.

Ia menutup pintu.

Banting.

Keras.

Suara pintu tertutup terdengar seperti bunyi peti mati ditutup, seperti bunyi sesuatu yang berakhir, seperti bunyi jantung yang berhenti berdetak.

Danang berdiri di depan pintu.

Basah.

Kedinginan.

Hancur.

Ia mengetuk pintu lagi.

"Kirana! Buka pintu! Dengarkan aku! Aku tidak menulis surat itu! Aku tidak pernah! Seseorang memalsukan tulisanku! Seseorang ingin memisahkan kita! Kirana!"

Tidak ada jawaban.

Hanya suara hujan.

Hanya suara angin.

Hanya suara tangis Kirana dari dalam.

Danang mengetuk lagi.

Lebih keras.

"Kirana! Tolong buka pintu! Kita bicara baik-baik! Kita selesaikan masalah ini bersama! Aku tidak mau kehilangan kau! Kirana!"

Masih tidak ada jawaban.

Danang tidak menyerah.

Ia terus mengetuk.

Terus memanggil.

Terus berteriak.

Sampai tangannya sakit.

Sampai suaranya serak.

Sampai ia kehabisan tenaga.

Tapi Kirana tidak membuka pintu.

Ia hanya menangis di dalam.

Menangis sendirian.

Menangis dengan surat palsu di tangan.

Menangis dengan hati yang hancur.

Menangis dengan cinta yang mati.


Danang akhirnya berhenti.

Ia berdiri di depan pintu.

Basah.

Kedinginan.

Hancur.

Air matanya bercampur dengan air hujan.

Tidak ada yang membedakan.

Tidak ada yang tahu.

"Kirana," bisiknya, suaranya pelan, lembut, penuh dengan kesedihan. "Aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Sampai kapan pun. Sampai mati."

Ia berbalik.

Berjalan menjauh.

Menuruni tangga.

Melewati halaman.

Melewati pagar.

Meninggalkan rumah Kirana.

Meninggalkan cintanya.

Meninggalkan kebahagiaannya.

Meninggalkan masa depannya.

Di tengah hujan.

Di tengah malam.

Di tengah kesendirian.


Di dalam kamarnya, Kirana mendengar langkah kaki Danang yang menjauh.

Ia mendengar suara pagar yang dibuka dan ditutup.

Ia mendengar suara sepeda onthel yang dikayuh perlahan, meninggalkan rumahnya.

Ia menangis lebih keras.

Ia menyesali semuanya.

Ia menyesali surat itu.

Ia menyesali kemarahannya.

Ia menyesali kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya.

Ia menyesali pintu yang ia banting.

Ia menyesali semuanya.

Tapi ia tidak bisa memutar waktu.

Ia tidak bisa mengambil kembali kata-katanya.

Ia tidak bisa membuka pintu itu.

Ia hanya bisa menangis.

Menangis di atas ranjang.

Menangis dengan surat palsu di tangan.

Menangis dengan hati yang hancur.

Menangis dengan cinta yang mati.

"Danang," bisiknya, suaranya pelan, lembut, penuh dengan penyesalan. "Maafkan aku. Aku tidak tahu. Aku tidak berpikir. Aku hanya... aku hanya sakit. Aku hanya kecewa. Aku hanya..."

Ia tidak melanjutkan.

Ia hanya menangis.

Menangis sampai tertidur.

Menangis sampai pagi.

Menangis sampai tidak ada air mata yang tersisa.


Di tempat lain, di kamar kosnya yang sempit, Danang juga tidak bisa tidur.

Ia berbaring di ranjangnya, memandang langit-langit yang gelap, mendengar suara hujan yang masih deras, mendengar suara tetangga di sebelah kanan yang batuk-batuk, tetangga di sebelah kiri yang bertengkar, tetangga di atas yang memindahkan furnitur.

Ia memegang pita biru di tangannya.

Pita yang sudah hampir putih.

Pita yang kainnya sudah rapuh.

Pita yang menjadi satu-satunya kenangan dari Kirana.

"Kirana," bisiknya. "Aku tidak akan menyerah. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak menulis surat itu. Aku akan mencari tahu siapa yang memalsukan tulisanku. Aku akan menemukan orang yang ingin memisahkan kita. Aku akan..."

Ia tidak melanjutkan.

Ia hanya menangis.

Menangis di ranjang sempitnya.

Menangis di kamar kos yang dingin.

Menangis di tengah malam yang gelap.

Menangis karena kehilangan.

Menangis karena kebohongan.

Menangis karena pengkhianatan.


Di luar, hujan masih turun.

Tidak reda-reda.

Seperti langit ikut menangis.

Seperti alam ikut bersedih.

Seperti dunia ikut merasakan bahwa malam itu, dua insan yang saling mencintai berpisah.

Bukan karena takdir.

Bukan karena perbedaan status.

Bukan karena campur tangan orang tua.

Tapi karena surat palsu.

Tapi karena kebohongan.

Tapi karena pengkhianatan.

Tapi karena sahabat yang iri.

Tapi karena dendam yang tidak pernah padam.

"Selamat malam, Danang. Selamat malam, Kirana," bisik Arman dari kejauhan, dari balik kegelapan malam, dari balik hujan yang deras. "Semoga kalian bahagia. Karena kebahagiaan kalian tidak akan lama lagi. Aku akan pastikan itu."

Ia tersenyum.

Senyum yang dingin.

Senyum yang penuh dengan kemenangan.

Senyum yang mengatakan bahwa ia berhasil.

Senyum yang mengatakan bahwa Danang dan Kirana telah berpisah.

Senyum yang mengatakan bahwa ia akan segera mendapatkan Kirana.

"Kirana," bisiknya. "Kau akan menjadi milikku. Aku akan menjagamu. Aku akan mencintaimu. Aku akan membahagiakanmu. Tidak seperti Danang. Tidak seperti..."

Ia tidak melanjutkan.

Ia hanya tersenyum.

Tersenyum di tengah hujan.

Tersenyum di tengah malam.

Tersenyum di tengah kesendirian.

Tersenyum di atas kehancuran sahabatnya.

EPILOG

Langit yang Benar-Benar Retak

Beberapa hari setelah malam hujan itu, setelah pintu dibanting, setelah kata-kata pedas diucapkan, setelah air mata mengalir tanpa henti, Kirana pergi dari kota.

Bukan karena ia ingin pergi. Bukan karena ia sudah tidak mencintai Danang. Bukan karena ia memilih Arman. Tapi karena ia tidak kuat. Tapi karena ia tidak tega. Tapi karena ia tidak bisa melihat Danang lagi tanpa mengingat surat itu, tanpa mengingat kata-kata "aku capek", tanpa mengingat "kita hanya kenangan".

Ia pergi tanpa pamit.

Tanpa penjelasan.

Tanpa sepatah kata pun.

Ia hanya mengemas kopernya, meninggalkan surat untuk orang tuanya, lalu pergi ke stasiun, naik kereta, meninggalkan kota Purwokerto, meninggalkan Danang, meninggalkan Arman, meninggalkan semua kenangan.

Ia pergi ke Jakarta.

Bersama seorang teman yang membantunya mendapatkan pekerjaan di toko kain di Pasar Senen.

Ia memulai hidup baru.

Ia mencoba melupakan.

Ia mencoba move on.

Ia mencoba bahagia.

Tapi ia tidak bisa melupakan Danang.

Tidak peduli seberapa jauh ia pergi.

Tidak peduli seberapa lama waktu berlalu.

Tidak peduli seberapa banyak ia berusaha.

Danang tetap di hatinya.

Selamanya.


Danang datang ke toko buku suatu sore. Toko itu kosong. Rak-rak yang biasanya penuh dengan buku kini sunyi. Buku-buku sudah dipindahkan, mungkin dijual, mungkin disumbangkan, mungkin dibuang. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang peduli.

Pintu tertutup rapat. Gembok besar menggantung di pintu, seperti mulut yang terkunci rapat, seperti hati yang tertutup, seperti cinta yang mati.

Debu mulai turun di rak-rak kosong. Debu putih tipis yang terlihat seperti salju di musim kemarau, seperti abu di tempat kremasi, seperti sisa-sisa kehidupan yang telah berlalu.

Ia berdiri lama di depan tempat itu.

Tak marah.

Tak menangis.

Hanya kosong.

Kosong yang tidak bisa ia isi dengan apa pun.

Kosong yang membuatnya merasa seperti mayat hidup.

Kosong yang membuatnya bertanya-tanya apa gunanya terus hidup jika semua yang ia cintai selalu pergi.

"Kirana," bisiknya. "Kenapa kau pergi? Kenapa kau tidak bilang? Kenapa kau..."

Ia tidak melanjutkan.

Ia hanya berdiri.

Berdiri di depan toko buku yang kosong.

Berdiri di depan kenangan yang hancur.

Berdiri di depan cinta yang mati.


Arman datang dari belakang.

Berdiri beberapa langkah di belakang Danang.

Wajahnya pucat.

Matanya sayu.

Tangannya gemetar.

"Danang, aku turut berduka. Aku turut sedih. Aku turut..."

Danang tidak menoleh.

Ia sudah tahu.

Ia sudah tahu sejak lama.

Ia sudah tahu bahwa Arman yang menulis surat itu.

Ia sudah tahu bahwa Arman yang memalsukan tulisannya.

Ia sudah tahu bahwa Arman yang menghancurkan cintanya.

Ia sudah tahu bahwa Arman yang mengkhianatinya.

"Kenapa, Arman?" tanyanya, suaranya pelan, datar, tanpa emosi. "Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau hancurkan kebahagiaan aku dan Kirana? Kenapa kau..."

"Karena aku juga mencintainya, Danang."

Danang menoleh.

Matanya bertemu dengan mata Arman.

Mata yang dulu ramah.

Mata yang dulu hangat.

Mata yang dulu menjadi tempatnya berkeluh kesah.

Mata yang dulu menjadi sahabatnya.

Kini mata itu penuh dengan penyesalan.

Penuh dengan rasa bersalah.

Penuh dengan kehancuran.

"Kau sahabatku, Arman. Kau seperti kakak bagiku. Aku percaya padamu. Aku... kenapa kau tega melakukan ini padaku?"

Arman menunduk.

Air matanya jatuh.

Ia tidak bisa menjawab.

Ia hanya bisa menangis.

Menangis di hadapan Danang.

Menangis karena ia tahu bahwa ia telah menghancurkan persahabatan mereka.

Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa memperbaikinya.

Menangis karena ia tahu bahwa ia kehilangan segalanya.

"Maafkan aku, Danang," bisiknya. "Maafkan aku."

Danang tidak menjawab.

Ia hanya berbalik.

Berjalan menjauh.

Meninggalkan Arman.

Meninggalkan toko buku.

Meninggalkan kota.

Meninggalkan semua kenangan.

Meninggalkan semua luka.

Ia pergi ke tempat yang tidak dikenal siapa pun.

Memulai hidup baru.

Menjadi orang baru.

Melupakan masa lalu.

Tapi ia tidak bisa melupakan Kirana.

Tidak peduli seberapa jauh ia pergi.

Tidak peduli seberapa lama waktu berlalu.

Tidak peduli seberapa banyak ia berusaha.

Kirana tetap di hatinya.

Selamanya.

 

BERSAMBUNG KE JILID KETIGA ROMAN EPIK JEJEK WAKTU SENJA YANG MEMULANGKAN

 

0 komentar:

Posting Komentar