TRILOGI
ROMAN EPIK
JEJAK
WAKTU
JILID
KEDUA
Jejak
Waktu, Langit yang Mulai Retak
"Kadang
pengkhianatan terbesar bukan menghancurkan cinta, tetapi mencuri waktu yang
seharusnya menjadi milik dua orang."
Oleh: Slamet Riyadi
Prolog
Kota yang Menelan Langkah
Tahun 1985.
Tujuh tahun telah berlalu sejak Danang meninggalkan desa.
Tujuh tahun sejak ia berdiri di pinggir jalan desa yang sunyi, memegang pita
biru di tangan, menyaksikan mobil tua yang membawa Kirana menghilang di
tikungan. Tujuh tahun sejak ibunya meninggal di kursi bambu dengan senyum di
bibir. Tujuh tahun sejak Sastrowiryo pergi tanpa pamit, tanpa kabar, tanpa
jejak. Tujuh tahun sejak masa kecilnya berakhir di tepi Sungai Kapuas.
Danang sekarang berusia empat belas tahun. Ia tidak lagi
anak kecil kurus yang mudah ditindas oleh Surya. Waktu dan kerasnya kehidupan
di kota telah mengubahnya. Tubuhnya yang dulu kecil dan kurus, kini mulai
tumbuh tinggi. Bahunya mulai melebar, meskipun tidak sebidan Sastrowiryo.
Tangannya yang dulu mungil dan lembut, kini kasar, penuh kapalan, dengan bekas
luka kecil di sana-sini akibat pekerjaan kasar yang ia lakukan untuk bertahan
hidup.
Wajahnya yang dulu polos dan penuh rasa ingin tahu, kini
lebih tegas. Tulang pipinya yang dulu terlalu menonjol kini lebih proporsional
dengan wajahnya yang mulai dewasa. Rahangnya yang dulu masih bulat seperti
anak-anak, kini mulai membentuk garis yang lebih tegas, lebih maskulin. Matanya
yang dulu terlalu gelap dan terlalu dalam untuk anak seusianya, kini semakin
gelap, semakin dalam, seperti sumur yang tidak pernah mencapai dasar.
Tapi yang paling berubah adalah matanya. Matanya tidak lagi
penuh rasa ingin tahu seperti dulu. Tidak lagi berbinar-binar ketika melihat
sesuatu yang baru. Matanya kini lebih tenang, lebih waspada, lebih seperti
orang yang sudah terlalu sering dikecewakan oleh kehidupan. Matanya seperti air
danau yang gelap, yang permukaannya datar tetapi di dalamnya menyimpan
kedalaman yang tidak terlihat.
Danang tidak pernah kembali ke desa sejak kepergiannya. Ia
tidak tahu apa yang terjadi di sana. Ia tidak tahu apakah Surya masih tinggal
di desa itu. Ia tidak tahu apakah rumahnya masih berdiri atau sudah roboh
dimakan usia. Ia tidak tahu apakah tetangga-tetangganya masih mengingatnya,
masih membicarakannya, masih membisikkan aib keluarganya di setiap kesempatan.
Ia tidak ingin tahu.
Ia ingin melupakan.
Melupakan desa.
Melupakan sungai.
Melupakan pohon waru.
Melupakan rumah panggung dengan tiang kayu ulin yang mulai
lapuk.
Melupakan ibunya yang meninggal di kursi bambu.
Melupakan ayah tirinya yang pergi tanpa pamit.
Melupakan ayah kandungnya yang tidak pernah ia kenal.
Melupakan Kirana.
Tapi ia tidak bisa melupakan Kirana.
Pita biru itu masih ia simpan. Di dalam kotak kayu kecil
yang ia buat sendiri dari potongan kayu bekas. Kotak yang ia letakkan di dasar
kopernya, di antara baju-baju lusuh dan buku-buku bekas yang ia kumpulkan dari
pasar loak. Pita yang warnanya kini hampir putih, birunya hampir hilang
seluruhnya, hanya tersisa sedikit di serat-serat kain yang masih tersisa.
Ia tidak pernah membuka kotak itu. Tidak pernah. Sudah
bertahun-tahun ia tidak membukanya. Karena ia takut. Takut bahwa jika ia
membuka kotak itu, jika ia melihat pita itu lagi, jika ia mengingat Kirana
lagi, ia akan hancur. Ia akan teringat pada janji di tepi sungai. Ia akan
teringat pada genggaman tangan Kirana. Ia akan teringat pada kata-kata Kirana:
"Aku akan kembali."
Dan ia tidak bisa menunggu lagi.
Ia sudah lelah menunggu.
Kereta kayu tua berhenti perlahan di stasiun kecil pinggir
kota. Lokomotifnya mengeluarkan suara mendesis seperti naga yang kelelahan,
seperti raksasa yang menghembuskan napas terakhirnya setelah perjalanan panjang
yang melelahkan. Uap putih mengepul dari cerobong asap, membubung ke langit
pagi yang masih kelabu, membawa bau batu bara yang menyengat, bau yang sudah
sangat akrab di hidung Danang setelah bertahun-tahun naik turun kereta antar
kota.
Suara peluit panjang memecah pagi, seperti tangisan logam
yang memanggil pulang, seperti ratapan dari dunia lain yang tidak bisa
dimengerti manusia. Seorang kondektur tua dengan seragam coklat yang sudah
kusam dan lusuh, berteriak-teriak dari gerbong paling depan, memberitahu para
penumpang bahwa kereta akan berhenti di stasiun ini selama lima belas menit
sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.
"Stasiun Purwokerto! Stasiun Purwokerto! Kereta akan
berhenti selama lima belas menit! Penumpang yang turun di sini, segera turun!
Penumpang yang melanjutkan perjalanan, jangan kemana-mana!"
Orang-orang turun dengan tas lusuh dan wajah lelah. Ada
yang membawa karung beras di pundak, tubuh mereka membungkuk karena beban. Ada
yang membawa ayam hidup dalam keranjang bambu, ayam-ayam itu berkotek-kotek,
kepalanya mendongak-dongak, seperti sedang protes karena perjalanan yang terlalu
lama. Ada yang membawa bayi yang menangis karena kaget oleh suara kereta, suara
tangis bayi itu nyaring, menusuk telinga, mengganggu penumpang lain yang sudah
lelah.
Ada yang hanya membawa diri mereka sendiri, dengan koper
tua yang sudah tidak layak pakai, yang gagangnya terlepas, yang kulitnya
mengelupas, yang sudutnya bolong, tetapi masih mereka bawa karena itu
satu-satunya harta yang tersisa.
Di antara mereka, Danang Wiratama melangkah turun dengan
sebuah koper tua di tangan. Koper itu milik Sastrowiryo, atau mantan ayah
tirinya, atau seseorang yang pernah ia panggil "Bapak" selama
bertahun-tahun. Koper dari kulit sintetis berwarna coklat tua, dengan gesper
kuningan yang sudah berkarat, yang sulit dibuka karena karatnya sudah mengeras.
Di sudut kanan bawah, ada inisial "SW" yang sudah hampir hilang
karena gesekan, hanya terlihat seperti coretan tak berarti.
Usianya sekarang sembilan belas tahun. Lima tahun telah
berlalu sejak ia pertama kali meninggalkan desa. Lima tahun sejak ia menjadi
anak perantauan. Lima tahun sejak ia belajar bahwa hidup di kota tidak semudah
yang ia bayangkan. Lima tahun sejak ia belajar bahwa uang tidak mudah didapat,
bahwa pekerjaan tidak mudah dicari, bahwa manusia tidak selalu baik, bahwa
dunia tidak adil.
Lima tahun yang melelahkan. Lima tahun yang mengajarkannya
banyak hal. Lima tahun yang membentuknya menjadi lelaki yang sekarang berdiri
di peron stasiun ini, dengan koper tua di tangan, dengan wajah lelah, dengan
hati yang masih menyimpan luka lama.
Ia berdiri sejenak di peron, memandang kota yang asing di
hadapannya.
Ini bukan kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Ini
kota kecil di Jawa Tengah, dengan populasi yang tidak terlalu padat, dengan
hiruk-pikuk yang tidak terlalu membingungkan, dengan penduduk yang masih ramah
dan belum terlalu terpengaruh oleh modernisasi. Tapi bagi Danang, yang terbiasa
dengan desa yang hanya berpenduduk beberapa ratus orang, kota ini sudah terasa
sangat besar, sangat ramai, sangat menakutkan.
Lampu-lampu mulai menyala satu per satu di kejauhan,
meskipun hari masih pagi. Lampu neon yang berwarna putih kebiruan, yang
terangnya menyilaukan mata, sangat berbeda dengan lampu minyak yang redup dan
hangat yang biasa ia gunakan di desa. Lampu-lampu itu berkedip-kedip,
bergantian menyala dan mati, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
Suara kendaraan bercampur teriakan pedagang kaki lima yang
menawarkan makanan dan minuman. "Sate! Sate kambing muda! Masih
hangat!" "Gudeg! Gudeg khas Solo! Enak! Murah!" "Es dawet!
Es dawet segar! Pelepas dahaga!" "Kopi! Kopi hitam panas! Kopi tubruk
khas Jawa!"
Aroma kopi, asap rokok, knalpot, dan tanah basah bercampur
menjadi satu bau yang khas. Bau kota. Bau kehidupan yang berjalan terlalu
cepat. Bau yang membuat Danang merasa pusing, merasa sesak, merasa bahwa ia
tidak cocok di sini. Tapi ia tidak punya pilihan. Desa sudah tidak lagi menjadi
rumah. Desa hanya kenangan yang menyakitkan. Desa adalah tempat ia kehilangan
segalanya.
Kota terasa hidup. Terlalu hidup. Danang menarik napas
panjang. Udara kota berbeda dengan udara desa. Di desa, udara terasa bersih,
segar, membawa bau tanah dan daun-daun basah, bau yang menenangkan, yang
membuat ia merasa aman, yang membuat ia merasa bahwa dunia ini masih baik. Di
sini, udara terasa berat, penuh partikel debu dan asap, seperti sedang
menghirup sejarah ribuan orang yang lalu lalang di tempat yang sama, seperti
sedang menghirup keputusasaan ribuan orang yang datang ke kota dengan harapan
tetapi pulang dengan kekecewaan.
"Selamat datang di tempat orang kehilangan dirinya sendiri,"
kata sebuah suara dari belakangnya.
Danang menoleh.
Seorang pemuda sebaya berdiri sambil tersenyum. Rambutnya
sedikit panjang, tidak terlalu rapi, tidak terlalu berantakan, seperti rambut
orang yang tidak punya waktu untuk ke salon tetapi juga tidak mau terlihat
kusut. Kemejanya lengan pendek, warna biru muda, dengan kerah yang sedikit
kusut, digulung sampai siku, memperlihatkan lengan yang kecoklatan karena terik
matahari. Celananya kain, warna coklat muda, dengan lipatan setrika yang masih
terlihat di bagian depan, meskipun sudah mulai pudar karena sering dicuci.
Matanya tajam tetapi ramah, seperti mata orang yang sudah
terbiasa membaca karakter orang lain hanya dengan sekali lihat, seperti mata
pedagang yang sudah terbiasa menawar dan ditawar. Matanya bergerak cepat dari
ujung rambut Danang yang ikal dan tidak pernah rapi, ke kopernya yang tua dan
lusuh, ke sepatunya yang bolong di bagian jempol.
"Aku Arman," katanya sambil mengulurkan tangan.
Jabatannya kuat, tegas, seperti orang yang percaya diri, seperti orang yang
tidak takut pada siapa pun, seperti orang yang sudah terbiasa berjabat tangan
dengan orang asing. "Teman sepupu kau. Sepupuku, Budi, yang kerja di
percetakan itu. Dia bilang kau butuh pekerjaan. Dia bilang kau orangnya jujur.
Dia bilang kau bisa dipercaya."
Danang menyambut tangan itu. "Danang. Danang
Wiratama."
Arman tersenyum lebar. Senyum yang mudah, alami, seperti ia
tersenyum kepada semua orang, seperti ia tidak pernah punya masalah dengan
siapa pun, seperti ia tidak pernah menyimpan dendam atau kebencian.
"Danang Wiratama," ulangnya, seperti sedang mencicipi nama itu di
lidahnya. "Nama yang bagus. Nama Jawa. Berarti 'unggul' dan 'beriman', ya?
Orang tua kau pasti punya harapan besar padamu."
Danang tersenyum tipis. Ia tidak ingin membicarakan orang
tuanya. Ia tidak ingin membicarakan masa lalunya. Ia ingin memulai hidup baru
di kota ini. Ia ingin menjadi orang baru. Ia ingin melupakan semua yang terjadi
di desa.
"Aku dengar kau dari desa di tepi Sungai Kapuas,"
kata Arman, sambil berjalan di samping Danang menuju pintu keluar stasiun.
"Jauh sekali. Naik kereta berapa hari?"
"Tiga hari," jawab Danang singkat. "Naik
kereta api dari Pontianak ke Jakarta, terus dari Jakarta ke Purwokerto. Numpang
di stasiun. Tidur di bangku. Kadang tidak tidur sama sekali."
Arman mengangguk-angguk, seperti mengerti, meskipun ia
mungkin tidak benar-benar mengerti. Ia tumbuh di kota. Ia tidak pernah
mengalami perjalanan tiga hari dengan kereta kayu yang lambat, dengan tempat
duduk yang keras, dengan bau keringat dan asap rokok dan makanan basi yang
bercampur menjadi satu. Ia tidak pernah mengalami tidur di bangku stasiun
dengan koper sebagai bantal, dengan ketakutan bahwa kopernya akan dicuri,
dengan dingin yang menusuk tulang, dengan suara kereta yang datang dan pergi
sepanjang malam.
"Mulai hari ini, kau bukan anak sungai lagi,
Danang," kata Arman, sambil menepuk pundak Danang. Tepukan yang ramah,
seperti tepukan seorang kakak pada adiknya. "Mulai hari ini, kau anak
kota. Anak perantauan. Anak yang harus berjuang untuk hidup. Anak yang tidak
punya siapa-siapa selain dirinya sendiri."
Danang menoleh ke arah keramaian kota. Orang-orang berlalu
lalang dengan kecepatan yang membuatnya pusing. Becak, sepeda motor, mobil tua,
semua bergerak dalam ritme yang tidak bisa ia pahami. Pedagang kaki lima
berteriak-teriak menawarkan dagangan mereka. Ibu-ibu dengan keranjang belanja
di tangan, berjalan cepat, menghindari genangan air di jalan. Anak-anak sekolah
dengan seragam putih merah, berlarian, tertawa, mengejar satu sama lain.
Ia belum tahu.
Bahwa kota ini akan mempertemukannya kembali dengan masa
lalu yang paling ingin ia lupakan.
Bahwa di kota ini, ia akan menemukan Kirana.
Bahwa di kota ini, ia akan jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Bahwa di kota ini, ia akan kehilangan Kirana untuk kedua
kalinya.
Bahwa di kota ini, ia akan belajar bahwa pengkhianatan bisa
datang dari orang yang paling ia percayai.
Bahwa di kota ini, ia akan belajar bahwa cinta tidak selalu
cukup untuk membuat dua orang bersatu.
Bahwa di kota ini, ia akan belajar bahwa waktu, sejauh apa
pun kita berlari, pada akhirnya akan selalu menemukan cara untuk membuat kita
berhadapan dengan apa yang kita tinggalkan.
Bab 1
Lelaki
yang Membawa Pita Biru
Kamar kos Danang kecil. Sangat kecil. Hanya cukup untuk satu
ranjang sempit dengan kasur tipis yang sudah kempes di beberapa bagian, seperti
perut orang yang kelaparan. Sebuah meja kayu yang kakinya tidak rata sehingga
harus dialasi dengan potongan kardus di salah satu sisi agar tidak goyang
setiap kali ia menulis. Dan sebuah jendela kecil yang menghadap gang sempit,
yang hanya bisa terbuka setengah karena engselnya sudah berkarat, yang kacanya
buram karena debu dan kotoran yang menempel bertahun-tahun tidak dibersihkan.
Dinding kamar terbuat dari papan kayu tipis yang tidak
kedap suara. Danang bisa mendengar tetangga di sebelah kanan yang batuk
sepanjang malam, batuk kering yang mengganggu, yang membuat Danang sulit tidur.
Tetangga di sebelah kiri yang bertengkar setiap jam sembilan malam tepat,
seperti sudah dijadwalkan, seperti itu adalah rutinitas malam mereka. Suami
istri itu bertengkar tentang uang, tentang anak-anak, tentang mertua, tentang
segala hal yang bisa dipertengkarkan. Dan tetangga di atas yang sepertinya suka
memindahkan furnitur di tengah malam, suara kursi diseret, suara meja
dipindahkan, suara barang-barang jatuh, yang membuat Danang bertanya-tanya apa
yang sebenarnya mereka lakukan di sana.
Kamar itu sebenarnya lebih mirip kandang daripada kamar.
Dulu, mungkin itu adalah gudang penyimpanan beras atau sayuran. Lantainya
semen, kasar, dingin, tidak beralas apa pun selain tikar plastik tipis yang
dibeli Danang di pasar seharga seribu rupiah. Dindingnya tidak bercat, hanya
bata merah yang dibiarkan terbuka, dengan coretan-coretan bekas penumpang sebelumnya,
nama-nama, tanggal-tanggal, kata-kata kotor, gambar-gambar tidak senonoh.
Tapi bagi Danang, yang terbiasa tidur di lantai kayu yang
berderit di rumah panggung desanya, kamar ini sudah lebih dari cukup.
Setidaknya ia punya tempat untuk pulang setelah seharian bekerja. Setidaknya ia
punya atap di atas kepala, meskipun atap itu dari asbes yang bocor di beberapa
tempat. Setidaknya ia tidak perlu lagi mendengar bisikan-bisikan tetangga
tentang siapa ayah kandungnya, tentang ibunya yang hamil di luar nikah, tentang
keluarganya yang bermasalah.
"Kamar ini kecil, ya," kata Arman sambil
melihat-lihat kamar kos Danang. Ia berdiri di ambang pintu, tidak masuk, karena
kamar itu terlalu sempit untuk dua orang. "Tapi murah. Hanya lima belas
ribu sebulan. Termasuk listrik dan air. Lumayan untuk anak perantauan seperti
kau."
Danang mengangguk. Ia meletakkan kopernya di atas ranjang,
membuka gesper kuningan yang berkarat dengan susah payah. Koper itu terbuka
dengan suara berderit, seperti engsel pintu yang sudah lama tidak dibuka,
seperti suara sesuatu yang bangun setelah tidur panjang.
Di dalam koper itu, beberapa baju lusuh. Kemeja lengan
panjang yang sudah kusam, warnanya pudar karena sering dicuci dengan sabun
colek yang keras. Celana kain dua potong, satu warna hitam, satu warna coklat
muda, keduanya sudah tambal sulam di bagian lutut dan saku. Jaket tipis warna
abu-abu yang sudah lusuh, yang ia beli di pasar loak seharga dua ribu rupiah,
yang masih ia simpan meskipun sudah tidak muat karena tubuhnya sudah bertambah
besar.
Sebuah buku tulis lama berisi catatan-catatan kecil yang ia
tulis selama bertahun-tahun. Catatan tentang desa, tentang sungai, tentang
pohon waru, tentang Kirana. Catatan yang ia tulis ketika rindu, ketika sedih,
ketika sendirian. Catatan yang tidak pernah ia baca ulang, karena ia takut jika
ia membacanya, ia akan menangis, dan ia tidak mau menangis.
Sebuah foto hitam putih ibunya yang masih muda, sebelum
sakit, sebelum lelah mengubah wajahnya. Foto yang ia curi dari album keluarga
sebelum pergi dari desa. Foto yang sudah menguning di tepi-tepinya, yang sudah
sedikit robek di sudut kanan bawah, yang masih ia simpan meskipun setiap kali
ia melihatnya, hatinya terasa sesak.
Ratih dalam foto itu tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum
yang tidak pernah ia lihat di kehidupan nyata. Senyum yang mengatakan bahwa
dulu, sebelum segalanya menjadi rumit, sebelum ia hamil di luar nikah, sebelum
ia menikah dengan Sastrowiryo, sebelum ia sakit, sebelum ia meninggal, ia
pernah bahagia. Ia pernah menjadi perempuan muda yang cantik dan penuh harapan.
Dan di sudut koper, terbungkus kain putih bersih yang
selalu ia ganti setiap bulan, ada sebuah kotak kayu kecil. Kotak yang ia buat
sendiri dari potongan kayu bekas peti kemasan. Kotak yang ia amplas sampai
halus, yang ia poles dengan minyak kelapa agar mengkilap. Kotak yang ia simpan
di dasar kopernya, di tempat yang paling aman, di tempat yang tidak akan mudah
ditemukan orang lain.
Arman yang berdiri di pintu, yang ternyata belum pulang,
tertawa kecil ketika melihat Danang membuka koper dan mengeluarkan kotak kayu
itu.
"Kau membawa benda perempuan, Danang?" tanya
Arman sambil tersenyum. Matanya menatap kotak kayu itu dengan rasa ingin tahu,
dengan rasa penasaran, dengan sedikit rasa iri yang tidak ia sadari.
Danang cepat menutup kotak itu. Terlalu cepat. Seperti anak
kecil yang ketahuan mencuri kue. Wajahnya yang tadinya tenang, tiba-tiba
memerah. Telinganya terasa panas. Jantungnya berdebar lebih cepat. Tangannya
yang memegang kotak itu gemetar sedikit.
"Bukan urusanmu, Arman," jawab Danang, suaranya
sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia berusaha terlihat tenang,
berusaha terlihat seperti tidak ada yang istimewa dengan kotak itu, tetapi
gagal. Wajahnya yang merah sudah mengkhianatinya.
Arman mengangkat kedua tangannya, seperti menyerah, seperti
mengaku kalah. "Baiklah, baiklah. Rahasia. Aku tidak akan tanya lagi. Aku
tidak akan lihat lagi. Aku tidak akan peduli lagi. Terserah kau mau simpan apa
di kotak itu. Terserah kau mau bawa ke mana pun. Itu hak kau."
Ia tersenyum, tetapi matanya penasaran. Matanya bergerak
dari tangan Danang yang menggenggam erat kotak itu, ke wajah Danang yang
berusaha terlihat biasa saja tetapi gagal, ke koper tua yang masih terbuka, ke
baju-baju lusuh di dalamnya, ke foto hitam putih Ratih yang tersenyum.
"Apa itu foto ibumu?" tanya Arman, menunjuk ke
foto yang tergeletak di atas tumpukan baju.
Danang mengangguk. "Ibu. Sudah meninggal. Waktu aku
masih kecil."
"Maaf," kata Arman cepat. "Aku tidak tahu.
Aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa," potong Danang. "Sudah lama. Aku
sudah ikhlas."
Arman tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk,
berpura-pura percaya, meskipun ia tahu bahwa Danang tidak ikhlas. Tidak ada
anak yang ikhlas ditinggal mati ibunya di usia yang masih sangat muda. Tidak
ada anak yang ikhlas tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Tidak ada anak yang
ikhlas sendirian di dunia tanpa siapa pun yang benar-benar peduli padanya.
Malam pertama di kota, setelah Arman pamit pulang, Danang
duduk di ranjang sempitnya. Ranjang besi dengan kasur tipis yang sudah kempes,
yang pegasnya sudah muncul di beberapa tempat, yang menusuk punggungnya setiap
kali ia bergerak.
Matanya menatap koper tua yang masih terbuka di lantai. Di
dalamnya, baju-baju lusuh, celana tambal sulam, jaket tipis, buku catatan, foto
ibunya, dan di sudut paling dasar, kotak kayu kecil yang menyimpan pita biru.
Ia meraih kotak itu.
Tangannya gemetar.
Ia sudah bertahun-tahun tidak membuka kotak ini.
Bertahun-tahun tidak melihat pita itu.
Bertahun-tahun tidak mengingat Kirana.
Ia membuka kotak itu perlahan.
Jari-jarinya yang kaku karena kerja keras, yang kapalan
karena mengangkat barang-barang berat di dermaga, yang terluka karena kertas
dan pisau di percetakan, membuka tutup kotak dengan hati-hati, seperti sedang
membuka peti harta karun yang terkubur selama berabad-abad, seperti sedang
membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Di dalam kotak itu, pita rambut biru.
Warnanya mulai pudar. Biru langit yang dulu cerah dan
segar, kini menjadi biru keabu-abuan, seperti langit sebelum hujan, seperti
langit yang sedang murung. Kainnya mulai rapuh di beberapa bagian, tipis
seperti sayap capung, hampir tembus pandang. Tali karetnya sudah kendor, tidak
lagi elastis seperti dulu, sudah putus di satu sisi dan diikat ulang dengan
benang jahit biasa.
Tapi kenangannya masih utuh. Masih segar. Masih tajam.
Danang memandang benda itu lama.
Matanya tidak berkedip.
Pikirannya terbang melintasi waktu, melintasi tujuh tahun,
melintasi jarak antara desa dan kota, antara masa kecil dan masa remaja, antara
Danang yang dulu dan Danang yang sekarang.
Ia kembali ke tepi sungai.
Ke pohon waru tua.
Ke seorang gadis kecil dengan rambut panjang yang diikat
karet gelang merah.
Ke seorang gadis kecil yang mengangkat jari kelingkingnya
dan berjanji akan kembali.
"Danang, aku akan kembali. Aku janji. Aku akan
kembali."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan kembali. Suatu hari
nanti. Aku janji."
Danang memejamkan mata.
Air matanya jatuh.
Pertama setetes.
Lalu dua tetes.
Lalu tiga tetes.
Lalu tidak bisa dihitung lagi.
Ia tidak berusaha menyembunyikannya.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang peduli.
Ia hanya seorang anak perantauan di kamar kos yang sempit,
di kota yang tidak dikenalnya, menangis sendirian di malam hari, memegang pita
biru yang dulu milik seorang gadis yang mungkin sudah melupakannya.
"Kirana," bisiknya. "Di mana kau sekarang?
Apa kau masih ingat janji kita? Apa kau masih ingat aku? Apa kau masih
menyimpan pita merah itu? Apa kau masih... apa kau masih..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.
Ia menangis seperti remaja yang kehilangan cinta
pertamanya.
Ia menangis seperti lelaki yang sendirian di dunia tanpa
siapa pun yang benar-benar peduli padanya.
Ia menangis untuk Kirana.
Untuk ibunya.
Untuk masa kecilnya.
Untuk semua yang telah hilang.
Untuk semua yang tidak akan pernah kembali.
Malam itu, di kota yang tidak dikenalnya, di kamar sempit
yang dingin, di ranjang yang kasurnya kempes dan pegasnya menusuk punggung,
Danang tidur dengan satu nama yang masih tinggal diam-diam di dadanya.
Kirana.
Nama yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras selama
bertahun-tahun.
Nama yang ia simpan seperti rahasia, seperti harta karun,
seperti sesuatu yang terlalu berharga untuk dibagikan kepada siapa pun.
Nama yang menjadi alasan mengapa ia tidak pernah bisa
benar-benar mencintai perempuan lain.
Nama yang menjadi alasan mengapa ia selalu merasa ada yang
kurang, ada yang hilang, ada yang tidak lengkap dalam hidupnya.
Nama yang menjadi alasan mengapa ia masih hidup, mengapa ia
masih berjuang, mengapa ia masih bertahan di kota yang keras dan kejam ini.
Nama yang akan muncul kembali, seperti hantu yang tidak
pernah benar-benar mati, tepat ketika ia mulai merasa aman, tepat ketika ia
mulai bisa melupakan, tepat ketika ia mulai bisa menerima bahwa ia akan
sendirian selamanya.
Bab 2
Toko
Buku di Sudut Jalan
Tahun 1987. Dua tahun telah berlalu sejak Danang pertama
kali menginjakkan kaki di kota Purwokerto. Dua tahun sejak ia tidur di kamar
kos sempit dengan kasur kempes dan pegas menusuk punggung. Dua tahun sejak ia
menangis sendirian di malam pertama, memegang pita biru milik Kirana. Dua tahun
sejak ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan kuat, bahwa ia akan
bertahan, bahwa ia akan membuktikan bahwa anak haram dari desa tepi sungai bisa
sukses di kota.
Danang sekarang berusia enam belas tahun. Tubuhnya yang
dulu kurus kering mulai berisi, meskipun tidak gemuk. Bahunya semakin lebar,
bidang, seperti bahu Sastrowiryo meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah.
Tangannya yang dulu mungil dan lembut, kini besar, kasar, penuh kapalan, dengan
urat-urat biru yang terlihat jelas di punggung tangan. Jari-jarinya panjang,
lentik, seperti jari pemain piano, tetapi kuku-kukunya pendek dan hitam karena
kotoran, tidak terawat.
Wajahnya semakin dewasa. Tulang pipinya yang dulu terlalu
menonjol kini proporsional dengan bentuk wajahnya yang mulai membentuk garis
tegas. Rahangnya kotak, maskulin, memberikan kesan ketegasan dan kekerasan.
Alisnya tebal, hampir menyatu di tengah, seperti alis Sastrowiryo. Matanya
masih sama: gelap, dalam, seperti lubang sumur tua yang tidak pernah mencapai
dasar. Matanya yang dulu penuh rasa ingin tahu, kini lebih tenang, lebih
waspada, lebih seperti orang yang sudah terlalu sering dikecewakan.
Danang bekerja di sebuah percetakan kecil milik Pak
Suryanto. Percetakan itu terletak di gang sempit di belakang pasar, tersembunyi
di antara toko-toko lain yang sama usangnya. Gang itu hanya cukup untuk satu
mobil, itupun jika mobilnya tidak terlalu lebar. Dinding-dinding di kiri kanan
gang dipenuhi coretan-coretan dan poster-poster usang yang mengelupak. Bau
pesing dan sampah kadang tercium dari selokan yang mampet di ujung gang.
Percetakan itu bernama "Suryanto Printing",
sebuah nama yang terlalu megah untuk ukuran usahanya. Bangunannya hanya satu
ruangan, berukuran sekitar enam kali delapan meter, dengan dinding bata tidak
bercat yang sudah menghitam karena usia dan debu tinta. Lantainya semen, kasar,
penuh noda tinta hitam dan merah dan biru yang sudah mengering dan tidak bisa
dibersihkan lagi. Langit-langitnya tinggi, dengan rangka kayu yang sudah lapuk,
dan atap seng yang bocor di beberapa tempat.
Di dalam percetakan itu, ada dua mesin cetak manual tua
yang sudah berusia puluhan tahun. Mesin cetak pertama untuk koran dan majalah,
mesin cetak kedua untuk buku dan brosur. Mesin-mesin itu terbuat dari besi tua,
berat, berkarat di beberapa tempat, tetapi masih berfungsi dengan baik jika
dirawat dengan benar. Suaranya keras, menggelegar, seperti suara kereta api
yang lewat, seperti suara ribuan genderang yang ditabuh bersamaan. Setiap kali
mesin itu dijalankan, seluruh ruangan bergetar, lantai bergetar, dinding
bergetar, bahkan gelas di meja ikut bergerak.
Pekerjaan Danang sederhana. Membantu menyusun huruf-huruf
timah untuk mesin cetak manual. Huruf-huruf itu kecil, seukuran ujung jari,
terbuat dari timah yang sudah meleleh dan dicetak dalam berbagai ukuran dan
jenis font. Setiap huruf memiliki cekungan di bagian belakang, tempat di mana ia
akan diletakkan di rak penyusun. Tugas Danang adalah mengambil huruf-huruf itu
satu per satu dari kotak penyimpanan yang besar, menyusunnya dalam baris-baris
sesuai dengan naskah yang akan dicetak, lalu memasukkannya ke dalam mesin
cetak.
Pekerjaan itu membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Satu
huruf salah, satu baris terbalik, satu spasi kelebihan, maka seluruh halaman
harus diulang dari awal. Danang sudah beberapa kali membuat kesalahan di
awal-awal bekerja, dan Pak Suryanto memarahinya dengan keras. Tapi Danang cepat
belajar. Ia tidak mau dianggap bodoh. Ia tidak mau dianggap tidak berguna. Ia
ingin membuktikan bahwa ia bisa.
Selain menyusun huruf, Danang juga bertugas mengangkat
kertas-kertas berat dari gudang ke ruang cetak. Kertas-kertas itu dalam bentuk
rim, beratnya bisa mencapai lima belas kilogram per rim. Danang harus
mengangkatnya, menumpuknya di samping mesin cetak, lalu memotongnya sesuai
ukuran yang diinginkan pelanggan. Pekerjaan ini menguras tenaga, membuat
otot-otot lengannya terasa sakit setiap malam, tetapi Danang tidak pernah
mengeluh. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaan kasar. Ia sudah terbiasa dengan
rasa sakit.
Membersihkan mesin-mesin tua yang penuh dengan tinta kering
dan debu juga menjadi tugasnya. Setiap hari Jumat sore, setelah semua pekerjaan
selesai, Danang harus membersihkan mesin cetak dengan kain lap dan minyak
tanah. Tinta kering yang menempel di sela-sela mesin harus digosok dengan sikat
besi sampai bersih. Debu yang menumpuk di bawah mesin harus disapu dan dibuang.
Pekerjaan ini kotor, bau, melelahkan, tetapi Danang melakukannya dengan teliti,
dengan kesabaran, dengan kebanggaan bahwa ia bertanggung jawab atas mesin-mesin
itu.
Dan sesekali, ketika tukang antar sakit atau libur, Danang
diminta mengantarkan pesanan ke pelanggan. Ia akan mengayuh sepeda tua
pemberian Pak Suryanto, sepeda onthel warna hitam dengan rem tromol yang sudah
tidak terlalu berfungsi, dan ban yang sudah botak di beberapa tempat. Ia akan
menyusuri jalan-jalan di kota Purwokerto, melewati pasar, melewati sekolah,
melewati rumah-rumah penduduk, melewati toko-toko, melewati sungai kecil yang
mengalir di belakang kota. Pekerjaan ini yang paling ia sukai, karena ia bisa
melihat kota, bisa merasakan kehidupan, bisa lupa sejenak pada semua masalah
yang ia bawa.
Pak Suryanto, pemilik percetakan, adalah lelaki tua
berperut buncit dengan kumis tebal yang selalu ia keriting dengan lilin. Setiap
pagi, ia akan menghabiskan waktu setidaknya lima belas menit di depan cermin
untuk merapikan kumisnya, melilitkan ujung-ujungnya dengan jari, mengoleskan
lilin, lalu menekannya agar bentuknya sempurna. Hasilnya, dua ujung kumisnya
melengkung ke atas seperti tanduk kerbau kecil, memberinya penampilan yang
eksentrik tetapi menggemaskan.
Umurnya sudah mendekati enam puluh tahun, tetapi
semangatnya masih seperti orang muda. Ia datang ke percetakan setiap pagi pukul
enam, lebih awal dari semua karyawannya. Ia akan membuka pintu, menyalakan
lampu, menyiapkan mesin cetak, dan membuat kopi hitam pekat untuk dirinya
sendiri. Kopi hitam tanpa gula, tanpa susu, tanpa apa pun, hanya kopi bubuk
kasar yang diseduh dengan air panas, lalu dibiarkan ampasnya mengendap di dasar
cangkir.
"Kopi tubruk," katanya suatu pagi ketika Danang
bertanya mengapa ia tidak menyaring ampasnya. "Kopi sejati tidak perlu
disaring, Nak. Ampasnya adalah bagian dari rasa. Seperti kehidupan. Pahit,
getir, tetapi itulah yang membuatnya nyata."
Suaranya keras, seperti suara komandan di lapangan tembak,
seperti suara sersan yang melatih tentara baru. Ia terbiasa memberi perintah,
terbiasa diikuti, terbiasa tidak dibantah. Tapi hatinya lembut. Danang sudah
beberapa kali melihatnya diam-diam memberi uang kepada pengemis yang lewat di
depan percetakan, atau membelikan makanan untuk anak jalanan yang tidur di
emperan toko sebelah.
Ia jarang membayar Danang dengan uang. Lebih sering dengan
makanan. Setiap hari, ia akan menyuruh Danang membeli nasi bungkus dari warung
di ujung gang, dua bungkus, satu untuk Danang, satu untuk dirinya. "Makan
dulu, Nak. Kerja dengan perut kosong tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali
sakit maag," katanya sambil menyodorkan uang receh.
Kadang ia membayar Danang dengan pakaian bekas yang masih
layak pakai. "Ini baju keponakanku. Sudah tidak muat. Masih bagus. Kau
bisa pakai," katanya sambil melempar bungkusan ke arah Danang. Baju-baju
itu memang masih bagus, tidak tambal sulam, tidak lusuh, bahkan ada yang masih
berlabel toko.
Kadang ia membayar Danang dengan izin untuk tidur di ruang
belakang percetakan jika Danang tidak ingin pulang ke kamar kosnya yang sunyi.
Ruang belakang itu kecil, hanya berisi kasur bekas yang dilapisi terpal, dan
satu lemari kayu tua yang berisi peralatan cetak yang sudah tidak terpakai.
Tapi bagi Danang, ruang itu lebih nyaman daripada kamar kosnya. Setidaknya ia
tidak sendirian. Setidaknya ia bisa mendengar suara mesin cetak yang bekerja,
suara yang menenangkan, suara yang mengingatkannya bahwa ia masih hidup, bahwa
ia masih punya pekerjaan, bahwa ia masih berguna.
"Kau anak yang rajin, Danang," kata Pak Suryanto
suatu pagi, sambil menyeduh kopi hitam pekat di cangkir keramik yang sudah
retak di pinggirnya. Cangkir itu sudah menemani Pak Suryanto selama dua puluh
tahun, sejak ia pertama kali membuka percetakan ini. Retak di pinggirnya
terjadi ketika ia menjatuhkannya lima tahun lalu, tetapi ia tidak mau
membuangnya. "Sayang kau tidak sekolah tinggi-tinggi. Dengan otak kau yang
encer, kau bisa jadi sarjana. Bisa jadi insinyur. Bisa jadi arsitek. Bisa jadi
apa saja."
Danang tersenyum tipis. "Sekolah tidak menjamin
apa-apa, Pak. Banyak sarjana nganggur. Banyak orang pintar yang jadi
pengangguran. Yang penting kerja keras dan tidak menyerah."
Pak Suryanto tertawa keras. Tawanya menggema di ruang
percetakan yang sempit, bergema di antara mesin-mesin cetak yang diam, bergema
di antara tumpukan kertas yang menjulang. "Kau terlalu muda untuk bicara
seperti itu, Danang. Tapi mungkin kau benar. Mungkin sekolah memang tidak
menjamin apa-apa. Tapi pengetahuan, Nak, pengetahuan menjamin segalanya. Baca
buku. Banyak-banyak baca buku. Jangan hanya bekerja. Jangan hanya mengejar
uang. Bacalah. Belajarlah. Karena buku adalah jendela dunia. Buku adalah guru
yang tidak pernah marah. Buku adalah teman yang tidak pernah
mengkhianati."
Danang mengangguk. Ia tidak punya uang untuk membeli buku.
Ia tidak punya waktu untuk membaca buku. Ia bekerja dari pagi sampai sore,
kadang sampai malam jika ada pesanan yang harus segera diselesaikan. Tapi ia
menyimpan nasihat Pak Suryanto di dalam hatinya. Suatu hari nanti, ketika ia
punya cukup uang, ketika ia punya cukup waktu, ia akan membaca. Ia akan
belajar. Ia akan menjadi seseorang yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi
juga kuat secara intelektual.
Suatu siang di bulan Mei, ketika hujan mulai turun
tipis-tipis, Pak Suryanto memberikan sebuah amplop coklat berisi pesanan.
"Ini, Danang. Antarkan ini ke toko buku di Jalan
Veteran. Pemiliknya langganan lama. Namanya Bu Lastri. Jangan sampai basah.
Hujan sudah mulai turun. Bungkus amplop ini dengan plastik. Kau tahu di mana
plastik itu? Di laci meja belakang. Yang warna hitam itu. Jangan pakai yang
warna putih. Yang putih bolong."
Danang mengangguk. Ia mengambil amplop coklat itu,
memasukkannya ke dalam tas kainnya yang lusuh, lalu membungkus tas itu dengan
plastik hitam yang ia temukan di laci meja belakang. Plastik itu besar, cukup
untuk menutupi seluruh tas, tetapi tidak cukup tebal. Ia berharap hujan tidak
terlalu deras.
Ia mengayuh sepeda onthelnya perlahan, melewati gang sempit
di belakang pasar, melewati jalan aspal yang mulai rusak, melewati perempatan
yang ramai, melewati jembatan kecil di atas sungai. Hujan masih turun, tidak
deras, hanya gerimis, tetapi cukup untuk membasahi bajunya, cukup untuk membuat
rambutnya basah, cukup untuk membuatnya menggigil kedinginan.
Jalan Veteran terletak di pusat kota, tidak terlalu jauh
dari percetakan, sekitar dua puluh menit dengan sepeda. Di sepanjang jalan, ia
melihat toko-toko, rumah-rumah, kantor-kantor, sekolah-sekolah. Ia melihat
orang-orang berlalu lalang dengan payung di tangan, dengan jas hujan di badan,
dengan koran di atas kepala. Ia melihat anak-anak sekolah yang berlarian,
tertawa, mengejar satu sama lain, tidak peduli pada hujan, tidak peduli pada
basah, tidak peduli pada masa depan.
Toko buku itu kecil. Sangat kecil. Hanya satu ruangan
dengan rak-rak kayu yang dipenuhi buku-buku bekas. Dari luar, toko itu hampir
tidak terlihat, tersembunyi di antara warung kopi dan toko kelontong yang
menjual sembako dan mainan anak-anak. Hanya papan kayu kecil bergambar buku
terbuka yang menandakan bahwa di sana ada toko buku. Papan itu sudah usang,
warnanya pudar, gambar bukunya sudah hampir tidak terlihat, tetapi masih
tergantung di atas pintu, seperti bendera yang tidak mau diturunkan meskipun
sudah robek.
Pintu kayunya setengah terbuka. Aroma kertas tua, aroma
seperti perpustakaan kuno, aroma yang mengingatkan Danang pada buku-buku
pelajaran sekolahnya dulu, yang selalu ia baca berulang kali karena tidak punya
buku lain. Aroma yang membuatnya rindu pada masa kecil, pada desa, pada
sekolah, pada guru-guru yang baik, pada teman-teman yang sekarang mungkin sudah
lupa padanya.
Danang memarkir sepedanya di depan toko, menguncinya dengan
gembok kecil yang selalu ia bawa di saku celana. Ia mengambil tas kainnya,
memeriksa apakah amplop di dalamnya masih kering, lalu berjalan menuju pintu.
"Permisi!" serunya, sambil mengetuk pintu kayu
yang setengah terbuka.
Tidak ada jawaban.
"Permisi, Bu Lastri!" serunya lagi, lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Ia mendorong pintu perlahan. Pintu itu terbuka dengan suara
berderit, seperti suara yang keluar dari mulut orang tua yang sudah lama tidak
bicara. Ia melangkah masuk.
Di dalam toko itu, rak-rak kayu penuh dengan buku.
Buku-buku bekas dengan sampul yang sudah lusuh, dengan halaman yang sudah
menguning, dengan bau yang khas, bau kertas tua, bau tinta yang sudah pudar,
bau kenangan dari masa lalu. Buku-buku itu ditata dengan rapi, berdasarkan
genre, berdasarkan penulis, berdasarkan ukuran. Buku novel di rak kiri, buku
puisi di rak kanan, buku sejarah di rak belakang, buku anak-anak di rak paling
bawah, buku agama di rak paling atas, dekat dengan langit-langit.
Di sudut ruangan, ada meja kayu besar yang berfungsi
sebagai kasir. Di atas meja itu, berserakan buku-buku, kwitansi, pulpen,
penggaris, gunting, lem, dan secangkir kopi yang sudah dingin. Sebuah radio tua
merek National dengan kenop-kenop besar yang sudah longgar, diletakkan di sudut
meja, menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia tahun delapan puluhan. Suaranya
pelan, sayu, seperti suara dari masa lalu, seperti suara kenangan yang tidak bisa
dilupakan.
"Chrisye," bisik Danang, mendengar suara penyanyi
itu. "Lagu 'Anak Sekolah'."
Ia tersenyum. Ia ingat lagu itu. Dulu, ketika ia masih
kecil, lagu itu sering diputar di radio desa. Kirana suka menyanyikannya.
Kirana suka menari-nari kecil ketika lagu itu diputar. Kirana suka memaksa
Danang untuk ikut bernyanyi, meskipun Danang tidak bisa bernyanyi.
"Anak sekolah, anak sekolah, hai kawanku, anak
sekolah..."
Kirana tertawa. Kirana berputar-putar. Kirana jatuh ke
rumput. Kirana tertawa lagi.
Danang menggelengkan kepala, mengusir kenangan itu. Ia
tidak boleh mengingat Kirana. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk
melupakan Kirana. Ia sudah berusaha selama dua tahun. Ia tidak boleh gagal
sekarang.
"Permisi!" serunya lagi, berusaha fokus pada tujuannya.
Tiba-tiba, di antara rak buku, seorang perempuan muncul.
Bukan Bu Lastri. Bukan pemilik toko yang tua dan gemuk yang
digambarkan Pak Suryanto. Bukan perempuan paruh baya dengan rambut keriting dan
kacamata tebal.
Seorang perempuan muda.
Remaja.
Sebaya dengannya.
Mungkin enam belas tahun. Mungkin tujuh belas tahun.
Rambutnya panjang, hitam, tergerai di punggung, sedikit
bergelombang di ujung, seperti air terjun yang tenang, seperti sungai di musim
kemarau. Tidak diikat, tidak dijepit, hanya dibiarkan tergerai, bebas, seperti
tidak peduli pada aturan, seperti tidak peduli pada apa kata orang. Sehelai
rambut jatuh di wajahnya, menutupi sedikit pipi kirinya, dan ia menyapunya
dengan gerakan yang lembut, yang anggun, yang membuat Danang lupa bernapas.
Kebaya sederhana warna biru muda, dengan motif bunga kecil
yang hampir tidak terlihat dari kejauhan. Kebaya yang longgar, tidak terlalu
ketat, tidak terlalu terbuka, sopan tetapi tetap feminin. Kain batik yang
melilit di pinggang, dengan warna yang senada dengan kebaya, biru muda dengan
motif parang yang rumit, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibuat.
Kulitnya putih bersih, bersinar, seperti porselen, seperti
bulan purnama di malam yang cerah. Lesung pipit di pipi kirinya, kecil, manis,
muncul setiap kali ia tersenyum. Dan saat itu, ia tersenyum. Senyum yang ramah,
senyum yang menyambut, senyum yang membuat orang yang menerimanya merasa
dihargai, merasa diterima, merasa bahwa mereka penting.
Matanya.
Mata itu.
Mata yang coklat kehijauan.
Mata yang berbinar-binar.
Mata yang seperti bintang di langit malam.
Mata yang sama.
Mata yang dulu menatapnya dari balik jendela mobil yang
perlahan menjauh.
Mata yang sama yang basah oleh air mata perpisahan.
Mata yang sama yang berjanji akan kembali.
Kirana.
Bukan lagi gadis kecil di tepi sungai dengan rambut ekor
kuda dan kaki penuh lumpur.
Bukan lagi gadis kecil yang berlari di tengah hujan dengan
payung terbalik.
Bukan lagi gadis kecil yang menggenggam tangannya dan
berjanji tidak akan pergi.
Kini ia tumbuh menjadi perempuan muda yang bahkan waktu pun
tak berhasil menghapus dari ingatan Danang. Wajahnya lebih matang, lebih
dewasa, tetapi masih memiliki kemiripan dengan gadis kecil yang dulu. Lesung
pipit di pipi kirinya masih ada, meskipun kini hanya muncul ketika ia tersenyum
lebar. Matanya masih sama, sehidup itu, secerah itu, sedalam itu.
Rambutnya lebih panjang, lebih hitam, lebih berkilau.
Tubuhnya lebih tinggi, lebih berisi, lebih seperti perempuan dewasa. Gerakannya
lebih anggun, lebih sadar, seperti ia tahu bahwa ia cantik dan ia tidak perlu
berusaha keras untuk menunjukkannya.
Kirana menatapnya lama.
Matanya bergerak dari ujung rambut Danang yang masih ikal
dan tidak pernah rapi, ke matanya yang masih terlalu gelap dan terlalu dalam,
ke rahangnya yang kini lebih tegas, ke bahunya yang lebih lebar, ke tangannya
yang lebih besar, ke sepatunya yang bolong di bagian jempol.
Ia melihat semua perubahan.
Dan ia tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian
di dunia.
Senyum yang telah ia simpan di memorinya selama
bertahun-tahun, seperti foto yang ia simpan di dompet, seperti pita biru yang
ia simpan di kotak kayu.
Senyum yang sekarang, setelah sekian lama, setelah dua
tahun di kota yang sama tanpa pernah bertemu, setelah ribuan malam sendirian di
kamar kos yang sempit, akhirnya ia lihat lagi.
"Danang?" suara Kirana pelan, hampir tidak
percaya, seperti orang yang sedang bermimpi, seperti orang yang tidak yakin
apakah yang ia lihat nyata atau hanya khayalan.
Danang tidak bisa menjawab.
Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Tenggorokannya terasa kering, seperti ada yang mengganjal
di sana, seperti ada duri yang tidak bisa ditelan, tidak bisa dimuntahkan.
Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang
diletakkan di atasnya, seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya.
Jantungnya berdebar kencang, begitu kencang hingga ia bisa
mendengar detaknya di telinga, hingga ia merasa dadanya akan meledak, hingga ia
harus berpegangan pada rak buku di sampingnya agar tidak jatuh.
"Kirana," akhirnya ia berkata. Suaranya serak,
seperti suara orang yang tidak minum seharian, seperti suara orang yang baru
bangun tidur, seperti suara orang yang kehabisan air mata. "Kau... kau di
sini? Di kota ini? Selama ini? Selama dua tahun?"
Kirana mengangguk. Matanya basah. Air mata mulai menggenang
di pelupuk matanya, membentuk lapisan tipis yang membuat matanya terlihat
berkilauan di bawah cahaya lampu neon yang redup.
"Aku pindah ke sini dua tahun lalu, Danang. Tepat
setelah... tepat setelah kita berpisah di desa. Ayah dapat pekerjaan di sini.
Di kantor pos. Kami pindah ke rumah dinas di Jalan Merdeka. Tidak jauh dari
sini. Hanya lima belas menit naik becak."
"Kenapa... kenapa kau tidak mencari aku?" tanya
Danang, suaranya masih serak, masih bergetar, masih seperti suara orang yang
sedang menahan tangis. "Kenapa kau tidak memberi kabar? Kenapa kau diam
saja? Aku menunggumu. Aku menunggu surat. Aku menunggu kabar. Aku menunggu kau
kembali. Tapi tidak ada. Tidak ada apa-apa."
Kirana menunduk.
Air matanya jatuh.
Setetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Jatuh ke kebaya biru mudanya, meninggalkan bercak-bercak
basah yang perlahan melebar.
"Aku tidak tahu di mana kau, Danang," bisiknya,
suaranya pecah, tangisnya keluar. "Aku kembali ke desa setahun yang lalu.
Aku mencari kau. Tapi rumahmu kosong. Rumahmu sudah tidak terawat. Ibu... Ibu
mu sudah... sudah..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menangis di depan Danang.
Menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Menangis bukan karena ia lemah.
Menangis karena ia rindu.
Menangis karena ia kehilangan.
Menangis karena ia tidak tahu bahwa Danang juga di kota
ini, di kota yang sama, selama dua tahun, tanpa pernah bertemu.
"Mak sudah meninggal, Kirana," kata Danang,
suaranya datar, kosong, seperti orang yang sudah kehabisan air mata, seperti
orang yang sudah terlalu sering dilukai hingga tidak bisa lagi merasakan sakit.
"Dua minggu setelah kau pergi. Mak meninggal di kursi bambu. Di ruang
tengah. Waktu aku pulang dari mengantarmu."
Kirana menangis lebih keras.
Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di hadapan Danang.
Menangis karena ia tahu bahwa Danang sendirian.
Menangis karena ia tahu bahwa Danang tidak punya
siapa-siapa.
Menangis karena ia tahu bahwa Danang membutuhkannya, tetapi
ia tidak ada.
"Dan Bapak... Bapak juga pergi," lanjut Danang.
Suaranya masih datar, masih kosong, tetapi ada getaran di ujung kata-katanya,
getaran yang menunjukkan bahwa ia masih menyimpan luka, bahwa ia masih sakit,
bahwa ia belum sembuh. "Pergi tanpa pamit. Pagi-pagi sebelum matahari
terbit. Tidak bilang ke mana. Tidak bilang kapan kembali. Tidak pernah
kembali."
Kirana terisak.
Ia tidak bisa membayangkan.
Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan ibu
dan ayah dalam waktu yang bersamaan.
Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya sendirian di
dunia pada usia yang masih sangat muda.
Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya harus bertahan
hidup tanpa siapa pun yang peduli.
"Danang... aku... aku minta maaf..." bisik Kirana
di antara isaknya. "Aku seharusnya... aku seharusnya mencari kau lebih
awal... aku seharusnya tidak menunggu setahun... aku seharusnya..."
"Tidak usah, Kirana," potong Danang. "Sudah
terjadi. Tidak bisa diubah. Yang penting sekarang... yang penting kita bertemu.
Di sini. Di kota ini. Setelah dua tahun."
Kirana mengangkat kepalanya.
Matanya bertemu dengan mata Danang.
Mata yang basah.
Mata yang merah.
Mata yang penuh dengan kesedihan dan penyesalan dan
kerinduan.
"Kau tinggal di mana, Danang?" tanyanya.
"Kau bekerja di mana? Kau sekolah? Kau punya teman? Kau... kau baik-baik
saja?"
Danang tersenyum.
Senyum yang pahit.
Senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Aku baik-baik saja, Kirana. Aku bekerja di percetakan.
Punya kamar kos di dekat pasar. Tidak mewah. Tapi cukup. Aku tidak sekolah.
Tidak punya uang. Tapi aku belajar sendiri. Baca buku. Banyak baca buku. Pak
Suryanto, majikanku, sering pinjami aku buku."
Kirana mengangguk.
Ia masih menangis.
Tapi senyum mulai muncul di bibirnya.
Senyum yang lega.
Senyum yang bersyukur.
Senyum yang mengatakan bahwa ia senang Danang baik-baik
saja, bahwa ia senang Danang masih hidup, bahwa ia senang mereka bertemu lagi.
"Danang," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Aku... aku senang kita bertemu lagi. Aku kira... aku
kira kau sudah melupakanku. Aku kira... aku kira kau sudah... sudah..."
"Tidak, Kirana," potong Danang. "Aku tidak
pernah melupakanmu. Tidak pernah. Selama dua tahun. Selama di kota ini. Selama
di kamar kos yang sempit. Selama bekerja di percetakan. Aku tidak pernah
melupakanmu."
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian
di dunia.
Senyum yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
"Aku juga, Danang," bisiknya. "Aku juga
tidak pernah melupakanmu."
Di luar, hujan mulai reda.
Langit mulai cerah.
Matahari mulai muncul dari balik awan.
Dan di dalam toko buku kecil di sudut Jalan Veteran, dua
orang yang pernah dipisahkan oleh waktu dan jarak dan takdir, bertemu lagi.
Dan mereka tidak tahu bahwa pertemuan ini, meskipun
terlihat seperti kebetulan, sebenarnya adalah awal dari babak baru dalam luka
mereka.
Babak yang akan menguji cinta mereka.
Babak yang akan mengajarkan mereka tentang pengkhianatan.
Babak yang akan membuat mereka kehilangan satu sama lain
lagi.
Tapi untuk saat ini, untuk sore itu, untuk beberapa menit
yang berharga, mereka hanya dua remaja yang saling menatap, yang saling
tersenyum, yang saling bersyukur bahwa mereka masih hidup, bahwa mereka masih
di sini, bahwa mereka masih bersama.
Bab 3
Percakapan
Setelah Bertahun-Tahun
Mereka duduk di kedai kopi kecil di seberang toko buku.
Kedai itu bernama "Kopi Mbah Darmo", sebuah warung sederhana dengan
tenda plastik biru yang sudah pudar warnanya karena terlalu sering terkena
sinar matahari dan air hujan. Tenda itu terbuat dari terpal plastik tebal yang
diikat dengan tali tambang ke tiang-tiang bambu di sekelilingnya. Di beberapa
tempat, terpal itu sudah robek, ditambal dengan lakban hitam yang mulai
mengelupas.
Di bawah tenda itu, ada beberapa meja kayu dan kursi
plastik warna-warni. Meja-meja kayu itu sudah tua, penuh dengan goresan dan
noda kopi yang tidak bisa dibersihkan. Kakinya tidak rata, ada yang dialasi
potongan kardus, ada yang dialasi batu kerikil, ada yang hanya dibiarkan goyang
dan pengunjung harus berhati-hati agar kopi tidak tumpah. Kursi-kursi
plastiknya warna merah, kuning, hijau, biru, seperti pelangi yang jatuh ke
tanah dan berubah menjadi tempat duduk.
Dinding kedai hanya terpal plastik yang kadang berkibar
ditiup angin, tidak memberikan perlindungan yang cukup dari panas matahari atau
dinginnya hujan. Tetapi bagi para pelanggan setianya, itu bukan masalah. Mereka
datang bukan untuk kenyamanan, tetapi untuk kopi. Kopi hitam pekat yang diseduh
dengan air mendidih, tanpa gula, tanpa susu, tanpa apa pun. Kopi yang pahit,
getir, tetapi membuat ketagihan. Kopi yang seperti kehidupan itu sendiri.
"Cik, pesanannya dua kopi hitam pekat, satu dengan
gula, satu tanpa gula, ya! Jangan lupa roti bakarnya dua porsi! Kejunya
banyakin!" teriak Kirana kepada pelayan kedai, seorang perempuan muda
dengan rambut pendek dan celemek kotor yang melilit di pinggangnya.
"Ya, Mbak! Dua kopi hitam! Satu gula satu tanpa gula!
Dua roti bakar keju! Sebentar ya!" jawab pelayan itu dari dalam kedai, di
balik meja kayu yang berfungsi sebagai dapur dan kasir sekaligus.
Danang duduk di kursi plastik warna biru yang sudah pudar,
menghadap ke arah toko buku di seberang jalan. Dari tempat ini, ia bisa melihat
pintu toko buku yang setengah terbuka, rak-rak buku di dalamnya, dan sesekali
bayangan Bu Lastri yang mondar-mandir di antara rak-rak itu. Tapi matanya tidak
tertuju pada toko buku. Matanya tertuju pada Kirana yang duduk di hadapannya.
Kirana duduk di kursi plastik warna merah yang sedikit
goyang karena salah satu kakinya lebih pendek. Ia tidak peduli. Ia hanya duduk,
sesekali menggeser kursinya agar lebih stabil, sesekali tersenyum pada Danang,
sesekali memandang ke arah jalan, melihat orang-orang lalu lalang, melihat
becak-becak yang berhenti menunggu penumpang, melihat anak-anak yang bermain
kejar-kejaran di trotoar.
"Kopi hitam satu dengan gula, satu tanpa gula!"
pelayan itu datang dengan nampan aluminium yang penyok di beberapa tempat. Di
atas nampan itu, dua cangkir keramik putih dengan pinggiran biru, dan dua
piring kecil berisi roti bakar yang masih mengepulkan uap panas.
"Ini yang dengan gula, Mbak," katanya sambil
meletakkan satu cangkir di depan Kirana. "Ini yang tanpa gula, Mas,"
katanya sambil meletakkan cangkir lain di depan Danang. "Roti bakarnya dua
porsi, ya. Kejunya sudah banyak. Selamat menikmati."
"Terima kasih, Mbak Rini," kata Kirana sambil
tersenyum. "Nanti saya bayar."
"Ya, Mbak. Santai saja. Mbah Darmo bilang, Mbak Kirana
pelanggan setia. Boleh bayar nanti." Pelayan itu pergi, meninggalkan
mereka berdua di meja yang goyang.
Mereka berdua terdiam.
Cangkir-cangkir tipis mengeluarkan uap. Uap putih tipis
naik ke udara, membawa aroma kopi hitam yang kuat, yang pahit, yang getir, yang
seperti kenangan yang tidak bisa dilupakan. Aroma kopi hitam pekat, yang bagi
Danang adalah aroma rumah, aroma masa kecil, aroma ibunya yang setiap pagi
menyeduh kopi di dapur sebelum memasak nasi.
Aroma kopi hitam bercampur dengan aroma roti bakar yang
masih hangat, dengan aroma keju yang meleleh di atas roti, dengan aroma mentega
yang digosokkan di permukaan roti hingga meresap ke dalam pori-porinya. Aroma
yang membuat perut Danang keroncongan, mengingatkannya bahwa ia belum makan
sejak sarapan pagi.
Kirana mengambil roti bakar, memotongnya menjadi dua bagian
dengan pisau kecil yang disediakan di meja, lalu menyodorkan separuhnya ke
Danang. "Makan dulu, Danang. Kau pasti lapar. Dari tadi perutmu bunyi
terus."
Danang tersenyum malu. "Kau dengar?"
"Siapa yang tidak dengar? Perutmu bunyi seperti
genderang perang." Kirana tertawa. Tawa yang sama seperti dulu. Ringan.
Ceria. Membuat sesuatu di dada Danang terasa hangat sekaligus nyeri. Hangat
karena masih ada. Nyeri karena pernah hilang. "Makan. Nanti kita bicara.
Aku juga belum makan siang. Tadi sibuk banget di toko. Bu Lastri minta tolong
rapiin rak buku belakang. Buku-buku sejarah itu berantakan sekali. Ada yang
jatuh, ada yang terbalik, ada yang sampulnya lepas. Aku jadi lupa makan."
Danang mengambil roti bakar itu. Roti panggang dengan
permukaan renyah keemasan, dilumuri mentega yang masih mengkilap, ditaburi gula
pasir kasar, lalu ditutup dengan keju cheddar yang meleleh karena panas. Ia
menggigitnya perlahan. Rotinya renyah di luar, lembut di dalam, mentega dan
gula dan keju bercampur menjadi satu rasa yang manis, gurih, asin, seperti
hidup itu sendiri.
"Ini enak," katanya sambil mengunyah. "Roti
bakarnya enak. Kejunya banyak. Manisnya pas. Tidak terlalu manis, tidak terlalu
hambar."
"Iya. Mbah Darmo jago bikin roti bakar. Sudah tiga
puluh tahun jualan di sini. Dari masih pakai gerobak dorong, sampai sekarang
punya kedai begini. Kata orang, roti bakarnya Mbah Darmo yang terenak
se-Purwokerto. Bahkan ada yang datang dari Banyumas, dari Cilacap, dari Kebumen,
hanya untuk makan roti bakar di sini."
"Mbah Darmo siapa? Pemilik kedai?"
"Lelaki tua itu. Yang duduk di pojok sana. Di kursi
bambu. Yang sedang merokok sambil baca koran." Kirana menunjuk ke arah
pojok kedai, di mana seorang lelaki tua dengan kumis tebal dan rambut putih
duduk sendirian, memegang koran Kompas edisi pagi, sesekali mengisap rokok
kretek yang mengepulkan asap tipis ke udara. "Dia baik. Suka memberi
diskon untuk pelanggan setia. Kadang kalau aku lupa bawa uang, dia bilang
'Bayar nanti saja, Mbak. Tidak usah buru-buru.'"
Danang mengangguk. Ia memandang lelaki tua itu. Mbah Darmo.
Wajahnya penuh kerutan, kerutan yang seperti peta yang mencatat setiap tahun
yang telah ia lalui, setiap suka dan duka yang ia alami, setiap pelanggan yang
datang dan pergi. Matanya masih jernih, masih tajam, masih bisa membaca koran
tanpa kacamata. Tangannya yang keriput gemetar sedikit ketika memegang rokok,
tetapi stabil ketika memegang koran.
"Sudah dua tahun kau di kota ini, Kirana?" tanya
Danang setelah menelan roti bakarnya. Ia mengambil cangkir kopinya, menyesap
sedikit, merasakan pahitnya kopi hitam tanpa gula yang membakar tenggorokannya.
Pahit. Getir. Tapi membuatnya sadar. Membuatnya terjaga. Membuatnya tidak bisa
lari dari kenyataan.
Kirana mengangguk. Ia juga mengambil cangkirnya, menyesap
kopi susu yang manis, yang hangat, yang membuatnya merasa nyaman, merasa aman,
merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Dua tahun, tiga bulan, dan...
delapan belas hari. Tepatnya."
Danang mengangkat alis. "Kau hitung?"
"Setiap hari, Danang. Aku menghitung setiap hari.
Sejak kita berpisah di desa. Sejak aku naik ke mobil itu. Sejak kau berdiri di
pinggir jalan dengan pita biru di tangan." Mata Kirana berkaca-kaca,
tetapi ia tidak menangis. Ia sudah terlalu sering menangis. Ia sudah lelah
menangis. "Aku ingin kembali. Aku ingin mencari kau. Tapi ayahku... ayahku
bilang kita harus fokus dulu pada kehidupan baru di kota. Ayahku bilang kita
harus beradaptasi dulu. Ayahku bilang..."
"Ayahmu bilang apa?" tanya Danang.
Kirana menunduk. Jari-jarinya yang lentik dan putih
memutar-mutar ujung rambutnya yang panjang, kebiasaannya ketika gugup atau
sedih. "Ayahku bilang... ayahku bilang aku harus melupakan masa lalu.
Ayahku bilang aku harus fokus pada sekolah. Ayahku bilang aku tidak boleh
membuang waktu untuk sesuatu yang tidak pasti. Ayahku bilang..."
"Dia bilang kau tidak boleh dekat dengan anak haram
sepertiku?" potong Danang. Suaranya dingin, tidak marah, tidak sedih,
hanya datar. Datar seperti orang yang sudah menerima kenyataan bahwa ia tidak
akan pernah cukup baik untuk orang lain.
Kirana mengangkat kepalanya cepat. Matanya membesar.
"Tidak, Danang! Bukan itu! Ayahku tidak pernah bilang seperti itu! Ayahku
hanya... ayahku hanya khawatir. Ayahku tahu tentang... tentang apa yang terjadi
di desa. Ayahku tahu tentang tuduhan. Ayahku tahu tentang... tentang ayah
kandungmu. Ayahku hanya ingin melindungiku. Ayahku hanya..."
"Kau tidak perlu menjelaskan, Kirana," potong
Danang lagi. Suaranya masih dingin, tetapi ada sedikit kelembutan di sana,
sedikit pengertian, sedikit penerimaan. "Aku mengerti. Ayahmu benar. Aku
bukan orang yang baik untukmu. Aku anak haram. Aku anak pembakar gudang. Aku
anak yang tidak punya masa depan. Aku..."
"Jangan bilang begitu, Danang!" Kirana memotong,
suaranya keras, tegas, seperti saat ia membela Danang di depan Surya di halaman
sekolah dulu. Matanya menyala, tidak lagi sayu, tidak lagi berkaca-kaca.
"Jangan bilang kau tidak punya masa depan! Jangan bilang kau tidak baik
untukku! Jangan bilang kau anak haram! Aku tidak peduli dengan semua itu! Aku
peduli dengan kau! Aku peduli dengan Danang! Aku peduli dengan anak laki-laki
yang duduk di akar pohon waru dan melempar batu ke sungai! Aku peduli dengan
anak laki-laki yang menggambar bunga kuning di buku gambarnya! Aku peduli
dengan anak laki-laki yang menampar Surya di halaman sekolah karena ia menghina
ibuku! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menangis di depan ibunya karena
takut kehilangan segalanya!"
Danang terdiam.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Tidak ada yang pernah bicara seperti itu padanya.
Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa ia berharga, bahwa
ia penting, bahwa ia dicintai.
Sejak ibunya meninggal, sejak Sastrowiryo pergi, sejak ia
meninggalkan desa, ia hidup sendirian. Ia bekerja. Ia makan. Ia tidur. Ia
bangun. Ia bekerja lagi. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang bertanya kabar.
Tidak ada yang mengatakan "Aku peduli padamu."
Kecuali Kirana.
Kirana selalu ada.
Kirana selalu peduli.
Kirana selalu menjadi rumah baginya.
"Kenapa kau melakukan semua itu, Kirana?" tanya
Danang, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Kenapa kau peduli padaku?
Kenapa kau membelaku? Kenapa kau menungguku? Kenapa kau tidak menyerah saja?
Kenapa kau..."
"Karena aku mencintaimu, Danang."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa direncanakan.
Tanpa dipersiapkan.
Tanpa dipertimbangkan.
Seperti air yang mengalir dari mata air.
Seperti hujan yang jatuh dari langit.
Seperti napas yang keluar dari paru-paru.
Danang terdiam.
Seluruh tubuhnya membeku.
Cangkir di tangannya hampir jatuh, tetapi ia menggenggamnya
erat-erat, sampai buku-buku jarinya memutih.
Matanya membesar.
Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Dadanya terasa sesak, seperti ada yang meremas jantungnya
perlahan-lahan.
Kirana juga terdiam.
Wajahnya merah padam.
Ia tidak bermaksud mengatakan itu.
Ia tidak bermaksud mengungkapkan perasaannya.
Ia tidak bermaksud membuat situasi menjadi canggung.
Tapi kata-kata itu keluar.
Kata-kata yang selama ini ia pendam.
Kata-kata yang selama ini ia sembunyikan.
Kata-kata yang selama ini ia takut untuk diucapkan.
Kata-kata yang sekarang menggantung di udara di antara
mereka, berat, tidak bisa ditarik kembali, tidak bisa dihapus, tidak bisa
diabaikan.
Mata mereka bertemu.
Mata Danang yang gelap, yang dalam, yang seperti lubang
sumur tua.
Mata Kirana yang coklat kehijauan, yang berbinar-binar,
yang seperti bintang di langit malam.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Hanya suara angin yang berhembus, menggerakkan tenda
plastik biru di atas mereka.
Hanya suara orang-orang yang lalu lalang di jalan,
becak-becak yang berhenti menunggu penumpang, anak-anak yang bermain
kejar-kejaran di trotoar.
Hanya suara Mbah Darmo yang batuk-batuk kecil di pojok
kedai, suara koran yang dibalik halamannya, suara rokok yang diisap dan
ditiupkan kembali ke udara.
"Maaf, Danang," bisik Kirana, suaranya hampir
tidak terdengar, seperti bisikan dari alam lain, seperti suara dari dunia yang
berbeda. "Aku... aku tidak bermaksud... aku hanya... maaf."
"Tidak usah minta maaf, Kirana," kata Danang
akhirnya. Suaranya masih pelan, tetapi tidak lagi dingin. Ada kehangatan di
sana. Ada kelembutan. Ada sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa
pun kecuali Kirana. "Aku juga."
Kirana menatapnya. "Juga apa?"
Danang tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang keluar
dari tempat paling dalam di hatinya. Senyum yang hanya ia simpan untuk Kirana.
"Aku juga mencintaimu, Kirana. Sejak dulu. Sejak kita di tepi sungai.
Sejak kau memberikan bunga kuning itu padaku. Sejak kau menggenggam tanganku di
pondok sawah. Sejak kau berdiri di tengah kerumunan dan membelaku di depan
Surya. Sejak kau datang ke rumahku di tengah hujan untuk membawakan obat untuk
ibuku. Sejak kau memberikan pita biru itu padaku dan berjanji akan
kembali."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menahan air matanya lagi.
Air matanya jatuh.
Membasahi pipinya.
Membasahi kebaya biru mudanya.
Membasahi roti bakar yang masih tersisa di piringnya.
"Danang," bisiknya di antara isak tangisnya.
"Kenapa kau tidak bilang dari dulu? Kenapa kau diam saja? Kenapa kau
membiarkan aku menunggu bertahun-tahun? Kenapa kau..."
"Aku takut, Kirana," potong Danang. Suaranya
bergetar. Tangannya yang memegang cangkir kopi gemetar. "Aku takut kau
tidak merasakan hal yang sama. Aku takut kau hanya menganggapku teman. Aku takut
kau akan pergi jika aku jujur. Aku takut kehilanganmu. Aku takut..."
"Kau tidak akan kehilangan aku, Danang," kata
Kirana, suaranya tegas, yakin, penuh keyakinan. "Aku janji. Aku tidak akan
pergi. Aku akan selalu di sini. Untukmu. Untuk kita."
Danang menatap Kirana.
Matanya basah.
Ia ingin percaya.
Ia ingin percaya pada janji itu.
Ia ingin percaya bahwa Kirana tidak akan pergi.
Ia ingin percaya bahwa mereka bisa bersama.
Ia ingin percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk
mengatasi semua rintangan.
Tapi ia sudah belajar bahwa janji adalah hal paling rapuh
di dunia.
Bahwa janji bisa pecah seperti kaca.
Bahwa janji bisa hilang seperti kabut pagi.
Bahwa janji, seindah apa pun, tidak akan pernah bisa
menggantikan kehadiran.
Bahwa janji, sekuat apa pun, tidak akan pernah bisa
melindungi mereka dari dunia yang kejam.
"Kirana," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Aku... aku senang kita bertemu lagi. Di sini. Di kota
ini. Setelah dua tahun. Setelah semua yang terjadi. Aku senang kau masih... kau
masih peduli padaku."
Kirana tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang dulu
menjadi rumah bagi Danang. Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak
sendirian di dunia. Senyum yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
"Aku juga, Danang. Aku juga."
Di luar kedai, matahari mulai condong ke barat. Langit
mulai berwarna jingga keemasan. Awan-awan tipis berarak perlahan, seperti
domba-domba yang sedang merumput di padang rumput biru. Burung-burung mulai
pulang ke sarangnya, terbang berkelompok di atas atap-atap rumah, sesekali
menukik ke bawah, sesekali terbang tinggi ke langit.
Danang dan Kirana duduk berdampingan di kedai kopi kecil
itu, di tengah hiruk-pikuk kota Purwokerto yang mulai sibuk dengan aktivitas
sore. Mereka bicara tentang banyak hal. Tentang desa yang sudah berubah. Tentang
orang-orang yang telah pergi. Tentang Mbah Joyo yang meninggal dua tahun lalu
dalam tidurnya. Tentang Mak Tonah yang masih sehat meskipun usianya sudah
sembilan puluh tahun. Tentang Sastrowiryo yang tidak pernah kembali. Tentang
Ratih yang meninggal dengan senyum di bibir. Tentang Surya yang pindah ke
Jakarta bersama keluarganya setelah kebakaran itu. Tentang Bima yang sekarang
bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Tentang desa yang mulai
berubah, rumah-rumah kayu berganti semen, jalan-jalan tanah berganti aspal,
sawah-sawah mulai berubah menjadi perumahan.
Mereka juga bicara tentang masa kini. Tentang pekerjaan
Danang di percetakan. Tentang toko buku tempat Kirana bekerja. Tentang kamar
kos Danang yang sempit dan pengap. Tentang rumah dinas Kirana di Jalan Merdeka
yang besar tetapi dingin. Tentang Pak Suryanto yang baik hati tetapi pelit.
Tentang Bu Lastri yang cerewet tetapi perhatian. Tentang Mbah Darmo yang
kopinya enak tetapi roti bakarnya lebih enak.
Mereka bicara tentang masa depan. Tentang mimpi-mimpi
mereka. Tentang cita-cita mereka. Tentang apa yang ingin mereka capai. Tentang
apa yang ingin mereka lakukan. Tentang apa yang ingin mereka jadi.
"Aku ingin buka toko buku sendiri, Danang," kata
Kirana, matanya berbinar-binar. "Toko buku yang besar. Dengan rak-rak kayu
yang bagus. Dengan lampu-lampu yang terang. Dengan kursi-kursi nyaman untuk
pengunjung yang ingin membaca di tempat. Aku ingin menjual buku-buku bagus.
Buku-buku yang menginspirasi. Buku-buku yang mengubah hidup orang."
"Kau pasti bisa, Kirana," kata Danang. "Kau
orang yang pintar. Kau orang yang rajin. Kau orang yang tidak pernah menyerah.
Aku yakin suatu hari nanti kau akan punya toko buku sendiri. Toko buku terbesar
di Purwokerto. Mungkin di seluruh Jawa Tengah."
Kirana tertawa. "Kau melebih-lebihkan, Danang."
"Aku tidak. Aku serius."
"Baiklah. Kalau kau bilang begitu, aku percaya. Tapi
kau harus janji sesuatu."
"Apa?"
"Kalau aku punya toko buku nanti, kau harus datang.
Setiap hari. Membaca buku-buku di tokoku. Gratis. Tidak usah bayar."
Danang tersenyum. "Janji."
"Janji?"
"Janji."
Mereka mengangkat jari kelingking masing-masing.
Jari kecil yang kurus dan kasar milik Danang.
Jari kecil yang lentik dan putih milik Kirana.
Jari kecil yang pernah terpisah selama bertahun-tahun, kini
bersatu lagi.
Mereka mengaitkan jari kelingking mereka.
Seperti dulu.
Di tepi sungai.
Di bawah pohon waru.
Di sore yang hujan.
"Janji," bisik mereka bersamaan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, setelah
semua yang terjadi, setelah semua luka dan air mata dan kesepian, Danang merasa
bahwa ia tidak sendirian.
Bahwa ia memiliki seseorang.
Bahwa ia memiliki Kirana.
Bahwa ia memiliki rumah.
Bab 4
Arman
Melihat Sesuatu
Malam itu, ketika Danang kembali ke kamar kosnya setelah
seharian bekerja di percetakan dan setelah berjam-jam berbincang dengan Kirana
di kedai kopi, Arman sudah menunggu di depan pintu.
Bulan purnama bersinar terang di langit, memancarkan cahaya
keperakan yang lembut, yang membuat dunia terlihat seperti mimpi, seperti lukisan
cat air yang indah tetapi tidak nyata. Bintang-bintang berkedip-kedip di
sekitarnya, seperti anak-anak yang mengelilingi ibu mereka, seperti pengawal
yang menjaga raja mereka. Cahaya bulan masuk melalui celah-celah atap seng yang
bocor, menciptakan pola-pola cahaya di lantai semen yang kasar, seperti peta
dari dunia lain, seperti kode rahasia yang tidak bisa dibaca.
Arman duduk di kursi kayu di depan kamar kos Danang. Kursi
itu adalah kursi tunggal yang sudah tua, dengan sandaran yang longgar dan kaki
yang patah di satu sisi, ditopang oleh tumpukan batu bata agar tidak roboh.
Biasanya kursi itu digunakan oleh pemilik kos, Bu Tuminem, untuk duduk-duduk di
sore hari sambil mengupas bawang atau membersihkan sayuran. Tapi malam itu,
Arman duduk di sana, dengan kaki disilangkan, dengan tangan di saku celana,
dengan senyum di bibir.
"Lama sekali kau, Danang," kata Arman sambil
berdiri. Ia menjulurkan tangannya, menyodorkan sebuah bungkusan kecil yang
dibungkus kertas koran. "Ini untukmu. Aku beli sate kambing di depan
pasar. Masih hangat. Tadi aku lewat depan percetakan, Pak Suryanto bilang kau
sudah pulang. Tapi kau tidak ada di sini. Aku tunggu hampir satu jam."
Danang mengambil bungkusan itu. Kertas korannya sudah
sedikit basah oleh minyak dan bumbu kacang, tetapi masih utuh. Bau sate kambing
yang harum, dengan bumbu kacang yang kental dan kecap manis yang pekat,
langsung menyengat di hidungnya. Perutnya yang tadinya kenyang karena roti
bakar di kedai kopi, tiba-tiba keroncongan lagi.
"Makasih, Arman," kata Danang sambil membuka
pintu kamarnya. "Masuk. Maaf, kamarnya sempit. Kursinya cuma satu. Kau
duduk di ranjang saja. Aku di kursi."
Arman masuk ke kamar kos Danang. Kamar itu masih sama
seperti dua tahun lalu. Sempit. Pengap. Dinding bata merah tanpa cat. Lantai
semen yang kasar dan dingin. Ranjang besi dengan kasur tipis yang sudah kempes.
Meja kayu yang kakinya tidak rata, dialasi potongan kardus. Jendela kecil yang
menghadap gang sempit, dengan kaca buram yang tidak bisa melihat apa pun selain
bayangan samar-samar orang yang lewat.
Tapi ada beberapa perubahan kecil. Di sudut ruangan, ada
rak kayu kecil yang terbuat dari potongan-potongan kayu bekas, disusun tidak
rapi, tetapi cukup kuat untuk menahan beberapa buku. Buku-buku bekas yang
Danang beli dari pasar loak atau pinjam dari Pak Suryanto atau toko buku
Kirana. Buku-buku dengan sampul yang lusuh, dengan halaman yang menguning,
dengan bau khas kertas tua.
Di dinding, ada poster Bob Marley yang sudah robek di sudut
kanan bawah, ditempel dengan lem kertas yang sudah mengering dan mengelupas di
beberapa tempat. Poster itu diberikan Arman pada ulang tahun Danang yang
pertama di kota ini. "Kau harus kenal Bob Marley, Danang. Musiknya bagus.
Liriknya dalam. Bisa bikin kau lupa masalah," kata Arman waktu itu.
Danang tidak pernah benar-benar mendengarkan musik Bob
Marley. Ia tidak punya tape recorder. Ia tidak punya kaset. Ia hanya memiliki
poster itu. Dan setiap malam, sebelum tidur, ia memandang wajah Bob Marley
dengan rambut gimbalnya, dengan senyumnya yang khas, dengan mata yang sayu
tetapi penuh semangat, dan ia bertanya-tanya apa arti lagu-lagu yang
dinyanyikan lelaki itu.
"Kau habis dari mana, Danang?" tanya Arman sambil
duduk di ranjang. Kasur itu berderit di bawah berat badannya, seperti mengeluh,
seperti protes. "Pak Suryanto bilang kau mengantar pesanan ke toko buku di
Jalan Veteran. Tapi itu tadi siang. Sekarang sudah malam. Sudah hampir jam
delapan. Perjalanan dari toko buku ke sini cuma dua puluh menit dengan
sepeda."
Danang duduk di kursi kayu di hadapan Arman. Kursi itu juga
berderit, tetapi lebih karena usia daripada karena berat badan Danang yang
kurus. Ia membuka bungkusan sate kambing, mengambil tiga tusuk, menyerahkan dua
tusuk pada Arman.
"Kau makan dulu," kata Arman sambil menolak.
"Itu untukmu. Aku sudah makan di rumah."
"Aku juga sudah makan," kata Danang. "Tadi
di kedai kopi. Roti bakar keju. Kirana yang traktir."
"Kirana?"
Danang tersenyum. Senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
Senyum yang membuat seluruh wajahnya berubah, dari yang biasanya dingin dan
keras, menjadi lembut dan hangat. Senyum yang hanya muncul ketika ia memikirkan
Kirana.
"Teman lama," katanya. "Dari desa. Dulu kita
tetangga. Sahabat kecil. Kami berpisah waktu aku masih kecil. Dia pindah ke
kota. Dan hari ini, aku bertemu dia lagi. Di toko buku itu. Ternyata dia
bekerja di sana. Sebagai asisten. Membantu Bu Lastri, pemilik toko."
Arman mengangguk. Matanya yang tajam, yang sudah terbiasa
membaca orang sejak pertemuan pertama, menatap Danang dengan intens. Ia melihat
sesuatu. Sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat pada
Danang sebelumnya.
"Kau senang sekali, Danang," kata Arman.
"Wajahmu bersinar. Matamu berbinar. Seperti... seperti orang yang baru
jatuh cinta."
Danang tersenyum malu. Ia menunduk, memandang sate kambing
di tangannya, memutar-mutar tusuk bambu itu di antara jari-jarinya. "Bukan
begitu, Arman. Kirana hanya teman. Teman lama. Sahabat kecil. Tidak
lebih."
"Kau bohong," kata Arman. "Aku kenal kau,
Danang. Sudah dua tahun kita berteman. Aku bisa membaca wajahmu. Aku bisa
membaca matamu. Aku bisa membaca hatimu. Kau tidak pernah tersenyum seperti
itu. Tidak pernah. Selama dua tahun kau di kota ini, kau tidak pernah tersenyum
seperti itu. Tidak sekali pun. Bahkan ketika Pak Suryanto memberi kau bonus, kau
hanya tersenyum tipis. Bahkan ketika kau berhasil menyusun huruf dengan
sempurna tanpa kesalahan, kau hanya mengangguk puas. Tapi hari ini, ketika kau
bicara tentang Kirana, wajahmu berubah. Matamu berbinar. Senyummu... senyummu
seperti anak kecil yang baru diberi permen."
Danang tidak menjawab. Ia hanya makan sate kambingnya,
mengunyah perlahan, menikmati rasa daging yang empuk, bumbu kacang yang gurih,
kecap manis yang pekat. Tapi lidahnya tidak merasakan apa-apa. Pikirannya
terlalu sibuk. Hatinya terlalu berdebar.
"Danang," panggil Arman.
"Hmm?"
"Kau harus hati-hati."
Danang mengangkat kepala. "Maksudmu?"
Arman menghela napas panjang. Ia berdiri dari ranjang,
berjalan ke jendela kecil, memandang ke luar, ke gang sempit yang gelap, ke
langit yang penuh bintang, ke bulan purnama yang bersinar terang.
"Perempuan. Cinta. Perasaan. Semua itu bisa membuat kau senang, tapi juga
bisa membuat kau hancur. Aku sudah melihat banyak temanku yang hancur karena
cinta. Ada yang putus sekolah. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang bunuh
diri. Ada yang gila."
"Aku tidak akan seperti mereka, Arman."
"Kau tidak tahu, Danang. Cinta itu buta. Cinta itu
tidak rasional. Cinta itu bisa membuat orang melakukan hal-hal bodoh. Hal-hal
yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Kau adalah orang yang cerdas.
Kau adalah orang yang rasional. Kau adalah orang yang tidak mudah terpengaruh
perasaan. Tapi ketika cinta datang, semua itu bisa berubah. Kau bisa menjadi
orang yang berbeda. Orang yang tidak kau kenali."
Danang terdiam.
Ia memikirkan kata-kata Arman.
Apakah ia sudah berubah?
Apakah ia sudah berbeda sejak bertemu Kirana?
Apakah ia sudah menjadi orang yang tidak ia kenali?
Mungkin.
Ya, mungkin.
Sejak bertemu Kirana sore ini, sejak mendengar suaranya,
sejak melihat senyumnya, sejak mendengar kata-kata "Aku mencintaimu,
Danang", ia merasa seperti terbang. Seperti melayang di atas awan. Seperti
berada di dunia yang berbeda. Dunia yang hanya berisi dia dan Kirana. Dunia
yang tidak ada masalah, tidak ada luka, tidak ada air mata.
"Kau jatuh cinta padanya, Danang," kata Arman.
Bukan pertanyaan. Pernyataan. Fakta. "Aku bisa melihatnya dari matamu.
Dari caramu menyebut namanya. Dari caramu tersenyum ketika bicara tentang dia.
Kau jatuh cinta. Dan itu berbahaya."
"Kenapa berbahaya?" tanya Danang.
"Karena cinta bisa membuat kau lupa pada diri sendiri.
Lupa pada tujuanmu. Lupa pada masa depanmu. Lupa pada semua yang telah kau
perjuangkan selama ini. Kau datang ke kota ini untuk bekerja, untuk bertahan
hidup, untuk membuktikan bahwa kau bisa sukses meskipun tanpa orang tua,
meskipun tanpa uang, meskipun tanpa pendidikan. Bukan untuk jatuh cinta."
"Aku tidak lupa, Arman. Aku masih ingat tujuanku. Aku
masih ingat mengapa aku di sini. Tapi... tapi Kirana berbeda. Kirana adalah
bagian dari masa laluku. Kirana adalah satu-satunya orang yang percaya padaku
ketika semua orang meragukanku. Kirana adalah satu-satunya orang yang membelaku
ketika semua orang menuduhku. Kirana adalah... Kirana adalah rumahku."
Arman menatap Danang.
Matanya yang tajam, yang biasanya ramah dan mudah
tersenyum, kini serius. Sangat serius. Tidak ada senyum di bibirnya. Tidak ada
kerutan di dahinya. Hanya tatapan. Tatapan yang seperti sedang menimbang,
sedang menghitung, sedang merencanakan sesuatu.
"Kau yakin dia orang yang tepat, Danang?" tanya
Arman. "Kau yakin dia tidak akan menyakitimu? Kau yakin dia akan setia?
Kau yakin dia tidak akan pergi seperti orang-orang lain?"
Danang terdiam.
Ia tidak bisa menjawab.
Ia tidak yakin.
Ia tidak tahu.
Ia hanya tahu bahwa ia mencintai Kirana.
Ia hanya tahu bahwa ia ingin bersama Kirana.
Ia hanya tahu bahwa tanpa Kirana, hidupnya terasa kosong,
terasa hampa, terasa tidak berarti.
"Aku tidak yakin, Arman," kata Danang akhirnya.
"Tapi aku ingin mencoba. Aku ingin percaya. Aku ingin berharap. Aku
ingin... aku ingin bahagia. Untuk sekali saja. Aku ingin bahagia."
Arman tidak menjawab.
Ia hanya berdiri di depan jendela, memandang bulan,
memandang bintang, memandang langit yang luas, yang tidak terbatas, yang penuh
misteri.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang berubah.
Sesuatu yang tidak ia sadari.
Sesuatu yang tumbuh perlahan-lahan, seperti benih yang
ditanam di tanah yang subur, seperti api yang mulai membara di bawah abu.
Iri.
Iri pada Danang.
Iri pada kebahagiaan Danang.
Iri pada cinta Danang.
Iri pada Kirana.
Perempuan yang membuat Danang tersenyum seperti itu.
Perempuan yang membuat Danang lupa pada semua masalahnya.
Perempuan yang menjadi rumah bagi Danang.
Perempuan yang tidak pernah ia lihat, tidak pernah ia
kenal, tetapi sudah ia benci.
"Arman," panggil Danang.
Arman menoleh. Wajahnya berubah. Kembali tersenyum. Kembali
ramah. Kembali seperti Arman yang dikenal semua orang. "Ya?"
"Kau kenapa diam? Kau marah?"
"Tidak. Aku hanya berpikir."
"Pikir apa?"
Arman berjalan kembali ke ranjang, duduk di samping Danang.
Ia menepuk pundak Danang, seperti kakak yang menghibur adik, seperti teman yang
memberi semangat.
"Aku hanya berpikir bahwa kau berhak bahagia, Danang.
Setelah semua yang kau alami, setelah semua yang kau lalui, kau berhak bahagia.
Jika Kirana bisa membuatmu bahagia, maka aku mendukungmu. Aku akan membantumu.
Aku akan menjagamu. Aku akan memastikan tidak ada yang menyakitimu."
Danang tersenyum. "Makasih, Arman. Kau sahabat
baik."
Arman tersenyum balik. "Tugas sahabat, Danang."
Tapi di dalam hatinya, di tempat yang paling gelap, di
tempat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, Arman berkata pada
dirinya sendiri:
"Kenapa dia? Kenapa bukan aku? Kenapa perempuan itu
memilih dia, bukan aku? Kenapa Danang selalu mendapatkan apa yang aku inginkan?
Kenapa Danang yang miskin, yang tidak punya apa-apa, yang anak haram, yang
tidak berpendidikan, bisa mendapatkan cinta, sementara aku? Aku yang kaya, aku
yang berpendidikan, aku yang punya masa depan, aku yang baik, aku yang selalu
ada untuknya, mengapa aku tidak pernah cukup?"
Ia tidak mengatakan kata-kata itu keras-keras.
Ia hanya menyimpannya di dalam hati.
Menyimpannya seperti menyimpan racun.
Racun yang suatu hari nanti akan keluar.
Racun yang akan menghancurkan segalanya.
Racun yang akan mengubah Danang, Kirana, dan dirinya
sendiri, selamanya.
Bab 5
Senja
yang Membuka Luka Lama
Tiga bulan setelah pertemuan di toko buku, Danang dan
Kirana semakin dekat.
Setiap hari, setelah Danang selesai bekerja di percetakan,
ia akan mengayuh sepeda onthelnya yang tua dan berkarat menuju toko buku di
Jalan Veteran. Perjalanan yang hanya dua puluh menit itu terasa seperti
perjalanan menuju surga. Setiap pedal yang ia kayuh, setiap tikungan yang ia
lewati, setiap lampu merah yang ia tunggu, semua terasa ringan, terasa indah,
terasa berarti, karena di ujung perjalanan itu, Kirana menunggu.
Kirana akan menunggunya di depan toko buku, duduk di kursi
kayu kecil yang biasa digunakan Bu Lastri untuk beristirahat di sore hari.
Kursi itu sederhana, terbuat dari kayu jati tua dengan sandaran yang diukir
bunga-bunga kecil, bantalan dari kain perca yang sudah kusam, tetapi bagi
Danang, kursi itu adalah singgasana, dan Kirana adalah ratu yang duduk di
atasnya.
"Kau datang, Danang," kata Kirana setiap kali
melihat Danang memarkir sepedanya di depan toko. Matanya akan berbinar,
senyumnya akan merekah, lesung pipitnya akan muncul, dan Danang akan merasa
bahwa semua lelahnya selama seharian bekerja hilang seketika.
"Aku janji, Kirana. Aku akan datang setiap hari. Aku
tidak akan ingkar janji."
Mereka akan berjalan bersama menyusuri trotoar Jalan
Veteran, melewati toko-toko yang mulai tutup, melewati warung-warung yang mulai
membuka lapak untuk makan malam, melewati rumah-rumah penduduk yang mulai
menyalakan lampu. Kadang mereka berpegangan tangan, kadang tidak, tetapi selalu
ada jarak yang sengaja mereka jaga, jarak yang lahir dari rasa malu, dari
ketidakpastian, dari pertanyaan "Apakah kita pacaran?" yang tidak
pernah mereka ucapkan tetapi selalu hadir di antara mereka.
Sesekali mereka mampir ke kedai kopi Mbah Darmo, memesan
roti bakar keju dan kopi hitam, lalu duduk berjam-jam, berbicara tentang segala
hal, dari hal-hal kecil seperti cuaca dan harga cabai, hingga hal-hal besar
seperti mimpi dan masa depan dan cita-cita.
"Danang, kau tahu? Hari ini ada pelanggan yang lucu
banget," kata Kirana suatu sore, matanya berbinar-binar, tangannya
bergerak-gerak seperti sedang menggambarkan sesuatu yang sangat menarik.
"Dia datang ke toko, mukanya serius banget, kayak orang mau beli buku seribu
halaman. Aku pikir dia mau beli ensiklopedia atau kamus bahasa Sansekerta atau
buku filsafat karangan Aristoteles. Tapi ternyata dia cari buku resep masakan.
Resep masakan untuk pemula yang baru belajar masak. Katanya, dia baru menikah
dan istrinya tidak bisa masak. Jadi dia yang harus masak untuk istrinya."
Danang tertawa. "Lucu juga. Suami yang masak untuk
istri."
"Iya. Biasanya kan istri yang masak untuk suami. Tapi
ini suami yang masak untuk istri. Aku jadi berpikir, mungkin suatu hari nanti,
kalau aku menikah, aku juga ingin suami yang bisa masak. Jadi aku tidak perlu
repot-repot belajar masak."
"Kau tidak bisa masak, Kirana?"
Kirana cemberut. "Bisa sih. Sedikit. Nasi goreng, mie
goreng, telur dadar. Itu saja. Lauk-pauk yang rumit-rumit, aku tidak bisa. Ibu
tidak pernah mengajariku. Ibu terlalu sibuk bekerja. Jadi aku belajar sendiri.
Tapi hasilnya... yah, bisa dimakan. Tidak enak, tetapi bisa dimakan."
"Mungkin suatu hari nanti kau akan bisa. Belajar dari
buku resep yang dibeli pelanggan lucu itu."
"Kau mau jadi kelinci percobaanku, Danang? Aku masak,
kau yang mencicipi."
"Siap, Mbak Kirana. Asal tidak diracun."
Mereka berdua tertawa. Tawa mereka bergema di kedai kopi
yang mulai sepi, menggema di antara meja-meja kayu yang kosong, menggema di
antara kursi-kursi plastik yang berwarna-warni.
Kadang mereka tidak pergi ke mana-mana. Hanya duduk di
dalam toko buku, di lantai yang dingin, di antara rak-rak kayu yang penuh
dengan buku. Kirana akan membaca puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono atau Chairil
Anwar atau W.S. Rendra, dengan suara yang lembut, dengan intonasi yang tepat,
dengan penghayatan yang dalam.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana," Kirana
membaca puisi Sapardi, matanya menatap Danang, "dengan kata yang tak
sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada."
Danang mendengarkan. Ia tidak mengerti puisi. Ia tidak
pernah belajar puisi di sekolah. Ia tidak pernah membaca buku puisi. Tapi
ketika Kirana membacakan puisi untuknya, kata-kata itu terasa indah, terasa
dalam, terasa seperti sedang berbicara langsung kepada hatinya.
"Itu bagus, Kirana. Puisi siapa?"
"Sapardi. Penyair terkenal. Kau harus baca puisi-puisinya,
Danang. Bagus-bagus. Bikin hati terasa hangat. Bikin hati terasa
tersentuh."
"Aku tidak punya buku puisinya."
"Pinjam saja di sini. Bu Lastri tidak keberatan. Asal
jangan lama-lama. Dan jangan robek. Dan jangan kotor. Dan jangan lipat halamannya.
Dan jangan bawa ke luar toko."
Danang tertawa. "Banyak sekali aturannya."
"Harus. Buku itu berharga. Buku adalah jendela dunia.
Buku adalah teman yang tidak pernah mengkhianati. Buku adalah harta yang tidak
bisa dicuri."
"Kau seperti Pak Suryanto. Suka memberi nasihat
tentang buku."
"Pak Suryanto siapa? Majikanmu?"
"Iya. Dia bilang, buku adalah jendela dunia. Buku
adalah guru yang tidak pernah marah. Buku adalah teman yang tidak pernah
mengkhianati."
"Wah, Pak Suryanto pintar. Aku suka dia. Suatu hari nanti,
aku ingin bertemu dia."
"Kau akan suka. Dia baik. Agak pelit, tapi baik. Dia
suka memberi nasihat. Kadang nasihatnya panjang banget. Sampai satu jam. Sampai
aku mengantuk. Tapi nasihatnya selalu bermanfaat."
"Kau beruntung punya majikan seperti dia."
"Aku tahu. Aku bersyukur."
Kadang mereka berjalan ke sungai kecil di belakang kota.
Sungai itu tidak seindah Sungai Kapuas di desa. Airnya keruh, penuh sampah,
baunya tidak sedap. Tidak ada pohon waru dengan akar yang menjuntai ke air.
Tidak ada nelayan yang melempar jala. Tidak ada anak-anak yang bermain air.
Hanya air kotor yang mengalir lambat, dan sampah-sampah plastik yang tersangkut
di bebatuan.
Tapi bagi Danang dan Kirana, sungai itu adalah pengganti.
Pengganti sungai di desa yang tidak bisa mereka kunjungi lagi. Pengganti
kenangan masa kecil yang tidak bisa mereka ulang. Pengganti rumah yang tidak
lagi mereka miliki.
Mereka akan duduk di tepi sungai, di atas bebatuan besar
yang licin karena lumut, memandang air yang mengalir, mendengar suara air yang
membentur batu, merasakan angin sore yang berhembus pelan, membawa bau sampah
dan air kotor, tetapi juga membawa kenangan-kenangan lama.
"Aku rindu sungai di desa, Danang," kata Kirana
suatu sore, matanya sayu, suaranya pelan, seperti bisikan. "Aku rindu
airnya yang jernih. Aku rindu ikannya yang banyak. Aku rindu pohon waru yang
rindang. Aku rindu akar-akar besar yang menjuntai ke air. Aku rindu tempat kita
duduk dulu. Aku rindu... aku rindu masa kecil kita."
Danang mengangguk. "Aku juga, Kirana. Aku juga rindu.
Tapi kita tidak bisa kembali. Desa sudah berubah. Sungai sudah berubah. Kita
sudah berubah. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengingat. Mengingat dan
bersyukur bahwa kita pernah memilikinya."
"Apa kau masih ingat janji kita, Danang?"
"Janji apa?"
"Janji di tepi sungai. Janji dengan jari kelingking.
Janji bahwa kita akan berteman selamanya. Janji bahwa kita tidak akan saling
melupakan. Janji bahwa kita akan selalu bersama."
Danang tersenyum. "Aku ingat, Kirana. Aku ingat setiap
kata. Aku ingat setiap detail. Aku ingat warna pita biru di rambutmu. Aku ingat
bau sabun kelapa di rambutmu. Aku ingat hangatnya tanganmu ketika menggenggam
tanganku. Aku ingat suaramu ketika kau bilang 'Aku akan kembali.' Aku ingat
semuanya."
"Dan kau masih mau memegang janji itu?"
"Selamanya, Kirana. Aku akan memegang janji itu
selamanya."
Kirana menangis.
Ia menangis bukan karena sedih.
Ia menangis karena bahagia.
Karena bahagia bahwa Danang masih ingat.
Karena bahagia bahwa Danang masih peduli.
Karena bahagia bahwa Danang masih mau.
Karena bahagia bahwa mereka masih bersama.
Meskipun tidak di desa.
Meskipun tidak di tepi sungai.
Meskipun tidak di bawah pohon waru.
Tapi bersama.
Di kota yang sama.
Di sungai yang berbeda.
Di waktu yang berbeda.
Tapi bersama.
Suatu sore di bulan Agustus, ketika langit berwarna jingga
keemasan yang begitu indah, yang seperti lukisan cat minyak karya pelukis
terkenal, Danang dan Kirana berjalan di tepi sungai kecil di belakang kota.
Langit di barat berwarna jingga tua, kemerahan di bagian bawah, kekuningan di
bagian atas, seperti matahari yang sedang demam tinggi, seperti dunia yang
sedang terbakar perlahan-lahan.
Matahari hampir tenggelam. Hanya setengah lingkaran yang
tersisa di ufuk barat, seperti mata yang setengah tertutup, seperti dunia yang
sedang mengantuk. Awan-awan di sekitarnya berwarna merah muda, ungu, keemasan,
seperti sedang berpesta, seperti sedang merayakan keindahan yang akan segera
berakhir.
Burung-burung terbang di atas sungai, terbang rendah,
hampir menyentuh permukaan air, seperti sedang bercermin, seperti sedang
melihat bayangan mereka sendiri. Sesekali mereka menukik ke bawah, menangkap
ikan kecil yang muncul ke permukaan, lalu terbang lagi, membawa mangsa di paruh
mereka.
"Danang," panggil Kirana, suaranya pelan, lembut,
seperti angin sore yang berhembus.
"Iya, Kirana?"
"Apa kau bahagia? Sekarang. Di sini. Bersamaku."
Danang menatap Kirana.
Wajahnya yang cantik di bawah sinar matahari sore.
Rambutnya yang panjang berkibar-kibar ditiup angin, seperti bendera yang
berkibar di tiang, seperti ombak yang bergerak di laut. Matanya yang coklat
kehijauan memantulkan cahaya matahari, seperti batu permata yang berkilauan,
seperti air sungai yang jernih.
"Aku bahagia, Kirana. Sangat bahagia. Mungkin ini saat
paling bahagia dalam hidupku. Sejak... sejak ibuku masih hidup."
Kirana tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang membuat
Danang lupa pada semua masalah yang sedang menghantam hidupnya. Senyum yang
menjadi rumah baginya di tengah badai.
"Aku juga bahagia, Danang. Sangat bahagia. Mungkin ini
saat paling bahagia dalam hidupku. Sejak... sejak kita masih kecil di
desa."
Mereka berdua terdiam.
Matahari semakin tenggelam.
Langit semakin gelap.
Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
"Danang," panggil Kirana lagi.
"Ya?"
"Ada yang ingin aku tanyakan. Tapi aku takut. Aku
takut kau marah. Aku takut kau kecewa. Aku takut kau... kau pergi."
Danang mengernyit. "Tanya saja, Kirana. Aku tidak akan
marah. Aku tidak akan kecewa. Aku tidak akan pergi. Janji."
Kirana menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Tangannya
yang berada di pangkuan, menggenggam ujung kebayanya, memilin-milin kain itu
dengan gelisah.
"Apa kau... apa kau masih mencari ayah kandungmu,
Danang?"
Danang terdiam.
Wajahnya berubah.
Senyumnya hilang.
Matanya yang tadinya hangat, tiba-tiba menjadi dingin.
Dingin seperti es. Dingin seperti air sungai di pagi hari.
"Kenapa kau tanya itu, Kirana?"
Kirana menunduk. "Aku hanya... aku hanya ingin tahu.
Aku hanya peduli padamu. Aku hanya ingin membantu. Aku hanya..."
"Aku tidak butuh bantuan, Kirana," potong Danang,
suaranya dingin, tajam, seperti pisau. "Aku tidak butuh ayah. Aku sudah
hidup tanpa ayah selama bertahun-tahun. Aku bisa hidup tanpa ayah selamanya.
Aku tidak butuh lelaki itu. Aku tidak butuh siapa pun."
"Danang..."
"Dia meninggalkan ibuku ketika ibuku hamil. Dia pergi
tanpa pamit. Dia tidak pernah kembali. Dia tidak pernah mengirim kabar. Dia
tidak pernah peduli. Dia tidak pernah mengaku. Dia tidak pernah meminta maaf.
Dia tidak pernah..."
Suara Danang pecah.
Tangisnya keluar.
Ia tidak bisa melanjutkan.
Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya
naik turun, tangisnya tertahan tetapi terdengar.
Kirana memeluknya.
Ia memeluk Danang erat-erat.
Seperti dulu.
Seperti ketika mereka masih kecil.
Seperti ketika Danang menangis di dapur setelah
pertengkaran orang tuanya.
Seperti ketika Danang menangis di beranda setelah
mengetahui bahwa Sastrowiryo bukan ayah kandungnya.
Seperti ketika Danang menangis di pinggir jalan desa ketika
ia pergi.
"Maaf, Danang," bisik Kirana di telinga Danang.
"Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya... aku hanya ingin
kau tahu bahwa kau tidak sendirian. Bahwa aku di sini. Bahwa aku akan selalu di
sini. Bahwa aku akan membantumu mencari ayah kandungmu, jika kau mau. Bahwa aku
akan mendukungmu apa pun keputusanmu. Bahwa aku..."
"Tidak usah, Kirana," kata Danang, suaranya masih
basah oleh tangis, tetapi tidak lagi dingin. "Aku tidak mau mencari dia.
Aku tidak peduli. Aku sudah punya keluarga. Aku punya ibu. Meskipun ibu sudah
meninggal. Aku punya ayah tiri. Meskipun dia pergi. Aku punya kau. Meskipun...
meskipun aku tidak tahu apa hubungan kita."
"Kita adalah kita, Danang. Tidak perlu diberi nama.
Tidak perlu diberi label. Kita adalah kita. Dua orang yang saling peduli. Dua
orang yang saling mencintai. Dua orang yang saling membutuhkan. Itu sudah
cukup."
Danang mengangkat kepalanya.
Ia menatap Kirana.
Matanya masih basah.
Tapi ada senyum di bibirnya.
Senyum yang lemah, tetapi tulus.
"Terima kasih, Kirana."
"Tugas... tugas pacar?"
Danang terkejut. "Pacar?"
Kirana tersenyum malu. Wajahnya merah padam. "Iya.
Pacar. Kalau kau mau. Kalau kau tidak mau, ya sudah. Kita tetap teman. Tidak
apa."
"Aku mau, Kirana. Aku mau."
"Serius?"
"Serius. Aku sudah mencintaimu sejak kecil. Aku sudah
menunggumu sejak kau pergi. Aku sudah memimpikanmu setiap malam. Aku
sudah..."
Kirana mencium pipi Danang.
Cepat.
Ringan.
Seperti kupu-kupu yang hinggap di bunga.
Seperti daun yang jatuh ke tanah.
Seperti mimpi yang tidak nyata.
Danang terdiam.
Seluruh tubuhnya membeku.
Pipinya terasa hangat.
Bekas ciuman Kirana masih terasa di kulitnya.
"Aku juga mencintaimu, Danang," bisik Kirana.
"Sejak dulu. Sejak kita di tepi sungai. Sejak kau melempar batu ke air.
Sejak kau menggambar bunga kuning di buku gambarmu. Sejak kau menampar Surya
karena menghina ibuku. Sejak kau menangis di depanku. Sejak kau bilang 'Aku
takut kehilangan semuanya.' Sejak saat itu, Danang. Sejak saat itu, aku tahu.
Aku tahu bahwa kau adalah orang yang aku tunggu. Aku tahu bahwa kau adalah
orang yang aku cintai. Aku tahu bahwa kau adalah rumahku."
Danang tidak bisa berkata apa-apa.
Ia hanya memeluk Kirana.
Memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut Kirana akan pergi.
Seperti takut ini hanya mimpi.
"Ini mimpi, Kirana?" bisiknya.
"Tidak, Danang. Ini nyata. Kita nyata. Cinta kita
nyata."
Danang memejamkan mata.
Ia ingin waktu berhenti.
Ia ingin momen ini berlangsung selamanya.
Ia ingin Kirana tetap di pelukannya.
Ia ingin kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.
Tapi di kejauhan, di balik kegelapan malam yang mulai
turun, di balik pohon-pohon yang mulai gelap, di balik sungai yang mengalir,
seseorang berdiri.
Arman.
Ia datang untuk menjemput Danang, seperti biasa.
Ia ingin mengajak Danang makan malam di warung langganan
mereka.
Tapi ketika ia sampai di tepi sungai, ia melihat mereka.
Danang dan Kirana.
Berpelukan.
Di bawah sinar matahari sore.
Di tepi sungai yang keruh.
Ia berhenti.
Ia tidak bergerak.
Ia tidak bersuara.
Ia hanya berdiri.
Memandang.
Dari kejauhan.
Dari balik kegelapan yang mulai menyelimuti.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berekspresi.
Tangannya yang memegang payung, gemetar.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang tumbuh.
Bukan marah.
Bukan benci.
Bukan sakit.
Tapi iri.
Iri yang perlahan berubah menjadi bahaya.
Iri yang perlahan berubah menjadi racun.
Iri yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan.
Dan tanpa Danang ketahui, tanpa Kirana sadari, malam itu,
di tepi sungai kecil yang keruh, di bawah senja yang mulai gelap, sesuatu yang
berbahaya mulai tumbuh di hati Arman.
Sesuatu yang akan menghancurkan mereka bertiga.
Sesuatu yang akan mencuri kebahagiaan mereka.
Sesuatu yang akan mengubah cinta menjadi luka.
Sesuatu yang akan mengubah sahabat menjadi musuh.
Bab 6
Tatapan
yang Tidak Sengaja Berubah
Hari-hari setelah pertemuan di tepi sungai, setelah ciuman
di pipi yang mengubah segalanya, setelah kata-kata "Aku juga
mencintaimu" yang terucap di senja yang indah, Danang dan Kirana semakin
sering bersama. Bukan hanya setiap sore, tetapi juga setiap pagi sebelum
bekerja, setiap akhir pekan, setiap waktu luang yang mereka miliki. Seperti dua
magnet yang tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa
berdiri sendiri, seperti dua burung yang terbang bersama di langit yang luas.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Danang akan mengayuh
sepeda onthelnya menuju rumah dinas Kirana di Jalan Merdeka. Perjalanan yang
memakan waktu hampir empat puluh menit itu ia tempuh dengan semangat yang tidak
pernah pudar, dengan energi yang tidak pernah habis, dengan kebahagiaan yang
tidak pernah berkurang. Ia akan berhenti di depan pasar pagi, membeli jajan
untuk Kirana, kadang pisang goreng, kadang getuk, kadang lupis, kadang bubur
kacang hijau. Jajanan yang masih hangat, yang masih mengepulkan uap, yang bau
harumnya membuat orang yang lewat menoleh.
"Pagi, Kirana!" serunya dari depan pagar rumah
dinas yang tinggi, pagar besi hitam dengan ornamen-ornamen bunga yang sudah
berkarat di beberapa tempat.
Kirana akan keluar dengan wajah masih mengantuk, rambut
masih kusut, baju tidur masih melekat di tubuhnya. Matanya masih sayu, belum
benar-benar terbuka, seperti mata kucing yang baru bangun tidur. Tapi ketika ia
melihat Danang, ketika ia melihat senyum Danang, ketika ia melihat
bungkusan-bungkusan jajan di tangan Danang, matanya akan langsung berbinar,
wajahnya akan langsung cerah, senyumnya akan langsung merekah.
"Kau datang, Danang. Aku kira kau tidak jadi datang.
Hujan tadi malam deras sekali. Aku kira jalanan banjir."
"Aku janji, Kirana. Aku akan datang setiap pagi. Hujan,
banjir, badai, aku akan tetap datang. Karena kau menungguku. Karena aku tidak
mau kau kecewa."
Kirana tersenyum. Senyum yang membuat jantung Danang
berdebar kencang, yang membuat lututnya terasa lemas, yang membuat ia lupa pada
semua lelahnya.
"Ayo, masuk. Ibu sudah membuat kopi. Ayah sudah pergi
ke kantor. Kita sarapan dulu. Nanti kau terlambat kerja."
"Tidak apa. Pak Suryanto maklum. Dia tahu aku punya...
punya..."
"Punya pacar?" sambung Kirana, matanya nakal,
senyumnya menggoda.
Danang tersenyum malu. "Iya. Punya pacar."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang riang, tawa yang bebas,
tawa yang seperti anak kecil yang bermain kejar-kejaran di halaman sekolah.
Tawa yang membuat pagi terasa lebih cerah, yang membuat hari terasa lebih
indah, yang membuat hidup terasa lebih berarti.
Tapi kebahagiaan mereka tidak luput dari perhatian.
Arman, yang selama ini menjadi sahabat Danang, yang selama
ini selalu ada untuk Danang, yang selama ini menjadi tempat Danang berkeluh
kesah, mulai berubah.
Bukan berubah drastis. Tidak tiba-tiba menjadi jahat. Tidak
tiba-tiba membenci Danang. Berubah perlahan, seperti air yang mendidih di atas
api kecil, seperti rumput yang tumbuh di sela-sela batu, seperti warna daun
yang berubah di musim kemarau.
Ia masih datang ke kamar kos Danang setiap malam. Masih
membawa sate kambing atau nasi goreng atau bakso. Masih duduk di ranjang sempit
Danang, berbicara tentang banyak hal, tertawa tentang hal-hal lucu, mengeluh
tentang pekerjaan yang melelahkan.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Cara ia memandang Danang.
Cara ia memandang Kirana.
Cara ia memandang dunia.
Semua berubah.
Suatu sore, ketika Danang sedang menemani Kirana di toko
buku, membantu merapikan rak-rak yang berantakan, menata buku-buku berdasarkan
abjad, membersihkan debu-debu yang menempel di sampul, Arman datang.
Ia datang dengan alasan ingin membeli buku. "Aku butuh
buku tentang mesin, Danang. Aku ingin belajar memperbaiki mesin sendiri. Biar
tidak perlu ke bengkel terus. Mahal."
Tapi Danang tahu itu bukan alasan sebenarnya. Ia sudah
cukup lama berteman dengan Arman untuk bisa membaca bahasa tubuhnya, untuk bisa
merasakan ketika Arman sedang tidak jujur. Matanya. Matanya berbohong. Matanya
mengatakan sesuatu yang berbeda dari kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Silakan, Arman. Rak buku teknik di pojok sana. Di
sebelah rak buku kedokteran. Di samping rak buku pertanian. Kau cari saja. Aku
masih sibuk di sini."
Arman mengangguk. Ia berjalan menuju rak buku teknik,
tetapi matanya tidak tertuju pada buku. Matanya tertuju pada Kirana.
Kirana sedang duduk di meja kasir, menghitung uang hasil
penjualan hari ini, mencatatnya di buku besar, melipat uang-uang kertas
berdasarkan nominalnya. Tangannya yang lentik dan putih bergerak lincah,
memisahkan uang lima ribuan, sepuluh ribuan, dua puluh ribuan. Matanya fokus,
tidak terganggu oleh kehadiran Arman, tidak menyadari bahwa ia sedang ditatap.
Arman berdiri di depan rak buku teknik, tetapi ia tidak
mengambil buku apa pun. Ia hanya berdiri, memegang rak kayu di depannya,
memandang Kirana dari kejauhan. Matanya tidak berkedip. Wajahnya tidak
berekspresi. Tangannya yang memegang rak kayu, mulai gemetar.
"Arman, kau tidak jadi beli buku?" tanya Danang
dari belakang.
Arman terkejut. Ia menoleh cepat, terlalu cepat. Wajahnya
memerah, seperti orang yang ketahuan mencuri, seperti orang yang ketahuan
berbohong.
"Eh... iya, aku... aku tidak jadi. Bukunya tidak ada
yang cocok. Mungkin lain kali."
"Kau yakin? Aku bisa tanya Bu Lastri. Mungkin ada di
gudang. Buku-buku lama kadang disimpan di belakang."
"Tidak usah, Danang. Tidak usah repot-repot. Aku cari
di toko lain saja. Terima kasih."
Arman pergi.
Ia berjalan cepat meninggalkan toko buku, hampir berlari,
seperti orang yang dikejar sesuatu, seperti orang yang takut ketahuan.
Danang memandang sahabatnya pergi. Ia mengernyit. Ada yang
aneh. Ada yang tidak beres. Tapi ia tidak tahu apa. Ia hanya merasakan firasat
tidak enak di dadanya. Firasat yang mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi.
Sesuatu yang buruk. Sesuatu yang akan mengubah segalanya.
"Teman kau, Danang?" tanya Kirana dari meja
kasir, matanya masih fokus pada uang di tangannya.
"Iya. Arman. Sahabatku. Sejak aku pertama datang ke
kota ini. Dia yang menjemputku di stasiun. Dia yang mencarikan kamar kos
untukku. Dia yang mengajarkanku banyak hal tentang kota ini. Dia baik. Dia
perhatian. Dia..."
"Dia memandangku aneh, Danang."
Danang berhenti bicara. "Maksudmu?"
Kirana mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata
Danang. "Aku tidak tahu. Mungkin aku salah. Mungkin aku terlalu peka. Tapi
tadi, ketika dia berdiri di depan rak buku teknik, dia tidak melihat buku. Dia
melihat aku. Matanya... matanya seperti... seperti..."
"Seperti apa?"
Kirana terdiam. Ia memikirkan kata yang tepat. Kata yang
tidak terlalu keras, tidak terlalu kasar, tidak terlalu menuduh. "Seperti
dia sedang menghitung sesuatu. Seperti dia sedang merencanakan sesuatu. Seperti
dia sedang... aku tidak tahu, Danang. Aku hanya merasa tidak nyaman."
Danang menatap ke arah pintu, ke arah Arman pergi.
"Arman baik, Kirana. Dia tidak akan melakukan hal-hal jahat. Dia
sahabatku. Dia seperti kakak bagiku. Dia..."
"Kadang, Danang, orang yang paling dekat dengan kita
adalah orang yang paling berbahaya. Karena kita tidak pernah curiga. Karena
kita tidak pernah waspada. Karena kita tidak pernah siap."
Danang tidak menjawab.
Ia hanya memandang kosong ke arah pintu.
Firasatnya semakin kuat.
Sesuatu akan terjadi.
Dan ia tidak tahu bagaimana mencegahnya.
Malam itu, Arman tidak datang ke kamar kos Danang.
Biasanya, ia akan datang sekitar jam tujuh malam, membawa makanan,
duduk di ranjang, berbicara tentang banyak hal. Tapi malam ini, tidak ada.
Hanya kesunyian. Hanya kehampaan. Hanya Danang sendirian di kamar sempitnya,
dengan dinding bata merah tanpa cat, dengan lantai semen yang dingin, dengan
jendela kecil yang menghadap gang sempit.
Danang berbaring di ranjangnya, memandang langit-langit
yang gelap, mendengar suara tetangga di sebelah kanan yang batuk-batuk,
tetangga di sebelah kiri yang bertengkar, tetangga di atas yang memindahkan
furnitur.
Ia memegang pita biru di tangannya.
Pita yang sudah hampir putih.
Pita yang kainnya sudah rapuh.
Pita yang menjadi satu-satunya kenangan dari masa lalunya.
"Kirana," bisiknya. "Aku janji akan
melindungimu. Aku janji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Aku janji
akan menjagamu. Aku janji akan mencintaimu. Sampai mati."
Ia memejamkan mata.
Ia berdoa.
"Tuhan, tolong jaga Kirana. Tolong lindungi dia.
Tolong jauhkan dia dari bahaya. Tolong jangan biarkan siapa pun menyakitinya.
Tolong... tolong jaga cinta kami."
Tapi doanya tidak didengar.
Atau didengar, tetapi tidak dijawab.
Karena di tempat lain, di kamar kosnya yang lebih besar,
yang lebih rapi, yang lebih nyaman, Arman duduk di ranjangnya, memandang tembok
di depannya, memikirkan Kirana.
Rambutnya yang panjang dan hitam.
Matanya yang coklat kehijauan.
Lesung pipitnya yang manis.
Senyumnya yang hangat.
Tawanya yang riang.
Suaranya yang lembut.
Kirana.
Perempuan yang tidak pernah ia kenal.
Perempuan yang baru ia lihat hari ini.
Perempuan yang sudah ia benci dan cintai pada saat yang
bersamaan.
"Kenapa kau memilih dia, Kirana?" bisiknya.
"Kenapa bukan aku? Aku lebih baik dari dia. Aku lebih kaya dari dia. Aku
lebih pintar dari dia. Aku lebih tampan dari dia. Aku lebih... aku lebih pantas
untukmu."
Ia berdiri.
Berjalan ke jendela.
Memandang bulan yang bersinar terang di langit.
"Danang tidak pantas untukmu, Kirana. Dia anak haram.
Dia tidak punya masa depan. Dia tidak punya pendidikan. Dia tidak punya uang.
Dia tidak punya apa-apa. Aku yang pantas untukmu. Aku. Bukan dia."
Tangannya mengepal.
Matanya menyala.
Ada api di sana.
Api yang akan membakar segalanya.
Api yang akan menghancurkan persahabatan.
Api yang akan menghancurkan cinta.
Api yang akan menghancurkan mereka bertiga.
"Aku akan mendapatkannya, Kirana," bisiknya. "Aku
akan mendapatkamu. Dengan atau tanpa restu Danang. Dengan atau tanpa
persetujuanmu. Aku akan mendapatkamu. Karena aku pantas. Karena aku lebih baik.
Karena aku lebih layak."
Ia tersenyum.
Senyum yang dingin.
Senyum yang penuh dengan rencana.
Senyum yang seperti ular yang siap menerkam.
Senyum yang mengatakan bahwa ia akan melakukan apa pun
untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Bab 7
Rumah
Kirana yang Tidak Lagi Hangat
Tiga bulan kemudian, Danang mulai sering diundang ke rumah
Kirana. Bukan undangan resmi dengan surat atau kartu, tetapi undangan lisan
yang diucapkan Kirana setiap kali mereka bertemu.
"Danang, main ke rumahku yuk. Ibu masak rendang. Enak
banget. Kau harus coba."
"Danang, ayahku beli TV baru. Ada layar warna. Besar
sekali. Ayo lihat."
"Danang, hari ini aku beli kaset lagu-lagu Chrisye.
Ayo dengar bareng. Di rumahku. Nanti malam."
Danang tidak pernah menolak. Ia selalu datang, meskipun
harus mengayuh sepeda onthelnya hampir satu jam dari kamar kosnya ke rumah
dinas di Jalan Merdeka. Ia selalu datang, meskipun kadang hujan turun deras,
meskipun kadang ban sepedanya bocor, meskipun kadang ia kehabisan uang untuk
membeli bensin lampu minyak untuk penerangan.
Rumah dinas itu besar. Sangat besar. Dindingnya putih
bersih dengan ornamen-ornamen klasik bergaya kolonial Belanda. Pilar-pilar
kayunya tinggi menjulang, dengan ukiran-ukiran halus yang menunjukkan kemewahan
masa lalu, ketika Belanda masih menguasai Indonesia, ketika pejabat-pejabat
Belanda tinggal di rumah-rumah megah seperti ini. Ukiran-ukiran itu
menggambarkan bunga-bunga dan daun-daun dan hewan-hewan mitologi, yang sulit
dipahami maknanya tetapi indah dipandang.
Halaman depannya luas, ditumbuhi rumput yang terawat,
rumput gajah yang hijau segar, yang setiap minggu dipotong oleh tukang kebun
bernama Mamat, lelaki tua dengan topi caping dan sabit di tangan. Ada beberapa
pohon mangga di halaman itu, pohon-pohon besar yang rindang, yang buahnya manis
dan lebat setiap musim hujan. Ada juga pohon rambutan, pohon jambu air, pohon
belimbing, dan pohon bunga kamboja yang bunganya putih kekuningan dengan wangi
yang khas.
Lampu gantung kristal kecil menggantung di ruang tamu,
berkilauan setiap kali terkena cahaya matahari yang masuk melalui
jendela-jendela besar dengan kaca-kaca berwarna. Lampu itu mahal, sangat mahal,
mungkin seharga pendapatan Danang setahun. Lampu itu adalah hadiah dari seorang
kolega ayah Kirana yang bekerja di Jakarta, yang konon dibeli dari toko
perhiasan terkenal di pusat kota.
Sofa beludru merah marun, dengan bantal-bantal tebal yang
empuk, dengan ukiran kayu di bagian lengan dan kakinya, diletakkan di sudut
ruang tamu, menghadap ke arah jendela. Sofa itu terlalu besar untuk ruang tamu,
tetapi pemilik rumah tidak peduli. Yang penting mahal. Yang penting mewah. Yang
penting orang yang datang terkesan.
Meja kopi dari kayu jati dengan ukiran halus, dengan
permukaan yang mengkilap karena sering dipoles dengan lilin, diletakkan di
tengah-tengah ruangan. Di atas meja itu, selalu ada vas bunga segar, bunga
mawar merah atau bunga krisan putih atau bunga sedap malam yang wanginya
memenuhi seluruh ruangan. Vas itu juga mahal, terbuat dari kristal bening
dengan ukiran-ukiran halus di permukaannya.
Namun semakin sering Danang datang, semakin sering ia
menginjakkan kaki di rumah megah itu, semakin ia merasakan sesuatu. Sesuatu
yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang mengganjal di
dadanya setiap kali ia melewati pintu masuk, setiap kali ia duduk di sofa
beludru merah, setiap kali ia menatap lampu gantung kristal yang berkilauan.
Rumah itu indah. Sangat indah. Seperti istana mini di
tengah kota yang kumuh, seperti surga kecil di tengah neraka besar. Dinding
putih, pilar-pilar tinggi, ukiran-ukiran indah, lampu kristal, sofa beludru,
meja jati, vas bunga. Semua serba indah. Serba mewah. Serba sempurna.
Tetapi tidak hangat.
Tidak ada tawa. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi, seperti
perpustakaan di malam hari, seperti gereja di hari biasa, seperti makam di
tengah malam. Suara yang terdengar hanya suara langkah kaki di lantai marmer,
suara pintu yang dibuka dan ditutup, suara jam dinding yang berdetak, suara
napas orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Tidak ada aroma masakan yang menggugah selera. Dapur di
rumah itu bersih, sangat bersih, seperti tidak pernah digunakan. Semua peralatan
masak tersusun rapi di lemari-lemari kaca, panci, wajan, spatula, pisau, semua
mengkilap, semua bebas debu. Tapi tidak ada aroma bawang, tidak ada aroma
rempah, tidak ada aroma masakan yang biasa menggugah selera Danang ketika ia
masih tinggal di desa bersama ibunya.
Tidak ada foto keluarga di dinding. Dinding-dinding di
rumah itu kosong, hanya cat putih bersih tanpa hiasan. Tidak ada foto
pernikahan ayah dan ibu Kirana. Tidak ada foto Kirana ketika masih bayi. Tidak
ada foto keluarga ketika berlibur. Tidak ada foto apa pun. Hanya kehampaan.
Hanya kekosongan. Hanya dinding putih yang dingin dan tidak bersahabat.
Tidak ada tanda bahwa di rumah ini pernah hidup
kebahagiaan. Tidak ada mainan anak-anak yang berserakan di lantai. Tidak ada
buku-buku cerita yang tertumpuk di meja. Tidak ada coretan-coretan di dinding
yang dibuat oleh anak kecil. Tidak ada bekas-bekas kehidupan. Hanya keindahan
yang dingin. Hanya kesempurnaan yang hampa. Hanya rumah yang seperti hotel,
tempat orang singgah sementara sebelum pergi lagi.
"Rumahmu besar sekali, Kirana," kata Danang suatu
sore, ketika ia duduk di sofa beludru merah, memegang cangkir kopi yang
disajikan oleh pembantu rumah tangga bernama Yati, perempuan muda dengan wajah
cemberut dan celemek kotor. "Tapi... tapi sepi."
Kirana tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke
matanya. Senyum yang sudah sering Danang lihat akhir-akhir ini, senyum yang
mengatakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, ada sesuatu yang tidak ingin
dibicarakan, ada sesuatu yang terlalu sakit untuk diungkapkan.
"Iya. Sepi. Ayah sibuk kerja. Ibu sibuk arisan. Aku
sibuk di toko buku. Jadi rumah ini hanya tempat tidur. Tidak lebih."
"Tidak ada adik?"
"Tidak. Aku anak tunggal. Ayah dan Ibu hanya punya
aku. Mereka sudah tua. Ibu hampir tidak bisa punya anak lagi. Jadi ya... hanya
aku."
"Kau tidak kesepian?"
Kirana terdiam.
Ia memandang ke luar jendela, ke arah halaman yang luas, ke
arah pohon-pohon mangga yang rindang, ke arah rumput yang terawat, ke arah
langit yang biru.
"Aku kesepian, Danang," katanya akhirnya,
suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Sangat kesepian. Sejak kecil.
Sejak aku bisa berpikir. Sejak aku sadar bahwa rumahku hanya tempat kosong
tanpa cinta."
Danang menatap Kirana.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Ia tidak bisa membayangkan.
Ia tumbuh di rumah panggung yang kecil, yang dindingnya
retak, yang lantainya berderit, yang atapnya bocor. Tapi di rumah itu, ada
ibunya. Ada ibunya yang memasak nasi goreng setiap pagi. Ada ibunya yang
membangunkannya dengan suara lembut. Ada ibunya yang tersenyum meskipun lelah.
Ada ibunya yang memeluknya ketika ia menangis.
Rumah Kirana besar, indah, mewah. Tapi tidak ada ibu yang
memasak. Tidak ada ibu yang membangunkan. Tidak ada ibu yang tersenyum. Tidak
ada ibu yang memeluk.
"Kirana," panggil Danang.
"Ya?"
"Aku... aku tidak bisa membayangkan. Tapi aku
mengerti. Aku juga kesepian. Sejak ibu meninggal. Sejak bapak pergi. Sejak aku
tinggal sendiri di kamar kos yang sempit. Aku juga kesepian."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara jam dinding yang berdetak.
Hanya suara angin yang berhembus.
Hanya suara daun-daun yang bergesekan.
"Tapi sekarang kita tidak sendirian lagi,
Kirana," kata Danang, memegang tangan Kirana. Tangannya yang kasar dan
keras, memegang tangan Kirana yang lembut dan lentik. "Kita punya satu
sama lain. Kita punya cinta. Kita punya masa depan."
Kirana tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang sampai ke
matanya. Senyum yang membuat Danang lupa pada semua masalah yang sedang
menghantam hidupnya.
"Iya, Danang. Kita punya satu sama lain."
Suatu sore, ketika Danang sedang asyik membaca buku di
ruang tamu, menunggu Kirana yang sedang mandi dan berganti pakaian, pintu depan
terbuka.
Seorang perempuan setengah baya masuk.
Perempuan itu masih tampak muda meskipun usianya sudah
setengah abad lebih. Wajahnya terawat, dengan kulit putih bersih tanpa kerutan,
dengan riasan tipis yang membuatnya terlihat anggun dan elegan. Rambutnya
disanggul rapi, disemat dengan tusuk konde berlapis emas, dengan hiasan bunga
melati segar di samping kanannya. Pakaiannya selalu bersih dan tidak pernah
kusut, kebaya brokat warna krem dengan motif bunga-bunga kecil, kain batik
tulis dengan warna senada, sepatu kulit hitam dengan hak rendah.
Namun matanya dingin. Matanya selalu dingin. Matanya
seperti es, seperti kaca, seperti air yang membeku di musim dingin. Tidak ada
kehangatan di sana. Tidak ada kasih sayang. Tidak ada cinta. Hanya dingin.
Hanya penilaian. Hanya penghakiman.
Itu adalah ibu Kirana. Nyonya Dewi Ratnasari, perempuan
kelahiran Surakarta dari keluarga priyayi yang masih memegang teguh adat
istiadat Jawa. Perempuan yang tumbuh dengan keyakinan bahwa status sosial
adalah segalanya, bahwa uang adalah segalanya, bahwa penampilan adalah
segalanya. Perempuan yang tidak pernah belajar bahwa cinta lebih penting dari
uang, bahwa kebahagiaan lebih penting dari status, bahwa ketulusan lebih
penting dari penampilan.
Matanya langsung menatap Danang. Bukan tatapan biasa.
Tatapan yang penuh dengan penilaian. Tatapan yang seperti sedang menghitung,
sedang menimbang, sedang memutuskan. Matanya bergerak dari ujung rambut Danang
yang ikal dan tidak pernah rapi, ke bajunya yang lusuh dan tambal sulam, ke
sepatunya yang bolong di bagian jempol, ke tangannya yang kasar dan penuh
kapalan.
"Siapa ini, Kirana?" suaranya tegas, dingin,
seperti suara komandan yang tidak terbiasa dibantah.
Kirana yang baru saja keluar dari kamar, dengan rambut
masih basah, dengan pakaian santai, langsung terdiam. Wajahnya berubah pucat.
Tangannya gemetar.
"Ini Danang, Bu. Teman lama. Dari desa. Kami... kami
berteman sejak kecil. Dulu di desa."
"Teman lama?" Nyonya Dewi mendekat, berdiri di
depan Danang, menatapnya dari atas ke bawah. "Teman lama yang mana? Apakah
keluarga Sastrowiryo itu?"
Kirana membeku. "Ibu tahu?"
"Tahu. Aku tahu semuanya, Kirana. Aku tahu tentang
kebakaran gudang. Aku tahu tentang tuduhan. Aku tahu tentang... tentang ayah
kandungnya. Aku tahu semua. Dan aku tidak senang anakku bergaul dengan anak
seperti itu."
"Bu..."
"Jangan 'Bu' terus. Aku tidak ingin anakku dekat-dekat
dengan anak haram. Aku tidak ingin anakku dicemarkan oleh pergaulan dengan
orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya. Aku tidak ingin..."
"Bu, cukup!" potong Kirana, suaranya keras,
tegas, seperti saat ia membela Danang di depan Surya dulu. Matanya menyala.
Tangannya mengepal. "Jangan bicara seperti itu tentang Danang. Jangan. Dia
baik. Dia jujur. Dia pekerja keras. Dia..."
"Dia anak haram, Kirana. Tidak punya ayah. Ibunya
hamil di luar nikah. Itu fakta. Kau tidak bisa mengubah fakta."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di depan ibunya.
Menangis di depan Danang.
Menangis karena ia tahu bahwa ibunya tidak akan pernah
berubah.
Danang berdiri.
Ia berjalan ke arah pintu.
"Danang, jangan pergi!" teriak Kirana.
Danang berhenti. Ia menoleh. Matanya bertemu dengan mata
Kirana. Mata yang basah. Mata yang merah. Mata yang penuh dengan kesedihan dan
ketakutan.
"Aku pulang dulu, Kirana. Besok kita bertemu di toko
buku."
"Danang..."
"Aku tidak ingin membuat masalah dengan ibumu. Aku
tidak ingin membuatmu susah. Aku pergi dulu."
Ia pergi.
Meninggalkan rumah megah itu.
Meninggalkan Kirana yang menangis.
Meninggalkan Nyonya Dewi yang tersenyum puas.
Di luar, hujan mulai turun.
Gerimis.
Pelan.
Sayu.
Seperti langit ikut menangis.
Seperti alam ikut bersedih.
Danang mengayuh sepedanya perlahan, tidak tergesa-gesa,
meskipun hujan mulai membasahi bajunya, meskipun rambutnya mulai basah,
meskipun air mata mulai mengalir di pipinya.
Ia tidak tahu bahwa pertemuan dengan ibu Kirana adalah awal
dari segalanya.
Awal dari penderitaan.
Awal dari air mata.
Awal dari kehilangan.
Awal dari pengkhianatan.
Tapi ia tidak menyesal.
Ia tidak menyesal mencintai Kirana.
Ia tidak menyesal berjuang untuk Kirana.
Ia tidak menyesal memilih Kirana.
Meskipun harus berhadapan dengan ibu yang dingin, dengan
status yang berbeda, dengan dunia yang tidak merestui.
Karena cinta, pikir Danang, tidak pernah meminta izin.
Cinta datang begitu saja.
Tanpa diundang.
Tanpa permisi.
Tanpa peduli pada status, pada uang, pada asal-usul.
Cinta datang.
Dan ketika cinta datang, yang bisa kita lakukan hanyalah
menerima.
Atau menolak.
Dan Danang memilih menerima.
Meskipun konsekuensinya berat.
Meskipun jalannya terjal.
Meskipun ujungnya mungkin tidak bahagia.
Ia memilih menerima.
Karena cinta.
Karena Kirana.
Karena mereka.
Bab 8
Surat
Tanpa Nama
Suatu pagi di bulan September, ketika musim kemarau mulai
berganti dengan musim hujan, ketika langit mulai sering mendung dan angin mulai
bertiup kencang, Kirana menemukan sebuah amplop coklat di bawah pintu rumahnya.
Amplop itu tidak ada yang mengantar. Tidak ada tukang pos
yang lewat. Tidak ada tetangga yang melihat siapa yang meletakkannya. Tidak ada
suara langkah kaki di halaman. Tidak ada suara sepeda motor yang berhenti di
depan pagar. Amplop itu begitu saja muncul, seperti sihir, seperti peringatan
dari alam lain, seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
Kirana menemukannya ketika ia hendak berangkat ke toko
buku, pagi-pagi buta sebelum matahari terbit, ketika kabut masih menutupi desa,
ketika udara masih dingin menusuk tulang. Ia membuka pintu depan, berniat
mengambil koran yang biasanya diantar oleh tukang koron setiap pukul lima pagi.
Tapi koran itu tidak ada. Yang ada hanyalah amplop coklat, tergeletak di lantai
teras, di antara pot-pot bunga yang mulai layu karena jarang disiram.
Amplop itu tidak terlalu besar, seukuran amplop surat
biasa, tetapi terasa berat ketika ia memegangnya. Kertasnya tebal, berkualitas
baik, tidak seperti amplop murahan yang biasa dijual di warung-warung. Di
bagian depan amplop, tertulis namanya: "Kirana Prameswari". Tulisan
tangan, huruf kapital semua, seperti orang yang sengaja menyamarkan tulisannya
agar tidak mudah dikenali. Tulisannya rapi, terlatih, seperti tulisan orang
yang terbiasa menulis surat.
Tidak ada alamat pengirim. Tidak ada nama. Tidak ada
identitas apa pun. Hanya namanya. Hanya amplop coklat. Hanya rahasia.
Tangannya gemetar saat membukanya. Jari-jarinya yang lentik
dan putih, yang biasa memegang buku-buku dengan hati-hati, kini gemetar seperti
daun yang ditiup angin. Ia merobek amplop itu perlahan, tidak ingin merusak
isinya, meskipun ia sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang ada di
dalamnya.
Kertas di dalamnya tipis, murah, seperti kertas yang biasa
dijual di warung-warung kecil, warna putih kusam dengan garis-garis biru tipis
seperti buku tulis sekolah. Kertas itu dilipat menjadi dua, kemudian dilipat
lagi menjadi empat, sehingga mudah dimasukkan ke dalam amplop.
Kirana membuka lipatan itu dengan hati-hati, jari-jarinya
yang gemetar berusaha meratakan kertas yang sudah kusut karena terlipat terlalu
lama.
Tulisan di dalamnya tangan kasar, huruf kapital semua,
seperti orang yang sengaja menyamarkan tulisannya, seperti orang yang tidak
ingin dikenali. Setiap huruf ditulis dengan tekanan yang keras, menembus
kertas, meninggalkan bekas di balik kertas.
Isi surat itu pendek. Hanya beberapa baris. Tetapi setiap
kata terasa seperti pisau, seperti belati, seperti racun yang menyebar perlahan
di dalam tubuh.
"JANGAN ULANGI KESALAHAN MASA LALU. ANAK LELAKI MISKIN
ITU TIDAK AKAN PERNAH PANTAS UNTUKMU. KAU AKAN MENYESAL. KELUARGAMU AKAN
MENYESAL. SEMUA ORANG AKAN MENYESAL."
Kirana membaca surat itu sekali. Dua kali. Tiga kali.
Sepuluh kali.
Wajahnya memucat. Wajahnya berubah menjadi putih seperti
kertas amplop itu, seperti kapur, seperti orang yang sedang sakit parah.
Bibirnya gemetar. Tangannya yang memegang surat mulai gemetar hebat, seperti
orang yang kedinginan, seperti orang yang ketakutan.
Surat itu jatuh ke lantai.
Jatuh ke teras ubin yang dingin.
Jatuh di antara pot-pot bunga yang mulai layu.
Kirana memungutnya. Tangannya masih gemetar. Ia membaca
lagi. Membaca berulang-ulang. Berharap kata-katanya berubah. Berharap ini hanya
mimpi. Berharap ada yang salah.
Tapi tidak. Kata-katanya tetap sama. Tetap tajam. Tetap
menyakitkan.
"Siapa yang menulis ini?" bisiknya. "Siapa
yang tahu tentang Danang? Siapa yang tahu tentang masa lalu? Siapa yang tidak
ingin kita bersama?"
Ia melihat ke kiri dan ke kanan, ke halaman yang sunyi, ke
jalan yang masih sepi, ke rumah-rumah tetangga yang pintunya masih tertutup.
Tidak ada siapa pun. Hanya kabut pagi yang mulai menipis. Hanya angin yang
berhembus pelan. Hanya burung-burung yang mulai berkicau di atas pohon mangga.
Ia memasukkan surat itu ke dalam saku bajunya.
Ia tidak pergi ke toko buku.
Ia kembali ke dalam rumah, menutup pintu, berlari ke
kamarnya, menangis di atas bantal.
Malamnya, Kirana menemui Danang di tepi sungai kecil di
belakang kota. Tempat yang biasa mereka kunjungi ketika ingin berbicara berdua
tanpa gangguan. Tempat yang sunyi, yang gelap, yang hanya diterangi oleh cahaya
bulan dan bintang-bintang.
Langit malam itu gelap, tanpa bintang. Awan tebal menutupi
bulan, tidak ada cahaya yang menembus. Hanya kegelapan. Kegelapan yang pekat.
Kegelapan yang seperti masa depan mereka. Angin bertiup dingin, seperti angin
yang membawa kabar buruk, seperti angin yang membawa kematian.
Kirana duduk di atas batu besar yang licin karena lumut,
memeluk lututnya, menggigil kedinginan. Matanya merah, bengkak, seperti habis
menangis berjam-jam. Wajahnya pucat, lesi, tidak bersemangat seperti biasanya.
Danang duduk di sampingnya, meraih tangannya,
menggenggamnya erat-erat. "Ada apa, Kirana? Dari tadi menelepon ke
percetakan, suruh aku datang ke sini. Katanya penting. Katanya darurat. Ada
apa?"
Kirana mengeluarkan surat itu dari sakunya. Tangannya
gemetar ketika memberikannya pada Danang. "Ini. Aku dapat ini pagi tadi.
Di bawah pintu rumahku. Tidak ada yang mengantar. Tidak ada yang tahu.
Tiba-tiba ada."
Danang mengambil surat itu. Ia membacanya. Sekali. Dua
kali. Rahangnya mengeras. Matanya yang tadinya tenang, kini berubah menjadi
gelap, penuh amarah yang ditahan. Tangannya yang memegang surat itu mengepal,
meremas kertas tipis itu hingga hampir robek, hingga kusut, hingga tidak berbentuk
lagi.
"Siapa yang kirim?" tanyanya. Suaranya dingin,
seperti es, seperti air sungai di pagi hari.
Kirana menggeleng. Matanya basah. Air mata mulai menggenang
di pelupuk matanya. "Aku tidak tahu, Danang. Tidak ada nama. Tidak ada
alamat. Tidak ada identitas. Hanya tulisan kapital. Hanya ancaman.
Hanya..."
"Ancaman? Ini bukan ancaman, Kirana. Ini peringatan.
Seseorang tidak ingin kita bersama. Seseorang tidak merestui hubungan kita.
Seseorang..."
"Siapa, Danang? Siapa yang tidak ingin kita bersama?
Ibu? Apakah ibu yang menulis ini? Apakah ibu yang mengirim surat ini?"
Danang terdiam.
Ia memikirkan kemungkinan itu.
Ibu Kirana.
Nyonya Dewi Ratnasari.
Perempuan dengan mata dingin, dengan suara tegas, dengan
sikap angkuh. Perempuan yang jelas-jelas tidak menyukainya. Perempuan yang
jelas-jelas tidak merestui hubungan mereka. Perempuan yang jelas-jelas akan
melakukan apa pun untuk memisahkan mereka.
"Mungkin," kata Danang akhirnya. "Mungkin
ibumu. Tapi kita tidak bisa menuduh tanpa bukti. Kita harus mencari tahu dulu.
Kita harus..."
"Bagaimana kita mencari tahu, Danang? Tidak ada
petunjuk. Tidak ada sidik jari. Tidak ada alamat. Hanya kertas dan amplop.
Hanya itu."
Danang menatap surat itu lagi.
Ia membaca berulang-ulang.
Mencoba mengenali tulisan itu.
Mencoba mengingat apakah ia pernah melihat tulisan seperti
itu sebelumnya.
Tapi tidak ada.
Tidak ada yang familiar.
Tidak ada yang pernah ia lihat.
"JANGAN ULANGI KESALAHAN MASA LALU."
Kata-kata itu.
"Kesalahan masa lalu."
Apa maksudnya?
Kesalahan apa?
Masa lalu siapa?
Apakah ini tentang ibunya? Tentang kehamilan di luar nikah?
Tentang ayah kandung Danang yang pergi? Tentang aib yang tidak boleh terulang?
Atau tentang hal lain?
Tentang sesuatu yang tidak ia ketahui?
Tentang sesuatu yang disembunyikan orang lain?
"Kirana," panggil Danang.
"Ya?"
"Kau percaya padaku?"
Kirana menatap Danang. Matanya yang basah, yang merah, yang
penuh ketakutan, menatap lurus ke mata Danang yang gelap, yang dalam, yang
seperti lubang sumur tua.
"Aku percaya padamu, Danang. Aku selalu percaya
padamu. Sejak kita kecil. Sejak pertama kita bertemu. Sejak kau melempar batu
ke sungai. Sejak kau menggambar bunga kuning di buku gambarmu. Aku percaya
padamu."
"Kalau begitu, jangan takut. Kita hadapi ini bersama.
Siapa pun yang mengirim surat ini, apa pun tujuannya, kita tidak akan biarkan
dia menghancurkan kita. Kita akan buktikan bahwa cinta kita lebih kuat dari
kebencian. Kita akan buktikan bahwa kita pantas bersama. Kita akan buktikan
bahwa..."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan.
Seperti takut surat itu adalah awal dari segalanya.
"Danang, aku takut," bisiknya di telinga Danang.
"Aku takut kehilanganmu lagi. Aku takut surat ini adalah awal dari... dari
sesuatu yang buruk. Aku takut..."
"Aku tidak akan pergi, Kirana. Aku tidak akan
meninggalkanmu. Aku janji. Aku akan selalu di sini. Untukmu. Untuk kita."
Danang menggenggam tangan Kirana.
Menggenggamnya erat-erat.
Seperti berjanji.
Seperti bersumpah.
Seperti berdoa.
"Kita akan melewati ini bersama, Kirana. Aku, kau, dan
cinta kita. Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Tidak ada surat. Tidak ada
ancaman. Tidak ada ibu. Tidak ada siapa pun."
Kirana mengangguk.
Ia masih menangis.
Tapi senyum mulai muncul di bibirnya.
Senyum yang lemah.
Senyum yang tidak secerah biasanya.
Tapi senyum.
Senyum yang mengatakan bahwa ia percaya.
Senyum yang mengatakan bahwa ia berharap.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak sendirian.
Di kejauhan, di balik kegelapan malam, di balik pohon-pohon
yang gelap, di balik sungai yang mengalir, seseorang berdiri.
Arman.
Ia datang untuk mencari Danang, seperti biasa.
Ia ingin mengajak Danang makan malam di warung langganan
mereka.
Tapi ketika ia sampai di tepi sungai, ia melihat mereka.
Danang dan Kirana.
Berpelukan.
Di bawah kegelapan malam.
Di tepi sungai yang keruh.
Ia berhenti.
Ia tidak bergerak.
Ia tidak bersuara.
Ia hanya berdiri.
Memandang.
Dari kejauhan.
Dari balik kegelapan yang semakin pekat.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berekspresi.
Tangannya yang memegang payung, gemetar.
Di dalam sakunya, ada amplop coklat.
Amplop yang sama.
Amplop yang berisi surat tanpa nama.
Amplop yang ia letakkan di bawah pintu rumah Kirana pagi
ini.
Ia tersenyum.
Senyum yang dingin.
Senyum yang penuh dengan rencana.
Senyum yang mengatakan bahwa ini baru awal.
Senyum yang mengatakan bahwa ia akan melakukan lebih banyak
lagi.
Senyum yang mengatakan bahwa ia tidak akan berhenti sampai
Kirana menjadi miliknya.
"Selamat malam, Danang. Selamat malam, Kirana,"
bisiknya. "Semoga kalian bahagia. Karena kebahagiaan kalian tidak akan
lama lagi. Aku akan pastikan itu."
Ia berbalik.
Berjalan menjauh.
Menghilang di balik kegelapan.
Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan di tepi
sungai.
Meninggalkan racun yang ia tanam.
Racun yang akan tumbuh.
Racun yang akan membunuh.
Racun yang akan menghancurkan segalanya.
Bab 9
Hujan
yang Membuka Perasaan
Malam itu, hujan turun deras.
Bukan hujan biasa. Bukan hujan gerimis yang pelan dan sayu
seperti biasanya. Bukan hujan sore yang mengguyur sebentar lalu reda. Ini hujan
yang turun dengan kemarahan, dengan amarah, dengan keputusasaan. Seperti langit
sedang melampiaskan semua yang selama ini ia pendam. Seperti Tuhan sedang
menangis dan tidak peduli siapa yang basah.
Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa,
butir-butirnya besar dan keras, menghantam atap-atap seng dan asbes dengan
suara seperti ribuan genderang yang ditabuh bersamaan. Angin bertiup kencang,
menderu di antara celah-celah dinding, membuat daun-daun pohon bergoyang liar, membuat
ranting-ranting patah dan jatuh ke tanah. Sesekali kilat menyambar di kejauhan,
diikuti gemuruh yang mengguncang tanah, yang membuat jendela-jendela bergetar,
yang membuat orang-orang yang masih terjaga melompat kaget.
Hujan yang membuat orang enggan keluar rumah. Hujan yang
membuat orang lebih memilih berdiam diri di dalam, berselimut tebal, menikmati
secangkir teh hangat sambil mendengar suara air yang jatuh dari atap. Hujan
yang membuat orang malas melakukan apa pun selain tidur atau bermalas-malasan.
Tapi Kirana tidak bisa berdiam diri.
Ia terjebak di percetakan.
Ia datang sore tadi untuk mengantar pesanan buku yang sudah
selesai dicetak. Bu Lastri menyuruhnya mengambil buku-buku pelajaran sekolah
yang dipesan oleh yayasan pendidikan di kecamatan sebelah. "Ambil saja,
Kirana. Biar tidak usah diantar. Lumayan, kau bisa ketemu Danang," kata Bu
Lastri sambil tersenyum, matanya berbinar-binar, seperti tahu sesuatu yang
tidak diketahui Kirana.
Kirana tersenyum malu. "Bu Lastri, jangan begitu. Aku
ke sana karena pekerjaan, bukan karena..."
"Iya, iya. Karena pekerjaan. Tentu saja. Aku
percaya."
Kirana menghela napas. Bu Lastri memang suka menggoda.
Sejak tahu bahwa Kirana dekat dengan Danang, ia tidak pernah berhenti menggoda.
"Kapan kau mau nikah, Kirana?" "Ajak Danang ke sini, Bi. Aku mau
kenalan." "Danang itu anak baik, Kirana. Jangan lepaskan."
Tapi ketika ia hendak pulang, hujan sudah terlalu deras
untuk dilalui. Jalanan di depan percetakan sudah berubah menjadi sungai kecil
yang mengalir deras, air setinggi mata kaki, membawa lumpur dan sampah dan
daun-daun kering. Becak tidak mau jalan. Andong tidak mau lewat. Bahkan sepeda
motor pun mogok karena air masuk ke knalpot.
"Hujan deras sekali, Mbak," kata Pak Suryanto
sambil memandang ke luar jendela, ke arah hujan yang tidak menunjukkan
tanda-tanda akan reda. Wajahnya yang tua dan penuh kerutan itu terlihat
khawatir. "Sebaiknya Mbak tunggu dulu. Nanti kalau hujan reda, Mbak bisa
pulang. Atau kalau tidak reda-reda, Mbak bisa tidur di sini. Di ruang belakang
ada kasur. Tidak bagus, tapi cukup untuk tidur."
"Terima kasih, Pak. Tapi aku tidak enak. Aku sudah
merepotkan."
"Tidak repot, Mbak. Kamar belakang memang sering
dipakai Danang kalau dia tidak pulang ke kos. Dia sudah biasa. Mbak juga pasti
bisa."
Kirana tersenyum. "Baik, Pak. Kalau begitu aku tunggu
dulu."
Pak Suryanto mengangguk. Ia berjalan ke ruang belakang,
mengambil selimut tipis dan bantal kempes, lalu memberikannya pada Kirana.
"Ini, Mbak. Kalau dingin, pakai ini. Kopi di termos masih hangat. Ambil
saja. Jangan sungkan."
"Terima kasih, Pak Suryanto. Bapak baik sekali."
"Ah, biasa. Mbak kan calon menantu Danang."
Kirana tertawa. "Belum, Pak. Masih jauh."
"Ya sudah, nanti. Yang penting Mbak nyaman."
Pak Suryanto masuk ke ruang belakang, menutup pintu,
meninggalkan Kirana sendirian di ruang percetakan yang gelap dan sunyi.
Danang sedang menyusun huruf-huruf timah di meja kerjanya,
di sudut ruangan yang paling dekat dengan jendela, tempat cahaya lampu minyak
masih cukup terang untuk melihat. Tangannya yang besar dan kasar bergerak
lincah, mengambil huruf-huruf kecil dari kotak kayu, menyusunnya dalam
baris-baris, membentuk kata-kata, membentuk kalimat-kalimat, membentuk
halaman-halaman yang akan dicetak besok pagi.
Keningnya berkeringat. Tangannya hitam oleh tinta dan debu.
Bajunya basah oleh keringat. Matanya sayu, lelah, karena sudah bekerja sejak
pagi tanpa istirahat yang cukup.
"Danang," panggil Kirana pelan.
Danang menoleh. Matanya yang sayu tiba-tiba berbinar ketika
melihat Kirana. "Kirana? Kau masih di sini? Aku kira kau sudah pulang.
Hujan sudah reda sedikit."
"Tidak. Masih deras. Aku tidak bisa pulang. Jalanan
banjir. Becak tidak mau jalan. Andong tidak mau lewat. Aku... aku mungkin tidur
di sini. Pak Suryanto sudah mengizinkan."
Danang tersenyum. "Kau bisa tidur di ruang belakang.
Ada kasur. Tidak nyaman, tapi cukup untuk tidur. Aku sering tidur di sana kalau
tidak pulang ke kos."
"Aku tidak mau tidur sendiri, Danang. Aku takut."
Danang mengernyit. "Takut apa? Di sini aman. Pak
Suryanto di ruang belakang. Aku di sini. Tidak ada yang jahat."
"Bukan takut pencuri, Danang. Aku takut... aku takut
gelap. Aku takut sendirian. Aku takut..."
Kirana tidak melanjutkan.
Ia hanya menunduk.
Memandang lantai semen yang kasar.
Memandang bayangannya sendiri yang bergoyang-goyang karena
cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip.
Danang berdiri.
Ia berjalan mendekati Kirana.
Duduk di sampingnya.
Di lantai yang dingin.
Di ruang percetakan yang gelap.
Di tengah hujan yang masih deras.
"Kirana," panggilnya pelan.
Kirana mengangkat kepalanya.
Matanya bertemu dengan mata Danang.
Mata yang gelap.
Mata yang dalam.
Mata yang seperti lubang sumur tua.
Tapi ada kehangatan di sana.
Ada kelembutan.
Ada cinta.
"Kau tidak sendirian, Kirana. Aku di sini. Aku akan
menemanimu. Sampai hujan reda. Sampai kau bisa pulang. Sampai kau tidak takut
lagi."
Kirana tersenyum.
Senyum yang lemah.
Senyum yang tidak secerah biasanya.
Tapi senyum.
"Aku mau ke ruang belakang, Danang. Tapi temani aku.
Aku tidak mau sendirian."
"Baik. Aku temani kau."
Mereka berjalan ke ruang belakang.
Ruang itu kecil, sangat kecil, hanya cukup untuk satu kasur
tipis yang sudah kempes di beberapa tempat, satu meja kayu kecil yang kakinya
tidak rata, dan satu lemari kayu tua yang berisi peralatan cetak yang sudah tidak
terpakai. Dindingnya bata merah tanpa cat, lantainya semen kasar dan dingin,
langit-langitnya tinggi dengan rangka kayu yang sudah lapuk.
Kirana duduk di kasur.
Danang duduk di lantai, bersandar di dinding, di samping
kasur.
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Hujan yang masih deras.
Hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda.
Suara air jatuh dari atap seng, membentuk genangan di
halaman.
Suara angin yang menderu, menggerakkan daun-daun pohon.
Suara sesekali kilat yang menyambar, diikuti gemuruh yang
mengguncang tanah.
"Danang," panggil Kirana pelan.
"Ya?"
"Apa kau masih ingat waktu kita berteduh di pondok
sawah? Waktu hujan deras seperti ini? Waktu kita masih kecil? Waktu kita
berlarian basah-basahan? Waktu kau memegang tanganku agar aku tidak
jatuh?"
Danang tersenyum. "Aku ingat, Kirana. Aku ingat semua.
Aku ingat bagaimana kau tertawa ketika kakimu terpeleset di lumpur. Aku ingat
bagaimana kau memarahiku karena perahumu tersangkut di ranting. Aku ingat
bagaimana kau menggenggam tanganku dan berkata, 'Kalau semua pergi, aku tetap
di sini.'"
Kirana menangis.
Ia menangis bukan karena sedih.
Ia menangis karena bahagia.
Karena bahagia bahwa Danang masih ingat.
Karena bahagia bahwa Danang masih peduli.
Karena bahagia bahwa mereka masih bersama.
Meskipun tidak di desa.
Meskipun tidak di pondok sawah.
Meskipun tidak di bawah pohon waru.
Tapi bersama.
Di ruang belakang percetakan yang sempit.
Di tengah hujan yang deras.
Di tengah malam yang gelap.
"Danang, aku takut," bisik Kirana.
"Takut apa?"
"Aku takut kita tidak akan bersama selamanya. Aku
takut surat itu adalah pertanda. Aku takut ada yang akan memisahkan kita. Aku
takut..."
"Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Kirana. Aku akan
melawan siapa pun yang mencoba. Aku akan berjuang untuk kita. Aku tidak akan
menyerah."
"Tapi ibuku..."
"Aku akan meyakinkan ibumu. Aku akan membuktikan bahwa
aku pantas untukmu. Aku akan bekerja keras. Aku akan sekolah. Aku akan menjadi
seseorang. Aku akan..."
"Danang..."
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Danang terdiam.
Jantungnya berdebar kencang.
Wajahnya terasa panas.
Tangannya gemetar.
"Aku juga mencintaimu, Kirana. Lebih dari apa pun di
dunia ini."
Kirana meraih tangan Danang.
Tangannya yang lembut dan lentik, menggenggam tangan Danang
yang kasar dan keras.
"Danang, aku kedinginan. Bisa tidak... bisa tidak kau
duduk di sini? Di sampingku? Di kasur? Aku butuh kehangatan."
Danang ragu.
Ia tidak mau mengambil risiko.
Ia tidak mau melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.
Ia tidak mau merusak harga diri Kirana.
Tapi Kirana membutuhkannya.
Kirana kedinginan.
Kirana takut.
Kirana ingin ia di sampingnya.
"Baik," kata Danang akhirnya.
Ia berdiri dari lantai.
Duduk di kasur.
Di samping Kirana.
Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
Kirana bisa merasakan hangatnya tubuh Danang.
Danang bisa mencium wangi rambut Kirana, wangi sabun kelapa
yang murah tetapi harum, yang selalu membuatnya tenang.
"Danang," bisik Kirana.
"Ya?"
"Aku... aku ingin kau memelukku."
Danang terdiam.
Jantungnya berdebar lebih kencang.
Tangannya gemetar.
"Kirana, aku..."
"Tolong, Danang. Aku kedinginan. Aku takut. Aku butuh
kau."
Danang menghela napas.
Ia tidak bisa menolak.
Ia tidak mau menolak.
Ia melingkarkan tangannya di pinggang Kirana.
Memeluknya.
Perlahan.
Lembut.
Hangat.
Kirana bersandar di dada Danang.
Ia memejamkan mata.
Ia merasakan detak jantung Danang yang berdebar kencang.
Ia merasakan hangatnya tubuh Danang yang mengusir dingin.
Ia merasakan aman.
Ia merasakan nyaman.
Ia merasakan pulang.
"Danang," bisiknya.
"Hmm?"
"Aku ingin kita bersama selamanya."
"Kita akan bersama selamanya, Kirana. Aku janji."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan di kasur tipis yang kempes, di ruang
belakang percetakan yang sempit, di tengah hujan yang masih deras, di tengah
malam yang gelap.
Mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.
Mereka hanya berpelukan.
Hanya saling menghangatkan.
Hanya saling menguatkan.
Tapi bagi mereka, itu sudah cukup.
Itu sudah lebih dari cukup.
Karena cinta tidak selalu tentang fisik.
Cinta tidak selalu tentang nafsu.
Cinta tidak selalu tentang memiliki.
Cinta adalah tentang kehadiran.
Cinta adalah tentang kehangatan.
Cinta adalah tentang rasa aman.
Dan malam itu, di ruang belakang percetakan yang sempit, di
tengah hujan yang deras, Danang dan Kirana saling memiliki.
Bukan secara fisik.
Tapi secara hati.
Secara jiwa.
Secara cinta.
Bab 10
Lelaki
yang Mendengar dari Balik Pintu
Hujan masih turun deras ketika Arman sampai di percetakan.
Ia datang untuk menjemput Danang, seperti biasa. Setiap
malam, setelah Danang selesai bekerja, Arman akan datang dengan sepeda motornya
yang sudah tua dan berisik, membawa helm cadangan untuk Danang, lalu mereka
akan pergi ke warung langganan di ujung jalan, makan bakso atau sate atau nasi
goreng, berbicara tentang banyak hal, tertawa tentang hal-hal lucu, mengeluh
tentang pekerjaan yang melelahkan.
Itu sudah menjadi rutinitas mereka selama dua tahun
terakhir. Sejak Danang pertama kali datang ke kota ini. Sejak Arman
menjemputnya di stasiun. Sejak Arman mencarikan kamar kos untuknya. Sejak Arman
menjadi sahabatnya, keluarganya, rumahnya.
Tapi malam ini berbeda.
Arman tidak datang dengan semangat seperti biasanya. Ia
tidak bersiul-siul kecil di jalan. Ia tidak tertawa sendiri memikirkan lelucon
yang akan ia ceritakan pada Danang. Ia datang dengan wajah muram, dengan
pikiran kacau, dengan hati yang gelisah.
Ia sudah tahu bahwa Danang tidak pulang ke kamar kos. Ia
sudah mampir ke sana, mengetuk pintu, memanggil nama Danang, tetapi tidak ada
jawaban. Bu Tuminem, pemilik kos, bilang Danang belum pulang. "Mungkin
masih di percetakan, Nak. Hari ini ada pesanan banyak. Mungkin lembur."
Arman mengangguk. Ia berterima kasih pada Bu Tuminem, lalu
berbalik, menuju percetakan.
Sepanjang jalan, pikirannya melayang pada Kirana.
Pada senyumnya.
Pada tawanya.
Pada matanya yang coklat kehijauan.
Pada lesung pipit di pipi kirinya.
Pada rambut panjang hitamnya yang tergerai di punggung.
"Kenapa kau memilih Danang, Kirana?" bisiknya di
dalam hati. "Kenapa bukan aku? Aku lebih baik dari dia. Aku lebih kaya.
Aku lebih pintar. Aku lebih tampan. Aku lebih... aku lebih pantas
untukmu."
Ia menghela napas.
Ia menggelengkan kepala.
Ia berusaha mengusir pikiran-pikiran itu.
Tapi tidak bisa.
Pikiran itu terus muncul.
Terus mengganggu.
Terus menyiksa.
Ketika Arman sampai di percetakan, hujan masih deras. Ia
memarkir sepeda motornya di depan pintu, di bawah atap seng yang bocor,
sehingga air masih menetes ke jas hujannya. Ia melepas helm, mengibaskan
rambutnya yang basah, lalu berjalan ke pintu.
Pintu percetakan sudah terkunci dari dalam. Arman
mengernyit. Biasanya, jika Danang masih bekerja, pintu tidak pernah dikunci.
Pak Suryanto percaya pada Danang. Pak Suryanto tahu Danang anak baik. Pak
Suryanto tidak takut Danang mencuri atau merusak barang-barang di percetakan.
"Danang!" teriak Arman sambil mengetuk pintu
keras-keras. "Danang, buka pintu! Aku Arman!"
Tidak ada jawaban.
"Danang!" teriaknya lagi, lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Arman mengelilingi bangunan, mencari jendela yang tidak
terkunci, mencari celah untuk masuk. Di sisi belakang bangunan, ia menemukan
sebuah jendela kecil yang tidak tertutup rapat. Jendela itu menghadap ke ruang
belakang, ruang tempat Pak Suryanto menyimpan barang-barang lama, ruang tempat
Danang kadang tidur jika tidak pulang ke kos.
Arman mendekati jendela itu.
Ia mendongak.
Ia melihat ke dalam.
Dan ia membeku.
Di dalam ruang belakang yang sempit, dengan dinding bata
merah tanpa cat, dengan lantai semen yang kasar, dengan satu kasur tipis yang
sudah kempes di beberapa tempat, Danang dan Kirana sedang berpelukan.
Bukan pelukan biasa. Pelukan yang erat. Pelukan yang
hangat. Pelukan yang penuh cinta. Danang duduk di kasur, bersandar di dinding,
tangannya melingkar di pinggang Kirana. Kirana duduk di pangkuan Danang,
kepalanya bersandar di dada Danang, matanya terpejam, bibirnya tersenyum.
Mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.
Mereka hanya berpelukan. Hanya saling menghangatkan. Hanya saling menguatkan.
Tapi bagi Arman, pemandangan itu seperti pisau yang menusuk jantungnya, seperti
belati yang menyayat hatinya, seperti racun yang membakar darahnya.
"Dasar..." bisiknya, suaranya penuh amarah.
"Dasar... dasar..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Ia terlalu marah.
Terlalu kecewa.
Terlalu sakit.
Ia mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menusuk telapak
tangannya, meninggalkan bekas setengah bulan yang akan ia lihat besok pagi.
Giginya menggigit bibir bawahnya, menggigitnya keras-keras sampai ia merasakan
rasa logam di lidahnya, rasa darah.
"Danang," bisiknya, "kau sahabatku. Tapi
kau... kau mengambil Kirana dariku. Padahal aku... aku juga mencintainya. Sejak
pertama aku melihatnya. Sejak pertama dia tersenyum padaku. Sejak
pertama..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya berdiri di depan jendela, di tengah hujan yang
masih deras, di tengah malam yang gelap, memandang Danang dan Kirana yang
berpelukan, memandang kebahagiaan yang tidak ia miliki, memandang cinta yang
tidak ia rasakan.
Air matanya jatuh.
Bercampur dengan air hujan.
Tidak ada yang membedakan.
Tidak ada yang tahu.
Ia menangis di tengah hujan.
Menangis karena kecewa.
Menangis karena sakit.
Menangis karena iri.
Menangis karena cinta.
"Kau akan menyesal, Danang," bisiknya. "Kau
akan menyesal telah mengambil Kirana dariku. Aku akan membuatmu menyesal. Aku
akan memisahkan kalian. Aku akan menghancurkan kebahagiaan kalian. Aku
akan..."
Ia berbalik.
Berjalan menjauh.
Meninggalkan jendela itu.
Meninggalkan percetakan itu.
Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan.
Sepeda motornya menyala dengan suara berisik, mengganggu
ketenangan malam, mengganggu suara hujan yang turun. Ia melaju kencang,
melewati genangan air yang memercik ke mana-mana, melewati tikungan-tikungan
tajam tanpa mengurangi kecepatan, melewati lampu merah tanpa berhenti.
Ia tidak peduli.
Ia tidak takut mati.
Ia sudah mati.
Matinya di depan jendela itu.
Matinya ketika melihat Danang dan Kirana berpelukan.
Matinya ketika sadar bahwa ia tidak akan pernah memiliki
Kirana.
Di dalam percetakan, Danang dan Kirana tidak tahu apa-apa.
Mereka masih berpelukan di kasur tipis yang kempes, di
ruang belakang yang sempit, di tengah hujan yang masih deras. Mereka masih
merasakan hangatnya satu sama lain. Mereka masih merasakan cinta.
"Danang," bisik Kirana.
"Ya?"
"Apa kita akan begini selamanya? Berpelukan. Saling
menghangatkan. Saling menguatkan."
"Kita akan begini selamanya, Kirana. Tidak harus
berpelukan. Tapi saling memiliki. Saling mencintai. Saling menjaga. Itu yang
terpenting."
Kirana tersenyum.
Ia mengangkat kepalanya dari dada Danang.
Ia menatap Danang.
Matanya yang coklat kehijauan berbinar-binar di bawah
cahaya lampu minyak yang redup.
"Danang, aku ingin kau tahu sesuatu."
"Apa?"
"Aku tidak pernah mencintai siapa pun selain kau.
Sejak kecil. Sejak pertama kita bertemu di tepi sungai. Sejak kau melempar batu
ke air. Sejak kau menggambar bunga kuning di buku gambarmu. Aku hanya mencintai
kau. Tidak ada yang lain."
Danang tersenyum. "Aku juga, Kirana. Aku juga hanya
mencintai kau. Tidak ada yang lain. Tidak akan pernah ada yang lain."
Mereka berdua terdiam.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Hujan yang mulai reda.
Hujan yang mulai berhenti.
"Danang, aku ingin kau janji sesuatu."
"Apa?"
"Janji bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku.
Janji bahwa kau akan selalu di sisiku. Janji bahwa kau akan selalu mencintaiku.
Sampai kapan pun. Sampai mati."
Danang mengangkat jari kelingkingnya.
Jari yang kurus dan kasar.
Jari yang sama yang dulu ia angkat di tepi sungai, ketika
ia berjanji pada Kirana bahwa ia akan menunggunya.
"Janji, Kirana. Aku janji. Aku tidak akan pernah
meninggalkanmu. Aku akan selalu di sisimu. Aku akan selalu mencintaimu. Sampai
kapan pun. Sampai mati."
Kirana mengangkat jari kelingkingnya.
Jari yang lentik dan putih.
Jari yang sama yang dulu ia angkat di tepi sungai, ketika
ia berjanji pada Danang bahwa ia akan kembali.
"Janji, Danang. Aku janji. Aku tidak akan pernah
meninggalkanmu. Aku akan selalu di sisimu. Aku akan selalu mencintaimu. Sampai
kapan pun. Sampai mati."
Jari kelingking mereka bertaut.
Seperti dulu.
Di tepi sungai.
Di bawah pohon waru.
Di sore yang hujan.
"Janji," bisik mereka bersamaan.
Dan di luar, hujan berhenti.
Langit mulai cerah.
Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Bulan mulai bersinar terang.
Seperti alam ikut bahagia.
Seperti alam ikut merestui.
Seperti alam ikut bersaksi bahwa dua insan yang saling
mencintai telah berjanji untuk setia selamanya.
Tapi mereka tidak tahu bahwa di balik kegelapan malam, di
balik pohon-pohon yang basah, di balik genangan air yang memantulkan cahaya
bulan, seseorang masih berdiri.
Arman.
Ia tidak pergi.
Ia hanya berhenti di tikungan, mematikan mesin sepeda
motornya, lalu kembali ke percetakan dengan berjalan kaki.
Ia ingin memastikan.
Ia ingin melihat lagi.
Ia ingin menyakiti hatinya lagi.
Dan ketika ia sampai di jendela itu lagi, ketika ia melihat
Danang dan Kirana berpelukan lagi, ketika ia melihat jari kelingking mereka
bertaut, ia tersenyum.
Senyum yang dingin.
Senyum yang penuh dengan rencana.
Senyum yang seperti ular yang siap menerkam.
"Janji?" bisiknya. "Janji yang indah. Tapi
janji tidak akan bertahan lama. Aku akan pastikan itu. Aku akan hancurkan janji
kalian. Aku akan hancurkan cinta kalian. Aku akan hancurkan kalian."
Ia berbalik.
Berjalan menjauh.
Menghilang di balik kegelapan.
Meninggalkan Danang dan Kirana yang berpelukan.
Meninggalkan kebahagiaan yang akan segera berakhir.
Meninggalkan cinta yang akan segera hancur.
Bab 11
Lelaki
yang Mulai Mendekat Diam-Diam
Sejak malam di percetakan, sejak ia melihat Danang dan
Kirana berpelukan di kasur tipis yang kempes, sejak ia menyaksikan jari
kelingking mereka bertaut di bawah cahaya lampu minyak yang redup, sejak ia
mendengar bisikan "Janji" yang keluar dari bibir mereka berdua, Arman
berubah.
Tidak drastis.
Tidak mencolok.
Tidak seperti orang yang tiba-tiba menjadi jahat dalam
semalam.
Justru terlalu halus untuk langsung disadari.
Terlalu pintar untuk langsung ditebak.
Terlalu sabar untuk langsung diketahui.
Ia tetap datang ke kamar kos Danang setiap malam, seperti
biasa. Masih membawa sate kambing atau nasi goreng atau bakso, masih duduk di
ranjang sempit yang kasurnya sudah semakin kempes, masih berbicara tentang
banyak hal, masih tertawa tentang hal-hal lucu, masih mengeluh tentang
pekerjaan yang melelahkan.
Tapi ada sesuatu dalam caranya memandang Danang yang
berbeda. Bukan lagi tatapan sahabat yang tulus, yang penuh kasih, yang tanpa
pamrih. Tapi tatapan yang penuh perhitungan, yang penuh rencana, yang seperti
sedang mempelajari kelemahan lawan sebelum menyerang.
Danang tidak menyadari.
Danang terlalu sibuk dengan Kirana.
Terlalu bahagia dengan cintanya.
Terlalu buta oleh kebahagiaan.
"Arman, kau tahu? Hari ini Kirana masak untukku.
Rendang. Enak banget. Dagingnya empuk. Bumbunya meresap. Pedasnya pas. Aku
makan tiga porsi. Kirana sampai kaget. Katanya, 'Kau bisa sakit perut, Danang.'
Tapi aku tidak sakit. Aku kuat. Aku sudah biasa makan banyak."
Arman tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Bagus, Danang. Kau beruntung punya pacar yang bisa masak. Aku tidak
pernah punya pacar. Tidak ada yang mau. Aku jelek. Aku miskin. Aku tidak
berpendidikan."
"Kau tidak jelek, Arman. Kau tidak miskin. Kau
berpendidikan. Kau lulusan STM. Kau bisa kerja di bengkel. Kau punya masa
depan. Kau hanya belum ketemu orang yang tepat. Sabar. Nanti juga ketemu."
"Seperti kau ketemu Kirana?"
Danang tersenyum malu. "Iya. Seperti aku ketemu
Kirana."
Arman tertawa. Tawa yang keras, yang riuh, yang seperti
tawa orang yang sedang bahagia. Tapi di dalam hatinya, di tempat yang paling
gelap, di tempat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, ia berkata
pada dirinya sendiri:
"Kau tidak pantas untuk Kirana, Danang. Kau tidak
pantas untuk bahagia. Kau tidak pantas untuk dicintai. Aku yang pantas. Aku.
Bukan kau."
Ia mulai sering datang ke toko buku.
Bukan karena ada keperluan.
Bukan karena ingin membeli buku.
Tapi karena ia tahu Kirana akan ada di sana setiap sore.
Setiap hari, sekitar jam empat sore, ketika toko buku mulai
sepi, ketika Bu Lastri pergi sholat Ashar atau ke pasar untuk membeli sayur,
Arman akan datang. Ia akan masuk dengan senyum ramah, dengan sapaan hangat,
dengan sikap yang tidak mencurigakan.
"Halo, Mbak Kirana. Apa kabar? Sehat?"
Kirana yang sedang merapikan rak buku atau menghitung uang
di meja kasir, akan menoleh dan tersenyum. "Halo, Mas Arman. Kabar baik.
Mas Arman sendiri? Masih sibuk di bengkel?"
"Sibuk, Mbak. Banyak pelanggan yang antre. Motor
mereka mogok karena hujan. Tapi aku sempatkan diri ke sini. Ingin beli buku.
Buku tentang mesin. Aku ingin belajar lebih dalam. Biar tidak kalah dengan
montir-montir lain."
"Silakan, Mas. Rak buku teknik di pojok sana. Di
sebelah rak buku kedokteran. Di samping rak buku pertanian. Buku-bukunya
bagus-bagus. Ada yang baru datang minggu lalu. Langsung laris. Habis dalam dua
hari. Tapi Bu Lastri sudah pesan lagi. Mungkin minggu depan datang."
"Terima kasih, Mbak."
Arman akan berjalan ke rak buku teknik, tetapi matanya
tidak tertuju pada buku. Matanya tertuju pada Kirana. Pada setiap gerakannya.
Pada setiap senyumnya. Pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Ia akan berdiri di depan rak buku teknik, memegang buku,
membuka-buka halamannya, tetapi tidak membaca. Pikirannya terlalu sibuk.
Hatinya terlalu berdebar. Matanya terlalu terpesona.
Setelah beberapa menit, ia akan kembali ke meja kasir
dengan sebuah buku di tangan. Buku yang ia ambil secara acak, tidak peduli
judulnya, tidak peduli isinya, yang penting ada buku yang akan ia beli.
"Ini, Mbak. Aku ambil ini."
Kirana akan mengambil buku itu, mencatatnya di buku besar,
menghitung harganya, lalu memberitahu Arman.
"Itu lima ribu rupiah, Mas."
"Ini, Mbak. Sepuluh ribu. Kembaliannya simpan saja.
Buat infak atau sedekah. Atau buat jajan Mbak Kirana."
Kirana tersenyum. "Terima kasih, Mas Arman. Bapak baik
sekali."
"Tidak baik, Mbak. Biasa saja. Aku hanya ingin
berbagi. Lagipula, Mbak Kirana sudah banyak membantu aku. Membantu aku menemukan
buku-buku yang aku butuhkan. Membantu aku belajar. Membantu aku..."
Ia berhenti.
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya tersenyum.
Senyum yang hangat.
Senyum yang ramah.
Senyum yang tidak mencurigakan.
Tapi di dalam hatinya, ia berkata:
"Suatu hari nanti, Mbak Kirana, kau akan menjadi
milikku. Suatu hari nanti, kau akan tersenyum hanya untukku. Suatu hari nanti,
kau akan mencintaiku, bukan Danang. Aku akan pastikan itu."
Ia mulai membantu Kirana di toko buku.
Bukan karena disuruh.
Bukan karena diminta.
Tapi karena ia ingin dekat dengan Kirana.
Ia ingin menjadi bagian dari kehidupan Kirana.
Ia ingin membuat Kirana terbiasa dengan kehadirannya.
"Mb, aku bantu angkat kardus ini. Berat. Nanti Mbak
Kirana sakit punggung."
"Mas Arman, tidak usah. Aku biasa kok. Setiap hari
angkat kardus. Sudah kuat."
"Tidak, Mb. Biar aku saja. Laki-laki yang harusnya
angkat barang berat. Perempuan cukup merapikan rak buku. Menjaga kasir.
Melayani pelanggan."
Kirana tertawa. "Mas Arman, kuno sekali. Sekarang
sudah zaman modern. Perempuan bisa apa saja. Perempuan bisa kerja. Perempuan
bisa angkat barang berat. Perempuan bisa..."
"Iya, Mb. Aku tahu. Tapi biarkan aku membantu. Aku
ikhlas. Aku senang bisa membantu Mbak Kirana."
Kirana menghela napas. "Baiklah, Mas. Tapi jangan
terlalu memaksakan diri. Nanti sakit."
"Siap, Mb. Aku kuat. Aku sudah biasa angkat barang
berat di bengkel. Mesin motor, mesin mobil, semua aku angkat sendiri."
Arman akan mengangkat kardus-kardus berat berisi buku-buku
baru dari gudang di belakang toko, membawanya ke ruang depan, menatanya di
rak-rak yang sudah disediakan. Ia akan melakukannya dengan semangat, dengan
senyum, dengan sikap yang tidak kenal lelah.
Ia akan membantu Kirana membersihkan rak-rak buku yang
berdebu, mengambil buku-buku yang jatuh, menyusunnya kembali berdasarkan abjad
atau genre atau ukuran. Ia akan melakukannya dengan teliti, dengan sabar,
dengan penuh perhatian.
Ia akan membantu Kirana melayani pelanggan ketika toko
sedang ramai, mengambil buku-buku yang diminta pelanggan, menghitung harga,
membungkusnya dengan kertas koran, memberikan kembalian. Ia akan melakukannya
dengan ramah, dengan sopan, dengan senyum yang membuat pelanggan merasa
dihargai.
"Mas Arman, kau baik sekali," kata Kirana suatu
sore, setelah Arman selesai membantu membereskan toko. "Aku tidak tahu
bagaimana membalas kebaikanmu."
"Tidak usah dibalas, Mb. Aku ikhlas. Aku senang."
"Tapi aku tidak enak. Kau bekerja keras di bengkel
seharian, lalu datang ke sini, membantu aku lagi. Kau pasti lelah."
"Tidak lelah, Mb. Lelah aku hilang ketika melihat Mbak
Kirana tersenyum."
Kirana terdiam.
Wajahnya memerah.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Ia hanya menunduk, memandang lantai, memandang ubin-ubin
yang mulai retak.
"Mas Arman, jangan bicara seperti itu. Aku... aku
punya Danang. Danang pacarku. Aku tidak bisa..."
"Aku tahu, Mb. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku
hanya... aku hanya senang melihat Mbak Kirana bahagia. Aku hanya ingin Mbak
Kirana selalu tersenyum. Aku hanya..."
"Mas Arman, tolong..."
"Maaf, Mb. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman.
Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok."
Arman pergi.
Ia berjalan cepat meninggalkan toko buku, hampir berlari,
seperti orang yang ketakutan, seperti orang yang malu, seperti orang yang tidak
ingin ditolak.
Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa ia sudah mulai masuk ke
dalam hati Kirana.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa Kirana mulai merasa tidak
enak padanya.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa Kirana mulai
membandingkannya dengan Danang.
Danang yang sibuk bekerja di percetakan, yang tidak pernah
punya waktu untuk Kirana, yang tidak pernah membantu Kirana di toko buku, yang
tidak pernah membawakan hadiah untuk Kirana.
Dan Arman yang selalu ada untuk Kirana, yang selalu
membantu Kirana, yang selalu membawakan hadiah untuk Kirana.
"Suatu hari nanti, Kirana, kau akan sadar,"
bisiknya. "Kau akan sadar bahwa aku lebih baik dari Danang. Kau akan sadar
bahwa aku yang pantas untukmu. Kau akan sadar bahwa cintaku lebih tulus dari
cintanya."
Danang tidak tahu apa-apa.
Ia terlalu sibuk bekerja.
Terlalu sibuk menyusun huruf-huruf timah di percetakan.
Terlalu sibuk mengangkat kertas-kertas berat dari gudang ke
ruang cetak.
Terlalu sibuk membersihkan mesin-mesin tua yang penuh
dengan tinta kering dan debu.
Ia tidak tahu bahwa Arman, sahabatnya, orang yang ia
percayai, orang yang ia anggap seperti kakak, orang yang selalu ada untuknya,
sedang mendekati Kirana diam-diam.
Ia tidak tahu bahwa Arman, sahabatnya, sedang menanam
benih-benih keraguan di hati Kirana.
Ia tidak tahu bahwa Arman, sahabatnya, sedang merencanakan
sesuatu.
Sesuatu yang akan menghancurkan cintanya.
Sesuatu yang akan menghancurkan persahabatannya.
Sesuatu yang akan menghancurkan hidupnya.
"Danang, kau kenapa melamun?" tanya Pak Suryanto
dari belakang.
Danang tersentak. "Eh... tidak, Pak. Aku hanya... aku
hanya berpikir."
"Pikir apa? Tentang Kirana?"
Danang tersenyum malu. "Iya, Pak. Tentang
Kirana."
Pak Suryanto tertawa. "Wajar, Nak. Kau sedang jatuh
cinta. Pikiran selalu melayang ke yang dicintai. Tapi jangan sampai mengganggu
pekerjaan. Pesanan harus selesai hari ini. Pelanggan sudah menunggu."
"Baik, Pak. Aku akan fokus."
Danang kembali menyusun huruf-huruf timah.
Tangannya bergerak lincah.
Matanya fokus pada huruf-huruf kecil itu.
Tapi pikirannya masih melayang.
Melayang ke Kirana.
Melayang ke senyumnya.
Melayang ke tawanya.
Melayang ke matanya yang coklat kehijauan.
"Kirana," bisiknya. "Aku mencintaimu. Aku
akan selalu mencintaimu. Sampai mati."
Ia tidak tahu bahwa cintanya akan diuji.
Bahwa cintanya akan dihancurkan.
Bahwa cintanya akan direbut oleh orang yang paling ia
percayai.
Bab 12
Ibunda
yang Menolak Masa Lalu
Malam Minggu itu, Kirana dipanggil ibunya ke ruang tamu.
Ruang tamu yang besar dengan lampu gantung kristal yang
berkilauan, yang cahayanya memantul ke mana-mana seperti berlian-berlian kecil
yang bertebaran di langit-langit. Sofa beludru merah yang tidak pernah diduduki
siapa pun kecuali tamu penting, tamu-tamu yang datang dengan mobil mewah dan
kemeja batik dan sepatu kulit mengkilap. Meja kayu jati dengan ukiran halus
yang rumit, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibuat oleh pengrajin
di Jepara, yang harganya mungkin setara dengan pendapatan Danang setahun.
Tirai-tirai tebal dari beludru merah marun menggantung di
jendela-jendela besar, menghalangi cahaya dari luar, membuat ruangan terasa
seperti ruang sidang pengadilan, seperti ruang rapat dewan direksi, seperti
ruang tahta seorang ratu. Vas-vas bunga dari kristal bening diletakkan di
sudut-sudut ruangan, berisi bunga-bunga segar yang diganti setiap hari oleh
pembantu rumah tangga, bunga mawar merah, bunga krisan putih, bunga lili
kuning, yang wanginya memenuhi seluruh ruangan.
Lantai marmer putih mengkilap, seperti cermin raksasa yang
memantulkan bayangan siapa pun yang berjalan di atasnya. Kirana bisa melihat
bayangannya sendiri ketika ia berjalan, kaki telanjangnya yang kecil dan putih,
kebaya biru muda yang ia kenakan, rambut panjangnya yang tergerai di punggung.
Ia merasa seperti sedang berjalan di atas air, seperti sedang berjalan di atas
kaca, seperti sedang berjalan di atas sesuatu yang indah tetapi dingin dan
tidak bersahabat.
Ibunya duduk tegak di sofa, seperti ratu yang sedang
menghadap rakyatnya, seperti hakim yang sedang menghakimi terdakwa, seperti
guru yang sedang menghukum murid yang nakal. Wajahnya dingin, tanpa senyum,
tanpa ekspresi, tanpa perasaan. Matanya tajam, meneliti setiap gerakan Kirana,
meneliti setiap ekspresi di wajahnya, meneliti setiap ketukan jantung di
dadanya.
"Duduk, Kirana," kata Nyonya Dewi, suaranya
tegas, dingin, seperti perintah yang tidak bisa dibantah.
Kirana duduk di seberangnya, di sofa yang sama, tetapi di
ujung yang berlawanan, sejauh mungkin dari ibunya. Tangannya gemetar, tetapi ia
berusaha menyembunyikannya dengan melipat tangan di pangkuan, dengan
menggenggam erat-erat ujung kebayanya.
"Aku dengar kau dekat dengan pemuda percetakan itu,
Kirana," kata Nyonya Dewi, matanya menatap lurus ke mata Kirana, tidak
berkedip, tidak bergerak.
Kirana menahan napas. Dadanya terasa sesak. "Danang
teman lama, Bu. Kami berteman sejak kecil. Dulu di desa. Waktu kita masih
tinggal di sana. Waktu ayah masih bertugas di kecamatan. Waktu..."
"Aku tidak butuh cerita masa lalu, Kirana,"
potong Nyonya Dewi, suaranya semakin dingin, semakin tajam, seperti pisau yang
digerinda. "Aku butuh penjelasan. Apa hubunganmu dengan pemuda itu?"
Kirana menunduk. Ia tidak berani menatap mata ibunya. Ia
takut. Takut apa yang akan ia lihat di sana. Takut apa yang akan ia rasakan.
Takut apa yang akan ia dengar.
"Danang... Danang pacarku, Bu."
Nyonya Dewi terdiam.
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara jam dinding yang berdetak.
Hanya suara napas Kirana yang mulai memburu.
Hanya suara detak jantungnya yang berdebar kencang.
"Apa katamu?" suara Nyonya Dewi akhirnya keluar,
lebih pelan, tetapi lebih berbahaya. Seperti suara ular sebelum menerkam.
Seperti suara badai sebelum menghancurkan.
"Danang pacarku, Bu. Kami saling mencintai. Kami sudah
berjanji untuk bersama. Kami..."
"Berhenti, Kirana. Jangan lanjutkan."
Nyonya Dewi berdiri.
Ia berjalan ke jendela, membuka tirai tebal, memandang ke
luar, ke halaman yang luas, ke pohon-pohon mangga yang rindang, ke rumput yang
terawat, ke langit malam yang gelap tanpa bintang.
"Kau tahu siapa dia, Kirana?" suara Nyonya Dewi
masih pelan, masih dingin, tetapi ada getaran di sana, getaran yang menunjukkan
bahwa ia sedang menahan amarah, sedang menahan emosi, sedang menahan sesuatu
yang mungkin akan meledak kapan saja.
"Dia Danang, Bu. Danang Wiratama. Anak dari Ratih dan
Sastrowiryo. Teman kecilku. Aku sudah kenal dia sejak..."
"Aku tidak bertanya siapa namanya, Kirana. Aku
bertanya apakah kau tahu siapa dia. Apakah kau tahu latar belakangnya. Apakah
kau tahu masa lalunya. Apakah kau tahu aib keluarganya."
Kirana terdiam.
Ia tahu.
Ia tahu semua.
Ia tahu bahwa Danang bukan anak kandung Sastrowiryo.
Ia tahu bahwa Ratih hamil di luar nikah.
Ia tahu bahwa ayah kandung Danang adalah penari ketoprak
yang pergi tanpa pamit.
Ia tahu bahwa Danang dituduh membakar gudang beras keluarga
Surya.
Ia tahu bahwa seluruh desa membisikkan aib keluarga Danang.
Ia tahu semua.
Tapi ia tidak peduli.
Ia tidak pernah peduli.
Yang ia peduli hanyalah Danang.
Danang yang baik.
Danang yang jujur.
Danang yang pekerja keras.
Danang yang tidak pernah menyerah.
Danang yang selalu tersenyum meskipun hidupnya berat.
Danang yang ia cintai.
"Kau diam, Kirana. Berarti kau tahu," kata Nyonya
Dewi, berbalik, menatap Kirana dengan mata yang penuh kemenangan. "Kau
tahu bahwa dia anak haram. Kau tahu bahwa ibunya hamil di luar nikah. Kau tahu
bahwa ayah kandungnya kabur. Kau tahu bahwa dia dituduh membakar gudang. Kau
tahu semua. Tapi kau tetap memilih dia. Kenapa, Kirana? Kenapa kau
membuang-buang masa depanmu untuk anak haram seperti dia?"
Kirana mengangkat kepalanya.
Matanya merah.
Air mata mulai menggenang.
Tapi ia tidak menangis.
Ia tidak akan menangis di depan ibunya.
Ia tidak akan memberi kepuasan pada ibunya untuk melihatnya
menangis.
"Karena aku mencintainya, Bu. Karena dia baik. Karena
dia jujur. Karena dia pekerja keras. Karena dia tidak pernah menyerah. Karena
dia..."
"Karena dia apa, Kirana? Karena dia miskin? Karena dia
tidak punya pendidikan? Karena dia tidak punya masa depan? Karena dia hanya
pekerja rendahan di percetakan? Karena dia tidak bisa memberikan kehidupan yang
layak untukmu?"
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menahan lagi.
Air matanya jatuh.
Membasahi pipinya.
Membasahi kebaya biru mudanya.
Membasahi harapannya.
"Bu, tolong..."
"Tolong apa, Kirana? Tolong restui hubungan kau dengan
anak haram itu? Tidak. Aku tidak akan pernah merestui. Aku tidak akan pernah
mengizinkan. Aku tidak akan pernah membiarkan anakku hancur masa depannya
karena cinta yang buta."
"Bu, cinta tidak buta. Cinta itu..."
"Cinta itu buta, Kirana. Cinta membuat orang tidak
melihat kenyataan. Cinta membuat orang lupa pada akal sehat. Cinta membuat
orang melakukan hal-hal bodoh. Seperti yang ibu lakukan dulu. Seperti yang ibu
alami dulu. Ibu tidak ingin kau mengulangi kesalahan ibu."
Kirana terkejut.
Ia menatap ibunya.
Matanya membesar.
"Bu... ibu juga... ibu juga pernah..."
Nyonya Dewi menunduk.
Untuk pertama kalinya, wajahnya yang dingin itu retak.
Ada kesedihan di sana.
Ada penyesalan.
Ada luka lama yang belum sembuh.
"Ibu juga pernah mencintai lelaki miskin,
Kirana," bisiknya, suaranya lirih, hampir tidak terdengar. "Ibu juga
pernah berjuang untuk cinta. Ibu juga pernah melawan orang tua. Ibu juga pernah
percaya bahwa cinta bisa mengatasi segalanya."
"Lalu, Bu? Kenapa ibu..."
"Karena cinta tidak cukup, Kirana. Cinta tidak bisa
mengatasi segalanya. Cinta tidak bisa membayar utang. Cinta tidak bisa memberi
makan anak. Cinta tidak bisa membeli rumah. Cinta tidak bisa menyekolahkan
anak. Cinta hanya... cinta hanya perasaan. Dan perasaan bisa berubah. Perasaan
bisa hilang. Perasaan bisa... perasaan bisa..."
Nyonya Dewi tidak melanjutkan.
Ia menangis.
Untuk pertama kalinya, Kirana melihat ibunya menangis.
Ibunya yang selalu tegas.
Ibunya yang selalu dingin.
Ibunya yang selalu angkuh.
Ibunya yang selalu tampak sempurna.
Menangis.
"Bu..." Kirana berdiri, berjalan mendekati
ibunya, meraih tangannya.
Nyonya Dewi tidak menolak.
Ia membiarkan Kirana memegang tangannya.
Tangannya yang halus, yang terawat, yang tidak pernah kasar
karena bekerja, terasa dingin, terasa gemetar.
"Ibu tidak ingin kau mengalami apa yang ibu alami, Kirana,"
bisik Nyonya Dewi, suaranya terputus-putus karena tangis. "Ibu tidak ingin
kau menderita. Ibu tidak ingin kau kecewa. Ibu tidak ingin kau... ibu tidak
ingin kau menyesal."
"Tapi Bu, Danang tidak seperti itu. Danang baik.
Danang jujur. Danang pekerja keras. Danang..."
"Kata ibu juga dulu, Kirana. Kakek dan nenek juga
melarang. Tapi ibu tidak mendengarkan. Ibu memilih lelaki itu. Ibu kabur dari
rumah. Ibu tinggal bersamanya. Ibu... ibu hamil di luar nikah."
Kirana terkejut.
Ia melepaskan tangan ibunya.
Ia mundur selangkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Matanya membesar.
Mulutnya terbuka.
Tidak ada suara yang keluar.
"Ibu... ibu hamil di luar nikah? Dengan siapa,
Bu?"
Nyonya Dewi menunduk.
Ia tidak bisa menjawab.
Ia hanya menangis.
Menangis di hadapan anaknya.
Menangis karena rahasia yang selama ini ia pendam, yang
selama ini ia sembunyikan, yang selama ini ia kubur dalam-dalam, akhirnya
terungkap.
"Dengan siapa, Bu?" desak Kirana, suaranya keras,
tegas, tidak seperti biasanya.
"Tidak usah kau tahu, Kirana. Yang penting, ibu tidak
ingin kau mengulangi kesalahan ibu. Ibu tidak ingin kau hamil di luar nikah.
Ibu tidak ingin kau menjadi aib keluarga. Ibu tidak ingin..."
"Jadi semua ini tentang aib, Bu? Bukan tentang
kebahagiaanku? Bukan tentang cintaku? Bukan tentang masa depanku? Hanya tentang
aib? Hanya tentang apa kata orang? Hanya tentang status? Hanya tentang..."
"Kirana, jangan..."
"Aku tidak peduli dengan aib, Bu! Aku tidak peduli
dengan apa kata orang! Aku tidak peduli dengan status! Aku hanya peduli dengan
Danang! Aku hanya peduli dengan cintaku! Aku hanya peduli dengan
kebahagiaanku!"
Kirana berlari keluar ruangan.
Meninggalkan ibunya yang menangis.
Meninggalkan rumah megah yang dingin.
Meninggalkan semua yang selama ini mengikatnya.
Ia berlari ke kamarnya, membanting pintu, menangis di atas
ranjang.
Menangis untuk Danang.
Menangis untuk ibunya.
Menangis untuk dirinya sendiri.
Menangis untuk cinta yang terhalang.
Menangis untuk masa depan yang tidak pasti.
Bab 13
Bayangan
dari Masa Kecil
Tahun 1988. Danang sekarang berusia tujuh belas tahun. Dua
tahun telah berlalu sejak ia bertemu kembali dengan Kirana di toko buku. Dua
tahun sejak mereka berjanji untuk bersama. Dua tahun sejak Arman mulai berubah.
Dua tahun sejak surat tanpa nama pertama muncul. Dua tahun sejak ibu Kirana
melarang hubungan mereka.
Dua tahun yang penuh dengan suka dan duka. Dua tahun yang
penuh dengan tawa dan air mata. Dua tahun yang penuh dengan harapan dan
kekecewaan. Dua tahun yang membuat Danang semakin dewasa, semakin kuat, semakin
tabah, tetapi juga semakin lelah, semakin rapuh, semakin dekat dengan batas
kesabarannya.
Dua tahun yang mengajarkannya bahwa cinta tidak semudah
yang ia bayangkan. Bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tetapi juga
tentang perjuangan. Bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga
tentang pengorbanan. Bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga
tentang melepaskan.
Danang sekarang bekerja lebih keras dari sebelumnya. Tidak
hanya di percetakan, tetapi juga di dermaga pada malam hari, membantu bongkar
muat barang dari kapal-kapal yang datang dari Jakarta dan Surabaya. Tubuhnya
yang dulu kurus kini berotot, kekar, penuh dengan bekas-bekas kerja keras.
Bahunya yang dulu sempit kini lebar, bidang, mampu mengangkat karung-karung
beras yang beratnya puluhan kilogram.
Wajahnya yang dulu polos kini lebih tegas, lebih dewasa,
lebih keras. Garis-garis di keningnya mulai tampak, meskipun usianya baru tujuh
belas tahun. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap karena kurang
tidur. Matanya yang dulu gelap dan dalam, kini semakin gelap, semakin dalam,
seperti sumur tua yang tidak pernah mencapai dasar, seperti lubang hitam di
angkasa yang menyerap semua cahaya.
Ia tidak pernah mengeluh. Ia tidak pernah berhenti. Ia
tidak pernah menyerah. Ia bekerja dari pagi sampai malam, dari senin sampai
minggu, dari awal bulan sampai akhir bulan. Ia menabung setiap rupiah yang ia
dapatkan, menyimpannya di celengan bambu yang ia buat sendiri, berharap suatu
hari nanti ia bisa membuka usaha sendiri, bisa menyekolahkan diri sendiri, bisa
membahagiakan Kirana.
"Danang, kau bekerja terlalu keras," kata Pak
Suryanto suatu sore, ketika melihat Danang hampir pingsan karena kelelahan.
Wajah Danang pucat, bibirnya kering, matanya sayu, tubuhnya gemetar.
"Istirahat dulu. Jangan paksakan diri. Nanti kau sakit."
"Tidak apa, Pak. Aku kuat. Aku sudah biasa."
"Kuat? Lihat wajahmu. Pucat seperti mayat. Kau makan?
Kau tidur? Kau..."
"Aku makan, Pak. Aku tidur. Aku baik-baik saja."
Pak Suryanto menghela napas. Ia tahu Danang berbohong. Ia
tahu Danang tidak makan. Ia tahu Danang tidak tidur. Ia tahu Danang memaksakan
diri. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Danang keras kepala. Danang tidak mau
dibantu. Danang ingin membuktikan bahwa ia bisa.
"Kirana tahu kau begini?" tanya Pak Suryanto.
Danang tersenyum tipis. "Kirana tidak perlu tahu, Pak.
Kirana cukup tahu bahwa aku baik-baik saja. Kirana cukup tahu bahwa aku
bahagia. Kirana cukup tahu bahwa aku mencintainya."
Pak Suryanto menggeleng. "Kau ini, Danang. Kau
ini..."
Ia tidak melanjutkan. Ia hanya berjalan ke ruang belakang,
mengambil selimut dan bantal, lalu memberikannya pada Danang. "Tidur dulu.
Satu jam. Aku jagain toko. Nanti kau bangun, kita lanjut kerja."
"Pak, aku tidak..."
"Tidur, Danang! Itu perintah!"
Danang tidak bisa membantah. Ia mengambil selimut dan
bantal itu, membawanya ke ruang belakang, merebahkan diri di kasur tipis yang
kempes. Matanya terpejam. Pikirannya melayang. Ia memikirkan Kirana. Memikirkan
senyumnya. Memikirkan tawanya. Memikirkan matanya yang coklat kehijauan.
"Kirana," bisiknya. "Aku akan
membahagiakanmu. Aku janji. Aku akan bekerja keras. Aku akan sekolah. Aku akan
menjadi seseorang. Aku akan..."
Ia tertidur.
Suatu sore, ketika Danang sedang mengantar pesanan ke
restoran besar di pusat kota, ia mendengar suara yang sangat dikenalnya. Suara
yang membuat masa kecilnya kembali seperti mimpi buruk, seperti hantu yang
tidak pernah benar-benar mati, seperti luka yang tidak pernah benar-benar
sembuh.
"Wah, Danang. Jadi benar itu kau. Aku kira aku salah
lihat. Ternyata kau. Setelah bertahun-tahun. Setelah sekian lama."
Danang berhenti.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Ia menoleh.
Surya Baskara berdiri di sana.
Kini ia jauh berbeda dari anak kecil yang dulu menindas
Danang di halaman sekolah. Anak kecil yang dulu suka menginjak perahu daun,
yang dulu suka memanggil Danang "anak haram", yang dulu suka menuduh
Danang membakar gudang ayahnya. Kini ia tumbuh menjadi pemuda yang tampan,
percaya diri, kaya raya.
Setelan rapi warna abu-abu muda, jas yang disetrika tanpa
kerutan sedikit pun, dengan kancing-kancing berlapis emas yang berkilauan
terkena sinar matahari. Dasi sutra merah marun, dengan motif batik yang rumit,
yang harganya mungkin setara dengan pendapatan Danang sebulan. Jam tangan Rolex
emas melingkar di pergelangan tangan kirinya, berkilauan setiap kali terkena
cahaya, seperti mata ular yang siap memakan mangsanya.
Sepatu kulit hitam mengkilap, sepatu buatan Italia yang
mungkin harganya lebih mahal dari seluruh pakaian yang pernah Danang miliki
seumur hidup. Sepatu yang tidak pernah terkena lumpur, tidak pernah terkena
debu, tidak pernah terkena hujan. Sepatu yang hanya dipakai untuk berjalan di
karpet merah dan lantai marmer.
Rambutnya disisir rapi ke samping, dengan minyak rambut
yang membuatnya mengkilap dan wangi. Kumis tipis mulai tumbuh di bibir atasnya,
memberinya kesan dewasa, maskulin, berwibawa. Kulitnya putih bersih, terawat,
tidak pernah terkena sinar matahari langsung. Wajahnya bulat, tembem, tanda
bahwa ia tidak pernah kelaparan, tidak pernah kekurangan, tidak pernah
menderita.
Tetapi senyum sinisnya tetap sama.
Senyum yang sama ketika ia menginjak perahu daun Danang di
halaman sekolah.
Senyum yang sama ketika ia menuduh Danang membakar gudang
ayahnya.
Senyum yang sama ketika ia memanggil Danang "anak
haram" di depan semua anak.
Senyum yang sama ketika ia membisikkan rahasia tentang ayah
kandung Danang.
Senyum yang tidak berubah.
Senyum yang tetap sinis.
Senyum yang tetap sombong.
Senyum yang tetap merendahkan.
"Sudah lama, Surya," kata Danang. Suaranya
dingin, datar, tidak menunjukkan emosi. Matanya tenang, tidak gentar, tidak
takut.
Surya tertawa pendek. Tawa yang dibuat-buat, seperti orang
yang sedang menonton pertunjukan yang tidak lucu, seperti orang yang sedang
berpura-pura terhibur. "Kota ini kecil sekali, Danang. Bahkan masa lalu
pun bisa ikut pindah. Siapa sangka kita bertemu di sini? Di restoran mewah ini.
Di pusat kota. Kau yang dulu tinggal di gubuk reot di tepi sungai, sekarang
bisa masuk ke restoran seperti ini?"
"Aku hanya mengantar pesanan, Surya. Bukan makan di
sini."
"Oh, benar. Kau masih pekerja rendahan. Masih
mengantar pesanan. Masih bekerja kasar. Masih tidak punya pendidikan. Masih
tidak punya masa depan. Seperti dulu. Tidak berubah."
Danang tidak menjawab. Ia hanya memandang Surya dengan
tatapan kosong, tatapan yang tidak menunjukkan apa pun, tatapan yang membuat
Surya tidak nyaman.
Surya berjalan mendekat. Kini ia berdiri hanya satu langkah
dari Danang. Aroma parfum mahal menyengat di hidung Danang, aroma yang seperti
bunga-bunga eksotis dari Prancis, yang harganya mungkin setara dengan
pendapatan Danang sebulan.
"Kau tahu, Danang?" kata Surya, suaranya pelan,
seperti bisikan, tetapi penuh dengan kebencian. "Aku tidak pernah lupa apa
yang kau lakukan padaku. Tamparanmu di halaman sekolah. Itu sangat
mempermalukanku. Aku tidak bisa melupakannya. Sampai sekarang."
"Aku juga tidak lupa apa yang kau lakukan padaku,
Surya. Kau menghina ibuku. Kau memanggilku anak haram. Kau menuduhku membakar
gudang ayahmu. Kau membuat seluruh desa membenciku."
"Itu semua benar, Danang. Kau memang anak haram. Ibumu
memang hamil di luar nikah. Ayah kandungmu memang penari ketoprak yang kabur.
Kau memang mencurigakan. Kau memang..."
"Surya, cukup."
"Belum cukup, Danang. Aku belum selesai."
Surya mendekat lebih dekat. Kini jarak mereka hanya
beberapa sentimeter. Danang bisa merasakan napas Surya di wajahnya, bau bawang
dan daging dari makan siangnya.
"Aku dengar kau dekat dengan Kirana," bisik
Surya. "Perempuan itu. Yang dulu membelamu. Yang dulu memanggilku
pengecut. Yang dulu..."
"Jangan sebut namanya, Surya."
"Kenapa? Takut dia tahu siapa dirimu sebenarnya? Takut
dia tahu masa lalumu? Takut dia tahu bahwa kau anak haram? Takut dia tahu bahwa
ibumu..."
Danang mengepal tangan. Buku-buku jarinya memutih.
Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Dadanya naik turun dengan napas yang
berat. Matanya menyala, seperti bara api yang tertutup abu, masih panas
meskipun tidak terlihat.
Surya tersenyum. Senyum kemenangan. Senyum yang mengatakan
bahwa ia menang, bahwa ia berhasil, bahwa ia telah menemukan kelemahan Danang
dan menusuknya tepat di tempat yang paling sakit.
"Kau selalu lupa, Danang," kata Surya, suaranya
santai, seperti sedang berbicara tentang cuaca, seperti sedang mengomentari
harga beras di pasar. "Di dunia seperti ini, asal-usul lebih penting
daripada cinta. Uang lebih penting daripada perasaan. Status lebih penting
daripada hati. Kau tidak akan pernah cukup baik untuk Kirana. Tidak peduli
seberapa keras kau berusaha. Tidak peduli seberapa banyak kau bekerja. Tidak
peduli seberapa banyak uang kau kumpulkan. Kau akan tetap menjadi anak haram.
Anak haram selamanya."
Ia menepuk bahu Danang pelan. Tepukan yang terlihat akrab,
seperti tepukan seorang teman lama, tetapi terasa seperti belati yang
ditusukkan ke bahu.
"Selamat berjuang, Danang. Kau akan membutuhkan banyak
keberuntungan."
Surya pergi.
Ia berjalan ke dalam restoran, disambut oleh pramusaji yang
membungkuk hormat, dipersilakan duduk di meja VIP, dilayani dengan penuh
perhatian.
Danang berdiri di depan restoran, memandang Surya yang
duduk di meja VIP, tertawa dengan teman-temannya, menikmati makanan mahal yang
disajikan di piring-piring porselen berlapis emas.
Ia tidak marah.
Ia tidak benci.
Ia hanya lelah.
Lelah hidup di dunia di mana uang dan status lebih penting
daripada kerja keras dan ketulusan.
Lelah hidup di dunia di mana masa lalu lebih penting
daripada masa depan.
Lelah hidup di dunia di mana ia harus terus membuktikan
bahwa ia pantas, bahwa ia cukup baik, bahwa ia layak dicintai.
"Danang, kau kenapa?" tanya Kirana ketika Danang
kembali ke toko buku sore itu. Wajah Danang pucat, matanya sayu, tangannya
gemetar.
"Tidak apa, Kirana. Aku hanya... aku hanya bertemu
seseorang dari masa lalu."
"Siapa?"
"Surya."
Kirana terdiam. Wajahnya berubah pucat. Matanya membesar.
Tangannya gemetar.
"Surya? Surya Baskara? Anak saudagar beras itu? Yang
dulu..."
"Iya. Dia. Dia sekarang kaya raya. Punya restoran.
Punya mobil mewah. Punya segalanya."
"Apa yang dia katakan padamu, Danang?"
Danang tersenyum pahit. "Hal-hal yang biasa. Bahwa aku
anak haram. Bahwa aku tidak pantas untukmu. Bahwa aku tidak akan pernah cukup
baik. Bahwa..."
"Danang, jangan dengarkan dia. Dia hanya iri. Dia
hanya dendam. Dia hanya..."
"Aku tahu, Kirana. Aku tidak peduli. Yang penting kau.
Yang penting kita. Yang penting cinta kita."
Kirana memeluk Danang.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan.
Seperti takut masa lalu akan merenggut kebahagiaan mereka
lagi.
"Danang, aku janji tidak akan pergi. Aku janji tidak
akan meninggalkanmu. Aku janji akan selalu di sisimu. Apa pun yang terjadi.
Siapa pun yang datang. Aku akan tetap di sini."
Danang memejamkan mata.
Ia ingin percaya.
Ia ingin percaya pada janji itu.
Tapi ia sudah belajar bahwa janji adalah hal paling rapuh
di dunia.
Bahwa janji bisa pecah seperti kaca.
Bahwa janji bisa hilang seperti kabut pagi.
Bahwa janji, seindah apa pun, tidak akan pernah bisa
menggantikan kehadiran.
"Kirana," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Danang. Lebih dari apa pun di
dunia ini."
Mereka berpelukan di toko buku yang sunyi, di antara
rak-rak kayu yang penuh dengan buku, di bawah lampu neon yang redup, di sore
yang mulai gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Surya bukan satu-satunya musuh yang
harus mereka hadapi.
Mereka tidak tahu bahwa musuh yang sebenarnya lebih dekat.
Musuh yang tidur di kamar yang sama.
Musuh yang makan di meja yang sama.
Musuh yang tertawa dengan tawa yang sama.
Musuh yang dipanggil "sahabat".
Bab 14
Kebenaran
yang Tidak Pernah Selesai
Malam itu, setelah pertemuan dengan Surya di restoran,
setelah kata-kata pedas yang menusuk hati, setelah senyum sinis yang masih
terbayang di matanya, Danang duduk sendirian di tepi sungai kecil di belakang
kota. Tempat yang biasa ia kunjungi bersama Kirana. Tempat yang menjadi saksi
bisu cinta mereka. Tempat yang kini terasa sunyi, terasa dingin, terasa asing.
Langit malam itu gelap, tanpa bintang. Awan tebal menutupi
bulan, tidak ada cahaya yang menembus. Hanya kegelapan. Kegelapan yang pekat.
Kegelapan yang seperti masa depannya. Angin bertiup dingin, menusuk tulang,
membuatnya menggigil meskipun ia memakai jaket tebal.
Ia memandang air sungai yang keruh, yang mengalir lambat,
yang membawa sampah-sampah plastik dan daun-daun kering. Ia memandang bayangannya
sendiri di permukaan air, bayangan yang terdistorsi, bayangan yang tidak jelas,
bayangan yang seperti dirinya yang tidak pernah benar-benar tahu siapa dirinya.
"Danang, aku ikut, ya."
Danang menoleh. Kirana berdiri di belakangnya, dengan wajah
cemas, dengan mata khawatir, dengan tangan yang gemetar memegang ujung
kebayanya.
"Kirana? Kau tahu aku di sini?"
"Aku mampir ke percetakan. Pak Suryanto bilang kau
sudah pulang. Tapi kau tidak ada di kos. Aku tahu kau pasti di sini. Di tempat
kita biasa bertemu."
Kirana duduk di samping Danang, di atas batu besar yang
licin karena lumut. Ia meraih tangan Danang, menggenggamnya erat-erat.
Tangannya yang kecil dan lentik, terasa hangat di telapak tangan Danang yang
dingin.
"Ada yang ingin kutanyakan, Danang," kata Kirana,
suaranya pelan, lembut, seperti bisikan.
Danang menatapnya. Dadanya terasa sesak. Ia sudah bisa
menebak pertanyaan apa yang akan keluar. Pertanyaan yang selama ini ia
takutkan. Pertanyaan yang membuatnya lari dari desa, dari masa lalu, dari
dirinya sendiri. Pertanyaan yang selalu ia hindari, selalu ia pendam, selalu ia
kubur dalam-dalam.
"Apa, Kirana?"
Kirana ragu. Bibirnya gemetar. Matanya menatap Danang
dengan campuran kasih sayang dan ketakutan. Lalu akhirnya ia berkata,
"Apakah benar... apakah benar Surya tidak berbohong? Apakah benar Bapakmu
bukan ayah kandungmu? Apakah benar ayah kandungmu adalah penari ketoprak yang
pergi? Apakah benar..."
Danang tidak menjawab.
Ia hanya memandang sungai.
Memandang air yang keruh.
Memandang bayangannya yang terdistorsi.
Keheningan di antara mereka lebih menyakitkan daripada
jawaban apa pun.
Keheningan yang berbicara lebih keras dari seribu kata.
Keheningan yang mengkonfirmasi semua ketakutan Kirana.
Keheningan yang mengatakan bahwa semua yang dikatakan Surya
adalah benar.
Kirana tahu.
Ia tahu dari keheningan Danang.
Ia tahu dari wajah Danang yang pucat.
Ia tahu dari mata Danang yang kosong.
Ia tahu dari tangan Danang yang gemetar.
"Danang," bisik Kirana, suaranya pecah, air
matanya mulai jatuh. "Kenapa kau tak pernah cerita?"
Danang menatap air sungai. Air yang mengalir terus, tidak
pernah berhenti, tidak pernah melihat ke belakang. Air yang seperti hidupnya,
terus mengalir, terus bergerak, tidak pernah berhenti meskipun lelah, meskipun
sakit, meskipun ingin berhenti.
"Karena aku capek menjadi cerita orang, Kirana,"
katanya akhirnya, suaranya pelan, datar, tanpa emosi, seperti orang yang sudah
kehabisan air mata, seperti orang yang sudah terlalu sering dilukai hingga
tidak bisa lagi merasakan sakit. "Karena aku capek dilihat dengan tatapan
kasihan. Karena aku capek menjadi anak haram di mata semua orang. Karena aku
capek..."
"Tapi aku bukan orang lain, Danang. Aku Kirana. Aku
temanmu. Aku... aku kekasihmu. Aku orang yang mencintaimu. Aku berhak tahu. Aku
seharusnya tahu. Aku..."
"Kau tahu sekarang, Kirana. Kau tahu semuanya. Aku
anak haram. Ayah kandungku penari ketoprak yang kabur. Ibunya hamil di luar
nikah. Bapak yang membesarkanku bukan ayah kandungku. Aku tidak punya
siapa-siapa. Aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya masa depan. Aku tidak
pantas untukmu. Aku..."
"Jangan bilang begitu, Danang!" potong Kirana,
suaranya keras, tegas, seperti saat ia membela Danang di depan Surya di halaman
sekolah dulu. Matanya menyala, tidak lagi sayu, tidak lagi berkaca-kaca.
"Jangan bilang kau tidak pantas untukku! Jangan bilang kau tidak punya
masa depan! Jangan bilang kau anak haram! Aku tidak peduli dengan semua itu!
Aku peduli dengan kau! Aku peduli dengan Danang! Aku peduli dengan anak
laki-laki yang duduk di akar pohon waru dan melempar batu ke sungai! Aku peduli
dengan anak laki-laki yang menggambar bunga kuning di buku gambarnya! Aku
peduli dengan anak laki-laki yang menampar Surya di halaman sekolah karena ia
menghina ibuku! Aku peduli dengan anak laki-laki yang menangis di depan ibunya
karena takut kehilangan segalanya! Aku peduli denganmu, Danang!"
Danang menatap Kirana.
Matanya basah.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia tidak ingin menangis.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan
menangis di depan Kirana.
Ia sudah berjanji bahwa ia akan kuat, bahwa ia tidak akan
menunjukkan kelemahan, bahwa ia tidak akan membebani Kirana dengan masalahnya.
Tapi air mata itu tetap keluar.
Mengalir di pipinya yang kasar.
Jatuh ke tanah.
Membasahi batu besar yang licin.
"Kirana, aku takut," bisiknya, suaranya pecah,
tangisnya keluar. "Aku takut kau pergi. Aku takut kau meninggalkanku
seperti orang-orang lain. Aku takut kau... kau malu padaku. Aku takut
kau..."
"Aku tidak akan pergi, Danang. Aku tidak akan
meninggalkanmu. Aku tidak akan malu padamu. Aku bangga padamu. Kau kuat. Kau
pekerja keras. Kau tidak pernah menyerah. Kau tidak pernah mengeluh. Kau
berjuang sendiri tanpa bantuan siapa pun. Kau..."
"Tapi ibumu..."
"Aku akan bicara dengan ibuku. Aku akan meyakinkan
dia. Aku akan membuktikan bahwa kau pantas untukku. Aku akan..."
"Dan Surya..."
"Surya? Surya tidak ada apa-apanya. Dia hanya anak
kaya yang sombong. Dia iri padamu. Dia dendam padamu. Dia ingin menghancurkan
kita. Tapi kita tidak akan biarkan dia menang. Kita akan buktikan bahwa cinta
kita lebih kuat dari kebenciannya."
Danang memeluk Kirana.
Ia memeluknya erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan.
Seperti takut ini hanya mimpi.
"Kirana, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa
depan. Aku tidak tahu apakah kita akan bersama selamanya. Tapi yang aku tahu,
saat ini, di sini, bersama kau, aku bahagia. Aku bahagia karena kau di
sampingku. Aku bahagia karena kau mencintaiku. Aku bahagia karena kau menerima aku
apa adanya. Terima kasih, Kirana. Terima kasih untuk semuanya."
Kirana tersenyum.
Senyum yang sama.
Senyum yang dulu menjadi rumah bagi Danang.
Senyum yang membuat Danang merasa bahwa ia tidak sendirian
di dunia.
Senyum yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
"Tugas kekasih, Danang. Tugas kekasih."
Mereka berpelukan di tepi sungai yang keruh, di bawah
langit yang gelap tanpa bintang, di tengah angin yang dingin menusuk tulang.
Mereka tidak tahu bahwa kebenaran yang baru saja terungkap
hanyalah awal.
Bahwa masih ada kebenaran lain yang lebih menyakitkan.
Bahwa masih ada rahasia lain yang lebih gelap.
Bahwa masih ada luka lain yang lebih dalam.
Kebenaran tentang ayah kandung Danang.
Kebenaran tentang Sastrowiryo.
Kebenaran tentang Mandor Jalil.
Kebenaran tentang surat-surat tanpa nama.
Kebenaran tentang Arman.
Semua kebenaran itu akan terungkap suatu hari nanti.
Suatu hari ketika mereka tidak siap.
Suatu hari ketika kebahagiaan mereka sedang
puncak-puncaknya.
Suatu hari ketika mereka merasa aman.
Dan kebenaran itu akan menghancurkan mereka.
Menghancurkan cinta mereka.
Menghancurkan persahabatan mereka.
Menghancurkan hidup mereka.
Tapi untuk malam itu, untuk malam di tepi sungai yang
keruh, untuk malam di bawah langit yang gelap, mereka hanya dua remaja yang
saling mencintai, yang saling menguatkan, yang saling berjanji untuk tidak
pernah berpisah.
Dan itu sudah cukup.
Itu sudah lebih dari cukup.
Bab 15
Benih
Pengkhianatan
Beberapa hari setelah pertemuan di tepi sungai, setelah
kebenaran tentang ayah kandung Danang terungkap, setelah air mata dan pelukan
dan janji yang diucapkan di bawah langit gelap, Arman sengaja menemui Kirana
sendirian.
Ia datang ke toko buku di sore hari, saat toko sedang sepi.
Tidak ada pelanggan. Hanya Kirana yang sedang merapikan rak-rak buku di bagian
belakang, menyusun buku-buku yang berantakan karena anak-anak kecil yang
main-main saat orang tua mereka berbelanja. Suara radio tua merek National yang
diletakkan di atas meja kasir menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia tahun delapan
puluhan, suaranya pelan, sayu, seperti suara dari masa lalu.
Arman masuk dengan langkah pelan, tidak ingin mengganggu,
tidak ingin terlihat mencurigakan. Ia membawa sebuah bungkusan kecil yang
dibungkus kertas minyak coklat, bungkusan yang masih hangat, yang mengeluarkan
aroma harum pisang goreng dan gula merah.
"Halo, Mbak Kirana," sapanya, suaranya ramah,
hangat, seperti biasa.
Kirana menoleh. Wajahnya sedikit terkejut, tetapi segera
tersenyum. "Mas Arman? Kau tidak kerja? Bukannya bengkel buka sampai sore?"
"Jam istirahat, Mb. Aku mampir dulu ke sini. Ingin
beli buku. Tapi sebelumnya, ini untuk Mbak Kirana." Arman mengulurkan
bungkusan kecil itu. "Pisang goreang. Masih hangat. Aku beli di depan
pasar. Langganan. Enak. Renyah. Manisnya pas."
Kirana ragu sejenak. Tangannya tidak segera menerima
bungkusan itu. "Mas Arman, kau selalu saja membawakan sesuatu untukku. Aku
jadi tidak enak. Aku belum bisa membalas kebaikanmu."
"Tidak usah dibalas, Mb. Aku ikhlas. Aku senang bisa
membuat Mbak Kirana senang." Arman tersenyum. Senyum yang tulus, yang
hangat, yang tidak mencurigakan. "Lagipula, ini hanya pisang goreng.
Murah. Tidak seberapa. Bukan emas atau permata."
Kirana menghela napas. Ia menerima bungkusan itu,
membukanya perlahan. Pisang goreng berwarna keemasan, dengan taburan wijen di
atasnya, masih mengepulkan uap panas. Aromanya harum, menggugah selera.
"Terima kasih, Mas Arman. Kau baik sekali."
"Tidak baik, Mb. Biasa saja."
Mereka duduk di kursi kecil dekat jendela, kursi kayu yang
biasa digunakan Bu Lastri untuk beristirahat di sore hari. Di luar, hujan mulai
turun tipis, gerimis, membasahi jalanan, membuat udara terasa segar.
Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, pedagang kaki lima cepat-cepat
menutup dagangan mereka dengan terpal plastik.
Arman memutar cangkir kopinya perlahan. Kopi hitam pekat
tanpa gula yang ia pesan dari warung sebelah. Kopi yang pahit, getir, seperti
hatinya saat ini. Kirana memesan teh manis hangat, dengan jahe dan serai, yang
mengepulkan uap wangi.
"Mbak Kirana," panggil Arman, suaranya pelan,
hati-hati, seperti sedang memilih kata-kata yang tidak akan menyakiti.
"Ya, Mas Arman?"
"Kau tahu, Danang sangat mencintaimu."
Kirana tersenyum. "Aku tahu, Mas. Aku juga
mencintainya."
"Tapi kadang cinta tidak cukup, Mbak."
Kirana menatap Arman. Matanya bertanya, bingung, tidak
mengerti maksud kata-kata itu. "Maksud Mas Arman?"
Arman menghela napas panjang. Ia memandang ke luar jendela,
ke arah hujan yang mulai reda, ke arah orang-orang yang mulai keluar dari
tempat berteduh mereka, ke arah langit yang mulai cerah.
"Danang hidup dengan masa lalu yang belum selesai,
Mbak. Ia membawa luka yang tidak pernah sembuh. Ia lari dari desa karena tidak
bisa menghadapi kenyataan. Ia lari dari masa lalunya. Ia lari dari dirinya
sendiri."
Ia menatap Kirana dalam. Matanya yang tajam, yang biasanya
ramah dan mudah tersenyum, kini serius. Sangat serius. Tidak ada senyum di
bibirnya. Tidak ada kerutan di dahinya. Hanya tatapan. Tatapan yang seperti
sedang membuka hati Kirana, sedang membaca pikirannya, sedang mencari
kelemahannya.
"Dan orang seperti dia, Mbak, bisa menghancurkan siapa
pun yang terlalu dekat dengannya. Bukan karena ia jahat. Bukan karena ia
sengaja. Tapi karena luka yang ia bawa terlalu besar untuk tidak mempengaruhi
orang di sekitarnya. Luka itu akan menular. Luka itu akan merambat. Luka itu
akan melukai siapa pun yang mencoba mendekat."
Kirana mengernyit. Alisnya yang tipis bertaut. Wajahnya
berubah sedikit, ada keraguan di sana, ada kegelisahan, ada pertanyaan yang
mulai tumbuh di hatinya.
"Kenapa kau bilang begitu, Mas Arman?"
Arman menatapnya lama. Lalu berkata sangat pelan, suaranya
hampir tidak terdengar di antara suara hujan yang mulai reda, tetapi setiap
kata terdengar jelas di telinga Kirana, seperti paku yang dipukulkan ke kayu,
seperti belati yang menusuk daging.
"Karena aku tidak mau melihatmu ikut tenggelam
bersamanya, Mbak Kirana. Karena aku tidak mau melihatmu hancur karena cinta
yang buta. Karena aku tidak mau melihatmu menyesal di kemudian hari. Karena
aku..."
Ia berhenti.
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya menunduk, memandang cangkir kopinya yang sudah
dingin, memandang ampas kopi yang mengendap di dasar cangkir, memandang
bayangannya sendiri yang terdistorsi di permukaan kopi yang hitam pekat.
Kirana terdiam.
Wajahnya pucat.
Dadanya terasa sesak.
Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, sesuatu yang
seperti ingin keluar, tetapi ia tahan.
"Mas Arman, aku tahu kau hanya peduli padaku. Aku tahu
kau hanya ingin yang terbaik untukku. Tapi Danang... Danang tidak seperti yang
kau bayangkan. Danang baik. Danang jujur. Danang pekerja keras. Danang..."
"Danang juga manusia, Mbak. Danang juga punya
kelemahan. Danang juga punya batas. Danang juga bisa jatuh. Danang juga bisa
hancur. Dan ketika Danang hancur, kau yang akan terkena imbasnya. Kau yang akan
ikut hancur. Kau yang akan..."
"Mas Arman, cukup."
Kirana berdiri.
Tangannya gemetar.
Cangkir tehnya hampir jatuh, tetapi ia pegang erat-erat.
"Mas Arman, aku menghargai kepedulianmu. Aku berterima
kasih atas nasihatmu. Tapi aku tidak bisa... aku tidak bisa meninggalkan
Danang. Aku mencintainya. Aku sudah berjanji untuk bersamanya. Aku tidak bisa
mengingkari janji."
Arman juga berdiri.
Ia berjalan mendekati Kirana.
Kini ia berdiri hanya satu lengan di depannya.
Jarak yang dekat.
Terlalu dekat.
"Kirana," panggilnya, tidak lagi "Mbak
Kirana". Suaranya berubah. Tidak lagi ramah. Tidak lagi hangat. Ada
sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang seperti kerinduan. Sesuatu yang seperti
cinta. Sesuatu yang seperti keputusasaan. "Aku juga mencintaimu."
Kirana membeku.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi batu.
Matanya membesar.
Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
"Aku mencintaimu, Kirana," ulang Arman, suaranya
lebih tegas, lebih yakin, lebih berani. "Sejak pertama aku melihatmu di
toko ini. Sejak pertama kau tersenyum padaku. Sejak pertama kau memanggil
namaku. Aku mencintaimu. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Aku tidak bisa
berpura-pura lagi. Aku..."
"Mas Arman, jangan..." Kirana mundur selangkah,
dua langkah, tiga langkah. Tangannya mencari pegangan, menemukan rak buku di
belakangnya, ia berpegangan erat-erat agar tidak jatuh.
"Aku tahu kau mencintai Danang. Aku tahu kau sudah
berjanji padanya. Tapi aku juga punya hak untuk mencintaimu. Aku juga punya hak
untuk memperjuangkanmu. Aku juga punya hak untuk..."
"Tidak, Mas Arman. Tidak. Aku hanya mencintai Danang.
Aku tidak bisa mencintai orang lain. Aku tidak bisa..."
"Kau tidak tahu, Kirana. Kau tidak tahu apa yang aku
rasakan. Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai bersama
orang lain. Kau tidak tahu bagaimana rasanya..."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa menahan lagi.
Air matanya jatuh.
Membasahi pipinya.
Membasahi kebaya biru mudanya.
Membasahi harapannya.
"Mas Arman, tolong... tolong jangan lakukan ini. Kau
sahabat Danang. Kau sahabatku. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua. Aku
tidak ingin..."
"Kau tidak akan kehilangan aku, Kirana. Aku akan
selalu di sini. Untukmu. Menunggumu. Mencintaimu. Sampai kapan pun. Sampai kau
sadar bahwa aku yang pantas untukmu, bukan Danang."
Arman pergi.
Ia berjalan cepat meninggalkan toko buku, hampir berlari,
seperti orang yang ketakutan, seperti orang yang malu, seperti orang yang tidak
ingin ditolak.
Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum.
Ia tersenyum karena ia tahu bahwa ia sudah menanam benih.
Benih keraguan.
Benih kebencian.
Benih pengkhianatan.
Benih yang akan tumbuh.
Benih yang akan meracuni hati Kirana.
Benih yang akan menghancurkan cinta Kirana pada Danang.
Benih yang akan membuat Kirana berpikir, "Mungkin
Arman benar. Mungkin Danang tidak pantas untukku. Mungkin aku harus memilih
Arman."
"Selamat tinggal, Kirana," bisiknya. "Sampai
kita bertemu lagi. Dan ketika kita bertemu lagi, kau akan menjadi milikku. Aku
akan pastikan itu."
Kirana duduk di lantai toko buku, di antara rak-rak kayu
yang penuh dengan buku, menangis.
Ia menangis untuk Danang.
Ia menangis untuk Arman.
Ia menangis untuk dirinya sendiri.
Ia menangis untuk cinta yang rumit.
Ia menangis untuk persahabatan yang mulai retak.
Ia menangis untuk masa depan yang tidak pasti.
"Tuhan," bisiknya, "tolong aku. Aku tidak
tahu harus berbuat apa. Aku mencintai Danang. Tapi Arman... Arman juga baik.
Arman juga peduli padaku. Arman juga... aku tidak tahu. Aku bingung.
Aku..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya menangis.
Menangis di toko buku yang sunyi.
Menangis di antara rak-rak kayu yang penuh dengan buku.
Menangis di bawah lampu neon yang redup.
Menangis di sore yang mulai gelap.
Ia tidak tahu bahwa benih yang ditanam Arman telah mulai
tumbuh.
Bahwa keraguan telah mulai masuk ke dalam hatinya.
Bahwa cintanya pada Danang mulai tergoyahkan.
Bahwa ia mulai membandingkan Danang dengan Arman.
Danang yang sibuk bekerja, yang tidak pernah punya waktu
untuknya, yang tidak pernah membawakan hadiah, yang tidak pernah mengatakan
kata-kata manis.
Arman yang selalu ada untuknya, yang selalu membawakan
pisang goreng, yang selalu mengatakan kata-kata manis, yang selalu membuatnya
merasa istimewa.
"Siapa yang sebenarnya mencintaiku?" bisiknya.
"Siapa yang tulus? Siapa yang pantas? Siapa yang..."
Ia tidak bisa menjawab.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis karena bingung.
Menangis karena takut.
Menangis karena cinta.
Bab 16
Retak
Pertama di Mata Kirana
Sejak percakapan dengan Arman di toko buku, sejak kata-kata
"Aku juga mencintaimu" yang keluar dari mulut sahabat Danang, sejak
benih keraguan ditanam di hatinya, Kirana mulai berubah.
Bukan berubah drastis. Tidak tiba-tiba menjadi dingin.
Tidak tiba-tiba menjauh. Berubah perlahan, seperti air yang mendidih di atas
api kecil, seperti rumput yang tumbuh di sela-sela batu, seperti warna daun
yang berubah di musim kemarau.
Ia masih bertemu Danang setiap hari. Masih pergi ke toko
buku setiap sore. Masih duduk di kedai kopi Mbah Darmo setiap akhir pekan.
Masih berjalan di tepi sungai kecil setiap malam Minggu. Masih tersenyum. Masih
tertawa. Masih bercerita tentang banyak hal.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Cukup untuk membuat Danang merasakannya.
Cukup untuk membuat Danang bertanya-tanya.
Cukup untuk membuat Danang gelisah.
Ia mulai lebih sering diam. Bukan diam yang nyaman seperti
dulu, ketika mereka bisa duduk berjam-jam tanpa bicara, hanya menikmati
keberadaan satu sama lain. Bukan diam yang penuh dengan pengertian, yang tidak
perlu diisi dengan kata-kata. Tapi diam yang penuh dengan pikiran yang tidak diucapkan.
Diam yang membuat Danang bertanya-tanya, apa yang salah? Apa yang ia lakukan?
Apa yang berubah?
Ia mulai lebih sering menunduk. Bukan menunduk karena malu
atau karena sedang memikirkan sesuatu, tetapi menunduk seperti sedang berusaha
menghindari tatapan seseorang, seperti sedang menyembunyikan sesuatu, seperti
sedang tidak ingin dilihat.
Ia mulai lebih lama membalas tatapan Danang. Seolah sedang
mencari jawaban yang tidak kunjung ia temukan. Seolah sedang mencoba memutuskan
apakah ia masih bisa percaya. Seolah sedang menimbang-nimbang, apakah Danang
masih pantas untuk dicintai.
Ia mulai lebih sering melamun. Matanya kosong, menembus
Danang, menembus dinding, menembus waktu, menembus ruang. Pikirannya jauh, di
tempat yang tidak bisa dijangkau Danang. Pikirannya sibuk dengan sesuatu yang
tidak ingin ia bagikan.
"Kirana, kau kenapa?" tanya Danang suatu sore,
ketika mereka duduk di kedai kopi Mbah Darmo, menunggu pesanan roti bakar dan
kopi hitam yang biasa mereka pesan. Meja kayu di depan mereka sudah tua, penuh
dengan goresan dan noda kopi yang tidak bisa dibersihkan. Kursi plastik tempat
mereka duduk berwarna merah dan biru, sudah pudar, sudah retak di beberapa
tempat.
Kirana yang sedang memandang kosong ke arah jalan,
tersentak. Ia menoleh cepat, terlalu cepat. Matanya yang sayu, yang kosong,
tiba-tiba fokus pada Danang.
"Eh? Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya... aku hanya
lelah. Hari ini toko ramai. Banyak pelanggan. Bu Lastri minta tolong ini itu.
Aku jadi kelelahan."
"Kau bohong, Kirana." Suara Danang pelan, lembut,
tidak menuduh, tidak memojokkan. Hanya pernyataan. Fakta. Kebenaran.
Kirana terdiam. Ia menunduk. Memandang meja kayu di
depannya, memandang goresan-goresan yang tidak berarti, memandang noda kopi
yang sudah mengering.
"Kau selalu tahu kalau aku bohong, Danang,"
bisiknya.
Danang menatapnya. Matanya yang gelap, yang dalam, yang
seperti lubang sumur tua, menatap wajah Kirana yang pucat, yang lesi, yang
tidak bercahaya seperti biasanya.
"Karena aku mengenalmu, Kirana. Aku mengenalmu sejak
kita kecil. Aku tahu setiap ekspresimu. Aku tahu setiap gerakanmu. Aku tahu
setiap nada bicaramu. Aku tahu kapan kau bahagia, kapan kau sedih, kapan kau
marah, kapan kau takut, kapan kau berbohong."
Kirana menunduk lebih dalam.
Air matanya jatuh.
Setetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Jatuh ke meja kayu, membasahi goresan-goresan yang tidak
berarti, membasahi noda kopi yang sudah mengering.
"Danang, aku... aku takut."
"Takut apa?"
Kirana memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali,
matanya basah, merah, seperti habis menangis berjam-jam.
"Takut bahwa semakin aku mengenalmu, semakin aku sadar
betapa besar luka yang hidup di dalam dirimu. Dan luka seperti itu, Danang,
bisa menyeret siapa pun yang mencintaimu. Bisa membuat orang yang mencintaimu
ikut tenggelam. Bisa menghancurkan bukan hanya satu orang, tetapi dua orang
sekaligus."
Danang terdiam.
Kata-kata itu menusuk hatinya.
Kata-kata itu seperti pisau yang tajam.
Kata-kata itu seperti belati yang menyayat.
Kata-kata itu seperti racun yang menyebar perlahan di dalam
tubuhnya.
Ia tahu.
Ia tahu bahwa ia membawa luka.
Ia tahu bahwa ia tidak pernah benar-benar sembuh.
Ia tahu bahwa luka itu akan selalu ada, akan selalu
menganga, akan selalu berdarah, tidak peduli seberapa keras ia berusaha
menutupinya.
Tapi ia tidak tahu bahwa luka itu bisa menular.
Ia tidak tahu bahwa luka itu bisa melukai orang yang
dicintainya.
Ia tidak tahu bahwa cintanya bisa menjadi racun bagi
Kirana.
"Kirana," panggilnya pelan.
Kirana mengangkat kepalanya.
Matanya bertemu dengan mata Danang.
Mata yang basah.
Mata yang merah.
Mata yang penuh dengan ketakutan.
"Aku tidak akan menyakitimu, Kirana. Aku berjanji. Aku
akan menjaga diriku sendiri. Aku akan menjaga lukaku. Aku tidak akan biarkan
lukaku melukaimu. Aku..."
"Kau tidak bisa menjanjikan itu, Danang. Luka tidak
pernah meminta izin. Luka datang kapan saja. Luka keluar ketika kau tidak siap.
Luka melukai tanpa kau sadari."
"Tapi aku akan berusaha, Kirana. Aku akan berusaha
sekuat tenaga. Aku akan..."
"Kadang berusaha tidak cukup, Danang. Kadang cinta
tidak cukup. Kadang..."
Kirana tidak melanjutkan.
Ia hanya menunduk.
Menangis.
Menangis karena ia tidak tahu harus berkata apa.
Menangis karena ia tidak tahu harus berbuat apa.
Menangis karena ia mencintai Danang, tetapi juga takut pada
cintanya.
Danang meraih tangan Kirana.
Tangannya yang kasar dan keras, menggenggam tangan Kirana
yang lembut dan lentik.
"Kirana, dengarkan aku."
Kirana mengangkat kepalanya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu akhir-akhir
ini. Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah. Tapi aku tahu satu hal: aku
mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Tidak peduli apa pun yang terjadi.
Tidak peduli siapa pun yang datang. Tidak peduli berapa banyak rintangan yang
menghadang. Aku akan tetap mencintaimu. Sampai mati."
Kirana menangis lebih keras.
Ia membalas genggaman Danang.
Genggaman yang erat.
Genggaman yang hangat.
Genggaman yang mengatakan bahwa ia masih mencintai Danang.
Genggaman yang mengatakan bahwa ia masih percaya pada
Danang.
Genggaman yang mengatakan bahwa ia tidak ingin kehilangan
Danang.
"Danang, aku juga mencintaimu. Tapi aku... aku
bingung. Aku takut. Aku..."
"Takut apa, Kirana? Katakan padaku. Aku akan membantu.
Aku akan melindungimu. Aku akan..."
"Tidak, Danang. Kau tidak bisa membantu. Ini
masalahku. Ini masalah yang harus aku selesaikan sendiri. Aku hanya... aku
butuh waktu. Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku butuh waktu untuk..."
"Untuk apa, Kirana?"
Kirana tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
Menangis.
Menangis dalam diam.
Danang tidak memaksa.
Ia hanya duduk di samping Kirana, memegang tangannya,
menemani dalam diam.
Ia tidak tahu bahwa Kirana sedang bergulat dengan
pikirannya sendiri.
Bergulat dengan keraguan yang ditanam oleh Arman.
Bergulat dengan perasaan bersalah karena ia mulai
membandingkan Danang dengan Arman.
Bergulat dengan pertanyaan, "Siapa yang benar-benar
mencintaiku? Siapa yang pantas untukku? Siapa yang harus aku pilih?"
"Kirana," panggil Danang pelan.
"Ya?"
"Apa kau masih mencintaiku?"
Kirana mengangkat kepalanya.
Ia menatap Danang.
Matanya yang basah, yang merah, menatap lurus ke mata
Danang yang gelap, yang dalam.
"Aku masih mencintaimu, Danang. Aku akan selalu
mencintaimu. Tapi..."
"Tapi apa?"
Kirana menghela napas.
"Aku takut kita tidak cukup kuat, Danang. Aku takut
cinta kita tidak cukup kuat. Aku takut..."
"Cinta kita cukup kuat, Kirana. Aku yakin. Kau juga
harus yakin."
Kirana tersenyum.
Senyum yang lemah.
Senyum yang tidak secerah biasanya.
Tapi senyum.
"Kau selalu optimis, Danang."
"Kau selalu pesimis, Kirana."
Mereka berdua tersenyum.
Tersenyum di tengah kebingungan.
Tersenyum di tengah ketakutan.
Tersenyum di tengah cinta yang mulai retak.
Tapi mereka tidak tahu bahwa retakan itu akan semakin
lebar.
Bahwa retakan itu akan menjadi celah.
Bahwa celah itu akan menjadi jurang.
Bahwa jurang itu akan memisahkan mereka.
Selamanya.
Bab 17
Kata-Kata
yang Ditanam dalam Diam
Arman semakin dekat.
Bukan dengan Danang. Hubungan mereka masih baik. Mereka
masih bekerja bersama di percetakan pada siang hari, Danang menyusun huruf
timah sementara Arman kadang membantu mengantar pesanan jika tukang antar
sedang sakit atau libur. Mereka masih makan bersama di warung langganan setiap
malam, bercerita tentang hari mereka, tertawa tentang hal-hal lucu, mengeluh
tentang bos yang galak dan pelanggan yang rewel. Mereka masih berbagi cerita
tentang mimpi dan cita-cita, tentang masa depan yang ingin mereka raih, tentang
perempuan-perempuan yang mereka kagumi.
Arman masih menjadi sahabat Danang.
Atau setidaknya, itulah yang Danang yakini.
Tapi dengan Kirana, Arman semakin dekat.
Bukan dekat secara fisik. Tidak ada sentuhan. Tidak ada
pelukan. Tidak ada berduaan di tempat gelap. Arman terlalu pintar untuk itu. Ia
tahu persis di mana batasnya. Ia tahu persis apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan. Ia tahu persis bagaimana cara mendekati seorang perempuan tanpa
menimbulkan kecurigaan.
Ia semakin sering datang ke toko buku. Bukan karena ada
keperluan. Bukan karena ingin membeli buku. Tapi karena ia tahu Kirana akan ada
di sana setiap sore, dari jam empat sampai jam enam, sebelum Bu Lastri tutup
dan pulang ke rumah.
Setiap hari, sekitar jam empat sore, ketika toko buku mulai
sepi, ketika Bu Lastri pergi sholat Ashar atau ke pasar untuk membeli sayur,
Arman akan datang. Ia akan masuk dengan senyum ramah, dengan sapaan hangat,
dengan sikap yang tidak mencurigakan.
"Halo, Mbak Kirana. Apa kabar? Sehat?"
Kirana yang sedang merapikan rak buku atau menghitung uang
di meja kasir, akan menoleh dan tersenyum. Senyum yang ramah, tetapi tidak lagi
seperti dulu. Ada jarak di sana. Ada ketidaknyamanan. Ada perasaan bersalah
yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Baik, Mas Arman. Mas Arman sendiri? Masih
sibuk?"
"Sibuk, Mba. Tapi aku selalu sempatkan diri untuk
mampir ke sini. Untuk melihat Mbak Kirana. Untuk..."
"Mas Arman, tolong..."
"Maaf, Mba. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak
nyaman. Aku hanya..."
Arman tidak melanjutkan. Ia hanya tersenyum. Senyum yang
lembut, yang hangat, yang membuat orang yang menerimanya merasa dihargai,
merasa istimewa, merasa dicintai.
Setiap kali ia datang, ia selalu membawa sesuatu. Kadang
pisang goreng dari langganan di depan pasar. Kadang getuk atau lupis atau bubur
kacang hijau dari pedagang yang lewat. Kadang hanya segelas es dawet atau es
campur atau es kelapa muda. Kadang setangkai bunga melati yang ia petik dari
kebun belakang rumahnya, yang wanginya semerbak, yang membuat ruangan terasa
lebih hidup.
"Ini untuk Mbak Kirana. Aku beli tadi. Masih hangat.
Aku tahu Mbak Kirana suka pisang goreng."
"Mas Arman, kau tidak perlu repot-repot. Aku bisa beli
sendiri."
"Aku tidak repot, Mba. Aku senang. Aku senang bisa
membuat Mbak Kirana senang."
Kirana tidak bisa menolak. Setiap kali ia mencoba menolak,
Arman akan memaksa dengan halus, dengan cara yang tidak membuatnya merasa
tertekan, dengan cara yang membuatnya merasa bersalah jika tetap menolak.
"Baiklah, Mas. Terima kasih. Lain kali jangan
repot-repot lagi, ya."
"Baik, Mba. Lain kali aku tidak akan repot-repot. Aku
hanya akan membawakan yang lebih enak."
Kirana menghela napas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia
hanya bisa menerima, tersenyum, dan berterima kasih.
Setiap kali ia datang, ia selalu membantu. Membantu
merapikan rak-rak buku yang berantakan, membantu menata buku-buku baru yang
datang dari penerbit, membantu membersihkan debu-debu yang menempel di sampul
buku, membantu mengepel lantai yang kotor karena sepatu pelanggan.
"Mas Arman, kau tidak usah membantu. Aku bisa
sendiri."
"Aku tahu, Mba. Tapi aku ingin membantu. Biarkan aku.
Aku ikhlas. Aku senang."
Kirana tidak bisa menolak. Setiap kali ia mencoba menolak,
Arman akan tetap melakukannya, dengan senyum, dengan semangat, dengan kerelaan
yang tulus.
"Baiklah, Mas. Tapi jangan terlalu memaksakan
diri."
"Aku tidak memaksakan diri, Mba. Aku senang. Aku
senang bisa dekat dengan Mbak Kirana. Aku senang bisa..."
"Mas Arman..."
"Maaf, Mba. Aku tidak bermaksud..."
Arman tidak melanjutkan. Ia hanya tersenyum, lalu kembali
bekerja, membersihkan rak-rak buku, menata buku-buku, mengepel lantai.
Setiap kali ia datang, ia selalu berbicara tentang Danang.
Bukan untuk menghina. Bukan untuk menjatuhkan. Bukan untuk
menjelekkan.
Tetapi dengan cara yang lebih halus.
Dengan cara yang membuat Kirana berpikir.
Dengan cara yang membuat Kirana mulai membandingkan.
"Danang bekerja keras sekali, ya, Mba. Dari pagi
sampai malam. Dari senin sampai minggu. Kadang aku kasihan melihatnya. Badannya
kurus. Matanya cekung. Kayak kurang tidur. Kayak kurang makan. Aku khawatir
suatu hari nanti dia jatuh sakit. Atau pingsan di tempat kerja. Atau lebih
parah lagi."
Kirana terdiam. Ia memikirkan kata-kata Arman. Apakah
Danang benar-benar bekerja terlalu keras? Apakah Danang benar-benar tidak
makan? Apakah Danang benar-benar tidak tidur? Apakah Danang benar-benar
mengabaikan kesehatannya?
"Danang memang pekerja keras, Mas. Itu salah satu hal
yang aku kagumi darinya. Dia tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah mengeluh.
Dia..."
"Tapi kadang kerja keras tanpa diimbangi istirahat
yang cukup itu berbahaya, Mba. Tubuh manusia ada batasnya. Danang bisa sakit.
Danang bisa... aku tidak mau berpikir yang macam-macam. Tapi aku
khawatir."
"Aku juga khawatir, Mas. Tapi Danang tidak mau
mendengarkan. Setiap kali aku bilang untuk istirahat, dia bilang 'Tidak apa.
Aku kuat. Aku biasa.'"
"Itu dia. Danang terlalu keras kepala. Terlalu
memaksakan diri. Terlalu..."
Arman tidak melanjutkan. Ia hanya menghela napas. Menghela
napas panjang, penuh makna, penuh arti, penuh pesan tersirat.
"Apa kau tahu, Mba? Danang itu orangnya pendiam. Dia
tidak pernah cerita tentang masa lalunya. Tentang keluarganya. Tentang desanya.
Tentang ayah kandungnya. Tentang ibunya. Tentang... tentang semua yang
membuatnya menjadi dirinya sekarang."
Kirana mengangguk. "Aku tahu, Mas. Danang memang
pendiam. Tapi aku mengerti. Dia tidak suka membicarakan masa lalu. Masa lalu
menyakitkan baginya."
"Tapi bukankah seharusnya orang yang saling mencintai
saling terbuka? Bukankah seharusnya tidak ada rahasia di antara mereka?
Bukankah seharusnya..."
"Setiap orang punya cara masing-masing untuk
menghadapi masa lalunya, Mas. Danang mungkin belum siap. Atau mungkin dia tidak
ingin membebani aku dengan masalahnya."
"Tapi bukankah justru dengan berbagi, beban menjadi
lebih ringan? Bukankah dengan bercerita, luka menjadi lebih mudah disembuhkan?
Bukankah dengan..."
"Mas Arman, kenapa kau bertanya seperti ini? Kenapa
kau..."
Arman tersenyum. Senyum yang lembut, yang hangat, yang
tidak mencurigakan. "Aku hanya peduli, Mba. Aku hanya ingin yang terbaik
untuk Danang. Dan untuk Mbak Kirana. Aku hanya..."
Ia tidak melanjutkan. Ia hanya menghela napas lagi.
Menghela napas panjang, penuh makna, penuh arti, penuh pesan tersirat.
"Apa kau tidak lelah, Mba? Menunggu Danang yang selalu
sibuk? Menunggu Danang yang tidak pernah punya waktu untukmu? Menunggu Danang
yang selalu memprioritaskan pekerjaan daripada kebahagiaanmu?"
Kirana terdiam.
Pertanyaan itu menusuk hatinya.
Pertanyaan itu membuka luka yang selama ini ia pendam.
Pertanyaan itu mengingatkannya pada malam-malam yang ia
lewati sendirian, menunggu Danang yang lembur di percetakan, menunggu Danang
yang bekerja di dermaga, menunggu Danang yang tidak pernah punya waktu
untuknya.
"Danang bekerja untuk masa depan kita, Mas. Dia ingin
memberikan yang terbaik untukku. Dia ingin..."
"Tapi apa kau bahagia, Mba? Apa kau bahagia menunggu?
Apa kau bahagia sendirian? Apa kau bahagia..."
"Mas Arman, tolong..."
"Maaf, Mba. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku
hanya..."
Arman tidak melanjutkan. Ia hanya meraih tangan Kirana.
Tangannya yang hangat, yang lembut, yang tidak kasar seperti tangan Danang,
menggenggam tangan Kirana yang dingin.
Kirana terkejut. Ia menarik tangannya. Cepat. Keras.
"Mas Arman, jangan..."
"Maaf, Mba. Aku tidak bermaksud. Aku hanya..."
Arman tersenyum. Senyum yang lembut, yang hangat, yang
tidak mencurigakan. Tapi di dalam hatinya, ia tersenyum puas. Ia tahu bahwa ia
telah berhasil. Ia tahu bahwa ia telah menanam keraguan di hati Kirana. Ia tahu
bahwa Kirana mulai mempertanyakan hubungannya dengan Danang.
"Selamat tinggal, Mba. Sampai jumpa besok."
Arman pergi.
Meninggalkan Kirana yang bingung.
Meninggalkan Kirana yang gelisah.
Meninggalkan Kirana yang mulai meragukan cintanya pada
Danang.
"Kirana, kau kenapa akhir-akhir ini?" tanya
Danang suatu malam, ketika mereka duduk di tepi sungai kecil di belakang kota.
"Kau jadi pendiam. Kau jadi jauh. Kau jadi..."
Kirana tidak menjawab. Ia hanya memandang sungai yang
keruh, memandang air yang mengalir lambat, memandang sampah-sampah plastik yang
tersangkut di bebatuan.
"Danang, apa kita bahagia?" tanyanya akhirnya.
Danang mengernyit. "Maksudmu?"
"Apa kita bahagia? Apa kau bahagia denganku? Apa aku
bahagia denganmu? Apa kita..."
"Kirana, apa yang terjadi? Kenapa kau bertanya seperti
ini?"
Kirana menghela napas. "Aku hanya... aku hanya
berpikir. Apa hubungan kita akan bertahan? Apa cinta kita cukup kuat? Apa
kita..."
"Cinta kita cukup kuat, Kirana. Aku yakin. Kau juga
harus yakin."
"Tapi kadang yakin tidak cukup, Danang. Kadang cinta
tidak cukup. Kadang..."
"Kirana, tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi.
Apa ada yang mengganggumu? Apa ada yang..."
"Tidak ada, Danang. Tidak ada yang menggangguku. Aku
hanya... aku hanya lelah. Aku hanya butuh istirahat. Aku hanya..."
Kirana tidak melanjutkan. Ia hanya menunduk. Menangis.
Menangis dalam diam.
Danang memeluknya.
Ia memeluk Kirana erat-erat.
Seperti tidak ingin melepaskan.
Seperti takut kehilangan.
Seperti takut Kirana akan pergi.
"Kirana, aku akan membahagiakanmu. Aku janji. Aku akan
bekerja keras. Aku akan sekolah. Aku akan menjadi seseorang. Aku akan..."
"Danang, cukup. Aku tidak butuh semua itu. Aku hanya
butuh kau. Aku hanya butuh kau di sampingku. Aku hanya butuh..."
"Tapi aku tidak bisa memberikan apa-apa sekarang,
Kirana. Aku miskin. Aku tidak punya pendidikan. Aku tidak punya masa depan.
Aku..."
"Aku tidak butuh harta, Danang. Aku tidak butuh
pendidikan. Aku tidak butuh masa depan. Aku hanya butuh kau. Aku hanya butuh
cintamu. Aku hanya butuh..."
"Tapi ibumu..."
"Aku akan bicara dengan ibuku. Aku akan meyakinkan
dia. Aku akan..."
"Dan Surya..."
"Surya tidak ada apa-apanya. Aku tidak peduli dengan
Surya. Aku hanya peduli dengan kau. Aku hanya peduli dengan kita."
Mereka berpelukan di tepi sungai yang keruh, di bawah
langit yang gelap tanpa bintang, di tengah angin yang dingin menusuk tulang.
Mereka tidak tahu bahwa benih yang ditanam Arman telah
tumbuh.
Bahwa keraguan telah bersarang di hati Kirana.
Bahwa cinta mereka mulai retak.
Bahwa retakan itu akan semakin lebar.
Bahwa suatu hari nanti, retakan itu akan menjadi jurang
yang tidak bisa diseberangi.
Bab 18
Surya
Menawarkan Kehancuran
Sementara itu, di tempat lain, di sisi kota yang berbeda,
Surya Baskara sedang merencanakan sesuatu.
Bukan rencana biasa. Bukan rencana untuk memperluas bisnis
keluarganya. Bukan rencana untuk membuka cabang restoran baru. Bukan rencana
untuk membeli mobil mewah atau rumah megah. Bukan rencana untuk liburan ke luar
negeri atau membeli perhiasan mahal untuk perempuan simpanannya.
Rencana yang lebih gelap.
Rencana yang lebih kejam.
Rencana yang lebih berbahaya.
Rencana untuk menghancurkan Danang.
Bukan karena ia benci pada Danang. Bukan karena ia dendam
pada Danang karena tamparan di halaman sekolah dulu. Bukan karena ia iri pada
Danang karena Danang memiliki Kirana. Bukan karena ia masih menyimpan sakit
hati karena tuduhan kebakaran gudang yang tidak pernah terbukti.
Tapi karena ia bisa.
Karena ia punya uang.
Karena ia punya kekuasaan.
Karena ia punya koneksi.
Karena ia terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Karena ia tidak pernah belajar bahwa tidak semua hal bisa
dibeli dengan uang.
Surya sekarang berusia delapan belas tahun. Ia sudah lulus
dari SMA swasta terbaik di Purwokerto, dengan nilai yang biasa-biasa saja,
tetapi itu tidak penting karena ayahnya sudah menyiapkan posisi untuknya di
perusahaan keluarga. Ia akan menjadi direktur suatu hari nanti. Ia akan
mewarisi seluruh kekayaan ayahnya. Ia akan menjadi pengusaha sukses tanpa perlu
bekerja keras, tanpa perlu berpendidikan tinggi, tanpa perlu menjadi orang
baik.
Ia sudah memiliki segalanya. Uang. Mobil. Rumah. Perempuan.
Kekuasaan. Nama baik. Status. Segalanya.
Tapi ia masih belum puas.
Ia masih menyimpan dendam pada Danang.
Dendam yang sudah bertahun-tahun ia pendam.
Dendam yang tidak pernah ia lupakan.
Dendam yang terus ia pelihara, seperti api yang dijaga agar
tidak padam, seperti tanaman yang disiram setiap hari agar tetap hidup.
"Danang Wiratama," bisiknya suatu malam, sambil
duduk di ruang kerjanya yang mewah, di kursi kulit hitam yang empuk, di
belakang meja kayu jati yang besar. Di tangannya, segelas wiski mahal dari
Skotlandia, berwarna keemasan, dengan es batu yang berbunyi klinking setiap
kali ia menggoyangkan gelas. "Kau pikir kau bisa lolos dari masa lalu? Kau
pikir kau bisa hidup bahagia dengan Kirana? Kau pikir kau bisa melupakan semua
yang terjadi? Tidak, Danang. Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia. Aku
tidak akan membiarkanmu melupakan. Aku akan membuatmu menderita. Aku akan
membuatmu menyesal. Aku akan..."
Ia tidak melanjutkan. Ia hanya tersenyum. Senyum yang
dingin. Senyum yang penuh dengan rencana. Senyum yang seperti ular yang siap
menerkam.
Suatu malam, di sebuah kedai gelap di pinggir kota, Surya
menemui Arman.
Kedai itu terletak di gang sempit di belakang pasar,
tersembunyi di antara toko-toko lain yang sama usangnya. Tidak ada papan nama.
Tidak ada lampu terang. Hanya satu bola lampu 5 watt yang menggantung di
langit-langit, memberikan cahaya yang redup, yang membuat segala sesuatu
terlihat seperti mimpi buruk.
Dinding kedai itu terbuat dari papan kayu yang sudah lapuk,
dengan cat yang mengelupas di sana-sini. Lantainya tanah, becek, bau arak dan
rokok dan keringat bercampur menjadi satu bau yang menyengat. Meja-meja kayu
yang dipakai pelanggan sudah tua, penuh dengan goresan dan noda minuman,
kakinya tidak rata, ada yang dialasi batu bata, ada yang hanya dibiarkan
goyang.
Pelanggannya adalah orang-orang pinggiran. Pekerja kasar.
Kuli angkut. Pengangguran. Preman. Perempuan-perempuan malam dengan riasan
tebal dan pakaian seksi. Orang-orang yang tidak punya apa-apa, yang tidak punya
masa depan, yang tidak punya harapan.
Tempat yang tidak pernah dikunjungi orang-orang baik.
Tempat yang tidak pernah dimasuki oleh orang-orang seperti Surya. Tapi malam
itu, Surya ada di sana. Duduk di sudut ruangan yang paling gelap, dengan jas
mahalnya yang menyala di antara kegelapan, dengan jam tangan Rolex yang
berkilauan setiap kali terkena cahaya, dengan sepatu kulit Italia yang
mengkilap.
Ia memesan minuman. Arak. Minuman keras yang murah, yang
rasanya menyengat di tenggorokan, yang baunya seperti obat, yang membuat orang
mabuk dengan cepat. Ia tidak meminumnya. Ia hanya memegang gelas itu,
memutar-mutarnya di antara jari-jarinya, menikmati aroma yang tidak enak itu.
"Kau datang," kata Surya ketika Arman masuk ke
kedai. Arman mengenakan jaket lusuh dan celana jeans belel, wajahnya pucat,
matanya sayu. Ia duduk di hadapan Surya, di kursi kayu yang goyang, di meja
yang penuh dengan noda minuman.
"Apa yang kau mau, Surya?" tanya Arman, suaranya
datar, tidak bersemangat. "Kenapa kau minta aku datang ke tempat ini?
Tempat gelap. Tempat kotor. Tempat..."
"Aku punya tawaran untukmu, Arman."
"Tawaran apa?"
Surya tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang penuh
dengan rencana. Senyum yang seperti ular yang siap menerkam. "Kau
mencintai Kirana, bukan?"
Arman terkejut. Matanya membesar. Wajahnya memerah.
"Apa... apa maksudmu? Aku tidak..."
"Jangan bohong, Arman. Aku bisa melihatnya dari
matamu. Aku bisa mendengarnya dari caramu bicara tentang dia. Aku bisa
merasakannya dari caramu..."
"Bagaimana kau tahu?"
Surya tertawa kecil. Tawa yang dingin. Tawa yang tidak
lucu. "Aku punya banyak mata di kota ini, Arman. Aku punya banyak
informan. Aku tahu banyak hal. Termasuk perasaanmu pada Kirana. Termasuk
usahamu untuk mendekatinya. Termasuk kegagalanmu untuk merebutnya dari
Danang."
Arman menunduk. Ia tidak bisa membantah. Ia tahu Surya
benar. Ia tahu Surya tahu segalanya. Ia tahu Surya sudah mengawasinya.
"Aku bisa membantumu, Arman," kata Surya,
suaranya pelan, seperti bisikan, tetapi penuh dengan janji. "Aku bisa
membantu merebut Kirana dari Danang. Aku bisa membantu menghancurkan hubungan
mereka. Aku bisa membantu..."
"Kenapa kau mau membantu aku? Apa untungnya bagi kau?"
Surya tersenyum lagi. Senyum yang sama. Senyum yang dingin.
Senyum yang penuh dengan rencana. "Aku juga punya dendam pada Danang,
Arman. Dendam lama. Dendam yang belum selesai. Aku ingin melihatnya hancur. Aku
ingin melihatnya menderita. Aku ingin melihatnya kehilangan segalanya. Termasuk
Kirana."
Arman terdiam.
Ia memikirkan tawaran Surya.
Tawaran yang berbahaya.
Tawaran yang bisa menghancurkan persahabatannya dengan
Danang.
Tawaran yang bisa menghancurkan cintanya pada Kirana.
Tawaran yang bisa menghancurkan dirinya sendiri.
Tapi ia juga memikirkan Kirana.
Kirana yang cantik.
Kirana yang baik.
Kirana yang lembut.
Kirana yang selalu tersenyum padanya.
Kirana yang selalu berterima kasih padanya.
Kirana yang selalu menerima pisang goreng darinya.
Kirana yang selalu...
"Baik," kata Arman akhirnya, suaranya tegas,
penuh keyakinan. "Aku setuju. Aku akan bekerja sama denganmu. Apa yang
harus aku lakukan?"
Surya tersenyum puas.
Ia mengambil sesuatu dari sakunya.
Sebuah amplop coklat.
Amplop yang sama.
Amplop yang berisi surat tanpa nama.
Amplop yang pernah ia letakkan di bawah pintu rumah Kirana.
"Ini," kata Surya, menyerahkan amplop itu pada
Arman. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan."
Arman mengambil amplop itu.
Tangannya gemetar.
Ia tahu isinya.
Ia tahu konsekuensinya.
Ia tahu bahwa setelah ini, tidak ada yang bisa kembali.
"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Arman.
Surya mengangguk. "Percayalah. Aku sudah merencanakan
semuanya. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah menghitung semua
kemungkinan. Ini akan berhasil. Kirana akan meninggalkan Danang. Danang akan
hancur. Dan kau akan mendapatkan Kirana."
"Tapi bagaimana dengan Danang? Dia sahabatku.
Dia..."
"Kau sudah memilih, Arman. Kau sudah memutuskan. Kau
sudah berkomitmen. Tidak ada jalan mundur. Sekarang kau harus maju. Apapun
risikonya. Apapun konsekuensinya."
Arman menghela napas.
Ia memasukkan amplop itu ke dalam sakunya.
Ia berdiri.
"Baik. Aku akan lakukan."
Ia berbalik.
Berjalan meninggalkan kedai.
Meninggalkan Surya yang tersenyum puas.
Meninggalkan Danang yang tidak tahu apa-apa.
Meninggalkan Kirana yang akan segera hancur.
Meninggalkan persahabatan yang akan segera berakhir.
Meninggalkan cinta yang akan segera mati.
Surya tetap duduk di kedai itu.
Ia memanggil pelayan. Memesan arak lagi. Menuangkannya ke
dalam gelas. Meminumnya dalam satu tegukan. Arak itu panas di tenggorokannya,
membakar kerongkongannya, membuat matanya berair.
Ia tersenyum.
Senyum kemenangan.
Senyum yang mengatakan bahwa ia menang.
Senyum yang mengatakan bahwa Danang akan hancur.
Senyum yang mengatakan bahwa dendamnya akan terbalas.
"Selamat malam, Danang," bisiknya. "Selamat
malam, Kirana. Selamat malam, Arman. Semoga kalian bahagia. Karena kebahagiaan
kalian tidak akan lama lagi. Aku akan pastikan itu."
Ia berdiri.
Ia membayar minumannya.
Ia berjalan ke luar.
Mobil mewahnya menunggu di depan.
Supir pribadinya membukakan pintu.
Ia masuk ke dalam mobil.
Duduk di kursi kulit yang empuk.
Mobil itu melaju pelan meninggalkan gang sempit.
Meninggalkan kedai gelap.
Meninggalkan Arman yang sudah pergi.
Meninggalkan Danang yang tidak tahu apa-apa.
Meninggalkan Kirana yang akan segera menerima surat palsu.
Bab 19
Malam
Surat Palsu
Tiga hari setelah pertemuan di kedai gelap, setelah Arman
menerima amplop coklat dari Surya, setelah ia berkomitmen untuk menghancurkan
kebahagiaan sahabatnya sendiri, Kirana menerima surat.
Surat itu diletakkan di bawah pintu rumahnya, sama seperti
surat sebelumnya. Amplop coklat. Ukuran sedang. Tidak terlalu besar, tidak
terlalu kecil. Kertasnya tebal, berkualitas baik, tidak seperti amplop murahan
yang biasa dijual di warung-warung. Di bagian depan amplop, tertulis namanya:
"Kirana Prameswari". Tulisan tangan rapi, huruf kapital semua,
seperti orang yang sengaja menyamarkan tulisannya.
Tidak ada cap pos. Tidak ada perangko. Tidak ada alamat
pengirim. Tidak ada identitas apa pun. Hanya namanya. Hanya amplop coklat.
Hanya rahasia yang akan menghancurkan cintanya.
Kirana menemukan surat itu ketika ia hendak pergi ke toko
buku, pagi-pagi buta sebelum matahari terbit, ketika kabut masih menutupi desa,
ketika udara masih dingin menusuk tulang. Ia membuka pintu depan, berniat
mengambil koran yang biasanya diantar oleh tukang koran setiap pukul lima pagi.
Tapi koran itu tidak ada. Yang ada hanyalah amplop coklat, tergeletak di lantai
teras, di antara pot-pot bunga yang mulai layu karena jarang disiram.
Ia membeku sejenak.
Jantungnya berdegup kencang.
Dadanya terasa sesak.
Tangannya gemetar.
Ia tahu surat ini.
Ia pernah menerima surat seperti ini.
Surat tanpa nama.
Surat tanpa pengirim.
Surat yang berisi ancaman.
Surat yang berisi peringatan.
Surat yang berisi kebencian.
"JANGAN ULANGI KESALAHAN MASA LALU. ANAK LE LAKI
MISKIN ITU TIDAK AKAN PERNAH PANTAS UNTUKMU."
Itu isi surat pertama.
Surat yang membuatnya takut.
Surat yang membuatnya gelisah.
Surat yang membuatnya meragukan cintanya pada Danang.
Dan sekarang, surat kedua datang.
Apa isinya?
Ancaman lagi?
Peringatan lagi?
Kebencian lagi?
Atau sesuatu yang lebih buruk?
Sesuatu yang lebih kejam?
Sesuatu yang akan menghancurkannya?
Ia memungut amplop itu.
Tangannya gemetar.
Ia membawanya masuk ke dalam rumah.
Berjalan ke kamarnya.
Menutup pintu.
Duduk di ranjang.
Membuka amplop itu perlahan.
Jari-jarinya yang lentik dan putih, yang biasa memegang
buku-buku dengan hati-hati, yang biasa membalik halaman-halaman dengan lembut,
kini gemetar seperti daun yang ditiup angin, seperti orang yang ketakutan,
seperti orang yang tahu bahwa hidupnya akan berubah setelah membaca surat ini.
Ia merobek amplop itu.
Perlahan.
Hati-hati.
Seperti sedang membuka peti mati.
Seperti sedang membuka luka lama.
Seperti sedang membuka pintu menuju neraka.
Kertas di dalamnya tipis, murah, seperti kertas yang biasa
dijual di warung-warung kecil, warna putih kusam dengan garis-garis biru tipis
seperti buku tulis sekolah. Kertas itu dilipat menjadi dua, kemudian dilipat
lagi menjadi empat, sehingga mudah dimasukkan ke dalam amplop.
Kirana membuka lipatan itu dengan hati-hati.
Jari-jarinya yang gemetar berusaha meratakan kertas yang
sudah kusut karena terlipat terlalu lama.
Tulisan di dalamnya rapi.
Huruf kapital semua.
Sama seperti surat pertama.
Tapi ada yang berbeda.
Tulisan ini lebih rapi.
Lebih terlatih.
Lebih seperti tulisan orang yang terbiasa menulis.
Dan yang lebih penting, tulisan ini mirip dengan tulisan
Danang.
Sangat mirip.
Sama persis.
Sampai-sampai Kirana yang sudah mengenal tulisan Danang
sejak kecil, yang sudah hafal setiap lengkungan hurufnya, yang sudah tahu
persis bagaimana Danang menulis huruf "D" dengan lingkaran yang tidak
sempurna, bagaimana Danang menulis huruf "a" dengan ekor yang terlalu
panjang, bagaimana Danang menulis huruf "n" dengan garis yang putus
di tengah, tidak bisa membedakannya.
Matanya membesar.
Mulutnya terbuka.
Napasnya terhenti.
Isi surat itu pendek. Hanya beberapa baris. Tetapi setiap
kata terasa seperti pisau, seperti belati, seperti racun yang menyebar perlahan
di dalam tubuhnya.
"KIRANA, AKU CAPEK. AKU CAPEK BERJUANG. AKU CAPEK
MELAWAN. AKU CAPEK MENUNGGU. AKU CAPEK MENGHARAP. MUNGKIN KITA MEMANG TIDAK
DITAKDIRKAN BERSAMA. MUNGKIN DARI AWAL KITA MEMANG HANYA KENANGAN. MAAF.
DANANG."
Kirana membaca surat itu sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sepuluh kali.
Dua puluh kali.
Seratus kali.
Berharap bahwa jika ia baca cukup sering, kata-kata itu
akan berubah.
Berharap bahwa ini hanya mimpi buruk.
Berharap bahwa ada kesalahan.
Berharap bahwa surat ini bukan dari Danang.
Berharap bahwa Danang tidak mungkin menulis surat seperti
ini.
Berharap bahwa Danang tidak mungkin meninggalkannya.
Tapi tidak.
Kata-katanya tetap sama.
Tetap tajam.
Tetap menyakitkan.
Tetap menghancurkan.
"MUNGKIN KITA MEMANG TIDAK DITAKDIRKAN BERSAMA."
"MUNGKIN DARI AWAL KITA MEMANG HANYA KENANGAN."
"MAAF."
"Danang."
Surat itu jatuh dari tangannya.
Jatuh ke lantai.
Jatuh ke karpet wol berwarna krem yang tebal dan empuk.
Jatuh di antara kaki ranjang dan lemari.
Kirana tidak memungutnya.
Ia hanya duduk di ranjang.
Memandang kosong ke depan.
Memandang tembok yang putih.
Memandang jendela yang terbuka.
Memandang langit yang mulai cerah.
Matanya kosong.
Pikirannya kosong.
Hatinya kosong.
Tidak ada tangis.
Tidak ada air mata.
Tidak ada isakan.
Hanya kekosongan.
Kekosongan yang lebih menakutkan daripada amarah apa pun.
Kekosongan yang seperti lubang hitam di angkasa.
Kekosongan yang seperti kematian.
"Danang," bisiknya, suaranya pelan, hampir tidak
terdengar, seperti bisikan dari alam lain, seperti suara dari dunia yang
berbeda. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau meninggalkan aku?
Kenapa kau..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia tidak bisa melanjutkan.
Ia hanya duduk.
Duduk di ranjang.
Memandang kosong.
Berjam-jam.
Sampai matahari meninggi.
Sampai ibunya mengetuk pintu.
Sampai pembantunya memanggil untuk sarapan.
Sampai dunia di luar tetap berputar.
Sampai ia sadar bahwa Danang benar-benar meninggalkannya.
Malam itu, Kirana tidak pergi ke toko buku.
Ia tidak pergi ke mana pun.
Ia hanya duduk di kamarnya.
Memandang surat itu.
Membacanya berulang-ulang.
Berharap ada penjelasan.
Berharap ada maaf.
Berharap ada "aku bercanda".
Tapi tidak ada.
Hanya kata-kata itu.
Kata-kata yang menghancurkan.
Kata-kata yang mengakhiri segalanya.
"Kirana, buka pintu! Ibu bawakan makan malam!"
suara Nyonya Dewi dari luar pintu.
"Tidak usah, Bu. Aku tidak lapar."
"Kau belum makan sejak pagi. Kau harus makan. Kau bisa
sakit."
"Tidak usah, Bu. Aku tidak mau makan. Aku hanya ingin
sendiri."
Nyonya Dewi menghela napas.
Ia meletakkan nampan berisi makanan di depan pintu.
Berbalik.
Berjalan menjauh.
Meninggalkan Kirana sendirian dengan surat itu.
Sendirian dengan rasa sakit.
Sendirian dengan kehancuran.
Sementara itu, di tempat lain, di kamar kosnya yang sempit,
Danang tidak tahu apa-apa.
Ia bekerja seperti biasa.
Ia menyusun huruf-huruf timah.
Ia mengangkat kertas-kertas berat.
Ia membersihkan mesin-mesin tua.
Ia mengantar pesanan ke pelanggan.
Ia makan nasi bungkus di warung.
Ia pulang ke kos.
Ia mandi.
Ia tidur.
Ia tidak tahu bahwa Kirana sedang menangis.
Ia tidak tahu bahwa surat palsu telah menghancurkan cinta
mereka.
Ia tidak tahu bahwa sahabatnya telah mengkhianatinya.
Ia tidak tahu bahwa Surya telah berhasil.
Ia tidak tahu bahwa dunianya akan segera runtuh.
"Danang, kau kenapa melamun?" tanya Pak Suryanto
dari belakang.
Danang tersentak. "Eh... tidak, Pak. Aku hanya... aku
hanya berpikir tentang Kirana."
"Kirana? Ada apa dengan Kirana?"
"Aku tidak tahu, Pak. Aku tidak bisa menghubunginya.
Telepon di toko buku tidak diangkat. Aku mampir ke rumahnya, tapi pembantunya
bilang Kirana tidak mau bertemu siapa pun. Aku bingung. Aku khawatir."
Pak Suryanto menghela napas. "Mungkin Kirana sedang
sakit, Nak. Atau sedang ada masalah. Beri dia waktu. Nanti dia akan hubungi
kau."
"Tapi Pak, aku..."
"Bersabar, Nak. Cinta butuh kesabaran. Cinta butuh
pengertian. Cinta butuh..."
"Aku tahu, Pak. Tapi aku..."
"Percaya pada Kirana, Nak. Dia perempuan baik. Dia
tidak akan meninggalkan kau begitu saja."
Danang mengangguk.
Ia kembali bekerja.
Tapi pikirannya tetap pada Kirana.
Pada senyumnya.
Pada tawanya.
Pada matanya yang coklat kehijauan.
Pada janji mereka.
Pada cinta mereka.
Ia tidak tahu bahwa janji itu akan segera berakhir.
Bahwa cinta itu akan segera mati.
Bahwa Kirana akan segera pergi dari hidupnya.
Bab 20
Hujan
yang Memisahkan
Dua hari setelah surat palsu itu diterima Kirana, Danang
datang ke rumahnya.
Hujan turun deras malam itu. Bukan hujan biasa. Bukan hujan
gerimis yang pelan dan sayu. Bukan hujan sore yang mengguyur sebentar lalu
reda. Ini hujan yang turun dengan kemarahan, dengan amarah, dengan
keputusasaan. Seperti langit sedang melampiaskan semua yang selama ini ia
pendam. Seperti Tuhan sedang menangis dan tidak peduli siapa yang basah.
Air jatuh dari langit dalam jumlah yang luar biasa,
butir-butirnya besar dan keras, menghantam atap-atap rumah dengan suara seperti
ribuan genderang yang ditabuh bersamaan. Angin bertiup kencang, menderu di
antara celah-celah dinding, membuat pohon-pohon di halaman bergoyang liar,
membuat ranting-ranting patah dan jatuh ke tanah. Sesekali kilat menyambar di
kejauhan, diikuti gemuruh yang mengguncang tanah, yang membuat jendela-jendela
bergetar, yang membuat orang-orang yang masih terjaga melompat kaget.
Danang berdiri di depan pagar rumah Kirana, basah kuyup.
Tubuhnya yang kekar dan berotot, yang terbiasa dengan kerja keras dan hujan dan
panas, menggigil kedinginan. Rambutnya yang ikal dan tidak pernah rapi, basah
menempel di dahi, di pipi, di leher. Air mengalir dari ujung rambutnya, jatuh
ke bahunya, ke bajunya, ke tanah. Bajunya yang tipis dan lusuh basah, menempel
di kulitnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kurus tetapi berotot.
Sepatu bolongnya basah, penuh lumpur. Kaus kakinya basah,
dingin, tidak nyaman. Tapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah Kirana.
Yang ia pedulikan hanyalah menjenguk Kirana. Yang ia pedulikan hanyalah
memastikan bahwa Kirana baik-baik saja.
"Kirana!" teriaknya dari depan pagar, suaranya
nyaris tak terdengar di tengah derasnya hujan dan kencangnya angin.
"Kirana, buka pintu! Aku Danang!"
Tidak ada jawaban.
"Kirana! Aku tahu kau di dalam! Buka pintu! Kita
bicara!"
Masih tidak ada jawaban.
Danang membuka pagar besi hitam yang tinggi. Pagar itu
berat, berkarat di beberapa tempat, tetapi ia mendorongnya dengan kuat. Ia
berjalan melewati halaman yang basah, melewati rumput yang becek, melewati
genangan air yang menggenang di mana-mana. Air hujan setinggi mata kakinya,
dingin, lumpur, membuat langkahnya berat.
Ia menaiki tangga menuju teras rumah. Tangga marmer putih
yang licin karena air hujan, membuatnya hampir jatuh beberapa kali, tetapi ia
berpegangan pada pegangan besi yang dingin dan basah. Ia sampai di depan pintu
utama, pintu kayu jati besar dengan ukiran-ukiran rumit yang menggambarkan
bunga-bunga dan daun-daun dan hewan-hewan mitologi.
Ia mengetuk pintu.
Keras.
"Kirana! Buka pintu! Aku tahu kau di dalam! Aku mau
bicara denganmu!"
Pintu terbuka.
Bukan Kirana.
Pembantu rumah tangga, Yati, perempuan muda dengan wajah
cemberut dan celemek kotor, berdiri di ambang pintu. Matanya menatap Danang
dengan sinis, dengan tidak suka, dengan kebencian.
"Mbak Kirana tidak mau bertemu siapa pun, Mas.
Pulanglah. Basah-basah. Nanti sakit."
"Yati, tolong. Aku harus bicara dengan Kirana. Ini
penting. Tolong panggilkan dia."
"Tidak bisa, Mas. Mbak Kirana sudah bilang. Dia tidak
mau bertemu siapa pun. Khususnya Mas Danang."
Danang terdiam.
Kata-kata itu menusuk hatinya.
Kata-kata itu seperti pisau.
Kata-kata itu seperti belati.
Kata-kata itu seperti racun.
"Yati, tolong..."
"Pulanglah, Mas. Mbak Kirana tidak mau melihat Mas.
Mbak Kirana sudah muak dengan Mas. Mbak Kirana sudah..."
"Yati, cukup!"
Suara Kirana dari dalam.
Yati menyingkir.
Kirana muncul di balik pintu.
Wajahnya pucat.
Matanya merah, bengkak, seperti habis menangis berjam-jam.
Rambutnya kusut, tidak disisir.
Bajunya kusut, tidak berganti sejak kemarin.
Ia memegang sesuatu di tangannya.
Surat itu.
Surat palsu.
Surat yang ditulis Arman.
Surat yang menghancurkan hatinya.
"Kau mau bicara, Danang?" suara Kirana dingin.
Sangat dingin. Lebih dingin dari air hujan. Lebih dingin dari angin malam.
Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada cinta. Tidak ada kasih sayang. Hanya
dingin. Hanya kebencian. Hanya kekecewaan.
"Kirana, apa yang terjadi? Kenapa kau tidak mengangkat
telepon? Kenapa kau tidak mau bertemu aku? Kenapa kau..."
"Kau bertanya apa yang terjadi, Danang?" Kirana
mengangkat surat itu, mengibas-ngibaskannya di depan wajah Danang. "Ini
yang terjadi. Surat ini. Surat dari kau. Surat yang mengatakan bahwa kau capek.
Surat yang mengatakan bahwa kau menyerah. Surat yang mengatakan bahwa kita
hanya kenangan."
Danang mengernyit. Ia meraih surat itu, membacanya. Sekali.
Dua kali. Wajahnya berubah. Dari bingung menjadi marah. Dari marah menjadi
takut. Dari takut menjadi putus asa.
"Kirana, aku tidak pernah menulis surat ini,"
katanya, suaranya tegas, yakin, tidak ada keraguan. "Aku tidak pernah
menulis surat seperti ini. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku capek. Aku
tidak pernah mengatakan bahwa aku menyerah. Aku tidak pernah mengatakan bahwa
kita hanya kenangan. Aku tidak pernah..."
"Jangan bohong, Danang!" potong Kirana, suaranya
keras, tajam, seperti pisau. Matanya menyala, bukan dengan cinta, tetapi dengan
amarah. "Aku tahu tulisan kau! Aku hafal tulisan kau! Aku sudah mengenal
tulisan kau sejak kita kecil! Ini tulisan kau! Tidak mungkin orang lain yang
menulis!"
"Kirana, aku tidak..."
"Kau selalu bilang kau mencintaiku. Kau selalu bilang
kau tidak akan meninggalkanku. Kau selalu bilang kita akan bersama selamanya.
Tapi lihat kenyataannya, Danang! Kau menulis surat ini! Kau mengatakan bahwa
kau capek! Kau mengatakan bahwa kau menyerah! Kau mengatakan bahwa kita hanya kenangan!"
"Kirana, aku tidak pernah menulis surat itu! Aku
bersumpah! Aku tidak pernah!"
"Jangan sumpah, Danang! Sumpah tidak akan mengubah apa
pun! Surat ini sudah cukup! Aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun! Aku
tidak mau melihat kau lagi! Aku tidak mau..."
Kirana menangis.
Ia tidak bisa melanjutkan.
Tangisnya pecah.
Ia menutup pintu.
Banting.
Keras.
Suara pintu tertutup terdengar seperti bunyi peti mati
ditutup, seperti bunyi sesuatu yang berakhir, seperti bunyi jantung yang
berhenti berdetak.
Danang berdiri di depan pintu.
Basah.
Kedinginan.
Hancur.
Ia mengetuk pintu lagi.
"Kirana! Buka pintu! Dengarkan aku! Aku tidak menulis
surat itu! Aku tidak pernah! Seseorang memalsukan tulisanku! Seseorang ingin
memisahkan kita! Kirana!"
Tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan.
Hanya suara angin.
Hanya suara tangis Kirana dari dalam.
Danang mengetuk lagi.
Lebih keras.
"Kirana! Tolong buka pintu! Kita bicara baik-baik!
Kita selesaikan masalah ini bersama! Aku tidak mau kehilangan kau!
Kirana!"
Masih tidak ada jawaban.
Danang tidak menyerah.
Ia terus mengetuk.
Terus memanggil.
Terus berteriak.
Sampai tangannya sakit.
Sampai suaranya serak.
Sampai ia kehabisan tenaga.
Tapi Kirana tidak membuka pintu.
Ia hanya menangis di dalam.
Menangis sendirian.
Menangis dengan surat palsu di tangan.
Menangis dengan hati yang hancur.
Menangis dengan cinta yang mati.
Danang akhirnya berhenti.
Ia berdiri di depan pintu.
Basah.
Kedinginan.
Hancur.
Air matanya bercampur dengan air hujan.
Tidak ada yang membedakan.
Tidak ada yang tahu.
"Kirana," bisiknya, suaranya pelan, lembut, penuh
dengan kesedihan. "Aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah berhenti
mencintaimu. Sampai kapan pun. Sampai mati."
Ia berbalik.
Berjalan menjauh.
Menuruni tangga.
Melewati halaman.
Melewati pagar.
Meninggalkan rumah Kirana.
Meninggalkan cintanya.
Meninggalkan kebahagiaannya.
Meninggalkan masa depannya.
Di tengah hujan.
Di tengah malam.
Di tengah kesendirian.
Di dalam kamarnya, Kirana mendengar langkah kaki Danang
yang menjauh.
Ia mendengar suara pagar yang dibuka dan ditutup.
Ia mendengar suara sepeda onthel yang dikayuh perlahan,
meninggalkan rumahnya.
Ia menangis lebih keras.
Ia menyesali semuanya.
Ia menyesali surat itu.
Ia menyesali kemarahannya.
Ia menyesali kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya.
Ia menyesali pintu yang ia banting.
Ia menyesali semuanya.
Tapi ia tidak bisa memutar waktu.
Ia tidak bisa mengambil kembali kata-katanya.
Ia tidak bisa membuka pintu itu.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di atas ranjang.
Menangis dengan surat palsu di tangan.
Menangis dengan hati yang hancur.
Menangis dengan cinta yang mati.
"Danang," bisiknya, suaranya pelan, lembut, penuh
dengan penyesalan. "Maafkan aku. Aku tidak tahu. Aku tidak berpikir. Aku
hanya... aku hanya sakit. Aku hanya kecewa. Aku hanya..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya menangis.
Menangis sampai tertidur.
Menangis sampai pagi.
Menangis sampai tidak ada air mata yang tersisa.
Di tempat lain, di kamar kosnya yang sempit, Danang juga
tidak bisa tidur.
Ia berbaring di ranjangnya, memandang langit-langit yang
gelap, mendengar suara hujan yang masih deras, mendengar suara tetangga di
sebelah kanan yang batuk-batuk, tetangga di sebelah kiri yang bertengkar,
tetangga di atas yang memindahkan furnitur.
Ia memegang pita biru di tangannya.
Pita yang sudah hampir putih.
Pita yang kainnya sudah rapuh.
Pita yang menjadi satu-satunya kenangan dari Kirana.
"Kirana," bisiknya. "Aku tidak akan
menyerah. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak menulis surat itu. Aku akan
mencari tahu siapa yang memalsukan tulisanku. Aku akan menemukan orang yang
ingin memisahkan kita. Aku akan..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya menangis.
Menangis di ranjang sempitnya.
Menangis di kamar kos yang dingin.
Menangis di tengah malam yang gelap.
Menangis karena kehilangan.
Menangis karena kebohongan.
Menangis karena pengkhianatan.
Di luar, hujan masih turun.
Tidak reda-reda.
Seperti langit ikut menangis.
Seperti alam ikut bersedih.
Seperti dunia ikut merasakan bahwa malam itu, dua insan
yang saling mencintai berpisah.
Bukan karena takdir.
Bukan karena perbedaan status.
Bukan karena campur tangan orang tua.
Tapi karena surat palsu.
Tapi karena kebohongan.
Tapi karena pengkhianatan.
Tapi karena sahabat yang iri.
Tapi karena dendam yang tidak pernah padam.
"Selamat malam, Danang. Selamat malam, Kirana,"
bisik Arman dari kejauhan, dari balik kegelapan malam, dari balik hujan yang
deras. "Semoga kalian bahagia. Karena kebahagiaan kalian tidak akan lama
lagi. Aku akan pastikan itu."
Ia tersenyum.
Senyum yang dingin.
Senyum yang penuh dengan kemenangan.
Senyum yang mengatakan bahwa ia berhasil.
Senyum yang mengatakan bahwa Danang dan Kirana telah
berpisah.
Senyum yang mengatakan bahwa ia akan segera mendapatkan
Kirana.
"Kirana," bisiknya. "Kau akan menjadi
milikku. Aku akan menjagamu. Aku akan mencintaimu. Aku akan membahagiakanmu.
Tidak seperti Danang. Tidak seperti..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya tersenyum.
Tersenyum di tengah hujan.
Tersenyum di tengah malam.
Tersenyum di tengah kesendirian.
Tersenyum di atas kehancuran sahabatnya.
EPILOG
Langit yang Benar-Benar Retak
Beberapa hari setelah malam hujan itu, setelah pintu
dibanting, setelah kata-kata pedas diucapkan, setelah air mata mengalir tanpa
henti, Kirana pergi dari kota.
Bukan karena ia ingin pergi. Bukan karena ia sudah tidak
mencintai Danang. Bukan karena ia memilih Arman. Tapi karena ia tidak kuat.
Tapi karena ia tidak tega. Tapi karena ia tidak bisa melihat Danang lagi tanpa
mengingat surat itu, tanpa mengingat kata-kata "aku capek", tanpa
mengingat "kita hanya kenangan".
Ia pergi tanpa pamit.
Tanpa penjelasan.
Tanpa sepatah kata pun.
Ia hanya mengemas kopernya, meninggalkan surat untuk orang
tuanya, lalu pergi ke stasiun, naik kereta, meninggalkan kota Purwokerto,
meninggalkan Danang, meninggalkan Arman, meninggalkan semua kenangan.
Ia pergi ke Jakarta.
Bersama seorang teman yang membantunya mendapatkan
pekerjaan di toko kain di Pasar Senen.
Ia memulai hidup baru.
Ia mencoba melupakan.
Ia mencoba move on.
Ia mencoba bahagia.
Tapi ia tidak bisa melupakan Danang.
Tidak peduli seberapa jauh ia pergi.
Tidak peduli seberapa lama waktu berlalu.
Tidak peduli seberapa banyak ia berusaha.
Danang tetap di hatinya.
Selamanya.
Danang datang ke toko buku suatu sore. Toko itu kosong.
Rak-rak yang biasanya penuh dengan buku kini sunyi. Buku-buku sudah
dipindahkan, mungkin dijual, mungkin disumbangkan, mungkin dibuang. Tidak ada
yang tahu. Tidak ada yang peduli.
Pintu tertutup rapat. Gembok besar menggantung di pintu,
seperti mulut yang terkunci rapat, seperti hati yang tertutup, seperti cinta
yang mati.
Debu mulai turun di rak-rak kosong. Debu putih tipis yang
terlihat seperti salju di musim kemarau, seperti abu di tempat kremasi, seperti
sisa-sisa kehidupan yang telah berlalu.
Ia berdiri lama di depan tempat itu.
Tak marah.
Tak menangis.
Hanya kosong.
Kosong yang tidak bisa ia isi dengan apa pun.
Kosong yang membuatnya merasa seperti mayat hidup.
Kosong yang membuatnya bertanya-tanya apa gunanya terus
hidup jika semua yang ia cintai selalu pergi.
"Kirana," bisiknya. "Kenapa kau pergi?
Kenapa kau tidak bilang? Kenapa kau..."
Ia tidak melanjutkan.
Ia hanya berdiri.
Berdiri di depan toko buku yang kosong.
Berdiri di depan kenangan yang hancur.
Berdiri di depan cinta yang mati.
Arman datang dari belakang.
Berdiri beberapa langkah di belakang Danang.
Wajahnya pucat.
Matanya sayu.
Tangannya gemetar.
"Danang, aku turut berduka. Aku turut sedih. Aku
turut..."
Danang tidak menoleh.
Ia sudah tahu.
Ia sudah tahu sejak lama.
Ia sudah tahu bahwa Arman yang menulis surat itu.
Ia sudah tahu bahwa Arman yang memalsukan tulisannya.
Ia sudah tahu bahwa Arman yang menghancurkan cintanya.
Ia sudah tahu bahwa Arman yang mengkhianatinya.
"Kenapa, Arman?" tanyanya, suaranya pelan, datar,
tanpa emosi. "Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau hancurkan kebahagiaan aku
dan Kirana? Kenapa kau..."
"Karena aku juga mencintainya, Danang."
Danang menoleh.
Matanya bertemu dengan mata Arman.
Mata yang dulu ramah.
Mata yang dulu hangat.
Mata yang dulu menjadi tempatnya berkeluh kesah.
Mata yang dulu menjadi sahabatnya.
Kini mata itu penuh dengan penyesalan.
Penuh dengan rasa bersalah.
Penuh dengan kehancuran.
"Kau sahabatku, Arman. Kau seperti kakak bagiku. Aku
percaya padamu. Aku... kenapa kau tega melakukan ini padaku?"
Arman menunduk.
Air matanya jatuh.
Ia tidak bisa menjawab.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis di hadapan Danang.
Menangis karena ia tahu bahwa ia telah menghancurkan
persahabatan mereka.
Menangis karena ia tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa
memperbaikinya.
Menangis karena ia tahu bahwa ia kehilangan segalanya.
"Maafkan aku, Danang," bisiknya. "Maafkan
aku."
Danang tidak menjawab.
Ia hanya berbalik.
Berjalan menjauh.
Meninggalkan Arman.
Meninggalkan toko buku.
Meninggalkan kota.
Meninggalkan semua kenangan.
Meninggalkan semua luka.
Ia pergi ke tempat yang tidak dikenal siapa pun.
Memulai hidup baru.
Menjadi orang baru.
Melupakan masa lalu.
Tapi ia tidak bisa melupakan Kirana.
Tidak peduli seberapa jauh ia pergi.
Tidak peduli seberapa lama waktu berlalu.
Tidak peduli seberapa banyak ia berusaha.
Kirana tetap di hatinya.
Selamanya.
BERSAMBUNG KE JILID KETIGA ROMAN
EPIK JEJEK WAKTU SENJA YANG MEMULANGKAN







0 komentar:
Posting Komentar