Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 20 Maret 2026

Novel Suami Takut Istri

                       


                           

                                SUAMI TAKUT ISTRI

Novel Drama Komedi Rumah Tangga Desa Awan Biru

 

Oleh: Slamet Riyadi

BAB 1: Tukang Bangunan Jatuh Cinta

Debu dan kebisingan adalah sarapan pagiku.

Setiap pukul setengah tujuh pagi, ketika pegawai kantoran masih sibuk memilih baju atau sarapan di kafe, Alex sudah berada di lokasi proyek dengan segelas air putih dan nasi bungkus yang dimakan sambil jongkok di atas tumpukan batu bata. Proyek Perumahan Bumi Indah Asri—nama yang terlalu mulia untuk kenyataan yang ada—adalah lahan kosong seluas dua hektar yang perlahan berubah menjadi deretan rumah sederhana. Atau setidaknya, akan menjadi rumah sederhana jika pembangunannya tidak molor terus.

Proyek di pinggiran kota itu sedang dikejar target. Pengembang ingin seratus unit rumah jadi sebelum musim hujan tiba. Artinya? Kami para tukang harus bekerja ekstra. Sebagai tukang batu, Alex sudah terbiasa dengan terik matahari yang menyengat tengkuk. Kulitku yang hitam legam adalah bukti kesetiaanku pada pekerjaan ini. Kapur dan debu semen sudah seperti teman setia—menempel di baju, di rambut, di bulu hidung, di sela-sela kuku. Kalau malam Alex pulang dan mandi, air bilasannya akan berwarna putih seperti susu encer. Itu bukan susu, tentu saja. Itu keringat yang bercampur kapur, bukti bahwa hari itu Alex bekerja keras.

Hari itu, seperti biasa, Alex sedang asyik mengecor lantai rumah nomor 37. Tanganku lihai meratakan semen dengan cetok, menciptakan permukaan yang halus dan rata. Ini adalah bagian favoritku dalam bekerja. Saat semen basah itu diratakan, saat permukaannya menjadi licin dan sempurna, ada kepuasan tersendiri. Seperti melukis, tapi medianya beton. Seperti membuat kue, tapi adonannya semen.

Alex bersiul-siul kecil, mengikuti lagu dangdut yang diputar dari radio butut milik mandor. Liriknya tentang cinta, tentang rindu, tentang seseorang yang ditunggu. Alex ikut bernyanyi pelan, tidak peduli suaraku sumbang.

"Lu mau gue puterin lagu galau? Biar makin mendayu-dayu?" teriak Sugeng dari sebelah.

"Gue lagi ngecor, Geng! Bukan lagi pacaran!" balasku tanpa menoleh.

Sugeng—teman satu timku yang terkenal sebagai radar hidup Desa Awan Biru—sedang mengaduk semen di dekatku. Ia laki-laki kurus dengan kumis tipis dan rambut yang selalu ikal karena jarang disisir. Matanya sipit, tapi kata orang, matanya itu bisa melihat cewek cantik dari jarak satu kilometer. Maka tidak heran, ia selalu jadi orang pertama yang tahu kalau ada perempuan lewat di sekitar proyek.

"Lex, lu liat tuh!" celetuk Sugeng tiba-tiba, cetok di tangannya berhenti bergerak. "Cewek cantik lewat!"

Alex bahkan tidak menoleh. "Gue lagi ngecor, Geng. Cinta lagi nunggu."

"Bukan cinta, goblok! Cewek beneran!kayaknya mau kuliah!"

"Ya udah, biarin. Gue lagi ngejar target. Mandor marah kalau rumah nomor 37 nggak kelar minggu ini."

"Alex, lo nggak punya mata? Cewek secantik itu lewat, lo malah ngecor?"

"Emangnya lo mau gue ngapain? Ngejar dia pake cetok?"

Sugeng menghela napas dramatis. "Dasar lo, Lex. Cinta nggak datang dua kali."

"Gue juga nggak minta cinta datang. Lagi pula, cewek secantik itu mana mungkin lirik tukang bangunan kayak kita?"

Sugeng mendekat, menepuk pundakku. "Lo itu, Lex. Terlalu rendah diri. Cewek itu nggak lihat pekerjaan, yang penting hatinya."

"Hati gue lagi fokus ngecor, Geng."

Sugeng menggeleng-geleng, lalu kembali ke adonan semennya. Tapi matanya masih setia mengikuti sosok yang lewat. Alex—masih dengan prinsipku—tetap fokus pada lantai yang sedang kuhaluskan.

Tapi penasaran adalah penyakit yang sulit disembuhkan.

Setelah beberapa menit, ketika Sugeng sudah kembali asyik dengan pekerjaannya, Alex diam-diam menengadah. Melirik ke arah jalan setapak yang membelah sisi proyek. Dan di sanalah...

Sugeng tidak berbohong.

Seorang gadis berdiri di pinggir jalan. Gaun putih lengan panjang. Rambut panjang terurai sedikit, dibatasi jilbab yang dikenakan longgar—mungkin karena baru selesai wisuda, mungkin karena buru-buru. Wajahnya... ya Allah, wajahnya. Tidak terlalu putih, tidak terlalu hitam. Pas. Manis. Dengan lesung pipit di pipi kanan yang muncul ketika ia menyipitkan mata menahan debu yang beterbangan dari proyek.

Ia sedang menunggu angkot. Tas selempang cokelat digendong, tangan satunya memegang map plastik berisi dokumen. Kadang ia melongok ke kanan-kiri, mencari angkot yang tak kunjung datang. Kadang ia mengibas-ngibaskan tangan, mengusir debu yang beterbangan.

Di matAlex saat itu—dengan segala debu, kapur, dan keringat yang melekat—ia adalah bidadari yang salah turun ke bumi.

"Astagfirullah," bisikku pelan.

Sugeng, yang sedari tadi diam-diam mengawasi ekspresiku, terkekeh. "Nah, kan. Udah bilang juga lo."

"Gue cuma... penasaran."

"Iya, penasaran. Penasaran setengah mati."

Alex mencubit lengan Sugeng. "Diem lo."

Tapi mataku tidak bisa berpaling. Gadis itu... ada sesuatu yang membuatku terpana. Mungkin karena ia tampak begitu bersih di tengah proyek yang kotor. Mungkin karena ia tampak begitu anggun dengan toganya. Mungkin karena ia tampak begitu... berbeda. Berbeda dari semua yang pernah kulihat.

Angkot akhirnya datang. Sebuah angkot biru tua dengan stiker "Aman" di kaca depan—entah aman dari apa. Gadis itu naik, duduk di dekat jendela. Sebelum angkot bergerak, entah mengapa, ia menoleh ke arah proyek. Ke arahku? Mungkin hanya kebetulan. Tapi cukup membuat jantungku berhenti berdetak selama beberapa detik.

Angkot itu pergi, meninggalkan debu di belakangnya.

Alex masih berdiri terpaku, cetok di tangan terkulai lemas.

"Lex, ngecor! Ngecor!" teriak Sugeng, membangunkanku dari lamunan.

Alex tersentak. Lantai yang tadi kuhaluskan sudah mulai mengering di beberapa bagian. Alex buru-buru melanjutkan pekerjaan, tapi pikiranku sudah tidak di sana.

Siapa dia? Dari mana? Kenapa lewat sini? Kenapa pake toga? Kuliah di mana? Lulus apa? Nama siapa? Umur berapa? Punya pacar nggak?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala seperti kipas angin rusak.


Malam harinya, di kontrakan sempit yang kutempati bersama dua tukang lain, Alex tidak bisa tidur.

Kontrakanku adalah petak berukuran 3x4 meter, beratap Geng, berdinding anyaman bambu yang sudah bolong di sana-sini. Satu kamar diisi tiga orang: Alex, Sugeng, dan tukang lain bernama Bejo yang tidurnya ngorok seperti gergaji mesin. Kasur kami beralas tikar, bantal dari guling yang sudah kempes, dan selimut seadanya. Tapi malam itu, dinginnya angin malam tidak terasa. Yang terasa hanya detak jantung yang berdebar tak karuan.

"Lex, lo kenapa?" tanya Sugeng dari sebelah, suaranya Gengau karena setengah tidur. "Gelisah terus. Digigit kutu?"

"Kaga."

"Lapar?"

"Kaga."

"Kepikiran cewek tadi?"

Alex diam. Cukup sebagai jawaban.

Sugeng terkekeh. Gelap, tapi Alex tahu dia sedang tersenyum puas. "Udah gue bilang. Cinta nggak datang dua kali. Nah, lo sekarang kena."

"Gue belum kenal dia, Geng. Baru liat sekali."

"Liat sekali udah cukup buat bikin lo nggak bisa tidur? Itu namanya cinta."

"Atau angin duduk."

"Angin duduk mah dada sesak. Lo mah gelisah galau."

Alex membalikkan badan, menghadap dinding bambu yang temaram terkena lampu jalan dari luar. "Gue cuma penasaran, Geng. Siapa dia."

"Ya cari tahu."

"Gimana caranya? Gue nggak tahu nama, nggak tahu alamat."

"Lo liat dia lewat di depan proyek. Berarti dia tinggal di sekitar sini. Atau lewat sini setiap hari. Besok pagi-pagi, lo jaga di pinggir jalan. Kali aja lewat lagi."

"Terus? Gue harus ngomong apa? Halo, saya Alex, tukang batu, kemarin lihat mbak, langsung jatuh cinta?"

"Boleh juga tuh. Jujur."

"Bodoh amat."

"Dari pada lo di sini gelisah nggak bisa tidur, mending lo coba."

Alex diam. Memikirkan kemungkinan itu.

Bejo di sudut kamar tiba-tiba ngorok keras, seperti konser kacau. Sugeng tertawa kecil. "Nah, lo denger tuh. Bejo setuju."

"Bejo lagi mimpi, bukan setuju."

"Ya udah, tidur. Besok lo liat sendiri. Jangan lupa, lo jaga di pinggir jalan jam 6 pagi."

Alex memejamkan mata. Tapi tidur tidak datang. Yang datang hanya bayangan gadis berbaju putih, dengan lesung pipit di pipi kanan.


Pukul setengah enam pagi, Alex sudah berdiri di pinggir jalan proyek.

Sugeng benar. Setelah gelisah semalaman, Alex memutuskan untuk mencoba. Mungkin ini gila. Mungkin ini bodoh. Tapi setidaknya, Alex akan tahu.

Pagi itu matahari baru terbit, menerangi hamparan sawah di seberang jalan. Embun masih menempel di daun-daun. Burung-burung pipit beterbangan mencari makan. Suasana damai, kontras dengan debu proyek yang akan segera menguasai.

Alex membawa segelas kopi dari warung depan, berpura-pura menikmati pagi. Tapi mataku tidak berhenti memindai setiap orang yang lewat.

Ibu-ibu dengan keranjang sayur.
Bapak-bapak dengan sepeda ontel.
Anak sekolah dengan seragam putih merah.
Tukang ojek ngetem di pinggir jalan.

Tapi tidak ada dia.

Jam 7. Belum ada.
Jam 8. Mulai panas.
Jam 9. Alex hampir menyerah.

Tepat jam setengah sepuluh, ketika Alex sedang menghabiskan kopi kedua yang sudah dingin, sebuah angkot biru berhenti di pinggir jalan. Dan dari angkot itu, turun...

Dia.

Gadis itu.

Masih dengan pakaian yang sama? Tidak. Hari ini ia memakai kaos putih polos dan rok panjang warna gelap. Jilbabnya lebih rapi, menutup dada. Tas selempang yang sama. Map plastik yang sama. Ia berjalan cepat, masuk ke gang kecil di samping proyek.

Gang itu menuju ke mana? Alex tidak tahu. Selama setahun kerja di proyek ini, Alex tidak pernah masuk ke gang itu. Tapi kali ini, Alex harus tahu.

"Lex! Kerja!" teriak mandor dari kejauhan.

Alex menoleh. Mandor sudah berdiri dengan tangan di pinggang, wajah marah seperti biasa.

"Iya, Pak! Bentar!"

Alex berlari ke arah gang. Tidak terlalu dekat, cukup melihat ke mana ia pergi. Ia masuk ke salah satu kontrakan di ujung gang. Kontrakan sederhana, dinding papan, atap genting, halaman kecil dengan jemuran baju.

Alex mencatat nomornya dalam hati: Gang Melati Nomor 7.

Malamnya, setelah pulang kerja, Alex mampir ke warung Bu RT yang ada di ujung gang. Dengan alasan beli rokok, Alex mulai mencari informasi.

"Bu, tahu nggak yang tinggal di kontrakan nomor 7?"

Bu RT—perempuan paruh baya dengan rambut disanggul dan suara ceplas-ceplos—langsung melebarkan mata. "Nomor 7? Oh, itu kontrakannya Mahdalena. Anak kuliah.. Nanyain kenapa?"

Alex tersedak asap rokok. "Nggak... cuma lihat orang baru."

Bu RT tersenyum curiga. "Mau kenalan, Nak?"

"E... bukan, Bu. Cuma penasaran."

"Penasaran itu awal dari masalah, Nak. Atau awal dari jodoh. Tergantung lo bawa ke mana."

Alex tertawa canggung, bayar rokok, lalu pulang dengan informasi yang kuperoleh.

Mahdalena. Namanya Mahdalena.


Beberapa hari kemudian, Alex akhirya punya kesempatan.

Mahdalena—sekarang Alex tahu namanya—ternyata sering bolak-balik ke kantor kecamatan untuk urusan administrasi. Setiap kali ia lewat proyek, Alex selalu memperhatikan dari jauh. Kadang ia tersenyum sendiri. Kadang ia tampak lelah. Kadang ia membawa buku atau map tebal.

Suatu sore, ketika ia sedang berjalan sendirian, Alex nekat.

Alex tinggalkan cetok, bersihkan tangan dengan lap seadanya, lalu berjalan ke arahnya. Jantungku berdebar seperti mau copot. Keringat dingin mengucur meski cuaca sedang panas-panasnya.

"Mbak..."

Ia menoleh. Wajahnya terkejut. Matanya memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki—rambutku berdebu, bajuku belel bernoda semen, tanganku kotor sisa kerja. Alex pasti tampak seperti manusia debu.

"Mbak... Kuliah di mana?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa filter. Tanpa pemanasan.

Ia menatapku dengan campuran heran dan waspada. Siapa orang ini? Tukang bangunan tiba-tiba nyapa? Mungkin pikirannya begitu.

"IKIP," jawabnya singkat. Lalu melanjutkan jalan.

Alex diam. Tidak bisa berkata apa-apa. Otakku kosong. Lidahku kelu.

Ia pergi. Meninggalkanku di pinggir jalan dengan perasaan campur aduk—malu, kecewa, dan... bersemangat? Kenapa Alex bersemangat?

Sugeng, yang sedari tadi mengintip dari balik tumpukan bata, muncul dengan senyum lebar.

"Gagal total, Lex."

"Gue... gue salah ngomong."

"Salah ngomong? Lo bahkan nggak ngomong apa-apa selain 'lulusan mana'."

"Mau gue apalagi?"

"Ya perkenalan dulu, goblok! 'Halo saya Alex', 'Senang kenalan', gitu!"

"Gue panik, Geng."

Sugeng menepuk pundakku. "Masih ada kesempatan. Besok lagi."

Tapi Alex tidak mau nunggu besok. Alex mau sekarang. Atau setidaknya, malam ini.


Malam itu, setelah jam kerja usai, Alex diam-diam pergi ke gang Melati. Kontrakan nomor 7. Tembok belakangnya masih bata merah, belum diplester. Sempurna.

Di tanganku, sepotong kapur putih. Bekas dari proyek.

Dengan hati-hati, Alex menulis di tembok itu. Tanganku gemetar, tulisan jadi jelek. Tapi biarlah.

Alex tulis:

"Cinta kita seperti cor semen... sekali jadi, susah dibongkar."
— Alex, tukang batu yang jatuh cinta.

Lalu Alex lari. Lari secepat mungkin. Jantungku berdebar seperti habis dikejar hantu. Tapi rasanya... senang. Gila, tapi senang.

Besok paginya, sebelum berangkat kerja, Alex mampir ke warung Bu RT lagi. Pura-pura beli rokok. Tapi mataku tidak lepas dari gang Melati.

Tak lama kemudian, Mahdalena keluar dari kontrakannya. Ia melihat tembok. Berhenti. Wajahnya berubah.

Kaget? Marah? Gemas?

Alex tidak tahu. Tapi Alex lihat ia membaca tulisan itu. Dua kali. Tiga kali.

Lalu, tanpa kuduga, ia menoleh ke arah proyek. Matanya mencari-cari. Dan ketika matanya bertemu dengan mataku—yang sedang mengintip dari balik warung—ia berjalan ke arahku.

Panik. Panik total.

"Bapak itu yang nulis tembok saya?"

Alex berdiri. Mencoba tenang. Tangan meraih cetok yang kebetulan ada di dekatku—entah kenapa, seolah cetok itu bisa jadi tameng. Atau senjata. Atau apa pun.

"Iya. Maaf, Mbak, cuma... saya Alex. Mau kenalan. Kalau Mbak nggak suka, nanti saya plester halus lagi temboknya. Gratis."

Ia menatapku. Lama. Lalu...

Senyum.

Senyum pertama. Dengan lesung pipit di pipi kanan yang langsung melelehkan hatiku.

"Bapak ini... aneh."

"Saya Alex, Mbak. Bukan Bapak. Masih 22."

"Mas Alex."

Panggilan itu. Mas Alex. Dari mulutnya. Ya Allah, rasanya seperti naik haji.

"Tulisannya jelek," katanya, masih tersenyum.

"Iya, Mbak. Maaf. Kapurannya jelek."

"Bukan kapurnya. Tangan Bapak—eh, Mas Alex—yang jelek."

Alex tertawa. Gugup. "Bener. Tangan tukang. Biasa pegang cetok, bukan pegang kapur."

Ia tertawa kecil. Tawa pertama yang kudengar darinya. Ringan. Bersih. Seperti suara bel.

"Mbak... namanya?"

"Mahdalena."

"Mahdalena. Cantik."

Ia tersipu. "Mas Alex, kalau mau nulis, nulis di kertas aja. Jangan di tembok. Nanti pemilik kontrakan marah."

"Nanti saya plester, Mbak. Janji."

"Janji?"

"Janji. Tapi... saya minta satu."

"Apa?"

"Saya minta kenalan beneran."

Ia terdiam. Matanya menatapku, mencari sesuatu. Mungkin mencari kebohongan. Atau mencari ketulusan.

"Mas Alex kenal saya sudah. Lewat tembok."

"Itu bukan kenal. Itu... nulis. Kenal itu ngobrol."

"Terus?"

"Saya traktir Mbak makan. Di warteg depan."

Ia tertawa lagi. "Warteg?"

"Maaf, gaji tukang. Belum mampu restoran."

Ia menggeleng, tapi tersenyum. "Lain kali aja, Mas. Saya sibuk. Lagi ngurus administrasi."

"Kapan?"

"Nanti."

"Nanti kapan?"

"Mas Alex, sabar dong."

"Sabar saya banyak, Mbak. Tapi takut keburu diplester temboknya."

Ia tertawa terbahak-bahak. Tawanya lepas. Tidak ada beban. Alex ikut tertawa, meski tidak tahu apa yang lucu.

"Iya deh, Mas. Sabtu sore. Warteg depan. Tapi janji, jangan bawa cetok."

"Janji."

Ia pergi. Dengan senyum yang masih tersisa. Alex berdiri di sana, di pinggir jalan, dengan cetok di tangan, dan hati yang melayang entah ke mana.

Sugeng muncul dari balik proyek. "Wah, lo hebat, Lex! Dapet tanggal!"

"Bukan tanggal, Geng. Makan di warteg."

"Sama aja! Makan di warteg itu tanggal pertama! Lo resmi punya gebetan!"

Alex tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Alex merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia.

Sabtu sore. Warteg depan.

Alex sudah tidak sabar.


Sabtu sore tiba.

Alex datang lebih awal. Sudah mandi, pakai baju terbaik—kemeja kotak-kotak lengan pendek, celana bahan hitam, sepatu pantofel yang disemir sampai mengilap. Sugeng bilang Alex kelihatan seperti mau kondangan. Tapi Alex cuek. Ini penting.

Warteg depan—nama resminya "Warteg Bahagia"—adalah warung tenda biasa. Meja plastik, kursi plastik, lauk-pauk di etalase kaca. Tapi sore itu, warteg itu terasa seperti restoran bintang lima.

Alex pesan es teh manis dua gelas. Menunggu. Gelisah.

Setengah jam berlalu. Alex mulai cemas.

Empat puluh lima menit. Alex pesan gorengan, biar tidak keliatan terlalu menunggu.

Satu jam. Es tehku habis. Gorengan habis. Alex mau pesan lagi, tapi takut kelihatan rakus.

Lalu, ketika Alex hampir menyerah, ia datang.

Mahdalena muncul dari gang Melati. Dengan gamis motif bunga-bunga, jilbab pink, dan senyum malu-malu.

"Maaf, Mas. Telat. Ada urusan."

"Nggak apa-apa. Santai aja."

Kami duduk. Canggung. Sunyi.

"Mas, mau pesan apa?" tanyanya, memecah keheningan.

"Terserah Mbak. Saya traktir."

Ia memesan nasi, sayur lodeh, dan telur balado. Alex ikut pesan nasi dan ayam goreng.

Kami makan dalam diam. Canggung sekali.

Tapi setelah beberapa suap, ia mulai bicara.

"Mas Alex asli mana?"

"Brebes. Rantau ke sini."

"Kerja di proyek?"

"Iya. Tukang batu."

"Keras ya?"

"Biasa. Udah terbiasa."

Ia mengunyah pelan. "Mas Alex... kenapa nulis di tembok saya?"

Alex hampir tersedak. "E... soalnya... saya liat Mbak lewat. Cantik. Pengin kenalan. Tapi nggak berani ngomong langsung. Jadi... nulis."

"Lucu."

"Lucu apa?"

"Lucu... cara Mas Alex PDKT-nya."

"Jelek ya?"

"Bukan jelek. Aneh. Tapi... jujur."

Alex tersenyum. "Mbak Mahdalena... kuliah di mana?"

"Pilitehnik. Semester 1 ambil D3."

"Berarti calon sarjana, ya?"

"D3. Sarjana Muda( Sarmud )"

"Tetep sarjana. Hebat."

Ia tersenyum malu. "Biasa aja."

"Mbak mau kerja?"

"Kalau sudah lusus dan wisuda, mau Daftar CPNS."

"Wah, hebat. Semoga cepat lulus kuliahnya."

"Amin."

Kami ngobrol lama. Dari kuliah, dari kerja, dari asal-usul. Ia cerita tentang keluarganya di kampung, tentang adiknya yang masih sekolah, tentang mimpinya jadi PNS. Alex cerita tentang proyek, tentang Sugeng dan Bejo, tentang kontrakan sempit yang kutempati.

Satu jam berlalu. Dua jam. Warteg mulai sepi. Penjualnya sudah mulai merapikan dagangan.

"Mas, udah sore," kata Mahdalena. "Aku pulang dulu."

"Iya. Saya antar?"

"Deket kok. Di gang."

Kami berjalan bersama. Pelan. Di bawah lampu jalan yang temaram.

Sampai di depan kontrakannya, ia berhenti.

"Mas, makasih ya traktirannya."

"Sama-sama, Mbak."

"Tapi jangan nulis-nulis di tembok lagi."

"Siap. Saya plester besok."

Ia tertawa. "Nggak usah. Biarin aja. Tulisannya jelek, tapi lucu."

Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi. "Mas, besok saya lewat lagi. Seperti biasa."

"Oke. Saya tunggu."

Pintu kontrakan tertutup. Alex berdiri di luar, dengan senyum lebar.

Malam itu, Alex berjalan pulang dengan langkah ringan. Di proyek, lampu-lampu masih menyala. Suara generator bergemuruh. Tapi yang kudengar hanya tawanya. Yang kulihat hanya senyumnya. Yang kurasakan hanya... cinta.

Sugeng, yang sudah menunggu di kontrakan, langsung bertanya begitu Alex masuk.

"Gimana, Lex? Jadi?"

Alex duduk di tikar, masih dengan senyum bego.

"Jadi."

"Dapet?"

"Bukan dapet. Tapi... mulai."

Sugeng tertawa. "Selamat, Lex. Lu resmi jatuh cinta."

Alex berbaring, menatap langit-langit bambu.

"Iya, Geng. Gue jatuh cinta."

Dan untuk pertama kalinya, jatuh cinta rasanya tidak sakit sama sekali.


Setelah malam di warteg, hubungan kami berkembang. Tidak cepat. Tidak juga lambat. Seperti cor semen—perlu waktu untuk mengeras.

Setiap pagi, Alex selalu menyapanya ketika ia lewat. Kadang hanya "Pagi, Mbak" atau "Hati-hati di jalan". Kadang Alex bawakan gorengan atau es teh jika cuaca panas. Kadang kami ngobrol sebentar di pinggir proyek.

Sugeng bilang Alex berubah. Dulu, setiap istirahat, Alex ngobrol sama tukang-tukang lain. Sekarang? Alex selalu cari tempat yang bisa melihat gang Melati. Dulu, Alex makan dengan lahap. Sekarang, makan sambil melamun.

"Lo kenapa, Lex?" tanya Sugeng suatu hari. "Kayak orang kesurupan."

"Gue kesurupan cinta, Geng."

"Cinta tapi lo belum juga ngomong serius. Udah berapa bulan? Tiga?"

"Empat."

"Nah! Empat bulan PDKT. Kapan lo ngelamar?"

"Lamar? Masih jauh, Geng."

"Jauh apanya? Cewek itu kalo udah suka, jangan ditunda. Ntar keburu diambil orang."

"Gue masih mikir, Geng. Dia sarjana. Gue cuma tukang."

"Lo itu, Lex. Terlalu mikirin perbedaan. Kalo dia peduli perbedaan, dari awal dia udah nolak."

Alex diam. Sugeng benar. Tapi hatiku masih ragu.

Suatu malam, setelah Maghrib, Alex putuskan untuk bicara serius. Kami duduk di pematang sawah dekat kontrakannya. Bulan purnama. Suara jangkrik. Sempurna untuk percakapan penting.

"Mbak Mahdalena..."

"Mas, panggil Lena aja."

"Lena..."

"Ya?"

"Gue... gue mau ngomong serius."

Ia menoleh. Matanya mencari-cari.

"Gue cuma tukang bangunan. Penghasilan pas-pasan. Hidup di kontrakan sempit. Nggak punya apa-apa. Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi gue serius sama Lena. Gue mau... mau terus kenal Lena. Mau jadi orang yang bisa Lena andalkan. Meskipun cuma tukang, meskipun nggak punya apa-apa, tapi gue janji, gue bakal jaga Lena sebaik mungkin."

Ia diam. Lama. Lalu ia tersenyum—senyum yang sama seperti pertama kali, dengan lesung pipit di pipi kanan.

"Mas, Aku tahu kok Mas Alex cuma tukang. Aku tahu penghasilan Mas nggak seberapa. Tapi... Aku nggak lihat itu."

"Lena lihat apa?"

"Aku lihat hati Mas. Hati yang tulus. Hati yang mau nulis puisi di tembok meskipun jelek. Hati yang rela traktir makan di warteg. Hati yang selalu ada, setiap pagi, buat nyapa Aku. Itu yang Aku lihat."

Air mataku hampir jatuh. Hampir.

"Lena..."

"Mas, jangan ragu. Aku juga cuma anak kampung. Mau jadi PNS biar bisa bantu keluarga. Kalau Mas mau berjuang sama Aku, kita berjuang bareng."

Alex memegang tangannya. Tangannya yang lembut. Tangannya yang halus. Sangat berbeda dengan tanganku yang kasar dan kapalan.

"Lena, gue janji. Gue bakal kerja keras. Gue bakal cari nafkah. Gue bakal jadi laki-laki yang bisa Lena banggakan."

Ia tersenyum. "Aku percaya, Mas."

Malam itu, di bawah sinar bulan, kami berpegangan tangan. Tidak ada cincin, tidak ada janji muluk. Hanya dua hati yang saling percaya.

Dan itu cukup.


Beberapa minggu kemudian, pemilik kontrakan Mahdalena berniat memplester tembok belakang. Semua tembok bata merah akan dihaluskan, termasuk tembok tempatku menulis puisi pertama.

Tapi Mahdalena memintanya untuk tidak memplester bagian itu.

"Kenapa, Neng?" tanya pemilik kontrakan—seorang ibu paruh baya.

"Itu... kenang-kenangan, Bu."

"Kenang-kenangan?"

"Iya. Dari seseorang."

Ibu itu menggeleng-geleng, tapi mengizinkan. Maka sampai sekarang, tembok itu masih ada. Dengan tulisan kapur yang mulai pudar dimakan usia dan hujan:

"Cinta kita seperti cor semen... sekali jadi, susah dibongkar."
— Alex, tukang batu yang jatuh cinta.

Tulisan itu tetap ada. Seperti cinta kami—sederhana, tapi sulit dibongkar.

Meskipun sekarang, tiga belas tahun kemudian, Alex lebih sering membongkar nasi gosong daripada membongkar tembok. Tapi itu cerita lain.

Yang jelas, dari tembok itulah semuanya dimulai.

Dari coretan kapur seorang tukang bangunan.

Dari keberanian untuk menyapa.

Dari cinta yang tidak pernah takut berbeda.


BAB 2: Cinta Modal Nekat

Malam itu, untuk pertama kalinya, Alex diundang Mahdalena untuk menemani dia jaga warung.

Warungnya bukan warung besar. Hanya etalase kaca di teras depan kontrakannya, berisi aneka sembako murah meriah: mie instan, telur, gula, kopi bubuk, rokok eceran, permen, dan minuman kemasan. Ini usaha sampingan Mahdalena untuk menambah penghasilan sambil kuliah. Setiap malam, dari jam 7 sampai jam 10, ia akan duduk di teras dengan lampu petromak yang mendesis pelan, menunggu pembeli yang kadang datang, kadang tidak.

Alex datang sekitar jam setengah delapan. Sudah mandi, pakai baju bersih, rambut disisir rapi—usaha maksimal seorang tukang untuk terlihat layak di depan gebetannya.

"Mas Alex, masuk sini," sapa Mahdalena dari balik etalase. Ia memakai daster rumah motif bunga-bunga, rambut diikat asal-asalan, tanpa jilbab karena sudah malam dan hanya di rumah. Sederhana. Tapi buatku, tetap cantik.

Alex duduk di kursi plastik di sampingnya. Suasana hening. Hanya suara jangkrik dari sawah belakang dan sesekali suara burung malam.

"Sepi, Mbak?"

"Biasa, Mas. Malam Minggu gini pada pergi. Yang belanja paling bapak-bapak kalau kehabisan rokok."

"Atau anak muda yang mau beli permen buat pacar?"

Mahdalena tersenyum. "Mas Alex, ini warung, bukan toko permen."

"Ya tapi siapa tahu ada yang beli permen buat Mbak."

Dia tertawa kecil. "Mas Alex ini... aneh."

"Udah biasa dibilang aneh. Yang penting aneh tapi serius."

Kami ngobrol ringan. Tentang proyek, tentang tetangga, tentang hal-hal sepele. Tapi Alex bisa merasakan ada yang berbeda malam itu. Matanya kadang menatapku lebih lama dari biasanya. Senyumnya lebih sering muncul. Mungkin karena suasana malam yang romantis—atau mungkin karena lampu petromak yang redup membuat ilusi.

Setelah beberapa jam, ketika sudah tidak ada pembeli, Mahdalena tiba-tiba menghela napas panjang.

"Mas, Aku boleh cerita?"

"Tentu, Mbak."

Dia diam sebentar, seperti mengumpulkan kata-kata. Lalu mulai bicara.

"Mas tahu nggak, kuliah D3 aja butuh biaya gede? Apalagi sekarang adekku juga masih sekolah SMP."

Alex mendengar dengan saksama. Ini pertama kalinya ia bercerita tentang keluarganya secara serius.

"Orangtuku di kampung cuma petani, Mas. Sawah cuma sedikit. Hasilnya pas-pasan. Waktu Aku bilang mau kuliah, mereka jual sapi satu-satunya buat biayain Aku daftar kuliah. Belum lagi adekku mau lanjutin ke SLTA, mereka sudah nggak punya apa-apa lagi."

Alex menggaruk kepala—kebiasaan gugupku. "Berapa, Dik?"

"Jangan panggil Dik. Aku lebih tua dari kamu, tahu!"

"Lah, Mbak kan masih kuliah. Gue juga udah 22."

"Iya, tapi Aku lahir Januari, kamu lahir Desember. Berarti Aku hampir setahun lebih tua. Jadi panggil Mbak, oke?"

"Oke, Mbak." Alex nyengir kuda. "Jadi, berapa biaya yang dibutuhkan?"

Mahdalena menghela napas. "UKT per semester sekitar 4 juta. Belum biaya hidup, buku, dan lain-lain. Total bisa 6-7 juta per semester."

Alex bersiul pelan. "Wah... gede juga."

"Iya, Mas. Makanya Aku lagi mikir keras. Kerja apa lagi biar bisa bayar uang kuliah. Jaga warung begini penghasilannya nggak seberapa."

Alex diam. Memikirkan sesuatu.

"Mas, udah jangan dipikirin. Ini urusan keluargaku. Kamu nggak perlu..."

"Mbak, kalau boleh tahu, rekening Mbak nomornya berapa?"

Mahdalena menatapku curiga. "Buat apa?"

"Nggak... cuma mau tahu."

"Alex, jangan macam-macam."

"Nggak, Mbak. Serius. Cuma... siapa tahu Alex bisa bantu."

"Bantu? Kamu tukang bangunan, gajinya pas-pasan. Masa iya kamu mau bantu biaya kuliah saya?"

"Kenapa nggak?"

Dia terdiam. Matanya melebar—campuran antara terharu dan tidak percaya.

"Alex, kamu ini... serius?"

"Gue serius, Mbak. Urusan Mbak, urusan gue."

"Tapi ini banyak, Alex. Jutaan."

"Gue nabung dikit-dikit. Yang penting Mbak nggak usah pusing."

Mahdalena menatapku lama. Lalu tanpa diduga, ia memukul lenganku pelan.

"Alex, kamu ini... gila."

"Gila apa?"

"Gila... karena mau bantu orang yang baru kamu kenal."

"Gue nggak gila, Mbak. Gue... sayang sama Mbak."

Kata-kata itu meluncur begitu saja. Tanpa direncanakan. Tanpa filter. Alex sendiri kaget.

Mahdalena diam. Wajahnya merah padam, tersembunyi di balik remang lampu petromak.

"Mas... jangan ngomong gitu."

"Maaf. Tapi itu jujur."

Diam lagi. Suasana hening. Berat. Tapi bukan berat yang tidak nyaman. Berat yang penuh arti.

"Alex kasih nomor rekening," bisiknya akhirnya. "Tapi janji, jangan maksain diri."

"Janji, Mbak."

Malam itu, ketika Alex pulang, langit bertabur bintang. Dan hatiku juga.


Besoknya, Alex mulai misi rahasia: mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

Proyek perumahan berjalan seperti biasa. Dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, Alex bekerja di lokasi. Tapi setelah itu, ketika tukang-tukang lain pulang ke kontrakan untuk istirahat atau main domino, Alex punya misi lain.

"Lex, lo mau ke mana?" tanya Sugeng suatu sore, ketika Alex berganti baju dengan cepat.

"Ada urusan."

"Urusan apa? Mau ketemu si Lena?"

"Bukan."

"Terus?"

"Gue ambil proyek sampingan."

Sugeng mengangkat alis. "Proyek sampingan? Lo kan udah kerja dari pagi. Capek, tolol."

"Daripada di kontrakan bengong."

"Ngecor hati lo udah keras, Lex. Tapi ngecor rumah orang, lo mau nambah-nambah?"

Gue nggak jawab. Langsung cabut.

Proyek sampingan pertamAlex: ngecat rumah Pak RT.

Rumah Pak RT—bapak paruh baya dengan kumis tebal dan suara berat—butuh cat ulang untuk ruang tamu. Ukurannya 4x5 meter. Lumayan.

"Mas Alex, bisa cat?" tanya Pak RT waktu itu.

"Siap, Pak. Saya biasa ngecat tembok proyek."

"Warna putih aja. Yang bersih."

"Oke, Pak."

Tiga hari Alex ngecat rumah Pak RT. Pulang proyek jam 4, langsung ke rumah Pak RT, cat sampai jam 8 malam. Capek? Jangan ditanya. Tangan pegal, leher kaku, mata perih kena bau cat. Tapi setiap kali capek melanda, Alex ingat wajah Mahdalena. Dan semangatku kembali.

Hasilnya? 300 ribu rupiah.

Proyek sampingan kedua: bantu pindahan rumah warga.

Ada keluarga di ujung desa yang pindah ke kota. Mereka butuh tenaga untuk angkat-angkat perabot. Alex datang dengan Sugeng—yang akhirnya ikut karena penasaran.

"Lo nggak waras, Lex," gerutu Sugeng sambil mengangkat lemari. "Demi cewek, lo rela jadi kuli pindahan."

"Lo juga kuli, Geng. Bedanya lo dibayar."

"Iya tapi lo dibayar buat apa? Buat modal nikah sama si Lena?"

"Buat modal bantu Lena kuliah."

Sugeng menghentikan langkah. "Lena? Lo mau bantu biaya kuliah Lena?"

"Iya."

"Lo tahu berapa?"

"UKT 4 juta per semester. Plus biaya hidup."

Sugeng meletakkan lemari. Matanya melotot.

"Lo gila total, Lex. Gila berat. Udah tau gajimu pas-pasan, lo mau nanggung beban orang?"

"Bukan beban, Geng. Tanggung jawab."

"Tanggung jawab apa? Lo belum nikah sama dia!"

"Tapi gue sayang sama dia."

Sugeng menghela napas panjang. Lalu menepuk pundakku.

"Lex, lo itu... bodoh. Tapi bodoh yang mulia. Ayo lanjut angkat lemari."

Kami tertawa. Lalu melanjutkan pekerjaan.

Proyek pindahan itu selesai dalam dua hari. Hasilnya: 200 ribu.

Proyek sampingan ketiga: bantu bangun kandang ayam.

Ini proyek paling aneh. Ada warga yang mau bikin kandang ayam kampung skala kecil. Butuh tukang. Alex datang, bantu pasang bambu, bikin atap, dan bikin pagar kawat. Tiga hari kerja. Hasilnya: 250 ribu.

Dua minggu berlalu. Tabunganku mulai terkumpul. Ditambah gaji proyek utama, plus lembur yang kuambil setiap malam minggu, total terkumpul sekitar 3 juta rupiah.

Pas. 3 juta rupiah. Lebih dari cukup untuk setengah UKT  Mahdalena.

Alex tersenyum puas. Sekarang tinggal transfer.


Hari Sabtu pagi, Alex ke bank. Bank swasta kecil di pinggir kota. Antriannya panjang. Tapi Alex sabar. Ini demi Mahdalena.

Setelah satu jam mengantri, akhirnya tiba giliranku.

"Mau transfer, Mbak," kataku pada teller.

"Ke rekening apa, Pak?"

Alex merogoh saku, mencari kertas kecil berisi nomor rekening yang Mahdalena kasih. Kertas itu sudah lusuh karena sering kubaca—seperti puisi cinta.

"Nomornya 7890 ya, Mbak? Atas nama Mahdalena."

Teller mengetik. "Mahdalena... dengan 'a' apa 'i', Pak?"

"A. Mahdalena."

Teller mengetik lagi. Wajahnya berubah sedikit bingung.

"Pak, di data saya, rekening 7890 ini atas nama Mahdaleni. Dengan 'i'. Bukan 'a'. Apakah Bapak yakin?"

Alex mengerutkan dahi. "Mahdaleni? Siapa itu?"

"Di KTP tertulis Mahdaleni. Alamat di kos-kosan daerah kampus. Apakah benar?"

Alex berpikir keras. Mahdalena bilang punya teman kuliah. Mungkin temannya tinggal di kos. Pasti itu rekening temannya. Iya, pasti.

"Iya, Mbak. Itu rekeningnya. Saya transfer aja."

"Nominalnya berapa, Pak?"

"Tiga juta."

Teller mengangkat alis. "Tiga juta? Banyak sekali."

"Untuk UKT, Mbak. Kuliah."

"Oh, gitu. Baik, Pak. Silakan isi formulir."

Alex isi formulir dengan hati-hati. Setiap huruf kutulis dengan rapi. Ini bukan sekadar transfer. Ini bukti cinta.

Proses selesai. Uang 3 juta berpindah dari rekeningku ke rekening Mahdaleni—entah siapa itu.

Alex pulang dengan senyum lebar. Dalam hati, Alex sudah membayangkan bagaimana Mahdalena akan tersenyum ketika tahu Alex bantu uang kuliahnya. Mungkin ia akan terharu. Mungkin ia akan bilang, "Mas Alex, makasih." Mungkin—siapa tahu—ia akan bilang, "Mas, Aku mau sama Mas."

Alex melamun sampai nyengir sendiri di angkot.

Sugeng, yang kutemui di kontrakan, langsung curiga.

"Lo kenapa, Lex? Nyengir kayak kuda."

"Gue habis transfer, Geng."

"Transfer? Transfer apa?"

"Buat biaya kuliah si Lena."

Sugeng melongo. "Berapa?"

"Tiga juta."

Sugeng hampir jatuh dari kursi. "TIGA JUTA?! Lo gila total!"

"Udah, Geng. Ikhlas."

"Lo ikhlas, gua yang sakit. Tiga juta! Itu tabungan lo berapa bulan?"

"Setengah tahun."

"SETENGAH TAHUN?! Lo kerja banting tulang setengah tahun, transfer semua ke orang yang bahkan belum jadi apa-apa buat lo?"

"Calon istri, Geng."

"Calon! Kata kunci: CALON! Belum sah! Belum nikah! Belum apa-apa!"

"Tapi gue yakin."

Sugeng memegang kepala. "Ya Allah, Lex. Lo itu... investor cinta. I nvestor cinta modal nekat."

Alex tertawa. "Biarin. Yang penting gue bahagia."

"Bahagia lo, dompet lo nangis."

Tapi Alex cuek. Yang penting sudah transfer. Sisanya, serahkan pada takdir.


Seminggu kemudian.

Alex sedang asyik mengecor lantai rumah nomor 42. Sugeng di sebelah, masih sibuk mengaduk semen. Suasana seperti biasa—panas, berdebu, dan penuh candaan.

Tiba-tiba, dari kejauhan, terlihat sosok berlari ke arah proyek. Gaun panjang, jilbab merah muda, wajah... merah padam.

Mahdalena.

Tapi ini bukan Mahdalena yang biasa kulihat. Ini Mahdalena versi lain: mata melotot, alis hampir menyatu, rahang mengeras. Ia berjalan cepat, mendekat, tanpa peduli debu dan pandangan aneh para tukang.

Sugeng, yang melihat dari jauh, langsung menepuk pundakku.

"Lex, lo liat itu? Kayaknya ada masalah."

Alex menengadah. Jantungku langsung berdebar tidak karuan.

"ALEX!"

Suaranya memecah kebisingan proyek. Semua tukang berhenti bekerja. Mandor berhenti teriak-teriak. Bahkan mesin molen seolah ikut diam.

Alex berdiri, cetok masih di tangan.

"I-iya, Mbak?"

Mahdalena sudah di depanku. Napasnya terengah-engah. Matanya merah—bukan karena nangis, tapi karena marah. Marah besar.

"Alex! Lu transfer kemarin ke mana sih?!"

Alex bingung. "Ke rekening  lo, kan? 7890."

"ITU REKENING TEMEN KOS GUE! NAMANYA MAHDALENI! BUKAN MAHDALENA! GEDEBUG!"

Dunia serasa berhenti.

Alex diam. Sugeng diam. Semua tukang diam.

"Ha?"

"Ha apa ha! Tiga juta, Alex! TIGA JUTA! Masuk ke rekening orang lain!"

Keringat dingin mengucur deras di punggungku. Jantungku berhenti—atau setidaknya itu yang kurasakan.

"M-maksud Mbak...?"

"Mak sud! Minggu lalu temenku nelpon, nanya ada transferan masuk ke rekeningnya. Dari atas nama Alex yang transfer. Temanku bingung !"

Mahdalena memegang kepala. Alex bisa melihat air matanya hampir tumpah—bukan sedih, tapi frustrasi.

"Siapa Mahdaleni?" tanyaku lirih.

"Temen kuliahku! Namanya mirip! Nomor rekeningnya mirip! Dan lu... lu nggak ngecek!"

"Tapi Mbak, dulu Mbak kasih nomor..."

"Aku kasih nomorku! Bukan nomor temennya! Harusnya lu tanya! 'Ini punya siapa?' GITU! TAPI LU LANGSUNG TRANSFER!"

Alex terdiam. Bersalah total.

Sugeng, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara.

"Mba Lena, tenang dulu. Mungkin masih bisa dikejar."

Mahdalena menatap Sugeng. "Dikejar? Ke mana? Uang sudah masuk rekening orang! Tiga juta! ALEX! TIGA JUTA!"

Alex garuk-garuk kepala—kebiasaan gugup. "Maaf, Mbak. Gue... gue kira itu rekening  Mbak."

"KIRA? KIRA? Lu nggak boleh kira-kira kalau urusan uang! Ini uang hasil kerja keras lu! Setengah tahun nabung! Dan lu transfer ke orang lain!"

Alex tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa tertunduk.

Suasana hening. Semua tukang memandang dengan iba. Mandor—Pak Haji Rudi—mendekat.

"Ada apa, Lex?"

"Ini... salah transfer, Pak."

"Salah transfer berapa?"

"Tiga juta."

Pak Haji bersiul. "Wah, gawat."

Mahdalena mulai menangis. Tangis frustrasi. Tangis putus asa.

Alex ingin memeluknya, tapi tidak berani. Ini salahku. Salah total.

Tapi tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara motor. Seorang perempuan muda turun dari boncengan ojek. Wajahnya... mirip Mahdalena? Tidak. Tapi mirip-mirip.

"Lena!" teriaknya.

Semua menoleh. Perempuan itu berlari mendekat. Rambutnya panjang, jilbab warna hijau, wajah agak bulat. Ia langsung memeluk Mahdalena.

"Lena, maaf! Maaf! Aku baru sadar! Ada uang masuk ke rekeningku tiga juta! Aku pikir dari siapa, ternyata dari pacarmu!"

Mahdalena melepaskan pelukan. Matanya membelalak.

"Daleni?"

"Iya! Ini uangnya! Aku tarik tunai! Aku kembalikan!"

Perempuan itu—Mahdaleni, teman kuliah Mahdalena—mengeluarkan amplop cokelat tebal. Menyerahkannya ke Mahdalena.

"Ini uang tiga juta. Maaf banget, Aku nggak Gengaja. Rekening kita kan mirip, cuma beda huruf terakhir. Aku juga baru tahu setelah cek saldo tadi pagi. Langsung Aku tarik dan cari kamu."

Mahdalena menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Wajahnya berubah dari merah padam menjadi... bingung. Campur aduk.

"Ini... uangku?"

"Uang pacarmu! Cepat dihitung!"

Mahdalena membuka amplop. Menghitung. Satu per satu. Tiga juta pas.

Ia menatapku. Lalu menatap Mahdaleni. Lalu menatap amplop. Lalu...

Tertawa.

Awalnya tawa kecil. Lalu tawa yang lebih keras. Lalu tawa yang menggelegar, sampai keluar air mata. Ia tertawa sambil memegangi perut. Tertawa seperti orang kesurupan.

Semua tukang ikut tertawa—meski tidak tahu apa yang lucu. Sugeng tertawa paling keras. Pak Haji ikut tertawa. Bahkan Mahdaleni ikut tertawa meski bingung.

Alex? Alex cuma bisa nyengir kuda.


Sore harinya, setelah kehebohan reda, kami duduk di warung Bu RT. Alex, Mahdalena, Sugeng, dan Mahdaleni yang masih penasaran.

"Jadi gini ceritanya," jelas Mahdalena pada Mahdaleni. "Alex ini... tukang bangunan. Dia mau bantu biaya kuliahku. Tapi dia salah transfer ke kamu."

Mahdaleni menatapku dengan mata berbinar. "Mas Alex, beneran mau bantu biaya kuliah  Lena?"

"Iya."

"Padahal kalian belum nikah?"

"Belum."

"Padahal kalian baru pacaran?"

"Setengah tahun."

Mahdaleni bersiul. "Wah, langka. Laki-laki seperti ini langka, Lena."

Mahdalena tersipu. "Iya sih... tapi bodohnya minta ampun."

Sugeng, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.

"Lex, lu bukan tukang... lu investor cinta! Tapi gagal fokus, salah saham!"

Semua tertawa. Alex ikut tertawa. Tapi dalam hati, Alex senang. Uang kembali. Mahdalena tertawa. Semua baik-baik saja.

"Tapi serius, Lex," lanjut Sugeng. "Lo harusnya ngecek dulu sebelum transfer. Ini mah salah sasaran."

"Makanya, lain kali tanya dulu," timpal Mahdaleni. "Kalau transfer ke Aku lagi, Aku nggak jamin dikembalikan."

Alex mengangkat tangan. "Sumpah, nggak akan salah lagi."

Mahdalena menatapku. Matanya—setelah sempat merah padam—sekarang lembut. Lembut seperti pertama kali kami bertemu.

"Alex, makasih ya. Tapi jangan gila-gilaan lagi. Gue nggak enakan."

Alex menatap balik. Tanpa berpikir panjang, jawaban spontan keluar.

"Makanya jadi istri gue."

Diam.

Sugeng tersedak kopi. Mahdaleni melebarkan mata. Bu RT yang sedang melayani pembeli ikut menoleh.

Mahdalena... wajahnya merah padam. Merah seperti cabai.

"A-Alex... ngomong apa sih lo?"

"Gue serius."

"Di depan umum gini?"

"Di mana aja gue serius."

Sugeng mulai bersiul-siul. Mahdaleni senyum-senyum. Bu RT berbisik pada pembeli, "Itu Alex lagi ngelamar."

Mahdalena makin merah. Tapi di balik merah itu, ada senyum kecil yang disembunyikan.

"Alex, lo... gila."

"Udah sering dibilang gila. Yang penting lo tahu."

Diam lagi. Lalu tiba-tiba, Mahdalena memukul lenganku. Pelan.

"Diam lo."

Tapi ia tersenyum. Senyum yang sama seperti pertama kali di depan tembok bata merah.

Sugeng berseru, "Wah, ditolak halus!"

Alex cengar-cengir. "Nggak apa-apa. Yang penting usaha."

Mahdaleni berdiri. "Aku pamit dulu. Lena, Mas Alex, semoga lancar. Kalau nikah, jangan lupa undang Aku."

"Iya, iya," jawab Mahdalena, masih malu-malu.

Setelah Mahdaleni pergi, Sugeng juga pamit. Tinggal Alex dan Mahdalena di warung Bu RT. Lampu-lampu mulai menyala. Malam mulai turun.

"Alex..."

"Hm?"

"Makasih ya. Sungguh."

"Buat apa?"

"Buat semuanya. Buat usaha lo. Buat niat baik lo. Buat... tawaran lo tadi."

Alex menoleh. Wajahnya tenang. Teduh.

"Gue serius, Lena. Bukan bercanda."

"Aku tahu."

"Terus?"

"Terus... Aku butuh waktu. Buat mikir. Buat siap."

"Gue bisa nunggu."

"Berapa lama?"

"Sampai lo bilang iya."

Ia tersenyum. Lalu memukul lenganku lagi. Pelan. Lalu bangkit.

"Aku pulang dulu."

"Gue anter."

"Jangan. Deket kok."

"Iya... hati-hati."

Ia melangkah pergi. Di tengah jalan, ia menoleh.

"Alex!"

"Ya?"

"Besok Aku lewat. Seperti biasa. Jangan lupa sapa."

Alex tersenyum lebar. "Pasti."

Ia pergi, hilang di balik lampu jalan yang temaram. Alex duduk di warung, dengan senyum bego, dan hati yang melayang.

Bu RT menghampiri. "Nak Alex, jatuh cinta ya?"

"Iya, Bu."

"Jatuh cinta itu boleh. Tapi jangan jatuh-jatuh amat. Ntar sakit."

Alex tertawa. "Siap, Bu."

Malam itu, Alex pulang dengan langkah ringan. Tiga juta rupiah sudah kembali. Tapi yang lebih berharga, hatiku sudah berpindah tempat.

Ke Mahdalena.


Besoknya, kabar tentang insiden transfer menyebar cepat di proyek. Tukang-tukang yang kemarin tidak melihat langsung, sekarang berkumpul di lokasi istirahat.

"Lex, bener lo salah transfer tiga juta?" tanya Bejo—tukang yang tidur ngorok.

"Iya."

"Ke rekening siapa?"

"Temen kuliahnya Mahdalena."

Semua tukang tertawa. Sugeng, dengan bangganya, menceritakan ulang dengan versi yang lebih dramatis.

"Jadi gini ceritanya! Lex dikasih nomor rekening sama si Lena. Tapi nomornya mirip sama temen kuliahnya. Nah, tanpa ngecek, langsung transfer! Tiga juta! Begitu tahu salah, si Lena marah-marah kayak macan ompong! Untung uangnya balik!"

Semua tertawa. Alex cuma bisa garuk-garuk kepala.

"Lu itu, Lex," kata Pak Haji Rudi. "Kerja bagus, ngecor rapi. Tapi kalau urusan cinta, lu masih cupu."

"Iya, Pak. Masih belajar."

"Nah, belajar yang bener. Jangan sampai salah transfer lagi. Ntar transfer perasaan lo ke orang lain."

Semua tertawa lagi.

Tapi di balik tawa itu, ada satu hal yang membuatku tersenyum. NamAlex sekarang terkenal di proyek. Bukan karena keahlian ngecor. Tapi karena jadi investor cinta yang salah sasaran.

Dan setiap kali ada yang ngejek, Alex selalu ingat tawa Mahdalena. Tawa lepas yang pertama kali kudengar. Tawa yang membuat semua rasa malu ini terbayar lunas.

Demi tawa itu, Alex rela salah transfer seratus kali pun.

Tapi untungnya, tidak perlu.


Beberapa hari kemudian, Mahdalena mengajakku ngobrol serius. Kami duduk di pematang sawah, tempat favorit kami.

"Alex, Aku mau ngomong."

"Ya, Mbak."

"Jangan panggil Mbak. Lena aja."

"Ya, Lena."

Ia diam sebentar. Memandangi bulan yang bulat sempurna di langit.

"Alex... Aku nggak nyangka."

"Nggak nyangka apa?"

"Nggak nyangka ada laki-laki yang mau berbuat sebanyak ini buat Aku. Buat keluargaku."

"Ya... gue sayang Lena."

"Tapi kita baru kenal beberapa bulan."

"Gue nggak lihat lama atau sebentar. Gue lihat hati. Hati Lena baik. Hati Lena tulus. Itu yang gue kejar."

Ia tersenyum. Lalu tanpa diduga, ia menyandarkan kepala di bahuku.

Untuk pertama kalinya.

"Alex, makasih."

"Sama-sama, Lena."

"Tapi janji."

"Apa?"

"Janji, lain kali kalau mau bantu Aku, tanya dulu. Jangan asal transfer. Jangan maksain diri. Jangan gila-gilaan."

Alex tertawa kecil. "Janji."

"Terus... jangan ngelamar di depan umum gitu. Malu."

"Berarti kalau di tempat sunyi boleh?"

Ia memukul lenganku. Lagi. Tapi kali ini lebih keras.

"Diem lo."

Alex tertawa. Ia ikut tertawa. Malam itu, di bawah sinar bulan, kami tertawa bersama. Tawa yang menghapus semua rasa canggung. Tawa yang membuat jarak di antara kami semakin tipis.

"Aku mau bilang sesuatu, Alex."

"Apa?"

"Alex... Aku juga sayang sama lo."

Jantungku berhenti. Lalu berdetak kencang. Lalu berhenti lagi. Lalu kencang lagi.

"Beneran?"

"Iya."

"Lo serius?"

"Iya."

"Lo nggak bercanda?"

"Alex, berhenti nanya."

Tapi Alex sudah tidak bisa berhenti. Alex ingin berdiri, ingin berteriak, ingin terbang. Tapi Alex hanya bisa duduk di sampingnya, dengan senyum bego, dan hati yang meledak-ledak.

"Lena..."

"Ya?"

"Gue janji. Gue bakal jadi laki-laki terbaik buat Lena. Bakal kerja keras. Bakal jaga Lena. Bakal..."

"Udah, udah. Aku percaya."

Ia memegang tanganku. Tanganku yang kasar, kapalan, penuh bekas kerja. Ia pegang erat.

"Ini tangan tukang bangunan," bisiknya. "Tangan yang bekerja keras. Tangan yang jujur. Aku suka tangan ini."

Air mataku hampir jatuh. Tapi kutahan.

"Lena... gue orang nggak mampu. Cuma tukang. Hidup di kontrakan sempit. Masa depan nggak jelas. Tapi gue janji, gue bakal..."

"Alex, cukup."

Ia menatapku.

"Aku nggak butuh janji muluk. Aku nggak butuh uang banyak. Aku cuma butuh... kamu. Kamu yang sekarang. Kamu yang nulis puisi di tembok. Kamu yang salah transfer. Kamu yang ngajak makan di warteg. Itu kamu. Dan itu cukup."

Malam itu, untuk pertama kalinya, Alex merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia.


Setelah insiden transfer, julukanku di proyek berubah. Bukan "Alex si tukang batu" lagi. Tapi "Alex si investor cinta".

"Investor cinta, kerja!" teriak mandor setiap pagi.

"Siap, investor!" jawab tukang-tukang lain.

Alex cuma tersenyum. Biar saja.

Toh, investasiku tidak salah sasaran. Meskipun sempat nyasar ke Mahdaleni, akhirnya balik ke Mahdalena. Dan hasilnya? Bunga yang didapat bukan uang. Tapi cinta.

Bunga terbaik dari investasi terbodohku.

Dan setiap malam, sebelum tidur, Alex selalu ingat tawanya. Tawa yang membuat semua lelah hilang. Tawa yang membuatku yakin: demi perempuan ini, Alex rela melakukan apa pun.

Termasuk salah transfer. Lagi.

Tapi semoga tidak.


BAB 3: Wisuda dan Air Mata Tukang

Tiga tahun.

Tiga tahun sejak Alex pertama kali menulis puisi di tembok bata merah. Tiga tahun sejak insiden transfer yang membuatku dijuluki "investor cinta". Tiga tahun penuh perjuangan, kerja keras, dan cinta yang terus tumbuh.

Dan hari ini, akhirnya tiba: wisuda Mahdalena.

Sejak seminggu lalu, Alex sudah tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena gugup, tapi karena mikirin baju. Ini wisuda! Momen penting! Momen di mana Alex akan terlihat di depan keluarga Mahdalena, di depan teman-temannya, di depan semua orang. Alex harus tampil sempurna.

Tapi masalahnya: tukang bangunan mana yang punya koleksi baju kondangan?

Maka pagi-pagi buta, sebelum subuh, Alex sudah bangun. Sugeng masih ngorok di samping. Bejo juga masih pulas. Alex melangkah hati-hati ke kamar mandi, mandi dengan air sumur yang dinginnya menusuk tulang. Tapi tidak apa. Ini untuk Mahdalena.

Setelah mandi, Alex memakai pakaian terbaik yang kupunya: kemeja putih lengan panjang—yang sudah kusetrika berkali-kali sampai licin—dan celana hitam bahan. Tapi Alex melihat diri di cermin pecah. Sesuatu kurang. Ini belum cukup.

"Kemeja putih itu biasa," gumamku. "Ini wisuda. Harus spesial."

Maka Alex putuskan: ke pasar pagi. Beli baju baru.


Pasar pagi di pinggiran kota mulai ramai ketika Alex tiba pukul setengah enam. Para pedagang sudah membuka lapak. Sayur-mayur, ikan asin, bumbu dapur, dan—di bagian paling ujung—penjual pakaian.

Alex berjalan cepat melewati genangan air dan tumpukan sampah. Bau amis menyengat, tapi Alex tahan. Ini demi cinta.

"Mas, mau cari apa?" sapa seorang ibu paruh baya dengan lapak pakaian pria.

"Buat wisuda, Bu. Yang keren."

"Ibu punya banyak. Ini, batik. Lagi trend."

Ia mengeluarkan beberapa lembar kemeja batik. Motifnya macam-macam: parang, kawung, mega mendung. Alex tertarik pada yang mega mendung—motif awan biru, cocok dengan nama desa kami.

"Ini berapa, Bu?"

"Yang ini 150 ribu, Mas. Batik cap, bukan printing. Kualitas bagus."

"Boleh kurang, Bu?"

"Udah harga pas, Mas. Untuk wisuda, masak nawar?"

Alex garuk-garuk kepala. "Iya juga. Ya udah, saya ambil."

Alex bayar 150 ribu. Lumayan, setengah hari kerja. Tapi tidak apa. Ini investasi.

Ibu itu membungkus rapi. "Coba dulu, Mas. Pastikan ukuran pas."

Alex buka bungkusnya. Kemeja batik biru dengan motif mega mendung. Cantik. Alex coba di tempat—ngepas di badan. Tapi karena buru-buru, Alex tidak lihat detail.

"Pas, Bu. Makasih."

Alex berlalu, puas. Tidak sadar bahwa di ketiak kiri, ada sobekan kecil—jahitan lepas, mungkin karena kelamaan digantung.

Tapi Alex tidak tahu. Dan akan tahu beberapa jam kemudian.


Pukul 7 pagi, Alex kembali ke kontrakan. Sugeng sudah bangun, sedang minum kopi di teras.

"Wah, baju baru, Lex?" tanyanya begitu melihat bungkusan.

"Iya. Batik. Buat wisuda si Lena."

"Coba liat."

Alex buka bungkusnya. Sugeng mengamati dengan mata sipitnya.

"Bagus, Lex. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Lo tahu nggak, warna biru itu kurang cocok sama lo."

"Emangnya lo stylist?"

"Gue bukan stylist, tapi gue tahu. Lo tuh kalau pake biru, keliatan kayak... tukang las."

"Emangnya lo pernah lihat tukang las pake batik?"

"Ya nggak. Tapi imajinasi gue ke situ."

Alex menghela napas. "Geng, lo nggak membantu."

"Gue cuma kasih saran. Terserah lo."

"Ada saran lain?"

"Sepatu. Lo pake sepatu apa?"

Alex menunjuk sepatu hitam di pojok. Sepatu pantofel murahan yang sudah pudar warnanya.

"Itu? Lo mau pake itu?"

"Kenapa? Kan sepatu."

"Sepatu lo udah kayak bekas dipake main bola."

"Gue nggak punya uang buat beli sepatu baru, Geng. Udah abis buat batik."

Sugeng diam. Lalu matanya berbinar.

"Gue punya ide. Pinjem sepatu mandor."

"Sepatu mandor?"

"Iya. Pak Haji Rudi punya sepatu pantofel bagus. Item, mengkilap. Lo pinjem aja."

"Masak pinjem sepatu?"

"Daripada pake sepatu lo yang udah kusam? Masa iya wisuda pake sepatu lusuh?"

Alex berpikir. Sugeng ada benarnya juga.

"Tapi ukurannya?"

"Pak Haji kan gede. Sepatunya pasti ukuran 42 atau 43. Lo 40. Mungkin kebesaran, tapi bisa diakalin."

"Diakalin gimana?"

"Pake kaos kaki tebel. Atau diisi koran."

Alex garuk-garuk kepala. "Ini saran lo atau saran orang gila?"

"Gila tapi logis."

Akhirnya, Alex meminjam sepatu Pak Haji. Beliau baik, mengizinkan. Sepatu hitam mengilap ukuran 42. Pas di mata, tapi tidak di kaki.

Tapi tidak apa. Yang penting mengilap.


Pukul 8 pagi, Alex berangkat ke Gedung Serbaguna Kabupaten. Naik angkot dengan hati berdebar.

Sepanjang jalan, Alex membayangkan Mahdalena. Dua tahun berlalu, dan kami semakin dekat. Setiap minggu, Alex selalu menyempatkan waktu untuknya. Kadang hanya ngobrol di warung, kadang jalan-jalan ke sawah, kadang bantu dia jaga warung. Hubungan kami tidak seperti pacaran kebanyakan—tidak ada dinner romantis, tidak ada hadiah mahal, tidak ada liburan mewah. Tapi ada kejujuran. Ada ketulusan. Ada cinta yang tumbuh dari hal-hal sederhana.

Dan hari ini, dia akan diwisuda. Menjadi seorang ahli madya—lulusan D3. Gelar yang mungkin kecil bagi orang kaya, tapi besar bagi kami.

Di angkot, Alex duduk di samping bapak-bapak berpakaian rapi. Mungkin pegawai dinas, mungkin juga tamu undangan.

"Mau ke gedung serbaguna, Pak?" tanyanya.

"Iya, Pak. Ada wisuda."

"Anak?"

"Calon istri."

Bapak itu tersenyum. "Wah, hebat. Semoga lancar."

"Makasih, Pak."

Alex tersenyum bangga. Meskipun dalam hati, ada sedikit cemas. Bagaimana kalau keluarganya tidak suka padaku? Bagaimana kalau teman-temannya meremehkan? Bagaimana kalau...

Ah, sudah. Nikmati aja.


Gedung Serbaguna Kabupaten tampak megah. Bendera-bendera berjejer di depan. Spanduk-spanduk ucapan selamat bergantungan. Mobil-mobil bagus parkir rapi. Orang-orang berpakaian rapi keluar masuk.

Alex turun dari angkot dengan perasaan campur aduk. Sepatu ukuran 42 membuat jalanku seperti penguin. Kaku, canggung, dan sedikit oleng.

Tapi Alex berusaha tegap. Ini wisuda. Harus percaya diri.

Alex cari-cari Mahdalena. Tidak ada di luar. Mungkin masih di dalam. Alex tunggu di depan pintu utama, di antara kerumunan keluarga dan tamu undangan.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dan keluarlah...

Mahdalena.

Cantik.

Beneran cantik.

Toga hitam dengan jubah hitam panjang. Di kepalanya, topi toga dengan jumbai emas. Di tangannya, map ijazah. Wajahnya berseri-seri, lesung pipit di pipi kanan terlihat jelas.

Dia berjalan keluar ditemani beberapa teman. Semua cewek. Mereka berfoto bersama, tertawa, bergaya.

Alex diam dari kejauhan. Memandang dengan hati berdebar.

Mahdalena menoleh. Matanya mencari-cari. Lalu bertemu dengan mataku.

Ia tersenyum. Senyum yang sama seperti pertama kali di depan tembok bata merah. Lalu ia melambai.

"ALEX! SINI!"

Alex berjalan mendekat. Sepatu ukuran 42 membuat langkahku tidak stabil. Tapi Alex berusaha tegap.

Begitu sampai di depannya, Mahdalena langsung menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Matanya melebar. Lalu... ia menahan tawa.

"Alex... itu baju apa?"

Alex melihat ke bawah. Batik mega mendung. Celana hitam bahan. Sepatu mengilap. Apa yang salah?

"Batik wisuda. Bagus, kan?"

"Bagus sih... tapi..."

Ia mendekat. Menunjuk ke ketiak kiriku.

"Sobek itu di ketiak."

Sial.

Alex lihat ke ketiak. Betul. Sobekan sepanjang lima sentimeter. Jahitan lepas. Mungkin karena gerakanku yang kaku, sobekan makin besar. Kainnya menggantung sedikit.

"Astagfirullah," bisikku.

Teman-teman Mahdalena mulai terkikik. Mahdalena masih menahan tawa.

"Di mana beli, Alex?"

"Pasar pagi."

"Berapa?"

"Seratus lima puluh."

"Ya Allah, Alex. Ketipu. Itu batik cap berkualitas rendah. Sobekan gini mah udah dari sananya."

Alex garuk-garuk kepala. "Gue nggak liat tadi. Buru-buru."

"Sepatunya pinjam?"

"Kok tahu?"

"Karena ukurannya kebesaran. Lo jalan kayak penguin."

Teman-temannya tertawa. Mahdalena akhirnya ikut tertawa. Alex cuma bisa nyengir kuda.

"Maaf, Lena. Gue udah berusaha maksimal."

Mahdalena memelukku. Tiba-tiba. Tanpa peduli teman-temannya melihat.

"Alex, lo itu... bodoh. Tapi bodoh yang bikin Alex terharu."

Alex terharu. Tapi juga bingung.

"Terus, gue harus foto gini? Sobekan kelihatan?"

Mahdalena melepas pelukan. Ia memandangku dengan mata berbinar.

"Lo foto aja. Yang penting lo ada di sini. Buat Aku."

Alex tersenyum. "Oke."


Sesi foto dimulai.

Pertama, foto dengan Mahdalena dan teman-temannya. Alex berdiri di samping, kaku. Sobekan ketiak kupingit rapat-rapat.

"Mas, santai aja," kata salah satu temannya. "Jangan tegang."

"Gue... gue lagi nyoba."

"Nyoba apa?"

"Nyoba biar sobekannya nggak keliatan."

Semua tertawa. Mahdalena tertawa paling keras.

Kedua, foto berdua dengan Mahdalena. Ia memeluk lenganku, menyandarkan kepala di bahuku—meskipun harus sedikit jinjit karena badanku lebih tinggi.

"Alex, senyum."

Alex senyum. Tapi mungkin terlalu lebar.

"Alex, jangan senyum kayak kuda."

Gue coba senyum normal. Tapi mungkin masih kelihatan kaku.

"Ya udah, gue yang foto aja. Lo diem."

Foto jadi. Mahdalena memeriksa hasilnya di kamera temannya.

"Ini bagus. Lo keliatan... lo."

"Maksudnya?"

"Maksudnya, lo keliatan tulus. Nggak maksain."

Alex tersenyum. Kali ini tulus.


Acara wisuda selesai. Sekarang saatnya prosesi penerimaan ijazah di panggung. Keluarga dan tamu undangan dipersilakan masuk ke dalam gedung. Alex duduk di barisan belakang, dekat pintu. Tidak berani maju karena tAlext sobekan makin kelihatan.

Ruang aula besar. Penuh. Ratusan wisudawan duduk rapi di kursi masing-masing. Keluarga mereka di tribun. Suasana meriah, tapi juga khidmat.

Satu per satu nama dipanggil. Satu per satu wisudawan naik panggung, menerima ijazah, berfoto dengan rektor, lalu turun. Tepuk tangan bergemuruh setiap kali.

Alex menunggu. Tidak sabar.

"Mahdalena binti Yono!"

Namanya dipanggil. Jantungku berhenti.

Alex melihatnya berdiri. Melangkah ke panggung dengan anggun. Jubah hitamnya melambai pelan. Topi toganya sedikit miring—tapi itu justru membuatnya terlihat manis.

Ia naik panggung. Menerima ijazah. Berjabat tangan dengan rektor. Tersenyum ke arah kamera. Lalu...

Ia menoleh ke arah tribun. Mencari.

Mencari Alex.

Dan ketika matanya bertemu dengan matAlex, ia tersenyum. Senyum khusus. Senyum yang hanya untukku.

Saat itulah... Alex menangis.

Bukan isak tangis elegan. Bukan air mata haru yang diam-diam jatuh. Ini tangis bahagia yang keluar dari relung hati paling dalam. Isakanku keras, tidak terkendali. Air mataku tumpah seperti hujan deras. Hidungku mulai meler. Tanganku berusaha mengusap, tapi air mata terus mengalir.

Bapak-bapak di sebelahku—yang tadi di angkot—menoleh dengan heran.

"Nangis, Pak? Anak?"

"Calon Istri," jawabku terisak.

Bapak itu melongo. "Istri? Berarti belum nikah?"

"Ca-calon istri."

"Calon istri aja nangis? Nanti kalau nikah gimana?"

Gue nggak jawab. Terlalu sibuk nangis.

Di depanku, beberapa ibu-ibu mulai terharu melihatku. Salah satu mengelus pundakku.

"Sabarlah, Nak. Ini kebahagiaan."

"Ini... ini bahagia, Bu. Bukan sedih."

"Iya, iya. Tapi nangisnya kebanyakan."

Gue coba berhenti. Tapi begitu melihat Mahdalena turun panggung dan melambai ke arahku, tangisku makin jadi.

Gue nangis seperti banjir bandang.


Setelah acara selesai, kami berkumpul di luar. Mahdalena mencari-cari Alex. Begitu melihat wajahku yang sembab dan mata merah, ia terkejut.

"Alex? Lo kenapa?"

Gue masih terisak. "Nggak papa."

"Lo nangis?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Bahagia."

Mahdalena diam. Lalu tanpa bicara, ia memelukku. Di depan semua orang. Teman-temannya, keluarganya, orang-orang yang lalu lalang.

"Makasih, Bang. Lo bener-bener ada dari nol."

Alex memeluk balik. Dalam pelukannya, Alex merasa aman. Seperti tidak ada yang perlu ditAlextkan.

"Gue cuma tukang, Dik. Tapi tukang yang paling bangga sedunia."

Ia melepas pelukan. Memandang matAlex yang masih basah.

"Lo bukan cuma tukang, Bang. Lo adalah... lo adalah segalanya buat Alex."

Air mataku mau tumpah lagi. Kutahan.

"Lena, gue..."

"Udah, jangan nangis. Nanti malu sama temen-temen."

Gue tengok ke sekeliling. Teman-temannya senyum-senyum. Beberapa ngacungin jempol. Yang lain berbisik-bisik, mungkin bilang, "Itu pacarnya Lena. Tukang bangunan. Tapi setia banget."

Gue tersenyum malu.

"Foto lagi yuk, Bang. Sekarang yang bener. Jangan sobekan keliatan."

Kami foto lagi. Kali ini Alex lebih rileks. Sobekan tetap ada, tapi tidak kusinggung lagi. Yang penting, momen ini abadi.


Selesai foto-foto, Mahdalena mengajakku bertemu keluarganya. Jantungku berdebar lagi. Ini pertama kalinya Alex bertemu orangtuanya secara resmi.

Di bawah pohon rindang di halaman gedung, mereka menunggu. Bapak dan Ibu—sederhana, pakaian biasa, wajah ramah.

"Pak, Bu, ini Alex. Pacar saya."

Alex membungkuk sopan. "Selamat siang, Pak, Bu. Saya Alex."

Bapaknya menjabat tanganku. Kuat. Matanya menatap tajam.

"Alex, ya? Tukang bangunan?"

"Iya, Pak."

"Anak mana?"

"Brebes, Pak. Rantau di sini."

Bapaknya mengangguk. Lalu tanpa diduga, ia tersenyum.

"Dengar-dengar, kamu pernah salah transfer tiga juta buat bantu uang kuliah Lena?"

Alex tersipu. "Iya, Pak. Maaf, salah sasaran."

Bapaknya tertawa. Ibu ikut tertawa. Mahdalena tertawa.

"Kamu itu, Nak. Bodoh, tapi tulus."

Alex garuk-garuk kepala. "Maaf, Pak."

"Nggak usah minta maaf. Justru itu yang bikin kami percaya. Kamu tulus. Nggak neko-neko."

Ibunya menambahkan, "Lena sering cerita tentang kamu. Tentang nulis-nulis di tembok, tentang transfer, tentang... semua. Kami lihat, kamu baik."

Alex terharu. Hampir nangis lagi.

"Makasih, Pak, Bu. Saya janji, saya bakal jaga Lena sebaik-baiknya."

Bapaknya menepuk pundakku. "Kami percaya, Nak. Tapi ingat, jagain Lena nggak gampang. Dia keras kepala."

"Pak!" protes Mahdalena.

Semua tertawa.


Malam harinya, setelah semua acara selesai, Mahdalena mampir ke kontrakanku. Pertama kalinya. Biasanya Alex yang ke tempatnya, atau kami bertemu di warung.

Kontrakanku sempit. Hanya 3x4 meter. Dinding anyaman bambu. Lantai tanah. Tikar digelar di pojok. Beberapa baju gantung di tali. Tapi Alex sudah berusaha membersihkan sebaik mungkin.

Mahdalena duduk di tikar. Ia melepas jilbab, rambutnya tergerai sebentar—baru kupasang lagi setelah tahu itu aurat. Tapi momen singkat itu cukup membuatku salah tingkah.

"Masak apa, Bang?" tanyanya.

"Gue masak. Tapi cuma tempe orek sama sayur asem."

"Wah, favorit aku."

Kami makan bersama. Lauk sederhana, nasi biasa, tapi rasanya seperti makanan bintang lima. Mungkin karena yang menemani adalah dia.

Selesai makan, kami duduk bersandar di dinding bambu. Suara jangkrik dari luar. Angin malam masuk lewat celah-celah.

"Bang," bisiknya.

"Hm?"

"Hari ini... hari terbahagia dalam hidupku."

"Beneran?"

"Iya. Bukan karena wisuda. Tapi karena lo ada. Lo datang. Lo nangis."

Alex tersipu. "Malu ah. Nangis di depan umum."

"Nggak apa-apa. Itu bukti lo sayang."

Alex diam. Memandang wajahnya yang teduh di bawah lampu minyak.

"Lena."

"Ya?"

Gue ambil sesuatu dari saku. Sebuah kotak kecil. Kotak usang, dibungkus kertas bekas.

"Ini buat lo."

Mahdalena membuka dengan hati-hati. Di dalamnya... cincin. Cincin perak sederhana dengan ukiran bunga kecil. Bukan emas. Bukan berlian. Tapi berkilau di matanya.

"Bang... ini..."

"Ini cincin. Gue beli dari toko loak. Murah. Tapi gue pengin... gue pengin lo jadi istri gue."

Mahdalena diam. Matanya berkaca-kaca.

"Alex..."

Gue lanjutkan, meskipun suara mulai bergetar.

"Gue tahu, gue cuma tukang. Nggak punya apa-apa. Hidup di kontrakan bambu. Tapi gue janji, gue bakal kerja keras. Bakal cari nafkah. Bakal jaga lo. Bakal jadi imam yang baik buat lo. Lo mau nggak... jadi pendamping hidup gue?"

Hening.

Jangkrik bersahutan. Angin berdesir. Jantungku berdebar kencang.

Mahdalena menatap cincin itu. Lalu menatapku. Lalu... ia tersenyum. Senyum dengan lesung pipit.

"Alex, lo tahu nggak, dari pertama lo nulis di tembok, Aku sudah tahu. Lo itu orangnya."

"Orangnya gimana?"

"Orangnya... yang bakal Aku pilih."

Gue hampir pingsan.

"Jadi... lo mau?"

Ia mengangguk. "Aku mau. Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi gue mau jadi PNS dulu. Lo sabar ya."

Gue menarik napas lega. "Sabar. Pasti sabar. Berapa tahun pun gue tunggu."

Ia memasangkan cincin itu sendiri. Di jari manis kirinya. Pas. Seperti memang sudah ditakdirkan.

"Bang, cincin ini... cantik."

"Lebih cantik dari yang make."

Ia memukul lenganku. Tapi lembut.

"Lo itu... romantis kalau lagi bikin malu."

Gue tertawa. "Romantis ala tukang."

"Tukang yang paling gue cintai."

Malam itu, di kontrakan bambu yang sempit, dengan lauk tempe orek dan sayur asem yang sudah habis, kami berpelukan. Tidak ada sofa mewah, tidak ada lampu kristal, tidak ada karpet empuk. Tapi ada cinta. Cinta yang nyata.

Dan ketika ia pulang malam itu, Alex berbisik pada diri sendiri:

"Demi apa pun, gue tunggu."


Besok paginya, Sugeng langsung curiga ada yang berbeda.

"Lex, lo mesem-mesem dari tadi. Kenapa?"

"Gue... nglamar semalem."

Sugeng melompat dari tikar. "APA?!"

"Gue nglamar si Lena."

"TERUS?!"

"Dia terima."

Sugeng berteriak membangunkan Bejo yang masih ngorok. "BEJO! BANGUN! ALEX DITERIMA!"

Bejo terbangun kaget. "Ha? Diterima apa? Kerja?"

"DITERIMA LAMARAN! DIA MAU NIKAH SAMA ALEX!"

Bejo diam sebentar. Lalu tidur lagi. "Gue kira tadi gempa."

Sugeng menggeleng-geleng. "Dasar Bejo."

Ia lalu menepuk pundakku. "Selamat, Lex. Lu resmi jadi calon suami."

"Masih calon, Geng. Dia mau nunggu jadi PNS dulu."

"Berapa lama?"

"Nggak tahu. Mungkin setahun, dua tahun."

Sugeng bersiul. "Lu siap nunggu selama itu?"

"Siap."

"Lu yakin?"

"Yakin. Kayak yakinnya semen bakal keras kalau dikasih air."

Sugeng tertawa. "Metafora lo aneh, Lex. Tapi gue ngerti. Selamat, investor cinta. Saham lo akhirnya naik."

Kami tertawa bersama. Di luar, matahari terbit cerah. Hari baru telah dimulai. Dan hidup, untuk pertama kalinya, terasa penuh harapan.


Beberapa minggu kemudian, Alex kembali ke gang Melati. Kontrakan Mahdalena. Tembok bata merah itu masih ada. Dengan tulisan kapur yang mulai pudar.

"Cinta kita seperti cor semen... sekali jadi, susah dibongkar."

Alex berdiri di sana, memandang tulisan itu. Tiga tahun sudah. Tiga tahun sejak coretan konyol itu.

Mahdalena keluar dari kontrakan. Berdiri di sampingku.

"Masih ingat, Bang?"

"Ingat. Awal dari semuanya."

Ia memegang tanganku. "Dari tembok ini, kita mulai. Dan sekarang... kita di sini."

Alex menoleh. Memandang wajahnya.

"Lena, gue janji. Bakal jadi suami yang baik. Bakal kerja keras. Bakal bikin lo bahagia."

"Gue percaya, Bang. Tapi ingat, jangan pernah berhenti nulis puisi."

"Puisi di mana?"

"Di hati gue."

Alex tersenyum. Lalu menggenggam tangannya erat.

Di depan tembok bata merah itu, kami berjanji. Bukan janji muluk. Tapi janji sederhana. Untuk saling menjaga. Untuk saling percaya. Untuk saling mencintai—sampai kapan pun.


BAB 4: Nikah Modal Cinta

 

Setahun setelah wisuda, kabar yang ditunggu akhirnya tiba.

Mahdalena lulus CPNS.

Alex ingat persis hari itu. Sore, sepulang kerja, Alex mampir ke kontrakannya seperti biasa. Tapi begitu sampai di depan pintu, ia sudah berdiri di sana dengan wajah berseri-seri. Matanya berbinar, tangannya memegang kertas.

"Bang!" teriaknya begitu melihatku.

"Kenapa, Dik? Menang lotre?"

"Lebih dari itu! Gue lulus CPNS!"

Alex diam. Otakku butuh beberapa detik untuk memproses.

"LULUS?!"

"LULUS!"

Alex berlari. Memeluknya. Kami berputar-putar di halaman kontrakan seperti anak kecil. Mahdalena tertawa. Alex berteriak-teriak. Beberapa tetangga keluar melihat, ikut tersenyum.

"Selamat, Neng Lena!" teriak Bu RT dari seberang.

"Makasih, Bu!"

Alex melepas pelukan. Memandang wajahnya yang cerah.

"Lo hebat, Dik. Lo beneran hebat."

"Kita hebat, Bang. Lo juga bagian dari ini."

Gue tersenyum bangga. Tapi di balik bangga itu, ada sedikit cemas. Dengan lulus CPNS, Mahdalena akan ditempatkan di mana? Mungkin di kota. Mungkin jauh. Mungkin kami harus LDR lagi.

Seolah membaca pikiranku, Mahdalena berkata, "Bang, penempatan pertama lena di Kantor Kecamatan."

"Kecamatan mana?"

"Kecamatan Kabut Merah yang membawahi Desa Awan Biru."

Gue mengerutkan dahi. "Desa Awan Biru? Desa ini? Baguslah"

"Desa kecil ini. desanya asri. Banyak sawah. Warganya ramah."

"Berarti... lo bakal neta pdi sini dan kerja di Kantor Kecamatan?"

"Iya. Setiap hari bolak-balik ke kecamatan Kabut Merah. Atau mungkin ngekos di sana."

Gue diam. Memikirkan sesuatu.

Atau mungkin, kami bisa nikah. Dan ikut ke Desa Awan Biru.

"Lena."

"Ya?"

"Gue mau ngomong sesuatu."

Ia menatapku serius.

"Gue tahu, ini mungkin terlalu cepat. Tapi gue udah mikir sejak lama. Lo lulus CPNS, lo bakal pindah. Gue di sini, kerja di proyek. Kita bakal LDR lagi. Gue... gue nggak mau itu."

"Bang maksudnya?"

"Gue mau kita nikah. Sekarang. Sebelum lo pindah."

Mahdalena diam. Wajahnya berubah—campuran antara kaget, haru, dan... bahagia?

"Bang, lo serius?"

"Gue serius, Lena. Gue nggak mau kehilangan lo. Gue nggak mau LDR lagi. Setahun kemarin cukup berat. Gue mau kita mulai hidup bareng. Di mana pun itu. Di Desa Awan Biru atau di mana pun."

Mahdalena memandangku lama. Lalu—tanpa kata—ia memelukku erat.

"Gue mau, Bang. Gue mau banget."

Di pelukannya, Alex merasa semua cemas hilang. Yang tersisa hanya bahagia.


Persiapan nikah dimulai. Dengan budget pas-pasan, kami harus pintar-pintar mengatur.

Orangtua Mahdalena di kampung hanya bisa memberi sedikit. Orang tua Alex di Brebes juga begitu. Tapi mereka semua mendukung.

"Kamu nggak usah mikir mahal-mahal, Nak," kata Ibu Mahdalena lewat telepon. "Yang penting sah. Nikah itu ibadah, bukan pesta."

"Iya, Bu. Terima kasih."

Dari orangtua Alex, hanya dapat restu dan doa. Tapi itu cukup.

Kami putuskan: nikah di Desa Awan Biru. Karena Mahdalena akan bertugas di sana. Alex akan ikut pindah, cari kerja di proyek-proyek sekitar.

Pak Kades Iwan—yang kebetulan kenalan lama dengan keluarga Mahdalena—menawarkan masjid desa sebagai tempat akad. "Gratis, untuk warga baru," katanya.

Bu RT menawarkan pinjaman tenda. "Tenda bekas hajatan, tapi masih bagus. Nanti saya bantu pasang."

Bu Kades—istri Pak Kades—menawarkan katering. "Saya kenal caterer langganan. Nasi kotak 10 ribu per porsi. Enak, kok."

Mahdalena dan Alex hanya bisa bersyukur. Warga desa menyambut kami dengan tangan terbuka, meskipun kami belum resmi tinggal di sana.


Seminggu sebelum nikah, kami ke pasar buat beli cincin. Bukan emas, karena nggak cukup. Cincin perak dengan ukiran sederhana.

"Mas, ini aja," kata Mahdalena, memilih cincin tipis dengan hiasan kecil.

"Lo yakin? Yang ini murah banget."

"Yang penting maknanya, Bang. Bukan harganya."

Alex terharu. "Lena, lo itu..."

"Apa?"

"Lo itu terlalu baik buat gue."

Ia memukul lenganku. "Udah, jangan baper. Bayar dulu."

Alex bayar 150 ribu untuk dua cincin. Murah, tapi berharga.

Selain cincin, kami beli perlengkapan sederhana: sprei baru, peralatan dapur seadanya, dan beberapa pakaian. Semua dari tabunganku setahun terakhir.

Sugeng ikut menemani. Ia sudah punya istri—menikah setahun sebelumnya dengan cewek dari desa tetangga.

"Lex, lo siap jadi suami?" tanyanya sambil bantu angkat belanjaan.

"Siap atau nggak, ini udah jalan."

"Lo tahu nggak, jadi suami itu berat. Nggak cuma cari nafkah, tapi juga jaga perasaan istri."

"Gue tahu, Geng."

"Lo yakin?"

"Yakin."

Sugeng tersenyum. "Semoga langgeng, Lex. Kalau ada masalah, jangan lupa temen."

"Makasih, Geng."


Hari-hari menjelang nikah terasa campur aduk. Antara bahagia, gugup, dan tegang.

Alex masih kerja di proyek, tapi sudah kasih tahu mandor kalau mau nikah. Pak Haji Rudi senang.

"Selamat, Lex. Akhirnya investor cinta naik pangkat jadi suami."

"Makasih, Pak."

"Ini amplop kecil, buat modal."

Alex menerima amplop itu. Isinya 500 ribu. Banyak. Alex hampir nangis.

"Pak, ini..."

"Udah, terima aja. Lo karyawan baik. Pantas dapet kebahagiaan."

Alex membungkuk hormat. "Makasih banyak, Pak."

Malam-malam sebelum nikah, Alex sulit tidur. Sugeng dan Bejo sudah ngorok, tapi Alex hanya menatap langit-langit bambu, membayangkan kehidupan baru.

Besok, Alex akan resmi jadi suami Mahdalena.

Besok, hidupku akan berubah.

Dan perubahan itu—Alex tidak tahu—akan jauh lebih besar dari yang kukira.


Pagi itu, langit Desa Awan Biru cerah. Matahari terbit dengan sempurna, seolah ikut merayakan hari bahagia kami.

Alex bangun jam 4 subuh. Mandi, berpakaian rapi. Kali ini nggak pake batik sobek. Alex beli kemeja putih baru—bukan batik, biar aman. Dipadukan dengan celana hitam dan sepatu pantofel yang—akhirnya—kubeli sendiri, ukuran pas 40.

Sugeng datang sebagai saksi. Ia juga merangkap fotografer dadakan.

"Lex, lo ganteng juga ya kalau dipoles."

"Emang biasanya jelek?"

"Biasanya debu."

Kami tertawa. Bejo datang membawa kado—entah apa, bungkusnya kusut.

"Ini buat lo, Lex. Barang bekas, tapi berguna."

Alex buka. Ternyata panci. Bekas, tapi masih bagus.

"Bejo, lo kasi panci?"

"Buat masak, tolol. Lo kan bakal berumah tangga. Istri lo masak, lo cuci piring."

Sugeng nyeletuk, "Atau sebaliknya."

Semua tertawa. Tidak ada yang tahu, candaan itu akan jadi kenyataan.


Pukul 8 pagi, kami berangkat ke Masjid Desa Awan Biru. Masjidnya kecil, sederhana, dinding putih dengan kubah hijau. Di halaman, tenda pinjaman Pak RT sudah terpasang. Kursi-kursi plastik berjejer rapi. Dekorasi bunga plastik—pinjaman juga—menghias pelaminan sederhana.

Warga desa mulai berdatangan. Ibu-ibu dengan baju rapi. Bapak-bapak dengan peci dan sarung. Anak-anak berlarian. Suasana meriah, tapi sederhana.

Pak Kades Iwan datang lebih awal. Tubuhnya gempal, perut buncit, kumis tebal. Ia berjalan dengan gaya pejabat desa.

"Alex, sini! Saya mau ngomong."

Alex mendekat. "Iya, Pak."

"Acara nanti ada sambutan dari saya. Saya mau kasih nasihat untuk kamu, sebagai pendatang baru."

"Siap, Pak."

"Kamu ini anak rantau, merantau ke desa kita. Nikah sama anak desa. Nah, sebagai pendatang, harus bisa menyesuaikan diri, ya. Jangan bawa-bawa kebiasaan kota."

Alex mengangguk. "Iya, Pak."

"Kebiasaan kota itu macam-macam. Ada yang baik, ada yang nggak. Di sini, kita sederhana. Guyub rukun. Semoga kamu betah."

"Insyaallah, Pak."

Pak Kades tersenyum puas. Lalu menepuk pundakku keras-keras, sampai Alex hampir jatuh.


Pukul 9, Mahdalena tiba. Dari dalam mobil sewaan—mobil butut, tapi cukup.

Begitu pintu terbuka, Alex terpana.

Mahdalena... cantik. Bukan cantik biasa. Cantik luar biasa. Ia memakai gaun putih sederhana, tanpa renda-renda berlebihan. Jilbab putih menutup rapi. Wajahnya berseri, lesung pipit di pipi kanan terlihat jelas. Di tangannya, buket bunga kecil—bunga sedap malam, sederhana tapi wangi.

Alex berdiri terpaku. Mulutku terbuka, tapi tidak ada suara keluar.

Sugeng menyenggol. "Lex, tutup mulut lo. Nanti laler masuk."

Alex tersadar. Menutup mulut. Tapi mata tidak bisa berpaling.

Mahdalena mendekat. Tersenyum.

"Bang, lo kenapa? Melongo aja."

"Gue... gue nggak nyangka."

"Nggak nyangka apa?"

"Lo secantik ini."

Ia tersipu. "Dasar tukang baper."

Kami masuk ke pelaminan. Duduk bersanding. Warga mulai mengambil tempat. Acara akan segera dimulai.


Penghulu datang. Seorang bapak tua dengan sorban putih dan kacamata tebal. Suaranya berat, penuh wibawa.

Prosesi akad berlangsung khidmat. Alex duduk di depan penghulu. Mahdalena di samping, ditemani ibunya serta ayahnya sebagai wali.

Penghulu membacakan syarat-syarat. Lalu bertanya pada.

"Alex bin Koto, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Mahdalena binti Karyo, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai 500 ribu rupiah, dibayar tunai. ?"

Alex menarik napas. " Saya terima nikahnya Mahdalena binti Karyo dengan mas kawis seperangkat alat sholat dan uang tunai 500 ribu rupiah, dibayar tunai."

Sah.

Semua berseru. Tepuk tangan bergemuruh.

Alex menoleh ke Mahdalena. Ia tersenyum, air mata haru mengalir di pipinya.

Alex mendekat. Berbisik, "Sah, Dik."

Ia mengangguk. "Iya, Bang."

Kami resmi suami istri.


Setelah akad, acara dilanjut dengan sambutan. Pertama, dari keluarga Mahdalena. Bapaknya bicara singkat, penuh haru.

"Alex, saya titip anak saya. Jaga dia baik-baik. Dia keras kepala, tapi hatinya emas."

"Siap, Pak."

Lalu giliran Pak Kades Iwan. Ia berdiri dengan gaya orator, membusungkan dada.

"Hadirin sekalian! Hari ini kita menyaksikan pernikahan Alex dan Mahdalena. Alex ini... anak rantau, merantau ke desa kita. Nikah sama anak desa. Nah, sebagai pendatang, harus bisa menyesuaikan diri, ya. Jangan bawa-bawa kebiasaan kota."

Alex mengangguk, masih belum paham kalimat itu adalah foreshadowing.

"Di desa kita, laki-laki itu kepala rumah tangga. Yang cari nafkah, yang memimpin. Istri di rumah, ngurus anak, masak, bersih-bersih. Itu yang ideal. Mudah-mudahan kalian bisa begitu."

Mahdalena tersenyum tipis. Alex mengangguk-angguk.

Pak Kades melanjutkan panjang lebar. Tentang tata krama, tentang gotong royong, tentang pentingnya punya anak banyak. Alex mendengarkan setengah hati, lebih fokus pada Mahdalena di sampingku.

Selesai sambutan Pak Kades, tiba-tiba dari belakang terdengar suara.

"Ini suami nanti bakal jadi kepala rumah... atau kepala dapur? Hahaha!"

Semua menoleh. Itu Bu RT, yang sudah dikenal suka bercanda. Beberapa ibu-ibu ikut tertawa. Bapak-bapak tersenyum-senyum.

Alex tertawa, ikut tertawa. Meski tidak paham lucunya di mana.

Sugeng, dari samping, bersiul kecil. "Lex, itu candaan yang bakal jadi kenyataan."

Alex menoleh. "Maksud lo?"

"Nanti lo tahu."

Alex mengangkat bahu. Tidak ambil pusing.


Selesai sambutan, acara dilanjut makan bersama. Nasi kotak dibagikan. Lauknya sederhana: ayam goreng, sambal goreng kentang, perkedel, dan kerupuk. Tapi semua lahap.

Alex dan Mahdalena duduk di pelaminan, ditemani keluarga dan tetangga dekat.

"Bang, makan," kata Mahdalena, menyuapiku. Tradisi pengantin baru.

Alex malu, tapi tetap makan. Warga bersorak.

Santoso, tukang ojek langganan desa, berteriak, "Wah, mesra sekali! Besok-besok jangan lupa naik ojek gratis ya, Bu Lena!"

Mahdalena tertawa. "Siap, Pak."

Anto, sopir truk perusahaan yang selalu punya komentar pedas, menimpali, "Nanti kalau udah punya anak, ojeknya bayar setengah, Pak Santoso!"

Semua tertawa. Suasana hangat.

Alex merasa... ini rumah. Ini keluargku sekarang.


Sugeng datang bersama istrinya, Wati. Perempuan sederhana dengan senyum ramah. Mereka duduk di dekat kami.

"Selamat, Lex," kata Wati. "Semoga langgeng."

"Makasih, Mbak."

Sugeng menimpali, "Wati, ini temen gue dari proyek. Investor cinta, katanya."

Wati tertawa. "Oh, yang salah transfer itu?"

Alex tersipu. "Iya, Mbak."

"Ceritanya udah terkenal sampai desa sini."

"Wah, malu ah."

“Santai aja. Yang penting happy ending."

Kami mengobrol sebentar. Wati cerita tentang kehidupan pernikahan, tentang suka duka, tentang bagaimana Sugeng kadang bikin jengkel.

"Tapi ya gitu, namanya suami istri. Harus saling pengertian."

Alex mengangguk. Menyimpan nasihat itu dalam hati.


Acara selesai jam 5 sore. Warga pulang satu per satu. Kami diantarkan ke kontrakan kecil—hadiah dari mertua berupa uang sewa setahun.

Kontrakannya sederhana. Satu kamar tidur, ruang tamu kecil, dapur sempit, kamar mandi seadanya. Tapi bersih. Dicat putih. Ada jendela menghadap sawah.

Alex membawa Mahdalena masuk. Menutup pintu. Suasana hening. Hanya kami berdua.

"Gimana, Bang?" tanyanya. "Rumah kita."

Alex memandang sekeliling. Sederhana, tapi terasa hangat.

"Ini rumah kita, Dik. Sederhana, tapi punya kita."

Ia tersenyum. Melepas jilbab, berganti daster. Rambutnya tergerai sebentar, lalu diikat asal.

Alex salah tingkah. Ini pertama kalinya Alex lihat ia tanpa jilbab di ruang tertutup.

"Bang, kok malah diem?"

"Gue... gue masih nyadar."

"Nyadar apa?"

"Nyadar kalau sekarang lo istri gue."

Ia mendekat. Duduk di sampingku di dipan bambu.

"Gue juga masih nyadar, Bang. Nyadar kalau sekarang kita satu."

Kami diam. Menikmati keheningan. Di luar, suara jangkrik mulai terdengar.

"Bang."

"Hm?"

"Kita bakal bahagia, kan?"

Alex menoleh. Wajahnya polos. Matanya penuh harap.

"Pasti, Dik. Pasti."

"Gue bakal jadi istri yang baik. Masak, bersihin rumah, kerja..."

"Gue juga bakal jadi suami yang baik. Nyari nafkah, bantuin lo kalau lo capek..."

"Lo yakin?"

"Yakin. Kayak yakinnya gue sama lo."

Ia bersandar di bahuku. Alex memeluknya pelan.

Di luar, bulan purnama bersinar terang. Cahayanya masuk lewat jendela, menyinari wajahnya yang tenang.

"Bang."

"Ya?"

"Makasih udah milih gue."

Gue mengecup keningnya.

"Gue juga makasih udah mau sama gue. Tukang bangunan sederhana."

"Tukang bangunan yang nulis puisi di tembok."

"Yang salah transfer."

"Yang nangis di wisuda."

Kami tertawa bersama. Hangat. Tanpa beban.


Sebelum tidur, kami mengobrol panjang. Tentang masa depan. Tentang rencana.

"Bang, kita nabung ya. Biar bisa beli rumah sendiri."

"Iya. Gue bakal kerja keras."

"Gue juga. Gaji PNS lumayan. Kita sisihkan tiap bulan."

"Terus kita punya anak?"

Mahdalena tersipu. "Iya. Nanti. Satu dulu."

"Laki atau perempuan?"

"Terserah Allah. Yang penting sehat."

Alex tersenyum. Membayangkan masa depan.

"Bang, lo mau tinggal di desa ini selamanya?"

"Di mana pun sama lo, gue mau."

"Meskipun di desa kecil kayak gini?"

"Desa kecil atau kota besar, yang penting lo di samping gue."

Ia memelukku erat.

"Bang, gue sayang lo."

"Gue juga sayang lo, Dik. Lebih dari apa pun."

Malam itu, kami tertidur dalam pelukan. Bahagia. Tanpa tahu bahwa badai akan datang.

Tidak ada yang tahu, dua tahun kemudian, peran itu akan bertukar sepenuhnya.


Pagi pertama sebagai suami istri.

Alex bangun lebih dulu. Mahdalena masih tidur di sampingku, dengan napas teratur. Rambutnya berantakan, tapi cantik.

Alex tersenyum. Bangun pelan-pelan, ke dapur. Masak air. Membuat kopi.

Saat kopi siap, Mahdalena bangun. Matanya masih sayu.

"Bang... udah bangun?"

"Iya. Kopi udah siap."

Ia duduk. Menerima cangkir kopi. Tersenyum.

"Lo masak kopi?"

"Iya."

"Lo tahu nggak, ini pertama kalinya ada yang bikin kopi buat gue?"

"Serius?"

"Iya. Biasanya gue bikin sendiri."

Alex tersenyum. "Mulai sekarang, gue yang bikin."

"Tiap pagi?"

"Tiap pagi."

Ia memelukku. "Bang, lo itu..."

"Apa?"

"Sempurna."

Gue tertawa. "Gue nggak sempurna, Dik. Tapi gue bakal berusaha."

Pagi itu, kami minum kopi bersama di teras kecil kontrakan. Sawah di depan mulai menguning. Burung-burung beterbangan. Angin sepoi membawa aroma padi.

"Bang, ini surga ya?"

"Surga dunia, Dik."

Ia tersenyum. Bersandar di pundakku.

Tidak ada yang tahu, surga itu akan diuji.


Sore harinya, saat Alex berjalan ke warung Pak Karyo, gosip sudah mulai beredar.

"Eh, itu Alex, suami baru Bu Lena," bisik Bu RT pada ibu-ibu lain.

"Ganteng juga ya?"

"Ganteng sih, tapi tukang bangunan katanya."

"Tukang bangunan? Wah, pasti penghasilannya pas-pasan."

"Tapi lihat aja nanti. Istri PNS, suami tukang. Siapa yang cari nafkah utama?"

"Ya pasti istrinya lah. Gaji PNS kan gede."

"Berarti nanti suaminya di rumah?"

"Bisa jadi. Ngurus anak, masak, bersih-bersih."

Semua tertawa. Alex yang kebetulan lewat, pura-pura tidak dengar. Tapi kata-kata itu masuk.

Di rumah, Mahdalena menyambutku.

"Bang, beli apa?"

"Gula. Katanya habis."

Ia menerima belanjaan. Tersenyum.

"Makasih, Bang."

"Sama-sama, Dik."

Alex duduk. Memikirkan gosip tadi.

"Dik."

"Ya?"

"Lo nggak apa-apa kalau nanti... gue di rumah aja?"

Ia menoleh. "Maksud lo?"

"Maksud gue... kalau nanti proyek sepi, gue nganggur, lo yang kerja. Lo nggak masalah?"

Ia mendekat. Memegang tanganku.

"Bang, kita suami istri. Apa pun yang terjadi, kita hadapi sama-sama. Lo cari nafkah, gue cari nafkah. Nggak ada masalah siapa lebih besar. Yang penting kita bareng."

Alex tersenyum lega. "Makasih, Dik."

"Jangan dipikirin. Sekarang, bantu gue masak."

Kami masuk dapur bersama. Memasak dengan canda tawa. Tidak tahu bahwa masa depan akan membalikkan semua.

Tapi untuk malam ini, cukup. Cukup bersama. Cukup bahagia.


BAB 5: Masa Bulan Madu Sederhana

Masa-masa indah itu selalu Alex kenang dengan senyum getir.

Karena dulu, semuanya begitu sederhana. Begitu hangat. Begitu... sempurna.

Setiap pagi, pukul setengah empat, Alex sudah terbangun oleh suara samar dari dapur. Suara air mengalir, suara kompor dinyalakan, suara wajan bersentuhan dengan spatula. Itu adalah suara Mahdalena—istriku—yang sudah bangun lebih dulu untuk menyiapkan sarapan.

Alex biasanya masih memejamkan mata, berpura-pura tidur. Bukan karena malas, tapi karena Alex tahu ia suka melakukannya. Ia bilang, "Bang, biar Alex aja. Lo istirahat dulu."

Tapi perasaan bersalah selalu mengganggu. Ini istriku. Baru menikah tiga bulan. Masa iya dia yang bangun lebih pagi, masak, siapin bekal, sementara Alex masih enak-enakan tidur?

Suatu pagi, Alex nekat bangun lebih awal. Jam setengah tiga. Gelap gulita. Alex merangkak pelan ke dapur, berniat mendahuluinya.

Tapi begitu sampai di dapur, Mahdalena sudah ada di sana. Dengan daster tidur, rambut acak-acakan, dan wajah masih ngantuk, ia sedang memotong bawang.

"Bang? Lo bangun ngapain?" kagetnya.

"Gue... mau bantu."

"Bantu apa? Udah, tidur lagi. Masih gelap."

"Lo aja bangun, masa gue tidur?"

"Bang, ini tugas istri. Biar Alex aja."

"Tapi gue nggak enak."

Ia mendekat, mengelus pipiku. "Bang, lo kerja capek seharian. Biar lena yang urus pagi. Nanti sore lo bantu lena, ya?"

Alex menghela napas. "Ya udah. Tapi kalau lo capek, bilang."

"Iya, Sayang."

Alex kembali ke kamar. Tapi tidak bisa tidur. Alex hanya berbaring, mendengar suara aktivitasnya dari dapur. Suara menggoreng telur. Suara menanak nasi. Suara menyendok lauk ke wadah bekal.

Suara cinta.

Pukul setengah lima, ia masuk ke kamar. Berbisik, "Bang, udah mau subuh. Sarapan udah siap."

Alex bangun. Memeluknya dari belakang. "Makasih, Sayang."

Ia tersenyum. "Sana mandi. Nanti kesiangan."

Alex bergegas mandi. Setelah sholat subuh berjamaah—pertama kalinya dalam hidup Alex rajin sholat subuh—kami sarapan bersama. Nasi hangat, telur dadar, sambal, dan lalapan. Sederhana, tapi terasa mewah.

Sebelum berangkat, ia menyiapkan bekal. Dua kotak: satu untukku, satu untuknya. Alex heran.

"Lo bawa bekal juga? Kan kerja di kantor?"

"Iya. Biar hemat. Daripada jajan di luar."

"Lo masak buat diri lo sendiri?"

"Masak buat kita berdua. Sama aja."

Alex terharu. "Lena..."

"Udah, jangan baper. Cepet berangkat."

Ia mencium pipiku—cepat, malu-malu. Lalu mendorongku keluar.

Di luar, Sugeng sudah menunggu dengan ojolnya. Ya, Sugeng sekarang jadi tukang ojek paruh waktu kalau proyek sepi.

"Wah, Pak Alex, lama amat. Tidurnya sama istri ya?"

"Diem lo, Geng."

"Udah dapet bekal?"

Alex tunjukkan kotak bekal. Sugeng bersiul.

"Wah, istri lo masakin. Beruntung lo, Lex. Istri gue mah suruh masak aja males."

"Lu aja yang nggak bisa minta tolong dengan baik."

"Ah, elo."

Kami berangkat ke proyek. Di boncengan, Alex memegang erat kotak bekal. Rasanya seperti memegang harta karun.


Di proyek, jam istirahat tiba. Para tukang duduk di bawah tenda darurat, mengeluarkan bekal masing-masing. Ada yang bawa nasi bungkus dari warung, ada yang bawa gorengan, ada yang cuma ngopi doang.

Alex membuka kotak bekalku. Nasi putih, ayam goreng, sambal terasi, lalapan mentah, dan pisang goreng tiga buah.

Semua mata tertuju.

"Wah, Lex, lo dibawain bekal sama istri?" tanya Bejo.

"Iya."

"Enak amat. Istri lo masak?"

"Iya."

"Gila, gue pengen nyobain."

Alex melindungi kotak bekalku. "Jangan. Ini punya gue."

"Pelit amat!"

"Siapa suruh nggak punya istri kayak Lena."

Bejo menggerutu. Tapi Sugeng membelku.

"Udah, Jo. Biarin. Itu mah bekal cinta. Lo nggak akan ngerti."

Semua tertawa. Tapi Alex tahu, mereka iri. Dan Alex bangga.

Saat makan, Alex membayangkan Mahdalena di kantornya. Makan bekal yang sama. Dengan kotak yang sama. Kami terhubung meski terpisah jarak.


Di sela-sela kerja, HP-ku bergetar. SMS masuk—zaman itu masih SMS.

Lena: "Bang, makannya jangan lupa. Jangan sampai telat. Jaga kesehatan."

Alex tersenyum. Membalas.

Alex: "Iya, Sayang. Lo juga. Capek?"

Lena: "Biasa. Rapat mulu. Tapi gapapa. Yang penting lo bahagia."

Alex: "Gue bahagia kalau lo bahagia."

Lena: "Dasar tukang baper."

Alex: "Tukang baper tapi tukang beneran."

Lena: "Haha. Kerja sana. Jangan lupa sholat."

Alex: "Iya, Bu Lurah."

Sugeng, yang melihat dari samping, menggeleng-geleng.

"Lo SMS-an sama istri? Di jam kerja?"

"Jam istirahat, Geng."

"Tapi muka lo kayak habis ketiban durian. Seneng banget."

"Lo nggak ngerti, Geng. Ini namanya cinta."

"Cinta-cinta. Nanti kalau udah punya anak, lo baru tahu."

Alex tertawa. Tidak ambil pusing.


Sore hari, sepulang kerja, hal pertama yang kulakukan adalah pulang ke kontrakan. Mandi, ganti baju, lalu menunggu Mahdalena pulang.

Ia pulang sekitar jam setengah lima. Kadang naik angkot, kadang dijemput kalau Alex sempat. Tapi yang terbaik adalah saat kami bertemu di tengah jalan, lalu berjalan bersama ke rumah.

Suatu sore, ia mengajakku jalan ke sawah.

"Bang, yuk lihat matahari terbenam."

"Di sawah?"

"Iya. Cantik, lho. Setiap sore lena lihat dari jendela kantor. Tapi pengin lihat langsung."

Kami berjalan menyusuri pematang sawah. Padi mulai menguning, siap panen. Angin sepoi membawa aroma rumput kering. Burung-burung pipit beterbangan, mencari makan sebelum gelap.

Kami duduk di pematang yang cukup lebar. Mahdalena mengeluarkan tas kecilnya—ternyata bawa bekal.

"Ini apa?" tanyku.

"Pisang goreng sama singkong rebus. Buat nemenin lihat sunset."

Alex tertawa. "Lo bawa bekal ke sawah?"

"Iya. Romantis, kan?"

"Romantis banget."

Kami makan pisang goreng sambil memandangi matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Langit berwarna jingga keemasan, berpadu dengan biru yang mulai memudar. Awan-awan tipis berlapis-lapis, seperti kapas yang diwarnai.

"Cantik ya, Bang?"

"Cantik. Tapi nggak secantik lo."

Ia memukul lenganku. "Dasar! Lagi serius-seriusnya lihat sunset, malah rayu."

"Gue serius. Lo lebih cantik dari sunset mana pun."

Ia tersipu. Lalu bersandar di pundakku.

"Bang."

"Hm?"

"Nanti kalau kita punya rumah, kita tanam pohon mangga ya di belakang."

"Iya."

"Terus punya ayam beberapa ekor, buat telur."

"Iya."

"Terus punya anak dua. Satu laki, satu perempuan."

"Iya."

"Bang, kok dijawab iya terus?"

"Karena gue setuju semua."

Ia tertawa. Tawanya yang dulu bikin Alex nekat salah transfer, sekarang bikin Alex lupa capek. Lelah seharian bekerja hilang seketika.

"Lo tahu, Bang? Dulu, waktu pertama lihat lo di proyek, lena nggak nyangka."

"Nggak nyangka apa?"

"Nggak nyangka bakal duduk di sini sama lo. Lihat sunset. Jadi istri lo."

"Lo nyesel?"

Ia menatapku. "Nyesel? Nggak. Justru bersyukur. Allah baik banget ngasih lo ke lena."

Alex terharu. Memeluknya erat.

"Gue juga bersyukur, Dik. Lo hadiah terbesar dalam hidup gue."

Matahari tenggelam sempurna. Gelap mulai merayap. Tapi di hati kami, terang bersinar.


Malam Minggu tiba. Biasanya anak muda pada pergi ke kota, nonton bioskop, atau nongkrong di kafe. Tapi kami? Cukup di kontrakan. Dengan TV tabung 14 inci—hadiah dari saudara jauh—dan dipan bambu yang setiap digerakkan berderit.

"Bang, nonton apa?" tanya Mahdalena, remote di tangan.

"Terserah lo."

"Lo pilih aja."

"Terserah lo."

"Bang, jangan terserah terus. Lo yang pilih."

"Ya udah, itu aja. Sinetron."

"Sinetron? Itu sinetron gak jelas."

"Ya udah, berita."

"Berita? Males. Nonton berita mah bikin stres."

"Ya udah, lo pilih aja."

Ia memukul lenganku. "Dasar! Nyuruh pilih, ujung-ujungnya balik lagi."

Alex tertawa. "Ya udah, kita nonton DVD aja. Itu kan ada koleksi."

Koleksi DVD kami—bajakan semua—terdiri dari film-film lawas. Komedi, drama, horor. Mahdalena memilih film komedi Indonesia jadul.

Kami berduaan di dipan. Alex duduk, ia bersandar di dada lena. Selimut tipis menutupi kaki. Di luar, angin malam berdesir. Suara jangkrik bersahutan.

Film berputar. Kami tertawa di bagian lucu, diem di bagian serius, kadang komentar ngalor-ngidul.

"Bang, lihat tuh, aktorna kocak banget."

"Iya. Lo lebih kocak."

"Gue kocak apanya?"

"Gue suka aja lihat lo."

"Ah, lo mah."

Setengah jam kemudian, ia mulai setengah tidur. Matanya sayu, sesekali merem, lalu melek lagi, lalu merem lagi. Alex diam, tidak berani bergerak. Takut mengganggu.

Akhirnya ia tertidur. Dengan kepala di dadaku, napas teratur. Tangannya masih memegang tanganku.

Alex menatapnya lama. Wajahnya tenang, seperti bayi. Rambutnya yang sedikit berantakan kuusap pelan.

Di TV, film masih berputar. Tapi Alex tidak lagi menonton. Alex hanya menikmati momen ini. Momen sederhana yang tak tergantikan.

"Mencintaimu sederhana," bisikku pelan. "Sederhana, tapi dalam."


Pagi Minggu, kami bangun lebih siang. Matahari sudah tinggi. Suara azan Subuh terlewat—maklum, begadang nonton film.

Mahdalena terbangun lebih dulu. Ia menggerakkan badan, lalu melihatku masih tidur di sampingnya.

"Bang, bangun. Udah siang."

Alex menggeliat. "Jam berapa?"

"Jam setengah delapan. Udah kesiangan."

"Ah, bentar lagi."

"Bentar lagi apanya? Bangun, sarapan. Nanti lo sakit."

Ia menarik selimut. Alex merengek seperti anak kecil. Tapi akhirnya bangun juga.

Setelah sholat Qadha dan sarapan, kami membersihkan rumah bersama. Ia menyapu, Alex mengepel. Ia mencuci piring, Alex mengelap. Seperti tim yang kompak.

"Bang, nanti siang kita ke mana?"

"Terserah lo."

"Jangan terserah lagi."

"Ya udah, kita ke warung Bu RT? Beli gorengan?"

"Bosen. Tiap Minggu gorengan."

"Ya udah, lo yang usul."

Ia berpikir. "Ke sawah? Lihat petani panen?"

"Boleh. Nanti kita beli padi langsung?"

"Ide bagus. Beli beras langsung dari petani, lebih murah."

Rencana pun dibuat. Sederhana, tapi menyenangkan.


Siang itu, kami ke sawah. Petani sedang panen raya. Padi-padi dipotong, dirontokkan, dikarungkan. Suasana ramai, penuh semangat.

Mahdalena mendekati salah satu petani—bapak tua dengan topi caping.

"Pak, boleh beli padi langsung?"

Bapak itu menoleh. "Mau beli, Neng? Untuk konsumsi sendiri?"

"Iya, Pak. Buat stok beras di rumah."

"Boleh. Tapi harus dirontokkan dulu. Nanti malam baru bisa diambil berasnya."

"Berapa harganya, Pak?"

"Untuk konsumsi, 8 ribu per kilo. Lebih murah dari pasar."

Mahdalena menawar. "7 ribu aja, Pak. Saya beli 50 kilo."

Bapak itu tersenyum. "Wah, lincah nawarnya. Boleh, Neng. Ambil nanti sore."

Alex hanya melihat dari belakang, kagum. Istriku pintar menawar. Istriku tahu cara berurusan dengan orang.

Setelah transaksi, kami duduk di gubuk kecil pinggir sawah. Mahdalena membeli es kelapa muda dari penjual keliling.

"Bang, ini es kelapa. Minum dulu."

Alex menerima. "Makasih, Sayang."

Kami minum es kelapa, menikmati suasana sawah. Angin sepoi, panas matahari tertahan atap gubuk.

"Bang, seneng ya liat petani panen?"

"Seneng. Mereka kerja keras, hasilnya dinikmati banyak orang."

"Iya. Kita harus bersyukur."

"Lo tahu, Dik? Setiap lihat sawah, gue ingat kampung halaman. Brebes juga banyak sawah."

"Lo kangen?"

"Kangen. Tapi di sini sama lo, jadi nggak terlalu."

Ia tersenyum. "Bang, nanti kita mudik ya. Kenalin Aku ke keluarga lo."

"Iya. Nanti pas lebaran."

"Janji?"

"Janji."


Malam Minggu berikutnya, kami kembali ke ritual nonton TV. Tapi kali ini, ada kejutan.

"Bang, tutup mata."

"Ngapain?"

"Tutup aja."

Alex memejamkan mata. Tangan Mahdalena menggandengku, menuntunku ke ruang tamu.

"Buka."

Alex buka mata. Di meja, ada kue tart kecil. Bukan tart mewah, tapi tart sederhana dengan lilin menyala.

"Selamat malam Minggu, Bang."

"Loh, ini buat apa?"

"Ini buat kita. Tiga bulan menikah. Kita rayain."

Alex terharu. "Lo bikin kue?"

"Iya. Tadi sore, sepulang kerja. Resep dari internet. Maaf kalau nggak bagus."

"Lena... ini... ini sempurna."

Kami duduk. Berdoa bersama. Lalu meniup lilin.

"Bang, apa harapan lo?"

"Harapan gue... kita langgeng. Sakinah, mawaddah, warahmah."

"Amin. Harapan gue sama."

Kami makan kue bersama. Rasanya? Lumayan. Sedikit kering, krimnya agak terlalu manis. Tapi itu adalah kue terenak yang pernah kumakan.

Setelah kue habis, kami bersandar di sofa. Mahdalena tiba-tiba bicara.

"Bang, Aku mau ngomong."

"Ya?"

"Alex... Aku bersyukur banget punya lo."

"Gue juga."

"Tapi kadang Aku takut."

"Takut apa?"

"Takut... kita berubah. Takut Aku berubah. Takut lo berubah."

Alex memeluknya. "Lena, perubahan itu pasti. Tapi yang penting, kita berubah bersama. Saling menjaga. Saling mengingatkan."

"Iya. Lo benar."

"Dan ingat, apa pun yang terjadi, gue bakal di samping lo."

Ia tersenyum. "Janji?"

"Janji. Kayak janji gue waktu pertama nulis di tembok."

"Puisi yang jelek itu?"

"Iya. Tapi tulus."

Ia tertawa. Dan untuk malam itu, semua baik-baik saja.


Di balik semua kebahagiaan, ada getir yang mulai kurasakan. Awalnya kecil. Tidak terlalu kuhiraukan. Tapi lama-lama, jadi beban.

Suatu malam, Mahdalena duduk dengan buku catatan keuangan.

"Bang, gaji bulan ini berapa?"

Alex menggaruk kepala. "1,2 juta. Cuma proyek 10 hari."

Ia mencatat. "Gaji ku 3,5 juta. Total 4,7. Pengeluaran bulan ini 3,2. Sisa 1,5. Nabung 1 juta, sisanya cadangan."

Alex mengangguk. "Oke."

"Bang, bulan depan kita harus hemat. Beras masih cukup, lauk kita atur. Jajan di luar dikurangi."

"Iya."

Ia menatapku. "Lo kenapa? Kok diem aja?"

"Nggak papa."

"Bang, Aku tahu lo mikir sesuatu."

Alex diam. Tapi akhirnya bicara.

"Dik, gue... gue nggak enak."

"Nggak enak kenapa?"

"Gue yang harusnya cari nafkah utama. Tapi nyatanya... lo yang lebih besar."

Ia mendekat. Memegang tanganku.

"Bang, kita suami istri. Nggak ada urusan siapa lebih besar. Yang penting kita sama-sama."

"Tapi gue... gue malu."

"Malu? Kenapa malu?"

"Gue laki-laki. Harusnya jadi tulang punggung. Tapi lo... lo yang justru menopang."

Mahdalena menghela napas. Lalu bicara dengan lembut.

"Bang, denger ya. Dulu, pas lo mau bantu biaya kuliah lena—meskipun salah transfer—Aku lihat ketulusan lo. Lo nggak mikir gede-kecilnya uang. Lo mikirnya gimana bantu Aku. Sekarang, gue juga sama. Gue nggak mikir gede-kecilnya gaji. Gue mikirnya gimana kita bisa hidup, nabung, dan bahagia. Itu aja."

Alex terharu. Tapi getir itu masih ada.

"Lo yakin nggak papa?"

"Yakin, Bang. Asal lo tetap berusaha. Tetap kerja. Tetap jadi Alex yang gue cintai."

Alex memeluknya. "Makasih, Dik. Makasih banyak."

"Udah, jangan baper. Sekarang bantu lena hitung pengeluaran."

Malam itu, kami menghitung bersama. Tapi dalam hati, ada yang berubah. Kesadaran bahwa peran mulai bergeser. Kesadaran bahwa Alex harus lebih keras berusaha.

Tapi untuk sekarang, cukup. Cukup dengan peluknya. Cukup dengan senyumnya. Cukup dengan cinta yang—entah sampai kapan—akan terus kami jaga.


Pagi itu, Alex bangun lebih awal. Sebelum Mahdalena bangun, Alex sudah di dapur. Masak air. Siapkan kopi. Goreng telur.

Saat Mahdalena bangun, ia kaget.

"Bang? Lo masak?"

"Iya. Biar lo nggak repot."

Ia mendekat. Memelukku dari belakang.

"Lo manis banget."

"Emang biasanya pait?"

"Idih, becanda."

Kami sarapan bersama. Saling menyuapi—tradisi pengantin baru yang entah sampai kapan bertahan.

Sebelum berangkat, ia berpesan.

"Bang, sore nanti jangan pulang kemalaman. Kita jalan ke sawah lagi ya."

"Iya, Sayang."

"Makasih udah masakin pagi ini."

"Sama-sama."

Ia mencium pipiku. Lalu pergi.

Alex berdiri di teras, memandangnya hingga hilang di ujung jalan. Lalu berangkat ke proyek dengan semangat baru.

Masa bulan madu ini indah. Sangat indah.

Dan Alex tidak tahu, badai akan datang. Tidak tahu bahwa semua ini akan berubah.

Tapi untuk sekarang, cukup.

Cukup dengan kebahagiaan sederhana.

Cukup dengan cinta yang tulus.

Cukup dengan dia.


BAB 6: Job Sepi, Masalah Datang

Tahun pertama pernikahan berjalan seperti aliran sungai di musim kemarau—tenang, lambat, tapi penuh kehidupan.

Setiap pagi, Alex masih berangkat ke proyek dengan semangat. Setiap sore, Alex pulang dan bertemu Mahdalena. Setiap malam, kami makan bersama, nonton TV, atau sekadar mengobrol ngalor-ngidul di teras kecil kontrakan.

Mahdalena sudah betah di Kantor Kecamatan. Ia bercerita tentang rekan-rekan kerjanya, tentang warga yang mengurus administrasi, tentang Pak Camat yang kadang lucu kadang galak. Alex bercerita tentang proyek, tentang Sugeng yang makin kocak, tentang Bejo yang masih ngorok kenceng.

Kami menabung. Perlahan, tapi pasti. Rekening tabungan mulai menunjukkan angka yang lumayan. Kadang kami membahas mimpi: beli rumah sendiri, punya anak, punya kendaraan roda empat—meski masih mimpi.

Tapi seperti kata orang, badai pasti datang setelah laut tenang. Dan badai itu datang tanpa diundang.


Suatu pagi, saat Alex tiba di proyek, suasananya berbeda. Biasanya para tukang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi hari itu, mereka berkumpul di dekat kantor mandor. Wajah-wajah tegang, bisik-bisik, ada yang geleng-geleng kepala.

Sugeng sudah di sana. Wajahnya pucat.

"Lex, sini!"

Alex mendekat. "Ada apa, Geng?"

"Pengembang kehabisan modal. Proyek dihentikan sementara."

Jantungku berhenti. "Apa?"

"Iya. Pak Haji Rudi baru ngumumin. Nggak tahu sampai kapan. Bisa sebulan, bisa setahun. Atau bisa... berhenti total."

Alex lemas. "Berarti kita dirumahkan?"

"Belum tahu. Yang jelas, hari ini kerja seperti biasa. Tapi besok? Nggak ada yang tahu."

Sepanjang hari itu, Alex bekerja dengan perasaan campur aduk. Cetok di tangan terasa berat. Semen terasa hambar. Semua seperti mimpi buruk.

Saat istirahat, Pak Haji Rudi memanggil semua tukang.

"Teman-teman, saya harus sampaikan kabar buruk. Pengembang kehabisan modal. Proyek ini terhenti sampai ada investor baru. Saya nggak tahu kapan. Mungkin minggu depan, mungkin bulan depan, mungkin nggak sama sekali. Untuk sementara, kalian bisa cari kerja di tempat lain. Kalau proyek lanjut, saya panggil lagi."

Sunyi. Tidak ada yang bicara.

Bejo, si tukang ngorok, angkat bicara. "Pak, berarti kita di-PHK?"

"Bukan PHK resmi. Tapi dirumahkan sementara. Tanpa pesangon. Maaf, teman-teman. Saya juga rugi."

Kami bubar dengan perasaan berat. Sugeng menepuk pundakku.

"Lex, lo masih bisa kerja? Atau libur dulu?"

"Gue nggak tahu, Geng. Masih syok."

"Ya udah. Kita cari proyek lain. Di kota pasti ada."

Alex mengangguk lesu. Tapi dalam hati, Alex tahu ini awal dari masalah.


Malam harinya, Alex pulang dengan perasaan gundah. Mahdalena sudah di rumah. Ia baru selesai mandi, rambut masih basah, sedang memasak di dapur.

"Bang, udah pulang? Bentar lagi makan."

Alex hanya mengangguk. Duduk di dipan, menatap lantai.

Mahdalena keluar dari dapur. Melihat wajahku, ia langsung tahu ada yang salah.

"Bang, kenapa? Kok lesu?"

Alex diam. Tidak tahu harus mulai dari mana.

"Bang, ngomong. Ada apa?"

Alex menarik napas panjang. "Proyek... libur."

"Libur? Libur kenapa?"

"Pengembang bangkrut. Nggak ada modal. Dirumahkan sementara."

Wajahnya berubah. Bukan marah, tapi cemas. Cemas yang dalam.

"Sampai kapan?"

"Nggak tahu. Mungkin minggu depan, mungkin bulan depan. Atau... mungkin berhenti total."

Ia diam. Lalu duduk di sampingku.

"Bang, bulan ini gajinya berapa?"

Alex menggaruk kepala—kebiasaan gugup. "Dua hari doang, Dik. Paling 300."

Mahdalena menghitung cepat. "300? Itu cukup buat bayar listrik sama air aja, Bang. Belum beras, lauk, dan tabungan."

Alex diam. Tidak bisa berkata apa-apa.

"Kita masih punya tabungan. Tapi nggak banyak. Mungkin cukup buat dua bulan kalau hemat."

"Maaf, Dik. Gue... gue nggak nyangka."

Ia memegang tanganku. "Bukan salah lo, Bang. Ini di luar kendali kita. Yang penting kita hadapi sama-sama."

Alex mengangguk. Tapi dalam hati, rasa bersalah mulai tumbuh.


Besok paginya, Mahdalena duduk dengan buku catatan keuangan. Wajahnya serius, seperti manajer bank yang sedang menghitung risiko.

"Bang, duduk sini."

Alex duduk di hadapannya. Seperti murid yang akan diinterogasi.

"Mulai sekarang, lena yang atur keuangan. Semua tagihan—listrik, air, sewa kontrakan—dialihkan ke rekeningku. Biar Aku yang bayar."

Alex mengangguk.

"Belanja kebutuhan juga lena yang urus. Kamu nggak perlu pusing."

"Iya."

"Kamu dikasih uang jajan harian. 10 ribu per hari. Buat rokok, jajan, atau kebutuhan mendadak. Cukup?"

Alex tersenyum getir. "Apa nggak kebanyakan, Dik? 10 ribu?"

Mahdalena menatapku. Matanya lembut, tapi tegas.

"Bang, kita harus hemat. Sampai situasi normal lagi."

Situasi normal. Frasa itu terasa berat.

"Lo tahu, Dik, gue..."

"Bang, lena tahu. Tapi ini sementara. Lo cari kerja sampingan. Kalau udah dapet, kita evaluasi lagi."

Alex menghela napas. "Iya."

Sejak hari itu, setiap pagi Mahdalena menyiapkan uang 10 ribu di meja. Dua lembar lima ribuan. Kadang ditambah dengan catatan kecil: "Bang, beli lauk yang murah ya" atau "Jajan dikit aja, Sayang".

Alex mengambil uang itu dengan perasaan getir. Dulu, Alex yang memberi uang jajan padanya. Sekarang, terbalik.


Di proyek, kabar tentang "situasi normal" jadi candaan pahit.

Sugeng, yang juga dirumahkan, sedang ngetem di pangkalan ojek. Alex mampir, curhat.

"Geng, gimana kabar?"

"Biasa, Lex. Jadi ojek full time. Lumayan, bisa makan."

"Masih cari proyek lain?"

"Cari. Tapi susah. Semua pada ketat."

Alex menghela napas. "Gue juga. Dari 10 ribu sehari, gue nabung dikit. Lumayan buat tambah-tambah."

Sugeng tertawa. "10 ribu? Itu buat lo apa buat istri?"

"Buat gue. Uang jajan."

"Wah, istri lo atur ya?"

"Iya. Dia yang pegang duit sekarang."

Sugeng mengangguk-angguk. "Gue juga nunggu situasi normal, Lex. Tapi istri gue udah normal-normal aja nyuruh cari kerja sampingan."

Alex tertawa getir. "Situasi normal jadi candaan ya, Geng?"

"Iya. Padahal nggak tahu kapan datangnya."

Kami diam. Menatap jalanan yang ramai.

"Tapi lo tahu, Lex? Yang berat bukan cuma soal duit. Tapi soal harga diri."

Alex menoleh. "Maksud lo?"

"Lo yang biasanya cari nafkah, sekarang diatur-atur sama istri. Itu yang berat."

Alex diam. Sugeng tepat.

"Tapi mau gimana lagi, Geng? Ini keadaan."

"Iya. Makanya kita harus kuat. Jangan sampai mental down."

"Gue usahakan, Geng."


Alex mulai cari kerja sampingan. Apa saja.

Pertama, jadi kuli bangunan di proyek kecil. Proyek renovasi rumah warga. Upahnya 50 ribu per hari. Tapi cuma dua hari. Selesai.

Kedua, jadi tukang cat rumahan. Ngecat rumah Pak RT—yang dulu pernah kucat. Kali ini cat ulang kamar tidur. Upah 200 ribu. Tiga hari kerja.

Ketiga, jadi buruh angkut di pasar. Bantu bongkar muat sayur. Upah 30 ribu per hari. Tapi cuma seminggu sekali.

Pendapatanku tidak menentu. Kadang 500 ribu sebulan, kadang 800, kadang cuma 300. Jauh di bawah gaji bulanan sebelumnya.

Setiap kali dapat uang, Alex serahkan ke Mahdalena. Ia akan mencatat, lalu memberi kembali uang jajanku—masih 10 ribu per hari.

"Bang, makasih ya usahanya."

"Iya, Dik."

"Kita kumpulin dikit-dikit. Semoga lekas ada proyek tetap."

Alex mengangguk. Tapi dalam hati, ada yang remuk.


Perlahan, suasana rumah mulai berubah.

Dulu, setiap pulang kerja, Mahdalena selalu menyambutku dengan senyum. "Bang, udah pulang? Capek, ya? Duduk dulu. Aku siapin minum."

Sekarang? Ia pulang dengan wajah lelah. Kadang langsung masuk kamar, ganti baju, tidur tanpa banyak bicara. Kadang hanya menyapa seadanya, "Bang, udah pulang?" lalu sibuk dengan tugas kantor yang dibawa pulang.

Suatu malam, ia pulang jam setengah delapan. Lebih malam dari biasanya. Alex sudah masak air, goreng telur, dan siapkan nasi. Tapi hasil masakanku? Telur gosong, nasi agak keras, sayur terlalu asin.

"Bang, ini masak?" tanyanya melihat meja makan.

"Iya. Biar lo nggak repot."

Ia duduk. Makan satu suap. Wajahnya berubah.

"Bang, ini telurnya gosong."

"Iya. Maaf, gue kurang jago."

"Sayurnya keasinan."

"Iya. Garannya kebanyakan."

Ia meletakkan sendok. Menghela napas panjang.

"Bang, udah... biar Aku aja."

Ia bangkit, masuk dapur, menggoreng telur baru. Alex hanya diam di meja, menatap makananku yang ditolak.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan telur dadar baru. Makan tanpa bicara.

Alex memberanikan diri. "Dik, maaf. Gue cuma mau bantu."

Ia menatapku. Matanya lelah. Bukan marah, tapi lelah.

"Bang, Aku tahu lo mau bantu. Tapi... tolong, lain kali tanya dulu. Atau belajar dulu. Jangan asal."

Alex diam. Tersudut.

"Iya. Maaf."

Malam itu, kami tidur tanpa obrolan. Hanya suara jangkrik di luar yang menemani.


Insiden lain terjadi beberapa hari kemudian.

Alex lagi-lagi mencoba membantu. Kali ini, mau masak air buat kopi. Tapi entah kenapa, kompor gas tiba-tiba mengeluarkan suara mendesis keras. Api membesar, hampir mengenai tabung.

"BANG! MATIKAN!" teriak Mahdalena dari kamar.

Alex panik. Berusaha mematikan kompor, tapi tangannya gemetar. Mahdalena berlari ke dapur, dengan cepat memutar knop kompor. Api padam. Tapi suara mendesis masih terdengar.

"Bocor selangnya," katanya, memeriksa. "Harus diganti."

Alex cuma bisa diam. Berkeringat dingin.

"Bang, lo nggak lihat api membesar?"

"Gue... gue kira biasa."

"Biasa? Itu hampir meledak!"

Alex tertunduk. "Maaf, Dik."

Ia menghela napas panjang. Lalu duduk di kursi dapur.

"Bang, duduk sini."

Alex duduk di hadapannya.

"Bang, Aku tahu lo mau bantu. Tapi dapur itu... bukan tempat lo."

Mendidih. Sesuatu dalam diriku mendidih.

"Maksud lo?"

"Maksudku, biar Aku aja yang urus dapur. Lo fokus cari kerja."

"Jadi gue nggak boleh bantu?"

"Bukan begitu. Tapi..."

"Tapi apa?"

Ia diam. Mencari kata-kata.

"Bang, lo lihat sendiri. Setiap lo bantu, hasilnya malah bikin repot. Telur gosong, sayur keasinan, kompor hampir meledak. Aku capek, Bang. Capek kerja seharian, pulang malah harus beresin ulang."

Kalimat itu menusuk. Dalam.

"Jadi... gue beban?"

"Bukan beban! Tapi..."

"Tapi apa, Dik? Bilang aja."

Ia menatapku. Matanya berkaca-kaca.

"Bang, Aku sayang lo. Tapi tolong... ngertiin Aku."

Alex bangkit. Masuk kamar. Membanting pintu—pelan, karena takut rusak.

Di kamar, Alex duduk di lantai. Menatap dinding. Dalam hati, ada yang remuk. Remuk total.


Malam Jumat, Alex ikut ronda. Biar lupa sejenak dari masalah.

Di pos kamling, Sugeng, Santoso, dan Anto sudah berkumpul. Api unggun kecil menyala. Kopi hitam pekat diseduh.

"Lex, kok lo ikut ronda?" tanya Santoso. "Biasanya kan nggak pernah."

"Pengin nyari angin."

"Ada masalah?"

Alex diam. Tapi Sugeng sudah tahu.

"Proyek sepi, istri ngambek," tebaknya.

"Bukan ngambek. Tapi... gue merasa gagal."

Anto sopir truk perusahaan langsung nyaut. "Gagal gimana? Lo kan udah berusaha."

"Usaha tapi hasilnya nol. Mau bantu di rumah, malah bikin kacau. Mau cari kerja, nggak nentu. Gue... gue ngerasa nggak berguna."

Santoso menepuk pundakku. "Lex, lo itu laki-laki. Jangan lembek."

Alex menatapnya. "Ini bukan lembek, San. Ini realita."

Sugeng ikut bicara. "Denger, Lex. Semua laki-laki pernah ngalamin masa sulit. Yang penting jangan nyerah. Lo masih muda. Masih kuat. Cari kerja di tempat lain. Di kota pasti ada."

"Gue udah coba, Geng. Tapi nggak nentu."

"Ya berarti coba lagi. Terus coba lagi. Sampai dapet."

Alex diam. Merenung.

Anto, dengan khasnya, memberi komentar pedas. "Tapi lo tahu, Lex? Masalah lo bukan cuma kerja. Tapi istri lo yang mulai ngatur."

Alex menoleh. "Maksud?"

"Istri lo kan PNS. Gajinya gede. Sekarang dia pegang duit, ngatur lo. Itu yang bikin lo ngerasa kecil."

Sugeng mengangguk. "Dia ada benarnya, Lex."

Alex menghela napas. "Terus gue harus gimana?"

Santoso menjawab, "Ya lo harus tegas. Tapi jangan kasar. Bicara baik-baik. Jelaskan perasaan lo."

"Gue udah coba. Tapi ujung-ujungnya debat."

"Ya berarti lo harus lebih pinter ngomong. Atau... buktikan kalau lo bisa."

Alex diam. Api unggun berderak. Kopi mulai habis.

Malam itu, Alex pulang dengan pikiran kacau. Tapi setidaknya, ada sedikit pencerahan.


Pagi harinya, Alex bangun lebih awal. Seperti dulu. Ke dapur, masak air, siapkan kopi. Tapi kali ini lebih hati-hati.

Mahdalena bangun, melihatku di dapur.

"Bang, masak lagi?"

"Iya. Tapi kali ini gue pastiin aman."

Ia duduk di kursi. Mengawasi.

Alex menuang air ke panci. Menyalakan kompor—kecil, tidak besar. Menunggu hingga mendidih. Lalu menuang ke cangkir berisi kopi dan gula.

"Ini, kopi buat lo."

Ia menerima. Menghirup aromanya. Lalu mencoba.

"Enak, Bang."

"Beneran?"

"Iya. Nggak terlalu manis, nggak terlalu pait. Pas."

Alex tersenyum. Lega.

"Bang, duduk sini."

Alex duduk di hadapannya.

"Bang, maaf soal semalam."

"Gue juga minta maaf."

"Aku capek, Bang. Capek banget. Tapi Aku sayang lo. Jangan pernah lupa itu."

"Gue tahu, Dik."

"Tapi Aku juga perlu lo ngerti. Aku butuh lo ada. Butuh lo support Aku. Bukan cari masalah baru."

Alex mengangguk. "Gue ngerti."

"Janji?"

"Janji."

Kami sarapan bersama. Hening, tapi hangat.

Tapi dalam hati, Alex tahu ini belum selesai. Badai baru saja mulai.


Beberapa minggu kemudian, ada kabar.

Pak Haji Rudi telepon. "Lex, proyek lanjut. Tapi skalanya kecil. Butuh beberapa tukang. Lo mau?"

Alex hampir loncat. "Mau, Pak! Mau banget!"

"Gajinya 80 ribu per hari. Nggak sebesar dulu, tapi lumayan."

"Gak apa-apa, Pak. Yang penting ada."

"Mulai Senin depan. Lo siap?"

"Siap, Pak!"

Alex tutup telepon. Ingin berteriak bahagia.

Malamnya, Alex cerita ke Mahdalena.

"Dik, kabar baik! Proyek lanjut!"

Ia tersenyum. "Serius, Bang?"

"Serius! Mulai Senin."

Alhamdulillah. Akhirnya ada harapan."

Ia memelukku. Pelukan hangat yang lama hilang.

"Bang, Aku bangga sama lo. Lo nggak nyerah."

"Gue juga bangga punya lo."

Malam itu, kami makan dengan lahap. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ada tawa di meja makan.

Tapi Alex tahu, ini baru awal. Masih panjang jalan ke depan. Dan badai belum benar-benar berlalu.

Tapi setidaknya, ada secercah cahaya.


"Situasi normal" akhirnya datang. Meski tidak normal-normal amat.

Proyek kecil berjalan. Penghasilan mulai mengalir. Mahdalena tidak lagi terlalu cemas. Tapi pola yang sudah terbentuk—ia yang pegang keuangan, ia yang atur belanja—masih berlanjut.

Alex masih dapat uang jajan 10 ribu per hari. Tapi kali ini, Alex tidak protes. Karena Alex tahu, ini untuk kebaikan bersama.

Suatu malam, di teras, Mahdalena bertanya.

"Bang, lo nggak marah?"

"Marah kenapa?"

"Karena Aku yang pegang duit."

Alex berpikir sejenak.

"Dik, awalnya gue marah. Atau lebih tepatnya, sakit hati. Tapi sekarang gue ngerti. Lo nggak bermaksud jahat. Lo cuma... melindungi kita."

Ia tersenyum. "Makasih, Bang."

"Makasih buat apa?"

"Makasih udah ngerti. Makasih udah bertahan."

Alex memeluknya. "Kita sama-sama, Dik. Sama-sama."

Di luar, bulan bersinar cerah. Sawah-sawah mulai menghijau lagi. Hidup berjalan, dengan segala pasang surutnya.

Dan kami masih di sini. Bersama.


BAB 7: Istri Jadi Tulang Punggung

Hari itu, sepulang kerja, Alex lihat Mahdalena sudah duduk di teras. Wajahnya berseri-seri, tapi ada juga gugup di matanya. Di tangannya, sebuah amplop coklat besar—amplop resmi dari kantor.

"Bang, udah pulang? Duduk sini."

Alex mendekat, duduk di sampingnya. "Kenapa, Dik? Wajah lo cerah banget."

"Bang... Aku mau ngasih tahu sesuatu."

"Apa?"

Ia membuka amplop. Mengeluarkan surat resmi dengan kop Kantor Kecamatan. Alex membaca cepat.

"Pengangkatan dalam jabatan fungsional... kenaikan pangkat... golongan baru..."

Alex mengerutkan dahi. "Ini artinya?"

"Artinya, Aku naik pangkat, Bang. Jadi PNS tetap dengan golongan lebih tinggi. Gajiku naik hampir dua kali lipat."

Dunia serasa berhenti.

Dua kali lipat. Gaji PNS yang sudah lumayan, dikali dua.

"Serius, Dik?"

"Serius! Lihat ini!"

Ia menunjukkan surat itu. Alex baca detail. Semua resmi. Tanda tangan pejabat. Stempel basah.

"Astagfirullah... ini... ini hebat banget."

Alex memeluknya. Tapi dalam pelukan itu, ada rasa aneh yang menyelinap. Kecil. Samar. Tapi ada.

Bangga? Iya, bangga sekali. Istriku naik pangkat. Istriku sukses.

Tapi di pojok hati, ada bisikan kecil: "Lo sekarang makin tertinggal, Lex."

Alex diamkan bisikan itu. Ini saatnya bahagia.


Malamnya, Mahdalena mengajakku makan di warung pecel lele. Satu-satunya warung buka malam di Desa Awan Biru. Tempatnya sederhana—tenda plastik, lampu neon satu, meja kayu panjang. Tapi buat kami, itu sudah mewah.

"Bang, kita rayain! Aku traktir!" serunya sambil duduk.

"Lo traktir? Ini kan uang lo?"

"Uang kita, Bang. Jangan lo-gue terus."

Alex tersenyum. "Iya, Sayang."

Kami pesan pecel lele double. Dua ekor lele goreng garing, sambal terasi, lalapan lengkap, dan nasi putih hangat. Plus es teh manis masing-masing.

Mahdalena makan dengan lahap. Matanya berbinar.

"Bang, rencananya, kita renovasi kontrakan. Cat ulang, perbaiki atap yang bocor, beli kulkas biar bisa nyimpen lauk."

Alex mengunyah lele. Rasanya... hambar. Entah karena lelenya atau hatiku.

"Terus, kita cicil motor, Bang. Biar kamu nggak naik angkot terus. Lebih cepat kalau mau ke mana-mana."

Alex mengangguk. "Iya."

"Terus, kita nabung lebih gede. Target setahun bisa buat DP rumah. Rumah sendiri, Bang. Bukan kontrakan lagi."

"Iya."

Ia berhenti makan. Menatapku.

"Bang, kok dijawab iya terus? Lo seneng nggak?"

Alex tersadar. "Seneng, Dik. Seneng banget."

"Beneran? Wajah lo kok kaya gitu?"

"Gue... gue lagi mikir. Ini semua keren banget. Lo hebat."

Ia tersenyum. "Kita hebat, Bang. Bareng-bareng."

Alex mencoba tersenyum. Tapi di dalam, lele itu masih terasa hambar.


Pulang dari warung, jalanan sepi. Hanya suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong dari kejauhan. Mahdalena memegang tanganku. Tangannya hangat.

"Bang, jangan sedih ya."

Alex menoleh. "Sedih? Lo pikir gue sedih?"

"Wajah lo. Dari tadi. Mungkin lo pikir Aku nggak lihat. Tapi Aku lihat."

Alex diam. Tidak tahu harus berkata apa.

"Ini rezeki kita berdua, Bang. Bukan rezeki Aku doang."

"Iya, Dik. Gue tahu."

"Lo bangga nggak sama Aku?"

"Bangga. Bangga banget."

"Tapi kenapa muka lo kayak habis gigit jeruk nipis?"

Alex tertawa pahit. "Gue... gue mungkin masih nyadar."

"Nyadar apa?"

"Nyadar kalau gue makin tertinggal."

Ia berhenti. Memandangku serius.

"Bang, jangan mikir gitu. Kita tim. Kalau Aku maju, lo juga maju. Kalau Aku dapat rezeki, lo juga dapat."

"Tapi ini semua dari kerja lo. Dua kali lipat dari gaji lo. Sementara gue... masih 80 ribu per hari. Kadang nggak tetap."

Ia memegang kedua pundakku.

"Denger, Aku. Gue nggak akan bisa sampai di sini tanpa lo. Tanpa dukungan lo. Tanpa doa lo. Tanpa lo yang nemenin Aku jaga warung dulu. Tanpa lo yang salah transfer tiga juta. Itu semua bagian dari perjalanan kita. Jadi jangan pernah merasa kecil."

Alex terharu. "Makasih, Dik."

"Janji, nggak akan mikir aneh-aneh?"

"Janji."

Kami berjalan pulang bergandengan. Tapi dalam hati, janji itu terasa berat untuk ditepati.


Kenaikan pangkat membawa konsekuensi. Mahdalena makin sibuk.

Dulu, ia pulang sekitar jam setengah lima. Sekarang, jam enam baru sampai. Kadang jam tujuh. Pernah jam sembilan, karena ada rapat dinas.

Alex di rumah, menunggu. Masak air. Siapkan makan. Tapi hasil masakanku? Nasi setengah matang. Sayur terlalu asin. Telur gosong. Daging keras.

Setiap kali ia pulang, ia akan melihat meja makan, lalu menghela napas.

"Bang, tadi masak?"

"Iya. Nyoba bikin sop."

Ia mencicip. Wajahnya berubah.

"Bang, ini sayurnya keasinan."

"Iya. Maaf."

"Dagingnya keras."

"Iya. Mungkin kurang lama masaknya."

Ia meletakkan sendok. Mengusap wajah.

"Biar Aku aja besok. Udah capek, Bang."

Kalimat itu. Biar Aku aja. Tiga kata yang mulai sering kudengar.

Awalnya untuk masak. Lalu untuk bersih-bersih. Lalu untuk belanja. Lalu untuk semuanya.

Suatu malam, Alex memberanikan diri.

"Dik, gue bisa kok bantu. Kasih gue kesempatan."

Ia menatapku. Lelah.

"Bang, Aku tahu lo mau bantu. Tapi lihat hasilnya. Nasi setengah matang, sayur keasinan, daging keras. Aku capek kerja seharian, pulang-pulang harus beresin dapur lagi. Aku nggak kuat, Bang."

"Itu karena gue masih belajar."

"Belajar sudah berbulan-bulan, Bang. Kapan mahirnya?"

Pertanyaan itu menusuk. Alex tidak bisa menjawab.

"Ya udah, gue usahakan lebih baik."

"Ya udah. Tapi untuk sekarang, biar Aku aja."

Alex mundur. Ke ruang tamu. Duduk di dipan. Menatap TV yang tidak dinyalakan.

Di luar, kodok bersahutan. Dalam hati, ada yang remuk.


Pagi itu, suasana berbeda. Mahdalena bersiap lebih awal. Ia memakai seragam dinas rapi, berdandan sedikit—lipstik tipis, bedak tipis.

"Bang, hari ini Aku rapat pagi. Pleno dengan Pak Camat."

"Iya."

"Bang, tolongin ya, setrika baju dinasku. Yang biru. Buat rapat besok."

Alex mengangguk. "Oke."

Ia pergi. Meninggalkan Alex di rumah dengan setumpuk baju dan setrika.

Alex ambil setrika. Panaskan. Ambil baju biru itu—kemeja dinas dengan emblem kecamatan Kabut Merah. Kulihat detailnya. Rapi. Mahal.

Alex setrika dengan hati-hati. Tapi tanganku gemetar. Ini pertama kalinya Alex menyetrika baju dinas. Dulu, pekerjaan ini selalu ia lakukan sendiri.

Lipatan tidak rapi. Kerah masih kusut. Dan—sial—setrikanya kelamaan di satu titik. Noda kuning kecoklatan muncul di bagian lengan.

Sial! Sial! SIAL!

Alex panik. Mengucek noda itu. Tapi malah melebar. Menjadi gosong.

Alex duduk lemas. Baju itu... baju dinas pertamanya setelah naik pangkat. Dan Alex merusaknya.


Sore itu, Mahdalena pulang lebih awal. Jam setengah lima. Alex di ruang tamu, diam.

"Bang, udah pulang? Baju dinasku udah disetrika?"

Alex menunjuk ke arah baju yang tergantung. Ia mendekat. Memeriksa.

Wajahnya berubah. Dari senyum, jadi datar. Lalu... kecewa.

"Bang, ini... gosong?"

Alex tertunduk. "Iya. Maaf."

"Di bagian lengan. Gosong."

"Iya."

"Bang, ini baju dinas baru. Aku beli kemarin. 250 ribu."

Alex tidak bisa berkata apa-apa.

Ia menghela napas panjang. Lama.

"Udah, nggak apa-apa. Nanti Aku setrika ulang aja. Mungkin masih bisa ditutup."

Alex diam. Harga diri ini rasanya seperti baju yang hampir gosong.

Ia mengambil baju itu. Berjalan ke kamar. Tanpa bicara lagi.

Malamnya, kami makan dalam diam. Tidak ada obrolan. Hanya suara sendok dan piring.

Setelah makan, Alex memberanikan diri.

"Dik, gue minta maaf."

Ia menatapku. "Bang, Aku nggak marah."

"Tapi wajah lo..."

"Aku capek, Bang. Capek fisik, capek pikiran. Rapat seharian, urus administrasi, hadapi orang-orang. Pulang-pulang, lihat baju gosong. Itu... tambah capek."

"Gue bisa bantu apa?"

Ia diam. Lalu bicara pelan.

"Bang, tolong... jangan maksain diri. Kalau nggak bisa, bilang nggak bisa. Aku nggak akan marah. Tapi kalau maksain terus, hasilnya malah begini."

Alex diam. Mencerna.

"Jadi gue... gue harus gimana?"

"Bantu Aku di hal-hal yang lo bisa. Kalau setrika belum bisa, jangan setrika. Mungkin nyapu, ngepel, bersihin halaman. Itu juga bantu."

"Iya."

"Dan tolong, jangan sedih-sedih. Ini bukan akhir dunia."

Alex mengangguk. Tapi dalam hati, tetap ada yang remuk.


Malam Minggu, Alex jalan sendiri ke sawah. Duduk di pematang, tempat dulu kami sering menghabiskan waktu.

Tak lama, Mahdalena datang. Duduk di sampingku.

"Bang, ngapain di sini?"

"Mikir."

"Mikir apa?"

Alex diam. Lalu bicara.

"Dik, gue ngerasa... ilang."

"Ilang?"

"Ilang harga diri. Dulu gue yang cari nafkah. Dulu gue yang diandalkan. Sekarang? Lo yang segalanya. Gue cuma... numpang."

Ia memegang tanganku.

"Bang, lo tahu nggak? Dulu, waktu Aku masih kuliah, Aku sering iri sama temen-temen yang punya pacara mapan. Yang bisa traktir makan di restoran. Yang bisa kasih hadiah mahal."

Alex diam.

"Tapi Aku milih lo. Bukan karena lo kaya. Tapi karena lo tulus. Karena lo mau nulis puisi di tembok. Karena lo rela salah transfer. Karena lo datang ke wisudku pake baju sobek. Itu yang Aku pilih."

"Tapi sekarang..."

"Sekarang sama. Lo masih Alex yang dulu. Yang baik hati. Yang sayang sama Aku. Yang selalu berusaha. Itu nggak berubah."

"Tapi peran berubah."

"Peran boleh berubah, Bang. Yang penting hati nggak berubah."

Alex terharu. Memeluknya.

"Makasih, Dik."

"Jangan makasih. Aku nggak mau dimakasihin. Aku mau lo... lo lagi. Alex yang dulu. Yang percaya diri. Yang berani."

Alex menghela napas. "Gue usahakan."

"Bukan usahakan. Lakukan."

Alex tersenyum. "Iya, Bu Lurah."

Ia memukul lenganku. Tapi lembut.


Pagi harinya, Alex bangun lebih awal. Ke dapur, masak air, siapkan kopi. Lalu ke halaman, menyapu daun-daun kering.

Mahdalena bangun, melihatku dari teras.

"Bang, udah bangun?"

"Iya. Lo mau kopi?"

"Iya. Makasih."

Alex buatkan kopi. Ia duduk di teras, menikmati pagi.

"Bang, hari ini Aku rapat lagi. Pulang mungkin malam."

"Iya. Gue masak."

"Masak apa?"

"Belum tahu. Tapi gue janji, nggak akan gosong."

Ia tersenyum. "Aku tunggu."

Sebelum berangkat, ia berpesan.

"Bang, jangan lupa setrika baju yang putih. Tapi hati-hati, jangan gosong."

"Siap, bu Lurah."

Ia tertawa. Lalu pergi.

Alex di rumah, dengan setrika dan baju. Kali ini lebih hati-hati. Setrika perlahan. Atur suhu. Cek terus.

Hasilnya? Lumayan. Tidak rapi seperti setrikaan profesional, tapi tidak gosong.

Malamnya, Mahdalena pulang. Lihat baju-baju tergantung rapi.

"Wah, Bang, bagus ini!"

"Beneran?"

"Iya. Jauh lebih baik dari kemarin."

Alex bangga. Bangga kecil, tapi berarti.

"Bang, makasih ya."

"Sama-sama, Dik."

"Lo hebat."

Alex tersenyum. Mungkin tidak sehebat dulu. Tapi setidaknya, Alex masih bisa berguna.


Hari-hari berlalu. Mahdalena makin sibuk. Alex makin sering di rumah.

Alex belajar banyak hal: menyapu yang benar, mengepel tanpa becek, memasak sederhana, setrika tanpa gosong. Perlahan, hasilnya membaik.

Suatu malam, kami makan bersama. Masakanku—sayur sop, telur dadar, tempe goreng. Sederhana, tapi tidak gosong.

"Bang, ini enak," kata Mahdalena.

"Beneran?"

"Iya. Sopnya pas, telurnya matang, tempenya renyah."

Alex tersenyum bangga.

"Lo tahu, Bang? Aku lihat lo berubah."

"Berubah jelek?"

"Berubah lebih baik. Lebih sabar. Lebih perhatian."

"Emang dulu nggak?"

"Dulu juga perhatian. Tapi sekarang lebih... dewasa."

Alex tertawa. "Gue jadi dewasa karena terpaksa."

"Terpaksa atau tidak, yang penting hasilnya."

Malam itu, kami ngobrol panjang. Tentang peran baru. Tentang penyesuaian. Tentang masa depan.

"Bang, lo nggak masalah kan dengan peran baru lo?"

"Masalah sih. Tapi gue belajar menerima."

"Lo tetap laki-laki. Tetap suamiku. Tetap Alex yang gue cintai."

Alex tersenyum. Memeluknya.

"Iya, Dik. Gue tetap Alex."

Di luar, bulan bersinar terang. Sawah-sawah mulai ditanami lagi. Hidup berjalan, dengan segala dinamikanya.

Dan Alex—mantan tukang bangunan yang sekarang lebih sering di rumah—mulai belajar bahwa harga diri tidak hanya diukur dari seberapa besar gaji, tapi seberapa besar cinta yang bisa diberikan.


BAB 8: Perintah Pertama

Minggu pagi seharusnya menjadi hari paling sakral dalam hidup seorang laki-laki yang bekerja keras sepanjang minggu. Hari di mana kita bisa tidur sampai puas, bangun siang, ngopi santai, dan tidak memikirkan apa-apa selain menikmati liburan.

Itu teorinya.

Praktiknya, pukul setengah enam pagi, suara itu sudah menggelegar di telingaku.

"MAAAAAS... BANGUN!"

Alex tersentak. Badanku hampir melompat dari dipan. Mata masih setengah tertutup, tapi refleks bertahan hidup membuatku langsung duduk.

"A-ada apa? Kebakaran? Maling?"

Kulihat jam dinding. 05.28. Mataku memicing, mencoba memastikan apakah ini nyata atau mimpi buruk.

Hari Minggu. Setengah enam pagi. Ini kejahatan kemanusiaan.

"Mas, bangun! Cepetan! Bantu Aku!"

Suara Mahdalena datang dari dapur, bernada panik tapi juga bersemangat. Alex menggosok mata, berusaha mengusir sisa-sisa mimpi indah yang baru saja dirampas paksa.

Dengan langkah gontai, Alex berjalan menuju dapur. Dan di sana, pemandangan yang membuatku langsung melek.

Mahdalena sudah lengkap dengan daster rumah, rambut diikat tinggi, dan celemek motif bunga. Di sekelilingnya, wajan berasap, sayur-mayur berserakan di atas talenan, panci mendidih di kompor, dan bau bawang goreng memenuhi ruangan. Ia bergerak cepat, seperti tentara yang sedang bertempur di medan perang.

"Mas, akhirnya bangun! Cepetan sini!"

Alex menggaruk kepala yang tidak gatal. "Dik, ini jam setengah enam pagi. Hari Minggu."

"Iya, Aku tahu."

"Libur, Dik. Hari libur."

"Iya, Aku tahu. Tapi Bu RT sama rombongan arisan mau datang jam 9."

Alex mengerjapkan mata. "Arisan? Hari Minggu?"

"Iya. Arisan Minggu pagi. Tradisi desa. Udah, jangan banyak tanya! Bantu Aku!"

Alex menghela napas panjang. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Dan hidupku, untuk pertama kalinya, memasuki babak baru: babak di mana Aku disuruh-suruh oleh istriku sendiri.


Mahdalena berhenti sejenak. Ia menarik napas, lalu menatapku dengan mata itu—mata yang biasa ia pakai kalau sedang serius.

"Mas, denger ya. Ini tugas-tugas yang harus kamu kerjakan."

Alex mengangguk, masih setengah sadar.

"Pertama, sapu halaman depan. Bersihin semua dedaunan kering."

"Iya."

"Kedua, rapikan ruang tamu. Susun bantal-bantal, bersihin meja, sapu dan pel."

"Iya."

"Ketiga, bersihin teras. Lap semua kursi plastik. Itu Bu RT sama rombongan bakal duduk di luar."

"Iya."

"Terus, kalau semua udah beres, kamu bantu Aku potong-potong bawang. Bawang merah, bawang putih, sama daun bawang. Pisah-pisah ya, jangan dicampur."

"Iya."

"Lo ngerti semua?"

"Ngerti."

"Baik. Mulai sekarang. Cepetan! Waktu mepet!"

Alex berbalik, berjalan menuju halaman depan. Tapi sebelum sampai pintu, suaranya memanggil lagi.

"Mas!"

Alex menoleh.

"Makasih ya."

Alex tersenyum tipis. "Iya."

Perang Minggu pagi dimulai.


Alex ambil sapu lidi di belakang rumah. Alat tradisional yang batangnya sudah mulai rontok. Dengan semangat yang masih tersisa, Alex mulai menyapu halaman depan.

Halaman kontrakan kami tidak luas. Mungkin 3x4 meter. Tanahnya campuran antara semen dan tanah asli. Di pojok, ada satu pohon mangga kecil—pohon yang kami tanam waktu awal nikah, sekarang sudah setinggi dua meter.

Dari pohon mangga itu, daun-daun kering berguguran. Padahal baru semalam disapu. Pohon ini sepertinya punya agenda pribadi untuk membuatku kerja keras.

Alex menyapu dengan metode spiral—dari pinggir ke tengah. Daun-daun kering terkumpul jadi gundukan kecil. Tapi angin pagi—yang sedari tadi bersahabat—tiba-tiba berubah jadi musuh. Sekali bertiup, daun-daun itu berhamburan kembali ke semua penjuru.

"Sial," umpatku pelan.

Alex mulai lagi. Kali ini lebih cepat. Lebih agresif. Sapu lidi kuayunkan dengan tenaga ekstra. Debu beterbangan, membuatku batuk-batuk.

"Mas! Cepetan!" teriak Mahdalena dari dapur.

"Iya, iya!"

Setengah jam kemudian, gundukan daun akhirnya terbentuk. Alex ambil pengki, menyendoknya ke dalam karung bekas. Selesai.

Tapi ketika Alex melihat hasilnya... debu masih berserakan di mana-mana. Debu halus yang tidak tertangkap sapu lidi. Dan debu itu—tanpa ampun—terbang ke arah pintu terbuka. Masuk ke ruang tamu.

Alex diam. Menatap malapetaka yang baru saja kubicarakan.


"Mas, udah jam 7!"

Alex berlari ke dalam. Ambil kain pel dan ember. Isi air, campur dengan pembersih lantai. Lalu mulai mengepel ruang tamu.

Ruang tamu kami sederhana. Satu set sofa bekas—hadiah dari saudara. Satu meja kayu. Satu rak TV dengan TV tabung 14 inci. Dan karpet kecil di tengah.

Alex mengepel dengan metode zig-zag, seperti yang kulihat di TV. Tapi entah kenapa, air pel jadi hitam dalam waktu singkat. Debu dari halaman—yang tadi terbawa angin—sudah mendarat di lantai ruang tamu. Bercampur dengan air, jadilah lumpur tipis.

Alex mengepel lagi. Air hitam. Peras. Pel lagi. Air hitam lagi. Lingkaran setan.

"Mas! Bawangnya!" teriak Mahdalena.

Alex panik. Lari ke dapur dengan kain pel masih di tangan.


Di dapur, Mahdalena sedang sibuk menggoreng sesuatu. Minyak panas, wajan berasap, bau sedap mulai tercium.

"Ini bawangnya, potong yang banyak! Cepetan!"

Alex letakkan kain pel di pojok—mungkin salah, tapi tidak ada waktu. Cuci tangan, ambil talenan, ambil pisau, ambil bawang.

Bawang merah. Satu, dua, tiga, empat... kupas kulitnya. Mata mulai pedih.

Bawang putih. Lima siung. Kupas. Mata makin pedih.

Daun bawang. Iris tipis. Pisahkan dengan bawang lainnya.

Tapi di tengah-tengah, air mataku mulai mengalir. Bukan tangis. Ini efek bawang. Alex membela diri dalam hati.

"Mas, itu bawangnya jangan dicampur!" Mahdalena berteriak dari kompor.

Alex lihat ke talenan. Bawang merah dan bawang putih sudah bercampur. Daun bawang juga ikut masuk. Semua jadi satu.

"I-ini... pisah?"

"Iya, pisah! Bawang merah buat tumis, bawang putih buat bumbu halus, daun bawang buat tabur!"

"Maaf, Dik. Gue kira..."

"Ya udah, pisahin sekarang! Cepetan!"

Alex buru-buru memisahkan. Tapi sudah telanjur campur. Akhirnya, dengan metode perkiraan, Alex memisahkan kira-kira. Tidak sempurna, tapi mudah-mudahan cukup.

Mata makin pedih. Air mata makin deras. Alex seperti menangis tersedu-sedu di dapur.

Mahdalena melihatku. Lalu tertawa.

"Mas, lo nangis?"

"Ini efek bawang!"

"Iya, iya. Efek bawang katanya."

"Diem lo!"

Ia tertawa lagi. Dan untuk beberapa detik, dapur yang panas ini terasa hangat.


Pukul setengah sembilan. Waktu mepet setengah jam lagi.

Alex sudah menyelesaikan potong bawang—mata masih merah, tapi tidak apa. Sekarang, tugas terakhir: menata ruang tamu.

Mahdalena sibuk di dapur dengan gorengan dan kue-kue. Alex di ruang tamu, mengatur bantal, membersihkan meja, dan memastikan tidak ada debu yang tersisa.

Keringatku bercucuran. Baju sudah basah. Ada noda bawang di lengan—bau menyengat. Tapi tidak apa. Ini perang.

"Mas, tolong angkat kue-kue ini ke meja!"

Alex lari ke dapur, ambil nampan berisi aneka gorengan. Pisang goreng, risoles, pastel, lumpia. Wanginya bikin perut keroncongan.

Alex letakkan di meja ruang tamu, susun rapi. Lalu kembali ke dapur ambil minuman. Es teh dalam termos besar.

"Mas, kursi-kursi teras udah dilap?"

"Udah!"

"Meja teras?"

"Udah!"

"Tanaman udah disiram?"

"Udah!"

Mahdalena memeriksa sekeliling. Matanya tajam, seperti inspektur jenderal.

"Bagus. Sekarang kamu duduk dulu. Istirahat."

Alex lemas. Duduk di pojok ruang tamu, di kursi kecil yang biasanya buat tamu kelebihan. Keringat masih mengucur. Bajuku kusut, basah, dan bau bawang.

Mahdalena lalu-lalang di depanku. Ia sudah berganti baju—daster rumah diganti dengan baju muslimah warna pastel, jilbab rapi, sedikit riasan tipis. Cantik. Wangi. Segar.

Sementara Alex? Alex seperti orang habis dijemur dan direndam bawang.


Pukul 9 kurang 10 menit, suara motor mulai terdengar dari kejauhan. Satu, dua, tiga, empat... semakin banyak.

Mahdalena berdiri di teras, siap menyambut. Alex di dalam, siap di belakang layar.

Bu RT datang pertama. Perempuan paruh baya dengan tubuh berisi, baju batik, rambut disasak tinggi. Disusul Bu RW, Bu Kades, dan sederet ibu-ibu lain. Total sekitar 15 orang.

"Selamat pagi, Bu RT! Selamat pagi, Bu-Bu semua!" sapa Mahdalena ramah.

"Pagi, Bu Lena! Rumahnya rapi sekali!"

"Terima kasih, Bu. Silakan masuk."

Mereka berduyun-duyun masuk. Alex berdiri di pojok ruang tamu, berusaha tidak mencolok. Tapi gagal total.

"Ini siapa, Bu Lena? Suami?" tanya salah satu ibu—Bu RT, tepatnya.

Mahdalena menoleh ke arahku. Tersenyum.

"Iya, Bu. Ini Alex, suami saya."

Semua mata tertuju padaku. Alex tersenyum kaku, seperti patung.

"Wah, suami idaman! Bisa bantu-bantu di rumah!" seru Bu RT.

Beberapa ibu terkikik. Yang lain tersenyum-senyum.

Alex ikut tertawa, meski tidak paham lucunya di mana. Dalam hati, ada yang aneh. Tapi biarlah.

"Silakan duduk, Bu-Bu. Silakan."

Mereka duduk, mulai mengobrol, tertawa, dan membahas hal-hal duniawi—gosip, resep masakan, harga sembako, dan politik desa. Alex diam di pojok, tidak tahu harus ke mana.

Mahdalena duduk bersama mereka, nyambung ngobrol dengan luwes. Ia tertawa paling keras saat Bu RT bercerita tentang menantunya yang baru punya anak.

Alex tersenyum melihatnya. Istriku. Cantik, pintar, dan sekarang jadi pusat perhatian.

Tapi di pojok ruangan, Alex hanya penonton.


Setelah beberapa menit, tanpa ada yang menyuruh, Alex beranjak ke dapur. Mencuci piring.

Ya, mencuci piring. Karena pembantu lagi tidak ada. Dan pembantunya ya saya.

Dapur masih berantakan. Wajan, panci, talenan, pisau, dan piring-piring kotor menggunung. Alex nyalakan air, tuang sabun, dan mulai mencuci.

Dari ruang tamu, suara gelak tawa terdengar. Ibu-ibu sedang bergosip ria. Mahdalena tertawa paling keras. Alex bisa membedakan tawanya—khas, ringan, seperti lonceng kecil.

Alex mencuci piring sambil mendengar tawa itu. Bayanganku terpantul di sendok stainless steel. Wajahku kusut, capek, baju basah, bau bawang.

Tapi di balik itu, ada senyum kecil. Senyum yang tidak tahu dari mana asalnya.

Ini bukan peran yang kumau. Dulu, Alex membayangkan jadi suami yang gagah, cari nafkah besar, pulang dengan kebanggaan. Sekarang, Alex mencuci piring sementara istriku bersosialisasi dengan para ibu.

Tapi ini yang bisa kulakukan sekarang. Ini peranku. Dan untuk hari ini, cukup.

Satu per satu piring kuselesaikan. Dua puluh menit berlalu. Dapur mulai rapi.

Tiba-tiba, Mahdalena muncul di pintu dapur.

"Bang, kok di sini?"

"Cuci piring."

"Loh, biar nanti aja. Udah capek."

"Udah hampir selesai. Tinggal sedikit."

Ia mendekat. Melihat piring-piring yang sudah bersih berjejer di rak.

"Bang, makasih ya."

"Sama-sama."

Ia memelukku dari belakang. Pelukan singkat, tapi hangat.

"Lo hebat."

"Gue cuma cuci piring."

"Bukan. Lo hebat karena lo ada. Karena lo bantu. Karena lo... lo."

Alex tersenyum. Tanganku masih basah, tapi hatiku hangat.

"Sana balik lagi. Tamu lo nunggu."

"Iya. Tapi nanti lo gabung ya. Jangan di dapur terus."

"Gue malu."

"Malu kenapa?"

"Baju basah. Bau bawang."

Ia tertawa. "Ya udah. Tapi nanti setelah mereka pulang, kita ngobrol ya."

"Iya."

Ia kembali ke ruang tamu. Alex kembali ke piring terakhir.


Jam 11 siang, rombongan arisan pulang. Suara motor hilang satu per satu. Rumah kembali sunyi.

Mahdalena masuk ke dapur. Wajahnya capek, tapi bahagia.

"Bang, akhirnya selesai."

"Alhamdulillah."

Ia duduk di kursi dapur. Alex duduk di depannya.

"Lo capek banget?"

"Capek. Tapi seneng."

"Aku juga capek. Tapi seneng."

Kami diam sejenak. Lalu Mahdalena bicara.

"Bang, lo tahu nggak, tadi Bu-Bu pada nanya tentang lo."

"Nanya apa?"

"Nanya, 'Suami Bu Lena kerja apa?' Aku bilang, tukang bangunan. Terus mereka bilang, 'Wah, suami idaman. Bisa bantu-bantu di rumah.'"

Alex tersenyum getir. "Itu pujian?"

"Pujian. Mungkin maksudnya."

"Mungkin."

Ia memegang tanganku.

"Bang, Aku tahu peran lo sekarang berbeda. Tapi Aku bangga sama lo."

"Bangga? Gue cuma di rumah, bantu-bantu kecil."

"Bukan kecil. Itu besar. Karena tanpa bantuan lo, Aku nggak akan bisa fokus kerja. Rumah akan berantakan. Aku akan stres."

Alex diam.

"Jadi, tolong jangan remehkan diri lo sendiri. Lo tetap suami. Tetap kepala rumah tangga. Hanya saja, perannya berbeda."

Alex merenung. Lalu tersenyum.

"Makasih, Dik."

"Udah, jangan baper. Sekarang bantu Aku beres-beres. Nanti kita makan siang bareng."

Kami bereskan rumah bersama. Dapur, ruang tamu, teras. Semua kembali rapi.

Lalu makan siang bersama. Sederhana, tapi hangat.


Sore harinya, kami jalan ke sawah. Seperti dulu. Duduk di pematang, lihat matahari terbenam.

"Bang, hari ini gimana perasaan lo?"

"Campur aduk."

"Campur aduk gimana?"

"Lelah, capek, tapi... puas."

"Puas?"

"Iya. Gue ngerasa berguna. Meskipun cuma nyapu, ngepel, potong bawang."

Ia tersenyum. "Itu yang Aku mau. Lo ngerasa berguna."

"Lo tahu, Dik? Dulu gue kira jadi suami itu harus cari nafkah besar. Tapi sekarang, gue mulai paham. Jadi suami itu... tentang ada. Tentang mendukung. Tentang melakukan apa pun yang bisa dilakukan."

"Tepat."

"Meskipun itu berarti jadi... asisten rumah tangga?"

Ia tertawa. "Bukan asisten. Partner. Tim."

Alex tersenyum. Memandang langit jingga.

"Bang, Aku janji. Nanti kalau keadaan membaik, kita bagi peran lagi. Seimbang."

"Iya, Dik. Gue percaya."

"Tapi untuk sekarang..."

"Untuk sekarang, gue jadi apa adanya. Dan itu cukup."

Kami bergandengan tangan. Pulang ke rumah, ke kontrakan kecil yang hari ini—untuk pertama kalinya—Alex merasa benar-benar menjaganya.

Bukan dengan uang. Tapi dengan keringat. Dengan air mata bawang. Dengan hati.

Dan itu lebih dari cukup.


BAB 9: Masak yang Menghancurkan Dapur

Pagi itu, matahari bersinar cerah. Burung-burung berkicau riang di pohon mangga belakang rumah. Angin sepoi membawa aroma padi dari sawah. Semua terasa damai.

Terlalu damai.

Mahdalena sudah berangkat sejak jam 7 pagi. Dinas luar ke Kabupaten, katanya. Rapat koordinasi seharian. Pulang mungkin maghrib.

Alex di rumah sendirian. Dengan waktu luang delapan jam. Dan sebuah ide gila mulai bersemi di kepala.

"Gue masak," gumamku pada diri sendiri.

Bukan masak air. Bukan goreng telur. Tapi masak beneran. Nasi goreng spesial. Untuk kejutan buat Mahdalena.

Ide ini sebenarnya sudah lama mengendap. Setiap kali melihat Mahdalena pulang capek lalu harus masak lagi, hatiku perih. Alex ingin membantu. Tapi selama ini, setiap bantu malah bikin repot. Sekarang, dengan waktu luang panjang, Alex punya kesempatan membuktikan diri.

"Alex bisa," kataku penuh yakin.

Dua jam kemudian, keyakinan itu mulai goyah.


Sebelum memulai, Alex melakukan riset mendalam. Buka YouTube, cari video "nasi goreng spesial ala restoran". Tonton tiga video berbeda. Catat bahan-bahannya. Hafalkan langkah-langkahnya.

Resep dari mertua juga sudah kuhafal di luar kepala. Ibu mertua—Almarhumah—dulu terkenal dengan nasi gorengnya. Mahdalena sering cerita.

"Nasi goreng ibu itu enak banget, Bang. Rahasianya di ayam suwir dan kecap manis yang pas."

Hari ini, Alex akan menghidupkan kembali resep itu.

Alex siapkan bahan-bahan:

·       Nasi putih dingin (sisa kemarin, Gengaja disimpan)

·       Telur 2 butir

·       Bawang merah 5 siung

·       Bawang putih 3 siung

·       Cabai merah 2 buah (biar sedikit pedas)

·       Kecap manis

·       Garam, merica, penyedap

·       Ayam suwir (Alex beli di warung Pak Karyo, 10 ribu)

Semua bahan tertata rapi di meja dapur. Seperti prajurit sebelum berperang.

Alex memakai celemek—celemek motif bunga milik Mahdalena, satu-satunya yang ada. Memang agak kekecilan, tapi tidak apa. Yang penting siap tempur.

"Dapur, bersiaplah," kataku dengan gaya ksatria.

Dapur tidak menjawab. Tapi Alex yakin, dia takut.


Api kompor dinyalakan. Biru menyala, indah. Alex tuang minyak goreng—agak banyak, biar tidak lengket.

Bawang merah dan bawang putih yang sudah diiris tipis kumasukkan. Suara mendesis langsung terdengar, wangi bawang mulai tercium.

"Wangi," kataku puas.

Alex aduk-aduk dengan spatula kayu. Bawang mulai berubah kecoklatan. Pas, pikirku. Telur kumasukkan, langsung diorak-arik. Campur dengan bawang. Cantik.

Langkah selanjutnya, nasi putih dimasukkan. Satu centong, dua centong, tiga centong. Nasi memenuhi wajan. Alex aduk dengan semangat.

Kecap manis dituang—agak banyak, biar warnanya cantik. Garam, merica, penyedab secukupnya. Aduk lagi. Rata.

Lalu...

Kriuk... kriuk...

Suara aneh dari dasar wajan.

Alex berhenti. Memiringkan wajan, melihat ke bawah. Nasi di bagian dasar mulai menghitam. Gosong.

"Ah, sedikit. Masih aman."

Alex aduk cepat, berharap nasib baik. Tapi gosongnya menjalar. Dari sedikit jadi banyak. Dari bawah naik ke permukaan.

"Woy, jangan!" teriakku panik.

Alex angkat wajan dari kompor. Tapi sudah terlambat. Nasi di bagian bawah sudah lengket menjadi kerak hitam. Gosong setengah.

"Belum kalah," kataku. "Ayam suwir bisa menyelamatkan."

Alex masukkan ayam suwir. Aduk lagi. Tapi gosong makin meluas. Asap mulai mengepul.

"MATIKAN API, BODOH!"

Terlambat. Api sudah terlalu lama. Wajan hitam di bagian bawah. Nasi gosong di semua sisi. Asap memenuhi dapur.

Alex panik. Otakku kosong. Yang terpikir hanya satu: AIR!

Alex ambil gayung, siram air ke wajan.

DEEESSS!

Asap membumbung tinggi, lebih dahsyat dari sebelumnya. Dapur berubah jadi kabut. Mataku perih. Tenggorokan kering. Alex batuk-batuk, berlari membuka semua jendela.

Asap keluar perlahan. Tapi jejaknya sudah ada di mana-mana. Di dinding, di langit-langit, di bajuku, di rambutku. Bau sangit menyengat.

Alex mematikan kompor. Duduk lemas di lantai dapur.

Nasi goreng spesial? Sudah jadi nasi goreng arang.


Alex duduk di lantai dapur, memandangi wajan hitam dan nasi gosong di dalamnya. Asap masih tipis mengepul. Bau sangit masih kuat.

"Gagal total," bisikku.

Tapi di tengah kegagalan itu, ada suara lain. Suara keras kepala yang bilang, "Jangan menyerah. Ini masih bisa diselamatkan."

Alex bangkit. Mengambil piring. Menyendok nasi gosong itu ke piring. Membuang bagian yang benar-benar hitam. Menyisakan yang agak kecoklatan—semoga masih bisa dimakan.

Lalu Alex mendapat ide. Ambil daun seledri dari kulkas, potong kasar, taburkan di atas nasi. Biar kelihatan segar. Seperti sengaja.

Hasil akhir: sepiring nasi goreng berwarna coklat kehitaman, dengan taburan seledri hijau. Dari jauh, mungkin kelihatan seperti nasi goreng spesial. Dari dekat? Ya Allah.

Tapi ini yang bisa kulakukan. Ini karya seniku. Mau tidak mau, Mahdalena harus menerimanya.

Alex tersenyum getir. "Ini untukmu, Sayang. Meskipun mungkin masuknya ke mulut, keluarnya dari hidung."


Jam menunjukkan pukul setengah enam. Maghrib sebentar lagi. Mahdalena sebentar lagi pulang.

Alex duduk di ruang tamu, menatap piring nasi goreng di meja. Sudah kuhidangkan dengan cantik. Sendok dan garpu sudah siap. Gelas air putih juga.

Setiap kali ada suara motor lewat, jantungku berdebar. Apakah itu dia? Belum. Motor lain.

Jam enam. Suara motor familiar terdengar. Berhenti di depan pagar.

Mahdalena pulang.

Alex berdiri, berusaha tenang. Ia masuk, membuka jilbab, menghela napas panjang.

"Bang, Aku pulang."

"Selamat datang, Sayang."

Ia mencium aroma aneh. "Wangi... Mas masak?"

Alex tersenyum lebar—mungkin terlalu lebar. "Iya, Sayang! Nasi goreng spesial!"

Ia melongok ke meja makan. Melihat piring nasi goreng dengan taburan seledri.

"Wah, serius? Lo masak?"

"Iya. Udah lama pengen bikin kejutan."

Ia duduk di kursi. Memandangi nasi goreng itu dengan seksama.

"Ini... nasi goreng apa, Bang?"

"Nasi goreng spesial. Resep rahasia keluarga."

"Resep keluarga siapa?"

"Keluarga kita. Yang baru aja gue ciptain."

Ia tersenyum. Lalu mengambil sendok. Menyendok sedikit—bagian yang paling tidak hitam. Memasukkannya ke mulut.

Alex menahan napas.

Ia mengunyah. Pelan. Wajahnya berubah. Alisnya naik. Matanya melebar. Pipinya mengembang. Lalu... wajahnya berubah lagi. Seperti orang menahan sesuatu yang sangat tidak enak.

Ia mengunyah lagi. Susah payah. Lalu menelan.

Diam.

"Mas... ini nasinya...?"

"Gosong dikit. Tapi masih enak, kan?"

Ia tidak menjawab. Langsung meraih gelas air putih. Minum satu teguk. Dua teguk. Tiga teguk. Satu gelas habis dalam hitungan detik.

Ia meletakkan gelas. Lalu menatapku. Lalu...

Tertawa.

Awalnya tawa kecil. Terkikik-kikik. Lalu tawa yang lebih keras. Lalu tawa yang menggelegar, sampai keluar air mata.

"Mas... maaf, maaf... ini... hahaha... nasi goreng arang!"

Alex tersinggung. "Heh, gue masak susah-susah!"

"Maaf, maaf... tapi ini... gosong banget!"

"Gosong dikit!"

"Ini bukan dikit, Bang. Ini kayak abis kebakaran."

Alex mencoba. Ambil sendok, cicipi sendiri.

Ya Allah.

Rasanya? Pahit. Gosong. Teksturnya seperti kerak yang dikerok. Lidahku langsung mati rasa.

Alex diam. Lalu ikut tertawa.

"Gila, nggak nyangka segosong ini."

"Lo masak gimana sih?"

"Awalnya lancar. Terus tiba-tiba... gosong."

"Apinya kebesaran?"

"Mungkin."

"Diaduknya nggak rata?"

"Kayaknya."

"Makanya Mas, jangan main-main sama dapur. Dapur itu medan perang."

"Gue kira perangnya sebentar, ternyata perang dunia."

Kami tertawa bersama. Tawa yang lama hilang. Tawa yang membersihkan semua beban.


Setelah tertawa cukup lama, perut mulai protes. Lapar.

"Bang, kita makan apa? Aku laper."

Alex memandangi nasi goreng arang. "Ini... masih bisa dimakan?"

Ia memandang balik. Lalu tanpa bicara, ia mengambil piring itu, membawanya ke dapur, dan membuangnya ke tempat sampah.

"RIP, nasi goreng spesial," katanya.

Alex tertawa. "Kamu tega."

"Demi kesehatan kita berdua."

Ia membuka lemari dapur. Mengeluarkan dua bungkus mie instan.

"Bang, lo mau mie?"

"Mau."

"Lo masak?"

Alex mengangkat alis. "Lo percaya gue masak mie?"

"Lo bisa kan?"

"Gue bisa. Mie instan mah gampang."

Ia menyerahkan mie itu padaku. "Silakan, Chef. Tunjukkan kemampuan lo."

Alex menerima dengan gaya angkuh. "Siap, Nyonya."


Mie instan. Musuh bebuyutan sekaligus sahabat sejati anak kos dan suami gagal masak.

Alex merebus air dengan hati-hati. Api kecil, jangan terlalu besar. Air mendidih, kumasukkan mie. Aduk pelan. Tunggu tiga menit.

Sambil menunggu, Alex siapkan bumbu di mangkuk. Buka bungkus, tuang semua bumbu. Rapih.

Setelah tiga menit, mie kuangkat. Tiriskan sebentar, lalu masukkan ke mangkuk. Aduk rata. Taburi bawang goreng—yang sudah tersedia di toples.

Selesai.

Dua mangkuk mie instan tersaji. Kuahnya bening, mienya lembut, bumbunya merata. Sempurna.

"Nyonya, silakan dinikmati," kataku sambil menyajikan.

Mahdalena menerima. Menghirup aromanya. Lalu mencoba.

"Enak, Bang."

"Beneran?"

"Iya. Ini mie instan terenak yang pernah Aku makan."

"Lo bercanda."

"Serius. Mungkin karena lo yang masak."

Alex tersenyum. Duduk di sampingnya, mulai makan.

Malam itu, kami makan mie instan dengan lahap. Sesekali menoleh ke tempat sampah, tempat nasi goreng arang beristirahat dengan tenang.

"Bang, lo tahu nggak? Gagal masak itu nggak apa-apa. Yang penting lo berani coba."

"Gue coba, hasilnya bencana."

"Bencana tapi lucu. Aku nggak ketawa sekeras ini udah berbulan-bulan."

Alex merenung. Iya juga. Tawa itu... tawa yang dulu sering kudengar, akhirnya kembali.

"Makasih, Bang."

"Makasih buat apa? Buat nasi gosong?"

"Bukan. Buat usaha lo. Buat niat baik lo. Buat... membuatku tertawa."

Alex tersentuh. "Sama-sama, Dik."


Selesai makan, kami duduk di ruang tamu. Mahdalena bercerita tentang dinas luarnya.

"Bang, hari ini rapatnya panjang banget. Dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore. Bahas anggaran, bahas program, bahas ini itu. Capek."

"Terus?"

"Terus setelah rapat, ada acara makan siang sama pejabat. Harus duduk manis, senyum-senyum, padahal penginnya tidur."

"Lo hebat, bisa tahan."

"Terpaksa, Bang. Namanya juga kerja."

Ia menghela napas. Lalu bersandar di pundakku.

"Tapi pas pulang, lihat lo masak, lihat nasi gosong itu, semua capek hilang."

"Beneran?"

"Iya. Karena Aku tahu, di rumah ada yang nunggu. Ada yang peduli. Itu lebih berharga dari rapat mana pun."

Alex terharu. Memeluknya.

"Gue juga, Dik. Setiap hari nunggu lo pulang. Kadang bosan, kadang kesepian. Tapi pas lo pulang, semua ilang."

"Maka jangan pernah bosan nunggu Aku ya."

"Nggak akan."

Kami diam. Menikmati keheningan malam.


Pagi harinya, Alex bangun lebih siang. Mahdalena sudah berangkat. Di dapur, kulihat wajan hitam itu sudah tidak ada di tempatnya. Diganti dengan wajan baru yang mengilap.

Di atas kompor, ada secarik kertas.

"Bang, wajan yang lama gosong. Biar buat tanaman aja. Ini wajan baru, buat lo belajar masak. Jangan menyerah ya. Aku percaya lo bisa. Love you."

Alex tersenyum. Membaca surat itu dua kali, tiga kali.

Lalu ke belakang rumah. Di pojok halaman, wajan hitam itu sudah terisi tanah. Ada tunas kecil—mungkin cabai atau tomat, tidak tahu. Tapi wajan bekasku sekarang jadi pot bunga.

Alex tertawa sendiri.

"Dulu gue ngecor bangunan. Sekarang ngecor wajan jadi pot."

Tapi di balik tawa itu, ada rasa hangat. Mahdalena tidak marah. Ia malah memberi wajan baru, menyemangati untuk terus belajar.

"Gue harus bisa," bisikku. "Demi dia."


Seminggu kemudian, Alex coba lagi. Kali ini lebih hati-hati. Tonton lebih banyak video. Baca lebih banyak resep. Praktik lebih lambat.

Nasi goreng kedua. Tidak gosong. Tapi masih terlalu asin.

Nasi goreng ketiga. Rasa cukup, tapi nasinya terlalu lembek.

Nasi goreng keempat. Mulai mendekati sempurna.

Mahdalena selalu mencoba. Kadang tersenyum, kadang mengernyit, kadang tertawa. Tapi tidak pernah marah.

Suatu malam, setelah mencoba nasi goreng kelima—yang menurutku cukup enak—ia berkata.

"Bang, lo hebat."

"Hebat apanya? Baru bisa nasi goreng doang."

"Tapi lo nggak menyerah. Itu yang hebat."

Alex tersenyum. "Karena lo selalu kasih gue wajan baru."

Ia tertawa. "Wajan baru, semangat baru."

"Makasih, Dik."

"Makasih balik, Bang. Karena lo udah berusaha."

Malam itu, kami makan dengan lahap. Nasi goreng buatanku. Tidak gosong. Tidak keasinan. Tidak lembek. Pas.

Dan di pojok halaman, wajan bekas itu kini tumbuh subur dengan tanaman cabai. Setiap kali lihat, Alex ingat: kegagalan bukan akhir. Hanya awal dari sesuatu yang baru.


Sekarang, setiap kali memasak, Alex ingat pelajaran itu.

Dapur adalah medan perang. Kadang menang, kadang kalah. Tapi yang terpenting, jangan pernah berhenti berperang.

Mahdalena mungkin jadi tulang punggung keluarga. Tapi di dapur, Alex belajar menjadi tulang punggung versi lain: tulang punggung rasa, tulang punggung usaha, tulang punggung cinta.

Dan wajan hitam yang jadi pot bunga itu? Setiap kali lihat cabainya tumbuh, Alex tersenyum.

Itu adalah monumen kegagalan pertamaku. Tapi juga monumen cinta yang terus tumbuh.

Karena cinta sejati tidak takut gosong. Ia akan terus menyala, meski harus hangus berkali-kali.


BAB 10: Tragedi Cucian Warna-warni

Sabtu pagi. Hari yang biasanya kuhabiskan dengan bermalas-malasan di dipan sambil nonton TV. Tapi pagi ini berbeda.

Mahdalena sudah berdiri di depan kamar dengan seragam dinas lengkap. Wajahnya segar, matanya berbinar—terlalu berbinar untuk ukuran hari libur.

"Bang, hari ini Aku dinas luar. Rapat koordinasi di Kabupaten Merah Jingga."

Alex menggeliat. "Hari Sabtu kok rapat?"

"Pemerintah nggak kenal hari libur kalau urusan penting. Tapi tenang, Aku cuma setengah hari. Sore udah pulang."

Alex mengangguk, bersiap tidur lagi.

"Bang, satu lagi."

"Hm?"

Ia menyerahkan keranjang baju. Besar. Penuh. "Ini cucian. Tolong dicuci ya."

Alex duduk. Mata melek. "Cuci?"

"Iya. Sabtu itu hari cuci. Selama ini Aku yang ngerjain, tapi karena Aku pergi, tolong bantu."

"Gak bisa nunggu lo pulang?"

"Bang, cucian udah numpuk seminggu. Kalau nggak dicuci sekarang, Senin Aku nggak punya baju dinas."

Alex menghela napas panjang. Perang baru lagi.

"Oke. Gue cuci."

Mahdalena tersenyum. "Makasih, Bang. Lo hebat."

Ia mendekat, mencium pipiku. Lalu berbalik, berjalan ke pintu.

"Oh ya, Bang!"

"Apa lagi?"

"Pisah ya. Baju putih sama baju warna. Jangan dicampur."

"Iya, iya."

"Serius, Bang. Ini penting."

"Gue ngerti. Putih sendiri, warna sendiri."

"Beneran ngerti?"

"BENERAN NGERTI."

Ia tersenyum. Lalu pergi.

Alex duduk di dipan, memandangi keranjang baju. Cucian. Tugas baru. Tapi ini mudah. Masukin ke mesin, pencet tombol, selesai.

Berapa lama sih?


Setelah sarapan dan sholat dhuha—biar berkah—Alex mulai misi pencucian.

Pertama, pisahkan baju. Putih di satu sisi, warna di sisi lain. Cukup mudah. Baju putih: kemeja, kaos dalam, blus Mahdalena, handuk putih. Baju warna: sisanya.

"Beres," gumamku puas.

Alex masukkan baju putih ke mesin cuci. Tuang deterjen. Pencet tombol. Mesin berputar, air mengalir. Sempurna.

Sambil menunggu, Alex santai di ruang tamu. Nonton TV, minum kopi, nikmati pagi.

Satu jam kemudian, mesin pertama bunyi. Baju putih selesai.

Alex buka. Baju putih keluar... putih semua. Bersih. Wangi. Sempurna.

Alex jemur dengan bangga. Setiap baju kuatur rapi di jemuran. Kemeja putih, kaos putih, blus putih, handuk putih. Berjejer seperti tentara.

"Bagus," kataku sendiri. "Istriku pasti bangga."

Lalu mesin kedua. Baju warna.

Alex masukkan semua baju warna ke mesin. Tuang deterjen. Pencet tombol. Mesin berputar. Alex kembali ke ruang tamu.

Satu jam kemudian, mesin kedua bunyi. Baju warna selesai.

Alex buka. Baju warna keluar... warna-warni seperti biasa. Merah, biru, hijau, hitam. Semua baik-baik saja.

Tapi...

Di pojok mesin, ada satu baju merah yang nyempil. Baju merah kecil—entah milik siapa—terselip di sela-sela. Dan baju merah itu, entah bagaimana, ikut dalam siklus pencucian baju putih.

Alex angkat baju merah itu. Menatapnya. Lalu menatap jemuran baju putih.

Jantungku berhenti.

Baju putih... tidak putih lagi. Kemeja batik kesayanganku? Pink. Blus kerja Mahdalena? Pink. Kaos dalam putihku? Pink. Handuk putih? Pink. Semua pink.

Semua. PINK.

Baju merah itu—si biang keladi—telah melepaskan "diri"-nya ke semua baju putih yang sudah dijemur. Warna merahnya luntur, meresap, menguasai.

Alex diam. Mulutku terbuka. Tidak ada suara keluar.

Dunia serasa berhenti.


Beberapa detik kemudian, kesadaran datang. Lalu panik. Lalu panik tingkat dewa.

"WOOOOY!"

Alex berlari ke jemuran. Meraih baju-baju itu satu per satu. Kemeja pink, kaos pink, blus pink, handuk pink. Semua pink.

"Astaghfirullah... astaghfirullah... astaghfirullah..."

Alex ambil semua baju, masukkan lagi ke mesin. Tambah deterjen. Tambah pemutih. Pencet tombol. Mesin berputar.

"Semoga bisa balik putih," bisikku. "Semoga, semoga, semoga."

Satu jam kemudian, mesin bunyi. Alex buka dengan perasaan campur aduk.

Baju keluar. Warnanya?

Lebih pink.

Bukan pink biasa. Pink cerah. Pink terang. Pink yang berteriak. Pink yang seperti sengaja diwarnai dengan cat khusus.

Alex lemas. Duduk di lantai kamar mandi.

"Gagal total," bisikku.


Tapi Alex tidak menyerah. Ini masih bisa diselamatkan. Mungkin.

Alex ambil ponsel. Buka YouTube. Cari "cara menghilangkan noda warna pada baju putih".

Video pertama: "Rendam dengan pemutih selama 30 menit."
Sudah kulakukan. Gagal.

Video kedua: "Rdengan air panas dan deterjen."
Coba. Gagal.

Video ketiga: "Gunakan pemutih khusus kain putih."
Nggak punya.

Video keempat: "Bawa ke laundry."
Nggak ada waktu. Mahdalena sebentar lagi pulang.

Alex menyerah. Duduk di kursi dapur, memandangi tumpukan baju pink. Baju-baju itu sekarang berjejer rapi di keranjang. Pink semua.

Ada yang lucu sebenarnya. Pink cerah di kemeja batikku—motif mega mendung jadi mega mendung pink. Pink di blus Mahdalena—blus kantor yang dulu putih elegan, sekarang pink ala artis muda.

Tapi ini bukan saatnya tertawa. Ini saatnya pasrah.


Pukul setengah lima sore, suara motor terdengar di depan. Mahdalena pulang.

Alex duduk di ruang tamu, pasrah. Menatap pintu.

Pintu terbuka. Ia masuk, melepas jilbab, menghela napas.

"Bang, Aku pulang! Capek banget!"

Alex diam. Hanya tersenyum tipis.

Ia melongok ke dalam. "Bang, cuciannya gimana? Udah dijemur?"

Alex menunjuk ke arah keranjang di pojok. Keranjang berisi tumpukan baju pink.

Mahdalena mendekat. Melihat. Diam.

Ia mengambil satu—kemeja batikku yang pink. Memandanginya. Lalu mengambil lagi—blus kerjanya yang pink. Memandanginya lagi.

Wajahnya berubah. Dari senyum, jadi datar. Lalu kaget. Lalu tidak percaya.

"Mas... ini warna apa?"

Alex menelan ludah. "Pink."

"Pink?"

"Iya. Pink. Lagi tren katanya."

"Blus saya putih, Mas."

"Sekarang jadi lebih cantik."

Ia menatapku. Matanya—campuran antara marah, gemas, dan putus asa. Tiga emosi bercampur jadi satu.

"Mas... Aku beli blus itu kemarin. 200 ribu."

Dunia serasa runtuh. Dua ratus ribu? Untuk satu blus?

"Itu... itu mahal banget."

"Iya. Itu blus favorit Aku. Buat dinas."

Alex diam. Bersalah total.

"Ini... mungkin bisa jadi pink kalau dipaduin sama bawahan hitam?"

Ia tidak menjawab. Hanya menghela napas panjang. Lalu duduk di kursi, menatap tumpukan baju pink.

"Bang, ceritanya gimana?"

Alex cerita. Dari awal sampai akhir. Tentang baju merah yang nyempil. Tentang kepanikanku. Tentang upaya penyelamatan yang gagal total.

Ia mendengar tanpa ekspresi. Lalu...

Tertawa.

Awalnya tawa kecil. Lalu tawa yang lebih keras. Lalu tawa yang menggelegar. Ia tertawa sampai keluar air mata.

"Mas... mas... hahaha... lo tuh... gila!"

"Gue panik!"

"Panik tapi bikin makin parah!"

"Gue kira pemutih bisa balikin!"

"Pemutih itu buat noda, bukan buat warna luntur!"

"Gue nggak tahu!"

Ia masih tertawa. Alex mulai ikut tertawa—terpaksa.

"Ya sudah, Bang. Anggap aja kita punya baju baru. Warna pink."

"Beneran lo nggak marah?"

"Marah sih. Tapi lucunya kebanyakan."

Alex lega. Setengah bersalah.


Malam harinya, setelah makan, Mahdalena mengajakku duduk di ruang tamu. Di tangannya, buku tulis dan pulpen.

"Bang, kita belajar."

"Belajar apa?"

"Belajar cara cuci baju yang benar. Aku ajarin. Lo catat."

Alex mengambil buku—buku khusus yang kemudian akan kujuluki "Peraturan Rumah Tangga".

Mahdalena memulai kuliah umum.

"Pertama: PUTIH DAN WARNA HARUS DIPISAH."

Alex mencatat. "Putih dan warna dipisah."

"Kedua: DALAM WARNA, PISAHKAN JUGA. Merah sendiri, biru sendiri, hitam sendiri. Warna-warna kuat seperti merah bisa luntur dan menyerang warna lain."

"Maksudnya?"

"Baju merah luntur, ngecat baju biru jadi ungu. Baju biru luntur, ngecat baju merah jadi ungu juga. Pokoknya pisah."

Alex mencatat. "Merah sendiri. Biru sendiri. Hitam sendiri."

"Ketiga: BAHAN KHUSUS HARUS DICUCI TANGAN. Kain sutra, kain tipis, baju dalam, jangan dimasukin mesin."

"Kalau dimasukin?"

"Bisa rusak. Atau melar. Atau sobek."

Alex mencatat. "Bahan khusus cuci tangan."

"Keempat: PAKAI DETERJEN SESUAI TAKARAN. Jangan kebanyakan, nanti sulit dibilas. Jangan dikit, nanti nggak bersih."

"Iya."

"Kelima: PERIKSA KANTONG SEBELUM MENCUCI. Jangan sampai ada tisu atau uang kertas yang lupa dikeluarin."

"Pernah?"

"Pernah. Tisu hancur, nempel di semua baju. Ribet banget."

Alex mencatat semua. Buku "Peraturan Rumah Tangga" mulai penuh.


Setelah teori, Mahdalena mengajakku praktik langsung.

"Bang, ambil baju-baju itu."

Alex mengambil tumpukan baju pink. Ia memilah satu per satu.

"Ini baju lo, pink. Tapi masih bisa dipakai di rumah. Nggak masalah."

"Ini kaos dalam lo, pink. Nggak masalah, karena dipake di dalem."

"Ini blus aku..."

Ia memandangi blus pinknya dengan perasaan campur aduk.

"Ini masih bisa dipakai?"

"Bisa. Tapi warnanya... mencolok."

"Padain sama bawahan hitam. Atau pake blazer."

"Bang, ini blus kantor, bukan fashion show."

Alex garuk-garuk kepala. "Maaf, Dik."

Ia tersenyum. "Udah, nggak apa-apa. Anggap aja kita punya koleksi baju pink."

"Koleksi baju pink mahal."

"Iya. 200 ribu jadi pink."

Kami tertawa bersama.

Lalu ia mengajariku cara mencuci yang benar. Mulai dari memilah, memasukkan ke mesin, mengatur siklus, hingga menjemur. Alex memperhatikan dengan serius.

Selesai praktik, ia berkata, "Bang, lo tahu nggak? Gagal itu nggak apa-apa. Yang penting belajar."

"Gue belajar banyak hari ini."

"Apa yang lo pelajari?"

"Pertama, jangan pernah mencampur baju putih dan merah. Kedua, pemutih bukan solusi semua masalah. Ketiga, istri gue baik banget, meskipun bajunya jadi pink."

Ia tertawa. "Nomor tiga itu yang paling penting."


Besok paginya, Alex ke warung Pak Karyo beli gula. Begitu sampai, Bu RT sudah di sana.

"Pagi, Pak Alex!" sapanya ceria.

"Pagi, Bu."

"Pak Alex, saya lihat jemuran bapak kemarin. Baju putih jadi pink! Lucu sekali!"

Alex tersipu. "Iya, Bu. Salah proses."

"Wah, berarti bapak yang nyuci?"

"Iya. Istri dinas luar."

Bu RT tertawa. Beberapa ibu-ibu yang ada di warung ikut tertawa.

Anto, sopir truk perusahaan yang sedang nongkrong, menimpali, "Itu namanya fashion statement, Bu. Suami kekinian. Bajunya harus pink biar kelihatan modern."

Semua tertawa. Alex cuma bisa senyum kecut.

"Sekalian beli pewarna pink, Bang?" goda Anto lagi.

"Beli pemutih," jawabku.

"Pemutih? Udah lo pake, hasilnya makin pink."

Semua tertawa lagi. Alex bayar gula, cepat-cepat pulang.

Di rumah, Mahdalena sudah bangun. Ia melihat wajahku yang merah.

"Kenapa, Bang?"

"Bu RT lihat jemuran kemarin."

"Oh, udah nyebar ya?"

"Udah. Seluruh desa kayaknya tahu."

Ia tertawa. "Besok kita jemur lagi, Bang. Biar makin viral."

"Diem lo."

Tapi Alex ikut tertawa juga.


Senin pagi, Mahdalena bersiap ke kantor. Ia mengambil blus pink itu—blus yang dulu putih—dan memakainya.

"Lo pake itu?" tanyaku kaget.

"Iya. Percuma beli baru. Masih bagus kok."

"Tapi warnanya..."

"Aku paduin sama rok hitam. Nggak terlalu kelihatan."

"Tapi tetep pink."

"Iya. Tapi Aku bangga."

"Bangga?"

"Iya. Ini hasil karya suamiku. Meskipun salah, tapi ini bukti lo berusaha."

Alex terharu. "Lena..."

"Udah, jangan baper. Doain Aku ya, semoga nggak diketawain teman-teman."

"Gue doain."

Ia pergi. Alex di rumah, membayangkan bagaimana reaksi teman-teman kantornya melihat blus pink itu.

Sore harinya, ia pulang dengan senyum lebar.

"Gimana?" tanyaku.

"Teman-teman pada nanya, 'Bu Lena, beli blus baru? Warna cantik!'"

Alex lega. "Nggak ada yang tahu?"

"Nggak ada. Mereka pikir Aku sengaja beli pink."

"Alhamdulillah."

"Tapi Bu RT udah nyebarin cerita. Jadi beberapa teman yang tahu langsung ngegodain Alex."

"Godain apa?"

"Mereka bilang, 'Suami Bu Lena hebat, bisa bikin blus putih jadi pink. Kreatif!'"

Alex malu. Tapi ikut tertawa.


Malam harinya, kami duduk di teras. Membicarakan tragedi pink dengan lebih santai.

"Bang, lo tahu nggak, dari semua kejadian ini, Aku belajar sesuatu."

"Apa?"

"Aku belajar bahwa lo itu... unik."

"Unik apanya?"

"Lo selalu berusaha. Meskipun sering gagal, lo nggak pernah nyerah. Lo nyuci baju, salah, tapi lo coba perbaiki. Lo masak, gosong, tapi lo coba lagi. Itu... itu bikin Aku kagum."

Alex tersenyum. "Gue cuma pengin bantu."

"Dan lo sudah bantu. Mungkin nggak dengan hasil sempurna. Tapi dengan usaha. Itu lebih berharga."

"Makasih, Dik."

"Makasih balik, Bang. Karena tanpa lo, rumah ini akan sepi."

Kami bergandengan tangan. Memandangi bintang-bintang di langit.

"Bang, besok kita beli baju baru ya. Buat ganti yang pink."

"Iya. Gue yang bayar."

"Lo nggak usah. Pakai uang tabungan kita."

"Tapi itu salah gue."

"Bukan salah. Itu pengalaman. Dan pengalaman itu berharga."

Alex tersenyum. "Lo istri paling sabar sedunia."

"Istri paling sabar yang punya baju pink."

Kami tertawa bersama. Malam itu, tragedi pink berakhir dengan hangat.


Sejak malam itu, Alex mulai rajin mencatat. Buku "Peraturan Rumah Tangga" bertambah tebal.

Setiap kali belajar hal baru, kutulis. Setiap kali gagal, kutulis penyebabnya. Setiap kali sukses, kutulis caranya.

Halaman pertama: "Putih dan warna pisah. Serius, jangan dicampur!"

Halaman kedua: "Merah itu berbahaya. Jauhkan dari putih."

Halaman ketiga: "Kalau baju sudah pink, terima nasib. Beli pewarna biar jadi pink sengaja."

Mahdalena membaca catatanku suatu hari. Ia tertawa terbahak-bahak.

"Bang, lo ini... calon penulis buku?"

"Ini panduan hidup."

"Panduan hidup ala Alex."

"Yang penting bermanfaat."

Ia memelukku. "Makasih, Bang. Makasih udah mau belajar."

"Makasih udah mau ngajarin."

Kami tersenyum. Dan di lemari, baju-baju pink itu tetap ada. Sebagai pengingat bahwa cinta sejati tidak takut salah. Karena dari kesalahan, kita belajar. Dari kegagalan, kita tumbuh.

Dan dari tragedi pink, kami mendapat tawa.


BAB 11: Belanja di Warung Pak Karyo

Sore itu, sepulang dari proyek kecil yang cuma dua hari, Alex duduk di teras sambil minum kopi. Capek, tapi puas. Mahdalena belum pulang. Katanya ada rapat dadakan di kecamatan.

Jam setengah enam, ia pulang. Wajahnya capek, tapi masih sempat tersenyum.

"Bang, udah pulang?"

"Udah dari jam 4. Capek?"

"Capek. Rapat mulu."

Ia duduk di sampingku. Menghela napas panjang.

"Bang, minta tolong ya."

"Apa?"

"Besok, lo belanja kebutuhan dapur. Aku nggak sempat. Rapat terus sampai Jumat."

Alex mengangkat alis. "Belanja?"

"Iya. Ini daftarnya."

Ia mengeluarkan secarik kertas dari tasnya. Daftar belanjaan ditulis rapi dengan tulisan feminin khas perempuan.

Alex membaca:

Beras 5 kg
Minyak goreng 2 liter
Gula 1 kg
Telur 1 papan
Kecap (merk apa aja, yang penting manis)
Sabun cuci piring
Sabun mandi
Shampo
Pasta gigi
Mie instan 5 bungkus
*Bawang merah 1/4 kg*
*Bawang putih 1/4 kg*
*Cabai 1/4 kg (yang merah, jangan hijau)*

"Banyak juga," komentarku.

"Iya. Buat seminggu. Tapi lo bisa kan?"

"Bisa. Belanja di mana?"

"Di warung Pak Karyo aja. Pojok desa. Lebih murah daripada di toko modern."

"Oke."

Ia menatapku serius. Tangan nya memegang lenganku.

"Bang, hati-hati ya. Pak Karyo itu... lincah."

"Maksudnya?"

"Dia pedagang senior. Bisa nawar, bisa merayu, bisa... agak ambil untung kalau lawannya nggak paham."

Alex tersenyum percaya diri. "Ah, gue mah bisa. Udah sering belanja."

"Biasanya beli rokok doang."

Alex tersinggung. "Heh, gue juga pernah beli gula!"

"Sendiri?"

"Ya... sama lo."

Mahdalena tertawa. "Ya sudah, lo coba. Tapi ingat, cek harga, cek barang, jangan asal percaya."

"Siap, bu Lurah."

Ia memukul lenganku pelan. Lalu masuk ke dalam, ganti baju, dan mulai memasak.

Alex di teras, memandangi daftar belanjaan. Ini mudah. Sangat mudah. Belanja di warung, bayar, pulang.

Berapa lama sih?


Besok sorenya, sepulang kerja, Alex berjalan ke warung Pak Karyo. Warungnya di pojok desa, tepat di pertigaan jalan. Bangunan kayu tua dengan etalase kaca penuh sembako. Di depan, beberapa kursi plastik tempat warga nongkrong.

Begitu sampai, Pak Karyo sudah menyambut dari kejauhan.

"Wah, Pak Alex! Sendirian?"

Pak Karyo—bapak-bapak usia 50 tahun, kumis tebal, perut sedikit buncit, dan senyum yang lebar—berdiri di depan warung. Matanya berbinar melihatku.

"Iya, Pak. Sendirian."

"Biasanya istri bapak yang belanja. Kok sekarang bapak?"

"Istri lagi sibuk. Rapat terus."

"Oh, gitu. Ya sudah, silakan. Mau beli apa?"

Alex mengeluarkan daftar belanjaan. "Ini, Pak. Daftarnya."

Pak Karyo membaca. Matanya berbinar—atau itu tipuan cahaya sore?

"Wah, banyak juga. Tentu, tentu. Saya ambilkan."

Ia mondar-mandir. Mengambil beras 5 kg dari gudang belakang. Mengambil minyak goreng dari rak. Mengambil gula, telur, kecap, sabun, dan lain-lain. Semua ditumpuk di meja depan.

"Ini semua, Pak Alex."

Alex melihat tumpukan barang. Lumayan banyak.

"Totalnya berapa, Pak?"

Pak Karyo mengambil kalkulator. Menekan-nekan dengan jari telunjuknya. Lalu tersenyum.

"Ini totalnya Pak Alex, 250 ribu."

Alex terkejut. "Loh, kok 250? Dulu istri saya bilang 180-an."

"Oh, itu dulu, Pak. Sekarang harga naik semua. Beras naik, minyak naik, gula naik. Ini saya kasih harga khusus. Kalau belanja di tempat lain bisa 300."

Alex garuk-garuk kepala. Ragu. Tapi Pak Karyo tersenyum lebar. Senyum yang meyakinkan.

"Yakin nih, Pak? 250?"

"Iya, Pak. Ini sudah murah. Saya hitung detail kok."

Alex melihat sekeliling. Tidak ada pilihan lain. Warung lain sudah tutup. Dan Alex tidak mau pulang dengan tangan kosong.

"Ya sudah, Pak. Ini uangnya."

Alex menyerahkan uang 250 ribu. Pak Karyo menerima dengan senyum puas. Lalu membantu memasukkan belanjaan ke dalam tas kresek besar.

"Hati-hati di jalan, Pak Alex. Salam buat Bu Lena."

"Iya, Pak. Makasih."

Alex pulang dengan perasaan campur aduk. 250 ribu. Kok mahal ya? Tapi mungkin benar harga naik. Apa salahnya?


Maghrib, Mahdalena pulang. Wajahnya capek, tapi masih sempat tersenyum melihat belanjaan di meja.

"Wah, udah belanja, Bang? Cepet amat."

"Iya. Tadi sore."

Ia duduk. Mulai memeriksa belanjaan satu per satu. Wajahnya berubah.

"Bang, ini minyaknya 2 liter apa 1,5 liter?"

Alex mendekat. Melihat botol minyak. Betul. Di label tertulis 1,5 liter. Tapi di struk—yang kubawa pulang—tertulis 2 liter.

"Masa sih? Coba liat."

Ia menunjukkan botolnya. 1,5 liter. Jelas.

"Bang, ini struknya 2 liter. Berarti lo bayar 2 liter, dapet 1,5."

Alex diam. Jantungku mulai berdebar.

Ia melanjutkan pemeriksaan. "Telurnya? Mas, ini telur ayam kampung. Alex minta telur ayam ras. Harganya beda jauh. Telur kampung 30 ribu, telur ras 20 ribu."

Alex lihat telurnya. Kecil-kecil. Warna coklat. Telur kampung.

"Sabun cuci piring? Ini merek termahal. Alex biasanya beli yang biasa. Selisih 5 ribu."

Kecap? Merek mahal. Bawang? Harganya terlalu tinggi. Cabai? Yang merah, tapi ini cabai keriting yang lebih mahal.

Satu per satu kesalahan terungkap. Alex hanya diam. Bersalah.

Mahdalena menghela napas panjang. Tapi tidak marah. Hanya lelah.

"Bang, lo tahu selisih totalnya?"

"Berapa?"

"Sekitar 50 ribu."

Alex hampir pingsan. 50 ribu. Uang jajanku 5 hari.

"Dia... dia nipu gue?"

"Bukan nipu. Tapi ambil untung lebih. Pak Karyo itu pedagang senior. Dia tahu siapa yang baru pertama belanja. Dia kasih harga tinggi, barang mahal, tanpa lo sadar."

Alex diam. Merasa bodoh.

"Maaf, Dik. Gue... gue nggak tahu."

Ia duduk di sampingku. Memegang tanganku.

"Bang, nggak apa-apa. Ini pengalaman. Sekarang lo tahu."

"Tapi 50 ribu..."

"Iya. Tapi daripada lo sedih, mending lo belajar. Besok, Aku ajarin cara belanja yang benar."

Alex mengangguk. "Makasih, Dik."

"Makasih buat apa? Lo belanja udah berusaha."

"Tapi salah."

"Salah itu biasa. Yang penting nggak diulang."


Malam harinya, setelah makan, Mahdalena mengeluarkan buku catatan. Buku yang sama dengan yang kugunakan untuk mencatat aturan cuci baju.

"Bang, siap belajar?"

"Siap."

Ia memulai kuliah.

"Pertama: SEBELUM BERANGKAT, TENTUKAN ANGGARAN."

"Anggaran?"

"Iya. Berapa uang yang mau lo belanjakan. Jangan asal bayar. Hitung dulu."

"Kedua: CEK HARGA DI BEBERAPA TEMPAT. Jangan langsung percaya warung pertama. Bandingkan."

"Tapi di sini cuma Pak Karyo."

"Ada warung Bu RT. Ada warung Pak Mantri. Ada warung Mbak Yati. Harganya beda-beda."

"Ketiga: MINTA NOTA. Dan cek barang sebelum bayar. Jangan percaya kata-kata penjual doang."

"Keempat: BELI BARANG YANG SESUAI DAFTAR. Jangan gampang ditawarin barang lain yang lebih mahal."

"Kelima: JANGAN PERCAYA SENYUM."

Alex mengangkat alis. "Senyum?"

"Senyum pedagang itu, Mas, kadang manis, kadang pait. Kalau dia senyum terlalu lebar, waspada."

Alex tertawa. "Lo curiga banget."

"Pengalaman. Dulu Aku juga pernah kena tipu."

"Serius?"

"Iya. Waktu pertama kali belanja sendiri. Beli minyak 2 liter, dapet 1,5. Kayak lo."

Kami tertawa bersama.

Alex mencatat semua. Buku "Peraturan Rumah Tangga" bertambah tebal.


Seminggu kemudian, giliranku belanja lagi.

Kali ini, Alex datang dengan persiapan matang. Sebelum berangkat, Alex cek dulu harga di warung Bu RT. Lalu ke warung Pak Mantri. Lalu ke warung Mbak Yati. Baru terakhir ke warung Pak Karyo.

Semua harga kucatat di buku kecil.

Dari perbandingan, warung Bu RT paling murah untuk beras dan minyak. Warung Pak Mantri murah untuk telur dan gula. Warung Mbak Yati murah untuk sabun dan shampo. Warung Pak Karyo? Termahal untuk semua. Tapi dia punya stok lengkap.

Alex putuskan: beli di Pak Karyo tapi dengan harga yang sudah kuketahui.

Sore itu, Alex datang ke warung Pak Karyo dengan percaya diri.

"Selamat sore, Pak Karyo."

"Wah, Pak Alex! Lagi belanja?"

"Iya, Pak. Ini daftarnya."

Pak Karyo membaca. Matanya mulai berbinar—tapi kali ini Alex sudah siap.

"Saya ambilkan ya, Pak."

"Tunggu, Pak. Saya mau tanya harga dulu."

Pak Karyo mengangkat alis. "Oh, silakan."

"Beras 5 kg berapa?"

"50 ribu."

"Di Bu RT 48 ribu."

Pak Karyo diam. Lalu tersenyum. "Ya sudah, 48 ribu."

"Minyak goreng 2 liter?"

"30 ribu."

"Di Pak Mantri 28 ribu."

"Ya sudah, 28 ribu."

"Telur ayam ras 1 papan?"

"25 ribu."

"Di Mbak Yati 23 ribu."

Pak Karyo mulai gelisah. Tapi tetap tersenyum.

"Ya sudah, 23 ribu. Pak Alex kok tahu harga semua?"

"Saya survey dulu, Pak."

Pak Karyo tertawa. "Wah, Pak Alex sudah pintar!"

"Saya suami yang belajar, Pak."


Setelah semua harga disepakati, Pak Karyo mulai mengambil barang. Tapi Alex terus mengawasi.

"Pak Karyo, minyaknya 2 liter ya, jangan 1,5."

"Iya, iya. Ini 2 liter."

"Telurnya ayam ras, bukan kampung."

"Ini ayam ras. Lihat, besar-besar."

"Sabun cuci piring yang biasa aja, jangan yang mahal."

"Ini yang biasa, Pak."

Alex memeriksa satu per satu. Tidak ada yang salah.

Setelah semua terkumpul, Alex hitung total.

"Pak Karyo, totalnya 180 ribu, ya?"

Pak Karyo mengambil kalkulator. Menekan-nekan. Lalu tersenyum.

"Iya, 180 ribu. Pas."

Alex bayar. Merasa puas.

"Makasih, Pak Karyo. Saya pamit."

"Makasih kembali, Pak Alex. Lain kali belanja lagi ya."

Alex tersenyum. "Pasti, Pak."

Pulang, rasanya seperti habis memenangkan perang.


Maghrib, Mahdalena pulang. Wajahnya capek, tapi langsung cerah melihatku.

"Bang, udah belanja lagi?"

"Udah. Cek, Dik."

Ia memeriksa. Satu per satu. Matanya melebar.

"Bang, ini semua pas. Beras 5 kg, minyak 2 liter, telur ras, sabun biasa... semua sesuai."

"Tadi gue tawar."

"Lo tawar?!"

"Iya. Gue survey harga dulu. Pas di Pak Karyo, gue sebut harga warung lain. Dia nurunin."

Mahdalena melongo. Lalu memelukku erat.

"Mas hebat!"

Alex bangga setengah mati. Rasa bangga seperti waktu pertama kali bisa ngecor tembok dengan sempurna.

"Gue cuma belajar dari lo."

"Lo murid paling cerdas."

"Maksudnya?"

"Maksudnya, lo cepat belajar. Nggak semua suami mau belajar kayak lo."

Alex tersenyum. "Makasih, Dik."

"Makasih balik. Karena lo, kita hemat 50 ribu."

"50 ribu? Lumayan."

"Buat beli lauk seminggu."

Kami tertawa bersama. Malam itu, kami makan dengan lahap. Masakan Mahdalena, tapi belanjaan dariku. Rasanya lebih enak.


Besoknya, kabar kepintaranku menyebar. Di warung Bu RT, Pak Karyo cerita pada semua orang.

"Pak Alex itu, sekarang belanjanya pinter. Tahu harga semua. Saya sampe kewalahan."

Bu RT tertawa. "Berarti istri udah ngajarin."

"Iya. Murid setia."

Anto, yang lagi nongkrong, nyeletuk. "Wah, Pak Alex naik kelas. Dari tukang bangunan jadi tukang belanja."

Santoso menimpali. "Tukang belanja yang pinter nawar."

Alex yang kebetulan lewat, hanya tersenyum. Biar saja. Yang penting istriku bangga.

Di rumah, Mahdalena sudah menungguku.

"Bang, denger-denger lo jadi bahan obrolan."

"Iya. Katanya gue pinter belanja."

"Lo pinter."

"Karena gurunya paling cantik."

Ia memukul lenganku. "Dasar tukang rayu."


Malam harinya, Alex membuka buku "Peraturan Rumah Tangga". Halaman baru kutulis:

"BELANJA:

1.     Survey harga dulu sebelum beli.

2.     Jangan percaya senyum pedagang.

3.     Cek barang sebelum bayar.

4.     Hitung total sendiri.

5.     Kalau bisa nawar, nawar. Yang penting sopan."

Mahdalena membaca. Ia tersenyum.

"Bang, lo serius banget sama buku ini."

"Ini pedoman hidup."

"Pedoman hidup sebagai suami."

"Iya. Suami yang terus belajar."

Ia memelukku. "Makasih, Bang."

"Makasih buat apa?"

"Makasih karena lo mau berubah. Mau belajar. Nggak gengsian."

Alex merenung. "Gue sempet gengsi, Dik. Tapi lama-lama sadar. Hidup ini terus berubah. Harus bisa menyesuaikan."

"Itu dewasa namanya."

"Mungkin."

Kami diam. Menikmati malam.


Minggu-minggu berikutnya, Alex makin sering belanja. Setiap kali ke warung Pak Karyo, Alex selalu siap. Kadang bawa buku catatan kecil, kadang bawa daftar harga dari warung lain.

Pak Karyo mulai respect. Suatu hari ia berkata.

"Pak Alex, saya salut."

"Salut kenapa, Pak?"

"Bapak mau belajar. Nggak malu. Dari yang dulu kena tipu, sekarang jadi pinter. Itu jarang."

"Saya cuma ingin bantu istri, Pak."

"Istri bapak beruntung."

Alex tersenyum. "Saya yang beruntung punya istri seperti dia."

Pulang, kuceritakan pada Mahdalena. Ia tersenyum.

"Bang, lo tahu? Dari semua kejadian—nasi gosong, baju pink, belanja ketipu—Aku lihat satu hal."

"Apa?"

"Lo nggak pernah menyerah. Lo selalu bangkit, selalu belajar, selalu coba lagi. Itu yang bikin Aku makin cinta."

Alex terharu. "Makasih, Dik."

"Makasih balik. Karena lo, Aku belajar banyak juga."

"Belajar apa?"

"Belajar sabar. Belajar ngerti. Belajar bahwa cinta itu bukan soal siapa yang paling hebat, tapi siapa yang paling setia."

Malam itu, kami bergandengan tangan di teras. Memandang bintang-bintang.

Di dalam rumah, buku "Peraturan Rumah Tangga" tergeletak di meja. Penuh catatan. Penuh pelajaran. Penuh cinta.


Beberapa bulan kemudian, Pak Karyo memberiku diskon khusus. Katanya, karena Alex pelanggan setia dan sudah seperti teman.

"Pak Alex, mulai sekarang, bapak dapat harga khusus. Sama seperti Bu Lena."

"Serius, Pak?"

"Serius. Karena bapak sudah pinter, saya nggak bisa tipu lagi. Jadi mending saya kasih harga bagus."

Alex tertawa. "Makasih, Pak."

"Sama-sama. Salam buat Bu Lena."

Pulang, kuceritakan pada Mahdalena. Ia tertawa.

"Bang, lo berhasil. Dari korban jadi VIP."

"VIP versi warung."

"Tetep VIP."

Kami tertawa bersama. Dan sejak itu, setiap kali belanja, Alex selalu ingat: senyum Pak Karyo boleh manis, tapi Alex sudah tahu resepnya.

Resepnya adalah belajar. Resepnya adalah tidak menyerah. Resepnya adalah cinta.


BAB 12: Gosip Desa Awan Biru

Desa Awan Biru adalah desa kecil. Penduduknya mungkin cuma 500 jiwa. Sawah menghijau di pinggiran, jalan setapak membelah perkampungan, dan suara azan bergema dari masjid tua di tengah desa.

Tapi di desa kecil, gosip adalah bahan bakar utama kehidupan sosial.

Tidak ada TV kabel, tidak ada mal, tidak ada bioskop. Hiburan utama warga adalah mengobrol, bergosip, dan membahas kehidupan orang lain. Dan akhir-akhir ini, gosip utama adalah tentang Alex—Alex, mantan tukang bangunan yang sekarang jadi "ibu rumah tangga".

Semua berawal dari tragedi pink yang dilihat Bu RT. Lalu insiden belanja yang diceritakan Pak Karyo. Lalu kebiasaanku keluar rumah dengan keranjang belanja setiap pagi. Semua itu jadi bahan bakar yang membuat api gosip menyala.

Dan api itu menjalar ke seluruh desa.


Warung Bu RT adalah episentrum gosip Desa Awan Biru. Setiap sore, ibu-ibu berkumpul di sini. Beli sayur, beli bumbu, atau sekadar nongkrong sambil ngobrol.

Sore itu, Alex kebetulan lewat. Mau beli gula, tapi urung karena melihat kerumunan. Alex bersembunyi di balik pohon pisang samping warung—bukan sengaja menguping, tapi penasaran.

Bu RT—perempuan paruh baya dengan suara ceplas-ceplos—sedang asyik bercerita.

"Eh, kalian tahu? Si Alex sekarang yang masak, bersihin rumah, cuci baju!"

Ibu-ibu lain langsung antusias. "Astaghfirullah... suaminya Lena?"

"Iya. Lena kan sibuk PNS, gajinya gede. Jadinya Alex di rumah aja."

Ibu RW—perempuan bertubuh subur dengan jilbab batik—berkomentar. "Wah... suami idaman! Suami idaman tuh!"

Bu RT tersenyum nakal. "Idaman atau idapan?"

Semua tertawa. Ibu-ibu itu terkikik-kikik seperti anak sekolahan.

Ibu RW menimpali, "Maksudnya?"

"Idapan itu... ya, idapan. Istilahnya, suami yang di rumah, dipakai, dirawat. Hahaha!"

Tawa makin keras.

Ibu RT melanjutkan, "Tapi serius, saya lihat sendiri. Dia nyapu halaman, ngepel, jemur baju. Kemarin saya lihat dia lagi masak di dapur. Pake celemek bunga-bunga lagi!"

"Ibu tahu dari mana?"

"Jendela dapur dia kan menghadap rumah saya. Saya lihat dari dapur saya. Asapnya ngebul, tapi kayaknya berhasil."

Ibu RW menggeleng-geleng. "Ya ampun, dunia terbalik."

Ibu RT membela. "Nggak juga. Zaman sekarang, cowok boleh kok bantu-bantu di rumah. Malah bagus."

"Iya sih, tapi laki-laki kok jadi seperti..."

"Seperti apa?"

"Ya... seperti perempuan."

Bu RT menghela napas. "Mbakyu, jangan kolot. Laki-laki atau perempuan sama aja. Yang penting kerjanya."

Alex dari balik pohon pisang, merasakan campur aduk. Ada yang bangga karena dibela Bu RT, tapi ada juga yang perih karena disebut "dunia terbalik".

Alex memutuskan tidak jadi beli gula. Balik badan, jalan cepat pulang.


Malam Jumat, ronda. Alex ikut. Biar tetap dianggap laki-laki, biar tidak terus-terusan di rumah.

Pos kamling di ujung desa. Bangunan kecil beratap seng, dinding kayu, satu lampu minyak temaram. Di dalam, sudah ada Sugeng, Santoso, Anto, dan beberapa bapak-bapak lain.

Alex masuk, duduk di pojok.

"Wah, Pak Alex datang!" sambut Santoso, bapak paruh baya yang suka becanda.

"Iya, ikut ronda."

"Biar nggak dikira banci ya?" goda Anto.

Sugeng langsung memotong. "Heh, Anto! Jangan sembarangan."

Anto mengangkat tangan. "Becanda, becanda."

Suasana hening sebentar. Lalu Sugeng memulai.

"Lex, gimana kabar? Masih jadi asisten rumah tangga?"

Alex tersenyum getir. "Bukan asisten. Saya kepala operasional."

Santoso tertawa. "Kepala operasional dapur, ya?"

Semua tertawa. Alex ikut tertawa—terpaksa.

Sugeng mencoba serius. "Gapapa, Lex. Lu lagi investasi jangka panjang. Nanti kalau istri lu jadi camat, lu yang untung."

Anto menimpali, "Atau jadi bupati. Alex bisa jadi ibu negara versi laki-laki."

Tawa pecah lagi.

Santoso, dengan gaya khasnya, menambahkan. "PNS itu bukan Pegawai Negeri Sipil lagi buat lo, Lex."

Alex bertanya, "Trus apa?"

Santoso tersenyum lebar. "Pria Nyapu Setiap hari!"

Semua tertawa terbahak-bahak. Sugeng sampai menepuk-nepuk paha. Anto guling-guling di kursi bambu. Alex? Alex tertawa, ikut tertawa. Tapi di dalam, ada yang melilit. Ada yang sesak.

Setelah tawa reda, Sugeng menatapku.

"Lex, lo nggak apa-apa?"

"Apa?"

"Lo ketawa, tapi matanya nggak ketawa."

Alex diam. Tidak tahu harus jawab apa.

"Gue tahu ini berat, Lex. Tapi lo harus kuat."

"Gue kuat, Geng."

"Beneran?"

"Beneran."

Sugeng menghela napas. Lalu kembali ke obrolan ronda. Tapi kata-katanya menggantung di udara.


Pangkalan ojek di depan pasar. Sugeng ngetem di sini setiap hari, sekarang jadi tukang ojek full time karena proyek sepi.

Sore itu, Alex lewat dengan keranjang belanja. Mau ke warung Pak Karyo—lagi. Dari kejauhan, kulihat Sugeng, Anto, dan beberapa pemuda nongkrong.

Alex berusaha lewat biasa saja. Tapi telingaku—entah kenapa—bisa menangkap percakapan mereka.

Anto: "Geng, liat tuh Alex lewat bawa keranjang belanjaan."

Sugeng: "Itu laki-laki tangguh. Berani melakukan pekerjaan domestik."

Anto: "Atau laki-laki yang gak bisa ngomong 'tidak'?"

Sugeng: "Lo belum nikah, To. Nanti kalau nikah, lo ngerti. Rumah tangga itu bagi peran. Kadang yang cari nafkah istri, yang ngurus rumah suami. Gak ada yang salah."

Anto: "Tapi tetep aja lucu liat Alex pake celemek."

Sugeng: "Lucu iya. Tapi dia bahagia? Itu yang penting."

Alex berhenti sejenak. Sugeng, teman lamaku, ternyata ngerti juga.

Anto bertanya lagi, "Menurut lo, dia bahagia?"

Sugeng berpikir. "Gue nggak tahu. Tapi dia bertahan. Itu artinya ada cinta."

"Atau takut?"

"Takut sama istri? Mungkin. Tapi takut karena sayang, itu beda."

Alex melanjutkan jalan. Hati campur aduk.

Tapi pertanyaan Anto menggema di kepala: Dia bahagia?

Apa Alex bahagia?


Sepanjang jalan pulang, Alex merenung.

Bahagia. Kata yang sederhana, tapi sulit dijawab.

Dulu, bahagia itu mudah. Waktu kerja di proyek, keringatan, tapi pulang dengan uang di tangan. Waktu Mahdalena masih lembut, masih sering tersenyum, masih suka masakin. Waktu kami masih sama-sama berjuang dari nol.

Sekarang? Semua berubah. Alex di rumah. Dia di kantor. Alex cuci baju. Dia cari nafkah. Alex dengar gosip. Dia dengar laporan.

Apa ini bahagia?

Atau hanya bertahan?

Alex sampai di rumah. Keranjang belanja kutaruh di dapur. Duduk di ruang tamu, menatap langit-langit.

Di luar, matahari mulai tenggelam. Warna jingga menyapu langit. Tapi hatiku mendung.


Maghrib, Mahdalena pulang. Wajahnya capek, tapi masih sempat tersenyum.

"Bang, Aku pulang."

"Iya."

Ia mendekat. Mencium pipiku. Lalu melihat wajahku yang datar.

"Bang, kenapa? Kok diem aja?"

"Gak papa."

"Dengar gosip lagi?"

Alex diam. Lalu bicara.

"Bukan gosip. Fakta. Alex sekarang jadi bahan ketawa desa."

Ia duduk di sampingku. "Gosip apa?"

"Semua. Di warung Bu RT, di pos kamling, di pangkalan ojek. Semua bahas Alex. Suami yang jadi ibu rumah tangga."

"Mas, kamu malu?"

Pertanyaan itu. Pertanyaan yang selama ini Alex hindari.

Alex berpikir lama. Lalu jawab.

"Malu... nggak. Tapi... gue kadang ngerasa ilang."

"Ilang?"

"Ilang... harga diri. Dulu gue tukang bangunan. Semua orang liat gue keringatan, tapi gue bangga. Keringat itu bukti gue kerja. Bukti gue cari nafkah."

Ia diam. Mendengar.

"Sekarang? Gue lebih sering liat bayangan gue di bak cucian piring. Di air comberan. Di wajan gosong. Itu bayangan gue. Tukang cuci piring. Tukang masak gagal. Suami yang... nggak jelas."

Mahdalena memegang tanganku. Tangannya hangat.

"Bang, Aku minta maaf."

"Bukan salah lo, Dik. Ini keadaan."

"Tapi Aku bagian dari keadaan itu."

"Lo cuma bekerja. Cari nafkah buat kita. Itu nggak salah."

"Tapi mungkin Aku terlalu sibuk. Lupa nanya kabar lo. Lupa lihat perasaan lo."

Alex diam.

"Bang, dari semua gosip itu, apa yang paling menyakitkan?"

Alex berpikir. "Bukan gosipnya. Tapi pertanyaan Anto."

"Pertanyaan apa?"

"Dia tanya, 'Apa Alex bahagia?'"

Mahdalena menatapku. Matanya berkaca-kaca.

"Terus? Lo bahagia, Bang?"

Alex tidak bisa jawab.


Malam itu, kami tidak tidur. Duduk di ruang tamu, lampu temaram, suara jangkrik menemani.

"Bang, Aku ingin dengar semuanya."

"Semua apa?"

"Semua yang lo rasakan. Semua yang lo pendam. Jangan simpan sendiri."

Alex menghela napas. Lalu bicara.

"Gue capek, Dik."

"Capek fisik?"

"Capek hati. Capek didengerin orang ngejek. Capek jadi bahan ketawa. Capek ngerasa nggak berguna."

"Tapi lo berguna, Bang. Buat Aku."

"Beneran?"

"Iya. Tanpa lo, rumah ini berantakan. Aku nggak bisa kerja tenang. Aku bakal stres."

"Tapi di mata orang..."

"Di mata orang, terserah. Yang penting di mata Aku, lo tetap suami. Tetap kepala rumah tangga. Tetap Alex yang gue cintai."

Alex diam. Ada hangat di dada.

"Bang, Aku tahu ini berat. Tapi kita hadapi sama-sama. Aku janji, bakal lebih perhatian. Bakal lebih sering nanya kabar lo. Bakal lebih..."

"Lo nggak usah janji macam-macam, Dik. Gue cuma mau... gue cuma mau lo ngerti."

"Aku ngerti, Bang. Aku ngerti sekarang."

Kami berpelukan. Lama. Hangat.


Pagi harinya, Alex bangun seperti biasa. Siapkan sarapan, setrika baju, bersihkan rumah.

Saat sedang menyapu halaman, Bu RT lewat.

"Pagi, Pak Alex. Masak apa hari ini?"

Alex tersenyum. "Rencana mau masak sop, Bu."

"Wah, hebat. Nanti kalau jadi, saya minta icip ya."

"Siap, Bu."

Ia tersenyum dan pergi. Tidak ada nada mengejek. Hanya sapaan biasa.

Mungkin gosip tetap ada. Mungkin orang tetap membicarakan. Tapi pagi itu, Alex memutuskan: tidak apa-apa.

Biarlah mereka bergosip. Biarlah mereka tertawa. Yang penting, Aku tahu apa yang kulakukan. Aku tahu untuk siapa.

Untuk Mahdalena. Untuk keluargaku.


Sore harinya, Sugeng mampir. Sendirian.

"Lex, gue mau ngomong."

"Mau ngopi?"

"Mau."

Kami duduk di teras. Kopi hitam pekat menemani.

"Lex, gue dengar semalam lo ngobrol sama Lena."

"Lo tahu dari mana?"

"Lena cerita ke Wati. Wati cerita ke gue."

Alex diam.

"Lex, gue mau bilang sesuatu. Dari kecil kita berteman. Lo tahu gue orangnya ceplas-ceplos. Tapi kali ini serius."

"Serius apaan?"

"Lo itu beruntung."

"Beruntung? Jadi bahan ketawa?"

"Bukan. Beruntung karena lo punya istri yang pengertian. Yang mau denger. Yang mau berubah."

Alex diam.

"Gue lihat istri lo. Dia berusaha. Dia mau ngerti perasaan lo. Itu nggak semua laki-laki dapet."

"Gue tahu, Geng."

"Tapi lo juga harus usaha. Jangan cuma diem. Jangan cuma ngerasa ilang. Lo harus temuin lagi harga diri lo. Bukan dari pekerjaan, tapi dari siapa lo."

"Maksud lo?"

"Lo itu Alex. Suami Lena. Ayah—nanti—dari anak-anak lo. Itu harga diri. Bukan dari lo kerja apa. Tapi dari lo jadi apa."

Alex merenung.

"Makasih, Geng."

"Sama-sama, Lex. Gue cuma ngomong apa adanya."


Malam Minggu, Alex ajak Mahdalena ke sawah. Tempat favorit kami dulu.

Kami duduk di pematang. Bulan purnama bersinar. Padi mulai menguning.

"Bang, ingat dulu?"

"Ingat. Dulu kita sering ke sini."

"Dulu lo masih tukang bangunan. Aku masih calon PNS."

"Sekarang lo PNS, gue... apa?"

Ia memegang tanganku.

"Sekarang lo suamiku. Tetap suamiku. Nggak berubah."

"Tapi peran berubah."

"Peran boleh berubah. Tapi cinta? Nggak."

Alex tersenyum. "Lo yakin?"

"Aku yakin. Kayak yakinnya bulan bakal terbit tiap malam."

Kami diam. Menikmati keheningan.

"Bang, dari semua gosip itu, apa yang paling lo ingat?"

Alex berpikir. "Kata Sugeng."

"Kata Sugeng apa?"

"Dia bilang, 'Lucu iya. Tapi dia bahagia? Itu yang penting.'"

"Terus?"

"Terus gue mikir. Apa gue bahagia?"

"Lo bahagia, Bang?"

Alex menatapnya. Wajahnya teduh di bawah sinar bulan.

"Kalau sama lo, gue bahagia."

"Meskipun jadi bahan ketawa?"

"Meskipun jadi bahan ketawa."

"Meskipun harus masak, cuci, setrika?"

"Meskipun harus masak gosong, cuci pink, setrika hampir meledak."

Ia tertawa. Tawa yang kangen kudengar.

"Bang, makasih."

"Makasih buat apa?"

"Makasih karena lo bertahan."

"Lo juga, Dik. Makasih karena lo nggak pergi."

Kami bergandengan tangan. Memandang langit berbintang.


Besoknya, gosip baru beredar. Bukan tentangku, tapi tentang kami berdua.

Bu RT cerita di warung. "Eh, kalian tahu? Tadi malam, Alex sama Lena jalan ke sawah. Bergandengan tangan. Romantis banget!"

Ibu-ibu langsung antusias. "Wah, masih mesra ya?"

"Iya. Kata orang, mereka ngobrol lama di sana."

"Berarti rumah tangganya baik-baik aja?"

"Kelihatannya."

Anto, yang kebetulan lewat, menimpali. "Ah, Bu RT. Jangan terlalu ikut campur. Biarin mereka bahagia."

Bu RT tertawa. "Iya, iya. Aku cuma cerita."

Gosip memang tak pernah mati. Tapi kali ini, gosipnya manis. Dan Alex, untuk pertama kalinya, tidak merasa terganggu.

Karena di balik semua gosip, ada satu yang pasti: Alex dan Mahdalena masih bersama. Masih berjuang. Masih saling mencintai.

Dan itu lebih dari cukup.


BAB 13: Debat Tanpa Menang

Setiap bulan, selalu ada momen yang sama. Malam setelah Mahdalena gajian, ritual keuangan dimulai.

Alex sudah hafal polanya. Jam setengah delapan malam, setelah makan dan sholat Isya, Mahdalena akan mengeluarkan buku catatan keuangan dari laci meja. Buku bersampul cokelat dengan halaman-halaman penuh angka. Ia akan duduk di kursi kayu dekat jendela, dan Alex akan duduk di depannya—seperti murid yang akan diuji.

Awalnya Alex pikir ini hal biasa. Pasangan muda harus atur keuangan. Tapi lama-lama, ritual ini terasa seperti sidang. Alex terdakwa. Ia hakim.

Malam itu, seperti biasa, ia mulai.

"Bang, bulan ini pengeluaran kita 3,2 juta. Gaji Aku 4,5 juta. Sisa 1,3 juta. Nabung 500, sisanya buat cadangan."

Alex mengangguk. "Oke."

"Listrik bulan ini 250 ribu. Air 50 ribu. Beras 200 ribu. Lauk-pauk 600 ribu. Bensin 150 ribu. Pulsa 100 ribu. Lain-lain 350 ribu."

Alex mengangguk lagi. Angka-angka itu sudah hafal di luar kepala.

"Tabungan kita sekarang 12 juta. Lumayan. Tahun depan mungkin bisa buat DP rumah kontrakan, bukan rumah sendiri."

"Oke."

Ia menatapku. "Bang, lo dengerin nggak?"

"Denger, Dik. 12 juta. DP rumah."

"Iya. Tapi ada satu hal."

"Apa?"

Ia menghela napas. "Bang, kamu kemarin beli rokok? Padahal udah janji mau berhenti."

Jantungku berdegup. Ini dia. Sidang dimulai.


Alex mencoba tenang. "Iya... cuma dua bungkus."

"Cuma dua bungkus? Berapa harganya?"

"20 ribu."

"20 ribu satu bungkus?"

"Iya."

"Berarti 40 ribu untuk dua bungkus?"

"Iya."

Mahdalena mencatat di bukunya. "Bang, bulan lalu Aku kasih uang jajan 300 ribu. 30 hari, 10 ribu per hari. Dari 300 itu, 40 ribu habis buat rokok. Berarti lo habis 40 ribu untuk sesuatu yang nggak berguna."

Alex diam. Tidak suka arah pembicaraan ini.

"Bang, kita sudah sepakat. Rokok itu boros. Nggak sehat. Nggak baik buat kita."

"Gue tahu."

"Tapi lo tetap beli."

"Gue... stres."

Ia mengangkat alis. "Stres? Stres karena apa?"

Pertanyaan itu. Pertanyaan yang selalu sulit kujawab.

Alex diam. Bagaimana menjelaskan stres karena jadi bahan tertawaan desa? Stres karena setiap kali ke warung, ada yang nyeletuk "Pak Alex, masak apa hari ini?" dengan nada mengejek? Stres karena di pos kamling, Alex disebut "kepala operasional dapur"? Stres karena harga diriku terkikis sedikit demi sedikit?

Alex tidak bisa menjelaskan semua itu.

"Stres aja, Dik. Capek."

"Capek apa? Kerja?"

"Iya. Proyek sepi. Penghasilan nggak nentu."

"Tapi lo kan kerja cuma 10 hari bulan ini. Dapet 800 ribu. Sisanya di rumah."

"Itu yang bikin stres! Di rumah melulu! Nggak jelas!"

Ia diam. Lalu bicara lebih lembut.

"Bang, Aku ngerti. Tapi rokok bukan solusi."

"Terus solusinya apa?"

"Kita bicara. Cerita. Jangan dipendam."

"Lo pikir gue belum cerita? Setiap hari gue cerita. Tapi ujung-ujungnya balik lagi ke sini. Ke angka. Ke uang. Ke rokok."


Mahdalena menutup bukunya. Wajahnya berubah—dari sabar jadi sedikit kesal.

"Bang, jangan gitu. Aku coba bantu."

"Bantu? Atau ngatur?"

"Ngatur? Maksud lo?"

"Iya. Lo atur semua. Uang jajan gue dipatok. Rokok dilarang. Belanja harus sesuai daftar. Apa pun harus minta izin. Ini rumah tangga atau penjara?"

Ia terkejut. Matanya melebar.

"Penjara? Lo bilang ini penjara?"

"Ya, kadang gue rasa gitu."

"Bang, Aku lakukan ini semua buat kita. Buat masa depan. Lo kira Aku senang ngatur-ngatur? Aku capek, Bang!"

"Gue juga capek! Capek diatur!"

Suara mulai meninggi. Ini pertama kalinya kami bertengkar sekeras ini.

"Bang, lo tahu nggak, setiap bulan Aku harus mikir gini? Listrik, air, beras, lauk, tabungan, cicilan, semuanya sendiri?"

"Lo yang milih sendiri. Gue nggak minta."

"Karena lo nggak bisa! Kalau lo bisa, pasti udah gue serahin!"

Kalimat itu. Kalimat itu menusuk.


Diam. Hening. Suara detak jam dinding terdengar jelas.

Lalu Mahdalena bicara, pelan.

"Bang, gaji siapa yang lebih besar?"

Pertanyaan itu. Pertanyaan itu lagi. Setiap debat, selalu berakhir di situ.

Alex diam. Tidak bisa menjawab.

"Gaji Aku 4,5 juta. Kamu? Bulan ini dapat proyek berapa? 800? 1 juta? Itu pun kalau ada."

Alex terdiam. Tidak bisa membantah.

"Aku nggak masalah, Bang, kalau kamu gak bisa cari nafkah banyak. Tapi kalau kamu nggak bisa bantu di rumah, terus kamu habiskan uang untuk rokok, kita mau sampai kapan begini?"

Kata-kata itu menggantung. Berat. Menekan.

"Aku nggak minta lo jadi kaya. Aku cuma minta lo disiplin. Lo bantu. Lo ada buat Aku. Tapi kalau lo malah marah-marah, beli rokok, dan bilang ini penjara... Aku bingung, Bang. Harus gimana?"

Alex bangkit. Tidak kuat.

"Aku masuk kamar."

"Bang..."

Alex masuk kamar. Membanting pintu—pelan, karena takut rusak. Tapi cukup untuk menunjukkan kemarahan.


Kamar gelap. Hanya lampu kecil di pojok. Alex duduk di lantai, bersandar di dinding.

Menatap langit-langit. Memikirkan masa lalu.

Dulu, di proyek, Alex bisa beli rokok kapan saja. Pulang kerja, beli sebungkus, duduk di warung bareng teman-teman. Ngobrol ngalor-ngidul, tertawa, lupa capek. Merokok sambil ngopi, nikmatnya setengah mati.

Dulu, kalau ada masalah, Alex bisa ngopi sama Sugeng. Cerita panjang lebar. Dia dengerin, kasih saran, atau kadang cuma diem. Tapi ada yang menemani.

Sekarang? Kalau stres, Alex di rumah. Sendiri. Menunggu istri pulang. Lalu ritual keuangan, lalu debat, lalu diam.

Dulu Aku bebas. Miskin, tapi bebas.

Sekarang? Ada Mahdalena. Ada cinta. Tapi ada juga aturan. Ada juga rasa terkekang.

"Tapi dulu Aku belum punya Mahdalena."

Suara itu muncul di kepala. Suara yang mengingatkan.

Dulu Alex sendiri. Sekarang Alex punya dia. Dulu Alex bebas, tapi sendiri. Sekarang Alex terikat, tapi tidak sendiri.

Mana yang lebih baik?

Alex tidak tahu.


Beberapa menit berlalu. Mungkin setengah jam. Alex tidak tahu.

Pintu kamar terbuka pelan. Mahdalena masuk. Wajahnya basah—bekas nangis. Matanya sembab.

Ia duduk di sampingku. Tanpa bicara.

Lama. Hening.

Lalu ia bersandar di bahuku.

"Bang... maaf."

Alex diam. Masih kesal.

"Aku nggak bermaksud merendahkan. Tapi kadang Aku capek, Bang. Capek ngatur semua sendiri."

Alex menoleh. Matanya berkaca-kaca.

"Gue juga capek, Dik. Capek diatur."

Diam lagi. Tapi kali berbeda. Tidak tegang. Hanya sunyi.

"Bang, kita mungkin salah ngomong tadi."

"Iya."

"Aku salah pake jurus gaji."

"Gue salah pake jurus penjara."

Ia tersenyum tipis. "Kita sama-sama salah."

"Tapi rasa capek itu nyata, Dik."

"Iya. Nyata. Buat kita berdua."


"Bang, Aku mau ngomong dari hati."

"Ya."

"Aku sayang lo. Sayang banget. Tapi Aku juga takut."

"Takut apa?"

"Takut masa depan kita nggak jelas. Takut kalau kita terus begini, nggak maju-maju. Tabungan sedikit, proyek nggak nentu, rumah masih kontrakan."

Alex diam. Mendengar.

"Makanya Aku atur keuangan sekalian mungkin. Biar kita tetap bisa nabung. Biar suatu hari bisa beli rumah sendiri."

"Gue tahu, Dik. Tapi caranya..."

"Caranya terlalu keras?"

"Iya. Kadang gue ngerasa nggak dihargai. Hanya dilihat dari angka. Dari uang jajan. Dari rokok."

Ia menghela napas. "Maaf. Aku nggak sadar."

"Gue juga minta maaf. Soal penjara. Bukan itu maksud gue."

"Lalu maksud lo apa?"

"Maksud gue... gue kangen jadi laki-laki yang dihargai. Bukan karena uang, tapi karena gue ada. Karena gue berusaha."

Mahdalena memegang tanganku.

"Lo dihargai, Bang. Aku hargai lo."

"Tapi caranya?"

"Aku akan belajar ngomong lebih baik. Nggak akan pake jurus gaji lagi."

"Janji?"

"Janji. Tapi lo juga harus belajar."

"Belajar apa?"

"Belajar terima keadaan. Nggak usah bandingin sama dulu. Dulu udah lewat. Sekarang kita di sini. Harus jalan terus."

Alex mengangguk. "Gue usahakan."

"Bukan usahakan. Lakukan."

Alex tersenyum. "Iya, Bu Lurah."

Ia memukul lenganku. Tapi lembut.


"Bang, soal rokok."

"Ya?"

"Aku nggak akan larang total. Tapi kurangi."

"Kurangi jadi berapa?"

"Satu bungkus seminggu. Minggu boleh beli. Tapi jangan lebih."

"Tiga bungkus sebulan?"

"Iya. 60 ribu. Dari uang jajan lo."

Aku hitung. 60 ribu dari 300 ribu. Masih sisa 240 ribu.

"Deal."

"Tapi janji, nggak akan minta tambah."

"Janji."

"Kalau stres, cerita ke Aku. Jangan lari ke rokok."

"Gue coba."

"Bukan coba. Lakukan."

Alex tersenyum. "Iya, Bu Lurah."


Setelah semua omongan, kami diam. Bersandar di dinding kamar, berdua.

"Bang."

"Ya?"

"Kita bisa lewati ini semua, kan?"

"Pasti bisa."

"Meskipun susah?"

"Meskipun susah."

"Meskipun orang pada ngomong?"

"Biarin. Yang penting kita."

Ia memelukku. Pelukan erat.

"Bang, makasih."

"Makasih buat apa?"

"Makasih karena lo nggak pergi. Makasih karena lo mau denger. Makasih karena lo tetap di sini."

Alex mengecup keningnya. "Gue juga makasih. Makasih karena lo mau berubah."

"Kita sama-sama berubah."

"Iya. Berubah jadi lebih baik."

Malam itu, kami tidur dalam pelukan. Debat usai. Luka mengering. Tapi bekasnya masih ada.

Dan kami tahu, debat ini belum selesai. Akan ada lagi. Dan lagi. Sampai salah satu dari kami berubah—atau hancur.

Tapi malam ini, cukup. Cukup dengan damai.


Pagi harinya, Alex bangun lebih awal. Mahdalena masih tidur.

Alex ke dapur, buat kopi. Dua cangkir. Satu untukku, satu untuknya.

Lalu Alex ambil buku "Peraturan Rumah Tangga". Halaman baru kutulis:

"ATURAN DEBAT:

1.     Jangan pake jurus gaji. Itu sakit.

2.     Jangan bilang 'penjara'. Itu lebih sakit.

3.     Kalau marah, tarik napas. Hitung sampai 10.

4.     Kalau masih marah, keluar dulu. Ambil angin.

5.     Ingat: kita lawan masalah, bukan lawan satu sama lain."

Mahdalena bangun. Melihatku menulis.

"Bang, nulis apa?"

"Aturan debat. Biar nggak kejadian lagi."

Ia membaca. Lalu tersenyum.

"Nomor 5 bagus. 'Kita lawan masalah, bukan lawan satu sama lain.'"

"Itu pelajaran dari semalam."

"Pelajaran mahal."

"Tapi berharga."

Ia memelukku dari belakang. "Bang, lo hebat."

"Gue?"

"Iya. Lo mau belajar. Mau berubah. Nggak semua laki-laki bisa."

"Gue cuma nggak mau kehilangan lo."

"Lo nggak akan kehilangan Aku. Selama kita terus belajar."

Pagi itu, kami minum kopi bersama. Membicarakan hal-hal ringan. Lupa tentang debat semalam.

Tapi di dalam hati, kami tahu: ini baru awal. Masih banyak debat ke depan. Masih banyak air mata. Tapi juga masih banyak pelukan.

Dan itu cukup.


Beberapa hari kemudian, Alex bertemu Sugeng di pangkalan ojek.

"Lex, kok wajah lo cerah?"

"Gue lagi belajar, Geng."

"Belajar apa?"

"Belajar nerima keadaan. Belajar debat yang sehat."

Sugeng mengangguk-angguk. "Wah, progres."

"Iya. Tapi berat."

"Memang berat. Tapi lo nggak sendiri, kan?"

"Ada Lena."

"Nah. Itu modal utama. Punya pasangan yang mau belajar bareng."

Alex tersenyum. "Makasih, Geng."

"Sama-sama, Lex. Oh ya, rokoknya udah berkurang?"

"Udah. Satu bungkus seminggu."

"Wah, selamat! Lo jadi laki-laki sehat!"

"Masih proses."

"Proses itu penting. Yang penting jalan."

Alex pulang dengan perasaan lebih ringan. Debat minggu lalu memang berat. Tapi dari situ, kami belajar.

Dan belajar adalah kunci.


BAB 14: Harga Diri Seorang Suami

Minggu sore itu, Alex kabur.

Bukan kabur dari rumah. Tapi kabur dari perasaan sesak yang menggumpal di dada. Debat Jumat malam masih meninggalkan bekas. Kata-kata masih menggema. "Gaji siapa yang lebih besar?" Pertanyaan itu masih menusuk.

Alex jalan kaki menyusuri pematang sawah. Tanpa tujuan. Hanya ingin jauh sejenak dari rumah, dari buku keuangan, dari bayangan diriku di bak cucian piring.

Sawah belakang desa adalah tempat favorit Sugeng kalau galau. Dulu dia bilang, "Kalau lo lagi pusing, ke sawah aja. Luas, lega, bisa lihat langit. Ingat bahwa masalah lo kecil dibanding luasnya dunia."

Alex tidak tahu apakah itu benar. Tapi setidaknya, di sini Alex bisa bernapas.

Padi mulai menguning. Sebentar lagi panen. Burung-burung pipit beterbangan, mencari makan sebelum gelap. Di kejauhan, Gunung Lawu tampak samar, ditutupi kabut tipis.

Alex duduk di pematang, dekat saluran irigasi yang airnya mengalir tenang. Menatap air yang tak pernah berhenti mengalir—seperti hidup, seperti masalah, seperti waktu.

Tak lama, suara langkah terdengar dari belakang.

"Lex, ngapain di sini?"

Sugeng. Dengan baju lusuh dan sandal jepit, ia duduk di sampingku.

"Lagi mikir, Geng."

"Mikir apa? Istri marah lagi?"

Alex menghela napas. "Bukan marah. Debat. Lagi-lagi soal duit."

Sugeng mengangguk paham. "Debat soal duit itu paling berat. Karena duit itu nyata. Bisa dihitung. Bisa dibandingin."

"Lo kalah?"

Alex menatapnya. "Ya gue selalu kalah. Gajinya lebih gede. Logikanya lebih rapi. Argumennya lebih masuk akal. Gue... gue cuma tukang."

Sugeng diam. Lalu menepuk pundakku. Tepukan berat, penuh arti.


"Gue ngerti, Lex. Dulu gue juga gitu."

Alex menoleh. "Serius?"

"Iya. Dulu pas baru nikah, gue nganggur setahun. Istri gue—Wati—kerja jadi buruh pabrik. Gajinya kecil, tapi tetap ada. Gue? Nol besar."

"Terus?"

"Setiap debat, ujung-ujungnya dia tanya, 'Gaji lo berapa?' Gue diem. Mau jawab apa? Emang gue punya gaji?"

Alex diam. Membayangkan.

"Terus lo gimana?"

Sugeng tersenyum pahit. "Ya gue diem. Apa lagi yang bisa gue bilang? Gue nggak bisa bilang 'Aku cari nafkah' karena faktanya enggak. Gue nggak bisa bilang 'Aku kepala rumah tangga' karena rasanya palsu."

"Berat, Geng."

"Berat banget. Sampe gue pernah mikir, apa gue layak jadi suami? Apa gue layak hidup?"

Alex terkejut. "Geng..."

"Iya. Gue pernah di titik itu. Ngeliat diri sendiri di cermin dan nanya, 'Lo ini siapa? Lo ini apa?'"

"Terus lo bangkit gimana?"

Sugeng mengambil ranting kering, menggambar-gambar di tanah.

"Gue sadar satu hal, Lex. Kesalahan gue dulu adalah gue bandingin diri gue sama Wati. Gue pikir, karena dia cari nafkah, berarti dia lebih hebat. Padahal nggak gitu."

"Emang gimana?"

"Kita tim. Bukan lawan. Dia cari nafkah, tapi tanpa dukungan gue di rumah—beres-beres, masak, jagain anak—dia nggak bakal bisa kerja tenang. Peran kita beda, tapi sama pentingnya."

Alex merenung.


Sugeng melanjutkan, "Sekarang gue jadi tukang ojek. Penghasilan nggak nentu. Kadang 50 ribu sehari, kadang 20 ribu, kadang nggak sama sekali. Tapi Wati nggak pernah tanya 'gaji lo berapa?' lagi."

"Kenapa?"

"Karena udah lewat masa itu. Dia udah terima. Gue juga udah terima. Yang penting kita berusaha."

"Tapi lo tetap di rumah. Bantu-bantu?"

"Iya. Kalau sepi order, gue di rumah. Bantu Wati masak, bersihin rumah, jagain anak. Sekarang dia lagi hamil anak kedua."

"Wah, selamat, Geng."

"Makasih. Tapi lo tahu, Lex? Awalnya gue malu. Laki-laki kok di rumah, istri kerja. Tapi lama-lama gue sadar: malu itu cuma perasaan. Fakta nya, keluarga gue baik-baik aja. Anak gue kenyang. Istri gue bahagia. Itu yang penting."

Alex diam. Kata-kata Sugeng meresap.

"Lo tahu, Lex? Masalah lo bukan karena istri lo hebat. Tapi karena lo ngerasa nggak cukup."

Alex menoleh. "Lo jadi filosof sekarang?"

Sugeng tertawa. "Gue jadi tukang ojek. Banyak waktu mikir. Kalau lagi nunggu penumpang, ya mikir. Lama-lama jadi filosof dadakan."

Kami tertawa bersama. Tapi tawa kami pendek. Hanya sebentar.


"Gue kadang mikir, Geng. Apa gue salah?"

"Salah gimana?"

"Nikah sama perempuan yang lebih pinter, lebih sukses, lebih... segalanya."

Sugeng menggeleng. "Lo nggak salah, Lex. Lo cuma beruntung."

"Beruntung?" Alex hampir tersedak.

"Iya. Lo punya istri yang bisa jadi tulang punggung. Banyak laki-laki yang istrinya cuma bisa diem di rumah, nuntut ini itu, tapi nggak bantu apa-apa. Lo? Lo bisa eksis karena dia."

"Tapi gue nggak mau eksis karena dia. Gue mau eksis karena gue sendiri."

Sugeng menghela napas panjang. "Itu masalah lo. Ego."

"Ego?"

"Iya. Lo masih mikirin gengsi. Lo masih pengin diakui sebagai 'laki-laki sejati' versi orang desa. Padahal laki-laki sejati itu nggak harus cari nafkah paling besar."

"Terus apa dong?"

"Laki-laki sejati itu yang bisa jaga keluarganya. Bisa jadi tempat pulang. Bisa bikin istri dan anaknya nyaman. Nggak peduli dia kerja apa."

Alex diam. Kata-kata itu mengena.


Sugeng bertanya lagi, "Lo pernah curhat ke orang lain? Selain gue?"

Alex mengangguk. "Pernah. Ke Pak RT."

"Pak RT? Yang suka becanda itu?"

"Iya. Waktu itu gue lagi galau, ketemu dia di warung. Gue cerita sedikit."

"Terus?"

"Katanya: 'Masa laki-laki takut sama istri?'"

Sugeng mengernyit. "Terus lo jawab apa?"

"Gue diem. Nggak bisa jawab."

"Kenapa nggak lo bantah?"

"Bantah gimana? Emang bener, gue takut? Nggak juga. Tapi gue nggak mau dia marah. Nggak mau dia kecewa."

Sugeng mengangguk-angguk. "Itu namanya sayang, Lex. Bukan takut."

"Tapi orang desa bilang takut."

"Orang desa banyak omong. Lo harus bedain mana omongan, mana fakta."

Alex merenung. Sugeng benar. Selama ini Alex terlalu fokus pada omongan orang, lupa pada perasaanku sendiri.


"Lex, gue tanya sesuatu."

"Apa?"

"Sebenarnya, lo takut sama istri lo?"

Alex berpikir lama. Pertanyaan sederhana, tapi jawabannya rumit.

"Bukan takut. Tapi... gue nggak mau dia marah. Nggak mau dia kecewa. Gue pengin dia lihat gue sebagai laki-laki yang bisa diandalkan. Tapi kok rasanya makin susah."

"Itu sayang, Lex. Sayang banget malah."

"Tapi kenapa rasanya perih?"

"Karena lo masih mikirin ekspektasi. Ekspektasi lo sendiri, ekspektasi orang. Padahal istri lo nggak minta macam-macam. Dia cuma minta lo ada."

Alex menghela napas. "Berat, Geng."

"Iya. Jadi laki-laki itu berat. Tapi nggak berarti harus sendiri."

Sugeng menepuk pundakku lagi. Lalu kami diam, menatap sawah yang mulai gelap.


Matahari mulai terbenam. Langit berubah jingga keemasan. Burung-burung pulang ke sarang. Suara azan Maghrib mulai terdengar dari masjid desa.

"Lex, gue harus pulang. Istri nunggu."

"Iya, Geng. Makasih udah dengerin."

"Gapapa. Lo tahu, kadang kita cuma butuh tempat buat cerita. Nggak perlu solusi. Cuma didengerin."

"Makasih, udah ngedengerin."

Sugeng berdiri. Membetulkan sarungnya.

"Lex, gue kasih nasihat gratis. Jadi laki-laki itu bukan soal siapa yang paling keras suaranya. Tapi siapa yang paling kuat hatinya. Lo kuat? Bertahan."

Alex menatapnya. "Gue nggak punya pilihan, Geng."

Sugeng tersenyum. "Nah, itu jawabannya. Lo kuat karena nggak punya pilihan. Karena lo harus bertahan. Untuk dia. Untuk keluarga lo."

Dia berbalik, berjalan pulang. Meninggalkanku di pematang, dengan senja yang semakin memudar.


Alex duduk sendiri beberapa saat. Memikirkan semua yang dikatakan Sugeng.

Laki-laki sejati bukan yang cari nafkah paling besar.
Tapi yang bisa jadi tempat pulang.

Alex ingat rumah. Ingat Mahdalena. Dia pasti sudah pulang. Mungkin sedang masak. Mungkin sedang menungguku.

Alex berdiri. Berjalan pulang.

Sepanjang jalan, Alex memikirkan hal-hal sederhana. Senyum Mahdalena. Masakannya. Tawanya. Pelukannya. Semua itu masih ada. Masih utuh.

Harga diri mungkin remuk. Tapi cinta? Mungkin masih utuh.


Sampai di rumah, lampu sudah menyala. Aroma masakan tercium dari dapur. Sop ayam—kesukaanku.

Mahdalena keluar dari dapur. Wajahnya masih segar, meskipu mungkin capek seharian.

"Bang, udah pulang? Dari mana aja?"

"Ke sawah. Ketemu Sugeng."

"Ngobrol apa?"

"Banyak. Tentang hidup. Tentang kita."

Ia mendekat. Memandangku dengan mata lembut.

"Bang, kamu sedih?"

"Bukan sedih. Tapi... mikir."

"Mikir apa?"

"Tentang diri gue. Tentang peran gue. Tentang harga diri."

Mahdalena diam. Lalu memegang tanganku.

"Bang, duduk dulu. Makan yuk. Aku masak sop kesukaanmu."

Alex duduk di kursi. Ia mengambil piring, menyajikan sop hangat. Aroma rempah menguar.

Alex makan. Diam-diam. Setiap suapan terasa hangat.

Lalu, tanpa kusangka, air mata mulai mengalir. Bukan isak tangis. Hanya tetesan pelan yang jatuh ke piring.

Mahdalena melihat. Ia tidak bertanya. Hanya mendekat, duduk di sampingku, dan memelukku.

"Bang, nangis?"

"Gue... gue nggak tahu kenapa."

"Ini sopnya terlalu sedih?"

Alex tertawa di tengah tangis. "Bukan. Ini... gue haru."

"Haru kenapa?"

"Gue lihat lo.. Lo masih sayang sama gue. Padahal gue... gue nggak ada apa-apanya."

Ia melepaskan pelukan. Memandang mataku.

"Bang, denger. Lo ada dihatitiku. Lo suami gue. Lo orang yang gue pilih. Lo orang yang selalu berusaha. Itu lebih dari cukup."

"Tapi gue..."

"Tapi nggak ada tapi. Gue sayang lo. Titik."


Malam itu, kami makan bersama. Tidak banyak bicara. Tapi keheningan kali ini berbeda. Hangat. Penuh.

Setelah makan, kami duduk di teras. Bulan mulai muncul. Bintang-bintang bertaburan.

"Bang, Sugeng ngomong apa aja tadi?"

"Banyak. Dia bilang, jadi laki-laki itu bukan soal siapa yang paling keras suaranya. Tapi siapa yang paling kuat hatinya."

"Itu bener."

"Dia juga bilang, lo kuat karena nggak punya pilihan."

Mahdalena tersenyum. "Sugeng bijak juga ya."

"Dia banyak waktu mikir. Jadi tukang ojek."

"Tukang ojek filosof."

Kami tertawa.

"Bang."

"Ya?"

"Aku tahu ini berat. Tapi Aku janji, nggak akan pake jurus gaji lagi. Aku akan lebih perhatian. Akan lebih dengerin."

"Gue juga janji. Akan lebih terbuka. Nggak akan pendam sendiri."

"Deal?"

"Deal."

Kami bergandengan tangan. Menatap langit malam.


Malam itu, sebelum tidur, Alex membuka buku "Peraturan Rumah Tangga". Halaman baru kutulis:

"HARGA DIRI:

1.     Harga diri bukan dari gaji. Tapi dari ketulusan.

2.     Jadi laki-laki bukan soal siapa yang paling keras suaranya. Tapi siapa yang paling kuat hatinya.

3.     Alex kuat karena nggak punya pilihan. Karena Alex harus bertahan.

4.     Untuk dia. Untuk kita.

5.     Cinta lebih besar dari gengsi."

Alex menutup buku. Memandangi Mahdalena yang sudah tidur di sampingku. Wajahnya tenang. Damai.

Alex tersenyum.

Harga diri mungkin remuk. Tapi lihatlah, di sampingku, ada yang membuatku utuh kembali.

Cinta.

Cinta yang tak pernah tanya "gaji lo berapa?"

Cinta yang hanya tanya "kamu baik-baik aja?"

Dan malam ini, Alex baik-baik aja. Karena dia.


BAB 15: Desa Ikut Campur

Dua hari sebelum pertemuan, sebuah undangan diselipkan di bawah pintu kontrakan kami.

Selembar kertas buram, diketik dengan mesin tik tua—masih banyak coretan tipe-ex. Isinya singkat:

"UNDANGAN
Kepada Yth. Bapak Alex & Ibu Mahdalena
Diundang hadir dalam pertemuan warga bulanan
*Hari/Tanggal: Jumat, 17 Maret, pukul 19.30 WIB*
Tempat: Balai Desa Awan Biru
Acara: Pembahasan rutin dan aspirasi warga

Catatan: Kehadiran sangat diharapkan.
Hormat kami,
Sekretaris Desa
Yuni Purnamasari"

Alex membaca undangan itu berulang kali. "Aspirasi warga" dan "kehadiran sangat diharapkan" membuatku gelisah. Biasanya undangan seperti ini hanya formalitas. Tapi kali ini, nadanya berbeda.

Mahdalena membaca dari balik pundakku.

"Bang, kenapa lo gelisah?"

"Gue nggak tahu. Rasanya... aneh."

"Biasa aja kali. Pertemuan warga bulanan. Bahas sampah, keamanan, iuran."

"Iya. Tapi kenapa 'kehadiran sangat diharapkan'? Kayak penting banget."

Mahdalena menghela napas. "Ya udah, kita dateng aja. Paling cuma formalitas."

Tapi dari matanya, Alex bisa lihat ia juga gelisah.


Malam Jumat, jam setengah delapan, kami berangkat ke balai desa. Jalan setapak yang biasa kami lewati terasa lebih panjang malam itu. Lampu-lampu jalan temaram, sesekali padam. Suara jangkrik terdengar nyaring, seperti ikut bergosip.

Mahdalena memegang tanganku. Tangannya dingin—mungkin juga gelisah.

"Bang, lo takut?"

"Bukan takut. Tapi... was-was."

"Was-was apa?"

"Gue nggak tahu. Rasanya pertemuan ini... tentang kita."

Ia diam. Tangannya mengerat.

"Kalau pun tentang kita, kita hadapi bareng-bareng."

"Iya."

Kami sampai di balai desa. Bangunan tua peninggalan Belanda itu berdiri kokoh di tengah desa. Dindingnya putih pudar, atap genting merah, dan di depan, dua pohon beringin besar—konon angker, tapi warga biasa duduk di bawahnya kalau cuaca panas.

Di dalam, sudah ramai. Kursi-kursi kayu panjang berjejer. Warga duduk bergerombol. Suara gaduh bercampur asap rokok dan aroma kopi.

Kami mencari tempat di pojok belakang. Berusaha tidak mencolok. Tapi beberapa pasang mata sudah menoleh.

Bu RT tersenyum—senyum yang aneh. Pak Karyo mengangkat alis. Anto bersiul kecil. Sugeng mengacungkan jempol—entah artinya apa.

Alex duduk. Mahdalena di sampingku. Tangan kami tetap bergandengan di bawah kursi.


Pak Kades Iwan naik ke panggung kecil. Mikrofon didekatkan ke mulut. Suara berisik terdengar—tek... tek... tes... tes.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Waalaikumsalam wr wb," sahut warga kompak.

Pak Kades membuka dengan doa. Lalu membaca agenda: kebersihan desa, keamanan lingkungan, iuran bulanan, dan... aspirasi warga.

"Malam ini, selain agenda rutin, ada aspirasi dari salah satu warga. Tolong disampaikan dengan tertib."

Bu RT berdiri. Perempuan paruh baya dengan daster batik dan rambut disasak tinggi itu melangkah ke tengah. Wajahnya serius—terlalu serius untuk ukuran Bu RT yang biasa ceria.

"Pak Kades, warga sekalian. Saya mewakili... beberapa pihak, ingin menyampaikan sesuatu."

Jantungku berdebar.

"Ini soal rumah tangga. Ada keluhan dari... beberapa pihak. Tentang ketidakseimbangan peran di salah satu keluarga di desa kita."

Desas-desus mulai terdengar. Warga saling berbisik.

Sekdes Yuni—perempuan tegas berjilbab rapi—berdiri dari kursinya. "Maksud Bu RT, ketidakseimbangan yang seperti apa?"

Bu RT menatap ke arah kami. "Maksud saya, ada keluarga di mana suami di rumah, istri yang kerja. Suami masak, cuci, setrika. Istri cari nafkah. Ini... ini tidak lazim di desa kita."

Semua mata menatapku.

Alex ingin lenyap. Ingin menjadi asap, ingin menjadi debu, ingin tidak ada.


Pak Kades mengangguk-angguk. Wajahnya berubah—dari ramah jadi serius.

"Alex, tolong maju. Kita dengar dari yang bersangkutan."

Alex membeku. Kaki terasa berat. Mahdalena memegang tanganku erat.

"Bang, lo nggak usah..."

"Harus, Dik. Ini soal kita."

Alex berdiri. Berjalan ke depan. Langkahku gontai, seperti berjalan di atas pecahan kaca. Semua mata mengikuti. Beberapa berbisik. Yang lain tersenyum—entah simpati atau mengejek.

Sampai di depan, Alex berdiri di samping Bu RT. Wajahku pasti pucat.

"Pak Alex, silakan sampaikan pendapatmu," kata Pak Kades.

Alex menarik napas. Dalam. Lalu bicara, terbata-bata.

"Saya... saya hanya membantu istri. Karena proyek bangunan sepi. Saya cuma... cuma ingin meringankan beban dia. Tidak ada maksud... maksud apa-apa."

Bu RT langsung menyambar. "Tapi Pak Alex, ini tidak lazim. Suami di rumah, istri cari nafkah. Apa kata desa tetangga? Apa kata orang?"

Alex diam. Tidak tahu harus jawab apa.


Sekdes Yuni berdiri. Matanya tajam menatap Bu RT.

"Maaf, Bu RT. Saya lihatnya beda."

Bu RT menoleh. "Bedanya bagaimana, Bu Sekdes?"

"Ini justru modern. Suami mendukung karir istri. Di kota banyak begitu. Suami istri bagi peran. Yang penting keluarga harmonis."

Bu RT menggeleng. "Tapi kita di desa, Bu Sekdes. Ada norma, ada adat, ada aturan tidak tertulis. Laki-laki itu imam. Kalau di rumah terus, bagaimana jadi imam?"

"Imam bukan soal siapa yang cari nafkah. Imam itu siapa yang jaga keluarganya. Alex jaga keluarganya dengan ngurus rumah. Itu imam."

Pak RW—bapak separuh baya berkumis tebal—ikut angkat bicara. "Tapi yang cari nafkah kan yang memimpin. Logikanya begitu. Kalau istri yang cari nafkah, berarti istri yang memimpin. Suami jadi bawahan."

Sekdes Yuni tersenyum tipis. "Pak RW, memimpin itu bukan soal siapa yang pegang uang. Memimpin itu melayani. Alex melayani istrinya dengan urus rumah. Itu kepemimpinan. Kepemimpinan dalam diam."

Alex terperangah. Sekdes Yuni—perempuan tegas yang jarang bicara—membelaku habis-habisan.

Bu RT tidak menyerah. "Tapi gosipnya sudah ke mana-mana. Anak-anak muda pada ngejek. Ini merusak moral!"

"Gosip?" Sekdes Yuni mengangkat alis. "Bu RT, kita ini aparat desa. Harusnya kita jadi contoh, bukan malah ikut menyebarkan gosip. Kalau ada yang ngejek, itu urusan mereka. Tugas kita menjaga warga, bukan menghakimi."


Pak Kades mengangkat tangan. "Tunggu, tunggu. Jangan ramai-ramai. Kita dengar semua pendapat. Tapi kita juga harus adil."

Ia menatap ke arah Mahdalena.

"Lena, bagaimana pendapatmu? Kamu istrinya. Kamu yang paling tahu."

Semua mata beralih ke Mahdalena. Alex melihatnya dari depan—ia berdiri, berjalan pelan ke tengah. Wajahnya tenang. Sangat tenang. Tapi Aku tahu, di balik tenang itu, ada getar.

Ia berdiri di sampingku. Memegang tanganku.

"Pak Kades, Bu RT, Pak RW, Bu Sekdes, warga sekalian. Saya... saya ingin bicara."

Semua diam.

"Saya bersyukur punya suami seperti Alex. Dia tidak malu mengurus rumah. Dia tidak protes ketika saya pulang malam. Dia masak, dia cuci, dia setrika—meskipun hasilnya kadang gosong dan baju jadi pink."

Beberapa warga tertawa kecil.

"Dia melakukan semua itu bukan karena disuruh. Tapi karena dia sayang. Dia tahu saya capek. Dia tahu saya butuh bantuan. Dan dia ada."

Bu RT membuka mulut, tapi Mahdalena belum selesai.

"Bu RT, saya tahu ada gosip. Saya tahu orang bilang ini tidak lazim. Tapi saya tidak hidup untuk gosip. Saya hidup untuk keluarga saya. Dan Alex adalah bagian terpenting dari keluarga itu. Tanpa dia, saya tidak bisa bekerja sebaik ini. Tanpa dia, rumah ini akan berantakan. Tanpa dia... saya tidak akan utuh."

Hening.

Sangat hening.

Sampai suara jangkrik dari luar terdengar jelas.


Bu RT terdiam. Wajahnya berubah—dari tegang jadi... haru? Mungkin.

Pak RW menggaruk kepala yang tidak gatal.

Sekdes Yuni tersenyum—senyum kemenangan, tapi juga senyum haru.

Anto, dari pojok, berseru, "Wah, keren, Bu Lena!"

Beberapa orang tertawa. Tapi tawarnya hangat.

Pak Kades akhirnya angkat bicara. Suaranya berat, penuh wibawa.

"Ya sudah. Kita dengar semua. Ada yang pro, ada yang kontra. Tapi menurut saya, ini urusan rumah tangga mereka. Bukan urusan kita. Yang penting, mereka rukun. Mereka bahagia. Desa Awan Biru ini desa damai. Jangan ada yang mengganggu ketenteraman hanya karena perbedaan peran."

Ia menatap Bu RT. "Bu RT, tolong hentikan gosip. Kalau ada yang ngejek, ditegur. Kita ini saudara."

Bu RT mengangguk. "Iya, Pak Kades."

Pak Kades lalu menatap kami. "Alex, Lena, kalian baik-baik saja? Ada yang mau disampaikan?"

Alex menggeleng. Mahdalena juga.

"Baik. Pertemuan kita lanjutkan dengan agenda berikutnya: kebersihan desa."


Rapat berlanjut. Tapi Alex tidak mendengar apa-apa. Pikiranku masih di pidato Mahdalena. Kata-katanya masih bergema.

Setelah rapat selesai, warga keluar satu per satu. Beberapa menatap kami dengan tatapan aneh. Tapi ada juga yang tersenyum, mengacungkan jempol.

Bu RT mendekat. Wajahnya masih sedikit tegang, tapi matanya lembut.

"Pak Alex, Bu Lena... maaf ya. Saya hanya... mungkin terlalu ikut campur."

Mahdalena tersenyum. "Nggak apa-apa, Bu. Ibu kan RT. Tugas ibu menjaga warga."

"Iya. Tapi kadang lupa batas. Maafkan saya."

"Kami maafkan, Bu."

Bu RT memeluk Mahdalena. Lalu menepuk pundakku.

"Pak Alex, lo laki-laki hebat. Saya baru sadar."

"Makasih, Bu."

Pak Karyo mendekat. "Pak Alex, besok belanja lagi ya. Saya kasih diskon."

Alex tertawa. "Makasih, Pak."

Sugeng datang dengan Wati. "Lex, lo hebat. Lo dan Lena hebat. Salut!"

Wati menambahkan, "Bu Lena, pidatomu keren banget. Alex sampe nangis."

Mahdalena tersipu. "Makasih, Mbak."

Anto, dengan gaya khasnya, bilang, "Pak Alex, saya cabut ya. Besok-besok kalau masak, jangan gosong lagi."

Semua tertawa. Kali ini tawa hangat.


Kami keluar terakhir. Balai desa mulai gelap. Lampu-lampu dimatikan satu per satu. Di luar, angin malam berhembus sepoi. Pohon beringin bergoyang pelan.

Mahdalena memegang tanganku. Kami berjalan pelan.

"Bang."

"Ya?"

"Maaf. Harusnya Aku bicara lebih awal. Harusnya Aku yang luruskan gosip dari awal."

"Gak apa-apa, Dik. Tadi... lo hebat. Lo sangat hebat."

"Beneran?"

"Iya. Gue hampir nangis."

"Lo nggak nangis kan?"

"Nggak. Tapi hampir."

Ia tersenyum. Senyum lebar yang bikin lesung pipitnya muncul.

"Kita hebat, Bang. Bareng-bareng."

"Iya. Kita hebat."

Di bawah lampu balai yang temaram, kami berhenti. Saling memandang.

"Bang, lo tahu nggak, dari semua yang terjadi, Aku belajar satu hal."

"Apa?"

"Aku belajar bahwa cinta itu bukan soal siapa yang paling benar. Tapi siapa yang paling setia. Dan lo setia, Bang. Setia banget."

Alex terharu. "Lena..."

"Lo nggak perlu jadi laki-laki ideal versi orang desa. Lo cukup jadi Alex versi lo. Yang nulis puisi di tembok. Yang salah transfer. Yang nangis di wisudaku. Yang masak gosong. Yang bikin baju jadi pink. Itu lo. Dan Aku sayang lo."


Kami berjalan pulang bergandengan tangan. Jalan setapak yang tadi terasa panjang, sekarang terasa pendek. Lampu jalan yang temaram, sekarang terasa romantis. Suara jangkrik yang tadi mengganggu, sekarang seperti musik.

"Bang."

"Ya?"

"Aku kangen."

"Kangen apa?"

"Kangen kita dulu. Jalan-jalan ke sawah. Nonton TV berdua. Ngobrol ngalor-ngidul."

"Gue juga kangen."

"Besok Minggu, kita ke sawah lagi yuk. Seperti dulu."

"Janji?"

"Janji."

Sampai di rumah. Kontrakan kecil yang tadi terasa sesak, sekarang terasa lapang. Mungkin karena hati sudah lega.

Sebelum masuk, Mahdalena mencium pipiku.

"Makasih, Bang."

"Makasih buat apa?"

"Makasih karena lo bertahan. Karena lo nggak pergi. Karena lo tetap di sini."

Alex memeluknya. "Gue juga makasih. Karena lo berani bicara. Karena lo bela gue."

"Kita tim."

"Iya. Tim."


Pagi harinya, Alex bangun lebih awal. Mahdalena masih tidur. Wajahnya tenang, damai.

Alex ambil buku "Peraturan Rumah Tangga". Halaman baru kutulis:

"DESA IKUT CAMPUR:

1.     Desa akan selalu ikut campur. Itu sudah kodratnya.

2.     Yang penting, kita tahu diri. Kita tahu apa yang kita perjuangkan.

3.     Istriku hebat. Dia berani bicara di depan umum. Dia bela Alex.

4.     Alex juga harus hebat. Bukan dengan gaji besar. Tapi dengan setia.

5.     Cinta lebih kuat dari gosip. Lebih kuat dari omongan. Lebih kuat dari desa mana pun.

6.     Besok Minggu, kami ke sawah. Seperti dulu. Seperti cinta yang baru tumbuh."

Mahdalena bangun. Melihatku menulis.

"Nulis apa, Bang?"

"Catatan. Biar ingat."

"Biar ingat apa?"

"Biar ingat bahwa malam tadi, istri gue jadi pahlawan."

Ia tersenyum. "Pahlawan kesiangan."

"Pahlawan sejati."

Kami sarapan bersama. Sederhana. Hangat. Penuh.

Dan di luar, matahari terbit cerah. Desa Awan Biru memulai hari baru. Dengan gosip baru mungkin. Tapi kami tidak peduli.

Kami punya satu sama lain. Dan itu cukup.


BAB 16: Mogok Nasional Versi Alex

Seminggu setelah pertemuan desa, semangat itu mulai memudar.

Awalnya, setelah Mahdalena membelaku di depan warga, Alex merasa seperti pahlawan. Rasanya dada ini penuh, tegap, siap menghadapi apa pun. Tapi ternyata, semangat semahal itu cepat menguapnya.

Kembali ke rutinitas, kembali ke peran yang sama, kembali ke perasaan rendah diri.

Setiap pagi, Alex masih bangun, siapkan sarapan, cuci piring, beres-beres rumah. Setiap sore, Alex masih menunggu Mahdalena pulang, dengan masakan yang kadang enak kadang tidak. Setiap malam, Alex masih mendengar gosip-gosip kecil dari tetangga yang belum sepenuhnya berhenti.

Perlahan, semangat itu terkikis. Yang tersisa hanya rasa capek. Capek fisik, capek hati, capek jadi "Alex si ibu rumah tangga".

Suatu pagi, setelah seminggu penuh stres—proyek sepi, cucian numpuk, masakan gosong lagi—Alex memutuskan sesuatu.

Alex berdiri di depan cermin. Wajahku kusut. Mata sembab. Rambut acak-acakan. Alex menatap diriku sendiri dan berkata lantang:

"Alex nggak akan kerja rumah hari ini. Alex laki-laki. Alex harus dihormati."

Cermin tidak menjawab. Tapi Alex merasa mantap.

Ini saatnya pemberontakan.


Mahdalena sudah berangkat sejak jam setengah tujuh. Rapat dinas, katanya. Pulang mungkin sore.

Alex duduk di ruang tamu. Melihat sekeliling. Piring-piring kotor dari semalam masih menggunung di dapur. Baju di jemuran sudah kering sejak pagi, tapi tidak kuangkat. Lantai belum disapu. Debu di mana-mana. Masakan? Lupakan. Hari ini, tidak ada masak-masak.

Alex ambil remote, nyalakan TV. Acara pagi yang membosankan. Tapi lebih baik daripada kerja rumah.

Jam 9 pagi, Sugeng WA.

Sugeng: "Lex, ngapain? Lagi di proyek?"
Alex: "Nggak. Di rumah."
Sugeng: "Kerja rumah?"
Alex: "Nggak. Mogok."

Tiga titik muncul. Lalu balasan.

Sugeng: "Lu mogok? Mogok kerja? Lu kan nggak kerja?"

Alex kesal membaca itu.

Alex: "Bodo. Gue mogok jadi pembantu."
Sugeng: "..."
Alex: "Lo diem aja?"
Sugeng: "Gue bingung harus ngomong apa."
Alex: "Bilang aja dukung perjuangan gue."
Sugeng: "Perjuangan apa? Mogok masak? Nanti lo sendiri yang lapar."
Alex: "Biarin. Ini masalah prinsip."
Sugeng: "Prinsip perut kosong?"

Alex tidak balas. Sebal.


Jam 10 pagi, perut mulai keroncongan. Ini pertama kalinya dalam berminggu-minggu Alex tidak sarapan. Biasanya, setelah Mahdalena pergi, Alex sarapan sisa masakan kemarin. Tapi hari ini, sisa masakan? Nggak ada. Semalem Alex malas masak.

Alex ke dapur. Pemandangan mengerikan: piring kotor menggunung di bak cucian. Kompor kotor penuh tumpahan minyak. Bahan makanan berserakan di meja—bawang, cabai, tomat yang mulai layu.

Alex berdiri, menatap semua itu. Malas. Sangat malas.

"Gue nggak akan nyuci piring," kataku tegas.

Alex keluar rumah. Jalan kaki ke warung Bu RT. Beli nasi bungkus. Lauknya cuma tempe goreng dan sambal. Tapi cukup.

Di warung, Bu RT menyapa.

"Loh, Pak Alex? Beli nasi bungkus? Biasanya Bu Lena yang masak?"

Alex menggerutu dalam hati. Tapi tetap jawab, "Iya, Bu. Lagi males masak."

Bu RT tersenyum. "Ya ampun, suami masa males masak?"

Alex tidak menjawab. Bayar, lalu pulang.

Makan nasi bungkus sendirian di ruang tamu. Rasanya hambar. Tapi ini masalah prinsip, pikirku.


Jam 12 siang. Matahari terik. Alex lihat ke luar jendela. Baju-baju di jemuran sudah kering. Beberapa jam yang lalu sebenarnya sudah kering. Tapi Alex malas mengangkatnya.

"Biar kering lagi," kataku pada diri sendiri.

Alex kembali ke TV. Acara sinetron yang itu-itu saja. Tapi setidaknya mengalihkan perhatian.

Ponsel bergetar. WA dari Mahdalena.

Mahdalena: "Bang, udah makan? Jangan lupa jemuran diangkat ya."

Alex membaca. Lalu tersenyum sinis.

Alex: "Iya nanti."

"Nanti" yang berarti tidak sekarang. Atau mungkin tidak sama sekali.


Jam 3 sore. Alex setengah tidur di sofa. TV masih menyala, tapi mataku mulai berat. Tiba-tiba...

Gledek!

Alex tersentak. Gelap. Lampu padam sebentar, lalu nyala lagi. Di luar, awan hitam menggantung rendah. Angin kencang bertiup, menerbangkan debu dan daun kering.

Hujan. Hujan deras.

Alex duduk. Lupa sesuatu. Sesuatu yang penting.

Baju! Jemuran!

Alex berlari ke belakang. Terlambat. Hujan sudah turun dengan derasnya. Baju-baju di jemuran—kering tadi—sekarang basah kuyup. Beberapa jatuh ke tanah karena angin. Berlumur lumpur.

"Astaghfirullah..."

Alex berdiri di bawah guyuran hujan, memandangi bencana. Baju-baju itu—hasil cucian kemarin yang hampir kering—sekarang lebih basah daripada sebelum dicuci.

Alex mengambil keranjang. Mengumpulkan baju-baju itu satu per satu. Basah. Kotor. Beberapa terkena lumpur. Beberapa terkena air tanah yang coklat.

Selesai, Alex masukkan semua ke keranjang. Tapi tidak dicuci. Tidak juga diperas. Hanya ditaruh di pojok belakang rumah.

"Biar aja," gumamku.


Jam 5 sore, suara motor terdengar di depan. Mahdalena pulang.

Alex duduk di sofa, nonton TV. Pura-pura santai. Tapi dalam hati, deg-degan.

Pintu terbuka. Ia masuk. Wajahnya capek—rapat seharian pasti melelahkan. Rambutnya agak basah—kehujanan di jalan. Tasnya diletakkan di kursi.

Ia melongok ke ruang tamu. Melihatku di sofa.

"Bang, Aku pulang."

"Iya."

Ia berjalan ke dapur. Alex tahu ia melihat pemandangan mengerikan di sana. Piring kotor menggunung. Kompor kotor. Bahan makanan berserakan.

Ia keluar dari dapur. Menuju belakang. Melihat keranjang penuh baju basah dan kotor.

Ia kembali ke ruang tamu. Wajahnya... sulit dibaca.

"Bang... ini kenapa?"

Alex berusaha tenang. "Mogok."

"Mogok?"

"Iya. Mogok. Gue capek."

Ia diam. Tidak marah. Tidak kesal. Hanya diam.

Lalu ia masuk kamar. Ganti baju. Keluar lagi. Dan mulai membereskan.

Tanpa bicara. Tanpa protes. Tanpa mengeluh.

Alex melihatnya dari sofa. Ia menyapu. Mengepel. Membereskan dapur. Mencuci piring. Mencuci baju. Satu per satu.

Tangannya bergerak cepat. Wajahnya tetap tenang. Tapi Alex tahu, di balik tenang itu, ada lelah. Lelah yang sangat.


Jam 7 malam. Rumah mulai rapi. Lantai bersih. Dapur beres. Baju sudah dicuci dan dijemur ulang—mudah-mudahan tidak hujan lagi.

Mahdalena ke dapur. Masak air. Masak mie instan. Dua bungkus.

Ia keluar dengan dua mangkok. Satu diletakkan di depanku. Satu untuknya.

Kami makan diam-diam. Hanya suara slurp mi yang terdengar. Tidak ada obrolan. Tidak ada canda.

Setelah makan, ia duduk di sampingku. Wajahnya lelah, tapi matanya lembut.

"Bang, mogoknya sampai kapan?"

Alex diam. Tidak tahu jawabannya.

"Karena kalau sampai besok, Aku cuti aja. Jaga rumah. Biar kamu istirahat."

Alex menoleh. "Cuti?"

"Iya. Aku ambil cuti. Kamu istirahat. Nggak usah kerja rumah. Aku yang kerjain."

Alex tidak percaya. "Lo nggak marah?"

"Marah? Nggak."

"Tapi rumah berantakan. Baju basah. Piring kotor."

"Ya. Tapi kamu lagi mogok. Berarti kamu capek. Aku harus ngerti."

Alex diam. Dadaku sesak.


"Gue... gue cuma mau dihargai, Dik."

"Aku menghargai kamu, Bang."

"Tapi..."

"Tapi apa, Bang?"

Alex mencari kata-kata. Susah sekali.

"Gue ngerasa... hilang. Ngerasa nggak penting. Ngerasa cuma... pembantu."

Ia memegang tanganku. "Kamu bukan pembantu. Kamu suamiku."

"Tapi orang lain..."

"Orang lain bukan kita. Orang lain nggak tahu apa yang kita rasain. Orang lain nggak tahu perjuangan kita."

"Gue tahu. Tapi gue..."

"Kamu capek. Aku tahu. Aku juga capek. Tapi kita harus sama-sama."

Alex menatapnya. Matanya berkaca-kaca.

"Bang, Aku minta maaf."

"Lo minta maaf? Lo nggak salah apa-apa."

"Aku salah. Salah karena terlalu sibuk. Salah karena lupa nanya kabar kamu. Salah karena... membuatmu merasa seperti ini."

"Bukan salah lo."

"Tapi Aku bagian dari masalah ini. Dan Aku mau jadi bagian dari solusinya."


"Bang, kita ngomong ya. Ngomong baik-baik."

"Ngomong apa?"

"Apa yang kamu mau? Apa yang bisa Aku lakukan? Biar kamu nggak mogok lagi."

Alex berpikir. Lama.

"Gue cuma mau... lo lihat gue. Bukan sebagai pembantu. Tapi sebagai suami."

"Aku lihat kok."

"Tapi kadang..."

"Kadang Aku lupa. Maaf. Aku janji, akan lebih perhatian."

"Lo udah perhatian."

"Tapi kurang."

"Gue juga kurang. Kurang ngerti keadaan lo. Kurang bisa terima kenyataan."

Ia tersenyum. "Kita sama-sama kurang. Tapi kita bisa belajar."

"Lo yakin?"

"Yakin. Kayak yakinnya matahari terbit tiap pagi."

"Maaf," kataku lirih.

Ia memelukku. Pelukan hangat. Pelukan yang lama hilang.

"Besok kita bereskan sama-sama ya. Rumahnya, hatinya, semuanya."

Alex mengangguk dalam pelukannya.

Mogok nasional versi Alex berakhir setelah 8 jam. Tapi pelajaran darinya: mogok itu melelahkan. Terutama bagi yang mogok.

Dan yang lebih penting: mogok tidak menyelesaikan masalah. Hanya menunda. Hanya memperburuk.


Pagi harinya, Alex bangun lebih awal. Mahdalena masih tidur.

Alex ke dapur. Masak air. Siapkan kopi. Goreng telur. Semua dengan hati-hati.

Mahdalena bangun. Melihatku di dapur.

"Bang, udah bangun?"

"Iya. Udah siapin sarapan."

Ia mendekat. Melihat telur dadar yang cukup rapi. Kopi yang harum.

"Lo masak?"

"Iya. Mogok selesai."

Ia tersenyum. Memelukku dari belakang.

"Makasih, Bang."

"Makasih buat apa?"

"Makasih karena lo mau berubah."

"Lo juga, Dik. Makasih karena lo sabar."

Kami sarapan bersama. Hening, tapi hangat.

Setelah sarapan, ia pamit.

"Bang, Aku berangkat. Tolong jemuran diangkat ya. Jangan sampai kehujanan lagi."

"Siap, bu Lurah."

Ia tertawa. Lalu pergi.

Alex di rumah. Melihat sekeliling. Rumah rapi berkat dia semalam. Tapi hari ini, giliranku.

Alex mulai bekerja. Menyapu, ngepel, membereskan. Perlahan, dengan senang hati.

Karena Alex sadar: ini bukan pekerjaan pembantu. Ini bentuk cinta.


Malam harinya, sebelum tidur, Alex membuka buku "Peraturan Rumah Tangga". Halaman baru kutulis:

"MOGOK NASIONAL VERSI ALEX:

1.     Mogok itu melelahkan. Terutama bagi yang mogok.

2.     Mogok tidak menyelesaikan masalah. Hanya menunda.

3.     Istriku luar biasa. Dia tidak marah. Dia malah mau cuti.

4.     Alex harus lebih kuat. Bukan kuat fisik. Tapi kuat hati.

5.     Harga diri bukan dari pemberontakan. Tapi dari ketulusan.

6.     Besok, Alex akan lebih baik. Untuk dia. Untuk kita.

7.     Catatan penting: Jemuran harus diangkat sebelum hujan. Gagal total kemarin."

Mahdalena membaca. Ia tertawa.

"Bang, lo tulis semua ini?"

"Iya. Biar ingat."

"Biar ingat apa?"

"Biar ingat bahwa mogok itu bodoh. Tapi istriku baik banget."

Ia memelukku. "Istri yang baik karena punya suami yang mau belajar."

"Suami yang bodoh."

"Tapi bodoh yang manis."

Kami tertawa. Lalu tidur dalam pelukan.

Di luar, bulan bersinar cerah. Desa Awan Biru tertidur pulas. Dan di dalam kontrakan kecil ini, dua manusia—dengan segala kekurangan—saling berpelukan.

Mogok usai. Cinta kembali.


BAB 17: Strategi Gagal Total

Mogok nasional versi Alex telah berakhir. Tapi lukanya masih ada. Perasaan rendah diri masih menganga. Harga diri masih tergeletak di suatu tempat.

Alex duduk di teras, ngopi, merenung. Mahdalena sudah berangkat. Rumah sepi. Pikiran mulai berkelana.

"Gue harus buat dia sadar," gumamku.

Sadar apa? Sadar bahwa pekerjaan rumah itu berat. Sadar bahwa Aku juga berusaha. Sadar bahwa Aku layak dihargai.

Tapi bagaimana caranya?

Mogok sudah gagal. Malah bikin rumah berantakan dan baju basah kehujanan. Sekarang, butuh strategi baru. Strategi yang lebih cerdas. Lebih dramatis. Lebih... meyakinkan.

Alex ambil buku catatan kecil. Mulai menulis ide-ide gila.

Strategi 1: Masak Super Asin
Tujuan: Bikin masakan yang nggak enak, biar dia protes, lalu Aku bilang "Inilah kalau yang masak bukan ahlinya."

Strategi 2: Pura-pura Sakit
Tujuan: Biar dia yang kerja rumah, ngerasain repotnya, lalu sadar betapa beratnya.

Alex tersenyum puas. Rencana sempurna.

Tidak. Rencana bodoh. Tapi Alex tidak tahu itu saat ini.


Sore harinya, Alex mulai eksekusi strategi pertama.

Mahdalena belum pulang. Katanya ada rapat lagi. Pulang mungkin jam 7. Waktu yang cukup untuk mempersiapkan "karya seni" ku.

Alex buka kulkas. Ada sayuran: wortel, kentang, buncis, kol. Ada ayam sedikit. Bikin sop, pikirku. Sop super asin.

Alex mulai memotong sayuran. Dengan hati-hati—kali ini tidak ingin melukai diri sendiri. Wortel dipotong bulat, kentang dadu, buncis serong, kol disobek kasar.

Air direbus. Ayam dimasukkan. Sayuran menyusul.

Sekarang, bagian penting: garam.

Alex ambil sendok makan. Garam dimasukkan satu sendok. Aduk. Coba cicip. Kurang asin.

Sendok kedua. Cicip. Masih kurang.

Sendok ketiga. Cicip. Mulai terasa.

Tapi ini belum cukup. Strategi ini butuh garam lebih. Harus benar-benar asin sampai dia protes.

Sendok keempat. Kelima.

Selesai. Sop sudah matang. Alex cicipi sedikit. GUBRAK! Lidahku langsung mati rasa. Asinnya seperti air laut. Seperti minum air laut langsung. Lidah terasa tebal, tenggorokan perih.

"Ini dia," kataku puas. "Dia pasti protes."

Alex tunggu dengan percaya diri.


Jam 7 malam, Mahdalena pulang. Wajahnya capek, tapi masih sempat tersenyum.

"Bang, wangi... Mas masak?"

Alex tersenyum lebar—mungkin terlalu lebar. "Iya, Sayang! Masak sop. Spesial."

"Wah, hebat dong. Aku laper banget."

Ia cuci tangan, lalu duduk di meja makan. Alex sajikan sop dalam mangkuk. Kuahnya bening, sayuran cantik, ayam menggiurkan. Dari luar, sempurna.

Mahdalena mengambil sendok. Menyendok kuah sedikit. Memasukkannya ke mulut.

Alex menahan napas.

Ia mengunyah? Tidak, kuah tidak perlu dikunyah. Ia menelan. Wajahnya... tidak berubah.

Ia mengambil sayur. Makan. Wajahnya masih tidak berubah.

Ia mengambil potongan ayam. Makan. Wajahnya tetap sama.

Alex mulai curiga. Kok tidak protes?

"Gimana, Dik? Enak?"

Ia tersenyum. "Enak, Bang. Kamu hebat."

Alex bingung. Ini tidak sesuai rencana.

Ia makan lagi. Habiskan setengah mangkuk. Lalu minum air putih. Satu gelas. Dua gelas. Tiga gelas.

Tapi tidak protes. Tidak ada komentar.

Alex tidak tahan. Alex ambil sendok, cicipi sendiri.

GUBRAAAK!

Ya Allah. Asinnya bukan main. Lidahku langsung mati rasa. Tenggorokan seperti terbakar. Alex minum air putih satu gelas langsung habis.

"Dik... ini asin banget!"

Ia tersenyum. "Iya, Bang. Tapi kamu sudah berusaha. Itu yang penting."

"Tapi ini nggak bisa dimakan!"

"Bisa kok. Aku tadi makan."

"Lo tahan?"

"Iya. Karena kamu yang masak."

Alex diam. Perasaanku campur aduk. Gagal total. Strategi satu hancur.


"Bang, kenapa sih sopnya diasin banget?"

Alex garuk-garuk kepala. "Gue... gue..."

"Lo pengin bikin Aku protes?"

Alex diam. Bersalah.

"Biarpun asin, Aku tetap makan. Karena itu masakan kamu. Karena kamu berusaha."

"Tapi gue..."

"Kamu pengin buktiin sesuatu? Pengin bilang 'ini kalau yang masak bukan ahli'?"

Alex terkejut. "Lo tahu?"

"Aku tahu. Karena Aku tahu kamu."

Alex menghela napas. "Maaf, Dik."

"Gak apa-apa. Tapi lain kali, kalau mau bikin sop, garamnya cukup satu sendok teh. Bukan satu sendok makan."

"Iya."

"Janji?"

"Janji."


Gagal dengan strategi satu, Alex beralih ke strategi dua: pura-pura sakit.

Pagi-pagi, sebelum Mahdalena bangun, Alex sudah siap di kasur. Wajah kusut, rambut acak-acakan, muka lemes.

Mahdalena bangun. Melihatku.

"Bang, lo kenapa? Kok masih di kasur?"

Alex berusaha suara lemas. "Dik... gue masuk angin. Kepala pusing. Badan meriang."

Ia panik. "Ya ampun, Bang! Serius?"

"Iya. Dari semalam nggak enak badan."

Ia duduk di sampingku. Tangannya meraba keningku.

"Dingin, tapi kok panas ya? Aduh, Bang, lo istirahat aja. Jangan bergerak."

"Tapi lo kan kerja..."

"Aku izin telat. Urus kamu dulu."

Ia keluar kamar. Alex dengar suara telepon. "Pak Sekcam, saya izin telat ya. Suami saya sakit. Iya, nanti saya nyusul."

Alex tersenyum dalam hati. Rencana berjalan.


Mahdalena lalu-lalang di rumah. Pertama, ke dapur, masak bubur. Lalu cuci piring sisa semalam. Lalu beres-beres ruang tamu. Lalu ganti sprei—katanya biar Alex nyaman. Lalu siapkan obat: tolak angin, minyak kayu putih, air hangat.

Alex di kasur, pura-pura tidur. Tapi mataku sedikit terbuka, melihatnya sibuk.

Ia keluar masuk. Berkeringat. Tapi tidak mengeluh.

Bubur selesai. Ia membawanya ke kamar.

"Bang, makan bubur dulu. Biar hangat."

Alex duduk. Makan bubur yang ia suapi. Dalam hati, agak bersalah.

"Makasih, Dik."

"Iya, Sayang. Lo istirahat aja."

Selesai makan, ia kembali sibuk. Nyapu, ngepel, cuci baju. Rumah jadi bersih dalam waktu singkat.

Alex melihat dari kasur. Kagum. Tapi juga bersalah.


Jam 10 pagi, tiba-tiba ada suara motor di depan. Suara orang masuk.

"Pak Mantri, silakan masuk. Suami saya di kamar."

PAK MANTRI?!

Alex panik. Ini tidak ada dalam rencana.

Seorang bapak setengah baya dengan tas coklat masuk ke kamar. Pak Mantri—tenaga kesehatan desa yang juga warga. Wajahnya ramah, tapi matanya tajam.

"Selamat pagi, Pak Alex. Saya dengar sakit?"

Alex tersenyum kaku. "I-iya, Pak. Masuk angin."

Pak Mantri duduk di samping kasur. Mengeluarkan tensimeter. Dipasang di lenganku.

"Darah 120/80. Normal."

Termometer ditempel di ketiak. Beberapa menit kemudian.

"Suhu 36,5. Normal."

Ia memeriksa tenggorokan. "Tenggorokan merah? Batuk?"

"Enggak, Pak."

"Pilek?"

"Enggak."

"Perut mual?"

"Enggak."

Pak Mantri mengerutkan dahi. Ia menatapku lama. Lalu tersenyum—senyum yang tahu segalanya.

"Pak Alex, saya periksa semuanya normal. Badan bapak sehat walafiat. Ini mah... mungkin kecapean aja."

Alex tersipu. Malu setengah mati.

Mahdalena, yang berdiri di pintu, menatapku. Matanya... ia tahu.


Pak Mantri pamit. "Bu Lena, suami ibu sehat. Istirahat aja, besok udah bisa kerja."

"Makasih, Pak."

Setelah Pak Mantri pulang, Mahdalena duduk di sampingku. Wajahnya tenang. Tidak marah.

"Bang, pura-pura sakit?"

Alex diam. Tidak bisa berkata apa-apa.

"Kenapa?"

Alex menghela napas. Pasrah.

"Gue... gue cuma mau... bikin lo sadar."

"Sadar apa?"

"Sadar... kalau gue juga berusaha. Tapi gue gagal terus. Masak gosong, cuci pink, belanja ketipu, mogok gagal. Gue pikir, kalau lo ngerasain repotnya, lo bakal lebih hargai gue."

Ia diam. Lalu—untuk ke sekian kalinya—dia tertawa.

Tapi tawanya lembut. Bukan mengejek. Bukan mengolok. Tapi tawa yang penuh pengertian.

"Bang, Aku sudah hargai kamu. Sejak dulu."

"Maksud lo?"

"Sejak kamu salah transfer. Sejak kamu nulis puisi di tembok. Sejak kamu datang ke wisudaku pake baju sobek. Sejak kamu masak nasi gosong. Sejak kamu bikin baju jadi pink. Semua itu Aku hargai."

Alex terharu.

"Tapi lo pura-pura sakit?"

"Iya. Maaf."

"Bang, kalau mau bikin Aku sadar, ngomong aja. Nggak usah pura-pura sakit. Ntar beneran sakit."

"Gue kira ini cara paling efektif."

"Ini cara paling bodoh."

Kami terdiam. Lalu Alex bertanya, "Lo marah?"

"Marah? Nggak. Tapi kecewa."

"Kecewa kenapa?"

"Karena lo nggak percaya Aku bisa ngerti tanpa semua drama ini."


Malam itu, setelah semuanya tenang, kami duduk di ruang tamu. Lampu temaram. Suara jangkrik dari luar.

"Bang, kita ngobrol ya. Serius."

"Iya."

"Aku tahu kamu capek. Aku tahu kamu ngerasa nggak dihargai. Tapi cara-cara kayak gini—pura-pura sakit, masak super asin, mogok—itu nggak akan bikin segalanya lebih baik."

"Gue tahu sekarang."

"Yang bikin segalanya lebih baik adalah komunikasi. Ngomong. Cerita. Jangan dipendam."

"Tapi gue malu."

"Malu ngomong sama istri sendiri?"

"Bukan malu. Tapi... gue nggak tahu cara mulainya."

"Mulai aja. 'Dik, Aku capek.' 'Dik, Aku butuh lo ngerti.' Sederhana."

"Lo nggak akan marah?"

"Marah kalau lo diem terus. Tapi kalau lo cerita, Aku bisa ngerti."

Alex diam. Merenung.

"Bang, Aku juga mau cerita. Aku juga capek. Tapi kalau kita sama-sama diem, nggak akan selesai."

"Gue janji, mulai sekarang akan lebih terbuka."

"Janji?"

"Janji."

"Tapi lo juga harus janji."

"Apa?"

"Jangan pake jurus 'gaji siapa yang lebih besar' lagi."

Ia tersenyum. "Janji. Itu jurus kotor."

"Jurus pamungkas lo."

"Jurus pamungkas yang menyesakkan."

Kami tertawa bersama.

"Deal?"

"Deal."

Kami pinky promise. Seperti anak kecil. Tapi sungguh-sungguh.


Pagi harinya, Alex bangun lebih awal. Mahdalena masih tidur.

Alex ke dapur. Masak sarapan. Kali ini tidak super asin. Hanya telur dadar biasa, nasi hangat, dan teh manis.

Mahdalena bangun. Melihat sarapan di meja.

"Bang, lo masak?"

"Iya. Sarapan."

Ia duduk. Makan. Wajahnya cerah.

"Enak, Bang. Nggak keasinan."

"Gue belajar dari kemarin."

"Pintar."

Setelah sarapan, kami beres-beres bersama. Seperti tim. Seperti partner.

Sebelum berangkat, ia berpesan.

"Bang, kalau ada apa-apa, bilang ya. Jangan pura-pura sakit lagi."

"Siap, bu Lurah."

"Jangan masak super asin lagi."

"Siap."

"Janji?"

"Janji."

Ia mencium pipiku. Lalu pergi.

Alex di rumah, tersenyum sendiri. Strategi gagal total. Tapi justru dari kegagalan itu, kami belajar.

Belajar bahwa kejujuran lebih baik daripada drama. Bahwa komunikasi lebih ampuh daripada strategi licik.


Malam harinya, Alex membuka buku "Peraturan Rumah Tangga". Halaman baru kutulis:

"STRATEGI GAGAL TOTAL:

1.     Masak super asin? Gagal. Dia malah makan tanpa protes.

2.     Pura-pura sakit? Gagal total. Pak Mantri datang dan tahu semuanya.

3.     Pelajaran: Jangan pernah pura-pura sakit. Ntar beneran sakit dikutuk.

4.     Pelajaran: Komunikasi itu kunci. Ngomong aja. Jangan pakai drama.

5.     Istriku terlalu baik untuk strategi licik. Dia layak dapat kejujuran.

6.     Mulai sekarang: jujur, terbuka, dan kalau mau bikin sop, garamnya cukup satu sendok teh."

Mahdalena membaca. Ia tertawa.

"Bang, lo bener-bener catat semua?"

"Iya. Biar ingat."

"Biar ingat apa?"

"Biar ingat bahwa jadi suami itu nggak perlu strategi. Cukup jujur."

Ia memelukku. "Bang, lo hebat."

"Hebat apanya? Gagal mulu."

"Hebat karena lo mau belajar. Mau mengakui kesalahan. Mau berubah."

"Lo juga hebat. Sabar banget sama gue."

"Kita sama-sama hebat."

Malam itu, kami tidur dalam pelukan. Tenang. Damai.

Dan di dapur, sisa sop super asin masih ada. Besok akan dibuang. Tapi kenangannya akan tetap ada—sebagai pengingat bahwa cinta sejati tidak tAlext pada rasa asin.

Ia tetap dimakan. Karena cinta.


BAB 18: Mahdalena Tersadar

Kantor Kecamatan Kabut Merah adalah bangunan tua peninggalan kolonial. Dindingnya tinggi, catnya kusam, dan di setiap sudut ada lemari arsip berdebu. Tapi di belakang, ada kantin sederhana—tenda plastik, meja kayu panjang, dan kursi plastik warna-warni.

Jam istirahat. Mahdalena duduk sendiri di pojok, dengan sepiring nasi pecel dan es teh manis. Wajahnya lelah. Rapat pagi tadi menguras energi.

"Lena, sibuk ya?"

Mahdalena menoleh. Bu RT—dengan seragam cleaning service—duduk di sampingnya. Ibu paruh baya itu membawa nasi bungkus dan segelas air putih.

"Iya, Bu. Banyak rapat. Bosan."

"Ah, muda sibuk, tua nanti kangen sibuk."

Mahdalena tersenyum. "Ibu juga sibuk?"

"Ya iyalah. Jadi RT itu kerjaannya nggak ada habisnya. Urus ini, urus itu, dengerin gosip, terusin gosip."

Mereka tertawa.

Bu RT makan diam-diam sebentar. Lalu tiba-tiba bertanya, "Alex di rumah gimana? Sehat?"

Mahdalena mengangguk. "Sehat, Bu. Urus rumah."

"Urus rumah? Beres-beres, masak, cuci?"

"Iya. Lumayan bantu saya."

Bu RT menghela napas. Panjang. Terlalu panjang untuk sekadar napas biasa.

Mahdalena menegang. "Kenapa, Bu?"


"Lena, ibu mau ngomong. Jangan marah ya."

Mahdalena meletakkan sendoknya. "Iya, Bu. Silakan."

Bu RT menatapnya dengan mata yang tiba-tiba jadi lembut. Matanya berkaca-kaca? Mungkin.

"Lena, ibu dengar dari beberapa orang. Tentang Alex."

"Dengar apa?"

Bu RT menghela napas lagi. Kali ini lebih pendek.

"Dia itu... sering diketawain. Di warung, di pos kamling, di pangkalan ojek. Dibilang banci, dibilang laki takut istri, dibilang pembantu bersayap."

Mahdalena diam. Wajahnya berubah.

"Tapi dia nggak pernah protes. Dia cuma diem aja. Kadang ketawa, ikut ketawa. Tapi matanya... matanya nggak ketawa."

"Bu..."

"Ibu tahu, Lena. Ibu lihat sendiri. Waktu dia lewat depan warung, orang-orang pada bisik-bisik. Dia cuma tunduk, jalan cepat, pura-pura nggak denger."

Mahdalena mengepalkan tangan di bawah meja.

"Tau nggak, Lena? Kemarin dia cerita ke Pak Sugeng. Waktu ronda. Kata Sugeng, Alex bilang dia ngerasa ilang. Harga dirinya ilang. Tapi dia bertahan karena sayang sama kamu."

Informasi itu menusuk. Seperti pisau tajam yang tiba-tiba ditusukkan ke dada.

"Bu, Alex bilang begitu?"

"Iya. Ibu dengar dari Pak Sugeng. Dia cerita pas ronda. Alex nggak tahu ibu dengar. Tapi ibu dengar. Dan ibu... ibu sedih."

Mahdalena diam. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Lena, ibu tahu kamu sibuk. Kamu PNS, karirmu bagus. Tapi jangan lupa, di rumah ada orang yang berjuang dengan cara diam. Alex itu... dia berjuang diam-diam. Dia nggak pernah ngeluh. Nggak pernah protes. Tapi dia terluka. Itu yang ibu lihat."


Setelah Bu RT pergi, Mahdalena tidak bisa makan lagi. Nasi pecel di depannya dingin. Es teh sudah encer.

Pikirannya kacau.

Alex diketawain? Dibilang banci? Dibilang laki takut istri?

Selama ini, ketika pulang kerja, Alex selalu menyambutnya dengan senyum. Kadang masak, kadang bersih-bersih, kadang cuma duduk di teras menunggu. Tapi selalu senyum. Tidak pernah cerita tentang gosip. Tidak pernah mengeluh tentang ejekan.

Dia diem aja. Dia simpan sendiri.

Dan dia bilang ke Sugeng: "Gue ngerasa ilang. Harga diri gue ilang."

Mahdalena menutup wajah. Napasnya sesak.

Gue selama ini... gue nggak lihat. Gue terlalu sibuk. Terlalu fokus sama kerjaan. Lupa lihat dia. Lupa tanya kabarnya. Lupa... lupa bahwa dia juga manusia.

Jam istirahat hampir habis. Tapi Mahdalena tidak bisa kembali ke ruangan. Ia minta izin ke Pak Sekcam—ada urusan keluarga, katanya.


Pulang dari kantor, Mahdalena mampir ke warung Pak Karyo. Bukan belanja. Tapi mencari... sesuatu. Penjelasan mungkin.

Pak Karyo sedang melayani pembeli. Begitu melihat Mahdalena, ia tersenyum lebar.

"Wah, Bu Lena! Jarang mampir sendiri. Biasanya sama suami."

Mahdalena tersenyum tipis. "Iya, Pak. Saya mau tanya-tanya."

"Tanya apa?"

"Tentang Alex. Tentang suami saya."

Pak Karyo mengangkat alis. "Oh, Pak Alex? Kenapa?"

"Katanya dia sering belanja ke sini?"

"Sering banget. Tiap minggu. Dulu awal-awal, saya tipu dikit. Kasih harga mahal, barang dikit."

Mahdalena mengernyit. "Ditipu?"

"Iya. Tapi jangan marah, Bu. Itu cara saya ngajarin. Saya lihat dia orang baru, belum tahu harga. Jadi saya kasih pelajaran."

"Pelajaran dengan menipu?"

Pak Karyo tertawa. "Iya. Tapi dia cepat belajar. Minggu berikutnya, dia datang bawa catatan harga. Survey ke warung lain dulu. Dia tawar saya habis-habisan. Saya sampe kewalahan."

Mahdalena tersenyum tipis. Membayangkan.

"Sekarang dia pinter. Tahu harga semua. Saya nggak bisa tipu lagi. Malah saya kasih diskon."

"Pak Karyo, menurut Bapak, Alex itu orangnya gimana?"

Pak Karyo berpikir. Matanya menerawang.

"Bu Lena, suami ibu itu orang baik. Orang yang mau belajar itu langka. Apalagi belajar belanja, masak, urus rumah. Itu nggak mudah. Banyak laki-laki yang gengsi. Tapi Pak Alex? Dia nggak. Dia tanya, dia catat, dia praktik. Saya salut."

Mahdalena diam. Kata-kata Pak Karyo menambah beban di hati.


Sepeda motor Mahdalena melaju pelan. Jalanan sepi. Sawah di kanan-kiri mulai menguning. Burung-burung beterbangan.

Pikirannya masih kacau.

Alex. Suaminya. Orang yang dulu nulis puisi di tembok. Orang yang salah transfer karena gila cinta. Orang yang datang ke wisudanya pake baju sobek. Orang yang nangis haru di kursi belakang.

Sekarang, orang yang sama ada di rumah. Masak, cuci, setrika. Dengan celemek bunga-bunga. Dengan senyum yang mungkin palsu. Dengan luka yang disembunyikan.

Dia ngerasa ilang. Harga dirinya ilang. Tapi dia bertahan. Karena sayang sama gue.

Air mata Mahdalena mulai jatuh. Tetes demi tetes. Ia hapus dengan tangannya. Tapi terus jatuh lagi.

Gue harus ngomong sama dia. Gue harus minta maaf. Gue harus...

Ia mempercepat motornya. Ingin segera sampai di rumah.


Sore itu, Alex sedang asyik di dapur. Masak sop lagi. Tapi kali ini dengan hati-hati. Garam satu sendok teh, bukan satu sendok makan. Wortel dipotong rapi. Kentang sesuai ukuran. Ayam direbus sampai empuk.

Alex pakai celemek bunga—satu-satunya celemek di rumah. Mataku sedikit perih karena potong bawang. Tapi tidak apa. Ini untuk Mahdalena.

Pintu terbuka. Alex tidak dengar. Asyik mengaduk kuah.

"Bang."

Suara itu pelan. Alex menoleh. Mahdalena berdiri di pintu dapur. Wajahnya... aneh. Matanya merah.

"Ya, Dik? Udah pulang? Sop hampir jadi."

Ia tidak menjawab. Hanya mendekat.

Lalu, tanpa kata, ia memelukku dari belakang. Pelukan erat. Seperti takut Alex pergi.

Alex bingung. "Dik, kenapa? Lo nangis?"

Diam.

"Ada apa? Di kantor? Dimarahin atasan?"

Diam.

"Dik, ngomong. Gue khawatir."

"Maaf."

Suara itu lirih. Tapi jelas.

"Maaf?"

"Maaf, Bang. Maaf."

Alex berbalik. Memegang pundaknya. Wajahnya basah.

"Lo kenapa sih? Ngomong."

Ia memandangku. Matanya merah. Hidungnya merah.

"Bang, Aku baru tahu."

"Tahu apa?"

"Tahu kalau kamu... diketawain. Dibilang banci. Dibilang laki takut istri. Tapi kamu diem aja. Nggak pernah cerita."

Alex diam. Dadaku sesak.

"Kamu ngerasa ilang. Harga diri kamu ilang. Tapi kamu bertahan. Karena sayang sama Aku."

"Dik, dari mana lo..."

"Bu RT. Pak Karyo. Mereka cerita. Mereka bilang kamu hebat. Tapi Aku... Aku nggak lihat. Aku terlalu sibuk. Lupa nanya kabar kamu. Lupa lihat perasaan kamu."

Alex diam. Bawang di tangan. Air mata—sekarang bukan karena bawang.

"Nggak apa-apa, Dik."

"Tapi ini apa-apa. Ini penting. Kamu penting."


Kami berdiri di dapur. Sop di kompor mulai mendidih. Tapi tidak ada yang peduli.

"Bang, kenapa kamu nggak pernah cerita?"

"Cerita apa?"

"Tentang gosip. Tentang ejekan. Tentang perasaan kamu."

Alex menghela napas. "Gue pikir... itu bagian dari perjuangan."

"Perjuangan?"

"Iya. Lo kerja keras di kantor. Lo bawa uang buat kita. Masa gue nambahin beban lo dengan cerita-cerita kecil?"

"Tapi ini bukan cerita kecil. Ini tentang kamu. Tentang harga diri kamu."

"Gue bisa handle."

"Tapi kamu ngerasa ilang."

Alex diam. Tidak bisa membantah.

"Bang, Aku minta maaf."

"Udah, Dik. Bukan salah lo."

"Ini salah Aku. Karena Aku nggak lihat. Aku nggak tanya. Aku nggak... hadir buat kamu."

"Dik..."

"Bang, Aku janji. Mulai sekarang, Aku akan lebih perhatian. Akan lebih sering nanya. Akan lebih... jadi istri yang baik buat kamu."


Mahdalena mematikan kompor. Sop sudah matang. Ia mengambil dua mangkuk. Menuang sop. Lalu mengajakku duduk di meja makan.

Kami makan dalam diam. Tapi kali berbeda. Bukan diam karena marah. Tapi diam karena banyak yang ingin diucapkan, tapi tak tahu mulai dari mana.

Setelah beberapa suap, Mahdalena bicara.

"Bang."

"Ya?"

"Cerita."

"Cerita apa?"

"Cerita semuanya. Tentang gosip. Tentang ejekan. Tentang apa yang kamu rasain. Aku mau dengar."

Alex diam. Lalu mulai bicara.

"Gosip itu... berat, Dik. Setiap kali lewat warung, ada yang bisik-bisik. Di pos kamling, ada yang nyeletuk 'kepala operasional dapur'. Di pangkalan ojek, ada yang bilang 'laki-laki tangguh' tapi nadanya ngejek."

Mahdalena mendengar. Matanya berkaca-kaca.

"Awalnya gue cuek. Tapi lama-lama... masuk. Nyakitin. Gue mulai ngerasa... apa iya gue ini banci? Apa iya gue ini nggak layak jadi laki-laki?"

"Bang..."

"Tapi gue ingat, gue lakuin ini semua buat lo. Buat kita. Jadi gue tahan. Gue simpen. Gue senyum."

"Tapi dalam hati?"

"Dalam hati? Remuk."

Air mata Mahdalena jatuh.


"Bang, Aku juga mau cerita."

"Cerita apa?"

"Aku juga capek. Capek banget. Rapat, urus administrasi, hadapi orang-orang. Kadang Aku pulang, lihat rumah berantakan, masakan gosong, Aku tambah capek."

Alex diam. Mendengar.

"Tapi Aku lupa. Lupa kalau kamu juga capek. Lupa kalau kamu juga berjuang. Aku terlalu fokus sama capekku sendiri."

"Lo manusia, Dik. Wajar."

"Tapi Aku istri. Harusnya lebih peka."

"Kita sama-sama belajar."

Ia tersenyum di tengah tangis. "Lo selalu bilang gitu."

"Karena itu benar."

"Bang, Aku sayang kamu. Sayang banget. Dan Aku malu. Malu karena baru sadar sekarang."

"Gak apa-apa. Yang penting sadar."

"Lo marah?"

"Marah? Nggak."

"Kecewa?"

"Kecewa dikit. Tapi lebih kecewa sama diri sendiri."

"Kenapa?"

"Gue pikir, dengan diem, gue melindungi lo. Tapi ternyata, dengan diem, gue malah bikin lo nggak tahu. Dan itu salah."


Malam itu, kami berbicara lama. Bukan debat. Bukan argumen. Tapi bicara dari hati ke hati.

"Bang, mulai sekarang, kalau ada apa-apa, bilang."

"Bilang gimana?"

"Bilang aja. 'Dik, aku capek.' 'Dik, Aku sedih.' 'Dik, Aku butuh lo dengerin.' Sederhana."

"Lo nggak akan marah?"

"Marah kalau kamu diem. Kalau kamu cerita, Aku bisa ngerti."

"Janji?"

"Janji. Tapi lo juga harus janji."

"Apa?"

"Janji kalau Aku juga boleh cerita. Tentang capekku. Tentang stresku. Tentang semua."

"Janji."

"Kita saling cerita. Saling denger. Saling support."

"Deal."

Kami pinky promise. Lagi. Seperti anak kecil. Tapi sungguh-sungguh.


Setelah semua omongan, kami duduk di teras. Bulan purnama bersinar. Sawah di depan bergoyang pelan.

"Bang."

"Ya?"

"Lo tahu nggak, dari semua yang terjadi, Aku makin yakin satu hal."

"Apa?"

"Aku memilih laki-laki yang tepat."

"Meskipun gue cuma tukang?"

"Bukan cuma tukang. Lo Alex. Lo suamiku. Lo yang nulis puisi di tembok. Lo yang salah transfer. Lo yang nangis di wisuda. Lo yang masak sop super asin. Lo yang bikin baju jadi pink. Lo yang pura-pura sakit. Itu lo. Dan Aku sayang lo."

Alex terharu. Memeluknya.

"Makasih, Dik."

"Makasih buat apa?"

"Makasih karena lo masih mau sama gue. Setelah semua drama."

"Justru karena drama, Aku makin sayang."

"Kenapa?"

"Karena dari drama, Aku lihat kamu berusaha. Kamu gagal, tapi bangkit lagi. Kamu jatuh, tapi berdiri lagi. Itu... itu luar biasa."

Alex tersenyum. Menatap langit berbintang.

"Kita luar biasa."

"Iya. Kita."


Malam itu, sebelum tidur, Mahdalena melihat bukuku. Buku "Peraturan Rumah Tangga".

"Bang, ini apa?"

"Catatan. Biar ingat."

Ia membaca beberapa halaman. Lalu tertawa.

"Lo catat semua? Mulai dari cucian pink sampai strategi gagal?"

"Semua. Biar anak cucu kita tahu, bapaknya dulu pernah jadi bahan tertawaan desa."

"Tapi juga jadi pahlawan di mata ibu mereka."

Alex tersenyum.

"Bang, boleh Aku nulis sesuatu?"

"Silakan."

Ia menulis di halaman baru:

"PESAN UNTUK ALEX:

1.     Kamu hebat. Lebih hebat dari yang kamu sadari.

2.     Harga dirimu bukan dari omongan orang. Tapi dari hatimu.

3.     Alex bangga padamu. Setiap hari. Setiap saat.

4.     Maaf karena selama ini buta. Tapi mulai sekarang, Alex akan lihat.

5.     Kita tim. Selamanya.

o   Lena"

Alex membaca. Berulang-ulang. Lalu memeluknya.

"Makasih, Dik."

"Makasih balik, Bang. Karena kamu nggak pernah menyerah."

Malam itu, kami tidur dalam pelukan. Tenang. Damai. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Alex merasa utuh.

Benar-benar utuh.


BAB 19: Rekonsiliasi Lucu

Pagi itu, Alex bangun dengan perasaan aneh. Biasanya, alarm pertama adalah suara aktivitas Mahdalena di dapur. Tapi kali ini, yang kudengar justru suara air mengalir dan wajan berderak dari... dapur?

Alex mengucek mata. Jam menunjukkan pukul setengah enam. Masih pagi. Tapi kenapa sudah ada suara?

Alex bangun, berjalan ke dapur. Dan di sana, pemandangan yang membuatku terpana.

Mahdalena—istriku—sedang sibuk di dapur. Memakai celemek bunga yang biasanya Alex pakai. Rambutnya diikat asal. Wajahnya masih sedikit ngantuk, tapi fokus menggoreng sesuatu.

"Selamat pagi, Bang. Sarapan dulu."

Alex masih berdiri, mulut sedikit terbuka. "Lo... masak?"

"Iya. Kenapa? Nggak boleh?"

"Boleh. Tapi... biasanya Aku yang masak."

"Hari ini Aku yang masak. Kamu istirahat. Duduk sana."

Alex duduk di kursi makan. Masih tidak percaya. Mahdalena lalu-lalang di dapur, mengambil piring, menyendok nasi, menata lauk.

Beberapa menit kemudian, sarapan tersaji di depanku. Nasi uduk—harum, dengan taburan bawang goreng. Telur dadar—tebal, kecoklatan sempurna. Sambal—merah, menggoda. Dan kerupuk.

Makanan favoritku.

"Silakan, Bang. Dimakan."

Alex mengambil sendok. Mencoba. Nasi uduknya... enak. Enak banget. Telurnya pas. Sambalnya pedas mantap.

"Ini enak banget, Dik."

Ia tersenyum. Duduk di depanku. "Alhamdulillah."

"Lo masak jam berapa?"

"Setengah lima. Udah bangun dari subuh."

"Astaghfirullah... lo nggak usah repot-repot gitu."

"Bang, Aku mau repot. Buat kamu. Udah lama Aku nggak masakin kamu."

Alex diam. Makan lagi. Tapi kali ini, ada rasa yang beda. Bukan hanya rasa makanan. Tapi rasa hati.


Setelah sarapan, Alex bergegas mengambil sapu—refleks. Tapi Mahdalena menarik tanganku.

"Bang, tunggu."

"Apa?"

"Kita kerjain bareng-bareng."

"Bareng?"

"Iya. Hari ini, kita bersih-bersih rumah bersama."

Kami mulai. Ia menyapu, Aku mengepel. Ia mencuci piring, Aku mengelap. Ia merapikan ruang tamu, Aku membereskan kamar.

Seperti tim yang kompak.

"Bang, lo tahu nggak? Enak juga ya kerja bareng gini."

"Enak. Cepet. Nggak kerasa capek."

"Iya. Biasanya Aku sendiri, capeknya setengah mati."

"Lo ngerasa capek?"

"Iya. Tapi nggak pernah bilang."

Aku berhenti mengepel. Menatapnya.

"Dik, maaf. Gue pikir lo... kuat sendiri."

"Aku kuat. Tapi kadang butuh bantuan. Dan lo ada."

Kami tersenyum. Lalu melanjutkan pekerjaan.


Setelah rumah bersih, kami duduk di ruang tamu. Mahdalena mengeluarkan buku catatan—buku yang sama dengan "Peraturan Rumah Tangga" milikku.

"Bang, mulai sekarang, kita bagi tugas ya. Yang jelas-jelas. Biar nggak ada yang merasa berat sendiri."

"Setuju."

Ia mulai menulis.

"TUGAS ALEX:

1.     Belanja kebutuhan dapur (tapi harus sesuai aturan—cek harga, bandingin, jangan ketipu).

2.     Cuci baju (putih dan warna dipisah! Merah sendiri, biru sendiri, hitam sendiri).

3.     Bantu masak (tidak boleh gosong—kalau gosong, cuci piring seminggu).

4.     Jemur dan angkat jemuran (jangan sampai kehujanan lagi!)."

Alex membaca. "Wah, banyak juga."

"Banyak? Itu dikit. Sekarang lihat tugasku."

"TUGAS LENA:

1.     Bersih-bersih rumah (sapu, pel, lap debu).

2.     Setrika semua baju.

3.     Masak makanan utama (kamu bantu masak, tapi Alex yang handle rasa).

4.     Ngajak Alex ngobrol setiap malam—ini yang paling penting."

Alex terharu. "Nomor empat..."

"Iya. Aku harus ingat, punya suami yang butuh didengar. Nggak cuma urusan dapur."

"Lo yakin nggak keberatan?"

"Bang, ini rumah tangga. Bukan kompetisi. Kita tim."


"Bang, satu lagi."

"Apa?"

"Kalau ada masalah, kita omongin. Nggak usah pura-pura sakit atau mogok."

Alex malu. "Iya... maaf soal itu."

"Tapi itu lucu, Bang. Mogok nasional 8 jam. Rekor dunia."

"Lu ketawain gue?"

"Iya. Tapi dengan cinta."

"Lo sadis."

"Lo juga sadis. Sop super asin. Pura-pura sakit. Itu sadis."

Kami tertawa. Tawa lepas. Tawa yang lama hilang.

"Tapi serius, Bang. Mulai sekarang, kalau ada apa-apa, bilang. Jangan dipendam."

"Janji. Tapi lo juga."

"Janji. Nggak akan pake jurus 'gaji siapa yang lebih besar' lagi."

"Itu jurus pamungkas lo."

"Jurus pamungkas yang bikin perang dunia."

Kami tertawa lagi.


Sore harinya, Mahdalena mengajakku jalan ke sawah.

"Bang, yuk ke sawah."

"Sekarang?"

"Iya. Kayak dulu. Lihat matahari terbenam."

Kami berjalan menyusuri pematang. Sawah mulai menguning. Burung-burung pipit beterbangan. Angin sepoi membawa aroma padi.

Kami duduk di pematang yang sama—tempat favorit dulu. Mahdalena membawa bekal kecil: pisang goreng dan air mineral.

"Ini, Bang. Bekal."

"Lo bawa bekal ke sawah lagi?"

"Iya. Biar kayak dulu."

Kami makan pisang goreng sambil memandangi matahari yang perlahan turun. Langit berubah jingga keemasan. Indah.

"Bang."

"Ya?"

"Maaf ya kalau Aku sering pakai jurus 'gaji siapa yang lebih besar'."

"Gak apa-apa. Itu jurus pamungkas. Wajar."

"Tapi mulai sekarang, kita lupakan. Yang penting kita sama-sama."

Alex memegang tangannya. "Dik, lo tahu nggak? Lo itu istri yang hebat. Cantik, pinter, kerja bagus. Gue cuma tukang bangunan yang gagal."

Ia menatapku. "Bang, jangan gitu. Lo bukan gagal."

"Terus gue apa?"

"Lo lagi beradaptasi. Dan lo lakukan dengan baik. Masak lo belajar, belanja lo kuasai. Besok mungkin lo buka usaha kuliner."

Alex tertawa. "Atau jasa cuci baju. Spesialis baju pink."

"Iya. Jasa cuci baju dengan garansi warna pink."

"Pink is the new white."

Kami tertawa. Tawa lepas. Tawa yang lama hilang.


Pulang dari sawah, langit mulai gelap. Bintang-bintang mulai muncul. Jalan setapak diterangi lampu temaram dari rumah-rumah warga.

Di tengah jalan, Alex berhenti.

"Dik."

Ia berhenti. "Ya?"

"Makasih ya."

"Makasih kenapa?"

"Karena lo masih mau sama gue. Meskipun gue cuma suami takut istri."

Ia memandangku serius. Matanya lembut.

"Mas, Aku nggak mau suami yang takut sama Aku. Aku mau suami yang sayang sama Aku. Dan sayang itu bukan takut. Sayang itu... pengertian."

Alex tersenyum. Kata-katanya merasuk.

"Jadi, gue masih boleh takut?"

"Boleh. Tapi takutnya bercanda. Yang serius nggak usah."

"Deal."

Kami berpegangan tangan. Melanjutkan jalan.


Sampai di rumah, lampu kami nyalakan. Rumah kecil itu terasa... beda. Lebih hangat. Lebih... rumah.

"Bang, Aku masak buat makan malam ya."

"Lo masak lagi? Udah capek."

"Nggak capek. Masak buat kamu itu menyenangkan."

"Tapi tadi kan udah masak pagi."

"Itu sarapan. Sekarang makan malam. Aku mau bikin mie ayam."

"Mie ayam?"

"Iya. Kesukaan lo kan?"

Alex tersenyum. "Iya."

Ia masuk dapur. Aku menyusul.

"Bantuin?"

"Bantuin potong bawang."

"Siap."

Kami masak bersama. Bawang, ayam, mie, sayur. Semua beres dalam waktu singkat. Tidak ada yang gosong. Tidak ada yang keasinan.

Mie ayam tersaji. Dua mangkok. Dengan irisan ayam di atasnya.

"Silakan, Bang. Cicipi."

Alex mencoba. Enak. Enak banget.

"Ini enak, Dik. Enak banget."

"Beneran?"

"Iya. Lo jago masak."

"Lo juga. Potong bawang lo rapi."

"Masa sih?"

"Iya. Nggak kayak dulu yang belepotan."

"Gue belajar."

"Gue tahu."


Setelah makan, kami duduk di ruang tamu. TV menyala, tapi tidak ada yang nonton.

"Bang, Aku mau cerita."

"Cerita apa?"

"Tentang hari ini. Tentang perasaanku."

"Ya."

"Aku seneng, Bang. Seneng banget. Hari ini terasa... ringan."

"Ringan?"

"Iya. Nggak ada beban. Nggak ada debat. Nggak ada salah paham. Cuma... kita. Berdua."

"Gue juga ngerasa gitu."

"Kok bisa ya, setelah sekian lama, baru hari ini kita ngerasa begini?"

"Mungkin karena kemarin kita udah ngomong dari hati."

"Mungkin. Komunikasi itu penting ya."

"Sangat penting."

"Bang, janji ya. Kita akan terus kayak gini."

"Janji. Tapi lo juga harus janji."

"Apa?"

"Kalau gue mulai salah, lo tegur. Tapi dengan cara yang baik. Bukan dengan jurus pamungkas."

Ia tertawa. "Janji. Kalau lo juga janji, kalau mau mogok, bilang dulu."

"Mogok? Nggak lagi deh. Capek."

"Tapi lucu sih. Mogok nasional 8 jam."

"Lu mau mogok juga?"

"Nggak ah. Nanti rumah berantakan."

"Berarti gue penting dong?"

"Penting banget. Rumah tanpa lo? Hancur."


Malam semakin larut. Kami bersiap tidur.

Sebelum merebahkan kepala, Mahdalena memelukku. Pelukan lama.

"Bang."

"Ya?"

"Aku sayang kamu."

"Gue juga sayang lo."

"Makasih ya. Makasih karena lo nggak pergi. Makasih karena lo bertahan. Makasih karena lo tetap jadi Alex-ku."

Alex tersenyum. "Lo juga, Dik. Makasih karena lo tetap jadi Lena-ku. Meskipun gue sering bikin masalah."

"Bukan masalah. Drama."

"Iya. Drama."

"Tapi drama kita punya akhir bahagia."

"Belum akhir. Masih panjang."

"Iya. Tapi kita jalan bareng."

"Bareng-bareng."

Kami tidur dalam pelukan. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Alex merasa tenang. Benar-benar tenang.


Pagi harinya, Alex bangun lebih awal. Mahdalena masih tidur.

Alex ambil buku "Peraturan Rumah Tangga". Halaman baru kutulis:

"REKONSILIASI LUCU:

1.     Hari ini, istriku masak sarapan. Nasi uduk. Enak.

2.     Kami bersih-bersih rumah bersama. Cepet, asik, nggak kerasa capek.

3.     Kami buat daftar tugas. Adil. Nggak ada yang merasa berat.

4.     Kami jalan ke sawah. Kayak dulu. Romantis.

5.     Di tengah jalan, dia bilang: 'Aku nggak mau suami takut. Aku mau suami sayang.'

6.     Gue sadar: takutt dan sayang itu beda. Dan dia milih sayang.

7.     Malamnya, kami masak bareng. Mie ayam. Enak. Nggak gosong.

8.     Ngobrol sampai larut. Tentang apa saja. Tentang kita.

9.     Pelukan sebelum tidur. Hangat. Damai.

10.  Ini rumah. Benar-benar rumah."

Mahdalena bangun. Melihatku menulis.

"Nulis apa, Bang?"

"Catatan. Biar ingat."

"Biar ingat apa?"

"Biar ingat bahwa hari ini, kita rekonsiliasi. Dan hasilnya... lucu, tapi indah."

Ia membaca. Lalu tersenyum.

"Bang, lo tahu? Dari semua halaman di buku ini, halaman ini yang paling manis."

"Beneran?"

"Iya. Karena halaman ini nggak ada drama. Nggak ada strategi gagal. Nggak ada mogok. Hanya... kita."

Aku memeluknya. "Iya. Hanya kita."

Pagi itu, matahari bersinar cerah. Desa Awan Biru memulai hari baru. Dan di kontrakan kecil ini, dua manusia—dengan segala drama dan tawa—memulai babak baru.

Babak di mana mereka belajar bahwa cinta bukan tentang siapa yang paling benar. Tapi tentang siapa yang paling setia. Siapa yang paling mau mengerti. Siapa yang paling kuat bertahan.

Babak di mana "suami takut istri" berubah jadi "suami sayang istri".

Dan itu—itu adalah akhir yang paling indah.

Atau awal yang paling indah?

Terserah. Yang penting, mereka bersama.


BAB 20: Suami Takut Istri... Tapi Bahagia

Hari itu, seperti biasa, Alex sedang di dapur. Masak sayur sop—kali ini dengan garam yang pas, tidak perlu diuji coba. Mahdalena belum pulang. Katanya ada rapat evaluasi bulanan.

Ponselku bergetar. Nomor tidak dikenal. Biasanya Alex tidak angkat telepon dari nomor asing. Tapi entah kenapa, kali ini Alex menggeser layar.

"Halo?"

"Lex? Ini Pak Haji Rudi!"

Dunia serasa berhenti. Pak Haji—mantan mandor proyek—sudah lama tidak terdengar kabarnya.

"Pak Haji?! Gila, Pak. Lama nggak dengar!"

"Iya, Lex. Maaf baru hubungi. Saya dapat kabar lo lagi nganggur?"

"Enggak, Pak. Kadang-kadang proyek kecil. Nggak nentu."

"Lex, saya ada kabar baik. Ada proyek baru di perumahan sebelah. Perumahan Bumi Indah Asri tahap dua. Butuh kepala tukang. Mau? Gajinya lumayan."

Jantungku berhenti. Kepala tukang? Bukan tukang biasa?

"Maksud Pak Haji... kepala tukang?"

"Iya. Lo yang ngawasin tukang-tukang lain. Ngatur jadwal, ngecek kualitas. Tanggung jawab lebih besar. Gaji juga lebih besar. 150 ribu per hari."

Alex hampir menjatuhkan ponsel. Seratus lima puluh ribu per hari? Kalau sebulan penuh, bisa 4,5 juta. Setara dengan gaji Mahdalena.

"Ma- mau, Pak! Mau banget!"

Tapi tiba-tiba, ada yang mengganjal di hati. Alex ingat Mahdalena. Ingat ritme baru kami. Ingat janji untuk saling menjaga.

"Pak, saya terima. Tapi saya minta satu syarat."

Pak Haji tertawa di ujung telepon. "Syariat apa, Lex? Mau nambah gaji lagi?"

"Bukan, Pak. Syaratnya: kalau jam kerja sampai sore, saya harus pulang jam 5. Istri saya pulang jam 4. Saya harus siapin makan buat dia."

Hening. Lalu suara tawa Pak Haji menggelegar.

"Ya ampun, Lex! Lo mau jadi kepala tukang, tapi syaratnya pulang jam 5 buat masak? Ditakuti istri ya, Lex?"

Alex tersenyum. "Bukan takut, Pak. Saya sayang istri."

"Iya, iya. Saya ngerti. Pulang jam 5, nggak akan saya tahan. Tapi janji, kalau lagi ngejar target, lo mau lembur dikit."

"Deal, Pak. Asal kasih tahu dulu, biar saya bisa kabarin istri."

"Ya ampun, Lex. Lo benar-benar suami idaman. Atau suami idapan?"

Kami tertawa bersama.


Malam harinya, Alex tidak bisa diam. Bolak-balik di ruang tamu, menunggu Mahdalena pulang.

Jam setengah tujuh, pintu terbuka. Ia masuk dengan wajah capek, tapi langsung tersenyum melihatku.

"Bang, kok bolak-balik? Ada apa?"

"Dik, duduk sini. Gue mau kasih tahu sesuatu."

Ia duduk. Wajahnya berubah tegang. "Ada apa? Jangan bilang... sakit lagi? Mogok lagi?"

Alex tertawa. "Bukan, Dik. Kali ini kabar baik."

"Kabar baik?"

"Pak Haji Rudi telepon tadi. Ada proyek baru. Dan dia nawarin gue jadi kepala tukang."

Mahdalena diam. Matanya melebar.

"Kepala tukang? Berarti naik jabatan?"

"Iya. Gaji 150 per hari. Kalau sebulan penuh, bisa 4,5 juta. Setara gaji lo."

Ia masih diam. Lalu tiba-tiba, ia memelukku erat.

"Bang! Ini hebat banget! Selamat!"

"Heh, lo nangis?"

"Iya, nangis bahagia. Akhirnya... akhirnya."

Alex memeluknya balik. "Tunggu, Dik. Ada satu lagi."

"Apa?"

"Gue minta syarat ke Pak Haji."

"Syariat apa?"

"Gue minta pulang jam 5. Biar bisa siapin makan buat lo."

Ia melepas pelukan. Wajahnya campur aduk—haru, lucu, gemas.

"Lo minta pulang cepet demi masakin Aku?"

"Iya. Lo kan pulang jam 4. Kalau gue pulang jam 5, lo nunggu satu jam. Tapi gue bisa siapin makan."

"Bang... lo itu..."

"Apa?"

"Gila. Tapi gila yang manis."

Kami tertawa bersama.


Hari-hari berikutnya, kami punya ritme baru.

Pagi-pagi, Alex bangun jam 4. Siapin sarapan buat Mahdalena. Nasi, lauk sederhana, dan bekal buat dia bawa ke kantor.

Jam setengah 6, ia bangun. Sarapan bersama. Lalu ia berangkat jam 7, Alex berangkat jam setengah 8 ke proyek.

Di proyek, tugasku sebagai kepala tukang cukup berat. Mengawasi 15 tukang, ngecek kualitas pekerjaan, ngatur jadwal. Tapi Alex menikmatinya. Setiap hari, Alex ingat: ini promosi. Ini kepercayaan. Ini harga diri yang kembali.

Jam 5 sore, Alex pulang tepat waktu. Kadang Pak Haji godain, "Pulang duluan, Lex? Mau masak?"

"Iya, Pak. Istri nunggu."

"Ya ampun, lo itu. Tapi salut deh, setia."

Alex tersenyum. Langsung gas motor pulang.

Sampai rumah, biasanya Mahdalena sudah di rumah. Kadang ia masak, kadang belum. Tapi selalu ada senyum.

"Bang, udah pulang?"

"Udah. Gue masak ya."

"Bantuin Aku."

Kami masak bersama. Kadang Alex yang utama, dia bantu. Kadang dia yang utama, Alex bantu. Yang penting, bersama.


Suatu sore, Alex masak nasi goreng. Lagi-lagi. Tapi kali ini, entah kenapa, lengah sedikit. Nasi agak gosong di bagian bawah.

Mahdalena datang, melihat wajan.

"Bang, udah gosong lagi."

Alex malu. "Maaf. Tangan ini lebih terbiasa pegang cetok daripada pegang spatula."

Ia mengambil sendok. Mencoba.

"Tapi tetep enak, kok."

"Beneran?"

"Iya. Gosongnya cuma sedikit. Masih bisa dimakan."

"Lo tahu, Dik? Dulu, kalau gosong gini, lo pasti protes."

"Dulu Aku bego."

"Sekarang?"

"Sekarang Aku sadar. Gosong itu bukti lo berusaha. Dan usaha itu lebih berharga dari kesempurnaan."

Alex terharu. "Lo bijak banget."

"Karena guru Aku bijak."

"Siapa gurunya?"

"Suami Aku. Yang pernah masak super asin. Yang pernah bikin baju pink. Yang pernah pura-pura sakit. Dia ngajarin Aku bahwa cinta itu nggak harus sempurna."

Kami tersenyum. Makan nasi goreng gosong dengan lahap.


Malam Minggu, kami sedang santai di teras. Tiba-tiba Bu RT datang dengan sepeda ontelnya.

"Pak Alex, Bu Lena, selamat malam!"

"Selamat malam, Bu. Ada apa?"

Bu RT mengeluarkan secarik kertas undangan. Warna emas, agak mewah untuk ukuran desa.

"Ini undangan. Acara syukuran HUT Desa Awan Biru. Bapak ibu harus datang."

"Acara apa, Bu?"

"HUT desa ke-50. Dan tahun ini, kita kasih penghargaan untuk 'Keluarga Inspiratif'. Dan kalian yang terpilih."

Alex dan Mahdalena saling pandang. Tidak percaya.

"Kami? Tapi Bu, kami kan... biasa aja."

"Justru itu. Kalian biasa-biasa aja, tapi kompak. Suami kerja, istri kerja, bagi tugas sama-sama. Nggak ada debat siapa lebih besar gaji. Nggak ada gengsi. Itu inspiratif, Pak Alex. Nggak harus jadi orang kaya atau pejabat."

Mahdalena tersipu. "Bu, kami hanya..."

"Jangan hanya-hanya. Terima aja. Datang ya. Acara Jumat malam. Pake baju bagus."

Bu RT pergi. Kami masih diam, memandangi undangan itu.

"Bang, kita dapat penghargaan?"

"Iya. Keluarga inspiratif."

"Padahal kita cuma... berantakan."

"Justru karena berantakan, orang lihat perjuangannya."


Seminggu kemudian, Jumat malam. Kami bersiap ke balai desa.

Mahdalena memakai baju kurung warna hijau—hadiah dari ibunya. Alex memakai kemeja batik—yang dulu sobek di ketiak, sudah dijahit rapi.

"Bang, lo ganteng."

"Lo cantik."

"Tapi sobekan ketiak udah dijahit?"

"Udah. Ibu RT yang njahitin."

"Untung ada Bu RT."

"Iya. Lo tahu? Dulu gue malu pake baju ini. Sobek, ingatkan gue pada kegagalan."

"Sekarang?"

"Sekarang gue bangga. Karena dari sobekan itu, gue belajar banyak."

Kami berangkat ke balai desa. Sepanjang jalan, warga menyapa. Ada yang acungi jempol. Ada yang senyum. Suasananya... hangat.


Balai desa penuh. Warga duduk di kursi-kursi panjang. Panggung dihias sederhana—spanduk "HUT ke-50 Desa Awan Biru" dan backdrop merah putih.

Acara dimulai dengan sambutan Pak Kades. Lalu tari-tarian dari anak-anak SD. Lalu pembacaan doa.

Setelah itu, bagian inti: pemberian penghargaan.

"Sekarang, kita masuk ke acara pemberian penghargaan 'Keluarga Inspiratif' tahun ini. Keluarga yang dipilih adalah... keluarga Bapak Alex dan Ibu Mahdalena!"

Tepuk tangan bergemuruh. Alex dan Mahdalena berjalan ke panggung. Tanganku dingin. Ia memegang erat.

Pak Kades Iwan berdiri dengan piagam di tangan.

"Alex, Lena, naik ke sini."

Kami naik. Berdiri di depan semua warga.

"Ini keluarga Alex dan Mahdalena. Alex—tukang bangunan. Lena—PNS di kecamatan Kabut Merah. Mereka buktikan bahwa rumah tangga itu bukan soal siapa cari nafkah, tapi siapa yang saling mendukung. Alex, meskipun katanya takut sama istri, tapi dia berani ngurus rumah. Lena, meskipun sibuk, tetap hargai suami."

Alex tersenyum malu. Mahdalena memegang tanganku.

"Mereka juga buktikan bahwa kegagalan itu bukan akhir. Alex pernah masak gosong, cuci baju jadi pink, belanja ketipu. Tapi dia nggak menyerah. Dia belajar. Dan sekarang? Dia jadi kepala tukang di proyek besar. Itu inspiratif."

Tepuk tangan lagi. Kali lebih keras.

"Semoga kalian terus menjadi inspirasi bagi kita semua. Bahwa rumah tangga itu perjuangan. Dan perjuangan itu indah."

Pak Kades menyerahkan piagam. Alex menerima dengan tangan gemetar.

"Makasih, Pak. Makasih, warga sekalian."


Selesai acara, seperti biasa, komentar-komentar lucu bermunculan.

Sugeng mendekat dengan senyum lebar.

"Selamat, Lex. Resmi jadi suami inspiratif. Tapi tetap aja lo takut istri."

Alex tersenyum. "Takut itu relatif, Geng."

"Relatif gimana?"

"Gue takut karena sayang. Bukan karena takut fisik."

"Wah, filosofi lagi."

"Iya. Dari lo juga belajar."

Santoso menimpali, "Sekarang lo jadi kepala tukang. Lebih berwibawa. Tapi di rumah, lo tetap kepala... dapur?"

Alex tertawa. "Kepala dapur dan kepala rumah. Multitasking."

Anto, dengan gaya khasnya, menambahkan. "Kepala tukang di proyek, kepala dapur di rumah, kepala keluarga di hati. Lengkap."

Semua tertawa. Tapi tawanya hangat. Bukan ejekan lagi.

Bu RT mendekat. "Pak Alex, saya bangga sama lo."

"Bangga kenapa, Bu?"

"Lo buktiin bahwa laki-laki nggak harus gengsi. Lo mau belajar, mau berubah. Itu hebat."

"Makasih, Bu."

Pak Karyo juga datang. "Pak Alex, besok belanja lagi ya. Saya kasih diskon khusus untuk keluarga inspiratif."

"Wah, makasih, Pak."

Malam itu, kami pulang dengan hati penuh.


Di rumah, setelah semuanya tenang, kami duduk di ruang tamu. Piagam penghargaan ditaruh di meja.

Mahdalena merebahkan kepala di pangkuanku. Seperti dulu. Seperti masa-masa awal.

"Bang, seneng ya? Dapat penghargaan."

"Gue nggak nyangka. Padahal gue cuma... biasa aja."

"Biasa yang luar biasa, Bang. Itu kamu."

Alex mengusap rambutnya. Halus. Wangi.

"Lo tahu, Dik? Awalnya gue takut banget."

"Takut apa?"

"Takut kehilangan lo. Takut nggak bisa jadi imam yang baik. Takut lo bosan sama gue."

"Sekarang?"

"Sekarang gue sadar. Takut itu bukan karena lo galak. Tapi karena gue sayang. Dan sayang itu membuat gue bertahan. Membuat gue belajar. Membuat gue jadi lebih baik."

Ia tersenyum. Matanya berkaca-kaca.

"Aku juga takut, Bang."

"Takut apa?"

"Takut kalau Aku terlalu sibuk, kamu pergi. Takut kalau aku terlalu galak, kamu benci. Takut kalau Aku nggak cukup baik buat kamu."

"Lo lebih dari cukup, Dik. Lebih."

"Tapi aku sering salah."

"Kita sering salah. Tapi kita belajar. Bersama."


"Bang, Aku mau tanya."

"Apa?"

"Sekarang, lo masih takut sama Aku?"

Alex berpikir. Lalu tersenyum.

"Masih."

"Serius?"

"Iya. Tapi takutnya beda."

"Beda gimana?"

"Dulu gue takut lo marah. Takut lo kecewa. Takut lo ninggalin gue. Sekarang... gue takut lo sakit. Takut lo capek. Takut lo nggak bahagia. Takutnya karena sayang."

Ia tersenyum. "Aku juga."

"Jadi, kita sama-sama takut?"

"Iya. Tapi takutnya yang manis."

"Takutnya yang bikin kita saling jaga."

"TAlext yang bikin kita bertahan."

Kami diam. Menikmati keheningan malam.


"Bang, kita nanti punya rumah sendiri ya."

"Iya. Lagi nabung."

"Terus punya anak."

"Iya. Dua. Satu laki, satu perempuan."

"Terus lo ajarin mereka masak?"

"Pasti. Biar mereka tahu, masak itu penting."

"Terus Aku ajarin mereka kerja keras."

"Dan saling sayang."

"Yang paling penting: mereka lihat kita, dan mereka tahu apa itu cinta."

Alex tersenyum. Membayangkan masa depan.

"Bang."

"Ya?"

"Makasih."

"Makasih buat apa?"

"Makasih karena lo milih Aku. Makasih karena lo bertahan. Makasih karena lo jadi suami terbaik buat Aku."

Alex menunduk, mencium keningnya.

"Gue juga makasih. Karena lo milih gue. Padahal gue cuma tukang bangunan yang suka salah transfer."

"Tukang bangunan yang nulis puisi di tembok."

"Tukang bangunan yang nangis di wisuda."

"Tukang bangunan yang masak super asin."

"Tukang bangunan yang bikin baju jadi pink."

"Tukang bangunan yang pura-pura sakit."

"Tukang bangunan yang mogok 8 jam."

Kami tertawa bersama. Tawa yang hangat. Tawa yang hanya milik kami.


Malam itu, sebelum tidur, Alex membuka buku "Peraturan Rumah Tangga". Halaman terakhir kutulis:

"SUAMI TALEXT ISTRI... TAPI BAHAGIA:

1.     Setelah semua drama—masak gosong, baju pink, belanja ketipu, mogok nasional, pura-pura sakit—akhirnya kami sampai di sini.

2.     Di titik di mana takut berubah makna. Dari takut dimarahi, jadi takut kehilangan.

3.     Di titik di mana cinta tidak lagi diukur dari gaji, tapi dari kehadiran.

4.     Di titik di mana rumah kontrakan kecil ini terasa seperti istana. Karena ada dia di dalamnya.

5.     Alex masih takut sama istri. Tapi takutku sekarang adalah takut yang manis. Takut yang membuatku ingin terus menjaganya.

6.     Karena takut itu, kalau dilandasi sayang, bukan kelemahan. Tapi kekuatan.

7.     Terima kasih, Mahdalena. Untuk semua tawa, air mata, drama, dan cinta.

8.     Terima kasih sudah memilihku. Tukang bangunan yang salah transfer.

9.     Alex sayang kamu. Lebih dari kata-kata.

10.  Dan kita akan terus belajar. Bersama. Sampai tua nanti."

Alex menutup buku. Memandangi Mahdalena yang sudah tertidur di sampingku. Wajahnya tenang. Damai. Sesekali tersenyum kecil—mungkin sedang mimpi indah.

Di luar, angin malam berbisik. Desa Awan Biru tertidur pulas. Sawah-sawah bergoyang pelan. Bintang-bintang bertaburan di langit.

Di dalam rumah kecil ini, dua manusia—dengan segala kekurangan, drama, dan cinta—saling berpelukan.

Suami takut istri.
Tapi bahagia.

Karena takut yang benar bukan takut yang melumpuhkan.
Tapi takut yang menguatkan.
Takut yang membuatmu ingin terus menjaga.
Takut yang membuatmu ingin terus belajar.
Takut yang membuatmu ingin terus... mencintai.

Dan itu—itu adalah takut terindah di dunia.
TAMAT