Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Jumat, 27 Maret 2026

Cerpen Riak di Kanal Sunyi

 


Cerpen Riak di Kanal Sunyi

Oleh: Slamet Riyadi

PROLOG

Pagi itu, kabut tipis bergelayut di atas permukaan kanal panjang yang membelah ribuan pohon kelapa sawit Desa Awan Biru. Airnya hitam legam, tenang seperti cermin retak yang disambung kembali oleh lumut. Bau tanah basah bercampur aroma buah sawit masak yang berguguran di tepian. Kanal itu bukan buatan tangan manusia biasa; ia adalah parit raksasa peninggalan perkebunan zaman Belanda, yang kini menjadi urat nadi kehidupan warga—tempat mandi, mencuci, dan yang paling penting, sumber ikan.

Di tepi kanan, di atas papan kayu lapuk yang disangga batang pinang, Junai sudah duduk bersila sejak pukul setengah enam. Joran bambunya tertancap rapi, senar menjuntai ke air yang diam. Sebuah ember kecil di sampingnya masih kosong, tetapi sudut bibirnya tersenyum tipis.

Satu per satu, warga mulai berdatangan. Dengan joran sederhana, umpan racikan sendiri, dan cerita yang tak pernah habis, mereka bukan sekadar memancing ikan—mereka memancing harapan.

Namun, kanal itu tak selalu ramah. Kadang ia pelit, kadang ia murka. Dan di sanalah, kehidupan diuji: antara sabar, emosi, persahabatan, dan ketamakan.


Matahari baru saja menyingsing di ujung timur, menyapu embun yang masih bergelayut di dedaunan sawit. Desa Awan Biru mulai hidup. Suara kokok ayam jago bersahutan dengan azan subuh dari masjid kecil di ujung desa. Namun, sebelum semua itu, sudah ada keramaian lain—bukan di rumah-rumah, tapi di tepi jalan setapak yang membelah kebun sawit menuju kanal.

Di pertigaan jalan dekat warung kopi milik Ujang, sekelompok pemuda desa sedang asyik mengobrol. Mereka belum beranjak ke kanal, karena sedang membahas satu hal yang selalu hangat di kalangan pemancing: musim ikan.

“Musim timur begini, ikan pada di mana sih, Kang?” tanya Asep, pemuda berbadan kurus dengan jaket lusuh, sambil menyandarkan sepeda motornya.

“Musim timur? Air dingin, arus pelan. Ikan pada di dasar. Susah,” sahut Dadang, yang sudah duduk di atas batang pohon sawit tumbang di pinggir jalan. Ia seorang pemancing kawakan meski usianya baru menginjak dua puluh lima. Joran bambunya sudah terpasang di punggung, siap dipakai kapan saja.

“Bukan musim timur atau barat yang penting, Dadang,” celetuk Ujang dari balik jendela warungnya. Tangannya sibuk meracik kopi tubruk, tapi telinganya tetap tajam. “Yang penting musim ikan lagi kawin. Bulan-bulan begini, ikan lagi males makan. Mereka sibuk pacaran.”

Semua pemuda itu tertawa.

“Pacarannya di mana, Mang Ujang?” goda Asep.

“Di dasar, tentu saja. Masa iya di permukaan? Nanti diliatin sama elang,” jawab Ujang seloroh.

Di tengah gelak tawa, sesosok pemuda lain muncul dari arah utara. Ia berjalan santai dengan ember di tangan kiri dan joran bambu di tangan kanan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi tegap. Wajahnya tenang, dengan senyum kecil yang seolah menjadi ciri khasnya. Itu Junai—pemuda yang dikenal paling sabar di antara pemancing Desa Awan Biru.

“Junai! Dari mana?” sapa Dadang.

“Dari rumah, baru mau ke kanal. Tadi kalian ngomongin apa? Seru banget,” jawab Junai sambil menghampiri.

“Musim ikan, Jun!” kata Asep. “Kata Mang Ujang, ikan lagi pada kawin, jadi susah dicari. Benar begitu?”

Junai tersenyum. Ia meletakkan ember dan jorannya, lalu duduk di atas batu besar di tepi jalan. “Ada benarnya juga. Tapi bukan berarti nggak ada. Ikan tetap makan, cuma mereka lebih selektif. Mereka nggak asal nyambar umpan. Mereka cari yang benar-benar alami.”

“Nah, itu dia!” Ujang keluar dari warung membawa nampan berisi enam gelas kopi panas. “Junai ini paham. Ikan lagi kawin, mereka butuh energi. Tapi mereka nggak mau makanan aneh-aneh. Mereka cari yang biasa mereka temuin di alam.”

“Maksud Mang Ujang, umpan alami?” tanya Dadang.

“Iya. Cacing tanah, jangkrik, atau...” Ujang berhenti sejenak, matanya menyipit nakal, “anak kodok.”

“Anak kodok?” Asep mengernyit. “Mau mancing apa? Buaya?”

Semua tertawa lagi. Tapi Junai mengangguk pelan. “Anak kodok memang bagus buat ikan gabus, Kang Ujang. Tapi harus yang masih kecil, yang baru berubah dari kecebong. Gerakannya di air bikin ikan gabus kalap.”

“Nah, tuh! Junai paham,” Ujang menepuk pundak Junai bangga. “Ini anak desa kita, pinter. Bukan cuma asal lempar joran.”

Dadang yang dari tadi mendengarkan, mulai gelisah. “Jadi, kalau mau mancing sekarang, kita harus pakai umpan apa? Dan cari spot mana? Jangan-jangan selama ini saya salah spot.”

“Spot itu penting,” Junai berdiri, mengambil sepotong pelepah sawit kering, lalu menggambar di tanah. “Ini kanal. Di sini tikungan, di sini jembatan, di sini akar sawit. Setiap spot punya karakter beda.”

Para pemuda itu mengerumuni gambar di tanah. Bahkan beberapa warga yang lewat ikut berhenti dan memperhatikan.

“Di tikungan, arusnya lebih deras, jadi cocok buat umpan yang hanyut—jangkrik atau anak kodok yang dilempar ke tengah. Di bawah jembatan, airnya dalam, arus lambat, ikan mas dan nila suka di situ, cocok buat umpan fermentasi atau pelet. Di dekat akar sawit yang menjuntai, itu tempat persembunyian ikan gabus. Mereka suka cacing tanah atau anak kodok yang bergerak-gerak di permukaan.”

“Kalau di dekat pintu air?” tanya Dadang.

“Pintu air? Dasar berlumpur, arusnya nggak menentu. Biasanya banyak ikan lele di sana. Umpan cacing atau kecebong. Tapi hati-hati, kadang kail sering nyangkut di akar.”

Asep yang awalnya hanya iseng-iseng, kini mulai serius. “Jadi, Jun, kalau kita mau mancing sekarang—musim timur, ikan lagi kawin—spot paling bagus di mana?”

Junai memandang gambar di tanah, lalu menunjuk ke dua titik. “Dua spot: tikungan dekat pohon karet tua, dan akar sawit di selatan jembatan. Tikungan untuk ikan mas dan nila yang suka arus. Akar sawit untuk gabus yang lagi cari makan di pagi hari.”

“Tapi itu spot yang biasa dipakai Pak Jajang, kan?” celetuk seorang pemuda lain yang baru bergabung, namanya Toha.

“Iya,” Junai mengangguk. “Pak Jajang memang paling paham. Tapi kanal ini milik bersama. Kita bisa memancing di spot mana pun, asal nggak mengganggu satu sama lain.”

“Gimana kalau kita mancing bareng hari ini?” Dadang mengajak semangat. “Sekalian belajar dari Junai dan Pak Jajang. Siapa tahu dapat ikan besar.”

“Saya ikut!” Asep langsung mengangkat tangan.

“Saya juga!” Toha ikut.

“Saya harus jaga warung dulu, nanti menyusul,” kata Ujang. “Tapi kalian jangan lupa bawa pulang sampah, ya. Kanal jangan dikotori.”

“Siap, Mang Ujang!” serempak pemuda itu.

Mereka beranjak dari pertigaan. Dadang, Asep, Toha, dan beberapa pemuda lain berjalan menuju kanal bersama Junai. Pagi itu, bukan hanya warga tua yang memenuhi tepian kanal, tapi juga anak-anak muda yang mulai tertarik bukan hanya pada hasil, tapi pada ilmunya.

Sesampainya di tepi kanal, pemandangan yang biasa sudah terlihat. Di bawah jembatan, seorang lelaki sepuh dengan topi caping anyaman bambu sudah duduk bersila. Itu Jajang—sesepuh pemancing desa yang dikenal sangat berpengalaman. Di sampingnya, seorang perempuan berkerudung sedang merapikan peralatan memancingnya. Itu Rini, satu-satunya pemancing perempuan yang rutin datang setiap pagi.

“Pagi, Pak Jajang! Pagi, Rini!” sapa Junai.

Jajang menoleh, matanya yang sipit menyipit lebih sempit karena tersenyum. “Pagi, Junai. Wah, ramai sekali hari ini. Bawa anak-anak muda semua.”

“Iya, Pak. Mereka mau belajar. Katanya mau cari spot bagus buat mancing musim timur begini.”

Jajang mengangguk bangga. “Bagus. Kanal ini harus terus dijaga ilmunya. Jangan sampai hanya orang tua yang tahu. Anak muda juga harus paham.”

Rini yang sedang memasang umpan cacing di kailnya ikut menyapa. “Hai, Dadang, Asep, Toha. Kalian serius mau mancing? Atau cuma ikut-ikutan?”

“Serius, Rin!” Dadang menunjukkan joran bambunya yang sudah dimodifikasi dengan rol bekas. “Kami mau buktikan kalau anak muda juga bisa dapat ikan besar.”

“Bukan besar kecilnya, Dadang,” Junai mengingatkan. “Yang penting caranya benar. Ikan kecil kalau belum layak konsumsi, dilepas. Itu aturan pertama.”

“Iya, iya,” Dadang mengangguk.

Mereka mulai menyebar di tepi kanal. Dadang memilih spot di bawah jembatan—spot yang biasa dipakai Jajang. Asep dan Toha memilih spot di tikungan. Junai sendiri duduk di spot yang tidak jauh dari akar sawit—tempat favoritnya.

“Junai, kamu pakai umpan apa?” tanya Rini dari kejauhan.

“Cacing dan anak kodok,” jawab Junai sambil mengeluarkan toples kecil berisi tanah basah dan beberapa ekor anak kodok yang masih kecil—seukuran ruas jari, berwarna kecoklatan, gesit melompat-lompat.

“Anak kodok?” Asep menoleh. “Itu buat ikan apa?”

“Gabus,” Junai menjelaskan sambil memasang satu ekor anak kodok di kailnya, memastikan kail tidak melukai terlalu dalam agar umpan tetap hidup dan bergerak. “Gabus suka mangsa yang bergerak. Anak kodok berenang di permukaan, gerakannya bikin gabus kalap. Coba lihat nanti.”

Ia melempar umpan ke dekat akar sawit yang menjuntai ke air. Anak kodok itu mulai berenang kecil, sesekali menyelam sebentar lalu muncul lagi. Pelampung kecil dari gabus bekas sandal jepit mengapung tenang.

Tidak sampai sepuluh menit, tiba-tiba ada letupan air di permukaan. Sebuah benturan keras, lalu pelampung Junai langsung tenggelam dengan tarikan yang kuat.

“Wah! Ada yang nyambar!” teriak Asep dari kejauhan.

Junai tidak terburu-buru. Ia membiarkan senar tegang, memberi sedikit kendor, lalu menarik perlahan. Ikan di ujung kail melawan keras, berputar-putar, mencoba melepaskan diri. Tapi Junai sabar. Ia mengulur, mengencangkan, mengulur lagi—menguras energi ikan.

Beberapa menit kemudian, seekor ikan gabus besar—panjangnya hampir setengah meter, tubuhnya loreng hitam kehijauan—muncul ke permukaan. Junai mengangkatnya ke tepi dengan hati-hati.

Semua pemuda itu berkerumun.

“Gila! Sebesar itu!” Dadang terpana.

“Pakai anak kodok, cuma sepuluh menit!” Asep takjub.

Pak Jajang yang dari tadi memperhatikan, tersenyum puas. “Itulah yang saya bilang. Memancing itu bukan soal joran mahal atau umpan pabrikan. Tapi soal memahami ikan. Junai tahu, di musim timur begini, gabus lagi aktif mencari makan di pagi hari. Dan mereka suka mangsa hidup yang bergerak di permukaan. Anak kodok adalah pilihan yang tepat.”

Junai menimbang ikan gabus di tangannya. Ikan itu masih segar, menggelepar kuat. “Ini ukuran bagus, layak bawa pulang. Tapi kalau dapat yang lebih kecil, harus dilepas.”

“Junai, ajarin aku cara pasang anak kodok yang bener,” pinta Asep.

“Nanti dulu. Sekarang kalian coba dulu dengan umpan masing-masing. Nanti sore kita kumpul di warung Ujang, saya kasih tahu trik-triknya.”

Mereka kembali ke spot masing-masing. Pagi itu, suasana di tepi kanal hidup oleh semangat baru. Anak-anak muda yang dulu hanya asal lempar joran, kini mulai serius belajar. Mereka bertanya pada Junai, pada Rini, pada Pak Jajang. Mereka belajar membaca arus, membaca kedalaman, memilih umpan yang tepat.

Dan di tengah keramaian itu, Darto datang. Badannya tambun, kepala plontos, dengan tas ransel besar di punggung. Ia duduk di spot yang biasa ia klaim sebagai “miliknya”—tepat di bawah jembatan, di samping Pak Jajang. Wajahnya cemberut melihat banyak pemuda baru.

“Pagi, Darto,” sapa Junai ramah.

Darto hanya mendengus. “Ramai sekali. Jadi susah cari spot.”

“Kanal ini milik bersama, Darto. Kita bisa berbagi.”

“Halah.” Darto mengeluarkan joran modernnya, memasang umpan pabrikan mahal, dan melempar dengan gerakan yang sedikit berlebihan—seperti ingin menunjukkan keahliannya.

Junai tidak ambil pusing. Ia kembali fokus pada jorannya.

Di kejauhan, di ujung selatan kanal, dua orang yang bukan warga desa mulai terlihat. Mereka memakai sepatu lapangan, topi pet, dan membawa peralatan modern. Salah satu dari mereka, yang berkumis tebal, membawa kotak kayu kecil yang diletakkan di sampingnya.

Pak Jajang menyipitkan mata. “Itu orang-orang dari kota. Mereka sering datang setiap bulan. Biasanya nyewa kolam pemancingan, tapi akhir-akhir ini mulai main ke kanal bebas. Kata orang, mereka pakai... umpan kimia.”

Junai memandang ke arah selatan. Ada firasat tidak enak di dadanya. Tapi untuk sekarang, ia memilih fokus pada apa yang ada di hadapannya—mengajarkan anak-anak muda desa tentang kanal, tentang ikan, tentang kesabaran.

Kanal itu tenang di pagi hari. Tapi Junai tahu, ketenangan itu tidak akan bertahan lama.


Pukul empat sore, rumah Junai menjadi tempat berkumpul dadakan. Pak Jajang datang membawa nampan berisi teh pahit dan singkong rebus. Rini menyusul dengan buku catatan kecil berisi gambar-gambar ikan dan catatan tentang jenis umpan. Ujang datang membawa gorengan, sedangkan Dadang, Asep, dan Toha datang dengan semangat yang masih tersisa dari pagi tadi.

“Junai, ajarin kami bikin umpan,” pinta Asep begitu duduk.

“Iya, Jun. Saya tadi pakai pelet biasa, zonk. Dapat cuma dua ekor kecil,” keluh Dadang.

Junai tersenyum. Ia mengambil baskom besar, lalu mengeluarkan bahan-bahan dari dapur kecilnya: dedak halus, ampas kelapa, terasi yang sudah disangrai, dan toples plastik berisi cairan kecoklatan yang baunya menusuk.

“Ini umpan fermentasi,” kata Junai sambil menuangkan dedak ke baskom. “Bahan dasarnya sederhana: dedak, ampas kelapa, sedikit terasi, dan air rendaman nasi basi. Didiamkan tiga hari dalam toples tertutup. Bau? Menyengat. Tapi ikan mas dan nila di kanal kita suka.”

“Wanginya... khas,” kata Toha sambil sedikit meringis.

“Memang. Tapi jangan salah, ini lebih ampuh daripada pelet pabrikan yang dijual di kota. Kenapa? Karena ikan di kanal kita sudah terbiasa dengan bau-bau alami dari fermentasi buah sawit yang jatuh ke air. Umpan ini mirip dengan makanan alami mereka.”

Pak Jajang yang duduk di kursi bambu sambil mengunyah singkong, ikut menimpali, “Junai ini murid terbaik saya. Dulu saya ajarin racikan umpan fermentasi, sekarang dia sudah lebih jago dari saya.”

“Ah, Pak Jajang melebih-lebihkan,” Junai tersenyum malu.

“Bukan melebih-lebihkan. Memang. Tapi ingat, Jun, umpan fermentasi itu bagus untuk titik-titik tertentu. Di tikungan yang arusnya deras, umpan ini cepat hanyut. Lebih cocok pakai umpan yang berat, seperti pelet yang direndam atau cacing tanah yang digumpalkan.”

“Iya, Pak. Saya tahu. Makanya tadi pagi saya pakai anak kodok di dekat akar sawit.”

“Nah, itu tepat,” Pak Jajang mengangguk. “Setiap umpan punya fungsi masing-masing. Cacing tanah cocok untuk ikan yang makan di dasar, seperti lele dan gabus. Anak kodok cocok untuk gabus yang suka mangsa bergerak di permukaan. Jangkrik cocok untuk ikan nila yang suka serangga jatuh. Dan umpan fermentasi cocok untuk ikan mas yang doyan bau-bauan.”

Rini yang dari tadi mencatat, mengangkat pena. “Pak Jajang, bagaimana dengan umpan kimia yang dipakai orang kota itu?”

Suasana berubah. Pak Jajang menghela napas. “Umpan kimia... itu racikannya pakai perasa buatan—vanili, durian, bahkan ada yang pakai bahan perangsang. Ikan jadi kalap, makan apa saja. Tapi kalau terlalu banyak, air bisa tercemar. Ikan yang kenyang umpan kimia kalau dimakan manusia juga bisa berbahaya.”

“Tapi katanya ampuh,” celetuk Dadang.

“Ampuh untuk sesaat,” potong Junai tegas. “Tapi lihat jangka panjangnya. Air jadi keruh, ikan jadi mati, kanal jadi rusak. Apa gunanya dapat banyak ikan hari ini kalau besok tidak ada lagi ikan sama sekali?”

Dadang terdiam. Asep menggaruk kepalanya.

Ujang yang dari tadi asyik menggoreng pisang di dapur kecil Junai, ikut bersuara, “Dengar kata-kata Junai dan Pak Jajang, Nak. Mereka sudah puluhan tahun memancing di kanal ini. Mereka tahu mana yang baik dan mana yang merusak.”

“Tapi Mang Ujang, Darto katanya pakai umpan kimia juga?” tanya Toha pelan.

Semua terdiam. Pak Jajang meneguk tehnya perlahan. “Darto... anak itu ambisius. Ia selalu ingin menang, ingin paling banyak. Tapi ambisi yang tidak terkendali bisa merusak.”

“Kita nggak usah bicara soal Darto dulu,” Junai mencairkan suasana. “Sekarang, siapa yang mau belajar meracik umpan fermentasi?”

Semua pemuda itu mengacungkan tangan. Junai mulai mengajarkan dengan sabar. Ia menunjukkan perbandingan dedak dan ampas kelapa, cara mencampur terasi, dan cara fermentasi yang benar.

“Ingat, kunci umpan ini adalah kesabaran. Tiga hari fermentasi, jangan dibuka-buka. Nanti baunya akan semakin kuat. Kalau sudah jadi, simpan di tempat sejuk.”

“Tiga hari? Lama amat,” keluh Asep.

“Memancing itu mengajarkan kesabaran, Asep. Dari racik umpan saja kita sudah dilatih sabar. Kalau tidak sabar, ya beli pelet instan di warung. Tapi hasilnya ya standar.”

Mereka tertawa. Pak Jajang ikut tersenyum.

“Nanti malam, kita coba mancing malam,” ajak Junai tiba-tiba. “Ikan gabus aktif di malam hari. Kita pakai anak kodok. Siapa yang mau ikut?”

“Saya!” seru Dadang, Asep, dan Toha serempak.

“Saya juga ikut,” kata Rini. “Tapi saya pakai cacing saja. Saya ingin coba spot dekat pintu air.”

“Bagus. Nanti kita kumpul di sini jam tujuh.”

Pak Jajang berdiri, membetulkan capingnya. “Saya tidak ikut malam-malam. Badan sudah tua. Tapi kalian hati-hati. Jangan ke tempat yang terlalu dalam. Dan ingat, bawa senter.”

“Iya, Pak.”


Namun, rencana mancing malam itu tidak jadi dilaksanakan. Sebab, ketika Junai dan rombongan tiba di tepi kanal, mereka menemukan sesuatu yang mengerikan.

Air kanal yang biasanya hitam legam tapi bening, kini tampak keruh kehijauan. Di permukaan, terdapat lapisan tipis seperti minyak yang memantulkan cahaya senter dengan warna-warni pelangi palsu. Bau tanah dan dedaunan berganti dengan bau anyir seperti bahan kimia.

“Apa ini?” Dadang mencelupkan tangannya, lalu menggosokkan ke telapak. “Airnya licin. Kayak ada sabun.”

“Ini bukan sabun,” kata Junai dengan suara dingin. Ia berlutut di tepi kanal, mencium airnya, lalu memicingkan mata. “Ini sisa umpan kimia. Atau lebih parah lagi... racun.”

Rini mengambil sampel air dengan botol plastik kosong yang selalu ia bawa. “Saya akan cek besok pagi di laboratorium sederhana. Tapi dari baunya, ini bukan hanya perasa ikan. Ada kandungan deterjen dan mungkin... amonia.”

“Siapa yang berani?” Toha mengepalkan tangan.

Pak Jajang yang ikut serta meski sudah sepuh, tiba-tiba muncul dari balik semak. Matanya menyipit tajam ke arah selatan. “Dua orang kota itu. Saya lihat mereka tadi sore masih di ujung kanal. Mereka membawa botol-botol plastik.”

“Kita lapor polisi!” usul Asep.

“Tidak akan guna,” potong Dadang sinis. “Mereka orang kota. Mungkin punya kenalan di perkebunan atau di kantor desa.”

Junai berdiri. Ia memandang kanal yang kini tercemar, lalu ke arah rumah Darto yang tidak jauh dari situ. “Sebelum kita menuduh orang kota, kita harus tahu dulu apakah ada orang desa kita yang terlibat.”

Mereka saling pandang. Nama Darto melintas di benak semua orang.

“Saya lihat Darto tadi siang ke arah selatan,” kata Rini pelan. “Saya kira dia mau memancing. Tapi dia tidak membawa joran. Hanya ransel besar.”

“Kita cari tahu dulu. Jangan menuduh tanpa bukti,” kata Junai.

Mereka pulang dengan perasaan berat. Kanal yang menjadi kebanggaan desa, kini tercemar. Ikan-ikan yang susah payah mereka jaga, mungkin mati atau pergi.


Tiga hari berlalu. Kanal belum pulih. Airnya masih keruh, ikan-ikan masih sulit ditemukan. Warga mulai resah. Darto yang biasanya paling vokal, kini menjadi pendiam. Ia tetap datang memancing setiap pagi, tapi jorannya hanya tertancap tanpa banyak gerakan.

Junai memperhatikan dari kejauhan. Ia sudah mencoba tiga titik berbeda dalam tiga hari: di bawah jembatan, di tikungan dekat pohon karet, dan di muara kecil tempat air sawit mengalir. Hasilnya nihil. Belum ada satu ikan pun yang menggigit.

“Hari ini saya coba di titik kosong,” kata Junai pada Pak Jajang.

“Titik kosong? Di dekat pintu air yang dangkal? Tidak ada ikan di sana, Jun. Sudah saya buktikan puluhan kali.”

“Saya tahu. Tapi kadang, setelah terjadi pencemaran, ikan-ikan akan mencari tempat yang paling aman. Bukan yang paling dalam atau paling banyak makanan, tapi yang paling tenang. Titik kosong itu dangkal, arusnya lambat, dan ada banyak eceng gondok. Mungkin mereka bersembunyi di sana.”

Pak Jajang mengernyit, tapi tidak melarang. “Baik. Saya ikut. Saya penasaran.”

Mereka berdua pindah ke titik kosong—lokasi yang biasanya dihindari semua pemancing. Letaknya sekitar seratus meter di selatan jembatan, di mana kanal melebar dan dangkal. Eceng gondok tumbuh subur, menutupi hampir separuh permukaan air. Di bawahnya, air tampak lebih jernih dibandingkan titik lainnya.

Junai melempar umpannya—anak kodok—persis di celah antara eceng gondok, di mana ada rongga air yang terbuka. Pelampungnya mengapung tenang. Pak Jajang melempar agak ke kanan, lebih dekat ke akar sawit yang menjuntai, dengan umpan cacing.

Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit.

Tiba-tiba, pelampung Junai bergerak—bukan tarikan kuat, tapi goyangan kecil naik-turun.

“Ada yang menggigit,” bisik Junai.

Ia membiarkan beberapa detik, memberi kesempatan ikan memakan umpannya dengan nyaman. Lalu dengan gerakan perlahan, ia menarik senar. Ada perlawanan kecil, tapi tidak terlalu kuat.

Yang muncul di ujung kail adalah seekor ikan gabus kecil, seukuran telapak tangan. Junai melepas kail dengan hati-hati, memandang ikan itu sebentar, lalu melepaskannya kembali ke air.

“Kenapa dilepas?” tanya Pak Jajang.

“Masih kecil. Biar besar dulu.”

Pak Jajang tersenyum. “Itulah bedanya kau dengan pemancing lain. Bukan hanya soal mendapat, tapi soal menjaga.”

Tidak lama kemudian, Pak Jajang mendapat ikan mas berukuran sedang. Ia memasukkannya ke ember, karena untuk konsumsi keluarga. Junai mendapat dua ekor gabus kecil lagi dan melepas semuanya.

Kabar bahwa Junai mendapat ikan di titik kosong menyebar cepat. Darto yang mendengar langsung pindah ke sana, tapi ia melempar umpannya di tengah-tengah eceng gondok yang paling rapat.

“Kau jangan di sana, Darto,” tegur Junai. “Di tengah eceng gondok, kailmu akan tersangkut. Lempar di celah-celahnya, di mana ada rongga.”

“Ah, kau sok tahu,” sahut Darto ketus.

Tak lama kemudian, kail Darto tersangkut di akar eceng gondok. Ia menarik keras, tapi senarnya malah putus. Dengan wajah merah padam, ia membentak, “Sialan! Ini senar mahal! Baru saja saya beli!”

Rini yang ikut memancing di dekat situ tertawa kecil. “Sudah dibilang jangan di tengah.”

“Kau diam!” bentak Darto.

Pak Jajang yang mendengar itu langsung menegur, “Darto, jangan kasar. Rini hanya mengingatkan. Ini kanal milik bersama, bukan arena adu ego.”

Darto mendengus, duduk kembali dengan tangan melipat.

Ujang yang baru datang membawa gorengan mencoba mencairkan suasana. “Mari, mari. Saya bawa pisang goreng dan ubi rebus. Makan dulu. Ikan juga butuh waktu untuk lapar.”

Mereka makan bersama di tikar plastik. Ujang bercerita tentang masa lalu kanal, ketika airnya masih jernih dan ikannya sangat banyak.

“Dulu, sekitar dua puluh tahun lalu, kanal ini adalah surga memancing. Ikan gabus bisa sebesar paha orang dewasa. Ikan mas merah berenang-renang di permukaan, seperti tidak takut pada manusia. Kami anak-anak dulu sering berenang di sini, airnya segar, tidak seperti sekarang.”

“Apa yang membuat berubah?” tanya Rini.

“Perkebunan sawit mulai menggunakan pupuk kimia dan pestisida dalam jumlah besar. Air hujan mengalirkan sisa-sisa itu ke kanal. Lama-lama, air berubah. Ikan mulai berkurang. Belum lagi ulah pemancing yang pakai racun atau setrum.”

Darto yang mendengar kata “setrum” tiba-tiba menegang. Ia memandang ke arah lain.

Junai menangkap itu. “Darto, kau pernah lihat orang pakai setrum di kanal ini?”

“Saya... tidak pernah,” jawab Darto cepat.

“Kau yakin? Karena kalau ada yang pakai setrum, itu ilegal. Ikan mati semua, bahkan yang kecil-kecil.”

“Saya bilang tidak pernah!” Darto berdiri, membawa jorannya pindah ke lokasi lain.

Rini menatap Junai dengan makna. “Darto menyembunyikan sesuatu.”

“Biarkan dulu,” kata Junai. “Sekarang fokus kita pada kanal. Kita harus mencari cara agar ikan bisa kembali. Kalau kita saling curiga, tidak ada yang selesai.”


Hari kelima setelah pencemaran adalah hari terburuk. Tidak ada satu pun pemancing yang mendapatkan ikan. Bahkan Junai yang biasanya sabar dan selalu menemukan cara, pulang dengan ember kosong.

Suasana di tepi kanal pagi itu memanas. Frustasi yang tertahan selama berhari-hari meledak.

“Ini semua karena ulah pemancing yang tidak bertanggung jawab!” teriak Dadang, matanya merah. “Saya sudah tiga hari tidak dapat ikan. Padahal saya punya adik yang sakit, butuh ikan untuk makan.”

“Jangan menyalahkan orang begitu saja,” sahut Darto sinis. “Kanal ini sudah rusak sejak lama karena pupuk kimia dari perkebunan. Kita yang memancing hanya korban.”

“Korban? Kau sendiri yang kemarin beli umpan kimia dari orang kota!” Asep ikut angkat suara.

Darto berdiri. “Apa katamu? Umpan kimia? Saya beli pelet biasa. Itu legal!”

“Legal? Pelet yang dicampur perasa sintetis itu tetap berbahaya, Darto!” Rini maju selangkah. “Saya lihat sampel air di lab sederhana. Ada kandungan fosfat dan nitrogen yang sangat tinggi. Itu memicu ledakan alga, menurunkan oksigen, dan ikan mati perlahan.”

“Jadi saya yang salah? Saya cuma satu orang!” Darto membela diri.

“Kau bukan satu-satunya,” kata Pak Jajang dingin. “Tapi kau adalah salah satu yang ikut memperparah. Dan saya tahu, kau juga mengambil sesuatu dari dua orang kota itu di hulu kanal beberapa hari lalu.”

Wajah Darto memucat. “Bapak... bagaimana bisa...”

“Saya sudah tua, Darto. Tapi mata saya masih tajam. Saya lihat kau pergi ke hulu, saya lihat kau menerima sesuatu dari mereka. Saya tidak tahu itu apa, tapi saya yakin itu bukan sesuatu yang baik.”

Semua mata tertuju pada Darto. Ia terdiam. Tangannya gemas memegang joran.

Junai berdiri di tengah, mencoba menenangkan. “Sudah, tidak perlu saling menyalahkan. Yang penting sekarang adalah bagaimana memperbaiki kanal. Marah-marah tidak akan membuat ikan kembali.”

“Kau selalu begitu, Junai! Sok bijak! Sok tenang!” Darto tiba-tiba meledak. “Kau pikir dengan kesabaranmu yang sok suci itu kanal akan pulih? Tidak! Kita harus melakukan sesuatu yang nyata!”

“Maksudmu?” tanya Junai tenang.

Darto membuka ranselnya. Ia mengeluarkan sebuah botol plastik berisi cairan biru pekat. “Ini. Ini yang mereka berikan. Ini... ini adalah perangsang ikan. Bukan racun. Ini membuat ikan menjadi lapar dan aktif. Dalam satu jam, kita bisa dapat puluhan ikan.”

Semua terkejut.

“Kau gila, Darto!” teriak Ujang. “Itu sama saja dengan meracuni!”

“Bukan racun! Ini bahan alami! Kata mereka dari ekstrak rumput laut dan fermentasi ikan!”

“Itu tetap ilegal!” Rini merebut botol itu dari tangan Darto. “Lihat kemasannya, tidak ada label, tidak ada izin. Ini bahan kimia sembarangan. Bisa berbahaya untuk yang memakan ikannya.”

Darto mencoba mengambil kembali, tapi Rini menyimpan botol itu di dalam tasnya.

“Kembalikan!” bentak Darto.

“Tidak!” Rini mundur. “Kita akan laporkan ini ke pihak berwenang.”

“Laporan? Siapa yang akan peduli? Perkebunan saja tidak peduli dengan kanal ini, masa iya polisi akan peduli dengan pemancing kecil seperti kita?”

Pak Jajang melangkah maju. “Darto, dengarkan saya. Saya tahu kau orang baik. Kau hanya terlalu ambisius. Tapi ambisi yang salah bisa menghancurkan kita semua. Kanal ini adalah rumah kita. Ikan-ikan di sini adalah saudara kita. Jangan rusak demi keuntungan sesaat.”

Darto menunduk. Dadanya naik turun. Untuk pertama kalinya, ia tampak kalah.

“Saya... saya hanya ingin diakui,” katanya lirih. “Setiap kali memancing, saya selalu kalah dari Junai. Padahal saya sudah beli peralatan mahal, umpan impor, apa saja. Tapi tetap saja... ikannya lebih suka pada Junai. Saya cemburu.”

Junai mendekat. “Darto, memancing bukan tentang siapa yang paling banyak. Ini tentang siapa yang paling memahami. Aku tidak lebih baik darimu. Aku hanya lebih sabar. Dan kesabaran itu aku belajar dari kanal. Bukan dari umpan atau peralatan mahal.”

Darto mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. “Junai... maafkan saya.”

“Tidak perlu minta maaf. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memperbaiki kanal.”

Hari itu, mereka pulang dengan ember kosong. Tapi hati mereka tidak kosong. Ada tekad baru yang mulai terbentuk.


Malam harinya, hujan deras mengguyur Desa Awan Biru. Bukan hujan biasa—angin kencang, petir menyambar-nyambar, dan air mengalir deras dari perkebunan ke kanal.

Junai duduk di beranda rumahnya, memandang air yang jatuh dari langit seperti tirai raksasa. Ia tidak khawatir. Hujan adalah berkah bagi kanal. Air baru akan mengencerkan polusi, membawa oksigen, dan merangsang ikan untuk aktif.

Pagi harinya, kanal berubah total. Air naik hampir setengah meter. Arus deras mengalir dari hulu ke hilir, membawa daun-daun kering dan buah sawit yang jatuh. Warna air yang kemarin keruh kini menjadi kecoklatan alami—tanda bahwa sedimentasi mulai terangkat.

“Hari ini kita panen!” seru Ujang bersemangat saat tiba di tepi kanal.

Benar saja. Ikan-ikan yang selama beberapa hari menyembunyikan diri, kini keluar mencari makan. Mereka terbawa arus atau justru melawan arus, mencari tempat-tempat dengan makanan terbanyak.

Junai memilih titik di tikungan kanal, di mana arus sedikit melambat dan banyak dedaunan yang terperangkap. Ia melempar umpan fermentasinya tepat di pusaran air.

Dalam waktu lima menit, pelampungnya tenggelam dengan tarikan kuat. Junai menarik dengan sabar, membiarkan ikan berenang dulu sampai energinya terkuras, lalu perlahan menggulung senar.

Ikan mas besar berwarna kemerahan muncul di permukaan. Beratnya sekitar dua kilogram. Junai memasukkannya ke ember dengan hati-hati.

“Junai dapat ikan mas besar!” teriak Dadang dari kejauhan.

Rini mendapat ikan nila tiga ekor. Pak Jajang mendapat ikan gabus yang cukup besar. Ujang juga mendapat beberapa ikan. Suasana riuh.

Tapi Darto—yang sejak kemarin terlihat murung—belum mendapat satu pun. Ia duduk di tempatnya, mengganti umpan berulang kali, tapi pelampungnya tak bergerak.

“Darto, kemari! Di sini banyak ikan!” ajak Ujang.

Darto tidak bergerak. Ia terus memandang air yang deras dengan ekspresi frustasi.

Junai menghampirinya. “Kau pakai umpan apa?”

“Umpan biasa. Pelet yang biasa saya pakai.”

“Coba pakai umpan anak kodok. Di air deras seperti ini, ikan gabus suka mangsa yang bergerak. Anak kodok berenang-berenang, memancing perhatian mereka.”

“Saya tidak punya anak kodok.”

Junai mengambil toples kecil berisi anak kodok dari kantongnya. “Ambil. Saya punya lebih.”

Darto menerima dengan ragu. Ia mengganti umpan dengan anak kodok, lalu melempar ke area yang sedikit lebih dalam—dekat akar sawit yang menjuntai.

Tidak sampai lima menit, pelampungnya bergerak keras. Darto menarik dengan gerakan kasar—terlalu cepat. Ikan itu melompat, berhasil melepaskan diri, dan jatuh kembali ke air.

“Sial!” Darto membentak.

“Tenang,” kata Junai. “Kalau kau menarik terlalu cepat, kail bisa lepas. Biarkan dia berenang dulu. Beri sedikit kendor, lalu tarik perlahan.”

Darto menghela napas. Ia mengumpankan anak kodok lagi, melempar ke tempat yang sama.

Kali ini, ia lebih sabar. Pelampung bergerak, ia biarkan beberapa detik, lalu dengan gerakan perlahan ia menarik. Ikan itu melawan, tapi Darto tidak terburu-buru. Ia membiarkan senar tegang, kadang mengendur sedikit, lalu menarik lagi.

Setelah beberapa menit, seekor ikan gabus besar—hampir satu setengah kilo, tubuhnya loreng hitam—muncul ke permukaan. Darto membawanya ke tepi dengan hati-hati, tangannya gemetar karena campuran gugup dan bahagia.

“Saya dapat!” teriak Darto. “Saya dapat ikan besar!”

Semua bertepuk tangan. Bahkan Pak Jajang yang biasanya dingin ikut tersenyum.

“Bagus, Darto. Itu namanya memancing dengan kesabaran,” puji Pak Jajang.

Namun, senyum Darto perlahan memudar. Ia memandang ikan di embernya, lalu ke arah Junai.

“Junai... sebenarnya kemarin saya tidak hanya mengambil botol dari mereka,” katanya pelan. “Saya juga... membeli setrum ikan. Mereka menjualnya murah. Saya ingin menggunakannya hari ini, karena saya putus asa.”

Semua terdiam.

“Tapi setelah hujan ini... setelah melihat kalian semua mendapatkan ikan dengan cara yang jujur... Saya tidak jadi menggunakannya.” Darto membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah alat kecil mirip stun gun yang dimodifikasi. “Ini. Saya serahkan pada kalian.”

Pak Jajang mengambil alat itu, memandangnya dengan mata tajam. “Kau selamat, Darto. Kau selamat dari kesalahan besar. Kalau kau menggunakan ini, ikan-ikan kecil akan mati, telur-telur ikan akan hancur, dan kanal ini akan mati bertahun-tahun.”

“Saya malu,” kata Darto.

“Tidak perlu malu. Yang penting kau sadar sebelum terlambat,” ujar Junai.

Hari itu, mereka pulang dengan ember penuh ikan. Tapi yang lebih berharga dari ikan adalah kepercayaan yang mulai pulih, dan kesadaran yang tumbuh di hati Darto.


Kanal tak lagi sunyi keesokan harinya. Bukan karena ramai pemancing, tapi karena ramai suara perdebatan. Warga desa yang mendengar kabar tentang setrum ikan dan umpan kimia berdatangan ke tepi kanal. Ada yang marah, ada yang kecewa, ada juga yang membela Darto karena merasa ia sudah menyerahkan diri.

“Dia harus dihukum!” teriak seorang warga bernama Karto, petani sawit yang rumahnya paling dekat dengan kanal. “Anak saya sering memancing di sini. Kalau ada setrum, bisa setrum orang juga!”

“Dia tidak jadi menggunakannya,” bela Ujang.

“Tapi dia punya niat! Itu sudah cukup sebagai bukti!” sahut warga lain.

Darto berdiri di tengah, wajahnya pucat. Ia tidak menyangka reaksi akan sebesar ini. Junai berdiri di sampingnya, siap menjadi penengah.

“Warga sekalian,” kata Junai dengan suara lantang namun tenang. “Saya mengerti kemarahan Bapak-Ibu. Saya juga marah. Tapi mari kita selesaikan dengan kepala dingin.”

“Jangan sok jadi hakim, Junai!” potong Karto. “Kau bukan kepala desa, bukan polisi. Kau hanya pemancing biasa.”

“Benar, saya hanya pemancing biasa. Tapi saya tinggal di sini, dan saya juga ingin kanal ini aman. Darto salah, tapi ia menyerahkan alatnya sendiri. Itu artinya ia sadar.”

“Sadar tidak menghapus kesalahan!” teriak warga lain.

Pak Jajang yang dari tadi diam, akhirnya berdiri. Dengan suara parau namun berwibawa, ia berkata, “Dulu, ketika saya masih muda, ada juga pemancing yang menggunakan bom ikan. Ikan meledak, hancur, dan kanal mati selama tiga tahun. Kami menangkap pemancing itu, menghajarnya sampai babak belur. Hasilnya? Dia lari dari desa, kanal tetap mati. Tidak ada yang menang.”

Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu warga.

“Setelah itu, kami belajar. Hukuman fisik tidak menyelesaikan masalah. Yang kami lakukan adalah mengajak dia membersihkan kanal, menanam bibit ikan, dan menjaga bersama. Sekarang, setelah tiga puluh tahun, kanal ini masih hidup. Masih memberi ikan untuk kita.”

Suasana mulai tenang.

“Darto sudah sadar. Ia tidak jadi menggunakan setrum. Itu lebih baik daripada kita menghukumnya dan ia malah dendam. Mari kita jadikan ini pelajaran untuk kita semua.”

Rini ikut angkat bicara. “Saya setuju dengan Pak Jajang. Hukuman bukan solusi. Tapi kita juga tidak bisa membiarkan begitu saja. Saya mengusulkan, Darto harus ikut serta dalam kerja bakti membersihkan kanal, dan juga membantu sosialisasi tentang bahaya setrum dan umpan kimia kepada warga lainnya.”

“Saya setuju,” kata Junai.

Darto mengangguk. “Saya... saya setuju. Saya akan lakukan apa saja untuk memperbaiki kesalahan saya.”

Karto masih belum puas, tapi setelah melihat banyak warga mulai melunak, ia hanya mendengus dan pergi.

Konflik di tepi air itu mereda. Namun, bekasnya masih terasa. Darto yang biasanya percaya diri, kini tampak lebih pendiam. Ia pulang lebih awal, membawa rasa bersalah yang masih mengganjal.

Junai menepuk pundaknya. “Kau sudah melakukan hal yang benar, Darto. Jangan biarkan kesalahan masa lalu menghantui. Lihat ke depan.”

“Apakah mereka akan memaafkanku?”

“Waktu yang akan menjawab. Yang penting, kau sudah berubah.”


Dua minggu berlalu. Kanal yang dulu ramai di pagi hari, kini sepi. Bukan karena warga marah atau takut, tapi karena ikan benar-benar sulit didapat. Setelah insiden pencemaran dan hampir terjadinya penggunaan setrum, populasi ikan menurun drastis.

Junai masih datang setiap pagi. Ia duduk sendirian di tempat biasanya, joran tertancap, ember kosong di sampingnya. Pak Jajang kadang datang, tapi hanya sebentar, karena kondisi kesehatannya mulai menurun. Rini masih rajin, tapi ia lebih banyak membawa buku catatan daripada joran.

“Saya sedang mendata populasi ikan yang tersisa,” kata Rini suatu pagi. “Hasilnya mengecewakan. Dari sepuluh titik yang saya amati, hanya dua titik yang masih ada tanda-tanda ikan. Itu pun jenis ikan kecil seperti wader dan sepat.”

“Apakah kanal ini akan mati?” tanya Junai.

Rini menghela napas. “Jika tidak ada tindakan, mungkin iya. Sumber pencemaran dari perkebunan masih terus mengalir. Pestisida dan pupuk kimia masuk ke kanal setiap kali hujan. Belum lagi sampah plastik dari warga yang masih buang ke sini.”

“Kita harus melakukan sesuatu.”

“Aku sudah bicara dengan Pak RT dan perwakilan perkebunan. Mereka berjanji akan mengurangi penggunaan pestisida di dekat kanal, tapi janji itu belum ada tindakan nyata.”

Pak Jajang yang datang dengan napas tersengal-sengal menimpali, “Kita tidak bisa hanya mengandalkan mereka. Kita harus memulai dari diri sendiri.”

“Apa maksud Bapak?” tanya Rini.

“Kita bersihkan kanal. Dari hulu ke hilir. Ajak semua warga. Kalau perlu, kita buat jadwal rutin. Kita juga bisa menanam bibit ikan. Dulu, sebelum ada perkebunan besar, warga desa selalu menjaga kanal. Sekarang, kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.”

Junai mengangguk. “Saya setuju. Tapi bagaimana caranya mengajak warga yang sudah kehilangan harapan?”

“Kita mulai dari yang kecil,” kata Rini. “Tunjukkan bahwa kanal ini masih bisa pulih. Ajak tokoh masyarakat, pengajian ibu-ibu, anak-anak muda. Buat kegiatan yang menarik, seperti lomba bersih-bersih, atau edukasi tentang ikan.”

Mereka bertiga mulai merencanakan. Hari-hari berikutnya, mereka mendatangi rumah-rumah warga satu per satu. Ada yang menyambut antusias, ada yang acuh, ada juga yang sinis.

“Buang-buang waktu,” kata Karto ketika Junai mengajaknya. “Kanal sudah rusak. Lebih baik kita cari ikan di sungai lain.”

“Kanal ini milik kita, Pak Karto. Kalau kita tidak menjaga, siapa lagi?”

Karto hanya menggeleng.

Tapi tidak semua seperti Karto. Ujang setuju langsung, bahkan bersedia menyediakan makanan untuk kerja bakti. Dadang, Asep, Toha, dan pemuda lainnya ikut membawa peralatan. Beberapa ibu-ibu dari pengajian juga bersedia ikut membersihkan sampah di tepi kanal.

Darto menjadi yang paling bersemangat. Mungkin karena rasa bersalahnya, ia datang paling pagi saat kerja bakti pertama, membawa cangkul, sabit, dan karung plastik.

“Saya siap membersihkan semak belukar di pinggir kanal,” katanya pada Junai.

“Bagus. Tapi ingat, jangan sampai merusak akar sawit yang menjuntai. Itu tempat tinggal ikan.”

“Saya tahu. Saya sudah belajar.”

Kerja bakti pertama dihadiri sekitar dua puluh warga. Mereka membersihkan sampah plastik, botol bekas, dan ranting-ranting yang menyumbat aliran air. Rini memimpin edukasi singkat tentang ekosistem kanal, menunjukkan jenis-jenis ikan yang pernah ada dan cara melestarikannya.

“Kanal yang sehat adalah kanal yang memiliki aliran air lancar, tidak tercemar, dan memiliki tempat berlindung bagi ikan. Akar sawit, batu-batu, dan tumbuhan air adalah rumah bagi mereka. Jangan kita rusak.”

Anak-anak kecil ikut membantu memungut sampah dengan semangat. Mereka bahkan membuat lomba siapa yang paling banyak mengumpulkan botol plastik.

Matahari terik membakar kulit, tapi tak seorang pun mengeluh. Ada harapan yang mulai tumbuh.


Kerja bakti rutin diadakan setiap hari Minggu. Pekan pertama, mereka membersihkan sampah. Pekan kedua, mereka menebang eceng gondok yang berlebihan. Pekan ketiga, mereka membuat lubang biopori di tepi kanal untuk menyaring air sebelum masuk ke aliran utama.

Rini juga menginisiasi penanaman bibit ikan. Ia menghubungi dinas perikanan setempat, yang ternyata bersedia memberikan bantuan bibit ikan nila dan mas secara gratis.

“Tapi ada syaratnya,” kata petugas dinas perikanan, Pak Budi. “Warga harus berkomitmen menjaga kanal. Tidak boleh ada lagi pencemaran, tidak boleh ada penangkapan dengan cara ilegal. Dan harus ada kawasan konservasi—area di mana ikan tidak boleh ditangkap, agar bisa berkembang biak.”

“Kami setuju,” kata Junai mewakili warga.

Kawasan konservasi ditentukan di hulu kanal, sekitar dua ratus meter dari titik awal. Di sana, tidak boleh ada aktivitas memancing selama enam bulan. Ikan-ikan yang ditebar akan dibiarkan berkembang biak secara alami.

Darto menjadi penjaga kawasan konservasi secara sukarela. Ia datang setiap pagi dan sore, memastikan tidak ada yang memancing atau membuang sampah di area tersebut.

“Saya merasa ini penebusan dosa saya,” katanya pada Junai suatu sore.

“Bukan penebusan dosa, Darto. Ini pengabdian. Kau melakukan ini karena kau peduli, bukan karena kau merasa bersalah.”

Darto tersenyum. “Kau selalu punya cara untuk membuat segalanya terasa lebih ringan, Jun.”

Ujang, yang warungnya menjadi tempat berkumpul warga, mulai memasang poster-poster tentang menjaga lingkungan. Ia juga menyediakan tempat sampah daur ulang di depan warungnya.

Pak Jajang, meski fisiknya mulai lemah, tetap ikut dalam setiap diskusi. Ia menjadi penasihat spiritual, mengingatkan warga bahwa menjaga kanal adalah menjaga kehidupan.

“Kanal ini seperti pembuluh darah desa. Kalau kotor, seluruh tubuh desa akan sakit. Kalau bersih, desa akan sehat.”

Anak-anak muda yang awalnya hanya ikut-ikutan, kini mulai antusias. Mereka membuat grup WhatsApp untuk memantau kondisi kanal, saling melaporkan jika ada yang membuang sampah atau mencuri ikan.

Perlahan, perubahan mulai terlihat. Air kanal yang dulu keruh mulai jernih. Eceng gondok yang dulu menutupi permukaan berkurang. Dan yang paling membahagiakan—ikan-ikan kecil mulai terlihat lagi.

“Lihat! Ada anak ikan!” teriak seorang bocah saat mereka sedang kerja bakti minggu keempat.

Semua berkerumun. Di tepi kanal yang dangkal, puluhan anak ikan nila berenang dalam kelompok kecil. Mereka mungkin hasil dari ikan-ikan yang selamat dari pencemaran, atau mungkin dari bibit yang ditebar dua minggu lalu.

“Mereka berkembang biak!” kata Rini dengan mata berbinar.

Junai berlutut di tepi kanal, memasukkan tangannya ke air. Ia merasakan air yang lebih dingin, lebih bersih. Ia memejamkan mata sejenak, mengucap syukur dalam hati.

“Kanal ini masih mau memberi kesempatan,” katanya lirih.

Pak Jajang yang berdiri di sampingnya menepuk pundak Junai. “Bukan kanal yang memberi kesempatan, Jun. Kita yang memberinya kesempatan. Dan ia membalasnya.”


Tiga bulan setelah kerja bakti pertama, kanal Desa Awan Biru berubah total. Airnya jernih kehijauan, alirannya lancar, dan di beberapa titik, terlihat ikan-ikan berenang dengan bebas. Rumput-rumput air tumbuh di tepi, menjadi tempat berlindung bagi benih-benih ikan.

Pagi itu, suasana di tepi kanal ramai seperti dulu, tapi berbeda. Tidak ada lagi persaingan sengit, tidak ada lagi umpan kimia atau setrum. Yang ada adalah senyuman, canda tawa, dan sesekali teriak kegirangan saat ada yang dapat ikan besar.

Junai duduk di tempat lamanya—di papan kayu lapuk yang disangga batang pinang. Joran bambunya tertancap, senar menjuntai ke air yang kini jernih. Ember di sampingnya sudah berisi tiga ekor nila ukuran sedang.

“Junai! Lihat ini!” teriak Darto dari kejauhan.

Darto mengangkat jorannya, dengan seekor ikan gabus besar—mungkin sekitar dua kilogram, tubuhnya loreng hitam—tergantung di ujung kail. Wajahnya berseri-seri, seperti anak kecil yang baru pertama kali mendapat mainan.

“Bagus, Darto! Pakai umpan apa?” tanya Junai.

“Anak kodok! Seperti yang kau ajarin! Lepas atau bawa pulang?”

“Terserah. Tapi kalau bawa pulang, ingat, ikan yang lebih kecil harus dilepas.”

“Iya, saya tahu!”

Rini mendapat ikan nila tiga ekor. Ia memotretnya dulu untuk dokumentasi, lalu memasukkannya ke ember dengan hati-hati.

Pak Jajang tidak memancing hari itu. Ia duduk di kursi lipat yang dibawa Ujang, hanya mengamati. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia menghela napas panjang.

“Kanal ini seperti melihat anak yang tumbuh dewasa,” katanya pada Junai yang duduk di sampingnya. “Dulu saya lihat ia masih kecil, jernih, penuh kehidupan. Lalu ia remaja, kotor, rusak, penuh masalah. Sekarang... ia dewasa. Bijak. Seimbang.”

Junai tersenyum. “Kanal ini mengajarkan kita banyak hal, Pak. Bukan hanya tentang memancing.”

“Apa yang paling kau pelajari, Jun?”

Junai memandang kanal yang beriak lembut. “Bahwa kehidupan ini seperti air. Kalau kita biarkan mengalir alami, ia akan jernih. Tapi kalau kita terus mengaduk-aduk dengan ambisi, keserakahan, dan tipu daya, ia akan keruh. Dan ketika keruh, kita tidak bisa melihat apa pun—termasuk diri kita sendiri.”

Pak Jajang mengangguk pelan. “Kau sudah menjadi guru, Jun. Tanpa pernah merasa menjadi guru.”

Ujang datang membawa nampan berisi kopi dan pisang goreng. “Mari, mari. Kita rayakan kanal yang sudah sehat. Hari ini saya traktir!”

Mereka duduk melingkar di tikar plastik. Darto, Rini, Dadang, Asep, Toha, Pak Jajang, Junai, dan beberapa warga lainnya. Mereka tertawa, bercerita, dan sesekali melirik ke arah kanal yang kini hidup kembali.

Di kejauhan, di bawah jembatan, dua orang kota yang dulu pernah mencemari kanal datang lagi. Tapi kali ini mereka tidak membawa botol kimia atau setrum. Mereka membawa joran sederhana, dan meminta izin pada Darto untuk memancing.

“Kami minta maaf atas kejadian dulu,” kata kumis tebal dengan wajah sedikit malu. “Kami belajar dari kesalahan. Kami ingin memancing dengan cara yang benar.”

Darto menatap mereka sebentar, lalu tersenyum. “Silakan. Tapi ingat, di kanal ini kami punya aturan: tidak ada umpan kimia, tidak ada setrum, dan ikan kecil harus dilepas.”

“Kami paham. Terima kasih.”

Darto menghampiri Junai dan berbisik, “Dua orang itu minta izin memancing. Saya beri izin.”

“Bagus. Itu namanya memberi kesempatan kedua.”

Darto tersenyum lebar. “Saya belajar itu darimu, Jun.”


EPILOG

Senja kembali turun di atas kanal yang kini tak lagi sunyi.

Langit jingga bercampur ungu, memantul di permukaan air yang beriak lembut. Riak air kecil terlihat di mana-mana, tanda kehidupan telah kembali. Tawa warga pun kembali terdengar, menyatu dengan suara alam—gemericik air, desiran daun sawit, dan suara burung yang pulang ke sarang.

Junai duduk di tempat yang sama seperti dulu. Jorannya diam, tertancap di tanah tepi kanal. Embernya sudah berisi empat ekor ikan—ukuran sedang, cukup untuk makan malam bersama ibunya. Tapi hatinya tidak sedang memikirkan ikan.

Ia memandang ke arah barat, di mana matahari perlahan tenggelam. Pak Jajang sudah pulang lebih awal, karena badannya mulai lelah. Rini masih asyik mencatat di buku kecilnya. Darto sedang mengajari anak-anak desa cara meracik umpan dari dedak dan ampas kelapa, serta cara memasang anak kodok yang benar.

Ujang membawa gorengan dan teh hangat, berkeliling membagikan pada semua orang.

“Jun, ini untukmu,” kata Ujang sambil memberikan segelas teh manis hangat.

“Terima kasih, Mang.”

“Kau tidak sedih? Hari ini dapat empat ekor. Lumayan banyak.”

Junai tersenyum. “Bukan banyak sedikitnya, Mang. Yang penting, kanal ini masih hidup. Dan kita masih bisa duduk di sini, bersama-sama.”

Ujang mengangguk. “Kau benar. Dulu sempat saya pikir kanal ini akan mati. Tapi kalian—kau, Rini, Pak Jajang—tidak menyerah.”

“Kita semua, Mang. Termasuk kamu. Termasuk Darto. Termasuk anak-anak yang ikut bersih-bersih. Semua punya peran.”

Di kejauhan, Darto tertawa keras karena seorang bocah berhasil mendapatkan ikan pertama kalinya dalam hidup—seekor gabus kecil yang menyambar anak kodok. Bocah itu berlari ke arah ibunya, menunjukkan ikan yang masih menggelepar.

“Bu! Bu! Lihat! Saya dapat ikan pakai anak kodok!”

Ibunya tersenyum, mengelus kepala bocah itu. “Pintar. Tapi ingat, kalau masih kecil dilepas ya.”

“Iya, Bu!”

Bocah itu berlari kembali ke tepi kanal, melepaskan ikan kecilnya dengan hati-hati. Ia tersenyum puas, lalu bergabung dengan teman-temannya yang sedang belajar memancing dari Darto.

Junai menyesap tehnya. Hangat. Pahit manis. Seperti kehidupan.

Ia memandang kanal sekali lagi. Airnya beriak kecil, membentuk pola-pola yang tak pernah sama. Di setiap riak itu, ia melihat wajah-wajah: Pak Jajang yang bijak, Rini yang teliti, Ujang yang ramah, Darto yang berubah, dan semua warga yang perlahan sadar.

Ia tahu, memancing bukan soal siapa yang paling banyak mendapat ikan.

Melainkan siapa yang paling mampu memahami waktu, alam, dan dirinya sendiri.

Dan kanal itu… akan selalu menjadi guru yang tak pernah berbicara, namun selalu memberi makna.

Senja berganti malam. Lampu-lampu mulai menyala di rumah-rumah warga. Suara kanal tetap sama—tenang, dalam, mengalir.

Junai melipat jorannya, membawa ember kecil, dan berjalan pulang. Langkahnya pelan, tidak tergesa. Di belakangnya, kanal terus mengalir—membawa cerita hari ini, dan menyimpan cerita untuk esok.

Riak di permukaan air itu... riak kehidupan yang baru.

TAMAT

 

 

0 komentar:

Posting Komentar