Cerpen
Riak di Kanal Sunyi
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Pagi itu, kabut tipis bergelayut di atas permukaan kanal
panjang yang membelah ribuan pohon kelapa sawit Desa Awan Biru. Airnya hitam
legam, tenang seperti cermin retak yang disambung kembali oleh lumut. Bau tanah
basah bercampur aroma buah sawit masak yang berguguran di tepian. Kanal itu
bukan buatan tangan manusia biasa; ia adalah parit raksasa peninggalan
perkebunan zaman Belanda, yang kini menjadi urat nadi kehidupan warga—tempat
mandi, mencuci, dan yang paling penting, sumber ikan.
Di tepi kanan, di atas papan kayu lapuk yang disangga
batang pinang, Junai sudah duduk bersila sejak pukul setengah enam. Joran
bambunya tertancap rapi, senar menjuntai ke air yang diam. Sebuah ember kecil
di sampingnya masih kosong, tetapi sudut bibirnya tersenyum tipis.
Satu per satu, warga mulai berdatangan. Dengan joran
sederhana, umpan racikan sendiri, dan cerita yang tak pernah habis, mereka
bukan sekadar memancing ikan—mereka memancing harapan.
Namun, kanal itu tak selalu ramah. Kadang ia pelit, kadang
ia murka. Dan di sanalah, kehidupan diuji: antara sabar, emosi, persahabatan,
dan ketamakan.
Matahari baru saja menyingsing di ujung timur, menyapu
embun yang masih bergelayut di dedaunan sawit. Desa Awan Biru mulai hidup.
Suara kokok ayam jago bersahutan dengan azan subuh dari masjid kecil di ujung
desa. Namun, sebelum semua itu, sudah ada keramaian lain—bukan di rumah-rumah,
tapi di tepi jalan setapak yang membelah kebun sawit menuju kanal.
Di pertigaan jalan dekat warung kopi milik Ujang,
sekelompok pemuda desa sedang asyik mengobrol. Mereka belum beranjak ke kanal,
karena sedang membahas satu hal yang selalu hangat di kalangan pemancing: musim
ikan.
“Musim timur begini, ikan pada di mana sih, Kang?” tanya
Asep, pemuda berbadan kurus dengan jaket lusuh, sambil menyandarkan sepeda
motornya.
“Musim timur? Air dingin, arus pelan. Ikan pada di dasar.
Susah,” sahut Dadang, yang sudah duduk di atas batang pohon sawit tumbang di
pinggir jalan. Ia seorang pemancing kawakan meski usianya baru menginjak dua
puluh lima. Joran bambunya sudah terpasang di punggung, siap dipakai kapan
saja.
“Bukan musim timur atau barat yang penting, Dadang,”
celetuk Ujang dari balik jendela warungnya. Tangannya sibuk meracik kopi
tubruk, tapi telinganya tetap tajam. “Yang penting musim ikan lagi kawin.
Bulan-bulan begini, ikan lagi males makan. Mereka sibuk pacaran.”
Semua pemuda itu tertawa.
“Pacarannya di mana, Mang Ujang?” goda Asep.
“Di dasar, tentu saja. Masa iya di permukaan? Nanti
diliatin sama elang,” jawab Ujang seloroh.
Di tengah gelak tawa, sesosok pemuda lain muncul dari arah
utara. Ia berjalan santai dengan ember di tangan kiri dan joran bambu di tangan
kanan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi tegap. Wajahnya tenang, dengan
senyum kecil yang seolah menjadi ciri khasnya. Itu Junai—pemuda yang dikenal
paling sabar di antara pemancing Desa Awan Biru.
“Junai! Dari mana?” sapa Dadang.
“Dari rumah, baru mau ke kanal. Tadi kalian ngomongin apa?
Seru banget,” jawab Junai sambil menghampiri.
“Musim ikan, Jun!” kata Asep. “Kata Mang Ujang, ikan lagi
pada kawin, jadi susah dicari. Benar begitu?”
Junai tersenyum. Ia meletakkan ember dan jorannya, lalu
duduk di atas batu besar di tepi jalan. “Ada benarnya juga. Tapi bukan berarti
nggak ada. Ikan tetap makan, cuma mereka lebih selektif. Mereka nggak asal
nyambar umpan. Mereka cari yang benar-benar alami.”
“Nah, itu dia!” Ujang keluar dari warung membawa nampan
berisi enam gelas kopi panas. “Junai ini paham. Ikan lagi kawin, mereka butuh
energi. Tapi mereka nggak mau makanan aneh-aneh. Mereka cari yang biasa mereka
temuin di alam.”
“Maksud Mang Ujang, umpan alami?” tanya Dadang.
“Iya. Cacing tanah, jangkrik, atau...” Ujang berhenti sejenak,
matanya menyipit nakal, “anak kodok.”
“Anak kodok?” Asep mengernyit. “Mau mancing apa? Buaya?”
Semua tertawa lagi. Tapi Junai mengangguk pelan. “Anak
kodok memang bagus buat ikan gabus, Kang Ujang. Tapi harus yang masih kecil,
yang baru berubah dari kecebong. Gerakannya di air bikin ikan gabus kalap.”
“Nah, tuh! Junai paham,” Ujang menepuk pundak Junai bangga.
“Ini anak desa kita, pinter. Bukan cuma asal lempar joran.”
Dadang yang dari tadi mendengarkan, mulai gelisah. “Jadi,
kalau mau mancing sekarang, kita harus pakai umpan apa? Dan cari spot mana?
Jangan-jangan selama ini saya salah spot.”
“Spot itu penting,” Junai berdiri, mengambil sepotong
pelepah sawit kering, lalu menggambar di tanah. “Ini kanal. Di sini tikungan,
di sini jembatan, di sini akar sawit. Setiap spot punya karakter beda.”
Para pemuda itu mengerumuni gambar di tanah. Bahkan
beberapa warga yang lewat ikut berhenti dan memperhatikan.
“Di tikungan, arusnya lebih deras, jadi cocok buat umpan
yang hanyut—jangkrik atau anak kodok yang dilempar ke tengah. Di bawah
jembatan, airnya dalam, arus lambat, ikan mas dan nila suka di situ, cocok buat
umpan fermentasi atau pelet. Di dekat akar sawit yang menjuntai, itu tempat
persembunyian ikan gabus. Mereka suka cacing tanah atau anak kodok yang bergerak-gerak
di permukaan.”
“Kalau di dekat pintu air?” tanya Dadang.
“Pintu air? Dasar berlumpur, arusnya nggak menentu.
Biasanya banyak ikan lele di sana. Umpan cacing atau kecebong. Tapi hati-hati,
kadang kail sering nyangkut di akar.”
Asep yang awalnya hanya iseng-iseng, kini mulai serius.
“Jadi, Jun, kalau kita mau mancing sekarang—musim timur, ikan lagi kawin—spot
paling bagus di mana?”
Junai memandang gambar di tanah, lalu menunjuk ke dua
titik. “Dua spot: tikungan dekat pohon karet tua, dan akar sawit di selatan
jembatan. Tikungan untuk ikan mas dan nila yang suka arus. Akar sawit untuk
gabus yang lagi cari makan di pagi hari.”
“Tapi itu spot yang biasa dipakai Pak Jajang, kan?” celetuk
seorang pemuda lain yang baru bergabung, namanya Toha.
“Iya,” Junai mengangguk. “Pak Jajang memang paling paham.
Tapi kanal ini milik bersama. Kita bisa memancing di spot mana pun, asal nggak
mengganggu satu sama lain.”
“Gimana kalau kita mancing bareng hari ini?” Dadang
mengajak semangat. “Sekalian belajar dari Junai dan Pak Jajang. Siapa tahu
dapat ikan besar.”
“Saya ikut!” Asep langsung mengangkat tangan.
“Saya juga!” Toha ikut.
“Saya harus jaga warung dulu, nanti menyusul,” kata Ujang.
“Tapi kalian jangan lupa bawa pulang sampah, ya. Kanal jangan dikotori.”
“Siap, Mang Ujang!” serempak pemuda itu.
Mereka beranjak dari pertigaan. Dadang, Asep, Toha, dan
beberapa pemuda lain berjalan menuju kanal bersama Junai. Pagi itu, bukan hanya
warga tua yang memenuhi tepian kanal, tapi juga anak-anak muda yang mulai
tertarik bukan hanya pada hasil, tapi pada ilmunya.
Sesampainya di tepi kanal, pemandangan yang biasa sudah
terlihat. Di bawah jembatan, seorang lelaki sepuh dengan topi caping anyaman
bambu sudah duduk bersila. Itu Jajang—sesepuh pemancing desa yang dikenal
sangat berpengalaman. Di sampingnya, seorang perempuan berkerudung sedang
merapikan peralatan memancingnya. Itu Rini, satu-satunya pemancing perempuan
yang rutin datang setiap pagi.
“Pagi, Pak Jajang! Pagi, Rini!” sapa Junai.
Jajang menoleh, matanya yang sipit menyipit lebih sempit
karena tersenyum. “Pagi, Junai. Wah, ramai sekali hari ini. Bawa anak-anak muda
semua.”
“Iya, Pak. Mereka mau belajar. Katanya mau cari spot bagus
buat mancing musim timur begini.”
Jajang mengangguk bangga. “Bagus. Kanal ini harus terus dijaga
ilmunya. Jangan sampai hanya orang tua yang tahu. Anak muda juga harus paham.”
Rini yang sedang memasang umpan cacing di kailnya ikut
menyapa. “Hai, Dadang, Asep, Toha. Kalian serius mau mancing? Atau cuma
ikut-ikutan?”
“Serius, Rin!” Dadang menunjukkan joran bambunya yang sudah
dimodifikasi dengan rol bekas. “Kami mau buktikan kalau anak muda juga bisa
dapat ikan besar.”
“Bukan besar kecilnya, Dadang,” Junai mengingatkan. “Yang
penting caranya benar. Ikan kecil kalau belum layak konsumsi, dilepas. Itu
aturan pertama.”
“Iya, iya,” Dadang mengangguk.
Mereka mulai menyebar di tepi kanal. Dadang memilih spot di
bawah jembatan—spot yang biasa dipakai Jajang. Asep dan Toha memilih spot di
tikungan. Junai sendiri duduk di spot yang tidak jauh dari akar sawit—tempat
favoritnya.
“Junai, kamu pakai umpan apa?” tanya Rini dari kejauhan.
“Cacing dan anak kodok,” jawab Junai sambil mengeluarkan
toples kecil berisi tanah basah dan beberapa ekor anak kodok yang masih
kecil—seukuran ruas jari, berwarna kecoklatan, gesit melompat-lompat.
“Anak kodok?” Asep menoleh. “Itu buat ikan apa?”
“Gabus,” Junai menjelaskan sambil memasang satu ekor anak
kodok di kailnya, memastikan kail tidak melukai terlalu dalam agar umpan tetap
hidup dan bergerak. “Gabus suka mangsa yang bergerak. Anak kodok berenang di
permukaan, gerakannya bikin gabus kalap. Coba lihat nanti.”
Ia melempar umpan ke dekat akar sawit yang menjuntai ke
air. Anak kodok itu mulai berenang kecil, sesekali menyelam sebentar lalu
muncul lagi. Pelampung kecil dari gabus bekas sandal jepit mengapung tenang.
Tidak sampai sepuluh menit, tiba-tiba ada letupan air di
permukaan. Sebuah benturan keras, lalu pelampung Junai langsung tenggelam
dengan tarikan yang kuat.
“Wah! Ada yang nyambar!” teriak Asep dari kejauhan.
Junai tidak terburu-buru. Ia membiarkan senar tegang,
memberi sedikit kendor, lalu menarik perlahan. Ikan di ujung kail melawan
keras, berputar-putar, mencoba melepaskan diri. Tapi Junai sabar. Ia mengulur,
mengencangkan, mengulur lagi—menguras energi ikan.
Beberapa menit kemudian, seekor ikan gabus besar—panjangnya
hampir setengah meter, tubuhnya loreng hitam kehijauan—muncul ke permukaan.
Junai mengangkatnya ke tepi dengan hati-hati.
Semua pemuda itu berkerumun.
“Gila! Sebesar itu!” Dadang terpana.
“Pakai anak kodok, cuma sepuluh menit!” Asep takjub.
Pak Jajang yang dari tadi memperhatikan, tersenyum puas.
“Itulah yang saya bilang. Memancing itu bukan soal joran mahal atau umpan
pabrikan. Tapi soal memahami ikan. Junai tahu, di musim timur begini, gabus
lagi aktif mencari makan di pagi hari. Dan mereka suka mangsa hidup yang
bergerak di permukaan. Anak kodok adalah pilihan yang tepat.”
Junai menimbang ikan gabus di tangannya. Ikan itu masih
segar, menggelepar kuat. “Ini ukuran bagus, layak bawa pulang. Tapi kalau dapat
yang lebih kecil, harus dilepas.”
“Junai, ajarin aku cara pasang anak kodok yang bener,”
pinta Asep.
“Nanti dulu. Sekarang kalian coba dulu dengan umpan
masing-masing. Nanti sore kita kumpul di warung Ujang, saya kasih tahu
trik-triknya.”
Mereka kembali ke spot masing-masing. Pagi itu, suasana di
tepi kanal hidup oleh semangat baru. Anak-anak muda yang dulu hanya asal lempar
joran, kini mulai serius belajar. Mereka bertanya pada Junai, pada Rini, pada
Pak Jajang. Mereka belajar membaca arus, membaca kedalaman, memilih umpan yang
tepat.
Dan di tengah keramaian itu, Darto datang. Badannya tambun,
kepala plontos, dengan tas ransel besar di punggung. Ia duduk di spot yang
biasa ia klaim sebagai “miliknya”—tepat di bawah jembatan, di samping Pak
Jajang. Wajahnya cemberut melihat banyak pemuda baru.
“Pagi, Darto,” sapa Junai ramah.
Darto hanya mendengus. “Ramai sekali. Jadi susah cari
spot.”
“Kanal ini milik bersama, Darto. Kita bisa berbagi.”
“Halah.” Darto mengeluarkan joran modernnya, memasang umpan
pabrikan mahal, dan melempar dengan gerakan yang sedikit berlebihan—seperti
ingin menunjukkan keahliannya.
Junai tidak ambil pusing. Ia kembali fokus pada jorannya.
Di kejauhan, di ujung selatan kanal, dua orang yang bukan
warga desa mulai terlihat. Mereka memakai sepatu lapangan, topi pet, dan
membawa peralatan modern. Salah satu dari mereka, yang berkumis tebal, membawa
kotak kayu kecil yang diletakkan di sampingnya.
Pak Jajang menyipitkan mata. “Itu orang-orang dari kota.
Mereka sering datang setiap bulan. Biasanya nyewa kolam pemancingan, tapi
akhir-akhir ini mulai main ke kanal bebas. Kata orang, mereka pakai... umpan
kimia.”
Junai memandang ke arah selatan. Ada firasat tidak enak di
dadanya. Tapi untuk sekarang, ia memilih fokus pada apa yang ada di hadapannya—mengajarkan
anak-anak muda desa tentang kanal, tentang ikan, tentang kesabaran.
Kanal itu tenang di pagi hari. Tapi Junai tahu, ketenangan
itu tidak akan bertahan lama.
Pukul empat sore, rumah Junai menjadi tempat berkumpul
dadakan. Pak Jajang datang membawa nampan berisi teh pahit dan singkong rebus.
Rini menyusul dengan buku catatan kecil berisi gambar-gambar ikan dan catatan
tentang jenis umpan. Ujang datang membawa gorengan, sedangkan Dadang, Asep, dan
Toha datang dengan semangat yang masih tersisa dari pagi tadi.
“Junai, ajarin kami bikin umpan,” pinta Asep begitu duduk.
“Iya, Jun. Saya tadi pakai pelet biasa, zonk. Dapat cuma
dua ekor kecil,” keluh Dadang.
Junai tersenyum. Ia mengambil baskom besar, lalu mengeluarkan
bahan-bahan dari dapur kecilnya: dedak halus, ampas kelapa, terasi yang sudah
disangrai, dan toples plastik berisi cairan kecoklatan yang baunya menusuk.
“Ini umpan fermentasi,” kata Junai sambil menuangkan dedak
ke baskom. “Bahan dasarnya sederhana: dedak, ampas kelapa, sedikit terasi, dan
air rendaman nasi basi. Didiamkan tiga hari dalam toples tertutup. Bau?
Menyengat. Tapi ikan mas dan nila di kanal kita suka.”
“Wanginya... khas,” kata Toha sambil sedikit meringis.
“Memang. Tapi jangan salah, ini lebih ampuh daripada pelet
pabrikan yang dijual di kota. Kenapa? Karena ikan di kanal kita sudah terbiasa
dengan bau-bau alami dari fermentasi buah sawit yang jatuh ke air. Umpan ini
mirip dengan makanan alami mereka.”
Pak Jajang yang duduk di kursi bambu sambil mengunyah
singkong, ikut menimpali, “Junai ini murid terbaik saya. Dulu saya ajarin
racikan umpan fermentasi, sekarang dia sudah lebih jago dari saya.”
“Ah, Pak Jajang melebih-lebihkan,” Junai tersenyum malu.
“Bukan melebih-lebihkan. Memang. Tapi ingat, Jun, umpan
fermentasi itu bagus untuk titik-titik tertentu. Di tikungan yang arusnya
deras, umpan ini cepat hanyut. Lebih cocok pakai umpan yang berat, seperti
pelet yang direndam atau cacing tanah yang digumpalkan.”
“Iya, Pak. Saya tahu. Makanya tadi pagi saya pakai anak
kodok di dekat akar sawit.”
“Nah, itu tepat,” Pak Jajang mengangguk. “Setiap umpan
punya fungsi masing-masing. Cacing tanah cocok untuk ikan yang makan di dasar,
seperti lele dan gabus. Anak kodok cocok untuk gabus yang suka mangsa bergerak
di permukaan. Jangkrik cocok untuk ikan nila yang suka serangga jatuh. Dan
umpan fermentasi cocok untuk ikan mas yang doyan bau-bauan.”
Rini yang dari tadi mencatat, mengangkat pena. “Pak Jajang,
bagaimana dengan umpan kimia yang dipakai orang kota itu?”
Suasana berubah. Pak Jajang menghela napas. “Umpan kimia...
itu racikannya pakai perasa buatan—vanili, durian, bahkan ada yang pakai bahan
perangsang. Ikan jadi kalap, makan apa saja. Tapi kalau terlalu banyak, air
bisa tercemar. Ikan yang kenyang umpan kimia kalau dimakan manusia juga bisa
berbahaya.”
“Tapi katanya ampuh,” celetuk Dadang.
“Ampuh untuk sesaat,” potong Junai tegas. “Tapi lihat
jangka panjangnya. Air jadi keruh, ikan jadi mati, kanal jadi rusak. Apa
gunanya dapat banyak ikan hari ini kalau besok tidak ada lagi ikan sama
sekali?”
Dadang terdiam. Asep menggaruk kepalanya.
Ujang yang dari tadi asyik menggoreng pisang di dapur kecil
Junai, ikut bersuara, “Dengar kata-kata Junai dan Pak Jajang, Nak. Mereka sudah
puluhan tahun memancing di kanal ini. Mereka tahu mana yang baik dan mana yang
merusak.”
“Tapi Mang Ujang, Darto katanya pakai umpan kimia juga?”
tanya Toha pelan.
Semua terdiam. Pak Jajang meneguk tehnya perlahan.
“Darto... anak itu ambisius. Ia selalu ingin menang, ingin paling banyak. Tapi
ambisi yang tidak terkendali bisa merusak.”
“Kita nggak usah bicara soal Darto dulu,” Junai mencairkan
suasana. “Sekarang, siapa yang mau belajar meracik umpan fermentasi?”
Semua pemuda itu mengacungkan tangan. Junai mulai mengajarkan
dengan sabar. Ia menunjukkan perbandingan dedak dan ampas kelapa, cara
mencampur terasi, dan cara fermentasi yang benar.
“Ingat, kunci umpan ini adalah kesabaran. Tiga hari
fermentasi, jangan dibuka-buka. Nanti baunya akan semakin kuat. Kalau sudah
jadi, simpan di tempat sejuk.”
“Tiga hari? Lama amat,” keluh Asep.
“Memancing itu mengajarkan kesabaran, Asep. Dari racik
umpan saja kita sudah dilatih sabar. Kalau tidak sabar, ya beli pelet instan di
warung. Tapi hasilnya ya standar.”
Mereka tertawa. Pak Jajang ikut tersenyum.
“Nanti malam, kita coba mancing malam,” ajak Junai
tiba-tiba. “Ikan gabus aktif di malam hari. Kita pakai anak kodok. Siapa yang
mau ikut?”
“Saya!” seru Dadang, Asep, dan Toha serempak.
“Saya juga ikut,” kata Rini. “Tapi saya pakai cacing saja.
Saya ingin coba spot dekat pintu air.”
“Bagus. Nanti kita kumpul di sini jam tujuh.”
Pak Jajang berdiri, membetulkan capingnya. “Saya tidak ikut
malam-malam. Badan sudah tua. Tapi kalian hati-hati. Jangan ke tempat yang
terlalu dalam. Dan ingat, bawa senter.”
“Iya, Pak.”
Namun, rencana mancing malam itu tidak jadi dilaksanakan.
Sebab, ketika Junai dan rombongan tiba di tepi kanal, mereka menemukan sesuatu
yang mengerikan.
Air kanal yang biasanya hitam legam tapi bening, kini
tampak keruh kehijauan. Di permukaan, terdapat lapisan tipis seperti minyak
yang memantulkan cahaya senter dengan warna-warni pelangi palsu. Bau tanah dan
dedaunan berganti dengan bau anyir seperti bahan kimia.
“Apa ini?” Dadang mencelupkan tangannya, lalu menggosokkan
ke telapak. “Airnya licin. Kayak ada sabun.”
“Ini bukan sabun,” kata Junai dengan suara dingin. Ia
berlutut di tepi kanal, mencium airnya, lalu memicingkan mata. “Ini sisa umpan
kimia. Atau lebih parah lagi... racun.”
Rini mengambil sampel air dengan botol plastik kosong yang
selalu ia bawa. “Saya akan cek besok pagi di laboratorium sederhana. Tapi dari
baunya, ini bukan hanya perasa ikan. Ada kandungan deterjen dan mungkin...
amonia.”
“Siapa yang berani?” Toha mengepalkan tangan.
Pak Jajang yang ikut serta meski sudah sepuh, tiba-tiba
muncul dari balik semak. Matanya menyipit tajam ke arah selatan. “Dua orang
kota itu. Saya lihat mereka tadi sore masih di ujung kanal. Mereka membawa
botol-botol plastik.”
“Kita lapor polisi!” usul Asep.
“Tidak akan guna,” potong Dadang sinis. “Mereka orang kota.
Mungkin punya kenalan di perkebunan atau di kantor desa.”
Junai berdiri. Ia memandang kanal yang kini tercemar, lalu
ke arah rumah Darto yang tidak jauh dari situ. “Sebelum kita menuduh orang
kota, kita harus tahu dulu apakah ada orang desa kita yang terlibat.”
Mereka saling pandang. Nama Darto melintas di benak semua
orang.
“Saya lihat Darto tadi siang ke arah selatan,” kata Rini
pelan. “Saya kira dia mau memancing. Tapi dia tidak membawa joran. Hanya ransel
besar.”
“Kita cari tahu dulu. Jangan menuduh tanpa bukti,” kata
Junai.
Mereka pulang dengan perasaan berat. Kanal yang menjadi
kebanggaan desa, kini tercemar. Ikan-ikan yang susah payah mereka jaga, mungkin
mati atau pergi.
Tiga hari berlalu. Kanal belum pulih. Airnya masih keruh,
ikan-ikan masih sulit ditemukan. Warga mulai resah. Darto yang biasanya paling
vokal, kini menjadi pendiam. Ia tetap datang memancing setiap pagi, tapi
jorannya hanya tertancap tanpa banyak gerakan.
Junai memperhatikan dari kejauhan. Ia sudah mencoba tiga
titik berbeda dalam tiga hari: di bawah jembatan, di tikungan dekat pohon
karet, dan di muara kecil tempat air sawit mengalir. Hasilnya nihil. Belum ada
satu ikan pun yang menggigit.
“Hari ini saya coba di titik kosong,” kata Junai pada Pak
Jajang.
“Titik kosong? Di dekat pintu air yang dangkal? Tidak ada
ikan di sana, Jun. Sudah saya buktikan puluhan kali.”
“Saya tahu. Tapi kadang, setelah terjadi pencemaran,
ikan-ikan akan mencari tempat yang paling aman. Bukan yang paling dalam atau
paling banyak makanan, tapi yang paling tenang. Titik kosong itu dangkal,
arusnya lambat, dan ada banyak eceng gondok. Mungkin mereka bersembunyi di
sana.”
Pak Jajang mengernyit, tapi tidak melarang. “Baik. Saya
ikut. Saya penasaran.”
Mereka berdua pindah ke titik kosong—lokasi yang biasanya
dihindari semua pemancing. Letaknya sekitar seratus meter di selatan jembatan,
di mana kanal melebar dan dangkal. Eceng gondok tumbuh subur, menutupi hampir
separuh permukaan air. Di bawahnya, air tampak lebih jernih dibandingkan titik
lainnya.
Junai melempar umpannya—anak kodok—persis di celah antara
eceng gondok, di mana ada rongga air yang terbuka. Pelampungnya mengapung
tenang. Pak Jajang melempar agak ke kanan, lebih dekat ke akar sawit yang
menjuntai, dengan umpan cacing.
Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit.
Tiba-tiba, pelampung Junai bergerak—bukan tarikan kuat,
tapi goyangan kecil naik-turun.
“Ada yang menggigit,” bisik Junai.
Ia membiarkan beberapa detik, memberi kesempatan ikan
memakan umpannya dengan nyaman. Lalu dengan gerakan perlahan, ia menarik senar.
Ada perlawanan kecil, tapi tidak terlalu kuat.
Yang muncul di ujung kail adalah seekor ikan gabus kecil,
seukuran telapak tangan. Junai melepas kail dengan hati-hati, memandang ikan
itu sebentar, lalu melepaskannya kembali ke air.
“Kenapa dilepas?” tanya Pak Jajang.
“Masih kecil. Biar besar dulu.”
Pak Jajang tersenyum. “Itulah bedanya kau dengan pemancing
lain. Bukan hanya soal mendapat, tapi soal menjaga.”
Tidak lama kemudian, Pak Jajang mendapat ikan mas berukuran
sedang. Ia memasukkannya ke ember, karena untuk konsumsi keluarga. Junai
mendapat dua ekor gabus kecil lagi dan melepas semuanya.
Kabar bahwa Junai mendapat ikan di titik kosong menyebar
cepat. Darto yang mendengar langsung pindah ke sana, tapi ia melempar umpannya
di tengah-tengah eceng gondok yang paling rapat.
“Kau jangan di sana, Darto,” tegur Junai. “Di tengah eceng
gondok, kailmu akan tersangkut. Lempar di celah-celahnya, di mana ada rongga.”
“Ah, kau sok tahu,” sahut Darto ketus.
Tak lama kemudian, kail Darto tersangkut di akar eceng
gondok. Ia menarik keras, tapi senarnya malah putus. Dengan wajah merah padam,
ia membentak, “Sialan! Ini senar mahal! Baru saja saya beli!”
Rini yang ikut memancing di dekat situ tertawa kecil.
“Sudah dibilang jangan di tengah.”
“Kau diam!” bentak Darto.
Pak Jajang yang mendengar itu langsung menegur, “Darto,
jangan kasar. Rini hanya mengingatkan. Ini kanal milik bersama, bukan arena adu
ego.”
Darto mendengus, duduk kembali dengan tangan melipat.
Ujang yang baru datang membawa gorengan mencoba mencairkan
suasana. “Mari, mari. Saya bawa pisang goreng dan ubi rebus. Makan dulu. Ikan
juga butuh waktu untuk lapar.”
Mereka makan bersama di tikar plastik. Ujang bercerita
tentang masa lalu kanal, ketika airnya masih jernih dan ikannya sangat banyak.
“Dulu, sekitar dua puluh tahun lalu, kanal ini adalah surga
memancing. Ikan gabus bisa sebesar paha orang dewasa. Ikan mas merah
berenang-renang di permukaan, seperti tidak takut pada manusia. Kami anak-anak
dulu sering berenang di sini, airnya segar, tidak seperti sekarang.”
“Apa yang membuat berubah?” tanya Rini.
“Perkebunan sawit mulai menggunakan pupuk kimia dan
pestisida dalam jumlah besar. Air hujan mengalirkan sisa-sisa itu ke kanal.
Lama-lama, air berubah. Ikan mulai berkurang. Belum lagi ulah pemancing yang
pakai racun atau setrum.”
Darto yang mendengar kata “setrum” tiba-tiba menegang. Ia
memandang ke arah lain.
Junai menangkap itu. “Darto, kau pernah lihat orang pakai
setrum di kanal ini?”
“Saya... tidak pernah,” jawab Darto cepat.
“Kau yakin? Karena kalau ada yang pakai setrum, itu ilegal.
Ikan mati semua, bahkan yang kecil-kecil.”
“Saya bilang tidak pernah!” Darto berdiri, membawa jorannya
pindah ke lokasi lain.
Rini menatap Junai dengan makna. “Darto menyembunyikan
sesuatu.”
“Biarkan dulu,” kata Junai. “Sekarang fokus kita pada
kanal. Kita harus mencari cara agar ikan bisa kembali. Kalau kita saling
curiga, tidak ada yang selesai.”
Hari kelima setelah pencemaran adalah hari terburuk. Tidak
ada satu pun pemancing yang mendapatkan ikan. Bahkan Junai yang biasanya sabar
dan selalu menemukan cara, pulang dengan ember kosong.
Suasana di tepi kanal pagi itu memanas. Frustasi yang tertahan
selama berhari-hari meledak.
“Ini semua karena ulah pemancing yang tidak bertanggung
jawab!” teriak Dadang, matanya merah. “Saya sudah tiga hari tidak dapat ikan.
Padahal saya punya adik yang sakit, butuh ikan untuk makan.”
“Jangan menyalahkan orang begitu saja,” sahut Darto sinis.
“Kanal ini sudah rusak sejak lama karena pupuk kimia dari perkebunan. Kita yang
memancing hanya korban.”
“Korban? Kau sendiri yang kemarin beli umpan kimia dari
orang kota!” Asep ikut angkat suara.
Darto berdiri. “Apa katamu? Umpan kimia? Saya beli pelet
biasa. Itu legal!”
“Legal? Pelet yang dicampur perasa sintetis itu tetap
berbahaya, Darto!” Rini maju selangkah. “Saya lihat sampel air di lab
sederhana. Ada kandungan fosfat dan nitrogen yang sangat tinggi. Itu memicu ledakan
alga, menurunkan oksigen, dan ikan mati perlahan.”
“Jadi saya yang salah? Saya cuma satu orang!” Darto membela
diri.
“Kau bukan satu-satunya,” kata Pak Jajang dingin. “Tapi kau
adalah salah satu yang ikut memperparah. Dan saya tahu, kau juga mengambil
sesuatu dari dua orang kota itu di hulu kanal beberapa hari lalu.”
Wajah Darto memucat. “Bapak... bagaimana bisa...”
“Saya sudah tua, Darto. Tapi mata saya masih tajam. Saya
lihat kau pergi ke hulu, saya lihat kau menerima sesuatu dari mereka. Saya
tidak tahu itu apa, tapi saya yakin itu bukan sesuatu yang baik.”
Semua mata tertuju pada Darto. Ia terdiam. Tangannya gemas
memegang joran.
Junai berdiri di tengah, mencoba menenangkan. “Sudah, tidak
perlu saling menyalahkan. Yang penting sekarang adalah bagaimana memperbaiki
kanal. Marah-marah tidak akan membuat ikan kembali.”
“Kau selalu begitu, Junai! Sok bijak! Sok tenang!” Darto
tiba-tiba meledak. “Kau pikir dengan kesabaranmu yang sok suci itu kanal akan
pulih? Tidak! Kita harus melakukan sesuatu yang nyata!”
“Maksudmu?” tanya Junai tenang.
Darto membuka ranselnya. Ia mengeluarkan sebuah botol
plastik berisi cairan biru pekat. “Ini. Ini yang mereka berikan. Ini... ini
adalah perangsang ikan. Bukan racun. Ini membuat ikan menjadi lapar dan aktif.
Dalam satu jam, kita bisa dapat puluhan ikan.”
Semua terkejut.
“Kau gila, Darto!” teriak Ujang. “Itu sama saja dengan
meracuni!”
“Bukan racun! Ini bahan alami! Kata mereka dari ekstrak
rumput laut dan fermentasi ikan!”
“Itu tetap ilegal!” Rini merebut botol itu dari tangan
Darto. “Lihat kemasannya, tidak ada label, tidak ada izin. Ini bahan kimia
sembarangan. Bisa berbahaya untuk yang memakan ikannya.”
Darto mencoba mengambil kembali, tapi Rini menyimpan botol
itu di dalam tasnya.
“Kembalikan!” bentak Darto.
“Tidak!” Rini mundur. “Kita akan laporkan ini ke pihak
berwenang.”
“Laporan? Siapa yang akan peduli? Perkebunan saja tidak
peduli dengan kanal ini, masa iya polisi akan peduli dengan pemancing kecil
seperti kita?”
Pak Jajang melangkah maju. “Darto, dengarkan saya. Saya
tahu kau orang baik. Kau hanya terlalu ambisius. Tapi ambisi yang salah bisa
menghancurkan kita semua. Kanal ini adalah rumah kita. Ikan-ikan di sini adalah
saudara kita. Jangan rusak demi keuntungan sesaat.”
Darto menunduk. Dadanya naik turun. Untuk pertama kalinya,
ia tampak kalah.
“Saya... saya hanya ingin diakui,” katanya lirih. “Setiap
kali memancing, saya selalu kalah dari Junai. Padahal saya sudah beli peralatan
mahal, umpan impor, apa saja. Tapi tetap saja... ikannya lebih suka pada Junai.
Saya cemburu.”
Junai mendekat. “Darto, memancing bukan tentang siapa yang
paling banyak. Ini tentang siapa yang paling memahami. Aku tidak lebih baik
darimu. Aku hanya lebih sabar. Dan kesabaran itu aku belajar dari kanal. Bukan
dari umpan atau peralatan mahal.”
Darto mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. “Junai...
maafkan saya.”
“Tidak perlu minta maaf. Yang perlu kita lakukan sekarang
adalah memperbaiki kanal.”
Hari itu, mereka pulang dengan ember kosong. Tapi hati
mereka tidak kosong. Ada tekad baru yang mulai terbentuk.
Malam harinya, hujan deras mengguyur Desa Awan Biru. Bukan
hujan biasa—angin kencang, petir menyambar-nyambar, dan air mengalir deras dari
perkebunan ke kanal.
Junai duduk di beranda rumahnya, memandang air yang jatuh
dari langit seperti tirai raksasa. Ia tidak khawatir. Hujan adalah berkah bagi
kanal. Air baru akan mengencerkan polusi, membawa oksigen, dan merangsang ikan
untuk aktif.
Pagi harinya, kanal berubah total. Air naik hampir setengah
meter. Arus deras mengalir dari hulu ke hilir, membawa daun-daun kering dan
buah sawit yang jatuh. Warna air yang kemarin keruh kini menjadi kecoklatan
alami—tanda bahwa sedimentasi mulai terangkat.
“Hari ini kita panen!” seru Ujang bersemangat saat tiba di
tepi kanal.
Benar saja. Ikan-ikan yang selama beberapa hari
menyembunyikan diri, kini keluar mencari makan. Mereka terbawa arus atau justru
melawan arus, mencari tempat-tempat dengan makanan terbanyak.
Junai memilih titik di tikungan kanal, di mana arus sedikit
melambat dan banyak dedaunan yang terperangkap. Ia melempar umpan fermentasinya
tepat di pusaran air.
Dalam waktu lima menit, pelampungnya tenggelam dengan
tarikan kuat. Junai menarik dengan sabar, membiarkan ikan berenang dulu sampai
energinya terkuras, lalu perlahan menggulung senar.
Ikan mas besar berwarna kemerahan muncul di permukaan.
Beratnya sekitar dua kilogram. Junai memasukkannya ke ember dengan hati-hati.
“Junai dapat ikan mas besar!” teriak Dadang dari kejauhan.
Rini mendapat ikan nila tiga ekor. Pak Jajang mendapat ikan
gabus yang cukup besar. Ujang juga mendapat beberapa ikan. Suasana riuh.
Tapi Darto—yang sejak kemarin terlihat murung—belum
mendapat satu pun. Ia duduk di tempatnya, mengganti umpan berulang kali, tapi
pelampungnya tak bergerak.
“Darto, kemari! Di sini banyak ikan!” ajak Ujang.
Darto tidak bergerak. Ia terus memandang air yang deras
dengan ekspresi frustasi.
Junai menghampirinya. “Kau pakai umpan apa?”
“Umpan biasa. Pelet yang biasa saya pakai.”
“Coba pakai umpan anak kodok. Di air deras seperti ini,
ikan gabus suka mangsa yang bergerak. Anak kodok berenang-berenang, memancing
perhatian mereka.”
“Saya tidak punya anak kodok.”
Junai mengambil toples kecil berisi anak kodok dari
kantongnya. “Ambil. Saya punya lebih.”
Darto menerima dengan ragu. Ia mengganti umpan dengan anak
kodok, lalu melempar ke area yang sedikit lebih dalam—dekat akar sawit yang
menjuntai.
Tidak sampai lima menit, pelampungnya bergerak keras. Darto
menarik dengan gerakan kasar—terlalu cepat. Ikan itu melompat, berhasil
melepaskan diri, dan jatuh kembali ke air.
“Sial!” Darto membentak.
“Tenang,” kata Junai. “Kalau kau menarik terlalu cepat,
kail bisa lepas. Biarkan dia berenang dulu. Beri sedikit kendor, lalu tarik
perlahan.”
Darto menghela napas. Ia mengumpankan anak kodok lagi,
melempar ke tempat yang sama.
Kali ini, ia lebih sabar. Pelampung bergerak, ia biarkan
beberapa detik, lalu dengan gerakan perlahan ia menarik. Ikan itu melawan, tapi
Darto tidak terburu-buru. Ia membiarkan senar tegang, kadang mengendur sedikit,
lalu menarik lagi.
Setelah beberapa menit, seekor ikan gabus besar—hampir satu
setengah kilo, tubuhnya loreng hitam—muncul ke permukaan. Darto membawanya ke
tepi dengan hati-hati, tangannya gemetar karena campuran gugup dan bahagia.
“Saya dapat!” teriak Darto. “Saya dapat ikan besar!”
Semua bertepuk tangan. Bahkan Pak Jajang yang biasanya
dingin ikut tersenyum.
“Bagus, Darto. Itu namanya memancing dengan kesabaran,”
puji Pak Jajang.
Namun, senyum Darto perlahan memudar. Ia memandang ikan di
embernya, lalu ke arah Junai.
“Junai... sebenarnya kemarin saya tidak hanya mengambil
botol dari mereka,” katanya pelan. “Saya juga... membeli setrum ikan. Mereka
menjualnya murah. Saya ingin menggunakannya hari ini, karena saya putus asa.”
Semua terdiam.
“Tapi setelah hujan ini... setelah melihat kalian semua
mendapatkan ikan dengan cara yang jujur... Saya tidak jadi menggunakannya.”
Darto membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah alat kecil mirip stun gun yang
dimodifikasi. “Ini. Saya serahkan pada kalian.”
Pak Jajang mengambil alat itu, memandangnya dengan mata
tajam. “Kau selamat, Darto. Kau selamat dari kesalahan besar. Kalau kau
menggunakan ini, ikan-ikan kecil akan mati, telur-telur ikan akan hancur, dan
kanal ini akan mati bertahun-tahun.”
“Saya malu,” kata Darto.
“Tidak perlu malu. Yang penting kau sadar sebelum
terlambat,” ujar Junai.
Hari itu, mereka pulang dengan ember penuh ikan. Tapi yang
lebih berharga dari ikan adalah kepercayaan yang mulai pulih, dan kesadaran
yang tumbuh di hati Darto.
Kanal tak lagi sunyi keesokan harinya. Bukan karena ramai
pemancing, tapi karena ramai suara perdebatan. Warga desa yang mendengar kabar
tentang setrum ikan dan umpan kimia berdatangan ke tepi kanal. Ada yang marah,
ada yang kecewa, ada juga yang membela Darto karena merasa ia sudah menyerahkan
diri.
“Dia harus dihukum!” teriak seorang warga bernama Karto,
petani sawit yang rumahnya paling dekat dengan kanal. “Anak saya sering
memancing di sini. Kalau ada setrum, bisa setrum orang juga!”
“Dia tidak jadi menggunakannya,” bela Ujang.
“Tapi dia punya niat! Itu sudah cukup sebagai bukti!” sahut
warga lain.
Darto berdiri di tengah, wajahnya pucat. Ia tidak menyangka
reaksi akan sebesar ini. Junai berdiri di sampingnya, siap menjadi penengah.
“Warga sekalian,” kata Junai dengan suara lantang namun
tenang. “Saya mengerti kemarahan Bapak-Ibu. Saya juga marah. Tapi mari kita
selesaikan dengan kepala dingin.”
“Jangan sok jadi hakim, Junai!” potong Karto. “Kau bukan
kepala desa, bukan polisi. Kau hanya pemancing biasa.”
“Benar, saya hanya pemancing biasa. Tapi saya tinggal di
sini, dan saya juga ingin kanal ini aman. Darto salah, tapi ia menyerahkan
alatnya sendiri. Itu artinya ia sadar.”
“Sadar tidak menghapus kesalahan!” teriak warga lain.
Pak Jajang yang dari tadi diam, akhirnya berdiri. Dengan
suara parau namun berwibawa, ia berkata, “Dulu, ketika saya masih muda, ada
juga pemancing yang menggunakan bom ikan. Ikan meledak, hancur, dan kanal mati
selama tiga tahun. Kami menangkap pemancing itu, menghajarnya sampai babak
belur. Hasilnya? Dia lari dari desa, kanal tetap mati. Tidak ada yang menang.”
Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu warga.
“Setelah itu, kami belajar. Hukuman fisik tidak
menyelesaikan masalah. Yang kami lakukan adalah mengajak dia membersihkan
kanal, menanam bibit ikan, dan menjaga bersama. Sekarang, setelah tiga puluh
tahun, kanal ini masih hidup. Masih memberi ikan untuk kita.”
Suasana mulai tenang.
“Darto sudah sadar. Ia tidak jadi menggunakan setrum. Itu
lebih baik daripada kita menghukumnya dan ia malah dendam. Mari kita jadikan
ini pelajaran untuk kita semua.”
Rini ikut angkat bicara. “Saya setuju dengan Pak Jajang.
Hukuman bukan solusi. Tapi kita juga tidak bisa membiarkan begitu saja. Saya
mengusulkan, Darto harus ikut serta dalam kerja bakti membersihkan kanal, dan
juga membantu sosialisasi tentang bahaya setrum dan umpan kimia kepada warga
lainnya.”
“Saya setuju,” kata Junai.
Darto mengangguk. “Saya... saya setuju. Saya akan lakukan
apa saja untuk memperbaiki kesalahan saya.”
Karto masih belum puas, tapi setelah melihat banyak warga
mulai melunak, ia hanya mendengus dan pergi.
Konflik di tepi air itu mereda. Namun, bekasnya masih
terasa. Darto yang biasanya percaya diri, kini tampak lebih pendiam. Ia pulang
lebih awal, membawa rasa bersalah yang masih mengganjal.
Junai menepuk pundaknya. “Kau sudah melakukan hal yang
benar, Darto. Jangan biarkan kesalahan masa lalu menghantui. Lihat ke depan.”
“Apakah mereka akan memaafkanku?”
“Waktu yang akan menjawab. Yang penting, kau sudah
berubah.”
Dua minggu berlalu. Kanal yang dulu ramai di pagi hari,
kini sepi. Bukan karena warga marah atau takut, tapi karena ikan benar-benar
sulit didapat. Setelah insiden pencemaran dan hampir terjadinya penggunaan
setrum, populasi ikan menurun drastis.
Junai masih datang setiap pagi. Ia duduk sendirian di
tempat biasanya, joran tertancap, ember kosong di sampingnya. Pak Jajang kadang
datang, tapi hanya sebentar, karena kondisi kesehatannya mulai menurun. Rini
masih rajin, tapi ia lebih banyak membawa buku catatan daripada joran.
“Saya sedang mendata populasi ikan yang tersisa,” kata Rini
suatu pagi. “Hasilnya mengecewakan. Dari sepuluh titik yang saya amati, hanya
dua titik yang masih ada tanda-tanda ikan. Itu pun jenis ikan kecil seperti
wader dan sepat.”
“Apakah kanal ini akan mati?” tanya Junai.
Rini menghela napas. “Jika tidak ada tindakan, mungkin iya.
Sumber pencemaran dari perkebunan masih terus mengalir. Pestisida dan pupuk
kimia masuk ke kanal setiap kali hujan. Belum lagi sampah plastik dari warga
yang masih buang ke sini.”
“Kita harus melakukan sesuatu.”
“Aku sudah bicara dengan Pak RT dan perwakilan perkebunan.
Mereka berjanji akan mengurangi penggunaan pestisida di dekat kanal, tapi janji
itu belum ada tindakan nyata.”
Pak Jajang yang datang dengan napas tersengal-sengal
menimpali, “Kita tidak bisa hanya mengandalkan mereka. Kita harus memulai dari
diri sendiri.”
“Apa maksud Bapak?” tanya Rini.
“Kita bersihkan kanal. Dari hulu ke hilir. Ajak semua
warga. Kalau perlu, kita buat jadwal rutin. Kita juga bisa menanam bibit ikan.
Dulu, sebelum ada perkebunan besar, warga desa selalu menjaga kanal. Sekarang,
kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.”
Junai mengangguk. “Saya setuju. Tapi bagaimana caranya
mengajak warga yang sudah kehilangan harapan?”
“Kita mulai dari yang kecil,” kata Rini. “Tunjukkan bahwa
kanal ini masih bisa pulih. Ajak tokoh masyarakat, pengajian ibu-ibu, anak-anak
muda. Buat kegiatan yang menarik, seperti lomba bersih-bersih, atau edukasi
tentang ikan.”
Mereka bertiga mulai merencanakan. Hari-hari berikutnya,
mereka mendatangi rumah-rumah warga satu per satu. Ada yang menyambut antusias,
ada yang acuh, ada juga yang sinis.
“Buang-buang waktu,” kata Karto ketika Junai mengajaknya.
“Kanal sudah rusak. Lebih baik kita cari ikan di sungai lain.”
“Kanal ini milik kita, Pak Karto. Kalau kita tidak menjaga,
siapa lagi?”
Karto hanya menggeleng.
Tapi tidak semua seperti Karto. Ujang setuju langsung,
bahkan bersedia menyediakan makanan untuk kerja bakti. Dadang, Asep, Toha, dan
pemuda lainnya ikut membawa peralatan. Beberapa ibu-ibu dari pengajian juga
bersedia ikut membersihkan sampah di tepi kanal.
Darto menjadi yang paling bersemangat. Mungkin karena rasa
bersalahnya, ia datang paling pagi saat kerja bakti pertama, membawa cangkul,
sabit, dan karung plastik.
“Saya siap membersihkan semak belukar di pinggir kanal,”
katanya pada Junai.
“Bagus. Tapi ingat, jangan sampai merusak akar sawit yang
menjuntai. Itu tempat tinggal ikan.”
“Saya tahu. Saya sudah belajar.”
Kerja bakti pertama dihadiri sekitar dua puluh warga.
Mereka membersihkan sampah plastik, botol bekas, dan ranting-ranting yang
menyumbat aliran air. Rini memimpin edukasi singkat tentang ekosistem kanal,
menunjukkan jenis-jenis ikan yang pernah ada dan cara melestarikannya.
“Kanal yang sehat adalah kanal yang memiliki aliran air
lancar, tidak tercemar, dan memiliki tempat berlindung bagi ikan. Akar sawit,
batu-batu, dan tumbuhan air adalah rumah bagi mereka. Jangan kita rusak.”
Anak-anak kecil ikut membantu memungut sampah dengan
semangat. Mereka bahkan membuat lomba siapa yang paling banyak mengumpulkan
botol plastik.
Matahari terik membakar kulit, tapi tak seorang pun
mengeluh. Ada harapan yang mulai tumbuh.
Kerja bakti rutin diadakan setiap hari Minggu. Pekan
pertama, mereka membersihkan sampah. Pekan kedua, mereka menebang eceng gondok
yang berlebihan. Pekan ketiga, mereka membuat lubang biopori di tepi kanal
untuk menyaring air sebelum masuk ke aliran utama.
Rini juga menginisiasi penanaman bibit ikan. Ia menghubungi
dinas perikanan setempat, yang ternyata bersedia memberikan bantuan bibit ikan
nila dan mas secara gratis.
“Tapi ada syaratnya,” kata petugas dinas perikanan, Pak
Budi. “Warga harus berkomitmen menjaga kanal. Tidak boleh ada lagi pencemaran,
tidak boleh ada penangkapan dengan cara ilegal. Dan harus ada kawasan
konservasi—area di mana ikan tidak boleh ditangkap, agar bisa berkembang biak.”
“Kami setuju,” kata Junai mewakili warga.
Kawasan konservasi ditentukan di hulu kanal, sekitar dua
ratus meter dari titik awal. Di sana, tidak boleh ada aktivitas memancing
selama enam bulan. Ikan-ikan yang ditebar akan dibiarkan berkembang biak secara
alami.
Darto menjadi penjaga kawasan konservasi secara sukarela.
Ia datang setiap pagi dan sore, memastikan tidak ada yang memancing atau
membuang sampah di area tersebut.
“Saya merasa ini penebusan dosa saya,” katanya pada Junai
suatu sore.
“Bukan penebusan dosa, Darto. Ini pengabdian. Kau melakukan
ini karena kau peduli, bukan karena kau merasa bersalah.”
Darto tersenyum. “Kau selalu punya cara untuk membuat
segalanya terasa lebih ringan, Jun.”
Ujang, yang warungnya menjadi tempat berkumpul warga, mulai
memasang poster-poster tentang menjaga lingkungan. Ia juga menyediakan tempat
sampah daur ulang di depan warungnya.
Pak Jajang, meski fisiknya mulai lemah, tetap ikut dalam
setiap diskusi. Ia menjadi penasihat spiritual, mengingatkan warga bahwa
menjaga kanal adalah menjaga kehidupan.
“Kanal ini seperti pembuluh darah desa. Kalau kotor,
seluruh tubuh desa akan sakit. Kalau bersih, desa akan sehat.”
Anak-anak muda yang awalnya hanya ikut-ikutan, kini mulai
antusias. Mereka membuat grup WhatsApp untuk memantau kondisi kanal, saling
melaporkan jika ada yang membuang sampah atau mencuri ikan.
Perlahan, perubahan mulai terlihat. Air kanal yang dulu
keruh mulai jernih. Eceng gondok yang dulu menutupi permukaan berkurang. Dan
yang paling membahagiakan—ikan-ikan kecil mulai terlihat lagi.
“Lihat! Ada anak ikan!” teriak seorang bocah saat mereka
sedang kerja bakti minggu keempat.
Semua berkerumun. Di tepi kanal yang dangkal, puluhan anak
ikan nila berenang dalam kelompok kecil. Mereka mungkin hasil dari ikan-ikan
yang selamat dari pencemaran, atau mungkin dari bibit yang ditebar dua minggu
lalu.
“Mereka berkembang biak!” kata Rini dengan mata berbinar.
Junai berlutut di tepi kanal, memasukkan tangannya ke air.
Ia merasakan air yang lebih dingin, lebih bersih. Ia memejamkan mata sejenak,
mengucap syukur dalam hati.
“Kanal ini masih mau memberi kesempatan,” katanya lirih.
Pak Jajang yang berdiri di sampingnya menepuk pundak Junai.
“Bukan kanal yang memberi kesempatan, Jun. Kita yang memberinya kesempatan. Dan
ia membalasnya.”
Tiga bulan setelah kerja bakti pertama, kanal Desa Awan
Biru berubah total. Airnya jernih kehijauan, alirannya lancar, dan di beberapa
titik, terlihat ikan-ikan berenang dengan bebas. Rumput-rumput air tumbuh di
tepi, menjadi tempat berlindung bagi benih-benih ikan.
Pagi itu, suasana di tepi kanal ramai seperti dulu, tapi
berbeda. Tidak ada lagi persaingan sengit, tidak ada lagi umpan kimia atau
setrum. Yang ada adalah senyuman, canda tawa, dan sesekali teriak kegirangan
saat ada yang dapat ikan besar.
Junai duduk di tempat lamanya—di papan kayu lapuk yang
disangga batang pinang. Joran bambunya tertancap, senar menjuntai ke air yang
kini jernih. Ember di sampingnya sudah berisi tiga ekor nila ukuran sedang.
“Junai! Lihat ini!” teriak Darto dari kejauhan.
Darto mengangkat jorannya, dengan seekor ikan gabus
besar—mungkin sekitar dua kilogram, tubuhnya loreng hitam—tergantung di ujung
kail. Wajahnya berseri-seri, seperti anak kecil yang baru pertama kali mendapat
mainan.
“Bagus, Darto! Pakai umpan apa?” tanya Junai.
“Anak kodok! Seperti yang kau ajarin! Lepas atau bawa
pulang?”
“Terserah. Tapi kalau bawa pulang, ingat, ikan yang lebih
kecil harus dilepas.”
“Iya, saya tahu!”
Rini mendapat ikan nila tiga ekor. Ia memotretnya dulu
untuk dokumentasi, lalu memasukkannya ke ember dengan hati-hati.
Pak Jajang tidak memancing hari itu. Ia duduk di kursi
lipat yang dibawa Ujang, hanya mengamati. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia
menghela napas panjang.
“Kanal ini seperti melihat anak yang tumbuh dewasa,”
katanya pada Junai yang duduk di sampingnya. “Dulu saya lihat ia masih kecil,
jernih, penuh kehidupan. Lalu ia remaja, kotor, rusak, penuh masalah.
Sekarang... ia dewasa. Bijak. Seimbang.”
Junai tersenyum. “Kanal ini mengajarkan kita banyak hal,
Pak. Bukan hanya tentang memancing.”
“Apa yang paling kau pelajari, Jun?”
Junai memandang kanal yang beriak lembut. “Bahwa kehidupan
ini seperti air. Kalau kita biarkan mengalir alami, ia akan jernih. Tapi kalau
kita terus mengaduk-aduk dengan ambisi, keserakahan, dan tipu daya, ia akan
keruh. Dan ketika keruh, kita tidak bisa melihat apa pun—termasuk diri kita
sendiri.”
Pak Jajang mengangguk pelan. “Kau sudah menjadi guru, Jun.
Tanpa pernah merasa menjadi guru.”
Ujang datang membawa nampan berisi kopi dan pisang goreng.
“Mari, mari. Kita rayakan kanal yang sudah sehat. Hari ini saya traktir!”
Mereka duduk melingkar di tikar plastik. Darto, Rini,
Dadang, Asep, Toha, Pak Jajang, Junai, dan beberapa warga lainnya. Mereka
tertawa, bercerita, dan sesekali melirik ke arah kanal yang kini hidup kembali.
Di kejauhan, di bawah jembatan, dua orang kota yang dulu
pernah mencemari kanal datang lagi. Tapi kali ini mereka tidak membawa botol
kimia atau setrum. Mereka membawa joran sederhana, dan meminta izin pada Darto
untuk memancing.
“Kami minta maaf atas kejadian dulu,” kata kumis tebal
dengan wajah sedikit malu. “Kami belajar dari kesalahan. Kami ingin memancing
dengan cara yang benar.”
Darto menatap mereka sebentar, lalu tersenyum. “Silakan.
Tapi ingat, di kanal ini kami punya aturan: tidak ada umpan kimia, tidak ada
setrum, dan ikan kecil harus dilepas.”
“Kami paham. Terima kasih.”
Darto menghampiri Junai dan berbisik, “Dua orang itu minta
izin memancing. Saya beri izin.”
“Bagus. Itu namanya memberi kesempatan kedua.”
Darto tersenyum lebar. “Saya belajar itu darimu, Jun.”
EPILOG
Senja kembali turun di atas kanal yang kini tak lagi sunyi.
Langit jingga bercampur ungu, memantul di permukaan air
yang beriak lembut. Riak air kecil terlihat di mana-mana, tanda kehidupan telah
kembali. Tawa warga pun kembali terdengar, menyatu dengan suara alam—gemericik
air, desiran daun sawit, dan suara burung yang pulang ke sarang.
Junai duduk di tempat yang sama seperti dulu. Jorannya
diam, tertancap di tanah tepi kanal. Embernya sudah berisi empat ekor
ikan—ukuran sedang, cukup untuk makan malam bersama ibunya. Tapi hatinya tidak
sedang memikirkan ikan.
Ia memandang ke arah barat, di mana matahari perlahan
tenggelam. Pak Jajang sudah pulang lebih awal, karena badannya mulai lelah.
Rini masih asyik mencatat di buku kecilnya. Darto sedang mengajari anak-anak
desa cara meracik umpan dari dedak dan ampas kelapa, serta cara memasang anak
kodok yang benar.
Ujang membawa gorengan dan teh hangat, berkeliling
membagikan pada semua orang.
“Jun, ini untukmu,” kata Ujang sambil memberikan segelas
teh manis hangat.
“Terima kasih, Mang.”
“Kau tidak sedih? Hari ini dapat empat ekor. Lumayan
banyak.”
Junai tersenyum. “Bukan banyak sedikitnya, Mang. Yang
penting, kanal ini masih hidup. Dan kita masih bisa duduk di sini,
bersama-sama.”
Ujang mengangguk. “Kau benar. Dulu sempat saya pikir kanal
ini akan mati. Tapi kalian—kau, Rini, Pak Jajang—tidak menyerah.”
“Kita semua, Mang. Termasuk kamu. Termasuk Darto. Termasuk
anak-anak yang ikut bersih-bersih. Semua punya peran.”
Di kejauhan, Darto tertawa keras karena seorang bocah
berhasil mendapatkan ikan pertama kalinya dalam hidup—seekor gabus kecil yang
menyambar anak kodok. Bocah itu berlari ke arah ibunya, menunjukkan ikan yang
masih menggelepar.
“Bu! Bu! Lihat! Saya dapat ikan pakai anak kodok!”
Ibunya tersenyum, mengelus kepala bocah itu. “Pintar. Tapi
ingat, kalau masih kecil dilepas ya.”
“Iya, Bu!”
Bocah itu berlari kembali ke tepi kanal, melepaskan ikan
kecilnya dengan hati-hati. Ia tersenyum puas, lalu bergabung dengan
teman-temannya yang sedang belajar memancing dari Darto.
Junai menyesap tehnya. Hangat. Pahit manis. Seperti
kehidupan.
Ia memandang kanal sekali lagi. Airnya beriak kecil,
membentuk pola-pola yang tak pernah sama. Di setiap riak itu, ia melihat
wajah-wajah: Pak Jajang yang bijak, Rini yang teliti, Ujang yang ramah, Darto
yang berubah, dan semua warga yang perlahan sadar.
Ia tahu, memancing bukan soal siapa yang paling banyak
mendapat ikan.
Melainkan siapa yang paling mampu memahami waktu, alam, dan
dirinya sendiri.
Dan kanal itu… akan selalu menjadi guru yang tak pernah
berbicara, namun selalu memberi makna.
Senja berganti malam. Lampu-lampu mulai menyala di
rumah-rumah warga. Suara kanal tetap sama—tenang, dalam, mengalir.
Junai melipat jorannya, membawa ember kecil, dan berjalan
pulang. Langkahnya pelan, tidak tergesa. Di belakangnya, kanal terus
mengalir—membawa cerita hari ini, dan menyimpan cerita untuk esok.
Riak di permukaan air itu... riak kehidupan yang baru.
TAMAT







0 komentar:
Posting Komentar