Sebagai Sarana Ruang Baca Bagi Masyarakat Desa Sriwidadi Dalam Rangka Pengenalan Dan Pelestarian Cerita Dan Legenda Rakyat Yang Masih Hidup Sampai Saat Ini

Minggu, 29 Maret 2026

ANITA KADER PEMBANGUNAN MANUSIA DESA AWAN BIRU

  


ANITA KADER PEMBANGUNAN MANUSIA DESA AWAN BIRU

Sebuah novel tentang perjuangan Anita, Kader Pembangunan Manusia Desa Awan Biru, dalam menyalakan harapan dan menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.

 

Oleh: Slamet Riyadi

Prolog: Desa di Balik Kabut

Desa Awan Biru menyandang nama yang indah, seindah letaknya yang tersembunyi di lereng perbukitan kapur di selatan kabupaten Merah Jingga. Namanya diambil dari fenomena alam setiap pagi, ketika kabut tipis berwarna kebiruan menyelimuti lembah, membuat desa ini tampak seperti lukisan kuas yang samar-samar basah. Udara dingin menusuk pori-pori, bercampur dengan wangi kopi robusta yang ditanam turun-temurun di kebun-kebun miring milik warga. Di kejauhan, suara gemericik sungai kecil mengalir di antara celah-celah batu, seolah menjadi denyut nadi kehidupan yang lambat dan tak tergesa.

Namun, di balik keindahan kartu pos itu, tersimpan potret klasik desa tertinggal yang tak pernah usai diceritakan. Jalan setapak berbatu yang licin saat hujan masih menjadi penghubung antar dusun. Penerangan jalan minim, hanya ada lima tiang lampu PJU yang setengahnya mati sejak tiga tahun lalu, menjadikan malam begitu pekat dan penuh bahaya. Dan yang paling memprihatinkan, sebuah luka lama yang tak kunjung sembuh, adalah kesadaran warganya yang rendah terhadap kesehatan. Bagi warga Awan Biru, sakit adalah takdir, bukan sesuatu yang bisa diobati. Mereka lebih percaya pada paraji, dukun beranak dan jamu rebutan dari daun-daunan yang tumbuh di belakang rumah, ketimbang membaca buku KIA atau mendatangi tenaga medis.

Puskesmas terdekat berada di ibu kota kecamatan Kabut Merah, berjarak satu jam perjalanan menggunakan motor melewati jalanan bergelombang yang sisi kirinya jurang curam tanpa pembatas. Di musim hujan, jalan itu kerap tertutup longsor susulan, memutus akses desa dari dunia luar selama berhari-hari. Akibatnya, banyak warga lebih memilih pengobatan tradisional atau membiarkan penyakitnya hingga parah, sampai akhirnya mereka baru digotong dengan tandu darurat ke puskesmas, seringkali sudah dalam kondisi kritis. Angka stunting di desa ini termasuk tiga tertinggi di kabupaten Merah Jingga, dengan hampir satu dari tiga balita mengalami gangguan pertumbuhan kronis. Cakupan imunisasi anak seringkali tidak mencapai target. Para ibu takut membawa anaknya ke posyandu karena harus melewati jalur berbatu sambil menggendong bayi; mereka menganggap imunisasi hanya “bikin panas” atau sekadar “suntikan dari pemerintah yang tidak jelas manfaatnya.” Ibu hamil banyak yang enggan memeriksakan kehamilannya ke bidan desa yang bertugas di rumah dinas yang jauh di ujung desa, karena faktor biaya transportasi ojek, jarak tempuh, dan kebiasaan turun-temurun yang menganggap periksa hamil adalah hal “mewah dan tidak perlu.”

Di sinilah peran Kader Pembangunan Manusia (KPM) menjadi ujung tombak harapan. Program unggulan dari pemerintah kabupaten Merah Jingga yang diluncurkan dengan pita kuning dan janji manis di atas podium, berusaha menggerakkan pembangunan dari tingkat akar rumput. KPM bukan sekadar kader posyandu biasa. Mereka adalah agen perubahan yang dilatih khusus untuk mengintervensi percepatan penurunan stunting, meningkatkan literasi kesehatan, serta menjadi jembatan antara birokrasi yang kaku dengan kebutuhan masyarakat yang kompleks. Sayangnya, di lapangan, mereka sering kali berhadapan dengan realitas yang jauh dari buku panduan: anggaran yang telat cair, data warga yang tidak akurat, serta resistensi budaya yang keras.

Salah satu kadernya adalah Anita. Seorang perempuan muda berusia 24 tahun, dengan rambut sebahu yang selalu diikat rapi, kulit sawo matang karena sering berkeliling kampung di bawah terik matahari, dan tatapan mata teduh namun tegas yang membuat anak-anak takut sekaligus segan. Ia adalah anak tunggal dari Si Amat, sang admin desa yang sedang giat-giatnya mendigitalisasi administrasi pemerintahan desa di balik satu-satunya komputer pentium di Kantor desa. Berbeda dengan pemuda desa lain yang berbondong-bondong merantau ke pabrik-pabrik di kota atau menjadi buruh migran, Anita adalah lulusan keperawatan dari akademi kesehatan di ibu kota Provinsi. Ia memilih pulang kampung, menolak tawaran bekerja di rumah sakit kota dengan gaji tiga kali lipat UMK. Banyak tetangga menyebutnya “ndeso” atau “kuli anggaran,” karena menjadi kader hanya diberi insentif seadanya, tidak sebanding dengan ijazah yang digantungnya. Namun bagi Anita, Desa Awan Biru adalah rumah yang perlu dibangun. Ia percaya bahwa pembangunan sejati dimulai dari rahim ibu dan tumbuh kembang anak-anak di kampung halamannya.

Hidup Anita bukan tanpa beban. Ia sering begadang membuat laporan bulanan posyandu dengan tulisan tangan yang rapi, karena desa belum memiliki jaringan internet stabil untuk menginput data secara daring. Ia harus menghadapi ibu-ibu yang keras kepala, yang lebih percaya pada mitos daripada anjuran medis. Belum lagi tekanan dari kepala desa, seorang pensiunan PNS yang nyaman dengan status quo, yang menganggap program KPM hanya “proyek uji coba yang merepotkan.” Namun, Anita tetap bertahan. Baginya, setiap senyum balita yang naik berat badannya, setiap ibu hamil yang akhirnya mau memeriksakan kandungannya, adalah kemenangan kecil yang tak ternilai.

Suatu pagi, di tengah kesibukannya menyusun jadwal posyandu di beranda rumahnya sambil ditemani secangkir kopi tubruk, kabar menggembirakan sekaligus menghebohkan datang. Sebuah mobil pick-up dinas berwarna hijau tua memasuki desa dengan membawa spanduk biru yang berkibar-kibar. Sekelompok mahasiswa Universitas Sejahtera, universitas negeri bergengsi di ibu kota provinsi, akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik di desa mereka selama dua bulan. Spanduk itu terpampang di pintu gerbang desa dengan huruf tebal: "KKN Tematik Universitas Sejahtera: Membangun Desa, Mewujudkan Indonesia Sehat."

Satu nama yang paling menyita perhatian warga, terutama para gadis remaja dan ibu-ibu pengurus PKK: Erlangga. Mahasiswa kedokteran semester akhir, tampan dengan postur tinggi, kulit bersih khas anak kota, serta senyum yang ramah namun penuh percaya diri. Ia adalah putra seorang dokter spesialis penyakit dalam terkenal di ibu kota provinsi, yang sering muncul di acara-acara kesehatan televisi lokal. Erlangga datang bukan hanya sebagai mahasiswa biasa; ia membawa reputasi keluarga, proyek-proyek ambisius, dan mimpi besar untuk “menyentuh langsung masyarakat marginal” sebagai bagian dari skripsi dan pengabdiannya.

Kehadiran rombongan KKN itu disambut dengan setengah hati oleh Anita. Ia berdiri di beranda rumahnya, menyilangkan tangan, menyaksikan keramaian dari kejauhan. Matanya menyipit saat melihat para mahasiswa yang tampak canggung menapaki jalan berbatu dengan sepatu kanvas putih mereka yang mulai kotor terkena lumpur. Ia adalah tipe yang skeptis terhadap mahasiswa KKN. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya mengajarkannya bahwa mereka hanya datang sebentar, membuat program seremonial, seperti penyuluhan di balai desa dengan bahasa ilmiah yang tidak dipahami warga, membuat posyandu dadakan, berfoto dengan latar belakang sawah, lalu pergi dengan membawa lembaran laporan yang nantinya hanya menjadi koleksi arsip berdebu di perpustakaan kampus. Anita menyebut mereka “turis pembangunan.” Datang dengan kamera mahal dan teori-teori canggih, namun tidak pernah benar-benar merasakan dinginnya air sungai saat menyeberang untuk memeriksa kehamilan ibu-ibu di dusun terpencil.

Hari pertama perkenalan di balai desa berlangsung canggung. Kepala desa menyambut dengan sambutan basah yang berkepanjangan. Para mahasiswa duduk di kursi plastik, terlihat gamang. Erlangga duduk di barisan depan, sesekali mencatat sesuatu di buku catatan kulitnya yang eksklusif. Saat sesi tanya jawab, Anita yang duduk di pojok ruangan dengan balutan jaket lusuh, akhirnya mengangkat suara.

“Programnya bagus,” kata Anita datar, suaranya menggema di ruangan yang tiba-tiba hening. “Tapi maaf, apakah teman-teman sudah punya data riil berapa banyak ibu hamil di desa ini yang mengalami kekurangan energi kronis? Berapa banyak balita yang tidak pernah diimunisasi sama sekali? Karena kalau mau bikin program, kami butuh itu. Bukan sekadar penyuluhan umum atau bakti sosial donor darah yang pesertanya hanya perangkat desa.”

Seketika suasana berubah. Ketua kelompok KKN, seorang mahasiswa sosiologi yang cerewet, tergagap. Beberapa mahasiswa saling pandang, tidak siap dengan intervensi sedini itu. Namun Erlangga tidak bergeming. Ia menatap Anita dengan tatapan yang baru pertama kali, tatapan seorang calon dokter yang melihat seseorang yang serius dengan medan perang kesehatan. Ia tersenyum kecil, lalu membuka suara dengan nada tenang namun penasaran.

“Kami memang belum punya data itu, Mbak. Tapi kami ingin bekerja sama untuk mendapatkannya. Kami tidak datang untuk menggurui. Kami datang untuk belajar. Mungkin, Mbak bisa menjadi jembatan bagi kami untuk memahami desa ini.”

Anita hanya mendengus pelan. “Jembatan itu butuh pondasi kuat, Mas. Bukan sekadar foto-foto di atasnya.”

Sore itu, saat para mahasiswa kembali ke posko KKN yang menempati bekas SD negeri yang sudah digabung, Erlangga tidak bisa melupakan pertemuan singkat itu. Ada sesuatu yang mengganggunya: seorang kader desa yang usianya tak beda jauh dengannya, tetapi memiliki otoritas dan kedalaman pengalaman yang membuatnya merasa kecil. Ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin perempuan seusianya rela tinggal di desa terpencil ini, jauh dari gemerlap dan kemudahan kota? Sementara Anita, sepulang dari balai desa, menuliskan di buku hariannya: “Mahasiswa baru datang. Tampangnya idealis. Semoga bukan tipe yang hanya ingin menyelesaikan jam terbang KKN. Kita lihat saja. Awan Biru bukan taman bermain.”

Prolog ini menandai awal dari babak baru bagi Desa Awan Biru. Pertemuan antara kader desa yang idealis namun lelah dengan sistem, dengan calon dokter penuh ambisi yang harus membuktikan bahwa idealismenya tidak sekadar slogan. Di tengah keterbatasan jalan berbatu, budaya yang resisten, dan ancaman stunting yang mengintai setiap hari, mereka harus menjawab pertanyaan besar: mampukah sebuah desa di balik kabut dibangun bukan oleh proyek besar dari atas, tetapi oleh kolaborasi sederhana yang lahir dari ketulusan? Dan mungkinkah di antara puing-puing keterbatasan itu, tumbuh sesuatu yang lebih dari sekadar pembangunan, mungkin sebuah pengertian, atau bahkan cinta?


BAB 1: Dua Utusan di Persimpangan Jalan

Pagi itu, Desa Awan Biru masih diselimuti kabut tipis yang enggan beranjak. Udara dingin menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat setiap embusan napas berubah menjadi gumpalan uap putih yang menghilang secepat kemunculannya. Di kejauhan, kokok ayam jantan bersahut-sahutan, seolah mengingatkan bahwa hari baru telah dimulai, bahkan ketika matahari masih malu-malu menyembunyikan wajahnya di balik bukit.

Kantor desa yang terletak persis di pusat desa mulai menunjukkan aktivitasnya. Bangunan semi-permanen berwarna hijau pudar itu berdiri kokoh meskipun catnya sudah mengelupas di sana-sini, meninggalkan bercak-bercak seperti peta yang menceritakan usianya yang tak lagi muda. Di serambi depan, beberapa kursi plastik disusun rapi, meskipun beberapa di antaranya sudah retak dan hanya bisa ditempati oleh mereka yang tidak terlalu berisiko jatuh. Bendera merah putih di halaman berkibar pelan ditiup angin pagi, sedikit lusuh di ujungnya karena sudah terlalu lama tidak diganti.

Di dalam ruang utama Kantor desa, suasana berbeda. Meja panjang kayu jati yang sudah berusia puluhan tahun itu dikelilingi oleh kursi-kursi kayu yang bunyinya kretek-kretek setiap kali ada yang bergerak. Dindingnya dihiasi foto-foto para mantan kepala desa dengan gaya formal yang kaku, poster-poster program pembangunan yang mulai pudar, dan papan pengumuman yang penuh dengan selebaran yang sudah menguning karena usia. Satu-satunya benda modern di ruangan itu adalah laptop tua milik Si Amat yang diletakkan di meja pojok, dengan kabel colokan yang harus disambung ke stabilizer karena listrik desa yang sering naik turun.

Pak Iwan, kepala desa yang sudah menjabat dua periode, duduk di ujung meja dengan postur tegapnya. Pria berusia 58 tahun itu memiliki tubuh yang masih kekar meskipun rambutnya mulai memutih di pelipis. Kumis tebalnya yang khas, yang selalu membuat anak-anak desa agak takut saat diajak bicara, tampak lebih rapi dari biasanya. Hari ini ia mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna cokelat keemasan, celana bahan hitam, dan sandal kulit yang sudah mulai retak-retak di bagian jahitannya. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebatang rokok kretek yang belum dinyalakan, hanya diputar-putar di antara jari-jarinya yang kekar dan penuh kapalan.

Di sekeliling meja, perangkat desa sudah mulai berdatangan satu per satu. Pak Eko, Kaur Perencanaan yang bertubuh tambun dan selalu membawa kipas lipat ke mana-mana, duduk di kursi paling dekat dengan pintu karena ia paling cepat kepanasan meskipun suhu di dalam ruangan sedang dingin-dinginnya. Bu Lulu, Kaur Keuangan dengan rambut pendek klimis dan kacamata minus tebal yang membuat matanya tampak membesar, sedang sibuk membolak-balik buku catatan keuangannya, meskipun tidak ada yang memintanya. Bu Yuni, sekretaris desa yang energik dengan suara lantang khasnya, duduk di samping Pak Iwan sambil sesekali menyeka meja dengan kain lap meskipun meja itu sudah bersih. Dan di sudut ruangan, berdiri Si Amat, admin desa sekaligus ayah dari Anita, yang tengah asyik dengan laptop tuanya, jari-jari tengahnya mengetik dengan gerakan yang tidak terlalu cepat karena kebiasaan.

Namun, satu sosok di ruangan itu yang paling mencuri perhatian adalah Anita. Perempuan muda berusia 24 tahun itu berdiri di pojok ruangan, dekat jendela yang sedikit terbuka. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dengan tangan bersilang di depan dada. Jaket lusuh berwarna abu-abu tua yang selalu ia kenakan saat bepergian pagi hari masih melekat di tubuhnya, meskipun di dalam ruangan ia sudah membukanya dan menggantungkannya di sandaran kursi kosong di dekatnya. Rambut sebahu yang biasanya diikat rapi, hari ini dibiarkan tergerai sedikit, sesekali tertiup angin yang masuk lewat celah jendela.

Wajah Anita pagi itu tidak bisa dibilang ceria. Matanya yang teduh namun tegas itu tampak sedikit sayu, bukan karena kurang tidur, tetapi karena pikirannya sedang jauh. Sejak tadi malam, ia tidak bisa lepas dari bayangan tentang kedatangan mahasiswa KKN. Bukan karena ia tidak suka kedatangan mereka, tetapi karena ia sudah terlalu sering melihat pola yang sama: mahasiswa datang dengan semangat membara, membuat janji-janji manis tentang perubahan, lalu pergi begitu program usai, meninggalkan desa dengan laporan yang tebal namun tidak pernah benar-benar menyentuh akar masalah.

Mereka hanya ingin tuntas KKN, pikir Anita. Poin untuk kelulusan, foto untuk portofolio, lalu balik ke kota dengan perasaan sudah berbuat sesuatu.

Tapi ada yang berbeda pagi ini. Ada desas-desus yang beredar di antara perangkat desa sejak kemarin malam. Salah satu mahasiswa yang akan datang adalah Erlangga, putra seorang dokter spesialis terkenal di ibu kota provinsi. Dan kabar itu membuat Anita semakin skeptis.

Anak orang kaya, anak dokter pula. Pasti datang dengan gaya, dengan kamera mahal, dengan teori-teori dari buku teks yang tidak pernah ia terapkan sendiri di lapangan.

Pak Iwan akhirnya memecah keheningan. Ia menepuk meja tiga kali, bukan keras, hanya cukup untuk menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu. Matanya menatap satu per satu perangkat desa yang hadir, seolah memastikan bahwa semua orang siap mendengarkan.

Pak Iwan: (mengusap kumis tebalnya dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, suaranya lantang memenuhi ruangan yang tidak terlalu besar itu) Baik-baik. Kita mulai rapat kecil ini. Saya tidak akan memakan waktu lama karena saya tahu Bapak-Ibu semua punya kerjaan masing-masing. Tapi saya ingin kita semua fokus. Hari ini, kita kedatangan tamu istimewa.

Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.

Pak Iwan: Seperti yang sudah saya sampaikan kemarin, kita akan kedatangan mahasiswa KKN dari Universitas Sejahtera. Bukan KKN biasa, ini adalah KKN tematik dengan fokus pada kesehatan masyarakat. Mereka akan ditempatkan di sini selama tiga bulan penuh. Tiga bulan! Bukan dua bulan seperti biasanya. Dan saya sudah berjanji kepada rektorat, kita akan memberikan pendampingan terbaik. Ini juga kesempatan bagi desa kita untuk menunjukkan bahwa Awan Biru bukan sekadar desa tertinggal yang hanya bisa menerima bantuan. Kita juga bisa menjadi mitra yang baik.

Pak Iwan menghela napas, lalu matanya beralih ke Bu Endang, Kepala Seksi Pelayanan yang duduk di kursi paling ujung dengan ekspresi agak gelisah. Sejak tadi Bu Endang tidak banyak bicara, sesuatu yang tidak biasa karena biasanya ia adalah salah satu yang paling vokal dalam setiap rapat.

Pak Iwan: Dan untuk itu, saya tunjuk Bu Endang sebagai koordinator pendampingan dari pihak desa. Bu Endang, saya yakin Ibu punya pengalaman. Dulu Ibu juga pernah menjadi pendamping KKN, kan?

Bu Endang tersenyum tipis, senyum yang lebih merupakan bentuk kesopanan daripada ekspresi kegembiraan. Jari-jarinya yang ramping menggenggam erat buku catatan kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia adalah perempuan berusia 45 tahun yang selalu tampil rapi dengan kebaya sederhana dan rambut yang disanggul rapi. Namun pagi itu, ada kerutan di dahinya yang tidak biasa.

Bu Endang: (nada suaranya ragu, seperti orang yang sedang memilih kata-kata dengan hati-hati) Pak Kades, saya sih siap. Tentu saya akan bantu semampu saya. Tapi...

Ia berhenti, matanya melirik ke arah Anita yang masih berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersilang. Bu Endang menarik napas pendek, seolah mengumpulkan keberanian.

Bu Endang: Tapi urusan teknis lapangan, Pak... terutama yang berkaitan dengan kesehatan, apa nggak lebih pas kalau Anita saja yang mendampingi? Dia kan KPM. Dia setiap hari turun ke lapangan, tahu persis kondisi warga, punya hubungan baik dengan para ibu-ibu dan kader posyandu. Lagipula, mahasiswa yang datang ini kan fokusnya kesehatan. Jadi kalau saya yang mendampingi, saya khawatir kurang nyambung.

Ruangan menjadi sunyi. Semua mata tertuju pada Anita. Pak Eko menghentikan gerakan kipasnya sejenak. Bu Lulu mengangkat kepalanya dari buku catatan. Bahkan Si Amat yang sedari tadi asyik mengetik, kini berhenti dan menoleh ke arah putrinya dengan ekspresi yang sulit diartikan, setengah khawatir, setengah berharap.

Pak Iwan mengernyit. Ia menoleh ke arah Anita, matanya menyipit seperti sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik raut wajah datar perempuan muda itu. Sebagai kepala desa yang sudah puluhan tahun memimpin, Pak Iwan cukup pintar membaca orang. Dan pagi ini, ia bisa melihat dengan jelas bahwa Anita sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk menerima tugas tambahan.

Pak Iwan: (suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya, seperti orang yang berusaha membujuk) Anita, bagaimana? Apakah kamu bersedia mendampingi mereka?

Keheningan menggantung di udara selama beberapa detik. Angin pagi masuk melalui jendela, membawa aroma tanah basah dan kopi yang sedang diseduh di dapur balai desa. Anita tidak bergerak dari posisinya. Matanya menatap Pak Iwan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, bukan menantang, bukan pula takut. Ia hanya berdiri diam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar menerima atau menolak tugas.

Akhirnya, Anita membuka suara. Suaranya datar, tanpa banyak ekspresi, tetapi ada nada tajam yang menyelinap di sela-sela kata-katanya.

Anita: (menjawab singkat, dengan sedikit nada sinis yang membuat beberapa perangkat desa saling berpandangan) Saya akan dampingi, Pak. Tugas saya memang sebagai kader, jadi tidak ada alasan untuk menolak.

Ia berhenti sejenak, matanya beralih ke jendela, melihat kabut yang mulai mencair di kejauhan.

Anita: Tapi jangan harap mereka bisa ikut turun ke posyandu kalau cuma mau foto-foto. Saya tidak punya waktu untuk jadi babysitter mahasiswa. Kalau mereka serius, bagus. Kalau cuma mau cari nilai atau cari pengalaman instan, lebih baik mereka tinggal di posko saja dan saya yang akan laporan ke Pak Kades.

Suara Anita tidak tinggi, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa berat, seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan air yang tenang, menimbulkan riak yang meluas ke seluruh ruangan.

Pak Eko yang sedari tadi hanya diam, kini berdeham pelan. Ia menutup kipasnya dan menyelipkannya di saku celana, lalu bersandar di kursi dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia merasa perlu mengatakan sesuatu meskipun tidak yakin harus berkata apa.

Pak Eko: (nada suaranya hati-hati, seperti orang yang berusaha menjadi penengah) Ya... Anita itu memang keras, Pak. Tapi beliau juga yang paling bertanggung jawab. Saya setuju kalau Anita yang dampingi.

Bu Lulu ikut menimpali, suaranya yang melengking khas tiba-tiba memecah ketegangan.

Bu Lulu: Setuju! Yang penting nanti kegiatannya dianggarkan dengan jelas. Saya tidak mau tiba-tiba ada tagihan tak terduga yang masuk ke laporan keuangan desa. Urusan dana pendampingan ini harus jelas, Pak Kades. Jangan sampai desa keluar uang banyak tapi tidak ada pertanggungjawabannya.

Pak Iwan menghela napas, setengah kesal setengah geli mendengar Bu Lulu yang selalu saja membawa-bawa urusan anggaran ke mana-mana. Tapi ia memilih untuk tidak berkomentar dan kembali menatap Anita.

Namun sebelum Pak Iwan sempat merespons, Si Amat tiba-tiba bersuara dari balik laptopnya. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas terdengar di ruangan yang sunyi. Pria berusia 50 tahun itu menoleh ke arah putrinya, kacamata bacanya tergantung di ujung hidung, jari-jarinya berhenti mengetik.

Si Amat: (suaranya lembut tetapi tegas, seperti orang tua yang sudah ribuan kali mengingatkan anaknya) Eh, Anit... jangan begitu. Jangan langsung punya prasangka buruk dulu sebelum kenal. Bisa jadi mereka punya ide-ide baru yang belum pernah kita pikirkan. Kamu itu kadernya, tugasmu adalah kerja sama dengan siapa saja yang punya niat baik membantu desa ini. Kalau kamu sudah tutup pintu dari awal, bagaimana orang mau masuk dan membantu?

Anita menoleh ke arah ayahnya. Untuk sesaat, ekspresi datarnya pecah, ada kilatan sesuatu di matanya, mungkin kekesalan, mungkin juga kesedihan yang tidak ingin ia tunjukkan. Ia menatap Si Amat dengan tatapan yang hanya bisa dipahami oleh ayah-anak yang sudah saling mengenal sejak lahir.

Anita: (suaranya sedikit lebih tajam dari sebelumnya, tetapi masih terkendali) Ayah, saya tidak tutup pintu. Saya hanya bilang, saya tidak mau buang-buang waktu. Kita sudah terlalu sering didatangi orang-orang yang datang dengan janji besar, tapi pergi tanpa meninggalkan perubahan apa pun. Saya lelah, Yah. Saya lelah jadi orang yang harus membersihkan sisa-sisa program yang tidak selesai.

Ruangan kembali hening. Si Amat menatap putrinya beberapa saat, lalu menghela napas panjang. Ia tidak membantah, tidak melanjutkan argumen. Sebagai ayah yang sudah puluhan tahun menjadi admin desa, ia tahu betul apa yang dirasakan putrinya. Ia juga lelah. Lelah melihat program demi program yang datang dan pergi seperti musim, membawa harapan lalu meninggalkan kekecewaan. Tapi sebagai orang yang lebih tua, ia juga tahu bahwa keputusasaan tidak akan membangun desa ini.

Si Amat: (akhirnya berkata dengan suara yang lebih lembut, hampir berbisik) Terserah, Nak. Tapi ingat, jangan biarkan kekecewaanmu membuatmu buta terhadap orang-orang yang benar-benar ingin membantu.

Anita tidak menjawab. Ia hanya membuang napas, napas panjang yang keluar dari hidungnya seperti uap di udara pagi, lalu kembali menyandarkan punggungnya ke dinding. Tangan-tangannya kembali bersilang di depan dada, raut wajahnya kembali menjadi datar seperti semula.

Pak Iwan yang menyaksikan seluruh interaksi itu hanya bisa menggeleng pelan. Ia sudah terlalu lama mengenal Si Amat dan Anita untuk tidak mengerti dinamika di antara mereka. Tanpa banyak komentar, ia mengetuk meja lagi sekali, kali ini lebih keras, menandakan bahwa ia ingin melanjutkan rapat.

Pak Iwan: Baiklah. Sudah diputuskan. Anita yang akan mendampingi kegiatan kesehatan. Bu Endang tetap menjadi koordinator umum untuk urusan administrasi dan koordinasi dengan perangkat desa lainnya. Semua setuju?

Satu per satu perangkat desa mengangguk. Bu Lulu mengangkat ibu jarinya. Pak Eko kembali membuka kipasnya. Bu Yuni tersenyum lega. Hanya Anita yang tidak bereaksi, ia masih berdiri di pojok ruangan dengan tatapan kosong ke arah jendela, seolah pikirannya sudah melayang ke tempat yang jauh.


Pukul sepuluh siang, matahari sudah cukup tinggi meskipun kabut masih bergelayut di puncak-puncak bukit. Desa Awan Biru mulai menunjukkan denyut kehidupannya. Di sepanjang jalan berbatu yang menjadi poros utama desa, beberapa warga mulai beraktivitas. Seorang nenek dengan keranjang di punggungnya berjalan perlahan menuju kebun kopi. Dua orang ibu dengan anak balita di gendongan duduk di beranda rumah sambil mengupas singkong untuk lauk makan siang. Beberapa anak laki-laki berlarian di jalan setapak dengan layang-layang di tangan, meskipun angin pagi belum cukup kencang untuk menerbangkannya.

Di halaman Kantor desa, suasana berbeda. Sejak tadi pagi, beberapa perangkat desa sudah sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan mahasiswa KKN. Tenda kecil berwarna biru dipasang di halaman, meskipun langit pagi itu cerah tanpa tanda-tanda hujan. Kursi-kursi plastik disusun dalam dua baris menghadap ke panggung kecil yang sebenarnya hanyalah papan kayu yang ditinggikan sedikit. Spanduk selamat datang dengan tulisan besar bergambar senyum dan tangan yang berjabat tangan dipasang di pintu gerbang, meskipun salah satu ujungnya sudah mulai terlepas karena angin.

Dan tepat pukul sepuluh, sebuah mobil box terbuka berwarna hijau tua dengan bagian belakang yang sudah dimodifikasi menjadi bak penumpang sederhana, memasuki halaman Kantor desa dengan suara mesin yang tersendat-sendat. Mobil itu sebenarnya adalah kendaraan angkutan umum yang biasa disewa oleh warga desa untuk pergi ke pasar kecamatan Kabut Merah setiap hari Kamis. Tapi hari ini, mobil itu telah disewa khusus oleh panitia KKN untuk mengantar para mahasiswa dari kecamatan Kabut Merah ke desa.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama Kantor desa. Dari balik jendela, Anita yang masih berdiri di dalam ruangan bisa melihat dengan jelas proses turunnya para mahasiswa satu per satu. Tiga orang, dua laki-laki dan satu perempuan. Namun satu sosok langsung menyedot perhatiannya bahkan sebelum orang itu benar-benar turun dari mobil.

Erlangga.

Bahkan dari kejauhan, Anita bisa melihat bahwa mahasiswa yang satu ini berbeda. Posturnya tinggi, mungkin sekitar 180 sentimeter, dengan bahu yang lebar dan tubuh yang tegap. Ia mengenakan jaket almamater Universitas Sejahtera berwarna abu-abu dengan garis-garis merah di bagian lengan. Jaket itu tidak baru, bahkan terlihat sedikit lusuh di bagian siku dan kerahnya, seolah sudah sering dipakai dalam berbagai kondisi. Dan hal itu justru membuat Anita sedikit terkejut.

Bukan tipe yang terlalu peduli dengan penampilan, pikir Anita, meskipun ia segera mengusir pikiran itu. Atau mungkin ini strategi biar terlihat bersahaja.

Erlangga melompat turun dari bak mobil dengan gerakan yang gesit, tidak canggung seperti kebanyakan anak kota yang baru pertama kali menginjakkan kaki di desa. Ia langsung menengok ke kiri dan kanan, matanya menyapu seluruh area Kantor desa dengan cepat, seolah sedang membaca situasi. Ia tidak langsung menuju ke kerumunan perangkat desa yang sudah menunggu di bawah tenda, tetapi sebaliknya, ia berbalik dan membantu rekannya yang perempuan untuk turun. Dengan sigap, ia mengulurkan tangan, menstabilkan tas besar yang dibawa rekannya, lalu tersenyum ketika rekannya itu mengucapkan terima kasih.

Itu... tidak biasa, Anita harus mengakui dalam hati. Kebanyakan mahasiswa KKN yang pernah ia temui akan langsung mencari pejabat desa untuk bersalaman dan memperkenalkan diri, bukan membantu rekannya turun dari mobil.

Erlangga kemudian mengambil sebuah kotak besar berwarna biru dari dalam bak mobil. Kotak itu cukup besar—kira-kira seukuran koper kabin dan terlihat berat dari cara Erlangga mengangkatnya dengan kedua tangan. Ia meletakkannya dengan hati-hati di tanah, lalu mengeluarkan beberapa barang lain: sebuah tas ransel besar yang penuh sesak, sebuah koper kecil berwarna hitam, dan sebuah tas selempang kulit yang sudah agak usang.

Setelah semua barang rekannya sudah diturunkan, barulah Erlangga menoleh ke arah rombongan penyambut. Ia berjalan dengan langkah mantap, tidak terburu-buru, tidak pula terlalu santai. Ada keyakinan dalam setiap langkahnya, tetapi bukan keyakinan yang sombong. Itu adalah keyakinan yang lahir dari kebiasaan berada di situasi baru dan tahu bagaimana cara membawa diri.

Ketika ia mendekati rombongan, Anita yang masih berdiri di dalam ruangan bisa melihat senyum Erlangga dari balik jendela. Senyum yang teduh, itulah satu-satunya kata yang bisa Anita gunakan untuk menggambarkannya. Bukan senyum lebar yang dibuat-buat, bukan pula senyum kecil yang dingin. Senyum yang hangat, yang membuat orang yang melihatnya merasa bahwa ia benar-benar tulus berada di sana.

Erlangga langsung menghampiri Pak Iwan yang berdiri paling depan dengan tangan terbuka. Pak Iwan yang sedari tadi sudah bersiap dengan sambutannya, tampak terkesan dengan ketegapan pemuda ini. Mereka berjabat tangan dengan erat, jabat tangan yang lama, bukan sekadar sapaan singkat.

Erlangga: (suaranya jelas, dengan artikulasi yang baik tetapi tidak kaku, seperti orang yang terbiasa berbicara di depan umum tetapi tidak ingin terdengar menggurui) Selamat pagi, Pak Kepala Desa. Saya Erlangga, dari Fakultas Kedokteran Universitas Sejahtera. Ini teman-teman saya, Dinda dari Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Bagas dari Fakultas Psikologi. Kami mohon izin dan bimbingannya selama KKN di sini. Kami sadar bahwa kami masih banyak belajar, dan kami berharap bisa berkontribusi semaksimal mungkin untuk Desa Awan Biru.

Pak Iwan mengangguk-angguk dengan puas. Ia menggenggam tangan Erlangga beberapa saat lebih lama dari biasanya, seolah ingin merasakan ketulusan pemuda ini melalui jabatan tangan.

Pak Iwan: (suaranya menggelegar seperti biasa, tetapi ada nada kehangatan yang jarang ia tunjukkan pada orang baru) Wah, selamat datang, Mas Erlangga. Selamat datang, Mas Bagas, Mbak Dinda. Saya dengar dari Pak Camat kemarin, Mas Erlangga adalah calon dokter terbaik di angkatannya. Katanya, Ibu Bapak di kampus sangat bangga. Senang sekali kami bisa kedatangan kalian di desa kami yang sederhana ini. Mari, mari masuk ke dalam. Jangan hanya berdiri di sini.

Pak Iwan menepuk punggung Erlangga dengan ramah, lalu mempersilakan mereka masuk ke Kantor desa. Di belakang Pak Iwan, rombongan perangkat desa ikut bergerak. Bu Yuni dengan semangatnya langsung menyapa Dinda dan membantu membawakan tasnya. Pak Eko menyapa Bagas dengan senyum ramah sambil menanyakan asal daerahnya. Bu Lulu, setia dengan karakternya, langsung bertanya pada Erlangga tentang rincian program yang akan mereka lakukan selama tiga bulan, pertanyaan yang membuat Erlangga tersenyum kecil karena ketidaklazimannya.

Namun Anita masih berdiri di tempatnya di dalam ruangan. Ia tidak bergerak menyambut, tidak maju ke depan untuk bersalaman. Ia hanya berdiri di balik jendela, matanya mengikuti gerak-gerik Erlangga yang kini sedang berjalan menuju pintu utama kantor desa. Ada sesuatu yang mengganggunya, bukan sesuatu yang buruk, tetapi sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Erlangga tidak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada kesan sombong, tidak ada gaya anak orang kaya yang membawa barang mahal, tidak ada sikap menggurui yang sering ia lihat dari mahasiswa KKN sebelumnya.

Tapi ini baru hari pertama, Anita mengingatkan dirinya sendiri. Semua orang bisa bersikap baik di hari pertama.

Erlangga melangkah masuk ke dalam kantor desa dengan langkah yang sedikit lebih pelan, matanya menyapu ruangan dengan penuh rasa ingin tahu. Ia melihat meja kayu panjang yang sudah tua, foto-foto mantan kepala desa di dinding, papan pengumuman yang penuh dengan selebaran, dan di pojok ruangan, seorang perempuan muda berdiri dengan tangan bersilang, raut wajahnya datar tetapi matanya tajam.

Mata Erlangga berhenti pada perempuan itu. Ada sesuatu di matanya, bukan ketertarikan romantis, tetapi lebih kepada rasa penasaran yang mendalam. Siapa perempuan ini? Ia tidak seperti perangkat desa lainnya yang tadi menyambut dengan antusias. Ia berdiri sendiri, di pojok, dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Dan di tangannya, Erlangga melihat sebuah map cokelat berisi dokumen-dokumen yang sudah agak lusuh.

Setelah bersalaman dengan beberapa perangkat desa yang ada di dalam ruangan, Erlangga dengan sengaja melangkah mendekati pojok ruangan tempat Anita berdiri. Ia membawa kotak biru yang tadi dibawanya dari mobil, kotak yang sekarang terlihat lebih jelas berisi alat-alat kesehatan sederhana: tensimeter, stetoskop, termometer, dan beberapa perlengkapan medis lainnya. Ia meletakkan kotak itu di meja kecil di dekatnya, lalu menatap Anita dengan senyum yang tulus.

Erlangga: (suaranya ramah, tetapi tidak berlebihan) Permisi, Mbak. Saya Erlangga. Barangkali Mbak adalah salah satu perangkat desa di sini? Maaf kalau saya belum tahu nama-namanya semua.

Anita menatap Erlangga beberapa saat sebelum menjawab. Matanya bergerak cepat, membaca Erlangga dari ujung rambut hingga ujung sepatu, bukan seperti perempuan yang sedang menilai ketampanan seorang laki-laki, tetapi seperti seorang kader kesehatan yang sedang menilai seseorang yang akan bekerja sama dengannya. Ia melihat jaket almamater yang lusuh, sepatu kanvas yang sedikit kotor, tangan yang terlihat bersih tetapi tidak terlalu mulus, ada bekas-bekas kapalan yang menandakan bahwa pemiliknya tidak hanya duduk di bangku kuliah sepanjang waktu.

Anita: (menjawab datar, dengan nada yang tidak hangat tetapi tidak pula dingin—hanya netral) Anita. Kader Pembangunan Manusia. Saya yang nanti akan mendampingi kegiatan kalian di lapangan, terutama yang berkaitan dengan kesehatan.

Mendengar jawaban Anita, mata Erlangga tiba-tiba berbinar. Bukan kilatan sombong, tetapi cahaya kegembiraan yang tulus, seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang sangat ia cari. Ia tersenyum lebar, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ekspresinya benar-benar terlihat seperti seorang mahasiswa yang sedang bersemangat.

Erlangga: (suaranya meninggi sedikit, tetapi tetap sopan) KPM? Wah, luar biasa! Saya dengar program ini sangat strategis, Mbak. Saya justru ingin banyak belajar dari pengalaman Mbak Anita tentang kondisi riil kesehatan di desa. Teori di kampus hanya satu sisi, tapi pengalaman di lapangan seperti yang Mbak Anita miliki itu yang sebenarnya tidak bisa diajarkan di kelas.

Anita sedikit terkejut. Ia tidak menyangka ada mahasiswa KKN yang benar-benar tertarik dengan isu kesehatan masyarakat, apalagi yang secara spesifik menyebut program KPM dengan pengetahuan yang tampaknya tidak sekadar basa-basi. Selama ini, mahasiswa KKN yang datang selalu lebih tertarik pada program-program yang spektakuler: penyuluhan dengan peserta banyak, donor darah yang melibatkan seluruh desa, atau kegiatan yang bisa diliput oleh media. Tidak ada yang pernah benar-benar tertarik dengan kerja-kerja detail seorang kader: mendata balita satu per satu, membujuk ibu hamil untuk periksa kandungan, atau berjalan kaki berjam-jam ke dusun-dusun terpencil.

Anita menatap Erlangga lebih lama, mencoba mencari apakah ada kepalsuan di balik senyum dan semangatnya. Tapi ia tidak menemukan apa-apa. Hanya mata yang jujur dan senyum yang tidak dibuat-buat.

Anita: (agak melunak, meskipun masih menyisakan sedikit nada skeptis di ujung kata-katanya) Ya... nanti kita lihat saja. Saya harap Mas Erlangga siap dengan medannya. Di sini tidak seperti di kota. Jalanan berbatu, jarak antar rumah jauh, dan tidak semua warga terbuka dengan pendatang. Apalagi kalau kita datang dengan bawa alat-alat kesehatan, kadang mereka malah takut. Mereka lebih percaya paraji atau dukun kampung daripada tenaga medis.

Erlangga mendengarkan dengan seksama. Ia tidak menyela, tidak mencoba menunjukkan bahwa ia sudah tahu semua itu. Ia hanya mengangguk perlahan, matanya serius memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Anita. Ketika Anita selesai berbicara, Erlangga menepuk dadanya, bukan dengan gerakan yang sombong, tetapi dengan gerakan yang menunjukkan komitmen.

Erlangga: (nada suaranya mantap, tetapi tetap rendah hati) Saya siap, Mbak. Saya tidak datang ke sini dengan ekspektasi yang muluk-muluk. Saya datang karena saya ingin belajar. Dan kalau bisa, ya membantu semampu saya. Bahkan kalau perlu, saya ingin ikut ke posyandu minggu depan. Saya bawa perlengkapan sederhana untuk pemeriksaan dasar. Mungkin tidak seberapa, tapi semoga bisa membantu meringankan kerja Mbak Anita dan para kader lainnya.

Anita terdiam. Tidak ada yang bisa ia katakan. Erlangga telah menjawab semua keraguan yang ia miliki, setidaknya untuk hari ini. Ia ingin tetap skeptis, ingin tetap menjaga jarak, tapi ada sesuatu dalam diri Erlangga yang membuatnya sulit untuk bersikap dingin.

Di tengah percakapan mereka, Bu Yuni yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan tiba-tiba muncul di samping mereka dengan senyum menyeringai. Matanya bergerak cepat dari Anita ke Erlangga, lalu kembali lagi ke Anita, dengan ekspresi yang sudah sangat dikenal oleh semua orang di kantor desa, ekspresi seorang mak comblang amatir yang tidak bisa menahan diri.

Bu Yuni: (tertawa kecil, suaranya nyaring dan penuh arti) Wah, cocok sekali ini. Biasanya Anita galak kalau diajak ngobrol sama anak KKN. Kemarin-kemarin mahasiswa KKN dari tahun lalu sampai takut kalau ketemu Anita. Ini malah ramah, ngobrol serius dari tadi. Awas jatuh cinta, Le. Jangan sampai tiga bulan di sini, eh, pulang-pulang bawa oleh-oleh mantu.

Ruangan yang tadinya sunyi tiba-tiba pecah oleh tawa. Pak Eko yang baru saja masuk setelah mengantar Bagas ke posko, langsung ikut nimbrung dengan suaranya yang khas.

Pak Eko: (sambil mengelap keringat di dahi meskipun cuaca tidak panas) Eh, jangan main-main, Bu. Urusan cinta itu rumit. Saya dulu pacaran aja tujuh tahun baru menikah. Itu pun setelah melalui berbagai macam ujian. Apalagi ini beda latar belakang, kader desa sama calon dokter. Beda dunia, Bu. Nanti malah jadi drama.

Anita yang mendengar semua itu, langsung merasakan panas merambat di pipinya. Wajahnya yang tadinya datar dan dingin, tiba-tiba berubah menjadi merah padam. Ia mengerjap cepat, tidak percaya bahwa pembicaraan seriusnya dengan Erlangga tiba-tiba berubah menjadi bahan gosip.

Anita: (suaranya meninggi, setengah kesal setengah malu) Bu Yuni! Pak Eko! Jangan ngaco! Saya hanya lagi ngomongin soal posyandu. Ini kan urusan kerja. Jangan dibawa-bawa ke urusan lain.

Erlangga yang berada di tengah situasi itu justru tertawa lepas. Ia tidak terlihat canggung atau tersinggung dengan ledekan yang tiba-tiba datang. Sebaliknya, ia menanggapinya dengan santai, bahkan ikut mencairkan suasana.

Erlangga: (tertawa, suaranya ringan dan hangat) Saya sih siap-siap saja, Bu. Asal Mbak Anita juga siap. Tapi saya rasa tiga bulan itu terlalu singkat untuk sesuatu yang serius. Lagipula, saya datang ke sini untuk KKN, bukan untuk cari jodoh. Tapi kalau rezeki, ya siapa tahu?

Tawa di ruangan itu semakin keras. Bu Lulu yang sedari tadi asyik menghitung anggaran di buku catatannya, akhirnya angkat bicara dengan suara melengking khasnya yang selalu membuat semua orang terpingkal-pingkal.

Bu Lulu: (meletakkan buku catatannya, menatap Erlangga dengan mata berbinar di balik kacamatanya yang tebal) Eh, Mas Erlangga, jangan main-main. Urusan cinta itu harus jelas keuangannya. Saya sebagai Kaur Keuangan harus tahu. Kalau sampai serius, harus lapor ke saya. Nanti kita anggarkan untuk acara lamaran. Jangan sampai dadakan nanti desa kehabisan anggaran.

Bu Endang yang sedari tadi hanya diam di pojok ruangan, tiba-tiba terbahak mendengar ucapan Bu Lulu. Ia menepuk paha sambil geleng-geleng kepala.

Bu Endang: (terbahak-bahak, suaranya terdengar sampai ke luar ruangan) Duh, Bu Lulu ini dari tadi ngomongin anggaran terus. Masa nikah dianggarkan? Itu kan urusan pribadi, Bu. Bukan urusan desa.

Bu Lulu: (dengan ekspresi sangat serius, seolah sedang menjelaskan hal yang paling logis di dunia) Iya dong! Namanya juga perencanaan pembangunan manusia, kan? Program KPM itu kan fokusnya pada pembangunan sumber daya manusia. Nikah itu bagian dari pembangunan keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Kalau keluarga tidak terbangun dengan baik, bagaimana masyarakat bisa maju? Jadi ya harus dianggarkan!

Semua orang di ruangan itu tertawa. Bahkan Si Amat yang sedari tadi asyik dengan laptopnya, ikut tersenyum kecil mendengar argumen Bu Lulu yang sangat on brand dengan karakternya. Pak Iwan yang berdiri di samping pintu sejak tadi, menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi setengah kesal setengah lucu. Ia akhirnya melangkah maju, mengangkat tangannya untuk menenangkan suasana yang mulai terlalu ramai.

Pak Iwan: (suaranya tegas tetapi masih menyisakan senyum di bibirnya) Sudah, sudah! Jangan jadi bahan gosip. Ini urusan serius, kita lagi menyambut tamu. Jangan malah jadi bahan candaan. Nanti tamunya jadi tidak enak.

Ia menoleh ke arah Erlangga yang masih tersenyum, lalu ke Anita yang masih berdiri dengan pipi memerah dan tangan yang kembali bersilang di depan dada.

Pak Iwan: Anita, mulai besok, antarkan Mas Erlangga dan teman-temannya keliling desa. Kenalkan dengan tokoh masyarakat, kader posyandu, dan tentu saja bidan desa. Saya ingin mereka benar-benar memahami kondisi desa kita. Jangan hanya di kantor desa terus.

Anita menghela napas, berusaha mengembalikan ketenangannya setelah ledekan tadi. Ia menatap Pak Iwan sebentar, lalu mengangguk pendek.

Anita: (suaranya sudah kembali datar, meskipun masih ada sisa-sisa kemerahan di pipinya) Baik, Pak. Saya akan mulai besok pagi.

Pak Iwan mengangguk puas. Ia menepuk bahu Erlangga sekali lagi, lalu berpamitan karena ada urusan lain yang harus ia selesaikan. Satu per satu perangkat desa mulai meninggalkan ruangan. Bu Yuni menarik Dinda untuk diajak bicara tentang program-program yang sudah disiapkan. Pak Eko mengajak Bagas melihat-lihat desa. Bu Lulu kembali ke buku catatannya. Dan Si Amat, setelah melirik putrinya sekilas dengan senyum kecil yang penuh arti, kembali fokus pada laptopnya.

Setelah ruangan mulai sepi, Erlangga yang masih berdiri di dekat Anita, melangkah mendekat. Ia melihat papan pengumuman yang sedang Anita rapikan, papan kayu lapuk yang ditempeli berbagai selebaran yang sudah menguning. Beberapa selebaran tentang imunisasi, tentang program stunting, tentang jadwal posyandu. Semuanya sudah lama, ada yang bahkan bertahun-tahun yang lalu.

Erlangga: (suaranya pelan, hanya untuk mereka berdua) Mbak Anita... terima kasih untuk kesediaannya. Maaf kalau saya terlalu bersemangat tadi. Saya memang dari awal pengen banget KKN di tempat yang benar-benar butuh pendampingan kesehatan. Bukan tempat yang sudah maju, di mana KKN hanya jadi formalitas.

Anita tidak menoleh, tetapi jari-jarinya berhenti merapikan selebaran. Ia mendengarkan.

Erlangga: Dan sejujurnya... saya sudah dengar nama Mbak dari Dinas Kesehatan Kabupaten Merah Jingga. Waktu saya dan teman-teman melakukan survei awal dua minggu lalu, saya sempat bertanya ke salah satu staf di sana. Siapa kader kesehatan yang paling aktif di wilayah Kecamatan ini. Dan beliau langsung menyebut nama Mbak Anita. Katanya, Mbak adalah salah satu KPM terbaik yang pernah dilatih. Bahkan katanya, Mbak beberapa kali menolak tawaran kerja di puskesmas karena ingin fokus di desa ini.

Anita akhirnya menoleh. Matanya menatap Erlangga dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, bukan marah, bukan tersanjung, tetapi ada kejutan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Anita: (suaranya sedikit serak, entah karena emosi atau karena udara pagi yang masih dingin) Itu hanya omongan orang. Saya cuma melakukan tugas saya. Tidak lebih.

Erlangga: (tersenyum kecil, tidak memaksa) Mungkin. Tapi bagi saya, orang yang melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh di tempat yang sepi seperti ini, tanpa banyak orang yang melihat dan tanpa imbalan yang sebanding... itu adalah pahlawan. Sungguh.

Anita terdiam. Kata-kata Erlangga menyentuh sesuatu yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Selama bertahun-tahun menjadi kader, jarang sekali ada yang benar-benar memahami apa yang ia lakukan. Bagi sebagian besar warga, ia hanyalah "anaknya Si Amat yang sok sibuk". Bagi perangkat desa, ia adalah "kader yang cerewet tapi andal". Tidak pernah ada yang menyebutnya pahlawan. Dan mendengar kata itu dari mulut seorang mahasiswa yang baru saja ia temui, membuat dadanya terasa sesak.

Tapi Anita bukan tipe orang yang mudah larut dalam pujian. Ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya yang untuk sesaat terasa lunak, lalu mengembalikan raut wajahnya menjadi datar seperti semula.

Anita: (suaranya tegas, tetapi tidak dingin) Kalau Mas Erlangga serius ingin membantu, besok pagi kita mulai jam tujuh. Saya akan ajak ke rumah-rumah warga yang punya balita dengan kondisi kurang gizi. Tapi saya peringatkan dulu, medannya berat. Kita harus jalan kaki karena jalanan tidak bisa dilewati motor. Dan warga di dusun-dusun itu tidak semuanya ramah. Ada yang akan menyambut kita dengan senyum, ada yang akan membentak kita keluar dari rumahnya. Siap?

Erlangga tidak ragu sedetik pun. Ia mengangguk dengan semangat, bukan semangat yang berlebihan, tetapi semangat yang tenang dan mantap, seperti orang yang sudah mempersiapkan dirinya untuk tantangan apa pun.

Erlangga: (mengangguk tegas, matanya menatap Anita dengan penuh komitmen) Siap, Komandan!

Anita tidak bisa menahan senyum kecil yang akhirnya lolos dari bibirnya. Ia membuang muka ke arah jendela, berpura-pura melihat kabut yang mulai mencair di kejauhan. Di luar, matahari mulai menampakkan diri sepenuhnya, menyinari desa dengan cahaya keemasan yang hangat. Burung-burung mulai berkicau, anak-anak mulai berteriak riang di lapangan desa, dan di kejauhan, asap dapur mulai mengepul dari rumah-rumah warga yang menyiapkan makan siang.

Di dalam ruangan yang mulai sunyi itu, dua orang berdiri tidak jauh dari satu sama lain. Seorang kader desa yang idealis namun lelah, dan seorang calon dokter yang penuh ambisi namun rendah hati. Mereka berada di persimpangan jalan yang sama, persimpangan antara ketidakpercayaan dan harapan, antara apa yang sudah terjadi dan apa yang mungkin akan terjadi.

Pagi itu, belum ada yang tahu ke mana jalan ini akan membawa mereka. Yang pasti, Desa Awan Biru, dengan segala keterbatasannya, akan menjadi saksi dari sesuatu yang mungkin lebih dari sekadar program pembangunan. Mungkin ini adalah awal dari perubahan. Atau mungkin, ini adalah awal dari sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka duga sebelumnya.


BAB 2: Deru Antusiasme dan Gelak Tawa di Dapur Umum

Pagi masih buta ketika Desa Awan Biru mulai menunjukkan denyutnya yang paling awal. Kabut kebiruan yang menjadi nama desa ini masih bergelayut di sela-sela pepohonan, menyelimuti lembah dengan kelembapan yang menusuk tulang. Ayam jantan belum lama berhenti berkokok, menggantikan suara jangkrik yang mulai lelah setelah semalaman bernyanyi. Di kejauhan, mesjid desa sudah mengumandangkan azan subuh dengan pengeras suara yang sedikit serak karena usia, suaranya bergema di antara bukit-bukit yang mengelilingi desa.

Di posko KKN yang menempati bekas SD negeri yang sudah digabung lima tahun lalu, lampu di ruang utama sudah menyala sejak pukul setengah enam. Erlangga terbangun dari tidurnya yang singkat, bukan karena sulit tidur, tetapi karena semangat yang menggebu-gebu membuatnya tidak bisa memejamkan mata lebih lama lagi. Ia bergerak perlahan di atas kasur tipis yang hanya beralaskan karpet bekas, berusaha tidak membangunkan Dinda dan Bagas yang masih tertidur pulas di ruang sebelah.

Ransel besar berwarna abu-abu yang sudah ia siapkan sejak semalam tergeletak di samping tempat tidurnya. Ia memeriksa isinya sekali lagi: stetoskop, tensimeter portabel, termometer digital, senter kecil untuk pemeriksaan THT, buku catatan, alat tulis, dan bekal sederhana berupa roti dan air minum. Ia juga menyelipkan kain lap kecil di saku celananya, kebiasaan yang ia bawa sejak kecil dari pamannya yang bekerja di bengkel.

Erlangga melangkah keluar dari posko dengan langkah pelan, menutup pintu kayu yang berderit pelan. Udara pagi langsung menyambarnya dengan dingin yang menusuk, membuat napasnya berubah menjadi gumpalan uap putih. Ia berdiri sejenak di teras, menikmati keheningan pagi yang masih murni, sebelum akhirnya berjalan menyusuri jalan berbatu menuju kantor desa.

Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam sepuluh menit, pagi itu ia tempuh dengan langkah cepat. Pikirannya melayang pada pertemuan kemarin, pada Anita dengan raut wajah datarnya, pada senyum sinis yang ia coba sembunyikan, pada kata-katanya yang tajam namun jujur. Ada sesuatu tentang perempuan itu yang membuat Erlangga penasaran. Bukan karena ketampanannya, ia sudah cukup dewasa untuk membedakan antara ketertarikan fisik dan kekaguman profesional. Yang membuatnya penasaran adalah bagaimana seseorang seusia Anita bisa memiliki dedikasi sebesar itu untuk desa yang bahkan warganya sendiri setengah-setengah dalam mendukung program kesehatannya.

Dia bertahan di sini, dengan segala keterbatasan, sementara saya yang punya segalanya di kota justru merasa belum cukup berkontribusi, pikir Erlangga. Ada yang salah dengan paradigma saya selama ini.

Ketika ia tiba di kantor desa, langit timur mulai memerah. Kabut masih cukup tebal, membasahi rambut dan jaket almamaternya yang lusuh. Namun yang ia lihat di depan gerbang balai desa membuatnya menghentikan langkah.

Anita sudah berdiri di sana.

Ia mengenakan jaket lusuh berwarna abu-abu tua yang kemarin, rambut sebahu yang diikat rapi, dan sepatu boots karet yang sudah agak usang. Di sampingnya, sebuah motor bebek tua berwarna hitam atau lebih tepatnya dulunya hitam, karena sekarang catnya sudah mengelupas di sana-sini, terparkir dengan posisi miring. Dan dari bahasa tubuh Anita yang membungkuk di samping motor sambil menggerutu kecil, Erlangga bisa langsung menebak: ada masalah.

Ia mempercepat langkahnya, mendekati Anita yang sedang memutar-mutar kunci kontak dengan gerakan frustrasi.

Erlangga: (menghampiri dengan langkah cepat, ikut membungkuk di samping Anita untuk melihat motor tua itu) Ada masalah, Mbak? Kok dari tadi diputer-puter terus? Mogok?

Anita menoleh dengan raut wajah yang campuran antara kesal dan malu. Jari-jarinya masih memutar kunci kontak maju mundur, seperti berharap ada keajaiban yang akan membuat motor ini hidup kembali.

Anita: (suaranya kesal, tetapi lebih kepada keadaan daripada kepada Erlangga) Busi mungkin basah. Tadi malam hujan deras sekali, motor ini saya parkir di luar karena garasi penuh kardus berisi buku-buku posyandu. Saya pikir cuma kena gerimis, ternyata kena hujan lebat. Dari subuh saya coba hidupin, cuma bunyi nggres doang. Padahal saya sudah ada janji mau ke rumah Pak Karyo jam tujuh.

Ia menghela napas panjang, menepuk-nepuk jok motor yang sudah retak-retak dengan gerakan putus asa.

Anita: Motor ini satu-satunya kendaraan saya untuk keliling desa. Kalau sampai rusak parah, saya harus jalan kaki ke mana-mana. Padahal hari ini saya ingin Mas Erlangga lihat langsung kondisi balita stunting di RT 02 dan RT 03. Jaraknya lumayan.

Erlangga tersenyum, bukan senyum sinis atau senyum yang meremehkan, tetapi senyum yang tenang dan penuh pengertian. Ia melepas ransel besar dari punggungnya, meletakkannya di tanah dengan hati-hati, lalu berlutut di samping motor tua itu.

Erlangga: (sambil mengamati motor dengan saksama) Coba saya lihat, Mbak. Biasanya kalau busi basah, solusinya sederhana. Nggak perlu bawa ke bengkel.

Anita menatapnya dengan mata setengah tak percaya. Matanya mengikuti gerakan tangan Erlangga yang dengan sigap membuka jok motor, mencari kunci busi yang biasanya diselipkan di sela-sela jok. Erlangga menemukannya dengan mudah, sebuah kunci busi sederhana yang sudah agak berkarat.

Anita: (masih dengan nada skeptis) Mas bisa servis motor? Saya kira anak dokter cuma bisa baca resep dan lihat hasil laboratorium. Ini urusan mesin, Mas. Beda dunia.

Erlangga tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang terampil dan penuh kebiasaan, gerakan yang menunjukkan bahwa ia sudah melakukan ini berkali-kali, ia membuka tutup busi dengan kunci yang sedikit membandel. Busi yang ia tarik keluar memang basah, bahkan ada sedikit endapan hitam di ujung elektrodanya.

Ia kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan kain lap kecil yang tadi ia siapkan dari posko. Dengan gerakan hati-hati, ia membersihkan busi dari sisa-sisa air dan kotoran. Setelah dirasa cukup bersih, ia mengangin-anginkannya sebentar, lalu memasang kembali dengan rapi.

Erlangga: (sambil memasang kembali busi dengan konsentrasi, tanpa menoleh) Mbak, saya anak kampung juga kok. Dulu waktu SMP, setiap liburan saya selalu ke rumah paman di desa. Paman punya bengkel kecil, servis motor, tambal ban, ganti oli. Saya sering bantu-bantu, awalnya cuma jadi asisten yang disuruh pegang obeng, lama-lama belajar. Urusan busi basah atau karburator kotor, itu mah camilan buat saya. Nggak ada bedanya sama baca resep obat. Sama-sama perlu ketelitian.

Ia mengencangkan busi dengan kunci, lalu berdiri dan menginjak kick starter satu kali.

Brummmm...

Motor menyala dengan suara yang cukup halus untuk ukuran motor tua. Erlangga membiarkan mesin menyala sebentar, memastikan tidak ada suara aneh atau getaran berlebih. Ia menoleh ke Anita dengan senyum puas.

Erlangga: Selesai, Mbak. Motor siap tempur. Tapi saran saya, nanti malam kalau mau hujan, tutup busi dengan plastik atau taruh motor di tempat teduh. Busi basah itu masalah sepele tapi bikin jengkel kalau kejadian pas lagi buru-buru.

Anita yang sejak tadi menonton dengan mulut sedikit terbang karena takjub, kini tertawa kecil. Tawanya tidak keras, tetapi ada kehangatan yang sebelumnya tidak ia tunjukkan. Ia menggeleng-gelengkan kepala, masih tidak percaya bahwa seorang mahasiswa kedokteran, anak seorang dokter spesialis terkenal, bisa begitu terampil dengan mesin motor tua.

Anita: (sambil mengambil helm dari jok, suaranya sudah jauh lebih ramah dari kemarin) Baiklah, Mas Montir. Saya angkat topi. Ternyata tidak semua anak kota itu gagap teknologi kalau urusan mesin. Silakan naik, kita ke rumah Pak Karyo dulu. Beliau punya warung di RT 02, sekaligus rumahnya ada cucu yang lagi dalam pemantauan stunting. Namanya Bintang. Anaknya yang kedua, umur dua tahun setengah tapi berat badan cuma delapan kilogram.

Erlangga mengambil ranselnya dan duduk di boncengan dengan gerakan yang tidak canggung, lagi-lagi mengejutkan Anita yang terbiasa melihat anak kota kesulitan menaiki motor di jalanan berbatu.

Erlangga: (sambil memegang bagian belakang motor dengan mantap) Siap, Komandan. Tolong jalannya pelan-pelan ya, Mbak. Saya mau lihat-lihat kondisi desa juga sambil jalan.


Perjalanan menuju RT 02 ditempuh dengan melewati perkampungan yang masih asri. Jalanan berbatu yang berkelok-kelok diapit oleh pepohonan pisang dan singkong di kiri-kanan. Di beberapa titik, mereka melewati pematang sawah yang sempit, di mana di sisi kanan terbentang hamparan sawah yang mulai menguning, tanda panen akan segera tiba. Burung-burung kecil beterbangan di atas padi, sesekali hinggap untuk memakan bulir-bulir yang sudah masak.

Sepanjang jalan, Erlangga tak henti-hentinya bertanya. Ia tidak hanya bertanya tentang kondisi kesehatan warga, tetapi juga tentang hal-hal yang lebih mendasar: bagaimana sistem irigasi sawah, apakah warga masih menanam padi dua kali setahun, berapa banyak keluarga yang memiliki jamban sendiri, apakah akses ke puskesmas pembantu masih terbuka, dan siapa saja tokoh masyarakat yang bisa diajak bekerja sama.

Anita yang awalnya menjawab dengan singkat dan agak kaku, perlahan mulai menikmati obrolan. Ia menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan Erlangga bukan sekadar basa-basi atau formalitas mahasiswa KKN yang sedang mengumpulkan data. Ada rasa ingin tahu yang tulus, dan yang lebih penting, ada pemahaman bahwa kesehatan tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Erlangga: (dari boncengan, suaranya sedikit keras karena angin dan suara mesin) Mbak Anita, dari yang saya lihat, desa ini sebenarnya punya potensi besar. Tanahnya subur, airnya cukup, warganya ramah-ramah. Tapi kenapa masalah stunting masih setinggi ini? Apa memang faktor ekonomi yang paling dominan?

Anita menghela napas. Ia mengurangi kecepatan motor karena jalan mulai menanjak dan berbatu.

Anita: (menoleh sedikit, suaranya terdengar lebih serius) Faktor ekonomi jelas berpengaruh, Mas. Tapi bukan cuma itu. Masalah utamanya adalah pengetahuan dan kebiasaan. Banyak ibu di sini yang masih percaya kalau anaknya kurus itu karena "bakat" atau "keturunan". Mereka tidak paham bahwa stunting itu bisa dicegah dengan gizi yang baik sejak kehamilan. Ada juga yang sudah dikasih PMT, pemberian makanan tambahan dari posyandu, tapi di rumah tetap dikasih makan nasi dengan lauk seadanya atau bahkan cuma kerupuk. Kadang saya sampai frustrasi kalau sudah ngomongin ini.

Erlangga: (mengangguk-angguk di belakang) Jadi intervensi gizi saja tidak cukup. Harus ada edukasi yang konsisten dan pendampingan yang intensif.

Anita: (tersenyum kecil, meskipun Erlangga tidak melihatnya) Nah, itu dia. Selama ini saya dan kader lain sudah melakukan pendampingan, tapi tenaga kami terbatas. Saya cuma sendiri untuk tiga dusun. Kadang kalau saya ke dusun A, dusun B dan C tidak terpantau. Kalau ada yang bisa bantu, ya saya sangat terbantu.

Erlangga: (suaranya mantap) Saya siap bantu, Mbak. Selama di sini, saya ingin fokus ke pendampingan kasus-kasus stunting. Nanti saya catat satu per satu, saya pantau perkembangannya. Tiga bulan mungkin tidak cukup untuk menyelesaikan masalah, tapi setidaknya kita bisa memulai perubahan.

Anita tidak menjawab. Ia hanya menekan gas sedikit lebih dalam, menyusuri jalan berbatu yang mulai menanjak ke arah perkampungan RT 02. Di dalam hatinya, ada rasa hangat yang tidak bisa ia jelaskan, bukan karena kata-kata Erlangga yang manis, tetapi karena ketulusan yang ia rasakan dari setiap kalimat yang diucapkan pemuda itu.


Warung Pak Karyo terletak tepat di tikungan pertama RT 02, di bawah pohon beringin besar yang usianya mungkin sudah lebih dari setengah abad. Warung itu sederhana: bangunan semi-permanen dari papan kayu dengan atap seng yang sudah berkarat di beberapa bagian. Di depan warung, terdapat beberapa bangku panjang dari kayu yang sudah halus karena sering diduduki warga yang nongkrong sambil minum kopi. Sebuah papan nama yang sudah pudar bertuliskan "Warung Mbah Karyo" bergoyang pelan ditiup angin pagi.

Ketika motor Anita berhenti di depan warung, suasana masih lengang. Pak Karyo, pemilik warung yang sudah berusia 60 tahun, sedang sibuk menata dagangan di etalase kaca yang sudah retak di salah satu sudutnya. Ia mengenakan kaos oblong lusuh berwarna abu-abu, celana pendek selutut, dan sandal jepit yang sudah hampir putus di bagian depannya. Tubuhnya kurus tetapi masih tegap, dengan rambut yang sudah hampir seluruhnya putih dan kulit yang keriput karena usia dan paparan sinar matahari.

Di samping Pak Karyo, di lantai tanah yang hanya beralaskan tikar bambu tipis, seorang balita kecil sedang duduk dengan posisi lesu. Anak itu, Bintang namanya, memiliki tubuh yang sangat kurus untuk anak seusianya. Tulang rusuknya terlihat jelas di balik kaos oblong yang kebesaran. Rambutnya berwarna kemerahan dan tampak rapuh, seperti rambut jagung yang kering. Di tangannya, ia memegang sendal jepit bekas, diayun-ayunkan ke sana kemari tanpa fokus yang jelas. Matanya yang besar dan hitam tampak sayu, tidak bercahaya seperti anak seusianya seharusnya.

Pak Karyo menoleh ketika mendengar suara motor. Wajahnya yang tadinya serius langsung berubah menjadi cerah ketika melihat Anita turun dari motor.

Pak Karyo: (dengan suara serak karena usia, tetapi penuh kehangatan) Eh, Nita. Baru pagi-pagi sudah ke sini. Ada apa? Jangan-jangan mau nagih utang? Padahal utang saya di warung ini cuma seratus ribu, itu pun belum jatuh tempo. Hahaha.

Ia tertawa renyah, suaranya yang serak terdengar seperti suara kayu yang digesek. Tawanya menggema di warung yang masih lengang, membuat Bintang yang sedari tadi lesu, sedikit menoleh karena suara kakeknya yang keras.

Anita tersenyum, menepuk pundak Pak Karyo dengan ramah. Ia sudah mengenal lelaki tua ini sejak kecil, seorang pensiunan buruh tani yang membuka warung kecil-kecilan setelah tidak lagi kuat bekerja di sawah.

Anita: (suaranya lembut, seperti berbicara dengan orang tua sendiri) Bukan, Pak Karyo. Utang Bapak saya hapus. Tadi malah saya mau kasih kabar baik. Ini ada Mas Erlangga, mahasiswa kedokteran yang sedang KKN di desa kita. Beliau mau lihat kondisi kesehatan warga, terutama si Bintang ini.

Ia menoleh ke belakang, memberi isyarat pada Erlangga yang baru saja turun dari motor dan sedang melepas helm. Erlangga menghampiri dengan langkah santai, senyumnya sudah terpasang, senyum yang hangat dan tidak membuat orang merasa asing.

Erlangga: (membungkuk sedikit memberi hormat pada Pak Karyo) Selamat pagi, Pak. Saya Erlangga. Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak.

Pak Karyo mengamati Erlangga dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Matanya yang sudah agak rabun karena usia, menyipit seperti sedang menilai. Ia sudah terlalu sering melihat mahasiswa KKN datang dan pergi, dan biasanya mereka hanya datang dengan angkuh, bicara dengan bahasa ilmiah yang tidak dimengerti, lalu pergi setelah mengambil foto.

Pak Karyo: (dengan nada agak skeptis, meskipun masih ramah) Wah, calon dokter ya? Tampan lagi. Jangan-jangan ini bukan KKN, tapi kontes duta desa. Hahaha.

Erlangga tidak tersinggung. Ia ikut tertawa, lalu matanya beralih ke Bintang yang masih duduk di lantai dengan sendal jepit di tangannya. Ada sesuatu yang menggerakkan hatinya ketika melihat anak sekurus itu, seorang anak yang seharusnya berlarian, tertawa, dan menikmati masa kecilnya, tetapi kini hanya duduk lesu dengan mata yang kosong.

Erlangga: (dengan suara yang lebih pelan, seperti berbicara pada anak kecil) Boleh saya dekati, Pak? Saya hanya mau lihat kondisi adik Bintang. Tidak akan lama.

Pak Karyo mengangguk, meskipun matanya masih memandang waspada. Erlangga kemudian jongkok di depan Bintang, merendahkan tubuhnya agar tidak terlihat mengintimidasi. Ia membiarkan beberapa detik berlalu, membiarkan Bintang terbiasa dengan kehadirannya, sebelum akhirnya mengeluarkan senter kecil dari saku jasnya.

Erlangga: (dengan suara lembut dan penuh kehangatan, sambil menunjukkan senternya) Halo, Bintang. Namanya bagus sekali. Seperti bintang di langit, ya? Namanya siapa yang kasih? Kakek? Nenek?

Bintang hanya terdiam. Matanya yang besar menatap Erlangga dengan campuran antara rasa takut dan rasa ingin tahu. Ia memegang sendal jepitnya lebih erat, seolah benda itu adalah satu-satunya yang memberinya rasa aman.

Pak Karyo menghampiri, duduk di samping Bintang dengan gerakan yang agak lambat karena lututnya yang mulai kaku. Ia mengelus kepala cucunya dengan penuh kasih saying, gerakan yang sudah menjadi kebiasaan setiap kali ia berada di dekat Bintang.

Pak Karyo: (sambil mengelus kepala Bintang, suaranya agak serak) Maaf, Mas Dokter. Bintang ini memang susah makan. Dari bayi sudah susah, apalagi sekarang. Orang tuanya merantau ke kota, anak saya sama menantunya, bekerja di pabrik sepatu. Sudah setahun lebih mereka pergi. Saya dan istri yang jaga Bintang. Sudah dikasih vitamin dari bidan, dikasih susu dari posyandu, tapi ya gitu... makannya masih sulit. Dikasih nasi, dimuntahin. Dikasih biskuit, cuma dimakan sedikit. Jadi ya begini, badannya kecil.

Ia menghela napas panjang, napas yang berat dan penuh beban. Matanya yang sudah keriput itu tampak berkaca-kaca sejenak, tetapi ia segera menguatkan diri.

Pak Karyo: Saya dan istri sudah tua, Mas. Kadang bingung juga harus gimana. Sudah dibawa ke posyandu, dikasih PMT, tapi ya berat badannya masih stuck. Nita di sini sudah sering ngomongin soal makanan bergizi, tapi saya kadang lupa juga karena banyak kerjaan. Warung ini kan sendiri yang jaga. Istri saya juga kadang sakit-sakitan.

Erlangga mendengarkan dengan saksama. Ia tidak menyela, tidak terburu-buru memberikan saran. Ia membiarkan Pak Karyo menyelesaikan semua yang ingin dikatakan, karena ia tahu bahwa di desa seperti ini, mendengarkan adalah bentuk penghormatan tertinggi.

Setelah Pak Karyo selesai, Erlangga kembali fokus pada Bintang. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, ia mendekatkan senternya.

Erlangga: (kepada Bintang, dengan suara yang sangat lembut) Bintang, Boleh saya lihat gigi adik sebentar? Cuma sebentar, kok. Saya janji nggak sakit. Abang cuma mau lihat gigi Bintang bagus atau tidak.

Bintang masih diam, tetapi kali ini ia tidak mundur. Matanya mengikuti gerakan senter, tetapi tidak menunjukkan ketakutan yang berlebihan.

Erlangga: Coba, Bintang buka mulutnya. Seperti mau bilang "Aaaa..." Gitu. Aaaa...

Erlangga membuka mulutnya sebagai contoh. Gerakannya lucu, sedikit berlebihan, tetapi justru membuat Bintang yang tadinya tegang, akhirnya membuka mulut kecilnya.

"Aaaa..." suara Bintang kecil dan serak, tetapi itu sudah cukup. Erlangga dengan cepat namun teliti mengamati kondisi mulut dan giginya. Ia melihat gusi yang pucat, gigi yang baru tumbuh beberapa tetapi terlihat rapuh, dan lidah yang sedikit pucat—tanda-tanda klasik dari defisiensi zat gizi mikro.

Setelah selesai, Erlangga mengusap kepala Bintang dengan lembut, lalu menatap Pak Karyo dengan tatapan serius tetapi tidak menakutkan.

Erlangga: (suaranya tenang, penuh keyakinan tetapi tidak menggurui) Pak Karyo, dari yang saya lihat, Bintang mengalami defisiensi zinc dan zat besi. Itu sebabnya rambutnya kemerahan dan agak rapuh, gusinya pucat, dan nafsu makannya kurang. Zinc itu penting banget untuk nafsu makan anak-anak. Kalau kekurangan zinc, anak jadi susah makan. Kalau susah makan, kekurangan gizi. Jadi ini lingkaran setan.

Pak Karyo mengerutkan dahi, mencoba memahami istilah-istilah yang asing baginya.

Pak Karyo: Defisiensi... apa itu? Zinc? Zat yang mana, Mas? Apakah itu obat mahal yang harus dibeli di apotek kota? Saya hanya punya warung kecil, Mas. Belum tentu mampu.

Erlangga: (tersenyum, menggeleng) Tidak, Pak. Tidak perlu obat mahal. Sumber zinc dan zat besi itu justru murah dan mudah didapat. Saran saya, coba mulai diberikan telur setiap hari. Telur ayam kampung atau telur ayam negeri biasa juga boleh. Satu butir setiap hari, direbus atau didadar. Juga sayur bayam dan kacang-kacangan, tempe, tahu. Itu semua mengandung zat besi dan zinc yang cukup untuk anak seusia Bintang.

Pak Karyo menggaruk kepalanya yang botak, ekspresinya antara heran dan tidak percaya.

Pak Karyo: Telur? Wah, saya kira dulu dikasih susu mahal itu. Susu formula yang katanya bagus untuk anak. Saya sempat beli sekali, harganya selangit. Sekotak kecil saja seratus ribu. Bintang juga tidak mau minum. Habis uang, anak tetap tidak mau makan. Saya pikir anak ini memang susah makannya karena faktor keturunan.

Erlangga: (menggeleng dengan tegas namun tetap ramah) Susu itu penting, Pak. Tapi untuk anak seusia Bintang yang sudah dua tahun lebih, protein hewani dari telur jauh lebih mudah diserap tubuhnya. Telur juga mengandung lemak baik yang dibutuhkan untuk perkembangan otak. Dan yang paling penting, telur itu murah dan ada di warung Bapak sendiri. Bapak kan jual telur? Coba mulai besok pagi, Bintang dikasih telur rebus setengah matang. Jangan lupa kuning telurnya juga dimakan, karena zat besinya banyak di kuning telur.

Pak Karyo: (masih dengan ekspresi setengah percaya) Telur... saya kira telur itu cuma buat lauk. Saya pikir kalau mau anak gemuk, harus dikasih susu mahal atau bubur bayi instan. Saya lihat iklan di TV, anak-anak yang sehat itu minum susu formula. Jadi saya kira itu yang terbaik.

Erlangga: Iklan memang bagus, Pak. Tapi iklan itu untuk jualan. Untuk kesehatan anak Bintang, kita lihat kebutuhan dasarnya dulu. Bintang sekarang kekurangan protein hewani. Dan protein hewani paling murah dan paling mudah didapat adalah telur. Nanti kalau berat badannya sudah naik, baru kita tambah dengan variasi lain. Tapi mulai dari telur dulu, ya Pak. Saya janji, dalam satu bulan akan ada perubahan kalau rutin dikasih telur setiap hari.

Anita yang sejak tadi berdiri di samping, memperhatikan interaksi mereka dengan senyum puas yang tidak bisa ia sembunyikan. Selama ini, ia sudah berulang kali menjelaskan hal yang sama pada Pak Karyo, tetapi kata-katanya selalu seperti angin lalu. Namun hari ini, dengan seorang "calon dokter" yang baru datang, sepertinya Pak Karyo mulai mendengarkan.

Anita melangkah maju, menepuk bahu Pak Karyo dengan nada menggoda.

Anita: Nah, Pak. Saya sudah bilang dari dulu, telur itu sakti. Tapi warga sini lebih percaya sama mahasiswa kedokteran dari pada sama kader desa yang setiap hari keliling kampung. (Ia menoleh ke Erlangga dengan senyum kecil) Padahal ilmu yang saya sampaikan sama persis, tapi mungkin karena Mas Erlangga bawa senter dan stetoskop, jadi lebih meyakinkan.

Erlangga tertawa kecil, merendahkan diri.

Erlangga: Mbak Anita, saya hanya meneruskan ilmu yang Mbak Anita sudah sampaikan dari awal. Saya cuma kebetulan datang dengan atribut kedokteran. Tapi sebenarnya Mbak Anita lebih tahu kondisi warga daripada saya. Saya hanya pembawa pesan.

Pak Karyo yang melihat interaksi mereka, ikut tertawa. Ia menepuk paha kanannya dengan tangan kirinya, gerakan yang biasa ia lakukan ketika sedang merasa lega.

Pak Karyo: Ya sudah, saya coba. Mulai besok, Bintang saya kasih telur rebus setiap pagi. Tapi kalau nanti Bintang makin kurus karena telur, saya minta tanggung jawab sama Mas Dokter, ya. Hahaha.

Erlangga: (menepuk dada dengan mantap) Siap, Pak. Saya tanggung jawab. Nanti saya akan pantau terus. Setiap minggu saya akan mampir ke sini untuk lihat perkembangan Bintang. Mbak Anita juga akan bantu memantau, kan?

Anita mengangguk dengan senyum yang lebih hangat dari sebelumnya.

Anita: Tentu. Bintang itu sudah masuk dalam daftar prioritas saya. Setiap posyandu, saya selalu pantau berat badannya. Sekarang dengan program telur dari kakeknya sendiri, saya yakin akan ada perubahan.

Sebelum beranjak, Erlangga mengeluarkan buku catatannya dan menulis sesuatu dengan rapi.

Erlangga: Pak Karyo, saya catat dulu data Bintang. Tanggal lahirnya kapan? Berat badan terakhir berapa? Saya buatkan kartu pemantauan khusus.

Pak Karyo: (mengeluarkan kartu KMS yang sudah agak lusuh dari saku celananya) Ini, Mas. Semua ada di sini.

Erlangga menyalin data dengan teliti, lalu menambahkan catatan khusus: *"Intervensi: telur 1 butir/hari. Review 1 minggu."* Ia menunjukkan catatannya pada Anita yang mengangguk setuju.


Dari warung Pak Karyo, mereka melanjutkan perjalanan ke rumah tokoh masyarakat desa, Santoso. Rumah Santoso terletak di RT 03, tidak jauh dari kantor desa, tetapi akses jalannya lebih baik karena berada di poros utama. Santoso adalah pensiunan PNS dari Dinas Pendidikan, seorang pensiunan yang disegani karena pengalamannya, sekaligus ditakuti karena mulutnya yang tajam jika ada program desa yang tidak beres. Ia adalah anggota Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) yang paling vokal dalam setiap rapat desa.

Ketika Erlangga dan Anita tiba, Santoso sudah duduk di beranda rumahnya yang luas dengan kursi goyang bambu kesayangannya. Rumah Santoso berbeda dengan rumah warga lainnya, lebih besar, lebih rapi, dengan halaman yang bersih dan beberapa pot bunga yang tertata. Ini adalah simbol status bahwa penghuninya adalah orang yang pernah “sukses” di kota sebelum kembali ke desa.

Santoso sedang mengipas-ngipas dengan kipas bambu tradisional, meskipun udara pagi masih cukup sejuk. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang, celana bahan berwarna krem, dan sandal kulit yang masih terlihat baru. Di sampingnya, termos kopi dan gelas sudah tersedia, tanda bahwa ia memang sudah tahu akan kedatangan tamu.

Ketika motor Anita masuk ke halaman, Santoso tidak bangkit. Ia hanya menoleh dengan senyum tipis, senyum yang sulit diartikan, apakah itu senyum ramah atau senyum meremehkan.

Santoso: (duduk di kursi goyang sambil mengipas-ngipas dengan gerakan lambat, suaranya dalam dan penuh wibawa) Jadi, ini dia calon dokter yang katanya mau merubah desa kita? Hahaha. Saya sudah sering lihat mahasiswa KKN. Datang dengan program hebat, pulang dengan kenangan manis, desa tetap saja begini. Seperti musim hujan, datang dengan deras, membawa harapan, tapi setelah pergi, tanah tetap kering.

Ia tertawa keras, tawa yang bergema di halaman rumahnya yang luas. Tawa itu tidak jahat, tetapi ada nada sinisme yang tidak bisa disembunyikan.

Erlangga tidak tersinggung. Ia justru membungkukkan badannya dalam-dalam, memberi hormat pada Santoso dengan gestur yang sangat sopan, lebih sopan dari yang biasanya ia tunjukkan pada orang baru.

Erlangga: (dengan suara yang tenang dan penuh hormat) Selamat pagi, Pak Santoso. Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak. Saya Erlangga, mahasiswa KKN dari Universitas Sejahtera. Saya dengar dari Mbak Anita bahwa Bapak adalah tokoh masyarakat yang sangat disegani di desa ini. Sebelumnya, saya mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan.

Santoso berhenti mengipas. Matanya menyipit, menatap Erlangga dengan pandangan yang tajam, pandangan seorang pensiunan pendidik yang sudah puluhan tahun menilai karakter murid-muridnya. Ia tidak menyangka mahasiswa ini langsung membungkuk hormat tanpa beban.

Santoso: (setelah beberapa detik hening, suaranya sedikit melunak) Duduklah. Jangan hanya berdiri di sana. Nita juga duduk. Saya sudah siapkan kopi. Ini kopi robusta dari kebun sendiri, bukan kopi instan yang dijual di warung.

Erlangga dan Anita duduk di kursi yang sudah disediakan, kursi rotan yang nyaman dengan bantal tipis. Erlangga mengambil posisi yang sopan, tidak menyender, tubuhnya agak condong ke depan sebagai tanda bahwa ia siap mendengarkan dengan serius.

Erlangga: (setelah duduk, suaranya tetap sopan tetapi mulai lebih berani) Pak Santoso, saya tidak bisa menjanjikan perubahan besar dalam tiga bulan. Saya sadar betul bahwa waktu saya di sini singkat. Tapi saya ingin minimal membantu Mbak Anita dalam program yang sudah berjalan. Saya tidak datang dengan program baru yang heboh. Saya datang untuk belajar dan membantu semampu saya. Kalau boleh, saya ingin tahu dari Bapak, sebagai tokoh masyarakat yang sudah lama tinggal di sini, apa akar masalah kesehatan terbesar di desa ini selain faktor ekonomi? Karena saya yakin, Bapak punya perspektif yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Santoso berhenti mengipas. Ia meletakkan kipasnya di pangkuan, lalu mengambil gelas kopinya dan menyesap pelan. Matanya yang tadinya menyipit, sekarang membuka lebar, menatap Erlangga dengan ekspresi baru, bukan lagi sinisme, tetapi rasa ingin tahu.

Santoso: (setelah hening sejenak, suaranya menjadi lebih serius) Pertanyaan bagus. Tidak banyak mahasiswa KKN yang bertanya seperti itu. Biasanya mereka datang dengan proposal tebal yang sudah disusun di kampus, lalu minta didampingi, bukan bertanya apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Ia meletakkan gelasnya, menatap ke arah sungai yang mengalir di belakang rumahnya, sungai yang dulu jernih, tetapi sekarang airnya keruh kehijauan.

Santoso: Akar masalahnya ada dua, Mas Erlangga. Pertama, sanitasi. Sungai di belakang desa ini, yang dulu kami gunakan untuk mandi, cuci, bahkan minum, sekarang sudah tercemar limbah rumah tangga dan peternakan. Warga masih banyak yang buang air besar sembarangan, terutama di dusun-dusun yang jauh dari pusat desa. Mereka tidak punya jamban, atau punya jamban tapi tidak digunakan karena malas. Limbah dari kandang ayam dan kambing juga dibuang langsung ke sungai tanpa diolah. Akibatnya, air sungai tercemar bakteri. Anak-anak yang bermain di sungai, atau warga yang masih menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari, rentan terkena diare dan penyakit kulit. Dan diare pada balita, kalau sering terjadi, bisa menyebabkan malabsorpsi gizi, anak tetap kurus meskipun sudah diberi makan.

Erlangga mencatat dengan cepat di buku catatannya. Tulisannya rapi, dengan diagram sederhana tentang alur pencemaran sungai dan dampaknya pada kesehatan.

Erlangga: (setelah selesai mencatat) Sanitasi. Itu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh. Dan kedua, Pak?

Santoso menghela napas panjang. Napas yang berat, napas yang mencerminkan kekecewaan yang sudah bertahun-tahun dipendam.

Santoso: Kedua, mentalitas. Warga di sini masih punya pola pikir "sakit baru berobat". Bukan "mencegah lebih baik daripada mengobati". Mereka baru datang ke puskesmas atau posyandu ketika sudah parah. Ibu hamil baru periksa kehamilan ketika perutnya sudah besar, atau bahkan ketika mau melahirkan. Bayi baru diimunisasi setelah sakit, padahal imunisasi itu untuk mencegah. Program-program pencegahan seperti posyandu rutin, pemeriksaan kehamilan, imunisasi, itu dianggap tidak penting. Mereka menganggap kesehatan itu urusan "kalau sudah sakit". Padahal di situlah letak kesalahan terbesar.

Ia menunjuk ke arah Anita dengan dagunya.

Santoso: Nita di sini sudah berusaha keras. Saya tahu itu. Setiap bulan dia keliling desa, memeriksa balita, memeriksa ibu hamil. Tapi kesadaran warga masih rendah. Mereka lebih percaya paraji, dukun beranak, daripada bidan desa. Mereka lebih percaya jamu rebutan dari daun-daunan daripada obat dari puskesmas. Mereka menganggap stunting itu takdir, bukan sesuatu yang bisa dicegah. Itulah yang paling sulit diubah, Mas Erlangga. Bukan infrastruktur, bukan ekonomi, tapi cara pikir.

Erlangga menulis dengan lebih cepat. Matanya serius, menunjukkan bahwa ia benar-benar mencerna setiap kata yang diucapkan Santoso.

Erlangga: (setelah selesai mencatat, ia menatap Santoso dengan tatapan penuh hormat) Sanitasi dan perilaku. Terima kasih, Pak. Ini catatan yang sangat penting bagi saya. Saya akan jadikan ini sebagai dasar untuk program pendampingan selama saya di sini. Karena kalau tidak dimulai dari dua akar masalah ini, program apa pun yang kita buat hanya akan menjadi program seremonial yang tidak berdampak.

Santoso mengangguk pelan. Ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada mahasiswa KKN sebelumnya.

Santoso: Kamu berbeda, Mas Erlangga. Saya sudah melihat puluhan mahasiswa KKN datang dan pergi. Mereka semua bicara tentang perubahan, tentang pemberdayaan, tentang ini-itu. Tapi hanya sedikit yang bertanya seperti kamu. Yang bertanya bukan tentang program yang akan mereka bawa, tapi tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan. Itu adalah awal yang baik.

Anita yang dari tadi diam, melirik Erlangga dengan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan—kagum. Ia melihat bagaimana Erlangga dengan rendah hati bertanya pada Santoso, tokoh masyarakat yang paling keras mengkritik program desa. Ia melihat bagaimana Erlangga tidak defensif ketika disindir, tetapi justru membungkuk hormat dan mendengarkan. Dan ia melihat bagaimana Santoso, yang biasanya sinis dan sulit diyakinkan, akhirnya berbicara panjang lebar dengan nada yang hampir hangat.

Mungkin dia memang berbeda, pikir Anita. Mungkin tidak semua mahasiswa KKN sama.


Sore harinya, setelah seharian berkeliling desa, Anita mengajak Erlangga ke posko KKN. Posko itu berada di rumah kosong milik salah satu perangkat desa yang sedang merantau ke Kalimantan. Rumah itu cukup besar untuk ukuran desa—dua kamar tidur, ruang tamu yang luas, dapur, dan halaman yang cukup lapang. Dindingnya sudah mulai mengelupas catnya, dan beberapa genteng sudah bergeser, tetapi secara keseluruhan masih layak huni.

Ketika mereka tiba, suasana di posko sudah ramai. Beberapa anggota Karang Taruna sudah berkumpul di halaman, duduk lesehan di atas tikar bambu sambil menunggu kedatangan "calon dokter" yang sudah menjadi buah bibir di desa sejak pagi.

Yulia, ketua Karang Taruna yang berusia 22 tahun dengan rambut panjang sebahu dan senyum yang mudah mengembang, langsung berdiri ketika melihat Erlangga masuk ke halaman. Ia adalah sosok yang enerjik, dengan suara lantang yang bisa didengar dari jarak puluhan meter.

Yulia: (berseru heboh, tangannya melambai-lambai seperti kipas angin) Ih, ini dia! Calon dokter ganteng yang bikin geger desa sejak pagi! Saya sudah dengar dari Pak Karyo, katanya Mas Erlangga bisa benerin motor sekaligus kasih saran kesehatan. Multitalenta, ya! Salam kenal, Mas Erlangga! Saya Yulia, ketua Karang Taruna. Ini teman-teman saya.

Ia langsung maju dan menjabat tangan Erlangga dengan semangat yang menggebu-gebu. Guntur, pemuda berusia 24 tahun dengan tubuh tambun dan rambut kribo yang susah diatur, berdiri di samping Yulia sambil tertawa.

Guntur: (sambil menyikut Yulia dengan sikunya, suaranya bercanda) Jangan norak, Yu. Nanti Mas Dokternya kabur. Baru pertama kali ketemu, langsung heboh kayak ketemu artis. (Ia kemudian menoleh ke Erlangga dan mengulurkan tangan) Saya Guntur. Maaf kalau Yulia agak berlebihan. Dia memang begitu kalau lihat orang baru. Kami siap membantu program kesehatan, Mas. Apa pun yang dibutuhkan, asal bukan donor darah. Saya takut jarum suntik.

Semua orang tertawa. Erlangga ikut tertawa, merasakan kehangatan dari sambutan yang begitu spontan.

Naila, seorang gadis berusia 19 tahun dengan kulit putih dan rambut ikal yang diikat kuncir kuda, melangkah maju dengan mata berbinar. Ia adalah salah satu remaja paling aktif di karang taruna, selalu terlibat dalam berbagai kegiatan desa.

Naila: (matanya berbinar-binar, suaranya antusias) Mas Erlangga, aku dengar dari Mbak Anita, katanya Mas akan bikin program pemeriksaan kesehatan gratis untuk remaja? Apa benar itu? Aku dan teman-teman butuh banget, soalnya bulan depan ada pemilihan duta desa. Kesehatan itu salah satu kriteria penilaian. Aku mau pastikan aku sehat semua. Jangan sampai pas pemeriksaan fisik, ternyata tensiku tinggi atau apa gitu.

Amat Junior, keponakan dari Si Amat, sepupu Anita, langsung menyela dengan suara yang agak keras. Ia adalah pemuda berusia 21 tahun yang sedang kuliah semester akhir di politeknik negeri di Provinsi, tetapi karena sedang libur semester, ia aktif membantu ayahnya di balai desa sekaligus ikut kegiatan karang taruna.

Amat Junior: (menyela dengan nada sedikit sinis, tetapi masih dalam batas bercanda) Duta desa apaan, Naila? Yang penting program bersih-bersih sungai dulu. Saya lihat di hulu banyak sampah plastik dari warung Pak Karyo dan warga sekitar. Bungkus kopi, bungkus mi instan, botol plastik, semuanya terbawa arus ke hilir. Kalau sungai kotor, warga gampang sakit. Itu urusan kesehatan juga, kan? Jangan cuma mikirin duta desa.

Camelia, gadis berusia 20 tahun yang dikenal dengan suaranya yang nyaring dan sifatnya yang ceplas-ceplos, langsung membalas dengan nada tinggi.

Camelia: (menyela, suaranya nyaring seperti klakson) Eh, jangan nyalahin warung orang, Jun. Warung Pak Karyo itu cuma satu, sampah di sungai banyak banget dari berbagai sumber. Itu juga karena warga buang sampah sembarangan di bantaran sungai. Mereka males bawa sampah ke TPS desa yang jaraknya cuma lima ratus meter. Jadi jangan cuma nyalahin warung Pak Karyo. Lagian, Mas Erlangga kan programnya kesehatan, bukan sedot sampah. Nanti malah jadi kuli.

Erlangga yang mendengar semua itu, tertawa lepas. Ia melihat semangat anak-anak muda ini, berbeda pendapat, saling menyela, tetapi semuanya memiliki perhatian yang sama pada desa mereka. Ada energi yang tidak ia temukan di kota, di mana anak-anak muda lebih peduli pada gawai mereka daripada lingkungan sekitar.

Erlangga: (mengangkat tangan, mencoba menenangkan suasana yang mulai ramai) Semuanya penting. Kesehatan itu terkait erat dengan lingkungan. Kalau sungai kotor, warga mudah sakit. Kalau warga sakit, program kesehatan jadi sia-sia. Jadi, kalau kalian mau bikin program bersih sungai, saya dukung penuh. Nanti saya bantu edukasi soal bahaya sampah terhadap kesehatan. Saya bisa jelaskan secara sederhana, pakai bahasa yang mudah dimengerti, kenapa sampah plastik di sungai bisa bikin anak-anak diare, kenapa air yang tercemar bisa menyebabkan penyakit kulit, dan seterusnya. Jadi program bersih sungainya tidak hanya bersih-bersih fisik, tapi juga ada edukasinya.

Guntur yang dari tadi mendengarkan, langsung bertepuk tangan.

Guntur: Nah, ini baru mantap! Kita tidak cuma kerja bakti, tapi juga paham kenapa kita harus kerja bakti. Setuju, Mas!

Hermansyah, pemuda berusia 23 tahun yang sedari tadi duduk di pojok dengan tenang, akhirnya angkat bicara. Ia adalah sosok yang paling pendiam di antara mereka, tetapi ketika berbicara, suaranya berat dan penuh pertimbangan. Ia adalah mahasiswa semester akhir di universitas swasta di Provinsi, mengambil jurusan komunikasi.

Hermansyah: (suaranya berat, pelan tetapi jelas) Maaf, saya baru ikut nimbrung. Yang saya dengar selama ini, program KPM yang dijalankan Mbak Anita sudah bagus. Data stunting dipantau, ibu hamil didampingi, posyandu rutin diadakan. Masalahnya, partisipasi warga masih rendah. Banyak yang tidak datang ke posyandu, banyak yang tidak mengikuti penyuluhan. Mbak Anita sudah bekerja keras, tapi kadang kalah dengan kebiasaan lama.

Ia menatap Erlangga dengan tatapan serius.

Hermansyah: Kalau Mas Erlangga bisa bantu dorong partisipasi lewat pendekatan yang lebih... kekinian, mungkin bisa membantu. Karena generasi muda desa ini sekarang lebih banyak terpapar media sosial. Mereka lebih gampang nyerap informasi lewat video pendek, TikTok, Instagram, daripada lewat ceramah di balai desa.

Anita yang mendengar itu, menoleh ke Hermansyah dengan alis terangkat.

Anita: Pendekatan kekinian maksudnya, Mas Herman? Saya ini orang desa, gaptek. Saya hanya bisa nyatet data di buku, nggak bisa bikin video-videoan.

Hermansyah: Konten kreatif, Mbak. Video pendek yang lucu, menarik, tapi tetap informatif. Edukasi lewat TikTok, Instagram Reels. Anak-anak muda sekarang lebih suka itu. Kalau kita buat konten tentang pentingnya imunisasi atau bahaya stunting dengan gaya yang ringan dan menghibur, mereka akan lebih mudah mengingat. Nggak perlu serius-serius amat.

Erlangga menepuk pundak Hermansyah dengan semangat. Matanya berbinar karena ide yang tiba-tiba muncul.

Erlangga: Ide bagus, Mas Herman! Saya punya kamera mirrorless yang lumayan bagus, dan saya juga bisa edit video, meskipun cuma pakai aplikasi sederhana di laptop. Kita bisa bikin konten bareng. Nggak perlu yang rumit-rumit. Video pendek satu menit, dengan bahasa yang santai, dan yang penting bisa menjangkau anak-anak muda. Saya yakin kalau anak-anak muda mulai paham, mereka akan menjadi agen perubahan di keluarga masing-masing. Mereka bisa mengingatkan orang tua, mengingatkan adik-adiknya.

Guntur langsung berseru heboh, melompat dari duduknya dengan semangat yang meluap-luap.

Guntur: (suaranya memenuhi halaman, tangannya mengepal penuh semangat) Mantap! Saya siap jadi talent! Mumpung muka saya ini pas untuk kamera. Sudah dari dulu saya bilang, saya ini punya bakat akting. Dulu waktu SD, saya pernah jadi pemeran utama dalam drama peringatan Hari Kemerdekaan. Saya main jadi pahlawan yang melawan penjajah. Adik-adik kelas sampai nangis lihat saya!

Semua orang tertawa. Yulia sampai memegang perutnya karena terlalu keras tertawa.

Yulia: (tertawa terbahak-bahak, air matanya hampir keluar) Muka kamu pas buat iklan pupuk kali, Guntur! Atau iklan obat nyamuk! Muka kamu itu kan pas buat peran preman pasar, bukan duta kesehatan! Hahaha.

Guntur: (pura-pura tersinggung, tetapi matanya tetap tertawa) Eh, jangan sembarangan! Muka saya ini aset nasional, Yu! Kalau saya muncul di TikTok, pasti viral. Nanti desa kita terkenal, masuk berita TV, Pak Kades senang, kita semua dapat penghargaan.

Naila ikut nimbrung, suaranya nyaring bercampur tawa.

Naila: Eh, tapi serius, Mas. Kalau Mas Erlangga bikin konten, aku mau jadi talent juga. Aku bisa jelasin tentang pentingnya sarapan pagi atau gizi seimbang. Soalnya aku dulu sempat anemia waktu SMA, sekarang sudah sembuh karena rajin makan sayur dan buah. Aku bisa sharing pengalaman.

Amat Junior: (masih dengan nada sinis tetapi mulai ikut cair) Kalau gitu, saya bagian teknis aja. Saya bisa bantu oprek-oprek laptop kalau ada masalah. Jangan sampai nanti pas shooting, kamera error atau laptopnya lemot. Itu kan urusan saya.

Camelia: (menyela dengan suara nyaringnya) Eh, tapi aku juga mau ikut! Aku bisa jadi penata rias! Biar talent-nya—maksudnya Guntur—jadi lebih enak dipandang. Karena kalau tampil polos kayak gitu, nanti yang nonton kabur.

Guntur: Heh! Muka saya ini sudah pas, Cam! Nggak perlu poles-poles!

Tawa kembali pecah. Suasana di halaman posko menjadi sangat hangat, seperti keluarga besar yang sedang berkumpul. Erlangga yang baru sehari berada di desa ini, sudah merasa diterima dengan tangan terbuka. Ia menatap satu per satu wajah anak-anak muda ini, Yulia yang enerjik, Guntur yang lucu dan bersemangat, Naila yang antusias, Amat Junior yang sinis tapi peduli, Camelia yang ceplas-ceplos, dan Hermansyah yang pendiam namun penuh ide. Mereka adalah energi baru yang bisa menjadi motor perubahan desa.

Anita yang berdiri di samping Erlangga, memperhatikan semuanya dengan senyum tipis. Ia tidak banyak bicara, tetapi matanya menunjukkan sesuatu yang jarang muncul dalam beberapa tahun terakhir: harapan.

Mungkin dengan mereka, dengan anak-anak muda ini, dengan Erlangga, sesuatu bisa berubah, pikir Anita. Mungkin Awan Biru tidak harus selamanya seperti ini.


Matahari mulai condong ke barat ketika keramaian di posko mulai mereda. Satu per satu anggota karang taruna pamit pulang, masih menyisakan tawa dan candaan yang bergema di halaman. Guntur berjanji akan membuat grup WhatsApp untuk koordinasi konten. Naila sudah menyiapkan daftar topik kesehatan yang ingin ia sampaikan. Yulia berencana mengumpulkan anak-anak muda di dusun-dusun lain untuk ikut serta. Hermansyah menawarkan diri untuk menjadi sutradara amatir.

Ketika semua sudah pulang, hanya Erlangga dan Anita yang tersisa di teras posko. Mereka duduk berdampingan di bangku panjang kayu yang agak reot, menikmati senja yang mulai kemerahan. Langit di barat berubah warna dari biru ke oranye, lalu ke merah keunguan, pemandangan yang tidak pernah gagal memukau di desa ini. Di kejauhan, kabut mulai merayap turun dari puncak bukit, perlahan menyelimuti lembah dengan warna kebiruannya yang khas.

Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Bukan keheningan yang canggung, tetapi keheningan yang lahir dari rasa nyaman berada di dekat seseorang tanpa perlu banyak bicara.

Angin sore berhembus lembut, membawa wangi kopi dari kebun-kebun warga yang sedang berbunga. Bau tanah basah dan dedaunan kering bercampur menjadi aroma yang khas, aroma desa yang tidak bisa ditemukan di kota mana pun. Suara jangkrik mulai terdengar dari kejauhan, bergantian dengan suara burung yang pulang ke sarang.

Erlangga: (menatap langit yang mulai gelap, suaranya pelan dan penuh kehangatan) Mbak Anita, terima kasih sudah mau membuka jalan hari ini. Saya senang sekali bisa bertemu warga dan teman-teman Karang Taruna. Saya tidak menyangka sambutannya sehangat ini. Tadinya saya agak khawatir, karena dari awal Mbak Anita terlihat skeptis dengan kedatangan mahasiswa KKN.

Ia menoleh ke Anita dengan senyum kecil, senyum yang tidak dibuat-buat, tetapi muncul dari ketulusan.

Erlangga: Tapi ternyata... Mbak Anita yang membukakan pintu untuk saya. Tanpa Mbak Anita, saya tidak akan bisa sedalam ini mengenal desa ini dalam satu hari.

Anita tidak langsung menjawab. Ia masih menatap langit senja, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang tidak bisa ia sembunyikan.

Anita: (suaranya lembut, berbeda dari pagi yang dingin dan skeptis) Saya yang berterima kasih, Mas. Saya pikir Mas Erlangga akan jadi tipe mahasiswa KKN yang hanya minta difasilitasi, lalu sibuk dengan urusan sendiri. Atau tipe yang datang dengan program yang sudah disusun rapi di kampus, lalu memaksa warga mengikuti program itu tanpa benar-benar memahami kebutuhan mereka. Tapi ternyata... Mas langsung terjun. Dari pagi sampai sore, Mas tidak berhenti belajar. Saya lihat Mas tidak hanya bertanya, tapi juga mendengarkan. Itu jarang saya temui.

Erlangga tersenyum, merendahkan diri.

Erlangga: Itu karena Mbak Anita memberikan contoh yang baik. Saya belajar banyak dari cara Mbak berbicara dengan Pak Karyo tadi. Lembut tapi tegas. Mbak tidak memarahi, tidak menggurui, tetapi tetap menyampaikan apa yang harus dilakukan. Itu seni komunikasi yang tidak diajarkan di kampus. Saya hanya bisa belajar dari pengalaman di lapangan.

Ia berhenti sejenak, memandang Anita dengan tatapan yang lebih dalam.

Erlangga: Dan saya juga belajar dari cara Mbak Anita sabar menghadapi warga yang mungkin tidak selalu responsif. Mbak sudah bertahun-tahun melakukan ini sendirian. Itu luar biasa.

Anita membuang muka, tidak nyaman dengan pujian yang tulus. Ia lebih terbiasa dengan kritik atau ketidakpedulian daripada dengan pujian.

Anita: (suaranya agak serak, entah karena emosi atau karena udara sore yang dingin) Saya hanya melakukan tugas saya, Mas. Tidak lebih.

Erlangga: (tidak memaksa, hanya tersenyum) Mungkin. Tapi bagi saya, orang yang melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh di tempat yang sepi seperti ini, tanpa banyak orang yang melihat dan tanpa imbalan yang sebanding... itu adalah pahlawan. Sungguh, Mbak. Saya tidak bergurau.

Mereka bertatapan sejenak. Di senja yang mulai gelap, dengan hanya cahaya dari dalam rumah yang tembus melalui jendela, ada getaran yang tidak diucapkan. Getaran yang tidak bisa mereka beri nama, apakah itu kekaguman, apakah itu ketertarikan, atau hanya sekadar rasa syukur karena menemukan seseorang yang sepaham dalam perjuangan yang sunyi.

Namun, keduanya memilih untuk diam. Mereka kembali menatap langit yang mulai dipenuhi bintang-bintang pertama. Angin sore berhembus lebih kencang, membawa dingin yang menusuk, tetapi juga membawa wangi bunga kopi yang menenangkan.

Anita: (akhirnya memecah keheningan, suaranya kembali ke nada profesional tetapi masih menyisakan kehangatan) Besok kita ke posyandu, Mas. Saya mau Mas Erlangga lihat langsung bagaimana pelaksanaan posyandu di sini. Jangan kaget kalau pesertanya sepi. Biasanya cuma lima atau enam ibu yang datang. Padahal seharusnya ada dua puluh balita yang harus dipantau.

Erlangga: (mengangguk, matanya bersemangat meskipun tubuhnya sudah lelah) Saya siap, Mbak. Saya akan bawa alat-alat yang saya punya. Mungkin kita bisa tambah layanan sederhana, seperti pemeriksaan Hb untuk ibu hamil atau skrining gizi untuk balita. Dengan layanan tambahan, mungkin lebih banyak yang datang.

Anita tersenyum, senyum yang tulus, tanpa skeptisisme yang biasanya menghiasi wajahnya.

Anita: Kita coba, Mas. Tapi janji, kalau nanti cuma datang tiga ibu, Mas tidak boleh kecewa.

Erlangga: (tertawa kecil) Saya tidak akan kecewa, Mbak. Bahkan kalau cuma satu ibu yang datang, itu sudah berarti. Perubahan tidak dimulai dari keramaian, Mbak. Perubahan dimulai dari kesetiaan pada hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Anita menatap Erlangga lebih lama. Ada sesuatu dalam kalimat terakhir itu yang menyentuh hatinya. Perubahan dimulai dari kesetiaan pada hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang. Bukankah itu yang selama ini ia lakukan? Berulang-ulang, tanpa lelah, meskipun hasilnya tidak pernah instan.

Anita: (suaranya pelan, hampir berbisik) Itu kalimat yang bagus, Mas. Saya simpan.

Mereka kembali diam. Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, menghiasi langit Awan Biru yang bersih dari polusi cahaya. Di kejauhan, suara azan magrib mulai berkumandang dari mesjid desa, menggema di antara bukit-bukit dengan keindahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Erlangga bangkit dari bangku, mengusap celananya yang sedikit kotor karena debu. Ia menatap Anita yang masih duduk, menikmati senja yang tersisa.

Erlangga: Mbak, saya antar pulang. Hari sudah gelap. Jalanan berbatu, nanti Mbak jatuh.

Anita: (tertawa kecil) Saya sudah puluhan tahun hidup di sini, Mas. Saya hafal setiap batu di jalan ini meskipun mata saya pejam.

Erlangga: (tersenyum, tetapi tetap berdiri) Saya tahu. Tapi izinkan saya antar. Sebagai rasa terima kasih untuk hari ini.

Anita menatap Erlangga sejenak, lalu menghela napas pasrah. Ia bangkit dari bangku, mengambil helm yang tergantung di stang motor.

Anita: Baiklah, Mas Montir. Tapi hati-hati, ya. Kalau Mas jatuh, saya yang akan repot mengobati. Saya kan cuma kader, bukan dokter.

Erlangga: (tertawa, mengambil helm yang lain) Saya siap, Mbak. Saya sudah punya asuransi kesehatan kok.

Mereka berdua tertawa kecil, lalu berjalan beriringan menuju motor tua yang masih terparkir di halaman. Suara langkah mereka beradu dengan kerikil, menciptakan irama yang sederhana namun harmonis. Di langit, bintang pertama sudah bersinar terang, seperti mata yang berkedip menyaksikan awal dari sesuatu yang mungkin akan mengubah Desa Awan Biru selamanya.


BAB 3: Bidan Galak, Supir Tengil, dan Politik Anggaran

Minggu kedua Kuliah Kerja Nyata di Desa Awan Biru berjalan dengan dinamika yang tak pernah sepi. Setelah minggu pertama yang dihabiskan untuk perkenalan dan pemetaan awal, Erlangga mulai merasakan denyut sebenarnya dari desa ini. Bukan hanya keindahan kabut biru di pagi hari atau keramahan warga yang tersenyum setiap kali berpapasan di jalan. Ada kompleksitas yang menganga di balik senyum-senyum itu, sebuah sistem pelayanan kesehatan yang berjalan di atas tali tipis antara idealisme dan realitas.

Erlangga sudah tiga kali mengikuti Anita keliling desa, dua kali ikut posyandu di dusun yang berbeda, dan satu kali membantu Pak Amat mendata ulang keluarga sasaran stunting untuk program intervensi seribu hari pertama kehidupan. Ia belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah. Tentang bagaimana seorang ibu lebih percaya pada paraji yang sudah membantu melahirkan tiga generasi keluarganya daripada pada bidan desa yang baru bertugas dua tahun. Tentang bagaimana balita yang seharusnya mendapat imunisasi campak justru disembunyikan oleh orang tuanya karena takut anaknya demam setelah disuntik. Tentang bagaimana warga lebih memilih membeli rokok daripada telur untuk anaknya karena "rokok kebutuhan, telur cuma lauk".

Namun, tantangan terbesar yang akan ia hadapi minggu ini bukanlah warga yang resisten atau ibu-ibu yang keras kepala. Tantangan itu datang dalam bentuk seorang perempuan bernama Amilia—bidan desa yang sudah mengabdi di Awan Biru selama delapan tahun, dengan reputasi yang sudah terdengar hingga ke kecamatan: Bidan Galak dari Awan Biru.


Pukul setengah delapan pagi, Erlangga dan Anita sudah sampai di balai desa. Posyandu balai desa, yang merupakan posyandu induk dari tiga posyandu yang tersebar di dusun-dusun, diadakan setiap hari Selasa minggu kedua dan keempat. Hari ini adalah hari Selasa minggu kedua, dan Anita sudah mengingatkan Erlangga sejak kemarin malam untuk datang lebih awal.

"Mau lihat Bu Amilia menyiapkan alat itu kayak mau perang," kata Anita sambil tersenyum tipis. "Dia orangnya perfeksionis. Semua harus rapi, steril, dan sesuai prosedur. Kalau ada yang kurang, bisa kena marah. Tapi di balik itu, dia baik banget. Hanya saja dia punya cara sendiri untuk menunjukkan kepedulian."

Erlangga membayangkan seorang bidan yang galak, tetapi ia tidak membayangkan se-ekstrem yang akan ia temui.

Ketika mereka memasuki ruang utama balai desa yang pagi itu disulap menjadi posyandu sementara, Erlangga melihat seorang perempuan berdiri di meja panjang yang sudah ditata rapi. Ia berusia sekitar 40-an tahun, dengan tubuh kurus tetapi tegap, rambut panjang yang diikat ketat, dan kacamata minus tebal yang membuat matanya tampak lebih besar dan tajam. Ia mengenakan seragam bidan berwarna putih, yang meskipun sudah agak kusam karena sering dicuci, tetap terlihat rapi dan bersih. Di tangannya, ia memegang alat timbang dacin yang sedang ia kalibrasi dengan hati-hati.

Namun yang paling mencolok dari Amilia bukanlah penampilannya, melainkan auranya. Setiap orang yang masuk ke ruangan itu sepertinya tahu untuk tidak membuat keributan. Bahkan Pak Eko yang biasanya ramai dan cerewet, ketika masuk untuk mengambil berkas, hanya menyapa dengan suara pelan dan cepat keluar lagi.

Amilia belum menoleh ketika Erlangga dan Anita masuk. Ia masih sibuk dengan timbangannya, memastikan jarum penunjuk berat berada tepat di angka nol sebelum digunakan. Suasana di ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara gesekan alat timbang dan suara napas Amilia yang teratur.

Erlangga melangkah mendekat, berniat memperkenalkan diri. Namun sebelum ia sempat membuka mulut, Amilia bersuara dengan nada yang tajam seperti pisau bedah.

Amilia: (tanpa menoleh, suaranya datar tetapi menusuk) Jadi, ini yang katanya calon dokter dari kota yang bikin geger desa minggu lalu? Yang katanya bisa benerin motor, kasih saran kesehatan, dan bikin anak-anak muda heboh bikin konten TikTok?

Ia masih belum menoleh. Tangannya tetap sibuk dengan alat timbang, tetapi kata-katanya jelas ditujukan untuk Erlangga.

Amilia: Saya dengar dari Bu Lulu, katanya kamu ini ramah, pintar, dan cakap. Tapi saya bukan Bu Lulu. Saya tidak akan terpengaruh dengan wajah tampan atau senyum manis. Jangan harap saya akan manja-manja sama mahasiswa KKN yang cuma datang sebentar lalu pergi. Di sini kerjaannya keras. Saya tidak suka orang yang cuma bisa teori tapi nggak mau pegang kaki balita yang menendang. Saya tidak suka orang yang datang dengan angkuh, sok tahu, lalu pergi meninggalkan pekerjaan yang tidak selesai.

Ia akhirnya menoleh. Matanya yang membesar di balik kacamata tebal menatap Erlangga dengan tajam, seperti sedang memindai setiap inci dari pemuda itu. Tatapan itu bukan tatapan bermusuhan, tetapi lebih seperti tatapan seorang komandan yang sedang menilai prajurit baru, apakah ia layak atau hanya akan menjadi beban.

Erlangga tidak bergeming. Ia sudah diperingatkan oleh Anita, dan ia sudah mempersiapkan mentalnya. Namun, alih-alih merasa tersinggung atau defensif, ia justru merasakan sesuatu yang lain: kekaguman. Di balik nada tajam itu, ia bisa mendengar kelelahan yang sudah bertahun-tahun terpendam. Ia bisa melihat mata yang sudah terlalu lama melihat penderitaan tanpa cukup sumber daya untuk mengatasinya. Ia bisa merasakan energi seorang perempuan yang sendirian menanggung beban kesehatan ibu dan anak di desa terpencil ini.

Erlangga melangkah maju satu langkah, membungkukkan badannya sedikit, bukan karena takut, tetapi sebagai bentuk penghormatan. Ia menatap Amilia dengan mata yang jujur dan tenang.

Erlangga: (dengan suara yang mantap tetapi rendah hati) Selamat pagi, Bu Bidan. Saya Erlangga. Saya tidak akan membuang-buang waktu Ibu dengan basa-basi. Saya datang ke sini untuk belajar dan membantu semampu saya. Saya sudah pernah ikut program posyandu di daerah lain waktu kos, jadi saya paham prosedur dasarnya. Kalau Ibu berkenan, saya bisa bantu bagian imunisasi, memegang anak yang disuntik, membantu menenangkan ibu-ibu yang cemas, atau membantu mencatat hasil pemeriksaan. Atau kalau Ibu punya tugas lain yang lebih membutuhkan tenaga, saya siap di mana pun Ibu tempatkan.

Ia berhenti sejenak, tersenyum kecil, senyum yang tidak berlebihan, tetapi tulus.

Erlangga: Saya tidak datang dengan angkuh, Bu. Saya datang dengan kesadaran bahwa saya masih banyak belajar. Dan dari yang saya dengar tentang Ibu dari Mbak Anita dan warga, saya tahu bahwa Ibu adalah orang yang paling tepat untuk saya belajar tentang kesehatan masyarakat di desa ini.

Amilia terdiam. Matanya masih menatap Erlangga, tetapi intensitasnya sedikit berkurang. Ia mengamati pemuda ini, jaket almamater yang lusuh, sepatu boots yang kotor oleh lumpur, tangan yang terlihat bersih tetapi tidak terlalu mulus. Setidaknya dia bukan tipe mahasiswa yang datang dengan kemeja rapi dan sepatu pantofel yang tidak akan pernah kena debu desa.

Ia kemudian melirik sepatu Erlangga, boots yang kotor, dengan lumpur cokelat yang sudah mengering di bagian samping. Ada jejak daun dan pasir di sela-sela sol sepatunya. Bekas perjalanan keliling desa. Bekas kerja lapangan.

Amilia: (setelah hening beberapa detik, suaranya sedikit melunak, hanya sedikit, tetapi cukup terasa) Setidaknya sepatumu kotor. Berarti kamu benar-benar keliling desa, bukan cuma duduk-duduk di kantor desa sambil minum kopi. Itu poin pertama untukmu.

Ia menghela napas, lalu menunjuk ke meja di sebelah kanan dengan dagunya.

Amilia: Baik, kalau kamu mau bantu, duduk di sana. Nanti ibu-ibu hamil yang datang, kamu lakukan anamnesa. Tanyakan usia kehamilan, keluhan, riwayat imunisasi TT, dan apakah sudah minum tablet tambah darah. Catat semuanya di buku KIA. Tapi jangan sok tahu. Kalau ada yang tidak sesuai dengan protokol yang saya buat, tanya saya dulu. Jangan langsung kasih saran atau resep tanpa sepengetahuan saya. Di sini, saya yang bertanggung jawab. Saya tidak mau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi karena kesalahan mahasiswa KKN yang baru datang seminggu.

Erlangga mengangguk dengan penuh hormat. Ia mengambil tempat duduk di meja yang ditunjuk, mengeluarkan stetoskop dan alat tulis dari ranselnya, dan mulai menyiapkan diri. Anita yang dari tadi berdiri di belakang, tersenyum lega. Ia tahu bahwa Amilia tidak akan semudah itu menerima orang baru, dan fakta bahwa ia sudah mengizinkan Erlangga membantu adalah sebuah pencapaian tersendiri.

Anita: (berbisik pada Erlangga sebelum duduk di meja administrasi) Selamat, Mas. Bu Amilia biasanya butuh waktu tiga minggu untuk percaya sama orang baru. Mas cuma butuh tiga menit. Itu rekor.

Erlangga: (berbisik balik, tersenyum) Saya hanya jujur, Mbak. Orang seperti Bu Amilia tidak butuh pujian atau rayuan. Mereka butuh dilihat, dihargai, dan dibantu dengan tulus.


Posyandu dimulai pukul sembilan. Seperti yang sudah diperkirakan Anita, peserta yang datang tidak terlalu banyak, sekitar delapan ibu dengan balita, dan tiga ibu hamil. Tapi bagi Erlangga, yang baru pertama kali melihat langsung dinamika posyandu di desa terpencil, ini adalah pengalaman yang membuka matanya.

Ia melihat seorang ibu dengan balita yang rewel karena tidak mau ditimbang. Ibu itu membawa anaknya dengan cara yang salah, menggendong dengan satu tangan sambil memegang ponsel di tangan lain dan anaknya terus meronta. Erlangga menghampiri dengan sabar, membantu menstabilkan anak itu sambil tersenyum pada ibunya.

Di meja imunisasi, Amilia bekerja dengan kecepatan dan ketepatan yang mengesankan. Satu anak disuntik, selesai, anak berikutnya dipanggil. Tangannya bergerak dengan ritme yang sudah terlatih selama bertahun-tahun. Namun, ia juga harus menghadapi ibu-ibu yang bertanya dengan nada cemas: "Bu Bidan, nanti anak saya demam, gimana?", "Bu, ini suntikan apa? Kok beda warna?", "Anak saya kemarin habis batuk, aman ya disuntik?"

Amilia menjawab satu per satu dengan sabar, sesuatu yang kontras dengan reputasi "galaknya". Erlangga menyadari bahwa kegalakan Amilia bukanlah ketidaksabaran, tetapi bentuk pertahanan diri. Ketika seseorang harus bekerja sendirian dengan sumber daya terbatas, menghadapi puluhan ibu yang cemas, puluhan anak yang menangis, dan tekanan dari atas yang tidak pernah berhenti, menjadi "galak" adalah cara untuk menjaga agar semua tetap teratur dan terkendali.

Sekitar pukul setengah sepuluh, ketika posyandu sedang berlangsung, suasana mendadak berubah. Dari luar balai desa, terdengar suara truk besar yang berhenti dengan bunyi rem angin yang nyaring, pshhhhh!, disusul dengan suara pintu kabin yang dibanting keras. Semua ibu di dalam ruangan menoleh ke arah pintu, ekspresi mereka berubah menjadi heran.

Seorang pria masuk dengan langkah terhuyung-huyung. Ia bertubuh besar, dengan tinggi sekitar 175 sentimeter dan perut yang sedikit buncit, tubuh yang terbiasa duduk berjam-jam di belakang kemudi. Wajahnya kemerahan, bukan karena malu tetapi karena demam atau rasa sakit yang ia tahan. Keringat membasahi dahi dan lehernya, membuat kaos oblong biru yang ia kenakan basah di bagian kerah. Tangan kanannya memegang pipi kirinya, dan dari cara ia mengerang pelan setiap kali melangkah, jelas bahwa rasa sakit itu luar biasa.

Pria itu adalah Anto, supir truk yang bertugas mengangkut hasil perkebunan dari Desa Awan Biru dan desa-desa sekitarnya ke pabrik pengolahan di kota kabupaten. Ia bukan warga asli desa ini, tetapi ia sudah bertugas di rute ini selama lima tahun, membuatnya dikenal oleh hampir semua orang di sepanjang jalur. Ia dikenal sebagai supir yang andal, ramah, tetapi juga sedikit "tengil"—suka bercanda kasar dan tidak sungkan meminjam uang untuk rokok atau kopi. Namun pagi itu, tidak ada sepenggal pun rasa tengil yang tersisa di wajahnya. Yang ada hanya kesakitan yang nyaris membuatnya menangis.

Anto: (mengerang kesakitan, suaranya serak dan putus-putus karena sakit yang ia tahan) Bu Bidan... Bu Amilia... tolong... gigi saya. Saya nggak tahan. Sakitnya udah dari tiga hari yang lalu, tapi tadi malam tambah parah. Sampai nggak bisa makan tiga hari ini. Cuma minum air putih dan kopi pahit itupun susah. Tadi subuh saya sempat dibawa ke mantri, dikasih obat, tapi nggak mempan, Bu. Sakitnya tambah menjadi. Saya sampai nggak bisa tidur semalaman.

Ia meraih pipinya dengan kedua tangan sekarang, wajahnya memerah karena demam dan rasa sakit yang menjalar hingga ke rahang.

Anto: (hampir menangis, suaranya bergetar) Bu, saya tau ini posyandu ibu dan anak, bukan klinik gigi. Tapi saya nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Puskesmas kecamatan Kabut Merah jauh, jalannya jelek, dan saya nggak punya kendaraan. Truk saya lagi parkir di halaman desa, tapi saya nggak bisa bawa karena kepala saya rasanya mau pecah.

Amilia menghela napas panjang. Ia meletakkan alat suntik yang sedang ia pegang, membersihkan tangannya dengan hand sanitizer, lalu mendekati Anto dengan langkah cepat. Matanya yang tajam di balik kacamata tebal mengamati wajah Anto yang sembab dan kemerahan.

Amilia: (dengan nada yang tegas tetapi tidak marah) Anto, saya ini bidan, bukan dokter gigi. Saya punya kewenangan terbatas. Untuk kasus gigi seperti ini, saya cuma bisa kasih obat penahan sakit sementara, parasetamol atau ibuprofen, itu pun kalau masih tersedia. Tapi itu hanya mengurangi rasa sakit, bukan menyembuhkan. Kamu harus ke puskesmas kecamatan Kabut Merah untuk diperiksa dokter gigi. Akar masalahnya harus ditangani.

Anto menggeleng dengan putus asa, gerakannya justru membuat rasa sakitnya bertambah. Ia meringis, matanya berkaca-kaca.

Anto: (suaranya nyaris memelas) Bu, saya nggak bisa ke puskesmas sekarang. Truk saya harus bawa muatan ke kota hari ini. Ini muatan kopi dari tiga desa, total dua ton. Kalau saya nggak berangkat hari ini, setoran saya hangus. Perusahaan bakal potong gaji saya. Saya kan cuma supir kontrak, Bu. Nggak punya jaminan kesehatan. Kalau saya sakit begini dan nggak nyetir, saya nggak punya pemasukan. Istri saya lagi hamil besar, bentar lagi melahirkan. Saya butuh uang untuk biaya persalinan.

Ia menunduk, air mata pria dewasa itu akhirnya menetes. Bukan karena sakit gigi saja, tetapi karena tekanan hidup yang menimpanya di waktu yang salah.

Amilia terdiam. Ia mengerti. Delapan tahun menjadi bidan di desa ini mengajarkannya bahwa kesehatan tidak pernah berdiri sendiri. Kesehatan selalu beririsan dengan ekonomi, dengan pekerjaan, dengan sistem yang sering kali tidak berpihak pada mereka yang paling membutuhkan. Ia bisa saja marah pada Anto karena tidak segera berobat, karena memaksakan diri tetap bekerja meskipun sakit. Tapi ia juga tahu bahwa kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah.

Amilia: (suaranya melunak, tetapi masih tegas) Anto, saya cuma bisa kasih obat penahan sakit sementara. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Kalau infeksinya sudah parah, bisa menyebar ke bagian tubuh lain. Itu berbahaya. Kamu harus...

Sebelum Amilia selesai berbicara, Erlangga yang sejak tadi memperhatikan dari meja anamnesa, berdiri dan menghampiri. Ia sudah mendengar seluruh percakapan, dan ia bisa melihat dengan jelas kondisi Anto: wajah sembab, pipi kiri bengkak, kesulitan membuka mulut, dan dari bau napas yang keluar meskipun dari jarak satu meter, ada indikasi infeksi yang sudah cukup parah.

Erlangga: (mendekat dengan langkah tenang, suaranya rendah tetapi jelas) Mas Anto, coba saya lihat sebentar. Saya Erlangga, mahasiswa kedokteran yang sedang KKN di sini. Boleh saya periksa?

Anto menatap Erlangga dengan mata setengah tidak percaya. Seorang mahasiswa? Baru datang seminggu? Tapi rasa sakitnya sudah begitu luar biasa sehingga ia tidak punya pilihan. Ia mengangguk pelan, membuka mulutnya dengan susah payah.

Erlangga mengambil senter kecil dari saku jasnya, senter yang sama yang ia gunakan untuk memeriksa Bintang beberapa hari lalu. Dengan gerakan hati-hati, ia menyorotkan cahaya ke dalam rongga mulut Anto. Ia melihat dengan saksama: gusi di sekitar gigi geraham kiri bawah tampak merah dan bengkak, ada nanah di sekitar pangkal gigi, dan gigi itu sendiri sudah berlubang besar hingga ke akar. Sisa akar gigi yang sudah terinfeksi, itulah diagnosis cepat yang ia buat dalam pikirannya.

Erlangga: (setelah selesai memeriksa, suaranya tenang tetapi serius) Mas Anto, ini sisa akar gigi yang sudah infeksi. Sebenarnya harus dicabut di fasilitas kesehatan oleh dokter gigi, karena kalau hanya diobati tanpa mencabut sumber infeksinya, sakitnya akan kambuh lagi. Tapi kalau Mas Anto tidak bisa ke puskesmas sekarang karena tuntutan pekerjaan, saya bisa bantu berikan kompres air garam hangat untuk mengurangi pembengkakan, dan obat antiinflamasi yang lebih kuat dari yang dikasih mantri tadi. Tapi Mas harus janji, besok pagi, pagi benar, jam tujuh, Mas harus ke puskesmas kecamatan Kabut Merah untuk cabut gigi. Kalau tidak, infeksinya bisa menyebar ke tulang rahang atau bahkan ke aliran darah. Itu sangat berbahaya.

Anto mengerang, masih memegang pipinya. Matanya menunjukkan konflik batin antara keinginan untuk segera sembuh dan kewajiban untuk bekerja.

Anto: (suaranya serak) Mas bisa jamin saya bisa nyetir hari ini? Truk saya muatan dua ton, jalannya naik turun bukit. Kalau saya pusing, bisa celaka. Saya nggak mau ambil risiko kalau belum yakin.

Erlangga menatap Anto dengan mata yang jujur. Ia tidak mau menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ia pastikan. Sebagai calon dokter, ia tahu batasan kemampuannya. Tapi sebagai manusia, ia juga tahu bahwa terkadang solusi tidak harus sempurna; yang penting adalah mengurangi risiko dan memastikan ada jaring pengaman.

Erlangga: (suaranya mantap) Mas, saya jamin Mas bisa nyetir hari ini, tapi dengan perjanjian. Saya akan ikut ke truk Mas. Saya akan duduk di kabin menemani Mas, memastikan Mas tidak pusing karena obat, dan memantau kondisi Mas selama perjalanan. Kalau di tengah jalan Mas merasa tidak enak badan, kita akan berhenti dan saya yang akan cari solusi. Saya juga akan bawa obat tambahan untuk antisipasi.

Anto terbelalak. Matanya yang tadinya setengah tertutup karena sakit, sekarang terbuka lebar. Ia tidak menyangka ada seorang mahasiswa, calon dokter pula, yang bersedia naik truk kotor miliknya hanya untuk memastikan ia selamat sampai tujuan.

Anto: (dengan suara tidak percaya) I... ikut naik truk saya? Mas dokter mau naik truk kotor begini? Truk saya penuh debu kopi, bau solar, joknya robek, AC-nya rusak. Panas di dalamnya kayak setrika. Mas yang dari kota, biasa naik mobil bagus...

Erlangga: (tertawa kecil, mengusap keringat di dahinya) Mas Anto, saya mahasiswa KKN, Mas. Bukan dokter yang gengsi. Di kampus saya juga sering ke lapangan, naik angkot, naik truk, bahkan pernah naik gerobak sapi waktu kos di daerah pesisir. Truk Mas masih jauh lebih nyaman daripada gerobak sapi, saya jamin. Ayo, setelah posyandu ini saya anter. Tapi sebelumnya, saya siapkan dulu obatnya dan kompres hangatnya.

Ia berbalik ke arah Amilia yang sejak tadi memperhatikan dengan mata menyipit. Ada ekspresi di wajah Amilia yang sulit dibaca, antara kagum, heran, dan sedikit terharu.

Erlangga: Bu Bidan, apakah Ibu punya stok ibuprofen dosis 400 mg atau asam mefenamat? Dan apakah ada kapas steril untuk kompres?

Amilia mengangguk perlahan. Ia membuka lemari obat kecil yang ia bawa, mengeluarkan blister obat dan kapas steril.

Amilia: (nada suaranya datar, tetapi ada kehangatan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya) Ada. Ambil. Tapi kamu hati-hati, Erlangga. Kasus gigi seperti ini tidak bisa dianggap sepele. Pastikan Anto benar-benar ke puskesmas besok. Jangan sampai kamu hanya menjadi enabler yang membantunya menunda pengobatan.

Erlangga: (mengangguk) Saya paham, Bu. Saya akan pastikan. Saya juga akan minta nomor HP Mas Anto, dan besok pagi saya akan telepon untuk memastikan dia sudah di puskesmas. Kalau perlu, saya yang akan jemput.

Anita yang sejak tadi berdiri di belakang meja administrasi, menyaksikan semuanya dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia melihat bagaimana Erlangga dengan segala keterbatasan alat dan wewenangnya, tetap berusaha memberikan solusi yang manusiawi. Ia tidak hanya memberi obat lalu pergi. Ia menawarkan diri untuk menemani, untuk memastikan, untuk bertanggung jawab. Itu bukan sekadar ilmu kedokteran. Itu adalah hati.

Ketika Erlangga selesai memberikan kompres hangat dan obat pada Anto, dan setelah ia mencatat nomor telepon pria itu dengan janji akan menghubungi besok pagi, Amilia mendekati Anita dengan langkah pelan.

Amilia: (berbisik, suaranya nyaris tak terdengar) Anita, mahasiswa yang kamu bawa ini... berbeda.

Anita: (tersenyum) Saya tahu, Bu. Saya juga kaget.

Amilia: (masih berbisik, matanya mengikuti Erlangga yang sedang membantu Anto berjalan ke luar) Saya sudah melihat puluhan mahasiswa KKN. Ada yang baik, ada yang biasa saja, ada yang menyebalkan. Tapi yang seperti ini... yang tidak hanya pintar tapi juga punya empati yang tulus... itu langka. Jangan sia-siakan, Anita. Orang seperti ini tidak datang dua kali.

Anita tidak menjawab. Ia hanya menunduk, merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Jangan sia-siakan. Apa maksud Bu Amilia dengan kata-kata itu? Apakah tentang program kesehatan? Atau tentang... hal lain?


Sore harinya, setelah Erlangga selesai menemani Anto hingga ke truk dan memastikan supir itu cukup stabil untuk menyetir, bahkan sempat membantu menaikkan beberapa karung kopi yang terjatuh saat Anto hendak berangkat, suasana di kantor desa berubah menjadi lebih formal dan tegang. Ruang rapat utama yang biasanya digunakan untuk pertemuan perangkat desa, sore itu dipenuhi oleh kursi-kursi yang disusun rapi menghadap meja panjang. Di dinding, papan tulis putih yang sudah agak kusam telah dibersihkan dan dipasangi spidol warna-warni yang hampir habis tintanya.

Rapat koordinasi program kesehatan dihadiri oleh hampir seluruh perangkat desa. Pak Iwan duduk di ujung meja dengan ekspresi serius, tangannya memegang rokok yang belum dinyalakan, kebiasaannya ketika akan membahas sesuatu yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Di sampingnya, Bu Yuni sibuk membuka-buka buku agenda dengan jari-jari yang gemetar sedikit karena gelisah. Pak Eko duduk dengan kipasnya yang terus bergerak cepat, menandakan bahwa ia sudah mulai kepanasan meskipun AC di ruangan itu tidak ada dan hanya mengandalkan kipas angin tua yang suaranya berisik.

Bu Lulu, sang Kaur Keuangan, sudah menyiapkan kalkulator dan buku catatan keuangannya di depan meja. Ia memakai kacamata baca yang digantung di ujung hidung, sesekali menyentuh layar kalkulator dengan jari telunjuknya meskipun belum ada angka yang dihitung. Di sebelahnya, Bu Endang duduk dengan tenang, sesekali menatap ke arah Anita dan Erlangga yang duduk di kursi tamu di sisi ruangan.

Pak Edi, Kaur Kesra yang terkenal dengan nada sinisnya duduk menyandar di kursi dengan tangan bersilang di dada. Wajahnya datar, tetapi matanya bergerak cepat, mengamati setiap orang yang berbicara. Di sudut ruangan, Si Amat sudah menyiapkan laptopnya, siap mendokumentasikan jalannya rapat untuk arsip digital desa.

Dan di kursi paling ujung, Pak Didit, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), duduk dengan tenang. Ia adalah pria berusia 55 tahun dengan rambut putih yang disisir rapi, kemeja batik lengan panjang, dan sikap yang selalu kalem. Kehadirannya dalam rapat ini penting karena BPD memiliki fungsi pengawasan terhadap penggunaan anggaran desa.

Bu Lulu membuka pembicaraan dengan suara melengking khasnya yang langsung memenuhi ruangan.

Bu Lulu: (menekan tombol kalkulator dengan penuh semangat meskipun sebenarnya belum ada yang dihitung) Baik, kita mulai saja. Agenda rapat hari ini adalah pembahasan alokasi anggaran untuk program kesehatan yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa KKN bersama dengan kader desa dan bidan desa. Dari hasil rapat teknis kemarin, diperkirakan program pemeriksaan kesehatan gratis yang akan dilaksanakan di tiga titik—balai desa, RT 02, dan RT 05—membutuhkan biaya sekitar lima juta rupiah. Ini sudah termasuk konsumsi untuk relawan, cetak alat peraga edukasi, transportasi kader, dan pembelian obat-obatan dasar yang tidak bisa ditanggung oleh puskesmas.

Ia berhenti sejenak, menatap Bu Yuni yang bertugas menyusun anggaran.

Bu Lulu: Tapi setelah saya cek ulang dengan Bu Yuni, ternyata untuk alokasi dana desa bidang kesehatan tahun ini sudah hampir habis. Sebagian besar sudah digunakan untuk perbaikan posyandu di RT 03 dan RT 04, atap bocor, lantai retak, dan pengadaan meja serta kursi baru. Jadi, sisa anggaran untuk program kesehatan di sisa tahun ini hanya sekitar satu setengah juta rupiah. Jauh dari yang dibutuhkan.

Pak Eko mengernyit. Kipasnya berhenti bergerak sejenak, lalu mulai bergerak lagi dengan lebih cepat.

Pak Eko: Lima juta untuk program tiga bulan? Itu sebenarnya tidak besar, Bu. Tapi kalau kita lihat dari sisa anggaran, memang berat. Saya lihat di RKPDes, Rencana Kerja Pemerintah Desa, alokasi untuk kesehatan tahun ini sudah dialokasikan penuh untuk perbaikan infrastruktur posyandu. Kecuali kita geser dari anggaran tak terduga. Tapi itu risiko, karena anggaran tak terduga biasanya untuk keperluan mendesak seperti bencana atau keadaan darurat.

Bu Yuni yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan nada tegas. Ia adalah sekretaris desa yang sudah puluhan tahun mengelola administrasi pemerintahan desa, dan ia paham betul seluk-beluk peraturan anggaran.

Bu Yuni: (mengetuk meja dengan ujung pulpennya) Pak Eko, jangan asal geser. Anggaran tak terduga itu penggunaannya diatur. Kalau kita geser untuk program mahasiswa KKN, nanti pemeriksa keuangan dari kabupaten bisa protes. Apalagi tahun depan ada pilkades, pasti pemeriksaan keuangan akan lebih ketat. Saya tidak mau desa kita dapat opini WDP, Wajar Dengan Pengecualian, lagi seperti tahun 2022. Itu memalukan.

Suasana ruangan mendadak tegang. Pak Iwan yang sedari tadi hanya mendengarkan, akhirnya membuang napas panjang. Ia memutar rokok di tangannya dengan gerakan lambat, tanda bahwa ia sedang berpikir keras.

Namun, sebelum Pak Iwan sempat berbicara, Erlangga mengangkat tangan dengan sopan. Gerakannya pelan, tidak mendadak, tetapi cukup untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu.

Erlangga: (dengan suara tenang, tetapi jelas terdengar di ruangan yang hening) Maaf, Pak, Bu. Saya mohon izin untuk memberikan masukan, jika diperbolehkan.

Pak Iwan mengangguk. Semua mata tertuju pada Erlangga.

Erlangga: Sebetulnya, untuk pemeriksaan dasar seperti tensi, gula darah, dan kolesterol, saya sudah membawa alat pribadi dari kampus. Saya punya tensimeter, stetoskop, alat cek gula darah portable, dan beberapa perlengkapan lainnya. Saya juga sudah koordinasi dengan apotek di kecamatan Kabut Merah, Apotek Sehat Farma dan mereka bersedia menyumbang vitamin dan obat-obatan dasar untuk program ini. Tidak banyak, tapi cukup untuk kebutuhan dasar. Selain itu, kampus saya memberikan dana hibah kecil untuk program pengabdian masyarakat. Jumlahnya tidak besar, tapi bisa digunakan untuk membeli bahan habis pakai seperti kapas, alkohol, dan sarung tangan sekali pakai.

Bu Ratna, Kaur Tata Usaha yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, tiba-tiba menyela dengan suara penuh keheranan.

Bu Ratna: (matanya membulat di balik kacamatanya) Sungguh, Mas? Kok bisa? Biasanya mahasiswa KKN itu datang dengan tangan kosong, minta difasilitasi segala macam. Ini Mas Erlangga malah sudah siapkan semuanya dari jauh-jauh hari?

Erlangga: (tersenyum) Itu bagian dari proposal KKN yang saya ajukan, Bu. Universitas kami memang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya datang dengan program, tetapi juga dengan kontribusi nyata. Jadi, tenaga dan beberapa alat, kami tanggung sendiri. Yang kami butuhkan dari desa adalah data, akses ke warga, dan dukungan moral. Soal anggaran besar, kami tidak ingin membebani desa. Tiga bulan mungkin singkat, tapi kami ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat, bukan utang.

Pak Iwan yang mendengar itu, langsung menepuk meja dengan semangat. Wajahnya yang tadinya tegang, kini berubah menjadi cerah. Ia bahkan sampai menyambar rokok yang belum dinyalakan itu dan meletakkannya di atas meja, tanda bahwa ia terlalu bersemangat untuk merokok.

Pak Iwan: (suaranya menggelegar, penuh kekaguman) Nah, ini baru namanya mahasiswa! Proaktif, mandiri, dan punya inisiatif. Bu Lulu, kalau begitu kita hanya perlu alokasi untuk konsumsi relawan dan transportasi kader. Karena alat-alat pemeriksaan sudah disiapkan oleh Mas Erlangga. Dan obat-obatan juga sudah ada sumbangan dari apotek. Berapa kira-kira?

Bu Lulu langsung memencet-mencet kalkulator dengan jari yang lebih lincah dari sebelumnya. Matanya menyipit membaca angka-angka di layar kalkulator, sesekali mengecek buku catatan.

Bu Lulu: (setelah beberapa saat, suaranya lega) Kalau hanya untuk konsumsi relawan—misalnya untuk tiga kali pelaksanaan dengan masing-masing 20 relawan—dan transportasi kader untuk tiga dusun, totalnya sekitar dua juta rupiah. Itu sudah termasuk cetak poster sederhana dan alat peraga edukasi dari bahan bekas. Dua juta itu masih masuk dalam sisa anggaran yang ada. Bahkan masih ada sisa untuk cadangan.

Bu Yuni mengangguk puas. Pak Eko menutup kipasnya dan menyelipkan di saku celana. Bu Endang tersenyum lega. Bahkan Si Amat dari pojok ruangan mengangkat jempol ke arah Erlangga dengan senyum bangga.

Namun, di tengah kehangatan yang mulai menyelimuti ruangan, Pak Edi yang sedari tadi diam dengan tangan bersilang, akhirnya membuka suara. Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti tetesan air dingin di tengah ruangan yang hangat.

Pak Edi: (nada sinis, dengan senyum tipis yang tidak sampai ke matanya) Saya setuju program ini bagus. Ide-idenya segar, pendekatannya inovatif, dan Mas Erlangga terlihat sangat kompeten. Saya tidak meragukan itu. Tapi...

Ia berhenti sejenak, matanya menyapu ruangan, berhenti sebentar di wajah Erlangga lalu di wajah Anita. Senyum tipisnya melebar, tetapi tetap tidak sampai ke mata.

Pak Edi: Saya harus ingatkan, jangan sampai program ini hanya jadi ajang pencitraan mahasiswa. Maaf saya berkata terus terang, tapi ini pengalaman saya selama bertahun-tahun di pemerintahan desa. Mahasiswa KKN datang, membuat program yang spektakuler, difoto, diliput, dibuat laporan tebal, lalu mereka pulang dengan nilai bagus dan kenangan indah. Tapi setelah mereka pergi, programnya mati. Warga kembali ke kebiasaan lama. Kader kembali bekerja sendiri tanpa dukungan. Yang tersisa hanya foto-foto yang terpajang di kantor desa dan laporan yang berdebu di lemari arsip. Ini yang sering terjadi. Dan saya tidak ingin itu terjadi lagi.

Suasana ruangan mendadak dingin. Kipas angin tua yang berisik di sudut ruangan seolah menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Bu Yuni menunduk, menggigit bibirnya. Pak Eko berhenti mengipas. Bu Lulu meletakkan kalkulatornya perlahan. Bahkan Pak Iwan yang tadinya bersemangat, kini terdiam dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Anita yang biasanya kalem dan lebih memilih diam dalam rapat-rapat seperti ini, tiba-tiba merasakan sesuatu di dadanya. Bukan marah, bukan emosi, tetapi rasa tidak terima yang sudah terlalu lama ia pendam. Selama dua tahun menjadi KPM, ia sudah mendengar kalimat seperti ini berulang kali. Setiap kali ada program baru, selalu ada yang meragukan keberlanjutan. Setiap kali ada pendatang baru yang ingin membantu, selalu ada yang menyebutnya "hanya pencitraan". Dan setiap kali itu terjadi, Anita diam. Ia memilih membuktikan dengan kerja, bukan dengan kata-kata.

Tapi kali ini berbeda. Entah karena topiknya tentang program kesehatan yang ia kelola, atau karena yang diragukan adalah Erlangga, seseorang yang dalam waktu singkat sudah menunjukkan ketulusan yang jarang ia lihat, Anita merasa tidak bisa diam.

Ia berdiri.

Gerakannya pelan, tetapi penuh keyakinan. Kursi kayu tempat ia duduk bergeser sedikit dengan suara kreek yang terdengar jelas di ruangan yang hening. Semua mata tertuju padanya. Anita menatap Pak Edi dengan mata yang teduh tetapi tegas, tatapan yang sudah dikenal oleh semua perangkat desa sebagai tatapan ketika Anita sedang serius.

Anita: (suara tegas, tidak tinggi tetapi penuh bobot) Pak Edi, saya sebagai KPM di desa ini sudah dua tahun. Saya memulai program pendampingan stunting, pemantauan ibu hamil, dan edukasi kesehatan reproduksi remaja sejak tahun pertama saya ditunjuk sebagai kader. Tidak ada satu pun program yang saya jalankan berhenti di tengah jalan. Bukan karena saya hebat, tetapi karena saya tahu tanggung jawab. Saya warga desa ini, Pak. Rumah saya di sini, orang tua saya di sini, masa depan saya di sini. Tidak mungkin saya membiarkan program yang saya bangun mati begitu saja.

Ia mengambil napas dalam-dalam, matanya tidak berkedip.

Anita: Saya mengundang mahasiswa KKN ke desa ini, termasuk Mas Erlangga dan teman-temannya, bukan karena saya tidak mampu mengerjakan semuanya sendiri. Saya mampu. Saya sudah membuktikan dua tahun terakhir. Saya mengundang mereka karena saya percaya bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan sendirian. Saya butuh energi baru, ide-ide baru, dan kolaborasi. Kehadiran Mas Erlangga dan teman-teman hanya membantu mempercepat apa yang sudah saya mulai. Bukan sebagai tulang punggung yang kalau pergi semuanya runtuh. Saya adalah tulang punggungnya. Dan saya tidak akan ke mana-mana.

Ruangan itu sunyi. Angin dari jendela masuk membawa aroma kopi dari kebun warga, tetapi tidak ada yang bergerak. Pak Edi yang tadinya tersenyum sinis, kini terdiam. Wajahnya berubah, bukan marah, tetapi terkejut. Ia tidak menyangka Anita yang biasanya pendiam dan hanya fokus pada pekerjaannya akan berbicara sekeras ini di depan semua perangkat desa.

Pak Edi: (setelah hening beberapa detik, ia tertawa kecil, tawa yang tidak lagi sinis, tetapi lebih kepada tawa yang mengakui kekalahan) Wah, Amat, lihat putrimu ini. Galak amat sama orang tua. Saya hanya mengingatkan, Nita. Bukan menuduh. Kenapa kamu sampai berdiri segala?

Si Amat yang dari pojok ruangan memperhatikan semuanya dengan tenang, akhirnya bersuara. Ia tidak mengangkat suara, tidak membela atau mengkritik. Ia hanya mengatakan fakta dengan nada yang tenang, seperti biasa.

Si Amat: (sambil tetap mengetik di laptopnya, matanya tidak lepas dari layar) Dia memang begitu, Pak Edi. Saya sudah bilang, kalau soal tugas, dia nggak kenal siapa pun. Bahkan sama saya sebagai ayahnya, kalau saya salah ngasih data, dia bisa marah. Tapi yang dia katakan benar. Program kesehatan di desa ini memang tidak pernah berhenti meskipun kadang lambat. Lambat karena banyak kendala, tapi tidak pernah berhenti. Itu yang perlu kita hargai.

Suasana sedikit mencair. Pak Iwan yang sedari tadi diam, kini tersenyum kecil. Ia mengambil rokok yang tadi diletakkannya di meja, tetapi tidak dinyalakan, hanya diputar-putar di antara jari-jarinya.

Pak Iwan: (suaranya pelan, tetapi penuh wibawa) Pak Edi punya poin yang valid. Keberlanjutan adalah kunci. Dan Nita punya poin yang juga valid. Program harus terus berjalan dengan atau tanpa mahasiswa KKN. Jadi, bagaimana kita menjembatani ini?

Erlangga yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama, akhirnya berdiri. Ia tidak berdiri dengan gerakan tiba-tiba yang mencolok, tetapi perlahan, seperti orang yang ingin memastikan bahwa semua orang siap mendengarkannya. Ia menatap Pak Edi dengan hormat, lalu ke Pak Iwan, lalu ke seluruh perangkat desa yang hadir.

Erlangga: (suaranya tenang, tetapi penuh keyakinan) Pak Edi punya poin yang sangat valid. Saya setuju, keberlanjutan adalah kunci. Saya tidak akan naif untuk mengatakan bahwa program yang saya buat dalam tiga bulan akan bertahan selamanya tanpa dukungan dari warga dan perangkat desa sendiri. Tapi saya ingin menawarkan satu hal.

Ia membuka ranselnya yang selalu ia bawa ke mana-mana, mengeluarkan sebuah buku catatan tebal yang sudah mulai lusuh meskipun baru beberapa minggu ia gunakan.

Erlangga: Sepanjang KKN, saya akan mendokumentasikan semua prosedur, mulai dari cara pemeriksaan dasar yang sederhana, cara pencatatan data yang efisien, cara edukasi kesehatan yang mudah dipahami warga, hingga cara evaluasi program. Saya akan membuat modul sederhana, dalam bahasa yang mudah dimengerti, lengkap dengan gambar dan ilustrasi, yang nanti bisa digunakan oleh kader desa dan bidan desa untuk melanjutkan program setelah saya dan teman-teman pergi. Modul ini akan saya tinggalkan untuk Mbak Anita, Bu Amilia, dan teman-teman kader lainnya.

Ia menutup buku catatannya, menatap Pak Edi dengan mata yang jujur.

Erlangga: Saya tidak bisa menjanjikan bahwa program ini akan abadi. Tapi saya bisa menjanjikan bahwa saya akan meninggalkan ilmu dan alat yang dibutuhkan agar program ini bisa terus berjalan. Karena saya percaya, pembangunan sejati bukanlah ketika kita datang dan membangun sesuatu yang baru, tetapi ketika kita pergi dan apa yang kita bangun tetap hidup dengan sendirinya.

Pak Didit, Ketua BPD yang sedari tiam diam di kursi ujung, akhirnya angkat bicara. Suaranya dalam dan tenang, seperti orang yang sudah terbiasa menjadi penengah dalam berbagai konflik.

Pak Didit: (mengangguk perlahan, matanya menatap satu per satu orang di ruangan itu) Nah, ini bagus. Program jelas, pendanaan jelas, keberlanjutan juga sudah dipikirkan. Saya sebagai BPD mendukung penuh program ini. Tapi saya minta satu hal.

Ia menatap Pak Edi, lalu ke Pak Iwan, lalu ke Anita dan Erlangga.

Pak Didit: Saya minta semua pihak tidak saling curiga. Jangan ada yang merasa program ini hanya pencitraan, dan jangan ada yang merasa program ini hanya beban. Kita semua satu tujuan: membangun desa. Bukan untuk nama besar siapa pun, tetapi untuk warga kita, untuk anak-anak kita, untuk masa depan Awan Biru. Setuju?

Semua orang di ruangan itu mengangguk. Pak Edi menghela napas panjang, lalu tersenyum, senyum yang kali ini tulus, tidak sinis.

Pak Edi: (mengangkat kedua tangan, menandakan menyerah) Saya setuju. Saya hanya ingin memastikan. Tidak ada niat buruk. Maaf kalau kata-kata saya tadi terlalu keras.

Anita yang masih berdiri, akhirnya duduk kembali. Ia menatap Pak Edi dengan senyum kecil, senyum yang menandakan bahwa tidak ada sakit hati.

Anita: Saya juga minta maaf kalau bicara saya tadi kurang sopan, Pak Edi. Saya hanya... emosi. Karena saya tahu Mas Erlangga dan teman-temannya benar-benar ingin membantu. Saya tidak mau niat baik mereka disalahartikan.

Pak Iwan mengetuk meja tiga kali, tanda bahwa rapat telah mencapai keputusan bulat.

Pak Iwan: Baik, rapat selesai. Program kesehatan dengan alokasi anggaran dua juta rupiah untuk konsumsi dan transportasi disetujui. Mas Erlangga akan menyiapkan modul dan dokumentasi. Mbak Anita dan Bu Amilia akan menjadi penanggung jawab teknis di lapangan. Bu Lulu akan memproses pencairan anggaran. Bu Yuni akan mendokumentasikan keputusan ini dalam berita acara rapat. Semua setuju?

Semua mengangguk. Pak Iwan berdiri, menandakan rapat resmi berakhir. Satu per satu perangkat desa mulai meninggalkan ruangan. Bu Lulu masih sibuk dengan kalkulatornya. Pak Eko membuka kipasnya lagi. Bu Yuni mulai menulis berita acara dengan pulpen yang tintanya hampir habis. Pak Edi keluar lebih dulu, menepuk pundak Anita sebelum pergi.


Di luar kantor desa, langit mulai berwarna jingga kemerahan. Matahari perlahan tenggelam di balik bukit, meninggalkan sisa-sisa cahaya yang memantul di awan-awan tipis. Kabut biru yang menjadi nama desa ini mulai merayap turun dari puncak bukit, perlahan menyelimuti lembah dengan kelembapan yang menusuk. Burung-burung mulai pulang ke sarang, suara mereka yang riuh bergantian dengan suara jangkrik yang mulai bersiap untuk malam.

Erlangga keluar dari kantor desa dengan langkah yang sedikit lelah. Ia membawa ranselnya yang terasa lebih berat setelah rapat, bukan karena barang-barang di dalamnya bertambah, tetapi karena beban tanggung jawab yang mulai ia rasakan. Ia tidak menyangka bahwa program sederhana yang ia usulkan akan memicu perdebatan sepanas itu. Tapi ia juga merasa bersyukur, karena pada akhirnya semuanya berjalan dengan baik.

Ketika ia melangkah keluar, ia melihat Anita sudah duduk di tangga beton kantor desa. Tangga itu lebar, cukup untuk dua orang duduk berdampingan dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Anita duduk di sisi kiri, memegang helmnya di pangkuan, matanya menatap ke arah bukit yang mulai diselimuti kabut.

Erlangga menghampiri, meletakkan ranselnya di lantai, lalu duduk di sisi kanan Anita. Jarak mereka sekitar setengah meter, cukup untuk tidak dianggap terlalu akrab, tetapi cukup dekat untuk mendengar napas satu sama lain.

Angin sore berembus lembut. Wangi kopi dari kebun warga di lereng bukit terbawa angin, bercampur dengan aroma tanah basah dan dedaunan kering. Suasana sunyi, tetapi sunyi yang nyaman, sunyi yang tidak memaksa siapa pun untuk mengisinya dengan kata-kata.

Erlangga: (setelah beberapa lama, suaranya pelan) Mbak Anita tadi luar biasa. Berani banget bersuara. Saya sampai kaget. Mbak Anita biasanya lebih memilih diam di rapat-rapat seperti itu.

Anita tidak langsung menjawab. Ia masih menatap ke arah bukit, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.

Anita: (suaranya lembut, sedikit lelah) Saya sudah biasa, Mas. Pak Edi itu memang baik, orangnya peduli, tapi kadang terlalu skeptis. Dia lupa, saya juga warga desa ini. Masa saya mau merusak desa sendiri? Saya tidak akan mengundang orang-orang yang hanya akan membuat masalah.

Ia menghela napas, jari-jarinya memainkan tali helm di pangkuannya.

Anita: Tapi tadi saya sedikit emosi. Maaf kalau saya terkesan galak. Saya tidak suka kalau ada yang meragukan niat baik orang lain, apalagi orang yang baru datang dan sudah menunjukkan ketulusan. Saya tahu Mas Erlangga dan teman-teman tidak datang untuk cari popularitas. Saya sudah lihat sendiri.

Erlangga: (tersenyum) Mbak Anita tidak perlu minta maaf. Saya justru berterima kasih. Tadi saat Mbak Anita berdiri dan bicara, saya merasa... dilindungi. Seperti punya kakak yang membela adiknya. Saya tidak menyangka Mbak Anita akan seberani itu.

Anita menoleh, menatap Erlangga dengan mata yang sedikit terkejut. Dilindungi? Kakak? Kata-kata itu menggelitik sesuatu di hatinya, tetapi ia tidak tahu harus merespons bagaimana.

Anita: (membuang muka, suaranya agak canggung) Ya... saya hanya bicara jujur. Mas Erlangga itu orang baik. Saya tidak suka kalau orang baik diperlakukan tidak adil.

Mereka terdiam sejenak. Angin bertiup lebih kencang, membawa dingin yang menusuk. Anita menggigil sedikit, tetapi berusaha tidak menunjukkannya.

Erlangga: (melepas jaket almamaternya yang lusuh, menawarkannya pada Anita) Mbak, pakai ini dulu. Dingin.

Anita: (menolak dengan cepat, sedikit panik) Nggak usah, Mas. Saya sudah biasa dingin. Ini dingin biasa di desa, nggak separah di gunung.

Erlangga: (tetap mengulurkan jaketnya, tersenyum) Mbak, tubuh Mbak menggigil. Jangan sok kuat. Ini cuma jaket, bukan cincin kawin. Nggak usah sungkan.

Anita terdiam. Ia menatap jaket itu, jaket almamater abu-abu dengan garis-garis merah, lusuh di siku dan kerah, tetapi masih hangat karena baru saja dipakai. Ia mengambilnya dengan gerakan ragu, lalu mengenakannya. Jaket itu terlalu besar untuk tubuhnya, membuatnya tampak seperti sedang memakai jaket kakak laki-lakinya. Tapi hangatnya langsung menyelimuti tubuhnya yang mulai kedinginan.

Anita: (suaranya kecil, nyaris tak terdengar) Terima kasih, Mas.

Erlangga: (tersenyum, menatap langit yang mulai gelap) Sama-sama, Mbak.

Mereka kembali diam. Kali ini keheningan terasa berbeda. Bukan keheningan yang canggung, tetapi keheningan yang penuh dengan sesuatu yang tidak diucapkan. Di langit, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, menghiasi langit Awan Biru yang bersih dari polusi cahaya. Di kejauhan, suara azan magrib mulai berkumandang dari mesjid desa, suaranya menggema di antara bukit-bukit dengan keindahan yang membuat hati terasa tenang.

Anita: (tiba-tiba, suaranya pelan) Mas Erlangga, kenapa Mas memilih KKN di sini? Dengan kemampuan Mas, Mas bisa memilih tempat yang lebih mudah. Akses lebih baik, fasilitas lebih lengkap, warga lebih kooperatif. Kenapa Mas memilih desa terpencil seperti Awan Biru?

Erlangga tidak langsung menjawab. Ia menatap bintang di langit, seolah mencari jawaban di antara kerlip cahaya yang jauh itu.

Erlangga: (suaranya pelan, dalam) Karena saya ingin belajar dari orang-orang seperti Mbak Anita. Saya bisa membaca buku kedokteran setebal apapun. Saya bisa menghafal ribuan nama obat dan penyakit. Saya bisa lulus ujian dengan nilai tertinggi. Tapi semua itu tidak akan pernah mengajarkan saya arti pengabdian sejati. Pengabdian yang tidak mengharapkan imbalan. Pengabdian yang dilakukan bukan karena dilihat orang, tetapi karena memang itu panggilan hati.

Ia menoleh ke Anita, matanya bertemu dengan mata Anita dalam kegelapan yang mulai pekat. Lampu kantor desa di belakang mereka menyala samar, cukup untuk menerangi wajah mereka dengan cahaya temaram.

Erlangga: Saya tidak akan pernah memahami arti sebenarnya dari menjadi seorang dokter kalau saya hanya duduk di ruang praktik yang nyaman, menerima pasien yang sudah datang dengan sendirinya. Saya harus ke tempat-tempat seperti ini. Saya harus bertemu dengan orang-orang seperti Mbak Anita. Saya harus belajar dari mereka yang setiap hari berjuang dengan sumber daya seadanya, tetapi tidak pernah menyerah. Itu sebabnya saya di sini.

Anita menunduk. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena angin malam yang dingin, tetapi karena kata-kata Erlangga yang menyentuh sesuatu yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Selama dua tahun menjadi kader, jarang sekali ada yang benar-benar memahami apa yang ia lakukan. Kebanyakan orang melihatnya sebagai "kader biasa" yang tugasnya cuma nimbang balita dan bagi-bagi vitamin. Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa apa yang ia lakukan adalah pengabdian sejati. Tidak ada yang pernah datang ke desa ini dengan alasan ingin belajar darinya.

Anita: (suaranya bergetar sedikit, meskipun ia berusaha mengontrol) Mas Erlangga... saya cuma orang desa biasa. Saya bukan siapa-siapa.

Erlangga: (tersenyum, suaranya lembut) Mbak Anita adalah pahlawan bagi desa ini. Mungkin Mbak tidak pernah merasa seperti itu, mungkin warga tidak pernah mengucapkan terima kasih, mungkin perangkat desa tidak pernah memberikan penghargaan. Tapi saya melihatnya. Setiap hari Mbak berkeliling desa, memeriksa balita, membujuk ibu hamil, melawan mitos dan kebiasaan lama yang sudah mengakar. Itu adalah pekerjaan yang tidak semua orang sanggup melakukannya. Dan Mbak melakukannya sendirian, tanpa pamrih, selama dua tahun. Itu bukan "cuma kader". Itu adalah pahlawan.

Anita tidak bisa menjawab. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Bukan kesedihan, tetapi perasaan haru yang terlalu besar untuk ditahan. Ia hanya bisa menunduk lebih dalam, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah dan matanya yang mulai berkaca-kaca.

Erlangga melihat itu. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya duduk di samping Anita, menikmati keheningan malam, mendengarkan suara jangkrik yang mulai bernyanyi di semak-semak, dan membiarkan Anita merasakan apa yang perlu ia rasakan.

Malam itu, di tangga kantor desa, di bawah langit Awan Biru yang dipenuhi bintang, dua orang duduk berdampingan dalam keheningan yang penuh makna. Seorang kader desa yang selama ini merasa usahanya tidak pernah dilihat, akhirnya mendengar kata-kata yang selama ini ia butuhkan. Dan seorang calon dokter yang datang dengan ambisi untuk mengubah desa, justru belajar bahwa perubahan tidak selalu tentang program dan anggaran, tetapi tentang menghargai mereka yang sudah berjuang jauh sebelum ia datang.

Di kejauhan, bulan sabit mulai muncul di ufuk timur, menyinari desa dengan cahaya peraknya yang lembut. Angin malam berembus, membawa wangi bunga kopi yang menenangkan. Dan di antara semuanya, Desa Awan Biru tetap diam, menyaksikan babak baru yang perlahan mulai terbuka.


BAB 4: Wabah di Tengah Musim Pancaroba

Bulan kedua Kuliah Kerja Nyata di Desa Awan Biru memasuki minggu-minggu kritis. Alam seolah sedang menguji ketahanan desa kecil di lereng perbukitan ini. Musim pancaroba datang dengan keganasan yang tak terduga, angin kencang bertiup siang dan malam, membawa debu dan serbuk sari dari kebun-kebun kopi yang sedang berbunga. Hujan turun tak menentu: kadang deras di pagi hari, kadang baru mulai sore, kadang tidak turun sama sekali selama dua tiga hari, membuat suhu udara naik turun drastis. Udara pagi yang dingin menusuk tulang berganti dengan panas terik siang yang menyengat, lalu kembali dingin ketika senja tiba.

Perubahan cuaca ekstrem ini membawa dampak yang nyata pada kesehatan warga. Dalam tiga hari terakhir, puluhan warga, terutama anak-anak dan lansia, terserang demam, batuk, pilek, dan infeksi saluran pernapasan akut, ISPA. Puskesmas di ibu kota kecamatan yang sudah kekurangan tenaga dan obat-obatan, kini kewalahan menghadapi lonjakan pasien. Banyak warga Awan Biru yang lebih memilih berobat ke dukun kampung atau sekadar membeli obat di warung tanpa resep, karena jarak ke puskesmas yang jauh dan biaya transportasi yang mahal.

Anita sudah mulai khawatir sejak dua hari lalu. Ia memantau peningkatan kasus dari catatan posyandu dan laporan kader-kader di dusun-dusun. Biasanya, dalam satu minggu, ia mencatat tidak lebih dari lima kasus ISPA ringan. Tapi dalam tiga hari terakhir, sudah ada lebih dari dua puluh kasus, dan jumlahnya terus bertambah. Bidan Amilia, yang bertugas di desa ini sendirian tanpa bidan pembantu, mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang ekstrem.

Sinyal bahaya pertama datang pada Selasa malam, ketika Anita menerima telepon dari Yulia. Suara Yulia di ujung telepon terdengar panik, setengah berteriak karena suara hujan deras di latar belakang.

Yulia: (melalui sambungan telepon yang putus-putus karena sinyal) Mbak Anita! Di RT 03, tiga anak demam tinggi! Satu sudah kejang! Mamanya nangis-nangis, nggak tahu harus bawa ke mana. Jalanan becek, hujan deras, mobil desa nggak bisa lewat!

Anita langsung bangkit dari tempat tidurnya meskipun sudah larut malam. Ia menghubungi Erlangga, yang lima menit kemudian sudah sampai di rumah Anita dengan jas hujan yang basah kuyup dan ransel berisi perlengkapan darurat.

Erlangga: (napasnya terengah-engah karena berlari di jalan becek) Saya sudah telepon Bu Amilia. Beliau sedang di RT 05 menangani kasus serupa. Beliau minta kita yang tangani RT 03 dulu. Saya bawa parasetamol suppositoria untuk antisipasi kejang, juga cairan oralit. Kita jalan kaki saja, Mbak. Motor nggak bisa lewat, jalannya becek dan licin.

Anita hanya mengangguk. Dalam waktu lima menit, mereka sudah berjalan di tengah hujan deras dengan senter yang redup karena baterai mulai habis. Sepanjang perjalanan, mereka berpapasan dengan beberapa warga yang juga sedang mencari pertolongan, seorang ibu menggendong anaknya yang terbungkus selimut, seorang kakek yang batuk-batuk parah sambil dipapah istrinya.

Kasus demi kasus mereka tangani malam itu. Erlangga memeriksa satu per satu anak yang demam, mengajarkan orang tua cara melakukan kompres yang benar, memberikan obat penurun panas yang sesuai dengan dosis, dan memastikan tidak ada tanda-tanda dehidrasi atau kejang berulang. Anita mencatat semua data, memberikan edukasi pada ibu-ibu yang panik, dan mengoordinasikan dengan kader-kader di dusun tetangga.

Mereka baru kembali ke posko KKN pukul tiga pagi. Tubuh mereka basah, lelah, tetapi tidak ada waktu untuk beristirahat panjang. Karena pagi harinya, gelombang pasien baru sudah mulai berdatangan.


Pagi itu, posko KKN yang biasanya sunyi dan hanya berisi aktivitas rutin mahasiswa, berubah menjadi klinik darurat yang hiruk-pikuk. Halaman posko dipenuhi warga yang duduk lesehan di atas tikar dan terpal yang dipinjam dari kantor desa. Ada yang menggendong anak kecil yang terbungkus kain, ada yang membawa orang tua mereka yang renta, ada yang datang sendiri dengan langkah lunglai. Suasana campuran antara tangis anak-anak yang demam, batuk-batuk kering orang dewasa, dan suara ibu-ibu yang berusaha menenangkan anak-anak mereka.

Di dalam ruang utama posko yang biasanya digunakan untuk pertemuan dan makan bersama, sekarang telah disulap menjadi ruang triase darurat. Meja kayu panjang dipakai sebagai tempat pemeriksaan, dengan taplak plastik bekas yang dipasang agar mudah dibersihkan. Kursi-kursi yang tersedia disusun di sepanjang dinding untuk pasien yang menunggu. Di sudut ruangan, Guntur dan Amat Junior sedang sibuk membuat tanda nomor antrean dari kertas bekas, karena antrean sudah tidak terkendali.

Amilia tiba sekitar pukul setengah delapan, dengan mata sembab karena kurang tidur. Seragam bidannya basah oleh keringat dan air hujan dari perjalanan malam yang masih membekas. Ia langsung membuka lemari obat darurat yang ia bawa, tetapi ekspresinya langsung berubah begitu melihat stok yang tersisa.

Amilia: (membuka lemari obat dengan gerakan cepat, matanya memindai setiap rak, suaranya meninggi ketika menyadari sesuatu) Anita! Anita, ke sini sebentar!

Anita yang sedang membantu seorang ibu menggendong anaknya yang demam, segera menghampiri. Amilia sudah mengeluarkan semua stok obat dari lemari dan menatanya di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar—bukan karena takut, tetapi karena frustrasi.

Amilia: (suaranya tegang, berusaha tetap tenang tetapi nada panik mulai terdengar) Stok parasetamol sirup habis. Stok antibiotik untuk ISPA berat juga tinggal dua strip. Parasetamol tablet untuk dewasa juga hampir kosong. Saya sudah hubungi puskesmas kecamatan sejak subuh tadi. Mereka bilang baru bisa kirim besok sore karena stok di puskesmas juga menipis. Mereka harus minta ke Dinas Kesehatan kabupaten dulu.

Ia membuang napas panjang, meletakkan tangannya di pinggul dengan gerakan frustrasi.

Amilia: Besok sore, Anita. Sementara di luar sana ada puluhan anak dan orang dewasa yang butuh obat sekarang. Kalau kita tunggu sampai besok, kasusnya bisa bertambah parah. Bisa ada yang kejang lagi, atau bahkan yang lebih parah. Saya tidak mau ambil risiko.

Anita menatap lemari obat yang hampir kosong, lalu ke arah jendela di mana ia bisa melihat antrean warga yang terus memanjang hingga ke luar pagar posko. Ibu-ibu dengan anak balita di gendongan, kakek-nenek yang berjalan tertatih, remaja yang batuk-batuk dengan wajah pucat. Wajah-wajah yang ia kenal satu per satu, tetangganya, saudara jauhnya, warga yang setiap hari ia temui di jalan.

Anita: (suaranya tegas, meskipun ada kekhawatiran di matanya) Baik, Bu. Saya coba ke apotek kecamatan. Naik motor butuh waktu satu jam kalau jalanan bagus. Dengan kondisi jalan sekarang yang becek dan licin, mungkin satu setengah jam. Mungkin saya bisa ambil dulu dengan uang pribadi. Saya punya tabungan sedikit dari insentif kader. Nanti kalau sudah ada kiriman dari puskesmas, kita ganti.

Ia sudah berbalik untuk mengambil helm ketika Erlangga yang sedari tadi sibuk memeriksa pasien di meja sebelah, tiba-tiba menghentikannya dengan gerakan tangan.

Erlangga: (dengan suara yang tenang tetapi tegas, tidak seperti biasanya yang selalu lembut) Jangan, Mbak. Jangan pakai uang pribadi. Nanti Mbak yang jadi kere. Ini urusan desa, bukan urusan pribadi Mbak Anita.

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang sudah agak usang. Dengan jari yang masih sedikit basah karena habis mencuci tangan, ia membuka kontak dan menekan nomor dengan cepat.

Erlangga: Saya sudah telepon Pak Sugeng, mba tahu, warga RT 04 yang punya toko obat di kecamatan. Beliau punya toko di pasar kecamatan, jual obat-obatan bebas dan alat kesehatan. Saya kenal beliau karena waktu survei awal dulu, saya mampir ke tokonya untuk beli plester dan perban. Beliau orangnya baik, ramah, dan kebetulan beliau juga punya hubungan baik dengan puskesmas.

Ia mengangkat ponsel ke telinganya, menunggu sambungan. Setelah beberapa detik, wajahnya berseri, sambungan berhasil.

Erlangga: (berbicara di telepon dengan nada cepat tetapi tetap sopan) Pak Sugeng, selamat pagi. Saya Erlangga, mahasiswa KKN yang dulu minta tolong Bapak cariin stetoskop cadangan. Iya, Pak, yang minggu lalu. Begini, Pak. Di desa kami sedang ada lonjakan ISPA. Stok obat di posko habis, puskesmas baru bisa kirim besok. Saya dengar Bapak punya toko obat. Apa Bapak bisa meminjamkan stok dulu? Parasetamol sirup dan tablet, antibiotik untuk ISPA kalau ada, oralit, dan vitamin. Nanti kami ganti dengan klaim dari puskesmas atau pakai dana desa. Iya, Pak, saya jamin. Terima kasih banyak, Pak. Baik, saya akan kirim orang sekarang.

Ia menutup telepon, lalu menoleh ke arah Guntur dan Hermansyah yang sedang sibuk mengatur kursi di sudut ruangan.

Erlangga: Guntur, Mas Herman. Pak Sugeng di kecamatan setuju meminjamkan stok obat. Beliau minta kita ambil sekarang. Tolong pakai mobil desa, ya. Jalanan licin, hati-hati. Bawa uang desa secukupnya untuk transportasi dan kalau-kalau ada yang perlu dibayar di toko. Saya sudah koordinasi dengan Pak Kades, beliau mengizinkan pakai mobil desa.

Guntur yang sedang memegang kursi plastik, langsung meletakkannya dan berdiri tegak seperti tentara yang mendapat perintah.

Guntur: (mengacungkan jempol, suaranya bersemangat) Siap, Komandan! Amat, pinjem dulu jaket hujanmu, ya. Jaketku basah semua. Nanti aku basah kuyup, masuk angin, malah jadi pasien juga.

Amat Junior: (melempar jaket hujannya sambil tertawa) Pakai, tapi hati-hati jangan sampai hilang. Itu jaket kesayangan ayahku, hadiah dari dinas tahun lalu.

Hermansyah: (yang sudah lebih dulu keluar menuju mobil desa, berteriak dari halaman) Guntur, cepat! Nanti apoteknya tutup jam dua belas untuk istirahat Jumat!

Guntur berlari kecil keluar, masih sempat berteriak pada Erlangga.

Guntur: Mas Erlangga, nanti saya minta dibikinin kopi ya! Biar semangat!

Erlangga: (tertawa kecil, meskipun wajahnya mulai pucat karena kelelahan) Siap. Nanti saya siapkan kopi pahit, biar semangatnya sampai langit ketujuh!

Amilia yang sejak tadi mendengarkan, kini menghela napas lega. Ia menepuk pundak Erlangga dengan gerakan yang tidak biasa dari seorang bidan galak yang jarang menunjukkan kelembutan.

Amilia: (suaranya lembut, hampir berbisik) Mas Erlangga, ini yang kedua kalinya kamu selamatkan situasi. Pertama dengan Anto, sekarang dengan stok obat. Saya mulai berpikir, mungkin Tuhan mengirim kamu ke desa ini tepat pada waktu yang tepat.

Erlangga: (merendah, sambil kembali ke meja pemeriksaannya) Bu Amilia, saya hanya kebetulan punya kontak yang tepat. Yang sesungguhnya bekerja keras adalah Mbak Anita dan Ibu sendiri. Saya cuma pembawa pesan dan penghubung.

Amilia: (tersenyum tipis, langka) Jangan merendah berlebihan, Mas. Orang baik harus diakui kebaikannya. Tapi sekarang, kembali bekerja. Pasien kita masih banyak.


Di luar posko, antrean warga mulai memanjang hingga ke jalan raya desa. Yulia dan Naila berusaha mengatur antrean dengan susah payah. Yulia yang biasanya ceria dan penuh tawa, pagi itu wajahnya tegang dan keringatnya bercucuran meskipun cuaca tidak terlalu panas.

Yulia: (berteriak dengan suara serak karena sudah berjam-jam berbicara) Ibu-ibu, tolong antre ya! Jangan saling dorong! Semua akan dilayani, tapi harus sabar. Anaknya sakit semua, saya juga pusing, Bu!

Seorang ibu dengan anak balita di gendongan mencoba menerobos ke depan, wajahnya panik karena anaknya menangis terus-menerus.

Ibu 1: (suaranya setengah menangis) Mbak Yulia, anak saya panasnya tinggi sekali! Dari tadi malam belum turun! Saya kasih obat warung, tapi muntah. Saya nggak bisa antre lama-lama, takut kejang!

Di belakangnya, seorang bapak dengan wajah lelah karena semalaman menemani istrinya yang batuk-batuk, mulai tidak sabar.

Bapak 1: (nada kesal) Ibu, kami juga sama-sama sakit. Istri saya batuk sampai berdarah, tapi kami tetap antre. Semua butuh cepat, bukan Ibu saja.

Suasana mulai memanas. Yulia kewalahan, matanya mulai berkaca-kaca karena tekanan. Naila yang lebih muda dan kurang pengalaman, hanya bisa berdiri di samping dengan wajah cemas.

Naila: (berbisik pada Yulia) Yu, gimana ini? Mereka mulai emosi. Kita nggak punya tenaga cukup untuk tenangkan semuanya.

Di tengah ketegangan, Pak Sugeng, yang ternyata tidak hanya meminjamkan obat tetapi juga ikut mengantre bersama istrinya yang sedang batuk-batuk, melangkah maju. Ia adalah warga yang disegani karena usianya dan karena ia adalah salah satu dari sedikit warga yang memiliki toko dan penghasilan tetap. Suaranya yang dalam dan tenang langsung memecah keramaian.

Pak Sugeng: (berdiri di tengah kerumunan, suaranya dalam dan penuh wibawa) Ibu-ibu, Bapak-bapak, dengarkan saya sebentar.

Semua mata tertuju padanya. Pak Sugeng mengusap kumisnya yang sudah memutih, lalu melanjutkan dengan nada yang tidak tinggi tetapi jelas terdengar.

Pak Sugeng: Saya juga mengantre di sini. Istri saya sakit, batuk semalaman. Saya juga ingin cepat dilayani. Tapi lihat, di dalam sana Mbak Anita, Mas Erlangga, Bu Amilia, mereka bekerja tanpa henti sejak subuh. Mereka juga manusia, bukan robot. Kalau kita saling dorong dan marah-marah, mereka malah tambah stres. Nanti salah kasih obat, repot. Jadi, sabar, ya. Kita antre dengan tertib. Yang sakit parah, kita prioritaskan. Yang masih bisa jalan dan bicara, bersabar. Saya jamin, tidak ada yang akan dilupakan.

Kerumunan mulai tenang. Ibu-ibu yang tadi saling dorong mulai mundur dan membentuk antrean yang lebih rapi. Yulia menghela napas lega, menatap Pak Sugeng dengan mata penuh terima kasih.

Yulia: (berbisik pada Naila) Makasih, Pak Sugeng. Untung beliau ada di sini.

Naila: (mengangguk) Iya. Orang tua memang pengaruhnya besar.

Saat Yulia dan Naila mulai bisa mengatur antrean dengan lebih tertib, tiba-tiba Bu Lulu muncul dari balik pagar dengan langkah terhuyung-huyung karena membawa termos besar yang berat. Ia mengenakan daster lusuh dan kerudung yang tidak sempat dirapikan—penampilan yang sangat berbeda dari biasanya yang selalu rapi dan necis. Di tangannya, ia membawa termos besar warna merah yang biasanya digunakan untuk acara arisan, dan di tangan satunya ia membawa kantong plastik berisi gelas plastik dan gula aren.

Bu Lulu: (napasnya terengah-engah karena berjalan cepat dari rumahnya yang berjarak lima ratus meter, suaranya nyaring seperti biasa tetapi terdengar lebih hangat) Ini! Saya bawakan jahe hangat buat yang antre! Minum dulu, biar tenggorokan lega. Jahe asli, saya rebus sendiri sejak subuh. Tambah gula aren biar manis dan hangat di tenggorokan. Untuk yang batuk-batuk, ini bagus banget.

Ia membuka termos, dan uap panas langsung mengepul keluar membawa aroma jahe yang kuat dan menghangatkan. Wajah-wajah yang tadinya tegang dan lelah mulai berubah—ada senyum tipis, ada rasa lega, ada kehangatan yang tidak hanya datang dari jahe tetapi juga dari perhatian yang tulus.

Seorang ibu dengan anak balita yang masih menangis, mendekati Bu Lulu dengan mata berkaca-kaca.

Ibu 2: Bu Lulu, terima kasih banyak. Saya dari tadi belum sempat minum karena anak saya rewel terus.

Bu Lulu: (menuangkan jahe hangat ke gelas plastik dengan hati-hati, lalu memberikannya pada ibu itu) Ini, Bu. Minum dulu. Nanti anaknya juga bisa dikasih sedikit, asal tidak terlalu panas. Jahe bagus untuk tenggorokan. Tapi jangan banyak-banyak ya, nanti perutnya perih.

Ibu-ibu lain mulai berdesakan mendekati Bu Lulu, tetapi kali ini bukan karena tidak sabar, tetapi karena ingin mendapatkan jahe hangat. Bu Lulu melayani satu per satu dengan sabar, menuangkan jahe dari termosnya yang ternyata sangat besar hingga cukup untuk semua orang yang mengantre.

Ibu 3: (setelah meneguk jahe hangat, suaranya berubah lebih rileks) Wah, Bu Lulu baik sekali. Saya kira Bu Lulu hanya sibuk dengan angka-angka dan kalkulator. Ternyata peduli juga sama warga.

Bu Lulu: (tertawa lebar, suaranya melengking khas) Ya iyalah, Bu! Saya kan Kaur Keuangan. Kalau warga sakit, nanti APBDes buat apa? Buktinya kesehatan itu investasi. Kalau warga sehat, mereka bisa bekerja, bayar pajak, desa maju, anggaran bertambah. Saya hitung-hitungan juga, kok. Jadi ya, bagi jahe gratis ini investasi jangka panjang buat desa kita. Hahaha.

Semua orang tertawa. Bahkan anak-anak yang tadinya menangis, ikut tersenyum melihat tingkah Bu Lulu yang lucu. Ketegangan pagi itu perlahan mencair, berganti dengan kehangatan kebersamaan yang jarang mereka rasakan. Warga yang tadinya hanya fokus pada penyakit dan antrean, kini mulai berbincang satu sama lain, bertukar kabar, saling menanyakan kondisi keluarga.

Ibu 4: (kepada ibu di sebelahnya) Eh, Bu, anak Ibu bagaimana? Saya dengar kemarin demam juga?

Ibu 5: (menghela napas) Iya, Bu. Tapi sudah agak turun setelah dikasih obat dari Bu Amilia tadi malam. Alhamdulillah sekarang sudah mau minum susu lagi.

Ibu 4: Syukurlah. Saya juga deg-degan semalaman, anak saya sampai kejang. Untung Mbak Anita dan Mas Erlangga cepat datang.

Ibu 5: Iya, mereka sigap sekali ya. Padahal hujan deras, jalan becek, tapi mereka tetap datang.

Bu Lulu: (menyela dengan bangga) Itu namanya pengabdian, Bu. Bukan cuma kerja. Itu yang saya hitung sebagai investasi paling berharga.


Di dalam posko, Erlangga dan Anita bergantian memeriksa warga. Erlangga dengan sigap menggunakan stetoskopnya, memeriksa suara napas pasien satu per satu dengan teliti. Wajahnya mulai pucat, bukan karena kelelahan semata, tetapi karena ia juga mulai merasakan gejala yang sama seperti yang ia periksa pada pasien-pasiennya: tenggorokan gatal, kepala berdenyut, dan tubuh yang mulai terasa hangat.

Tapi ia mengabaikannya. Ada puluhan pasien di depannya yang membutuhkan perhatian. Seorang ibu dengan anak balita yang sesak napas. Seorang kakek dengan riwayat asma yang kambuh karena perubahan cuaca. Seorang remaja dengan demam tinggi yang sudah tiga hari tidak turun. Ia tidak punya waktu untuk merasa sakit.

Anita duduk di meja di sebelahnya, mencatat riwayat penyakit setiap pasien dengan tulisan tangan yang rapi. Ia juga memberikan edukasi sederhana kepada setiap pasien, cara melakukan kompres yang benar, kapan harus segera ke fasilitas kesehatan, pentingnya istirahat dan asupan cairan. Suarara yang biasanya tegas, pagi itu terdengar lebih lembut, penuh empati.

Anita: (kepada seorang ibu dengan balita yang batuk-batuk) Bu, anaknya jangan dikasih makanan yang digoreng dulu ya. Kasih bubur hangat, atau pisang rebus. Kalau batuknya makin parah atau sesak napas, segera kabari saya atau Bu Amilia. Jangan menunggu sampai malam.

Ibu 6: (mengangguk-angguk, matanya masih cemas) Baik, Mbak Anita. Tapi anak saya susah makan, Mbak. Dari kemarin cuma mau minum susu. Saya khawatir.

Anita: Nggak apa-apa, Bu. Yang penting dia tetap terhidrasi. Kalau dia tidak mau makan, kasih cairan yang bergizi, susu, air putih, atau kalau bisa, sari buah. Tapi jangan dipaksa makan, nanti malah muntah. Prioritaskan minum dulu. Nanti kalau sudah mulai sehat, nafsu makannya akan kembali.

Ibu itu mengangguk, wajahnya sedikit lebih tenang. Ia menggendong anaknya dan berjalan keluar dengan langkah lebih mantap.

Di tengah keramaian, pintu posko terbuka dan Pak Karyo masuk dengan langkah yang penuh percaya diri, sangat berbeda dengan dua minggu lalu ketika ia masih skeptis dan keras kepala. Ia mengenakan kaos oblong bersih, celana panjang, dan sandal jepit baru. Di tangannya, ia membawa sekardus telur, bukan kardus kecil, tetapi kardus besar berisi setidaknya tiga puluh butir telur ayam kampung. Dan di sampingnya, berjalan seorang anak kecil yang kini terlihat sangat berbeda dari dua minggu lalu.

Bintang.

Anita dan Erlangga hampir tidak percaya dengan perubahan yang mereka lihat. Bintang yang dua minggu lalu kurus kering dengan rambut kemerahan dan mata sayu, kini terlihat lebih berisi. Pipinya yang tadinya cekung, kini mulai berisi. Rambutnya yang kemerahan mulai menghitam di bagian akar. Dan yang paling membahagiakan, matanya, yang dulu kosong dan sayu, kini berbinar dengan semangat anak kecil seusianya. Ia memegang erat tangan kakeknya, sesekali melihat ke kanan dan kiri dengan rasa ingin tahu.

Pak Karyo: (berseru dengan suara yang penuh kebanggaan, matanya berbinar seperti menemukan harta karun) Mas Dokter! Mbak Anita! Lihat ini Bintang! Saya bilang, telur itu sakti!

Ia mendorong Bintang ke depan sedikit, menunjukkan cucunya seperti pedagang yang memamerkan barang dagangan terbaiknya.

Pak Karyo: Bintang sudah mau makan! Dari seminggu terakhir, setiap pagi saya kasih telur rebus setengah matang. Awalnya agak susah, dia cuma makan setengah. Tapi lama-lama, lahap! Sekarang dia minta telur setiap pagi. Malah kadang saya kasih untuk makan malam juga. Istri saya sekarang rajin masak telur buat Bintang. Digoreng ceplok, didadar, direbus, kadang dijadiin keripik telur biar renyah kayak camilan. Bintang suka banget! Lihat, badannya mulai berisi. Rambutnya juga mulai hitam lagi!

Erlangga berhenti memeriksa pasien sejenak. Ia berdiri dan menghampiri Bintang, lalu jongkok di depan anak itu dengan senyum terlebar yang pernah ia tunjukkan selama di desa ini.

Erlangga: (dengan suara lembut, penuh kegembiraan) Halo, Bintang! Wah, Bintang sekarang ganteng sekali! Rambutnya sudah hitam, pipinya sudah berisi. Bintang suka telur, ya?

Bintang yang dua minggu lalu diam dan takut pada orang asing, kini tersenyum malu-malu. Ia mengangguk kecil, lalu berkata dengan suara lantang yang mengejutkan semua orang.

Bintang: "Bintang suka telur, Abang! Telur enak!"

Erlangga tertawa lebar. Ia mengusap kepala Bintang dengan lembut, lalu menatap Pak Karyo dengan mata yang berkaca-kaca, bukan karena sedih, tetapi karena haru.

Erlangga: Pak Karyo, ini luar biasa. Saya tidak menyangka perkembangannya secepat ini. Dua minggu, dan perubahan yang saya lihat sangat signifikan. Berat badannya pasti sudah naik. Tapi Bintang masih perlu terus dipantau, ya, Pak. Jangan berhenti setelah kelihatan berisi. Program ini harus terus lanjut sampai Bintang mencapai berat badan ideal untuk usianya. Dan jangan lupa, asupan lain juga penting, sayur, buah, kacang-kacangan. Tapi yang utama, teruskan telurnya setiap hari.

Pak Karyo: (mengangguk-angguk dengan penuh semangat) Iya, Mas Dokter. Istri saya sekarang sudah rajin belanja sayur juga. Saya lihat di internet, anak saya yang merantau kasih tahu, katanya anak harus makan sayur dan buah biar sehat. Dulu saya pikir sayur itu cuma buat orang dewasa. Sekarang saya tahu, anak juga butuh.

Ia kemudian mengangkat kardus telur yang dibawanya, menyerahkannya pada Erlangga dengan kedua tangan, seperti memberi hadiah yang sangat berharga.

Pak Karyo: Ini, Mas. Saya bawa telur buat yang sakit-sakit. Gratis! Saya punya warung, telur banyak. Anggap saja ini sedekah dari saya buat warga yang lagi sakit. Saya tahu obat-obatan mungkin habis, tapi telur bisa buat tambahan gizi. Kasihkan buat yang butuh.

Erlangga menerima kardus itu dengan tangan yang sedikit gemetar, bukan karena lelah, tetapi karena haru. Ia menatap Pak Karyo, seorang kakek tua yang dua minggu lalu masih keras kepala dan skeptis terhadap program kesehatan. Kini ia datang dengan sukarela, membawa telur untuk warga lain yang sakit. Inilah perubahan yang selama ini ia harapkan. Inilah bukti bahwa pendekatan yang sabar, konsisten, dan penuh empati bisa mengubah kebiasaan yang sudah mengakar.

Erlangga: (suaranya serak karena emosi) Pak Karyo, ini... terima kasih banyak. Ini sangat berarti. Telur ini akan sangat membantu warga yang sakit, terutama anak-anak yang butuh asupan protein untuk mempercepat penyembuhan. Saya tidak tahu harus membalas apa.

Pak Karyo: (merendah, tangannya mengibas-ngibas seperti menolak ucapan terima kasih) Ah, Mas Dokter. Jangan dibalas-balas. Saya yang harus berterima kasih sama Mas Dokter dan Mbak Anita. Dua minggu lalu, saya orang yang keras kepala. Mbak Anita sudah bilang berkali-kali soal telur, tapi saya nggak percaya. Saya pikir anak kurus itu takdir. Tapi Mas Dokter datang, menjelaskan dengan sabar, nggak memaksa, nggak marah-marah. Saya jadi sadar. Sekarang Bintang sehat, saya senang. Istri saya juga senang. Ini yang paling penting.

Ia menoleh ke Anita yang sejak tadi berdiri di samping, matanya berkaca-kaca tetapi berusaha tidak menangis.

Pak Karyo: Mbak Anita, saya minta maaf ya. Dulu saya sering nolak saran Mbak. Saya pikir Mbak cuma kader biasa, nggak penting. Ternyata Mbak yang paling sabar. Makasih ya, Mbak.

Anita tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, tersenyum sambil menangis.

Anita: (suaranya bergetar) Pak Karyo, ini perubahan yang saya tunggu-tunggu. Selama dua tahun jadi kader, belum pernah ada warga yang datang dengan telur untuk disumbangkan. Ini bukan tentang telurnya, Pak. Ini tentang perubahan. Terima kasih sudah percaya sama program kita.

Pak Karyo tersenyum, matanya juga berkaca-kaca. Ia mengusap kepala Bintang yang masih berdiri di sampingnya dengan penuh kasih sayang.

Pak Karyo: Saya yang berterima kasih, Mbak. Sekarang saya tahu, kesehatan itu bukan takdir. Itu usaha. Dan usaha itu harus dimulai dari diri sendiri.

Suasana di posko yang tadinya penuh kepanikan dan ketegangan, kini berubah menjadi hangat. Warga yang mengantre di luar, yang mendengar cerita Pak Karyo dari mulut ke mulut, ikut tersentuh. Beberapa ibu menangis haru. Bu Lulu yang sedang menuangkan jahe, berhenti sejenak untuk mengusap matanya dengan ujung kerudung.


Antrean terus bertambah hingga siang hari. Erlangga dan tim KKN nyaris tidak punya waktu istirahat. Mereka bergantian memeriksa pasien, mencatat data, memberikan obat, dan memberikan edukasi. Yulia dan Naila bergantian mengatur antrean di luar. Guntur dan Hermansyah belum kembali dari kecamatan membawa stok obat. Amilia yang sudah bekerja sejak subuh, mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan ekstrem, tangannya gemetar saat memegang alat suntik, matanya sayu dan sulit fokus.

Amilia: (setelah memeriksa pasien ke dua puluh tiga, ia bersandar di kursi dengan napas berat) Erlangga, saya... saya perlu istirahat sebentar. Lima belas menit saja. Kepala saya rasanya berputar.

Erlangga: (yang wajahnya juga mulai pucat, tetapi masih berusaha tegar) Silakan, Bu. Saya dan Anita bisa handle dulu. Istirahat yang cukup, Bu. Nanti kalau Ibu jatuh sakit, kita kehilangan komandan.

Amilia tersenyum tipis, senyum yang sangat jarang keluar dari bibirnya yang biasanya tegas dan galak. Ia berjalan ke ruang belakang posko dengan langkah gontai, tubuhnya yang kurus tampak lebih kecil dari biasanya.

Setelah Amilia pergi, Erlangga kembali fokus pada pasien di depannya, seorang anak laki-laki sekitar 7 tahun dengan demam tinggi dan batuk kering yang mengganggu. Ia memeriksa suhu tubuh anak itu, 39,2°C, lalu mendengarkan suara napasnya dengan stetoskop. Suara napas terdengar kasar, ada wheezing ringan di bronkus.

Erlangga: (kepada ibu anak itu, dengan suara tenang meskipun tubuhnya mulai terasa berat) Bu, anaknya mengalami ISPA dengan komponen asma ringan. Saya kasih obat penurun panas dan inhaler sederhana kalau ada. Tapi yang terpenting, Bu, jangan panik. Beri anak ini minum hangat setiap setengah jam, komres dengan air hangat, bukan air dingin atau alkohol, ya. Jangan dikasih obat batuk yang dijual bebas tanpa resep, karena bisa berbahaya untuk anak seusianya.

Ibu 7: (matanya cemas, suaranya bergetar) Baik, Mas. Tapi anak saya dari tadi ngos-ngosan, Mas. Saya takut.

Erlangga: (tersenyum, meskipun senyumnya terasa berat karena kelelahan) Saya mengerti, Bu. Tapi lihat, anaknya masih bisa bicara, masih bisa duduk. Itu tanda bahwa kondisinya tidak kritis. Kalau nanti sesak napasnya bertambah, atau bibirnya membiru, segera bawa ke puskesmas. Tapi untuk sekarang, obat ini dulu dan kompres yang benar. Insya Allah besok sudah membaik.

Ibu itu mengangguk, wajahnya sedikit lebih tenang. Ia menggendong anaknya dan berjalan keluar dengan langkah mantap.

Setelah pasien ke dua puluh delapan, Erlangga merasakan sesuatu yang tidak bisa ia abaikan lagi. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya terasa perih, dan tubuhnya terasa hangat. Ia meletakkan stetoskopnya di meja, berusaha mengatur napas. Tapi ketika ia berdiri untuk mengambil segelas air, dunianya terasa berputar. Ia meraih meja untuk menahan keseimbangan, tetapi tangannya hanya mengenai ujung meja yang licin.

Anita: (yang sedang mencatat data di meja sebelah, melihat Erlangga terhuyung) Mas! Mas Erlangga!

Ia bergegas menghampiri, tepat saat Erlangga jatuh terduduk di kursi dengan wajah pucat pasi. Anita langsung meraih kening Erlangga dengan tangannya dan wajahnya langsung berubah panik.

Anita: (suaranya meninggi, campuran antara khawatir dan marah) Mas! Kamu panas! Badanmu panas sekali! Kenapa tidak bilang dari tadi? Sejak kapan demamnya?

Erlangga tersenyum lemah, matanya sayu tetapi masih berusaha bercanda.

Erlangga: (suaranya serak, sedikit mengigau) Saya sehat, Mbak. Cuma agak pusing. Mungkin karena kurang minum.

Anita: (tidak percaya, suaranya tegas tetapi matanya menunjukkan kekhawatiran yang dalam) Pusing katanya! Panasmu sudah 38,5 setidaknya! Kenapa kamu tidak bilang? Kamu sudah periksa puluhan pasien dari pagi, belum makan, belum minum yang cukup, sekarang kamu sendiri yang sakit! Ini namanya bukan dedikasi, ini namanya bodoh!

Erlangga: (masih tersenyum, meskipun senyumnya rapuh) Saya kan calon dokter, Mbak. Tugas saya memeriksa pasien, bukan diri sendiri. Dokter yang baik harus mendahulukan pasien.

Anita: (keningnya berkerut, suaranya kesal tetapi matanya berkaca-kaca) Dasar keras kepala! Sekarang gantian kamu yang jadi pasien. Duduk di sini! Jangan kemana-mana! Saya akan ambilkan obat dan air hangat.

Ia mendorong Erlangga untuk tetap duduk di kursi, lalu bergegas ke lemari obat yang masih tersisa setelah Guntur dan Hermansyah membawa stok baru dari kecamatan. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil termometer, parasetamol, dan segelas air hangat. Ia kembali ke sisi Erlangga, memasukkan termometer ke ketiak pemuda itu dengan gerakan yang lembut tetapi tegas.

Anita: (melihat termometer setelah tiga menit, suaranya bergetar) 38,7°C. Mas, ini tidak main-main. Kamu harus istirahat total hari ini.

Erlangga: (masih berusaha tegar) Mbak, aku bisa... masih ada pasien...

Anita: (memotong dengan tegas) Tidak! Sekarang kamu duduk di sini, minum obat ini, dan saya akan selesaikan sisanya. Ada Yulia, Naila, Bu Lulu, dan Bu Amilia sudah istirahat sebentar lagi akan lanjut. Kamu tidak sendirian, Erlangga!

Panggilan "Erlangga" tanpa "Mas" itu membuat pemuda itu terdiam. Anita tidak pernah memanggilnya seperti itu. Selalu "Mas Erlangga", dengan jarak hormat yang sopan. Tapi sekarang, dalam kekhawatirannya, jarak itu runtuh.

Erlangga menatap Anita, melihat matanya yang berkaca-kaca, melihat tangannya yang gemetar saat menuangkan air, dan melihat seluruh tubuhnya yang tegang karena menahan kekhawatiran. Ada sesuatu yang hangat di dadanya, bukan karena demam, tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan ilmu kedokteran.

Erlangga: (suaranya pelan, nyaris berbisik) Baik, Mbak. Saya istirahat. Tapi janji, kalau ada yang butuh bantuan, panggil saya.

Anita: (menghela napas lega, suaranya sedikit lebih tenang) Janji. Sekarang minum obatnya.

Ia menyodorkan obat dan segelas air. Erlangga menelannya patuh, tanpa protes.


Sementara Erlangga beristirahat di sudut ruangan dengan kursi yang disandarkan ke dinding, Anita dan tim yang lain terus bekerja. Guntur dan Hermansyah akhirnya kembali dari kecamatan dengan mobil desa yang penuh dengan kardus berisi obat-obatan. Mereka disambut dengan sorak gembira oleh Yulia dan Naila.

Guntur: (melompat turun dari mobil dengan semangat, meskipun bajunya basah oleh hujan yang mengguyur di tengah jalan) Kami datang membawa bala bantuan! Obat-obatan dari Pak Sugeng! Parasetamol sirup, parasetamol tablet, amoksisilin, oralit, vitamin, dan yang paling penting, stok inhaler untuk yang asma!

Hermansyah: (yang lebih tenang, mengangkat kardus besar dari bak mobil) Pak Sugeng juga titip pesan, kalau masih kurang, beliau bisa kirim lagi. Beliau minta maaf karena baru bisa bantu sekarang, tadi pagi tokonya kebanjiran karena hujan deras.

Amilia: (yang sudah bangun dari istirahatnya dan kembali ke ruang utama dengan wajah yang sedikit lebih segar, langsung menghampiri kardus-kardus itu) Syukurlah... ini sangat membantu. Guntur, tolong bawa ke ruang belakang, saya akan sorting dulu. Hermansyah, bantu Yulia di luar, antrean masih panjang.

Guntur: Siap, Bu Bidan!

Kerja keras terus berlangsung hingga sore hari. Matahari mulai condong ke barat ketika antrean terakhir akhirnya selesai. Tiga puluh tujuh pasien telah diperiksa, dua belas di antaranya adalah balita dengan ISPA, dan lima kasus dengan gejala yang cukup berat sehingga dirujuk ke puskesmas untuk penanganan lebih lanjut. Stok obat yang tadinya habis, kini terisi kembali. Warga pulang dengan senyum lega, membawa obat dan edukasi yang mereka butuhkan.

Di sudut ruangan, Erlangga masih duduk di kursinya. Demamnya mulai turun setelah minum obat dan beristirahat, tetapi tubuhnya masih terasa lemas. Ia memperhatikan Anita yang masih sibuk merapikan meja pemeriksaan, mengelap alat-alat yang sudah digunakan, dan mencatat laporan akhir hari dengan tulisan tangan yang rapi.


Sore harinya, setelah semua pasien pulang dan posko mulai sepi, Anita memaksa Erlangga untuk dibawa ke rumahnya. Bukan ke posko KKN, tetapi ke rumah Anita di belakang kantor desa. Erlangga awalnya menolak, mengatakan bahwa ia bisa beristirahat di posko bersama teman-temannya. Tapi Anita bersikeras, dengan alasan bahwa di posko masih ramai dan ia butuh istirahat yang tenang.

Si Amat, yang sedang duduk di teras rumah sambil membaca koran usang, langsung berdiri ketika melihat mobil desa berhenti di halaman rumahnya dengan Anita menuntun Erlangga yang masih pucat.

Si Amat: (dengan wajah khawatir) Ada apa, Nita? Mas Erlangga kenapa?

Anita: (masih memegang lengan Erlangga, suaranya lelah tetapi tegas) Mas Erlangga sakit, Yah. Demam 38,7 tadi siang. Dia kelelahan. Saya minta Mas Erlangga istirahat di rumah kita saja. Di posko masih ramai, Guntur dan yang lain masih sibuk bersih-bersih.

Si Amat langsung mengangguk tanpa bertanya panjang. Ia membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Erlangga masuk.

Si Amat: (sambil menyiapkan teh hangat, suaranya penuh kehangatan) Mas Erlangga, istirahatlah di sini. Anggap saja rumah sendiri. Kamar tamu sudah saya siapkan. Nita, ambilkan selimut bersih di lemari.

Erlangga yang masih lemas, berusaha membungkuk hormat meskipun tubuhnya terasa berat.

Erlangga: (suaranya lemah) Terima kasih, Pak Amat. Maaf merepotkan. Saya hanya perlu istirahat sebentar, nanti malam saya bisa kembali ke posko.

Si Amat: (menggeleng, suaranya tegas tetapi lembut) Jangan pulang malam-malam. Istirahat di sini saja. Anita sudah saya titipkan untuk menjaga. Sebagai orang tua, saya ucapkan terima kasih atas dedikasi Mas selama ini. Mas sudah membantu desa kami dengan tulus. Ini adalah kesempatan kami untuk membalas budi.

Anita masuk ke kamar tamu dengan membawa selimut bersih dan bantal tambahan. Ia menata tempat tidur dengan rapi, sesuatu yang biasanya tidak ia lakukan dengan sepenuh hati untuk tamu. Setelah selesai, ia keluar dan masuk ke dapur. Erlangga mendengar suara peralatan masak, suara air mendidih, suara sayuran dipotong. Ada sesuatu yang hangat di rumah ini, bukan hanya karena teh yang disiapkan Si Amat, tetapi karena suasana yang terasa seperti... keluarga.


Setelah mandi air hangat dan berganti pakaian yang dipinjam dari Si Amat, kemeja batik lusuh yang terlalu besar untuk tubuh Erlangga, Erlangga berbaring di tempat tidur kamar tamu. Tubuhnya masih lemas, tetapi kepalanya sudah tidak berdenyut lagi. Ia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu, mendengar suara angin malam yang berembus di luar, dan menikmati keheningan yang sangat ia butuhkan setelah hari yang melelahkan.

Pintu kamar terbuka perlahan. Anita masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan uap, segelas air hangat, dan obat yang harus diminum Erlangga. Ia mengenakan daster sederhana dan rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai, penampilan yang sangat berbeda dari Anita kader desa yang selalu rapi dengan jaket lusuhnya.

Anita: (meletakkan nampan di meja samping tempat tidur, suaranya lembut) Ini, makan dulu. Saya buat bubur ayam. Habiskan. Kamu belum makan dari pagi, hanya minum air putih dan obat. Perutmu pasti kosong.

Erlangga duduk perlahan, mengambil sendok yang sudah disiapkan. Bubur itu sederhana, nasi yang dimasak dengan kaldu ayam, diberi suwiran ayam dan sedikit daun bawang. Tidak mewah, tidak seperti bubur ayam di restoran kota. Tapi aroma yang tercium, kehangatan yang mengepul dari mangkuk, dan tenaga yang dicurahkan untuk membuatnya, membuat bubur itu terasa lebih istimewa dari apa pun yang pernah ia makan.

Erlangga: (menyendok bubur perlahan, suaranya lembut) Mbak Anita bisa masak juga? Saya kira Mbak hanya sibuk keliling desa dan urusan posyandu.

Anita duduk di kursi kecil di samping tempat tidur, tangannya bersilang di pangkuan, matanya memperhatikan Erlangga makan dengan penuh perhatian.

Anita: (tersenyum kecil) Ya... sedikit-sedikit. Ayah saya sudah tua, jadi saya yang masak setiap hari. Tapi jangan harap kayak koki hotel. Yang penting hangat dan bisa dimakan. Bubur ini resep ibu saya dulu, sebelum beliau meninggal. Saya hanya modifikasi sedikit.

Erlangga: (berhenti menyendok, menatap Anita dengan tatapan yang dalam) Ibu Mbak Anita... sudah meninggal?

Anita: (menunduk, suaranya pelan) Iya, sudah lima tahun yang lalu. Kanker serviks. Waktu itu saya masih kuliah semester dua. Saya pulang kampung, menemani beliau sampai akhir. Setelah itu, saya memutuskan tidak kembali ke kota. Saya pindah ke akademi kesehatan di Provinsi, ambil keperawatan. Tujuan saya sederhana: saya tidak ingin ada ibu-ibu di desa ini yang meninggal karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Makanya saya fokus ke kesehatan ibu dan anak.

Erlangga meletakkan sendoknya. Ia menatap Anita dengan mata yang berkaca-kaca. Baru sekarang ia memahami mengapa Anita begitu bersemangat, begitu gigih, begitu tidak kenal lelah dalam program kesehatan ibu dan anak. Bukan karena tugas, bukan karena insentif, tetapi karena luka pribadi yang ia bawa.

Erlangga: (suaranya pelan, penuh empati) Anita... saya tidak tahu. Saya minta maaf.

Anita: (mengangkat wajahnya, tersenyum meskipun matanya berkaca-kaca) Tidak apa-apa. Itu dulu. Sekarang saya sudah ikhlas. Dan saya punya misi: membangun desa ini agar tidak ada lagi ibu-ibu yang meninggal karena hal yang seharusnya bisa dicegah. Itu yang membuat saya tetap bertahan, meskipun kadang lelah.

Mereka terdiam. Angin malam masuk melalui jendela, membawa wangi bunga kopi dari kebun di belakang rumah. Suara jangkrik mulai terdengar, bergantian dengan suara kodok di sawah yang mulai bersiap untuk malam.

Anita: (memecah keheningan, suaranya lebih ringan) Sudah, ayo makan dulu. Nanti dingin. Saya mau lihat habis atau tidak. Kalau tidak habis, saya yang akan marah.

Erlangga tersenyum, kembali menyendok bubur dengan lahap. Bubur yang hangat terasa melegakan tenggorokannya yang masih perih. Setiap sendok terasa seperti energi baru yang mengalir ke tubuhnya yang lelah.

Saat Erlangga makan dengan lahap, menghabiskan bubur hingga mangkuk hampir licin, Anita mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Ia mendekat, ragu sejenak, lalu mengusap kening Erlangga dengan handuk itu.

Anita: (suaranya pelan) Masih panas. Tapi sudah turun dari tadi siang. Kamu harus banyak istirahat. Besok jangan dulu turun ke lapangan. Saya dan Bu Amilia yang akan handle.

Erlangga: (menikmati usapan handuk hangat di keningnya, suaranya lemah) Mbak, aku nggak bisa diam kalau ada warga yang butuh bantuan.

Anita: (suaranya tegas tetapi lembut) Kamu tidak sendirian, Erlangga. Ada saya, ada Bu Amilia, ada kader-kader lain. Kamu sudah melakukan lebih dari cukup. Sekarang giliran kamu yang dirawat.

Erlangga menatap Anita. Dalam cahaya lampu minyak yang temaram, karena listrik desa sedang padam sejak sore, wajah Anita terlihat lembut, sangat berbeda dari kader desa yang tegas dan keras kepala yang ia temui di hari pertama. Ada kerutan kecil di dahinya karena kekhawatiran, ada kilatan di matanya yang tidak bisa ia artikan.

Erlangga: (suaranya pelan, nyaris berbisik) Anita...

Panggilan tanpa "Mbak" itu membuat Anita tersentak. Selama ini, Erlangga selalu memanggilnya "Mbak Anita", sopan, hormat, dengan jarak yang aman. Tapi sekarang, dalam keheningan malam, dengan suara jangkrik di luar dan hangatnya bubur yang masih tersisa di perutnya, jarak itu runtuh.

Anita: (gugup, suaranya meninggi sedikit) Ya?

Erlangga: (menatap Anita dengan mata yang jujur, tanpa topeng) Terima kasih untuk semuanya. Bukan hanya hari ini, tapi sejak pertama saya datang. Saya merasa menemukan tempat yang tepat untuk belajar menjadi dokter yang sesungguhnya. Selama ini saya pikir menjadi dokter yang baik itu tentang nilai ujian yang sempurna, tentang hafal ribuan nama obat, tentang bisa melakukan prosedur medis yang rumit. Tapi setelah berada di sini, setelah melihat Mbak bekerja setiap hari, saya belajar bahwa menjadi dokter yang baik itu tentang... hati. Tentang kemampuan untuk melihat penderitaan orang lain dan merasa bahwa itu adalah panggilan untuk membantu, bukan beban.

Ia berhenti sejenak, menarik napas.

Erlangga: Mbak Anita mengajarkanku arti cinta yang sebenarnya. Bukan cinta romantis yang sering saya baca di novel atau lihat di film. Tapi cinta pada pekerjaan, pada sesama, pada desa ini. Cinta yang tidak pernah lelah, yang tidak mengharapkan pujian, yang terus berjalan meskipun tidak ada yang melihat. Dan aku... mulai merasa...

Erlangga tidak melanjutkan kalimatnya. Bukan karena ia tidak tahu harus berkata apa, tetapi karena Anita tiba-tiba berdiri dengan gerakan tersentak. Wajahnya merah padam, bahkan di bawah cahaya lampu minyak yang temaram pun terlihat jelas.

Anita: (suaranya tergagap, tidak seperti biasanya yang selalu tegas) Mas... ayo makan dulu. Nanti dingin. Saya... saya ke belakang dulu ambil air hangat.

Ia berbalik dan berjalan cepat keluar kamar, hampir menabrak kusen pintu karena tergesa. Di dapur, ia berdiri di depan kompor yang sudah mati, tangannya memegang tepi meja dengan erat. Jantungnya berdebar tidak karuan, dadanya terasa sesak, dan kepalanya dipenuhi oleh satu kalimat yang belum selesai: "Dan aku... mulai merasa..."

Mulai merasa apa? pikir Anita. Mulai merasa... apa?

Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri yang terasa panas.

Anita: (bergumam dengan suara nyaris tak terdengar) Jangan lebay, Anita. Dia hanya capek. Mungkin mengigau karena demam. Atau... atau karena efek obat. Iya, pasti karena efek obat. Bukan apa-apa. Bukan.

Tapi di dalam hatinya, ia tahu itu bukan karena demam. Dan ketahuannya itu justru membuatnya semakin panik.


Di dalam kamar, Erlangga tersenyum sambil memegang bantal yang masih hangat karena baru saja digunakan Anita untuk menyangga punggungnya. Demamnya perlahan turun, bukan hanya karena obat, tetapi karena kehangatan yang ia terima hari ini. Kehangatan dari bubur ayam yang dimasak dengan sisa-sisa cinta seorang anak untuk ibunya yang telah tiada. Kehangatan dari handuk basah yang mengusap keningnya dengan lembut. Kehangatan dari mata yang berkaca-kaca karena khawatir.

Ia menatap langit-langit anyaman bambu, mendengar suara Anita yang masih bergerak di dapur, dan merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh empat tahun hidupnya. Bukan sekadar kekaguman pada seorang kader desa yang gigih. Bukan sekadar rasa terima kasih pada seseorang yang telah membantunya memahami desa ini. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan istilah medis apa pun.

Erlangga: (bergumam pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar) Aku mulai merasa... bahwa aku tidak ingin pergi dari desa ini. Bukan karena desanya. Tapi karena... seseorang.

Di luar, bulan sabit mulai muncul di ufuk timur, menyinari Desa Awan Biru dengan cahaya peraknya yang lembut. Angin malam berhembus, membawa wangi bunga kopi dan tanah basah. Di dalam rumah sederhana itu, dua orang yang sama-sama lelah setelah hari yang melelahkan, sama-sama merasakan sesuatu yang belum berani mereka ucapkan. Mungkin besok, atau lusa, atau kapan pun ketika keberanian akhirnya datang.

Tapi untuk malam ini, cukup sudah. Cukup dengan bubur ayam yang hangat, cukup dengan handuk basah yang mengusap kening, cukup dengan kalimat yang tidak selesai dan jantung yang berdebar tidak karuan. Karena di Desa Awan Biru, seperti kabut yang turun setiap pagi, cinta tidak perlu terburu-buru. Ia akan datang pada waktunya, ketika musim yang tepat tiba.


BAB 5: Kontroversi Jamban Sehat dan Aksi Heroik di Sungai

Wabah infeksi saluran pernapasan akut yang melanda Desa Awan Biru pada pekan kedua bulan kedua KKN membuka mata semua pihak. Tidak hanya warga yang merasakan langsung dampaknya, anak-anak yang demam berhari-hari, orang tua yang batuk tak kunjung sembuh, keluarga yang harus mengeluarkan uang untuk berobat ke puskesmas kecamatan, tetapi juga perangkat desa yang selama ini mungkin terlalu nyaman dengan status quo. Angka kasus yang dilaporkan puskesmas kecamatan menjadi pukulan telak: terjadi peningkatan kasus diare dan ISPA sebesar 40 persen dalam satu bulan terakhir, dengan angka tertinggi terjadi di dusun-dusun yang berada di sepanjang aliran sungai.

Data itu disampaikan langsung oleh Bidan Amilia dalam rapat evaluasi darurat yang diadakan di kantor desa, tiga hari setelah puncak wabah. Ruangan yang biasanya hanya terisi setengah, hari itu penuh sesak. Seluruh perangkat desa hadir, mulai dari Pak Iwan, Bu Yuni, Pak Eko, Bu Lulu, Bu Endang, hingga Pak Edi yang biasanya sinis tetapi kali ini terlihat serius. Tokoh masyarakat seperti Santoso dan Pak Sugeng juga diundang, begitu pula perwakilan Karang Taruna: Yulia dan Guntur. Erlangga dan Anita duduk di deretan kursi tamu, wajah mereka masih tampak lelah karena tiga hari terakhir bekerja tanpa henti menangani wabah.

Pak Iwan membuka rapat dengan suara yang lebih berat dari biasanya. Biasanya ia adalah kepala desa yang tegas namun hangat, sering menyelingi rapat dengan candaan ringan. Tapi pagi itu, tidak ada senyum di wajahnya. Kumis tebalnya yang khas tampak lebih kusut dari biasanya, dan matanya yang biasanya bersemangat kini tampak sayu, bukan karena kurang tidur, tetapi karena beban tanggung jawab yang mulai ia rasakan setelah melihat langsung penderitaan warganya.

Pak Iwan: (duduk di ujung meja dengan postur tegap tetapi wajah serius, tangannya memegang setumpuk kertas data dari puskesmas, suaranya berat dan penuh tekanan) Saya tidak bisa tutup mata lagi. Data dari puskesmas kecamatan sudah saya terima kemarin malam. Saya sudah baca berulang kali, berharap ada kesalahan pembacaan. Tapi tidak. Angkanya jelas.

Ia membuka lembaran pertama, matanya membaca dengan saksama meskipun ia sudah hafal isinya.

Pak Iwan: Kasus diare di desa kita pada bulan ini naik 40 persen dibanding bulan lalu. Kasus ISPA naik 38 persen. Angka tertinggi terjadi di RT 02, RT 03, dan RT 05, yang semuanya berada di sepanjang aliran sungai. Puskesmas juga melaporkan bahwa dari sampel air yang mereka ambil minggu lalu, kandungan bakteri Escherichia coli atau E. coli di sungai kita melebihi ambang batas aman. Artinya, air sungai yang selama ini digunakan warga untuk mandi, mencuci, bahkan memasak, sudah tercemar tinja.

Ia meletakkan kertas itu di atas meja, menatap satu per satu orang yang hadir. Matanya berhenti lebih lama pada Santoso dan Pak Sugeng dua tokoh masyarakat yang selama ini vokal dalam setiap persoalan desa.

Pak Iwan: Saya tidak akan saling menyalahkan. Tapi kita harus jujur pada diri sendiri. Penyebab utama pencemaran ini adalah kebiasaan buang air besar sembarangan yang biasa kita sebut BABS di hulu sungai. Saya sudah turun langsung ke lapangan kemarin bersama Pak Eko. Kami menemukan setidaknya lima titik di hulu sungai yang digunakan warga untuk buang hajat. Tidak ada jamban, tidak ada pengolahan limbah. Kotoran langsung terbawa air hujan ke sungai. Dan air itulah yang digunakan oleh warga di hilir untuk kebutuhan sehari-hari.

Ruangan menjadi sunyi. Beberapa perangkat desa menunduk, mungkin merasa bersalah karena selama ini kurang tegas dalam menangani masalah ini. Pak Edi yang biasanya sinis, kali ini hanya diam dengan tangan bersilang di dada, wajahnya serius. Bu Yuni menunduk, jari-jarinya menggenggam erat pulpen yang belum ia gunakan untuk mencatat.

Pak Iwan: (suaranya meninggi sedikit, menunjukkan emosi yang selama ini ia tahan) Saya tahu ini masalah sensitif. Saya tahu ini menyangkut kebiasaan turun-temurun yang sudah berlangsung puluhan tahun. Tapi lihatlah anak-anak kita. Lihatlah balita-balita yang kejang karena demam. Lihatlah orang tua yang batuk sampai berdarah. Apakah kita masih mau menutup mata? Solusinya hanya satu: kita harus percepat program jambanisasi. Setiap rumah di sepanjang aliran sungai harus memiliki jamban yang layak. Tidak ada toleransi lagi.

Santoso, yang duduk di kursi kehormatan di samping Pak Iwan, mengangguk-angguk perlahan. Pria tua itu mengusap kumisnya yang sudah memutih, lalu mengambil alih pembicaraan dengan suara dalam dan penuh wibawa.

Santoso: (suaranya tenang tetapi tegas, seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak masalah datang dan pergi) Pak Kades benar. Saya sudah bilang dari dulu. Sejak lima tahun lalu, ketika saya masih aktif di LPM, saya sudah mengusulkan program jambanisasi. Tapi waktu itu ditolak karena dianggap tidak prioritas. Anggaran lebih banyak dialokasikan untuk infrastruktur jalan dan jembatan. Padahal, jalan bisa diperbaiki kapan saja. Tapi kesehatan warga, kesehatan anak-anak kita, tidak bisa menunggu.

Ia menghela napas panjang, matanya menatap ke arah jendela di mana ia bisa melihat sungai yang mengalir di kejauhan, sungai yang dulu jernih, kini keruh kehijauan.

Santoso: Saya sudah mendekati warga, terutama yang di hulu sungai. Saya sudah jelaskan dampaknya. Tapi mereka pada ogah-ogahan bikin jamban. Alasan mereka klasik: "Saya sudah puluhan tahun buang air di kebun belakang, kenapa harus repot-repot bikin jamban?" Atau: "Kakek saya dulu juga begitu, sehat-sehat saja." Atau yang paling sering: "Nggak punya uang, Pak. Bikin jamban butuh biaya."

Pak Eko yang duduk di samping Bu Lulu, langsung menimpali dengan nada praktis. Kipasnya yang biasanya selalu bergerak cepat, pagi itu diam di pangkuannya, tanda bahwa ia benar-benar serius.

Pak Eko: (suaranya praktis, seperti orang yang terbiasa menghitung-hitung anggaran dan sumber daya) Pak Santoso benar. Masalahnya memang dua: biaya dan kebiasaan. Meskipun ada bantuan dari pemerintah pusat melalui program Pamsimas, Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat, bantuan itu hanya berupa material pokok seperti semen, pipa, dan kloset duduk. Warga masih harus mengeluarkan uang untuk material tambahan seperti pasir, batu bata, upah tukang, dan lain-lain. Bagi warga yang ekonominya pas-pasan, itu tetap menjadi beban.

Ia membuka buku catatannya, menghitung dengan jari telunjuknya.

Pak Eko: Saya sudah kalkulasi kasar. Untuk membuat satu unit jamban sederhana dengan teknologi cubluk lubang tanah yang dilapisi dibutuhkan biaya sekitar satu setengah juta rupiah. Dengan bantuan dari pemerintah, warga masih harus menambah sekitar lima ratus hingga delapan ratus ribu. Jumlah yang tidak kecil bagi warga kita yang rata-rata berpenghasilan di bawah satu juta per bulan.

Bu Lulu, yang sejak tadi jari-jarinya sudah sibuk di kalkulator, langsung menyambar dengan suara melengking khasnya. Matanya membulat di balik kacamata tebalnya, menunjukkan bahwa ia sudah melakukan perhitungan jauh sebelum rapat dimulai.

Bu Lulu: (suaranya nyaring, seperti biasa, tetapi kali ini tidak ada nada bercanda) Pak Eko, saya sudah hitung. Kita punya dana desa untuk infrastruktur fisik sekitar dua puluh juta rupiah yang belum teralokasi. Itu sebenarnya dialokasikan untuk perbaikan jalan di RT 04 dan RT 05. Tapi kalau kita prioritaskan untuk subsidi material jamban, dengan asumsi satu unit jamban butuh subsidi lima ratus ribu, kita bisa membantu sekitar empat puluh unit jamban. Itu sudah mencakup hampir semua rumah di sepanjang aliran sungai.

Pak Iwan yang mendengar itu, langsung mengetuk meja dengan keras. Matanya berbinar—bukan karena marah, tetapi karena ada harapan baru.

Pak Iwan: (suaranya tegas, tanpa ragu) Prioritas sekarang adalah kesehatan. Jalan bisa diperbaiki nanti. Kalau warga sakit, jalan mulus pun tidak ada gunanya karena tidak ada yang bisa bekerja. Saya minta tim KPM dan mahasiswa KKN turun langsung melakukan pendekatan ke warga. Kita tidak bisa hanya mengandalkan surat edaran atau imbauan dari balai desa. Harus ada pendekatan personal, door to door.

Ia menoleh ke arah Erlangga dan Anita yang duduk di deretan kursi tamu.

Pak Iwan: Mas Erlangga, Mbak Anita, saya minta kalian yang memimpin tim pendekatan ini. Kalian sudah punya kepercayaan dari warga. Pak Karyo yang dulu paling keras kepala sekarang sudah percaya sama kalian. Pak Sugeng juga. Saya yakin kalian bisa membawa perubahan.

Erlangga yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama, mengacungkan tangan dengan sopan. Ia berdiri, menatap Pak Iwan dan seluruh peserta rapat dengan mata yang tenang tetapi penuh keyakinan.

Erlangga: (suaranya mantap, tidak ragu) Pak Kades, saya dan tim siap. Tapi selain subsidi material, kita juga perlu pendekatan persuasif yang lebih mendalam. Saya dan Mbak Anita punya ide untuk melakukan edukasi door to door dengan metode yang lebih interaktif, bukan sekadar ceramah, tapi demo langsung. Kami akan membawa sampel air sungai yang terkontaminasi, menunjukkan dengan alat sederhana adanya bakteri, dan menjelaskan dalam bahasa yang mudah dipahami bagaimana kotoran yang terbawa air bisa membuat anak-anak sakit.

Ia mengeluarkan buku catatannya yang sudah lusuh, membuka halaman yang penuh dengan diagram dan catatan.

Erlangga: Selain itu, kami juga ingin melakukan demo pembuatan jamban sederhana yang murah. Banyak warga yang tidak tahu bahwa jamban tidak harus mahal. Dengan teknologi cubluk yang dilapisi, material lokal, dan tenaga gotong royong, biaya bisa ditekan hingga di bawah satu juta. Kami akan tunjukkan contohnya, biar warga melihat langsung bahwa ini bukan proyek muluk-muluk.

Anita yang duduk di samping Erlangga, berdiri dan menimpali dengan suara tegasnya yang khas. Matanya menatap seluruh peserta rapat dengan semangat yang tidak pernah padam meskipun tubuhnya masih lelah karena tiga hari terakhir bekerja tanpa henti.

Anita: (suaranya tegas, tetapi ada nada semangat yang menular) Dan kita bisa manfaatkan gotong royong. Karang Taruna sudah siap membantu warga yang tidak punya tenaga kerja. Guntur, Yulia, dan teman-teman sudah menyatakan kesediaan mereka. Dengan sistem gotong royong, kita tidak perlu membayar tukang. Warga cukup menyediakan makan dan minum untuk para pekerja. Biaya material yang disubsidi desa akan sangat membantu.

Pak Iwan mengangguk-angguk dengan puas. Ia menoleh ke Bu Lulu yang sudah sibuk mencatat angka di buku kasnya.

Pak Iwan: Bu Lulu, tolong segera disiapkan anggaran subsidi material. Pak Eko, tolong koordinasikan dengan Karang Taruna untuk jadwal gotong royong. Pak Santoso, saya mohon bimbingan Bapak untuk pendekatan ke warga yang masih sulit diajak bicara. Kita targetkan dalam satu bulan, semua rumah di sepanjang aliran sungai sudah memiliki jamban layak.

Santoso mengangguk, meskipun di matanya masih ada keraguan. Ia sudah terlalu lama hidup di desa ini untuk tidak tahu bahwa mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan tahun tidak semudah membalik telapak tangan.

Santoso: (suaranya hati-hati) Pak Kades, saya dukung penuh. Tapi saya harus jujur, tidak semua warga akan semudah Pak Karyo atau Pak Sugeng. Ada yang sangat keras kepala. Ada yang menganggap ini urusan pribadi yang tidak perlu diatur-atur. Pendekatan kita harus sabar. Jangan sampai warga merasa dipaksa, nanti malah resisten.

Pak Iwan mengangguk, mengakui kebenaran kata-kata Santoso.

Pak Iwan: Saya paham, Pak Santoso. Karena itu kita tidak pakai pendekatan instruktif. Kita pakai pendekatan persuasif. Kita tunjukkan data, kita tunjukkan dampaknya, dan kita bantu dengan subsidi dan tenaga. Biarkan mereka yang memutuskan sendiri. Tapi kalau masih ada yang menolak setelah semua itu... kita akan bicara lagi nanti.

Rapat usai dengan keputusan bulat. Program jambanisasi menjadi prioritas utama desa untuk bulan berikutnya. Anggaran dialokasikan, tim dibentuk, dan jadwal disusun. Namun semua orang di ruangan itu tahu bahwa tantangan sebenarnya bukanlah anggaran atau teknis pembangunan, tetapi mengubah kebiasaan yang sudah mengakar selama puluhan tahun.


Hari berikutnya, langit cerah dengan sisa-sisa kabut biru yang masih bergelayut di puncak bukit. Anita dan Erlangga bersama tim Karang Taruna memulai pendekatan door to door ke rumah-rumah warga di sepanjang aliran sungai. Mereka membagi diri menjadi tiga tim: Tim A dipimpin Anita dan Guntur untuk RT 02, Tim B dipimpin Erlangga dan Yulia untuk RT 03, dan Tim C dipimpin Hermansyah dan Naila untuk RT 05. Masing-masing tim membawa peralatan sederhana: sampel air sungai dalam botol plastik bening, reagen sederhana untuk uji bakteri, poster edukasi yang sudah disiapkan oleh Erlangga, dan brosur sederhana tentang cara pembuatan jamban sehat dengan biaya murah.

Pukulan pertama mereka adalah rumah Pak Sugeng. Rumahnya terletak persis di tepi sungai, sekitar lima puluh meter dari jembatan desa. Rumah itu cukup besar untuk ukuran desa, dengan halaman yang bersih dan beberapa pot bunga di teras. Pak Sugeng adalah tokoh masyarakat yang disegani, meskipun ia bukan orang kaya. Ia adalah pensiunan buruh pabrik yang memilih kembali ke desa setelah masa pensiun, dan karena pengalaman serta kebijaksanaannya, ia sering dimintai pendapat oleh warga.

Ketika tim Anita tiba, Pak Sugeng sedang duduk di teras rumahnya sambil menyesap kopi. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang sudah agus usang tetapi rapi, dan sandal kulit yang sudah retak di bagian jahitan. Wajahnya yang keriput dan kumisnya yang memutih membuatnya terlihat lebih tua dari usianya yang sebenarnya 58 tahun. Di sampingnya, istrinya Bu Yati sedang menjemur pakaian di halaman.

Pak Sugeng menerima kedatangan mereka dengan senyum ramah, tetapi ketika Anita mulai menjelaskan tujuan kedatangan mereka, senyum itu perlahan berubah menjadi ekspresi canggung. Ia mengusap kumisnya dengan gerakan lambat, tanda bahwa ia sedang berpikir keras.

Pak Sugeng: (duduk di kursi kayu dengan posisi yang agak tegang, suaranya hati-hati) Ini soal jamban lagi ya? Saya sudah dengar dari Pak Kades kemarin. Katanya desa mau bikin program jambanisasi. Tapi jujur, saya merasa nggak perlu-perlu amat. Air sungai kan mengalir, Bu. Airnya terus bergerak, nggak diam di tempat. Buang hajat di sungai itu sudah tradisi. Kakek saya, bapak saya, saya sendiri sejak kecil, ya begitu. Kok tiba-tiba sekarang jadi masalah?

Anita dan Erlangga duduk di kursi yang disediakan Bu Yati. Erlangga meletakkan ranselnya di lantai, mengeluarkan botol plastik berisi air sungai yang diambilnya pagi itu dari sungai tepat di depan rumah Pak Sugeng. Air itu tampak keruh kehijauan, dengan sedikit endapan di dasarnya.

Erlangga: (dengan suara tenang, penuh hormat) Pak Sugeng, saya hormati tradisi. Saya tidak datang untuk menghakimi atau memaksa. Tapi izinkan saya menunjukkan sesuatu.

Ia mengeluarkan alat uji sederhana yang ia bawa dari kampus sebuah kit uji bakteri cepat yang biasanya ia gunakan untuk praktikum. Dengan gerakan hati-hati, ia menuangkan sedikit reagen ke dalam botol berisi sampel air. Dalam beberapa menit, warna air berubah menjadi keunguan tanda positif adanya bakteri E. coli.

Erlangga: Ini air sungai yang Bapak dan keluarga gunakan untuk mandi dan masak, Pak. Saya sudah uji dengan alat sederhana ini, dan hasilnya menunjukkan kandungan bakteri E. coli yang tinggi. Bakteri ini berasal dari kotoran manusia atau hewan. Dalam jumlah kecil, mungkin tubuh kita masih bisa melawannya. Tapi kalau terus-menerus terkontaminasi, bakteri ini menyebabkan diare, tifus, infeksi saluran pencernaan, dan berbagai penyakit lain. Anak-anak yang masih kecil, orang tua yang daya tahan tubuhnya sudah menurun, paling rentan terkena dampaknya.

Pak Sugeng mengambil botol itu, menatap air keruh dengan warna keunguan yang mencurigakan. Wajahnya berubah bukan marah, tetapi terkejut. Selama ini ia minum air sungai yang direbus, mandi dengan air sungai, mencuci pakaian dan peralatan masak dengan air sungai. Dan sekarang, seorang mahasiswa kedokteran menunjukkan bahwa air itu mengandung kotoran manusia.

Bu Yati, yang sedari tadi mendengarkan dari balik jendela dapur, keluar dengan langkah cepat. Wajahnya pucat, matanya membulat penuh ketakutan.

Bu Yati: (suaranya bergetar) Mas... Mas Dokter... Maksudnya, air yang saya pakai masak selama ini... air yang saya gunakan untuk membersihkan sayuran... mengandung... tinja?

Erlangga: (lembut, tidak ingin menakuti tetapi juga tidak bisa menyembunyikan fakta) Ibu, saya tidak ingin menakut-nakuti. Tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa sekitar dua ratus meter dari hulu rumah Bapak, ada beberapa keluarga yang masih buang air besar di semak-semak dekat sungai. Ketika hujan turun, kotoran itu terbawa aliran air ke sungai. Bakterinya tetap hidup meskipun airnya sudah mengalir. Merebus air memang membunuh bakteri, tapi Ibu juga menggunakan air sungai untuk mencuci peralatan masak, mencuci sayuran yang dimakan mentah, dan mandi. Risiko penularan tetap ada.

Bu Yati menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. Ia duduk di kursi di samping suaminya, tubuhnya sedikit gemetar.

Bu Yati: Astagfirullah... Astagfirullah... Jadi selama ini saya masak pakai air yang... Oh, Tuhan...

Pak Sugeng yang sedari tadi diam, kini menghela napas panjang. Ia meletakkan botol berisi sampel air di atas meja dengan gerakan perlahan, seperti meletakkan benda yang sangat berat.

Pak Sugeng: (suaranya berat, penuh penyesalan) Saya... baru sadar. Saya pikir ini hanya soal tradisi, soal kebiasaan turun-temurun. Saya pikir sungai itu bisa membersihkan dirinya sendiri. Saya tidak tahu... tidak pernah terpikir bahwa kotoran di hulu bisa mencemari air yang saya gunakan untuk keluarga saya. Maafkan saya, Mas, Mbak. Saya yang bodoh. Saya pikir saya sudah cukup pintar karena pernah merantau ke kota, tapi ternyata saya masih buta soal hal-hal sederhana seperti ini.

Anita: (suaranya lembut, penuh empati) Pak Sugeng, ini bukan soal bodoh atau pintar. Ini soal informasi. Selama ini tidak ada yang menjelaskan dengan cara seperti ini. Tidak ada yang membawa sampel air dan menunjukkan bukti. Warga hanya dikasih tahu "bikin jamban" tanpa dijelaskan kenapa itu penting. Kami datang bukan untuk menyalahkan, tapi untuk membantu. Kami ingin Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir lagi tentang air yang Bapak dan Ibu gunakan setiap hari.

Ia mengambil brosur yang sudah disiapkan, menunjukkannya pada Pak Sugeng.

Anita: Kami ingin membantu Bapak dan Ibu membuat jamban sederhana dengan biaya yang sangat terjangkau. Desanya akan mensubsidi material utama. Karang Taruna akan membantu tenaga kerja. Bapak hanya perlu menyediakan lokasi dan... mungkin teh manis untuk para pekerja. Dalam seminggu, jamban Bapak sudah bisa digunakan.

Pak Sugeng menatap brosur itu, matanya membaca dengan saksama. Ia kemudian menoleh ke istrinya yang masih duduk dengan wajah pucat.

Pak Sugeng: (suaranya mantap) Yati, kita ikut program ini. Saya tidak mau keluarga saya sakit karena kecerobohan saya sendiri. Tolong nanti siapkan teh manis untuk anak-anak Karang Taruna yang akan membantu.

Bu Yati mengangguk, matanya masih berkaca-kaca tetapi sekarang ada senyum tipis di bibirnya.

Bu Yati: Iya, Pak. Saya akan siapkan yang terbaik.

Pak Sugeng berdiri, menjabat tangan Erlangga dan Anita dengan erat. Jabatan tangannya kuat, menunjukkan tekad yang bulat.

Pak Sugeng: Terima kasih, Mas Erlangga, Mbak Anita. Saya akan bantu bicara dengan tetangga-tetangga saya. Saya akan jelaskan seperti yang Mas jelaskan pada saya. Semoga mereka juga mau.


Tim Erlangga dan Yulia di RT 03 mendapatkan tantangan yang lebih berat. Rumah pertama yang mereka datangi adalah rumah Pak Karyo. Pria tua itu sedang duduk di depan warungnya, ditemani oleh Bintang yang kini terlihat lebih berisi dan aktif. Ketika melihat rombongan Erlangga datang dengan membawa brosur dan peralatan, ekspresi Pak Karyo langsung berubah menjadi waspada.

Pak Karyo: (berkacak pinggang di depan warungnya, tubuhnya yang kurus tetapi tegap berdiri seperti benteng, suaranya keras dan tegas) Hei, kalian datang lagi? Ada apa kali ini? Jangan-jangan masih soal jamban? Saya sudah bilang dari dulu, saya tidak akan bikin jamban! Saya sudah tua, umur saya 60 tahun. Saya sudah biasa ke kebun belakang sejak kecil. Bapak saya, kakek saya, juga begitu. Tidak ada yang sakit-sakit. Kok sekarang jadi masalah besar? Jangan coba-coba paksa saya!

Erlangga dan Yulia saling berpandangan. Mereka sudah menduga akan mendapat penolakan dari Pak Karyo, karena pria ini terkenal keras kepala. Tapi mereka juga tahu bahwa di balik kekerasan kepalanya, Pak Karyo adalah orang yang peduli, terutama pada cucunya, Bintang.

Erlangga: (mendekat dengan langkah pelan, suaranya tenang dan tidak defensif) Pak Karyo, saya tidak datang untuk memaksa. Saya hanya ingin bicara sebentar. Lima menit saja. Kalau setelah itu Bapak masih tidak mau, saya tidak akan mengulang lagi.

Pak Karyo menatap Erlangga dengan curiga. Tapi karena Erlangga adalah orang yang sudah membantunya menyadarkan pentingnya telur untuk Bintang, ia mengendurkan sikapnya sedikit.

Pak Karyo: (nada masih keras, tetapi tidak setegar tadi) Lima menit. Tapi jangan coba-coba memaksa.

Erlangga duduk di kursi kayu yang disediakan, membuka ranselnya dan mengeluarkan botol berisi sampel air sungai. Ia melakukan uji yang sama seperti yang ia lakukan di rumah Pak Sugeng. Warna air berubah menjadi keunguan. Ia menjelaskan dengan sabar, dengan bahasa yang sederhana, tentang bagaimana bakteri E. coli bisa menyebabkan penyakit, dan bagaimana air sungai yang tercemar bisa berdampak pada kesehatan—terutama pada anak-anak seperti Bintang.

Erlangga: (menunjuk ke arah Bintang yang sedang bermain di halaman dengan sendal jepit bekas) Pak Karyo, Bintang sekarang sehat. Bapak sudah berhasil membuatnya gemuk dengan telur setiap hari. Itu luar biasa. Tapi coba bayangkan, Pak. Kalau Bintang main di halaman, lalu tanpa sengaja terkena kotoran yang ada di tanah? Kalau ia mandi di sungai seperti anak-anak lain? Kalau ia minum air yang tidak dimasak sempurna? Sistem imun anak seusia Bintang masih rentan, Pak. Sekali terkena diare, berat badannya bisa turun drastis. Semua usaha Bapak selama ini bisa sia-sia.

Pak Karyo terdiam. Ia menatap Bintang yang sedang asyik bermain, memungut kerikil-kerikil kecil di halaman. Cucu yang sudah ia rawat dengan susah payah. Cucu yang sudah mulai berisi, mulai aktif, mulai tertawa. Apakah ia rela semua itu sia-sia karena kekeraskepalaannya sendiri?

Pak Karyo: (suaranya mulai goyah, tidak setegar tadi) Tapi... saya nggak punya uang untuk beli material. Saya cuma punya warung kecil. Penghasilan sehari cukuplah untuk makan. Jamban itu kan mahal. Saya dengar dari tetangga, bikin jamban bisa habis jutaan.

Erlangga: (tersenyum lega karena Pak Karyo mulai menunjukkan kelemahan) Pak, justru itu yang ingin kami bantu. Desanya akan mensubsidi material utama. Karang Taruna akan membantu tenaga kerja. Bapak hanya perlu menyediakan tempat dan... mungkin teh manis untuk para pekerja. Tidak perlu membayar tukang. Dengan sistem gotong royong, biaya yang harus dikeluarkan Bapak sangat minimal. Bahkan, kalau Bapak setuju, kami bisa mulai minggu depan.

Pak Karyo masih terdiam. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang kasar dan penuh keriput. Ia sedang berperang dengan dirinya sendiri—antara kebanggaan dan rasa takut, antara tradisi dan keselamatan cucunya.

Guntur yang sejak tadi berdiri di belakang, melangkah maju dengan senyum ramahnya yang khas.

Guntur: (suaranya ceria, mencairkan suasana) Pak Karyo, kami dari Karang Taruna sudah siap bantu tenaga. Saya sendiri yang akan gali lubangnya. Asal Bapak janji, teh manisnya pake gula batu, ya! Biar mantap! Jangan pake gula pasir, kurang mantap rasanya.

Pak Karyo menatap Guntur, lalu ke Erlangga, lalu ke Yulia. Wajahnya yang tadinya cemberut perlahan berubah. Ia melihat semangat anak-anak muda ini, melihat ketulusan mereka, melihat bahwa mereka tidak datang untuk menyulitkan tetapi untuk membantu. Dan ketika ia menoleh ke Bintang yang tersenyum padanya dengan gigi susu yang baru tumbuh, hatinya luluh.

Pak Karyo: (menghela napas panjang, lalu tertawa kecil—tawa yang keluar dari hidung, setengah menyerah setengah lega) Kalian ini memang anak muda... nggak bisa didiamkan. Dikasih tahu satu kali, diulang-ulang terus. Ditolak satu kali, datang lagi besoknya. Kayak lintah, nggak mau lepas.

Ia menggeleng-gelengkan kepala, tetapi senyumnya semakin lebar.

Pak Karyo: Baiklah, saya setuju. Tapi ingat, teh manisnya pake gula batu! Yang banyak! Dan jangan lupa, nanti kalau jadi, warung saya jualan jajanan baru: keripik telur. Bintang suka banget. Kalian harus beli, ya! Jangan cuma minta teh manis gratis!

Semua tertawa. Yulia sampai memegang perut karena terlalu keras tertawa. Guntur mengacungkan jempol dengan semangat. Erlangga menepuk pundak Pak Karyo dengan rasa terima kasih yang tulus.

Erlangga: Terima kasih, Pak. Bapak sudah membuat keputusan yang sangat berani. Bintang akan bangga pada kakeknya.

Pak Karyo: (merendah, suaranya sedikit serak karena emosi) Bintang udah kenyang telur. Sekarang waktunya saya bikin lingkungan yang bersih buat dia. Itu tanggung jawab saya sebagai kakek.


Pekan berikutnya, aksi gotong royong pembuatan jamban berlangsung meriah. Langit cerah dengan sinar matahari yang hangat, angin sepoi-sepoi membawa wangi kopi dari kebun-kebun warga. Suasana berbeda dari biasanya, bukan hanya karena ada proyek besar yang sedang berlangsung, tetapi karena semangat kebersamaan yang jarang terlihat di desa ini.

Karang Taruna yang dipimpin Yulia dan Guntur bahu-membahu menggali tanah, mengaduk semen, dan memasang pipa. Mereka dibagi dalam beberapa regu: regu gali yang dipimpin Guntur, regu cor yang dipimpin Hermansyah, regu pasang pipa yang dipimpin Amat Junior, dan regu logistik yang dipimpin Naila dan Camelia. Erlangga dan Anita tidak hanya mengawasi, tetapi juga ikut bekerja. Erlangga yang notabene calon dokter dari kota, terlihat kotor oleh lumpur—bajinya yang tadinya bersih kini bercak-bercak semen, sepatu boots-nya yang kotor sudah tidak terlihat warna aslinya, dan wajahnya penuh keringat bercampur debu.

Pak Sugeng, yang rumahnya menjadi lokasi pertama pembangunan jamban, ikut bekerja meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Ia membantu mengangkat batu bata, sesekali beristirahat untuk minum teh yang disiapkan istrinya. Bu Yati sibuk di dapur menyiapkan makan siang untuk para pekerja nasi dengan lauk sederhana, tetapi dibuat dengan penuh cinta.

Pak Karyo, yang awalnya hanya mau menyediakan teh manis, akhirnya ikut tergerak. Ia membuka warungnya lebih awal, menyediakan kopi dan camilan gratis untuk para pekerja. Bintang berlarian di antara mereka, sesekali tertawa melihat Guntur yang berlumuran lumpur dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Guntur: (mengangkat sekop penuh lumpur, suaranya setengah berteriak karena semangat) Pak Karyo! Teh manisnya mana? Saya sudah gali lubang sedalam satu meter! Kalau tehnya belum datang, saya mogok!

Pak Karyo: (dari warungnya, berteriak balik dengan nada bercanda) Sabar, Guntur! Lagi diseduh! Ini pake gula batu asli, bukan gula pasir murahan! Dijamin mantap!

Guntur: (memasukkan sekop ke tanah, berdiri tegak dengan tangan di pinggang) Pak Karyo, jangan tanggung-tanggung! Kasih gula jawa sekalian! Biar ada rasa karamelnya!

Pak Karyo: Heh! Gula jawa mah buat saya sendiri! Kalian cukup gula batu! Hahaha!

Semua tertawa. Yulia yang sedang membantu mengaduk semen di dekat Guntur, melempar segenggam lumpur ke arah pemuda itu.

Yulia: Guntur, jangan banyak gaya! Kerja dulu! Nanti tehnya dingin!

Guntur: (terkena lumpur di pipi, tetapi bukannya marah malah tertawa) Yu, jangan main lumpur! Ini baju saya baru dicuci kemarin!

Yulia: (tertawa) Baru dicuci? Bajumu itu warnanya udah kayak lumpur dari sananya! Nggak ada bedanya!

Guntur: (pura-pura tersinggung) Ih, Yulia! Nanti saya lapor ke Pak Kades! Kamu nggak menghargai aset nasional!

Yulia: Aset nasional apaan? Muka kamu aset nasional? Cocok jadi maskot iklan pupuk kandang!

Pekerja yang lain terbahak-bahak. Bahkan Pak Sugeng yang sedang mengangkat batu bata, sampai meletakkan batu bata itu karena terlalu keras tertawa.

Di sisi lain, Erlangga dan Anita sedang bekerja sama memasang pipa PVC yang akan menghubungkan jamban ke lubang resapan. Mereka duduk berdekatan di tanah yang lembab, tangan mereka berlumuran lumpur dan semen. Erlangga memegang pipa, sementara Anita mengencangkan sambungan dengan lem khusus.

Erlangga: (sambil memegang pipa dengan stabil) Mbak Anita, ini sudah lurus? Saya takut nanti miring, alirannya nggak lancar.

Anita: (mengencangkan sambungan, matanya fokus pada posisi pipa) Sedikit ke kiri. Angkat dikit. Iya, segitu. Tahan.

Erlangga: (mengangkat pipa sesuai instruksi, tubuhnya sedikit bergeser sehingga bahunya menyentuh bahu Anita) Gini, Mbak?

Anita tersentak sedikit ketika bahu mereka bersentuhan. Tangan yang memegang lem hampir terlepas. Ia berusaha tetap fokus, tetapi detak jantungnya tiba-tiba tidak karuan.

Anita: (suaranya agak tergagap) I... iya. Segitu sudah pas. Kencangkan.

Erlangga tersenyum kecil. Ia bisa merasakan bahwa Anita sedikit gugup. Selama beberapa pekan terakhir, ia mulai bisa membaca bahasa tubuh perempuan ini—sesuatu yang tidak bisa ia lakukan di hari-hari pertama ketika Anita selalu memasang raut datar dan tangan bersilang.

Erlangga: (berbisik, hanya cukup untuk didengar Anita) Mbak Anita, tangan Mbak gemetar. Nanti lemnya belepotan.

Anita: (menatap Erlangga dengan mata sedikit memerah—bukan karena marah, tetapi karena malu) Siapa yang gemetar? Ini karena pegang lem terus, tangannya jadi pegal. Bukan apa-apa.

Erlangga: (tersenyum, tidak memaksa) Baik, Mbak. Saya percaya.

Bu Yuni, yang datang membawa nasi kotak untuk pekerja, melihat interaksi itu dari kejauhan. Matanya yang tajam langsung menangkap sesuatu—cara Erlangga menatap Anita, cara Anita membuang malu ketika bahu mereka bersentuhan. Ia mendekati Pak Eko yang sedang beristirahat di bawah pohon rindang.

Bu Yuni: (berbisik pada Pak Eko sambil matanya tetap mengamati Erlangga dan Anita) Pak Eko, lihat tuh. Calon dokter ganteng jadi kuli bangunan. Bajunya kotor, mukanya belepotan lumpur. Tapi lihat, dia tetap semangat. Awas saja kalau nanti jadi mantu desa.

Pak Eko yang sedang mengipas-ngipas dengan kipas lipatnya, menoleh ke arah yang ditunjuk Bu Yuni. Ia tersenyum melihat Erlangga dan Anita yang sedang duduk berdekatan, sesekali tertawa kecil ketika salah satu dari mereka salah memasang pipa.

Pak Eko: (tersenyum, suaranya pelan) Mantu desa? Siapa yang dinikahinya, Bu? Anita?

Bu Yuni: (menggoda, suaranya sedikit lebih keras dari yang seharusnya) Ya jelas Anita lah! Siapa lagi yang setiap hari bareng dia? Dari pagi sampai sore, dari posyandu sampai proyek jamban. Mana pernah lihat Mas Erlangga dekat sama perempuan lain. Kayaknya dua-duanya saling suka, cuma malu-malu kucing.

Anita yang kebetulan lewat di dekat mereka dengan ember berisi semen, mendengar potongan percakapan itu. Wajahnya langsung merah padam—lebih merah dari biasanya, bahkan di bawah sinar matahari siang yang terik. Ia berhenti, menatap Bu Yuni dengan mata yang setengah kesal setengah malu.

Anita: (suaranya meninggi, tetapi tidak sampai marah) Bu Yuni! Saya masih kerja, tolong jangan bercanda! Ini urusan jamban, bukan urusan perjodohan! Nanti pekerja yang lain pada denger!

Bu Yuni: (tertawa kecil, tidak merasa bersalah) Lho, Mbak Anita, saya hanya bercanda. Kenapa sampai merah padam begitu? Jangan-jangan emang ada yang bener? (Ia mengerjapkan mata, menggoda)

Anita: (semakin merah, ember semen di tangannya hampir goyah) Bu Yuni! Saya serius! Ini semennya mau saya bawa ke Pak Sugeng. Nanti kalau saya jatuh karena Bu Yuni bercanda, Bu Yuni yang tanggung jawab!

Pak Eko: (ikut tertawa, mencoba menengahi) Sudah, Bu Yuni. Jangan digoda terus. Nanti Anita marah, kita semua kena getahnya. Lagipula, kalau memang ada yang mau serius, biar mereka yang ngomong sendiri. Kita cukup lihat dari jauh.

Bu Yuni: (masih tersenyum, tetapi tidak melanjutkan) Ya sudah, saya tutup mulut. Tapi saya lihat sendiri, nanti kalau benar, saya minta jatah jadi saksi.

Anita menghela napas kesal, tetapi di dalam hatinya ada sesuatu yang hangat. Ia berjalan cepat menuju lokasi Pak Sugeng, berusaha mengabaikan detak jantungnya yang tidak karuan. Dari kejauhan, Erlangga yang sedang memasang pipa bersama Guntur, melihat Anita berjalan cepat dengan ember semen di tangan. Ia tidak mendengar percakapan dengan Bu Yuni, tetapi ia bisa melihat dari gerak-geriknya bahwa ada sesuatu yang membuat Anita gelisah.

Erlangga: (berteriak dari kejauhan, suaranya ramah) Mbak Anita, kok jalan cepat-cepat? Nanti semennya tumpah!

Anita: (berbalik sejenak, suaranya masih sedikit kesal tetapi mencair ketika melihat wajah Erlangga yang belepotan lumpur) Nggak usah khawatir! Saya sudah biasa bawa ember semen! Ini bukan pertama kalinya!

Erlangga: (tersenyum) Baik, Mbak. Hati-hati, ya. Jangan sampai jatuh. Nanti saya yang harus ngobatin.

Anita: (tidak bisa menahan senyum kecil) Dasar calon dokter, apa-apa diobatin.

Guntur: (yang sedang duduk di samping Erlangga, berbisik dengan nada menggoda) Mas Erlangga, dari tadi saya lihat, Mbak Anita kalau dekat Mas selalu berbeda. Biasanya galak, sekarang jadi kalem. Ada apa ini?

Erlangga: (menepuk pundak Guntur dengan lembut, suaranya tenang) Guntur, jangan bercanda. Fokus kerja. Pipa ini harus selesai sebelum magrib.

Guntur: (tersenyum, tidak melanjutkan) Siap, Komandan! Tapi saya lihat sendiri, Mas.

Di tengah keramaian, Anto supir truk yang beberapa pekan lalu dibantu Erlangga mengatasi sakit gigi datang dengan membawa termos besar berisi kopi hitam pekat. Ia tidak dijadwalkan ikut gotong royong karena harus bekerja, tetapi ia memanfaatkan waktu istirahatnya untuk datang dan membantu.

Anto: (meletakkan termos di meja logistik, suaranya bersemangat) Saya bawa kopi buat pekerja! Kopi hitam pekat, biar semangatnya nggak kendor! Ini kopi robusta asli kebun desa kita, bukan kopi instan kemasan!

Naila: (yang sedang mengatur konsumsi, tersenyum) Wah, Mas Anto, terima kasih. Tapi bukannya Mas Anto harus kerja hari ini?

Anto: (mengusap keringat di dahinya) Lagi istirahat, Mbak. Saya numpang lewat, lihat semangat gotong royong, jadi ikut bawa kopi. Lagipula, saya juga punya utang budi sama Mas Erlangga. Dulu waktu sakit gigi, beliau yang bantu. Sekarang giliran saya bantu beliau.

Ia kemudian bergabung dengan regu gali, mengambil sekop dan mulai menggali tanah di samping Guntur. Tubuhnya yang besar dan kekar membuat pekerjaan menggali terasa lebih ringan.

Anto: (kepada Guntur, sambil menggali dengan semangat) Guntur, ini lubangnya mau sedalam apa? Saya bisa bantu gali lebih dalam. Biar jambannya awet.

Guntur: (sedikit kewalahan mengimbangi kecepatan Anto) Mas Anto, pelan-pelan! Ini bukan balapan! Nanti saya kelelahan!

Anto: (tertawa) Namanya juga anak muda, jangan cengeng! Ayo, semangat!

Suasana gotong royong semakin meriah. Di satu sisi, Pak Sugeng dan Bu Yati sibuk menyiapkan makan siang untuk pekerja. Di sisi lain, Pak Karyo dan Bintang datang membawa tambahan camilan keripik singkong buatan istri Pak Karyo. Bintang yang sekarang sudah lebih percaya diri, berlarian di antara pekerja sambil membagikan keripik dengan ceria.

Bintang: (dengan suara lantang, kepada Guntur yang sedang beristirahat) Om Guntur, ini keripik! Nenek buat! Enak!

Guntur: (menerima keripik, mengusap kepala Bintang) Wah, Bintang sekarang jadi anak pemberani! Dulu nggak mau ngomong sama orang asing, sekarang bisa bagi-bagi keripik. Hebat!

Bintang: (tersenyum bangga) Bintang suka keripik! Bintang juga suka telur!

Guntur: (tertawa) Iya, Bintang suka telur. Nanti kalau besar, Bintang mau jadi apa?

Bintang: (berpikir sejenak, lalu menjawab dengan polos) Bintang mau jadi dokter! Kayak Abang Erlangga!

Semua yang mendengar tertawa. Erlangga yang sedang beristirahat di dekat pohon, tersenyum mendengar jawaban Bintang. Ia melambaikan tangan pada anak itu, dan Bintang berlari kecil menghampirinya dengan keripik di tangan.

Bintang: (menyerahkan keripik pada Erlangga) Abang Erlangga, ini keripik! Bintang kasih!

Erlangga: (menerima keripik, mengusap kepala Bintang) Terima kasih, Bintang. Bintang baik sekali. Nanti kalau Bintang besar, Bintang jadi dokter yang hebat, ya. Lebih hebat dari Abang.

Bintang: (mengangguk serius) Iya! Bintang mau jadi dokter! Bintang mau obati orang sakit!

Erlangga: (tersenyum) Doakan Abang ya, Bintang. Abang juga lagi belajar jadi dokter yang baik.

Anita yang sedang duduk tidak jauh dari sana, melihat interaksi itu dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Melihat Erlangga berinteraksi dengan Bintang, melihat kesabaran dan kelembutannya, membuat hatinya terasa hangat. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya—sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tetapi juga tidak bisa ia abaikan.


Sore harinya, setelah hari yang melelahkan, sebagian besar pekerja sudah pulang. Yang tersisa hanya beberapa orang yang sedang merapikan peralatan dan membersihkan sisa-sisa material. Pak Sugeng duduk di teras rumahnya bersama Bu Yati, menikmati secangkir teh hangat sambil memandangi jamban yang hampir selesai dibangun di belakang rumah mereka.

Pak Iwan, yang sejak tadi memantau dari kejauhan, akhirnya mendekati lokasi. Ia berjalan dengan langkah mantap, memeriksa hasil pekerjaan dengan saksama. Matanya yang tajam melihat detail-detail kecil, sambungan pipa yang rapi, dinding jamban yang kokoh, atap seng yang terpasang dengan baik.

Pak Iwan: (kepada Pak Sugeng, suaranya penuh kebanggaan) Pak Sugeng, ini baru namanya gotong royong. Dulu kita hanya bisa bicara di balai desa, sekarang kita buktikan bahwa desa ini bisa berubah kalau semua bergerak bersama.

Pak Sugeng: (mengangguk, matanya berkaca-kaca) Saya malu, Pak Kades. Dulu saya termasuk yang menolak program jambanisasi. Saya pikir ini tidak penting. Tapi setelah Mas Erlangga dan Mbak Anita menjelaskan, setelah saya lihat air sungai yang ternyata tercemar, saya sadar. Ini bukan soal saya, ini soal keluarga saya, soal Bintang, soal anak-anak desa ini.

Pak Iwan: (menepuk pundak Pak Sugeng) Tidak perlu malu, Pak. Yang penting sekarang kita bergerak bersama. Ini baru awal. Masih banyak rumah yang harus kita bantu.

Bu Yuni yang ikut hadir, menimpali dengan suara ceria.

Bu Yuni: Pak Kades, saya lihat hari ini antusiasme warga luar biasa. Bahkan Pak Karyo yang paling keras kepala akhirnya mau. Ini semua berkat kerja keras Mas Erlangga dan Mbak Anita. Mereka yang turun langsung, berbicara satu per satu, tidak kenal lelah.

Pak Iwan: (menoleh ke Erlangga dan Anita yang sedang duduk di pojok halaman, melepas lelah) Saya tahu. Mereka berdua memang luar biasa. Saya dengar dari Bu Lulu, Mas Erlangga bahkan ikut menggali lubang dan mengaduk semen. Mahasiswa KKN biasanya hanya ngawasi, ini malah jadi kuli.

Bu Yuni: (tersenyum menggoda) Itu namanya kalau sudah ada yang disukai, Pak. Semangatnya beda.

Pak Iwan: (menggeleng-gelengkan kepala, setengah kesal setengah lucu) Bu Yuni, jangan bawa-bawa urusan pribadi. Yang penting program desa berjalan.

Bu Yuni: (tetap tidak menyerah) Saya hanya bercanda, Pak. Tapi Pak Iwan sendiri lihat, Mas Erlangga dan Mbak Anita itu kalau bareng, beda. Mereka saling melengkapi. Mas Erlangga yang tenang dan penuh perhitungan, Mbak Anita yang tegas dan enerjik. Cocok, kan?

Pak Iwan hanya tersenyum, tidak menjawab. Sebagai kepala desa, ia sudah cukup lama memimpin untuk tahu bahwa urusan hati adalah urusan yang paling tidak bisa diatur. Yang bisa ia lakukan hanyalah membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.


Di pojok halaman, Erlangga dan Anita duduk berdampingan di atas tumpukan batu bata sisa. Tubuh mereka penuh lumpur, wajah mereka lelah, tetapi mata mereka berbinar. Hari ini mereka telah mencapai sesuatu yang lebih besar dari sekadar membangun jamban. Mereka telah membangun kepercayaan, membangun kesadaran, membangun harapan.

Erlangga: (menatap langit yang mulai jingga, suaranya pelan) Hari ini luar biasa, Mbak. Saya tidak menyangka Pak Karyo akhirnya mau. Dulu waktu pertama kali saya datang, beliau adalah orang yang paling keras menolak.

Anita: (tersenyum, matanya juga menatap langit) Itu karena Mas Erlangga sabar. Mas tidak memaksa, tidak marah-marah. Mas menjelaskan dengan cara yang beliau mengerti. Dan Mas juga menunjukkan bahwa Mas tidak hanya bicara, tapi juga bekerja. Melihat Mas ikut menggali lumpur, mengaduk semen, kotor seperti ini... warga jadi percaya bahwa Mas tulus.

Erlangga: (menoleh ke Anita) Bukan saya saja, Mbak. Mbak Anita juga. Mbak sudah melakukan ini selama dua tahun, bahkan sebelum saya datang. Saya hanya melanjutkan apa yang sudah Mbak mulai. Saya hanya kebetulan datang dengan atribut calon dokter, jadi warga lebih mudah percaya. Tapi fondasinya sudah Mbak bangun sejak lama.

Anita: (menunduk, suaranya kecil) Saya hanya melakukan tugas saya.

Erlangga: (tersenyum) Mbak selalu bilang begitu. Tapi saya tidak pernah bosan mengingatkan Mbak bahwa apa yang Mbak lakukan lebih dari sekadar tugas. Itu panggilan hati. Dan saya... saya bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan Mbak, meskipun hanya sebentar.

Mereka terdiam. Angin sore berembus, membawa wangi kopi dari kebun-kebun warga. Burung-burung mulai pulang ke sarang, suara mereka yang riuh bergantian dengan suara jangkrik yang mulai bersiap untuk malam.

Anita: (tiba-tiba, suaranya pelan) Erlangga... sebentar lagi KKN Mas selesai. Dua minggu lagi. Setelah itu... Mas akan kembali ke kota, kembali ke kehidupan Mas sebagai calon dokter yang sibuk.

Erlangga: (menoleh, menatap Anita dengan mata yang dalam) Mbak, apakah Mbak sudah ingin saya pergi?

Anita: (terkejut, wajahnya sedikit memerah) Bukan! Bukan begitu. Saya hanya... saya hanya berpikir, apa yang akan terjadi setelah Mas pergi. Apakah semua yang sudah kita bangun ini akan terus berjalan? Apakah Pak Karyo akan tetap konsisten? Apakah warga akan terus menggunakan jamban yang sudah dibangun? Apakah...

Erlangga: (memotong dengan lembut) Anita... (ia berhenti, membiarkan panggilan tanpa "Mbak" itu menggantung di udara) Semua yang kita bangun tidak akan runtuh hanya karena saya pergi. Karena fondasinya bukan saya. Fondasinya adalah Mbak Anita, adalah Bu Amilia, adalah Pak Karyo yang sudah berubah, adalah Bintang yang sekarang bermimpi jadi dokter, adalah anak-anak muda Karang Taruna yang sekarang paham pentingnya kesehatan. Saya hanya datang untuk mempercepat. Tapi yang membuat semua ini terus berjalan adalah kalian, warga desa ini.

Ia mengambil napas, menatap Anita dengan tatapan yang lebih lembut.

Erlangga: Dan saya... saya tidak akan benar-benar pergi. Desa ini sudah menjadi bagian dari diri saya. Bintang, Pak Karyo, Bu Amilia, Guntur, Yulia, Pak Sugeng, dan... Mbak Anita. Saya akan kembali. Entah untuk KKN berikutnya, atau untuk sesuatu yang lain. Tapi saya tidak akan hilang begitu saja.

Anita menunduk, jantungnya berdetak sangat cepat. Ia ingin bertanya, "Sesuatu yang lain itu apa?" Tapi ia tidak berani. Ia takut jawabannya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Atau lebih takut lagi, jawabannya sesuai dengan yang ia harapkan.

Anita: (suaranya bergetar sedikit) Mas... ayo kita bersihkan peralatan. Hari sudah sore. Besok kita lanjut ke rumah Pak Karyo.

Erlangga: (tersenyum, tidak memaksa) Baik, Mbak.

Mereka berdiri, mengambil peralatan yang berserakan. Dari kejauhan, Pak Iwan, Bu Yuni, dan beberapa perangkat desa lainnya sedang berkemas pulang. Pak Sugeng dan Bu Yati melambai dari teras rumah mereka. Bintang yang masih berlarian di halaman, berteriak "Dadah, Abang Erlangga! Dadah, Mbak Anita!" dengan suara lantang.

Matahari perlahan tenggelam di balik bukit, meninggalkan sisa-sisa cahaya keemasan yang memantul di awan-awan tipis. Kabut biru mulai merayap turun dari puncak bukit, perlahan menyelimuti lembah dengan kelembapan yang menusuk. Tapi di hati mereka berdua, ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan—kehangatan yang lahir dari kerja keras, dari kebersamaan, dari sesuatu yang mulai tumbuh di antara mereka.

Di balai desa, Bu Lulu sedang sibuk menghitung sisa anggaran untuk program jamban. Pak Eko membantu menyusun jadwal gotong royong untuk pekan berikutnya. Yulia dan Guntur sudah merencanakan sistem kerja untuk rumah-rumah berikutnya. Pak Karyo menutup warungnya lebih awal, membawa Bintang pulang dengan senyum puas. Dan di langit Awan Biru, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, menyaksikan bahwa desa kecil di lereng perbukitan ini perlahan tapi pasti mulai berubah.

Bukan karena program besar dari pemerintah. Bukan karena teknologi canggih. Tapi karena orang-orang yang memilih untuk tidak tinggal diam. Karena seorang kader desa yang tidak pernah lelah. Karena seorang calon dokter yang memilih untuk belajar dari mereka yang selama ini tidak terlihat. Dan karena sebuah desa yang akhirnya memilih untuk percaya.


BAB 6: Konflik di Balik Layar dan Keteguhan Seorang Kader

Di tengah euforia keberhasilan program sanitasi yang mulai terlihat hasilnya jamban demi jamban berdiri di sepanjang aliran sungai, warga mulai sadar pentingnya kebersihan, dan kasus diare perlahan menurun muncul gesekan yang tak terduga. Seperti api yang membara di balik tumpukan kayu yang tampak tenang, konflik yang selama ini terpendam akhirnya meletus. Bukan konflik antara warga dan pendatang, bukan antara tradisi dan modernitas, tetapi konflik yang lebih personal dan kompleks: gesekan antara mereka yang merasa selama ini berjuang sendirian dengan mereka yang baru datang dan mendapat sorotan.

Pak Edi, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat yang sejak awal skeptis dengan kehadiran mahasiswa KKN, mulai menyuarakan kritik pedas. Bukan karena ia membenci Erlangga atau Anita, ia bahkan secara pribadi mengakui bahwa program-program yang dijalankan membawa perubahan nyata. Tapi sebagai seorang yang telah puluhan tahun mengabdi di pemerintahan desa, sebagai seseorang yang terbiasa bekerja dalam bayang-bayang tanpa pernah mendapat pengakuan, melihat sorotan tertuju pada orang-orang baru membuat sesuatu di dalam dirinya terasa perih. Ia merasa pengalamannya, pengorbanannya, dan dedikasinya selama ini seolah tidak dihargai.

Rapat evaluasi program sanitasi diadakan di kantor desa pada hari Kamis pagi, seminggu setelah gotong royong pertama. Langit cerah, tetapi di dalam ruangan suasana mendung. Seluruh perangkat desa hadir, ditambah dengan perwakilan Karang Taruna dan tokoh masyarakat. Pak Iwan duduk di ujung meja dengan ekspresi waspada, ia sudah mendengar desas-desus bahwa Pak Edi akan melontarkan sesuatu yang keras dalam rapat ini. Bu Yuni duduk di sampingnya dengan buku agenda terbuka, pulpen di tangan, siap mencatat. Bu Lulu sudah menyiapkan kalkulator dan buku kas, tidak ingin ketinggalan jika ada keputusan yang menyangkut anggaran.

Anita dan Erlangga duduk di kursi tamu di sisi ruangan. Anita tampak tegang, ia sudah merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres sejak beberapa hari terakhir. Pak Edi, yang biasanya menyapanya dengan ramah di jalan, mulai menghindari tatapan matanya. Ia juga mendengar dari Bu Yuni bahwa Pak Edi beberapa kali mengeluh di kantor desa tentang "dominasi mahasiswa KKN" dan "alokasi anggaran yang tidak sesuai prosedur."

Erlangga duduk di samping Anita dengan tenang, tetapi matanya sesekali melirik ke arah Pak Edi yang duduk di seberang ruangan dengan tangan bersilang di dada. Ia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Sebagai mahasiswa yang terbiasa dengan kritik dan evaluasi di kampus, ia tahu bahwa konflik adalah bagian tak terpisahkan dari setiap proses perubahan. Tapi ia juga tahu bahwa konflik yang tidak dikelola dengan baik bisa menghancurkan semua yang sudah dibangun.

Rapat dimulai dengan paparan dari Pak Eko tentang perkembangan program sanitasi. Data menunjukkan bahwa dari 45 rumah yang ditargetkan, 12 sudah memiliki jamban layak, 8 sedang dalam proses pembangunan, dan sisanya masih dalam tahap pendekatan. Angka diare menurun 15 persen dalam dua minggu terakhir. Partisipasi warga dalam gotong royong meningkat dari 30 menjadi 75 persen. Semua data itu disajikan dengan grafik dan angka-angka yang rapi, hasil kerja keras tim pendataan yang dipimpin Anita dan Erlangga.

Pak Eko baru saja selesai memaparkan data ketika Pak Edi mengangkat tangan. Gerakannya pelan, tetapi semua orang di ruangan itu tahu bahwa ini bukan sekadar ingin bertanya. Ada sesuatu yang lebih besar di balik tangan yang terangkat itu.

Pak Edi: (berdiri dari kursinya dengan gerakan perlahan, tangan masih bersilang di dada, suaranya tinggi dan tajam—nada yang tidak biasa dari seseorang yang biasanya lebih banyak diam dalam rapat) Pak Kades, saya minta izin untuk menyampaikan sesuatu. Bukan sekadar pertanyaan, tetapi catatan kritis. Saya sudah simpan ini sejak beberapa minggu lalu, dan saya rasa ini saat yang tepat untuk disampaikan.

Pak Iwan mengangguk, meskipu alisnya berkerut. Ia sudah menduga bahwa rapat hari ini tidak akan berjalan mulus.

Pak Iwan: (suaranya hati-hati, mencoba menenangkan dari awal) Silakan, Pak Edi. Rapat ini memang untuk evaluasi. Kritik yang membangun sangat kami butuhkan.

Pak Edi mengambil napas panjang. Matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak di wajah Anita dan Erlangga sebelum akhirnya menatap Pak Iwan.

Pak Edi: (suaranya semakin tinggi, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu) Saya lihat program ini terlalu tergantung pada mahasiswa KKN. Terlalu tergantung pada Mas Erlangga dan Mbak Anita. Hampir semua inisiatif, semua ide, semua gerakan, datang dari mereka. Perangkat desa seperti saya, seperti Pak Eko, seperti Bu Lulu, hanya jadi penonton. Kita cuma disuruh setuju, disuruh tanda tangan, disuruh menganggarkan. Tapi tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang substantif.

Ia menunjuk ke arah papan pengumuman di dinding, tempat jadwal gotong royong dan program sanitasi dipajang dengan rapi.

Pak Edi: Lihat jadwal gotong royong itu. Siapa yang menyusun? Tim KPM dan mahasiswa KKN. Siapa yang menentukan rumah mana yang diprioritaskan? Tim KPM dan mahasiswa KKN. Siapa yang membuat modul edukasi? Mas Erlangga sendiri. Siapa yang turun ke lapangan setiap hari? Mbak Anita dan Mas Erlangga. Lalu di mana posisi perangkat desa? Di mana posisi saya sebagai Kaur Kesra yang seharusnya bertanggung jawab di bidang kesejahteraan rakyat, termasuk kesehatan?

Ia menghela napas, berusaha menenangkan diri tetapi gagal.

Pak Edi: Saya tidak anti perubahan. Saya tidak anti mahasiswa KKN. Tapi ini desa kita, Pak Kades. Bukan proyek mereka. Ini rumah kita, bukan laboratorium untuk mereka bereksperimen. Nanti mereka pulang, mereka dapat nilai bagus, mereka dapat pujian dari dosen, mereka lanjut hidup dengan karir cemerlang. Lalu kita? Kita yang kerepotan melanjutkan program yang mungkin tidak kita pahami sepenuhnya karena kita tidak dilibatkan dari awal. Ini yang saya khawatirkan. Ini yang sudah saya lihat berkali-kali dalam puluhan tahun saya mengabdi di desa ini.

Ruangan menjadi sunyi. Kipas angin tua di sudut ruangan yang biasanya berisik, seolah ikut diam mendengar ketegangan yang memenuhi ruang pertemuan itu. Pak Eko menutup kipasnya dan meletakkannya di pangkuan. Bu Lulu berhenti memencet kalkulator. Bu Yuni menggigit bibir bawahnya, tidak yakin harus mencatat atau tidak. Santoso yang duduk di kursi kehormatan, hanya diam dengan tangan bertumpu pada tongkatnya, matanya menyipit mengamati dinamika yang terjadi.

Pak Iwan menghela napas panjang. Ia menatap Pak Edi dengan mata yang lelah, bukan lelah secara fisik, tetapi lelah karena harus terus menerus menengahi konflik yang muncul dari kesalahpahaman dan ego sektoral.

Pak Iwan: (suaranya tenang, mencoba menurunkan ketegangan) Edi, bukannya kita sudah sepakat dalam rapat sebelumnya untuk gotong royong? Kita semua setuju bahwa program ini adalah program desa, bukan program mahasiswa. Mas Erlangga dan Mbak Anita adalah mitra kita, bukan pengganti kita.

Pak Edi: (tidak terpengaruh, suaranya tetap tinggi) Gotong royong iya. Tapi lihat implementasinya, Pak. Saya tidak merasa dilibatkan. Saya sebagai Kaur Kesra, bidang saya kesehatan dan kesejahteraan rakyat. Tapi dalam rapat-rapat teknis, saya sering tidak diundang. Yang diundang hanya tim kecil: Mbak Anita, Mas Erlangga, Pak Eko kadang-kadang, Bu Yuni kadang-kadang. Saya tahu karena Bu Yuni cerita. Saya tahu karena saya lihat sendiri. Jangan-jangan Pak Kades sendiri tidak tahu bahwa koordinasi selama ini berjalan secara eksklusif?

Ia menoleh ke Bu Yuni, yang langsung menunduk dengan wajah pucat. Bu Yuni memang sering mengadakan rapat teknis kecil dengan Anita dan Erlangga untuk membahas detail program, tetapi ia tidak pernah berniat mengeksklusi Pak Edi. Hanya saja, sebagai sekretaris desa yang sibuk dengan berbagai urusan administrasi, ia terbiasa bekerja dengan tim kecil yang dianggapnya paling memahami teknis program.

Bu Yuni: (suaranya lirih, mencoba membela diri) Pak Edi, saya tidak bermaksud mengeksklusi. Saya pikir Pak Edi sibuk dengan urusan lain, jadi saya tidak ingin merepotkan...

Pak Edi: (memotong, suaranya semakin tajam) Sibuk? Semua orang di sini sibuk, Bu Yuni! Saya sibuk dengan urusan kesejahteraan rakyat yang sebenarnya juga mencakup program ini! Tapi karena saya tidak dilibatkan, saya jadi tidak paham detailnya. Akhirnya saya hanya bisa duduk diam dalam rapat-rapat besar seperti ini, hanya menyetujui apa yang sudah diputuskan oleh tim kecil. Ini bukan cara bekerja yang baik!

Erlangga yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama, merasa bahwa saatnya untuk berbicara. Ia tidak ingin konflik ini semakin melebar. Ia juga merasa ada benarnya kritik Pak Edi—mungkin tanpa sadar, ia dan Anita memang terlalu mendominasi karena semangat untuk segera melihat perubahan. Ia berdiri perlahan, gerakannya tidak mendadak, tetapi cukup untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu.

Erlangga: (dengan suara tenang, penuh hormat, matanya menatap Pak Edi dengan jujur) Pak Edi, saya minta maaf jika ada yang merasa tidak dilibatkan. Saya dan Mbak Anita selalu melaporkan setiap perkembangan ke Bu Sekdes. Tapi saya akui, mungkin koordinasi dengan perangkat desa lain belum berjalan optimal. Itu kesalahan saya. Saya terlalu fokus pada kerja lapangan sehingga lupa bahwa keberlanjutan program tidak hanya tergantung pada hasil di lapangan, tetapi juga pada dukungan dan kepemilikan dari semua perangkat desa.

Ia mengambil napas, melanjutkan dengan suara yang lebih rendah hati.

Erlangga: Saya pribadi justru ingin banyak belajar dari Pak Edi yang sudah berpengalaman puluhan tahun dalam pembangunan desa. Saya tahu Bapak punya banyak pengalaman yang tidak bisa saya dapatkan di bangku kuliah. Saya tidak datang ke sini untuk menggantikan siapa pun. Saya datang untuk belajar dan membantu. Dan saya sangat mengharapkan bimbingan dari Bapak.

Pak Edi menatap Erlangga dengan mata yang masih tajam, tetapi ada sedikit keraguan di baliknya. Ia tidak menyangka mahasiswa ini akan secepat itu mengakui kesalahan dan merendahkan diri. Biasanya, mahasiswa KKN yang ia temui cenderung defensif ketika dikritik, atau malah balik menyerang dengan argumen-argumen akademis yang tidak menyentuh akar masalah.

Pak Edi: (suaranya sedikit melunak, tetapi masih menyisakan nada skeptis) Jangan pakai kalimat diplomatik, Mas. Saya orang lapangan. Saya tidak butuh basa-basi. Saya lihat bagaimana Anda dan Anita terlalu mendominasi. Hampir setiap hari saya lihat Anda berdua keliling desa, memutuskan ini-itu, tanpa koordinasi dengan saya. Bahkan dana desa yang seharusnya untuk infrastruktur, perbaikan jalan, dialihkan ke program jamban. Itu keputusan yang cukup besar, dan saya tidak dilibatkan sama sekali dalam proses pengambilan keputusannya.

Anita yang sejak tadi menahan diri, merasa darahnya mendidih mendengar tuduhan itu. Ia tahu bahwa tuduhan tentang alokasi dana adalah tuduhan yang serius. Sebagai KPM yang setiap hari bertanggung jawab atas penggunaan dana kesehatan, ia tidak bisa diam ketika integritasnya dipertanyakan. Ia berdiri dengan gerakan yang lebih cepat dari Erlangga, matanya menatap Pak Edi dengan api yang menyala.

Anita: (suaranya tegas, tidak tinggi tetapi penuh bobot) Pak Edi, dengan hormat, saya harus meluruskan. Dana desa untuk program jamban dialihkan berdasarkan musyawarah bersama Pak Kades dan BPD dalam rapat yang dihadiri oleh seluruh perangkat desa. Saya tidak hadir dalam rapat itu karena sedang menangani wabah ISPA di lapangan. Keputusan itu murni keputusan kolektif, bukan keputusan saya atau Mas Erlangga. Saya sebagai KPM hanya menjalankan mandat yang diberikan oleh desa.

Ia menunjuk ke arah Bu Lulu yang masih memegang kalkulator.

Anita: Bu Lulu bisa menjadi saksi. Beliau yang menghitung anggaran. Pak Eko yang mengusulkan prioritas. Pak Kades yang memutuskan. Saya tidak tahu dari mana Pak Edi mendapat informasi bahwa saya atau Mas Erlangga yang memutuskan sepihak. Tapi kalau ada informasi yang keliru, saya minta diluruskan.

Pak Edi terdiam. Ia menoleh ke Bu Lulu yang mengangguk-angguk membenarkan pernyataan Anita.

Bu Lulu: (suaranya hati-hati, seperti orang yang tidak ingin terlibat konflik tetapi terpaksa bicara) Pak Edi, benar. Rapat alokasi anggaran itu diadakan setelah rapat evaluasi wabah. Bapak waktu itu berhalangan hadir karena ada urusan keluarga di kecamatan. Keputusan diambil secara musyawarah dan dicatat dalam berita acara. Saya punya arsipnya kalau Bapak mau lihat.

Pak Edi terdiam lebih lama. Wajahnya berubah bukan marah, tetapi sedikit malu. Ia tidak menyangka bahwa tuduhannya ternyata tidak berdasar. Informasi yang ia terima dari sumber yang tidak jelas ternyata keliru.

Anita: (melanjutkan, suaranya masih tegas tetapi mulai ada nada kelelahan) Dan soal dominasi, Pak Edi... (ia berhenti, menelan ludah, berusaha menahan diri) maaf, saya harus bilang. Kehadiran saya dan Mas Erlangga di lapangan setiap hari bukan karena kami ingin mendominasi. Tapi karena itu tugas kami. Saya sebagai KPM, Mas Erlangga sebagai mahasiswa KKN yang programnya memang kesehatan masyarakat. Kami turun ke lapangan karena di sanalah masalahnya berada. Bukan di kantor desa.

Ia menatap Pak Edi dengan mata yang jujur, tetapi ada rasa sakit di baliknya.

Anita: Saya sudah dua tahun menjadi KPM. Dua tahun saya keliling desa sendirian, memeriksa balita, membujuk ibu hamil, melawan mitos dan kebiasaan lama. Dalam dua tahun itu, jarang sekali ada perangkat desa yang ikut turun ke lapangan. Bukan karena Bapak-bapak sengaja tidak mau, tetapi karena mungkin memang bukan kapasitas Bapak-bapak. Saya paham itu. Tapi ketika sekarang ada program yang berhasil, ada perubahan yang mulai terlihat, tiba-tiba muncul pertanyaan tentang dominasi, tentang siapa yang mengambil keputusan, tentang siapa yang mendapat kredit. Saya tidak paham, Pak. Saya benar-benar tidak paham.

Suaranya mulai bergetar. Ia berusaha mengontrol emosinya, tetapi air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak ingin menangis di depan semua orang. Ia adalah Anita, kader desa yang dikenal tegas dan tidak mudah goyah. Tapi hari ini, beban yang ia pikul selama dua tahun terasa begitu berat.

Anita: Saya tidak pernah memikirkan soal kredit, Pak. Saya tidak pernah memikirkan siapa yang dianggap paling berjasa. Yang saya pikirkan setiap hari adalah: bagaimana caranya agar Bintang tidak stunting, bagaimana caranya agar ibu hamil mau periksa kehamilan, bagaimana caranya agar warga tidak sakit karena air yang mereka minum tercemar. Itu saja. Itu yang saya pikirkan setiap hari, bahkan ketika saya tidak bisa tidur karena memikirkan data yang belum masuk, bahkan ketika saya menggunakan uang pribadi untuk membeli obat karena stok habis.

Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, berusaha keras untuk tidak menangis.

Anita: Saya kira kehadiran Mas Erlangga akan meringankan beban saya. Dan memang, Mas Erlangga membantu banyak. Tapi ternyata, dengan kehadiran orang baru, muncul juga konflik-konflik baru yang tidak saya duga. Saya kelelahan, Pak. Bukan kelelahan fisik. Tapi kelelahan karena harus terus menerus membuktikan bahwa apa yang saya lakukan ini bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk mencari nama, tetapi untuk desa ini. Desa yang saya cintai. Desa tempat saya dilahirkan, tempat ibu saya meninggal, tempat saya memilih untuk tinggal meskipun banyak orang mengatakan saya bodoh karena tidak merantau ke kota.

Ruangan itu sunyi. Sangat sunyi. Bahkan kipas angin tua di sudut ruangan seolah berhenti berputar. Pak Edi membatu. Wajahnya yang tadinya tegas dan penuh kritik, kini berubah. Ia menatap Anita perempuan muda yang selama ini ia lihat setiap hari, yang selalu tersenyum meskipun lelah, yang selalu sabar meskipun diabaikan, yang selalu bekerja tanpa pernah mengeluh. Dan baru sekarang ia menyadari bahwa di balik senyum itu, ada beban yang sangat berat.

Pak Edi: (suaranya tiba-tiba kehilangan ketajamannya, berubah menjadi lirih, hampir berbisik) Anita... saya... saya tidak tahu...

Anita: (memotong, suaranya bergetar tetapi tetap tegas) Pak Edi, saya minta maaf jika kata-kata saya tadi terlalu tajam. Saya tidak bermaksud menyerang Bapak. Saya hanya ingin Bapak tahu bahwa apa yang saya lakukan ini, apa yang Mas Erlangga lakukan ini, bukan untuk mendominasi atau mengambil alih peran Bapak-bapak. Kami hanya melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kami. Dan kami sangat membutuhkan dukungan Bapak, bukan kritik yang membuat kami semakin lelah.

Air mata yang selama ini ditahan akhirnya jatuh. Anita menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang basah. Erlangga yang duduk di sampingnya, merasakan dorongan kuat untuk meraih tangannya, untuk menenangkannya. Tapi ia tahu ini bukan tempatnya. Ia hanya bisa duduk diam, menatap Anita dengan mata yang penuh empati, berdoa dalam hati bahwa perempuan ini tahu bahwa ia tidak sendirian.

Pak Iwan yang sedari tadi diam, akhirnya memukul meja. Tidak keras, tetapi cukup untuk memecah keheningan yang menyiksa.

Pak Iwan: (suaranya berat, penuh kewibawaan tetapi juga kelelahan) Cukup. Saya tidak mau ada perpecahan. Kita ini satu desa, satu keluarga. Kalau kita saling curiga dan saling menjatuhkan, program sehebat apa pun akan gagal. Anita, kamu memang harus minta maaf pada Pak Edi. Kata-katamu tadi, meskipun jujur, terlalu tajam untuk seorang anak muda kepada orang yang lebih tua.

Anita mengangkat wajahnya, matanya merah tetapi ia berusaha tegar. Ia menatap Pak Edi yang masih duduk dengan wajah yang sulit dibaca.

Anita: (menunduk, suaranya lirih tetapi tulus) Pak Edi, saya minta maaf. Sungguh. Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan Bapak. Kata-kata saya tadi mungkin terlalu emosional. Saya hanya... saya hanya lelah. Tapi itu bukan alasan untuk tidak sopan. Maafkan saya, Pak.

Pak Edi tidak langsung menjawab. Ia menatap Anita, melihat air mata yang masih membasahi pipi perempuan muda itu. Ia melihat kelelahan yang terpancar dari matanya. Dan ia mengingat bahwa ia sendiri, ketika masih muda dan penuh semangat, pernah mengalami hal yang sama. Pernah merasa usahanya tidak dihargai. Pernah merasa kritik lebih sering datang daripada apresiasi. Dan pernah menangis di tempat sepi karena lelah.

Ia menghela napas panjang, sangat panjang, seperti membuang semua beban yang selama ini ia pikul.

Pak Edi: (suaranya lembut, sangat berbeda dari sebelumnya) Anita... saya juga minta maaf. Saya yang seharusnya minta maaf. Saya terlalu cepat menuduh tanpa memeriksa fakta. Saya terlalu mudah terpengaruh oleh gosip yang beredar. Saya merasa... (ia berhenti, mencari kata-kata) saya merasa mungkin iri. Iya, iri. Saya sudah puluhan tahun di sini, tapi perubahan yang terjadi dalam dua bulan terakhir lebih besar dari yang saya lakukan dalam sepuluh tahun. Saya merasa... mungkin saya sudah tidak relevan. Mungkin generasi saya sudah ketinggalan zaman.

Ia tersenyum pahit, menggeleng-gelengkan kepala.

Pak Edi: Saya pikir dengan mengkritik, saya masih punya peran. Saya pikir dengan menunjukkan kekurangan, saya masih dibutuhkan. Tapi saya lupa bahwa kritik tanpa solusi hanya akan menghancurkan semangat. Saya lupa bahwa anak-anak muda seperti Anita dan Mas Erlangga butuh dukungan, bukan hambatan. Maafkan saya, Anita. Maafkan saya, Mas Erlangga. Saya yang bersalah.

Santoso yang sedari tadi diam dengan tangan bertumpu pada tongkatnya, akhirnya angkat bicara. Suaranya dalam dan tenang, seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak konflik datang dan pergi.

Santoso: (dengan suara tegas tetapi penuh kebijaksanaan) Saya sudah lama mengamati. Konflik seperti ini sebenarnya tanda bahwa kita sedang bergerak maju. Kalau semua orang setuju tanpa kritik, itu berarti tidak ada perubahan. Kalau semua orang diam saja, itu berarti kita sudah mati. Konflik ini sehat. Tapi jangan sampai kita terpecah.

Ia menatap Pak Edi, lalu ke Anita, lalu ke Erlangga.

Santoso: Saya punya usulan. Pak Edi, saya tahu Bapak punya pengalaman panjang dalam pembangunan desa. Bapak juga punya jaringan luas dengan warga, terutama warga yang selama ini sulit diajak berubah. Saya usulkan, Pak Edi menjadi penanggung jawab keberlanjutan program sanitasi. Biar beliau yang memastikan program tetap jalan setelah mahasiswa KKN pulang. Beliau yang akan memantau, mengevaluasi, dan melaporkan ke Pak Kades. Dengan begitu, pengalaman Pak Edi tidak terbuang, dan program ini tidak hanya bergantung pada Mas Erlangga dan Mbak Anita.

Pak Edi terkejut. Matanya membulat, tidak menyangka bahwa kritiknya yang tajam justru berbuah amanah yang lebih besar.

Pak Edi: (suaranya tidak percaya) Saya? Penanggung jawab keberlanjutan?

Santoso: (tersenyum) Iya, Bapak. Siapa lagi kalau bukan Bapak? Bapak yang paling tahu seluk-beluk pemerintahan desa. Bapak yang punya pengalaman. Bapak yang paling peduli dengan keberlanjutan program. Buktinya Bapak sampai sekeras itu mengkritik karena khawatir program ini tidak berkelanjutan. Jadi, tidak ada yang lebih tepat selain Bapak sendiri yang memastikan bahwa program ini tetap berjalan setelah mahasiswa KKN pulang.

Pak Edi terdiam. Wajahnya yang tadinya tegang, perlahan berubah. Ada senyum tipis yang mulai muncul, senyum yang tulus, tanpa nada sinis.

Pak Edi: (mengangguk, suaranya mantap) Saya... bersedia. Saya akan lakukan yang terbaik. Saya tidak akan mengecewakan.

Pak Iwan yang mendengar usulan Santoso, langsung menyambut dengan semangat.

Pak Iwan: (mengetuk meja, suaranya menggelegar) Ide bagus, Pak Santoso! Pak Edi, saya serahkan program keberlanjutan ini kepada Bapak. Saya minta Bapak membuat laporan bulanan, memantau penggunaan jamban, memastikan tidak ada warga yang kembali ke kebiasaan lama. Saya juga minta Bapak bekerja sama dengan Mbak Anita dan Mas Erlangga untuk menyusun modul pelatihan. Setuju?

Pak Edi: (berdiri, membungkuk sedikit ke arah Pak Iwan, lalu ke Santoso, lalu ke Anita dan Erlangga) Saya setuju, Pak Kades. Dan saya minta maaf sekali lagi pada semuanya, terutama pada Mbak Anita dan Mas Erlangga. Saya akan buktikan bahwa saya bisa menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.


Rapat usai dengan suasana yang jauh lebih hangat dari awal. Keputusan bulat diambil: Pak Edi resmi ditunjuk sebagai koordinator keberlanjutan program sanitasi. Ia akan bekerja sama dengan Anita dan Erlangga untuk menyusun modul pelatihan, sistem monitoring, dan mekanisme evaluasi yang bisa dijalankan oleh perangkat desa setelah KKN berakhir. Bu Lulu akan mengalokasikan anggaran kecil untuk operasional tim monitoring. Bu Yuni akan mendokumentasikan semua prosedur dalam bentuk buku panduan.

Satu per satu perangkat desa mulai meninggalkan ruangan. Pak Eko keluar sambil membuka kipasnya yang sempat diam selama rapat. Bu Lulu masih sibuk dengan kalkulatornya, tetapi kali ini wajahnya ceria. Bu Yuni menghela napas lega, bersyukur konflik tidak berlarut. Pak Iwan keluar lebih dulu, menepuk pundak Pak Edi sebelum pergi.

Di luar ruangan, matahari sudah condong ke barat. Sinar jingga mulai menyelimuti balai desa, membuat bayangan memanjang di halaman. Erlangga keluar dengan langkah pelan, matanya mencari Anita. Ia melihat perempuan itu berjalan cepat menuju gerbang, tidak menoleh ke belakang, bahunya sedikit terangkat, tanda bahwa ia masih berusaha menahan sesuatu.

Erlangga: (mempercepat langkah, suaranya cukup keras untuk didengar Anita) Anita! Berhenti sebentar.

Anita tidak berhenti. Ia terus berjalan, bahkan mempercepat langkahnya. Erlangga hampir berlari untuk mengejarnya. Ia meraih lengan Anita dengan lembut tetapi tegas, cukup untuk membuat perempuan itu berhenti.

Anita: (berhenti, tetapi tidak menoleh, suaranya serak) Lepaskan, Mas. Saya mau pulang.

Erlangga: (tidak melepaskan, tetapi juga tidak memaksa) Anita, lihat aku. Sebentar saja.

Anita akhirnya menoleh. Wajahnya basah oleh air mata. Matanya merah, hidungnya memerah, dan bibir bawahnya bergetar berusaha menahan tangis yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia tidak pernah menangis di depan orang lain. Selama dua tahun menjadi kader, ia selalu menahan air matanya ketika ada warga yang meninggal karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah, ketika ada ibu yang melahirkan tanpa pertolongan medis, ketika ada balita yang kejang karena demam. Ia selalu menangis sendirian, di kamarnya, setelah semua orang tidur.

Tapi hari ini, setelah semua yang terjadi, setelah tuduhan yang tidak berdasar, setelah perdebatan yang menguras energi, setelah ia harus mempertahankan integritasnya di depan semua orang, tangis itu tidak bisa ditahan lagi.

Anita: (suaranya putus-putus, napasnya terengah) Aku tadi terlalu emosi, ya? Aku seharusnya bisa lebih tenang. Aku seharusnya tidak bicara sekeras itu. Aku seharusnya... (ia tidak mampu melanjutkan, tangisnya pecah)

Erlangga tidak berbicara. Ia hanya menarik Anita ke tempat teduh di bawah pohon beringin di halaman balai desa, menjauh dari keramaian. Ia membiarkan Anita menangis, menangis untuk semua yang telah ia tahan selama ini. Ia tidak memberikan nasihat, tidak mencoba menenangkan dengan kata-kata klise. Ia hanya berdiri di sampingnya, cukup dekat sehingga Anita tahu bahwa ia tidak sendirian, tetapi tidak terlalu dekat sehingga Anita merasa kehilangan ruangnya.

Setelah beberapa saat, tangis Anita mulai mereda. Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, berusaha mengatur napas yang masih tersengal.

Erlangga: (suaranya lembut, penuh empati) Kamu tadi hebat, Anita. Kamu membela kebenaran dengan cara yang lugas. Kamu menyuarakan apa yang selama ini kamu pendam, dan itu bukan hal yang mudah. Apalagi di depan semua perangkat desa, di depan orang-orang yang mungkin selama ini tidak sepenuhnya memahami perjuanganmu.

Anita menggeleng, masih belum sepenuhnya tenang.

Anita: (suaranya masih bergetar) Aku tadi takut. Bukan takut pada Pak Edi. Tapi takut kalau... kalau semua yang sudah kita bangun selama ini akan runtuh karena konflik yang tidak perlu. Aku takut kalau nanti kamu pulang, semua yang sudah kita kerjakan bersama akan berhenti lagi. Seperti dulu, ketika beberapa program kesehatan berhenti karena tidak ada yang mengawal, karena kader-kader kelelahan, karena perangkat desa tidak peduli.

Ia menunduk, tangannya menggenggam ujung bajunya erat-erat.

Anita: Aku takut, Erlangga. Aku takut kehilangan semua ini. Aku takut kembali sendirian.

Erlangga menatap Anita dengan mata yang dalam. Ada sesuatu yang bergerak di hatinya, sesuatu yang selama ini ia coba tahan, coba abaikan, coba jelaskan sebagai kekaguman profesional atau rasa terima kasih. Tapi di bawah pohon beringin ini, dengan air mata yang masih membasahi pipi Anita, dengan kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan di balik ketegasannya, Erlangga tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.

Erlangga: (menggenggam tangan Anita dengan lembut, suaranya pelan tetapi penuh keyakinan) Tidak akan runtuh, Anita. Aku janji, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Pak Edi sekarang sudah ditunjuk sebagai koordinator keberlanjutan. Dia orang yang tepat kritis, peduli, dan punya pengalaman. Aku juga akan meninggalkan modul pelatihan yang detail, sistem monitoring yang sederhana, dan kontak-kontak yang bisa dihubungi jika ada kendala. Semua yang kita bangun akan terus berjalan.

Ia berhenti sejenak, menatap mata Anita yang masih merah.

Erlangga: Dan... (ia ragu, tetapi kemudian menguatkan hatinya) aku belum tentu pergi selamanya.

Anita menatap Erlangga dengan mata terbelalak. Jantungnya yang tadinya masih berdebar karena tangis, kini berdebar karena alasan yang sama sekali berbeda.

Anita: (suaranya tidak percaya) Maksudmu?

Erlangga tersenyum, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun selama di desa ini. Senyum yang jujur, tanpa topeng, tanpa jarak.

Erlangga: Aku sudah bicara dengan pembimbing KKN-ku minggu lalu. Ada kemungkinan aku bisa memperpanjang masa KKN atau bahkan kembali setelah lulus untuk program pengabdian dokter muda. Tentu saja itu belum pasti. Tapi aku sedang mengusahakannya. Karena... (ia menarik napas dalam-dalam) karena aku tidak ingin meninggalkan desa ini. Bukan hanya karena programnya, tapi karena... (ia menatap Anita, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya jujur) karena seseorang.

Anita terdiam. Kata-kata Erlangga terasa seperti gelombang yang menghantam dadanya. Ia ingin bertanya, "Siapa?" tetapi ia sudah tahu jawabannya. Ia ingin tersenyum, tetapi matanya justru kembali berkaca-kaca. Ia ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata terasa terlalu berat untuk diucapkan.

Anita: (suaranya nyaris berbisik) Erlangga... jangan bicara seperti itu kalau kamu tidak sungguh-sungguh.

Erlangga: (tidak melepaskan tangannya, suaranya mantap) Aku sungguh-sungguh, Anita. Aku tidak pernah sesungguh ini dalam hidupku.

Mereka berdua terdiam. Angin sore berembus, membawa wangi bunga kopi dan dedaunan kering. Di kejauhan, suara azan magrib mulai berkumandang dari mesjid desa, suaranya bergema di antara bukit-bukit dengan keindahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Daun-daun beringin bergerak pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari di tanah.

Anita: (setelah hening yang lama, suaranya kecil tetapi jelas) Nanti. Kita bicarakan nanti. Sekarang, ayo kita lanjutkan kerja. Masih banyak yang harus dilakukan.

Erlangga: (tersenyum, melepaskan tangannya perlahan) Baik, Komandan.

Mereka berjalan beriringan meninggalkan halaman kantor desa. Tidak berpegangan tangan, tidak terlalu dekat, tetapi langkah mereka seirama, seperti dua orang yang sudah lama berjalan bersama, yang tahu kapan harus cepat dan kapan harus melambat, yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Di kantor desa, Bu Yuni yang melihat dari jendela, tersenyum kecil. Ia menoleh ke Pak Eko yang sedang merapikan berkas di meja sebelah.

Bu Yuni: (suaranya pelan, hanya untuk mereka berdua) Pak Eko, lihat tuh. Saya bilang apa? Dua-duanya saling suka, cuma malu-malu kucing. Padahal jelas sekali.

Pak Eko: (menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum) Biarkan saja, Bu. Urusan hati itu urusan pribadi. Yang penting mereka tetap fokus pada kerja.

Bu Yuni: (tersenyum) Iya, saya tahu. Tapi saya tidak sabar lihat akhir ceritanya.

Pak Eko: (tertawa kecil) Bu Yuni, ini bukan sinetron. Ini kehidupan nyata. Akhir ceritanya tergantung pada mereka, bukan pada kita.

Bu Yuni: (mengangguk, tetapi matanya tetap mengikuti Anita dan Erlangga yang semakin jauh) Saya tahu. Tapi kadang, kehidupan nyata lebih indah dari sinetron mana pun.

Di luar, langit mulai gelap. Bintang pertama muncul di ufuk timur, bersinar terang di antara sisa-sisa kabut biru yang masih bergelayut di puncak bukit. Di Desa Awan Biru, setelah badai konflik yang mereda, setelah air mata yang dikeringkan, setelah kata-kata yang diucapkan dan yang masih tertahan, sesuatu yang baru mulai tumbuh. Bukan hanya jamban yang berdiri kokoh di belakang rumah-rumah warga. Bukan hanya angka stunting yang mulai menurun. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa diukur dengan data atau dilaporkan dalam modul.

Mungkin itu adalah kepercayaan yang dibangun kembali. Mungkin itu adalah cinta yang mulai diakui. Atau mungkin, itu hanya awal dari sesuatu yang belum tahu akan berujung di mana. Tapi untuk malam ini, cukup sudah. Cukup dengan janji yang belum sepenuhnya diucapkan, cukup dengan tangan yang sempat bersentuhan, cukup dengan langkah yang seirama menuju senja.

Karena di Desa Awan Biru, seperti kabut yang turun setiap pagi dan naik setiap sore, cinta tidak perlu terburu-buru. Ia akan datang pada waktunya, ketika semua konflik mereda, ketika semua luka sembuh, ketika dua hati yang telah lama berjalan sendiri akhirnya berani berjalan bersama.


BAB 7: Dua Cinta yang Berjuang di Tengah Tugas

Waktu bergulir cepat di Desa Awan Biru, seperti air sungai yang mengalir deras setelah hujan di hulu. Program sanitasi yang sempat memicu konflik kini berjalan mulus. Jamban sederhana telah berdiri di tiga puluh rumah warga di sepanjang aliran sungai, sebuah angka yang melebihi target awal. Dua puluh rumah lagi dalam tahap akhir pembangunan, dengan gotong royong yang semakin hari semakin semarak. Pak Edi, yang semula menjadi pengkritik paling vokal, kini menjelma menjadi koordinator lapangan yang paling bersemangat. Setiap pagi ia berkeliling, memeriksa progres pembangunan, mencatat kendala, dan melaporkannya langsung ke Pak Iwan.

Kasus diare di desa mulai menurun drastis. Data dari puskesmas kecamatan menunjukkan penurunan tiga puluh persen dalam sebulan terakhir, angka yang membuat Bidan Amilia tersenyum lebar untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Puskesmas bahkan mengirimkan surat apresiasi ke balai desa, memuji inisiatif dan keberhasilan program sanitasi yang digerakkan oleh kader desa dan mahasiswa KKN. Surat itu dipajang di papan pengumuman kantor desa, tepat di samping foto-foto gotong royong yang diambil Hermansyah.

Erlangga dan tim KKN disambut hangat di setiap sudut desa. Anak-anak kecil berlarian menghampirinya setiap kali ia lewat, memanggilnya "Abang Dokter" dengan suara riang. Ibu-ibu yang dulu skeptis kini dengan sukarela membawa anak-anak mereka ke posyandu, bahkan datang lebih awal sebelum kader tiba. Pak Karyo, yang dulu paling keras kepala, kini menjadi juru bicara program kesehatan di warungnya. Setiap kali ada warga yang meragukan pentingnya jamban, ia akan berkata dengan lantang, "Percaya sama saya. Dulu saya juga keras kepala. Tapi lihat Bintang sekarang. Sehat, gemuk, pintar. Itu karena saya dengar kata Mas Dokter dan Mbak Anita."

Bintang sendiri kini menjadi anak yang paling ceria di desa. Rambutnya yang dulu kemerahan dan rapuh, kini hitam legam dan tebal. Pipinya yang dulu cekung, kini berisi dan kemerahan. Ia berlarian ke mana-mana dengan energi yang melimpah, seringkali ikut membantu kakeknya melayani pembeli di warung. Pak Karyo sampai kewalahan karena Bintang selalu ingin ikut bicara dengan setiap pelanggan, menceritakan tentang telur yang ia makan setiap pagi dan tentang cita-citanya menjadi dokter seperti Abang Erlangga.

Di balai desa, suasana juga berubah. Rapat-rapat yang dulu sering tegang dan penuh perdebatan, kini berlangsung lebih cair. Pak Edi dan Anita duduk berdampingan dalam setiap rapat, saling melengkapi, Anita dengan data lapangan yang detail, Pak Edi dengan pengalaman dan jaringan warga yang luas. Pak Iwan sampai bercanda bahwa ini adalah "koalisi yang tidak pernah ia duga sebelumnya." Bu Lulu tetap dengan kalkulator dan buku kasnya, tetapi kini ia lebih sering tersenyum daripada mengernyit. Bu Yuni sudah menyiapkan buku panduan program sanitasi yang akan ditinggalkan Erlangga, dengan desain sampul yang dibuat oleh Naila dan foto-foto yang diambil Hermansyah.

Namun, di balik semua kesuksesan itu, ada gejolak yang tak terucapkan antara Erlangga dan Anita. Sejak pengakuan Erlangga di bawah pohon beringin dua minggu lalu, mereka tetap bekerja bersama seperti biasa, keliling desa, memeriksa jamban, melakukan edukasi, melatih kader. Mereka berbicara tentang program, tentang data, tentang jadwal. Mereka tertawa bersama ketika Guntur bercanda, dan mereka serius bersama ketika membahas masalah. Tetapi di antara semua itu, ada jarak yang tidak bisa dijelaskan. Ada kata-kata yang tertahan. Ada tatapan yang terlalu cepat dialihkan. Ada sesuatu yang menggantung di udara setiap kali mereka berdua saja, sesuatu yang belum berani mereka sentuh.

Anita belum memberikan jawaban atas pengakuan Erlangga. Bukan karena ia ragu dengan perasaannya, ia sudah sangat yakin. Sejak pertama kali ia melihat Erlangga membantu rekannya turun dari mobil, sejak ia melihat Erlangga jongkok di depan Bintang dengan senter kecilnya, sejak ia melihat Erlangga membersihkan busi motor tuanya dengan kain lap dari saku celana, sejak ia melihat Erlangga mengusap keringat Anto yang sakit gigi, sejak ia melihat Erlangga ikut menggali lumpur untuk jamban Pak Karyo, sejak semua itu, hatinya sudah tidak bisa berpura-pura lagi.

Tapi Anita adalah Anita. Perempuan yang sejak kecil diajarkan oleh ibunya yang sudah tiada untuk tidak mudah percaya pada kata-kata manis. Perempuan yang melihat sendiri bagaimana ibunya bertahan dalam pernikahan yang tidak mudah, bagaimana ibunya bekerja keras membesarkannya sendirian setelah ayahnya Si Amat, lebih sibuk dengan administrasi desa daripada keluarganya. Anita belajar bahwa cinta itu tidak cukup. Cinta harus dibuktikan dengan tindakan, dengan konsistensi, dengan kehadiran yang tidak pernah lelah.

Dan ia takut. Takut bahwa perasaan yang ia rasakan selama ini hanya karena kedekatan. Takut bahwa ketika Erlangga kembali ke kota, ketika ia kembali ke dunia yang sangat berbeda dari desa ini, perasaan itu akan luntur oleh waktu dan jarak. Takut bahwa ia akan kembali sendirian, seperti dulu, seperti selama dua tahun ia berjuang tanpa ada yang benar-benar melihat.


Suatu sore, setelah sesi pelatihan kader posyandu di balai desa, Anita dan Erlangga berjalan menyusuri pematang sawah di belakang rumah Pak Sugeng. Mereka sengaja memilih jalan ini, jauh dari keramaian, jauh dari gosip warga yang sudah mulai menebar desas-desus tentang kedekatan mereka. Pelatihan hari itu melelahkan: tiga jam berbicara tentang cara pengukuran berat badan yang benar, cara mengisi Kartu Menuju Sehat, cara melakukan deteksi dini stunting, dan cara melakukan edukasi sederhana kepada ibu-ibu yang sulit diajak bicara.

Mentari sore menciptakan bayangan panjang di belakang mereka. Langit berwarna jingga kemerahan, dengan guratan-guratan awan tipis yang tampak seperti kuas yang disapu di kanvas biru. Sawah yang mulai menguning, tanda panen akan segera tiba, bergoyang pelan ditiup angin sore. Burung-burung kecil beterbangan di atas padi, sesekali hinggap untuk memakan bulir-bulir yang sudah masak. Di kejauhan, asap dapur mulai mengepul dari rumah-rumah warga, tanda bahwa hari mulai beranjak senja.

Mereka berjalan dalam keheningan yang nyaman, bukan keheningan yang canggung, tetapi keheningan yang lahir dari rasa nyaman berada di dekat seseorang tanpa perlu banyak bicara. Langkah mereka seirama, lambat, menikmati setiap detik dari sore yang akan segera berganti malam.

Erlangga: (memecah keheningan dengan suara pelan, tidak ingin mengganggu kedamaian sore tetapi juga tidak bisa menahan diri lebih lama) Tiga minggu lagi KKN selesai. Tanggal dua puluh delapan, tepatnya. Panitia dari kampus sudah mengirim jadwal penarikan. Akan ada upacara perpisahan di balai desa, lalu kami akan dijemput mobil box yang sama yang dulu mengantar kami pertama kali.

Ia tersenyum kecil, mengenang hari pertama ia menginjakkan kaki di desa ini.

Erlangga: Rasanya baru kemarin saya turun dari mobil itu, dengan sepatu kanvas yang langsung kotor oleh lumpur, dan melihat Mbak Anita berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersilang, wajah datar, tatapan skeptis. Saya ingat persis, saya berpikir waktu itu, "Perempuan ini pasti tidak suka kedatangan kami." Dan ternyata benar, Mbak Anita memang tidak suka. Hahaha.

Anita tersenyum kecil, tetapi senyumnya cepat pudar. Matanya tetap menatap lurus ke depan, ke arah bukit yang mulai diselimuti kabut biru.

Anita: (suaranya pelan, nyaris berbisik) Iya. Cepat sekali. Tiga bulan terasa seperti tiga minggu. Mungkin karena terlalu banyak kerja, waktu terasa berjalan lebih cepat.

Erlangga: (berhenti berjalan, membuat Anita juga berhenti) Anita.

Anita berhenti, tetapi tidak menoleh. Ia berdiri beberapa langkah di depan Erlangga, punggungnya membelakangi pemuda itu. Angin sore berembus, menggerakkan ujung-ujung rambutnya yang sebahu.

Erlangga: (melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Anita, cukup dekat untuk merasakan kehangatan tubuhnya, tetapi tidak cukup untuk menyentuh) Anita, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Sebenarnya sudah lama, dari malam di tangga kantor desa, dari malam di rumah Mbak ketika saya sakit, dari sore di bawah pohon beringin setelah rapat dengan Pak Edi. Tapi saya takut. Saya takut mengganggu konsentrasi kerja kita. Saya takut Mbak Anita akan merasa terganggu, atau merasa saya tidak serius, atau merasa ini hanya perasaan sementara karena kita sering bersama.

Ia mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang selama ini ia tahan.

Erlangga: Tapi sekarang, tiga minggu lagi saya akan pergi. Dan saya tidak bisa pergi tanpa Mbak Anita tahu. Saya tidak bisa membawa perasaan ini tanpa pernah mengucapkannya.

Anita akhirnya menoleh. Wajahnya tersapu sinar jingga mentari sore, membuatnya tampak berbeda, lebih lembut, lebih rapuh, lebih nyata. Matanya yang biasanya tegas dan penuh kewaspadaan, sore itu basah oleh air mata yang belum jatuh.

Anita: (suaranya bergetar, tetapi ia berusaha tegar) Apa itu, Erlangga?

Erlangga menatap mata Anita, mata yang sudah ia kenali sejak hari pertama, mata yang awalnya dingin dan skeptis, kemudian hangat dan penuh kepercayaan, dan sekarang basah oleh sesuatu yang belum berani diucapkan. Ia merasakan jantungnya berdebar sangat cepat, seperti saat ia pertama kali melakukan operasi asisten di rumah sakit pendidikan. Tapi ini berbeda. Ini bukan tentang nyawa pasien. Ini tentang hatinya sendiri.

Erlangga: (menghela napas, lalu berkata dengan suara yang mantap, tidak tergesa) Sejak hari pertama saya datang, ada satu hal yang membuat saya betah di desa ini. Bukan hanya programnya, bukan hanya masyarakatnya yang ramah, bukan hanya keindahan kabut biru di pagi hari. Tapi... kamu, Anita.

Anita terdiam. Kata-kata yang ia tunggu-tunggu, yang ia takut-takuti, yang ia impikan di malam-malam ketika ia tidak bisa tidur karena memikirkan kepergian Erlangga, akhirnya diucapkan. Tapi mendengarnya secara langsung membuat dadanya sesak, membuat lututnya terasa lemas, membuat air mata yang ditahan akhirnya jatuh.

Erlangga: (melanjutkan, tidak berhenti karena ia sudah membuka hati dan tidak bisa menutupnya lagi) Saya tahu ini terdengar klise. Calon dokter dari kota jatuh cinta pada kader desa. Kedengarannya seperti sinetron murahan, atau novel picisan yang dibaca ibu-ibu di warung kopi. Tapi ini bukan sekadar romansa, Anita. Ini bukan tentang saya yang jatuh cinta pada gadis desa yang cantik dan baik hati.

Ia maju selangkah, kini benar-benar berdiri di depan Anita, cukup dekat untuk melihat setiap tetes air mata yang jatuh di pipinya.

Erlangga: Aku melihat bagaimana kamu berjuang. Aku melihat bagaimana kamu mencintai desa ini, bukan dengan kata-kata manis atau janji-janji kosong, tapi dengan tindakan. Kamu keliling desa setiap hari, hujan atau panas, tanpa pernah mengeluh. Kamu membujuk ibu-ibu yang keras kepala dengan kesabaran yang tidak aku miliki. Kamu menangis di kamar sendirian ketika ada warga yang meninggal karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah, tapi keesokan harinya kamu kembali tersenyum dan bekerja lagi. Kamu menggunakan uang pribadimu untuk membeli obat ketika stok habis, padahal insentifmu hanya sebesar uang jajan anak SMA.

Suaranya mulai bergetar. Erlangga yang selalu tenang, yang selalu bisa mengontrol emosinya di depan pasien, di depan dosen, di depan siapa pun, sore itu tidak bisa menahan getaran di suaranya.

Erlangga: Aku melihat semua itu, Anita. Dan aku tidak bisa berpura-pura bahwa perasaanku hanya kekaguman profesional atau rasa terima kasih karena kamu telah membantuku memahami desa ini. Ini lebih dari itu. Aku mencintaimu, Anita. Bukan karena kamu cantik, bukan karena kamu baik, bukan karena kamu perhatian. Tapi karena kamu adalah kamu. Kamu adalah perempuan yang paling kuat, paling teguh, paling berani yang pernah aku temui. Dan aku... aku ingin menjadi bagian dari perjuanganmu. Bukan hanya selama KKN, tapi seterusnya.

Anita tidak bisa menahan tangisnya lagi. Air mata yang selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun ia tahan, akhirnya jatuh bebas. Ia tidak lagi menjadi Anita, kader desa yang tegas dan tidak pernah goyah. Ia menjadi Anita, seorang perempuan yang selama ini berjuang sendirian, yang tidak pernah mengeluh, yang tidak pernah meminta bantuan, yang tidak pernah membiarkan siapa pun melihat kelemahannya. Dan kini, ada seseorang yang melihatnya. Bukan melihat Anita kader desa, bukan melihat anaknya Si Amat, bukan melihat lulusan keperawatan yang "hanya" menjadi kader. Tapi melihat dirinya. Apa adanya.

Anita: (terisak, suaranya putus-putus) Erlangga... kamu tahu bagaimana kondisiku. Aku bukan siapa-siapa. Ayahku hanya admin desa, orang nomor sekian di pemerintahan desa, dengan gaji yang pas-pasan. Aku hanya lulusan akademi keperawatan, bukan sarjana, bukan dokter. Aku memilih menjadi kader, pekerjaan yang tidak punya jenjang karir, yang insentifnya hanya cukup untuk membeli bensin dan pulsa. Sementara kamu... kamu calon dokter dari universitas negeri terbaik. Anak seorang dokter spesialis terkenal di ibu kota provinsi. Keluargamu terpandang, masa depanmu cerah. Apa kata orang nanti? Apa kata keluargamu? Apakah ini hanya perasaan karena kita sering bersama? Apakah ini hanya... (ia tidak mampu melanjutkan, tangisnya semakin keras)

Erlangga tidak tahan lagi. Ia menggenggam kedua tangan Anita, tangan yang kasar karena sering memegang semen saat gotong royong, tangan yang hangat meskipun udara sore mulai dingin. Ia menggenggamnya erat, tidak mau melepaskan, seolah melepaskannya berarti kehilangan selamanya.

Erlangga: (suaranya tegas, penuh keyakinan) Aku tidak peduli apa kata orang, Anita. Aku tidak peduli status, aku tidak peduli gelar, aku tidak peduli apa yang dipikirkan orang tuaku atau siapa pun. Yang aku tahu, perasaanku nyata. Aku tidak akan membiarkan status menghalangi kita. Aku tidak akan membiarkan perbedaan latar belakang menjadi tembok yang memisahkan kita.

Ia memegang tangan Anita lebih erat, matanya menatap langsung ke mata Anita yang basah.

Erlangga: Aku ingin kamu tahu, Anita. Setelah KKN ini, aku akan kembali ke kota untuk menyelesaikan kos dan ujian profesi. Mungkin butuh waktu satu tahun, mungkin lebih. Tapi setelah itu... aku akan kembali ke sini.

Anita terkejut. Air matanya berhenti sejenak, digantikan oleh keterkejutan yang membuatnya membuka mata lebar-lebar.

Anita: (suaranya tidak percaya) Kembali ke sini? Maksudmu... ke desa ini? Bukan ke rumah sakit besar di kota? Bukan ke praktik pribadi yang bisa menghasilkan uang banyak?

Erlangga: (tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah Anita lihat) Aku ingin menjadi dokter desa, Anita. Di sini. Di Awan Biru. Aku sudah bicara dengan pembimbingku, dengan dosen di bagian kesehatan masyarakat. Ada program penempatan dokter muda di daerah terpencil setelah lulus. Aku bisa memilih Awan Biru sebagai lokasi tugas. Tentu saja harus melewati proses, tidak mudah. Tapi aku akan usahakan.

Ia melepaskan satu tangannya, mengusap air mata yang masih membasahi pipi Anita dengan lembut, seperti ia mengusap kening Bintang ketika demam, seperti ia mengusap tangan Anto ketika sakit gigi. Penuh kelembutan, penuh perhatian, penuh cinta yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.

Erlangga: Dan aku ingin melakukannya bersamamu, Anita. Aku ingin kita membangun desa ini bersama. Bukan sebagai kader dan mahasiswa KKN yang akan pergi. Tapi sebagai... (ia ragu sejenak, lalu menguatkan hati) sebagai pasangan. Sebagai tim. Sebagai dua orang yang saling menguatkan, saling melengkapi. Aku tidak tahu bagaimana bentuknya nanti. Tapi aku tahu, aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu di dalamnya.

Anita tidak bisa menahan air matanya lagi. Tangisnya pecah, bukan tangis sedih, bukan tangis haru biasa, tapi tangis lega. Tangis yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya, tempat yang selama ini ia kunci rapat-rapat karena takut orang lain melihat kelemahannya. Tapi dengan Erlangga, ia tidak perlu menyembunyikan apa pun.

Anita: (terisak, suaranya nyaris tak terdengar) Erlangga... kamu yakin? Kamu tidak akan menyesal? Kamu tidak akan suatu hari nanti bangun dan berpikir, "Kenapa aku membuang masa depanku untuk desa terpencil ini? Kenapa aku memilih perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?"

Erlangga: (menggeleng, suaranya mantap) Tidak akan pernah. Aku tidak akan menyesal, Anita. Aku sudah melihat sendiri bagaimana rasanya menjadi dokter di rumah sakit besar, ruangan ber-AC, pasien yang datang dengan antrean panjang, administrasi yang rumit, tekanan dari atasan. Itu semua baik, itu semua mulia. Tapi itu bukan panggilanku. Panggilanku ada di sini, di desa seperti ini, bersama orang-orang seperti kamu, seperti Pak Karyo, seperti Bintang. Di sinilah aku merasa berguna. Di sinilah aku merasa menjadi dokter yang sesungguhnya.

Ia menatap Anita dengan mata yang berkaca-kaca, tetapi penuh keyakinan.

Erlangga: Dan aku tidak memilihmu karena kamu "perempuan biasa yang tidak punya apa-apa". Aku memilihmu karena kamu adalah perempuan yang paling luar biasa yang pernah aku temui. Kamu punya keberanian yang tidak aku miliki. Kamu punya ketekunan yang membuatku iri. Kamu punya cinta pada desa ini yang lebih besar dari apa pun. Dan aku... aku ingin belajar dari kamu. Aku ingin berjalan di sampingmu. Aku ingin menjadi seseorang yang layak untukmu.

Anita menunduk, air matanya masih jatuh. Ia tidak tahu harus berkata apa. Pikirannya berkecamuk antara kebahagiaan yang luar biasa dan ketakutan yang masih membayang. Antara keinginan untuk langsung mengatakan "ya" dan keraguan yang sudah tertanam sejak kecil.

Erlangga: (menyadari kegalauan Anita, ia melepaskan tangannya perlahan) Aku tidak akan memaksamu menjawab sekarang, Anita. Aku tahu ini berat. Aku tahu kamu butuh waktu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa perasaanku tidak akan berubah, sejauh apapun jarak nanti. Baik itu jarak antara Awan Biru dan kota, baik itu jarak antara kita saat aku menyelesaikan koas, baik itu jarak apapun yang akan datang. Aku akan menunggumu. Aku akan menunggu sampai kamu siap menjawab.

Mereka berdiri diam di tengah sawah, di bawah langit yang mulai gelap. Mentari sudah sepenuhnya tenggelam di balik bukit, menyisakan sisa-sisa cahaya jingga di ufuk barat. Kabut biru mulai merayap turun dari puncak bukit, perlahan menyelimuti lembah. Di kejauhan, suara jangkrik mulai terdengar, bergantian dengan suara kodok di sawah yang mulai bersiap untuk malam. Bintang pertama muncul di langit timur, bersinar terang meskipun langit belum sepenuhnya gelap.

Anita: (setelah hening yang lama, suaranya kecil tetapi jelas) Nanti. Kita bicarakan nanti. Sekarang, ayo kita pulang. Ayah sudah menunggu.

Erlangga: (tersenyum, tidak memaksa) Baik, Komandan.

Mereka berjalan beriringan pulang. Tidak berpegangan tangan, tidak terlalu dekat, tetapi langkah mereka seirama, seperti dua orang yang sudah lama berjalan bersama, yang tahu kapan harus cepat dan kapan harus melambat, yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Di atas mereka, langit malam mulai dipenuhi bintang-bintang, berkelap-kelip menyaksikan janji yang belum sepenuhnya diucapkan, cinta yang belum sepenuhnya diterima, dan masa depan yang masih kabur namun mulai terlihat ujungnya.


Keesokan harinya, dunia Desa Awan Biru berubah. Bukan perubahan besar seperti program sanitasi atau penurunan angka stunting. Tapi perubahan yang lebih kecil, lebih halus, namun dampaknya terasa hingga ke sudut-sudut desa yang paling terpencil: kabar tentang Erlangga dan Anita.

Di desa seperti Awan Biru, tidak ada yang benar-benar bisa menjadi rahasia. Setiap langkah, setiap tatapan, setiap desahan, akan tercium oleh tetangga, akan diamati oleh ibu-ibu yang duduk di beranda sambil mengupas singkong, akan dibicarakan di warung kopi setiap sore. Maka ketika dua orang muda yang selama dua bulan terakhir selalu bersama, yang selalu bekerja bahu-membahu, yang matanya selalu mencari satu sama lain, akhirnya berjalan beriringan di pematang sawah saat senja, tidak mungkin itu luput dari perhatian.

Apalagi ada Guntur. Guntur yang kebetulan sedang memancing di sungai dekat sawah itu, Guntur yang mulutnya tidak bisa menyimpan rahasia lebih dari satu jam, Guntur yang langsung berlari ke warung Pak Karyo dengan mata berbinar-binar seperti menemukan harta karun. "Mas Erlangga dan Mbak Anita! Di sawah! Pegang-pegangan tangan!" teriaknya, meskipun tidak ada yang bertanya.

Maka sore itu, warung Pak Karyo, yang sudah menjadi pusat informasi desa sejak pertama kali berdiri, lebih ramai dari biasanya. Pak Karyo sendiri yang sedang menuangkan kopi untuk para pelanggan, tersenyum misterius seperti orang yang sudah tahu lebih dulu. Bintang duduk di pangkuannya, sesekali menyuap keripik telur ke mulut kakeknya dengan canggung tapi penuh semangat.

Pak Karyo: (sambil mengaduk kopi dengan gerakan lambat, senyumnya melebar ke telinga) Jadi kabarnya, Mas Erlangga dan Mbak Anita sudah jadian, ya? Saya dengar dari Guntur. Katanya semalam mereka berdua di pematang sawah, pegang-pegangan tangan, bicara lama sekali. Sampai lupa waktu, katanya. Asyik banget sampai tidak lihat Guntur yang sedang memancing di dekat situ.

Bu Yuni yang sedang duduk di bangku kayu di samping Pak Eko, langsung berdecak kagum. Wajahnya berseri-seri seperti baru menonton film romantis di televisi.

Bu Yuni: (antusias, suaranya meninggi) Astaga, benar? Siapa yang bilang? Guntur? Guntur itu kalau lihat sesuatu, sering dilebih-lebihkan. Tapi kalau soal pegang-pegangan tangan... (ia menoleh ke Guntur yang sedang duduk di pojok dengan senyum bangga) Guntur, kamu yakin lihatnya? Jangan-jangan cuma bayang-bayang karena sinar matahari silau?

Guntur: (berdiri dengan penuh percaya diri, seperti saksi di pengadilan) Bu Yuni, mata saya 20/20. Saya lulus tes kesehatan untuk masuk universitas dengan nilai sempurna. Saya lihat sendiri Mas Erlangga pegang tangan Mbak Anita. Pegang dua-duanya. Lama. Dan Mbak Anita nangis. Tapi nangis bahagia, kayak di sinetron. Saya sampai lupa ikan saya lepas dari kail karena terlalu asyik ngintip.

Pak Eko: (tertawa, kipasnya bergerak cepat karena kepanasan meskipun sore sudah mulai dingin) Guntur ini kalau ngintip memang jago. Masa memancing jadi ngintip. Ikan dapat berapa, Guntur?

Guntur: (merengut) Nol, Pak. Tapi saya dapat berita. Berita lebih berharga dari ikan.

Semua tertawa. Bu Lulu yang sedang menghitung stok barang di buku kasnya, tiba-tiba mengangkat kepala dengan ekspresi serius, begitu seriusnya sehingga semua orang yang tertawa langsung berhenti karena takut ada yang salah dengan anggaran desa.

Bu Lulu: (suaranya serius, seperti sedang membahas kebijakan nasional) Yang penting jangan sampai kejadian ini mengganggu anggaran desa, ya. Saya harus tahu dari sekarang. Kalau mereka mau nikah, ajukan proposal ke saya. Minimal tiga bulan sebelumnya. Jangan sampai dadakan, nanti saya kewalahan menganggarkan. Anggaran desa sudah disusun rapi, kalau ada acara dadakan, saya harus revisi APBDes. Itu repot.

Pak Eko: (tertawa lebih keras) Eh, Bu Lulu, jangan keburu nikah dulu. Mas Erlangga masih KKN. Lagi masa tugas. Nanti malah jadi KKN yang... kurang kerjaan. Hahaha.

Bu Lulu: (tidak terpengaruh oleh tawa Pak Eko, wajahnya tetap serius) Bukan masalah KKN atau tidak. Ini masalah perencanaan. Saya sebagai Kaur Keuangan harus memastikan setiap pengeluaran desa terencana dengan baik. Kalau mereka serius, saya harus tahu dari jauh-jauh hari. Saya sudah punya pengalaman dengan acara dadakan tahun lalu, waktu Pak Kades punya hajatan. Anggarannya kacau balau. Saya sampai begadang seminggu membereskan laporan. Tidak mau lagi.

Pak Eko: (masih tertawa, tetapi mulai mengalah) Iya, Bu Lulu. Nanti saya ingatkan Mas Erlangga dan Mbak Anita untuk mengajukan proposal ke Ibu minimal setahun sebelum menikah. Biar Bu Lulu punya waktu menyusun anggaran.

Bu Lulu: (mengangguk puas) Setahun? Cukup. Tapi kalau bisa dua tahun, lebih baik. Anggaran desa itu perencanaannya panjang.

Semua tertawa. Pak Karyo sampai menumpahkan kopi di meja karena terlalu keras tertawa. Bintang yang melihat kakeknya tertawa, ikut tertawa meskipun tidak mengerti apa yang lucu. Ia bertepuk tangan kecil, lalu berkata dengan suara lantang yang membuat semua orang semakin tertawa.

Bintang: "Kakek, Bintang mau jadi dokter! Abang Erlangga dokter, Mbak Anita perawat. Bintang mau dokter!"

Pak Karyo: (menggendong Bintang, mencium keningnya) Iya, Bintang. Nanti Bintang jadi dokter. Dokter yang hebat. Seperti Abang Erlangga.

Bu Endang: (yang baru datang dengan membawa jajanan pasar, ikut nimbrung) Waduh, jadi benar dugaanku. Dulu pas pertama datang, waktu Mas Erlangga baru kenalan sama Anita di balai desa, aku sudah bilang kalau Anita yang galak itu pasti lumer. Lihat sekarang. Dari galak jadi... apa? Lebih lembut? Lebih sering senyum? Pokoknya beda.

Bu Yuni: (menimpali) Iya, Bu Endang. Anita sekarang kalau bicara sama Mas Erlangga, beda. Dulu tegas banget, kayak komandan. Sekarang masih tegas, tapi ada... apa ya... kelembutan. Kayak air mengalir.

Pak Karyo: (mengangguk-angguk) Saya lihat juga. Mas Erlangga orang baik. Dia sabar, dia tulus, dia nggak gengsi. Saya yang dulu paling keras kepala aja bisa luluh. Apalagi Anita yang dari awal memang baik. Cocok, saya bilang.

Santoso yang sejak tadi duduk di kursi kehormatan di sudut warung, hanya mendengarkan dengan senyum bijak. Ia sudah lama mengamati, sudah lama membaca tanda-tanda yang mungkin luput dari perhatian orang lain. Sebagai tokoh masyarakat yang sudah puluhan tahun menjadi penengah dalam berbagai urusan desa, ia tahu bahwa cinta—seperti program pembangunan—tidak bisa dipaksakan. Ia harus tumbuh dengan sendirinya, pada waktunya, ketika tanahnya subur dan airnya cukup.

Santoso: (dengan suara tenang, memotong keramaian dengan wibawanya) Saya malah senang kalau itu benar. Keduanya orang baik. Anita anak yang bertanggung jawab, pekerja keras, tidak pernah mengeluh. Saya lihat dia berjuang sendiri selama ini. Dan Mas Erlangga... (ia menghela napas) Mas Erlangga adalah tipe pemuda yang langka. Pintar, tapi rendah hati. Berasal dari keluarga terpandang, tapi tidak sombong. Dia tidak datang dengan program yang dipaksakan. Dia datang untuk belajar, untuk membantu. Dan kalau nanti dia benar-benar menjadi dokter di sini, itu berkah untuk desa kita. Bukan hanya untuk Anita.

Si Amat yang hadir di warung itu, sesuatu yang jarang terjadi karena ia lebih sering menghabiskan waktu di kantor desa dengan laptopnya, duduk di pojok dengan senyum lebar yang tidak bisa ia sembunyikan. Selama ini ia diam, tidak ikut nimbrung dalam percakapan yang ramai. Tapi senyumnya berbicara lebih keras dari kata-kata apa pun. Sebagai ayah yang selama dua tahun melihat putrinya berjuang sendirian, melihatnya pulang larut malam dengan wajah lelah, mendengarnya menangis di kamar ketika ada program yang gagal atau warga yang meninggal, melihatnya tetap tegar meskipun beban berat di pundaknya, sebagai ayah, ia tahu bahwa Anita pantas bahagia. Ia pantas mendapatkan seseorang yang melihat perjuangannya, yang menghargai pengorbanannya, yang mau berjalan di sampingnya.

Bu Yuni: (menoleh ke Si Amat) Pak Amat, kok diam saja? Putri Bapak habis digosipkan sama semua orang, Bapak diam saja?

Si Amat: (tersenyum lebar, tetapi mencoba tenang) Saya sebagai orang tua, saya serahkan pada anak saya. Dia sudah dewasa. Dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Yang penting dia bahagia. Dan kalau Mas Erlangga yang membuatnya bahagia... (ia mengangkat bahu, tersenyum) siapa saya untuk melarang?

Pak Karyo: (menepuk pundak Si Amat) Nah, ini baru ayah yang baik. Tapi Amat, kalau nanti jadi, jangan lupa undang saya. Saya sumbang telur satu kardus untuk acaranya. Telur ayam kampung, yang terbaik.

Si Amat: (tertawa) Nanti, Pak Karyo. Belum tentu jadi. Anak saya itu keras kepala. Sama seperti ibunya. Kalau dia sudah punya pendirian, susah digoyah.

Pak Karyo: (menggeleng-gelengkan kepala) Ah, Amat. Anak keras kepala itu justru paling setia kalau sudah menemukan yang cocok. Saya tahu. Istri saya dulu juga keras kepala. Tapi lihat, sampai sekarang masih setia sama saya. Meskipun saya cuma punya warung kecil.

Semua tertawa. Bintang ikut tertawa, meskipun ia tidak mengerti apa yang lucu. Ia sibuk memainkan sendal jepit bekas di tangannya, sesekali menatap ke arah sungai di belakang warung, berharap melihat Abang Erlangga lewat.


Sementara itu, di posko KKN, suasana tidak kalah ramainya. Erlangga baru saja kembali dari kunjungan ke rumah Pak Sugeng untuk memeriksa jamban yang sudah selesai dibangun, ketika ia disambut oleh Yulia, Naila, Camelia, Amat Junior, dan Hermansyah yang sudah berkumpul di halaman posko dengan senyum-senyum misterius.

Yulia: (usil, matanya berbinar-binar seperti kucing yang menemukan mangsa) Mas Erlangga, kenapa Mas senyum-senyum sendiri dari tadi? Ada yang Mas pikirkan? Jangan-jangan ada yang manis di sawah kemarin sore?

Erlangga tersenyum malu. Ia tidak menyangka kabar akan secepat ini menyebar. Guntur pasti sudah membocorkan semuanya.

Erlangga: (mencoba tenang, tetapi wajahnya sudah memerah) Tidak ada, Yu. Saya hanya memikirkan program jamban untuk pekan depan. Target kita masih dua puluh rumah.

Naila: (tidak percaya) Ah, Mas Erlangga bohong. Mbak Anita juga dari tadi tersenyum-senyum sendiri. Biasanya kalau habis kerja, dia langsung pulang. Tapi sekarang dia masih di kantor desa, katanya mau merapikan laporan. Padahal laporan sudah rapi.

Camelia: (sok dewasa, suaranya nyaring) Mas Erlangga, tolong jangan buat Mbak Anita kecewa, ya. Dia itu panutan kami. Sejak dulu, dia yang paling sabar, paling gigih, paling nggak pernah mengeluh. Dia sudah berjuang sendirian selama dua tahun. Sekarang Mas datang, Mas jangan cuma datang dan pergi.

Erlangga: (menatap Camelia dengan serius) Aku tidak akan pergi begitu saja, Cam. Aku tidak akan mengecewakannya.

Amat Junior: (tertawa, menepuk pundak Erlangga) Santai, Mas. Camelia itu memang kalau bicara suaranya keras, tapi hatinya lembut. Dia cuma takut sepupunya disakiti. Saya sebagai sepupu juga sama. Tapi saya lihat Mas Erlangga orang baik. Saya dukung.

Guntur: (yang tiba-tiba muncul dari belakang dengan senyum bangga) Mas Erlangga, saya jadi saksi, ya. Kemarin saya lihat langsung. Saya dari tadi ingin bilang, jangan khawatir, saya tidak akan membocorkan rahasia Mas.

Yulia: (menyikut Guntur) Eh, Guntur. Kamu sudah membocorkan semuanya sejak jam tujuh pagi. Mulai dari warung Pak Karyo, sampai ke balai desa, sampai ke rumah Pak Sugeng. Semua orang sudah tahu.

Guntur: (merengut, tidak terima) Saya hanya cerita ke Pak Karyo. Itu hanya satu orang. Tersebarnya bukan salah saya. Pak Karyo kan yang cerita ke semua orang.

Yulia: (tertawa) Ya sudah, Mas Guntur, jangan cari kambing hitam. Yang penting sekarang semua orang sudah tahu. Dan semua orang dukung.

Hermansyah yang sedari tiam diam di pojok, akhirnya angkat bicara dengan suara tenangnya. Ia adalah anggota Karang Taruna yang paling pendiam, tetapi ketika berbicara, kata-katanya selalu berbobot.

Hermansyah: (diam-diam menepuk pundak Erlangga) Semoga berhasil, Mas. Mbak Anita itu perempuan yang kuat. Tapi dia juga butuh orang yang bisa mengimbangi. Bukan mengimbangi dalam arti melawan, tapi mengimbangi dalam arti memahami. Dan saya lihat Mas Erlangga punya itu.

Erlangga: (mengangguk, suaranya mantap) Terima kasih, Mas Herman. Aku tidak akan mengecewakannya. Aku janji.

Naila: (bertepuk tangan kecil) Aduh, romantis banget! Mas Erlangga, nanti kalau jadi, jangan lupa kasih tahu kami, ya. Kami mau jadi panitia. Camelia bisa jadi penata rias, Guntur bisa jadi pemusik, Yulia bisa jadi MC, Amat Junior bisa jadi dokumentator, saya bisa jadi koordinator konsumsi.

Guntur: (bersemangat) Saya bisa main gitar! Saya sudah punya lagu andalan: "Desa Awan Biru" ciptaan saya sendiri. Nanti saya mainkan di acara.

Yulia: (tertawa) Lagu apa, Guntur? Lagu tentang ikan lepas dari kail?

Guntur: (merengut) Eh, lagu saya bagus! Nanti kalian dengar.

Camelia: (sok serius) Yang penting, Mas Erlangga. Kami Karang Taruna siap demo kalau Mas ingkar janji.

Erlangga: (tertawa) Demo apa, Cam? Demo pakai sapu?

Camelia: (mengangkat dagu) Demo pakai sapu juga bisa. Yang penting kami bela Mbak Anita.

Semua tertawa. Suasana di posko sore itu hangat, penuh dengan canda dan harapan. Di balai desa, Anita yang sedang merapikan laporan, tersenyum sendiri ketika mendengar suara tawa dari posko. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi ia bisa menebaknya.


Di kejauhan, matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna jingga keemasan, dengan guratan-guratan awan tipis yang tampak seperti kuas yang disapu di kanvas biru. Kabut biru mulai merayap turun dari puncak bukit, perlahan menyelimuti lembah dengan kelembapan yang menusuk. Burung-burung mulai pulang ke sarang, suara mereka yang riuh bergantian dengan suara jangkrik yang mulai bersiap untuk malam.

Di warung Pak Karyo, keramaian mulai mereda. Satu per satu warga pulang ke rumah masing-masing, membawa kabar yang akan mereka ceritakan pada keluarga. Bu Yuni dan Pak Eko berjalan beriringan pulang, masih tertawa kecil mengenang ekspresi Bu Lulu yang serius membahas anggaran pernikahan. Pak Karyo menutup warungnya lebih awal, menggendong Bintang yang sudah mengantuk, berjalan perlahan menuju rumah dengan senyum puas. Santoso berjalan sendiri dengan tongkatnya, matanya menatap langit senja, bersyukur bahwa desa yang ia cintai perlahan tapi pasti berubah ke arah yang lebih baik.

Di posko KKN, Erlangga duduk di teras, menikmati angin sore yang mulai dingin. Ia memandang ke arah balai desa, di mana cahaya lampu minyak mulai menyala, tanda bahwa Anita masih di sana, merapikan laporan, melakukan apa yang selalu ia lakukan: bekerja, tanpa lelah, tanpa pamrih. Erlangga tersenyum. Dalam dua bulan terakhir, ia belajar banyak hal. Ia belajar tentang stunting, tentang sanitasi, tentang pemberdayaan masyarakat. Tapi yang paling penting, ia belajar tentang cinta. Cinta yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata besar, yang tidak perlu dibuktikan dengan hadiah mahal, yang tidak perlu dirayakan dengan pesta mewah. Cinta yang sederhana: hadir, bertahan, dan berjuang bersama.

Di kantor desa, Anita menyelesaikan laporan terakhirnya. Ia menutup buku catatan, merapikan pulpen, dan berdiri untuk mematikan lampu. Sebelum keluar, ia melirik ke arah papan pengumuman, di mana foto-foto gotong royong terpajang rapi. Ia melihat foto dirinya dan Erlangga sedang memasang pipa bersama, wajah mereka belepotan lumpur tetapi tersenyum lebar. Ia tersenyum. Di dalam hatinya, ia sudah tahu jawabannya. Ia sudah tahu sejak lama, sejak pertama kali ia melihat Erlangga membersihkan busi motor tuanya dengan kain lap dari saku celana. Tapi ia butuh waktu. Bukan karena ragu, tetapi karena ia ingin memastikan bahwa perasaan ini bukan sekadar kedekatan, bukan sekadar kelelahan, bukan sekadar kebutuhan akan seseorang di saat ia lemah.

Ia sudah yakin. Tapi jawaban itu akan ia berikan pada waktunya. Malam ini, ia akan tidur dengan senyum di bibir, dengan keyakinan di hati, dan dengan nama seseorang yang akan terus ia doakan, sejauh apapun jarak yang akan memisahkan mereka nanti.


BAB 8: Kejutan di Akhir Masa KKN

Hari-hari terakhir KKN tiba dengan kecepatan yang tak terduga. Seperti kabut pagi yang mencair ketika matahari meninggi, waktu yang terasa lambat di awal kini melaju deras, meninggalkan jejak yang dalam di setiap hati. Erlangga dan tim KKN bersiap untuk acara perpisahan yang akan digelar di lapangan desa, dengan persiapan yang sudah dimulai sejak sepekan lalu. Yulia dan Guntur sibuk mendekorasi panggung dari bambu yang dihias dengan janur dan kertas warna-warni. Naila dan Camelia menyiapkan konsumsi untuk seluruh warga—nasi tumpeng yang akan dipotong bersama, lauk-pauk yang dimasak bergiliran di dapur balai desa, dan kue-kue tradisional yang dibuat oleh ibu-ibu PKK. Hermansyah menyiapkan dokumentasi, memastikan setiap momen penting akan terabadikan dengan kamera pinjaman dari kampus. Amat Junior mengatur sound system sederhana, dua speaker aktif dan mikroport yang dipinjam dari kecamatan.

Pak Iwan sudah menginstruksikan seluruh perangkat desa untuk hadir dalam acara perpisahan. Ini bukan sekadar acara seremonial, katanya dalam rapat terakhir. Ini adalah bentuk penghormatan desa kepada anak-anak muda yang telah mengabdikan diri selama tiga bulan. Semua warga diundang. Pak Karyo berjanji akan membawa telur dadar untuk seluruh warga, sebuah simbol yang membuat semua orang tersenyum karena mengingat bagaimana telur menjadi awal dari perubahan besar di desa ini. Anto menawarkan diri untuk menjadi sopir antar-jemput bagi warga yang rumahnya jauh, menggunakan truknya yang sudah dibersihkan dan dihias dengan janur seadanya. Bahkan Pak Edi, yang dulu paling skeptis, kini menjadi koordinator lapangan yang paling sibuk, memastikan semua persiapan berjalan lancar.

Namun, di tengah kesibukan persiapan acara perpisahan, ada sesuatu yang berbeda dari Anita. Erlangga mulai menyadarinya sejak dua hari lalu. Anita yang biasanya tegas dan terus terang, tiba-tiba menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun, lebih sering tersenyum sendiri tanpa alasan yang jelas. Ia juga lebih sering menghindari tatapan Erlangga, bukan dengan cara yang dingin atau menjauh, tetapi dengan cara yang malu-malu, seperti seorang gadis yang menyimpan rahasia besar. Erlangga bertanya-tanya, apakah Anita masih galau dengan jawabannya? Ataukah ada sesuatu yang lain yang sedang ia pikirkan?

Pagi itu, sehari sebelum acara perpisahan, Erlangga baru saja selesai membantu Guntur membawa sound system dari kecamatan. Ia duduk di teras posko, melepas lelah, ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Anita masuk, singkat tetapi membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

Pesan Anita: "Erlang, sore ini jam 4, di teras kantor desa. Aku mau ketemu. Ada yang harus aku sampaikan."

Erlangga membaca pesan itu berulang kali. Di teras kantor desa. Tempat pertama mereka bertemu. Tempat Anita berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersilang, raut datar, tatapan skeptis. Tempat ia pertama kali melihat senyum Anita ketika ia membersihkan busi motor tua yang basah. Tempat ia pertama kali merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dari perempuan ini. Sekarang, Anita memintanya kembali ke tempat itu. Jantung Erlangga berdebar tidak karuan. Ia tidak tahu apa yang akan disampaikan Anita, apakah itu jawaban yang ia tunggu-tunggu, atau justru sebaliknya.

Sejak pengakuan di pematang sawah dua minggu lalu, Anita belum pernah memberikan jawaban. Mereka tetap bekerja bersama seperti biasa, keliling desa, memeriksa jamban, melakukan edukasi, melatih kader. Mereka tertawa bersama ketika Guntur bercanda, dan mereka serius bersama ketika membahas masalah. Tapi setiap kali Erlangga mencoba membuka topik tentang perasaan mereka, Anita selalu mengalihkan pembicaraan. "Nanti," katanya. "Belum saatnya." Erlangga tidak memaksa. Ia sudah berjanji akan menunggu, dan ia akan menepati janjinya. Tapi menunggu tidak pernah mudah, terutama ketika waktu terus berjalan dan hari perpisahan semakin dekat.

Erlangga menghabiskan sisa siang itu dengan perasaan yang campur aduk. Ia mencoba membantu Yulia menyusun kursi di lapangan desa, tetapi pikirannya melayang ke tempat lain. Ia ikut Naila menata meja konsumsi, tetapi tangannya bergerak tanpa kesadaran. Guntur yang melihat kegelisahannya, mendekati dengan senyum usil.

Guntur: (berbisik, suaranya penuh arti) Mas Erlangga, kenapa Mas gelisah? Jangan-jangan ada janji ketemu sama Mbak Anita sore ini? Di tempat pertama kali Mas datang?

Erlangga terkejut. Matanya membulat.

Erlangga: (berbisik balik, suaranya panik) Guntur, dari mana kamu tahu?

Guntur: (tersenyum bangga, seperti detektif yang memecahkan kasus sulit) Mas, saya ini mata-mata desa. Informasi mengalir ke saya seperti air sungai ke hilir. Mbak Anita minta Naila bawain surat buat Mas. Naila cerita ke Yulia. Yulia cerita ke saya. Tapi tenang, Mas. Rahasia aman bersama saya.

Erlangga: (menghela napas, setengah lega setengah cemas) Guntur, kamu janji tidak akan bilang siapa pun?

Guntur: (mengangkat tangan, bersumpah palsu) Sumpah pocong, Mas. Tapi... (ia tersenyum lebar) saya tidak janji tidak akan senyum-senyum sendiri kalau lihat Mas nanti sore.

Erlangga hanya bisa menggeleng, setengah kesal setengah geli. Ia melanjutkan pekerjaannya, tetapi pikirannya tetap tidak bisa tenang. Apa yang akan disampaikan Anita? Apakah ia akan menolak? Apakah ia akan meminta Erlangga untuk melupakan perasaannya? Atau... apakah ini adalah jawaban yang selama ini ia tunggu-tunggu?


Sore itu, langit Awan Biru berada dalam kondisi yang paling indah. Kabut biru yang menjadi nama desa ini tidak terlalu tebal, tetapi cukup untuk menciptakan nuansa magis di sekitar lembah. Mentari sore menyinari bukit-bukit dengan cahaya keemasan, membuat padi di sawah yang sudah menguning tampak seperti lautan emas yang bergoyang pelan ditiup angin. Burung-burung terbang rendah di atas persawahan, sesekali hinggap untuk memakan bulir-bulir padi yang sudah matang. Suara mereka yang riuh bergantian dengan suara jangkrik yang mulai bersiap untuk malam.

Erlangga tiba di balai desa tepat pukul empat sore. Ia memilih pakaian terbaik yang ia miliki—kemeja batik yang dibelinya di pasar kecamatan minggu lalu, celana bahan berwarna krem, dan sepatu kanvas yang sudah ia bersihkan dari lumpur. Tidak mewah, tetapi rapi. Ia ingin tampil terbaik untuk momen ini, apa pun hasilnya.

Balai desa tampak sepi. Sebagian besar perangkat desa sedang sibuk di lapangan untuk persiapan acara perpisahan besok. Hanya lampu minyak di teras yang menyala temaram, menciptakan bayangan yang bergoyang-goyang di dinding. Erlangga duduk di tangga beton, tempat yang sama yang pernah ia duduki bersama Anita beberapa minggu lalu, ketika ia meminjamkan jaket almamaternya karena Anita menggigil kedinginan. Ia tersenyum mengingat momen itu. Betapa jauh perjalanan mereka sejak malam itu.

Tidak lama kemudian, ia mendengar langkah kaki dari dalam kantor desa. Anita keluar dari pintu utama, melangkah perlahan menuju tangga tempat Erlangga duduk. Ia juga mengenakan pakaian terbaiknya, kebaya sederhana berwarna biru muda yang jarang ia kenakan, rok batik yang dipadukan dengan sabuk sederhana, dan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai. Tanpa jaket lusuh abu-abu yang selalu ia kenakan, tanpa sepatu boots yang kotor lumpur, Anita tampak berbeda. Lebih lembut, lebih cantik, lebih... nyata. Erlangga hampir tidak bisa bernapas melihatnya.

Di tangannya, Anita menggenggam erat sebuah amplop cokelat, amplop yang sudah agak kusut karena sering dibuka dan ditutup, seolah isinya telah dibaca berulang kali. Amplop itu tidak terlalu tebal, tetapi terasa berat di genggamannya, seperti benda yang sangat berharga.

Anita duduk di samping Erlangga, tidak terlalu dekat tetapi tidak terlalu jauh. Jarak yang cukup untuk membuat mereka nyaman, tetapi cukup dekat untuk merasakan kehangatan satu sama lain. Mereka terdiam beberapa saat, menikmati keheningan sore yang hanya diisi oleh suara angin dan burung-burung yang pulang ke sarang.

Anita: (suaranya pelan, sedikit bergetar) Erlang, ini untukmu.

Ia menyerahkan amplop itu pada Erlangga dengan kedua tangan, seperti mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga. Tangannya sedikit gemetar, membuat amplop itu bergoyang-goyang di udara.

Erlangga menerima amplop itu dengan hati-hati, seperti menerima benda yang sangat rapuh. Ia membuka amplop perlahan, tidak ingin merobek kertas yang mungkin berisi kata-kata yang sangat berarti. Di dalam amplop itu, ia menemukan dua benda: selembar kertas bergaris yang dilipat rapi, dan sebuah foto yang sudah dilaminating.

Foto itu adalah gambar mereka berdua saat gotong royong pembuatan jamban Pak Karyo. Wajah mereka belepotan lumpur, baju mereka kotor oleh semen, tetapi senyum mereka lebar dan mata mereka berbinar. Erlangga ingat persis foto itu diambil oleh Hermansyah, pada hari ketika Bintang datang membagikan keripik telur dan berkata ingin menjadi dokter. Ia tidak tahu bahwa Anita menyimpan foto itu, apalagi melaminatingnya dengan hati-hati.

Erlangga: (suaranya tercekat) Anita... foto ini... kamu simpan?

Anita: (menunduk malu) Hermansyah kasih ke aku minggu lalu. Katanya ini foto terbaik yang pernah dia ambil selama KKN. Aku... laminating sendiri di kecamatan. (ia tersenyum kecil) Aku mau simpan, apa pun jawabanku nanti.

Erlangga meletakkan foto itu di pangkuannya dengan hati-hati, lalu membuka lipatan kertas bergaris. Tulisan di dalamnya rapi, tulisan Anita yang sudah ia kenali dari laporan-laporan posyandu yang selalu ia baca. Tapi kali ini, tulisan itu bukan tentang data balita atau catatan ibu hamil. Ini tentang hati seorang perempuan yang selama ini menyembunyikan perasaannya di balik ketegasan dan kerja keras.

Erlangga membaca surat itu dengan saksama, membiarkan setiap kata meresap ke dalam hatinya.


Untuk Erlang,

Maaf aku butuh waktu lama untuk menulis surat ini. Bukan karena aku ragu dengan perasaanku, aku sudah tahu sejak lama, mungkin sejak pertama kali kamu membersihkan busi motor tuaku dengan kain lap dari saku celanamu. Tapi karena aku takut. Takut bahwa perasaan ini hanya karena kita sering bersama. Takut bahwa ketika kamu kembali ke kota, kamu akan melupakan desa ini dan melupakan aku. Takut bahwa aku tidak pantas untuk seseorang sepertimu.

Aku bukan siapa-siapa, Erlang. Aku hanya lulusan akademi keperawatan yang memilih menjadi kader desa. Penghasilanku tidak seberapa, rumahku sederhana, dan satu-satunya warisan dari ibuku adalah tekad untuk membangun desa ini. Sementara kamu... kamu adalah calon dokter dari universitas terbaik, anak seorang spesialis terkenal, seseorang yang masa depannya cerah. Aku takut suatu hari nanti kamu bangun dan berpikir, "Kenapa aku membuang waktuku untuk desa terpencil ini? Kenapa aku memilih perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?"

Tapi kemudian aku ingat kata-katamu di pematang sawah. Kamu bilang, panggilanmu ada di desa seperti ini, bersama orang-orang seperti aku, seperti Pak Karyo, seperti Bintang. Kamu bilang, kamu tidak memilihku karena aku "perempuan biasa yang tidak punya apa-apa", tapi karena aku adalah aku. Dan aku percaya padamu, Erlang. Aku percaya karena aku melihat sendiri bagaimana kamu memperlakukan warga, bagaimana kamu sabar dengan Pak Karyo yang keras kepala, bagaimana kamu lembut dengan Bintang, bagaimana kamu ikut menggali lumpur tanpa gengsi.

Kamu mengajarkanku bahwa cinta tidak harus sempurna. Cinta adalah tentang dua orang yang memilih untuk berjuang bersama, meskipun jalan di depan tidak selalu mudah. Dan aku, Erlang, aku memilih untuk berjuang bersamamu.

Jadi, ini jawabanku. Aku menerima perasaanmu. Tapi dengan satu syarat.

Kamu harus benar-benar kembali ke sini. Bukan hanya karena aku, tapi karena desa ini membutuhkan dokter. Dan aku akan menunggumu. Seberapa lamapun itu. Karena aku sudah terbiasa menunggu, menunggu desa ini berubah, menunggu warga sadar akan kesehatan, menunggu mimpi-mimpiku menjadi kenyataan. Dan sekarang, aku punya alasan lain untuk menunggu.

Kembalilah, Erlang. Bawalah ilmu yang kamu dapat, dan jadilah dokter yang membanggakan desa ini. Aku akan ada di sini, menunggumu, seperti aku menunggu kabut pagi mencair dan matahari terbit di ufuk timur.

Dengan segala cinta yang selama ini kupendam,
Anita.


Erlangga membaca surat itu hingga akhir, lalu membacanya sekali lagi, dan sekali lagi. Air matanya jatuh, pertama kali ia menangis di depan Anita. Ia tidak pernah menangis di depan pasien, tidak pernah menangis di depan dosen, tidak pernah menangis di depan siapa pun. Tapi surat ini, dengan segala kejujuran dan kerapuhannya, meruntuhkan semua tembok yang ia bangun.

Erlangga: (suaranya serak, matanya basah) Anita... ini... (ia tidak mampu melanjutkan, tangisnya pecah)

Anita yang melihat Erlangga menangis, ikut menangis. Air mata yang selama ini ia tumpahkan di kamar sendirian, di malam-malam ketika ia memikirkan kepergian Erlangga, kini jatuh bebas. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Tidak ada tembok yang perlu dipertahankan. Hanya dua manusia yang saling mencintai, yang akhirnya berani mengakui perasaan mereka di hadapan satu sama lain.

Anita: (suaranya bergetar, tangisnya tertahan) Maaf aku butuh waktu lama untuk memikirkannya. Aku takut. Aku sangat takut, Erlang. Takut kalau nanti kamu berubah pikiran. Takut kalau aku tidak cukup baik untukmu. Takut kalau ini semua hanya mimpi yang akan sirna ketika kamu pergi besok. Tapi...

Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, berusaha tegar.

Anita: Tapi aku lebih takut kalau aku tidak pernah mencoba. Aku lebih takut kehilangan kesempatan untuk bersama seseorang yang melihat aku apa adanya. Aku lebih takut menyesal seumur hidup karena tidak pernah menjawab perasaanmu. Jadi... (ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan hati) ya, aku menerima perasaanmu, Erlang. Aku mencintaimu. Mungkin sejak lama, aku tidak menyadarinya. Tapi sekarang aku tahu.

Erlangga tidak bisa menahan diri lagi. Ia meraih tangan Anita—tangan yang kasar karena sering memegang semen dan buku laporan, tangan yang hangat meskipun udara sore mulai dingin—dan menggenggamnya erat-erat. Ia menatap mata Anita yang basah, dan melihat di dalamnya kejujuran yang tidak perlu diragukan lagi.

Erlangga: (suaranya mantap, penuh keyakinan) Anita, aku tidak akan berubah pikiran. Aku tidak akan pernah. Aku sudah memikirkan ini matang-matang, jauh sebelum aku mengaku di pematang sawah. Aku sudah memikirkan konsekuensinya, aku sudah membayangkan semua rintangan yang mungkin kita hadapi. Tapi aku tetap memilihmu. Bukan karena aku tidak melihat pilihan lain, tapi karena aku tidak ingin pilihan lain.

Ia mengusap air mata di pipi Anita dengan lembut, seperti ia mengusap kening Bintang ketika demam.

Erlangga: Dan aku menerima syaratmu. Aku akan kembali ke sini. Aku akan menyelesaikan koas dan ujian profesi, dan aku akan kembali. Bukan karena desa ini membutuhkan dokter, meskipun itu juga benar, tapi karena aku membutuhkanmu. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa desa ini, tanpa warga yang sudah menjadi keluarga, tanpa... kamu.

Anita tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah Erlangga lihat. Senyum yang tidak menyembunyikan apa pun, yang tidak melindungi apa pun. Senyum yang tulus.

Anita: (suaranya kecil, tetapi jelas) Kamu harus benar-benar kembali, Erlang. Aku akan menunggu. Seberapa lamapun.

Erlangga: (tersenyum, masih menggenggam tangan Anita) Aku janji. Aku akan kembali. Dan aku akan menjadi dokter yang membanggakan desa ini. Untuk Bintang, untuk Pak Karyo, untuk semua warga, dan untuk kamu.

Mereka berdua terdiam. Angin sore berembus, membawa wangi bunga kopi dari kebun-kebun warga. Di kejauhan, suara gamelan mulai terdengar dari lapangan desa—latihan terakhir untuk acara perpisahan besok. Tapi di teras balai desa ini, waktu terasa berhenti. Hanya ada mereka berdua, dan cinta yang akhirnya diakui.

Erlangga tidak bisa menahan kebahagiaannya. Ia meraih Anita dan memeluknya, pelukan yang lembut tetapi erat, seperti memeluk sesuatu yang sangat berharga yang hampir hilang. Anita terdiam sejenak, terkejut dengan keberanian Erlangga. Tapi kemudian ia membalas pelukan itu, merasakan kehangatan yang selama ini ia rindukan. Kepalanya bersandar di dada Erlangga, mendengar detak jantung yang berdebar cepat, tanda bahwa pemuda ini sama gugupnya dengannya.

Erlangga: (berbisik di telinga Anita) Aku mencintaimu, Anita. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu.

Anita: (membalas bisikan, suaranya nyaris tak terdengar) Aku juga mencintaimu, Erlang. Aku juga.


Keesokan harinya, lapangan desa berubah menjadi lautan manusia. Seluruh warga Desa Awan Biru hadir dalam acara perpisahan KKN, tidak ada yang absen, bahkan warga yang rumahnya paling jauh sekalipun. Anto telah berkeliling dengan truknya sejak pagi, menjemput warga dari dusun-dusun terpencil yang tidak memiliki kendaraan. Truk itu dihias dengan janur dan daun pisang, membuatnya tampak seperti kendaraan pengantin daripada angkutan umum. Pak Karyo datang lebih awal dengan membawa dua kardus besar berisi telur dadar yang sudah dipotong-potong, camilan untuk seluruh warga yang hadir. Bintang ikut membantu, berlarian di antara kerumunan sambil membagikan telur dadar dengan ceria.

Panggung bambu yang kemarin masih setengah jadi, kini telah berdiri megah dengan hiasan janur, kertas warna-warni, dan lampu-lampu kecil yang dipinjam dari kecamatan. Di belakang panggung, spanduk besar bergambar kegiatan KKN selama tiga bulan terpampang dengan tulisan: "Terima Kasih Mahasiswa KKN Universitas Sejahtera: Mengabdi untuk Desa Awan Biru." Foto-foto yang diambil Hermansyah selama tiga bulan dipajang di sepanjang sisi panggung—foto gotong royong jamban, foto posyandu, foto edukasi kesehatan, foto Bintang yang tersenyum lebar dengan telur di tangannya, foto Erlangga dan Anita sedang memasang pipa dengan wajah belepotan lumpur. Warga berkerumun melihat foto-foto itu, tertawa, menunjuk-nunjuk, mengingat kembali momen-momen yang telah dilalui.

Pak Iwan berdiri di panggung dengan kemeja batik terbaiknya, rambutnya yang memutih disisir rapi, kumis tebalnya tampak lebih rapi dari biasanya. Di tangannya, ia memegang mikrofon yang sudah dicek berkali-kali oleh Amat Junior. Matanya menyapu lautan manusia di depannya, wajah-wajah yang ia kenal satu per satu, wajah-wajah yang selama tiga bulan terakhir telah berubah, yang kini tersenyum lebih lebar, yang kini tampak lebih berbinar.

Pak Iwan: (mikrofon di tangan, suaranya sedikit bergetar, sesuatu yang jarang terjadi pada kepala desa yang dikenal tegas ini) Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.

Seluruh warga menjawab dengan serempak, suara mereka menggema di lapangan desa.

Pak Iwan: (menghela napas, mengumpulkan emosi) Hari ini, saya sebagai kepala desa, berdiri di sini bukan hanya untuk melepas mahasiswa KKN yang akan kembali ke kampus mereka. Tapi untuk mengucapkan terima kasih. Terima kasih yang sebesar-besarnya, yang mungkin tidak akan pernah cukup untuk membalas semua yang telah mereka berikan.

Ia menoleh ke arah Erlangga, Dinda, dan Bagas yang duduk di barisan depan, mengenakan jaket almamater mereka yang sudah lusuh, jaket yang sama ketika mereka pertama kali datang tiga bulan lalu. Dinda tersenyum sambil mengusap air mata yang mulai jatuh. Bagas menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena haru. Erlangga duduk tegak, matanya menatap Pak Iwan dengan penuh hormat, sesekali melirik ke arah Anita yang berdiri di sisi panggung bersama kader-kader lain.

Pak Iwan: Tiga bulan lalu, saya menerima sekelompok mahasiswa yang tidak saya kenal. Jujur, saya punya keraguan. Saya pikir mereka hanya akan datang, membuat program seremonial, berfoto-foto, lalu pergi. Seperti yang sering terjadi. Tapi adik-adik ini berbeda. Mereka tidak hanya datang dengan program, tapi dengan hati. Mereka tidak hanya bicara, tapi turun langsung ke lapangan. Mereka tidak hanya mengajar, tapi juga belajar. Mereka tidak hanya memberi, tapi juga menerima.

Suaranya mulai bergetar. Pak Iwan yang terkenal tegas dan jarang menunjukkan emosi di depan umum, kali ini tidak bisa menahan diri.

Pak Iwan: Mereka datang ketika desa kita sedang dilanda wabah ISPA. Mereka tidak lari, tidak panik. Mereka justru bergerak. Mereka membuka posko darurat, mereka keliling desa di tengah hujan, mereka menggunakan uang pribadi untuk membeli obat ketika stok habis. Mas Erlangga—calon dokter yang ganteng ini, bahkan ikut menggali lumpur untuk membuat jamban Pak Karyo. (ia tertawa kecil, diikuti oleh warga) Saya sampai tidak percaya. Dokter kok jadi kuli. Tapi itulah mereka. Mereka tidak punya gengsi.

Warga tertawa. Pak Karyo yang duduk di barisan depan, mengangguk-angguk dengan bangga. Bintang yang duduk di pangkuannya, bertepuk tangan kecil.

Pak Iwan: Dan yang paling penting, mereka membawa semangat baru. Mereka menggerakkan anak-anak muda kita. Karang Taruna yang dulu jarang berkegiatan, sekarang siap siaga. Mereka membuat konten edukasi, mereka gotong royong, mereka menjadi agen perubahan. Mereka menggerakkan warga kita yang dulu keras kepala, saya tidak perlu menyebut nama, Pak Karyo, untuk mau berubah. (ia tersenyum ke arah Pak Karyo yang hanya tertawa malu) Mereka membuat kita sadar bahwa kesehatan itu bukan takdir, tapi usaha. Bahwa perubahan itu mungkin, kalau kita mau bergerak bersama.

Ia menoleh ke arah Erlangga, matanya berkaca-kaca.

Pak Iwan: Dan khusus untuk Mas Erlangga, saya titip pesan. (suaranya bergetar) Jaga putri desa kami dengan baik. Dia sudah berjuang sendirian terlalu lama. Dia pantas bahagia. Dan saya yakin, Mas Erlangga adalah orang yang tepat untuk membuatnya bahagia.

Warga bersorak. Tepuk tangan bergemuruh. Yulia berteriak dari kerumunan, suaranya yang nyaring terdengar sampai ke panggung.

Yulia: (berteriak dari kerumunan, suaranya nyaring) Jangan lupa undang kami kalau nikah, Mas Erlangga!

Pak Eko yang duduk di bangku kehormatan, ikut nimbrung dengan suara keras.

Pak Eko: (menimpali) Dan jangan sampai molor! Kami siap jadi panitia! Guntur bisa jadi pemusik, Yulia jadi MC, saya jadi koordinator lapangan!

Bu Lulu yang duduk di samping Pak Eko dengan buku catatan dan kalkulator di pangkuannya, langsung menghitung dengan jari.

Bu Lulu: (suaranya melengking khas) Kalau nikah bulan Desember, anggaran desa belum terserap penuh. Itu bagus! Saya bisa alokasikan untuk konsumsi. Tapi harus proposalnya masuk minimal tiga bulan sebelumnya!

Pak Karyo berdiri dari tempat duduknya dengan susah payah, lututnya sudah tidak sekencang dulu, tetapi semangatnya membara. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menarik perhatian semua orang.

Pak Karyo: (berteriak, suaranya serak tetapi penuh semangat) Saya siap sedekah telur dadar buat seluruh warga! Satu kardus! Tidak, dua kardus! Tidak, tiga kardus! Yang penting anak muda bahagia!

Anto yang berdiri di belakang, langsung menyahut dengan semangat yang tidak kalah.

Anto: (berseru, suaranya memecah keramaian) Saya siap jadi sopir pengantin! Truk saya bisa dihias! Saya sudah punya pengalaman menghias truk untuk acara perpisahan kemarin, besok bisa lebih bagus lagi!

Semua warga tertawa. Suasana yang tadinya haru, berubah menjadi meriah. Erlangga dan Anita yang duduk tidak jauh dari panggung, hanya bisa tersenyum mendengar kegaduhan itu. Wajah Anita merah padam, bukan karena marah, tetapi karena malu. Erlangga tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca karena haru, tetapi ia berusaha tegar.

Setelah Pak Iwan selesai, Erlangga naik ke panggung. Ia berjalan dengan langkah mantap, mengambil mikrofon dari Pak Iwan dengan hormat. Berdiri di atas panggung, menghadapi seluruh warga Desa Awan Biru yang duduk di lapangan dengan mata berkaca-kaca, Erlangga merasa dadanya sesak. Ia melihat wajah-wajah yang sudah ia kenal selama tiga bulan, Pak Karyo dengan kumisnya yang memutih, Bintang yang tersenyum lebar di pangkuan kakeknya, Pak Sugeng dan Bu Yati yang duduk di barisan depan dengan pakaian terbaik mereka, Bu Lulu yang masih memegang kalkulator, Pak Eko dengan kipasnya, Bu Yuni dengan buku catatannya, Pak Edi yang duduk di samping Santoso dengan senyum yang tidak lagi sinis, Yulia dan Guntur yang sudah siap dengan tisu untuk mengusap air mata, Naila dan Camelia yang saling bergandengan tangan, Amat Junior yang mengangkat kamera ponselnya tinggi-tinggi, Hermansyah yang tenang di pojok dengan kamera pinjamannya. Dan di sisi panggung, Anita berdiri di antara kader-kader lain, matanya basah, senyumnya lembut.

Erlangga: (mikrofon di tangan, suaranya sedikit bergetar meskipun ia berusaha tenang) Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian yang saya hormati.

Seluruh warga menjawab salamnya dengan serempak.

Erlangga: Tiga bulan yang lalu, saya turun dari mobil box hijau di halaman balai desa dengan perasaan campur aduk. Saya tidak tahu apa yang akan saya temui di desa ini. Saya hanya tahu bahwa saya ingin belajar menjadi dokter yang sesungguhnya. Dan ternyata, desa ini mengajarkan lebih dari yang saya bayangkan.

Ia berhenti sejenak, mengumpulkan emosi.

Erlangga: Saya belajar dari Pak Karyo bahwa perubahan itu mungkin, meskipun dimulai dari hal sekecil telur. Saya belajar dari Bintang bahwa mimpi tidak mengenal usia. Saya belajar dari Pak Sugeng bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai kebiasaan baik. Saya belajar dari Bu Lulu bahwa anggaran itu penting, tapi kesehatan lebih penting. (ia tersenyum, warga tertawa) Saya belajar dari Guntur bahwa semangat muda bisa menggerakkan banyak hal. Saya belajar dari Yulia bahwa kepemimpinan tidak selalu tentang jabatan. Saya belajar dari Pak Edi bahwa kritik yang membangun adalah bentuk kepedulian. Saya belajar dari Pak Iwan bahwa pemimpin yang baik adalah yang tidak takut mengakui kesalahan dan belajar dari anak-anak muda.

Suaranya mulai bergetar. Ia menatap seluruh warga, matanya berkaca-kaca.

Erlangga: Dan saya belajar dari Mbak Anita... (ia berhenti, menelan ludah) bahwa cinta pada pekerjaan, pada sesama, pada desa ini, adalah cinta yang paling murni. Saya belajar bahwa menjadi dokter bukan tentang gelar atau gengsi, tapi tentang kemampuan untuk hadir, untuk bertahan, dan untuk berjuang bersama mereka yang membutuhkan.

Ia menoleh ke arah Anita yang berdiri di sisi panggung. Mata mereka bertemu. Di hadapan seluruh warga, Erlangga tidak ragu lagi.

Erlangga: Saya tidak akan berjanji muluk-muluk. Saya tidak akan berjanji akan kembali besok, atau bulan depan, atau tahun depan. Tapi saya berjanji pada diri saya sendiri, pada Mbak Anita, dan pada seluruh warga Desa Awan Biru: saya akan kembali. Saya akan menyelesaikan studi saya, saya akan menjadi dokter, dan saya akan mengabdi di sini. Di desa yang telah mengajarkan arti kehidupan. Di desa yang telah menjadi rumah kedua bagi saya.

Air matanya jatuh. Ia tidak menyembunyikannya lagi.

Erlangga: Terima kasih telah menerima saya sebagai bagian dari keluarga. Terima kasih telah mengajarkan saya bahwa pengabdian tidak selalu tentang hal-hal besar, tapi tentang kesetiaan pada hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang. Terima kasih untuk tiga bulan yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya akan kembali. Saya janji.

Warga bersorak semakin keras. Tepuk tangan bergemuruh, mengiringi air mata yang jatuh dari mata Erlangga, dari mata Anita, dari mata Yulia, dari mata Pak Karyo, dari mata Bu Yuni, dari mata hampir semua warga yang hadir. Yulia, Guntur, Naila, Camelia, Amat Junior, dan Hermansyah naik ke panggung dengan membawa kelopak bunga yang sudah disiapkan sejak pagi. Mereka melemparkan kelopak-kelopak itu ke udara, hujan bunga menghujani Erlangga dan tim KKN yang masih berdiri di panggung dengan mata basah.

Yulia: (berteriak di tengah hujan bunga) Mas Erlangga, kami tunggu! Jangan lama-lama!

Guntur: (menambahkan, suaranya serak karena menahan tangis) Mas, nanti kalau sudah jadi dokter, jangan lupa traktir kami! Saya mau makan telur dadar di warung Pak Karyo!

Naila: (terisak, suaranya putus-putus) Mas Erlangga, titip salam untuk kampus! Dan tolong jaga Mbak Anita, ya!

Camelia: (sok dewasa tetapi matanya merah) Mas Erlangga, ingat janji! Kalau Mas ingkar, Karang Taruna siap demo!

Amat Junior: (tertawa di antara tangis) Demo pakai apa, Cam? Pakai sapu lagi?

Camelia: (mengangkat dagu) Pakai apa saja! Yang penting kami bela Mbak Anita!

Semua tertawa di antara tangis. Suasana yang haru bercampur dengan gelak tawa, menciptakan harmoni yang hanya bisa terjadi di desa seperti Awan Biru.

Di tengah keramaian itu, Erlangga turun dari panggung. Ia melangkah melewati kerumunan warga yang masih bersorak, melewati Guntur yang tertawa sambil menangis, melewati Bintang yang melambai-lambai kecil dari pangkuan Pak Karyo. Ia berjalan menuju sisi panggung, di mana Anita masih berdiri di antara kader-kader lain, matanya basah, tangannya menggenggam erat ujung kebayanya.

Erlangga meraih tangan Anita. Tidak ragu, tidak malu, tidak peduli dengan ribuan pasang mata yang menatap mereka. Ia menggenggam tangan itu erat-erat—tangan yang kasar karena kerja keras, tangan yang hangat karena cinta yang tulus. Anita terkejut, wajahnya merah padam, tetapi ia tidak melepaskan. Ia membiarkan Erlangga menggenggam tangannya di depan seluruh warga desa.

Erlangga: (menatap Anita, suaranya cukup keras untuk didengar oleh warga di sekitarnya) Ayo kita jalan-jalan sebentar. Pesta masih lama.

Anita: (masih terkejut, suaranya tergagap) Erlang... semua orang melihat kita...

Erlangga: (tersenyum) Biarkan mereka melihat. Aku tidak punya rahasia lagi.

Mereka berjalan beriringan meninggalkan lapangan, meninggalkan keramaian yang masih berlangsung. Langkah mereka perlahan, seirama, seperti dua orang yang sudah lama berjalan bersama. Di belakang mereka, sorak-sorai warga masih terdengar. Guntur berteriak minta disediakan telur dadar untuk acara pernikahan. Bu Lulu sudah sibuk menghitung anggaran dengan Bu Yuni. Pak Karyo tertawa lebar sambil menggendong Bintang. Pak Iwan menepuk pundak Si Amat dengan senyum bangga.


Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang sama yang pernah mereka lalui tiga bulan lalu, ketika Erlangga pertama kali diajak Anita keliling desa. Jalan berbatu yang dulu terasa asing dan terjal, kini terasa akrab dan mudah. Pohon-pohon pisang dan singkong yang dulu hanya ia lihat sekilas, kini ia kenali satu per satu. Rumah-rumah warga yang dulu hanya ia lewati, kini ia tahu siapa penghuninya, berapa jumlah balita di dalamnya, apakah mereka sudah memiliki jamban, apakah mereka rajin ke posyandu.

Mereka berhenti di sebuah pematang sawah, bukan tempat di mana Erlangga mengaku cinta dua minggu lalu, tetapi tempat yang lebih sederhana. Di sini, mereka bisa melihat seluruh desa dari ketinggian. Sawah yang menguning terbentang luas di bawah mereka, bergoyang pelan ditiup angin sore. Sungai yang dulu keruh kini mulai jernih, mengalir di antara perbukitan dengan suara yang menenangkan. Rumah-rumah warga tampak dari kejauhan, dengan asap dapur yang mulai mengepul, tanda bahwa hari mulai beranjak senja. Di ufuk barat, matahari perlahan tenggelam, menyisakan sisa-sisa cahaya keemasan yang memantul di awan-awan tipis. Kabut biru mulai merayap turun dari puncak bukit, perlahan menyelimuti lembah dengan kelembapan yang menusuk.

Erlangga: (menggenggam tangan Anita erat-erat, tidak melepaskannya meskipun telapak tangan mereka sudah berkeringat) Kamu yakin mau menunggu? Aku akan sibuk dengan koas dan ujian. Mungkin setahun, mungkin lebih. Aku tidak bisa sering pulang. Mungkin hanya bisa telepon atau video call. Dan jarak antara kota dan desa ini tidak dekat.

Anita: (tersenyum, menatap langit yang mulai jingga) Aku sudah terbiasa menunggu, Erlang. Aku menunggu desa ini berubah, itu butuh waktu bertahun-tahun. Aku menunggu warga sadar akan kesehatan, itu juga tidak instan. Aku menunggu program-program yang aku jalankan membuahkan hasil, itu semua butuh kesabaran. Menunggu adalah sesuatu yang sudah aku pelajari sejak kecil.

Ia menoleh ke Erlangga, matanya basah tetapi senyumnya tulus.

Anita: Dan sekarang, aku punya alasan lain untuk menunggu. Alasan yang lebih indah dari sekadar program desa atau data stunting. Aku menunggu seseorang yang percaya bahwa aku berharga. Seseorang yang melihat perjuanganku ketika orang lain tidak melihat. Seseorang yang memilih untuk kembali ke desa ini, bukan karena kewajiban, tapi karena panggilan hati.

Erlangga tidak bisa menahan air matanya. Ia meraih Anita dan memeluknya—pelukan yang dalam, yang menyimpan semua janji yang belum sempat diucapkan. Anita membalas pelukan itu, merasakan kehangatan yang selama ini ia rindukan. Mereka berdiri di tengah pematang sawah, di bawah langit yang mulai gelap, berpelukan dalam keheningan yang penuh makna.

Erlangga: (berbisik di telinga Anita, suaranya serak karena menahan tangis) Aku mencintaimu, Anita. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu.

Anita: (membalas bisikan, suaranya nyaris tak terdengar) Aku juga mencintaimu, Erlang. Sejak pertama kali kamu membersihkan busi motor tuaku dengan kain lap dari saku celanamu. Aku tidak tahu itu cinta saat itu. Tapi sekarang aku tahu.

Mereka berpelukan lebih lama, membiarkan waktu berhenti sejenak. Di kejauhan, suara gamelan dan tawa warga masih terdengar dari lapangan desa. Burung-burung terbang rendah di atas sawah, pulang ke sarang mereka. Kabut biru semakin tebal, menyelimuti lembah dengan kelembapan yang menusuk, tetapi mereka tidak merasa dingin. Mereka saling menghangatkan.


Di lapangan desa, pesta perpisahan masih berlangsung. Guntur sudah naik ke panggung dengan gitarnya, memainkan lagu "Desa Awan Biru" ciptaannya sendiri. Liriknya sederhana, melodinya tidak terlalu rumit, tetapi semua warga menyanyikannya dengan penuh semangat.

Desa Awan Biru, di lereng perbukitan
Kabut biru menyapa setiap pagi
Kau ajarkan aku arti kesabaran
Kau ajarkan aku arti cinta sejati

Yulia berdiri di samping Guntur, menjadi MC dadakan dengan gaya khasnya yang enerjik. Ia memandu acara dengan riang, sesekali menyelipkan gosip tentang Erlangga dan Anita yang membuat warga tertawa. Naila dan Camelia sibuk membagikan makanan ke seluruh warga, tidak lupa menyisihkan porsi untuk Erlangga dan Anita yang sedang berjalan-jalan. Pak Karyo sudah membagikan hampir semua telur dadarnya, hanya menyisakan beberapa potong untuk Bintang dan untuk "Mas Dokter dan Mbak Anita". Bintang yang sudah mulai mengantuk, masih bergeming di pangkuan kakeknya, matanya setengah terpejam tetapi senyumnya masih terpampang.

Pak Iwan duduk di kursi kehormatan bersama Santoso dan Si Amat. Mereka menikmati pertunjukan dengan senyum puas. Santoso yang biasanya kritis dan vokal, kali ini hanya diam, menikmati suasana dengan mata yang berbinar.

Santoso: (kepada Pak Iwan, suaranya pelan) Pak Kades, saya sudah tua. Saya sudah melihat banyak program datang dan pergi. Tapi yang terjadi tiga bulan ini... ini berbeda. Ini bukan sekadar program. Ini tentang perubahan yang nyata. Tentang warga yang sadar akan kesehatan. Tentang anak-anak muda yang bergerak. Tentang cinta yang tumbuh di antara mereka.

Pak Iwan: (mengangguk, matanya berkaca-kaca) Saya tahu, Pak Santoso. Saya juga merasakannya. Desa ini tidak akan sama setelah kepergian mereka. Tapi saya yakin, perubahan ini akan terus berjalan. Pak Edi sudah siap melanjutkan program. Anita sudah lebih percaya diri. Karang Taruna lebih aktif. Dan Mas Erlangga... (ia tersenyum) Mas Erlangga akan kembali. Saya yakin.

Si Amat: (tersenyum lebar, suaranya penuh haru) Saya hanya berdoa yang terbaik untuk anak saya. Dia sudah berjuang sendirian terlalu lama. Sekarang dia punya teman berjuang. Itu sudah lebih dari cukup.


Di kejauhan, Erlangga dan Anita masih berdiri di pematang sawah. Mereka tidak lagi berpelukan, tetapi tangan mereka tetap saling menggenggam. Langit di barat telah berubah menjadi ungu kehitaman, dengan bintang-bintang pertama yang mulai muncul. Di timur, bulan sabit tipis terbit, memberikan cahaya perak yang lembut di atas desa.

Erlangga: (menatap langit, suaranya pelan) Anita, aku tidak tahu kapan tepatnya aku akan kembali. Kos bisa selesai dalam satu tahun, tapi ujian profesi juga butuh waktu. Mungkin lebih. Tapi aku janji, setiap kali aku punya waktu, aku akan pulang. Setiap kali aku bisa, aku akan menghubungimu. Dan ketika aku sudah resmi menjadi dokter, langkah pertamaku akan kembali ke sini. Ke desa ini. Ke kamu.

Anita: (menggenggam tangan Erlangga lebih erat) Aku tidak akan ke mana-mana, Erlang. Aku akan tetap di sini, melakukan apa yang selalu aku lakukan. Menjadi kader, membangun desa ini, menunggu perubahan yang perlahan tapi pasti. Dan sekarang, menunggu kamu. Menunggu adalah hal yang aku kuasai.

Erlangga: (tersenyum) Aku tahu. Dan itu salah satu hal yang membuatku mencintaimu.

Mereka terdiam. Angin malam berembus, membawa wangi bunga kopi dari kebun-kebun warga. Di kejauhan, suara gamelan masih terdengar, bergantian dengan suara tawa warga yang masih merayakan perpisahan. Di atas mereka, langit Awan Biru dipenuhi bintang-bintang—juta titik cahaya yang berkelap-kelip, menyaksikan janji yang baru saja diucapkan.

Anita: (tiba-tiba, suaranya kecil) Erlang, besok kamu pergi. Aku tidak akan menangis di depanmu. Aku tidak mau kamu pergi dengan perasaan bersalah.

Erlangga: (memeluk Anita lagi, lebih erat dari sebelumnya) Kamu boleh menangis, Anita. Kamu boleh. Aku juga akan menangis. Kita akan menangis bersama. Tapi kita tidak akan berpisah selamanya. Ini hanya sementara.

Anita: (air matanya jatuh, meskipun ia berusaha menahannya) Aku tahu. Aku hanya... aku akan merindukanmu, Erlang. Setiap hari.

Erlangga: (air matanya juga jatuh, tidak bisa ditahan lagi) Aku juga akan merindukanmu, Anita. Setiap detik. Tapi ingat, setiap kali kamu melihat kabut biru di pagi hari, itu aku. Setiap kali kamu mendengar suara jangkrik di malam hari, itu aku. Setiap kali kamu mencium wangi kopi dari kebun, itu aku. Aku akan selalu ada, meskipun tidak di sampingmu.

Anita: (tersenyum di antara tangis) Itu terlalu puitis, Erlang. Kamu yakin kamu calon dokter, bukan calon penyair?

Erlangga: (tertawa kecil, mengusap air mata Anita) Aku calon dokter yang jatuh cinta pada kader desa. Dan karena itu, kadang-kadang aku menjadi puitis.

Mereka berdua tertawa di antara tangis, saling mengusap air mata, saling menggenggam tangan. Di bawah cahaya bintang dan bulan sabit, di tengah desa yang perlahan berubah, dua hati yang telah lama mencari akhirnya menemukan satu sama lain.

Di kejauhan, pesta perpisahan masih berlangsung. Guntur menyanyikan lagu terakhirnya, Yulia membacakan puisi yang ditulis oleh Naila, Pak Karyo tertawa lebar bersama warga lain, Bintang tertidur di pangkuan kakeknya dengan senyum di bibirnya. Dan di pematang sawah, Erlangga dan Anita berjanji untuk saling menunggu, saling percaya, dan saling mencintai, sejauh apapun jarak yang akan memisahkan mereka.

Karena cinta, seperti kabut biru yang menyelimuti lembah setiap pagi, tidak perlu terlihat untuk terasa. Ia akan selalu ada, menggantung di udara, membasahi dedaunan, memberi kehidupan pada tanah yang kering. Ia akan menunggu, dengan sabar, hingga matahari terbit dan kabut mencair, dan dua hati yang terpisah akhirnya bertemu kembali.


BAB 9: Surat dari Kota, Doa dari Desa

Tiga bulan telah berlalu sejak mobil box hijau itu meninggalkan halaman balai desa, membawa Erlangga, Dinda, dan Bagas kembali ke hiruk-pikuk kota. Tiga bulan terasa seperti tiga tahun bagi Anita. Bukan karena waktu berjalan lambat, waktu tetap berjalan seperti biasa, matahari terbit dan tenggelam, kabut biru menyelimuti lembah setiap pagi, padi di sawah dipanen dan ditanam kembali. Tapi ada sesuatu yang berubah dalam ritme hidupnya. Ada hening di tempat yang dulu ramai, ada sepi di waktu-waktu yang dulu diisi dengan canda dan tawa. Ada nama yang selalu hadir dalam doanya setiap malam, ada wajah yang terus ia cari di setiap kerumunan, ada suara yang ia rindukan setiap kali angin sore berembus.

Kehidupan di Desa Awan Biru berjalan pada ritmenya yang khas, lambat, tenang, dan penuh dengan kebiasaan yang sudah mengakar. Namun ada semangat baru yang terasa di setiap sudut desa. Semangat yang ditinggalkan oleh tiga bulan kehadiran anak-anak muda dari kota. Semangat yang tidak padam meskipun mereka telah pergi.

Program sanitasi yang sempat menjadi sumber konflik kini berjalan mulus di bawah pengawasan Pak Edi dan Santoso. Pak Edi, yang dulu paling skeptis dengan kehadiran mahasiswa KKN, kini menjelma menjadi koordinator lapangan yang paling bersemangat. Setiap pagi, ia berkeliling dengan sepeda tuanya, memeriksa jamban-jamban yang telah dibangun, memastikan tidak ada yang rusak, dan mencatat rumah-rumah yang masih membutuhkan bantuan. Buku catatannya rapi, dengan data yang tidak kalah detail dari yang pernah dibuat Erlangga. Ia bahkan membuat sistem pemeliharaan bergilir, di mana setiap warga bertanggung jawab membersihkan saluran air di sekitar rumah mereka secara bergantian. Santoso, yang dulu hanya bisa mengkritik dari kursi goyangnya, kini aktif mendampingi Pak Edi, memberikan nasihat dan wejangan kepada warga yang masih enggan menggunakan jamban dengan alasan "ribet".

Posyandu yang sebelumnya sepi, seringkali hanya dihadiri oleh lima atau enam ibu dengan balita, kini rutin didatangi warga. Ibu-ibu datang lebih awal, membawa anak-anak mereka dengan senyum ceria. Mereka tidak lagi takut atau malu untuk menimbang anaknya di depan umum. Mereka tidak lagi menganggap imunisasi sebagai "suntikan yang bikin panas" atau "program pemerintah yang tidak jelas manfaatnya". Mereka datang karena mereka paham. Mereka datang karena mereka sudah melihat buktinya: anak-anak yang rutin dipantau berat badannya tumbuh lebih sehat, yang mendapat imunisasi lengkap lebih jarang sakit. Bidan Amilia, yang dulu harus bekerja sendirian dengan beban yang berat, kini terbantu dengan adanya kader-kader yang lebih terlatih dan lebih percaya diri. Ia tidak lagi harus memeriksa puluhan balita sendirian. Ia tidak lagi harus membujuk ibu-ibu yang keras kepala dengan tenaga yang terbatas. Sekarang, ada Anita, ada Nadya, ada kader-kader baru yang dilatih langsung oleh Erlangga sebelum ia pergi, yang bisa melakukan pengukuran, pencatatan, dan edukasi dasar.

Bintang, cucu Pak Karyo yang dulu kurus kering dengan rambut kemerahan dan mata sayu, kini telah berubah menjadi anak yang paling aktif di desa. Berat badannya sudah mencapai standar untuk anak seusianya. Rambutnya hitam legam dan tebal. Matanya berbinar-binar setiap kali ia berlarian di antara meja-meja warung kakeknya. Ia sudah bisa berlari, sudah bisa bercerita dengan lancar, dan yang paling membanggakan bagi Pak Karyo, ia sudah bisa berhitung sederhana, sesuatu yang diajarkan oleh Erlangga di sela-sela waktu luangnya dulu.

Bintang: (berlari ke arah setiap pelanggan yang datang, dengan semangat yang meluap-luap) Om, Tante, Bintang bisa hitung! Satu, dua, tiga, empat, lima! Abang Erlangga ajarin! Abang Erlangga bilang, kalau Bintang pintar, nanti Bintang jadi dokter!

Pak Karyo hanya bisa tertawa setiap kali melihat cucunya begitu bersemangat. Ia duduk di kursi kayu di depan warungnya, sesekali mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih, matanya mengikuti gerak-gerik Bintang yang tak pernah berhenti bergerak. Di sudut warung, foto Erlangga dan Anita yang diambil Hermansyah saat gotong royong terpampang di dinding, dilaminating rapi, dipajang seperti foto keluarga.

Amat Junior, sepupu Anita, terpilih menjadi ketua Karang Taruna yang baru. Pemilihan berlangsung meriah dua minggu lalu, dengan Yulia dan Guntur saling bersaing secara sehat, tetapi akhirnya mereka sepakat untuk memberikan amanah pada Amat Junior yang dianggap lebih tenang dan memiliki pengalaman organisasi dari kuliahnya di politeknik. Yulia menjadi wakil ketua, Guntur menjadi sekretaris, Naila menjadi bendahara, Camelia menjadi koordinator acara, dan Hermansyah tetap menjadi dokumentator andalan. Mereka memiliki program-program baru yang disusun berdasarkan modul yang ditinggalkan Erlangga: senam sehat setiap hari Minggu pagi, edukasi gizi melalui konten kreatif di media sosial, dan yang paling ambisius, program "Satu Rumah Satu Jamban" yang menargetkan seluruh rumah di desa memiliki jamban layak dalam setahun.

Yulia: (dalam rapat Karang Taruna di posko yang dulu menjadi tempat KKN, suaranya nyaring seperti biasa) Target kita satu tahun, teman-teman. Kita sudah punya tiga puluh jamban dari program sebelumnya. Masih ada enam puluh rumah lagi yang belum punya jamban. Dengan gotong royong dan subsidi dari desa, kita bisa selesaikan dalam satu tahun. Asal kita disiplin dan konsisten.

Guntur: (mencatat dengan rapi di buku catatan barunya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya) Setuju. Tapi kita juga harus memikirkan pemeliharaan. Jangan sampai setelah dibangun, jambannya rusak karena tidak dirawat. Saya usulkan ada sistem monitoring bulanan. Setiap bulan, kita cek jamban-jamban yang sudah dibangun, laporkan kondisinya ke Pak Edi dan Pak Santoso.

Naila: (mengangkat tangan, suaranya bersemangat) Aku setuju! Dan kita juga harus terus mengedukasi. Jangan sampai warga kembali ke kebiasaan lama hanya karena jambannya rusak. Kita bisa bikin konten edukasi rutin. Mas Erlangga dulu sudah kasih template-nya. Tinggal kita kembangkan.

Camelia: (sok dewasa, tetapi matanya berbinar) Dan jangan lupa, kita harus siapkan sambutan untuk Mas Erlangga kalau dia kembali nanti. Aku sudah punya ide. Kita bikin spanduk besar, dekorasi di lapangan desa, dan... (ia tersenyum misterius) kita undang Mbak Anita jadi tamu kehormatan.

Amat Junior: (tertawa) Cam, jangan keburu. Mas Erlangga masih ujian. Doakan dulu biar lulus. Urusan sambutan, nanti kita pikirkan.


Namun, di tengah semangat baru yang menyelimuti desa, ada satu hal yang berubah dari Anita. Perempuan yang dulu dikenal sebagai kader yang paling tegas, paling energik, paling tidak kenal lelah, kini menjadi lebih pendiam. Bukan pendiam yang murung atau cemberut, tetapi pendiam yang penuh dengan lamunan. Di sela-sela tugasnya, seringkali ia terdiam sambil memegang ponselnya, menunggu kabar dari Erlangga yang sedang menjalani kos di rumah sakit pendidikan di kota. Ponsel itu, ponsel lama dengan layar retak di sudut kanan, menjadi benda paling berharga baginya. Ia membawanya ke mana-mana, bahkan ketika ia sedang memeriksa balita di posyandu, bahkan ketika ia sedang membantu gotong royong, bahkan ketika ia sedang tidur di malam hari. Ia tidak ingin melewatkan satu pesan pun, satu telepon pun, satu kabar pun dari Erlangga.

Anita tidak pernah menyangka bahwa menunggu bisa seberat ini. Dulu, ketika ia masih sendiri, menunggu adalah sesuatu yang biasa. Ia menunggu desa berubah, menunggu program yang ia jalankan membuahkan hasil, menunggu warga sadar akan kesehatan. Itu semua menunggu yang panjang, tanpa kepastian, tanpa janji. Tapi menunggu seseorang yang telah mengisi hatinya, itu berbeda. Setiap hari tanpa kabar terasa seperti seminggu. Setiap pesan yang masuk, meskipun hanya "Aku capek, Anita. Doakan aku," terasa seperti cahaya di tengah gelap. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat. Setiap kali ternyata bukan dari Erlangga, ia merasakan kekecewaan yang tidak bisa ia jelaskan.

Suatu siang, saat Anita sedang merapikan laporan posyandu di balai desa, Si Amat mendekatinya. Pria tua itu berjalan dengan langkah pelan, tangannya membawa dua gelas kopi panas, satu untuk dirinya, satu untuk putrinya. Ia duduk di samping Anita tanpa banyak bicara, meletakkan gelas kopi di meja dengan hati-hati. Si Amat sudah melihat perubahan pada putrinya. Ia melihat bagaimana Anita lebih sering melamun, bagaimana matanya lebih sering menatap ponsel daripada buku laporan, bagaimana senyumnya tidak selebar dulu ketika Erlangga masih di sini. Sebagai ayah, ia tahu bahwa putrinya sedang jatuh cinta. Dan sebagai ayah yang pernah merasakan hal yang sama ketika masih muda, ia juga tahu bahwa cinta yang terpisah jarak adalah ujian yang tidak mudah.

Si Amat: (duduk di samping putrinya dengan gerakan lambat, lututnya sudah tidak sekencang dulu, suaranya lembut seperti ketika Anita masih kecil) Masih menunggu kabar dari Mas Erlangga? Aku lihat kamu dari tadi megang ponsel terus. Padahal laporan posyandu bulan ini belum selesai. Biasanya kamu bisa selesai dalam satu jam. Sekarang sudah dua jam, tapi kertas masih kosong.

Anita tersentak. Ia menoleh ke arah ayahnya, lalu ke kertas laporan yang masih kosong di depannya. Ia tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu lama. Ia tidak menyadari bahwa pikirannya telah melayang jauh ke kota, ke rumah sakit besar dengan lorong-lorong panjang, ke seorang pemuda dengan jaket almamater lusuh yang kini sedang sibuk dengan pasien dan operasi.

Anita: (menghela napas, meletakkan ponselnya di atas meja dengan gerakan berat) Iya, Yah. Dia bilang akhir-akhir ini jadwal kos padat. Kadang baru bisa telepon tengah malam. Itu pun hanya sebentar, karena besok pagi harus sudah di rumah sakit lagi. Aku... (ia berhenti, mencari kata-kata yang tepat) aku tidak mau mengeluh, Yah. Aku tahu ini perjuangannya. Tapi kadang...

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Matanya menatap ke luar jendela, ke arah bukit yang mulai diselimuti kabut siang. Di kejauhan, ia bisa melihat sawah yang mulai menghijau setelah panen, dan di pematang sawah itu, ia membayangkan bayangan dua orang yang pernah berdiri di sana, berpelukan di bawah langit senja.

Si Amat: (mengusap kepala Anita dengan lembut, gerakan yang sama ketika Anita masih kecil, ketika ia jatuh dari sepeda, ketika ia gagal ujian, ketika ibunya meninggal, suaranya penuh dengan kasih sayang seorang ayah yang tidak pandai berkata-kata) Kamu harus sabar, Nak. Menjadi seorang dokter itu perjuangan. Bukan hanya belajarnya yang berat, tanggung jawabnya juga besar. Dan menjadi pasangannya... itu juga perjuangan. Aku tahu karena dulu ibumu juga menunggu aku. Dulu, waktu aku masih sibuk dengan administrasi desa, sering pulang malam, kadang tidak pulang sama sekali karena harus menyelesaikan laporan di kantor. Ibu tidak pernah mengeluh. Tapi aku tahu, dia juga menunggu. Seperti kamu sekarang.

Anita menoleh, matanya basah. Selama ini ia hanya melihat ayahnya sebagai admin desa yang sibuk dengan laptop dan laporan. Ia tidak pernah berpikir bahwa di balik semua itu, ada ibunya yang menunggu. Ada perjuangan yang tidak terlihat.

Si Amat: (melanjutkan, suaranya lebih pelan) Tapi aku percaya, kalau dia laki-laki sejati, dia akan menepati janjinya. Aku lihat sendiri bagaimana Mas Erlangga memperlakukan warga, bagaimana ia sabar dengan Pak Karyo, bagaimana ia lembut dengan Bintang, bagaimana ia ikut menggali lumpur tanpa gengsi. Laki-laki seperti itu tidak akan mudah berubah. Laki-laki seperti itu akan berjuang untuk apa yang ia cintai. Termasuk kamu.

Anita tersenyum—senyum yang pertama kali muncul hari itu. Ia meraih tangan ayahnya yang sudah keriput dan penuh kapalan, menggenggamnya erat.

Anita: Terima kasih, Yah. Aku tidak ragu padanya. Aku hanya... (ia menghela napas) kadang aku rindu. Sangat rindu.

Si Amat: (tersenyum, matanya berkaca-kaca) Aku tahu, Nak. Aku tahu.

Di tengah percakapan itu, ponsel Anita bergetar. Keduanya menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja. Layar yang retak di sudut kanan itu menyala, menampilkan nama yang sudah tidak asing lagi: Erlangga. Jantung Anita berdetak cepat. Ia mengambil ponsel dengan tangan yang sedikit gemetar, membaca pesan yang masuk dengan saksama.

Pesan Erlangga: "Anita, maaf baru bisa on. Hari ini ada operasi besar dari pagi. Pasiennya anak kecil, umur tujuh tahun, patah tulang karena kecelakaan. Operasinya rumit, lima jam. Aku capek, bukan karena fisiknya, tapi karena tegangnya. Tapi syukur, pasien selamat. Sekarang sudah sadar, sudah bisa tersenyum. Aku kangen desa, Anita. Aku kangen kabut biru di pagi hari, kangen suara jangkrik di malam hari, kangen Bintang yang selalu minta diajarin hitung, kangen kopi pahit di warung Pak Karyo, kangen... kamu. Aku kangen kamu, Anita. Ujian profesi tinggal dua bulan lagi. Aku janji, setelah lulus, aku langsung ke sana. Doakan aku ya. Aku harus bisa. Untuk desa ini. Untuk kamu."

Air mata Anita jatuh. Bukan karena sedih, tapi karena haru. Ia membaca pesan itu berulang kali, membiarkan setiap kata meresap ke dalam hatinya. Ia membayangkan Erlangga yang lelah setelah operasi panjang, duduk di balkon kos-kosannya yang sempit, menatap langit malam yang tidak sempurna karena polusi cahaya, dan merindukan desa ini. Merindukannya.

Anita: (mengetik balasan dengan jari yang gemetar, air mata masih jatuh membasahi layar ponsel) "Aku selalu mendoakanmu, Erlang. Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu berdoa untukmu. Desa ini baik-baik saja. Program sanitasi berjalan lancar, Pak Edi rajin sekali memantau. Posyandu ramai, Bu Amilia sampai kewalahan melayani. Bintang sudah naik berat badannya lagi, sekarang sudah tiga belas kilogram. Amat Junior jadi ketua Karang Taruna yang baru, Yulia wakilnya, Guntur sekretaris. Mereka punya program-program baru. Aku... juga kangen. Setiap hari. Setiap kali aku melihat kabut biru di pagi hari, aku ingat kamu. Setiap kali aku mendengar suara jangkrik di malam hari, aku ingat kamu. Setiap kali aku mencium wangi kopi dari kebun, aku ingat kamu. Semangat, Erlang. Aku tunggu. Aku akan selalu menunggu."

Ia menekan tombol kirim, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Tangannya masih gemetar, air matanya masih jatuh, tetapi senyumnya lebar. Si Amat yang melihat putrinya, hanya tersenyum dan menepuk pundaknya pelan.

Si Amat: Sudah? Lega sekarang?

Anita: (mengusap air matanya dengan punggung tangan, tersenyum) Iya, Yah. Lega. Aku hanya perlu mendengar kabarnya. Tahu bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia masih ingat janjinya. Itu sudah cukup.

Si Amat: (mengangguk, bangkit dari kursinya) Ayo selesaikan laporanmu. Nanti malam aku buatkan sayur asem kesukaanmu. Biar kamu semangat.

Anita: (tersenyum) Terima kasih, Yah. Aku sayang ayah.

Si Amat: (berbalik, menyembunyikan air mata yang jatuh) Aku juga sayang kamu, Nak.


Sementara itu, di kota, Erlangga duduk di balkon kos-kosannya yang sempit. Kos-kosan itu terletak di lantai tiga sebuah rumah petak di pinggiran kota, dekat dengan rumah sakit pendidikan tempat ia menjalani koas. Kamarnya hanya berukuran tiga kali empat meter, dengan kasur tipis, meja belajar penuh buku, dan lemari kecil yang hampir tidak muat untuk pakaiannya. Tapi ada satu benda yang selalu ia tempatkan di meja belajarnya, di samping tumpukan buku kedokteran yang tebal: buku catatan lapangan saat KKN di Desa Awan Biru. Buku itu sudah lusuh, sampulnya mulai terlepas, halaman-halamannya penuh dengan catatan tentang desa, tentang warga, tentang data kesehatan, tentang program-program yang mereka jalankan. Dan di halaman terakhir, ada foto yang ditempel dengan selotip—foto Anita sedang tersenyum di depan balai desa, dengan kabut biru di belakangnya.

Malam itu, langit kota tidak bersahabat. Polusi cahaya dari lampu-lampu jalan dan gedung-gedung tinggi membuat bintang-bintang hampir tidak terlihat. Hanya bulan yang masih setia, meskipun cahayanya redup tertutup kabut asap. Erlangga menatap langit itu dengan rindu yang mendalam. Ia membayangkan langit Awan Biru yang bersih, dengan jutaan bintang yang berkelap-kelip, dengan bulan sabit yang terang, dengan kabut biru yang merayap turun dari puncak bukit. Ia membayangkan Anita berdiri di halaman rumahnya, menatap langit yang sama, merindukannya seperti ia merindukan Anita.

Erlangga: (bergumam pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar, tangannya memegang buku catatan lapangan yang selalu ia baca sebelum tidur) Aku akan kembali, Anita. Tunggu aku. Aku tidak akan mengingkari janji. Aku akan menjadi dokter yang bisa membanggakan desa itu. Yang bisa membanggakan kamu.

Ia membuka buku catatannya, membaca halaman demi halaman. Catatan tentang Pak Karyo yang keras kepala. Catatan tentang Bintang yang stunting. Catatan tentang air sungai yang tercemar E. coli. Catatan tentang wabah ISPA yang melanda desa. Catatan tentang gotong royong jamban. Catatan tentang senyum Anita ketika ia membersihkan busi motor tuanya. Semua itu masih segar dalam ingatannya, seperti baru terjadi kemarin.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Anita masuk. Ia membacanya dengan saksama, membiarkan setiap kata meresap ke dalam hatinya. Air matanya jatuh—bukan karena sedih, tapi karena haru. Ia membayangkan Anita duduk di balai desa, di tempat yang sama di mana mereka pertama kali bertemu, menulis pesan dengan jari yang gemetar, air mata membasahi layar ponsel. Ia membayangkan desa yang sedang berubah, program yang terus berjalan, Bintang yang semakin sehat, Amat Junior yang menjadi ketua Karang Taruna. Dan ia membayangkan Anita, perempuan yang memilih menunggunya, yang percaya padanya, yang mencintainya meskipun jarak memisahkan.

Erlangga: (mengetik balasan, suaranya tidak terdengar tetapi hatinya berbicara) "Terima kasih, Anita. Untuk setiap doa, untuk setiap pesan, untuk setiap detik yang kamu luangkan untuk memikirkanku. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan menyelesaikan ini. Aku akan kembali. Dan aku akan menjadi dokter yang layak untuk desa ini, yang layak untukmu."

Ia mengirim pesan itu, lalu meletakkan ponselnya di samping buku catatan. Ia menatap foto Anita yang terselip di halaman terakhir, senyumnya yang tulus, matanya yang berbinar, kebaya biru yang ia kenakan di acara perpisahan. Ia tersenyum, lalu memejamkan mata. Besok pagi, ia harus bangun pukul lima untuk persiapan operasi lagi. Tapi malam ini, ia akan membiarkan dirinya merindukan, membiarkan hatinya terasa berat, karena ia tahu bahwa di seberang sana, ada seseorang yang juga merindukannya.


Keesokan harinya, di warung Pak Karyo, suasana seperti biasa: ramai, hangat, dan penuh dengan cerita. Pak Karyo sedang meracik kopi untuk para pelanggan yang mulai berdatangan. Bintang duduk di pangkuannya, sesekali menyuap keripik telur ke mulut kakeknya dengan canggung tapi penuh semangat. Di meja-meja kayu yang sudah agus usang, duduk Bu Yuni, Pak Eko, Bu Lulu, dan beberapa warga lain. Mereka sedang membicarakan kabar terbaru dari Erlangga, kabar yang diterima Anita kemarin dan langsung menyebar ke seluruh desa dalam hitungan jam. Di desa seperti Awan Biru, tidak ada yang benar-benar bisa menjadi rahasia. Setiap kabar baik akan segera tersebar, dibawa oleh angin, dibicarakan di warung kopi, didoakan bersama.

Bu Yuni: (sambil menyesap kopinya, matanya berbinar-binar) Kabarnya Mas Erlangga mau ujian, ya? Dua bulan lagi katanya. Doain semoga lancar. Aku dengar dari Anita, beliau sekarang lagi koas di rumah sakit besar. Tangani operasi pasien anak kemarin. Lima jam operasinya, katanya.

Pak Karyo: (sambil meracik kopi untuk pelanggan baru, tangannya masih lincah meskipun usianya sudah tidak muda, suaranya penuh kebanggaan) Iya, Bu. Saya tadi pagi juga kirim pesan ke beliau. Saya bilang, "Mas, kalau lulus, jangan lupa bagi-bagi telur ke warga." Hahaha. Saya sudah siapkan stok telur ayam kampung khusus untuk acara itu. Dua kardus, tidak, tiga kardus! Yang penting anak muda bahagia.

Bu Lulu: (yang duduk di pojok dengan buku catatan dan kalkulator di tangannya—karena baginya, setiap acara harus dihitung dengan cermat, suaranya serius tetapi matanya tersenyum) Eh, jangan main-main. Kalau Mas Erlangga lulus, kita harus siapkan sambutan meriah. Ini bukan sembarang acara. Ini penyambutan dokter pertama yang akan bertugas di desa kita. Saya usulkan anggaran untuk acara penyambutan. Kita hitung-hitung dulu: konsumsi, dekorasi, sound system, honor untuk pemain musik, dan... (ia mulai menekan-nekan kalkulator dengan jari yang lincah) mungkin kita perlu alokasi dana desa untuk ini.

Pak Eko: (menghela napas, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan, kipasnya bergerak lambat karena cuaca tidak terlalu panas) Bu Lulu, apapun selalu dianggarkan. Tapi itu ide bagus. Kita akan sambut beliau sebagai dokter desa pertama kita. Sudah sepantasnya kita memberikan penghormatan. Tapi jangan keburu, Bu. Belum lulus, belum jelas penempatannya. Doakan dulu.

Pak Karyo: (meletakkan gelas kopi di depan Bu Yuni, lalu duduk di kursi di samping meja, suaranya sedikit serak tetapi penuh keyakinan) Doa kita semua sudah menyertai Mas Erlangga. Saya setiap malam berdoa, "Ya Allah, luluskan Mas Erlangga. Jadikan dia dokter yang baik. Dan kembalikan dia ke desa kami." Bintang juga ikut berdoa. Tadi malam dia bilang, "Ya Allah, Abang Erlangga jadi dokter. Bintang mau jadi dokter juga." Hahaha. Anak kecil itu polos, tapi doanya paling kuat.

Semua yang hadir tersenyum. Pak Iwan yang baru saja datang dengan langkah mantapnya, langsung duduk di kursi kehormatan yang biasa disediakan untuknya. Ia sudah mendengar kabar dari Bu Yuni, dan wajahnya pagi itu berseri-seri seperti orang yang baru menerima kabar gembira.

Pak Iwan: (setelah duduk, memesan kopi dari Pak Karyo dengan lambaian tangan, suaranya penuh wibawa tetapi hangat) Saya sudah bicara dengan puskesmas kecamatan minggu lalu. Mereka sangat mendukung kalau Mas Erlangga bertugas di sini. Asalkan beliau bersedia. Puskesmas bahkan sudah menyiapkan program pendampingan untuk dokter muda yang baru lulus. Tapi semua tergantung Mas Erlangga. Kita tidak bisa memaksakan.

Santoso: (yang duduk di kursi rotan di sudut warung, dengan tongkat di tangan dan kipas bambu yang bergerak lambat, suaranya dalam dan bijak) Biarlah. Itu pilihan hidupnya. Yang penting kita dukung dan doakan. Kalau dia memilih kembali ke sini, kita sambut dengan suka cita. Kalau dia memilih jalan lain, kita tetap doakan yang terbaik. Tapi saya yakin... (ia tersenyum, matanya menatap ke arah balai desa di kejauhan) Mas Erlangga akan kembali. Saya lihat sendiri bagaimana dia mencintai desa ini. Dan bagaimana dia mencintai Anita.

Bu Yuni: (tersenyum misterius, suaranya penuh arti) Itu rahasia umum, Pak Santoso. Semua orang sudah tahu. Yang belum tahu mungkin hanya mereka berdua. Tapi lihat sekarang, mereka sudah saling mengakui. Tinggal menunggu waktu saja.

Pak Eko: (tertawa) Bu Yuni, jangan keburu. Urusan hati itu butuh proses. Yang penting sekarang, kita doakan semuanya lancar. Mas Erlangga lulus ujian, kembali ke desa, dan... (ia menoleh ke Bu Lulu) Bu Lulu sudah siap dengan anggarannya.

Bu Lulu: (mengangguk serius) Siap. Saya sudah punya draft. Tinggal finalisasi. Yang penting Mas Erlangga kasih kabar satu bulan sebelumnya, supaya saya punya waktu untuk mengalokasikan anggaran.

Semua tertawa. Pak Karyo sampai menumpahkan kopi lagi, tetapi ia hanya tertawa dan mengelapnya dengan lap tangan. Bintang ikut tertawa, meskipun tidak mengerti apa yang lucu. Ia sibuk dengan keripik telur di tangannya, sesekali menatap ke arah jalan desa, berharap melihat Abang Erlangga lewat dengan senyum khasnya.


Malam harinya, di rumah Anita, suasana berbeda. Si Amat sudah menyiapkan sayur asem kesukaan Anita, resep almarhumah istrinya yang selalu ia masak setiap kali Anita sedang sedih atau lelah. Aroma asam segar dari sayur asem memenuhi rumah sederhana itu, bercampur dengan wangi dupa yang menyala di depan foto almarhumah, foto seorang perempuan dengan senyum lembut yang sangat mirip dengan Anita. Meja makan telah ditata sederhana: nasi hangat, sayur asem, tahu tempe goreng, dan sambal terasi yang dibuat Si Amat dengan resep andalannya.

Anita duduk di kursi kayu di ruang tamu, buku laporan posyandu yang tadi siang belum selesai kini sudah rapi di atas meja. Matanya tidak lagi menatap ponsel—ia sudah mengirim pesan pada Erlangga sore tadi, dan ia tahu pemuda itu sedang sibuk dengan jadwal malam di rumah sakit. Ia tidak ingin mengganggu. Ia akan menunggu hingga tengah malam, seperti yang sudah menjadi kebiasaannya.

Di tangannya, ia memegang foto Erlangga, foto yang diambil Hermansyah saat acara perpisahan, ketika Erlangga berdiri di panggung dengan mikrofon di tangan, matanya berkaca-kaca, senyumnya penuh haru. Foto itu sudah dilaminating, diselipkan di buku kerja yang selalu ia bawa ke mana-mana. Malam ini, ia memandanginya lebih lama, seolah ingin mengingat setiap detail wajah pemuda itu: mata yang teduh, senyum yang tulus, garis rahang yang tegas, rambut yang sedikit berantakan karena helm.

Anita: (berbisik, suaranya nyaris tak terdengar, matanya tidak lepas dari foto itu) Aku rindu, Erlang. Sangat rindu. Tapi aku akan menunggu. Aku tidak akan menyerah. Aku percaya pada janjimu.

Ia meletakkan foto itu di atas meja, di samping buku laporan. Lalu ia menutup matanya, menggenggam kedua tangannya di pangkuan. Doa-doa ia panjatkan—bukan doa yang rumit, bukan doa yang panjang, tetapi doa yang tulus, yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Ya Allah, jagalah dia. Jaga kesehatannya, jaga semangatnya, jaga hatinya. Beri dia kekuatan untuk menyelesaikan apa yang sudah ia mulai. Beri dia ketenangan di tengah kesibukan yang melelahkan. Dan jika Engkau berkenan, kembalikan dia ke sini. Kembalikan dia ke desa ini, ke orang-orang yang mencintainya, ke... aku. Aku tidak meminta yang mudah. Aku hanya meminta kesempatan untuk berjuang bersamanya. Amin.

Si Amat yang berdiri di ambang pintu dapur, melihat putrinya berdoa dengan mata terpejam. Air matanya jatuh—bukan karena sedih, tetapi karena haru. Ia melihat Anita, anaknya yang dulu kecil berlarian di halaman, yang sekarang telah menjadi perempuan dewasa yang kuat, yang teguh, yang mencintai dengan sepenuh hati. Ia melihat kesamaan dengan almarhumah istrinya—cara Anita berdoa, cara ia menggenggam tangannya, cara ia menundukkan kepalanya dengan penuh ketulusan. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu melangkah mendekat.

Si Amat: (suaranya lembut, tidak ingin mengganggu doa putrinya) Anita, makan dulu. Sayur asemnya sudah dingin.

Anita membuka matanya. Ia menatap ayahnya yang berdiri di sampingnya dengan mata yang basah tetapi senyum yang tulus.

Anita: (tersenyum) Iya, Yah. Aku lapar.

Si Amat: (duduk di samping Anita, mengambil foto Erlangga dari atas meja, memandanginya sebentar, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati) Anita, ayah ingin bilang sesuatu.

Anita: (menatap ayahnya) Apa, Yah?

Si Amat: (menghela napas, mengumpulkan kata-kata) Ayah bangga padamu. Bukan karena kamu menjadi kader yang baik, bukan karena kamu membantu banyak orang, bukan karena kamu dicintai oleh desa ini. Tapi karena kamu tidak berubah. Kamu tetap Anita yang ayah kenal sejak kecil: teguh, setia, dan tidak mudah menyerah. Itu semua warisan ibumu. Dan ayah yakin, dengan sikap itu, kamu akan melewati masa-masa sulit ini. Kamu akan bertemu dengan kebahagiaan yang kamu cari.

Anita tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk ayahnya, pelukan yang jarang ia lakukan sejak dewasa, tetapi kali ini terasa begitu alami.

Anita: (terisak di bahu ayahnya) Terima kasih, Yah. Aku sayang ayah.

Si Amat: (membalas pelukan putrinya, suaranya serak karena menahan tangis) Aku juga sayang kamu, Nak. Sekarang, ayo makan. Nanti aku ceritain tentang ibumu dulu. Tentang bagaimana dia menunggu ayah, dan bagaimana ayah akhirnya sadar bahwa dia adalah orang yang paling berharga dalam hidup ayah.

Anita: (melepaskan pelukan, mengusap air matanya, tersenyum) Iya, Yah. Aku mau dengar.

Mereka berdua duduk di meja makan, menikmati sayur asem yang hangat, ditemani oleh aroma dupa dan kenangan tentang seorang perempuan yang telah tiada, tetapi cintanya masih terasa hingga sekarang. Di luar, langit Awan Biru dipenuhi bintang-bintang, berkelap-kelip menyaksikan doa-doa yang dipanjatkan dari desa kecil di lereng perbukitan. Doa dari seorang ayah untuk putrinya, doa dari seorang perempuan untuk pria yang ia cintai, doa dari warga untuk dokter muda yang telah memilih desa ini sebagai rumah keduanya.

Dan di kota, di balkon kos-kosan yang sempit, Erlangga menatap langit malam yang redup, tetapi ia tidak merasa sendirian. Ia merasakan doa-doa yang mengalir dari desa, dari Anita, dari Pak Karyo, dari Bintang, dari semua orang yang ia cintai. Ia merasakan kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh selimut atau jaket tebal. Ia tersenyum, lalu kembali ke meja belajarnya, membuka buku kedokteran yang tebal, dan melanjutkan perjuangannya. Untuk desa itu. Untuk Anita. Untuk masa depan yang telah ia janjikan.


BAB 10: Titik Nol Perjalanan Baru

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Enam bulan setelah mobil box hijau itu meninggalkan Desa Awan Biru, setelah ratusan pesan singkat yang terjalin di tengah malam, setelah puluhan telepon yang terputus karena sinyal, setelah air mata yang jatuh di kedua tempat yang terpisah jarak, enam bulan yang terasa seperti enam tahun bagi dua hati yang saling merindu, Erlangga menyelesaikan ujian profesi dokter dengan hasil yang memuaskan. Tidak sekadar lulus, ia lulus dengan predikat cumlaude, sebuah pencapaian yang membuat namanya tercatat sebagai salah satu lulusan terbaik di angkatannya. Dosen-dosennya berbangga, teman-temannya memberi selamat, dan keluarganya di kota menyambut dengan haru dan bangga.

Namun bagi Erlangga, selembar ijazah dan segel dokter bukanlah tujuan akhir. Itu hanyalah tiket menuju sebuah perjalanan baru, perjalanan yang telah ia janjikan pada dirinya sendiri, pada sebuah desa di lereng perbukitan, pada seorang perempuan yang telah mengajarinya arti cinta dan pengabdian. Tanpa menunggu lama, ia segera mempersiapkan diri untuk kembali ke Desa Awan Biru. Ia sudah mendaftarkan diri pada program penempatan dokter muda di daerah terpencil, dan secara resmi, Desa Awan Biru telah menjadi pilihan pertamanya. Puskesmas kecamatan menyambut dengan antusias, Pak Iwan sudah menyiapkan rumah dinas sederhana di belakang kantor desa, dan warga sudah mulai bergotong royong membersihkan bangunan yang akan menjadi tempat praktik dokter pertama di desa itu.

Namun sebelum semua itu, Erlangga harus menghadapi satu rintangan terakhir: keluarganya.


Di rumah besar keluarga Erlangga di ibu kota provinsi, suasana berbeda dari biasanya. Rumah itu adalah rumah bergaya kolonial dengan halaman luas yang dihiasi pohon-pohon jati dan bunga-bunga yang dirawat dengan rapi. Tembok putihnya bersih, jendela-jendela kayunya mengilap, dan di dalamnya terdapat perabotan antik yang diwariskan turun-temurun. Rumah ini telah menjadi saksi bisu perjalanan keluarga dokter selama tiga generasi. Kakek Erlangga adalah dokter pertama di keluarganya, seorang dokter umum yang membuka praktik di kota ini pada tahun 1960-an. Ayahnya, Dr. Hermawan, adalah dokter spesialis bedah yang namanya dikenal di seluruh provinsi, seorang profesor di fakultas kedokteran universitas negeri, dan konsultan di tiga rumah sakit besar. Ibunya, Dr. Larasati, adalah dokter spesialis anak yang memilih berhenti praktik setelah menikah untuk fokus membesarkan Erlangga dan adik perempuannya.

Erlangga adalah anak pertama, harapan keluarga untuk melanjutkan tradisi kedokteran. Sejak kecil, ia sudah dididik untuk menjadi dokter yang hebat, bukan hanya dokter biasa, tetapi dokter spesialis dengan reputasi nasional, seperti ayahnya. Setiap langkahnya diatur, setiap pilihannya diarahkan, setiap mimpinya dibentuk oleh ekspektasi yang telah terpasang jauh sebelum ia mengerti apa artinya menjadi dokter.

Malam itu, Erlangga duduk di ruang keluarga yang luas, di kursi kayu jati yang sama sejak ia kecil. Di depannya, di meja panjang dengan taplak renda putih, tergeletak beberapa lembar surat: satu surat penawaran residensi bedah di Rumah Sakit Pusat Pendidikan Universitas Sejahtera—program yang paling bergengsi, yang hanya menerima tiga lulusan terbaik setiap tahunnya. Erlangga adalah salah satu dari tiga orang yang diterima. Satu surat lagi adalah surat penempatan dokter muda dari Kementerian Kesehatan, dengan pilihan daerah tugas yang bisa diisi sendiri. Di kolom pilihan pertama, Erlangga telah menulis dengan tegas: Desa Awan Biru, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Malang. Di kolom alasan, ia menulis: "Mengabdi kepada masyarakat yang belum terjangkau pelayanan kesehatan yang memadai, sebagai wujud implementasi ilmu yang telah diperoleh."

Ayah Erlangga, Dr. Hermawan, duduk di kursi kebesarannya di ujung meja. Pria berusia 58 tahun itu masih tampak tegap, dengan rambut yang mulai memutih di pelipis dan kacamata baca yang selalu tergantung di saku kemejanya. Wajahnya yang biasanya hangat dan ramah terhadap pasien, malam itu tampak tegang. Matanya yang tajam menatap surat-surat yang tergeletak di meja, lalu menatap putranya yang duduk di hadapannya dengan postur tegap namun mata yang tenang.

Ayah Erlangga: (suaranya berat, tidak tinggi tetapi penuh tekanan, seperti seorang profesor yang sedang menguji mahasiswanya) Erlangga, saya sudah membaca surat ini. Penawaran residensi bedah dari rumah sakit pusat. Program terbaik di universitas ini. Hanya tiga orang yang diterima setiap tahun, dan kamu salah satunya. Kamu tahu apa artinya ini? Ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali. Dua tahun residensi, lalu kamu akan menjadi spesialis bedah. Setelah itu, dunia akan terbuka untukmu. Kamu bisa praktik di mana saja, mengabdi di mana saja, bahkan menjadi profesor seperti saya jika kamu mau.

Ia mengambil surat penawaran residensi, menatapnya seolah surat itu adalah benda paling berharga yang pernah ia terima.

Ayah Erlangga: Tapi kamu... (suaranya mulai naik sedikit, menunjukkan emosi yang selama ini ia tahan) kamu menolaknya? Kamu memilih untuk menjadi dokter umum di desa terpencil? Kamu serius, Erlangga?

Erlangga duduk tegap di kursinya. Ia tidak membungkuk, tidak menunduk, tidak menunjukkan keraguan yang mungkin ia rasakan di dalam hati. Ia menatap ayahnya dengan mata yang jujur dan tenang—mata yang sama ketika ia pertama kali berdiri di hadapan Pak Edi yang skeptis, ketika ia membujuk Pak Karyo yang keras kepala, ketika ia mengaku cinta pada Anita di pematang sawah.

Erlangga: (suaranya mantap, tidak tergesa, setiap kata terucap dengan penuh kesadaran) Ayah, saya serius. Ini bukan penolakan terhadap residensi. Ini penundaan. Saya tidak mengatakan tidak akan pernah mengambil spesialisasi. Tapi saya ingin mengabdi dulu di tempat yang membutuhkan saya. Di desa itu, Ayah, tidak ada dokter. Satu kecamatan hanya punya satu puskesmas dengan dua dokter umum yang kewalahan melayani ribuan pasien. Bidan desa harus bekerja sendirian tanpa dokter pendamping. Ibu hamil harus berjalan satu jam ke puskesmas untuk memeriksakan kehamilan. Anak-anak balita menderita stunting karena gizi buruk yang sebenarnya bisa dicegah. Mereka butuh dokter. Mereka butuh saya. Sekarang, bukan nanti setelah saya jadi spesialis.

Ayah Erlangga terdiam. Jari-jarinya yang biasa memegang pisau bedah dengan ketelitian luar biasa, kini gemetar sedikit menahan emosi.

Ayah Erlangga: (suaranya sedikit serak, tetapi masih berusaha tegar) Erlang, saya tidak melarangmu mengabdi. Saya bangga kamu punya jiwa pengabdian. Tapi setidaknya, ambil residensi dulu. Dua tahun. Setelah kamu menjadi spesialis, kamu bisa mengabdi di mana saja. Bahkan di desa itu. Kamu akan lebih berguna sebagai dokter spesialis daripada dokter umum. Pikirkan itu.

Ibu Erlangga, Dr. Larasati, yang duduk di samping suaminya dengan sapu tangan di tangan, tidak bisa menahan air matanya lagi. Perempuan yang dulu dikenal sebagai dokter anak yang tangguh, yang bisa menenangkan pasien kecil yang menangis dengan senyumnya, malam itu menangis di depan putranya.

Ibu Erlangga: (suaranya terputus-putus, air mata mengalir di pipinya yang masih terawat) Nak... ibu tidak melarangmu mengabdi. Ibu bangga kamu mau membantu orang-orang yang membutuhkan. Tapi... (ia menangis sebentar, berusaha mengumpulkan kata-kata) ibu khawatir. Kamu akan jauh dari kami. Kamu akan hidup di desa dengan fasilitas yang minim. Kamu tidak punya pengalaman hidup di tempat seperti itu. Apa kamu siap? Apa kamu yakin tidak akan menyesal?

Erlangga berdiri dari kursinya. Ia berjalan mengelilingi meja, lalu duduk di samping ibunya. Ia meraih tangan ibunya yang dingin dan gemetar, menggenggamnya erat-erat.

Erlangga: (suaranya lembut, penuh kasih sayang) Ma, aku sudah tinggal di desa itu selama tiga bulan. Aku tahu bagaimana rasanya mandi dengan air sumur yang dingin, tidur di kasur tipis dengan suara jangkrik dan kodok, berjalan di jalan berbatu yang licin saat hujan. Aku sudah merasakan semua itu, Ma. Dan aku tidak menyesal. Aku justru menemukan sesuatu yang tidak pernah aku temukan di kota ini. Aku menemukan makna menjadi dokter yang sesungguhnya. Bukan tentang ruang operasi mewah atau gaji besar. Tapi tentang senyum seorang kakek yang cucunya akhirnya sehat, tentang pelukan seorang ibu yang anaknya tidak lagi stunting, tentang kepercayaan warga yang dulu skeptis kini datang dengan sukarela ke posyandu.

Ia mengusap air mata di pipi ibunya dengan lembut.

Erlangga: Aku sudah berjanji pada mereka, Ma. Aku sudah berjanji pada seorang anak kecil bernama Bintang yang bermimpi menjadi dokter seperti aku. Aku sudah berjanji pada seorang kakek tua yang dulu keras kepala dan sekarang menjadi juru bicara kesehatan di warungnya. Aku sudah berjanji pada seorang kepala desa yang telah menyiapkan rumah dinas untukku. Dan aku sudah berjanji pada... (ia berhenti, tersenyum) pada seseorang yang telah mengajarkanku arti cinta dan pengabdian. Aku tidak bisa mengingkari janji itu, Ma.

Ibu Erlangga terdiam. Air matanya masih jatuh, tetapi senyum mulai muncul di bibirnya. Ia melihat putranya—bukan lagi anak kecil yang dulu ia gendong, bukan lagi remaja yang ia khawatirkan, tetapi seorang laki-laki dewasa yang tahu apa yang ia inginkan dan berani memperjuangkannya.

Ibu Erlangga: (suaranya lembut, penuh cinta) Kamu sangat mirip ayahmu dulu. Waktu dia memutuskan untuk mengambil spesialisasi bedah, kakekmu marah besar. Kakekmu ingin dia jadi dokter umum seperti beliau, praktik di kota ini, meneruskan praktik keluarga. Tapi ayahmu bersikeras. Dia bilang, panggilannya adalah di ruang operasi, menyelamatkan nyawa yang hampir putus. Dan sekarang, lihatlah... (ia menoleh ke suaminya, tersenyum) dia menjadi dokter bedah yang dihormati. Mungkin kamu juga sama. Panggilanmu berbeda, tapi keteguhanmu sama.

Ayah Erlangga yang sedari tadi diam, mendengarkan percakapan antara istri dan putranya. Wajahnya yang tegang perlahan melunak. Ia menghela napas panjang—napas yang berat, yang menandakan bahwa ia sedang berperang dengan dirinya sendiri antara kebanggaan dan kekhawatiran, antara harapan dan realitas.

Ayah Erlangga: (setelah hening yang lama, suaranya dalam tetapi lembut) Kamu mirip aku dulu, Nak. Aku dulu juga memilih jalan yang tidak disukai kakekmu. Aku dulu ingin jadi dokter bedah, sementara kakekmu ingin aku meneruskan praktik umumnya. Kami bertengkar berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Tapi lihat, aku berhasil. Bukan karena aku membuktikan bahwa aku benar, tapi karena aku mengikuti panggilan hatiku. Dan sekarang, melihatmu berdiri di sini, dengan keyakinan yang sama, aku... (ia berhenti, menelan ludah) aku bangga.

Ia berdiri, berjalan mengelilingi meja, dan berdiri di hadapan putranya. Tangannya yang kekar—tangan yang telah melakukan ribuan operasi, tangan yang telah menyelamatkan ratusan nyawa—diletakkannya di pundak Erlangga.

Ayah Erlangga: Baiklah, kalau itu pilihanmu, aku akan dukung. Tapi aku punya satu syarat.

Erlangga: (matanya berbinar) Syarat apa pun, Ayah. Aku terima.

Ayah Erlangga: Dua tahun. Kamu mengabdi di desa itu selama dua tahun. Setelah itu, kamu harus mempertimbangkan lagi untuk mengambil spesialisasi. Bukan karena aku tidak percaya dengan pilihanmu, tapi karena aku tahu bahwa ilmu itu harus terus dikembangkan. Menjadi dokter umum yang baik itu mulia, tapi menjadi dokter spesialis yang baik dan mengabdi di daerah terpencil akan lebih mulia. Kamu bisa membawa lebih banyak manfaat bagi lebih banyak orang. Setuju?

Erlangga: (tersenyum lebar, mengangguk tegas) Setuju, Ayah. Aku janji. Dua tahun di desa, dan setelah itu aku akan mempertimbangkan spesialisasi. Tapi Ayah harus janji juga, kalau nanti aku memutuskan untuk tetap di desa, Ayah tidak boleh memaksa.

Ayah Erlangga: (tertawa kecil, pertama kali malam itu) Kamu ini, sudah mulai berani bernegosiasi dengan ayahmu. Baik, aku janji. Tapi satu lagi...

Erlangga: (mengangkat alis) Ada apa lagi, Yah?

Ayah Erlangga: (tersenyum misterius) Ibu bilang, kamu berjanji pada seseorang di desa itu. Siapa dia? Jangan-jangan ini alasan sebenarnya kamu ingin kembali ke sana? Bukan karena pengabdian, tapi karena... (ia menatap putranya dengan tatapan tajam tetapi hangat) cinta?

Erlangga tersenyum malu. Wajahnya yang biasanya tenang dan percaya diri, mendadak memerah seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Ia menunduk, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, gestur yang sama ketika ia pertama kali bertemu Anita di balai desa.

Erlangga: (suaranya kecil, malu-malu) Sebenarnya... ada satu lagi yang ingin aku sampaikan, Yah, Ma. Tapi aku takut Ayah dan Ibu tidak setuju.

Ibu Erlangga: (matanya berbinar, segera bangkit dari kursinya) Astaga, jangan-jangan... (ia menoleh ke suaminya) Pak, ini dia. Aku sudah duga sejak Erlang bercerita tentang desa itu terus-menerus. Ada perempuan di sana, ya?

Erlangga: (mengangguk pelan, senyumnya tidak bisa disembunyikan) Namanya Anita, Ma. Dia adalah Kader Pembangunan Manusia di desa itu. Dia yang mendampingi aku selama KKN. Dia yang mengajarkan aku arti pengabdian sejati. Dia... (ia mencari kata-kata) dia adalah perempuan paling kuat, paling teguh, paling berani yang pernah aku temui. Dan aku... aku ingin mempersuntingnya, Ma. Aku ingin Ayah dan Ibu merestui.

Ibu Erlangga tidak bisa menahan harunya. Ia memeluk putranya erat-erat, air matanya jatuh membasahi bahu kemeja Erlangga.

Ibu Erlangga: (terisak di bahu putranya) Astaga, Erlang... kamu benar-benar mengejutkan ibumu hari ini. Tadi tentang desa, sekarang tentang perempuan. Apa lagi yang kamu sembunyikan dari ibu?

Erlangga: (tertawa kecil, membalas pelukan ibunya) Tidak ada lagi, Ma. Itu saja. Aku janji.

Ayah Erlangga yang melihat adegan itu, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Ia berjalan mendekat, menepuk pundak putranya dengan penuh kebanggaan.

Ayah Erlangga: (suaranya penuh kehangatan) Jadi, ini alasanmu sebenarnya? Perempuan desa yang membuatmu betah di tempat itu?

Erlangga: (melepaskan pelukan ibunya, menatap ayahnya dengan mata yang jujur) Bukan hanya karena itu, Yah. Tapi ya, dia adalah salah satu alasan terbesar aku ingin kembali. Dia adalah perempuan yang tidak pernah mengeluh meskipun berjuang sendirian selama dua tahun. Dia menggunakan uang pribadinya untuk membeli obat ketika stok habis. Dia keliling desa di tengah hujan untuk memeriksa balita yang sakit. Dia menangis di kamar sendirian ketika ada warga yang meninggal karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Dan dia... (ia tersenyum) dia membuatku mengerti bahwa cinta tidak perlu mewah. Cinta adalah tentang dua orang yang memilih untuk berjuang bersama, meskipun jalan di depan tidak selalu mudah.

Ayah Erlangga terdiam. Ia menatap putranya—bukan lagi sebagai anak yang harus diarahkan, tetapi sebagai seorang laki-laki dewasa yang telah menemukan apa yang ia cari. Ia mengingat masa mudanya, ketika ia juga berjuang untuk cinta dan panggilan hatinya. Ia mengingat bagaimana ia meyakinkan ayahnya yang keras kepala, bagaimana ia membuktikan bahwa pilihannya benar, bagaimana ia akhirnya diterima.

Ayah Erlangga: (tertawa, suaranya hangat) Jadi, selama ini kamu KKN atau mencari jodoh, Nak?

Erlangga: (tertawa kecil, lega karena ketegangan mencair) Keduanya, Yah. Aku pinter, kan? Sekali jalan, dua tujuan tercapai.

Ibu Erlangga: (mengusap air matanya, tersenyum) Ya ampun, anak ini. Jadi, kapan kita bisa bertemu dengan calon menantu ibu? Ibu harus lihat sendiri perempuan yang bisa membuat anak ibu yang keras kepala ini jatuh cinta.

Erlangga: (tersenyum) Sabar, Ma. Aku akan ke desa dulu minggu depan. Aku harus menepati janjiku menjadi dokter di sana. Setelah situasi stabil, aku akan ajak Anita ke sini. Atau kalau Ayah dan Ibu berkenan, Ayah dan Ibu bisa ke desa. Tapi... (ia tersenyum malu) sejujurnya, aku belum lamar resmi. Aku baru menyatakan perasaan. Aku ingin melamarnya di desa, di hadapan warga yang sudah menjadi keluarga kedua bagiku. Aku ingin seluruh desa menjadi saksi.

Ibu Erlangga: (terharu) Astaga, anak ibu... romantis sekali. Ibu yakin dia perempuan yang beruntung.

Ayah Erlangga: (mengangguk, menepuk pundak putranya) Lakukan, Nak. Kami akan datang ke desa itu untuk melihatmu menjadi dokter, dan untuk melihat calon menantu kami. Tapi ingat, kamu harus beri tahu kami jauh-jauh hari. Ibu perlu waktu untuk mempersiapkan diri.

Erlangga: (tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca) Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu. Untuk pengertiannya. Untuk dukungannya. Aku tidak akan mengecewakan.


Sementara itu, di Desa Awan Biru, kabar bahwa Erlangga akan kembali menyebar lebih cepat daripada api di musim kemarau. Tidak ada yang tahu persis bagaimana kabar itu sampai, mungkin dari telepon Anita dengan Bu Yuni, mungkin dari pesan Erlangga pada Pak Karyo, mungkin dari angin yang membawa berita dari kota ke desa. Yang pasti, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, seluruh desa sudah tahu: Mas Erlangga lulus ujian dokter, dan beliau akan kembali ke Awan Biru untuk bertugas sebagai dokter desa.

Kegembiraan meledak di setiap sudut desa. Di warung Pak Karyo, warga berbondong-bondong datang bukan untuk membeli, tetapi untuk membicarakan kabar gembira itu. Pak Karyo sampai kehabisan kopi karena terlalu banyak pelanggan yang datang, tetapi ia tidak keberatan. Ia malah membagi-bagikan telur dadar gratis untuk semua orang yang datang—sebuah kemewahan yang jarang ia lakukan.

Pak Karyo: (berdiri di depan warungnya dengan tangan di pinggang, suaranya lantang seperti pengumuman di balai desa) Warga Desa Awan Biru! Dengarkan saya! Mas Erlangga, dokter kita, akan kembali minggu depan! Ini bukan kabar angin! Ini langsung dari beliau sendiri! Beliau kirim pesan ke saya tadi pagi! Katanya, beliau sudah lulus ujian, dan beliau akan segera ke sini! (ia mengusap air mata yang jatuh, tidak malu-malu lagi) Saya tidak pernah menyangka, dulu saya orang yang paling keras kepala menolak program kesehatan, sekarang saya punya dokter sendiri di desa. Ini... ini luar biasa.

Bu Yuni: (yang sudah sibuk dengan buku catatannya sejak pagi, suaranya antusias) Pak Karyo, jangan cuma bicara! Kita harus siapkan penyambutan! Mas Erlangga datang bukan sebagai mahasiswa KKN lagi, tapi sebagai dokter yang akan bertugas di desa kita! Ini sejarah! Kita harus sambut dengan meriah!

Pak Eko: (mengangguk-angguk, kipasnya bergerak cepat karena semangat) Setuju, Bu. Tapi kita harus rapat dulu. Koordinasi dengan Pak Iwan, dengan Karang Taruna, dengan semua elemen desa. Jangan sampai sambutannya asal-asalan. Ini momen bersejarah.

Bu Lulu: (yang sudah mengeluarkan kalkulator dan buku catatan keuangannya sejak mendengar kabar, suaranya serius seperti sedang merencanakan APBDes) Saya sudah hitung kasar. Untuk penyambutan yang meriah, kita butuh dana sekitar lima juta. Untuk dekorasi, konsumsi, sound system, dan hadiah cendera mata. Tapi saya rasa ini investasi yang bagus. Dokter desa pertama kita, layak disambut dengan baik. Saya akan usulkan dalam rapat nanti.

Pak Iwan: (yang baru saja datang dengan langkah cepat, suaranya menggelegar penuh semangat) Bu Lulu, jangan hitung-hitungan dulu! Yang penting kita siapkan dari hati. Saya sudah bicara dengan Pak Santoso. Beliau setuju kita adakan penyambutan di lapangan desa. Saya minta Karang Taruna yang memimpin dekorasi. Bu Yuni koordinasi konsumsi. Pak Eko urus sound system dan dokumentasi. Bu Lulu... (ia tersenyum) Bu Lulu tetap hitung anggaran, tapi jangan pelit-pelit, ya. Ini untuk anak kita yang kembali.

Bu Lulu: (mengangguk tegas) Siap, Pak Kades. Saya akan alokasikan anggaran terbaik. Tapi Pak Kades harus setuju, nanti kalau ada kelebihan, tidak boleh minta tambahan di tengah jalan. Anggaran harus matang dari awal.

Pak Iwan: (tertawa) Iya, Bu Lulu. Saya serahkan pada ahlinya.

Di sisi lain, Yulia, Guntur, Naila, Camelia, Amat Junior, dan Hermansyah sudah berkumpul di posko Karang Taruna, posko yang dulu menjadi tempat KKN Erlangga. Mereka sedang sibuk mendesain dekorasi untuk penyambutan. Kertas-kertas gambar berserakan di meja, spidol warna-warni bertebaran di lantai, dan ide-ide bergantian dilontarkan dengan semangat yang menggebu-gebu.

Yulia: (sibuk mengatur dekorasi di atas kertas gambar, suaranya nyaring seperti biasa) Guntur, jangan pasang janur terbalik! Nanti malah kelihatan kayak acara duka. Janur harus mengarah ke atas, melambangkan harapan. Bukan ke bawah, melambangkan... ya, jangan ke bawah.

Guntur: (sedang memegang beberapa lembar janur yang sudah dipotong, mengomel dengan nada bercanda) Kamu aja yang ribet. Ini kan seni. Seni itu bebas. Janur dipasang ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, sama saja. Yang penting indah.

Yulia: (menghela napas dramatis) Guntur, ini bukan seni abstrak. Ini dekorasi penyambutan dokter. Harus rapi, harus formal, harus berkesan. Jangan sampai Mas Erlangga datang, lihat janurnya terbalik, terus dia bilang, "Wah, warga Awan Biru tidak bisa bedakan janur untuk acara bahagia dan acara duka." Aku malu!

Guntur: (tertawa) Ya sudah, kalau kamu begitu, kamu saja yang pasang. Saya cukup jadi pengawas.

Naila: (yang sedang menulis teks spanduk dengan tulisan rapi, suaranya semangat) Yulia, spanduknya tulis apa? Aku sudah punya beberapa pilihan. Pertama: "Selamat Datang Dokter Erlangga, Putra Terbaik Desa Awan Biru." Kedua: "Terima Kasih Telah Kembali, Dokter Erlangga." Ketiga: "Awan Biru Menyambut Dokter Pertamanya." Pilih mana?

Yulia: (berpikir sejenak) Spanduk pertama, tapi tambahin kata "Dokter Muda" biar lebih meriah. Jadi "Selamat Datang Dokter Muda Erlangga, Putra Terbaik Desa Awan Biru". Nanti kita tambahin foto Mas Erlangga di sampingnya. Biar warga yang belum kenal bisa lihat.

Camelia: (yang sedang merangkai bunga dari kertas warna-warni, menyengir sambil menggoda) Wah, lebay amat. Baru juga mau datang, udah disebut putra terbaik. Nanti kalau Mas Erlangga baca, dia bisa malu. Mbak Anita juga bisa cemburu, lho. Mas Erlangga disebut putra terbaik, Mbak Anita belum disebut apa-apa.

Amat Junior: (yang sedang sibuk mengecek sound system pinjaman dari kecamatan, ikut nimbrung dengan tertawa) Biarin aja, Cam. Yang penting Mbak Anita senang. Ini calon suaminya datang. Mbak Anita pasti sudah tidak sabar. Dengar kabar Mas Erlangga lulus dan akan kembali, wajahnya langsung cerah. Dua minggu terakhir dia sering senyum sendiri. Kemarin pas posyandu, dia sampai lupa mencatat berat badan Bintang. Biasanya teliti banget. Ini efek cinta, Cam.

Camelia: (tertawa) Iya, aku lihat juga. Mbak Anita jadi lebih sering main hp, lebih sering tersenyum, lebih sering melamun. Padahal dulu dia galak banget. Sekarang jadi kalem. Ini semua karena Mas Erlangga.

Naila: (bertepuk tangan kecil) Aduh, romantis banget! Mereka berdua cocok. Mas Erlangga yang tenang dan sabar, Mbak Anita yang tegas dan enerjik. Mereka saling melengkapi. Aku yakin pernikahan mereka nanti akan jadi acara terbesar di desa ini.

Yulia: (menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap Naila dengan mata berbinar) Kamu sudah dengar kabar? Kata Bu Yuni, Mas Erlangga bilang ke orang tuanya kalau dia mau lamar Mbak Anita. Dan orang tuanya setuju!

Camelia: (terkejut, bunga kertas di tangannya hampir jatuh) Astaga, serius? Jadi sebentar lagi kita punya acara pernikahan? Aku harus siap-siap jadi penata rias!

Amat Junior: (tersenyum, matanya berkaca-kaca) Biarlah. Yang penting Mbak Anita bahagia. Dia sudah berjuang sendirian terlalu lama. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan. Dan Mas Erlangga, dari yang aku lihat, adalah orang yang tepat.


Anita sendiri berdiri di depan kantor desa, memandangi keramaian itu dengan hati berdebar. Ia tidak ikut sibuk seperti yang lain, ia hanya berdiri di tangga kantor desa, di tempat yang sama ketika ia pertama kali melihat Erlangga turun dari mobil box hijau tiga bulan lalu. Tiga bulan. Rasanya seperti tiga tahun. Tiga bulan yang penuh dengan kerja keras, dengan air mata, dengan kerinduan, dengan doa-doa yang tak pernah putus. Dan sekarang, pria yang ia rindukan akan segera kembali. Bukan sebagai mahasiswa KKN yang akan pergi lagi, tetapi sebagai dokter yang akan tinggal. Sebagai seseorang yang akan berjalan di sampingnya, membangun desa ini bersama, mengubah mimpi-mimpi menjadi kenyataan.

Anita mengenakan kebaya sederhana warna biru muda, kebaya yang diberikan Bu Yuni minggu lalu. "Ini untukmu," kata Bu Yuni waktu itu, dengan senyum misterius. "Pakai pas Mas Erlangga datang. Biar kamu cantik." Anita semula menolak, mengatakan bahwa kebaya itu terlalu bagus untuk dipakai sehari-hari. Tapi Bu Yuni bersikeras, dan akhirnya Anita menerimanya. Kini, kebaya itu terasa pas di tubuhnya, seperti memang ditakdirkan untuk momen ini.

Bu Yuni: (mendekati Anita dari belakang, suaranya lembut tetapi penuh arti) Cantik sekali kamu, Nit. Awas, nanti Mas Erlangga langsung lamar. Jangan sampai kamu kaget, ya. Sudah siap?

Anita: (tersenyum malu, pipinya merona) Bu Yuni, jangan bercanda. Dia datang untuk bertugas sebagai dokter. Bukan untuk... (ia tidak mampu melanjutkan, wajahnya semakin merah)

Bu Yuni: (tertawa kecil) Ah, Nit. Aku sudah tua, tapi aku tidak buta. Aku lihat bagaimana matanya mencari kamu setiap kali dia datang. Aku lihat bagaimana kamu tersenyum setiap kali mendengar namanya. Aku lihat bagaimana kalian berdua saling memandang di acara perpisahan dulu. Ini bukan hanya tentang tugas, Nit. Ini tentang cinta. Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Anita: (menunduk, suaranya kecil) Aku takut, Bu. Takut kalau ini semua hanya mimpi. Takut kalau nanti dia datang dan semuanya berubah. Takut kalau aku tidak cukup baik untuknya.

Bu Yuni: (meraih tangan Anita, menggenggamnya erat) Nit, dengarkan aku. Kamu adalah perempuan paling kuat yang aku kenal. Kamu berjuang sendirian selama dua tahun. Kamu tidak pernah mengeluh. Kamu tidak pernah menyerah. Dan Mas Erlangga, dia melihat semua itu. Dia tidak datang ke sini karena kamu cantik atau karena kamu baik. Dia datang ke sini karena dia melihat perjuanganmu, dan dia ingin berjuang bersamamu. Itu bukan cinta yang dangkal, Nit. Itu cinta sejati. Jadi jangan takut. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan.

Anita: (air matanya jatuh, tetapi senyumnya lebar) Terima kasih, Bu Yuni. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpa Ibu.

Bu Lulu: (yang tiba-tiba muncul dari balik pintu balai desa dengan buku catatan di tangan, suaranya nyaring seperti biasa) Eh, jangan menangis dulu, Nit. Nanti makeup-nya luntur. Mas Erlangga akan lihat kamu dengan mata bengkak. Tidak bagus untuk first impression setelah enam bulan. (ia mendekat, mengamati Anita dari ujung rambut hingga ujung kaki) Bagus. Kebayanya pas. Rambutnya rapi. Sekarang, jangan menangis lagi. Senyum. Tersenyumlah seperti kamu tersenyum ketika Mas Erlangga pertama kali membersihkan busi motor kamu dulu.

Anita: (tertawa kecil, mengusap air matanya) Bu Lulu, Ibu selalu tahu segalanya.

Bu Lulu: (mengangguk bangga) Tentu saja. Saya Kaur Keuangan. Saya harus tahu semua yang terjadi di desa ini. Termasuk urusan hati. Karena urusan hati juga perlu perencanaan yang matang. Jangan sampai anggaran emosi membengkak tidak terkendali.

Semua tertawa. Suasana di depan balai desa menjadi hangat, penuh dengan harapan dan kebahagiaan yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.


Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil travel berwarna putih berhenti di depan kantor desa. Bukan mobil box hijau seperti tiga bulan lalu, tetapi sebuah mobil travel yang membawa satu orang penumpang. Tidak ada rombongan, tidak ada koper besar, hanya seorang pemuda dengan ransel yang sama ketika pertama dating, ransel abu-abu yang sudah lebih lusuh, dengan tambahan stiker kecil bergambar kabut dan tulisan "Awan Biru" yang ia cetak sendiri di kota.

Erlangga turun dengan kemeja putih lengan panjang, lengan digulung sedikit hingga siku, dan celana chino berwarna krem. Wajahnya sedikit lebih kurus dari enam bulan lalu, bekas kelelahan koas yang masih tersisa, tetapi matanya lebih berbinar, senyumnya lebih teduh. Ada kedewasaan yang baru dalam caranya berdiri, dalam caranya memandang desa yang kini menjadi tujuannya. Ia membawa ransel di satu tangan, dan di tangan satunya, sebuah bingkai foto kecil berisi foto Anita yang ia cetak dari ponselnya, foto yang selalu ia letakkan di meja belajarnya selama kos, yang menjadi penyemangatnya di malam-malam yang melelahkan.

Warga yang telah berkumpul di lapangan desa sejak pagi, bersorak ketika Erlangga turun dari mobil. Pak Karyo memukul bedug sederhana yang biasanya digunakan untuk acara-acara desa, dum, dum, dum, dengan semangat yang luar biasa. Karang Taruna melepaskan balon-balon warna-warni ke udara, puluhan balon yang telah mereka siapkan sejak kemarin, terbang tinggi membawa harapan dan doa. Anak-anak kecil berlarian mendekati Erlangga, memanggil "Abang Dokter! Abang Dokter!" dengan suara riang. Bintang, yang sudah tidak sabar sejak pagi, berlari paling depan dengan telur rebus di tangannya, telur yang ia siapkan sendiri untuk Abang Erlangga.

Bintang: (berlari sekencang mungkin, telur di tangannya hampir terlepas, suaranya nyaring) Abang Erlangga! Abang Erlangga! Bintang punya telur! Untuk Abang! Bintang rindu Abang!

Erlangga menunduk, membuka kedua tangannya lebar-lebar. Bintang berlari ke dalam pelukannya, dan Erlangga mengangkat anak itu dengan mudah—Bintang yang dulu kurus kering, kini telah berisi dan berat. Telur di tangan Bintang nyaris remuk karena pelukan, tetapi tidak ada yang peduli.

Erlangga: (memeluk Bintang erat-erat, suaranya serak karena haru) Bintang! Abang juga rindu Bintang! Lihat, Bintang sudah besar! Sudah gemuk! Rambutnya sudah hitam! Bintang rajin makan telur, ya?

Bintang: (mengangguk-angguk dengan bangga, matanya berbinar) Iya, Abang! Bintang makan telur setiap hari! Kakek kasih telur rebus setiap pagi! Bintang juga sudah bisa hitung! Satu, dua, tiga, empat, lima! Abang ajarin dulu! Bintang ingat!

Erlangga: (mencium kening Bintang, air matanya jatuh) Hebat, Bintang! Abang bangga! Nanti kalau Bintang sudah besar, Bintang jadi dokter, ya?

Bintang: (mengangguk tegas) Iya! Bintang jadi dokter! Seperti Abang! Bintang mau obati orang sakit!

Pak Karyo yang berdiri tidak jauh dari sana, mengusap air matanya dengan ujung kaos oblongnya. Ia tidak malu lagi menangis di depan umum, air mata kebanggaan, air mata syukur.

Pak Karyo: (suaranya serak, penuh emosi) Mas Erlangga... (ia mendekat, tangannya gemetar ketika meraih tangan Erlangga) terima kasih, Mas. Terima kasih sudah kembali. Desa ini... saya... Bintang... kami semua... (ia tidak mampu melanjutkan, tangisnya pecah)

Erlangga: (meletakkan Bintang perlahan, meraih tangan Pak Karyo yang keriput dan penuh kapalan) Pak Karyo, saya yang berterima kasih. Terima kasih telah percaya pada program kesehatan. Terima kasih telah merawat Bintang dengan baik. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan saya. Tanpa Bapak, saya tidak akan pernah mengerti bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sekecil telur.

Pak Karyo: (tertawa di antara tangis) Telur, ya. Siapa sangka, telur yang dulu saya anggap remeh, sekarang jadi makanan paling berharga di warung saya. Setiap pagi, warga datang bukan hanya untuk kopi, tapi untuk telur rebus. Saya sampai kewalahan menyediakan stok. (ia mengusap air matanya) Tapi itu semua karena Mas Erlangga. Karena Mas mengajari saya.

Erlangga: (tersenyum) Pak Karyo, saya hanya menyampaikan ilmu. Yang mempraktikkan adalah Bapak sendiri. Bapak yang berubah. Bapak yang memutuskan untuk peduli. Itu yang paling berharga.

Erlangga kemudian berjalan melewati kerumunan warga yang masih bersorak. Ia melambaikan tangan ke kiri dan ke kanan, menyapa satu per satu wajah yang ia kenal. Bu Yuni melambai dari kejauhan dengan senyum lebar. Pak Eko mengacungkan jempol sambil kipasnya tetap bergerak. Bu Lulu sudah sibuk dengan kalkulator, bukan untuk menghitung, tetapi untuk pamer bahwa ia sudah siap dengan anggaran penyambutan. Santoso duduk di kursi kehormatan di bawah pohon beringin, mengangguk-angguk dengan senyum bijak. Pak Iwan berdiri di pintu kantor desa dengan senyum bangga, matanya berkaca-kaca.

Namun mata Erlangga hanya mencari satu orang.

Ia menemukannya di tangga kantor desa. Anita berdiri di sana, dengan kebaya biru muda yang membuatnya tampak berbeda, lebih lembut, lebih cantik, lebih... nyata. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai, sedikit berkibar ditiup angin sore. Matanya basah, senyumnya lebar, tangannya menggenggam erat ujung kebaya. Ia tidak bergerak dari tempatnya, membiarkan Erlangga yang berjalan mendekat.

Erlangga berjalan perlahan, melewati kerumunan yang masih bersorak, melewati balon-balon yang masih beterbangan, melewati waktu yang terasa berhenti. Setiap langkah terasa berat tetapi ringan, terasa lama tetapi singkat. Ia ingin berlari, tetapi ia juga ingin menikmati setiap detik dari momen yang telah ia tunggu selama enam bulan. Ia ingin mengingat setiap detail: warna kebaya Anita, kilau air mata di matanya, senyum yang tidak pernah pudar, tangan yang sedikit gemetar.

Ketika ia akhirnya berdiri di depan Anita, jarak hanya sejengkal, ia bisa melihat setiap tetes air mata yang jatuh di pipi perempuan itu. Ia bisa mendengar napasnya yang terengah, merasakan getaran tubuhnya yang berusaha menahan tangis.

Erlangga: (suaranya lirih, hanya cukup untuk didengar Anita, tetapi semua orang di sekitarnya ikut terdiam) Aku menepati janjiku.

Anita: (air matanya mengalir, namun ia tersenyum—senyum yang paling indah yang pernah Erlangga lihat) Aku tahu kamu akan kembali. Aku tidak pernah ragu. Tidak sedetik pun.

Erlangga: (meraih tangan Anita—tangan yang kasar karena kerja keras, tangan yang hangat karena cinta yang tulus) Maaf aku lama. Maaf aku tidak bisa sering telepon. Maaf aku membuatmu menunggu.

Anita: (menggeleng, suaranya bergetar) Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menunggu. Aku menunggu desa ini berubah. Aku menunggu warga sadar akan kesehatan. Aku menunggu program-program yang aku jalankan membuahkan hasil. Dan sekarang, aku menunggu kamu. Dan kamu datang. Itu yang penting.

Erlangga tidak bisa menahan diri lagi. Ia meraih tangan Anita dan menciumnya, bukan cium di pipi, tetapi cium di tangan, dengan hormat, dengan cinta, dengan pengabdian. Gestur sederhana yang membuat semua warga yang melihatnya ikut menangis. Bu Yuni menangis di bahu Pak Eko. Bu Lulu meletakkan kalkulatornya dan mengusap air mata dengan ujung kerudung. Pak Karyo memeluk Bintang erat-erat. Yulia, Naila, dan Camelia menangis bersama, saling berpegangan tangan. Bahkan Guntur, yang biasanya selalu bercanda, terlihat diam dengan mata merah.

Pak Iwan: (melangkah maju, mengambil mikrofon dari tangan Yulia yang masih menangis, suaranya penuh haru) Warga Desa Awan Biru! Hari ini adalah hari bersejarah bagi desa kita. Untuk pertama kalinya, kita memiliki dokter yang bertugas di desa kita sendiri. Dokter Erlangga, putra terbaik yang telah memilih desa kita sebagai tempat mengabdi.

Warga bersorak. Pak Karyo memukul bedug lagi, kali ini lebih keras, lebih bersemangat.

Pak Iwan: Tapi sebelum saya resmi memperkenalkan dokter baru kita, saya persilakan Mas Erlangga untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.

Erlangga naik ke panggung dengan langkah mantap. Ia mengambil mikrofon dari Pak Iwan, lalu menatap seluruh warga yang berkumpul di lapangan, wajah-wajah yang ia kenal satu per satu, nama-nama yang ia hafal, cerita-cerita yang ia ingat. Matanya berhenti sejenak pada Anita yang masih berdiri di tangga balai desa, kemudian pada Pak Karyo dengan Bintang di pangkuannya, pada Pak Iwan yang mengusap air mata, pada Bu Yuni yang tersenyum sambil menangis.

Erlangga: (suara mantap, tidak bergetar meskipun hatinya terasa sesak) Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian yang saya hormati.

Warga menjawab salamnya dengan serempak, suara mereka bergema di lapangan desa.

Erlangga: Tiga bulan saya tinggal di desa ini. Tiga bulan yang singkat, tetapi cukup untuk mengubah hidup saya selamanya. Di desa ini, saya belajar bahwa menjadi dokter bukan tentang gelar atau gengsi. Bukan tentang ruang operasi mewah atau gaji besar. Menjadi dokter adalah tentang hadir ketika orang lain membutuhkan. Tentang bertahan ketika semua terasa berat. Tentang mencintai tanpa pamrih.

Ia menoleh ke arah Pak Karyo, tersenyum.

Erlangga: Saya belajar dari Pak Karyo bahwa perubahan itu mungkin, meskipun dimulai dari hal sekecil telur. Saya belajar dari Bintang bahwa mimpi tidak mengenal usia. Saya belajar dari Pak Iwan bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang mendengar dan merangkul semua pihak. Saya belajar dari Bu Lulu bahwa anggaran itu penting, tetapi kesehatan lebih penting. (warga tertawa) Saya belajar dari Karang Taruna bahwa anak-anak muda bisa menjadi motor perubahan. Dan saya belajar dari Mbak Anita... (ia berhenti, matanya mencari Anita di antara kerumunan) bahwa cinta pada pekerjaan, pada sesama, pada desa ini, adalah cinta yang paling murni.

Air matanya jatuh. Ia tidak menyembunyikannya lagi.

Erlangga: Saya pulang ke desa ini bukan hanya untuk bertugas sebagai dokter. Saya pulang karena saya berjanji. Berjanji pada diri saya sendiri, pada warga yang telah menerima saya sebagai keluarga, pada Bintang yang ingin menjadi dokter, dan pada... (ia menelan ludah, mengumpulkan keberanian) pada seseorang yang telah mengajarkan saya arti cinta dan pengabdian. Karena itu, di hadapan seluruh warga Desa Awan Biru yang saya hormati, saya ingin meminta izin.

Ia turun dari panggung, berjalan melewati kerumunan yang membuka jalan untuknya. Ia berjalan menuju Anita yang masih berdiri di tangga balai desa, matanya basah, tangannya menggenggam erat ujung kebaya. Ketika ia berdiri di depan Anita, ia berlutut.

Seluruh desa terdiam. Bahkan angin seolah berhenti bertiup. Burung-burung berhenti berkicau. Waktu berhenti.

Erlangga: (dengan suara yang mantap, tidak ragu, tidak gemetar, suara yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam) Anita, putri desa Awan Biru, Kader Pembangunan Manusia yang telah mengajarkan saya arti perjuangan sejati. Saya tidak punya harta berlimpah, tidak punya rumah mewah, tidak punya gelar yang membanggakan—setidaknya belum. Tapi saya punya hati yang mencintaimu, punya janji yang tidak akan saya ingkari, punya masa depan yang ingin saya bangun bersamamu. Saya pulang ke desa ini untuk menjadi dokter, tetapi yang lebih dari itu, saya pulang untuk meminta kamu menjadi teman hidup saya.

Ia meraih tangan Anita, tangan yang kasar karena kerja keras, tangan yang hangat karena cinta yang tulus dan menggenggamnya erat.

Erlangga: Anita, maukah kamu menikah denganku?

Anita tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Air matanya jatuh, tangisnya pecah, tetapi senyumnya tidak pernah pudar. Ia tidak bisa berkata apa-apa karena tangisnya terlalu kuat, karena hatinya terlalu penuh, karena kebahagiaan yang ia rasakan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Maka ia melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: ia memeluk Erlangga erat-erat, memeluknya seperti ia memeluk semua mimpi yang selama ini ia pendam, seperti ia memeluk semua doa yang selama ini ia panjatkan.

Tepuk tangan bergemuruh membahana. Seluruh warga berdiri, bertepuk tangan, menangis, tertawa, bersorak. Pak Karyo memukul bedug dengan sekuat tenaga, sampai suaranya bergema ke seluruh penjuru desa. Karang Taruna melepaskan balon-balon yang tersisa, puluhan balon warna-warni terbang ke langit biru yang cerah. Bintang berteriak kegirangan, melompat-lompat di pangkuan kakeknya. Bu Yuni menangis di bahu Pak Eko. Bu Lulu meletakkan kalkulatornya untuk pertama kalinya hari itu, dan menangis bersama yang lain. Santoso mengusap air matanya dengan ujung tongkat, tersenyum bangga. Pak Iwan memeluk Si Amat yang sudah tidak bisa menyembunyikan air matanya.

Pak Karyo: (berteriak di antara keramaian, suaranya serak tetapi penuh semangat) Saya sumbang 100 butir telur buat pesta! Tidak, 200 butir! Yang penting anak muda bahagia!

Anto: (yang berdiri di belakang dengan truknya yang sudah dihias janur dan bunga, berseru dengan semangat) Truk saya siap jadi hiasan! Saya sudah siapkan hiasan terbaik! Nanti pengantinnya naik truk saya! Gratis!

Bu Lulu: (yang masih menangis tetapi tetap setia dengan tugasnya, menghitung dengan jari sambil terisak) Kalau begitu, kita perlu anggaran tambahan untuk telur dan dekorasi truk. Tapi... (ia tersenyum di antara tangis) saya akan urus. Ini untuk kebahagiaan anak desa kita.

Pak Iwan: (tertawa lepas, suaranya menggelegar) Biar desa yang tanggung, Bu Lulu! Ini sejarah bagi Awan Biru! Kita tidak akan berhemat untuk momen seperti ini!

Di tengah keramaian yang membaur menjadi satu lautan kebahagiaan, Erlangga dan Anita masih berpelukan di tangga kantor desa. Mereka tidak mendengar suara-suara itu, atau mungkin mereka mendengar, tetapi tidak fokus. Yang mereka dengar hanyalah detak jantung satu sama lain, yang mereka rasakan hanyalah kehangatan yang telah lama mereka rindukan, yang mereka lihat hanyalah masa depan yang kini terbuka lebar di hadapan mereka.

Anita: (berbisik di telinga Erlangga, suaranya nyaris tak terdengar di antara keramaian, tetapi cukup jelas untuk didengar oleh hati) Aku mau, Erlang. Aku mau menikah denganmu. Aku mau berjuang bersamamu. Aku mau membangun desa ini bersamamu. Aku mau... (ia tidak melanjutkan, karena tangisnya terlalu kuat)

Erlangga: (membalas bisikan, suaranya penuh dengan cinta yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata) Aku akan membuatmu bahagia, Anita. Aku janji. Aku akan menjadi dokter yang membanggakan desa ini. Dan aku akan menjadi suami yang selalu ada untukmu. Sampai kapan pun.

Mereka berpelukan lebih lama, membiarkan dunia di sekitar mereka berputar, membiarkan kebahagiaan mengalir seperti sungai yang tidak pernah kering. Di atas mereka, langit Awan Biru membentang luas, biru cerah tanpa setitik awan. Matahari bersinar hangat, menyinari desa yang telah berubah, desa yang dulu sunyi dan tertinggal, kini bersemi oleh cinta dan harapan.

Di kejauhan, kabut biru mulai merayap turun dari puncak bukit, tetapi tidak ada yang merasa dingin. Mereka semua hangat, dihangatkan oleh cinta yang akhirnya bersatu, oleh janji yang akhirnya ditepati, oleh perjalanan yang kini sampai di titik nol, titik di mana perjalanan baru akan dimulai.


Epilog: Setelah Kabut Menjadi Saksi

Delapan bulan telah berlalu sejak Erlangga berlutut di tangga kantor desa, meminta Anita menjadi pendamping hidupnya. Delapan bulan yang diisi dengan persiapan yang tidak pernah sederhana, bukan hanya persiapan pernikahan, tetapi juga persiapan untuk sebuah kehidupan baru yang akan mereka jalani bersama. Delapan bulan yang terasa singkat namun penuh dengan kejutan, kerja keras, dan cinta yang semakin dalam.

Pagi hari pernikahan tiba dengan langit yang paling bersahabat. Kabut biru yang menjadi nama desa ini tidak terlalu tebal, tetapi cukup untuk menciptakan nuansa magis di sekitar lembah. Matahari terbit dengan sempurna, menyinari halaman balai desa yang telah berubah menjadi lautan janur dan bunga kertas warna-warni. Karang Taruna telah bekerja sejak subuh—Yulia dan Naila memasang dekorasi terakhir, Guntur dan Amat Junior mengatur kursi-kursi kayu yang dipinjam dari seluruh warga, Camelia merangkai bunga kertas dengan pola yang rumit, Hermansyah menyiapkan kamera untuk mendokumentasikan setiap momen.

Truk Anto telah dihias dengan pita putih dan bunga kertas sejak kemarin malam. Anto sendiri tidak tidur semalaman karena terlalu bersemangat. Ia memarkir truknya tepat di depan balai desa, bukan sebagai kendaraan pengantin, karena pasangan pengantin akan berjalan kaki dari rumah Anita ke balai desa, tetapi sebagai pajangan unik yang membuat semua warga tertawa dan kagum.

Anto: (berdiri di samping truknya dengan bangga, suaranya lantang seperti sedang memamerkan karya seni) Lihat! Saya hias dengan pita putih, bunga kertas, dan... (ia menunjuk ke bagian depan truk) saya pasang boneka pengantin di kap mesin! Mirip truk pengantin sungguhan, kan?

Pak Karyo: (yang sedang sibuk menyiapkan telur dadar di tenda konsumsi, tertawa terbahak-bahak) Anto, ini pernikahan, bukan pameran truk hias! Nanti pasangan pengantin jalannya pakai kaki, bukan naik truk. Trukmu cuma jadi pajangan.

Anto: (tidak tersinggung, malah semakin bersemangat) Biarin, Pak! Yang penting meriah. Lagipula, kalau nanti pasangan pengantin capek, mereka bisa naik truk saya. Saya siap antar jemput.

Pak Karyo: (menggeleng-gelengkan kepala, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan) Dasar sopir tengil. Ini acara nikah, bukan acara truk muatan. Tapi... (ia menatap truk itu dengan seksama) bagus juga sih hiasannya. Kamu dapat ide dari mana?

Anto: (tersenyum bangga) Saya lihat di internet, Pak. Truk pengantin itu tren di kota-kota. Saya pikir, kenapa tidak kita coba di desa? Biar beda. Lagipula, Mas Erlangga dan Mbak Anita kan suka hal-hal sederhana. Truk saya ini kan sederhana, tapi penuh cinta.

Pak Karyo: (mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh, tidak menyangka Anto bisa sefilosofis itu) Kamu ini... sopir truk tapi bicaranya kayak penyair. Awas, nanti Bu Lulu dengar, dia bisa anggarkan untuk lomba truk hias tahun depan.

Bu Lulu: (yang tiba-tiba muncul dari balik tenda dengan buku catatan di tangan, suaranya nyaring) Ide bagus, Pak Karyo! Lomba truk hias bisa masuk dalam rencana kerja desa tahun depan. Tapi harus dianggarkan dengan matang. Saya catat dulu.

Pak Karyo: (tertawa) Bu Lulu, hari ini saya tidak mau dengar soal anggaran. Saya hanya mau makan telur dadar dan menikmati pernikahan anak desa kita.

Bu Lulu: (tersenyum, tetapi tetap mencatat) Tidak apa-apa, Pak. Saya catat dulu, nanti kita bahas setelah acara. Yang penting sekarang, semua persiapan sudah beres. Konsumsi sudah siap. Dekorasi sudah rapi. Sound system sudah di-test oleh Amat Junior. Saya sudah hitung semua anggaran, dan... (ia tersenyum puas) masih ada sisa. Bisa untuk tambahan telur dadar.

Pak Karyo: (berseru) Nah, itu baru namanya Kaur Keuangan yang baik! Tambah telur dadar!


Di rumah Anita, suasana berbeda. Rumah sederhana itu telah berubah menjadi tempat yang paling ramai di desa. Ibu-ibu PKK sibuk di dapur menyiapkan hidangan untuk para tamu yang akan datang setelah akad nikah. Bu Yuni dan Bu Endang mengatur segala sesuatu dengan teliti—mulai dari tata rias, busana, hingga urutan acara. Bidan Amilia, yang biasanya hanya muncul jika ada urusan kesehatan, hari itu hadir dengan kebaya terbaiknya, membantu merias Anita dengan penuh kelembutan.

Anita duduk di depan cermin tua yang sudah menjadi warisan ibunya. Cermin itu pernah memantulkan wajah ibunya ketika ia menikah dengan Si Amat puluhan tahun lalu. Kini, cermin yang sama memantulkan wajah Anita—cantik, tenang, tetapi matanya berkaca-kaca menahan haru. Ia mengenakan kebaya putih dengan sentuhan renda yang dibuat khusus oleh perajin di kecamatan. Kebaya itu tidak mewah, tidak rumit, tetapi sederhana dan elegan. Rambutnya yang sebahu disanggul rapi oleh Bu Yuni, dengan hiasan bunga melati yang wanginya memenuhi ruangan.

Bu Yuni: (merapikan sisa riasan di wajah Anita, suaranya lembut) Cantik sekali kamu, Nit. Ibu kamu pasti bangga lihat kamu hari ini. (ia mengusap air mata yang jatuh di pipinya sendiri) Aku tidak bisa menahan haru. Kamu dulu kecil, sekarang sudah menikah.

Anita: (menatap cermin, suaranya lirih) Bu Yuni, aku tidak percaya ini benar-benar terjadi. Aku tidak pernah membayangkan akan menikah. Dulu, aku hanya fokus pada pekerjaan. Aku pikir, tidak ada laki-laki yang mau dengan perempuan sibuk seperti aku. Tapi... (ia tersenyum) Erlangga datang.

Bu Endang: (yang berdiri di samping Bu Yuni, ikut menangis) Itu karena kamu berjuang, Nit. Kamu tidak pernah menyerah. Kamu membangun desa ini dengan kesabaran dan ketulusan. Dan Tuhan melihat itu. Tuhan kirim Mas Erlangga untukmu.

Bidan Amilia: (yang biasanya tegas dan jarang menunjukkan emosi, pagi itu matanya juga berkaca-kaca) Anita, aku mengenalmu sejak pertama kali kamu menjadi kader. Waktu itu, aku pikir kamu anak muda yang hanya cari pengalaman. Tapi kamu bertahan. Kamu berjuang. Dan sekarang, kamu menikah dengan laki-laki yang juga punya jiwa pengabdian. Kalian berdua cocok. Aku bangga padamu.

Anita: (menoleh ke Bidan Amilia, suaranya tercekat) Bu Amilia, terima kasih sudah membimbing aku selama ini. Tanpa Ibu, aku tidak akan pernah sekuat ini.

Bidan Amilia: (tersenyum, langka) Aku hanya melakukan tugas. Kamu yang memilih untuk menjadi kuat.

Si Amat berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja batik lengan panjang yang baru dibelinya seminggu lalu. Matanya yang sudah keriput itu menatap putrinya dengan penuh kebanggaan dan haru. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, tangannya memegang erat ujung kemejanya, mencoba menahan tangis yang sudah di ambang mata.

Anita: (melihat ayahnya di cermin, suaranya bergetar) Yah... (ia berbalik, berdiri, dan menghampiri ayahnya) Ayah jangan menangis. Nanti aku juga ikut menangis, makeupku rusak.

Si Amat: (mengusap air matanya dengan punggung tangan, tertawa kecil) Ayah tidak menangis. Ayah hanya... (ia terisak sebentar) ada debu di mata.

Anita: (memeluk ayahnya, air matanya jatuh) Yah... terima kasih untuk semuanya. Untuk membesarkan aku sendiri setelah Ibu pergi. Untuk tidak pernah memaksa aku menjadi apa yang Ayah inginkan. Untuk selalu mendukung aku meskipun banyak yang bilang menjadi kader tidak ada masa depannya. Ayah adalah ayah terbaik.

Si Amat: (membalas pelukan putrinya, suaranya serak) Kamu anak yang terbaik, Nit. Ibu kamu pasti bangga. Hari ini, dia tersenyum dari surga melihat putrinya menikah dengan laki-laki yang baik. (ia melepaskan pelukan, menatap wajah Anita) Sekarang, jangan menangis lagi. Nanti pengantin pria datang, lihat kamu bengkak matanya.

Anita: (tertawa kecil, mengusap air matanya) Iya, Yah. Aku sudah siap.


Pukul sepuluh pagi, akad nikah dimulai. Halaman balai desa yang telah dihias dengan janur dan bunga kertas warna-warni itu dipenuhi oleh warga yang datang dengan pakaian terbaik mereka. Kursi-kursi kayu yang disusun rapi oleh Karang Taruna telah penuh sejak pukul sembilan. Warga yang tidak kebagian kursi duduk lesehan di tikar yang disediakan, atau berdiri di pinggiran halaman dengan senyum lebar. Anak-anak kecil berlarian di antara kerumunan, sesekali berhenti untuk memandangi pengantin pria yang duduk di pelaminan sederhana dengan latar papan pengumuman desa yang masih terpampang jadwal posyandu.

Erlangga duduk di pelaminan dengan tenang, tetapi hatinya berdebar tidak karuan. Ia mengenakan jas hitam yang dipadukan dengan sarung desa tradisional—kombinasi yang sengaja ia pilih untuk menunjukkan bahwa ia adalah bagian dari desa ini, bukan orang luar yang datang dan pergi. Ibu dan Ayahnya duduk di kursi kehormatan di sisi kanan pelaminan, dengan pakaian terbaik mereka. Ibu Erlangga masih mengusap air mata, tetapi senyumnya tidak pernah padam. Ayah Erlangga duduk tegap, matanya mengamati seluruh prosesi dengan penuh kebanggaan.

Ibu Erlangga: (berbisik pada suaminya, suaranya tercekat) Pak, lihat anak kita. Dia tampak bahagia. Aku belum pernah melihat dia setenang ini.

Ayah Erlangga: (menggenggam tangan istrinya, tersenyum) Dia sudah dewasa, Bu. Dia tahu apa yang ia inginkan. Dan hari ini, ia mendapatkannya.

Takbir bergemuruh ketika Pak Iwan, yang bertindak sebagai penghulu, membacakan khutbah nikah. Suaranya yang menggelegar tetapi penuh wibawa itu menggema di halaman balai desa, diikuti oleh suara takbir dari seluruh warga yang hadir. Yulia dan Naila, yang bertugas sebagai pengiring, berdiri di sisi pelaminan dengan pakaian serba biru muda, menangis haru. Amat Junior dan Guntur berdiri di belakang, ikut menangis tetapi berusaha menyembunyikannya dengan menunduk dan mengusap mata dengan punggung tangan.

Pak Iwan: (menatap Erlangga dengan mata yang berkaca-kaca, suaranya tegas tetapi penuh kehangatan) Saudara Erlangga Putra Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Anita Kusuma Dewi binti Amat Sugiarto dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan satu set buku kesehatan untuk desa, dibayar tunai. Apakah saudara setuju dan menerima nikahnya dengan mas kawin tersebut?

Erlangga berdiri. Tubuhnya tegap, matanya tenang, senyumnya teduh. Ia menatap Anita yang duduk di sampingnya dengan kerudung putih yang menutupi wajahnya—wajah yang selama ini ia rindukan, wajah yang menjadi alasan ia kembali ke desa ini, wajah yang akan menjadi pendampingnya seumur hidup.

Erlangga: (suara mantap, tidak gemetar, tidak ragu, setiap kata terucap dengan penuh kesadaran dan cinta) Saya terima nikahnya Anita Kusuma Dewi binti Amat Sugiarto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.

Takbir menggema. Seluruh warga yang hadir mengangkat tangan, bertakbir bersama. Suara mereka bergema di antara bukit-bukit, bergantian dengan suara bedug yang dipukul oleh Pak Karyo dengan sekuat tenaga. Bintang, yang duduk di pangkuan kakeknya, ikut bertakbir dengan suara lantang meskipun ia tidak mengerti artinya sepenuhnya. Ia hanya tahu bahwa hari ini adalah hari yang bahagia, dan ia ingin ikut merayakannya.

Bintang: (berteriak di antara takbir, suaranya nyaring) Abang Erlangga! Mbak Anita! Bintang senang!

Pak Karyo memeluk Bintang erat-erat, air matanya jatuh membasahi kepala cucunya.

Pak Karyo: (berbisik pada Bintang, suaranya serak) Hari ini, kakek bahagia, Nak. Kakek melihat dua orang baik bersatu. Semoga nanti kamu juga seperti mereka.

Bintang: (menatap kakeknya dengan polos) Bintang mau jadi dokter, Kek! Seperti Abang Erlangga! Bintang mau obati orang sakit!

Pak Karyo: (tersenyum di antara air mata) Iya, Nak. Kamu akan jadi dokter yang hebat.


Setelah akad nikah, resepsi dimulai dengan meriah. Tenda-tenda yang didirikan di halaman balai desa dipenuhi oleh warga yang datang untuk memberikan ucapan selamat. Pak Karyo benar-benar menepati janjinya—ia menyumbangkan dua ratus butir telur yang diolah menjadi telur dadar, telur rebus, dan keripik telur. Meja konsumsi dipenuhi oleh hidangan-hidangan sederhana tetapi melimpah: nasi kuning, ayam goreng, sayur lodeh, sambal goreng ati, dan tentu saja, telur dalam berbagai bentuk. Bu Lulu, yang tidak bisa lepas dari kebiasaannya, sibuk mencatat setiap hidangan yang habis dengan kalkulator di tangan.

Bu Lulu: (menekan-nekan kalkulator dengan jari lincah, suaranya nyaring) Pak Karyo, dua ratus butir telur, dikalikan harga per butir... (ia menghitung dengan cepat) ini setara dengan sumbangan dua ratus lima puluh ribu rupiah. Saya catat dalam buku sumbangan.

Pak Karyo: (tertawa) Bu Lulu, ini sumbangan, bukan transaksi! Tidak usah dihitung-hitung!

Bu Lulu: (tidak terpengaruh, tetap mencatat) Harus dicatat, Pak. Untuk arsip desa. Nanti kalau ada acara lagi, kita bisa lihat sumbangan mana yang paling besar. Bisa jadi inspirasi untuk warga lain.

Pak Karyo: (menggeleng-gelengkan kepala, tetapi tersenyum) Terserah, Bu Lulu. Yang penting warga senang.

Anto, yang bertugas menjadi sopir pengantin, malah asyik makan di tenda konsumsi. Ia sudah menghabiskan tiga porsi nasi dan dua gelas es teh, dan masih belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Ketika pasangan pengantin hendak naik ke truk untuk berkeliling desa, sesuai tradisi yang dimodifikasi oleh Anto, ia tidak ada di tempat.

Erlangga: (mencari Anto di antara kerumunan) Anto mana? Bukannya tadi dia bilang akan jadi sopir pengantin?

Guntur: (tertawa) Mas Anto lagi makan di tenda, Mas. Dari tadi sudah tiga porsi. Saya lihat dia lupa kalau ada tugas.

Yulia: (berteriak ke arah tenda konsumsi) Mas Anto! Pengantinnya sudah siap! Truknya sudah dipanaskan! Jangan makan terus!

Anto keluar dari tenda dengan mulut masih penuh, tangan memegang piring berisi sisa nasi. Wajahnya merah karena terburu-buru dan sedikit malu.

Anto: (sambil mengunyah, suaranya tidak jelas) Maaf, Maaf! Saya kira acara foto dulu. Saya pikir masih ada waktu untuk makan. (ia bergegas menuju truk, masih membawa piring) Sebentar, saya selesaikan dulu nasi ini. Nanti saya buka pintu truk.

Pak Karyo: (tertawa terbahak-bahak dari kejauhan) Dasar sopir tengil! Ini acara nikah, bukan acara truk muatan! Masa sopirnya makan terus, lupa kalau ada tugas!

Anto: (masih mengunyah, suaranya tidak jelas) Pak Karyo, saya sudah puasa semalam karena terlalu bersemangat. Jadi lapar sekali. Maaf, Maaf.

Semua warga tertawa. Erlangga dan Anita hanya bisa tersenyum, tidak sabar untuk segera naik ke truk dan berkeliling desa.


Di meja kehormatan, Bu Yuni dan Bu Endang sibuk mengatur tamu. Pak Eko dan Pak Edi duduk semeja dengan Santoso, berdiskusi tentang program desa ke depan. Santoso mengusap kumisnya yang sudah memutih, matanya menatap ke arah pengantin yang sedang bersiap naik ke truk.

Santoso: (suaranya dalam, penuh kebijaksanaan) Sekarang kita punya dokter dan KPM yang mantap. Program sanitasi sudah berjalan, angka stunting menurun, cakupan imunisasi meningkat. Saya yakin, tahun depan Desa Awan Biru bisa lepas dari status desa tertinggal. Tinggal kita dorong sektor ekonomi kreatif. Kopi robusta kita punya potensi besar untuk dipasarkan lebih luas.

Pak Eko: (mengangguk, kipasnya bergerak lambat karena cuaca tidak terlalu panas) Setuju, Pak Santoso. Saya sudah berbicara dengan beberapa pemuda tentang pengolahan kopi yang lebih modern. Amat Junior punya ide untuk membuat kopi bubuk kemasan dengan merek "Awan Biru". Tinggal kita dorong dan fasilitasi.

Pak Edi: (tersenyum, yang dulu paling skeptis, kini tersenyum penuh kebanggaan) Saya yang dulu paling skeptis, sekarang harus mengakui. Kehadiran mereka benar-benar mengubah desa ini. Bukan hanya programnya, tapi semangatnya. Semangat yang ditinggalkan oleh Mas Erlangga dan Mbak Anita—sekarang Mbak Erlangga—telah menggerakkan kita semua. Karang Taruna lebih aktif, warga lebih peduli, dan kita semua lebih optimis.

Santoso: (mengangguk, matanya berkaca-kaca) Ini baru awal, Pak Edi. Perjalanan kita masih panjang. Tapi dengan semangat yang sudah menyala, saya yakin kita bisa mencapai lebih banyak.


Di meja pengantin, Erlangga menggenggam tangan Anita erat-erat. Kerudung putih yang menutupi wajah Anita telah disingkap, menampakkan wajah yang cantik dan tenang. Mata mereka bertemu, dan untuk beberapa saat, dunia di sekitar mereka seolah berhenti. Hanya ada mereka berdua, dan cinta yang telah melalui perjalanan panjang.

Erlangga: (berbisik, suaranya hanya cukup untuk didengar Anita) Akhirnya kita di sini, Anita. Setelah semua perjalanan, setelah semua keraguan, setelah semua doa yang kita panjatkan di malam-malam yang sunyi. Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini. Menikahi perempuan yang paling aku kagumi, di desa yang paling aku cintai.

Anita: (tersenyum, matanya basah tetapi senyumnya lebar) Aku tidak pernah membayangkan ini, Erlang. Awalnya aku pikir kamu hanya mahasiswa KKN biasa. Datang dengan program, membuat keramaian, lalu pergi. Aku tidak pernah membayangkan bahwa mahasiswa KKN yang datang dengan sepatu kanvas kotor itu akan menjadi suamiku. (ia tertawa kecil) Kamu tidak seperti yang aku bayangkan. Kamu lebih dari itu.

Erlangga: (tertawa, tangannya masih menggenggam erat tangan Anita) Dan aku tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta pada kader desa yang galak. Yang pertama kali aku lihat, berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersilang, raut datar, tatapan skeptis. Aku pikir, "Perempuan ini pasti tidak suka kedatangan kami." Dan ternyata benar. Tapi di balik kegalakan itu, aku menemukan perempuan paling kuat, paling teguh, paling berani yang pernah aku temui.

Anita: (memukul lengan Erlangga pelan, tetapi senyumnya tidak pernah pudar) Hati-hati, Dokter. Saya masih KPM. Saya bisa lapor ke Pak Kades kalau dokter tidak disiplin. Saya punya wewenang untuk mengevaluasi kinerja tenaga kesehatan di desa ini.

Erlangga: (menggenggam tangannya lebih erat, suaranya penuh cinta) Disiplin atau tidak, yang jelas sekarang kita satu tim, Anita. Selamanya. Bukan hanya sebagai suami-istri, tetapi sebagai mitra dalam pengabdian. Sebagai dua orang yang memilih untuk berjuang bersama, membangun desa ini, melayani warga, dan mengubah mimpi menjadi kenyataan.

Anita: (menatap Erlangga dengan mata yang penuh cinta) Kita akan lakukan bersama, Erlang. Aku tidak akan berjuang sendirian lagi. Sekarang aku punya kamu. Dan aku tidak akan pernah melepaskan.


Delapan bulan setelah pernikahan, kehidupan di Desa Awan Biru berjalan pada ritme yang baru namun tetap harmonis. Erlangga resmi bertugas sebagai dokter di Puskesmas Kecamatan yang melayani Desa Awan Biru dan dua desa sekitarnya. Setiap hari Senin dan Kamis, ia membuka praktik rutin di balai desa, ruangan yang dulu menjadi tempat pertemuan dan rapat, kini sebagian telah disulap menjadi klinik sederhana dengan meja pemeriksaan, lemari obat, dan kursi untuk pasien. Warga tidak perlu lagi berjalan satu jam ke puskesmas kecamatan untuk berobat ringan. Mereka cukup datang ke balai desa, bertemu dengan Dokter Erlangga yang sudah menjadi bagian dari keluarga.

Antrean pasien setiap hari Senin dan Kamis selalu panjang. Ibu-ibu dengan balita yang rewel, kakek-nenek dengan tekanan darah tinggi yang perlu dipantau, remaja dengan keluhan kesehatan remaja yang selama ini tidak punya tempat curhat. Erlangga melayani semuanya dengan sabar, tidak pernah terburu-buru, tidak pernah mengeluh. Ia ingat kata-kata Anita: "Menjadi dokter bukan tentang banyaknya pasien, tapi tentang hadir ketika mereka membutuhkan."

Anita tetap menjalankan tugasnya sebagai Kader Pembangunan Manusia, kini semakin terbantu dengan kehadiran suaminya. Mereka sering keliling desa bersama, Erlangga dengan stetoskop dan obat-obatan, Anita dengan buku catatan dan data balita. Warga sudah terbiasa melihat mereka berdua berjalan beriringan di jalan berbatu, sesekali berhenti untuk memeriksa balita yang sedang bermain di halaman, atau duduk sebentar di warung Pak Karyo untuk minum kopi sambil mendengarkan keluhan warga.

Pak Karyo: (setiap kali melihat mereka lewat, selalu berteriak dari warungnya) Dokter! Mbak Anita! Mampir dulu! Kopi baru seduh! Telur rebus masih hangat!

Dan mereka selalu mampir. Bukan karena kopi atau telurnya, tetapi karena mereka tahu bahwa warung Pak Karyo adalah pusat informasi desa. Di sanalah mereka bisa mendengar keluhan warga, mengetahui masalah yang belum terlaporkan, dan menjalin kedekatan dengan warga.


Sembilan bulan setelah pernikahan, kabar bahagia datang. Anita hamil.

Erlangga menemukan pertama kali ketika Anita pingsan di posyandu setelah seharian bekerja tanpa makan. Ia panic, sesuatu yang jarang terjadi pada dokter yang selalu tenang dalam situasi apa pun. Ia memeriksa Anita dengan teliti, dan hasilnya membuatnya menangis: denyut jantung janin, kecil tetapi kuat, terdengar melalui stetoskopnya.

Erlangga: (berbisnis di telinga Anita, setelah ia sadar dan berbaring di ruang praktik, suaranya bergetar) Anita... kita akan punya bayi. Aku akan menjadi ayah. Kamu akan menjadi ibu.

Anita: (masih lemas, tetapi matanya berbinar) Erlang... benarkah? Jangan bercanda.

Erlangga: (menggenggam tangannya, menciumnya) Aku tidak pernah bercanda soal ini. Aku mendengar detak jantungnya. Kecil, tapi kuat. Seperti kamu.

Anita: (menangis, tetapi tersenyum) Kita akan punya bayi, Erlang. Bayi yang akan lahir di desa ini. Bayi yang akan tumbuh di antara kabut biru dan sawah yang hijau. Bayi yang akan kita ajari arti cinta dan pengabdian.

Erlangga: (memeluk Anita) Dan bayi ini akan menjadi bukti bahwa cinta kita nyata. Bahwa perjalanan kita tidak sia-sia. Bahwa desa ini, dengan segala keterbatasannya, adalah tempat terbaik untuk memulai segalanya.


Kabar kehamilan Anita menyebar cepat di desa. Bu Yuni langsung datang dengan membawa jamu kunyit asem buatannya. Pak Karyo mengirim telur ayam kampung satu kardus setiap minggu, "Untuk calon bayi," katanya, dengan senyum bangga. Bu Lulu sudah mulai menghitung anggaran untuk persiapan kelahiran, meskipun Anita masih hamil empat bulan. Bintang, yang sudah duduk di taman kanak-kanak, bertanya setiap hari: "Kapan adik bayi lahir? Bintang mau main sama adik bayi!"

Bintang: (dengan polosnya, menatap perut Anita yang mulai membesar) Mbak Anita, adik bayi di dalam perut Mbak, ya? Bintang boleh kasih nama? Bintang mau kasih nama... (ia berpikir keras) Bintang Kecil!

Anita: (tertawa, mengusap kepala Bintang) Nanti, Bintang. Nanti kalau adik bayi sudah lahir, Bintang boleh kasih nama. Tapi Bintang harus sekolah yang rajin, ya. Biar pintar.

Bintang: (mengangguk semangat) Bintang sekolah rajin! Bintang mau jadi dokter! Seperti Abang Erlangga!

Erlangga: (menggendong Bintang, mencium keningnya) Nanti kalau adik bayi lahir, Bintang harus jadi kakak yang baik, ya. Ajari adik bayi main, ajari adik bayi hitung, ajari adik bayi makan telur.

Bintang: (mengangguk dengan serius) Iya, Abang! Bintang ajarin adik bayi! Adik bayi harus makan telur biar pintar! Seperti Bintang!


Bulan-bulan berlalu. Perut Anita semakin membesar, tetapi ia tidak pernah berhenti bekerja. Ia masih keliling desa, memeriksa balita, membujuk ibu hamil untuk rutin periksa kehamilan, mencatat data posyandu. Erlangga awalnya khawatir, memintanya untuk beristirahat, mengurangi beban kerja. Tapi Anita bersikeras.

Anita: (dengan perut yang sudah besar, berdiri di depan Erlangga dengan tangan di pinggang) Erlang, aku sudah bertahun-tahun menjadi kader. Aku tidak akan berhenti hanya karena aku hamil. Bayi ini akan tumbuh kuat karena ibunya kuat. Dan ibunya kuat karena terus bekerja, terus melayani, terus mencintai desa ini.

Erlangga: (menghela napas, tidak bisa membantah) Kamu memang keras kepala, Anita. Tapi itulah yang membuatku mencintaimu. Baik, kamu boleh bekerja. Tapi janji, jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat jika lelah. Makan teratur. Jangan lupa vitamin.

Anita: (tersenyum, mencium pipi Erlangga) Aku janji, Dokter. Sekarang, ayo kita ke posyandu. Bintang pasti sudah menunggu.


Pada bulan ketujuh kehamilan Anita, malam itu terjadi sesuatu yang tidak pernah mereka duga. Hujan deras mengguyur desa sejak sore, dan angin kencang menerpa rumah-rumah warga. Di kejauhan, suara pohon tumbang terdengar beberapa kali. Erlangga dan Anita sedang bersiap tidur ketika ponsel Erlangga berdering. Suara Pak Karyo di ujung telepon terdengar panik, nyaris menangis.

Pak Karyo: (melalui sambungan telepon yang putus-putus karena sinyal, suaranya bergetar) Dokter... Dokter... tolong! Bintang... Bintang demam tinggi... kejang... (ia tidak mampu melanjutkan, tangisnya pecah)

Erlangga: (langsung bangkit dari tempat tidur, suaranya tenang tetapi tegas) Pak Karyo, tenang. Saya akan segera ke sana. Siapkan air hangat, kompres anak Bintang. Jangan panik. Saya akan membawa obat.

Anita yang mendengar itu langsung bangkit. Wajahnya pucat, tetapi matanya menunjukkan tekad yang kuat. Ia meraih jaketnya dan bersiap untuk ikut.

Anita: (suaranya mantap, tidak ada keraguan) Aku ikut.

Erlangga: (menatap Anita dengan khawatir) Anita, kamu hamil tujuh bulan. Hujan deras, jalanan becek, gelap. Aku tidak bisa membahayakanmu dan bayi kita.

Anita: (menatap Erlangga dengan mata yang tidak bisa dibantah) Bintang adalah anak yang aku pantau sejak ia lahir. Aku yang membujuk Pak Karyo untuk memberikan telur setiap hari. Aku yang mencatat berat badannya setiap bulan. Aku tidak akan tinggal diam ketika Bintang sakit. Aku ikut, Erlang. Itu tidak bisa ditawar.

Erlangga terdiam. Ia menatap Anita, perempuan yang dulu ia lihat berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersilang, yang kini berdiri di hadapannya dengan perut besar, hujan deras di luar, dan tekad yang tidak bisa digoyahkan. Ia menghela napas, lalu mengangguk.

Erlangga: Baik. Tapi kamu harus janji, jika merasa tidak kuat, kamu akan beristirahat. Aku tidak bisa kehilanganmu dan bayi kita.

Anita: (tersenyum) Aku janji, Dokter. Sekarang, ayo cepat.

Mereka berjalan di tengah hujan deras dengan jas hujan yang dipinjam dari tetangga. Jalanan becek dan licin, dan Erlangga harus berpegangan pada Anita setiap saat untuk memastikan ia tidak jatuh. Di kejauhan, suara petir menggelegar, tetapi mereka terus melangkah. Mereka tidak bisa membiarkan Bintang menunggu.

Sesampainya di rumah Pak Karyo, mereka menemukan Bintang terbaring lemah di pangkuan kakeknya. Wajah anak itu merah, napasnya sesak, dan matanya sayu. Pak Karyo menangis, tangannya gemetar memegang kompres yang sudah tidak dingin lagi.

Erlangga: (langsung mengambil alih, memeriksa Bintang dengan teliti) Suhu 39,5. Kejang sudah berhenti, tapi harus segera diturunkan. (ia mengeluarkan obat dari tasnya) Saya kasih penurun panas. Pak Karyo, tolong siapkan air hangat untuk kompres. Dan jangan panik. Bintang akan baik-baik saja.

Anita duduk di samping Bintang, memegang tangan kecil itu dengan lembut. Matanya basah, tetapi senyumnya tetap terpancang.

Anita: (berbisik, suaranya lembut) Bintang, Bintang dengar Mbak Anita? Bintang harus kuat, ya. Bintang kan mau jadi dokter. Dokter tidak boleh sakit-sakitan. Nanti Bintang sembuh, kita makan telur bareng. Bintang suka telur, kan?

Bintang, yang masih setengah sadar, tersenyum tipis mendengar kata "telur". Ia menggenggam jari Anita dengan lemah, tetapi cukup untuk membuat Anita tersenyum lega.

Setelah Bintang stabil dan mulai tertidur dengan tenang, Erlangga dan Anita duduk di ruang tamu Pak Karyo. Hujan masih deras di luar, tetapi di dalam rumah, kehangatan mulai kembali. Pak Karyo menyiapkan teh hangat untuk mereka berdua, tangannya masih gemetar tetapi senyumnya mulai muncul.

Pak Karyo: (suaranya serak, matanya basah) Terima kasih, Dokter. Terima kasih, Mbak Anita. Kalian datang di tengah hujan deras, di tengah malam, untuk cucu saya. Saya tidak tahu harus membalas apa.

Erlangga: (tersenyum) Pak Karyo, tidak perlu membalas apa-apa. Ini tugas saya sebagai dokter. Dan ini juga tugas Mbak Anita sebagai kader. Bintang adalah anak desa kita. Kita semua bertanggung jawab untuk menjaga kesehatannya.

Pak Karyo: (menangis, tidak malu-malu lagi) Saya dulu keras kepala. Saya tidak mau dengar kata-kata Mbak Anita tentang telur. Saya tidak mau bikin jamban. Saya pikir semua itu tidak penting. Tapi sekarang... (ia mengusap air matanya) saya tahu. Saya tahu bahwa kesehatan itu tidak bisa ditawar. Dan saya bersyukur, desa ini punya dokter dan kader seperti kalian.

Anita: (memegang tangan Pak Karyo, suaranya lembut) Pak Karyo, Bintang adalah anak yang kuat. Ia sudah melewati masa-masa sulit. Ia akan sembuh. Dan ia akan tumbuh menjadi anak yang pintar, yang suatu hari nanti akan menjadi dokter seperti yang ia cita-citakan. Itu semua karena Bapak. Karena Bapak memilih untuk berubah.

Pak Karyo: (tersenyum di antara air mata) Terima kasih, Mbak Anita. Terima kasih sudah sabar dengan saya.


Minggu-minggu berlalu. Bintang pulih dengan cepat, dan ia kembali berlarian di warung kakeknya dengan semangat yang tidak pernah pudar. Perut Anita semakin besar, dan seluruh desa menanti kelahiran bayi yang akan menjadi warga baru Awan Biru.

Bu Yuni sudah menyiapkan perlengkapan bayi dari sumbangan warga. Bu Lulu sudah mengalokasikan anggaran untuk biaya persalinan, meskipun Anita bersikeras akan melahirkan di rumah dengan bantuan Bidan Amilia. Pak Karyo sudah menyiapkan telur ayam kampung untuk calon ibu—satu kardus setiap minggu, dengan catatan khusus: "Untuk bayi yang akan lahir, biar sehat dan pintar seperti Bintang."

Bintang, yang sudah tidak sabar, setiap hari bertanya: "Kapan adik bayi lahir? Bintang mau kasih nama! Bintang kasih nama... (ia berpikir keras, lalu tersenyum bangga) Bintang kasih nama Arjuna! Nama ksatria yang baik dan pemberani!"


Dan pada suatu pagi, ketika kabut biru sedang paling indah menyelimuti lembah, ketika burung-burung berkicau riang di pepohonan, ketika warga mulai beraktivitas seperti biasa, Anita merasakan kontraksi pertama. Erlangga, yang sedang memeriksa pasien di balai desa, langsung berlari pulang. Bidan Amilia datang dengan peralatan yang sudah disiapkan sejak lama. Bu Yuni, Bu Lulu, dan Bu Endang berkumpul di ruang tamu, menunggu dengan doa dan harapan.

Bidan Amilia: (dengan tenang, memimpin proses persalinan) Anita, kamu kuat. Kamu sudah melewati lebih berat dari ini. Kamu sudah berjuang sendirian selama bertahun-tahun. Sekarang kamu tidak sendiri. Ada suamimu di sampingmu. Ada kami semua di sini. Tarik napas... dorong... tarik napas... dorong...

Erlangga: (memegang tangan Anita erat-erat, air matanya jatuh tetapi senyumnya tidak pernah padam) Aku di sini, Anita. Aku tidak akan ke mana-mana. Kita akan bertemu bayi kita sebentar lagi. Bayi yang kuat, seperti ibunya. Bayi yang pemberani, seperti yang Bintang namakan. Arjuna. Nama yang sempurna.

Anita: (dengan napas yang terengah, keringat membasahi seluruh tubuhnya, tetapi matanya tetap berbinar) Arjuna... anak kita akan bernama Arjuna. Ksatria yang baik dan pemberani. Seperti ayahnya. (ia tersenyum di antara rasa sakit) Seperti Erlangga.

Tangisan bayi memecah keheningan pagi. Suara yang kecil tetapi kuat, yang menggema di rumah sederhana itu, yang didengar oleh semua warga yang menunggu di luar. Bu Yuni menangis di bahu Bu Lulu. Pak Karyo memeluk Bintang erat-erat. Pak Iwan mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Santoso tersenyum, menatap langit yang mulai cerah.

Bidan Amilia: (menggendong bayi yang baru lahir, tersenyum lebar) Selamat, Dokter. Selamat, Anita. Anak laki-laki. Sehat, sempurna, dan sangat kuat. Suara tangisnya seperti terompet. (ia menyerahkan bayi itu pada Erlangga) Ini anak kalian. Arjuna.

Erlangga menerima bayinya dengan tangan yang gemetar. Ia menatap wajah mungil itu, wajah yang masih merah, mata yang masih terpejam, rambut hitam tipis yang basah. Air matanya jatuh membasahi pipi bayinya.

Erlangga: (berbisik, suaranya penuh cinta) Halo, Arjuna. Aku ayahmu. Aku sudah menunggumu. Selamat datang di desa ini. Di desa yang akan menjadi rumahmu. Di desa yang penuh dengan cinta, pengabdian, dan harapan.

Anita, yang masih lelah tetapi tersenyum bahagia, meraih tangan Erlangga dan menatap bayi mereka.

Anita: (suaranya lemah tetapi penuh cinta) Arjuna... nama yang indah. Nama ksatria yang baik dan pemberani. Kamu akan tumbuh di desa ini, Nak. Di desa yang dulu sunyi dan tertinggal, tetapi kini berdenyut dengan kehidupan baru. Kamu akan belajar dari ayahmu tentang arti pengabdian. Kamu akan belajar dari ibumu tentang arti perjuangan. Kamu akan belajar dari warga desa ini tentang arti kebersamaan. Dan suatu hari nanti, kamu akan menjadi seseorang yang membanggakan desa ini.


Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Arjuna tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria, dengan rambut hitam tebal dan mata yang berbinar-binar seperti ayahnya, tetapi dengan senyum yang manis seperti ibunya. Ia berlarian di halaman balai desa, ikut posyandu dengan ibunya, dan selalu mampir ke warung Pak Karyo untuk meminta telur rebus.

Bintang, yang kini sudah duduk di bangku sekolah dasar, menjadi kakak yang baik bagi Arjuna. Ia mengajari Arjuna berhitung, mengajari Arjuna menyebut nama-nama hewan, dan yang paling penting, mengajari Arjuna bahwa telur adalah makanan yang paling sakti.

Bintang: (dengan penuh semangat, memegang telur rebus di tangan) Arjuna, kamu harus makan telur! Biar pintar! Biar jadi dokter! Seperti Abang Erlangga!

Arjuna: (yang masih belum bisa bicara dengan jelas, menirukan dengan semangat) Telu! Telu! Dokter! Dokter!

Erlangga dan Anita hanya bisa tersenyum melihat kedua anak itu. Mereka berdiri di depan balai desa, di tempat yang sama ketika pertama kali mereka bertemu. Di belakang mereka, papan pengumuman masih terpampang dengan jadwal posyandu, grafik penurunan angka stunting, dan informasi program kesehatan desa. Di depan mereka, sawah yang hijau terbentang luas, dan di kejauhan, kabut biru mulai merayap turun dari puncak bukit.

Erlangga: (menggenggam tangan Anita, suaranya penuh cinta) Lihat, Anita. Desa ini telah berubah. Bintang sehat dan cerdas. Warga sadar akan kesehatan. Program sanitasi berjalan. Angka stunting menurun. Dan kita... (ia menatap Anita dengan mata yang penuh kebahagiaan) kita memiliki Arjuna. Anak yang akan melanjutkan perjuangan kita. Anak yang akan tumbuh di desa ini, dengan cinta dan pengabdian yang kita tanamkan.

Anita: (tersenyum, kepalanya bersandar di bahu Erlangga) Dan ini baru awal, Erlang. Masih banyak yang harus kita lakukan. Masih banyak anak-anak desa yang perlu kita jangkau. Masih banyak ibu hamil yang perlu kita dampingi. Masih banyak warga yang perlu kita edukasi. Perjalanan kita masih panjang.

Erlangga: (mengecup kening Anita) Kita akan lakukan bersama, Anita. Seperti yang sudah kita janjikan. Seperti yang sudah kita buktikan. Sampai kapan pun. Sampai desa ini tidak lagi tertinggal. Sampai setiap warga mendapatkan haknya atas kesehatan. Sampai setiap anak bisa tumbuh dengan mimpi yang tinggi.

Anita: (menatap Erlangga dengan mata yang penuh cinta) Kita akan lakukan bersama, Erlang. Aku tidak akan berjuang sendirian lagi. Sekarang aku punya kamu. Dan kita punya Arjuna. Kita punya desa ini. Kita punya masa depan yang harus kita bangun bersama.

Dari kejauhan, Bintang dan Arjuna berlarian di antara padi yang mulai menguning. Bintang memegang telur rebus di satu tangan, dan tangan Arjuna di tangan lainnya. Mereka tertawa, suara mereka yang riang menggema di antara bukit-bukit. Di warung Pak Karyo, warga mulai berkumpul untuk minum kopi dan bertukar kabar. Pak Iwan sedang duduk dengan Santoso, membahas rencana pembangunan pasar desa. Bu Lulu sudah sibuk dengan kalkulatornya, menghitung anggaran untuk program kesehatan tahun depan. Bu Yuni dan Pak Eko sibuk mengatur jadwal posyandu. Pak Edi berkeliling dengan sepedanya, memeriksa jamban-jamban yang telah dibangun.

Dan di depan balai desa, di tempat pertama mereka bertemu, Erlangga dan Anita berdiri berdampingan, menyaksikan desa yang telah berubah. Kabut biru mulai mencair, matahari terbit di ufuk timur, dan kehidupan baru terus berdenyut di setiap sudut desa. Mereka tersenyum, saling berpandangan, dan tahu bahwa perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.

TAMAT

Catatan Penulis:

"Anita Kader Pembangunan Manusia Desa Awan Biru" adalah fiksi yang terinspirasi dari perjuangan nyata para kader pembangunan manusia, tenaga kesehatan, dan masyarakat yang berjuang di pelosok negeri. Setiap desa memiliki cerita dan pahlawannya sendiri. Ada Anita-Anita lain yang berjuang tanpa lelah, ada Erlangga-Erlangga lain yang memilih mengabdi di daerah terpencil, ada Bintang-Bintang lain yang bermimpi menjadi dokter, dan ada Arjuna-Arjuna lain yang akan melanjutkan perjuangan mereka.

Cerita ini adalah penghormatan untuk mereka semua. Untuk para kader yang setiap hari berjalan di jalan berbatu, untuk para tenaga kesehatan yang memilih desa sebagai medan juang, untuk warga yang mau berubah, dan untuk cinta yang tumbuh di antara kerja dan pengabdian.

Desa Awan Biru mungkin tidak ada di peta, tetapi semangatnya ada di setiap desa yang warganya berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Kabut biru mungkin hanya fenomena alam, tetapi ia adalah simbol bahwa di balik keterbatasan, selalu ada keindahan yang menunggu untuk ditemukan.

Semoga kisah Anita dan Erlangga dapat menginspirasi kita semua untuk terus membangun dari hal terkecil, dengan cinta dan pengabdian yang tulus. Karena perubahan sejati tidak selalu dimulai dari program besar atau kebijakan nasional. Perubahan sejati dimulai dari seorang kader yang tidak lelah berjalan, seorang dokter yang memilih untuk kembali, seorang kakek yang mau berubah, seorang anak yang bermimpi, dan dua hati yang memilih untuk berjuang bersama.

Terima kasih telah membaca. Selamat berjuang, di mana pun Anda berada.

0 komentar:

Posting Komentar