ANITA KADER
PEMBANGUNAN MANUSIA DESA AWAN BIRU
Sebuah
novel tentang perjuangan Anita, Kader Pembangunan Manusia Desa Awan Biru, dalam
menyalakan harapan dan menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
Oleh: Slamet Riyadi
Prolog: Desa di Balik Kabut
Desa Awan Biru menyandang nama yang indah, seindah letaknya
yang tersembunyi di lereng perbukitan kapur di selatan kabupaten Merah Jingga.
Namanya diambil dari fenomena alam setiap pagi, ketika kabut tipis berwarna
kebiruan menyelimuti lembah, membuat desa ini tampak seperti lukisan kuas yang
samar-samar basah. Udara dingin menusuk pori-pori, bercampur dengan wangi kopi
robusta yang ditanam turun-temurun di kebun-kebun miring milik warga. Di
kejauhan, suara gemericik sungai kecil mengalir di antara celah-celah batu,
seolah menjadi denyut nadi kehidupan yang lambat dan tak tergesa.
Namun, di balik keindahan kartu pos itu, tersimpan potret
klasik desa tertinggal yang tak pernah usai diceritakan. Jalan setapak berbatu
yang licin saat hujan masih menjadi penghubung antar dusun. Penerangan jalan
minim, hanya ada lima tiang lampu PJU yang setengahnya mati sejak tiga tahun
lalu, menjadikan malam begitu pekat dan penuh bahaya. Dan yang paling
memprihatinkan, sebuah luka lama yang tak kunjung sembuh, adalah kesadaran
warganya yang rendah terhadap kesehatan. Bagi warga Awan Biru, sakit adalah
takdir, bukan sesuatu yang bisa diobati. Mereka lebih percaya pada paraji,
dukun beranak dan jamu rebutan dari daun-daunan yang tumbuh di belakang rumah,
ketimbang membaca buku KIA atau mendatangi tenaga medis.
Puskesmas terdekat berada di ibu kota kecamatan Kabut Merah,
berjarak satu jam perjalanan menggunakan motor melewati jalanan bergelombang
yang sisi kirinya jurang curam tanpa pembatas. Di musim hujan, jalan itu kerap
tertutup longsor susulan, memutus akses desa dari dunia luar selama
berhari-hari. Akibatnya, banyak warga lebih memilih pengobatan tradisional atau
membiarkan penyakitnya hingga parah, sampai akhirnya mereka baru digotong dengan
tandu darurat ke puskesmas, seringkali sudah dalam kondisi kritis. Angka
stunting di desa ini termasuk tiga tertinggi di kabupaten Merah Jingga, dengan
hampir satu dari tiga balita mengalami gangguan pertumbuhan kronis. Cakupan
imunisasi anak seringkali tidak mencapai target. Para ibu takut membawa anaknya
ke posyandu karena harus melewati jalur berbatu sambil menggendong bayi; mereka
menganggap imunisasi hanya “bikin panas” atau sekadar “suntikan dari pemerintah
yang tidak jelas manfaatnya.” Ibu hamil banyak yang enggan memeriksakan
kehamilannya ke bidan desa yang bertugas di rumah dinas yang jauh di ujung
desa, karena faktor biaya transportasi ojek, jarak tempuh, dan kebiasaan
turun-temurun yang menganggap periksa hamil adalah hal “mewah dan tidak perlu.”
Di sinilah peran Kader Pembangunan Manusia (KPM) menjadi
ujung tombak harapan. Program unggulan dari pemerintah kabupaten Merah Jingga yang
diluncurkan dengan pita kuning dan janji manis di atas podium, berusaha
menggerakkan pembangunan dari tingkat akar rumput. KPM bukan sekadar kader
posyandu biasa. Mereka adalah agen perubahan yang dilatih khusus untuk
mengintervensi percepatan penurunan stunting, meningkatkan literasi kesehatan,
serta menjadi jembatan antara birokrasi yang kaku dengan kebutuhan masyarakat
yang kompleks. Sayangnya, di lapangan, mereka sering kali berhadapan dengan
realitas yang jauh dari buku panduan: anggaran yang telat cair, data warga yang
tidak akurat, serta resistensi budaya yang keras.
Salah satu kadernya adalah Anita. Seorang perempuan muda
berusia 24 tahun, dengan rambut sebahu yang selalu diikat rapi, kulit sawo
matang karena sering berkeliling kampung di bawah terik matahari, dan tatapan
mata teduh namun tegas yang membuat anak-anak takut sekaligus segan. Ia adalah
anak tunggal dari Si Amat, sang admin desa yang sedang giat-giatnya
mendigitalisasi administrasi pemerintahan desa di balik satu-satunya komputer
pentium di Kantor desa. Berbeda dengan pemuda desa lain yang berbondong-bondong
merantau ke pabrik-pabrik di kota atau menjadi buruh migran, Anita adalah
lulusan keperawatan dari akademi kesehatan di ibu kota Provinsi. Ia memilih
pulang kampung, menolak tawaran bekerja di rumah sakit kota dengan gaji tiga
kali lipat UMK. Banyak tetangga menyebutnya “ndeso” atau “kuli anggaran,”
karena menjadi kader hanya diberi insentif seadanya, tidak sebanding dengan
ijazah yang digantungnya. Namun bagi Anita, Desa Awan Biru adalah rumah yang
perlu dibangun. Ia percaya bahwa pembangunan sejati dimulai dari rahim ibu dan
tumbuh kembang anak-anak di kampung halamannya.
Hidup Anita bukan tanpa beban. Ia sering begadang membuat
laporan bulanan posyandu dengan tulisan tangan yang rapi, karena desa belum
memiliki jaringan internet stabil untuk menginput data secara daring. Ia harus
menghadapi ibu-ibu yang keras kepala, yang lebih percaya pada mitos daripada
anjuran medis. Belum lagi tekanan dari kepala desa, seorang pensiunan PNS yang
nyaman dengan status quo, yang menganggap program KPM hanya “proyek uji coba
yang merepotkan.” Namun, Anita tetap bertahan. Baginya, setiap senyum balita
yang naik berat badannya, setiap ibu hamil yang akhirnya mau memeriksakan
kandungannya, adalah kemenangan kecil yang tak ternilai.
Suatu pagi, di tengah kesibukannya menyusun jadwal posyandu
di beranda rumahnya sambil ditemani secangkir kopi tubruk, kabar menggembirakan
sekaligus menghebohkan datang. Sebuah mobil pick-up dinas berwarna hijau tua
memasuki desa dengan membawa spanduk biru yang berkibar-kibar. Sekelompok mahasiswa
Universitas Sejahtera, universitas negeri bergengsi di ibu kota provinsi, akan
melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik di desa mereka selama dua bulan.
Spanduk itu terpampang di pintu gerbang desa dengan huruf tebal: "KKN
Tematik Universitas Sejahtera: Membangun Desa, Mewujudkan Indonesia
Sehat."
Satu nama yang paling menyita perhatian warga, terutama
para gadis remaja dan ibu-ibu pengurus PKK: Erlangga. Mahasiswa kedokteran
semester akhir, tampan dengan postur tinggi, kulit bersih khas anak kota, serta
senyum yang ramah namun penuh percaya diri. Ia adalah putra seorang dokter
spesialis penyakit dalam terkenal di ibu kota provinsi, yang sering muncul di
acara-acara kesehatan televisi lokal. Erlangga datang bukan hanya sebagai
mahasiswa biasa; ia membawa reputasi keluarga, proyek-proyek ambisius, dan
mimpi besar untuk “menyentuh langsung masyarakat marginal” sebagai bagian dari
skripsi dan pengabdiannya.
Kehadiran rombongan KKN itu disambut dengan setengah hati
oleh Anita. Ia berdiri di beranda rumahnya, menyilangkan tangan, menyaksikan
keramaian dari kejauhan. Matanya menyipit saat melihat para mahasiswa yang
tampak canggung menapaki jalan berbatu dengan sepatu kanvas putih mereka yang
mulai kotor terkena lumpur. Ia adalah tipe yang skeptis terhadap mahasiswa KKN.
Pengalaman tahun-tahun sebelumnya mengajarkannya bahwa mereka hanya datang
sebentar, membuat program seremonial, seperti penyuluhan di balai desa dengan
bahasa ilmiah yang tidak dipahami warga, membuat posyandu dadakan, berfoto
dengan latar belakang sawah, lalu pergi dengan membawa lembaran laporan yang
nantinya hanya menjadi koleksi arsip berdebu di perpustakaan kampus. Anita
menyebut mereka “turis pembangunan.” Datang dengan kamera mahal dan teori-teori
canggih, namun tidak pernah benar-benar merasakan dinginnya air sungai saat
menyeberang untuk memeriksa kehamilan ibu-ibu di dusun terpencil.
Hari pertama perkenalan di balai desa berlangsung canggung.
Kepala desa menyambut dengan sambutan basah yang berkepanjangan. Para mahasiswa
duduk di kursi plastik, terlihat gamang. Erlangga duduk di barisan depan,
sesekali mencatat sesuatu di buku catatan kulitnya yang eksklusif. Saat sesi
tanya jawab, Anita yang duduk di pojok ruangan dengan balutan jaket lusuh,
akhirnya mengangkat suara.
“Programnya bagus,” kata Anita datar, suaranya menggema di
ruangan yang tiba-tiba hening. “Tapi maaf, apakah teman-teman sudah punya data
riil berapa banyak ibu hamil di desa ini yang mengalami kekurangan energi
kronis? Berapa banyak balita yang tidak pernah diimunisasi sama sekali? Karena
kalau mau bikin program, kami butuh itu. Bukan sekadar penyuluhan umum atau
bakti sosial donor darah yang pesertanya hanya perangkat desa.”
Seketika suasana berubah. Ketua kelompok KKN, seorang
mahasiswa sosiologi yang cerewet, tergagap. Beberapa mahasiswa saling pandang,
tidak siap dengan intervensi sedini itu. Namun Erlangga tidak bergeming. Ia
menatap Anita dengan tatapan yang baru pertama kali, tatapan seorang calon
dokter yang melihat seseorang yang serius dengan medan perang kesehatan. Ia
tersenyum kecil, lalu membuka suara dengan nada tenang namun penasaran.
“Kami memang belum punya data itu, Mbak. Tapi kami ingin
bekerja sama untuk mendapatkannya. Kami tidak datang untuk menggurui. Kami
datang untuk belajar. Mungkin, Mbak bisa menjadi jembatan bagi
kami untuk memahami desa ini.”
Anita hanya mendengus pelan. “Jembatan itu butuh pondasi
kuat, Mas. Bukan sekadar foto-foto di atasnya.”
Sore itu, saat para mahasiswa kembali ke posko KKN yang
menempati bekas SD negeri yang sudah digabung, Erlangga tidak bisa melupakan
pertemuan singkat itu. Ada sesuatu yang mengganggunya: seorang kader desa yang
usianya tak beda jauh dengannya, tetapi memiliki otoritas dan kedalaman
pengalaman yang membuatnya merasa kecil. Ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin
perempuan seusianya rela tinggal di desa terpencil ini, jauh dari gemerlap dan
kemudahan kota? Sementara Anita, sepulang dari balai desa, menuliskan di buku
hariannya: “Mahasiswa baru datang. Tampangnya idealis. Semoga bukan
tipe yang hanya ingin menyelesaikan jam terbang KKN. Kita lihat saja. Awan Biru
bukan taman bermain.”
Prolog
ini menandai awal dari babak baru bagi Desa Awan Biru. Pertemuan antara kader
desa yang idealis namun lelah dengan sistem, dengan calon dokter penuh ambisi
yang harus membuktikan bahwa idealismenya tidak sekadar slogan. Di tengah keterbatasan
jalan berbatu, budaya yang resisten, dan ancaman stunting yang mengintai setiap
hari, mereka harus menjawab pertanyaan besar: mampukah sebuah desa di balik
kabut dibangun bukan oleh proyek besar dari atas, tetapi oleh kolaborasi
sederhana yang lahir dari ketulusan? Dan mungkinkah di antara puing-puing
keterbatasan itu, tumbuh sesuatu yang lebih dari sekadar pembangunan, mungkin
sebuah pengertian, atau bahkan cinta?
BAB 1: Dua Utusan di
Persimpangan Jalan
Pagi itu, Desa Awan Biru masih diselimuti kabut tipis yang
enggan beranjak. Udara dingin menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat setiap
embusan napas berubah menjadi gumpalan uap putih yang menghilang secepat
kemunculannya. Di kejauhan, kokok ayam jantan bersahut-sahutan, seolah
mengingatkan bahwa hari baru telah dimulai, bahkan ketika matahari masih
malu-malu menyembunyikan wajahnya di balik bukit.
Kantor desa yang terletak persis di pusat desa mulai
menunjukkan aktivitasnya. Bangunan semi-permanen berwarna hijau pudar itu
berdiri kokoh meskipun catnya sudah mengelupas di sana-sini, meninggalkan
bercak-bercak seperti peta yang menceritakan usianya yang tak lagi muda. Di
serambi depan, beberapa kursi plastik disusun rapi, meskipun beberapa di
antaranya sudah retak dan hanya bisa ditempati oleh mereka yang tidak terlalu
berisiko jatuh. Bendera merah putih di halaman berkibar pelan ditiup angin
pagi, sedikit lusuh di ujungnya karena sudah terlalu lama tidak diganti.
Di dalam ruang utama Kantor desa, suasana berbeda. Meja
panjang kayu jati yang sudah berusia puluhan tahun itu dikelilingi oleh
kursi-kursi kayu yang bunyinya kretek-kretek setiap kali ada
yang bergerak. Dindingnya dihiasi foto-foto para mantan kepala desa dengan gaya
formal yang kaku, poster-poster program pembangunan yang mulai pudar, dan papan
pengumuman yang penuh dengan selebaran yang sudah menguning karena usia.
Satu-satunya benda modern di ruangan itu adalah laptop tua milik Si Amat yang
diletakkan di meja pojok, dengan kabel colokan yang harus disambung ke
stabilizer karena listrik desa yang sering naik turun.
Pak Iwan, kepala desa yang sudah menjabat dua periode,
duduk di ujung meja dengan postur tegapnya. Pria berusia 58 tahun itu memiliki
tubuh yang masih kekar meskipun rambutnya mulai memutih di pelipis. Kumis
tebalnya yang khas, yang selalu membuat anak-anak desa agak takut saat diajak
bicara, tampak lebih rapi dari biasanya. Hari ini ia mengenakan kemeja batik
lengan panjang berwarna cokelat keemasan, celana bahan hitam, dan sandal kulit
yang sudah mulai retak-retak di bagian jahitannya. Di tangan kanannya, ia
menggenggam sebatang rokok kretek yang belum dinyalakan, hanya diputar-putar di
antara jari-jarinya yang kekar dan penuh kapalan.
Di sekeliling meja, perangkat desa sudah mulai berdatangan
satu per satu. Pak Eko, Kaur Perencanaan yang bertubuh tambun dan selalu
membawa kipas lipat ke mana-mana, duduk di kursi paling dekat dengan pintu
karena ia paling cepat kepanasan meskipun suhu di dalam ruangan sedang
dingin-dinginnya. Bu Lulu, Kaur Keuangan dengan rambut pendek klimis dan
kacamata minus tebal yang membuat matanya tampak membesar, sedang sibuk
membolak-balik buku catatan keuangannya, meskipun tidak ada yang memintanya. Bu
Yuni, sekretaris desa yang energik dengan suara lantang khasnya, duduk di
samping Pak Iwan sambil sesekali menyeka meja dengan kain lap meskipun meja itu
sudah bersih. Dan di sudut ruangan, berdiri Si Amat, admin desa sekaligus ayah
dari Anita, yang tengah asyik dengan laptop tuanya, jari-jari tengahnya
mengetik dengan gerakan yang tidak terlalu cepat karena kebiasaan.
Namun, satu sosok di ruangan itu yang paling mencuri
perhatian adalah Anita. Perempuan muda berusia 24 tahun itu berdiri di pojok
ruangan, dekat jendela yang sedikit terbuka. Ia menyandarkan punggungnya ke
dinding dengan tangan bersilang di depan dada. Jaket lusuh berwarna abu-abu tua
yang selalu ia kenakan saat bepergian pagi hari masih melekat di tubuhnya,
meskipun di dalam ruangan ia sudah membukanya dan menggantungkannya di sandaran
kursi kosong di dekatnya. Rambut sebahu yang biasanya diikat rapi, hari ini
dibiarkan tergerai sedikit, sesekali tertiup angin yang masuk lewat celah
jendela.
Wajah Anita pagi itu tidak bisa dibilang ceria. Matanya
yang teduh namun tegas itu tampak sedikit sayu, bukan karena kurang tidur,
tetapi karena pikirannya sedang jauh. Sejak tadi malam, ia tidak bisa lepas
dari bayangan tentang kedatangan mahasiswa KKN. Bukan karena ia tidak suka
kedatangan mereka, tetapi karena ia sudah terlalu sering melihat pola yang
sama: mahasiswa datang dengan semangat membara, membuat janji-janji manis
tentang perubahan, lalu pergi begitu program usai, meninggalkan desa dengan
laporan yang tebal namun tidak pernah benar-benar menyentuh akar masalah.
Mereka hanya ingin tuntas KKN, pikir Anita. Poin untuk kelulusan, foto untuk
portofolio, lalu balik ke kota dengan perasaan sudah berbuat sesuatu.
Tapi ada yang berbeda pagi ini. Ada desas-desus yang
beredar di antara perangkat desa sejak kemarin malam. Salah satu mahasiswa yang
akan datang adalah Erlangga, putra seorang dokter spesialis terkenal di ibu
kota provinsi. Dan kabar itu membuat Anita semakin skeptis.
Anak orang kaya, anak dokter pula. Pasti datang dengan
gaya, dengan kamera mahal, dengan teori-teori dari buku teks yang tidak pernah
ia terapkan sendiri di lapangan.
Pak Iwan akhirnya memecah keheningan. Ia menepuk meja tiga
kali, bukan keras, hanya cukup untuk menarik perhatian semua orang yang ada di
ruangan itu. Matanya menatap satu per satu perangkat desa yang hadir, seolah
memastikan bahwa semua orang siap mendengarkan.
Pak Iwan: (mengusap
kumis tebalnya dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan turun-temurun,
suaranya lantang memenuhi ruangan yang tidak terlalu besar itu) Baik-baik.
Kita mulai rapat kecil ini. Saya tidak akan memakan waktu lama karena saya tahu
Bapak-Ibu semua punya kerjaan masing-masing. Tapi saya ingin kita semua fokus.
Hari ini, kita kedatangan tamu istimewa.
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum
melanjutkan.
Pak Iwan: Seperti
yang sudah saya sampaikan kemarin, kita akan kedatangan mahasiswa KKN dari
Universitas Sejahtera. Bukan KKN biasa, ini adalah KKN tematik dengan fokus
pada kesehatan masyarakat. Mereka akan ditempatkan di sini selama tiga bulan
penuh. Tiga bulan! Bukan dua bulan seperti biasanya. Dan saya sudah berjanji
kepada rektorat, kita akan memberikan pendampingan terbaik. Ini juga kesempatan
bagi desa kita untuk menunjukkan bahwa Awan Biru bukan sekadar desa tertinggal
yang hanya bisa menerima bantuan. Kita juga bisa menjadi mitra yang baik.
Pak Iwan menghela napas, lalu matanya beralih ke Bu Endang,
Kepala Seksi Pelayanan yang duduk di kursi paling ujung dengan ekspresi agak
gelisah. Sejak tadi Bu Endang tidak banyak bicara, sesuatu yang tidak biasa
karena biasanya ia adalah salah satu yang paling vokal dalam setiap rapat.
Pak Iwan: Dan
untuk itu, saya tunjuk Bu Endang sebagai koordinator pendampingan dari pihak
desa. Bu Endang, saya yakin Ibu punya pengalaman. Dulu Ibu juga pernah menjadi
pendamping KKN, kan?
Bu Endang tersenyum tipis, senyum yang lebih merupakan
bentuk kesopanan daripada ekspresi kegembiraan. Jari-jarinya yang ramping
menggenggam erat buku catatan kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia adalah
perempuan berusia 45 tahun yang selalu tampil rapi dengan kebaya sederhana dan
rambut yang disanggul rapi. Namun pagi itu, ada kerutan di dahinya yang tidak
biasa.
Bu Endang: (nada
suaranya ragu, seperti orang yang sedang memilih kata-kata dengan hati-hati) Pak
Kades, saya sih siap. Tentu saya akan bantu semampu saya. Tapi...
Ia berhenti, matanya melirik ke arah Anita yang masih
berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersilang. Bu Endang menarik napas
pendek, seolah mengumpulkan keberanian.
Bu Endang: Tapi
urusan teknis lapangan, Pak... terutama yang berkaitan dengan kesehatan, apa
nggak lebih pas kalau Anita saja yang mendampingi? Dia kan KPM. Dia setiap hari
turun ke lapangan, tahu persis kondisi warga, punya hubungan baik dengan para
ibu-ibu dan kader posyandu. Lagipula, mahasiswa yang datang ini kan fokusnya
kesehatan. Jadi kalau saya yang mendampingi, saya khawatir kurang nyambung.
Ruangan menjadi sunyi. Semua mata tertuju pada Anita. Pak
Eko menghentikan gerakan kipasnya sejenak. Bu Lulu mengangkat kepalanya dari
buku catatan. Bahkan Si Amat yang sedari tadi asyik mengetik, kini berhenti dan
menoleh ke arah putrinya dengan ekspresi yang sulit diartikan, setengah
khawatir, setengah berharap.
Pak Iwan mengernyit. Ia menoleh ke arah Anita, matanya
menyipit seperti sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik raut wajah
datar perempuan muda itu. Sebagai kepala desa yang sudah puluhan tahun
memimpin, Pak Iwan cukup pintar membaca orang. Dan pagi ini, ia bisa melihat
dengan jelas bahwa Anita sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk
menerima tugas tambahan.
Pak Iwan: (suaranya
sedikit lebih lembut dari biasanya, seperti orang yang berusaha membujuk) Anita,
bagaimana? Apakah kamu bersedia mendampingi mereka?
Keheningan menggantung di udara selama beberapa detik.
Angin pagi masuk melalui jendela, membawa aroma tanah basah dan kopi yang
sedang diseduh di dapur balai desa. Anita tidak bergerak dari posisinya.
Matanya menatap Pak Iwan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, bukan
menantang, bukan pula takut. Ia hanya berdiri diam, seolah sedang
mempertimbangkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar menerima atau
menolak tugas.
Akhirnya, Anita membuka suara. Suaranya datar, tanpa banyak
ekspresi, tetapi ada nada tajam yang menyelinap di sela-sela kata-katanya.
Anita: (menjawab
singkat, dengan sedikit nada sinis yang membuat beberapa perangkat desa saling
berpandangan) Saya akan dampingi, Pak. Tugas saya memang sebagai
kader, jadi tidak ada alasan untuk menolak.
Ia berhenti sejenak, matanya beralih ke jendela, melihat
kabut yang mulai mencair di kejauhan.
Anita: Tapi jangan harap
mereka bisa ikut turun ke posyandu kalau cuma mau foto-foto. Saya tidak punya
waktu untuk jadi babysitter mahasiswa. Kalau mereka serius,
bagus. Kalau cuma mau cari nilai atau cari pengalaman instan, lebih baik mereka
tinggal di posko saja dan saya yang akan laporan ke Pak Kades.
Suara Anita tidak tinggi, tetapi setiap kata yang keluar
dari mulutnya terasa berat, seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan air yang
tenang, menimbulkan riak yang meluas ke seluruh ruangan.
Pak Eko yang sedari tadi hanya diam, kini berdeham pelan.
Ia menutup kipasnya dan menyelipkannya di saku celana, lalu bersandar di kursi
dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia merasa perlu mengatakan sesuatu
meskipun tidak yakin harus berkata apa.
Pak Eko: (nada
suaranya hati-hati, seperti orang yang berusaha menjadi penengah) Ya...
Anita itu memang keras, Pak. Tapi beliau juga yang paling bertanggung jawab.
Saya setuju kalau Anita yang dampingi.
Bu Lulu ikut menimpali, suaranya yang melengking khas
tiba-tiba memecah ketegangan.
Bu Lulu: Setuju!
Yang penting nanti kegiatannya dianggarkan dengan jelas. Saya tidak mau
tiba-tiba ada tagihan tak terduga yang masuk ke laporan keuangan desa. Urusan
dana pendampingan ini harus jelas, Pak Kades. Jangan sampai desa keluar uang
banyak tapi tidak ada pertanggungjawabannya.
Pak Iwan menghela napas, setengah kesal setengah geli
mendengar Bu Lulu yang selalu saja membawa-bawa urusan anggaran ke mana-mana.
Tapi ia memilih untuk tidak berkomentar dan kembali menatap Anita.
Namun sebelum Pak Iwan sempat merespons, Si Amat tiba-tiba
bersuara dari balik laptopnya. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas
terdengar di ruangan yang sunyi. Pria berusia 50 tahun itu menoleh ke arah
putrinya, kacamata bacanya tergantung di ujung hidung, jari-jarinya berhenti
mengetik.
Si Amat: (suaranya
lembut tetapi tegas, seperti orang tua yang sudah ribuan kali mengingatkan
anaknya) Eh, Anit... jangan begitu. Jangan langsung punya prasangka
buruk dulu sebelum kenal. Bisa jadi mereka punya ide-ide baru yang belum pernah
kita pikirkan. Kamu itu kadernya, tugasmu adalah kerja sama dengan siapa saja
yang punya niat baik membantu desa ini. Kalau kamu sudah tutup pintu dari awal,
bagaimana orang mau masuk dan membantu?
Anita menoleh ke arah ayahnya. Untuk sesaat, ekspresi
datarnya pecah, ada kilatan sesuatu di matanya, mungkin kekesalan, mungkin juga
kesedihan yang tidak ingin ia tunjukkan. Ia menatap Si Amat dengan tatapan yang
hanya bisa dipahami oleh ayah-anak yang sudah saling mengenal sejak lahir.
Anita: (suaranya
sedikit lebih tajam dari sebelumnya, tetapi masih terkendali) Ayah,
saya tidak tutup pintu. Saya hanya bilang, saya tidak mau buang-buang waktu.
Kita sudah terlalu sering didatangi orang-orang yang datang dengan janji besar,
tapi pergi tanpa meninggalkan perubahan apa pun. Saya lelah, Yah. Saya lelah
jadi orang yang harus membersihkan sisa-sisa program yang tidak selesai.
Ruangan kembali hening. Si Amat menatap putrinya beberapa
saat, lalu menghela napas panjang. Ia tidak membantah, tidak melanjutkan
argumen. Sebagai ayah yang sudah puluhan tahun menjadi admin desa, ia tahu
betul apa yang dirasakan putrinya. Ia juga lelah. Lelah melihat program demi
program yang datang dan pergi seperti musim, membawa harapan lalu meninggalkan
kekecewaan. Tapi sebagai orang yang lebih tua, ia juga tahu bahwa keputusasaan
tidak akan membangun desa ini.
Si Amat: (akhirnya
berkata dengan suara yang lebih lembut, hampir berbisik) Terserah,
Nak. Tapi ingat, jangan biarkan kekecewaanmu membuatmu buta terhadap
orang-orang yang benar-benar ingin membantu.
Anita tidak menjawab. Ia hanya membuang napas, napas
panjang yang keluar dari hidungnya seperti uap di udara pagi, lalu kembali
menyandarkan punggungnya ke dinding. Tangan-tangannya kembali bersilang di
depan dada, raut wajahnya kembali menjadi datar seperti semula.
Pak Iwan yang menyaksikan seluruh interaksi itu hanya bisa
menggeleng pelan. Ia sudah terlalu lama mengenal Si Amat dan Anita untuk tidak
mengerti dinamika di antara mereka. Tanpa banyak komentar, ia mengetuk meja
lagi sekali, kali ini lebih keras, menandakan bahwa ia ingin melanjutkan rapat.
Pak Iwan: Baiklah.
Sudah diputuskan. Anita yang akan mendampingi kegiatan kesehatan. Bu Endang
tetap menjadi koordinator umum untuk urusan administrasi dan koordinasi dengan
perangkat desa lainnya. Semua setuju?
Satu per satu perangkat desa mengangguk. Bu Lulu mengangkat
ibu jarinya. Pak Eko kembali membuka kipasnya. Bu Yuni tersenyum lega. Hanya
Anita yang tidak bereaksi, ia masih berdiri di pojok ruangan dengan tatapan
kosong ke arah jendela, seolah pikirannya sudah melayang ke tempat yang jauh.
Pukul sepuluh siang, matahari sudah cukup tinggi meskipun
kabut masih bergelayut di puncak-puncak bukit. Desa Awan Biru mulai menunjukkan
denyut kehidupannya. Di sepanjang jalan berbatu yang menjadi poros utama desa,
beberapa warga mulai beraktivitas. Seorang nenek dengan keranjang di
punggungnya berjalan perlahan menuju kebun kopi. Dua orang ibu dengan anak
balita di gendongan duduk di beranda rumah sambil mengupas singkong untuk lauk
makan siang. Beberapa anak laki-laki berlarian di jalan setapak dengan
layang-layang di tangan, meskipun angin pagi belum cukup kencang untuk
menerbangkannya.
Di halaman Kantor desa, suasana berbeda. Sejak tadi pagi,
beberapa perangkat desa sudah sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut
kedatangan mahasiswa KKN. Tenda kecil berwarna biru dipasang di halaman,
meskipun langit pagi itu cerah tanpa tanda-tanda hujan. Kursi-kursi plastik
disusun dalam dua baris menghadap ke panggung kecil yang sebenarnya hanyalah
papan kayu yang ditinggikan sedikit. Spanduk selamat datang dengan tulisan
besar bergambar senyum dan tangan yang berjabat tangan dipasang di pintu
gerbang, meskipun salah satu ujungnya sudah mulai terlepas karena angin.
Dan tepat pukul sepuluh, sebuah mobil box terbuka berwarna
hijau tua dengan bagian belakang yang sudah dimodifikasi menjadi bak penumpang
sederhana, memasuki halaman Kantor desa dengan suara mesin yang
tersendat-sendat. Mobil itu sebenarnya adalah kendaraan angkutan umum yang
biasa disewa oleh warga desa untuk pergi ke pasar kecamatan Kabut Merah setiap
hari Kamis. Tapi hari ini, mobil itu telah disewa khusus oleh panitia KKN untuk
mengantar para mahasiswa dari kecamatan Kabut Merah ke desa.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama Kantor desa. Dari
balik jendela, Anita yang masih berdiri di dalam ruangan bisa melihat dengan
jelas proses turunnya para mahasiswa satu per satu. Tiga orang, dua laki-laki
dan satu perempuan. Namun satu sosok langsung menyedot perhatiannya bahkan
sebelum orang itu benar-benar turun dari mobil.
Erlangga.
Bahkan dari kejauhan, Anita bisa melihat bahwa mahasiswa
yang satu ini berbeda. Posturnya tinggi, mungkin sekitar 180 sentimeter, dengan
bahu yang lebar dan tubuh yang tegap. Ia mengenakan jaket almamater Universitas
Sejahtera berwarna abu-abu dengan garis-garis merah di bagian lengan. Jaket itu
tidak baru, bahkan terlihat sedikit lusuh di bagian siku dan kerahnya, seolah
sudah sering dipakai dalam berbagai kondisi. Dan hal itu justru membuat Anita
sedikit terkejut.
Bukan tipe yang terlalu peduli dengan penampilan, pikir Anita, meskipun ia segera mengusir pikiran
itu. Atau mungkin ini strategi biar terlihat bersahaja.
Erlangga melompat turun dari bak mobil dengan gerakan yang
gesit, tidak canggung seperti kebanyakan anak kota yang baru pertama kali
menginjakkan kaki di desa. Ia langsung menengok ke kiri dan kanan, matanya
menyapu seluruh area Kantor desa dengan cepat, seolah sedang membaca situasi.
Ia tidak langsung menuju ke kerumunan perangkat desa yang sudah menunggu di
bawah tenda, tetapi sebaliknya, ia berbalik dan membantu rekannya yang
perempuan untuk turun. Dengan sigap, ia mengulurkan tangan, menstabilkan tas
besar yang dibawa rekannya, lalu tersenyum ketika rekannya itu mengucapkan
terima kasih.
Itu... tidak biasa, Anita
harus mengakui dalam hati. Kebanyakan mahasiswa KKN yang pernah ia temui akan
langsung mencari pejabat desa untuk bersalaman dan memperkenalkan diri, bukan
membantu rekannya turun dari mobil.
Erlangga kemudian mengambil sebuah kotak besar berwarna
biru dari dalam bak mobil. Kotak itu cukup besar—kira-kira seukuran koper kabin
dan terlihat berat dari cara Erlangga mengangkatnya dengan kedua tangan. Ia
meletakkannya dengan hati-hati di tanah, lalu mengeluarkan beberapa barang
lain: sebuah tas ransel besar yang penuh sesak, sebuah koper kecil berwarna
hitam, dan sebuah tas selempang kulit yang sudah agak usang.
Setelah semua barang rekannya sudah diturunkan, barulah
Erlangga menoleh ke arah rombongan penyambut. Ia berjalan dengan langkah
mantap, tidak terburu-buru, tidak pula terlalu santai. Ada keyakinan dalam
setiap langkahnya, tetapi bukan keyakinan yang sombong. Itu adalah keyakinan
yang lahir dari kebiasaan berada di situasi baru dan tahu bagaimana cara
membawa diri.
Ketika ia mendekati rombongan, Anita yang masih berdiri di
dalam ruangan bisa melihat senyum Erlangga dari balik jendela. Senyum yang
teduh, itulah satu-satunya kata yang bisa Anita gunakan untuk menggambarkannya.
Bukan senyum lebar yang dibuat-buat, bukan pula senyum kecil yang dingin.
Senyum yang hangat, yang membuat orang yang melihatnya merasa bahwa ia
benar-benar tulus berada di sana.
Erlangga langsung menghampiri Pak Iwan yang berdiri paling
depan dengan tangan terbuka. Pak Iwan yang sedari tadi sudah bersiap dengan
sambutannya, tampak terkesan dengan ketegapan pemuda ini. Mereka berjabat
tangan dengan erat, jabat tangan yang lama, bukan sekadar sapaan singkat.
Erlangga: (suaranya
jelas, dengan artikulasi yang baik tetapi tidak kaku, seperti orang yang
terbiasa berbicara di depan umum tetapi tidak ingin terdengar menggurui) Selamat
pagi, Pak Kepala Desa. Saya Erlangga, dari Fakultas Kedokteran Universitas
Sejahtera. Ini teman-teman saya, Dinda dari Fakultas Kesehatan Masyarakat dan
Bagas dari Fakultas Psikologi. Kami mohon izin dan bimbingannya selama KKN di
sini. Kami sadar bahwa kami masih banyak belajar, dan kami berharap bisa
berkontribusi semaksimal mungkin untuk Desa Awan Biru.
Pak Iwan mengangguk-angguk dengan puas. Ia menggenggam
tangan Erlangga beberapa saat lebih lama dari biasanya, seolah ingin merasakan ketulusan
pemuda ini melalui jabatan tangan.
Pak Iwan: (suaranya
menggelegar seperti biasa, tetapi ada nada kehangatan yang jarang ia tunjukkan
pada orang baru) Wah, selamat datang, Mas Erlangga. Selamat datang,
Mas Bagas, Mbak Dinda. Saya dengar dari Pak Camat kemarin, Mas Erlangga adalah
calon dokter terbaik di angkatannya. Katanya, Ibu Bapak di kampus sangat
bangga. Senang sekali kami bisa kedatangan kalian di desa kami yang sederhana
ini. Mari, mari masuk ke dalam. Jangan hanya berdiri di sini.
Pak Iwan menepuk punggung Erlangga dengan ramah, lalu mempersilakan
mereka masuk ke Kantor desa. Di belakang Pak Iwan, rombongan perangkat desa
ikut bergerak. Bu Yuni dengan semangatnya langsung menyapa Dinda dan membantu
membawakan tasnya. Pak Eko menyapa Bagas dengan senyum ramah sambil menanyakan
asal daerahnya. Bu Lulu, setia dengan karakternya, langsung bertanya pada
Erlangga tentang rincian program yang akan mereka lakukan selama tiga bulan, pertanyaan
yang membuat Erlangga tersenyum kecil karena ketidaklazimannya.
Namun Anita masih berdiri di tempatnya di dalam ruangan. Ia
tidak bergerak menyambut, tidak maju ke depan untuk bersalaman. Ia hanya
berdiri di balik jendela, matanya mengikuti gerak-gerik Erlangga yang kini
sedang berjalan menuju pintu utama kantor desa. Ada sesuatu yang mengganggunya,
bukan sesuatu yang buruk, tetapi sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Erlangga
tidak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada kesan sombong, tidak ada gaya anak
orang kaya yang membawa barang mahal, tidak ada sikap menggurui yang sering ia
lihat dari mahasiswa KKN sebelumnya.
Tapi ini baru hari pertama, Anita mengingatkan dirinya sendiri. Semua
orang bisa bersikap baik di hari pertama.
Erlangga melangkah masuk ke dalam kantor desa dengan
langkah yang sedikit lebih pelan, matanya menyapu ruangan dengan penuh rasa
ingin tahu. Ia melihat meja kayu panjang yang sudah tua, foto-foto mantan
kepala desa di dinding, papan pengumuman yang penuh dengan selebaran, dan di
pojok ruangan, seorang perempuan muda berdiri dengan tangan bersilang, raut
wajahnya datar tetapi matanya tajam.
Mata Erlangga berhenti pada perempuan itu. Ada sesuatu di
matanya, bukan ketertarikan romantis, tetapi lebih kepada rasa penasaran yang
mendalam. Siapa perempuan ini? Ia tidak seperti perangkat desa lainnya yang
tadi menyambut dengan antusias. Ia berdiri sendiri, di pojok, dengan ekspresi
yang tidak bisa dibaca. Dan di tangannya, Erlangga melihat sebuah map cokelat
berisi dokumen-dokumen yang sudah agak lusuh.
Setelah bersalaman dengan beberapa perangkat desa yang ada
di dalam ruangan, Erlangga dengan sengaja melangkah mendekati pojok ruangan
tempat Anita berdiri. Ia membawa kotak biru yang tadi dibawanya dari mobil, kotak
yang sekarang terlihat lebih jelas berisi alat-alat kesehatan sederhana:
tensimeter, stetoskop, termometer, dan beberapa perlengkapan medis lainnya. Ia
meletakkan kotak itu di meja kecil di dekatnya, lalu menatap Anita dengan
senyum yang tulus.
Erlangga: (suaranya
ramah, tetapi tidak berlebihan) Permisi, Mbak. Saya Erlangga.
Barangkali Mbak adalah salah satu perangkat desa di sini? Maaf kalau saya belum
tahu nama-namanya semua.
Anita menatap Erlangga beberapa saat sebelum menjawab.
Matanya bergerak cepat, membaca Erlangga dari ujung rambut hingga ujung sepatu,
bukan seperti perempuan yang sedang menilai ketampanan seorang laki-laki,
tetapi seperti seorang kader kesehatan yang sedang menilai seseorang yang akan
bekerja sama dengannya. Ia melihat jaket almamater yang lusuh, sepatu kanvas
yang sedikit kotor, tangan yang terlihat bersih tetapi tidak terlalu mulus, ada
bekas-bekas kapalan yang menandakan bahwa pemiliknya tidak hanya duduk di
bangku kuliah sepanjang waktu.
Anita: (menjawab
datar, dengan nada yang tidak hangat tetapi tidak pula dingin—hanya netral) Anita.
Kader Pembangunan Manusia. Saya yang nanti akan mendampingi kegiatan kalian di
lapangan, terutama yang berkaitan dengan kesehatan.
Mendengar jawaban Anita, mata Erlangga tiba-tiba berbinar.
Bukan kilatan sombong, tetapi cahaya kegembiraan yang tulus, seperti anak kecil
yang baru menemukan sesuatu yang sangat ia cari. Ia tersenyum lebar, dan untuk
pertama kalinya pagi itu, ekspresinya benar-benar terlihat seperti seorang
mahasiswa yang sedang bersemangat.
Erlangga: (suaranya
meninggi sedikit, tetapi tetap sopan) KPM? Wah, luar biasa! Saya
dengar program ini sangat strategis, Mbak. Saya justru ingin banyak belajar
dari pengalaman Mbak Anita tentang kondisi riil kesehatan di desa. Teori di
kampus hanya satu sisi, tapi pengalaman di lapangan seperti yang Mbak Anita
miliki itu yang sebenarnya tidak bisa diajarkan di kelas.
Anita sedikit terkejut. Ia tidak menyangka ada mahasiswa
KKN yang benar-benar tertarik dengan isu kesehatan masyarakat, apalagi yang
secara spesifik menyebut program KPM dengan pengetahuan yang tampaknya tidak
sekadar basa-basi. Selama ini, mahasiswa KKN yang datang selalu lebih tertarik
pada program-program yang spektakuler: penyuluhan dengan peserta banyak, donor
darah yang melibatkan seluruh desa, atau kegiatan yang bisa diliput oleh media.
Tidak ada yang pernah benar-benar tertarik dengan kerja-kerja detail seorang
kader: mendata balita satu per satu, membujuk ibu hamil untuk periksa
kandungan, atau berjalan kaki berjam-jam ke dusun-dusun terpencil.
Anita menatap Erlangga lebih lama, mencoba mencari apakah
ada kepalsuan di balik senyum dan semangatnya. Tapi ia tidak menemukan apa-apa.
Hanya mata yang jujur dan senyum yang tidak dibuat-buat.
Anita: (agak melunak,
meskipun masih menyisakan sedikit nada skeptis di ujung kata-katanya) Ya...
nanti kita lihat saja. Saya harap Mas Erlangga siap dengan medannya. Di sini
tidak seperti di kota. Jalanan berbatu, jarak antar rumah jauh, dan tidak semua
warga terbuka dengan pendatang. Apalagi kalau kita datang dengan bawa alat-alat
kesehatan, kadang mereka malah takut. Mereka lebih percaya paraji atau
dukun kampung daripada tenaga medis.
Erlangga mendengarkan dengan seksama. Ia tidak menyela,
tidak mencoba menunjukkan bahwa ia sudah tahu semua itu. Ia hanya mengangguk
perlahan, matanya serius memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut
Anita. Ketika Anita selesai berbicara, Erlangga menepuk dadanya, bukan dengan
gerakan yang sombong, tetapi dengan gerakan yang menunjukkan komitmen.
Erlangga: (nada
suaranya mantap, tetapi tetap rendah hati) Saya siap, Mbak. Saya tidak
datang ke sini dengan ekspektasi yang muluk-muluk. Saya datang karena saya
ingin belajar. Dan kalau bisa, ya membantu semampu saya. Bahkan kalau perlu,
saya ingin ikut ke posyandu minggu depan. Saya bawa perlengkapan sederhana
untuk pemeriksaan dasar. Mungkin tidak seberapa, tapi semoga bisa membantu
meringankan kerja Mbak Anita dan para kader lainnya.
Anita terdiam. Tidak ada yang bisa ia katakan. Erlangga
telah menjawab semua keraguan yang ia miliki, setidaknya untuk hari ini. Ia
ingin tetap skeptis, ingin tetap menjaga jarak, tapi ada sesuatu dalam diri
Erlangga yang membuatnya sulit untuk bersikap dingin.
Di tengah percakapan mereka, Bu Yuni yang sedari tadi
memperhatikan dari kejauhan tiba-tiba muncul di samping mereka dengan senyum
menyeringai. Matanya bergerak cepat dari Anita ke Erlangga, lalu kembali lagi
ke Anita, dengan ekspresi yang sudah sangat dikenal oleh semua orang di kantor
desa, ekspresi seorang mak comblang amatir yang tidak bisa menahan diri.
Bu Yuni: (tertawa
kecil, suaranya nyaring dan penuh arti) Wah, cocok sekali ini.
Biasanya Anita galak kalau diajak ngobrol sama anak KKN. Kemarin-kemarin
mahasiswa KKN dari tahun lalu sampai takut kalau ketemu Anita. Ini malah ramah,
ngobrol serius dari tadi. Awas jatuh cinta, Le. Jangan sampai tiga bulan di sini,
eh, pulang-pulang bawa oleh-oleh mantu.
Ruangan yang tadinya sunyi tiba-tiba pecah oleh tawa. Pak
Eko yang baru saja masuk setelah mengantar Bagas ke posko, langsung ikut
nimbrung dengan suaranya yang khas.
Pak Eko: (sambil
mengelap keringat di dahi meskipun cuaca tidak panas) Eh, jangan
main-main, Bu. Urusan cinta itu rumit. Saya dulu pacaran aja tujuh tahun baru
menikah. Itu pun setelah melalui berbagai macam ujian. Apalagi ini beda latar
belakang, kader desa sama calon dokter. Beda dunia, Bu. Nanti malah jadi drama.
Anita yang mendengar semua itu, langsung merasakan panas
merambat di pipinya. Wajahnya yang tadinya datar dan dingin, tiba-tiba berubah
menjadi merah padam. Ia mengerjap cepat, tidak percaya bahwa pembicaraan
seriusnya dengan Erlangga tiba-tiba berubah menjadi bahan gosip.
Anita: (suaranya
meninggi, setengah kesal setengah malu) Bu Yuni! Pak Eko! Jangan
ngaco! Saya hanya lagi ngomongin soal posyandu. Ini kan urusan kerja. Jangan
dibawa-bawa ke urusan lain.
Erlangga yang berada di tengah situasi itu justru tertawa
lepas. Ia tidak terlihat canggung atau tersinggung dengan ledekan yang
tiba-tiba datang. Sebaliknya, ia menanggapinya dengan santai, bahkan ikut
mencairkan suasana.
Erlangga: (tertawa,
suaranya ringan dan hangat) Saya sih siap-siap saja, Bu. Asal Mbak
Anita juga siap. Tapi saya rasa tiga bulan itu terlalu singkat untuk sesuatu
yang serius. Lagipula, saya datang ke sini untuk KKN, bukan untuk cari jodoh.
Tapi kalau rezeki, ya siapa tahu?
Tawa di ruangan itu semakin keras. Bu Lulu yang sedari tadi
asyik menghitung anggaran di buku catatannya, akhirnya angkat bicara dengan
suara melengking khasnya yang selalu membuat semua orang terpingkal-pingkal.
Bu Lulu: (meletakkan
buku catatannya, menatap Erlangga dengan mata berbinar di balik kacamatanya
yang tebal) Eh, Mas Erlangga, jangan main-main. Urusan cinta itu harus
jelas keuangannya. Saya sebagai Kaur Keuangan harus tahu. Kalau sampai serius,
harus lapor ke saya. Nanti kita anggarkan untuk acara lamaran. Jangan sampai
dadakan nanti desa kehabisan anggaran.
Bu Endang yang sedari tadi hanya diam di pojok ruangan,
tiba-tiba terbahak mendengar ucapan Bu Lulu. Ia menepuk paha sambil
geleng-geleng kepala.
Bu Endang: (terbahak-bahak,
suaranya terdengar sampai ke luar ruangan) Duh, Bu Lulu ini dari tadi
ngomongin anggaran terus. Masa nikah dianggarkan? Itu kan urusan pribadi, Bu.
Bukan urusan desa.
Bu Lulu: (dengan
ekspresi sangat serius, seolah sedang menjelaskan hal yang paling logis di
dunia) Iya dong! Namanya juga perencanaan pembangunan manusia, kan?
Program KPM itu kan fokusnya pada pembangunan sumber daya manusia. Nikah itu
bagian dari pembangunan keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat. Kalau keluarga tidak terbangun dengan baik, bagaimana masyarakat
bisa maju? Jadi ya harus dianggarkan!
Semua orang di ruangan itu tertawa. Bahkan Si Amat yang
sedari tadi asyik dengan laptopnya, ikut tersenyum kecil mendengar argumen Bu
Lulu yang sangat on brand dengan karakternya. Pak Iwan yang
berdiri di samping pintu sejak tadi, menggeleng-gelengkan kepala dengan
ekspresi setengah kesal setengah lucu. Ia akhirnya melangkah maju, mengangkat
tangannya untuk menenangkan suasana yang mulai terlalu ramai.
Pak Iwan: (suaranya
tegas tetapi masih menyisakan senyum di bibirnya) Sudah, sudah! Jangan
jadi bahan gosip. Ini urusan serius, kita lagi menyambut tamu. Jangan malah
jadi bahan candaan. Nanti tamunya jadi tidak enak.
Ia menoleh ke arah Erlangga yang masih tersenyum, lalu ke
Anita yang masih berdiri dengan pipi memerah dan tangan yang kembali bersilang
di depan dada.
Pak Iwan: Anita,
mulai besok, antarkan Mas Erlangga dan teman-temannya keliling desa. Kenalkan
dengan tokoh masyarakat, kader posyandu, dan tentu saja bidan desa. Saya ingin
mereka benar-benar memahami kondisi desa kita. Jangan hanya di kantor desa
terus.
Anita menghela napas, berusaha mengembalikan ketenangannya
setelah ledekan tadi. Ia menatap Pak Iwan sebentar, lalu mengangguk pendek.
Anita: (suaranya sudah
kembali datar, meskipun masih ada sisa-sisa kemerahan di pipinya) Baik,
Pak. Saya akan mulai besok pagi.
Pak Iwan mengangguk puas. Ia menepuk bahu Erlangga sekali
lagi, lalu berpamitan karena ada urusan lain yang harus ia selesaikan. Satu per
satu perangkat desa mulai meninggalkan ruangan. Bu Yuni menarik Dinda untuk
diajak bicara tentang program-program yang sudah disiapkan. Pak Eko mengajak
Bagas melihat-lihat desa. Bu Lulu kembali ke buku catatannya. Dan Si Amat,
setelah melirik putrinya sekilas dengan senyum kecil yang penuh arti, kembali
fokus pada laptopnya.
Setelah ruangan mulai sepi, Erlangga yang masih berdiri di
dekat Anita, melangkah mendekat. Ia melihat papan pengumuman yang sedang Anita
rapikan, papan kayu lapuk yang ditempeli berbagai selebaran yang sudah
menguning. Beberapa selebaran tentang imunisasi, tentang program stunting,
tentang jadwal posyandu. Semuanya sudah lama, ada yang bahkan bertahun-tahun
yang lalu.
Erlangga: (suaranya
pelan, hanya untuk mereka berdua) Mbak Anita... terima kasih untuk
kesediaannya. Maaf kalau saya terlalu bersemangat tadi. Saya memang dari awal
pengen banget KKN di tempat yang benar-benar butuh pendampingan kesehatan.
Bukan tempat yang sudah maju, di mana KKN hanya jadi formalitas.
Anita tidak menoleh, tetapi jari-jarinya berhenti merapikan
selebaran. Ia mendengarkan.
Erlangga: Dan
sejujurnya... saya sudah dengar nama Mbak dari Dinas Kesehatan Kabupaten Merah
Jingga. Waktu saya dan teman-teman melakukan survei awal dua minggu lalu, saya
sempat bertanya ke salah satu staf di sana. Siapa kader kesehatan yang paling
aktif di wilayah Kecamatan ini. Dan beliau langsung menyebut nama Mbak Anita.
Katanya, Mbak adalah salah satu KPM terbaik yang pernah dilatih. Bahkan
katanya, Mbak beberapa kali menolak tawaran kerja di puskesmas karena ingin
fokus di desa ini.
Anita akhirnya menoleh. Matanya menatap Erlangga dengan ekspresi
yang tidak bisa dibaca, bukan marah, bukan tersanjung, tetapi ada kejutan yang
tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Anita: (suaranya
sedikit serak, entah karena emosi atau karena udara pagi yang masih dingin) Itu
hanya omongan orang. Saya cuma melakukan tugas saya. Tidak lebih.
Erlangga: (tersenyum
kecil, tidak memaksa) Mungkin. Tapi bagi saya, orang yang melakukan
tugasnya dengan sungguh-sungguh di tempat yang sepi seperti ini, tanpa banyak
orang yang melihat dan tanpa imbalan yang sebanding... itu adalah pahlawan.
Sungguh.
Anita terdiam. Kata-kata Erlangga menyentuh sesuatu yang
selama ini ia pendam dalam-dalam. Selama bertahun-tahun menjadi kader, jarang
sekali ada yang benar-benar memahami apa yang ia lakukan. Bagi sebagian besar
warga, ia hanyalah "anaknya Si Amat yang sok sibuk". Bagi perangkat
desa, ia adalah "kader yang cerewet tapi andal". Tidak pernah ada
yang menyebutnya pahlawan. Dan mendengar kata itu dari mulut seorang mahasiswa
yang baru saja ia temui, membuat dadanya terasa sesak.
Tapi Anita bukan tipe orang yang mudah larut dalam pujian.
Ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya yang untuk sesaat terasa
lunak, lalu mengembalikan raut wajahnya menjadi datar seperti semula.
Anita: (suaranya
tegas, tetapi tidak dingin) Kalau Mas Erlangga serius ingin membantu,
besok pagi kita mulai jam tujuh. Saya akan ajak ke rumah-rumah warga yang punya
balita dengan kondisi kurang gizi. Tapi saya peringatkan dulu, medannya berat.
Kita harus jalan kaki karena jalanan tidak bisa dilewati motor. Dan warga di
dusun-dusun itu tidak semuanya ramah. Ada yang akan menyambut kita dengan
senyum, ada yang akan membentak kita keluar dari rumahnya. Siap?
Erlangga tidak ragu sedetik pun. Ia mengangguk dengan
semangat, bukan semangat yang berlebihan, tetapi semangat yang tenang dan
mantap, seperti orang yang sudah mempersiapkan dirinya untuk tantangan apa pun.
Erlangga: (mengangguk
tegas, matanya menatap Anita dengan penuh komitmen) Siap, Komandan!
Anita tidak bisa menahan senyum kecil yang akhirnya lolos
dari bibirnya. Ia membuang muka ke arah jendela, berpura-pura melihat kabut
yang mulai mencair di kejauhan. Di luar, matahari mulai menampakkan diri
sepenuhnya, menyinari desa dengan cahaya keemasan yang hangat. Burung-burung
mulai berkicau, anak-anak mulai berteriak riang di lapangan desa, dan di
kejauhan, asap dapur mulai mengepul dari rumah-rumah warga yang menyiapkan
makan siang.
Di dalam ruangan yang mulai sunyi itu, dua orang berdiri
tidak jauh dari satu sama lain. Seorang kader desa yang idealis namun lelah,
dan seorang calon dokter yang penuh ambisi namun rendah hati. Mereka berada di
persimpangan jalan yang sama, persimpangan antara ketidakpercayaan dan harapan,
antara apa yang sudah terjadi dan apa yang mungkin akan terjadi.
Pagi itu, belum ada yang tahu ke mana jalan ini akan
membawa mereka. Yang pasti, Desa Awan Biru, dengan segala keterbatasannya, akan
menjadi saksi dari sesuatu yang mungkin lebih dari sekadar program pembangunan.
Mungkin ini adalah awal dari perubahan. Atau mungkin, ini adalah awal dari
sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka duga sebelumnya.
BAB 2: Deru Antusiasme
dan Gelak Tawa di Dapur Umum
Pagi masih buta ketika Desa Awan Biru mulai menunjukkan
denyutnya yang paling awal. Kabut kebiruan yang menjadi nama desa ini masih
bergelayut di sela-sela pepohonan, menyelimuti lembah dengan kelembapan yang
menusuk tulang. Ayam jantan belum lama berhenti berkokok, menggantikan suara
jangkrik yang mulai lelah setelah semalaman bernyanyi. Di kejauhan, mesjid desa
sudah mengumandangkan azan subuh dengan pengeras suara yang sedikit serak
karena usia, suaranya bergema di antara bukit-bukit yang mengelilingi desa.
Di posko KKN yang menempati bekas SD negeri yang sudah
digabung lima tahun lalu, lampu di ruang utama sudah menyala sejak pukul
setengah enam. Erlangga terbangun dari tidurnya yang singkat, bukan karena
sulit tidur, tetapi karena semangat yang menggebu-gebu membuatnya tidak bisa
memejamkan mata lebih lama lagi. Ia bergerak perlahan di atas kasur tipis yang
hanya beralaskan karpet bekas, berusaha tidak membangunkan Dinda dan Bagas yang
masih tertidur pulas di ruang sebelah.
Ransel besar berwarna abu-abu yang sudah ia siapkan sejak
semalam tergeletak di samping tempat tidurnya. Ia memeriksa isinya sekali lagi:
stetoskop, tensimeter portabel, termometer digital, senter kecil untuk
pemeriksaan THT, buku catatan, alat tulis, dan bekal sederhana berupa roti dan
air minum. Ia juga menyelipkan kain lap kecil di saku celananya, kebiasaan yang
ia bawa sejak kecil dari pamannya yang bekerja di bengkel.
Erlangga melangkah keluar dari posko dengan langkah pelan,
menutup pintu kayu yang berderit pelan. Udara pagi langsung menyambarnya dengan
dingin yang menusuk, membuat napasnya berubah menjadi gumpalan uap putih. Ia
berdiri sejenak di teras, menikmati keheningan pagi yang masih murni, sebelum
akhirnya berjalan menyusuri jalan berbatu menuju kantor desa.
Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam sepuluh menit, pagi
itu ia tempuh dengan langkah cepat. Pikirannya melayang pada pertemuan kemarin,
pada Anita dengan raut wajah datarnya, pada senyum sinis yang ia coba
sembunyikan, pada kata-katanya yang tajam namun jujur. Ada sesuatu tentang
perempuan itu yang membuat Erlangga penasaran. Bukan karena ketampanannya, ia
sudah cukup dewasa untuk membedakan antara ketertarikan fisik dan kekaguman
profesional. Yang membuatnya penasaran adalah bagaimana seseorang seusia Anita
bisa memiliki dedikasi sebesar itu untuk desa yang bahkan warganya sendiri
setengah-setengah dalam mendukung program kesehatannya.
Dia bertahan di sini, dengan segala keterbatasan, sementara
saya yang punya segalanya di kota justru merasa belum cukup berkontribusi, pikir Erlangga. Ada yang salah dengan
paradigma saya selama ini.
Ketika ia tiba di kantor desa, langit timur mulai memerah.
Kabut masih cukup tebal, membasahi rambut dan jaket almamaternya yang lusuh.
Namun yang ia lihat di depan gerbang balai desa membuatnya menghentikan
langkah.
Anita sudah berdiri di sana.
Ia mengenakan jaket lusuh berwarna abu-abu tua yang
kemarin, rambut sebahu yang diikat rapi, dan sepatu boots karet yang sudah agak
usang. Di sampingnya, sebuah motor bebek tua berwarna hitam atau lebih tepatnya
dulunya hitam, karena sekarang catnya sudah mengelupas di sana-sini, terparkir
dengan posisi miring. Dan dari bahasa tubuh Anita yang membungkuk di samping
motor sambil menggerutu kecil, Erlangga bisa langsung menebak: ada masalah.
Ia mempercepat langkahnya, mendekati Anita yang sedang
memutar-mutar kunci kontak dengan gerakan frustrasi.
Erlangga: (menghampiri
dengan langkah cepat, ikut membungkuk di samping Anita untuk melihat motor tua
itu) Ada masalah, Mbak? Kok dari tadi diputer-puter terus? Mogok?
Anita menoleh dengan raut wajah yang campuran antara kesal
dan malu. Jari-jarinya masih memutar kunci kontak maju mundur, seperti berharap
ada keajaiban yang akan membuat motor ini hidup kembali.
Anita: (suaranya kesal,
tetapi lebih kepada keadaan daripada kepada Erlangga) Busi mungkin
basah. Tadi malam hujan deras sekali, motor ini saya parkir di luar karena
garasi penuh kardus berisi buku-buku posyandu. Saya pikir cuma kena gerimis,
ternyata kena hujan lebat. Dari subuh saya coba hidupin, cuma bunyi nggres doang.
Padahal saya sudah ada janji mau ke rumah Pak Karyo jam tujuh.
Ia menghela napas panjang, menepuk-nepuk jok motor yang
sudah retak-retak dengan gerakan putus asa.
Anita: Motor ini
satu-satunya kendaraan saya untuk keliling desa. Kalau sampai rusak parah, saya
harus jalan kaki ke mana-mana. Padahal hari ini saya ingin Mas Erlangga lihat
langsung kondisi balita stunting di RT 02 dan RT 03. Jaraknya lumayan.
Erlangga tersenyum, bukan senyum sinis atau senyum yang
meremehkan, tetapi senyum yang tenang dan penuh pengertian. Ia melepas ransel
besar dari punggungnya, meletakkannya di tanah dengan hati-hati, lalu berlutut
di samping motor tua itu.
Erlangga: (sambil
mengamati motor dengan saksama) Coba saya lihat, Mbak. Biasanya kalau
busi basah, solusinya sederhana. Nggak perlu bawa ke bengkel.
Anita menatapnya dengan mata setengah tak percaya. Matanya
mengikuti gerakan tangan Erlangga yang dengan sigap membuka jok motor, mencari
kunci busi yang biasanya diselipkan di sela-sela jok. Erlangga menemukannya
dengan mudah, sebuah kunci busi sederhana yang sudah agak berkarat.
Anita: (masih dengan
nada skeptis) Mas bisa servis motor? Saya kira anak dokter cuma bisa
baca resep dan lihat hasil laboratorium. Ini urusan mesin, Mas. Beda dunia.
Erlangga tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang
terampil dan penuh kebiasaan, gerakan yang menunjukkan bahwa ia sudah melakukan
ini berkali-kali, ia membuka tutup busi dengan kunci yang sedikit membandel.
Busi yang ia tarik keluar memang basah, bahkan ada sedikit endapan hitam di
ujung elektrodanya.
Ia kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan kain lap
kecil yang tadi ia siapkan dari posko. Dengan gerakan hati-hati, ia
membersihkan busi dari sisa-sisa air dan kotoran. Setelah dirasa cukup bersih,
ia mengangin-anginkannya sebentar, lalu memasang kembali dengan rapi.
Erlangga: (sambil
memasang kembali busi dengan konsentrasi, tanpa menoleh) Mbak, saya
anak kampung juga kok. Dulu waktu SMP, setiap liburan saya selalu ke rumah
paman di desa. Paman punya bengkel kecil, servis motor, tambal ban, ganti oli.
Saya sering bantu-bantu, awalnya cuma jadi asisten yang disuruh pegang obeng,
lama-lama belajar. Urusan busi basah atau karburator kotor, itu mah camilan
buat saya. Nggak ada bedanya sama baca resep obat. Sama-sama perlu ketelitian.
Ia mengencangkan busi dengan kunci, lalu berdiri dan
menginjak kick starter satu kali.
Brummmm...
Motor menyala dengan suara yang cukup halus untuk ukuran
motor tua. Erlangga membiarkan mesin menyala sebentar, memastikan tidak ada
suara aneh atau getaran berlebih. Ia menoleh ke Anita dengan senyum puas.
Erlangga: Selesai,
Mbak. Motor siap tempur. Tapi saran saya, nanti malam kalau mau hujan, tutup
busi dengan plastik atau taruh motor di tempat teduh. Busi basah itu masalah
sepele tapi bikin jengkel kalau kejadian pas lagi buru-buru.
Anita yang sejak tadi menonton dengan mulut sedikit terbang
karena takjub, kini tertawa kecil. Tawanya tidak keras, tetapi ada kehangatan
yang sebelumnya tidak ia tunjukkan. Ia menggeleng-gelengkan kepala, masih tidak
percaya bahwa seorang mahasiswa kedokteran, anak seorang dokter spesialis
terkenal, bisa begitu terampil dengan mesin motor tua.
Anita: (sambil
mengambil helm dari jok, suaranya sudah jauh lebih ramah dari kemarin) Baiklah,
Mas Montir. Saya angkat topi. Ternyata tidak semua anak kota itu gagap
teknologi kalau urusan mesin. Silakan naik, kita ke rumah Pak Karyo
dulu. Beliau punya warung di RT 02, sekaligus rumahnya ada cucu yang lagi dalam
pemantauan stunting. Namanya Bintang. Anaknya yang kedua, umur dua tahun
setengah tapi berat badan cuma delapan kilogram.
Erlangga mengambil ranselnya dan duduk di boncengan dengan
gerakan yang tidak canggung, lagi-lagi mengejutkan Anita yang terbiasa melihat
anak kota kesulitan menaiki motor di jalanan berbatu.
Erlangga: (sambil
memegang bagian belakang motor dengan mantap) Siap, Komandan. Tolong
jalannya pelan-pelan ya, Mbak. Saya mau lihat-lihat kondisi desa juga sambil
jalan.
Perjalanan menuju RT 02 ditempuh dengan melewati perkampungan
yang masih asri. Jalanan berbatu yang berkelok-kelok diapit oleh pepohonan
pisang dan singkong di kiri-kanan. Di beberapa titik, mereka melewati pematang
sawah yang sempit, di mana di sisi kanan terbentang hamparan sawah yang mulai
menguning, tanda panen akan segera tiba. Burung-burung kecil beterbangan di
atas padi, sesekali hinggap untuk memakan bulir-bulir yang sudah masak.
Sepanjang jalan, Erlangga tak henti-hentinya bertanya. Ia
tidak hanya bertanya tentang kondisi kesehatan warga, tetapi juga tentang
hal-hal yang lebih mendasar: bagaimana sistem irigasi sawah, apakah warga masih
menanam padi dua kali setahun, berapa banyak keluarga yang memiliki jamban
sendiri, apakah akses ke puskesmas pembantu masih terbuka, dan siapa saja tokoh
masyarakat yang bisa diajak bekerja sama.
Anita yang awalnya menjawab dengan singkat dan agak kaku,
perlahan mulai menikmati obrolan. Ia menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan
Erlangga bukan sekadar basa-basi atau formalitas mahasiswa KKN yang sedang
mengumpulkan data. Ada rasa ingin tahu yang tulus, dan yang lebih penting, ada
pemahaman bahwa kesehatan tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial-ekonomi
masyarakat.
Erlangga: (dari
boncengan, suaranya sedikit keras karena angin dan suara mesin) Mbak
Anita, dari yang saya lihat, desa ini sebenarnya punya potensi besar. Tanahnya
subur, airnya cukup, warganya ramah-ramah. Tapi kenapa masalah stunting masih
setinggi ini? Apa memang faktor ekonomi yang paling dominan?
Anita menghela napas. Ia mengurangi kecepatan motor karena
jalan mulai menanjak dan berbatu.
Anita: (menoleh
sedikit, suaranya terdengar lebih serius) Faktor ekonomi jelas
berpengaruh, Mas. Tapi bukan cuma itu. Masalah utamanya adalah pengetahuan dan
kebiasaan. Banyak ibu di sini yang masih percaya kalau anaknya kurus itu karena
"bakat" atau "keturunan". Mereka tidak paham bahwa stunting
itu bisa dicegah dengan gizi yang baik sejak kehamilan. Ada juga yang sudah
dikasih PMT, pemberian makanan tambahan dari posyandu, tapi di rumah tetap
dikasih makan nasi dengan lauk seadanya atau bahkan cuma kerupuk. Kadang saya
sampai frustrasi kalau sudah ngomongin ini.
Erlangga: (mengangguk-angguk
di belakang) Jadi intervensi gizi saja tidak cukup. Harus ada edukasi
yang konsisten dan pendampingan yang intensif.
Anita: (tersenyum
kecil, meskipun Erlangga tidak melihatnya) Nah, itu dia. Selama ini
saya dan kader lain sudah melakukan pendampingan, tapi tenaga kami terbatas.
Saya cuma sendiri untuk tiga dusun. Kadang kalau saya ke dusun A, dusun B dan C
tidak terpantau. Kalau ada yang bisa bantu, ya saya sangat terbantu.
Erlangga: (suaranya
mantap) Saya siap bantu, Mbak. Selama di sini, saya ingin fokus ke
pendampingan kasus-kasus stunting. Nanti saya catat satu per satu, saya pantau
perkembangannya. Tiga bulan mungkin tidak cukup untuk menyelesaikan masalah,
tapi setidaknya kita bisa memulai perubahan.
Anita tidak menjawab. Ia hanya menekan gas sedikit lebih
dalam, menyusuri jalan berbatu yang mulai menanjak ke arah perkampungan RT 02.
Di dalam hatinya, ada rasa hangat yang tidak bisa ia jelaskan, bukan karena
kata-kata Erlangga yang manis, tetapi karena ketulusan yang ia rasakan dari
setiap kalimat yang diucapkan pemuda itu.
Warung Pak Karyo terletak tepat di tikungan pertama RT 02,
di bawah pohon beringin besar yang usianya mungkin sudah lebih dari setengah
abad. Warung itu sederhana: bangunan semi-permanen dari papan kayu dengan atap
seng yang sudah berkarat di beberapa bagian. Di depan warung, terdapat beberapa
bangku panjang dari kayu yang sudah halus karena sering diduduki warga yang
nongkrong sambil minum kopi. Sebuah papan nama yang sudah pudar bertuliskan
"Warung Mbah Karyo" bergoyang pelan ditiup angin pagi.
Ketika motor Anita berhenti di depan warung, suasana masih
lengang. Pak Karyo, pemilik warung yang sudah berusia 60 tahun, sedang sibuk
menata dagangan di etalase kaca yang sudah retak di salah satu sudutnya. Ia
mengenakan kaos oblong lusuh berwarna abu-abu, celana pendek selutut, dan
sandal jepit yang sudah hampir putus di bagian depannya. Tubuhnya kurus tetapi
masih tegap, dengan rambut yang sudah hampir seluruhnya putih dan kulit yang
keriput karena usia dan paparan sinar matahari.
Di samping Pak Karyo, di lantai tanah yang hanya beralaskan
tikar bambu tipis, seorang balita kecil sedang duduk dengan posisi lesu. Anak
itu, Bintang namanya, memiliki tubuh yang sangat kurus untuk anak seusianya.
Tulang rusuknya terlihat jelas di balik kaos oblong yang kebesaran. Rambutnya
berwarna kemerahan dan tampak rapuh, seperti rambut jagung yang kering. Di
tangannya, ia memegang sendal jepit bekas, diayun-ayunkan ke sana kemari tanpa
fokus yang jelas. Matanya yang besar dan hitam tampak sayu, tidak bercahaya
seperti anak seusianya seharusnya.
Pak Karyo menoleh ketika mendengar suara motor. Wajahnya
yang tadinya serius langsung berubah menjadi cerah ketika melihat Anita turun
dari motor.
Pak Karyo: (dengan
suara serak karena usia, tetapi penuh kehangatan) Eh, Nita. Baru
pagi-pagi sudah ke sini. Ada apa? Jangan-jangan mau nagih utang? Padahal utang
saya di warung ini cuma seratus ribu, itu pun belum jatuh tempo. Hahaha.
Ia tertawa renyah, suaranya yang serak terdengar seperti
suara kayu yang digesek. Tawanya menggema di warung yang masih lengang, membuat
Bintang yang sedari tadi lesu, sedikit menoleh karena suara kakeknya yang
keras.
Anita tersenyum, menepuk pundak Pak Karyo dengan ramah. Ia
sudah mengenal lelaki tua ini sejak kecil, seorang pensiunan buruh tani yang
membuka warung kecil-kecilan setelah tidak lagi kuat bekerja di sawah.
Anita: (suaranya
lembut, seperti berbicara dengan orang tua sendiri) Bukan, Pak Karyo.
Utang Bapak saya hapus. Tadi malah saya mau kasih kabar baik. Ini ada Mas
Erlangga, mahasiswa kedokteran yang sedang KKN di desa kita. Beliau mau lihat
kondisi kesehatan warga, terutama si Bintang ini.
Ia menoleh ke belakang, memberi isyarat pada Erlangga yang
baru saja turun dari motor dan sedang melepas helm. Erlangga menghampiri dengan
langkah santai, senyumnya sudah terpasang, senyum yang hangat dan tidak membuat
orang merasa asing.
Erlangga: (membungkuk
sedikit memberi hormat pada Pak Karyo) Selamat pagi, Pak. Saya
Erlangga. Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak.
Pak Karyo mengamati Erlangga dari ujung rambut hingga ujung
sepatu. Matanya yang sudah agak rabun karena usia, menyipit seperti sedang
menilai. Ia sudah terlalu sering melihat mahasiswa KKN datang dan pergi, dan
biasanya mereka hanya datang dengan angkuh, bicara dengan bahasa ilmiah yang
tidak dimengerti, lalu pergi setelah mengambil foto.
Pak Karyo: (dengan
nada agak skeptis, meskipun masih ramah) Wah, calon dokter ya? Tampan
lagi. Jangan-jangan ini bukan KKN, tapi kontes duta desa. Hahaha.
Erlangga tidak tersinggung. Ia ikut tertawa, lalu matanya
beralih ke Bintang yang masih duduk di lantai dengan sendal jepit di tangannya.
Ada sesuatu yang menggerakkan hatinya ketika melihat anak sekurus itu, seorang
anak yang seharusnya berlarian, tertawa, dan menikmati masa kecilnya, tetapi
kini hanya duduk lesu dengan mata yang kosong.
Erlangga: (dengan
suara yang lebih pelan, seperti berbicara pada anak kecil) Boleh saya
dekati, Pak? Saya hanya mau lihat kondisi adik Bintang. Tidak akan lama.
Pak Karyo mengangguk, meskipun matanya masih memandang
waspada. Erlangga kemudian jongkok di depan Bintang, merendahkan tubuhnya agar
tidak terlihat mengintimidasi. Ia membiarkan beberapa detik berlalu, membiarkan
Bintang terbiasa dengan kehadirannya, sebelum akhirnya mengeluarkan senter
kecil dari saku jasnya.
Erlangga: (dengan
suara lembut dan penuh kehangatan, sambil menunjukkan senternya) Halo,
Bintang. Namanya bagus sekali. Seperti bintang di langit, ya? Namanya siapa
yang kasih? Kakek? Nenek?
Bintang hanya terdiam. Matanya yang besar menatap Erlangga
dengan campuran antara rasa takut dan rasa ingin tahu. Ia memegang sendal
jepitnya lebih erat, seolah benda itu adalah satu-satunya yang memberinya rasa
aman.
Pak Karyo menghampiri, duduk di samping Bintang dengan
gerakan yang agak lambat karena lututnya yang mulai kaku. Ia mengelus kepala cucunya
dengan penuh kasih saying, gerakan yang sudah menjadi kebiasaan setiap kali ia
berada di dekat Bintang.
Pak Karyo: (sambil
mengelus kepala Bintang, suaranya agak serak) Maaf, Mas Dokter.
Bintang ini memang susah makan. Dari bayi sudah susah, apalagi sekarang. Orang
tuanya merantau ke kota, anak saya sama menantunya, bekerja di pabrik sepatu.
Sudah setahun lebih mereka pergi. Saya dan istri yang jaga Bintang. Sudah dikasih
vitamin dari bidan, dikasih susu dari posyandu, tapi ya gitu... makannya masih
sulit. Dikasih nasi, dimuntahin. Dikasih biskuit, cuma dimakan sedikit. Jadi ya
begini, badannya kecil.
Ia menghela napas panjang, napas yang berat dan penuh
beban. Matanya yang sudah keriput itu tampak berkaca-kaca sejenak, tetapi ia
segera menguatkan diri.
Pak Karyo: Saya
dan istri sudah tua, Mas. Kadang bingung juga harus gimana. Sudah dibawa ke
posyandu, dikasih PMT, tapi ya berat badannya masih stuck. Nita di sini sudah
sering ngomongin soal makanan bergizi, tapi saya kadang lupa juga karena banyak
kerjaan. Warung ini kan sendiri yang jaga. Istri saya juga kadang
sakit-sakitan.
Erlangga mendengarkan dengan saksama. Ia tidak menyela,
tidak terburu-buru memberikan saran. Ia membiarkan Pak Karyo menyelesaikan
semua yang ingin dikatakan, karena ia tahu bahwa di desa seperti ini,
mendengarkan adalah bentuk penghormatan tertinggi.
Setelah Pak Karyo selesai, Erlangga kembali fokus pada
Bintang. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, ia mendekatkan
senternya.
Erlangga: (kepada
Bintang, dengan suara yang sangat lembut) Bintang, Boleh saya lihat
gigi adik sebentar? Cuma sebentar, kok. Saya janji nggak sakit. Abang cuma mau
lihat gigi Bintang bagus atau tidak.
Bintang masih diam, tetapi kali ini ia tidak mundur.
Matanya mengikuti gerakan senter, tetapi tidak menunjukkan ketakutan yang
berlebihan.
Erlangga: Coba,
Bintang buka mulutnya. Seperti mau bilang "Aaaa..." Gitu. Aaaa...
Erlangga membuka mulutnya sebagai contoh. Gerakannya lucu,
sedikit berlebihan, tetapi justru membuat Bintang yang tadinya tegang, akhirnya
membuka mulut kecilnya.
"Aaaa..." suara Bintang kecil dan serak, tetapi
itu sudah cukup. Erlangga dengan cepat namun teliti mengamati kondisi mulut dan
giginya. Ia melihat gusi yang pucat, gigi yang baru tumbuh beberapa tetapi
terlihat rapuh, dan lidah yang sedikit pucat—tanda-tanda klasik dari defisiensi
zat gizi mikro.
Setelah selesai, Erlangga mengusap kepala Bintang dengan
lembut, lalu menatap Pak Karyo dengan tatapan serius tetapi tidak menakutkan.
Erlangga: (suaranya
tenang, penuh keyakinan tetapi tidak menggurui) Pak Karyo, dari yang
saya lihat, Bintang mengalami defisiensi zinc dan zat besi. Itu sebabnya
rambutnya kemerahan dan agak rapuh, gusinya pucat, dan nafsu makannya kurang.
Zinc itu penting banget untuk nafsu makan anak-anak. Kalau kekurangan zinc,
anak jadi susah makan. Kalau susah makan, kekurangan gizi. Jadi ini lingkaran
setan.
Pak Karyo mengerutkan dahi, mencoba memahami
istilah-istilah yang asing baginya.
Pak Karyo: Defisiensi...
apa itu? Zinc? Zat yang mana, Mas? Apakah itu obat mahal yang harus dibeli di
apotek kota? Saya hanya punya warung kecil, Mas. Belum tentu mampu.
Erlangga: (tersenyum,
menggeleng) Tidak, Pak. Tidak perlu obat mahal. Sumber zinc dan zat
besi itu justru murah dan mudah didapat. Saran saya, coba mulai diberikan telur
setiap hari. Telur ayam kampung atau telur ayam negeri biasa juga boleh. Satu
butir setiap hari, direbus atau didadar. Juga sayur bayam dan kacang-kacangan, tempe,
tahu. Itu semua mengandung zat besi dan zinc yang cukup untuk anak seusia
Bintang.
Pak Karyo menggaruk kepalanya yang botak, ekspresinya
antara heran dan tidak percaya.
Pak Karyo: Telur?
Wah, saya kira dulu dikasih susu mahal itu. Susu formula yang katanya bagus
untuk anak. Saya sempat beli sekali, harganya selangit. Sekotak kecil saja
seratus ribu. Bintang juga tidak mau minum. Habis uang, anak tetap tidak mau
makan. Saya pikir anak ini memang susah makannya karena faktor keturunan.
Erlangga: (menggeleng
dengan tegas namun tetap ramah) Susu itu penting, Pak. Tapi untuk anak
seusia Bintang yang sudah dua tahun lebih, protein hewani dari telur jauh lebih
mudah diserap tubuhnya. Telur juga mengandung lemak baik yang dibutuhkan untuk
perkembangan otak. Dan yang paling penting, telur itu murah dan ada di warung
Bapak sendiri. Bapak kan jual telur? Coba mulai besok pagi, Bintang dikasih
telur rebus setengah matang. Jangan lupa kuning telurnya juga dimakan, karena
zat besinya banyak di kuning telur.
Pak Karyo: (masih
dengan ekspresi setengah percaya) Telur... saya kira telur itu cuma
buat lauk. Saya pikir kalau mau anak gemuk, harus dikasih susu mahal atau bubur
bayi instan. Saya lihat iklan di TV, anak-anak yang sehat itu minum susu
formula. Jadi saya kira itu yang terbaik.
Erlangga: Iklan
memang bagus, Pak. Tapi iklan itu untuk jualan. Untuk kesehatan anak Bintang,
kita lihat kebutuhan dasarnya dulu. Bintang sekarang kekurangan protein hewani.
Dan protein hewani paling murah dan paling mudah didapat adalah telur. Nanti
kalau berat badannya sudah naik, baru kita tambah dengan variasi lain. Tapi
mulai dari telur dulu, ya Pak. Saya janji, dalam satu bulan akan ada perubahan
kalau rutin dikasih telur setiap hari.
Anita yang sejak tadi berdiri di samping, memperhatikan
interaksi mereka dengan senyum puas yang tidak bisa ia sembunyikan. Selama ini,
ia sudah berulang kali menjelaskan hal yang sama pada Pak Karyo, tetapi
kata-katanya selalu seperti angin lalu. Namun hari ini, dengan seorang
"calon dokter" yang baru datang, sepertinya Pak Karyo mulai
mendengarkan.
Anita melangkah maju, menepuk bahu Pak Karyo dengan nada
menggoda.
Anita: Nah, Pak. Saya
sudah bilang dari dulu, telur itu sakti. Tapi warga sini lebih percaya sama
mahasiswa kedokteran dari pada sama kader desa yang setiap hari keliling
kampung. (Ia menoleh ke Erlangga dengan senyum kecil) Padahal ilmu yang saya
sampaikan sama persis, tapi mungkin karena Mas Erlangga bawa senter dan
stetoskop, jadi lebih meyakinkan.
Erlangga tertawa kecil, merendahkan diri.
Erlangga: Mbak
Anita, saya hanya meneruskan ilmu yang Mbak Anita sudah sampaikan dari awal.
Saya cuma kebetulan datang dengan atribut kedokteran. Tapi sebenarnya Mbak
Anita lebih tahu kondisi warga daripada saya. Saya hanya pembawa pesan.
Pak Karyo yang melihat interaksi mereka, ikut tertawa. Ia
menepuk paha kanannya dengan tangan kirinya, gerakan yang biasa ia lakukan
ketika sedang merasa lega.
Pak Karyo: Ya
sudah, saya coba. Mulai besok, Bintang saya kasih telur rebus setiap pagi. Tapi
kalau nanti Bintang makin kurus karena telur, saya minta tanggung jawab sama
Mas Dokter, ya. Hahaha.
Erlangga: (menepuk
dada dengan mantap) Siap, Pak. Saya tanggung jawab. Nanti saya akan
pantau terus. Setiap minggu saya akan mampir ke sini untuk lihat perkembangan
Bintang. Mbak Anita juga akan bantu memantau, kan?
Anita mengangguk dengan senyum yang lebih hangat dari
sebelumnya.
Anita: Tentu. Bintang itu
sudah masuk dalam daftar prioritas saya. Setiap posyandu, saya selalu pantau
berat badannya. Sekarang dengan program telur dari kakeknya sendiri, saya yakin
akan ada perubahan.
Sebelum beranjak, Erlangga mengeluarkan buku catatannya dan
menulis sesuatu dengan rapi.
Erlangga: Pak
Karyo, saya catat dulu data Bintang. Tanggal lahirnya kapan? Berat badan
terakhir berapa? Saya buatkan kartu pemantauan khusus.
Pak Karyo: (mengeluarkan
kartu KMS yang sudah agak lusuh dari saku celananya) Ini, Mas. Semua ada di
sini.
Erlangga menyalin data dengan teliti, lalu menambahkan
catatan khusus: *"Intervensi: telur 1 butir/hari. Review 1
minggu."* Ia menunjukkan catatannya pada Anita yang mengangguk
setuju.
Dari warung Pak Karyo, mereka melanjutkan perjalanan ke
rumah tokoh masyarakat desa, Santoso. Rumah Santoso terletak di RT 03, tidak
jauh dari kantor desa, tetapi akses jalannya lebih baik karena berada di poros
utama. Santoso adalah pensiunan PNS dari Dinas Pendidikan, seorang pensiunan
yang disegani karena pengalamannya, sekaligus ditakuti karena mulutnya yang
tajam jika ada program desa yang tidak beres. Ia adalah anggota Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat (LPM) yang paling vokal dalam setiap rapat desa.
Ketika Erlangga dan Anita tiba, Santoso sudah duduk di
beranda rumahnya yang luas dengan kursi goyang bambu kesayangannya. Rumah
Santoso berbeda dengan rumah warga lainnya, lebih besar, lebih rapi, dengan
halaman yang bersih dan beberapa pot bunga yang tertata. Ini adalah simbol
status bahwa penghuninya adalah orang yang pernah “sukses” di kota sebelum
kembali ke desa.
Santoso sedang mengipas-ngipas dengan kipas bambu
tradisional, meskipun udara pagi masih cukup sejuk. Ia mengenakan kemeja batik
lengan panjang, celana bahan berwarna krem, dan sandal kulit yang masih
terlihat baru. Di sampingnya, termos kopi dan gelas sudah tersedia, tanda bahwa
ia memang sudah tahu akan kedatangan tamu.
Ketika motor Anita masuk ke halaman, Santoso tidak bangkit.
Ia hanya menoleh dengan senyum tipis, senyum yang sulit diartikan, apakah itu
senyum ramah atau senyum meremehkan.
Santoso: (duduk
di kursi goyang sambil mengipas-ngipas dengan gerakan lambat, suaranya dalam dan
penuh wibawa) Jadi, ini dia calon dokter yang katanya mau merubah desa
kita? Hahaha. Saya sudah sering lihat mahasiswa KKN. Datang dengan program
hebat, pulang dengan kenangan manis, desa tetap saja begini. Seperti musim
hujan, datang dengan deras, membawa harapan, tapi setelah pergi, tanah tetap
kering.
Ia tertawa keras, tawa yang bergema di halaman rumahnya
yang luas. Tawa itu tidak jahat, tetapi ada nada sinisme yang tidak bisa
disembunyikan.
Erlangga tidak tersinggung. Ia justru membungkukkan badannya
dalam-dalam, memberi hormat pada Santoso dengan gestur yang sangat sopan, lebih
sopan dari yang biasanya ia tunjukkan pada orang baru.
Erlangga: (dengan
suara yang tenang dan penuh hormat) Selamat pagi, Pak Santoso. Maaf
mengganggu waktu istirahat Bapak. Saya Erlangga, mahasiswa KKN dari Universitas
Sejahtera. Saya dengar dari Mbak Anita bahwa Bapak adalah tokoh masyarakat yang
sangat disegani di desa ini. Sebelumnya, saya mohon maaf jika ada kata-kata
saya yang kurang berkenan.
Santoso berhenti mengipas. Matanya menyipit, menatap Erlangga
dengan pandangan yang tajam, pandangan seorang pensiunan pendidik yang sudah
puluhan tahun menilai karakter murid-muridnya. Ia tidak menyangka mahasiswa ini
langsung membungkuk hormat tanpa beban.
Santoso: (setelah
beberapa detik hening, suaranya sedikit melunak) Duduklah. Jangan
hanya berdiri di sana. Nita juga duduk. Saya sudah siapkan kopi. Ini kopi
robusta dari kebun sendiri, bukan kopi instan yang dijual di warung.
Erlangga dan Anita duduk di kursi yang sudah disediakan, kursi
rotan yang nyaman dengan bantal tipis. Erlangga mengambil posisi yang sopan,
tidak menyender, tubuhnya agak condong ke depan sebagai tanda bahwa ia siap
mendengarkan dengan serius.
Erlangga: (setelah
duduk, suaranya tetap sopan tetapi mulai lebih berani) Pak Santoso,
saya tidak bisa menjanjikan perubahan besar dalam tiga bulan. Saya sadar betul
bahwa waktu saya di sini singkat. Tapi saya ingin minimal membantu Mbak Anita
dalam program yang sudah berjalan. Saya tidak datang dengan program baru yang
heboh. Saya datang untuk belajar dan membantu semampu saya. Kalau boleh, saya
ingin tahu dari Bapak, sebagai tokoh masyarakat yang sudah lama tinggal di
sini, apa akar masalah kesehatan terbesar di desa ini selain faktor ekonomi?
Karena saya yakin, Bapak punya perspektif yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Santoso berhenti mengipas. Ia meletakkan kipasnya di
pangkuan, lalu mengambil gelas kopinya dan menyesap pelan. Matanya yang tadinya
menyipit, sekarang membuka lebar, menatap Erlangga dengan ekspresi baru, bukan
lagi sinisme, tetapi rasa ingin tahu.
Santoso: (setelah
hening sejenak, suaranya menjadi lebih serius) Pertanyaan bagus. Tidak
banyak mahasiswa KKN yang bertanya seperti itu. Biasanya mereka datang dengan
proposal tebal yang sudah disusun di kampus, lalu minta didampingi, bukan
bertanya apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Ia meletakkan gelasnya, menatap ke arah sungai yang
mengalir di belakang rumahnya, sungai yang dulu jernih, tetapi sekarang airnya
keruh kehijauan.
Santoso: Akar
masalahnya ada dua, Mas Erlangga. Pertama, sanitasi. Sungai di
belakang desa ini, yang dulu kami gunakan untuk mandi, cuci, bahkan minum, sekarang
sudah tercemar limbah rumah tangga dan peternakan. Warga masih banyak yang
buang air besar sembarangan, terutama di dusun-dusun yang jauh dari pusat desa.
Mereka tidak punya jamban, atau punya jamban tapi tidak digunakan karena malas.
Limbah dari kandang ayam dan kambing juga dibuang langsung ke sungai tanpa
diolah. Akibatnya, air sungai tercemar bakteri. Anak-anak yang bermain di
sungai, atau warga yang masih menggunakan air sungai untuk keperluan
sehari-hari, rentan terkena diare dan penyakit kulit. Dan diare pada balita,
kalau sering terjadi, bisa menyebabkan malabsorpsi gizi, anak tetap kurus
meskipun sudah diberi makan.
Erlangga mencatat dengan cepat di buku catatannya.
Tulisannya rapi, dengan diagram sederhana tentang alur pencemaran sungai dan
dampaknya pada kesehatan.
Erlangga: (setelah
selesai mencatat) Sanitasi. Itu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh.
Dan kedua, Pak?
Santoso menghela napas panjang. Napas yang berat, napas
yang mencerminkan kekecewaan yang sudah bertahun-tahun dipendam.
Santoso: Kedua,
mentalitas. Warga di sini masih punya pola pikir "sakit baru
berobat". Bukan "mencegah lebih baik daripada mengobati". Mereka
baru datang ke puskesmas atau posyandu ketika sudah parah. Ibu hamil baru
periksa kehamilan ketika perutnya sudah besar, atau bahkan ketika mau
melahirkan. Bayi baru diimunisasi setelah sakit, padahal imunisasi itu untuk
mencegah. Program-program pencegahan seperti posyandu rutin, pemeriksaan
kehamilan, imunisasi, itu dianggap tidak penting. Mereka menganggap kesehatan
itu urusan "kalau sudah sakit". Padahal di situlah letak kesalahan
terbesar.
Ia menunjuk ke arah Anita dengan dagunya.
Santoso: Nita
di sini sudah berusaha keras. Saya tahu itu. Setiap bulan dia keliling desa,
memeriksa balita, memeriksa ibu hamil. Tapi kesadaran warga masih rendah.
Mereka lebih percaya paraji, dukun beranak, daripada bidan desa.
Mereka lebih percaya jamu rebutan dari daun-daunan daripada obat dari
puskesmas. Mereka menganggap stunting itu takdir, bukan sesuatu yang bisa
dicegah. Itulah yang paling sulit diubah, Mas Erlangga. Bukan infrastruktur,
bukan ekonomi, tapi cara pikir.
Erlangga menulis dengan lebih cepat. Matanya serius,
menunjukkan bahwa ia benar-benar mencerna setiap kata yang diucapkan Santoso.
Erlangga: (setelah
selesai mencatat, ia menatap Santoso dengan tatapan penuh hormat) Sanitasi
dan perilaku. Terima kasih, Pak. Ini catatan yang sangat penting bagi saya.
Saya akan jadikan ini sebagai dasar untuk program pendampingan selama saya di
sini. Karena kalau tidak dimulai dari dua akar masalah ini, program apa pun
yang kita buat hanya akan menjadi program seremonial yang tidak berdampak.
Santoso mengangguk pelan. Ada senyum tipis di bibirnya, senyum
yang tidak pernah ia tunjukkan pada mahasiswa KKN sebelumnya.
Santoso: Kamu
berbeda, Mas Erlangga. Saya sudah melihat puluhan mahasiswa KKN datang dan
pergi. Mereka semua bicara tentang perubahan, tentang pemberdayaan, tentang
ini-itu. Tapi hanya sedikit yang bertanya seperti kamu. Yang bertanya bukan
tentang program yang akan mereka bawa, tapi tentang apa yang sebenarnya
dibutuhkan. Itu adalah awal yang baik.
Anita yang dari tadi diam, melirik Erlangga dengan ekspresi
yang tidak bisa disembunyikan—kagum. Ia melihat bagaimana Erlangga dengan
rendah hati bertanya pada Santoso, tokoh masyarakat yang paling keras
mengkritik program desa. Ia melihat bagaimana Erlangga tidak defensif ketika disindir,
tetapi justru membungkuk hormat dan mendengarkan. Dan ia melihat bagaimana
Santoso, yang biasanya sinis dan sulit diyakinkan, akhirnya berbicara panjang
lebar dengan nada yang hampir hangat.
Mungkin dia memang berbeda, pikir Anita. Mungkin tidak semua mahasiswa
KKN sama.
Sore harinya, setelah seharian berkeliling desa, Anita
mengajak Erlangga ke posko KKN. Posko itu berada di rumah kosong milik salah
satu perangkat desa yang sedang merantau ke Kalimantan. Rumah itu cukup besar
untuk ukuran desa—dua kamar tidur, ruang tamu yang luas, dapur, dan halaman
yang cukup lapang. Dindingnya sudah mulai mengelupas catnya, dan beberapa
genteng sudah bergeser, tetapi secara keseluruhan masih layak huni.
Ketika mereka tiba, suasana di posko sudah ramai. Beberapa
anggota Karang Taruna sudah berkumpul di halaman, duduk lesehan di atas tikar
bambu sambil menunggu kedatangan "calon dokter" yang sudah menjadi
buah bibir di desa sejak pagi.
Yulia, ketua Karang Taruna yang berusia 22 tahun dengan
rambut panjang sebahu dan senyum yang mudah mengembang, langsung berdiri ketika
melihat Erlangga masuk ke halaman. Ia adalah sosok yang enerjik, dengan suara
lantang yang bisa didengar dari jarak puluhan meter.
Yulia: (berseru heboh,
tangannya melambai-lambai seperti kipas angin) Ih, ini dia! Calon
dokter ganteng yang bikin geger desa sejak pagi! Saya sudah dengar dari Pak
Karyo, katanya Mas Erlangga bisa benerin motor sekaligus kasih saran kesehatan.
Multitalenta, ya! Salam kenal, Mas Erlangga! Saya Yulia, ketua Karang Taruna. Ini
teman-teman saya.
Ia langsung maju dan menjabat tangan Erlangga dengan
semangat yang menggebu-gebu. Guntur, pemuda berusia 24 tahun dengan tubuh
tambun dan rambut kribo yang susah diatur, berdiri di samping Yulia sambil
tertawa.
Guntur: (sambil
menyikut Yulia dengan sikunya, suaranya bercanda) Jangan norak, Yu.
Nanti Mas Dokternya kabur. Baru pertama kali ketemu, langsung heboh kayak
ketemu artis. (Ia kemudian menoleh ke Erlangga dan mengulurkan tangan) Saya
Guntur. Maaf kalau Yulia agak berlebihan. Dia memang begitu kalau lihat orang
baru. Kami siap membantu program kesehatan, Mas. Apa pun yang dibutuhkan, asal
bukan donor darah. Saya takut jarum suntik.
Semua orang tertawa. Erlangga ikut tertawa, merasakan
kehangatan dari sambutan yang begitu spontan.
Naila, seorang gadis berusia 19 tahun dengan kulit putih
dan rambut ikal yang diikat kuncir kuda, melangkah maju dengan mata berbinar.
Ia adalah salah satu remaja paling aktif di karang taruna, selalu terlibat
dalam berbagai kegiatan desa.
Naila: (matanya berbinar-binar,
suaranya antusias) Mas Erlangga, aku dengar dari Mbak Anita, katanya
Mas akan bikin program pemeriksaan kesehatan gratis untuk remaja? Apa benar
itu? Aku dan teman-teman butuh banget, soalnya bulan depan ada pemilihan duta
desa. Kesehatan itu salah satu kriteria penilaian. Aku mau pastikan aku sehat
semua. Jangan sampai pas pemeriksaan fisik, ternyata tensiku tinggi atau apa
gitu.
Amat Junior, keponakan dari Si Amat, sepupu Anita, langsung
menyela dengan suara yang agak keras. Ia adalah pemuda berusia 21 tahun yang
sedang kuliah semester akhir di politeknik negeri di Provinsi, tetapi karena
sedang libur semester, ia aktif membantu ayahnya di balai desa sekaligus ikut
kegiatan karang taruna.
Amat Junior: (menyela
dengan nada sedikit sinis, tetapi masih dalam batas bercanda) Duta
desa apaan, Naila? Yang penting program bersih-bersih sungai dulu. Saya lihat
di hulu banyak sampah plastik dari warung Pak Karyo dan warga sekitar. Bungkus
kopi, bungkus mi instan, botol plastik, semuanya terbawa arus ke hilir. Kalau
sungai kotor, warga gampang sakit. Itu urusan kesehatan juga, kan? Jangan cuma
mikirin duta desa.
Camelia, gadis berusia 20 tahun yang dikenal dengan
suaranya yang nyaring dan sifatnya yang ceplas-ceplos, langsung membalas dengan
nada tinggi.
Camelia: (menyela,
suaranya nyaring seperti klakson) Eh, jangan nyalahin warung orang,
Jun. Warung Pak Karyo itu cuma satu, sampah di sungai banyak banget dari
berbagai sumber. Itu juga karena warga buang sampah sembarangan di bantaran
sungai. Mereka males bawa sampah ke TPS desa yang jaraknya cuma lima ratus
meter. Jadi jangan cuma nyalahin warung Pak Karyo. Lagian, Mas Erlangga kan
programnya kesehatan, bukan sedot sampah. Nanti malah jadi kuli.
Erlangga yang mendengar semua itu, tertawa lepas. Ia melihat
semangat anak-anak muda ini, berbeda pendapat, saling menyela, tetapi semuanya
memiliki perhatian yang sama pada desa mereka. Ada energi yang tidak ia temukan
di kota, di mana anak-anak muda lebih peduli pada gawai mereka daripada
lingkungan sekitar.
Erlangga: (mengangkat
tangan, mencoba menenangkan suasana yang mulai ramai) Semuanya
penting. Kesehatan itu terkait erat dengan lingkungan. Kalau sungai kotor,
warga mudah sakit. Kalau warga sakit, program kesehatan jadi sia-sia. Jadi,
kalau kalian mau bikin program bersih sungai, saya dukung penuh. Nanti saya
bantu edukasi soal bahaya sampah terhadap kesehatan. Saya bisa jelaskan secara
sederhana, pakai bahasa yang mudah dimengerti, kenapa sampah plastik di sungai
bisa bikin anak-anak diare, kenapa air yang tercemar bisa menyebabkan penyakit
kulit, dan seterusnya. Jadi program bersih sungainya tidak hanya bersih-bersih
fisik, tapi juga ada edukasinya.
Guntur yang dari tadi mendengarkan, langsung bertepuk
tangan.
Guntur: Nah, ini baru
mantap! Kita tidak cuma kerja bakti, tapi juga paham kenapa kita harus kerja
bakti. Setuju, Mas!
Hermansyah, pemuda berusia 23 tahun yang sedari tadi duduk
di pojok dengan tenang, akhirnya angkat bicara. Ia adalah sosok yang paling
pendiam di antara mereka, tetapi ketika berbicara, suaranya berat dan penuh
pertimbangan. Ia adalah mahasiswa semester akhir di universitas swasta di
Provinsi, mengambil jurusan komunikasi.
Hermansyah: (suaranya
berat, pelan tetapi jelas) Maaf, saya baru ikut nimbrung. Yang saya
dengar selama ini, program KPM yang dijalankan Mbak Anita sudah bagus. Data
stunting dipantau, ibu hamil didampingi, posyandu rutin diadakan. Masalahnya,
partisipasi warga masih rendah. Banyak yang tidak datang ke posyandu, banyak
yang tidak mengikuti penyuluhan. Mbak Anita sudah bekerja keras, tapi kadang
kalah dengan kebiasaan lama.
Ia menatap Erlangga dengan tatapan serius.
Hermansyah: Kalau
Mas Erlangga bisa bantu dorong partisipasi lewat pendekatan yang lebih...
kekinian, mungkin bisa membantu. Karena generasi muda desa ini sekarang lebih
banyak terpapar media sosial. Mereka lebih gampang nyerap informasi lewat video
pendek, TikTok, Instagram, daripada lewat ceramah di balai desa.
Anita yang mendengar itu, menoleh ke Hermansyah dengan alis
terangkat.
Anita: Pendekatan
kekinian maksudnya, Mas Herman? Saya ini orang desa, gaptek. Saya hanya bisa
nyatet data di buku, nggak bisa bikin video-videoan.
Hermansyah: Konten
kreatif, Mbak. Video pendek yang lucu, menarik, tapi tetap informatif. Edukasi
lewat TikTok, Instagram Reels. Anak-anak muda sekarang lebih suka itu. Kalau
kita buat konten tentang pentingnya imunisasi atau bahaya stunting dengan gaya
yang ringan dan menghibur, mereka akan lebih mudah mengingat. Nggak perlu
serius-serius amat.
Erlangga menepuk pundak Hermansyah dengan semangat. Matanya
berbinar karena ide yang tiba-tiba muncul.
Erlangga: Ide
bagus, Mas Herman! Saya punya kamera mirrorless yang lumayan bagus, dan saya
juga bisa edit video, meskipun cuma pakai aplikasi sederhana di laptop. Kita
bisa bikin konten bareng. Nggak perlu yang rumit-rumit. Video pendek satu
menit, dengan bahasa yang santai, dan yang penting bisa menjangkau anak-anak
muda. Saya yakin kalau anak-anak muda mulai paham, mereka akan menjadi agen
perubahan di keluarga masing-masing. Mereka bisa mengingatkan orang tua,
mengingatkan adik-adiknya.
Guntur langsung berseru heboh, melompat dari duduknya
dengan semangat yang meluap-luap.
Guntur: (suaranya
memenuhi halaman, tangannya mengepal penuh semangat) Mantap! Saya siap
jadi talent! Mumpung muka saya ini pas untuk kamera. Sudah dari dulu saya
bilang, saya ini punya bakat akting. Dulu waktu SD, saya pernah jadi pemeran
utama dalam drama peringatan Hari Kemerdekaan. Saya main jadi pahlawan yang
melawan penjajah. Adik-adik kelas sampai nangis lihat saya!
Semua orang tertawa. Yulia sampai memegang perutnya karena
terlalu keras tertawa.
Yulia: (tertawa
terbahak-bahak, air matanya hampir keluar) Muka kamu pas buat iklan
pupuk kali, Guntur! Atau iklan obat nyamuk! Muka kamu itu kan pas buat peran
preman pasar, bukan duta kesehatan! Hahaha.
Guntur: (pura-pura
tersinggung, tetapi matanya tetap tertawa) Eh, jangan sembarangan!
Muka saya ini aset nasional, Yu! Kalau saya muncul di TikTok, pasti viral.
Nanti desa kita terkenal, masuk berita TV, Pak Kades senang, kita semua dapat
penghargaan.
Naila ikut nimbrung, suaranya nyaring bercampur tawa.
Naila: Eh, tapi serius,
Mas. Kalau Mas Erlangga bikin konten, aku mau jadi talent juga. Aku bisa
jelasin tentang pentingnya sarapan pagi atau gizi seimbang. Soalnya aku dulu sempat
anemia waktu SMA, sekarang sudah sembuh karena rajin makan sayur dan buah. Aku
bisa sharing pengalaman.
Amat Junior: (masih
dengan nada sinis tetapi mulai ikut cair) Kalau gitu, saya bagian
teknis aja. Saya bisa bantu oprek-oprek laptop kalau ada masalah. Jangan sampai
nanti pas shooting, kamera error atau laptopnya lemot. Itu kan urusan saya.
Camelia: (menyela
dengan suara nyaringnya) Eh, tapi aku juga mau ikut! Aku bisa jadi
penata rias! Biar talent-nya—maksudnya Guntur—jadi lebih enak dipandang. Karena
kalau tampil polos kayak gitu, nanti yang nonton kabur.
Guntur: Heh! Muka saya ini
sudah pas, Cam! Nggak perlu poles-poles!
Tawa kembali pecah. Suasana di halaman posko menjadi sangat
hangat, seperti keluarga besar yang sedang berkumpul. Erlangga yang baru sehari
berada di desa ini, sudah merasa diterima dengan tangan terbuka. Ia menatap
satu per satu wajah anak-anak muda ini, Yulia yang enerjik, Guntur yang lucu
dan bersemangat, Naila yang antusias, Amat Junior yang sinis tapi peduli,
Camelia yang ceplas-ceplos, dan Hermansyah yang pendiam namun penuh ide. Mereka
adalah energi baru yang bisa menjadi motor perubahan desa.
Anita yang berdiri di samping Erlangga, memperhatikan
semuanya dengan senyum tipis. Ia tidak banyak bicara, tetapi matanya
menunjukkan sesuatu yang jarang muncul dalam beberapa tahun terakhir: harapan.
Mungkin dengan mereka, dengan anak-anak muda ini, dengan
Erlangga, sesuatu bisa berubah, pikir
Anita. Mungkin Awan Biru tidak harus selamanya seperti ini.
Matahari mulai condong ke barat ketika keramaian di posko
mulai mereda. Satu per satu anggota karang taruna pamit pulang, masih
menyisakan tawa dan candaan yang bergema di halaman. Guntur berjanji akan
membuat grup WhatsApp untuk koordinasi konten. Naila sudah menyiapkan daftar
topik kesehatan yang ingin ia sampaikan. Yulia berencana mengumpulkan anak-anak
muda di dusun-dusun lain untuk ikut serta. Hermansyah menawarkan diri untuk
menjadi sutradara amatir.
Ketika semua sudah pulang, hanya Erlangga dan Anita yang
tersisa di teras posko. Mereka duduk berdampingan di bangku panjang kayu yang
agak reot, menikmati senja yang mulai kemerahan. Langit di barat berubah warna
dari biru ke oranye, lalu ke merah keunguan, pemandangan yang tidak pernah
gagal memukau di desa ini. Di kejauhan, kabut mulai merayap turun dari puncak
bukit, perlahan menyelimuti lembah dengan warna kebiruannya yang khas.
Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Bukan keheningan
yang canggung, tetapi keheningan yang lahir dari rasa nyaman berada di dekat
seseorang tanpa perlu banyak bicara.
Angin sore berhembus lembut, membawa wangi kopi dari
kebun-kebun warga yang sedang berbunga. Bau tanah basah dan dedaunan kering bercampur
menjadi aroma yang khas, aroma desa yang tidak bisa ditemukan di kota mana pun.
Suara jangkrik mulai terdengar dari kejauhan, bergantian dengan suara burung
yang pulang ke sarang.
Erlangga: (menatap
langit yang mulai gelap, suaranya pelan dan penuh kehangatan) Mbak
Anita, terima kasih sudah mau membuka jalan hari ini. Saya senang sekali bisa
bertemu warga dan teman-teman Karang Taruna. Saya tidak menyangka sambutannya
sehangat ini. Tadinya saya agak khawatir, karena dari awal Mbak Anita terlihat
skeptis dengan kedatangan mahasiswa KKN.
Ia menoleh ke Anita dengan senyum kecil, senyum yang tidak
dibuat-buat, tetapi muncul dari ketulusan.
Erlangga: Tapi
ternyata... Mbak Anita yang membukakan pintu untuk saya. Tanpa Mbak Anita, saya
tidak akan bisa sedalam ini mengenal desa ini dalam satu hari.
Anita tidak langsung menjawab. Ia masih menatap langit
senja, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang tidak bisa
ia sembunyikan.
Anita: (suaranya
lembut, berbeda dari pagi yang dingin dan skeptis) Saya yang berterima
kasih, Mas. Saya pikir Mas Erlangga akan jadi tipe mahasiswa KKN yang hanya
minta difasilitasi, lalu sibuk dengan urusan sendiri. Atau tipe yang datang
dengan program yang sudah disusun rapi di kampus, lalu memaksa warga mengikuti
program itu tanpa benar-benar memahami kebutuhan mereka. Tapi ternyata... Mas
langsung terjun. Dari pagi sampai sore, Mas tidak berhenti belajar. Saya lihat
Mas tidak hanya bertanya, tapi juga mendengarkan. Itu jarang saya temui.
Erlangga tersenyum, merendahkan diri.
Erlangga: Itu
karena Mbak Anita memberikan contoh yang baik. Saya belajar banyak dari cara
Mbak berbicara dengan Pak Karyo tadi. Lembut tapi tegas. Mbak tidak memarahi,
tidak menggurui, tetapi tetap menyampaikan apa yang harus dilakukan. Itu seni
komunikasi yang tidak diajarkan di kampus. Saya hanya bisa belajar dari
pengalaman di lapangan.
Ia berhenti sejenak, memandang Anita dengan tatapan yang
lebih dalam.
Erlangga: Dan
saya juga belajar dari cara Mbak Anita sabar menghadapi warga yang mungkin
tidak selalu responsif. Mbak sudah bertahun-tahun melakukan ini sendirian. Itu
luar biasa.
Anita membuang muka, tidak nyaman dengan pujian yang tulus.
Ia lebih terbiasa dengan kritik atau ketidakpedulian daripada dengan pujian.
Anita: (suaranya agak
serak, entah karena emosi atau karena udara sore yang dingin) Saya
hanya melakukan tugas saya, Mas. Tidak lebih.
Erlangga: (tidak
memaksa, hanya tersenyum) Mungkin. Tapi bagi saya, orang yang
melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh di tempat yang sepi seperti ini,
tanpa banyak orang yang melihat dan tanpa imbalan yang sebanding... itu adalah
pahlawan. Sungguh, Mbak. Saya tidak bergurau.
Mereka bertatapan sejenak. Di senja yang mulai gelap,
dengan hanya cahaya dari dalam rumah yang tembus melalui jendela, ada getaran
yang tidak diucapkan. Getaran yang tidak bisa mereka beri nama, apakah itu
kekaguman, apakah itu ketertarikan, atau hanya sekadar rasa syukur karena
menemukan seseorang yang sepaham dalam perjuangan yang sunyi.
Namun, keduanya memilih untuk diam. Mereka kembali menatap
langit yang mulai dipenuhi bintang-bintang pertama. Angin sore berhembus lebih
kencang, membawa dingin yang menusuk, tetapi juga membawa wangi bunga kopi yang
menenangkan.
Anita: (akhirnya
memecah keheningan, suaranya kembali ke nada profesional tetapi masih
menyisakan kehangatan) Besok kita ke posyandu, Mas. Saya mau Mas
Erlangga lihat langsung bagaimana pelaksanaan posyandu di sini. Jangan kaget
kalau pesertanya sepi. Biasanya cuma lima atau enam ibu yang datang. Padahal
seharusnya ada dua puluh balita yang harus dipantau.
Erlangga: (mengangguk,
matanya bersemangat meskipun tubuhnya sudah lelah) Saya siap, Mbak.
Saya akan bawa alat-alat yang saya punya. Mungkin kita bisa tambah layanan
sederhana, seperti pemeriksaan Hb untuk ibu hamil atau skrining gizi untuk
balita. Dengan layanan tambahan, mungkin lebih banyak yang datang.
Anita tersenyum, senyum yang tulus, tanpa skeptisisme yang
biasanya menghiasi wajahnya.
Anita: Kita coba, Mas.
Tapi janji, kalau nanti cuma datang tiga ibu, Mas tidak boleh kecewa.
Erlangga: (tertawa
kecil) Saya tidak akan kecewa, Mbak. Bahkan kalau cuma satu ibu yang
datang, itu sudah berarti. Perubahan tidak dimulai dari keramaian, Mbak.
Perubahan dimulai dari kesetiaan pada hal-hal kecil yang dilakukan
berulang-ulang.
Anita menatap Erlangga lebih lama. Ada sesuatu dalam
kalimat terakhir itu yang menyentuh hatinya. Perubahan dimulai dari
kesetiaan pada hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang. Bukankah
itu yang selama ini ia lakukan? Berulang-ulang, tanpa lelah, meskipun hasilnya
tidak pernah instan.
Anita: (suaranya
pelan, hampir berbisik) Itu kalimat yang bagus, Mas. Saya simpan.
Mereka kembali diam. Bintang-bintang mulai bermunculan satu
per satu, menghiasi langit Awan Biru yang bersih dari polusi cahaya. Di
kejauhan, suara azan magrib mulai berkumandang dari mesjid desa, menggema di
antara bukit-bukit dengan keindahan yang tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata.
Erlangga bangkit dari bangku, mengusap celananya yang
sedikit kotor karena debu. Ia menatap Anita yang masih duduk, menikmati senja
yang tersisa.
Erlangga: Mbak,
saya antar pulang. Hari sudah gelap. Jalanan berbatu, nanti Mbak jatuh.
Anita: (tertawa kecil) Saya
sudah puluhan tahun hidup di sini, Mas. Saya hafal setiap batu di jalan ini
meskipun mata saya pejam.
Erlangga: (tersenyum,
tetapi tetap berdiri) Saya tahu. Tapi izinkan saya antar. Sebagai rasa
terima kasih untuk hari ini.
Anita menatap Erlangga sejenak, lalu menghela napas pasrah.
Ia bangkit dari bangku, mengambil helm yang tergantung di stang motor.
Anita: Baiklah, Mas
Montir. Tapi hati-hati, ya. Kalau Mas jatuh, saya yang akan repot mengobati.
Saya kan cuma kader, bukan dokter.
Erlangga: (tertawa,
mengambil helm yang lain) Saya siap, Mbak. Saya sudah punya asuransi
kesehatan kok.
Mereka berdua tertawa kecil, lalu berjalan beriringan
menuju motor tua yang masih terparkir di halaman. Suara langkah mereka beradu
dengan kerikil, menciptakan irama yang sederhana namun harmonis. Di langit,
bintang pertama sudah bersinar terang, seperti mata yang berkedip menyaksikan
awal dari sesuatu yang mungkin akan mengubah Desa Awan Biru selamanya.
BAB 3: Bidan Galak, Supir
Tengil, dan Politik Anggaran
Minggu kedua Kuliah Kerja Nyata di Desa Awan Biru berjalan
dengan dinamika yang tak pernah sepi. Setelah minggu pertama yang dihabiskan
untuk perkenalan dan pemetaan awal, Erlangga mulai merasakan denyut sebenarnya
dari desa ini. Bukan hanya keindahan kabut biru di pagi hari atau keramahan
warga yang tersenyum setiap kali berpapasan di jalan. Ada kompleksitas yang
menganga di balik senyum-senyum itu, sebuah sistem pelayanan kesehatan yang
berjalan di atas tali tipis antara idealisme dan realitas.
Erlangga sudah tiga kali mengikuti Anita keliling desa, dua
kali ikut posyandu di dusun yang berbeda, dan satu kali membantu Pak Amat
mendata ulang keluarga sasaran stunting untuk program intervensi seribu hari
pertama kehidupan. Ia belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan di bangku
kuliah. Tentang bagaimana seorang ibu lebih percaya pada paraji yang
sudah membantu melahirkan tiga generasi keluarganya daripada pada bidan desa
yang baru bertugas dua tahun. Tentang bagaimana balita yang seharusnya mendapat
imunisasi campak justru disembunyikan oleh orang tuanya karena takut anaknya
demam setelah disuntik. Tentang bagaimana warga lebih memilih membeli rokok
daripada telur untuk anaknya karena "rokok kebutuhan, telur cuma
lauk".
Namun, tantangan terbesar yang akan ia hadapi minggu ini
bukanlah warga yang resisten atau ibu-ibu yang keras kepala. Tantangan itu
datang dalam bentuk seorang perempuan bernama Amilia—bidan desa yang sudah
mengabdi di Awan Biru selama delapan tahun, dengan reputasi yang sudah
terdengar hingga ke kecamatan: Bidan Galak dari Awan Biru.
Pukul setengah delapan pagi, Erlangga dan Anita sudah
sampai di balai desa. Posyandu balai desa, yang merupakan posyandu induk dari
tiga posyandu yang tersebar di dusun-dusun, diadakan setiap hari Selasa minggu
kedua dan keempat. Hari ini adalah hari Selasa minggu kedua, dan Anita sudah
mengingatkan Erlangga sejak kemarin malam untuk datang lebih awal.
"Mau lihat Bu Amilia menyiapkan alat itu kayak mau perang,"
kata Anita sambil tersenyum tipis. "Dia orangnya perfeksionis. Semua harus
rapi, steril, dan sesuai prosedur. Kalau ada yang kurang, bisa kena marah. Tapi
di balik itu, dia baik banget. Hanya saja dia punya cara sendiri untuk
menunjukkan kepedulian."
Erlangga membayangkan seorang bidan yang galak, tetapi ia
tidak membayangkan se-ekstrem yang akan ia temui.
Ketika mereka memasuki ruang utama balai desa yang pagi itu
disulap menjadi posyandu sementara, Erlangga melihat seorang perempuan berdiri
di meja panjang yang sudah ditata rapi. Ia berusia sekitar 40-an tahun, dengan
tubuh kurus tetapi tegap, rambut panjang yang diikat ketat, dan kacamata minus
tebal yang membuat matanya tampak lebih besar dan tajam. Ia mengenakan seragam
bidan berwarna putih, yang meskipun sudah agak kusam karena sering dicuci,
tetap terlihat rapi dan bersih. Di tangannya, ia memegang alat timbang dacin
yang sedang ia kalibrasi dengan hati-hati.
Namun yang paling mencolok dari Amilia bukanlah
penampilannya, melainkan auranya. Setiap orang yang masuk ke ruangan itu
sepertinya tahu untuk tidak membuat keributan. Bahkan Pak Eko yang biasanya
ramai dan cerewet, ketika masuk untuk mengambil berkas, hanya menyapa dengan
suara pelan dan cepat keluar lagi.
Amilia belum menoleh ketika Erlangga dan Anita masuk. Ia
masih sibuk dengan timbangannya, memastikan jarum penunjuk berat berada tepat
di angka nol sebelum digunakan. Suasana di ruangan itu sunyi, hanya terdengar
suara gesekan alat timbang dan suara napas Amilia yang teratur.
Erlangga melangkah mendekat, berniat memperkenalkan diri.
Namun sebelum ia sempat membuka mulut, Amilia bersuara dengan nada yang tajam
seperti pisau bedah.
Amilia: (tanpa menoleh,
suaranya datar tetapi menusuk) Jadi, ini yang katanya calon dokter
dari kota yang bikin geger desa minggu lalu? Yang katanya bisa benerin motor,
kasih saran kesehatan, dan bikin anak-anak muda heboh bikin konten TikTok?
Ia masih belum menoleh. Tangannya tetap sibuk dengan alat
timbang, tetapi kata-katanya jelas ditujukan untuk Erlangga.
Amilia: Saya dengar dari
Bu Lulu, katanya kamu ini ramah, pintar, dan cakap. Tapi saya bukan Bu Lulu.
Saya tidak akan terpengaruh dengan wajah tampan atau senyum manis. Jangan harap
saya akan manja-manja sama mahasiswa KKN yang cuma datang sebentar lalu pergi. Di
sini kerjaannya keras. Saya tidak suka orang yang cuma bisa teori tapi nggak
mau pegang kaki balita yang menendang. Saya tidak suka orang yang datang dengan
angkuh, sok tahu, lalu pergi meninggalkan pekerjaan yang tidak selesai.
Ia akhirnya menoleh. Matanya yang membesar di balik
kacamata tebal menatap Erlangga dengan tajam, seperti sedang memindai setiap
inci dari pemuda itu. Tatapan itu bukan tatapan bermusuhan, tetapi lebih
seperti tatapan seorang komandan yang sedang menilai prajurit baru, apakah ia layak
atau hanya akan menjadi beban.
Erlangga tidak bergeming. Ia sudah diperingatkan oleh
Anita, dan ia sudah mempersiapkan mentalnya. Namun, alih-alih merasa
tersinggung atau defensif, ia justru merasakan sesuatu yang lain: kekaguman. Di
balik nada tajam itu, ia bisa mendengar kelelahan yang sudah bertahun-tahun
terpendam. Ia bisa melihat mata yang sudah terlalu lama melihat penderitaan
tanpa cukup sumber daya untuk mengatasinya. Ia bisa merasakan energi seorang
perempuan yang sendirian menanggung beban kesehatan ibu dan anak di desa
terpencil ini.
Erlangga melangkah maju satu langkah, membungkukkan
badannya sedikit, bukan karena takut, tetapi sebagai bentuk penghormatan. Ia
menatap Amilia dengan mata yang jujur dan tenang.
Erlangga: (dengan
suara yang mantap tetapi rendah hati) Selamat pagi, Bu Bidan. Saya
Erlangga. Saya tidak akan membuang-buang waktu Ibu dengan basa-basi. Saya
datang ke sini untuk belajar dan membantu semampu saya. Saya sudah pernah ikut
program posyandu di daerah lain waktu kos, jadi saya paham prosedur dasarnya.
Kalau Ibu berkenan, saya bisa bantu bagian imunisasi, memegang anak yang
disuntik, membantu menenangkan ibu-ibu yang cemas, atau membantu mencatat hasil
pemeriksaan. Atau kalau Ibu punya tugas lain yang lebih membutuhkan tenaga,
saya siap di mana pun Ibu tempatkan.
Ia berhenti sejenak, tersenyum kecil, senyum yang tidak
berlebihan, tetapi tulus.
Erlangga: Saya
tidak datang dengan angkuh, Bu. Saya datang dengan kesadaran bahwa saya masih
banyak belajar. Dan dari yang saya dengar tentang Ibu dari Mbak Anita dan
warga, saya tahu bahwa Ibu adalah orang yang paling tepat untuk saya belajar
tentang kesehatan masyarakat di desa ini.
Amilia terdiam. Matanya masih menatap Erlangga, tetapi
intensitasnya sedikit berkurang. Ia mengamati pemuda ini, jaket almamater yang
lusuh, sepatu boots yang kotor oleh lumpur, tangan yang terlihat bersih tetapi
tidak terlalu mulus. Setidaknya dia bukan tipe mahasiswa yang datang
dengan kemeja rapi dan sepatu pantofel yang tidak akan pernah kena debu desa.
Ia kemudian melirik sepatu Erlangga, boots yang kotor,
dengan lumpur cokelat yang sudah mengering di bagian samping. Ada jejak daun
dan pasir di sela-sela sol sepatunya. Bekas perjalanan keliling desa. Bekas
kerja lapangan.
Amilia: (setelah hening
beberapa detik, suaranya sedikit melunak, hanya sedikit, tetapi cukup terasa) Setidaknya
sepatumu kotor. Berarti kamu benar-benar keliling desa, bukan cuma duduk-duduk
di kantor desa sambil minum kopi. Itu poin pertama untukmu.
Ia menghela napas, lalu menunjuk ke meja di sebelah kanan
dengan dagunya.
Amilia: Baik, kalau kamu
mau bantu, duduk di sana. Nanti ibu-ibu hamil yang datang, kamu lakukan
anamnesa. Tanyakan usia kehamilan, keluhan, riwayat imunisasi TT, dan apakah
sudah minum tablet tambah darah. Catat semuanya di buku KIA. Tapi jangan sok
tahu. Kalau ada yang tidak sesuai dengan protokol yang saya buat, tanya saya
dulu. Jangan langsung kasih saran atau resep tanpa sepengetahuan saya. Di sini,
saya yang bertanggung jawab. Saya tidak mau ada hal-hal yang tidak diinginkan
terjadi karena kesalahan mahasiswa KKN yang baru datang seminggu.
Erlangga mengangguk dengan penuh hormat. Ia mengambil
tempat duduk di meja yang ditunjuk, mengeluarkan stetoskop dan alat tulis dari
ranselnya, dan mulai menyiapkan diri. Anita yang dari tadi berdiri di belakang,
tersenyum lega. Ia tahu bahwa Amilia tidak akan semudah itu menerima orang
baru, dan fakta bahwa ia sudah mengizinkan Erlangga membantu adalah sebuah
pencapaian tersendiri.
Anita: (berbisik pada
Erlangga sebelum duduk di meja administrasi) Selamat, Mas. Bu Amilia
biasanya butuh waktu tiga minggu untuk percaya sama orang baru. Mas cuma butuh
tiga menit. Itu rekor.
Erlangga: (berbisik
balik, tersenyum) Saya hanya jujur, Mbak. Orang seperti Bu Amilia
tidak butuh pujian atau rayuan. Mereka butuh dilihat, dihargai, dan dibantu
dengan tulus.
Posyandu dimulai pukul sembilan. Seperti yang sudah
diperkirakan Anita, peserta yang datang tidak terlalu banyak, sekitar delapan
ibu dengan balita, dan tiga ibu hamil. Tapi bagi Erlangga, yang baru pertama
kali melihat langsung dinamika posyandu di desa terpencil, ini adalah
pengalaman yang membuka matanya.
Ia melihat seorang ibu dengan balita yang rewel karena
tidak mau ditimbang. Ibu itu membawa anaknya dengan cara yang salah, menggendong
dengan satu tangan sambil memegang ponsel di tangan lain dan anaknya terus
meronta. Erlangga menghampiri dengan sabar, membantu menstabilkan anak itu
sambil tersenyum pada ibunya.
Di meja imunisasi, Amilia bekerja dengan kecepatan dan
ketepatan yang mengesankan. Satu anak disuntik, selesai, anak berikutnya
dipanggil. Tangannya bergerak dengan ritme yang sudah terlatih selama
bertahun-tahun. Namun, ia juga harus menghadapi ibu-ibu yang bertanya dengan
nada cemas: "Bu Bidan, nanti anak saya demam, gimana?", "Bu, ini
suntikan apa? Kok beda warna?", "Anak saya kemarin habis batuk, aman
ya disuntik?"
Amilia menjawab satu per satu dengan sabar, sesuatu yang
kontras dengan reputasi "galaknya". Erlangga menyadari bahwa
kegalakan Amilia bukanlah ketidaksabaran, tetapi bentuk pertahanan diri. Ketika
seseorang harus bekerja sendirian dengan sumber daya terbatas, menghadapi
puluhan ibu yang cemas, puluhan anak yang menangis, dan tekanan dari atas yang
tidak pernah berhenti, menjadi "galak" adalah cara untuk menjaga agar
semua tetap teratur dan terkendali.
Sekitar pukul setengah sepuluh, ketika posyandu sedang
berlangsung, suasana mendadak berubah. Dari luar balai desa, terdengar suara
truk besar yang berhenti dengan bunyi rem angin yang nyaring, pshhhhh!, disusul
dengan suara pintu kabin yang dibanting keras. Semua ibu di dalam ruangan
menoleh ke arah pintu, ekspresi mereka berubah menjadi heran.
Seorang pria masuk dengan langkah terhuyung-huyung. Ia
bertubuh besar, dengan tinggi sekitar 175 sentimeter dan perut yang sedikit
buncit, tubuh yang terbiasa duduk berjam-jam di belakang kemudi. Wajahnya
kemerahan, bukan karena malu tetapi karena demam atau rasa sakit yang ia tahan.
Keringat membasahi dahi dan lehernya, membuat kaos oblong biru yang ia kenakan
basah di bagian kerah. Tangan kanannya memegang pipi kirinya, dan dari cara ia
mengerang pelan setiap kali melangkah, jelas bahwa rasa sakit itu luar biasa.
Pria itu adalah Anto, supir truk yang bertugas mengangkut
hasil perkebunan dari Desa Awan Biru dan desa-desa sekitarnya ke pabrik
pengolahan di kota kabupaten. Ia bukan warga asli desa ini, tetapi ia sudah
bertugas di rute ini selama lima tahun, membuatnya dikenal oleh hampir semua
orang di sepanjang jalur. Ia dikenal sebagai supir yang andal, ramah, tetapi
juga sedikit "tengil"—suka bercanda kasar dan tidak sungkan meminjam
uang untuk rokok atau kopi. Namun pagi itu, tidak ada sepenggal pun rasa tengil
yang tersisa di wajahnya. Yang ada hanya kesakitan yang nyaris membuatnya
menangis.
Anto: (mengerang
kesakitan, suaranya serak dan putus-putus karena sakit yang ia tahan) Bu
Bidan... Bu Amilia... tolong... gigi saya. Saya nggak tahan. Sakitnya udah dari
tiga hari yang lalu, tapi tadi malam tambah parah. Sampai nggak bisa makan tiga
hari ini. Cuma minum air putih dan kopi pahit itupun susah. Tadi subuh saya
sempat dibawa ke mantri, dikasih obat, tapi nggak mempan, Bu. Sakitnya tambah
menjadi. Saya sampai nggak bisa tidur semalaman.
Ia meraih pipinya dengan kedua tangan sekarang, wajahnya
memerah karena demam dan rasa sakit yang menjalar hingga ke rahang.
Anto: (hampir
menangis, suaranya bergetar) Bu, saya tau ini posyandu ibu dan anak,
bukan klinik gigi. Tapi saya nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi.
Puskesmas kecamatan Kabut Merah jauh, jalannya jelek, dan saya nggak punya
kendaraan. Truk saya lagi parkir di halaman desa, tapi saya nggak bisa bawa
karena kepala saya rasanya mau pecah.
Amilia menghela napas panjang. Ia meletakkan alat suntik
yang sedang ia pegang, membersihkan tangannya dengan hand sanitizer, lalu mendekati
Anto dengan langkah cepat. Matanya yang tajam di balik kacamata tebal mengamati
wajah Anto yang sembab dan kemerahan.
Amilia: (dengan nada
yang tegas tetapi tidak marah) Anto, saya ini bidan, bukan dokter
gigi. Saya punya kewenangan terbatas. Untuk kasus gigi seperti ini, saya cuma
bisa kasih obat penahan sakit sementara, parasetamol atau ibuprofen, itu pun
kalau masih tersedia. Tapi itu hanya mengurangi rasa sakit, bukan menyembuhkan.
Kamu harus ke puskesmas kecamatan Kabut Merah untuk diperiksa dokter gigi. Akar
masalahnya harus ditangani.
Anto menggeleng dengan putus asa, gerakannya justru membuat
rasa sakitnya bertambah. Ia meringis, matanya berkaca-kaca.
Anto: (suaranya
nyaris memelas) Bu, saya nggak bisa ke puskesmas sekarang. Truk saya
harus bawa muatan ke kota hari ini. Ini muatan kopi dari tiga desa, total dua
ton. Kalau saya nggak berangkat hari ini, setoran saya hangus. Perusahaan bakal
potong gaji saya. Saya kan cuma supir kontrak, Bu. Nggak punya jaminan
kesehatan. Kalau saya sakit begini dan nggak nyetir, saya nggak punya
pemasukan. Istri saya lagi hamil besar, bentar lagi melahirkan. Saya butuh uang
untuk biaya persalinan.
Ia menunduk, air mata pria dewasa itu akhirnya menetes.
Bukan karena sakit gigi saja, tetapi karena tekanan hidup yang menimpanya di
waktu yang salah.
Amilia terdiam. Ia mengerti. Delapan tahun menjadi bidan di
desa ini mengajarkannya bahwa kesehatan tidak pernah berdiri sendiri. Kesehatan
selalu beririsan dengan ekonomi, dengan pekerjaan, dengan sistem yang sering
kali tidak berpihak pada mereka yang paling membutuhkan. Ia bisa saja marah
pada Anto karena tidak segera berobat, karena memaksakan diri tetap bekerja
meskipun sakit. Tapi ia juga tahu bahwa kemarahan tidak akan menyelesaikan
masalah.
Amilia: (suaranya
melunak, tetapi masih tegas) Anto, saya cuma bisa kasih obat penahan
sakit sementara. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Kalau infeksinya sudah
parah, bisa menyebar ke bagian tubuh lain. Itu berbahaya. Kamu harus...
Sebelum Amilia selesai berbicara, Erlangga yang sejak tadi
memperhatikan dari meja anamnesa, berdiri dan menghampiri. Ia sudah mendengar
seluruh percakapan, dan ia bisa melihat dengan jelas kondisi Anto: wajah
sembab, pipi kiri bengkak, kesulitan membuka mulut, dan dari bau napas yang
keluar meskipun dari jarak satu meter, ada indikasi infeksi yang sudah cukup
parah.
Erlangga: (mendekat
dengan langkah tenang, suaranya rendah tetapi jelas) Mas Anto, coba
saya lihat sebentar. Saya Erlangga, mahasiswa kedokteran yang sedang KKN di
sini. Boleh saya periksa?
Anto menatap Erlangga dengan mata setengah tidak percaya.
Seorang mahasiswa? Baru datang seminggu? Tapi rasa sakitnya sudah begitu luar
biasa sehingga ia tidak punya pilihan. Ia mengangguk pelan, membuka mulutnya
dengan susah payah.
Erlangga mengambil senter kecil dari saku jasnya, senter
yang sama yang ia gunakan untuk memeriksa Bintang beberapa hari lalu. Dengan
gerakan hati-hati, ia menyorotkan cahaya ke dalam rongga mulut Anto. Ia melihat
dengan saksama: gusi di sekitar gigi geraham kiri bawah tampak merah dan
bengkak, ada nanah di sekitar pangkal gigi, dan gigi itu sendiri sudah
berlubang besar hingga ke akar. Sisa akar gigi yang sudah terinfeksi, itulah
diagnosis cepat yang ia buat dalam pikirannya.
Erlangga: (setelah
selesai memeriksa, suaranya tenang tetapi serius) Mas Anto, ini sisa
akar gigi yang sudah infeksi. Sebenarnya harus dicabut di fasilitas kesehatan
oleh dokter gigi, karena kalau hanya diobati tanpa mencabut sumber infeksinya,
sakitnya akan kambuh lagi. Tapi kalau Mas Anto tidak bisa ke puskesmas sekarang
karena tuntutan pekerjaan, saya bisa bantu berikan kompres air garam hangat
untuk mengurangi pembengkakan, dan obat antiinflamasi yang lebih kuat dari yang
dikasih mantri tadi. Tapi Mas harus janji, besok pagi, pagi benar, jam tujuh, Mas
harus ke puskesmas kecamatan Kabut Merah untuk cabut gigi. Kalau tidak,
infeksinya bisa menyebar ke tulang rahang atau bahkan ke aliran darah. Itu
sangat berbahaya.
Anto mengerang, masih memegang pipinya. Matanya menunjukkan
konflik batin antara keinginan untuk segera sembuh dan kewajiban untuk bekerja.
Anto: (suaranya
serak) Mas bisa jamin saya bisa nyetir hari ini? Truk saya muatan dua
ton, jalannya naik turun bukit. Kalau saya pusing, bisa celaka. Saya nggak mau
ambil risiko kalau belum yakin.
Erlangga menatap Anto dengan mata yang jujur. Ia tidak mau
menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ia pastikan. Sebagai calon dokter, ia tahu
batasan kemampuannya. Tapi sebagai manusia, ia juga tahu bahwa terkadang solusi
tidak harus sempurna; yang penting adalah mengurangi risiko dan memastikan ada
jaring pengaman.
Erlangga: (suaranya
mantap) Mas, saya jamin Mas bisa nyetir hari ini, tapi dengan
perjanjian. Saya akan ikut ke truk Mas. Saya akan duduk di kabin menemani Mas,
memastikan Mas tidak pusing karena obat, dan memantau kondisi Mas selama
perjalanan. Kalau di tengah jalan Mas merasa tidak enak badan, kita akan
berhenti dan saya yang akan cari solusi. Saya juga akan bawa obat tambahan
untuk antisipasi.
Anto terbelalak. Matanya yang tadinya setengah tertutup
karena sakit, sekarang terbuka lebar. Ia tidak menyangka ada seorang mahasiswa,
calon dokter pula, yang bersedia naik truk kotor miliknya hanya untuk
memastikan ia selamat sampai tujuan.
Anto: (dengan suara
tidak percaya) I... ikut naik truk saya? Mas dokter mau naik truk
kotor begini? Truk saya penuh debu kopi, bau solar, joknya robek, AC-nya rusak.
Panas di dalamnya kayak setrika. Mas yang dari kota, biasa naik mobil bagus...
Erlangga: (tertawa
kecil, mengusap keringat di dahinya) Mas Anto, saya mahasiswa KKN,
Mas. Bukan dokter yang gengsi. Di kampus saya juga sering ke lapangan, naik
angkot, naik truk, bahkan pernah naik gerobak sapi waktu kos di daerah pesisir.
Truk Mas masih jauh lebih nyaman daripada gerobak sapi, saya jamin. Ayo,
setelah posyandu ini saya anter. Tapi sebelumnya, saya siapkan dulu obatnya dan
kompres hangatnya.
Ia berbalik ke arah Amilia yang sejak tadi memperhatikan
dengan mata menyipit. Ada ekspresi di wajah Amilia yang sulit dibaca, antara
kagum, heran, dan sedikit terharu.
Erlangga: Bu
Bidan, apakah Ibu punya stok ibuprofen dosis 400 mg atau asam mefenamat? Dan
apakah ada kapas steril untuk kompres?
Amilia mengangguk perlahan. Ia membuka lemari obat kecil
yang ia bawa, mengeluarkan blister obat dan kapas steril.
Amilia: (nada suaranya
datar, tetapi ada kehangatan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya) Ada.
Ambil. Tapi kamu hati-hati, Erlangga. Kasus gigi seperti ini tidak bisa
dianggap sepele. Pastikan Anto benar-benar ke puskesmas besok. Jangan sampai
kamu hanya menjadi enabler yang membantunya menunda
pengobatan.
Erlangga: (mengangguk) Saya
paham, Bu. Saya akan pastikan. Saya juga akan minta nomor HP Mas Anto, dan
besok pagi saya akan telepon untuk memastikan dia sudah di puskesmas. Kalau
perlu, saya yang akan jemput.
Anita yang sejak tadi berdiri di belakang meja
administrasi, menyaksikan semuanya dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
Ia melihat bagaimana Erlangga dengan segala keterbatasan alat dan wewenangnya, tetap
berusaha memberikan solusi yang manusiawi. Ia tidak hanya memberi obat lalu
pergi. Ia menawarkan diri untuk menemani, untuk memastikan, untuk bertanggung
jawab. Itu bukan sekadar ilmu kedokteran. Itu adalah hati.
Ketika Erlangga selesai memberikan kompres hangat dan obat
pada Anto, dan setelah ia mencatat nomor telepon pria itu dengan janji akan
menghubungi besok pagi, Amilia mendekati Anita dengan langkah pelan.
Amilia: (berbisik,
suaranya nyaris tak terdengar) Anita, mahasiswa yang kamu bawa ini...
berbeda.
Anita: (tersenyum) Saya
tahu, Bu. Saya juga kaget.
Amilia: (masih
berbisik, matanya mengikuti Erlangga yang sedang membantu Anto berjalan ke
luar) Saya sudah melihat puluhan mahasiswa KKN. Ada yang baik, ada
yang biasa saja, ada yang menyebalkan. Tapi yang seperti ini... yang tidak
hanya pintar tapi juga punya empati yang tulus... itu langka. Jangan
sia-siakan, Anita. Orang seperti ini tidak datang dua kali.
Anita tidak menjawab. Ia hanya menunduk, merasakan
jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Jangan sia-siakan. Apa
maksud Bu Amilia dengan kata-kata itu? Apakah tentang program kesehatan? Atau
tentang... hal lain?
Sore harinya, setelah Erlangga selesai menemani Anto hingga
ke truk dan memastikan supir itu cukup stabil untuk menyetir, bahkan sempat
membantu menaikkan beberapa karung kopi yang terjatuh saat Anto hendak
berangkat, suasana di kantor desa berubah menjadi lebih formal dan tegang.
Ruang rapat utama yang biasanya digunakan untuk pertemuan perangkat desa, sore
itu dipenuhi oleh kursi-kursi yang disusun rapi menghadap meja panjang. Di
dinding, papan tulis putih yang sudah agak kusam telah dibersihkan dan
dipasangi spidol warna-warni yang hampir habis tintanya.
Rapat koordinasi program kesehatan dihadiri oleh hampir
seluruh perangkat desa. Pak Iwan duduk di ujung meja dengan ekspresi serius,
tangannya memegang rokok yang belum dinyalakan, kebiasaannya ketika akan
membahas sesuatu yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Di sampingnya, Bu Yuni
sibuk membuka-buka buku agenda dengan jari-jari yang gemetar sedikit karena
gelisah. Pak Eko duduk dengan kipasnya yang terus bergerak cepat, menandakan
bahwa ia sudah mulai kepanasan meskipun AC di ruangan itu tidak ada dan hanya
mengandalkan kipas angin tua yang suaranya berisik.
Bu Lulu, sang Kaur Keuangan, sudah menyiapkan kalkulator
dan buku catatan keuangannya di depan meja. Ia memakai kacamata baca yang
digantung di ujung hidung, sesekali menyentuh layar kalkulator dengan jari
telunjuknya meskipun belum ada angka yang dihitung. Di sebelahnya, Bu Endang
duduk dengan tenang, sesekali menatap ke arah Anita dan Erlangga yang duduk di
kursi tamu di sisi ruangan.
Pak Edi, Kaur Kesra yang terkenal dengan nada sinisnya duduk
menyandar di kursi dengan tangan bersilang di dada. Wajahnya datar, tetapi
matanya bergerak cepat, mengamati setiap orang yang berbicara. Di sudut
ruangan, Si Amat sudah menyiapkan laptopnya, siap mendokumentasikan jalannya
rapat untuk arsip digital desa.
Dan di kursi paling ujung, Pak Didit, Ketua Badan
Permusyawaratan Desa (BPD), duduk dengan tenang. Ia adalah pria berusia 55
tahun dengan rambut putih yang disisir rapi, kemeja batik lengan panjang, dan
sikap yang selalu kalem. Kehadirannya dalam rapat ini penting karena BPD
memiliki fungsi pengawasan terhadap penggunaan anggaran desa.
Bu Lulu membuka pembicaraan dengan suara melengking khasnya
yang langsung memenuhi ruangan.
Bu Lulu: (menekan
tombol kalkulator dengan penuh semangat meskipun sebenarnya belum ada yang
dihitung) Baik, kita mulai saja. Agenda rapat hari ini adalah
pembahasan alokasi anggaran untuk program kesehatan yang akan dilaksanakan oleh
mahasiswa KKN bersama dengan kader desa dan bidan desa. Dari hasil rapat teknis
kemarin, diperkirakan program pemeriksaan kesehatan gratis yang akan
dilaksanakan di tiga titik—balai desa, RT 02, dan RT 05—membutuhkan biaya
sekitar lima juta rupiah. Ini sudah termasuk konsumsi untuk relawan, cetak alat
peraga edukasi, transportasi kader, dan pembelian obat-obatan dasar yang tidak
bisa ditanggung oleh puskesmas.
Ia berhenti sejenak, menatap Bu Yuni yang bertugas menyusun
anggaran.
Bu Lulu: Tapi
setelah saya cek ulang dengan Bu Yuni, ternyata untuk alokasi dana desa bidang
kesehatan tahun ini sudah hampir habis. Sebagian besar sudah digunakan untuk
perbaikan posyandu di RT 03 dan RT 04, atap bocor, lantai retak, dan pengadaan
meja serta kursi baru. Jadi, sisa anggaran untuk program kesehatan di sisa
tahun ini hanya sekitar satu setengah juta rupiah. Jauh dari yang dibutuhkan.
Pak Eko mengernyit. Kipasnya berhenti bergerak sejenak,
lalu mulai bergerak lagi dengan lebih cepat.
Pak Eko: Lima
juta untuk program tiga bulan? Itu sebenarnya tidak besar, Bu. Tapi kalau kita
lihat dari sisa anggaran, memang berat. Saya lihat di RKPDes, Rencana Kerja
Pemerintah Desa, alokasi untuk kesehatan tahun ini sudah dialokasikan penuh
untuk perbaikan infrastruktur posyandu. Kecuali kita geser dari anggaran tak
terduga. Tapi itu risiko, karena anggaran tak terduga biasanya untuk keperluan
mendesak seperti bencana atau keadaan darurat.
Bu Yuni yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara
dengan nada tegas. Ia adalah sekretaris desa yang sudah puluhan tahun mengelola
administrasi pemerintahan desa, dan ia paham betul seluk-beluk peraturan
anggaran.
Bu Yuni: (mengetuk
meja dengan ujung pulpennya) Pak Eko, jangan asal geser. Anggaran tak
terduga itu penggunaannya diatur. Kalau kita geser untuk program mahasiswa KKN,
nanti pemeriksa keuangan dari kabupaten bisa protes. Apalagi tahun depan ada
pilkades, pasti pemeriksaan keuangan akan lebih ketat. Saya tidak mau desa kita
dapat opini WDP, Wajar Dengan Pengecualian, lagi seperti tahun 2022. Itu
memalukan.
Suasana ruangan mendadak tegang. Pak Iwan yang sedari tadi
hanya mendengarkan, akhirnya membuang napas panjang. Ia memutar rokok di
tangannya dengan gerakan lambat, tanda bahwa ia sedang berpikir keras.
Namun, sebelum Pak Iwan sempat berbicara, Erlangga
mengangkat tangan dengan sopan. Gerakannya pelan, tidak mendadak, tetapi cukup
untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu.
Erlangga: (dengan
suara tenang, tetapi jelas terdengar di ruangan yang hening) Maaf,
Pak, Bu. Saya mohon izin untuk memberikan masukan, jika diperbolehkan.
Pak Iwan mengangguk. Semua mata tertuju pada Erlangga.
Erlangga: Sebetulnya,
untuk pemeriksaan dasar seperti tensi, gula darah, dan kolesterol, saya sudah
membawa alat pribadi dari kampus. Saya punya tensimeter, stetoskop, alat cek
gula darah portable, dan beberapa perlengkapan lainnya. Saya juga sudah koordinasi
dengan apotek di kecamatan Kabut Merah, Apotek Sehat Farma dan mereka bersedia
menyumbang vitamin dan obat-obatan dasar untuk program ini. Tidak banyak, tapi
cukup untuk kebutuhan dasar. Selain itu, kampus saya memberikan dana hibah
kecil untuk program pengabdian masyarakat. Jumlahnya tidak besar, tapi bisa
digunakan untuk membeli bahan habis pakai seperti kapas, alkohol, dan sarung
tangan sekali pakai.
Bu Ratna, Kaur Tata Usaha yang sedari tadi hanya diam
mendengarkan, tiba-tiba menyela dengan suara penuh keheranan.
Bu Ratna: (matanya
membulat di balik kacamatanya) Sungguh, Mas? Kok bisa? Biasanya
mahasiswa KKN itu datang dengan tangan kosong, minta difasilitasi segala macam.
Ini Mas Erlangga malah sudah siapkan semuanya dari jauh-jauh hari?
Erlangga: (tersenyum) Itu
bagian dari proposal KKN yang saya ajukan, Bu. Universitas kami memang
mendorong mahasiswa untuk tidak hanya datang dengan program, tetapi juga dengan
kontribusi nyata. Jadi, tenaga dan beberapa alat, kami tanggung sendiri. Yang
kami butuhkan dari desa adalah data, akses ke warga, dan dukungan moral. Soal
anggaran besar, kami tidak ingin membebani desa. Tiga bulan mungkin singkat,
tapi kami ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat, bukan utang.
Pak Iwan yang mendengar itu, langsung menepuk meja dengan
semangat. Wajahnya yang tadinya tegang, kini berubah menjadi cerah. Ia bahkan
sampai menyambar rokok yang belum dinyalakan itu dan meletakkannya di atas
meja, tanda bahwa ia terlalu bersemangat untuk merokok.
Pak Iwan: (suaranya
menggelegar, penuh kekaguman) Nah, ini baru namanya mahasiswa!
Proaktif, mandiri, dan punya inisiatif. Bu Lulu, kalau begitu kita hanya perlu
alokasi untuk konsumsi relawan dan transportasi kader. Karena alat-alat
pemeriksaan sudah disiapkan oleh Mas Erlangga. Dan obat-obatan juga sudah ada
sumbangan dari apotek. Berapa kira-kira?
Bu Lulu langsung memencet-mencet kalkulator dengan jari
yang lebih lincah dari sebelumnya. Matanya menyipit membaca angka-angka di
layar kalkulator, sesekali mengecek buku catatan.
Bu Lulu: (setelah
beberapa saat, suaranya lega) Kalau hanya untuk konsumsi
relawan—misalnya untuk tiga kali pelaksanaan dengan masing-masing 20
relawan—dan transportasi kader untuk tiga dusun, totalnya sekitar dua juta
rupiah. Itu sudah termasuk cetak poster sederhana dan alat peraga edukasi dari
bahan bekas. Dua juta itu masih masuk dalam sisa anggaran yang ada. Bahkan
masih ada sisa untuk cadangan.
Bu Yuni mengangguk puas. Pak Eko menutup kipasnya dan
menyelipkan di saku celana. Bu Endang tersenyum lega. Bahkan Si Amat dari pojok
ruangan mengangkat jempol ke arah Erlangga dengan senyum bangga.
Namun, di tengah kehangatan yang mulai menyelimuti ruangan,
Pak Edi yang sedari tadi diam dengan tangan bersilang, akhirnya membuka suara.
Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti
tetesan air dingin di tengah ruangan yang hangat.
Pak Edi: (nada
sinis, dengan senyum tipis yang tidak sampai ke matanya) Saya setuju
program ini bagus. Ide-idenya segar, pendekatannya inovatif, dan Mas Erlangga
terlihat sangat kompeten. Saya tidak meragukan itu. Tapi...
Ia berhenti sejenak, matanya menyapu ruangan, berhenti
sebentar di wajah Erlangga lalu di wajah Anita. Senyum tipisnya melebar, tetapi
tetap tidak sampai ke mata.
Pak Edi: Saya
harus ingatkan, jangan sampai program ini hanya jadi ajang pencitraan
mahasiswa. Maaf saya berkata terus terang, tapi ini pengalaman saya selama
bertahun-tahun di pemerintahan desa. Mahasiswa KKN datang, membuat program yang
spektakuler, difoto, diliput, dibuat laporan tebal, lalu mereka pulang dengan
nilai bagus dan kenangan indah. Tapi setelah mereka pergi, programnya mati.
Warga kembali ke kebiasaan lama. Kader kembali bekerja sendiri tanpa dukungan.
Yang tersisa hanya foto-foto yang terpajang di kantor desa dan laporan yang
berdebu di lemari arsip. Ini yang sering terjadi. Dan saya tidak ingin itu
terjadi lagi.
Suasana ruangan mendadak dingin. Kipas angin tua yang
berisik di sudut ruangan seolah menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Bu
Yuni menunduk, menggigit bibirnya. Pak Eko berhenti mengipas. Bu Lulu
meletakkan kalkulatornya perlahan. Bahkan Pak Iwan yang tadinya bersemangat,
kini terdiam dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Anita yang biasanya kalem dan lebih memilih diam dalam
rapat-rapat seperti ini, tiba-tiba merasakan sesuatu di dadanya. Bukan marah,
bukan emosi, tetapi rasa tidak terima yang sudah terlalu lama ia pendam. Selama
dua tahun menjadi KPM, ia sudah mendengar kalimat seperti ini berulang kali.
Setiap kali ada program baru, selalu ada yang meragukan keberlanjutan. Setiap
kali ada pendatang baru yang ingin membantu, selalu ada yang menyebutnya
"hanya pencitraan". Dan setiap kali itu terjadi, Anita diam. Ia memilih
membuktikan dengan kerja, bukan dengan kata-kata.
Tapi kali ini berbeda. Entah karena topiknya tentang
program kesehatan yang ia kelola, atau karena yang diragukan adalah Erlangga, seseorang
yang dalam waktu singkat sudah menunjukkan ketulusan yang jarang ia lihat, Anita
merasa tidak bisa diam.
Ia berdiri.
Gerakannya pelan, tetapi penuh keyakinan. Kursi kayu tempat
ia duduk bergeser sedikit dengan suara kreek yang terdengar
jelas di ruangan yang hening. Semua mata tertuju padanya. Anita menatap Pak Edi
dengan mata yang teduh tetapi tegas, tatapan yang sudah dikenal oleh semua
perangkat desa sebagai tatapan ketika Anita sedang serius.
Anita: (suara tegas,
tidak tinggi tetapi penuh bobot) Pak Edi, saya sebagai KPM di desa ini
sudah dua tahun. Saya memulai program pendampingan stunting, pemantauan ibu
hamil, dan edukasi kesehatan reproduksi remaja sejak tahun pertama saya
ditunjuk sebagai kader. Tidak ada satu pun program yang saya jalankan berhenti
di tengah jalan. Bukan karena saya hebat, tetapi karena saya tahu tanggung
jawab. Saya warga desa ini, Pak. Rumah saya di sini, orang tua saya di sini,
masa depan saya di sini. Tidak mungkin saya membiarkan program yang saya bangun
mati begitu saja.
Ia mengambil napas dalam-dalam, matanya tidak berkedip.
Anita: Saya mengundang
mahasiswa KKN ke desa ini, termasuk Mas Erlangga dan teman-temannya, bukan
karena saya tidak mampu mengerjakan semuanya sendiri. Saya mampu. Saya sudah
membuktikan dua tahun terakhir. Saya mengundang mereka karena saya percaya
bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan sendirian. Saya butuh energi baru,
ide-ide baru, dan kolaborasi. Kehadiran Mas Erlangga dan teman-teman hanya
membantu mempercepat apa yang sudah saya mulai. Bukan sebagai tulang punggung
yang kalau pergi semuanya runtuh. Saya adalah tulang punggungnya. Dan saya
tidak akan ke mana-mana.
Ruangan itu sunyi. Angin dari jendela masuk membawa aroma
kopi dari kebun warga, tetapi tidak ada yang bergerak. Pak Edi yang tadinya
tersenyum sinis, kini terdiam. Wajahnya berubah, bukan marah, tetapi terkejut.
Ia tidak menyangka Anita yang biasanya pendiam dan hanya fokus pada
pekerjaannya akan berbicara sekeras ini di depan semua perangkat desa.
Pak Edi: (setelah
hening beberapa detik, ia tertawa kecil, tawa yang tidak lagi sinis, tetapi
lebih kepada tawa yang mengakui kekalahan) Wah, Amat, lihat putrimu
ini. Galak amat sama orang tua. Saya hanya mengingatkan, Nita. Bukan menuduh.
Kenapa kamu sampai berdiri segala?
Si Amat yang dari pojok ruangan memperhatikan semuanya
dengan tenang, akhirnya bersuara. Ia tidak mengangkat suara, tidak membela atau
mengkritik. Ia hanya mengatakan fakta dengan nada yang tenang, seperti biasa.
Si Amat: (sambil
tetap mengetik di laptopnya, matanya tidak lepas dari layar) Dia
memang begitu, Pak Edi. Saya sudah bilang, kalau soal tugas, dia nggak kenal
siapa pun. Bahkan sama saya sebagai ayahnya, kalau saya salah ngasih data, dia
bisa marah. Tapi yang dia katakan benar. Program kesehatan di desa ini memang
tidak pernah berhenti meskipun kadang lambat. Lambat karena banyak kendala,
tapi tidak pernah berhenti. Itu yang perlu kita hargai.
Suasana sedikit mencair. Pak Iwan yang sedari tadi diam,
kini tersenyum kecil. Ia mengambil rokok yang tadi diletakkannya di meja,
tetapi tidak dinyalakan, hanya diputar-putar di antara jari-jarinya.
Pak Iwan: (suaranya
pelan, tetapi penuh wibawa) Pak Edi punya poin yang valid.
Keberlanjutan adalah kunci. Dan Nita punya poin yang juga valid. Program harus
terus berjalan dengan atau tanpa mahasiswa KKN. Jadi, bagaimana kita
menjembatani ini?
Erlangga yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama,
akhirnya berdiri. Ia tidak berdiri dengan gerakan tiba-tiba yang mencolok,
tetapi perlahan, seperti orang yang ingin memastikan bahwa semua orang siap
mendengarkannya. Ia menatap Pak Edi dengan hormat, lalu ke Pak Iwan, lalu ke
seluruh perangkat desa yang hadir.
Erlangga: (suaranya
tenang, tetapi penuh keyakinan) Pak Edi punya poin yang sangat valid.
Saya setuju, keberlanjutan adalah kunci. Saya tidak akan naif untuk mengatakan
bahwa program yang saya buat dalam tiga bulan akan bertahan selamanya tanpa
dukungan dari warga dan perangkat desa sendiri. Tapi saya ingin menawarkan satu
hal.
Ia membuka ranselnya yang selalu ia bawa ke mana-mana,
mengeluarkan sebuah buku catatan tebal yang sudah mulai lusuh meskipun baru
beberapa minggu ia gunakan.
Erlangga: Sepanjang
KKN, saya akan mendokumentasikan semua prosedur, mulai dari cara pemeriksaan
dasar yang sederhana, cara pencatatan data yang efisien, cara edukasi kesehatan
yang mudah dipahami warga, hingga cara evaluasi program. Saya akan membuat
modul sederhana, dalam bahasa yang mudah dimengerti, lengkap dengan gambar dan
ilustrasi, yang nanti bisa digunakan oleh kader desa dan bidan desa untuk
melanjutkan program setelah saya dan teman-teman pergi. Modul ini akan saya
tinggalkan untuk Mbak Anita, Bu Amilia, dan teman-teman kader lainnya.
Ia menutup buku catatannya, menatap Pak Edi dengan mata
yang jujur.
Erlangga: Saya
tidak bisa menjanjikan bahwa program ini akan abadi. Tapi saya bisa menjanjikan
bahwa saya akan meninggalkan ilmu dan alat yang dibutuhkan agar program ini
bisa terus berjalan. Karena saya percaya, pembangunan sejati bukanlah ketika
kita datang dan membangun sesuatu yang baru, tetapi ketika kita pergi dan apa
yang kita bangun tetap hidup dengan sendirinya.
Pak Didit, Ketua BPD yang sedari tiam diam di kursi ujung,
akhirnya angkat bicara. Suaranya dalam dan tenang, seperti orang yang sudah
terbiasa menjadi penengah dalam berbagai konflik.
Pak Didit: (mengangguk
perlahan, matanya menatap satu per satu orang di ruangan itu) Nah, ini
bagus. Program jelas, pendanaan jelas, keberlanjutan juga sudah dipikirkan.
Saya sebagai BPD mendukung penuh program ini. Tapi saya minta satu hal.
Ia menatap Pak Edi, lalu ke Pak Iwan, lalu ke Anita dan
Erlangga.
Pak Didit: Saya
minta semua pihak tidak saling curiga. Jangan ada yang merasa program ini hanya
pencitraan, dan jangan ada yang merasa program ini hanya beban. Kita semua satu
tujuan: membangun desa. Bukan untuk nama besar siapa pun, tetapi untuk warga
kita, untuk anak-anak kita, untuk masa depan Awan Biru. Setuju?
Semua orang di ruangan itu mengangguk. Pak Edi menghela
napas panjang, lalu tersenyum, senyum yang kali ini tulus, tidak sinis.
Pak Edi: (mengangkat
kedua tangan, menandakan menyerah) Saya setuju. Saya hanya ingin
memastikan. Tidak ada niat buruk. Maaf kalau kata-kata saya tadi terlalu keras.
Anita yang masih berdiri, akhirnya duduk kembali. Ia menatap
Pak Edi dengan senyum kecil, senyum yang menandakan bahwa tidak ada sakit hati.
Anita: Saya juga minta maaf
kalau bicara saya tadi kurang sopan, Pak Edi. Saya hanya... emosi. Karena saya
tahu Mas Erlangga dan teman-temannya benar-benar ingin membantu. Saya tidak mau
niat baik mereka disalahartikan.
Pak Iwan mengetuk meja tiga kali, tanda bahwa rapat telah
mencapai keputusan bulat.
Pak Iwan: Baik,
rapat selesai. Program kesehatan dengan alokasi anggaran dua juta rupiah untuk
konsumsi dan transportasi disetujui. Mas Erlangga akan menyiapkan modul dan
dokumentasi. Mbak Anita dan Bu Amilia akan menjadi penanggung jawab teknis di
lapangan. Bu Lulu akan memproses pencairan anggaran. Bu Yuni akan
mendokumentasikan keputusan ini dalam berita acara rapat. Semua setuju?
Semua mengangguk. Pak Iwan berdiri, menandakan rapat resmi
berakhir. Satu per satu perangkat desa mulai meninggalkan ruangan. Bu Lulu
masih sibuk dengan kalkulatornya. Pak Eko membuka kipasnya lagi. Bu Yuni mulai
menulis berita acara dengan pulpen yang tintanya hampir habis. Pak Edi keluar
lebih dulu, menepuk pundak Anita sebelum pergi.
Di luar kantor desa, langit mulai berwarna jingga
kemerahan. Matahari perlahan tenggelam di balik bukit, meninggalkan sisa-sisa
cahaya yang memantul di awan-awan tipis. Kabut biru yang menjadi nama desa ini
mulai merayap turun dari puncak bukit, perlahan menyelimuti lembah dengan
kelembapan yang menusuk. Burung-burung mulai pulang ke sarang, suara mereka
yang riuh bergantian dengan suara jangkrik yang mulai bersiap untuk malam.
Erlangga keluar dari kantor desa dengan langkah yang
sedikit lelah. Ia membawa ranselnya yang terasa lebih berat setelah rapat, bukan
karena barang-barang di dalamnya bertambah, tetapi karena beban tanggung jawab
yang mulai ia rasakan. Ia tidak menyangka bahwa program sederhana yang ia
usulkan akan memicu perdebatan sepanas itu. Tapi ia juga merasa bersyukur,
karena pada akhirnya semuanya berjalan dengan baik.
Ketika ia melangkah keluar, ia melihat Anita sudah duduk di
tangga beton kantor desa. Tangga itu lebar, cukup untuk dua orang duduk
berdampingan dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Anita duduk di sisi kiri,
memegang helmnya di pangkuan, matanya menatap ke arah bukit yang mulai
diselimuti kabut.
Erlangga menghampiri, meletakkan ranselnya di lantai, lalu
duduk di sisi kanan Anita. Jarak mereka sekitar setengah meter, cukup untuk
tidak dianggap terlalu akrab, tetapi cukup dekat untuk mendengar napas satu
sama lain.
Angin sore berembus lembut. Wangi kopi dari kebun warga di
lereng bukit terbawa angin, bercampur dengan aroma tanah basah dan dedaunan
kering. Suasana sunyi, tetapi sunyi yang nyaman, sunyi yang tidak memaksa siapa
pun untuk mengisinya dengan kata-kata.
Erlangga: (setelah
beberapa lama, suaranya pelan) Mbak Anita tadi luar biasa. Berani
banget bersuara. Saya sampai kaget. Mbak Anita biasanya lebih memilih diam di
rapat-rapat seperti itu.
Anita tidak langsung menjawab. Ia masih menatap ke arah
bukit, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.
Anita: (suaranya
lembut, sedikit lelah) Saya sudah biasa, Mas. Pak Edi itu memang baik,
orangnya peduli, tapi kadang terlalu skeptis. Dia lupa, saya juga warga desa
ini. Masa saya mau merusak desa sendiri? Saya tidak akan mengundang orang-orang
yang hanya akan membuat masalah.
Ia menghela napas, jari-jarinya memainkan tali helm di
pangkuannya.
Anita: Tapi tadi saya
sedikit emosi. Maaf kalau saya terkesan galak. Saya tidak suka kalau ada yang
meragukan niat baik orang lain, apalagi orang yang baru datang dan sudah
menunjukkan ketulusan. Saya tahu Mas Erlangga dan teman-teman tidak datang
untuk cari popularitas. Saya sudah lihat sendiri.
Erlangga: (tersenyum) Mbak
Anita tidak perlu minta maaf. Saya justru berterima kasih. Tadi saat Mbak Anita
berdiri dan bicara, saya merasa... dilindungi. Seperti punya kakak yang membela
adiknya. Saya tidak menyangka Mbak Anita akan seberani itu.
Anita menoleh, menatap Erlangga dengan mata yang sedikit
terkejut. Dilindungi? Kakak? Kata-kata itu menggelitik sesuatu
di hatinya, tetapi ia tidak tahu harus merespons bagaimana.
Anita: (membuang muka,
suaranya agak canggung) Ya... saya hanya bicara jujur. Mas Erlangga
itu orang baik. Saya tidak suka kalau orang baik diperlakukan tidak adil.
Mereka terdiam sejenak. Angin bertiup lebih kencang,
membawa dingin yang menusuk. Anita menggigil sedikit, tetapi berusaha tidak
menunjukkannya.
Erlangga: (melepas
jaket almamaternya yang lusuh, menawarkannya pada Anita) Mbak, pakai
ini dulu. Dingin.
Anita: (menolak dengan
cepat, sedikit panik) Nggak usah, Mas. Saya sudah biasa dingin. Ini
dingin biasa di desa, nggak separah di gunung.
Erlangga: (tetap
mengulurkan jaketnya, tersenyum) Mbak, tubuh Mbak menggigil. Jangan
sok kuat. Ini cuma jaket, bukan cincin kawin. Nggak usah sungkan.
Anita terdiam. Ia menatap jaket itu, jaket almamater
abu-abu dengan garis-garis merah, lusuh di siku dan kerah, tetapi masih hangat
karena baru saja dipakai. Ia mengambilnya dengan gerakan ragu, lalu
mengenakannya. Jaket itu terlalu besar untuk tubuhnya, membuatnya tampak
seperti sedang memakai jaket kakak laki-lakinya. Tapi hangatnya langsung
menyelimuti tubuhnya yang mulai kedinginan.
Anita: (suaranya
kecil, nyaris tak terdengar) Terima kasih, Mas.
Erlangga: (tersenyum,
menatap langit yang mulai gelap) Sama-sama, Mbak.
Mereka kembali diam. Kali ini keheningan terasa berbeda.
Bukan keheningan yang canggung, tetapi keheningan yang penuh dengan sesuatu
yang tidak diucapkan. Di langit, bintang-bintang mulai bermunculan satu per
satu, menghiasi langit Awan Biru yang bersih dari polusi cahaya. Di kejauhan,
suara azan magrib mulai berkumandang dari mesjid desa, suaranya menggema di
antara bukit-bukit dengan keindahan yang membuat hati terasa tenang.
Anita: (tiba-tiba,
suaranya pelan) Mas Erlangga, kenapa Mas memilih KKN di sini? Dengan
kemampuan Mas, Mas bisa memilih tempat yang lebih mudah. Akses lebih baik,
fasilitas lebih lengkap, warga lebih kooperatif. Kenapa Mas memilih desa
terpencil seperti Awan Biru?
Erlangga tidak langsung menjawab. Ia menatap bintang di
langit, seolah mencari jawaban di antara kerlip cahaya yang jauh itu.
Erlangga: (suaranya
pelan, dalam) Karena saya ingin belajar dari orang-orang seperti Mbak
Anita. Saya bisa membaca buku kedokteran setebal apapun. Saya bisa menghafal
ribuan nama obat dan penyakit. Saya bisa lulus ujian dengan nilai tertinggi.
Tapi semua itu tidak akan pernah mengajarkan saya arti pengabdian sejati.
Pengabdian yang tidak mengharapkan imbalan. Pengabdian yang dilakukan bukan
karena dilihat orang, tetapi karena memang itu panggilan hati.
Ia menoleh ke Anita, matanya bertemu dengan mata Anita
dalam kegelapan yang mulai pekat. Lampu kantor desa di belakang mereka menyala
samar, cukup untuk menerangi wajah mereka dengan cahaya temaram.
Erlangga: Saya
tidak akan pernah memahami arti sebenarnya dari menjadi seorang dokter kalau
saya hanya duduk di ruang praktik yang nyaman, menerima pasien yang sudah
datang dengan sendirinya. Saya harus ke tempat-tempat seperti ini. Saya harus
bertemu dengan orang-orang seperti Mbak Anita. Saya harus belajar dari mereka
yang setiap hari berjuang dengan sumber daya seadanya, tetapi tidak pernah
menyerah. Itu sebabnya saya di sini.
Anita menunduk. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan
karena angin malam yang dingin, tetapi karena kata-kata Erlangga yang menyentuh
sesuatu yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Selama dua tahun menjadi kader,
jarang sekali ada yang benar-benar memahami apa yang ia lakukan. Kebanyakan
orang melihatnya sebagai "kader biasa" yang tugasnya cuma nimbang
balita dan bagi-bagi vitamin. Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa apa yang
ia lakukan adalah pengabdian sejati. Tidak ada yang pernah datang ke desa ini
dengan alasan ingin belajar darinya.
Anita: (suaranya
bergetar sedikit, meskipun ia berusaha mengontrol) Mas Erlangga...
saya cuma orang desa biasa. Saya bukan siapa-siapa.
Erlangga: (tersenyum,
suaranya lembut) Mbak Anita adalah pahlawan bagi desa ini. Mungkin
Mbak tidak pernah merasa seperti itu, mungkin warga tidak pernah mengucapkan
terima kasih, mungkin perangkat desa tidak pernah memberikan penghargaan. Tapi
saya melihatnya. Setiap hari Mbak berkeliling desa, memeriksa balita, membujuk
ibu hamil, melawan mitos dan kebiasaan lama yang sudah mengakar. Itu adalah
pekerjaan yang tidak semua orang sanggup melakukannya. Dan Mbak melakukannya
sendirian, tanpa pamrih, selama dua tahun. Itu bukan "cuma kader".
Itu adalah pahlawan.
Anita tidak bisa menjawab. Ada sesuatu yang mengganjal di
tenggorokannya. Bukan kesedihan, tetapi perasaan haru yang terlalu besar untuk
ditahan. Ia hanya bisa menunduk lebih dalam, menyembunyikan wajahnya yang mulai
memerah dan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Erlangga melihat itu. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia
hanya duduk di samping Anita, menikmati keheningan malam, mendengarkan suara
jangkrik yang mulai bernyanyi di semak-semak, dan membiarkan Anita merasakan
apa yang perlu ia rasakan.
Malam itu, di tangga kantor desa, di bawah langit Awan Biru
yang dipenuhi bintang, dua orang duduk berdampingan dalam keheningan yang penuh
makna. Seorang kader desa yang selama ini merasa usahanya tidak pernah dilihat,
akhirnya mendengar kata-kata yang selama ini ia butuhkan. Dan seorang calon
dokter yang datang dengan ambisi untuk mengubah desa, justru belajar bahwa
perubahan tidak selalu tentang program dan anggaran, tetapi tentang menghargai
mereka yang sudah berjuang jauh sebelum ia datang.
Di kejauhan, bulan sabit mulai muncul di ufuk timur,
menyinari desa dengan cahaya peraknya yang lembut. Angin malam berembus,
membawa wangi bunga kopi yang menenangkan. Dan di antara semuanya, Desa Awan
Biru tetap diam, menyaksikan babak baru yang perlahan mulai terbuka.
BAB 4: Wabah di Tengah
Musim Pancaroba
Bulan kedua Kuliah Kerja Nyata di Desa Awan Biru memasuki
minggu-minggu kritis. Alam seolah sedang menguji ketahanan desa kecil di lereng
perbukitan ini. Musim pancaroba datang dengan keganasan yang tak terduga, angin
kencang bertiup siang dan malam, membawa debu dan serbuk sari dari kebun-kebun
kopi yang sedang berbunga. Hujan turun tak menentu: kadang deras di pagi hari,
kadang baru mulai sore, kadang tidak turun sama sekali selama dua tiga hari,
membuat suhu udara naik turun drastis. Udara pagi yang dingin menusuk tulang
berganti dengan panas terik siang yang menyengat, lalu kembali dingin ketika
senja tiba.
Perubahan cuaca ekstrem ini membawa dampak yang nyata pada
kesehatan warga. Dalam tiga hari terakhir, puluhan warga, terutama anak-anak
dan lansia, terserang demam, batuk, pilek, dan infeksi saluran pernapasan akut,
ISPA. Puskesmas di ibu kota kecamatan yang sudah kekurangan tenaga dan
obat-obatan, kini kewalahan menghadapi lonjakan pasien. Banyak warga Awan Biru
yang lebih memilih berobat ke dukun kampung atau sekadar membeli obat di warung
tanpa resep, karena jarak ke puskesmas yang jauh dan biaya transportasi yang
mahal.
Anita sudah mulai khawatir sejak dua hari lalu. Ia memantau
peningkatan kasus dari catatan posyandu dan laporan kader-kader di dusun-dusun.
Biasanya, dalam satu minggu, ia mencatat tidak lebih dari lima kasus ISPA
ringan. Tapi dalam tiga hari terakhir, sudah ada lebih dari dua puluh kasus,
dan jumlahnya terus bertambah. Bidan Amilia, yang bertugas di desa ini
sendirian tanpa bidan pembantu, mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang
ekstrem.
Sinyal bahaya pertama datang pada Selasa malam, ketika
Anita menerima telepon dari Yulia. Suara Yulia di ujung telepon terdengar
panik, setengah berteriak karena suara hujan deras di latar belakang.
Yulia: (melalui
sambungan telepon yang putus-putus karena sinyal) Mbak Anita! Di RT
03, tiga anak demam tinggi! Satu sudah kejang! Mamanya nangis-nangis, nggak
tahu harus bawa ke mana. Jalanan becek, hujan deras, mobil desa nggak bisa
lewat!
Anita langsung bangkit dari tempat tidurnya meskipun sudah
larut malam. Ia menghubungi Erlangga, yang lima menit kemudian sudah sampai di
rumah Anita dengan jas hujan yang basah kuyup dan ransel berisi perlengkapan
darurat.
Erlangga: (napasnya
terengah-engah karena berlari di jalan becek) Saya sudah telepon Bu
Amilia. Beliau sedang di RT 05 menangani kasus serupa. Beliau minta kita yang
tangani RT 03 dulu. Saya bawa parasetamol suppositoria untuk antisipasi kejang,
juga cairan oralit. Kita jalan kaki saja, Mbak. Motor nggak bisa lewat,
jalannya becek dan licin.
Anita hanya mengangguk. Dalam waktu lima menit, mereka
sudah berjalan di tengah hujan deras dengan senter yang redup karena baterai
mulai habis. Sepanjang perjalanan, mereka berpapasan dengan beberapa warga yang
juga sedang mencari pertolongan, seorang ibu menggendong anaknya yang
terbungkus selimut, seorang kakek yang batuk-batuk parah sambil dipapah
istrinya.
Kasus demi kasus mereka tangani malam itu. Erlangga memeriksa
satu per satu anak yang demam, mengajarkan orang tua cara melakukan kompres
yang benar, memberikan obat penurun panas yang sesuai dengan dosis, dan
memastikan tidak ada tanda-tanda dehidrasi atau kejang berulang. Anita mencatat
semua data, memberikan edukasi pada ibu-ibu yang panik, dan mengoordinasikan
dengan kader-kader di dusun tetangga.
Mereka baru kembali ke posko KKN pukul tiga pagi. Tubuh
mereka basah, lelah, tetapi tidak ada waktu untuk beristirahat panjang. Karena
pagi harinya, gelombang pasien baru sudah mulai berdatangan.
Pagi itu, posko KKN yang biasanya sunyi dan hanya berisi
aktivitas rutin mahasiswa, berubah menjadi klinik darurat yang hiruk-pikuk.
Halaman posko dipenuhi warga yang duduk lesehan di atas tikar dan terpal yang
dipinjam dari kantor desa. Ada yang menggendong anak kecil yang terbungkus
kain, ada yang membawa orang tua mereka yang renta, ada yang datang sendiri
dengan langkah lunglai. Suasana campuran antara tangis anak-anak yang demam,
batuk-batuk kering orang dewasa, dan suara ibu-ibu yang berusaha menenangkan
anak-anak mereka.
Di dalam ruang utama posko yang biasanya digunakan untuk
pertemuan dan makan bersama, sekarang telah disulap menjadi ruang triase
darurat. Meja kayu panjang dipakai sebagai tempat pemeriksaan, dengan taplak
plastik bekas yang dipasang agar mudah dibersihkan. Kursi-kursi yang tersedia
disusun di sepanjang dinding untuk pasien yang menunggu. Di sudut ruangan,
Guntur dan Amat Junior sedang sibuk membuat tanda nomor antrean dari kertas
bekas, karena antrean sudah tidak terkendali.
Amilia tiba sekitar pukul setengah delapan, dengan mata
sembab karena kurang tidur. Seragam bidannya basah oleh keringat dan air hujan
dari perjalanan malam yang masih membekas. Ia langsung membuka lemari obat
darurat yang ia bawa, tetapi ekspresinya langsung berubah begitu melihat stok
yang tersisa.
Amilia: (membuka lemari
obat dengan gerakan cepat, matanya memindai setiap rak, suaranya meninggi
ketika menyadari sesuatu) Anita! Anita, ke sini sebentar!
Anita yang sedang membantu seorang ibu menggendong anaknya
yang demam, segera menghampiri. Amilia sudah mengeluarkan semua stok obat dari
lemari dan menatanya di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar—bukan
karena takut, tetapi karena frustrasi.
Amilia: (suaranya
tegang, berusaha tetap tenang tetapi nada panik mulai terdengar) Stok
parasetamol sirup habis. Stok antibiotik untuk ISPA berat juga tinggal dua
strip. Parasetamol tablet untuk dewasa juga hampir kosong. Saya sudah hubungi
puskesmas kecamatan sejak subuh tadi. Mereka bilang baru bisa kirim besok sore
karena stok di puskesmas juga menipis. Mereka harus minta ke Dinas Kesehatan
kabupaten dulu.
Ia membuang napas panjang, meletakkan tangannya di pinggul
dengan gerakan frustrasi.
Amilia: Besok sore, Anita.
Sementara di luar sana ada puluhan anak dan orang dewasa yang butuh obat
sekarang. Kalau kita tunggu sampai besok, kasusnya bisa bertambah parah. Bisa
ada yang kejang lagi, atau bahkan yang lebih parah. Saya tidak mau ambil
risiko.
Anita menatap lemari obat yang hampir kosong, lalu ke arah
jendela di mana ia bisa melihat antrean warga yang terus memanjang hingga ke
luar pagar posko. Ibu-ibu dengan anak balita di gendongan, kakek-nenek yang
berjalan tertatih, remaja yang batuk-batuk dengan wajah pucat. Wajah-wajah yang
ia kenal satu per satu, tetangganya, saudara jauhnya, warga yang setiap hari ia
temui di jalan.
Anita: (suaranya
tegas, meskipun ada kekhawatiran di matanya) Baik, Bu. Saya coba ke
apotek kecamatan. Naik motor butuh waktu satu jam kalau jalanan bagus. Dengan kondisi
jalan sekarang yang becek dan licin, mungkin satu setengah jam. Mungkin saya
bisa ambil dulu dengan uang pribadi. Saya punya tabungan sedikit dari insentif
kader. Nanti kalau sudah ada kiriman dari puskesmas, kita ganti.
Ia sudah berbalik untuk mengambil helm ketika Erlangga yang
sedari tadi sibuk memeriksa pasien di meja sebelah, tiba-tiba menghentikannya
dengan gerakan tangan.
Erlangga: (dengan
suara yang tenang tetapi tegas, tidak seperti biasanya yang selalu lembut) Jangan,
Mbak. Jangan pakai uang pribadi. Nanti Mbak yang jadi kere. Ini urusan desa,
bukan urusan pribadi Mbak Anita.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang sudah
agak usang. Dengan jari yang masih sedikit basah karena habis mencuci tangan,
ia membuka kontak dan menekan nomor dengan cepat.
Erlangga: Saya
sudah telepon Pak Sugeng, mba tahu, warga RT 04 yang punya toko obat di
kecamatan. Beliau punya toko di pasar kecamatan, jual obat-obatan bebas dan
alat kesehatan. Saya kenal beliau karena waktu survei awal dulu, saya mampir ke
tokonya untuk beli plester dan perban. Beliau orangnya baik, ramah, dan
kebetulan beliau juga punya hubungan baik dengan puskesmas.
Ia mengangkat ponsel ke telinganya, menunggu sambungan.
Setelah beberapa detik, wajahnya berseri, sambungan berhasil.
Erlangga: (berbicara
di telepon dengan nada cepat tetapi tetap sopan) Pak Sugeng, selamat
pagi. Saya Erlangga, mahasiswa KKN yang dulu minta tolong Bapak cariin
stetoskop cadangan. Iya, Pak, yang minggu lalu. Begini, Pak. Di desa kami
sedang ada lonjakan ISPA. Stok obat di posko habis, puskesmas baru bisa kirim
besok. Saya dengar Bapak punya toko obat. Apa Bapak bisa meminjamkan stok dulu?
Parasetamol sirup dan tablet, antibiotik untuk ISPA kalau ada, oralit, dan
vitamin. Nanti kami ganti dengan klaim dari puskesmas atau pakai dana desa.
Iya, Pak, saya jamin. Terima kasih banyak, Pak. Baik, saya akan kirim orang
sekarang.
Ia menutup telepon, lalu menoleh ke arah Guntur dan
Hermansyah yang sedang sibuk mengatur kursi di sudut ruangan.
Erlangga: Guntur,
Mas Herman. Pak Sugeng di kecamatan setuju meminjamkan stok obat. Beliau minta
kita ambil sekarang. Tolong pakai mobil desa, ya. Jalanan licin, hati-hati.
Bawa uang desa secukupnya untuk transportasi dan kalau-kalau ada yang perlu
dibayar di toko. Saya sudah koordinasi dengan Pak Kades, beliau mengizinkan
pakai mobil desa.
Guntur yang sedang memegang kursi plastik, langsung
meletakkannya dan berdiri tegak seperti tentara yang mendapat perintah.
Guntur: (mengacungkan
jempol, suaranya bersemangat) Siap, Komandan! Amat, pinjem dulu jaket
hujanmu, ya. Jaketku basah semua. Nanti aku basah kuyup, masuk angin, malah
jadi pasien juga.
Amat Junior: (melempar
jaket hujannya sambil tertawa) Pakai, tapi hati-hati jangan sampai
hilang. Itu jaket kesayangan ayahku, hadiah dari dinas tahun lalu.
Hermansyah: (yang
sudah lebih dulu keluar menuju mobil desa, berteriak dari halaman) Guntur,
cepat! Nanti apoteknya tutup jam dua belas untuk istirahat Jumat!
Guntur berlari kecil keluar, masih sempat berteriak pada
Erlangga.
Guntur: Mas Erlangga,
nanti saya minta dibikinin kopi ya! Biar semangat!
Erlangga: (tertawa
kecil, meskipun wajahnya mulai pucat karena kelelahan) Siap. Nanti
saya siapkan kopi pahit, biar semangatnya sampai langit ketujuh!
Amilia yang sejak tadi mendengarkan, kini menghela napas
lega. Ia menepuk pundak Erlangga dengan gerakan yang tidak biasa dari seorang
bidan galak yang jarang menunjukkan kelembutan.
Amilia: (suaranya
lembut, hampir berbisik) Mas Erlangga, ini yang kedua kalinya kamu
selamatkan situasi. Pertama dengan Anto, sekarang dengan stok obat. Saya mulai
berpikir, mungkin Tuhan mengirim kamu ke desa ini tepat pada waktu yang tepat.
Erlangga: (merendah,
sambil kembali ke meja pemeriksaannya) Bu Amilia, saya hanya kebetulan
punya kontak yang tepat. Yang sesungguhnya bekerja keras adalah Mbak Anita dan
Ibu sendiri. Saya cuma pembawa pesan dan penghubung.
Amilia: (tersenyum
tipis, langka) Jangan merendah berlebihan, Mas. Orang baik harus
diakui kebaikannya. Tapi sekarang, kembali bekerja. Pasien kita masih banyak.
Di luar posko, antrean warga mulai memanjang hingga ke
jalan raya desa. Yulia dan Naila berusaha mengatur antrean dengan susah payah.
Yulia yang biasanya ceria dan penuh tawa, pagi itu wajahnya tegang dan
keringatnya bercucuran meskipun cuaca tidak terlalu panas.
Yulia: (berteriak
dengan suara serak karena sudah berjam-jam berbicara) Ibu-ibu, tolong
antre ya! Jangan saling dorong! Semua akan dilayani, tapi harus sabar. Anaknya
sakit semua, saya juga pusing, Bu!
Seorang ibu dengan anak balita di gendongan mencoba
menerobos ke depan, wajahnya panik karena anaknya menangis terus-menerus.
Ibu 1: (suaranya setengah
menangis) Mbak Yulia, anak saya panasnya tinggi sekali! Dari tadi malam belum
turun! Saya kasih obat warung, tapi muntah. Saya nggak bisa antre lama-lama,
takut kejang!
Di belakangnya, seorang bapak dengan wajah lelah karena
semalaman menemani istrinya yang batuk-batuk, mulai tidak sabar.
Bapak 1: (nada
kesal) Ibu, kami juga sama-sama sakit. Istri saya batuk sampai berdarah, tapi
kami tetap antre. Semua butuh cepat, bukan Ibu saja.
Suasana mulai memanas. Yulia kewalahan, matanya mulai
berkaca-kaca karena tekanan. Naila yang lebih muda dan kurang pengalaman, hanya
bisa berdiri di samping dengan wajah cemas.
Naila: (berbisik pada
Yulia) Yu, gimana ini? Mereka mulai emosi. Kita nggak punya tenaga cukup untuk
tenangkan semuanya.
Di tengah ketegangan, Pak Sugeng, yang ternyata tidak hanya
meminjamkan obat tetapi juga ikut mengantre bersama istrinya yang sedang
batuk-batuk, melangkah maju. Ia adalah warga yang disegani karena usianya dan
karena ia adalah salah satu dari sedikit warga yang memiliki toko dan
penghasilan tetap. Suaranya yang dalam dan tenang langsung memecah keramaian.
Pak Sugeng: (berdiri
di tengah kerumunan, suaranya dalam dan penuh wibawa) Ibu-ibu,
Bapak-bapak, dengarkan saya sebentar.
Semua mata tertuju padanya. Pak Sugeng mengusap kumisnya
yang sudah memutih, lalu melanjutkan dengan nada yang tidak tinggi tetapi jelas
terdengar.
Pak Sugeng: Saya
juga mengantre di sini. Istri saya sakit, batuk semalaman. Saya juga ingin
cepat dilayani. Tapi lihat, di dalam sana Mbak Anita, Mas Erlangga, Bu Amilia,
mereka bekerja tanpa henti sejak subuh. Mereka juga manusia, bukan robot. Kalau
kita saling dorong dan marah-marah, mereka malah tambah stres. Nanti salah
kasih obat, repot. Jadi, sabar, ya. Kita antre dengan tertib. Yang sakit parah,
kita prioritaskan. Yang masih bisa jalan dan bicara, bersabar. Saya jamin,
tidak ada yang akan dilupakan.
Kerumunan mulai tenang. Ibu-ibu yang tadi saling dorong mulai
mundur dan membentuk antrean yang lebih rapi. Yulia menghela napas lega,
menatap Pak Sugeng dengan mata penuh terima kasih.
Yulia: (berbisik pada
Naila) Makasih, Pak Sugeng. Untung beliau ada di sini.
Naila: (mengangguk) Iya.
Orang tua memang pengaruhnya besar.
Saat Yulia dan Naila mulai bisa mengatur antrean dengan
lebih tertib, tiba-tiba Bu Lulu muncul dari balik pagar dengan langkah
terhuyung-huyung karena membawa termos besar yang berat. Ia mengenakan daster
lusuh dan kerudung yang tidak sempat dirapikan—penampilan yang sangat berbeda
dari biasanya yang selalu rapi dan necis. Di tangannya, ia membawa termos besar
warna merah yang biasanya digunakan untuk acara arisan, dan di tangan satunya
ia membawa kantong plastik berisi gelas plastik dan gula aren.
Bu Lulu: (napasnya
terengah-engah karena berjalan cepat dari rumahnya yang berjarak lima ratus
meter, suaranya nyaring seperti biasa tetapi terdengar lebih hangat) Ini!
Saya bawakan jahe hangat buat yang antre! Minum dulu, biar tenggorokan lega.
Jahe asli, saya rebus sendiri sejak subuh. Tambah gula aren biar manis dan
hangat di tenggorokan. Untuk yang batuk-batuk, ini bagus banget.
Ia membuka termos, dan uap panas langsung mengepul keluar
membawa aroma jahe yang kuat dan menghangatkan. Wajah-wajah yang tadinya tegang
dan lelah mulai berubah—ada senyum tipis, ada rasa lega, ada kehangatan yang
tidak hanya datang dari jahe tetapi juga dari perhatian yang tulus.
Seorang ibu dengan anak balita yang masih menangis,
mendekati Bu Lulu dengan mata berkaca-kaca.
Ibu 2: Bu Lulu, terima
kasih banyak. Saya dari tadi belum sempat minum karena anak saya rewel terus.
Bu Lulu: (menuangkan
jahe hangat ke gelas plastik dengan hati-hati, lalu memberikannya pada ibu itu) Ini,
Bu. Minum dulu. Nanti anaknya juga bisa dikasih sedikit, asal tidak terlalu
panas. Jahe bagus untuk tenggorokan. Tapi jangan banyak-banyak ya, nanti
perutnya perih.
Ibu-ibu lain mulai berdesakan mendekati Bu Lulu, tetapi
kali ini bukan karena tidak sabar, tetapi karena ingin mendapatkan jahe hangat.
Bu Lulu melayani satu per satu dengan sabar, menuangkan jahe dari termosnya
yang ternyata sangat besar hingga cukup untuk semua orang yang mengantre.
Ibu 3: (setelah meneguk
jahe hangat, suaranya berubah lebih rileks) Wah, Bu Lulu baik sekali. Saya kira
Bu Lulu hanya sibuk dengan angka-angka dan kalkulator. Ternyata peduli juga
sama warga.
Bu Lulu: (tertawa
lebar, suaranya melengking khas) Ya iyalah, Bu! Saya kan Kaur
Keuangan. Kalau warga sakit, nanti APBDes buat apa? Buktinya kesehatan itu
investasi. Kalau warga sehat, mereka bisa bekerja, bayar pajak, desa maju,
anggaran bertambah. Saya hitung-hitungan juga, kok. Jadi ya, bagi jahe gratis
ini investasi jangka panjang buat desa kita. Hahaha.
Semua orang tertawa. Bahkan anak-anak yang tadinya
menangis, ikut tersenyum melihat tingkah Bu Lulu yang lucu. Ketegangan pagi itu
perlahan mencair, berganti dengan kehangatan kebersamaan yang jarang mereka
rasakan. Warga yang tadinya hanya fokus pada penyakit dan antrean, kini mulai
berbincang satu sama lain, bertukar kabar, saling menanyakan kondisi keluarga.
Ibu 4: (kepada ibu di
sebelahnya) Eh, Bu, anak Ibu bagaimana? Saya dengar kemarin demam juga?
Ibu 5: (menghela napas)
Iya, Bu. Tapi sudah agak turun setelah dikasih obat dari Bu Amilia tadi malam.
Alhamdulillah sekarang sudah mau minum susu lagi.
Ibu 4: Syukurlah. Saya
juga deg-degan semalaman, anak saya sampai kejang. Untung Mbak Anita dan Mas
Erlangga cepat datang.
Ibu 5: Iya, mereka sigap
sekali ya. Padahal hujan deras, jalan becek, tapi mereka tetap datang.
Bu Lulu: (menyela
dengan bangga) Itu namanya pengabdian, Bu. Bukan cuma kerja. Itu yang saya
hitung sebagai investasi paling berharga.
Di dalam posko, Erlangga dan Anita bergantian memeriksa
warga. Erlangga dengan sigap menggunakan stetoskopnya, memeriksa suara napas
pasien satu per satu dengan teliti. Wajahnya mulai pucat, bukan karena
kelelahan semata, tetapi karena ia juga mulai merasakan gejala yang sama
seperti yang ia periksa pada pasien-pasiennya: tenggorokan gatal, kepala
berdenyut, dan tubuh yang mulai terasa hangat.
Tapi ia mengabaikannya. Ada puluhan pasien di depannya yang
membutuhkan perhatian. Seorang ibu dengan anak balita yang sesak napas. Seorang
kakek dengan riwayat asma yang kambuh karena perubahan cuaca. Seorang remaja
dengan demam tinggi yang sudah tiga hari tidak turun. Ia tidak punya waktu
untuk merasa sakit.
Anita duduk di meja di sebelahnya, mencatat riwayat
penyakit setiap pasien dengan tulisan tangan yang rapi. Ia juga memberikan
edukasi sederhana kepada setiap pasien, cara melakukan kompres yang benar,
kapan harus segera ke fasilitas kesehatan, pentingnya istirahat dan asupan
cairan. Suarara yang biasanya tegas, pagi itu terdengar lebih lembut, penuh
empati.
Anita: (kepada seorang
ibu dengan balita yang batuk-batuk) Bu, anaknya jangan dikasih makanan yang
digoreng dulu ya. Kasih bubur hangat, atau pisang rebus. Kalau batuknya makin
parah atau sesak napas, segera kabari saya atau Bu Amilia. Jangan menunggu
sampai malam.
Ibu 6: (mengangguk-angguk,
matanya masih cemas) Baik, Mbak Anita. Tapi anak saya susah makan, Mbak. Dari
kemarin cuma mau minum susu. Saya khawatir.
Anita: Nggak apa-apa, Bu.
Yang penting dia tetap terhidrasi. Kalau dia tidak mau makan, kasih cairan yang
bergizi, susu, air putih, atau kalau bisa, sari buah. Tapi jangan dipaksa
makan, nanti malah muntah. Prioritaskan minum dulu. Nanti kalau sudah mulai
sehat, nafsu makannya akan kembali.
Ibu itu mengangguk, wajahnya sedikit lebih tenang. Ia
menggendong anaknya dan berjalan keluar dengan langkah lebih mantap.
Di tengah keramaian, pintu posko terbuka dan Pak Karyo
masuk dengan langkah yang penuh percaya diri, sangat berbeda dengan dua minggu
lalu ketika ia masih skeptis dan keras kepala. Ia mengenakan kaos oblong
bersih, celana panjang, dan sandal jepit baru. Di tangannya, ia membawa
sekardus telur, bukan kardus kecil, tetapi kardus besar berisi setidaknya tiga
puluh butir telur ayam kampung. Dan di sampingnya, berjalan seorang anak kecil
yang kini terlihat sangat berbeda dari dua minggu lalu.
Bintang.
Anita dan Erlangga hampir tidak percaya dengan perubahan
yang mereka lihat. Bintang yang dua minggu lalu kurus kering dengan rambut
kemerahan dan mata sayu, kini terlihat lebih berisi. Pipinya yang tadinya
cekung, kini mulai berisi. Rambutnya yang kemerahan mulai menghitam di bagian akar.
Dan yang paling membahagiakan, matanya, yang dulu kosong dan sayu, kini
berbinar dengan semangat anak kecil seusianya. Ia memegang erat tangan
kakeknya, sesekali melihat ke kanan dan kiri dengan rasa ingin tahu.
Pak Karyo: (berseru
dengan suara yang penuh kebanggaan, matanya berbinar seperti menemukan harta
karun) Mas Dokter! Mbak Anita! Lihat ini Bintang! Saya bilang, telur itu sakti!
Ia mendorong Bintang ke depan sedikit, menunjukkan cucunya
seperti pedagang yang memamerkan barang dagangan terbaiknya.
Pak Karyo: Bintang
sudah mau makan! Dari seminggu terakhir, setiap pagi saya kasih telur rebus
setengah matang. Awalnya agak susah, dia cuma makan setengah. Tapi lama-lama,
lahap! Sekarang dia minta telur setiap pagi. Malah kadang saya kasih untuk
makan malam juga. Istri saya sekarang rajin masak telur buat Bintang. Digoreng
ceplok, didadar, direbus, kadang dijadiin keripik telur biar renyah kayak
camilan. Bintang suka banget! Lihat, badannya mulai berisi. Rambutnya juga
mulai hitam lagi!
Erlangga berhenti memeriksa pasien sejenak. Ia berdiri dan
menghampiri Bintang, lalu jongkok di depan anak itu dengan senyum terlebar yang
pernah ia tunjukkan selama di desa ini.
Erlangga: (dengan
suara lembut, penuh kegembiraan) Halo, Bintang! Wah, Bintang sekarang ganteng
sekali! Rambutnya sudah hitam, pipinya sudah berisi. Bintang suka telur, ya?
Bintang yang dua minggu lalu diam dan takut pada orang
asing, kini tersenyum malu-malu. Ia mengangguk kecil, lalu berkata dengan suara
lantang yang mengejutkan semua orang.
Bintang: "Bintang
suka telur, Abang! Telur enak!"
Erlangga tertawa lebar. Ia mengusap kepala Bintang dengan
lembut, lalu menatap Pak Karyo dengan mata yang berkaca-kaca, bukan karena
sedih, tetapi karena haru.
Erlangga: Pak
Karyo, ini luar biasa. Saya tidak menyangka perkembangannya secepat ini. Dua
minggu, dan perubahan yang saya lihat sangat signifikan. Berat badannya pasti
sudah naik. Tapi Bintang masih perlu terus dipantau, ya, Pak. Jangan berhenti
setelah kelihatan berisi. Program ini harus terus lanjut sampai Bintang
mencapai berat badan ideal untuk usianya. Dan jangan lupa, asupan lain juga
penting, sayur, buah, kacang-kacangan. Tapi yang utama, teruskan telurnya
setiap hari.
Pak Karyo: (mengangguk-angguk
dengan penuh semangat) Iya, Mas Dokter. Istri saya sekarang sudah
rajin belanja sayur juga. Saya lihat di internet, anak saya yang merantau kasih
tahu, katanya anak harus makan sayur dan buah biar sehat. Dulu saya pikir sayur
itu cuma buat orang dewasa. Sekarang saya tahu, anak juga butuh.
Ia kemudian mengangkat kardus telur yang dibawanya,
menyerahkannya pada Erlangga dengan kedua tangan, seperti memberi hadiah yang
sangat berharga.
Pak Karyo: Ini,
Mas. Saya bawa telur buat yang sakit-sakit. Gratis! Saya punya warung, telur
banyak. Anggap saja ini sedekah dari saya buat warga yang lagi sakit. Saya tahu
obat-obatan mungkin habis, tapi telur bisa buat tambahan gizi. Kasihkan buat
yang butuh.
Erlangga menerima kardus itu dengan tangan yang sedikit
gemetar, bukan karena lelah, tetapi karena haru. Ia menatap Pak Karyo, seorang
kakek tua yang dua minggu lalu masih keras kepala dan skeptis terhadap program
kesehatan. Kini ia datang dengan sukarela, membawa telur untuk warga lain yang
sakit. Inilah perubahan yang selama ini ia harapkan. Inilah bukti bahwa pendekatan
yang sabar, konsisten, dan penuh empati bisa mengubah kebiasaan yang sudah
mengakar.
Erlangga: (suaranya
serak karena emosi) Pak Karyo, ini... terima kasih banyak. Ini sangat
berarti. Telur ini akan sangat membantu warga yang sakit, terutama anak-anak
yang butuh asupan protein untuk mempercepat penyembuhan. Saya tidak tahu harus
membalas apa.
Pak Karyo: (merendah,
tangannya mengibas-ngibas seperti menolak ucapan terima kasih) Ah, Mas
Dokter. Jangan dibalas-balas. Saya yang harus berterima kasih sama Mas Dokter
dan Mbak Anita. Dua minggu lalu, saya orang yang keras kepala. Mbak Anita sudah
bilang berkali-kali soal telur, tapi saya nggak percaya. Saya pikir anak kurus
itu takdir. Tapi Mas Dokter datang, menjelaskan dengan sabar, nggak memaksa,
nggak marah-marah. Saya jadi sadar. Sekarang Bintang sehat, saya senang. Istri
saya juga senang. Ini yang paling penting.
Ia menoleh ke Anita yang sejak tadi berdiri di samping,
matanya berkaca-kaca tetapi berusaha tidak menangis.
Pak Karyo: Mbak
Anita, saya minta maaf ya. Dulu saya sering nolak saran Mbak. Saya pikir Mbak
cuma kader biasa, nggak penting. Ternyata Mbak yang paling sabar. Makasih ya,
Mbak.
Anita tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia mengusap
matanya dengan punggung tangan, tersenyum sambil menangis.
Anita: (suaranya
bergetar) Pak Karyo, ini perubahan yang saya tunggu-tunggu. Selama dua
tahun jadi kader, belum pernah ada warga yang datang dengan telur untuk
disumbangkan. Ini bukan tentang telurnya, Pak. Ini tentang perubahan. Terima
kasih sudah percaya sama program kita.
Pak Karyo tersenyum, matanya juga berkaca-kaca. Ia mengusap
kepala Bintang yang masih berdiri di sampingnya dengan penuh kasih sayang.
Pak Karyo: Saya
yang berterima kasih, Mbak. Sekarang saya tahu, kesehatan itu bukan takdir. Itu
usaha. Dan usaha itu harus dimulai dari diri sendiri.
Suasana di posko yang tadinya penuh kepanikan dan
ketegangan, kini berubah menjadi hangat. Warga yang mengantre di luar, yang
mendengar cerita Pak Karyo dari mulut ke mulut, ikut tersentuh. Beberapa ibu menangis
haru. Bu Lulu yang sedang menuangkan jahe, berhenti sejenak untuk mengusap
matanya dengan ujung kerudung.
Antrean terus bertambah hingga siang hari. Erlangga dan tim
KKN nyaris tidak punya waktu istirahat. Mereka bergantian memeriksa pasien, mencatat
data, memberikan obat, dan memberikan edukasi. Yulia dan Naila bergantian
mengatur antrean di luar. Guntur dan Hermansyah belum kembali dari kecamatan
membawa stok obat. Amilia yang sudah bekerja sejak subuh, mulai menunjukkan
tanda-tanda kelelahan ekstrem, tangannya gemetar saat memegang alat suntik,
matanya sayu dan sulit fokus.
Amilia: (setelah
memeriksa pasien ke dua puluh tiga, ia bersandar di kursi dengan napas berat) Erlangga,
saya... saya perlu istirahat sebentar. Lima belas menit saja. Kepala saya
rasanya berputar.
Erlangga: (yang
wajahnya juga mulai pucat, tetapi masih berusaha tegar) Silakan, Bu.
Saya dan Anita bisa handle dulu. Istirahat yang cukup, Bu. Nanti kalau Ibu
jatuh sakit, kita kehilangan komandan.
Amilia tersenyum tipis, senyum yang sangat jarang keluar
dari bibirnya yang biasanya tegas dan galak. Ia berjalan ke ruang belakang
posko dengan langkah gontai, tubuhnya yang kurus tampak lebih kecil dari
biasanya.
Setelah Amilia pergi, Erlangga kembali fokus pada pasien di
depannya, seorang anak laki-laki sekitar 7 tahun dengan demam tinggi dan batuk
kering yang mengganggu. Ia memeriksa suhu tubuh anak itu, 39,2°C, lalu
mendengarkan suara napasnya dengan stetoskop. Suara napas terdengar kasar, ada
wheezing ringan di bronkus.
Erlangga: (kepada
ibu anak itu, dengan suara tenang meskipun tubuhnya mulai terasa berat) Bu,
anaknya mengalami ISPA dengan komponen asma ringan. Saya kasih obat penurun
panas dan inhaler sederhana kalau ada. Tapi yang terpenting, Bu, jangan panik.
Beri anak ini minum hangat setiap setengah jam, komres dengan air hangat, bukan
air dingin atau alkohol, ya. Jangan dikasih obat batuk yang dijual bebas tanpa
resep, karena bisa berbahaya untuk anak seusianya.
Ibu 7: (matanya cemas,
suaranya bergetar) Baik, Mas. Tapi anak saya dari tadi ngos-ngosan, Mas. Saya
takut.
Erlangga: (tersenyum,
meskipun senyumnya terasa berat karena kelelahan) Saya mengerti, Bu. Tapi
lihat, anaknya masih bisa bicara, masih bisa duduk. Itu tanda bahwa kondisinya
tidak kritis. Kalau nanti sesak napasnya bertambah, atau bibirnya membiru,
segera bawa ke puskesmas. Tapi untuk sekarang, obat ini dulu dan kompres yang
benar. Insya Allah besok sudah membaik.
Ibu itu mengangguk, wajahnya sedikit lebih tenang. Ia
menggendong anaknya dan berjalan keluar dengan langkah mantap.
Setelah pasien ke dua puluh delapan, Erlangga merasakan
sesuatu yang tidak bisa ia abaikan lagi. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya
terasa perih, dan tubuhnya terasa hangat. Ia meletakkan stetoskopnya di meja,
berusaha mengatur napas. Tapi ketika ia berdiri untuk mengambil segelas air,
dunianya terasa berputar. Ia meraih meja untuk menahan keseimbangan, tetapi
tangannya hanya mengenai ujung meja yang licin.
Anita: (yang sedang
mencatat data di meja sebelah, melihat Erlangga terhuyung) Mas! Mas
Erlangga!
Ia bergegas menghampiri, tepat saat Erlangga jatuh terduduk
di kursi dengan wajah pucat pasi. Anita langsung meraih kening Erlangga dengan
tangannya dan wajahnya langsung berubah panik.
Anita: (suaranya
meninggi, campuran antara khawatir dan marah) Mas! Kamu panas! Badanmu
panas sekali! Kenapa tidak bilang dari tadi? Sejak kapan demamnya?
Erlangga tersenyum lemah, matanya sayu tetapi masih
berusaha bercanda.
Erlangga: (suaranya
serak, sedikit mengigau) Saya sehat, Mbak. Cuma agak pusing. Mungkin
karena kurang minum.
Anita: (tidak percaya,
suaranya tegas tetapi matanya menunjukkan kekhawatiran yang dalam) Pusing
katanya! Panasmu sudah 38,5 setidaknya! Kenapa kamu tidak bilang? Kamu sudah
periksa puluhan pasien dari pagi, belum makan, belum minum yang cukup, sekarang
kamu sendiri yang sakit! Ini namanya bukan dedikasi, ini namanya bodoh!
Erlangga: (masih
tersenyum, meskipun senyumnya rapuh) Saya kan calon dokter, Mbak.
Tugas saya memeriksa pasien, bukan diri sendiri. Dokter yang baik harus mendahulukan
pasien.
Anita: (keningnya
berkerut, suaranya kesal tetapi matanya berkaca-kaca) Dasar keras
kepala! Sekarang gantian kamu yang jadi pasien. Duduk di sini! Jangan
kemana-mana! Saya akan ambilkan obat dan air hangat.
Ia mendorong Erlangga untuk tetap duduk di kursi, lalu
bergegas ke lemari obat yang masih tersisa setelah Guntur dan Hermansyah
membawa stok baru dari kecamatan. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil
termometer, parasetamol, dan segelas air hangat. Ia kembali ke sisi Erlangga,
memasukkan termometer ke ketiak pemuda itu dengan gerakan yang lembut tetapi
tegas.
Anita: (melihat
termometer setelah tiga menit, suaranya bergetar) 38,7°C. Mas, ini tidak
main-main. Kamu harus istirahat total hari ini.
Erlangga: (masih
berusaha tegar) Mbak, aku bisa... masih ada pasien...
Anita: (memotong dengan
tegas) Tidak! Sekarang kamu duduk di sini, minum obat ini, dan saya akan
selesaikan sisanya. Ada Yulia, Naila, Bu Lulu, dan Bu Amilia sudah istirahat
sebentar lagi akan lanjut. Kamu tidak sendirian, Erlangga!
Panggilan "Erlangga" tanpa "Mas" itu
membuat pemuda itu terdiam. Anita tidak pernah memanggilnya seperti itu. Selalu
"Mas Erlangga", dengan jarak hormat yang sopan. Tapi sekarang, dalam
kekhawatirannya, jarak itu runtuh.
Erlangga menatap Anita, melihat matanya yang berkaca-kaca,
melihat tangannya yang gemetar saat menuangkan air, dan melihat seluruh
tubuhnya yang tegang karena menahan kekhawatiran. Ada sesuatu yang hangat di
dadanya, bukan karena demam, tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak
bisa ia jelaskan dengan ilmu kedokteran.
Erlangga: (suaranya
pelan, nyaris berbisik) Baik, Mbak. Saya istirahat. Tapi janji, kalau
ada yang butuh bantuan, panggil saya.
Anita: (menghela napas
lega, suaranya sedikit lebih tenang) Janji. Sekarang minum obatnya.
Ia menyodorkan obat dan segelas air. Erlangga menelannya
patuh, tanpa protes.
Sementara Erlangga beristirahat di sudut ruangan dengan
kursi yang disandarkan ke dinding, Anita dan tim yang lain terus bekerja.
Guntur dan Hermansyah akhirnya kembali dari kecamatan dengan mobil desa yang
penuh dengan kardus berisi obat-obatan. Mereka disambut dengan sorak gembira
oleh Yulia dan Naila.
Guntur: (melompat turun
dari mobil dengan semangat, meskipun bajunya basah oleh hujan yang mengguyur di
tengah jalan) Kami datang membawa bala bantuan! Obat-obatan dari Pak Sugeng!
Parasetamol sirup, parasetamol tablet, amoksisilin, oralit, vitamin, dan yang
paling penting, stok inhaler untuk yang asma!
Hermansyah: (yang
lebih tenang, mengangkat kardus besar dari bak mobil) Pak Sugeng juga titip
pesan, kalau masih kurang, beliau bisa kirim lagi. Beliau minta maaf karena
baru bisa bantu sekarang, tadi pagi tokonya kebanjiran karena hujan deras.
Amilia: (yang sudah bangun
dari istirahatnya dan kembali ke ruang utama dengan wajah yang sedikit lebih
segar, langsung menghampiri kardus-kardus itu) Syukurlah... ini sangat
membantu. Guntur, tolong bawa ke ruang belakang, saya akan sorting dulu.
Hermansyah, bantu Yulia di luar, antrean masih panjang.
Guntur: Siap, Bu Bidan!
Kerja keras terus berlangsung hingga sore hari. Matahari
mulai condong ke barat ketika antrean terakhir akhirnya selesai. Tiga puluh
tujuh pasien telah diperiksa, dua belas di antaranya adalah balita dengan ISPA,
dan lima kasus dengan gejala yang cukup berat sehingga dirujuk ke puskesmas
untuk penanganan lebih lanjut. Stok obat yang tadinya habis, kini terisi
kembali. Warga pulang dengan senyum lega, membawa obat dan edukasi yang mereka
butuhkan.
Di sudut ruangan, Erlangga masih duduk di kursinya.
Demamnya mulai turun setelah minum obat dan beristirahat, tetapi tubuhnya masih
terasa lemas. Ia memperhatikan Anita yang masih sibuk merapikan meja
pemeriksaan, mengelap alat-alat yang sudah digunakan, dan mencatat laporan
akhir hari dengan tulisan tangan yang rapi.
Sore harinya, setelah semua pasien pulang dan posko mulai
sepi, Anita memaksa Erlangga untuk dibawa ke rumahnya. Bukan ke posko KKN,
tetapi ke rumah Anita di belakang kantor desa. Erlangga awalnya menolak,
mengatakan bahwa ia bisa beristirahat di posko bersama teman-temannya. Tapi
Anita bersikeras, dengan alasan bahwa di posko masih ramai dan ia butuh
istirahat yang tenang.
Si Amat, yang sedang duduk di teras rumah sambil membaca
koran usang, langsung berdiri ketika melihat mobil desa berhenti di halaman
rumahnya dengan Anita menuntun Erlangga yang masih pucat.
Si Amat: (dengan
wajah khawatir) Ada apa, Nita? Mas Erlangga kenapa?
Anita: (masih memegang
lengan Erlangga, suaranya lelah tetapi tegas) Mas Erlangga sakit, Yah. Demam
38,7 tadi siang. Dia kelelahan. Saya minta Mas Erlangga istirahat di rumah kita
saja. Di posko masih ramai, Guntur dan yang lain masih sibuk bersih-bersih.
Si Amat langsung mengangguk tanpa bertanya panjang. Ia
membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Erlangga masuk.
Si Amat: (sambil
menyiapkan teh hangat, suaranya penuh kehangatan) Mas Erlangga, istirahatlah di
sini. Anggap saja rumah sendiri. Kamar tamu sudah saya siapkan. Nita, ambilkan
selimut bersih di lemari.
Erlangga yang masih lemas, berusaha membungkuk hormat
meskipun tubuhnya terasa berat.
Erlangga: (suaranya
lemah) Terima kasih, Pak Amat. Maaf merepotkan. Saya hanya perlu istirahat
sebentar, nanti malam saya bisa kembali ke posko.
Si Amat: (menggeleng,
suaranya tegas tetapi lembut) Jangan pulang malam-malam. Istirahat di sini
saja. Anita sudah saya titipkan untuk menjaga. Sebagai orang tua, saya ucapkan
terima kasih atas dedikasi Mas selama ini. Mas sudah membantu desa kami dengan
tulus. Ini adalah kesempatan kami untuk membalas budi.
Anita masuk ke kamar tamu dengan membawa selimut bersih dan
bantal tambahan. Ia menata tempat tidur dengan rapi, sesuatu yang biasanya
tidak ia lakukan dengan sepenuh hati untuk tamu. Setelah selesai, ia keluar dan
masuk ke dapur. Erlangga mendengar suara peralatan masak, suara air mendidih,
suara sayuran dipotong. Ada sesuatu yang hangat di rumah ini, bukan hanya
karena teh yang disiapkan Si Amat, tetapi karena suasana yang terasa seperti...
keluarga.
Setelah mandi air hangat dan berganti pakaian yang dipinjam
dari Si Amat, kemeja batik lusuh yang terlalu besar untuk tubuh Erlangga, Erlangga
berbaring di tempat tidur kamar tamu. Tubuhnya masih lemas, tetapi kepalanya
sudah tidak berdenyut lagi. Ia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari
anyaman bambu, mendengar suara angin malam yang berembus di luar, dan menikmati
keheningan yang sangat ia butuhkan setelah hari yang melelahkan.
Pintu kamar terbuka perlahan. Anita masuk dengan membawa
nampan berisi semangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan uap, segelas air
hangat, dan obat yang harus diminum Erlangga. Ia mengenakan daster sederhana
dan rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai, penampilan yang sangat berbeda
dari Anita kader desa yang selalu rapi dengan jaket lusuhnya.
Anita: (meletakkan nampan
di meja samping tempat tidur, suaranya lembut) Ini, makan dulu. Saya buat bubur
ayam. Habiskan. Kamu belum makan dari pagi, hanya minum air putih dan obat.
Perutmu pasti kosong.
Erlangga duduk perlahan, mengambil sendok yang sudah
disiapkan. Bubur itu sederhana, nasi yang dimasak dengan kaldu ayam, diberi
suwiran ayam dan sedikit daun bawang. Tidak mewah, tidak seperti bubur ayam di
restoran kota. Tapi aroma yang tercium, kehangatan yang mengepul dari mangkuk,
dan tenaga yang dicurahkan untuk membuatnya, membuat bubur itu terasa lebih
istimewa dari apa pun yang pernah ia makan.
Erlangga: (menyendok
bubur perlahan, suaranya lembut) Mbak Anita bisa masak juga? Saya kira Mbak
hanya sibuk keliling desa dan urusan posyandu.
Anita duduk di kursi kecil di samping tempat tidur,
tangannya bersilang di pangkuan, matanya memperhatikan Erlangga makan dengan
penuh perhatian.
Anita: (tersenyum kecil)
Ya... sedikit-sedikit. Ayah saya sudah tua, jadi saya yang masak setiap hari.
Tapi jangan harap kayak koki hotel. Yang penting hangat dan bisa dimakan. Bubur
ini resep ibu saya dulu, sebelum beliau meninggal. Saya hanya modifikasi
sedikit.
Erlangga: (berhenti
menyendok, menatap Anita dengan tatapan yang dalam) Ibu Mbak Anita... sudah
meninggal?
Anita: (menunduk,
suaranya pelan) Iya, sudah lima tahun yang lalu. Kanker serviks. Waktu itu saya
masih kuliah semester dua. Saya pulang kampung, menemani beliau sampai akhir.
Setelah itu, saya memutuskan tidak kembali ke kota. Saya pindah ke akademi
kesehatan di Provinsi, ambil keperawatan. Tujuan saya sederhana: saya tidak
ingin ada ibu-ibu di desa ini yang meninggal karena penyakit yang sebenarnya
bisa dicegah. Makanya saya fokus ke kesehatan ibu dan anak.
Erlangga meletakkan sendoknya. Ia menatap Anita dengan mata
yang berkaca-kaca. Baru sekarang ia memahami mengapa Anita begitu bersemangat,
begitu gigih, begitu tidak kenal lelah dalam program kesehatan ibu dan anak.
Bukan karena tugas, bukan karena insentif, tetapi karena luka pribadi yang ia
bawa.
Erlangga: (suaranya
pelan, penuh empati) Anita... saya tidak tahu. Saya minta maaf.
Anita: (mengangkat
wajahnya, tersenyum meskipun matanya berkaca-kaca) Tidak apa-apa. Itu dulu.
Sekarang saya sudah ikhlas. Dan saya punya misi: membangun desa ini agar tidak
ada lagi ibu-ibu yang meninggal karena hal yang seharusnya bisa dicegah. Itu
yang membuat saya tetap bertahan, meskipun kadang lelah.
Mereka terdiam. Angin malam masuk melalui jendela, membawa
wangi bunga kopi dari kebun di belakang rumah. Suara jangkrik mulai terdengar,
bergantian dengan suara kodok di sawah yang mulai bersiap untuk malam.
Anita: (memecah
keheningan, suaranya lebih ringan) Sudah, ayo makan dulu. Nanti dingin. Saya
mau lihat habis atau tidak. Kalau tidak habis, saya yang akan marah.
Erlangga tersenyum, kembali menyendok bubur dengan lahap.
Bubur yang hangat terasa melegakan tenggorokannya yang masih perih. Setiap
sendok terasa seperti energi baru yang mengalir ke tubuhnya yang lelah.
Saat Erlangga makan dengan lahap, menghabiskan bubur hingga
mangkuk hampir licin, Anita mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air
hangat. Ia mendekat, ragu sejenak, lalu mengusap kening Erlangga dengan handuk
itu.
Anita: (suaranya pelan)
Masih panas. Tapi sudah turun dari tadi siang. Kamu harus banyak istirahat.
Besok jangan dulu turun ke lapangan. Saya dan Bu Amilia yang akan handle.
Erlangga: (menikmati
usapan handuk hangat di keningnya, suaranya lemah) Mbak, aku nggak bisa diam
kalau ada warga yang butuh bantuan.
Anita: (suaranya tegas
tetapi lembut) Kamu tidak sendirian, Erlangga. Ada saya, ada Bu Amilia, ada
kader-kader lain. Kamu sudah melakukan lebih dari cukup. Sekarang giliran kamu
yang dirawat.
Erlangga menatap Anita. Dalam cahaya lampu minyak yang
temaram, karena listrik desa sedang padam sejak sore, wajah Anita terlihat
lembut, sangat berbeda dari kader desa yang tegas dan keras kepala yang ia
temui di hari pertama. Ada kerutan kecil di dahinya karena kekhawatiran, ada
kilatan di matanya yang tidak bisa ia artikan.
Erlangga: (suaranya
pelan, nyaris berbisik) Anita...
Panggilan tanpa "Mbak" itu membuat Anita tersentak.
Selama ini, Erlangga selalu memanggilnya "Mbak Anita", sopan, hormat,
dengan jarak yang aman. Tapi sekarang, dalam keheningan malam, dengan suara
jangkrik di luar dan hangatnya bubur yang masih tersisa di perutnya, jarak itu
runtuh.
Anita: (gugup, suaranya
meninggi sedikit) Ya?
Erlangga: (menatap
Anita dengan mata yang jujur, tanpa topeng) Terima kasih untuk semuanya. Bukan
hanya hari ini, tapi sejak pertama saya datang. Saya merasa menemukan tempat
yang tepat untuk belajar menjadi dokter yang sesungguhnya. Selama ini saya
pikir menjadi dokter yang baik itu tentang nilai ujian yang sempurna, tentang
hafal ribuan nama obat, tentang bisa melakukan prosedur medis yang rumit. Tapi
setelah berada di sini, setelah melihat Mbak bekerja setiap hari, saya belajar
bahwa menjadi dokter yang baik itu tentang... hati. Tentang kemampuan untuk
melihat penderitaan orang lain dan merasa bahwa itu adalah panggilan untuk
membantu, bukan beban.
Ia berhenti sejenak, menarik napas.
Erlangga: Mbak
Anita mengajarkanku arti cinta yang sebenarnya. Bukan cinta romantis yang
sering saya baca di novel atau lihat di film. Tapi cinta pada pekerjaan, pada
sesama, pada desa ini. Cinta yang tidak pernah lelah, yang tidak mengharapkan
pujian, yang terus berjalan meskipun tidak ada yang melihat. Dan aku... mulai
merasa...
Erlangga tidak melanjutkan kalimatnya. Bukan karena ia
tidak tahu harus berkata apa, tetapi karena Anita tiba-tiba berdiri dengan
gerakan tersentak. Wajahnya merah padam, bahkan di bawah cahaya lampu minyak
yang temaram pun terlihat jelas.
Anita: (suaranya
tergagap, tidak seperti biasanya yang selalu tegas) Mas... ayo makan dulu. Nanti
dingin. Saya... saya ke belakang dulu ambil air hangat.
Ia berbalik dan berjalan cepat keluar kamar, hampir
menabrak kusen pintu karena tergesa. Di dapur, ia berdiri di depan kompor yang
sudah mati, tangannya memegang tepi meja dengan erat. Jantungnya berdebar tidak
karuan, dadanya terasa sesak, dan kepalanya dipenuhi oleh satu kalimat yang
belum selesai: "Dan aku... mulai merasa..."
Mulai merasa apa? pikir
Anita. Mulai merasa... apa?
Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri yang terasa panas.
Anita: (bergumam dengan
suara nyaris tak terdengar) Jangan lebay, Anita. Dia hanya capek. Mungkin
mengigau karena demam. Atau... atau karena efek obat. Iya, pasti karena efek
obat. Bukan apa-apa. Bukan.
Tapi di dalam hatinya, ia tahu itu bukan karena demam. Dan
ketahuannya itu justru membuatnya semakin panik.
Di dalam kamar, Erlangga tersenyum sambil memegang bantal
yang masih hangat karena baru saja digunakan Anita untuk menyangga punggungnya.
Demamnya perlahan turun, bukan hanya karena obat, tetapi karena kehangatan yang
ia terima hari ini. Kehangatan dari bubur ayam yang dimasak dengan sisa-sisa
cinta seorang anak untuk ibunya yang telah tiada. Kehangatan dari handuk basah
yang mengusap keningnya dengan lembut. Kehangatan dari mata yang berkaca-kaca
karena khawatir.
Ia menatap langit-langit anyaman bambu, mendengar suara
Anita yang masih bergerak di dapur, dan merasakan sesuatu yang belum pernah ia
rasakan selama dua puluh empat tahun hidupnya. Bukan sekadar kekaguman pada
seorang kader desa yang gigih. Bukan sekadar rasa terima kasih pada seseorang
yang telah membantunya memahami desa ini. Tapi sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan istilah medis apa pun.
Erlangga: (bergumam
pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar) Aku mulai merasa... bahwa
aku tidak ingin pergi dari desa ini. Bukan karena desanya. Tapi karena...
seseorang.
Di luar, bulan sabit mulai muncul di ufuk timur, menyinari
Desa Awan Biru dengan cahaya peraknya yang lembut. Angin malam berhembus,
membawa wangi bunga kopi dan tanah basah. Di dalam rumah sederhana itu, dua
orang yang sama-sama lelah setelah hari yang melelahkan, sama-sama merasakan
sesuatu yang belum berani mereka ucapkan. Mungkin besok, atau lusa, atau kapan
pun ketika keberanian akhirnya datang.
Tapi untuk malam ini, cukup sudah. Cukup dengan bubur ayam
yang hangat, cukup dengan handuk basah yang mengusap kening, cukup dengan
kalimat yang tidak selesai dan jantung yang berdebar tidak karuan. Karena di
Desa Awan Biru, seperti kabut yang turun setiap pagi, cinta tidak perlu
terburu-buru. Ia akan datang pada waktunya, ketika musim yang tepat tiba.
BAB 5: Kontroversi
Jamban Sehat dan Aksi Heroik di Sungai
Wabah infeksi saluran pernapasan akut yang melanda Desa
Awan Biru pada pekan kedua bulan kedua KKN membuka mata semua pihak. Tidak
hanya warga yang merasakan langsung dampaknya, anak-anak yang demam
berhari-hari, orang tua yang batuk tak kunjung sembuh, keluarga yang harus
mengeluarkan uang untuk berobat ke puskesmas kecamatan, tetapi juga perangkat
desa yang selama ini mungkin terlalu nyaman dengan status quo. Angka kasus yang
dilaporkan puskesmas kecamatan menjadi pukulan telak: terjadi peningkatan kasus
diare dan ISPA sebesar 40 persen dalam satu bulan terakhir, dengan angka
tertinggi terjadi di dusun-dusun yang berada di sepanjang aliran sungai.
Data itu disampaikan langsung oleh Bidan Amilia dalam rapat
evaluasi darurat yang diadakan di kantor desa, tiga hari setelah puncak wabah.
Ruangan yang biasanya hanya terisi setengah, hari itu penuh sesak. Seluruh
perangkat desa hadir, mulai dari Pak Iwan, Bu Yuni, Pak Eko, Bu Lulu, Bu
Endang, hingga Pak Edi yang biasanya sinis tetapi kali ini terlihat serius.
Tokoh masyarakat seperti Santoso dan Pak Sugeng juga diundang, begitu pula
perwakilan Karang Taruna: Yulia dan Guntur. Erlangga dan Anita duduk di deretan
kursi tamu, wajah mereka masih tampak lelah karena tiga hari terakhir bekerja
tanpa henti menangani wabah.
Pak Iwan membuka rapat dengan suara yang lebih berat dari
biasanya. Biasanya ia adalah kepala desa yang tegas namun hangat, sering
menyelingi rapat dengan candaan ringan. Tapi pagi itu, tidak ada senyum di
wajahnya. Kumis tebalnya yang khas tampak lebih kusut dari biasanya, dan
matanya yang biasanya bersemangat kini tampak sayu, bukan karena kurang tidur,
tetapi karena beban tanggung jawab yang mulai ia rasakan setelah melihat
langsung penderitaan warganya.
Pak Iwan: (duduk
di ujung meja dengan postur tegap tetapi wajah serius, tangannya memegang
setumpuk kertas data dari puskesmas, suaranya berat dan penuh tekanan) Saya
tidak bisa tutup mata lagi. Data dari puskesmas kecamatan sudah saya terima
kemarin malam. Saya sudah baca berulang kali, berharap ada kesalahan pembacaan.
Tapi tidak. Angkanya jelas.
Ia membuka lembaran pertama, matanya membaca dengan saksama
meskipun ia sudah hafal isinya.
Pak Iwan: Kasus
diare di desa kita pada bulan ini naik 40 persen dibanding bulan lalu. Kasus
ISPA naik 38 persen. Angka tertinggi terjadi di RT 02, RT 03, dan RT 05, yang
semuanya berada di sepanjang aliran sungai. Puskesmas juga melaporkan bahwa
dari sampel air yang mereka ambil minggu lalu, kandungan bakteri Escherichia
coli atau E. coli di sungai kita melebihi ambang batas aman. Artinya, air
sungai yang selama ini digunakan warga untuk mandi, mencuci, bahkan memasak,
sudah tercemar tinja.
Ia meletakkan kertas itu di atas meja, menatap satu per
satu orang yang hadir. Matanya berhenti lebih lama pada Santoso dan Pak Sugeng dua
tokoh masyarakat yang selama ini vokal dalam setiap persoalan desa.
Pak Iwan: Saya
tidak akan saling menyalahkan. Tapi kita harus jujur pada diri sendiri.
Penyebab utama pencemaran ini adalah kebiasaan buang air besar sembarangan yang
biasa kita sebut BABS di hulu sungai. Saya sudah turun langsung ke lapangan
kemarin bersama Pak Eko. Kami menemukan setidaknya lima titik di hulu sungai
yang digunakan warga untuk buang hajat. Tidak ada jamban, tidak ada pengolahan
limbah. Kotoran langsung terbawa air hujan ke sungai. Dan air itulah yang
digunakan oleh warga di hilir untuk kebutuhan sehari-hari.
Ruangan menjadi sunyi. Beberapa perangkat desa menunduk,
mungkin merasa bersalah karena selama ini kurang tegas dalam menangani masalah
ini. Pak Edi yang biasanya sinis, kali ini hanya diam dengan tangan bersilang
di dada, wajahnya serius. Bu Yuni menunduk, jari-jarinya menggenggam erat
pulpen yang belum ia gunakan untuk mencatat.
Pak Iwan: (suaranya
meninggi sedikit, menunjukkan emosi yang selama ini ia tahan) Saya
tahu ini masalah sensitif. Saya tahu ini menyangkut kebiasaan turun-temurun
yang sudah berlangsung puluhan tahun. Tapi lihatlah anak-anak kita. Lihatlah
balita-balita yang kejang karena demam. Lihatlah orang tua yang batuk sampai
berdarah. Apakah kita masih mau menutup mata? Solusinya hanya satu: kita harus
percepat program jambanisasi. Setiap rumah di sepanjang aliran sungai harus
memiliki jamban yang layak. Tidak ada toleransi lagi.
Santoso, yang duduk di kursi kehormatan di samping Pak
Iwan, mengangguk-angguk perlahan. Pria tua itu mengusap kumisnya yang sudah
memutih, lalu mengambil alih pembicaraan dengan suara dalam dan penuh wibawa.
Santoso: (suaranya
tenang tetapi tegas, seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak masalah
datang dan pergi) Pak Kades benar. Saya sudah bilang dari dulu. Sejak
lima tahun lalu, ketika saya masih aktif di LPM, saya sudah mengusulkan program
jambanisasi. Tapi waktu itu ditolak karena dianggap tidak prioritas. Anggaran
lebih banyak dialokasikan untuk infrastruktur jalan dan jembatan. Padahal,
jalan bisa diperbaiki kapan saja. Tapi kesehatan warga, kesehatan anak-anak
kita, tidak bisa menunggu.
Ia menghela napas panjang, matanya menatap ke arah jendela
di mana ia bisa melihat sungai yang mengalir di kejauhan, sungai yang dulu
jernih, kini keruh kehijauan.
Santoso: Saya
sudah mendekati warga, terutama yang di hulu sungai. Saya sudah jelaskan
dampaknya. Tapi mereka pada ogah-ogahan bikin jamban. Alasan mereka klasik:
"Saya sudah puluhan tahun buang air di kebun belakang, kenapa harus
repot-repot bikin jamban?" Atau: "Kakek saya dulu juga begitu,
sehat-sehat saja." Atau yang paling sering: "Nggak punya uang, Pak.
Bikin jamban butuh biaya."
Pak Eko yang duduk di samping Bu Lulu, langsung menimpali
dengan nada praktis. Kipasnya yang biasanya selalu bergerak cepat, pagi itu
diam di pangkuannya, tanda bahwa ia benar-benar serius.
Pak Eko: (suaranya
praktis, seperti orang yang terbiasa menghitung-hitung anggaran dan sumber
daya) Pak Santoso benar. Masalahnya memang dua: biaya dan kebiasaan.
Meskipun ada bantuan dari pemerintah pusat melalui program Pamsimas, Penyediaan
Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat, bantuan itu hanya berupa material
pokok seperti semen, pipa, dan kloset duduk. Warga masih harus mengeluarkan uang
untuk material tambahan seperti pasir, batu bata, upah tukang, dan lain-lain.
Bagi warga yang ekonominya pas-pasan, itu tetap menjadi beban.
Ia membuka buku catatannya, menghitung dengan jari
telunjuknya.
Pak Eko: Saya
sudah kalkulasi kasar. Untuk membuat satu unit jamban sederhana dengan
teknologi cubluk lubang tanah yang dilapisi dibutuhkan biaya sekitar satu
setengah juta rupiah. Dengan bantuan dari pemerintah, warga masih harus
menambah sekitar lima ratus hingga delapan ratus ribu. Jumlah yang tidak kecil
bagi warga kita yang rata-rata berpenghasilan di bawah satu juta per bulan.
Bu Lulu, yang sejak tadi jari-jarinya sudah sibuk di
kalkulator, langsung menyambar dengan suara melengking khasnya. Matanya
membulat di balik kacamata tebalnya, menunjukkan bahwa ia sudah melakukan
perhitungan jauh sebelum rapat dimulai.
Bu Lulu: (suaranya
nyaring, seperti biasa, tetapi kali ini tidak ada nada bercanda) Pak
Eko, saya sudah hitung. Kita punya dana desa untuk infrastruktur fisik sekitar
dua puluh juta rupiah yang belum teralokasi. Itu sebenarnya dialokasikan untuk
perbaikan jalan di RT 04 dan RT 05. Tapi kalau kita prioritaskan untuk subsidi
material jamban, dengan asumsi satu unit jamban butuh subsidi lima ratus ribu,
kita bisa membantu sekitar empat puluh unit jamban. Itu sudah mencakup hampir
semua rumah di sepanjang aliran sungai.
Pak Iwan yang mendengar itu, langsung mengetuk meja dengan
keras. Matanya berbinar—bukan karena marah, tetapi karena ada harapan baru.
Pak Iwan: (suaranya
tegas, tanpa ragu) Prioritas sekarang adalah kesehatan. Jalan bisa
diperbaiki nanti. Kalau warga sakit, jalan mulus pun tidak ada gunanya karena
tidak ada yang bisa bekerja. Saya minta tim KPM dan mahasiswa KKN turun
langsung melakukan pendekatan ke warga. Kita tidak bisa hanya mengandalkan
surat edaran atau imbauan dari balai desa. Harus ada pendekatan personal, door
to door.
Ia menoleh ke arah Erlangga dan Anita yang duduk di deretan
kursi tamu.
Pak Iwan: Mas
Erlangga, Mbak Anita, saya minta kalian yang memimpin tim pendekatan ini.
Kalian sudah punya kepercayaan dari warga. Pak Karyo yang dulu paling keras
kepala sekarang sudah percaya sama kalian. Pak Sugeng juga. Saya yakin kalian
bisa membawa perubahan.
Erlangga yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama,
mengacungkan tangan dengan sopan. Ia berdiri, menatap Pak Iwan dan seluruh
peserta rapat dengan mata yang tenang tetapi penuh keyakinan.
Erlangga: (suaranya
mantap, tidak ragu) Pak Kades, saya dan tim siap. Tapi selain subsidi
material, kita juga perlu pendekatan persuasif yang lebih mendalam. Saya dan
Mbak Anita punya ide untuk melakukan edukasi door to door dengan metode yang
lebih interaktif, bukan sekadar ceramah, tapi demo langsung. Kami akan membawa
sampel air sungai yang terkontaminasi, menunjukkan dengan alat sederhana adanya
bakteri, dan menjelaskan dalam bahasa yang mudah dipahami bagaimana kotoran
yang terbawa air bisa membuat anak-anak sakit.
Ia mengeluarkan buku catatannya yang sudah lusuh, membuka
halaman yang penuh dengan diagram dan catatan.
Erlangga: Selain
itu, kami juga ingin melakukan demo pembuatan jamban sederhana yang murah.
Banyak warga yang tidak tahu bahwa jamban tidak harus mahal. Dengan teknologi
cubluk yang dilapisi, material lokal, dan tenaga gotong royong, biaya bisa
ditekan hingga di bawah satu juta. Kami akan tunjukkan contohnya, biar warga
melihat langsung bahwa ini bukan proyek muluk-muluk.
Anita yang duduk di samping Erlangga, berdiri dan menimpali
dengan suara tegasnya yang khas. Matanya menatap seluruh peserta rapat dengan
semangat yang tidak pernah padam meskipun tubuhnya masih lelah karena tiga hari
terakhir bekerja tanpa henti.
Anita: (suaranya
tegas, tetapi ada nada semangat yang menular) Dan kita bisa manfaatkan
gotong royong. Karang Taruna sudah siap membantu warga yang tidak punya tenaga
kerja. Guntur, Yulia, dan teman-teman sudah menyatakan kesediaan mereka. Dengan
sistem gotong royong, kita tidak perlu membayar tukang. Warga cukup menyediakan
makan dan minum untuk para pekerja. Biaya material yang disubsidi desa akan
sangat membantu.
Pak Iwan mengangguk-angguk dengan puas. Ia menoleh ke Bu
Lulu yang sudah sibuk mencatat angka di buku kasnya.
Pak Iwan: Bu
Lulu, tolong segera disiapkan anggaran subsidi material. Pak Eko, tolong
koordinasikan dengan Karang Taruna untuk jadwal gotong royong. Pak Santoso,
saya mohon bimbingan Bapak untuk pendekatan ke warga yang masih sulit diajak
bicara. Kita targetkan dalam satu bulan, semua rumah di sepanjang aliran sungai
sudah memiliki jamban layak.
Santoso mengangguk, meskipun di matanya masih ada keraguan.
Ia sudah terlalu lama hidup di desa ini untuk tidak tahu bahwa mengubah
kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan tahun tidak semudah membalik telapak
tangan.
Santoso: (suaranya
hati-hati) Pak Kades, saya dukung penuh. Tapi saya harus jujur, tidak
semua warga akan semudah Pak Karyo atau Pak Sugeng. Ada yang sangat keras
kepala. Ada yang menganggap ini urusan pribadi yang tidak perlu diatur-atur.
Pendekatan kita harus sabar. Jangan sampai warga merasa dipaksa, nanti malah
resisten.
Pak Iwan mengangguk, mengakui kebenaran kata-kata Santoso.
Pak Iwan: Saya
paham, Pak Santoso. Karena itu kita tidak pakai pendekatan instruktif. Kita
pakai pendekatan persuasif. Kita tunjukkan data, kita tunjukkan dampaknya, dan
kita bantu dengan subsidi dan tenaga. Biarkan mereka yang memutuskan sendiri.
Tapi kalau masih ada yang menolak setelah semua itu... kita akan bicara lagi
nanti.
Rapat usai dengan keputusan bulat. Program jambanisasi
menjadi prioritas utama desa untuk bulan berikutnya. Anggaran dialokasikan, tim
dibentuk, dan jadwal disusun. Namun semua orang di ruangan itu tahu bahwa
tantangan sebenarnya bukanlah anggaran atau teknis pembangunan, tetapi mengubah
kebiasaan yang sudah mengakar selama puluhan tahun.
Hari berikutnya, langit cerah dengan sisa-sisa kabut biru
yang masih bergelayut di puncak bukit. Anita dan Erlangga bersama tim Karang
Taruna memulai pendekatan door to door ke rumah-rumah warga di sepanjang aliran
sungai. Mereka membagi diri menjadi tiga tim: Tim A dipimpin Anita dan Guntur
untuk RT 02, Tim B dipimpin Erlangga dan Yulia untuk RT 03, dan Tim C dipimpin
Hermansyah dan Naila untuk RT 05. Masing-masing tim membawa peralatan
sederhana: sampel air sungai dalam botol plastik bening, reagen sederhana untuk
uji bakteri, poster edukasi yang sudah disiapkan oleh Erlangga, dan brosur
sederhana tentang cara pembuatan jamban sehat dengan biaya murah.
Pukulan pertama mereka adalah rumah Pak Sugeng. Rumahnya
terletak persis di tepi sungai, sekitar lima puluh meter dari jembatan desa.
Rumah itu cukup besar untuk ukuran desa, dengan halaman yang bersih dan
beberapa pot bunga di teras. Pak Sugeng adalah tokoh masyarakat yang disegani,
meskipun ia bukan orang kaya. Ia adalah pensiunan buruh pabrik yang memilih
kembali ke desa setelah masa pensiun, dan karena pengalaman serta
kebijaksanaannya, ia sering dimintai pendapat oleh warga.
Ketika tim Anita tiba, Pak Sugeng sedang duduk di teras
rumahnya sambil menyesap kopi. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang sudah
agus usang tetapi rapi, dan sandal kulit yang sudah retak di bagian jahitan.
Wajahnya yang keriput dan kumisnya yang memutih membuatnya terlihat lebih tua
dari usianya yang sebenarnya 58 tahun. Di sampingnya, istrinya Bu Yati sedang
menjemur pakaian di halaman.
Pak Sugeng menerima kedatangan mereka dengan senyum ramah,
tetapi ketika Anita mulai menjelaskan tujuan kedatangan mereka, senyum itu
perlahan berubah menjadi ekspresi canggung. Ia mengusap kumisnya dengan gerakan
lambat, tanda bahwa ia sedang berpikir keras.
Pak Sugeng: (duduk
di kursi kayu dengan posisi yang agak tegang, suaranya hati-hati) Ini
soal jamban lagi ya? Saya sudah dengar dari Pak Kades kemarin. Katanya desa mau
bikin program jambanisasi. Tapi jujur, saya merasa nggak perlu-perlu amat. Air
sungai kan mengalir, Bu. Airnya terus bergerak, nggak diam di tempat. Buang
hajat di sungai itu sudah tradisi. Kakek saya, bapak saya, saya sendiri sejak
kecil, ya begitu. Kok tiba-tiba sekarang jadi masalah?
Anita dan Erlangga duduk di kursi yang disediakan Bu Yati.
Erlangga meletakkan ranselnya di lantai, mengeluarkan botol plastik berisi air
sungai yang diambilnya pagi itu dari sungai tepat di depan rumah Pak Sugeng.
Air itu tampak keruh kehijauan, dengan sedikit endapan di dasarnya.
Erlangga: (dengan
suara tenang, penuh hormat) Pak Sugeng, saya hormati tradisi. Saya
tidak datang untuk menghakimi atau memaksa. Tapi izinkan saya menunjukkan
sesuatu.
Ia mengeluarkan alat uji sederhana yang ia bawa dari kampus
sebuah kit uji bakteri cepat yang biasanya ia gunakan untuk praktikum. Dengan
gerakan hati-hati, ia menuangkan sedikit reagen ke dalam botol berisi sampel
air. Dalam beberapa menit, warna air berubah menjadi keunguan tanda positif
adanya bakteri E. coli.
Erlangga: Ini
air sungai yang Bapak dan keluarga gunakan untuk mandi dan masak, Pak. Saya
sudah uji dengan alat sederhana ini, dan hasilnya menunjukkan kandungan bakteri
E. coli yang tinggi. Bakteri ini berasal dari kotoran manusia atau hewan. Dalam
jumlah kecil, mungkin tubuh kita masih bisa melawannya. Tapi kalau
terus-menerus terkontaminasi, bakteri ini menyebabkan diare, tifus, infeksi
saluran pencernaan, dan berbagai penyakit lain. Anak-anak yang masih kecil,
orang tua yang daya tahan tubuhnya sudah menurun, paling rentan terkena
dampaknya.
Pak Sugeng mengambil botol itu, menatap air keruh dengan
warna keunguan yang mencurigakan. Wajahnya berubah bukan marah, tetapi
terkejut. Selama ini ia minum air sungai yang direbus, mandi dengan air sungai,
mencuci pakaian dan peralatan masak dengan air sungai. Dan sekarang, seorang
mahasiswa kedokteran menunjukkan bahwa air itu mengandung kotoran manusia.
Bu Yati, yang sedari tadi mendengarkan dari balik jendela
dapur, keluar dengan langkah cepat. Wajahnya pucat, matanya membulat penuh
ketakutan.
Bu Yati: (suaranya
bergetar) Mas... Mas Dokter... Maksudnya, air yang saya pakai masak
selama ini... air yang saya gunakan untuk membersihkan sayuran... mengandung...
tinja?
Erlangga: (lembut,
tidak ingin menakuti tetapi juga tidak bisa menyembunyikan fakta) Ibu,
saya tidak ingin menakut-nakuti. Tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa
sekitar dua ratus meter dari hulu rumah Bapak, ada beberapa keluarga yang masih
buang air besar di semak-semak dekat sungai. Ketika hujan turun, kotoran itu
terbawa aliran air ke sungai. Bakterinya tetap hidup meskipun airnya sudah
mengalir. Merebus air memang membunuh bakteri, tapi Ibu juga menggunakan air
sungai untuk mencuci peralatan masak, mencuci sayuran yang dimakan mentah, dan
mandi. Risiko penularan tetap ada.
Bu Yati menutup mulutnya dengan tangan, matanya
berkaca-kaca. Ia duduk di kursi di samping suaminya, tubuhnya sedikit gemetar.
Bu Yati: Astagfirullah...
Astagfirullah... Jadi selama ini saya masak pakai air yang... Oh, Tuhan...
Pak Sugeng yang sedari tadi diam, kini menghela napas
panjang. Ia meletakkan botol berisi sampel air di atas meja dengan gerakan
perlahan, seperti meletakkan benda yang sangat berat.
Pak Sugeng: (suaranya
berat, penuh penyesalan) Saya... baru sadar. Saya pikir ini hanya soal
tradisi, soal kebiasaan turun-temurun. Saya pikir sungai itu bisa membersihkan
dirinya sendiri. Saya tidak tahu... tidak pernah terpikir bahwa kotoran di hulu
bisa mencemari air yang saya gunakan untuk keluarga saya. Maafkan saya, Mas,
Mbak. Saya yang bodoh. Saya pikir saya sudah cukup pintar karena pernah
merantau ke kota, tapi ternyata saya masih buta soal hal-hal sederhana seperti
ini.
Anita: (suaranya
lembut, penuh empati) Pak Sugeng, ini bukan soal bodoh atau pintar.
Ini soal informasi. Selama ini tidak ada yang menjelaskan dengan cara seperti
ini. Tidak ada yang membawa sampel air dan menunjukkan bukti. Warga hanya
dikasih tahu "bikin jamban" tanpa dijelaskan kenapa itu penting. Kami
datang bukan untuk menyalahkan, tapi untuk membantu. Kami ingin Bapak dan Ibu
tidak perlu khawatir lagi tentang air yang Bapak dan Ibu gunakan setiap hari.
Ia mengambil brosur yang sudah disiapkan, menunjukkannya
pada Pak Sugeng.
Anita: Kami ingin
membantu Bapak dan Ibu membuat jamban sederhana dengan biaya yang sangat
terjangkau. Desanya akan mensubsidi material utama. Karang Taruna akan membantu
tenaga kerja. Bapak hanya perlu menyediakan lokasi dan... mungkin teh manis
untuk para pekerja. Dalam seminggu, jamban Bapak sudah bisa digunakan.
Pak Sugeng menatap brosur itu, matanya membaca dengan
saksama. Ia kemudian menoleh ke istrinya yang masih duduk dengan wajah pucat.
Pak Sugeng: (suaranya
mantap) Yati, kita ikut program ini. Saya tidak mau keluarga saya
sakit karena kecerobohan saya sendiri. Tolong nanti siapkan teh manis untuk
anak-anak Karang Taruna yang akan membantu.
Bu Yati mengangguk, matanya masih berkaca-kaca tetapi
sekarang ada senyum tipis di bibirnya.
Bu Yati: Iya,
Pak. Saya akan siapkan yang terbaik.
Pak Sugeng berdiri, menjabat tangan Erlangga dan Anita
dengan erat. Jabatan tangannya kuat, menunjukkan tekad yang bulat.
Pak Sugeng: Terima
kasih, Mas Erlangga, Mbak Anita. Saya akan bantu bicara dengan
tetangga-tetangga saya. Saya akan jelaskan seperti yang Mas jelaskan pada saya.
Semoga mereka juga mau.
Tim Erlangga dan Yulia di RT 03 mendapatkan tantangan yang
lebih berat. Rumah pertama yang mereka datangi adalah rumah Pak Karyo. Pria tua
itu sedang duduk di depan warungnya, ditemani oleh Bintang yang kini terlihat
lebih berisi dan aktif. Ketika melihat rombongan Erlangga datang dengan membawa
brosur dan peralatan, ekspresi Pak Karyo langsung berubah menjadi waspada.
Pak Karyo: (berkacak
pinggang di depan warungnya, tubuhnya yang kurus tetapi tegap berdiri seperti
benteng, suaranya keras dan tegas) Hei, kalian datang lagi? Ada apa
kali ini? Jangan-jangan masih soal jamban? Saya sudah bilang dari dulu, saya
tidak akan bikin jamban! Saya sudah tua, umur saya 60 tahun. Saya sudah biasa
ke kebun belakang sejak kecil. Bapak saya, kakek saya, juga begitu. Tidak ada
yang sakit-sakit. Kok sekarang jadi masalah besar? Jangan coba-coba paksa saya!
Erlangga dan Yulia saling berpandangan. Mereka sudah
menduga akan mendapat penolakan dari Pak Karyo, karena pria ini terkenal keras
kepala. Tapi mereka juga tahu bahwa di balik kekerasan kepalanya, Pak Karyo
adalah orang yang peduli, terutama pada cucunya, Bintang.
Erlangga: (mendekat
dengan langkah pelan, suaranya tenang dan tidak defensif) Pak Karyo,
saya tidak datang untuk memaksa. Saya hanya ingin bicara sebentar. Lima menit
saja. Kalau setelah itu Bapak masih tidak mau, saya tidak akan mengulang lagi.
Pak Karyo menatap Erlangga dengan curiga. Tapi karena
Erlangga adalah orang yang sudah membantunya menyadarkan pentingnya telur untuk
Bintang, ia mengendurkan sikapnya sedikit.
Pak Karyo: (nada
masih keras, tetapi tidak setegar tadi) Lima menit. Tapi jangan
coba-coba memaksa.
Erlangga duduk di kursi kayu yang disediakan, membuka
ranselnya dan mengeluarkan botol berisi sampel air sungai. Ia melakukan uji
yang sama seperti yang ia lakukan di rumah Pak Sugeng. Warna air berubah
menjadi keunguan. Ia menjelaskan dengan sabar, dengan bahasa yang sederhana,
tentang bagaimana bakteri E. coli bisa menyebabkan penyakit, dan bagaimana air
sungai yang tercemar bisa berdampak pada kesehatan—terutama pada anak-anak
seperti Bintang.
Erlangga: (menunjuk
ke arah Bintang yang sedang bermain di halaman dengan sendal jepit bekas) Pak
Karyo, Bintang sekarang sehat. Bapak sudah berhasil membuatnya gemuk dengan
telur setiap hari. Itu luar biasa. Tapi coba bayangkan, Pak. Kalau Bintang main
di halaman, lalu tanpa sengaja terkena kotoran yang ada di tanah? Kalau ia
mandi di sungai seperti anak-anak lain? Kalau ia minum air yang tidak dimasak
sempurna? Sistem imun anak seusia Bintang masih rentan, Pak. Sekali terkena
diare, berat badannya bisa turun drastis. Semua usaha Bapak selama ini bisa
sia-sia.
Pak Karyo terdiam. Ia menatap Bintang yang sedang asyik
bermain, memungut kerikil-kerikil kecil di halaman. Cucu yang sudah ia rawat
dengan susah payah. Cucu yang sudah mulai berisi, mulai aktif, mulai tertawa.
Apakah ia rela semua itu sia-sia karena kekeraskepalaannya sendiri?
Pak Karyo: (suaranya
mulai goyah, tidak setegar tadi) Tapi... saya nggak punya uang untuk
beli material. Saya cuma punya warung kecil. Penghasilan sehari cukuplah untuk
makan. Jamban itu kan mahal. Saya dengar dari tetangga, bikin jamban bisa habis
jutaan.
Erlangga: (tersenyum
lega karena Pak Karyo mulai menunjukkan kelemahan) Pak, justru itu
yang ingin kami bantu. Desanya akan mensubsidi material utama. Karang Taruna
akan membantu tenaga kerja. Bapak hanya perlu menyediakan tempat dan... mungkin
teh manis untuk para pekerja. Tidak perlu membayar tukang. Dengan sistem gotong
royong, biaya yang harus dikeluarkan Bapak sangat minimal. Bahkan, kalau Bapak
setuju, kami bisa mulai minggu depan.
Pak Karyo masih terdiam. Ia mengusap wajahnya dengan
telapak tangan yang kasar dan penuh keriput. Ia sedang berperang dengan dirinya
sendiri—antara kebanggaan dan rasa takut, antara tradisi dan keselamatan
cucunya.
Guntur yang sejak tadi berdiri di belakang, melangkah maju
dengan senyum ramahnya yang khas.
Guntur: (suaranya
ceria, mencairkan suasana) Pak Karyo, kami dari Karang Taruna sudah
siap bantu tenaga. Saya sendiri yang akan gali lubangnya. Asal Bapak janji, teh
manisnya pake gula batu, ya! Biar mantap! Jangan pake gula pasir, kurang mantap
rasanya.
Pak Karyo menatap Guntur, lalu ke Erlangga, lalu ke Yulia.
Wajahnya yang tadinya cemberut perlahan berubah. Ia melihat semangat anak-anak
muda ini, melihat ketulusan mereka, melihat bahwa mereka tidak datang untuk
menyulitkan tetapi untuk membantu. Dan ketika ia menoleh ke Bintang yang
tersenyum padanya dengan gigi susu yang baru tumbuh, hatinya luluh.
Pak Karyo: (menghela
napas panjang, lalu tertawa kecil—tawa yang keluar dari hidung, setengah
menyerah setengah lega) Kalian ini memang anak muda... nggak bisa
didiamkan. Dikasih tahu satu kali, diulang-ulang terus. Ditolak satu kali,
datang lagi besoknya. Kayak lintah, nggak mau lepas.
Ia menggeleng-gelengkan kepala, tetapi senyumnya semakin
lebar.
Pak Karyo: Baiklah,
saya setuju. Tapi ingat, teh manisnya pake gula batu! Yang banyak! Dan jangan
lupa, nanti kalau jadi, warung saya jualan jajanan baru: keripik telur. Bintang
suka banget. Kalian harus beli, ya! Jangan cuma minta teh manis gratis!
Semua tertawa. Yulia sampai memegang perut karena terlalu
keras tertawa. Guntur mengacungkan jempol dengan semangat. Erlangga menepuk
pundak Pak Karyo dengan rasa terima kasih yang tulus.
Erlangga: Terima
kasih, Pak. Bapak sudah membuat keputusan yang sangat berani. Bintang akan
bangga pada kakeknya.
Pak Karyo: (merendah,
suaranya sedikit serak karena emosi) Bintang udah kenyang telur.
Sekarang waktunya saya bikin lingkungan yang bersih buat dia. Itu tanggung
jawab saya sebagai kakek.
Pekan berikutnya, aksi gotong royong pembuatan jamban berlangsung
meriah. Langit cerah dengan sinar matahari yang hangat, angin sepoi-sepoi
membawa wangi kopi dari kebun-kebun warga. Suasana berbeda dari biasanya, bukan
hanya karena ada proyek besar yang sedang berlangsung, tetapi karena semangat
kebersamaan yang jarang terlihat di desa ini.
Karang Taruna yang dipimpin Yulia dan Guntur bahu-membahu
menggali tanah, mengaduk semen, dan memasang pipa. Mereka dibagi dalam beberapa
regu: regu gali yang dipimpin Guntur, regu cor yang dipimpin Hermansyah, regu
pasang pipa yang dipimpin Amat Junior, dan regu logistik yang dipimpin Naila
dan Camelia. Erlangga dan Anita tidak hanya mengawasi, tetapi juga ikut
bekerja. Erlangga yang notabene calon dokter dari kota, terlihat kotor oleh
lumpur—bajinya yang tadinya bersih kini bercak-bercak semen, sepatu boots-nya
yang kotor sudah tidak terlihat warna aslinya, dan wajahnya penuh keringat
bercampur debu.
Pak Sugeng, yang rumahnya menjadi lokasi pertama
pembangunan jamban, ikut bekerja meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Ia
membantu mengangkat batu bata, sesekali beristirahat untuk minum teh yang
disiapkan istrinya. Bu Yati sibuk di dapur menyiapkan makan siang untuk para
pekerja nasi dengan lauk sederhana, tetapi dibuat dengan penuh cinta.
Pak Karyo, yang awalnya hanya mau menyediakan teh manis,
akhirnya ikut tergerak. Ia membuka warungnya lebih awal, menyediakan kopi dan
camilan gratis untuk para pekerja. Bintang berlarian di antara mereka, sesekali
tertawa melihat Guntur yang berlumuran lumpur dari ujung rambut hingga ujung
kaki.
Guntur: (mengangkat
sekop penuh lumpur, suaranya setengah berteriak karena semangat) Pak
Karyo! Teh manisnya mana? Saya sudah gali lubang sedalam satu meter! Kalau
tehnya belum datang, saya mogok!
Pak Karyo: (dari
warungnya, berteriak balik dengan nada bercanda) Sabar, Guntur! Lagi
diseduh! Ini pake gula batu asli, bukan gula pasir murahan! Dijamin mantap!
Guntur: (memasukkan
sekop ke tanah, berdiri tegak dengan tangan di pinggang) Pak Karyo,
jangan tanggung-tanggung! Kasih gula jawa sekalian! Biar ada rasa karamelnya!
Pak Karyo: Heh!
Gula jawa mah buat saya sendiri! Kalian cukup gula batu! Hahaha!
Semua tertawa. Yulia yang sedang membantu mengaduk semen di
dekat Guntur, melempar segenggam lumpur ke arah pemuda itu.
Yulia: Guntur, jangan
banyak gaya! Kerja dulu! Nanti tehnya dingin!
Guntur: (terkena lumpur di
pipi, tetapi bukannya marah malah tertawa) Yu, jangan main lumpur! Ini baju
saya baru dicuci kemarin!
Yulia: (tertawa) Baru
dicuci? Bajumu itu warnanya udah kayak lumpur dari sananya! Nggak ada bedanya!
Guntur: (pura-pura
tersinggung) Ih, Yulia! Nanti saya lapor ke Pak Kades! Kamu nggak menghargai
aset nasional!
Yulia: Aset nasional
apaan? Muka kamu aset nasional? Cocok jadi maskot iklan pupuk kandang!
Pekerja yang lain terbahak-bahak. Bahkan Pak Sugeng yang
sedang mengangkat batu bata, sampai meletakkan batu bata itu karena terlalu
keras tertawa.
Di sisi lain, Erlangga dan Anita sedang bekerja sama
memasang pipa PVC yang akan menghubungkan jamban ke lubang resapan. Mereka
duduk berdekatan di tanah yang lembab, tangan mereka berlumuran lumpur dan
semen. Erlangga memegang pipa, sementara Anita mengencangkan sambungan dengan
lem khusus.
Erlangga: (sambil
memegang pipa dengan stabil) Mbak Anita, ini sudah lurus? Saya takut nanti
miring, alirannya nggak lancar.
Anita: (mengencangkan
sambungan, matanya fokus pada posisi pipa) Sedikit ke kiri. Angkat dikit. Iya,
segitu. Tahan.
Erlangga: (mengangkat
pipa sesuai instruksi, tubuhnya sedikit bergeser sehingga bahunya menyentuh
bahu Anita) Gini, Mbak?
Anita tersentak sedikit ketika bahu mereka bersentuhan.
Tangan yang memegang lem hampir terlepas. Ia berusaha tetap fokus, tetapi detak
jantungnya tiba-tiba tidak karuan.
Anita: (suaranya agak
tergagap) I... iya. Segitu sudah pas. Kencangkan.
Erlangga tersenyum kecil. Ia bisa merasakan bahwa Anita
sedikit gugup. Selama beberapa pekan terakhir, ia mulai bisa membaca bahasa
tubuh perempuan ini—sesuatu yang tidak bisa ia lakukan di hari-hari pertama
ketika Anita selalu memasang raut datar dan tangan bersilang.
Erlangga: (berbisik,
hanya cukup untuk didengar Anita) Mbak Anita, tangan Mbak gemetar. Nanti lemnya
belepotan.
Anita: (menatap Erlangga
dengan mata sedikit memerah—bukan karena marah, tetapi karena malu) Siapa yang
gemetar? Ini karena pegang lem terus, tangannya jadi pegal. Bukan apa-apa.
Erlangga: (tersenyum,
tidak memaksa) Baik, Mbak. Saya percaya.
Bu Yuni, yang datang membawa nasi kotak untuk pekerja,
melihat interaksi itu dari kejauhan. Matanya yang tajam langsung menangkap
sesuatu—cara Erlangga menatap Anita, cara Anita membuang malu ketika bahu
mereka bersentuhan. Ia mendekati Pak Eko yang sedang beristirahat di bawah
pohon rindang.
Bu Yuni: (berbisik
pada Pak Eko sambil matanya tetap mengamati Erlangga dan Anita) Pak Eko, lihat
tuh. Calon dokter ganteng jadi kuli bangunan. Bajunya kotor, mukanya belepotan
lumpur. Tapi lihat, dia tetap semangat. Awas saja kalau nanti jadi mantu desa.
Pak Eko yang sedang mengipas-ngipas dengan kipas lipatnya,
menoleh ke arah yang ditunjuk Bu Yuni. Ia tersenyum melihat Erlangga dan Anita
yang sedang duduk berdekatan, sesekali tertawa kecil ketika salah satu dari
mereka salah memasang pipa.
Pak Eko: (tersenyum,
suaranya pelan) Mantu desa? Siapa yang dinikahinya, Bu? Anita?
Bu Yuni: (menggoda,
suaranya sedikit lebih keras dari yang seharusnya) Ya jelas Anita lah! Siapa
lagi yang setiap hari bareng dia? Dari pagi sampai sore, dari posyandu sampai
proyek jamban. Mana pernah lihat Mas Erlangga dekat sama perempuan lain.
Kayaknya dua-duanya saling suka, cuma malu-malu kucing.
Anita yang kebetulan lewat di dekat mereka dengan ember
berisi semen, mendengar potongan percakapan itu. Wajahnya langsung merah
padam—lebih merah dari biasanya, bahkan di bawah sinar matahari siang yang
terik. Ia berhenti, menatap Bu Yuni dengan mata yang setengah kesal setengah
malu.
Anita: (suaranya
meninggi, tetapi tidak sampai marah) Bu Yuni! Saya masih kerja, tolong jangan
bercanda! Ini urusan jamban, bukan urusan perjodohan! Nanti pekerja yang lain
pada denger!
Bu Yuni: (tertawa
kecil, tidak merasa bersalah) Lho, Mbak Anita, saya hanya bercanda. Kenapa
sampai merah padam begitu? Jangan-jangan emang ada yang bener? (Ia mengerjapkan
mata, menggoda)
Anita: (semakin merah,
ember semen di tangannya hampir goyah) Bu Yuni! Saya serius! Ini semennya mau
saya bawa ke Pak Sugeng. Nanti kalau saya jatuh karena Bu Yuni bercanda, Bu
Yuni yang tanggung jawab!
Pak Eko: (ikut
tertawa, mencoba menengahi) Sudah, Bu Yuni. Jangan digoda terus. Nanti Anita
marah, kita semua kena getahnya. Lagipula, kalau memang ada yang mau serius,
biar mereka yang ngomong sendiri. Kita cukup lihat dari jauh.
Bu Yuni: (masih
tersenyum, tetapi tidak melanjutkan) Ya sudah, saya tutup mulut. Tapi saya
lihat sendiri, nanti kalau benar, saya minta jatah jadi saksi.
Anita menghela napas kesal, tetapi di dalam hatinya ada
sesuatu yang hangat. Ia berjalan cepat menuju lokasi Pak Sugeng, berusaha
mengabaikan detak jantungnya yang tidak karuan. Dari kejauhan, Erlangga yang
sedang memasang pipa bersama Guntur, melihat Anita berjalan cepat dengan ember
semen di tangan. Ia tidak mendengar percakapan dengan Bu Yuni, tetapi ia bisa
melihat dari gerak-geriknya bahwa ada sesuatu yang membuat Anita gelisah.
Erlangga: (berteriak
dari kejauhan, suaranya ramah) Mbak Anita, kok jalan cepat-cepat? Nanti
semennya tumpah!
Anita: (berbalik sejenak,
suaranya masih sedikit kesal tetapi mencair ketika melihat wajah Erlangga yang
belepotan lumpur) Nggak usah khawatir! Saya sudah biasa bawa ember semen! Ini
bukan pertama kalinya!
Erlangga: (tersenyum)
Baik, Mbak. Hati-hati, ya. Jangan sampai jatuh. Nanti saya yang harus ngobatin.
Anita: (tidak bisa
menahan senyum kecil) Dasar calon dokter, apa-apa diobatin.
Guntur: (yang sedang duduk
di samping Erlangga, berbisik dengan nada menggoda) Mas Erlangga, dari tadi
saya lihat, Mbak Anita kalau dekat Mas selalu berbeda. Biasanya galak, sekarang
jadi kalem. Ada apa ini?
Erlangga: (menepuk
pundak Guntur dengan lembut, suaranya tenang) Guntur, jangan bercanda. Fokus
kerja. Pipa ini harus selesai sebelum magrib.
Guntur: (tersenyum, tidak
melanjutkan) Siap, Komandan! Tapi saya lihat sendiri, Mas.
Di tengah keramaian, Anto supir truk yang beberapa pekan
lalu dibantu Erlangga mengatasi sakit gigi datang dengan membawa termos besar
berisi kopi hitam pekat. Ia tidak dijadwalkan ikut gotong royong karena harus
bekerja, tetapi ia memanfaatkan waktu istirahatnya untuk datang dan membantu.
Anto: (meletakkan termos
di meja logistik, suaranya bersemangat) Saya bawa kopi buat pekerja! Kopi hitam
pekat, biar semangatnya nggak kendor! Ini kopi robusta asli kebun desa kita,
bukan kopi instan kemasan!
Naila: (yang sedang
mengatur konsumsi, tersenyum) Wah, Mas Anto, terima kasih. Tapi bukannya Mas
Anto harus kerja hari ini?
Anto: (mengusap keringat
di dahinya) Lagi istirahat, Mbak. Saya numpang lewat, lihat semangat gotong
royong, jadi ikut bawa kopi. Lagipula, saya juga punya utang budi sama Mas
Erlangga. Dulu waktu sakit gigi, beliau yang bantu. Sekarang giliran saya bantu
beliau.
Ia kemudian bergabung dengan regu gali, mengambil sekop dan
mulai menggali tanah di samping Guntur. Tubuhnya yang besar dan kekar membuat
pekerjaan menggali terasa lebih ringan.
Anto: (kepada Guntur,
sambil menggali dengan semangat) Guntur, ini lubangnya mau sedalam apa? Saya
bisa bantu gali lebih dalam. Biar jambannya awet.
Guntur: (sedikit kewalahan
mengimbangi kecepatan Anto) Mas Anto, pelan-pelan! Ini bukan balapan! Nanti
saya kelelahan!
Anto: (tertawa) Namanya
juga anak muda, jangan cengeng! Ayo, semangat!
Suasana gotong royong semakin meriah. Di satu sisi, Pak
Sugeng dan Bu Yati sibuk menyiapkan makan siang untuk pekerja. Di sisi lain,
Pak Karyo dan Bintang datang membawa tambahan camilan keripik singkong buatan
istri Pak Karyo. Bintang yang sekarang sudah lebih percaya diri, berlarian di
antara pekerja sambil membagikan keripik dengan ceria.
Bintang: (dengan
suara lantang, kepada Guntur yang sedang beristirahat) Om Guntur, ini keripik!
Nenek buat! Enak!
Guntur: (menerima keripik,
mengusap kepala Bintang) Wah, Bintang sekarang jadi anak pemberani! Dulu nggak
mau ngomong sama orang asing, sekarang bisa bagi-bagi keripik. Hebat!
Bintang: (tersenyum
bangga) Bintang suka keripik! Bintang juga suka telur!
Guntur: (tertawa) Iya,
Bintang suka telur. Nanti kalau besar, Bintang mau jadi apa?
Bintang: (berpikir
sejenak, lalu menjawab dengan polos) Bintang mau jadi dokter! Kayak Abang
Erlangga!
Semua yang mendengar tertawa. Erlangga yang sedang
beristirahat di dekat pohon, tersenyum mendengar jawaban Bintang. Ia
melambaikan tangan pada anak itu, dan Bintang berlari kecil menghampirinya
dengan keripik di tangan.
Bintang: (menyerahkan
keripik pada Erlangga) Abang Erlangga, ini keripik! Bintang kasih!
Erlangga: (menerima
keripik, mengusap kepala Bintang) Terima kasih, Bintang. Bintang baik sekali.
Nanti kalau Bintang besar, Bintang jadi dokter yang hebat, ya. Lebih hebat dari
Abang.
Bintang: (mengangguk
serius) Iya! Bintang mau jadi dokter! Bintang mau obati orang sakit!
Erlangga: (tersenyum)
Doakan Abang ya, Bintang. Abang juga lagi belajar jadi dokter yang baik.
Anita yang sedang duduk tidak jauh dari sana, melihat
interaksi itu dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Melihat Erlangga
berinteraksi dengan Bintang, melihat kesabaran dan kelembutannya, membuat
hatinya terasa hangat. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya—sesuatu yang tidak
bisa ia jelaskan, tetapi juga tidak bisa ia abaikan.
Sore harinya, setelah hari yang melelahkan, sebagian besar
pekerja sudah pulang. Yang tersisa hanya beberapa orang yang sedang merapikan
peralatan dan membersihkan sisa-sisa material. Pak Sugeng duduk di teras
rumahnya bersama Bu Yati, menikmati secangkir teh hangat sambil memandangi
jamban yang hampir selesai dibangun di belakang rumah mereka.
Pak Iwan, yang sejak tadi memantau dari kejauhan, akhirnya
mendekati lokasi. Ia berjalan dengan langkah mantap, memeriksa hasil pekerjaan
dengan saksama. Matanya yang tajam melihat detail-detail kecil, sambungan pipa
yang rapi, dinding jamban yang kokoh, atap seng yang terpasang dengan baik.
Pak Iwan: (kepada
Pak Sugeng, suaranya penuh kebanggaan) Pak Sugeng, ini baru namanya gotong
royong. Dulu kita hanya bisa bicara di balai desa, sekarang kita buktikan bahwa
desa ini bisa berubah kalau semua bergerak bersama.
Pak Sugeng: (mengangguk,
matanya berkaca-kaca) Saya malu, Pak Kades. Dulu saya termasuk yang menolak
program jambanisasi. Saya pikir ini tidak penting. Tapi setelah Mas Erlangga
dan Mbak Anita menjelaskan, setelah saya lihat air sungai yang ternyata
tercemar, saya sadar. Ini bukan soal saya, ini soal keluarga saya, soal
Bintang, soal anak-anak desa ini.
Pak Iwan: (menepuk
pundak Pak Sugeng) Tidak perlu malu, Pak. Yang penting sekarang kita bergerak
bersama. Ini baru awal. Masih banyak rumah yang harus kita bantu.
Bu Yuni yang ikut hadir, menimpali dengan suara ceria.
Bu Yuni: Pak
Kades, saya lihat hari ini antusiasme warga luar biasa. Bahkan Pak Karyo yang
paling keras kepala akhirnya mau. Ini semua berkat kerja keras Mas Erlangga dan
Mbak Anita. Mereka yang turun langsung, berbicara satu per satu, tidak kenal
lelah.
Pak Iwan: (menoleh
ke Erlangga dan Anita yang sedang duduk di pojok halaman, melepas lelah) Saya
tahu. Mereka berdua memang luar biasa. Saya dengar dari Bu Lulu, Mas Erlangga
bahkan ikut menggali lubang dan mengaduk semen. Mahasiswa KKN biasanya hanya
ngawasi, ini malah jadi kuli.
Bu Yuni: (tersenyum
menggoda) Itu namanya kalau sudah ada yang disukai, Pak. Semangatnya beda.
Pak Iwan: (menggeleng-gelengkan
kepala, setengah kesal setengah lucu) Bu Yuni, jangan bawa-bawa urusan pribadi.
Yang penting program desa berjalan.
Bu Yuni: (tetap
tidak menyerah) Saya hanya bercanda, Pak. Tapi Pak Iwan sendiri lihat, Mas
Erlangga dan Mbak Anita itu kalau bareng, beda. Mereka saling melengkapi. Mas
Erlangga yang tenang dan penuh perhitungan, Mbak Anita yang tegas dan enerjik.
Cocok, kan?
Pak Iwan hanya tersenyum, tidak menjawab. Sebagai kepala
desa, ia sudah cukup lama memimpin untuk tahu bahwa urusan hati adalah urusan
yang paling tidak bisa diatur. Yang bisa ia lakukan hanyalah membiarkan
semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Di pojok halaman, Erlangga dan Anita duduk berdampingan di
atas tumpukan batu bata sisa. Tubuh mereka penuh lumpur, wajah mereka lelah,
tetapi mata mereka berbinar. Hari ini mereka telah mencapai sesuatu yang lebih
besar dari sekadar membangun jamban. Mereka telah membangun kepercayaan,
membangun kesadaran, membangun harapan.
Erlangga: (menatap
langit yang mulai jingga, suaranya pelan) Hari ini luar biasa, Mbak. Saya tidak
menyangka Pak Karyo akhirnya mau. Dulu waktu pertama kali saya datang, beliau
adalah orang yang paling keras menolak.
Anita: (tersenyum,
matanya juga menatap langit) Itu karena Mas Erlangga sabar. Mas tidak memaksa,
tidak marah-marah. Mas menjelaskan dengan cara yang beliau mengerti. Dan Mas
juga menunjukkan bahwa Mas tidak hanya bicara, tapi juga bekerja. Melihat Mas
ikut menggali lumpur, mengaduk semen, kotor seperti ini... warga jadi percaya
bahwa Mas tulus.
Erlangga: (menoleh
ke Anita) Bukan saya saja, Mbak. Mbak Anita juga. Mbak sudah melakukan ini
selama dua tahun, bahkan sebelum saya datang. Saya hanya melanjutkan apa yang sudah
Mbak mulai. Saya hanya kebetulan datang dengan atribut calon dokter, jadi warga
lebih mudah percaya. Tapi fondasinya sudah Mbak bangun sejak lama.
Anita: (menunduk,
suaranya kecil) Saya hanya melakukan tugas saya.
Erlangga: (tersenyum)
Mbak selalu bilang begitu. Tapi saya tidak pernah bosan mengingatkan Mbak bahwa
apa yang Mbak lakukan lebih dari sekadar tugas. Itu panggilan hati. Dan saya...
saya bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan Mbak, meskipun hanya
sebentar.
Mereka terdiam. Angin sore berembus, membawa wangi kopi
dari kebun-kebun warga. Burung-burung mulai pulang ke sarang, suara mereka yang
riuh bergantian dengan suara jangkrik yang mulai bersiap untuk malam.
Anita: (tiba-tiba,
suaranya pelan) Erlangga... sebentar lagi KKN Mas selesai. Dua minggu lagi.
Setelah itu... Mas akan kembali ke kota, kembali ke kehidupan Mas sebagai calon
dokter yang sibuk.
Erlangga: (menoleh,
menatap Anita dengan mata yang dalam) Mbak, apakah Mbak sudah ingin saya pergi?
Anita: (terkejut,
wajahnya sedikit memerah) Bukan! Bukan begitu. Saya hanya... saya hanya
berpikir, apa yang akan terjadi setelah Mas pergi. Apakah semua yang sudah kita
bangun ini akan terus berjalan? Apakah Pak Karyo akan tetap konsisten? Apakah
warga akan terus menggunakan jamban yang sudah dibangun? Apakah...
Erlangga: (memotong
dengan lembut) Anita... (ia berhenti, membiarkan panggilan tanpa
"Mbak" itu menggantung di udara) Semua yang kita bangun tidak akan
runtuh hanya karena saya pergi. Karena fondasinya bukan saya. Fondasinya adalah
Mbak Anita, adalah Bu Amilia, adalah Pak Karyo yang sudah berubah, adalah
Bintang yang sekarang bermimpi jadi dokter, adalah anak-anak muda Karang Taruna
yang sekarang paham pentingnya kesehatan. Saya hanya datang untuk mempercepat.
Tapi yang membuat semua ini terus berjalan adalah kalian, warga desa ini.
Ia mengambil napas, menatap Anita dengan tatapan yang lebih
lembut.
Erlangga: Dan
saya... saya tidak akan benar-benar pergi. Desa ini sudah menjadi bagian dari
diri saya. Bintang, Pak Karyo, Bu Amilia, Guntur, Yulia, Pak Sugeng, dan...
Mbak Anita. Saya akan kembali. Entah untuk KKN berikutnya, atau untuk sesuatu
yang lain. Tapi saya tidak akan hilang begitu saja.
Anita menunduk, jantungnya berdetak sangat cepat. Ia ingin
bertanya, "Sesuatu yang lain itu apa?" Tapi ia tidak berani. Ia takut
jawabannya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Atau lebih takut lagi,
jawabannya sesuai dengan yang ia harapkan.
Anita: (suaranya bergetar
sedikit) Mas... ayo kita bersihkan peralatan. Hari sudah sore. Besok kita
lanjut ke rumah Pak Karyo.
Erlangga: (tersenyum,
tidak memaksa) Baik, Mbak.
Mereka berdiri, mengambil peralatan yang berserakan. Dari
kejauhan, Pak Iwan, Bu Yuni, dan beberapa perangkat desa lainnya sedang
berkemas pulang. Pak Sugeng dan Bu Yati melambai dari teras rumah mereka.
Bintang yang masih berlarian di halaman, berteriak "Dadah, Abang Erlangga!
Dadah, Mbak Anita!" dengan suara lantang.
Matahari perlahan tenggelam di balik bukit, meninggalkan
sisa-sisa cahaya keemasan yang memantul di awan-awan tipis. Kabut biru mulai
merayap turun dari puncak bukit, perlahan menyelimuti lembah dengan kelembapan
yang menusuk. Tapi di hati mereka berdua, ada kehangatan yang tidak bisa
dijelaskan—kehangatan yang lahir dari kerja keras, dari kebersamaan, dari
sesuatu yang mulai tumbuh di antara mereka.
Di balai desa, Bu Lulu sedang sibuk menghitung sisa
anggaran untuk program jamban. Pak Eko membantu menyusun jadwal gotong royong
untuk pekan berikutnya. Yulia dan Guntur sudah merencanakan sistem kerja untuk
rumah-rumah berikutnya. Pak Karyo menutup warungnya lebih awal, membawa Bintang
pulang dengan senyum puas. Dan di langit Awan Biru, bintang-bintang mulai
bermunculan satu per satu, menyaksikan bahwa desa kecil di lereng perbukitan
ini perlahan tapi pasti mulai berubah.
Bukan karena program besar dari pemerintah. Bukan karena
teknologi canggih. Tapi karena orang-orang yang memilih untuk tidak tinggal
diam. Karena seorang kader desa yang tidak pernah lelah. Karena seorang calon
dokter yang memilih untuk belajar dari mereka yang selama ini tidak terlihat.
Dan karena sebuah desa yang akhirnya memilih untuk percaya.
BAB 6: Konflik di Balik
Layar dan Keteguhan Seorang Kader
Di tengah euforia keberhasilan program sanitasi yang mulai
terlihat hasilnya jamban demi jamban berdiri di sepanjang aliran sungai, warga
mulai sadar pentingnya kebersihan, dan kasus diare perlahan menurun muncul
gesekan yang tak terduga. Seperti api yang membara di balik tumpukan kayu yang
tampak tenang, konflik yang selama ini terpendam akhirnya meletus. Bukan
konflik antara warga dan pendatang, bukan antara tradisi dan modernitas, tetapi
konflik yang lebih personal dan kompleks: gesekan antara mereka yang merasa
selama ini berjuang sendirian dengan mereka yang baru datang dan mendapat
sorotan.
Pak Edi, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat yang sejak awal
skeptis dengan kehadiran mahasiswa KKN, mulai menyuarakan kritik pedas. Bukan
karena ia membenci Erlangga atau Anita, ia bahkan secara pribadi mengakui bahwa
program-program yang dijalankan membawa perubahan nyata. Tapi sebagai seorang
yang telah puluhan tahun mengabdi di pemerintahan desa, sebagai seseorang yang
terbiasa bekerja dalam bayang-bayang tanpa pernah mendapat pengakuan, melihat
sorotan tertuju pada orang-orang baru membuat sesuatu di dalam dirinya terasa
perih. Ia merasa pengalamannya, pengorbanannya, dan dedikasinya selama ini
seolah tidak dihargai.
Rapat evaluasi program sanitasi diadakan di kantor desa
pada hari Kamis pagi, seminggu setelah gotong royong pertama. Langit cerah,
tetapi di dalam ruangan suasana mendung. Seluruh perangkat desa hadir, ditambah
dengan perwakilan Karang Taruna dan tokoh masyarakat. Pak Iwan duduk di ujung
meja dengan ekspresi waspada, ia sudah mendengar desas-desus bahwa Pak Edi akan
melontarkan sesuatu yang keras dalam rapat ini. Bu Yuni duduk di sampingnya
dengan buku agenda terbuka, pulpen di tangan, siap mencatat. Bu Lulu sudah
menyiapkan kalkulator dan buku kas, tidak ingin ketinggalan jika ada keputusan
yang menyangkut anggaran.
Anita dan Erlangga duduk di kursi tamu di sisi ruangan.
Anita tampak tegang, ia sudah merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres
sejak beberapa hari terakhir. Pak Edi, yang biasanya menyapanya dengan ramah di
jalan, mulai menghindari tatapan matanya. Ia juga mendengar dari Bu Yuni bahwa
Pak Edi beberapa kali mengeluh di kantor desa tentang "dominasi mahasiswa
KKN" dan "alokasi anggaran yang tidak sesuai prosedur."
Erlangga duduk di samping Anita dengan tenang, tetapi
matanya sesekali melirik ke arah Pak Edi yang duduk di seberang ruangan dengan
tangan bersilang di dada. Ia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan
terburuk. Sebagai mahasiswa yang terbiasa dengan kritik dan evaluasi di kampus,
ia tahu bahwa konflik adalah bagian tak terpisahkan dari setiap proses
perubahan. Tapi ia juga tahu bahwa konflik yang tidak dikelola dengan baik bisa
menghancurkan semua yang sudah dibangun.
Rapat dimulai dengan paparan dari Pak Eko tentang
perkembangan program sanitasi. Data menunjukkan bahwa dari 45 rumah yang
ditargetkan, 12 sudah memiliki jamban layak, 8 sedang dalam proses pembangunan,
dan sisanya masih dalam tahap pendekatan. Angka diare menurun 15 persen dalam
dua minggu terakhir. Partisipasi warga dalam gotong royong meningkat dari 30
menjadi 75 persen. Semua data itu disajikan dengan grafik dan angka-angka yang
rapi, hasil kerja keras tim pendataan yang dipimpin Anita dan Erlangga.
Pak Eko baru saja selesai memaparkan data ketika Pak Edi
mengangkat tangan. Gerakannya pelan, tetapi semua orang di ruangan itu tahu
bahwa ini bukan sekadar ingin bertanya. Ada sesuatu yang lebih besar di balik
tangan yang terangkat itu.
Pak Edi: (berdiri
dari kursinya dengan gerakan perlahan, tangan masih bersilang di dada, suaranya
tinggi dan tajam—nada yang tidak biasa dari seseorang yang biasanya lebih
banyak diam dalam rapat) Pak Kades, saya minta izin untuk menyampaikan
sesuatu. Bukan sekadar pertanyaan, tetapi catatan kritis. Saya sudah simpan ini
sejak beberapa minggu lalu, dan saya rasa ini saat yang tepat untuk
disampaikan.
Pak Iwan mengangguk, meskipu alisnya berkerut. Ia sudah
menduga bahwa rapat hari ini tidak akan berjalan mulus.
Pak Iwan: (suaranya
hati-hati, mencoba menenangkan dari awal) Silakan, Pak Edi. Rapat ini
memang untuk evaluasi. Kritik yang membangun sangat kami butuhkan.
Pak Edi mengambil napas panjang. Matanya menyapu ruangan,
berhenti sejenak di wajah Anita dan Erlangga sebelum akhirnya menatap Pak Iwan.
Pak Edi: (suaranya
semakin tinggi, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu) Saya
lihat program ini terlalu tergantung pada mahasiswa KKN. Terlalu tergantung
pada Mas Erlangga dan Mbak Anita. Hampir semua inisiatif, semua ide, semua
gerakan, datang dari mereka. Perangkat desa seperti saya, seperti Pak Eko,
seperti Bu Lulu, hanya jadi penonton. Kita cuma disuruh setuju, disuruh tanda
tangan, disuruh menganggarkan. Tapi tidak dilibatkan dalam proses pengambilan
keputusan yang substantif.
Ia menunjuk ke arah papan pengumuman di dinding, tempat
jadwal gotong royong dan program sanitasi dipajang dengan rapi.
Pak Edi: Lihat
jadwal gotong royong itu. Siapa yang menyusun? Tim KPM dan mahasiswa KKN. Siapa
yang menentukan rumah mana yang diprioritaskan? Tim KPM dan mahasiswa KKN.
Siapa yang membuat modul edukasi? Mas Erlangga sendiri. Siapa yang turun ke
lapangan setiap hari? Mbak Anita dan Mas Erlangga. Lalu di mana posisi
perangkat desa? Di mana posisi saya sebagai Kaur Kesra yang seharusnya
bertanggung jawab di bidang kesejahteraan rakyat, termasuk kesehatan?
Ia menghela napas, berusaha menenangkan diri tetapi gagal.
Pak Edi: Saya
tidak anti perubahan. Saya tidak anti mahasiswa KKN. Tapi ini desa kita, Pak
Kades. Bukan proyek mereka. Ini rumah kita, bukan laboratorium untuk mereka
bereksperimen. Nanti mereka pulang, mereka dapat nilai bagus, mereka dapat
pujian dari dosen, mereka lanjut hidup dengan karir cemerlang. Lalu kita? Kita
yang kerepotan melanjutkan program yang mungkin tidak kita pahami sepenuhnya
karena kita tidak dilibatkan dari awal. Ini yang saya khawatirkan. Ini yang
sudah saya lihat berkali-kali dalam puluhan tahun saya mengabdi di desa ini.
Ruangan menjadi sunyi. Kipas angin tua di sudut ruangan
yang biasanya berisik, seolah ikut diam mendengar ketegangan yang memenuhi
ruang pertemuan itu. Pak Eko menutup kipasnya dan meletakkannya di pangkuan. Bu
Lulu berhenti memencet kalkulator. Bu Yuni menggigit bibir bawahnya, tidak
yakin harus mencatat atau tidak. Santoso yang duduk di kursi kehormatan, hanya
diam dengan tangan bertumpu pada tongkatnya, matanya menyipit mengamati
dinamika yang terjadi.
Pak Iwan menghela napas panjang. Ia menatap Pak Edi dengan
mata yang lelah, bukan lelah secara fisik, tetapi lelah karena harus terus
menerus menengahi konflik yang muncul dari kesalahpahaman dan ego sektoral.
Pak Iwan: (suaranya
tenang, mencoba menurunkan ketegangan) Edi, bukannya kita sudah
sepakat dalam rapat sebelumnya untuk gotong royong? Kita semua setuju bahwa
program ini adalah program desa, bukan program mahasiswa. Mas Erlangga dan Mbak
Anita adalah mitra kita, bukan pengganti kita.
Pak Edi: (tidak
terpengaruh, suaranya tetap tinggi) Gotong royong iya. Tapi lihat
implementasinya, Pak. Saya tidak merasa dilibatkan. Saya sebagai Kaur Kesra,
bidang saya kesehatan dan kesejahteraan rakyat. Tapi dalam rapat-rapat teknis,
saya sering tidak diundang. Yang diundang hanya tim kecil: Mbak Anita, Mas
Erlangga, Pak Eko kadang-kadang, Bu Yuni kadang-kadang. Saya tahu karena Bu
Yuni cerita. Saya tahu karena saya lihat sendiri. Jangan-jangan Pak Kades
sendiri tidak tahu bahwa koordinasi selama ini berjalan secara eksklusif?
Ia menoleh ke Bu Yuni, yang langsung menunduk dengan wajah
pucat. Bu Yuni memang sering mengadakan rapat teknis kecil dengan Anita dan
Erlangga untuk membahas detail program, tetapi ia tidak pernah berniat
mengeksklusi Pak Edi. Hanya saja, sebagai sekretaris desa yang sibuk dengan
berbagai urusan administrasi, ia terbiasa bekerja dengan tim kecil yang
dianggapnya paling memahami teknis program.
Bu Yuni: (suaranya
lirih, mencoba membela diri) Pak Edi, saya tidak bermaksud
mengeksklusi. Saya pikir Pak Edi sibuk dengan urusan lain, jadi saya tidak
ingin merepotkan...
Pak Edi: (memotong,
suaranya semakin tajam) Sibuk? Semua orang di sini sibuk, Bu Yuni!
Saya sibuk dengan urusan kesejahteraan rakyat yang sebenarnya juga mencakup
program ini! Tapi karena saya tidak dilibatkan, saya jadi tidak paham
detailnya. Akhirnya saya hanya bisa duduk diam dalam rapat-rapat besar seperti
ini, hanya menyetujui apa yang sudah diputuskan oleh tim kecil. Ini bukan cara
bekerja yang baik!
Erlangga yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama,
merasa bahwa saatnya untuk berbicara. Ia tidak ingin konflik ini semakin
melebar. Ia juga merasa ada benarnya kritik Pak Edi—mungkin tanpa sadar, ia dan
Anita memang terlalu mendominasi karena semangat untuk segera melihat
perubahan. Ia berdiri perlahan, gerakannya tidak mendadak, tetapi cukup untuk
menarik perhatian semua orang di ruangan itu.
Erlangga: (dengan
suara tenang, penuh hormat, matanya menatap Pak Edi dengan jujur) Pak
Edi, saya minta maaf jika ada yang merasa tidak dilibatkan. Saya dan Mbak Anita
selalu melaporkan setiap perkembangan ke Bu Sekdes. Tapi saya akui, mungkin
koordinasi dengan perangkat desa lain belum berjalan optimal. Itu kesalahan
saya. Saya terlalu fokus pada kerja lapangan sehingga lupa bahwa keberlanjutan
program tidak hanya tergantung pada hasil di lapangan, tetapi juga pada
dukungan dan kepemilikan dari semua perangkat desa.
Ia mengambil napas, melanjutkan dengan suara yang lebih
rendah hati.
Erlangga: Saya
pribadi justru ingin banyak belajar dari Pak Edi yang sudah berpengalaman
puluhan tahun dalam pembangunan desa. Saya tahu Bapak punya banyak pengalaman
yang tidak bisa saya dapatkan di bangku kuliah. Saya tidak datang ke sini untuk
menggantikan siapa pun. Saya datang untuk belajar dan membantu. Dan saya sangat
mengharapkan bimbingan dari Bapak.
Pak Edi menatap Erlangga dengan mata yang masih tajam,
tetapi ada sedikit keraguan di baliknya. Ia tidak menyangka mahasiswa ini akan
secepat itu mengakui kesalahan dan merendahkan diri. Biasanya, mahasiswa KKN
yang ia temui cenderung defensif ketika dikritik, atau malah balik menyerang
dengan argumen-argumen akademis yang tidak menyentuh akar masalah.
Pak Edi: (suaranya
sedikit melunak, tetapi masih menyisakan nada skeptis) Jangan pakai
kalimat diplomatik, Mas. Saya orang lapangan. Saya tidak butuh basa-basi. Saya
lihat bagaimana Anda dan Anita terlalu mendominasi. Hampir setiap hari saya
lihat Anda berdua keliling desa, memutuskan ini-itu, tanpa koordinasi dengan
saya. Bahkan dana desa yang seharusnya untuk infrastruktur, perbaikan jalan, dialihkan
ke program jamban. Itu keputusan yang cukup besar, dan saya tidak dilibatkan
sama sekali dalam proses pengambilan keputusannya.
Anita yang sejak tadi menahan diri, merasa darahnya
mendidih mendengar tuduhan itu. Ia tahu bahwa tuduhan tentang alokasi dana
adalah tuduhan yang serius. Sebagai KPM yang setiap hari bertanggung jawab atas
penggunaan dana kesehatan, ia tidak bisa diam ketika integritasnya
dipertanyakan. Ia berdiri dengan gerakan yang lebih cepat dari Erlangga,
matanya menatap Pak Edi dengan api yang menyala.
Anita: (suaranya
tegas, tidak tinggi tetapi penuh bobot) Pak Edi, dengan hormat, saya
harus meluruskan. Dana desa untuk program jamban dialihkan berdasarkan
musyawarah bersama Pak Kades dan BPD dalam rapat yang dihadiri oleh seluruh
perangkat desa. Saya tidak hadir dalam rapat itu karena sedang menangani wabah
ISPA di lapangan. Keputusan itu murni keputusan kolektif, bukan keputusan saya
atau Mas Erlangga. Saya sebagai KPM hanya menjalankan mandat yang diberikan
oleh desa.
Ia menunjuk ke arah Bu Lulu yang masih memegang kalkulator.
Anita: Bu Lulu bisa
menjadi saksi. Beliau yang menghitung anggaran. Pak Eko yang mengusulkan
prioritas. Pak Kades yang memutuskan. Saya tidak tahu dari mana Pak Edi
mendapat informasi bahwa saya atau Mas Erlangga yang memutuskan sepihak. Tapi
kalau ada informasi yang keliru, saya minta diluruskan.
Pak Edi terdiam. Ia menoleh ke Bu Lulu yang
mengangguk-angguk membenarkan pernyataan Anita.
Bu Lulu: (suaranya
hati-hati, seperti orang yang tidak ingin terlibat konflik tetapi terpaksa
bicara) Pak Edi, benar. Rapat alokasi anggaran itu diadakan setelah
rapat evaluasi wabah. Bapak waktu itu berhalangan hadir karena ada urusan
keluarga di kecamatan. Keputusan diambil secara musyawarah dan dicatat dalam
berita acara. Saya punya arsipnya kalau Bapak mau lihat.
Pak Edi terdiam lebih lama. Wajahnya berubah bukan marah,
tetapi sedikit malu. Ia tidak menyangka bahwa tuduhannya ternyata tidak
berdasar. Informasi yang ia terima dari sumber yang tidak jelas ternyata
keliru.
Anita: (melanjutkan,
suaranya masih tegas tetapi mulai ada nada kelelahan) Dan soal
dominasi, Pak Edi... (ia berhenti, menelan ludah, berusaha menahan diri) maaf,
saya harus bilang. Kehadiran saya dan Mas Erlangga di lapangan setiap hari
bukan karena kami ingin mendominasi. Tapi karena itu tugas kami. Saya sebagai
KPM, Mas Erlangga sebagai mahasiswa KKN yang programnya memang kesehatan
masyarakat. Kami turun ke lapangan karena di sanalah masalahnya berada. Bukan
di kantor desa.
Ia menatap Pak Edi dengan mata yang jujur, tetapi ada rasa
sakit di baliknya.
Anita: Saya sudah dua
tahun menjadi KPM. Dua tahun saya keliling desa sendirian, memeriksa balita,
membujuk ibu hamil, melawan mitos dan kebiasaan lama. Dalam dua tahun itu,
jarang sekali ada perangkat desa yang ikut turun ke lapangan. Bukan karena
Bapak-bapak sengaja tidak mau, tetapi karena mungkin memang bukan kapasitas
Bapak-bapak. Saya paham itu. Tapi ketika sekarang ada program yang berhasil,
ada perubahan yang mulai terlihat, tiba-tiba muncul pertanyaan tentang
dominasi, tentang siapa yang mengambil keputusan, tentang siapa yang mendapat
kredit. Saya tidak paham, Pak. Saya benar-benar tidak paham.
Suaranya mulai bergetar. Ia berusaha mengontrol emosinya,
tetapi air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak ingin menangis di
depan semua orang. Ia adalah Anita, kader desa yang dikenal tegas dan tidak
mudah goyah. Tapi hari ini, beban yang ia pikul selama dua tahun terasa begitu
berat.
Anita: Saya tidak pernah
memikirkan soal kredit, Pak. Saya tidak pernah memikirkan siapa yang dianggap
paling berjasa. Yang saya pikirkan setiap hari adalah: bagaimana caranya agar
Bintang tidak stunting, bagaimana caranya agar ibu hamil mau periksa kehamilan,
bagaimana caranya agar warga tidak sakit karena air yang mereka minum tercemar.
Itu saja. Itu yang saya pikirkan setiap hari, bahkan ketika saya tidak bisa
tidur karena memikirkan data yang belum masuk, bahkan ketika saya menggunakan
uang pribadi untuk membeli obat karena stok habis.
Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, berusaha keras
untuk tidak menangis.
Anita: Saya kira
kehadiran Mas Erlangga akan meringankan beban saya. Dan memang, Mas Erlangga
membantu banyak. Tapi ternyata, dengan kehadiran orang baru, muncul juga
konflik-konflik baru yang tidak saya duga. Saya kelelahan, Pak. Bukan kelelahan
fisik. Tapi kelelahan karena harus terus menerus membuktikan bahwa apa yang
saya lakukan ini bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk mencari nama,
tetapi untuk desa ini. Desa yang saya cintai. Desa tempat saya dilahirkan,
tempat ibu saya meninggal, tempat saya memilih untuk tinggal meskipun banyak
orang mengatakan saya bodoh karena tidak merantau ke kota.
Ruangan itu sunyi. Sangat sunyi. Bahkan kipas angin tua di
sudut ruangan seolah berhenti berputar. Pak Edi membatu. Wajahnya yang tadinya
tegas dan penuh kritik, kini berubah. Ia menatap Anita perempuan muda yang
selama ini ia lihat setiap hari, yang selalu tersenyum meskipun lelah, yang
selalu sabar meskipun diabaikan, yang selalu bekerja tanpa pernah mengeluh. Dan
baru sekarang ia menyadari bahwa di balik senyum itu, ada beban yang sangat
berat.
Pak Edi: (suaranya
tiba-tiba kehilangan ketajamannya, berubah menjadi lirih, hampir berbisik) Anita...
saya... saya tidak tahu...
Anita: (memotong,
suaranya bergetar tetapi tetap tegas) Pak Edi, saya minta maaf jika
kata-kata saya tadi terlalu tajam. Saya tidak bermaksud menyerang Bapak. Saya
hanya ingin Bapak tahu bahwa apa yang saya lakukan ini, apa yang Mas Erlangga
lakukan ini, bukan untuk mendominasi atau mengambil alih peran Bapak-bapak.
Kami hanya melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kami. Dan kami sangat
membutuhkan dukungan Bapak, bukan kritik yang membuat kami semakin lelah.
Air mata yang selama ini ditahan akhirnya jatuh. Anita
menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang basah. Erlangga yang duduk di
sampingnya, merasakan dorongan kuat untuk meraih tangannya, untuk
menenangkannya. Tapi ia tahu ini bukan tempatnya. Ia hanya bisa duduk diam,
menatap Anita dengan mata yang penuh empati, berdoa dalam hati bahwa perempuan
ini tahu bahwa ia tidak sendirian.
Pak Iwan yang sedari tadi diam, akhirnya memukul meja.
Tidak keras, tetapi cukup untuk memecah keheningan yang menyiksa.
Pak Iwan: (suaranya
berat, penuh kewibawaan tetapi juga kelelahan) Cukup. Saya tidak mau
ada perpecahan. Kita ini satu desa, satu keluarga. Kalau kita saling curiga dan
saling menjatuhkan, program sehebat apa pun akan gagal. Anita, kamu memang
harus minta maaf pada Pak Edi. Kata-katamu tadi, meskipun jujur, terlalu tajam
untuk seorang anak muda kepada orang yang lebih tua.
Anita mengangkat wajahnya, matanya merah tetapi ia berusaha
tegar. Ia menatap Pak Edi yang masih duduk dengan wajah yang sulit dibaca.
Anita: (menunduk,
suaranya lirih tetapi tulus) Pak Edi, saya minta maaf. Sungguh. Saya
tidak bermaksud menyakiti perasaan Bapak. Kata-kata saya tadi mungkin terlalu
emosional. Saya hanya... saya hanya lelah. Tapi itu bukan alasan untuk tidak
sopan. Maafkan saya, Pak.
Pak Edi tidak langsung menjawab. Ia menatap Anita, melihat
air mata yang masih membasahi pipi perempuan muda itu. Ia melihat kelelahan
yang terpancar dari matanya. Dan ia mengingat bahwa ia sendiri, ketika masih
muda dan penuh semangat, pernah mengalami hal yang sama. Pernah merasa usahanya
tidak dihargai. Pernah merasa kritik lebih sering datang daripada apresiasi.
Dan pernah menangis di tempat sepi karena lelah.
Ia menghela napas panjang, sangat panjang, seperti membuang
semua beban yang selama ini ia pikul.
Pak Edi: (suaranya
lembut, sangat berbeda dari sebelumnya) Anita... saya juga minta maaf.
Saya yang seharusnya minta maaf. Saya terlalu cepat menuduh tanpa memeriksa
fakta. Saya terlalu mudah terpengaruh oleh gosip yang beredar. Saya merasa...
(ia berhenti, mencari kata-kata) saya merasa mungkin iri. Iya, iri. Saya sudah
puluhan tahun di sini, tapi perubahan yang terjadi dalam dua bulan terakhir
lebih besar dari yang saya lakukan dalam sepuluh tahun. Saya merasa... mungkin
saya sudah tidak relevan. Mungkin generasi saya sudah ketinggalan zaman.
Ia tersenyum pahit, menggeleng-gelengkan kepala.
Pak Edi: Saya
pikir dengan mengkritik, saya masih punya peran. Saya pikir dengan menunjukkan
kekurangan, saya masih dibutuhkan. Tapi saya lupa bahwa kritik tanpa solusi
hanya akan menghancurkan semangat. Saya lupa bahwa anak-anak muda seperti Anita
dan Mas Erlangga butuh dukungan, bukan hambatan. Maafkan saya, Anita. Maafkan
saya, Mas Erlangga. Saya yang bersalah.
Santoso yang sedari tadi diam dengan tangan bertumpu pada
tongkatnya, akhirnya angkat bicara. Suaranya dalam dan tenang, seperti orang
yang sudah melihat terlalu banyak konflik datang dan pergi.
Santoso: (dengan
suara tegas tetapi penuh kebijaksanaan) Saya sudah lama mengamati.
Konflik seperti ini sebenarnya tanda bahwa kita sedang bergerak maju. Kalau
semua orang setuju tanpa kritik, itu berarti tidak ada perubahan. Kalau semua
orang diam saja, itu berarti kita sudah mati. Konflik ini sehat. Tapi jangan
sampai kita terpecah.
Ia menatap Pak Edi, lalu ke Anita, lalu ke Erlangga.
Santoso: Saya
punya usulan. Pak Edi, saya tahu Bapak punya pengalaman panjang dalam
pembangunan desa. Bapak juga punya jaringan luas dengan warga, terutama warga
yang selama ini sulit diajak berubah. Saya usulkan, Pak Edi menjadi penanggung
jawab keberlanjutan program sanitasi. Biar beliau yang memastikan program tetap
jalan setelah mahasiswa KKN pulang. Beliau yang akan memantau, mengevaluasi,
dan melaporkan ke Pak Kades. Dengan begitu, pengalaman Pak Edi tidak terbuang,
dan program ini tidak hanya bergantung pada Mas Erlangga dan Mbak Anita.
Pak Edi terkejut. Matanya membulat, tidak menyangka bahwa
kritiknya yang tajam justru berbuah amanah yang lebih besar.
Pak Edi: (suaranya
tidak percaya) Saya? Penanggung jawab keberlanjutan?
Santoso: (tersenyum) Iya,
Bapak. Siapa lagi kalau bukan Bapak? Bapak yang paling tahu seluk-beluk
pemerintahan desa. Bapak yang punya pengalaman. Bapak yang paling peduli dengan
keberlanjutan program. Buktinya Bapak sampai sekeras itu mengkritik karena
khawatir program ini tidak berkelanjutan. Jadi, tidak ada yang lebih tepat
selain Bapak sendiri yang memastikan bahwa program ini tetap berjalan setelah
mahasiswa KKN pulang.
Pak Edi terdiam. Wajahnya yang tadinya tegang, perlahan
berubah. Ada senyum tipis yang mulai muncul, senyum yang tulus, tanpa nada
sinis.
Pak Edi: (mengangguk,
suaranya mantap) Saya... bersedia. Saya akan lakukan yang terbaik.
Saya tidak akan mengecewakan.
Pak Iwan yang mendengar usulan Santoso, langsung menyambut
dengan semangat.
Pak Iwan: (mengetuk
meja, suaranya menggelegar) Ide bagus, Pak Santoso! Pak Edi, saya
serahkan program keberlanjutan ini kepada Bapak. Saya minta Bapak membuat
laporan bulanan, memantau penggunaan jamban, memastikan tidak ada warga yang
kembali ke kebiasaan lama. Saya juga minta Bapak bekerja sama dengan Mbak Anita
dan Mas Erlangga untuk menyusun modul pelatihan. Setuju?
Pak Edi: (berdiri,
membungkuk sedikit ke arah Pak Iwan, lalu ke Santoso, lalu ke Anita dan
Erlangga) Saya setuju, Pak Kades. Dan saya minta maaf sekali lagi pada
semuanya, terutama pada Mbak Anita dan Mas Erlangga. Saya akan buktikan bahwa
saya bisa menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Rapat usai dengan suasana yang jauh lebih hangat dari awal.
Keputusan bulat diambil: Pak Edi resmi ditunjuk sebagai koordinator
keberlanjutan program sanitasi. Ia akan bekerja sama dengan Anita dan Erlangga
untuk menyusun modul pelatihan, sistem monitoring, dan mekanisme evaluasi yang
bisa dijalankan oleh perangkat desa setelah KKN berakhir. Bu Lulu akan
mengalokasikan anggaran kecil untuk operasional tim monitoring. Bu Yuni akan
mendokumentasikan semua prosedur dalam bentuk buku panduan.
Satu per satu perangkat desa mulai meninggalkan ruangan.
Pak Eko keluar sambil membuka kipasnya yang sempat diam selama rapat. Bu Lulu
masih sibuk dengan kalkulatornya, tetapi kali ini wajahnya ceria. Bu Yuni
menghela napas lega, bersyukur konflik tidak berlarut. Pak Iwan keluar lebih
dulu, menepuk pundak Pak Edi sebelum pergi.
Di luar ruangan, matahari sudah condong ke barat. Sinar jingga
mulai menyelimuti balai desa, membuat bayangan memanjang di halaman. Erlangga
keluar dengan langkah pelan, matanya mencari Anita. Ia melihat perempuan itu
berjalan cepat menuju gerbang, tidak menoleh ke belakang, bahunya sedikit
terangkat, tanda bahwa ia masih berusaha menahan sesuatu.
Erlangga: (mempercepat
langkah, suaranya cukup keras untuk didengar Anita) Anita! Berhenti
sebentar.
Anita tidak berhenti. Ia terus berjalan, bahkan mempercepat
langkahnya. Erlangga hampir berlari untuk mengejarnya. Ia meraih lengan Anita
dengan lembut tetapi tegas, cukup untuk membuat perempuan itu berhenti.
Anita: (berhenti,
tetapi tidak menoleh, suaranya serak) Lepaskan, Mas. Saya mau pulang.
Erlangga: (tidak
melepaskan, tetapi juga tidak memaksa) Anita, lihat aku. Sebentar
saja.
Anita akhirnya menoleh. Wajahnya basah oleh air mata.
Matanya merah, hidungnya memerah, dan bibir bawahnya bergetar berusaha menahan
tangis yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia tidak pernah menangis di depan
orang lain. Selama dua tahun menjadi kader, ia selalu menahan air matanya
ketika ada warga yang meninggal karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah,
ketika ada ibu yang melahirkan tanpa pertolongan medis, ketika ada balita yang
kejang karena demam. Ia selalu menangis sendirian, di kamarnya, setelah semua
orang tidur.
Tapi hari ini, setelah semua yang terjadi, setelah tuduhan
yang tidak berdasar, setelah perdebatan yang menguras energi, setelah ia harus
mempertahankan integritasnya di depan semua orang, tangis itu tidak bisa
ditahan lagi.
Anita: (suaranya
putus-putus, napasnya terengah) Aku tadi terlalu emosi, ya? Aku
seharusnya bisa lebih tenang. Aku seharusnya tidak bicara sekeras itu. Aku
seharusnya... (ia tidak mampu melanjutkan, tangisnya pecah)
Erlangga tidak berbicara. Ia hanya menarik Anita ke tempat
teduh di bawah pohon beringin di halaman balai desa, menjauh dari keramaian. Ia
membiarkan Anita menangis, menangis untuk semua yang telah ia tahan selama ini.
Ia tidak memberikan nasihat, tidak mencoba menenangkan dengan kata-kata klise.
Ia hanya berdiri di sampingnya, cukup dekat sehingga Anita tahu bahwa ia tidak
sendirian, tetapi tidak terlalu dekat sehingga Anita merasa kehilangan
ruangnya.
Setelah beberapa saat, tangis Anita mulai mereda. Ia
mengusap matanya dengan punggung tangan, berusaha mengatur napas yang masih
tersengal.
Erlangga: (suaranya
lembut, penuh empati) Kamu tadi hebat, Anita. Kamu membela kebenaran
dengan cara yang lugas. Kamu menyuarakan apa yang selama ini kamu pendam, dan
itu bukan hal yang mudah. Apalagi di depan semua perangkat desa, di depan
orang-orang yang mungkin selama ini tidak sepenuhnya memahami perjuanganmu.
Anita menggeleng, masih belum sepenuhnya tenang.
Anita: (suaranya masih
bergetar) Aku tadi takut. Bukan takut pada Pak Edi. Tapi takut
kalau... kalau semua yang sudah kita bangun selama ini akan runtuh karena
konflik yang tidak perlu. Aku takut kalau nanti kamu pulang, semua yang sudah
kita kerjakan bersama akan berhenti lagi. Seperti dulu, ketika beberapa program
kesehatan berhenti karena tidak ada yang mengawal, karena kader-kader
kelelahan, karena perangkat desa tidak peduli.
Ia menunduk, tangannya menggenggam ujung bajunya erat-erat.
Anita: Aku takut,
Erlangga. Aku takut kehilangan semua ini. Aku takut kembali sendirian.
Erlangga menatap Anita dengan mata yang dalam. Ada sesuatu
yang bergerak di hatinya, sesuatu yang selama ini ia coba tahan, coba abaikan,
coba jelaskan sebagai kekaguman profesional atau rasa terima kasih. Tapi di
bawah pohon beringin ini, dengan air mata yang masih membasahi pipi Anita,
dengan kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan di balik ketegasannya, Erlangga
tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.
Erlangga: (menggenggam
tangan Anita dengan lembut, suaranya pelan tetapi penuh keyakinan) Tidak
akan runtuh, Anita. Aku janji, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Pak Edi
sekarang sudah ditunjuk sebagai koordinator keberlanjutan. Dia orang yang tepat
kritis, peduli, dan punya pengalaman. Aku juga akan meninggalkan modul
pelatihan yang detail, sistem monitoring yang sederhana, dan kontak-kontak yang
bisa dihubungi jika ada kendala. Semua yang kita bangun akan terus berjalan.
Ia berhenti sejenak, menatap mata Anita yang masih merah.
Erlangga: Dan...
(ia ragu, tetapi kemudian menguatkan hatinya) aku belum tentu pergi selamanya.
Anita menatap Erlangga dengan mata terbelalak. Jantungnya
yang tadinya masih berdebar karena tangis, kini berdebar karena alasan yang
sama sekali berbeda.
Anita: (suaranya tidak
percaya) Maksudmu?
Erlangga tersenyum, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada
siapa pun selama di desa ini. Senyum yang jujur, tanpa topeng, tanpa jarak.
Erlangga: Aku
sudah bicara dengan pembimbing KKN-ku minggu lalu. Ada kemungkinan aku bisa
memperpanjang masa KKN atau bahkan kembali setelah lulus untuk program
pengabdian dokter muda. Tentu saja itu belum pasti. Tapi aku sedang
mengusahakannya. Karena... (ia menarik napas dalam-dalam) karena aku tidak
ingin meninggalkan desa ini. Bukan hanya karena programnya, tapi karena... (ia
menatap Anita, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya jujur) karena
seseorang.
Anita terdiam. Kata-kata Erlangga terasa seperti gelombang
yang menghantam dadanya. Ia ingin bertanya, "Siapa?" tetapi ia sudah
tahu jawabannya. Ia ingin tersenyum, tetapi matanya justru kembali
berkaca-kaca. Ia ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata terasa terlalu berat
untuk diucapkan.
Anita: (suaranya
nyaris berbisik) Erlangga... jangan bicara seperti itu kalau kamu
tidak sungguh-sungguh.
Erlangga: (tidak
melepaskan tangannya, suaranya mantap) Aku sungguh-sungguh, Anita. Aku
tidak pernah sesungguh ini dalam hidupku.
Mereka berdua terdiam. Angin sore berembus, membawa wangi
bunga kopi dan dedaunan kering. Di kejauhan, suara azan magrib mulai
berkumandang dari mesjid desa, suaranya bergema di antara bukit-bukit dengan
keindahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Daun-daun beringin
bergerak pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari di tanah.
Anita: (setelah hening
yang lama, suaranya kecil tetapi jelas) Nanti. Kita bicarakan nanti.
Sekarang, ayo kita lanjutkan kerja. Masih banyak yang harus dilakukan.
Erlangga: (tersenyum,
melepaskan tangannya perlahan) Baik, Komandan.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan halaman kantor
desa. Tidak berpegangan tangan, tidak terlalu dekat, tetapi langkah mereka
seirama, seperti dua orang yang sudah lama berjalan bersama, yang tahu kapan
harus cepat dan kapan harus melambat, yang tahu kapan harus bicara dan kapan
harus diam.
Di kantor desa, Bu Yuni yang melihat dari jendela,
tersenyum kecil. Ia menoleh ke Pak Eko yang sedang merapikan berkas di meja
sebelah.
Bu Yuni: (suaranya
pelan, hanya untuk mereka berdua) Pak Eko, lihat tuh. Saya bilang apa?
Dua-duanya saling suka, cuma malu-malu kucing. Padahal jelas sekali.
Pak Eko: (menggeleng-gelengkan
kepala sambil tersenyum) Biarkan saja, Bu. Urusan hati itu urusan
pribadi. Yang penting mereka tetap fokus pada kerja.
Bu Yuni: (tersenyum) Iya,
saya tahu. Tapi saya tidak sabar lihat akhir ceritanya.
Pak Eko: (tertawa
kecil) Bu Yuni, ini bukan sinetron. Ini kehidupan nyata. Akhir
ceritanya tergantung pada mereka, bukan pada kita.
Bu Yuni: (mengangguk,
tetapi matanya tetap mengikuti Anita dan Erlangga yang semakin jauh) Saya
tahu. Tapi kadang, kehidupan nyata lebih indah dari sinetron mana pun.
Di luar, langit mulai gelap. Bintang pertama muncul di ufuk
timur, bersinar terang di antara sisa-sisa kabut biru yang masih bergelayut di
puncak bukit. Di Desa Awan Biru, setelah badai konflik yang mereda, setelah air
mata yang dikeringkan, setelah kata-kata yang diucapkan dan yang masih
tertahan, sesuatu yang baru mulai tumbuh. Bukan hanya jamban yang berdiri kokoh
di belakang rumah-rumah warga. Bukan hanya angka stunting yang mulai menurun.
Tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa diukur dengan data atau
dilaporkan dalam modul.
Mungkin itu adalah kepercayaan yang dibangun kembali.
Mungkin itu adalah cinta yang mulai diakui. Atau mungkin, itu hanya awal dari
sesuatu yang belum tahu akan berujung di mana. Tapi untuk malam ini, cukup
sudah. Cukup dengan janji yang belum sepenuhnya diucapkan, cukup dengan tangan
yang sempat bersentuhan, cukup dengan langkah yang seirama menuju senja.
Karena di Desa Awan Biru, seperti kabut yang turun setiap
pagi dan naik setiap sore, cinta tidak perlu terburu-buru. Ia akan datang pada
waktunya, ketika semua konflik mereda, ketika semua luka sembuh, ketika dua
hati yang telah lama berjalan sendiri akhirnya berani berjalan bersama.
BAB 7: Dua Cinta yang
Berjuang di Tengah Tugas
Waktu bergulir cepat di Desa Awan Biru, seperti air sungai
yang mengalir deras setelah hujan di hulu. Program sanitasi yang sempat memicu
konflik kini berjalan mulus. Jamban sederhana telah berdiri di tiga puluh rumah
warga di sepanjang aliran sungai, sebuah angka yang melebihi target awal. Dua
puluh rumah lagi dalam tahap akhir pembangunan, dengan gotong royong yang
semakin hari semakin semarak. Pak Edi, yang semula menjadi pengkritik paling
vokal, kini menjelma menjadi koordinator lapangan yang paling bersemangat.
Setiap pagi ia berkeliling, memeriksa progres pembangunan, mencatat kendala,
dan melaporkannya langsung ke Pak Iwan.
Kasus diare di desa mulai menurun drastis. Data dari
puskesmas kecamatan menunjukkan penurunan tiga puluh persen dalam sebulan
terakhir, angka yang membuat Bidan Amilia tersenyum lebar untuk pertama kalinya
dalam bertahun-tahun. Puskesmas bahkan mengirimkan surat apresiasi ke balai
desa, memuji inisiatif dan keberhasilan program sanitasi yang digerakkan oleh
kader desa dan mahasiswa KKN. Surat itu dipajang di papan pengumuman kantor
desa, tepat di samping foto-foto gotong royong yang diambil Hermansyah.
Erlangga dan tim KKN disambut hangat di setiap sudut desa.
Anak-anak kecil berlarian menghampirinya setiap kali ia lewat, memanggilnya
"Abang Dokter" dengan suara riang. Ibu-ibu yang dulu skeptis kini
dengan sukarela membawa anak-anak mereka ke posyandu, bahkan datang lebih awal
sebelum kader tiba. Pak Karyo, yang dulu paling keras kepala, kini menjadi juru
bicara program kesehatan di warungnya. Setiap kali ada warga yang meragukan
pentingnya jamban, ia akan berkata dengan lantang, "Percaya sama saya.
Dulu saya juga keras kepala. Tapi lihat Bintang sekarang. Sehat, gemuk, pintar.
Itu karena saya dengar kata Mas Dokter dan Mbak Anita."
Bintang sendiri kini menjadi anak yang paling ceria di
desa. Rambutnya yang dulu kemerahan dan rapuh, kini hitam legam dan tebal.
Pipinya yang dulu cekung, kini berisi dan kemerahan. Ia berlarian ke mana-mana
dengan energi yang melimpah, seringkali ikut membantu kakeknya melayani pembeli
di warung. Pak Karyo sampai kewalahan karena Bintang selalu ingin ikut bicara
dengan setiap pelanggan, menceritakan tentang telur yang ia makan setiap pagi
dan tentang cita-citanya menjadi dokter seperti Abang Erlangga.
Di balai desa, suasana juga berubah. Rapat-rapat yang dulu
sering tegang dan penuh perdebatan, kini berlangsung lebih cair. Pak Edi dan
Anita duduk berdampingan dalam setiap rapat, saling melengkapi, Anita dengan
data lapangan yang detail, Pak Edi dengan pengalaman dan jaringan warga yang
luas. Pak Iwan sampai bercanda bahwa ini adalah "koalisi yang tidak pernah
ia duga sebelumnya." Bu Lulu tetap dengan kalkulator dan buku kasnya,
tetapi kini ia lebih sering tersenyum daripada mengernyit. Bu Yuni sudah
menyiapkan buku panduan program sanitasi yang akan ditinggalkan Erlangga,
dengan desain sampul yang dibuat oleh Naila dan foto-foto yang diambil
Hermansyah.
Namun, di balik semua kesuksesan itu, ada gejolak yang tak
terucapkan antara Erlangga dan Anita. Sejak pengakuan Erlangga di bawah pohon
beringin dua minggu lalu, mereka tetap bekerja bersama seperti biasa, keliling
desa, memeriksa jamban, melakukan edukasi, melatih kader. Mereka berbicara
tentang program, tentang data, tentang jadwal. Mereka tertawa bersama ketika
Guntur bercanda, dan mereka serius bersama ketika membahas masalah. Tetapi di
antara semua itu, ada jarak yang tidak bisa dijelaskan. Ada kata-kata yang
tertahan. Ada tatapan yang terlalu cepat dialihkan. Ada sesuatu yang
menggantung di udara setiap kali mereka berdua saja, sesuatu yang belum berani
mereka sentuh.
Anita belum memberikan jawaban atas pengakuan Erlangga.
Bukan karena ia ragu dengan perasaannya, ia sudah sangat yakin. Sejak pertama
kali ia melihat Erlangga membantu rekannya turun dari mobil, sejak ia melihat
Erlangga jongkok di depan Bintang dengan senter kecilnya, sejak ia melihat
Erlangga membersihkan busi motor tuanya dengan kain lap dari saku celana, sejak
ia melihat Erlangga mengusap keringat Anto yang sakit gigi, sejak ia melihat
Erlangga ikut menggali lumpur untuk jamban Pak Karyo, sejak semua itu, hatinya
sudah tidak bisa berpura-pura lagi.
Tapi Anita adalah Anita. Perempuan yang sejak kecil
diajarkan oleh ibunya yang sudah tiada untuk tidak mudah percaya pada kata-kata
manis. Perempuan yang melihat sendiri bagaimana ibunya bertahan dalam pernikahan
yang tidak mudah, bagaimana ibunya bekerja keras membesarkannya sendirian
setelah ayahnya Si Amat, lebih sibuk dengan administrasi desa daripada
keluarganya. Anita belajar bahwa cinta itu tidak cukup. Cinta harus dibuktikan
dengan tindakan, dengan konsistensi, dengan kehadiran yang tidak pernah lelah.
Dan ia takut. Takut bahwa perasaan yang ia rasakan selama
ini hanya karena kedekatan. Takut bahwa ketika Erlangga kembali ke kota, ketika
ia kembali ke dunia yang sangat berbeda dari desa ini, perasaan itu akan luntur
oleh waktu dan jarak. Takut bahwa ia akan kembali sendirian, seperti dulu,
seperti selama dua tahun ia berjuang tanpa ada yang benar-benar melihat.
Suatu sore, setelah sesi pelatihan kader posyandu di balai
desa, Anita dan Erlangga berjalan menyusuri pematang sawah di belakang rumah
Pak Sugeng. Mereka sengaja memilih jalan ini, jauh dari keramaian, jauh dari
gosip warga yang sudah mulai menebar desas-desus tentang kedekatan mereka.
Pelatihan hari itu melelahkan: tiga jam berbicara tentang cara pengukuran berat
badan yang benar, cara mengisi Kartu Menuju Sehat, cara melakukan deteksi dini
stunting, dan cara melakukan edukasi sederhana kepada ibu-ibu yang sulit diajak
bicara.
Mentari sore menciptakan bayangan panjang di belakang
mereka. Langit berwarna jingga kemerahan, dengan guratan-guratan awan tipis
yang tampak seperti kuas yang disapu di kanvas biru. Sawah yang mulai
menguning, tanda panen akan segera tiba, bergoyang pelan ditiup angin sore.
Burung-burung kecil beterbangan di atas padi, sesekali hinggap untuk memakan
bulir-bulir yang sudah masak. Di kejauhan, asap dapur mulai mengepul dari
rumah-rumah warga, tanda bahwa hari mulai beranjak senja.
Mereka berjalan dalam keheningan yang nyaman, bukan
keheningan yang canggung, tetapi keheningan yang lahir dari rasa nyaman berada
di dekat seseorang tanpa perlu banyak bicara. Langkah mereka seirama, lambat,
menikmati setiap detik dari sore yang akan segera berganti malam.
Erlangga: (memecah
keheningan dengan suara pelan, tidak ingin mengganggu kedamaian sore tetapi
juga tidak bisa menahan diri lebih lama) Tiga minggu lagi KKN selesai.
Tanggal dua puluh delapan, tepatnya. Panitia dari kampus sudah mengirim jadwal
penarikan. Akan ada upacara perpisahan di balai desa, lalu kami akan dijemput
mobil box yang sama yang dulu mengantar kami pertama kali.
Ia tersenyum kecil, mengenang hari pertama ia menginjakkan
kaki di desa ini.
Erlangga: Rasanya
baru kemarin saya turun dari mobil itu, dengan sepatu kanvas yang langsung
kotor oleh lumpur, dan melihat Mbak Anita berdiri di pojok ruangan dengan
tangan bersilang, wajah datar, tatapan skeptis. Saya ingat persis, saya
berpikir waktu itu, "Perempuan ini pasti tidak suka kedatangan kami."
Dan ternyata benar, Mbak Anita memang tidak suka. Hahaha.
Anita tersenyum kecil, tetapi senyumnya cepat pudar.
Matanya tetap menatap lurus ke depan, ke arah bukit yang mulai diselimuti kabut
biru.
Anita: (suaranya
pelan, nyaris berbisik) Iya. Cepat sekali. Tiga bulan terasa seperti
tiga minggu. Mungkin karena terlalu banyak kerja, waktu terasa berjalan lebih
cepat.
Erlangga: (berhenti
berjalan, membuat Anita juga berhenti) Anita.
Anita berhenti, tetapi tidak menoleh. Ia berdiri beberapa
langkah di depan Erlangga, punggungnya membelakangi pemuda itu. Angin sore
berembus, menggerakkan ujung-ujung rambutnya yang sebahu.
Erlangga: (melangkah
mendekat, berdiri tepat di belakang Anita, cukup dekat untuk merasakan
kehangatan tubuhnya, tetapi tidak cukup untuk menyentuh) Anita, ada
sesuatu yang ingin saya sampaikan. Sebenarnya sudah lama, dari malam di tangga
kantor desa, dari malam di rumah Mbak ketika saya sakit, dari sore di bawah
pohon beringin setelah rapat dengan Pak Edi. Tapi saya takut. Saya takut
mengganggu konsentrasi kerja kita. Saya takut Mbak Anita akan merasa terganggu,
atau merasa saya tidak serius, atau merasa ini hanya perasaan sementara karena
kita sering bersama.
Ia mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian
yang selama ini ia tahan.
Erlangga: Tapi
sekarang, tiga minggu lagi saya akan pergi. Dan saya tidak bisa pergi tanpa
Mbak Anita tahu. Saya tidak bisa membawa perasaan ini tanpa pernah
mengucapkannya.
Anita akhirnya menoleh. Wajahnya tersapu sinar jingga
mentari sore, membuatnya tampak berbeda, lebih lembut, lebih rapuh, lebih
nyata. Matanya yang biasanya tegas dan penuh kewaspadaan, sore itu basah oleh
air mata yang belum jatuh.
Anita: (suaranya
bergetar, tetapi ia berusaha tegar) Apa itu, Erlangga?
Erlangga menatap mata Anita, mata yang sudah ia kenali
sejak hari pertama, mata yang awalnya dingin dan skeptis, kemudian hangat dan
penuh kepercayaan, dan sekarang basah oleh sesuatu yang belum berani diucapkan.
Ia merasakan jantungnya berdebar sangat cepat, seperti saat ia pertama kali
melakukan operasi asisten di rumah sakit pendidikan. Tapi ini berbeda. Ini bukan
tentang nyawa pasien. Ini tentang hatinya sendiri.
Erlangga: (menghela
napas, lalu berkata dengan suara yang mantap, tidak tergesa) Sejak
hari pertama saya datang, ada satu hal yang membuat saya betah di desa ini.
Bukan hanya programnya, bukan hanya masyarakatnya yang ramah, bukan hanya
keindahan kabut biru di pagi hari. Tapi... kamu, Anita.
Anita terdiam. Kata-kata yang ia tunggu-tunggu, yang ia
takut-takuti, yang ia impikan di malam-malam ketika ia tidak bisa tidur karena
memikirkan kepergian Erlangga, akhirnya diucapkan. Tapi mendengarnya secara
langsung membuat dadanya sesak, membuat lututnya terasa lemas, membuat air mata
yang ditahan akhirnya jatuh.
Erlangga: (melanjutkan,
tidak berhenti karena ia sudah membuka hati dan tidak bisa menutupnya lagi) Saya
tahu ini terdengar klise. Calon dokter dari kota jatuh cinta pada kader desa.
Kedengarannya seperti sinetron murahan, atau novel picisan yang dibaca ibu-ibu
di warung kopi. Tapi ini bukan sekadar romansa, Anita. Ini bukan tentang saya
yang jatuh cinta pada gadis desa yang cantik dan baik hati.
Ia maju selangkah, kini benar-benar berdiri di depan Anita,
cukup dekat untuk melihat setiap tetes air mata yang jatuh di pipinya.
Erlangga: Aku
melihat bagaimana kamu berjuang. Aku melihat bagaimana kamu mencintai desa ini,
bukan dengan kata-kata manis atau janji-janji kosong, tapi dengan tindakan.
Kamu keliling desa setiap hari, hujan atau panas, tanpa pernah mengeluh. Kamu
membujuk ibu-ibu yang keras kepala dengan kesabaran yang tidak aku miliki. Kamu
menangis di kamar sendirian ketika ada warga yang meninggal karena penyakit
yang seharusnya bisa dicegah, tapi keesokan harinya kamu kembali tersenyum dan
bekerja lagi. Kamu menggunakan uang pribadimu untuk membeli obat ketika stok
habis, padahal insentifmu hanya sebesar uang jajan anak SMA.
Suaranya mulai bergetar. Erlangga yang selalu tenang, yang
selalu bisa mengontrol emosinya di depan pasien, di depan dosen, di depan siapa
pun, sore itu tidak bisa menahan getaran di suaranya.
Erlangga: Aku
melihat semua itu, Anita. Dan aku tidak bisa berpura-pura bahwa perasaanku
hanya kekaguman profesional atau rasa terima kasih karena kamu telah membantuku
memahami desa ini. Ini lebih dari itu. Aku mencintaimu, Anita. Bukan karena
kamu cantik, bukan karena kamu baik, bukan karena kamu perhatian. Tapi karena
kamu adalah kamu. Kamu adalah perempuan yang paling kuat, paling teguh, paling
berani yang pernah aku temui. Dan aku... aku ingin menjadi bagian dari
perjuanganmu. Bukan hanya selama KKN, tapi seterusnya.
Anita tidak bisa menahan tangisnya lagi. Air mata yang
selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun ia tahan, akhirnya
jatuh bebas. Ia tidak lagi menjadi Anita, kader desa yang tegas dan tidak
pernah goyah. Ia menjadi Anita, seorang perempuan yang selama ini berjuang
sendirian, yang tidak pernah mengeluh, yang tidak pernah meminta bantuan, yang
tidak pernah membiarkan siapa pun melihat kelemahannya. Dan kini, ada seseorang
yang melihatnya. Bukan melihat Anita kader desa, bukan melihat anaknya Si Amat,
bukan melihat lulusan keperawatan yang "hanya" menjadi kader. Tapi
melihat dirinya. Apa adanya.
Anita: (terisak,
suaranya putus-putus) Erlangga... kamu tahu bagaimana kondisiku. Aku
bukan siapa-siapa. Ayahku hanya admin desa, orang nomor sekian di pemerintahan
desa, dengan gaji yang pas-pasan. Aku hanya lulusan akademi keperawatan, bukan
sarjana, bukan dokter. Aku memilih menjadi kader, pekerjaan yang tidak punya
jenjang karir, yang insentifnya hanya cukup untuk membeli bensin dan pulsa.
Sementara kamu... kamu calon dokter dari universitas negeri terbaik. Anak
seorang dokter spesialis terkenal di ibu kota provinsi. Keluargamu terpandang,
masa depanmu cerah. Apa kata orang nanti? Apa kata keluargamu? Apakah ini hanya
perasaan karena kita sering bersama? Apakah ini hanya... (ia tidak mampu
melanjutkan, tangisnya semakin keras)
Erlangga tidak tahan lagi. Ia menggenggam kedua tangan
Anita, tangan yang kasar karena sering memegang semen saat gotong royong,
tangan yang hangat meskipun udara sore mulai dingin. Ia menggenggamnya erat,
tidak mau melepaskan, seolah melepaskannya berarti kehilangan selamanya.
Erlangga: (suaranya
tegas, penuh keyakinan) Aku tidak peduli apa kata orang, Anita. Aku
tidak peduli status, aku tidak peduli gelar, aku tidak peduli apa yang
dipikirkan orang tuaku atau siapa pun. Yang aku tahu, perasaanku nyata. Aku
tidak akan membiarkan status menghalangi kita. Aku tidak akan membiarkan
perbedaan latar belakang menjadi tembok yang memisahkan kita.
Ia memegang tangan Anita lebih erat, matanya menatap langsung
ke mata Anita yang basah.
Erlangga: Aku
ingin kamu tahu, Anita. Setelah KKN ini, aku akan kembali ke kota untuk
menyelesaikan kos dan ujian profesi. Mungkin butuh waktu satu tahun, mungkin
lebih. Tapi setelah itu... aku akan kembali ke sini.
Anita terkejut. Air matanya berhenti sejenak, digantikan
oleh keterkejutan yang membuatnya membuka mata lebar-lebar.
Anita: (suaranya tidak
percaya) Kembali ke sini? Maksudmu... ke desa ini? Bukan ke rumah
sakit besar di kota? Bukan ke praktik pribadi yang bisa menghasilkan uang
banyak?
Erlangga: (tersenyum,
senyum yang paling tulus yang pernah Anita lihat) Aku ingin menjadi
dokter desa, Anita. Di sini. Di Awan Biru. Aku sudah bicara dengan
pembimbingku, dengan dosen di bagian kesehatan masyarakat. Ada program penempatan
dokter muda di daerah terpencil setelah lulus. Aku bisa memilih Awan Biru
sebagai lokasi tugas. Tentu saja harus melewati proses, tidak mudah. Tapi aku
akan usahakan.
Ia melepaskan satu tangannya, mengusap air mata yang masih
membasahi pipi Anita dengan lembut, seperti ia mengusap kening Bintang ketika
demam, seperti ia mengusap tangan Anto ketika sakit gigi. Penuh kelembutan,
penuh perhatian, penuh cinta yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Erlangga: Dan
aku ingin melakukannya bersamamu, Anita. Aku ingin kita membangun desa ini
bersama. Bukan sebagai kader dan mahasiswa KKN yang akan pergi. Tapi sebagai...
(ia ragu sejenak, lalu menguatkan hati) sebagai pasangan. Sebagai tim. Sebagai
dua orang yang saling menguatkan, saling melengkapi. Aku tidak tahu bagaimana
bentuknya nanti. Tapi aku tahu, aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu
di dalamnya.
Anita tidak bisa menahan air matanya lagi. Tangisnya pecah,
bukan tangis sedih, bukan tangis haru biasa, tapi tangis lega. Tangis yang
keluar dari tempat paling dalam di hatinya, tempat yang selama ini ia kunci
rapat-rapat karena takut orang lain melihat kelemahannya. Tapi dengan Erlangga,
ia tidak perlu menyembunyikan apa pun.
Anita: (terisak,
suaranya nyaris tak terdengar) Erlangga... kamu yakin? Kamu tidak akan
menyesal? Kamu tidak akan suatu hari nanti bangun dan berpikir, "Kenapa
aku membuang masa depanku untuk desa terpencil ini? Kenapa aku memilih
perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?"
Erlangga: (menggeleng,
suaranya mantap) Tidak akan pernah. Aku tidak akan menyesal, Anita.
Aku sudah melihat sendiri bagaimana rasanya menjadi dokter di rumah sakit
besar, ruangan ber-AC, pasien yang datang dengan antrean panjang, administrasi
yang rumit, tekanan dari atasan. Itu semua baik, itu semua mulia. Tapi itu
bukan panggilanku. Panggilanku ada di sini, di desa seperti ini, bersama
orang-orang seperti kamu, seperti Pak Karyo, seperti Bintang. Di sinilah aku
merasa berguna. Di sinilah aku merasa menjadi dokter yang sesungguhnya.
Ia menatap Anita dengan mata yang berkaca-kaca, tetapi
penuh keyakinan.
Erlangga: Dan
aku tidak memilihmu karena kamu "perempuan biasa yang tidak punya
apa-apa". Aku memilihmu karena kamu adalah perempuan yang paling luar
biasa yang pernah aku temui. Kamu punya keberanian yang tidak aku miliki. Kamu
punya ketekunan yang membuatku iri. Kamu punya cinta pada desa ini yang lebih
besar dari apa pun. Dan aku... aku ingin belajar dari kamu. Aku ingin berjalan
di sampingmu. Aku ingin menjadi seseorang yang layak untukmu.
Anita menunduk, air matanya masih jatuh. Ia tidak tahu
harus berkata apa. Pikirannya berkecamuk antara kebahagiaan yang luar biasa dan
ketakutan yang masih membayang. Antara keinginan untuk langsung mengatakan
"ya" dan keraguan yang sudah tertanam sejak kecil.
Erlangga: (menyadari
kegalauan Anita, ia melepaskan tangannya perlahan) Aku tidak akan
memaksamu menjawab sekarang, Anita. Aku tahu ini berat. Aku tahu kamu butuh
waktu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa perasaanku tidak akan berubah, sejauh
apapun jarak nanti. Baik itu jarak antara Awan Biru dan kota, baik itu jarak
antara kita saat aku menyelesaikan koas, baik itu jarak apapun yang akan
datang. Aku akan menunggumu. Aku akan menunggu sampai kamu siap menjawab.
Mereka berdiri diam di tengah sawah, di bawah langit yang mulai
gelap. Mentari sudah sepenuhnya tenggelam di balik bukit, menyisakan sisa-sisa
cahaya jingga di ufuk barat. Kabut biru mulai merayap turun dari puncak bukit,
perlahan menyelimuti lembah. Di kejauhan, suara jangkrik mulai terdengar,
bergantian dengan suara kodok di sawah yang mulai bersiap untuk malam. Bintang
pertama muncul di langit timur, bersinar terang meskipun langit belum
sepenuhnya gelap.
Anita: (setelah hening
yang lama, suaranya kecil tetapi jelas) Nanti. Kita bicarakan nanti.
Sekarang, ayo kita pulang. Ayah sudah menunggu.
Erlangga: (tersenyum,
tidak memaksa) Baik, Komandan.
Mereka berjalan beriringan pulang. Tidak berpegangan
tangan, tidak terlalu dekat, tetapi langkah mereka seirama, seperti dua orang
yang sudah lama berjalan bersama, yang tahu kapan harus cepat dan kapan harus
melambat, yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Di atas mereka,
langit malam mulai dipenuhi bintang-bintang, berkelap-kelip menyaksikan janji
yang belum sepenuhnya diucapkan, cinta yang belum sepenuhnya diterima, dan masa
depan yang masih kabur namun mulai terlihat ujungnya.
Keesokan harinya, dunia Desa Awan Biru berubah. Bukan
perubahan besar seperti program sanitasi atau penurunan angka stunting. Tapi
perubahan yang lebih kecil, lebih halus, namun dampaknya terasa hingga ke
sudut-sudut desa yang paling terpencil: kabar tentang Erlangga dan Anita.
Di desa seperti Awan Biru, tidak ada yang benar-benar bisa
menjadi rahasia. Setiap langkah, setiap tatapan, setiap desahan, akan tercium
oleh tetangga, akan diamati oleh ibu-ibu yang duduk di beranda sambil mengupas
singkong, akan dibicarakan di warung kopi setiap sore. Maka ketika dua orang
muda yang selama dua bulan terakhir selalu bersama, yang selalu bekerja
bahu-membahu, yang matanya selalu mencari satu sama lain, akhirnya berjalan
beriringan di pematang sawah saat senja, tidak mungkin itu luput dari
perhatian.
Apalagi ada Guntur. Guntur yang kebetulan sedang memancing
di sungai dekat sawah itu, Guntur yang mulutnya tidak bisa menyimpan rahasia
lebih dari satu jam, Guntur yang langsung berlari ke warung Pak Karyo dengan
mata berbinar-binar seperti menemukan harta karun. "Mas Erlangga dan Mbak
Anita! Di sawah! Pegang-pegangan tangan!" teriaknya, meskipun tidak ada
yang bertanya.
Maka sore itu, warung Pak Karyo, yang sudah menjadi pusat
informasi desa sejak pertama kali berdiri, lebih ramai dari biasanya. Pak Karyo
sendiri yang sedang menuangkan kopi untuk para pelanggan, tersenyum misterius
seperti orang yang sudah tahu lebih dulu. Bintang duduk di pangkuannya,
sesekali menyuap keripik telur ke mulut kakeknya dengan canggung tapi penuh
semangat.
Pak Karyo: (sambil
mengaduk kopi dengan gerakan lambat, senyumnya melebar ke telinga) Jadi
kabarnya, Mas Erlangga dan Mbak Anita sudah jadian, ya? Saya dengar dari Guntur.
Katanya semalam mereka berdua di pematang sawah, pegang-pegangan tangan, bicara
lama sekali. Sampai lupa waktu, katanya. Asyik banget sampai tidak lihat Guntur
yang sedang memancing di dekat situ.
Bu Yuni yang sedang duduk di bangku kayu di samping Pak Eko,
langsung berdecak kagum. Wajahnya berseri-seri seperti baru menonton film
romantis di televisi.
Bu Yuni: (antusias,
suaranya meninggi) Astaga, benar? Siapa yang bilang? Guntur? Guntur
itu kalau lihat sesuatu, sering dilebih-lebihkan. Tapi kalau soal pegang-pegangan
tangan... (ia menoleh ke Guntur yang sedang duduk di pojok dengan senyum
bangga) Guntur, kamu yakin lihatnya? Jangan-jangan cuma bayang-bayang karena
sinar matahari silau?
Guntur: (berdiri dengan
penuh percaya diri, seperti saksi di pengadilan) Bu Yuni, mata saya
20/20. Saya lulus tes kesehatan untuk masuk universitas dengan nilai sempurna.
Saya lihat sendiri Mas Erlangga pegang tangan Mbak Anita. Pegang dua-duanya.
Lama. Dan Mbak Anita nangis. Tapi nangis bahagia, kayak di sinetron. Saya sampai
lupa ikan saya lepas dari kail karena terlalu asyik ngintip.
Pak Eko: (tertawa,
kipasnya bergerak cepat karena kepanasan meskipun sore sudah mulai dingin) Guntur
ini kalau ngintip memang jago. Masa memancing jadi ngintip. Ikan dapat berapa,
Guntur?
Guntur: (merengut) Nol,
Pak. Tapi saya dapat berita. Berita lebih berharga dari ikan.
Semua tertawa. Bu Lulu yang sedang menghitung stok barang
di buku kasnya, tiba-tiba mengangkat kepala dengan ekspresi serius, begitu
seriusnya sehingga semua orang yang tertawa langsung berhenti karena takut ada
yang salah dengan anggaran desa.
Bu Lulu: (suaranya
serius, seperti sedang membahas kebijakan nasional) Yang penting
jangan sampai kejadian ini mengganggu anggaran desa, ya. Saya harus tahu dari
sekarang. Kalau mereka mau nikah, ajukan proposal ke saya. Minimal tiga bulan
sebelumnya. Jangan sampai dadakan, nanti saya kewalahan menganggarkan. Anggaran
desa sudah disusun rapi, kalau ada acara dadakan, saya harus revisi APBDes. Itu
repot.
Pak Eko: (tertawa
lebih keras) Eh, Bu Lulu, jangan keburu nikah dulu. Mas Erlangga masih
KKN. Lagi masa tugas. Nanti malah jadi KKN yang... kurang kerjaan. Hahaha.
Bu Lulu: (tidak
terpengaruh oleh tawa Pak Eko, wajahnya tetap serius) Bukan masalah
KKN atau tidak. Ini masalah perencanaan. Saya sebagai Kaur Keuangan harus
memastikan setiap pengeluaran desa terencana dengan baik. Kalau mereka serius,
saya harus tahu dari jauh-jauh hari. Saya sudah punya pengalaman dengan acara
dadakan tahun lalu, waktu Pak Kades punya hajatan. Anggarannya kacau balau.
Saya sampai begadang seminggu membereskan laporan. Tidak mau lagi.
Pak Eko: (masih
tertawa, tetapi mulai mengalah) Iya, Bu Lulu. Nanti saya ingatkan Mas Erlangga
dan Mbak Anita untuk mengajukan proposal ke Ibu minimal setahun sebelum
menikah. Biar Bu Lulu punya waktu menyusun anggaran.
Bu Lulu: (mengangguk
puas) Setahun? Cukup. Tapi kalau bisa dua tahun, lebih baik. Anggaran desa itu
perencanaannya panjang.
Semua tertawa. Pak Karyo sampai menumpahkan kopi di meja
karena terlalu keras tertawa. Bintang yang melihat kakeknya tertawa, ikut
tertawa meskipun tidak mengerti apa yang lucu. Ia bertepuk tangan kecil, lalu
berkata dengan suara lantang yang membuat semua orang semakin tertawa.
Bintang: "Kakek,
Bintang mau jadi dokter! Abang Erlangga dokter, Mbak Anita perawat. Bintang mau
dokter!"
Pak Karyo: (menggendong
Bintang, mencium keningnya) Iya, Bintang. Nanti Bintang jadi dokter. Dokter
yang hebat. Seperti Abang Erlangga.
Bu Endang: (yang
baru datang dengan membawa jajanan pasar, ikut nimbrung) Waduh, jadi benar
dugaanku. Dulu pas pertama datang, waktu Mas Erlangga baru kenalan sama Anita
di balai desa, aku sudah bilang kalau Anita yang galak itu pasti lumer. Lihat
sekarang. Dari galak jadi... apa? Lebih lembut? Lebih sering senyum? Pokoknya
beda.
Bu Yuni: (menimpali)
Iya, Bu Endang. Anita sekarang kalau bicara sama Mas Erlangga, beda. Dulu tegas
banget, kayak komandan. Sekarang masih tegas, tapi ada... apa ya... kelembutan.
Kayak air mengalir.
Pak Karyo: (mengangguk-angguk)
Saya lihat juga. Mas Erlangga orang baik. Dia sabar, dia tulus, dia nggak
gengsi. Saya yang dulu paling keras kepala aja bisa luluh. Apalagi Anita yang
dari awal memang baik. Cocok, saya bilang.
Santoso yang sejak tadi duduk di kursi kehormatan di sudut
warung, hanya mendengarkan dengan senyum bijak. Ia sudah lama mengamati, sudah
lama membaca tanda-tanda yang mungkin luput dari perhatian orang lain. Sebagai
tokoh masyarakat yang sudah puluhan tahun menjadi penengah dalam berbagai
urusan desa, ia tahu bahwa cinta—seperti program pembangunan—tidak bisa
dipaksakan. Ia harus tumbuh dengan sendirinya, pada waktunya, ketika tanahnya
subur dan airnya cukup.
Santoso: (dengan
suara tenang, memotong keramaian dengan wibawanya) Saya malah senang
kalau itu benar. Keduanya orang baik. Anita anak yang bertanggung jawab,
pekerja keras, tidak pernah mengeluh. Saya lihat dia berjuang sendiri selama
ini. Dan Mas Erlangga... (ia menghela napas) Mas Erlangga adalah tipe pemuda
yang langka. Pintar, tapi rendah hati. Berasal dari keluarga terpandang, tapi
tidak sombong. Dia tidak datang dengan program yang dipaksakan. Dia datang
untuk belajar, untuk membantu. Dan kalau nanti dia benar-benar menjadi dokter
di sini, itu berkah untuk desa kita. Bukan hanya untuk Anita.
Si Amat yang hadir di warung itu, sesuatu yang jarang
terjadi karena ia lebih sering menghabiskan waktu di kantor desa dengan
laptopnya, duduk di pojok dengan senyum lebar yang tidak bisa ia sembunyikan.
Selama ini ia diam, tidak ikut nimbrung dalam percakapan yang ramai. Tapi
senyumnya berbicara lebih keras dari kata-kata apa pun. Sebagai ayah yang
selama dua tahun melihat putrinya berjuang sendirian, melihatnya pulang larut
malam dengan wajah lelah, mendengarnya menangis di kamar ketika ada program
yang gagal atau warga yang meninggal, melihatnya tetap tegar meskipun beban
berat di pundaknya, sebagai ayah, ia tahu bahwa Anita pantas bahagia. Ia pantas
mendapatkan seseorang yang melihat perjuangannya, yang menghargai
pengorbanannya, yang mau berjalan di sampingnya.
Bu Yuni: (menoleh
ke Si Amat) Pak Amat, kok diam saja? Putri Bapak habis digosipkan sama semua
orang, Bapak diam saja?
Si Amat: (tersenyum
lebar, tetapi mencoba tenang) Saya sebagai orang tua, saya serahkan
pada anak saya. Dia sudah dewasa. Dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Yang
penting dia bahagia. Dan kalau Mas Erlangga yang membuatnya bahagia... (ia
mengangkat bahu, tersenyum) siapa saya untuk melarang?
Pak Karyo: (menepuk
pundak Si Amat) Nah, ini baru ayah yang baik. Tapi Amat, kalau nanti jadi,
jangan lupa undang saya. Saya sumbang telur satu kardus untuk acaranya. Telur
ayam kampung, yang terbaik.
Si Amat: (tertawa)
Nanti, Pak Karyo. Belum tentu jadi. Anak saya itu keras kepala. Sama seperti
ibunya. Kalau dia sudah punya pendirian, susah digoyah.
Pak Karyo: (menggeleng-gelengkan
kepala) Ah, Amat. Anak keras kepala itu justru paling setia kalau sudah
menemukan yang cocok. Saya tahu. Istri saya dulu juga keras kepala. Tapi lihat,
sampai sekarang masih setia sama saya. Meskipun saya cuma punya warung kecil.
Semua tertawa. Bintang ikut tertawa, meskipun ia tidak
mengerti apa yang lucu. Ia sibuk memainkan sendal jepit bekas di tangannya,
sesekali menatap ke arah sungai di belakang warung, berharap melihat Abang
Erlangga lewat.
Sementara itu, di posko KKN, suasana tidak kalah ramainya.
Erlangga baru saja kembali dari kunjungan ke rumah Pak Sugeng untuk memeriksa
jamban yang sudah selesai dibangun, ketika ia disambut oleh Yulia, Naila,
Camelia, Amat Junior, dan Hermansyah yang sudah berkumpul di halaman posko dengan
senyum-senyum misterius.
Yulia: (usil, matanya
berbinar-binar seperti kucing yang menemukan mangsa) Mas Erlangga,
kenapa Mas senyum-senyum sendiri dari tadi? Ada yang Mas pikirkan?
Jangan-jangan ada yang manis di sawah kemarin sore?
Erlangga tersenyum malu. Ia tidak menyangka kabar akan
secepat ini menyebar. Guntur pasti sudah membocorkan semuanya.
Erlangga: (mencoba
tenang, tetapi wajahnya sudah memerah) Tidak ada, Yu. Saya hanya
memikirkan program jamban untuk pekan depan. Target kita masih dua puluh rumah.
Naila: (tidak percaya)
Ah, Mas Erlangga bohong. Mbak Anita juga dari tadi tersenyum-senyum sendiri.
Biasanya kalau habis kerja, dia langsung pulang. Tapi sekarang dia masih di
kantor desa, katanya mau merapikan laporan. Padahal laporan sudah rapi.
Camelia: (sok
dewasa, suaranya nyaring) Mas Erlangga, tolong jangan buat Mbak Anita kecewa,
ya. Dia itu panutan kami. Sejak dulu, dia yang paling sabar, paling gigih,
paling nggak pernah mengeluh. Dia sudah berjuang sendirian selama dua tahun.
Sekarang Mas datang, Mas jangan cuma datang dan pergi.
Erlangga: (menatap
Camelia dengan serius) Aku tidak akan pergi begitu saja, Cam. Aku tidak akan
mengecewakannya.
Amat Junior: (tertawa,
menepuk pundak Erlangga) Santai, Mas. Camelia itu memang kalau bicara suaranya
keras, tapi hatinya lembut. Dia cuma takut sepupunya disakiti. Saya sebagai
sepupu juga sama. Tapi saya lihat Mas Erlangga orang baik. Saya dukung.
Guntur: (yang tiba-tiba
muncul dari belakang dengan senyum bangga) Mas Erlangga, saya jadi saksi, ya.
Kemarin saya lihat langsung. Saya dari tadi ingin bilang, jangan khawatir, saya
tidak akan membocorkan rahasia Mas.
Yulia: (menyikut Guntur)
Eh, Guntur. Kamu sudah membocorkan semuanya sejak jam tujuh pagi. Mulai dari
warung Pak Karyo, sampai ke balai desa, sampai ke rumah Pak Sugeng. Semua orang
sudah tahu.
Guntur: (merengut, tidak
terima) Saya hanya cerita ke Pak Karyo. Itu hanya satu orang. Tersebarnya bukan
salah saya. Pak Karyo kan yang cerita ke semua orang.
Yulia: (tertawa) Ya
sudah, Mas Guntur, jangan cari kambing hitam. Yang penting sekarang semua orang
sudah tahu. Dan semua orang dukung.
Hermansyah yang sedari tiam diam di pojok, akhirnya angkat
bicara dengan suara tenangnya. Ia adalah anggota Karang Taruna yang paling
pendiam, tetapi ketika berbicara, kata-katanya selalu berbobot.
Hermansyah: (diam-diam
menepuk pundak Erlangga) Semoga berhasil, Mas. Mbak Anita itu
perempuan yang kuat. Tapi dia juga butuh orang yang bisa mengimbangi. Bukan
mengimbangi dalam arti melawan, tapi mengimbangi dalam arti memahami. Dan saya
lihat Mas Erlangga punya itu.
Erlangga: (mengangguk,
suaranya mantap) Terima kasih, Mas Herman. Aku tidak akan
mengecewakannya. Aku janji.
Naila: (bertepuk tangan
kecil) Aduh, romantis banget! Mas Erlangga, nanti kalau jadi, jangan lupa kasih
tahu kami, ya. Kami mau jadi panitia. Camelia bisa jadi penata rias, Guntur
bisa jadi pemusik, Yulia bisa jadi MC, Amat Junior bisa jadi dokumentator, saya
bisa jadi koordinator konsumsi.
Guntur: (bersemangat) Saya
bisa main gitar! Saya sudah punya lagu andalan: "Desa Awan Biru"
ciptaan saya sendiri. Nanti saya mainkan di acara.
Yulia: (tertawa) Lagu
apa, Guntur? Lagu tentang ikan lepas dari kail?
Guntur: (merengut) Eh,
lagu saya bagus! Nanti kalian dengar.
Camelia: (sok
serius) Yang penting, Mas Erlangga. Kami Karang Taruna siap demo kalau Mas
ingkar janji.
Erlangga: (tertawa)
Demo apa, Cam? Demo pakai sapu?
Camelia: (mengangkat
dagu) Demo pakai sapu juga bisa. Yang penting kami bela Mbak Anita.
Semua tertawa. Suasana di posko sore itu hangat, penuh dengan
canda dan harapan. Di balai desa, Anita yang sedang merapikan laporan,
tersenyum sendiri ketika mendengar suara tawa dari posko. Ia tidak tahu apa
yang mereka bicarakan, tetapi ia bisa menebaknya.
Di kejauhan, matahari mulai condong ke barat. Langit
berwarna jingga keemasan, dengan guratan-guratan awan tipis yang tampak seperti
kuas yang disapu di kanvas biru. Kabut biru mulai merayap turun dari puncak
bukit, perlahan menyelimuti lembah dengan kelembapan yang menusuk.
Burung-burung mulai pulang ke sarang, suara mereka yang riuh bergantian dengan
suara jangkrik yang mulai bersiap untuk malam.
Di warung Pak Karyo, keramaian mulai mereda. Satu per satu
warga pulang ke rumah masing-masing, membawa kabar yang akan mereka ceritakan
pada keluarga. Bu Yuni dan Pak Eko berjalan beriringan pulang, masih tertawa
kecil mengenang ekspresi Bu Lulu yang serius membahas anggaran pernikahan. Pak
Karyo menutup warungnya lebih awal, menggendong Bintang yang sudah mengantuk,
berjalan perlahan menuju rumah dengan senyum puas. Santoso berjalan sendiri
dengan tongkatnya, matanya menatap langit senja, bersyukur bahwa desa yang ia
cintai perlahan tapi pasti berubah ke arah yang lebih baik.
Di posko KKN, Erlangga duduk di teras, menikmati angin sore
yang mulai dingin. Ia memandang ke arah balai desa, di mana cahaya lampu minyak
mulai menyala, tanda bahwa Anita masih di sana, merapikan laporan, melakukan
apa yang selalu ia lakukan: bekerja, tanpa lelah, tanpa pamrih. Erlangga
tersenyum. Dalam dua bulan terakhir, ia belajar banyak hal. Ia belajar tentang
stunting, tentang sanitasi, tentang pemberdayaan masyarakat. Tapi yang paling
penting, ia belajar tentang cinta. Cinta yang tidak perlu diucapkan dengan
kata-kata besar, yang tidak perlu dibuktikan dengan hadiah mahal, yang tidak perlu
dirayakan dengan pesta mewah. Cinta yang sederhana: hadir, bertahan, dan
berjuang bersama.
Di kantor desa, Anita menyelesaikan laporan terakhirnya. Ia
menutup buku catatan, merapikan pulpen, dan berdiri untuk mematikan lampu.
Sebelum keluar, ia melirik ke arah papan pengumuman, di mana foto-foto gotong
royong terpajang rapi. Ia melihat foto dirinya dan Erlangga sedang memasang
pipa bersama, wajah mereka belepotan lumpur tetapi tersenyum lebar. Ia
tersenyum. Di dalam hatinya, ia sudah tahu jawabannya. Ia sudah tahu sejak
lama, sejak pertama kali ia melihat Erlangga membersihkan busi motor tuanya
dengan kain lap dari saku celana. Tapi ia butuh waktu. Bukan karena ragu,
tetapi karena ia ingin memastikan bahwa perasaan ini bukan sekadar kedekatan,
bukan sekadar kelelahan, bukan sekadar kebutuhan akan seseorang di saat ia
lemah.
Ia sudah yakin. Tapi jawaban itu akan ia berikan pada
waktunya. Malam ini, ia akan tidur dengan senyum di bibir, dengan keyakinan di
hati, dan dengan nama seseorang yang akan terus ia doakan, sejauh apapun jarak
yang akan memisahkan mereka nanti.
BAB 8: Kejutan di Akhir
Masa KKN
Hari-hari terakhir KKN tiba dengan kecepatan yang tak
terduga. Seperti kabut pagi yang mencair ketika matahari meninggi, waktu yang
terasa lambat di awal kini melaju deras, meninggalkan jejak yang dalam di
setiap hati. Erlangga dan tim KKN bersiap untuk acara perpisahan yang akan
digelar di lapangan desa, dengan persiapan yang sudah dimulai sejak sepekan
lalu. Yulia dan Guntur sibuk mendekorasi panggung dari bambu yang dihias dengan
janur dan kertas warna-warni. Naila dan Camelia menyiapkan konsumsi untuk
seluruh warga—nasi tumpeng yang akan dipotong bersama, lauk-pauk yang dimasak
bergiliran di dapur balai desa, dan kue-kue tradisional yang dibuat oleh
ibu-ibu PKK. Hermansyah menyiapkan dokumentasi, memastikan setiap momen penting
akan terabadikan dengan kamera pinjaman dari kampus. Amat Junior mengatur sound
system sederhana, dua speaker aktif dan mikroport yang dipinjam dari kecamatan.
Pak Iwan sudah menginstruksikan seluruh perangkat desa
untuk hadir dalam acara perpisahan. Ini bukan sekadar acara seremonial, katanya
dalam rapat terakhir. Ini adalah bentuk penghormatan desa kepada anak-anak muda
yang telah mengabdikan diri selama tiga bulan. Semua warga diundang. Pak Karyo
berjanji akan membawa telur dadar untuk seluruh warga, sebuah simbol yang
membuat semua orang tersenyum karena mengingat bagaimana telur menjadi awal
dari perubahan besar di desa ini. Anto menawarkan diri untuk menjadi sopir
antar-jemput bagi warga yang rumahnya jauh, menggunakan truknya yang sudah
dibersihkan dan dihias dengan janur seadanya. Bahkan Pak Edi, yang dulu paling
skeptis, kini menjadi koordinator lapangan yang paling sibuk, memastikan semua
persiapan berjalan lancar.
Namun, di tengah kesibukan persiapan acara perpisahan, ada
sesuatu yang berbeda dari Anita. Erlangga mulai menyadarinya sejak dua hari
lalu. Anita yang biasanya tegas dan terus terang, tiba-tiba menjadi lebih
pendiam, lebih sering melamun, lebih sering tersenyum sendiri tanpa alasan yang
jelas. Ia juga lebih sering menghindari tatapan Erlangga, bukan dengan cara
yang dingin atau menjauh, tetapi dengan cara yang malu-malu, seperti seorang
gadis yang menyimpan rahasia besar. Erlangga bertanya-tanya, apakah Anita masih
galau dengan jawabannya? Ataukah ada sesuatu yang lain yang sedang ia pikirkan?
Pagi itu, sehari sebelum acara perpisahan, Erlangga baru
saja selesai membantu Guntur membawa sound system dari kecamatan. Ia duduk di
teras posko, melepas lelah, ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Anita
masuk, singkat tetapi membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Pesan Anita: "Erlang,
sore ini jam 4, di teras kantor desa. Aku mau ketemu. Ada yang harus aku
sampaikan."
Erlangga membaca pesan itu berulang kali. Di teras kantor
desa. Tempat pertama mereka bertemu. Tempat Anita berdiri di pojok ruangan
dengan tangan bersilang, raut datar, tatapan skeptis. Tempat ia pertama kali
melihat senyum Anita ketika ia membersihkan busi motor tua yang basah. Tempat
ia pertama kali merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dari perempuan ini.
Sekarang, Anita memintanya kembali ke tempat itu. Jantung Erlangga berdebar
tidak karuan. Ia tidak tahu apa yang akan disampaikan Anita, apakah itu jawaban
yang ia tunggu-tunggu, atau justru sebaliknya.
Sejak pengakuan di pematang sawah dua minggu lalu, Anita
belum pernah memberikan jawaban. Mereka tetap bekerja bersama seperti biasa, keliling
desa, memeriksa jamban, melakukan edukasi, melatih kader. Mereka tertawa
bersama ketika Guntur bercanda, dan mereka serius bersama ketika membahas
masalah. Tapi setiap kali Erlangga mencoba membuka topik tentang perasaan
mereka, Anita selalu mengalihkan pembicaraan. "Nanti," katanya.
"Belum saatnya." Erlangga tidak memaksa. Ia sudah berjanji akan
menunggu, dan ia akan menepati janjinya. Tapi menunggu tidak pernah mudah,
terutama ketika waktu terus berjalan dan hari perpisahan semakin dekat.
Erlangga menghabiskan sisa siang itu dengan perasaan yang
campur aduk. Ia mencoba membantu Yulia menyusun kursi di lapangan desa, tetapi
pikirannya melayang ke tempat lain. Ia ikut Naila menata meja konsumsi, tetapi
tangannya bergerak tanpa kesadaran. Guntur yang melihat kegelisahannya,
mendekati dengan senyum usil.
Guntur: (berbisik,
suaranya penuh arti) Mas Erlangga, kenapa Mas gelisah? Jangan-jangan
ada janji ketemu sama Mbak Anita sore ini? Di tempat pertama kali Mas datang?
Erlangga terkejut. Matanya membulat.
Erlangga: (berbisik
balik, suaranya panik) Guntur, dari mana kamu tahu?
Guntur: (tersenyum
bangga, seperti detektif yang memecahkan kasus sulit) Mas, saya ini
mata-mata desa. Informasi mengalir ke saya seperti air sungai ke hilir. Mbak
Anita minta Naila bawain surat buat Mas. Naila cerita ke Yulia. Yulia cerita ke
saya. Tapi tenang, Mas. Rahasia aman bersama saya.
Erlangga: (menghela
napas, setengah lega setengah cemas) Guntur, kamu janji tidak akan
bilang siapa pun?
Guntur: (mengangkat
tangan, bersumpah palsu) Sumpah pocong, Mas. Tapi... (ia tersenyum
lebar) saya tidak janji tidak akan senyum-senyum sendiri kalau lihat Mas nanti
sore.
Erlangga hanya bisa menggeleng, setengah kesal setengah
geli. Ia melanjutkan pekerjaannya, tetapi pikirannya tetap tidak bisa tenang.
Apa yang akan disampaikan Anita? Apakah ia akan menolak? Apakah ia akan meminta
Erlangga untuk melupakan perasaannya? Atau... apakah ini adalah jawaban yang
selama ini ia tunggu-tunggu?
Sore itu, langit Awan Biru berada dalam kondisi yang paling
indah. Kabut biru yang menjadi nama desa ini tidak terlalu tebal, tetapi cukup
untuk menciptakan nuansa magis di sekitar lembah. Mentari sore menyinari
bukit-bukit dengan cahaya keemasan, membuat padi di sawah yang sudah menguning
tampak seperti lautan emas yang bergoyang pelan ditiup angin. Burung-burung
terbang rendah di atas persawahan, sesekali hinggap untuk memakan bulir-bulir
padi yang sudah matang. Suara mereka yang riuh bergantian dengan suara jangkrik
yang mulai bersiap untuk malam.
Erlangga tiba di balai desa tepat pukul empat sore. Ia
memilih pakaian terbaik yang ia miliki—kemeja batik yang dibelinya di pasar
kecamatan minggu lalu, celana bahan berwarna krem, dan sepatu kanvas yang sudah
ia bersihkan dari lumpur. Tidak mewah, tetapi rapi. Ia ingin tampil terbaik
untuk momen ini, apa pun hasilnya.
Balai desa tampak sepi. Sebagian besar perangkat desa
sedang sibuk di lapangan untuk persiapan acara perpisahan besok. Hanya lampu
minyak di teras yang menyala temaram, menciptakan bayangan yang bergoyang-goyang
di dinding. Erlangga duduk di tangga beton, tempat yang sama yang pernah ia
duduki bersama Anita beberapa minggu lalu, ketika ia meminjamkan jaket
almamaternya karena Anita menggigil kedinginan. Ia tersenyum mengingat momen
itu. Betapa jauh perjalanan mereka sejak malam itu.
Tidak lama kemudian, ia mendengar langkah kaki dari dalam
kantor desa. Anita keluar dari pintu utama, melangkah perlahan menuju tangga
tempat Erlangga duduk. Ia juga mengenakan pakaian terbaiknya, kebaya sederhana
berwarna biru muda yang jarang ia kenakan, rok batik yang dipadukan dengan
sabuk sederhana, dan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai. Tanpa jaket lusuh
abu-abu yang selalu ia kenakan, tanpa sepatu boots yang kotor lumpur, Anita
tampak berbeda. Lebih lembut, lebih cantik, lebih... nyata. Erlangga hampir
tidak bisa bernapas melihatnya.
Di tangannya, Anita menggenggam erat sebuah amplop cokelat,
amplop yang sudah agak kusut karena sering dibuka dan ditutup, seolah isinya
telah dibaca berulang kali. Amplop itu tidak terlalu tebal, tetapi terasa berat
di genggamannya, seperti benda yang sangat berharga.
Anita duduk di samping Erlangga, tidak terlalu dekat tetapi
tidak terlalu jauh. Jarak yang cukup untuk membuat mereka nyaman, tetapi cukup
dekat untuk merasakan kehangatan satu sama lain. Mereka terdiam beberapa saat,
menikmati keheningan sore yang hanya diisi oleh suara angin dan burung-burung
yang pulang ke sarang.
Anita: (suaranya
pelan, sedikit bergetar) Erlang, ini untukmu.
Ia menyerahkan amplop itu pada Erlangga dengan kedua
tangan, seperti mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga. Tangannya sedikit
gemetar, membuat amplop itu bergoyang-goyang di udara.
Erlangga menerima amplop itu dengan hati-hati, seperti
menerima benda yang sangat rapuh. Ia membuka amplop perlahan, tidak ingin
merobek kertas yang mungkin berisi kata-kata yang sangat berarti. Di dalam
amplop itu, ia menemukan dua benda: selembar kertas bergaris yang dilipat rapi,
dan sebuah foto yang sudah dilaminating.
Foto itu adalah gambar mereka berdua saat gotong royong
pembuatan jamban Pak Karyo. Wajah mereka belepotan lumpur, baju mereka kotor
oleh semen, tetapi senyum mereka lebar dan mata mereka berbinar. Erlangga ingat
persis foto itu diambil oleh Hermansyah, pada hari ketika Bintang datang
membagikan keripik telur dan berkata ingin menjadi dokter. Ia tidak tahu bahwa
Anita menyimpan foto itu, apalagi melaminatingnya dengan hati-hati.
Erlangga: (suaranya
tercekat) Anita... foto ini... kamu simpan?
Anita: (menunduk malu) Hermansyah
kasih ke aku minggu lalu. Katanya ini foto terbaik yang pernah dia ambil selama
KKN. Aku... laminating sendiri di kecamatan. (ia tersenyum kecil) Aku mau
simpan, apa pun jawabanku nanti.
Erlangga meletakkan foto itu di pangkuannya dengan
hati-hati, lalu membuka lipatan kertas bergaris. Tulisan di dalamnya rapi, tulisan
Anita yang sudah ia kenali dari laporan-laporan posyandu yang selalu ia baca.
Tapi kali ini, tulisan itu bukan tentang data balita atau catatan ibu hamil.
Ini tentang hati seorang perempuan yang selama ini menyembunyikan perasaannya
di balik ketegasan dan kerja keras.
Erlangga membaca surat itu dengan saksama, membiarkan
setiap kata meresap ke dalam hatinya.
Untuk Erlang,
Maaf aku butuh waktu lama untuk menulis surat ini. Bukan karena
aku ragu dengan perasaanku, aku sudah tahu sejak lama, mungkin sejak pertama
kali kamu membersihkan busi motor tuaku dengan kain lap dari saku celanamu.
Tapi karena aku takut. Takut bahwa perasaan ini hanya karena kita sering
bersama. Takut bahwa ketika kamu kembali ke kota, kamu akan melupakan desa ini
dan melupakan aku. Takut bahwa aku tidak pantas untuk seseorang sepertimu.
Aku bukan siapa-siapa, Erlang. Aku hanya lulusan akademi
keperawatan yang memilih menjadi kader desa. Penghasilanku tidak seberapa,
rumahku sederhana, dan satu-satunya warisan dari ibuku adalah tekad untuk
membangun desa ini. Sementara kamu... kamu adalah calon dokter dari universitas
terbaik, anak seorang spesialis terkenal, seseorang yang masa depannya cerah.
Aku takut suatu hari nanti kamu bangun dan berpikir, "Kenapa aku membuang
waktuku untuk desa terpencil ini? Kenapa aku memilih perempuan biasa yang tidak
punya apa-apa?"
Tapi kemudian aku ingat kata-katamu di pematang sawah. Kamu
bilang, panggilanmu ada di desa seperti ini, bersama orang-orang seperti aku,
seperti Pak Karyo, seperti Bintang. Kamu bilang, kamu tidak memilihku karena
aku "perempuan biasa yang tidak punya apa-apa", tapi karena aku
adalah aku. Dan aku percaya padamu, Erlang. Aku percaya karena aku melihat
sendiri bagaimana kamu memperlakukan warga, bagaimana kamu sabar dengan Pak
Karyo yang keras kepala, bagaimana kamu lembut dengan Bintang, bagaimana kamu
ikut menggali lumpur tanpa gengsi.
Kamu mengajarkanku bahwa cinta tidak harus sempurna. Cinta
adalah tentang dua orang yang memilih untuk berjuang bersama, meskipun jalan di
depan tidak selalu mudah. Dan aku, Erlang, aku memilih untuk berjuang
bersamamu.
Jadi, ini jawabanku. Aku menerima perasaanmu. Tapi dengan
satu syarat.
Kamu harus benar-benar kembali ke sini. Bukan hanya karena
aku, tapi karena desa ini membutuhkan dokter. Dan aku akan menunggumu. Seberapa
lamapun itu. Karena aku sudah terbiasa menunggu, menunggu desa ini berubah,
menunggu warga sadar akan kesehatan, menunggu mimpi-mimpiku menjadi kenyataan.
Dan sekarang, aku punya alasan lain untuk menunggu.
Kembalilah, Erlang. Bawalah ilmu yang kamu dapat, dan
jadilah dokter yang membanggakan desa ini. Aku akan ada di sini, menunggumu,
seperti aku menunggu kabut pagi mencair dan matahari terbit di ufuk timur.
Dengan segala cinta yang selama ini kupendam,
Anita.
Erlangga membaca surat itu hingga akhir, lalu membacanya
sekali lagi, dan sekali lagi. Air matanya jatuh, pertama kali ia menangis di
depan Anita. Ia tidak pernah menangis di depan pasien, tidak pernah menangis di
depan dosen, tidak pernah menangis di depan siapa pun. Tapi surat ini, dengan
segala kejujuran dan kerapuhannya, meruntuhkan semua tembok yang ia bangun.
Erlangga: (suaranya
serak, matanya basah) Anita... ini... (ia tidak mampu melanjutkan,
tangisnya pecah)
Anita yang melihat Erlangga menangis, ikut menangis. Air
mata yang selama ini ia tumpahkan di kamar sendirian, di malam-malam ketika ia
memikirkan kepergian Erlangga, kini jatuh bebas. Tidak ada yang perlu
disembunyikan lagi. Tidak ada tembok yang perlu dipertahankan. Hanya dua
manusia yang saling mencintai, yang akhirnya berani mengakui perasaan mereka di
hadapan satu sama lain.
Anita: (suaranya
bergetar, tangisnya tertahan) Maaf aku butuh waktu lama untuk
memikirkannya. Aku takut. Aku sangat takut, Erlang. Takut kalau nanti kamu
berubah pikiran. Takut kalau aku tidak cukup baik untukmu. Takut kalau ini
semua hanya mimpi yang akan sirna ketika kamu pergi besok. Tapi...
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, berusaha
tegar.
Anita: Tapi aku lebih
takut kalau aku tidak pernah mencoba. Aku lebih takut kehilangan kesempatan
untuk bersama seseorang yang melihat aku apa adanya. Aku lebih takut menyesal
seumur hidup karena tidak pernah menjawab perasaanmu. Jadi... (ia menarik napas
dalam-dalam, menguatkan hati) ya, aku menerima perasaanmu, Erlang. Aku
mencintaimu. Mungkin sejak lama, aku tidak menyadarinya. Tapi sekarang aku
tahu.
Erlangga tidak bisa menahan diri lagi. Ia meraih tangan
Anita—tangan yang kasar karena sering memegang semen dan buku laporan, tangan
yang hangat meskipun udara sore mulai dingin—dan menggenggamnya erat-erat. Ia
menatap mata Anita yang basah, dan melihat di dalamnya kejujuran yang tidak
perlu diragukan lagi.
Erlangga: (suaranya
mantap, penuh keyakinan) Anita, aku tidak akan berubah pikiran. Aku
tidak akan pernah. Aku sudah memikirkan ini matang-matang, jauh sebelum aku
mengaku di pematang sawah. Aku sudah memikirkan konsekuensinya, aku sudah
membayangkan semua rintangan yang mungkin kita hadapi. Tapi aku tetap
memilihmu. Bukan karena aku tidak melihat pilihan lain, tapi karena aku tidak
ingin pilihan lain.
Ia mengusap air mata di pipi Anita dengan lembut, seperti
ia mengusap kening Bintang ketika demam.
Erlangga: Dan
aku menerima syaratmu. Aku akan kembali ke sini. Aku akan menyelesaikan koas
dan ujian profesi, dan aku akan kembali. Bukan karena desa ini membutuhkan
dokter, meskipun itu juga benar, tapi karena aku membutuhkanmu. Aku tidak bisa
membayangkan hidupku tanpa desa ini, tanpa warga yang sudah menjadi keluarga,
tanpa... kamu.
Anita tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah
Erlangga lihat. Senyum yang tidak menyembunyikan apa pun, yang tidak melindungi
apa pun. Senyum yang tulus.
Anita: (suaranya
kecil, tetapi jelas) Kamu harus benar-benar kembali, Erlang. Aku akan
menunggu. Seberapa lamapun.
Erlangga: (tersenyum,
masih menggenggam tangan Anita) Aku janji. Aku akan kembali. Dan aku
akan menjadi dokter yang membanggakan desa ini. Untuk Bintang, untuk Pak Karyo,
untuk semua warga, dan untuk kamu.
Mereka berdua terdiam. Angin sore berembus, membawa wangi
bunga kopi dari kebun-kebun warga. Di kejauhan, suara gamelan mulai terdengar
dari lapangan desa—latihan terakhir untuk acara perpisahan besok. Tapi di teras
balai desa ini, waktu terasa berhenti. Hanya ada mereka berdua, dan cinta yang
akhirnya diakui.
Erlangga tidak bisa menahan kebahagiaannya. Ia meraih Anita
dan memeluknya, pelukan yang lembut tetapi erat, seperti memeluk sesuatu yang
sangat berharga yang hampir hilang. Anita terdiam sejenak, terkejut dengan
keberanian Erlangga. Tapi kemudian ia membalas pelukan itu, merasakan
kehangatan yang selama ini ia rindukan. Kepalanya bersandar di dada Erlangga,
mendengar detak jantung yang berdebar cepat, tanda bahwa pemuda ini sama
gugupnya dengannya.
Erlangga: (berbisik
di telinga Anita) Aku mencintaimu, Anita. Aku tidak akan pernah
berhenti mencintaimu.
Anita: (membalas
bisikan, suaranya nyaris tak terdengar) Aku juga mencintaimu, Erlang.
Aku juga.
Keesokan harinya, lapangan desa berubah menjadi lautan
manusia. Seluruh warga Desa Awan Biru hadir dalam acara perpisahan KKN, tidak
ada yang absen, bahkan warga yang rumahnya paling jauh sekalipun. Anto telah
berkeliling dengan truknya sejak pagi, menjemput warga dari dusun-dusun
terpencil yang tidak memiliki kendaraan. Truk itu dihias dengan janur dan daun
pisang, membuatnya tampak seperti kendaraan pengantin daripada angkutan umum.
Pak Karyo datang lebih awal dengan membawa dua kardus besar berisi telur dadar
yang sudah dipotong-potong, camilan untuk seluruh warga yang hadir. Bintang
ikut membantu, berlarian di antara kerumunan sambil membagikan telur dadar
dengan ceria.
Panggung bambu yang kemarin masih setengah jadi, kini telah
berdiri megah dengan hiasan janur, kertas warna-warni, dan lampu-lampu kecil
yang dipinjam dari kecamatan. Di belakang panggung, spanduk besar bergambar
kegiatan KKN selama tiga bulan terpampang dengan tulisan: "Terima
Kasih Mahasiswa KKN Universitas Sejahtera: Mengabdi untuk Desa Awan Biru." Foto-foto
yang diambil Hermansyah selama tiga bulan dipajang di sepanjang sisi panggung—foto
gotong royong jamban, foto posyandu, foto edukasi kesehatan, foto Bintang yang
tersenyum lebar dengan telur di tangannya, foto Erlangga dan Anita sedang
memasang pipa dengan wajah belepotan lumpur. Warga berkerumun melihat foto-foto
itu, tertawa, menunjuk-nunjuk, mengingat kembali momen-momen yang telah
dilalui.
Pak Iwan berdiri di panggung dengan kemeja batik
terbaiknya, rambutnya yang memutih disisir rapi, kumis tebalnya tampak lebih
rapi dari biasanya. Di tangannya, ia memegang mikrofon yang sudah dicek
berkali-kali oleh Amat Junior. Matanya menyapu lautan manusia di depannya, wajah-wajah
yang ia kenal satu per satu, wajah-wajah yang selama tiga bulan terakhir telah
berubah, yang kini tersenyum lebih lebar, yang kini tampak lebih berbinar.
Pak Iwan: (mikrofon
di tangan, suaranya sedikit bergetar, sesuatu yang jarang terjadi pada kepala
desa yang dikenal tegas ini) Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.
Seluruh warga menjawab dengan serempak, suara mereka menggema
di lapangan desa.
Pak Iwan: (menghela
napas, mengumpulkan emosi) Hari ini, saya sebagai kepala desa, berdiri
di sini bukan hanya untuk melepas mahasiswa KKN yang akan kembali ke kampus
mereka. Tapi untuk mengucapkan terima kasih. Terima kasih yang sebesar-besarnya,
yang mungkin tidak akan pernah cukup untuk membalas semua yang telah mereka
berikan.
Ia menoleh ke arah Erlangga, Dinda, dan Bagas yang duduk di
barisan depan, mengenakan jaket almamater mereka yang sudah lusuh, jaket yang
sama ketika mereka pertama kali datang tiga bulan lalu. Dinda tersenyum sambil
mengusap air mata yang mulai jatuh. Bagas menunduk, menyembunyikan wajahnya
yang memerah karena haru. Erlangga duduk tegak, matanya menatap Pak Iwan dengan
penuh hormat, sesekali melirik ke arah Anita yang berdiri di sisi panggung
bersama kader-kader lain.
Pak Iwan: Tiga
bulan lalu, saya menerima sekelompok mahasiswa yang tidak saya kenal. Jujur,
saya punya keraguan. Saya pikir mereka hanya akan datang, membuat program
seremonial, berfoto-foto, lalu pergi. Seperti yang sering terjadi. Tapi
adik-adik ini berbeda. Mereka tidak hanya datang dengan program, tapi dengan
hati. Mereka tidak hanya bicara, tapi turun langsung ke lapangan. Mereka tidak
hanya mengajar, tapi juga belajar. Mereka tidak hanya memberi, tapi juga
menerima.
Suaranya mulai bergetar. Pak Iwan yang terkenal tegas dan
jarang menunjukkan emosi di depan umum, kali ini tidak bisa menahan diri.
Pak Iwan: Mereka
datang ketika desa kita sedang dilanda wabah ISPA. Mereka tidak lari, tidak panik.
Mereka justru bergerak. Mereka membuka posko darurat, mereka keliling desa di
tengah hujan, mereka menggunakan uang pribadi untuk membeli obat ketika stok
habis. Mas Erlangga—calon dokter yang ganteng ini, bahkan ikut menggali lumpur
untuk membuat jamban Pak Karyo. (ia tertawa kecil, diikuti oleh warga) Saya
sampai tidak percaya. Dokter kok jadi kuli. Tapi itulah mereka. Mereka tidak
punya gengsi.
Warga tertawa. Pak Karyo yang duduk di barisan depan,
mengangguk-angguk dengan bangga. Bintang yang duduk di pangkuannya, bertepuk
tangan kecil.
Pak Iwan: Dan
yang paling penting, mereka membawa semangat baru. Mereka menggerakkan
anak-anak muda kita. Karang Taruna yang dulu jarang berkegiatan, sekarang siap
siaga. Mereka membuat konten edukasi, mereka gotong royong, mereka menjadi agen
perubahan. Mereka menggerakkan warga kita yang dulu keras kepala, saya tidak
perlu menyebut nama, Pak Karyo, untuk mau berubah. (ia tersenyum ke arah Pak
Karyo yang hanya tertawa malu) Mereka membuat kita sadar bahwa kesehatan itu
bukan takdir, tapi usaha. Bahwa perubahan itu mungkin, kalau kita mau bergerak
bersama.
Ia menoleh ke arah Erlangga, matanya berkaca-kaca.
Pak Iwan: Dan
khusus untuk Mas Erlangga, saya titip pesan. (suaranya bergetar) Jaga putri
desa kami dengan baik. Dia sudah berjuang sendirian terlalu lama. Dia pantas
bahagia. Dan saya yakin, Mas Erlangga adalah orang yang tepat untuk membuatnya
bahagia.
Warga bersorak. Tepuk tangan bergemuruh. Yulia berteriak
dari kerumunan, suaranya yang nyaring terdengar sampai ke panggung.
Yulia: (berteriak dari
kerumunan, suaranya nyaring) Jangan lupa undang kami kalau nikah, Mas
Erlangga!
Pak Eko yang duduk di bangku kehormatan, ikut nimbrung
dengan suara keras.
Pak Eko: (menimpali) Dan
jangan sampai molor! Kami siap jadi panitia! Guntur bisa jadi pemusik, Yulia
jadi MC, saya jadi koordinator lapangan!
Bu Lulu yang duduk di samping Pak Eko dengan buku catatan
dan kalkulator di pangkuannya, langsung menghitung dengan jari.
Bu Lulu: (suaranya
melengking khas) Kalau nikah bulan Desember, anggaran desa belum
terserap penuh. Itu bagus! Saya bisa alokasikan untuk konsumsi. Tapi harus
proposalnya masuk minimal tiga bulan sebelumnya!
Pak Karyo berdiri dari tempat duduknya dengan susah payah, lututnya
sudah tidak sekencang dulu, tetapi semangatnya membara. Ia mengangkat tangannya
tinggi-tinggi, menarik perhatian semua orang.
Pak Karyo: (berteriak,
suaranya serak tetapi penuh semangat) Saya siap sedekah telur dadar
buat seluruh warga! Satu kardus! Tidak, dua kardus! Tidak, tiga kardus! Yang penting
anak muda bahagia!
Anto yang berdiri di belakang, langsung menyahut dengan
semangat yang tidak kalah.
Anto: (berseru,
suaranya memecah keramaian) Saya siap jadi sopir pengantin! Truk saya
bisa dihias! Saya sudah punya pengalaman menghias truk untuk acara perpisahan
kemarin, besok bisa lebih bagus lagi!
Semua warga tertawa. Suasana yang tadinya haru, berubah
menjadi meriah. Erlangga dan Anita yang duduk tidak jauh dari panggung, hanya
bisa tersenyum mendengar kegaduhan itu. Wajah Anita merah padam, bukan karena
marah, tetapi karena malu. Erlangga tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca
karena haru, tetapi ia berusaha tegar.
Setelah Pak Iwan selesai, Erlangga naik ke panggung. Ia
berjalan dengan langkah mantap, mengambil mikrofon dari Pak Iwan dengan hormat.
Berdiri di atas panggung, menghadapi seluruh warga Desa Awan Biru yang duduk di
lapangan dengan mata berkaca-kaca, Erlangga merasa dadanya sesak. Ia melihat
wajah-wajah yang sudah ia kenal selama tiga bulan, Pak Karyo dengan kumisnya
yang memutih, Bintang yang tersenyum lebar di pangkuan kakeknya, Pak Sugeng dan
Bu Yati yang duduk di barisan depan dengan pakaian terbaik mereka, Bu Lulu yang
masih memegang kalkulator, Pak Eko dengan kipasnya, Bu Yuni dengan buku
catatannya, Pak Edi yang duduk di samping Santoso dengan senyum yang tidak lagi
sinis, Yulia dan Guntur yang sudah siap dengan tisu untuk mengusap air mata,
Naila dan Camelia yang saling bergandengan tangan, Amat Junior yang mengangkat
kamera ponselnya tinggi-tinggi, Hermansyah yang tenang di pojok dengan kamera
pinjamannya. Dan di sisi panggung, Anita berdiri di antara kader-kader lain,
matanya basah, senyumnya lembut.
Erlangga: (mikrofon
di tangan, suaranya sedikit bergetar meskipun ia berusaha tenang) Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian yang
saya hormati.
Seluruh warga menjawab salamnya dengan serempak.
Erlangga: Tiga
bulan yang lalu, saya turun dari mobil box hijau di halaman balai desa dengan
perasaan campur aduk. Saya tidak tahu apa yang akan saya temui di desa ini.
Saya hanya tahu bahwa saya ingin belajar menjadi dokter yang sesungguhnya. Dan
ternyata, desa ini mengajarkan lebih dari yang saya bayangkan.
Ia berhenti sejenak, mengumpulkan emosi.
Erlangga: Saya
belajar dari Pak Karyo bahwa perubahan itu mungkin, meskipun dimulai dari hal
sekecil telur. Saya belajar dari Bintang bahwa mimpi tidak mengenal usia. Saya
belajar dari Pak Sugeng bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai kebiasaan
baik. Saya belajar dari Bu Lulu bahwa anggaran itu penting, tapi kesehatan
lebih penting. (ia tersenyum, warga tertawa) Saya belajar dari Guntur bahwa
semangat muda bisa menggerakkan banyak hal. Saya belajar dari Yulia bahwa
kepemimpinan tidak selalu tentang jabatan. Saya belajar dari Pak Edi bahwa
kritik yang membangun adalah bentuk kepedulian. Saya belajar dari Pak Iwan
bahwa pemimpin yang baik adalah yang tidak takut mengakui kesalahan dan belajar
dari anak-anak muda.
Suaranya mulai bergetar. Ia menatap seluruh warga, matanya
berkaca-kaca.
Erlangga: Dan
saya belajar dari Mbak Anita... (ia berhenti, menelan ludah) bahwa cinta pada
pekerjaan, pada sesama, pada desa ini, adalah cinta yang paling murni. Saya
belajar bahwa menjadi dokter bukan tentang gelar atau gengsi, tapi tentang
kemampuan untuk hadir, untuk bertahan, dan untuk berjuang bersama mereka yang
membutuhkan.
Ia menoleh ke arah Anita yang berdiri di sisi panggung.
Mata mereka bertemu. Di hadapan seluruh warga, Erlangga tidak ragu lagi.
Erlangga: Saya
tidak akan berjanji muluk-muluk. Saya tidak akan berjanji akan kembali besok,
atau bulan depan, atau tahun depan. Tapi saya berjanji pada diri saya sendiri,
pada Mbak Anita, dan pada seluruh warga Desa Awan Biru: saya akan kembali. Saya
akan menyelesaikan studi saya, saya akan menjadi dokter, dan saya akan mengabdi
di sini. Di desa yang telah mengajarkan arti kehidupan. Di desa yang telah
menjadi rumah kedua bagi saya.
Air matanya jatuh. Ia tidak menyembunyikannya lagi.
Erlangga: Terima
kasih telah menerima saya sebagai bagian dari keluarga. Terima kasih telah
mengajarkan saya bahwa pengabdian tidak selalu tentang hal-hal besar, tapi
tentang kesetiaan pada hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang. Terima
kasih untuk tiga bulan yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya akan kembali.
Saya janji.
Warga bersorak semakin keras. Tepuk tangan bergemuruh,
mengiringi air mata yang jatuh dari mata Erlangga, dari mata Anita, dari mata
Yulia, dari mata Pak Karyo, dari mata Bu Yuni, dari mata hampir semua warga
yang hadir. Yulia, Guntur, Naila, Camelia, Amat Junior, dan Hermansyah naik ke
panggung dengan membawa kelopak bunga yang sudah disiapkan sejak pagi. Mereka
melemparkan kelopak-kelopak itu ke udara, hujan bunga menghujani Erlangga dan
tim KKN yang masih berdiri di panggung dengan mata basah.
Yulia: (berteriak di
tengah hujan bunga) Mas Erlangga, kami tunggu! Jangan lama-lama!
Guntur: (menambahkan,
suaranya serak karena menahan tangis) Mas, nanti kalau sudah jadi
dokter, jangan lupa traktir kami! Saya mau makan telur dadar di warung Pak
Karyo!
Naila: (terisak,
suaranya putus-putus) Mas Erlangga, titip salam untuk kampus! Dan
tolong jaga Mbak Anita, ya!
Camelia: (sok
dewasa tetapi matanya merah) Mas Erlangga, ingat janji! Kalau Mas
ingkar, Karang Taruna siap demo!
Amat Junior: (tertawa
di antara tangis) Demo pakai apa, Cam? Pakai sapu lagi?
Camelia: (mengangkat
dagu) Pakai apa saja! Yang penting kami bela Mbak Anita!
Semua tertawa di antara tangis. Suasana yang haru bercampur
dengan gelak tawa, menciptakan harmoni yang hanya bisa terjadi di desa seperti Awan
Biru.
Di tengah keramaian itu, Erlangga turun dari panggung. Ia
melangkah melewati kerumunan warga yang masih bersorak, melewati Guntur yang
tertawa sambil menangis, melewati Bintang yang melambai-lambai kecil dari
pangkuan Pak Karyo. Ia berjalan menuju sisi panggung, di mana Anita masih
berdiri di antara kader-kader lain, matanya basah, tangannya menggenggam erat
ujung kebayanya.
Erlangga meraih tangan Anita. Tidak ragu, tidak malu, tidak
peduli dengan ribuan pasang mata yang menatap mereka. Ia menggenggam tangan itu
erat-erat—tangan yang kasar karena kerja keras, tangan yang hangat karena cinta
yang tulus. Anita terkejut, wajahnya merah padam, tetapi ia tidak melepaskan.
Ia membiarkan Erlangga menggenggam tangannya di depan seluruh warga desa.
Erlangga: (menatap
Anita, suaranya cukup keras untuk didengar oleh warga di sekitarnya) Ayo
kita jalan-jalan sebentar. Pesta masih lama.
Anita: (masih
terkejut, suaranya tergagap) Erlang... semua orang melihat kita...
Erlangga: (tersenyum) Biarkan
mereka melihat. Aku tidak punya rahasia lagi.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan lapangan,
meninggalkan keramaian yang masih berlangsung. Langkah mereka perlahan,
seirama, seperti dua orang yang sudah lama berjalan bersama. Di belakang
mereka, sorak-sorai warga masih terdengar. Guntur berteriak minta disediakan
telur dadar untuk acara pernikahan. Bu Lulu sudah sibuk menghitung anggaran
dengan Bu Yuni. Pak Karyo tertawa lebar sambil menggendong Bintang. Pak Iwan
menepuk pundak Si Amat dengan senyum bangga.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang sama yang
pernah mereka lalui tiga bulan lalu, ketika Erlangga pertama kali diajak Anita
keliling desa. Jalan berbatu yang dulu terasa asing dan terjal, kini terasa
akrab dan mudah. Pohon-pohon pisang dan singkong yang dulu hanya ia lihat
sekilas, kini ia kenali satu per satu. Rumah-rumah warga yang dulu hanya ia
lewati, kini ia tahu siapa penghuninya, berapa jumlah balita di dalamnya,
apakah mereka sudah memiliki jamban, apakah mereka rajin ke posyandu.
Mereka berhenti di sebuah pematang sawah, bukan tempat di
mana Erlangga mengaku cinta dua minggu lalu, tetapi tempat yang lebih
sederhana. Di sini, mereka bisa melihat seluruh desa dari ketinggian. Sawah
yang menguning terbentang luas di bawah mereka, bergoyang pelan ditiup angin
sore. Sungai yang dulu keruh kini mulai jernih, mengalir di antara perbukitan
dengan suara yang menenangkan. Rumah-rumah warga tampak dari kejauhan, dengan
asap dapur yang mulai mengepul, tanda bahwa hari mulai beranjak senja. Di ufuk
barat, matahari perlahan tenggelam, menyisakan sisa-sisa cahaya keemasan yang
memantul di awan-awan tipis. Kabut biru mulai merayap turun dari puncak bukit,
perlahan menyelimuti lembah dengan kelembapan yang menusuk.
Erlangga: (menggenggam
tangan Anita erat-erat, tidak melepaskannya meskipun telapak tangan mereka
sudah berkeringat) Kamu yakin mau menunggu? Aku akan sibuk dengan koas
dan ujian. Mungkin setahun, mungkin lebih. Aku tidak bisa sering pulang.
Mungkin hanya bisa telepon atau video call. Dan jarak antara kota dan desa ini
tidak dekat.
Anita: (tersenyum,
menatap langit yang mulai jingga) Aku sudah terbiasa menunggu, Erlang.
Aku menunggu desa ini berubah, itu butuh waktu bertahun-tahun. Aku menunggu
warga sadar akan kesehatan, itu juga tidak instan. Aku menunggu program-program
yang aku jalankan membuahkan hasil, itu semua butuh kesabaran. Menunggu adalah
sesuatu yang sudah aku pelajari sejak kecil.
Ia menoleh ke Erlangga, matanya basah tetapi senyumnya
tulus.
Anita: Dan sekarang, aku
punya alasan lain untuk menunggu. Alasan yang lebih indah dari sekadar program
desa atau data stunting. Aku menunggu seseorang yang percaya bahwa aku
berharga. Seseorang yang melihat perjuanganku ketika orang lain tidak melihat.
Seseorang yang memilih untuk kembali ke desa ini, bukan karena kewajiban, tapi
karena panggilan hati.
Erlangga tidak bisa menahan air matanya. Ia meraih Anita
dan memeluknya—pelukan yang dalam, yang menyimpan semua janji yang belum sempat
diucapkan. Anita membalas pelukan itu, merasakan kehangatan yang selama ini ia
rindukan. Mereka berdiri di tengah pematang sawah, di bawah langit yang mulai
gelap, berpelukan dalam keheningan yang penuh makna.
Erlangga: (berbisik
di telinga Anita, suaranya serak karena menahan tangis) Aku
mencintaimu, Anita. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu.
Anita: (membalas
bisikan, suaranya nyaris tak terdengar) Aku juga mencintaimu, Erlang.
Sejak pertama kali kamu membersihkan busi motor tuaku dengan kain lap dari saku
celanamu. Aku tidak tahu itu cinta saat itu. Tapi sekarang aku tahu.
Mereka berpelukan lebih lama, membiarkan waktu berhenti
sejenak. Di kejauhan, suara gamelan dan tawa warga masih terdengar dari
lapangan desa. Burung-burung terbang rendah di atas sawah, pulang ke sarang
mereka. Kabut biru semakin tebal, menyelimuti lembah dengan kelembapan yang
menusuk, tetapi mereka tidak merasa dingin. Mereka saling menghangatkan.
Di lapangan desa, pesta perpisahan masih berlangsung.
Guntur sudah naik ke panggung dengan gitarnya, memainkan lagu "Desa Awan
Biru" ciptaannya sendiri. Liriknya sederhana, melodinya tidak terlalu
rumit, tetapi semua warga menyanyikannya dengan penuh semangat.
Desa Awan Biru, di lereng perbukitan
Kabut biru menyapa setiap pagi
Kau ajarkan aku arti kesabaran
Kau ajarkan aku arti cinta sejati
Yulia berdiri di samping Guntur, menjadi MC dadakan dengan
gaya khasnya yang enerjik. Ia memandu acara dengan riang, sesekali menyelipkan
gosip tentang Erlangga dan Anita yang membuat warga tertawa. Naila dan Camelia
sibuk membagikan makanan ke seluruh warga, tidak lupa menyisihkan porsi untuk
Erlangga dan Anita yang sedang berjalan-jalan. Pak Karyo sudah membagikan
hampir semua telur dadarnya, hanya menyisakan beberapa potong untuk Bintang dan
untuk "Mas Dokter dan Mbak Anita". Bintang yang sudah mulai mengantuk,
masih bergeming di pangkuan kakeknya, matanya setengah terpejam tetapi
senyumnya masih terpampang.
Pak Iwan duduk di kursi kehormatan bersama Santoso dan Si
Amat. Mereka menikmati pertunjukan dengan senyum puas. Santoso yang biasanya
kritis dan vokal, kali ini hanya diam, menikmati suasana dengan mata yang
berbinar.
Santoso: (kepada
Pak Iwan, suaranya pelan) Pak Kades, saya sudah tua. Saya sudah
melihat banyak program datang dan pergi. Tapi yang terjadi tiga bulan ini...
ini berbeda. Ini bukan sekadar program. Ini tentang perubahan yang nyata.
Tentang warga yang sadar akan kesehatan. Tentang anak-anak muda yang bergerak.
Tentang cinta yang tumbuh di antara mereka.
Pak Iwan: (mengangguk,
matanya berkaca-kaca) Saya tahu, Pak Santoso. Saya juga merasakannya. Desa
ini tidak akan sama setelah kepergian mereka. Tapi saya yakin, perubahan ini
akan terus berjalan. Pak Edi sudah siap melanjutkan program. Anita sudah lebih
percaya diri. Karang Taruna lebih aktif. Dan Mas Erlangga... (ia tersenyum) Mas
Erlangga akan kembali. Saya yakin.
Si Amat: (tersenyum
lebar, suaranya penuh haru) Saya hanya berdoa yang terbaik untuk anak
saya. Dia sudah berjuang sendirian terlalu lama. Sekarang dia punya teman
berjuang. Itu sudah lebih dari cukup.
Di kejauhan, Erlangga dan Anita masih berdiri di pematang
sawah. Mereka tidak lagi berpelukan, tetapi tangan mereka tetap saling
menggenggam. Langit di barat telah berubah menjadi ungu kehitaman, dengan
bintang-bintang pertama yang mulai muncul. Di timur, bulan sabit tipis terbit,
memberikan cahaya perak yang lembut di atas desa.
Erlangga: (menatap
langit, suaranya pelan) Anita, aku tidak tahu kapan tepatnya aku akan
kembali. Kos bisa selesai dalam satu tahun, tapi ujian profesi juga butuh
waktu. Mungkin lebih. Tapi aku janji, setiap kali aku punya waktu, aku akan
pulang. Setiap kali aku bisa, aku akan menghubungimu. Dan ketika aku sudah
resmi menjadi dokter, langkah pertamaku akan kembali ke sini. Ke desa ini. Ke
kamu.
Anita: (menggenggam
tangan Erlangga lebih erat) Aku tidak akan ke mana-mana, Erlang. Aku
akan tetap di sini, melakukan apa yang selalu aku lakukan. Menjadi kader,
membangun desa ini, menunggu perubahan yang perlahan tapi pasti. Dan sekarang,
menunggu kamu. Menunggu adalah hal yang aku kuasai.
Erlangga: (tersenyum) Aku
tahu. Dan itu salah satu hal yang membuatku mencintaimu.
Mereka terdiam. Angin malam berembus, membawa wangi bunga
kopi dari kebun-kebun warga. Di kejauhan, suara gamelan masih terdengar,
bergantian dengan suara tawa warga yang masih merayakan perpisahan. Di atas
mereka, langit Awan Biru dipenuhi bintang-bintang—juta titik cahaya yang
berkelap-kelip, menyaksikan janji yang baru saja diucapkan.
Anita: (tiba-tiba,
suaranya kecil) Erlang, besok kamu pergi. Aku tidak akan menangis di
depanmu. Aku tidak mau kamu pergi dengan perasaan bersalah.
Erlangga: (memeluk
Anita lagi, lebih erat dari sebelumnya) Kamu boleh menangis, Anita.
Kamu boleh. Aku juga akan menangis. Kita akan menangis bersama. Tapi kita tidak
akan berpisah selamanya. Ini hanya sementara.
Anita: (air matanya
jatuh, meskipun ia berusaha menahannya) Aku tahu. Aku hanya... aku
akan merindukanmu, Erlang. Setiap hari.
Erlangga: (air
matanya juga jatuh, tidak bisa ditahan lagi) Aku juga akan
merindukanmu, Anita. Setiap detik. Tapi ingat, setiap kali kamu melihat kabut
biru di pagi hari, itu aku. Setiap kali kamu mendengar suara jangkrik di malam
hari, itu aku. Setiap kali kamu mencium wangi kopi dari kebun, itu aku. Aku
akan selalu ada, meskipun tidak di sampingmu.
Anita: (tersenyum di
antara tangis) Itu terlalu puitis, Erlang. Kamu yakin kamu calon
dokter, bukan calon penyair?
Erlangga: (tertawa
kecil, mengusap air mata Anita) Aku calon dokter yang jatuh cinta pada
kader desa. Dan karena itu, kadang-kadang aku menjadi puitis.
Mereka berdua tertawa di antara tangis, saling mengusap air
mata, saling menggenggam tangan. Di bawah cahaya bintang dan bulan sabit, di
tengah desa yang perlahan berubah, dua hati yang telah lama mencari akhirnya
menemukan satu sama lain.
Di kejauhan, pesta perpisahan masih berlangsung. Guntur
menyanyikan lagu terakhirnya, Yulia membacakan puisi yang ditulis oleh Naila,
Pak Karyo tertawa lebar bersama warga lain, Bintang tertidur di pangkuan
kakeknya dengan senyum di bibirnya. Dan di pematang sawah, Erlangga dan Anita
berjanji untuk saling menunggu, saling percaya, dan saling mencintai, sejauh
apapun jarak yang akan memisahkan mereka.
Karena cinta, seperti kabut biru yang menyelimuti lembah
setiap pagi, tidak perlu terlihat untuk terasa. Ia akan selalu ada, menggantung
di udara, membasahi dedaunan, memberi kehidupan pada tanah yang kering. Ia akan
menunggu, dengan sabar, hingga matahari terbit dan kabut mencair, dan dua hati
yang terpisah akhirnya bertemu kembali.
BAB 9: Surat dari Kota,
Doa dari Desa
Tiga bulan telah berlalu sejak mobil box hijau itu
meninggalkan halaman balai desa, membawa Erlangga, Dinda, dan Bagas kembali ke
hiruk-pikuk kota. Tiga bulan terasa seperti tiga tahun bagi Anita. Bukan karena
waktu berjalan lambat, waktu tetap berjalan seperti biasa, matahari terbit dan
tenggelam, kabut biru menyelimuti lembah setiap pagi, padi di sawah dipanen dan
ditanam kembali. Tapi ada sesuatu yang berubah dalam ritme hidupnya. Ada hening
di tempat yang dulu ramai, ada sepi di waktu-waktu yang dulu diisi dengan canda
dan tawa. Ada nama yang selalu hadir dalam doanya setiap malam, ada wajah yang
terus ia cari di setiap kerumunan, ada suara yang ia rindukan setiap kali angin
sore berembus.
Kehidupan di Desa Awan Biru berjalan pada ritmenya yang
khas, lambat, tenang, dan penuh dengan kebiasaan yang sudah mengakar. Namun ada
semangat baru yang terasa di setiap sudut desa. Semangat yang ditinggalkan oleh
tiga bulan kehadiran anak-anak muda dari kota. Semangat yang tidak padam
meskipun mereka telah pergi.
Program sanitasi yang sempat menjadi sumber konflik kini
berjalan mulus di bawah pengawasan Pak Edi dan Santoso. Pak Edi, yang dulu
paling skeptis dengan kehadiran mahasiswa KKN, kini menjelma menjadi
koordinator lapangan yang paling bersemangat. Setiap pagi, ia berkeliling
dengan sepeda tuanya, memeriksa jamban-jamban yang telah dibangun, memastikan
tidak ada yang rusak, dan mencatat rumah-rumah yang masih membutuhkan bantuan.
Buku catatannya rapi, dengan data yang tidak kalah detail dari yang pernah
dibuat Erlangga. Ia bahkan membuat sistem pemeliharaan bergilir, di mana setiap
warga bertanggung jawab membersihkan saluran air di sekitar rumah mereka secara
bergantian. Santoso, yang dulu hanya bisa mengkritik dari kursi goyangnya, kini
aktif mendampingi Pak Edi, memberikan nasihat dan wejangan kepada warga yang
masih enggan menggunakan jamban dengan alasan "ribet".
Posyandu yang sebelumnya sepi, seringkali hanya dihadiri
oleh lima atau enam ibu dengan balita, kini rutin didatangi warga. Ibu-ibu
datang lebih awal, membawa anak-anak mereka dengan senyum ceria. Mereka tidak
lagi takut atau malu untuk menimbang anaknya di depan umum. Mereka tidak lagi
menganggap imunisasi sebagai "suntikan yang bikin panas" atau
"program pemerintah yang tidak jelas manfaatnya". Mereka datang karena
mereka paham. Mereka datang karena mereka sudah melihat buktinya: anak-anak
yang rutin dipantau berat badannya tumbuh lebih sehat, yang mendapat imunisasi
lengkap lebih jarang sakit. Bidan Amilia, yang dulu harus bekerja sendirian
dengan beban yang berat, kini terbantu dengan adanya kader-kader yang lebih
terlatih dan lebih percaya diri. Ia tidak lagi harus memeriksa puluhan balita
sendirian. Ia tidak lagi harus membujuk ibu-ibu yang keras kepala dengan tenaga
yang terbatas. Sekarang, ada Anita, ada Nadya, ada kader-kader baru yang
dilatih langsung oleh Erlangga sebelum ia pergi, yang bisa melakukan
pengukuran, pencatatan, dan edukasi dasar.
Bintang, cucu Pak Karyo yang dulu kurus kering dengan
rambut kemerahan dan mata sayu, kini telah berubah menjadi anak yang paling
aktif di desa. Berat badannya sudah mencapai standar untuk anak seusianya.
Rambutnya hitam legam dan tebal. Matanya berbinar-binar setiap kali ia
berlarian di antara meja-meja warung kakeknya. Ia sudah bisa berlari, sudah
bisa bercerita dengan lancar, dan yang paling membanggakan bagi Pak Karyo, ia
sudah bisa berhitung sederhana, sesuatu yang diajarkan oleh Erlangga di
sela-sela waktu luangnya dulu.
Bintang: (berlari
ke arah setiap pelanggan yang datang, dengan semangat yang meluap-luap) Om,
Tante, Bintang bisa hitung! Satu, dua, tiga, empat, lima! Abang Erlangga
ajarin! Abang Erlangga bilang, kalau Bintang pintar, nanti Bintang jadi dokter!
Pak Karyo hanya bisa tertawa setiap kali melihat cucunya
begitu bersemangat. Ia duduk di kursi kayu di depan warungnya, sesekali
mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih, matanya mengikuti gerak-gerik
Bintang yang tak pernah berhenti bergerak. Di sudut warung, foto Erlangga dan
Anita yang diambil Hermansyah saat gotong royong terpampang di dinding, dilaminating
rapi, dipajang seperti foto keluarga.
Amat Junior, sepupu Anita, terpilih menjadi ketua Karang
Taruna yang baru. Pemilihan berlangsung meriah dua minggu lalu, dengan Yulia
dan Guntur saling bersaing secara sehat, tetapi akhirnya mereka sepakat untuk
memberikan amanah pada Amat Junior yang dianggap lebih tenang dan memiliki
pengalaman organisasi dari kuliahnya di politeknik. Yulia menjadi wakil ketua,
Guntur menjadi sekretaris, Naila menjadi bendahara, Camelia menjadi koordinator
acara, dan Hermansyah tetap menjadi dokumentator andalan. Mereka memiliki
program-program baru yang disusun berdasarkan modul yang ditinggalkan Erlangga:
senam sehat setiap hari Minggu pagi, edukasi gizi melalui konten kreatif di
media sosial, dan yang paling ambisius, program "Satu Rumah Satu Jamban"
yang menargetkan seluruh rumah di desa memiliki jamban layak dalam setahun.
Yulia: (dalam rapat
Karang Taruna di posko yang dulu menjadi tempat KKN, suaranya nyaring seperti
biasa) Target kita satu tahun, teman-teman. Kita sudah punya tiga
puluh jamban dari program sebelumnya. Masih ada enam puluh rumah lagi yang
belum punya jamban. Dengan gotong royong dan subsidi dari desa, kita bisa
selesaikan dalam satu tahun. Asal kita disiplin dan konsisten.
Guntur: (mencatat
dengan rapi di buku catatan barunya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan
sebelumnya) Setuju. Tapi kita juga harus memikirkan pemeliharaan.
Jangan sampai setelah dibangun, jambannya rusak karena tidak dirawat. Saya
usulkan ada sistem monitoring bulanan. Setiap bulan, kita cek jamban-jamban
yang sudah dibangun, laporkan kondisinya ke Pak Edi dan Pak Santoso.
Naila: (mengangkat
tangan, suaranya bersemangat) Aku setuju! Dan kita juga harus terus
mengedukasi. Jangan sampai warga kembali ke kebiasaan lama hanya karena
jambannya rusak. Kita bisa bikin konten edukasi rutin. Mas Erlangga dulu sudah
kasih template-nya. Tinggal kita kembangkan.
Camelia: (sok
dewasa, tetapi matanya berbinar) Dan jangan lupa, kita harus siapkan
sambutan untuk Mas Erlangga kalau dia kembali nanti. Aku sudah punya ide. Kita
bikin spanduk besar, dekorasi di lapangan desa, dan... (ia tersenyum misterius)
kita undang Mbak Anita jadi tamu kehormatan.
Amat Junior: (tertawa) Cam,
jangan keburu. Mas Erlangga masih ujian. Doakan dulu biar lulus. Urusan
sambutan, nanti kita pikirkan.
Namun, di tengah semangat baru yang menyelimuti desa, ada
satu hal yang berubah dari Anita. Perempuan yang dulu dikenal sebagai kader
yang paling tegas, paling energik, paling tidak kenal lelah, kini menjadi lebih
pendiam. Bukan pendiam yang murung atau cemberut, tetapi pendiam yang penuh
dengan lamunan. Di sela-sela tugasnya, seringkali ia terdiam sambil memegang
ponselnya, menunggu kabar dari Erlangga yang sedang menjalani kos di rumah
sakit pendidikan di kota. Ponsel itu, ponsel lama dengan layar retak di sudut
kanan, menjadi benda paling berharga baginya. Ia membawanya ke mana-mana,
bahkan ketika ia sedang memeriksa balita di posyandu, bahkan ketika ia sedang
membantu gotong royong, bahkan ketika ia sedang tidur di malam hari. Ia tidak
ingin melewatkan satu pesan pun, satu telepon pun, satu kabar pun dari
Erlangga.
Anita tidak pernah menyangka bahwa menunggu bisa seberat
ini. Dulu, ketika ia masih sendiri, menunggu adalah sesuatu yang biasa. Ia
menunggu desa berubah, menunggu program yang ia jalankan membuahkan hasil,
menunggu warga sadar akan kesehatan. Itu semua menunggu yang panjang, tanpa
kepastian, tanpa janji. Tapi menunggu seseorang yang telah mengisi hatinya, itu
berbeda. Setiap hari tanpa kabar terasa seperti seminggu. Setiap pesan yang
masuk, meskipun hanya "Aku capek, Anita. Doakan aku," terasa seperti
cahaya di tengah gelap. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya berdetak
lebih cepat. Setiap kali ternyata bukan dari Erlangga, ia merasakan kekecewaan
yang tidak bisa ia jelaskan.
Suatu siang, saat Anita sedang merapikan laporan posyandu
di balai desa, Si Amat mendekatinya. Pria tua itu berjalan dengan langkah
pelan, tangannya membawa dua gelas kopi panas, satu untuk dirinya, satu untuk
putrinya. Ia duduk di samping Anita tanpa banyak bicara, meletakkan gelas kopi
di meja dengan hati-hati. Si Amat sudah melihat perubahan pada putrinya. Ia
melihat bagaimana Anita lebih sering melamun, bagaimana matanya lebih sering
menatap ponsel daripada buku laporan, bagaimana senyumnya tidak selebar dulu
ketika Erlangga masih di sini. Sebagai ayah, ia tahu bahwa putrinya sedang
jatuh cinta. Dan sebagai ayah yang pernah merasakan hal yang sama ketika masih
muda, ia juga tahu bahwa cinta yang terpisah jarak adalah ujian yang tidak
mudah.
Si Amat: (duduk
di samping putrinya dengan gerakan lambat, lututnya sudah tidak sekencang dulu,
suaranya lembut seperti ketika Anita masih kecil) Masih menunggu kabar
dari Mas Erlangga? Aku lihat kamu dari tadi megang ponsel terus. Padahal
laporan posyandu bulan ini belum selesai. Biasanya kamu bisa selesai dalam satu
jam. Sekarang sudah dua jam, tapi kertas masih kosong.
Anita tersentak. Ia menoleh ke arah ayahnya, lalu ke kertas
laporan yang masih kosong di depannya. Ia tidak menyadari bahwa waktu telah
berlalu begitu lama. Ia tidak menyadari bahwa pikirannya telah melayang jauh ke
kota, ke rumah sakit besar dengan lorong-lorong panjang, ke seorang pemuda
dengan jaket almamater lusuh yang kini sedang sibuk dengan pasien dan operasi.
Anita: (menghela
napas, meletakkan ponselnya di atas meja dengan gerakan berat) Iya,
Yah. Dia bilang akhir-akhir ini jadwal kos padat. Kadang baru bisa telepon
tengah malam. Itu pun hanya sebentar, karena besok pagi harus sudah di rumah
sakit lagi. Aku... (ia berhenti, mencari kata-kata yang tepat) aku tidak mau
mengeluh, Yah. Aku tahu ini perjuangannya. Tapi kadang...
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Matanya menatap ke luar
jendela, ke arah bukit yang mulai diselimuti kabut siang. Di kejauhan, ia bisa
melihat sawah yang mulai menghijau setelah panen, dan di pematang sawah itu, ia
membayangkan bayangan dua orang yang pernah berdiri di sana, berpelukan di
bawah langit senja.
Si Amat: (mengusap
kepala Anita dengan lembut, gerakan yang sama ketika Anita masih kecil, ketika
ia jatuh dari sepeda, ketika ia gagal ujian, ketika ibunya meninggal, suaranya
penuh dengan kasih sayang seorang ayah yang tidak pandai berkata-kata) Kamu
harus sabar, Nak. Menjadi seorang dokter itu perjuangan. Bukan hanya belajarnya
yang berat, tanggung jawabnya juga besar. Dan menjadi pasangannya... itu juga
perjuangan. Aku tahu karena dulu ibumu juga menunggu aku. Dulu, waktu aku masih
sibuk dengan administrasi desa, sering pulang malam, kadang tidak pulang sama
sekali karena harus menyelesaikan laporan di kantor. Ibu tidak pernah mengeluh.
Tapi aku tahu, dia juga menunggu. Seperti kamu sekarang.
Anita menoleh, matanya basah. Selama ini ia hanya melihat
ayahnya sebagai admin desa yang sibuk dengan laptop dan laporan. Ia tidak
pernah berpikir bahwa di balik semua itu, ada ibunya yang menunggu. Ada
perjuangan yang tidak terlihat.
Si Amat: (melanjutkan,
suaranya lebih pelan) Tapi aku percaya, kalau dia laki-laki sejati,
dia akan menepati janjinya. Aku lihat sendiri bagaimana Mas Erlangga
memperlakukan warga, bagaimana ia sabar dengan Pak Karyo, bagaimana ia lembut
dengan Bintang, bagaimana ia ikut menggali lumpur tanpa gengsi. Laki-laki
seperti itu tidak akan mudah berubah. Laki-laki seperti itu akan berjuang untuk
apa yang ia cintai. Termasuk kamu.
Anita tersenyum—senyum yang pertama kali muncul hari itu.
Ia meraih tangan ayahnya yang sudah keriput dan penuh kapalan, menggenggamnya
erat.
Anita: Terima kasih, Yah.
Aku tidak ragu padanya. Aku hanya... (ia menghela napas) kadang aku rindu.
Sangat rindu.
Si Amat: (tersenyum,
matanya berkaca-kaca) Aku tahu, Nak. Aku tahu.
Di tengah percakapan itu, ponsel Anita bergetar. Keduanya
menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja. Layar yang retak di sudut
kanan itu menyala, menampilkan nama yang sudah tidak asing lagi: Erlangga.
Jantung Anita berdetak cepat. Ia mengambil ponsel dengan tangan yang sedikit
gemetar, membaca pesan yang masuk dengan saksama.
Pesan Erlangga: "Anita,
maaf baru bisa on. Hari ini ada operasi besar dari pagi. Pasiennya anak kecil,
umur tujuh tahun, patah tulang karena kecelakaan. Operasinya rumit, lima jam.
Aku capek, bukan karena fisiknya, tapi karena tegangnya. Tapi syukur, pasien
selamat. Sekarang sudah sadar, sudah bisa tersenyum. Aku kangen desa, Anita.
Aku kangen kabut biru di pagi hari, kangen suara jangkrik di malam hari, kangen
Bintang yang selalu minta diajarin hitung, kangen kopi pahit di warung Pak
Karyo, kangen... kamu. Aku kangen kamu, Anita. Ujian profesi tinggal dua bulan
lagi. Aku janji, setelah lulus, aku langsung ke sana. Doakan aku ya. Aku harus
bisa. Untuk desa ini. Untuk kamu."
Air mata Anita jatuh. Bukan karena sedih, tapi karena haru.
Ia membaca pesan itu berulang kali, membiarkan setiap kata meresap ke dalam
hatinya. Ia membayangkan Erlangga yang lelah setelah operasi panjang, duduk di
balkon kos-kosannya yang sempit, menatap langit malam yang tidak sempurna
karena polusi cahaya, dan merindukan desa ini. Merindukannya.
Anita: (mengetik
balasan dengan jari yang gemetar, air mata masih jatuh membasahi layar ponsel) "Aku
selalu mendoakanmu, Erlang. Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu berdoa
untukmu. Desa ini baik-baik saja. Program sanitasi berjalan lancar, Pak Edi
rajin sekali memantau. Posyandu ramai, Bu Amilia sampai kewalahan melayani.
Bintang sudah naik berat badannya lagi, sekarang sudah tiga belas kilogram.
Amat Junior jadi ketua Karang Taruna yang baru, Yulia wakilnya, Guntur
sekretaris. Mereka punya program-program baru. Aku... juga kangen. Setiap hari.
Setiap kali aku melihat kabut biru di pagi hari, aku ingat kamu. Setiap kali
aku mendengar suara jangkrik di malam hari, aku ingat kamu. Setiap kali aku
mencium wangi kopi dari kebun, aku ingat kamu. Semangat, Erlang. Aku tunggu.
Aku akan selalu menunggu."
Ia menekan tombol kirim, lalu meletakkan ponselnya di atas
meja. Tangannya masih gemetar, air matanya masih jatuh, tetapi senyumnya lebar.
Si Amat yang melihat putrinya, hanya tersenyum dan menepuk pundaknya pelan.
Si Amat: Sudah?
Lega sekarang?
Anita: (mengusap air
matanya dengan punggung tangan, tersenyum) Iya, Yah. Lega. Aku hanya
perlu mendengar kabarnya. Tahu bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia masih ingat
janjinya. Itu sudah cukup.
Si Amat: (mengangguk,
bangkit dari kursinya) Ayo selesaikan laporanmu. Nanti malam aku
buatkan sayur asem kesukaanmu. Biar kamu semangat.
Anita: (tersenyum) Terima
kasih, Yah. Aku sayang ayah.
Si Amat: (berbalik,
menyembunyikan air mata yang jatuh) Aku juga sayang kamu, Nak.
Sementara itu, di kota, Erlangga duduk di balkon
kos-kosannya yang sempit. Kos-kosan itu terletak di lantai tiga sebuah rumah
petak di pinggiran kota, dekat dengan rumah sakit pendidikan tempat ia
menjalani koas. Kamarnya hanya berukuran tiga kali empat meter, dengan kasur
tipis, meja belajar penuh buku, dan lemari kecil yang hampir tidak muat untuk
pakaiannya. Tapi ada satu benda yang selalu ia tempatkan di meja belajarnya, di
samping tumpukan buku kedokteran yang tebal: buku catatan lapangan saat KKN di
Desa Awan Biru. Buku itu sudah lusuh, sampulnya mulai terlepas,
halaman-halamannya penuh dengan catatan tentang desa, tentang warga, tentang data
kesehatan, tentang program-program yang mereka jalankan. Dan di halaman
terakhir, ada foto yang ditempel dengan selotip—foto Anita sedang tersenyum di
depan balai desa, dengan kabut biru di belakangnya.
Malam itu, langit kota tidak bersahabat. Polusi cahaya dari
lampu-lampu jalan dan gedung-gedung tinggi membuat bintang-bintang hampir tidak
terlihat. Hanya bulan yang masih setia, meskipun cahayanya redup tertutup kabut
asap. Erlangga menatap langit itu dengan rindu yang mendalam. Ia membayangkan
langit Awan Biru yang bersih, dengan jutaan bintang yang berkelap-kelip, dengan
bulan sabit yang terang, dengan kabut biru yang merayap turun dari puncak
bukit. Ia membayangkan Anita berdiri di halaman rumahnya, menatap langit yang
sama, merindukannya seperti ia merindukan Anita.
Erlangga: (bergumam
pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar, tangannya memegang buku
catatan lapangan yang selalu ia baca sebelum tidur) Aku akan kembali,
Anita. Tunggu aku. Aku tidak akan mengingkari janji. Aku akan menjadi dokter
yang bisa membanggakan desa itu. Yang bisa membanggakan kamu.
Ia membuka buku catatannya, membaca halaman demi halaman.
Catatan tentang Pak Karyo yang keras kepala. Catatan tentang Bintang yang
stunting. Catatan tentang air sungai yang tercemar E. coli. Catatan tentang
wabah ISPA yang melanda desa. Catatan tentang gotong royong jamban. Catatan
tentang senyum Anita ketika ia membersihkan busi motor tuanya. Semua itu masih
segar dalam ingatannya, seperti baru terjadi kemarin.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Anita masuk. Ia membacanya
dengan saksama, membiarkan setiap kata meresap ke dalam hatinya. Air matanya
jatuh—bukan karena sedih, tapi karena haru. Ia membayangkan Anita duduk di
balai desa, di tempat yang sama di mana mereka pertama kali bertemu, menulis
pesan dengan jari yang gemetar, air mata membasahi layar ponsel. Ia
membayangkan desa yang sedang berubah, program yang terus berjalan, Bintang
yang semakin sehat, Amat Junior yang menjadi ketua Karang Taruna. Dan ia
membayangkan Anita, perempuan yang memilih menunggunya, yang percaya padanya,
yang mencintainya meskipun jarak memisahkan.
Erlangga: (mengetik
balasan, suaranya tidak terdengar tetapi hatinya berbicara) "Terima
kasih, Anita. Untuk setiap doa, untuk setiap pesan, untuk setiap detik yang
kamu luangkan untuk memikirkanku. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan
menyelesaikan ini. Aku akan kembali. Dan aku akan menjadi dokter yang layak
untuk desa ini, yang layak untukmu."
Ia mengirim pesan itu, lalu meletakkan ponselnya di samping
buku catatan. Ia menatap foto Anita yang terselip di halaman terakhir, senyumnya
yang tulus, matanya yang berbinar, kebaya biru yang ia kenakan di acara
perpisahan. Ia tersenyum, lalu memejamkan mata. Besok pagi, ia harus bangun
pukul lima untuk persiapan operasi lagi. Tapi malam ini, ia akan membiarkan
dirinya merindukan, membiarkan hatinya terasa berat, karena ia tahu bahwa di
seberang sana, ada seseorang yang juga merindukannya.
Keesokan harinya, di warung Pak Karyo, suasana seperti
biasa: ramai, hangat, dan penuh dengan cerita. Pak Karyo sedang meracik kopi
untuk para pelanggan yang mulai berdatangan. Bintang duduk di pangkuannya,
sesekali menyuap keripik telur ke mulut kakeknya dengan canggung tapi penuh
semangat. Di meja-meja kayu yang sudah agus usang, duduk Bu Yuni, Pak Eko, Bu
Lulu, dan beberapa warga lain. Mereka sedang membicarakan kabar terbaru dari
Erlangga, kabar yang diterima Anita kemarin dan langsung menyebar ke seluruh
desa dalam hitungan jam. Di desa seperti Awan Biru, tidak ada yang benar-benar
bisa menjadi rahasia. Setiap kabar baik akan segera tersebar, dibawa oleh
angin, dibicarakan di warung kopi, didoakan bersama.
Bu Yuni: (sambil
menyesap kopinya, matanya berbinar-binar) Kabarnya Mas Erlangga mau
ujian, ya? Dua bulan lagi katanya. Doain semoga lancar. Aku dengar dari Anita,
beliau sekarang lagi koas di rumah sakit besar. Tangani operasi pasien anak
kemarin. Lima jam operasinya, katanya.
Pak Karyo: (sambil
meracik kopi untuk pelanggan baru, tangannya masih lincah meskipun usianya
sudah tidak muda, suaranya penuh kebanggaan) Iya, Bu. Saya tadi pagi
juga kirim pesan ke beliau. Saya bilang, "Mas, kalau lulus, jangan lupa
bagi-bagi telur ke warga." Hahaha. Saya sudah siapkan stok telur ayam
kampung khusus untuk acara itu. Dua kardus, tidak, tiga kardus! Yang penting
anak muda bahagia.
Bu Lulu: (yang
duduk di pojok dengan buku catatan dan kalkulator di tangannya—karena baginya,
setiap acara harus dihitung dengan cermat, suaranya serius tetapi matanya
tersenyum) Eh, jangan main-main. Kalau Mas Erlangga lulus, kita harus
siapkan sambutan meriah. Ini bukan sembarang acara. Ini penyambutan dokter
pertama yang akan bertugas di desa kita. Saya usulkan anggaran untuk acara
penyambutan. Kita hitung-hitung dulu: konsumsi, dekorasi, sound system, honor
untuk pemain musik, dan... (ia mulai menekan-nekan kalkulator dengan jari yang
lincah) mungkin kita perlu alokasi dana desa untuk ini.
Pak Eko: (menghela
napas, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan, kipasnya bergerak lambat
karena cuaca tidak terlalu panas) Bu Lulu, apapun selalu dianggarkan.
Tapi itu ide bagus. Kita akan sambut beliau sebagai dokter desa pertama kita.
Sudah sepantasnya kita memberikan penghormatan. Tapi jangan keburu, Bu. Belum
lulus, belum jelas penempatannya. Doakan dulu.
Pak Karyo: (meletakkan
gelas kopi di depan Bu Yuni, lalu duduk di kursi di samping meja, suaranya
sedikit serak tetapi penuh keyakinan) Doa kita semua sudah menyertai
Mas Erlangga. Saya setiap malam berdoa, "Ya Allah, luluskan Mas Erlangga.
Jadikan dia dokter yang baik. Dan kembalikan dia ke desa kami." Bintang
juga ikut berdoa. Tadi malam dia bilang, "Ya Allah, Abang Erlangga jadi
dokter. Bintang mau jadi dokter juga." Hahaha. Anak kecil itu polos, tapi
doanya paling kuat.
Semua yang hadir tersenyum. Pak Iwan yang baru saja datang
dengan langkah mantapnya, langsung duduk di kursi kehormatan yang biasa
disediakan untuknya. Ia sudah mendengar kabar dari Bu Yuni, dan wajahnya pagi
itu berseri-seri seperti orang yang baru menerima kabar gembira.
Pak Iwan: (setelah
duduk, memesan kopi dari Pak Karyo dengan lambaian tangan, suaranya penuh
wibawa tetapi hangat) Saya sudah bicara dengan puskesmas kecamatan
minggu lalu. Mereka sangat mendukung kalau Mas Erlangga bertugas di sini.
Asalkan beliau bersedia. Puskesmas bahkan sudah menyiapkan program pendampingan
untuk dokter muda yang baru lulus. Tapi semua tergantung Mas Erlangga. Kita
tidak bisa memaksakan.
Santoso: (yang
duduk di kursi rotan di sudut warung, dengan tongkat di tangan dan kipas bambu
yang bergerak lambat, suaranya dalam dan bijak) Biarlah. Itu pilihan
hidupnya. Yang penting kita dukung dan doakan. Kalau dia memilih kembali ke
sini, kita sambut dengan suka cita. Kalau dia memilih jalan lain, kita tetap
doakan yang terbaik. Tapi saya yakin... (ia tersenyum, matanya menatap ke arah
balai desa di kejauhan) Mas Erlangga akan kembali. Saya lihat sendiri bagaimana
dia mencintai desa ini. Dan bagaimana dia mencintai Anita.
Bu Yuni: (tersenyum
misterius, suaranya penuh arti) Itu rahasia umum, Pak Santoso. Semua
orang sudah tahu. Yang belum tahu mungkin hanya mereka berdua. Tapi lihat
sekarang, mereka sudah saling mengakui. Tinggal menunggu waktu saja.
Pak Eko: (tertawa) Bu
Yuni, jangan keburu. Urusan hati itu butuh proses. Yang penting sekarang, kita
doakan semuanya lancar. Mas Erlangga lulus ujian, kembali ke desa, dan... (ia
menoleh ke Bu Lulu) Bu Lulu sudah siap dengan anggarannya.
Bu Lulu: (mengangguk
serius) Siap. Saya sudah punya draft. Tinggal finalisasi. Yang penting
Mas Erlangga kasih kabar satu bulan sebelumnya, supaya saya punya waktu untuk
mengalokasikan anggaran.
Semua tertawa. Pak Karyo sampai menumpahkan kopi lagi,
tetapi ia hanya tertawa dan mengelapnya dengan lap tangan. Bintang ikut
tertawa, meskipun tidak mengerti apa yang lucu. Ia sibuk dengan keripik telur
di tangannya, sesekali menatap ke arah jalan desa, berharap melihat Abang
Erlangga lewat dengan senyum khasnya.
Malam harinya, di rumah Anita, suasana berbeda. Si Amat
sudah menyiapkan sayur asem kesukaan Anita, resep almarhumah istrinya yang
selalu ia masak setiap kali Anita sedang sedih atau lelah. Aroma asam segar
dari sayur asem memenuhi rumah sederhana itu, bercampur dengan wangi dupa yang
menyala di depan foto almarhumah, foto seorang perempuan dengan senyum lembut
yang sangat mirip dengan Anita. Meja makan telah ditata sederhana: nasi hangat,
sayur asem, tahu tempe goreng, dan sambal terasi yang dibuat Si Amat dengan
resep andalannya.
Anita duduk di kursi kayu di ruang tamu, buku laporan
posyandu yang tadi siang belum selesai kini sudah rapi di atas meja. Matanya
tidak lagi menatap ponsel—ia sudah mengirim pesan pada Erlangga sore tadi, dan
ia tahu pemuda itu sedang sibuk dengan jadwal malam di rumah sakit. Ia tidak
ingin mengganggu. Ia akan menunggu hingga tengah malam, seperti yang sudah
menjadi kebiasaannya.
Di tangannya, ia memegang foto Erlangga, foto yang diambil
Hermansyah saat acara perpisahan, ketika Erlangga berdiri di panggung dengan
mikrofon di tangan, matanya berkaca-kaca, senyumnya penuh haru. Foto itu sudah
dilaminating, diselipkan di buku kerja yang selalu ia bawa ke mana-mana. Malam
ini, ia memandanginya lebih lama, seolah ingin mengingat setiap detail wajah
pemuda itu: mata yang teduh, senyum yang tulus, garis rahang yang tegas, rambut
yang sedikit berantakan karena helm.
Anita: (berbisik,
suaranya nyaris tak terdengar, matanya tidak lepas dari foto itu) Aku
rindu, Erlang. Sangat rindu. Tapi aku akan menunggu. Aku tidak akan menyerah.
Aku percaya pada janjimu.
Ia meletakkan foto itu di atas meja, di samping buku
laporan. Lalu ia menutup matanya, menggenggam kedua tangannya di pangkuan.
Doa-doa ia panjatkan—bukan doa yang rumit, bukan doa yang panjang, tetapi doa
yang tulus, yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Ya Allah, jagalah dia. Jaga kesehatannya, jaga semangatnya,
jaga hatinya. Beri dia kekuatan untuk menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.
Beri dia ketenangan di tengah kesibukan yang melelahkan. Dan jika Engkau
berkenan, kembalikan dia ke sini. Kembalikan dia ke desa ini, ke orang-orang
yang mencintainya, ke... aku. Aku tidak meminta yang mudah. Aku hanya meminta
kesempatan untuk berjuang bersamanya. Amin.
Si Amat yang berdiri di ambang pintu dapur, melihat
putrinya berdoa dengan mata terpejam. Air matanya jatuh—bukan karena sedih,
tetapi karena haru. Ia melihat Anita, anaknya yang dulu kecil berlarian di
halaman, yang sekarang telah menjadi perempuan dewasa yang kuat, yang teguh,
yang mencintai dengan sepenuh hati. Ia melihat kesamaan dengan almarhumah
istrinya—cara Anita berdoa, cara ia menggenggam tangannya, cara ia menundukkan
kepalanya dengan penuh ketulusan. Ia mengusap air matanya dengan punggung
tangan, lalu melangkah mendekat.
Si Amat: (suaranya
lembut, tidak ingin mengganggu doa putrinya) Anita, makan dulu. Sayur
asemnya sudah dingin.
Anita membuka matanya. Ia menatap ayahnya yang berdiri di
sampingnya dengan mata yang basah tetapi senyum yang tulus.
Anita: (tersenyum) Iya,
Yah. Aku lapar.
Si Amat: (duduk
di samping Anita, mengambil foto Erlangga dari atas meja, memandanginya
sebentar, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati) Anita, ayah
ingin bilang sesuatu.
Anita: (menatap
ayahnya) Apa, Yah?
Si Amat: (menghela
napas, mengumpulkan kata-kata) Ayah bangga padamu. Bukan karena kamu
menjadi kader yang baik, bukan karena kamu membantu banyak orang, bukan karena
kamu dicintai oleh desa ini. Tapi karena kamu tidak berubah. Kamu tetap Anita
yang ayah kenal sejak kecil: teguh, setia, dan tidak mudah menyerah. Itu semua
warisan ibumu. Dan ayah yakin, dengan sikap itu, kamu akan melewati masa-masa
sulit ini. Kamu akan bertemu dengan kebahagiaan yang kamu cari.
Anita tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk ayahnya, pelukan
yang jarang ia lakukan sejak dewasa, tetapi kali ini terasa begitu alami.
Anita: (terisak di
bahu ayahnya) Terima kasih, Yah. Aku sayang ayah.
Si Amat: (membalas
pelukan putrinya, suaranya serak karena menahan tangis) Aku juga
sayang kamu, Nak. Sekarang, ayo makan. Nanti aku ceritain tentang ibumu dulu.
Tentang bagaimana dia menunggu ayah, dan bagaimana ayah akhirnya sadar bahwa
dia adalah orang yang paling berharga dalam hidup ayah.
Anita: (melepaskan
pelukan, mengusap air matanya, tersenyum) Iya, Yah. Aku mau dengar.
Mereka berdua duduk di meja makan, menikmati sayur asem
yang hangat, ditemani oleh aroma dupa dan kenangan tentang seorang perempuan
yang telah tiada, tetapi cintanya masih terasa hingga sekarang. Di luar, langit
Awan Biru dipenuhi bintang-bintang, berkelap-kelip menyaksikan doa-doa yang
dipanjatkan dari desa kecil di lereng perbukitan. Doa dari seorang ayah untuk
putrinya, doa dari seorang perempuan untuk pria yang ia cintai, doa dari warga
untuk dokter muda yang telah memilih desa ini sebagai rumah keduanya.
Dan di kota, di balkon kos-kosan yang sempit, Erlangga
menatap langit malam yang redup, tetapi ia tidak merasa sendirian. Ia merasakan
doa-doa yang mengalir dari desa, dari Anita, dari Pak Karyo, dari Bintang, dari
semua orang yang ia cintai. Ia merasakan kehangatan yang tidak bisa diberikan
oleh selimut atau jaket tebal. Ia tersenyum, lalu kembali ke meja belajarnya,
membuka buku kedokteran yang tebal, dan melanjutkan perjuangannya. Untuk desa
itu. Untuk Anita. Untuk masa depan yang telah ia janjikan.
BAB 10: Titik Nol Perjalanan Baru
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Enam bulan setelah
mobil box hijau itu meninggalkan Desa Awan Biru, setelah ratusan pesan singkat
yang terjalin di tengah malam, setelah puluhan telepon yang terputus karena
sinyal, setelah air mata yang jatuh di kedua tempat yang terpisah jarak, enam
bulan yang terasa seperti enam tahun bagi dua hati yang saling merindu, Erlangga
menyelesaikan ujian profesi dokter dengan hasil yang memuaskan. Tidak sekadar
lulus, ia lulus dengan predikat cumlaude, sebuah pencapaian yang membuat
namanya tercatat sebagai salah satu lulusan terbaik di angkatannya.
Dosen-dosennya berbangga, teman-temannya memberi selamat, dan keluarganya di
kota menyambut dengan haru dan bangga.
Namun bagi Erlangga, selembar ijazah dan segel dokter
bukanlah tujuan akhir. Itu hanyalah tiket menuju sebuah perjalanan baru, perjalanan
yang telah ia janjikan pada dirinya sendiri, pada sebuah desa di lereng
perbukitan, pada seorang perempuan yang telah mengajarinya arti cinta dan
pengabdian. Tanpa menunggu lama, ia segera mempersiapkan diri untuk kembali ke
Desa Awan Biru. Ia sudah mendaftarkan diri pada program penempatan dokter muda
di daerah terpencil, dan secara resmi, Desa Awan Biru telah menjadi pilihan
pertamanya. Puskesmas kecamatan menyambut dengan antusias, Pak Iwan sudah
menyiapkan rumah dinas sederhana di belakang kantor desa, dan warga sudah mulai
bergotong royong membersihkan bangunan yang akan menjadi tempat praktik dokter
pertama di desa itu.
Namun sebelum semua itu, Erlangga harus menghadapi satu rintangan
terakhir: keluarganya.
Di rumah besar keluarga Erlangga di ibu kota provinsi,
suasana berbeda dari biasanya. Rumah itu adalah rumah bergaya kolonial dengan
halaman luas yang dihiasi pohon-pohon jati dan bunga-bunga yang dirawat dengan
rapi. Tembok putihnya bersih, jendela-jendela kayunya mengilap, dan di dalamnya
terdapat perabotan antik yang diwariskan turun-temurun. Rumah ini telah menjadi
saksi bisu perjalanan keluarga dokter selama tiga generasi. Kakek Erlangga
adalah dokter pertama di keluarganya, seorang dokter umum yang membuka praktik
di kota ini pada tahun 1960-an. Ayahnya, Dr. Hermawan, adalah dokter spesialis
bedah yang namanya dikenal di seluruh provinsi, seorang profesor di fakultas
kedokteran universitas negeri, dan konsultan di tiga rumah sakit besar. Ibunya,
Dr. Larasati, adalah dokter spesialis anak yang memilih berhenti praktik setelah
menikah untuk fokus membesarkan Erlangga dan adik perempuannya.
Erlangga adalah anak pertama, harapan keluarga untuk
melanjutkan tradisi kedokteran. Sejak kecil, ia sudah dididik untuk menjadi
dokter yang hebat, bukan hanya dokter biasa, tetapi dokter spesialis dengan
reputasi nasional, seperti ayahnya. Setiap langkahnya diatur, setiap pilihannya
diarahkan, setiap mimpinya dibentuk oleh ekspektasi yang telah terpasang jauh
sebelum ia mengerti apa artinya menjadi dokter.
Malam itu, Erlangga duduk di ruang keluarga yang luas, di
kursi kayu jati yang sama sejak ia kecil. Di depannya, di meja panjang dengan
taplak renda putih, tergeletak beberapa lembar surat: satu surat penawaran
residensi bedah di Rumah Sakit Pusat Pendidikan Universitas Sejahtera—program
yang paling bergengsi, yang hanya menerima tiga lulusan terbaik setiap
tahunnya. Erlangga adalah salah satu dari tiga orang yang diterima. Satu surat
lagi adalah surat penempatan dokter muda dari Kementerian Kesehatan, dengan
pilihan daerah tugas yang bisa diisi sendiri. Di kolom pilihan pertama,
Erlangga telah menulis dengan tegas: Desa Awan Biru, Kecamatan
Sumberejo, Kabupaten Malang. Di kolom alasan, ia menulis: "Mengabdi
kepada masyarakat yang belum terjangkau pelayanan kesehatan yang memadai,
sebagai wujud implementasi ilmu yang telah diperoleh."
Ayah Erlangga, Dr. Hermawan, duduk di kursi kebesarannya di
ujung meja. Pria berusia 58 tahun itu masih tampak tegap, dengan rambut yang
mulai memutih di pelipis dan kacamata baca yang selalu tergantung di saku
kemejanya. Wajahnya yang biasanya hangat dan ramah terhadap pasien, malam itu
tampak tegang. Matanya yang tajam menatap surat-surat yang tergeletak di meja,
lalu menatap putranya yang duduk di hadapannya dengan postur tegap namun mata
yang tenang.
Ayah Erlangga: (suaranya
berat, tidak tinggi tetapi penuh tekanan, seperti seorang profesor yang sedang
menguji mahasiswanya) Erlangga, saya sudah membaca surat ini.
Penawaran residensi bedah dari rumah sakit pusat. Program terbaik di
universitas ini. Hanya tiga orang yang diterima setiap tahun, dan kamu salah
satunya. Kamu tahu apa artinya ini? Ini adalah kesempatan yang tidak datang dua
kali. Dua tahun residensi, lalu kamu akan menjadi spesialis bedah. Setelah itu,
dunia akan terbuka untukmu. Kamu bisa praktik di mana saja, mengabdi di mana
saja, bahkan menjadi profesor seperti saya jika kamu mau.
Ia mengambil surat penawaran residensi, menatapnya seolah
surat itu adalah benda paling berharga yang pernah ia terima.
Ayah Erlangga: Tapi
kamu... (suaranya mulai naik sedikit, menunjukkan emosi yang selama ini ia
tahan) kamu menolaknya? Kamu memilih untuk menjadi dokter umum di desa
terpencil? Kamu serius, Erlangga?
Erlangga duduk tegap di kursinya. Ia tidak membungkuk,
tidak menunduk, tidak menunjukkan keraguan yang mungkin ia rasakan di dalam
hati. Ia menatap ayahnya dengan mata yang jujur dan tenang—mata yang sama
ketika ia pertama kali berdiri di hadapan Pak Edi yang skeptis, ketika ia
membujuk Pak Karyo yang keras kepala, ketika ia mengaku cinta pada Anita di pematang
sawah.
Erlangga: (suaranya
mantap, tidak tergesa, setiap kata terucap dengan penuh kesadaran) Ayah,
saya serius. Ini bukan penolakan terhadap residensi. Ini penundaan. Saya tidak
mengatakan tidak akan pernah mengambil spesialisasi. Tapi saya ingin mengabdi
dulu di tempat yang membutuhkan saya. Di desa itu, Ayah, tidak ada dokter. Satu
kecamatan hanya punya satu puskesmas dengan dua dokter umum yang kewalahan
melayani ribuan pasien. Bidan desa harus bekerja sendirian tanpa dokter
pendamping. Ibu hamil harus berjalan satu jam ke puskesmas untuk memeriksakan
kehamilan. Anak-anak balita menderita stunting karena gizi buruk yang
sebenarnya bisa dicegah. Mereka butuh dokter. Mereka butuh saya. Sekarang,
bukan nanti setelah saya jadi spesialis.
Ayah Erlangga terdiam. Jari-jarinya yang biasa memegang
pisau bedah dengan ketelitian luar biasa, kini gemetar sedikit menahan emosi.
Ayah Erlangga: (suaranya
sedikit serak, tetapi masih berusaha tegar) Erlang, saya tidak
melarangmu mengabdi. Saya bangga kamu punya jiwa pengabdian. Tapi setidaknya,
ambil residensi dulu. Dua tahun. Setelah kamu menjadi spesialis, kamu bisa
mengabdi di mana saja. Bahkan di desa itu. Kamu akan lebih berguna sebagai
dokter spesialis daripada dokter umum. Pikirkan itu.
Ibu Erlangga, Dr. Larasati, yang duduk di samping suaminya
dengan sapu tangan di tangan, tidak bisa menahan air matanya lagi. Perempuan
yang dulu dikenal sebagai dokter anak yang tangguh, yang bisa menenangkan
pasien kecil yang menangis dengan senyumnya, malam itu menangis di depan
putranya.
Ibu Erlangga: (suaranya
terputus-putus, air mata mengalir di pipinya yang masih terawat) Nak...
ibu tidak melarangmu mengabdi. Ibu bangga kamu mau membantu orang-orang yang
membutuhkan. Tapi... (ia menangis sebentar, berusaha mengumpulkan kata-kata)
ibu khawatir. Kamu akan jauh dari kami. Kamu akan hidup di desa dengan
fasilitas yang minim. Kamu tidak punya pengalaman hidup di tempat seperti itu.
Apa kamu siap? Apa kamu yakin tidak akan menyesal?
Erlangga berdiri dari kursinya. Ia berjalan mengelilingi
meja, lalu duduk di samping ibunya. Ia meraih tangan ibunya yang dingin dan
gemetar, menggenggamnya erat-erat.
Erlangga: (suaranya
lembut, penuh kasih sayang) Ma, aku sudah tinggal di desa itu selama
tiga bulan. Aku tahu bagaimana rasanya mandi dengan air sumur yang dingin,
tidur di kasur tipis dengan suara jangkrik dan kodok, berjalan di jalan berbatu
yang licin saat hujan. Aku sudah merasakan semua itu, Ma. Dan aku tidak
menyesal. Aku justru menemukan sesuatu yang tidak pernah aku temukan di kota
ini. Aku menemukan makna menjadi dokter yang sesungguhnya. Bukan tentang ruang
operasi mewah atau gaji besar. Tapi tentang senyum seorang kakek yang cucunya
akhirnya sehat, tentang pelukan seorang ibu yang anaknya tidak lagi stunting,
tentang kepercayaan warga yang dulu skeptis kini datang dengan sukarela ke
posyandu.
Ia mengusap air mata di pipi ibunya dengan lembut.
Erlangga: Aku
sudah berjanji pada mereka, Ma. Aku sudah berjanji pada seorang anak kecil
bernama Bintang yang bermimpi menjadi dokter seperti aku. Aku sudah berjanji
pada seorang kakek tua yang dulu keras kepala dan sekarang menjadi juru bicara
kesehatan di warungnya. Aku sudah berjanji pada seorang kepala desa yang telah
menyiapkan rumah dinas untukku. Dan aku sudah berjanji pada... (ia berhenti,
tersenyum) pada seseorang yang telah mengajarkanku arti cinta dan pengabdian.
Aku tidak bisa mengingkari janji itu, Ma.
Ibu Erlangga terdiam. Air matanya masih jatuh, tetapi
senyum mulai muncul di bibirnya. Ia melihat putranya—bukan lagi anak kecil yang
dulu ia gendong, bukan lagi remaja yang ia khawatirkan, tetapi seorang
laki-laki dewasa yang tahu apa yang ia inginkan dan berani memperjuangkannya.
Ibu Erlangga: (suaranya
lembut, penuh cinta) Kamu sangat mirip ayahmu dulu. Waktu dia
memutuskan untuk mengambil spesialisasi bedah, kakekmu marah besar. Kakekmu
ingin dia jadi dokter umum seperti beliau, praktik di kota ini, meneruskan
praktik keluarga. Tapi ayahmu bersikeras. Dia bilang, panggilannya adalah di
ruang operasi, menyelamatkan nyawa yang hampir putus. Dan sekarang, lihatlah...
(ia menoleh ke suaminya, tersenyum) dia menjadi dokter bedah yang dihormati.
Mungkin kamu juga sama. Panggilanmu berbeda, tapi keteguhanmu sama.
Ayah Erlangga yang sedari tadi diam, mendengarkan
percakapan antara istri dan putranya. Wajahnya yang tegang perlahan melunak. Ia
menghela napas panjang—napas yang berat, yang menandakan bahwa ia sedang
berperang dengan dirinya sendiri antara kebanggaan dan kekhawatiran, antara
harapan dan realitas.
Ayah Erlangga: (setelah
hening yang lama, suaranya dalam tetapi lembut) Kamu mirip aku dulu,
Nak. Aku dulu juga memilih jalan yang tidak disukai kakekmu. Aku dulu ingin
jadi dokter bedah, sementara kakekmu ingin aku meneruskan praktik umumnya. Kami
bertengkar berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Tapi lihat, aku berhasil. Bukan
karena aku membuktikan bahwa aku benar, tapi karena aku mengikuti panggilan
hatiku. Dan sekarang, melihatmu berdiri di sini, dengan keyakinan yang sama,
aku... (ia berhenti, menelan ludah) aku bangga.
Ia berdiri, berjalan mengelilingi meja, dan berdiri di
hadapan putranya. Tangannya yang kekar—tangan yang telah melakukan ribuan
operasi, tangan yang telah menyelamatkan ratusan nyawa—diletakkannya di pundak
Erlangga.
Ayah Erlangga: Baiklah,
kalau itu pilihanmu, aku akan dukung. Tapi aku punya satu syarat.
Erlangga: (matanya
berbinar) Syarat apa pun, Ayah. Aku terima.
Ayah Erlangga: Dua
tahun. Kamu mengabdi di desa itu selama dua tahun. Setelah itu, kamu harus
mempertimbangkan lagi untuk mengambil spesialisasi. Bukan karena aku tidak
percaya dengan pilihanmu, tapi karena aku tahu bahwa ilmu itu harus terus
dikembangkan. Menjadi dokter umum yang baik itu mulia, tapi menjadi dokter
spesialis yang baik dan mengabdi di daerah terpencil akan lebih mulia. Kamu
bisa membawa lebih banyak manfaat bagi lebih banyak orang. Setuju?
Erlangga: (tersenyum
lebar, mengangguk tegas) Setuju, Ayah. Aku janji. Dua tahun di desa,
dan setelah itu aku akan mempertimbangkan spesialisasi. Tapi Ayah harus janji
juga, kalau nanti aku memutuskan untuk tetap di desa, Ayah tidak boleh memaksa.
Ayah Erlangga: (tertawa
kecil, pertama kali malam itu) Kamu ini, sudah mulai berani
bernegosiasi dengan ayahmu. Baik, aku janji. Tapi satu lagi...
Erlangga: (mengangkat
alis) Ada apa lagi, Yah?
Ayah Erlangga: (tersenyum
misterius) Ibu bilang, kamu berjanji pada seseorang di desa itu. Siapa
dia? Jangan-jangan ini alasan sebenarnya kamu ingin kembali ke sana? Bukan
karena pengabdian, tapi karena... (ia menatap putranya dengan tatapan tajam
tetapi hangat) cinta?
Erlangga tersenyum malu. Wajahnya yang biasanya tenang dan
percaya diri, mendadak memerah seperti remaja yang baru pertama kali jatuh
cinta. Ia menunduk, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, gestur yang
sama ketika ia pertama kali bertemu Anita di balai desa.
Erlangga: (suaranya
kecil, malu-malu) Sebenarnya... ada satu lagi yang ingin aku
sampaikan, Yah, Ma. Tapi aku takut Ayah dan Ibu tidak setuju.
Ibu Erlangga: (matanya
berbinar, segera bangkit dari kursinya) Astaga, jangan-jangan... (ia menoleh
ke suaminya) Pak, ini dia. Aku sudah duga sejak Erlang bercerita tentang desa
itu terus-menerus. Ada perempuan di sana, ya?
Erlangga: (mengangguk
pelan, senyumnya tidak bisa disembunyikan) Namanya Anita, Ma. Dia
adalah Kader Pembangunan Manusia di desa itu. Dia yang mendampingi aku selama
KKN. Dia yang mengajarkan aku arti pengabdian sejati. Dia... (ia mencari
kata-kata) dia adalah perempuan paling kuat, paling teguh, paling berani yang
pernah aku temui. Dan aku... aku ingin mempersuntingnya, Ma. Aku ingin Ayah dan
Ibu merestui.
Ibu Erlangga tidak bisa menahan harunya. Ia memeluk
putranya erat-erat, air matanya jatuh membasahi bahu kemeja Erlangga.
Ibu Erlangga: (terisak
di bahu putranya) Astaga, Erlang... kamu benar-benar mengejutkan ibumu
hari ini. Tadi tentang desa, sekarang tentang perempuan. Apa lagi yang kamu
sembunyikan dari ibu?
Erlangga: (tertawa
kecil, membalas pelukan ibunya) Tidak ada lagi, Ma. Itu saja. Aku
janji.
Ayah Erlangga yang melihat adegan itu, hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Ia berjalan mendekat, menepuk
pundak putranya dengan penuh kebanggaan.
Ayah Erlangga: (suaranya
penuh kehangatan) Jadi, ini alasanmu sebenarnya? Perempuan desa yang
membuatmu betah di tempat itu?
Erlangga: (melepaskan
pelukan ibunya, menatap ayahnya dengan mata yang jujur) Bukan hanya
karena itu, Yah. Tapi ya, dia adalah salah satu alasan terbesar aku ingin
kembali. Dia adalah perempuan yang tidak pernah mengeluh meskipun berjuang
sendirian selama dua tahun. Dia menggunakan uang pribadinya untuk membeli obat
ketika stok habis. Dia keliling desa di tengah hujan untuk memeriksa balita
yang sakit. Dia menangis di kamar sendirian ketika ada warga yang meninggal
karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Dan dia... (ia tersenyum) dia membuatku
mengerti bahwa cinta tidak perlu mewah. Cinta adalah tentang dua orang yang
memilih untuk berjuang bersama, meskipun jalan di depan tidak selalu mudah.
Ayah Erlangga terdiam. Ia menatap putranya—bukan lagi
sebagai anak yang harus diarahkan, tetapi sebagai seorang laki-laki dewasa yang
telah menemukan apa yang ia cari. Ia mengingat masa mudanya, ketika ia juga
berjuang untuk cinta dan panggilan hatinya. Ia mengingat bagaimana ia
meyakinkan ayahnya yang keras kepala, bagaimana ia membuktikan bahwa pilihannya
benar, bagaimana ia akhirnya diterima.
Ayah Erlangga: (tertawa,
suaranya hangat) Jadi, selama ini kamu KKN atau mencari jodoh, Nak?
Erlangga: (tertawa
kecil, lega karena ketegangan mencair) Keduanya, Yah. Aku pinter, kan?
Sekali jalan, dua tujuan tercapai.
Ibu Erlangga: (mengusap
air matanya, tersenyum) Ya ampun, anak ini. Jadi, kapan kita bisa
bertemu dengan calon menantu ibu? Ibu harus lihat sendiri perempuan yang bisa
membuat anak ibu yang keras kepala ini jatuh cinta.
Erlangga: (tersenyum) Sabar,
Ma. Aku akan ke desa dulu minggu depan. Aku harus menepati janjiku menjadi
dokter di sana. Setelah situasi stabil, aku akan ajak Anita ke sini. Atau kalau
Ayah dan Ibu berkenan, Ayah dan Ibu bisa ke desa. Tapi... (ia tersenyum malu)
sejujurnya, aku belum lamar resmi. Aku baru menyatakan perasaan. Aku ingin
melamarnya di desa, di hadapan warga yang sudah menjadi keluarga kedua bagiku.
Aku ingin seluruh desa menjadi saksi.
Ibu Erlangga: (terharu) Astaga,
anak ibu... romantis sekali. Ibu yakin dia perempuan yang beruntung.
Ayah Erlangga: (mengangguk,
menepuk pundak putranya) Lakukan, Nak. Kami akan datang ke desa itu
untuk melihatmu menjadi dokter, dan untuk melihat calon menantu kami. Tapi
ingat, kamu harus beri tahu kami jauh-jauh hari. Ibu perlu waktu untuk mempersiapkan
diri.
Erlangga: (tersenyum
lebar, matanya berkaca-kaca) Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu.
Untuk pengertiannya. Untuk dukungannya. Aku tidak akan mengecewakan.
Sementara itu, di Desa Awan Biru, kabar bahwa Erlangga akan
kembali menyebar lebih cepat daripada api di musim kemarau. Tidak ada yang tahu
persis bagaimana kabar itu sampai, mungkin dari telepon Anita dengan Bu Yuni,
mungkin dari pesan Erlangga pada Pak Karyo, mungkin dari angin yang membawa
berita dari kota ke desa. Yang pasti, dalam waktu kurang dari dua puluh empat
jam, seluruh desa sudah tahu: Mas Erlangga lulus ujian dokter, dan beliau akan
kembali ke Awan Biru untuk bertugas sebagai dokter desa.
Kegembiraan meledak di setiap sudut desa. Di warung Pak
Karyo, warga berbondong-bondong datang bukan untuk membeli, tetapi untuk
membicarakan kabar gembira itu. Pak Karyo sampai kehabisan kopi karena terlalu
banyak pelanggan yang datang, tetapi ia tidak keberatan. Ia malah
membagi-bagikan telur dadar gratis untuk semua orang yang datang—sebuah
kemewahan yang jarang ia lakukan.
Pak Karyo: (berdiri
di depan warungnya dengan tangan di pinggang, suaranya lantang seperti
pengumuman di balai desa) Warga Desa Awan Biru! Dengarkan saya! Mas
Erlangga, dokter kita, akan kembali minggu depan! Ini bukan kabar angin! Ini
langsung dari beliau sendiri! Beliau kirim pesan ke saya tadi pagi! Katanya,
beliau sudah lulus ujian, dan beliau akan segera ke sini! (ia mengusap air mata
yang jatuh, tidak malu-malu lagi) Saya tidak pernah menyangka, dulu saya orang
yang paling keras kepala menolak program kesehatan, sekarang saya punya dokter
sendiri di desa. Ini... ini luar biasa.
Bu Yuni: (yang
sudah sibuk dengan buku catatannya sejak pagi, suaranya antusias) Pak
Karyo, jangan cuma bicara! Kita harus siapkan penyambutan! Mas Erlangga datang
bukan sebagai mahasiswa KKN lagi, tapi sebagai dokter yang akan bertugas di
desa kita! Ini sejarah! Kita harus sambut dengan meriah!
Pak Eko: (mengangguk-angguk,
kipasnya bergerak cepat karena semangat) Setuju, Bu. Tapi kita harus
rapat dulu. Koordinasi dengan Pak Iwan, dengan Karang Taruna, dengan semua
elemen desa. Jangan sampai sambutannya asal-asalan. Ini momen bersejarah.
Bu Lulu: (yang
sudah mengeluarkan kalkulator dan buku catatan keuangannya sejak mendengar
kabar, suaranya serius seperti sedang merencanakan APBDes) Saya sudah
hitung kasar. Untuk penyambutan yang meriah, kita butuh dana sekitar lima juta.
Untuk dekorasi, konsumsi, sound system, dan hadiah cendera mata. Tapi saya rasa
ini investasi yang bagus. Dokter desa pertama kita, layak disambut dengan baik.
Saya akan usulkan dalam rapat nanti.
Pak Iwan: (yang
baru saja datang dengan langkah cepat, suaranya menggelegar penuh semangat) Bu
Lulu, jangan hitung-hitungan dulu! Yang penting kita siapkan dari hati. Saya
sudah bicara dengan Pak Santoso. Beliau setuju kita adakan penyambutan di
lapangan desa. Saya minta Karang Taruna yang memimpin dekorasi. Bu Yuni
koordinasi konsumsi. Pak Eko urus sound system dan dokumentasi. Bu Lulu... (ia
tersenyum) Bu Lulu tetap hitung anggaran, tapi jangan pelit-pelit, ya. Ini
untuk anak kita yang kembali.
Bu Lulu: (mengangguk
tegas) Siap, Pak Kades. Saya akan alokasikan anggaran terbaik. Tapi
Pak Kades harus setuju, nanti kalau ada kelebihan, tidak boleh minta tambahan
di tengah jalan. Anggaran harus matang dari awal.
Pak Iwan: (tertawa) Iya,
Bu Lulu. Saya serahkan pada ahlinya.
Di sisi lain, Yulia, Guntur, Naila, Camelia, Amat Junior,
dan Hermansyah sudah berkumpul di posko Karang Taruna, posko yang dulu menjadi
tempat KKN Erlangga. Mereka sedang sibuk mendesain dekorasi untuk penyambutan.
Kertas-kertas gambar berserakan di meja, spidol warna-warni bertebaran di
lantai, dan ide-ide bergantian dilontarkan dengan semangat yang menggebu-gebu.
Yulia: (sibuk mengatur
dekorasi di atas kertas gambar, suaranya nyaring seperti biasa) Guntur,
jangan pasang janur terbalik! Nanti malah kelihatan kayak acara duka. Janur
harus mengarah ke atas, melambangkan harapan. Bukan ke bawah, melambangkan...
ya, jangan ke bawah.
Guntur: (sedang
memegang beberapa lembar janur yang sudah dipotong, mengomel dengan nada
bercanda) Kamu aja yang ribet. Ini kan seni. Seni itu bebas. Janur
dipasang ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, sama saja. Yang penting indah.
Yulia: (menghela napas
dramatis) Guntur, ini bukan seni abstrak. Ini dekorasi penyambutan
dokter. Harus rapi, harus formal, harus berkesan. Jangan sampai Mas Erlangga
datang, lihat janurnya terbalik, terus dia bilang, "Wah, warga Awan Biru
tidak bisa bedakan janur untuk acara bahagia dan acara duka." Aku malu!
Guntur: (tertawa) Ya
sudah, kalau kamu begitu, kamu saja yang pasang. Saya cukup jadi pengawas.
Naila: (yang sedang
menulis teks spanduk dengan tulisan rapi, suaranya semangat) Yulia,
spanduknya tulis apa? Aku sudah punya beberapa pilihan. Pertama: "Selamat
Datang Dokter Erlangga, Putra Terbaik Desa Awan Biru." Kedua: "Terima
Kasih Telah Kembali, Dokter Erlangga." Ketiga: "Awan Biru Menyambut
Dokter Pertamanya." Pilih mana?
Yulia: (berpikir
sejenak) Spanduk pertama, tapi tambahin kata "Dokter Muda"
biar lebih meriah. Jadi "Selamat Datang Dokter Muda Erlangga, Putra
Terbaik Desa Awan Biru". Nanti kita tambahin foto Mas Erlangga di
sampingnya. Biar warga yang belum kenal bisa lihat.
Camelia: (yang
sedang merangkai bunga dari kertas warna-warni, menyengir sambil menggoda) Wah,
lebay amat. Baru juga mau datang, udah disebut putra terbaik. Nanti kalau Mas
Erlangga baca, dia bisa malu. Mbak Anita juga bisa cemburu, lho. Mas Erlangga
disebut putra terbaik, Mbak Anita belum disebut apa-apa.
Amat Junior: (yang
sedang sibuk mengecek sound system pinjaman dari kecamatan, ikut nimbrung
dengan tertawa) Biarin aja, Cam. Yang penting Mbak Anita senang. Ini
calon suaminya datang. Mbak Anita pasti sudah tidak sabar. Dengar kabar Mas
Erlangga lulus dan akan kembali, wajahnya langsung cerah. Dua minggu terakhir
dia sering senyum sendiri. Kemarin pas posyandu, dia sampai lupa mencatat berat
badan Bintang. Biasanya teliti banget. Ini efek cinta, Cam.
Camelia: (tertawa) Iya,
aku lihat juga. Mbak Anita jadi lebih sering main hp, lebih sering tersenyum,
lebih sering melamun. Padahal dulu dia galak banget. Sekarang jadi kalem. Ini
semua karena Mas Erlangga.
Naila: (bertepuk
tangan kecil) Aduh, romantis banget! Mereka berdua cocok. Mas Erlangga
yang tenang dan sabar, Mbak Anita yang tegas dan enerjik. Mereka saling
melengkapi. Aku yakin pernikahan mereka nanti akan jadi acara terbesar di desa
ini.
Yulia: (menghentikan
aktivitasnya sejenak, menatap Naila dengan mata berbinar) Kamu sudah
dengar kabar? Kata Bu Yuni, Mas Erlangga bilang ke orang tuanya kalau dia mau
lamar Mbak Anita. Dan orang tuanya setuju!
Camelia: (terkejut,
bunga kertas di tangannya hampir jatuh) Astaga, serius? Jadi sebentar
lagi kita punya acara pernikahan? Aku harus siap-siap jadi penata rias!
Amat Junior: (tersenyum,
matanya berkaca-kaca) Biarlah. Yang penting Mbak Anita bahagia. Dia
sudah berjuang sendirian terlalu lama. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan. Dan
Mas Erlangga, dari yang aku lihat, adalah orang yang tepat.
Anita sendiri berdiri di depan kantor desa, memandangi
keramaian itu dengan hati berdebar. Ia tidak ikut sibuk seperti yang lain, ia
hanya berdiri di tangga kantor desa, di tempat yang sama ketika ia pertama kali
melihat Erlangga turun dari mobil box hijau tiga bulan lalu. Tiga bulan.
Rasanya seperti tiga tahun. Tiga bulan yang penuh dengan kerja keras, dengan
air mata, dengan kerinduan, dengan doa-doa yang tak pernah putus. Dan sekarang,
pria yang ia rindukan akan segera kembali. Bukan sebagai mahasiswa KKN yang
akan pergi lagi, tetapi sebagai dokter yang akan tinggal. Sebagai seseorang
yang akan berjalan di sampingnya, membangun desa ini bersama, mengubah
mimpi-mimpi menjadi kenyataan.
Anita mengenakan kebaya sederhana warna biru muda, kebaya
yang diberikan Bu Yuni minggu lalu. "Ini untukmu," kata Bu Yuni waktu
itu, dengan senyum misterius. "Pakai pas Mas Erlangga datang. Biar kamu
cantik." Anita semula menolak, mengatakan bahwa kebaya itu terlalu bagus
untuk dipakai sehari-hari. Tapi Bu Yuni bersikeras, dan akhirnya Anita menerimanya.
Kini, kebaya itu terasa pas di tubuhnya, seperti memang ditakdirkan untuk momen
ini.
Bu Yuni: (mendekati
Anita dari belakang, suaranya lembut tetapi penuh arti) Cantik sekali
kamu, Nit. Awas, nanti Mas Erlangga langsung lamar. Jangan sampai kamu kaget,
ya. Sudah siap?
Anita: (tersenyum
malu, pipinya merona) Bu Yuni, jangan bercanda. Dia datang untuk
bertugas sebagai dokter. Bukan untuk... (ia tidak mampu melanjutkan, wajahnya
semakin merah)
Bu Yuni: (tertawa
kecil) Ah, Nit. Aku sudah tua, tapi aku tidak buta. Aku lihat
bagaimana matanya mencari kamu setiap kali dia datang. Aku lihat bagaimana kamu
tersenyum setiap kali mendengar namanya. Aku lihat bagaimana kalian berdua
saling memandang di acara perpisahan dulu. Ini bukan hanya tentang tugas, Nit.
Ini tentang cinta. Dan tidak ada yang salah dengan itu.
Anita: (menunduk,
suaranya kecil) Aku takut, Bu. Takut kalau ini semua hanya mimpi.
Takut kalau nanti dia datang dan semuanya berubah. Takut kalau aku tidak cukup
baik untuknya.
Bu Yuni: (meraih
tangan Anita, menggenggamnya erat) Nit, dengarkan aku. Kamu adalah
perempuan paling kuat yang aku kenal. Kamu berjuang sendirian selama dua tahun.
Kamu tidak pernah mengeluh. Kamu tidak pernah menyerah. Dan Mas Erlangga, dia
melihat semua itu. Dia tidak datang ke sini karena kamu cantik atau karena kamu
baik. Dia datang ke sini karena dia melihat perjuanganmu, dan dia ingin
berjuang bersamamu. Itu bukan cinta yang dangkal, Nit. Itu cinta sejati. Jadi
jangan takut. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan.
Anita: (air matanya
jatuh, tetapi senyumnya lebar) Terima kasih, Bu Yuni. Aku tidak tahu
harus berbuat apa tanpa Ibu.
Bu Lulu: (yang
tiba-tiba muncul dari balik pintu balai desa dengan buku catatan di tangan,
suaranya nyaring seperti biasa) Eh, jangan menangis dulu, Nit. Nanti
makeup-nya luntur. Mas Erlangga akan lihat kamu dengan mata bengkak. Tidak
bagus untuk first impression setelah enam bulan. (ia mendekat, mengamati Anita
dari ujung rambut hingga ujung kaki) Bagus. Kebayanya pas. Rambutnya rapi.
Sekarang, jangan menangis lagi. Senyum. Tersenyumlah seperti kamu tersenyum
ketika Mas Erlangga pertama kali membersihkan busi motor kamu dulu.
Anita: (tertawa kecil,
mengusap air matanya) Bu Lulu, Ibu selalu tahu segalanya.
Bu Lulu: (mengangguk
bangga) Tentu saja. Saya Kaur Keuangan. Saya harus tahu semua yang
terjadi di desa ini. Termasuk urusan hati. Karena urusan hati juga perlu
perencanaan yang matang. Jangan sampai anggaran emosi membengkak tidak
terkendali.
Semua tertawa. Suasana di depan balai desa menjadi hangat,
penuh dengan harapan dan kebahagiaan yang tidak perlu dijelaskan dengan
kata-kata.
Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil travel berwarna
putih berhenti di depan kantor desa. Bukan mobil box hijau seperti tiga bulan
lalu, tetapi sebuah mobil travel yang membawa satu orang penumpang. Tidak ada
rombongan, tidak ada koper besar, hanya seorang pemuda dengan ransel yang sama
ketika pertama dating, ransel abu-abu yang sudah lebih lusuh, dengan tambahan
stiker kecil bergambar kabut dan tulisan "Awan Biru" yang ia cetak
sendiri di kota.
Erlangga turun dengan kemeja putih lengan panjang, lengan
digulung sedikit hingga siku, dan celana chino berwarna krem. Wajahnya sedikit
lebih kurus dari enam bulan lalu, bekas kelelahan koas yang masih tersisa, tetapi
matanya lebih berbinar, senyumnya lebih teduh. Ada kedewasaan yang baru dalam
caranya berdiri, dalam caranya memandang desa yang kini menjadi tujuannya. Ia
membawa ransel di satu tangan, dan di tangan satunya, sebuah bingkai foto kecil
berisi foto Anita yang ia cetak dari ponselnya, foto yang selalu ia letakkan di
meja belajarnya selama kos, yang menjadi penyemangatnya di malam-malam yang
melelahkan.
Warga yang telah berkumpul di lapangan desa sejak pagi,
bersorak ketika Erlangga turun dari mobil. Pak Karyo memukul bedug sederhana yang
biasanya digunakan untuk acara-acara desa, dum, dum, dum, dengan
semangat yang luar biasa. Karang Taruna melepaskan balon-balon warna-warni ke
udara, puluhan balon yang telah mereka siapkan sejak kemarin, terbang tinggi
membawa harapan dan doa. Anak-anak kecil berlarian mendekati Erlangga,
memanggil "Abang Dokter! Abang Dokter!" dengan suara riang. Bintang,
yang sudah tidak sabar sejak pagi, berlari paling depan dengan telur rebus di
tangannya, telur yang ia siapkan sendiri untuk Abang Erlangga.
Bintang: (berlari
sekencang mungkin, telur di tangannya hampir terlepas, suaranya nyaring) Abang
Erlangga! Abang Erlangga! Bintang punya telur! Untuk Abang! Bintang rindu
Abang!
Erlangga menunduk, membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Bintang berlari ke dalam pelukannya, dan Erlangga mengangkat anak itu dengan
mudah—Bintang yang dulu kurus kering, kini telah berisi dan berat. Telur di
tangan Bintang nyaris remuk karena pelukan, tetapi tidak ada yang peduli.
Erlangga: (memeluk
Bintang erat-erat, suaranya serak karena haru) Bintang! Abang juga
rindu Bintang! Lihat, Bintang sudah besar! Sudah gemuk! Rambutnya sudah hitam!
Bintang rajin makan telur, ya?
Bintang: (mengangguk-angguk
dengan bangga, matanya berbinar) Iya, Abang! Bintang makan telur
setiap hari! Kakek kasih telur rebus setiap pagi! Bintang juga sudah bisa
hitung! Satu, dua, tiga, empat, lima! Abang ajarin dulu! Bintang ingat!
Erlangga: (mencium
kening Bintang, air matanya jatuh) Hebat, Bintang! Abang bangga! Nanti
kalau Bintang sudah besar, Bintang jadi dokter, ya?
Bintang: (mengangguk
tegas) Iya! Bintang jadi dokter! Seperti Abang! Bintang mau obati
orang sakit!
Pak Karyo yang berdiri tidak jauh dari sana, mengusap air
matanya dengan ujung kaos oblongnya. Ia tidak malu lagi menangis di depan umum,
air mata kebanggaan, air mata syukur.
Pak Karyo: (suaranya
serak, penuh emosi) Mas Erlangga... (ia mendekat, tangannya gemetar
ketika meraih tangan Erlangga) terima kasih, Mas. Terima kasih sudah kembali.
Desa ini... saya... Bintang... kami semua... (ia tidak mampu melanjutkan,
tangisnya pecah)
Erlangga: (meletakkan
Bintang perlahan, meraih tangan Pak Karyo yang keriput dan penuh kapalan) Pak
Karyo, saya yang berterima kasih. Terima kasih telah percaya pada program
kesehatan. Terima kasih telah merawat Bintang dengan baik. Terima kasih telah
menjadi bagian dari perjalanan saya. Tanpa Bapak, saya tidak akan pernah
mengerti bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sekecil telur.
Pak Karyo: (tertawa
di antara tangis) Telur, ya. Siapa sangka, telur yang dulu saya anggap
remeh, sekarang jadi makanan paling berharga di warung saya. Setiap pagi, warga
datang bukan hanya untuk kopi, tapi untuk telur rebus. Saya sampai kewalahan
menyediakan stok. (ia mengusap air matanya) Tapi itu semua karena Mas Erlangga.
Karena Mas mengajari saya.
Erlangga: (tersenyum) Pak
Karyo, saya hanya menyampaikan ilmu. Yang mempraktikkan adalah Bapak sendiri.
Bapak yang berubah. Bapak yang memutuskan untuk peduli. Itu yang paling
berharga.
Erlangga kemudian berjalan melewati kerumunan warga yang
masih bersorak. Ia melambaikan tangan ke kiri dan ke kanan, menyapa satu per
satu wajah yang ia kenal. Bu Yuni melambai dari kejauhan dengan senyum lebar.
Pak Eko mengacungkan jempol sambil kipasnya tetap bergerak. Bu Lulu sudah sibuk
dengan kalkulator, bukan untuk menghitung, tetapi untuk pamer bahwa ia sudah
siap dengan anggaran penyambutan. Santoso duduk di kursi kehormatan di bawah
pohon beringin, mengangguk-angguk dengan senyum bijak. Pak Iwan berdiri di
pintu kantor desa dengan senyum bangga, matanya berkaca-kaca.
Namun mata Erlangga hanya mencari satu orang.
Ia menemukannya di tangga kantor desa. Anita berdiri di
sana, dengan kebaya biru muda yang membuatnya tampak berbeda, lebih lembut,
lebih cantik, lebih... nyata. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai, sedikit
berkibar ditiup angin sore. Matanya basah, senyumnya lebar, tangannya
menggenggam erat ujung kebaya. Ia tidak bergerak dari tempatnya, membiarkan
Erlangga yang berjalan mendekat.
Erlangga berjalan perlahan, melewati kerumunan yang masih
bersorak, melewati balon-balon yang masih beterbangan, melewati waktu yang
terasa berhenti. Setiap langkah terasa berat tetapi ringan, terasa lama tetapi
singkat. Ia ingin berlari, tetapi ia juga ingin menikmati setiap detik dari
momen yang telah ia tunggu selama enam bulan. Ia ingin mengingat setiap detail:
warna kebaya Anita, kilau air mata di matanya, senyum yang tidak pernah pudar,
tangan yang sedikit gemetar.
Ketika ia akhirnya berdiri di depan Anita, jarak hanya
sejengkal, ia bisa melihat setiap tetes air mata yang jatuh di pipi perempuan
itu. Ia bisa mendengar napasnya yang terengah, merasakan getaran tubuhnya yang
berusaha menahan tangis.
Erlangga: (suaranya
lirih, hanya cukup untuk didengar Anita, tetapi semua orang di sekitarnya ikut
terdiam) Aku menepati janjiku.
Anita: (air matanya
mengalir, namun ia tersenyum—senyum yang paling indah yang pernah Erlangga
lihat) Aku tahu kamu akan kembali. Aku tidak pernah ragu. Tidak
sedetik pun.
Erlangga: (meraih
tangan Anita—tangan yang kasar karena kerja keras, tangan yang hangat karena
cinta yang tulus) Maaf aku lama. Maaf aku tidak bisa sering telepon.
Maaf aku membuatmu menunggu.
Anita: (menggeleng,
suaranya bergetar) Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menunggu. Aku
menunggu desa ini berubah. Aku menunggu warga sadar akan kesehatan. Aku
menunggu program-program yang aku jalankan membuahkan hasil. Dan sekarang, aku
menunggu kamu. Dan kamu datang. Itu yang penting.
Erlangga tidak bisa menahan diri lagi. Ia meraih tangan
Anita dan menciumnya, bukan cium di pipi, tetapi cium di tangan, dengan hormat,
dengan cinta, dengan pengabdian. Gestur sederhana yang membuat semua warga yang
melihatnya ikut menangis. Bu Yuni menangis di bahu Pak Eko. Bu Lulu meletakkan
kalkulatornya dan mengusap air mata dengan ujung kerudung. Pak Karyo memeluk
Bintang erat-erat. Yulia, Naila, dan Camelia menangis bersama, saling
berpegangan tangan. Bahkan Guntur, yang biasanya selalu bercanda, terlihat diam
dengan mata merah.
Pak Iwan: (melangkah
maju, mengambil mikrofon dari tangan Yulia yang masih menangis, suaranya penuh
haru) Warga Desa Awan Biru! Hari ini adalah hari bersejarah bagi desa
kita. Untuk pertama kalinya, kita memiliki dokter yang bertugas di desa kita
sendiri. Dokter Erlangga, putra terbaik yang telah memilih desa kita sebagai
tempat mengabdi.
Warga bersorak. Pak Karyo memukul bedug lagi, kali ini
lebih keras, lebih bersemangat.
Pak Iwan: Tapi
sebelum saya resmi memperkenalkan dokter baru kita, saya persilakan Mas
Erlangga untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.
Erlangga naik ke panggung dengan langkah mantap. Ia
mengambil mikrofon dari Pak Iwan, lalu menatap seluruh warga yang berkumpul di
lapangan, wajah-wajah yang ia kenal satu per satu, nama-nama yang ia hafal,
cerita-cerita yang ia ingat. Matanya berhenti sejenak pada Anita yang masih
berdiri di tangga balai desa, kemudian pada Pak Karyo dengan Bintang di
pangkuannya, pada Pak Iwan yang mengusap air mata, pada Bu Yuni yang tersenyum
sambil menangis.
Erlangga: (suara
mantap, tidak bergetar meskipun hatinya terasa sesak) Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian yang
saya hormati.
Warga menjawab salamnya dengan serempak, suara mereka
bergema di lapangan desa.
Erlangga: Tiga
bulan saya tinggal di desa ini. Tiga bulan yang singkat, tetapi cukup untuk
mengubah hidup saya selamanya. Di desa ini, saya belajar bahwa menjadi dokter
bukan tentang gelar atau gengsi. Bukan tentang ruang operasi mewah atau gaji
besar. Menjadi dokter adalah tentang hadir ketika orang lain membutuhkan.
Tentang bertahan ketika semua terasa berat. Tentang mencintai tanpa pamrih.
Ia menoleh ke arah Pak Karyo, tersenyum.
Erlangga: Saya
belajar dari Pak Karyo bahwa perubahan itu mungkin, meskipun dimulai dari hal
sekecil telur. Saya belajar dari Bintang bahwa mimpi tidak mengenal usia. Saya
belajar dari Pak Iwan bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang mendengar dan
merangkul semua pihak. Saya belajar dari Bu Lulu bahwa anggaran itu penting,
tetapi kesehatan lebih penting. (warga tertawa) Saya belajar dari Karang Taruna
bahwa anak-anak muda bisa menjadi motor perubahan. Dan saya belajar dari Mbak
Anita... (ia berhenti, matanya mencari Anita di antara kerumunan) bahwa cinta
pada pekerjaan, pada sesama, pada desa ini, adalah cinta yang paling murni.
Air matanya jatuh. Ia tidak menyembunyikannya lagi.
Erlangga: Saya
pulang ke desa ini bukan hanya untuk bertugas sebagai dokter. Saya pulang
karena saya berjanji. Berjanji pada diri saya sendiri, pada warga yang telah
menerima saya sebagai keluarga, pada Bintang yang ingin menjadi dokter, dan
pada... (ia menelan ludah, mengumpulkan keberanian) pada seseorang yang telah
mengajarkan saya arti cinta dan pengabdian. Karena itu, di hadapan seluruh
warga Desa Awan Biru yang saya hormati, saya ingin meminta izin.
Ia turun dari panggung, berjalan melewati kerumunan yang
membuka jalan untuknya. Ia berjalan menuju Anita yang masih berdiri di tangga
balai desa, matanya basah, tangannya menggenggam erat ujung kebaya. Ketika ia
berdiri di depan Anita, ia berlutut.
Seluruh desa terdiam. Bahkan angin seolah berhenti bertiup.
Burung-burung berhenti berkicau. Waktu berhenti.
Erlangga: (dengan
suara yang mantap, tidak ragu, tidak gemetar, suara yang keluar dari lubuk
hatinya yang paling dalam) Anita, putri desa Awan Biru, Kader
Pembangunan Manusia yang telah mengajarkan saya arti perjuangan sejati. Saya
tidak punya harta berlimpah, tidak punya rumah mewah, tidak punya gelar yang
membanggakan—setidaknya belum. Tapi saya punya hati yang mencintaimu, punya
janji yang tidak akan saya ingkari, punya masa depan yang ingin saya bangun
bersamamu. Saya pulang ke desa ini untuk menjadi dokter, tetapi yang lebih dari
itu, saya pulang untuk meminta kamu menjadi teman hidup saya.
Ia meraih tangan Anita, tangan yang kasar karena kerja
keras, tangan yang hangat karena cinta yang tulus dan menggenggamnya erat.
Erlangga: Anita,
maukah kamu menikah denganku?
Anita tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Air matanya
jatuh, tangisnya pecah, tetapi senyumnya tidak pernah pudar. Ia tidak bisa
berkata apa-apa karena tangisnya terlalu kuat, karena hatinya terlalu penuh,
karena kebahagiaan yang ia rasakan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Maka
ia melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: ia memeluk Erlangga
erat-erat, memeluknya seperti ia memeluk semua mimpi yang selama ini ia pendam,
seperti ia memeluk semua doa yang selama ini ia panjatkan.
Tepuk tangan bergemuruh membahana. Seluruh warga berdiri,
bertepuk tangan, menangis, tertawa, bersorak. Pak Karyo memukul bedug dengan
sekuat tenaga, sampai suaranya bergema ke seluruh penjuru desa. Karang Taruna
melepaskan balon-balon yang tersisa, puluhan balon warna-warni terbang ke
langit biru yang cerah. Bintang berteriak kegirangan, melompat-lompat di
pangkuan kakeknya. Bu Yuni menangis di bahu Pak Eko. Bu Lulu meletakkan
kalkulatornya untuk pertama kalinya hari itu, dan menangis bersama yang lain.
Santoso mengusap air matanya dengan ujung tongkat, tersenyum bangga. Pak Iwan
memeluk Si Amat yang sudah tidak bisa menyembunyikan air matanya.
Pak Karyo: (berteriak
di antara keramaian, suaranya serak tetapi penuh semangat) Saya
sumbang 100 butir telur buat pesta! Tidak, 200 butir! Yang penting anak muda
bahagia!
Anto: (yang berdiri
di belakang dengan truknya yang sudah dihias janur dan bunga, berseru dengan
semangat) Truk saya siap jadi hiasan! Saya sudah siapkan hiasan
terbaik! Nanti pengantinnya naik truk saya! Gratis!
Bu Lulu: (yang
masih menangis tetapi tetap setia dengan tugasnya, menghitung dengan jari
sambil terisak) Kalau begitu, kita perlu anggaran tambahan untuk telur
dan dekorasi truk. Tapi... (ia tersenyum di antara tangis) saya akan urus. Ini
untuk kebahagiaan anak desa kita.
Pak Iwan: (tertawa
lepas, suaranya menggelegar) Biar desa yang tanggung, Bu Lulu! Ini
sejarah bagi Awan Biru! Kita tidak akan berhemat untuk momen seperti ini!
Di tengah keramaian yang membaur menjadi satu lautan
kebahagiaan, Erlangga dan Anita masih berpelukan di tangga kantor desa. Mereka tidak
mendengar suara-suara itu, atau mungkin mereka mendengar, tetapi tidak fokus.
Yang mereka dengar hanyalah detak jantung satu sama lain, yang mereka rasakan
hanyalah kehangatan yang telah lama mereka rindukan, yang mereka lihat hanyalah
masa depan yang kini terbuka lebar di hadapan mereka.
Anita: (berbisik di
telinga Erlangga, suaranya nyaris tak terdengar di antara keramaian, tetapi
cukup jelas untuk didengar oleh hati) Aku mau, Erlang. Aku mau menikah
denganmu. Aku mau berjuang bersamamu. Aku mau membangun desa ini bersamamu. Aku
mau... (ia tidak melanjutkan, karena tangisnya terlalu kuat)
Erlangga: (membalas
bisikan, suaranya penuh dengan cinta yang tidak perlu diucapkan dengan
kata-kata) Aku akan membuatmu bahagia, Anita. Aku janji. Aku akan
menjadi dokter yang membanggakan desa ini. Dan aku akan menjadi suami yang
selalu ada untukmu. Sampai kapan pun.
Mereka berpelukan lebih lama, membiarkan dunia di sekitar
mereka berputar, membiarkan kebahagiaan mengalir seperti sungai yang tidak
pernah kering. Di atas mereka, langit Awan Biru membentang luas, biru cerah
tanpa setitik awan. Matahari bersinar hangat, menyinari desa yang telah
berubah, desa yang dulu sunyi dan tertinggal, kini bersemi oleh cinta dan
harapan.
Di kejauhan, kabut biru mulai merayap turun dari puncak
bukit, tetapi tidak ada yang merasa dingin. Mereka semua hangat, dihangatkan
oleh cinta yang akhirnya bersatu, oleh janji yang akhirnya ditepati, oleh
perjalanan yang kini sampai di titik nol, titik di mana perjalanan baru akan
dimulai.
Epilog: Setelah Kabut Menjadi Saksi
Delapan bulan telah berlalu sejak Erlangga berlutut di
tangga kantor desa, meminta Anita menjadi pendamping hidupnya. Delapan bulan
yang diisi dengan persiapan yang tidak pernah sederhana, bukan hanya persiapan
pernikahan, tetapi juga persiapan untuk sebuah kehidupan baru yang akan mereka
jalani bersama. Delapan bulan yang terasa singkat namun penuh dengan kejutan,
kerja keras, dan cinta yang semakin dalam.
Pagi hari pernikahan tiba dengan langit yang paling
bersahabat. Kabut biru yang menjadi nama desa ini tidak terlalu tebal, tetapi
cukup untuk menciptakan nuansa magis di sekitar lembah. Matahari terbit dengan
sempurna, menyinari halaman balai desa yang telah berubah menjadi lautan janur
dan bunga kertas warna-warni. Karang Taruna telah bekerja sejak subuh—Yulia dan
Naila memasang dekorasi terakhir, Guntur dan Amat Junior mengatur kursi-kursi
kayu yang dipinjam dari seluruh warga, Camelia merangkai bunga kertas dengan
pola yang rumit, Hermansyah menyiapkan kamera untuk mendokumentasikan setiap
momen.
Truk Anto telah dihias dengan pita putih dan bunga kertas
sejak kemarin malam. Anto sendiri tidak tidur semalaman karena terlalu
bersemangat. Ia memarkir truknya tepat di depan balai desa, bukan sebagai
kendaraan pengantin, karena pasangan pengantin akan berjalan kaki dari rumah
Anita ke balai desa, tetapi sebagai pajangan unik yang membuat semua warga
tertawa dan kagum.
Anto: (berdiri di
samping truknya dengan bangga, suaranya lantang seperti sedang memamerkan karya
seni) Lihat! Saya hias dengan pita putih, bunga kertas, dan... (ia
menunjuk ke bagian depan truk) saya pasang boneka pengantin di kap mesin! Mirip
truk pengantin sungguhan, kan?
Pak Karyo: (yang
sedang sibuk menyiapkan telur dadar di tenda konsumsi, tertawa terbahak-bahak) Anto,
ini pernikahan, bukan pameran truk hias! Nanti pasangan pengantin jalannya
pakai kaki, bukan naik truk. Trukmu cuma jadi pajangan.
Anto: (tidak
tersinggung, malah semakin bersemangat) Biarin, Pak! Yang penting
meriah. Lagipula, kalau nanti pasangan pengantin capek, mereka bisa naik truk
saya. Saya siap antar jemput.
Pak Karyo: (menggeleng-gelengkan
kepala, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan) Dasar sopir tengil.
Ini acara nikah, bukan acara truk muatan. Tapi... (ia menatap truk itu dengan
seksama) bagus juga sih hiasannya. Kamu dapat ide dari mana?
Anto: (tersenyum
bangga) Saya lihat di internet, Pak. Truk pengantin itu tren di
kota-kota. Saya pikir, kenapa tidak kita coba di desa? Biar beda. Lagipula, Mas
Erlangga dan Mbak Anita kan suka hal-hal sederhana. Truk saya ini kan
sederhana, tapi penuh cinta.
Pak Karyo: (mengusap
air mata yang tiba-tiba jatuh, tidak menyangka Anto bisa sefilosofis itu) Kamu
ini... sopir truk tapi bicaranya kayak penyair. Awas, nanti Bu Lulu dengar, dia
bisa anggarkan untuk lomba truk hias tahun depan.
Bu Lulu: (yang
tiba-tiba muncul dari balik tenda dengan buku catatan di tangan, suaranya
nyaring) Ide bagus, Pak Karyo! Lomba truk hias bisa masuk dalam
rencana kerja desa tahun depan. Tapi harus dianggarkan dengan matang. Saya
catat dulu.
Pak Karyo: (tertawa) Bu
Lulu, hari ini saya tidak mau dengar soal anggaran. Saya hanya mau makan telur
dadar dan menikmati pernikahan anak desa kita.
Bu Lulu: (tersenyum,
tetapi tetap mencatat) Tidak apa-apa, Pak. Saya catat dulu, nanti kita
bahas setelah acara. Yang penting sekarang, semua persiapan sudah beres.
Konsumsi sudah siap. Dekorasi sudah rapi. Sound system sudah di-test oleh Amat
Junior. Saya sudah hitung semua anggaran, dan... (ia tersenyum puas) masih ada
sisa. Bisa untuk tambahan telur dadar.
Pak Karyo: (berseru) Nah,
itu baru namanya Kaur Keuangan yang baik! Tambah telur dadar!
Di rumah Anita, suasana berbeda. Rumah sederhana itu telah
berubah menjadi tempat yang paling ramai di desa. Ibu-ibu PKK sibuk di dapur
menyiapkan hidangan untuk para tamu yang akan datang setelah akad nikah. Bu
Yuni dan Bu Endang mengatur segala sesuatu dengan teliti—mulai dari tata rias,
busana, hingga urutan acara. Bidan Amilia, yang biasanya hanya muncul jika ada
urusan kesehatan, hari itu hadir dengan kebaya terbaiknya, membantu merias
Anita dengan penuh kelembutan.
Anita duduk di depan cermin tua yang sudah menjadi warisan
ibunya. Cermin itu pernah memantulkan wajah ibunya ketika ia menikah dengan Si
Amat puluhan tahun lalu. Kini, cermin yang sama memantulkan wajah Anita—cantik,
tenang, tetapi matanya berkaca-kaca menahan haru. Ia mengenakan kebaya putih
dengan sentuhan renda yang dibuat khusus oleh perajin di kecamatan. Kebaya itu
tidak mewah, tidak rumit, tetapi sederhana dan elegan. Rambutnya yang sebahu
disanggul rapi oleh Bu Yuni, dengan hiasan bunga melati yang wanginya memenuhi
ruangan.
Bu Yuni: (merapikan
sisa riasan di wajah Anita, suaranya lembut) Cantik sekali kamu, Nit.
Ibu kamu pasti bangga lihat kamu hari ini. (ia mengusap air mata yang jatuh di
pipinya sendiri) Aku tidak bisa menahan haru. Kamu dulu kecil, sekarang sudah menikah.
Anita: (menatap
cermin, suaranya lirih) Bu Yuni, aku tidak percaya ini benar-benar
terjadi. Aku tidak pernah membayangkan akan menikah. Dulu, aku hanya fokus pada
pekerjaan. Aku pikir, tidak ada laki-laki yang mau dengan perempuan sibuk
seperti aku. Tapi... (ia tersenyum) Erlangga datang.
Bu Endang: (yang
berdiri di samping Bu Yuni, ikut menangis) Itu karena kamu berjuang,
Nit. Kamu tidak pernah menyerah. Kamu membangun desa ini dengan kesabaran dan
ketulusan. Dan Tuhan melihat itu. Tuhan kirim Mas Erlangga untukmu.
Bidan Amilia: (yang
biasanya tegas dan jarang menunjukkan emosi, pagi itu matanya juga
berkaca-kaca) Anita, aku mengenalmu sejak pertama kali kamu menjadi
kader. Waktu itu, aku pikir kamu anak muda yang hanya cari pengalaman. Tapi
kamu bertahan. Kamu berjuang. Dan sekarang, kamu menikah dengan laki-laki yang
juga punya jiwa pengabdian. Kalian berdua cocok. Aku bangga padamu.
Anita: (menoleh ke
Bidan Amilia, suaranya tercekat) Bu Amilia, terima kasih sudah
membimbing aku selama ini. Tanpa Ibu, aku tidak akan pernah sekuat ini.
Bidan Amilia: (tersenyum,
langka) Aku hanya melakukan tugas. Kamu yang memilih untuk menjadi
kuat.
Si Amat berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja batik
lengan panjang yang baru dibelinya seminggu lalu. Matanya yang sudah keriput
itu menatap putrinya dengan penuh kebanggaan dan haru. Ia tidak bisa berkata
apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, tangannya memegang erat ujung kemejanya,
mencoba menahan tangis yang sudah di ambang mata.
Anita: (melihat
ayahnya di cermin, suaranya bergetar) Yah... (ia berbalik, berdiri,
dan menghampiri ayahnya) Ayah jangan menangis. Nanti aku juga ikut menangis,
makeupku rusak.
Si Amat: (mengusap
air matanya dengan punggung tangan, tertawa kecil) Ayah tidak
menangis. Ayah hanya... (ia terisak sebentar) ada debu di mata.
Anita: (memeluk
ayahnya, air matanya jatuh) Yah... terima kasih untuk semuanya. Untuk
membesarkan aku sendiri setelah Ibu pergi. Untuk tidak pernah memaksa aku
menjadi apa yang Ayah inginkan. Untuk selalu mendukung aku meskipun banyak yang
bilang menjadi kader tidak ada masa depannya. Ayah adalah ayah terbaik.
Si Amat: (membalas
pelukan putrinya, suaranya serak) Kamu anak yang terbaik, Nit. Ibu
kamu pasti bangga. Hari ini, dia tersenyum dari surga melihat putrinya menikah
dengan laki-laki yang baik. (ia melepaskan pelukan, menatap wajah Anita)
Sekarang, jangan menangis lagi. Nanti pengantin pria datang, lihat kamu bengkak
matanya.
Anita: (tertawa kecil,
mengusap air matanya) Iya, Yah. Aku sudah siap.
Pukul sepuluh pagi, akad nikah dimulai. Halaman balai desa
yang telah dihias dengan janur dan bunga kertas warna-warni itu dipenuhi oleh
warga yang datang dengan pakaian terbaik mereka. Kursi-kursi kayu yang disusun
rapi oleh Karang Taruna telah penuh sejak pukul sembilan. Warga yang tidak
kebagian kursi duduk lesehan di tikar yang disediakan, atau berdiri di
pinggiran halaman dengan senyum lebar. Anak-anak kecil berlarian di antara
kerumunan, sesekali berhenti untuk memandangi pengantin pria yang duduk di
pelaminan sederhana dengan latar papan pengumuman desa yang masih terpampang
jadwal posyandu.
Erlangga duduk di pelaminan dengan tenang, tetapi hatinya
berdebar tidak karuan. Ia mengenakan jas hitam yang dipadukan dengan sarung
desa tradisional—kombinasi yang sengaja ia pilih untuk menunjukkan bahwa ia
adalah bagian dari desa ini, bukan orang luar yang datang dan pergi. Ibu dan
Ayahnya duduk di kursi kehormatan di sisi kanan pelaminan, dengan pakaian
terbaik mereka. Ibu Erlangga masih mengusap air mata, tetapi senyumnya tidak
pernah padam. Ayah Erlangga duduk tegap, matanya mengamati seluruh prosesi
dengan penuh kebanggaan.
Ibu Erlangga: (berbisik
pada suaminya, suaranya tercekat) Pak, lihat anak kita. Dia tampak
bahagia. Aku belum pernah melihat dia setenang ini.
Ayah Erlangga: (menggenggam
tangan istrinya, tersenyum) Dia sudah dewasa, Bu. Dia tahu apa yang ia
inginkan. Dan hari ini, ia mendapatkannya.
Takbir bergemuruh ketika Pak Iwan, yang bertindak sebagai
penghulu, membacakan khutbah nikah. Suaranya yang menggelegar tetapi penuh
wibawa itu menggema di halaman balai desa, diikuti oleh suara takbir dari
seluruh warga yang hadir. Yulia dan Naila, yang bertugas sebagai pengiring,
berdiri di sisi pelaminan dengan pakaian serba biru muda, menangis haru. Amat
Junior dan Guntur berdiri di belakang, ikut menangis tetapi berusaha
menyembunyikannya dengan menunduk dan mengusap mata dengan punggung tangan.
Pak Iwan: (menatap
Erlangga dengan mata yang berkaca-kaca, suaranya tegas tetapi penuh kehangatan) Saudara
Erlangga Putra Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Anita
Kusuma Dewi binti Amat Sugiarto dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat
dan satu set buku kesehatan untuk desa, dibayar tunai. Apakah saudara setuju
dan menerima nikahnya dengan mas kawin tersebut?
Erlangga berdiri. Tubuhnya tegap, matanya tenang, senyumnya
teduh. Ia menatap Anita yang duduk di sampingnya dengan kerudung putih yang
menutupi wajahnya—wajah yang selama ini ia rindukan, wajah yang menjadi alasan
ia kembali ke desa ini, wajah yang akan menjadi pendampingnya seumur hidup.
Erlangga: (suara
mantap, tidak gemetar, tidak ragu, setiap kata terucap dengan penuh kesadaran
dan cinta) Saya terima nikahnya Anita Kusuma Dewi binti Amat Sugiarto
dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.
Takbir menggema. Seluruh warga yang hadir mengangkat
tangan, bertakbir bersama. Suara mereka bergema di antara bukit-bukit,
bergantian dengan suara bedug yang dipukul oleh Pak Karyo dengan sekuat tenaga.
Bintang, yang duduk di pangkuan kakeknya, ikut bertakbir dengan suara lantang
meskipun ia tidak mengerti artinya sepenuhnya. Ia hanya tahu bahwa hari ini
adalah hari yang bahagia, dan ia ingin ikut merayakannya.
Bintang: (berteriak
di antara takbir, suaranya nyaring) Abang Erlangga! Mbak Anita!
Bintang senang!
Pak Karyo memeluk Bintang erat-erat, air matanya jatuh
membasahi kepala cucunya.
Pak Karyo: (berbisik
pada Bintang, suaranya serak) Hari ini, kakek bahagia, Nak. Kakek
melihat dua orang baik bersatu. Semoga nanti kamu juga seperti mereka.
Bintang: (menatap
kakeknya dengan polos) Bintang mau jadi dokter, Kek! Seperti Abang
Erlangga! Bintang mau obati orang sakit!
Pak Karyo: (tersenyum
di antara air mata) Iya, Nak. Kamu akan jadi dokter yang hebat.
Setelah akad nikah, resepsi dimulai dengan meriah.
Tenda-tenda yang didirikan di halaman balai desa dipenuhi oleh warga yang
datang untuk memberikan ucapan selamat. Pak Karyo benar-benar menepati
janjinya—ia menyumbangkan dua ratus butir telur yang diolah menjadi telur
dadar, telur rebus, dan keripik telur. Meja konsumsi dipenuhi oleh
hidangan-hidangan sederhana tetapi melimpah: nasi kuning, ayam goreng, sayur
lodeh, sambal goreng ati, dan tentu saja, telur dalam berbagai bentuk. Bu Lulu,
yang tidak bisa lepas dari kebiasaannya, sibuk mencatat setiap hidangan yang
habis dengan kalkulator di tangan.
Bu Lulu: (menekan-nekan
kalkulator dengan jari lincah, suaranya nyaring) Pak Karyo, dua ratus
butir telur, dikalikan harga per butir... (ia menghitung dengan cepat) ini
setara dengan sumbangan dua ratus lima puluh ribu rupiah. Saya catat dalam buku
sumbangan.
Pak Karyo: (tertawa) Bu
Lulu, ini sumbangan, bukan transaksi! Tidak usah dihitung-hitung!
Bu Lulu: (tidak
terpengaruh, tetap mencatat) Harus dicatat, Pak. Untuk arsip desa.
Nanti kalau ada acara lagi, kita bisa lihat sumbangan mana yang paling besar.
Bisa jadi inspirasi untuk warga lain.
Pak Karyo: (menggeleng-gelengkan
kepala, tetapi tersenyum) Terserah, Bu Lulu. Yang penting warga
senang.
Anto, yang bertugas menjadi sopir pengantin, malah asyik
makan di tenda konsumsi. Ia sudah menghabiskan tiga porsi nasi dan dua gelas es
teh, dan masih belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Ketika pasangan
pengantin hendak naik ke truk untuk berkeliling desa, sesuai tradisi yang
dimodifikasi oleh Anto, ia tidak ada di tempat.
Erlangga: (mencari
Anto di antara kerumunan) Anto mana? Bukannya tadi dia bilang akan
jadi sopir pengantin?
Guntur: (tertawa) Mas
Anto lagi makan di tenda, Mas. Dari tadi sudah tiga porsi. Saya lihat dia lupa
kalau ada tugas.
Yulia: (berteriak ke
arah tenda konsumsi) Mas Anto! Pengantinnya sudah siap! Truknya sudah
dipanaskan! Jangan makan terus!
Anto keluar dari tenda dengan mulut masih penuh, tangan
memegang piring berisi sisa nasi. Wajahnya merah karena terburu-buru dan
sedikit malu.
Anto: (sambil
mengunyah, suaranya tidak jelas) Maaf, Maaf! Saya kira acara foto
dulu. Saya pikir masih ada waktu untuk makan. (ia bergegas menuju truk, masih
membawa piring) Sebentar, saya selesaikan dulu nasi ini. Nanti saya buka pintu
truk.
Pak Karyo: (tertawa
terbahak-bahak dari kejauhan) Dasar sopir tengil! Ini acara nikah,
bukan acara truk muatan! Masa sopirnya makan terus, lupa kalau ada tugas!
Anto: (masih
mengunyah, suaranya tidak jelas) Pak Karyo, saya sudah puasa semalam
karena terlalu bersemangat. Jadi lapar sekali. Maaf, Maaf.
Semua warga tertawa. Erlangga dan Anita hanya bisa
tersenyum, tidak sabar untuk segera naik ke truk dan berkeliling desa.
Di meja kehormatan, Bu Yuni dan Bu Endang sibuk mengatur
tamu. Pak Eko dan Pak Edi duduk semeja dengan Santoso, berdiskusi tentang program
desa ke depan. Santoso mengusap kumisnya yang sudah memutih, matanya menatap ke
arah pengantin yang sedang bersiap naik ke truk.
Santoso: (suaranya
dalam, penuh kebijaksanaan) Sekarang kita punya dokter dan KPM yang
mantap. Program sanitasi sudah berjalan, angka stunting menurun, cakupan
imunisasi meningkat. Saya yakin, tahun depan Desa Awan Biru bisa lepas dari
status desa tertinggal. Tinggal kita dorong sektor ekonomi kreatif. Kopi
robusta kita punya potensi besar untuk dipasarkan lebih luas.
Pak Eko: (mengangguk,
kipasnya bergerak lambat karena cuaca tidak terlalu panas) Setuju, Pak
Santoso. Saya sudah berbicara dengan beberapa pemuda tentang pengolahan kopi
yang lebih modern. Amat Junior punya ide untuk membuat kopi bubuk kemasan
dengan merek "Awan Biru". Tinggal kita dorong dan fasilitasi.
Pak Edi: (tersenyum,
yang dulu paling skeptis, kini tersenyum penuh kebanggaan) Saya yang
dulu paling skeptis, sekarang harus mengakui. Kehadiran mereka benar-benar
mengubah desa ini. Bukan hanya programnya, tapi semangatnya. Semangat yang
ditinggalkan oleh Mas Erlangga dan Mbak Anita—sekarang Mbak Erlangga—telah
menggerakkan kita semua. Karang Taruna lebih aktif, warga lebih peduli, dan
kita semua lebih optimis.
Santoso: (mengangguk,
matanya berkaca-kaca) Ini baru awal, Pak Edi. Perjalanan kita masih
panjang. Tapi dengan semangat yang sudah menyala, saya yakin kita bisa mencapai
lebih banyak.
Di meja pengantin, Erlangga menggenggam tangan Anita
erat-erat. Kerudung putih yang menutupi wajah Anita telah disingkap,
menampakkan wajah yang cantik dan tenang. Mata mereka bertemu, dan untuk
beberapa saat, dunia di sekitar mereka seolah berhenti. Hanya ada mereka
berdua, dan cinta yang telah melalui perjalanan panjang.
Erlangga: (berbisik,
suaranya hanya cukup untuk didengar Anita) Akhirnya kita di sini,
Anita. Setelah semua perjalanan, setelah semua keraguan, setelah semua doa yang
kita panjatkan di malam-malam yang sunyi. Aku tidak pernah membayangkan akan
sampai di titik ini. Menikahi perempuan yang paling aku kagumi, di desa yang
paling aku cintai.
Anita: (tersenyum,
matanya basah tetapi senyumnya lebar) Aku tidak pernah membayangkan
ini, Erlang. Awalnya aku pikir kamu hanya mahasiswa KKN biasa. Datang dengan
program, membuat keramaian, lalu pergi. Aku tidak pernah membayangkan bahwa
mahasiswa KKN yang datang dengan sepatu kanvas kotor itu akan menjadi suamiku.
(ia tertawa kecil) Kamu tidak seperti yang aku bayangkan. Kamu lebih dari itu.
Erlangga: (tertawa,
tangannya masih menggenggam erat tangan Anita) Dan aku tidak pernah
membayangkan akan jatuh cinta pada kader desa yang galak. Yang pertama kali aku
lihat, berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersilang, raut datar, tatapan
skeptis. Aku pikir, "Perempuan ini pasti tidak suka kedatangan kami."
Dan ternyata benar. Tapi di balik kegalakan itu, aku menemukan perempuan paling
kuat, paling teguh, paling berani yang pernah aku temui.
Anita: (memukul lengan
Erlangga pelan, tetapi senyumnya tidak pernah pudar) Hati-hati,
Dokter. Saya masih KPM. Saya bisa lapor ke Pak Kades kalau dokter tidak
disiplin. Saya punya wewenang untuk mengevaluasi kinerja tenaga kesehatan di
desa ini.
Erlangga: (menggenggam
tangannya lebih erat, suaranya penuh cinta) Disiplin atau tidak, yang
jelas sekarang kita satu tim, Anita. Selamanya. Bukan hanya sebagai
suami-istri, tetapi sebagai mitra dalam pengabdian. Sebagai dua orang yang
memilih untuk berjuang bersama, membangun desa ini, melayani warga, dan
mengubah mimpi menjadi kenyataan.
Anita: (menatap
Erlangga dengan mata yang penuh cinta) Kita akan lakukan bersama,
Erlang. Aku tidak akan berjuang sendirian lagi. Sekarang aku punya kamu. Dan aku
tidak akan pernah melepaskan.
Delapan bulan setelah pernikahan, kehidupan di Desa Awan
Biru berjalan pada ritme yang baru namun tetap harmonis. Erlangga resmi
bertugas sebagai dokter di Puskesmas Kecamatan yang melayani Desa Awan Biru dan
dua desa sekitarnya. Setiap hari Senin dan Kamis, ia membuka praktik rutin di
balai desa, ruangan yang dulu menjadi tempat pertemuan dan rapat, kini sebagian
telah disulap menjadi klinik sederhana dengan meja pemeriksaan, lemari obat,
dan kursi untuk pasien. Warga tidak perlu lagi berjalan satu jam ke puskesmas
kecamatan untuk berobat ringan. Mereka cukup datang ke balai desa, bertemu
dengan Dokter Erlangga yang sudah menjadi bagian dari keluarga.
Antrean pasien setiap hari Senin dan Kamis selalu panjang.
Ibu-ibu dengan balita yang rewel, kakek-nenek dengan tekanan darah tinggi yang
perlu dipantau, remaja dengan keluhan kesehatan remaja yang selama ini tidak
punya tempat curhat. Erlangga melayani semuanya dengan sabar, tidak pernah
terburu-buru, tidak pernah mengeluh. Ia ingat kata-kata Anita: "Menjadi
dokter bukan tentang banyaknya pasien, tapi tentang hadir ketika mereka
membutuhkan."
Anita tetap menjalankan tugasnya sebagai Kader Pembangunan
Manusia, kini semakin terbantu dengan kehadiran suaminya. Mereka sering
keliling desa bersama, Erlangga dengan stetoskop dan obat-obatan, Anita dengan
buku catatan dan data balita. Warga sudah terbiasa melihat mereka berdua
berjalan beriringan di jalan berbatu, sesekali berhenti untuk memeriksa balita
yang sedang bermain di halaman, atau duduk sebentar di warung Pak Karyo untuk
minum kopi sambil mendengarkan keluhan warga.
Pak Karyo: (setiap
kali melihat mereka lewat, selalu berteriak dari warungnya) Dokter!
Mbak Anita! Mampir dulu! Kopi baru seduh! Telur rebus masih hangat!
Dan mereka selalu mampir. Bukan karena kopi atau telurnya,
tetapi karena mereka tahu bahwa warung Pak Karyo adalah pusat informasi desa.
Di sanalah mereka bisa mendengar keluhan warga, mengetahui masalah yang belum
terlaporkan, dan menjalin kedekatan dengan warga.
Sembilan bulan setelah pernikahan, kabar bahagia datang.
Anita hamil.
Erlangga menemukan pertama kali ketika Anita pingsan di
posyandu setelah seharian bekerja tanpa makan. Ia panic, sesuatu yang jarang
terjadi pada dokter yang selalu tenang dalam situasi apa pun. Ia memeriksa
Anita dengan teliti, dan hasilnya membuatnya menangis: denyut jantung janin,
kecil tetapi kuat, terdengar melalui stetoskopnya.
Erlangga: (berbisnis
di telinga Anita, setelah ia sadar dan berbaring di ruang praktik, suaranya
bergetar) Anita... kita akan punya bayi. Aku akan menjadi ayah. Kamu
akan menjadi ibu.
Anita: (masih lemas,
tetapi matanya berbinar) Erlang... benarkah? Jangan bercanda.
Erlangga: (menggenggam
tangannya, menciumnya) Aku tidak pernah bercanda soal ini. Aku
mendengar detak jantungnya. Kecil, tapi kuat. Seperti kamu.
Anita: (menangis,
tetapi tersenyum) Kita akan punya bayi, Erlang. Bayi yang akan lahir
di desa ini. Bayi yang akan tumbuh di antara kabut biru dan sawah yang hijau.
Bayi yang akan kita ajari arti cinta dan pengabdian.
Erlangga: (memeluk
Anita) Dan bayi ini akan menjadi bukti bahwa cinta kita nyata. Bahwa
perjalanan kita tidak sia-sia. Bahwa desa ini, dengan segala keterbatasannya,
adalah tempat terbaik untuk memulai segalanya.
Kabar kehamilan Anita menyebar cepat di desa. Bu Yuni
langsung datang dengan membawa jamu kunyit asem buatannya. Pak Karyo mengirim
telur ayam kampung satu kardus setiap minggu, "Untuk calon bayi,"
katanya, dengan senyum bangga. Bu Lulu sudah mulai menghitung anggaran untuk
persiapan kelahiran, meskipun Anita masih hamil empat bulan. Bintang, yang
sudah duduk di taman kanak-kanak, bertanya setiap hari: "Kapan adik bayi
lahir? Bintang mau main sama adik bayi!"
Bintang: (dengan
polosnya, menatap perut Anita yang mulai membesar) Mbak Anita, adik
bayi di dalam perut Mbak, ya? Bintang boleh kasih nama? Bintang mau kasih
nama... (ia berpikir keras) Bintang Kecil!
Anita: (tertawa,
mengusap kepala Bintang) Nanti, Bintang. Nanti kalau adik bayi sudah
lahir, Bintang boleh kasih nama. Tapi Bintang harus sekolah yang rajin, ya.
Biar pintar.
Bintang: (mengangguk
semangat) Bintang sekolah rajin! Bintang mau jadi dokter! Seperti
Abang Erlangga!
Erlangga: (menggendong
Bintang, mencium keningnya) Nanti kalau adik bayi lahir, Bintang harus
jadi kakak yang baik, ya. Ajari adik bayi main, ajari adik bayi hitung, ajari
adik bayi makan telur.
Bintang: (mengangguk
dengan serius) Iya, Abang! Bintang ajarin adik bayi! Adik bayi harus
makan telur biar pintar! Seperti Bintang!
Bulan-bulan berlalu. Perut Anita semakin membesar, tetapi
ia tidak pernah berhenti bekerja. Ia masih keliling desa, memeriksa balita,
membujuk ibu hamil untuk rutin periksa kehamilan, mencatat data posyandu.
Erlangga awalnya khawatir, memintanya untuk beristirahat, mengurangi beban
kerja. Tapi Anita bersikeras.
Anita: (dengan perut
yang sudah besar, berdiri di depan Erlangga dengan tangan di pinggang) Erlang,
aku sudah bertahun-tahun menjadi kader. Aku tidak akan berhenti hanya karena
aku hamil. Bayi ini akan tumbuh kuat karena ibunya kuat. Dan ibunya kuat karena
terus bekerja, terus melayani, terus mencintai desa ini.
Erlangga: (menghela
napas, tidak bisa membantah) Kamu memang keras kepala, Anita. Tapi
itulah yang membuatku mencintaimu. Baik, kamu boleh bekerja. Tapi janji, jangan
terlalu memaksakan diri. Istirahat jika lelah. Makan teratur. Jangan lupa
vitamin.
Anita: (tersenyum,
mencium pipi Erlangga) Aku janji, Dokter. Sekarang, ayo kita ke posyandu.
Bintang pasti sudah menunggu.
Pada bulan ketujuh kehamilan Anita, malam itu terjadi
sesuatu yang tidak pernah mereka duga. Hujan deras mengguyur desa sejak sore,
dan angin kencang menerpa rumah-rumah warga. Di kejauhan, suara pohon tumbang
terdengar beberapa kali. Erlangga dan Anita sedang bersiap tidur ketika ponsel
Erlangga berdering. Suara Pak Karyo di ujung telepon terdengar panik, nyaris
menangis.
Pak Karyo: (melalui
sambungan telepon yang putus-putus karena sinyal, suaranya bergetar) Dokter...
Dokter... tolong! Bintang... Bintang demam tinggi... kejang... (ia tidak mampu
melanjutkan, tangisnya pecah)
Erlangga: (langsung
bangkit dari tempat tidur, suaranya tenang tetapi tegas) Pak Karyo,
tenang. Saya akan segera ke sana. Siapkan air hangat, kompres anak Bintang.
Jangan panik. Saya akan membawa obat.
Anita yang mendengar itu langsung bangkit. Wajahnya pucat,
tetapi matanya menunjukkan tekad yang kuat. Ia meraih jaketnya dan bersiap
untuk ikut.
Anita: (suaranya
mantap, tidak ada keraguan) Aku ikut.
Erlangga: (menatap
Anita dengan khawatir) Anita, kamu hamil tujuh bulan. Hujan deras,
jalanan becek, gelap. Aku tidak bisa membahayakanmu dan bayi kita.
Anita: (menatap
Erlangga dengan mata yang tidak bisa dibantah) Bintang adalah anak
yang aku pantau sejak ia lahir. Aku yang membujuk Pak Karyo untuk memberikan
telur setiap hari. Aku yang mencatat berat badannya setiap bulan. Aku tidak
akan tinggal diam ketika Bintang sakit. Aku ikut, Erlang. Itu tidak bisa
ditawar.
Erlangga terdiam. Ia menatap Anita, perempuan yang dulu ia
lihat berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersilang, yang kini berdiri di
hadapannya dengan perut besar, hujan deras di luar, dan tekad yang tidak bisa
digoyahkan. Ia menghela napas, lalu mengangguk.
Erlangga: Baik.
Tapi kamu harus janji, jika merasa tidak kuat, kamu akan beristirahat. Aku
tidak bisa kehilanganmu dan bayi kita.
Anita: (tersenyum) Aku
janji, Dokter. Sekarang, ayo cepat.
Mereka berjalan di tengah hujan deras dengan jas hujan yang
dipinjam dari tetangga. Jalanan becek dan licin, dan Erlangga harus berpegangan
pada Anita setiap saat untuk memastikan ia tidak jatuh. Di kejauhan, suara
petir menggelegar, tetapi mereka terus melangkah. Mereka tidak bisa membiarkan
Bintang menunggu.
Sesampainya di rumah Pak Karyo, mereka menemukan Bintang
terbaring lemah di pangkuan kakeknya. Wajah anak itu merah, napasnya sesak, dan
matanya sayu. Pak Karyo menangis, tangannya gemetar memegang kompres yang sudah
tidak dingin lagi.
Erlangga: (langsung
mengambil alih, memeriksa Bintang dengan teliti) Suhu 39,5. Kejang
sudah berhenti, tapi harus segera diturunkan. (ia mengeluarkan obat dari
tasnya) Saya kasih penurun panas. Pak Karyo, tolong siapkan air hangat untuk
kompres. Dan jangan panik. Bintang akan baik-baik saja.
Anita duduk di samping Bintang, memegang tangan kecil itu
dengan lembut. Matanya basah, tetapi senyumnya tetap terpancang.
Anita: (berbisik,
suaranya lembut) Bintang, Bintang dengar Mbak Anita? Bintang harus
kuat, ya. Bintang kan mau jadi dokter. Dokter tidak boleh sakit-sakitan. Nanti
Bintang sembuh, kita makan telur bareng. Bintang suka telur, kan?
Bintang, yang masih setengah sadar, tersenyum tipis
mendengar kata "telur". Ia menggenggam jari Anita dengan lemah,
tetapi cukup untuk membuat Anita tersenyum lega.
Setelah Bintang stabil dan mulai tertidur dengan tenang,
Erlangga dan Anita duduk di ruang tamu Pak Karyo. Hujan masih deras di luar,
tetapi di dalam rumah, kehangatan mulai kembali. Pak Karyo menyiapkan teh
hangat untuk mereka berdua, tangannya masih gemetar tetapi senyumnya mulai
muncul.
Pak Karyo: (suaranya
serak, matanya basah) Terima kasih, Dokter. Terima kasih, Mbak Anita.
Kalian datang di tengah hujan deras, di tengah malam, untuk cucu saya. Saya
tidak tahu harus membalas apa.
Erlangga: (tersenyum) Pak
Karyo, tidak perlu membalas apa-apa. Ini tugas saya sebagai dokter. Dan ini
juga tugas Mbak Anita sebagai kader. Bintang adalah anak desa kita. Kita semua
bertanggung jawab untuk menjaga kesehatannya.
Pak Karyo: (menangis,
tidak malu-malu lagi) Saya dulu keras kepala. Saya tidak mau dengar
kata-kata Mbak Anita tentang telur. Saya tidak mau bikin jamban. Saya pikir
semua itu tidak penting. Tapi sekarang... (ia mengusap air matanya) saya tahu.
Saya tahu bahwa kesehatan itu tidak bisa ditawar. Dan saya bersyukur, desa ini
punya dokter dan kader seperti kalian.
Anita: (memegang
tangan Pak Karyo, suaranya lembut) Pak Karyo, Bintang adalah anak yang
kuat. Ia sudah melewati masa-masa sulit. Ia akan sembuh. Dan ia akan tumbuh
menjadi anak yang pintar, yang suatu hari nanti akan menjadi dokter seperti
yang ia cita-citakan. Itu semua karena Bapak. Karena Bapak memilih untuk
berubah.
Pak Karyo: (tersenyum
di antara air mata) Terima kasih, Mbak Anita. Terima kasih sudah sabar
dengan saya.
Minggu-minggu berlalu. Bintang pulih dengan cepat, dan ia
kembali berlarian di warung kakeknya dengan semangat yang tidak pernah pudar.
Perut Anita semakin besar, dan seluruh desa menanti kelahiran bayi yang akan
menjadi warga baru Awan Biru.
Bu Yuni sudah menyiapkan perlengkapan bayi dari sumbangan
warga. Bu Lulu sudah mengalokasikan anggaran untuk biaya persalinan, meskipun
Anita bersikeras akan melahirkan di rumah dengan bantuan Bidan Amilia. Pak
Karyo sudah menyiapkan telur ayam kampung untuk calon ibu—satu kardus setiap
minggu, dengan catatan khusus: "Untuk bayi yang akan lahir, biar sehat dan
pintar seperti Bintang."
Bintang, yang sudah tidak sabar, setiap hari bertanya:
"Kapan adik bayi lahir? Bintang mau kasih nama! Bintang kasih nama... (ia
berpikir keras, lalu tersenyum bangga) Bintang kasih nama Arjuna! Nama ksatria
yang baik dan pemberani!"
Dan pada suatu pagi, ketika kabut biru sedang paling indah
menyelimuti lembah, ketika burung-burung berkicau riang di pepohonan, ketika
warga mulai beraktivitas seperti biasa, Anita merasakan kontraksi pertama.
Erlangga, yang sedang memeriksa pasien di balai desa, langsung berlari pulang.
Bidan Amilia datang dengan peralatan yang sudah disiapkan sejak lama. Bu Yuni,
Bu Lulu, dan Bu Endang berkumpul di ruang tamu, menunggu dengan doa dan harapan.
Bidan Amilia: (dengan
tenang, memimpin proses persalinan) Anita, kamu kuat. Kamu sudah
melewati lebih berat dari ini. Kamu sudah berjuang sendirian selama
bertahun-tahun. Sekarang kamu tidak sendiri. Ada suamimu di sampingmu. Ada kami
semua di sini. Tarik napas... dorong... tarik napas... dorong...
Erlangga: (memegang
tangan Anita erat-erat, air matanya jatuh tetapi senyumnya tidak pernah padam) Aku
di sini, Anita. Aku tidak akan ke mana-mana. Kita akan bertemu bayi kita
sebentar lagi. Bayi yang kuat, seperti ibunya. Bayi yang pemberani, seperti
yang Bintang namakan. Arjuna. Nama yang sempurna.
Anita: (dengan napas
yang terengah, keringat membasahi seluruh tubuhnya, tetapi matanya tetap
berbinar) Arjuna... anak kita akan bernama Arjuna. Ksatria yang baik
dan pemberani. Seperti ayahnya. (ia tersenyum di antara rasa sakit) Seperti
Erlangga.
Tangisan bayi memecah keheningan pagi. Suara yang kecil
tetapi kuat, yang menggema di rumah sederhana itu, yang didengar oleh semua
warga yang menunggu di luar. Bu Yuni menangis di bahu Bu Lulu. Pak Karyo
memeluk Bintang erat-erat. Pak Iwan mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
Santoso tersenyum, menatap langit yang mulai cerah.
Bidan Amilia: (menggendong
bayi yang baru lahir, tersenyum lebar) Selamat, Dokter. Selamat,
Anita. Anak laki-laki. Sehat, sempurna, dan sangat kuat. Suara tangisnya
seperti terompet. (ia menyerahkan bayi itu pada Erlangga) Ini anak kalian.
Arjuna.
Erlangga menerima bayinya dengan tangan yang gemetar. Ia
menatap wajah mungil itu, wajah yang masih merah, mata yang masih terpejam,
rambut hitam tipis yang basah. Air matanya jatuh membasahi pipi bayinya.
Erlangga: (berbisik,
suaranya penuh cinta) Halo, Arjuna. Aku ayahmu. Aku sudah menunggumu.
Selamat datang di desa ini. Di desa yang akan menjadi rumahmu. Di desa yang
penuh dengan cinta, pengabdian, dan harapan.
Anita, yang masih lelah tetapi tersenyum bahagia, meraih
tangan Erlangga dan menatap bayi mereka.
Anita: (suaranya lemah
tetapi penuh cinta) Arjuna... nama yang indah. Nama ksatria yang baik dan
pemberani. Kamu akan tumbuh di desa ini, Nak. Di desa yang dulu sunyi dan
tertinggal, tetapi kini berdenyut dengan kehidupan baru. Kamu akan belajar dari
ayahmu tentang arti pengabdian. Kamu akan belajar dari ibumu tentang arti
perjuangan. Kamu akan belajar dari warga desa ini tentang arti kebersamaan. Dan
suatu hari nanti, kamu akan menjadi seseorang yang membanggakan desa ini.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Arjuna tumbuh
menjadi anak yang sehat dan ceria, dengan rambut hitam tebal dan mata yang
berbinar-binar seperti ayahnya, tetapi dengan senyum yang manis seperti ibunya.
Ia berlarian di halaman balai desa, ikut posyandu dengan ibunya, dan selalu
mampir ke warung Pak Karyo untuk meminta telur rebus.
Bintang, yang kini sudah duduk di bangku sekolah dasar,
menjadi kakak yang baik bagi Arjuna. Ia mengajari Arjuna berhitung, mengajari
Arjuna menyebut nama-nama hewan, dan yang paling penting, mengajari Arjuna
bahwa telur adalah makanan yang paling sakti.
Bintang: (dengan
penuh semangat, memegang telur rebus di tangan) Arjuna, kamu harus
makan telur! Biar pintar! Biar jadi dokter! Seperti Abang Erlangga!
Arjuna: (yang masih
belum bisa bicara dengan jelas, menirukan dengan semangat) Telu! Telu!
Dokter! Dokter!
Erlangga dan Anita hanya bisa tersenyum melihat kedua anak
itu. Mereka berdiri di depan balai desa, di tempat yang sama ketika pertama
kali mereka bertemu. Di belakang mereka, papan pengumuman masih terpampang
dengan jadwal posyandu, grafik penurunan angka stunting, dan informasi program
kesehatan desa. Di depan mereka, sawah yang hijau terbentang luas, dan di
kejauhan, kabut biru mulai merayap turun dari puncak bukit.
Erlangga: (menggenggam
tangan Anita, suaranya penuh cinta) Lihat, Anita. Desa ini telah
berubah. Bintang sehat dan cerdas. Warga sadar akan kesehatan. Program sanitasi
berjalan. Angka stunting menurun. Dan kita... (ia menatap Anita dengan mata
yang penuh kebahagiaan) kita memiliki Arjuna. Anak yang akan melanjutkan
perjuangan kita. Anak yang akan tumbuh di desa ini, dengan cinta dan pengabdian
yang kita tanamkan.
Anita: (tersenyum,
kepalanya bersandar di bahu Erlangga) Dan ini baru awal, Erlang. Masih
banyak yang harus kita lakukan. Masih banyak anak-anak desa yang perlu kita
jangkau. Masih banyak ibu hamil yang perlu kita dampingi. Masih banyak warga
yang perlu kita edukasi. Perjalanan kita masih panjang.
Erlangga: (mengecup
kening Anita) Kita akan lakukan bersama, Anita. Seperti yang sudah
kita janjikan. Seperti yang sudah kita buktikan. Sampai kapan pun. Sampai desa
ini tidak lagi tertinggal. Sampai setiap warga mendapatkan haknya atas
kesehatan. Sampai setiap anak bisa tumbuh dengan mimpi yang tinggi.
Anita: (menatap
Erlangga dengan mata yang penuh cinta) Kita akan lakukan bersama,
Erlang. Aku tidak akan berjuang sendirian lagi. Sekarang aku punya kamu. Dan
kita punya Arjuna. Kita punya desa ini. Kita punya masa depan yang harus kita
bangun bersama.
Dari kejauhan, Bintang dan Arjuna berlarian di antara padi
yang mulai menguning. Bintang memegang telur rebus di satu tangan, dan tangan
Arjuna di tangan lainnya. Mereka tertawa, suara mereka yang riang menggema di
antara bukit-bukit. Di warung Pak Karyo, warga mulai berkumpul untuk minum kopi
dan bertukar kabar. Pak Iwan sedang duduk dengan Santoso, membahas rencana
pembangunan pasar desa. Bu Lulu sudah sibuk dengan kalkulatornya, menghitung
anggaran untuk program kesehatan tahun depan. Bu Yuni dan Pak Eko sibuk
mengatur jadwal posyandu. Pak Edi berkeliling dengan sepedanya, memeriksa
jamban-jamban yang telah dibangun.
Dan di depan balai desa, di tempat pertama mereka bertemu,
Erlangga dan Anita berdiri berdampingan, menyaksikan desa yang telah berubah.
Kabut biru mulai mencair, matahari terbit di ufuk timur, dan kehidupan baru
terus berdenyut di setiap sudut desa. Mereka tersenyum, saling berpandangan,
dan tahu bahwa perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.
TAMAT
Catatan Penulis:
"Anita Kader Pembangunan Manusia Desa Awan Biru"
adalah fiksi yang terinspirasi dari perjuangan nyata para kader pembangunan
manusia, tenaga kesehatan, dan masyarakat yang berjuang di pelosok negeri.
Setiap desa memiliki cerita dan pahlawannya sendiri. Ada Anita-Anita lain yang
berjuang tanpa lelah, ada Erlangga-Erlangga lain yang memilih mengabdi di
daerah terpencil, ada Bintang-Bintang lain yang bermimpi menjadi dokter, dan
ada Arjuna-Arjuna lain yang akan melanjutkan perjuangan mereka.
Cerita ini adalah penghormatan untuk mereka semua. Untuk
para kader yang setiap hari berjalan di jalan berbatu, untuk para tenaga
kesehatan yang memilih desa sebagai medan juang, untuk warga yang mau berubah,
dan untuk cinta yang tumbuh di antara kerja dan pengabdian.
Desa Awan Biru mungkin tidak ada di peta, tetapi
semangatnya ada di setiap desa yang warganya berjuang untuk kehidupan yang
lebih baik. Kabut biru mungkin hanya fenomena alam, tetapi ia adalah simbol
bahwa di balik keterbatasan, selalu ada keindahan yang menunggu untuk
ditemukan.
Semoga kisah Anita dan Erlangga dapat menginspirasi kita
semua untuk terus membangun dari hal terkecil, dengan cinta dan pengabdian yang
tulus. Karena perubahan sejati tidak selalu dimulai dari program besar atau
kebijakan nasional. Perubahan sejati dimulai dari seorang kader yang tidak
lelah berjalan, seorang dokter yang memilih untuk kembali, seorang kakek yang
mau berubah, seorang anak yang bermimpi, dan dua hati yang memilih untuk
berjuang bersama.
Terima kasih telah membaca. Selamat berjuang, di mana pun
Anda berada.







0 komentar:
Posting Komentar