NOVELET
KADER PEGIAT DESA AWAN BIRU
Oleh: Slamet Riyadi
Desa Awan Biru. Namanya indah, seperti lukisan langit yang
terbentang luas di atas hamparan sawah. Dari kejauhan, desa ini tampak tenang.
Damai.
Hamparan sawah bergelombang hijau membentang sejauh mata
memandang. Deretan pohon kelapa menjulang tinggi seolah menjadi penjaga yang
setia. Kabut tipis menyelimuti lereng bukit setiap pagi, menciptakan lukisan
ketenangan yang sempurna. Suara kokok ayam bersahut-sahutan. Gemericik air
sungai mengalir di antara bebatuan. Angin berbisik lembut di sela-sela
dedaunan.
Namun ketenangan itu kini terasa sumbang.
Jalan desa yang dulu mulus—dibangun dengan gotong royong
yang melibatkan hampir seluruh kepala keluarga—kini penuh lubang menganga.
Lubang-lubang itu seperti mulut-mulut bisu yang menelan harapan. Setiap hujan
turun, genangan air menutupi lubang-lubang itu, membuat pengendara motor sering
terjatuh.
Balai desa yang dulu menjadi pusat riuh rendah—tempat warga
berdebat hangat tentang pembangunan irigasi, tempat pemuda berlatih tari,
tempat ibu-ibu PKK menggelar lomba memasak, kini hanya sesekali menggelar
rapat. Dan rapat-rapat itu pun berlangsung dengan suara-suara datar yang cepat
berakhir. Kursi-kursi yang disusun rapi lebih banyak kosong daripada terisi.
Para pemuda, satu per satu, memilih mengemasi mimpi dan
pergi. Ada yang merantau ke Jakarta, menjadi buruh bangunan. Ada yang ke
Surabaya, bekerja di pabrik. Ada yang ke Bali, menjadi pelayan restoran. Mereka
pergi dengan harapan bisa mengirim uang ke orang tua, bisa membangun masa depan
yang lebih baik. Yang tertinggal hanyalah mereka yang tak punya pilihan, orang
tua yang sudah renta, petani yang terikat pada tanahnya, atau mereka yang
terlalu lelah untuk bermimpi.
Di sebuah sore yang sunyi, saat matahari mulai condong ke
barat dan langit berubah warna dari jingga ke ungu tua, seorang pemuda bertubuh
kurus dengan kacamata bulat agak longgar di hidungnya duduk di tangga beton
Balai Desa. Kacamatanya sering turun ke ujung hidung, dan ia selalu
mendorongnya naik dengan jari telunjuk, sebuah gerakan yang sudah menjadi
kebiasaan. Pakaiannya sederhana: kaos oblong lusuh dan celana jeans yang sudah
pudar. Di tangannya, sebuah buku nota lusuh terpegang erat, halaman-halamannya
penuh dengan coretan yang hanya ia sendiri yang bisa membacanya.
Namanya Amat Junior. Ia adalah keponakan Si Amat, Admin
Desa yang terkenal piawai mengutak-atik komputer. Tapi Junior berbeda dengan
pamannya. Jika pamannya lebih nyaman di balik layar komputer, Junior justru
lebih sering terlihat merenung di pinggir sawah atau berbincang lama dengan
para petani tua di warung-warung kecil. Ia mendengarkan keluhan mereka tentang
pupuk yang mahal, tentang harga gabah yang jatuh, tentang irigasi yang
tersumbat. Ia mendengarkan, mencatat, lalu merenung.
Ia memiliki kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan dengan
kata-kata sederhana. Ada yang kurang pas di desa ini. Bukan perkara sampah yang
berserakan atau jalan yang rusak, itu hanya gejala. Yang lebih dalam adalah
sesuatu yang bernama partisipasi. Atau justru ketiadaan partisipasi itu
sendiri.
Program-program dari pemerintah desa berjalan, anggaran
terserap, laporan-laporan dibuat rapi. Tapi warga? Warga hanya menjadi
penonton. Mereka datang jika diundang dengan amplop, mereka hadir jika ada
makanan. Dan setelah itu, mereka pulang, kembali ke rutinitas, kembali ke
rasa "ah, percuma".
Rasa "ah, percuma" itu yang
paling ditakuti Junior. Karena rasa itu seperti kabut yang menyebar perlahan,
menutupi harapan, menjadi tameng bagi kekecewaan yang tak tersampaikan. Ketika
warga mulai berkata "buat apa?" dan "percuma",
itu pertanda desa sedang sakit.
Ia merasa ada sesuatu yang harus dilakukan. Sesuatu yang
lebih dari sekadar mengeluh.
"Apa jadinya kalau semua hanya menunggu?"
gumamnya pada angin sore yang membawa aroma tanah basah dari sawah.
Angin tidak menjawab. Tapi di kedalaman hatinya, ada suara
yang mulai terbentuk. Sebuah ide. Samar, belum jelas bentuknya, tapi mulai
menggeliat.
Tanpa ia sadari, langkah kecil yang akan ia ambil malam
itu, sebuah tulisan di buku nota, sebuah ide yang ia tuangkan dalam bahasa
sederhana, akan menjadi batu pertama yang dilempar ke tengah kolam desa yang
tenang. Riaknya, kelak, akan terasa hingga ke sudut-sudut paling terpencil Awan
Biru.
Desa Awan Biru terletak di lereng sebuah bukit, sekitar dua
puluh kilometer dari ibu kota kecamatan. Luas wilayahnya mencapai empat ratus
hektar, dengan sebagian besar berupa lahan pertanian dan perkebunan.
Penduduknya berjumlah sekitar tiga ribu jiwa, terbagi dalam tiga dusun: Dusun
Krajan di pusat desa, Dusun Gunungsari di lereng bukit, dan Dusun Ciliwung di
dekat aliran sungai.
Dulu, desa ini dikenal sebagai desa yang dinamis. Pada era
1990-an, Awan Biru menjadi desa percontohan untuk program intensifikasi
pertanian. Kelompok tani di sini aktif, panen raya selalu dirayakan dengan
meriah, dan pemuda-pemudanya terkenal ulet.
Namun dua dekade kemudian, semangat itu perlahan memudar.
Anak-anak muda berbondong-bondong merantau ke kota. Lahan pertanian mulai beralih
fungsi. Yang tersisa hanyalah kenangan tentang masa kejayaan yang tak akan
kembali.
Kondisi ini diperparah dengan sistem birokrasi desa yang
semakin kaku. Perangkat desa sibuk dengan tumpukan administrasi dan laporan
yang harus segera dikirim ke kecamatan dan kabupaten. Mereka bekerja dari pagi
hingga sore di Kantor desa, tenggelam dalam angka-angka dan formulir, sementara
warga di luar sana menunggu perhatian yang tak kunjung datang.
Pak Karyo, pemilik warung kecil di RT 02, adalah saksi
paling langsung dari kemerosotan ini. Warungnya yang dulu ramai hingga tengah
malam, tempat para pemuda berkumpul setelah pulang dari sawah, tempat
bapak-bapak ngopi sambil bermain catur, tempat cerita-cerita lucu dan
keluhan-keluhan halus tentang kehidupan dilontarkan, kini mulai mematikan lampu
terasnya pukul delapan malam.
Warung itu hanya berupa bangunan bambu beratap seng, dengan
tiga meja kayu sederhana dan kursi-kursi plastik yang sudah mulai pudar
warnanya. Di rak kaca sederhana, tersusun rokok berbagai merek, bungkus-bungkus
mi instan, permen, dan beberapa camilan murahan. Di sudut, ada kompor minyak
tanah untuk memasak mi dan menggoreng camilan.
"Yang beli cuma kacang dan teh anget, Bu. Itu pun
pakai utang," keluhnya pada Bu Yuni, Sekretaris Desa, yang singgah membeli
telur asin suatu sore.
Wajahnya keriput, matanya sayu, dan suaranya terdengar
parau karena terlalu sering bergumam sendiri. "Anak-anak muda pada
merantau. Yang tinggal ya yang nggak punya modal buat pergi, atau yang sudah
tua kayak saya. Jadinya ya sepi."
Bu Yuni menghela napas. "Semoga ada jalan keluar, Pak
Karyo. Kita sama-sama lagi susah."
"Susahnya beda, Bu." Pak Karyo tersenyum pahit.
"Bapak Ibu kan masih punya gaji tetap. Saya mah tergantung beli kopi sama
rokok warga. Kalau warga sepi, ya sepi."
Kerja bakti yang dulu diumumkan dengan kentongan langsung
dipenuhi warga yang membawa cangkul dan parang, kini hanya dihadiri oleh para
perangkat desa dan segelintir warga lansia. Mereka datang karena rasa tanggung
jawab yang tersisa, atau karena takut dianggap tidak peduli. Tapi semangat yang
dulu membara, kini tinggal abu yang siap diterbangkan angin.
Saat rapat dengar pendapat yang diadakan Pak Kades Iwan,
kursi-kursi yang disusun rapi lebih banyak kosong daripada yang terisi. Rapat
diadakan di balai desa, sebuah bangunan permanen berukuran dua belas kali
delapan meter dengan lantai keramik dan dinding yang dicat putih kusam. Papan
pengumuman di depan balai desa sudah lama tidak diperbarui, ditempeli
pengumuman-pengumuman usang yang kertasnya sudah menguning.
Suasana rapat dipenuhi gumaman malas dan tatapan kosong.
Beberapa warga yang hadir terlihat lebih sibuk dengan ponselnya daripada
mendengarkan pembicaraan. Ketika Pak Kades meminta pendapat, yang muncul hanya
keheningan yang canggung.
"Apa yang mau dirundingkan? Yang menang ya
mereka-mereka itu lagi," bisik seorang warga pada rekannya.
"Iya, kita mah cuma disuruh setuju aja. Nggak usah
datang, mending di rumah," sahut yang lain, lalu mereka terkekeh kecil.
Rasa "ah, percuma" itu telah
menjadi semacam tameng. Tameng yang melindungi mereka dari kekecewaan. Lebih
baik tidak berharap daripada berharap lalu kecewa. Lebih baik diam daripada
bersuara lalu diabaikan.
Warga lebih memilih berkumpul di warung Pak Karyo untuk
bergosip daripada datang ke balai desa untuk menyuarakan pendapat. Di warung,
setidaknya mereka bisa tertawa. Di warung, setidaknya ada yang mendengar. Di
warung, setidaknya mereka merasa setara.
Pak Karno, petani yang sawahnya berada di pinggir desa,
adalah salah satu yang paling sering duduk di warung Pak Karyo. Ia sudah jarang
ke balai desa. Terakhir kali ia datang, usulannya tentang perbaikan saluran
irigasi hanya mendapat jawaban "nanti diproses". Sampai
sekarang, belum ada kabar.
"Daripada ke balai desa mending ke sini," ujarnya
suatu malam sambil menyesap kopi pahit. "Di sini setidaknya saya bisa
ngomong bebas. Nggak ada yang motong, nggak ada yang bilang 'nanti
diproses'."
"Tapi Pak Karno, kalau kita nggak pernah datang ke
rapat, nggak akan pernah ada perubahan," kata Herman, seorang pemuda
anggota Karang Taruna yang masih idealis.
Pak Karno menatapnya dengan mata sayu. "Nak Herman,
saya sudah dua puluh tahun tinggal di desa ini. Saya sudah lihat banyak orang
datang dengan semangat perubahan. Tapi pada akhirnya mereka lelah, mereka menyerah,
mereka jadi bagian dari sistem yang mereka sendiri pernah kritik. Perubahan itu
butuh waktu. Tapi saya sudah terlalu tua untuk menunggu."
Herman terdiam. Ia tidak punya jawaban untuk itu.
Suasana di Kantor desa tak kalah pekat.
Di ruang kerja yang sempit dengan meja-meja kayu berjajar
rapi, para perangkat desa sibuk dengan tumpukan berkas dan layar komputer yang
menyala terus. Udara di dalam ruangan terasa pengap, tidak hanya karena
ventilasi yang kurang, tapi juga karena tekanan pekerjaan yang tak pernah
selesai.
Bu Lulu, Kaur Keuangan yang terkenal perfeksionis,
seringkali cemberut melihat laporan realisasi anggaran yang tidak terserap
maksimal. Rambutnya disanggul rapi, kacamatanya selalu bersih, dan setiap
berkas ia atur dengan urutan yang presisi.
Di hadapan Bu Yuni dan Pak Eko, ia meluapkan kekesalannya
dengan nada tinggi yang jarang keluar dari dirinya.
"Dana desa banyak, Bu. Jumlahnya fantastis dibanding
tahun-tahun sebelumnya. Tapi kegiatan sepi. Program tidak berjalan. Nanti di
audit repot. Saya yang dipanggil, saya yang disalahkan. Padahal saya cuma
pegang uang, bukan pegang warga."
Suaranya meninggi sedikit, sebuah kemarahan yang tertahan
lama. Ia menggeser kacamatanya, menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan
nada lebih tenang.
"Saya sudah hitung, Bu. Anggaran untuk pembangunan
fisik tahun ini hanya terserap empat puluh persen. Program pemberdayaan
masyarakat malah lebih parah, hanya dua puluh persen. Kalau ini terus
berlanjut, kita akan dapat predikat 'desa tertinggal' dari kabupaten. Malu,
Bu."
Pak Eko, Kaur Perencanaan, hanya bisa menghela napas
panjang. Ia adalah pria bertubuh sedang, berusia sekitar empat puluh tahun,
dengan rambut yang mulai menipis di bagian depan. Wajahnya menunjukkan
kelelahan yang dalam, bukan hanya fisik tapi juga mental.
"Rencana kerja sudah disusun rapi, Bu. Mulai dari
musyawarah perencanaan, musyawarah khusus, hingga verifikasi usulan. Semua
sudah sesuai prosedur. Program sudah kita rancang dengan matang. Tapi kalau
warga sendiri ogah-ogahan dilibatkan, ya bagaimana? Saya sudah keliling ke RT,
ngasih tahu soal program-program ini. Mereka cuma bilang 'iya, nanti, Pak',
tapi ujung-ujungnya nggak ada yang datang."
Ia membuka buku catatannya yang penuh dengan daftar
kunjungan. Setiap RT, setiap RW, sudah ia datangi. Tiap malam, ia keliling
menemui warga, menjelaskan program-program yang akan dilaksanakan, meminta
masukan dan partisipasi. Tapi respons yang ia dapatkan dingin.
Pak Kades Iwan, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan,
akhirnya bersuara. Suaranya berat, seolah beban yang dipikulnya terlalu besar
untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Kita semua kewalahan, saya tahu. Tapi kita tidak
punya pilihan selain terus bekerja. Ini tugas kita. Ini amanah yang kita
terima. Mungkin kita belum menemukan cara yang tepat. Mungkin kita butuh
ide-ide baru. Tapi satu hal yang pasti: kita tidak boleh menyerah."
Beliau menatap satu per satu perangkat desanya. Mata mereka
bertemu, dan di sana ada kelelahan yang sama, tapi juga secercah harapan yang
masih tersisa.
"Kita coba lagi. Kita evaluasi. Mungkin kita butuh
pendekatan yang berbeda. Mungkin kita butuh bantuan dari pihak lain. Yang
penting, kita tidak berhenti bergerak."
Di rumah lain, di dusun yang berbeda, seorang perempuan
muda sedang duduk di teras rumahnya. Langit malam di atas Awan Biru bertabur
bintang. Bulan purnama bersinar terang, menerangi halaman rumah yang cukup
luas.
Perempuan itu bernama Camelia. Ia adalah putri Bu Lulu,
Kaur Keuangan Desa. Ia memiliki wajah yang teduh, dengan senyum yang selalu
siap menghangatkan suasana. Rambut hitamnya yang panjang sering ia ikat
sederhana, dan pakaiannya selalu rapi namun tidak berlebihan. Ia adalah
kebalikan dari ibunya yang perfeksionis dan kaku. Camelia lebih santai, lebih
mudah bergaul, dan memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat orang merasa
nyaman di dekatnya.
Ia adalah lulusan SMA, dan sempat kuliah satu semester di
salah satu universitas di kota, sebelum akhirnya memutuskan kembali ke desa.
Bukan karena tidak mampu, tapi karena ia merasa ada yang lebih penting yang
bisa ia lakukan di Awan Biru.
"Cam, sudah malam. Masuk," suara Bu Lulu dari
dalam rumah.
"Sebentar, Bu. Saya sedang menikmati bulan."
Bu Lulu keluar, berdiri di samping putrinya. Wajahnya yang
biasanya tegang, kini sedikit melunak.
"Kamu sedang memikirkan apa?"
Camelia tersenyum. "Banyak, Bu. Tentang desa, tentang
warga, tentang masa depan."
Bu Lulu menghela napas. "Desa sedang tidak baik-baik
saja. Ibu merasakannya. Anggaran tidak terserap, program tidak berjalan, warga
tidak peduli. Ibu bingung harus bagaimana."
"Kita butuh ide baru, Bu. Kita butuh gerakan dari
bawah. Bukan hanya program dari atas."
"Kamu punya ide?"
Camelia terdiam sejenak. "Masih samar, Bu. Tapi saya
yakin, ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Kita tidak bisa terus begini."
Bu Lulu menatap putrinya. Di mata Camelia, ia melihat api
yang dulu juga pernah menyala di dirinya, sebelum akhirnya padam tertimbun
rutinitas dan tekanan pekerjaan.
"Jangan terlalu berharap, Cam. Perubahan itu sulit.
Banyak yang akan menentang."
"Tapi bukan berarti tidak mungkin, Bu."
Bu Lulu tersenyum. "Kamu ini keras kepala, seperti
ayahmu dulu."
Camelia tertawa kecil. "Ayah saya juga keras kepala,
Bu?"
"Dia orang yang punya mimpi besar untuk desa ini.
Sayangnya, mimpi itu tak sempat terwujud."
Camelia tidak bertanya lebih lanjut. Ia tahu ibunya tidak
suka membicarakan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
"Tapi," Bu Lulu melanjutkan, "jika kamu
benar-benar punya ide, lakukan. Ibu akan mendukung. Asalkan kamu tahu
risikonya."
Camelia mengangguk. "Terima kasih, Bu."
Malam itu, Camelia tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat
tidurnya, memandang langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya melayang pada
Amat Junior, pemuda berkacamata yang sering ia lihat duduk sendirian di pinggir
sawah atau di tangga balai desa.
Ada yang berbeda dari pemuda itu. Ada kegelisahan yang sama
seperti yang ia rasakan.
Mungkin, pikirnya, mereka bisa melakukan sesuatu bersama.
Esok harinya, Camelia sengaja pergi ke Kantor desa. Bukan
untuk menemui ibunya, tapi untuk mencari Amat Junior. Ia tahu pemuda itu sering
membantu pamannya di ruang administrasi.
Benar saja. Di ruang belakang balai desa, Amat Junior
sedang duduk di depan laptop, membetulkan beberapa data yang error.
"Mas Junior," sapa Camelia.
Amat Junior menoleh. Kacamatanya hampir jatuh dari hidung,
dan ia segera mendorongnya naik dengan gerakan khasnya.
"Cam? Ada apa?"
"Ajak saya ngopi. Saya ingin bicara."
Amat Junior mengernyit, tapi tidak bertanya lebih lanjut. Ia
menyimpan laptopnya, pamit pada Si Amat, lalu berjalan bersama Camelia menuju
warung Pak Karyo.
Mereka duduk di sudut warung, memesan kopi dan gorengan.
Udara siang cukup panas, tapi di bawah pohon beringin, terasa teduh.
"Ada apa, Cam? Kok serius sekali?" tanya Amat
Junior setelah menyesap kopinya.
Camelia menatapnya lekat-lekat. "Saya dengar kamu
punya ide. Tentang kader, tentang jembatan antara warga dan perangkat
desa."
Amat Junior terkejut. "Dengar dari siapa?"
"Dari ibu saya. Katanya, kamu sering menulis sesuatu
di buku notamu. Dan kamu pernah bicara dengan Pak Kades tentang itu."
Amat Junior tersenyum malu. "Belum ada yang jelas,
Cam. Masih berupa coretan. Belum matang."
"Ceritakan."
Amat Junior terdiam. Ia memandang Camelia, mencari
kebohongan atau ejekan di matanya. Tapi tidak ada. Yang ia lihat hanyalah
ketertarikan yang tulus.
Maka ia mulai bercerita. Tentang kegelisahannya, tentang
percakapan dengan Bu Amil dan Pak Karno, tentang kata "jembatan" yang
terus terngiang di kepalanya. Tentang perlunya kader-kader yang fokus mendengar
warga, mencatat ide-ide, lalu memfasilitasi agar ide-ide itu bisa terwujud.
Camelia mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia
mengangguk, sesekali ia bertanya, sesekali ia tersenyum.
"Jadi intinya, kita butuh orang-orang yang menjadi
perpanjangan tangan perangkat desa, tapi juga menjadi suara warga?"
"Kurang lebih begitu. Mereka bukan birokrat, tapi juga
bukan sekadar relawan. Mereka adalah... kader pegiat. Kader yang
menggerakkan."
"Kader Pegiat Desa," gumam Camelia. "Namanya
bagus."
Amat Junior tersenyum. "Kamu setuju?"
"Saya setuju dengan idenya. Tapi eksekusinya tidak
sederhana. Akan ada banyak tantangan."
"Apa saja?"
Camelia mulai menghitung dengan jarinya. "Pertama,
perangkat desa mungkin merasa terganggu. Mereka mungkin berpikir ini akan
mengurangi kewenangan mereka. Kedua, tokoh masyarakat mungkin merasa tersaingi.
Mereka selama ini menjadi penengah antara warga dan pemerintah. Ketiga, dari
sisi anggaran. Kader ini butuh insentif, butuh pelatihan, butuh biaya
operasional. Keempat, warga sendiri. Mereka sudah apatis. Butuh waktu untuk
membangun kepercayaan lagi."
Amat Junior mendengarkan dengan saksama. Ia merasa lega
karena ada yang melihat idenya secara kritis, tidak hanya menerima atau menolak
mentah-mentah.
"Kamu sudah memikirkan semua itu?"
Camelia tersenyum. "Saya putri Kaur Keuangan. Saya
terbiasa berpikir tentang risiko dan konsekuensi."
Mereka berdua tertawa.
"Jadi," Camelia melanjutkan, "apa langkah
selanjutnya?"
Amat Junior membuka buku notanya. "Aku akan menyusun
konsep yang lebih matang. Tugas dan fungsi kader, mekanisme rekrutmen, alur
pelaporan, estimasi anggaran. Aku butuh bantuanmu untuk bagian yang berhubungan
dengan warga. Kamu lebih tahu cara mendekati mereka."
"Setuju. Dan kita butuh dukungan dari perangkat desa.
Kita harus meyakinkan mereka bahwa ini bukan ancaman, tapi bantuan."
"Aku akan bicara dengan Pak Kades lagi. Setelah
konsepnya matang."
Mereka berdua sepakat. Pertemuan di warung pak karyo itu
menjadi titik awal dari sebuah perjalanan panjang. Dua anak muda dengan latar
belakang berbeda, Amat Junior, idealis yang suka merenung, dan Camelia, realis
yang paham peta sosial desa, bersatu untuk mewujudkan gagasan yang lahir dari
kegelisahan yang sama.
Mereka tidak tahu seberapa berat tantangan yang akan mereka
hadapi. Mereka tidak tahu seberapa lama perjuangan ini akan berlangsung. Mereka
hanya tahu, sesuatu harus dilakukan. Dan mereka tidak akan melakukannya
sendirian.
Hari itu, Desa Awan Biru terbangun dengan suasana yang
berbeda. Sejak subuh, kentongan sudah berbunyi di tiga dusun. Bunyi thok-thok-thok yang
bergema dari satu RT ke RT lain, dari satu dukuh ke dukuh lain, seperti detak
jantung yang mengingatkan bahwa hari ini ada sesuatu yang penting.
Pak Taufik, operator pengeras suara masjid, sudah sejak
selesai salat Subuh mengumumkan berulang-ulang:
"Warga Desa Awan Biru yang berbahagia, diumumkan bahwa
hari ini, pukul 14.00 WIB, akan diadakan musyawarah desa di balai desa. Agenda:
Evaluasi Partisipasi dan Pembangunan Desa Awan Biru Tahun Berjalan. Kehadiran
Bapak Ibu sekalian sangat kami harapkan. Terima kasih."
Pengumuman itu diulang setiap selesai salat, Zuhur, Ashar, hingga
suara Pak Taufik yang biasanya merdu menjadi serak karena terlalu sering
mengulang kalimat yang sama.
Undangan resmi juga sudah disebar tiga hari sebelumnya.
Kertas berwarna putih dengan kop surat Desa Awan Biru, ditandatangani oleh Pak
Kades Iwan, ditempel di papan pengumuman balai desa, di setiap masjid dan
mushola, bahkan di warung Pak Karyo. Tapi seperti biasa, undangan resmi
seringkali hanya berakhir menjadi alas duduk atau pembungkus gorengan.
Namun kali ini, ada yang berbeda. Rumor beredar bahwa rapat
ini akan membahas nasib program-program yang mangkrak. Rumor lain mengatakan,
Pak Kades akan mengevaluasi kinerja perangkat desa. Spekulasi bertebaran
seperti dedaunan kering yang ditiup angin kemarau.
Sejak siang, balai desa mulai dipersiapkan. Pak Jumadi,
penjaga keamanan desa yang sudah sepuh, menyapu lantai keramik yang mulai
kusam. Bu Ratna, Kaur Tata Usaha dan Umum, sibuk mengatur kursi-kursi plastik
merah yang disewa dari tetangga desa. Ia menyusunnya berjajar rapi, dua blok
menghadap ke panggung kecil tempat kepala desa dan perangkat duduk. Total dua
ratus kursi.
Pak Kades Iwan sudah berada di kantornya sejak pukul
sepuluh pagi. Beliau duduk di kursi kerjanya yang sudah usang, menghadap meja
kayu jati yang penuh dengan tumpukan berkas. Di atas meja, tersusun laporan-laporan
yang harus ia sampaikan hari ini: laporan realisasi anggaran, laporan capaian
program, laporan evaluasi pembangunan fisik. Angka-angka dan grafik bergantian
ia lihat, tapi pikirannya melayang ke tempat lain.
Jendela kantornya menghadap ke utara, ke arah sawah yang
mulai menguning di Dusun Krajan. Dari sini, ia bisa melihat pematang-pematang
yang dulu selalu ramai dengan warga yang bekerja gotong royong. Kini, sawah itu
terlihat sepi. Hanya beberapa petani tua yang masih setia membajak dengan sapi.
Pak Kades menghela napas panjang.
Pukul setengah dua siang, halaman balai desa mulai ramai.
Mereka datang dengan berbagai cara. Ada yang berjalan kaki,
sandal jepit di kaki, topi caping di kepala. Ada yang mengendarai sepeda motor
tua yang bunyi knalpotnya menggelegar di sepanjang jalan desa. Ada juga yang
naik andong, dikendarai Pak Dasir, satu-satunya tukang andong yang tersisa di
Awan Biru.
Pak Karno datang dengan sepeda motor butut kesayangannya.
Ia sengaja datang lebih awal karena penasaran. Rumor yang beredar selama dua
hari terakhir membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Katanya, rapat ini akan
membahas usulan perbaikan irigasi yang ia ajukan setahun lalu.
Ia memarkir motornya di pinggir jalan, lalu masuk ke
halaman balai desa. Matanya menyapu kursi-kursi yang sudah tersusun rapi.
Seperti dugaannya, setengahnya masih kosong.
"Pak Karno, ikut rapat?" sapa Pak Sugeng yang
sudah duduk di barisan belakang.
"Iya, Pak. Penasaran. Bapak sendiri bagaimana?"
"Sama. Daripada di rumah melamun, mending ke sini.
Setidaknya bisa dengar langsung omongannya Pak Kades."
Mereka berdua lalu duduk berdampingan di barisan belakang.
Pak Karyo, pemilik warung, juga hadir. Ia datang dengan
membawa termos besar berisi kopi dan segelas gorengan. "Siapa tahu
butuh," katanya sambil tersenyum.
Herman datang bersama beberapa pemuda Karang Taruna.
"Kita harus tahu arah pembangunan desa ke depan," katanya pada Guntur
dan Yulia yang berjalan di sampingnya.
"Ah, paling juga omong-omong doang," celetuk
Guntur.
"Kali ini beda," Herman bersikeras.
"Setidaknya kita dengar dulu. Kalau tidak ada perubahan, baru kita
protes."
Nadya, kader posyandu, datang bersama Amalia, bidan desa.
Mereka duduk di kursi sisi kanan, dekat dengan pintu masuk.
Pak Santoso datang dengan langkah mantap. Pakaiannya rapi, kemeja
putih, celana bahan hitam, dan peci hitam di kepala. Ia adalah tokoh masyarakat
yang paling disegani di Awan Biru. Bukan karena jabatan, tapi karena usia,
pengalaman, dan kebijaksanaannya. Setiap ada masalah di desa, warga selalu
datang kepadanya. Setiap ada rapat penting, suaranya selalu didengar.
Ia duduk di barisan depan, di samping Pak Didit, Ketua BPD
yang sudah datang lebih awal.
Pukul 14.00 tepat, Pak Kades Iwan naik ke panggung kecil.
Di belakangnya, Bu Yuni sudah siap dengan buku notulen dan pulpen. Pak Eko,
Kaur Perencanaan, duduk di sisi kanan dengan setumpuk laporan. Bu Lulu, Kaur
Keuangan, duduk di sisi kiri dengan kalkulator dan buku catatan keuangan.
Sound system yang sudah disiapkan sejak pagi dinyalakan.
Mikrofon ditepuk-tepuk oleh Pak Jumadi, menghasilkan bunyi bruk-bruk-bruk yang
memekakkan telinga.
"Coba, coba... satu, dua, tiga..." suara Pak
Jumadi menggelegar.
Warga yang tadinya sibuk bergumam, mulai tenang. Mata
mereka tertuju ke panggung.
Pak Kades mengambil mikrofon. Beliau membersihkan
tenggorokan, lalu memulai.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat
siang, Bapak-bapak, Ibu-ibu, warga Desa Awan Biru yang saya hormati."
"Wa'alaikumsalam," jawab warga serempak.
"Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke
hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kesehatan sehingga bisa berkumpul
di sini pada hari yang berbahagia ini."
Pak Kades berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah
yang hadir.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, kita berkumpul di sini hari ini
karena ada yang perlu kita bicarakan bersama. Sebagai sebuah keluarga besar
desa, kita punya tanggung jawab untuk saling mengingatkan. Kita punya tanggung
jawab untuk menjaga agar desa yang kita cintai ini tetap maju, tetap sejahtera,
tetap menjadi tempat yang nyaman untuk kita tinggali."
Ia menarik napas panjang.
"Namun, saya harus jujur. Dalam beberapa tahun
terakhir, ada yang tidak beres dengan desa kita. Partisipasi kita dalam
pembangunan desa sedang menurun. Jalan rusak di Dusun Krajan belum juga ada inisiatif
gotong royong. Program pemberdayaan perempuan sepi peminat. Bahkan untuk rapat
seperti ini, Bapak Ibu lihat sendiri, setengah dari kursi yang kita siapkan
masih kosong."
Ia menunjuk ke arah kursi-kursi kosong di bagian belakang.
Warga yang hadir menoleh, melihat kekosongan itu, lalu kembali menatap ke
depan.
"Ini masalah kita bersama. Bukan masalah saya pribadi,
bukan masalah perangkat desa, bukan masalah BPD. Tapi masalah kita semua.
Karena desa ini adalah milik kita bersama."
Suasana hening. Beberapa warga mengangguk pelan. Sebagian
besar hanya diam.
"Saya tidak akan bicara panjang lebar. Saya akan
membuka forum untuk diskusi. Tapi sebelumnya, saya persilakan Pak Eko, Kaur
Perencanaan, untuk menyampaikan laporan capaian program pembangunan tahun ini.
Pak Eko, silakan."
Pak Eko berdiri, membawa setumpuk laporan yang tebal.
"Terima kasih, Pak Kades. Bapak-bapak, Ibu-ibu, warga
Desa Awan Biru yang saya hormati. Izinkan saya menyampaikan laporan capaian
program pembangunan Desa Awan Biru tahun berjalan."
Ia membuka halaman pertama laporannya.
"Program pembangunan Desa Awan Biru tahun berjalan
terdiri dari tiga bidang utama: pertama, bidang penyelenggaraan pemerintahan
desa; kedua, bidang pelaksanaan pembangunan desa; dan ketiga, bidang pembinaan
kemasyarakatan. Total anggaran yang dialokasikan adalah Rp1,2 miliar, bersumber
dari Dana Desa, Alokasi Dana Desa, dan Pendapatan Asli Desa."
Pak Eko terus membaca dengan suara yang monoton.
Angka-angka bergantian ia sebut: persentase realisasi, pagu anggaran, serapan
fisik, serapan keuangan. Wajah-wajah di hadapannya mulai menunjukkan
tanda-tanda kebosanan.
Pak Sugeng di barisan belakang mulai menguap. Pak Karno
menyilangkan tangan di dada, matanya sayu. Guntur mulai memainkan ponselnya di
bawah meja.
Hanya Amat Junior yang duduk di sudut ruangan, di kursi
paling belakang dekat pintu, yang masih memperhatikan dengan saksama. Buku
notanya terbuka, pulpen di tangannya siap mencatat. Di matanya, ada sesuatu
yang lain, bukan sekadar angka-angka, tapi pola yang mulai ia lihat.
Program-program yang tidak terserap dengan baik. Kegiatan-kegiatan yang tidak
menyentuh warga. Anggaran yang mengendap tanpa manfaat.
"Untuk bidang pembinaan kemasyarakatan," lanjut
Pak Eko, "program pemberdayaan perempuan mencapai realisasi dua puluh
persen dari target. Kegiatan yang terlaksana antara lain pelatihan pembuatan
kerajinan dari sedotan plastik yang diikuti oleh lima belas ibu rumah tangga,
serta sosialisasi kesehatan reproduksi yang dihadiri oleh dua puluh
peserta."
"Untuk bidang pelaksanaan pembangunan desa, realisasi
fisik mencapai empat puluh persen. Kegiatan yang terlaksana antara lain
pembangunan talut di Dusun Ciliwung sepanjang lima puluh meter, serta rehab
balai RT 03 dan RT 07. Sedangkan untuk pembangunan jalan usaha tani di Dusun
Krajan masih dalam tahap kajian teknis, menunggu rekomendasi dari dinas
terkait."
Pak Eko terus membaca hingga dua puluh menit. Akhirnya,
setelah menyelesaikan halaman terakhir, ia menutup laporannya.
"Demikian laporan capaian program pembangunan Desa
Awan Biru tahun berjalan. Apabila ada yang kurang jelas, saya siap memberikan
penjelasan lebih lanjut. Terima kasih."
Ia kembali duduk, menghela napas lega.
Pak Kades mengambil alih mikrofon. "Terima kasih, Pak
Eko. Bapak-bapak, Ibu-ibu, apakah ada yang ingin ditanyakan atau ditanggapi?
Silakan."
Pak Santoso tidak menunggu lama. Ia menyalakan mikrofon di
depannya, dan suaranya yang lantang langsung memenuhi ruangan.
"Pak Kades, saya ingin bertanya."
"Silakan, Pak Santoso."
"Pak Eko tadi menyampaikan bahwa program pembangunan
jalan usaha tani di Dusun Krajan masih dalam tahap kajian teknis. Saya ingin
tahu, sudah berapa lama kajian itu dilakukan? Karena usulan perbaikan saluran
irigasi, yang juga di Dusun Krajan, dan juga sudah masuk dalam usulan kegiatan,
saya ajukan setahun yang lalu. Setahun, Pak Kades. Sementara sawah warga sudah
mulai kekeringan."
Suasana mulai tegang. Warga yang tadi mulai bosan, kini
kembali fokus.
Pak Eko yang merasa diserang, segera meraih mikrofon.
"Pak Santoso, usulan itu sudah kami masukkan dalam daftar usulan kegiatan
tahun anggaran kemarin. Tapi prioritas anggaran terbatas, dan kami juga perlu
mempertimbangkan kajian teknis dari dinas terkait—"
"Kajian teknis dari dinas terkait?" potong Pak
Santoso, suaranya meninggi sedikit. "Pak Eko, dulu waktu saya masih muda,
sebelum ada dinas ini dinas itu, warga bisa membangun irigasi sendiri. Gotong
royong, bahu-membahu. Tidak perlu kajian teknis yang bertahun-tahun. Sekarang,
dengan anggaran yang katanya besar, warga justru tidak bisa berbuat apa-apa
karena harus menunggu kajian. Saya heran."
"Pak Santoso, prosedur memang seperti itu. Kita tidak
bisa sembarangan—"
"Saya tidak bicara prosedur, Pak Eko. Saya bicara
tentang kebutuhan warga. Petani itu butuh air sekarang, bukan tahun depan.
Sementara mereka lihat anggaran desa dipakai untuk kegiatan yang... ya, saya
sebut saja, kurang mendesak."
"Kurang mendesak maksudnya apa, Pak Santoso?" Bu
Endang ikut bersuara, nada bicaranya sedikit naik.
"Ibu Endang sendiri tahu," Pak Santoso balik
bertanya. "Kegiatan pelatihan membuat kerajinan dari sedotan plastik,
misalnya. Itu bagus, saya tidak bilang tidak bagus. Tapi apakah itu lebih
mendesak dari irigasi yang rusak? Apakah itu yang warga butuhkan sekarang?
Ataukah itu hanya kegiatan yang dibuat agar anggaran terserap, tanpa memikirkan
dampak nyata bagi warga?"
Suasana langsung riuh. Warga mulai bersenda gurau di antara
mereka. Ada yang tertawa kecil, ada yang mengangguk-angguk setuju.
Pak Sugeng, warga biasa yang duduk di barisan belakang, tiba-tiba
bersuara. Suaranya lantang meski tanpa pengeras suara.
"Pak Santoso benar! Itu yang saya rasakan. Warga itu
kalau diajak kerja bakti, mereka mikir, 'buat apa? yang dapat enak kan yang
punya proyek, warga cuma jadi kuli.' Maaf, Pak Kades, saya bicara blak-blakan.
Tapi ini realita di lapangan."
Pak Kades mengangkat tangan, berusaha menenangkan.
"Pak Sugeng, silakan bicara dengan tenang. Ini musyawarah, semua boleh
berpendapat."
"Saya sudah tenang, Pak Kades. Tapi ini yang saya
lihat setiap hari. Program pembangunan jalan, misalnya. Warga diminta kerja
bakti, tapi mereka tidak dilibatkan dalam perencanaan. Mereka tidak tahu
anggarannya berapa, tidak tahu materialnya dari mana, tidak tahu kapan mulai
dan kapan selesai. Mereka hanya disuruh datang, disuruh kerja, lalu pulang.
Tidak ada rasa memiliki. Akhirnya, ya kerja bakti sepi."
Pak Eko yang sejak tadi berusaha menahan diri, akhirnya
tidak bisa diam. Wajahnya memerah.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, saya mohon. Saya tidak ingin
berdebat. Tapi saya harus meluruskan. Bukan berarti saya membela diri, tapi
saya ingin semuanya tahu bahwa perangkat desa tidak diam. Kami bekerja sesuai
prosedur, sesuai aturan. Kami sudah melakukan musyawarah perencanaan, kami
sudah melakukan musyawarah khusus, kami sudah melakukan verifikasi usulan.
Semua sesuai aturan."
Ia membuka halaman demi halaman laporannya.
"Ini buktinya. Ada daftar usulan dari setiap dusun.
Ada prioritas yang sudah disepakati. Ada jadwal pelaksanaan. Semua tertulis
rapi. Tapi di lapangan, tidak semudah itu. Ada kendala teknis, ada kendala
administrasi, ada kendala koordinasi dengan dinas terkait. Kami juga manusia,
tidak bisa bekerja sendirian. Kami butuh dukungan warga. Tapi warga sendiri
ogah-ogahan dilibatkan."
Pak Sugeng tidak mau kalah. "Warga ogah-ogahan karena
sudah kapok, Pak Eko. Sudah berkali-kali usulan mereka tidak ditindaklanjuti.
Contoh kecil, saluran air di RT saya. Sudah tiga kali saya usulkan, sampai
sekarang belum ada perbaikan. Padahal setiap hujan, air meluap ke jalan,
anak-anak susah ke sekolah."
"Pak Sugeng, usulan itu sudah kami catat. Tapi
prioritas—"
"Prioritas selalu di tempat lain, Pak Eko. Di RT saya,
prioritas tidak pernah sampai. Yang dapat perbaikan jalan ya RT yang dekat
dengan balai desa. Yang dapat bantuan ya yang saudaranya perangkat. Saya tidak
bilang semua, tapi ini yang warga lihat."
Bu Yuni, sang Sekdes, yang sejak tadi hanya mendengarkan,
akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang, berusaha menjadi penengah.
"Bapak-bapak, saya mohon. Kita ini saudara, bukan
lawan. Kita semua punya tujuan yang sama: memajukan Awan Biru. Kalau terus
begini, rapat tidak akan selesai. Mari kita fokus cari solusi. Jangan terus
terjebak pada kesalahan masa lalu. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Sekarang
kita bicara ke depan. Apa yang bisa kita lakukan bersama?"
"Setuju, Bu Yuni," sahut Bu Endang. "Yang
kita butuhkan sekarang bukan saling menyalahkan, tapi bagaimana caranya
menjangkau warga. Mungkin cara sosialisasinya yang kurang pas selama ini.
Terlalu formal, terlalu birokratis. Warga butuh pendekatan yang lebih personal,
lebih dekat, lebih manusiawi."
Pak Eko mengangguk. "Saya setuju. Tapi kami tidak bisa
sendirian. Kami butuh bantuan. Butuh orang-orang yang bisa menjadi jembatan
antara perangkat desa dan warga. Orang-orang yang bisa mendengar keluhan warga,
mencatatnya, lalu menyampaikan ke kami. Bukan sekadar menyampaikan, tapi juga
mendampingi."
Pak Kades yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama,
akhirnya mengambil alih pembicaraan.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita buka forum. Siapa
yang punya usulan? Bagaimana cara kita meningkatkan partisipasi warga?
Bagaimana cara kita menjangkau mereka? Bagaimana cara kita membangun jembatan
antara perangkat desa dan warga? Kita buka dari yang duduk di barisan belakang.
Silakan."
Sunyi.
Beberapa detik yang terasa sangat panjang. Warga saling
berpandangan, menunggu siapa yang akan berbicara pertama. Pak Sugeng melirik ke
kiri dan kanan. Pak Karno menunduk, tampak ragu.
Pak Kades mengulangi. "Silakan, tidak usah sungkan.
Ini musyawarah, semua bebas berpendapat. Barisan belakang, ada yang mau
bicara?"
Hening.
Lalu, dari sudut ruangan, di kursi paling belakang dekat
pintu, seorang pemuda dengan kacamata bulat berdiri perlahan.
Buku nota masih tergenggam di tangannya. Pulpen terselip di
sela-sela jarinya. Kacamatanya agak longgar di hidung, dan ia mendorongnya naik
dengan gerakan khasnya.
Semua mata tertuju padanya.
"Nama saya Amat Junior, Pak Kades. Saya izin
bicara."
Pak Kades mengangguk. "Silakan, Le Junior. Silakan
maju ke depan."
Amat Junior melangkah maju. Langkahnya gugup, tapi matanya
mantap. Ia berdiri di tengah ruangan, menghadap semua warga yang hadir. Buku
notanya ia buka, mencari halaman yang sudah ia persiapkan.
"Ini mungkin terdengar gila, Pak Kades. Tapi saya
punya usulan."
Ia berhenti sejenak, menatap sekeliling. Wajah-wajah yang
tadinya bosan, kini mulai penasaran. Pak Santoso menyandarkan tubuh ke kursi,
siap mendengarkan. Pak Kades tersenyum kecil, memberi isyarat untuk
melanjutkan.
"Kita butuh kader, Pak Kades. Tapi bukan kader
posyandu atau kader PKK biasa. Kader yang tugasnya khusus. Kader yang akan
menjadi jembatan antara warga dan perangkat desa. Kader yang akan mendengar
keluhan warga, mencatat ide-ide mereka, lalu mendiskusikannya dengan perangkat
desa. Bukan sekadar menyampaikan, tapi mendampingi warga untuk mewujudkan
ide-ide itu."
Ruangan hening.
"Kita sebut saja mereka, Kader Pegiat Desa."
Amat Junior membuka buku notanya. Halaman demi halaman
penuh dengan coretan. Tapi kali ini, ia sudah mempersiapkan penjelasan yang
rapi.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, warga Awan Biru yang saya
hormati. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya anak muda yang setiap hari melihat
desa ini semakin sepi. Saya melihat jalan yang rusak, sawah yang kekeringan,
pemuda yang pergi merantau, dan warga yang semakin apatis."
Ia berhenti sejenak, menarik napas.
"Tapi saya juga melihat sesuatu yang lain. Saya
melihat petani seperti Pak Karno yang masih setia membajak sawah setiap pagi.
Saya melihat bidan seperti Bu Amil yang masih semangat melayani walaupun
posyandu sepi. Saya melihat kader seperti Nadya yang masih keliling rumah meski
sering ditolak. Saya melihat pemuda seperti Herman, Yulia, Guntur, yang masih
peduli dengan desa ini."
Matanya menyapu ruangan. Pak Karno menunduk, tersentuh. Bu
Amil tersenyum kecil. Nadya mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Mereka adalah kekuatan desa ini. Tapi kekuatan itu
tidak terorganisir, tidak terarah, tidak didukung. Mereka bergerak
sendiri-sendiri, tanpa koordinasi, tanpa wadah. Hasilnya, energi mereka
terbuang percuma. Padahal, jika mereka bergerak bersama, dampaknya bisa luar
biasa."
Ia menunjuk ke arah Pak Eko.
"Pak Eko tadi bilang, beliau butuh orang-orang yang
bisa menjadi jembatan antara perangkat desa dan warga. Saya setuju. Tapi
jembatan itu tidak akan muncul tiba-tiba. Jembatan itu harus dibangun. Dan
untuk membangunnya, kita butuh kader-kader yang terlatih, yang tersebar di
setiap dusun, di setiap RT, yang setiap hari bisa berinteraksi dengan warga,
mendengar keluhan mereka, mencatat ide-ide mereka, lalu menyampaikan ke perangkat
desa."
Ia membuka halaman lain.
"Saya sudah membuat konsep sederhana. Kader Pegiat
Desa ini akan bertugas melakukan pemetaan sosial di wilayahnya masing-masing.
Mereka akan mengunjungi warga secara rutin, minimal sepuluh kepala keluarga per
bulan. Mereka akan mendengar, mencatat, lalu melaporkan. Tugas mereka bukan
menggantikan perangkat desa, tapi menjadi perpanjangan tangan. Mereka adalah
mata dan telinga perangkat desa di kampung-kampung."
Pak Santoso mengangkat tangan. "Le Junior, maaf saya
potong. Ide ini menarik. Tapi bukankah kita sudah punya lembaga yang melakukan
hal serupa? BPD, misalnya, yang tugasnya menyerap aspirasi warga. LPMD, yang
tugasnya memberdayakan masyarakat. Karang Taruna, yang bergerak di bidang
kepemudaan. Kenapa perlu kader baru?"
Amat Junior sudah mempersiapkan jawaban.
"Pak Santoso, BPD adalah lembaga yang sangat penting.
Tapi rapat BPD formal dan terjadwal. Mereka tidak bisa setiap hari turun ke
lapangan. LPMD juga demikian, struktur mereka lebih berat, dan fokusnya pada
pemberdayaan dalam skala yang lebih besar. Karang Taruna punya fokus di pemuda
dan kegiatan olahraga-seni."
Ia mendorong kacamatanya yang mulai turun.
"Kader Pegiat ini berbeda. Mereka bukan lembaga, tapi
kader fungsional yang fleksibel. Mereka tidak perlu menunggu rapat formal.
Mereka bisa kapan saja ngobrol dengan warga di warung, di sawah, di teras
rumah. Mereka mendengar keluhan yang mungkin tidak pernah muncul di forum-forum
resmi. Mereka adalah ujung tombak yang menjemput bola, bukan menunggu bola
datang."
Pak Eko mengangguk-angguk. "Saya setuju dengan ide
ini. Tapi saya ingin tahu lebih detail. Bagaimana mekanisme kerjanya? Bagaimana
mereka melapor? Bagaimana kami merespons laporan mereka? Jangan sampai ini
malah menjadi struktur baru yang justru memperlambat birokrasi."
"Tentu, Pak Eko. Mekanismenya sederhana. Setiap kader
akan memiliki wilayah binaan, misalnya satu RT atau satu dusun. Mereka akan
melakukan kunjungan rutin dan mencatat aspirasi dalam formulir sederhana.
Formulir itu bisa diisi manual atau digital, paman saya, Si Amat, sudah
bersedia membantu membuat sistem pelaporan digital sederhana."
Si Amat yang duduk di barisan tengah tersenyum, mengangguk.
"Setiap bulan, laporan dari semua kader akan
dikumpulkan ke Pak Eko sebagai Kaur Perencanaan. Pak Eko akan memilah mana yang
menjadi prioritas, mana yang bisa segera ditindaklanjuti, mana yang perlu
dibahas lebih lanjut. Hasilnya akan dibawa ke musyawarah desa berikutnya. Jadi
tidak ada birokrasi berlapis, tidak ada proses yang berbelit."
Bu Lulu, Kaur Keuangan, angkat bicara. "Le Junior, ide
ini bagus. Tapi dari sisi keuangan, ini butuh anggaran. Untuk pelatihan kader,
untuk insentif mereka, untuk biaya operasional. Apakah sudah dipikirkan?"
"Sudah, Bu Lulu. Saya tidak berani menyebut angka
pasti, tapi prinsipnya, ini adalah investasi jangka panjang. Dengan kader yang
aktif, program-program desa akan lebih tepat sasaran, partisipasi warga akan
meningkat, dan pada akhirnya, pembangunan desa akan lebih efektif. Anggaran
untuk kader ini tidak akan sia-sia."
Pak Kades yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya
bersuara. "Baiklah. Saya rasa ini usulan yang menarik. Tapi kita tidak
bisa memutuskan sekarang juga. Ini butuh pembahasan lebih lanjut. Saya usulkan,
kita bentuk tim kecil untuk menggodok ide ini. Tim akan merumuskan konsep,
tugas pokok dan fungsi, mekanisme kerja, serta estimasi anggaran. Setelah
matang, kita bahas lagi dalam musyawarah berikutnya."
Ia menatap sekeliling. "Apakah ada yang
keberatan?"
Pak Santoso mengangkat tangan. "Pak Kades, saya setuju
dengan pembentukan tim. Tapi saya minta dilibatkan. Saya ingin memastikan bahwa
kader ini benar-benar menjadi jembatan, bukan menjadi struktur baru yang justru
membuat birokrasi desa semakin rumit."
"Setuju, Pak Santoso. Siapa lagi yang mau terlibat?"
Bu Yuni angkat tangan. "Saya, Pak Kades. Dari sisi
administrasi, saya bisa membantu."
Pak Eko. "Saya juga, Pak. Ini terkait dengan
perencanaan, jadi saya harus terlibat."
Bu Lulu. "Saya, Pak. Untuk urusan anggaran."
Si Amat. "Saya, Pak. Untuk sistem pelaporan
digital."
Camelia, yang dari tadi duduk di samping Amat Junior,
tiba-tiba berdiri. "Saya juga, Pak Kades. Saya ingin membantu."
Pak Kades tersenyum. "Baiklah. Tim akan diketuai
oleh... Le Junior, kamu bersedia?"
Amat Junior terkejut. Ia tidak menyangka akan diberi
tanggung jawab sebesar itu. Tapi ia melihat Camelia di sampingnya mengangguk
memberi semangat. Ia melihat Pak Santoso tersenyum. Ia melihat Pak Kades
menatapnya dengan penuh harap.
"Bersedia, Pak Kades."
"Bagus. Maka terbentuklah Tim Persiapan Kader Pegiat
Desa Awan Biru. Kita beri waktu satu bulan untuk menyusun konsep yang matang.
Setelah itu, kita bahas lagi dalam musyawarah khusus. Setuju?"
"SETUJU!" seru warga kompak.
Pak Kades mengetuk palu kecilnya. "Rapat selesai.
Terima kasih kepada semuanya yang hadir."
Matahari mulai condong ke barat ketika warga beranjak
pulang dari balai desa. Langit berwarna jingga, angin sore berhembus
sepoi-sepoi, membawa aroma tanah basah dari sawah yang baru diairi.
Sebagian warga langsung pulang ke rumah masing-masing. Tapi
sebagian lagi, seperti biasa, berduyun-duyun ke warung Pak Karyo. Warung itu
menjadi tempat paling strategis untuk membicarakan apa yang baru saja terjadi.
Pak Karyo sudah menyiapkan meja dan kursi. Termos besar
berisi kopi panas sudah dihidangkan. Gorengan dan pisang rebus tersusun rapi.
"Wah, ramai sekali hari ini," sapa Pak Karyo
sambil menyeduh kopi. "Rapatnya bagaimana? Seru?"
"Seru, Pak Karyo!" Anto, sopir truk yang terkenal
ceplas-ceplos, duduk di kursi favoritnya. "Banyak yang protes. Pak Santoso
marah-marah soal irigasi. Pak Sugeng bicara soal warga yang kapok."
"Tapi yang paling menarik," Anto melanjutkan,
"itu usulan dari Amat Junior. Kader Pegiat Desa. Katanya, kita butuh kader
yang tugasnya jadi jembatan antara warga dan perangkat desa."
Pak Karno yang duduk di samping Anto, mengangguk-angguk.
"Menarik. Mungkin ini yang kita butuhkan. Selama ini, warga seperti saya
tidak punya saluran untuk menyampaikan keluhan. Datang ke kantor desa, ditanya
Pak Eko, lalu dijawab 'nanti diproses'. Setelah itu tidak ada kabar."
"Tapi apakah kader itu akan benar-benar bekerja?"
tanya Pak Sugeng. "Atau cuma jadi proyek baru yang habis anggaran lalu
menghilang?"
"Kita lihat saja, Pak Sugeng," kata Herman.
"Saya dan teman-teman akan bergabung. Kami ingin desa ini berubah."
Pak Karno yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara.
"Saya akan bergabung jika kader ini jadi. Saya ingin menjadi suara
petani-petani yang selama ini tidak didengar. Saya ingin irigasi di Dusun
Krajan diperbaiki. Saya ingin anak-anak muda tidak perlu merantau karena di
sini ada masa depan."
Pak Sugeng menepuk pundak Pak Karno. "Nah, ini baru
semangat, Pak Karno."
Malam mulai turun. Lampu-lampu di warung Pak Karyo
dinyalakan, memancarkan cahaya temaram yang hangat. Percakapan terus berlangsung
hingga larut.
Di sudut warung, Amat Junior dan Camelia duduk
berdampingan. Mereka tidak banyak bicara, hanya mendengarkan percakapan warga
di sekitar mereka.
"Kamu lihat, Cam?" bisik Amat Junior.
"Apa?"
"Mereka mulai percaya. Mereka mulai punya harapan."
Camelia tersenyum. "Ini baru awal, Jun. Perjalanan
masih panjang. Banyak yang harus kita kerjakan."
"Cam," Amat Junior memotong, "kamu ini
kadang terlalu realistis."
"Saya putri Kaur Keuangan. Saya terbiasa berpikir
realistis."
Mereka berdua tertawa. Tawa kecil di tengah keramaian
warung yang mulai sunyi.
"Tapi," Camelia melanjutkan dengan suara lebih
lembut, "aku senang. Senang melihat Pak Karno mulai punya semangat lagi.
Senang melihat Herman, Yulia, Guntur, dan yang lain mulai peduli. Mungkin ini
awal dari sesuatu yang besar."
Amat Junior menatap langit malam di luar warung.
Bintang-bintang mulai bermunculan, satu per satu, seperti harapan-harapan kecil
yang mulai menyala.
"Awal dari sesuatu yang besar," ulangnya pelan.
"Aku suka itu."
Pukul setengah delapan pagi, matahari baru saja menampakkan
diri dari balik Bukit Ciliwung ketika Amat Junior dan Camelia tiba di halaman
rumah Pak Kades Iwan. Udara masih dingin, embun masih membasahi dedaunan.
Mereka datang dengan setumpuk kertas di tangan. Kertas-kertas
itu sudah direvisi, ditambah, dikurangi, disempurnakan. Ada konsep akhir Kader
Pegiat Desa, ada rancangan anggaran sederhana, ada peta wilayah yang akan
menjadi prioritas, dan ada daftar nama-nama calon kader potensial.
"Masuk, masuk," sapa Pak Kades dari dalam. Beliau
sudah berpakaian rapi, kemeja batik lengan panjang.
Di ruang tamu, Bu Yuni sudah lebih dulu datang. Pak Eko
baru saja tiba. Tidak lama kemudian, Pak Santoso datang dengan langkah mantap.
Si Amat datang berikutnya, membawa laptop. Bu Lulu datang paling akhir.
"Ayo, kita mulai," Pak Kades memulai setelah
semua duduk rapi. "Kita berkumpul pagi ini untuk menyusun rencana tindak
lanjut pembentukan Kader Pegiat Desa. Saya minta Le Junior memaparkan konsep
final yang sudah direvisi. Silakan, Le."
Amat Junior berdiri. Kali ini ia tidak gugup.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu yang saya hormati. Ini adalah
konsep final yang sudah saya revisi berdasarkan masukan dari Bapak Ibu semua.
Saya akan memaparkan poin-poin pentingnya."
Ia membuka dokumen pertama.
"Pertama, tentang Latar Belakang. Desa Awan Biru
mengalami krisis partisipasi warga dalam pembangunan desa. Program-program yang
dilaksanakan seringkali tidak tepat sasaran karena tidak melibatkan warga sejak
awal. Perangkat desa kewalahan karena keterbatasan tenaga. Warga apatis karena
merasa suaranya tidak didengar. Dibutuhkan kader-kader yang menjadi jembatan
antara warga dan perangkat desa."
"Kedua, tentang Tujuan. Tujuan pembentukan Kader
Pegiat Desa adalah: meningkatkan partisipasi warga, menjaring aspirasi secara
efektif, membangun sinergi antara warga dan perangkat desa, serta memberdayakan
masyarakat untuk berinisiatif."
"Ketiga, tentang Tugas Pokok. Tugas pokok Kader Pegiat
Desa ada enam: melakukan pemetaan sosial, mengunjungi warga secara rutin, mencatat
dan melaporkan aspirasi, memfasilitasi pertemuan tingkat RT, menjadi penggerak
partisipasi, dan menyebarluaskan informasi desa."
Ia berhenti sejenak, mengambil napas.
"Keempat, tentang Struktur. Struktur terdiri dari
Pembina, Koordinator Desa, dan Kader Wilayah. Kelima, tentang Mekanisme Kerja.
Setiap kader melakukan kunjungan rutin, mencatat aspirasi, melapor ke
koordinator, koordinator menyampaikan ke Pak Eko, dan Pak Eko
menindaklanjuti."
"Keenam, tentang Anggaran. Saya sudah berkonsultasi
dengan Bu Lulu. Estimasi awal untuk tahap persiapan sekitar lima belas juta
rupiah. Untuk operasional sekitar tiga juta per bulan. Angka ini akan kita
bahas lebih lanjut di APBDes."
Bu Lulu mengangguk. "Angka yang realistis. Akan saya
siapkan usulan detailnya."
Setelah pemaparan selesai, Pak Kades mengambil alih.
"Baik. Konsep sudah jelas. Sekarang kita bicara
tentang rencana tindak lanjut. Saya usulkan kita bentuk beberapa tim
kerja."
Bu Yuni membuka buku catatannya. "Saya usulkan lima
tim: Tim Penyusun Perangkat Aturan, Tim Sosialisasi, Tim Rekrutmen dan Seleksi,
Tim Pelatihan, dan Tim Anggaran."
Satu per satu, mereka menyatakan kesediaannya.
Tim Penyusun Perangkat Aturan diketuai Bu Yuni, anggota Si
Amat dan Pak Eko.
Tim Sosialisasi diketuai Camelia, anggota Pak Sugeng, Pak
Karno, Nadya, dan Herman.
Tim Rekrutmen dan Seleksi diketuai Pak Santoso, anggota Bu
Endang, Pak Edi, dan Amat Junior.
Tim Pelatihan diketuai Amat Junior, anggota Camelia, Si
Amat, Bu Amil, dan Pak Santoso.
Tim Anggaran diketuai Bu Lulu, anggota Pak Kades dan Bu
Yuni.
"Bagus," Pak Kades mengangguk puas. "Target
kita: dalam satu bulan, semua persiapan selesai, dan pelantikan kader bisa
dilaksanakan."
Sore harinya, Camelia sudah bergerak. Tujuan pertamanya
adalah rumah Bu RT 02, Ibu Sri, seorang janda paruh baya yang sudah sepuluh
tahun menjadi ketua RT.
"Bu Sri, permisi," Camelia memanggil dari pagar.
"Oalah, Le Camelia. Mari, mari masuk."
Camelia masuk, duduk di kursi yang disediakan. Ia membawa
oleh-oleh sederhana: kue klepon buatan ibunya.
"Bu, saya mau minta waktu sebentar. Ada yang ingin
saya bicarakan."
Ia mulai menjelaskan tentang Kader Pegiat Desa dengan
bahasa sederhana.
"Jadi, Bu, nanti akan ada kader yang bertugas
mendengar keluhan warga di setiap RT. Mereka akan datang ke rumah-rumah,
ngobrol santai, mendengar apa yang menjadi masalah warga."
Bu Sri mengernyit. "Bukankah itu tugas saya sebagai
ketua RT?"
"Tentu, Bu. Ibu tetap ketua RT. Kader ini bukan
menggantikan Ibu. Mereka adalah perpanjangan tangan. Ibu kan sibuk dengan
berbagai urusan. Kader ini akan membantu Ibu, menjadi telinga dan mata
Ibu."
Bu Sri terdiam sejenak. "Jadi mereka semacam asisten
saya?"
"Lebih tepatnya mitra, Bu. Mereka akan berkoordinasi
dengan Ibu. Setiap temuan di lapangan, mereka akan laporkan ke Ibu dulu, sebelum
diteruskan ke Pak Eko."
Bu Sri mengangguk. "Nah, kalau begitu saya
setuju."
Dari rumah Bu Sri, Camelia melanjutkan ke rumah Pak RT 01,
Pak RT 03, dan seterusnya. Hasilnya, dari tujuh RT yang ia datangi, lima
setuju, satu ragu, dan satu belum bisa ditemui.
Sementara itu, Pak Karno memulai dari kelompok taninya.
Kelompok Tani Makmur Jaya adalah salah satu kelompok tani tertua di Awan Biru.
Mereka biasa berkumpul setiap hari Minggu sore di gubuk bambu milik kelompok.
Hari Minggu itu, Pak Karno datang lebih awal. Ia membawa
beberapa bungkus kopi dan gula.
"Pak Karno, kok bawa-bawa kopi? Biasanya kita
patungan," sapa Pak Slamet, ketua kelompok.
"Ini rezeki, Pak. Saya baru panen sedikit. Sekalian
mau ngobrol-ngobrol santai."
Mereka duduk melingkar. Pak Karno lalu menjelaskan tentang
Kader Pegiat Desa dengan bahasa yang sederhana.
"Jadi gini. Nanti akan ada orang-orang yang tugasnya
mendengar keluhan kita. Mereka akan datang ke sini, duduk bersama kita, ngopi,
lalu mendengar apa yang menjadi masalah kita. Irigasi macet? Mereka catat.
Pupuk mahal? Mereka catat. Lalu mereka bawa ke Pak Eko."
"Mereka orang mana?" tanya Pak Mulyono.
"Orang kita sendiri, Pak. Warga Awan Biru."
"Mau dibayar?" tanya Pak Mulyono lagi.
"Nanti akan ada insentif. Tapi bukan itu yang utama.
Yang utama adalah kita punya saluran untuk menyampaikan keluhan."
Pak Slamet mengangguk. "Saya setuju. Saya sudah
terlalu lama diam."
Diskusi berlangsung hangat. Sebagian besar kelompok taninya
mendukung.
Di sisi lain, Pak Santoso bergerak di level yang lebih
tinggi. Ia menemui tokoh-tokoh masyarakat yang mungkin merasa terancam.
Pertama, ia menemui Pak Lurah—panggilan untuk tokoh adat
tertua di Awan Biru. Pak Lurah sudah berusia di atas tujuh puluh tahun.
"Pak Lurah, saya ingin minta waktu," kata Pak
Santoso.
Pak Santoso menjelaskan tentang Kader Pegiat Desa. Ia
berbicara dengan penuh hormat.
Pak Lurah terdiam lama. "Dulu, waktu saya masih muda,
kita juga punya yang namanya 'juru kunci desa'. Tugasnya mendengar keluhan
warga, mencatat, lalu menyampaikan ke kepala desa. Mirip dengan yang kamu
ceritakan ini."
"Jadi, Pak Lurah setuju?"
"Setuju. Tapi dengan satu syarat. Para kader ini harus
dididik dengan baik. Mereka harus tahu adat istiadat, harus tahu tata
krama."
"Tentu, Pak Lurah."
Setelah dari rumah Pak Lurah, Pak Santoso melanjutkan ke
rumah Pak RT 05 yang kemarin menolak.
"Pak RT, saya minta waktu," katanya sambil duduk
di kursi tamu.
Pak Santoso menjelaskan dengan sabar. Ia tidak memaksa,
tidak menggurui.
"Saya mengerti kekhawatiran Bapak. Bapak khawatir
program ini hanya akan menjadi beban baru. Tapi justru sebaliknya, program ini
akan meringankan beban Bapak."
Pak RT 05 terdiam. "Saya pikir-pikir dulu, Pak."
"Tentu. Tapi saya mohon, Bapak datang ke sosialisasi
nanti."
"Baik, saya akan datang."
Malam harinya, tim kecil berkumpul kembali di warung Pak
Karyo.
"Aku sudah keliling ke tujuh RT," lapor Camelia.
"Lima setuju, satu ragu, satu belum ketemu."
Pak Karno melaporkan hasilnya. "Kelompok tani saya
mayoritas setuju."
Pak Sugeng melaporkan dari warung. "Warga biasa banyak
yang antusias. Bahkan Anto sudah mendaftar jadi kader."
"Anto?" Amat Junior terkejut. "Dia yang
kemarin bercanda soal amplop?"
"Iya. Ternyata dia serius."
Pak Karyo yang dari tadi hanya mendengarkan, akhirnya
bersuara. "Saya lihat kalian semua bersemangat. Saya sudah tua, tidak bisa
banyak bergerak. Tapi warung ini akan saya buka untuk kalian kapan saja."
"Terima kasih, Pak Karyo," kata Amat Junior.
Malam itu, di warung Pak Karyo yang sederhana, mereka
merasakan sesuatu yang telah lama hilang: kebersamaan.
Hari Minggu pagi itu, halaman balai desa mulai dipenuhi
warga sejak pukul tujuh. Bukan hanya perangkat desa dan tokoh masyarakat, tapi
juga wajah-wajah yang jarang terlihat.
Pak Karno datang bersama kelompok taninya. Bu Amil datang
bersama para kader posyandu. Anto datang dengan sepeda motor bututnya.
Bahkan Pak RT 05, yang kemarin masih ragu, datang dengan
langkah mantap.
Kursi-kursi plastik merah hampir seluruhnya terisi. Pak
Kades Iwan berdiri di panggung, memandang kerumunan warga. Matanya
berkaca-kaca.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
sapanya dengan suara bergetar.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
jawab warga serempak. Kali ini tidak setengah hati.
Pak Kades tidak berbicara panjang lebar. Ia langsung mempersilakan
Amat Junior.
Amat Junior berdiri di depan panggung. Kali ini ia tidak
gugup.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, warga Awan Biru yang saya
hormati. Hari ini kita berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang sangat
penting. Bukan tentang program baru, tapi tentang kita. Tentang bagaimana kita
bisa bangkit kembali."
Ia mengambil spidol dan flip chart.
Apa itu Kader Pegiat Desa? Ia menulis dengan huruf besar. Ia menggambar diagram
sederhana: lingkaran WARGA, lingkaran PERANGKAT DESA, dan di antaranya
lingkaran KADER.
"Kader Pegiat Desa adalah jembatan. Mereka yang akan
menjemput aspirasi, bukan menunggu. Mereka yang akan mendengar keluhan warga di
warung, di sawah, di teras rumah."
Mengapa Kita Membutuhkannya?
Ia menulis poin-poin:
1.
Perangkat desa tidak
bisa bekerja sendirian.
2.
Warga butuh saluran
untuk menyampaikan aspirasi.
3.
Program desa harus tepat
sasaran.
4.
Kita semua bertanggung
jawab atas desa ini.
Bagaimana Mekanismenya?
Ia menggambar diagram alur sederhana:
Kader → Mendengar Aspirasi → Mencatat → Melapor ke Koordinator → Koordinator
melapor ke Pak Eko → Pak Eko menindaklanjuti → Hasilnya disampaikan ke warga.
"Tidak berbelit-belit. Tidak ada birokrasi
berlapis."
Siapa yang Bisa Menjadi Kader?
"Kader adalah warga biasa seperti kita semua. Petani,
ibu rumah tangga, pemuda, pensiunan, siapa saja yang peduli."
Bagaimana Anggarannya?
"Kita sudah menyusun estimasi anggaran. Ada insentif,
ada biaya operasional. Ini investasi jangka panjang."
Setelah pemaparan, Pak Kades membuka forum tanya jawab.
Pak Darmo mengangkat tangan. "Le Junior, nanti kader
ini akan dipilih dari mana?"
"Dari warga setempat, Pak. Setiap RT akan memiliki
kader dari RT itu sendiri."
Pak Mulyono angkat tangan. "Saya dukung program ini.
Tapi saya ragu dengan tindak lanjutnya. Apa cuma setahun, lalu habis anggaran
selesai?"
"Pak Mulyono, kita akan menjadikan program ini
berkelanjutan. Anggarannya akan dialokasikan setiap tahun dalam APBDes."
Bu RT 02 angkat tangan. "Saya minta kejelasan. Apakah
kader akan menggantikan peran saya?"
"Bu Sri, kader adalah mitra Ibu. Mereka akan melapor
ke Ibu dulu sebelum diteruskan ke Pak Eko."
Pak RT 05 akhirnya angkat tangan. "Saya setuju. Tapi
saya minta kader diberi pemahaman tentang etika dan tata krama."
"Pak RT, itu akan menjadi bagian utama pelatihan. Pak
Santoso sendiri yang akan membimbing."
Bu Tuti dari PKK angkat tangan. "Apakah kader hanya
menangani pembangunan fisik?"
"Bu Tuti, kader menangani semua aspek. Kesehatan,
pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial budaya."
"Kalau begitu, saya ingin mendaftar jadi kader."
Tepuk tangan pecah.
Setelah forum selesai, panitia membuka pendaftaran. Anto
adalah orang pertama yang mendaftar.
"Kamu serius, To?" tanya Herman.
"Serius. Saya tidak ingin Awan Biru mati."
Bu Tuti mendaftar bersama tiga ibu-ibu PKK. Pak Karno mendaftar.
Pak Sugeng mendaftar. Herman, Yulia, Guntur mendaftar. Pak RT 05 juga
mendaftar.
Pada penghujung acara, total pendaftar mencapai 28
orang—jauh melampaui target 15 orang.
Seleksi berlangsung selama tiga hari. Tim Rekrutmen yang
diketuai Pak Santoso mewawancarai setiap pendaftar.
Anto dipanggil masuk.
"Anto, kamu sopir truk. Sering ke luar kota. Bagaimana
bisa meluangkan waktu?"
"Pak, saya punya waktu luang. Setiap pulang
perjalanan, saya istirahat dua-tiga hari. Waktu itu yang akan saya
gunakan."
Bu Tuti dipanggil.
"Bu Tuti, Ibu sudah aktif di PKK. Masih punya
waktu?"
"Anak-anak saya sudah besar. Suami mendukung. Saya
ingin membantu ibu-ibu yang tidak punya saluran menyampaikan keluhan."
Pak Karno dipanggil.
"Pak Karno, Bapak sudah tidak muda. Apakah kuat?"
"Le, saya petani. Setiap hari membajak sawah, berjalan
di lumpur. Ini lebih berat dari sekadar keliling kampung. Saya kuat."
Setelah semua diwawancarai, tim menetapkan 20 orang sebagai
Kader Pegiat Desa Awan Biru. Mereka terdiri dari 12 laki-laki dan 8 perempuan,
tersebar di tiga dusun.
Pelatihan berlangsung selama tiga hari.
Hari Pertama: Pak
Eko dan Bu Lulu memberikan materi tentang perencanaan desa dan keuangan desa.
Mereka menjelaskan dengan bahasa sederhana, membagikan buku saku.
Hari Kedua: Camelia
mengajarkan teknik pendekatan sosial. "Kunci utama menjadi kader adalah
mendengar. Bukan sekadar dengan telinga, tapi dengan hati."
Mereka berlatih berpasangan. Anto berperan sebagai warga
yang mengeluh.
"Mas, jalan di depan rumah saya rusak setahun..."
Herman mendengar dengan saksama, tidak memotong.
"Terima kasih, Pak. Saya catat. Nanti akan saya laporkan."
Si Amat mengajarkan pelaporan digital dengan Google Form.
Hari Ketiga: Pak
Santoso memberikan materi tentang etika dan tata krama.
"Anak-anakku, kalian adalah orang pilihan. Bukan
karena paling pintar, tapi karena punya hati. Tugas kalian tidak mudah. Kalian
akan mendengar banyak keluhan. Sabar. Jangan terbawa emosi."
Ia berhenti sejenak.
"Jagalah amanah. Aspirasi warga adalah amanah. Jangan
sampai kalian mendengar, mencatat, lalu lupa."
Para kader mendengarkan dengan hening. Pak Sugeng mengusap
matanya. Pak Karno menunduk.
Pelantikan dilaksanakan hari Minggu pagi, tepat satu bulan
setelah musyawarah. Halaman balai desa dipenuhi warga. Bahkan camat, perwakilan
dinas, dan wartawan hadir.
Pak Kades berdiri di panggung dengan kemeja batik baru.
Satu per satu, 20 kader dipanggil. Mereka berdiri berbaris rapi, kemeja putih,
pin kecil bergambar padi dan kapas di dada kiri.
Anto berdiri di barisan paling kiri. Bu Tuti di sebelahnya.
Pak Karno di barisan kedua, dadanya membusung. Herman berdiri tegak.
Pak Kades membacakan surat keputusan. Setiap nama disebut,
disambut tepuk tangan.
Setelah pembacaan, Pak Kades mengambil mikrofon.
"Hari ini adalah hari bersejarah. Bukan karena kita
melantik 20 kader. Tapi karena kita membuktikan bahwa desa ini masih punya
semangat. Perubahan itu mungkin, jika kita bergerak bersama."
Pak Santoso memberikan amanat. "Kata 'kader' berarti
orang pilihan. 'Pegiat' berarti penggerak. Kalian adalah orang pilihan yang
ditugaskan menjadi penggerak."
Ia menatap mereka satu per satu.
"Saya sudah tua. Saya tidak akan selamanya ada di
sini. Tapi kalian, kalianlah generasi yang akan meneruskan estafet. Jangan
sia-siakan amanah ini."
Anto maju ke depan mewakili teman-temannya.
"Saya, Anto bin Suparman, bersama dengan kader-kader
Pegiat Desa Awan Biru lainnya, berjanji: akan mendengar dengan hati, mencatat
dengan teliti, menyampaikan dengan jujur, mengawal dengan setia. Kami tidak akan
berhenti bergerak sampai desa ini bangkit kembali."
Tepuk tangan bergemuruh. Warga berdiri memberi hormat.
Esok paginya, para kader mulai bergerak.
Pak Karno berjalan ke sawah, menemui Pak Mulyono.
"Pak Mulyono, saya mau ngobrol. Bapak punya keluhan tentang
sawah? Tentang irigasi?"
Pak Mulyono mengernyit. "Serius?"
"Serius, Pak. Saya sudah dilantik kemarin."
Pak Mulyono tersenyum. "Baiklah. Duduk dulu, Pak
Karno. Saya buatkan kopi."
Di Dusun Gunungsari, Herman mengunjungi pemuda-pemuda yang
masih ragu merantau.
"Kalian tidak harus pergi ke kota. Di desa ini juga
ada masa depan."
Di RT 02, Anto mengunjungi warga, mendengar keluhan tentang
jalan rusak.
Di RT 01, Bu Tuti mengunjungi ibu-ibu yang tidak pernah
datang ke posyandu.
"Ibu, kenapa tidak pernah datang ke posyandu?"
"Ibu malu, Bu. Anak saya cuma satu."
"Tidak usah malu, Bu. Nanti saya temani."
Ibu itu tersenyum. "Baik, Bu. Saya akan datang bulan
depan."
Setahun telah berlalu sejak pelantikan Kader Pegiat Desa.
Pagi itu, Desa Awan Biru terbangun dengan suasana berbeda.
Jalan desa yang dulu penuh lubang, kini mulus. Balai desa yang dulu sepi, kini
hampir setiap hari ada kegiatan. Kelompok tani bergiliran menggunakan ruang
pertemuan. Ibu-ibu PKK mengadakan pelatihan. Pemuda karang taruna latihan tari
di halaman.
Beberapa pemuda yang dulu merantau mulai pulang. Ada yang
membuka usaha, ada yang mengelola lahan pertanian, ada yang bergabung menjadi
kader.
Di tangga beton Balai Desa, Amat Junior duduk bersama
Camelia, Pak Karno, Anto, dan Bu Tuti.
"Setahun, Jun," kata Camelia. "Rasanya baru
kemarin kita duduk di sini dengan kegelisahan yang sama."
Pak Karno mengangguk. "Saya dulu hanya bisa mengeluh.
Sekarang, sawah saya tidak pernah kering. Kelompok tani kami sudah punya sistem
irigasi bersama. Hasil panen meningkat dua kali lipat."
"Itu karena Bapak menjadi kader yang baik, Pak,"
kata Bu Tuti.
Di ruang kerjanya, Pak Eko menyusun laporan tahunan.
LAPORAN TAHUNAN KADER PEGIAT DESA AWAN BIRU
Jumlah Aspirasi yang Diterima: 1.247 aspirasi
Aspirasi Terselesaikan: 892 aspirasi (71,5%)
Dampak Program:
1.
Perbaikan Irigasi: 75 hektar sawah produktif kembali. Hasil panen
meningkat 40%.
2.
Perbaikan Jalan: 12 ruas jalan desa diperbaiki.
3.
Peningkatan Partisipasi: Kehadiran kegiatan desa meningkat 300%.
4.
Penurunan Kemiskinan: Angka kemiskinan turun 15%.
5.
Pemuda Kembali ke Desa: 23 pemuda kembali dan membuka usaha.
Program Unggulan:
· "Sawah Kembali" (diusulkan
Pak Karno): Perbaikan irigasi, 120 keluarga petani merasakan manfaat.
· "Jalan Terang" (diusulkan
Anto): 45 lampu jalan tenaga surya, angka kriminalitas turun 60%.
· "Ibu Sehat, Anak Cerdas" (diusulkan Bu Tuti): Imunisasi meningkat dari 45%
menjadi 85%.
· "Pemuda Pulang" (diusulkan
Herman): 23 pemuda kembali, 15 usaha baru, 45 lapangan kerja baru.
Malam harinya, warung Pak Karyo ramai seperti biasa.
"Saya ingin cerita," kata Pak Karyo sambil
menyeduh kopi. "Dulu, sebelum ada kader, warga mengeluh di warung ini
dengan putus asa. Sekarang, mereka masih mengeluh, tapi keluhannya berbeda.
'Pak Karyo, tolong usulkan ini ke kader desa.' Atau, 'Pak Karyo, ide saya
bagus, nanti saya sampaikan ke Bu Tuti.'"
"Karena mereka tahu keluhannya akan didengar,"
kata Herman.
"Tepat sekali."
Di rumahnya, Pak Santoso duduk di teras. Di tangannya,
secangkir kopi hitam. Di sampingnya, amplop coklat berisi surat pengunduran
diri.
"Bapak sudah siap?" tanya istrinya.
"Sudah, Bu. Sudah saatnya generasi muda mengambil
alih."
"Dulu, ketika Amat Junior datang dengan idenya, saya
ragu. Tapi saya lihat semangatnya. Saya lihat ketulusannya. Dan saya ingat pada
diri saya sendiri, puluhan tahun lalu."
Ia menyesap kopinya.
"Dia berbeda. Dia punya Camelia, punya Pak Karno,
punya Anto, punya Bu Tuti. Dia punya tim. Dia tidak sendirian."
"Sekarang, saya ingin melepas estafet. Saya ingin
melihat mereka berlari."
Keesokan harinya, balai desa kembali dipenuhi warga untuk
pertemuan evaluasi tahunan.
Pak Kades membuka pertemuan. "Setahun yang lalu kita
berkumpul dengan kegelisahan. Hari ini, kita berkumpul dengan semangat berbeda.
Berkat kader kita, desa ini bangkit kembali."
Tepuk tangan bergemuruh.
Setelah laporan Pak Eko, Pak Santoso meminta izin
berbicara. Ia berdiri dengan langkah mantap.
"Saya sudah tua. Saya ingin melepas peran sebagai
pembina Kader Pegiat Desa."
Suasana hening.
"Tapi ini bukan perpisahan. Saya masih akan ada di
sini. Saya masih akan duduk di warung Pak Karyo. Saya masih akan memberi
nasihat jika diminta. Tapi untuk urusan teknis, saya serahkan pada generasi
muda."
Ia menatap Amat Junior dan Camelia.
"Saya sudah meletakkan fondasi. Sekarang, kalian yang
membangun di atasnya. Jangan sia-siakan."
Para kader berdiri, memberi hormat. Pak Karno menangis
haru. Pak Sugeng memeluk Pak Santoso.
Setelah pertemuan, Amat Junior dan Camelia duduk di tangga
beton Balai Desa.
"Kamu lihat, Cam? Dulu, di tempat ini, aku duduk
sendirian. Sekarang, aku duduk denganmu."
Camelia tersenyum. "Pak Santoso sudah melepas estafet.
Sekarang tugas kita lebih berat."
"Aku sudah menyusun rencana tiga tahun ke depan.
Kaderisasi. Menyiapkan generasi berikutnya."
"Aku juga sudah bicara dengan Bu Lulu. Beliau setuju
mengalokasikan anggaran berkelanjutan."
"Cam, aku ingin berterima kasih. Tanpa kamu, ide ini
mungkin hanya coretan di buku notaku."
Camelia menggenggam tangannya. "Kita sama-sama, Jun.
Kita tidak bisa sendirian."
Enam bulan kemudian, Desa Awan Biru menggelar Festival Awan
Biru. Acara ini lahir dari musyawarah warga yang difasilitasi kader.
Halaman balai desa dipadati ribuan pengunjung. Camat hadir
, Bupati hadir.
Pak Kades berdiri di panggung. "Hari ini kita
merayakan sesuatu yang lahir dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Festival ini
bukti bahwa desa ini hidup."
Anto maju ke depan mewakili kader.
"Saya hanya sopir truk biasa. Tapi hidup mengajarkan
bahwa setiap orang bisa berkontribusi. Saya mungkin tidak bisa bicara indah,
tapi saya bisa mendengar. Saya bisa mencatat. Saya bisa menyampaikan."
Ia menunjuk Pak Karno. "Pak Karno dulu hanya mengeluh.
Kini, beliau suara petani."
Ia menunjuk Bu Tuti. "Bu Tuti dulu hanya sibuk dapur.
Kini, beliau penggerak pemberdayaan perempuan."
Ia menunjuk Herman. "Herman dulu hanya sibuk voli.
Kini, beliau penggerak ekonomi desa."
Ia menunjuk Amat Junior. "Dan Amat Junior, pemuda
berkacamata yang duduk sendirian di tangga ini. Beliau yang memulai semua
ini."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi yang paling penting, kita semua bergerak. Bukan
hanya kader. Tapi semua warga."
Tepuk tangan bergemuruh.
Pak Santoso berdiri, berjalan ke panggung. Ia memeluk Anto,
lalu Amat Junior, lalu Camelia, lalu Pak Karno, lalu satu per satu kader.
"Kalian adalah anak-anakku. Kalian adalah bukti bahwa
desa ini tidak akan mati. Selama masih ada yang peduli, selama masih ada yang
bergerak, Awan Biru akan terus hidup."
Ia mengangkat tangannya ke langit.
"Awan Biru, teruslah melangkah! Teruslah bergerak!
Teruslah bermimpi!"
Warga bersorak.
Di tengah keramaian, Amat Junior dan Camelia duduk di
tangga beton Balai Desa.
"Cam, lihat itu. Mimpi kita yang dulu hanya coretan di
buku notaku, kini menjadi kenyataan."
Camelia tersenyum. "Ini baru awal, Jun. Masih banyak
yang harus kita kerjakan."
"Aku tahu. Tapi kita tidak sendirian."
Ia menunjuk Pak Karno yang sedang bercerita tentang program
"Sawah Kembali". Anto yang sibuk mengatur stan. Bu Tuti yang melayani
ibu-ibu. Herman yang mempromosikan produk usaha pemuda.
"Mereka adalah kader. Mereka adalah penggerak. Mereka
adalah masa depan Awan Biru."
Camelia menggenggam tangannya. "Dan kita akan terus
mendampingi mereka. Bukan sebagai pemimpin, tapi sebagai teman."
Amat Junior mengangguk. "Seperti Pak Santoso mengajari
kita."
"Seperti Pak Santoso mengajari kita." Kata
Camelia
Matahari mulai condong ke barat. Langit berubah warna dari
jingga ke ungu tua. Burung-burung mulai pulang ke sarang. Suara gamelan mulai
bertalu.
Di kejauhan, kentongan berbunyi. Thok-thok-thok.
Bukan tanda bahaya, bukan tanda rapat. Hanya suara sore yang biasa. Tapi sore
ini, suara itu terasa berbeda.
Desa Awan Biru tidak lagi hanya tenang. Ia dinamis, hidup,
dan penuh harapan. Ia adalah desa yang bangkit, bukan karena bantuan, tapi
karena warganya. Ia adalah desa yang maju, bukan karena program, tapi karena
mimpi yang diwujudkan bersama.
Dan di balik awan biru yang terbentang luas, sebuah
perjalanan baru dimulai. Perjalanan yang tidak akan pernah berakhir, selama
masih ada yang percaya, selama masih ada yang bergerak, selama masih ada yang
bermimpi.
Dua tahun kemudian, Desa Awan Biru ditetapkan sebagai desa
percontohan nasional untuk program pemberdayaan masyarakat berbasis
partisipasi. Amat Junior diundang ke Jakarta untuk berbagi pengalaman di
hadapan para kepala desa dari seluruh Indonesia.
Di atas panggung, dengan kacamata yang masih suka turun ke
ujung hidung, ia bercerita.
"Saudara-saudara, saya bukan siapa-siapa. Saya hanya
anak muda yang duduk di tangga balai desa, dengan buku nota lusuh di tangan,
dan kegelisahan di hati. Saya tidak punya kekuasaan, tidak punya uang, tidak
punya koneksi. Saya hanya punya kegelisahan. Dan kegelisahan itu mengajarkan
saya satu hal: perubahan tidak perlu menunggu."
Ia membuka buku notanya—buku yang sama, yang kini sampulnya
sudah diganti berkali-kali, tapi isinya tetap penuh coretan.
"Desa saya, Awan Biru, dulu sepi. Pemuda pergi
merantau. Warga apatis. Program desa tidak berjalan. Kami bertanya-tanya, apa
yang salah? Apakah desa kami sudah tidak punya harapan?"
Ia berhenti sejenak.
"Ternyata, yang salah bukan desanya. Yang salah adalah
cara pandang kami. Kami terlalu lama menunggu. Menunggu program dari atas,
menunggu bantuan dari luar, menunggu orang lain yang bergerak. Padahal,
kekuatan terbesar desa ada pada warganya sendiri."
Ia menunjuk ke slide presentasi yang menampilkan foto para
kader.
"Mereka adalah kader kami. Petani, ibu rumah tangga,
sopir truk, pemuda karang taruna. Mereka bukan siapa-siapa. Tapi mereka punya
hati. Mereka bergerak. Mereka mendengar. Mereka mencatat. Mereka menyampaikan.
Dan desa kami bangkit."
Tepuk tangan bergemuruh.
Di barisan penonton, Camelia tersenyum. Pak Karno mengusap
matanya. Anto, yang ikut mendampingi, tersenyum bangga. Pak Santoso, yang meski
sudah tua tetap ikut, mengangguk-angguk.
Sepulang dari Jakarta, mereka kembali ke Awan Biru. Mobil
yang mereka tumpangi melintasi jalan desa yang mulus, melewati sawah yang
hijau, melewati lampu-lampu jalan tenaga surya yang mulai menyala.
Di warung Pak Karyo, mereka berkumpul seperti biasa. Pak
Karyo sudah menyiapkan kopi dan gorengan.
"Bagaimana, Le? Jakarta ramai?" tanya Pak Karyo.
"Ramai, Pak. Tapi tidak seenak Awan Biru."
Semua tertawa.
Malam itu, mereka duduk melingkar. Bercerita tentang
perjalanan dua tahun terakhir. Tentang awal yang penuh keraguan, tentang
perjuangan yang tak kenal lelah, tentang hasil yang mulai terlihat.
"Kita belum selesai," kata Amat Junior.
"Masih banyak yang harus kita lakukan. Tapi kita tidak akan berhenti. Kita
akan terus bergerak."
"Kita akan terus bergerak," ulang Camelia.
"Kita akan terus bergerak," sahut yang lain.
Di kejauhan, kentongan berbunyi. Thok-thok-thok.
Bukan tanda bahaya, bukan tanda rapat. Hanya suara malam yang biasa.
Tapi malam ini, suara itu terasa berbeda. Ada kebanggaan
yang terpancar, ada harapan yang terus bersemi, ada tekad yang tak akan padam.
Desa Awan Biru, desa yang dulu hanya indah dari kejauhan,
kini indah dari dekat. Indah dari dalam. Indah karena warganya yang tidak lagi
hanya menonton, tapi bergerak bersama. Indah karena mereka yang dulu hanya punya
mimpi, kini mewujudkannya. Indah karena mereka yang dulu merasa sendirian, kini
punya desa yang mendukung.
Dan di balik tirai malam yang tenang, di balik awan biru
yang terbentang luas, sebuah perjalanan terus berlanjut. Perjalanan yang tidak
akan pernah berakhir, selama masih ada yang percaya, selama masih ada yang
bergerak, selama masih ada yang bermimpi.
TAMAT
"Perubahan tidak datang dari mereka yang menunggu,
tapi dari mereka yang bergerak. Tidak dari mereka yang diam, tapi dari mereka
yang bersuara. Tidak dari mereka yang sendirian, tapi dari mereka yang
bersama."
— Pesan terakhir Pak Santoso kepada Kader Pegiat Desa Awan
Biru
Desa Awan Biru, 2026







0 komentar:
Posting Komentar